SEJARAH BANTEN : KRONOLOGI WAKTU

130 M Berdiri Kerajaan Salakanagara (Negeri Perak)yang beribukota Rajatapura yang terletak di pesisir barat Pandeglang. Raja pertama Dewawarman I (130 ± 168 M) yang bergelar Aji Raksa Gapurasagara (Raja penguasa gerbang lautan) Daerah kekuasaannya meliputi : ‡ Kerajaan Agrabinta di Pulau Panaitan ‡ Kerajaan Agnynusa di Pulau Krakatau ‡ Dan daerah ujung selatan Sumatera 165 M Banten (Pulau Panaitan) masuk dalam peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus sebagai bagian dari jalur pelayaran dari Eropa menuju Cina dengan melalui India, Vietnam, ujung utara dan pesisir barat Sumatera, Pulau Panaitan, Selat Sunda, terus melalui Laut Cina Selatan sampai ke Daratan Cina. Abad 5 M Prasasti Munjul yang diperkirakan berasal dari abad ke V masehi ditemukan di Sungai Cidangiang, Lebak Munjul ± Pandeglang. Prasasti berhurufkan palawa dengan bahasa sanksekerta menyatakan bahwa raja yang berkuasa di kawasan tersebut adalah Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara. Dalam prasasti tersebut dituliskan juga bahwa negara pada saat itu berada dalam kemakmuran dan kejayaannya. Abad XII ± XV Banten menjadi pelabuhan dari Kerajaan Pajajaran. Abad XIV Ditemukan prasasti di Bogor, yang menyatakan Pakuan Pajajaran didirikan oleh Sri Sang Ratu Dewata, yang daerah kekuasaannya meliputi seluruh Banten, Kalapa (Jakarta), Bogor, sampai Cirebon. Abad XVI Awal abad ke XVI, Banten dibawah pemerintahan Prabu Pucuk Umun (Dalam Babad Cibeber disebut juga sebagai Ratu Ajar Domas). Pusat pemerintahannya terletak di Banten Girang, yang dihubungkan dengan pelabuhan Banten melalui Sungai Cibanten, dan melalui Klapadua sebagai jalur darat. 1513 M Tome Pires, pelaut Portugis, memberitakan bahwa pelabuhan Banten merupakan pelabuhan kedua terbesar setelah Kalapa. Telah terjadi hubungan perniagaan dengan Sumatera dan Maladewa, dan pelabuhan Banten merupakan pengekspor beras, bahan makanan dan lada. Pada masa ini, diberitakan juga sudah banyak dijumpai orang Islam di daerah Cimanuk, dan kota kota pelabuhan seperti Kalapa dan Banten. 1511-21 M Tanggal 5 Agustus 1511 M, Bangsa Portugis menguasai Malaka dan disusul dengan takluknya Samudera Pasai pada tahun 1521 M. Selain untuk kekuasaan dan kekayaan, bangsa Portugis juga dibebani misi untuk menghancurkan agama Islam. Dengan menguasai Malaka, bangsa Portugis memonopoli perdagangan rempah rempah di Asia Tenggara, dan memberlakukan peraturan peraturan yang memberatkan bagi para pedagang terutama yang beragama Islam. Kondisi ini membuat pedagang pedagang dari Arab, Parsi, Cina, dan bangsa lain enggan untuk berniaga ke Malaka dan mengalihkannya ke Aceh, Banten, Cirebon, dan Demak. Keadaan ini sangat menguntungkan bagi Pelabuhan Banten yang berkembang semakin pesat dan lama 1

kelamaan menjadi pusat penyebaran agama Islam di bagian barat pulau Jawa. 1521 M Dengan semakin berkembang pesatnya kekuatan Islam di barat dan timur, timbul kekhawatiran raja Pajajaran akan semakin terdesaknya agama Hindu selaku agama resmi kerajaan dan juga lunturnya kekuasaan di di daerah pantai. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata) melakukan : ‡ Pembatasan pedagang pedagang yang beragama Islam mengunjungi pelabuhan pelabuhan yang berada di bawah kekuasaan Pajajaran. ‡ Menjalin hubungan persahabatan dan kerjasama dengan bangsa Portugis di Malaka, agar dapat membantu Pajajaran bila diserang Kerajaan Demak, dengan mengutus putera mahkota Pajajaran Ratu Sangiang atau Surawisesa ke Malaka. 1522 M 21 Agustus 1522 M, Henrique Leme, utusan Gubernur Malaka, menandatangani perjanjian dengan raja Pajajaran, Pangeran Surawisesa, pengganti Sri Baduga Maharaja. Perjanjian tersebut berisi antara lain : ‡ Portugis dapat mendirikan benteng di pelabuhan Sunda Kelapa ‡ Raja Pajajaran akan memberikan lada sebanyak yang diperlukan Portugis sebagai penukaran barang barang kebutuhan Pajajaran. ‡ Portugis bersedia membantu Pajajaran apabila diserang Demak atau kerajaan lainnya. ‡ Sebagai tanda persahabatan, Pajajaran akan memberikan hadiah 1000 karung lada setiap tahunnya kepada Portugis. 1525 M Pasukan gabungan Demak dan Cirebon yang dipimpin Fatahillah, Pangeran Cirebon, Dipati Cangkuang, dan Dipati Keling, serta pasukan lokal di bawah pimpinan Hassanudin dapat menguasai Banten. Untuk menjaga stabilitas keamanan di Banten, Hassanudin kemudian diangkat menjadi Adipati Banten dengan pusat pemerintahan di Banten Girang. 1526 M Atas petunjuk dari Sunan Gunung Jati, ibukota Banten dipindahkan ke dekat pelabuhan Banten, yang kemudian disebut dengan Surosowan. Berdasarkan beberapa data, pemindahan ibukota ini dilakukan pada tanggal 1 Muharram 933 H yang bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1526 M. 1527 M Terdengar kabar, Portugis dengan armada dan persenjataan lengkap telah meninggalkan Malaka menuju Sunda Kelapa. Mendengar berita ini, Demak, Banten, dan Cirebon bergerak untuk menguasai Sunda Kelapa. Sunda Kelapa dapat dikuasai pada tahun 1527 M, dan Fatahillah diangkat untuk menjadi Adipati Sunda Kelapa. Sebagai tanda kemenangan, Sunda Kelapa diganti namanya menjadi Jayakarta, yang berarti Kota Kemenangan. Armada Portugis yang datang dari Malaka untuk melaksanakan perjanjian tahun 1522 M dengan Kerajaan Pajajaran tiba setelah Sunda Kelapa dikuasai pasukan Islam. Portugis yang dipimpin oleh Francisco de Sa melakukan perang terbuka di perairan Sunda Kelapa, dan setelah mendapat perlawanan hebat dari pasukan Islam, Portugis dapat diusir mundur dari Sunda Kelapa. Setelah Jayakarta berhasil diamankan dari serangan Portugis, Hassanudin dan Fatahillah bekerjasama menangani pembangunan di Banten dan Jayakarta. Hassanudin bertanggung jawab dalam masalah pengembangan wilayah dan pendidikan kemasyarakatan, sedangkan Fatahillah bertanggung jawab menangani keamanan dan pertahanan wilayah. Sehingga pada masa itu Islam menyebar dengan pesat 2

dan keamanan negara terjamin. Kedua penguasa di Jawa Barat memerintah atas nama Sultan Demak. 1552 M Kemajuan perkembangan Banten yang sangat pesat, menjadikan status Banten ditingkatkan dari Kadipaten menjadi Kerajaan. Hassanudin ditunjuk sebagai raja pertama. Dan pada tahun yang sama pula, Fatahillah (menantu dari Sunan Gunung Jati) diangkat menjadi raja di Cirebon, mewakili Sunan Gunung Jati, dikarenakan mangkatnya raja Cirebon, Pangeran Pasarean (putera Sunan Gunung Jati) di tahun tersebut. Untuk menjalankan tugas pemerintahan di Jayakarta diangkat Pangeran Bagus Angke, menantu Sultan Hassanudin. 1552-1570 M Masa Pemerintahan Sultan Maulana Hassanudin. Sultan Maulana Hassanudin memerintah sebagai raja pertama Kesultanan Banten dari tahun 1552 M hingga wafatnya di tahun 1570 M. Pada masa pemerintahannya, digambarkan kota Banten telah berkembang sangat pesat. Jumlah penduduk diperkirakan telah mencapai 70.000 jiwa. Terletak di pertengahan pesisir teluk Banten, Kota yang dikenal dengan nama Surosowan ini memiliki panjang 400 hingga 850 depa. Kota Banten dilewati sungai jernih yang dapat dilalui oleh kapal jung dan gale. Kota Banten dikelilingi benteng bata setebal tujuh telapak tangan. Bangunan bangunan pertahanan dua lantai terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan meriam. Di tengah kota terdapat alun alun yang digunakan untuk kegiatan ketentaraan, kesenian rakyat dan juga sebagai pasar di pagi hari. Istana raja terletak di sisi selatan alun alun, disampingnya dibangun bangunan datar yang ditinggikan dan diatapi yang disebut srimanganti, sebagai tempat raja bertatap muka dengan rakyat. Di sebelah barat alun alun dibangunlah Masjid Agung Banten. Sultan Hassanudin dalam usahanya membangun dan mengembangkan kota Banten lebih menitik beratkan pada pengembangan sektor perdagangan, disamping memperluas lahan pertanian dan perkebunan. Pada masa pemerintahannya, Banten telah menjadi pelabuhan utama di Nusantara, sebagai persinggahan utama dan penghubung pedagang pedagang dari Arab, Parsi, Cina, dengan kerajaan kerajaan di Nusantara. Cara jual beli saat itu, masih menggunakan sistem barter, dan juga sudah mulai digunakan mata uang sebagai alat tukar. Mata uang yang digunakan adalah Real Banten dan cash cina (caxa). Terjadinya krisis kepemimpinan di Kesultanan Demak pada tahun 1547-1568 M, mendorong Sultan Hassanudin untuk melepaskan diri dari Kesultanan Demak dan menjadikan Banten kerajaan yang berdiri sendiri. Saat itu, wilayah Kesultanan Banten telah meliputi Banten, Jayakarta, Kerawang, Lampung, Inderapura, sampai Solebar. Sultan Hassanudin wafat tahun 1570 M dan dimakamkan di samping Masjid Agung. Setelah wafatnya, Maulana Hassanudin dikenal dengan sebutan Sedakinking. Sebagai penggantinya, dinobatkanlah Pangeran Yusuf sebagai Raja Banten ke 2. 1570-1580 M Sultan Maulana Yusuf Pada masa kepemerintahan Sultan Maulana Yusuf, strategi pembangunan dititik beratkan pada pengembangan kota, keamanan wilayah, perdagangan dan pertanian. Pada saat itu, perdagangan sudah sangat maju sehingga Banten merupakan tempat penimbunan barang barang dari seluruh dunia yang nantinya akan disebarkan ke seluruh nusantara.

3

Dengan majunya perdagangan maritim di Banten, maka kota Surosowan dikembangkan menjadi kota pelabuhan terbesar di Jawa. Ramainya kota baru ini dengan penduduk pribumi maupun pendatang membuat diberlakukannya aturan penataan dan penempatan penduduk berdasarkan keahlian dan asal daerah penduduk. Perkampungan untuk orang asing biasanya ditempatkan di luar tembok kota, seperti Pekojan yang diperuntukan bagi pedagang muslim dari kawasan Arab ditempatkan di sebelah barat pasar Karangantu, Pecinan yang diperuntukan bagi pendatang dari Cina ditempatkan di sebelah barat Masjid Agung, di luar batas kota. Penataan pengelompokan pemukiman ini selain bertujuan untuk kerapian dan keserasian kota juga untuk kepentingan keamananan, dan merupakan upaya penyebaran dan perluasan kota. Selain penataan pemukiman, juga dilakukan perkuatan dan penebalan tembok keliling kota dan tembok benteng sekeliling istana. Tembok benteng diperkuat dengan lapisan luar yang terbuat dari bata dan batu karang dengan parit parit disekelilingnya. Perbaikan Masjid Agung juga dilakukan dan penambahan bangunan menara dengan bantuan Cek Ban Cut, arsitek muslim asal Mongolia. Untuk kepentingan irigasi bagi persawahan yang berada di sekitar kota dan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih bagi kota Surosowan, di buatlah danau buatan yang dinamakan Tasikardi. Air dari sungai Cibanten dialirkan melalui terusan khusus ke danau ini, yang kemudian disalurkan ke daerah daerah sekitar danau. Dengan melalui pipa pipa terakota, setelah diendapkan di Pengindelan Abang dan Pengindelan Putih, air yang sudah jernih dialirkan ke keraton dan tempat tempat lain di dalam kota. Di tengah danau buatan ini juga dibuat pulau kecil yang digunakan sebagai tempat rekreasi keluarga keraton. Sultan Maulana Yusuf wafat pada tahun 1580 M dan dimakamkan di Pakalangan Gede dekat kampung Kasunyatan sekarang, dan karenanya beroleh gelar Pangeran Panembahan Pakalangan Gede atau Pangeran Pasarean. Sebagai pengganti, diangkatlah putranya, Pangeran Muhammad yang pada waktu itu baru berusia 9 tahun. 1579 M Pasukan Banten di bawah pimpinan Sultan Maulana Yusuf berhasil merebut Pakuan, ibukota Kerajaan Pajajaran dan menguasai seluruh wilayah bekas kerajaan Pajajaran. Raja terakhir yang memerintah Kerajaan Pajajaran adalah Raga Mulya atau Prabu Surya Kencana, yang juga dijuluki Prabu Pucuk Umun atau Panembahan Pulosari, karena pada akhir masa kepemerintahannya berkedudukan di gunung Pulosari, Pandeglang. Benteng Pulosari dapat dikuasai oleh Sultan Maulana Yusuf pada tanggal 8 Mei 1579/11 Rabiul Awal 987 H. Setelah berhasil dikalahkan, seluruh punggawa kerajaan Pajajaran diislamkan dan dibiarkan kembali memangku jabatannya sehingga dapat menjamin stabilitas keamanan di seluruh wilayah Banten. 1580-1596 M Sultan Maulana Muhammad Kanjeng Ratu Banten Surosowan Keadaan Banten pada masa Sultan Maulana Muhammad dapat diketahui berdasarkan kesaksian Willem Lodewycksz yang mengikuti Cornelis de Houtman yang mendarat di pelabuhan Banten tahun 1596. Dari catatan mereka diketahui bahwa Kota Banten mempunyai tembok tembok yang lebarnya lebih dari depa orang dewasa dan terbuat dari bata merah. Diperkirakan besarnya sebesar kota Amsterdam tahun 1480 M dan orang dapat melayari seluruh kota Banten melalui banyak sungai. Setiap kapal asing yang hendak berlabuh di Bandar Banten diharuskan melalui semacam pintu gerbang dan membayar bea masuk. 4

dalam kenyataannya banyak menerima suap dari pedagang asing. untuk menjalankan roda pemerintahan maka ditunjuklah Mangkubumi Jayanegara. Sultan meninggalkan putra yang baru berusia lima bulan. Nyai Gede Wanagiri yang telah menikah kembali. seorang tua yang lemah lembut dan luas pengalamannya dalam pemerintahan sebagai walinya. saudara beda ibu dengan Sultan Maulana Muhammad. maupun pedagang dalam negeri. Banten dapat terselamatkan dari kehancuran akibat rongrongan dari dalam amupun luar negeri. Sultan Maulana Muhammad wafat pada tahun 1596 pada saat penyerangan ke Palembang. Perang untuk memperebutkan tahta yang dilancarkan oleh Pangeran Kulon. perwalian dikembalikan ke ibunda sultan. mendesak agar suami barunya ditunjuk sebagai Mangkubumi. yang terjadi di tahun 1608 ± 1609 M. untuk tempat shalat perempuan disediakan tempat khusus yang disebut pawastren atau pawadonan. beliau banyak mengarang kitab agama Islam dan membangun masjid hingga ke pelosok negeri. saudara sultan lain ibu ini. Maulana Muhammad terkenal sebagai orang yang saleh. semenjak itu Banten menjadi aman kembali. Masjid Agung diperindah dengan melapisi dinding dengan keramik dan kolomnya dengan kayu cendana. Untuk kepentingan penyebaran agama Islam. 5 . Dengan cara demikian. yang memicu terjadinya perang saudara yang dikenal dengan nama Perang Pailir. Sultan Maulana Muhammad wafat di usia 25 tahun. Salah satunya adalah diangkatnya Pangeran Ranamanggala sebagai Mangkubumi dan wali dari sultan muda. perang yang dimulai akibat bujukan Pangeran Mas. Mangkubumi yang baru ini. Pada masa kepemimpinannya. dapat dihentikan atas usaha Pangeran Jayakarta hingga dibuat perjanjian perdamaian antara semua pihak. Portugis. tindakan utama yang diambil adalah mengembalikan stabilitas keamanan Banten dan menegakan peraturan untuk kelancaran pemerintahan. Sultan juga menjadi khatib dan imam untuk setiap shalat Jum¶at dan Hari Raya. yang bahkan Sultan sendiri tidak diperkenankan untuk ikut campur. Pada saat Mangkubumi Jayanegara wafat di tahun 1602 M. dimakamkan di serambi Masjid Agung dan beroleh gelar Pangeran Seda ing Palembang atau Pangeran Seda ing Rana. Puncak dari kekacauan itu adalah dibunuhnya Mangkubumi. Selama menjabat sebagai Mangkubumi. 1596-1651 M Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir Sultan Abul Mafakhir yang baru berusia lima bulan. sehingga tidak memiliki wibawa dan keputusannya lebih banyak tidak ditaati. yang ditunjuk sebagai penggantinya. dengan berbagai kepentingan yang berbeda serta keinginan untuk merebut tahta kerajaan. Nyai Gede Wanagiri. yaitu Abul Mafakhir. Kekacauan di dalam negeri semakin membesar dan tidak dapat ditangani karena Mangkubumi lebih sibuk mengurus keributan yang ditimbulkan oleh pedagang Belanda dengan pedagang Inggris. Sultan tertembak ketika memimpin pasukan dari kapal Indrajaladri di Sungai Musi.Transaksi perdagangan di pasar ini berjalan mudah karena mata uang dan pertukaran mata uang (money changer) sudah dikenal. keturunan dari Kerajaan Demak yang ingin menjadi Raja Palembang. Pangeran Ranamanggala adalah putra Maulana Yusuf. Masa awal pemerintahan Sultan yang masih balita ini merupakan masa masa pahit dalam sejarah Kesultanan Banten karena banyaknya perpecahan dalam keluarga kerajaan.

karangan Nina H Lubis. Peristiwa ini pun tak pula penting. Soalnya kedua naskah memorandum itu-entah sengaja. Akan tetapi. Hal ini dilakukan agar pedagang dari Belanda tidak berniaga di Banten karena perilaku pedagang Belanda yang kasar dan mau mencampuri urusan pemerintahan dan dalam negeri Banten. ulama. barulah pada tahun 1857 ± hampir enam dasawarsa kemudian ± ringkasan dari kedua memorandum panjang ini diterbitkan dalam majalah Bijdragen tot Taal-. Pada pengantar dari memorandum yang telah diperpendek itu. tetapi lebih mungkin karena keasyikan berkisah saja-ternyata banyak juga membicarakan hal-hal yang mestinya tidak boleh diketahui umum. entah tidak. Akan tetapi. Akan tetapi.en volkenkunde (biasa dipendekkan dengan BKI saja. Yang penting ialah Jonkheer Jan de Rovere van Breugel adalah seorang pejabat VOC di Banten.Mangkubumi dalam menghadapi bangsa asing tidak berat sebelah atau memihak pihak manapun. Namun. Maka dengan pengurangan biaya ini kerugian finansial VOC bisa ditekan. Melihat namanya ia rupanya seorang bangsawan. tidak lagi 372 orang. Soalnya Banten cukup dekat dari Batavia dan lagi ± dan ini rupanya penting juga ± ³kemiskinan sang raja telah meniadakan kemungkinannya untuk melakukan apapun´. Pulang kampung dan meletakkan jabatan bukanlah pula hal yang harus dibesar-besarkan. rencana penerbitan ini dibatalkan karena Gubernur Jenderal Alting menasehati sang pengarang agar mau mengurungkan niatnya.sebuah organisasi keilmuan yang tertua di negeri yang kemudian bernama Hindia Belanda ini. Beberapa kebijakan penting yang diambil : ‡ Penghapusan keharusan bagi pedagang Cina untuk menjual lada kepada pedagang Belanda ‡ Penetapan pajak ekspor lada dan pajak impor bagi barang barang yang sebelumnya tidak terkena pajak ‡ Pemberlakuan pajak yang lebih tinggi bagi pedagang dari Belanda. Coba saja pikir pejabat yang bergelar Jonkheer ini antara lain mengusulkan agar VOC menurunkan tingkat administratif Banten hingga dengan begini jumlah tentara yang diperlukan cukup 185 orang saja. Pada tahun 1788. raden mas Belanda ini sempat menyelesaikan dua memorandum panjang.land-. ia terpaksa meninggalkan jabatannya pada maskapai dagang Belanda yang semakin lama semakin berfungsi sebagai sebuah ³negara´ itu. Bukankah sudah umum juga diketahui bahwa salah satu sebab utama VOC dilebur dan daerah-daerah di Kepulauan Indonesia yang telah berada di bawah dominasi VOC dijadikan sebagai bagian dari sebuah negara kolonial yang disebut Hindia Belanda ialah karena VOC telah mengalami kebangkrutan? Tentu sekarang kita bisa berkata bahwa kalau dihitung-hitung umur VOC lebih panjang daripada Hindia Belanda. Jadi rahasia dari masa-masa akhir hidup VOC termuat juga dalam naskah ini. yang masing-masing berjudul Berschijving van Banten en de Lampong (Uraian tentang Banten dan Lampung) dan Bedenkingen van den staat van Bantam (Pemikiran tentang Banten). sebuah majalah yang sampai sekarang masih terbit bahkan telah semakin bersifat internasional. sedangkan umur Hindia Belanda hanya 142 tahun saja. VOC sempat hidup sampai dua abad kurang dua tahun (1602-1800). Disarikan dari Buku BANTEN DALAM PERGUMULAN SEJARAH: sultan. redaksi majalah mengatakan bahwa sebenarnya naskah lengkap dari sang bangsawan lokal ini akan diterbitkan oleh Bataviaasch Genootschaap. yang menarik ialah ternyata setahun sebelum ia ³pulang negeri´. 6 . Kalaupun ingin berpikir secara legalistik yang kaku palingpaling hanya bisa ditambah empat tahun tambah beberapa bulan ± sejak menyerahnya Jepang hingga ³penyerahan kedaulatan´. yang akan mau mengakui cara berpikir legalistik konyol ini. penerbit LP3ES. tetapi biarlah kebangsawanan ini sebagai tambahan pengetahuan saja. terbitan KITLV). jawara.

Bahkan. tetapi juga serta merta mengikis tradisi maritim Jawa yang dinamis. Dalam tulisannya tampak pula bahwa ia adalah seorang pengamat situasi sosial yang cukup jeli juga. tetapi ternyata hampir tidak ada aspek kehidupan dan dinamika ekonomi-politik yang tidak dibicarakannya. Apalagi pada waktu diterbitkan. menulis tentang hubungan Jawa dan Belanda (Java and Modern Europe. tetapi akibatnya orangtua anak perempuan akan kehilangan pembayaran yang telah mereka lakukan. penduduk dan adat. Ia pun ³berbaik hati´ juga mengikhtisarkan lagi ikhtisar naskah sang Jonkheer. bangsawan). Soalnya ia sebenarnya melihat masa depan yang cerah juga bagi Banten. Hanya saja. sayang juga ketika akhirnya diterbitkan tulisannya hanya bermanfaat sebagai salah satu sumber sejarah saja. Maka. sebagaimana yang mungkin bisa dilakukan oleh ahli anthropologi modern. sejarawan Australia yang ahli Jawa. Policy apalagi yang akan dijalankan berdasarkan memorandum itu? Bisalah pula dipahami bahwa barulah ketika Ann Kumar. Mereka lebih sibuk minum-minum ± tentu saja bukan air ± makan-makan sirih dan menunggangnunggang kuda. Ia berbicara tentang wilayah dan kota. 7 . Tampak sekali bahwa sang pengarang berharap agar memorandumnya ini bisa mempengaruhi kebijakan politik kolonial yang dijalankan. van Breugel membayangkan juga suatu saat Banten akan bisa bangkit lagi jika saja VOC menjalankan kebijakan yang baik. tentu bisa juga dimaklumi kalau dalam melihat dan mengamati masyarakat Banten ia tak bisa melepaskan landasan penilaian yang bercorak Belanda. Mereka membiarkan saja para isteri mereka bekerja mengurus rumah tangga. Kalau begini keadaannya nilai aktualitas dari memorandum itu telah membuyar. Dengan membaca ³ikhtisar dari ikhtisar´ ini kita mengetahui juga dasar keinginan van Breugel untuk menerbitkan kedua memorandumnya dan bisa pula memahami pertimbangan majalah BKI untuk menerbitkan ikhtisarnya sekian puluh tahun kemudian. katanya lagi. Dalam memorandum ini. meskipun mereka masih tinggal di rumah orang tua. tetapi kali ini dalam bahasa Inggris. pemerintahan (raja. Karena itulah barangkali ikhtisar memorandum kurang begitu menarik perhatian. Meskipun ia sangat menaruh perhatian pada sumber-sumber ekonomis Banten dan Lampung. yang jelas kedua naskah memorandum yang telah diperpendek itu diterbitkan ketika Pemerintah Hindia Belanda telah asyik dengan politik ³tanam paksa´ atau cultuurstelsel di Pulau Jawa. Banten telah pula sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Belanda. tak perlu heran kalau masyarakat awam masih menyebut pemerintah kolonial Belanda ³kompeni´. laki-laki Banten itu. sudahlah. yang jelas tulisan Jonkheer de Rovere van Breugel boleh dikatakan bercorak ensiklopedis tentang Banten. meskipun Hindia Belanda telah berkuasa.siapa lagi selain kaum konservatif Belanda? Jadi. Namun demikian. kalau saja pengamatannya tidak terlalu bias. la mungkin tak bisa menerangkan mengapa ³itu harus begitu´ dan ³mengapa ini harus begini´. 1997) ia merasa perlu menjadikan tulisan dari van Breugel ini sebagai bahan kajiannya. jika saja usul-usulnya bisa dipertimbangkan untuk dilaksanakan. Pertunangan ini bisa juga dibatalkan. janganlah kaget kalau ia mengatakan bahwa menurut pengamatannya laki-laki Banten itu sesungguhnya pemalas. Anakanak umur delapan atau sepuluh telah dipertunangkan. hasil bumi dan perdagangan serta hal-hal lain lagi. Politik ini bukan saja dengan ekstrem mengeksploitasi anak negeri dan menjadikan mereka terpaku pada desa masing-masing. tetapi sudahlah. tetapi ia dapat saja bercerita tentang apa saja yang kebetulan dilihat dan diamatinya. membiarkan saja perdagangan dikuasai para pendatang yang disebut ³Orang dagang´ . Akan tetapi.

Di sekeliling benteng itu ada perumahan VOC. kopi. ia mengatakan bahwa orang Banten itu beragama Islam tetapi orang Lampung menganut kepercayaan yang merupakan percampuran ³ajaran Muhammad´ dengan sistem kepercayaan yang masih kafir. artinya mereka sering berhasil mengelakkan monopoli VOC. la juga bercerita tentang perdagangan candu yang dikuasai Letnan Cina dan berkisah pula tentang betapa maraknya penyelundupan barang haram ini. Raja yang memerintah pada waktu itu ialah Sultan Abul Nazar Muhammad. Orang Mandar. Akan tetapi. Rumah-rumah umumnya terbuat dari bambu. sangat dipengaruhi oleh ³paus-paus orang asing´ (maksudnya tentu saja ulama-ulama dari negeri lain). Tentang usaha pemberantasan perompakan ia mengusulkan agar kekuatan armada Banten diperkuat. menurut pengamatannya. bagaimanakah keadaan ibu kota Banten? Kalau tentang desa ia mengatakan bahwa desa orang Banten sangat tak beraturan. padahal 8 . yang diperkuat dengan 58 meriam. sedangkan tentang ibu kota. kayu sandalwood. kelapa. la menguraikannya mulai dari tempat tumbuh dan cara pemeliharaan sampai dengan prospek perdagangannya. yaitu Karang Antu. Tentang agama. Orang Banten mempunyai hukum juga. sedangkan tamu-tamu datang dengan membawa hadiah. semua pasar itu mengalami kemunduran . Bukan itu saja. katanya. bukan saja di kalangan kraton. tetapi untuk pertahanan istana yang dikelilingi benteng ini tak ada artinya apa-apa. ndigo. sebab ia bisa juga berbicara agak panjang lebar tentang situasi dari upacara perkawinan itu. Istana raja dikelilingi benteng berbentuk setengah bulan. Van Breugel jengkel juga karena ia melihat sang Sultan tidak menaruh hormat lagi pada VOC. gula. ³masih bisa disebut kota´. tidak lagi seperti dulu ketika Banten masih megah. Sultan asyik dengan segala macam kemewahan. Cerita yang mengasyikkan juga ialah tentang bajak laut. dan digabung lagi ³dengan takhyul yang paling bodoh´. Akan tetapi. kata van Breugel. pencurian dibayar dengan penjara atau perbudakan yang kadang-kadang bisa sebagai hukuman bagi hutang yang tak dibayar. katanya. yang menurut van Breugel. yang disaksikan van Breugel. Kalau saja interpretasi sosial boleh diberikan terhadap uraiannya ini maka bisalah dikatakan bahwa masyarakat Banten. biasanya buah-buahan. Tumanggung. sedang berada dalam situasi kemelut yang parah juga. dan sebagainya. Ketika menyebut ³paus´ ini van Breugel sama saja dengan para penulis Belanda lain. Sang pejabat yang bangsawan ini rupanya pernah juga beberapa kali menghadiri upacara pernikahan orang Banten. Mereka semakin berpengaruh saja di kalangan masyarakat Banten. Perbentengan telah hancur dan di atas runtuhan itu rumah-rumah baru didirikan karena jumlahnya cukup banyak inilah Banten. ia melukiskan tentang dindingdinding yang dulu pernah mengitari ibu kota sekarang telah hancur lebur berantakan. pada umumnya mereka lebih suka mengikuti hukum alam saja ² darah dibayar dengan darah. umpamanya dengan memberi bantuan mesiu. sedangkan para pejabat negara. Orang Cina tinggal di dua kampung yang dipenuhi oleh rumah tembok batu juga. Kata ³paus´ adalah sebutan ejekan bagi ulama. (Belanda abad ke-18 sangat anti-Katholik rupanya). pinang. hanya sebagian kecil saja memakai bingkai kayu. tetapi. la menguraikan satu persatu komoditi ini. Bagian yang terpenting dari memorandum ini ialah uraian tentang komoditi perdagangan dari Banten dan Lampung: lada. seperti menteri dan ³pendeta´ (maksudnya barangkali kadhi kerajaan) dan beberapa orang lain mempunyai rumah batu. adalah yang paling aktif dalam penyelundupan. Ada tiga pasar di Banten. beras.Pesta perkawinan diadakan di rumah penganten perempuan. dan sebuah pasar baru.

dan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. Pengawas gudang lada sang raja ialah seorang yang bernama Kiai Aria Astradinata. telah masuk Islam). Pada umumnya para bangsawan ini sudah cukup puas dengan tempat tinggal yang menyenangkan. mendirikan Banten. tetapi muncul sebagai akibat dari ekspansi kekuasaan dari luar. Sang Pangeran yang hidup pada abad ke-18. Kalau telah begini. Pangeran Raja Kusuma. panglima Portugis yang ingin melumpuhkan Mekah dan Constatinopel ± dua pusat kekuasaan dan agama Islam. sedangkan para bangsawan sangat tergantung kepada Sultan. Awal abad ke-16 adalah masa yang kritis bagi perairan Asia Tenggara. Paman raja. maka ³terjadilah apa yang harus terjadi´. tetapi pengetahuan akan masa gemilang yang telah hilang itu tak begitu saja terpupus dalam ingatan kolektif Banten. Sunan Gunung Jati. la memperhitungkan bahwa dengan jatuhnya Malaka. kata van Breugel. Alfonso d¶Albuquerque. Bahkan asal usul berdirinya kerajaan pun masih segar dalam ingatan kolektif anak negeri. tentu bisa diduga. Ia bisa juga merasakan apa artinya hidup ketika kejayaan lama hanya tinggal kenangan belaka. perjalanan waktu dijadikan tak berfungsi dalam kesadaran. sayang ia tidak mempunyai penasehat yang baik. katanya. Kerajaan ini tidak bermula dari tumbuhnya dan membesarnya sebuah kekuasaan lokal. Kita pun berhadapan dengan salah satu irama yang hampir menetap dari sejarah Banten setelah kejayaan kerajaan telah terlepas dari tangan. Ternyata ini adalah sebuah keputusan politik yang sangat tepat. maka masa lalu tiba-tiba bisa saja berubah menjadi ³masa depan´ yang harus dirangkul dengan segera. Ketika perasaan kerinduan ini telah semakin mencekam. Pada tahun 1511. Sunan Gunung Jati meninggalkan putranya sebagai penguasa Banten yang pertama. Sultan berhutang ke kiri dan ke kanan. Ketika kemudian Cirebon melepaskan perwaliannya atas wilayah di ujung Barat Pulau Jawa (1552) kesultanan Banten pun resmi berdiri dan Pangeran Adipati Hasanuddin pun menjadi Sultan Hasanuddin. Kesedihan sang pangeran tua ini tentang kemerosotan negerinya tentu bisa dimaklumi. yang terletak di ujung Barat Pulau Jawa. Setelah itu. berhasil menaklukkan Malaka. maka tarikan masa lalu yang telah dirasakan sebagai ³masa depan´ itu semakin keras dan menggetarkan juga. Ia telah tua dan uzur dan hanya menghabiskan waktunya untuk beribadah serta menangisi nasib tanah airnya yang hari demi hari dilanda kemerosotan. Asal-usul Banten sebagai sebuah kerajaan Islam agak unik juga. yang malah sibuk menghalangi mereka untuk berhubungan dengan orang Eropa. tentu saja tidak mengalami secara langsung masa ketika Banten adalah kerajaan yang makmur dan disegani dan merupakan salah satu kerajaan yang terkuat di Kepulauan Nusantara ini. adalah seorang yang alim. karena situasi kesekarangan telah sedemikian menista harga diri. ulama -penguasa dari Cirebon dan salah seorang Wali Sanga. la adalah anak seorang tukang batu Cina yang telah disunat (maksudnya tentu saja. perahu-kesenangan. Janganlah pula heran bilamana kepedihan masa kini telah semakin keras dirasakan. Dalam usaha untuk meluaskan kekuasaan dan mengembangkan Islam. maka berarti leher dari 9 . Akibatnya.kesultanan telah jatuh miskin. Bilamana situasi kesekarangan telah dirasakan semakin mencekam bagaimanakah ingatan akan masa lalu yang telah lewat itu akan hilang begitu saja? Bukankah nostalgia kultural itu sesungguhnya tidak lain daripada perlawanan terhadap tirani sang waktu? Dengan bernostagia. Sebenarnya Sultan ini seorang yang baik hati. Jabatan sebagai kepala gudang ini dianggap sebagai sesuatu yang turun temurun. Ketika Van Breugel menulis tentang Pangeran Raja Kusuma ini ia mungkin merasa simpati juga. tetapi ia tampaknya agak serakah.

Sejak itu sejarah Banten hanyalah berisikan kisah kemerosotan saja sampai akhirnya menjadi residentie Banten. Tradisi sejarah Banten tidak bisa melupakan bahwa Maulana Jusuf tewas ketika ia ingin meluaskan pengaruh dan kekuasaan kesultanan Banten ke Palembang. kemudian datang Belanda. Perairan Nusantara pun menjadi ranah persaingan dari segala bangsa. India (1498). Soalnya ialah setelah Vasco da Gama mendarat di Calicut. Spanyol. Ukuran kebesaran enterpot ini bisa dilihat juga antara lain pada perkiraan jumlah penduduk yang diberikan oleh para pelapor asing. Maka sementara beberapa negara-kota di pantai Utara Jawa dan Johor. yang didorong oleh keuntungan dagang dan kekuasaan agama ini. Tetapi pada tahun 1696 telah turun menjadi 125 ribu.kedua pusat Islam itu telah bisa dicekik Portugis. dan mengekspor barang imporhanya Aceh di Barat dan Makassar di Timur. Mataram pun tampil pula sebagai pemegang hegemoni di ³negara-negara kota´ di pantai Utara. mengirim barang ekspor. sibuk berkali-kali menyerang Malaka. apalagi setelah Portugis berhasil menaklukkan Malaka maka ³jalan ke Timur´ untuk mencari rempah-rempah dan menyebarkan agama. tetapi juga menyebabkan terjadinya pemencaran dari pusat-pusat perdagangan Islam. tetapi dalam perbandingan perkiraan ini memperlihatkan bahwa Banten mempunyai penduduk yang terbesar di Nusantara. seorang ahli filologi Islam. pedagang. Pada waktu itu diperkirakan jumlah penduduk 800 ribu. apalagi Asia. Pada waktunya sebagian dari kota-dagang dan pelabuhan persinggahan bagi para pedagang Islam yang baru ini pun tumbuh sebagai pusat kekuasaan besar. yang memang telah berdatangan sejak awal abad Masehi. Aceh-Darussalam serta Banten secara pelan tetapi pasti menjadi kerajaan Islam yang besar. Sudah pasti perkiraan jumlah penduduk itu tidak akurat. Karena itu bisa jugalah dipahami kalau sumber-sumber tentang sejarah Banten selama abad ke-16 ± abad ke-17 sangat banyak juga. Inggris. Malaka adalah salah satu pusat perdagangan yang besar dunia pada abad ke-15. Sementara itu di pedalaman Jawa. sama sekali tidak menduga bahwa kejatuhan Malaka bukan saja menyebabkan Malaka menjadi sasaran penyerbuan dari kekuatan Islam di perairan Barat Indonesia. Penurunan jumlah penduduk yang drastis dari tahun 1682 -1696 tentu masuk akal juga. Saingannya hanya perkiraan jumlah penduduk Mataram pada tahun 1624. di tempat-tempat lain kota-kota dagang baru pun bermunculan pula. serta Aceh-Darussalam. Tentang Banten laporan-laporan asing memperlihatkan bahwa antara tahun 1660-1690 terjadi fluktuasi yang hebat juga dari jumlah penduduk. bahkan juga Denmark. Karena itulah Schrieke. Dan sejak itu pula Banten semakin tampil sebagai entrepot yang terbesar di Pulau Jawa. Sejak akhir abad ke-16 dan akhir abad ke-17 boleh dikatakan sebagai the age of Islamic hegemony dalam sejarah Asia Tenggara. Sepuluh tahun kemudian 700 ribu. Ketika inilah Makassar. tetapi dengan memakaikan keuntungan dari tinjauan ke belakang (atau historical hindsight. karena pada tahun 1682 itulah masa akhir kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. penerus dinasti Malaka. penginjil. Ternate dan Tidore. seperti Portugis. tetapi panglima Portugis. baik yang datang dari Eropa. sosiologi dan sejarah Belanda yang terkemuka (yang sempat juga bekerja pada kantor Penasehat Bumiputra) sempat juga membuat teori bahwa penyebaran Islam di Kepulauan Indonesia ini tidak bisa dilepaskan dari apa yang disebutnya sebagai ³race with Christianity´ (perlombaan dengan Kristen). Saingan Banten di Nusantara sebagai entrepot pelabuhan yang menerima barang impor. telah terbuka pula bagi para pelaut. dan advonturir Eropa. kata orang sana) kekalahan ini sesungguhnya bisa dilihat sebagai awal dari konsolidasi kekuasaan internal Banten. Sebuah perkiraan pada tahun 1662 mengatakan bahwa penduduk Banten lebih dari 100 ribu. 10 . tetapi pada perkiraan pada tahun 1672 telah memperlihatkan lonjakan jumlah yang hebat.

Salah satu laporan yang menarik dibuat oleh orang Belanda. miskin-miskin. menjadi pedagang perantara.. juga menjadikan Banten sebagai pusat aktivitasnya di Nusantara. mempunyai hobby yang sama pula. Cornelis de Houtman. mendarat di Banten dan kemudian menjadikan Banten sebagai pusat aktivitasnya. sama saja dengan ³konglomerat Melayu´ sekuler zaman sekarang ² pokoknya keuntungan masuk. Maka. maklum para pejabat itu tidak bisa membedakan mana yang mitos dan mana yang sejarah. Tak lama kemudian Inggris.. dengan kata lain. walaupun ia bukan berdarah kraton. bisalah dikatakan bahwa kerap kali juga orang membandingkan Banten dengan Aceh. Kalau orang Gujarat. janganjangan sultanah yang berada di belakang tirai ketika menerima perutusan Inggris. tetapi karena kearifannya sangat dihargai oleh semua (yang berkuasa) ia memerintah 11 .Lodewijk tentu saja tidak mengatakannya dan ia pasti juga tidak tahu. maka ia pun menjalankan semua kerja yang hina untuk menghidupi dirinya. Sebagaimana kota pelabuhan lain Sjahbandar Banten juga orang asing. biarlah hal ini tak dilanjutkan. yang datang ke Banten pada tahun 1596 bersama komandannya. Selama lima tahun yang kritis (1600-1605) yang tampil sebagai tokoh utama ialah Nyai Gede Wanagiri. kata Lodewijk. Ini pulalah salah satu sebab dari awal terjadinya Islamisasi di kawasan ini. Jadi. seorang laki-laki yang menyamar. Salah satu hal yang dibandingkan itu ialah kenyataan bahwa Banten tidak pernah mempunyai penguasa perempuan. Ketika ia sampai di Banten. tentang Kojah Rayoan. menurut laporannya. Ini tentu adalah fakta sejarah biasa saja ± orang berdagang tentu mencari pusat kegiatannya ± tetapi sialnya dalam sejarah Indonesia yang diajarkan oleh para pejabat negara Indonesia yang merdeka. ³ia tak punya apa-apa. tentu bisa diduga. la adalah sultanah yang terakhir). Orang Arab dan Pegu melakukan perdagangan laut yang sibuk membawa barang dari satu tempat ke tempat lain atau. karena belum dewasa. Antara lain ia bercerita tentang ³pembagian kerja´ dari anggota komunitas asing yang berada di Banten. seorang pelapor Inggris curiga juga. Ternyata orang Melayu. tetapi peranan Arab sebagai pedagang di perairan Nusantara ini barangkali telah dimulai sejak abad ke-11 ketika Cina menutup pelabuhannya bagi pedagang asing. Maka. maka ia pun mengatakan bahwa orang Keling lebih suka mengadakan investasi dengan bunga. menurut Lodewijk. jika laporan Lodewijk ini benar. tentu bisa disebut rentenir. maka kita pun bisa juga mengatakan bahwa ajaran Islam tentang riba tidak masuk perhitungan para pedagang Melayu itu. Kalau cerita Lodewijk diteruskan. Banten di abad ke-16 dan awal abad ke-17 adalah ³a land of opportunities´± negeri yang membuka semua kesempatan. yang praktis merupakan pengimport tunggal tekstil dari anak benua India. Aceh mempunyai empat orang sultanah yang memerintah berturut-turut di abad ke-17 (Sialnya. yang dengan kata lain. berdagang permata dan obat-obatan. la orang dari Keling. Dengan jelas sekali ia menggambarkan sifat internasional entrepot Banten. Masuk akal juga kalau Cornellis de Houtman. mereka pada umumnya adalah pelaut dan. Orang Persia. Seorang pelapor Inggris (Scott) menyatakan kekagumannya ketika ia berkata bahwa ³perempuan tua ini menguasai para wali dan lain-lain. pelopor Belanda ke Nusantara. seorang pedagang Turki yang kaya-raya. Lodewijk.´ amun. Atau kalau dengan istilah yang biasa dipakai sebagai cheti.´ Dengan kata lain. tahun kedatangan Cornellis de Houtman ke Banten ini dijadikan sebagai masa awal dari penjajahan Belanda di Indonesia. kita pun ikut larut dalam pandangan sejarah yang bodoh dan sesat ini dengan mengatakan bahwa ³Indonesia 350 tahun berada di bawah kolonialisme Belanda. Hanya saja dalam perbandingan ini sering terlupakan bahwa tumbuhnya Banten sebagai pusat kekuasaan dan dagang terjadi ketika Sultan Abdul Kadir (1596-1618) masih harus berada di bawah pewalian. kalau cerita dilanjutkan. Lodewijk juga bercerita tentang pedagang besar yang bernama Cheti Maluku yang berhubungan dagang dengan orang Belanda dan Inggris.

baik sumber asing maupun sumber lokal. yaitu maritim dan agraris. membagi kerajaan di kepulauan Indonesia atas dua kategori. yang disebut historiografi tradisional itu. Suasana kemelut menjelang kejatuhan selalu membayangkan otoritas kekuasaan yang lemah. tetapi suasana sosial-politik dan ekonomi memantulkan gambaran yang tak jauh berbeda. Tidak kurang pentingnya ialah suasana ini bukan saja mengundang kedatangan para pedagang dari segala penjuru dunia. hukum yang kehilangan peran. yang tahu semua masalah perdagangan. serta waktu. Dengan pendekatan ideal type ² membuat bentukan analisis berdasarkan sifat kategori yang paling ekstrim. Bedanya hanyalah pada detail-detail sejarah ± nama tempat. Kalau De Breugel. Makassar. sempat mengatakan bahwa orang Banten meskipun punya hukum tetapi lebih suka memakai hukum alam.´ Maka begitulah kalau aturan main dalam pemerintahan telah cukup jelas. Sedangkan laporan-laporan asing tentang Banten abad ke-16 dan abad ke-17 juga tak pula jauh bedanya dengan laporan tentang kerajaan maritim lain yang sedang berkembang. Banten. Pulau Bintan. 12 . yang pertama Syahbandar Besar.melaporkan bahwa Banten. kebudayaan dinamis. Bahkan kisah yang ditulis Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Aceh dan lain-lain memperlihatkan ciri-ciri yang khas maritim.´ De Breugel menggambarkan suasana kemunduran dan kemelut. karma telah membantunya menghadapi pemberontakan yang dipimpin Kiai Tapa (1750-52). Jadi masuk akal juga kalau van Leur. Nada dari uraiannya hampir sama dengan gambaran para pelapor lain tentang kerajaan-kerajaan Nusantara yang sedang mengalami kemunduran. yang dikirim Inggris. Dalam hal ini. Ketika itu kraton Banten praktis telah menjadi fiefdom VOC atau berada di bawah suzereniteit maskapai ± yang-bermain sebagai-negara ini dan harus pula membayar utang kepada VOC.maka negara maritim berarti kegiatan dagang. yang ditulis Raja Ali Haji dan ayahnya Raja Ahmad dari Pulau Penyengat. nama orang dan bentuk peristiwa. tetapi juga para ulama. Ciri-ciri umum ialah persaingan dagang internasional yang meriah. raja yang bijaksana. memperlihatkan suasana yang lama. untuk meninjau kerajaan-kerajaan di pantai Timur Tanah Semenanjung. dan pandangan ke luar.misi Katholik Prancis. ³mempunyai dua hakim utama. meskipun yang dikisahkan berbedabeda.seakan-akan ia adalah satu-satunya ratu di negeri ini. dan yang lain memakai nama Thiaria (Shari¶ah). Jika saja nama-nama orang diganti dan nama-nama tempat ditukar pula maka uraian tentang Banten rasanya bisa saja dijadikan tentang Makassar dari abad yang sama. memberikan kesan yang tidak jauh berbeda. ekonomi yang kehilangan gairah. yang mempunyai jurisdiksi pada semua masalah perdata dan pidana. dan aktivitas keagamaan menjadi pertanda dari kearifan Sultan. masyarakat yang tak peduli. Bahkan juga bisa ditukarkan dengan Riau-Johor abad ke-18. Kisahnya tentu saja berbeda-beda. sebagaimana diuraikan oleh kitab Tufhat an Nafis. ilmu pengetahuan berkembang. pemerintahan bisa dijalankan berdasarkan kearifan yang paling unggul. yang menghukum dengan berat kejahatan pencurian dan perzinaan. sistem hukum berlaku baik. Ada kerajaan yang telah mengalami krisis di abad ke-18 ± umumnya berada di pulau Jawa ± tetapi ada pula yang bare mengalaminya pada abad ke-19 ± umumnya di kerajaan-kerajaan di daerah lain (kecuali Maluku). serta keamanan yang tak terjamin. sebuah pulau kecil dekat Tanjung Pinang. Seorang pendeta dari Missions Etrangeyes. yang menulis memorandum pada tahun 1787. tidak demikian halnya pada abad ke-17. yang memperkenalkan pendekatan sosiologi Max Weber untuk memahami sejarah. yang telah mendirikan dan menguasai Singapura.

Perang terjadi dan Banten kalah. Tetapi di saat ini pulalah VOC sedang berada pada tahap perkembangannya yang agresif dan sedang asyik memperkenalkan serta memaksakan sebuah sistem yang sama sekali tak dikenal oleh tradisi Nusantara yang bertolak dari pemikiran laut bebas (mare liberum). Ungkapan ini tidak benar kalau sejarah diartikan sebagai salinan yang murni dari ³apa. Ia mengirimkan utusan diplomatik ke negeri-negeri Islam dan menyuruh anaknya naik haji sambil mengunjungi Turki. bukan saja tertarik untuk mendatangi Banten. sejarah berulang.´ sedangkan yang merupakan gejala umum itu ialah 13 . maka kraton pun ada kalanya menjadi sasaran pemberontakan. tetapi dari sudut pandang lain. Syekh Jusuf al Makasari.´ Penguasa maritim sejauh mungkin ingin mendapatkan keuntungan dari perdagangan laut. dan cenderung mempunyai pandangan ke dalam (inward looking). Fakta bahwa Putra Mahkota bisa berkhianat pada ayahandanya serta-merta menyebabkan karisma tradisional yang dipegang kraton pun meluntur pula. einmalig. tentu mudah juga dipahami kalau di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683). tetapi hegemoni telah berada di tangan VOC. dan bila´. sebab saya bukan pedagang seperti penguasa Banten dan Surabaya. Seperti juga halnya dengan Mataram. sikap kultural yang konservatif. Maka perbenturan antara Batavia. Benar. Kemudian hegemoni ini secara berangsur menjadi dominasi (mulai dari zaman Daendels) sampai akhirnya resmi berada di bawah kekuasaan langsung Hindia Belanda ² kesultanan telah dihapuskan. Konon Sultan Mataram pernah mengatakan pada utusan Belanda yang datang menghadap di kratonnya. Adapun yang khusus dan tak berulang ialah kenyataan bahwa ³Sultan Ageng Tirtayasa (siapa) yang melawan usaha penetrasi kekuasaan Belanda (apa) di Banten (di mana) pada tahun 1682 (bila). ³Tuan-tuan boleh berdagang di negeri saya tanpa bayar pajak. di mana. yang mempunyai kemampuan teknologi persenjataan yang lebih canggih dan tentara yang telah mengalami suka-duka berbagai macam perang. Dengan segala ciri-ciri kerajaan maritim yang diperlihatkan Banten. Jika diartikan secara harfiah ungkapan Prancis l¶histoire se repete. Di bawah sultan yang bijaksana inilah Banten mencapai tingkat kegemilangannya yang tertinggi. yang harus merasa takut dengan persaingan tuan. tetapi bisa merasakannya sebagai negeri sendiri. Sejak itu sejarah Banten adalah rentetan dari kisah yang ³menunda kekalahan´ saja. akhirnya kolonialisme. lebih dari itu sekadar kekalahan kejatuhan Sultan Ageng bermula dari pengkhianatan sang putra mahkota. hegemoni asing. Mataram tentu lebih suka mendapatkan upeti dari para bangsawan yang telah mendapat lungguh serta menyibukkan diri dengan penghalusan kebudayaan dan sistem status sosial. kalah. independensi Banten mulai setahap demi setahap digerogoti. Sultan Haji. bahkan kalau perlu ² bahkan biasa sekali-mereka pun ikut berdagang. tumbuh. yang lebih sibuk menjalin ikatan perdagangan terbuka. perang. itu sesungguhnya mempunyai unsur yang ³khusus´ dan ³umum´. seorang ulama besar yang berasal dari Makassar. Sistem itu ialah monopoli. dominasi. pertanian. Peristiwa sejarah yang biasa dikatakan hanya sekali terjadi. berkembang menjadi pusat dagang. Setelah Sultan Ageng Tirtayasa (Abdulfattah) bisa dikalahkan. siapa. sejarah Banten adalah sejarah tentang sebuah daerah di tanah air kita. dengan Banten. sejarah Banten mungkin bisa juga dilihat sebagai sebuah gambaran umum dari ³lahir dan tumbangnya´ kekuasaan pribumi ² lahir. tetapi mempunyai validitas relatif kalau yang ingin ditemukan ialah pola umum yang berlaku. memang tidak benar. melawan monopoli. Akan tetapi. Sultan Haji memerintah. ketika penetrasi dan pengaruh kekuasaan asing telah semakin dirasakan.Sedangkan Mataram bersifat agraris ² keterikatan pada tanah.

siapakah yang bisa melupakan karya Multatuli. yaitu semangat independen. pendekar yang selalu siap membela untuk sesuatu yang dianggap benar. Pemberontakan Cilegon sebenarnya memperlihatkan hal lain lagi. Dengan buku untuk pertama kali seorang sejarawan Indonesia tampil ke depan dengan menyoroti sebuah ³peristiwa kecil´. Sejak kejatuhan kesultanan hampir tidak ada lagi satu peristiwa di Banten yang bukan dimotori oleh ulama dan jawara. Maka bisalah dimaklumi kalau Aceh kadang-kadang disebut sebagai negeri ³uleebalang dan ulama´. di masa krisis politik yang berkepanjangan ini ketika ³hukum alam´ (sebagai kata van Breugel) lebih penting dari ketentuan hukum yang berlaku golongan baru pun semakin menampakkan dirinya. tetapi pada umumnya tidak lagi berperan apa-apa yang penting. Max Havelaay. sifat eksploitatif dari kolonialisme kemudian bisa juga menjadi landasan dari terwujudnya rasa kesamaan sejarah dan nasib yang bersifat translokal. seakan-akan diharuskan untuk menjadi daerahsampingan saja. Pada gilirannya kesadaran ini memberi akibat juga pada cara sebuah bangsa yang sedang berada dalam proses pembentukannya untuk melihat sejarahnya. meskipun dalam waktu atau abad yang berbeda-beda. Di samping mempunyai pengaruh terhadap sejarah pergerakan kebangsaan. kolonialisme mempunyai kemungkinan untuk menciptakan mental dependensi (terhadap orang asing) dan kesadaran hirarki sosial yang hegemonik (terhadap sesama anak negeri). dan keterikatan pada norma keagamaan. dengan aktor-aktor ³orang kecil´. Begitulah umpamanya. Onno Zwiervan Haren menulis sebuah drama yang mencekam dengan judul Agon Sulthan van Bantham . Maka dengan begini sebuah alternatif dalam penulisan sejarah diperkenalkan. ³nasionalisme lokal´ yang kental.kecenderungan bahwa ³raja adalah lembaga yang pertama yang melawan usaha penetrasi Belanda´. di pihak lain. Dan kemudian. Nasionalisme yang kolonial pun tumbuh juga. Mereka adalah para jawara. Akan tetapi. seperti tampilnya ulama besar Syekh Nawawi al Bantani. yang berkisah tentang penderitaan rakyat dan ketidakberdayaan pejabat yang bermaksud baik? Kolonialisme adalah hubungan internasional yang bercorak subordinatif dan eksploitatif mempunyai akibat sosial yang penting. Sejak resmi menjadi salah satu karesidenan yang berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda. setidaknya begitulah yang terjadi pada struktur kesadaran yang dipantulkan oleh satu-dua pejabat Belanda. Di satu pihak. ketika itu pula para ulama semakin tampil sebagai pemimpin lokal. yang menerbitkan buku-buku di pusat-pusat pengetahuan dunia Islam. Ketika kesultanan telah mengalami proses pelemahan dan kemudian malah dihapuskan dan di saat kedudukan bangsawan semakin terjepit. yaitu desa. ulama lokal dan petani. Banten. Meskipun dengan memakai konsep pola umum ini Banten unik juga-jika bukan dalam corak peristiwa yang dialaminya. Banten mempunyai tempat khusus juga dalam perkembangan historiografi Indonesia. dengan memakai pendekatan yang bercorak multidimensional. 14 . Kecenderungan umum ini terjadi di manamana. Drama ini berkisah tentang bantuan militer Belanda pada anak Sultan Ageng yang durhaka. Banten pun dikenal pula sebagai negeri ´ ulama dan jawara ³. Sejarah politik dengan peristiwa besar dan orang besar kini telah didampingi oleh studi yang semakin mendekati pada denyut sejarah sesungguhnya-manusia dengan segala keresahan dan harapannya pada tingkat yang paling intim. Banten . Banten yang telah kehilangan kesultanan ternyata tidak kehilangan beberapa hal yang fundamental. kerajaan yang pernah disegani di perairan Nusantara. Ketika Sartono Kartodirdjo (sekarang Prof Dr) menyampaikan disertasinya tentang pemberontakan Cilegon 1888 di Universitas Amsterdam (1966) maka lembaran baru sejarah penulisan sejarah Indonesia pun dibuka. Kadang-kadang orang dikejutkan oleh tampilnya hal yang perlu dicatat.

Fiqh dan Tasawuf merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam ajaran Islam dan harus dipraktekan dalam setiap kegiatan sehari-hari. Haji Abdul Karim selalu menganjurkan tentang perlunya perang sabil terhadap pemerintah kolonial yang kafir. Haji Abdul Karim adalah seorang ulama di desa Lampuyang. Haji Tubagus Ismail. juga dari daerah lain seperti Tangerang. Dalam setiap pengajian/dzikiran yang diadakan di rumah-rumah atau pun di masjid. kemudian mengajar di pesantrennya di Kampung Beji. Pra Peristiwa Geger Cilegon Tokoh menentukan dalam peristiwa Geger Cilegon ini adalah Haji Wasid. seperti bupati. banyak kiyai. para ulama itu selalu menanamkan semangat jihad menentang penjajah kepada masyarakat. penghulu kepala di Serang serta Haji R. Anjuran itu disambut baik kiyai-kiyai terkenal seperti Kiyai Haji Wasid dari Beji. Gerakan itu antara lain dipimpin oleh Haji Abdul Karim. Pontang yang kegiatan sehari-harinya mengadakan pengajaran agama pada masyarakat di daerahnya. Bersama kawan seperjuangannya: Haji Abdurahman. Haji Abdul Karim mendirikan pesantren di Tanahara. Percetakan Pustaka Jaya 1984 Perlawanan bersenjata yang paling menonjol di Banten pada abad ke-19 adalah peristiwa yang dikenal dengan ³Geger Cilegon´. Cilegon. dan Haji Wasid. Tangerang dan sekitarnya berbondong-bondong menunggu di pinggir jalan yang akan dilaluinya.A. Begitu besar pengaruhnya di kalangan rakyat dan pejabat pemerintah sehingga dikenal pula sebagai ³Kiyai Agung´ bahkan dianggap sebagai ³Wali Allah´. Haji Marjuki. Maka mestikah diherankan kalau sudah lama juga para tokoh Banten telah menginginkan agar Banten bisa mendapatkan kebebasan relatif untuk mewujudkan kembali ³janji sejarah´ yang sekian lama seakan-akan terpendam? GEGER CILEGON Sumber data : buku Sartono Kartodirdjo. yang pernah belajar di Mekkah pada Syekh Nawawi al-Bantani. para tokoh itu dengan mudah melancarkan taktik perjuangan menentang pemerintahan kolonial. Sebagai ganti pimpinan pesantren dipercayakan kepada muridnya. tetapi dalam tinjauan dinamika sejarah secara keseluruhan peristiwa ini tidak lebih daripada deviation belaka. Haji Akib. Prawiranegara. yang juga gencar menganjurkan perlawanan kepada penjajah kafir. Tiga pokok ajaran yang disebarkan kepada muridnya adalah tentang Tauhid. Haji Asnawi dari Lempuyang dan Haji Muhammad Asyik dari Bendung. yang dalam waktu singkat pengikutnya bertambah banyak. Haji Abu Bakar dari Pontang. Haji Iskhak dari Saneja. Ketika Kiyai Haji Abdul Karim akan ke Mekkah untuk kedua kalinya pada tanggal 13 Pebruari 1876. langgar atau masjid. di samping dari Banten. Khawatir akan terjadi huru-hara. pensiunan patih Serang. Haji Syadeli dari Kaloran. Pemberontakan Petani Banten 1888. Rakyat dari Tanahara. pemerintah kolonial minta supaya Kiyai Haji Abdul Karim berangkat langsung menggunakan kapal laut dari Tanahara ke Batavia. Kiyai Haji Tubagus Ismail. 15 . yang dalam waktu singkat mendapat banyak murid dan pengaruh terhadap penguasa pribumi. Dalam mengadakan acara dzikiran di rumah-rumah tertentu. Bogor dan Batavia. Melalui pesantren-pesantren.Pemberontakan ³komunis´ 1926 ² seperti juga dengan yang terjadi di Silungkang (Sumatera Barat) ² memang pantas dikenang. tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah yang datang untuk mengucapkan selamat jalan. pada tanggal 9 Juli 1888 yang dipimpin oleh para ulama. Haji Usman dari Tunggak. Gerakan semacam ini timbul pula di Tanahara yang dipimpin oleh Haji Marjuki. Kegiatan pengajian Kiayi ini semakin berkembang terutama setelah ia kembali dari Mekkah tahun 1872.

yang menimbulkan gelombang laut setinggi 30 meter melanda pantai barat Banten. dzikir dan do'a. bukan kepada manusia dan bukan kepada benda lainnya. kerbau atau kambing yang dibunuh tentara kolonial ini. Karena kurangnya makanan ini maka banyak penduduk yang terjangkit penyakit demam yang parah. menyebabkan kelaparan merajalela. PAA. Karena musim kemarau ini pula maka berjangkit wabah penyakit sampar (pes) yang menyerang ternak kerbau atau kambing (1880). ditujukan kepada Allah. kecuali semuanya karena Allah. Untuk menggambarkan keadaan rakyat Banten pada saat itu. berhasil mengumpulkan sampai 20 orang anak yang kemudian dipeliharanya di Kawedanaan (PAA. Kesemuanya merenggut korban 21. Cilegon. murid-muridnya. Peribadatan dan penyembahan yang ditujukan kepada selain Allah adalah musrik. sehingga perlakuan demikian membuat tambah sedih. Diperkirakan. hampir dua tahun hujan tidak turun.Haji Haris. ternak kerbau bukan hanya dianggap sebagai hewan peliharaan tapi juga teman/sahabat yang banyak membantu pekerjaannya di sawah. Merak. Bayi-bayi ini sengaja ditinggalkan ibunya karena ia tidak mampu lagi memberinya makan. ibunya PAA. Banyak ibu tidak dapat menyusui anaknya sehingga angka kematian anak tinggi sekali. sawah dibiarkan mengering karena tiadanya tenaga. Haji Arsad Thawil. Dengan demikian. tidak sempat dikuburkan. banyak rumah tidak dihuni. Dalam pada itu. mereka menyebarkan pokok-pokok ajaran Islam itu kepada masyarakat. dari 210. akan menjadi muslim yang baik dan taat dalam menjalankan semua perintah agama serta menjauhi segala yang dilarang-Nya. menyaksikan bahwa di pasar Kramatwatu. Djajadiningrat. Caringin. Dengan memahami tiga pokok ajaran Islam ini diharapkan. sehingga pemerintah kolonial menginstruksikan supaya membunuh dan mengubur atau membakar semua kerbau atau kambing di suatu desa yang di sana terdapat kerbau yang berpenyakit agar jangan menular ke desa lain. atau karena ibunya tiba-tiba terkena demam dan meninggal tidak lama kemudian. Djajadinigrat. Haji Arsad Qashir dan Haji Ismail. karena banyaknya. kelaparan dan penyakit sampar (pes) binatang ternak. dianggap suatu kekejian dan kesewenang-wenangan yang membuat makin besar kebencian kepada Belanda dan anteknya. Istri wedana Kramatwatu. dan mengharapkan nanti ada yang mengambil untuk memeliharanya.     Pemandangan di desa-desa sungguh menyedihkan. tiada benci dan tiada suka. Pasauran. walaupun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. segala ketaatan dan segala harapan hendaknya. kerbau yang tidak terkena penyakit pun turut dibunuh pula.000 orang di antaranya tidak dapat tertolong dan menemui ajalnya (Kartodirdjo. sekedar untuk menjaga dari teriknya matahari. yang sebagian besar berupa "tadah hujan" menjadi kering. 1936:8). Kesedihan yang mendalam itu ditambah lagi dengan meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda (tanggal 23 Agustus 1883). dan ini mengundang datangnya penyakit baru lagi bagi rakyat desa. semuanya. sehingga tidak ada tumbuhan yang dapat ditanam penduduk desa. hampir sering menemukan bayi di pojokan pasar yang ditutupi selembar daun pisang. Segala peribadatan. Penyakit hewan ini menular dengan cepat. antara tahun 1882 dan 1884 keadaan rakyat Banten khususnya di Serang dan Anyer ditimpa dua malapetaka. Tanah pertanian. 1988:88). Daerah tempat bencana alam itu luluh lantak tersapu gelombang pasang. Bagi rakyat petani. tercatat lebih dari 40. Djajadiningrat. Tidak heran dari catatan yang ada pada bulan Agustus 1880. Tajur dan Carita. sehingga tanaman padi tidak ada yang tumbuh dan air minum pun sulit didapat. jalan-jalan sepi. menghancurkan Anyer. Musim kering yang berkepanjangan ini. tanpa ampunan dari Allah. sehingga bangkai hewan dapat ditemukan di mana-mana.500 jiwa tenggelam disapu gelombang. terutama sekali kaum perempuan. Tiada takut dan tiada harap. 16 .000 penderita. pasrah dengan perlakuan itu. Ironisnya. serta desa-desa Sirih. dan ini termasuk dosa besar. Dari banyak rumah terdengar ratap tangis.

sehubungan dengan penghapusan pelbagai kerja wajib. ditambah dengan kecurangan-kecurangan pegawai pemungut menambah keresahan dan mempersubur rasa benci penduduk kepada penjajah. Haji Wasid tidak dapat membiarkan satu kemusyrikan ada di depan matanya tanpa berusaha mencegah. mengganggu ketenangan "masyarakat" kerena kerasnya suara. semakin menambah penderitaan rakyat. seperti kerja pancen dan kerja rodi. pengenaan pertanggungan pajak di luar kewajaran. Mereka lebih mempercayai dukun dan benda-benda yang dianggap keramat dari pada mohon pertolongan Allah. 1982:144). meskipun jumlah penduduk turun 100. Marjuki di Tanara dihadiri oleh para ulama dari Serang. pihak pemerintah kolonial melaksanakan sistem perpajakan yang baru. fatwanya itu tidak diindahkannya. yang kedua di Terate di rumah H. pajak tanah itu untuk seluruh negeri dinaikkan. Jalannya pemberontakan Secara kronologis. namun suasana di kalangan rakyat penuh kegelisahan dan keresahan. Tersebutlah di desa Lebak Kelapa terdapat sebatang pohon kepuh besar yang oleh sebagian penduduk dianggap keramat. 1988:55). Asngari dihadiri ¡ 17 .50 gulden (Hamka. karena 'Tuhan tidak tuli'. politik dan budaya yang dipaksakan pemerintah kolonial Belanda ini berbaur dengan penderitaan rakyat yang sudah tidak tertakarkan menumbuhkan perlawanan bersenjata. mungkin dapat diurutkan sebagai berikut: 4 Pebruari 13 Maret 1888. dari mulai pajak tanah pertanian. tetapi juga dalam bidang sosial politik dan kehidupan keagamaan. tidak hanya di bidang sosial ekonomi.Pada tahun berikutnya. Untuk menggambarkan besarnya pajak yang ditanggung rakyat Banten.000. sehingga jumlah pajak yang terkumpul jauh besar jumlahnya dari jumlah pajak tanah tahun 1972. pajak perdagangan. Berkali-kali Haji Wasid memperingatkan penduduk. Keadaan inilah yang membawa Haji Wasid ke depan pengadilan kolonial pada tanggal 18 Nopember 1887. persiapan-persiapan menuju "pemberontakan" di Cilegon. Dalam keadaan yang sangat menyedihkan itu. Berbagai macam pajak yang dikenakan kepada penduduk negeri. Meski pun kehidupan sosial ekonomi segera dapat dipulihkan beberapa tahun kemudian. pajak perahu. tarhim dan azan jangan dilakukan dengan suara keras. Dalam keadaan penderitaan rakyat yang bertumpuk ini. menyinggung rasa keagamaan dan rasa harga diri murid dan pengikutnya. pajak pasar sampai kepada pajak jiwa yang besarnya kadang-kadang di luar kemampuan dan penetapannya tidak mengenal keadaan. Satu hal lagi yang ikut menyulut api perlawanan ini adalah dirubuhkannya menara langgar (musholla) di Jombang Tengah atas perintah Asisten Residen Goebels. Dendaan yang dijatuhkan kepada kiyai ini. Melihat keadaan ini. bahwa perbuatan meminta selain kepada Allah adalah termasuk syirik. diadakan 3 kali pertemuan di rumah H. setahun setelah letusan Gunung Krakatau. Asisten Residen menginstruksikan kepada Patih agar dibuat surat edaran yang isinya supaya shalawat. Faktor-faktor ketidakpuasan terhadap sistem ekonomi. Anyer dan Tangerang. Sementara itu.. Dengan beberapa orang muridnya ditebangnya pohon berhala itu pada malam hari. Goebels menganggap menara yang dipakai untuk mengalunkan azan setiap waktu shalat.Musibah yang datang bertubi-tubi menimpa rakyat Banten dengan sendirinya membawa dampak luas. apalagi waktu azan shalat subuh. Ia dipersalahkan melanggar hak orang lain sehingga dikenakan denda 7. Tapi bagi penduduk yang kebanyakan tidak mengerti agama. dapat memunahkan bala bencana dan meluluskan apa yang diminta asal saja memberikan sesajen bagi jin penunggu pohon itu. 1884.000 (Kartodirdjo. banyak di antara mereka yang lari ke klenik (tahayul). 125. pajak tanah f.

H. (2) awal Juli. Koinsidensi sejarah pada pematangan situasi tersebut antara lain (1) akhir Juni berlangsung perhelatan besar. Residen Banten. Haji Muhiddin. Iskak di Saneja. di mana banyak hadir para pejabat. Haji Madani dari Ciora. Wasid. Iskak. serta penyelenggaraan latihan antara lain pencak silat. dan berikutnya di rumah H. Keesokan harinya. Kiyai Haji Abdulhalim dari Cibeber dan Nuh dari Tubuy. kemudian di rumah H. Haji Wasid dan Haji Ismail pergi ke Wanasaba untuk mengadakan pembicaraan dengan murid-muridnya. Haji Iskak dari Seneja. Dari sana. Ismail serta H. Nasaman dan Sendanglor ke Cipeundeuy menemui Kiyai Haji Sahib. selesai shalat magrib dengan dikawal sejumlah muridnya Haji Wasid berangkat ke Cibeber untuk kembali mengadakan pertemuan dengan muridmuridnya yang lain. Maka setelah lewat tengah malam para kiyai segera berangkat ke Saneja untuk mengadakan pertemuan kedua di rumahnya Haji Ishak.oleh para pemuka masyarakat dari Serang dan Anyer. Haji Ashik dari Bendung. Sekitar jam 23. tidak hadir dalam pertemuan ini karena sudah dipastikan bahwa mereka akan memulai pemberontakan pada hari Senin tanggal 29 Syawal atau 9 Juli 1888. pesta perkawinan dan khitanan. keduanya pergi ke Gulacir. (5) beredarnya desas-desus larangan berdo'a dzikir.H. Dalam pertemuan ini hadir pula Haji Abubakar. memberitahukan bahwa Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail ingin bertemu dengan para kiyai yang hadir.H. Diduga dalam pertemuan tersebut dibicarakan masalah kesediaan alat persenjataan. Pertemuan itu dilangsungkan di dalam masjid di luar masjid sudah berkumpul pengikut-pengikut mereka. penggerakan pengikut. Marjuki di Tanara. Bendung. Pada hari Sabtu. akhirnya ditetapkan tanggal pastinya adalah 9 Juli 1888. tanggal 7 Juli 1888. hadir para tokoh/ulama seperti H. Haji Muhammad Arsad (penghulu kepala di Serang) dan Haji Tubagus Kusen (penghulu di Cilegon). akhirnya kembali pertemuan di rumah K. Haji Halim dari Cibeber. saudara Haji Tubagus Ismail.M. Haji Mahmud dari Tarate Udik. pagi-pagi sekali. Sadeli di Kaloran. Pada tanggal itu juga diperingati hari lahir pendiri tarekat Kadiriyah. (3) adanya desas-desus munculnya naga besar pertanda akan datangnya musibah di kalangan penduduk. Marjuki. Wasid di Beji. pembagian tugas. di antaranya Haji Sadeli dari Kaloran. Tanara. pesta dengan gamelan. untuk membicarakan langkah terakhir pemberontakan. sedangkan pertemuan berikutnya di rumah H. 23 Juni 1888 pertemuan terakhir. dan Haji Akhmad. Haji Sarman dari Bengkung. Untuk menutupi kecurigaan Belanda atas pertemuan itu diadakan suatu kenduri besar.H. Wasid mengusulkan D-day pemberontakan pada tanggal 12 Juli 1888. H. Haji Mahmud dan Haji Alfian diutus menemui Haji Abdulrazak. tayuban. pertemuan di rumah K. (4) dalam waktu dekat K. Haji Sapiuddin dari Leuwibeureum. terutama dari Arjawinangun dan Gulacir yang juga dihadiri oleh Haji Burak. dan kiyai-kiyai dari Trumbu. yakni perkawinan antara putra bupati Pandeglang dan putri bupati Serang. istri Haji Iskak. Haji Erab diutus ke Haji Mohamad Asyik. Haji Asnawi. peringatan tersebut antara lain ditandai dengan kenduri besar. Haji Abdulgani dari Beji. Asisten Residen Anyer disertai bawahan Eropa dan pribumi melakukan inspeksi di afdeling Anyer. Wasid dan H. datang Nyi Kamsidah. penghulu Tanara. Haji Abdulhalim dan Haji Abdulgani ke 18 . Pada saat itu K.00. Hadir dalam pertemuan itu antara lain: Haji Sa'id dari Jaha. diadakanlah pertemuan para kiyai untuk persiapan terakhir pematangan gerakan di rumah Haji Akhia di Jombang Wetan. ke rumah Haji Ismail. Maret April 1888. Wasid akan dipanggil ke pengadilan untuk penyelesaian suatu perkara. Pada hari itu juga dikirim utusan-utusan ke berbagai jurusan.

Dalam keadaan yang kacau itu.. Djajadiningrat. Djajadiningrat. Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman dari Arjawinangun dan pengikutnya menyerang dari arah selatan. diadakanlah serangan umum ke Cilegon. dan Ulric Bachet. Haji Abdul Gani dan Beji dan Haji Nuriman dari Kaligandu menyerang dari arah utara. Pasukan dibagi dalam beberapa kelompok: kelompok pertama dipimpin oleh Lurah Jasim. pemberontakan dipimpin oleh Haji Muhammad Asyik. demikian juga Raden Purwadiningrat. ini jang mesti didahoeloekan !' dan pada saat berikutnya Kasidin memarang leher Wedana Tjakradiningrat (PPA. diadakan arak-arakan sambil meneriakkan takbir dan kasidahan yang dimulai dari rumah Haji Akhiya di Jombang Wetan dan berakhir di rumah Haji Tubagus Kusen. 8 Juli 1888. yang pada keesokan harinya. sehingga ia termasuk "orang yang tidak berdosa" (1936:56) Menurut rekaman PAA. dapat dibunuh oleh Haji Tubagus Ismail. karena dia sedang di Serang waktu itu. yang bernama Kasidin.. Pada hari Senin malam tanggal 9 Juli 1888. kepala penjualan garam semuanya adalah orang-orang yang tidak disenangi rakyat. Namun di antara mereka terdapat seorang tahanantitipan kasus pencurian hasil tangkapan Wedana Tjangradiningrat yang sedang menunggu putusan perkara. setelah pertemuan di rumah Haji Ishak. Ketiga yang terakhir ini diperintahkan untuk mengerahkan pejuang-pejuang dari Anyer untuk segera bergerak supaya pagi-pagi sekali sudah berada siap di Cilegon. berbarengan dengan kejadian di Cilegon ini. Krapyak. Johan Hendrik Hubert Gubbels. juru tulis di kantor Asisten Residen. djangan dianiaja jang seorang itoe. seorang 19 . Kiyai Haji Usman dari Tunggak.Tunggak menemui Haji Usman. tapi Kasidin yang ada pada kerumunan tersebut. ia tidak berdosa !'. Djajadiningrat "tempat kediamannya tidak di dekat-dekat orang Eropah atau di dekat-dekat Ambtenar-ambtenar boemipoetra lain" (1936:55). Mas Kramadireja. Sedangkan Patih Raden Pennah. Malam itu juga. beberapa kiyai kembali lagi ke pesta di rumah Haji Akhiya. ajun kolektor. dan kelompok ketiga dipimpin oleh Kiyai Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman dari Tunggak menyerang rumah Asisten Residen. seperti di Bojonegara. sipir penjara Cilegon. Pada malam harinya barisan bertambah panjang bergerak dari Cibeber ke arah Saneja dipimpin langsung oleh Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail yang kemudian dijadikan sebagai pusat penyerangan. Henri Francois Dumas. Ketika Tjakradiningrat mendatangi tempat kerusuhan dan dikepung oleh para pejuang terdengar suara: ' . Sedangkan Haji Wasid dengan beberapa pengawalnya tetap di Jombang Wetan memonitor segala kegiatan penyerbuan (Kartodirdjo. terbunuhnya Raden Tjakradiningrat itu. wedana Cilegon. melompat ke muka sambil berkata: ' . Di daerah Serang.. 1984:301-303). sedangkan pasukan yang dipimpin oleh Kiyai Haji Wasid. kelompok kedua dipimpin oleh Haji Abdulgani dari Beji dan Haji Usman dari Arjawinangun menyerbu kepatihan. Grogol. seorang pegawai negeri yang kebelanda-belandaan lolos dari kematian. di beberapa tempat juga meletus pemberontakan. Haji Tubagus Ismail memimpin pengikut-pengikutnya dari Arjawinangun. adalah Raden Tjakradiningrat. Haji Kasiman di Citangkil dan Haji Mahmud di Terate Udik.. dari Saneja. penghulu Cilegon. adalah ketika ia akan mencoba bermusyawarah dengan para pejuang (peroesoeh). Mancak dan Toyomerto. Dengan memekikkan kalimat takbir mereka menyerbu beberapa tempat di Cilegon. Balegendong. Gulacir dan Cibeber bergerak menuju Cilegon untuk menyerang para pejabat pemerintah kolonial. Sementara itu. 1936:56) Seperti yang sudah direncanakan semula. Minggu. Para kiyai dan murid-murid mereka memakai pakaian putih-putih dengan ikat kepala dari kain putih pula sambil membawa pedang dan tombak. menyerbu penjara untuk membebaskan para tahanan. asisten residen Anyer. Jaro Kajuruan. yang menurut PPA. Tokoh fenomenal yang menjadi salah seorang korban. Kasidin keluar penjara ketika penjara dijebol para pejuang.

Pada dasawarsa terakhir abad ke-19 kelompok non agama memperoleh kemenangan dalam parlemen. karena setelah kejadian itu Belanda menginstruksikan supaya semua peraturan-peraturan yang akan dikeluarkan hendaknya jangan menyinggung perasaan keagamaan rakyat jajahan. Namun pada peralihan abad ke-20 kemenangan beralih kepada kelompok agama. Ternate. Kupang. Haji Haris dibuang ke Bukit Tinggi. 1985: 17). Haji Muhammad Hanafiah dari Trumbu dan Haji Muhidin dari Cipeucang. Partai-partai di parlemen Belanda dapat dikelompokkan kepada partai agama dan non agama. Walau pun akhirnya pemberontakan itu mengalami kegagalan secara fisik. Dukungan terhadap kristenisasi Hindia Belanda dipertegas sejalan dengan ³politik hutang budi´. dan banyak lagi lainnya dibuang ke Tondano. Maka Bupati bersama Kontrolir dengan 40 orang serdadu yang dipimpin oleh Letnan I Bartlemy berangkat ke Cilegon.ulama dari Bendung. dan Saparua. sebagai perusahaan dagang milik Belanda pun tidak lepas dari tugas penghancuran umat Islam dan penyebaran agama Kristen kepada penduduk di Nusantara (Suminto. juga pemerintah kolonial "merambah" dalam kehidupan keagamaan masyarakat. sebaliknya pihak penjajah juga menaruh kewaspadaan tinggi untuk daerah Banten dengan rakyatnya sangat militan itu. Haji Ismail dibuang ke Flores. Rakyat Banten sangat benci kepada penjajah Belanda dan pamongpraja yang menjadi kaki-tangannya. Tetapi seorang babu (pembantu rumah tangga) Gubbel dapat melarikan diri ke Serang membawa kabar kejadian di Cilegon itu. Rakyat kebetulan tidak memiliki pemimpin formal untuk menyalurkan aspirasinya sehingga untuk menyalurkan ketidakpuasan itu. yang selanjutnya dilaksanakan pemerintah Belanda. bekas dan akibat pemberontakan Cilegon ini cukup mendalam di kedua belah pihak. kepemimpinannya dipercayakan kepada pemim-pin kharismatik yakni para kiyai dan ulama. VOC. yaitu kemudahan bagi organisasi zending Kristen mendirikan sekolah bagi penduduk bumiputra. Kejadian "Geger Cilegon" itu mempunyai arti penting dalam sejarah pergerakan nasional. Pusat-pusat kegiatan mereka ialah Bendung. masalah yang dianggap paling mendasar dalam kehidupan manusia. sedangkan yang lainnya dihukum buang. Keadaan demikian terlihat juga pada abad ke-19 dan ke-20. Dengan keadaan ini pemerintah Hindia Belanda haruslah mendukung sebanyak mungkin usaha kristenisasi yang banyak dilakukan organisasi swasta. Hal ini tidak lepas dari motivasi pertama pengembaraan orang-orang Eropa. Terjadilah pertempuran hebat antara para pemberontak dengan tentara kolonial yang memang sudah terlatih baik. sehingga akhirnya kerusuhan dapat dipadamkan. Menado. Haji Arsyad Thawil dibuang ke Gorontalo. Sehingga dapat dikatakan bahwa ekspansi Portugis harus dilihat sebagai kelanjutan dari Perang Salib. Haji Wasid sebagai pemimpin pemberontakan dihukum gantung. Banyaknya pemberontakan rakyat yang dipimpin para ulama Islam ini erat juga kaitannya dengan politik keagamaan yang diterapkan kaum penjajah. melalui beberapa peraturan dan pelaksanaan yang dibuat pemerintah Hindia Belanda. Ambon. dalam bentuk pemberontakan. Kaloran dan Keganteran. untuk sedikit demi sedikit melupakan agamanya (Islam) dan kemudian beralih kepada agama Kristen. Kubang. Di samping mereka terlalu meng-eksploitir tanah jajahan tanpa dibatasi rasa kemanusiaan. Haji Arsyad Qashir dibuang ke Buton. Haji Abdurahman dan Haji Akib dibuang ke Banda. 20 . semua pimpinan pemberontakan yang dibuang ini ada 94 orang. Dalam tahun-tahun berikutnya. Cilegon dapat dikuasai sepenuhnya oleh pasukan "pemberontak". namun sangat bermakna sebagai sebuah gambaran dari rasa ketidakpuasan dan kebencian seluruh rakyat terhadap penjajah. Kedua golongan ini saling berebut mempengaruhi semua keputusan parlemen. Sehari semalam kekacauan tidak dapat diatasi. di samping untuk mencari keuntungan perdagangan juga dilandasi oleh rasa benci dan permusuhan kepada orang-orang yang beragama Islam. Trumbu.

justru karena tekanan kegiatan missi penyebaran agama Kristen yang menggebu-gebu ini reaksi perlawanan dari rakyat Indonesia makin lebih militan lagi menentang penjajah Belanda. Tetapi dalam kenyataannya. Imbas dari keadaan ini masih terasa sampai pasca kemerdekaan. Pemerintah kolonial memandang bahwa Banten merupakan daerah yang paling rusuh di Jawa. Demikian juga dengan orang Islam yang bekerja menjadi pegawai di kantor pemerintah Belanda. sering dituduh menyuruh anak-anaknya masuk agama Kristen. pemerintah kolonial lebih banyak mengangkat pegawai yang berasal dari Priyangan. walaupun memang kebanyakan rakyat Banten bukan orang yang mempunyai pemahaman mendalam tentang keislaman. Dengan mengkristenkan sebanyak mungkin penduduk di Nusantara maka pemberontakan akan semakin berkurang. bahkan mungkin bukan termasuk orang yang taat menjalankan agamanya. Karena itu masyarakat Banten sejak dahulu dikenal sebagai orang yang sangat fanatik dalam hal agama dan bersemangat memberontak. Rupanya. misalnya sebagai pamongpraja. atau sekurang-kurangnya menyalahi Islam. Karena itulah "zending Kristen harus dianggap sebagai faktor penting bagi proses penjajahan. untuk mengisi kekosongan pegawai pamongpraja ini. Tidaklah mengherankan apabila orang Islam yang mengirimkan anaknya untuk belajar di sekolah Belanda. 1985:18). bahkan perluasan kolonial dan ekspansi agama merupakan gejala simbiose yang saling menunjang" (Suminto. Keadaan semacam ini pun membuat pemerintah Belanda mengalami kesulitan mengangkat pejabat pamongpraja asli dari Banten yang cakap (baca: pernah belajar di sekolah Belanda). yakni menjadi seagama dengan penjajahnya. Oleh karenanya. perlawanan dan pemberontakan rakyat Banten terhadap pemerintah kolonial tidak pernah berhenti. maka berarti mereka tidak akan lagi membahayakan bagi pemerintahan Belanda. ataupun sekolah Jawa/Melayu yang didirikan Belanda. Keyakinan yang memandang rendah semacam itulah yang mendasari kenapa penduduk asli Banten yang bersedia bekerja menjadi pamongpraja pada masa pemerintahan Hindia Belanda sangat sedikit. "kapir landa" sebutan yang di samping menggambarkan kebencian mendalam juga menganggap mereka itu adalam musuh-musuh Islam dan kaum muslimin. masyarakat mencemooh mereka sebagai "anjing belanda". Pemerintah Belanda berpendapat bahwa apabila bangsa Indonesia ini memeluk agama Kristen. yang pada hakekatnya berawal mungkin dari perasaan irihati para pamongpraja asli daerah Banten terhadap para pamongpraja pendatang.Masalah kristenisasi di Hindia Belanda ini erat juga kaitannya dengan masalah menghadapi pemberontakan yang dilakukan umat Islam. Ketakutan yang didasari kecurigaan ini pula yang menyebabkan banyaknya pegawai asal Priyangan yang ikut melarikan diri ketika pasukan Jepang keluar dari Banten. namun dalam hal rasa sentimen keagamaan mereka cukup tinggi. celana pantalon dan topi ala Eropa dihukumi haram. Sehingga orang Indonesia dalam menyebut orang-orang Belanda sebagai "setan". seperti dari Bogor dan Bandung. Penduduk Banten sebagian besar keturunan orang Jawa dan Cirebon yang 21 . dan pemakainya dikatakan kafir. Maka tidak jarang seorang kiyai atau seorang guru mengaji mengeluarkan fatwa bahwa memasuki sekolah-sekolah Belanda adalah haram. Bahkan beredar fatwa yang menyatakan bahwa berpakaian ala Eropa lebih-lebih memakai dasi. Hal demikian sering menimbulkan konflik tertentu yang saling mencurigai satu sama lain. Peran Kyai dan Jawara di Banten Semenjak pemerintahan kolonial Belanda menaklukan kesultanan Banten.

Kekuasaannya sering kali melebihi kekuasaan pemimpin formal. Seperti halnya kiyai yang memiliki pesantren sebagai tempat para santri menimba ilmu pengetahuan agama Islam. untuk menunjukan bahwa ia memiliki kekuatan fisik dan magik. berpakaian rapih dan sederhana. Bugis. Karena itu perilaku dan ucapan seorang kiyai menjadi panduan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Jawara sebagai orang yang memiliki keunggulan dalam fisik dan kekuatankekuatan untuk memanifulasi kekuatan supernatural. juga sebagai guru spiritual dan pemimpin kharismatik masyarakat.dalam perjalanan waktu berbaur dengan orang-orang Sunda. yang ingin dipandang orang yang paling hebat. yang terkadang dilakukan dengan berbagai cara termasuk dengan cara yang tidak baik. jawara dipandang sebagai sosok yang memiliki keberanian. seperti Persatuan Pendekar Persilatan dan Seni Budaya Banten yang dipimpin oleh Tb Chasan Shohib dan Tjmande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir yang dipimpin oleh Maman Rizal. Keunggulan dalam hal fisik dan kemampuanya untuk memanipulasi kekuatan supernatural (magik) telah melahirkan sosok seorang jawara dengan memiliki karakter yang khas. yang juga menembus batas-batas hirarki pedesaan di Banten. Sehingga bagi sebagian masyarakat. Bahkan pengangkatan pemimpin formal di suatu desa ditentukan oleh pemuka-pemuka agama di daerah yang bersangkutan. Golongan lain. agresif. seperti penggunaan jimat. Kiyai dikenal tidak hanya sebagai guru di pesantren. sompral (tutur kata yang keras dan terkesan sombong). Dalam daerah yang pernah menjadi pusat kerajaan Islam dan penduduknya yang terkenal sangat taat terhadap agama seperti daerah Banten sudah sewajarnya jika kiyai menempati kedudukan yang penting dalam masyarakat. Bahkan mereka memiliki organisasi tersendiri. Kiyai di Banten pada tempo dulu tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam tetapi mengajarkan 22 . Sebagian orang berpendapat bahwa jawara berarti juara. yang berarti pemenang. sebagian orang lagi berpendapat bahwa kata ³jawara´ berasal dari kata ³jaro´ yang berarti seorang pemimpin yang biasanya merujuk kepada kepemimpinan di desa. apalagi menjadi kepala desa atau lurah. tidak hanya dipandang sebagai tokoh agama tetapi juga seorang pemimpin masyarakat. Jimat yang memberikan harapan dan memenuhi kebutuhan praktis para jawara yang salah satunya adalah kekebalan tubuh dari benda-benda tajam. Penampilan kiyai yang khas. Para jawara pun memiliki jaringan yang melewati batas-batas geografis daerah tempat tinggalnya. adalah jawara. Kiyai yang merupakan gelar ulama dari kelompok Islam tradisional. Asal-usul kata ³jawara´ pun tidak begitu jelas. Sekarang ini jawara tidak mesti menjadi pemimpin. merupakan simbol-simbol kesalehan. demikian pula kepala jawara memiliki padepokan tempat pengemblengan ³anak buah´. terbuka (blak-blakan) dengan bersenjatakan golok. Pada masa dahulu kepala desa atau lurah di Banten itu mayoritas adalah para jawara. Perbauran yang begitu dalam menyebabkan penduduk Banten memiliki cultur yang berbeda dalam hal bahasa dan adat istiadat dengan masyarakat asalnya. serta membawa tasbih untuk berdzikir kepada Allah. yang kalau sekarang lebih dikenal dengan kepala desa atau lurah. sehingga ia disegani oleh masyarakat. Menurut Tihami (Dekan IAIN Maulana Hasanudin Banten) bahwa jawara itu adalah murid kiyai. Para jawara tersebut memimpin kajaroan (desa) namun kemudian terjadi pergeseran makna sehingga jawara dan jaro menunjukan makna yang berbeda. Begitu pula dalam hal penampilan fisik dan watak. orang Banten menunjukkan perbedaan yang nyata dengan orang Sunda dan orang Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sehingga seorang jawara itu biasa bersifat sompral (berbicara dengan bahasa yang kasar dan terkesan sombong). Melayu dan Lampung. berprilaku sopan. Ia cukup terkenal dengan seragam hitamnya dan kecenderungan terhadap penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalan. seperti bertutur kata lembut. Memang bahwa salah satu sifat jawara adalah selalu ingin menang. terutama di pedesaan.

Persepsi masyarakat tentang jawara saat ini yang kurang simpatik dan cenderung negatif sebenarnya bisa diterangkan dengan teori ³ bandit sosial´ di atas. sehingga menimbulkan antipati masayarakat terhadap jawara. sebagai pembela dan pelindung atas kepentinganya. Karena kharisma seseorang kiyai akan semakin besar apabila ia selain memiliki kemampuan untuk memahami ajaran-ajaran agama. pada masa yang lalu. Maka ada orang yang mendefenisikan jawara dengan ³jago wadon lan lahur´ (tukang main perempuan dan tukang bohong). seperti kekebalan tubuh dari senjata tajam. Istilah jawara yang menunjukan referensi untuk identifikasi seseorang adalah gelar bagi orang-orang yang memiliki kekuatan fisik dalam bersilat dan mempunyai ilmu-ilmu kesaktian (kadigjayaan). Mungkin atas dasar itu seorang pengurus persilatan dan seni budaya Banten menyatakan bahwa jawara itu adalah khodim (pembantu) nya kiyai. Murid kiyai yang lebih berbakat dalam bidang intelektual. seperti melakukan ancaman. Namun setelah Indonesia bebas dari kolonialisme. musuh bersama rakyat itu tidak ada. Sedangkan murid kiyai yang memiliki bakat dalam bidang fisik lebih condong kepada persilatan atau ilmu-ilmu kanuragan. kekerasan dan kenekadan. Namun prilakuprilaku jawara. ³jago wadon lan harta´ (tukang main perempuan dan tamak harta). Sedangkan istilah jawara yang bersifat denotatif berisi tentang sifat yang merendahkan derajat (derogatif) yang biasanya digunakan untuk orang-orang yang berprilaku sombong. juwara iku tentrane kiyai (jawara itu tentaranya kiyai). Karena itu dalam tradisi kejawaran bahwa seorang jawara yang melawan perintah kiyai itu akan kawalat. mendalami ilmu-ilmu agama Islam pada akhirnya disebut santri. yang lebih dikenal dengan ilmu-ilmu hikmah. Bahkan seperti yang diungkapkan salah seorang kiyai di Serang. Hal ini disebabkan pesantren. kurang taat menjalankan perintah agama Islam atau melakukan sesuatu dengan cara-cara yang tidak baik terhadap orang untuk kepentingan dirinya semata. Karena itu kesan orang terhadap istilah jawara cenderung negatif dan derogatif. seperti sompral. karena itu dipercayai memiliki kekuatan magis dan mistis. sehingga ia dianggap bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang biasa. kiyai. sombong. Karena itu jawara dianggap pahlawan oleh rakyat.ilmu persilatan atau kanuragan. Tokoh-tokoh agama. kurang taat dalam beragama. bisa memukul dari jarak jauh dan sebagainya. Istilah jawara dalam percakapan sehari-hari masyarakat Banten sekarang ini dipergunakan untuk istilah denotatif dan juga referensi untuk mengidentifikasi seseorang. Jawara dianggap memiliki ilmu-ilmu kedigjayaan (kesaktian) dan menguasai 23 . terutama kitab-kitab kuning juga dipercayai oleh masayarakat memiliki kekuatan mistis dan magis yang besar pula. selain dipandang sebagai orang yang mengerti tentang pesan-pesan dan ajaran-ajaran agama juga dipandang sebagai sosok yang paling dekat pusat kekuatan supernatural. justru tidak berubah. rasa kagum dan benci. Kesan yang kurang baik tentang jawara tersebut yang kemudian yang bagi orang-orang yang memiliki ilmu-ilmu kadigjayaan atau persilatan yang sudah ³terpelajar´ tidak mau menamakan dirinya jawara tetapi lebih senang disebut pendekar. sehingga membangkitkan perasaan orang lain penuh dengan pertentangan: hormat dan takut. Tokoh lain di wilayah Banten yang memiliki status sosial yang dihormati dan disegani karena dianggap memiliki kemampuan untuk memanipulasi kekuatan supra-natural yang merupa magis dan mistis adalah jawara. karena kesultanan tidak mampu menjangkau daerah-daerah yang terpencil yang sangat jauh dari pusat kekuasaan. mendapat penghargaan dan penghormatan di mata rakyat Banten. Peranan jawara pada masa lalu yang menonjolkan keberanian untuk melawan musuh bersama masyarakat yakni: pemerintah kolonial Belanda. yang kemudian disebut jawara. Peran-peran itu yang telah ditampilkan secara baik oleh Mas Jakaria serta tokoh-tokoh jawara masa silam. terutama dari pemimpin tarekat. berada di daerahdaerah terpencil dan kurang aman.

muncul sebagai tokoh masyarakat. Apalagi semenjak jabatan Fakih Najamuddin. Menurut masyarakat Banten gelar Kiyai diberikan kepada seorang yang ³terpelajar´ dalam pemahaman keislamannya dan ia membaktikan hidupnya ³demi mencari ridha Allah´ untuk menyebarluaskan serta memperdalam ajaran-ajaran agama Islam kepada seluruh masyarakat melalui lembaga pendidikan ataupun pesantren. yang menyandang gelar tersebut biasanya memiliki kesaktian dan ahli kebatinan. seperti kekebalan tubuh dari senjata tajam. Selain itu jawara juga harus memiliki keberanian (wanten. menjadi sosok yang terkadang justru banyak merugikan masyarakat. Sehingga K. Akhmad Khatib memerintahkan K.ilmu persilatan. ia bisa muncul menjadi tokoh yang kharismatik. 24 . namun pengaruh mereka semakin menurun. sehingga membangkitkan perasaan hormat dan takut. Munculnya kiyai sebagai tokoh agama yang dihormati di wilayah Banten berkaitan dengan kontrol pemerintah kolonial Belanda yang semakin kuat terhadap kesultanan Banten pada abad ke-18 dan ke19. Anggota Dewan Rakyat yang anggotanya kebanyakan dari para jawara. Syam¶un untuk menangkap Ce Mamat dan menumpas gerombolannya. terutama pada saat-saat kehidupan sosial mengalami krisis. akibat intervensi pemerintah kolonial yang terlalu besar. Seperti kisah ketokohan Ce Mamat alias Muhamad Mansur yang mendirikan Dewan Rakyat. Pembayaran zakat pun yang selama kesultanan Banten dan masa-masa awal pemerintahan kolonial diserahkan kepada penghulu. Juga karena keunggulan kepribadiannya itu. Berkat kelebihannya itu.H.H. setelah penghapusan jabatan Fakih Najamuddin diberikan kepada para kiyai. yang pada saat itu merupakan tokoh agama yang independen dan tidak bersentuhan langsung dengan pemerintah. yakni: kepemimpinan yang bertumpu kepada daya tarik pribadi yang melekat pada diri pribadi seorang kiyai atau jawara tersebut. Demikian pula jawara. yang keberaniannya itu didukung oleh kemampuan dirinya dalam menguasai ilmu bela diri (persilatan) dan ilmu-ilmu kesaktian. Meskipun pemerintah kolonial masih tetap mempertahankan pejabat-pejabat yang mengurusi soalsoal keagamaan masyarakat Banten. Kedua tokoh tersebut memiliki pengaruh yang cukup besar di masyarakat dan juga memiliki para pengikut yang setia. kawani) secara fisik. Kepemimpinannya bersifat kharismatik. mengadakan serangkaian kerusuhan sosial dan pembunuhan di berbagai tempat di wilayah Banten. Karena posisinya yang demikian itu maka seorang kiyai atau jawara dapat selalu dibedakan dari orang kebanyakan. Sedangkan jawara dalam pandangan masyarakat Banten merujuk kepada seseorang atau kelompok yang memiliki kekuatan fisik dalam bersilat (kanuragan) dan mempunyai ilmu-ilmu kesaktian (kadigjayaan). ahli hikmah. seperti Fakih Najamuddin untuk di tingkat atas dan para penghulu untuk di tingkat bawah. bisa memukul dari jarak jauh dan sebagainya. Kiyai. yang pada masa-masa sulit banyak membantu peran para kiyai terutama berkaitan dengan persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat. ia dianggap bahkan diyakini memiliki kekuatan supernatural sehingga memiliki kemampuan luar biasa dan mengesankan di hadapan khalayak banyak. Karena kelebihannya yang dimilikinya itu maka kiyai dan jawara dipandang sebagai pemimpin masyarakat dan merupakan ³elit sosial´ di masyarakat Banten. guru dan pemimpin masyarakat yang berwibawa yang memiliki legitimasi berdasarkan kepercayaan masyarakat. rasa kagum dan benci. dihapuskan oleh Belanda. Penghapusan jabatan tersebut mengalihkan loyalitas penduduk ke para kiyai. Karena itu seseorang yang hanya memiliki ilmu-ilmu kadigjayaan dan persilatan tidak akan dinamakan jawara apabila ia tidak memiliki keberanian.

kebesaran namanya sangat ditentukan oleh nilai-nilai pribadi yang dimiliki. guru tarekat. Tetapi akhir-akhir ini peranan para jawara mulai berbeda dibandingkan dengan peranan jawara pada masa-masa lalu dalam sejarah kehidupan masyarakat Banten sesuai perkembangan zaman. semua itu menjadi masyarakat Banten yang madani dan memiliki religiusitas yang tinggi. menerima uang shalawat (bantuan material) dari jawara. ekonomi dan politik dalam kehidupan masyarakat Banten saat ini sangat diperlukan. Sejarah Pra Islam Dan Berkembangnya Islam Di Banten Sebelum Islam berkembang di Banten. Dikarenakan letak geografisnya yang sangat strategis sebagai kota pelabuhan. Begitu pula ketika mereka membina hubungannya dengan sesama Kiyai dan jawara disatukan dalam dalam ruang lingkup kebudayaan Banten. Sumber naskah kuno dari masa pra Islam menyebutkan tentang kehidupan masyarakat yang menganut Hindu. kemampuan dalam penguasaan ilmu pengetahuan (agama dan sekuler). peran-peran seperti itu sangat diperlukan. Di Banten telah berdiri satu kerajaan Islam yang lebih dikenal oleh masyarakat Banten dan sekitarnya dengan sebutan Kesultanan Banten. Sifat hubungan keduanya tidak hanya bersifat simbiosis. atas jasanya tersebut. di daerah pesisir Banten sudah ada sekelompok masyarakat yang menganut agama Islam. apalagi bagi masyarakat yang masih mencari jati dirinya. kesaktian dan keturunannya. guru ilmu silat dan ilmu ³batin´ atau magi. Peranan seorang kiyai selain sebagai pewaris tradisi keagamaan juga pemberi arahan atau tujuan kehidupan masyarakat yang mesti ditempuh. Banten adalah salah satu pusat perkembangan Islam. guru ngaji. yakni saling ketergantungan tetapi juga kontradiktif. Peranan tersebut bagi masyarakat sangat membantu apalagi saat Banten dalam kekacauan dan kerusuhan yang cukup lama. namun demikian peranan para jawara dalam sosial. Hal ini dapat dilihat dari peninggalan purbakala dalam bentuk prasasti arca-arca yang bersifat Hiduistik dan banguan keagamaan lainnya.Kiyai dalam masyarakat Banten merupakan tokoh panutan masyarakat yang dihormati berkat perannya dalam mengarahkan dan menata kehidupan bermasyarakat. khususnya di daerah Jakarta dan Jawa Barat. Peninggalan sejarah yang amat berharga ini nampaknya akan selalu menarik untuk diteliti dan dikaji 25 . masyarakat Banten masih hidup dalam tata cara kehidupan tradisi prasejarah dan dalam abad-abad permulaan masehi ketika agama Hindu berkembang di Indonesia. Jawara membutuhkan elmu dari kiyai. Sehingga dalam masyarakat Banten peran-peran yang sering dimainkan oleh para jawara adalah menjadi jaro (kepala desa atau lurah). guru kitab. Sedangkan jawara berkedudukan sebagai pemimpin dari lembaga adat masyarakat diapun tokoh yang dihormati apabila ia menjadi pemimpin atau penguasa. Sedangkan jawara lebih cenderung kepada kekuatan fisik dan ³batin´. Penyebarannya dilakukan oleh salah seorang pemimpin Islam yang dikenal sebagai wali berasal dari Cirebon yakni Sunan Gunung Jati dan kemudian dilanjutkan oleh putranya Maulana Hasanudidin untuk menyebarkan secara perlahan-lahan ajaran agama Islam daerah Banten. Sekitar permulaan abad ke 16. karena Banten mempunyai peranan penting dalam tumbuh dan berkembangnya Islam. Tetapi juga banyak kiyai yang tidak senang terhadap berbagai prilaku jawara yang sering menghalalkan segara cara walau dengan cara kekerasaan dalam menyelesaikan masalah. Keduanya merupakan pemimpinan yang meemiliki pengaruh pada masyarakat Banten. sedangkan sebaliknya kiyai. Peranan kiyai dalam masyarakat Banten adalah sebagai tokoh masyarakat (kokolot). Karena itu ia lebih bersifat memberikan pencerahan terhadap masyarakat. guru ilmu ³hikmah´ (ilmu ghaib) dan sebagai mubaligh. satuan-satuan pengamanan.

Cikupa. (Atja. demikian pula dengan masa kehidupan Hindu dan Buddha ditandai oleh peninggalan Hindu masa itu berupa prasasti arca Nandi dan bendabenda arkeologi lainnya. dengan pusat pemerintahan Kadipaten di Banten Girang sedangkan Banten Lama hanyalah berfungsi sebagai pelabuhan saja. serta naskah-naskah kuno yang mencatat keterangan tentang kehidupan masyarakat pada masa itu. ternyata sejarah Islam di Banten belum banyak diteliti secara tuntas sehingga masih banyak hal-hal yang penting yang perlu diteliti dan dipelajari secara lebih mendalam. Seperti di dalam naskah Purwaka Tjaruban Nagari disebutkan bahwa Syarif Hidayatullah setelah belajar di Pasai mendarat di Banten untuk meneruskan penyebaran agama Isalam yang sebelumnya telah dilakukan oleh Sunan Ampel. kubur tempayan di Anyer. Cipari dan Babakan Tanggerang. kapak batu di Cigeulis.1976:1-6) Penggunaan alat-alat kebutuhan yang dibuat dari perunggu yang terkenal dengan kebudayaan Dong Son (500-300 SM) juga mempengaruhi penduduk Banten. hal ini disebabkan karena data yang diperoleh para ahli belum lengkap. dua tahun kemudian lahirlah anak perempuan pertama yang diberinama Ratu Winahon dan pada tahun berikutnya lahir pula pangeran Hasanuddin. ini berarti bahwa daerah kekuasaan Tarumanegara sampai juga ke daerah Banten. dolmen dan patung-patung simbolis dari desa Sanghiang Dengdek di Menes. Keadaan Banten Pra Islam Daerah Banten memiliki beberapa data arkeologi dan sejarah dari masa sebelum Islam masuk ke daerah ini. dan lain sebagainya.terutama dikalangan sejarawan dan para ilmuan. Selain bukti arkeologi berupa arca Siwa dan Ganesha ini belum ada lagi data sejarah yang cukup kuat untuk menunjang keberadaan kerajaan Salakanagara ini yang lebih jelas. Tumbuh dan Berkembangnya Islam Di Banten Penyebaran Islam di Banten dilakukan oleh Syarif Hidayatullah. (Ayathrohaedi. (Ambary.1972:26) 26 . Lebak Munjul Pandegalng adalah prasasti yang bertuliskan Pallawa dengan bahasa Sangsekerta menyatakan bahwa raja yang berkuasa di daerah ini adalah Purnawarman. karena kerajaan Tarumanegara pada masa itu berada dalam keadaan makmur dan jaya. Pada tahun 1475 M. dipakai jalur sungai Cibanten yang pada waktu itu masih dapat dilayari.1979:37) Tapi disamping itu pula masih ada jalan darat yang dapat dilalui yaitu melalui jalan Kelapa Dua. sumber data arkeologi menujukan bahwa sebelum Islam masyarakat Banten hidup pada masa tradisi prasejarah dan tradisi Hindu-Buddha.1982:2) Untuk menghubungkan antara Banten Girang dengan pelabuhan Banten. (Sukendar. beliau menikah dengan adik bupati Banten yang bernama Nhay Kawunganten. Disamping karena pertumbuhan dan perkembangan Islam di Banten yang menarik. Hal ini terlihat dengan ditemukannya kapak corong terbuat dari perunggu di daerah Pamarayan.1983:124) Untuk selanjutnya keadaan Banten pada abad ke VII samapi dengan abad ke XIII. Pada awal abad ke XVI. di Banten yang berkuasa adalah Prabu Pucuk Umun. Selain itu di Banten terdapat sisa-sisa kebudayaan megalitik tua (4500 SM hingga awal masehi) seperti menhir di lereng gunung Karang di Padeglang. pada tahun 1525 M dan 1526 M. batu bergores di Ciderasi desa Palanyar Cimanuk. Tradisi prasejarah ditandai oleh adanya alat-alat kehidupan sehari-hari dan kepercayaan yang mereka anut. kita tidak mendapatkan keterangan yang menyakinkan. (Hoesein. Kopo Pandeglang. adapun prasasti Munjul yang ditemukan terletak disungai Cidanghiang.

1976:181) Disamping itu Banten juga menjadi pusat penyebaran agama Islam. kebudayaan dan ekonomi di masa itu. di dalam usaha penyebaran agama Islam Ini Pangeran Hasanuddin berkeliling dari daerah ke daerah seperti dari G. Cina. (Djajadiningrat. Kadipaten Banten dirubah menjadi negara bagian Demak dengan Pangeran Hasanuddin sebagai Sultannya. prabotan rumah tangga.1983:163) Kerajaan Islam di Banten Saat itu lebih dikenal oleh masyarakat Banten dan sekitarnya dengan sebutan Kesultanan Banten. baik kejayaan maupun kesuraman suatu masa dalam sejarah.1983:35) Disinilah tempat tinggal dan mengajarnya Kiayi Dukuh yang bergelar Pangeran Kasunyatan guru dari Pangeran Yusuf. makam-makam sultan Banten dan banyak lagi yang lainnya. persejataan dan karya seni yang menjadi tolak ukur dari nilai-nilai budaya masysarakat pada masa itu. Pengaruh yang besar diberikan oleh Islam melalui kesultanan dan para ulama serta mubaligh Islam di Banten seperti tidak dapat disangsikan lagi dan penyebarannya melalui jalur politik. Setelah kesultanan Banten berakhir maka sekarang tingglallah peninggalan sejarah berupa bekas istana kerajaan dan beberapa bangunan lain seperti. (Roesjan. sehingga tumbuhlah beberapa perguruan Islam di Banten seperti yang ada di Kasunyatan. (Hamka. Selain orang keturunan Cina yang sering berkunjung kesini banyak pula para turis macanegara dan lokal mengunjungi klenteng ini. Pulosari. (Ismail. (Djajadiningrat. Mesjid Agung dan Menara Banten. banyak orang-orang dari luar daerah yang sengaja datang untuk belajar. Mesjid Pacinan Tinggi. Gedung Timayah. Karang bahkan sampai ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon. (Djajadiningrat. lepas dari pengaruh Demak atau pun Pajang. Atas petunjuk dari Syarif Hidayatullah pusat pemerintahan Banten dipindahkan dari Banten Girang ke dekat pelabuhan di Banten Lor yang terletak dipesisir utara yang sekarang menjadi Keraton Surosowan. saat itu Kesultanan Demak runtuh dan digantikan oleh Panjang. Keraton Surosowan. Adapun tugasnya dalam penyebaran Islam di Banten diserahkan kepada Pangeran Hasanuddin. Keraton Kaibon. Seperti halnya di Banten banyak terdapat benda-benda bersejarah yang memiliki nilai historis yang dapat menyiratkan suatu riwayat tertentu. Bangunan ± bangunan itu tidak terlepas dari pengaruh religius (Hinduisme dan Islam). Masjid Caringin. Barulah Sultan Hasanuddin memproklamirkan Banten sebagai negara merdeka. Kesultanan Banten telah mencapai masa kejayaannya dimasa lalu dan telah berhasil merubah wajah sebagian besar masyarakat Banten.Setelah Pangeran Hasanuddin menginjak dewasa. Dari beberapa petugas serta pengawas 27 .1983:34) Sehingga berangsur-angsur penduduk Banten Utara memeluk agama Islam. Belanda. G. syarif Hidayatullah pergi ke Cirebon mengemban tugas sebagai Tumenggung di sana. Sejarah kebudayaan Cina Tertua di Banten Sejarah bisa diungkapkan lewat peninggalan-peninggalan masyarakat terdahulu dari segala segi aktivitas dan kreativitas.1954:10) Karena semakin besar dan maju daerah Banten. dan Gujarat. maka pada tahun 1552 M. Ditempat ini berdiri masjid Kasunyatan yang umurnya lebih tua dari masjid Agung Banten. Di Banten ada sebuah peninggalan kuno bangsa Cina yaitu klenteng yang saat ini merupakan Vihara Budha.1983:144) Pada tahun 1568 M. serta terjadinya akulturasi negara-negara lain seperti. seperti dilihat dari bentuk ± bentuk bangunan. pendidikan. karena mereka ingin melihat klenteng Cina yang dibangun pada masa sultan Banten dan konon klenteng tertua di Indonesia. Masjid Kasunyatan.

Sedangkan menurut catatan J. pada tahun 1614 di Banten ada 4 buah perahu Cina yang rata-rata berukuran 300 ton. pembangunan yang terus dilakukan secara bertahap di sekitar klenteng memang tidak merubah keaslian klenteng itu sendiri apa lagi yang terletak dibagian tengah klenteng karena diguankan sebagai altar. Cat yang banyak melekat didinding tiang serta kusen lainya memeang sering diperbaharui. P. Dahulu kampung Pabean memang banyak dihuni oleh orang-orang Cina daerah pelabuhan itu sangat ramai tetapi jauh dari tempat sembahyangnya orang Cina oleh karena itu kerajaan Banten memberikan bangunan kepada orang-orang Cina di Pabean sebuah bangunan besar bekas kantor bea (douane) pada masa VOC di pelabuhan Banten. Coen perahu Cina membawa barang dagangan bernilai 300. sedangkan di ruang lainnya yang melengkapi beberapa tempat penampungan para jemaah klenteng. juga di Indonesia . Penemuan mata uang Cina ini oleh tim arkeologi di Keraton Surosowan terdapat tulisan Yung Cheng T¶ung Pou = Coinage of Stable Peace yang berarti pembuatan mata uang untuk kesetabilan dan perdamaian.klenteng itu. Kemudian dalam proses selanjutnya bangunan klenteng itu mengalami perluasan beberapa puluh meter di areal kosong bagian kiri kanan banguan juga bagian depan maupun belakang bangunan tersebut. Bangunan klenteng ini memiliki ciri khas tersendiri sama seperti bangunan-bangunan bersejarah di Banten pada umumnya. Intensitas kehadiran para pedagang Cina cukup meramaikan dalam perdagangan di Banten diiringi pula dengan kehadiran imigran yang berfekwensi cukup tinggi. 1915:122) sebagai tanda peran serta bangsa Cina pada perdagangan di Banten tidak bisa diangap ringan. hal ini lebih banyak disebabkan selain karena perluasan bangunan di sekitar bangunan asli klenteng juga beberapa pengaruh warna cet merah dengan kombinasi warna kuning yang menyala. kesan tua dan membosankan untuk di pandang memenag tidak terpancar sama sekali di banguanan ini. sedangkan pada koin sebaliknya diketahui huruf Manchu yang artinya tidak diketahui. 1958:69). dilihat dari catatan arkeologi pada setiap tahun banyak perahu Cina yang berlabuh di Banten.000 real dengan menggunakan 6 buah perahu. Kita tengok sejarah hubungan antara kesultanaan Banten dengan bangsa Cina pada masa itu. diperoleh keterangan serupa bahwa Kleteng ini tertua di Jawa. Bangunan bekas kantor douane itu kemudian di rubah menjadi klenteng dengan nama Bio Hud Couw. dan pada saat itu orang Cina di Banten lebih dari 1300 kepala keluarga. mereka datang untuk berdagang dan melakukan perdagangan dengan cara barter/menukar dengan lada sebagai bahan utamanya. semula rumah biasa milik seorang Kapten VOC yang diserahkan untuk dijadikan tempat sembahyang orang Cina. Meskipun klenteng ini sudah berusia 500 tahun. Keterangan ini hampir sama dengan yang dipaparkan oleh She Cang bahwa klenteng yang dijaganya sejak tahun 1963 samapi sekarang. berjarak puluhan meter saja karena dipisahkan oleh sebuah parit. Agar warna cat tidak mudar dan tetap indah dipandang para pengunjung. tetapi bangunan klenteng amat terpelihara dengan baik dan masih berfungsi sebagai tempat peribadatan para pemeluk agama Budha hingga kini bahkan dalam perkembangannya di sekitar klenteng ini sekarang cukup banyak berdiri penginapan yang khusus di bangun untuk menampung para pengunjung klenteng dari luar kota yang ingin bermalam. Lokasi klenteng Cina ini terletak di sebelah barat bangunan Benteng Speelwijk (Benteng yang dibuat Belanda). Mata uang Cina yang ditemukan de Houtman di Banten (Rouffer. Mata uang Cina tersebut berbentuk 28 . Klenteng ini di bangun pada masa awal Kerajaan Banten. Selain sebagai pedagang orang-orang Cina datang ke Banten sebagai imigran (Clive Day. waktu itu Banten dikenal sebagai pelabuhan rempah-rempah.

18 cm. kesemuanya telah ditinggalkan manusia sebagai pelaku kehidupan dan terakhir dimusnahkan oleh letusan gunung Rakata (krakatau) tahun 1883 M (Michrob 1987). (Halwany. Sub sistem pemukiman merupakan bentang ruang hidup manusia yang mana pada bentang ruang tersebut.Persaingan dagang yang semakin ketat dari bangsa Perancis. Secara kronologis dan hipotetis bahwa dari sisa-sisa situs dan artefak tersebut mencerminkan hamparan sisa-sisa perilaku kehidupan dan budaya manusia yang ada sepanjang sejarah dari kurun ke kurun sejarah berikutnya. sehingga mereka tidak mampu membeli barang dagangan yang dibawa VOC. zaman hindu-budha.(1985 : 11-25-1122). disamping Inggris 29 . Seperti lukisan dinding guha di Sangiang Sirah. diameter 2.10-0. serta hasil survai dan ekskavasi. (Michrob.bulat berlubang segi empat. Setelah peninjauan dilokasi-lokasi sejarah bayak kita temui analogi-analogi terhadap daratan lain yang secara fisiografis memperlihatkan sejumlah persamaan ciri di daerah lain nusantara dengan ujung Kulon di Banten.80 cm. Melihat rekonstuksi sejarah Tanjung Layar pada akhir abad ke 18. dan beberapa sisa bangunan Kolonial di Tanjung Layar. menurut K. maka dapatlah dilakukan penyusunan suatu model hipotesis untuk merekonstruksi kehidupan budaya yang pernah berlangsung di Ujung Kulon Panaitan baik pada masa pra-sejarah. baik yang bersifat material maupun spiritual. Ujung Kulan Panaitan memperlihatkan pada kita beberapa artefak dan sisa-sisa bangunan. Sementara itu lewis R Binford menyatakan bahwa pola-pola pengelompokan pemukiman manusia seperti yang terlihat setiap pola yang ada pada situs arkeologis. dimana masa itu menghadapi kemunduran dalam perdagangannya karena situasi moneter dunia dan masalah di dalam tubuh VOC sendiri yang kurang sehat. maka Soebroto menekankan pula bahwa tipe-tipe situs arkeologis memberikan gambaran adanya hubungan erat antara pemilihan lokasi situs dengan strategi manusia masa lalu dalam memenuhi kebutuhannya. chang pemukiman manusia cenderung mengelopok. Islam dan terakhir zaman Kolonial. ini akan menimbulkan kecintaan kita terhadap budaya nusantara yang beragam dan bercorak yang sangat menawan. 1993:36) Ujung Kulon Dalam Lintasan Sejarah Mengamati berbagai sumber sejarah di nusantara sangatlah banyak.450. kubur islam di dalam guha sanghiang sirah.C. manusia menyelenggarakan segala upaya kulturalnya untuk memenuhi kebutuhan hidup secara maksimal.60 cm.O. pemukiman kuna di Taman Jaya dan Sumur. dan diameter lubang 0. 1991:31) Pemilihan dan penentuan lokalitas pemukiman biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor.25-2. batu lingga di Handeuleum. Inggris dan miskinnya penduduk Nusantara. keadaan ini menyebabkan hutang bertumpuk. .C. Penyebab terpenting dalam terjadinya masalah ini antara lain : . terutama Pulau Jawa karena sistim monopoli yang tak sehat. muncul tumbuh dan berkembang sebagai hasil interaksi antara ekonomi terhadap tempat khusus dan taktik-taktik mobilitas barang.Monopoli rernpah-rempah VOC yang sering dilanggar oleh penduduk pribumi. tebal 0. Data arkeologi dan sumber sejarah yang dapat diamati di Ujung Kulon Panaitan. sangatlah memperhatinkan masa kita lihat mada masa V. Patung Siwa dan Ganesha di Panaitan. misalnya jarak terhadap pusat persediaan sumber daya alam atau kita sebut sumber makanan dan air minum. sebagai upaya untuk menekan biaya-baya operasional sampai pada tingkat paling minimal (1967:229-230). setidaknya memperlihatkan bahwa sekitar daratan selat Sunda ini pernah meniadi salah satu sub-sistem pemukiman dan tempat pemujaan.

1990:21). banyak pekerja yang mati terkena penyakit malaria. Belanda dapat dikuasai pada tahun 1807. Sejak itulah kepulauan Nusantara di jajah Belanda (Soetjipto. Pada tahun 1789 meletus suatu revolusi besar Revolusi Perancis yang menggoncangkan Eropa dibawah pimpinan Kaisar Napoleon Bonaparte. Akan tetapi karena derahnya berawa-rawa. Sudah tentu tuntutan ini ditolak mentah-mentah oleh Sultan. VOC dibubarkan. rumah sakit tentara dan pabrik mesiu. Semua itu harus segera diselesaikan dengan dana serendah mungkin. Surosowan dapat direbutnya menjadi kekuasaannya. Namun karena kebencian rakyat yang sudah demikian memuncak kepada Belanda. Sultan supaya segera memindahkan keratonnya ke daerah Anyer. Melalui utusan sultan yang datang ke Batavia. benteng. 1961:56). c. Untuk itu Daendels memerintahkan kepada Sultan Banten. Banyaknya pegawai VOC yang melakukan korupsi. Halwany & Mujahid. Banyaknya biaya yang harus dikeluarkan VOC terutama untuk membayar tentara dan pegawainya yang sangat besar. Louis I Capoleon adiknya Kaisar Napoleon yang diberi kuasa di Belanda mengangkat Daendels sebagai Gubernur Jenderal di kepulauan Nusantara. 1881). pelabuhan tentara. ia datang di Batavia pada tahun 1808 dengan tugas pertama mempertahankan Pulau Jawa dari serangan tentara Inggris di India. prajurit-prajurit Sultan dengan keberanian yang mengagumkan berusaha mempertahankan setiap jengkal tanah airnya. Sebagian besar Eropa dikuasai Perancis kecuali Inggris. barak. Pekerjaan pertama Deandles adalah membuat pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon. untuk mnengirimkan pekerja rodi sebanyakbanyaknya agar pekerjaan yang direncanakannya cepat telaksana. karena di Surosowan akan dibangun benteng Belanda. Untuk itulah dilakukan kerja paksa (kerja rodi) yaitu para pekerja bekerja tanpa upah. 1990). Keadaan ini membuat Daendels marah dan menuduh Mangkubumi Wargadiraja sebagai biang keladi larinya pekerja-pekerja itu. Sebagai pringatan pertama-tama dikirimlah utusan Komandeur Philip Pieter oleh pihak kolonial Belanda ke istana Surosowan (Banten) untuk menanyakan kembali kesanggupan Sultan. b. karena memang dana dari negeri Belanda tidak bisa diharapkan. Semua kekayaan dan utangpiutangnya ditangani pemerintah Kerajaan Belanda.(Michrob. Sultan ditangkap dan diasingkan ke Ambon. personil. Demikian juga untuk menguasai daerah-daerah yang baru dikuasai terutama di Jawa dan Madura. Karena sebab-sebab itulah akhirnya pada tahun 1799. Sehingga banyak diantara mereka yang melarikan diri. Tapi akhirnya Daendels dapat meluluh lantahkan tanah Surosowan hingga menjadi puing-puing berserakan. Sultan harus segera menyerahkan patih Mangkubumi Wargadiraja ke Batavia.sudah berhasil menanamnya di India sehingga pasaran rempah-rempah menurun. Sultan harus mengirimkan 1000 orang rakyatnya setiap hari untuk dipekeriakan di Ujung Kulon. (Chis. sehingga sultan tidak sempat lagi menyiapkan pasukannya. Sedangkan patih Mangkubumi 30 . Tindakan ini dibalas Daendels dengan diserangnya Surosowan pada hari ltu juga yakni tanggal 21 Nopember 1808. Daendels memerintahkan supaya : a. maka utusan belanda tersebut dibunuh di depan pintu gerbang kraton (Michrob. Karena permintaannya ditolak maka dengan segera dan secara sembunyi-sembunyi dikirimlah pasukan dalam jumlah yang besar yang dipimpin langsung oleh Gubenur Jendral Daendels sendiri ke Banten. Dua hari kemudian pasukan ini sampai di perbatasan kota. Serangan yang tiba-tiba ini sangat mengejutkan dan memang diluar dugaan. Untuk menjalankan tugas ini Daendels membangun sarana dan prasarana pertahanan seperti : jalanjalan pos.

walaupun masih bergelar sultan. Dari Anyer Melalui Pandeglang jalan bercabang dua menuju Serang (utara) dan Lebak (selatan). Tangerang. Daendelas mencurigai Sultan Banten sebagai dalang kerusuhan-kerusuhan yang sering terjadi. menembus Gunung Palasari. rute selanjutnya Ke Tangerang. tahap pertama merupakan pembuatan jalan untuk membuka poros Batavia ± Banten pada tahun 1808. Sultan tidak mempunyai kuasa apa-apa ia hanya mendapatkan gaji 15. Lebak hingga Jasinga (Bogor). putra Sultan Muhyiddin Zainul Solihkin yang berkedudukan di Caringin. Bogor. sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Pandeglang. maka pekerjaan pembuatan Pangkalan di Ujung Kulon dipindahkan ke daeah Anyer. Untuk melemahkan perlawanan rakyat Banten. dan Anyer. tetapi itu tidak berarti bahwa tidak ada cabang-cabang jalan lainnya yang dilewati oleh Daendels. Banten Hilir. Jakarta. Belanda dapat menguasai Cibungur dan di pantai Teluk Marica (Pane sanusi 1950 b:11). Untuk wilayah Banten Hulu diangkat Sultan Muhammad Syafiuddin. Puncak. Ke tiga wllayah tersebut di bawah pengawasan Landros (semacam Residen) yang berkedudukan di Serang. namun kekuasaannya tidak dapat melebihi kekuasaan sultan pada biasanya karena ia tidak lebih dari seorang pegawal Belanda. Dalam proses pembuatan pangkalan tersebut Deandles melakukan tindakan-tindakan yang keras sehingga menambah kebencian rakyat Banten kepada pemerintahaan Belanda.1981:27) pada tahun 1809 itu pulalah mulai dikerjakan pembuatan jalan Pos dari Anyer sampai Panarukan sepanjang 1000 km.000 real setiap tahun dari pemerintah Belanda. Seperti kejadian di Cibungur dan di pantai Teluk Marica. Jasinga dan Sadang dimasukan ke dalam teritorial Batavia. Bandung. Menes. Karena banyak masyarakat yang membenci Pemerintahan Belanda maka timbullah perompakperompak kapal Belanda di sekitar selat Sunda di daerah laut sedangan di daratan timbul pula para pencuri yang digerakkan oleh Alim Ulama setempat yang tidak senang dengan sepak terjang pemerintahaan Belanda. Banten Hulu. Jalan inilah jalan yang di sebut jalan utama atau jalan protokol. Sumedang. Kesimpangsiuran informasi itu menurut Halwany Michrob. pada masa itu Daendels memfokuskan kegiatannya pada pembangunan dua pelabuhan di utara (Merak) dan di selatan (Ujung Kulon). akhirnya Belanda melakukan serangan lagi yang dipimpin langsung oleh Daendels sendiri dan hasilnya tidak mengecewakannya. Belanda membagi daerah Banten dalam tiga wilayah yang statusnya sama dengan Kabupaten seperti. dan sebagian orang-orang Banten yang tertangkap di laut selat Sunda ataupun didaratan dipenjarakan di Ujung Kulon. Benteng dan istana Surosowan Banten dibakar dan dibumi hanguskan pada tahun 1909 (Rusjan 195). Selanjutnya Banten dan Lampung dinyatakan sebagai daerah jajahan Belanda. Jalur ini melalui garis pantai dari Batavia menuju Carita. terjadi serangan Belanda ke daerah ini tapi tidak berhasil. Cirebon hingga Panarukan. wajar-wajar saja sebab pembautan jalan Deandels saat itu melaukannya dalam dua tahapan. Setelah Istana Surosowan hacur lebur maka diangkatlah Putra Mahkota dengan gelar Sultan Wakil Pangeran Suramanggala. Caringin. 1950 b:II). Pengerjaan pembuatan Pangkalan Angkatan Laut dihentikan karena banyak pekerja yang mati dan sakit disebabkan daerah proyek Pangkalan tersebut berupa rawa-rawa. Dari Serang. Sanusi 1950:14 dan Ismail. (Sanusi Pane. Akhirnya Daendles bersama pasukannya datang ke Banten untuk menankap dan memenjarakan Sultan Banten di Batavia. Labuan (Pane. Jalan ini dikerjakan hanya dalam tempo waktu 31 . Jiput. Tahap kedua dimulai tahun 1809.dihukum pancung dan mayatnya dilemparkan ke Laut. Cianjur.

dan secara geografis masih sering dikaitkan dengan bekas Karisidenan Banten. yang tersebar di seluruh pelosok Banten. misalnya. di samping "Pongdam" (Pontang). menurut beberapa sejarahwan Indonesia. menunjukkan bahwa nama Banten. seperti Babad Nagarakartagama (1345 M). Banten Girang Gerbang Kerajaan Banten Nuansa Islam dalam budaya Banten nampaknya cukup kuat hingga saat ini. Lebak. atau buku-buku keagamaan. Kategori yang disebut terakhir ini terlihat pada karya-karya arsitektur. Bahkan. berbagai cerita rakyat (folklore) yang masih hidup dalam ingatan masyarakat. meliputi Kabupaten Serang. kesenian dan sebagainya. seperti Cina Parahyangan yang menyebut istilah "Wahanten Girang". atau yang dapat ditafsirkan sebagai Banten. tampak dari sejumlah historiografi lokal. Walaupun demikian Daendels semakin keras menghadapi rakyat.000 orang dan banyak yang meningal tampa dikuburkan secara layak. "Calapa" (Sunda Kelapa) dan "Chemano" (Cimanuk). catatan Tome Pires (1512-1515) menyebut "Bantam" sebagai salah satu pelabuhan penting Kerajaan Sunda. babad. Terbukti dengan hadirnya para ulama. nama toponim Banten belum dimuat. Pada abad 16-18 Banten kemudian berkembang menjadi label wilayah politik dan nama Kesultanan yang bercorak Islam. Pada tahun 1808-1809 Daendles mulai pembuatan jalan dengan rute Batavia-Banten tahap pertama. Kajian Suwedi Montana. Hal ini berdasarkan fakta bahwa toponim Banten tidak dicantumkan dalam naskah yang lebih tua. prasasti Kaban-tenan menyebut nama "Bantam".satu tahun dengan mengorbankan beribu-ribu rakyat Banten. dalam naskah Pujangga Manik (Pajajaran). Pandeglang. Berdasarkan naskah-naskah yang ada. Pembangunan jalan Daendels dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur) sejauh 1000 km pada tahun 1809 ± 1810 yang bertujuan untuk mempercepat tibanya surat-surat yang dikirim antar Anyer hingga Panarukan atau sebagai jalan pos. maupun warisan budaya material dalam pengertian yang luas. teknologi. Selain itu. yang meninggal sekitar 15. "Cheguide" (Cigading). yang berasal dari awal abad ke-16. maka rakyat menghentikan bantuannya. namun jalan-jalan itu dalam perkembangan selanjutnya banyak dipengaruhi kehidupan masyarakat disekitarnya dan telah berubah fungsinya antara lain mejadi jalan ekonomi atau jalan umum dan kini sudah banyak bangunan disekitarnya. pesantren dan qari-qariah. yang dituturkan oleh kelompok sub etnik Banten. Karena banyaknya korban pada pembuatan jalan Batavia-Banten masih simpang siur.Budaya Banten bisa diidentifikasi dengan menelusuri. "Tamgaram" (Tangerang). Tangerang dan Kotamadya Tangerang. yaitu: (1) sub etnik 32 . dan Purwaka Caruban Nagari yang memuat istilah "Kawungaten". pada saat itu rakyat masih mau menghimpun kekuatan untuk melaksanakan perintah paksa Daendles. Dilihat dari segi demografi. baik produk-produk kesusasteraan seperti naskah-naskah. ia tidak segan-segan memerintahkan tentaranya menembak mati rakyat yang lalai atau tidak mau bekerja dalam pembuatan jalan apapun alasannya. begitu pun pembuatan proyek pelabuah maritim di Uiung Kulon (Tanjung Layar) yang banyak mengorbankan jiwa manusia karena disana masih banyak binatang buas. Selain itu. Banten sebenarnya merupakan toponim yang memiliki aspek ruang. Banten menunjukkan adanya dua kelompok etnisitas. namun setelah terjangitnya penyakit malaria dan banyak yang tewas. diduga kuat bahwa toponim Banten Baru muncul pada akhir abad ke-15 M. Banten Lama dan Banten Hilir. toponim Banten juga memiliki kaitan dengan Banten Girang.

Sekaligus dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten ternyata jauh lebih awal dari perkiraan semula dengan ditemukannya bukti baru bahwa Banten sudah ada di awal abad ke 11 ± 12 Masehi. yang berdiri pada abad ke 14 dengan ibukotanya Pakuan yang berlokasi di dekat kota Bogor sekarang ini. tapi dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten sudah berlangsung sangat lama dan teori bahwa keberadaannya dimulai pada saat terbentuknya Kerajaan Islam di Banten. dapat diketahui. Dari beberapa data mengenai Banten yang tersisa. kurang lebih 15 tahun sebelum Kerajaan Islam Banten terbentuk. dan Pelabuhan Banten. Bangsa Portugis telah mendokumentasikan keberadaan Banten dan sekitarnya pada awal abad ke 16. mulai dari daerah Tangerang di sebelah utara. Semenanjung Indochina. 33 . melainkan sekitar 10 Kilometer masuk ke daratan. di tepi sungai Cibanten. bangsa Portugis memulai perdagangan dengan bangsa Sunda. yang menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera. Walaupun Kerajaan Pajajaran masih berdiri. Bangsa Cina juga sangat berminat pada jenis rempah rempah ini. Mata uang logam (koin) sudah digunakan sebagai alat pembayaran. melihat makin berkembangnya komunitas ulama dan pedagang Islam yang semakin memiliki peranan penting di kota pelabuhan ³Hindu´. Dan juga dikaitkan dengan keberadaan Kerajaan Sunda Pajajaran. (2) sub etnik Banten-Sunda yang wilayah huniannya mulai dari Serang Selatan (Banten Girang) sampai ke pedalaman selatan berbatasan dengan Samudera India. tidak lagi dapat dipertahankan. Masyarakat Sunda. nama ini diberikan berdasarkan posisi geografisnya. tembaga. Banten pada masa itu sudah merupakan kawasan pemukiman yang penting yang ditandai dengan telah dikelilingi oleh benteng pertahanan dan didukung oleh berbagai pengrajin mulai dari pembuat kain.Banten Pesisiran yang membentang sepanjang pesisir utara Jawa Barat. Berdasarkan catatan. Kelemahan ini tidak luput dari perhatian Kerajaan Islam Demak. Keberadaanya sedikit dihubungkan dengan masa kejayaan maritim Kerajaan Sriwijaya. di bagian selatan dari Kota Serang sekarang ini. dan kapal Jung mereka telah berlayar ke pelabuhan Sunda setiap tahunnya untuk membeli lada. perhiasan emas dan manik manik kaca. Kemungkinan besar. terutama pada masa sebelum masuknya Islam. dan beberapa kawasan di India. yang menguasai Selat Sunda. kurangnya dokumentasi mengenai Banten. namun kekuasaannya mulai menyusut. Kerajaan ini mempunyai dua pelabuhan utama. berhasil menemukan titik terang akan sejarah Banten. Tidak banyak yang diketahui mengenai sejarah dari bagian terbarat pulau Jawa ini. pengrajin besi. Wilayah ini dikenal dengan nama ³Banten Girang´ atau Banten di atas sungai. baru berlangsung setelah masuknya Dinasti Islam di permulaan abad ke 16. tidak ada keputusan final yang dapat diambil sebelum penelitian dilakukan lebih lanjut. namun banyak bukti baru yang ditemukan. Pelabuhan Kalapa. yang berbatasan dengan sub etnik Betawi. Setelah menguasai Malaka pada tahun 1511. Penelitian yang dilakukan di lokasi Banten Girang di tahun 1988 pada program Ekskavasi Franco ± Indonesia. Beberapa dekade sebelumnya Kerajaan Demak telah menguasai bagian timur pulau Jawa dan pada saat itu bermaksud untuk juga menguasai pelabuhan Sunda. lokasi awal dari Banten tidak berada di pesisir pantai. sampai Anyer-Cilegon di sebelah selatan barat. dan hubungan internasional sudah terjalin dengan China. dikarenakan posisi Banten sebagai pelabuhan yang penting dan strategis di Nusantara. keramik. yang sekarang dikenal sebagai Jakarta. Secara nyata. Ketertarikan utama mereka adalah pada Lada yang banyak terdapat di kedua sisi Selat Sunda. memandang serius ekspansi Islam. Walaupun dengan keterbatasan penelitian.

Islam mencegah siapapun untuk merapat ke Banten. bagian utara Sumatera setelah tinggal beberapa lama di Mekah dan Demak. akan tetapi Ia tetap meminta Demak mengirimkan pasukan untuk menguasai Banten ketika Ia menilai waktunya tepat. dalam bukunya "Menemukan Peradaban. penduduk asli Pasai. tidak terlalu dekat dengan kota Banten. yang juga menikahkan adiknya dengan Hasanudin. yang dipimpin oleh Henrique Leme. yang sadar akan pentingnya urusan ini. Banten. Sadar akan adanya perjanjian antara Portugis dengan penguasa sebelumnya. Seorang ulama yang sekarang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. situasi politik telah sangat berubah dan sehingga armada Portugis gagal untuk merapat ke daratan. Portugis akan diberikan akses tak terbatas untuk persediaan lada. Sementara itu. yang bertanggungjawab akan pembangunan benteng. Hasanudin dinobatkan sebagai Sultan Banten oleh Sultan Demak. baik atas inisiatifnya sendiri maupun atas seizin Pakuan. dan diperkenankan untuk membangun benteng di pesisir dekat Tangerang. Dengan itu. Otoritas Banten. yang memegang kekuasaan politik di Banten. Dan Banten dipilih sebagai ibukota Kerajaan baru tersebut. Tahun 1522 Masehi. Sejak itu embrio dan fondasi masyarakat dan budaya Banten diletakkan dan ditetapkan dalam format yang berciri keislaman. dapat menawarkan komoditas lada bagi Portugis. dengan tujuan utama untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Perjanjian dibuat antara kedua belah pihak. Kelihatannya Kaum Muslim menguasai secara serempak kedua pelabuhan utama Sunda. bangsa Portugis menawarkan perlindungan ganda. Dan adalah puteranya. dan yang kedua untuk menahan agar armada Portugis yang sangat kuat pada saat itu. Kaum Muslim. yang telah berulangkali datang berniaga ke Banten. Prof. Peristiwa transformasi tersebut berlangsung pada tahun 1526 oleh Syarif Hidayatullah dan Maulana Hasanuddin. sekarang merupakan kelas sosial baru. pada saat itu telah menetap di Banten Girang. mungkin hanya dapat dikenali dengan merunut kembali peristiwa sejarah transformasi pusat administrative politik dari Banten Girang di pedalaman .yang berada di bawah subordinasi Pakuan Pajajaran yang Hinduistik ke daerah pantai yang sekarang dikenal dengan Banten Lama. yang memimpin operasi militer di Banten. Dr. dan armada lautnya sangat kuat dan menguasai perairan di sekitar Banten. terutama dengan alam dan budaya Islamnya. Lima tahun yang panjang berlalu. Hasan Muarif Ambari. Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia" (penerbit Logos) memperlihatkan fase-fase pertumbuhan perkembangan budaya Banten dalam panggung sejarah. agar Portugis dapat menahan kapal yang berlayar dari Demak. dimana sebelumnya juga telah memegang kekuasaan ekonomi. penguasaan yang tidak lagi dapat ditolak oleh Pakuan. Kepala Pusat Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas. Masyarakat dan budaya Banten. Depdikbud Rl) yang juga staf peneliti pada Pusat Pengkaian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Negosiasi ini di mulai tahun 1521 Masehi. Di mata otoritas Banten. di bawah pimpinan Francisco de Sá. sebelum akhirnya armada Portugis tiba di pesisir Banten. Walaupun pada awalnya kedatangannya diterima dengan baik oleh pihak otoriti. Jakarta ini. sebagai ganti dari perlindungan yang diberikan. mengirim utusan ke Banten. Sebagaimana telah sebelumnya dilakukan di Jawa Tengah. sebuah dinasti baru telah terbentuk pada saat yang sama kerajaan yang baru didirikan. Portugis di Malaka. yaitu Kalapa dan Banten. Pemilihan pembuatan benteng di daerah Tangerang tidak diragukan lagi untuk dua alasan : yang pertama. dirunut dalam fase-fase berikut: 34 . bangsa Portugis sangat anti Islam.Menghadapi ancaman ini. Putera Sunan Gunung Jati. di sisi lain. Hasanudin. Islam mengambil alih kekuasaan pada tahun 1527 M bertepatan dengan datangnya armada Portugis. Kemurah hatian yang sangat tinggi ini menggaris bawahi tingginya tingkat kesulitan yang dihadapi Banten. Aplikasi dari perjanjian ini adalah adanya kesepakatan kekuasaan yang tak terbatas bagi Portugis. memohon kepada bangsa Portugis di Malaka.

Pesantren terus menerus menghasilkan kader dan para ulama tetap berdakwah. Para pedagang Inggris. Keseimbangan kekuatan ini di antaranya bisa dilihat dari beberapa peristiwa politik yang berlangsung saat itu. Batavia. didirikannya Keraton Kaibon dan dipecahnya bekas wilayah Kesultanan Banten menjadi tiga daerah setara Kabupaten (Banten Hulu. Hindia Belanda terkena imbas perang Napoleonik/Rep. Pada masa itu Banten merupakan daerah bawahan kerajaan Pakuan Pajajaran yang Hinduistis. budaya pesisiran dan budaya pedalaman di daerah selatan Banten (kecuali daerah Baduy) terus menerus memantapkan keislamannya. blokade Belanda atas Teluk Banten. Oleh karena itu. Fase Pra-Sunda Islam (1400-1525). dan Turki datang melakukan transaksi perdagangan di Bandar Banten. hal yang tetap hidup dan terus mengakar pada masyarakat Banten adalah kultur Islam. Banten mencapai puncak ketinggian budaya (tamaddun Islam). Denmark. (6). Portugis. Sebelumnya. bencana alam (meletusnya Krakatau dan wabah penyakit sampar). Dalam situasi seperti ini. yakni satu fase tanpa adidaya di mana seluruh kekuatan politik dan ekonomi yang ada di Banten memiliki kekuatan yang seimbang (armada dagang Eropa. (5). dengan komponen-komponen arsitektur dan monumental berciri Islam. Setelah Kesultanan Banten dihapuskan oleh Belanda timbul berbagai pergolakan. telah menyebabkan pertumbuhan dan ramainya perdagangan. Kesultanan Banten. Banten telah berhubungan dengan Cina. pemberontakan dan perlawanan rakyat dipimpin oleh para ulama/bangsawan. pada tahun 1809 pembuatan jalan raya Daendells. interval penguasaan Inggris (1811-1816). pendudukan Jepang. dan sampai sekarang memasuki masa pembangunan. Fase Surut dan Jatuhnya Kesultanan Banten. suatu fase di mana Islam disiarkan oleh Sunan Gunung Jati dari Cirebon dan Maulana Hasanuddin yang beraliansi dengan Demak. awara dalam kehidupan masyarakat Banten 35 . (2). Rakyat mulai mengarahkan orientasi kepemimpinan dari raja/sultan kepada para ulama/mubaligh/kiyai. yang berpusat di Banten Girang (Kota Serang sekarang).alternatif setelah Malaka. tumbuh dan kuatnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. yang tidak memperlihatkan adanya dominasi satu kekuatan politik tertentu terhadap kekuatan politik lain: yakni penyerangan Banten ke Batavia. Fase Keseimbangan Kekuatan. pendirian Benteng Speelwik yang langsung atau tidak langsung memperlihatkan wujud hubungan antara Banten dan VOC. Batavia dan Mataram). perpindahan pusat pemerintahan dan mulai berkembangnya Banten sebagai pelabuhan . (3). Pendirian kota Banten Sorasowan. dan pilihnya tingkat kemakmuran masyarakat Banten. Fase Penguasaan (VOC) Belanda. perang kemerdekaan. Fase Mutakhir. dari segi budaya Banten dapat disetarakan dengan masyarakat kota seperti Mataram dan Cirebon.(1). Pada fase inilah. dan Anyer) di bawah pengawasan landraad (setara residen). pemindahan administrasi politik ke Serang Surosowan dihancurkan. sehingga etnis terakhir ini telah membentuk satu komunitas tersendiri yang memberi sumbangan besar bagi perkembangan perdagangan di Banten. Pada masa ini terjadi transformasi keagamaan. Fase awal Penyebaran Islam (1525-1619). Banten Hilir. (4). Di balik semua kilas balik sejarah ini. Cirebon. yang bermula sejak pertumbuhan Islam di Banten. masih berkembangnya "kota" Surosowan dan lain-lain.

Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten. Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. Sebagai subkultur kekerasan. pamong praja dan jawara merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. Belakangan. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara. sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul. Tesis S2 UI). Sejarah dan Silsilah 36 . Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat ³stamboom´ bukan ³geschiedenis´ atau ³history´. jawara dianggap sebagai ³khodam´ nya para ulama. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi. Oleh karena itu. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah. dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya. Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (RM. Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap eksis. tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten. Berbeda dengan kedudukan ulama. yaitu masa kerajaan Sunda. Seiring dengan perjalanan waktu. dan masa kolonial Belanda. kesultanan Banten. persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam. mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. Namun diantara ketiganya. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. sebagai ³negeri para ulama dan jawara´.Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan Banten khususnya. jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore. menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural. keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Penafsiran Sejarah Istilah Jawara Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat. karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat. Dari stamboom yang ada. bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. Karena dari para ulamalah sebagian besar ³keilmuan´ jawara itu berasal. ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas. kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya. Taufik Djajadiningrat. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang. yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya. Bekasi-Pantura.

Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat. memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban. 1995 : 121-122). Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki tangannya. dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang. Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan.G. Residen Banten (1925-1931). Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak.S menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. Penafsiran keempat. Dalamperkembangan selanjutnya. yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara. ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara. S. Penafsiran kedua. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya. tetapi juga membela dan melindunginya. seperti jago dalam menyabung ayam. pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu ³kadugalan´ yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. sampaisampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. 37 . Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka. Pada perkembangannya. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin. Penafsiran ketiga. F. militan dan mampu mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. Putman Craemer. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat. yang bermakna harfiah sebagai ³bayi yang menjelang dewasa´. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat. Miftahul Falah.Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten.

Pada umumnya. namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok ³kejawaraan´ nya itu sendiri. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar. pengacau. Jawara yang merasa citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. yang merupakan akronim dari jalma wani nga-rampog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong (jalma wani nga-rahul). mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa. 38 . dan onrust (ketidak amanan). berusaha mengcounter dengan istilah jalma jago nu wani ramah (orang yang jagoan berani dan ramah). Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama. woelingen (kekacauan). karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. Terminologi Jawara. mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah ³potong letter´ lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri ³maenpukulan´ atau pencak silat. Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan. dan Preman Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat. Selain itu. dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. Seiring dengan perkembangan waktu. yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran). baik semasa kerajaan Sunda. Jagoan. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. complot (komplotan). Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat. Berbeda dengan perampok atau pencuri. ongergeldheden (pemberontakan). Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan permasalahan. terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. dikenal dengan peristiwa Perang Pertama. kata ini berasal dari kata dasar ³jago´ yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya ³champion´ atau juara (Ridwan Saidi. Berbeda dengan Jagoan. jawara sangat patuh kepada ulama. kesultanan Banten. maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda.Penafsiran kelima. dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara. Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif. tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. dan perampok. Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial. sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka.

hal ini yang membuat cemas bangsa Eropa. hendaknya kita masih dapat membedakan makna. orang yang kuat. kepada bupati Serang Mas Ahmad Sampurna dipendopo kabupaten Serang beberapa tahun yang lalu. Sumber tulisan: Atu Karomah. sudah menjalin hubungan perdagangan dengan bangsa Eropa dan Asia disekitarnya. Cerita ini merupakan bukti bahwa sistem perdagangan zaman kesultanan tidak dapat diremehkan. Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak. swasta. Lalu bagaimana dengan preman?. 39 . Tesis S2 UI. S. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda. Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. sipil.S. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman. ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat. bukan tentara. Vrijman yang bermakna ³orang bebas´ atau dalam bahasa Inggris disebut free man. Banten merupakan pesaing yang cukup disegani oleh bangsa Eropa pada masa itu. Glosari Betawi. seperti yang tersirat dalam buku berjudul ³The Sultanate of Banten´ secara resmi diserahkan oleh Duta Besar Perancis Patrick O¶Cornesse. non pemerintah. Amsterdam di Hindia Belanda Banten menurut data historis dan arkeologis kira-kira pada 450 tahun yang lalu. Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten. Jakarta1995 Tasbih & Golok. Disisi lain menurut tradisi lisan. 2. jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan ³tukang pukul´ dan seorang yang suka berkelahi. Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten. jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas. yaitu: 1. Bahkan banyak pula melakukan manuver-manuver dalam sistem perdagangan. kuli yang bekerja menggarap sawah. 2002 Kota Banten. STAIN Serang. jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar. Terlebih dalam kemapuan berpolitik. BP Jakarta 1996 Miftahul Falah. Jakarta 2007 RM. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten. juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. Jakarta1995 Ridwan Saidi. pada saat zaman Sultan Maulana Yusuf yang dikenal dengan julukan Penembahan Pakalangan yaitu sekitar tahun 1570. karena dalam persaingan perdagangan internasional.Glosari Betawi: 43). Dari tiga terminologi di atas. tukang pukul dan pemberani. partikelir. Secara hirarki. Taufik Djajadiningrat. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya.

Di Banten pusat industri untuk produksi lada adalah di Kampung Pamarican yang masih dikenal hingga kini. saat itu Banten masih dibawah Kerajaan Pajajaran yang beragama Hindu. sehingga para sultan Banten mengambil strategi untuk mengendalikan sepenuhnya komoditi tersebut. beliau mencari hasil bumi terutama LADA dan beliau berucap bahwa Kota Banten ini hampir sama dengan Kota Rouen di negerinya yang ramai dengan para pedang. sama pula yang diungkapkan oleh Vincent Leblanc asal Perancis waktu tiba di Banten pada abad 16. Selain Malaka. Menurut Dubes O¶Cornesse. penelitian ini berlangsung hingga tahun 1987. kemasyurannya tetap tersimpan dalam kenangan bangsa perancis kata O¶Cornesse. Banten bertambah penting posisinya sebagai kota perdagangan internasional setelah Malaka jatuh ketangan Portugis. Sebelum Banten menjadi Kota Muslim. Portugis segera menjalin perdagangan dengan Makasar dan Banten. Lada ini lah yang sangat di gemari oleh bangsa Eropa termasuk bangsa Sepanyol yang mengintruksikan Magellan dan Portugal untuk mencari lada di Banten pada tahun 1519. penelitian tersebut bertujuan untuk mengangkat kembali kebesaran masa silam bangsa indonesia. Begitu pula penduduk di daerah Sumatera diwajibkan untuk menanam 500 pohon lada dan hasilnya dikirimkan ke Kota Banten. pasar dan juga masjid besar. isi dari buku ini merupakan hasil dari para peneliti yang bekerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Prancis dengan sasaran penelitian adalah untuk merawat dan merestorasikan kerajaan serta kesultanan Banten. Malaka akhirnya jatuh ketangan Belanda pada tahun 1641. Perdagangan lada di Banten sangat ramai karena mutu jenis lada di Banten lebih baik dibadingkan mutu lada dari Malabar dan Aceh. Kedua raksasa Eropa ini terlibat pertempuran untuk merebutkan pasar dan pusat produksi lada. Akhirnya pada tahun 1660-an Sultan Haji memerintahkan 40 . Perdagangan lada ini begitu ramai dan menguntungkan. Kota Banten. Menurut Cornelis de Houtman asal Belanda pada tahun 1596 Banten disebut Kota Pelabuhan dan Perdagangan yang sama besar dengan Kota di Amsterdam saat itu. sebelum melakukan petualangannya untuk mengelilingi dunia. kota Banten Lama yang didirikan 1526 dipesisir utara Jawa Barat (sekarang Provinsi Banten). Banten menjadi pusat persaingan dan perebutan kongsi perdagangan Eropa. Banten terkenal dalam perdagangan Ladanya yang menjadi daya tarik bangsa Eropa. Pada tahun 1522 Protugis mengadakan perjanjian dagang dengan para pengusaha Banten. dengan cara menginstruksikan semua penduduk di pedalaman ataupun di kota untuk membawa hasil lada mereka ke Kota Banten. terutama kesultanan Banten yang telah terkubur dalam tanah dan dalam arsiparsip yang ada di Eropa. terutama pada 1570 samapi abad 19. juga berkembang menjadi satu kota muslim yang bersaing dengan negara-negara Arab dalam memiliki istana.Buku dalam bahasa Inggris dengan kata pengantar oleh Menteri Pendidikan pada saat itu dijabat bapak Fuad Hasan. Banten Sadar pentingnya armada dagang untuk menguasai dan mempertahankan industri lada. sekaligus berdagang langsung dengan Bangsa Eropa dan Asia lainnya. Karena dilihat dari sarana dan pra sarana sejak dulu seperti Pelabuhan Karangantu yang menarik para pedagang Eropa dan Asia. untuk diolah dengan standar mutu tinggi. dikenal sebagai kota metropolitan sekaligus kota yang produktif. mengagumi Banten dan menjadikannya satu pelabuhan kosmopolitan besar pada abad 17. khususnya Belanda dan Portugis. atau Bantahan menurut sebutan negara Barat. Banten di masa itu merupakan pusat peniagaan dunia. Dengan tidakan ini bangsa Eropa menilai Banten sudah menjadi Imperium Lada. Menurut catatan sejarah kesultanan Banten pada tahun 1527 berkembang menjadi pusat perdagangan. Para sultan mengadakan tindakan pengetatan pada hasil produksi lada di Banten. Perancis atau bangsa Eropa lainnya.

saat kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa Abulfathi Abdul Fatah dan Sultan Haji Abunhasr Abdul Kahhar. Peta ini dibuat pada tahun 165 M.1640 (dianugerahi gelar tersebut pada tahun 1048 H (1638) oleh Syarif Zaid.1590 Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 . Daftar pemimpin Kesultanan Banten y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y Sunan Gunung Jati Sultan Maulana Hasanudin 1552 . Syarif Makkah saat itu. Berita yang paling meyakinkan tentang hubungan Banten dengan Eropa. Pulau Panaitan.1650 Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680 Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 . Kamboja.1580 Maulana Muhammad 1585 . Vietnam.14 SM) dan Plinius (akhir abad pertama masehi).) Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad 1640 . Vietnam. kemudian menyusuri pantai barat Sumatra. Selat Sunda. Dalam peta ini digambarkan tentang jalur pelayaran dari Eropa ke Cina dengan melalui: India. berdasarkan tulisan geograf Starbo (27 . ujung utara Sumatra.pembangunan armada kapal dagangnya dengan model seperti kapal-kapal Eropa. Dengan armadanya yang kuat akhirnya Banten mampu berdagang langsung dengan Mekkah.1687 Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690) Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733) Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752) Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750) Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753) Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773) Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799) Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801) Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802) Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803) Aliyuddin II (1803-1808) Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809) Muhammad Syafiuddin (1809-1813) Muhammad Rafiuddin (1813-1820) 41 . Kesultanan Banten memasuki persaingan perdagangan lada internasional yang sangat ramai pada kurun waktu antara tahun 1651 dan tahun 1672 sampai VOC (Belanda) merebut Banten pada tahun 1682. terus melalui Laut Tiongkok Selatan sampai ke Cina (Yogaswara. dan bangsa Inggris dipercaya untuk membangun armada tersebut. Taiwan dan Jepang. India.1570 Maulana Yusuf 1570 . Siam. India dan Cina adalah dengan diketemukannya peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus. 1978: 21-38).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful