SEJARAH BANTEN

SEJARAH BANTEN : KRONOLOGI WAKTU

130 M Berdiri Kerajaan Salakanagara (Negeri Perak)yang beribukota Rajatapura yang terletak di pesisir barat Pandeglang. Raja pertama Dewawarman I (130 ± 168 M) yang bergelar Aji Raksa Gapurasagara (Raja penguasa gerbang lautan) Daerah kekuasaannya meliputi : ‡ Kerajaan Agrabinta di Pulau Panaitan ‡ Kerajaan Agnynusa di Pulau Krakatau ‡ Dan daerah ujung selatan Sumatera 165 M Banten (Pulau Panaitan) masuk dalam peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus sebagai bagian dari jalur pelayaran dari Eropa menuju Cina dengan melalui India, Vietnam, ujung utara dan pesisir barat Sumatera, Pulau Panaitan, Selat Sunda, terus melalui Laut Cina Selatan sampai ke Daratan Cina. Abad 5 M Prasasti Munjul yang diperkirakan berasal dari abad ke V masehi ditemukan di Sungai Cidangiang, Lebak Munjul ± Pandeglang. Prasasti berhurufkan palawa dengan bahasa sanksekerta menyatakan bahwa raja yang berkuasa di kawasan tersebut adalah Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara. Dalam prasasti tersebut dituliskan juga bahwa negara pada saat itu berada dalam kemakmuran dan kejayaannya. Abad XII ± XV Banten menjadi pelabuhan dari Kerajaan Pajajaran. Abad XIV Ditemukan prasasti di Bogor, yang menyatakan Pakuan Pajajaran didirikan oleh Sri Sang Ratu Dewata, yang daerah kekuasaannya meliputi seluruh Banten, Kalapa (Jakarta), Bogor, sampai Cirebon. Abad XVI Awal abad ke XVI, Banten dibawah pemerintahan Prabu Pucuk Umun (Dalam Babad Cibeber disebut juga sebagai Ratu Ajar Domas). Pusat pemerintahannya terletak di Banten Girang, yang dihubungkan dengan pelabuhan Banten melalui Sungai Cibanten, dan melalui Klapadua sebagai jalur darat. 1513 M Tome Pires, pelaut Portugis, memberitakan bahwa pelabuhan Banten merupakan pelabuhan kedua terbesar setelah Kalapa. Telah terjadi hubungan perniagaan dengan Sumatera dan Maladewa, dan pelabuhan Banten merupakan pengekspor beras, bahan makanan dan lada. Pada masa ini, diberitakan juga sudah banyak dijumpai orang Islam di daerah Cimanuk, dan kota kota pelabuhan seperti Kalapa dan Banten. 1511-21 M Tanggal 5 Agustus 1511 M, Bangsa Portugis menguasai Malaka dan disusul dengan takluknya Samudera Pasai pada tahun 1521 M. Selain untuk kekuasaan dan kekayaan, bangsa Portugis juga dibebani misi untuk menghancurkan agama Islam. Dengan menguasai Malaka, bangsa Portugis memonopoli perdagangan rempah rempah di Asia Tenggara, dan memberlakukan peraturan peraturan yang memberatkan bagi para pedagang terutama yang beragama Islam. Kondisi ini membuat pedagang pedagang dari Arab, Parsi, Cina, dan bangsa lain enggan untuk berniaga ke Malaka dan mengalihkannya ke Aceh, Banten, Cirebon, dan Demak. Keadaan ini sangat menguntungkan bagi Pelabuhan Banten yang berkembang semakin pesat dan lama 1

kelamaan menjadi pusat penyebaran agama Islam di bagian barat pulau Jawa. 1521 M Dengan semakin berkembang pesatnya kekuatan Islam di barat dan timur, timbul kekhawatiran raja Pajajaran akan semakin terdesaknya agama Hindu selaku agama resmi kerajaan dan juga lunturnya kekuasaan di di daerah pantai. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata) melakukan : ‡ Pembatasan pedagang pedagang yang beragama Islam mengunjungi pelabuhan pelabuhan yang berada di bawah kekuasaan Pajajaran. ‡ Menjalin hubungan persahabatan dan kerjasama dengan bangsa Portugis di Malaka, agar dapat membantu Pajajaran bila diserang Kerajaan Demak, dengan mengutus putera mahkota Pajajaran Ratu Sangiang atau Surawisesa ke Malaka. 1522 M 21 Agustus 1522 M, Henrique Leme, utusan Gubernur Malaka, menandatangani perjanjian dengan raja Pajajaran, Pangeran Surawisesa, pengganti Sri Baduga Maharaja. Perjanjian tersebut berisi antara lain : ‡ Portugis dapat mendirikan benteng di pelabuhan Sunda Kelapa ‡ Raja Pajajaran akan memberikan lada sebanyak yang diperlukan Portugis sebagai penukaran barang barang kebutuhan Pajajaran. ‡ Portugis bersedia membantu Pajajaran apabila diserang Demak atau kerajaan lainnya. ‡ Sebagai tanda persahabatan, Pajajaran akan memberikan hadiah 1000 karung lada setiap tahunnya kepada Portugis. 1525 M Pasukan gabungan Demak dan Cirebon yang dipimpin Fatahillah, Pangeran Cirebon, Dipati Cangkuang, dan Dipati Keling, serta pasukan lokal di bawah pimpinan Hassanudin dapat menguasai Banten. Untuk menjaga stabilitas keamanan di Banten, Hassanudin kemudian diangkat menjadi Adipati Banten dengan pusat pemerintahan di Banten Girang. 1526 M Atas petunjuk dari Sunan Gunung Jati, ibukota Banten dipindahkan ke dekat pelabuhan Banten, yang kemudian disebut dengan Surosowan. Berdasarkan beberapa data, pemindahan ibukota ini dilakukan pada tanggal 1 Muharram 933 H yang bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1526 M. 1527 M Terdengar kabar, Portugis dengan armada dan persenjataan lengkap telah meninggalkan Malaka menuju Sunda Kelapa. Mendengar berita ini, Demak, Banten, dan Cirebon bergerak untuk menguasai Sunda Kelapa. Sunda Kelapa dapat dikuasai pada tahun 1527 M, dan Fatahillah diangkat untuk menjadi Adipati Sunda Kelapa. Sebagai tanda kemenangan, Sunda Kelapa diganti namanya menjadi Jayakarta, yang berarti Kota Kemenangan. Armada Portugis yang datang dari Malaka untuk melaksanakan perjanjian tahun 1522 M dengan Kerajaan Pajajaran tiba setelah Sunda Kelapa dikuasai pasukan Islam. Portugis yang dipimpin oleh Francisco de Sa melakukan perang terbuka di perairan Sunda Kelapa, dan setelah mendapat perlawanan hebat dari pasukan Islam, Portugis dapat diusir mundur dari Sunda Kelapa. Setelah Jayakarta berhasil diamankan dari serangan Portugis, Hassanudin dan Fatahillah bekerjasama menangani pembangunan di Banten dan Jayakarta. Hassanudin bertanggung jawab dalam masalah pengembangan wilayah dan pendidikan kemasyarakatan, sedangkan Fatahillah bertanggung jawab menangani keamanan dan pertahanan wilayah. Sehingga pada masa itu Islam menyebar dengan pesat 2

dan keamanan negara terjamin. Kedua penguasa di Jawa Barat memerintah atas nama Sultan Demak. 1552 M Kemajuan perkembangan Banten yang sangat pesat, menjadikan status Banten ditingkatkan dari Kadipaten menjadi Kerajaan. Hassanudin ditunjuk sebagai raja pertama. Dan pada tahun yang sama pula, Fatahillah (menantu dari Sunan Gunung Jati) diangkat menjadi raja di Cirebon, mewakili Sunan Gunung Jati, dikarenakan mangkatnya raja Cirebon, Pangeran Pasarean (putera Sunan Gunung Jati) di tahun tersebut. Untuk menjalankan tugas pemerintahan di Jayakarta diangkat Pangeran Bagus Angke, menantu Sultan Hassanudin. 1552-1570 M Masa Pemerintahan Sultan Maulana Hassanudin. Sultan Maulana Hassanudin memerintah sebagai raja pertama Kesultanan Banten dari tahun 1552 M hingga wafatnya di tahun 1570 M. Pada masa pemerintahannya, digambarkan kota Banten telah berkembang sangat pesat. Jumlah penduduk diperkirakan telah mencapai 70.000 jiwa. Terletak di pertengahan pesisir teluk Banten, Kota yang dikenal dengan nama Surosowan ini memiliki panjang 400 hingga 850 depa. Kota Banten dilewati sungai jernih yang dapat dilalui oleh kapal jung dan gale. Kota Banten dikelilingi benteng bata setebal tujuh telapak tangan. Bangunan bangunan pertahanan dua lantai terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan meriam. Di tengah kota terdapat alun alun yang digunakan untuk kegiatan ketentaraan, kesenian rakyat dan juga sebagai pasar di pagi hari. Istana raja terletak di sisi selatan alun alun, disampingnya dibangun bangunan datar yang ditinggikan dan diatapi yang disebut srimanganti, sebagai tempat raja bertatap muka dengan rakyat. Di sebelah barat alun alun dibangunlah Masjid Agung Banten. Sultan Hassanudin dalam usahanya membangun dan mengembangkan kota Banten lebih menitik beratkan pada pengembangan sektor perdagangan, disamping memperluas lahan pertanian dan perkebunan. Pada masa pemerintahannya, Banten telah menjadi pelabuhan utama di Nusantara, sebagai persinggahan utama dan penghubung pedagang pedagang dari Arab, Parsi, Cina, dengan kerajaan kerajaan di Nusantara. Cara jual beli saat itu, masih menggunakan sistem barter, dan juga sudah mulai digunakan mata uang sebagai alat tukar. Mata uang yang digunakan adalah Real Banten dan cash cina (caxa). Terjadinya krisis kepemimpinan di Kesultanan Demak pada tahun 1547-1568 M, mendorong Sultan Hassanudin untuk melepaskan diri dari Kesultanan Demak dan menjadikan Banten kerajaan yang berdiri sendiri. Saat itu, wilayah Kesultanan Banten telah meliputi Banten, Jayakarta, Kerawang, Lampung, Inderapura, sampai Solebar. Sultan Hassanudin wafat tahun 1570 M dan dimakamkan di samping Masjid Agung. Setelah wafatnya, Maulana Hassanudin dikenal dengan sebutan Sedakinking. Sebagai penggantinya, dinobatkanlah Pangeran Yusuf sebagai Raja Banten ke 2. 1570-1580 M Sultan Maulana Yusuf Pada masa kepemerintahan Sultan Maulana Yusuf, strategi pembangunan dititik beratkan pada pengembangan kota, keamanan wilayah, perdagangan dan pertanian. Pada saat itu, perdagangan sudah sangat maju sehingga Banten merupakan tempat penimbunan barang barang dari seluruh dunia yang nantinya akan disebarkan ke seluruh nusantara.

3

Dengan majunya perdagangan maritim di Banten, maka kota Surosowan dikembangkan menjadi kota pelabuhan terbesar di Jawa. Ramainya kota baru ini dengan penduduk pribumi maupun pendatang membuat diberlakukannya aturan penataan dan penempatan penduduk berdasarkan keahlian dan asal daerah penduduk. Perkampungan untuk orang asing biasanya ditempatkan di luar tembok kota, seperti Pekojan yang diperuntukan bagi pedagang muslim dari kawasan Arab ditempatkan di sebelah barat pasar Karangantu, Pecinan yang diperuntukan bagi pendatang dari Cina ditempatkan di sebelah barat Masjid Agung, di luar batas kota. Penataan pengelompokan pemukiman ini selain bertujuan untuk kerapian dan keserasian kota juga untuk kepentingan keamananan, dan merupakan upaya penyebaran dan perluasan kota. Selain penataan pemukiman, juga dilakukan perkuatan dan penebalan tembok keliling kota dan tembok benteng sekeliling istana. Tembok benteng diperkuat dengan lapisan luar yang terbuat dari bata dan batu karang dengan parit parit disekelilingnya. Perbaikan Masjid Agung juga dilakukan dan penambahan bangunan menara dengan bantuan Cek Ban Cut, arsitek muslim asal Mongolia. Untuk kepentingan irigasi bagi persawahan yang berada di sekitar kota dan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih bagi kota Surosowan, di buatlah danau buatan yang dinamakan Tasikardi. Air dari sungai Cibanten dialirkan melalui terusan khusus ke danau ini, yang kemudian disalurkan ke daerah daerah sekitar danau. Dengan melalui pipa pipa terakota, setelah diendapkan di Pengindelan Abang dan Pengindelan Putih, air yang sudah jernih dialirkan ke keraton dan tempat tempat lain di dalam kota. Di tengah danau buatan ini juga dibuat pulau kecil yang digunakan sebagai tempat rekreasi keluarga keraton. Sultan Maulana Yusuf wafat pada tahun 1580 M dan dimakamkan di Pakalangan Gede dekat kampung Kasunyatan sekarang, dan karenanya beroleh gelar Pangeran Panembahan Pakalangan Gede atau Pangeran Pasarean. Sebagai pengganti, diangkatlah putranya, Pangeran Muhammad yang pada waktu itu baru berusia 9 tahun. 1579 M Pasukan Banten di bawah pimpinan Sultan Maulana Yusuf berhasil merebut Pakuan, ibukota Kerajaan Pajajaran dan menguasai seluruh wilayah bekas kerajaan Pajajaran. Raja terakhir yang memerintah Kerajaan Pajajaran adalah Raga Mulya atau Prabu Surya Kencana, yang juga dijuluki Prabu Pucuk Umun atau Panembahan Pulosari, karena pada akhir masa kepemerintahannya berkedudukan di gunung Pulosari, Pandeglang. Benteng Pulosari dapat dikuasai oleh Sultan Maulana Yusuf pada tanggal 8 Mei 1579/11 Rabiul Awal 987 H. Setelah berhasil dikalahkan, seluruh punggawa kerajaan Pajajaran diislamkan dan dibiarkan kembali memangku jabatannya sehingga dapat menjamin stabilitas keamanan di seluruh wilayah Banten. 1580-1596 M Sultan Maulana Muhammad Kanjeng Ratu Banten Surosowan Keadaan Banten pada masa Sultan Maulana Muhammad dapat diketahui berdasarkan kesaksian Willem Lodewycksz yang mengikuti Cornelis de Houtman yang mendarat di pelabuhan Banten tahun 1596. Dari catatan mereka diketahui bahwa Kota Banten mempunyai tembok tembok yang lebarnya lebih dari depa orang dewasa dan terbuat dari bata merah. Diperkirakan besarnya sebesar kota Amsterdam tahun 1480 M dan orang dapat melayari seluruh kota Banten melalui banyak sungai. Setiap kapal asing yang hendak berlabuh di Bandar Banten diharuskan melalui semacam pintu gerbang dan membayar bea masuk. 4

untuk tempat shalat perempuan disediakan tempat khusus yang disebut pawastren atau pawadonan. Mangkubumi yang baru ini. untuk menjalankan roda pemerintahan maka ditunjuklah Mangkubumi Jayanegara. Maulana Muhammad terkenal sebagai orang yang saleh. Pada saat Mangkubumi Jayanegara wafat di tahun 1602 M. saudara sultan lain ibu ini. Kekacauan di dalam negeri semakin membesar dan tidak dapat ditangani karena Mangkubumi lebih sibuk mengurus keributan yang ditimbulkan oleh pedagang Belanda dengan pedagang Inggris. Sultan juga menjadi khatib dan imam untuk setiap shalat Jum¶at dan Hari Raya. dimakamkan di serambi Masjid Agung dan beroleh gelar Pangeran Seda ing Palembang atau Pangeran Seda ing Rana. perwalian dikembalikan ke ibunda sultan. beliau banyak mengarang kitab agama Islam dan membangun masjid hingga ke pelosok negeri. Nyai Gede Wanagiri. yang ditunjuk sebagai penggantinya. dapat dihentikan atas usaha Pangeran Jayakarta hingga dibuat perjanjian perdamaian antara semua pihak. maupun pedagang dalam negeri. Pada masa kepemimpinannya. dengan berbagai kepentingan yang berbeda serta keinginan untuk merebut tahta kerajaan. Sultan meninggalkan putra yang baru berusia lima bulan. saudara beda ibu dengan Sultan Maulana Muhammad. Untuk kepentingan penyebaran agama Islam. yaitu Abul Mafakhir.Transaksi perdagangan di pasar ini berjalan mudah karena mata uang dan pertukaran mata uang (money changer) sudah dikenal. Sultan Maulana Muhammad wafat pada tahun 1596 pada saat penyerangan ke Palembang. Salah satunya adalah diangkatnya Pangeran Ranamanggala sebagai Mangkubumi dan wali dari sultan muda. perang yang dimulai akibat bujukan Pangeran Mas. semenjak itu Banten menjadi aman kembali. Portugis. mendesak agar suami barunya ditunjuk sebagai Mangkubumi. sehingga tidak memiliki wibawa dan keputusannya lebih banyak tidak ditaati. Pangeran Ranamanggala adalah putra Maulana Yusuf. seorang tua yang lemah lembut dan luas pengalamannya dalam pemerintahan sebagai walinya. tindakan utama yang diambil adalah mengembalikan stabilitas keamanan Banten dan menegakan peraturan untuk kelancaran pemerintahan. Masa awal pemerintahan Sultan yang masih balita ini merupakan masa masa pahit dalam sejarah Kesultanan Banten karena banyaknya perpecahan dalam keluarga kerajaan. Banten dapat terselamatkan dari kehancuran akibat rongrongan dari dalam amupun luar negeri. 5 . Dengan cara demikian. yang memicu terjadinya perang saudara yang dikenal dengan nama Perang Pailir. Nyai Gede Wanagiri yang telah menikah kembali. Puncak dari kekacauan itu adalah dibunuhnya Mangkubumi. Sultan Maulana Muhammad wafat di usia 25 tahun. yang terjadi di tahun 1608 ± 1609 M. keturunan dari Kerajaan Demak yang ingin menjadi Raja Palembang. Selama menjabat sebagai Mangkubumi. dalam kenyataannya banyak menerima suap dari pedagang asing. 1596-1651 M Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir Sultan Abul Mafakhir yang baru berusia lima bulan. yang bahkan Sultan sendiri tidak diperkenankan untuk ikut campur. Masjid Agung diperindah dengan melapisi dinding dengan keramik dan kolomnya dengan kayu cendana. Perang untuk memperebutkan tahta yang dilancarkan oleh Pangeran Kulon. Sultan tertembak ketika memimpin pasukan dari kapal Indrajaladri di Sungai Musi.

tidak lagi 372 orang. Jadi rahasia dari masa-masa akhir hidup VOC termuat juga dalam naskah ini. raden mas Belanda ini sempat menyelesaikan dua memorandum panjang. Pada pengantar dari memorandum yang telah diperpendek itu. penerbit LP3ES. terbitan KITLV). yang masing-masing berjudul Berschijving van Banten en de Lampong (Uraian tentang Banten dan Lampung) dan Bedenkingen van den staat van Bantam (Pemikiran tentang Banten). Yang penting ialah Jonkheer Jan de Rovere van Breugel adalah seorang pejabat VOC di Banten. Pada tahun 1788. tetapi lebih mungkin karena keasyikan berkisah saja-ternyata banyak juga membicarakan hal-hal yang mestinya tidak boleh diketahui umum. Hal ini dilakukan agar pedagang dari Belanda tidak berniaga di Banten karena perilaku pedagang Belanda yang kasar dan mau mencampuri urusan pemerintahan dan dalam negeri Banten. yang menarik ialah ternyata setahun sebelum ia ³pulang negeri´. Disarikan dari Buku BANTEN DALAM PERGUMULAN SEJARAH: sultan. ulama. Namun. Coba saja pikir pejabat yang bergelar Jonkheer ini antara lain mengusulkan agar VOC menurunkan tingkat administratif Banten hingga dengan begini jumlah tentara yang diperlukan cukup 185 orang saja. Akan tetapi. barulah pada tahun 1857 ± hampir enam dasawarsa kemudian ± ringkasan dari kedua memorandum panjang ini diterbitkan dalam majalah Bijdragen tot Taal-. Soalnya Banten cukup dekat dari Batavia dan lagi ± dan ini rupanya penting juga ± ³kemiskinan sang raja telah meniadakan kemungkinannya untuk melakukan apapun´. yang akan mau mengakui cara berpikir legalistik konyol ini.sebuah organisasi keilmuan yang tertua di negeri yang kemudian bernama Hindia Belanda ini. Maka dengan pengurangan biaya ini kerugian finansial VOC bisa ditekan. karangan Nina H Lubis. Soalnya kedua naskah memorandum itu-entah sengaja. Akan tetapi. Beberapa kebijakan penting yang diambil : ‡ Penghapusan keharusan bagi pedagang Cina untuk menjual lada kepada pedagang Belanda ‡ Penetapan pajak ekspor lada dan pajak impor bagi barang barang yang sebelumnya tidak terkena pajak ‡ Pemberlakuan pajak yang lebih tinggi bagi pedagang dari Belanda.en volkenkunde (biasa dipendekkan dengan BKI saja. Pulang kampung dan meletakkan jabatan bukanlah pula hal yang harus dibesar-besarkan. Akan tetapi.Mangkubumi dalam menghadapi bangsa asing tidak berat sebelah atau memihak pihak manapun. 6 . sedangkan umur Hindia Belanda hanya 142 tahun saja. Bukankah sudah umum juga diketahui bahwa salah satu sebab utama VOC dilebur dan daerah-daerah di Kepulauan Indonesia yang telah berada di bawah dominasi VOC dijadikan sebagai bagian dari sebuah negara kolonial yang disebut Hindia Belanda ialah karena VOC telah mengalami kebangkrutan? Tentu sekarang kita bisa berkata bahwa kalau dihitung-hitung umur VOC lebih panjang daripada Hindia Belanda. sebuah majalah yang sampai sekarang masih terbit bahkan telah semakin bersifat internasional. Melihat namanya ia rupanya seorang bangsawan. Kalaupun ingin berpikir secara legalistik yang kaku palingpaling hanya bisa ditambah empat tahun tambah beberapa bulan ± sejak menyerahnya Jepang hingga ³penyerahan kedaulatan´. Peristiwa ini pun tak pula penting. ia terpaksa meninggalkan jabatannya pada maskapai dagang Belanda yang semakin lama semakin berfungsi sebagai sebuah ³negara´ itu. jawara. tetapi biarlah kebangsawanan ini sebagai tambahan pengetahuan saja. entah tidak. redaksi majalah mengatakan bahwa sebenarnya naskah lengkap dari sang bangsawan lokal ini akan diterbitkan oleh Bataviaasch Genootschaap. rencana penerbitan ini dibatalkan karena Gubernur Jenderal Alting menasehati sang pengarang agar mau mengurungkan niatnya.land-. VOC sempat hidup sampai dua abad kurang dua tahun (1602-1800).

janganlah kaget kalau ia mengatakan bahwa menurut pengamatannya laki-laki Banten itu sesungguhnya pemalas. sejarawan Australia yang ahli Jawa. Apalagi pada waktu diterbitkan. hasil bumi dan perdagangan serta hal-hal lain lagi. Kalau begini keadaannya nilai aktualitas dari memorandum itu telah membuyar. Hanya saja. Bahkan. Policy apalagi yang akan dijalankan berdasarkan memorandum itu? Bisalah pula dipahami bahwa barulah ketika Ann Kumar. tetapi juga serta merta mengikis tradisi maritim Jawa yang dinamis. meskipun mereka masih tinggal di rumah orang tua. katanya lagi. Dalam memorandum ini. Ia pun ³berbaik hati´ juga mengikhtisarkan lagi ikhtisar naskah sang Jonkheer. yang jelas kedua naskah memorandum yang telah diperpendek itu diterbitkan ketika Pemerintah Hindia Belanda telah asyik dengan politik ³tanam paksa´ atau cultuurstelsel di Pulau Jawa. Dalam tulisannya tampak pula bahwa ia adalah seorang pengamat situasi sosial yang cukup jeli juga. sayang juga ketika akhirnya diterbitkan tulisannya hanya bermanfaat sebagai salah satu sumber sejarah saja. Maka. laki-laki Banten itu. Ia berbicara tentang wilayah dan kota. jika saja usul-usulnya bisa dipertimbangkan untuk dilaksanakan. pemerintahan (raja. tetapi ia dapat saja bercerita tentang apa saja yang kebetulan dilihat dan diamatinya. yang jelas tulisan Jonkheer de Rovere van Breugel boleh dikatakan bercorak ensiklopedis tentang Banten. Dengan membaca ³ikhtisar dari ikhtisar´ ini kita mengetahui juga dasar keinginan van Breugel untuk menerbitkan kedua memorandumnya dan bisa pula memahami pertimbangan majalah BKI untuk menerbitkan ikhtisarnya sekian puluh tahun kemudian. kalau saja pengamatannya tidak terlalu bias. sudahlah. Banten telah pula sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Belanda. penduduk dan adat. van Breugel membayangkan juga suatu saat Banten akan bisa bangkit lagi jika saja VOC menjalankan kebijakan yang baik.siapa lagi selain kaum konservatif Belanda? Jadi. bangsawan). Soalnya ia sebenarnya melihat masa depan yang cerah juga bagi Banten. la mungkin tak bisa menerangkan mengapa ³itu harus begitu´ dan ³mengapa ini harus begini´. tetapi akibatnya orangtua anak perempuan akan kehilangan pembayaran yang telah mereka lakukan. Namun demikian. Akan tetapi. Mereka membiarkan saja para isteri mereka bekerja mengurus rumah tangga. tentu bisa juga dimaklumi kalau dalam melihat dan mengamati masyarakat Banten ia tak bisa melepaskan landasan penilaian yang bercorak Belanda. Politik ini bukan saja dengan ekstrem mengeksploitasi anak negeri dan menjadikan mereka terpaku pada desa masing-masing. Meskipun ia sangat menaruh perhatian pada sumber-sumber ekonomis Banten dan Lampung. menulis tentang hubungan Jawa dan Belanda (Java and Modern Europe. Anakanak umur delapan atau sepuluh telah dipertunangkan. meskipun Hindia Belanda telah berkuasa. 7 . Tampak sekali bahwa sang pengarang berharap agar memorandumnya ini bisa mempengaruhi kebijakan politik kolonial yang dijalankan. Pertunangan ini bisa juga dibatalkan. tetapi ternyata hampir tidak ada aspek kehidupan dan dinamika ekonomi-politik yang tidak dibicarakannya. Mereka lebih sibuk minum-minum ± tentu saja bukan air ± makan-makan sirih dan menunggangnunggang kuda. membiarkan saja perdagangan dikuasai para pendatang yang disebut ³Orang dagang´ . 1997) ia merasa perlu menjadikan tulisan dari van Breugel ini sebagai bahan kajiannya. tetapi sudahlah. tak perlu heran kalau masyarakat awam masih menyebut pemerintah kolonial Belanda ³kompeni´. sebagaimana yang mungkin bisa dilakukan oleh ahli anthropologi modern. Karena itulah barangkali ikhtisar memorandum kurang begitu menarik perhatian. tetapi kali ini dalam bahasa Inggris.

Akan tetapi. sedangkan tentang ibu kota. artinya mereka sering berhasil mengelakkan monopoli VOC. katanya. katanya. dan sebagainya. gula. biasanya buah-buahan. Tentang agama. hanya sebagian kecil saja memakai bingkai kayu. Tumanggung. Sultan asyik dengan segala macam kemewahan. yang menurut van Breugel. kelapa. Orang Mandar. sangat dipengaruhi oleh ³paus-paus orang asing´ (maksudnya tentu saja ulama-ulama dari negeri lain). sedang berada dalam situasi kemelut yang parah juga. pada umumnya mereka lebih suka mengikuti hukum alam saja ² darah dibayar dengan darah. yang disaksikan van Breugel. adalah yang paling aktif dalam penyelundupan. Van Breugel jengkel juga karena ia melihat sang Sultan tidak menaruh hormat lagi pada VOC. la menguraikan satu persatu komoditi ini. sedangkan para pejabat negara. beras. Tentang usaha pemberantasan perompakan ia mengusulkan agar kekuatan armada Banten diperkuat. padahal 8 . menurut pengamatannya. Kalau saja interpretasi sosial boleh diberikan terhadap uraiannya ini maka bisalah dikatakan bahwa masyarakat Banten. semua pasar itu mengalami kemunduran . sebab ia bisa juga berbicara agak panjang lebar tentang situasi dari upacara perkawinan itu. Akan tetapi. ia mengatakan bahwa orang Banten itu beragama Islam tetapi orang Lampung menganut kepercayaan yang merupakan percampuran ³ajaran Muhammad´ dengan sistem kepercayaan yang masih kafir. Ketika menyebut ³paus´ ini van Breugel sama saja dengan para penulis Belanda lain. Istana raja dikelilingi benteng berbentuk setengah bulan. (Belanda abad ke-18 sangat anti-Katholik rupanya). Di sekeliling benteng itu ada perumahan VOC. Ada tiga pasar di Banten. yaitu Karang Antu. tetapi. seperti menteri dan ³pendeta´ (maksudnya barangkali kadhi kerajaan) dan beberapa orang lain mempunyai rumah batu. Cerita yang mengasyikkan juga ialah tentang bajak laut. kopi. yang diperkuat dengan 58 meriam. kayu sandalwood. dan sebuah pasar baru. Kata ³paus´ adalah sebutan ejekan bagi ulama. bagaimanakah keadaan ibu kota Banten? Kalau tentang desa ia mengatakan bahwa desa orang Banten sangat tak beraturan. Mereka semakin berpengaruh saja di kalangan masyarakat Banten. ndigo. ia melukiskan tentang dindingdinding yang dulu pernah mengitari ibu kota sekarang telah hancur lebur berantakan. tidak lagi seperti dulu ketika Banten masih megah. umpamanya dengan memberi bantuan mesiu. sedangkan tamu-tamu datang dengan membawa hadiah. Orang Banten mempunyai hukum juga. Sang pejabat yang bangsawan ini rupanya pernah juga beberapa kali menghadiri upacara pernikahan orang Banten. Bukan itu saja.Pesta perkawinan diadakan di rumah penganten perempuan. Bagian yang terpenting dari memorandum ini ialah uraian tentang komoditi perdagangan dari Banten dan Lampung: lada. pinang. Rumah-rumah umumnya terbuat dari bambu. Perbentengan telah hancur dan di atas runtuhan itu rumah-rumah baru didirikan karena jumlahnya cukup banyak inilah Banten. Orang Cina tinggal di dua kampung yang dipenuhi oleh rumah tembok batu juga. Raja yang memerintah pada waktu itu ialah Sultan Abul Nazar Muhammad. la menguraikannya mulai dari tempat tumbuh dan cara pemeliharaan sampai dengan prospek perdagangannya. kata van Breugel. la juga bercerita tentang perdagangan candu yang dikuasai Letnan Cina dan berkisah pula tentang betapa maraknya penyelundupan barang haram ini. tetapi untuk pertahanan istana yang dikelilingi benteng ini tak ada artinya apa-apa. dan digabung lagi ³dengan takhyul yang paling bodoh´. pencurian dibayar dengan penjara atau perbudakan yang kadang-kadang bisa sebagai hukuman bagi hutang yang tak dibayar. ³masih bisa disebut kota´. bukan saja di kalangan kraton.

maka tarikan masa lalu yang telah dirasakan sebagai ³masa depan´ itu semakin keras dan menggetarkan juga. tentu saja tidak mengalami secara langsung masa ketika Banten adalah kerajaan yang makmur dan disegani dan merupakan salah satu kerajaan yang terkuat di Kepulauan Nusantara ini. Ternyata ini adalah sebuah keputusan politik yang sangat tepat. Ketika perasaan kerinduan ini telah semakin mencekam. telah masuk Islam). Sebenarnya Sultan ini seorang yang baik hati. la adalah anak seorang tukang batu Cina yang telah disunat (maksudnya tentu saja. Jabatan sebagai kepala gudang ini dianggap sebagai sesuatu yang turun temurun. la memperhitungkan bahwa dengan jatuhnya Malaka. ulama -penguasa dari Cirebon dan salah seorang Wali Sanga. Kerajaan ini tidak bermula dari tumbuhnya dan membesarnya sebuah kekuasaan lokal. Janganlah pula heran bilamana kepedihan masa kini telah semakin keras dirasakan. Pada umumnya para bangsawan ini sudah cukup puas dengan tempat tinggal yang menyenangkan. tetapi muncul sebagai akibat dari ekspansi kekuasaan dari luar. adalah seorang yang alim. mendirikan Banten. Sunan Gunung Jati meninggalkan putranya sebagai penguasa Banten yang pertama. Sang Pangeran yang hidup pada abad ke-18. Ia bisa juga merasakan apa artinya hidup ketika kejayaan lama hanya tinggal kenangan belaka. maka ³terjadilah apa yang harus terjadi´. Sultan berhutang ke kiri dan ke kanan. kata van Breugel. perahu-kesenangan. yang malah sibuk menghalangi mereka untuk berhubungan dengan orang Eropa. Alfonso d¶Albuquerque. panglima Portugis yang ingin melumpuhkan Mekah dan Constatinopel ± dua pusat kekuasaan dan agama Islam. Kalau telah begini. Pengawas gudang lada sang raja ialah seorang yang bernama Kiai Aria Astradinata. Asal-usul Banten sebagai sebuah kerajaan Islam agak unik juga. Pada tahun 1511. Sunan Gunung Jati.kesultanan telah jatuh miskin. Akibatnya. maka berarti leher dari 9 . Setelah itu. katanya. perjalanan waktu dijadikan tak berfungsi dalam kesadaran. Ia telah tua dan uzur dan hanya menghabiskan waktunya untuk beribadah serta menangisi nasib tanah airnya yang hari demi hari dilanda kemerosotan. sayang ia tidak mempunyai penasehat yang baik. Bahkan asal usul berdirinya kerajaan pun masih segar dalam ingatan kolektif anak negeri. Dalam usaha untuk meluaskan kekuasaan dan mengembangkan Islam. karena situasi kesekarangan telah sedemikian menista harga diri. tentu bisa diduga. maka masa lalu tiba-tiba bisa saja berubah menjadi ³masa depan´ yang harus dirangkul dengan segera. Ketika Van Breugel menulis tentang Pangeran Raja Kusuma ini ia mungkin merasa simpati juga. Kita pun berhadapan dengan salah satu irama yang hampir menetap dari sejarah Banten setelah kejayaan kerajaan telah terlepas dari tangan. tetapi ia tampaknya agak serakah. yang terletak di ujung Barat Pulau Jawa. berhasil menaklukkan Malaka. dan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. tetapi pengetahuan akan masa gemilang yang telah hilang itu tak begitu saja terpupus dalam ingatan kolektif Banten. Awal abad ke-16 adalah masa yang kritis bagi perairan Asia Tenggara. Kesedihan sang pangeran tua ini tentang kemerosotan negerinya tentu bisa dimaklumi. Paman raja. Bilamana situasi kesekarangan telah dirasakan semakin mencekam bagaimanakah ingatan akan masa lalu yang telah lewat itu akan hilang begitu saja? Bukankah nostalgia kultural itu sesungguhnya tidak lain daripada perlawanan terhadap tirani sang waktu? Dengan bernostagia. Pangeran Raja Kusuma. sedangkan para bangsawan sangat tergantung kepada Sultan. Ketika kemudian Cirebon melepaskan perwaliannya atas wilayah di ujung Barat Pulau Jawa (1552) kesultanan Banten pun resmi berdiri dan Pangeran Adipati Hasanuddin pun menjadi Sultan Hasanuddin.

apalagi Asia. Malaka adalah salah satu pusat perdagangan yang besar dunia pada abad ke-15. India (1498). mengirim barang ekspor. pedagang. Tentang Banten laporan-laporan asing memperlihatkan bahwa antara tahun 1660-1690 terjadi fluktuasi yang hebat juga dari jumlah penduduk. Sejak akhir abad ke-16 dan akhir abad ke-17 boleh dikatakan sebagai the age of Islamic hegemony dalam sejarah Asia Tenggara. Inggris. sosiologi dan sejarah Belanda yang terkemuka (yang sempat juga bekerja pada kantor Penasehat Bumiputra) sempat juga membuat teori bahwa penyebaran Islam di Kepulauan Indonesia ini tidak bisa dilepaskan dari apa yang disebutnya sebagai ³race with Christianity´ (perlombaan dengan Kristen). yang didorong oleh keuntungan dagang dan kekuasaan agama ini. Mataram pun tampil pula sebagai pemegang hegemoni di ³negara-negara kota´ di pantai Utara. Spanyol. kata orang sana) kekalahan ini sesungguhnya bisa dilihat sebagai awal dari konsolidasi kekuasaan internal Banten. seorang ahli filologi Islam. karena pada tahun 1682 itulah masa akhir kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. Soalnya ialah setelah Vasco da Gama mendarat di Calicut. apalagi setelah Portugis berhasil menaklukkan Malaka maka ³jalan ke Timur´ untuk mencari rempah-rempah dan menyebarkan agama. telah terbuka pula bagi para pelaut. Pada waktu itu diperkirakan jumlah penduduk 800 ribu. Ternate dan Tidore. 10 . Karena itu bisa jugalah dipahami kalau sumber-sumber tentang sejarah Banten selama abad ke-16 ± abad ke-17 sangat banyak juga. tetapi panglima Portugis. Ketika inilah Makassar. dan mengekspor barang imporhanya Aceh di Barat dan Makassar di Timur. Pada waktunya sebagian dari kota-dagang dan pelabuhan persinggahan bagi para pedagang Islam yang baru ini pun tumbuh sebagai pusat kekuasaan besar. di tempat-tempat lain kota-kota dagang baru pun bermunculan pula. dan advonturir Eropa. penginjil. Tradisi sejarah Banten tidak bisa melupakan bahwa Maulana Jusuf tewas ketika ia ingin meluaskan pengaruh dan kekuasaan kesultanan Banten ke Palembang. sama sekali tidak menduga bahwa kejatuhan Malaka bukan saja menyebabkan Malaka menjadi sasaran penyerbuan dari kekuatan Islam di perairan Barat Indonesia. tetapi juga menyebabkan terjadinya pemencaran dari pusat-pusat perdagangan Islam. Tetapi pada tahun 1696 telah turun menjadi 125 ribu. Aceh-Darussalam serta Banten secara pelan tetapi pasti menjadi kerajaan Islam yang besar. tetapi pada perkiraan pada tahun 1672 telah memperlihatkan lonjakan jumlah yang hebat. Sebuah perkiraan pada tahun 1662 mengatakan bahwa penduduk Banten lebih dari 100 ribu.kedua pusat Islam itu telah bisa dicekik Portugis. Saingan Banten di Nusantara sebagai entrepot pelabuhan yang menerima barang impor. Sepuluh tahun kemudian 700 ribu. Dan sejak itu pula Banten semakin tampil sebagai entrepot yang terbesar di Pulau Jawa. Ukuran kebesaran enterpot ini bisa dilihat juga antara lain pada perkiraan jumlah penduduk yang diberikan oleh para pelapor asing. Penurunan jumlah penduduk yang drastis dari tahun 1682 -1696 tentu masuk akal juga. bahkan juga Denmark. kemudian datang Belanda. Saingannya hanya perkiraan jumlah penduduk Mataram pada tahun 1624. serta Aceh-Darussalam. Sejak itu sejarah Banten hanyalah berisikan kisah kemerosotan saja sampai akhirnya menjadi residentie Banten. Sudah pasti perkiraan jumlah penduduk itu tidak akurat. seperti Portugis. penerus dinasti Malaka. sibuk berkali-kali menyerang Malaka. Karena itulah Schrieke. tetapi dengan memakaikan keuntungan dari tinjauan ke belakang (atau historical hindsight. tetapi dalam perbandingan perkiraan ini memperlihatkan bahwa Banten mempunyai penduduk yang terbesar di Nusantara. Maka sementara beberapa negara-kota di pantai Utara Jawa dan Johor. baik yang datang dari Eropa. Perairan Nusantara pun menjadi ranah persaingan dari segala bangsa. Sementara itu di pedalaman Jawa. yang memang telah berdatangan sejak awal abad Masehi.

tentang Kojah Rayoan.. jika laporan Lodewijk ini benar. Ketika ia sampai di Banten. Lodewijk. sama saja dengan ³konglomerat Melayu´ sekuler zaman sekarang ² pokoknya keuntungan masuk. Ini pulalah salah satu sebab dari awal terjadinya Islamisasi di kawasan ini. Orang Arab dan Pegu melakukan perdagangan laut yang sibuk membawa barang dari satu tempat ke tempat lain atau. yang datang ke Banten pada tahun 1596 bersama komandannya. yang dengan kata lain..Salah satu laporan yang menarik dibuat oleh orang Belanda. la orang dari Keling. Maka.´ Dengan kata lain. janganjangan sultanah yang berada di belakang tirai ketika menerima perutusan Inggris. Dengan jelas sekali ia menggambarkan sifat internasional entrepot Banten. kata Lodewijk. dengan kata lain. Maka. seorang pelapor Inggris curiga juga. Ini tentu adalah fakta sejarah biasa saja ± orang berdagang tentu mencari pusat kegiatannya ± tetapi sialnya dalam sejarah Indonesia yang diajarkan oleh para pejabat negara Indonesia yang merdeka. Aceh mempunyai empat orang sultanah yang memerintah berturut-turut di abad ke-17 (Sialnya. kalau cerita dilanjutkan. la adalah sultanah yang terakhir). Tak lama kemudian Inggris. Sebagaimana kota pelabuhan lain Sjahbandar Banten juga orang asing. Hanya saja dalam perbandingan ini sering terlupakan bahwa tumbuhnya Banten sebagai pusat kekuasaan dan dagang terjadi ketika Sultan Abdul Kadir (1596-1618) masih harus berada di bawah pewalian. biarlah hal ini tak dilanjutkan. Orang Persia. menjadi pedagang perantara. maka kita pun bisa juga mengatakan bahwa ajaran Islam tentang riba tidak masuk perhitungan para pedagang Melayu itu. Cornelis de Houtman. miskin-miskin. menurut laporannya. tahun kedatangan Cornellis de Houtman ke Banten ini dijadikan sebagai masa awal dari penjajahan Belanda di Indonesia. mereka pada umumnya adalah pelaut dan. Selama lima tahun yang kritis (1600-1605) yang tampil sebagai tokoh utama ialah Nyai Gede Wanagiri.Lodewijk tentu saja tidak mengatakannya dan ia pasti juga tidak tahu. maka ia pun mengatakan bahwa orang Keling lebih suka mengadakan investasi dengan bunga. Atau kalau dengan istilah yang biasa dipakai sebagai cheti. Antara lain ia bercerita tentang ³pembagian kerja´ dari anggota komunitas asing yang berada di Banten. maka ia pun menjalankan semua kerja yang hina untuk menghidupi dirinya. Kalau orang Gujarat. Seorang pelapor Inggris (Scott) menyatakan kekagumannya ketika ia berkata bahwa ³perempuan tua ini menguasai para wali dan lain-lain. seorang laki-laki yang menyamar. tetapi peranan Arab sebagai pedagang di perairan Nusantara ini barangkali telah dimulai sejak abad ke-11 ketika Cina menutup pelabuhannya bagi pedagang asing. Kalau cerita Lodewijk diteruskan. tentu bisa diduga. Salah satu hal yang dibandingkan itu ialah kenyataan bahwa Banten tidak pernah mempunyai penguasa perempuan. karena belum dewasa.´ amun. maklum para pejabat itu tidak bisa membedakan mana yang mitos dan mana yang sejarah. bisalah dikatakan bahwa kerap kali juga orang membandingkan Banten dengan Aceh. mendarat di Banten dan kemudian menjadikan Banten sebagai pusat aktivitasnya. juga menjadikan Banten sebagai pusat aktivitasnya di Nusantara. tentu bisa disebut rentenir. pelopor Belanda ke Nusantara. Lodewijk juga bercerita tentang pedagang besar yang bernama Cheti Maluku yang berhubungan dagang dengan orang Belanda dan Inggris. walaupun ia bukan berdarah kraton. mempunyai hobby yang sama pula. menurut Lodewijk. kita pun ikut larut dalam pandangan sejarah yang bodoh dan sesat ini dengan mengatakan bahwa ³Indonesia 350 tahun berada di bawah kolonialisme Belanda. ³ia tak punya apa-apa. Ternyata orang Melayu. tetapi karena kearifannya sangat dihargai oleh semua (yang berkuasa) ia memerintah 11 . Masuk akal juga kalau Cornellis de Houtman. yang praktis merupakan pengimport tunggal tekstil dari anak benua India. berdagang permata dan obat-obatan. Jadi. seorang pedagang Turki yang kaya-raya. Banten di abad ke-16 dan awal abad ke-17 adalah ³a land of opportunities´± negeri yang membuka semua kesempatan.

serta keamanan yang tak terjamin. yang dikirim Inggris. yang ditulis Raja Ali Haji dan ayahnya Raja Ahmad dari Pulau Penyengat.seakan-akan ia adalah satu-satunya ratu di negeri ini. dan yang lain memakai nama Thiaria (Shari¶ah). Kalau De Breugel. sistem hukum berlaku baik. Banten. tidak demikian halnya pada abad ke-17. sempat mengatakan bahwa orang Banten meskipun punya hukum tetapi lebih suka memakai hukum alam. Ketika itu kraton Banten praktis telah menjadi fiefdom VOC atau berada di bawah suzereniteit maskapai ± yang-bermain sebagai-negara ini dan harus pula membayar utang kepada VOC. ekonomi yang kehilangan gairah. meskipun yang dikisahkan berbedabeda. Tidak kurang pentingnya ialah suasana ini bukan saja mengundang kedatangan para pedagang dari segala penjuru dunia. yang tahu semua masalah perdagangan. Jika saja nama-nama orang diganti dan nama-nama tempat ditukar pula maka uraian tentang Banten rasanya bisa saja dijadikan tentang Makassar dari abad yang sama.´ Maka begitulah kalau aturan main dalam pemerintahan telah cukup jelas.misi Katholik Prancis. untuk meninjau kerajaan-kerajaan di pantai Timur Tanah Semenanjung. yang menghukum dengan berat kejahatan pencurian dan perzinaan. tetapi juga para ulama. serta waktu.melaporkan bahwa Banten. Dengan pendekatan ideal type ² membuat bentukan analisis berdasarkan sifat kategori yang paling ekstrim.maka negara maritim berarti kegiatan dagang. Makassar. nama orang dan bentuk peristiwa.´ De Breugel menggambarkan suasana kemunduran dan kemelut. baik sumber asing maupun sumber lokal. memberikan kesan yang tidak jauh berbeda. kebudayaan dinamis. Sedangkan laporan-laporan asing tentang Banten abad ke-16 dan abad ke-17 juga tak pula jauh bedanya dengan laporan tentang kerajaan maritim lain yang sedang berkembang. raja yang bijaksana. yang disebut historiografi tradisional itu. Bahkan juga bisa ditukarkan dengan Riau-Johor abad ke-18. Ciri-ciri umum ialah persaingan dagang internasional yang meriah. sebuah pulau kecil dekat Tanjung Pinang. yang pertama Syahbandar Besar. membagi kerajaan di kepulauan Indonesia atas dua kategori. yang menulis memorandum pada tahun 1787. Pulau Bintan. Nada dari uraiannya hampir sama dengan gambaran para pelapor lain tentang kerajaan-kerajaan Nusantara yang sedang mengalami kemunduran. ilmu pengetahuan berkembang. dan pandangan ke luar. Suasana kemelut menjelang kejatuhan selalu membayangkan otoritas kekuasaan yang lemah. yang memperkenalkan pendekatan sosiologi Max Weber untuk memahami sejarah. pemerintahan bisa dijalankan berdasarkan kearifan yang paling unggul. memperlihatkan suasana yang lama. tetapi suasana sosial-politik dan ekonomi memantulkan gambaran yang tak jauh berbeda. Bahkan kisah yang ditulis Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Ada kerajaan yang telah mengalami krisis di abad ke-18 ± umumnya berada di pulau Jawa ± tetapi ada pula yang bare mengalaminya pada abad ke-19 ± umumnya di kerajaan-kerajaan di daerah lain (kecuali Maluku). hukum yang kehilangan peran. Seorang pendeta dari Missions Etrangeyes. Kisahnya tentu saja berbeda-beda. yang telah mendirikan dan menguasai Singapura. dan aktivitas keagamaan menjadi pertanda dari kearifan Sultan. Aceh dan lain-lain memperlihatkan ciri-ciri yang khas maritim. Jadi masuk akal juga kalau van Leur. karma telah membantunya menghadapi pemberontakan yang dipimpin Kiai Tapa (1750-52). 12 . ³mempunyai dua hakim utama. Dalam hal ini. Bedanya hanyalah pada detail-detail sejarah ± nama tempat. yaitu maritim dan agraris. masyarakat yang tak peduli. sebagaimana diuraikan oleh kitab Tufhat an Nafis. yang mempunyai jurisdiksi pada semua masalah perdata dan pidana.

Konon Sultan Mataram pernah mengatakan pada utusan Belanda yang datang menghadap di kratonnya. Adapun yang khusus dan tak berulang ialah kenyataan bahwa ³Sultan Ageng Tirtayasa (siapa) yang melawan usaha penetrasi kekuasaan Belanda (apa) di Banten (di mana) pada tahun 1682 (bila). Sultan Haji. sejarah Banten mungkin bisa juga dilihat sebagai sebuah gambaran umum dari ³lahir dan tumbangnya´ kekuasaan pribumi ² lahir. itu sesungguhnya mempunyai unsur yang ³khusus´ dan ³umum´. perang. dengan Banten. sikap kultural yang konservatif. tetapi mempunyai validitas relatif kalau yang ingin ditemukan ialah pola umum yang berlaku. Perang terjadi dan Banten kalah. yang lebih sibuk menjalin ikatan perdagangan terbuka. kalah. dominasi. bahkan kalau perlu ² bahkan biasa sekali-mereka pun ikut berdagang. tetapi dari sudut pandang lain. bukan saja tertarik untuk mendatangi Banten. Dengan segala ciri-ciri kerajaan maritim yang diperlihatkan Banten. melawan monopoli. Benar. memang tidak benar.´ sedangkan yang merupakan gejala umum itu ialah 13 . Sistem itu ialah monopoli. Jika diartikan secara harfiah ungkapan Prancis l¶histoire se repete. Tetapi di saat ini pulalah VOC sedang berada pada tahap perkembangannya yang agresif dan sedang asyik memperkenalkan serta memaksakan sebuah sistem yang sama sekali tak dikenal oleh tradisi Nusantara yang bertolak dari pemikiran laut bebas (mare liberum). Sejak itu sejarah Banten adalah rentetan dari kisah yang ³menunda kekalahan´ saja. dan bila´.Sedangkan Mataram bersifat agraris ² keterikatan pada tanah. Seperti juga halnya dengan Mataram. Akan tetapi. tumbuh. Maka perbenturan antara Batavia. Mataram tentu lebih suka mendapatkan upeti dari para bangsawan yang telah mendapat lungguh serta menyibukkan diri dengan penghalusan kebudayaan dan sistem status sosial. Ia mengirimkan utusan diplomatik ke negeri-negeri Islam dan menyuruh anaknya naik haji sambil mengunjungi Turki. tetapi bisa merasakannya sebagai negeri sendiri. seorang ulama besar yang berasal dari Makassar. sejarah berulang. Setelah Sultan Ageng Tirtayasa (Abdulfattah) bisa dikalahkan.´ Penguasa maritim sejauh mungkin ingin mendapatkan keuntungan dari perdagangan laut. einmalig. Kemudian hegemoni ini secara berangsur menjadi dominasi (mulai dari zaman Daendels) sampai akhirnya resmi berada di bawah kekuasaan langsung Hindia Belanda ² kesultanan telah dihapuskan. tetapi hegemoni telah berada di tangan VOC. akhirnya kolonialisme. Sultan Haji memerintah. hegemoni asing. di mana. dan cenderung mempunyai pandangan ke dalam (inward looking). Ungkapan ini tidak benar kalau sejarah diartikan sebagai salinan yang murni dari ³apa. sejarah Banten adalah sejarah tentang sebuah daerah di tanah air kita. siapa. Di bawah sultan yang bijaksana inilah Banten mencapai tingkat kegemilangannya yang tertinggi. Fakta bahwa Putra Mahkota bisa berkhianat pada ayahandanya serta-merta menyebabkan karisma tradisional yang dipegang kraton pun meluntur pula. tentu mudah juga dipahami kalau di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683). yang mempunyai kemampuan teknologi persenjataan yang lebih canggih dan tentara yang telah mengalami suka-duka berbagai macam perang. berkembang menjadi pusat dagang. yang harus merasa takut dengan persaingan tuan. ³Tuan-tuan boleh berdagang di negeri saya tanpa bayar pajak. ketika penetrasi dan pengaruh kekuasaan asing telah semakin dirasakan. independensi Banten mulai setahap demi setahap digerogoti. pertanian. sebab saya bukan pedagang seperti penguasa Banten dan Surabaya. maka kraton pun ada kalanya menjadi sasaran pemberontakan. lebih dari itu sekadar kekalahan kejatuhan Sultan Ageng bermula dari pengkhianatan sang putra mahkota. Syekh Jusuf al Makasari. Peristiwa sejarah yang biasa dikatakan hanya sekali terjadi.

siapakah yang bisa melupakan karya Multatuli. seakan-akan diharuskan untuk menjadi daerahsampingan saja. Akan tetapi. setidaknya begitulah yang terjadi pada struktur kesadaran yang dipantulkan oleh satu-dua pejabat Belanda. ulama lokal dan petani. meskipun dalam waktu atau abad yang berbeda-beda. Nasionalisme yang kolonial pun tumbuh juga. kerajaan yang pernah disegani di perairan Nusantara. yang menerbitkan buku-buku di pusat-pusat pengetahuan dunia Islam. Sejarah politik dengan peristiwa besar dan orang besar kini telah didampingi oleh studi yang semakin mendekati pada denyut sejarah sesungguhnya-manusia dengan segala keresahan dan harapannya pada tingkat yang paling intim. Banten yang telah kehilangan kesultanan ternyata tidak kehilangan beberapa hal yang fundamental. sifat eksploitatif dari kolonialisme kemudian bisa juga menjadi landasan dari terwujudnya rasa kesamaan sejarah dan nasib yang bersifat translokal. ketika itu pula para ulama semakin tampil sebagai pemimpin lokal. Pemberontakan Cilegon sebenarnya memperlihatkan hal lain lagi. Maka bisalah dimaklumi kalau Aceh kadang-kadang disebut sebagai negeri ³uleebalang dan ulama´. pendekar yang selalu siap membela untuk sesuatu yang dianggap benar. Ketika Sartono Kartodirdjo (sekarang Prof Dr) menyampaikan disertasinya tentang pemberontakan Cilegon 1888 di Universitas Amsterdam (1966) maka lembaran baru sejarah penulisan sejarah Indonesia pun dibuka. Max Havelaay. Banten pun dikenal pula sebagai negeri ´ ulama dan jawara ³. Dengan buku untuk pertama kali seorang sejarawan Indonesia tampil ke depan dengan menyoroti sebuah ³peristiwa kecil´. di pihak lain. yang berkisah tentang penderitaan rakyat dan ketidakberdayaan pejabat yang bermaksud baik? Kolonialisme adalah hubungan internasional yang bercorak subordinatif dan eksploitatif mempunyai akibat sosial yang penting. dengan memakai pendekatan yang bercorak multidimensional. seperti tampilnya ulama besar Syekh Nawawi al Bantani. Sejak resmi menjadi salah satu karesidenan yang berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda. dengan aktor-aktor ³orang kecil´. Maka dengan begini sebuah alternatif dalam penulisan sejarah diperkenalkan. Banten . Begitulah umpamanya. yaitu semangat independen. Banten mempunyai tempat khusus juga dalam perkembangan historiografi Indonesia. Ketika kesultanan telah mengalami proses pelemahan dan kemudian malah dihapuskan dan di saat kedudukan bangsawan semakin terjepit. yaitu desa. Di satu pihak. 14 . dan keterikatan pada norma keagamaan. Mereka adalah para jawara. di masa krisis politik yang berkepanjangan ini ketika ³hukum alam´ (sebagai kata van Breugel) lebih penting dari ketentuan hukum yang berlaku golongan baru pun semakin menampakkan dirinya. ³nasionalisme lokal´ yang kental. Onno Zwiervan Haren menulis sebuah drama yang mencekam dengan judul Agon Sulthan van Bantham . Meskipun dengan memakai konsep pola umum ini Banten unik juga-jika bukan dalam corak peristiwa yang dialaminya. Dan kemudian. Kadang-kadang orang dikejutkan oleh tampilnya hal yang perlu dicatat. Sejak kejatuhan kesultanan hampir tidak ada lagi satu peristiwa di Banten yang bukan dimotori oleh ulama dan jawara. kolonialisme mempunyai kemungkinan untuk menciptakan mental dependensi (terhadap orang asing) dan kesadaran hirarki sosial yang hegemonik (terhadap sesama anak negeri). Kecenderungan umum ini terjadi di manamana. Drama ini berkisah tentang bantuan militer Belanda pada anak Sultan Ageng yang durhaka. Di samping mempunyai pengaruh terhadap sejarah pergerakan kebangsaan. Banten. Pada gilirannya kesadaran ini memberi akibat juga pada cara sebuah bangsa yang sedang berada dalam proses pembentukannya untuk melihat sejarahnya.kecenderungan bahwa ³raja adalah lembaga yang pertama yang melawan usaha penetrasi Belanda´. tetapi pada umumnya tidak lagi berperan apa-apa yang penting.

langgar atau masjid. pemerintah kolonial minta supaya Kiyai Haji Abdul Karim berangkat langsung menggunakan kapal laut dari Tanahara ke Batavia. Kegiatan pengajian Kiayi ini semakin berkembang terutama setelah ia kembali dari Mekkah tahun 1872. yang dalam waktu singkat pengikutnya bertambah banyak. Gerakan itu antara lain dipimpin oleh Haji Abdul Karim. Anjuran itu disambut baik kiyai-kiyai terkenal seperti Kiyai Haji Wasid dari Beji. Haji Abdul Karim adalah seorang ulama di desa Lampuyang. Haji Akib. Dalam mengadakan acara dzikiran di rumah-rumah tertentu. 15 . Pra Peristiwa Geger Cilegon Tokoh menentukan dalam peristiwa Geger Cilegon ini adalah Haji Wasid. pada tanggal 9 Juli 1888 yang dipimpin oleh para ulama. Kiyai Haji Tubagus Ismail. Fiqh dan Tasawuf merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam ajaran Islam dan harus dipraktekan dalam setiap kegiatan sehari-hari. Haji Iskhak dari Saneja. Rakyat dari Tanahara. dan Haji Wasid. Haji Abdul Karim mendirikan pesantren di Tanahara. yang pernah belajar di Mekkah pada Syekh Nawawi al-Bantani.A. penghulu kepala di Serang serta Haji R. Haji Asnawi dari Lempuyang dan Haji Muhammad Asyik dari Bendung. para tokoh itu dengan mudah melancarkan taktik perjuangan menentang pemerintahan kolonial. Khawatir akan terjadi huru-hara. Begitu besar pengaruhnya di kalangan rakyat dan pejabat pemerintah sehingga dikenal pula sebagai ³Kiyai Agung´ bahkan dianggap sebagai ³Wali Allah´. Bogor dan Batavia. Haji Usman dari Tunggak. Sebagai ganti pimpinan pesantren dipercayakan kepada muridnya. para ulama itu selalu menanamkan semangat jihad menentang penjajah kepada masyarakat. Melalui pesantren-pesantren. Haji Tubagus Ismail. Ketika Kiyai Haji Abdul Karim akan ke Mekkah untuk kedua kalinya pada tanggal 13 Pebruari 1876. Pontang yang kegiatan sehari-harinya mengadakan pengajaran agama pada masyarakat di daerahnya. Prawiranegara. banyak kiyai. Haji Syadeli dari Kaloran. Bersama kawan seperjuangannya: Haji Abdurahman. seperti bupati. Haji Marjuki. yang juga gencar menganjurkan perlawanan kepada penjajah kafir. Pemberontakan Petani Banten 1888. di samping dari Banten. tetapi dalam tinjauan dinamika sejarah secara keseluruhan peristiwa ini tidak lebih daripada deviation belaka. Gerakan semacam ini timbul pula di Tanahara yang dipimpin oleh Haji Marjuki. Maka mestikah diherankan kalau sudah lama juga para tokoh Banten telah menginginkan agar Banten bisa mendapatkan kebebasan relatif untuk mewujudkan kembali ³janji sejarah´ yang sekian lama seakan-akan terpendam? GEGER CILEGON Sumber data : buku Sartono Kartodirdjo. Dalam setiap pengajian/dzikiran yang diadakan di rumah-rumah atau pun di masjid.Pemberontakan ³komunis´ 1926 ² seperti juga dengan yang terjadi di Silungkang (Sumatera Barat) ² memang pantas dikenang. Haji Abu Bakar dari Pontang. kemudian mengajar di pesantrennya di Kampung Beji. Tiga pokok ajaran yang disebarkan kepada muridnya adalah tentang Tauhid. Tangerang dan sekitarnya berbondong-bondong menunggu di pinggir jalan yang akan dilaluinya. pensiunan patih Serang. Cilegon. yang dalam waktu singkat mendapat banyak murid dan pengaruh terhadap penguasa pribumi. Percetakan Pustaka Jaya 1984 Perlawanan bersenjata yang paling menonjol di Banten pada abad ke-19 adalah peristiwa yang dikenal dengan ³Geger Cilegon´. Haji Abdul Karim selalu menganjurkan tentang perlunya perang sabil terhadap pemerintah kolonial yang kafir. tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah yang datang untuk mengucapkan selamat jalan. juga dari daerah lain seperti Tangerang.

hampir sering menemukan bayi di pojokan pasar yang ditutupi selembar daun pisang.     Pemandangan di desa-desa sungguh menyedihkan. antara tahun 1882 dan 1884 keadaan rakyat Banten khususnya di Serang dan Anyer ditimpa dua malapetaka. Caringin. Karena musim kemarau ini pula maka berjangkit wabah penyakit sampar (pes) yang menyerang ternak kerbau atau kambing (1880). tiada benci dan tiada suka. Dengan memahami tiga pokok ajaran Islam ini diharapkan. sekedar untuk menjaga dari teriknya matahari. Dengan demikian. banyak rumah tidak dihuni. ternak kerbau bukan hanya dianggap sebagai hewan peliharaan tapi juga teman/sahabat yang banyak membantu pekerjaannya di sawah. tidak sempat dikuburkan. ibunya PAA. kerbau yang tidak terkena penyakit pun turut dibunuh pula. segala ketaatan dan segala harapan hendaknya. Tidak heran dari catatan yang ada pada bulan Agustus 1880. sawah dibiarkan mengering karena tiadanya tenaga. Kesemuanya merenggut korban 21. dan mengharapkan nanti ada yang mengambil untuk memeliharanya. kelaparan dan penyakit sampar (pes) binatang ternak. berhasil mengumpulkan sampai 20 orang anak yang kemudian dipeliharanya di Kawedanaan (PAA. serta desa-desa Sirih. tanpa ampunan dari Allah. Bagi rakyat petani. yang sebagian besar berupa "tadah hujan" menjadi kering.Haji Haris.000 orang di antaranya tidak dapat tertolong dan menemui ajalnya (Kartodirdjo. PAA. Pasauran. karena banyaknya. Segala peribadatan.000 penderita. bukan kepada manusia dan bukan kepada benda lainnya. mereka menyebarkan pokok-pokok ajaran Islam itu kepada masyarakat. Tanah pertanian. dan ini termasuk dosa besar. Untuk menggambarkan keadaan rakyat Banten pada saat itu. Djajadiningrat. terutama sekali kaum perempuan. atau karena ibunya tiba-tiba terkena demam dan meninggal tidak lama kemudian. sehingga tidak ada tumbuhan yang dapat ditanam penduduk desa. akan menjadi muslim yang baik dan taat dalam menjalankan semua perintah agama serta menjauhi segala yang dilarang-Nya. sehingga bangkai hewan dapat ditemukan di mana-mana. sehingga pemerintah kolonial menginstruksikan supaya membunuh dan mengubur atau membakar semua kerbau atau kambing di suatu desa yang di sana terdapat kerbau yang berpenyakit agar jangan menular ke desa lain. ditujukan kepada Allah. dan ini mengundang datangnya penyakit baru lagi bagi rakyat desa. 1988:88). Merak. Kesedihan yang mendalam itu ditambah lagi dengan meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda (tanggal 23 Agustus 1883). 16 . Musim kering yang berkepanjangan ini. Bayi-bayi ini sengaja ditinggalkan ibunya karena ia tidak mampu lagi memberinya makan. hampir dua tahun hujan tidak turun. Dalam pada itu. Djajadiningrat. Penyakit hewan ini menular dengan cepat. Djajadinigrat. menyebabkan kelaparan merajalela. dianggap suatu kekejian dan kesewenang-wenangan yang membuat makin besar kebencian kepada Belanda dan anteknya. Ironisnya.500 jiwa tenggelam disapu gelombang. Cilegon. murid-muridnya. sehingga tanaman padi tidak ada yang tumbuh dan air minum pun sulit didapat. Karena kurangnya makanan ini maka banyak penduduk yang terjangkit penyakit demam yang parah. Istri wedana Kramatwatu. pasrah dengan perlakuan itu. Diperkirakan. menyaksikan bahwa di pasar Kramatwatu. jalan-jalan sepi. dzikir dan do'a. Dari banyak rumah terdengar ratap tangis. walaupun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. yang menimbulkan gelombang laut setinggi 30 meter melanda pantai barat Banten. kerbau atau kambing yang dibunuh tentara kolonial ini. tercatat lebih dari 40. menghancurkan Anyer. Peribadatan dan penyembahan yang ditujukan kepada selain Allah adalah musrik. Tiada takut dan tiada harap. Banyak ibu tidak dapat menyusui anaknya sehingga angka kematian anak tinggi sekali. kecuali semuanya karena Allah. Haji Arsad Qashir dan Haji Ismail. Tajur dan Carita. semuanya. sehingga perlakuan demikian membuat tambah sedih. Daerah tempat bencana alam itu luluh lantak tersapu gelombang pasang. Haji Arsad Thawil. dari 210. 1936:8).

pajak perahu. 1982:144). apalagi waktu azan shalat subuh. Anyer dan Tangerang. Mereka lebih mempercayai dukun dan benda-benda yang dianggap keramat dari pada mohon pertolongan Allah. pajak pasar sampai kepada pajak jiwa yang besarnya kadang-kadang di luar kemampuan dan penetapannya tidak mengenal keadaan. Sementara itu. ditambah dengan kecurangan-kecurangan pegawai pemungut menambah keresahan dan mempersubur rasa benci penduduk kepada penjajah. dari mulai pajak tanah pertanian. tarhim dan azan jangan dilakukan dengan suara keras. pajak perdagangan. Dalam keadaan penderitaan rakyat yang bertumpuk ini. Tapi bagi penduduk yang kebanyakan tidak mengerti agama. mungkin dapat diurutkan sebagai berikut: 4 Pebruari 13 Maret 1888. pihak pemerintah kolonial melaksanakan sistem perpajakan yang baru. 125. Berkali-kali Haji Wasid memperingatkan penduduk. Meski pun kehidupan sosial ekonomi segera dapat dipulihkan beberapa tahun kemudian. seperti kerja pancen dan kerja rodi. Untuk menggambarkan besarnya pajak yang ditanggung rakyat Banten. politik dan budaya yang dipaksakan pemerintah kolonial Belanda ini berbaur dengan penderitaan rakyat yang sudah tidak tertakarkan menumbuhkan perlawanan bersenjata. Dendaan yang dijatuhkan kepada kiyai ini. tetapi juga dalam bidang sosial politik dan kehidupan keagamaan. pajak tanah f. dapat memunahkan bala bencana dan meluluskan apa yang diminta asal saja memberikan sesajen bagi jin penunggu pohon itu. tidak hanya di bidang sosial ekonomi. Faktor-faktor ketidakpuasan terhadap sistem ekonomi. sehingga jumlah pajak yang terkumpul jauh besar jumlahnya dari jumlah pajak tanah tahun 1972. fatwanya itu tidak diindahkannya. karena 'Tuhan tidak tuli'. 1884. Berbagai macam pajak yang dikenakan kepada penduduk negeri. pengenaan pertanggungan pajak di luar kewajaran. Jalannya pemberontakan Secara kronologis. Satu hal lagi yang ikut menyulut api perlawanan ini adalah dirubuhkannya menara langgar (musholla) di Jombang Tengah atas perintah Asisten Residen Goebels. banyak di antara mereka yang lari ke klenik (tahayul). Goebels menganggap menara yang dipakai untuk mengalunkan azan setiap waktu shalat. sehubungan dengan penghapusan pelbagai kerja wajib. persiapan-persiapan menuju "pemberontakan" di Cilegon. Marjuki di Tanara dihadiri oleh para ulama dari Serang.50 gulden (Hamka. Dengan beberapa orang muridnya ditebangnya pohon berhala itu pada malam hari. Haji Wasid tidak dapat membiarkan satu kemusyrikan ada di depan matanya tanpa berusaha mencegah. mengganggu ketenangan "masyarakat" kerena kerasnya suara. semakin menambah penderitaan rakyat. menyinggung rasa keagamaan dan rasa harga diri murid dan pengikutnya. Dalam keadaan yang sangat menyedihkan itu. bahwa perbuatan meminta selain kepada Allah adalah termasuk syirik. Asisten Residen menginstruksikan kepada Patih agar dibuat surat edaran yang isinya supaya shalawat.000 (Kartodirdjo. meskipun jumlah penduduk turun 100. Asngari dihadiri ¡ 17 . namun suasana di kalangan rakyat penuh kegelisahan dan keresahan. pajak tanah itu untuk seluruh negeri dinaikkan.Musibah yang datang bertubi-tubi menimpa rakyat Banten dengan sendirinya membawa dampak luas. diadakan 3 kali pertemuan di rumah H. Ia dipersalahkan melanggar hak orang lain sehingga dikenakan denda 7. 1988:55). Keadaan inilah yang membawa Haji Wasid ke depan pengadilan kolonial pada tanggal 18 Nopember 1887. setahun setelah letusan Gunung Krakatau. Tersebutlah di desa Lebak Kelapa terdapat sebatang pohon kepuh besar yang oleh sebagian penduduk dianggap keramat.000. yang kedua di Terate di rumah H..Pada tahun berikutnya. Melihat keadaan ini.

00. Pada hari Sabtu. Sadeli di Kaloran. Dari sana. dan kiyai-kiyai dari Trumbu. Haji Abdulgani dari Beji. (4) dalam waktu dekat K. pertemuan di rumah K. akhirnya kembali pertemuan di rumah K. di mana banyak hadir para pejabat. Koinsidensi sejarah pada pematangan situasi tersebut antara lain (1) akhir Juni berlangsung perhelatan besar. kemudian di rumah H. tanggal 7 Juli 1888. Haji Mahmud dari Tarate Udik.H. Untuk menutupi kecurigaan Belanda atas pertemuan itu diadakan suatu kenduri besar.H.H. Hadir dalam pertemuan itu antara lain: Haji Sa'id dari Jaha.H. pembagian tugas. Maka setelah lewat tengah malam para kiyai segera berangkat ke Saneja untuk mengadakan pertemuan kedua di rumahnya Haji Ishak. Wasid. pesta dengan gamelan. Marjuki di Tanara. (3) adanya desas-desus munculnya naga besar pertanda akan datangnya musibah di kalangan penduduk. untuk membicarakan langkah terakhir pemberontakan.M. keduanya pergi ke Gulacir. (2) awal Juli. Kiyai Haji Abdulhalim dari Cibeber dan Nuh dari Tubuy. pesta perkawinan dan khitanan. tayuban. Keesokan harinya. diadakanlah pertemuan para kiyai untuk persiapan terakhir pematangan gerakan di rumah Haji Akhia di Jombang Wetan. istri Haji Iskak. penggerakan pengikut. Pertemuan itu dilangsungkan di dalam masjid di luar masjid sudah berkumpul pengikut-pengikut mereka. ke rumah Haji Ismail. Haji Abdulhalim dan Haji Abdulgani ke 18 . yakni perkawinan antara putra bupati Pandeglang dan putri bupati Serang. Wasid di Beji. Haji Iskak dari Seneja. Haji Asnawi. Haji Ashik dari Bendung. Pada saat itu K. Wasid akan dipanggil ke pengadilan untuk penyelesaian suatu perkara. serta penyelenggaraan latihan antara lain pencak silat.oleh para pemuka masyarakat dari Serang dan Anyer. sedangkan pertemuan berikutnya di rumah H. tidak hadir dalam pertemuan ini karena sudah dipastikan bahwa mereka akan memulai pemberontakan pada hari Senin tanggal 29 Syawal atau 9 Juli 1888. akhirnya ditetapkan tanggal pastinya adalah 9 Juli 1888. (5) beredarnya desas-desus larangan berdo'a dzikir. penghulu Tanara. Nasaman dan Sendanglor ke Cipeundeuy menemui Kiyai Haji Sahib. Iskak. dan Haji Akhmad. Wasid mengusulkan D-day pemberontakan pada tanggal 12 Juli 1888. Bendung. Maret April 1888. Haji Sarman dari Bengkung. Haji Madani dari Ciora. terutama dari Arjawinangun dan Gulacir yang juga dihadiri oleh Haji Burak. dan berikutnya di rumah H. Pada hari itu juga dikirim utusan-utusan ke berbagai jurusan. Haji Halim dari Cibeber. Ismail serta H. Diduga dalam pertemuan tersebut dibicarakan masalah kesediaan alat persenjataan. Wasid dan H. pagi-pagi sekali. Residen Banten. Sekitar jam 23. Haji Muhammad Arsad (penghulu kepala di Serang) dan Haji Tubagus Kusen (penghulu di Cilegon). 23 Juni 1888 pertemuan terakhir. Haji Muhiddin. Dalam pertemuan ini hadir pula Haji Abubakar. memberitahukan bahwa Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail ingin bertemu dengan para kiyai yang hadir. saudara Haji Tubagus Ismail. di antaranya Haji Sadeli dari Kaloran. Marjuki. hadir para tokoh/ulama seperti H. Haji Erab diutus ke Haji Mohamad Asyik. Pada tanggal itu juga diperingati hari lahir pendiri tarekat Kadiriyah. datang Nyi Kamsidah. H. Iskak di Saneja. selesai shalat magrib dengan dikawal sejumlah muridnya Haji Wasid berangkat ke Cibeber untuk kembali mengadakan pertemuan dengan muridmuridnya yang lain. Tanara. Haji Wasid dan Haji Ismail pergi ke Wanasaba untuk mengadakan pembicaraan dengan murid-muridnya. peringatan tersebut antara lain ditandai dengan kenduri besar. Haji Sapiuddin dari Leuwibeureum. Haji Mahmud dan Haji Alfian diutus menemui Haji Abdulrazak. Asisten Residen Anyer disertai bawahan Eropa dan pribumi melakukan inspeksi di afdeling Anyer.

Pada hari Senin malam tanggal 9 Juli 1888. Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman dari Arjawinangun dan pengikutnya menyerang dari arah selatan. asisten residen Anyer. Haji Abdul Gani dan Beji dan Haji Nuriman dari Kaligandu menyerang dari arah utara. wedana Cilegon. 1936:56) Seperti yang sudah direncanakan semula. demikian juga Raden Purwadiningrat. seperti di Bojonegara. Henri Francois Dumas. djangan dianiaja jang seorang itoe. menyerbu penjara untuk membebaskan para tahanan. 1984:301-303). 8 Juli 1888. ajun kolektor. karena dia sedang di Serang waktu itu. Mas Kramadireja. ia tidak berdosa !'..Tunggak menemui Haji Usman. yang pada keesokan harinya. beberapa kiyai kembali lagi ke pesta di rumah Haji Akhiya. kelompok kedua dipimpin oleh Haji Abdulgani dari Beji dan Haji Usman dari Arjawinangun menyerbu kepatihan. sehingga ia termasuk "orang yang tidak berdosa" (1936:56) Menurut rekaman PAA. sedangkan pasukan yang dipimpin oleh Kiyai Haji Wasid.. Dengan memekikkan kalimat takbir mereka menyerbu beberapa tempat di Cilegon. diadakanlah serangan umum ke Cilegon. Grogol. Balegendong. yang bernama Kasidin. Mancak dan Toyomerto. tapi Kasidin yang ada pada kerumunan tersebut. adalah Raden Tjakradiningrat. Sedangkan Haji Wasid dengan beberapa pengawalnya tetap di Jombang Wetan memonitor segala kegiatan penyerbuan (Kartodirdjo. Dalam keadaan yang kacau itu. Djajadiningrat "tempat kediamannya tidak di dekat-dekat orang Eropah atau di dekat-dekat Ambtenar-ambtenar boemipoetra lain" (1936:55). Djajadiningrat. Malam itu juga.. Di daerah Serang. dan Ulric Bachet. sipir penjara Cilegon. Djajadiningrat. dapat dibunuh oleh Haji Tubagus Ismail.. ini jang mesti didahoeloekan !' dan pada saat berikutnya Kasidin memarang leher Wedana Tjakradiningrat (PPA. Minggu. Sementara itu. penghulu Cilegon. Gulacir dan Cibeber bergerak menuju Cilegon untuk menyerang para pejabat pemerintah kolonial. Pasukan dibagi dalam beberapa kelompok: kelompok pertama dipimpin oleh Lurah Jasim. terbunuhnya Raden Tjakradiningrat itu. seorang 19 . Haji Kasiman di Citangkil dan Haji Mahmud di Terate Udik. Jaro Kajuruan. setelah pertemuan di rumah Haji Ishak. Kasidin keluar penjara ketika penjara dijebol para pejuang. adalah ketika ia akan mencoba bermusyawarah dengan para pejuang (peroesoeh). Para kiyai dan murid-murid mereka memakai pakaian putih-putih dengan ikat kepala dari kain putih pula sambil membawa pedang dan tombak. dan kelompok ketiga dipimpin oleh Kiyai Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman dari Tunggak menyerang rumah Asisten Residen. Namun di antara mereka terdapat seorang tahanantitipan kasus pencurian hasil tangkapan Wedana Tjangradiningrat yang sedang menunggu putusan perkara. seorang pegawai negeri yang kebelanda-belandaan lolos dari kematian. Krapyak. kepala penjualan garam semuanya adalah orang-orang yang tidak disenangi rakyat. berbarengan dengan kejadian di Cilegon ini. juru tulis di kantor Asisten Residen. diadakan arak-arakan sambil meneriakkan takbir dan kasidahan yang dimulai dari rumah Haji Akhiya di Jombang Wetan dan berakhir di rumah Haji Tubagus Kusen. dari Saneja. Ketiga yang terakhir ini diperintahkan untuk mengerahkan pejuang-pejuang dari Anyer untuk segera bergerak supaya pagi-pagi sekali sudah berada siap di Cilegon. Sedangkan Patih Raden Pennah. Tokoh fenomenal yang menjadi salah seorang korban. Ketika Tjakradiningrat mendatangi tempat kerusuhan dan dikepung oleh para pejuang terdengar suara: ' . Pada malam harinya barisan bertambah panjang bergerak dari Cibeber ke arah Saneja dipimpin langsung oleh Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail yang kemudian dijadikan sebagai pusat penyerangan. yang menurut PPA. Johan Hendrik Hubert Gubbels. pemberontakan dipimpin oleh Haji Muhammad Asyik. melompat ke muka sambil berkata: ' . Haji Tubagus Ismail memimpin pengikut-pengikutnya dari Arjawinangun. Kiyai Haji Usman dari Tunggak. di beberapa tempat juga meletus pemberontakan.

Trumbu. semua pimpinan pemberontakan yang dibuang ini ada 94 orang. Dukungan terhadap kristenisasi Hindia Belanda dipertegas sejalan dengan ³politik hutang budi´. Cilegon dapat dikuasai sepenuhnya oleh pasukan "pemberontak". Di samping mereka terlalu meng-eksploitir tanah jajahan tanpa dibatasi rasa kemanusiaan. Partai-partai di parlemen Belanda dapat dikelompokkan kepada partai agama dan non agama. Maka Bupati bersama Kontrolir dengan 40 orang serdadu yang dipimpin oleh Letnan I Bartlemy berangkat ke Cilegon. Kejadian "Geger Cilegon" itu mempunyai arti penting dalam sejarah pergerakan nasional. sebagai perusahaan dagang milik Belanda pun tidak lepas dari tugas penghancuran umat Islam dan penyebaran agama Kristen kepada penduduk di Nusantara (Suminto. Rakyat Banten sangat benci kepada penjajah Belanda dan pamongpraja yang menjadi kaki-tangannya. Keadaan demikian terlihat juga pada abad ke-19 dan ke-20. karena setelah kejadian itu Belanda menginstruksikan supaya semua peraturan-peraturan yang akan dikeluarkan hendaknya jangan menyinggung perasaan keagamaan rakyat jajahan. Pusat-pusat kegiatan mereka ialah Bendung. Dengan keadaan ini pemerintah Hindia Belanda haruslah mendukung sebanyak mungkin usaha kristenisasi yang banyak dilakukan organisasi swasta. Haji Haris dibuang ke Bukit Tinggi. dan banyak lagi lainnya dibuang ke Tondano. yang selanjutnya dilaksanakan pemerintah Belanda. Ternate. Banyaknya pemberontakan rakyat yang dipimpin para ulama Islam ini erat juga kaitannya dengan politik keagamaan yang diterapkan kaum penjajah. Haji Muhammad Hanafiah dari Trumbu dan Haji Muhidin dari Cipeucang. Sehingga dapat dikatakan bahwa ekspansi Portugis harus dilihat sebagai kelanjutan dari Perang Salib. Namun pada peralihan abad ke-20 kemenangan beralih kepada kelompok agama. melalui beberapa peraturan dan pelaksanaan yang dibuat pemerintah Hindia Belanda. Haji Abdurahman dan Haji Akib dibuang ke Banda. kepemimpinannya dipercayakan kepada pemim-pin kharismatik yakni para kiyai dan ulama. yaitu kemudahan bagi organisasi zending Kristen mendirikan sekolah bagi penduduk bumiputra. sebaliknya pihak penjajah juga menaruh kewaspadaan tinggi untuk daerah Banten dengan rakyatnya sangat militan itu. masalah yang dianggap paling mendasar dalam kehidupan manusia. Kupang. Haji Wasid sebagai pemimpin pemberontakan dihukum gantung. Menado. VOC. Hal ini tidak lepas dari motivasi pertama pengembaraan orang-orang Eropa. Kubang. sedangkan yang lainnya dihukum buang. Haji Ismail dibuang ke Flores.ulama dari Bendung. Kedua golongan ini saling berebut mempengaruhi semua keputusan parlemen. Sehari semalam kekacauan tidak dapat diatasi. Haji Arsyad Qashir dibuang ke Buton. sehingga akhirnya kerusuhan dapat dipadamkan. Pada dasawarsa terakhir abad ke-19 kelompok non agama memperoleh kemenangan dalam parlemen. Rakyat kebetulan tidak memiliki pemimpin formal untuk menyalurkan aspirasinya sehingga untuk menyalurkan ketidakpuasan itu. dan Saparua. bekas dan akibat pemberontakan Cilegon ini cukup mendalam di kedua belah pihak. Haji Arsyad Thawil dibuang ke Gorontalo. 20 . Tetapi seorang babu (pembantu rumah tangga) Gubbel dapat melarikan diri ke Serang membawa kabar kejadian di Cilegon itu. Kaloran dan Keganteran. Walau pun akhirnya pemberontakan itu mengalami kegagalan secara fisik. namun sangat bermakna sebagai sebuah gambaran dari rasa ketidakpuasan dan kebencian seluruh rakyat terhadap penjajah. Dalam tahun-tahun berikutnya. 1985: 17). untuk sedikit demi sedikit melupakan agamanya (Islam) dan kemudian beralih kepada agama Kristen. juga pemerintah kolonial "merambah" dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Ambon. di samping untuk mencari keuntungan perdagangan juga dilandasi oleh rasa benci dan permusuhan kepada orang-orang yang beragama Islam. Terjadilah pertempuran hebat antara para pemberontak dengan tentara kolonial yang memang sudah terlatih baik. dalam bentuk pemberontakan.

Imbas dari keadaan ini masih terasa sampai pasca kemerdekaan. untuk mengisi kekosongan pegawai pamongpraja ini. perlawanan dan pemberontakan rakyat Banten terhadap pemerintah kolonial tidak pernah berhenti.Masalah kristenisasi di Hindia Belanda ini erat juga kaitannya dengan masalah menghadapi pemberontakan yang dilakukan umat Islam. Pemerintah Belanda berpendapat bahwa apabila bangsa Indonesia ini memeluk agama Kristen. Rupanya. masyarakat mencemooh mereka sebagai "anjing belanda". sering dituduh menyuruh anak-anaknya masuk agama Kristen. Keyakinan yang memandang rendah semacam itulah yang mendasari kenapa penduduk asli Banten yang bersedia bekerja menjadi pamongpraja pada masa pemerintahan Hindia Belanda sangat sedikit. maka berarti mereka tidak akan lagi membahayakan bagi pemerintahan Belanda. Karena itulah "zending Kristen harus dianggap sebagai faktor penting bagi proses penjajahan. Tetapi dalam kenyataannya. ataupun sekolah Jawa/Melayu yang didirikan Belanda. misalnya sebagai pamongpraja. bahkan mungkin bukan termasuk orang yang taat menjalankan agamanya. bahkan perluasan kolonial dan ekspansi agama merupakan gejala simbiose yang saling menunjang" (Suminto. Maka tidak jarang seorang kiyai atau seorang guru mengaji mengeluarkan fatwa bahwa memasuki sekolah-sekolah Belanda adalah haram. walaupun memang kebanyakan rakyat Banten bukan orang yang mempunyai pemahaman mendalam tentang keislaman. dan pemakainya dikatakan kafir. Dengan mengkristenkan sebanyak mungkin penduduk di Nusantara maka pemberontakan akan semakin berkurang. yakni menjadi seagama dengan penjajahnya. Penduduk Banten sebagian besar keturunan orang Jawa dan Cirebon yang 21 . Demikian juga dengan orang Islam yang bekerja menjadi pegawai di kantor pemerintah Belanda. "kapir landa" sebutan yang di samping menggambarkan kebencian mendalam juga menganggap mereka itu adalam musuh-musuh Islam dan kaum muslimin. celana pantalon dan topi ala Eropa dihukumi haram. Pemerintah kolonial memandang bahwa Banten merupakan daerah yang paling rusuh di Jawa. 1985:18). Ketakutan yang didasari kecurigaan ini pula yang menyebabkan banyaknya pegawai asal Priyangan yang ikut melarikan diri ketika pasukan Jepang keluar dari Banten. Peran Kyai dan Jawara di Banten Semenjak pemerintahan kolonial Belanda menaklukan kesultanan Banten. seperti dari Bogor dan Bandung. Oleh karenanya. Hal demikian sering menimbulkan konflik tertentu yang saling mencurigai satu sama lain. Karena itu masyarakat Banten sejak dahulu dikenal sebagai orang yang sangat fanatik dalam hal agama dan bersemangat memberontak. justru karena tekanan kegiatan missi penyebaran agama Kristen yang menggebu-gebu ini reaksi perlawanan dari rakyat Indonesia makin lebih militan lagi menentang penjajah Belanda. yang pada hakekatnya berawal mungkin dari perasaan irihati para pamongpraja asli daerah Banten terhadap para pamongpraja pendatang. atau sekurang-kurangnya menyalahi Islam. namun dalam hal rasa sentimen keagamaan mereka cukup tinggi. pemerintah kolonial lebih banyak mengangkat pegawai yang berasal dari Priyangan. Keadaan semacam ini pun membuat pemerintah Belanda mengalami kesulitan mengangkat pejabat pamongpraja asli dari Banten yang cakap (baca: pernah belajar di sekolah Belanda). Bahkan beredar fatwa yang menyatakan bahwa berpakaian ala Eropa lebih-lebih memakai dasi. Sehingga orang Indonesia dalam menyebut orang-orang Belanda sebagai "setan". Tidaklah mengherankan apabila orang Islam yang mengirimkan anaknya untuk belajar di sekolah Belanda.

Memang bahwa salah satu sifat jawara adalah selalu ingin menang. Dalam daerah yang pernah menjadi pusat kerajaan Islam dan penduduknya yang terkenal sangat taat terhadap agama seperti daerah Banten sudah sewajarnya jika kiyai menempati kedudukan yang penting dalam masyarakat. Pada masa dahulu kepala desa atau lurah di Banten itu mayoritas adalah para jawara. Golongan lain. juga sebagai guru spiritual dan pemimpin kharismatik masyarakat. yang berarti pemenang. apalagi menjadi kepala desa atau lurah. demikian pula kepala jawara memiliki padepokan tempat pengemblengan ³anak buah´. Kiyai yang merupakan gelar ulama dari kelompok Islam tradisional. Bahkan pengangkatan pemimpin formal di suatu desa ditentukan oleh pemuka-pemuka agama di daerah yang bersangkutan. Sebagian orang berpendapat bahwa jawara berarti juara. Para jawara tersebut memimpin kajaroan (desa) namun kemudian terjadi pergeseran makna sehingga jawara dan jaro menunjukan makna yang berbeda. Penampilan kiyai yang khas. yang terkadang dilakukan dengan berbagai cara termasuk dengan cara yang tidak baik. Ia cukup terkenal dengan seragam hitamnya dan kecenderungan terhadap penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalan. jawara dipandang sebagai sosok yang memiliki keberanian. Sehingga bagi sebagian masyarakat. Kekuasaannya sering kali melebihi kekuasaan pemimpin formal. Perbauran yang begitu dalam menyebabkan penduduk Banten memiliki cultur yang berbeda dalam hal bahasa dan adat istiadat dengan masyarakat asalnya. Jimat yang memberikan harapan dan memenuhi kebutuhan praktis para jawara yang salah satunya adalah kekebalan tubuh dari benda-benda tajam. Melayu dan Lampung. Asal-usul kata ³jawara´ pun tidak begitu jelas. orang Banten menunjukkan perbedaan yang nyata dengan orang Sunda dan orang Jawa Tengah dan Jawa Timur. agresif. serta membawa tasbih untuk berdzikir kepada Allah. Bahkan mereka memiliki organisasi tersendiri.dalam perjalanan waktu berbaur dengan orang-orang Sunda. yang kalau sekarang lebih dikenal dengan kepala desa atau lurah. terbuka (blak-blakan) dengan bersenjatakan golok. Kiyai di Banten pada tempo dulu tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam tetapi mengajarkan 22 . Begitu pula dalam hal penampilan fisik dan watak. Karena itu perilaku dan ucapan seorang kiyai menjadi panduan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. berprilaku sopan. yang juga menembus batas-batas hirarki pedesaan di Banten. seperti Persatuan Pendekar Persilatan dan Seni Budaya Banten yang dipimpin oleh Tb Chasan Shohib dan Tjmande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir yang dipimpin oleh Maman Rizal. sebagian orang lagi berpendapat bahwa kata ³jawara´ berasal dari kata ³jaro´ yang berarti seorang pemimpin yang biasanya merujuk kepada kepemimpinan di desa. sompral (tutur kata yang keras dan terkesan sombong). untuk menunjukan bahwa ia memiliki kekuatan fisik dan magik. seperti penggunaan jimat. merupakan simbol-simbol kesalehan. Bugis. seperti bertutur kata lembut. Jawara sebagai orang yang memiliki keunggulan dalam fisik dan kekuatankekuatan untuk memanifulasi kekuatan supernatural. Para jawara pun memiliki jaringan yang melewati batas-batas geografis daerah tempat tinggalnya. Sehingga seorang jawara itu biasa bersifat sompral (berbicara dengan bahasa yang kasar dan terkesan sombong). terutama di pedesaan. Kiyai dikenal tidak hanya sebagai guru di pesantren. adalah jawara. yang ingin dipandang orang yang paling hebat. Keunggulan dalam hal fisik dan kemampuanya untuk memanipulasi kekuatan supernatural (magik) telah melahirkan sosok seorang jawara dengan memiliki karakter yang khas. berpakaian rapih dan sederhana. Menurut Tihami (Dekan IAIN Maulana Hasanudin Banten) bahwa jawara itu adalah murid kiyai. Sekarang ini jawara tidak mesti menjadi pemimpin. sehingga ia disegani oleh masyarakat. Seperti halnya kiyai yang memiliki pesantren sebagai tempat para santri menimba ilmu pengetahuan agama Islam. tidak hanya dipandang sebagai tokoh agama tetapi juga seorang pemimpin masyarakat.

Murid kiyai yang lebih berbakat dalam bidang intelektual. terutama dari pemimpin tarekat. sehingga menimbulkan antipati masayarakat terhadap jawara. Namun setelah Indonesia bebas dari kolonialisme. Sedangkan murid kiyai yang memiliki bakat dalam bidang fisik lebih condong kepada persilatan atau ilmu-ilmu kanuragan. Mungkin atas dasar itu seorang pengurus persilatan dan seni budaya Banten menyatakan bahwa jawara itu adalah khodim (pembantu) nya kiyai. Karena itu kesan orang terhadap istilah jawara cenderung negatif dan derogatif. Karena itu jawara dianggap pahlawan oleh rakyat. Kesan yang kurang baik tentang jawara tersebut yang kemudian yang bagi orang-orang yang memiliki ilmu-ilmu kadigjayaan atau persilatan yang sudah ³terpelajar´ tidak mau menamakan dirinya jawara tetapi lebih senang disebut pendekar. seperti melakukan ancaman. seperti sompral. yang kemudian disebut jawara. Peran-peran itu yang telah ditampilkan secara baik oleh Mas Jakaria serta tokoh-tokoh jawara masa silam. kurang taat dalam beragama. Tokoh lain di wilayah Banten yang memiliki status sosial yang dihormati dan disegani karena dianggap memiliki kemampuan untuk memanipulasi kekuatan supra-natural yang merupa magis dan mistis adalah jawara. sehingga ia dianggap bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang biasa. Maka ada orang yang mendefenisikan jawara dengan ³jago wadon lan lahur´ (tukang main perempuan dan tukang bohong). kurang taat menjalankan perintah agama Islam atau melakukan sesuatu dengan cara-cara yang tidak baik terhadap orang untuk kepentingan dirinya semata. mendalami ilmu-ilmu agama Islam pada akhirnya disebut santri. juwara iku tentrane kiyai (jawara itu tentaranya kiyai). kiyai. Karena kharisma seseorang kiyai akan semakin besar apabila ia selain memiliki kemampuan untuk memahami ajaran-ajaran agama. Istilah jawara dalam percakapan sehari-hari masyarakat Banten sekarang ini dipergunakan untuk istilah denotatif dan juga referensi untuk mengidentifikasi seseorang. sebagai pembela dan pelindung atas kepentinganya. musuh bersama rakyat itu tidak ada. Persepsi masyarakat tentang jawara saat ini yang kurang simpatik dan cenderung negatif sebenarnya bisa diterangkan dengan teori ³ bandit sosial´ di atas. selain dipandang sebagai orang yang mengerti tentang pesan-pesan dan ajaran-ajaran agama juga dipandang sebagai sosok yang paling dekat pusat kekuatan supernatural. Hal ini disebabkan pesantren. Tokoh-tokoh agama. Namun prilakuprilaku jawara. Jawara dianggap memiliki ilmu-ilmu kedigjayaan (kesaktian) dan menguasai 23 . mendapat penghargaan dan penghormatan di mata rakyat Banten. ³jago wadon lan harta´ (tukang main perempuan dan tamak harta). seperti kekebalan tubuh dari senjata tajam. Peranan jawara pada masa lalu yang menonjolkan keberanian untuk melawan musuh bersama masyarakat yakni: pemerintah kolonial Belanda. berada di daerahdaerah terpencil dan kurang aman. terutama kitab-kitab kuning juga dipercayai oleh masayarakat memiliki kekuatan mistis dan magis yang besar pula. sehingga membangkitkan perasaan orang lain penuh dengan pertentangan: hormat dan takut. Sedangkan istilah jawara yang bersifat denotatif berisi tentang sifat yang merendahkan derajat (derogatif) yang biasanya digunakan untuk orang-orang yang berprilaku sombong. kekerasan dan kenekadan.ilmu persilatan atau kanuragan. Bahkan seperti yang diungkapkan salah seorang kiyai di Serang. yang lebih dikenal dengan ilmu-ilmu hikmah. karena itu dipercayai memiliki kekuatan magis dan mistis. bisa memukul dari jarak jauh dan sebagainya. Istilah jawara yang menunjukan referensi untuk identifikasi seseorang adalah gelar bagi orang-orang yang memiliki kekuatan fisik dalam bersilat dan mempunyai ilmu-ilmu kesaktian (kadigjayaan). pada masa yang lalu. karena kesultanan tidak mampu menjangkau daerah-daerah yang terpencil yang sangat jauh dari pusat kekuasaan. justru tidak berubah. sombong. Karena itu dalam tradisi kejawaran bahwa seorang jawara yang melawan perintah kiyai itu akan kawalat. rasa kagum dan benci.

Berkat kelebihannya itu. Akhmad Khatib memerintahkan K. 24 .H. seperti kekebalan tubuh dari senjata tajam. Munculnya kiyai sebagai tokoh agama yang dihormati di wilayah Banten berkaitan dengan kontrol pemerintah kolonial Belanda yang semakin kuat terhadap kesultanan Banten pada abad ke-18 dan ke19. yakni: kepemimpinan yang bertumpu kepada daya tarik pribadi yang melekat pada diri pribadi seorang kiyai atau jawara tersebut. Kedua tokoh tersebut memiliki pengaruh yang cukup besar di masyarakat dan juga memiliki para pengikut yang setia. Juga karena keunggulan kepribadiannya itu. Penghapusan jabatan tersebut mengalihkan loyalitas penduduk ke para kiyai. rasa kagum dan benci. Anggota Dewan Rakyat yang anggotanya kebanyakan dari para jawara. namun pengaruh mereka semakin menurun. Sehingga K. menjadi sosok yang terkadang justru banyak merugikan masyarakat. Karena posisinya yang demikian itu maka seorang kiyai atau jawara dapat selalu dibedakan dari orang kebanyakan. akibat intervensi pemerintah kolonial yang terlalu besar. mengadakan serangkaian kerusuhan sosial dan pembunuhan di berbagai tempat di wilayah Banten. ia bisa muncul menjadi tokoh yang kharismatik. Kepemimpinannya bersifat kharismatik. guru dan pemimpin masyarakat yang berwibawa yang memiliki legitimasi berdasarkan kepercayaan masyarakat. dihapuskan oleh Belanda. Apalagi semenjak jabatan Fakih Najamuddin. Pembayaran zakat pun yang selama kesultanan Banten dan masa-masa awal pemerintahan kolonial diserahkan kepada penghulu. yang keberaniannya itu didukung oleh kemampuan dirinya dalam menguasai ilmu bela diri (persilatan) dan ilmu-ilmu kesaktian.ilmu persilatan. yang pada saat itu merupakan tokoh agama yang independen dan tidak bersentuhan langsung dengan pemerintah. terutama pada saat-saat kehidupan sosial mengalami krisis. Syam¶un untuk menangkap Ce Mamat dan menumpas gerombolannya. sehingga membangkitkan perasaan hormat dan takut. Demikian pula jawara. ahli hikmah. Kiyai. muncul sebagai tokoh masyarakat. bisa memukul dari jarak jauh dan sebagainya. Karena itu seseorang yang hanya memiliki ilmu-ilmu kadigjayaan dan persilatan tidak akan dinamakan jawara apabila ia tidak memiliki keberanian. ia dianggap bahkan diyakini memiliki kekuatan supernatural sehingga memiliki kemampuan luar biasa dan mengesankan di hadapan khalayak banyak. kawani) secara fisik. Meskipun pemerintah kolonial masih tetap mempertahankan pejabat-pejabat yang mengurusi soalsoal keagamaan masyarakat Banten. Sedangkan jawara dalam pandangan masyarakat Banten merujuk kepada seseorang atau kelompok yang memiliki kekuatan fisik dalam bersilat (kanuragan) dan mempunyai ilmu-ilmu kesaktian (kadigjayaan). Selain itu jawara juga harus memiliki keberanian (wanten. yang pada masa-masa sulit banyak membantu peran para kiyai terutama berkaitan dengan persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat. yang menyandang gelar tersebut biasanya memiliki kesaktian dan ahli kebatinan. setelah penghapusan jabatan Fakih Najamuddin diberikan kepada para kiyai. seperti Fakih Najamuddin untuk di tingkat atas dan para penghulu untuk di tingkat bawah. Seperti kisah ketokohan Ce Mamat alias Muhamad Mansur yang mendirikan Dewan Rakyat.H. Menurut masyarakat Banten gelar Kiyai diberikan kepada seorang yang ³terpelajar´ dalam pemahaman keislamannya dan ia membaktikan hidupnya ³demi mencari ridha Allah´ untuk menyebarluaskan serta memperdalam ajaran-ajaran agama Islam kepada seluruh masyarakat melalui lembaga pendidikan ataupun pesantren. Karena kelebihannya yang dimilikinya itu maka kiyai dan jawara dipandang sebagai pemimpin masyarakat dan merupakan ³elit sosial´ di masyarakat Banten.

menerima uang shalawat (bantuan material) dari jawara. Keduanya merupakan pemimpinan yang meemiliki pengaruh pada masyarakat Banten. Sehingga dalam masyarakat Banten peran-peran yang sering dimainkan oleh para jawara adalah menjadi jaro (kepala desa atau lurah). Penyebarannya dilakukan oleh salah seorang pemimpin Islam yang dikenal sebagai wali berasal dari Cirebon yakni Sunan Gunung Jati dan kemudian dilanjutkan oleh putranya Maulana Hasanudidin untuk menyebarkan secara perlahan-lahan ajaran agama Islam daerah Banten. karena Banten mempunyai peranan penting dalam tumbuh dan berkembangnya Islam. Sumber naskah kuno dari masa pra Islam menyebutkan tentang kehidupan masyarakat yang menganut Hindu. Peranan seorang kiyai selain sebagai pewaris tradisi keagamaan juga pemberi arahan atau tujuan kehidupan masyarakat yang mesti ditempuh. masyarakat Banten masih hidup dalam tata cara kehidupan tradisi prasejarah dan dalam abad-abad permulaan masehi ketika agama Hindu berkembang di Indonesia. Peranan kiyai dalam masyarakat Banten adalah sebagai tokoh masyarakat (kokolot). Sedangkan jawara lebih cenderung kepada kekuatan fisik dan ³batin´. Sekitar permulaan abad ke 16. atas jasanya tersebut. sedangkan sebaliknya kiyai. Hal ini dapat dilihat dari peninggalan purbakala dalam bentuk prasasti arca-arca yang bersifat Hiduistik dan banguan keagamaan lainnya. Peninggalan sejarah yang amat berharga ini nampaknya akan selalu menarik untuk diteliti dan dikaji 25 . Begitu pula ketika mereka membina hubungannya dengan sesama Kiyai dan jawara disatukan dalam dalam ruang lingkup kebudayaan Banten. khususnya di daerah Jakarta dan Jawa Barat. Sejarah Pra Islam Dan Berkembangnya Islam Di Banten Sebelum Islam berkembang di Banten. Sedangkan jawara berkedudukan sebagai pemimpin dari lembaga adat masyarakat diapun tokoh yang dihormati apabila ia menjadi pemimpin atau penguasa. namun demikian peranan para jawara dalam sosial. Karena itu ia lebih bersifat memberikan pencerahan terhadap masyarakat. semua itu menjadi masyarakat Banten yang madani dan memiliki religiusitas yang tinggi. Di Banten telah berdiri satu kerajaan Islam yang lebih dikenal oleh masyarakat Banten dan sekitarnya dengan sebutan Kesultanan Banten. Peranan tersebut bagi masyarakat sangat membantu apalagi saat Banten dalam kekacauan dan kerusuhan yang cukup lama. Tetapi akhir-akhir ini peranan para jawara mulai berbeda dibandingkan dengan peranan jawara pada masa-masa lalu dalam sejarah kehidupan masyarakat Banten sesuai perkembangan zaman. kesaktian dan keturunannya. guru kitab. Banten adalah salah satu pusat perkembangan Islam. satuan-satuan pengamanan. guru ilmu silat dan ilmu ³batin´ atau magi. Sifat hubungan keduanya tidak hanya bersifat simbiosis. Jawara membutuhkan elmu dari kiyai. yakni saling ketergantungan tetapi juga kontradiktif. guru ilmu ³hikmah´ (ilmu ghaib) dan sebagai mubaligh. guru ngaji. kemampuan dalam penguasaan ilmu pengetahuan (agama dan sekuler). di daerah pesisir Banten sudah ada sekelompok masyarakat yang menganut agama Islam. guru tarekat. apalagi bagi masyarakat yang masih mencari jati dirinya. ekonomi dan politik dalam kehidupan masyarakat Banten saat ini sangat diperlukan. Tetapi juga banyak kiyai yang tidak senang terhadap berbagai prilaku jawara yang sering menghalalkan segara cara walau dengan cara kekerasaan dalam menyelesaikan masalah. kebesaran namanya sangat ditentukan oleh nilai-nilai pribadi yang dimiliki. peran-peran seperti itu sangat diperlukan.Kiyai dalam masyarakat Banten merupakan tokoh panutan masyarakat yang dihormati berkat perannya dalam mengarahkan dan menata kehidupan bermasyarakat. Dikarenakan letak geografisnya yang sangat strategis sebagai kota pelabuhan.

dolmen dan patung-patung simbolis dari desa Sanghiang Dengdek di Menes.1983:124) Untuk selanjutnya keadaan Banten pada abad ke VII samapi dengan abad ke XIII. dipakai jalur sungai Cibanten yang pada waktu itu masih dapat dilayari.1979:37) Tapi disamping itu pula masih ada jalan darat yang dapat dilalui yaitu melalui jalan Kelapa Dua. dengan pusat pemerintahan Kadipaten di Banten Girang sedangkan Banten Lama hanyalah berfungsi sebagai pelabuhan saja. Pada awal abad ke XVI. (Hoesein. dua tahun kemudian lahirlah anak perempuan pertama yang diberinama Ratu Winahon dan pada tahun berikutnya lahir pula pangeran Hasanuddin. ternyata sejarah Islam di Banten belum banyak diteliti secara tuntas sehingga masih banyak hal-hal yang penting yang perlu diteliti dan dipelajari secara lebih mendalam. Pada tahun 1475 M. kita tidak mendapatkan keterangan yang menyakinkan. (Ayathrohaedi. ini berarti bahwa daerah kekuasaan Tarumanegara sampai juga ke daerah Banten. di Banten yang berkuasa adalah Prabu Pucuk Umun.1982:2) Untuk menghubungkan antara Banten Girang dengan pelabuhan Banten. kubur tempayan di Anyer. Tradisi prasejarah ditandai oleh adanya alat-alat kehidupan sehari-hari dan kepercayaan yang mereka anut. (Sukendar. Keadaan Banten Pra Islam Daerah Banten memiliki beberapa data arkeologi dan sejarah dari masa sebelum Islam masuk ke daerah ini. dan lain sebagainya. (Ambary. Hal ini terlihat dengan ditemukannya kapak corong terbuat dari perunggu di daerah Pamarayan. sumber data arkeologi menujukan bahwa sebelum Islam masyarakat Banten hidup pada masa tradisi prasejarah dan tradisi Hindu-Buddha. adapun prasasti Munjul yang ditemukan terletak disungai Cidanghiang. hal ini disebabkan karena data yang diperoleh para ahli belum lengkap.1976:1-6) Penggunaan alat-alat kebutuhan yang dibuat dari perunggu yang terkenal dengan kebudayaan Dong Son (500-300 SM) juga mempengaruhi penduduk Banten. karena kerajaan Tarumanegara pada masa itu berada dalam keadaan makmur dan jaya. Cikupa. serta naskah-naskah kuno yang mencatat keterangan tentang kehidupan masyarakat pada masa itu. (Atja. Selain itu di Banten terdapat sisa-sisa kebudayaan megalitik tua (4500 SM hingga awal masehi) seperti menhir di lereng gunung Karang di Padeglang. Kopo Pandeglang.1972:26) 26 . kapak batu di Cigeulis. Cipari dan Babakan Tanggerang. Disamping karena pertumbuhan dan perkembangan Islam di Banten yang menarik. pada tahun 1525 M dan 1526 M. demikian pula dengan masa kehidupan Hindu dan Buddha ditandai oleh peninggalan Hindu masa itu berupa prasasti arca Nandi dan bendabenda arkeologi lainnya. batu bergores di Ciderasi desa Palanyar Cimanuk.terutama dikalangan sejarawan dan para ilmuan. Seperti di dalam naskah Purwaka Tjaruban Nagari disebutkan bahwa Syarif Hidayatullah setelah belajar di Pasai mendarat di Banten untuk meneruskan penyebaran agama Isalam yang sebelumnya telah dilakukan oleh Sunan Ampel. beliau menikah dengan adik bupati Banten yang bernama Nhay Kawunganten. Lebak Munjul Pandegalng adalah prasasti yang bertuliskan Pallawa dengan bahasa Sangsekerta menyatakan bahwa raja yang berkuasa di daerah ini adalah Purnawarman. Tumbuh dan Berkembangnya Islam Di Banten Penyebaran Islam di Banten dilakukan oleh Syarif Hidayatullah. Selain bukti arkeologi berupa arca Siwa dan Ganesha ini belum ada lagi data sejarah yang cukup kuat untuk menunjang keberadaan kerajaan Salakanagara ini yang lebih jelas.

(Ismail. maka pada tahun 1552 M. saat itu Kesultanan Demak runtuh dan digantikan oleh Panjang. Cina. Bangunan ± bangunan itu tidak terlepas dari pengaruh religius (Hinduisme dan Islam). Selain orang keturunan Cina yang sering berkunjung kesini banyak pula para turis macanegara dan lokal mengunjungi klenteng ini. Masjid Kasunyatan. persejataan dan karya seni yang menjadi tolak ukur dari nilai-nilai budaya masysarakat pada masa itu. Di Banten ada sebuah peninggalan kuno bangsa Cina yaitu klenteng yang saat ini merupakan Vihara Budha. Adapun tugasnya dalam penyebaran Islam di Banten diserahkan kepada Pangeran Hasanuddin. Kadipaten Banten dirubah menjadi negara bagian Demak dengan Pangeran Hasanuddin sebagai Sultannya. (Djajadiningrat. di dalam usaha penyebaran agama Islam Ini Pangeran Hasanuddin berkeliling dari daerah ke daerah seperti dari G. prabotan rumah tangga. pendidikan. dan Gujarat. Seperti halnya di Banten banyak terdapat benda-benda bersejarah yang memiliki nilai historis yang dapat menyiratkan suatu riwayat tertentu. Keraton Surosowan. Sejarah kebudayaan Cina Tertua di Banten Sejarah bisa diungkapkan lewat peninggalan-peninggalan masyarakat terdahulu dari segala segi aktivitas dan kreativitas. Setelah kesultanan Banten berakhir maka sekarang tingglallah peninggalan sejarah berupa bekas istana kerajaan dan beberapa bangunan lain seperti. Mesjid Agung dan Menara Banten. Atas petunjuk dari Syarif Hidayatullah pusat pemerintahan Banten dipindahkan dari Banten Girang ke dekat pelabuhan di Banten Lor yang terletak dipesisir utara yang sekarang menjadi Keraton Surosowan. Karang bahkan sampai ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon. Masjid Caringin.Setelah Pangeran Hasanuddin menginjak dewasa. Ditempat ini berdiri masjid Kasunyatan yang umurnya lebih tua dari masjid Agung Banten. kebudayaan dan ekonomi di masa itu. lepas dari pengaruh Demak atau pun Pajang. Pulosari.1983:35) Disinilah tempat tinggal dan mengajarnya Kiayi Dukuh yang bergelar Pangeran Kasunyatan guru dari Pangeran Yusuf. Pengaruh yang besar diberikan oleh Islam melalui kesultanan dan para ulama serta mubaligh Islam di Banten seperti tidak dapat disangsikan lagi dan penyebarannya melalui jalur politik.1976:181) Disamping itu Banten juga menjadi pusat penyebaran agama Islam. sehingga tumbuhlah beberapa perguruan Islam di Banten seperti yang ada di Kasunyatan. seperti dilihat dari bentuk ± bentuk bangunan.1954:10) Karena semakin besar dan maju daerah Banten. (Djajadiningrat. serta terjadinya akulturasi negara-negara lain seperti. Belanda. syarif Hidayatullah pergi ke Cirebon mengemban tugas sebagai Tumenggung di sana.1983:34) Sehingga berangsur-angsur penduduk Banten Utara memeluk agama Islam.1983:163) Kerajaan Islam di Banten Saat itu lebih dikenal oleh masyarakat Banten dan sekitarnya dengan sebutan Kesultanan Banten. Barulah Sultan Hasanuddin memproklamirkan Banten sebagai negara merdeka. banyak orang-orang dari luar daerah yang sengaja datang untuk belajar. Keraton Kaibon. (Roesjan. Mesjid Pacinan Tinggi. G. karena mereka ingin melihat klenteng Cina yang dibangun pada masa sultan Banten dan konon klenteng tertua di Indonesia. baik kejayaan maupun kesuraman suatu masa dalam sejarah. Kesultanan Banten telah mencapai masa kejayaannya dimasa lalu dan telah berhasil merubah wajah sebagian besar masyarakat Banten. (Hamka. makam-makam sultan Banten dan banyak lagi yang lainnya. (Djajadiningrat. Dari beberapa petugas serta pengawas 27 . Gedung Timayah.1983:144) Pada tahun 1568 M.

Bangunan klenteng ini memiliki ciri khas tersendiri sama seperti bangunan-bangunan bersejarah di Banten pada umumnya. kesan tua dan membosankan untuk di pandang memenag tidak terpancar sama sekali di banguanan ini. semula rumah biasa milik seorang Kapten VOC yang diserahkan untuk dijadikan tempat sembahyang orang Cina. Kemudian dalam proses selanjutnya bangunan klenteng itu mengalami perluasan beberapa puluh meter di areal kosong bagian kiri kanan banguan juga bagian depan maupun belakang bangunan tersebut. berjarak puluhan meter saja karena dipisahkan oleh sebuah parit. pembangunan yang terus dilakukan secara bertahap di sekitar klenteng memang tidak merubah keaslian klenteng itu sendiri apa lagi yang terletak dibagian tengah klenteng karena diguankan sebagai altar. juga di Indonesia . Kita tengok sejarah hubungan antara kesultanaan Banten dengan bangsa Cina pada masa itu. Bangunan bekas kantor douane itu kemudian di rubah menjadi klenteng dengan nama Bio Hud Couw. Keterangan ini hampir sama dengan yang dipaparkan oleh She Cang bahwa klenteng yang dijaganya sejak tahun 1963 samapi sekarang. mereka datang untuk berdagang dan melakukan perdagangan dengan cara barter/menukar dengan lada sebagai bahan utamanya.000 real dengan menggunakan 6 buah perahu. sedangkan di ruang lainnya yang melengkapi beberapa tempat penampungan para jemaah klenteng. Coen perahu Cina membawa barang dagangan bernilai 300. 1915:122) sebagai tanda peran serta bangsa Cina pada perdagangan di Banten tidak bisa diangap ringan.klenteng itu. Mata uang Cina tersebut berbentuk 28 . Penemuan mata uang Cina ini oleh tim arkeologi di Keraton Surosowan terdapat tulisan Yung Cheng T¶ung Pou = Coinage of Stable Peace yang berarti pembuatan mata uang untuk kesetabilan dan perdamaian. dan pada saat itu orang Cina di Banten lebih dari 1300 kepala keluarga. Selain sebagai pedagang orang-orang Cina datang ke Banten sebagai imigran (Clive Day. Lokasi klenteng Cina ini terletak di sebelah barat bangunan Benteng Speelwijk (Benteng yang dibuat Belanda). P. Mata uang Cina yang ditemukan de Houtman di Banten (Rouffer. hal ini lebih banyak disebabkan selain karena perluasan bangunan di sekitar bangunan asli klenteng juga beberapa pengaruh warna cet merah dengan kombinasi warna kuning yang menyala. Intensitas kehadiran para pedagang Cina cukup meramaikan dalam perdagangan di Banten diiringi pula dengan kehadiran imigran yang berfekwensi cukup tinggi. Agar warna cat tidak mudar dan tetap indah dipandang para pengunjung. Dahulu kampung Pabean memang banyak dihuni oleh orang-orang Cina daerah pelabuhan itu sangat ramai tetapi jauh dari tempat sembahyangnya orang Cina oleh karena itu kerajaan Banten memberikan bangunan kepada orang-orang Cina di Pabean sebuah bangunan besar bekas kantor bea (douane) pada masa VOC di pelabuhan Banten. waktu itu Banten dikenal sebagai pelabuhan rempah-rempah. Sedangkan menurut catatan J. dilihat dari catatan arkeologi pada setiap tahun banyak perahu Cina yang berlabuh di Banten. diperoleh keterangan serupa bahwa Kleteng ini tertua di Jawa. pada tahun 1614 di Banten ada 4 buah perahu Cina yang rata-rata berukuran 300 ton. Meskipun klenteng ini sudah berusia 500 tahun. tetapi bangunan klenteng amat terpelihara dengan baik dan masih berfungsi sebagai tempat peribadatan para pemeluk agama Budha hingga kini bahkan dalam perkembangannya di sekitar klenteng ini sekarang cukup banyak berdiri penginapan yang khusus di bangun untuk menampung para pengunjung klenteng dari luar kota yang ingin bermalam. 1958:69). Klenteng ini di bangun pada masa awal Kerajaan Banten. sedangkan pada koin sebaliknya diketahui huruf Manchu yang artinya tidak diketahui. Cat yang banyak melekat didinding tiang serta kusen lainya memeang sering diperbaharui.

disamping Inggris 29 . manusia menyelenggarakan segala upaya kulturalnya untuk memenuhi kebutuhan hidup secara maksimal. Secara kronologis dan hipotetis bahwa dari sisa-sisa situs dan artefak tersebut mencerminkan hamparan sisa-sisa perilaku kehidupan dan budaya manusia yang ada sepanjang sejarah dari kurun ke kurun sejarah berikutnya. sehingga mereka tidak mampu membeli barang dagangan yang dibawa VOC. pemukiman kuna di Taman Jaya dan Sumur. Islam dan terakhir zaman Kolonial. terutama Pulau Jawa karena sistim monopoli yang tak sehat. serta hasil survai dan ekskavasi. Ujung Kulan Panaitan memperlihatkan pada kita beberapa artefak dan sisa-sisa bangunan. 1993:36) Ujung Kulon Dalam Lintasan Sejarah Mengamati berbagai sumber sejarah di nusantara sangatlah banyak.bulat berlubang segi empat.450. setidaknya memperlihatkan bahwa sekitar daratan selat Sunda ini pernah meniadi salah satu sub-sistem pemukiman dan tempat pemujaan.18 cm.Monopoli rernpah-rempah VOC yang sering dilanggar oleh penduduk pribumi. zaman hindu-budha. dan beberapa sisa bangunan Kolonial di Tanjung Layar. dimana masa itu menghadapi kemunduran dalam perdagangannya karena situasi moneter dunia dan masalah di dalam tubuh VOC sendiri yang kurang sehat. sangatlah memperhatinkan masa kita lihat mada masa V.60 cm. keadaan ini menyebabkan hutang bertumpuk. misalnya jarak terhadap pusat persediaan sumber daya alam atau kita sebut sumber makanan dan air minum. dan diameter lubang 0. muncul tumbuh dan berkembang sebagai hasil interaksi antara ekonomi terhadap tempat khusus dan taktik-taktik mobilitas barang. Penyebab terpenting dalam terjadinya masalah ini antara lain : . Sub sistem pemukiman merupakan bentang ruang hidup manusia yang mana pada bentang ruang tersebut. kesemuanya telah ditinggalkan manusia sebagai pelaku kehidupan dan terakhir dimusnahkan oleh letusan gunung Rakata (krakatau) tahun 1883 M (Michrob 1987). diameter 2. batu lingga di Handeuleum. maka Soebroto menekankan pula bahwa tipe-tipe situs arkeologis memberikan gambaran adanya hubungan erat antara pemilihan lokasi situs dengan strategi manusia masa lalu dalam memenuhi kebutuhannya.10-0. Seperti lukisan dinding guha di Sangiang Sirah.C. Inggris dan miskinnya penduduk Nusantara. sebagai upaya untuk menekan biaya-baya operasional sampai pada tingkat paling minimal (1967:229-230).O. tebal 0. Data arkeologi dan sumber sejarah yang dapat diamati di Ujung Kulon Panaitan. kubur islam di dalam guha sanghiang sirah. baik yang bersifat material maupun spiritual. (Michrob. (Halwany.80 cm.(1985 : 11-25-1122). 1991:31) Pemilihan dan penentuan lokalitas pemukiman biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor.25-2. menurut K. . maka dapatlah dilakukan penyusunan suatu model hipotesis untuk merekonstruksi kehidupan budaya yang pernah berlangsung di Ujung Kulon Panaitan baik pada masa pra-sejarah.Persaingan dagang yang semakin ketat dari bangsa Perancis. Patung Siwa dan Ganesha di Panaitan. ini akan menimbulkan kecintaan kita terhadap budaya nusantara yang beragam dan bercorak yang sangat menawan. Setelah peninjauan dilokasi-lokasi sejarah bayak kita temui analogi-analogi terhadap daratan lain yang secara fisiografis memperlihatkan sejumlah persamaan ciri di daerah lain nusantara dengan ujung Kulon di Banten. Sementara itu lewis R Binford menyatakan bahwa pola-pola pengelompokan pemukiman manusia seperti yang terlihat setiap pola yang ada pada situs arkeologis.C. Melihat rekonstuksi sejarah Tanjung Layar pada akhir abad ke 18. chang pemukiman manusia cenderung mengelopok.

Sudah tentu tuntutan ini ditolak mentah-mentah oleh Sultan. Sehingga banyak diantara mereka yang melarikan diri. Sedangkan patih Mangkubumi 30 . Louis I Capoleon adiknya Kaisar Napoleon yang diberi kuasa di Belanda mengangkat Daendels sebagai Gubernur Jenderal di kepulauan Nusantara. untuk mnengirimkan pekerja rodi sebanyakbanyaknya agar pekerjaan yang direncanakannya cepat telaksana.sudah berhasil menanamnya di India sehingga pasaran rempah-rempah menurun. Namun karena kebencian rakyat yang sudah demikian memuncak kepada Belanda. Sultan ditangkap dan diasingkan ke Ambon. Sebagai pringatan pertama-tama dikirimlah utusan Komandeur Philip Pieter oleh pihak kolonial Belanda ke istana Surosowan (Banten) untuk menanyakan kembali kesanggupan Sultan. Keadaan ini membuat Daendels marah dan menuduh Mangkubumi Wargadiraja sebagai biang keladi larinya pekerja-pekerja itu. Sultan harus mengirimkan 1000 orang rakyatnya setiap hari untuk dipekeriakan di Ujung Kulon. Melalui utusan sultan yang datang ke Batavia. Daendels memerintahkan supaya : a. rumah sakit tentara dan pabrik mesiu. b. Sebagian besar Eropa dikuasai Perancis kecuali Inggris. Surosowan dapat direbutnya menjadi kekuasaannya. Serangan yang tiba-tiba ini sangat mengejutkan dan memang diluar dugaan. Banyaknya biaya yang harus dikeluarkan VOC terutama untuk membayar tentara dan pegawainya yang sangat besar.(Michrob. Untuk itu Daendels memerintahkan kepada Sultan Banten. Untuk menjalankan tugas ini Daendels membangun sarana dan prasarana pertahanan seperti : jalanjalan pos. Halwany & Mujahid. 1990). Karena sebab-sebab itulah akhirnya pada tahun 1799. Karena permintaannya ditolak maka dengan segera dan secara sembunyi-sembunyi dikirimlah pasukan dalam jumlah yang besar yang dipimpin langsung oleh Gubenur Jendral Daendels sendiri ke Banten. Sejak itulah kepulauan Nusantara di jajah Belanda (Soetjipto. barak. VOC dibubarkan. maka utusan belanda tersebut dibunuh di depan pintu gerbang kraton (Michrob. Pada tahun 1789 meletus suatu revolusi besar Revolusi Perancis yang menggoncangkan Eropa dibawah pimpinan Kaisar Napoleon Bonaparte. banyak pekerja yang mati terkena penyakit malaria. personil. Tindakan ini dibalas Daendels dengan diserangnya Surosowan pada hari ltu juga yakni tanggal 21 Nopember 1808. 1881). pelabuhan tentara. Tapi akhirnya Daendels dapat meluluh lantahkan tanah Surosowan hingga menjadi puing-puing berserakan. (Chis. Demikian juga untuk menguasai daerah-daerah yang baru dikuasai terutama di Jawa dan Madura. Sultan supaya segera memindahkan keratonnya ke daerah Anyer. prajurit-prajurit Sultan dengan keberanian yang mengagumkan berusaha mempertahankan setiap jengkal tanah airnya.1990:21). benteng. karena memang dana dari negeri Belanda tidak bisa diharapkan. ia datang di Batavia pada tahun 1808 dengan tugas pertama mempertahankan Pulau Jawa dari serangan tentara Inggris di India. karena di Surosowan akan dibangun benteng Belanda. Pekerjaan pertama Deandles adalah membuat pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon. Semua itu harus segera diselesaikan dengan dana serendah mungkin. sehingga sultan tidak sempat lagi menyiapkan pasukannya. c. Belanda dapat dikuasai pada tahun 1807. 1961:56). Untuk itulah dilakukan kerja paksa (kerja rodi) yaitu para pekerja bekerja tanpa upah. Dua hari kemudian pasukan ini sampai di perbatasan kota. Banyaknya pegawai VOC yang melakukan korupsi. Sultan harus segera menyerahkan patih Mangkubumi Wargadiraja ke Batavia. Semua kekayaan dan utangpiutangnya ditangani pemerintah Kerajaan Belanda. Akan tetapi karena derahnya berawa-rawa.

Selanjutnya Banten dan Lampung dinyatakan sebagai daerah jajahan Belanda. tahap pertama merupakan pembuatan jalan untuk membuka poros Batavia ± Banten pada tahun 1808. terjadi serangan Belanda ke daerah ini tapi tidak berhasil. Karena banyak masyarakat yang membenci Pemerintahan Belanda maka timbullah perompakperompak kapal Belanda di sekitar selat Sunda di daerah laut sedangan di daratan timbul pula para pencuri yang digerakkan oleh Alim Ulama setempat yang tidak senang dengan sepak terjang pemerintahaan Belanda. Caringin. Dari Serang.dihukum pancung dan mayatnya dilemparkan ke Laut. Banten Hilir. akhirnya Belanda melakukan serangan lagi yang dipimpin langsung oleh Daendels sendiri dan hasilnya tidak mengecewakannya. tetapi itu tidak berarti bahwa tidak ada cabang-cabang jalan lainnya yang dilewati oleh Daendels. Sanusi 1950:14 dan Ismail. walaupun masih bergelar sultan. Cirebon hingga Panarukan. Kesimpangsiuran informasi itu menurut Halwany Michrob. Jakarta. dan Anyer. dan sebagian orang-orang Banten yang tertangkap di laut selat Sunda ataupun didaratan dipenjarakan di Ujung Kulon. Dari Anyer Melalui Pandeglang jalan bercabang dua menuju Serang (utara) dan Lebak (selatan). Bandung. Jalan inilah jalan yang di sebut jalan utama atau jalan protokol. Jasinga dan Sadang dimasukan ke dalam teritorial Batavia. wajar-wajar saja sebab pembautan jalan Deandels saat itu melaukannya dalam dua tahapan.000 real setiap tahun dari pemerintah Belanda. Cianjur. Ke tiga wllayah tersebut di bawah pengawasan Landros (semacam Residen) yang berkedudukan di Serang. Menes. Banten Hulu. pada masa itu Daendels memfokuskan kegiatannya pada pembangunan dua pelabuhan di utara (Merak) dan di selatan (Ujung Kulon). Untuk wilayah Banten Hulu diangkat Sultan Muhammad Syafiuddin. Lebak hingga Jasinga (Bogor). Jalan ini dikerjakan hanya dalam tempo waktu 31 . Sumedang. Benteng dan istana Surosowan Banten dibakar dan dibumi hanguskan pada tahun 1909 (Rusjan 195). namun kekuasaannya tidak dapat melebihi kekuasaan sultan pada biasanya karena ia tidak lebih dari seorang pegawal Belanda. Belanda membagi daerah Banten dalam tiga wilayah yang statusnya sama dengan Kabupaten seperti. Pandeglang. Labuan (Pane. sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Dalam proses pembuatan pangkalan tersebut Deandles melakukan tindakan-tindakan yang keras sehingga menambah kebencian rakyat Banten kepada pemerintahaan Belanda. Daendelas mencurigai Sultan Banten sebagai dalang kerusuhan-kerusuhan yang sering terjadi. Sultan tidak mempunyai kuasa apa-apa ia hanya mendapatkan gaji 15. Jiput. Jalur ini melalui garis pantai dari Batavia menuju Carita. Bogor. maka pekerjaan pembuatan Pangkalan di Ujung Kulon dipindahkan ke daeah Anyer. Setelah Istana Surosowan hacur lebur maka diangkatlah Putra Mahkota dengan gelar Sultan Wakil Pangeran Suramanggala. putra Sultan Muhyiddin Zainul Solihkin yang berkedudukan di Caringin. menembus Gunung Palasari. Akhirnya Daendles bersama pasukannya datang ke Banten untuk menankap dan memenjarakan Sultan Banten di Batavia. Puncak. Belanda dapat menguasai Cibungur dan di pantai Teluk Marica (Pane sanusi 1950 b:11). Untuk melemahkan perlawanan rakyat Banten. (Sanusi Pane. Seperti kejadian di Cibungur dan di pantai Teluk Marica. Pengerjaan pembuatan Pangkalan Angkatan Laut dihentikan karena banyak pekerja yang mati dan sakit disebabkan daerah proyek Pangkalan tersebut berupa rawa-rawa. 1950 b:II). Tangerang. Tahap kedua dimulai tahun 1809. rute selanjutnya Ke Tangerang.1981:27) pada tahun 1809 itu pulalah mulai dikerjakan pembuatan jalan Pos dari Anyer sampai Panarukan sepanjang 1000 km.

Terbukti dengan hadirnya para ulama. Pada tahun 1808-1809 Daendles mulai pembuatan jalan dengan rute Batavia-Banten tahap pertama. Lebak. diduga kuat bahwa toponim Banten Baru muncul pada akhir abad ke-15 M. berbagai cerita rakyat (folklore) yang masih hidup dalam ingatan masyarakat. menurut beberapa sejarahwan Indonesia. dan secara geografis masih sering dikaitkan dengan bekas Karisidenan Banten. Dilihat dari segi demografi. maupun warisan budaya material dalam pengertian yang luas. Hal ini berdasarkan fakta bahwa toponim Banten tidak dicantumkan dalam naskah yang lebih tua. ia tidak segan-segan memerintahkan tentaranya menembak mati rakyat yang lalai atau tidak mau bekerja dalam pembuatan jalan apapun alasannya. pesantren dan qari-qariah. catatan Tome Pires (1512-1515) menyebut "Bantam" sebagai salah satu pelabuhan penting Kerajaan Sunda. Banten menunjukkan adanya dua kelompok etnisitas.satu tahun dengan mengorbankan beribu-ribu rakyat Banten. dalam naskah Pujangga Manik (Pajajaran). namun jalan-jalan itu dalam perkembangan selanjutnya banyak dipengaruhi kehidupan masyarakat disekitarnya dan telah berubah fungsinya antara lain mejadi jalan ekonomi atau jalan umum dan kini sudah banyak bangunan disekitarnya. Banten Lama dan Banten Hilir. Pembangunan jalan Daendels dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur) sejauh 1000 km pada tahun 1809 ± 1810 yang bertujuan untuk mempercepat tibanya surat-surat yang dikirim antar Anyer hingga Panarukan atau sebagai jalan pos. baik produk-produk kesusasteraan seperti naskah-naskah. Banten sebenarnya merupakan toponim yang memiliki aspek ruang. kesenian dan sebagainya. "Calapa" (Sunda Kelapa) dan "Chemano" (Cimanuk). meliputi Kabupaten Serang. begitu pun pembuatan proyek pelabuah maritim di Uiung Kulon (Tanjung Layar) yang banyak mengorbankan jiwa manusia karena disana masih banyak binatang buas. yang dituturkan oleh kelompok sub etnik Banten. toponim Banten juga memiliki kaitan dengan Banten Girang. Selain itu. yang tersebar di seluruh pelosok Banten. Kajian Suwedi Montana. atau buku-buku keagamaan. "Cheguide" (Cigading).Budaya Banten bisa diidentifikasi dengan menelusuri. yaitu: (1) sub etnik 32 . di samping "Pongdam" (Pontang). tampak dari sejumlah historiografi lokal. Tangerang dan Kotamadya Tangerang. prasasti Kaban-tenan menyebut nama "Bantam". pada saat itu rakyat masih mau menghimpun kekuatan untuk melaksanakan perintah paksa Daendles. Selain itu. teknologi. Walaupun demikian Daendels semakin keras menghadapi rakyat. Pandeglang. atau yang dapat ditafsirkan sebagai Banten. Berdasarkan naskah-naskah yang ada. babad. maka rakyat menghentikan bantuannya. misalnya. Bahkan. Karena banyaknya korban pada pembuatan jalan Batavia-Banten masih simpang siur. dan Purwaka Caruban Nagari yang memuat istilah "Kawungaten". yang berasal dari awal abad ke-16. Kategori yang disebut terakhir ini terlihat pada karya-karya arsitektur. namun setelah terjangitnya penyakit malaria dan banyak yang tewas.000 orang dan banyak yang meningal tampa dikuburkan secara layak. Banten Girang Gerbang Kerajaan Banten Nuansa Islam dalam budaya Banten nampaknya cukup kuat hingga saat ini. nama toponim Banten belum dimuat. menunjukkan bahwa nama Banten. yang meninggal sekitar 15. "Tamgaram" (Tangerang). seperti Babad Nagarakartagama (1345 M). seperti Cina Parahyangan yang menyebut istilah "Wahanten Girang". Pada abad 16-18 Banten kemudian berkembang menjadi label wilayah politik dan nama Kesultanan yang bercorak Islam.

Kerajaan ini mempunyai dua pelabuhan utama. dapat diketahui. 33 . yang menguasai Selat Sunda. memandang serius ekspansi Islam. namun banyak bukti baru yang ditemukan. Sekaligus dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten ternyata jauh lebih awal dari perkiraan semula dengan ditemukannya bukti baru bahwa Banten sudah ada di awal abad ke 11 ± 12 Masehi. perhiasan emas dan manik manik kaca. Bangsa Portugis telah mendokumentasikan keberadaan Banten dan sekitarnya pada awal abad ke 16. kurangnya dokumentasi mengenai Banten. di bagian selatan dari Kota Serang sekarang ini. Tidak banyak yang diketahui mengenai sejarah dari bagian terbarat pulau Jawa ini. yang menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera. tidak lagi dapat dipertahankan. Semenanjung Indochina. dan kapal Jung mereka telah berlayar ke pelabuhan Sunda setiap tahunnya untuk membeli lada. Dari beberapa data mengenai Banten yang tersisa. Setelah menguasai Malaka pada tahun 1511. keramik. baru berlangsung setelah masuknya Dinasti Islam di permulaan abad ke 16. Dan juga dikaitkan dengan keberadaan Kerajaan Sunda Pajajaran. Berdasarkan catatan. dan hubungan internasional sudah terjalin dengan China. kurang lebih 15 tahun sebelum Kerajaan Islam Banten terbentuk. Keberadaanya sedikit dihubungkan dengan masa kejayaan maritim Kerajaan Sriwijaya. Penelitian yang dilakukan di lokasi Banten Girang di tahun 1988 pada program Ekskavasi Franco ± Indonesia. Bangsa Cina juga sangat berminat pada jenis rempah rempah ini. bangsa Portugis memulai perdagangan dengan bangsa Sunda. dikarenakan posisi Banten sebagai pelabuhan yang penting dan strategis di Nusantara. Wilayah ini dikenal dengan nama ³Banten Girang´ atau Banten di atas sungai. yang sekarang dikenal sebagai Jakarta. (2) sub etnik Banten-Sunda yang wilayah huniannya mulai dari Serang Selatan (Banten Girang) sampai ke pedalaman selatan berbatasan dengan Samudera India. tembaga. yang berbatasan dengan sub etnik Betawi. pengrajin besi. dan beberapa kawasan di India. Ketertarikan utama mereka adalah pada Lada yang banyak terdapat di kedua sisi Selat Sunda. yang berdiri pada abad ke 14 dengan ibukotanya Pakuan yang berlokasi di dekat kota Bogor sekarang ini. tapi dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten sudah berlangsung sangat lama dan teori bahwa keberadaannya dimulai pada saat terbentuknya Kerajaan Islam di Banten. Banten pada masa itu sudah merupakan kawasan pemukiman yang penting yang ditandai dengan telah dikelilingi oleh benteng pertahanan dan didukung oleh berbagai pengrajin mulai dari pembuat kain. sampai Anyer-Cilegon di sebelah selatan barat. Walaupun Kerajaan Pajajaran masih berdiri. terutama pada masa sebelum masuknya Islam. tidak ada keputusan final yang dapat diambil sebelum penelitian dilakukan lebih lanjut. namun kekuasaannya mulai menyusut. di tepi sungai Cibanten. nama ini diberikan berdasarkan posisi geografisnya. mulai dari daerah Tangerang di sebelah utara. Walaupun dengan keterbatasan penelitian. melainkan sekitar 10 Kilometer masuk ke daratan. melihat makin berkembangnya komunitas ulama dan pedagang Islam yang semakin memiliki peranan penting di kota pelabuhan ³Hindu´. Beberapa dekade sebelumnya Kerajaan Demak telah menguasai bagian timur pulau Jawa dan pada saat itu bermaksud untuk juga menguasai pelabuhan Sunda. lokasi awal dari Banten tidak berada di pesisir pantai. Pelabuhan Kalapa. Secara nyata. dan Pelabuhan Banten. Kelemahan ini tidak luput dari perhatian Kerajaan Islam Demak. Mata uang logam (koin) sudah digunakan sebagai alat pembayaran. berhasil menemukan titik terang akan sejarah Banten.Banten Pesisiran yang membentang sepanjang pesisir utara Jawa Barat. Kemungkinan besar. Masyarakat Sunda.

penguasaan yang tidak lagi dapat ditolak oleh Pakuan. di sisi lain. agar Portugis dapat menahan kapal yang berlayar dari Demak. Depdikbud Rl) yang juga staf peneliti pada Pusat Pengkaian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. sekarang merupakan kelas sosial baru. penduduk asli Pasai. situasi politik telah sangat berubah dan sehingga armada Portugis gagal untuk merapat ke daratan. yang bertanggungjawab akan pembangunan benteng. bangsa Portugis menawarkan perlindungan ganda. Seorang ulama yang sekarang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. dan yang kedua untuk menahan agar armada Portugis yang sangat kuat pada saat itu. Sementara itu. akan tetapi Ia tetap meminta Demak mengirimkan pasukan untuk menguasai Banten ketika Ia menilai waktunya tepat. Masyarakat dan budaya Banten. Pemilihan pembuatan benteng di daerah Tangerang tidak diragukan lagi untuk dua alasan : yang pertama. Kemurah hatian yang sangat tinggi ini menggaris bawahi tingginya tingkat kesulitan yang dihadapi Banten. Putera Sunan Gunung Jati. baik atas inisiatifnya sendiri maupun atas seizin Pakuan. Sebagaimana telah sebelumnya dilakukan di Jawa Tengah. bangsa Portugis sangat anti Islam. Dengan itu. tidak terlalu dekat dengan kota Banten. Dan Banten dipilih sebagai ibukota Kerajaan baru tersebut. dalam bukunya "Menemukan Peradaban. Islam mencegah siapapun untuk merapat ke Banten. Prof. Banten. yang juga menikahkan adiknya dengan Hasanudin. bagian utara Sumatera setelah tinggal beberapa lama di Mekah dan Demak. Di mata otoritas Banten. Portugis akan diberikan akses tak terbatas untuk persediaan lada. memohon kepada bangsa Portugis di Malaka. yang dipimpin oleh Henrique Leme. mungkin hanya dapat dikenali dengan merunut kembali peristiwa sejarah transformasi pusat administrative politik dari Banten Girang di pedalaman . yaitu Kalapa dan Banten. Hasan Muarif Ambari. Otoritas Banten. pada saat itu telah menetap di Banten Girang. Kaum Muslim. dimana sebelumnya juga telah memegang kekuasaan ekonomi. dan diperkenankan untuk membangun benteng di pesisir dekat Tangerang. Hasanudin dinobatkan sebagai Sultan Banten oleh Sultan Demak. Tahun 1522 Masehi. Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia" (penerbit Logos) memperlihatkan fase-fase pertumbuhan perkembangan budaya Banten dalam panggung sejarah. Peristiwa transformasi tersebut berlangsung pada tahun 1526 oleh Syarif Hidayatullah dan Maulana Hasanuddin. yang sadar akan pentingnya urusan ini. Sadar akan adanya perjanjian antara Portugis dengan penguasa sebelumnya. di bawah pimpinan Francisco de Sá. Lima tahun yang panjang berlalu. terutama dengan alam dan budaya Islamnya. yang memimpin operasi militer di Banten.yang berada di bawah subordinasi Pakuan Pajajaran yang Hinduistik ke daerah pantai yang sekarang dikenal dengan Banten Lama. Islam mengambil alih kekuasaan pada tahun 1527 M bertepatan dengan datangnya armada Portugis. Kepala Pusat Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas. Sejak itu embrio dan fondasi masyarakat dan budaya Banten diletakkan dan ditetapkan dalam format yang berciri keislaman. Dan adalah puteranya. Jakarta ini. sebelum akhirnya armada Portugis tiba di pesisir Banten. mengirim utusan ke Banten. sebagai ganti dari perlindungan yang diberikan. dapat menawarkan komoditas lada bagi Portugis. dirunut dalam fase-fase berikut: 34 . dengan tujuan utama untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Walaupun pada awalnya kedatangannya diterima dengan baik oleh pihak otoriti. Aplikasi dari perjanjian ini adalah adanya kesepakatan kekuasaan yang tak terbatas bagi Portugis. Portugis di Malaka. Negosiasi ini di mulai tahun 1521 Masehi. dan armada lautnya sangat kuat dan menguasai perairan di sekitar Banten. yang memegang kekuasaan politik di Banten. Kelihatannya Kaum Muslim menguasai secara serempak kedua pelabuhan utama Sunda.Menghadapi ancaman ini. Perjanjian dibuat antara kedua belah pihak. sebuah dinasti baru telah terbentuk pada saat yang sama kerajaan yang baru didirikan. Hasanudin. Dr. yang telah berulangkali datang berniaga ke Banten.

blokade Belanda atas Teluk Banten. hal yang tetap hidup dan terus mengakar pada masyarakat Banten adalah kultur Islam. Hindia Belanda terkena imbas perang Napoleonik/Rep. bencana alam (meletusnya Krakatau dan wabah penyakit sampar). suatu fase di mana Islam disiarkan oleh Sunan Gunung Jati dari Cirebon dan Maulana Hasanuddin yang beraliansi dengan Demak. Pesantren terus menerus menghasilkan kader dan para ulama tetap berdakwah. Para pedagang Inggris. Batavia. dari segi budaya Banten dapat disetarakan dengan masyarakat kota seperti Mataram dan Cirebon. masih berkembangnya "kota" Surosowan dan lain-lain. tumbuh dan kuatnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. pada tahun 1809 pembuatan jalan raya Daendells. sehingga etnis terakhir ini telah membentuk satu komunitas tersendiri yang memberi sumbangan besar bagi perkembangan perdagangan di Banten. Fase Penguasaan (VOC) Belanda. Portugis. Fase awal Penyebaran Islam (1525-1619). Fase Mutakhir.(1). pemberontakan dan perlawanan rakyat dipimpin oleh para ulama/bangsawan. pendudukan Jepang. perang kemerdekaan. dan Turki datang melakukan transaksi perdagangan di Bandar Banten. Pada fase inilah. interval penguasaan Inggris (1811-1816). Sebelumnya. yang bermula sejak pertumbuhan Islam di Banten. (3). dan sampai sekarang memasuki masa pembangunan. (4). Cirebon. Banten Hilir. (2). Batavia dan Mataram). pemindahan administrasi politik ke Serang Surosowan dihancurkan.alternatif setelah Malaka. budaya pesisiran dan budaya pedalaman di daerah selatan Banten (kecuali daerah Baduy) terus menerus memantapkan keislamannya. yang berpusat di Banten Girang (Kota Serang sekarang). Di balik semua kilas balik sejarah ini. Dalam situasi seperti ini. Fase Keseimbangan Kekuatan. Fase Pra-Sunda Islam (1400-1525). Keseimbangan kekuatan ini di antaranya bisa dilihat dari beberapa peristiwa politik yang berlangsung saat itu. Banten mencapai puncak ketinggian budaya (tamaddun Islam). Kesultanan Banten. dan Anyer) di bawah pengawasan landraad (setara residen). (6). perpindahan pusat pemerintahan dan mulai berkembangnya Banten sebagai pelabuhan . didirikannya Keraton Kaibon dan dipecahnya bekas wilayah Kesultanan Banten menjadi tiga daerah setara Kabupaten (Banten Hulu. yang tidak memperlihatkan adanya dominasi satu kekuatan politik tertentu terhadap kekuatan politik lain: yakni penyerangan Banten ke Batavia. Pendirian kota Banten Sorasowan. Rakyat mulai mengarahkan orientasi kepemimpinan dari raja/sultan kepada para ulama/mubaligh/kiyai. dan pilihnya tingkat kemakmuran masyarakat Banten. Pada masa itu Banten merupakan daerah bawahan kerajaan Pakuan Pajajaran yang Hinduistis. awara dalam kehidupan masyarakat Banten 35 . dengan komponen-komponen arsitektur dan monumental berciri Islam. Banten telah berhubungan dengan Cina. Oleh karena itu. Setelah Kesultanan Banten dihapuskan oleh Belanda timbul berbagai pergolakan. Fase Surut dan Jatuhnya Kesultanan Banten. pendirian Benteng Speelwik yang langsung atau tidak langsung memperlihatkan wujud hubungan antara Banten dan VOC. Pada masa ini terjadi transformasi keagamaan. (5). telah menyebabkan pertumbuhan dan ramainya perdagangan. Denmark. yakni satu fase tanpa adidaya di mana seluruh kekuatan politik dan ekonomi yang ada di Banten memiliki kekuatan yang seimbang (armada dagang Eropa.

yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural. jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas. persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam. Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. Seiring dengan perjalanan waktu. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah. Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Berbeda dengan kedudukan ulama. kesultanan Banten. bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Karena dari para ulamalah sebagian besar ³keilmuan´ jawara itu berasal. yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten. yaitu masa kerajaan Sunda. pamong praja dan jawara merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. Sebagai subkultur kekerasan. mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. jawara dianggap sebagai ³khodam´ nya para ulama. dan masa kolonial Belanda. ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten.Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan Banten khususnya. kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya. Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (RM. Taufik Djajadiningrat. Bekasi-Pantura. sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul. sebagai ³negeri para ulama dan jawara´. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat ³stamboom´ bukan ³geschiedenis´ atau ³history´. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore. yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. Namun diantara ketiganya. Dari stamboom yang ada. Sejarah dan Silsilah 36 . ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. Belakangan. keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat. keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap eksis. Oleh karena itu. bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang. Penafsiran Sejarah Istilah Jawara Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat. Tesis S2 UI).

memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara. Dalamperkembangan selanjutnya. Putman Craemer. Penafsiran keempat. kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat. Penafsiran ketiga. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat. pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu ³kadugalan´ yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang. Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. 1995 : 121-122). Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya. tetapi juga membela dan melindunginya. sampaisampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . Residen Banten (1925-1931). Miftahul Falah. ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki tangannya. Penafsiran kedua.S menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara.G. keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka. apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin. 37 . seperti jago dalam menyabung ayam. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat. istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. S. F.Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten. militan dan mampu mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban. Pada perkembangannya. dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. yang bermakna harfiah sebagai ³bayi yang menjelang dewasa´.

woelingen (kekacauan). jawara sangat patuh kepada ulama. dan perampok. terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. dan onrust (ketidak amanan). dan Preman Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. ongergeldheden (pemberontakan). Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat. berusaha mengcounter dengan istilah jalma jago nu wani ramah (orang yang jagoan berani dan ramah). Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial. complot (komplotan). Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara. Berbeda dengan Jagoan. Jagoan. 38 . Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan permasalahan. Terminologi Jawara. sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. baik semasa kerajaan Sunda. mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. Berbeda dengan perampok atau pencuri. tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. yang merupakan akronim dari jalma wani nga-rampog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong (jalma wani nga-rahul). Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar. Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif. Pada umumnya. istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat. karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok ³kejawaraan´ nya itu sendiri. dikenal dengan peristiwa Perang Pertama. dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama. dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut.Penafsiran kelima. namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah ³potong letter´ lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri ³maenpukulan´ atau pencak silat. yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran). pengacau. Seiring dengan perkembangan waktu. Selain itu. Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan. maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan. kesultanan Banten. mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. kata ini berasal dari kata dasar ³jago´ yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya ³champion´ atau juara (Ridwan Saidi. Jawara yang merasa citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda.

seperti yang tersirat dalam buku berjudul ³The Sultanate of Banten´ secara resmi diserahkan oleh Duta Besar Perancis Patrick O¶Cornesse. karena dalam persaingan perdagangan internasional. Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten. BP Jakarta 1996 Miftahul Falah. Lalu bagaimana dengan preman?. swasta. partikelir. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. Taufik Djajadiningrat. fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda.S. 39 . Jakarta1995 Ridwan Saidi. jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. S. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman. Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten. Vrijman yang bermakna ³orang bebas´ atau dalam bahasa Inggris disebut free man. jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan ³tukang pukul´ dan seorang yang suka berkelahi. Bahkan banyak pula melakukan manuver-manuver dalam sistem perdagangan. sudah menjalin hubungan perdagangan dengan bangsa Eropa dan Asia disekitarnya. 2002 Kota Banten. STAIN Serang. hal ini yang membuat cemas bangsa Eropa. bukan tentara. Disisi lain menurut tradisi lisan. Secara hirarki. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. Jakarta1995 Tasbih & Golok. Sumber tulisan: Atu Karomah. kepada bupati Serang Mas Ahmad Sampurna dipendopo kabupaten Serang beberapa tahun yang lalu.Glosari Betawi: 43). Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas. ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat. Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten. non pemerintah. sipil. tukang pukul dan pemberani. Jakarta 2007 RM. Dari tiga terminologi di atas. Terlebih dalam kemapuan berpolitik. orang yang kuat. yaitu: 1. Amsterdam di Hindia Belanda Banten menurut data historis dan arkeologis kira-kira pada 450 tahun yang lalu. pada saat zaman Sultan Maulana Yusuf yang dikenal dengan julukan Penembahan Pakalangan yaitu sekitar tahun 1570. 2. hendaknya kita masih dapat membedakan makna. Tesis S2 UI. Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. Banten merupakan pesaing yang cukup disegani oleh bangsa Eropa pada masa itu. jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar. kuli yang bekerja menggarap sawah. Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya. Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. Glosari Betawi. Cerita ini merupakan bukti bahwa sistem perdagangan zaman kesultanan tidak dapat diremehkan.

untuk diolah dengan standar mutu tinggi. atau Bantahan menurut sebutan negara Barat. Begitu pula penduduk di daerah Sumatera diwajibkan untuk menanam 500 pohon lada dan hasilnya dikirimkan ke Kota Banten. Banten menjadi pusat persaingan dan perebutan kongsi perdagangan Eropa. sama pula yang diungkapkan oleh Vincent Leblanc asal Perancis waktu tiba di Banten pada abad 16. Di Banten pusat industri untuk produksi lada adalah di Kampung Pamarican yang masih dikenal hingga kini. khususnya Belanda dan Portugis. Dengan tidakan ini bangsa Eropa menilai Banten sudah menjadi Imperium Lada. Banten bertambah penting posisinya sebagai kota perdagangan internasional setelah Malaka jatuh ketangan Portugis. Sebelum Banten menjadi Kota Muslim. kemasyurannya tetap tersimpan dalam kenangan bangsa perancis kata O¶Cornesse. Kedua raksasa Eropa ini terlibat pertempuran untuk merebutkan pasar dan pusat produksi lada.Buku dalam bahasa Inggris dengan kata pengantar oleh Menteri Pendidikan pada saat itu dijabat bapak Fuad Hasan. Banten Sadar pentingnya armada dagang untuk menguasai dan mempertahankan industri lada. Lada ini lah yang sangat di gemari oleh bangsa Eropa termasuk bangsa Sepanyol yang mengintruksikan Magellan dan Portugal untuk mencari lada di Banten pada tahun 1519. Perdagangan lada ini begitu ramai dan menguntungkan. juga berkembang menjadi satu kota muslim yang bersaing dengan negara-negara Arab dalam memiliki istana. Portugis segera menjalin perdagangan dengan Makasar dan Banten. penelitian tersebut bertujuan untuk mengangkat kembali kebesaran masa silam bangsa indonesia. penelitian ini berlangsung hingga tahun 1987. Karena dilihat dari sarana dan pra sarana sejak dulu seperti Pelabuhan Karangantu yang menarik para pedagang Eropa dan Asia. kota Banten Lama yang didirikan 1526 dipesisir utara Jawa Barat (sekarang Provinsi Banten). Akhirnya pada tahun 1660-an Sultan Haji memerintahkan 40 . Perdagangan lada di Banten sangat ramai karena mutu jenis lada di Banten lebih baik dibadingkan mutu lada dari Malabar dan Aceh. terutama pada 1570 samapi abad 19. isi dari buku ini merupakan hasil dari para peneliti yang bekerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Prancis dengan sasaran penelitian adalah untuk merawat dan merestorasikan kerajaan serta kesultanan Banten. terutama kesultanan Banten yang telah terkubur dalam tanah dan dalam arsiparsip yang ada di Eropa. Pada tahun 1522 Protugis mengadakan perjanjian dagang dengan para pengusaha Banten. dikenal sebagai kota metropolitan sekaligus kota yang produktif. Selain Malaka. sekaligus berdagang langsung dengan Bangsa Eropa dan Asia lainnya. mengagumi Banten dan menjadikannya satu pelabuhan kosmopolitan besar pada abad 17. beliau mencari hasil bumi terutama LADA dan beliau berucap bahwa Kota Banten ini hampir sama dengan Kota Rouen di negerinya yang ramai dengan para pedang. Menurut catatan sejarah kesultanan Banten pada tahun 1527 berkembang menjadi pusat perdagangan. Banten di masa itu merupakan pusat peniagaan dunia. saat itu Banten masih dibawah Kerajaan Pajajaran yang beragama Hindu. pasar dan juga masjid besar. sehingga para sultan Banten mengambil strategi untuk mengendalikan sepenuhnya komoditi tersebut. dengan cara menginstruksikan semua penduduk di pedalaman ataupun di kota untuk membawa hasil lada mereka ke Kota Banten. Perancis atau bangsa Eropa lainnya. Menurut Cornelis de Houtman asal Belanda pada tahun 1596 Banten disebut Kota Pelabuhan dan Perdagangan yang sama besar dengan Kota di Amsterdam saat itu. Kota Banten. Para sultan mengadakan tindakan pengetatan pada hasil produksi lada di Banten. Banten terkenal dalam perdagangan Ladanya yang menjadi daya tarik bangsa Eropa. Menurut Dubes O¶Cornesse. Malaka akhirnya jatuh ketangan Belanda pada tahun 1641. sebelum melakukan petualangannya untuk mengelilingi dunia.

1687 Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690) Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733) Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752) Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750) Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753) Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773) Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799) Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801) Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802) Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803) Aliyuddin II (1803-1808) Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809) Muhammad Syafiuddin (1809-1813) Muhammad Rafiuddin (1813-1820) 41 . Dengan armadanya yang kuat akhirnya Banten mampu berdagang langsung dengan Mekkah. Dalam peta ini digambarkan tentang jalur pelayaran dari Eropa ke Cina dengan melalui: India. Berita yang paling meyakinkan tentang hubungan Banten dengan Eropa. Kesultanan Banten memasuki persaingan perdagangan lada internasional yang sangat ramai pada kurun waktu antara tahun 1651 dan tahun 1672 sampai VOC (Belanda) merebut Banten pada tahun 1682. India dan Cina adalah dengan diketemukannya peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus.) Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad 1640 . ujung utara Sumatra. Syarif Makkah saat itu. India.1650 Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680 Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 .14 SM) dan Plinius (akhir abad pertama masehi).1590 Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 . Siam. Daftar pemimpin Kesultanan Banten y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y Sunan Gunung Jati Sultan Maulana Hasanudin 1552 . Peta ini dibuat pada tahun 165 M. Pulau Panaitan. Vietnam.pembangunan armada kapal dagangnya dengan model seperti kapal-kapal Eropa. 1978: 21-38).1580 Maulana Muhammad 1585 . Selat Sunda. terus melalui Laut Tiongkok Selatan sampai ke Cina (Yogaswara. Vietnam. saat kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa Abulfathi Abdul Fatah dan Sultan Haji Abunhasr Abdul Kahhar. berdasarkan tulisan geograf Starbo (27 .1640 (dianugerahi gelar tersebut pada tahun 1048 H (1638) oleh Syarif Zaid. dan bangsa Inggris dipercaya untuk membangun armada tersebut.1570 Maulana Yusuf 1570 . Kamboja. Taiwan dan Jepang. kemudian menyusuri pantai barat Sumatra.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful