SEJARAH BANTEN : KRONOLOGI WAKTU

130 M Berdiri Kerajaan Salakanagara (Negeri Perak)yang beribukota Rajatapura yang terletak di pesisir barat Pandeglang. Raja pertama Dewawarman I (130 ± 168 M) yang bergelar Aji Raksa Gapurasagara (Raja penguasa gerbang lautan) Daerah kekuasaannya meliputi : ‡ Kerajaan Agrabinta di Pulau Panaitan ‡ Kerajaan Agnynusa di Pulau Krakatau ‡ Dan daerah ujung selatan Sumatera 165 M Banten (Pulau Panaitan) masuk dalam peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus sebagai bagian dari jalur pelayaran dari Eropa menuju Cina dengan melalui India, Vietnam, ujung utara dan pesisir barat Sumatera, Pulau Panaitan, Selat Sunda, terus melalui Laut Cina Selatan sampai ke Daratan Cina. Abad 5 M Prasasti Munjul yang diperkirakan berasal dari abad ke V masehi ditemukan di Sungai Cidangiang, Lebak Munjul ± Pandeglang. Prasasti berhurufkan palawa dengan bahasa sanksekerta menyatakan bahwa raja yang berkuasa di kawasan tersebut adalah Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara. Dalam prasasti tersebut dituliskan juga bahwa negara pada saat itu berada dalam kemakmuran dan kejayaannya. Abad XII ± XV Banten menjadi pelabuhan dari Kerajaan Pajajaran. Abad XIV Ditemukan prasasti di Bogor, yang menyatakan Pakuan Pajajaran didirikan oleh Sri Sang Ratu Dewata, yang daerah kekuasaannya meliputi seluruh Banten, Kalapa (Jakarta), Bogor, sampai Cirebon. Abad XVI Awal abad ke XVI, Banten dibawah pemerintahan Prabu Pucuk Umun (Dalam Babad Cibeber disebut juga sebagai Ratu Ajar Domas). Pusat pemerintahannya terletak di Banten Girang, yang dihubungkan dengan pelabuhan Banten melalui Sungai Cibanten, dan melalui Klapadua sebagai jalur darat. 1513 M Tome Pires, pelaut Portugis, memberitakan bahwa pelabuhan Banten merupakan pelabuhan kedua terbesar setelah Kalapa. Telah terjadi hubungan perniagaan dengan Sumatera dan Maladewa, dan pelabuhan Banten merupakan pengekspor beras, bahan makanan dan lada. Pada masa ini, diberitakan juga sudah banyak dijumpai orang Islam di daerah Cimanuk, dan kota kota pelabuhan seperti Kalapa dan Banten. 1511-21 M Tanggal 5 Agustus 1511 M, Bangsa Portugis menguasai Malaka dan disusul dengan takluknya Samudera Pasai pada tahun 1521 M. Selain untuk kekuasaan dan kekayaan, bangsa Portugis juga dibebani misi untuk menghancurkan agama Islam. Dengan menguasai Malaka, bangsa Portugis memonopoli perdagangan rempah rempah di Asia Tenggara, dan memberlakukan peraturan peraturan yang memberatkan bagi para pedagang terutama yang beragama Islam. Kondisi ini membuat pedagang pedagang dari Arab, Parsi, Cina, dan bangsa lain enggan untuk berniaga ke Malaka dan mengalihkannya ke Aceh, Banten, Cirebon, dan Demak. Keadaan ini sangat menguntungkan bagi Pelabuhan Banten yang berkembang semakin pesat dan lama 1

kelamaan menjadi pusat penyebaran agama Islam di bagian barat pulau Jawa. 1521 M Dengan semakin berkembang pesatnya kekuatan Islam di barat dan timur, timbul kekhawatiran raja Pajajaran akan semakin terdesaknya agama Hindu selaku agama resmi kerajaan dan juga lunturnya kekuasaan di di daerah pantai. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata) melakukan : ‡ Pembatasan pedagang pedagang yang beragama Islam mengunjungi pelabuhan pelabuhan yang berada di bawah kekuasaan Pajajaran. ‡ Menjalin hubungan persahabatan dan kerjasama dengan bangsa Portugis di Malaka, agar dapat membantu Pajajaran bila diserang Kerajaan Demak, dengan mengutus putera mahkota Pajajaran Ratu Sangiang atau Surawisesa ke Malaka. 1522 M 21 Agustus 1522 M, Henrique Leme, utusan Gubernur Malaka, menandatangani perjanjian dengan raja Pajajaran, Pangeran Surawisesa, pengganti Sri Baduga Maharaja. Perjanjian tersebut berisi antara lain : ‡ Portugis dapat mendirikan benteng di pelabuhan Sunda Kelapa ‡ Raja Pajajaran akan memberikan lada sebanyak yang diperlukan Portugis sebagai penukaran barang barang kebutuhan Pajajaran. ‡ Portugis bersedia membantu Pajajaran apabila diserang Demak atau kerajaan lainnya. ‡ Sebagai tanda persahabatan, Pajajaran akan memberikan hadiah 1000 karung lada setiap tahunnya kepada Portugis. 1525 M Pasukan gabungan Demak dan Cirebon yang dipimpin Fatahillah, Pangeran Cirebon, Dipati Cangkuang, dan Dipati Keling, serta pasukan lokal di bawah pimpinan Hassanudin dapat menguasai Banten. Untuk menjaga stabilitas keamanan di Banten, Hassanudin kemudian diangkat menjadi Adipati Banten dengan pusat pemerintahan di Banten Girang. 1526 M Atas petunjuk dari Sunan Gunung Jati, ibukota Banten dipindahkan ke dekat pelabuhan Banten, yang kemudian disebut dengan Surosowan. Berdasarkan beberapa data, pemindahan ibukota ini dilakukan pada tanggal 1 Muharram 933 H yang bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1526 M. 1527 M Terdengar kabar, Portugis dengan armada dan persenjataan lengkap telah meninggalkan Malaka menuju Sunda Kelapa. Mendengar berita ini, Demak, Banten, dan Cirebon bergerak untuk menguasai Sunda Kelapa. Sunda Kelapa dapat dikuasai pada tahun 1527 M, dan Fatahillah diangkat untuk menjadi Adipati Sunda Kelapa. Sebagai tanda kemenangan, Sunda Kelapa diganti namanya menjadi Jayakarta, yang berarti Kota Kemenangan. Armada Portugis yang datang dari Malaka untuk melaksanakan perjanjian tahun 1522 M dengan Kerajaan Pajajaran tiba setelah Sunda Kelapa dikuasai pasukan Islam. Portugis yang dipimpin oleh Francisco de Sa melakukan perang terbuka di perairan Sunda Kelapa, dan setelah mendapat perlawanan hebat dari pasukan Islam, Portugis dapat diusir mundur dari Sunda Kelapa. Setelah Jayakarta berhasil diamankan dari serangan Portugis, Hassanudin dan Fatahillah bekerjasama menangani pembangunan di Banten dan Jayakarta. Hassanudin bertanggung jawab dalam masalah pengembangan wilayah dan pendidikan kemasyarakatan, sedangkan Fatahillah bertanggung jawab menangani keamanan dan pertahanan wilayah. Sehingga pada masa itu Islam menyebar dengan pesat 2

dan keamanan negara terjamin. Kedua penguasa di Jawa Barat memerintah atas nama Sultan Demak. 1552 M Kemajuan perkembangan Banten yang sangat pesat, menjadikan status Banten ditingkatkan dari Kadipaten menjadi Kerajaan. Hassanudin ditunjuk sebagai raja pertama. Dan pada tahun yang sama pula, Fatahillah (menantu dari Sunan Gunung Jati) diangkat menjadi raja di Cirebon, mewakili Sunan Gunung Jati, dikarenakan mangkatnya raja Cirebon, Pangeran Pasarean (putera Sunan Gunung Jati) di tahun tersebut. Untuk menjalankan tugas pemerintahan di Jayakarta diangkat Pangeran Bagus Angke, menantu Sultan Hassanudin. 1552-1570 M Masa Pemerintahan Sultan Maulana Hassanudin. Sultan Maulana Hassanudin memerintah sebagai raja pertama Kesultanan Banten dari tahun 1552 M hingga wafatnya di tahun 1570 M. Pada masa pemerintahannya, digambarkan kota Banten telah berkembang sangat pesat. Jumlah penduduk diperkirakan telah mencapai 70.000 jiwa. Terletak di pertengahan pesisir teluk Banten, Kota yang dikenal dengan nama Surosowan ini memiliki panjang 400 hingga 850 depa. Kota Banten dilewati sungai jernih yang dapat dilalui oleh kapal jung dan gale. Kota Banten dikelilingi benteng bata setebal tujuh telapak tangan. Bangunan bangunan pertahanan dua lantai terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan meriam. Di tengah kota terdapat alun alun yang digunakan untuk kegiatan ketentaraan, kesenian rakyat dan juga sebagai pasar di pagi hari. Istana raja terletak di sisi selatan alun alun, disampingnya dibangun bangunan datar yang ditinggikan dan diatapi yang disebut srimanganti, sebagai tempat raja bertatap muka dengan rakyat. Di sebelah barat alun alun dibangunlah Masjid Agung Banten. Sultan Hassanudin dalam usahanya membangun dan mengembangkan kota Banten lebih menitik beratkan pada pengembangan sektor perdagangan, disamping memperluas lahan pertanian dan perkebunan. Pada masa pemerintahannya, Banten telah menjadi pelabuhan utama di Nusantara, sebagai persinggahan utama dan penghubung pedagang pedagang dari Arab, Parsi, Cina, dengan kerajaan kerajaan di Nusantara. Cara jual beli saat itu, masih menggunakan sistem barter, dan juga sudah mulai digunakan mata uang sebagai alat tukar. Mata uang yang digunakan adalah Real Banten dan cash cina (caxa). Terjadinya krisis kepemimpinan di Kesultanan Demak pada tahun 1547-1568 M, mendorong Sultan Hassanudin untuk melepaskan diri dari Kesultanan Demak dan menjadikan Banten kerajaan yang berdiri sendiri. Saat itu, wilayah Kesultanan Banten telah meliputi Banten, Jayakarta, Kerawang, Lampung, Inderapura, sampai Solebar. Sultan Hassanudin wafat tahun 1570 M dan dimakamkan di samping Masjid Agung. Setelah wafatnya, Maulana Hassanudin dikenal dengan sebutan Sedakinking. Sebagai penggantinya, dinobatkanlah Pangeran Yusuf sebagai Raja Banten ke 2. 1570-1580 M Sultan Maulana Yusuf Pada masa kepemerintahan Sultan Maulana Yusuf, strategi pembangunan dititik beratkan pada pengembangan kota, keamanan wilayah, perdagangan dan pertanian. Pada saat itu, perdagangan sudah sangat maju sehingga Banten merupakan tempat penimbunan barang barang dari seluruh dunia yang nantinya akan disebarkan ke seluruh nusantara.

3

Dengan majunya perdagangan maritim di Banten, maka kota Surosowan dikembangkan menjadi kota pelabuhan terbesar di Jawa. Ramainya kota baru ini dengan penduduk pribumi maupun pendatang membuat diberlakukannya aturan penataan dan penempatan penduduk berdasarkan keahlian dan asal daerah penduduk. Perkampungan untuk orang asing biasanya ditempatkan di luar tembok kota, seperti Pekojan yang diperuntukan bagi pedagang muslim dari kawasan Arab ditempatkan di sebelah barat pasar Karangantu, Pecinan yang diperuntukan bagi pendatang dari Cina ditempatkan di sebelah barat Masjid Agung, di luar batas kota. Penataan pengelompokan pemukiman ini selain bertujuan untuk kerapian dan keserasian kota juga untuk kepentingan keamananan, dan merupakan upaya penyebaran dan perluasan kota. Selain penataan pemukiman, juga dilakukan perkuatan dan penebalan tembok keliling kota dan tembok benteng sekeliling istana. Tembok benteng diperkuat dengan lapisan luar yang terbuat dari bata dan batu karang dengan parit parit disekelilingnya. Perbaikan Masjid Agung juga dilakukan dan penambahan bangunan menara dengan bantuan Cek Ban Cut, arsitek muslim asal Mongolia. Untuk kepentingan irigasi bagi persawahan yang berada di sekitar kota dan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih bagi kota Surosowan, di buatlah danau buatan yang dinamakan Tasikardi. Air dari sungai Cibanten dialirkan melalui terusan khusus ke danau ini, yang kemudian disalurkan ke daerah daerah sekitar danau. Dengan melalui pipa pipa terakota, setelah diendapkan di Pengindelan Abang dan Pengindelan Putih, air yang sudah jernih dialirkan ke keraton dan tempat tempat lain di dalam kota. Di tengah danau buatan ini juga dibuat pulau kecil yang digunakan sebagai tempat rekreasi keluarga keraton. Sultan Maulana Yusuf wafat pada tahun 1580 M dan dimakamkan di Pakalangan Gede dekat kampung Kasunyatan sekarang, dan karenanya beroleh gelar Pangeran Panembahan Pakalangan Gede atau Pangeran Pasarean. Sebagai pengganti, diangkatlah putranya, Pangeran Muhammad yang pada waktu itu baru berusia 9 tahun. 1579 M Pasukan Banten di bawah pimpinan Sultan Maulana Yusuf berhasil merebut Pakuan, ibukota Kerajaan Pajajaran dan menguasai seluruh wilayah bekas kerajaan Pajajaran. Raja terakhir yang memerintah Kerajaan Pajajaran adalah Raga Mulya atau Prabu Surya Kencana, yang juga dijuluki Prabu Pucuk Umun atau Panembahan Pulosari, karena pada akhir masa kepemerintahannya berkedudukan di gunung Pulosari, Pandeglang. Benteng Pulosari dapat dikuasai oleh Sultan Maulana Yusuf pada tanggal 8 Mei 1579/11 Rabiul Awal 987 H. Setelah berhasil dikalahkan, seluruh punggawa kerajaan Pajajaran diislamkan dan dibiarkan kembali memangku jabatannya sehingga dapat menjamin stabilitas keamanan di seluruh wilayah Banten. 1580-1596 M Sultan Maulana Muhammad Kanjeng Ratu Banten Surosowan Keadaan Banten pada masa Sultan Maulana Muhammad dapat diketahui berdasarkan kesaksian Willem Lodewycksz yang mengikuti Cornelis de Houtman yang mendarat di pelabuhan Banten tahun 1596. Dari catatan mereka diketahui bahwa Kota Banten mempunyai tembok tembok yang lebarnya lebih dari depa orang dewasa dan terbuat dari bata merah. Diperkirakan besarnya sebesar kota Amsterdam tahun 1480 M dan orang dapat melayari seluruh kota Banten melalui banyak sungai. Setiap kapal asing yang hendak berlabuh di Bandar Banten diharuskan melalui semacam pintu gerbang dan membayar bea masuk. 4

semenjak itu Banten menjadi aman kembali. dapat dihentikan atas usaha Pangeran Jayakarta hingga dibuat perjanjian perdamaian antara semua pihak. Portugis. dimakamkan di serambi Masjid Agung dan beroleh gelar Pangeran Seda ing Palembang atau Pangeran Seda ing Rana. Pada masa kepemimpinannya. Masa awal pemerintahan Sultan yang masih balita ini merupakan masa masa pahit dalam sejarah Kesultanan Banten karena banyaknya perpecahan dalam keluarga kerajaan. Sultan tertembak ketika memimpin pasukan dari kapal Indrajaladri di Sungai Musi. Salah satunya adalah diangkatnya Pangeran Ranamanggala sebagai Mangkubumi dan wali dari sultan muda. Mangkubumi yang baru ini. Sultan meninggalkan putra yang baru berusia lima bulan. Sultan juga menjadi khatib dan imam untuk setiap shalat Jum¶at dan Hari Raya. Maulana Muhammad terkenal sebagai orang yang saleh. yang memicu terjadinya perang saudara yang dikenal dengan nama Perang Pailir. sehingga tidak memiliki wibawa dan keputusannya lebih banyak tidak ditaati. Selama menjabat sebagai Mangkubumi. seorang tua yang lemah lembut dan luas pengalamannya dalam pemerintahan sebagai walinya. saudara sultan lain ibu ini. yaitu Abul Mafakhir. perwalian dikembalikan ke ibunda sultan. beliau banyak mengarang kitab agama Islam dan membangun masjid hingga ke pelosok negeri. Puncak dari kekacauan itu adalah dibunuhnya Mangkubumi. dengan berbagai kepentingan yang berbeda serta keinginan untuk merebut tahta kerajaan. yang ditunjuk sebagai penggantinya. yang terjadi di tahun 1608 ± 1609 M. tindakan utama yang diambil adalah mengembalikan stabilitas keamanan Banten dan menegakan peraturan untuk kelancaran pemerintahan. untuk tempat shalat perempuan disediakan tempat khusus yang disebut pawastren atau pawadonan. Dengan cara demikian. Sultan Maulana Muhammad wafat pada tahun 1596 pada saat penyerangan ke Palembang. Banten dapat terselamatkan dari kehancuran akibat rongrongan dari dalam amupun luar negeri.Transaksi perdagangan di pasar ini berjalan mudah karena mata uang dan pertukaran mata uang (money changer) sudah dikenal. Kekacauan di dalam negeri semakin membesar dan tidak dapat ditangani karena Mangkubumi lebih sibuk mengurus keributan yang ditimbulkan oleh pedagang Belanda dengan pedagang Inggris. Pada saat Mangkubumi Jayanegara wafat di tahun 1602 M. yang bahkan Sultan sendiri tidak diperkenankan untuk ikut campur. keturunan dari Kerajaan Demak yang ingin menjadi Raja Palembang. Sultan Maulana Muhammad wafat di usia 25 tahun. dalam kenyataannya banyak menerima suap dari pedagang asing. perang yang dimulai akibat bujukan Pangeran Mas. 1596-1651 M Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir Sultan Abul Mafakhir yang baru berusia lima bulan. saudara beda ibu dengan Sultan Maulana Muhammad. Perang untuk memperebutkan tahta yang dilancarkan oleh Pangeran Kulon. Nyai Gede Wanagiri yang telah menikah kembali. Untuk kepentingan penyebaran agama Islam. mendesak agar suami barunya ditunjuk sebagai Mangkubumi. Pangeran Ranamanggala adalah putra Maulana Yusuf. 5 . untuk menjalankan roda pemerintahan maka ditunjuklah Mangkubumi Jayanegara. Masjid Agung diperindah dengan melapisi dinding dengan keramik dan kolomnya dengan kayu cendana. Nyai Gede Wanagiri. maupun pedagang dalam negeri.

terbitan KITLV).sebuah organisasi keilmuan yang tertua di negeri yang kemudian bernama Hindia Belanda ini. Pada pengantar dari memorandum yang telah diperpendek itu. yang akan mau mengakui cara berpikir legalistik konyol ini. Melihat namanya ia rupanya seorang bangsawan. Akan tetapi. tetapi biarlah kebangsawanan ini sebagai tambahan pengetahuan saja. entah tidak. Pulang kampung dan meletakkan jabatan bukanlah pula hal yang harus dibesar-besarkan. Maka dengan pengurangan biaya ini kerugian finansial VOC bisa ditekan. jawara. penerbit LP3ES. Jadi rahasia dari masa-masa akhir hidup VOC termuat juga dalam naskah ini.en volkenkunde (biasa dipendekkan dengan BKI saja. Hal ini dilakukan agar pedagang dari Belanda tidak berniaga di Banten karena perilaku pedagang Belanda yang kasar dan mau mencampuri urusan pemerintahan dan dalam negeri Banten. Pada tahun 1788. sebuah majalah yang sampai sekarang masih terbit bahkan telah semakin bersifat internasional. Kalaupun ingin berpikir secara legalistik yang kaku palingpaling hanya bisa ditambah empat tahun tambah beberapa bulan ± sejak menyerahnya Jepang hingga ³penyerahan kedaulatan´. redaksi majalah mengatakan bahwa sebenarnya naskah lengkap dari sang bangsawan lokal ini akan diterbitkan oleh Bataviaasch Genootschaap. Akan tetapi. Soalnya Banten cukup dekat dari Batavia dan lagi ± dan ini rupanya penting juga ± ³kemiskinan sang raja telah meniadakan kemungkinannya untuk melakukan apapun´. barulah pada tahun 1857 ± hampir enam dasawarsa kemudian ± ringkasan dari kedua memorandum panjang ini diterbitkan dalam majalah Bijdragen tot Taal-. Yang penting ialah Jonkheer Jan de Rovere van Breugel adalah seorang pejabat VOC di Banten. Soalnya kedua naskah memorandum itu-entah sengaja. Namun. Peristiwa ini pun tak pula penting. Beberapa kebijakan penting yang diambil : ‡ Penghapusan keharusan bagi pedagang Cina untuk menjual lada kepada pedagang Belanda ‡ Penetapan pajak ekspor lada dan pajak impor bagi barang barang yang sebelumnya tidak terkena pajak ‡ Pemberlakuan pajak yang lebih tinggi bagi pedagang dari Belanda. VOC sempat hidup sampai dua abad kurang dua tahun (1602-1800). 6 . karangan Nina H Lubis. yang menarik ialah ternyata setahun sebelum ia ³pulang negeri´. tidak lagi 372 orang. sedangkan umur Hindia Belanda hanya 142 tahun saja. tetapi lebih mungkin karena keasyikan berkisah saja-ternyata banyak juga membicarakan hal-hal yang mestinya tidak boleh diketahui umum. Coba saja pikir pejabat yang bergelar Jonkheer ini antara lain mengusulkan agar VOC menurunkan tingkat administratif Banten hingga dengan begini jumlah tentara yang diperlukan cukup 185 orang saja. ia terpaksa meninggalkan jabatannya pada maskapai dagang Belanda yang semakin lama semakin berfungsi sebagai sebuah ³negara´ itu. Disarikan dari Buku BANTEN DALAM PERGUMULAN SEJARAH: sultan. Akan tetapi. yang masing-masing berjudul Berschijving van Banten en de Lampong (Uraian tentang Banten dan Lampung) dan Bedenkingen van den staat van Bantam (Pemikiran tentang Banten). rencana penerbitan ini dibatalkan karena Gubernur Jenderal Alting menasehati sang pengarang agar mau mengurungkan niatnya. Bukankah sudah umum juga diketahui bahwa salah satu sebab utama VOC dilebur dan daerah-daerah di Kepulauan Indonesia yang telah berada di bawah dominasi VOC dijadikan sebagai bagian dari sebuah negara kolonial yang disebut Hindia Belanda ialah karena VOC telah mengalami kebangkrutan? Tentu sekarang kita bisa berkata bahwa kalau dihitung-hitung umur VOC lebih panjang daripada Hindia Belanda. raden mas Belanda ini sempat menyelesaikan dua memorandum panjang.Mangkubumi dalam menghadapi bangsa asing tidak berat sebelah atau memihak pihak manapun.land-. ulama.

yang jelas tulisan Jonkheer de Rovere van Breugel boleh dikatakan bercorak ensiklopedis tentang Banten. meskipun mereka masih tinggal di rumah orang tua. Banten telah pula sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Belanda. pemerintahan (raja. Hanya saja. 7 . tetapi akibatnya orangtua anak perempuan akan kehilangan pembayaran yang telah mereka lakukan. Apalagi pada waktu diterbitkan. Mereka membiarkan saja para isteri mereka bekerja mengurus rumah tangga. 1997) ia merasa perlu menjadikan tulisan dari van Breugel ini sebagai bahan kajiannya. jika saja usul-usulnya bisa dipertimbangkan untuk dilaksanakan. membiarkan saja perdagangan dikuasai para pendatang yang disebut ³Orang dagang´ . la mungkin tak bisa menerangkan mengapa ³itu harus begitu´ dan ³mengapa ini harus begini´. Policy apalagi yang akan dijalankan berdasarkan memorandum itu? Bisalah pula dipahami bahwa barulah ketika Ann Kumar. kalau saja pengamatannya tidak terlalu bias. tetapi ia dapat saja bercerita tentang apa saja yang kebetulan dilihat dan diamatinya. Bahkan. Karena itulah barangkali ikhtisar memorandum kurang begitu menarik perhatian. yang jelas kedua naskah memorandum yang telah diperpendek itu diterbitkan ketika Pemerintah Hindia Belanda telah asyik dengan politik ³tanam paksa´ atau cultuurstelsel di Pulau Jawa. van Breugel membayangkan juga suatu saat Banten akan bisa bangkit lagi jika saja VOC menjalankan kebijakan yang baik. Dalam memorandum ini. sebagaimana yang mungkin bisa dilakukan oleh ahli anthropologi modern. Dengan membaca ³ikhtisar dari ikhtisar´ ini kita mengetahui juga dasar keinginan van Breugel untuk menerbitkan kedua memorandumnya dan bisa pula memahami pertimbangan majalah BKI untuk menerbitkan ikhtisarnya sekian puluh tahun kemudian. bangsawan). Akan tetapi. Anakanak umur delapan atau sepuluh telah dipertunangkan. katanya lagi. sejarawan Australia yang ahli Jawa. Pertunangan ini bisa juga dibatalkan. Namun demikian. laki-laki Banten itu. tentu bisa juga dimaklumi kalau dalam melihat dan mengamati masyarakat Banten ia tak bisa melepaskan landasan penilaian yang bercorak Belanda. Maka. penduduk dan adat. tetapi juga serta merta mengikis tradisi maritim Jawa yang dinamis. Tampak sekali bahwa sang pengarang berharap agar memorandumnya ini bisa mempengaruhi kebijakan politik kolonial yang dijalankan. Meskipun ia sangat menaruh perhatian pada sumber-sumber ekonomis Banten dan Lampung. tak perlu heran kalau masyarakat awam masih menyebut pemerintah kolonial Belanda ³kompeni´. tetapi sudahlah. janganlah kaget kalau ia mengatakan bahwa menurut pengamatannya laki-laki Banten itu sesungguhnya pemalas. Ia berbicara tentang wilayah dan kota. meskipun Hindia Belanda telah berkuasa. tetapi ternyata hampir tidak ada aspek kehidupan dan dinamika ekonomi-politik yang tidak dibicarakannya. hasil bumi dan perdagangan serta hal-hal lain lagi. Kalau begini keadaannya nilai aktualitas dari memorandum itu telah membuyar. Soalnya ia sebenarnya melihat masa depan yang cerah juga bagi Banten. Mereka lebih sibuk minum-minum ± tentu saja bukan air ± makan-makan sirih dan menunggangnunggang kuda. Politik ini bukan saja dengan ekstrem mengeksploitasi anak negeri dan menjadikan mereka terpaku pada desa masing-masing. Dalam tulisannya tampak pula bahwa ia adalah seorang pengamat situasi sosial yang cukup jeli juga. menulis tentang hubungan Jawa dan Belanda (Java and Modern Europe. sayang juga ketika akhirnya diterbitkan tulisannya hanya bermanfaat sebagai salah satu sumber sejarah saja. Ia pun ³berbaik hati´ juga mengikhtisarkan lagi ikhtisar naskah sang Jonkheer. sudahlah.siapa lagi selain kaum konservatif Belanda? Jadi. tetapi kali ini dalam bahasa Inggris.

Ketika menyebut ³paus´ ini van Breugel sama saja dengan para penulis Belanda lain. ndigo. Cerita yang mengasyikkan juga ialah tentang bajak laut. dan sebuah pasar baru. la menguraikan satu persatu komoditi ini. sedangkan tamu-tamu datang dengan membawa hadiah. la menguraikannya mulai dari tempat tumbuh dan cara pemeliharaan sampai dengan prospek perdagangannya. kelapa. bukan saja di kalangan kraton. Orang Banten mempunyai hukum juga. dan sebagainya. Akan tetapi. gula. Bagian yang terpenting dari memorandum ini ialah uraian tentang komoditi perdagangan dari Banten dan Lampung: lada. Istana raja dikelilingi benteng berbentuk setengah bulan. la juga bercerita tentang perdagangan candu yang dikuasai Letnan Cina dan berkisah pula tentang betapa maraknya penyelundupan barang haram ini. Orang Mandar. Sang pejabat yang bangsawan ini rupanya pernah juga beberapa kali menghadiri upacara pernikahan orang Banten. kata van Breugel. yang disaksikan van Breugel. kayu sandalwood. Kata ³paus´ adalah sebutan ejekan bagi ulama. sedangkan para pejabat negara. Perbentengan telah hancur dan di atas runtuhan itu rumah-rumah baru didirikan karena jumlahnya cukup banyak inilah Banten. (Belanda abad ke-18 sangat anti-Katholik rupanya). tetapi untuk pertahanan istana yang dikelilingi benteng ini tak ada artinya apa-apa. ³masih bisa disebut kota´. katanya. pinang. sebab ia bisa juga berbicara agak panjang lebar tentang situasi dari upacara perkawinan itu. Van Breugel jengkel juga karena ia melihat sang Sultan tidak menaruh hormat lagi pada VOC. Orang Cina tinggal di dua kampung yang dipenuhi oleh rumah tembok batu juga. Raja yang memerintah pada waktu itu ialah Sultan Abul Nazar Muhammad. beras. umpamanya dengan memberi bantuan mesiu. Tentang usaha pemberantasan perompakan ia mengusulkan agar kekuatan armada Banten diperkuat. dan digabung lagi ³dengan takhyul yang paling bodoh´. pada umumnya mereka lebih suka mengikuti hukum alam saja ² darah dibayar dengan darah. Tumanggung. menurut pengamatannya. yang menurut van Breugel. ia melukiskan tentang dindingdinding yang dulu pernah mengitari ibu kota sekarang telah hancur lebur berantakan. Bukan itu saja. padahal 8 . Tentang agama. seperti menteri dan ³pendeta´ (maksudnya barangkali kadhi kerajaan) dan beberapa orang lain mempunyai rumah batu. tetapi. Ada tiga pasar di Banten. kopi. Sultan asyik dengan segala macam kemewahan.Pesta perkawinan diadakan di rumah penganten perempuan. Akan tetapi. semua pasar itu mengalami kemunduran . Di sekeliling benteng itu ada perumahan VOC. sedangkan tentang ibu kota. sedang berada dalam situasi kemelut yang parah juga. biasanya buah-buahan. adalah yang paling aktif dalam penyelundupan. yaitu Karang Antu. ia mengatakan bahwa orang Banten itu beragama Islam tetapi orang Lampung menganut kepercayaan yang merupakan percampuran ³ajaran Muhammad´ dengan sistem kepercayaan yang masih kafir. yang diperkuat dengan 58 meriam. Mereka semakin berpengaruh saja di kalangan masyarakat Banten. pencurian dibayar dengan penjara atau perbudakan yang kadang-kadang bisa sebagai hukuman bagi hutang yang tak dibayar. Rumah-rumah umumnya terbuat dari bambu. Kalau saja interpretasi sosial boleh diberikan terhadap uraiannya ini maka bisalah dikatakan bahwa masyarakat Banten. katanya. bagaimanakah keadaan ibu kota Banten? Kalau tentang desa ia mengatakan bahwa desa orang Banten sangat tak beraturan. artinya mereka sering berhasil mengelakkan monopoli VOC. hanya sebagian kecil saja memakai bingkai kayu. sangat dipengaruhi oleh ³paus-paus orang asing´ (maksudnya tentu saja ulama-ulama dari negeri lain). tidak lagi seperti dulu ketika Banten masih megah.

yang terletak di ujung Barat Pulau Jawa. Ketika Van Breugel menulis tentang Pangeran Raja Kusuma ini ia mungkin merasa simpati juga. maka berarti leher dari 9 . karena situasi kesekarangan telah sedemikian menista harga diri. maka masa lalu tiba-tiba bisa saja berubah menjadi ³masa depan´ yang harus dirangkul dengan segera. Bilamana situasi kesekarangan telah dirasakan semakin mencekam bagaimanakah ingatan akan masa lalu yang telah lewat itu akan hilang begitu saja? Bukankah nostalgia kultural itu sesungguhnya tidak lain daripada perlawanan terhadap tirani sang waktu? Dengan bernostagia. perjalanan waktu dijadikan tak berfungsi dalam kesadaran. Kalau telah begini. Sang Pangeran yang hidup pada abad ke-18. panglima Portugis yang ingin melumpuhkan Mekah dan Constatinopel ± dua pusat kekuasaan dan agama Islam. maka tarikan masa lalu yang telah dirasakan sebagai ³masa depan´ itu semakin keras dan menggetarkan juga. ulama -penguasa dari Cirebon dan salah seorang Wali Sanga. adalah seorang yang alim. maka ³terjadilah apa yang harus terjadi´. kata van Breugel.kesultanan telah jatuh miskin. Ia bisa juga merasakan apa artinya hidup ketika kejayaan lama hanya tinggal kenangan belaka. Pada tahun 1511. Bahkan asal usul berdirinya kerajaan pun masih segar dalam ingatan kolektif anak negeri. Asal-usul Banten sebagai sebuah kerajaan Islam agak unik juga. la adalah anak seorang tukang batu Cina yang telah disunat (maksudnya tentu saja. perahu-kesenangan. tetapi muncul sebagai akibat dari ekspansi kekuasaan dari luar. Kesedihan sang pangeran tua ini tentang kemerosotan negerinya tentu bisa dimaklumi. telah masuk Islam). Kerajaan ini tidak bermula dari tumbuhnya dan membesarnya sebuah kekuasaan lokal. dan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. Pengawas gudang lada sang raja ialah seorang yang bernama Kiai Aria Astradinata. Sultan berhutang ke kiri dan ke kanan. Ternyata ini adalah sebuah keputusan politik yang sangat tepat. Kita pun berhadapan dengan salah satu irama yang hampir menetap dari sejarah Banten setelah kejayaan kerajaan telah terlepas dari tangan. yang malah sibuk menghalangi mereka untuk berhubungan dengan orang Eropa. Sebenarnya Sultan ini seorang yang baik hati. Ketika perasaan kerinduan ini telah semakin mencekam. Awal abad ke-16 adalah masa yang kritis bagi perairan Asia Tenggara. Dalam usaha untuk meluaskan kekuasaan dan mengembangkan Islam. la memperhitungkan bahwa dengan jatuhnya Malaka. Paman raja. Pangeran Raja Kusuma. tentu bisa diduga. Jabatan sebagai kepala gudang ini dianggap sebagai sesuatu yang turun temurun. tentu saja tidak mengalami secara langsung masa ketika Banten adalah kerajaan yang makmur dan disegani dan merupakan salah satu kerajaan yang terkuat di Kepulauan Nusantara ini. Ia telah tua dan uzur dan hanya menghabiskan waktunya untuk beribadah serta menangisi nasib tanah airnya yang hari demi hari dilanda kemerosotan. Sunan Gunung Jati. Akibatnya. berhasil menaklukkan Malaka. Ketika kemudian Cirebon melepaskan perwaliannya atas wilayah di ujung Barat Pulau Jawa (1552) kesultanan Banten pun resmi berdiri dan Pangeran Adipati Hasanuddin pun menjadi Sultan Hasanuddin. Sunan Gunung Jati meninggalkan putranya sebagai penguasa Banten yang pertama. katanya. Alfonso d¶Albuquerque. tetapi pengetahuan akan masa gemilang yang telah hilang itu tak begitu saja terpupus dalam ingatan kolektif Banten. mendirikan Banten. Setelah itu. sayang ia tidak mempunyai penasehat yang baik. Janganlah pula heran bilamana kepedihan masa kini telah semakin keras dirasakan. tetapi ia tampaknya agak serakah. sedangkan para bangsawan sangat tergantung kepada Sultan. Pada umumnya para bangsawan ini sudah cukup puas dengan tempat tinggal yang menyenangkan.

seorang ahli filologi Islam. sibuk berkali-kali menyerang Malaka. Mataram pun tampil pula sebagai pemegang hegemoni di ³negara-negara kota´ di pantai Utara. Tradisi sejarah Banten tidak bisa melupakan bahwa Maulana Jusuf tewas ketika ia ingin meluaskan pengaruh dan kekuasaan kesultanan Banten ke Palembang. penginjil. tetapi pada perkiraan pada tahun 1672 telah memperlihatkan lonjakan jumlah yang hebat. Sejak akhir abad ke-16 dan akhir abad ke-17 boleh dikatakan sebagai the age of Islamic hegemony dalam sejarah Asia Tenggara. pedagang. Malaka adalah salah satu pusat perdagangan yang besar dunia pada abad ke-15. tetapi juga menyebabkan terjadinya pemencaran dari pusat-pusat perdagangan Islam. Saingan Banten di Nusantara sebagai entrepot pelabuhan yang menerima barang impor. Ukuran kebesaran enterpot ini bisa dilihat juga antara lain pada perkiraan jumlah penduduk yang diberikan oleh para pelapor asing. Ketika inilah Makassar. tetapi panglima Portugis. telah terbuka pula bagi para pelaut. seperti Portugis. Dan sejak itu pula Banten semakin tampil sebagai entrepot yang terbesar di Pulau Jawa. Karena itulah Schrieke. Sebuah perkiraan pada tahun 1662 mengatakan bahwa penduduk Banten lebih dari 100 ribu. Aceh-Darussalam serta Banten secara pelan tetapi pasti menjadi kerajaan Islam yang besar. Sepuluh tahun kemudian 700 ribu.kedua pusat Islam itu telah bisa dicekik Portugis. di tempat-tempat lain kota-kota dagang baru pun bermunculan pula. apalagi setelah Portugis berhasil menaklukkan Malaka maka ³jalan ke Timur´ untuk mencari rempah-rempah dan menyebarkan agama. penerus dinasti Malaka. kemudian datang Belanda. sosiologi dan sejarah Belanda yang terkemuka (yang sempat juga bekerja pada kantor Penasehat Bumiputra) sempat juga membuat teori bahwa penyebaran Islam di Kepulauan Indonesia ini tidak bisa dilepaskan dari apa yang disebutnya sebagai ³race with Christianity´ (perlombaan dengan Kristen). kata orang sana) kekalahan ini sesungguhnya bisa dilihat sebagai awal dari konsolidasi kekuasaan internal Banten. Penurunan jumlah penduduk yang drastis dari tahun 1682 -1696 tentu masuk akal juga. Maka sementara beberapa negara-kota di pantai Utara Jawa dan Johor. yang memang telah berdatangan sejak awal abad Masehi. Sejak itu sejarah Banten hanyalah berisikan kisah kemerosotan saja sampai akhirnya menjadi residentie Banten. Inggris. yang didorong oleh keuntungan dagang dan kekuasaan agama ini. apalagi Asia. mengirim barang ekspor. 10 . dan advonturir Eropa. India (1498). Pada waktunya sebagian dari kota-dagang dan pelabuhan persinggahan bagi para pedagang Islam yang baru ini pun tumbuh sebagai pusat kekuasaan besar. Sementara itu di pedalaman Jawa. karena pada tahun 1682 itulah masa akhir kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. tetapi dengan memakaikan keuntungan dari tinjauan ke belakang (atau historical hindsight. Ternate dan Tidore. Sudah pasti perkiraan jumlah penduduk itu tidak akurat. baik yang datang dari Eropa. Soalnya ialah setelah Vasco da Gama mendarat di Calicut. Tetapi pada tahun 1696 telah turun menjadi 125 ribu. Saingannya hanya perkiraan jumlah penduduk Mataram pada tahun 1624. Tentang Banten laporan-laporan asing memperlihatkan bahwa antara tahun 1660-1690 terjadi fluktuasi yang hebat juga dari jumlah penduduk. Spanyol. dan mengekspor barang imporhanya Aceh di Barat dan Makassar di Timur. serta Aceh-Darussalam. Pada waktu itu diperkirakan jumlah penduduk 800 ribu. Perairan Nusantara pun menjadi ranah persaingan dari segala bangsa. bahkan juga Denmark. sama sekali tidak menduga bahwa kejatuhan Malaka bukan saja menyebabkan Malaka menjadi sasaran penyerbuan dari kekuatan Islam di perairan Barat Indonesia. tetapi dalam perbandingan perkiraan ini memperlihatkan bahwa Banten mempunyai penduduk yang terbesar di Nusantara. Karena itu bisa jugalah dipahami kalau sumber-sumber tentang sejarah Banten selama abad ke-16 ± abad ke-17 sangat banyak juga.

walaupun ia bukan berdarah kraton. jika laporan Lodewijk ini benar. Ternyata orang Melayu. tetapi peranan Arab sebagai pedagang di perairan Nusantara ini barangkali telah dimulai sejak abad ke-11 ketika Cina menutup pelabuhannya bagi pedagang asing. kata Lodewijk. Jadi. Kalau cerita Lodewijk diteruskan. Ketika ia sampai di Banten. mereka pada umumnya adalah pelaut dan. Aceh mempunyai empat orang sultanah yang memerintah berturut-turut di abad ke-17 (Sialnya.. ³ia tak punya apa-apa. menurut laporannya. bisalah dikatakan bahwa kerap kali juga orang membandingkan Banten dengan Aceh. yang praktis merupakan pengimport tunggal tekstil dari anak benua India. Sebagaimana kota pelabuhan lain Sjahbandar Banten juga orang asing. Antara lain ia bercerita tentang ³pembagian kerja´ dari anggota komunitas asing yang berada di Banten. tentu bisa diduga. Seorang pelapor Inggris (Scott) menyatakan kekagumannya ketika ia berkata bahwa ³perempuan tua ini menguasai para wali dan lain-lain. tetapi karena kearifannya sangat dihargai oleh semua (yang berkuasa) ia memerintah 11 . kalau cerita dilanjutkan. seorang pedagang Turki yang kaya-raya. Atau kalau dengan istilah yang biasa dipakai sebagai cheti. biarlah hal ini tak dilanjutkan. Maka. miskin-miskin. Lodewijk. mempunyai hobby yang sama pula. maka kita pun bisa juga mengatakan bahwa ajaran Islam tentang riba tidak masuk perhitungan para pedagang Melayu itu. Salah satu hal yang dibandingkan itu ialah kenyataan bahwa Banten tidak pernah mempunyai penguasa perempuan. Orang Persia. Lodewijk juga bercerita tentang pedagang besar yang bernama Cheti Maluku yang berhubungan dagang dengan orang Belanda dan Inggris. Selama lima tahun yang kritis (1600-1605) yang tampil sebagai tokoh utama ialah Nyai Gede Wanagiri. maka ia pun mengatakan bahwa orang Keling lebih suka mengadakan investasi dengan bunga. tentu bisa disebut rentenir. Tak lama kemudian Inggris. seorang laki-laki yang menyamar. seorang pelapor Inggris curiga juga. mendarat di Banten dan kemudian menjadikan Banten sebagai pusat aktivitasnya. Maka. Dengan jelas sekali ia menggambarkan sifat internasional entrepot Banten.´ amun. la orang dari Keling. yang dengan kata lain. janganjangan sultanah yang berada di belakang tirai ketika menerima perutusan Inggris. Hanya saja dalam perbandingan ini sering terlupakan bahwa tumbuhnya Banten sebagai pusat kekuasaan dan dagang terjadi ketika Sultan Abdul Kadir (1596-1618) masih harus berada di bawah pewalian. maka ia pun menjalankan semua kerja yang hina untuk menghidupi dirinya. Banten di abad ke-16 dan awal abad ke-17 adalah ³a land of opportunities´± negeri yang membuka semua kesempatan. Kalau orang Gujarat. juga menjadikan Banten sebagai pusat aktivitasnya di Nusantara. la adalah sultanah yang terakhir). Masuk akal juga kalau Cornellis de Houtman. tentang Kojah Rayoan. sama saja dengan ³konglomerat Melayu´ sekuler zaman sekarang ² pokoknya keuntungan masuk.. menjadi pedagang perantara. maklum para pejabat itu tidak bisa membedakan mana yang mitos dan mana yang sejarah. Orang Arab dan Pegu melakukan perdagangan laut yang sibuk membawa barang dari satu tempat ke tempat lain atau. menurut Lodewijk.´ Dengan kata lain. karena belum dewasa. yang datang ke Banten pada tahun 1596 bersama komandannya. Ini pulalah salah satu sebab dari awal terjadinya Islamisasi di kawasan ini. berdagang permata dan obat-obatan. Cornelis de Houtman.Lodewijk tentu saja tidak mengatakannya dan ia pasti juga tidak tahu. kita pun ikut larut dalam pandangan sejarah yang bodoh dan sesat ini dengan mengatakan bahwa ³Indonesia 350 tahun berada di bawah kolonialisme Belanda. Ini tentu adalah fakta sejarah biasa saja ± orang berdagang tentu mencari pusat kegiatannya ± tetapi sialnya dalam sejarah Indonesia yang diajarkan oleh para pejabat negara Indonesia yang merdeka.Salah satu laporan yang menarik dibuat oleh orang Belanda. pelopor Belanda ke Nusantara. dengan kata lain. tahun kedatangan Cornellis de Houtman ke Banten ini dijadikan sebagai masa awal dari penjajahan Belanda di Indonesia.

Ketika itu kraton Banten praktis telah menjadi fiefdom VOC atau berada di bawah suzereniteit maskapai ± yang-bermain sebagai-negara ini dan harus pula membayar utang kepada VOC. Kalau De Breugel. dan pandangan ke luar. karma telah membantunya menghadapi pemberontakan yang dipimpin Kiai Tapa (1750-52). serta waktu. Bedanya hanyalah pada detail-detail sejarah ± nama tempat. masyarakat yang tak peduli. sempat mengatakan bahwa orang Banten meskipun punya hukum tetapi lebih suka memakai hukum alam. dan yang lain memakai nama Thiaria (Shari¶ah). yang dikirim Inggris. yang disebut historiografi tradisional itu. Bahkan kisah yang ditulis Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi.´ Maka begitulah kalau aturan main dalam pemerintahan telah cukup jelas.seakan-akan ia adalah satu-satunya ratu di negeri ini. yang menulis memorandum pada tahun 1787. Tidak kurang pentingnya ialah suasana ini bukan saja mengundang kedatangan para pedagang dari segala penjuru dunia.maka negara maritim berarti kegiatan dagang. tetapi juga para ulama. sebagaimana diuraikan oleh kitab Tufhat an Nafis. Banten. Ada kerajaan yang telah mengalami krisis di abad ke-18 ± umumnya berada di pulau Jawa ± tetapi ada pula yang bare mengalaminya pada abad ke-19 ± umumnya di kerajaan-kerajaan di daerah lain (kecuali Maluku). untuk meninjau kerajaan-kerajaan di pantai Timur Tanah Semenanjung. yang ditulis Raja Ali Haji dan ayahnya Raja Ahmad dari Pulau Penyengat.melaporkan bahwa Banten. Aceh dan lain-lain memperlihatkan ciri-ciri yang khas maritim. Suasana kemelut menjelang kejatuhan selalu membayangkan otoritas kekuasaan yang lemah. Dalam hal ini. kebudayaan dinamis. sistem hukum berlaku baik. Jika saja nama-nama orang diganti dan nama-nama tempat ditukar pula maka uraian tentang Banten rasanya bisa saja dijadikan tentang Makassar dari abad yang sama. yang mempunyai jurisdiksi pada semua masalah perdata dan pidana. membagi kerajaan di kepulauan Indonesia atas dua kategori. baik sumber asing maupun sumber lokal. 12 . Pulau Bintan. Sedangkan laporan-laporan asing tentang Banten abad ke-16 dan abad ke-17 juga tak pula jauh bedanya dengan laporan tentang kerajaan maritim lain yang sedang berkembang. yaitu maritim dan agraris. nama orang dan bentuk peristiwa. ³mempunyai dua hakim utama. memperlihatkan suasana yang lama. Makassar. yang menghukum dengan berat kejahatan pencurian dan perzinaan. yang tahu semua masalah perdagangan. meskipun yang dikisahkan berbedabeda. sebuah pulau kecil dekat Tanjung Pinang. hukum yang kehilangan peran. Ciri-ciri umum ialah persaingan dagang internasional yang meriah.´ De Breugel menggambarkan suasana kemunduran dan kemelut. yang telah mendirikan dan menguasai Singapura. yang pertama Syahbandar Besar. Jadi masuk akal juga kalau van Leur. Dengan pendekatan ideal type ² membuat bentukan analisis berdasarkan sifat kategori yang paling ekstrim. yang memperkenalkan pendekatan sosiologi Max Weber untuk memahami sejarah. pemerintahan bisa dijalankan berdasarkan kearifan yang paling unggul. tidak demikian halnya pada abad ke-17. raja yang bijaksana. Kisahnya tentu saja berbeda-beda. Bahkan juga bisa ditukarkan dengan Riau-Johor abad ke-18.misi Katholik Prancis. memberikan kesan yang tidak jauh berbeda. ekonomi yang kehilangan gairah. tetapi suasana sosial-politik dan ekonomi memantulkan gambaran yang tak jauh berbeda. Nada dari uraiannya hampir sama dengan gambaran para pelapor lain tentang kerajaan-kerajaan Nusantara yang sedang mengalami kemunduran. serta keamanan yang tak terjamin. ilmu pengetahuan berkembang. dan aktivitas keagamaan menjadi pertanda dari kearifan Sultan. Seorang pendeta dari Missions Etrangeyes.

dominasi. independensi Banten mulai setahap demi setahap digerogoti. melawan monopoli. Konon Sultan Mataram pernah mengatakan pada utusan Belanda yang datang menghadap di kratonnya. bukan saja tertarik untuk mendatangi Banten. siapa. lebih dari itu sekadar kekalahan kejatuhan Sultan Ageng bermula dari pengkhianatan sang putra mahkota. ³Tuan-tuan boleh berdagang di negeri saya tanpa bayar pajak. akhirnya kolonialisme. Ia mengirimkan utusan diplomatik ke negeri-negeri Islam dan menyuruh anaknya naik haji sambil mengunjungi Turki. perang. Perang terjadi dan Banten kalah. Mataram tentu lebih suka mendapatkan upeti dari para bangsawan yang telah mendapat lungguh serta menyibukkan diri dengan penghalusan kebudayaan dan sistem status sosial. Syekh Jusuf al Makasari. sejarah Banten mungkin bisa juga dilihat sebagai sebuah gambaran umum dari ³lahir dan tumbangnya´ kekuasaan pribumi ² lahir. sikap kultural yang konservatif.Sedangkan Mataram bersifat agraris ² keterikatan pada tanah. Kemudian hegemoni ini secara berangsur menjadi dominasi (mulai dari zaman Daendels) sampai akhirnya resmi berada di bawah kekuasaan langsung Hindia Belanda ² kesultanan telah dihapuskan. Sejak itu sejarah Banten adalah rentetan dari kisah yang ³menunda kekalahan´ saja. dengan Banten.´ sedangkan yang merupakan gejala umum itu ialah 13 . Di bawah sultan yang bijaksana inilah Banten mencapai tingkat kegemilangannya yang tertinggi. sejarah berulang. pertanian. Akan tetapi. dan bila´. tumbuh. bahkan kalau perlu ² bahkan biasa sekali-mereka pun ikut berdagang. tetapi dari sudut pandang lain. Fakta bahwa Putra Mahkota bisa berkhianat pada ayahandanya serta-merta menyebabkan karisma tradisional yang dipegang kraton pun meluntur pula. Sultan Haji. Ungkapan ini tidak benar kalau sejarah diartikan sebagai salinan yang murni dari ³apa. dan cenderung mempunyai pandangan ke dalam (inward looking). yang lebih sibuk menjalin ikatan perdagangan terbuka. Benar. einmalig. Seperti juga halnya dengan Mataram. Sultan Haji memerintah. memang tidak benar. tetapi bisa merasakannya sebagai negeri sendiri. tetapi mempunyai validitas relatif kalau yang ingin ditemukan ialah pola umum yang berlaku. Adapun yang khusus dan tak berulang ialah kenyataan bahwa ³Sultan Ageng Tirtayasa (siapa) yang melawan usaha penetrasi kekuasaan Belanda (apa) di Banten (di mana) pada tahun 1682 (bila). tentu mudah juga dipahami kalau di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683). Dengan segala ciri-ciri kerajaan maritim yang diperlihatkan Banten. tetapi hegemoni telah berada di tangan VOC. kalah. maka kraton pun ada kalanya menjadi sasaran pemberontakan. hegemoni asing. Sistem itu ialah monopoli. Maka perbenturan antara Batavia. di mana. Peristiwa sejarah yang biasa dikatakan hanya sekali terjadi. sejarah Banten adalah sejarah tentang sebuah daerah di tanah air kita. yang mempunyai kemampuan teknologi persenjataan yang lebih canggih dan tentara yang telah mengalami suka-duka berbagai macam perang. seorang ulama besar yang berasal dari Makassar. itu sesungguhnya mempunyai unsur yang ³khusus´ dan ³umum´.´ Penguasa maritim sejauh mungkin ingin mendapatkan keuntungan dari perdagangan laut. yang harus merasa takut dengan persaingan tuan. Setelah Sultan Ageng Tirtayasa (Abdulfattah) bisa dikalahkan. Jika diartikan secara harfiah ungkapan Prancis l¶histoire se repete. berkembang menjadi pusat dagang. ketika penetrasi dan pengaruh kekuasaan asing telah semakin dirasakan. Tetapi di saat ini pulalah VOC sedang berada pada tahap perkembangannya yang agresif dan sedang asyik memperkenalkan serta memaksakan sebuah sistem yang sama sekali tak dikenal oleh tradisi Nusantara yang bertolak dari pemikiran laut bebas (mare liberum). sebab saya bukan pedagang seperti penguasa Banten dan Surabaya.

Onno Zwiervan Haren menulis sebuah drama yang mencekam dengan judul Agon Sulthan van Bantham . pendekar yang selalu siap membela untuk sesuatu yang dianggap benar. Meskipun dengan memakai konsep pola umum ini Banten unik juga-jika bukan dalam corak peristiwa yang dialaminya. Kecenderungan umum ini terjadi di manamana. kerajaan yang pernah disegani di perairan Nusantara. Maka bisalah dimaklumi kalau Aceh kadang-kadang disebut sebagai negeri ³uleebalang dan ulama´. Di samping mempunyai pengaruh terhadap sejarah pergerakan kebangsaan. meskipun dalam waktu atau abad yang berbeda-beda. tetapi pada umumnya tidak lagi berperan apa-apa yang penting. dengan memakai pendekatan yang bercorak multidimensional. 14 . Di satu pihak. Kadang-kadang orang dikejutkan oleh tampilnya hal yang perlu dicatat. yaitu desa. Mereka adalah para jawara. seperti tampilnya ulama besar Syekh Nawawi al Bantani. di masa krisis politik yang berkepanjangan ini ketika ³hukum alam´ (sebagai kata van Breugel) lebih penting dari ketentuan hukum yang berlaku golongan baru pun semakin menampakkan dirinya. setidaknya begitulah yang terjadi pada struktur kesadaran yang dipantulkan oleh satu-dua pejabat Belanda. dan keterikatan pada norma keagamaan. Max Havelaay. Dan kemudian. sifat eksploitatif dari kolonialisme kemudian bisa juga menjadi landasan dari terwujudnya rasa kesamaan sejarah dan nasib yang bersifat translokal. Ketika kesultanan telah mengalami proses pelemahan dan kemudian malah dihapuskan dan di saat kedudukan bangsawan semakin terjepit. Pada gilirannya kesadaran ini memberi akibat juga pada cara sebuah bangsa yang sedang berada dalam proses pembentukannya untuk melihat sejarahnya. Drama ini berkisah tentang bantuan militer Belanda pada anak Sultan Ageng yang durhaka. yang berkisah tentang penderitaan rakyat dan ketidakberdayaan pejabat yang bermaksud baik? Kolonialisme adalah hubungan internasional yang bercorak subordinatif dan eksploitatif mempunyai akibat sosial yang penting. Sejarah politik dengan peristiwa besar dan orang besar kini telah didampingi oleh studi yang semakin mendekati pada denyut sejarah sesungguhnya-manusia dengan segala keresahan dan harapannya pada tingkat yang paling intim. Begitulah umpamanya. Banten pun dikenal pula sebagai negeri ´ ulama dan jawara ³. Banten. ³nasionalisme lokal´ yang kental. dengan aktor-aktor ³orang kecil´. Ketika Sartono Kartodirdjo (sekarang Prof Dr) menyampaikan disertasinya tentang pemberontakan Cilegon 1888 di Universitas Amsterdam (1966) maka lembaran baru sejarah penulisan sejarah Indonesia pun dibuka. ulama lokal dan petani. Banten mempunyai tempat khusus juga dalam perkembangan historiografi Indonesia. Sejak resmi menjadi salah satu karesidenan yang berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda. kolonialisme mempunyai kemungkinan untuk menciptakan mental dependensi (terhadap orang asing) dan kesadaran hirarki sosial yang hegemonik (terhadap sesama anak negeri). Banten yang telah kehilangan kesultanan ternyata tidak kehilangan beberapa hal yang fundamental.kecenderungan bahwa ³raja adalah lembaga yang pertama yang melawan usaha penetrasi Belanda´. siapakah yang bisa melupakan karya Multatuli. Maka dengan begini sebuah alternatif dalam penulisan sejarah diperkenalkan. Banten . Dengan buku untuk pertama kali seorang sejarawan Indonesia tampil ke depan dengan menyoroti sebuah ³peristiwa kecil´. Pemberontakan Cilegon sebenarnya memperlihatkan hal lain lagi. Akan tetapi. yang menerbitkan buku-buku di pusat-pusat pengetahuan dunia Islam. Nasionalisme yang kolonial pun tumbuh juga. di pihak lain. yaitu semangat independen. Sejak kejatuhan kesultanan hampir tidak ada lagi satu peristiwa di Banten yang bukan dimotori oleh ulama dan jawara. seakan-akan diharuskan untuk menjadi daerahsampingan saja. ketika itu pula para ulama semakin tampil sebagai pemimpin lokal.

yang juga gencar menganjurkan perlawanan kepada penjajah kafir. Gerakan semacam ini timbul pula di Tanahara yang dipimpin oleh Haji Marjuki. Dalam setiap pengajian/dzikiran yang diadakan di rumah-rumah atau pun di masjid. pemerintah kolonial minta supaya Kiyai Haji Abdul Karim berangkat langsung menggunakan kapal laut dari Tanahara ke Batavia. Haji Abdul Karim selalu menganjurkan tentang perlunya perang sabil terhadap pemerintah kolonial yang kafir. Maka mestikah diherankan kalau sudah lama juga para tokoh Banten telah menginginkan agar Banten bisa mendapatkan kebebasan relatif untuk mewujudkan kembali ³janji sejarah´ yang sekian lama seakan-akan terpendam? GEGER CILEGON Sumber data : buku Sartono Kartodirdjo. tetapi dalam tinjauan dinamika sejarah secara keseluruhan peristiwa ini tidak lebih daripada deviation belaka. yang dalam waktu singkat mendapat banyak murid dan pengaruh terhadap penguasa pribumi. Pra Peristiwa Geger Cilegon Tokoh menentukan dalam peristiwa Geger Cilegon ini adalah Haji Wasid. Kiyai Haji Tubagus Ismail. pada tanggal 9 Juli 1888 yang dipimpin oleh para ulama. Haji Usman dari Tunggak. Haji Tubagus Ismail. banyak kiyai. langgar atau masjid. Rakyat dari Tanahara. Haji Marjuki. Haji Abdul Karim adalah seorang ulama di desa Lampuyang. 15 . para tokoh itu dengan mudah melancarkan taktik perjuangan menentang pemerintahan kolonial. di samping dari Banten. Anjuran itu disambut baik kiyai-kiyai terkenal seperti Kiyai Haji Wasid dari Beji. Dalam mengadakan acara dzikiran di rumah-rumah tertentu. Gerakan itu antara lain dipimpin oleh Haji Abdul Karim. penghulu kepala di Serang serta Haji R. Haji Abu Bakar dari Pontang. Tangerang dan sekitarnya berbondong-bondong menunggu di pinggir jalan yang akan dilaluinya. Percetakan Pustaka Jaya 1984 Perlawanan bersenjata yang paling menonjol di Banten pada abad ke-19 adalah peristiwa yang dikenal dengan ³Geger Cilegon´. seperti bupati. Prawiranegara.Pemberontakan ³komunis´ 1926 ² seperti juga dengan yang terjadi di Silungkang (Sumatera Barat) ² memang pantas dikenang. Tiga pokok ajaran yang disebarkan kepada muridnya adalah tentang Tauhid. Khawatir akan terjadi huru-hara. para ulama itu selalu menanamkan semangat jihad menentang penjajah kepada masyarakat. dan Haji Wasid. kemudian mengajar di pesantrennya di Kampung Beji. Bersama kawan seperjuangannya: Haji Abdurahman. Pemberontakan Petani Banten 1888. Haji Akib. tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah yang datang untuk mengucapkan selamat jalan. Haji Asnawi dari Lempuyang dan Haji Muhammad Asyik dari Bendung. Haji Iskhak dari Saneja. pensiunan patih Serang. Melalui pesantren-pesantren. yang pernah belajar di Mekkah pada Syekh Nawawi al-Bantani. Kegiatan pengajian Kiayi ini semakin berkembang terutama setelah ia kembali dari Mekkah tahun 1872. Cilegon. Haji Syadeli dari Kaloran.A. yang dalam waktu singkat pengikutnya bertambah banyak. Begitu besar pengaruhnya di kalangan rakyat dan pejabat pemerintah sehingga dikenal pula sebagai ³Kiyai Agung´ bahkan dianggap sebagai ³Wali Allah´. Fiqh dan Tasawuf merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam ajaran Islam dan harus dipraktekan dalam setiap kegiatan sehari-hari. Haji Abdul Karim mendirikan pesantren di Tanahara. Bogor dan Batavia. Sebagai ganti pimpinan pesantren dipercayakan kepada muridnya. juga dari daerah lain seperti Tangerang. Ketika Kiyai Haji Abdul Karim akan ke Mekkah untuk kedua kalinya pada tanggal 13 Pebruari 1876. Pontang yang kegiatan sehari-harinya mengadakan pengajaran agama pada masyarakat di daerahnya.

Djajadiningrat. Tidak heran dari catatan yang ada pada bulan Agustus 1880. dan ini mengundang datangnya penyakit baru lagi bagi rakyat desa. akan menjadi muslim yang baik dan taat dalam menjalankan semua perintah agama serta menjauhi segala yang dilarang-Nya. atau karena ibunya tiba-tiba terkena demam dan meninggal tidak lama kemudian. segala ketaatan dan segala harapan hendaknya. Dalam pada itu. Haji Arsad Qashir dan Haji Ismail. Karena kurangnya makanan ini maka banyak penduduk yang terjangkit penyakit demam yang parah. Istri wedana Kramatwatu. PAA. dari 210. Bagi rakyat petani. Tiada takut dan tiada harap. hampir sering menemukan bayi di pojokan pasar yang ditutupi selembar daun pisang. ibunya PAA. Tanah pertanian. Haji Arsad Thawil. Segala peribadatan. Djajadiningrat. Pasauran. Kesemuanya merenggut korban 21. 1936:8). kerbau atau kambing yang dibunuh tentara kolonial ini. sehingga pemerintah kolonial menginstruksikan supaya membunuh dan mengubur atau membakar semua kerbau atau kambing di suatu desa yang di sana terdapat kerbau yang berpenyakit agar jangan menular ke desa lain. murid-muridnya. jalan-jalan sepi. yang menimbulkan gelombang laut setinggi 30 meter melanda pantai barat Banten. Penyakit hewan ini menular dengan cepat. Kesedihan yang mendalam itu ditambah lagi dengan meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda (tanggal 23 Agustus 1883). pasrah dengan perlakuan itu. Untuk menggambarkan keadaan rakyat Banten pada saat itu. semuanya. Bayi-bayi ini sengaja ditinggalkan ibunya karena ia tidak mampu lagi memberinya makan. serta desa-desa Sirih. kerbau yang tidak terkena penyakit pun turut dibunuh pula. Caringin. 16 . bukan kepada manusia dan bukan kepada benda lainnya. mereka menyebarkan pokok-pokok ajaran Islam itu kepada masyarakat. Banyak ibu tidak dapat menyusui anaknya sehingga angka kematian anak tinggi sekali. Diperkirakan. Merak. ternak kerbau bukan hanya dianggap sebagai hewan peliharaan tapi juga teman/sahabat yang banyak membantu pekerjaannya di sawah. Dengan memahami tiga pokok ajaran Islam ini diharapkan. dan mengharapkan nanti ada yang mengambil untuk memeliharanya.500 jiwa tenggelam disapu gelombang. tercatat lebih dari 40. menghancurkan Anyer. banyak rumah tidak dihuni. sehingga perlakuan demikian membuat tambah sedih. 1988:88). kecuali semuanya karena Allah.     Pemandangan di desa-desa sungguh menyedihkan. berhasil mengumpulkan sampai 20 orang anak yang kemudian dipeliharanya di Kawedanaan (PAA. karena banyaknya. antara tahun 1882 dan 1884 keadaan rakyat Banten khususnya di Serang dan Anyer ditimpa dua malapetaka. hampir dua tahun hujan tidak turun. tiada benci dan tiada suka. Dengan demikian. ditujukan kepada Allah. Daerah tempat bencana alam itu luluh lantak tersapu gelombang pasang. Ironisnya.000 penderita.Haji Haris. sehingga tidak ada tumbuhan yang dapat ditanam penduduk desa. tidak sempat dikuburkan. Karena musim kemarau ini pula maka berjangkit wabah penyakit sampar (pes) yang menyerang ternak kerbau atau kambing (1880). yang sebagian besar berupa "tadah hujan" menjadi kering. dzikir dan do'a. sehingga bangkai hewan dapat ditemukan di mana-mana. sekedar untuk menjaga dari teriknya matahari. Musim kering yang berkepanjangan ini. walaupun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Tajur dan Carita.000 orang di antaranya tidak dapat tertolong dan menemui ajalnya (Kartodirdjo. Cilegon. sawah dibiarkan mengering karena tiadanya tenaga. Dari banyak rumah terdengar ratap tangis. terutama sekali kaum perempuan. menyaksikan bahwa di pasar Kramatwatu. Peribadatan dan penyembahan yang ditujukan kepada selain Allah adalah musrik. menyebabkan kelaparan merajalela. tanpa ampunan dari Allah. kelaparan dan penyakit sampar (pes) binatang ternak. dianggap suatu kekejian dan kesewenang-wenangan yang membuat makin besar kebencian kepada Belanda dan anteknya. sehingga tanaman padi tidak ada yang tumbuh dan air minum pun sulit didapat. Djajadinigrat. dan ini termasuk dosa besar.

Musibah yang datang bertubi-tubi menimpa rakyat Banten dengan sendirinya membawa dampak luas. 125. mungkin dapat diurutkan sebagai berikut: 4 Pebruari 13 Maret 1888.. meskipun jumlah penduduk turun 100. Goebels menganggap menara yang dipakai untuk mengalunkan azan setiap waktu shalat. fatwanya itu tidak diindahkannya. namun suasana di kalangan rakyat penuh kegelisahan dan keresahan. Berbagai macam pajak yang dikenakan kepada penduduk negeri. 1982:144). yang kedua di Terate di rumah H. Jalannya pemberontakan Secara kronologis. dari mulai pajak tanah pertanian. pajak perahu. Meski pun kehidupan sosial ekonomi segera dapat dipulihkan beberapa tahun kemudian. Satu hal lagi yang ikut menyulut api perlawanan ini adalah dirubuhkannya menara langgar (musholla) di Jombang Tengah atas perintah Asisten Residen Goebels. Untuk menggambarkan besarnya pajak yang ditanggung rakyat Banten.50 gulden (Hamka. setahun setelah letusan Gunung Krakatau. sehingga jumlah pajak yang terkumpul jauh besar jumlahnya dari jumlah pajak tanah tahun 1972. ditambah dengan kecurangan-kecurangan pegawai pemungut menambah keresahan dan mempersubur rasa benci penduduk kepada penjajah. tidak hanya di bidang sosial ekonomi. seperti kerja pancen dan kerja rodi.000 (Kartodirdjo. mengganggu ketenangan "masyarakat" kerena kerasnya suara. Marjuki di Tanara dihadiri oleh para ulama dari Serang. menyinggung rasa keagamaan dan rasa harga diri murid dan pengikutnya. Dalam keadaan penderitaan rakyat yang bertumpuk ini. persiapan-persiapan menuju "pemberontakan" di Cilegon. Haji Wasid tidak dapat membiarkan satu kemusyrikan ada di depan matanya tanpa berusaha mencegah. Berkali-kali Haji Wasid memperingatkan penduduk. dapat memunahkan bala bencana dan meluluskan apa yang diminta asal saja memberikan sesajen bagi jin penunggu pohon itu. pajak tanah f. Anyer dan Tangerang.000. pengenaan pertanggungan pajak di luar kewajaran. diadakan 3 kali pertemuan di rumah H. pajak pasar sampai kepada pajak jiwa yang besarnya kadang-kadang di luar kemampuan dan penetapannya tidak mengenal keadaan. Mereka lebih mempercayai dukun dan benda-benda yang dianggap keramat dari pada mohon pertolongan Allah. sehubungan dengan penghapusan pelbagai kerja wajib. Tapi bagi penduduk yang kebanyakan tidak mengerti agama. apalagi waktu azan shalat subuh. pihak pemerintah kolonial melaksanakan sistem perpajakan yang baru. Asisten Residen menginstruksikan kepada Patih agar dibuat surat edaran yang isinya supaya shalawat. Dendaan yang dijatuhkan kepada kiyai ini. Asngari dihadiri ¡ 17 . semakin menambah penderitaan rakyat. 1884. karena 'Tuhan tidak tuli'. politik dan budaya yang dipaksakan pemerintah kolonial Belanda ini berbaur dengan penderitaan rakyat yang sudah tidak tertakarkan menumbuhkan perlawanan bersenjata. banyak di antara mereka yang lari ke klenik (tahayul). Melihat keadaan ini. bahwa perbuatan meminta selain kepada Allah adalah termasuk syirik. pajak perdagangan. Ia dipersalahkan melanggar hak orang lain sehingga dikenakan denda 7. Dengan beberapa orang muridnya ditebangnya pohon berhala itu pada malam hari. pajak tanah itu untuk seluruh negeri dinaikkan.Pada tahun berikutnya. Sementara itu. Tersebutlah di desa Lebak Kelapa terdapat sebatang pohon kepuh besar yang oleh sebagian penduduk dianggap keramat. tetapi juga dalam bidang sosial politik dan kehidupan keagamaan. Faktor-faktor ketidakpuasan terhadap sistem ekonomi. 1988:55). tarhim dan azan jangan dilakukan dengan suara keras. Dalam keadaan yang sangat menyedihkan itu. Keadaan inilah yang membawa Haji Wasid ke depan pengadilan kolonial pada tanggal 18 Nopember 1887.

Asisten Residen Anyer disertai bawahan Eropa dan pribumi melakukan inspeksi di afdeling Anyer. Pada tanggal itu juga diperingati hari lahir pendiri tarekat Kadiriyah. pesta dengan gamelan. dan Haji Akhmad. dan berikutnya di rumah H. pagi-pagi sekali. 23 Juni 1888 pertemuan terakhir. saudara Haji Tubagus Ismail. Haji Sarman dari Bengkung. hadir para tokoh/ulama seperti H. dan kiyai-kiyai dari Trumbu. Dalam pertemuan ini hadir pula Haji Abubakar. Wasid dan H. Haji Muhiddin. Wasid akan dipanggil ke pengadilan untuk penyelesaian suatu perkara. Sadeli di Kaloran.M. datang Nyi Kamsidah. (4) dalam waktu dekat K. Tanara. tayuban. memberitahukan bahwa Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail ingin bertemu dengan para kiyai yang hadir. kemudian di rumah H. Pada hari itu juga dikirim utusan-utusan ke berbagai jurusan. Wasid di Beji. Iskak. pertemuan di rumah K. Haji Sapiuddin dari Leuwibeureum. akhirnya ditetapkan tanggal pastinya adalah 9 Juli 1888. Nasaman dan Sendanglor ke Cipeundeuy menemui Kiyai Haji Sahib. Maret April 1888. Haji Wasid dan Haji Ismail pergi ke Wanasaba untuk mengadakan pembicaraan dengan murid-muridnya. Bendung. sedangkan pertemuan berikutnya di rumah H. penggerakan pengikut. Diduga dalam pertemuan tersebut dibicarakan masalah kesediaan alat persenjataan. Pada hari Sabtu. penghulu Tanara. Haji Ashik dari Bendung. Maka setelah lewat tengah malam para kiyai segera berangkat ke Saneja untuk mengadakan pertemuan kedua di rumahnya Haji Ishak. Haji Mahmud dari Tarate Udik. Dari sana. terutama dari Arjawinangun dan Gulacir yang juga dihadiri oleh Haji Burak. Keesokan harinya. Pada saat itu K. pembagian tugas.H. H. akhirnya kembali pertemuan di rumah K.oleh para pemuka masyarakat dari Serang dan Anyer. Haji Abdulgani dari Beji.H. di antaranya Haji Sadeli dari Kaloran.H. Iskak di Saneja.H. Untuk menutupi kecurigaan Belanda atas pertemuan itu diadakan suatu kenduri besar. Kiyai Haji Abdulhalim dari Cibeber dan Nuh dari Tubuy. Haji Mahmud dan Haji Alfian diutus menemui Haji Abdulrazak. Ismail serta H. di mana banyak hadir para pejabat. selesai shalat magrib dengan dikawal sejumlah muridnya Haji Wasid berangkat ke Cibeber untuk kembali mengadakan pertemuan dengan muridmuridnya yang lain. (2) awal Juli. ke rumah Haji Ismail. Wasid mengusulkan D-day pemberontakan pada tanggal 12 Juli 1888. (5) beredarnya desas-desus larangan berdo'a dzikir. serta penyelenggaraan latihan antara lain pencak silat. (3) adanya desas-desus munculnya naga besar pertanda akan datangnya musibah di kalangan penduduk. tanggal 7 Juli 1888. Pertemuan itu dilangsungkan di dalam masjid di luar masjid sudah berkumpul pengikut-pengikut mereka. diadakanlah pertemuan para kiyai untuk persiapan terakhir pematangan gerakan di rumah Haji Akhia di Jombang Wetan. Hadir dalam pertemuan itu antara lain: Haji Sa'id dari Jaha.00. Koinsidensi sejarah pada pematangan situasi tersebut antara lain (1) akhir Juni berlangsung perhelatan besar. Haji Muhammad Arsad (penghulu kepala di Serang) dan Haji Tubagus Kusen (penghulu di Cilegon). Haji Abdulhalim dan Haji Abdulgani ke 18 . Residen Banten. Haji Madani dari Ciora. Wasid. untuk membicarakan langkah terakhir pemberontakan. Haji Erab diutus ke Haji Mohamad Asyik. yakni perkawinan antara putra bupati Pandeglang dan putri bupati Serang. Sekitar jam 23. Haji Asnawi. istri Haji Iskak. Marjuki di Tanara. Haji Halim dari Cibeber. Haji Iskak dari Seneja. peringatan tersebut antara lain ditandai dengan kenduri besar. keduanya pergi ke Gulacir. Marjuki. tidak hadir dalam pertemuan ini karena sudah dipastikan bahwa mereka akan memulai pemberontakan pada hari Senin tanggal 29 Syawal atau 9 Juli 1888. pesta perkawinan dan khitanan.

Johan Hendrik Hubert Gubbels. Minggu. Pada hari Senin malam tanggal 9 Juli 1888. Para kiyai dan murid-murid mereka memakai pakaian putih-putih dengan ikat kepala dari kain putih pula sambil membawa pedang dan tombak. 1984:301-303). seorang pegawai negeri yang kebelanda-belandaan lolos dari kematian. Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman dari Arjawinangun dan pengikutnya menyerang dari arah selatan.. 8 Juli 1888. Mas Kramadireja. seorang 19 . ini jang mesti didahoeloekan !' dan pada saat berikutnya Kasidin memarang leher Wedana Tjakradiningrat (PPA. Pada malam harinya barisan bertambah panjang bergerak dari Cibeber ke arah Saneja dipimpin langsung oleh Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail yang kemudian dijadikan sebagai pusat penyerangan. yang pada keesokan harinya. dapat dibunuh oleh Haji Tubagus Ismail. sehingga ia termasuk "orang yang tidak berdosa" (1936:56) Menurut rekaman PAA. Sedangkan Haji Wasid dengan beberapa pengawalnya tetap di Jombang Wetan memonitor segala kegiatan penyerbuan (Kartodirdjo. Kasidin keluar penjara ketika penjara dijebol para pejuang. pemberontakan dipimpin oleh Haji Muhammad Asyik. Ketiga yang terakhir ini diperintahkan untuk mengerahkan pejuang-pejuang dari Anyer untuk segera bergerak supaya pagi-pagi sekali sudah berada siap di Cilegon. Haji Abdul Gani dan Beji dan Haji Nuriman dari Kaligandu menyerang dari arah utara. setelah pertemuan di rumah Haji Ishak. Djajadiningrat. berbarengan dengan kejadian di Cilegon ini. Sementara itu. Grogol. adalah Raden Tjakradiningrat. karena dia sedang di Serang waktu itu. penghulu Cilegon. tapi Kasidin yang ada pada kerumunan tersebut. djangan dianiaja jang seorang itoe. kelompok kedua dipimpin oleh Haji Abdulgani dari Beji dan Haji Usman dari Arjawinangun menyerbu kepatihan.. juru tulis di kantor Asisten Residen. Haji Kasiman di Citangkil dan Haji Mahmud di Terate Udik. Ketika Tjakradiningrat mendatangi tempat kerusuhan dan dikepung oleh para pejuang terdengar suara: ' . Tokoh fenomenal yang menjadi salah seorang korban. yang bernama Kasidin. Dengan memekikkan kalimat takbir mereka menyerbu beberapa tempat di Cilegon. 1936:56) Seperti yang sudah direncanakan semula. Jaro Kajuruan. Henri Francois Dumas. ajun kolektor. demikian juga Raden Purwadiningrat. Balegendong.Tunggak menemui Haji Usman. sipir penjara Cilegon. Krapyak.. Kiyai Haji Usman dari Tunggak. Djajadiningrat "tempat kediamannya tidak di dekat-dekat orang Eropah atau di dekat-dekat Ambtenar-ambtenar boemipoetra lain" (1936:55). melompat ke muka sambil berkata: ' . Pasukan dibagi dalam beberapa kelompok: kelompok pertama dipimpin oleh Lurah Jasim. Di daerah Serang. yang menurut PPA. sedangkan pasukan yang dipimpin oleh Kiyai Haji Wasid. diadakanlah serangan umum ke Cilegon. dan Ulric Bachet. seperti di Bojonegara. dari Saneja. terbunuhnya Raden Tjakradiningrat itu. adalah ketika ia akan mencoba bermusyawarah dengan para pejuang (peroesoeh). Malam itu juga. Djajadiningrat. Mancak dan Toyomerto. Dalam keadaan yang kacau itu. menyerbu penjara untuk membebaskan para tahanan.. di beberapa tempat juga meletus pemberontakan. Gulacir dan Cibeber bergerak menuju Cilegon untuk menyerang para pejabat pemerintah kolonial. asisten residen Anyer. beberapa kiyai kembali lagi ke pesta di rumah Haji Akhiya. ia tidak berdosa !'. diadakan arak-arakan sambil meneriakkan takbir dan kasidahan yang dimulai dari rumah Haji Akhiya di Jombang Wetan dan berakhir di rumah Haji Tubagus Kusen. Namun di antara mereka terdapat seorang tahanantitipan kasus pencurian hasil tangkapan Wedana Tjangradiningrat yang sedang menunggu putusan perkara. Haji Tubagus Ismail memimpin pengikut-pengikutnya dari Arjawinangun. wedana Cilegon. dan kelompok ketiga dipimpin oleh Kiyai Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman dari Tunggak menyerang rumah Asisten Residen. Sedangkan Patih Raden Pennah. kepala penjualan garam semuanya adalah orang-orang yang tidak disenangi rakyat.

Kedua golongan ini saling berebut mempengaruhi semua keputusan parlemen. Namun pada peralihan abad ke-20 kemenangan beralih kepada kelompok agama. sehingga akhirnya kerusuhan dapat dipadamkan. Dengan keadaan ini pemerintah Hindia Belanda haruslah mendukung sebanyak mungkin usaha kristenisasi yang banyak dilakukan organisasi swasta. Hal ini tidak lepas dari motivasi pertama pengembaraan orang-orang Eropa. Haji Ismail dibuang ke Flores. 1985: 17). Kaloran dan Keganteran. Ambon. Sehari semalam kekacauan tidak dapat diatasi. Pada dasawarsa terakhir abad ke-19 kelompok non agama memperoleh kemenangan dalam parlemen. dan Saparua. Di samping mereka terlalu meng-eksploitir tanah jajahan tanpa dibatasi rasa kemanusiaan.ulama dari Bendung. namun sangat bermakna sebagai sebuah gambaran dari rasa ketidakpuasan dan kebencian seluruh rakyat terhadap penjajah. Walau pun akhirnya pemberontakan itu mengalami kegagalan secara fisik. Kupang. Haji Abdurahman dan Haji Akib dibuang ke Banda. masalah yang dianggap paling mendasar dalam kehidupan manusia. Menado. dan banyak lagi lainnya dibuang ke Tondano. melalui beberapa peraturan dan pelaksanaan yang dibuat pemerintah Hindia Belanda. Haji Arsyad Thawil dibuang ke Gorontalo. semua pimpinan pemberontakan yang dibuang ini ada 94 orang. VOC. sebaliknya pihak penjajah juga menaruh kewaspadaan tinggi untuk daerah Banten dengan rakyatnya sangat militan itu. Dalam tahun-tahun berikutnya. Terjadilah pertempuran hebat antara para pemberontak dengan tentara kolonial yang memang sudah terlatih baik. Dukungan terhadap kristenisasi Hindia Belanda dipertegas sejalan dengan ³politik hutang budi´. untuk sedikit demi sedikit melupakan agamanya (Islam) dan kemudian beralih kepada agama Kristen. juga pemerintah kolonial "merambah" dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Rakyat Banten sangat benci kepada penjajah Belanda dan pamongpraja yang menjadi kaki-tangannya. yang selanjutnya dilaksanakan pemerintah Belanda. Keadaan demikian terlihat juga pada abad ke-19 dan ke-20. Kubang. dalam bentuk pemberontakan. Rakyat kebetulan tidak memiliki pemimpin formal untuk menyalurkan aspirasinya sehingga untuk menyalurkan ketidakpuasan itu. Partai-partai di parlemen Belanda dapat dikelompokkan kepada partai agama dan non agama. Banyaknya pemberontakan rakyat yang dipimpin para ulama Islam ini erat juga kaitannya dengan politik keagamaan yang diterapkan kaum penjajah. Tetapi seorang babu (pembantu rumah tangga) Gubbel dapat melarikan diri ke Serang membawa kabar kejadian di Cilegon itu. yaitu kemudahan bagi organisasi zending Kristen mendirikan sekolah bagi penduduk bumiputra. kepemimpinannya dipercayakan kepada pemim-pin kharismatik yakni para kiyai dan ulama. Sehingga dapat dikatakan bahwa ekspansi Portugis harus dilihat sebagai kelanjutan dari Perang Salib. sebagai perusahaan dagang milik Belanda pun tidak lepas dari tugas penghancuran umat Islam dan penyebaran agama Kristen kepada penduduk di Nusantara (Suminto. Haji Muhammad Hanafiah dari Trumbu dan Haji Muhidin dari Cipeucang. Pusat-pusat kegiatan mereka ialah Bendung. 20 . bekas dan akibat pemberontakan Cilegon ini cukup mendalam di kedua belah pihak. Trumbu. Haji Haris dibuang ke Bukit Tinggi. Maka Bupati bersama Kontrolir dengan 40 orang serdadu yang dipimpin oleh Letnan I Bartlemy berangkat ke Cilegon. Ternate. sedangkan yang lainnya dihukum buang. Haji Arsyad Qashir dibuang ke Buton. Kejadian "Geger Cilegon" itu mempunyai arti penting dalam sejarah pergerakan nasional. Cilegon dapat dikuasai sepenuhnya oleh pasukan "pemberontak". karena setelah kejadian itu Belanda menginstruksikan supaya semua peraturan-peraturan yang akan dikeluarkan hendaknya jangan menyinggung perasaan keagamaan rakyat jajahan. Haji Wasid sebagai pemimpin pemberontakan dihukum gantung. di samping untuk mencari keuntungan perdagangan juga dilandasi oleh rasa benci dan permusuhan kepada orang-orang yang beragama Islam.

Pemerintah Belanda berpendapat bahwa apabila bangsa Indonesia ini memeluk agama Kristen. Pemerintah kolonial memandang bahwa Banten merupakan daerah yang paling rusuh di Jawa. pemerintah kolonial lebih banyak mengangkat pegawai yang berasal dari Priyangan. seperti dari Bogor dan Bandung. namun dalam hal rasa sentimen keagamaan mereka cukup tinggi. Rupanya. yakni menjadi seagama dengan penjajahnya. Keadaan semacam ini pun membuat pemerintah Belanda mengalami kesulitan mengangkat pejabat pamongpraja asli dari Banten yang cakap (baca: pernah belajar di sekolah Belanda). Ketakutan yang didasari kecurigaan ini pula yang menyebabkan banyaknya pegawai asal Priyangan yang ikut melarikan diri ketika pasukan Jepang keluar dari Banten. Bahkan beredar fatwa yang menyatakan bahwa berpakaian ala Eropa lebih-lebih memakai dasi. perlawanan dan pemberontakan rakyat Banten terhadap pemerintah kolonial tidak pernah berhenti. celana pantalon dan topi ala Eropa dihukumi haram. Tidaklah mengherankan apabila orang Islam yang mengirimkan anaknya untuk belajar di sekolah Belanda. Imbas dari keadaan ini masih terasa sampai pasca kemerdekaan. sering dituduh menyuruh anak-anaknya masuk agama Kristen. justru karena tekanan kegiatan missi penyebaran agama Kristen yang menggebu-gebu ini reaksi perlawanan dari rakyat Indonesia makin lebih militan lagi menentang penjajah Belanda. Penduduk Banten sebagian besar keturunan orang Jawa dan Cirebon yang 21 . misalnya sebagai pamongpraja. ataupun sekolah Jawa/Melayu yang didirikan Belanda. Maka tidak jarang seorang kiyai atau seorang guru mengaji mengeluarkan fatwa bahwa memasuki sekolah-sekolah Belanda adalah haram. dan pemakainya dikatakan kafir. walaupun memang kebanyakan rakyat Banten bukan orang yang mempunyai pemahaman mendalam tentang keislaman. "kapir landa" sebutan yang di samping menggambarkan kebencian mendalam juga menganggap mereka itu adalam musuh-musuh Islam dan kaum muslimin. Dengan mengkristenkan sebanyak mungkin penduduk di Nusantara maka pemberontakan akan semakin berkurang. untuk mengisi kekosongan pegawai pamongpraja ini. Tetapi dalam kenyataannya. Sehingga orang Indonesia dalam menyebut orang-orang Belanda sebagai "setan". yang pada hakekatnya berawal mungkin dari perasaan irihati para pamongpraja asli daerah Banten terhadap para pamongpraja pendatang. Keyakinan yang memandang rendah semacam itulah yang mendasari kenapa penduduk asli Banten yang bersedia bekerja menjadi pamongpraja pada masa pemerintahan Hindia Belanda sangat sedikit. bahkan perluasan kolonial dan ekspansi agama merupakan gejala simbiose yang saling menunjang" (Suminto. Karena itu masyarakat Banten sejak dahulu dikenal sebagai orang yang sangat fanatik dalam hal agama dan bersemangat memberontak. Oleh karenanya. bahkan mungkin bukan termasuk orang yang taat menjalankan agamanya. 1985:18). Hal demikian sering menimbulkan konflik tertentu yang saling mencurigai satu sama lain. atau sekurang-kurangnya menyalahi Islam. maka berarti mereka tidak akan lagi membahayakan bagi pemerintahan Belanda. Demikian juga dengan orang Islam yang bekerja menjadi pegawai di kantor pemerintah Belanda. masyarakat mencemooh mereka sebagai "anjing belanda".Masalah kristenisasi di Hindia Belanda ini erat juga kaitannya dengan masalah menghadapi pemberontakan yang dilakukan umat Islam. Peran Kyai dan Jawara di Banten Semenjak pemerintahan kolonial Belanda menaklukan kesultanan Banten. Karena itulah "zending Kristen harus dianggap sebagai faktor penting bagi proses penjajahan.

Para jawara tersebut memimpin kajaroan (desa) namun kemudian terjadi pergeseran makna sehingga jawara dan jaro menunjukan makna yang berbeda. juga sebagai guru spiritual dan pemimpin kharismatik masyarakat. berpakaian rapih dan sederhana. Ia cukup terkenal dengan seragam hitamnya dan kecenderungan terhadap penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalan. Penampilan kiyai yang khas. adalah jawara. Bugis. Seperti halnya kiyai yang memiliki pesantren sebagai tempat para santri menimba ilmu pengetahuan agama Islam. Kiyai dikenal tidak hanya sebagai guru di pesantren. yang terkadang dilakukan dengan berbagai cara termasuk dengan cara yang tidak baik. Golongan lain. Jimat yang memberikan harapan dan memenuhi kebutuhan praktis para jawara yang salah satunya adalah kekebalan tubuh dari benda-benda tajam. Bahkan mereka memiliki organisasi tersendiri. Karena itu perilaku dan ucapan seorang kiyai menjadi panduan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. seperti bertutur kata lembut. serta membawa tasbih untuk berdzikir kepada Allah. Sebagian orang berpendapat bahwa jawara berarti juara. yang kalau sekarang lebih dikenal dengan kepala desa atau lurah. agresif. Sehingga seorang jawara itu biasa bersifat sompral (berbicara dengan bahasa yang kasar dan terkesan sombong). apalagi menjadi kepala desa atau lurah. tidak hanya dipandang sebagai tokoh agama tetapi juga seorang pemimpin masyarakat. terutama di pedesaan. seperti Persatuan Pendekar Persilatan dan Seni Budaya Banten yang dipimpin oleh Tb Chasan Shohib dan Tjmande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir yang dipimpin oleh Maman Rizal. demikian pula kepala jawara memiliki padepokan tempat pengemblengan ³anak buah´. orang Banten menunjukkan perbedaan yang nyata dengan orang Sunda dan orang Jawa Tengah dan Jawa Timur. Melayu dan Lampung. jawara dipandang sebagai sosok yang memiliki keberanian. Para jawara pun memiliki jaringan yang melewati batas-batas geografis daerah tempat tinggalnya. Sehingga bagi sebagian masyarakat. Keunggulan dalam hal fisik dan kemampuanya untuk memanipulasi kekuatan supernatural (magik) telah melahirkan sosok seorang jawara dengan memiliki karakter yang khas. merupakan simbol-simbol kesalehan. Sekarang ini jawara tidak mesti menjadi pemimpin. Bahkan pengangkatan pemimpin formal di suatu desa ditentukan oleh pemuka-pemuka agama di daerah yang bersangkutan. Kiyai di Banten pada tempo dulu tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam tetapi mengajarkan 22 . yang ingin dipandang orang yang paling hebat. untuk menunjukan bahwa ia memiliki kekuatan fisik dan magik. Begitu pula dalam hal penampilan fisik dan watak. Kekuasaannya sering kali melebihi kekuasaan pemimpin formal. yang juga menembus batas-batas hirarki pedesaan di Banten. Asal-usul kata ³jawara´ pun tidak begitu jelas. sebagian orang lagi berpendapat bahwa kata ³jawara´ berasal dari kata ³jaro´ yang berarti seorang pemimpin yang biasanya merujuk kepada kepemimpinan di desa. sompral (tutur kata yang keras dan terkesan sombong).dalam perjalanan waktu berbaur dengan orang-orang Sunda. Pada masa dahulu kepala desa atau lurah di Banten itu mayoritas adalah para jawara. Perbauran yang begitu dalam menyebabkan penduduk Banten memiliki cultur yang berbeda dalam hal bahasa dan adat istiadat dengan masyarakat asalnya. terbuka (blak-blakan) dengan bersenjatakan golok. berprilaku sopan. yang berarti pemenang. Jawara sebagai orang yang memiliki keunggulan dalam fisik dan kekuatankekuatan untuk memanifulasi kekuatan supernatural. Dalam daerah yang pernah menjadi pusat kerajaan Islam dan penduduknya yang terkenal sangat taat terhadap agama seperti daerah Banten sudah sewajarnya jika kiyai menempati kedudukan yang penting dalam masyarakat. Kiyai yang merupakan gelar ulama dari kelompok Islam tradisional. Memang bahwa salah satu sifat jawara adalah selalu ingin menang. seperti penggunaan jimat. sehingga ia disegani oleh masyarakat. Menurut Tihami (Dekan IAIN Maulana Hasanudin Banten) bahwa jawara itu adalah murid kiyai.

Mungkin atas dasar itu seorang pengurus persilatan dan seni budaya Banten menyatakan bahwa jawara itu adalah khodim (pembantu) nya kiyai. seperti kekebalan tubuh dari senjata tajam. Peran-peran itu yang telah ditampilkan secara baik oleh Mas Jakaria serta tokoh-tokoh jawara masa silam. karena itu dipercayai memiliki kekuatan magis dan mistis. Jawara dianggap memiliki ilmu-ilmu kedigjayaan (kesaktian) dan menguasai 23 . sehingga menimbulkan antipati masayarakat terhadap jawara. juwara iku tentrane kiyai (jawara itu tentaranya kiyai). Kesan yang kurang baik tentang jawara tersebut yang kemudian yang bagi orang-orang yang memiliki ilmu-ilmu kadigjayaan atau persilatan yang sudah ³terpelajar´ tidak mau menamakan dirinya jawara tetapi lebih senang disebut pendekar. Sedangkan murid kiyai yang memiliki bakat dalam bidang fisik lebih condong kepada persilatan atau ilmu-ilmu kanuragan. mendalami ilmu-ilmu agama Islam pada akhirnya disebut santri. Tokoh lain di wilayah Banten yang memiliki status sosial yang dihormati dan disegani karena dianggap memiliki kemampuan untuk memanipulasi kekuatan supra-natural yang merupa magis dan mistis adalah jawara. Istilah jawara dalam percakapan sehari-hari masyarakat Banten sekarang ini dipergunakan untuk istilah denotatif dan juga referensi untuk mengidentifikasi seseorang. seperti melakukan ancaman. Sedangkan istilah jawara yang bersifat denotatif berisi tentang sifat yang merendahkan derajat (derogatif) yang biasanya digunakan untuk orang-orang yang berprilaku sombong. ³jago wadon lan harta´ (tukang main perempuan dan tamak harta). mendapat penghargaan dan penghormatan di mata rakyat Banten. selain dipandang sebagai orang yang mengerti tentang pesan-pesan dan ajaran-ajaran agama juga dipandang sebagai sosok yang paling dekat pusat kekuatan supernatural. Bahkan seperti yang diungkapkan salah seorang kiyai di Serang. Murid kiyai yang lebih berbakat dalam bidang intelektual. Namun setelah Indonesia bebas dari kolonialisme. musuh bersama rakyat itu tidak ada. sehingga membangkitkan perasaan orang lain penuh dengan pertentangan: hormat dan takut. Tokoh-tokoh agama. kiyai. seperti sompral. Namun prilakuprilaku jawara. sombong. kurang taat dalam beragama. terutama dari pemimpin tarekat. terutama kitab-kitab kuning juga dipercayai oleh masayarakat memiliki kekuatan mistis dan magis yang besar pula. yang lebih dikenal dengan ilmu-ilmu hikmah. Maka ada orang yang mendefenisikan jawara dengan ³jago wadon lan lahur´ (tukang main perempuan dan tukang bohong). Karena itu dalam tradisi kejawaran bahwa seorang jawara yang melawan perintah kiyai itu akan kawalat. karena kesultanan tidak mampu menjangkau daerah-daerah yang terpencil yang sangat jauh dari pusat kekuasaan. pada masa yang lalu. yang kemudian disebut jawara. bisa memukul dari jarak jauh dan sebagainya. Peranan jawara pada masa lalu yang menonjolkan keberanian untuk melawan musuh bersama masyarakat yakni: pemerintah kolonial Belanda. Karena itu jawara dianggap pahlawan oleh rakyat. Karena kharisma seseorang kiyai akan semakin besar apabila ia selain memiliki kemampuan untuk memahami ajaran-ajaran agama. kekerasan dan kenekadan. kurang taat menjalankan perintah agama Islam atau melakukan sesuatu dengan cara-cara yang tidak baik terhadap orang untuk kepentingan dirinya semata. sehingga ia dianggap bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang biasa. rasa kagum dan benci. Persepsi masyarakat tentang jawara saat ini yang kurang simpatik dan cenderung negatif sebenarnya bisa diterangkan dengan teori ³ bandit sosial´ di atas. Hal ini disebabkan pesantren. justru tidak berubah. berada di daerahdaerah terpencil dan kurang aman. Karena itu kesan orang terhadap istilah jawara cenderung negatif dan derogatif. sebagai pembela dan pelindung atas kepentinganya.ilmu persilatan atau kanuragan. Istilah jawara yang menunjukan referensi untuk identifikasi seseorang adalah gelar bagi orang-orang yang memiliki kekuatan fisik dalam bersilat dan mempunyai ilmu-ilmu kesaktian (kadigjayaan).

yakni: kepemimpinan yang bertumpu kepada daya tarik pribadi yang melekat pada diri pribadi seorang kiyai atau jawara tersebut. Sedangkan jawara dalam pandangan masyarakat Banten merujuk kepada seseorang atau kelompok yang memiliki kekuatan fisik dalam bersilat (kanuragan) dan mempunyai ilmu-ilmu kesaktian (kadigjayaan). yang pada masa-masa sulit banyak membantu peran para kiyai terutama berkaitan dengan persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat. menjadi sosok yang terkadang justru banyak merugikan masyarakat. kawani) secara fisik. sehingga membangkitkan perasaan hormat dan takut. Akhmad Khatib memerintahkan K. yang pada saat itu merupakan tokoh agama yang independen dan tidak bersentuhan langsung dengan pemerintah. setelah penghapusan jabatan Fakih Najamuddin diberikan kepada para kiyai. Menurut masyarakat Banten gelar Kiyai diberikan kepada seorang yang ³terpelajar´ dalam pemahaman keislamannya dan ia membaktikan hidupnya ³demi mencari ridha Allah´ untuk menyebarluaskan serta memperdalam ajaran-ajaran agama Islam kepada seluruh masyarakat melalui lembaga pendidikan ataupun pesantren. ia dianggap bahkan diyakini memiliki kekuatan supernatural sehingga memiliki kemampuan luar biasa dan mengesankan di hadapan khalayak banyak. guru dan pemimpin masyarakat yang berwibawa yang memiliki legitimasi berdasarkan kepercayaan masyarakat. Karena kelebihannya yang dimilikinya itu maka kiyai dan jawara dipandang sebagai pemimpin masyarakat dan merupakan ³elit sosial´ di masyarakat Banten. akibat intervensi pemerintah kolonial yang terlalu besar. terutama pada saat-saat kehidupan sosial mengalami krisis. Kiyai. Juga karena keunggulan kepribadiannya itu. Kedua tokoh tersebut memiliki pengaruh yang cukup besar di masyarakat dan juga memiliki para pengikut yang setia. Penghapusan jabatan tersebut mengalihkan loyalitas penduduk ke para kiyai. mengadakan serangkaian kerusuhan sosial dan pembunuhan di berbagai tempat di wilayah Banten. Karena posisinya yang demikian itu maka seorang kiyai atau jawara dapat selalu dibedakan dari orang kebanyakan. Syam¶un untuk menangkap Ce Mamat dan menumpas gerombolannya. yang keberaniannya itu didukung oleh kemampuan dirinya dalam menguasai ilmu bela diri (persilatan) dan ilmu-ilmu kesaktian. Selain itu jawara juga harus memiliki keberanian (wanten. seperti Fakih Najamuddin untuk di tingkat atas dan para penghulu untuk di tingkat bawah. 24 .H. dihapuskan oleh Belanda. Anggota Dewan Rakyat yang anggotanya kebanyakan dari para jawara. Demikian pula jawara. Sehingga K. yang menyandang gelar tersebut biasanya memiliki kesaktian dan ahli kebatinan. muncul sebagai tokoh masyarakat. Pembayaran zakat pun yang selama kesultanan Banten dan masa-masa awal pemerintahan kolonial diserahkan kepada penghulu.H. namun pengaruh mereka semakin menurun. Karena itu seseorang yang hanya memiliki ilmu-ilmu kadigjayaan dan persilatan tidak akan dinamakan jawara apabila ia tidak memiliki keberanian. Seperti kisah ketokohan Ce Mamat alias Muhamad Mansur yang mendirikan Dewan Rakyat. Kepemimpinannya bersifat kharismatik. seperti kekebalan tubuh dari senjata tajam. Berkat kelebihannya itu. ahli hikmah.ilmu persilatan. rasa kagum dan benci. bisa memukul dari jarak jauh dan sebagainya. Apalagi semenjak jabatan Fakih Najamuddin. Meskipun pemerintah kolonial masih tetap mempertahankan pejabat-pejabat yang mengurusi soalsoal keagamaan masyarakat Banten. ia bisa muncul menjadi tokoh yang kharismatik. Munculnya kiyai sebagai tokoh agama yang dihormati di wilayah Banten berkaitan dengan kontrol pemerintah kolonial Belanda yang semakin kuat terhadap kesultanan Banten pada abad ke-18 dan ke19.

guru ngaji. atas jasanya tersebut. apalagi bagi masyarakat yang masih mencari jati dirinya. Di Banten telah berdiri satu kerajaan Islam yang lebih dikenal oleh masyarakat Banten dan sekitarnya dengan sebutan Kesultanan Banten. karena Banten mempunyai peranan penting dalam tumbuh dan berkembangnya Islam. Tetapi akhir-akhir ini peranan para jawara mulai berbeda dibandingkan dengan peranan jawara pada masa-masa lalu dalam sejarah kehidupan masyarakat Banten sesuai perkembangan zaman. Hal ini dapat dilihat dari peninggalan purbakala dalam bentuk prasasti arca-arca yang bersifat Hiduistik dan banguan keagamaan lainnya. kesaktian dan keturunannya. satuan-satuan pengamanan. Penyebarannya dilakukan oleh salah seorang pemimpin Islam yang dikenal sebagai wali berasal dari Cirebon yakni Sunan Gunung Jati dan kemudian dilanjutkan oleh putranya Maulana Hasanudidin untuk menyebarkan secara perlahan-lahan ajaran agama Islam daerah Banten. yakni saling ketergantungan tetapi juga kontradiktif. kebesaran namanya sangat ditentukan oleh nilai-nilai pribadi yang dimiliki. guru tarekat. Karena itu ia lebih bersifat memberikan pencerahan terhadap masyarakat. guru kitab. Banten adalah salah satu pusat perkembangan Islam. di daerah pesisir Banten sudah ada sekelompok masyarakat yang menganut agama Islam. Jawara membutuhkan elmu dari kiyai. Sedangkan jawara lebih cenderung kepada kekuatan fisik dan ³batin´. Peninggalan sejarah yang amat berharga ini nampaknya akan selalu menarik untuk diteliti dan dikaji 25 . Peranan tersebut bagi masyarakat sangat membantu apalagi saat Banten dalam kekacauan dan kerusuhan yang cukup lama. guru ilmu silat dan ilmu ³batin´ atau magi. Sedangkan jawara berkedudukan sebagai pemimpin dari lembaga adat masyarakat diapun tokoh yang dihormati apabila ia menjadi pemimpin atau penguasa. peran-peran seperti itu sangat diperlukan. Tetapi juga banyak kiyai yang tidak senang terhadap berbagai prilaku jawara yang sering menghalalkan segara cara walau dengan cara kekerasaan dalam menyelesaikan masalah. guru ilmu ³hikmah´ (ilmu ghaib) dan sebagai mubaligh. Sehingga dalam masyarakat Banten peran-peran yang sering dimainkan oleh para jawara adalah menjadi jaro (kepala desa atau lurah). menerima uang shalawat (bantuan material) dari jawara. Begitu pula ketika mereka membina hubungannya dengan sesama Kiyai dan jawara disatukan dalam dalam ruang lingkup kebudayaan Banten. masyarakat Banten masih hidup dalam tata cara kehidupan tradisi prasejarah dan dalam abad-abad permulaan masehi ketika agama Hindu berkembang di Indonesia. Peranan kiyai dalam masyarakat Banten adalah sebagai tokoh masyarakat (kokolot). semua itu menjadi masyarakat Banten yang madani dan memiliki religiusitas yang tinggi. khususnya di daerah Jakarta dan Jawa Barat. kemampuan dalam penguasaan ilmu pengetahuan (agama dan sekuler). Sejarah Pra Islam Dan Berkembangnya Islam Di Banten Sebelum Islam berkembang di Banten. Peranan seorang kiyai selain sebagai pewaris tradisi keagamaan juga pemberi arahan atau tujuan kehidupan masyarakat yang mesti ditempuh. namun demikian peranan para jawara dalam sosial. sedangkan sebaliknya kiyai.Kiyai dalam masyarakat Banten merupakan tokoh panutan masyarakat yang dihormati berkat perannya dalam mengarahkan dan menata kehidupan bermasyarakat. ekonomi dan politik dalam kehidupan masyarakat Banten saat ini sangat diperlukan. Sekitar permulaan abad ke 16. Sumber naskah kuno dari masa pra Islam menyebutkan tentang kehidupan masyarakat yang menganut Hindu. Keduanya merupakan pemimpinan yang meemiliki pengaruh pada masyarakat Banten. Sifat hubungan keduanya tidak hanya bersifat simbiosis. Dikarenakan letak geografisnya yang sangat strategis sebagai kota pelabuhan.

kita tidak mendapatkan keterangan yang menyakinkan. ini berarti bahwa daerah kekuasaan Tarumanegara sampai juga ke daerah Banten. Hal ini terlihat dengan ditemukannya kapak corong terbuat dari perunggu di daerah Pamarayan. di Banten yang berkuasa adalah Prabu Pucuk Umun. dolmen dan patung-patung simbolis dari desa Sanghiang Dengdek di Menes. Tumbuh dan Berkembangnya Islam Di Banten Penyebaran Islam di Banten dilakukan oleh Syarif Hidayatullah.1982:2) Untuk menghubungkan antara Banten Girang dengan pelabuhan Banten. serta naskah-naskah kuno yang mencatat keterangan tentang kehidupan masyarakat pada masa itu. beliau menikah dengan adik bupati Banten yang bernama Nhay Kawunganten. (Atja. Cikupa. (Ayathrohaedi. Selain bukti arkeologi berupa arca Siwa dan Ganesha ini belum ada lagi data sejarah yang cukup kuat untuk menunjang keberadaan kerajaan Salakanagara ini yang lebih jelas. ternyata sejarah Islam di Banten belum banyak diteliti secara tuntas sehingga masih banyak hal-hal yang penting yang perlu diteliti dan dipelajari secara lebih mendalam. Lebak Munjul Pandegalng adalah prasasti yang bertuliskan Pallawa dengan bahasa Sangsekerta menyatakan bahwa raja yang berkuasa di daerah ini adalah Purnawarman. adapun prasasti Munjul yang ditemukan terletak disungai Cidanghiang. hal ini disebabkan karena data yang diperoleh para ahli belum lengkap. sumber data arkeologi menujukan bahwa sebelum Islam masyarakat Banten hidup pada masa tradisi prasejarah dan tradisi Hindu-Buddha.terutama dikalangan sejarawan dan para ilmuan. Selain itu di Banten terdapat sisa-sisa kebudayaan megalitik tua (4500 SM hingga awal masehi) seperti menhir di lereng gunung Karang di Padeglang. batu bergores di Ciderasi desa Palanyar Cimanuk. (Ambary. Kopo Pandeglang. Disamping karena pertumbuhan dan perkembangan Islam di Banten yang menarik. karena kerajaan Tarumanegara pada masa itu berada dalam keadaan makmur dan jaya. (Hoesein. Pada awal abad ke XVI. kubur tempayan di Anyer. demikian pula dengan masa kehidupan Hindu dan Buddha ditandai oleh peninggalan Hindu masa itu berupa prasasti arca Nandi dan bendabenda arkeologi lainnya. dan lain sebagainya. Seperti di dalam naskah Purwaka Tjaruban Nagari disebutkan bahwa Syarif Hidayatullah setelah belajar di Pasai mendarat di Banten untuk meneruskan penyebaran agama Isalam yang sebelumnya telah dilakukan oleh Sunan Ampel. dengan pusat pemerintahan Kadipaten di Banten Girang sedangkan Banten Lama hanyalah berfungsi sebagai pelabuhan saja. (Sukendar. Pada tahun 1475 M. Keadaan Banten Pra Islam Daerah Banten memiliki beberapa data arkeologi dan sejarah dari masa sebelum Islam masuk ke daerah ini. pada tahun 1525 M dan 1526 M.1979:37) Tapi disamping itu pula masih ada jalan darat yang dapat dilalui yaitu melalui jalan Kelapa Dua. dipakai jalur sungai Cibanten yang pada waktu itu masih dapat dilayari. Cipari dan Babakan Tanggerang. dua tahun kemudian lahirlah anak perempuan pertama yang diberinama Ratu Winahon dan pada tahun berikutnya lahir pula pangeran Hasanuddin.1983:124) Untuk selanjutnya keadaan Banten pada abad ke VII samapi dengan abad ke XIII. Tradisi prasejarah ditandai oleh adanya alat-alat kehidupan sehari-hari dan kepercayaan yang mereka anut.1976:1-6) Penggunaan alat-alat kebutuhan yang dibuat dari perunggu yang terkenal dengan kebudayaan Dong Son (500-300 SM) juga mempengaruhi penduduk Banten. kapak batu di Cigeulis.1972:26) 26 .

Seperti halnya di Banten banyak terdapat benda-benda bersejarah yang memiliki nilai historis yang dapat menyiratkan suatu riwayat tertentu. banyak orang-orang dari luar daerah yang sengaja datang untuk belajar. Ditempat ini berdiri masjid Kasunyatan yang umurnya lebih tua dari masjid Agung Banten.1983:34) Sehingga berangsur-angsur penduduk Banten Utara memeluk agama Islam. Kesultanan Banten telah mencapai masa kejayaannya dimasa lalu dan telah berhasil merubah wajah sebagian besar masyarakat Banten. karena mereka ingin melihat klenteng Cina yang dibangun pada masa sultan Banten dan konon klenteng tertua di Indonesia. kebudayaan dan ekonomi di masa itu. Selain orang keturunan Cina yang sering berkunjung kesini banyak pula para turis macanegara dan lokal mengunjungi klenteng ini. Mesjid Pacinan Tinggi. Barulah Sultan Hasanuddin memproklamirkan Banten sebagai negara merdeka. Belanda. Di Banten ada sebuah peninggalan kuno bangsa Cina yaitu klenteng yang saat ini merupakan Vihara Budha. Keraton Kaibon. lepas dari pengaruh Demak atau pun Pajang. dan Gujarat. G. Pulosari. makam-makam sultan Banten dan banyak lagi yang lainnya. Masjid Caringin. (Roesjan. Adapun tugasnya dalam penyebaran Islam di Banten diserahkan kepada Pangeran Hasanuddin. Masjid Kasunyatan. Atas petunjuk dari Syarif Hidayatullah pusat pemerintahan Banten dipindahkan dari Banten Girang ke dekat pelabuhan di Banten Lor yang terletak dipesisir utara yang sekarang menjadi Keraton Surosowan. Sejarah kebudayaan Cina Tertua di Banten Sejarah bisa diungkapkan lewat peninggalan-peninggalan masyarakat terdahulu dari segala segi aktivitas dan kreativitas. sehingga tumbuhlah beberapa perguruan Islam di Banten seperti yang ada di Kasunyatan. (Hamka.1983:163) Kerajaan Islam di Banten Saat itu lebih dikenal oleh masyarakat Banten dan sekitarnya dengan sebutan Kesultanan Banten. Mesjid Agung dan Menara Banten. Setelah kesultanan Banten berakhir maka sekarang tingglallah peninggalan sejarah berupa bekas istana kerajaan dan beberapa bangunan lain seperti. Kadipaten Banten dirubah menjadi negara bagian Demak dengan Pangeran Hasanuddin sebagai Sultannya. (Ismail. Keraton Surosowan. persejataan dan karya seni yang menjadi tolak ukur dari nilai-nilai budaya masysarakat pada masa itu.1954:10) Karena semakin besar dan maju daerah Banten.1983:144) Pada tahun 1568 M. Gedung Timayah. saat itu Kesultanan Demak runtuh dan digantikan oleh Panjang.1976:181) Disamping itu Banten juga menjadi pusat penyebaran agama Islam. di dalam usaha penyebaran agama Islam Ini Pangeran Hasanuddin berkeliling dari daerah ke daerah seperti dari G. Bangunan ± bangunan itu tidak terlepas dari pengaruh religius (Hinduisme dan Islam). serta terjadinya akulturasi negara-negara lain seperti. maka pada tahun 1552 M. pendidikan. Karang bahkan sampai ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon. Pengaruh yang besar diberikan oleh Islam melalui kesultanan dan para ulama serta mubaligh Islam di Banten seperti tidak dapat disangsikan lagi dan penyebarannya melalui jalur politik. syarif Hidayatullah pergi ke Cirebon mengemban tugas sebagai Tumenggung di sana. Cina. baik kejayaan maupun kesuraman suatu masa dalam sejarah. prabotan rumah tangga.Setelah Pangeran Hasanuddin menginjak dewasa. (Djajadiningrat. (Djajadiningrat.1983:35) Disinilah tempat tinggal dan mengajarnya Kiayi Dukuh yang bergelar Pangeran Kasunyatan guru dari Pangeran Yusuf. Dari beberapa petugas serta pengawas 27 . (Djajadiningrat. seperti dilihat dari bentuk ± bentuk bangunan.

Meskipun klenteng ini sudah berusia 500 tahun. sedangkan pada koin sebaliknya diketahui huruf Manchu yang artinya tidak diketahui. Penemuan mata uang Cina ini oleh tim arkeologi di Keraton Surosowan terdapat tulisan Yung Cheng T¶ung Pou = Coinage of Stable Peace yang berarti pembuatan mata uang untuk kesetabilan dan perdamaian. sedangkan di ruang lainnya yang melengkapi beberapa tempat penampungan para jemaah klenteng. Klenteng ini di bangun pada masa awal Kerajaan Banten. Bangunan bekas kantor douane itu kemudian di rubah menjadi klenteng dengan nama Bio Hud Couw. tetapi bangunan klenteng amat terpelihara dengan baik dan masih berfungsi sebagai tempat peribadatan para pemeluk agama Budha hingga kini bahkan dalam perkembangannya di sekitar klenteng ini sekarang cukup banyak berdiri penginapan yang khusus di bangun untuk menampung para pengunjung klenteng dari luar kota yang ingin bermalam. Kita tengok sejarah hubungan antara kesultanaan Banten dengan bangsa Cina pada masa itu. Keterangan ini hampir sama dengan yang dipaparkan oleh She Cang bahwa klenteng yang dijaganya sejak tahun 1963 samapi sekarang. 1915:122) sebagai tanda peran serta bangsa Cina pada perdagangan di Banten tidak bisa diangap ringan.000 real dengan menggunakan 6 buah perahu. Dahulu kampung Pabean memang banyak dihuni oleh orang-orang Cina daerah pelabuhan itu sangat ramai tetapi jauh dari tempat sembahyangnya orang Cina oleh karena itu kerajaan Banten memberikan bangunan kepada orang-orang Cina di Pabean sebuah bangunan besar bekas kantor bea (douane) pada masa VOC di pelabuhan Banten. hal ini lebih banyak disebabkan selain karena perluasan bangunan di sekitar bangunan asli klenteng juga beberapa pengaruh warna cet merah dengan kombinasi warna kuning yang menyala. Kemudian dalam proses selanjutnya bangunan klenteng itu mengalami perluasan beberapa puluh meter di areal kosong bagian kiri kanan banguan juga bagian depan maupun belakang bangunan tersebut. Sedangkan menurut catatan J. mereka datang untuk berdagang dan melakukan perdagangan dengan cara barter/menukar dengan lada sebagai bahan utamanya. Agar warna cat tidak mudar dan tetap indah dipandang para pengunjung. semula rumah biasa milik seorang Kapten VOC yang diserahkan untuk dijadikan tempat sembahyang orang Cina. diperoleh keterangan serupa bahwa Kleteng ini tertua di Jawa. juga di Indonesia .klenteng itu. berjarak puluhan meter saja karena dipisahkan oleh sebuah parit. waktu itu Banten dikenal sebagai pelabuhan rempah-rempah. Bangunan klenteng ini memiliki ciri khas tersendiri sama seperti bangunan-bangunan bersejarah di Banten pada umumnya. Coen perahu Cina membawa barang dagangan bernilai 300. pada tahun 1614 di Banten ada 4 buah perahu Cina yang rata-rata berukuran 300 ton. pembangunan yang terus dilakukan secara bertahap di sekitar klenteng memang tidak merubah keaslian klenteng itu sendiri apa lagi yang terletak dibagian tengah klenteng karena diguankan sebagai altar. Cat yang banyak melekat didinding tiang serta kusen lainya memeang sering diperbaharui. Intensitas kehadiran para pedagang Cina cukup meramaikan dalam perdagangan di Banten diiringi pula dengan kehadiran imigran yang berfekwensi cukup tinggi. P. Selain sebagai pedagang orang-orang Cina datang ke Banten sebagai imigran (Clive Day. Lokasi klenteng Cina ini terletak di sebelah barat bangunan Benteng Speelwijk (Benteng yang dibuat Belanda). dan pada saat itu orang Cina di Banten lebih dari 1300 kepala keluarga. dilihat dari catatan arkeologi pada setiap tahun banyak perahu Cina yang berlabuh di Banten. 1958:69). Mata uang Cina yang ditemukan de Houtman di Banten (Rouffer. kesan tua dan membosankan untuk di pandang memenag tidak terpancar sama sekali di banguanan ini. Mata uang Cina tersebut berbentuk 28 .

18 cm. tebal 0.10-0. setidaknya memperlihatkan bahwa sekitar daratan selat Sunda ini pernah meniadi salah satu sub-sistem pemukiman dan tempat pemujaan. Data arkeologi dan sumber sejarah yang dapat diamati di Ujung Kulon Panaitan.Persaingan dagang yang semakin ketat dari bangsa Perancis. dan beberapa sisa bangunan Kolonial di Tanjung Layar. (Halwany. maka dapatlah dilakukan penyusunan suatu model hipotesis untuk merekonstruksi kehidupan budaya yang pernah berlangsung di Ujung Kulon Panaitan baik pada masa pra-sejarah. baik yang bersifat material maupun spiritual. (Michrob.C. dan diameter lubang 0. sehingga mereka tidak mampu membeli barang dagangan yang dibawa VOC.Monopoli rernpah-rempah VOC yang sering dilanggar oleh penduduk pribumi. muncul tumbuh dan berkembang sebagai hasil interaksi antara ekonomi terhadap tempat khusus dan taktik-taktik mobilitas barang. batu lingga di Handeuleum.80 cm. dimana masa itu menghadapi kemunduran dalam perdagangannya karena situasi moneter dunia dan masalah di dalam tubuh VOC sendiri yang kurang sehat. 1993:36) Ujung Kulon Dalam Lintasan Sejarah Mengamati berbagai sumber sejarah di nusantara sangatlah banyak. Ujung Kulan Panaitan memperlihatkan pada kita beberapa artefak dan sisa-sisa bangunan. Sub sistem pemukiman merupakan bentang ruang hidup manusia yang mana pada bentang ruang tersebut. pemukiman kuna di Taman Jaya dan Sumur.60 cm. . sangatlah memperhatinkan masa kita lihat mada masa V. Secara kronologis dan hipotetis bahwa dari sisa-sisa situs dan artefak tersebut mencerminkan hamparan sisa-sisa perilaku kehidupan dan budaya manusia yang ada sepanjang sejarah dari kurun ke kurun sejarah berikutnya. menurut K. Inggris dan miskinnya penduduk Nusantara.O. misalnya jarak terhadap pusat persediaan sumber daya alam atau kita sebut sumber makanan dan air minum. manusia menyelenggarakan segala upaya kulturalnya untuk memenuhi kebutuhan hidup secara maksimal. keadaan ini menyebabkan hutang bertumpuk. chang pemukiman manusia cenderung mengelopok.C. kubur islam di dalam guha sanghiang sirah. Penyebab terpenting dalam terjadinya masalah ini antara lain : . disamping Inggris 29 . Melihat rekonstuksi sejarah Tanjung Layar pada akhir abad ke 18. serta hasil survai dan ekskavasi. Seperti lukisan dinding guha di Sangiang Sirah. 1991:31) Pemilihan dan penentuan lokalitas pemukiman biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor.bulat berlubang segi empat.25-2. sebagai upaya untuk menekan biaya-baya operasional sampai pada tingkat paling minimal (1967:229-230). Islam dan terakhir zaman Kolonial. diameter 2. ini akan menimbulkan kecintaan kita terhadap budaya nusantara yang beragam dan bercorak yang sangat menawan.450. Setelah peninjauan dilokasi-lokasi sejarah bayak kita temui analogi-analogi terhadap daratan lain yang secara fisiografis memperlihatkan sejumlah persamaan ciri di daerah lain nusantara dengan ujung Kulon di Banten. zaman hindu-budha. terutama Pulau Jawa karena sistim monopoli yang tak sehat. Sementara itu lewis R Binford menyatakan bahwa pola-pola pengelompokan pemukiman manusia seperti yang terlihat setiap pola yang ada pada situs arkeologis.(1985 : 11-25-1122). kesemuanya telah ditinggalkan manusia sebagai pelaku kehidupan dan terakhir dimusnahkan oleh letusan gunung Rakata (krakatau) tahun 1883 M (Michrob 1987). Patung Siwa dan Ganesha di Panaitan. maka Soebroto menekankan pula bahwa tipe-tipe situs arkeologis memberikan gambaran adanya hubungan erat antara pemilihan lokasi situs dengan strategi manusia masa lalu dalam memenuhi kebutuhannya.

Akan tetapi karena derahnya berawa-rawa. Sultan supaya segera memindahkan keratonnya ke daerah Anyer. ia datang di Batavia pada tahun 1808 dengan tugas pertama mempertahankan Pulau Jawa dari serangan tentara Inggris di India. Sultan harus segera menyerahkan patih Mangkubumi Wargadiraja ke Batavia.1990:21). Melalui utusan sultan yang datang ke Batavia. 1961:56). Tapi akhirnya Daendels dapat meluluh lantahkan tanah Surosowan hingga menjadi puing-puing berserakan. rumah sakit tentara dan pabrik mesiu. Semua itu harus segera diselesaikan dengan dana serendah mungkin. karena memang dana dari negeri Belanda tidak bisa diharapkan. b. banyak pekerja yang mati terkena penyakit malaria. Pekerjaan pertama Deandles adalah membuat pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon. benteng. prajurit-prajurit Sultan dengan keberanian yang mengagumkan berusaha mempertahankan setiap jengkal tanah airnya. Surosowan dapat direbutnya menjadi kekuasaannya. Serangan yang tiba-tiba ini sangat mengejutkan dan memang diluar dugaan. Dua hari kemudian pasukan ini sampai di perbatasan kota. Karena sebab-sebab itulah akhirnya pada tahun 1799. Demikian juga untuk menguasai daerah-daerah yang baru dikuasai terutama di Jawa dan Madura. untuk mnengirimkan pekerja rodi sebanyakbanyaknya agar pekerjaan yang direncanakannya cepat telaksana. personil. Daendels memerintahkan supaya : a. Sultan ditangkap dan diasingkan ke Ambon. Pada tahun 1789 meletus suatu revolusi besar Revolusi Perancis yang menggoncangkan Eropa dibawah pimpinan Kaisar Napoleon Bonaparte. (Chis. 1881).(Michrob. Sehingga banyak diantara mereka yang melarikan diri. Banyaknya biaya yang harus dikeluarkan VOC terutama untuk membayar tentara dan pegawainya yang sangat besar. sehingga sultan tidak sempat lagi menyiapkan pasukannya.sudah berhasil menanamnya di India sehingga pasaran rempah-rempah menurun. maka utusan belanda tersebut dibunuh di depan pintu gerbang kraton (Michrob. barak. Untuk itulah dilakukan kerja paksa (kerja rodi) yaitu para pekerja bekerja tanpa upah. Belanda dapat dikuasai pada tahun 1807. Sultan harus mengirimkan 1000 orang rakyatnya setiap hari untuk dipekeriakan di Ujung Kulon. VOC dibubarkan. Sejak itulah kepulauan Nusantara di jajah Belanda (Soetjipto. Keadaan ini membuat Daendels marah dan menuduh Mangkubumi Wargadiraja sebagai biang keladi larinya pekerja-pekerja itu. Louis I Capoleon adiknya Kaisar Napoleon yang diberi kuasa di Belanda mengangkat Daendels sebagai Gubernur Jenderal di kepulauan Nusantara. Halwany & Mujahid. Tindakan ini dibalas Daendels dengan diserangnya Surosowan pada hari ltu juga yakni tanggal 21 Nopember 1808. c. Karena permintaannya ditolak maka dengan segera dan secara sembunyi-sembunyi dikirimlah pasukan dalam jumlah yang besar yang dipimpin langsung oleh Gubenur Jendral Daendels sendiri ke Banten. pelabuhan tentara. 1990). Namun karena kebencian rakyat yang sudah demikian memuncak kepada Belanda. Untuk itu Daendels memerintahkan kepada Sultan Banten. Banyaknya pegawai VOC yang melakukan korupsi. Sedangkan patih Mangkubumi 30 . Untuk menjalankan tugas ini Daendels membangun sarana dan prasarana pertahanan seperti : jalanjalan pos. Sebagai pringatan pertama-tama dikirimlah utusan Komandeur Philip Pieter oleh pihak kolonial Belanda ke istana Surosowan (Banten) untuk menanyakan kembali kesanggupan Sultan. Sudah tentu tuntutan ini ditolak mentah-mentah oleh Sultan. Semua kekayaan dan utangpiutangnya ditangani pemerintah Kerajaan Belanda. karena di Surosowan akan dibangun benteng Belanda. Sebagian besar Eropa dikuasai Perancis kecuali Inggris.

namun kekuasaannya tidak dapat melebihi kekuasaan sultan pada biasanya karena ia tidak lebih dari seorang pegawal Belanda. Dari Anyer Melalui Pandeglang jalan bercabang dua menuju Serang (utara) dan Lebak (selatan). Bogor. Bandung. Karena banyak masyarakat yang membenci Pemerintahan Belanda maka timbullah perompakperompak kapal Belanda di sekitar selat Sunda di daerah laut sedangan di daratan timbul pula para pencuri yang digerakkan oleh Alim Ulama setempat yang tidak senang dengan sepak terjang pemerintahaan Belanda. Tahap kedua dimulai tahun 1809. terjadi serangan Belanda ke daerah ini tapi tidak berhasil. Akhirnya Daendles bersama pasukannya datang ke Banten untuk menankap dan memenjarakan Sultan Banten di Batavia. Benteng dan istana Surosowan Banten dibakar dan dibumi hanguskan pada tahun 1909 (Rusjan 195). Jakarta. sepanjang pantai utara Pulau Jawa. tahap pertama merupakan pembuatan jalan untuk membuka poros Batavia ± Banten pada tahun 1808. Sultan tidak mempunyai kuasa apa-apa ia hanya mendapatkan gaji 15. tetapi itu tidak berarti bahwa tidak ada cabang-cabang jalan lainnya yang dilewati oleh Daendels. Untuk melemahkan perlawanan rakyat Banten. dan Anyer.1981:27) pada tahun 1809 itu pulalah mulai dikerjakan pembuatan jalan Pos dari Anyer sampai Panarukan sepanjang 1000 km. walaupun masih bergelar sultan. menembus Gunung Palasari. Jalur ini melalui garis pantai dari Batavia menuju Carita. Labuan (Pane. Lebak hingga Jasinga (Bogor). Ke tiga wllayah tersebut di bawah pengawasan Landros (semacam Residen) yang berkedudukan di Serang. Seperti kejadian di Cibungur dan di pantai Teluk Marica. pada masa itu Daendels memfokuskan kegiatannya pada pembangunan dua pelabuhan di utara (Merak) dan di selatan (Ujung Kulon). Jalan inilah jalan yang di sebut jalan utama atau jalan protokol. maka pekerjaan pembuatan Pangkalan di Ujung Kulon dipindahkan ke daeah Anyer. Dalam proses pembuatan pangkalan tersebut Deandles melakukan tindakan-tindakan yang keras sehingga menambah kebencian rakyat Banten kepada pemerintahaan Belanda. Pandeglang. Belanda dapat menguasai Cibungur dan di pantai Teluk Marica (Pane sanusi 1950 b:11). Untuk wilayah Banten Hulu diangkat Sultan Muhammad Syafiuddin. Cianjur. Dari Serang. (Sanusi Pane. Belanda membagi daerah Banten dalam tiga wilayah yang statusnya sama dengan Kabupaten seperti. Pengerjaan pembuatan Pangkalan Angkatan Laut dihentikan karena banyak pekerja yang mati dan sakit disebabkan daerah proyek Pangkalan tersebut berupa rawa-rawa. Jasinga dan Sadang dimasukan ke dalam teritorial Batavia. putra Sultan Muhyiddin Zainul Solihkin yang berkedudukan di Caringin. Jalan ini dikerjakan hanya dalam tempo waktu 31 . Banten Hulu. Caringin. 1950 b:II). Daendelas mencurigai Sultan Banten sebagai dalang kerusuhan-kerusuhan yang sering terjadi. Setelah Istana Surosowan hacur lebur maka diangkatlah Putra Mahkota dengan gelar Sultan Wakil Pangeran Suramanggala. Puncak. Tangerang. Banten Hilir. Selanjutnya Banten dan Lampung dinyatakan sebagai daerah jajahan Belanda. akhirnya Belanda melakukan serangan lagi yang dipimpin langsung oleh Daendels sendiri dan hasilnya tidak mengecewakannya. Sanusi 1950:14 dan Ismail.000 real setiap tahun dari pemerintah Belanda. Sumedang. wajar-wajar saja sebab pembautan jalan Deandels saat itu melaukannya dalam dua tahapan.dihukum pancung dan mayatnya dilemparkan ke Laut. Jiput. rute selanjutnya Ke Tangerang. Cirebon hingga Panarukan. Kesimpangsiuran informasi itu menurut Halwany Michrob. dan sebagian orang-orang Banten yang tertangkap di laut selat Sunda ataupun didaratan dipenjarakan di Ujung Kulon. Menes.

Pada abad 16-18 Banten kemudian berkembang menjadi label wilayah politik dan nama Kesultanan yang bercorak Islam. "Calapa" (Sunda Kelapa) dan "Chemano" (Cimanuk). yang tersebar di seluruh pelosok Banten. Tangerang dan Kotamadya Tangerang. Bahkan. menunjukkan bahwa nama Banten. pesantren dan qari-qariah. dan secara geografis masih sering dikaitkan dengan bekas Karisidenan Banten. tampak dari sejumlah historiografi lokal. seperti Cina Parahyangan yang menyebut istilah "Wahanten Girang". di samping "Pongdam" (Pontang). catatan Tome Pires (1512-1515) menyebut "Bantam" sebagai salah satu pelabuhan penting Kerajaan Sunda. nama toponim Banten belum dimuat. begitu pun pembuatan proyek pelabuah maritim di Uiung Kulon (Tanjung Layar) yang banyak mengorbankan jiwa manusia karena disana masih banyak binatang buas. baik produk-produk kesusasteraan seperti naskah-naskah. atau yang dapat ditafsirkan sebagai Banten. namun jalan-jalan itu dalam perkembangan selanjutnya banyak dipengaruhi kehidupan masyarakat disekitarnya dan telah berubah fungsinya antara lain mejadi jalan ekonomi atau jalan umum dan kini sudah banyak bangunan disekitarnya. Hal ini berdasarkan fakta bahwa toponim Banten tidak dicantumkan dalam naskah yang lebih tua. menurut beberapa sejarahwan Indonesia. toponim Banten juga memiliki kaitan dengan Banten Girang. Selain itu. Banten Lama dan Banten Hilir. Kategori yang disebut terakhir ini terlihat pada karya-karya arsitektur. maupun warisan budaya material dalam pengertian yang luas. yang dituturkan oleh kelompok sub etnik Banten. seperti Babad Nagarakartagama (1345 M).satu tahun dengan mengorbankan beribu-ribu rakyat Banten. pada saat itu rakyat masih mau menghimpun kekuatan untuk melaksanakan perintah paksa Daendles. "Tamgaram" (Tangerang). misalnya. kesenian dan sebagainya. maka rakyat menghentikan bantuannya.000 orang dan banyak yang meningal tampa dikuburkan secara layak. Walaupun demikian Daendels semakin keras menghadapi rakyat. Dilihat dari segi demografi. berbagai cerita rakyat (folklore) yang masih hidup dalam ingatan masyarakat. "Cheguide" (Cigading). prasasti Kaban-tenan menyebut nama "Bantam". dalam naskah Pujangga Manik (Pajajaran). yang meninggal sekitar 15. Berdasarkan naskah-naskah yang ada.Budaya Banten bisa diidentifikasi dengan menelusuri. Terbukti dengan hadirnya para ulama. teknologi. namun setelah terjangitnya penyakit malaria dan banyak yang tewas. ia tidak segan-segan memerintahkan tentaranya menembak mati rakyat yang lalai atau tidak mau bekerja dalam pembuatan jalan apapun alasannya. diduga kuat bahwa toponim Banten Baru muncul pada akhir abad ke-15 M. Banten Girang Gerbang Kerajaan Banten Nuansa Islam dalam budaya Banten nampaknya cukup kuat hingga saat ini. babad. Pada tahun 1808-1809 Daendles mulai pembuatan jalan dengan rute Batavia-Banten tahap pertama. Lebak. Karena banyaknya korban pada pembuatan jalan Batavia-Banten masih simpang siur. dan Purwaka Caruban Nagari yang memuat istilah "Kawungaten". yaitu: (1) sub etnik 32 . meliputi Kabupaten Serang. Pembangunan jalan Daendels dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur) sejauh 1000 km pada tahun 1809 ± 1810 yang bertujuan untuk mempercepat tibanya surat-surat yang dikirim antar Anyer hingga Panarukan atau sebagai jalan pos. Selain itu. atau buku-buku keagamaan. Banten sebenarnya merupakan toponim yang memiliki aspek ruang. Pandeglang. Kajian Suwedi Montana. yang berasal dari awal abad ke-16. Banten menunjukkan adanya dua kelompok etnisitas.

kurangnya dokumentasi mengenai Banten. Ketertarikan utama mereka adalah pada Lada yang banyak terdapat di kedua sisi Selat Sunda. Banten pada masa itu sudah merupakan kawasan pemukiman yang penting yang ditandai dengan telah dikelilingi oleh benteng pertahanan dan didukung oleh berbagai pengrajin mulai dari pembuat kain. di tepi sungai Cibanten. Sekaligus dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten ternyata jauh lebih awal dari perkiraan semula dengan ditemukannya bukti baru bahwa Banten sudah ada di awal abad ke 11 ± 12 Masehi. dan kapal Jung mereka telah berlayar ke pelabuhan Sunda setiap tahunnya untuk membeli lada. Setelah menguasai Malaka pada tahun 1511. Penelitian yang dilakukan di lokasi Banten Girang di tahun 1988 pada program Ekskavasi Franco ± Indonesia. tidak ada keputusan final yang dapat diambil sebelum penelitian dilakukan lebih lanjut. Keberadaanya sedikit dihubungkan dengan masa kejayaan maritim Kerajaan Sriwijaya. Walaupun Kerajaan Pajajaran masih berdiri. melihat makin berkembangnya komunitas ulama dan pedagang Islam yang semakin memiliki peranan penting di kota pelabuhan ³Hindu´. terutama pada masa sebelum masuknya Islam. Pelabuhan Kalapa. yang menguasai Selat Sunda. Bangsa Portugis telah mendokumentasikan keberadaan Banten dan sekitarnya pada awal abad ke 16. lokasi awal dari Banten tidak berada di pesisir pantai.Banten Pesisiran yang membentang sepanjang pesisir utara Jawa Barat. dapat diketahui. Kerajaan ini mempunyai dua pelabuhan utama. dikarenakan posisi Banten sebagai pelabuhan yang penting dan strategis di Nusantara. tapi dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten sudah berlangsung sangat lama dan teori bahwa keberadaannya dimulai pada saat terbentuknya Kerajaan Islam di Banten. Secara nyata. yang berdiri pada abad ke 14 dengan ibukotanya Pakuan yang berlokasi di dekat kota Bogor sekarang ini. Kemungkinan besar. nama ini diberikan berdasarkan posisi geografisnya. melainkan sekitar 10 Kilometer masuk ke daratan. bangsa Portugis memulai perdagangan dengan bangsa Sunda. yang menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera. kurang lebih 15 tahun sebelum Kerajaan Islam Banten terbentuk. baru berlangsung setelah masuknya Dinasti Islam di permulaan abad ke 16. Dan juga dikaitkan dengan keberadaan Kerajaan Sunda Pajajaran. Semenanjung Indochina. dan hubungan internasional sudah terjalin dengan China. (2) sub etnik Banten-Sunda yang wilayah huniannya mulai dari Serang Selatan (Banten Girang) sampai ke pedalaman selatan berbatasan dengan Samudera India. tidak lagi dapat dipertahankan. perhiasan emas dan manik manik kaca. keramik. Berdasarkan catatan. Beberapa dekade sebelumnya Kerajaan Demak telah menguasai bagian timur pulau Jawa dan pada saat itu bermaksud untuk juga menguasai pelabuhan Sunda. Walaupun dengan keterbatasan penelitian. Masyarakat Sunda. Tidak banyak yang diketahui mengenai sejarah dari bagian terbarat pulau Jawa ini. 33 . Kelemahan ini tidak luput dari perhatian Kerajaan Islam Demak. pengrajin besi. tembaga. namun banyak bukti baru yang ditemukan. di bagian selatan dari Kota Serang sekarang ini. Dari beberapa data mengenai Banten yang tersisa. Bangsa Cina juga sangat berminat pada jenis rempah rempah ini. yang berbatasan dengan sub etnik Betawi. memandang serius ekspansi Islam. dan Pelabuhan Banten. dan beberapa kawasan di India. mulai dari daerah Tangerang di sebelah utara. berhasil menemukan titik terang akan sejarah Banten. Wilayah ini dikenal dengan nama ³Banten Girang´ atau Banten di atas sungai. sampai Anyer-Cilegon di sebelah selatan barat. Mata uang logam (koin) sudah digunakan sebagai alat pembayaran. yang sekarang dikenal sebagai Jakarta. namun kekuasaannya mulai menyusut.

Kepala Pusat Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas. Sebagaimana telah sebelumnya dilakukan di Jawa Tengah. mungkin hanya dapat dikenali dengan merunut kembali peristiwa sejarah transformasi pusat administrative politik dari Banten Girang di pedalaman . di bawah pimpinan Francisco de Sá. akan tetapi Ia tetap meminta Demak mengirimkan pasukan untuk menguasai Banten ketika Ia menilai waktunya tepat. Kemurah hatian yang sangat tinggi ini menggaris bawahi tingginya tingkat kesulitan yang dihadapi Banten. Negosiasi ini di mulai tahun 1521 Masehi. Perjanjian dibuat antara kedua belah pihak. agar Portugis dapat menahan kapal yang berlayar dari Demak. situasi politik telah sangat berubah dan sehingga armada Portugis gagal untuk merapat ke daratan. pada saat itu telah menetap di Banten Girang. Islam mencegah siapapun untuk merapat ke Banten. memohon kepada bangsa Portugis di Malaka. Islam mengambil alih kekuasaan pada tahun 1527 M bertepatan dengan datangnya armada Portugis. yang memegang kekuasaan politik di Banten. Hasanudin.yang berada di bawah subordinasi Pakuan Pajajaran yang Hinduistik ke daerah pantai yang sekarang dikenal dengan Banten Lama. Dengan itu. Hasan Muarif Ambari. Depdikbud Rl) yang juga staf peneliti pada Pusat Pengkaian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Kaum Muslim. mengirim utusan ke Banten. dapat menawarkan komoditas lada bagi Portugis.Menghadapi ancaman ini. yaitu Kalapa dan Banten. Dr. Di mata otoritas Banten. penduduk asli Pasai. dalam bukunya "Menemukan Peradaban. yang sadar akan pentingnya urusan ini. Putera Sunan Gunung Jati. sekarang merupakan kelas sosial baru. Peristiwa transformasi tersebut berlangsung pada tahun 1526 oleh Syarif Hidayatullah dan Maulana Hasanuddin. baik atas inisiatifnya sendiri maupun atas seizin Pakuan. dan armada lautnya sangat kuat dan menguasai perairan di sekitar Banten. terutama dengan alam dan budaya Islamnya. Jakarta ini. Sementara itu. Seorang ulama yang sekarang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. sebagai ganti dari perlindungan yang diberikan. Dan adalah puteranya. Walaupun pada awalnya kedatangannya diterima dengan baik oleh pihak otoriti. Masyarakat dan budaya Banten. penguasaan yang tidak lagi dapat ditolak oleh Pakuan. bangsa Portugis sangat anti Islam. Sadar akan adanya perjanjian antara Portugis dengan penguasa sebelumnya. Sejak itu embrio dan fondasi masyarakat dan budaya Banten diletakkan dan ditetapkan dalam format yang berciri keislaman. Portugis di Malaka. yang dipimpin oleh Henrique Leme. Dan Banten dipilih sebagai ibukota Kerajaan baru tersebut. Aplikasi dari perjanjian ini adalah adanya kesepakatan kekuasaan yang tak terbatas bagi Portugis. sebelum akhirnya armada Portugis tiba di pesisir Banten. dan yang kedua untuk menahan agar armada Portugis yang sangat kuat pada saat itu. Otoritas Banten. tidak terlalu dekat dengan kota Banten. yang bertanggungjawab akan pembangunan benteng. Kelihatannya Kaum Muslim menguasai secara serempak kedua pelabuhan utama Sunda. sebuah dinasti baru telah terbentuk pada saat yang sama kerajaan yang baru didirikan. dirunut dalam fase-fase berikut: 34 . dengan tujuan utama untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Hasanudin dinobatkan sebagai Sultan Banten oleh Sultan Demak. dan diperkenankan untuk membangun benteng di pesisir dekat Tangerang. Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia" (penerbit Logos) memperlihatkan fase-fase pertumbuhan perkembangan budaya Banten dalam panggung sejarah. Prof. Portugis akan diberikan akses tak terbatas untuk persediaan lada. yang telah berulangkali datang berniaga ke Banten. yang juga menikahkan adiknya dengan Hasanudin. Lima tahun yang panjang berlalu. Tahun 1522 Masehi. Pemilihan pembuatan benteng di daerah Tangerang tidak diragukan lagi untuk dua alasan : yang pertama. yang memimpin operasi militer di Banten. Banten. bagian utara Sumatera setelah tinggal beberapa lama di Mekah dan Demak. di sisi lain. dimana sebelumnya juga telah memegang kekuasaan ekonomi. bangsa Portugis menawarkan perlindungan ganda.

yakni satu fase tanpa adidaya di mana seluruh kekuatan politik dan ekonomi yang ada di Banten memiliki kekuatan yang seimbang (armada dagang Eropa. Di balik semua kilas balik sejarah ini. (5). Hindia Belanda terkena imbas perang Napoleonik/Rep. Pada masa ini terjadi transformasi keagamaan. Rakyat mulai mengarahkan orientasi kepemimpinan dari raja/sultan kepada para ulama/mubaligh/kiyai. Batavia dan Mataram). Portugis. Para pedagang Inggris. interval penguasaan Inggris (1811-1816). dan pilihnya tingkat kemakmuran masyarakat Banten. Pada masa itu Banten merupakan daerah bawahan kerajaan Pakuan Pajajaran yang Hinduistis. Pesantren terus menerus menghasilkan kader dan para ulama tetap berdakwah. Kesultanan Banten. perpindahan pusat pemerintahan dan mulai berkembangnya Banten sebagai pelabuhan . telah menyebabkan pertumbuhan dan ramainya perdagangan. dan sampai sekarang memasuki masa pembangunan. Oleh karena itu. budaya pesisiran dan budaya pedalaman di daerah selatan Banten (kecuali daerah Baduy) terus menerus memantapkan keislamannya. masih berkembangnya "kota" Surosowan dan lain-lain. Denmark. Sebelumnya. Pada fase inilah. pendirian Benteng Speelwik yang langsung atau tidak langsung memperlihatkan wujud hubungan antara Banten dan VOC. Banten Hilir. yang tidak memperlihatkan adanya dominasi satu kekuatan politik tertentu terhadap kekuatan politik lain: yakni penyerangan Banten ke Batavia. bencana alam (meletusnya Krakatau dan wabah penyakit sampar). pada tahun 1809 pembuatan jalan raya Daendells.(1). Fase awal Penyebaran Islam (1525-1619). Fase Surut dan Jatuhnya Kesultanan Banten. Fase Keseimbangan Kekuatan. yang bermula sejak pertumbuhan Islam di Banten. (4). Fase Mutakhir. dan Anyer) di bawah pengawasan landraad (setara residen). pendudukan Jepang. dengan komponen-komponen arsitektur dan monumental berciri Islam. Banten telah berhubungan dengan Cina. didirikannya Keraton Kaibon dan dipecahnya bekas wilayah Kesultanan Banten menjadi tiga daerah setara Kabupaten (Banten Hulu. Pendirian kota Banten Sorasowan.alternatif setelah Malaka. awara dalam kehidupan masyarakat Banten 35 . Dalam situasi seperti ini. Banten mencapai puncak ketinggian budaya (tamaddun Islam). (6). (3). Fase Penguasaan (VOC) Belanda. suatu fase di mana Islam disiarkan oleh Sunan Gunung Jati dari Cirebon dan Maulana Hasanuddin yang beraliansi dengan Demak. sehingga etnis terakhir ini telah membentuk satu komunitas tersendiri yang memberi sumbangan besar bagi perkembangan perdagangan di Banten. pemindahan administrasi politik ke Serang Surosowan dihancurkan. Keseimbangan kekuatan ini di antaranya bisa dilihat dari beberapa peristiwa politik yang berlangsung saat itu. Setelah Kesultanan Banten dihapuskan oleh Belanda timbul berbagai pergolakan. tumbuh dan kuatnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. blokade Belanda atas Teluk Banten. Fase Pra-Sunda Islam (1400-1525). Cirebon. dan Turki datang melakukan transaksi perdagangan di Bandar Banten. dari segi budaya Banten dapat disetarakan dengan masyarakat kota seperti Mataram dan Cirebon. perang kemerdekaan. yang berpusat di Banten Girang (Kota Serang sekarang). Batavia. (2). hal yang tetap hidup dan terus mengakar pada masyarakat Banten adalah kultur Islam. pemberontakan dan perlawanan rakyat dipimpin oleh para ulama/bangsawan.

ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. kesultanan Banten. Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten. yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat. Bekasi-Pantura. Taufik Djajadiningrat. Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. Tesis S2 UI). tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten. ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. Oleh karena itu. pamong praja dan jawara merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. dan masa kolonial Belanda. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas. Namun diantara ketiganya. sebagai ³negeri para ulama dan jawara´. sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul. yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat ³stamboom´ bukan ³geschiedenis´ atau ³history´. Belakangan. yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). jawara dianggap sebagai ³khodam´ nya para ulama. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi. kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya. Sejarah dan Silsilah 36 . Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara. Penafsiran Sejarah Istilah Jawara Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat. keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap eksis. Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (RM. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah. Karena dari para ulamalah sebagian besar ³keilmuan´ jawara itu berasal. Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Seiring dengan perjalanan waktu. Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya. yaitu masa kerajaan Sunda. menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural. bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya. keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang.Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan Banten khususnya. jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam. bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. Dari stamboom yang ada. karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Berbeda dengan kedudukan ulama. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. Sebagai subkultur kekerasan.

Putman Craemer. istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang. Miftahul Falah. Penafsiran kedua. Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. Dalamperkembangan selanjutnya. seperti jago dalam menyabung ayam. militan dan mampu mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan.Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten. dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara. Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan. Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara. apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka. Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin. yang bermakna harfiah sebagai ³bayi yang menjelang dewasa´. pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu ³kadugalan´ yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. Penafsiran ketiga. 1995 : 121-122). S. Residen Banten (1925-1931). istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama.G. 37 . Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Pada perkembangannya. sampaisampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak. Penafsiran keempat. F. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane.S menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban. memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat. tetapi juga membela dan melindunginya. yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki tangannya. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat.

kesultanan Banten. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. dan perampok. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan permasalahan. Seiring dengan perkembangan waktu. dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah ³potong letter´ lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri ³maenpukulan´ atau pencak silat. dan onrust (ketidak amanan). tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. complot (komplotan). Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan. namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok ³kejawaraan´ nya itu sendiri. Terminologi Jawara. Berbeda dengan perampok atau pencuri. yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran). baik semasa kerajaan Sunda. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama. pengacau. mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa. dan Preman Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. yang merupakan akronim dari jalma wani nga-rampog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong (jalma wani nga-rahul). Berbeda dengan Jagoan. istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat. ongergeldheden (pemberontakan). Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat. kata ini berasal dari kata dasar ³jago´ yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya ³champion´ atau juara (Ridwan Saidi. woelingen (kekacauan). Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar. Jagoan. sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial. dikenal dengan peristiwa Perang Pertama. dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. jawara sangat patuh kepada ulama. maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Jawara yang merasa citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda. berusaha mengcounter dengan istilah jalma jago nu wani ramah (orang yang jagoan berani dan ramah). Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20. Selain itu. 38 . karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. Pada umumnya. Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif. Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara. Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan. Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara.Penafsiran kelima. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama.

Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten. Dari tiga terminologi di atas. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya. Taufik Djajadiningrat. karena dalam persaingan perdagangan internasional. bukan tentara. Vrijman yang bermakna ³orang bebas´ atau dalam bahasa Inggris disebut free man. Disisi lain menurut tradisi lisan. Glosari Betawi. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. Terlebih dalam kemapuan berpolitik. Cerita ini merupakan bukti bahwa sistem perdagangan zaman kesultanan tidak dapat diremehkan. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas. Sumber tulisan: Atu Karomah. Banten merupakan pesaing yang cukup disegani oleh bangsa Eropa pada masa itu. pada saat zaman Sultan Maulana Yusuf yang dikenal dengan julukan Penembahan Pakalangan yaitu sekitar tahun 1570. yaitu: 1. Jakarta1995 Ridwan Saidi. jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan ³tukang pukul´ dan seorang yang suka berkelahi. non pemerintah. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya. kepada bupati Serang Mas Ahmad Sampurna dipendopo kabupaten Serang beberapa tahun yang lalu. Secara hirarki. Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. tukang pukul dan pemberani. S. ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat.S. jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. 39 . kuli yang bekerja menggarap sawah. Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. Amsterdam di Hindia Belanda Banten menurut data historis dan arkeologis kira-kira pada 450 tahun yang lalu. jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar. hal ini yang membuat cemas bangsa Eropa. STAIN Serang. juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. swasta. Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak. Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten. orang yang kuat. Jakarta1995 Tasbih & Golok. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. seperti yang tersirat dalam buku berjudul ³The Sultanate of Banten´ secara resmi diserahkan oleh Duta Besar Perancis Patrick O¶Cornesse. Tesis S2 UI. 2002 Kota Banten. partikelir. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda. Lalu bagaimana dengan preman?. Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten. sipil. 2. sudah menjalin hubungan perdagangan dengan bangsa Eropa dan Asia disekitarnya. BP Jakarta 1996 Miftahul Falah. fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Jakarta 2007 RM. hendaknya kita masih dapat membedakan makna. Bahkan banyak pula melakukan manuver-manuver dalam sistem perdagangan.Glosari Betawi: 43).

mengagumi Banten dan menjadikannya satu pelabuhan kosmopolitan besar pada abad 17. Banten bertambah penting posisinya sebagai kota perdagangan internasional setelah Malaka jatuh ketangan Portugis. dikenal sebagai kota metropolitan sekaligus kota yang produktif. beliau mencari hasil bumi terutama LADA dan beliau berucap bahwa Kota Banten ini hampir sama dengan Kota Rouen di negerinya yang ramai dengan para pedang. Dengan tidakan ini bangsa Eropa menilai Banten sudah menjadi Imperium Lada. dengan cara menginstruksikan semua penduduk di pedalaman ataupun di kota untuk membawa hasil lada mereka ke Kota Banten. Banten Sadar pentingnya armada dagang untuk menguasai dan mempertahankan industri lada. Di Banten pusat industri untuk produksi lada adalah di Kampung Pamarican yang masih dikenal hingga kini. Kedua raksasa Eropa ini terlibat pertempuran untuk merebutkan pasar dan pusat produksi lada. untuk diolah dengan standar mutu tinggi. Banten terkenal dalam perdagangan Ladanya yang menjadi daya tarik bangsa Eropa. kota Banten Lama yang didirikan 1526 dipesisir utara Jawa Barat (sekarang Provinsi Banten). Begitu pula penduduk di daerah Sumatera diwajibkan untuk menanam 500 pohon lada dan hasilnya dikirimkan ke Kota Banten. Selain Malaka. Karena dilihat dari sarana dan pra sarana sejak dulu seperti Pelabuhan Karangantu yang menarik para pedagang Eropa dan Asia. khususnya Belanda dan Portugis. juga berkembang menjadi satu kota muslim yang bersaing dengan negara-negara Arab dalam memiliki istana. Akhirnya pada tahun 1660-an Sultan Haji memerintahkan 40 . Perdagangan lada ini begitu ramai dan menguntungkan. terutama pada 1570 samapi abad 19. Sebelum Banten menjadi Kota Muslim. Portugis segera menjalin perdagangan dengan Makasar dan Banten. sebelum melakukan petualangannya untuk mengelilingi dunia. terutama kesultanan Banten yang telah terkubur dalam tanah dan dalam arsiparsip yang ada di Eropa. Perancis atau bangsa Eropa lainnya. kemasyurannya tetap tersimpan dalam kenangan bangsa perancis kata O¶Cornesse. pasar dan juga masjid besar. penelitian tersebut bertujuan untuk mengangkat kembali kebesaran masa silam bangsa indonesia.Buku dalam bahasa Inggris dengan kata pengantar oleh Menteri Pendidikan pada saat itu dijabat bapak Fuad Hasan. Menurut Dubes O¶Cornesse. penelitian ini berlangsung hingga tahun 1987. Banten menjadi pusat persaingan dan perebutan kongsi perdagangan Eropa. sama pula yang diungkapkan oleh Vincent Leblanc asal Perancis waktu tiba di Banten pada abad 16. Menurut Cornelis de Houtman asal Belanda pada tahun 1596 Banten disebut Kota Pelabuhan dan Perdagangan yang sama besar dengan Kota di Amsterdam saat itu. Banten di masa itu merupakan pusat peniagaan dunia. saat itu Banten masih dibawah Kerajaan Pajajaran yang beragama Hindu. sehingga para sultan Banten mengambil strategi untuk mengendalikan sepenuhnya komoditi tersebut. Pada tahun 1522 Protugis mengadakan perjanjian dagang dengan para pengusaha Banten. isi dari buku ini merupakan hasil dari para peneliti yang bekerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Prancis dengan sasaran penelitian adalah untuk merawat dan merestorasikan kerajaan serta kesultanan Banten. Para sultan mengadakan tindakan pengetatan pada hasil produksi lada di Banten. Kota Banten. Menurut catatan sejarah kesultanan Banten pada tahun 1527 berkembang menjadi pusat perdagangan. sekaligus berdagang langsung dengan Bangsa Eropa dan Asia lainnya. Perdagangan lada di Banten sangat ramai karena mutu jenis lada di Banten lebih baik dibadingkan mutu lada dari Malabar dan Aceh. Lada ini lah yang sangat di gemari oleh bangsa Eropa termasuk bangsa Sepanyol yang mengintruksikan Magellan dan Portugal untuk mencari lada di Banten pada tahun 1519. atau Bantahan menurut sebutan negara Barat. Malaka akhirnya jatuh ketangan Belanda pada tahun 1641.

ujung utara Sumatra.) Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad 1640 . Peta ini dibuat pada tahun 165 M. India. terus melalui Laut Tiongkok Selatan sampai ke Cina (Yogaswara. Daftar pemimpin Kesultanan Banten y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y Sunan Gunung Jati Sultan Maulana Hasanudin 1552 . Berita yang paling meyakinkan tentang hubungan Banten dengan Eropa. Taiwan dan Jepang. berdasarkan tulisan geograf Starbo (27 .1580 Maulana Muhammad 1585 . saat kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa Abulfathi Abdul Fatah dan Sultan Haji Abunhasr Abdul Kahhar. Dengan armadanya yang kuat akhirnya Banten mampu berdagang langsung dengan Mekkah. Siam. Selat Sunda. Kamboja. Vietnam.pembangunan armada kapal dagangnya dengan model seperti kapal-kapal Eropa.1590 Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 .1650 Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680 Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 . dan bangsa Inggris dipercaya untuk membangun armada tersebut. Pulau Panaitan. kemudian menyusuri pantai barat Sumatra.1687 Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690) Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733) Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752) Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750) Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753) Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773) Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799) Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801) Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802) Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803) Aliyuddin II (1803-1808) Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809) Muhammad Syafiuddin (1809-1813) Muhammad Rafiuddin (1813-1820) 41 .1640 (dianugerahi gelar tersebut pada tahun 1048 H (1638) oleh Syarif Zaid. Syarif Makkah saat itu.14 SM) dan Plinius (akhir abad pertama masehi). Dalam peta ini digambarkan tentang jalur pelayaran dari Eropa ke Cina dengan melalui: India. Kesultanan Banten memasuki persaingan perdagangan lada internasional yang sangat ramai pada kurun waktu antara tahun 1651 dan tahun 1672 sampai VOC (Belanda) merebut Banten pada tahun 1682. 1978: 21-38).1570 Maulana Yusuf 1570 . India dan Cina adalah dengan diketemukannya peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus. Vietnam.