BAB I PENDAHULUAN

“Kemiskinan menghambat tercapainya demokrasi, keadilan dan persatuan”. “Penanggulangan kemiskinan memerlukan upaya yang sungguh-sungguh, terusmenerus, dan terpadu dengan menekankan pendekatan hak-hak dasar”.

1.1

Latar Belakang

Selama tiga dekade, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi kemiskinan melalui penyediaan kebutuhan pangan, layanan kesehatan dan pendidikan, perluasan kesempatan kerja, pembangunan pertanian, pemberian dana bergulir, pembangunan prasarana, dan pendampingan. Berbagai upaya tersebut telah berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin dari 54,2 juta pada tahun 1976 menjadi 22,5 juta pada tahun 1996. Krisis ekonomi yang terjadi sejak Juli 1997 membawa dampak negatif bagi kehidupan masyarakat. Jumlah penduduk miskin meningkat menjadi 49,5 juta jiwa pada 1998, jumlah penganggur terbuka meningkat dari 4,2 juta (4,69%) pada Agustus 1997 menjadi 6,03 juta (6,36%) pada Agustus 1999, melemahnya kegiatan ekonomi, memburuknya pelayanan kesehatan dan pendidikan, memburuknya kondisi prasarana dan sarana umum, menurunnya ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat, dan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap birokrasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian yang diikuti oleh terkendalinya harga barang dan jasa, dan meningkatnya pendapatan masyarakat, maka jumlah penduduk miskin secara bertahap menurun menjadi 37,3 juta jiwa (17,4% dari jumlah penduduk) pada 2003. Dari jumlah penduduk miskin tersebut, 12,2 juta jiwa di daerah perkotaan dan 25,1 juta jiwa berada di perdesaan. Penurunan ini merupakan dampak dari hasil transfer pendapatan berbagai program pembangunan termasuk jaring pengaman sosial yang dirancang khusus untuk mengatasi dampak negatif krisis. Belum teratasinya masalah kemiskinan mendorong pemikiran akan perlunya suatu strategi baru penanggulangan kemiskinan yang lebih menyentuh akar permasalahan kemiskinan dan lebih terpadu. Pandangan konvensional menyebutkan kemiskinan sebagai kekurangan modal dan menganggap masyarakat miskin sebagai obyek yang tidak memiliki informasi dan pilihan sehingga tidak perlu terlibat dalam pengambilan keputusan kebijakan publik. Implikasi dari pendekatan ini adalah pemerintah mempunyai peran dominan untuk menyediakan modal dan kebutuhan dasar masyarakat miskin. Pendekatan ini terbukti kurang optimal dalam memecahkan masalah kemiskinan bukan hanya disebabkan oleh kesulitan anggaran dan lemahnya rancangan kebijakan, tetapi juga tidak adanya pengakuan dan penghormatan atas suara dan hak-hak dasar masyarakat miskin.

Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan

1

deregulasi dan penghapusan subsidi cenderung mengurangi peranan negara dalam penyediaan barang dan jasa publik. yaitu hak sosial. ekonomi dan politik. Pemberdayaan adalah kunci keberhasilan bagi masyarakat miskin untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan. pemecahan masalah kemiskinan tidak lagi dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri melalui berbagai kebijakan sektoral yang terpusat. Pengakuan terhadap hak-hak dasar memberikan penegasan pentingnya investasi yang mendukung pemenuhan hak-hak dasar. Proses demokratisasi yang berlangsung selama ini telah membawa perubahan di berbagai bidang. dan keterbatasan akses masyarakat miskin dalam penentuan kebijakan publik yang berdampak pada kehidupan mereka. Pelaksanaan otonomi daerah juga memberikan peluang masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Oleh sebab itu. Dokumen ini menegaskan bahwa perbaikan tata pemerintahan dan perluasan partisipasi harus menjadi bagian integral dari setiap kebijakan yang dilaksanakan untuk memberdayakan masyarakat miskin dan meningkatkan taraf dan mutu hidup masyarakat miskin. Pelaksanaan otonomi daerah memberikan kewenangan dan sumberdaya yang lebih besar kepada pemerintah daerah untuk memberikan layanan publik kepada pemerintah daerah secara lebih efisien dan lebih tepat sasaran. Perbaikan tata pemerintahan akan membuka peluang lebih luas bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan memberdayakan masyarakat miskin. Negara harus menghormati hak-hak sosial. pendekatan hak dasar mengatur peran minimum yang harus menjadi kewajiban negara dan tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Selain itu. Kemiskinan bukan hanya diukur dari pendapatan. dan mendukung terciptanya pemenuhan hak-hak tersebut. Dalam pelaksanaan otonomi daerah. privatisasi.Dokumen ini memandang kemiskinan sebagai masalah multidimensi. murah dan bermutu bagi masyarakat. dampak krisis ekonomi dan beban pembayaran utang telah mengurangi kemampuan anggaran negara untuk memenuhi hak-hak dasar masyarakat. Oleh sebab itu. pemenuhan dan perlindungan terhadap hak-hak dasar mereka. Implikasi dari pendekatan hak-hak dasar adalah perubahan hubungan negara dan masyarakat khususnya masyarakat miskin. seragam dan berjangka pendek. Selain itu. Pendekatan hak-hak dasar relevan dengan perkembangan yang terjadi di Indonesia. negara wajib memenuhi hakhak dasar masyarakat. Selain itu. tetapi juga mencakup kerentanan dan kerawanan orang atau sekelompok orang baik laki-laki maupun perempuan untuk menjadi miskin. Globalisasi yang ditandai oleh penerapan pasar bebas. Pemecahan masalah kemiskinan perlu didasarkan pada pemahaman suara masyarakat miskin itu sendiri dan adanya pengakuan. Negara juga harus melindungi masyarakat terutama masyarakat miskin dari pelanggaran hak-hak dasar. politik dan ekonomi masyarakat. upaya penanggulangan kemiskinan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2 . dan mempertajam prioritas alokasi anggaran bagi pembangunan manusia. Perubahan itu diharapkan mendorong terpenuhinya hak-hak dasar masyarakat sehingga pendekatan hak dasar akan sangat penting sebagai indikator dalam mengukur proses dan kinerja politik yang sedang berlangsung. pendekatan hak dasar menegaskan kewajiban pemerintah kabupaten dan kota untuk memberikan layanan dasar yang mudah.

perumusan kebijakan dan program. pemerintah kabupaten/kota. organisasi kemasyarakatan. 2) 3) 1. serta peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin. dan pihak yang peduli untuk memecahkan masalah kemiskinan. 8 tahun 2002. terencana. Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan 3 . kajiulang kebijakan dan program. strategi penanggulangan kemiskinan memerlukan pendekatan yang terpadu. lembaga swadaya masyarakat. maupun masyarakat miskin sendiri agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi perbaikan kondisi sosial. 124 tahun 2001 yang dilengkapi Kepres No. Pada bulan Januari 2003.2 Maksud dan tujuan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK) merupakan arah bersama bagi pemerintah. dan pihak yang peduli. lembaga swadaya masyarakat. Tujuan SNPK adalah: 1) mempertegas komitmen pemerintah pusat.3 Proses penyusunan Pemerintah Indonesia mempunyai komitmen untuk mempercepat pemecahan masalah kemiskinan dengan membentuk Komite Penanggulangan Kemiskinan yang ditetapkan pada tanggal 7 Desember 2001 melalui Keputusan Presiden No. yaitu pengkajian bersama permasalahan kemiskinan. swasta. serta menuntut keterlibatan semua pihak baik pemerintah.perlu memperhatikan adanya momentum kemitraan global dalam pencapaian tujuan pembangunan milenium. dan berkesinambungan. pemerintah provinsi. lembaga internasional. Dengan demikian. dan berbagai pihak dalam mendorong gerakan nasional penanggulangan kemiskinan. organisasi kemasyarakatan. menyelaraskan berbagai upaya penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah pusat. ekonomi dan budaya. pelaku usaha. pemerintah kabupaten/kota. dan pengembangan sistem pemantauan dan evaluasi penanggulangan kemiskinan. lembaga swadaya masyarakat. dunia usaha. membangun konsensus bersama untuk mengatasi masalah kemiskinan melalui pendekatan hak-hak dasar dan pendekatan partisipatif dalam perumusan strategi dan kebijakan. pelaku usaha. I-PRSP menyatakan bahwa dokumen strategi penanggulangan kemiskinan perlu disusun melalui empat langkah. pelaksanaannya dilakukan secara bertahap. masyarakat. 1. lembaga internasional. pemerintah provinsi. organisasi kemasyarakatan. Komite Penanggulangan Kemiskinan telah mengeluarkan dan mengesahkan dokumen I-PRSP (Interim Poverty Reduction Strategy Paper) sebagai panduan bagi penyusunan dokumen strategi nasional penanggulangan kemiskinan.

kajian akademik dan konsultasi publik.1 Analisis Kemiskinan Partisipatif (AKP) Analisis kemiskinan partisipatif dilakukan untuk memahami suara masyarakat miskin baik laki-laki maupun perempuan tentang masalah kemiskinan yang mereka hadapi dan mengakomodasikan suara masyarakat miskin dalam perumusan kebijakan. Makassar dan Karanganyar. Berdasarkan tanggapan dan masukan dari berbagai pihak. dan GTZ pada tanggal 2-4 Agustus di Bali. ADB dan Bank Dunia. Langkah yang ditempuh adalah (1) Kaji Bersama Masyarakat Akar Rumput dilakukan oleh Kantor Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat di Kupang. Kantor Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Sosial menyerahkan draft dokumen Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK) kepada Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK). Surabaya. DFID dan HIS.2 Konsultasi Publik Konsultasi publik dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai sumber data dan informasi dan mendapatkan umpan balik terhadap rumusan kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan. Medan. petani perkebunan. Bank Dunia. (2) konsolidasi hasil AKP oleh lembaga penelitian SMERU terhadap berbagai hasil AKP yang pernah dilakukan oleh Bank Dunia. (3) pelaksanaan AKP oleh lembaga swadaya masyarakat KIKIS (Komite Independen antiKemiskinan Struktural) yang dilakukan di kantong-kantong kemiskinan baik masyarakat nelayan. proses penyusunan dokumen strategi nasional penanggulangan kemiskinan didukung oleh analisis kemiskinan partisipatif (AKP). (3) Lokakarya Konsolidasi Data dan Informasi yang diselenggarakan pada tanggal 8 Agustus 2004 di Jakarta dengan tujuan mendapatkan masukan dari berbagai sumber data dan informasi antara lain dari Badan Pusat Statistik.Pada tanggal 28 Mei 2004. perkiraan anggaran yang diperlukan untuk mencapai sasaran yang ditetapkan. (2) Lokakarya yang diselenggarakan oleh Bappenas bekerjasama dengan Departemen Dalam Negeri. draft dokumen tersebut perlu disempurnakan dengan mempertimbangkan hasil analisis kemiskinan partisipatif dan analisis gender. Hasil analisa kemiskinan partisipatif diperkuat dengan informasi dan data kuantitatif yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik dan berbagai sumber data yang digunakan sebagai dasar melakukan diagnosis kemiskinan.3. UNSFIR. prioritas kebijakan dan rencana aksi selama lima tahun. dan perlunya pembagian peran antarpelaku dalam pelaksanaan. petani lahan kering. 1. Langkah yang ditempuh adalah (1) pelaksanaan AKP tahap kedua dilakukan di 40 lokasi yang dikoordinasikan oleh Kantor Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Kendari.3. SMERU. Bogor. Batam. 1. penentuan sasaran. buruh. (4) Lokakarya Membangun Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan 4 . Tim Koordinasi Penyiapan Penyusunan Perumusan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan (TKP3KPK). masyarakat pinggir hutan dan masyarakat miskin perkotaan. Dengan mengikuti dan mematuhi langkah dan tahap yang digariskan dalam IPRSP. pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan strategi penanggulangan kemiskinan.

dan Country Assesment Strategy yang disusun Bank Dunia. organisasi masyarakat. dan UNSFIR. pemerintah provinsi. (3) laporan yang disusun oleh berbagai lembaga seperti National Human Development Report 2004 yang disusun Bappenas dan BPS bekerjasama dengan UNDP. perguruan tinggi. pemerintah kabupaten/kota. dan lembaga internasional. tatacara pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan strategi penanggulangan kemiskinan. Gugus Tugas III tentang Peningkatan Kapasitas. dan (4) hasil laporan yang disusun oleh Tenaga Ahli CrossCutting Issues Bappenas terutama kajiulang kebijakan sosial. Bappenas dan KADIN 2004 tanggal 12 Agustus 2004. dan Gugus Tugas IV tentang Perlindungan Sosial. (6) Lokakarya Sistem Monitoring dan Evaluasi yang diselenggarakan oleh KPK dan Bappenas di Jakarta pada tanggal 29 Agustus 2004. dan pembagian peran yang jelas antarpelaku baik pemerintah pusat.Kemitraan dalam Penanggulangan Kemiskinan yang diselenggarakan oleh KPK. Sumber data dan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan 5 . 1. Langkah yang ditempuh adalah (1) Kajian yang dilakukan oleh LPEM-FEUI. Gugus Tugas II tentang Pemberdayaan Masyarakat. maksud dan tujuan. pelaku usaha. organisasi profesi. ekonomi. organisasi msayarakat. proses penyusunan dan sistematika. 1. yaitu diagnosis kemiskinan dengan memperhatikan suara masyarakat miskin. lembaga keuangan. organisasi politik. lembaga swadaya masyarakat. rencana aksi yang memuat prioritas kebijakan dan perkiraan anggaran jangka menengah termasuk sasaran dan indikator kinerja. dan gender.3 Kajian Akademik Kajian akademik dilakukan untuk memperoleh masukan secara ilmiah tentang masalah kemiskinan dan evaluasi secara kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang berdampak pada kemiskinan. (5) Lokakarya Pro-poor Planning dan Budgeting diselenggarakan oleh KPK dan Bappenas di Jakarta pada tanggal 24 Agustus 2004. (2) Dokumen hasil kerja Gugus Tugas I tentang Perluasan Kesempatan Kerja dan Kesempatan Berusaha. dan (7) Lokakarya Kajian Kebijakan yang diselenggarakan oleh KPK dan Bappenas pada tanggal 2 September 2004.5 Sistematika Dokumen ini terdiri dari 8 (delapan) bab yang meliputi: Bab 1 : Bab 2 : menjelaskan latar belakang. Pusat Studi Kebijakan-PAU UGM dan IPB bekerjasama dengan Bappenas dan JICA.4 Ruang lingkup Ruang lingkup dokumen ini mencakup empat hal. menguraikan diagnosis kemiskinan yang memuat gambaran umum dan permasalahan utama kemiskinan di Indonesia. 1.3. politik. Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium yang disusun oleh Bappenas bekerjasama dengan lembaga-lembaga international.

dan pelaksanaan rencana aksi. Bab 3 : membahas hasil kajiulang berbagai kebijakan publik yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah kemiskinan dan kebijakan publik yang secara tidak langsung berdampak terhadap masyarakat miskin. pengawasan (safeguarding). kelembagaan. penganggaran. menegaskan landasan konstitusi. dan hasil kajian/ penelitian. tujuan dan target. Bab 4 : Bab 5 : Bab 6 : Bab 7 : Bab 8 : Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan 6 .informasi yang digunakan meliputi hasil analisis kemiskinan partisipatif (PPA). dan pembagian peran. menjelaskan sistem pemantauan dan evaluasi yang mendukung pelaksanaan strategi dan rencana aksi penanggulangan kemiskinan. serta rumusan strategi dan kebijakan penanggulangan kemiskinan dalam memenuhi hak-hak dasar masyarakat miskin. penutup. visi dan misi. Dari hasil kajiulang tersebut kemudian dirumuskan ke dalam rekomendasi kebijakan. menguraikan rencana aksi penanggulangan kemiskinan (2005-2009) yang dijabarkan ke dalam program. menguraikan mekanisme pelaksanaan rencana aksi (2005-2009) yang memuat prasarat. prinsip-prinsip. hasil analisis statistik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful