³Trauma Thorax´ 1. Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan trauma?

Jawaban: Keadaan yang disebabkan oleh luka atau cedera. 2. Pertanyaan: Apa trauma thorax itu? Jawaban: Trauma thorax adalah luka atau cedera yang mengenai rongga thorax atau dada yang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding thorax atau dada ataupun isi dari cavum thorax (rongga dada) yang disebabkan oleh benda tajam atau benda tumpul dan dapat menyebabkan keadaan sakit pada dada. 3. Pertanyaan: Organ apa saja yang sakit akibat trauma thorax? Jawaban: Trauma thorax atau cedera dada dapat menyebabkan kerusakan dinding dada, paru, jantung, pembuluh darah besar serta organ disekitarnya termasuk viscera (berbagai organ dalam besar di dalam rongga dada). 4. Pertanyaan: Pada trauma thorax atau dada, diklasifikasikan menjadi berapa? Jawaban: Secara garis besar trauma thorax atau dada diklasifikasikan menjadi 2, yaitu: a) Trauma tumpul, yang banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. b) Trauma tembus thorax atau dada, dapat disebabkan oleh karena trauma tajam (tusukan benda tajam), trauma tembak (akibat tembakan), dan trauma tumpul yang tembus dada. 5. Pertanyaan:

Bagaimana proses dari perubahan yang terjadi akibat dari trauma thorax atau patofisiologinya? Jawaban: Akibat dari trauma thorax atau dada yang terjadi. o Asidosis metabolic. Pertanyaan: . ini disebabkan oleh terjadinya syok. Ø Nadi cepat dan lemah o Cepat karena untuk memenuhi perfusi. kegagalan sirkulasi karena perubahan hemodinamik (sirkulasi darah). Hipoksia pada tingkat jaringan dapat menyebabkan ransangan terhadap cytokines yang dapat memacu terjadinya Adult Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Pertanyaan: Apa dampak terparah dari trauma thorax serta penyebabnya? Jawaban: Dampak terparah dari trauma thorax yaitu kematian. dan sepsis. kegagalan pertukaran gas pada tingkat alveolar (organ kecil pada paru yang mirip kantong). o Lemah akibat hipovolemi. menyebabkan gagal ventilasi (keluar masuknya udara). o Basah à mekanisme simpatis à adrenalin meningkat à memacu keluarnya keringat. 7. 8. Pertanyaan: Bagaimana cara mengetahui klien dengan trauma thorax mengalamai syok? Jawaban: Ø Akral dingin dan basah: o Dingin à akibat pembuluh darah perifer kontraksi untuk memenuhi perfusi organ vital. o Hipoksia (kekurangan suplai O2). o Hiperkabnia (kelebihan CO2 dalam darah). Ketiga factor ini dapat menyebabkan hipoksia (kekurangan suplai O2) seluler yang berkelanjutan pada hipoksia jaringan. 6. Systemic Inflamation Response Syndrome (SIRS).

Sehingga pada syok tensi bisa normal. mengapa tidak berdasarkan tensi? Jawaban: Mengapa tidak berdasarkan tensi. karena adnya mekanisme homestatis sehingga adrenalin meningkat à vasokonstriksi à tensi meningkat. b) Memasang infus dan resusitasi cairan. Tindakan penyelamatan dini ini sangat penting artinya untuk prognosis pasien dengan trauma thorax. .Dalam memeriksa tekanan darah pasien dengan syok. Pertanyaan: Gejala umum seperti apa yang sering menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan akibat dari trauma thorax? Jawaban: Gejala yang sering dilihat pada trauma thorax adalah nyeri dada dan sesak nafas atau nyeri pada waktu nafas. akan tetapi tindakan penyelamatan dini dan tindakan elementer perlu dilakukan dan diketahui oleh setiap petugas yang menerima atau jaga di unit gawat darurat. Pertanyaan: Tindakan apa yang harus dilakukan bagi tenaga kesehatan di UGD bila menghadapi orang dengan trauma thorax? Jawaban: Menemui klien tampak sakit. Pertanyaan: Apa maksud dari tindakan elementer pada orang yang mengalami trauma thorax? Jawaban: Tindakan elementer ini adalah : a) Membebaskan dan menjamin kelancaran jalan nafas. Lebih dari 90 % trauma thorax tidak memerlukan tindakan pembedahan berupa torakotomi (tindakan operasi pada dada). padahal pasien hipovolemik (kekurangan volume cairan dalam tubuh). c) Mengurangi dan menghilangkan nyeri. 11. 10. 9. sesak atau sianotik dengan tanda trauma torak atau jejas pada dadanya.

asma.meskipun tidak dijumpai fraktur costa. 13. pneumotoraks terbuka. hal ini menandakan adanya komplikasi berupa adanya cedera pada paru. Pertanyaan: Dalam hal tanya jawab antara tenaga kesehatan dengan klien. 12. apa yang perlu diperhatikan? Jawaban: Ø Perlu ditanyakan mengenai mekanisme trauma. 14. e) Melakukan pembuatan x-ray dada kalau perlu dua arah.d) Memantau kesadaran pasien. hemotoraks massif (penggumpalan darah/perdarahan). apakah oleh karena jatuh dari ketinggian atau akibat jatuh dan dadanya terbentur pada benda keras . Ø Penderita dengan kesulitan bernafas atau bahkan saat batuk keluar darah. Pertanyaan: Pada klien dengan trauma thorax bagaimana yang memerlukan pembedahan gawat atau segera? Jawaban: Pada klien dengan obstruksi (ada sumbatan) pada jalan nafas.sehingga energi trauma langsung mengenai jantung ataupun paru-paru. kebocoran bronkus dan trakeobronkial. sehingga akan menimbulkan gesekan antara ujung fragmen dengan jaringan lunak sekitarnya dan keadaan ini akan menimbulkan rangsangan nyeri. tamponade pericardium/jantung (tersumbatnya) yang banyak disebabkan luka tusuk yang menembus jantung. tension pneumotoraks. neoplasma. atau oleh sebab lain. Pada saat inspirasi maka rongga dada akan mengembang dan keadaan ini akan menggerakkan fragmen costa yang patah. sedangkan bila fragmen costa mencederai parenkim paru-paru akan dapat menimbulkan pneumotoraks. Pertanyaan: . Ø Nyeri merupakan keluhan paling sering biasanya menetap pada satu titik dan akan bertambah pada saat bernafas. Ø Riwayat penyakit dahulu seperti bronkitis. Ø Apabila fragmen costa ini menimbulkan kerusakan pada vaskuler akan dapat menimbulkan hematotoraks. Ø Pada anak dapat terjadi cedera paru maupun jantung. kecelakan lalu lintas. flail chest. Keadaan ini disebabkan costanya masih sangat lentur. haemoptisis atau sehabis olahraga akan dapat membantu mengarahkan diagnosis adanya fraktur costa.

16. Ø Secondary survey membutuhkan riwayat trauma dan kewaspadaan yang tinggi terhadap adanya trauma-trauma yang bersifat khusus. Ø Kebanyakan kasus Trauma thorax yang mengancam nyawa diterapi dengan mengontrol airway atau melakukan pemasangan selang thorax atau dekompresi thorax dengan jarum. 15. d) Perawatan definitif. kebocoran trakheo-bronkial yang gagal dengan tindakan konservatif (drainase). Ø Trauma yang bersifat mengancam nyawa secara langsung dilakukan terapi secepat dan sesederhana mungkin. Ø Auskultasi à vesikuler. krepitasi. Pertanyaan: Hemotoraks atau perdarahan pada dada yang berat ( > 800 cc). Ø Karena hipoksia adalah masalah yang sangat serius pada trauma thorax. breathing. simetris. hipersonor(udara). Ø Perkusi à Sonor(normal). nafas paradoksal.Prinsip pemeriksaan fisik apa saja yang digunakan dalam trauma thorax? Jawaban: Ø Inspeksi à jejas. pertolongan ini dimulai dengan airway. dan circulation. fremitus kanan dan kiri berbeda. tamponade pericardium. b) Resusitasi fungsi vital. yaitu dilakukan pada trauma yang mengancam jiwa. laserasi paru yang gagal dengan tindakan bedah konservatif. intervensi dini perlu dilakukan untuk pencegahan dan mengoreksinya. redup(cairan). Pertanyaan: Bagaimana langkah dari penilaian serta pengelolaan pada klien dengan trauma thorax? Jawaban: Ø Pengelolaan penderita terdiri dari: a) Primary survey. merupakan tanda-tanda dari? . Ø Palpasi à NT(+). suara tambahan. c) Secondary survey yang terinci.

b) Hemotoraks. Dibagi menjadi hemotorak ringan bila jumlah darah sampai 300 ml saja. Pertanyaan: Diagnosa apa saja yang dapat diambil dari klien dengan trauma thorax? Jawaban: Berbagai macam diagnose yang dapat diambil berkaitan dengan klien trauma thorax adalah: Ø Pada dinding dada: a) Patah tulang rusuk. disebabkan oleh robekan pleura dan atau terbukanya dinding dada. b) Flailchest. Perdarahan yang terjadi umumnya terperangkap dalam parenkim paru. c) Kerusakan paru. 17.Jawaban: Hal itu semua merupakan tanda-tanda dari trauma thorax yang harus dilakukan torakotomi. akibat adanya patah tulang rusuk jamak yang segmental pada satu dinding dada. 75 % disebabkan oleh trauma torak ledakan (blast injury). Hemotorak sedang bila jumlah darah sampai 800 ml dan hemotorak berat bila jumlah darah melebihi 800 ml. Penyebab lain adalah terjepitnya jantung oleh himpitan sternum pada trauma tumpul torak. penyebab tersering adalah trauma torak tajam di daerah parasternal II±V yang menyebabkan penetrasi ke jantung. e) Kerusakan jaringan jantung dan pericardium. Terjadi kebocoran jalan nafas yang umumnya melalui pleura atau bawah kulit bawah dada sehingga menimbulkan emfisema subkutis. . Kurang lebih 75 % trauma tusuk pneumotorak disertai hemotorak. bronkus dan sistem trakeobronkoalveolar. Merupakan jenis yang paling sering. Disebabkan oleh sebagian besar akibat trauma torak tumpul di daerah sternum. Dapat berupa pneumotorak yang tertutup dan terbuka atau menegang (³tension pneumotorak´). daerah dada apa saja yang dapat terkena dampak dari trauma thorax? Jawaban: Pada daerah dinding dada dan juga rongga dada. Ø Pada rongga dada: a) Pneumotorak. d) Kerusakan trakea. adanya darah dalam rongga pleura. tunggal dan jamak. 18. Pertanyaan: Secara garis besar.

Ditandai dengan sesak napas karena kolaps paru. bronkus dan sistem trakeobronkoalveolar. 19. disebabkan umumnya oleh trauma pada daerah abdomen. Ditandai dengan pasien yang nampak tak sehat serta bunyi yang abnormal pada seperti mengunyah pada jantung bila diperiksa dengan stetoskop. g) Kerusakan Ductus torasikus. tunggal dan jamak. b) Flailchest. pembesaran pada leher serta adanya crepitasi pada dinding dada. h) Kerusakan pada diafragma. ditandai dengan penurunan volume cairan tubuh. ditandai dengan sesak napas. Hal ini menyebabkan rongga mediastinum goncangan gerak (flailing) yang dapat menyebabkan insertion vena cava inferior (pemasukan darah pada jantung melalui pembuluh darah vena bagian bawah) terdesak dan terjepit. ditandai dengan penurunan kemampuan dalam bernapas. g) Kerusakan ductus torasikus. Waktu inspirasi nampak bagian tersebut masuk ke dalam dan akan keluar waktu ekspirasi. b) Hemotoraks. tanda seperti apa yang sering timbul dari masing-masing diagnose tersebut? Jawaban: Ø Pada dinding dada: a) Patah tulang rusuk. relatif jarang terjadi. d) Kerusakan trakea. Kanan lebih jarang dibandingkan kiri. e) Kerusakan jaringan jantung dan pericardium. Menimbulkan nyeri terutama waktu menelan dan dalam beberapa jam timbul febris. Akan menimbulkan herniasi organ perut. terjadi sumbatan primer. Muntah darah/hematemesis. c) Kerusakan paru. f) Kerusakan pada esofagus. Ditandai dengan penurunan volume cairan tubuh. Ø Pada rongga dada: a) Pneumotorak. disertai nyeri waktu nafas dan atau sesak. Pertanyaan: Dari berbagai macam diagnosa di atas. disfagia atau distress nafas. ditandai dengan gerakan nafas yang paradoksal.f) Kerusakan pada esophagus. Ditandai dengan sesak napas. Tanda utama adalah tertinggalnya gerakan nafas pada daerah yang patah. serta penurunan nadi waktu inspirasi. atau luka tembus tajam kearah torakoabdominal. . suara serak.

angiografi). karena batuk tidak adequat dan dapat menimbulkan pneumoni. komplikasi apa saja yang dapat timbul? Jawaban: Ø Yang terkait dengan tidak stabilnya dinding dada: a) Nyeri berkepanjangan. Mungkin karena callus atau jaringan parut yang menekan saraf interkostal. Ø Jejas pada daerah dada akan membantu adanya kemungkinan trauma torak. Ø Pada dasarnya diagnostik trauma torak harus ditegakkan secepat mungkin. . Bila memungkinkan maka x-ray foto sebaiknya dibuat dalam dua arah (PA dan lateral). Ø Pemeriksaan gas darah dapat membantu diagnostik bila fasilitasnya ada. Ø Tanda dan gejala penyerta seperti adanya syok (hipotensi. dapat dipakai sebagai langkah diagnostik pada kerusakan esofagus dan dan diafragma.h) Kerusakan pada diafragma. Ø Yang terkait dengan perlukaan dan memar paru: a) Infiltrat paru dan efusi pleura. Pertanyaan: Sebutkan langkah-langkah di dalam penentuan diagnose dengan trauma thorax? Jawaban: Langkah diagnostik: Ø Secara umum diagnosis secara klinis ditegakkan dari jenis kerusakan yang terjadi dan pembuatan x±ray foto dada. 20. nadi cepat dan keringat dingin) dan adanya trauma lain organ dada merupakan butir diagnostik yang penting.ray dada. tanpa memakai cara diagnostik yang lama (Ct-scan. Bila ada trauma multiple maka dianjurkan untuk selalu dibuat foto x. meskipun luka sudah sembuh. Tidak memberikan tanda yang khas. b) Osteomylitis. Pemasangan NGT sebagai persiapan untuk pengosongan lambung untuk mencegah aspirasi isi labung ke paru. Pertanyaan: Pada trauma thorax. sesak nafas sering nampak dan disertai tanda-tanda pneumotoraks atau gejala hemotoraks. c) Retensi sputum. 21.

Perlu diberi pengobatan yang optimal. Memerlukan WSD dan antibiotik. h) Pneumoni. f) Retensi sputum. . ditandai dengan gejala kolaps paru yang tidak membaik. Ø Komplikasi lain di luar paru dan pleura: a) Mediastinitis. Memerlukan pemasangan WSD untuk waktu yang lama. b) Fistel esofagus. c) Hernia diafragmatika lambat. Terapi konservatif dengan anlgesik atau pelunak jaringan parut. e) Osteomylitis. d) Kalainan jantung. Mungkin karena callus atau jaringan parut yang menekan saraf interkostal. e) Chylotoraks lambat. merupakan komplikasi yang sering fatal. g) Empiema. meskipun luka sudah sembuh. yang terjadi lambat. merupakan komplikasi yang berbahaya. 22. dapat ke mediastinum dan menyebabkan mediastinitis atau ke pleura dan menimbulkana empiema atau efusi pleura. c) Pneumoni. Dilakukan squesterisasi dan fiksasi. terutama pada luka tembus dan trauma tajam pada jantung. yang terjadi lambat. d) Fistel bronkopleural. Pertanyaan: Apa yang dapat dilakukan atau diberikan oleh tenaga kesehatan terkait dengan komplikasi yang dapat timbul akibat trauma thorax? Jawaban: Ø Yang terkait dengan tidak stabilnya dinding dada: d) Nyeri berkepanjangan. Memerlukan WSD dan antibiotik. Diperlukan pemberian mukolitik. karena batuk tidak adequat dan dapat menimbulkan pneumoni. bila distress pernafassan berkelanjutan maka diperlukan pemasangan respirator. merupakan komplikasi yang berbahaya. Ø Yang terkait dengan perlukaan dan memar paru: f) Infiltrat paru dan efusi pleura.b) Empiema.

o Ruptur aorta dan ruptur trakheobronhial. Ø Komplikasi lain di luar paru dan pleura: a) Mediastinitis. Pertanyaan: Jelaskan prinsip umum penatalaksanaan yang digunakan dalam menangani trauma thorax? Jawaban: Penatalaksanaan mengikuti prinsip penatalaksanaan pasien trauma secara umum (primary survey ± secondary survey). Pada primary survey kita harus bisa mengenali keadaan atau kelainan akibat trauma toraks yang berbahaya dan mematikan yang harus ditatalaksana dengan segera seperti: o Obstruksi jalan napas. terutama pada luka tembus dan trauma tajam pada jantung. o Ruptur diafragma disertai herniasi visera. d) Kalainan jantung. Pertanyaan: Sebutkan macam kondisi penatalaksanaan terkait dengan trauma thorax? Jawaban: Penatalaksanaan pada saat darurat dan pada saat terapi. memerlukan koreksi bedah.i) Fistel bronkopleural. Memerlukan tindakan bedah dan pembedahan jantung terbuka. o Tension pneumotoraks. c) Hernia diafragmatika lambat. Memerlukan tindak bedah lanjut berupa torakotomi eksploratif dan penutupan fistelnya. o Perdarahan masif intra-toraks (hemotoraks masif). 24. merupakan komplikasi yang sering fatal. Bila terjadi pernanahan maka harus dilakukan drainase mediastinum. Diperlukan tindakan bedah untuk menutup fistel. ditandai dengan gejala kolaps paru yang tidak membaik. . 23. o Tamponade. b) Fistel esofagus. dapat ke mediastinum dan menyebabkan mediastinitis atau ke pleura dan menimbulkana empiema atau efusi pleua.

Pertanyaan: Jelaskan dan bagaimana penatalaksanaan klien dengan trauma thorax berdasarkan kondisinya? Jawaban: Ø Darurat: a) Anamnesa yang lengkap dan cepat. Kalau mungkin penderita duduk. o Jenis senjata. yang ditanyakan: o Waktu kejadian. baju penderita harus dibuka. o Bagaimana keadaan penderita selama dalam transportasi. c. b) Pemeriksaan harus lengkap dan cepat. Akhir dari ekspirasi. Tentukan luka masuk dan keluar. . kalau perlu seluruhnya yang meliputi: o Inspeksi: a. Penanganan pasien tidak untuk menegakkan diagnosis akan tetapi terutama untuk menemukan masalah yang mengancam nyawa dan melakukan tindakan penyelamatan nyawa.o Flail chest berat dengan kontusio paru. o Palpasi: a. kalau tidak mungkin tidur. o Tempat kejadian. b. o Perforasi esophagus. Gerakkan dan posisi pada akhir inspirasi. o Arah masuk keluar perlukaan. b. 25. Nyeri tekan anteroposterior dan laterolateral. Anamnesa termasuk pengantar yang mungkin melihat kejadian. Diraba ada/tidak krepitasi. Pemeriksaan diagnostik hanya dapat dilakukan bila pasien dalam keadaan stabil dan tidak dibenarkan memindahkan pasien dari ruang emergency atau resusitasi.

g) Kalau keadaan gawat pungsi. Bising napas melemah atau tidak. e. kalau keadaan memungkinkan). Aadanya pekak dan batas antara yang pekak dan sonor seperti garis lurus atau garis miring. Batas antara bising napas melemah atau menghilang dengan yang normal. c) Pungsi. Bising napas kanan dan kiri dan dibandingkan. f) Pemeriksaan Sirkulasi perifer. j) Kalau perlu torakotomi massage jantung internal. b. Adanya sonor. Fremitus kanan dan kiri dan dibandingkan. atau hipersonor. c. h) Kalau perlu intubasi napas bantuan. i) Kalau keadaan gawat darurat. Ø Therapy: a) Chest tube/drainase udara (pneumothorax). . d. c) Pemeriksaan tekanan darah. timpanis. d) Kalau perlu segera pasang infus. Bising napas abnormal dan sebutkan bila ada. e) Pemeriksan kesadaran. kalau perlu massage jantung. b. Bising napas yang hilang atau tidak. o Perkusi: a. b) WSD (hematotoraks). k) Kalau keadaan stabil dapat dimintakan pemeriksaan radiologik (Foto thorax AP.c. o Auskultasi: a.

Buku ajar bedah. EGC: Jakarta. J.. Seymour I. Edisi 8 Volume 3. Kamus kedokteran. 1995. DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Keperawatan medikal-bedah brunner and suddarth. Suzanne C.R. 2000. Binarupa Aksara: Jakarta. FKUI. 2002. Smeltzer. Kumpulan kuliah ilmu bedah. 2001. 1995. Wim De Jong. Syamsuhidayat. L. EGC: Jakarta. Schwartz. W. 1997. . Dorland. EGC: Jakarta. Intisari prinsip-prinsip ilmu bedah. e) Pemberian oksigen. Diagnosa keperawatan. Edisi 6.d) Torakotomi. EGC: Jakarta. Newman. EGC: Jakarta. A.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful