P. 1
Tuberculosis Pada Ibu Hamil

Tuberculosis Pada Ibu Hamil

|Views: 1,473|Likes:
Published by diyahseptitiwulan

More info:

Published by: diyahseptitiwulan on Jan 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/18/2013

pdf

text

original

Tuberculosis pada Ibu Hamil

A. DEFINISI Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah karena sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon, sedangkan batuk darah (hemoptisis) adalah salah satu manifestasi yang diakibatkannya. Darah atau dahak berdarah yang dibatukkan berasal dari saluran pernafasan bagian bawah yaitu mulai dari glottis kearah distal, batuk darah akan berhenti sendiri jika asal robekan pembuluh darah tidak luas, sehingga penutupan luka dengan cepat terjadi. B. PENULARAN TUBERKULOSIS Sumber penularana penyakit tuberculosis adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman keudara dalam bentuk Droplet (percikan Dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi bila droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran linfe,saluran napas, atau penyebaran langsung kebagian-nagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular.Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Resiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection = ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan berfariasi antara 1 ± 2 %. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1 %, berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk, 10 (sepuluh) orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita TB, hanya 10 % dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita TB. Dari keterangan tersebut diatas, dapat diperkirakan bahwa daerah dengan ARTI 1 %, maka diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 100 (seratus) penderita tuberkulosis setiap tahun, dimana 50 % penderita adalah BTA positif. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita TB adalah daya tahan tubuh yang rendah; diantaranya karena gizi buruk atau HIV/AIDS. Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran linfe akan membawa kuman TB ke

badan lemah. insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency). dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular Immunity). Tanpa pengobatan. Masa inkubasi. persendian. Keadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus kambuh. pneumotoraks spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru. bronkiectasis dan fibrosis pada paru. maka jumlah penderita TB akan meningkat. ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). nafsu makan menurun. batuk darah. Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB. Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman. Bila perdarahan berat.Gejala lain yang sering dijumpai antara lain dahak bercampur darah. Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah sakit. penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak. tapi cukup diberikan pengobatan simptomatis. pengobatan dengan OAT tidak diperlukan. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat. yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit. berat badan . Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer selama 4 ± 6 minggu. misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial. setelah lima tahun. dan ini disebut sebagai kompleks primer. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura. ginjal dan sebagainya.kelenjar linfe disekitar hilus paru. 25 % akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi. sehingga jika terjadi infeksi oportunistik. Gejala umum tuberculosis antara lain batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih. Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer. Meskipun demikian. 50 % dari penderita TB akan meninggal. Komplikasi Pada Penderita Tuberkulosis antara lain hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan napas. Pada kasus seperti ini. diperkirakan sekitar 6 bulan. yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif. penderita harus dirujuk ke unit spesialistik. dan 25 % sebagai menjadi kronik yang tetap menular (WHO 1996). akibatnya dalam beberapa bulan. seperti tuberkulosis.Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA negatif) masih bisa mengalami batuk darah. maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan mengakibatkan kematian. tulang. sesak napas dan rasa nyeri dada.

300 wanita hamil. Tapi tidak berarti kesempatan untuk memiliki anak menjadi tertutup sama sekali. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran pada pengidap TB atau yang pernah mengidap TB. berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan. Efek tuberculosis terhadap kehamilan Kehamilan dan tuberculosis merupakan dua stressor yang berbeda pada ibu hamil. rasa kurang enak badan (malaise). dan kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosa dan pengobatan TB. Bahkan. Status nutrisi yang jelek. dan sendi. Idealnya. Namun. kemungkinan akan memengaruhi tingkat kesuburan (fertilitas) seseorang.turun.150 diantaranya adalah pengidap TB paru . kuman TB juga dapat menyerang organ tubuh lain seperti usus. sebelum memutuskan untuk hamil. TB pada samping kiri dan kanan rahim bisa menimbulkan kemandulan. kemungkinan untuk hamil masih tetap ada. 2. induksi aborsi direkomondasikan pada wanita hamil dengan TB. Harold Oster MD. anemia dan keadaan medis maternal merupakan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas maternal. hipoproteinemia. Lebih dari 50 persen kasus TB paru adalah perempuan dan data RSCM pada tahun 1989 sampai 1990 diketahui 4. ada tidaknya penyakit penyerta. letak dan keparahan penyakit. status nutrisi ibu hamil. selaput otak. Usia kehamilan saat wanita hamil mendapatkan pengobatan antituberkulosa merupakan factor yang penting dalam menentukan kesehatan maternal dalam kehamilan dengan TB. wanita pengidap TB mengobati TB-nya terlebih dulu sampai tuntas. Efek tuberculosis terhadap janin . tulang. Namun. jika kuman menginfeksi endometrium dapat menyebabkan gangguan kesuburan. Kehamilan dapat berefek terhadap tuberculosis dimana peningkatan diafragma akibat kehamilan akan menyebabkan kavitas paru bagian bawah mengalami kolaps yang disebut pneumo-peritoneum. dan demam meriang lebih dari sebulan. Jika kuman sudah menyerang organ reproduksi wanita biasanya wanita tersebut mengalami kesulitan untuk hamil karena uterus tidak siap menerima hasil konsepsi. Jika kuman menyebar hingga organ reproduksi. khususnya wanita usia reproduksi.2007 mengatakan bahwa TB paru (baik laten maupun aktif) tidak akan memengaruhi fertilitas seorang wanita di kemudian hari. status imunitas. Efek TB pada kehamilan tergantung pada beberapa factor antara lain tipe. C. TUBERKULOSIS PADA KEHAMILAN 1. jika sudah telanjur hamil maka tetap lanjutkan kehamilan dan tidak perlu melakukan aborsi. serta kulit. Pada awal abad 20. usia kehamilan saat menerima pengobatan antituberkulosis. Stressor tersebut secara simultan mempengaruhi keadaan fisik mental ibu hamil. Selain paru-paru.

risiko juga meningkat pada janin. Gejala TB congenital biasanya sudah bisa diamati pada minggu ke 2-3 kehidupan bayi. kelahiran prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB congenital). tidak akan terdeteksi dengan pemeriksaan BTA (hasil negatif). Kelemahan pemeriksaan BTA adalah hasil pemeriksaan baru positif bila terdapat kuman 5000/cc dahak.Untuk meminimalisasi risiko.seperti prematur. dimana wanita tersebut memerlukan perawatan di rumah sakit sebelum melahirkan. melalui interferon gamma yang konon lebih baik dari tuberkulin tes. 1999 tentang efek TB ekstrapulmoner tuberkuosis. Karena itu disebut basil tahan asam (BTA). berat badan lahir rendah (<2500 ) Selain itu.murah dan cukup reliable. didapatkan hasil bahwa tuberkulosis pada limpha tidak berefek terhadap kahamilan. pasien TB yang punya kuman 4000/cc dahak misalnya. Adapun rontgen memang dapat mendeteksi pasien dengan BTA negatif.apakah bayi tertular saat masih di perut atau setelah lahir. Namun juka dibandingkan dengan kelompok wanita sehat yang tidak mengalami tuberculosis selama hamil mempunyai resiko hospitalisasi lebih tinggi (21% : 2%). Tes Diagnosis TB pada Kehamilan Bakteri TB berbentuk batang dan mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam. Sebab kemungkinan bayinya akan mengalami masalah setelah lahir. Penularan kongenital sampai saat ini masih belum jelas. bayi dengan APGAR skore rendah segera setelah lahir (19% : 3%). 3. seperti abortus. Jadi. Subhas C Saha. Kuman TB cepat mati terpapar sinar matahari langsung.biasanya diberikan obat-obatan TB yang aman bagi kehamilan seperti Rifampisin. seperti pemeriksaan BTA dan rontgen (foto torak). maka akan ada sedikit risiko terhadap janin. INH dan Etambutol.Menurut Oster. Dalam jaringan tubuh. kuman ini dapat melakukan dormant (tertidur lama selama beberapa tahun). Kasusnya akan berbeda jika TB juga menginvasi organ lain di luar paru dan jaringan limfa.2007 jika kuman TB hanya menyerang paru. berat badan rendah.tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat gelap dan lembap. terhambatnya pertumbuhan janin. demam. gangguan napas. Diagnosis TB bisa dilakukan dengan beberapa cara. Penyakit TB biasanya menular pada anggota keluarga penderita maupun orang di lingkungan sekitarnya melalui batuk atau dahak yang dikeluarkan si penderita. hati dan limpa membesar. . KalaVasistha. persalinan dan hasil konsepsi. Diagnosis dengan BTA mudah dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh Narayan Jana. Seseorang yang terpapar kuman TB belum tentu akan menjadi sakit jika memiliki daya tahan tubuh kuat karena sistem imunitas tubuh akan mampu melawan kuman yang masuk. tapi kelemahannya sangat tergantung dari keahlian dan pengalaman petugas yang membaca foto rontgen. Hal yang penting adalah bagaimana menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat. Di beberapa negara digunakan tes untuk mengetahui ada tidaknya infeksi TB. Kushagradhi Ghosh.

maka ada tiga kemungkinan. isoniazid. 4. etambutol selama 9 bulan. dan pirazinamid tidak merupakan kontraindikasi pada kehamilan. terutama jika hasil BTA-nya negatif. Penatalaksanaan medis pada Kehamilan dengan TB Sebelum kehamilan perlu diberi konseling . Diagnosis TB pada wanita hamil dilakukan melalui pemeriksaan fisik (sesuai luas lesi). Pemberian ASI tidak merupakan kontraindikasi meskipun ibu mendapatkan obat anti-TBC. anemia) Selama y Tuberculosis bukan merupakan indikasi untuk melakukan kehamilan pengguguran kandungan y Pengobatan dengan regimen kombinasi dapat segera dimulai begitu diagnosis ditegakkan . atau terjadi anergi.Diagnosis dengan interferon gamma bisa mengukur secara lebih jelas bagaimana beratnya infeksi dan berapa besar kemungkinan jatuh sakit. Perlu diberikan vaksinasi BCG setelah profilaksis dengan ibu dengan isoniazid 10mg/kg/hari pada bayi dari ibu dengan tuberculosis. Angka kesembuhan 90% pada pengobatan selama 6 bulan directly observed theraphy (DOT)pada infeksi baru. sedangkan penentuan sakit TB perlu ditinjau dari klinisnya dan ditunjang foto torak. Pengobatan TBC dengan amino-glikosida (streptomisin) merupakan kontraindikasi pada kehamilan karena dapat menyebabkan ototoksik pada janin. dan pirazinamid selama 6 bulan . Uji tuberkulin hanya berguna untuk menentukan adanya infeksi TB. Dapat juga diberikan 3 regimen kombinasi. pemeriksaan laboratorium (apakah ditemukan BTA?). etambutol. Langkah penanganan TBC pada kehamilan ! Sebelum y Konseling mengenai pengaruh kehamilan dan TBC serta kehamilan pengobatan y Pemeriksaan penyaring tuberkulosis pada populasi risiko tinggi y Perbaikan keadaan umum (gizi. Saat persalinan mungkin diperlukan pemberian oksigen yang adekuat dan cara persalinan sesuai indikasi obstetrik. foto toraks dengan pelindung di perut bisa dilakukan. Pengobatan TBC dalam kehamilan menurut rekomendasi WHO adalah dengan pemberian 4 regimen kombinasi isoniazid. serta pengobatan. Kehamilan tidak akan menurunkan respons uji tuberkulin. yaitu tidak ada infeksi TB. serta uji tuberkulin. rifampisin. Untuk mengetahui gambaran TB pada trimester pertama. pasien sedang mengalami masa inkubasi infeksi TB. cara pengobatan sama dengan yang tidak hamil. Pasien dengan hasil uji tuberkulin positif belum tentu menderita TB. rifampisin. rifampisin. etambutol. Pemakaian masker dan ruangan isolasi diperlukan untuk mencegah penularan. Adanya TBC tidak merupakan indikasi untuk melakukan abortus. Pengobatan TBC dengan isoniazid.engenai pengaruh kehamilan dan TBC. Adapun jika hasil uji tuberkulin negatif.

Penderita diberi masker untuk menutupi hidung dan mulutnya agar tidak terjadi penyebaran kuman kesekitarnya Pemberian oksigen adekuat Tindakan pencegahan infeksi (kewaspadaan universal) Ekstraksi vakum/forcep bila ada indikasi obstetrik Sebaiknya persalinan dilakukan diruang isolasi. dianjurkan pasien datang paling awal atau paling akhir untuk mencegah penularan pada orang di sekitarnya Persalinan dapat berlangsung seperti biasa.y Selama persalinan y y y y y Pasca persalinan y y y y Antenatal care dilakukan seperti biasa. penderita harus dirawat diruang isolasi Perawatan bayi harus dipisahkan dari ibunya sampai tidak terlihat tanda proses aktif lagi (dibuktikan dengan pemeriksaan sputum sebanyak 3 kali dengan hasil selalu negatif) Pemberian ASI tidak merupakan kontraindikasi meskipun ibu mendapatkan OAT Profilaksis neonatus dengan isoniazid 10mg/kg/hari dan vaksinasi BCG . cegah pendarahan pasca persalinan dengan uterotonika Observasi 6-8 jam kemudian penderita dapat langsung dipulangkan Bila tidak mungkin dipulangkan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->