SEJARAH BANTEN : KRONOLOGI WAKTU

130 M Berdiri Kerajaan Salakanagara (Negeri Perak)yang beribukota Rajatapura yang terletak di pesisir barat Pandeglang. Raja pertama Dewawarman I (130 ± 168 M) yang bergelar Aji Raksa Gapurasagara (Raja penguasa gerbang lautan) Daerah kekuasaannya meliputi : ‡ Kerajaan Agrabinta di Pulau Panaitan ‡ Kerajaan Agnynusa di Pulau Krakatau ‡ Dan daerah ujung selatan Sumatera 165 M Banten (Pulau Panaitan) masuk dalam peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus sebagai bagian dari jalur pelayaran dari Eropa menuju Cina dengan melalui India, Vietnam, ujung utara dan pesisir barat Sumatera, Pulau Panaitan, Selat Sunda, terus melalui Laut Cina Selatan sampai ke Daratan Cina. Abad 5 M Prasasti Munjul yang diperkirakan berasal dari abad ke V masehi ditemukan di Sungai Cidangiang, Lebak Munjul ± Pandeglang. Prasasti berhurufkan palawa dengan bahasa sanksekerta menyatakan bahwa raja yang berkuasa di kawasan tersebut adalah Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara. Dalam prasasti tersebut dituliskan juga bahwa negara pada saat itu berada dalam kemakmuran dan kejayaannya. Abad XII ± XV Banten menjadi pelabuhan dari Kerajaan Pajajaran. Abad XIV Ditemukan prasasti di Bogor, yang menyatakan Pakuan Pajajaran didirikan oleh Sri Sang Ratu Dewata, yang daerah kekuasaannya meliputi seluruh Banten, Kalapa (Jakarta), Bogor, sampai Cirebon. Abad XVI Awal abad ke XVI, Banten dibawah pemerintahan Prabu Pucuk Umun (Dalam Babad Cibeber disebut juga sebagai Ratu Ajar Domas). Pusat pemerintahannya terletak di Banten Girang, yang dihubungkan dengan pelabuhan Banten melalui Sungai Cibanten, dan melalui Klapadua sebagai jalur darat. 1513 M Tome Pires, pelaut Portugis, memberitakan bahwa pelabuhan Banten merupakan pelabuhan kedua terbesar setelah Kalapa. Telah terjadi hubungan perniagaan dengan Sumatera dan Maladewa, dan pelabuhan Banten merupakan pengekspor beras, bahan makanan dan lada. Pada masa ini, diberitakan juga sudah banyak dijumpai orang Islam di daerah Cimanuk, dan kota kota pelabuhan seperti Kalapa dan Banten. 1511-21 M Tanggal 5 Agustus 1511 M, Bangsa Portugis menguasai Malaka dan disusul dengan takluknya Samudera Pasai pada tahun 1521 M. Selain untuk kekuasaan dan kekayaan, bangsa Portugis juga dibebani misi untuk menghancurkan agama Islam. Dengan menguasai Malaka, bangsa Portugis memonopoli perdagangan rempah rempah di Asia Tenggara, dan memberlakukan peraturan peraturan yang memberatkan bagi para pedagang terutama yang beragama Islam. Kondisi ini membuat pedagang pedagang dari Arab, Parsi, Cina, dan bangsa lain enggan untuk berniaga ke Malaka dan mengalihkannya ke Aceh, Banten, Cirebon, dan Demak. Keadaan ini sangat menguntungkan bagi Pelabuhan Banten yang berkembang semakin pesat dan lama 1

kelamaan menjadi pusat penyebaran agama Islam di bagian barat pulau Jawa. 1521 M Dengan semakin berkembang pesatnya kekuatan Islam di barat dan timur, timbul kekhawatiran raja Pajajaran akan semakin terdesaknya agama Hindu selaku agama resmi kerajaan dan juga lunturnya kekuasaan di di daerah pantai. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata) melakukan : ‡ Pembatasan pedagang pedagang yang beragama Islam mengunjungi pelabuhan pelabuhan yang berada di bawah kekuasaan Pajajaran. ‡ Menjalin hubungan persahabatan dan kerjasama dengan bangsa Portugis di Malaka, agar dapat membantu Pajajaran bila diserang Kerajaan Demak, dengan mengutus putera mahkota Pajajaran Ratu Sangiang atau Surawisesa ke Malaka. 1522 M 21 Agustus 1522 M, Henrique Leme, utusan Gubernur Malaka, menandatangani perjanjian dengan raja Pajajaran, Pangeran Surawisesa, pengganti Sri Baduga Maharaja. Perjanjian tersebut berisi antara lain : ‡ Portugis dapat mendirikan benteng di pelabuhan Sunda Kelapa ‡ Raja Pajajaran akan memberikan lada sebanyak yang diperlukan Portugis sebagai penukaran barang barang kebutuhan Pajajaran. ‡ Portugis bersedia membantu Pajajaran apabila diserang Demak atau kerajaan lainnya. ‡ Sebagai tanda persahabatan, Pajajaran akan memberikan hadiah 1000 karung lada setiap tahunnya kepada Portugis. 1525 M Pasukan gabungan Demak dan Cirebon yang dipimpin Fatahillah, Pangeran Cirebon, Dipati Cangkuang, dan Dipati Keling, serta pasukan lokal di bawah pimpinan Hassanudin dapat menguasai Banten. Untuk menjaga stabilitas keamanan di Banten, Hassanudin kemudian diangkat menjadi Adipati Banten dengan pusat pemerintahan di Banten Girang. 1526 M Atas petunjuk dari Sunan Gunung Jati, ibukota Banten dipindahkan ke dekat pelabuhan Banten, yang kemudian disebut dengan Surosowan. Berdasarkan beberapa data, pemindahan ibukota ini dilakukan pada tanggal 1 Muharram 933 H yang bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1526 M. 1527 M Terdengar kabar, Portugis dengan armada dan persenjataan lengkap telah meninggalkan Malaka menuju Sunda Kelapa. Mendengar berita ini, Demak, Banten, dan Cirebon bergerak untuk menguasai Sunda Kelapa. Sunda Kelapa dapat dikuasai pada tahun 1527 M, dan Fatahillah diangkat untuk menjadi Adipati Sunda Kelapa. Sebagai tanda kemenangan, Sunda Kelapa diganti namanya menjadi Jayakarta, yang berarti Kota Kemenangan. Armada Portugis yang datang dari Malaka untuk melaksanakan perjanjian tahun 1522 M dengan Kerajaan Pajajaran tiba setelah Sunda Kelapa dikuasai pasukan Islam. Portugis yang dipimpin oleh Francisco de Sa melakukan perang terbuka di perairan Sunda Kelapa, dan setelah mendapat perlawanan hebat dari pasukan Islam, Portugis dapat diusir mundur dari Sunda Kelapa. Setelah Jayakarta berhasil diamankan dari serangan Portugis, Hassanudin dan Fatahillah bekerjasama menangani pembangunan di Banten dan Jayakarta. Hassanudin bertanggung jawab dalam masalah pengembangan wilayah dan pendidikan kemasyarakatan, sedangkan Fatahillah bertanggung jawab menangani keamanan dan pertahanan wilayah. Sehingga pada masa itu Islam menyebar dengan pesat 2

dan keamanan negara terjamin. Kedua penguasa di Jawa Barat memerintah atas nama Sultan Demak. 1552 M Kemajuan perkembangan Banten yang sangat pesat, menjadikan status Banten ditingkatkan dari Kadipaten menjadi Kerajaan. Hassanudin ditunjuk sebagai raja pertama. Dan pada tahun yang sama pula, Fatahillah (menantu dari Sunan Gunung Jati) diangkat menjadi raja di Cirebon, mewakili Sunan Gunung Jati, dikarenakan mangkatnya raja Cirebon, Pangeran Pasarean (putera Sunan Gunung Jati) di tahun tersebut. Untuk menjalankan tugas pemerintahan di Jayakarta diangkat Pangeran Bagus Angke, menantu Sultan Hassanudin. 1552-1570 M Masa Pemerintahan Sultan Maulana Hassanudin. Sultan Maulana Hassanudin memerintah sebagai raja pertama Kesultanan Banten dari tahun 1552 M hingga wafatnya di tahun 1570 M. Pada masa pemerintahannya, digambarkan kota Banten telah berkembang sangat pesat. Jumlah penduduk diperkirakan telah mencapai 70.000 jiwa. Terletak di pertengahan pesisir teluk Banten, Kota yang dikenal dengan nama Surosowan ini memiliki panjang 400 hingga 850 depa. Kota Banten dilewati sungai jernih yang dapat dilalui oleh kapal jung dan gale. Kota Banten dikelilingi benteng bata setebal tujuh telapak tangan. Bangunan bangunan pertahanan dua lantai terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan meriam. Di tengah kota terdapat alun alun yang digunakan untuk kegiatan ketentaraan, kesenian rakyat dan juga sebagai pasar di pagi hari. Istana raja terletak di sisi selatan alun alun, disampingnya dibangun bangunan datar yang ditinggikan dan diatapi yang disebut srimanganti, sebagai tempat raja bertatap muka dengan rakyat. Di sebelah barat alun alun dibangunlah Masjid Agung Banten. Sultan Hassanudin dalam usahanya membangun dan mengembangkan kota Banten lebih menitik beratkan pada pengembangan sektor perdagangan, disamping memperluas lahan pertanian dan perkebunan. Pada masa pemerintahannya, Banten telah menjadi pelabuhan utama di Nusantara, sebagai persinggahan utama dan penghubung pedagang pedagang dari Arab, Parsi, Cina, dengan kerajaan kerajaan di Nusantara. Cara jual beli saat itu, masih menggunakan sistem barter, dan juga sudah mulai digunakan mata uang sebagai alat tukar. Mata uang yang digunakan adalah Real Banten dan cash cina (caxa). Terjadinya krisis kepemimpinan di Kesultanan Demak pada tahun 1547-1568 M, mendorong Sultan Hassanudin untuk melepaskan diri dari Kesultanan Demak dan menjadikan Banten kerajaan yang berdiri sendiri. Saat itu, wilayah Kesultanan Banten telah meliputi Banten, Jayakarta, Kerawang, Lampung, Inderapura, sampai Solebar. Sultan Hassanudin wafat tahun 1570 M dan dimakamkan di samping Masjid Agung. Setelah wafatnya, Maulana Hassanudin dikenal dengan sebutan Sedakinking. Sebagai penggantinya, dinobatkanlah Pangeran Yusuf sebagai Raja Banten ke 2. 1570-1580 M Sultan Maulana Yusuf Pada masa kepemerintahan Sultan Maulana Yusuf, strategi pembangunan dititik beratkan pada pengembangan kota, keamanan wilayah, perdagangan dan pertanian. Pada saat itu, perdagangan sudah sangat maju sehingga Banten merupakan tempat penimbunan barang barang dari seluruh dunia yang nantinya akan disebarkan ke seluruh nusantara.

3

Dengan majunya perdagangan maritim di Banten, maka kota Surosowan dikembangkan menjadi kota pelabuhan terbesar di Jawa. Ramainya kota baru ini dengan penduduk pribumi maupun pendatang membuat diberlakukannya aturan penataan dan penempatan penduduk berdasarkan keahlian dan asal daerah penduduk. Perkampungan untuk orang asing biasanya ditempatkan di luar tembok kota, seperti Pekojan yang diperuntukan bagi pedagang muslim dari kawasan Arab ditempatkan di sebelah barat pasar Karangantu, Pecinan yang diperuntukan bagi pendatang dari Cina ditempatkan di sebelah barat Masjid Agung, di luar batas kota. Penataan pengelompokan pemukiman ini selain bertujuan untuk kerapian dan keserasian kota juga untuk kepentingan keamananan, dan merupakan upaya penyebaran dan perluasan kota. Selain penataan pemukiman, juga dilakukan perkuatan dan penebalan tembok keliling kota dan tembok benteng sekeliling istana. Tembok benteng diperkuat dengan lapisan luar yang terbuat dari bata dan batu karang dengan parit parit disekelilingnya. Perbaikan Masjid Agung juga dilakukan dan penambahan bangunan menara dengan bantuan Cek Ban Cut, arsitek muslim asal Mongolia. Untuk kepentingan irigasi bagi persawahan yang berada di sekitar kota dan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih bagi kota Surosowan, di buatlah danau buatan yang dinamakan Tasikardi. Air dari sungai Cibanten dialirkan melalui terusan khusus ke danau ini, yang kemudian disalurkan ke daerah daerah sekitar danau. Dengan melalui pipa pipa terakota, setelah diendapkan di Pengindelan Abang dan Pengindelan Putih, air yang sudah jernih dialirkan ke keraton dan tempat tempat lain di dalam kota. Di tengah danau buatan ini juga dibuat pulau kecil yang digunakan sebagai tempat rekreasi keluarga keraton. Sultan Maulana Yusuf wafat pada tahun 1580 M dan dimakamkan di Pakalangan Gede dekat kampung Kasunyatan sekarang, dan karenanya beroleh gelar Pangeran Panembahan Pakalangan Gede atau Pangeran Pasarean. Sebagai pengganti, diangkatlah putranya, Pangeran Muhammad yang pada waktu itu baru berusia 9 tahun. 1579 M Pasukan Banten di bawah pimpinan Sultan Maulana Yusuf berhasil merebut Pakuan, ibukota Kerajaan Pajajaran dan menguasai seluruh wilayah bekas kerajaan Pajajaran. Raja terakhir yang memerintah Kerajaan Pajajaran adalah Raga Mulya atau Prabu Surya Kencana, yang juga dijuluki Prabu Pucuk Umun atau Panembahan Pulosari, karena pada akhir masa kepemerintahannya berkedudukan di gunung Pulosari, Pandeglang. Benteng Pulosari dapat dikuasai oleh Sultan Maulana Yusuf pada tanggal 8 Mei 1579/11 Rabiul Awal 987 H. Setelah berhasil dikalahkan, seluruh punggawa kerajaan Pajajaran diislamkan dan dibiarkan kembali memangku jabatannya sehingga dapat menjamin stabilitas keamanan di seluruh wilayah Banten. 1580-1596 M Sultan Maulana Muhammad Kanjeng Ratu Banten Surosowan Keadaan Banten pada masa Sultan Maulana Muhammad dapat diketahui berdasarkan kesaksian Willem Lodewycksz yang mengikuti Cornelis de Houtman yang mendarat di pelabuhan Banten tahun 1596. Dari catatan mereka diketahui bahwa Kota Banten mempunyai tembok tembok yang lebarnya lebih dari depa orang dewasa dan terbuat dari bata merah. Diperkirakan besarnya sebesar kota Amsterdam tahun 1480 M dan orang dapat melayari seluruh kota Banten melalui banyak sungai. Setiap kapal asing yang hendak berlabuh di Bandar Banten diharuskan melalui semacam pintu gerbang dan membayar bea masuk. 4

Untuk kepentingan penyebaran agama Islam. yang memicu terjadinya perang saudara yang dikenal dengan nama Perang Pailir. yang bahkan Sultan sendiri tidak diperkenankan untuk ikut campur. sehingga tidak memiliki wibawa dan keputusannya lebih banyak tidak ditaati. perwalian dikembalikan ke ibunda sultan. Nyai Gede Wanagiri. perang yang dimulai akibat bujukan Pangeran Mas. Pada masa kepemimpinannya. saudara sultan lain ibu ini. Dengan cara demikian. Nyai Gede Wanagiri yang telah menikah kembali. yang terjadi di tahun 1608 ± 1609 M. Pangeran Ranamanggala adalah putra Maulana Yusuf. Mangkubumi yang baru ini. maupun pedagang dalam negeri. Sultan Maulana Muhammad wafat di usia 25 tahun. semenjak itu Banten menjadi aman kembali. Pada saat Mangkubumi Jayanegara wafat di tahun 1602 M. Sultan juga menjadi khatib dan imam untuk setiap shalat Jum¶at dan Hari Raya. yang ditunjuk sebagai penggantinya. Kekacauan di dalam negeri semakin membesar dan tidak dapat ditangani karena Mangkubumi lebih sibuk mengurus keributan yang ditimbulkan oleh pedagang Belanda dengan pedagang Inggris.Transaksi perdagangan di pasar ini berjalan mudah karena mata uang dan pertukaran mata uang (money changer) sudah dikenal. Sultan tertembak ketika memimpin pasukan dari kapal Indrajaladri di Sungai Musi. seorang tua yang lemah lembut dan luas pengalamannya dalam pemerintahan sebagai walinya. 1596-1651 M Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir Sultan Abul Mafakhir yang baru berusia lima bulan. Masa awal pemerintahan Sultan yang masih balita ini merupakan masa masa pahit dalam sejarah Kesultanan Banten karena banyaknya perpecahan dalam keluarga kerajaan. Puncak dari kekacauan itu adalah dibunuhnya Mangkubumi. Perang untuk memperebutkan tahta yang dilancarkan oleh Pangeran Kulon. keturunan dari Kerajaan Demak yang ingin menjadi Raja Palembang. yaitu Abul Mafakhir. Sultan Maulana Muhammad wafat pada tahun 1596 pada saat penyerangan ke Palembang. untuk tempat shalat perempuan disediakan tempat khusus yang disebut pawastren atau pawadonan. tindakan utama yang diambil adalah mengembalikan stabilitas keamanan Banten dan menegakan peraturan untuk kelancaran pemerintahan. Sultan meninggalkan putra yang baru berusia lima bulan. dengan berbagai kepentingan yang berbeda serta keinginan untuk merebut tahta kerajaan. Portugis. dapat dihentikan atas usaha Pangeran Jayakarta hingga dibuat perjanjian perdamaian antara semua pihak. Selama menjabat sebagai Mangkubumi. 5 . dalam kenyataannya banyak menerima suap dari pedagang asing. Maulana Muhammad terkenal sebagai orang yang saleh. dimakamkan di serambi Masjid Agung dan beroleh gelar Pangeran Seda ing Palembang atau Pangeran Seda ing Rana. untuk menjalankan roda pemerintahan maka ditunjuklah Mangkubumi Jayanegara. mendesak agar suami barunya ditunjuk sebagai Mangkubumi. Banten dapat terselamatkan dari kehancuran akibat rongrongan dari dalam amupun luar negeri. beliau banyak mengarang kitab agama Islam dan membangun masjid hingga ke pelosok negeri. Salah satunya adalah diangkatnya Pangeran Ranamanggala sebagai Mangkubumi dan wali dari sultan muda. Masjid Agung diperindah dengan melapisi dinding dengan keramik dan kolomnya dengan kayu cendana. saudara beda ibu dengan Sultan Maulana Muhammad.

land-. tetapi lebih mungkin karena keasyikan berkisah saja-ternyata banyak juga membicarakan hal-hal yang mestinya tidak boleh diketahui umum. yang menarik ialah ternyata setahun sebelum ia ³pulang negeri´. penerbit LP3ES. sedangkan umur Hindia Belanda hanya 142 tahun saja. Soalnya kedua naskah memorandum itu-entah sengaja. Akan tetapi. ulama.sebuah organisasi keilmuan yang tertua di negeri yang kemudian bernama Hindia Belanda ini. tidak lagi 372 orang. Peristiwa ini pun tak pula penting. Namun. Coba saja pikir pejabat yang bergelar Jonkheer ini antara lain mengusulkan agar VOC menurunkan tingkat administratif Banten hingga dengan begini jumlah tentara yang diperlukan cukup 185 orang saja. Akan tetapi. yang akan mau mengakui cara berpikir legalistik konyol ini. Kalaupun ingin berpikir secara legalistik yang kaku palingpaling hanya bisa ditambah empat tahun tambah beberapa bulan ± sejak menyerahnya Jepang hingga ³penyerahan kedaulatan´. Bukankah sudah umum juga diketahui bahwa salah satu sebab utama VOC dilebur dan daerah-daerah di Kepulauan Indonesia yang telah berada di bawah dominasi VOC dijadikan sebagai bagian dari sebuah negara kolonial yang disebut Hindia Belanda ialah karena VOC telah mengalami kebangkrutan? Tentu sekarang kita bisa berkata bahwa kalau dihitung-hitung umur VOC lebih panjang daripada Hindia Belanda. Soalnya Banten cukup dekat dari Batavia dan lagi ± dan ini rupanya penting juga ± ³kemiskinan sang raja telah meniadakan kemungkinannya untuk melakukan apapun´. raden mas Belanda ini sempat menyelesaikan dua memorandum panjang. jawara. Maka dengan pengurangan biaya ini kerugian finansial VOC bisa ditekan. Akan tetapi. Pulang kampung dan meletakkan jabatan bukanlah pula hal yang harus dibesar-besarkan. ia terpaksa meninggalkan jabatannya pada maskapai dagang Belanda yang semakin lama semakin berfungsi sebagai sebuah ³negara´ itu.Mangkubumi dalam menghadapi bangsa asing tidak berat sebelah atau memihak pihak manapun. yang masing-masing berjudul Berschijving van Banten en de Lampong (Uraian tentang Banten dan Lampung) dan Bedenkingen van den staat van Bantam (Pemikiran tentang Banten). Yang penting ialah Jonkheer Jan de Rovere van Breugel adalah seorang pejabat VOC di Banten. 6 . VOC sempat hidup sampai dua abad kurang dua tahun (1602-1800). Hal ini dilakukan agar pedagang dari Belanda tidak berniaga di Banten karena perilaku pedagang Belanda yang kasar dan mau mencampuri urusan pemerintahan dan dalam negeri Banten. Melihat namanya ia rupanya seorang bangsawan. tetapi biarlah kebangsawanan ini sebagai tambahan pengetahuan saja. terbitan KITLV). Pada pengantar dari memorandum yang telah diperpendek itu. Disarikan dari Buku BANTEN DALAM PERGUMULAN SEJARAH: sultan. Jadi rahasia dari masa-masa akhir hidup VOC termuat juga dalam naskah ini. sebuah majalah yang sampai sekarang masih terbit bahkan telah semakin bersifat internasional.en volkenkunde (biasa dipendekkan dengan BKI saja. rencana penerbitan ini dibatalkan karena Gubernur Jenderal Alting menasehati sang pengarang agar mau mengurungkan niatnya. barulah pada tahun 1857 ± hampir enam dasawarsa kemudian ± ringkasan dari kedua memorandum panjang ini diterbitkan dalam majalah Bijdragen tot Taal-. Pada tahun 1788. redaksi majalah mengatakan bahwa sebenarnya naskah lengkap dari sang bangsawan lokal ini akan diterbitkan oleh Bataviaasch Genootschaap. entah tidak. karangan Nina H Lubis. Beberapa kebijakan penting yang diambil : ‡ Penghapusan keharusan bagi pedagang Cina untuk menjual lada kepada pedagang Belanda ‡ Penetapan pajak ekspor lada dan pajak impor bagi barang barang yang sebelumnya tidak terkena pajak ‡ Pemberlakuan pajak yang lebih tinggi bagi pedagang dari Belanda.

Ia pun ³berbaik hati´ juga mengikhtisarkan lagi ikhtisar naskah sang Jonkheer. tentu bisa juga dimaklumi kalau dalam melihat dan mengamati masyarakat Banten ia tak bisa melepaskan landasan penilaian yang bercorak Belanda. Policy apalagi yang akan dijalankan berdasarkan memorandum itu? Bisalah pula dipahami bahwa barulah ketika Ann Kumar. Dalam tulisannya tampak pula bahwa ia adalah seorang pengamat situasi sosial yang cukup jeli juga. tetapi ia dapat saja bercerita tentang apa saja yang kebetulan dilihat dan diamatinya. sayang juga ketika akhirnya diterbitkan tulisannya hanya bermanfaat sebagai salah satu sumber sejarah saja. jika saja usul-usulnya bisa dipertimbangkan untuk dilaksanakan. Pertunangan ini bisa juga dibatalkan. tetapi ternyata hampir tidak ada aspek kehidupan dan dinamika ekonomi-politik yang tidak dibicarakannya. Politik ini bukan saja dengan ekstrem mengeksploitasi anak negeri dan menjadikan mereka terpaku pada desa masing-masing. sejarawan Australia yang ahli Jawa. hasil bumi dan perdagangan serta hal-hal lain lagi. yang jelas tulisan Jonkheer de Rovere van Breugel boleh dikatakan bercorak ensiklopedis tentang Banten. Dalam memorandum ini. Meskipun ia sangat menaruh perhatian pada sumber-sumber ekonomis Banten dan Lampung. membiarkan saja perdagangan dikuasai para pendatang yang disebut ³Orang dagang´ . Ia berbicara tentang wilayah dan kota. laki-laki Banten itu. tetapi kali ini dalam bahasa Inggris. 1997) ia merasa perlu menjadikan tulisan dari van Breugel ini sebagai bahan kajiannya. Anakanak umur delapan atau sepuluh telah dipertunangkan. meskipun mereka masih tinggal di rumah orang tua. penduduk dan adat. Bahkan. 7 . janganlah kaget kalau ia mengatakan bahwa menurut pengamatannya laki-laki Banten itu sesungguhnya pemalas. la mungkin tak bisa menerangkan mengapa ³itu harus begitu´ dan ³mengapa ini harus begini´. Mereka membiarkan saja para isteri mereka bekerja mengurus rumah tangga. Tampak sekali bahwa sang pengarang berharap agar memorandumnya ini bisa mempengaruhi kebijakan politik kolonial yang dijalankan. tetapi juga serta merta mengikis tradisi maritim Jawa yang dinamis. yang jelas kedua naskah memorandum yang telah diperpendek itu diterbitkan ketika Pemerintah Hindia Belanda telah asyik dengan politik ³tanam paksa´ atau cultuurstelsel di Pulau Jawa. Namun demikian. tetapi akibatnya orangtua anak perempuan akan kehilangan pembayaran yang telah mereka lakukan. sebagaimana yang mungkin bisa dilakukan oleh ahli anthropologi modern. tetapi sudahlah. Dengan membaca ³ikhtisar dari ikhtisar´ ini kita mengetahui juga dasar keinginan van Breugel untuk menerbitkan kedua memorandumnya dan bisa pula memahami pertimbangan majalah BKI untuk menerbitkan ikhtisarnya sekian puluh tahun kemudian. katanya lagi. Soalnya ia sebenarnya melihat masa depan yang cerah juga bagi Banten. Akan tetapi. Karena itulah barangkali ikhtisar memorandum kurang begitu menarik perhatian. bangsawan). Maka. van Breugel membayangkan juga suatu saat Banten akan bisa bangkit lagi jika saja VOC menjalankan kebijakan yang baik. sudahlah. kalau saja pengamatannya tidak terlalu bias. meskipun Hindia Belanda telah berkuasa. Apalagi pada waktu diterbitkan. Hanya saja. menulis tentang hubungan Jawa dan Belanda (Java and Modern Europe. Mereka lebih sibuk minum-minum ± tentu saja bukan air ± makan-makan sirih dan menunggangnunggang kuda. tak perlu heran kalau masyarakat awam masih menyebut pemerintah kolonial Belanda ³kompeni´. Banten telah pula sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Belanda.siapa lagi selain kaum konservatif Belanda? Jadi. Kalau begini keadaannya nilai aktualitas dari memorandum itu telah membuyar. pemerintahan (raja.

katanya. yang disaksikan van Breugel. la juga bercerita tentang perdagangan candu yang dikuasai Letnan Cina dan berkisah pula tentang betapa maraknya penyelundupan barang haram ini. Ada tiga pasar di Banten. Orang Mandar. la menguraikan satu persatu komoditi ini. seperti menteri dan ³pendeta´ (maksudnya barangkali kadhi kerajaan) dan beberapa orang lain mempunyai rumah batu. Bagian yang terpenting dari memorandum ini ialah uraian tentang komoditi perdagangan dari Banten dan Lampung: lada. Kalau saja interpretasi sosial boleh diberikan terhadap uraiannya ini maka bisalah dikatakan bahwa masyarakat Banten. sangat dipengaruhi oleh ³paus-paus orang asing´ (maksudnya tentu saja ulama-ulama dari negeri lain). Sultan asyik dengan segala macam kemewahan. gula.Pesta perkawinan diadakan di rumah penganten perempuan. (Belanda abad ke-18 sangat anti-Katholik rupanya). ia mengatakan bahwa orang Banten itu beragama Islam tetapi orang Lampung menganut kepercayaan yang merupakan percampuran ³ajaran Muhammad´ dengan sistem kepercayaan yang masih kafir. yang menurut van Breugel. kayu sandalwood. yaitu Karang Antu. hanya sebagian kecil saja memakai bingkai kayu. Akan tetapi. kata van Breugel. kelapa. sebab ia bisa juga berbicara agak panjang lebar tentang situasi dari upacara perkawinan itu. Sang pejabat yang bangsawan ini rupanya pernah juga beberapa kali menghadiri upacara pernikahan orang Banten. bukan saja di kalangan kraton. Orang Cina tinggal di dua kampung yang dipenuhi oleh rumah tembok batu juga. Orang Banten mempunyai hukum juga. yang diperkuat dengan 58 meriam. sedang berada dalam situasi kemelut yang parah juga. la menguraikannya mulai dari tempat tumbuh dan cara pemeliharaan sampai dengan prospek perdagangannya. Perbentengan telah hancur dan di atas runtuhan itu rumah-rumah baru didirikan karena jumlahnya cukup banyak inilah Banten. tetapi untuk pertahanan istana yang dikelilingi benteng ini tak ada artinya apa-apa. biasanya buah-buahan. sedangkan para pejabat negara. ndigo. pinang. Tentang agama. ³masih bisa disebut kota´. bagaimanakah keadaan ibu kota Banten? Kalau tentang desa ia mengatakan bahwa desa orang Banten sangat tak beraturan. Mereka semakin berpengaruh saja di kalangan masyarakat Banten. Ketika menyebut ³paus´ ini van Breugel sama saja dengan para penulis Belanda lain. tetapi. pencurian dibayar dengan penjara atau perbudakan yang kadang-kadang bisa sebagai hukuman bagi hutang yang tak dibayar. Kata ³paus´ adalah sebutan ejekan bagi ulama. Cerita yang mengasyikkan juga ialah tentang bajak laut. Di sekeliling benteng itu ada perumahan VOC. katanya. artinya mereka sering berhasil mengelakkan monopoli VOC. ia melukiskan tentang dindingdinding yang dulu pernah mengitari ibu kota sekarang telah hancur lebur berantakan. Rumah-rumah umumnya terbuat dari bambu. Tentang usaha pemberantasan perompakan ia mengusulkan agar kekuatan armada Banten diperkuat. pada umumnya mereka lebih suka mengikuti hukum alam saja ² darah dibayar dengan darah. Van Breugel jengkel juga karena ia melihat sang Sultan tidak menaruh hormat lagi pada VOC. dan sebuah pasar baru. padahal 8 . dan digabung lagi ³dengan takhyul yang paling bodoh´. Istana raja dikelilingi benteng berbentuk setengah bulan. adalah yang paling aktif dalam penyelundupan. umpamanya dengan memberi bantuan mesiu. dan sebagainya. Bukan itu saja. Tumanggung. tidak lagi seperti dulu ketika Banten masih megah. semua pasar itu mengalami kemunduran . sedangkan tentang ibu kota. Raja yang memerintah pada waktu itu ialah Sultan Abul Nazar Muhammad. menurut pengamatannya. Akan tetapi. sedangkan tamu-tamu datang dengan membawa hadiah. beras. kopi.

perjalanan waktu dijadikan tak berfungsi dalam kesadaran. Bahkan asal usul berdirinya kerajaan pun masih segar dalam ingatan kolektif anak negeri. Kesedihan sang pangeran tua ini tentang kemerosotan negerinya tentu bisa dimaklumi. maka tarikan masa lalu yang telah dirasakan sebagai ³masa depan´ itu semakin keras dan menggetarkan juga. mendirikan Banten.kesultanan telah jatuh miskin. berhasil menaklukkan Malaka. Bilamana situasi kesekarangan telah dirasakan semakin mencekam bagaimanakah ingatan akan masa lalu yang telah lewat itu akan hilang begitu saja? Bukankah nostalgia kultural itu sesungguhnya tidak lain daripada perlawanan terhadap tirani sang waktu? Dengan bernostagia. maka masa lalu tiba-tiba bisa saja berubah menjadi ³masa depan´ yang harus dirangkul dengan segera. Janganlah pula heran bilamana kepedihan masa kini telah semakin keras dirasakan. Alfonso d¶Albuquerque. Paman raja. Awal abad ke-16 adalah masa yang kritis bagi perairan Asia Tenggara. Sebenarnya Sultan ini seorang yang baik hati. tetapi muncul sebagai akibat dari ekspansi kekuasaan dari luar. yang terletak di ujung Barat Pulau Jawa. Ternyata ini adalah sebuah keputusan politik yang sangat tepat. Pengawas gudang lada sang raja ialah seorang yang bernama Kiai Aria Astradinata. sayang ia tidak mempunyai penasehat yang baik. Ketika Van Breugel menulis tentang Pangeran Raja Kusuma ini ia mungkin merasa simpati juga. panglima Portugis yang ingin melumpuhkan Mekah dan Constatinopel ± dua pusat kekuasaan dan agama Islam. tentu bisa diduga. Pada umumnya para bangsawan ini sudah cukup puas dengan tempat tinggal yang menyenangkan. la memperhitungkan bahwa dengan jatuhnya Malaka. maka berarti leher dari 9 . Akibatnya. tetapi pengetahuan akan masa gemilang yang telah hilang itu tak begitu saja terpupus dalam ingatan kolektif Banten. Jabatan sebagai kepala gudang ini dianggap sebagai sesuatu yang turun temurun. kata van Breugel. tetapi ia tampaknya agak serakah. Asal-usul Banten sebagai sebuah kerajaan Islam agak unik juga. la adalah anak seorang tukang batu Cina yang telah disunat (maksudnya tentu saja. telah masuk Islam). tentu saja tidak mengalami secara langsung masa ketika Banten adalah kerajaan yang makmur dan disegani dan merupakan salah satu kerajaan yang terkuat di Kepulauan Nusantara ini. Sultan berhutang ke kiri dan ke kanan. Sunan Gunung Jati meninggalkan putranya sebagai penguasa Banten yang pertama. Ketika perasaan kerinduan ini telah semakin mencekam. perahu-kesenangan. Ketika kemudian Cirebon melepaskan perwaliannya atas wilayah di ujung Barat Pulau Jawa (1552) kesultanan Banten pun resmi berdiri dan Pangeran Adipati Hasanuddin pun menjadi Sultan Hasanuddin. maka ³terjadilah apa yang harus terjadi´. Kita pun berhadapan dengan salah satu irama yang hampir menetap dari sejarah Banten setelah kejayaan kerajaan telah terlepas dari tangan. Ia bisa juga merasakan apa artinya hidup ketika kejayaan lama hanya tinggal kenangan belaka. Kerajaan ini tidak bermula dari tumbuhnya dan membesarnya sebuah kekuasaan lokal. Pada tahun 1511. karena situasi kesekarangan telah sedemikian menista harga diri. Dalam usaha untuk meluaskan kekuasaan dan mengembangkan Islam. yang malah sibuk menghalangi mereka untuk berhubungan dengan orang Eropa. Ia telah tua dan uzur dan hanya menghabiskan waktunya untuk beribadah serta menangisi nasib tanah airnya yang hari demi hari dilanda kemerosotan. Sang Pangeran yang hidup pada abad ke-18. adalah seorang yang alim. sedangkan para bangsawan sangat tergantung kepada Sultan. Pangeran Raja Kusuma. Setelah itu. Sunan Gunung Jati. ulama -penguasa dari Cirebon dan salah seorang Wali Sanga. dan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. katanya. Kalau telah begini.

baik yang datang dari Eropa. Sudah pasti perkiraan jumlah penduduk itu tidak akurat. Tradisi sejarah Banten tidak bisa melupakan bahwa Maulana Jusuf tewas ketika ia ingin meluaskan pengaruh dan kekuasaan kesultanan Banten ke Palembang. tetapi dengan memakaikan keuntungan dari tinjauan ke belakang (atau historical hindsight. apalagi Asia. Sebuah perkiraan pada tahun 1662 mengatakan bahwa penduduk Banten lebih dari 100 ribu. telah terbuka pula bagi para pelaut. tetapi dalam perbandingan perkiraan ini memperlihatkan bahwa Banten mempunyai penduduk yang terbesar di Nusantara. India (1498). Pada waktunya sebagian dari kota-dagang dan pelabuhan persinggahan bagi para pedagang Islam yang baru ini pun tumbuh sebagai pusat kekuasaan besar. mengirim barang ekspor. Saingannya hanya perkiraan jumlah penduduk Mataram pada tahun 1624. dan mengekspor barang imporhanya Aceh di Barat dan Makassar di Timur. Tetapi pada tahun 1696 telah turun menjadi 125 ribu. bahkan juga Denmark. Sementara itu di pedalaman Jawa. seperti Portugis. Penurunan jumlah penduduk yang drastis dari tahun 1682 -1696 tentu masuk akal juga. dan advonturir Eropa. sama sekali tidak menduga bahwa kejatuhan Malaka bukan saja menyebabkan Malaka menjadi sasaran penyerbuan dari kekuatan Islam di perairan Barat Indonesia. Tentang Banten laporan-laporan asing memperlihatkan bahwa antara tahun 1660-1690 terjadi fluktuasi yang hebat juga dari jumlah penduduk. Mataram pun tampil pula sebagai pemegang hegemoni di ³negara-negara kota´ di pantai Utara. yang memang telah berdatangan sejak awal abad Masehi. sosiologi dan sejarah Belanda yang terkemuka (yang sempat juga bekerja pada kantor Penasehat Bumiputra) sempat juga membuat teori bahwa penyebaran Islam di Kepulauan Indonesia ini tidak bisa dilepaskan dari apa yang disebutnya sebagai ³race with Christianity´ (perlombaan dengan Kristen). Maka sementara beberapa negara-kota di pantai Utara Jawa dan Johor. Dan sejak itu pula Banten semakin tampil sebagai entrepot yang terbesar di Pulau Jawa. serta Aceh-Darussalam. di tempat-tempat lain kota-kota dagang baru pun bermunculan pula. kata orang sana) kekalahan ini sesungguhnya bisa dilihat sebagai awal dari konsolidasi kekuasaan internal Banten. karena pada tahun 1682 itulah masa akhir kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. yang didorong oleh keuntungan dagang dan kekuasaan agama ini. Soalnya ialah setelah Vasco da Gama mendarat di Calicut. Saingan Banten di Nusantara sebagai entrepot pelabuhan yang menerima barang impor. apalagi setelah Portugis berhasil menaklukkan Malaka maka ³jalan ke Timur´ untuk mencari rempah-rempah dan menyebarkan agama. pedagang. Aceh-Darussalam serta Banten secara pelan tetapi pasti menjadi kerajaan Islam yang besar. Ketika inilah Makassar. Sejak itu sejarah Banten hanyalah berisikan kisah kemerosotan saja sampai akhirnya menjadi residentie Banten. Inggris. tetapi panglima Portugis. kemudian datang Belanda. Karena itu bisa jugalah dipahami kalau sumber-sumber tentang sejarah Banten selama abad ke-16 ± abad ke-17 sangat banyak juga. tetapi juga menyebabkan terjadinya pemencaran dari pusat-pusat perdagangan Islam. penginjil. Sejak akhir abad ke-16 dan akhir abad ke-17 boleh dikatakan sebagai the age of Islamic hegemony dalam sejarah Asia Tenggara. Karena itulah Schrieke. Pada waktu itu diperkirakan jumlah penduduk 800 ribu. Ukuran kebesaran enterpot ini bisa dilihat juga antara lain pada perkiraan jumlah penduduk yang diberikan oleh para pelapor asing. tetapi pada perkiraan pada tahun 1672 telah memperlihatkan lonjakan jumlah yang hebat.kedua pusat Islam itu telah bisa dicekik Portugis. Malaka adalah salah satu pusat perdagangan yang besar dunia pada abad ke-15. penerus dinasti Malaka. Spanyol. seorang ahli filologi Islam. Perairan Nusantara pun menjadi ranah persaingan dari segala bangsa. Ternate dan Tidore. sibuk berkali-kali menyerang Malaka. Sepuluh tahun kemudian 700 ribu. 10 .

menurut laporannya. Lodewijk. maka ia pun mengatakan bahwa orang Keling lebih suka mengadakan investasi dengan bunga. Jadi. Banten di abad ke-16 dan awal abad ke-17 adalah ³a land of opportunities´± negeri yang membuka semua kesempatan.Lodewijk tentu saja tidak mengatakannya dan ia pasti juga tidak tahu. tahun kedatangan Cornellis de Houtman ke Banten ini dijadikan sebagai masa awal dari penjajahan Belanda di Indonesia. kita pun ikut larut dalam pandangan sejarah yang bodoh dan sesat ini dengan mengatakan bahwa ³Indonesia 350 tahun berada di bawah kolonialisme Belanda. yang praktis merupakan pengimport tunggal tekstil dari anak benua India. Hanya saja dalam perbandingan ini sering terlupakan bahwa tumbuhnya Banten sebagai pusat kekuasaan dan dagang terjadi ketika Sultan Abdul Kadir (1596-1618) masih harus berada di bawah pewalian. Lodewijk juga bercerita tentang pedagang besar yang bernama Cheti Maluku yang berhubungan dagang dengan orang Belanda dan Inggris. seorang laki-laki yang menyamar. Ternyata orang Melayu. Ini pulalah salah satu sebab dari awal terjadinya Islamisasi di kawasan ini. tentu bisa diduga. Ini tentu adalah fakta sejarah biasa saja ± orang berdagang tentu mencari pusat kegiatannya ± tetapi sialnya dalam sejarah Indonesia yang diajarkan oleh para pejabat negara Indonesia yang merdeka.. kalau cerita dilanjutkan. Maka. menurut Lodewijk. mempunyai hobby yang sama pula. Aceh mempunyai empat orang sultanah yang memerintah berturut-turut di abad ke-17 (Sialnya. Salah satu hal yang dibandingkan itu ialah kenyataan bahwa Banten tidak pernah mempunyai penguasa perempuan. karena belum dewasa.Salah satu laporan yang menarik dibuat oleh orang Belanda. yang dengan kata lain. Masuk akal juga kalau Cornellis de Houtman. maklum para pejabat itu tidak bisa membedakan mana yang mitos dan mana yang sejarah. jika laporan Lodewijk ini benar. Atau kalau dengan istilah yang biasa dipakai sebagai cheti. Maka. pelopor Belanda ke Nusantara. mendarat di Banten dan kemudian menjadikan Banten sebagai pusat aktivitasnya. Orang Persia. Cornelis de Houtman. Sebagaimana kota pelabuhan lain Sjahbandar Banten juga orang asing. Selama lima tahun yang kritis (1600-1605) yang tampil sebagai tokoh utama ialah Nyai Gede Wanagiri. Kalau orang Gujarat. tentang Kojah Rayoan. tetapi peranan Arab sebagai pedagang di perairan Nusantara ini barangkali telah dimulai sejak abad ke-11 ketika Cina menutup pelabuhannya bagi pedagang asing. tetapi karena kearifannya sangat dihargai oleh semua (yang berkuasa) ia memerintah 11 . walaupun ia bukan berdarah kraton. seorang pelapor Inggris curiga juga.´ Dengan kata lain.. sama saja dengan ³konglomerat Melayu´ sekuler zaman sekarang ² pokoknya keuntungan masuk. Kalau cerita Lodewijk diteruskan.´ amun. tentu bisa disebut rentenir. janganjangan sultanah yang berada di belakang tirai ketika menerima perutusan Inggris. maka ia pun menjalankan semua kerja yang hina untuk menghidupi dirinya. Seorang pelapor Inggris (Scott) menyatakan kekagumannya ketika ia berkata bahwa ³perempuan tua ini menguasai para wali dan lain-lain. menjadi pedagang perantara. berdagang permata dan obat-obatan. kata Lodewijk. Tak lama kemudian Inggris. maka kita pun bisa juga mengatakan bahwa ajaran Islam tentang riba tidak masuk perhitungan para pedagang Melayu itu. la adalah sultanah yang terakhir). Dengan jelas sekali ia menggambarkan sifat internasional entrepot Banten. bisalah dikatakan bahwa kerap kali juga orang membandingkan Banten dengan Aceh. mereka pada umumnya adalah pelaut dan. ³ia tak punya apa-apa. yang datang ke Banten pada tahun 1596 bersama komandannya. miskin-miskin. dengan kata lain. seorang pedagang Turki yang kaya-raya. Antara lain ia bercerita tentang ³pembagian kerja´ dari anggota komunitas asing yang berada di Banten. juga menjadikan Banten sebagai pusat aktivitasnya di Nusantara. Orang Arab dan Pegu melakukan perdagangan laut yang sibuk membawa barang dari satu tempat ke tempat lain atau. biarlah hal ini tak dilanjutkan. Ketika ia sampai di Banten. la orang dari Keling.

hukum yang kehilangan peran. serta waktu. Kisahnya tentu saja berbeda-beda. ekonomi yang kehilangan gairah. dan aktivitas keagamaan menjadi pertanda dari kearifan Sultan. yang pertama Syahbandar Besar. Kalau De Breugel. memperlihatkan suasana yang lama. Tidak kurang pentingnya ialah suasana ini bukan saja mengundang kedatangan para pedagang dari segala penjuru dunia. Bahkan juga bisa ditukarkan dengan Riau-Johor abad ke-18. Suasana kemelut menjelang kejatuhan selalu membayangkan otoritas kekuasaan yang lemah. pemerintahan bisa dijalankan berdasarkan kearifan yang paling unggul. sebuah pulau kecil dekat Tanjung Pinang. sistem hukum berlaku baik. yaitu maritim dan agraris. Dengan pendekatan ideal type ² membuat bentukan analisis berdasarkan sifat kategori yang paling ekstrim. yang disebut historiografi tradisional itu. Aceh dan lain-lain memperlihatkan ciri-ciri yang khas maritim. untuk meninjau kerajaan-kerajaan di pantai Timur Tanah Semenanjung. baik sumber asing maupun sumber lokal. meskipun yang dikisahkan berbedabeda. yang dikirim Inggris. Dalam hal ini. Pulau Bintan. Makassar. nama orang dan bentuk peristiwa. yang memperkenalkan pendekatan sosiologi Max Weber untuk memahami sejarah.´ Maka begitulah kalau aturan main dalam pemerintahan telah cukup jelas. ³mempunyai dua hakim utama. tidak demikian halnya pada abad ke-17. masyarakat yang tak peduli. yang mempunyai jurisdiksi pada semua masalah perdata dan pidana. yang menghukum dengan berat kejahatan pencurian dan perzinaan.seakan-akan ia adalah satu-satunya ratu di negeri ini. membagi kerajaan di kepulauan Indonesia atas dua kategori.melaporkan bahwa Banten. 12 . sempat mengatakan bahwa orang Banten meskipun punya hukum tetapi lebih suka memakai hukum alam. Ketika itu kraton Banten praktis telah menjadi fiefdom VOC atau berada di bawah suzereniteit maskapai ± yang-bermain sebagai-negara ini dan harus pula membayar utang kepada VOC. Jadi masuk akal juga kalau van Leur. Ciri-ciri umum ialah persaingan dagang internasional yang meriah. Seorang pendeta dari Missions Etrangeyes. dan pandangan ke luar. serta keamanan yang tak terjamin. yang menulis memorandum pada tahun 1787. ilmu pengetahuan berkembang. yang tahu semua masalah perdagangan. Nada dari uraiannya hampir sama dengan gambaran para pelapor lain tentang kerajaan-kerajaan Nusantara yang sedang mengalami kemunduran. memberikan kesan yang tidak jauh berbeda.misi Katholik Prancis. kebudayaan dinamis. Bedanya hanyalah pada detail-detail sejarah ± nama tempat. Sedangkan laporan-laporan asing tentang Banten abad ke-16 dan abad ke-17 juga tak pula jauh bedanya dengan laporan tentang kerajaan maritim lain yang sedang berkembang. Banten. yang telah mendirikan dan menguasai Singapura.maka negara maritim berarti kegiatan dagang. karma telah membantunya menghadapi pemberontakan yang dipimpin Kiai Tapa (1750-52). Bahkan kisah yang ditulis Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Ada kerajaan yang telah mengalami krisis di abad ke-18 ± umumnya berada di pulau Jawa ± tetapi ada pula yang bare mengalaminya pada abad ke-19 ± umumnya di kerajaan-kerajaan di daerah lain (kecuali Maluku). tetapi juga para ulama. Jika saja nama-nama orang diganti dan nama-nama tempat ditukar pula maka uraian tentang Banten rasanya bisa saja dijadikan tentang Makassar dari abad yang sama. dan yang lain memakai nama Thiaria (Shari¶ah). raja yang bijaksana. tetapi suasana sosial-politik dan ekonomi memantulkan gambaran yang tak jauh berbeda.´ De Breugel menggambarkan suasana kemunduran dan kemelut. sebagaimana diuraikan oleh kitab Tufhat an Nafis. yang ditulis Raja Ali Haji dan ayahnya Raja Ahmad dari Pulau Penyengat.

Mataram tentu lebih suka mendapatkan upeti dari para bangsawan yang telah mendapat lungguh serta menyibukkan diri dengan penghalusan kebudayaan dan sistem status sosial. perang. siapa. Dengan segala ciri-ciri kerajaan maritim yang diperlihatkan Banten. bahkan kalau perlu ² bahkan biasa sekali-mereka pun ikut berdagang. Ia mengirimkan utusan diplomatik ke negeri-negeri Islam dan menyuruh anaknya naik haji sambil mengunjungi Turki. Setelah Sultan Ageng Tirtayasa (Abdulfattah) bisa dikalahkan. independensi Banten mulai setahap demi setahap digerogoti. akhirnya kolonialisme. dengan Banten. Sultan Haji.´ Penguasa maritim sejauh mungkin ingin mendapatkan keuntungan dari perdagangan laut. Akan tetapi. tumbuh. ketika penetrasi dan pengaruh kekuasaan asing telah semakin dirasakan. yang harus merasa takut dengan persaingan tuan. dominasi. Maka perbenturan antara Batavia. Di bawah sultan yang bijaksana inilah Banten mencapai tingkat kegemilangannya yang tertinggi. di mana.Sedangkan Mataram bersifat agraris ² keterikatan pada tanah. Seperti juga halnya dengan Mataram. sejarah berulang. yang mempunyai kemampuan teknologi persenjataan yang lebih canggih dan tentara yang telah mengalami suka-duka berbagai macam perang. hegemoni asing. Fakta bahwa Putra Mahkota bisa berkhianat pada ayahandanya serta-merta menyebabkan karisma tradisional yang dipegang kraton pun meluntur pula. bukan saja tertarik untuk mendatangi Banten. Syekh Jusuf al Makasari. Sejak itu sejarah Banten adalah rentetan dari kisah yang ³menunda kekalahan´ saja. memang tidak benar. Perang terjadi dan Banten kalah. tetapi mempunyai validitas relatif kalau yang ingin ditemukan ialah pola umum yang berlaku. maka kraton pun ada kalanya menjadi sasaran pemberontakan. sejarah Banten mungkin bisa juga dilihat sebagai sebuah gambaran umum dari ³lahir dan tumbangnya´ kekuasaan pribumi ² lahir. Sultan Haji memerintah. einmalig. Adapun yang khusus dan tak berulang ialah kenyataan bahwa ³Sultan Ageng Tirtayasa (siapa) yang melawan usaha penetrasi kekuasaan Belanda (apa) di Banten (di mana) pada tahun 1682 (bila). tentu mudah juga dipahami kalau di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683). Sistem itu ialah monopoli. Tetapi di saat ini pulalah VOC sedang berada pada tahap perkembangannya yang agresif dan sedang asyik memperkenalkan serta memaksakan sebuah sistem yang sama sekali tak dikenal oleh tradisi Nusantara yang bertolak dari pemikiran laut bebas (mare liberum). dan cenderung mempunyai pandangan ke dalam (inward looking). ³Tuan-tuan boleh berdagang di negeri saya tanpa bayar pajak. Peristiwa sejarah yang biasa dikatakan hanya sekali terjadi. yang lebih sibuk menjalin ikatan perdagangan terbuka. Kemudian hegemoni ini secara berangsur menjadi dominasi (mulai dari zaman Daendels) sampai akhirnya resmi berada di bawah kekuasaan langsung Hindia Belanda ² kesultanan telah dihapuskan. tetapi bisa merasakannya sebagai negeri sendiri. Ungkapan ini tidak benar kalau sejarah diartikan sebagai salinan yang murni dari ³apa. melawan monopoli. tetapi hegemoni telah berada di tangan VOC. sejarah Banten adalah sejarah tentang sebuah daerah di tanah air kita. seorang ulama besar yang berasal dari Makassar. sikap kultural yang konservatif. pertanian.´ sedangkan yang merupakan gejala umum itu ialah 13 . Benar. kalah. lebih dari itu sekadar kekalahan kejatuhan Sultan Ageng bermula dari pengkhianatan sang putra mahkota. berkembang menjadi pusat dagang. Konon Sultan Mataram pernah mengatakan pada utusan Belanda yang datang menghadap di kratonnya. tetapi dari sudut pandang lain. sebab saya bukan pedagang seperti penguasa Banten dan Surabaya. Jika diartikan secara harfiah ungkapan Prancis l¶histoire se repete. itu sesungguhnya mempunyai unsur yang ³khusus´ dan ³umum´. dan bila´.

dengan memakai pendekatan yang bercorak multidimensional. Onno Zwiervan Haren menulis sebuah drama yang mencekam dengan judul Agon Sulthan van Bantham . pendekar yang selalu siap membela untuk sesuatu yang dianggap benar. Sejak kejatuhan kesultanan hampir tidak ada lagi satu peristiwa di Banten yang bukan dimotori oleh ulama dan jawara. kolonialisme mempunyai kemungkinan untuk menciptakan mental dependensi (terhadap orang asing) dan kesadaran hirarki sosial yang hegemonik (terhadap sesama anak negeri). Pemberontakan Cilegon sebenarnya memperlihatkan hal lain lagi. Sejak resmi menjadi salah satu karesidenan yang berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda. yang menerbitkan buku-buku di pusat-pusat pengetahuan dunia Islam. Sejarah politik dengan peristiwa besar dan orang besar kini telah didampingi oleh studi yang semakin mendekati pada denyut sejarah sesungguhnya-manusia dengan segala keresahan dan harapannya pada tingkat yang paling intim. Di satu pihak. Maka dengan begini sebuah alternatif dalam penulisan sejarah diperkenalkan. sifat eksploitatif dari kolonialisme kemudian bisa juga menjadi landasan dari terwujudnya rasa kesamaan sejarah dan nasib yang bersifat translokal. yaitu desa. di pihak lain. Akan tetapi. ³nasionalisme lokal´ yang kental. Kecenderungan umum ini terjadi di manamana. dengan aktor-aktor ³orang kecil´. Drama ini berkisah tentang bantuan militer Belanda pada anak Sultan Ageng yang durhaka. seperti tampilnya ulama besar Syekh Nawawi al Bantani. Banten pun dikenal pula sebagai negeri ´ ulama dan jawara ³. Dengan buku untuk pertama kali seorang sejarawan Indonesia tampil ke depan dengan menyoroti sebuah ³peristiwa kecil´. Banten. Max Havelaay. Dan kemudian. kerajaan yang pernah disegani di perairan Nusantara. ketika itu pula para ulama semakin tampil sebagai pemimpin lokal. tetapi pada umumnya tidak lagi berperan apa-apa yang penting. Ketika kesultanan telah mengalami proses pelemahan dan kemudian malah dihapuskan dan di saat kedudukan bangsawan semakin terjepit. 14 . Maka bisalah dimaklumi kalau Aceh kadang-kadang disebut sebagai negeri ³uleebalang dan ulama´. Begitulah umpamanya. Mereka adalah para jawara. yang berkisah tentang penderitaan rakyat dan ketidakberdayaan pejabat yang bermaksud baik? Kolonialisme adalah hubungan internasional yang bercorak subordinatif dan eksploitatif mempunyai akibat sosial yang penting. ulama lokal dan petani. Di samping mempunyai pengaruh terhadap sejarah pergerakan kebangsaan. siapakah yang bisa melupakan karya Multatuli. Banten . setidaknya begitulah yang terjadi pada struktur kesadaran yang dipantulkan oleh satu-dua pejabat Belanda. seakan-akan diharuskan untuk menjadi daerahsampingan saja. Kadang-kadang orang dikejutkan oleh tampilnya hal yang perlu dicatat. dan keterikatan pada norma keagamaan. yaitu semangat independen. Nasionalisme yang kolonial pun tumbuh juga. Meskipun dengan memakai konsep pola umum ini Banten unik juga-jika bukan dalam corak peristiwa yang dialaminya. meskipun dalam waktu atau abad yang berbeda-beda. Pada gilirannya kesadaran ini memberi akibat juga pada cara sebuah bangsa yang sedang berada dalam proses pembentukannya untuk melihat sejarahnya. Ketika Sartono Kartodirdjo (sekarang Prof Dr) menyampaikan disertasinya tentang pemberontakan Cilegon 1888 di Universitas Amsterdam (1966) maka lembaran baru sejarah penulisan sejarah Indonesia pun dibuka.kecenderungan bahwa ³raja adalah lembaga yang pertama yang melawan usaha penetrasi Belanda´. di masa krisis politik yang berkepanjangan ini ketika ³hukum alam´ (sebagai kata van Breugel) lebih penting dari ketentuan hukum yang berlaku golongan baru pun semakin menampakkan dirinya. Banten yang telah kehilangan kesultanan ternyata tidak kehilangan beberapa hal yang fundamental. Banten mempunyai tempat khusus juga dalam perkembangan historiografi Indonesia.

pensiunan patih Serang. 15 . Fiqh dan Tasawuf merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam ajaran Islam dan harus dipraktekan dalam setiap kegiatan sehari-hari. yang pernah belajar di Mekkah pada Syekh Nawawi al-Bantani. Haji Abdul Karim mendirikan pesantren di Tanahara. kemudian mengajar di pesantrennya di Kampung Beji. Cilegon. Kegiatan pengajian Kiayi ini semakin berkembang terutama setelah ia kembali dari Mekkah tahun 1872. di samping dari Banten. para tokoh itu dengan mudah melancarkan taktik perjuangan menentang pemerintahan kolonial.A. Khawatir akan terjadi huru-hara. Sebagai ganti pimpinan pesantren dipercayakan kepada muridnya. pemerintah kolonial minta supaya Kiyai Haji Abdul Karim berangkat langsung menggunakan kapal laut dari Tanahara ke Batavia. Tangerang dan sekitarnya berbondong-bondong menunggu di pinggir jalan yang akan dilaluinya. Begitu besar pengaruhnya di kalangan rakyat dan pejabat pemerintah sehingga dikenal pula sebagai ³Kiyai Agung´ bahkan dianggap sebagai ³Wali Allah´. penghulu kepala di Serang serta Haji R. Gerakan semacam ini timbul pula di Tanahara yang dipimpin oleh Haji Marjuki. yang dalam waktu singkat mendapat banyak murid dan pengaruh terhadap penguasa pribumi. Haji Akib. pada tanggal 9 Juli 1888 yang dipimpin oleh para ulama. Haji Marjuki. langgar atau masjid. Kiyai Haji Tubagus Ismail. Haji Tubagus Ismail. Ketika Kiyai Haji Abdul Karim akan ke Mekkah untuk kedua kalinya pada tanggal 13 Pebruari 1876.Pemberontakan ³komunis´ 1926 ² seperti juga dengan yang terjadi di Silungkang (Sumatera Barat) ² memang pantas dikenang. tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah yang datang untuk mengucapkan selamat jalan. Pontang yang kegiatan sehari-harinya mengadakan pengajaran agama pada masyarakat di daerahnya. Rakyat dari Tanahara. Haji Abdul Karim adalah seorang ulama di desa Lampuyang. juga dari daerah lain seperti Tangerang. Pemberontakan Petani Banten 1888. Tiga pokok ajaran yang disebarkan kepada muridnya adalah tentang Tauhid. banyak kiyai. Anjuran itu disambut baik kiyai-kiyai terkenal seperti Kiyai Haji Wasid dari Beji. seperti bupati. Haji Asnawi dari Lempuyang dan Haji Muhammad Asyik dari Bendung. dan Haji Wasid. Prawiranegara. Haji Abu Bakar dari Pontang. Haji Usman dari Tunggak. Haji Abdul Karim selalu menganjurkan tentang perlunya perang sabil terhadap pemerintah kolonial yang kafir. yang dalam waktu singkat pengikutnya bertambah banyak. Dalam setiap pengajian/dzikiran yang diadakan di rumah-rumah atau pun di masjid. Haji Syadeli dari Kaloran. Bersama kawan seperjuangannya: Haji Abdurahman. Pra Peristiwa Geger Cilegon Tokoh menentukan dalam peristiwa Geger Cilegon ini adalah Haji Wasid. tetapi dalam tinjauan dinamika sejarah secara keseluruhan peristiwa ini tidak lebih daripada deviation belaka. para ulama itu selalu menanamkan semangat jihad menentang penjajah kepada masyarakat. Maka mestikah diherankan kalau sudah lama juga para tokoh Banten telah menginginkan agar Banten bisa mendapatkan kebebasan relatif untuk mewujudkan kembali ³janji sejarah´ yang sekian lama seakan-akan terpendam? GEGER CILEGON Sumber data : buku Sartono Kartodirdjo. Dalam mengadakan acara dzikiran di rumah-rumah tertentu. Melalui pesantren-pesantren. Gerakan itu antara lain dipimpin oleh Haji Abdul Karim. yang juga gencar menganjurkan perlawanan kepada penjajah kafir. Haji Iskhak dari Saneja. Bogor dan Batavia. Percetakan Pustaka Jaya 1984 Perlawanan bersenjata yang paling menonjol di Banten pada abad ke-19 adalah peristiwa yang dikenal dengan ³Geger Cilegon´.

akan menjadi muslim yang baik dan taat dalam menjalankan semua perintah agama serta menjauhi segala yang dilarang-Nya.Haji Haris. terutama sekali kaum perempuan. Tajur dan Carita. serta desa-desa Sirih. segala ketaatan dan segala harapan hendaknya. sekedar untuk menjaga dari teriknya matahari. tiada benci dan tiada suka. 1988:88). Penyakit hewan ini menular dengan cepat. dan ini termasuk dosa besar. PAA. Musim kering yang berkepanjangan ini. Ironisnya. ternak kerbau bukan hanya dianggap sebagai hewan peliharaan tapi juga teman/sahabat yang banyak membantu pekerjaannya di sawah. berhasil mengumpulkan sampai 20 orang anak yang kemudian dipeliharanya di Kawedanaan (PAA. Tiada takut dan tiada harap. tidak sempat dikuburkan. sehingga bangkai hewan dapat ditemukan di mana-mana. dan ini mengundang datangnya penyakit baru lagi bagi rakyat desa. menyebabkan kelaparan merajalela. menghancurkan Anyer. Bagi rakyat petani. Diperkirakan. jalan-jalan sepi.     Pemandangan di desa-desa sungguh menyedihkan. Tidak heran dari catatan yang ada pada bulan Agustus 1880. Dalam pada itu. Banyak ibu tidak dapat menyusui anaknya sehingga angka kematian anak tinggi sekali. Karena kurangnya makanan ini maka banyak penduduk yang terjangkit penyakit demam yang parah. sehingga pemerintah kolonial menginstruksikan supaya membunuh dan mengubur atau membakar semua kerbau atau kambing di suatu desa yang di sana terdapat kerbau yang berpenyakit agar jangan menular ke desa lain. bukan kepada manusia dan bukan kepada benda lainnya. Haji Arsad Thawil. semuanya. sehingga tanaman padi tidak ada yang tumbuh dan air minum pun sulit didapat. dzikir dan do'a. pasrah dengan perlakuan itu. Djajadiningrat. Cilegon. Caringin. Kesedihan yang mendalam itu ditambah lagi dengan meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda (tanggal 23 Agustus 1883). Merak. karena banyaknya. Kesemuanya merenggut korban 21. Bayi-bayi ini sengaja ditinggalkan ibunya karena ia tidak mampu lagi memberinya makan. kerbau yang tidak terkena penyakit pun turut dibunuh pula. sawah dibiarkan mengering karena tiadanya tenaga. Karena musim kemarau ini pula maka berjangkit wabah penyakit sampar (pes) yang menyerang ternak kerbau atau kambing (1880). Djajadinigrat. Segala peribadatan. kelaparan dan penyakit sampar (pes) binatang ternak. 16 . Istri wedana Kramatwatu. Dengan demikian. hampir sering menemukan bayi di pojokan pasar yang ditutupi selembar daun pisang. ditujukan kepada Allah. murid-muridnya. yang sebagian besar berupa "tadah hujan" menjadi kering. Djajadiningrat. menyaksikan bahwa di pasar Kramatwatu. Untuk menggambarkan keadaan rakyat Banten pada saat itu. sehingga perlakuan demikian membuat tambah sedih. tercatat lebih dari 40. yang menimbulkan gelombang laut setinggi 30 meter melanda pantai barat Banten. Dengan memahami tiga pokok ajaran Islam ini diharapkan. mereka menyebarkan pokok-pokok ajaran Islam itu kepada masyarakat. Peribadatan dan penyembahan yang ditujukan kepada selain Allah adalah musrik. ibunya PAA.500 jiwa tenggelam disapu gelombang. tanpa ampunan dari Allah. hampir dua tahun hujan tidak turun. antara tahun 1882 dan 1884 keadaan rakyat Banten khususnya di Serang dan Anyer ditimpa dua malapetaka. atau karena ibunya tiba-tiba terkena demam dan meninggal tidak lama kemudian. banyak rumah tidak dihuni. kecuali semuanya karena Allah. sehingga tidak ada tumbuhan yang dapat ditanam penduduk desa. Tanah pertanian. Dari banyak rumah terdengar ratap tangis.000 orang di antaranya tidak dapat tertolong dan menemui ajalnya (Kartodirdjo. 1936:8). dan mengharapkan nanti ada yang mengambil untuk memeliharanya. Pasauran. kerbau atau kambing yang dibunuh tentara kolonial ini. walaupun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Haji Arsad Qashir dan Haji Ismail. dari 210. dianggap suatu kekejian dan kesewenang-wenangan yang membuat makin besar kebencian kepada Belanda dan anteknya. Daerah tempat bencana alam itu luluh lantak tersapu gelombang pasang.000 penderita.

tetapi juga dalam bidang sosial politik dan kehidupan keagamaan. politik dan budaya yang dipaksakan pemerintah kolonial Belanda ini berbaur dengan penderitaan rakyat yang sudah tidak tertakarkan menumbuhkan perlawanan bersenjata. karena 'Tuhan tidak tuli'. pajak tanah f. Berkali-kali Haji Wasid memperingatkan penduduk.000 (Kartodirdjo. mengganggu ketenangan "masyarakat" kerena kerasnya suara. Ia dipersalahkan melanggar hak orang lain sehingga dikenakan denda 7. sehingga jumlah pajak yang terkumpul jauh besar jumlahnya dari jumlah pajak tanah tahun 1972. dari mulai pajak tanah pertanian. seperti kerja pancen dan kerja rodi. apalagi waktu azan shalat subuh. Mereka lebih mempercayai dukun dan benda-benda yang dianggap keramat dari pada mohon pertolongan Allah. bahwa perbuatan meminta selain kepada Allah adalah termasuk syirik. mungkin dapat diurutkan sebagai berikut: 4 Pebruari 13 Maret 1888. 1988:55).000. Berbagai macam pajak yang dikenakan kepada penduduk negeri. diadakan 3 kali pertemuan di rumah H. Dalam keadaan yang sangat menyedihkan itu. Asngari dihadiri ¡ 17 . pengenaan pertanggungan pajak di luar kewajaran. tidak hanya di bidang sosial ekonomi. Haji Wasid tidak dapat membiarkan satu kemusyrikan ada di depan matanya tanpa berusaha mencegah. Dendaan yang dijatuhkan kepada kiyai ini. persiapan-persiapan menuju "pemberontakan" di Cilegon. Faktor-faktor ketidakpuasan terhadap sistem ekonomi. 1884. Asisten Residen menginstruksikan kepada Patih agar dibuat surat edaran yang isinya supaya shalawat. meskipun jumlah penduduk turun 100. Dalam keadaan penderitaan rakyat yang bertumpuk ini. pajak perdagangan. pajak perahu. Goebels menganggap menara yang dipakai untuk mengalunkan azan setiap waktu shalat. pajak pasar sampai kepada pajak jiwa yang besarnya kadang-kadang di luar kemampuan dan penetapannya tidak mengenal keadaan. sehubungan dengan penghapusan pelbagai kerja wajib. 1982:144). Untuk menggambarkan besarnya pajak yang ditanggung rakyat Banten. yang kedua di Terate di rumah H. setahun setelah letusan Gunung Krakatau. Keadaan inilah yang membawa Haji Wasid ke depan pengadilan kolonial pada tanggal 18 Nopember 1887. Jalannya pemberontakan Secara kronologis. dapat memunahkan bala bencana dan meluluskan apa yang diminta asal saja memberikan sesajen bagi jin penunggu pohon itu. Satu hal lagi yang ikut menyulut api perlawanan ini adalah dirubuhkannya menara langgar (musholla) di Jombang Tengah atas perintah Asisten Residen Goebels..50 gulden (Hamka. semakin menambah penderitaan rakyat. ditambah dengan kecurangan-kecurangan pegawai pemungut menambah keresahan dan mempersubur rasa benci penduduk kepada penjajah. Dengan beberapa orang muridnya ditebangnya pohon berhala itu pada malam hari. Tersebutlah di desa Lebak Kelapa terdapat sebatang pohon kepuh besar yang oleh sebagian penduduk dianggap keramat. tarhim dan azan jangan dilakukan dengan suara keras. 125. Melihat keadaan ini.Musibah yang datang bertubi-tubi menimpa rakyat Banten dengan sendirinya membawa dampak luas. pajak tanah itu untuk seluruh negeri dinaikkan. Sementara itu. menyinggung rasa keagamaan dan rasa harga diri murid dan pengikutnya.Pada tahun berikutnya. Tapi bagi penduduk yang kebanyakan tidak mengerti agama. Anyer dan Tangerang. Marjuki di Tanara dihadiri oleh para ulama dari Serang. namun suasana di kalangan rakyat penuh kegelisahan dan keresahan. Meski pun kehidupan sosial ekonomi segera dapat dipulihkan beberapa tahun kemudian. fatwanya itu tidak diindahkannya. pihak pemerintah kolonial melaksanakan sistem perpajakan yang baru. banyak di antara mereka yang lari ke klenik (tahayul).

untuk membicarakan langkah terakhir pemberontakan. Sekitar jam 23. Dari sana. Haji Erab diutus ke Haji Mohamad Asyik. Maka setelah lewat tengah malam para kiyai segera berangkat ke Saneja untuk mengadakan pertemuan kedua di rumahnya Haji Ishak. serta penyelenggaraan latihan antara lain pencak silat. akhirnya kembali pertemuan di rumah K. Haji Muhammad Arsad (penghulu kepala di Serang) dan Haji Tubagus Kusen (penghulu di Cilegon). sedangkan pertemuan berikutnya di rumah H. pembagian tugas. (2) awal Juli. (3) adanya desas-desus munculnya naga besar pertanda akan datangnya musibah di kalangan penduduk. terutama dari Arjawinangun dan Gulacir yang juga dihadiri oleh Haji Burak. ke rumah Haji Ismail.H.H. Haji Abdulhalim dan Haji Abdulgani ke 18 . penghulu Tanara. Nasaman dan Sendanglor ke Cipeundeuy menemui Kiyai Haji Sahib. datang Nyi Kamsidah. Kiyai Haji Abdulhalim dari Cibeber dan Nuh dari Tubuy. Haji Madani dari Ciora. Pertemuan itu dilangsungkan di dalam masjid di luar masjid sudah berkumpul pengikut-pengikut mereka. dan berikutnya di rumah H. pagi-pagi sekali. penggerakan pengikut. Haji Wasid dan Haji Ismail pergi ke Wanasaba untuk mengadakan pembicaraan dengan murid-muridnya. Wasid akan dipanggil ke pengadilan untuk penyelesaian suatu perkara.oleh para pemuka masyarakat dari Serang dan Anyer. Koinsidensi sejarah pada pematangan situasi tersebut antara lain (1) akhir Juni berlangsung perhelatan besar. Untuk menutupi kecurigaan Belanda atas pertemuan itu diadakan suatu kenduri besar. Maret April 1888. Haji Mahmud dari Tarate Udik. Dalam pertemuan ini hadir pula Haji Abubakar. Haji Muhiddin. tayuban. yakni perkawinan antara putra bupati Pandeglang dan putri bupati Serang. Marjuki. akhirnya ditetapkan tanggal pastinya adalah 9 Juli 1888. istri Haji Iskak. Haji Iskak dari Seneja. hadir para tokoh/ulama seperti H. pesta perkawinan dan khitanan. Haji Halim dari Cibeber. Marjuki di Tanara. Haji Ashik dari Bendung. di antaranya Haji Sadeli dari Kaloran. keduanya pergi ke Gulacir. Pada tanggal itu juga diperingati hari lahir pendiri tarekat Kadiriyah. saudara Haji Tubagus Ismail. 23 Juni 1888 pertemuan terakhir.00. di mana banyak hadir para pejabat. diadakanlah pertemuan para kiyai untuk persiapan terakhir pematangan gerakan di rumah Haji Akhia di Jombang Wetan. peringatan tersebut antara lain ditandai dengan kenduri besar. dan Haji Akhmad. selesai shalat magrib dengan dikawal sejumlah muridnya Haji Wasid berangkat ke Cibeber untuk kembali mengadakan pertemuan dengan muridmuridnya yang lain. Residen Banten. Ismail serta H. Wasid di Beji. Pada hari itu juga dikirim utusan-utusan ke berbagai jurusan. Tanara.H. Pada hari Sabtu. pertemuan di rumah K. pesta dengan gamelan. Haji Asnawi. Wasid dan H. H. dan kiyai-kiyai dari Trumbu. (4) dalam waktu dekat K. tanggal 7 Juli 1888. Haji Mahmud dan Haji Alfian diutus menemui Haji Abdulrazak. Pada saat itu K. Keesokan harinya. Wasid. Haji Abdulgani dari Beji. Wasid mengusulkan D-day pemberontakan pada tanggal 12 Juli 1888. Bendung. Iskak.M. Iskak di Saneja. Haji Sapiuddin dari Leuwibeureum. (5) beredarnya desas-desus larangan berdo'a dzikir. tidak hadir dalam pertemuan ini karena sudah dipastikan bahwa mereka akan memulai pemberontakan pada hari Senin tanggal 29 Syawal atau 9 Juli 1888. Diduga dalam pertemuan tersebut dibicarakan masalah kesediaan alat persenjataan. memberitahukan bahwa Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail ingin bertemu dengan para kiyai yang hadir. Asisten Residen Anyer disertai bawahan Eropa dan pribumi melakukan inspeksi di afdeling Anyer. Haji Sarman dari Bengkung.H. Sadeli di Kaloran. Hadir dalam pertemuan itu antara lain: Haji Sa'id dari Jaha. kemudian di rumah H.

yang bernama Kasidin. setelah pertemuan di rumah Haji Ishak. Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman dari Arjawinangun dan pengikutnya menyerang dari arah selatan.. kelompok kedua dipimpin oleh Haji Abdulgani dari Beji dan Haji Usman dari Arjawinangun menyerbu kepatihan. Tokoh fenomenal yang menjadi salah seorang korban. Sementara itu. Mas Kramadireja. Ketika Tjakradiningrat mendatangi tempat kerusuhan dan dikepung oleh para pejuang terdengar suara: ' . penghulu Cilegon. Djajadiningrat "tempat kediamannya tidak di dekat-dekat orang Eropah atau di dekat-dekat Ambtenar-ambtenar boemipoetra lain" (1936:55). adalah ketika ia akan mencoba bermusyawarah dengan para pejuang (peroesoeh). Krapyak. asisten residen Anyer. karena dia sedang di Serang waktu itu. Mancak dan Toyomerto. kepala penjualan garam semuanya adalah orang-orang yang tidak disenangi rakyat. Jaro Kajuruan. Ketiga yang terakhir ini diperintahkan untuk mengerahkan pejuang-pejuang dari Anyer untuk segera bergerak supaya pagi-pagi sekali sudah berada siap di Cilegon. dan Ulric Bachet. Pasukan dibagi dalam beberapa kelompok: kelompok pertama dipimpin oleh Lurah Jasim. dapat dibunuh oleh Haji Tubagus Ismail. wedana Cilegon. ajun kolektor. dari Saneja. Di daerah Serang. sedangkan pasukan yang dipimpin oleh Kiyai Haji Wasid. Para kiyai dan murid-murid mereka memakai pakaian putih-putih dengan ikat kepala dari kain putih pula sambil membawa pedang dan tombak. Haji Tubagus Ismail memimpin pengikut-pengikutnya dari Arjawinangun. djangan dianiaja jang seorang itoe.. Haji Kasiman di Citangkil dan Haji Mahmud di Terate Udik. Djajadiningrat. Haji Abdul Gani dan Beji dan Haji Nuriman dari Kaligandu menyerang dari arah utara. berbarengan dengan kejadian di Cilegon ini. Kiyai Haji Usman dari Tunggak. terbunuhnya Raden Tjakradiningrat itu. seorang pegawai negeri yang kebelanda-belandaan lolos dari kematian. Gulacir dan Cibeber bergerak menuju Cilegon untuk menyerang para pejabat pemerintah kolonial. beberapa kiyai kembali lagi ke pesta di rumah Haji Akhiya. Pada hari Senin malam tanggal 9 Juli 1888. yang menurut PPA. seperti di Bojonegara. diadakan arak-arakan sambil meneriakkan takbir dan kasidahan yang dimulai dari rumah Haji Akhiya di Jombang Wetan dan berakhir di rumah Haji Tubagus Kusen. Dalam keadaan yang kacau itu. seorang 19 . Kasidin keluar penjara ketika penjara dijebol para pejuang. Johan Hendrik Hubert Gubbels. yang pada keesokan harinya. 1936:56) Seperti yang sudah direncanakan semula. ia tidak berdosa !'. Dengan memekikkan kalimat takbir mereka menyerbu beberapa tempat di Cilegon. tapi Kasidin yang ada pada kerumunan tersebut. pemberontakan dipimpin oleh Haji Muhammad Asyik. dan kelompok ketiga dipimpin oleh Kiyai Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman dari Tunggak menyerang rumah Asisten Residen..Tunggak menemui Haji Usman. Sedangkan Patih Raden Pennah. Djajadiningrat. juru tulis di kantor Asisten Residen. Sedangkan Haji Wasid dengan beberapa pengawalnya tetap di Jombang Wetan memonitor segala kegiatan penyerbuan (Kartodirdjo. 8 Juli 1888. Grogol. Malam itu juga. adalah Raden Tjakradiningrat. Balegendong. menyerbu penjara untuk membebaskan para tahanan. demikian juga Raden Purwadiningrat. ini jang mesti didahoeloekan !' dan pada saat berikutnya Kasidin memarang leher Wedana Tjakradiningrat (PPA. melompat ke muka sambil berkata: ' . Pada malam harinya barisan bertambah panjang bergerak dari Cibeber ke arah Saneja dipimpin langsung oleh Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail yang kemudian dijadikan sebagai pusat penyerangan. di beberapa tempat juga meletus pemberontakan. sipir penjara Cilegon. diadakanlah serangan umum ke Cilegon. Namun di antara mereka terdapat seorang tahanantitipan kasus pencurian hasil tangkapan Wedana Tjangradiningrat yang sedang menunggu putusan perkara. 1984:301-303). sehingga ia termasuk "orang yang tidak berdosa" (1936:56) Menurut rekaman PAA.. Minggu. Henri Francois Dumas.

untuk sedikit demi sedikit melupakan agamanya (Islam) dan kemudian beralih kepada agama Kristen. kepemimpinannya dipercayakan kepada pemim-pin kharismatik yakni para kiyai dan ulama. Ambon. sebaliknya pihak penjajah juga menaruh kewaspadaan tinggi untuk daerah Banten dengan rakyatnya sangat militan itu. Tetapi seorang babu (pembantu rumah tangga) Gubbel dapat melarikan diri ke Serang membawa kabar kejadian di Cilegon itu. dan Saparua. Haji Abdurahman dan Haji Akib dibuang ke Banda. sehingga akhirnya kerusuhan dapat dipadamkan. dan banyak lagi lainnya dibuang ke Tondano. Ternate. Pada dasawarsa terakhir abad ke-19 kelompok non agama memperoleh kemenangan dalam parlemen. Menado. Rakyat Banten sangat benci kepada penjajah Belanda dan pamongpraja yang menjadi kaki-tangannya. Walau pun akhirnya pemberontakan itu mengalami kegagalan secara fisik. sebagai perusahaan dagang milik Belanda pun tidak lepas dari tugas penghancuran umat Islam dan penyebaran agama Kristen kepada penduduk di Nusantara (Suminto. semua pimpinan pemberontakan yang dibuang ini ada 94 orang. Kejadian "Geger Cilegon" itu mempunyai arti penting dalam sejarah pergerakan nasional. Banyaknya pemberontakan rakyat yang dipimpin para ulama Islam ini erat juga kaitannya dengan politik keagamaan yang diterapkan kaum penjajah. Haji Arsyad Qashir dibuang ke Buton. masalah yang dianggap paling mendasar dalam kehidupan manusia. Namun pada peralihan abad ke-20 kemenangan beralih kepada kelompok agama. Trumbu. yang selanjutnya dilaksanakan pemerintah Belanda. Kaloran dan Keganteran. Haji Arsyad Thawil dibuang ke Gorontalo. Haji Wasid sebagai pemimpin pemberontakan dihukum gantung. karena setelah kejadian itu Belanda menginstruksikan supaya semua peraturan-peraturan yang akan dikeluarkan hendaknya jangan menyinggung perasaan keagamaan rakyat jajahan. Cilegon dapat dikuasai sepenuhnya oleh pasukan "pemberontak". Rakyat kebetulan tidak memiliki pemimpin formal untuk menyalurkan aspirasinya sehingga untuk menyalurkan ketidakpuasan itu. Sehari semalam kekacauan tidak dapat diatasi. Partai-partai di parlemen Belanda dapat dikelompokkan kepada partai agama dan non agama. Dalam tahun-tahun berikutnya. Terjadilah pertempuran hebat antara para pemberontak dengan tentara kolonial yang memang sudah terlatih baik. Maka Bupati bersama Kontrolir dengan 40 orang serdadu yang dipimpin oleh Letnan I Bartlemy berangkat ke Cilegon. 1985: 17). Haji Muhammad Hanafiah dari Trumbu dan Haji Muhidin dari Cipeucang. Kubang. Haji Haris dibuang ke Bukit Tinggi. Kedua golongan ini saling berebut mempengaruhi semua keputusan parlemen. Dukungan terhadap kristenisasi Hindia Belanda dipertegas sejalan dengan ³politik hutang budi´. Sehingga dapat dikatakan bahwa ekspansi Portugis harus dilihat sebagai kelanjutan dari Perang Salib. namun sangat bermakna sebagai sebuah gambaran dari rasa ketidakpuasan dan kebencian seluruh rakyat terhadap penjajah. Dengan keadaan ini pemerintah Hindia Belanda haruslah mendukung sebanyak mungkin usaha kristenisasi yang banyak dilakukan organisasi swasta. Kupang. VOC. juga pemerintah kolonial "merambah" dalam kehidupan keagamaan masyarakat.ulama dari Bendung. Hal ini tidak lepas dari motivasi pertama pengembaraan orang-orang Eropa. Pusat-pusat kegiatan mereka ialah Bendung. dalam bentuk pemberontakan. di samping untuk mencari keuntungan perdagangan juga dilandasi oleh rasa benci dan permusuhan kepada orang-orang yang beragama Islam. Keadaan demikian terlihat juga pada abad ke-19 dan ke-20. Di samping mereka terlalu meng-eksploitir tanah jajahan tanpa dibatasi rasa kemanusiaan. bekas dan akibat pemberontakan Cilegon ini cukup mendalam di kedua belah pihak. 20 . melalui beberapa peraturan dan pelaksanaan yang dibuat pemerintah Hindia Belanda. Haji Ismail dibuang ke Flores. yaitu kemudahan bagi organisasi zending Kristen mendirikan sekolah bagi penduduk bumiputra. sedangkan yang lainnya dihukum buang.

Penduduk Banten sebagian besar keturunan orang Jawa dan Cirebon yang 21 . Karena itu masyarakat Banten sejak dahulu dikenal sebagai orang yang sangat fanatik dalam hal agama dan bersemangat memberontak. 1985:18). Hal demikian sering menimbulkan konflik tertentu yang saling mencurigai satu sama lain. Rupanya. Demikian juga dengan orang Islam yang bekerja menjadi pegawai di kantor pemerintah Belanda. bahkan perluasan kolonial dan ekspansi agama merupakan gejala simbiose yang saling menunjang" (Suminto. walaupun memang kebanyakan rakyat Banten bukan orang yang mempunyai pemahaman mendalam tentang keislaman. dan pemakainya dikatakan kafir. Pemerintah kolonial memandang bahwa Banten merupakan daerah yang paling rusuh di Jawa. ataupun sekolah Jawa/Melayu yang didirikan Belanda. Imbas dari keadaan ini masih terasa sampai pasca kemerdekaan. masyarakat mencemooh mereka sebagai "anjing belanda". Bahkan beredar fatwa yang menyatakan bahwa berpakaian ala Eropa lebih-lebih memakai dasi. untuk mengisi kekosongan pegawai pamongpraja ini. atau sekurang-kurangnya menyalahi Islam. Tidaklah mengherankan apabila orang Islam yang mengirimkan anaknya untuk belajar di sekolah Belanda. celana pantalon dan topi ala Eropa dihukumi haram. Maka tidak jarang seorang kiyai atau seorang guru mengaji mengeluarkan fatwa bahwa memasuki sekolah-sekolah Belanda adalah haram.Masalah kristenisasi di Hindia Belanda ini erat juga kaitannya dengan masalah menghadapi pemberontakan yang dilakukan umat Islam. Peran Kyai dan Jawara di Banten Semenjak pemerintahan kolonial Belanda menaklukan kesultanan Banten. Keyakinan yang memandang rendah semacam itulah yang mendasari kenapa penduduk asli Banten yang bersedia bekerja menjadi pamongpraja pada masa pemerintahan Hindia Belanda sangat sedikit. bahkan mungkin bukan termasuk orang yang taat menjalankan agamanya. Keadaan semacam ini pun membuat pemerintah Belanda mengalami kesulitan mengangkat pejabat pamongpraja asli dari Banten yang cakap (baca: pernah belajar di sekolah Belanda). "kapir landa" sebutan yang di samping menggambarkan kebencian mendalam juga menganggap mereka itu adalam musuh-musuh Islam dan kaum muslimin. Pemerintah Belanda berpendapat bahwa apabila bangsa Indonesia ini memeluk agama Kristen. perlawanan dan pemberontakan rakyat Banten terhadap pemerintah kolonial tidak pernah berhenti. sering dituduh menyuruh anak-anaknya masuk agama Kristen. Tetapi dalam kenyataannya. maka berarti mereka tidak akan lagi membahayakan bagi pemerintahan Belanda. yang pada hakekatnya berawal mungkin dari perasaan irihati para pamongpraja asli daerah Banten terhadap para pamongpraja pendatang. yakni menjadi seagama dengan penjajahnya. misalnya sebagai pamongpraja. namun dalam hal rasa sentimen keagamaan mereka cukup tinggi. pemerintah kolonial lebih banyak mengangkat pegawai yang berasal dari Priyangan. Oleh karenanya. justru karena tekanan kegiatan missi penyebaran agama Kristen yang menggebu-gebu ini reaksi perlawanan dari rakyat Indonesia makin lebih militan lagi menentang penjajah Belanda. Sehingga orang Indonesia dalam menyebut orang-orang Belanda sebagai "setan". seperti dari Bogor dan Bandung. Karena itulah "zending Kristen harus dianggap sebagai faktor penting bagi proses penjajahan. Ketakutan yang didasari kecurigaan ini pula yang menyebabkan banyaknya pegawai asal Priyangan yang ikut melarikan diri ketika pasukan Jepang keluar dari Banten. Dengan mengkristenkan sebanyak mungkin penduduk di Nusantara maka pemberontakan akan semakin berkurang.

Kiyai di Banten pada tempo dulu tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam tetapi mengajarkan 22 . Sehingga bagi sebagian masyarakat. tidak hanya dipandang sebagai tokoh agama tetapi juga seorang pemimpin masyarakat. terbuka (blak-blakan) dengan bersenjatakan golok. seperti bertutur kata lembut. sompral (tutur kata yang keras dan terkesan sombong). Memang bahwa salah satu sifat jawara adalah selalu ingin menang. yang berarti pemenang. Karena itu perilaku dan ucapan seorang kiyai menjadi panduan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Kiyai dikenal tidak hanya sebagai guru di pesantren. Penampilan kiyai yang khas. seperti penggunaan jimat. Kekuasaannya sering kali melebihi kekuasaan pemimpin formal. Seperti halnya kiyai yang memiliki pesantren sebagai tempat para santri menimba ilmu pengetahuan agama Islam. Asal-usul kata ³jawara´ pun tidak begitu jelas. sehingga ia disegani oleh masyarakat. Sekarang ini jawara tidak mesti menjadi pemimpin. agresif. Bahkan pengangkatan pemimpin formal di suatu desa ditentukan oleh pemuka-pemuka agama di daerah yang bersangkutan. Dalam daerah yang pernah menjadi pusat kerajaan Islam dan penduduknya yang terkenal sangat taat terhadap agama seperti daerah Banten sudah sewajarnya jika kiyai menempati kedudukan yang penting dalam masyarakat. yang ingin dipandang orang yang paling hebat. demikian pula kepala jawara memiliki padepokan tempat pengemblengan ³anak buah´. adalah jawara. Ia cukup terkenal dengan seragam hitamnya dan kecenderungan terhadap penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalan. merupakan simbol-simbol kesalehan. Golongan lain. Bugis. Jawara sebagai orang yang memiliki keunggulan dalam fisik dan kekuatankekuatan untuk memanifulasi kekuatan supernatural. serta membawa tasbih untuk berdzikir kepada Allah. Kiyai yang merupakan gelar ulama dari kelompok Islam tradisional. Bahkan mereka memiliki organisasi tersendiri. Sebagian orang berpendapat bahwa jawara berarti juara. juga sebagai guru spiritual dan pemimpin kharismatik masyarakat. yang juga menembus batas-batas hirarki pedesaan di Banten. berpakaian rapih dan sederhana. Perbauran yang begitu dalam menyebabkan penduduk Banten memiliki cultur yang berbeda dalam hal bahasa dan adat istiadat dengan masyarakat asalnya. seperti Persatuan Pendekar Persilatan dan Seni Budaya Banten yang dipimpin oleh Tb Chasan Shohib dan Tjmande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir yang dipimpin oleh Maman Rizal. Jimat yang memberikan harapan dan memenuhi kebutuhan praktis para jawara yang salah satunya adalah kekebalan tubuh dari benda-benda tajam. untuk menunjukan bahwa ia memiliki kekuatan fisik dan magik. jawara dipandang sebagai sosok yang memiliki keberanian. Menurut Tihami (Dekan IAIN Maulana Hasanudin Banten) bahwa jawara itu adalah murid kiyai. Keunggulan dalam hal fisik dan kemampuanya untuk memanipulasi kekuatan supernatural (magik) telah melahirkan sosok seorang jawara dengan memiliki karakter yang khas. terutama di pedesaan. Para jawara tersebut memimpin kajaroan (desa) namun kemudian terjadi pergeseran makna sehingga jawara dan jaro menunjukan makna yang berbeda. yang kalau sekarang lebih dikenal dengan kepala desa atau lurah. sebagian orang lagi berpendapat bahwa kata ³jawara´ berasal dari kata ³jaro´ yang berarti seorang pemimpin yang biasanya merujuk kepada kepemimpinan di desa. orang Banten menunjukkan perbedaan yang nyata dengan orang Sunda dan orang Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sehingga seorang jawara itu biasa bersifat sompral (berbicara dengan bahasa yang kasar dan terkesan sombong).dalam perjalanan waktu berbaur dengan orang-orang Sunda. Melayu dan Lampung. Begitu pula dalam hal penampilan fisik dan watak. apalagi menjadi kepala desa atau lurah. berprilaku sopan. yang terkadang dilakukan dengan berbagai cara termasuk dengan cara yang tidak baik. Para jawara pun memiliki jaringan yang melewati batas-batas geografis daerah tempat tinggalnya. Pada masa dahulu kepala desa atau lurah di Banten itu mayoritas adalah para jawara.

Istilah jawara dalam percakapan sehari-hari masyarakat Banten sekarang ini dipergunakan untuk istilah denotatif dan juga referensi untuk mengidentifikasi seseorang. selain dipandang sebagai orang yang mengerti tentang pesan-pesan dan ajaran-ajaran agama juga dipandang sebagai sosok yang paling dekat pusat kekuatan supernatural. sehingga ia dianggap bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang biasa. Sedangkan murid kiyai yang memiliki bakat dalam bidang fisik lebih condong kepada persilatan atau ilmu-ilmu kanuragan. Karena itu jawara dianggap pahlawan oleh rakyat. Jawara dianggap memiliki ilmu-ilmu kedigjayaan (kesaktian) dan menguasai 23 . kurang taat menjalankan perintah agama Islam atau melakukan sesuatu dengan cara-cara yang tidak baik terhadap orang untuk kepentingan dirinya semata. Karena kharisma seseorang kiyai akan semakin besar apabila ia selain memiliki kemampuan untuk memahami ajaran-ajaran agama. Karena itu dalam tradisi kejawaran bahwa seorang jawara yang melawan perintah kiyai itu akan kawalat. ³jago wadon lan harta´ (tukang main perempuan dan tamak harta). musuh bersama rakyat itu tidak ada. sehingga membangkitkan perasaan orang lain penuh dengan pertentangan: hormat dan takut. Persepsi masyarakat tentang jawara saat ini yang kurang simpatik dan cenderung negatif sebenarnya bisa diterangkan dengan teori ³ bandit sosial´ di atas. sombong. seperti sompral. Namun setelah Indonesia bebas dari kolonialisme. karena kesultanan tidak mampu menjangkau daerah-daerah yang terpencil yang sangat jauh dari pusat kekuasaan. Namun prilakuprilaku jawara. kurang taat dalam beragama. kekerasan dan kenekadan. pada masa yang lalu. Bahkan seperti yang diungkapkan salah seorang kiyai di Serang. seperti melakukan ancaman. Murid kiyai yang lebih berbakat dalam bidang intelektual. sebagai pembela dan pelindung atas kepentinganya. Istilah jawara yang menunjukan referensi untuk identifikasi seseorang adalah gelar bagi orang-orang yang memiliki kekuatan fisik dalam bersilat dan mempunyai ilmu-ilmu kesaktian (kadigjayaan). Hal ini disebabkan pesantren. karena itu dipercayai memiliki kekuatan magis dan mistis. yang lebih dikenal dengan ilmu-ilmu hikmah. Mungkin atas dasar itu seorang pengurus persilatan dan seni budaya Banten menyatakan bahwa jawara itu adalah khodim (pembantu) nya kiyai. seperti kekebalan tubuh dari senjata tajam. Tokoh-tokoh agama. terutama kitab-kitab kuning juga dipercayai oleh masayarakat memiliki kekuatan mistis dan magis yang besar pula. mendapat penghargaan dan penghormatan di mata rakyat Banten. Karena itu kesan orang terhadap istilah jawara cenderung negatif dan derogatif. Peran-peran itu yang telah ditampilkan secara baik oleh Mas Jakaria serta tokoh-tokoh jawara masa silam.ilmu persilatan atau kanuragan. terutama dari pemimpin tarekat. Kesan yang kurang baik tentang jawara tersebut yang kemudian yang bagi orang-orang yang memiliki ilmu-ilmu kadigjayaan atau persilatan yang sudah ³terpelajar´ tidak mau menamakan dirinya jawara tetapi lebih senang disebut pendekar. Peranan jawara pada masa lalu yang menonjolkan keberanian untuk melawan musuh bersama masyarakat yakni: pemerintah kolonial Belanda. Sedangkan istilah jawara yang bersifat denotatif berisi tentang sifat yang merendahkan derajat (derogatif) yang biasanya digunakan untuk orang-orang yang berprilaku sombong. sehingga menimbulkan antipati masayarakat terhadap jawara. kiyai. bisa memukul dari jarak jauh dan sebagainya. yang kemudian disebut jawara. rasa kagum dan benci. justru tidak berubah. berada di daerahdaerah terpencil dan kurang aman. Tokoh lain di wilayah Banten yang memiliki status sosial yang dihormati dan disegani karena dianggap memiliki kemampuan untuk memanipulasi kekuatan supra-natural yang merupa magis dan mistis adalah jawara. mendalami ilmu-ilmu agama Islam pada akhirnya disebut santri. Maka ada orang yang mendefenisikan jawara dengan ³jago wadon lan lahur´ (tukang main perempuan dan tukang bohong). juwara iku tentrane kiyai (jawara itu tentaranya kiyai).

seperti Fakih Najamuddin untuk di tingkat atas dan para penghulu untuk di tingkat bawah. menjadi sosok yang terkadang justru banyak merugikan masyarakat. setelah penghapusan jabatan Fakih Najamuddin diberikan kepada para kiyai. Juga karena keunggulan kepribadiannya itu. ahli hikmah. Menurut masyarakat Banten gelar Kiyai diberikan kepada seorang yang ³terpelajar´ dalam pemahaman keislamannya dan ia membaktikan hidupnya ³demi mencari ridha Allah´ untuk menyebarluaskan serta memperdalam ajaran-ajaran agama Islam kepada seluruh masyarakat melalui lembaga pendidikan ataupun pesantren. Meskipun pemerintah kolonial masih tetap mempertahankan pejabat-pejabat yang mengurusi soalsoal keagamaan masyarakat Banten. yang menyandang gelar tersebut biasanya memiliki kesaktian dan ahli kebatinan. namun pengaruh mereka semakin menurun. bisa memukul dari jarak jauh dan sebagainya. Kepemimpinannya bersifat kharismatik. Akhmad Khatib memerintahkan K. kawani) secara fisik. sehingga membangkitkan perasaan hormat dan takut. Kiyai. Pembayaran zakat pun yang selama kesultanan Banten dan masa-masa awal pemerintahan kolonial diserahkan kepada penghulu. seperti kekebalan tubuh dari senjata tajam. Karena itu seseorang yang hanya memiliki ilmu-ilmu kadigjayaan dan persilatan tidak akan dinamakan jawara apabila ia tidak memiliki keberanian. Seperti kisah ketokohan Ce Mamat alias Muhamad Mansur yang mendirikan Dewan Rakyat. Syam¶un untuk menangkap Ce Mamat dan menumpas gerombolannya. Karena kelebihannya yang dimilikinya itu maka kiyai dan jawara dipandang sebagai pemimpin masyarakat dan merupakan ³elit sosial´ di masyarakat Banten. Munculnya kiyai sebagai tokoh agama yang dihormati di wilayah Banten berkaitan dengan kontrol pemerintah kolonial Belanda yang semakin kuat terhadap kesultanan Banten pada abad ke-18 dan ke19. yang pada saat itu merupakan tokoh agama yang independen dan tidak bersentuhan langsung dengan pemerintah. Anggota Dewan Rakyat yang anggotanya kebanyakan dari para jawara. guru dan pemimpin masyarakat yang berwibawa yang memiliki legitimasi berdasarkan kepercayaan masyarakat. Karena posisinya yang demikian itu maka seorang kiyai atau jawara dapat selalu dibedakan dari orang kebanyakan. rasa kagum dan benci. Sehingga K. Berkat kelebihannya itu. 24 . Penghapusan jabatan tersebut mengalihkan loyalitas penduduk ke para kiyai. Demikian pula jawara. muncul sebagai tokoh masyarakat. Apalagi semenjak jabatan Fakih Najamuddin. ia bisa muncul menjadi tokoh yang kharismatik.ilmu persilatan. yang keberaniannya itu didukung oleh kemampuan dirinya dalam menguasai ilmu bela diri (persilatan) dan ilmu-ilmu kesaktian.H. dihapuskan oleh Belanda. Selain itu jawara juga harus memiliki keberanian (wanten. ia dianggap bahkan diyakini memiliki kekuatan supernatural sehingga memiliki kemampuan luar biasa dan mengesankan di hadapan khalayak banyak. Sedangkan jawara dalam pandangan masyarakat Banten merujuk kepada seseorang atau kelompok yang memiliki kekuatan fisik dalam bersilat (kanuragan) dan mempunyai ilmu-ilmu kesaktian (kadigjayaan). akibat intervensi pemerintah kolonial yang terlalu besar.H. mengadakan serangkaian kerusuhan sosial dan pembunuhan di berbagai tempat di wilayah Banten. terutama pada saat-saat kehidupan sosial mengalami krisis. yakni: kepemimpinan yang bertumpu kepada daya tarik pribadi yang melekat pada diri pribadi seorang kiyai atau jawara tersebut. yang pada masa-masa sulit banyak membantu peran para kiyai terutama berkaitan dengan persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat. Kedua tokoh tersebut memiliki pengaruh yang cukup besar di masyarakat dan juga memiliki para pengikut yang setia.

guru kitab. semua itu menjadi masyarakat Banten yang madani dan memiliki religiusitas yang tinggi. Banten adalah salah satu pusat perkembangan Islam. Dikarenakan letak geografisnya yang sangat strategis sebagai kota pelabuhan. Tetapi akhir-akhir ini peranan para jawara mulai berbeda dibandingkan dengan peranan jawara pada masa-masa lalu dalam sejarah kehidupan masyarakat Banten sesuai perkembangan zaman. apalagi bagi masyarakat yang masih mencari jati dirinya. Peranan kiyai dalam masyarakat Banten adalah sebagai tokoh masyarakat (kokolot). guru tarekat. Sejarah Pra Islam Dan Berkembangnya Islam Di Banten Sebelum Islam berkembang di Banten. Hal ini dapat dilihat dari peninggalan purbakala dalam bentuk prasasti arca-arca yang bersifat Hiduistik dan banguan keagamaan lainnya. kesaktian dan keturunannya. Keduanya merupakan pemimpinan yang meemiliki pengaruh pada masyarakat Banten. Peranan seorang kiyai selain sebagai pewaris tradisi keagamaan juga pemberi arahan atau tujuan kehidupan masyarakat yang mesti ditempuh. Sehingga dalam masyarakat Banten peran-peran yang sering dimainkan oleh para jawara adalah menjadi jaro (kepala desa atau lurah). Sifat hubungan keduanya tidak hanya bersifat simbiosis. kemampuan dalam penguasaan ilmu pengetahuan (agama dan sekuler). atas jasanya tersebut. Sekitar permulaan abad ke 16. guru ilmu silat dan ilmu ³batin´ atau magi. Karena itu ia lebih bersifat memberikan pencerahan terhadap masyarakat. Penyebarannya dilakukan oleh salah seorang pemimpin Islam yang dikenal sebagai wali berasal dari Cirebon yakni Sunan Gunung Jati dan kemudian dilanjutkan oleh putranya Maulana Hasanudidin untuk menyebarkan secara perlahan-lahan ajaran agama Islam daerah Banten. menerima uang shalawat (bantuan material) dari jawara. di daerah pesisir Banten sudah ada sekelompok masyarakat yang menganut agama Islam. Begitu pula ketika mereka membina hubungannya dengan sesama Kiyai dan jawara disatukan dalam dalam ruang lingkup kebudayaan Banten. guru ilmu ³hikmah´ (ilmu ghaib) dan sebagai mubaligh. Peranan tersebut bagi masyarakat sangat membantu apalagi saat Banten dalam kekacauan dan kerusuhan yang cukup lama. satuan-satuan pengamanan. namun demikian peranan para jawara dalam sosial. peran-peran seperti itu sangat diperlukan. Sumber naskah kuno dari masa pra Islam menyebutkan tentang kehidupan masyarakat yang menganut Hindu. Sedangkan jawara lebih cenderung kepada kekuatan fisik dan ³batin´. kebesaran namanya sangat ditentukan oleh nilai-nilai pribadi yang dimiliki. sedangkan sebaliknya kiyai.Kiyai dalam masyarakat Banten merupakan tokoh panutan masyarakat yang dihormati berkat perannya dalam mengarahkan dan menata kehidupan bermasyarakat. karena Banten mempunyai peranan penting dalam tumbuh dan berkembangnya Islam. yakni saling ketergantungan tetapi juga kontradiktif. khususnya di daerah Jakarta dan Jawa Barat. Sedangkan jawara berkedudukan sebagai pemimpin dari lembaga adat masyarakat diapun tokoh yang dihormati apabila ia menjadi pemimpin atau penguasa. Di Banten telah berdiri satu kerajaan Islam yang lebih dikenal oleh masyarakat Banten dan sekitarnya dengan sebutan Kesultanan Banten. masyarakat Banten masih hidup dalam tata cara kehidupan tradisi prasejarah dan dalam abad-abad permulaan masehi ketika agama Hindu berkembang di Indonesia. Jawara membutuhkan elmu dari kiyai. ekonomi dan politik dalam kehidupan masyarakat Banten saat ini sangat diperlukan. guru ngaji. Tetapi juga banyak kiyai yang tidak senang terhadap berbagai prilaku jawara yang sering menghalalkan segara cara walau dengan cara kekerasaan dalam menyelesaikan masalah. Peninggalan sejarah yang amat berharga ini nampaknya akan selalu menarik untuk diteliti dan dikaji 25 .

Selain itu di Banten terdapat sisa-sisa kebudayaan megalitik tua (4500 SM hingga awal masehi) seperti menhir di lereng gunung Karang di Padeglang. Tumbuh dan Berkembangnya Islam Di Banten Penyebaran Islam di Banten dilakukan oleh Syarif Hidayatullah. hal ini disebabkan karena data yang diperoleh para ahli belum lengkap. Seperti di dalam naskah Purwaka Tjaruban Nagari disebutkan bahwa Syarif Hidayatullah setelah belajar di Pasai mendarat di Banten untuk meneruskan penyebaran agama Isalam yang sebelumnya telah dilakukan oleh Sunan Ampel. dua tahun kemudian lahirlah anak perempuan pertama yang diberinama Ratu Winahon dan pada tahun berikutnya lahir pula pangeran Hasanuddin. Pada tahun 1475 M. demikian pula dengan masa kehidupan Hindu dan Buddha ditandai oleh peninggalan Hindu masa itu berupa prasasti arca Nandi dan bendabenda arkeologi lainnya. pada tahun 1525 M dan 1526 M. karena kerajaan Tarumanegara pada masa itu berada dalam keadaan makmur dan jaya. kita tidak mendapatkan keterangan yang menyakinkan. ini berarti bahwa daerah kekuasaan Tarumanegara sampai juga ke daerah Banten. (Hoesein. adapun prasasti Munjul yang ditemukan terletak disungai Cidanghiang. beliau menikah dengan adik bupati Banten yang bernama Nhay Kawunganten. dipakai jalur sungai Cibanten yang pada waktu itu masih dapat dilayari.1979:37) Tapi disamping itu pula masih ada jalan darat yang dapat dilalui yaitu melalui jalan Kelapa Dua. kubur tempayan di Anyer.1982:2) Untuk menghubungkan antara Banten Girang dengan pelabuhan Banten. (Ayathrohaedi. Cipari dan Babakan Tanggerang. Disamping karena pertumbuhan dan perkembangan Islam di Banten yang menarik. Hal ini terlihat dengan ditemukannya kapak corong terbuat dari perunggu di daerah Pamarayan. dengan pusat pemerintahan Kadipaten di Banten Girang sedangkan Banten Lama hanyalah berfungsi sebagai pelabuhan saja. Cikupa. serta naskah-naskah kuno yang mencatat keterangan tentang kehidupan masyarakat pada masa itu. (Atja. Pada awal abad ke XVI.1976:1-6) Penggunaan alat-alat kebutuhan yang dibuat dari perunggu yang terkenal dengan kebudayaan Dong Son (500-300 SM) juga mempengaruhi penduduk Banten.terutama dikalangan sejarawan dan para ilmuan. ternyata sejarah Islam di Banten belum banyak diteliti secara tuntas sehingga masih banyak hal-hal yang penting yang perlu diteliti dan dipelajari secara lebih mendalam. sumber data arkeologi menujukan bahwa sebelum Islam masyarakat Banten hidup pada masa tradisi prasejarah dan tradisi Hindu-Buddha. di Banten yang berkuasa adalah Prabu Pucuk Umun.1972:26) 26 . Selain bukti arkeologi berupa arca Siwa dan Ganesha ini belum ada lagi data sejarah yang cukup kuat untuk menunjang keberadaan kerajaan Salakanagara ini yang lebih jelas. Keadaan Banten Pra Islam Daerah Banten memiliki beberapa data arkeologi dan sejarah dari masa sebelum Islam masuk ke daerah ini. (Sukendar.1983:124) Untuk selanjutnya keadaan Banten pada abad ke VII samapi dengan abad ke XIII. kapak batu di Cigeulis. dolmen dan patung-patung simbolis dari desa Sanghiang Dengdek di Menes. Kopo Pandeglang. Tradisi prasejarah ditandai oleh adanya alat-alat kehidupan sehari-hari dan kepercayaan yang mereka anut. (Ambary. Lebak Munjul Pandegalng adalah prasasti yang bertuliskan Pallawa dengan bahasa Sangsekerta menyatakan bahwa raja yang berkuasa di daerah ini adalah Purnawarman. dan lain sebagainya. batu bergores di Ciderasi desa Palanyar Cimanuk.

karena mereka ingin melihat klenteng Cina yang dibangun pada masa sultan Banten dan konon klenteng tertua di Indonesia. dan Gujarat. Bangunan ± bangunan itu tidak terlepas dari pengaruh religius (Hinduisme dan Islam).Setelah Pangeran Hasanuddin menginjak dewasa. saat itu Kesultanan Demak runtuh dan digantikan oleh Panjang. baik kejayaan maupun kesuraman suatu masa dalam sejarah. seperti dilihat dari bentuk ± bentuk bangunan. Selain orang keturunan Cina yang sering berkunjung kesini banyak pula para turis macanegara dan lokal mengunjungi klenteng ini. Ditempat ini berdiri masjid Kasunyatan yang umurnya lebih tua dari masjid Agung Banten. syarif Hidayatullah pergi ke Cirebon mengemban tugas sebagai Tumenggung di sana. Sejarah kebudayaan Cina Tertua di Banten Sejarah bisa diungkapkan lewat peninggalan-peninggalan masyarakat terdahulu dari segala segi aktivitas dan kreativitas.1983:35) Disinilah tempat tinggal dan mengajarnya Kiayi Dukuh yang bergelar Pangeran Kasunyatan guru dari Pangeran Yusuf. (Djajadiningrat.1954:10) Karena semakin besar dan maju daerah Banten. Belanda. Mesjid Agung dan Menara Banten. Keraton Kaibon. pendidikan. Dari beberapa petugas serta pengawas 27 . (Hamka. Kadipaten Banten dirubah menjadi negara bagian Demak dengan Pangeran Hasanuddin sebagai Sultannya. persejataan dan karya seni yang menjadi tolak ukur dari nilai-nilai budaya masysarakat pada masa itu. prabotan rumah tangga. (Djajadiningrat.1983:34) Sehingga berangsur-angsur penduduk Banten Utara memeluk agama Islam. serta terjadinya akulturasi negara-negara lain seperti. Di Banten ada sebuah peninggalan kuno bangsa Cina yaitu klenteng yang saat ini merupakan Vihara Budha.1983:144) Pada tahun 1568 M. makam-makam sultan Banten dan banyak lagi yang lainnya. Seperti halnya di Banten banyak terdapat benda-benda bersejarah yang memiliki nilai historis yang dapat menyiratkan suatu riwayat tertentu. Cina. (Djajadiningrat. kebudayaan dan ekonomi di masa itu. Kesultanan Banten telah mencapai masa kejayaannya dimasa lalu dan telah berhasil merubah wajah sebagian besar masyarakat Banten. Keraton Surosowan.1976:181) Disamping itu Banten juga menjadi pusat penyebaran agama Islam. Atas petunjuk dari Syarif Hidayatullah pusat pemerintahan Banten dipindahkan dari Banten Girang ke dekat pelabuhan di Banten Lor yang terletak dipesisir utara yang sekarang menjadi Keraton Surosowan. banyak orang-orang dari luar daerah yang sengaja datang untuk belajar. G.1983:163) Kerajaan Islam di Banten Saat itu lebih dikenal oleh masyarakat Banten dan sekitarnya dengan sebutan Kesultanan Banten. sehingga tumbuhlah beberapa perguruan Islam di Banten seperti yang ada di Kasunyatan. di dalam usaha penyebaran agama Islam Ini Pangeran Hasanuddin berkeliling dari daerah ke daerah seperti dari G. Pulosari. Setelah kesultanan Banten berakhir maka sekarang tingglallah peninggalan sejarah berupa bekas istana kerajaan dan beberapa bangunan lain seperti. (Roesjan. Barulah Sultan Hasanuddin memproklamirkan Banten sebagai negara merdeka. Mesjid Pacinan Tinggi. (Ismail. Karang bahkan sampai ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon. maka pada tahun 1552 M. Adapun tugasnya dalam penyebaran Islam di Banten diserahkan kepada Pangeran Hasanuddin. Masjid Kasunyatan. Pengaruh yang besar diberikan oleh Islam melalui kesultanan dan para ulama serta mubaligh Islam di Banten seperti tidak dapat disangsikan lagi dan penyebarannya melalui jalur politik. Masjid Caringin. lepas dari pengaruh Demak atau pun Pajang. Gedung Timayah.

Klenteng ini di bangun pada masa awal Kerajaan Banten. kesan tua dan membosankan untuk di pandang memenag tidak terpancar sama sekali di banguanan ini. Mata uang Cina tersebut berbentuk 28 . Kemudian dalam proses selanjutnya bangunan klenteng itu mengalami perluasan beberapa puluh meter di areal kosong bagian kiri kanan banguan juga bagian depan maupun belakang bangunan tersebut. juga di Indonesia .000 real dengan menggunakan 6 buah perahu. Lokasi klenteng Cina ini terletak di sebelah barat bangunan Benteng Speelwijk (Benteng yang dibuat Belanda).klenteng itu. Cat yang banyak melekat didinding tiang serta kusen lainya memeang sering diperbaharui. dan pada saat itu orang Cina di Banten lebih dari 1300 kepala keluarga. Keterangan ini hampir sama dengan yang dipaparkan oleh She Cang bahwa klenteng yang dijaganya sejak tahun 1963 samapi sekarang. Agar warna cat tidak mudar dan tetap indah dipandang para pengunjung. Selain sebagai pedagang orang-orang Cina datang ke Banten sebagai imigran (Clive Day. 1958:69). Bangunan bekas kantor douane itu kemudian di rubah menjadi klenteng dengan nama Bio Hud Couw. P. Mata uang Cina yang ditemukan de Houtman di Banten (Rouffer. sedangkan di ruang lainnya yang melengkapi beberapa tempat penampungan para jemaah klenteng. hal ini lebih banyak disebabkan selain karena perluasan bangunan di sekitar bangunan asli klenteng juga beberapa pengaruh warna cet merah dengan kombinasi warna kuning yang menyala. semula rumah biasa milik seorang Kapten VOC yang diserahkan untuk dijadikan tempat sembahyang orang Cina. 1915:122) sebagai tanda peran serta bangsa Cina pada perdagangan di Banten tidak bisa diangap ringan. Intensitas kehadiran para pedagang Cina cukup meramaikan dalam perdagangan di Banten diiringi pula dengan kehadiran imigran yang berfekwensi cukup tinggi. berjarak puluhan meter saja karena dipisahkan oleh sebuah parit. pada tahun 1614 di Banten ada 4 buah perahu Cina yang rata-rata berukuran 300 ton. sedangkan pada koin sebaliknya diketahui huruf Manchu yang artinya tidak diketahui. pembangunan yang terus dilakukan secara bertahap di sekitar klenteng memang tidak merubah keaslian klenteng itu sendiri apa lagi yang terletak dibagian tengah klenteng karena diguankan sebagai altar. Penemuan mata uang Cina ini oleh tim arkeologi di Keraton Surosowan terdapat tulisan Yung Cheng T¶ung Pou = Coinage of Stable Peace yang berarti pembuatan mata uang untuk kesetabilan dan perdamaian. Sedangkan menurut catatan J. dilihat dari catatan arkeologi pada setiap tahun banyak perahu Cina yang berlabuh di Banten. mereka datang untuk berdagang dan melakukan perdagangan dengan cara barter/menukar dengan lada sebagai bahan utamanya. tetapi bangunan klenteng amat terpelihara dengan baik dan masih berfungsi sebagai tempat peribadatan para pemeluk agama Budha hingga kini bahkan dalam perkembangannya di sekitar klenteng ini sekarang cukup banyak berdiri penginapan yang khusus di bangun untuk menampung para pengunjung klenteng dari luar kota yang ingin bermalam. Kita tengok sejarah hubungan antara kesultanaan Banten dengan bangsa Cina pada masa itu. Meskipun klenteng ini sudah berusia 500 tahun. Dahulu kampung Pabean memang banyak dihuni oleh orang-orang Cina daerah pelabuhan itu sangat ramai tetapi jauh dari tempat sembahyangnya orang Cina oleh karena itu kerajaan Banten memberikan bangunan kepada orang-orang Cina di Pabean sebuah bangunan besar bekas kantor bea (douane) pada masa VOC di pelabuhan Banten. waktu itu Banten dikenal sebagai pelabuhan rempah-rempah. Coen perahu Cina membawa barang dagangan bernilai 300. Bangunan klenteng ini memiliki ciri khas tersendiri sama seperti bangunan-bangunan bersejarah di Banten pada umumnya. diperoleh keterangan serupa bahwa Kleteng ini tertua di Jawa.

kubur islam di dalam guha sanghiang sirah. Inggris dan miskinnya penduduk Nusantara.80 cm.C.18 cm.bulat berlubang segi empat. misalnya jarak terhadap pusat persediaan sumber daya alam atau kita sebut sumber makanan dan air minum.Persaingan dagang yang semakin ketat dari bangsa Perancis. manusia menyelenggarakan segala upaya kulturalnya untuk memenuhi kebutuhan hidup secara maksimal. 1993:36) Ujung Kulon Dalam Lintasan Sejarah Mengamati berbagai sumber sejarah di nusantara sangatlah banyak.(1985 : 11-25-1122). batu lingga di Handeuleum. Sementara itu lewis R Binford menyatakan bahwa pola-pola pengelompokan pemukiman manusia seperti yang terlihat setiap pola yang ada pada situs arkeologis. Melihat rekonstuksi sejarah Tanjung Layar pada akhir abad ke 18. Secara kronologis dan hipotetis bahwa dari sisa-sisa situs dan artefak tersebut mencerminkan hamparan sisa-sisa perilaku kehidupan dan budaya manusia yang ada sepanjang sejarah dari kurun ke kurun sejarah berikutnya.C.10-0. diameter 2. (Halwany. . Islam dan terakhir zaman Kolonial. sebagai upaya untuk menekan biaya-baya operasional sampai pada tingkat paling minimal (1967:229-230).Monopoli rernpah-rempah VOC yang sering dilanggar oleh penduduk pribumi. Sub sistem pemukiman merupakan bentang ruang hidup manusia yang mana pada bentang ruang tersebut. Data arkeologi dan sumber sejarah yang dapat diamati di Ujung Kulon Panaitan. Seperti lukisan dinding guha di Sangiang Sirah. Setelah peninjauan dilokasi-lokasi sejarah bayak kita temui analogi-analogi terhadap daratan lain yang secara fisiografis memperlihatkan sejumlah persamaan ciri di daerah lain nusantara dengan ujung Kulon di Banten. Patung Siwa dan Ganesha di Panaitan. maka dapatlah dilakukan penyusunan suatu model hipotesis untuk merekonstruksi kehidupan budaya yang pernah berlangsung di Ujung Kulon Panaitan baik pada masa pra-sejarah. zaman hindu-budha. serta hasil survai dan ekskavasi.O. keadaan ini menyebabkan hutang bertumpuk. chang pemukiman manusia cenderung mengelopok. 1991:31) Pemilihan dan penentuan lokalitas pemukiman biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor. dan beberapa sisa bangunan Kolonial di Tanjung Layar.450. (Michrob. maka Soebroto menekankan pula bahwa tipe-tipe situs arkeologis memberikan gambaran adanya hubungan erat antara pemilihan lokasi situs dengan strategi manusia masa lalu dalam memenuhi kebutuhannya. Penyebab terpenting dalam terjadinya masalah ini antara lain : . Ujung Kulan Panaitan memperlihatkan pada kita beberapa artefak dan sisa-sisa bangunan. menurut K. sehingga mereka tidak mampu membeli barang dagangan yang dibawa VOC. dimana masa itu menghadapi kemunduran dalam perdagangannya karena situasi moneter dunia dan masalah di dalam tubuh VOC sendiri yang kurang sehat. pemukiman kuna di Taman Jaya dan Sumur. disamping Inggris 29 . tebal 0. dan diameter lubang 0. setidaknya memperlihatkan bahwa sekitar daratan selat Sunda ini pernah meniadi salah satu sub-sistem pemukiman dan tempat pemujaan. baik yang bersifat material maupun spiritual.25-2. terutama Pulau Jawa karena sistim monopoli yang tak sehat. muncul tumbuh dan berkembang sebagai hasil interaksi antara ekonomi terhadap tempat khusus dan taktik-taktik mobilitas barang.60 cm. kesemuanya telah ditinggalkan manusia sebagai pelaku kehidupan dan terakhir dimusnahkan oleh letusan gunung Rakata (krakatau) tahun 1883 M (Michrob 1987). ini akan menimbulkan kecintaan kita terhadap budaya nusantara yang beragam dan bercorak yang sangat menawan. sangatlah memperhatinkan masa kita lihat mada masa V.

Tindakan ini dibalas Daendels dengan diserangnya Surosowan pada hari ltu juga yakni tanggal 21 Nopember 1808. Keadaan ini membuat Daendels marah dan menuduh Mangkubumi Wargadiraja sebagai biang keladi larinya pekerja-pekerja itu. c. 1961:56). Belanda dapat dikuasai pada tahun 1807. 1881). karena di Surosowan akan dibangun benteng Belanda. banyak pekerja yang mati terkena penyakit malaria. Sultan harus mengirimkan 1000 orang rakyatnya setiap hari untuk dipekeriakan di Ujung Kulon. (Chis. VOC dibubarkan.1990:21). karena memang dana dari negeri Belanda tidak bisa diharapkan. Karena sebab-sebab itulah akhirnya pada tahun 1799. Untuk menjalankan tugas ini Daendels membangun sarana dan prasarana pertahanan seperti : jalanjalan pos. Dua hari kemudian pasukan ini sampai di perbatasan kota. Demikian juga untuk menguasai daerah-daerah yang baru dikuasai terutama di Jawa dan Madura.(Michrob. Banyaknya biaya yang harus dikeluarkan VOC terutama untuk membayar tentara dan pegawainya yang sangat besar. Sebagai pringatan pertama-tama dikirimlah utusan Komandeur Philip Pieter oleh pihak kolonial Belanda ke istana Surosowan (Banten) untuk menanyakan kembali kesanggupan Sultan. 1990). benteng. Sudah tentu tuntutan ini ditolak mentah-mentah oleh Sultan. Sedangkan patih Mangkubumi 30 . Sehingga banyak diantara mereka yang melarikan diri. Sultan ditangkap dan diasingkan ke Ambon. Pekerjaan pertama Deandles adalah membuat pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon. Surosowan dapat direbutnya menjadi kekuasaannya. Banyaknya pegawai VOC yang melakukan korupsi. Sultan harus segera menyerahkan patih Mangkubumi Wargadiraja ke Batavia. Akan tetapi karena derahnya berawa-rawa. pelabuhan tentara. Karena permintaannya ditolak maka dengan segera dan secara sembunyi-sembunyi dikirimlah pasukan dalam jumlah yang besar yang dipimpin langsung oleh Gubenur Jendral Daendels sendiri ke Banten. ia datang di Batavia pada tahun 1808 dengan tugas pertama mempertahankan Pulau Jawa dari serangan tentara Inggris di India. Untuk itulah dilakukan kerja paksa (kerja rodi) yaitu para pekerja bekerja tanpa upah. Sejak itulah kepulauan Nusantara di jajah Belanda (Soetjipto. Melalui utusan sultan yang datang ke Batavia.sudah berhasil menanamnya di India sehingga pasaran rempah-rempah menurun. rumah sakit tentara dan pabrik mesiu. sehingga sultan tidak sempat lagi menyiapkan pasukannya. Semua kekayaan dan utangpiutangnya ditangani pemerintah Kerajaan Belanda. Untuk itu Daendels memerintahkan kepada Sultan Banten. untuk mnengirimkan pekerja rodi sebanyakbanyaknya agar pekerjaan yang direncanakannya cepat telaksana. personil. Tapi akhirnya Daendels dapat meluluh lantahkan tanah Surosowan hingga menjadi puing-puing berserakan. Sebagian besar Eropa dikuasai Perancis kecuali Inggris. Daendels memerintahkan supaya : a. Namun karena kebencian rakyat yang sudah demikian memuncak kepada Belanda. Serangan yang tiba-tiba ini sangat mengejutkan dan memang diluar dugaan. Halwany & Mujahid. Pada tahun 1789 meletus suatu revolusi besar Revolusi Perancis yang menggoncangkan Eropa dibawah pimpinan Kaisar Napoleon Bonaparte. b. Semua itu harus segera diselesaikan dengan dana serendah mungkin. Louis I Capoleon adiknya Kaisar Napoleon yang diberi kuasa di Belanda mengangkat Daendels sebagai Gubernur Jenderal di kepulauan Nusantara. prajurit-prajurit Sultan dengan keberanian yang mengagumkan berusaha mempertahankan setiap jengkal tanah airnya. Sultan supaya segera memindahkan keratonnya ke daerah Anyer. barak. maka utusan belanda tersebut dibunuh di depan pintu gerbang kraton (Michrob.

namun kekuasaannya tidak dapat melebihi kekuasaan sultan pada biasanya karena ia tidak lebih dari seorang pegawal Belanda. sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Menes. Sultan tidak mempunyai kuasa apa-apa ia hanya mendapatkan gaji 15. Jalan inilah jalan yang di sebut jalan utama atau jalan protokol. rute selanjutnya Ke Tangerang.dihukum pancung dan mayatnya dilemparkan ke Laut. Benteng dan istana Surosowan Banten dibakar dan dibumi hanguskan pada tahun 1909 (Rusjan 195). Dari Anyer Melalui Pandeglang jalan bercabang dua menuju Serang (utara) dan Lebak (selatan). Bandung. Jalur ini melalui garis pantai dari Batavia menuju Carita. Jalan ini dikerjakan hanya dalam tempo waktu 31 . menembus Gunung Palasari. putra Sultan Muhyiddin Zainul Solihkin yang berkedudukan di Caringin. dan Anyer. Dari Serang. terjadi serangan Belanda ke daerah ini tapi tidak berhasil.000 real setiap tahun dari pemerintah Belanda. Belanda membagi daerah Banten dalam tiga wilayah yang statusnya sama dengan Kabupaten seperti. walaupun masih bergelar sultan. Kesimpangsiuran informasi itu menurut Halwany Michrob. wajar-wajar saja sebab pembautan jalan Deandels saat itu melaukannya dalam dua tahapan. Jiput. Puncak. Pengerjaan pembuatan Pangkalan Angkatan Laut dihentikan karena banyak pekerja yang mati dan sakit disebabkan daerah proyek Pangkalan tersebut berupa rawa-rawa. Caringin. Labuan (Pane. Jasinga dan Sadang dimasukan ke dalam teritorial Batavia. Tangerang. tetapi itu tidak berarti bahwa tidak ada cabang-cabang jalan lainnya yang dilewati oleh Daendels. Banten Hilir. Akhirnya Daendles bersama pasukannya datang ke Banten untuk menankap dan memenjarakan Sultan Banten di Batavia.1981:27) pada tahun 1809 itu pulalah mulai dikerjakan pembuatan jalan Pos dari Anyer sampai Panarukan sepanjang 1000 km. dan sebagian orang-orang Banten yang tertangkap di laut selat Sunda ataupun didaratan dipenjarakan di Ujung Kulon. Untuk melemahkan perlawanan rakyat Banten. Ke tiga wllayah tersebut di bawah pengawasan Landros (semacam Residen) yang berkedudukan di Serang. Banten Hulu. Jakarta. Sanusi 1950:14 dan Ismail. Cirebon hingga Panarukan. Selanjutnya Banten dan Lampung dinyatakan sebagai daerah jajahan Belanda. Karena banyak masyarakat yang membenci Pemerintahan Belanda maka timbullah perompakperompak kapal Belanda di sekitar selat Sunda di daerah laut sedangan di daratan timbul pula para pencuri yang digerakkan oleh Alim Ulama setempat yang tidak senang dengan sepak terjang pemerintahaan Belanda. Seperti kejadian di Cibungur dan di pantai Teluk Marica. Bogor. Daendelas mencurigai Sultan Banten sebagai dalang kerusuhan-kerusuhan yang sering terjadi. maka pekerjaan pembuatan Pangkalan di Ujung Kulon dipindahkan ke daeah Anyer. tahap pertama merupakan pembuatan jalan untuk membuka poros Batavia ± Banten pada tahun 1808. 1950 b:II). Pandeglang. Setelah Istana Surosowan hacur lebur maka diangkatlah Putra Mahkota dengan gelar Sultan Wakil Pangeran Suramanggala. Untuk wilayah Banten Hulu diangkat Sultan Muhammad Syafiuddin. Dalam proses pembuatan pangkalan tersebut Deandles melakukan tindakan-tindakan yang keras sehingga menambah kebencian rakyat Banten kepada pemerintahaan Belanda. Sumedang. pada masa itu Daendels memfokuskan kegiatannya pada pembangunan dua pelabuhan di utara (Merak) dan di selatan (Ujung Kulon). Tahap kedua dimulai tahun 1809. (Sanusi Pane. akhirnya Belanda melakukan serangan lagi yang dipimpin langsung oleh Daendels sendiri dan hasilnya tidak mengecewakannya. Cianjur. Lebak hingga Jasinga (Bogor). Belanda dapat menguasai Cibungur dan di pantai Teluk Marica (Pane sanusi 1950 b:11).

atau yang dapat ditafsirkan sebagai Banten. Pembangunan jalan Daendels dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur) sejauh 1000 km pada tahun 1809 ± 1810 yang bertujuan untuk mempercepat tibanya surat-surat yang dikirim antar Anyer hingga Panarukan atau sebagai jalan pos. misalnya. namun setelah terjangitnya penyakit malaria dan banyak yang tewas. Banten menunjukkan adanya dua kelompok etnisitas. Dilihat dari segi demografi. "Calapa" (Sunda Kelapa) dan "Chemano" (Cimanuk). Kategori yang disebut terakhir ini terlihat pada karya-karya arsitektur. pada saat itu rakyat masih mau menghimpun kekuatan untuk melaksanakan perintah paksa Daendles.Budaya Banten bisa diidentifikasi dengan menelusuri. Pada abad 16-18 Banten kemudian berkembang menjadi label wilayah politik dan nama Kesultanan yang bercorak Islam. Selain itu. maka rakyat menghentikan bantuannya. Selain itu. prasasti Kaban-tenan menyebut nama "Bantam". berbagai cerita rakyat (folklore) yang masih hidup dalam ingatan masyarakat. Terbukti dengan hadirnya para ulama. namun jalan-jalan itu dalam perkembangan selanjutnya banyak dipengaruhi kehidupan masyarakat disekitarnya dan telah berubah fungsinya antara lain mejadi jalan ekonomi atau jalan umum dan kini sudah banyak bangunan disekitarnya. baik produk-produk kesusasteraan seperti naskah-naskah.satu tahun dengan mengorbankan beribu-ribu rakyat Banten. toponim Banten juga memiliki kaitan dengan Banten Girang. pesantren dan qari-qariah. catatan Tome Pires (1512-1515) menyebut "Bantam" sebagai salah satu pelabuhan penting Kerajaan Sunda. nama toponim Banten belum dimuat. yaitu: (1) sub etnik 32 . seperti Babad Nagarakartagama (1345 M). "Cheguide" (Cigading). Karena banyaknya korban pada pembuatan jalan Batavia-Banten masih simpang siur. Banten sebenarnya merupakan toponim yang memiliki aspek ruang.000 orang dan banyak yang meningal tampa dikuburkan secara layak. meliputi Kabupaten Serang. Pandeglang. tampak dari sejumlah historiografi lokal. Banten Lama dan Banten Hilir. Hal ini berdasarkan fakta bahwa toponim Banten tidak dicantumkan dalam naskah yang lebih tua. dan secara geografis masih sering dikaitkan dengan bekas Karisidenan Banten. yang berasal dari awal abad ke-16. babad. diduga kuat bahwa toponim Banten Baru muncul pada akhir abad ke-15 M. Tangerang dan Kotamadya Tangerang. menunjukkan bahwa nama Banten. yang dituturkan oleh kelompok sub etnik Banten. begitu pun pembuatan proyek pelabuah maritim di Uiung Kulon (Tanjung Layar) yang banyak mengorbankan jiwa manusia karena disana masih banyak binatang buas. "Tamgaram" (Tangerang). Bahkan. atau buku-buku keagamaan. Pada tahun 1808-1809 Daendles mulai pembuatan jalan dengan rute Batavia-Banten tahap pertama. di samping "Pongdam" (Pontang). teknologi. Kajian Suwedi Montana. Berdasarkan naskah-naskah yang ada. Walaupun demikian Daendels semakin keras menghadapi rakyat. yang tersebar di seluruh pelosok Banten. dalam naskah Pujangga Manik (Pajajaran). Lebak. yang meninggal sekitar 15. dan Purwaka Caruban Nagari yang memuat istilah "Kawungaten". kesenian dan sebagainya. maupun warisan budaya material dalam pengertian yang luas. menurut beberapa sejarahwan Indonesia. ia tidak segan-segan memerintahkan tentaranya menembak mati rakyat yang lalai atau tidak mau bekerja dalam pembuatan jalan apapun alasannya. seperti Cina Parahyangan yang menyebut istilah "Wahanten Girang". Banten Girang Gerbang Kerajaan Banten Nuansa Islam dalam budaya Banten nampaknya cukup kuat hingga saat ini.

berhasil menemukan titik terang akan sejarah Banten. di bagian selatan dari Kota Serang sekarang ini. Penelitian yang dilakukan di lokasi Banten Girang di tahun 1988 pada program Ekskavasi Franco ± Indonesia. (2) sub etnik Banten-Sunda yang wilayah huniannya mulai dari Serang Selatan (Banten Girang) sampai ke pedalaman selatan berbatasan dengan Samudera India. Mata uang logam (koin) sudah digunakan sebagai alat pembayaran. dan beberapa kawasan di India. lokasi awal dari Banten tidak berada di pesisir pantai. dan kapal Jung mereka telah berlayar ke pelabuhan Sunda setiap tahunnya untuk membeli lada. dan hubungan internasional sudah terjalin dengan China. yang menguasai Selat Sunda. Bangsa Portugis telah mendokumentasikan keberadaan Banten dan sekitarnya pada awal abad ke 16. memandang serius ekspansi Islam. namun banyak bukti baru yang ditemukan. kurang lebih 15 tahun sebelum Kerajaan Islam Banten terbentuk. mulai dari daerah Tangerang di sebelah utara. Kemungkinan besar. yang berdiri pada abad ke 14 dengan ibukotanya Pakuan yang berlokasi di dekat kota Bogor sekarang ini. yang sekarang dikenal sebagai Jakarta. Semenanjung Indochina. Pelabuhan Kalapa. Tidak banyak yang diketahui mengenai sejarah dari bagian terbarat pulau Jawa ini. yang berbatasan dengan sub etnik Betawi. Walaupun Kerajaan Pajajaran masih berdiri. dan Pelabuhan Banten. melainkan sekitar 10 Kilometer masuk ke daratan. terutama pada masa sebelum masuknya Islam. bangsa Portugis memulai perdagangan dengan bangsa Sunda. yang menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera. keramik. tembaga. Bangsa Cina juga sangat berminat pada jenis rempah rempah ini. Berdasarkan catatan. nama ini diberikan berdasarkan posisi geografisnya. Dari beberapa data mengenai Banten yang tersisa. Sekaligus dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten ternyata jauh lebih awal dari perkiraan semula dengan ditemukannya bukti baru bahwa Banten sudah ada di awal abad ke 11 ± 12 Masehi. Dan juga dikaitkan dengan keberadaan Kerajaan Sunda Pajajaran. Walaupun dengan keterbatasan penelitian. Banten pada masa itu sudah merupakan kawasan pemukiman yang penting yang ditandai dengan telah dikelilingi oleh benteng pertahanan dan didukung oleh berbagai pengrajin mulai dari pembuat kain. pengrajin besi. Setelah menguasai Malaka pada tahun 1511.Banten Pesisiran yang membentang sepanjang pesisir utara Jawa Barat. tapi dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten sudah berlangsung sangat lama dan teori bahwa keberadaannya dimulai pada saat terbentuknya Kerajaan Islam di Banten. Kerajaan ini mempunyai dua pelabuhan utama. kurangnya dokumentasi mengenai Banten. Ketertarikan utama mereka adalah pada Lada yang banyak terdapat di kedua sisi Selat Sunda. tidak ada keputusan final yang dapat diambil sebelum penelitian dilakukan lebih lanjut. Secara nyata. namun kekuasaannya mulai menyusut. Wilayah ini dikenal dengan nama ³Banten Girang´ atau Banten di atas sungai. tidak lagi dapat dipertahankan. perhiasan emas dan manik manik kaca. Masyarakat Sunda. di tepi sungai Cibanten. melihat makin berkembangnya komunitas ulama dan pedagang Islam yang semakin memiliki peranan penting di kota pelabuhan ³Hindu´. Beberapa dekade sebelumnya Kerajaan Demak telah menguasai bagian timur pulau Jawa dan pada saat itu bermaksud untuk juga menguasai pelabuhan Sunda. dikarenakan posisi Banten sebagai pelabuhan yang penting dan strategis di Nusantara. baru berlangsung setelah masuknya Dinasti Islam di permulaan abad ke 16. 33 . sampai Anyer-Cilegon di sebelah selatan barat. dapat diketahui. Keberadaanya sedikit dihubungkan dengan masa kejayaan maritim Kerajaan Sriwijaya. Kelemahan ini tidak luput dari perhatian Kerajaan Islam Demak.

Hasan Muarif Ambari. dan armada lautnya sangat kuat dan menguasai perairan di sekitar Banten. Sementara itu. Dr. Dengan itu. Portugis di Malaka. penduduk asli Pasai. Pemilihan pembuatan benteng di daerah Tangerang tidak diragukan lagi untuk dua alasan : yang pertama. dan yang kedua untuk menahan agar armada Portugis yang sangat kuat pada saat itu. Di mata otoritas Banten. Seorang ulama yang sekarang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. sebagai ganti dari perlindungan yang diberikan. Kemurah hatian yang sangat tinggi ini menggaris bawahi tingginya tingkat kesulitan yang dihadapi Banten. yang dipimpin oleh Henrique Leme. dalam bukunya "Menemukan Peradaban. Islam mencegah siapapun untuk merapat ke Banten. Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia" (penerbit Logos) memperlihatkan fase-fase pertumbuhan perkembangan budaya Banten dalam panggung sejarah. Negosiasi ini di mulai tahun 1521 Masehi. Dan Banten dipilih sebagai ibukota Kerajaan baru tersebut. Kelihatannya Kaum Muslim menguasai secara serempak kedua pelabuhan utama Sunda. Banten. Masyarakat dan budaya Banten. penguasaan yang tidak lagi dapat ditolak oleh Pakuan. di sisi lain.Menghadapi ancaman ini. pada saat itu telah menetap di Banten Girang. Sebagaimana telah sebelumnya dilakukan di Jawa Tengah. dan diperkenankan untuk membangun benteng di pesisir dekat Tangerang. Islam mengambil alih kekuasaan pada tahun 1527 M bertepatan dengan datangnya armada Portugis. Perjanjian dibuat antara kedua belah pihak. Walaupun pada awalnya kedatangannya diterima dengan baik oleh pihak otoriti. agar Portugis dapat menahan kapal yang berlayar dari Demak. Kaum Muslim. dapat menawarkan komoditas lada bagi Portugis. Putera Sunan Gunung Jati. yang memimpin operasi militer di Banten. Peristiwa transformasi tersebut berlangsung pada tahun 1526 oleh Syarif Hidayatullah dan Maulana Hasanuddin.yang berada di bawah subordinasi Pakuan Pajajaran yang Hinduistik ke daerah pantai yang sekarang dikenal dengan Banten Lama. bangsa Portugis menawarkan perlindungan ganda. memohon kepada bangsa Portugis di Malaka. di bawah pimpinan Francisco de Sá. sebelum akhirnya armada Portugis tiba di pesisir Banten. baik atas inisiatifnya sendiri maupun atas seizin Pakuan. Sejak itu embrio dan fondasi masyarakat dan budaya Banten diletakkan dan ditetapkan dalam format yang berciri keislaman. Hasanudin dinobatkan sebagai Sultan Banten oleh Sultan Demak. sebuah dinasti baru telah terbentuk pada saat yang sama kerajaan yang baru didirikan. dengan tujuan utama untuk menyebarkan ajaran agama Islam. terutama dengan alam dan budaya Islamnya. Otoritas Banten. yang bertanggungjawab akan pembangunan benteng. tidak terlalu dekat dengan kota Banten. yang telah berulangkali datang berniaga ke Banten. situasi politik telah sangat berubah dan sehingga armada Portugis gagal untuk merapat ke daratan. yang sadar akan pentingnya urusan ini. Tahun 1522 Masehi. Kepala Pusat Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas. Prof. sekarang merupakan kelas sosial baru. Jakarta ini. mengirim utusan ke Banten. Dan adalah puteranya. akan tetapi Ia tetap meminta Demak mengirimkan pasukan untuk menguasai Banten ketika Ia menilai waktunya tepat. yang memegang kekuasaan politik di Banten. dimana sebelumnya juga telah memegang kekuasaan ekonomi. mungkin hanya dapat dikenali dengan merunut kembali peristiwa sejarah transformasi pusat administrative politik dari Banten Girang di pedalaman . Portugis akan diberikan akses tak terbatas untuk persediaan lada. yang juga menikahkan adiknya dengan Hasanudin. yaitu Kalapa dan Banten. Lima tahun yang panjang berlalu. bangsa Portugis sangat anti Islam. dirunut dalam fase-fase berikut: 34 . Sadar akan adanya perjanjian antara Portugis dengan penguasa sebelumnya. bagian utara Sumatera setelah tinggal beberapa lama di Mekah dan Demak. Depdikbud Rl) yang juga staf peneliti pada Pusat Pengkaian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Aplikasi dari perjanjian ini adalah adanya kesepakatan kekuasaan yang tak terbatas bagi Portugis. Hasanudin.

Sebelumnya. Di balik semua kilas balik sejarah ini. (5). dan Anyer) di bawah pengawasan landraad (setara residen). Keseimbangan kekuatan ini di antaranya bisa dilihat dari beberapa peristiwa politik yang berlangsung saat itu. dengan komponen-komponen arsitektur dan monumental berciri Islam. Batavia. hal yang tetap hidup dan terus mengakar pada masyarakat Banten adalah kultur Islam. (3). pendudukan Jepang. suatu fase di mana Islam disiarkan oleh Sunan Gunung Jati dari Cirebon dan Maulana Hasanuddin yang beraliansi dengan Demak. Portugis. Fase Penguasaan (VOC) Belanda. yang bermula sejak pertumbuhan Islam di Banten. Fase Pra-Sunda Islam (1400-1525). pemindahan administrasi politik ke Serang Surosowan dihancurkan. Banten telah berhubungan dengan Cina. blokade Belanda atas Teluk Banten. dan sampai sekarang memasuki masa pembangunan. dan Turki datang melakukan transaksi perdagangan di Bandar Banten. (4). Pada fase inilah. Pendirian kota Banten Sorasowan. Setelah Kesultanan Banten dihapuskan oleh Belanda timbul berbagai pergolakan. Fase awal Penyebaran Islam (1525-1619). Batavia dan Mataram). Pada masa itu Banten merupakan daerah bawahan kerajaan Pakuan Pajajaran yang Hinduistis. masih berkembangnya "kota" Surosowan dan lain-lain. telah menyebabkan pertumbuhan dan ramainya perdagangan.(1). Denmark. Dalam situasi seperti ini. Rakyat mulai mengarahkan orientasi kepemimpinan dari raja/sultan kepada para ulama/mubaligh/kiyai. yang berpusat di Banten Girang (Kota Serang sekarang). awara dalam kehidupan masyarakat Banten 35 . didirikannya Keraton Kaibon dan dipecahnya bekas wilayah Kesultanan Banten menjadi tiga daerah setara Kabupaten (Banten Hulu. pada tahun 1809 pembuatan jalan raya Daendells.alternatif setelah Malaka. pemberontakan dan perlawanan rakyat dipimpin oleh para ulama/bangsawan. Fase Mutakhir. Banten mencapai puncak ketinggian budaya (tamaddun Islam). interval penguasaan Inggris (1811-1816). Cirebon. sehingga etnis terakhir ini telah membentuk satu komunitas tersendiri yang memberi sumbangan besar bagi perkembangan perdagangan di Banten. Banten Hilir. yang tidak memperlihatkan adanya dominasi satu kekuatan politik tertentu terhadap kekuatan politik lain: yakni penyerangan Banten ke Batavia. Pada masa ini terjadi transformasi keagamaan. Fase Surut dan Jatuhnya Kesultanan Banten. yakni satu fase tanpa adidaya di mana seluruh kekuatan politik dan ekonomi yang ada di Banten memiliki kekuatan yang seimbang (armada dagang Eropa. Hindia Belanda terkena imbas perang Napoleonik/Rep. perang kemerdekaan. Para pedagang Inggris. tumbuh dan kuatnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. bencana alam (meletusnya Krakatau dan wabah penyakit sampar). dan pilihnya tingkat kemakmuran masyarakat Banten. Kesultanan Banten. (2). Pesantren terus menerus menghasilkan kader dan para ulama tetap berdakwah. Oleh karena itu. Fase Keseimbangan Kekuatan. perpindahan pusat pemerintahan dan mulai berkembangnya Banten sebagai pelabuhan . (6). pendirian Benteng Speelwik yang langsung atau tidak langsung memperlihatkan wujud hubungan antara Banten dan VOC. budaya pesisiran dan budaya pedalaman di daerah selatan Banten (kecuali daerah Baduy) terus menerus memantapkan keislamannya. dari segi budaya Banten dapat disetarakan dengan masyarakat kota seperti Mataram dan Cirebon.

Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Sejarah dan Silsilah 36 . Belakangan. pamong praja dan jawara merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat ³stamboom´ bukan ³geschiedenis´ atau ³history´. Taufik Djajadiningrat. Sebagai subkultur kekerasan. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi. Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (RM. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas. Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten. keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Dari stamboom yang ada. persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam. yaitu masa kerajaan Sunda. keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap eksis. tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten. Namun diantara ketiganya. Penafsiran Sejarah Istilah Jawara Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat. jawara dianggap sebagai ³khodam´ nya para ulama. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore. dan masa kolonial Belanda. kesultanan Banten. dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya. sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul. yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan.Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan Banten khususnya. kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya. yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). Bekasi-Pantura. ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural. yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Oleh karena itu. Seiring dengan perjalanan waktu. Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya. bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. Tesis S2 UI). yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat. Berbeda dengan kedudukan ulama. sebagai ³negeri para ulama dan jawara´. Karena dari para ulamalah sebagian besar ³keilmuan´ jawara itu berasal.

dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane. kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. tetapi juga membela dan melindunginya. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki tangannya. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka. sampaisampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara. istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang. Pada perkembangannya. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Dalamperkembangan selanjutnya. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya. Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak. militan dan mampu mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. yang bermakna harfiah sebagai ³bayi yang menjelang dewasa´. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat.S menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. 1995 : 121-122). Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat. Residen Banten (1925-1931). Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya.G.Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten. Penafsiran keempat. dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. Putman Craemer. seperti jago dalam menyabung ayam. Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. 37 . pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu ³kadugalan´ yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. Miftahul Falah. Penafsiran ketiga. ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. S. Penafsiran kedua. F. Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan.

dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. woelingen (kekacauan). Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. dan perampok. Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20. namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah ³potong letter´ lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri ³maenpukulan´ atau pencak silat. karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. dan Preman Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. kata ini berasal dari kata dasar ³jago´ yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya ³champion´ atau juara (Ridwan Saidi. Jagoan. dikenal dengan peristiwa Perang Pertama. Jawara yang merasa citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda. Berbeda dengan Jagoan. 38 . Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar. Terminologi Jawara. kesultanan Banten. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan permasalahan. yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran). namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok ³kejawaraan´ nya itu sendiri. Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. Selain itu. Berbeda dengan perampok atau pencuri. complot (komplotan). berusaha mengcounter dengan istilah jalma jago nu wani ramah (orang yang jagoan berani dan ramah). istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat. Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan. sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama. mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa. Seiring dengan perkembangan waktu. yang merupakan akronim dari jalma wani nga-rampog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong (jalma wani nga-rahul).Penafsiran kelima. ongergeldheden (pemberontakan). baik semasa kerajaan Sunda. dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. dan onrust (ketidak amanan). pengacau. Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat. mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. Pada umumnya. jawara sangat patuh kepada ulama. tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara.

Lalu bagaimana dengan preman?. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya.Glosari Betawi: 43). tukang pukul dan pemberani. ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat. karena dalam persaingan perdagangan internasional. seperti yang tersirat dalam buku berjudul ³The Sultanate of Banten´ secara resmi diserahkan oleh Duta Besar Perancis Patrick O¶Cornesse. 2002 Kota Banten. yaitu: 1. Banten merupakan pesaing yang cukup disegani oleh bangsa Eropa pada masa itu. Jakarta1995 Ridwan Saidi. Vrijman yang bermakna ³orang bebas´ atau dalam bahasa Inggris disebut free man. Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten. Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya. juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. 39 . sudah menjalin hubungan perdagangan dengan bangsa Eropa dan Asia disekitarnya. Disisi lain menurut tradisi lisan. STAIN Serang. Sumber tulisan: Atu Karomah. Bahkan banyak pula melakukan manuver-manuver dalam sistem perdagangan. Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. Amsterdam di Hindia Belanda Banten menurut data historis dan arkeologis kira-kira pada 450 tahun yang lalu. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. S. non pemerintah. Glosari Betawi. Taufik Djajadiningrat. Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten. kuli yang bekerja menggarap sawah. swasta. Terlebih dalam kemapuan berpolitik. Jakarta 2007 RM. Cerita ini merupakan bukti bahwa sistem perdagangan zaman kesultanan tidak dapat diremehkan. Jakarta1995 Tasbih & Golok. hendaknya kita masih dapat membedakan makna. orang yang kuat. jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. Dari tiga terminologi di atas. fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. sipil.S. jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan ³tukang pukul´ dan seorang yang suka berkelahi. 2. bukan tentara. Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak. kepada bupati Serang Mas Ahmad Sampurna dipendopo kabupaten Serang beberapa tahun yang lalu. jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar. hal ini yang membuat cemas bangsa Eropa. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas. Tesis S2 UI. partikelir. BP Jakarta 1996 Miftahul Falah. Secara hirarki. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman. Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten. pada saat zaman Sultan Maulana Yusuf yang dikenal dengan julukan Penembahan Pakalangan yaitu sekitar tahun 1570. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3.

penelitian tersebut bertujuan untuk mengangkat kembali kebesaran masa silam bangsa indonesia. mengagumi Banten dan menjadikannya satu pelabuhan kosmopolitan besar pada abad 17. Banten menjadi pusat persaingan dan perebutan kongsi perdagangan Eropa. Menurut Cornelis de Houtman asal Belanda pada tahun 1596 Banten disebut Kota Pelabuhan dan Perdagangan yang sama besar dengan Kota di Amsterdam saat itu. Banten di masa itu merupakan pusat peniagaan dunia. Perdagangan lada di Banten sangat ramai karena mutu jenis lada di Banten lebih baik dibadingkan mutu lada dari Malabar dan Aceh. Kota Banten. sehingga para sultan Banten mengambil strategi untuk mengendalikan sepenuhnya komoditi tersebut. terutama pada 1570 samapi abad 19. Perdagangan lada ini begitu ramai dan menguntungkan. sekaligus berdagang langsung dengan Bangsa Eropa dan Asia lainnya. dikenal sebagai kota metropolitan sekaligus kota yang produktif. Malaka akhirnya jatuh ketangan Belanda pada tahun 1641. Di Banten pusat industri untuk produksi lada adalah di Kampung Pamarican yang masih dikenal hingga kini. Begitu pula penduduk di daerah Sumatera diwajibkan untuk menanam 500 pohon lada dan hasilnya dikirimkan ke Kota Banten. khususnya Belanda dan Portugis. dengan cara menginstruksikan semua penduduk di pedalaman ataupun di kota untuk membawa hasil lada mereka ke Kota Banten. isi dari buku ini merupakan hasil dari para peneliti yang bekerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Prancis dengan sasaran penelitian adalah untuk merawat dan merestorasikan kerajaan serta kesultanan Banten. penelitian ini berlangsung hingga tahun 1987. terutama kesultanan Banten yang telah terkubur dalam tanah dan dalam arsiparsip yang ada di Eropa. Menurut catatan sejarah kesultanan Banten pada tahun 1527 berkembang menjadi pusat perdagangan. Dengan tidakan ini bangsa Eropa menilai Banten sudah menjadi Imperium Lada. Menurut Dubes O¶Cornesse. Selain Malaka. sama pula yang diungkapkan oleh Vincent Leblanc asal Perancis waktu tiba di Banten pada abad 16. Banten terkenal dalam perdagangan Ladanya yang menjadi daya tarik bangsa Eropa. Kedua raksasa Eropa ini terlibat pertempuran untuk merebutkan pasar dan pusat produksi lada. Banten bertambah penting posisinya sebagai kota perdagangan internasional setelah Malaka jatuh ketangan Portugis. saat itu Banten masih dibawah Kerajaan Pajajaran yang beragama Hindu. Para sultan mengadakan tindakan pengetatan pada hasil produksi lada di Banten. sebelum melakukan petualangannya untuk mengelilingi dunia. Portugis segera menjalin perdagangan dengan Makasar dan Banten. Karena dilihat dari sarana dan pra sarana sejak dulu seperti Pelabuhan Karangantu yang menarik para pedagang Eropa dan Asia. atau Bantahan menurut sebutan negara Barat. Sebelum Banten menjadi Kota Muslim. juga berkembang menjadi satu kota muslim yang bersaing dengan negara-negara Arab dalam memiliki istana. Lada ini lah yang sangat di gemari oleh bangsa Eropa termasuk bangsa Sepanyol yang mengintruksikan Magellan dan Portugal untuk mencari lada di Banten pada tahun 1519. kota Banten Lama yang didirikan 1526 dipesisir utara Jawa Barat (sekarang Provinsi Banten). Perancis atau bangsa Eropa lainnya. Akhirnya pada tahun 1660-an Sultan Haji memerintahkan 40 . pasar dan juga masjid besar. untuk diolah dengan standar mutu tinggi. beliau mencari hasil bumi terutama LADA dan beliau berucap bahwa Kota Banten ini hampir sama dengan Kota Rouen di negerinya yang ramai dengan para pedang.Buku dalam bahasa Inggris dengan kata pengantar oleh Menteri Pendidikan pada saat itu dijabat bapak Fuad Hasan. Banten Sadar pentingnya armada dagang untuk menguasai dan mempertahankan industri lada. Pada tahun 1522 Protugis mengadakan perjanjian dagang dengan para pengusaha Banten. kemasyurannya tetap tersimpan dalam kenangan bangsa perancis kata O¶Cornesse.

14 SM) dan Plinius (akhir abad pertama masehi).1580 Maulana Muhammad 1585 . India. Berita yang paling meyakinkan tentang hubungan Banten dengan Eropa. dan bangsa Inggris dipercaya untuk membangun armada tersebut.pembangunan armada kapal dagangnya dengan model seperti kapal-kapal Eropa.1590 Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 . Kamboja. 1978: 21-38). Siam. ujung utara Sumatra.1687 Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690) Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733) Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752) Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750) Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753) Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773) Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799) Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801) Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802) Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803) Aliyuddin II (1803-1808) Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809) Muhammad Syafiuddin (1809-1813) Muhammad Rafiuddin (1813-1820) 41 . berdasarkan tulisan geograf Starbo (27 .1570 Maulana Yusuf 1570 .) Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad 1640 . Pulau Panaitan. kemudian menyusuri pantai barat Sumatra. India dan Cina adalah dengan diketemukannya peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus. terus melalui Laut Tiongkok Selatan sampai ke Cina (Yogaswara.1650 Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680 Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 . Selat Sunda. Taiwan dan Jepang. Vietnam. Syarif Makkah saat itu. Dengan armadanya yang kuat akhirnya Banten mampu berdagang langsung dengan Mekkah. Peta ini dibuat pada tahun 165 M. Kesultanan Banten memasuki persaingan perdagangan lada internasional yang sangat ramai pada kurun waktu antara tahun 1651 dan tahun 1672 sampai VOC (Belanda) merebut Banten pada tahun 1682. Daftar pemimpin Kesultanan Banten y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y Sunan Gunung Jati Sultan Maulana Hasanudin 1552 . saat kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa Abulfathi Abdul Fatah dan Sultan Haji Abunhasr Abdul Kahhar.1640 (dianugerahi gelar tersebut pada tahun 1048 H (1638) oleh Syarif Zaid. Vietnam. Dalam peta ini digambarkan tentang jalur pelayaran dari Eropa ke Cina dengan melalui: India.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful