P. 1
Penelitian Kausal Komparatif

Penelitian Kausal Komparatif

|Views: 3,285|Likes:
Published by Rahmi Wulandiani
Frankel, Jack R. 1993. How To Design and Evaluate Research in Education. San Fransisco: Universitas San Fransisco
Frankel, Jack R. 1993. How To Design and Evaluate Research in Education. San Fransisco: Universitas San Fransisco

More info:

Published by: Rahmi Wulandiani on Jan 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/16/2015

pdf

text

original

PENELITIAN KAUSAL KOMPARATIF

Ditujukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian

(Prof. Dr. Fransisca Sudargo Tapilow, M.Pd.)

Oleh: Eka Sutawijaya S.A. Rahmi Wulandiani Robi Bhakti Awaludin Wenidya Fitri Chaniago

PENELITIAN KAUSAL KOMPARATIF

PROGRAM PENDIDIKAN BIOLOGI SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2011

Dalam penelitian kausal-komparatif, peneliti mencoba untuk menentukan penyebab atau konsekuensi dari perbedaan yang sudah ada di antara kelompok individu. Akibatnya, kadang-kadang penelitian kausal komparatif dianggap sama dengan penelitian korelasional sebagai bentuk penelitian asosiasional, karena keduanya menggambarkan kondisi yang sudah ada. Misalnya seorang peneliti bisa mengamati bahwa dua kelompok individu berbeda pada beberapa variabel (seperti gaya mengajar) dan kemudian berusaha untuk menentukan alasan atau hasil perbedaan ini. Bagaimanapun perbedaan antara kelompok telah terjadi. Karena kedua efek dan dugaan penyebab telah terjadi dan dipelajari dalam retrospeksi, penelitian kausal-komparatif kadang-kadang juga disebut sebagai penelitian expost facto (dari bahasa Latin: "setelah fakta"). Hal ini berbeda dengan studi eksperimental dimana peneliti menciptakan perbedaan antara atau di antara kelompok-kelompok dan kemudian membandingkan kinerja mereka (pada satu atau lebih variabel terikat) untuk menentukan dampak dari perbedaan yang diciptakan. Perbedaan kelompok variabel dalam penelitian kausal-komparatif adalah variabelnya yang tidak dapat dimanipulasi (seperti etnis) atau yang mungkin telah dimanipulasi tapi untuk satu alasan atau hal yang lain belum (seperti gaya mengajar). Kadang-kadang kendala etis mencegah variabel untuk dimanipulasi, sehingga mencegah efek-efek variasi dalam variabel yang sedang diteliti melalui suatu studi eksperimental. Misalnya seorang peneliti mungkin akan tertarik untuk meneliti efek dari diet pada anak yang sangat muda. Pertimbangan etis mungkin mencegah peneliti untuk sengaja memvariasikan diet bagi anak-anak. Penelitian kausal komparatif akan memungkinkan peneliti untuk mempelajari efek dari diet jika ia bisa menemukan sekelompok anak-anak yang telah melakukan usaha diet. Peneliti kemudian bisa membandingkan mereka dengan kelompok serupa dari anakanak yang belum pernah melakukan diet. Banyak penelitian dalam bidang kedokteran dan sosiologi yang merupakan penelitian kausal-komparatif. Contoh lain adalah perbandingan dari para ilmuwan dan insinyur dalam hal orisinalitas mereka. Seperti dalam penelitian korelasional, penjelasan atau prediksi dapat dibuat dari variabel yang satu ke yang lain; orisinalitas bisa diprediksi dari keanggotaan kelompok; atau keanggotaan kelompok dapat diprediksi dari orisinalitas. Namun, sebagian besar studi tersebut mencoba untuk mengeksplorasi sebab-akibat daripada mendorong prediksi. Apakah ''originally" orang lebih cenderung menjadi ilmuwan? Apakah ilmuwan menjadi lebih asli karena mereka masuk dalam pekerjaan mereka? Dan lain sebagainya. Perhatikan bahwa penelitiankorelasional mungkin lebih baik, tetapi itu tidak tepat ketika salah satu

variabel (dalam hal ini sifat dari kelompok-kelompok) merupakan variabel kategoris. Berikut adalah beberapa contoh dari berbagai jenis penelitian kausal-komparatif. Tipe 1: Eksplorasi akibat (variabel terikat) disebabkan oleh keanggotaan dalam kelompok tertentu Pertanyaan: Apakah ada perbedaan kemampuan yang disebabkan oleh gender? Hipotesis penelitian: Wanita memiliki kemampuan linguistik yang lebih besar daripada laki-laki. Tipe 2: Eksplorasi penyebab (variabel bebas) keanggotaan kelompok Pertanyaan: Apa yang menyebabkan individu untuk bergabung dalam geng? Penelitian Hipotesis: Individu yang menjadi anggota geng memiliki kepribadian lebih agresif daripada individu yang bukan anggota geng. Tipe 3: Eksplorasi konsekuensi (tergantung variabel) dari intervensi Pertanyaan: Bagaimana siswa yang diajarkan dengan Metode inquiri bereaksi terhadap propaganda? Penelitian Hipotesis: Siswa yang diajarkan dengan metode inquiri yang lebih kritis terhadap propaganda dari pada mereka yang diajarkan dengan metode ceramah. Penelitian kausal komparatif telah sering digunakan untuk mempelajari perbedaan antara pria dan wanita. Penelitian telah menunjukkan keunggulan perempuan dalam bahasa dan anak laki-laki dalam matematika pada tingkat usia tertentu. Hal yang menghubungkan perbedaan ini dengan gender -sebagai penyebabharus bersifat tentatif. Sesuatu yang sulit dilihat bahwa gender sebagai penyebab kemampuan, tetapi ada banyak kemungkinan lainnya dalam rantai kausal, termasuk harapan sosial dari pria dan wanita. Dasar pendekatan kausal komparatif dimulai dengan mencatat perbedaan antara dua kelompok dan mencari kemungkinan penyebab atau konsekuensi dari perbedaan ini. Misalnya seorang peneliti mungkin akan tertarik dalam alasan mengapa beberapa individu menjadi kecanduan alkohol sementara yang lain ketergantungan pada pil. Bagaimana hal ini bisa dijelaskan? Deskripsi dari dua kelompok (pecandu alkohol dan jenis pil Popper) bisa dibandingkan untuk melihat apakah karakteristik mereka berbeda dalam cara-cara yang mungkin bisa memberikan penjelasan untuk perbedaan mereka dalam memilih obat. Kadang-kadang studi kausal-komparatif yang dilakukan hanya semata-mata sebagai alternatif untuk percobaan. Anggaplah, misalnya, bahwa kepala bagian

kurikulum untuk sekolah menengah atas disebuah kabupaten mempertimbangkan untuk menerapkan kurikulum baru dalam pelajaran bahasa Inggris. Kepala bagian kurikulum mungkin mencoba kurikulum dengan cara eksperimental, memilih beberapa kelas secara acak di seluruh kabupaten dan membandingkan kinerja siswa dalam kelas dengan kelompok pembanding yang tetap memakai kurikulum reguler. Hal ini mungkin menghabiskan banyak waktu dan akan cukup mahal dalam hal bahan, persiapan lokakarya guru, dan sebagainya. Sebagai alternatif, kepala bagian kurikulum ini mungkin mempertimbangkan studi kausal-komparatif dan membandingkan pencapaian siswa di sekolah yang saat ini menggunakan kurikulum baru dengan pencapaian siswa di kabupaten yang sama yang tidak menggunakan kurikulum baru. Jika hasil menunjukkan bahwa siswa di kabupaten dengan kurikulum baru mencapai nilai tinggi dalam bahasa Inggris, Kepala bagian kurikulum akan memiliki dasar untuk menerapkan kurikulum baru di kabupaten tersebut. Seperti studi korelasional, investigasi kausal-komparatif sering mengidentifikasi hubungan yang kemudian merupakan kajian yang dipelajari secara eksperimental. Bagaimanapun, meskipun menguntungan mereka, studi kausal-komparatif memiliki keterbatasan. Keterbatasan yang paling menonjol adalah kurangnya kontrol atas ancaman terhadap validitas internal. Karena manipulasi variabel independen telah terjadi, banyak kontrol yang telah kita diskusikan dalam Bab Tiga belas tidak dapat diterapkan. Jadi, perhatian khusus harus dinyatakan dalam menafsirkan hasil dari studi kausal-komparatif. Seperti halnya penelitian korelasional, hubungan dapat diidentifikasi, tetapi penyebab tidak dapat sepenuhnya ditemukan. Seperti yang telah kita lihat sebelumnya, penyebab dugaan benar-benar dapat menjadi efek. Efeknya mungkin menjadi penyebabnya, atau mungkin ada sepertiga variabel yang dihasilkan baik oleh sebab ataupun akibat dugaan.

Persamaan dan Perbedaan Antara Penelitian Korelasional dan Penelitian Kausal Komparatif
Antara penelitian Kausal-komparatif dengan penelitian korelasional kadang-kadang sulit dibedakan. Meskipun memang ada kesamaan, namun ada perbedaan mencolok. Persamaan: penelitian kausal-komparatif dan korelasional adalah sama-sama contoh penelitian yang merupakan hubungan antar dua variabel. Peneliti yang melakukan penelitian ini berusaha untuk mengeksplorasi hubungan antar variabel.

Keduanya berupaya untuk menjelaskan fenomena yang menarik. Keduanya berusaha untuk mengidentifikasi variabel yang layak eksplorasi kemudian dilakukan percobaan penelitian, dan keduanya sering memberikan bimbingan bagi studi eksperimental selanjutnya. Keduanya tidak memungkinkan manipulasi variabel oleh peneliti. Keduanya berusaha untuk mengeksplorasi penyebab, tetapi dalam kedua kasus, penyebab harus diperdebatkan; metodologi saja tidak mengizinkan pernyataan kausal. Perbedaan: studi-kausal-komparatif biasanya membandingkan dua atau lebih kelompok mata pelajaran, sedangkan penelitian korelasional memerlukan skor pada setiap variabel untuk setiap subjek. Penelitian korelasional menyelidiki dua (atau lebih) variabel kuantitatif, sedangkan penelitian kausal-komparatif biasanya melibatkan setidaknya satu variabel kategoris (keanggotaan kelompok). Studi korelasional sering menganalisis data menggunakan scatterplots (diagram pencar) dan/atau koefisien korelasi. sedangkan studi kausal-komparatif sering membandingkan rata-rata menggunakan crossbreak atau tabel.

Perbedaan dan Persamaan Penelitian Kausal-Komparatif dengan Penelitian Eksperimental
Persamaan: penelitian kausal-komparatif dan penelitian eksperimental biasanya membutuhkan setidaknya satu variabel kategoris (keanggotaan kelompok). Keduanya membandingkan kelompok (skor rata-rata) untuk menentukan hubungan. Kedua penelitian ini biasanya membandingkan sebagian subjek dari kelompok. Perbedaan: dalam penelitian eksperimental, variabel bebas yang dimanipulasi, dalam penelitian kausal-komparatif, manipulasi tidak dilakukan. studi Kausalkomparatif memberikan bukti penyebab yang lebih lemah daripada studi eksperimental. Dalam penelitian eksperimental, peneliti kadang-kadang dapat menetapkan subjek untuk diberi perlakuan terhadap kelompok tertentu, sedangkan dalam penelitian kausal-komparatif, kelompok yang diinginkan sudah terbentuk dan peneliti harus menemukan mereka. Dalam studi eksperimen, peneliti memiliki fleksibilitas jauh lebih besar pada penyusunan struktur desain penelitiannya.

Pendapat

Berbeda

Tentang

Bagaimana

Mengklasifikasikan

Metodologi Penelitian

Tidak ada sistem tunggal untuk mengklasifikasikan metode penelitian yang telah diterima secara luas. untuk meyakininya, perbedaan yang jelas telah ditarik antara metode eksperimental dengan nonexperimental dan antara kelompok pembanding dengan bentuk subjek tunggal penelitian eksperimental. Namun, penulis yang berbeda menggunakan kategori yang berbeda untuk menggambarkan penelitian nonexperimental. Kategori yang paling umum adalah yang kita digunakan dalam teks ini (korelasional, kausal-komparatif, dan survei). Kategori ini kebanyakan menyangkut masalah kenyamanan dan kebiasaan bukannya mencerminkan perbedaan penting. Metode korelasional dan kausal-komparatif berbeda terutama jika dilihat dari sifat variabel yang diselidiki (kuantitatif vs kategoris) dan metode analisis data. Penelitian survei berbeda dari dua penelitian lainnya, terutama dalam tujuannya. Kita harus mengakui bahwa sistem seperti ini sangat tidak memuaskan. Baru-baru ini, Johnson telah mengusulkan cara baru klasifikasi. Dia menyarankan menggunakan kombinasi tujuan (deskriptif, prediktif, atau penjelas) dan kerangka waktu (retrospektif, cross-sectional atau longitudinal) untuk mengidentifikasi metode yang berbeda. Kombinasi tersebut menghasilkan total sembilan jenis yang berbeda. Sementara kita akan setuju bahwa tipologi itu secara logis lebih konsisten. Kami tidak menemukan bahwa hal itu berguna atau tidak tepat untuk sebuah ductory teks. Mengapa? Karena langkah-langkah yang terlibat dalam korelasional, kausal-komparatif, dan penelitian survei sangat berbeda. Kami sangat percaya bahwa siswa perlu mempelajari langkah-langkah tersebut. Kami melihat tidak ada alasan untuk meningkatkan kompleksitas dalam melakukan penelitian pendidikan. Kami juga mencatat bahwa survei baru-baru ini terhadap guru menunjukkan bahwa 80 persen mendukung untuk tetap mempertahankan penelitian pendidikan korelasional dan kausal-komparatif meski jika dilihat perbandingannya, tampaknya itu berguna meskipun ada kekurangannya.

Langkah-Langkah dalam Penelitian Kausal Komparatif
PERUMUSAN MASALAH Langkah pertama merumuskan masalah dalam penelitian kausal komparatif biasanya adalah mengidentifikasi dan mendefinisikan fenomena yang khusus dan menarik untuk kemudian mempertimbangkan kemungkinan penyebab atau konsekuensi dari fenomena ini. Anggaplah misalnya bahwa peneliti tertarik pada kreativitas siswa. Apa yang menyebabkan kreativitas? Mengapa beberapa murid sangat kreatif, sementara sebagian besar tidak? Mengapa beberapa siswa yang

awalnya tampak kreatif tampaknya kehilangan karakteristik ini? Mengapa orang lain yang pada satu waktu tidak kreatif kemudian menjadi begitu? Dan sebagainya. Peneliti berspekulasi, bahwa kreativitas tingkat tinggi mungkin disebabkan oleh kombinasi sosial, kegagalan di satu sisi dan pengakuan pribadi untuk pencapaian artistik atau ilmiah di sisi lain. Para peneliti juga mengidentifikasi sejumlah hipotesis alternatif yang mungkin bisa menjelaskan perbedaan antara siswa sangat kreatif dan tidak kreatif . Baik kuantitas dan kualitas minat siswa mungkin dapat menjelaskan perbedaan dalam kreativitas. Siswa yang sangat kreatif mungkin cenderung memiliki kepentingan beragam. Dorongan orangtua untuk mengeksplorasi ide-ide mungkin juga mempengaruhi bentuk kreativitas dan beberapa jenis keterampilan intelektual. Setelah kemungkinan penyebab dari fenomena diidentifikasi, masalahmasalah tersebut (biasanya) dimasukkan ke dalam pernyataan masalah penelitian yang lebih tepat sesuai keinginan peneliti untuk penelitian yang akan dilakukannya. Dalam hal ini, peneliti mungkin menyatakan bahwa tujuan dari penelitiannya adalah untuk memeriksa kemungkinan perbedaan antara siswa yang memiliki kreativitas tinggi dan rendah. Catatan: perbedaan pada sejumlah variabel dapat diselidiki dalam studi kausal-komparatif untuk menentukan variabel (atau kombinasi variabel) yang paling mungkin menyebabkan fenomena (dalam hal ini kreativitas) dipelajari. Pengujian hipotesis ini memiliki beberapa alternatif karakteristik dasar yang baik untuk penelitian kausal-komparatif, dan jika memungkinkan harus menjadi dasar untuk mengidentifikasi variabel dimana kelompok pembanding harus kontras. Ini memberikan dasar yang rasional untuk seleksi dari variabel yang akan diselidiki daripada hanya bertumpu pada apa yang sering disebut “shotgun approach” yang sejumlah besar langkah-langkah yang diberikan hanya karena variabel tampak menarik atau tersedia. Penelitian ini juga berfungsi untuk mengingatkan peneliti bahwa temuan studi kausal-komparatif terbuka untuk berbagai penjelasan

SAMPEL
Setelah peneliti merumuskan pernyataan masalah (dan hipotesis jika ada), langkah berikutnya adalah memilih sampel individu untuk dipelajari. Hal yang penting di sini adalah untuk menentukan karakteristik yang akan dipelajari harus hati-hati dan kemudian untuk memilih kelompok yang berbeda dalam karakteristik ini. Dalam contoh di atas, ini berarti mendefinisikan sejelas mungkin pemaknaan kreativitas. Jika memungkinkan, definisi operasional harus digunakan. Seorang mahasiswa yang sangat kreatif dapat didefinisikan sebagai seseorang yang "telah mendapatkan penghargaan ilmiah atau mengembangkan produk artistik". Peneliti

juga perlu memikirkan bahwa kelompok yang diperoleh dengan menggunakan definisi operasional harus cukup homogen dalam hal faktor penyebab kreativitas. Sebagai contoh, apakah mahasiswa yang kreatif dalam ilmu mirip dengan siswa yang kreatif dalam seni sehubungan dengan sebab-akibat? Hal ini sangat penting untuk dipertanyakan. Jika kreativitas yang berbeda "menjadi penyebab" dalam bidang yang berbeda, pencarian penyebab hanya akan membingungkan dengan menggabungkan siswa dari bidang yang berbeda. Apakah etnis, usia, atau perbedaan gender menghasilkan perbedaan dalam kreativitas? Keberhasilan studi kausalkomparatif tergantung dalam derajat besar pada seberapa hati-hati perbandingan kelompok didefinisikan. Hal ini sangat penting untuk memilih kelompok yang homogen berkaitan dengan setidaknya beberapa variabel penting. Sebagai contoh, jika peneliti mengasumsikan bahwa penyebab yang sama berlaku untuk semua mahasiswa kreatif, terlepas gender, etnis, atau usia, ia dapat menemukan ada perbedaan antara kelompok pembanding hanya karena variabel lain terlalu banyak yang terlibat. Jika semua mahasiswa kreatif diperlakukan sebagai kelompok homogen, maka tidak ada perbedaan dapat ditemukan antara yang sangat kreatif dan siswa tidak kreatif, sedangkan jika yang dibandigkan hanya kreatif dan tidak kreatif dari mahasiswa seni yang berjenis kelamin perempuan, maka perbedaan dapat ditemukan. Setelah kelompok yang didefinisikan telah dipilih, mereka dapat dicocokkan pada satu variabel atau lebih. Proses pencocokan kontrol variabel-variabel tertentu dilakukan, sehingga menghilangkan setiap perbedaan kelompok pada variabelvariabel. Hal ini diinginkan di penelitian tipe l dan tipe 3 (lihat halaman 370-371), karena peneliti ingin kelompok semirip mungkin untuk menjelaskan perbedaan. Hal ini tergantung pada variabel sebagai akibat keanggotaan kelompok. Tidak sesuai dengan penelitian tipe 2 karena peneliti mungkin tahu sedikit tentang variabel asing yang mungkin berkaitan dengan perbedaan kelompok dan sebagai akibatnya tidak dapat cocok pada mereka.

INSTRUMEN
Tidak ada batasan pada jenis instrumen yang dapat digunakan dalam penelitian kausal-komparatif. Prestasi tes, kuesioner, jadwal wawancara, sikap tindakan, pengamatan perangkat-salah satu perangkat dibahas dalam Bab Tujuh dapat digunakan.

DESAIN

Dasar desain kausal-komparatif termasuk dalam memilih dua atau lebih kelompok yang berbeda pada variabel tertentu dan membandingkan mereka pada variabel satu dengan variabel yang lain. Dalam hal ini tidak ada manipulasi terlibat. Kelompok-kelompok berbeda dalam salah satu dari dua cara: satu kelompok memiliki sebuah karakteristik (sering disebut kriteria) dan yang lain tidak, atau kelompok yang berbeda pada karakteristik yang ada. Kedua variasi dari desain dasar yang sama (kadang-kadang disebut desain kriteria-kelompok) adalah sebagai berikut:

Ancaman terhadap Validitas Internal pada Penelitian Kausal Komparatif
Terdapat dua kelemahan dalam penelitian kausal komparatif, yaitu tidak adanya randomisasi dan ketidakmampuan untuk memanipulasi variabel bebas. Seperti yang telah dijelaskan, pengacakan subjek kelompok tidak mungkin dilakukan dalam penelitian kausal komparatif karena kelompok sudah terbentuk.

Manipulasi variabel bebas tidak mungkin dilakukan karena kelompok telah termasuk ke dalam variabel bebas. KARAKTERISTIK SUBJEK Ancaman utama terhadap validitas internal dari sebuah penelitian kausal komparatif adalah kemungkinan ancaman karakteristik subjek, karena peneliti tidak memiliki wewenang baik dalam pemilihan atau pembentukan kelompok pembanding, selalu ada kemungkinan bahwa kelompok-kelompok tersebut tidak setara pada satu atau lebih variabel penting selain variabel keanggotaan kelompok yang diidentifikasi (Gambar 16.2). Kelompok anak perempuan misalnya, mungkin lebih tuadari kelompok pembandingnyayaitu anak laki-laki.

Gambar 16.2

Terdapat sejumlah prosedur yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengurangi peluang ancaman karakteristik subjek dalam studi kausal komparatif. Prosedur-prosedur ini juga digunakan dalam penelitian eksperimental (lihat Bab Tiga belas). Pencocokan Subjek. Salah satu cara untuk mengendalikan variabel ekstra dilakukan melalui pencocokkan subjek dari kelompok kata lain, pasangan perbandingan pada subjek, satu variabel tersebut. Dengan dari masing-masing

kelompok, ditemukan yang mirip pada variabel tersebut. Siswa mungkin memiliki kecocokan pada IPK-nya, sebagai contoh, misalnya dalam studi sikap. Individu dengan IPK yang sama akan dicocokkan. Jika sebuah kecocokan tidak dapat ditemukan pada subjek tertentu, subjek kemudian dieliminasi dari penelitian. Seperti yang mungkin Anda sadari, masalah dengan pencocokan yang sering terjadi adalah kecocokan tidak dapat ditemukan pada banyak subyek, dan

karenanya ukuran sampel yang sesuai dikurangi. Pencocokan menjadi lebih sulit ketika peneliti mencoba untuk mencocokkan dua atau lebih variabel. Mencari atau Membentuk Subkelompok Homogen. Cara lain untuk

mengendalikan variabel ekstra adalah dengan menemukan atau membatasi satu perbandingan untuk dibandingkan dengan kelompok-kelompok yang relatif homogen pada variabel tersebut. Dalam studi sikap, peneliti juga bisa berusaha untuk menemukan dua kelompok yang memiliki IPK yang sama (katakanlah, semua memiliki IPK 3,5 atau di atas 3,5) atau membentuk subkelompok-subkelompok yang mewakili berbagai tingkat dari variabel ekstra (misalnya membagi kelompok menjadi subkelompok-subkelompok yang memiliki IPK tinggi, menengah, dan rendah), dan kemudian membandingkan subkelompok yang sebanding (subkelompok yang memiliki IPK rendah dengan subkelompok yang memiliki IPK rendah lainnya, dan seterusnya). Pencocokan Statistik. Cara ketiga untuk mengontrol suatu variabel ekstra yang penting adalah dengan mencocokkan kelompok pada variabel tersebut dengan menggunakan teknik pencocokan statistik. Seperti dijelaskan dalam Bab Tiga Belas, pencocokan statistik ANCAMAN LAIN Kemungkinan ancaman yang tersisa untuk validitas internal tergantung pada jenis penelitian yang dipertimbangkan. Dalam penelitian non-intervensi, masalah tambahan utama adalah hilangnya subjek, lokasi, instrumentasi, dan kadang-kadang sejarah serta kematangan (kedewasaan). Jika orang-orang yang hilang selama pengumpulan data berbeda dari mereka yang ada (seperti yang sering terjadi) dan jika yang hilang dari satu kelompok lebih banyak dari kelompok lainnya, maka validitas internal terancam. Jika nomor yang tidak setara yang hilang, usaha harus dilakukan untuk menentukan alasan-alasan kemungkinan. Ancaman lokasi mungkin terjadi jika data yang dikumpulkan dibawah kondisi yang berbeda untuk kelompok yang berbeda. Demikian pula jika pengumpul data berbeda digunakan dengan kelompok berbeda, maka kemungkinan ancaman instrumentasi dapat terjadi. Untungnya, biasanya relatif mudah untuk memastikan bahwa tidak ada variasi pada lokasi dan pengumpul data. Kemungkinan bias pengumpul dalam penelitian yang mengumpulkan data bisa data biasanya mengalami dapat dikendalikan seperti bahwa siapapun yang eksperimental dengan memastikan menyesuaikan skor posttest untuk perbedaan awal pada beberapa variabel lain yang diasumsikan terkait dengan kinerja pada variabel terikat.

kekurangan informasi

mungkin menyebabkan hasilnya menjadi bias. Ketidaklayakan instrumen dapat terjadidalam penelitian observasional, tetapi dengan pemberian tes yang sama secara berulang untuk kelompok yang sama hal di ini dapat dikontrol yang seperti telah dalam penelitian eksperimental. Dalam jenis penelitian intervensi, samping ancaman dibahas, semua ancaman yang tersisa yang kita bahas dalam Bab Tiga Belas mungkin terjadi. Sayangnya, kebanyakan ancaman tersebut sulit untuk dikontrol dalam penelitian kausal komparatif jika dibandingkan tidak secara dengan langsung penelitian eksperimental. Kenyataan bahwa peneliti

memanipulasi variabel perlakuan membuat kemungkinan ancaman sejarah dapat terjadi. Ini juga berarti bahwa panjang dari waktu perlakuan mungkin bervariasi, sehingga menciptakan suatu kemungkinan bagi adanya ancaman kematangan (kedewasaan). Ancaman sikap kecil kemungkinannya untuk terjadi karena tidak ada sesuatu yang "khusus" diperkenalkan. Regresi dapat menjadi ancaman jika salah satu kelompok awalnya dipilih atas dasar skor ekstrim. Akhirnya, efek perlakuan pretest/interaksi, seperti dalam penelitian eksperimental mungkin terjadi jika pretest digunakan dalam penelitian ini. Seperti yang telah disebutkan dalam Bab 13 (lihat halaman 287), kita berpikir bahwa baik penelitian eksperimental maupun kausal komparatif merupakan penelitian intervensi yang berguna.

Mengevaluasi Ancaman Validitas Internal dalam Penelitian KausalKomparatif
Evaluasi ancaman tertentu terhadap validitas internal dalam penelitian kausal komparatif melibatkan serangkaian langkah-langkah serupa dengan yang disajikan dalam Bab Tiga Belas pada penelitian eksperimental. Langkah 1: Tanyakan: Faktor-faktor tertentu apakah baik yang diketahui mempengaruhi atau secara logis mungkin diharapkan mempengaruhi variabel pada kelompok yang sedang dibandingkan? Catat bahwa hal ini merupakan variabel terikat untuk penelitian tipe 1 dan tipe 3 (lihat halaman 370-371), tetapi merupakan variabel bebas untuk penelitian tipe 2. Seperti yang telah disebutkan mengenai hal yang berkaitan dengan studi eksperimental, peneliti tidak perlu khawatir dengan faktor-faktor yang tidak terkait dengan apa yang sedang dipelajari.

Langkah 2: Tanyakan: Apakah kemungkinan kelompok pembanding berbeda pada masing-masing faktor? (Ingat bahwa perbedaan antara kelompok tidak dapat dijelaskan oleh faktor yang sama untuk semua kelompok.) Langkah 3: Mengevaluasi ancaman berdasarkan bagaimana besar kemungkinan ancaman tersebut memberikan efek dan rencana untuk mengontrolnya. Jika ancaman yang diberikan tidak dapat dikontrol, ini harus diakui. Sekali lagi, mari kita yang perhatikan contoh mungkin untuk menggambarkan Misalnya seorang bagaimana langkah-langkah digunakan.

peneliti ingin mengeksplorasi kemungkinan penyebab siswa putus sekolah pada sekolah tinggi di pusat kota. Peneliti berhipotesis mengenai tiga kemungkinan penyebab: (1) ketidakstabilan keluarga, (2) siswa rendah diri, dan (3) kurangnya sistem dukungan yang terkait dengan sekolah dan persyaratannya. Peneliti menyusun daftar siswa putus sekolah dan secara acak memilih kelompok pembanding, yaitu siswa yang masih bersekolah. Peneliti kemudian melakukan wawancara pada kedua kelompok siswa untuk memperoleh data pada masingmasing tiga variabel kausal yang mungkin. Seperti yang sudah kami lakukan dalam Bab Tiga Belas dan Lima Belas, kami mendaftar sejumlah ancaman terhadap validitas internal yang sudah dibahas dalam Bab Sembilan, diikuti dengan evaluasi kami terhadap ancaman-ancaman

tersebut karena ancaman tersebut mungkin berlaku untuk penelitian ini. Karakteristik Subjek. Meskipun ada banyak kemungkinan karakteristik subjek yang mungkin dipertimbangkan, di sini kita hanya berkonsentrasi dengan empat karakteristik subjek, yaitu: tingkat sosial ekonomi keluarga, jenis kelamin, etnis, dan keterampilan kerja yang bisa dipasarkan.
1. Tingkat sosial ekonomi keluarga. Langkah 1: Tingkat sosial ekonomi mungkin

berhubungan dengan semua dari ketiga hipotesis variabel kausal. Langkah 2: Tingkat sosial ekonomi bisa diharapkan akan berhubungan dengan siswa putus sekolah dibandingkan dengan siswa yang masih bersekolah. Oleh karena itu harus dikontrol oleh beberapa bentuk pencocokan. Langkah 3: Kemungkinan memberikan pengaruh: tinggi, kecuali jika dikendalikan.
2. Gender. Langkah 1: Gender juga dapat berhubungan dengan masing-masing dari

tiga variabel kausal yang dihipotesiskan. Langkah 2: Gender juga mungkin terkait dengan siswa putus sekolah. Oleh karena itu, peneliti harus membatasi studi ini hanya untuk siswa laki-laki atau perempuan atau memastikan bahwa kelompok pembanding memiliki proporsi jenis kelamin yang sama dengan kelompok siswa

putus sekolah. Langkah 3: Kemungkinan memberikan pengaruh: tinggi, kecuali jika dikendalikan.
3. Etnis. Langkah 1: Etnis juga mungkin terkait dengan semua dari tiga dari variabel

kausal yang dihipotesiskan. Langkah 2: Etnis mungkin berkaitan dengan siswa putus sekolah. Oleh karena itu, dua kelompok harus dicocokkan sehubungan dengan etnisitas. Langkah 3: Kemungkinan memberikan pengaruh: sedang sampai tinggi, kecuali jika dikendalikan.
4. Keterampilan kerja yang dapat dipasarkan. Langkah 1: Keterampilan kerja dapat

terkait dengan setiap variabel dari tiga hipotesis kausal. Langkah 2: Keterampilan kerja mungkin berhubungan dengan keputusan siswa untuk berhenti sekolah, karena seringkali siswa putus sekolah ketika mereka mampu menghasilkan uang. Karakteristik ini diharapkan, oleh karena itu, perlu untuk menilai keterampilan kerja melalui kontrol beberapa bentuk instrumen yang cocok: Kemungkinan memberikan pengaruh: sedang sampai tinggi, kecuali jika dikendalikan. Mortalitas. Langkah 1: Kemungkinan bahwa penolakan untuk diwawancarai berhubungan dengan masing-masing dari ketiga hipotesis variabel kausal. Langkah 2: Kemungkinan bahwa lebih banyak siswa dalam kelompok putus sekolah akan menolak untuk diwawancarai (karena mereka mungkin bekerja, mungkin lebih sulit untuk mengatur waktu untuk wawancara) daripada siswa yang berada dalam kelompok pembanding. Harus dicari upaya jalan keluar agar terjadi kerjasama untuk proses wawancara dari semua subjek pada kedua kelompok. Langkah 3: Kemungkinan memberikan pengaruh: tinggi, kecuali jika dikendalikan. Lokasi. Langkah 1: sementara tampaknya tidak mungkin bahwa variabel kausal akan berbeda untuk sekolah yang berbeda, tapi ini mungkin terjadi. Langkah 2: Hal ini sangat mungkin bahwa lokasi (yaitu sekolah-sekolah menengah tertentu yang terlibat dalam penelitian) berhubungan dengan dropping-out. (Tingkat putus sekolah biasanya berbeda antarsekolah.) Solusi terbaik adalah dengan menganalisis data secara terpisah untuk setiap sekolah. Langkah 3: Kemungkinan memberikan pengaruh: moderat, kecuali jika dikendalikan. INSTRUMENTASI
1. Ketidaklayakan

instrumen. Langkah 1: ketidaklayakan instrumen dalam

penelitian ini berarti kelelahan narasumber. Hal ini tentu dapat mempengaruhi informasi yang diperoleh dari siswa pada kedua kelompok. Langkah 2: Faktor kelelahan bisa berbeda untuk dua kelompok, tergantung pada bagaimana

wawancara

dijadwalkan.

Solusinya adalah

mencoba

untuk

mengatur

jadwal wawancara untuk mencegah terjadinya kelelahan dari kedua kelompok terjadi. Langkah 3: Kemungkinan memberikan pengaruh: moderat, kecuali jika dikendalikan.
2. Karakteristik pengumpul data. Langkah 1: Karakteristik pengumpul data dapat

mempengaruhi informasi yang diperoleh pada tiga hipotesis variabel kausal, karena alasan ini, pelatihan penting. pewawancara Langkah 2: untuk membakukan proses wawancara sangat Meskipun dilakukan pelatihan,

pewawancara yang berbeda mungkin memperoleh informasi yang berbeda. Oleh karena itu, pewawancara harus seimbang pada kedua kelompok, yaitu masingmasing pewawancara harus dijadwalkan untuk memberikan jumlah pertanyaan yang sama dari wawancara dengan masing-masing kelompok. Langkah 3: Kemungkinan memberikan pengaruh: moderat, kecuali jika dikendalikan.
3. Bias

pengumpul untuk

data. Langkah 1: Bias mungkin variabel dua · kelompok,

terkait

informasi

yang

diperoleh pada ketiga hipotesis berbeda

kausal. Langkah 2: Bias mungkin pewawancara mungkin

misalnya seorang

berperilaku berbeda ketika mewawancarai siswa putus sekolah. Solusi untuk permasalahan ini adalah dengan menjaga agar pewawancara tidak melakukan kesalahan pada masing-masing kelompok yang diwawancai. Untuk melakukan hal ini, harus diperhatikan aspek pertanyaan yang akan diajukan maupun pelatihan pewawancara. Langkah 3: Kemungkinan memberikan pengaruh: tinggi, kecuali jika dikendalikan. Ancaman Lainnya. Ancaman implementasi, sejarah, kematangan, sikap, dan regresi tidak mempengaruhi jenis penelitian kausal komparatif ini (tipe 2). Trik untuk mengidentifikasi ancaman terhadap validitas internal dalam penelitian kausal-komparatif (seperti dalam penelitian eksperimental) adalah, pertama, memikirkan berbagai hal (kondisi, variabel lainnya, dan sebagainya) yang mungkin mempengaruhi variabel hasil penelitian. Kemudian, kedua, memutuskan, berdasarkan bukti atau pengalaman, apakah hal-hal ini akan cenderung mempengaruhi kelompok pembanding secara berbeda. Jika demikian, hal ini dapat menjadi penjelasan alternatif untuk hasilnya. Jika hal ini mungkin, ancaman terhadap validitas internal dari penelitian ini memang mungkin terjadi dan perlu dikendalikan. Banyak ancaman yang dapat dikurangi jika penelitian kausal komparatif direplikasi. Gambar 16.3 merangkum ancaman terhadap validitas internal. proses evaluasi kehadiran

Analisis Data
Langkah pertama dalam menganalisis data pada penelitian kausal komparatif ini adalah dengan membuat poligon frekuensi dan kemudian menghitung mean dan standar deviasi masing-masing kelompok jika variabelnya adalah variabel kuantitatif. Statistik deskriptif ini yang kemudian dinilai besarnya (lihat Bab Dua Belas). Sebuah uji statistik inferensial mungkin sesuai atau mungkin tidak sesuai, tergantung pada apakah sampel acak digunakan dari populasi yang teridentifikasi (seperti misalnya siswa kreatif dibandingkan dengan siswa tidak kreatif pada tingkat SMA). Tes yang paling umum digunakan.pada penelitian kausal komparatif adalah uji t untuk perbedaan di antara rata-rata. Ketika lebih dari dua kelompok yang digunakan, maka baik analisis varians atau analisis kovarians merupakan uji yang tepat. Analisis kovarians sangat membantu dalam penelitian kausal-komparatif karena peneliti tidak dapat selalu mencocokkan kelompok pembanding pada semua variabel yang relevan selain variabel yang menjadi kepentingan utama. Seperti disebutkan dalam BAB Sebelas, analisis kovarians dapat mencocokkan kelompok "setelah fakta" pada variabel-variabel seperti usia, status sosial ekonomi, bakat, dan sebagainya. Sebelum analisis kovarians dapat digunakan, data yang terlibat harus memenuhi asumsi tertentu.

Hasil dari penelitian kausal komparatif harus diinterpretasikan dengan hatihati. Seperti pada penelitian korelasional, penelitian kausal komparatif dapat dengan

baik mengidentifikasi hubungan antara variabel, tetapi tidak membuktikan penyebab dan efek. Ada dua cara untuk memperkuat interpretabilitas dari penelitian kausalkomparatif. Pertama, seperti telah disebutkan sebelumnya, hipotesis alternatif harus dirumuskan dan diinvestigasi bila memungkinkan. Kedua, jika variabel terikat yang terlibat adalah variabel kategoris, hubungan antara semua variabel dalam penelitian ini harus diperiksa menggunakan teknik analisis diskriminan fungsi, yang secara singkat sudah dijelaskan dalam Bab Lima Belas. Cara yang paling tepat untuk memeriksa kemungkinan penyebab diidentifikasi dalam studi kausal-komparatif, tentu saja malalui rangkaian percobaan. Penyebab diduga (atau kadang bisa dimanipulasi. yang menyebabkan) diidentifikasi kadang-

Keharusan untuk mencari perbedaan antara kelompok eksperimen dan kontrol sekarang dapat ditemukan, peneliti kemudian memiliki banyak alasan yang lebih baik untuk menyimpulkan sebab-akibat.

Asosiasi Diantara Variabel Kategoris
Sampai pembahasan ini, diskusi kita tentang metode asosiasi hanya dianggap situasi dimana: (1) satu variabel adalah variabel kategoris dan yang lainnya adalah variabel kuantitatif (kausal komparatif), dan (2) kedua variabel merupakan variabel kuantitatif (korelasional). Hal ini juga mungkin untuk menyelidiki hubungan antara variabel kategori. Kedua tabel crossbreak (lihat Bab Sepuluh) dan koefisien kontingensi digunakan. Sebuah contoh hubungan antara variabel-variabel kategori ditunjukkan pada Tabel 16. 1

Seperti pada korelasi, data tersebut dapat digunakan untuk tujuan prediksi dan mencari sebab dan akibat secara hati-hati. Sebagai contoh, diketahui bahwa seseorang berjenis kelamin laki-laki dan berprofesi sebagai guru. Kita dapat memprediksi dengan beberapa tingkat kepercayaan (berdasarkan data dalam Tabel 16.1), bahwa orang tersebut mengajar baik di jenjang SMP maupun SMA, karena 76 persen laki-laki yang berprofesi sebagai guru begitu. Kita juga dapat memperkirakan Berdasarkan data pada kesalahan 40/170 berapa besar atau kesalahan contoh prediksi mungkin pada terjadi. tingkat Tabel 16.1. probabilitas prediksi berada 0,24. Dalam

ini, kemungkinan bahwa

gender adalah penyebab utama tingkat pengajaran tampaknya cukup kecil. Ada variabel lain, seperti pola-pola historis persiapan dan perekrutan guru yang membuat seseorang memungkinkan untuk menjelaskan suatu hubungan. Tidak ada teknik analog untuk korelasi parsial (lihat Bab Lima Belas) atau teknik lain yang telah berevolusi dari penelitian korelasional yang dapat digunakan dengan variabel kategorial. Lebih lanjut, prediksi dari tabel crossbreak sangat kurang

tepat dibandingkan scatterplots. Untungnya, ada sedikit pertanyaan relatif untuk penelitian dalam pendidikan yang melibatkan dua variabel kategori. Hal tersebut umumnya terjadi ketika menemukan peneliti yang mengancam variabel yang secara konseptual kuantitatif (dan diukur dengan sesuai) tapi seolah-olah mereka kategoris. Misalnya, seorang peneliti secara sewenang-wenang bisa membagi satu set skor kuantitatif menjadi kelompok tinggi, menengah, dan rendah. Tidak ada yang dapat diperoleh dengan prosedur ini, dan hal ini akan menimbulkan dua kecacatan yang serius: hilangnya presisi yang diperoleh melalui penggunaan teknik korelasional dan kesewenang-wenangan pada pembagian kelompok. Bagaimana seseorang memutuskan memisahkan skor nilai "tinggi" dari nilai "menengah", misalnya? Oleh karena itu, pembagian kelompok dengan sewenang-wenang tersebut harus dihindari.*
* Adasaat-saat variabel kuantitatif dibenarkan untuk diperlakukan sebagai variabel kategoris. Sebagai contoh, kreativitas umumnya dianggap menjadi variabel kuantitatif. Orang mungkin menetapkan kriteria untuk membagi seri ini hanya ke dalam dua kategori – “kreativitas tinggi” dan "kreatif biasa” – sebagai cara untuk mempelajari hubungan dengan variabel lain yang lebih efisien.

Temuan Signifikan Pada Penelitian Kausal Komparatif
Sebuah penelitian kausal komparatif secara luas dilakukan oleh dua peneliti pada tahun 1940 .* Mereka membandingkan dua kelompok. Dari 500 anak laki-laki, satu kelompok diidentifikasi sebagai anak nakal berdasarkan kelompok anak yang telah dilembagakan (rata-rata 7 bulan), dan kelompok kedua tidak begitu diidentifikasi. Kedua kelompok berasal dari daerah "berisiko tinggi" yang sama di Boston. Pasangan anak laki-laki, satu dari setiap kelompok, dicocokkan etnisnya, IQ, dan usianya. *S. Gluek dan E. Gluek (1950). Unraveling Juvenile Delinquency. Cambridge MA:Harvard University Press. Mereka menemukan perbedaan utama di antara kedua kelompok. Anak-anak dalam 'kelompok nakal memiliki otot yang lebih kuat, lebih energik dan ekstrovert, lebih tidak konvensional dan menantang, kurang metodis dan abstrak, dan berasal dari tingkat kohesif yang kurang, keluarga yang kurang kasih sayang. Dengan menggabungkan karakteristik ini, diperoleh tabel untuk memprediksi kemungkinan kenakalan yang telah menerima validasi yang cukup besar dalam pengaturan lainnya selama bertahun-tahun. Meskipun demikian, argumen terus berkembang untuk menyelidiki sebab dan akibat disesuaikan dengan keinginan orang yang menggunakan informasi prediktif tersebut. Informasi ini dapat digunakan baik sebagai intervensi yang baik (seperti yang diharapkan oleh peneliti yang melakukan studi asli) atau untuk menstigmatisasi dan memaksa. S. Gluek dan E. Gluek (1974). Of Delinquency and Crime. Springfield, IL: C. Thomas.

Contoh Penelitian Kausal Komparatif
Dalam sisa bab ini, kami menyajikan contoh penelitian kausal komparatif yang diterbitkan dengan disertai kritik terhadap kekuatan dan kelemahannya. Seperti kritik yang sudah kami berikan dalam berbagai jenis penelitian yang kami analisis dalam bab-bab lain, kami menggunakan konsep yang diperkenalkan di bagian awal buku dalam analisis kami. Penelitian ini adalah contoh dari berbagai campuran metode penelitian. Laporan penelitian Sekolah Konseling Profesional. 4, No. 2 (Desember 2000) 86-94 Karakter Individu, Karakter dalam Keluarga, dan Karakter Sosial Siswa Temperamental
Dale Fryxell, Ph. D Universitas Chaminade, Honolulu, HI. Douglas C. Smith, Ph. D. Universitas Hawaii, Honolulu.

Masyarakat saat ini terfokus pada kajian kekerasan siswa di sekolah. konselor pendidikan bidang konsultan psikologi diminta untuk membentuk kebijakan agar kekerasan siswa di sekolah bisa dicegah. Kekerasan di sekolah saat ini mencapai tingkat tinggi dengan berbagai kasus dan penyebabnya. Penyebab yang paling dominan adalah tingkat temperamen dan tingkat permusuhan antarsiswa. Tingkat temperamental merupakan penyebab yang paling banyak ditemukan dan menjadi referensi bagi konselor sekolah (Smith & Furlong, 1994). Peranan tingkat kemarahan dan permusuhan sebagai prekursor perilaku agresif dapat dilihat pada meningkatnya jumlah program anger management yang sedang beroperasi dalam pengaturan sekolah (Larson, 1994; Smith, Larson, DeBaryshe, & Salzman, 2000). Justifikasi Masalah Penelitian dan Penelitian Sebelumnya Anak-anak diidentifikasi sebagai pelaku kenakalan dan permusuhan tingkat tinggi di sekolah. Hal ini tampaknya akan beresiko untuk sejumlah penyimpangan perilaku, sosial, akademik, dan cacat fisik (Smith & Furlong, 1994). Penelitian longitudinal menemukan bahwa anak temperamen dan agresif akan tumbuh menjadi individu dewasa yang temperamen dan agresif (Elliot, Huizinga, & Ageton, 1985; Kazdin, 1987; Olweus, 1979) sehingga tingkat temperamen tersebut perlu di identifikasi sejak dini dengan penanganan yang serius. Sehubungan dengan hasil

yang spesifik untuk anak-anak dan remaja, beberapa penelitian menemukan bahwa kenakalan dan permusuhan pada siswa berasosiasi dengan tingkat akademik yang rendah dan dengan berbagai kesulitan sosial serta perilaku, baik di dalam dan di luar sekolah. Deffenbacher dkk. telah memberikan beberapa petunjuk yang menjanjikan untuk penelitian masa depan dengan temuan awal yang menghubungkan kenakalan di masa muda dengan peningkatan risiko dalam penyalahgunaan obat, kesulitan interpersonal, dan perilaku maladaptif di sekolah lainnya. Dalam meneliti pengaruh kausal pada kemarahan, permusuhan, dan agresi pada anak-anak, Greenberg, Speltz, dan DeKlyen (1993) mengusulkan empat faktor model yaitu tekanan keluarga, gaya disiplin orangtua, hubungan keterikatan, dan karakteristik anak seperti individu yang temperamen. Tolan, Guerra, dan Kendall (1995) menyarankan para peneliti agar mempertimbangkan beberapa jalur perkembangan ekologi untuk perilaku antisosial anak-anak. Ini mungkin termasuk karakteristik individu dan interpersonal sebagai variabel kontekstual, termasuk budaya yang spesifik, dan perilaku masyarakat. Dalam kebanyakan kasus, tampak bahwa faktor-faktor tersebut mempengaruhi perilaku anak-anak. Sebagai contoh, Patterson dkk. (Patterson, 1982; Patterson, DeBaryshe,& Ramsey, 1989; Reid & Patterson, 1991) menyarankan bahwa temperamen individu, kecenderungankemarahan dan agresi, dibentuk dan dimodifikasi melalui interaksi, baik dalam keluarga maupun di luar keluarga. Secara khusus, awal interaksi keluarga dan kemampuan anak membedakan pengaruh positif-negatif lingkungan dapat dijadikan sebagai model dari perilaku agresif. Derajat pengasuhan dan dukungan keluarga merupakan faktor penentu perkembangan sosial dan emosional anak-anak. (Reid & Patterson, 1991). Objek Riset Faktor pribadi mencakup ciri-ciri kepribadian, watak, kereaktifan, dan tabiatnya. Dalam hal kemarahan dan permusuhan, faktor-faktor ini memiliki kecenderungan untuk bereaksi intensif terhadap munculnya pelanggaran. Faktor pribadi mungkin juga mencakup sosial-kognitif sebagai ciri kausal proses yang menilai kesengajaan pada bagian orang lain. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa anak-anak yang agresif sering menghubungkan secara sengaja tindakan negatif oleh teman sebayanya, sehingga membenarkan balas dendam secara agresif (Dodge, 1991). Faktor-faktor sekolah tidak hanya meliputi fisik lingkungan, ukuran sekolah, suasana sekolah umum, tapi juga variabel-variabel seperti sikap guru dan administrator, kebijakan disiplin, serta prestasi akademis siswa. Smit el al. (1987)

menyimpulkan bahwa paling sedikit beberapa ekspresi kemarahan dan permusuhan oleh siswa di lingkungan sekolah mungkin diakibatkan oleh kegagalan akademis dan/atau kelemahan dalam kompetensi akademis. Hubungan teman sebaya juga sangat menentukan kemarahan dan permusuhan di sekolah. Hal ini semakin bertambah jelas bahwa siswa yang kurang mampu bersosialisasi dan memiliki beberapa teman di sekolah lebih mudah mendapat perilaku agresif. Dalam sebuah studi longitudinal, kompetensi emosional dan hubungan teman sebaya (Eisenberg at al., 1995) ini ditentukan oleh seringnya emosi negatif anak-anak, seperti kemarahan dan ketidakmampuan untuk mengatur perasaan negatif secara efektif terkait dalam penerimaan teman sebaya. Kebanyakan dari penelitian selanjutnya telah difokuskan pada pemahaman kompleks yang saling mempengaruhi antara individu dan faktor-faktor kontekstual yang dilibatkan dalam memperlihatkan kebiasaan agresif anak. Jelas dibutuhkan kerja ekstra untuk memberikan sebuah gambaran yang lebih detil bagi keduanya dari faktor-faktor yang menunjukkan kemarahan dan permusuhan yang tinggi pada masa remaja, dampak dari kemarahan dan permusuhan saat bergaul, berperilaku, serta fungsi akademis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan sebuah gambaran detail mengenai kenakalan dan permusuhan siswa, sehingga dibutuhkan pengumpulan data deskriptif dari personal, keluarga, teman sebaya, faktor-fakor yang menghubungkan sekolah, dan siswa yang menunjukkan masalah hubungan kemarahan di sekolah. Pada konsep penelitian ini, kami memutuskan untuk menggunakan pendekatan modifikasi case-study dalam menganalisis detil dari kemarahan, permusuhan, dan tindakan agresif sebelum anak memasuki masa remaja secara relatif. Sumber informasi dirasa penting dalam penelitian ini, maka dari itu kami melakukan wawancara tidak hanya terhadap siswa, tapi juga orang tua dan guru. Wawancara semi-struktur tersebut dilengkapi dengan ulasan dan pengukuran standar perilaku, sikap sekolah, self-esteem berikut hasil akademis.

METODE Peserta Peserta untuk studi ini adalah 24 siswa nakal umur sekolah dasar yang diidentifikasi berdasarkan peringkat guru dan distandarkan pada penilaian dan angka yang sama dari siswa tidak nakal yang bertindak sebagai sampel perbandingan. Kedua kelompok siswa diambil dari 12 sekolah dasar di daerah Honolulu, Hawaii.

Pada umumnya, semua sekolah menerima siswa dari berbagai tingkat ekonomi dan etnis yang berbeda di satu daerah kota yang kepadatan populasinya tinggi. Ke-24 siswa yang merupkan kelompok siswa nakal terdiri dari 20 laki-laki dan 4 perempuan sama-sama dibagi antara kelas lima dan kelas enam. Usia rata-rata untuk grup ini adalah 10,5 tahun. Pembagian etnik grup ini tercermin dari asal masyarakat yang meliputi: enam orang kulit putih, empat orang penduduk pulau Pasifik, satu orang Amerika asli, dan/atau keturunan Filipina. Ke-24 siswa tidak nakal meliputi 8 laki-laki dan 16 wanita yang sama-sama terdiri atas kelas lima dan enam. Usia rata-rata grup ini adalah 10,6 tahun. Pembagian etnik grup ini meliputi tiga orang kulit putih, lima orang penduduk pulau Pasifik, satu orang Afrika-Amerika, dua orang Hispanics, dan sisanya orang AsiaAmerika yang meliputi orang Jepang, orang Cina, orang Korea, dan orang Filipina yang masih belia. Instrumen Sistem Penilaian Perilaku untuk Anak-Anak (BASC) --- subskala serangan (Reynolds&Kamphaus, 1992) digunakan untuk mengukur persepsi guru tentang fisik siswa dan serangan verbal di sekolah. Item-item dibuat sesuai dengan format 4 skala Likert dengan 1 menjadi “tidak semua” dan 4 menjadi “setiap saat”. Ke-14 item subskala serangan memiliki sebuah konsistensi internal hingga 0,95 dan reabilitas test-retest hingga 0,91 (Reynolds&Kamphaus, 1992). Profil pengamatan diri siswa (SPP; Harter, 1985) dilakukan dengan mengukur 36 item yang menunjukkan perasaan diri berharga, yang terdiri dari 6 subskala yang meliputi kompetensi skolastik, penerimaan sosial, kompetensi atletik, penampilan fisik dan menghargai diri seutuhnya. Item-item dibuat sesuai dengan format 4 poin Likert dengan 1 menjadi “tidak semua menyukai saya” dan 4 menjadi “sangat banyak yang menyukai saya”. Konsistensi internal untuk SPP ditentukan dengan rentang dari 0,71 hingga 0,82 (Harter, 1985). Prosedur Guru-guru didefinisikan kelas lima dan enam yang berpartisipasi di minta untuk sering memperlihatkan ledakan emosi, menunjuk kriteria siswa nakal dan “siswa tidak nakal” di sekolah. Siswa nakal sebagai siswa yang dihubungkan dengan perasaan marah; didemonstrasikan dengan sikap sinis, bermusuhan atau sikap marah; atau dilibatkan memerangi atau memainkan peran ketika marah dalam insiden berulang, serta sikap agresif. Siswa tidak nakal telah

didefinisikan sebagai siswa yang jarang atau tidak pernah menunjukkan karakteristik ini. Seluruh siswa di 12 kelas dites dengan menggunakan Multidimensional School Anger Inventory (MSAI; Smith at al, 1998). Adapun variabel yang diukur yaitu: penyebab kemarahan, permusuhan sinis, dan ekspresi marah yang negatif. Baik konsistensi internal maupun skala validitas konstruk telah sangat ditentukan (Smith et al., 1998). Rentang konsistensi internal subskala MSAI 0,58 hingga 0,88. Hubungan kriteria validitas telah ditentukan sebagai rentang dari 0,39 hingga 0,54 diantara subskala MSAI dan pengukuran lainnya. Ke-24 siswa didesain sebagai siswa nakal. Siswa tersebut dinilai berdasarkan subskala MSAI teratas di kelasnya. Ke-24 siswa yang lainnya didesain sebagai siswa tidak nakal yang ditentukan berdasarkan skor MSAI terendah. Total sampel adalah 48 siswa yang terdiri dari kelompok siswa nakal dan siswa tak nakal. Siswa kemudian diwawancarai secara individu oleh satu dari enam alumni sekolah yang terlatih. Seluruh wawancara diambil pada masing masing sekolah anak dan meliputi pertanyaan wawancara yang didesain secara semistructured untuk menggali informasi dalam pengalaman-pengalaman sekolah, pertemanan, persepsi diri, lingkungan rumah, dan pengalaman spesifik siswa. Wawancara terhadap siswa juga dilengkapi dengan BASC dan SPP. Guru juga diwawancarai secara individu dan diminta untuk melengkapi wawancara semiconstructed dan sebagian dari BASC. Dari wawancara terhadap guru diperoleh informasi tentang latar belakang guru, persepsi fungsi siswa di sekolah, dan kesan spesifik dalam hal kemarahan siswa. Akhirnya, orangtua dari siswa nakal dan tidak nakal diwawancara secara individu mengenai demografis keluarga, sejarah perkembangan siswa, aktivitas sosial dan waktu luang, pengalaman-pengalaman kenakalan anaknya, serta harapan-harapan ke depan. Agar mudah menganalisis data kualitatif, kami mengkode siswa, guru, dan respon orang tua untuk pertanyaan terbuka pada 3 poin skala Likert. Skor tertinggi direpresentasikan lebih bermasalah dan skor terendah direpresentasikan tanpa masalah kenakalan. Hal tersebut meliputi: daya dukung lingkungan, perasaan dan sikap serta perilaku. Skor terbawah diindikasikan lebih positif dan berfungsi prososial. Hasil Data dari wawancara orang tua, guru dan siswa diorganisasikan menurut empat daerah utama-personal, keluarga, teman sebaya, dan faktor sekolah. Variabel personal meliputi jenis kelamin dan etnis peserta, merasa diri berharga sebagai

pengukuran oleh SPP dan kedua deskripsi negatif dan dalam respon deskripsi diri hubungan kenakalan untuk pertanyaan wawancara semi-structured. Variabel keluarga meliputi status perkawinan orang tua, dan persepsi guru terhadap dukungan orang tua. Variabel teman sebaya, meliputi jumlah teman dari peserta yang dilaporkan oleh partisipan,tingkat ejekan dan hubungan teman sebaya dilaporkan oleh guru dan siswa. Variabel sekolah meliputi rata-rata susunan poin siswa (Grade Point Average/GPA), skor terbaru dari tes prestasi Stanford (Stanford Achievement Test /SAT), perilaku dan motivasi sekolah ke depan, dan laporan prestasi akademis dari guru. Diantara tiap daerah, hasil laporan pertam sesuai untuk seluruh hubungan antara skor kemarahan pada MSAI dan relevan dengan variabel hasil lainnya. Ini diikuti oleh deskripsi yang kontras antara grup kenakalan tingkat tinggi dan tingkat rendah dalam menyeleksi variabel-variabel menarik. Deskripsi ini disusun dari respon siswa, guru dan orang tua untuk wawancara semi-structured dan dilaporkan sebagai penemuan kulaitatif. Domain personal Untuk memasukkan sampel yang berisi kedua grup kenakalan tingkat tinggi dan tingkat rendah, sedang tapi secara statistik korelasi negatif berpengaruh nyata ditemukan diantara MSAI skor global dan penampilan fisik, sikap tingkah laku, dan skala global merasa diri berharga pada SPP (berturut-turut r = -0,35, -0,45 dan -0,45, p < 0,05). Umumnya kenakalan tidak berhubungan dengan kompetensi atletik pada SPP (r = 0,07). Sebuah cakupan korelasi yang positif ditemukan diantara deskripsi diri kenakalan tingkat tinggi dan skor global MSAI (r = 0,45, p < 0,05), mengidentikasikan bahwa siswa melaporkan pada tingkat tinggi kemarahan di sekolah juga cenderung membuat karakteristik diri mereka sendiri sebagai kemarahan dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Dengan menganggap perbedaan spesifik antara grup kenakalan tingkat tinggi dan tingkat rendah dalam studi ini, sejumlah variabel domain personal mencirikan kedua-duanya. Paling dramatis adalah saat terjadi ketidakseimbangan gender dalam dua grup, yang terdiri atas 83% siswa laki-laki dalam grup kenakalan tingkat tinggi sedangkan siswa laki-laki dari grup kenakalan tingkat rendah sekitar 37%. Menarikanya, tidak terdapat perbedaan dalam komposisi etnik dalam tiap grup. Secara kasar jumlah orang kulit putih, penghuni pulau Pasific, orang Amerika diidentifikasikan sebagai manifestasi dari level tertinggi atau lever rendah kenakalan di sekolah.

Beberapa tema muncul dari analisis kualitatif wawancara siswa, guru, dan orang tua dengan menganggap hingga karakteristik personal siswa. Satu disinggung hingga dilaporkan pendeskripsian diri secara alami oleh siswa kenakalan tingkat tinggi dan tingkat rendah. Pendeskripsian diri negatif atau komentar penghinaan diri lebih banyak yang umum antara siswa grup kenakalan tingkat tinggi dan tingkat rendah. Satu orang siswa sebagai contoh mengatakan bahwa “kadangkala saya tidak ingin menjadi diri saya sendiri”. Deskripsi lain dari dirinya sebagai “orang yang tidak populer karena tidak punya banyak teman”. Namun kalimat lain menyatakan bahwa “saya tidak menyukai apapun tentang diri saya”. Istilah negatif lainnya digunakan dalam pendeskripsian diri siswa kenakalan tingkat tinggi yang termasuk mengerikan, jelek dan malas. Perbedaannya, pendeskripsian diri siswa kenakalan tingkat rendah adalah perasaan positif yang besar hanya dengan sumber yang sekalisekali hingga kualitas personal yang tidak diinginkan. Deskripsi diri siswa juga dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman kenakalan yang pernah mereka alami. Ketika ditanya apa yang akan mereka ubah tentang diri mereka sendiri, seluruh siswa kenakalan tingkat tinggi mengakui masalah dalam mengontrol atau mengatur marah. Seorang siswa mendeskripsikan dirinya sebagai seorang siswa yang “lekas marah”. Pernyataan lain bahwa “saya cepat marah”. Peserta ketiga mendeskripsikan dirinya sebagai “pembuat keonaran ketika saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan”. Peserta lain mengatakan bahwa dia akan menyukai “perubahan temperamen” tetapi diindikasikan “kamu tidak akan dapat merubah itu”. Perbedaannya, hanya satu peserta wanita kenakalan tingkat rendah yang menyebutkan kontrol marah sebagai sesuatu yang harus diubah dalam hidupnya. Dalam kasus ini, dia mengemukakan bahwa dia akan mengubah frekuensinya “jarang marah pada saudara perempuanku”. Domain Keluarga Hubungan yang signifikan ditemukan diantara penilaian guru terhadap dukungan keluarga dan level kemarahan siswa (r = 0,35, p < 0,05). Menariknya, tidak ada hubungan diantara status pernikahan dan tingkat marah yang dilaporkan siswa di sekolah. Siswa yang berasal dari perceraian, dipisahkan, single parent, dan keluarga utuh sama-sama direpresentasikan antara grup kenakalan tingkat tinggi dan tingkat rendah. Respon guru untuk wawancara semi-structured menyediakan beberapa kelebihan informasi kualitatif yang menarik yang mempengaruhi kehidupan rumah tangga dari murid mereka. Dalam banyak kasus, keluarga siswa kenakalan tingkat tinggi dideskripsikan oleh guru akan menghadapi tantangan nyata, termasuk

ekonomi, pekerjaan, dan hambatan interpersonal. Seorang guru mendeskripsikan kehidupan rumah tangga siswa perempuannya sebagai sebuah lingkungan dimana “ayah dan ibu sering bertengkar” dan dimana “siswa laki-laki bersembunyi dari sang ayah untuk melepaskan kemarahnya”. Guru lain mendeskripsikan kehidupan rumah tangga muridnya seperti “naik dan turun” karena ayah sering pergi untuk wajib militer dan ibu bekerja sepanjang waktu. Dua dari peserta grup kenakalan tingkat tinggi terutama berlatar belakang keluarga susah. Seorang siswa tidak pernah tahu ibu kandungnya dan setelah beberapa tahun tinggal dengan grandparents sebelum diambil oleh ayahnya ketika menikah. Lainnya dideskripsikan oleh gurunya seperti dikaitkan bahwa ayah kandungnya dapat menunjukkan dirinya kapan pun untuk menculik keduanya dan adik perempuannya dan membawa mereka jauh dari ibunya. Bahwasanya, hanya sebagian kecil dari grup kenakalan tingkat tinggi dideskripsikan gurunya memiliki kehidupan posistif yang layak, kehidupan keluarga yang mendukung. Di pihak lain, guru mendeskripsikan sebagian besar keluarga anak yang tergolong memiliki kenakalan tingkat rendah sebagai keluarga yang sangat mendukung dan positif. Pendeskripsian yang khas meliputi “sangat mendukung, sangat melibatkan orang tua” dan “family excellent, orang tua sangat mendukung di sekolah, pemurah, pemberi harapan”. Bahkan keluarga siswa yang memiliki kenakalan tingkat rendah yang berasal dari orang tua yang bercerai atau berpisah dideskripsikan dalam kondisi yang positif. Sebagai contoh, seorang guru menyebutkan bahwa siswa perempuannya “tinggal dengan ibu yang sangat mendukung dan mengutamakan segala sesuatu, sangat melibatkan anak perempuannya”. Domain Teman Sebaya Hubungan invers signifikan ditemukan diantara skor global MSAI dan jumlah laporan teman-teman siswa di sekolah (r = -0,32, p < 0,05) dan hubungan guru dalam hubungan sosial (r = -0,64, p < 0,01). Hubungan positif yang signifikan ditemukan diantara pengalaman sindiran oleh siswa dan level kemarahan mereka (r = 0,34, p < 0,05). Terakhir ini ditemukan sesuatu hal menarik yang menyiratkan bahwa siswa kenakalan di sekolah cenderung berasosiasi dengan menyukai pemikiran teman sebaya. Di pihak lain, skor kenakalan secara global sebenarnya tidak berhubungan untuk persepsi siswa pada kompetensi sosial yang dimilikinya (dibuktikan melalui skor SPP), untuk jumlah teman di luar sekolah, dan untuk kepuasan keseluruhan dengan teman-teman. Dengan demikian, ini tampak walaupun guru-guru melaporkan

pengalaman sosial yang sulit dari siswa-siswa yang memiliki kenakalan tingkat tinggi, disisi siswa sendiri mungkin tidak mengetahui berbagai masalah lain dan hanya memiliki beberapa orang teman di sekolah. Analisis kualitatif wawancara siswa dan guru menyatakan beberapa tema yang dihubungkan dengan fungsi interpersonal siswa kenakalan tingkat tinggi dan tingkat rendah. Petama, guru mendeskripsikan bahwa seluruh siswa kenakalan tingkat rendah memiliki hubungan dan interaksi positif dengan teman kelas. Seorang siswa kenakalan tingkat rendah dideskripsikan, sebagai contoh, seperti “baik digemari oleh teman sebaya; kelihatan seperti bentuk pemodelan; yang mempunyai banyak teman; betul-betul diterima oleh teman yang lainnya”. Lainnya mendeskripsikan seperti “kelihatan baik; sangat bersahabat; memiliki toleransi yang tinggidengan orang lain; mempunyai banyak teman”. Guru-guru mendeskripsikan siswa kenakalan tingkat tinggi, di pihak lain, dihubungkan dengan komentar tentang sulitnya membangun dan memelihara persahabatan. Seorang guru mendeskripsikan siswa perempuannya seperti “no getting along very well; persahabatan yang sangat buruk; the low man on the totem pole; kehilangan kekuatan, sangat defensif, dan tidak dapat melakukan apapun.” Peserta lain dideskripsikan seperti “ diasingkan; siswa lain tidak menerimanya; dia mengatakan dalam keadaan malu; sikap dikucilkan.” Peserta lain merasa seperti “sendirian....”, tidak ada teman dekat, tidak ada kasih sayang. Bagaimanapun, potret sosial digambarkan oleh guru siswa yang memiliki tingkat kenakalan tinggi tidak selalu sangat suram. Sejumlah siswa dalam grup ini dideskripsikan oleh guru-guru mereka sebagai seperti memiliki hubungan positif, dengan teman sekelas. Beberapa dideskripsikan sebagai “mendapatkan sesuatu yang baik dengan yang lain” dan satu dideskripsikan sebagai “orang yang dingin; jelek tapi tidak populer.” Beberapa data kualitatif yang menarik menganggap fungsi interpersoanal siswa juga diperoleh dari wawancara dengan orang tua. Sekali lagi, semua orang tua siswa kenakalan tingkat rendah dideskripsikan oleh anak mereka berhubungan baik dengan yang lain secara positif. Respon khas memasukkan “mendapatkan sesuatu dari yang lain, memiliki banyak teman” atau “dia sangat friendly dan outgoing; dia menperoleh sesuatu yang baik dengan anak lain.”. Kebanyakan orang tua grup kenakalan tingkat tinggi juga melihat anak-anak mereka mempunyai hubungan positif dengan yang lain. Hanya beberapa keprihatinan yang dicatat. Orang tua mengatakan bahwa anak perempuannya “tidak dapat bersosialisasi dengan temannya yang lain tetapi dia hanya memiliki satu atau dua orang teman dekat.” Orang tua

yang lainnya mendeskripsikan anak laki-lakinya seperti “memiliki hubungan yang baik” tetapi dinyatakan bahwa “dia masih tidak memiliki beberapa teman dekat.” Tema penting lainnya yang menyinggung hubungan pertemanan teman sebaya menjadi mudah di sekolah. Peserta pada grup kenakalan tingkat tinggi mendapatkan ejekan dari beberapa orang teman-temannya di dalam dan di luar kelas. Alasan untuk mengejek bisa diklasifikasikan kedalam empat tema umum meliputi : a.) penampilan,e.g. “gendut”, “wajah yang mengerikan”, kecil”, b.) kemampuan,e.g., “bodoh”, “barang songsokan”, c.) nama, e.g., “tiffy-taffy”, d.) perilaku, e.g., “karena aku seperti seorang anak laki-laki”, karena jalanku adalah seni”. Penampilan sangat sering menjadi alasan untuk mengejek siswa kenakalan tingkat tinggi. Ejekan dianggap dapat terjadi secara eksklusif pada siswa kenakalan tingkat tinggi. Domain sekolah Selayaknya, hubungan kebalikan yang signifikan ditemukan diantara skor global MSAI dan sekolah sukses sebagai pengukur oleh GPA (r = -0,57, p < 0,05), kebiasaan bekerja sekolah (r = - 0,56, p < 0,05) dan hubungan personal sekolah dan sikap sosial (r = -0,71, p < 0,05). Sebagai tambahan, peserta yang skornya lebih tinggi pada SAT mereka kurang disukai untuk pengalaman kenakalan level tinggi dan permusuhan di sekolah (r = -0,47, p < 0,05). Sebuah hubungan invers yang signifikan juga ditemukan diantara hubungan guru dan siswa pada hubungan kemampuan akademik dan kenakalan (berturut-turut r = - 0,33 dan -0,36, p < 0,05). Sebagai tambahan, siswa pada grup kenakalan tingkat rendah lebih banyak disukai untuk dikategorikan secara motivasi intrinsik daripada siswa pada grup kenakalan tingkat tinggi (berturut-turut, 42% vs 0% ). Kebanyakan informasi kualitatif menyinggung penampilan sekoalah anak yang diperoleh dari wawancara semi-structured dengan guru. Hanya satu siswa kenakalan tingkat tinggi dideskripsikan diatas rata-rata secara akademis dan ini termasuk ke dalam anak yang berbakat. Dia dinyatakan siswa yang “sangat pintar tapi kadangkala malas.” Malas atau kurangnya motivasi merupakan tema umum deskripsi guru tentang grup kenakalan tingkat tinggi. Seorang guru mengatakan bahwa siswanya “jika dia tidak punya, dia tidak akan melakukan apapun kecuali duduk dan mengambar.... dia hanya berusaha untuk mendapatkan.” Seorang guru lainnya mendeskripsiskan siswanya seperti “seorang anak perempuan yang jika saya meninggalkannya, baru akan melakukan sesuatu.” Sebagai tambahan untuk motivasi , beberapa siswa dengan tingkat kenakalan tinggi dideskripsikan memiliki masalah sosial atau emosional yang

diinterferensikan dengan nilai akademis. Seorang guru mendeskripsikan siswanya dalam pengikut utama: “dia membuat peningkatan yang bagus (secara akademis), tetapi masalah sosial dan emosional membuatnya jatuh.” Seorang siswa yang lain dideskripsikan seperti “ seorang siswa rata-rata yang kehilangan percaya diri.” Ketiganya dideskripsikan seperti “orang yang cepat menyerah dan cepat frustasi.” Guru-guru mengidentifikasikan beberapa peserta dari grup kenakalan tingkat tinggi secara akademis di bawah rata-rata. Siswa-siswa ini dideskripsikan seperti “di daerah yang paling rendah,” “kemampuan akademis yang kosong,” atau “memiliki kesulitan waktu dalam semua materi pelajaran.” Sebuah perbedaan yang mencolok ditemukan pada deskripsi guru tentang hasil akademis siswa kenakalan tingkat rendah. Secara akademis, mayoritas siswa ini diklasifikasikan sama dengan rata-rata atau di bawah rata-rata. Ini, kebanyakan dideskripsikan dengan tingginya motivasi di sekolah. Hanya satu siswa kenakalan tingkat rendah yang dideskripsikan dalam istilah yang diindikasikan bahwa motivasi adalah sebuah keprihatinan. Guru-guru juga mengumpulkan informasi untuk memilih strategi yang digunakan untuk memotivasi siswa dalam dua grup. Sebagai sebuah grup, siswa dengan tingkat kenakalan tinggi lebih meyukai untuk dimotivasi melalui prospek memperoleh materi dengan mendapatkan penghargaan (misalnya, faktor ekstrinsik). Siswa dengan tingkat kenakalan rendah kadangkala masih merespon penghargaan eksternal, sangat menyukai untuk dimotivasi melalui faktor intrinsik untuk latihan (misalnya, rasa pemenuhan, untuk kepentingan belajar) dari pada siswa dari grup kenakalan tingkat tinggi. Seorang siswa grup kenakalan tingkat tinggi dideskripsikan oleh gurunya seperti “tidak termotivasi, tampak tidak melakukan apapun untuk kerja di sekolah.” DISKUSI Maksud dari penelitian ini adalah untuk meneliti faktor-faktor risiko yang mungkin terkait dengan perkembangan remaja dan memeriksa ekpresi kenakalannya. Hasilnya sesuai dengan konsep bahwa perkembangan kenakalan

pada anak-anak didasarkan pada beberapa jalur di empat domain termasuk faktor individu, sekolah, keluarga dan teman. Secara umum, tampak bahwa tidak ada pengalaman positif dan negatif di rumah, di sekolah, dan dengan teman sebaya yang berdampak besar pada frekuensi dan intensitas kenakalan yang dialami di sekolah. Kesimpulan ini sudah terbukti diseluruh data dimana remaja yang mengalami dan memiliki hubungan negatif diseluruh domain juga lebih mungkin untuk mengalami kenakalan tingkat tinggi.

Satu kemungkinan penafsiran data adalah bahwa ciri individu dengan disposisi yang pertama dibentuk adalah didalam keluarga dan lingkungan rumah, kemudian diubah di pikiran dan pengalaman interaksi disekolah serta dengan teman sebaya. Melalui interaksi dan pengalaman ini, anak mengembangkan rasa harga diri, kemampuan untuk mengatur emosi, persepsi tentang diri mereka sebagai makhluk sosial, dan umpan balik terhadap perilaku perilaku yang sesuai. Lingkungan pertama yang biasanya dialami oleh seorang anak adalah rumah, tempat sosialisasi dan perkembangan awal terjadi. Dalam domain ini, ditemukan adanya hubungan antara dukungan orangtua serta keluarga yang stabil dengan tingkat kenakalan di sekolah. Remaja yang memiliki sedikit dukungan orangtua berada di risiko untuk mengalami kenakalan kronis. Lebih lanjut temuan menunjukkan bahwa yang memiliki hubungan positif dengan interaksi di rumah yang baik mungkin mempengaruhi hubungan berikutnya di luar rumah baik di sekolah maupun dengan teman sebaya. Selain faktor keluarga, sekolah juga berperan penting bagi tingkat kenakalan seluruh siswa. Peserta dalam kelompok kenakalan tinggi punya IPK akademik lebih rendah daripada peserta dalam kelompok kenakalan rendah, dilihat dari skor prestasi melalui SAT. Zagar, Arbit, Hughes, Busell dan Busch (1989) menemukan pola yang sama dalam pencapaian nilai tes sampel di antara anak-anak nakal. Peserta dalam kelompok kenakalan tinggi juga lebih cenderung memiliki tingkat motivasi yang rendah, kebiasaan kerja yang buruk, dan sikap negatif terhadap sekolah. Secara keseluruhan, hasil dari penelitian kelompok IPK ini mendukung pandangan bahwa remaja rendah lebih berisiko untuk menjadi nakal dalam menghadapi

masalah yang berhubungan dengan teman sebaya mereka daripada kelompok yang lebih tinggi pencapaian IPK nya. Keterampilan sosial juga memainkan peran penting dalam kenakalan di sekolah. Remaja yang punya masalah kenakalan sudah kronis memiliki keterampilan sosial yang buruk dalam berteman. Lebih jauh, hal itu menarik untuk dicatat bahwa mereka cenderung untuk mengasosiasikan dirinya lebih sering dengan teman-teman sesamanya. Dalam penelitian ini bertentangan informasi yang diperoleh dari wawancara peserta dengan guru mengenai persahabatan. Mayoritas siswa baik dalam kelompok kenakalan tinggi dan rendah merasa bahwa mereka telah memiliki teman-teman yang jumlahnya sama dengan kelompoknya, mereka berpikir bahwa telah cukup baik berteman atau berharap mereka memiliki lebih banyak teman. Sang guru, bagaimanapun, mempunyai pandangan yang agak berbeda dari hubungan sosial siswa mereka. Guru menggambarkan semua siswa dengan kenakalan rendah memiliki hubungan positif dengan rekan-rekanya, sementara hanya setengah dari kenakalan tinggi peserta digambarkan memiliki hubungan

positif dengan rekan-rekan. Orang tua mereka dari kedua kelompok menarik untuk diidentifikasi, sebagai masalah yang umum untuk remaja dengan kenakalan kronis ketika mereka melihat diri mereka sebagai korban sering lebih menarik daripada kenakalan rendah anak-anak. Lebih lanjut, anak-anak kenakalan tinggi lebih cenderung diolok-olok didasarkan pada beberapa kekurangan kemampuan daripada anak-anak yang kenakalan rendah. IMPLIKASI UNTUK KONSELOR SEKOLAH Hasil penelitian ini menunjukkan ada pola-pola yang sangat berkaitan dari empat domain kehidupan sebagai contoh di masyarakat pemuda remaja dengan tingkat kenakalan kronis. Pola-pola ini adalah faktor risiko yang dapat membantu dalam penilaian dan identifikasi siswa yang mengalami kenakalan kronis dan dampak terkait kesehatan dan perkembangan masa depan (Williams & William, 1995). Ini merupakan info yang penting dari badan penelitian, yang menghubungkan kenakalan yang berbeda seperti itu, konsekuensi negatif seperti penyakit jantung koroner (Seigel, 1992), kangker, depresi, kekerasan (Smith & Furlong,1994; Smith & Christense,1992), dan penggunaan obat-obatan dan alkohol (Lochman,1992 Scherwitz & Rugilies, 1992). Dasar pemikiran untuk melakukan penelitian ini dengan kelima dan keenam siswa kelas adalah bahwa mereka akan memasuki tahap bergolak dalam kehidupan mereka. Masa remaja adalah saat ketika emosi seperti kenakalan bisa menjadi meningkat. Dengan demikian, penting untuk mengidentifikasi siswa yang paling berisiko untuk kenakalan kronis dan mengajarkan keterampilan yang mereka butuhkan untuk menghadapi kenakalan mereka sebelum akibatnya menjadi lebih berat. Beberapa faktor penting yang terkait dengan kenakalan siswa kronis dibahas untuk membantu dalam identifikasi tentang kenakalan siswa yang membutuhkan pelatihan keterampilan manajemen atau intervensi. Termasuk kelompok mahasiswa ini: – Remaja yang tidak mendapatkan cukup dukungan emosional atau bahan di rumah. Kelompok ini mungkin termasuk anak-anak dari orang tua bercerai atau terpisah atau mereka yang hidup dalam rumah tangga orang tua tunggal. – Remaja yang bermasalah (misalnya, kemampuan, motivasi) melakukan hal buruk di sekolah. – Siswa yang diidentifikasi oleh guru-guru mereka seperti yang mengalami kesulitan berteman, yang terus-menerus menjadi korban godaan , atau yang memiliki keterampilan sosial yang buruk. Guru harus memainkan peran aktif

dalam mengamati dan mengidentifikasi para pelajar yang umumnya tertinggal atau yang menjadi sasaran ejekan dari teman-teman mereka.
– Remaja yang

merasa harga diri rendah. Antara

guru dan orang tua dapat

berperan penting dalam membantu siswa untuk memperoleh keterampilan baru untuk meningkatkan harga diri.
– Siswa yang merasa dirinya

mempunyai masalah dengan kenakalan. Remaja

dalam strategi ini sangat penting, karena banyak remaja, terutama perempuan, dapat mengungkapkan kenakalan dengan cara yang tidak langsung dan tidak mudah diamati oleh orang lain Konselor sekolah dan profesional kesehatan mental lainnya berperan dalam pengaturan sekolah, mungkin ingin mempertimbangkan beberapa temuan dari penelitian ini dalam mengembangkan program manajemen kenakalan untuk pemuda. Ini termasuk:
1. Sertakan anggota keluarga dari anak yang nakal dalam program manajemen

kenakalan. Tampaknya kehidupan rumah dan struktur keluarga siswa yang berkaitan erat dengan kenakalan. Dengan demikian, program harus dirancang untuk menyertakan orang tua dan anggota keluarga lainnya sebagai bagian integral dari intervensi.
2. Adakan program pengendalian emosi sebagai bagian dari program pengasuhan

anak usia dini, sehingga orang tua akan bertindak sebagai pembimbing anakanak mereka. 3. Sertakan pencegahan kenakalan dan atau komponen regulasi emosional sebagai bagian dari konseling untuk individu atau kelompok yang beresiko untuk kenakalan kronis. Sebagai contoh, seorang siswa mengambil bagian dalam sebuah grup konseling sekolah, bagi siswa yang sedang mengalami perceraian kemungkinan besar akan bermanfaat untuk mengikuti program pengelolaan kenakalan yang komprehensif. Selain itu, siswa dapat mengidentifikasi manfaat dari program yang mengajarkan keterampilan manajemen kenakalan.
4. Semua anak berpotensi mengambil manfaat dari program manajemen kenakalan

atau emosional yang mengajarkan keterampilan sosial yang positif dan metode untuk membangun dan memelihara persahabatan dengan teman sebaya. Dengan keterampilan ini, anak-anak bisa saling membantu mengatasi masalah kenakalan dan, pada gilirannya, menjadi bagian dari anak yang mendukungan sistem sosial. Sekolah juga dapat memperoleh manfaat dari sekolah-program manajemen kenakalan luas bertujuan untuk mengembangkan keterampilan para guru untuk mengidentifikasi, memahami, dan bekerja dengan siswa yang mungkin bermasalah dalam mengendalikan kenakalan mereka. Dengan belajar

strategi proaktif, mereka mungkin bisa mencegah mewabahnya keberanian kenakalan dan juga belajar untuk membantu siswa mengontrol dan menangani kenakalan mereka. BATASAN DARI ARAH STUDI DAN MASA DEPAN Penelitian ini mungkin tidak mencakup genetik, biologis, neurologis, dan banyak karakteristik perkembangan awal, yang mungkin memainkan peran penting dalam pengembangan kenakalan kronis. Penelitian selanjutnya mungkin ingin mempertimbangkan pola-pola hereditas dalam keluarga yang berkaitan dengan tingkat kenakalan kronis untuk menentukan kontribusi dari kedua genetik dan faktor lingkungan. Ada gagasan yang menyatakan bahwa kenakalan kronis dan banyaknya permusuhan terdapat pada anak-anak dan orang dewasa dalam keluarga yang sama. Sebagai contoh, komentar pewawancara tentang seorang ayah dari salah satu siswa kenakalan tinggi menunjukkan bahwa ayah "sangat bermusuhan" selama wawancara. Dia menolak untuk menjawab beberapa quentions dan membuat komentar selama wawancara seperti "ini mengambil terlalu banyak waktu," atau "Aku akan memberi Anda beberapa menit lagi." Lebih lanjut, ditemukan bahwa remaja laki-laki lebih cenderung mengalami kenakalan kronisi daripada yang wanita. Penelitian tambahan diperlukan untuk menentukan mengapa hal ini tampaknya benar. Pertanyaan apakah genetik laki-laki lebih cenderung untuk nakal atau apakah mereka hanya disosialisasikan untuk lebih nakal adalah salah satu yang menarik. Achenbach (1982) menemukan beberapa perkembangan stabil dalam perilaku agresif ditampilkan oleh laki-laki, tetapi tidak menemukan mereka yang sama berotot tubuh sama. Struktur berotot ini membuat laki-laki lebih lebih berani dan dengan demikian, mereka merasa lebih berharga. Studi masa depan mungkin ingin mengontrol gender dengan memilih dan membandingkan kenakalan tinggi laki-laki dan perempuan dengan kenakalan rendah mahasiswa yang sama. Batasan dari studi ini adalah bahwa siswa, guru dan orang tua mungkin enggan untuk mengungkapkan informasi yang memalukan atau sifat negatif. Dalam dua wawancara dengan siswa-siswa yang nakal, informasi yang diberikan harus dilaporkan kepada personil sekolah mungkin kasus pelecehan anak. Orangtua dari salah satu siswa meminta agar anaknya tidak berpartisipasi dalam studi. Penyalahgunaan, yang diidentifikasi oleh Lewis (Lewis, Lovely, Yeager & Femina, 1989) sebagai salah satu kontributor yang paling penting dalam pengembangan perilaku kekerasan, tidak mungkin dimasukkan ke dalam wawancara dengan salah satu orangtua atau anak-anak. Dalam faktor, selama prosess seleksi sampel,

beberapa orang tua mungkin telah menolak memberi izin untuk anak-anak mereka untuk berpartisipasi karena kekhawatiran bahwa anak mereka dapat mengekspos negatif dalam pembentukan tentang keluarga. Kesimpulan : konsisten dengan tema intervensi awal, langkah berikutnya yang logis dalam mencoba untuk memahami faktor-faktor penggabungan dengan kenakalan kronis dan bagaimana hal itu bisa terjadi pada anak-anak, akan melakukan penelitian serupa dengan pengikutnya yang lebih muda yaitu balita. Penelitian semacam itu bisa menggunakan desain penelitian serupa dan mungkin dapat dilaksanakan tidak hanya di kelas awal sekolah dasar, tetapi juga di pra-sekolah dan program headstart. Penelitian lebih lanjut akan lebih menarik lagi tentang konsekuensi kenakalan menjadi remaja akhir atau menuju dewasa.

Analisis Studi (Penelitian)
TUJUAN

Tujuan sesuai dengan yang diharapkan "untuk memberikan gambaran lebih rinci tentang beberapa faktor yang meningkatkan kenakalan dan permusuhan diantara pemuda dan dampaknya terhadap sosial, perilaku dan fungsi akademis". Pembenaran selanjutnya dijelaskan atas dasar kebutuhan praktis dan riset sebelumnya. Apa yang tidak jelas bagi kami adalah bagaimana penelitian ini dimaksudkan untuk menambah isi pengetahuan, khususnya dalam membedakan penyebab kenakalan dari konsekuensi. Yang tampak tidak ada masalah kerahasiaan risiko, atau penipuan.
DEFINISI

Meskipun definisi dari semua variabel dalam penelitian ini mungkin terlihat berlebihan, kita berpikir beberapa seharusnya telah disediakan, khususnya bagi mereka yang ditekankan dalam hasil, misalnya, "dukungan keluarga," "keterampilan sosial," " hubungan positif dengan teman sebaya," dan " kurang motivasi. " Mungkin istilah seperti itu tampak jelas, tetapi mereka ambiguitas diilustrasikan oleh “ deskripsi khas" untuk "mendukung keluarga" yang memberikan "banyak dukungan, banyak keterlibatan orang tua" (dalam apa) dan "keluarga yang sangat baik, orang tua sangat terlibat di sekolah , sangat memberikan dukungan kepada orang. "Ini menunjukkan bahwa istilah mencakup lebih dari dukungan ketersediaan anak-anak.Istilah utama mereka, nakal , secara dan operasional

didefinisikan oleh guru” nominasi siswa yang melakukan atau tidak menampilkan ledakan emosional sering berhubungan dengan perasaan marah, menunjukkan sinis yang konsisten, bermusuhan, atau sikap marah atau sering terlibat dalam insiden

pertempuran atau bertindak keluar menunjukkan bahwa marah secara implisit didefinisikan dalam istilah perilaku, bukan perasaan.

PENELITIAN SEBELUMNYA

Para penulis mengutip sejumlah referensi yang bersangkutan dalam pengantar (dan dalam implikasi) yang berkaitan dengan baik penyebab dan dampak dari kenakalan pada siswa. Hal ini tepat terorganisir dan diringkas.
HIPOTESIS

Tidak ada dinyatakan tetapi banyak yang tersirat (yaitu, bahwa kenakalan mahasiswa terkait dengan kurangnya dukungan orangtua, status perkawinan orangtua, jumlah teman-teman, sejauh mana ketertarikan hubungan umum rekan, IPK, skor SAT, sikap dan motivasi terhadap sekolah, dan Persepsi kinerja akademik guru). Semua ini timbul sehingga menjadi terarah. Tesis lain muncul dari analisis kualitatif data wawancara.
SAMPEL

Sampel adalah contoh kenyamanan kelima dan keenam diambil dari 12 anak kelas sekolah dasar di Honolulu. Akibatnya, generalisasi di luar sekolah tersebut tidak dibenarkan secara metodologis, juga tidak memberikan argumentasi generalisasi tersebut. Beberapa deskripsi disediakan sekolah untuk melayani secara ekonomi dan populasi beragam etnis. Distribusi etnis adalah sebagian besar siswa Asia-Amerika (lebih dari 50 persen). Implikasi dari ini tidak dibahas. Identifikasi siswa untuk tinggi dan rendah kelompok kenakalan digambarkan dengan baik.
INSTRUMEN

Instrumen formal yang diberikan kepada para siswa dan guru yang dapat diuraikan dengan baik. Kami berpikir, bagaimanapun, bahwa penggunaan istilah "estabilished" dalam hubungannya dengan keabsahan SPP dan MSAI dan konsistensi internal dari MSAI sangat disayangkan mengingat koefisien sebagai rendah as.71 dan. 39 dan tanpa deskripsi dari kelompok-kelompok yang terlibat. Lebih deskripsi tentang pertanyaan wawancara setengah terurai diperlukan, sebagian untuk menilai seberapa banyak bias pewawancara mungkin telah mempengaruhi tanggapan. Skor kesepakatan pada skala Likert harus dilaporkan karena mereka, tampaknya, yang digunakan di anaisis secara kuantitatif.

PROSEDUR

Penjelasan Prosedur . Validitas internal selalu menjadi masalah dalam penelitian kausal-comparatitive. Penelitian ini merupakan kombinasi dari tipe 1 dan 2 (halaman 370-371). Tinggi dan rendahnya kenakalan kelompok mungkin berbeda dalam banyak hal selain tingkat kenakalan. Dua variabel seperti jenis kelamin dan etnis. Para penulis, dalam keterbatasannya , menyarankan pengendalian penelitian gender di masa depan, tetapi sepertinya ada alasan yang baik untuk dikontrol (dengan cara mencocokkan atau pilihan jenis kelamin yang sama) dalam kajian ini. Etnisitas tidak terkendali, tetapi kelompok-kelompok serupa sama, meskipun tidak identik. Banyak variabel dalam penelitian ini adalah karakteristik subjek, tetapi tidak ada yang dikontrol. Sebuah ancaman kematian mungkin, karena beberapa orang tua, mungkin di kelompok kenakalan tinggi, menolak izin. Seorang kolektor data karena ancaman yang mungkin tidak jelas apakah pewawancara yang seimbang di seluruh kelompok. Kolektor data mungkin bias, terutama dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka; mungkin ini dibahas dalam pelatihan. Sebuah ancaman instrumentasi tampaknya, seperti yang dibahas dalam bagian keterbatasan .Meskipun kecil kemungkinan, insrument pembusukan ancaman dan lokasi yang memungkinkan, pelaksanaan, sikap, dan regresi ancaman tidak berlaku.
ANALISIS DATA

Walaupun ini merupakan penelitian kausal-komparatif, penulis memilih untuk memberikan banyak perhatian pada hubungan antara nilai kenakalan pada dirilaporan persediaan (MSAI) dan karakteristik siswa lainnya dan digunakan koefisien korelasi sebagai alat utama analisis data. Ini sah, tapi kita berpikir perbandingan dari dua kelompok kenakalan (diidentifikasi oleh nominasi kombinasi guru dan skor MSAI) dengan menggunakan sarana, standar deviasi, dan frekuensi poligon akan lebih bermakna dan konsisten dengan upaya yang dikeluarkan untuk identitas dua kelompok yang berbeda .
HASIL

Hasil secara tepat disajikan. Terlalu banyak yang terbuat dari nilai r rendah, meskipun mereka dikatakan "statistik signifikan." Karena penelitian jelas berfokus pada praktis, menggunakan teori yang berbeda, , kita akan membayar sedikit perhatian ke bawah.50 korelasi. Kami akan menekankan korelasi berikut dengan tingkat kenakalan; 53. Dengan dukungan orangtua; -64 (positif)dengan hubungan sosial; -57 dengan IPK; -56 (positif) dengan kebiasaan kerja: -71 (positif) dengan sikap: dan, karena itu konsisten dengan IPK, -47 dengan nilai SAT. Kualitatif

perbedaan antara kelompok-kelompok kenakalan yang tampaknya penting adalah bahwa kelompok kenakalan tinggi ditunjukkan jauh lebih besar keinginan untuk mengendalikan amarah (semua melawan satu), lebih negatif deskripsi diri (frekuensi akan berguna di sini dan dalam perbandingan berikutnya), lebih banyak masalah keluarga, banyak godaan di sekolah, dan faktor-faktor dalam kurang motivasi diri untuk tugas-tugas sekolah.
DISKUSI/ INTERPRETASI

Bagian ini konsisten dengan hasil dan usaha-usaha untuk menghadirkan kesatuan. Contohnya persepsi orang tua dan guru terhadap hubungan sosial siswa berbeda tajam dalam kelompok kenakalan tinggi, karena ketertarikan mereka hanya pada kurangnya kemampuan akademis. Hal ini terjadi karena efek jumlah di seluruh domain dan data yang disajikan secara terpisah untuk setiap domain. Alasannya adalah bahwa data yang disajikan secara terpisah untuk setiap domain dengan tidak ada data pada individu-individu di seluruh domain. Penulis memuji-pernyataan beberapa keterbatasan, tetapi mengabaikan orang lain. Kita mempunyai kaitan dengan implikasi tentang hubungan sebab akibat. Dalam menawarkan salah satu kemungkinan interpretasi data, pernyataan yang tidak pantas dibuat (yaitu, data tidak "menunjukkan bahwa memiliki hubungan positif dan interaksi di rumah sangat mungkin untuk mempengaruhi hubungan berikutnya di luar rumah baik di sekolah dan dengan teman sebaya"). Hasilnya juga tidak menunjukkan bahwa "sekolah juga merupakan kontributor penting bagi keseluruhan siswa tingkat kenakalan." Sementara ini interpretasi menjadi masuk akal , temuan-temuan sepertinya sah dapat digunakan untuk mendukung sebaliknya (misalnya, bahwa kenakalan mahasiswa merupakan kontributor penting bagi prestasi sekolah yang buruk dan sikap serta sedikit dukungan orangtua atau kedua variabel disebabkan oleh variabel lain.) Temuan dari penelitian Kausal-komparatif tidak dapat menentukan sifat hubungan sebab akibat dan karena itu tidak cocok untuk membedakan efek penyebab dari kenakalan . Di samping masalah kausalitas, ancaman untuk interval validitas dalam penelitian ini adalah berat. Sebagai salah satu contoh, karena kelompok-kelompok kenakalan berbeda secara dramatis dalam komposisi gender, penting untuk menilai apakah gender adalah berkaitan dengan variabel hasil lain dan bisa, karena itu, menjelaskan hubungan (lihat halaman 374-375). Menyadari bahwa sampel adalah sebuah tipe sekolah AS secara umum, dan pengalaman kami. namun kami pikir mungkin bahwa perbedaan gender dapat menjelaskan sebagian besar hubungan ditemukan.

Masalah dengan hubungan sebab akibat yang dihindari oleh pengulangan tujuan (dalam pembahasan bagian) sebagai identifikasi terhadap faktor-faktor risiko yang terkait dengan pengembangan dan ekspresi kenakalan remaja seperti demikian, faktor-faktor risiko akan menyertakan dukungan keluarga rendah, prestasi akademik rendah, penilaian guru untuk memiliki hubungan sosial yang buruk, motivasi dari dalam yang rendah untuk sekolah, dan sebagainya. Bahaya di sini adalah salah satu dari generalisasi atas. Dalam sebuah masyarakat rentan terhadap lebih dari penyederhanaan, mudah lupa bahwa, dengan korelasi bahkan as.71 tinggi, banyak (mungkin sebagian besar) siswa diidentifikasi oleh satu atau kombinasi dari faktorfaktor ini akan salah diidentifikasikan sebagai kenakalan atau kerawanan. Siswa yang diidentifikasi harus mendapatkan bantuan untuk mengatasi masalah seperti itu, jika keberadaan mereka diverifikasi. Kami setuju bahwa siswa yang mengidentifikasi diri mereka sebagai orang yang membutuhkan bantuan atas kenakalan mereka sendiri harus mendapatkan bimbingan. BUTIR-BUTIR UTAMA Dasar-dasar penelitian kausal komparatif
a. Penelitian Kausal-Komparatif , seperti penelitian korelasi, dilakukan untuk

mencari dan mengidentifikasi hubungan antar variabel.
b. Penelitian Kausal-Komparatif mencoba untuk menentukan konsekuensi atau

penyebab perbedaan yang telah ada antar kelompok individu c. Berdasarkan pendekatan Kausal-Komparatif adalah dimulai dengan suatu catatan tentang perbedaan di antara dua kelompok dan kemudian untuk penyebab mungkin atau konsekwensi dari perbedaan ini.
d. Ada tiga jenis penelitian kausal-komparatif, yang berbeda di dalam struktur

dan tujuannya. e. Ketika akan mengambil suatu keputusan tentang lamanya waktu dan biaya yang digunakan untuk suatu penelitian, penelitian kausal-komparatif kadangkadang digunakan sebagai suatu alternatif. f. Seperti pada penelitian correlational, hubungan dapat dikenali di dalam suatu penelitian kausal-komparatif, tetapi yang menjadi penyebabnya tidak bisa dipastikan.

Penelitian Kausal Komparatif VS Penelitian Korelasi

Persamaan dasar antara penelitian kausal-komparatif dan correlational adalah keduanya mencari hubungan antar variabel. Kapan hubungan diketahui melalui penelitian kausal-komparatif ( atau di dalam penelitian correlational), mereka sering dipelajari pada suatu waktu berikutnya berdasarkan penelitian eksperimen.

Penelitian Kausal Komparatif VS Penelitian Eksperimen Penelitian yang bersifat eksperimental, anggota kelompok variabel dapat dimanipulasi; di dalam penelitian kausal-komparatif perbedaan kelompok telah ada. Langkah-Langkah Penelitian Kausal Komparatif a. Langkah pertama di dalam perumusan suatu masalah pada penelitian kausalkomparatif pada umumnya untuk mengidentifikasi dan menggambarkan tertentu, dan kemudian untuk fenomena pembagian perhatian ;perhatian

mempertimbangkan penyebab dari konsekwensi fenomena ini. b. Suatu hal yang penting di dalam pemilihan suatu sampel untuk suatu penelitian kausal-komparatif adalah menggambarkan secara hati-hati karakteristik untuk dipelajari dan kemudian untuk memilih kelompok yang berbeda di dalam karakteristik ini.
c. Tidak ada batasan terhadap jenis instrumen yang digunakan di dalam penelitian

kausal-comparetive.
d. Desain penelitian Kausal-Komparatif melibatkan pemilihan dua kelompok yang

berbeda pada variabel tertentu yang diminati dan kemudian membandingkan dengan variabel atau variabel yang lain . Kendala / Ancaman Terhadap Validitas Internal dalam Penelitian Kausal Komparatif a. Dua kelemahan di dalam penelitian kausal-komparatif adalah ketiadaan randomisasi dan ketidak-mampuan untuk memanipulasi suatu variabel bebas.
b. Ancaman utama kepada validitas internal penelitian kausal-komparatif adalah

kemungkinan dari biasnya pemilihan sebuah subjek penelitian. Ketua penelitian itu dapat menggunakan beberapa prosedur untuk mengurangi ancaman ini termasuk mecari kesesuaian antara subjek suatu variabel capaian yang dihubungkan dengan variabel yang dependent, menemukan atau menciptakan sub-sub kelompok homogen, dan teknik statistic yang sesuai.
c. Ancaman lain pada validitas internal di dalam penelitian kausal-komparatif

termasuk lokasi, instrumentasi, dan hilangnya subjek penelitian. Sebagai

tambahan, ke-3 tipe penelitian adalah subjek untuk penerapan, sejarah, pematangan, sikap utama, kemunduran, dan menguji ancaman. Analisis Data pada Penelitian Kausal Komparatif a. Langkah pertama analisis data dalam Penelitian Kausal Komparati frekuensi stuktur tabel frekuensi dan poligon frekuensi. b. Rerata dan Simpangan baku pada umumnya dihitung jika variabel yang dilibatkan kuantitatif c. Tes yang umum digunakan pada penelitian Kausal Komparatif adalah t test untuk membedakan rata-rata. d. Analisis kovarian terutama bermanfaat sekali untuk penelitian kausal komparatif. e. Hasil pembelajaran penelitian kausal-komparatif perlu memperhatikan penyebabnya, ketika tidak dapat dibuktikan penyebab dan akibatnya. pada

Penggabungan antara Variabel Kategorial Tabel crossbreak (uji silang) dan koefisien ketidakpastian dapat digunakan untuk memeriksa hubungan yang mungkin antar variabel kategorial, walaupun kesimpulan dari tabel crossbreak sudah tepat. Kebetulan, secara tidak pasti ada sedikit pertanyaan tentang perhatian di dalam masalah pendidikan yang melibatkan dua variabel kategorial.

DAFTAR PUSTAKA Frankel, Jack R. 1993. How To Design and Evaluate Research in Education. San Fransisco : Universitas San Fransisco

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->