SEJARAH BANTEN : KRONOLOGI WAKTU

130 M Berdiri Kerajaan Salakanagara (Negeri Perak)yang beribukota Rajatapura yang terletak di pesisir barat Pandeglang. Raja pertama Dewawarman I (130 ± 168 M) yang bergelar Aji Raksa Gapurasagara (Raja penguasa gerbang lautan) Daerah kekuasaannya meliputi : ‡ Kerajaan Agrabinta di Pulau Panaitan ‡ Kerajaan Agnynusa di Pulau Krakatau ‡ Dan daerah ujung selatan Sumatera 165 M Banten (Pulau Panaitan) masuk dalam peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus sebagai bagian dari jalur pelayaran dari Eropa menuju Cina dengan melalui India, Vietnam, ujung utara dan pesisir barat Sumatera, Pulau Panaitan, Selat Sunda, terus melalui Laut Cina Selatan sampai ke Daratan Cina. Abad 5 M Prasasti Munjul yang diperkirakan berasal dari abad ke V masehi ditemukan di Sungai Cidangiang, Lebak Munjul ± Pandeglang. Prasasti berhurufkan palawa dengan bahasa sanksekerta menyatakan bahwa raja yang berkuasa di kawasan tersebut adalah Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara. Dalam prasasti tersebut dituliskan juga bahwa negara pada saat itu berada dalam kemakmuran dan kejayaannya. Abad XII ± XV Banten menjadi pelabuhan dari Kerajaan Pajajaran. Abad XIV Ditemukan prasasti di Bogor, yang menyatakan Pakuan Pajajaran didirikan oleh Sri Sang Ratu Dewata, yang daerah kekuasaannya meliputi seluruh Banten, Kalapa (Jakarta), Bogor, sampai Cirebon. Abad XVI Awal abad ke XVI, Banten dibawah pemerintahan Prabu Pucuk Umun (Dalam Babad Cibeber disebut juga sebagai Ratu Ajar Domas). Pusat pemerintahannya terletak di Banten Girang, yang dihubungkan dengan pelabuhan Banten melalui Sungai Cibanten, dan melalui Klapadua sebagai jalur darat. 1513 M Tome Pires, pelaut Portugis, memberitakan bahwa pelabuhan Banten merupakan pelabuhan kedua terbesar setelah Kalapa. Telah terjadi hubungan perniagaan dengan Sumatera dan Maladewa, dan pelabuhan Banten merupakan pengekspor beras, bahan makanan dan lada. Pada masa ini, diberitakan juga sudah banyak dijumpai orang Islam di daerah Cimanuk, dan kota kota pelabuhan seperti Kalapa dan Banten. 1511-21 M Tanggal 5 Agustus 1511 M, Bangsa Portugis menguasai Malaka dan disusul dengan takluknya Samudera Pasai pada tahun 1521 M. Selain untuk kekuasaan dan kekayaan, bangsa Portugis juga dibebani misi untuk menghancurkan agama Islam. Dengan menguasai Malaka, bangsa Portugis memonopoli perdagangan rempah rempah di Asia Tenggara, dan memberlakukan peraturan peraturan yang memberatkan bagi para pedagang terutama yang beragama Islam. Kondisi ini membuat pedagang pedagang dari Arab, Parsi, Cina, dan bangsa lain enggan untuk berniaga ke Malaka dan mengalihkannya ke Aceh, Banten, Cirebon, dan Demak. Keadaan ini sangat menguntungkan bagi Pelabuhan Banten yang berkembang semakin pesat dan lama 1

kelamaan menjadi pusat penyebaran agama Islam di bagian barat pulau Jawa. 1521 M Dengan semakin berkembang pesatnya kekuatan Islam di barat dan timur, timbul kekhawatiran raja Pajajaran akan semakin terdesaknya agama Hindu selaku agama resmi kerajaan dan juga lunturnya kekuasaan di di daerah pantai. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata) melakukan : ‡ Pembatasan pedagang pedagang yang beragama Islam mengunjungi pelabuhan pelabuhan yang berada di bawah kekuasaan Pajajaran. ‡ Menjalin hubungan persahabatan dan kerjasama dengan bangsa Portugis di Malaka, agar dapat membantu Pajajaran bila diserang Kerajaan Demak, dengan mengutus putera mahkota Pajajaran Ratu Sangiang atau Surawisesa ke Malaka. 1522 M 21 Agustus 1522 M, Henrique Leme, utusan Gubernur Malaka, menandatangani perjanjian dengan raja Pajajaran, Pangeran Surawisesa, pengganti Sri Baduga Maharaja. Perjanjian tersebut berisi antara lain : ‡ Portugis dapat mendirikan benteng di pelabuhan Sunda Kelapa ‡ Raja Pajajaran akan memberikan lada sebanyak yang diperlukan Portugis sebagai penukaran barang barang kebutuhan Pajajaran. ‡ Portugis bersedia membantu Pajajaran apabila diserang Demak atau kerajaan lainnya. ‡ Sebagai tanda persahabatan, Pajajaran akan memberikan hadiah 1000 karung lada setiap tahunnya kepada Portugis. 1525 M Pasukan gabungan Demak dan Cirebon yang dipimpin Fatahillah, Pangeran Cirebon, Dipati Cangkuang, dan Dipati Keling, serta pasukan lokal di bawah pimpinan Hassanudin dapat menguasai Banten. Untuk menjaga stabilitas keamanan di Banten, Hassanudin kemudian diangkat menjadi Adipati Banten dengan pusat pemerintahan di Banten Girang. 1526 M Atas petunjuk dari Sunan Gunung Jati, ibukota Banten dipindahkan ke dekat pelabuhan Banten, yang kemudian disebut dengan Surosowan. Berdasarkan beberapa data, pemindahan ibukota ini dilakukan pada tanggal 1 Muharram 933 H yang bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1526 M. 1527 M Terdengar kabar, Portugis dengan armada dan persenjataan lengkap telah meninggalkan Malaka menuju Sunda Kelapa. Mendengar berita ini, Demak, Banten, dan Cirebon bergerak untuk menguasai Sunda Kelapa. Sunda Kelapa dapat dikuasai pada tahun 1527 M, dan Fatahillah diangkat untuk menjadi Adipati Sunda Kelapa. Sebagai tanda kemenangan, Sunda Kelapa diganti namanya menjadi Jayakarta, yang berarti Kota Kemenangan. Armada Portugis yang datang dari Malaka untuk melaksanakan perjanjian tahun 1522 M dengan Kerajaan Pajajaran tiba setelah Sunda Kelapa dikuasai pasukan Islam. Portugis yang dipimpin oleh Francisco de Sa melakukan perang terbuka di perairan Sunda Kelapa, dan setelah mendapat perlawanan hebat dari pasukan Islam, Portugis dapat diusir mundur dari Sunda Kelapa. Setelah Jayakarta berhasil diamankan dari serangan Portugis, Hassanudin dan Fatahillah bekerjasama menangani pembangunan di Banten dan Jayakarta. Hassanudin bertanggung jawab dalam masalah pengembangan wilayah dan pendidikan kemasyarakatan, sedangkan Fatahillah bertanggung jawab menangani keamanan dan pertahanan wilayah. Sehingga pada masa itu Islam menyebar dengan pesat 2

dan keamanan negara terjamin. Kedua penguasa di Jawa Barat memerintah atas nama Sultan Demak. 1552 M Kemajuan perkembangan Banten yang sangat pesat, menjadikan status Banten ditingkatkan dari Kadipaten menjadi Kerajaan. Hassanudin ditunjuk sebagai raja pertama. Dan pada tahun yang sama pula, Fatahillah (menantu dari Sunan Gunung Jati) diangkat menjadi raja di Cirebon, mewakili Sunan Gunung Jati, dikarenakan mangkatnya raja Cirebon, Pangeran Pasarean (putera Sunan Gunung Jati) di tahun tersebut. Untuk menjalankan tugas pemerintahan di Jayakarta diangkat Pangeran Bagus Angke, menantu Sultan Hassanudin. 1552-1570 M Masa Pemerintahan Sultan Maulana Hassanudin. Sultan Maulana Hassanudin memerintah sebagai raja pertama Kesultanan Banten dari tahun 1552 M hingga wafatnya di tahun 1570 M. Pada masa pemerintahannya, digambarkan kota Banten telah berkembang sangat pesat. Jumlah penduduk diperkirakan telah mencapai 70.000 jiwa. Terletak di pertengahan pesisir teluk Banten, Kota yang dikenal dengan nama Surosowan ini memiliki panjang 400 hingga 850 depa. Kota Banten dilewati sungai jernih yang dapat dilalui oleh kapal jung dan gale. Kota Banten dikelilingi benteng bata setebal tujuh telapak tangan. Bangunan bangunan pertahanan dua lantai terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan meriam. Di tengah kota terdapat alun alun yang digunakan untuk kegiatan ketentaraan, kesenian rakyat dan juga sebagai pasar di pagi hari. Istana raja terletak di sisi selatan alun alun, disampingnya dibangun bangunan datar yang ditinggikan dan diatapi yang disebut srimanganti, sebagai tempat raja bertatap muka dengan rakyat. Di sebelah barat alun alun dibangunlah Masjid Agung Banten. Sultan Hassanudin dalam usahanya membangun dan mengembangkan kota Banten lebih menitik beratkan pada pengembangan sektor perdagangan, disamping memperluas lahan pertanian dan perkebunan. Pada masa pemerintahannya, Banten telah menjadi pelabuhan utama di Nusantara, sebagai persinggahan utama dan penghubung pedagang pedagang dari Arab, Parsi, Cina, dengan kerajaan kerajaan di Nusantara. Cara jual beli saat itu, masih menggunakan sistem barter, dan juga sudah mulai digunakan mata uang sebagai alat tukar. Mata uang yang digunakan adalah Real Banten dan cash cina (caxa). Terjadinya krisis kepemimpinan di Kesultanan Demak pada tahun 1547-1568 M, mendorong Sultan Hassanudin untuk melepaskan diri dari Kesultanan Demak dan menjadikan Banten kerajaan yang berdiri sendiri. Saat itu, wilayah Kesultanan Banten telah meliputi Banten, Jayakarta, Kerawang, Lampung, Inderapura, sampai Solebar. Sultan Hassanudin wafat tahun 1570 M dan dimakamkan di samping Masjid Agung. Setelah wafatnya, Maulana Hassanudin dikenal dengan sebutan Sedakinking. Sebagai penggantinya, dinobatkanlah Pangeran Yusuf sebagai Raja Banten ke 2. 1570-1580 M Sultan Maulana Yusuf Pada masa kepemerintahan Sultan Maulana Yusuf, strategi pembangunan dititik beratkan pada pengembangan kota, keamanan wilayah, perdagangan dan pertanian. Pada saat itu, perdagangan sudah sangat maju sehingga Banten merupakan tempat penimbunan barang barang dari seluruh dunia yang nantinya akan disebarkan ke seluruh nusantara.

3

Dengan majunya perdagangan maritim di Banten, maka kota Surosowan dikembangkan menjadi kota pelabuhan terbesar di Jawa. Ramainya kota baru ini dengan penduduk pribumi maupun pendatang membuat diberlakukannya aturan penataan dan penempatan penduduk berdasarkan keahlian dan asal daerah penduduk. Perkampungan untuk orang asing biasanya ditempatkan di luar tembok kota, seperti Pekojan yang diperuntukan bagi pedagang muslim dari kawasan Arab ditempatkan di sebelah barat pasar Karangantu, Pecinan yang diperuntukan bagi pendatang dari Cina ditempatkan di sebelah barat Masjid Agung, di luar batas kota. Penataan pengelompokan pemukiman ini selain bertujuan untuk kerapian dan keserasian kota juga untuk kepentingan keamananan, dan merupakan upaya penyebaran dan perluasan kota. Selain penataan pemukiman, juga dilakukan perkuatan dan penebalan tembok keliling kota dan tembok benteng sekeliling istana. Tembok benteng diperkuat dengan lapisan luar yang terbuat dari bata dan batu karang dengan parit parit disekelilingnya. Perbaikan Masjid Agung juga dilakukan dan penambahan bangunan menara dengan bantuan Cek Ban Cut, arsitek muslim asal Mongolia. Untuk kepentingan irigasi bagi persawahan yang berada di sekitar kota dan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih bagi kota Surosowan, di buatlah danau buatan yang dinamakan Tasikardi. Air dari sungai Cibanten dialirkan melalui terusan khusus ke danau ini, yang kemudian disalurkan ke daerah daerah sekitar danau. Dengan melalui pipa pipa terakota, setelah diendapkan di Pengindelan Abang dan Pengindelan Putih, air yang sudah jernih dialirkan ke keraton dan tempat tempat lain di dalam kota. Di tengah danau buatan ini juga dibuat pulau kecil yang digunakan sebagai tempat rekreasi keluarga keraton. Sultan Maulana Yusuf wafat pada tahun 1580 M dan dimakamkan di Pakalangan Gede dekat kampung Kasunyatan sekarang, dan karenanya beroleh gelar Pangeran Panembahan Pakalangan Gede atau Pangeran Pasarean. Sebagai pengganti, diangkatlah putranya, Pangeran Muhammad yang pada waktu itu baru berusia 9 tahun. 1579 M Pasukan Banten di bawah pimpinan Sultan Maulana Yusuf berhasil merebut Pakuan, ibukota Kerajaan Pajajaran dan menguasai seluruh wilayah bekas kerajaan Pajajaran. Raja terakhir yang memerintah Kerajaan Pajajaran adalah Raga Mulya atau Prabu Surya Kencana, yang juga dijuluki Prabu Pucuk Umun atau Panembahan Pulosari, karena pada akhir masa kepemerintahannya berkedudukan di gunung Pulosari, Pandeglang. Benteng Pulosari dapat dikuasai oleh Sultan Maulana Yusuf pada tanggal 8 Mei 1579/11 Rabiul Awal 987 H. Setelah berhasil dikalahkan, seluruh punggawa kerajaan Pajajaran diislamkan dan dibiarkan kembali memangku jabatannya sehingga dapat menjamin stabilitas keamanan di seluruh wilayah Banten. 1580-1596 M Sultan Maulana Muhammad Kanjeng Ratu Banten Surosowan Keadaan Banten pada masa Sultan Maulana Muhammad dapat diketahui berdasarkan kesaksian Willem Lodewycksz yang mengikuti Cornelis de Houtman yang mendarat di pelabuhan Banten tahun 1596. Dari catatan mereka diketahui bahwa Kota Banten mempunyai tembok tembok yang lebarnya lebih dari depa orang dewasa dan terbuat dari bata merah. Diperkirakan besarnya sebesar kota Amsterdam tahun 1480 M dan orang dapat melayari seluruh kota Banten melalui banyak sungai. Setiap kapal asing yang hendak berlabuh di Bandar Banten diharuskan melalui semacam pintu gerbang dan membayar bea masuk. 4

yaitu Abul Mafakhir. Perang untuk memperebutkan tahta yang dilancarkan oleh Pangeran Kulon. Dengan cara demikian. Puncak dari kekacauan itu adalah dibunuhnya Mangkubumi. Sultan juga menjadi khatib dan imam untuk setiap shalat Jum¶at dan Hari Raya. saudara beda ibu dengan Sultan Maulana Muhammad. Masa awal pemerintahan Sultan yang masih balita ini merupakan masa masa pahit dalam sejarah Kesultanan Banten karena banyaknya perpecahan dalam keluarga kerajaan. sehingga tidak memiliki wibawa dan keputusannya lebih banyak tidak ditaati. Pangeran Ranamanggala adalah putra Maulana Yusuf. 5 . Sultan tertembak ketika memimpin pasukan dari kapal Indrajaladri di Sungai Musi. yang terjadi di tahun 1608 ± 1609 M. tindakan utama yang diambil adalah mengembalikan stabilitas keamanan Banten dan menegakan peraturan untuk kelancaran pemerintahan.Transaksi perdagangan di pasar ini berjalan mudah karena mata uang dan pertukaran mata uang (money changer) sudah dikenal. beliau banyak mengarang kitab agama Islam dan membangun masjid hingga ke pelosok negeri. perang yang dimulai akibat bujukan Pangeran Mas. Pada masa kepemimpinannya. Nyai Gede Wanagiri yang telah menikah kembali. Pada saat Mangkubumi Jayanegara wafat di tahun 1602 M. Maulana Muhammad terkenal sebagai orang yang saleh. Sultan Maulana Muhammad wafat di usia 25 tahun. Kekacauan di dalam negeri semakin membesar dan tidak dapat ditangani karena Mangkubumi lebih sibuk mengurus keributan yang ditimbulkan oleh pedagang Belanda dengan pedagang Inggris. yang ditunjuk sebagai penggantinya. yang bahkan Sultan sendiri tidak diperkenankan untuk ikut campur. dalam kenyataannya banyak menerima suap dari pedagang asing. perwalian dikembalikan ke ibunda sultan. Banten dapat terselamatkan dari kehancuran akibat rongrongan dari dalam amupun luar negeri. Sultan Maulana Muhammad wafat pada tahun 1596 pada saat penyerangan ke Palembang. mendesak agar suami barunya ditunjuk sebagai Mangkubumi. Salah satunya adalah diangkatnya Pangeran Ranamanggala sebagai Mangkubumi dan wali dari sultan muda. seorang tua yang lemah lembut dan luas pengalamannya dalam pemerintahan sebagai walinya. Sultan meninggalkan putra yang baru berusia lima bulan. semenjak itu Banten menjadi aman kembali. Portugis. Masjid Agung diperindah dengan melapisi dinding dengan keramik dan kolomnya dengan kayu cendana. yang memicu terjadinya perang saudara yang dikenal dengan nama Perang Pailir. maupun pedagang dalam negeri. Selama menjabat sebagai Mangkubumi. saudara sultan lain ibu ini. Nyai Gede Wanagiri. Mangkubumi yang baru ini. untuk menjalankan roda pemerintahan maka ditunjuklah Mangkubumi Jayanegara. keturunan dari Kerajaan Demak yang ingin menjadi Raja Palembang. dimakamkan di serambi Masjid Agung dan beroleh gelar Pangeran Seda ing Palembang atau Pangeran Seda ing Rana. Untuk kepentingan penyebaran agama Islam. dengan berbagai kepentingan yang berbeda serta keinginan untuk merebut tahta kerajaan. untuk tempat shalat perempuan disediakan tempat khusus yang disebut pawastren atau pawadonan. 1596-1651 M Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir Sultan Abul Mafakhir yang baru berusia lima bulan. dapat dihentikan atas usaha Pangeran Jayakarta hingga dibuat perjanjian perdamaian antara semua pihak.

Hal ini dilakukan agar pedagang dari Belanda tidak berniaga di Banten karena perilaku pedagang Belanda yang kasar dan mau mencampuri urusan pemerintahan dan dalam negeri Banten.sebuah organisasi keilmuan yang tertua di negeri yang kemudian bernama Hindia Belanda ini. karangan Nina H Lubis.en volkenkunde (biasa dipendekkan dengan BKI saja. Disarikan dari Buku BANTEN DALAM PERGUMULAN SEJARAH: sultan. Akan tetapi. Bukankah sudah umum juga diketahui bahwa salah satu sebab utama VOC dilebur dan daerah-daerah di Kepulauan Indonesia yang telah berada di bawah dominasi VOC dijadikan sebagai bagian dari sebuah negara kolonial yang disebut Hindia Belanda ialah karena VOC telah mengalami kebangkrutan? Tentu sekarang kita bisa berkata bahwa kalau dihitung-hitung umur VOC lebih panjang daripada Hindia Belanda. terbitan KITLV). sedangkan umur Hindia Belanda hanya 142 tahun saja. Akan tetapi. Maka dengan pengurangan biaya ini kerugian finansial VOC bisa ditekan.land-. ulama. Peristiwa ini pun tak pula penting. redaksi majalah mengatakan bahwa sebenarnya naskah lengkap dari sang bangsawan lokal ini akan diterbitkan oleh Bataviaasch Genootschaap. ia terpaksa meninggalkan jabatannya pada maskapai dagang Belanda yang semakin lama semakin berfungsi sebagai sebuah ³negara´ itu. yang akan mau mengakui cara berpikir legalistik konyol ini. tidak lagi 372 orang. tetapi biarlah kebangsawanan ini sebagai tambahan pengetahuan saja. Jadi rahasia dari masa-masa akhir hidup VOC termuat juga dalam naskah ini. Akan tetapi. yang menarik ialah ternyata setahun sebelum ia ³pulang negeri´. rencana penerbitan ini dibatalkan karena Gubernur Jenderal Alting menasehati sang pengarang agar mau mengurungkan niatnya. Coba saja pikir pejabat yang bergelar Jonkheer ini antara lain mengusulkan agar VOC menurunkan tingkat administratif Banten hingga dengan begini jumlah tentara yang diperlukan cukup 185 orang saja.Mangkubumi dalam menghadapi bangsa asing tidak berat sebelah atau memihak pihak manapun. Pada pengantar dari memorandum yang telah diperpendek itu. Soalnya Banten cukup dekat dari Batavia dan lagi ± dan ini rupanya penting juga ± ³kemiskinan sang raja telah meniadakan kemungkinannya untuk melakukan apapun´. Beberapa kebijakan penting yang diambil : ‡ Penghapusan keharusan bagi pedagang Cina untuk menjual lada kepada pedagang Belanda ‡ Penetapan pajak ekspor lada dan pajak impor bagi barang barang yang sebelumnya tidak terkena pajak ‡ Pemberlakuan pajak yang lebih tinggi bagi pedagang dari Belanda. barulah pada tahun 1857 ± hampir enam dasawarsa kemudian ± ringkasan dari kedua memorandum panjang ini diterbitkan dalam majalah Bijdragen tot Taal-. jawara. Kalaupun ingin berpikir secara legalistik yang kaku palingpaling hanya bisa ditambah empat tahun tambah beberapa bulan ± sejak menyerahnya Jepang hingga ³penyerahan kedaulatan´. Melihat namanya ia rupanya seorang bangsawan. penerbit LP3ES. Yang penting ialah Jonkheer Jan de Rovere van Breugel adalah seorang pejabat VOC di Banten. 6 . VOC sempat hidup sampai dua abad kurang dua tahun (1602-1800). raden mas Belanda ini sempat menyelesaikan dua memorandum panjang. Pulang kampung dan meletakkan jabatan bukanlah pula hal yang harus dibesar-besarkan. tetapi lebih mungkin karena keasyikan berkisah saja-ternyata banyak juga membicarakan hal-hal yang mestinya tidak boleh diketahui umum. Pada tahun 1788. entah tidak. yang masing-masing berjudul Berschijving van Banten en de Lampong (Uraian tentang Banten dan Lampung) dan Bedenkingen van den staat van Bantam (Pemikiran tentang Banten). Namun. sebuah majalah yang sampai sekarang masih terbit bahkan telah semakin bersifat internasional. Soalnya kedua naskah memorandum itu-entah sengaja.

siapa lagi selain kaum konservatif Belanda? Jadi. tetapi akibatnya orangtua anak perempuan akan kehilangan pembayaran yang telah mereka lakukan. tetapi juga serta merta mengikis tradisi maritim Jawa yang dinamis. Mereka lebih sibuk minum-minum ± tentu saja bukan air ± makan-makan sirih dan menunggangnunggang kuda. penduduk dan adat. tetapi ia dapat saja bercerita tentang apa saja yang kebetulan dilihat dan diamatinya. Namun demikian. tentu bisa juga dimaklumi kalau dalam melihat dan mengamati masyarakat Banten ia tak bisa melepaskan landasan penilaian yang bercorak Belanda. Dengan membaca ³ikhtisar dari ikhtisar´ ini kita mengetahui juga dasar keinginan van Breugel untuk menerbitkan kedua memorandumnya dan bisa pula memahami pertimbangan majalah BKI untuk menerbitkan ikhtisarnya sekian puluh tahun kemudian. Kalau begini keadaannya nilai aktualitas dari memorandum itu telah membuyar. Banten telah pula sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Belanda. sayang juga ketika akhirnya diterbitkan tulisannya hanya bermanfaat sebagai salah satu sumber sejarah saja. Karena itulah barangkali ikhtisar memorandum kurang begitu menarik perhatian. janganlah kaget kalau ia mengatakan bahwa menurut pengamatannya laki-laki Banten itu sesungguhnya pemalas. Akan tetapi. Tampak sekali bahwa sang pengarang berharap agar memorandumnya ini bisa mempengaruhi kebijakan politik kolonial yang dijalankan. meskipun Hindia Belanda telah berkuasa. Politik ini bukan saja dengan ekstrem mengeksploitasi anak negeri dan menjadikan mereka terpaku pada desa masing-masing. yang jelas kedua naskah memorandum yang telah diperpendek itu diterbitkan ketika Pemerintah Hindia Belanda telah asyik dengan politik ³tanam paksa´ atau cultuurstelsel di Pulau Jawa. Meskipun ia sangat menaruh perhatian pada sumber-sumber ekonomis Banten dan Lampung. menulis tentang hubungan Jawa dan Belanda (Java and Modern Europe. Apalagi pada waktu diterbitkan. Ia pun ³berbaik hati´ juga mengikhtisarkan lagi ikhtisar naskah sang Jonkheer. Dalam memorandum ini. Anakanak umur delapan atau sepuluh telah dipertunangkan. membiarkan saja perdagangan dikuasai para pendatang yang disebut ³Orang dagang´ . tetapi ternyata hampir tidak ada aspek kehidupan dan dinamika ekonomi-politik yang tidak dibicarakannya. tak perlu heran kalau masyarakat awam masih menyebut pemerintah kolonial Belanda ³kompeni´. bangsawan). tetapi sudahlah. sejarawan Australia yang ahli Jawa. Maka. van Breugel membayangkan juga suatu saat Banten akan bisa bangkit lagi jika saja VOC menjalankan kebijakan yang baik. Pertunangan ini bisa juga dibatalkan. hasil bumi dan perdagangan serta hal-hal lain lagi. Ia berbicara tentang wilayah dan kota. katanya lagi. laki-laki Banten itu. 1997) ia merasa perlu menjadikan tulisan dari van Breugel ini sebagai bahan kajiannya. 7 . Mereka membiarkan saja para isteri mereka bekerja mengurus rumah tangga. yang jelas tulisan Jonkheer de Rovere van Breugel boleh dikatakan bercorak ensiklopedis tentang Banten. sebagaimana yang mungkin bisa dilakukan oleh ahli anthropologi modern. Soalnya ia sebenarnya melihat masa depan yang cerah juga bagi Banten. Bahkan. tetapi kali ini dalam bahasa Inggris. jika saja usul-usulnya bisa dipertimbangkan untuk dilaksanakan. pemerintahan (raja. kalau saja pengamatannya tidak terlalu bias. Hanya saja. meskipun mereka masih tinggal di rumah orang tua. la mungkin tak bisa menerangkan mengapa ³itu harus begitu´ dan ³mengapa ini harus begini´. Dalam tulisannya tampak pula bahwa ia adalah seorang pengamat situasi sosial yang cukup jeli juga. sudahlah. Policy apalagi yang akan dijalankan berdasarkan memorandum itu? Bisalah pula dipahami bahwa barulah ketika Ann Kumar.

padahal 8 . yang diperkuat dengan 58 meriam. artinya mereka sering berhasil mengelakkan monopoli VOC. sedangkan tamu-tamu datang dengan membawa hadiah. sedangkan para pejabat negara. semua pasar itu mengalami kemunduran . menurut pengamatannya. pinang. Tentang usaha pemberantasan perompakan ia mengusulkan agar kekuatan armada Banten diperkuat.Pesta perkawinan diadakan di rumah penganten perempuan. tetapi untuk pertahanan istana yang dikelilingi benteng ini tak ada artinya apa-apa. biasanya buah-buahan. Akan tetapi. sangat dipengaruhi oleh ³paus-paus orang asing´ (maksudnya tentu saja ulama-ulama dari negeri lain). Di sekeliling benteng itu ada perumahan VOC. Akan tetapi. Orang Cina tinggal di dua kampung yang dipenuhi oleh rumah tembok batu juga. yang menurut van Breugel. Perbentengan telah hancur dan di atas runtuhan itu rumah-rumah baru didirikan karena jumlahnya cukup banyak inilah Banten. la menguraikan satu persatu komoditi ini. katanya. yang disaksikan van Breugel. Rumah-rumah umumnya terbuat dari bambu. la juga bercerita tentang perdagangan candu yang dikuasai Letnan Cina dan berkisah pula tentang betapa maraknya penyelundupan barang haram ini. Cerita yang mengasyikkan juga ialah tentang bajak laut. Tumanggung. Istana raja dikelilingi benteng berbentuk setengah bulan. ia mengatakan bahwa orang Banten itu beragama Islam tetapi orang Lampung menganut kepercayaan yang merupakan percampuran ³ajaran Muhammad´ dengan sistem kepercayaan yang masih kafir. kelapa. katanya. kopi. Sang pejabat yang bangsawan ini rupanya pernah juga beberapa kali menghadiri upacara pernikahan orang Banten. seperti menteri dan ³pendeta´ (maksudnya barangkali kadhi kerajaan) dan beberapa orang lain mempunyai rumah batu. bukan saja di kalangan kraton. Bagian yang terpenting dari memorandum ini ialah uraian tentang komoditi perdagangan dari Banten dan Lampung: lada. Sultan asyik dengan segala macam kemewahan. Bukan itu saja. Orang Banten mempunyai hukum juga. beras. la menguraikannya mulai dari tempat tumbuh dan cara pemeliharaan sampai dengan prospek perdagangannya. Orang Mandar. bagaimanakah keadaan ibu kota Banten? Kalau tentang desa ia mengatakan bahwa desa orang Banten sangat tak beraturan. Kata ³paus´ adalah sebutan ejekan bagi ulama. Ketika menyebut ³paus´ ini van Breugel sama saja dengan para penulis Belanda lain. kata van Breugel. ia melukiskan tentang dindingdinding yang dulu pernah mengitari ibu kota sekarang telah hancur lebur berantakan. sebab ia bisa juga berbicara agak panjang lebar tentang situasi dari upacara perkawinan itu. hanya sebagian kecil saja memakai bingkai kayu. Tentang agama. Ada tiga pasar di Banten. ndigo. yaitu Karang Antu. Kalau saja interpretasi sosial boleh diberikan terhadap uraiannya ini maka bisalah dikatakan bahwa masyarakat Banten. pencurian dibayar dengan penjara atau perbudakan yang kadang-kadang bisa sebagai hukuman bagi hutang yang tak dibayar. tetapi. gula. sedang berada dalam situasi kemelut yang parah juga. umpamanya dengan memberi bantuan mesiu. kayu sandalwood. dan sebagainya. dan digabung lagi ³dengan takhyul yang paling bodoh´. Van Breugel jengkel juga karena ia melihat sang Sultan tidak menaruh hormat lagi pada VOC. Raja yang memerintah pada waktu itu ialah Sultan Abul Nazar Muhammad. pada umumnya mereka lebih suka mengikuti hukum alam saja ² darah dibayar dengan darah. sedangkan tentang ibu kota. (Belanda abad ke-18 sangat anti-Katholik rupanya). ³masih bisa disebut kota´. dan sebuah pasar baru. Mereka semakin berpengaruh saja di kalangan masyarakat Banten. adalah yang paling aktif dalam penyelundupan. tidak lagi seperti dulu ketika Banten masih megah.

Kerajaan ini tidak bermula dari tumbuhnya dan membesarnya sebuah kekuasaan lokal. Kesedihan sang pangeran tua ini tentang kemerosotan negerinya tentu bisa dimaklumi. Jabatan sebagai kepala gudang ini dianggap sebagai sesuatu yang turun temurun. perahu-kesenangan. Sunan Gunung Jati meninggalkan putranya sebagai penguasa Banten yang pertama. Sunan Gunung Jati. Akibatnya. sedangkan para bangsawan sangat tergantung kepada Sultan. sayang ia tidak mempunyai penasehat yang baik. tentu saja tidak mengalami secara langsung masa ketika Banten adalah kerajaan yang makmur dan disegani dan merupakan salah satu kerajaan yang terkuat di Kepulauan Nusantara ini. tentu bisa diduga. tetapi muncul sebagai akibat dari ekspansi kekuasaan dari luar. Sultan berhutang ke kiri dan ke kanan. Kita pun berhadapan dengan salah satu irama yang hampir menetap dari sejarah Banten setelah kejayaan kerajaan telah terlepas dari tangan. tetapi pengetahuan akan masa gemilang yang telah hilang itu tak begitu saja terpupus dalam ingatan kolektif Banten. berhasil menaklukkan Malaka. Pada tahun 1511. Bahkan asal usul berdirinya kerajaan pun masih segar dalam ingatan kolektif anak negeri. maka berarti leher dari 9 . Ketika kemudian Cirebon melepaskan perwaliannya atas wilayah di ujung Barat Pulau Jawa (1552) kesultanan Banten pun resmi berdiri dan Pangeran Adipati Hasanuddin pun menjadi Sultan Hasanuddin. kata van Breugel. Kalau telah begini. Awal abad ke-16 adalah masa yang kritis bagi perairan Asia Tenggara. maka tarikan masa lalu yang telah dirasakan sebagai ³masa depan´ itu semakin keras dan menggetarkan juga. yang terletak di ujung Barat Pulau Jawa. Bilamana situasi kesekarangan telah dirasakan semakin mencekam bagaimanakah ingatan akan masa lalu yang telah lewat itu akan hilang begitu saja? Bukankah nostalgia kultural itu sesungguhnya tidak lain daripada perlawanan terhadap tirani sang waktu? Dengan bernostagia. Alfonso d¶Albuquerque. Setelah itu. maka masa lalu tiba-tiba bisa saja berubah menjadi ³masa depan´ yang harus dirangkul dengan segera. telah masuk Islam). Pada umumnya para bangsawan ini sudah cukup puas dengan tempat tinggal yang menyenangkan. Ternyata ini adalah sebuah keputusan politik yang sangat tepat. Ketika perasaan kerinduan ini telah semakin mencekam. Dalam usaha untuk meluaskan kekuasaan dan mengembangkan Islam. yang malah sibuk menghalangi mereka untuk berhubungan dengan orang Eropa. Sang Pangeran yang hidup pada abad ke-18. Pengawas gudang lada sang raja ialah seorang yang bernama Kiai Aria Astradinata. adalah seorang yang alim. panglima Portugis yang ingin melumpuhkan Mekah dan Constatinopel ± dua pusat kekuasaan dan agama Islam. Pangeran Raja Kusuma. Janganlah pula heran bilamana kepedihan masa kini telah semakin keras dirasakan. la memperhitungkan bahwa dengan jatuhnya Malaka.kesultanan telah jatuh miskin. Asal-usul Banten sebagai sebuah kerajaan Islam agak unik juga. Ia bisa juga merasakan apa artinya hidup ketika kejayaan lama hanya tinggal kenangan belaka. katanya. Paman raja. la adalah anak seorang tukang batu Cina yang telah disunat (maksudnya tentu saja. karena situasi kesekarangan telah sedemikian menista harga diri. ulama -penguasa dari Cirebon dan salah seorang Wali Sanga. tetapi ia tampaknya agak serakah. Ketika Van Breugel menulis tentang Pangeran Raja Kusuma ini ia mungkin merasa simpati juga. mendirikan Banten. Ia telah tua dan uzur dan hanya menghabiskan waktunya untuk beribadah serta menangisi nasib tanah airnya yang hari demi hari dilanda kemerosotan. Sebenarnya Sultan ini seorang yang baik hati. perjalanan waktu dijadikan tak berfungsi dalam kesadaran. maka ³terjadilah apa yang harus terjadi´. dan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik.

Ternate dan Tidore. Penurunan jumlah penduduk yang drastis dari tahun 1682 -1696 tentu masuk akal juga. Spanyol. pedagang. Mataram pun tampil pula sebagai pemegang hegemoni di ³negara-negara kota´ di pantai Utara. apalagi Asia. sibuk berkali-kali menyerang Malaka. Karena itulah Schrieke. Maka sementara beberapa negara-kota di pantai Utara Jawa dan Johor. baik yang datang dari Eropa. Karena itu bisa jugalah dipahami kalau sumber-sumber tentang sejarah Banten selama abad ke-16 ± abad ke-17 sangat banyak juga. seperti Portugis. yang memang telah berdatangan sejak awal abad Masehi. tetapi juga menyebabkan terjadinya pemencaran dari pusat-pusat perdagangan Islam. serta Aceh-Darussalam. sama sekali tidak menduga bahwa kejatuhan Malaka bukan saja menyebabkan Malaka menjadi sasaran penyerbuan dari kekuatan Islam di perairan Barat Indonesia. kata orang sana) kekalahan ini sesungguhnya bisa dilihat sebagai awal dari konsolidasi kekuasaan internal Banten. tetapi dalam perbandingan perkiraan ini memperlihatkan bahwa Banten mempunyai penduduk yang terbesar di Nusantara. dan mengekspor barang imporhanya Aceh di Barat dan Makassar di Timur. Saingan Banten di Nusantara sebagai entrepot pelabuhan yang menerima barang impor. apalagi setelah Portugis berhasil menaklukkan Malaka maka ³jalan ke Timur´ untuk mencari rempah-rempah dan menyebarkan agama. Pada waktu itu diperkirakan jumlah penduduk 800 ribu. kemudian datang Belanda. 10 . Tentang Banten laporan-laporan asing memperlihatkan bahwa antara tahun 1660-1690 terjadi fluktuasi yang hebat juga dari jumlah penduduk. Sejak itu sejarah Banten hanyalah berisikan kisah kemerosotan saja sampai akhirnya menjadi residentie Banten. penerus dinasti Malaka. Tetapi pada tahun 1696 telah turun menjadi 125 ribu. bahkan juga Denmark. Dan sejak itu pula Banten semakin tampil sebagai entrepot yang terbesar di Pulau Jawa. Saingannya hanya perkiraan jumlah penduduk Mataram pada tahun 1624. Ketika inilah Makassar. India (1498). Perairan Nusantara pun menjadi ranah persaingan dari segala bangsa. yang didorong oleh keuntungan dagang dan kekuasaan agama ini. Pada waktunya sebagian dari kota-dagang dan pelabuhan persinggahan bagi para pedagang Islam yang baru ini pun tumbuh sebagai pusat kekuasaan besar. Tradisi sejarah Banten tidak bisa melupakan bahwa Maulana Jusuf tewas ketika ia ingin meluaskan pengaruh dan kekuasaan kesultanan Banten ke Palembang. tetapi panglima Portugis. karena pada tahun 1682 itulah masa akhir kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. Sepuluh tahun kemudian 700 ribu. penginjil. Malaka adalah salah satu pusat perdagangan yang besar dunia pada abad ke-15. Inggris. seorang ahli filologi Islam.kedua pusat Islam itu telah bisa dicekik Portugis. tetapi pada perkiraan pada tahun 1672 telah memperlihatkan lonjakan jumlah yang hebat. Aceh-Darussalam serta Banten secara pelan tetapi pasti menjadi kerajaan Islam yang besar. dan advonturir Eropa. sosiologi dan sejarah Belanda yang terkemuka (yang sempat juga bekerja pada kantor Penasehat Bumiputra) sempat juga membuat teori bahwa penyebaran Islam di Kepulauan Indonesia ini tidak bisa dilepaskan dari apa yang disebutnya sebagai ³race with Christianity´ (perlombaan dengan Kristen). Ukuran kebesaran enterpot ini bisa dilihat juga antara lain pada perkiraan jumlah penduduk yang diberikan oleh para pelapor asing. mengirim barang ekspor. tetapi dengan memakaikan keuntungan dari tinjauan ke belakang (atau historical hindsight. telah terbuka pula bagi para pelaut. Soalnya ialah setelah Vasco da Gama mendarat di Calicut. di tempat-tempat lain kota-kota dagang baru pun bermunculan pula. Sebuah perkiraan pada tahun 1662 mengatakan bahwa penduduk Banten lebih dari 100 ribu. Sementara itu di pedalaman Jawa. Sudah pasti perkiraan jumlah penduduk itu tidak akurat. Sejak akhir abad ke-16 dan akhir abad ke-17 boleh dikatakan sebagai the age of Islamic hegemony dalam sejarah Asia Tenggara.

Orang Persia. mempunyai hobby yang sama pula. tahun kedatangan Cornellis de Houtman ke Banten ini dijadikan sebagai masa awal dari penjajahan Belanda di Indonesia. maka ia pun menjalankan semua kerja yang hina untuk menghidupi dirinya. ³ia tak punya apa-apa. Kalau orang Gujarat.Salah satu laporan yang menarik dibuat oleh orang Belanda. Antara lain ia bercerita tentang ³pembagian kerja´ dari anggota komunitas asing yang berada di Banten. Kalau cerita Lodewijk diteruskan. seorang pedagang Turki yang kaya-raya. Hanya saja dalam perbandingan ini sering terlupakan bahwa tumbuhnya Banten sebagai pusat kekuasaan dan dagang terjadi ketika Sultan Abdul Kadir (1596-1618) masih harus berada di bawah pewalian. maka ia pun mengatakan bahwa orang Keling lebih suka mengadakan investasi dengan bunga.. berdagang permata dan obat-obatan. maka kita pun bisa juga mengatakan bahwa ajaran Islam tentang riba tidak masuk perhitungan para pedagang Melayu itu. walaupun ia bukan berdarah kraton. Lodewijk. Banten di abad ke-16 dan awal abad ke-17 adalah ³a land of opportunities´± negeri yang membuka semua kesempatan. Jadi. yang datang ke Banten pada tahun 1596 bersama komandannya. Ini tentu adalah fakta sejarah biasa saja ± orang berdagang tentu mencari pusat kegiatannya ± tetapi sialnya dalam sejarah Indonesia yang diajarkan oleh para pejabat negara Indonesia yang merdeka. Ketika ia sampai di Banten. sama saja dengan ³konglomerat Melayu´ sekuler zaman sekarang ² pokoknya keuntungan masuk. Dengan jelas sekali ia menggambarkan sifat internasional entrepot Banten. kita pun ikut larut dalam pandangan sejarah yang bodoh dan sesat ini dengan mengatakan bahwa ³Indonesia 350 tahun berada di bawah kolonialisme Belanda. Maka. Atau kalau dengan istilah yang biasa dipakai sebagai cheti. Seorang pelapor Inggris (Scott) menyatakan kekagumannya ketika ia berkata bahwa ³perempuan tua ini menguasai para wali dan lain-lain. Salah satu hal yang dibandingkan itu ialah kenyataan bahwa Banten tidak pernah mempunyai penguasa perempuan. Cornelis de Houtman. Ternyata orang Melayu. tentang Kojah Rayoan. menurut Lodewijk. la adalah sultanah yang terakhir). la orang dari Keling. bisalah dikatakan bahwa kerap kali juga orang membandingkan Banten dengan Aceh. tentu bisa disebut rentenir. kalau cerita dilanjutkan. Ini pulalah salah satu sebab dari awal terjadinya Islamisasi di kawasan ini. tentu bisa diduga.. mereka pada umumnya adalah pelaut dan. karena belum dewasa. Tak lama kemudian Inggris. Maka. mendarat di Banten dan kemudian menjadikan Banten sebagai pusat aktivitasnya. Lodewijk juga bercerita tentang pedagang besar yang bernama Cheti Maluku yang berhubungan dagang dengan orang Belanda dan Inggris. seorang pelapor Inggris curiga juga.´ amun. Orang Arab dan Pegu melakukan perdagangan laut yang sibuk membawa barang dari satu tempat ke tempat lain atau. seorang laki-laki yang menyamar. tetapi karena kearifannya sangat dihargai oleh semua (yang berkuasa) ia memerintah 11 .Lodewijk tentu saja tidak mengatakannya dan ia pasti juga tidak tahu. janganjangan sultanah yang berada di belakang tirai ketika menerima perutusan Inggris. menurut laporannya. kata Lodewijk. pelopor Belanda ke Nusantara. yang praktis merupakan pengimport tunggal tekstil dari anak benua India. Selama lima tahun yang kritis (1600-1605) yang tampil sebagai tokoh utama ialah Nyai Gede Wanagiri. miskin-miskin. Masuk akal juga kalau Cornellis de Houtman. yang dengan kata lain. menjadi pedagang perantara. juga menjadikan Banten sebagai pusat aktivitasnya di Nusantara. maklum para pejabat itu tidak bisa membedakan mana yang mitos dan mana yang sejarah. tetapi peranan Arab sebagai pedagang di perairan Nusantara ini barangkali telah dimulai sejak abad ke-11 ketika Cina menutup pelabuhannya bagi pedagang asing. Aceh mempunyai empat orang sultanah yang memerintah berturut-turut di abad ke-17 (Sialnya. dengan kata lain. jika laporan Lodewijk ini benar. biarlah hal ini tak dilanjutkan. Sebagaimana kota pelabuhan lain Sjahbandar Banten juga orang asing.´ Dengan kata lain.

Bedanya hanyalah pada detail-detail sejarah ± nama tempat. dan pandangan ke luar. memperlihatkan suasana yang lama. Jika saja nama-nama orang diganti dan nama-nama tempat ditukar pula maka uraian tentang Banten rasanya bisa saja dijadikan tentang Makassar dari abad yang sama. karma telah membantunya menghadapi pemberontakan yang dipimpin Kiai Tapa (1750-52). sistem hukum berlaku baik. yang tahu semua masalah perdagangan. baik sumber asing maupun sumber lokal. yaitu maritim dan agraris. 12 .´ De Breugel menggambarkan suasana kemunduran dan kemelut. yang pertama Syahbandar Besar. Banten. dan yang lain memakai nama Thiaria (Shari¶ah).maka negara maritim berarti kegiatan dagang. tidak demikian halnya pada abad ke-17.misi Katholik Prancis. pemerintahan bisa dijalankan berdasarkan kearifan yang paling unggul. yang mempunyai jurisdiksi pada semua masalah perdata dan pidana. membagi kerajaan di kepulauan Indonesia atas dua kategori. yang ditulis Raja Ali Haji dan ayahnya Raja Ahmad dari Pulau Penyengat. ilmu pengetahuan berkembang. yang telah mendirikan dan menguasai Singapura. Bahkan juga bisa ditukarkan dengan Riau-Johor abad ke-18. untuk meninjau kerajaan-kerajaan di pantai Timur Tanah Semenanjung.seakan-akan ia adalah satu-satunya ratu di negeri ini. tetapi suasana sosial-politik dan ekonomi memantulkan gambaran yang tak jauh berbeda. masyarakat yang tak peduli.melaporkan bahwa Banten. Ciri-ciri umum ialah persaingan dagang internasional yang meriah. memberikan kesan yang tidak jauh berbeda. yang dikirim Inggris. Tidak kurang pentingnya ialah suasana ini bukan saja mengundang kedatangan para pedagang dari segala penjuru dunia. ³mempunyai dua hakim utama. ekonomi yang kehilangan gairah. Sedangkan laporan-laporan asing tentang Banten abad ke-16 dan abad ke-17 juga tak pula jauh bedanya dengan laporan tentang kerajaan maritim lain yang sedang berkembang. hukum yang kehilangan peran. Kalau De Breugel.´ Maka begitulah kalau aturan main dalam pemerintahan telah cukup jelas. Kisahnya tentu saja berbeda-beda. Bahkan kisah yang ditulis Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. meskipun yang dikisahkan berbedabeda. Dengan pendekatan ideal type ² membuat bentukan analisis berdasarkan sifat kategori yang paling ekstrim. Makassar. yang menulis memorandum pada tahun 1787. Aceh dan lain-lain memperlihatkan ciri-ciri yang khas maritim. serta keamanan yang tak terjamin. raja yang bijaksana. dan aktivitas keagamaan menjadi pertanda dari kearifan Sultan. sempat mengatakan bahwa orang Banten meskipun punya hukum tetapi lebih suka memakai hukum alam. Dalam hal ini. sebuah pulau kecil dekat Tanjung Pinang. kebudayaan dinamis. serta waktu. Seorang pendeta dari Missions Etrangeyes. Ada kerajaan yang telah mengalami krisis di abad ke-18 ± umumnya berada di pulau Jawa ± tetapi ada pula yang bare mengalaminya pada abad ke-19 ± umumnya di kerajaan-kerajaan di daerah lain (kecuali Maluku). Ketika itu kraton Banten praktis telah menjadi fiefdom VOC atau berada di bawah suzereniteit maskapai ± yang-bermain sebagai-negara ini dan harus pula membayar utang kepada VOC. tetapi juga para ulama. yang memperkenalkan pendekatan sosiologi Max Weber untuk memahami sejarah. Jadi masuk akal juga kalau van Leur. yang menghukum dengan berat kejahatan pencurian dan perzinaan. nama orang dan bentuk peristiwa. Pulau Bintan. sebagaimana diuraikan oleh kitab Tufhat an Nafis. yang disebut historiografi tradisional itu. Suasana kemelut menjelang kejatuhan selalu membayangkan otoritas kekuasaan yang lemah. Nada dari uraiannya hampir sama dengan gambaran para pelapor lain tentang kerajaan-kerajaan Nusantara yang sedang mengalami kemunduran.

Mataram tentu lebih suka mendapatkan upeti dari para bangsawan yang telah mendapat lungguh serta menyibukkan diri dengan penghalusan kebudayaan dan sistem status sosial. Sejak itu sejarah Banten adalah rentetan dari kisah yang ³menunda kekalahan´ saja. Tetapi di saat ini pulalah VOC sedang berada pada tahap perkembangannya yang agresif dan sedang asyik memperkenalkan serta memaksakan sebuah sistem yang sama sekali tak dikenal oleh tradisi Nusantara yang bertolak dari pemikiran laut bebas (mare liberum). bahkan kalau perlu ² bahkan biasa sekali-mereka pun ikut berdagang. Peristiwa sejarah yang biasa dikatakan hanya sekali terjadi. sejarah Banten adalah sejarah tentang sebuah daerah di tanah air kita. sejarah berulang. sikap kultural yang konservatif. tetapi dari sudut pandang lain. Akan tetapi. itu sesungguhnya mempunyai unsur yang ³khusus´ dan ³umum´.´ sedangkan yang merupakan gejala umum itu ialah 13 .´ Penguasa maritim sejauh mungkin ingin mendapatkan keuntungan dari perdagangan laut. di mana. Kemudian hegemoni ini secara berangsur menjadi dominasi (mulai dari zaman Daendels) sampai akhirnya resmi berada di bawah kekuasaan langsung Hindia Belanda ² kesultanan telah dihapuskan. sejarah Banten mungkin bisa juga dilihat sebagai sebuah gambaran umum dari ³lahir dan tumbangnya´ kekuasaan pribumi ² lahir. melawan monopoli. Syekh Jusuf al Makasari. hegemoni asing. Di bawah sultan yang bijaksana inilah Banten mencapai tingkat kegemilangannya yang tertinggi. memang tidak benar.Sedangkan Mataram bersifat agraris ² keterikatan pada tanah. tumbuh. Perang terjadi dan Banten kalah. Konon Sultan Mataram pernah mengatakan pada utusan Belanda yang datang menghadap di kratonnya. tetapi bisa merasakannya sebagai negeri sendiri. Sultan Haji. yang mempunyai kemampuan teknologi persenjataan yang lebih canggih dan tentara yang telah mengalami suka-duka berbagai macam perang. ³Tuan-tuan boleh berdagang di negeri saya tanpa bayar pajak. Sultan Haji memerintah. Fakta bahwa Putra Mahkota bisa berkhianat pada ayahandanya serta-merta menyebabkan karisma tradisional yang dipegang kraton pun meluntur pula. ketika penetrasi dan pengaruh kekuasaan asing telah semakin dirasakan. yang lebih sibuk menjalin ikatan perdagangan terbuka. kalah. sebab saya bukan pedagang seperti penguasa Banten dan Surabaya. tetapi hegemoni telah berada di tangan VOC. tentu mudah juga dipahami kalau di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683). einmalig. independensi Banten mulai setahap demi setahap digerogoti. siapa. berkembang menjadi pusat dagang. akhirnya kolonialisme. dengan Banten. Setelah Sultan Ageng Tirtayasa (Abdulfattah) bisa dikalahkan. Seperti juga halnya dengan Mataram. seorang ulama besar yang berasal dari Makassar. Maka perbenturan antara Batavia. dan bila´. yang harus merasa takut dengan persaingan tuan. dan cenderung mempunyai pandangan ke dalam (inward looking). Ia mengirimkan utusan diplomatik ke negeri-negeri Islam dan menyuruh anaknya naik haji sambil mengunjungi Turki. tetapi mempunyai validitas relatif kalau yang ingin ditemukan ialah pola umum yang berlaku. Jika diartikan secara harfiah ungkapan Prancis l¶histoire se repete. Dengan segala ciri-ciri kerajaan maritim yang diperlihatkan Banten. perang. maka kraton pun ada kalanya menjadi sasaran pemberontakan. dominasi. bukan saja tertarik untuk mendatangi Banten. Benar. Adapun yang khusus dan tak berulang ialah kenyataan bahwa ³Sultan Ageng Tirtayasa (siapa) yang melawan usaha penetrasi kekuasaan Belanda (apa) di Banten (di mana) pada tahun 1682 (bila). Sistem itu ialah monopoli. pertanian. lebih dari itu sekadar kekalahan kejatuhan Sultan Ageng bermula dari pengkhianatan sang putra mahkota. Ungkapan ini tidak benar kalau sejarah diartikan sebagai salinan yang murni dari ³apa.

ulama lokal dan petani. yaitu desa. siapakah yang bisa melupakan karya Multatuli. Ketika Sartono Kartodirdjo (sekarang Prof Dr) menyampaikan disertasinya tentang pemberontakan Cilegon 1888 di Universitas Amsterdam (1966) maka lembaran baru sejarah penulisan sejarah Indonesia pun dibuka. di pihak lain. meskipun dalam waktu atau abad yang berbeda-beda. Nasionalisme yang kolonial pun tumbuh juga. ³nasionalisme lokal´ yang kental. Max Havelaay. seakan-akan diharuskan untuk menjadi daerahsampingan saja. dengan aktor-aktor ³orang kecil´. Maka bisalah dimaklumi kalau Aceh kadang-kadang disebut sebagai negeri ³uleebalang dan ulama´. Maka dengan begini sebuah alternatif dalam penulisan sejarah diperkenalkan. seperti tampilnya ulama besar Syekh Nawawi al Bantani. Sejarah politik dengan peristiwa besar dan orang besar kini telah didampingi oleh studi yang semakin mendekati pada denyut sejarah sesungguhnya-manusia dengan segala keresahan dan harapannya pada tingkat yang paling intim. Pemberontakan Cilegon sebenarnya memperlihatkan hal lain lagi. Banten mempunyai tempat khusus juga dalam perkembangan historiografi Indonesia. yang menerbitkan buku-buku di pusat-pusat pengetahuan dunia Islam. Ketika kesultanan telah mengalami proses pelemahan dan kemudian malah dihapuskan dan di saat kedudukan bangsawan semakin terjepit. yaitu semangat independen. Mereka adalah para jawara. kerajaan yang pernah disegani di perairan Nusantara.kecenderungan bahwa ³raja adalah lembaga yang pertama yang melawan usaha penetrasi Belanda´. tetapi pada umumnya tidak lagi berperan apa-apa yang penting. ketika itu pula para ulama semakin tampil sebagai pemimpin lokal. setidaknya begitulah yang terjadi pada struktur kesadaran yang dipantulkan oleh satu-dua pejabat Belanda. dan keterikatan pada norma keagamaan. Sejak kejatuhan kesultanan hampir tidak ada lagi satu peristiwa di Banten yang bukan dimotori oleh ulama dan jawara. Dan kemudian. Banten . Begitulah umpamanya. yang berkisah tentang penderitaan rakyat dan ketidakberdayaan pejabat yang bermaksud baik? Kolonialisme adalah hubungan internasional yang bercorak subordinatif dan eksploitatif mempunyai akibat sosial yang penting. di masa krisis politik yang berkepanjangan ini ketika ³hukum alam´ (sebagai kata van Breugel) lebih penting dari ketentuan hukum yang berlaku golongan baru pun semakin menampakkan dirinya. Sejak resmi menjadi salah satu karesidenan yang berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda. pendekar yang selalu siap membela untuk sesuatu yang dianggap benar. Drama ini berkisah tentang bantuan militer Belanda pada anak Sultan Ageng yang durhaka. Di satu pihak. Kecenderungan umum ini terjadi di manamana. dengan memakai pendekatan yang bercorak multidimensional. Banten. Banten pun dikenal pula sebagai negeri ´ ulama dan jawara ³. Pada gilirannya kesadaran ini memberi akibat juga pada cara sebuah bangsa yang sedang berada dalam proses pembentukannya untuk melihat sejarahnya. kolonialisme mempunyai kemungkinan untuk menciptakan mental dependensi (terhadap orang asing) dan kesadaran hirarki sosial yang hegemonik (terhadap sesama anak negeri). sifat eksploitatif dari kolonialisme kemudian bisa juga menjadi landasan dari terwujudnya rasa kesamaan sejarah dan nasib yang bersifat translokal. Meskipun dengan memakai konsep pola umum ini Banten unik juga-jika bukan dalam corak peristiwa yang dialaminya. Akan tetapi. 14 . Dengan buku untuk pertama kali seorang sejarawan Indonesia tampil ke depan dengan menyoroti sebuah ³peristiwa kecil´. Di samping mempunyai pengaruh terhadap sejarah pergerakan kebangsaan. Onno Zwiervan Haren menulis sebuah drama yang mencekam dengan judul Agon Sulthan van Bantham . Banten yang telah kehilangan kesultanan ternyata tidak kehilangan beberapa hal yang fundamental. Kadang-kadang orang dikejutkan oleh tampilnya hal yang perlu dicatat.

banyak kiyai. langgar atau masjid. Haji Syadeli dari Kaloran. Fiqh dan Tasawuf merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam ajaran Islam dan harus dipraktekan dalam setiap kegiatan sehari-hari. Anjuran itu disambut baik kiyai-kiyai terkenal seperti Kiyai Haji Wasid dari Beji. Rakyat dari Tanahara. yang juga gencar menganjurkan perlawanan kepada penjajah kafir. Pra Peristiwa Geger Cilegon Tokoh menentukan dalam peristiwa Geger Cilegon ini adalah Haji Wasid. Maka mestikah diherankan kalau sudah lama juga para tokoh Banten telah menginginkan agar Banten bisa mendapatkan kebebasan relatif untuk mewujudkan kembali ³janji sejarah´ yang sekian lama seakan-akan terpendam? GEGER CILEGON Sumber data : buku Sartono Kartodirdjo. Dalam mengadakan acara dzikiran di rumah-rumah tertentu. tetapi dalam tinjauan dinamika sejarah secara keseluruhan peristiwa ini tidak lebih daripada deviation belaka. Haji Abu Bakar dari Pontang. Haji Iskhak dari Saneja. Prawiranegara. Pontang yang kegiatan sehari-harinya mengadakan pengajaran agama pada masyarakat di daerahnya. seperti bupati. Percetakan Pustaka Jaya 1984 Perlawanan bersenjata yang paling menonjol di Banten pada abad ke-19 adalah peristiwa yang dikenal dengan ³Geger Cilegon´. Bersama kawan seperjuangannya: Haji Abdurahman. Sebagai ganti pimpinan pesantren dipercayakan kepada muridnya. Haji Tubagus Ismail. 15 . pada tanggal 9 Juli 1888 yang dipimpin oleh para ulama. yang dalam waktu singkat mendapat banyak murid dan pengaruh terhadap penguasa pribumi. kemudian mengajar di pesantrennya di Kampung Beji. dan Haji Wasid. Haji Abdul Karim adalah seorang ulama di desa Lampuyang. Kegiatan pengajian Kiayi ini semakin berkembang terutama setelah ia kembali dari Mekkah tahun 1872. Haji Asnawi dari Lempuyang dan Haji Muhammad Asyik dari Bendung. Haji Usman dari Tunggak. juga dari daerah lain seperti Tangerang. Ketika Kiyai Haji Abdul Karim akan ke Mekkah untuk kedua kalinya pada tanggal 13 Pebruari 1876. para ulama itu selalu menanamkan semangat jihad menentang penjajah kepada masyarakat. Haji Akib. Cilegon. Gerakan itu antara lain dipimpin oleh Haji Abdul Karim. Haji Abdul Karim mendirikan pesantren di Tanahara. pemerintah kolonial minta supaya Kiyai Haji Abdul Karim berangkat langsung menggunakan kapal laut dari Tanahara ke Batavia. Tiga pokok ajaran yang disebarkan kepada muridnya adalah tentang Tauhid. para tokoh itu dengan mudah melancarkan taktik perjuangan menentang pemerintahan kolonial. yang pernah belajar di Mekkah pada Syekh Nawawi al-Bantani. pensiunan patih Serang. Kiyai Haji Tubagus Ismail. tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah yang datang untuk mengucapkan selamat jalan. Bogor dan Batavia.A.Pemberontakan ³komunis´ 1926 ² seperti juga dengan yang terjadi di Silungkang (Sumatera Barat) ² memang pantas dikenang. Haji Marjuki. Gerakan semacam ini timbul pula di Tanahara yang dipimpin oleh Haji Marjuki. Melalui pesantren-pesantren. Haji Abdul Karim selalu menganjurkan tentang perlunya perang sabil terhadap pemerintah kolonial yang kafir. Pemberontakan Petani Banten 1888. Khawatir akan terjadi huru-hara. yang dalam waktu singkat pengikutnya bertambah banyak. di samping dari Banten. Begitu besar pengaruhnya di kalangan rakyat dan pejabat pemerintah sehingga dikenal pula sebagai ³Kiyai Agung´ bahkan dianggap sebagai ³Wali Allah´. Tangerang dan sekitarnya berbondong-bondong menunggu di pinggir jalan yang akan dilaluinya. penghulu kepala di Serang serta Haji R. Dalam setiap pengajian/dzikiran yang diadakan di rumah-rumah atau pun di masjid.

atau karena ibunya tiba-tiba terkena demam dan meninggal tidak lama kemudian. dianggap suatu kekejian dan kesewenang-wenangan yang membuat makin besar kebencian kepada Belanda dan anteknya. Peribadatan dan penyembahan yang ditujukan kepada selain Allah adalah musrik. Merak. sehingga tanaman padi tidak ada yang tumbuh dan air minum pun sulit didapat.000 penderita. Djajadiningrat. 1988:88). Dengan demikian. hampir dua tahun hujan tidak turun. Haji Arsad Qashir dan Haji Ismail. bukan kepada manusia dan bukan kepada benda lainnya. menghancurkan Anyer. karena banyaknya. Daerah tempat bencana alam itu luluh lantak tersapu gelombang pasang. kerbau atau kambing yang dibunuh tentara kolonial ini. terutama sekali kaum perempuan. pasrah dengan perlakuan itu. dzikir dan do'a. berhasil mengumpulkan sampai 20 orang anak yang kemudian dipeliharanya di Kawedanaan (PAA. antara tahun 1882 dan 1884 keadaan rakyat Banten khususnya di Serang dan Anyer ditimpa dua malapetaka. Caringin. sehingga pemerintah kolonial menginstruksikan supaya membunuh dan mengubur atau membakar semua kerbau atau kambing di suatu desa yang di sana terdapat kerbau yang berpenyakit agar jangan menular ke desa lain. Karena musim kemarau ini pula maka berjangkit wabah penyakit sampar (pes) yang menyerang ternak kerbau atau kambing (1880). Kesemuanya merenggut korban 21. segala ketaatan dan segala harapan hendaknya. Musim kering yang berkepanjangan ini. tiada benci dan tiada suka. mereka menyebarkan pokok-pokok ajaran Islam itu kepada masyarakat. dan ini mengundang datangnya penyakit baru lagi bagi rakyat desa. Tidak heran dari catatan yang ada pada bulan Agustus 1880.000 orang di antaranya tidak dapat tertolong dan menemui ajalnya (Kartodirdjo. tanpa ampunan dari Allah. kecuali semuanya karena Allah. sehingga bangkai hewan dapat ditemukan di mana-mana. Dari banyak rumah terdengar ratap tangis. kerbau yang tidak terkena penyakit pun turut dibunuh pula. ibunya PAA.     Pemandangan di desa-desa sungguh menyedihkan. Dengan memahami tiga pokok ajaran Islam ini diharapkan. menyebabkan kelaparan merajalela. Tajur dan Carita. PAA. tidak sempat dikuburkan. Cilegon. Ironisnya.500 jiwa tenggelam disapu gelombang. Diperkirakan. semuanya. yang sebagian besar berupa "tadah hujan" menjadi kering. Bagi rakyat petani. Penyakit hewan ini menular dengan cepat. Tanah pertanian. Djajadiningrat. kelaparan dan penyakit sampar (pes) binatang ternak. menyaksikan bahwa di pasar Kramatwatu. akan menjadi muslim yang baik dan taat dalam menjalankan semua perintah agama serta menjauhi segala yang dilarang-Nya. banyak rumah tidak dihuni. 16 . tercatat lebih dari 40. ternak kerbau bukan hanya dianggap sebagai hewan peliharaan tapi juga teman/sahabat yang banyak membantu pekerjaannya di sawah. Segala peribadatan. Dalam pada itu. Karena kurangnya makanan ini maka banyak penduduk yang terjangkit penyakit demam yang parah. Istri wedana Kramatwatu. murid-muridnya. Untuk menggambarkan keadaan rakyat Banten pada saat itu. dan ini termasuk dosa besar. Bayi-bayi ini sengaja ditinggalkan ibunya karena ia tidak mampu lagi memberinya makan. Haji Arsad Thawil. jalan-jalan sepi. sehingga tidak ada tumbuhan yang dapat ditanam penduduk desa. Djajadinigrat. Pasauran. dari 210. walaupun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. sawah dibiarkan mengering karena tiadanya tenaga. sehingga perlakuan demikian membuat tambah sedih. Kesedihan yang mendalam itu ditambah lagi dengan meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda (tanggal 23 Agustus 1883). hampir sering menemukan bayi di pojokan pasar yang ditutupi selembar daun pisang. 1936:8). yang menimbulkan gelombang laut setinggi 30 meter melanda pantai barat Banten. sekedar untuk menjaga dari teriknya matahari. dan mengharapkan nanti ada yang mengambil untuk memeliharanya. serta desa-desa Sirih. ditujukan kepada Allah.Haji Haris. Tiada takut dan tiada harap. Banyak ibu tidak dapat menyusui anaknya sehingga angka kematian anak tinggi sekali.

pajak perahu. Dalam keadaan yang sangat menyedihkan itu. tetapi juga dalam bidang sosial politik dan kehidupan keagamaan. Marjuki di Tanara dihadiri oleh para ulama dari Serang. tarhim dan azan jangan dilakukan dengan suara keras. pajak pasar sampai kepada pajak jiwa yang besarnya kadang-kadang di luar kemampuan dan penetapannya tidak mengenal keadaan. Tersebutlah di desa Lebak Kelapa terdapat sebatang pohon kepuh besar yang oleh sebagian penduduk dianggap keramat. dapat memunahkan bala bencana dan meluluskan apa yang diminta asal saja memberikan sesajen bagi jin penunggu pohon itu. Anyer dan Tangerang. 1884. 125. pengenaan pertanggungan pajak di luar kewajaran. Berbagai macam pajak yang dikenakan kepada penduduk negeri. Dendaan yang dijatuhkan kepada kiyai ini. Mereka lebih mempercayai dukun dan benda-benda yang dianggap keramat dari pada mohon pertolongan Allah. Berkali-kali Haji Wasid memperingatkan penduduk. Tapi bagi penduduk yang kebanyakan tidak mengerti agama. Dalam keadaan penderitaan rakyat yang bertumpuk ini. Goebels menganggap menara yang dipakai untuk mengalunkan azan setiap waktu shalat. politik dan budaya yang dipaksakan pemerintah kolonial Belanda ini berbaur dengan penderitaan rakyat yang sudah tidak tertakarkan menumbuhkan perlawanan bersenjata. meskipun jumlah penduduk turun 100. semakin menambah penderitaan rakyat. mengganggu ketenangan "masyarakat" kerena kerasnya suara. pajak perdagangan. seperti kerja pancen dan kerja rodi. Faktor-faktor ketidakpuasan terhadap sistem ekonomi. pihak pemerintah kolonial melaksanakan sistem perpajakan yang baru. apalagi waktu azan shalat subuh.Pada tahun berikutnya. menyinggung rasa keagamaan dan rasa harga diri murid dan pengikutnya. persiapan-persiapan menuju "pemberontakan" di Cilegon. diadakan 3 kali pertemuan di rumah H. Ia dipersalahkan melanggar hak orang lain sehingga dikenakan denda 7. Untuk menggambarkan besarnya pajak yang ditanggung rakyat Banten. namun suasana di kalangan rakyat penuh kegelisahan dan keresahan. sehingga jumlah pajak yang terkumpul jauh besar jumlahnya dari jumlah pajak tanah tahun 1972.000 (Kartodirdjo. Asngari dihadiri ¡ 17 . fatwanya itu tidak diindahkannya. karena 'Tuhan tidak tuli'. Jalannya pemberontakan Secara kronologis. Melihat keadaan ini. tidak hanya di bidang sosial ekonomi. 1982:144). Asisten Residen menginstruksikan kepada Patih agar dibuat surat edaran yang isinya supaya shalawat. setahun setelah letusan Gunung Krakatau. Keadaan inilah yang membawa Haji Wasid ke depan pengadilan kolonial pada tanggal 18 Nopember 1887. dari mulai pajak tanah pertanian. 1988:55). Dengan beberapa orang muridnya ditebangnya pohon berhala itu pada malam hari. bahwa perbuatan meminta selain kepada Allah adalah termasuk syirik. mungkin dapat diurutkan sebagai berikut: 4 Pebruari 13 Maret 1888.. Meski pun kehidupan sosial ekonomi segera dapat dipulihkan beberapa tahun kemudian. pajak tanah f.000. pajak tanah itu untuk seluruh negeri dinaikkan. ditambah dengan kecurangan-kecurangan pegawai pemungut menambah keresahan dan mempersubur rasa benci penduduk kepada penjajah. Sementara itu. yang kedua di Terate di rumah H.Musibah yang datang bertubi-tubi menimpa rakyat Banten dengan sendirinya membawa dampak luas. banyak di antara mereka yang lari ke klenik (tahayul). sehubungan dengan penghapusan pelbagai kerja wajib.50 gulden (Hamka. Satu hal lagi yang ikut menyulut api perlawanan ini adalah dirubuhkannya menara langgar (musholla) di Jombang Tengah atas perintah Asisten Residen Goebels. Haji Wasid tidak dapat membiarkan satu kemusyrikan ada di depan matanya tanpa berusaha mencegah.

penghulu Tanara. datang Nyi Kamsidah. Haji Madani dari Ciora.M. saudara Haji Tubagus Ismail. Bendung. dan berikutnya di rumah H. Haji Abdulgani dari Beji. Haji Ashik dari Bendung. Tanara. di mana banyak hadir para pejabat. Pada tanggal itu juga diperingati hari lahir pendiri tarekat Kadiriyah. Haji Muhammad Arsad (penghulu kepala di Serang) dan Haji Tubagus Kusen (penghulu di Cilegon). Asisten Residen Anyer disertai bawahan Eropa dan pribumi melakukan inspeksi di afdeling Anyer. kemudian di rumah H. hadir para tokoh/ulama seperti H. Haji Asnawi. Haji Halim dari Cibeber. Pertemuan itu dilangsungkan di dalam masjid di luar masjid sudah berkumpul pengikut-pengikut mereka. Wasid akan dipanggil ke pengadilan untuk penyelesaian suatu perkara. (5) beredarnya desas-desus larangan berdo'a dzikir. Pada hari itu juga dikirim utusan-utusan ke berbagai jurusan.oleh para pemuka masyarakat dari Serang dan Anyer. Pada hari Sabtu. pagi-pagi sekali. selesai shalat magrib dengan dikawal sejumlah muridnya Haji Wasid berangkat ke Cibeber untuk kembali mengadakan pertemuan dengan muridmuridnya yang lain. Haji Mahmud dan Haji Alfian diutus menemui Haji Abdulrazak. (4) dalam waktu dekat K. tidak hadir dalam pertemuan ini karena sudah dipastikan bahwa mereka akan memulai pemberontakan pada hari Senin tanggal 29 Syawal atau 9 Juli 1888. Hadir dalam pertemuan itu antara lain: Haji Sa'id dari Jaha. Wasid mengusulkan D-day pemberontakan pada tanggal 12 Juli 1888. Sadeli di Kaloran. dan kiyai-kiyai dari Trumbu.H. Maka setelah lewat tengah malam para kiyai segera berangkat ke Saneja untuk mengadakan pertemuan kedua di rumahnya Haji Ishak. pesta dengan gamelan. untuk membicarakan langkah terakhir pemberontakan.H. Haji Muhiddin. Diduga dalam pertemuan tersebut dibicarakan masalah kesediaan alat persenjataan. pembagian tugas. tanggal 7 Juli 1888. (2) awal Juli. terutama dari Arjawinangun dan Gulacir yang juga dihadiri oleh Haji Burak. Nasaman dan Sendanglor ke Cipeundeuy menemui Kiyai Haji Sahib. Keesokan harinya. (3) adanya desas-desus munculnya naga besar pertanda akan datangnya musibah di kalangan penduduk. Koinsidensi sejarah pada pematangan situasi tersebut antara lain (1) akhir Juni berlangsung perhelatan besar.00. diadakanlah pertemuan para kiyai untuk persiapan terakhir pematangan gerakan di rumah Haji Akhia di Jombang Wetan. Wasid di Beji. Kiyai Haji Abdulhalim dari Cibeber dan Nuh dari Tubuy. Pada saat itu K. 23 Juni 1888 pertemuan terakhir. akhirnya ditetapkan tanggal pastinya adalah 9 Juli 1888. Haji Wasid dan Haji Ismail pergi ke Wanasaba untuk mengadakan pembicaraan dengan murid-muridnya. memberitahukan bahwa Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail ingin bertemu dengan para kiyai yang hadir. keduanya pergi ke Gulacir. Wasid dan H. Dari sana. di antaranya Haji Sadeli dari Kaloran. Haji Iskak dari Seneja. Residen Banten. penggerakan pengikut. dan Haji Akhmad. Haji Erab diutus ke Haji Mohamad Asyik. Ismail serta H. Sekitar jam 23. akhirnya kembali pertemuan di rumah K. sedangkan pertemuan berikutnya di rumah H. Marjuki.H. Marjuki di Tanara. Iskak di Saneja. pesta perkawinan dan khitanan. Untuk menutupi kecurigaan Belanda atas pertemuan itu diadakan suatu kenduri besar. ke rumah Haji Ismail. Haji Abdulhalim dan Haji Abdulgani ke 18 . Maret April 1888. Haji Sarman dari Bengkung. pertemuan di rumah K. H. Iskak. serta penyelenggaraan latihan antara lain pencak silat. tayuban. Haji Sapiuddin dari Leuwibeureum. Dalam pertemuan ini hadir pula Haji Abubakar.H. yakni perkawinan antara putra bupati Pandeglang dan putri bupati Serang. Haji Mahmud dari Tarate Udik. istri Haji Iskak. Wasid. peringatan tersebut antara lain ditandai dengan kenduri besar.

asisten residen Anyer. seorang 19 . Ketiga yang terakhir ini diperintahkan untuk mengerahkan pejuang-pejuang dari Anyer untuk segera bergerak supaya pagi-pagi sekali sudah berada siap di Cilegon. Djajadiningrat. Malam itu juga. wedana Cilegon. pemberontakan dipimpin oleh Haji Muhammad Asyik. Ketika Tjakradiningrat mendatangi tempat kerusuhan dan dikepung oleh para pejuang terdengar suara: ' . melompat ke muka sambil berkata: ' . seorang pegawai negeri yang kebelanda-belandaan lolos dari kematian. Dalam keadaan yang kacau itu. dan kelompok ketiga dipimpin oleh Kiyai Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman dari Tunggak menyerang rumah Asisten Residen. Pasukan dibagi dalam beberapa kelompok: kelompok pertama dipimpin oleh Lurah Jasim. Namun di antara mereka terdapat seorang tahanantitipan kasus pencurian hasil tangkapan Wedana Tjangradiningrat yang sedang menunggu putusan perkara. Henri Francois Dumas. sedangkan pasukan yang dipimpin oleh Kiyai Haji Wasid. karena dia sedang di Serang waktu itu. seperti di Bojonegara. Djajadiningrat. Sementara itu. di beberapa tempat juga meletus pemberontakan. terbunuhnya Raden Tjakradiningrat itu. kelompok kedua dipimpin oleh Haji Abdulgani dari Beji dan Haji Usman dari Arjawinangun menyerbu kepatihan. Haji Tubagus Ismail memimpin pengikut-pengikutnya dari Arjawinangun. Pada malam harinya barisan bertambah panjang bergerak dari Cibeber ke arah Saneja dipimpin langsung oleh Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail yang kemudian dijadikan sebagai pusat penyerangan. dari Saneja. djangan dianiaja jang seorang itoe. Krapyak. Gulacir dan Cibeber bergerak menuju Cilegon untuk menyerang para pejabat pemerintah kolonial. Tokoh fenomenal yang menjadi salah seorang korban. Sedangkan Haji Wasid dengan beberapa pengawalnya tetap di Jombang Wetan memonitor segala kegiatan penyerbuan (Kartodirdjo. penghulu Cilegon. Pada hari Senin malam tanggal 9 Juli 1888. juru tulis di kantor Asisten Residen.. setelah pertemuan di rumah Haji Ishak. sipir penjara Cilegon. dapat dibunuh oleh Haji Tubagus Ismail. Para kiyai dan murid-murid mereka memakai pakaian putih-putih dengan ikat kepala dari kain putih pula sambil membawa pedang dan tombak. beberapa kiyai kembali lagi ke pesta di rumah Haji Akhiya. Djajadiningrat "tempat kediamannya tidak di dekat-dekat orang Eropah atau di dekat-dekat Ambtenar-ambtenar boemipoetra lain" (1936:55).. Mas Kramadireja. Di daerah Serang.Tunggak menemui Haji Usman. Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman dari Arjawinangun dan pengikutnya menyerang dari arah selatan. ajun kolektor. Sedangkan Patih Raden Pennah. dan Ulric Bachet. yang pada keesokan harinya. sehingga ia termasuk "orang yang tidak berdosa" (1936:56) Menurut rekaman PAA. Haji Abdul Gani dan Beji dan Haji Nuriman dari Kaligandu menyerang dari arah utara. menyerbu penjara untuk membebaskan para tahanan. Kasidin keluar penjara ketika penjara dijebol para pejuang. adalah Raden Tjakradiningrat.. demikian juga Raden Purwadiningrat. 1936:56) Seperti yang sudah direncanakan semula. Grogol. yang menurut PPA. 1984:301-303). diadakanlah serangan umum ke Cilegon. adalah ketika ia akan mencoba bermusyawarah dengan para pejuang (peroesoeh). ia tidak berdosa !'. Jaro Kajuruan. Balegendong. kepala penjualan garam semuanya adalah orang-orang yang tidak disenangi rakyat. ini jang mesti didahoeloekan !' dan pada saat berikutnya Kasidin memarang leher Wedana Tjakradiningrat (PPA. Dengan memekikkan kalimat takbir mereka menyerbu beberapa tempat di Cilegon. Minggu. yang bernama Kasidin. diadakan arak-arakan sambil meneriakkan takbir dan kasidahan yang dimulai dari rumah Haji Akhiya di Jombang Wetan dan berakhir di rumah Haji Tubagus Kusen. Mancak dan Toyomerto. berbarengan dengan kejadian di Cilegon ini.. Haji Kasiman di Citangkil dan Haji Mahmud di Terate Udik. Johan Hendrik Hubert Gubbels. Kiyai Haji Usman dari Tunggak. tapi Kasidin yang ada pada kerumunan tersebut. 8 Juli 1888.

Pusat-pusat kegiatan mereka ialah Bendung. Ternate. 20 .ulama dari Bendung. dalam bentuk pemberontakan. Maka Bupati bersama Kontrolir dengan 40 orang serdadu yang dipimpin oleh Letnan I Bartlemy berangkat ke Cilegon. semua pimpinan pemberontakan yang dibuang ini ada 94 orang. Haji Muhammad Hanafiah dari Trumbu dan Haji Muhidin dari Cipeucang. masalah yang dianggap paling mendasar dalam kehidupan manusia. Partai-partai di parlemen Belanda dapat dikelompokkan kepada partai agama dan non agama. Hal ini tidak lepas dari motivasi pertama pengembaraan orang-orang Eropa. 1985: 17). namun sangat bermakna sebagai sebuah gambaran dari rasa ketidakpuasan dan kebencian seluruh rakyat terhadap penjajah. Sehingga dapat dikatakan bahwa ekspansi Portugis harus dilihat sebagai kelanjutan dari Perang Salib. di samping untuk mencari keuntungan perdagangan juga dilandasi oleh rasa benci dan permusuhan kepada orang-orang yang beragama Islam. Kupang. sedangkan yang lainnya dihukum buang. Haji Abdurahman dan Haji Akib dibuang ke Banda. kepemimpinannya dipercayakan kepada pemim-pin kharismatik yakni para kiyai dan ulama. yang selanjutnya dilaksanakan pemerintah Belanda. sehingga akhirnya kerusuhan dapat dipadamkan. dan Saparua. Kubang. VOC. Kedua golongan ini saling berebut mempengaruhi semua keputusan parlemen. Cilegon dapat dikuasai sepenuhnya oleh pasukan "pemberontak". Kejadian "Geger Cilegon" itu mempunyai arti penting dalam sejarah pergerakan nasional. Keadaan demikian terlihat juga pada abad ke-19 dan ke-20. Haji Ismail dibuang ke Flores. sebagai perusahaan dagang milik Belanda pun tidak lepas dari tugas penghancuran umat Islam dan penyebaran agama Kristen kepada penduduk di Nusantara (Suminto. Menado. juga pemerintah kolonial "merambah" dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Rakyat kebetulan tidak memiliki pemimpin formal untuk menyalurkan aspirasinya sehingga untuk menyalurkan ketidakpuasan itu. yaitu kemudahan bagi organisasi zending Kristen mendirikan sekolah bagi penduduk bumiputra. bekas dan akibat pemberontakan Cilegon ini cukup mendalam di kedua belah pihak. Walau pun akhirnya pemberontakan itu mengalami kegagalan secara fisik. Haji Arsyad Thawil dibuang ke Gorontalo. karena setelah kejadian itu Belanda menginstruksikan supaya semua peraturan-peraturan yang akan dikeluarkan hendaknya jangan menyinggung perasaan keagamaan rakyat jajahan. Di samping mereka terlalu meng-eksploitir tanah jajahan tanpa dibatasi rasa kemanusiaan. Namun pada peralihan abad ke-20 kemenangan beralih kepada kelompok agama. Ambon. Banyaknya pemberontakan rakyat yang dipimpin para ulama Islam ini erat juga kaitannya dengan politik keagamaan yang diterapkan kaum penjajah. untuk sedikit demi sedikit melupakan agamanya (Islam) dan kemudian beralih kepada agama Kristen. Dukungan terhadap kristenisasi Hindia Belanda dipertegas sejalan dengan ³politik hutang budi´. Pada dasawarsa terakhir abad ke-19 kelompok non agama memperoleh kemenangan dalam parlemen. Rakyat Banten sangat benci kepada penjajah Belanda dan pamongpraja yang menjadi kaki-tangannya. Haji Arsyad Qashir dibuang ke Buton. Haji Wasid sebagai pemimpin pemberontakan dihukum gantung. Dengan keadaan ini pemerintah Hindia Belanda haruslah mendukung sebanyak mungkin usaha kristenisasi yang banyak dilakukan organisasi swasta. Kaloran dan Keganteran. melalui beberapa peraturan dan pelaksanaan yang dibuat pemerintah Hindia Belanda. Terjadilah pertempuran hebat antara para pemberontak dengan tentara kolonial yang memang sudah terlatih baik. Sehari semalam kekacauan tidak dapat diatasi. Trumbu. Haji Haris dibuang ke Bukit Tinggi. dan banyak lagi lainnya dibuang ke Tondano. Dalam tahun-tahun berikutnya. Tetapi seorang babu (pembantu rumah tangga) Gubbel dapat melarikan diri ke Serang membawa kabar kejadian di Cilegon itu. sebaliknya pihak penjajah juga menaruh kewaspadaan tinggi untuk daerah Banten dengan rakyatnya sangat militan itu.

perlawanan dan pemberontakan rakyat Banten terhadap pemerintah kolonial tidak pernah berhenti. dan pemakainya dikatakan kafir. "kapir landa" sebutan yang di samping menggambarkan kebencian mendalam juga menganggap mereka itu adalam musuh-musuh Islam dan kaum muslimin. Hal demikian sering menimbulkan konflik tertentu yang saling mencurigai satu sama lain. ataupun sekolah Jawa/Melayu yang didirikan Belanda. Tidaklah mengherankan apabila orang Islam yang mengirimkan anaknya untuk belajar di sekolah Belanda. atau sekurang-kurangnya menyalahi Islam. masyarakat mencemooh mereka sebagai "anjing belanda". Bahkan beredar fatwa yang menyatakan bahwa berpakaian ala Eropa lebih-lebih memakai dasi. Karena itulah "zending Kristen harus dianggap sebagai faktor penting bagi proses penjajahan. Tetapi dalam kenyataannya. Demikian juga dengan orang Islam yang bekerja menjadi pegawai di kantor pemerintah Belanda. Maka tidak jarang seorang kiyai atau seorang guru mengaji mengeluarkan fatwa bahwa memasuki sekolah-sekolah Belanda adalah haram. bahkan mungkin bukan termasuk orang yang taat menjalankan agamanya. Ketakutan yang didasari kecurigaan ini pula yang menyebabkan banyaknya pegawai asal Priyangan yang ikut melarikan diri ketika pasukan Jepang keluar dari Banten. Pemerintah kolonial memandang bahwa Banten merupakan daerah yang paling rusuh di Jawa. Sehingga orang Indonesia dalam menyebut orang-orang Belanda sebagai "setan". Penduduk Banten sebagian besar keturunan orang Jawa dan Cirebon yang 21 . pemerintah kolonial lebih banyak mengangkat pegawai yang berasal dari Priyangan. Keadaan semacam ini pun membuat pemerintah Belanda mengalami kesulitan mengangkat pejabat pamongpraja asli dari Banten yang cakap (baca: pernah belajar di sekolah Belanda). seperti dari Bogor dan Bandung. Imbas dari keadaan ini masih terasa sampai pasca kemerdekaan. 1985:18). walaupun memang kebanyakan rakyat Banten bukan orang yang mempunyai pemahaman mendalam tentang keislaman. untuk mengisi kekosongan pegawai pamongpraja ini. Rupanya. yang pada hakekatnya berawal mungkin dari perasaan irihati para pamongpraja asli daerah Banten terhadap para pamongpraja pendatang. bahkan perluasan kolonial dan ekspansi agama merupakan gejala simbiose yang saling menunjang" (Suminto. Peran Kyai dan Jawara di Banten Semenjak pemerintahan kolonial Belanda menaklukan kesultanan Banten. namun dalam hal rasa sentimen keagamaan mereka cukup tinggi. misalnya sebagai pamongpraja. Keyakinan yang memandang rendah semacam itulah yang mendasari kenapa penduduk asli Banten yang bersedia bekerja menjadi pamongpraja pada masa pemerintahan Hindia Belanda sangat sedikit. maka berarti mereka tidak akan lagi membahayakan bagi pemerintahan Belanda. Oleh karenanya. celana pantalon dan topi ala Eropa dihukumi haram. Dengan mengkristenkan sebanyak mungkin penduduk di Nusantara maka pemberontakan akan semakin berkurang. yakni menjadi seagama dengan penjajahnya.Masalah kristenisasi di Hindia Belanda ini erat juga kaitannya dengan masalah menghadapi pemberontakan yang dilakukan umat Islam. Karena itu masyarakat Banten sejak dahulu dikenal sebagai orang yang sangat fanatik dalam hal agama dan bersemangat memberontak. sering dituduh menyuruh anak-anaknya masuk agama Kristen. justru karena tekanan kegiatan missi penyebaran agama Kristen yang menggebu-gebu ini reaksi perlawanan dari rakyat Indonesia makin lebih militan lagi menentang penjajah Belanda. Pemerintah Belanda berpendapat bahwa apabila bangsa Indonesia ini memeluk agama Kristen.

Melayu dan Lampung. terbuka (blak-blakan) dengan bersenjatakan golok. Kiyai di Banten pada tempo dulu tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam tetapi mengajarkan 22 . Penampilan kiyai yang khas. Sebagian orang berpendapat bahwa jawara berarti juara. Sehingga seorang jawara itu biasa bersifat sompral (berbicara dengan bahasa yang kasar dan terkesan sombong). yang terkadang dilakukan dengan berbagai cara termasuk dengan cara yang tidak baik. terutama di pedesaan. Karena itu perilaku dan ucapan seorang kiyai menjadi panduan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. serta membawa tasbih untuk berdzikir kepada Allah. Para jawara pun memiliki jaringan yang melewati batas-batas geografis daerah tempat tinggalnya. sebagian orang lagi berpendapat bahwa kata ³jawara´ berasal dari kata ³jaro´ yang berarti seorang pemimpin yang biasanya merujuk kepada kepemimpinan di desa. Golongan lain. Para jawara tersebut memimpin kajaroan (desa) namun kemudian terjadi pergeseran makna sehingga jawara dan jaro menunjukan makna yang berbeda. Dalam daerah yang pernah menjadi pusat kerajaan Islam dan penduduknya yang terkenal sangat taat terhadap agama seperti daerah Banten sudah sewajarnya jika kiyai menempati kedudukan yang penting dalam masyarakat. Menurut Tihami (Dekan IAIN Maulana Hasanudin Banten) bahwa jawara itu adalah murid kiyai. sompral (tutur kata yang keras dan terkesan sombong). agresif. juga sebagai guru spiritual dan pemimpin kharismatik masyarakat. Perbauran yang begitu dalam menyebabkan penduduk Banten memiliki cultur yang berbeda dalam hal bahasa dan adat istiadat dengan masyarakat asalnya. merupakan simbol-simbol kesalehan. sehingga ia disegani oleh masyarakat. Bugis. Pada masa dahulu kepala desa atau lurah di Banten itu mayoritas adalah para jawara. berprilaku sopan. yang ingin dipandang orang yang paling hebat. Seperti halnya kiyai yang memiliki pesantren sebagai tempat para santri menimba ilmu pengetahuan agama Islam. Ia cukup terkenal dengan seragam hitamnya dan kecenderungan terhadap penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalan. Asal-usul kata ³jawara´ pun tidak begitu jelas. yang berarti pemenang. Sekarang ini jawara tidak mesti menjadi pemimpin. Bahkan mereka memiliki organisasi tersendiri. apalagi menjadi kepala desa atau lurah. Sehingga bagi sebagian masyarakat. seperti Persatuan Pendekar Persilatan dan Seni Budaya Banten yang dipimpin oleh Tb Chasan Shohib dan Tjmande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir yang dipimpin oleh Maman Rizal. seperti penggunaan jimat. jawara dipandang sebagai sosok yang memiliki keberanian. Begitu pula dalam hal penampilan fisik dan watak. orang Banten menunjukkan perbedaan yang nyata dengan orang Sunda dan orang Jawa Tengah dan Jawa Timur. Keunggulan dalam hal fisik dan kemampuanya untuk memanipulasi kekuatan supernatural (magik) telah melahirkan sosok seorang jawara dengan memiliki karakter yang khas. Kiyai yang merupakan gelar ulama dari kelompok Islam tradisional. yang juga menembus batas-batas hirarki pedesaan di Banten. Kiyai dikenal tidak hanya sebagai guru di pesantren. yang kalau sekarang lebih dikenal dengan kepala desa atau lurah. demikian pula kepala jawara memiliki padepokan tempat pengemblengan ³anak buah´. Kekuasaannya sering kali melebihi kekuasaan pemimpin formal. adalah jawara. Jawara sebagai orang yang memiliki keunggulan dalam fisik dan kekuatankekuatan untuk memanifulasi kekuatan supernatural. Bahkan pengangkatan pemimpin formal di suatu desa ditentukan oleh pemuka-pemuka agama di daerah yang bersangkutan. Jimat yang memberikan harapan dan memenuhi kebutuhan praktis para jawara yang salah satunya adalah kekebalan tubuh dari benda-benda tajam.dalam perjalanan waktu berbaur dengan orang-orang Sunda. Memang bahwa salah satu sifat jawara adalah selalu ingin menang. seperti bertutur kata lembut. berpakaian rapih dan sederhana. tidak hanya dipandang sebagai tokoh agama tetapi juga seorang pemimpin masyarakat. untuk menunjukan bahwa ia memiliki kekuatan fisik dan magik.

sehingga menimbulkan antipati masayarakat terhadap jawara. sombong. mendalami ilmu-ilmu agama Islam pada akhirnya disebut santri. justru tidak berubah. seperti melakukan ancaman. yang lebih dikenal dengan ilmu-ilmu hikmah. karena itu dipercayai memiliki kekuatan magis dan mistis. rasa kagum dan benci. kurang taat dalam beragama. kekerasan dan kenekadan. Karena kharisma seseorang kiyai akan semakin besar apabila ia selain memiliki kemampuan untuk memahami ajaran-ajaran agama. Namun prilakuprilaku jawara. Istilah jawara dalam percakapan sehari-hari masyarakat Banten sekarang ini dipergunakan untuk istilah denotatif dan juga referensi untuk mengidentifikasi seseorang. Sedangkan murid kiyai yang memiliki bakat dalam bidang fisik lebih condong kepada persilatan atau ilmu-ilmu kanuragan. seperti sompral. selain dipandang sebagai orang yang mengerti tentang pesan-pesan dan ajaran-ajaran agama juga dipandang sebagai sosok yang paling dekat pusat kekuatan supernatural.ilmu persilatan atau kanuragan. Kesan yang kurang baik tentang jawara tersebut yang kemudian yang bagi orang-orang yang memiliki ilmu-ilmu kadigjayaan atau persilatan yang sudah ³terpelajar´ tidak mau menamakan dirinya jawara tetapi lebih senang disebut pendekar. sehingga ia dianggap bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang biasa. Murid kiyai yang lebih berbakat dalam bidang intelektual. musuh bersama rakyat itu tidak ada. terutama kitab-kitab kuning juga dipercayai oleh masayarakat memiliki kekuatan mistis dan magis yang besar pula. Mungkin atas dasar itu seorang pengurus persilatan dan seni budaya Banten menyatakan bahwa jawara itu adalah khodim (pembantu) nya kiyai. Maka ada orang yang mendefenisikan jawara dengan ³jago wadon lan lahur´ (tukang main perempuan dan tukang bohong). sebagai pembela dan pelindung atas kepentinganya. Peranan jawara pada masa lalu yang menonjolkan keberanian untuk melawan musuh bersama masyarakat yakni: pemerintah kolonial Belanda. Karena itu jawara dianggap pahlawan oleh rakyat. kiyai. Karena itu dalam tradisi kejawaran bahwa seorang jawara yang melawan perintah kiyai itu akan kawalat. Peran-peran itu yang telah ditampilkan secara baik oleh Mas Jakaria serta tokoh-tokoh jawara masa silam. juwara iku tentrane kiyai (jawara itu tentaranya kiyai). Bahkan seperti yang diungkapkan salah seorang kiyai di Serang. Karena itu kesan orang terhadap istilah jawara cenderung negatif dan derogatif. Namun setelah Indonesia bebas dari kolonialisme. seperti kekebalan tubuh dari senjata tajam. karena kesultanan tidak mampu menjangkau daerah-daerah yang terpencil yang sangat jauh dari pusat kekuasaan. berada di daerahdaerah terpencil dan kurang aman. mendapat penghargaan dan penghormatan di mata rakyat Banten. sehingga membangkitkan perasaan orang lain penuh dengan pertentangan: hormat dan takut. Sedangkan istilah jawara yang bersifat denotatif berisi tentang sifat yang merendahkan derajat (derogatif) yang biasanya digunakan untuk orang-orang yang berprilaku sombong. Persepsi masyarakat tentang jawara saat ini yang kurang simpatik dan cenderung negatif sebenarnya bisa diterangkan dengan teori ³ bandit sosial´ di atas. pada masa yang lalu. Jawara dianggap memiliki ilmu-ilmu kedigjayaan (kesaktian) dan menguasai 23 . Tokoh-tokoh agama. Tokoh lain di wilayah Banten yang memiliki status sosial yang dihormati dan disegani karena dianggap memiliki kemampuan untuk memanipulasi kekuatan supra-natural yang merupa magis dan mistis adalah jawara. Istilah jawara yang menunjukan referensi untuk identifikasi seseorang adalah gelar bagi orang-orang yang memiliki kekuatan fisik dalam bersilat dan mempunyai ilmu-ilmu kesaktian (kadigjayaan). terutama dari pemimpin tarekat. kurang taat menjalankan perintah agama Islam atau melakukan sesuatu dengan cara-cara yang tidak baik terhadap orang untuk kepentingan dirinya semata. Hal ini disebabkan pesantren. bisa memukul dari jarak jauh dan sebagainya. yang kemudian disebut jawara. ³jago wadon lan harta´ (tukang main perempuan dan tamak harta).

muncul sebagai tokoh masyarakat. 24 . yang pada saat itu merupakan tokoh agama yang independen dan tidak bersentuhan langsung dengan pemerintah. Munculnya kiyai sebagai tokoh agama yang dihormati di wilayah Banten berkaitan dengan kontrol pemerintah kolonial Belanda yang semakin kuat terhadap kesultanan Banten pada abad ke-18 dan ke19. namun pengaruh mereka semakin menurun. Karena posisinya yang demikian itu maka seorang kiyai atau jawara dapat selalu dibedakan dari orang kebanyakan. rasa kagum dan benci. Kepemimpinannya bersifat kharismatik. Akhmad Khatib memerintahkan K. Seperti kisah ketokohan Ce Mamat alias Muhamad Mansur yang mendirikan Dewan Rakyat. dihapuskan oleh Belanda. Syam¶un untuk menangkap Ce Mamat dan menumpas gerombolannya. terutama pada saat-saat kehidupan sosial mengalami krisis. Karena itu seseorang yang hanya memiliki ilmu-ilmu kadigjayaan dan persilatan tidak akan dinamakan jawara apabila ia tidak memiliki keberanian. Sehingga K. Penghapusan jabatan tersebut mengalihkan loyalitas penduduk ke para kiyai. yang pada masa-masa sulit banyak membantu peran para kiyai terutama berkaitan dengan persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat. Anggota Dewan Rakyat yang anggotanya kebanyakan dari para jawara. mengadakan serangkaian kerusuhan sosial dan pembunuhan di berbagai tempat di wilayah Banten. Pembayaran zakat pun yang selama kesultanan Banten dan masa-masa awal pemerintahan kolonial diserahkan kepada penghulu. Juga karena keunggulan kepribadiannya itu. Berkat kelebihannya itu.H. ia bisa muncul menjadi tokoh yang kharismatik. Kiyai. yang menyandang gelar tersebut biasanya memiliki kesaktian dan ahli kebatinan. ia dianggap bahkan diyakini memiliki kekuatan supernatural sehingga memiliki kemampuan luar biasa dan mengesankan di hadapan khalayak banyak. kawani) secara fisik. yang keberaniannya itu didukung oleh kemampuan dirinya dalam menguasai ilmu bela diri (persilatan) dan ilmu-ilmu kesaktian. menjadi sosok yang terkadang justru banyak merugikan masyarakat. akibat intervensi pemerintah kolonial yang terlalu besar. bisa memukul dari jarak jauh dan sebagainya. sehingga membangkitkan perasaan hormat dan takut. ahli hikmah. Selain itu jawara juga harus memiliki keberanian (wanten. setelah penghapusan jabatan Fakih Najamuddin diberikan kepada para kiyai. yakni: kepemimpinan yang bertumpu kepada daya tarik pribadi yang melekat pada diri pribadi seorang kiyai atau jawara tersebut. seperti kekebalan tubuh dari senjata tajam. Karena kelebihannya yang dimilikinya itu maka kiyai dan jawara dipandang sebagai pemimpin masyarakat dan merupakan ³elit sosial´ di masyarakat Banten. Sedangkan jawara dalam pandangan masyarakat Banten merujuk kepada seseorang atau kelompok yang memiliki kekuatan fisik dalam bersilat (kanuragan) dan mempunyai ilmu-ilmu kesaktian (kadigjayaan).H. Demikian pula jawara. seperti Fakih Najamuddin untuk di tingkat atas dan para penghulu untuk di tingkat bawah.ilmu persilatan. Apalagi semenjak jabatan Fakih Najamuddin. Meskipun pemerintah kolonial masih tetap mempertahankan pejabat-pejabat yang mengurusi soalsoal keagamaan masyarakat Banten. Menurut masyarakat Banten gelar Kiyai diberikan kepada seorang yang ³terpelajar´ dalam pemahaman keislamannya dan ia membaktikan hidupnya ³demi mencari ridha Allah´ untuk menyebarluaskan serta memperdalam ajaran-ajaran agama Islam kepada seluruh masyarakat melalui lembaga pendidikan ataupun pesantren. Kedua tokoh tersebut memiliki pengaruh yang cukup besar di masyarakat dan juga memiliki para pengikut yang setia. guru dan pemimpin masyarakat yang berwibawa yang memiliki legitimasi berdasarkan kepercayaan masyarakat.

Tetapi akhir-akhir ini peranan para jawara mulai berbeda dibandingkan dengan peranan jawara pada masa-masa lalu dalam sejarah kehidupan masyarakat Banten sesuai perkembangan zaman. menerima uang shalawat (bantuan material) dari jawara. Peranan tersebut bagi masyarakat sangat membantu apalagi saat Banten dalam kekacauan dan kerusuhan yang cukup lama. namun demikian peranan para jawara dalam sosial. khususnya di daerah Jakarta dan Jawa Barat. semua itu menjadi masyarakat Banten yang madani dan memiliki religiusitas yang tinggi. kesaktian dan keturunannya. Banten adalah salah satu pusat perkembangan Islam. Tetapi juga banyak kiyai yang tidak senang terhadap berbagai prilaku jawara yang sering menghalalkan segara cara walau dengan cara kekerasaan dalam menyelesaikan masalah. Hal ini dapat dilihat dari peninggalan purbakala dalam bentuk prasasti arca-arca yang bersifat Hiduistik dan banguan keagamaan lainnya. Sehingga dalam masyarakat Banten peran-peran yang sering dimainkan oleh para jawara adalah menjadi jaro (kepala desa atau lurah).Kiyai dalam masyarakat Banten merupakan tokoh panutan masyarakat yang dihormati berkat perannya dalam mengarahkan dan menata kehidupan bermasyarakat. Dikarenakan letak geografisnya yang sangat strategis sebagai kota pelabuhan. Penyebarannya dilakukan oleh salah seorang pemimpin Islam yang dikenal sebagai wali berasal dari Cirebon yakni Sunan Gunung Jati dan kemudian dilanjutkan oleh putranya Maulana Hasanudidin untuk menyebarkan secara perlahan-lahan ajaran agama Islam daerah Banten. Jawara membutuhkan elmu dari kiyai. masyarakat Banten masih hidup dalam tata cara kehidupan tradisi prasejarah dan dalam abad-abad permulaan masehi ketika agama Hindu berkembang di Indonesia. guru ngaji. peran-peran seperti itu sangat diperlukan. guru ilmu ³hikmah´ (ilmu ghaib) dan sebagai mubaligh. Sedangkan jawara lebih cenderung kepada kekuatan fisik dan ³batin´. yakni saling ketergantungan tetapi juga kontradiktif. guru ilmu silat dan ilmu ³batin´ atau magi. Sifat hubungan keduanya tidak hanya bersifat simbiosis. Sekitar permulaan abad ke 16. ekonomi dan politik dalam kehidupan masyarakat Banten saat ini sangat diperlukan. Sedangkan jawara berkedudukan sebagai pemimpin dari lembaga adat masyarakat diapun tokoh yang dihormati apabila ia menjadi pemimpin atau penguasa. karena Banten mempunyai peranan penting dalam tumbuh dan berkembangnya Islam. apalagi bagi masyarakat yang masih mencari jati dirinya. Peranan kiyai dalam masyarakat Banten adalah sebagai tokoh masyarakat (kokolot). kemampuan dalam penguasaan ilmu pengetahuan (agama dan sekuler). Di Banten telah berdiri satu kerajaan Islam yang lebih dikenal oleh masyarakat Banten dan sekitarnya dengan sebutan Kesultanan Banten. di daerah pesisir Banten sudah ada sekelompok masyarakat yang menganut agama Islam. Keduanya merupakan pemimpinan yang meemiliki pengaruh pada masyarakat Banten. Peninggalan sejarah yang amat berharga ini nampaknya akan selalu menarik untuk diteliti dan dikaji 25 . Sejarah Pra Islam Dan Berkembangnya Islam Di Banten Sebelum Islam berkembang di Banten. kebesaran namanya sangat ditentukan oleh nilai-nilai pribadi yang dimiliki. sedangkan sebaliknya kiyai. Peranan seorang kiyai selain sebagai pewaris tradisi keagamaan juga pemberi arahan atau tujuan kehidupan masyarakat yang mesti ditempuh. atas jasanya tersebut. guru tarekat. satuan-satuan pengamanan. Begitu pula ketika mereka membina hubungannya dengan sesama Kiyai dan jawara disatukan dalam dalam ruang lingkup kebudayaan Banten. guru kitab. Sumber naskah kuno dari masa pra Islam menyebutkan tentang kehidupan masyarakat yang menganut Hindu. Karena itu ia lebih bersifat memberikan pencerahan terhadap masyarakat.

Seperti di dalam naskah Purwaka Tjaruban Nagari disebutkan bahwa Syarif Hidayatullah setelah belajar di Pasai mendarat di Banten untuk meneruskan penyebaran agama Isalam yang sebelumnya telah dilakukan oleh Sunan Ampel. Kopo Pandeglang. Selain itu di Banten terdapat sisa-sisa kebudayaan megalitik tua (4500 SM hingga awal masehi) seperti menhir di lereng gunung Karang di Padeglang. Keadaan Banten Pra Islam Daerah Banten memiliki beberapa data arkeologi dan sejarah dari masa sebelum Islam masuk ke daerah ini. beliau menikah dengan adik bupati Banten yang bernama Nhay Kawunganten. kapak batu di Cigeulis.terutama dikalangan sejarawan dan para ilmuan. Hal ini terlihat dengan ditemukannya kapak corong terbuat dari perunggu di daerah Pamarayan. Lebak Munjul Pandegalng adalah prasasti yang bertuliskan Pallawa dengan bahasa Sangsekerta menyatakan bahwa raja yang berkuasa di daerah ini adalah Purnawarman. (Sukendar. (Ambary. dua tahun kemudian lahirlah anak perempuan pertama yang diberinama Ratu Winahon dan pada tahun berikutnya lahir pula pangeran Hasanuddin. dan lain sebagainya. dengan pusat pemerintahan Kadipaten di Banten Girang sedangkan Banten Lama hanyalah berfungsi sebagai pelabuhan saja. batu bergores di Ciderasi desa Palanyar Cimanuk. Cikupa. sumber data arkeologi menujukan bahwa sebelum Islam masyarakat Banten hidup pada masa tradisi prasejarah dan tradisi Hindu-Buddha.1979:37) Tapi disamping itu pula masih ada jalan darat yang dapat dilalui yaitu melalui jalan Kelapa Dua. kubur tempayan di Anyer. dipakai jalur sungai Cibanten yang pada waktu itu masih dapat dilayari. ternyata sejarah Islam di Banten belum banyak diteliti secara tuntas sehingga masih banyak hal-hal yang penting yang perlu diteliti dan dipelajari secara lebih mendalam. pada tahun 1525 M dan 1526 M. adapun prasasti Munjul yang ditemukan terletak disungai Cidanghiang. Selain bukti arkeologi berupa arca Siwa dan Ganesha ini belum ada lagi data sejarah yang cukup kuat untuk menunjang keberadaan kerajaan Salakanagara ini yang lebih jelas. (Ayathrohaedi.1982:2) Untuk menghubungkan antara Banten Girang dengan pelabuhan Banten. dolmen dan patung-patung simbolis dari desa Sanghiang Dengdek di Menes.1976:1-6) Penggunaan alat-alat kebutuhan yang dibuat dari perunggu yang terkenal dengan kebudayaan Dong Son (500-300 SM) juga mempengaruhi penduduk Banten. (Hoesein.1972:26) 26 . Pada tahun 1475 M. Cipari dan Babakan Tanggerang. serta naskah-naskah kuno yang mencatat keterangan tentang kehidupan masyarakat pada masa itu. Disamping karena pertumbuhan dan perkembangan Islam di Banten yang menarik. Tumbuh dan Berkembangnya Islam Di Banten Penyebaran Islam di Banten dilakukan oleh Syarif Hidayatullah. ini berarti bahwa daerah kekuasaan Tarumanegara sampai juga ke daerah Banten.1983:124) Untuk selanjutnya keadaan Banten pada abad ke VII samapi dengan abad ke XIII. demikian pula dengan masa kehidupan Hindu dan Buddha ditandai oleh peninggalan Hindu masa itu berupa prasasti arca Nandi dan bendabenda arkeologi lainnya. karena kerajaan Tarumanegara pada masa itu berada dalam keadaan makmur dan jaya. kita tidak mendapatkan keterangan yang menyakinkan. (Atja. di Banten yang berkuasa adalah Prabu Pucuk Umun. Pada awal abad ke XVI. Tradisi prasejarah ditandai oleh adanya alat-alat kehidupan sehari-hari dan kepercayaan yang mereka anut. hal ini disebabkan karena data yang diperoleh para ahli belum lengkap.

Selain orang keturunan Cina yang sering berkunjung kesini banyak pula para turis macanegara dan lokal mengunjungi klenteng ini. pendidikan. lepas dari pengaruh Demak atau pun Pajang. di dalam usaha penyebaran agama Islam Ini Pangeran Hasanuddin berkeliling dari daerah ke daerah seperti dari G. Keraton Surosowan. Sejarah kebudayaan Cina Tertua di Banten Sejarah bisa diungkapkan lewat peninggalan-peninggalan masyarakat terdahulu dari segala segi aktivitas dan kreativitas. Masjid Kasunyatan. karena mereka ingin melihat klenteng Cina yang dibangun pada masa sultan Banten dan konon klenteng tertua di Indonesia. G. (Djajadiningrat. kebudayaan dan ekonomi di masa itu. prabotan rumah tangga. Barulah Sultan Hasanuddin memproklamirkan Banten sebagai negara merdeka.1983:34) Sehingga berangsur-angsur penduduk Banten Utara memeluk agama Islam. Karang bahkan sampai ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon. sehingga tumbuhlah beberapa perguruan Islam di Banten seperti yang ada di Kasunyatan. baik kejayaan maupun kesuraman suatu masa dalam sejarah.1983:144) Pada tahun 1568 M. Mesjid Agung dan Menara Banten. persejataan dan karya seni yang menjadi tolak ukur dari nilai-nilai budaya masysarakat pada masa itu. Gedung Timayah. (Hamka. (Djajadiningrat. makam-makam sultan Banten dan banyak lagi yang lainnya. Mesjid Pacinan Tinggi. maka pada tahun 1552 M.1983:163) Kerajaan Islam di Banten Saat itu lebih dikenal oleh masyarakat Banten dan sekitarnya dengan sebutan Kesultanan Banten. Keraton Kaibon. Di Banten ada sebuah peninggalan kuno bangsa Cina yaitu klenteng yang saat ini merupakan Vihara Budha. seperti dilihat dari bentuk ± bentuk bangunan. (Roesjan. Ditempat ini berdiri masjid Kasunyatan yang umurnya lebih tua dari masjid Agung Banten.1976:181) Disamping itu Banten juga menjadi pusat penyebaran agama Islam.1983:35) Disinilah tempat tinggal dan mengajarnya Kiayi Dukuh yang bergelar Pangeran Kasunyatan guru dari Pangeran Yusuf. Adapun tugasnya dalam penyebaran Islam di Banten diserahkan kepada Pangeran Hasanuddin. (Djajadiningrat.1954:10) Karena semakin besar dan maju daerah Banten. Bangunan ± bangunan itu tidak terlepas dari pengaruh religius (Hinduisme dan Islam). dan Gujarat. Pulosari. Atas petunjuk dari Syarif Hidayatullah pusat pemerintahan Banten dipindahkan dari Banten Girang ke dekat pelabuhan di Banten Lor yang terletak dipesisir utara yang sekarang menjadi Keraton Surosowan. serta terjadinya akulturasi negara-negara lain seperti. Masjid Caringin. Setelah kesultanan Banten berakhir maka sekarang tingglallah peninggalan sejarah berupa bekas istana kerajaan dan beberapa bangunan lain seperti. Dari beberapa petugas serta pengawas 27 .Setelah Pangeran Hasanuddin menginjak dewasa. Cina. (Ismail. Belanda. Kesultanan Banten telah mencapai masa kejayaannya dimasa lalu dan telah berhasil merubah wajah sebagian besar masyarakat Banten. saat itu Kesultanan Demak runtuh dan digantikan oleh Panjang. Kadipaten Banten dirubah menjadi negara bagian Demak dengan Pangeran Hasanuddin sebagai Sultannya. syarif Hidayatullah pergi ke Cirebon mengemban tugas sebagai Tumenggung di sana. Pengaruh yang besar diberikan oleh Islam melalui kesultanan dan para ulama serta mubaligh Islam di Banten seperti tidak dapat disangsikan lagi dan penyebarannya melalui jalur politik. banyak orang-orang dari luar daerah yang sengaja datang untuk belajar. Seperti halnya di Banten banyak terdapat benda-benda bersejarah yang memiliki nilai historis yang dapat menyiratkan suatu riwayat tertentu.

000 real dengan menggunakan 6 buah perahu. Coen perahu Cina membawa barang dagangan bernilai 300. sedangkan di ruang lainnya yang melengkapi beberapa tempat penampungan para jemaah klenteng. tetapi bangunan klenteng amat terpelihara dengan baik dan masih berfungsi sebagai tempat peribadatan para pemeluk agama Budha hingga kini bahkan dalam perkembangannya di sekitar klenteng ini sekarang cukup banyak berdiri penginapan yang khusus di bangun untuk menampung para pengunjung klenteng dari luar kota yang ingin bermalam.klenteng itu. Kita tengok sejarah hubungan antara kesultanaan Banten dengan bangsa Cina pada masa itu. Dahulu kampung Pabean memang banyak dihuni oleh orang-orang Cina daerah pelabuhan itu sangat ramai tetapi jauh dari tempat sembahyangnya orang Cina oleh karena itu kerajaan Banten memberikan bangunan kepada orang-orang Cina di Pabean sebuah bangunan besar bekas kantor bea (douane) pada masa VOC di pelabuhan Banten. Mata uang Cina tersebut berbentuk 28 . berjarak puluhan meter saja karena dipisahkan oleh sebuah parit. mereka datang untuk berdagang dan melakukan perdagangan dengan cara barter/menukar dengan lada sebagai bahan utamanya. Cat yang banyak melekat didinding tiang serta kusen lainya memeang sering diperbaharui. 1958:69). Intensitas kehadiran para pedagang Cina cukup meramaikan dalam perdagangan di Banten diiringi pula dengan kehadiran imigran yang berfekwensi cukup tinggi. sedangkan pada koin sebaliknya diketahui huruf Manchu yang artinya tidak diketahui. dilihat dari catatan arkeologi pada setiap tahun banyak perahu Cina yang berlabuh di Banten. diperoleh keterangan serupa bahwa Kleteng ini tertua di Jawa. Sedangkan menurut catatan J. Selain sebagai pedagang orang-orang Cina datang ke Banten sebagai imigran (Clive Day. dan pada saat itu orang Cina di Banten lebih dari 1300 kepala keluarga. Kemudian dalam proses selanjutnya bangunan klenteng itu mengalami perluasan beberapa puluh meter di areal kosong bagian kiri kanan banguan juga bagian depan maupun belakang bangunan tersebut. 1915:122) sebagai tanda peran serta bangsa Cina pada perdagangan di Banten tidak bisa diangap ringan. Bangunan bekas kantor douane itu kemudian di rubah menjadi klenteng dengan nama Bio Hud Couw. Klenteng ini di bangun pada masa awal Kerajaan Banten. pada tahun 1614 di Banten ada 4 buah perahu Cina yang rata-rata berukuran 300 ton. Penemuan mata uang Cina ini oleh tim arkeologi di Keraton Surosowan terdapat tulisan Yung Cheng T¶ung Pou = Coinage of Stable Peace yang berarti pembuatan mata uang untuk kesetabilan dan perdamaian. kesan tua dan membosankan untuk di pandang memenag tidak terpancar sama sekali di banguanan ini. semula rumah biasa milik seorang Kapten VOC yang diserahkan untuk dijadikan tempat sembahyang orang Cina. P. juga di Indonesia . Meskipun klenteng ini sudah berusia 500 tahun. Mata uang Cina yang ditemukan de Houtman di Banten (Rouffer. Agar warna cat tidak mudar dan tetap indah dipandang para pengunjung. Keterangan ini hampir sama dengan yang dipaparkan oleh She Cang bahwa klenteng yang dijaganya sejak tahun 1963 samapi sekarang. pembangunan yang terus dilakukan secara bertahap di sekitar klenteng memang tidak merubah keaslian klenteng itu sendiri apa lagi yang terletak dibagian tengah klenteng karena diguankan sebagai altar. Lokasi klenteng Cina ini terletak di sebelah barat bangunan Benteng Speelwijk (Benteng yang dibuat Belanda). hal ini lebih banyak disebabkan selain karena perluasan bangunan di sekitar bangunan asli klenteng juga beberapa pengaruh warna cet merah dengan kombinasi warna kuning yang menyala. waktu itu Banten dikenal sebagai pelabuhan rempah-rempah. Bangunan klenteng ini memiliki ciri khas tersendiri sama seperti bangunan-bangunan bersejarah di Banten pada umumnya.

10-0. dan beberapa sisa bangunan Kolonial di Tanjung Layar. sangatlah memperhatinkan masa kita lihat mada masa V. Ujung Kulan Panaitan memperlihatkan pada kita beberapa artefak dan sisa-sisa bangunan.(1985 : 11-25-1122). chang pemukiman manusia cenderung mengelopok. (Michrob. terutama Pulau Jawa karena sistim monopoli yang tak sehat. keadaan ini menyebabkan hutang bertumpuk. misalnya jarak terhadap pusat persediaan sumber daya alam atau kita sebut sumber makanan dan air minum. zaman hindu-budha. .Persaingan dagang yang semakin ketat dari bangsa Perancis. tebal 0. ini akan menimbulkan kecintaan kita terhadap budaya nusantara yang beragam dan bercorak yang sangat menawan. kubur islam di dalam guha sanghiang sirah. Setelah peninjauan dilokasi-lokasi sejarah bayak kita temui analogi-analogi terhadap daratan lain yang secara fisiografis memperlihatkan sejumlah persamaan ciri di daerah lain nusantara dengan ujung Kulon di Banten.18 cm. Seperti lukisan dinding guha di Sangiang Sirah. dan diameter lubang 0. sebagai upaya untuk menekan biaya-baya operasional sampai pada tingkat paling minimal (1967:229-230). diameter 2. kesemuanya telah ditinggalkan manusia sebagai pelaku kehidupan dan terakhir dimusnahkan oleh letusan gunung Rakata (krakatau) tahun 1883 M (Michrob 1987). Sementara itu lewis R Binford menyatakan bahwa pola-pola pengelompokan pemukiman manusia seperti yang terlihat setiap pola yang ada pada situs arkeologis. Patung Siwa dan Ganesha di Panaitan. Islam dan terakhir zaman Kolonial. disamping Inggris 29 . Penyebab terpenting dalam terjadinya masalah ini antara lain : .O. sehingga mereka tidak mampu membeli barang dagangan yang dibawa VOC. manusia menyelenggarakan segala upaya kulturalnya untuk memenuhi kebutuhan hidup secara maksimal.450.Monopoli rernpah-rempah VOC yang sering dilanggar oleh penduduk pribumi. Inggris dan miskinnya penduduk Nusantara. (Halwany. 1993:36) Ujung Kulon Dalam Lintasan Sejarah Mengamati berbagai sumber sejarah di nusantara sangatlah banyak. dimana masa itu menghadapi kemunduran dalam perdagangannya karena situasi moneter dunia dan masalah di dalam tubuh VOC sendiri yang kurang sehat.60 cm. muncul tumbuh dan berkembang sebagai hasil interaksi antara ekonomi terhadap tempat khusus dan taktik-taktik mobilitas barang.C. menurut K. Melihat rekonstuksi sejarah Tanjung Layar pada akhir abad ke 18. pemukiman kuna di Taman Jaya dan Sumur.25-2. maka dapatlah dilakukan penyusunan suatu model hipotesis untuk merekonstruksi kehidupan budaya yang pernah berlangsung di Ujung Kulon Panaitan baik pada masa pra-sejarah. serta hasil survai dan ekskavasi. baik yang bersifat material maupun spiritual.C. Data arkeologi dan sumber sejarah yang dapat diamati di Ujung Kulon Panaitan.80 cm. Secara kronologis dan hipotetis bahwa dari sisa-sisa situs dan artefak tersebut mencerminkan hamparan sisa-sisa perilaku kehidupan dan budaya manusia yang ada sepanjang sejarah dari kurun ke kurun sejarah berikutnya. maka Soebroto menekankan pula bahwa tipe-tipe situs arkeologis memberikan gambaran adanya hubungan erat antara pemilihan lokasi situs dengan strategi manusia masa lalu dalam memenuhi kebutuhannya. setidaknya memperlihatkan bahwa sekitar daratan selat Sunda ini pernah meniadi salah satu sub-sistem pemukiman dan tempat pemujaan. Sub sistem pemukiman merupakan bentang ruang hidup manusia yang mana pada bentang ruang tersebut.bulat berlubang segi empat. 1991:31) Pemilihan dan penentuan lokalitas pemukiman biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor. batu lingga di Handeuleum.

Melalui utusan sultan yang datang ke Batavia. banyak pekerja yang mati terkena penyakit malaria. Sehingga banyak diantara mereka yang melarikan diri. Tapi akhirnya Daendels dapat meluluh lantahkan tanah Surosowan hingga menjadi puing-puing berserakan. Namun karena kebencian rakyat yang sudah demikian memuncak kepada Belanda.1990:21). Dua hari kemudian pasukan ini sampai di perbatasan kota. 1961:56). Belanda dapat dikuasai pada tahun 1807. c. Karena permintaannya ditolak maka dengan segera dan secara sembunyi-sembunyi dikirimlah pasukan dalam jumlah yang besar yang dipimpin langsung oleh Gubenur Jendral Daendels sendiri ke Banten. Sedangkan patih Mangkubumi 30 . Pekerjaan pertama Deandles adalah membuat pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon. rumah sakit tentara dan pabrik mesiu. Halwany & Mujahid. Akan tetapi karena derahnya berawa-rawa. untuk mnengirimkan pekerja rodi sebanyakbanyaknya agar pekerjaan yang direncanakannya cepat telaksana. Semua itu harus segera diselesaikan dengan dana serendah mungkin. Sebagian besar Eropa dikuasai Perancis kecuali Inggris. Sultan harus mengirimkan 1000 orang rakyatnya setiap hari untuk dipekeriakan di Ujung Kulon. Banyaknya biaya yang harus dikeluarkan VOC terutama untuk membayar tentara dan pegawainya yang sangat besar. benteng.sudah berhasil menanamnya di India sehingga pasaran rempah-rempah menurun. karena di Surosowan akan dibangun benteng Belanda. prajurit-prajurit Sultan dengan keberanian yang mengagumkan berusaha mempertahankan setiap jengkal tanah airnya. karena memang dana dari negeri Belanda tidak bisa diharapkan. Sudah tentu tuntutan ini ditolak mentah-mentah oleh Sultan. 1990). sehingga sultan tidak sempat lagi menyiapkan pasukannya. Untuk menjalankan tugas ini Daendels membangun sarana dan prasarana pertahanan seperti : jalanjalan pos. Surosowan dapat direbutnya menjadi kekuasaannya. Untuk itu Daendels memerintahkan kepada Sultan Banten. Sultan supaya segera memindahkan keratonnya ke daerah Anyer. Tindakan ini dibalas Daendels dengan diserangnya Surosowan pada hari ltu juga yakni tanggal 21 Nopember 1808. Sebagai pringatan pertama-tama dikirimlah utusan Komandeur Philip Pieter oleh pihak kolonial Belanda ke istana Surosowan (Banten) untuk menanyakan kembali kesanggupan Sultan. VOC dibubarkan. Untuk itulah dilakukan kerja paksa (kerja rodi) yaitu para pekerja bekerja tanpa upah. Daendels memerintahkan supaya : a. Pada tahun 1789 meletus suatu revolusi besar Revolusi Perancis yang menggoncangkan Eropa dibawah pimpinan Kaisar Napoleon Bonaparte. Keadaan ini membuat Daendels marah dan menuduh Mangkubumi Wargadiraja sebagai biang keladi larinya pekerja-pekerja itu. Sultan ditangkap dan diasingkan ke Ambon. maka utusan belanda tersebut dibunuh di depan pintu gerbang kraton (Michrob. (Chis. pelabuhan tentara. barak. Karena sebab-sebab itulah akhirnya pada tahun 1799. personil. Sejak itulah kepulauan Nusantara di jajah Belanda (Soetjipto. Semua kekayaan dan utangpiutangnya ditangani pemerintah Kerajaan Belanda. ia datang di Batavia pada tahun 1808 dengan tugas pertama mempertahankan Pulau Jawa dari serangan tentara Inggris di India. Sultan harus segera menyerahkan patih Mangkubumi Wargadiraja ke Batavia. Demikian juga untuk menguasai daerah-daerah yang baru dikuasai terutama di Jawa dan Madura. Serangan yang tiba-tiba ini sangat mengejutkan dan memang diluar dugaan. 1881). b.(Michrob. Louis I Capoleon adiknya Kaisar Napoleon yang diberi kuasa di Belanda mengangkat Daendels sebagai Gubernur Jenderal di kepulauan Nusantara. Banyaknya pegawai VOC yang melakukan korupsi.

putra Sultan Muhyiddin Zainul Solihkin yang berkedudukan di Caringin. Tahap kedua dimulai tahun 1809. Ke tiga wllayah tersebut di bawah pengawasan Landros (semacam Residen) yang berkedudukan di Serang. Pandeglang. Jakarta. tetapi itu tidak berarti bahwa tidak ada cabang-cabang jalan lainnya yang dilewati oleh Daendels. Kesimpangsiuran informasi itu menurut Halwany Michrob. sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Jalur ini melalui garis pantai dari Batavia menuju Carita. Belanda dapat menguasai Cibungur dan di pantai Teluk Marica (Pane sanusi 1950 b:11). Sultan tidak mempunyai kuasa apa-apa ia hanya mendapatkan gaji 15.000 real setiap tahun dari pemerintah Belanda. Belanda membagi daerah Banten dalam tiga wilayah yang statusnya sama dengan Kabupaten seperti. Bogor. rute selanjutnya Ke Tangerang. Lebak hingga Jasinga (Bogor). dan Anyer. wajar-wajar saja sebab pembautan jalan Deandels saat itu melaukannya dalam dua tahapan. Tangerang. Bandung. Caringin. Banten Hulu. Sanusi 1950:14 dan Ismail. Labuan (Pane. Puncak. akhirnya Belanda melakukan serangan lagi yang dipimpin langsung oleh Daendels sendiri dan hasilnya tidak mengecewakannya.dihukum pancung dan mayatnya dilemparkan ke Laut. Menes. maka pekerjaan pembuatan Pangkalan di Ujung Kulon dipindahkan ke daeah Anyer. Dari Anyer Melalui Pandeglang jalan bercabang dua menuju Serang (utara) dan Lebak (selatan). pada masa itu Daendels memfokuskan kegiatannya pada pembangunan dua pelabuhan di utara (Merak) dan di selatan (Ujung Kulon).1981:27) pada tahun 1809 itu pulalah mulai dikerjakan pembuatan jalan Pos dari Anyer sampai Panarukan sepanjang 1000 km. 1950 b:II). Karena banyak masyarakat yang membenci Pemerintahan Belanda maka timbullah perompakperompak kapal Belanda di sekitar selat Sunda di daerah laut sedangan di daratan timbul pula para pencuri yang digerakkan oleh Alim Ulama setempat yang tidak senang dengan sepak terjang pemerintahaan Belanda. Seperti kejadian di Cibungur dan di pantai Teluk Marica. Cianjur. Selanjutnya Banten dan Lampung dinyatakan sebagai daerah jajahan Belanda. Untuk wilayah Banten Hulu diangkat Sultan Muhammad Syafiuddin. Untuk melemahkan perlawanan rakyat Banten. Dari Serang. Benteng dan istana Surosowan Banten dibakar dan dibumi hanguskan pada tahun 1909 (Rusjan 195). Banten Hilir. menembus Gunung Palasari. Daendelas mencurigai Sultan Banten sebagai dalang kerusuhan-kerusuhan yang sering terjadi. namun kekuasaannya tidak dapat melebihi kekuasaan sultan pada biasanya karena ia tidak lebih dari seorang pegawal Belanda. Cirebon hingga Panarukan. Setelah Istana Surosowan hacur lebur maka diangkatlah Putra Mahkota dengan gelar Sultan Wakil Pangeran Suramanggala. Jiput. terjadi serangan Belanda ke daerah ini tapi tidak berhasil. Jalan inilah jalan yang di sebut jalan utama atau jalan protokol. Pengerjaan pembuatan Pangkalan Angkatan Laut dihentikan karena banyak pekerja yang mati dan sakit disebabkan daerah proyek Pangkalan tersebut berupa rawa-rawa. dan sebagian orang-orang Banten yang tertangkap di laut selat Sunda ataupun didaratan dipenjarakan di Ujung Kulon. tahap pertama merupakan pembuatan jalan untuk membuka poros Batavia ± Banten pada tahun 1808. (Sanusi Pane. Akhirnya Daendles bersama pasukannya datang ke Banten untuk menankap dan memenjarakan Sultan Banten di Batavia. Sumedang. Jasinga dan Sadang dimasukan ke dalam teritorial Batavia. Jalan ini dikerjakan hanya dalam tempo waktu 31 . Dalam proses pembuatan pangkalan tersebut Deandles melakukan tindakan-tindakan yang keras sehingga menambah kebencian rakyat Banten kepada pemerintahaan Belanda. walaupun masih bergelar sultan.

baik produk-produk kesusasteraan seperti naskah-naskah. Pada tahun 1808-1809 Daendles mulai pembuatan jalan dengan rute Batavia-Banten tahap pertama. teknologi. Terbukti dengan hadirnya para ulama. atau yang dapat ditafsirkan sebagai Banten. tampak dari sejumlah historiografi lokal. namun jalan-jalan itu dalam perkembangan selanjutnya banyak dipengaruhi kehidupan masyarakat disekitarnya dan telah berubah fungsinya antara lain mejadi jalan ekonomi atau jalan umum dan kini sudah banyak bangunan disekitarnya. Tangerang dan Kotamadya Tangerang.satu tahun dengan mengorbankan beribu-ribu rakyat Banten. berbagai cerita rakyat (folklore) yang masih hidup dalam ingatan masyarakat. diduga kuat bahwa toponim Banten Baru muncul pada akhir abad ke-15 M. "Tamgaram" (Tangerang). Banten Lama dan Banten Hilir. Karena banyaknya korban pada pembuatan jalan Batavia-Banten masih simpang siur. nama toponim Banten belum dimuat. "Calapa" (Sunda Kelapa) dan "Chemano" (Cimanuk). maka rakyat menghentikan bantuannya. dan Purwaka Caruban Nagari yang memuat istilah "Kawungaten". Pada abad 16-18 Banten kemudian berkembang menjadi label wilayah politik dan nama Kesultanan yang bercorak Islam. Pandeglang. catatan Tome Pires (1512-1515) menyebut "Bantam" sebagai salah satu pelabuhan penting Kerajaan Sunda. begitu pun pembuatan proyek pelabuah maritim di Uiung Kulon (Tanjung Layar) yang banyak mengorbankan jiwa manusia karena disana masih banyak binatang buas. namun setelah terjangitnya penyakit malaria dan banyak yang tewas. kesenian dan sebagainya. prasasti Kaban-tenan menyebut nama "Bantam". Selain itu.000 orang dan banyak yang meningal tampa dikuburkan secara layak. seperti Cina Parahyangan yang menyebut istilah "Wahanten Girang". yang meninggal sekitar 15. "Cheguide" (Cigading). seperti Babad Nagarakartagama (1345 M). Bahkan. Banten sebenarnya merupakan toponim yang memiliki aspek ruang. yang tersebar di seluruh pelosok Banten. Hal ini berdasarkan fakta bahwa toponim Banten tidak dicantumkan dalam naskah yang lebih tua. Pembangunan jalan Daendels dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur) sejauh 1000 km pada tahun 1809 ± 1810 yang bertujuan untuk mempercepat tibanya surat-surat yang dikirim antar Anyer hingga Panarukan atau sebagai jalan pos. yang dituturkan oleh kelompok sub etnik Banten. Lebak. atau buku-buku keagamaan. meliputi Kabupaten Serang.Budaya Banten bisa diidentifikasi dengan menelusuri. ia tidak segan-segan memerintahkan tentaranya menembak mati rakyat yang lalai atau tidak mau bekerja dalam pembuatan jalan apapun alasannya. Kajian Suwedi Montana. menurut beberapa sejarahwan Indonesia. yang berasal dari awal abad ke-16. yaitu: (1) sub etnik 32 . Banten Girang Gerbang Kerajaan Banten Nuansa Islam dalam budaya Banten nampaknya cukup kuat hingga saat ini. Walaupun demikian Daendels semakin keras menghadapi rakyat. dan secara geografis masih sering dikaitkan dengan bekas Karisidenan Banten. toponim Banten juga memiliki kaitan dengan Banten Girang. dalam naskah Pujangga Manik (Pajajaran). di samping "Pongdam" (Pontang). Banten menunjukkan adanya dua kelompok etnisitas. babad. Selain itu. maupun warisan budaya material dalam pengertian yang luas. Berdasarkan naskah-naskah yang ada. Dilihat dari segi demografi. menunjukkan bahwa nama Banten. pada saat itu rakyat masih mau menghimpun kekuatan untuk melaksanakan perintah paksa Daendles. pesantren dan qari-qariah. misalnya. Kategori yang disebut terakhir ini terlihat pada karya-karya arsitektur.

tapi dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten sudah berlangsung sangat lama dan teori bahwa keberadaannya dimulai pada saat terbentuknya Kerajaan Islam di Banten. Keberadaanya sedikit dihubungkan dengan masa kejayaan maritim Kerajaan Sriwijaya. (2) sub etnik Banten-Sunda yang wilayah huniannya mulai dari Serang Selatan (Banten Girang) sampai ke pedalaman selatan berbatasan dengan Samudera India. Walaupun dengan keterbatasan penelitian. pengrajin besi. Kemungkinan besar. Banten pada masa itu sudah merupakan kawasan pemukiman yang penting yang ditandai dengan telah dikelilingi oleh benteng pertahanan dan didukung oleh berbagai pengrajin mulai dari pembuat kain. dan hubungan internasional sudah terjalin dengan China. yang menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera. Beberapa dekade sebelumnya Kerajaan Demak telah menguasai bagian timur pulau Jawa dan pada saat itu bermaksud untuk juga menguasai pelabuhan Sunda. yang sekarang dikenal sebagai Jakarta. kurangnya dokumentasi mengenai Banten. dikarenakan posisi Banten sebagai pelabuhan yang penting dan strategis di Nusantara. Kelemahan ini tidak luput dari perhatian Kerajaan Islam Demak. yang menguasai Selat Sunda. 33 . di bagian selatan dari Kota Serang sekarang ini. namun banyak bukti baru yang ditemukan. Penelitian yang dilakukan di lokasi Banten Girang di tahun 1988 pada program Ekskavasi Franco ± Indonesia. yang berdiri pada abad ke 14 dengan ibukotanya Pakuan yang berlokasi di dekat kota Bogor sekarang ini. Tidak banyak yang diketahui mengenai sejarah dari bagian terbarat pulau Jawa ini. Setelah menguasai Malaka pada tahun 1511. memandang serius ekspansi Islam. Mata uang logam (koin) sudah digunakan sebagai alat pembayaran. bangsa Portugis memulai perdagangan dengan bangsa Sunda. melihat makin berkembangnya komunitas ulama dan pedagang Islam yang semakin memiliki peranan penting di kota pelabuhan ³Hindu´. dan beberapa kawasan di India. lokasi awal dari Banten tidak berada di pesisir pantai. tembaga. Sekaligus dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten ternyata jauh lebih awal dari perkiraan semula dengan ditemukannya bukti baru bahwa Banten sudah ada di awal abad ke 11 ± 12 Masehi. keramik. tidak lagi dapat dipertahankan. dan kapal Jung mereka telah berlayar ke pelabuhan Sunda setiap tahunnya untuk membeli lada. dapat diketahui. perhiasan emas dan manik manik kaca. Masyarakat Sunda. baru berlangsung setelah masuknya Dinasti Islam di permulaan abad ke 16. melainkan sekitar 10 Kilometer masuk ke daratan. Semenanjung Indochina. kurang lebih 15 tahun sebelum Kerajaan Islam Banten terbentuk. terutama pada masa sebelum masuknya Islam. Bangsa Portugis telah mendokumentasikan keberadaan Banten dan sekitarnya pada awal abad ke 16. sampai Anyer-Cilegon di sebelah selatan barat. Pelabuhan Kalapa. Wilayah ini dikenal dengan nama ³Banten Girang´ atau Banten di atas sungai. tidak ada keputusan final yang dapat diambil sebelum penelitian dilakukan lebih lanjut. Walaupun Kerajaan Pajajaran masih berdiri. namun kekuasaannya mulai menyusut. Dan juga dikaitkan dengan keberadaan Kerajaan Sunda Pajajaran. Ketertarikan utama mereka adalah pada Lada yang banyak terdapat di kedua sisi Selat Sunda. Bangsa Cina juga sangat berminat pada jenis rempah rempah ini. di tepi sungai Cibanten. mulai dari daerah Tangerang di sebelah utara. yang berbatasan dengan sub etnik Betawi. nama ini diberikan berdasarkan posisi geografisnya. Secara nyata. Kerajaan ini mempunyai dua pelabuhan utama. dan Pelabuhan Banten. Berdasarkan catatan.Banten Pesisiran yang membentang sepanjang pesisir utara Jawa Barat. berhasil menemukan titik terang akan sejarah Banten. Dari beberapa data mengenai Banten yang tersisa.

dengan tujuan utama untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Lima tahun yang panjang berlalu. terutama dengan alam dan budaya Islamnya. tidak terlalu dekat dengan kota Banten. Islam mengambil alih kekuasaan pada tahun 1527 M bertepatan dengan datangnya armada Portugis. Hasan Muarif Ambari. yang memegang kekuasaan politik di Banten. Aplikasi dari perjanjian ini adalah adanya kesepakatan kekuasaan yang tak terbatas bagi Portugis. penguasaan yang tidak lagi dapat ditolak oleh Pakuan. Hasanudin dinobatkan sebagai Sultan Banten oleh Sultan Demak. Sejak itu embrio dan fondasi masyarakat dan budaya Banten diletakkan dan ditetapkan dalam format yang berciri keislaman. Sementara itu. dan yang kedua untuk menahan agar armada Portugis yang sangat kuat pada saat itu. baik atas inisiatifnya sendiri maupun atas seizin Pakuan. agar Portugis dapat menahan kapal yang berlayar dari Demak. yang bertanggungjawab akan pembangunan benteng. bangsa Portugis sangat anti Islam. Pemilihan pembuatan benteng di daerah Tangerang tidak diragukan lagi untuk dua alasan : yang pertama. Islam mencegah siapapun untuk merapat ke Banten. Dan Banten dipilih sebagai ibukota Kerajaan baru tersebut. Dengan itu. Masyarakat dan budaya Banten. pada saat itu telah menetap di Banten Girang. Portugis akan diberikan akses tak terbatas untuk persediaan lada. dapat menawarkan komoditas lada bagi Portugis. yang telah berulangkali datang berniaga ke Banten. sebuah dinasti baru telah terbentuk pada saat yang sama kerajaan yang baru didirikan. situasi politik telah sangat berubah dan sehingga armada Portugis gagal untuk merapat ke daratan. Hasanudin. mungkin hanya dapat dikenali dengan merunut kembali peristiwa sejarah transformasi pusat administrative politik dari Banten Girang di pedalaman . dalam bukunya "Menemukan Peradaban. memohon kepada bangsa Portugis di Malaka. akan tetapi Ia tetap meminta Demak mengirimkan pasukan untuk menguasai Banten ketika Ia menilai waktunya tepat. dimana sebelumnya juga telah memegang kekuasaan ekonomi. Tahun 1522 Masehi. yang sadar akan pentingnya urusan ini. Jakarta ini. dan armada lautnya sangat kuat dan menguasai perairan di sekitar Banten. dirunut dalam fase-fase berikut: 34 . Seorang ulama yang sekarang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. dan diperkenankan untuk membangun benteng di pesisir dekat Tangerang. yang memimpin operasi militer di Banten. di sisi lain. di bawah pimpinan Francisco de Sá. Kepala Pusat Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas. bangsa Portugis menawarkan perlindungan ganda. yang dipimpin oleh Henrique Leme. Di mata otoritas Banten. Putera Sunan Gunung Jati. sebelum akhirnya armada Portugis tiba di pesisir Banten. Sadar akan adanya perjanjian antara Portugis dengan penguasa sebelumnya. Prof. yang juga menikahkan adiknya dengan Hasanudin. sebagai ganti dari perlindungan yang diberikan. Peristiwa transformasi tersebut berlangsung pada tahun 1526 oleh Syarif Hidayatullah dan Maulana Hasanuddin.Menghadapi ancaman ini. Portugis di Malaka. Depdikbud Rl) yang juga staf peneliti pada Pusat Pengkaian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Kaum Muslim. sekarang merupakan kelas sosial baru. Kemurah hatian yang sangat tinggi ini menggaris bawahi tingginya tingkat kesulitan yang dihadapi Banten. Dr. Dan adalah puteranya. Kelihatannya Kaum Muslim menguasai secara serempak kedua pelabuhan utama Sunda. Perjanjian dibuat antara kedua belah pihak. Negosiasi ini di mulai tahun 1521 Masehi. yaitu Kalapa dan Banten.yang berada di bawah subordinasi Pakuan Pajajaran yang Hinduistik ke daerah pantai yang sekarang dikenal dengan Banten Lama. Banten. Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia" (penerbit Logos) memperlihatkan fase-fase pertumbuhan perkembangan budaya Banten dalam panggung sejarah. mengirim utusan ke Banten. Sebagaimana telah sebelumnya dilakukan di Jawa Tengah. penduduk asli Pasai. Otoritas Banten. bagian utara Sumatera setelah tinggal beberapa lama di Mekah dan Demak. Walaupun pada awalnya kedatangannya diterima dengan baik oleh pihak otoriti.

pendudukan Jepang. Batavia. yang bermula sejak pertumbuhan Islam di Banten. Oleh karena itu. Keseimbangan kekuatan ini di antaranya bisa dilihat dari beberapa peristiwa politik yang berlangsung saat itu. awara dalam kehidupan masyarakat Banten 35 . budaya pesisiran dan budaya pedalaman di daerah selatan Banten (kecuali daerah Baduy) terus menerus memantapkan keislamannya. Portugis. pemindahan administrasi politik ke Serang Surosowan dihancurkan. Para pedagang Inggris. Banten mencapai puncak ketinggian budaya (tamaddun Islam). pendirian Benteng Speelwik yang langsung atau tidak langsung memperlihatkan wujud hubungan antara Banten dan VOC. perang kemerdekaan. didirikannya Keraton Kaibon dan dipecahnya bekas wilayah Kesultanan Banten menjadi tiga daerah setara Kabupaten (Banten Hulu. Fase awal Penyebaran Islam (1525-1619). masih berkembangnya "kota" Surosowan dan lain-lain. bencana alam (meletusnya Krakatau dan wabah penyakit sampar). (4). (3). (5). tumbuh dan kuatnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. (2). Pada fase inilah. suatu fase di mana Islam disiarkan oleh Sunan Gunung Jati dari Cirebon dan Maulana Hasanuddin yang beraliansi dengan Demak. dan pilihnya tingkat kemakmuran masyarakat Banten. yang tidak memperlihatkan adanya dominasi satu kekuatan politik tertentu terhadap kekuatan politik lain: yakni penyerangan Banten ke Batavia. Cirebon. yang berpusat di Banten Girang (Kota Serang sekarang). Fase Pra-Sunda Islam (1400-1525). yakni satu fase tanpa adidaya di mana seluruh kekuatan politik dan ekonomi yang ada di Banten memiliki kekuatan yang seimbang (armada dagang Eropa. Pesantren terus menerus menghasilkan kader dan para ulama tetap berdakwah. Pada masa itu Banten merupakan daerah bawahan kerajaan Pakuan Pajajaran yang Hinduistis. Setelah Kesultanan Banten dihapuskan oleh Belanda timbul berbagai pergolakan. (6). Batavia dan Mataram). dan Turki datang melakukan transaksi perdagangan di Bandar Banten. dari segi budaya Banten dapat disetarakan dengan masyarakat kota seperti Mataram dan Cirebon. perpindahan pusat pemerintahan dan mulai berkembangnya Banten sebagai pelabuhan . hal yang tetap hidup dan terus mengakar pada masyarakat Banten adalah kultur Islam. Sebelumnya. Banten telah berhubungan dengan Cina. Fase Penguasaan (VOC) Belanda. Banten Hilir. Pada masa ini terjadi transformasi keagamaan. Hindia Belanda terkena imbas perang Napoleonik/Rep. blokade Belanda atas Teluk Banten. pada tahun 1809 pembuatan jalan raya Daendells. Fase Surut dan Jatuhnya Kesultanan Banten. Fase Keseimbangan Kekuatan. interval penguasaan Inggris (1811-1816). Denmark. pemberontakan dan perlawanan rakyat dipimpin oleh para ulama/bangsawan. dan Anyer) di bawah pengawasan landraad (setara residen). Dalam situasi seperti ini. dan sampai sekarang memasuki masa pembangunan. Di balik semua kilas balik sejarah ini.(1). sehingga etnis terakhir ini telah membentuk satu komunitas tersendiri yang memberi sumbangan besar bagi perkembangan perdagangan di Banten.alternatif setelah Malaka. dengan komponen-komponen arsitektur dan monumental berciri Islam. Kesultanan Banten. Rakyat mulai mengarahkan orientasi kepemimpinan dari raja/sultan kepada para ulama/mubaligh/kiyai. telah menyebabkan pertumbuhan dan ramainya perdagangan. Fase Mutakhir. Pendirian kota Banten Sorasowan.

sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul. karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. dan masa kolonial Belanda. Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (RM. yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat. yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. Bekasi-Pantura. Tesis S2 UI). Taufik Djajadiningrat. yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). Namun diantara ketiganya. ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam. Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara. yaitu masa kerajaan Sunda. Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya. Sejarah dan Silsilah 36 . seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah. Sebagai subkultur kekerasan. menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural. Penafsiran Sejarah Istilah Jawara Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat. mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten. Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. Berbeda dengan kedudukan ulama. Dari stamboom yang ada. dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. sebagai ³negeri para ulama dan jawara´. bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya. yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. Seiring dengan perjalanan waktu. Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang. jawara dianggap sebagai ³khodam´ nya para ulama. Karena dari para ulamalah sebagian besar ³keilmuan´ jawara itu berasal. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap eksis. keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. Oleh karena itu. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. pamong praja dan jawara merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya.Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan Banten khususnya. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi. Belakangan. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat ³stamboom´ bukan ³geschiedenis´ atau ³history´. kesultanan Banten. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas.

tetapi juga membela dan melindunginya. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . yang bermakna harfiah sebagai ³bayi yang menjelang dewasa´. Putman Craemer. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki tangannya. dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu ³kadugalan´ yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang. apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat.G. Residen Banten (1925-1931). Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat. sampaisampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. 37 . Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban. Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak. memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat. ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin.S menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. Penafsiran keempat. Dalamperkembangan selanjutnya. seperti jago dalam menyabung ayam. Pada perkembangannya. istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. F. Penafsiran ketiga. dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. militan dan mampu mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. S. 1995 : 121-122). Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka.Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat. Miftahul Falah. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya. kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. Penafsiran kedua. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane.

baik semasa kerajaan Sunda. woelingen (kekacauan). Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat. Seiring dengan perkembangan waktu. complot (komplotan). Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial. Pada umumnya. yang merupakan akronim dari jalma wani nga-rampog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong (jalma wani nga-rahul). Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. Terminologi Jawara. 38 . Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan. Jawara yang merasa citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda. dan Preman Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. Berbeda dengan Jagoan. dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. dan perampok.Penafsiran kelima. kata ini berasal dari kata dasar ³jago´ yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya ³champion´ atau juara (Ridwan Saidi. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan permasalahan. dan onrust (ketidak amanan). pengacau. Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20. maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa. terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. dikenal dengan peristiwa Perang Pertama. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar. ongergeldheden (pemberontakan). Selain itu. mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. jawara sangat patuh kepada ulama. Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara. istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat. Berbeda dengan perampok atau pencuri. karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok ³kejawaraan´ nya itu sendiri. namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah ³potong letter´ lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri ³maenpukulan´ atau pencak silat. Jagoan. sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. kesultanan Banten. berusaha mengcounter dengan istilah jalma jago nu wani ramah (orang yang jagoan berani dan ramah). Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan. Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama. yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran). tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif.

non pemerintah. Jakarta1995 Ridwan Saidi. bukan tentara. Disisi lain menurut tradisi lisan. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman. Cerita ini merupakan bukti bahwa sistem perdagangan zaman kesultanan tidak dapat diremehkan. tukang pukul dan pemberani. fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya.S. BP Jakarta 1996 Miftahul Falah. Tesis S2 UI. Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda. STAIN Serang. Bahkan banyak pula melakukan manuver-manuver dalam sistem perdagangan. kepada bupati Serang Mas Ahmad Sampurna dipendopo kabupaten Serang beberapa tahun yang lalu. Lalu bagaimana dengan preman?. Secara hirarki. Jakarta1995 Tasbih & Golok. swasta. hendaknya kita masih dapat membedakan makna. Vrijman yang bermakna ³orang bebas´ atau dalam bahasa Inggris disebut free man. partikelir. Dari tiga terminologi di atas. ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat. Taufik Djajadiningrat. Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten. Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten. juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya. Glosari Betawi. seperti yang tersirat dalam buku berjudul ³The Sultanate of Banten´ secara resmi diserahkan oleh Duta Besar Perancis Patrick O¶Cornesse. 2002 Kota Banten. kuli yang bekerja menggarap sawah. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. 39 . yaitu: 1. karena dalam persaingan perdagangan internasional. hal ini yang membuat cemas bangsa Eropa. 2. sipil. S. sudah menjalin hubungan perdagangan dengan bangsa Eropa dan Asia disekitarnya. Amsterdam di Hindia Belanda Banten menurut data historis dan arkeologis kira-kira pada 450 tahun yang lalu. Terlebih dalam kemapuan berpolitik. Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak. orang yang kuat. jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. Jakarta 2007 RM. pada saat zaman Sultan Maulana Yusuf yang dikenal dengan julukan Penembahan Pakalangan yaitu sekitar tahun 1570. jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan ³tukang pukul´ dan seorang yang suka berkelahi. Sumber tulisan: Atu Karomah. Banten merupakan pesaing yang cukup disegani oleh bangsa Eropa pada masa itu.Glosari Betawi: 43).

Sebelum Banten menjadi Kota Muslim. beliau mencari hasil bumi terutama LADA dan beliau berucap bahwa Kota Banten ini hampir sama dengan Kota Rouen di negerinya yang ramai dengan para pedang. mengagumi Banten dan menjadikannya satu pelabuhan kosmopolitan besar pada abad 17. Portugis segera menjalin perdagangan dengan Makasar dan Banten. pasar dan juga masjid besar.Buku dalam bahasa Inggris dengan kata pengantar oleh Menteri Pendidikan pada saat itu dijabat bapak Fuad Hasan. penelitian ini berlangsung hingga tahun 1987. terutama kesultanan Banten yang telah terkubur dalam tanah dan dalam arsiparsip yang ada di Eropa. saat itu Banten masih dibawah Kerajaan Pajajaran yang beragama Hindu. Selain Malaka. Para sultan mengadakan tindakan pengetatan pada hasil produksi lada di Banten. Banten Sadar pentingnya armada dagang untuk menguasai dan mempertahankan industri lada. isi dari buku ini merupakan hasil dari para peneliti yang bekerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Prancis dengan sasaran penelitian adalah untuk merawat dan merestorasikan kerajaan serta kesultanan Banten. Begitu pula penduduk di daerah Sumatera diwajibkan untuk menanam 500 pohon lada dan hasilnya dikirimkan ke Kota Banten. untuk diolah dengan standar mutu tinggi. Kedua raksasa Eropa ini terlibat pertempuran untuk merebutkan pasar dan pusat produksi lada. juga berkembang menjadi satu kota muslim yang bersaing dengan negara-negara Arab dalam memiliki istana. Perancis atau bangsa Eropa lainnya. Perdagangan lada di Banten sangat ramai karena mutu jenis lada di Banten lebih baik dibadingkan mutu lada dari Malabar dan Aceh. Dengan tidakan ini bangsa Eropa menilai Banten sudah menjadi Imperium Lada. Banten bertambah penting posisinya sebagai kota perdagangan internasional setelah Malaka jatuh ketangan Portugis. Karena dilihat dari sarana dan pra sarana sejak dulu seperti Pelabuhan Karangantu yang menarik para pedagang Eropa dan Asia. dikenal sebagai kota metropolitan sekaligus kota yang produktif. Perdagangan lada ini begitu ramai dan menguntungkan. Pada tahun 1522 Protugis mengadakan perjanjian dagang dengan para pengusaha Banten. Malaka akhirnya jatuh ketangan Belanda pada tahun 1641. dengan cara menginstruksikan semua penduduk di pedalaman ataupun di kota untuk membawa hasil lada mereka ke Kota Banten. Di Banten pusat industri untuk produksi lada adalah di Kampung Pamarican yang masih dikenal hingga kini. Menurut Dubes O¶Cornesse. khususnya Belanda dan Portugis. kemasyurannya tetap tersimpan dalam kenangan bangsa perancis kata O¶Cornesse. Lada ini lah yang sangat di gemari oleh bangsa Eropa termasuk bangsa Sepanyol yang mengintruksikan Magellan dan Portugal untuk mencari lada di Banten pada tahun 1519. Kota Banten. sekaligus berdagang langsung dengan Bangsa Eropa dan Asia lainnya. Banten terkenal dalam perdagangan Ladanya yang menjadi daya tarik bangsa Eropa. Banten di masa itu merupakan pusat peniagaan dunia. atau Bantahan menurut sebutan negara Barat. sebelum melakukan petualangannya untuk mengelilingi dunia. sama pula yang diungkapkan oleh Vincent Leblanc asal Perancis waktu tiba di Banten pada abad 16. kota Banten Lama yang didirikan 1526 dipesisir utara Jawa Barat (sekarang Provinsi Banten). sehingga para sultan Banten mengambil strategi untuk mengendalikan sepenuhnya komoditi tersebut. penelitian tersebut bertujuan untuk mengangkat kembali kebesaran masa silam bangsa indonesia. Akhirnya pada tahun 1660-an Sultan Haji memerintahkan 40 . Menurut catatan sejarah kesultanan Banten pada tahun 1527 berkembang menjadi pusat perdagangan. terutama pada 1570 samapi abad 19. Menurut Cornelis de Houtman asal Belanda pada tahun 1596 Banten disebut Kota Pelabuhan dan Perdagangan yang sama besar dengan Kota di Amsterdam saat itu. Banten menjadi pusat persaingan dan perebutan kongsi perdagangan Eropa.

Kesultanan Banten memasuki persaingan perdagangan lada internasional yang sangat ramai pada kurun waktu antara tahun 1651 dan tahun 1672 sampai VOC (Belanda) merebut Banten pada tahun 1682. Syarif Makkah saat itu.1650 Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680 Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 .1687 Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690) Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733) Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752) Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750) Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753) Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773) Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799) Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801) Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802) Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803) Aliyuddin II (1803-1808) Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809) Muhammad Syafiuddin (1809-1813) Muhammad Rafiuddin (1813-1820) 41 .1580 Maulana Muhammad 1585 . dan bangsa Inggris dipercaya untuk membangun armada tersebut. Siam. Dalam peta ini digambarkan tentang jalur pelayaran dari Eropa ke Cina dengan melalui: India.1570 Maulana Yusuf 1570 . kemudian menyusuri pantai barat Sumatra. 1978: 21-38). Pulau Panaitan.) Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad 1640 . Taiwan dan Jepang. Dengan armadanya yang kuat akhirnya Banten mampu berdagang langsung dengan Mekkah. India dan Cina adalah dengan diketemukannya peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus. Daftar pemimpin Kesultanan Banten y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y Sunan Gunung Jati Sultan Maulana Hasanudin 1552 . Selat Sunda. Vietnam. Kamboja. India.1590 Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 .14 SM) dan Plinius (akhir abad pertama masehi). Berita yang paling meyakinkan tentang hubungan Banten dengan Eropa. berdasarkan tulisan geograf Starbo (27 .pembangunan armada kapal dagangnya dengan model seperti kapal-kapal Eropa. ujung utara Sumatra. Peta ini dibuat pada tahun 165 M. saat kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa Abulfathi Abdul Fatah dan Sultan Haji Abunhasr Abdul Kahhar. Vietnam. terus melalui Laut Tiongkok Selatan sampai ke Cina (Yogaswara.1640 (dianugerahi gelar tersebut pada tahun 1048 H (1638) oleh Syarif Zaid.