SEJARAH BANTEN : KRONOLOGI WAKTU

130 M Berdiri Kerajaan Salakanagara (Negeri Perak)yang beribukota Rajatapura yang terletak di pesisir barat Pandeglang. Raja pertama Dewawarman I (130 ± 168 M) yang bergelar Aji Raksa Gapurasagara (Raja penguasa gerbang lautan) Daerah kekuasaannya meliputi : ‡ Kerajaan Agrabinta di Pulau Panaitan ‡ Kerajaan Agnynusa di Pulau Krakatau ‡ Dan daerah ujung selatan Sumatera 165 M Banten (Pulau Panaitan) masuk dalam peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus sebagai bagian dari jalur pelayaran dari Eropa menuju Cina dengan melalui India, Vietnam, ujung utara dan pesisir barat Sumatera, Pulau Panaitan, Selat Sunda, terus melalui Laut Cina Selatan sampai ke Daratan Cina. Abad 5 M Prasasti Munjul yang diperkirakan berasal dari abad ke V masehi ditemukan di Sungai Cidangiang, Lebak Munjul ± Pandeglang. Prasasti berhurufkan palawa dengan bahasa sanksekerta menyatakan bahwa raja yang berkuasa di kawasan tersebut adalah Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara. Dalam prasasti tersebut dituliskan juga bahwa negara pada saat itu berada dalam kemakmuran dan kejayaannya. Abad XII ± XV Banten menjadi pelabuhan dari Kerajaan Pajajaran. Abad XIV Ditemukan prasasti di Bogor, yang menyatakan Pakuan Pajajaran didirikan oleh Sri Sang Ratu Dewata, yang daerah kekuasaannya meliputi seluruh Banten, Kalapa (Jakarta), Bogor, sampai Cirebon. Abad XVI Awal abad ke XVI, Banten dibawah pemerintahan Prabu Pucuk Umun (Dalam Babad Cibeber disebut juga sebagai Ratu Ajar Domas). Pusat pemerintahannya terletak di Banten Girang, yang dihubungkan dengan pelabuhan Banten melalui Sungai Cibanten, dan melalui Klapadua sebagai jalur darat. 1513 M Tome Pires, pelaut Portugis, memberitakan bahwa pelabuhan Banten merupakan pelabuhan kedua terbesar setelah Kalapa. Telah terjadi hubungan perniagaan dengan Sumatera dan Maladewa, dan pelabuhan Banten merupakan pengekspor beras, bahan makanan dan lada. Pada masa ini, diberitakan juga sudah banyak dijumpai orang Islam di daerah Cimanuk, dan kota kota pelabuhan seperti Kalapa dan Banten. 1511-21 M Tanggal 5 Agustus 1511 M, Bangsa Portugis menguasai Malaka dan disusul dengan takluknya Samudera Pasai pada tahun 1521 M. Selain untuk kekuasaan dan kekayaan, bangsa Portugis juga dibebani misi untuk menghancurkan agama Islam. Dengan menguasai Malaka, bangsa Portugis memonopoli perdagangan rempah rempah di Asia Tenggara, dan memberlakukan peraturan peraturan yang memberatkan bagi para pedagang terutama yang beragama Islam. Kondisi ini membuat pedagang pedagang dari Arab, Parsi, Cina, dan bangsa lain enggan untuk berniaga ke Malaka dan mengalihkannya ke Aceh, Banten, Cirebon, dan Demak. Keadaan ini sangat menguntungkan bagi Pelabuhan Banten yang berkembang semakin pesat dan lama 1

kelamaan menjadi pusat penyebaran agama Islam di bagian barat pulau Jawa. 1521 M Dengan semakin berkembang pesatnya kekuatan Islam di barat dan timur, timbul kekhawatiran raja Pajajaran akan semakin terdesaknya agama Hindu selaku agama resmi kerajaan dan juga lunturnya kekuasaan di di daerah pantai. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata) melakukan : ‡ Pembatasan pedagang pedagang yang beragama Islam mengunjungi pelabuhan pelabuhan yang berada di bawah kekuasaan Pajajaran. ‡ Menjalin hubungan persahabatan dan kerjasama dengan bangsa Portugis di Malaka, agar dapat membantu Pajajaran bila diserang Kerajaan Demak, dengan mengutus putera mahkota Pajajaran Ratu Sangiang atau Surawisesa ke Malaka. 1522 M 21 Agustus 1522 M, Henrique Leme, utusan Gubernur Malaka, menandatangani perjanjian dengan raja Pajajaran, Pangeran Surawisesa, pengganti Sri Baduga Maharaja. Perjanjian tersebut berisi antara lain : ‡ Portugis dapat mendirikan benteng di pelabuhan Sunda Kelapa ‡ Raja Pajajaran akan memberikan lada sebanyak yang diperlukan Portugis sebagai penukaran barang barang kebutuhan Pajajaran. ‡ Portugis bersedia membantu Pajajaran apabila diserang Demak atau kerajaan lainnya. ‡ Sebagai tanda persahabatan, Pajajaran akan memberikan hadiah 1000 karung lada setiap tahunnya kepada Portugis. 1525 M Pasukan gabungan Demak dan Cirebon yang dipimpin Fatahillah, Pangeran Cirebon, Dipati Cangkuang, dan Dipati Keling, serta pasukan lokal di bawah pimpinan Hassanudin dapat menguasai Banten. Untuk menjaga stabilitas keamanan di Banten, Hassanudin kemudian diangkat menjadi Adipati Banten dengan pusat pemerintahan di Banten Girang. 1526 M Atas petunjuk dari Sunan Gunung Jati, ibukota Banten dipindahkan ke dekat pelabuhan Banten, yang kemudian disebut dengan Surosowan. Berdasarkan beberapa data, pemindahan ibukota ini dilakukan pada tanggal 1 Muharram 933 H yang bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1526 M. 1527 M Terdengar kabar, Portugis dengan armada dan persenjataan lengkap telah meninggalkan Malaka menuju Sunda Kelapa. Mendengar berita ini, Demak, Banten, dan Cirebon bergerak untuk menguasai Sunda Kelapa. Sunda Kelapa dapat dikuasai pada tahun 1527 M, dan Fatahillah diangkat untuk menjadi Adipati Sunda Kelapa. Sebagai tanda kemenangan, Sunda Kelapa diganti namanya menjadi Jayakarta, yang berarti Kota Kemenangan. Armada Portugis yang datang dari Malaka untuk melaksanakan perjanjian tahun 1522 M dengan Kerajaan Pajajaran tiba setelah Sunda Kelapa dikuasai pasukan Islam. Portugis yang dipimpin oleh Francisco de Sa melakukan perang terbuka di perairan Sunda Kelapa, dan setelah mendapat perlawanan hebat dari pasukan Islam, Portugis dapat diusir mundur dari Sunda Kelapa. Setelah Jayakarta berhasil diamankan dari serangan Portugis, Hassanudin dan Fatahillah bekerjasama menangani pembangunan di Banten dan Jayakarta. Hassanudin bertanggung jawab dalam masalah pengembangan wilayah dan pendidikan kemasyarakatan, sedangkan Fatahillah bertanggung jawab menangani keamanan dan pertahanan wilayah. Sehingga pada masa itu Islam menyebar dengan pesat 2

dan keamanan negara terjamin. Kedua penguasa di Jawa Barat memerintah atas nama Sultan Demak. 1552 M Kemajuan perkembangan Banten yang sangat pesat, menjadikan status Banten ditingkatkan dari Kadipaten menjadi Kerajaan. Hassanudin ditunjuk sebagai raja pertama. Dan pada tahun yang sama pula, Fatahillah (menantu dari Sunan Gunung Jati) diangkat menjadi raja di Cirebon, mewakili Sunan Gunung Jati, dikarenakan mangkatnya raja Cirebon, Pangeran Pasarean (putera Sunan Gunung Jati) di tahun tersebut. Untuk menjalankan tugas pemerintahan di Jayakarta diangkat Pangeran Bagus Angke, menantu Sultan Hassanudin. 1552-1570 M Masa Pemerintahan Sultan Maulana Hassanudin. Sultan Maulana Hassanudin memerintah sebagai raja pertama Kesultanan Banten dari tahun 1552 M hingga wafatnya di tahun 1570 M. Pada masa pemerintahannya, digambarkan kota Banten telah berkembang sangat pesat. Jumlah penduduk diperkirakan telah mencapai 70.000 jiwa. Terletak di pertengahan pesisir teluk Banten, Kota yang dikenal dengan nama Surosowan ini memiliki panjang 400 hingga 850 depa. Kota Banten dilewati sungai jernih yang dapat dilalui oleh kapal jung dan gale. Kota Banten dikelilingi benteng bata setebal tujuh telapak tangan. Bangunan bangunan pertahanan dua lantai terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan meriam. Di tengah kota terdapat alun alun yang digunakan untuk kegiatan ketentaraan, kesenian rakyat dan juga sebagai pasar di pagi hari. Istana raja terletak di sisi selatan alun alun, disampingnya dibangun bangunan datar yang ditinggikan dan diatapi yang disebut srimanganti, sebagai tempat raja bertatap muka dengan rakyat. Di sebelah barat alun alun dibangunlah Masjid Agung Banten. Sultan Hassanudin dalam usahanya membangun dan mengembangkan kota Banten lebih menitik beratkan pada pengembangan sektor perdagangan, disamping memperluas lahan pertanian dan perkebunan. Pada masa pemerintahannya, Banten telah menjadi pelabuhan utama di Nusantara, sebagai persinggahan utama dan penghubung pedagang pedagang dari Arab, Parsi, Cina, dengan kerajaan kerajaan di Nusantara. Cara jual beli saat itu, masih menggunakan sistem barter, dan juga sudah mulai digunakan mata uang sebagai alat tukar. Mata uang yang digunakan adalah Real Banten dan cash cina (caxa). Terjadinya krisis kepemimpinan di Kesultanan Demak pada tahun 1547-1568 M, mendorong Sultan Hassanudin untuk melepaskan diri dari Kesultanan Demak dan menjadikan Banten kerajaan yang berdiri sendiri. Saat itu, wilayah Kesultanan Banten telah meliputi Banten, Jayakarta, Kerawang, Lampung, Inderapura, sampai Solebar. Sultan Hassanudin wafat tahun 1570 M dan dimakamkan di samping Masjid Agung. Setelah wafatnya, Maulana Hassanudin dikenal dengan sebutan Sedakinking. Sebagai penggantinya, dinobatkanlah Pangeran Yusuf sebagai Raja Banten ke 2. 1570-1580 M Sultan Maulana Yusuf Pada masa kepemerintahan Sultan Maulana Yusuf, strategi pembangunan dititik beratkan pada pengembangan kota, keamanan wilayah, perdagangan dan pertanian. Pada saat itu, perdagangan sudah sangat maju sehingga Banten merupakan tempat penimbunan barang barang dari seluruh dunia yang nantinya akan disebarkan ke seluruh nusantara.

3

Dengan majunya perdagangan maritim di Banten, maka kota Surosowan dikembangkan menjadi kota pelabuhan terbesar di Jawa. Ramainya kota baru ini dengan penduduk pribumi maupun pendatang membuat diberlakukannya aturan penataan dan penempatan penduduk berdasarkan keahlian dan asal daerah penduduk. Perkampungan untuk orang asing biasanya ditempatkan di luar tembok kota, seperti Pekojan yang diperuntukan bagi pedagang muslim dari kawasan Arab ditempatkan di sebelah barat pasar Karangantu, Pecinan yang diperuntukan bagi pendatang dari Cina ditempatkan di sebelah barat Masjid Agung, di luar batas kota. Penataan pengelompokan pemukiman ini selain bertujuan untuk kerapian dan keserasian kota juga untuk kepentingan keamananan, dan merupakan upaya penyebaran dan perluasan kota. Selain penataan pemukiman, juga dilakukan perkuatan dan penebalan tembok keliling kota dan tembok benteng sekeliling istana. Tembok benteng diperkuat dengan lapisan luar yang terbuat dari bata dan batu karang dengan parit parit disekelilingnya. Perbaikan Masjid Agung juga dilakukan dan penambahan bangunan menara dengan bantuan Cek Ban Cut, arsitek muslim asal Mongolia. Untuk kepentingan irigasi bagi persawahan yang berada di sekitar kota dan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih bagi kota Surosowan, di buatlah danau buatan yang dinamakan Tasikardi. Air dari sungai Cibanten dialirkan melalui terusan khusus ke danau ini, yang kemudian disalurkan ke daerah daerah sekitar danau. Dengan melalui pipa pipa terakota, setelah diendapkan di Pengindelan Abang dan Pengindelan Putih, air yang sudah jernih dialirkan ke keraton dan tempat tempat lain di dalam kota. Di tengah danau buatan ini juga dibuat pulau kecil yang digunakan sebagai tempat rekreasi keluarga keraton. Sultan Maulana Yusuf wafat pada tahun 1580 M dan dimakamkan di Pakalangan Gede dekat kampung Kasunyatan sekarang, dan karenanya beroleh gelar Pangeran Panembahan Pakalangan Gede atau Pangeran Pasarean. Sebagai pengganti, diangkatlah putranya, Pangeran Muhammad yang pada waktu itu baru berusia 9 tahun. 1579 M Pasukan Banten di bawah pimpinan Sultan Maulana Yusuf berhasil merebut Pakuan, ibukota Kerajaan Pajajaran dan menguasai seluruh wilayah bekas kerajaan Pajajaran. Raja terakhir yang memerintah Kerajaan Pajajaran adalah Raga Mulya atau Prabu Surya Kencana, yang juga dijuluki Prabu Pucuk Umun atau Panembahan Pulosari, karena pada akhir masa kepemerintahannya berkedudukan di gunung Pulosari, Pandeglang. Benteng Pulosari dapat dikuasai oleh Sultan Maulana Yusuf pada tanggal 8 Mei 1579/11 Rabiul Awal 987 H. Setelah berhasil dikalahkan, seluruh punggawa kerajaan Pajajaran diislamkan dan dibiarkan kembali memangku jabatannya sehingga dapat menjamin stabilitas keamanan di seluruh wilayah Banten. 1580-1596 M Sultan Maulana Muhammad Kanjeng Ratu Banten Surosowan Keadaan Banten pada masa Sultan Maulana Muhammad dapat diketahui berdasarkan kesaksian Willem Lodewycksz yang mengikuti Cornelis de Houtman yang mendarat di pelabuhan Banten tahun 1596. Dari catatan mereka diketahui bahwa Kota Banten mempunyai tembok tembok yang lebarnya lebih dari depa orang dewasa dan terbuat dari bata merah. Diperkirakan besarnya sebesar kota Amsterdam tahun 1480 M dan orang dapat melayari seluruh kota Banten melalui banyak sungai. Setiap kapal asing yang hendak berlabuh di Bandar Banten diharuskan melalui semacam pintu gerbang dan membayar bea masuk. 4

yang memicu terjadinya perang saudara yang dikenal dengan nama Perang Pailir. yaitu Abul Mafakhir. Salah satunya adalah diangkatnya Pangeran Ranamanggala sebagai Mangkubumi dan wali dari sultan muda. yang bahkan Sultan sendiri tidak diperkenankan untuk ikut campur. Pada saat Mangkubumi Jayanegara wafat di tahun 1602 M. Pangeran Ranamanggala adalah putra Maulana Yusuf. Untuk kepentingan penyebaran agama Islam. yang ditunjuk sebagai penggantinya. tindakan utama yang diambil adalah mengembalikan stabilitas keamanan Banten dan menegakan peraturan untuk kelancaran pemerintahan. dimakamkan di serambi Masjid Agung dan beroleh gelar Pangeran Seda ing Palembang atau Pangeran Seda ing Rana. Pada masa kepemimpinannya. Puncak dari kekacauan itu adalah dibunuhnya Mangkubumi. keturunan dari Kerajaan Demak yang ingin menjadi Raja Palembang. Sultan meninggalkan putra yang baru berusia lima bulan. Mangkubumi yang baru ini. Banten dapat terselamatkan dari kehancuran akibat rongrongan dari dalam amupun luar negeri. sehingga tidak memiliki wibawa dan keputusannya lebih banyak tidak ditaati. Dengan cara demikian. Perang untuk memperebutkan tahta yang dilancarkan oleh Pangeran Kulon. perang yang dimulai akibat bujukan Pangeran Mas. mendesak agar suami barunya ditunjuk sebagai Mangkubumi. saudara beda ibu dengan Sultan Maulana Muhammad. Sultan Maulana Muhammad wafat di usia 25 tahun. dalam kenyataannya banyak menerima suap dari pedagang asing.Transaksi perdagangan di pasar ini berjalan mudah karena mata uang dan pertukaran mata uang (money changer) sudah dikenal. untuk tempat shalat perempuan disediakan tempat khusus yang disebut pawastren atau pawadonan. dapat dihentikan atas usaha Pangeran Jayakarta hingga dibuat perjanjian perdamaian antara semua pihak. Maulana Muhammad terkenal sebagai orang yang saleh. semenjak itu Banten menjadi aman kembali. 1596-1651 M Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir Sultan Abul Mafakhir yang baru berusia lima bulan. Nyai Gede Wanagiri. perwalian dikembalikan ke ibunda sultan. untuk menjalankan roda pemerintahan maka ditunjuklah Mangkubumi Jayanegara. Kekacauan di dalam negeri semakin membesar dan tidak dapat ditangani karena Mangkubumi lebih sibuk mengurus keributan yang ditimbulkan oleh pedagang Belanda dengan pedagang Inggris. Masjid Agung diperindah dengan melapisi dinding dengan keramik dan kolomnya dengan kayu cendana. yang terjadi di tahun 1608 ± 1609 M. Selama menjabat sebagai Mangkubumi. saudara sultan lain ibu ini. Sultan tertembak ketika memimpin pasukan dari kapal Indrajaladri di Sungai Musi. seorang tua yang lemah lembut dan luas pengalamannya dalam pemerintahan sebagai walinya. Nyai Gede Wanagiri yang telah menikah kembali. Sultan juga menjadi khatib dan imam untuk setiap shalat Jum¶at dan Hari Raya. Sultan Maulana Muhammad wafat pada tahun 1596 pada saat penyerangan ke Palembang. 5 . Portugis. maupun pedagang dalam negeri. dengan berbagai kepentingan yang berbeda serta keinginan untuk merebut tahta kerajaan. Masa awal pemerintahan Sultan yang masih balita ini merupakan masa masa pahit dalam sejarah Kesultanan Banten karena banyaknya perpecahan dalam keluarga kerajaan. beliau banyak mengarang kitab agama Islam dan membangun masjid hingga ke pelosok negeri.

barulah pada tahun 1857 ± hampir enam dasawarsa kemudian ± ringkasan dari kedua memorandum panjang ini diterbitkan dalam majalah Bijdragen tot Taal-. penerbit LP3ES. Akan tetapi. tetapi lebih mungkin karena keasyikan berkisah saja-ternyata banyak juga membicarakan hal-hal yang mestinya tidak boleh diketahui umum. entah tidak. Akan tetapi. yang masing-masing berjudul Berschijving van Banten en de Lampong (Uraian tentang Banten dan Lampung) dan Bedenkingen van den staat van Bantam (Pemikiran tentang Banten). karangan Nina H Lubis. Melihat namanya ia rupanya seorang bangsawan. raden mas Belanda ini sempat menyelesaikan dua memorandum panjang. sebuah majalah yang sampai sekarang masih terbit bahkan telah semakin bersifat internasional. Pulang kampung dan meletakkan jabatan bukanlah pula hal yang harus dibesar-besarkan. sedangkan umur Hindia Belanda hanya 142 tahun saja. Coba saja pikir pejabat yang bergelar Jonkheer ini antara lain mengusulkan agar VOC menurunkan tingkat administratif Banten hingga dengan begini jumlah tentara yang diperlukan cukup 185 orang saja. Akan tetapi. Hal ini dilakukan agar pedagang dari Belanda tidak berniaga di Banten karena perilaku pedagang Belanda yang kasar dan mau mencampuri urusan pemerintahan dan dalam negeri Banten. terbitan KITLV). redaksi majalah mengatakan bahwa sebenarnya naskah lengkap dari sang bangsawan lokal ini akan diterbitkan oleh Bataviaasch Genootschaap. ulama. ia terpaksa meninggalkan jabatannya pada maskapai dagang Belanda yang semakin lama semakin berfungsi sebagai sebuah ³negara´ itu. Namun. Soalnya Banten cukup dekat dari Batavia dan lagi ± dan ini rupanya penting juga ± ³kemiskinan sang raja telah meniadakan kemungkinannya untuk melakukan apapun´. Bukankah sudah umum juga diketahui bahwa salah satu sebab utama VOC dilebur dan daerah-daerah di Kepulauan Indonesia yang telah berada di bawah dominasi VOC dijadikan sebagai bagian dari sebuah negara kolonial yang disebut Hindia Belanda ialah karena VOC telah mengalami kebangkrutan? Tentu sekarang kita bisa berkata bahwa kalau dihitung-hitung umur VOC lebih panjang daripada Hindia Belanda. Yang penting ialah Jonkheer Jan de Rovere van Breugel adalah seorang pejabat VOC di Banten. 6 . Soalnya kedua naskah memorandum itu-entah sengaja. Disarikan dari Buku BANTEN DALAM PERGUMULAN SEJARAH: sultan. yang akan mau mengakui cara berpikir legalistik konyol ini. Jadi rahasia dari masa-masa akhir hidup VOC termuat juga dalam naskah ini. jawara. Peristiwa ini pun tak pula penting. tidak lagi 372 orang.en volkenkunde (biasa dipendekkan dengan BKI saja. Maka dengan pengurangan biaya ini kerugian finansial VOC bisa ditekan. Pada tahun 1788.Mangkubumi dalam menghadapi bangsa asing tidak berat sebelah atau memihak pihak manapun. Beberapa kebijakan penting yang diambil : ‡ Penghapusan keharusan bagi pedagang Cina untuk menjual lada kepada pedagang Belanda ‡ Penetapan pajak ekspor lada dan pajak impor bagi barang barang yang sebelumnya tidak terkena pajak ‡ Pemberlakuan pajak yang lebih tinggi bagi pedagang dari Belanda. yang menarik ialah ternyata setahun sebelum ia ³pulang negeri´.sebuah organisasi keilmuan yang tertua di negeri yang kemudian bernama Hindia Belanda ini.land-. Pada pengantar dari memorandum yang telah diperpendek itu. Kalaupun ingin berpikir secara legalistik yang kaku palingpaling hanya bisa ditambah empat tahun tambah beberapa bulan ± sejak menyerahnya Jepang hingga ³penyerahan kedaulatan´. rencana penerbitan ini dibatalkan karena Gubernur Jenderal Alting menasehati sang pengarang agar mau mengurungkan niatnya. VOC sempat hidup sampai dua abad kurang dua tahun (1602-1800). tetapi biarlah kebangsawanan ini sebagai tambahan pengetahuan saja.

Akan tetapi. Dengan membaca ³ikhtisar dari ikhtisar´ ini kita mengetahui juga dasar keinginan van Breugel untuk menerbitkan kedua memorandumnya dan bisa pula memahami pertimbangan majalah BKI untuk menerbitkan ikhtisarnya sekian puluh tahun kemudian. Politik ini bukan saja dengan ekstrem mengeksploitasi anak negeri dan menjadikan mereka terpaku pada desa masing-masing. sejarawan Australia yang ahli Jawa. Tampak sekali bahwa sang pengarang berharap agar memorandumnya ini bisa mempengaruhi kebijakan politik kolonial yang dijalankan. Ia berbicara tentang wilayah dan kota. van Breugel membayangkan juga suatu saat Banten akan bisa bangkit lagi jika saja VOC menjalankan kebijakan yang baik.siapa lagi selain kaum konservatif Belanda? Jadi. Banten telah pula sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Belanda. Mereka lebih sibuk minum-minum ± tentu saja bukan air ± makan-makan sirih dan menunggangnunggang kuda. kalau saja pengamatannya tidak terlalu bias. penduduk dan adat. pemerintahan (raja. Hanya saja. Policy apalagi yang akan dijalankan berdasarkan memorandum itu? Bisalah pula dipahami bahwa barulah ketika Ann Kumar. bangsawan). tetapi ia dapat saja bercerita tentang apa saja yang kebetulan dilihat dan diamatinya. tetapi juga serta merta mengikis tradisi maritim Jawa yang dinamis. Dalam memorandum ini. sayang juga ketika akhirnya diterbitkan tulisannya hanya bermanfaat sebagai salah satu sumber sejarah saja. sudahlah. meskipun mereka masih tinggal di rumah orang tua. Maka. tetapi sudahlah. 1997) ia merasa perlu menjadikan tulisan dari van Breugel ini sebagai bahan kajiannya. Pertunangan ini bisa juga dibatalkan. Bahkan. janganlah kaget kalau ia mengatakan bahwa menurut pengamatannya laki-laki Banten itu sesungguhnya pemalas. Dalam tulisannya tampak pula bahwa ia adalah seorang pengamat situasi sosial yang cukup jeli juga. Apalagi pada waktu diterbitkan. sebagaimana yang mungkin bisa dilakukan oleh ahli anthropologi modern. Kalau begini keadaannya nilai aktualitas dari memorandum itu telah membuyar. Soalnya ia sebenarnya melihat masa depan yang cerah juga bagi Banten. Meskipun ia sangat menaruh perhatian pada sumber-sumber ekonomis Banten dan Lampung. tetapi kali ini dalam bahasa Inggris. tentu bisa juga dimaklumi kalau dalam melihat dan mengamati masyarakat Banten ia tak bisa melepaskan landasan penilaian yang bercorak Belanda. Mereka membiarkan saja para isteri mereka bekerja mengurus rumah tangga. yang jelas kedua naskah memorandum yang telah diperpendek itu diterbitkan ketika Pemerintah Hindia Belanda telah asyik dengan politik ³tanam paksa´ atau cultuurstelsel di Pulau Jawa. tak perlu heran kalau masyarakat awam masih menyebut pemerintah kolonial Belanda ³kompeni´. laki-laki Banten itu. Anakanak umur delapan atau sepuluh telah dipertunangkan. la mungkin tak bisa menerangkan mengapa ³itu harus begitu´ dan ³mengapa ini harus begini´. hasil bumi dan perdagangan serta hal-hal lain lagi. tetapi ternyata hampir tidak ada aspek kehidupan dan dinamika ekonomi-politik yang tidak dibicarakannya. katanya lagi. tetapi akibatnya orangtua anak perempuan akan kehilangan pembayaran yang telah mereka lakukan. membiarkan saja perdagangan dikuasai para pendatang yang disebut ³Orang dagang´ . meskipun Hindia Belanda telah berkuasa. 7 . menulis tentang hubungan Jawa dan Belanda (Java and Modern Europe. jika saja usul-usulnya bisa dipertimbangkan untuk dilaksanakan. Karena itulah barangkali ikhtisar memorandum kurang begitu menarik perhatian. yang jelas tulisan Jonkheer de Rovere van Breugel boleh dikatakan bercorak ensiklopedis tentang Banten. Ia pun ³berbaik hati´ juga mengikhtisarkan lagi ikhtisar naskah sang Jonkheer. Namun demikian.

Tumanggung. kayu sandalwood. gula. Sang pejabat yang bangsawan ini rupanya pernah juga beberapa kali menghadiri upacara pernikahan orang Banten. la menguraikannya mulai dari tempat tumbuh dan cara pemeliharaan sampai dengan prospek perdagangannya. katanya. sedangkan para pejabat negara. sedangkan tamu-tamu datang dengan membawa hadiah. Di sekeliling benteng itu ada perumahan VOC. adalah yang paling aktif dalam penyelundupan. bagaimanakah keadaan ibu kota Banten? Kalau tentang desa ia mengatakan bahwa desa orang Banten sangat tak beraturan. kata van Breugel. Mereka semakin berpengaruh saja di kalangan masyarakat Banten. Orang Banten mempunyai hukum juga. Akan tetapi. ia melukiskan tentang dindingdinding yang dulu pernah mengitari ibu kota sekarang telah hancur lebur berantakan. Sultan asyik dengan segala macam kemewahan. sebab ia bisa juga berbicara agak panjang lebar tentang situasi dari upacara perkawinan itu. sedangkan tentang ibu kota. semua pasar itu mengalami kemunduran . dan digabung lagi ³dengan takhyul yang paling bodoh´. Van Breugel jengkel juga karena ia melihat sang Sultan tidak menaruh hormat lagi pada VOC. katanya. Kalau saja interpretasi sosial boleh diberikan terhadap uraiannya ini maka bisalah dikatakan bahwa masyarakat Banten. Cerita yang mengasyikkan juga ialah tentang bajak laut. pinang. kelapa. Tentang usaha pemberantasan perompakan ia mengusulkan agar kekuatan armada Banten diperkuat. biasanya buah-buahan.Pesta perkawinan diadakan di rumah penganten perempuan. Raja yang memerintah pada waktu itu ialah Sultan Abul Nazar Muhammad. Orang Mandar. bukan saja di kalangan kraton. tetapi untuk pertahanan istana yang dikelilingi benteng ini tak ada artinya apa-apa. Orang Cina tinggal di dua kampung yang dipenuhi oleh rumah tembok batu juga. Ada tiga pasar di Banten. tidak lagi seperti dulu ketika Banten masih megah. Kata ³paus´ adalah sebutan ejekan bagi ulama. tetapi. la menguraikan satu persatu komoditi ini. yang menurut van Breugel. pada umumnya mereka lebih suka mengikuti hukum alam saja ² darah dibayar dengan darah. dan sebuah pasar baru. padahal 8 . Bagian yang terpenting dari memorandum ini ialah uraian tentang komoditi perdagangan dari Banten dan Lampung: lada. Akan tetapi. Istana raja dikelilingi benteng berbentuk setengah bulan. menurut pengamatannya. la juga bercerita tentang perdagangan candu yang dikuasai Letnan Cina dan berkisah pula tentang betapa maraknya penyelundupan barang haram ini. ia mengatakan bahwa orang Banten itu beragama Islam tetapi orang Lampung menganut kepercayaan yang merupakan percampuran ³ajaran Muhammad´ dengan sistem kepercayaan yang masih kafir. yaitu Karang Antu. yang diperkuat dengan 58 meriam. sedang berada dalam situasi kemelut yang parah juga. beras. seperti menteri dan ³pendeta´ (maksudnya barangkali kadhi kerajaan) dan beberapa orang lain mempunyai rumah batu. sangat dipengaruhi oleh ³paus-paus orang asing´ (maksudnya tentu saja ulama-ulama dari negeri lain). dan sebagainya. Perbentengan telah hancur dan di atas runtuhan itu rumah-rumah baru didirikan karena jumlahnya cukup banyak inilah Banten. Tentang agama. Bukan itu saja. ³masih bisa disebut kota´. yang disaksikan van Breugel. artinya mereka sering berhasil mengelakkan monopoli VOC. Rumah-rumah umumnya terbuat dari bambu. umpamanya dengan memberi bantuan mesiu. Ketika menyebut ³paus´ ini van Breugel sama saja dengan para penulis Belanda lain. kopi. ndigo. pencurian dibayar dengan penjara atau perbudakan yang kadang-kadang bisa sebagai hukuman bagi hutang yang tak dibayar. hanya sebagian kecil saja memakai bingkai kayu. (Belanda abad ke-18 sangat anti-Katholik rupanya).

Pada umumnya para bangsawan ini sudah cukup puas dengan tempat tinggal yang menyenangkan. maka masa lalu tiba-tiba bisa saja berubah menjadi ³masa depan´ yang harus dirangkul dengan segera. Bahkan asal usul berdirinya kerajaan pun masih segar dalam ingatan kolektif anak negeri. maka ³terjadilah apa yang harus terjadi´. Pada tahun 1511. Jabatan sebagai kepala gudang ini dianggap sebagai sesuatu yang turun temurun. la memperhitungkan bahwa dengan jatuhnya Malaka. karena situasi kesekarangan telah sedemikian menista harga diri. Kita pun berhadapan dengan salah satu irama yang hampir menetap dari sejarah Banten setelah kejayaan kerajaan telah terlepas dari tangan. telah masuk Islam). maka berarti leher dari 9 . panglima Portugis yang ingin melumpuhkan Mekah dan Constatinopel ± dua pusat kekuasaan dan agama Islam. tetapi muncul sebagai akibat dari ekspansi kekuasaan dari luar. Ketika kemudian Cirebon melepaskan perwaliannya atas wilayah di ujung Barat Pulau Jawa (1552) kesultanan Banten pun resmi berdiri dan Pangeran Adipati Hasanuddin pun menjadi Sultan Hasanuddin. Ketika Van Breugel menulis tentang Pangeran Raja Kusuma ini ia mungkin merasa simpati juga. Bilamana situasi kesekarangan telah dirasakan semakin mencekam bagaimanakah ingatan akan masa lalu yang telah lewat itu akan hilang begitu saja? Bukankah nostalgia kultural itu sesungguhnya tidak lain daripada perlawanan terhadap tirani sang waktu? Dengan bernostagia. Ketika perasaan kerinduan ini telah semakin mencekam. perahu-kesenangan. Sunan Gunung Jati meninggalkan putranya sebagai penguasa Banten yang pertama. katanya. Sunan Gunung Jati. tentu bisa diduga. mendirikan Banten. Awal abad ke-16 adalah masa yang kritis bagi perairan Asia Tenggara. Kalau telah begini. ulama -penguasa dari Cirebon dan salah seorang Wali Sanga. Akibatnya. Sang Pangeran yang hidup pada abad ke-18. Sebenarnya Sultan ini seorang yang baik hati. kata van Breugel. Kesedihan sang pangeran tua ini tentang kemerosotan negerinya tentu bisa dimaklumi. yang terletak di ujung Barat Pulau Jawa. Pangeran Raja Kusuma. Paman raja. tentu saja tidak mengalami secara langsung masa ketika Banten adalah kerajaan yang makmur dan disegani dan merupakan salah satu kerajaan yang terkuat di Kepulauan Nusantara ini. yang malah sibuk menghalangi mereka untuk berhubungan dengan orang Eropa. la adalah anak seorang tukang batu Cina yang telah disunat (maksudnya tentu saja. Janganlah pula heran bilamana kepedihan masa kini telah semakin keras dirasakan. adalah seorang yang alim.kesultanan telah jatuh miskin. maka tarikan masa lalu yang telah dirasakan sebagai ³masa depan´ itu semakin keras dan menggetarkan juga. berhasil menaklukkan Malaka. Ia bisa juga merasakan apa artinya hidup ketika kejayaan lama hanya tinggal kenangan belaka. sedangkan para bangsawan sangat tergantung kepada Sultan. Asal-usul Banten sebagai sebuah kerajaan Islam agak unik juga. Pengawas gudang lada sang raja ialah seorang yang bernama Kiai Aria Astradinata. Alfonso d¶Albuquerque. Ia telah tua dan uzur dan hanya menghabiskan waktunya untuk beribadah serta menangisi nasib tanah airnya yang hari demi hari dilanda kemerosotan. Dalam usaha untuk meluaskan kekuasaan dan mengembangkan Islam. Ternyata ini adalah sebuah keputusan politik yang sangat tepat. tetapi ia tampaknya agak serakah. perjalanan waktu dijadikan tak berfungsi dalam kesadaran. Sultan berhutang ke kiri dan ke kanan. tetapi pengetahuan akan masa gemilang yang telah hilang itu tak begitu saja terpupus dalam ingatan kolektif Banten. sayang ia tidak mempunyai penasehat yang baik. Kerajaan ini tidak bermula dari tumbuhnya dan membesarnya sebuah kekuasaan lokal. Setelah itu. dan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik.

dan advonturir Eropa. dan mengekspor barang imporhanya Aceh di Barat dan Makassar di Timur. pedagang. kata orang sana) kekalahan ini sesungguhnya bisa dilihat sebagai awal dari konsolidasi kekuasaan internal Banten. seperti Portugis. kemudian datang Belanda. seorang ahli filologi Islam. India (1498). Maka sementara beberapa negara-kota di pantai Utara Jawa dan Johor. Pada waktunya sebagian dari kota-dagang dan pelabuhan persinggahan bagi para pedagang Islam yang baru ini pun tumbuh sebagai pusat kekuasaan besar. Sudah pasti perkiraan jumlah penduduk itu tidak akurat. tetapi pada perkiraan pada tahun 1672 telah memperlihatkan lonjakan jumlah yang hebat. Ternate dan Tidore. baik yang datang dari Eropa. tetapi juga menyebabkan terjadinya pemencaran dari pusat-pusat perdagangan Islam. Ukuran kebesaran enterpot ini bisa dilihat juga antara lain pada perkiraan jumlah penduduk yang diberikan oleh para pelapor asing. Inggris. yang memang telah berdatangan sejak awal abad Masehi. tetapi panglima Portugis. Karena itu bisa jugalah dipahami kalau sumber-sumber tentang sejarah Banten selama abad ke-16 ± abad ke-17 sangat banyak juga. apalagi Asia. Soalnya ialah setelah Vasco da Gama mendarat di Calicut. Aceh-Darussalam serta Banten secara pelan tetapi pasti menjadi kerajaan Islam yang besar. tetapi dalam perbandingan perkiraan ini memperlihatkan bahwa Banten mempunyai penduduk yang terbesar di Nusantara. Saingannya hanya perkiraan jumlah penduduk Mataram pada tahun 1624. karena pada tahun 1682 itulah masa akhir kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. telah terbuka pula bagi para pelaut. Tentang Banten laporan-laporan asing memperlihatkan bahwa antara tahun 1660-1690 terjadi fluktuasi yang hebat juga dari jumlah penduduk. mengirim barang ekspor. Sejak akhir abad ke-16 dan akhir abad ke-17 boleh dikatakan sebagai the age of Islamic hegemony dalam sejarah Asia Tenggara. bahkan juga Denmark. Sejak itu sejarah Banten hanyalah berisikan kisah kemerosotan saja sampai akhirnya menjadi residentie Banten. penginjil. penerus dinasti Malaka. Spanyol. Pada waktu itu diperkirakan jumlah penduduk 800 ribu. Sebuah perkiraan pada tahun 1662 mengatakan bahwa penduduk Banten lebih dari 100 ribu. sosiologi dan sejarah Belanda yang terkemuka (yang sempat juga bekerja pada kantor Penasehat Bumiputra) sempat juga membuat teori bahwa penyebaran Islam di Kepulauan Indonesia ini tidak bisa dilepaskan dari apa yang disebutnya sebagai ³race with Christianity´ (perlombaan dengan Kristen). sibuk berkali-kali menyerang Malaka. Tradisi sejarah Banten tidak bisa melupakan bahwa Maulana Jusuf tewas ketika ia ingin meluaskan pengaruh dan kekuasaan kesultanan Banten ke Palembang. Penurunan jumlah penduduk yang drastis dari tahun 1682 -1696 tentu masuk akal juga. Karena itulah Schrieke. Sepuluh tahun kemudian 700 ribu. Saingan Banten di Nusantara sebagai entrepot pelabuhan yang menerima barang impor. sama sekali tidak menduga bahwa kejatuhan Malaka bukan saja menyebabkan Malaka menjadi sasaran penyerbuan dari kekuatan Islam di perairan Barat Indonesia. di tempat-tempat lain kota-kota dagang baru pun bermunculan pula. Ketika inilah Makassar. Sementara itu di pedalaman Jawa. Dan sejak itu pula Banten semakin tampil sebagai entrepot yang terbesar di Pulau Jawa. tetapi dengan memakaikan keuntungan dari tinjauan ke belakang (atau historical hindsight. serta Aceh-Darussalam. Tetapi pada tahun 1696 telah turun menjadi 125 ribu. apalagi setelah Portugis berhasil menaklukkan Malaka maka ³jalan ke Timur´ untuk mencari rempah-rempah dan menyebarkan agama. Perairan Nusantara pun menjadi ranah persaingan dari segala bangsa. 10 . yang didorong oleh keuntungan dagang dan kekuasaan agama ini. Malaka adalah salah satu pusat perdagangan yang besar dunia pada abad ke-15. Mataram pun tampil pula sebagai pemegang hegemoni di ³negara-negara kota´ di pantai Utara.kedua pusat Islam itu telah bisa dicekik Portugis.

tetapi karena kearifannya sangat dihargai oleh semua (yang berkuasa) ia memerintah 11 . Ini pulalah salah satu sebab dari awal terjadinya Islamisasi di kawasan ini. berdagang permata dan obat-obatan. Masuk akal juga kalau Cornellis de Houtman.. sama saja dengan ³konglomerat Melayu´ sekuler zaman sekarang ² pokoknya keuntungan masuk. tentang Kojah Rayoan. janganjangan sultanah yang berada di belakang tirai ketika menerima perutusan Inggris. yang datang ke Banten pada tahun 1596 bersama komandannya. Cornelis de Houtman. Orang Persia. Seorang pelapor Inggris (Scott) menyatakan kekagumannya ketika ia berkata bahwa ³perempuan tua ini menguasai para wali dan lain-lain. la orang dari Keling. mendarat di Banten dan kemudian menjadikan Banten sebagai pusat aktivitasnya. tentu bisa diduga. miskin-miskin. Ini tentu adalah fakta sejarah biasa saja ± orang berdagang tentu mencari pusat kegiatannya ± tetapi sialnya dalam sejarah Indonesia yang diajarkan oleh para pejabat negara Indonesia yang merdeka. Sebagaimana kota pelabuhan lain Sjahbandar Banten juga orang asing. menurut Lodewijk. Selama lima tahun yang kritis (1600-1605) yang tampil sebagai tokoh utama ialah Nyai Gede Wanagiri. Maka. Banten di abad ke-16 dan awal abad ke-17 adalah ³a land of opportunities´± negeri yang membuka semua kesempatan. Maka. biarlah hal ini tak dilanjutkan. mempunyai hobby yang sama pula. karena belum dewasa. pelopor Belanda ke Nusantara. maka ia pun menjalankan semua kerja yang hina untuk menghidupi dirinya. bisalah dikatakan bahwa kerap kali juga orang membandingkan Banten dengan Aceh. Tak lama kemudian Inggris. kata Lodewijk. tentu bisa disebut rentenir. Lodewijk juga bercerita tentang pedagang besar yang bernama Cheti Maluku yang berhubungan dagang dengan orang Belanda dan Inggris. Ternyata orang Melayu. maka ia pun mengatakan bahwa orang Keling lebih suka mengadakan investasi dengan bunga. Kalau orang Gujarat. Orang Arab dan Pegu melakukan perdagangan laut yang sibuk membawa barang dari satu tempat ke tempat lain atau. Ketika ia sampai di Banten. tetapi peranan Arab sebagai pedagang di perairan Nusantara ini barangkali telah dimulai sejak abad ke-11 ketika Cina menutup pelabuhannya bagi pedagang asing. yang dengan kata lain. Lodewijk. la adalah sultanah yang terakhir). Kalau cerita Lodewijk diteruskan. kalau cerita dilanjutkan. seorang pedagang Turki yang kaya-raya. Atau kalau dengan istilah yang biasa dipakai sebagai cheti. menjadi pedagang perantara. jika laporan Lodewijk ini benar. seorang pelapor Inggris curiga juga.´ amun. kita pun ikut larut dalam pandangan sejarah yang bodoh dan sesat ini dengan mengatakan bahwa ³Indonesia 350 tahun berada di bawah kolonialisme Belanda. menurut laporannya.. maklum para pejabat itu tidak bisa membedakan mana yang mitos dan mana yang sejarah.´ Dengan kata lain. Dengan jelas sekali ia menggambarkan sifat internasional entrepot Banten. maka kita pun bisa juga mengatakan bahwa ajaran Islam tentang riba tidak masuk perhitungan para pedagang Melayu itu. Aceh mempunyai empat orang sultanah yang memerintah berturut-turut di abad ke-17 (Sialnya.Lodewijk tentu saja tidak mengatakannya dan ia pasti juga tidak tahu. juga menjadikan Banten sebagai pusat aktivitasnya di Nusantara. tahun kedatangan Cornellis de Houtman ke Banten ini dijadikan sebagai masa awal dari penjajahan Belanda di Indonesia. ³ia tak punya apa-apa. Jadi. Antara lain ia bercerita tentang ³pembagian kerja´ dari anggota komunitas asing yang berada di Banten. yang praktis merupakan pengimport tunggal tekstil dari anak benua India. mereka pada umumnya adalah pelaut dan.Salah satu laporan yang menarik dibuat oleh orang Belanda. walaupun ia bukan berdarah kraton. Salah satu hal yang dibandingkan itu ialah kenyataan bahwa Banten tidak pernah mempunyai penguasa perempuan. Hanya saja dalam perbandingan ini sering terlupakan bahwa tumbuhnya Banten sebagai pusat kekuasaan dan dagang terjadi ketika Sultan Abdul Kadir (1596-1618) masih harus berada di bawah pewalian. dengan kata lain. seorang laki-laki yang menyamar.

seakan-akan ia adalah satu-satunya ratu di negeri ini. nama orang dan bentuk peristiwa. yang dikirim Inggris. Ketika itu kraton Banten praktis telah menjadi fiefdom VOC atau berada di bawah suzereniteit maskapai ± yang-bermain sebagai-negara ini dan harus pula membayar utang kepada VOC. kebudayaan dinamis. memperlihatkan suasana yang lama. Ada kerajaan yang telah mengalami krisis di abad ke-18 ± umumnya berada di pulau Jawa ± tetapi ada pula yang bare mengalaminya pada abad ke-19 ± umumnya di kerajaan-kerajaan di daerah lain (kecuali Maluku). Sedangkan laporan-laporan asing tentang Banten abad ke-16 dan abad ke-17 juga tak pula jauh bedanya dengan laporan tentang kerajaan maritim lain yang sedang berkembang. baik sumber asing maupun sumber lokal. Bahkan juga bisa ditukarkan dengan Riau-Johor abad ke-18. Nada dari uraiannya hampir sama dengan gambaran para pelapor lain tentang kerajaan-kerajaan Nusantara yang sedang mengalami kemunduran. Kalau De Breugel. dan aktivitas keagamaan menjadi pertanda dari kearifan Sultan. tidak demikian halnya pada abad ke-17. memberikan kesan yang tidak jauh berbeda. masyarakat yang tak peduli. dan yang lain memakai nama Thiaria (Shari¶ah). tetapi suasana sosial-politik dan ekonomi memantulkan gambaran yang tak jauh berbeda. yang ditulis Raja Ali Haji dan ayahnya Raja Ahmad dari Pulau Penyengat. Ciri-ciri umum ialah persaingan dagang internasional yang meriah. yang memperkenalkan pendekatan sosiologi Max Weber untuk memahami sejarah. Dalam hal ini. 12 . raja yang bijaksana. ekonomi yang kehilangan gairah. yaitu maritim dan agraris. Banten. yang mempunyai jurisdiksi pada semua masalah perdata dan pidana. Aceh dan lain-lain memperlihatkan ciri-ciri yang khas maritim.´ Maka begitulah kalau aturan main dalam pemerintahan telah cukup jelas. membagi kerajaan di kepulauan Indonesia atas dua kategori. ³mempunyai dua hakim utama. sempat mengatakan bahwa orang Banten meskipun punya hukum tetapi lebih suka memakai hukum alam. yang menghukum dengan berat kejahatan pencurian dan perzinaan. tetapi juga para ulama.maka negara maritim berarti kegiatan dagang. dan pandangan ke luar. Kisahnya tentu saja berbeda-beda. yang telah mendirikan dan menguasai Singapura.melaporkan bahwa Banten. Pulau Bintan. karma telah membantunya menghadapi pemberontakan yang dipimpin Kiai Tapa (1750-52). serta waktu. pemerintahan bisa dijalankan berdasarkan kearifan yang paling unggul. ilmu pengetahuan berkembang. sistem hukum berlaku baik. Makassar. Seorang pendeta dari Missions Etrangeyes. untuk meninjau kerajaan-kerajaan di pantai Timur Tanah Semenanjung. Dengan pendekatan ideal type ² membuat bentukan analisis berdasarkan sifat kategori yang paling ekstrim.misi Katholik Prancis. yang tahu semua masalah perdagangan. yang pertama Syahbandar Besar. Suasana kemelut menjelang kejatuhan selalu membayangkan otoritas kekuasaan yang lemah. Bedanya hanyalah pada detail-detail sejarah ± nama tempat. Jika saja nama-nama orang diganti dan nama-nama tempat ditukar pula maka uraian tentang Banten rasanya bisa saja dijadikan tentang Makassar dari abad yang sama. sebuah pulau kecil dekat Tanjung Pinang. sebagaimana diuraikan oleh kitab Tufhat an Nafis. hukum yang kehilangan peran. Tidak kurang pentingnya ialah suasana ini bukan saja mengundang kedatangan para pedagang dari segala penjuru dunia. yang disebut historiografi tradisional itu. Bahkan kisah yang ditulis Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. serta keamanan yang tak terjamin. meskipun yang dikisahkan berbedabeda. Jadi masuk akal juga kalau van Leur.´ De Breugel menggambarkan suasana kemunduran dan kemelut. yang menulis memorandum pada tahun 1787.

seorang ulama besar yang berasal dari Makassar. memang tidak benar. berkembang menjadi pusat dagang. itu sesungguhnya mempunyai unsur yang ³khusus´ dan ³umum´. yang mempunyai kemampuan teknologi persenjataan yang lebih canggih dan tentara yang telah mengalami suka-duka berbagai macam perang. Mataram tentu lebih suka mendapatkan upeti dari para bangsawan yang telah mendapat lungguh serta menyibukkan diri dengan penghalusan kebudayaan dan sistem status sosial. tetapi bisa merasakannya sebagai negeri sendiri. bahkan kalau perlu ² bahkan biasa sekali-mereka pun ikut berdagang. Sultan Haji. dan cenderung mempunyai pandangan ke dalam (inward looking). Ia mengirimkan utusan diplomatik ke negeri-negeri Islam dan menyuruh anaknya naik haji sambil mengunjungi Turki. Syekh Jusuf al Makasari.´ sedangkan yang merupakan gejala umum itu ialah 13 . di mana. maka kraton pun ada kalanya menjadi sasaran pemberontakan. yang harus merasa takut dengan persaingan tuan. tetapi hegemoni telah berada di tangan VOC. Sistem itu ialah monopoli. Konon Sultan Mataram pernah mengatakan pada utusan Belanda yang datang menghadap di kratonnya. Perang terjadi dan Banten kalah. Benar.´ Penguasa maritim sejauh mungkin ingin mendapatkan keuntungan dari perdagangan laut. lebih dari itu sekadar kekalahan kejatuhan Sultan Ageng bermula dari pengkhianatan sang putra mahkota. ³Tuan-tuan boleh berdagang di negeri saya tanpa bayar pajak. Adapun yang khusus dan tak berulang ialah kenyataan bahwa ³Sultan Ageng Tirtayasa (siapa) yang melawan usaha penetrasi kekuasaan Belanda (apa) di Banten (di mana) pada tahun 1682 (bila). Jika diartikan secara harfiah ungkapan Prancis l¶histoire se repete. Dengan segala ciri-ciri kerajaan maritim yang diperlihatkan Banten. Seperti juga halnya dengan Mataram. hegemoni asing. siapa. sikap kultural yang konservatif. sejarah Banten mungkin bisa juga dilihat sebagai sebuah gambaran umum dari ³lahir dan tumbangnya´ kekuasaan pribumi ² lahir. bukan saja tertarik untuk mendatangi Banten. Fakta bahwa Putra Mahkota bisa berkhianat pada ayahandanya serta-merta menyebabkan karisma tradisional yang dipegang kraton pun meluntur pula. Sejak itu sejarah Banten adalah rentetan dari kisah yang ³menunda kekalahan´ saja. kalah. dominasi.Sedangkan Mataram bersifat agraris ² keterikatan pada tanah. sejarah Banten adalah sejarah tentang sebuah daerah di tanah air kita. pertanian. ketika penetrasi dan pengaruh kekuasaan asing telah semakin dirasakan. tumbuh. Sultan Haji memerintah. Kemudian hegemoni ini secara berangsur menjadi dominasi (mulai dari zaman Daendels) sampai akhirnya resmi berada di bawah kekuasaan langsung Hindia Belanda ² kesultanan telah dihapuskan. Akan tetapi. tentu mudah juga dipahami kalau di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683). einmalig. dan bila´. Tetapi di saat ini pulalah VOC sedang berada pada tahap perkembangannya yang agresif dan sedang asyik memperkenalkan serta memaksakan sebuah sistem yang sama sekali tak dikenal oleh tradisi Nusantara yang bertolak dari pemikiran laut bebas (mare liberum). akhirnya kolonialisme. Peristiwa sejarah yang biasa dikatakan hanya sekali terjadi. tetapi mempunyai validitas relatif kalau yang ingin ditemukan ialah pola umum yang berlaku. Maka perbenturan antara Batavia. Ungkapan ini tidak benar kalau sejarah diartikan sebagai salinan yang murni dari ³apa. melawan monopoli. sejarah berulang. perang. tetapi dari sudut pandang lain. independensi Banten mulai setahap demi setahap digerogoti. Setelah Sultan Ageng Tirtayasa (Abdulfattah) bisa dikalahkan. Di bawah sultan yang bijaksana inilah Banten mencapai tingkat kegemilangannya yang tertinggi. dengan Banten. yang lebih sibuk menjalin ikatan perdagangan terbuka. sebab saya bukan pedagang seperti penguasa Banten dan Surabaya.

Pemberontakan Cilegon sebenarnya memperlihatkan hal lain lagi. Dengan buku untuk pertama kali seorang sejarawan Indonesia tampil ke depan dengan menyoroti sebuah ³peristiwa kecil´. ketika itu pula para ulama semakin tampil sebagai pemimpin lokal. dan keterikatan pada norma keagamaan. dengan aktor-aktor ³orang kecil´. Banten . Ketika kesultanan telah mengalami proses pelemahan dan kemudian malah dihapuskan dan di saat kedudukan bangsawan semakin terjepit. Dan kemudian. di masa krisis politik yang berkepanjangan ini ketika ³hukum alam´ (sebagai kata van Breugel) lebih penting dari ketentuan hukum yang berlaku golongan baru pun semakin menampakkan dirinya. Banten mempunyai tempat khusus juga dalam perkembangan historiografi Indonesia. Sejak kejatuhan kesultanan hampir tidak ada lagi satu peristiwa di Banten yang bukan dimotori oleh ulama dan jawara. kerajaan yang pernah disegani di perairan Nusantara. sifat eksploitatif dari kolonialisme kemudian bisa juga menjadi landasan dari terwujudnya rasa kesamaan sejarah dan nasib yang bersifat translokal. yang berkisah tentang penderitaan rakyat dan ketidakberdayaan pejabat yang bermaksud baik? Kolonialisme adalah hubungan internasional yang bercorak subordinatif dan eksploitatif mempunyai akibat sosial yang penting. Sejarah politik dengan peristiwa besar dan orang besar kini telah didampingi oleh studi yang semakin mendekati pada denyut sejarah sesungguhnya-manusia dengan segala keresahan dan harapannya pada tingkat yang paling intim. Kadang-kadang orang dikejutkan oleh tampilnya hal yang perlu dicatat. Ketika Sartono Kartodirdjo (sekarang Prof Dr) menyampaikan disertasinya tentang pemberontakan Cilegon 1888 di Universitas Amsterdam (1966) maka lembaran baru sejarah penulisan sejarah Indonesia pun dibuka.kecenderungan bahwa ³raja adalah lembaga yang pertama yang melawan usaha penetrasi Belanda´. yaitu desa. tetapi pada umumnya tidak lagi berperan apa-apa yang penting. Meskipun dengan memakai konsep pola umum ini Banten unik juga-jika bukan dalam corak peristiwa yang dialaminya. kolonialisme mempunyai kemungkinan untuk menciptakan mental dependensi (terhadap orang asing) dan kesadaran hirarki sosial yang hegemonik (terhadap sesama anak negeri). seakan-akan diharuskan untuk menjadi daerahsampingan saja. Maka bisalah dimaklumi kalau Aceh kadang-kadang disebut sebagai negeri ³uleebalang dan ulama´. Banten. setidaknya begitulah yang terjadi pada struktur kesadaran yang dipantulkan oleh satu-dua pejabat Belanda. Onno Zwiervan Haren menulis sebuah drama yang mencekam dengan judul Agon Sulthan van Bantham . Di samping mempunyai pengaruh terhadap sejarah pergerakan kebangsaan. Drama ini berkisah tentang bantuan militer Belanda pada anak Sultan Ageng yang durhaka. Pada gilirannya kesadaran ini memberi akibat juga pada cara sebuah bangsa yang sedang berada dalam proses pembentukannya untuk melihat sejarahnya. meskipun dalam waktu atau abad yang berbeda-beda. 14 . siapakah yang bisa melupakan karya Multatuli. Kecenderungan umum ini terjadi di manamana. Banten yang telah kehilangan kesultanan ternyata tidak kehilangan beberapa hal yang fundamental. yang menerbitkan buku-buku di pusat-pusat pengetahuan dunia Islam. Max Havelaay. Begitulah umpamanya. Maka dengan begini sebuah alternatif dalam penulisan sejarah diperkenalkan. Mereka adalah para jawara. di pihak lain. Banten pun dikenal pula sebagai negeri ´ ulama dan jawara ³. seperti tampilnya ulama besar Syekh Nawawi al Bantani. yaitu semangat independen. Di satu pihak. Nasionalisme yang kolonial pun tumbuh juga. ³nasionalisme lokal´ yang kental. ulama lokal dan petani. Akan tetapi. Sejak resmi menjadi salah satu karesidenan yang berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda. dengan memakai pendekatan yang bercorak multidimensional. pendekar yang selalu siap membela untuk sesuatu yang dianggap benar.

Dalam setiap pengajian/dzikiran yang diadakan di rumah-rumah atau pun di masjid. tetapi dalam tinjauan dinamika sejarah secara keseluruhan peristiwa ini tidak lebih daripada deviation belaka.A. Pemberontakan Petani Banten 1888. Haji Marjuki. seperti bupati. juga dari daerah lain seperti Tangerang. para tokoh itu dengan mudah melancarkan taktik perjuangan menentang pemerintahan kolonial. yang juga gencar menganjurkan perlawanan kepada penjajah kafir. dan Haji Wasid. 15 . Haji Tubagus Ismail. Kiyai Haji Tubagus Ismail. Haji Iskhak dari Saneja. Pontang yang kegiatan sehari-harinya mengadakan pengajaran agama pada masyarakat di daerahnya. pada tanggal 9 Juli 1888 yang dipimpin oleh para ulama. Dalam mengadakan acara dzikiran di rumah-rumah tertentu. Rakyat dari Tanahara. Haji Akib. banyak kiyai. Gerakan itu antara lain dipimpin oleh Haji Abdul Karim. Begitu besar pengaruhnya di kalangan rakyat dan pejabat pemerintah sehingga dikenal pula sebagai ³Kiyai Agung´ bahkan dianggap sebagai ³Wali Allah´. Haji Abu Bakar dari Pontang. Kegiatan pengajian Kiayi ini semakin berkembang terutama setelah ia kembali dari Mekkah tahun 1872. Haji Usman dari Tunggak. Haji Abdul Karim adalah seorang ulama di desa Lampuyang. Anjuran itu disambut baik kiyai-kiyai terkenal seperti Kiyai Haji Wasid dari Beji. Cilegon. Tangerang dan sekitarnya berbondong-bondong menunggu di pinggir jalan yang akan dilaluinya. Haji Asnawi dari Lempuyang dan Haji Muhammad Asyik dari Bendung. yang dalam waktu singkat mendapat banyak murid dan pengaruh terhadap penguasa pribumi. Pra Peristiwa Geger Cilegon Tokoh menentukan dalam peristiwa Geger Cilegon ini adalah Haji Wasid. kemudian mengajar di pesantrennya di Kampung Beji. Prawiranegara. tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah yang datang untuk mengucapkan selamat jalan.Pemberontakan ³komunis´ 1926 ² seperti juga dengan yang terjadi di Silungkang (Sumatera Barat) ² memang pantas dikenang. pensiunan patih Serang. Maka mestikah diherankan kalau sudah lama juga para tokoh Banten telah menginginkan agar Banten bisa mendapatkan kebebasan relatif untuk mewujudkan kembali ³janji sejarah´ yang sekian lama seakan-akan terpendam? GEGER CILEGON Sumber data : buku Sartono Kartodirdjo. Tiga pokok ajaran yang disebarkan kepada muridnya adalah tentang Tauhid. Gerakan semacam ini timbul pula di Tanahara yang dipimpin oleh Haji Marjuki. Sebagai ganti pimpinan pesantren dipercayakan kepada muridnya. penghulu kepala di Serang serta Haji R. yang dalam waktu singkat pengikutnya bertambah banyak. para ulama itu selalu menanamkan semangat jihad menentang penjajah kepada masyarakat. di samping dari Banten. Bogor dan Batavia. yang pernah belajar di Mekkah pada Syekh Nawawi al-Bantani. Bersama kawan seperjuangannya: Haji Abdurahman. Percetakan Pustaka Jaya 1984 Perlawanan bersenjata yang paling menonjol di Banten pada abad ke-19 adalah peristiwa yang dikenal dengan ³Geger Cilegon´. Ketika Kiyai Haji Abdul Karim akan ke Mekkah untuk kedua kalinya pada tanggal 13 Pebruari 1876. Fiqh dan Tasawuf merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam ajaran Islam dan harus dipraktekan dalam setiap kegiatan sehari-hari. Haji Abdul Karim mendirikan pesantren di Tanahara. Khawatir akan terjadi huru-hara. Melalui pesantren-pesantren. langgar atau masjid. Haji Abdul Karim selalu menganjurkan tentang perlunya perang sabil terhadap pemerintah kolonial yang kafir. Haji Syadeli dari Kaloran. pemerintah kolonial minta supaya Kiyai Haji Abdul Karim berangkat langsung menggunakan kapal laut dari Tanahara ke Batavia.

bukan kepada manusia dan bukan kepada benda lainnya. karena banyaknya. terutama sekali kaum perempuan. sehingga tidak ada tumbuhan yang dapat ditanam penduduk desa. dan ini termasuk dosa besar. sehingga bangkai hewan dapat ditemukan di mana-mana. serta desa-desa Sirih. sehingga perlakuan demikian membuat tambah sedih. murid-muridnya. Pasauran. menyaksikan bahwa di pasar Kramatwatu. Banyak ibu tidak dapat menyusui anaknya sehingga angka kematian anak tinggi sekali. 1936:8). Dengan demikian. PAA. tanpa ampunan dari Allah. sehingga pemerintah kolonial menginstruksikan supaya membunuh dan mengubur atau membakar semua kerbau atau kambing di suatu desa yang di sana terdapat kerbau yang berpenyakit agar jangan menular ke desa lain. kecuali semuanya karena Allah. sekedar untuk menjaga dari teriknya matahari. Haji Arsad Thawil. Dalam pada itu. Haji Arsad Qashir dan Haji Ismail. hampir dua tahun hujan tidak turun. Bagi rakyat petani. kerbau atau kambing yang dibunuh tentara kolonial ini. banyak rumah tidak dihuni. dan mengharapkan nanti ada yang mengambil untuk memeliharanya. akan menjadi muslim yang baik dan taat dalam menjalankan semua perintah agama serta menjauhi segala yang dilarang-Nya. hampir sering menemukan bayi di pojokan pasar yang ditutupi selembar daun pisang.000 penderita. Dari banyak rumah terdengar ratap tangis. Tajur dan Carita. dan ini mengundang datangnya penyakit baru lagi bagi rakyat desa. antara tahun 1882 dan 1884 keadaan rakyat Banten khususnya di Serang dan Anyer ditimpa dua malapetaka. Istri wedana Kramatwatu. Kesedihan yang mendalam itu ditambah lagi dengan meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda (tanggal 23 Agustus 1883). ternak kerbau bukan hanya dianggap sebagai hewan peliharaan tapi juga teman/sahabat yang banyak membantu pekerjaannya di sawah. Segala peribadatan. Djajadiningrat.000 orang di antaranya tidak dapat tertolong dan menemui ajalnya (Kartodirdjo.Haji Haris. kerbau yang tidak terkena penyakit pun turut dibunuh pula.500 jiwa tenggelam disapu gelombang. Cilegon. 1988:88). Daerah tempat bencana alam itu luluh lantak tersapu gelombang pasang. Musim kering yang berkepanjangan ini. walaupun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak heran dari catatan yang ada pada bulan Agustus 1880. dari 210. Ironisnya. Tiada takut dan tiada harap. segala ketaatan dan segala harapan hendaknya. Merak. Karena musim kemarau ini pula maka berjangkit wabah penyakit sampar (pes) yang menyerang ternak kerbau atau kambing (1880). Penyakit hewan ini menular dengan cepat. menghancurkan Anyer. Peribadatan dan penyembahan yang ditujukan kepada selain Allah adalah musrik. yang menimbulkan gelombang laut setinggi 30 meter melanda pantai barat Banten. semuanya. Djajadinigrat. Djajadiningrat. sehingga tanaman padi tidak ada yang tumbuh dan air minum pun sulit didapat.     Pemandangan di desa-desa sungguh menyedihkan. Tanah pertanian. dzikir dan do'a. tidak sempat dikuburkan. Caringin. Untuk menggambarkan keadaan rakyat Banten pada saat itu. yang sebagian besar berupa "tadah hujan" menjadi kering. ditujukan kepada Allah. 16 . Kesemuanya merenggut korban 21. Bayi-bayi ini sengaja ditinggalkan ibunya karena ia tidak mampu lagi memberinya makan. menyebabkan kelaparan merajalela. atau karena ibunya tiba-tiba terkena demam dan meninggal tidak lama kemudian. mereka menyebarkan pokok-pokok ajaran Islam itu kepada masyarakat. dianggap suatu kekejian dan kesewenang-wenangan yang membuat makin besar kebencian kepada Belanda dan anteknya. pasrah dengan perlakuan itu. kelaparan dan penyakit sampar (pes) binatang ternak. tercatat lebih dari 40. Dengan memahami tiga pokok ajaran Islam ini diharapkan. tiada benci dan tiada suka. berhasil mengumpulkan sampai 20 orang anak yang kemudian dipeliharanya di Kawedanaan (PAA. sawah dibiarkan mengering karena tiadanya tenaga. Karena kurangnya makanan ini maka banyak penduduk yang terjangkit penyakit demam yang parah. ibunya PAA. jalan-jalan sepi. Diperkirakan.

tarhim dan azan jangan dilakukan dengan suara keras. menyinggung rasa keagamaan dan rasa harga diri murid dan pengikutnya. Meski pun kehidupan sosial ekonomi segera dapat dipulihkan beberapa tahun kemudian.000. Tapi bagi penduduk yang kebanyakan tidak mengerti agama.Musibah yang datang bertubi-tubi menimpa rakyat Banten dengan sendirinya membawa dampak luas. sehubungan dengan penghapusan pelbagai kerja wajib. 1982:144).Pada tahun berikutnya. ditambah dengan kecurangan-kecurangan pegawai pemungut menambah keresahan dan mempersubur rasa benci penduduk kepada penjajah. Satu hal lagi yang ikut menyulut api perlawanan ini adalah dirubuhkannya menara langgar (musholla) di Jombang Tengah atas perintah Asisten Residen Goebels. Berkali-kali Haji Wasid memperingatkan penduduk. 1884. setahun setelah letusan Gunung Krakatau. pihak pemerintah kolonial melaksanakan sistem perpajakan yang baru. 125. semakin menambah penderitaan rakyat. tidak hanya di bidang sosial ekonomi.000 (Kartodirdjo. Jalannya pemberontakan Secara kronologis. meskipun jumlah penduduk turun 100. pengenaan pertanggungan pajak di luar kewajaran. Asisten Residen menginstruksikan kepada Patih agar dibuat surat edaran yang isinya supaya shalawat. persiapan-persiapan menuju "pemberontakan" di Cilegon. Marjuki di Tanara dihadiri oleh para ulama dari Serang. Goebels menganggap menara yang dipakai untuk mengalunkan azan setiap waktu shalat. pajak perdagangan. Untuk menggambarkan besarnya pajak yang ditanggung rakyat Banten. Berbagai macam pajak yang dikenakan kepada penduduk negeri. dapat memunahkan bala bencana dan meluluskan apa yang diminta asal saja memberikan sesajen bagi jin penunggu pohon itu. Dalam keadaan yang sangat menyedihkan itu. Melihat keadaan ini. mungkin dapat diurutkan sebagai berikut: 4 Pebruari 13 Maret 1888. pajak pasar sampai kepada pajak jiwa yang besarnya kadang-kadang di luar kemampuan dan penetapannya tidak mengenal keadaan. karena 'Tuhan tidak tuli'. dari mulai pajak tanah pertanian. tetapi juga dalam bidang sosial politik dan kehidupan keagamaan. Haji Wasid tidak dapat membiarkan satu kemusyrikan ada di depan matanya tanpa berusaha mencegah. banyak di antara mereka yang lari ke klenik (tahayul).. namun suasana di kalangan rakyat penuh kegelisahan dan keresahan. politik dan budaya yang dipaksakan pemerintah kolonial Belanda ini berbaur dengan penderitaan rakyat yang sudah tidak tertakarkan menumbuhkan perlawanan bersenjata. seperti kerja pancen dan kerja rodi. pajak tanah f. Dendaan yang dijatuhkan kepada kiyai ini. Tersebutlah di desa Lebak Kelapa terdapat sebatang pohon kepuh besar yang oleh sebagian penduduk dianggap keramat. Faktor-faktor ketidakpuasan terhadap sistem ekonomi. 1988:55). pajak tanah itu untuk seluruh negeri dinaikkan. yang kedua di Terate di rumah H. Keadaan inilah yang membawa Haji Wasid ke depan pengadilan kolonial pada tanggal 18 Nopember 1887. Asngari dihadiri ¡ 17 . Dalam keadaan penderitaan rakyat yang bertumpuk ini. Mereka lebih mempercayai dukun dan benda-benda yang dianggap keramat dari pada mohon pertolongan Allah. sehingga jumlah pajak yang terkumpul jauh besar jumlahnya dari jumlah pajak tanah tahun 1972. fatwanya itu tidak diindahkannya. diadakan 3 kali pertemuan di rumah H. mengganggu ketenangan "masyarakat" kerena kerasnya suara. apalagi waktu azan shalat subuh. Dengan beberapa orang muridnya ditebangnya pohon berhala itu pada malam hari. bahwa perbuatan meminta selain kepada Allah adalah termasuk syirik. Anyer dan Tangerang.50 gulden (Hamka. Ia dipersalahkan melanggar hak orang lain sehingga dikenakan denda 7. Sementara itu. pajak perahu.

hadir para tokoh/ulama seperti H. Kiyai Haji Abdulhalim dari Cibeber dan Nuh dari Tubuy. Haji Muhammad Arsad (penghulu kepala di Serang) dan Haji Tubagus Kusen (penghulu di Cilegon). akhirnya kembali pertemuan di rumah K. Pertemuan itu dilangsungkan di dalam masjid di luar masjid sudah berkumpul pengikut-pengikut mereka. 23 Juni 1888 pertemuan terakhir. (3) adanya desas-desus munculnya naga besar pertanda akan datangnya musibah di kalangan penduduk. Haji Abdulhalim dan Haji Abdulgani ke 18 . Ismail serta H. Haji Wasid dan Haji Ismail pergi ke Wanasaba untuk mengadakan pembicaraan dengan murid-muridnya.00. Untuk menutupi kecurigaan Belanda atas pertemuan itu diadakan suatu kenduri besar. Iskak di Saneja. Sekitar jam 23. Haji Mahmud dari Tarate Udik. (5) beredarnya desas-desus larangan berdo'a dzikir. Haji Ashik dari Bendung. Wasid dan H. di mana banyak hadir para pejabat. istri Haji Iskak. memberitahukan bahwa Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail ingin bertemu dengan para kiyai yang hadir. Maret April 1888. Wasid.oleh para pemuka masyarakat dari Serang dan Anyer. Haji Madani dari Ciora. dan kiyai-kiyai dari Trumbu. Haji Iskak dari Seneja. (2) awal Juli. Pada saat itu K. pesta dengan gamelan. yakni perkawinan antara putra bupati Pandeglang dan putri bupati Serang. Nasaman dan Sendanglor ke Cipeundeuy menemui Kiyai Haji Sahib. Wasid mengusulkan D-day pemberontakan pada tanggal 12 Juli 1888. Residen Banten.H. diadakanlah pertemuan para kiyai untuk persiapan terakhir pematangan gerakan di rumah Haji Akhia di Jombang Wetan. Sadeli di Kaloran. akhirnya ditetapkan tanggal pastinya adalah 9 Juli 1888. Tanara. tanggal 7 Juli 1888. penghulu Tanara. pertemuan di rumah K. Wasid di Beji. dan Haji Akhmad. Dalam pertemuan ini hadir pula Haji Abubakar. datang Nyi Kamsidah. Haji Mahmud dan Haji Alfian diutus menemui Haji Abdulrazak. Maka setelah lewat tengah malam para kiyai segera berangkat ke Saneja untuk mengadakan pertemuan kedua di rumahnya Haji Ishak. pembagian tugas. ke rumah Haji Ismail. Asisten Residen Anyer disertai bawahan Eropa dan pribumi melakukan inspeksi di afdeling Anyer. Marjuki di Tanara. dan berikutnya di rumah H. tayuban. di antaranya Haji Sadeli dari Kaloran. pesta perkawinan dan khitanan. Koinsidensi sejarah pada pematangan situasi tersebut antara lain (1) akhir Juni berlangsung perhelatan besar. Wasid akan dipanggil ke pengadilan untuk penyelesaian suatu perkara. (4) dalam waktu dekat K. Haji Erab diutus ke Haji Mohamad Asyik. Haji Sapiuddin dari Leuwibeureum. pagi-pagi sekali. H. Haji Muhiddin. Haji Sarman dari Bengkung.H. saudara Haji Tubagus Ismail. Haji Halim dari Cibeber. Marjuki. kemudian di rumah H.M. Dari sana. Haji Asnawi. terutama dari Arjawinangun dan Gulacir yang juga dihadiri oleh Haji Burak. selesai shalat magrib dengan dikawal sejumlah muridnya Haji Wasid berangkat ke Cibeber untuk kembali mengadakan pertemuan dengan muridmuridnya yang lain.H. untuk membicarakan langkah terakhir pemberontakan. Pada hari itu juga dikirim utusan-utusan ke berbagai jurusan. Pada hari Sabtu. Haji Abdulgani dari Beji. Bendung. sedangkan pertemuan berikutnya di rumah H. penggerakan pengikut. Hadir dalam pertemuan itu antara lain: Haji Sa'id dari Jaha. Pada tanggal itu juga diperingati hari lahir pendiri tarekat Kadiriyah. Diduga dalam pertemuan tersebut dibicarakan masalah kesediaan alat persenjataan. keduanya pergi ke Gulacir. tidak hadir dalam pertemuan ini karena sudah dipastikan bahwa mereka akan memulai pemberontakan pada hari Senin tanggal 29 Syawal atau 9 Juli 1888. serta penyelenggaraan latihan antara lain pencak silat.H. Iskak. peringatan tersebut antara lain ditandai dengan kenduri besar. Keesokan harinya.

yang menurut PPA. melompat ke muka sambil berkata: ' . karena dia sedang di Serang waktu itu. Ketiga yang terakhir ini diperintahkan untuk mengerahkan pejuang-pejuang dari Anyer untuk segera bergerak supaya pagi-pagi sekali sudah berada siap di Cilegon. Ketika Tjakradiningrat mendatangi tempat kerusuhan dan dikepung oleh para pejuang terdengar suara: ' . Gulacir dan Cibeber bergerak menuju Cilegon untuk menyerang para pejabat pemerintah kolonial. adalah ketika ia akan mencoba bermusyawarah dengan para pejuang (peroesoeh). Kasidin keluar penjara ketika penjara dijebol para pejuang. Dalam keadaan yang kacau itu. terbunuhnya Raden Tjakradiningrat itu. kelompok kedua dipimpin oleh Haji Abdulgani dari Beji dan Haji Usman dari Arjawinangun menyerbu kepatihan. Di daerah Serang. Sedangkan Patih Raden Pennah. di beberapa tempat juga meletus pemberontakan. penghulu Cilegon. dapat dibunuh oleh Haji Tubagus Ismail. Pada hari Senin malam tanggal 9 Juli 1888.Tunggak menemui Haji Usman. Sementara itu. yang bernama Kasidin. menyerbu penjara untuk membebaskan para tahanan.. Minggu. Malam itu juga. demikian juga Raden Purwadiningrat. sipir penjara Cilegon. beberapa kiyai kembali lagi ke pesta di rumah Haji Akhiya. Haji Tubagus Ismail memimpin pengikut-pengikutnya dari Arjawinangun. Henri Francois Dumas. Krapyak. Grogol. adalah Raden Tjakradiningrat.. Kiyai Haji Usman dari Tunggak. Dengan memekikkan kalimat takbir mereka menyerbu beberapa tempat di Cilegon. Mas Kramadireja. Djajadiningrat "tempat kediamannya tidak di dekat-dekat orang Eropah atau di dekat-dekat Ambtenar-ambtenar boemipoetra lain" (1936:55). ajun kolektor. dan Ulric Bachet. djangan dianiaja jang seorang itoe. setelah pertemuan di rumah Haji Ishak. Balegendong. tapi Kasidin yang ada pada kerumunan tersebut. seorang pegawai negeri yang kebelanda-belandaan lolos dari kematian. dari Saneja. Pada malam harinya barisan bertambah panjang bergerak dari Cibeber ke arah Saneja dipimpin langsung oleh Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail yang kemudian dijadikan sebagai pusat penyerangan. Mancak dan Toyomerto. diadakanlah serangan umum ke Cilegon. asisten residen Anyer. sehingga ia termasuk "orang yang tidak berdosa" (1936:56) Menurut rekaman PAA. ini jang mesti didahoeloekan !' dan pada saat berikutnya Kasidin memarang leher Wedana Tjakradiningrat (PPA.. seperti di Bojonegara. Para kiyai dan murid-murid mereka memakai pakaian putih-putih dengan ikat kepala dari kain putih pula sambil membawa pedang dan tombak. Sedangkan Haji Wasid dengan beberapa pengawalnya tetap di Jombang Wetan memonitor segala kegiatan penyerbuan (Kartodirdjo. 1984:301-303). Jaro Kajuruan. Haji Kasiman di Citangkil dan Haji Mahmud di Terate Udik. pemberontakan dipimpin oleh Haji Muhammad Asyik. wedana Cilegon. 8 Juli 1888.. 1936:56) Seperti yang sudah direncanakan semula. dan kelompok ketiga dipimpin oleh Kiyai Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman dari Tunggak menyerang rumah Asisten Residen. kepala penjualan garam semuanya adalah orang-orang yang tidak disenangi rakyat. juru tulis di kantor Asisten Residen. Djajadiningrat. yang pada keesokan harinya. Namun di antara mereka terdapat seorang tahanantitipan kasus pencurian hasil tangkapan Wedana Tjangradiningrat yang sedang menunggu putusan perkara. sedangkan pasukan yang dipimpin oleh Kiyai Haji Wasid. ia tidak berdosa !'. Djajadiningrat. Johan Hendrik Hubert Gubbels. seorang 19 . diadakan arak-arakan sambil meneriakkan takbir dan kasidahan yang dimulai dari rumah Haji Akhiya di Jombang Wetan dan berakhir di rumah Haji Tubagus Kusen. Tokoh fenomenal yang menjadi salah seorang korban. Pasukan dibagi dalam beberapa kelompok: kelompok pertama dipimpin oleh Lurah Jasim. Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman dari Arjawinangun dan pengikutnya menyerang dari arah selatan. berbarengan dengan kejadian di Cilegon ini. Haji Abdul Gani dan Beji dan Haji Nuriman dari Kaligandu menyerang dari arah utara.

Tetapi seorang babu (pembantu rumah tangga) Gubbel dapat melarikan diri ke Serang membawa kabar kejadian di Cilegon itu. Maka Bupati bersama Kontrolir dengan 40 orang serdadu yang dipimpin oleh Letnan I Bartlemy berangkat ke Cilegon. Haji Haris dibuang ke Bukit Tinggi. Dalam tahun-tahun berikutnya. Haji Arsyad Qashir dibuang ke Buton. Menado. Haji Arsyad Thawil dibuang ke Gorontalo. Keadaan demikian terlihat juga pada abad ke-19 dan ke-20. 20 . Di samping mereka terlalu meng-eksploitir tanah jajahan tanpa dibatasi rasa kemanusiaan. VOC. dalam bentuk pemberontakan. Terjadilah pertempuran hebat antara para pemberontak dengan tentara kolonial yang memang sudah terlatih baik. kepemimpinannya dipercayakan kepada pemim-pin kharismatik yakni para kiyai dan ulama. Trumbu. namun sangat bermakna sebagai sebuah gambaran dari rasa ketidakpuasan dan kebencian seluruh rakyat terhadap penjajah. Haji Ismail dibuang ke Flores. Kaloran dan Keganteran. Haji Wasid sebagai pemimpin pemberontakan dihukum gantung. Hal ini tidak lepas dari motivasi pertama pengembaraan orang-orang Eropa. 1985: 17). Partai-partai di parlemen Belanda dapat dikelompokkan kepada partai agama dan non agama. sebaliknya pihak penjajah juga menaruh kewaspadaan tinggi untuk daerah Banten dengan rakyatnya sangat militan itu. Haji Abdurahman dan Haji Akib dibuang ke Banda. Haji Muhammad Hanafiah dari Trumbu dan Haji Muhidin dari Cipeucang. sedangkan yang lainnya dihukum buang. bekas dan akibat pemberontakan Cilegon ini cukup mendalam di kedua belah pihak. Sehingga dapat dikatakan bahwa ekspansi Portugis harus dilihat sebagai kelanjutan dari Perang Salib. masalah yang dianggap paling mendasar dalam kehidupan manusia. Ternate. Namun pada peralihan abad ke-20 kemenangan beralih kepada kelompok agama. Dengan keadaan ini pemerintah Hindia Belanda haruslah mendukung sebanyak mungkin usaha kristenisasi yang banyak dilakukan organisasi swasta. di samping untuk mencari keuntungan perdagangan juga dilandasi oleh rasa benci dan permusuhan kepada orang-orang yang beragama Islam. Kupang. sehingga akhirnya kerusuhan dapat dipadamkan. yang selanjutnya dilaksanakan pemerintah Belanda. Kejadian "Geger Cilegon" itu mempunyai arti penting dalam sejarah pergerakan nasional. Rakyat Banten sangat benci kepada penjajah Belanda dan pamongpraja yang menjadi kaki-tangannya. untuk sedikit demi sedikit melupakan agamanya (Islam) dan kemudian beralih kepada agama Kristen.ulama dari Bendung. Dukungan terhadap kristenisasi Hindia Belanda dipertegas sejalan dengan ³politik hutang budi´. semua pimpinan pemberontakan yang dibuang ini ada 94 orang. Rakyat kebetulan tidak memiliki pemimpin formal untuk menyalurkan aspirasinya sehingga untuk menyalurkan ketidakpuasan itu. yaitu kemudahan bagi organisasi zending Kristen mendirikan sekolah bagi penduduk bumiputra. dan banyak lagi lainnya dibuang ke Tondano. juga pemerintah kolonial "merambah" dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Walau pun akhirnya pemberontakan itu mengalami kegagalan secara fisik. Kubang. melalui beberapa peraturan dan pelaksanaan yang dibuat pemerintah Hindia Belanda. dan Saparua. Sehari semalam kekacauan tidak dapat diatasi. Ambon. Pada dasawarsa terakhir abad ke-19 kelompok non agama memperoleh kemenangan dalam parlemen. karena setelah kejadian itu Belanda menginstruksikan supaya semua peraturan-peraturan yang akan dikeluarkan hendaknya jangan menyinggung perasaan keagamaan rakyat jajahan. Kedua golongan ini saling berebut mempengaruhi semua keputusan parlemen. sebagai perusahaan dagang milik Belanda pun tidak lepas dari tugas penghancuran umat Islam dan penyebaran agama Kristen kepada penduduk di Nusantara (Suminto. Banyaknya pemberontakan rakyat yang dipimpin para ulama Islam ini erat juga kaitannya dengan politik keagamaan yang diterapkan kaum penjajah. Cilegon dapat dikuasai sepenuhnya oleh pasukan "pemberontak". Pusat-pusat kegiatan mereka ialah Bendung.

Tetapi dalam kenyataannya. pemerintah kolonial lebih banyak mengangkat pegawai yang berasal dari Priyangan. sering dituduh menyuruh anak-anaknya masuk agama Kristen. Keadaan semacam ini pun membuat pemerintah Belanda mengalami kesulitan mengangkat pejabat pamongpraja asli dari Banten yang cakap (baca: pernah belajar di sekolah Belanda). celana pantalon dan topi ala Eropa dihukumi haram. seperti dari Bogor dan Bandung. yang pada hakekatnya berawal mungkin dari perasaan irihati para pamongpraja asli daerah Banten terhadap para pamongpraja pendatang. Peran Kyai dan Jawara di Banten Semenjak pemerintahan kolonial Belanda menaklukan kesultanan Banten. justru karena tekanan kegiatan missi penyebaran agama Kristen yang menggebu-gebu ini reaksi perlawanan dari rakyat Indonesia makin lebih militan lagi menentang penjajah Belanda. walaupun memang kebanyakan rakyat Banten bukan orang yang mempunyai pemahaman mendalam tentang keislaman. Dengan mengkristenkan sebanyak mungkin penduduk di Nusantara maka pemberontakan akan semakin berkurang. "kapir landa" sebutan yang di samping menggambarkan kebencian mendalam juga menganggap mereka itu adalam musuh-musuh Islam dan kaum muslimin. bahkan mungkin bukan termasuk orang yang taat menjalankan agamanya. untuk mengisi kekosongan pegawai pamongpraja ini. Karena itu masyarakat Banten sejak dahulu dikenal sebagai orang yang sangat fanatik dalam hal agama dan bersemangat memberontak. Pemerintah kolonial memandang bahwa Banten merupakan daerah yang paling rusuh di Jawa. maka berarti mereka tidak akan lagi membahayakan bagi pemerintahan Belanda. misalnya sebagai pamongpraja. bahkan perluasan kolonial dan ekspansi agama merupakan gejala simbiose yang saling menunjang" (Suminto. Demikian juga dengan orang Islam yang bekerja menjadi pegawai di kantor pemerintah Belanda. atau sekurang-kurangnya menyalahi Islam. Imbas dari keadaan ini masih terasa sampai pasca kemerdekaan. namun dalam hal rasa sentimen keagamaan mereka cukup tinggi. dan pemakainya dikatakan kafir. Karena itulah "zending Kristen harus dianggap sebagai faktor penting bagi proses penjajahan. Hal demikian sering menimbulkan konflik tertentu yang saling mencurigai satu sama lain. perlawanan dan pemberontakan rakyat Banten terhadap pemerintah kolonial tidak pernah berhenti. Oleh karenanya. 1985:18). Pemerintah Belanda berpendapat bahwa apabila bangsa Indonesia ini memeluk agama Kristen. Bahkan beredar fatwa yang menyatakan bahwa berpakaian ala Eropa lebih-lebih memakai dasi. Ketakutan yang didasari kecurigaan ini pula yang menyebabkan banyaknya pegawai asal Priyangan yang ikut melarikan diri ketika pasukan Jepang keluar dari Banten. Penduduk Banten sebagian besar keturunan orang Jawa dan Cirebon yang 21 . yakni menjadi seagama dengan penjajahnya. Keyakinan yang memandang rendah semacam itulah yang mendasari kenapa penduduk asli Banten yang bersedia bekerja menjadi pamongpraja pada masa pemerintahan Hindia Belanda sangat sedikit. Maka tidak jarang seorang kiyai atau seorang guru mengaji mengeluarkan fatwa bahwa memasuki sekolah-sekolah Belanda adalah haram. Tidaklah mengherankan apabila orang Islam yang mengirimkan anaknya untuk belajar di sekolah Belanda. masyarakat mencemooh mereka sebagai "anjing belanda". ataupun sekolah Jawa/Melayu yang didirikan Belanda. Sehingga orang Indonesia dalam menyebut orang-orang Belanda sebagai "setan". Rupanya.Masalah kristenisasi di Hindia Belanda ini erat juga kaitannya dengan masalah menghadapi pemberontakan yang dilakukan umat Islam.

sebagian orang lagi berpendapat bahwa kata ³jawara´ berasal dari kata ³jaro´ yang berarti seorang pemimpin yang biasanya merujuk kepada kepemimpinan di desa. Menurut Tihami (Dekan IAIN Maulana Hasanudin Banten) bahwa jawara itu adalah murid kiyai. Sehingga seorang jawara itu biasa bersifat sompral (berbicara dengan bahasa yang kasar dan terkesan sombong). Asal-usul kata ³jawara´ pun tidak begitu jelas. Kekuasaannya sering kali melebihi kekuasaan pemimpin formal. yang terkadang dilakukan dengan berbagai cara termasuk dengan cara yang tidak baik. Seperti halnya kiyai yang memiliki pesantren sebagai tempat para santri menimba ilmu pengetahuan agama Islam. yang ingin dipandang orang yang paling hebat. Sehingga bagi sebagian masyarakat. serta membawa tasbih untuk berdzikir kepada Allah. juga sebagai guru spiritual dan pemimpin kharismatik masyarakat. Sekarang ini jawara tidak mesti menjadi pemimpin. seperti Persatuan Pendekar Persilatan dan Seni Budaya Banten yang dipimpin oleh Tb Chasan Shohib dan Tjmande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir yang dipimpin oleh Maman Rizal. Kiyai di Banten pada tempo dulu tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam tetapi mengajarkan 22 . Perbauran yang begitu dalam menyebabkan penduduk Banten memiliki cultur yang berbeda dalam hal bahasa dan adat istiadat dengan masyarakat asalnya. Dalam daerah yang pernah menjadi pusat kerajaan Islam dan penduduknya yang terkenal sangat taat terhadap agama seperti daerah Banten sudah sewajarnya jika kiyai menempati kedudukan yang penting dalam masyarakat. Pada masa dahulu kepala desa atau lurah di Banten itu mayoritas adalah para jawara. yang berarti pemenang. adalah jawara. Sebagian orang berpendapat bahwa jawara berarti juara. Jawara sebagai orang yang memiliki keunggulan dalam fisik dan kekuatankekuatan untuk memanifulasi kekuatan supernatural. orang Banten menunjukkan perbedaan yang nyata dengan orang Sunda dan orang Jawa Tengah dan Jawa Timur. Memang bahwa salah satu sifat jawara adalah selalu ingin menang. terbuka (blak-blakan) dengan bersenjatakan golok. Para jawara pun memiliki jaringan yang melewati batas-batas geografis daerah tempat tinggalnya. Bahkan pengangkatan pemimpin formal di suatu desa ditentukan oleh pemuka-pemuka agama di daerah yang bersangkutan. Ia cukup terkenal dengan seragam hitamnya dan kecenderungan terhadap penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalan. seperti bertutur kata lembut. tidak hanya dipandang sebagai tokoh agama tetapi juga seorang pemimpin masyarakat. Melayu dan Lampung. Bugis. sompral (tutur kata yang keras dan terkesan sombong). yang kalau sekarang lebih dikenal dengan kepala desa atau lurah. Bahkan mereka memiliki organisasi tersendiri. Kiyai dikenal tidak hanya sebagai guru di pesantren. Karena itu perilaku dan ucapan seorang kiyai menjadi panduan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Penampilan kiyai yang khas. sehingga ia disegani oleh masyarakat.dalam perjalanan waktu berbaur dengan orang-orang Sunda. Kiyai yang merupakan gelar ulama dari kelompok Islam tradisional. Jimat yang memberikan harapan dan memenuhi kebutuhan praktis para jawara yang salah satunya adalah kekebalan tubuh dari benda-benda tajam. agresif. Para jawara tersebut memimpin kajaroan (desa) namun kemudian terjadi pergeseran makna sehingga jawara dan jaro menunjukan makna yang berbeda. Begitu pula dalam hal penampilan fisik dan watak. berprilaku sopan. demikian pula kepala jawara memiliki padepokan tempat pengemblengan ³anak buah´. terutama di pedesaan. yang juga menembus batas-batas hirarki pedesaan di Banten. berpakaian rapih dan sederhana. seperti penggunaan jimat. merupakan simbol-simbol kesalehan. jawara dipandang sebagai sosok yang memiliki keberanian. apalagi menjadi kepala desa atau lurah. untuk menunjukan bahwa ia memiliki kekuatan fisik dan magik. Golongan lain. Keunggulan dalam hal fisik dan kemampuanya untuk memanipulasi kekuatan supernatural (magik) telah melahirkan sosok seorang jawara dengan memiliki karakter yang khas.

yang kemudian disebut jawara. Namun setelah Indonesia bebas dari kolonialisme. bisa memukul dari jarak jauh dan sebagainya.ilmu persilatan atau kanuragan. terutama dari pemimpin tarekat. Istilah jawara dalam percakapan sehari-hari masyarakat Banten sekarang ini dipergunakan untuk istilah denotatif dan juga referensi untuk mengidentifikasi seseorang. Persepsi masyarakat tentang jawara saat ini yang kurang simpatik dan cenderung negatif sebenarnya bisa diterangkan dengan teori ³ bandit sosial´ di atas. sehingga menimbulkan antipati masayarakat terhadap jawara. Karena itu jawara dianggap pahlawan oleh rakyat. ³jago wadon lan harta´ (tukang main perempuan dan tamak harta). sehingga ia dianggap bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang biasa. seperti melakukan ancaman. terutama kitab-kitab kuning juga dipercayai oleh masayarakat memiliki kekuatan mistis dan magis yang besar pula. Peranan jawara pada masa lalu yang menonjolkan keberanian untuk melawan musuh bersama masyarakat yakni: pemerintah kolonial Belanda. mendapat penghargaan dan penghormatan di mata rakyat Banten. Sedangkan murid kiyai yang memiliki bakat dalam bidang fisik lebih condong kepada persilatan atau ilmu-ilmu kanuragan. Bahkan seperti yang diungkapkan salah seorang kiyai di Serang. Murid kiyai yang lebih berbakat dalam bidang intelektual. karena itu dipercayai memiliki kekuatan magis dan mistis. selain dipandang sebagai orang yang mengerti tentang pesan-pesan dan ajaran-ajaran agama juga dipandang sebagai sosok yang paling dekat pusat kekuatan supernatural. Tokoh lain di wilayah Banten yang memiliki status sosial yang dihormati dan disegani karena dianggap memiliki kemampuan untuk memanipulasi kekuatan supra-natural yang merupa magis dan mistis adalah jawara. Karena kharisma seseorang kiyai akan semakin besar apabila ia selain memiliki kemampuan untuk memahami ajaran-ajaran agama. Mungkin atas dasar itu seorang pengurus persilatan dan seni budaya Banten menyatakan bahwa jawara itu adalah khodim (pembantu) nya kiyai. Karena itu dalam tradisi kejawaran bahwa seorang jawara yang melawan perintah kiyai itu akan kawalat. Hal ini disebabkan pesantren. Maka ada orang yang mendefenisikan jawara dengan ³jago wadon lan lahur´ (tukang main perempuan dan tukang bohong). Peran-peran itu yang telah ditampilkan secara baik oleh Mas Jakaria serta tokoh-tokoh jawara masa silam. berada di daerahdaerah terpencil dan kurang aman. Istilah jawara yang menunjukan referensi untuk identifikasi seseorang adalah gelar bagi orang-orang yang memiliki kekuatan fisik dalam bersilat dan mempunyai ilmu-ilmu kesaktian (kadigjayaan). justru tidak berubah. seperti sompral. sebagai pembela dan pelindung atas kepentinganya. Sedangkan istilah jawara yang bersifat denotatif berisi tentang sifat yang merendahkan derajat (derogatif) yang biasanya digunakan untuk orang-orang yang berprilaku sombong. musuh bersama rakyat itu tidak ada. Namun prilakuprilaku jawara. Tokoh-tokoh agama. pada masa yang lalu. kiyai. Jawara dianggap memiliki ilmu-ilmu kedigjayaan (kesaktian) dan menguasai 23 . mendalami ilmu-ilmu agama Islam pada akhirnya disebut santri. seperti kekebalan tubuh dari senjata tajam. kurang taat dalam beragama. yang lebih dikenal dengan ilmu-ilmu hikmah. rasa kagum dan benci. sombong. juwara iku tentrane kiyai (jawara itu tentaranya kiyai). sehingga membangkitkan perasaan orang lain penuh dengan pertentangan: hormat dan takut. Kesan yang kurang baik tentang jawara tersebut yang kemudian yang bagi orang-orang yang memiliki ilmu-ilmu kadigjayaan atau persilatan yang sudah ³terpelajar´ tidak mau menamakan dirinya jawara tetapi lebih senang disebut pendekar. karena kesultanan tidak mampu menjangkau daerah-daerah yang terpencil yang sangat jauh dari pusat kekuasaan. kurang taat menjalankan perintah agama Islam atau melakukan sesuatu dengan cara-cara yang tidak baik terhadap orang untuk kepentingan dirinya semata. Karena itu kesan orang terhadap istilah jawara cenderung negatif dan derogatif. kekerasan dan kenekadan.

yakni: kepemimpinan yang bertumpu kepada daya tarik pribadi yang melekat pada diri pribadi seorang kiyai atau jawara tersebut. Kepemimpinannya bersifat kharismatik. Demikian pula jawara. dihapuskan oleh Belanda. Berkat kelebihannya itu. yang keberaniannya itu didukung oleh kemampuan dirinya dalam menguasai ilmu bela diri (persilatan) dan ilmu-ilmu kesaktian. muncul sebagai tokoh masyarakat. Penghapusan jabatan tersebut mengalihkan loyalitas penduduk ke para kiyai. akibat intervensi pemerintah kolonial yang terlalu besar. seperti kekebalan tubuh dari senjata tajam. Juga karena keunggulan kepribadiannya itu.ilmu persilatan. 24 . ia dianggap bahkan diyakini memiliki kekuatan supernatural sehingga memiliki kemampuan luar biasa dan mengesankan di hadapan khalayak banyak. terutama pada saat-saat kehidupan sosial mengalami krisis. setelah penghapusan jabatan Fakih Najamuddin diberikan kepada para kiyai. namun pengaruh mereka semakin menurun. Pembayaran zakat pun yang selama kesultanan Banten dan masa-masa awal pemerintahan kolonial diserahkan kepada penghulu. rasa kagum dan benci. Sehingga K. Selain itu jawara juga harus memiliki keberanian (wanten.H. guru dan pemimpin masyarakat yang berwibawa yang memiliki legitimasi berdasarkan kepercayaan masyarakat. ahli hikmah.H. yang pada masa-masa sulit banyak membantu peran para kiyai terutama berkaitan dengan persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat. Kedua tokoh tersebut memiliki pengaruh yang cukup besar di masyarakat dan juga memiliki para pengikut yang setia. Syam¶un untuk menangkap Ce Mamat dan menumpas gerombolannya. Karena posisinya yang demikian itu maka seorang kiyai atau jawara dapat selalu dibedakan dari orang kebanyakan. yang pada saat itu merupakan tokoh agama yang independen dan tidak bersentuhan langsung dengan pemerintah. Munculnya kiyai sebagai tokoh agama yang dihormati di wilayah Banten berkaitan dengan kontrol pemerintah kolonial Belanda yang semakin kuat terhadap kesultanan Banten pada abad ke-18 dan ke19. Anggota Dewan Rakyat yang anggotanya kebanyakan dari para jawara. yang menyandang gelar tersebut biasanya memiliki kesaktian dan ahli kebatinan. seperti Fakih Najamuddin untuk di tingkat atas dan para penghulu untuk di tingkat bawah. Sedangkan jawara dalam pandangan masyarakat Banten merujuk kepada seseorang atau kelompok yang memiliki kekuatan fisik dalam bersilat (kanuragan) dan mempunyai ilmu-ilmu kesaktian (kadigjayaan). mengadakan serangkaian kerusuhan sosial dan pembunuhan di berbagai tempat di wilayah Banten. Karena itu seseorang yang hanya memiliki ilmu-ilmu kadigjayaan dan persilatan tidak akan dinamakan jawara apabila ia tidak memiliki keberanian. ia bisa muncul menjadi tokoh yang kharismatik. Menurut masyarakat Banten gelar Kiyai diberikan kepada seorang yang ³terpelajar´ dalam pemahaman keislamannya dan ia membaktikan hidupnya ³demi mencari ridha Allah´ untuk menyebarluaskan serta memperdalam ajaran-ajaran agama Islam kepada seluruh masyarakat melalui lembaga pendidikan ataupun pesantren. Karena kelebihannya yang dimilikinya itu maka kiyai dan jawara dipandang sebagai pemimpin masyarakat dan merupakan ³elit sosial´ di masyarakat Banten. Apalagi semenjak jabatan Fakih Najamuddin. bisa memukul dari jarak jauh dan sebagainya. kawani) secara fisik. Seperti kisah ketokohan Ce Mamat alias Muhamad Mansur yang mendirikan Dewan Rakyat. menjadi sosok yang terkadang justru banyak merugikan masyarakat. Kiyai. Meskipun pemerintah kolonial masih tetap mempertahankan pejabat-pejabat yang mengurusi soalsoal keagamaan masyarakat Banten. sehingga membangkitkan perasaan hormat dan takut. Akhmad Khatib memerintahkan K.

Peranan tersebut bagi masyarakat sangat membantu apalagi saat Banten dalam kekacauan dan kerusuhan yang cukup lama. di daerah pesisir Banten sudah ada sekelompok masyarakat yang menganut agama Islam. peran-peran seperti itu sangat diperlukan. Tetapi juga banyak kiyai yang tidak senang terhadap berbagai prilaku jawara yang sering menghalalkan segara cara walau dengan cara kekerasaan dalam menyelesaikan masalah. Peninggalan sejarah yang amat berharga ini nampaknya akan selalu menarik untuk diteliti dan dikaji 25 . Peranan seorang kiyai selain sebagai pewaris tradisi keagamaan juga pemberi arahan atau tujuan kehidupan masyarakat yang mesti ditempuh. kebesaran namanya sangat ditentukan oleh nilai-nilai pribadi yang dimiliki. masyarakat Banten masih hidup dalam tata cara kehidupan tradisi prasejarah dan dalam abad-abad permulaan masehi ketika agama Hindu berkembang di Indonesia. Sehingga dalam masyarakat Banten peran-peran yang sering dimainkan oleh para jawara adalah menjadi jaro (kepala desa atau lurah). kesaktian dan keturunannya. Dikarenakan letak geografisnya yang sangat strategis sebagai kota pelabuhan. Sekitar permulaan abad ke 16. Sedangkan jawara lebih cenderung kepada kekuatan fisik dan ³batin´. semua itu menjadi masyarakat Banten yang madani dan memiliki religiusitas yang tinggi. guru ilmu silat dan ilmu ³batin´ atau magi. khususnya di daerah Jakarta dan Jawa Barat. menerima uang shalawat (bantuan material) dari jawara. ekonomi dan politik dalam kehidupan masyarakat Banten saat ini sangat diperlukan. karena Banten mempunyai peranan penting dalam tumbuh dan berkembangnya Islam. kemampuan dalam penguasaan ilmu pengetahuan (agama dan sekuler). Sedangkan jawara berkedudukan sebagai pemimpin dari lembaga adat masyarakat diapun tokoh yang dihormati apabila ia menjadi pemimpin atau penguasa. Hal ini dapat dilihat dari peninggalan purbakala dalam bentuk prasasti arca-arca yang bersifat Hiduistik dan banguan keagamaan lainnya. namun demikian peranan para jawara dalam sosial. Banten adalah salah satu pusat perkembangan Islam. Sumber naskah kuno dari masa pra Islam menyebutkan tentang kehidupan masyarakat yang menganut Hindu. Peranan kiyai dalam masyarakat Banten adalah sebagai tokoh masyarakat (kokolot). atas jasanya tersebut. Jawara membutuhkan elmu dari kiyai. Di Banten telah berdiri satu kerajaan Islam yang lebih dikenal oleh masyarakat Banten dan sekitarnya dengan sebutan Kesultanan Banten. apalagi bagi masyarakat yang masih mencari jati dirinya. Tetapi akhir-akhir ini peranan para jawara mulai berbeda dibandingkan dengan peranan jawara pada masa-masa lalu dalam sejarah kehidupan masyarakat Banten sesuai perkembangan zaman. satuan-satuan pengamanan. guru ngaji. yakni saling ketergantungan tetapi juga kontradiktif. Sejarah Pra Islam Dan Berkembangnya Islam Di Banten Sebelum Islam berkembang di Banten. guru tarekat. Begitu pula ketika mereka membina hubungannya dengan sesama Kiyai dan jawara disatukan dalam dalam ruang lingkup kebudayaan Banten. guru kitab. Sifat hubungan keduanya tidak hanya bersifat simbiosis. Karena itu ia lebih bersifat memberikan pencerahan terhadap masyarakat. Keduanya merupakan pemimpinan yang meemiliki pengaruh pada masyarakat Banten. Penyebarannya dilakukan oleh salah seorang pemimpin Islam yang dikenal sebagai wali berasal dari Cirebon yakni Sunan Gunung Jati dan kemudian dilanjutkan oleh putranya Maulana Hasanudidin untuk menyebarkan secara perlahan-lahan ajaran agama Islam daerah Banten. sedangkan sebaliknya kiyai.Kiyai dalam masyarakat Banten merupakan tokoh panutan masyarakat yang dihormati berkat perannya dalam mengarahkan dan menata kehidupan bermasyarakat. guru ilmu ³hikmah´ (ilmu ghaib) dan sebagai mubaligh.

1983:124) Untuk selanjutnya keadaan Banten pada abad ke VII samapi dengan abad ke XIII. kita tidak mendapatkan keterangan yang menyakinkan. adapun prasasti Munjul yang ditemukan terletak disungai Cidanghiang.1982:2) Untuk menghubungkan antara Banten Girang dengan pelabuhan Banten. Pada tahun 1475 M. kubur tempayan di Anyer. Selain itu di Banten terdapat sisa-sisa kebudayaan megalitik tua (4500 SM hingga awal masehi) seperti menhir di lereng gunung Karang di Padeglang. Seperti di dalam naskah Purwaka Tjaruban Nagari disebutkan bahwa Syarif Hidayatullah setelah belajar di Pasai mendarat di Banten untuk meneruskan penyebaran agama Isalam yang sebelumnya telah dilakukan oleh Sunan Ampel. Pada awal abad ke XVI. Hal ini terlihat dengan ditemukannya kapak corong terbuat dari perunggu di daerah Pamarayan. hal ini disebabkan karena data yang diperoleh para ahli belum lengkap.1976:1-6) Penggunaan alat-alat kebutuhan yang dibuat dari perunggu yang terkenal dengan kebudayaan Dong Son (500-300 SM) juga mempengaruhi penduduk Banten.terutama dikalangan sejarawan dan para ilmuan. (Atja. Tradisi prasejarah ditandai oleh adanya alat-alat kehidupan sehari-hari dan kepercayaan yang mereka anut. kapak batu di Cigeulis. demikian pula dengan masa kehidupan Hindu dan Buddha ditandai oleh peninggalan Hindu masa itu berupa prasasti arca Nandi dan bendabenda arkeologi lainnya. batu bergores di Ciderasi desa Palanyar Cimanuk. Tumbuh dan Berkembangnya Islam Di Banten Penyebaran Islam di Banten dilakukan oleh Syarif Hidayatullah. (Hoesein. karena kerajaan Tarumanegara pada masa itu berada dalam keadaan makmur dan jaya. (Ambary.1972:26) 26 .1979:37) Tapi disamping itu pula masih ada jalan darat yang dapat dilalui yaitu melalui jalan Kelapa Dua. di Banten yang berkuasa adalah Prabu Pucuk Umun. ini berarti bahwa daerah kekuasaan Tarumanegara sampai juga ke daerah Banten. dan lain sebagainya. dengan pusat pemerintahan Kadipaten di Banten Girang sedangkan Banten Lama hanyalah berfungsi sebagai pelabuhan saja. Cipari dan Babakan Tanggerang. (Ayathrohaedi. (Sukendar. dua tahun kemudian lahirlah anak perempuan pertama yang diberinama Ratu Winahon dan pada tahun berikutnya lahir pula pangeran Hasanuddin. serta naskah-naskah kuno yang mencatat keterangan tentang kehidupan masyarakat pada masa itu. Kopo Pandeglang. pada tahun 1525 M dan 1526 M. Cikupa. dipakai jalur sungai Cibanten yang pada waktu itu masih dapat dilayari. Disamping karena pertumbuhan dan perkembangan Islam di Banten yang menarik. dolmen dan patung-patung simbolis dari desa Sanghiang Dengdek di Menes. ternyata sejarah Islam di Banten belum banyak diteliti secara tuntas sehingga masih banyak hal-hal yang penting yang perlu diteliti dan dipelajari secara lebih mendalam. beliau menikah dengan adik bupati Banten yang bernama Nhay Kawunganten. Keadaan Banten Pra Islam Daerah Banten memiliki beberapa data arkeologi dan sejarah dari masa sebelum Islam masuk ke daerah ini. sumber data arkeologi menujukan bahwa sebelum Islam masyarakat Banten hidup pada masa tradisi prasejarah dan tradisi Hindu-Buddha. Selain bukti arkeologi berupa arca Siwa dan Ganesha ini belum ada lagi data sejarah yang cukup kuat untuk menunjang keberadaan kerajaan Salakanagara ini yang lebih jelas. Lebak Munjul Pandegalng adalah prasasti yang bertuliskan Pallawa dengan bahasa Sangsekerta menyatakan bahwa raja yang berkuasa di daerah ini adalah Purnawarman.

Seperti halnya di Banten banyak terdapat benda-benda bersejarah yang memiliki nilai historis yang dapat menyiratkan suatu riwayat tertentu. (Roesjan.1976:181) Disamping itu Banten juga menjadi pusat penyebaran agama Islam.1983:163) Kerajaan Islam di Banten Saat itu lebih dikenal oleh masyarakat Banten dan sekitarnya dengan sebutan Kesultanan Banten. Pulosari.1983:35) Disinilah tempat tinggal dan mengajarnya Kiayi Dukuh yang bergelar Pangeran Kasunyatan guru dari Pangeran Yusuf. makam-makam sultan Banten dan banyak lagi yang lainnya. (Djajadiningrat. Ditempat ini berdiri masjid Kasunyatan yang umurnya lebih tua dari masjid Agung Banten. sehingga tumbuhlah beberapa perguruan Islam di Banten seperti yang ada di Kasunyatan. karena mereka ingin melihat klenteng Cina yang dibangun pada masa sultan Banten dan konon klenteng tertua di Indonesia. Keraton Surosowan. Adapun tugasnya dalam penyebaran Islam di Banten diserahkan kepada Pangeran Hasanuddin. Gedung Timayah. Di Banten ada sebuah peninggalan kuno bangsa Cina yaitu klenteng yang saat ini merupakan Vihara Budha. lepas dari pengaruh Demak atau pun Pajang. seperti dilihat dari bentuk ± bentuk bangunan. Masjid Caringin. dan Gujarat. Masjid Kasunyatan. (Hamka. Kesultanan Banten telah mencapai masa kejayaannya dimasa lalu dan telah berhasil merubah wajah sebagian besar masyarakat Banten. kebudayaan dan ekonomi di masa itu. Cina. baik kejayaan maupun kesuraman suatu masa dalam sejarah. Dari beberapa petugas serta pengawas 27 . syarif Hidayatullah pergi ke Cirebon mengemban tugas sebagai Tumenggung di sana. (Ismail. Atas petunjuk dari Syarif Hidayatullah pusat pemerintahan Banten dipindahkan dari Banten Girang ke dekat pelabuhan di Banten Lor yang terletak dipesisir utara yang sekarang menjadi Keraton Surosowan. (Djajadiningrat. Pengaruh yang besar diberikan oleh Islam melalui kesultanan dan para ulama serta mubaligh Islam di Banten seperti tidak dapat disangsikan lagi dan penyebarannya melalui jalur politik.1954:10) Karena semakin besar dan maju daerah Banten.1983:34) Sehingga berangsur-angsur penduduk Banten Utara memeluk agama Islam. (Djajadiningrat. maka pada tahun 1552 M. prabotan rumah tangga. Setelah kesultanan Banten berakhir maka sekarang tingglallah peninggalan sejarah berupa bekas istana kerajaan dan beberapa bangunan lain seperti. Sejarah kebudayaan Cina Tertua di Banten Sejarah bisa diungkapkan lewat peninggalan-peninggalan masyarakat terdahulu dari segala segi aktivitas dan kreativitas. serta terjadinya akulturasi negara-negara lain seperti. Barulah Sultan Hasanuddin memproklamirkan Banten sebagai negara merdeka. Bangunan ± bangunan itu tidak terlepas dari pengaruh religius (Hinduisme dan Islam). Mesjid Agung dan Menara Banten. Keraton Kaibon.Setelah Pangeran Hasanuddin menginjak dewasa. di dalam usaha penyebaran agama Islam Ini Pangeran Hasanuddin berkeliling dari daerah ke daerah seperti dari G. Belanda. banyak orang-orang dari luar daerah yang sengaja datang untuk belajar. persejataan dan karya seni yang menjadi tolak ukur dari nilai-nilai budaya masysarakat pada masa itu. G. pendidikan. saat itu Kesultanan Demak runtuh dan digantikan oleh Panjang. Kadipaten Banten dirubah menjadi negara bagian Demak dengan Pangeran Hasanuddin sebagai Sultannya. Selain orang keturunan Cina yang sering berkunjung kesini banyak pula para turis macanegara dan lokal mengunjungi klenteng ini. Mesjid Pacinan Tinggi. Karang bahkan sampai ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon.1983:144) Pada tahun 1568 M.

sedangkan di ruang lainnya yang melengkapi beberapa tempat penampungan para jemaah klenteng. Agar warna cat tidak mudar dan tetap indah dipandang para pengunjung. Bangunan klenteng ini memiliki ciri khas tersendiri sama seperti bangunan-bangunan bersejarah di Banten pada umumnya. sedangkan pada koin sebaliknya diketahui huruf Manchu yang artinya tidak diketahui. Mata uang Cina yang ditemukan de Houtman di Banten (Rouffer. Bangunan bekas kantor douane itu kemudian di rubah menjadi klenteng dengan nama Bio Hud Couw. waktu itu Banten dikenal sebagai pelabuhan rempah-rempah. dan pada saat itu orang Cina di Banten lebih dari 1300 kepala keluarga. Keterangan ini hampir sama dengan yang dipaparkan oleh She Cang bahwa klenteng yang dijaganya sejak tahun 1963 samapi sekarang. Lokasi klenteng Cina ini terletak di sebelah barat bangunan Benteng Speelwijk (Benteng yang dibuat Belanda). semula rumah biasa milik seorang Kapten VOC yang diserahkan untuk dijadikan tempat sembahyang orang Cina. Cat yang banyak melekat didinding tiang serta kusen lainya memeang sering diperbaharui. tetapi bangunan klenteng amat terpelihara dengan baik dan masih berfungsi sebagai tempat peribadatan para pemeluk agama Budha hingga kini bahkan dalam perkembangannya di sekitar klenteng ini sekarang cukup banyak berdiri penginapan yang khusus di bangun untuk menampung para pengunjung klenteng dari luar kota yang ingin bermalam. pada tahun 1614 di Banten ada 4 buah perahu Cina yang rata-rata berukuran 300 ton. Meskipun klenteng ini sudah berusia 500 tahun. Intensitas kehadiran para pedagang Cina cukup meramaikan dalam perdagangan di Banten diiringi pula dengan kehadiran imigran yang berfekwensi cukup tinggi. mereka datang untuk berdagang dan melakukan perdagangan dengan cara barter/menukar dengan lada sebagai bahan utamanya. dilihat dari catatan arkeologi pada setiap tahun banyak perahu Cina yang berlabuh di Banten. juga di Indonesia . kesan tua dan membosankan untuk di pandang memenag tidak terpancar sama sekali di banguanan ini. diperoleh keterangan serupa bahwa Kleteng ini tertua di Jawa. Selain sebagai pedagang orang-orang Cina datang ke Banten sebagai imigran (Clive Day. 1915:122) sebagai tanda peran serta bangsa Cina pada perdagangan di Banten tidak bisa diangap ringan. pembangunan yang terus dilakukan secara bertahap di sekitar klenteng memang tidak merubah keaslian klenteng itu sendiri apa lagi yang terletak dibagian tengah klenteng karena diguankan sebagai altar. Kita tengok sejarah hubungan antara kesultanaan Banten dengan bangsa Cina pada masa itu. Mata uang Cina tersebut berbentuk 28 .klenteng itu. P. Penemuan mata uang Cina ini oleh tim arkeologi di Keraton Surosowan terdapat tulisan Yung Cheng T¶ung Pou = Coinage of Stable Peace yang berarti pembuatan mata uang untuk kesetabilan dan perdamaian. 1958:69). berjarak puluhan meter saja karena dipisahkan oleh sebuah parit. Klenteng ini di bangun pada masa awal Kerajaan Banten. Sedangkan menurut catatan J.000 real dengan menggunakan 6 buah perahu. Dahulu kampung Pabean memang banyak dihuni oleh orang-orang Cina daerah pelabuhan itu sangat ramai tetapi jauh dari tempat sembahyangnya orang Cina oleh karena itu kerajaan Banten memberikan bangunan kepada orang-orang Cina di Pabean sebuah bangunan besar bekas kantor bea (douane) pada masa VOC di pelabuhan Banten. Coen perahu Cina membawa barang dagangan bernilai 300. Kemudian dalam proses selanjutnya bangunan klenteng itu mengalami perluasan beberapa puluh meter di areal kosong bagian kiri kanan banguan juga bagian depan maupun belakang bangunan tersebut. hal ini lebih banyak disebabkan selain karena perluasan bangunan di sekitar bangunan asli klenteng juga beberapa pengaruh warna cet merah dengan kombinasi warna kuning yang menyala.

Patung Siwa dan Ganesha di Panaitan. . sehingga mereka tidak mampu membeli barang dagangan yang dibawa VOC. dan diameter lubang 0. misalnya jarak terhadap pusat persediaan sumber daya alam atau kita sebut sumber makanan dan air minum. 1993:36) Ujung Kulon Dalam Lintasan Sejarah Mengamati berbagai sumber sejarah di nusantara sangatlah banyak. terutama Pulau Jawa karena sistim monopoli yang tak sehat.C. ini akan menimbulkan kecintaan kita terhadap budaya nusantara yang beragam dan bercorak yang sangat menawan.Persaingan dagang yang semakin ketat dari bangsa Perancis. sebagai upaya untuk menekan biaya-baya operasional sampai pada tingkat paling minimal (1967:229-230). (Michrob. 1991:31) Pemilihan dan penentuan lokalitas pemukiman biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor.450. manusia menyelenggarakan segala upaya kulturalnya untuk memenuhi kebutuhan hidup secara maksimal. Penyebab terpenting dalam terjadinya masalah ini antara lain : .Monopoli rernpah-rempah VOC yang sering dilanggar oleh penduduk pribumi.18 cm.10-0.O. dan beberapa sisa bangunan Kolonial di Tanjung Layar. sangatlah memperhatinkan masa kita lihat mada masa V. dimana masa itu menghadapi kemunduran dalam perdagangannya karena situasi moneter dunia dan masalah di dalam tubuh VOC sendiri yang kurang sehat.(1985 : 11-25-1122).25-2. maka dapatlah dilakukan penyusunan suatu model hipotesis untuk merekonstruksi kehidupan budaya yang pernah berlangsung di Ujung Kulon Panaitan baik pada masa pra-sejarah. kesemuanya telah ditinggalkan manusia sebagai pelaku kehidupan dan terakhir dimusnahkan oleh letusan gunung Rakata (krakatau) tahun 1883 M (Michrob 1987).C. serta hasil survai dan ekskavasi. menurut K. baik yang bersifat material maupun spiritual. batu lingga di Handeuleum. muncul tumbuh dan berkembang sebagai hasil interaksi antara ekonomi terhadap tempat khusus dan taktik-taktik mobilitas barang. Seperti lukisan dinding guha di Sangiang Sirah. Secara kronologis dan hipotetis bahwa dari sisa-sisa situs dan artefak tersebut mencerminkan hamparan sisa-sisa perilaku kehidupan dan budaya manusia yang ada sepanjang sejarah dari kurun ke kurun sejarah berikutnya. disamping Inggris 29 . keadaan ini menyebabkan hutang bertumpuk. Islam dan terakhir zaman Kolonial. kubur islam di dalam guha sanghiang sirah. Data arkeologi dan sumber sejarah yang dapat diamati di Ujung Kulon Panaitan. diameter 2. chang pemukiman manusia cenderung mengelopok. Inggris dan miskinnya penduduk Nusantara.60 cm. tebal 0. Melihat rekonstuksi sejarah Tanjung Layar pada akhir abad ke 18.bulat berlubang segi empat. Setelah peninjauan dilokasi-lokasi sejarah bayak kita temui analogi-analogi terhadap daratan lain yang secara fisiografis memperlihatkan sejumlah persamaan ciri di daerah lain nusantara dengan ujung Kulon di Banten. Sementara itu lewis R Binford menyatakan bahwa pola-pola pengelompokan pemukiman manusia seperti yang terlihat setiap pola yang ada pada situs arkeologis.80 cm. (Halwany. maka Soebroto menekankan pula bahwa tipe-tipe situs arkeologis memberikan gambaran adanya hubungan erat antara pemilihan lokasi situs dengan strategi manusia masa lalu dalam memenuhi kebutuhannya. zaman hindu-budha. setidaknya memperlihatkan bahwa sekitar daratan selat Sunda ini pernah meniadi salah satu sub-sistem pemukiman dan tempat pemujaan. Ujung Kulan Panaitan memperlihatkan pada kita beberapa artefak dan sisa-sisa bangunan. Sub sistem pemukiman merupakan bentang ruang hidup manusia yang mana pada bentang ruang tersebut. pemukiman kuna di Taman Jaya dan Sumur.

karena di Surosowan akan dibangun benteng Belanda.sudah berhasil menanamnya di India sehingga pasaran rempah-rempah menurun.(Michrob. Tapi akhirnya Daendels dapat meluluh lantahkan tanah Surosowan hingga menjadi puing-puing berserakan. Keadaan ini membuat Daendels marah dan menuduh Mangkubumi Wargadiraja sebagai biang keladi larinya pekerja-pekerja itu. Surosowan dapat direbutnya menjadi kekuasaannya. barak. sehingga sultan tidak sempat lagi menyiapkan pasukannya. personil. Daendels memerintahkan supaya : a. Untuk menjalankan tugas ini Daendels membangun sarana dan prasarana pertahanan seperti : jalanjalan pos. banyak pekerja yang mati terkena penyakit malaria. untuk mnengirimkan pekerja rodi sebanyakbanyaknya agar pekerjaan yang direncanakannya cepat telaksana. Sejak itulah kepulauan Nusantara di jajah Belanda (Soetjipto. ia datang di Batavia pada tahun 1808 dengan tugas pertama mempertahankan Pulau Jawa dari serangan tentara Inggris di India. Sultan harus segera menyerahkan patih Mangkubumi Wargadiraja ke Batavia. Louis I Capoleon adiknya Kaisar Napoleon yang diberi kuasa di Belanda mengangkat Daendels sebagai Gubernur Jenderal di kepulauan Nusantara. VOC dibubarkan. Dua hari kemudian pasukan ini sampai di perbatasan kota. Semua kekayaan dan utangpiutangnya ditangani pemerintah Kerajaan Belanda. Karena sebab-sebab itulah akhirnya pada tahun 1799. Sultan harus mengirimkan 1000 orang rakyatnya setiap hari untuk dipekeriakan di Ujung Kulon. Semua itu harus segera diselesaikan dengan dana serendah mungkin. 1881). prajurit-prajurit Sultan dengan keberanian yang mengagumkan berusaha mempertahankan setiap jengkal tanah airnya. maka utusan belanda tersebut dibunuh di depan pintu gerbang kraton (Michrob. benteng. Karena permintaannya ditolak maka dengan segera dan secara sembunyi-sembunyi dikirimlah pasukan dalam jumlah yang besar yang dipimpin langsung oleh Gubenur Jendral Daendels sendiri ke Banten. Demikian juga untuk menguasai daerah-daerah yang baru dikuasai terutama di Jawa dan Madura. Banyaknya biaya yang harus dikeluarkan VOC terutama untuk membayar tentara dan pegawainya yang sangat besar.1990:21). Belanda dapat dikuasai pada tahun 1807. Sultan supaya segera memindahkan keratonnya ke daerah Anyer. Sebagian besar Eropa dikuasai Perancis kecuali Inggris. Sudah tentu tuntutan ini ditolak mentah-mentah oleh Sultan. (Chis. Sehingga banyak diantara mereka yang melarikan diri. Sedangkan patih Mangkubumi 30 . 1961:56). Sultan ditangkap dan diasingkan ke Ambon. rumah sakit tentara dan pabrik mesiu. Melalui utusan sultan yang datang ke Batavia. Namun karena kebencian rakyat yang sudah demikian memuncak kepada Belanda. pelabuhan tentara. Akan tetapi karena derahnya berawa-rawa. Serangan yang tiba-tiba ini sangat mengejutkan dan memang diluar dugaan. 1990). Halwany & Mujahid. karena memang dana dari negeri Belanda tidak bisa diharapkan. Untuk itulah dilakukan kerja paksa (kerja rodi) yaitu para pekerja bekerja tanpa upah. Pada tahun 1789 meletus suatu revolusi besar Revolusi Perancis yang menggoncangkan Eropa dibawah pimpinan Kaisar Napoleon Bonaparte. Sebagai pringatan pertama-tama dikirimlah utusan Komandeur Philip Pieter oleh pihak kolonial Belanda ke istana Surosowan (Banten) untuk menanyakan kembali kesanggupan Sultan. Pekerjaan pertama Deandles adalah membuat pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon. Tindakan ini dibalas Daendels dengan diserangnya Surosowan pada hari ltu juga yakni tanggal 21 Nopember 1808. Untuk itu Daendels memerintahkan kepada Sultan Banten. c. b. Banyaknya pegawai VOC yang melakukan korupsi.

Dalam proses pembuatan pangkalan tersebut Deandles melakukan tindakan-tindakan yang keras sehingga menambah kebencian rakyat Banten kepada pemerintahaan Belanda. Sanusi 1950:14 dan Ismail. sepanjang pantai utara Pulau Jawa. dan sebagian orang-orang Banten yang tertangkap di laut selat Sunda ataupun didaratan dipenjarakan di Ujung Kulon. Setelah Istana Surosowan hacur lebur maka diangkatlah Putra Mahkota dengan gelar Sultan Wakil Pangeran Suramanggala. Bandung. Tahap kedua dimulai tahun 1809. Dari Serang. Labuan (Pane. Jalan inilah jalan yang di sebut jalan utama atau jalan protokol.dihukum pancung dan mayatnya dilemparkan ke Laut. Karena banyak masyarakat yang membenci Pemerintahan Belanda maka timbullah perompakperompak kapal Belanda di sekitar selat Sunda di daerah laut sedangan di daratan timbul pula para pencuri yang digerakkan oleh Alim Ulama setempat yang tidak senang dengan sepak terjang pemerintahaan Belanda. Jasinga dan Sadang dimasukan ke dalam teritorial Batavia. tetapi itu tidak berarti bahwa tidak ada cabang-cabang jalan lainnya yang dilewati oleh Daendels. Caringin. Jakarta. Sumedang. tahap pertama merupakan pembuatan jalan untuk membuka poros Batavia ± Banten pada tahun 1808. maka pekerjaan pembuatan Pangkalan di Ujung Kulon dipindahkan ke daeah Anyer. Dari Anyer Melalui Pandeglang jalan bercabang dua menuju Serang (utara) dan Lebak (selatan). dan Anyer. Banten Hilir. Bogor. walaupun masih bergelar sultan.1981:27) pada tahun 1809 itu pulalah mulai dikerjakan pembuatan jalan Pos dari Anyer sampai Panarukan sepanjang 1000 km. Cirebon hingga Panarukan. Ke tiga wllayah tersebut di bawah pengawasan Landros (semacam Residen) yang berkedudukan di Serang. Cianjur. Sultan tidak mempunyai kuasa apa-apa ia hanya mendapatkan gaji 15. pada masa itu Daendels memfokuskan kegiatannya pada pembangunan dua pelabuhan di utara (Merak) dan di selatan (Ujung Kulon). Menes. wajar-wajar saja sebab pembautan jalan Deandels saat itu melaukannya dalam dua tahapan. Seperti kejadian di Cibungur dan di pantai Teluk Marica. Untuk melemahkan perlawanan rakyat Banten. Jalur ini melalui garis pantai dari Batavia menuju Carita. namun kekuasaannya tidak dapat melebihi kekuasaan sultan pada biasanya karena ia tidak lebih dari seorang pegawal Belanda. Untuk wilayah Banten Hulu diangkat Sultan Muhammad Syafiuddin. Pandeglang.000 real setiap tahun dari pemerintah Belanda. Belanda membagi daerah Banten dalam tiga wilayah yang statusnya sama dengan Kabupaten seperti. terjadi serangan Belanda ke daerah ini tapi tidak berhasil. Jalan ini dikerjakan hanya dalam tempo waktu 31 . Banten Hulu. Jiput. Benteng dan istana Surosowan Banten dibakar dan dibumi hanguskan pada tahun 1909 (Rusjan 195). Akhirnya Daendles bersama pasukannya datang ke Banten untuk menankap dan memenjarakan Sultan Banten di Batavia. menembus Gunung Palasari. Pengerjaan pembuatan Pangkalan Angkatan Laut dihentikan karena banyak pekerja yang mati dan sakit disebabkan daerah proyek Pangkalan tersebut berupa rawa-rawa. (Sanusi Pane. Tangerang. Kesimpangsiuran informasi itu menurut Halwany Michrob. Daendelas mencurigai Sultan Banten sebagai dalang kerusuhan-kerusuhan yang sering terjadi. Puncak. Belanda dapat menguasai Cibungur dan di pantai Teluk Marica (Pane sanusi 1950 b:11). Lebak hingga Jasinga (Bogor). rute selanjutnya Ke Tangerang. Selanjutnya Banten dan Lampung dinyatakan sebagai daerah jajahan Belanda. 1950 b:II). putra Sultan Muhyiddin Zainul Solihkin yang berkedudukan di Caringin. akhirnya Belanda melakukan serangan lagi yang dipimpin langsung oleh Daendels sendiri dan hasilnya tidak mengecewakannya.

berbagai cerita rakyat (folklore) yang masih hidup dalam ingatan masyarakat. teknologi. "Calapa" (Sunda Kelapa) dan "Chemano" (Cimanuk). Terbukti dengan hadirnya para ulama. dalam naskah Pujangga Manik (Pajajaran). Pandeglang. di samping "Pongdam" (Pontang). Banten menunjukkan adanya dua kelompok etnisitas. "Cheguide" (Cigading). Kategori yang disebut terakhir ini terlihat pada karya-karya arsitektur. Selain itu. "Tamgaram" (Tangerang). namun jalan-jalan itu dalam perkembangan selanjutnya banyak dipengaruhi kehidupan masyarakat disekitarnya dan telah berubah fungsinya antara lain mejadi jalan ekonomi atau jalan umum dan kini sudah banyak bangunan disekitarnya. Dilihat dari segi demografi. babad. meliputi Kabupaten Serang. atau yang dapat ditafsirkan sebagai Banten. menunjukkan bahwa nama Banten. yaitu: (1) sub etnik 32 . maka rakyat menghentikan bantuannya. maupun warisan budaya material dalam pengertian yang luas. misalnya. catatan Tome Pires (1512-1515) menyebut "Bantam" sebagai salah satu pelabuhan penting Kerajaan Sunda. Pembangunan jalan Daendels dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur) sejauh 1000 km pada tahun 1809 ± 1810 yang bertujuan untuk mempercepat tibanya surat-surat yang dikirim antar Anyer hingga Panarukan atau sebagai jalan pos. namun setelah terjangitnya penyakit malaria dan banyak yang tewas. yang dituturkan oleh kelompok sub etnik Banten. yang berasal dari awal abad ke-16. Pada tahun 1808-1809 Daendles mulai pembuatan jalan dengan rute Batavia-Banten tahap pertama. Pada abad 16-18 Banten kemudian berkembang menjadi label wilayah politik dan nama Kesultanan yang bercorak Islam. Walaupun demikian Daendels semakin keras menghadapi rakyat. pada saat itu rakyat masih mau menghimpun kekuatan untuk melaksanakan perintah paksa Daendles. yang tersebar di seluruh pelosok Banten. Lebak. pesantren dan qari-qariah. atau buku-buku keagamaan. seperti Babad Nagarakartagama (1345 M). toponim Banten juga memiliki kaitan dengan Banten Girang. prasasti Kaban-tenan menyebut nama "Bantam". Bahkan. Banten Girang Gerbang Kerajaan Banten Nuansa Islam dalam budaya Banten nampaknya cukup kuat hingga saat ini. begitu pun pembuatan proyek pelabuah maritim di Uiung Kulon (Tanjung Layar) yang banyak mengorbankan jiwa manusia karena disana masih banyak binatang buas.000 orang dan banyak yang meningal tampa dikuburkan secara layak. Kajian Suwedi Montana. seperti Cina Parahyangan yang menyebut istilah "Wahanten Girang". tampak dari sejumlah historiografi lokal. Hal ini berdasarkan fakta bahwa toponim Banten tidak dicantumkan dalam naskah yang lebih tua.satu tahun dengan mengorbankan beribu-ribu rakyat Banten. Tangerang dan Kotamadya Tangerang. Banten sebenarnya merupakan toponim yang memiliki aspek ruang. dan Purwaka Caruban Nagari yang memuat istilah "Kawungaten". Selain itu. baik produk-produk kesusasteraan seperti naskah-naskah. menurut beberapa sejarahwan Indonesia.Budaya Banten bisa diidentifikasi dengan menelusuri. yang meninggal sekitar 15. ia tidak segan-segan memerintahkan tentaranya menembak mati rakyat yang lalai atau tidak mau bekerja dalam pembuatan jalan apapun alasannya. kesenian dan sebagainya. Berdasarkan naskah-naskah yang ada. nama toponim Banten belum dimuat. dan secara geografis masih sering dikaitkan dengan bekas Karisidenan Banten. Karena banyaknya korban pada pembuatan jalan Batavia-Banten masih simpang siur. Banten Lama dan Banten Hilir. diduga kuat bahwa toponim Banten Baru muncul pada akhir abad ke-15 M.

Sekaligus dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten ternyata jauh lebih awal dari perkiraan semula dengan ditemukannya bukti baru bahwa Banten sudah ada di awal abad ke 11 ± 12 Masehi. 33 . keramik. melihat makin berkembangnya komunitas ulama dan pedagang Islam yang semakin memiliki peranan penting di kota pelabuhan ³Hindu´. yang berdiri pada abad ke 14 dengan ibukotanya Pakuan yang berlokasi di dekat kota Bogor sekarang ini. Pelabuhan Kalapa. Dari beberapa data mengenai Banten yang tersisa. kurangnya dokumentasi mengenai Banten. tembaga. bangsa Portugis memulai perdagangan dengan bangsa Sunda. Walaupun Kerajaan Pajajaran masih berdiri. Wilayah ini dikenal dengan nama ³Banten Girang´ atau Banten di atas sungai. Berdasarkan catatan. lokasi awal dari Banten tidak berada di pesisir pantai. Masyarakat Sunda. yang berbatasan dengan sub etnik Betawi. yang menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera. memandang serius ekspansi Islam. Secara nyata. Mata uang logam (koin) sudah digunakan sebagai alat pembayaran. namun kekuasaannya mulai menyusut. pengrajin besi. Kemungkinan besar. Walaupun dengan keterbatasan penelitian. dan beberapa kawasan di India. mulai dari daerah Tangerang di sebelah utara. Bangsa Portugis telah mendokumentasikan keberadaan Banten dan sekitarnya pada awal abad ke 16. di bagian selatan dari Kota Serang sekarang ini. tidak ada keputusan final yang dapat diambil sebelum penelitian dilakukan lebih lanjut. terutama pada masa sebelum masuknya Islam. Bangsa Cina juga sangat berminat pada jenis rempah rempah ini. Keberadaanya sedikit dihubungkan dengan masa kejayaan maritim Kerajaan Sriwijaya. Dan juga dikaitkan dengan keberadaan Kerajaan Sunda Pajajaran. melainkan sekitar 10 Kilometer masuk ke daratan. dan hubungan internasional sudah terjalin dengan China. kurang lebih 15 tahun sebelum Kerajaan Islam Banten terbentuk. yang sekarang dikenal sebagai Jakarta. Ketertarikan utama mereka adalah pada Lada yang banyak terdapat di kedua sisi Selat Sunda. tidak lagi dapat dipertahankan. perhiasan emas dan manik manik kaca. dan kapal Jung mereka telah berlayar ke pelabuhan Sunda setiap tahunnya untuk membeli lada. baru berlangsung setelah masuknya Dinasti Islam di permulaan abad ke 16. dan Pelabuhan Banten. sampai Anyer-Cilegon di sebelah selatan barat.Banten Pesisiran yang membentang sepanjang pesisir utara Jawa Barat. Kerajaan ini mempunyai dua pelabuhan utama. Penelitian yang dilakukan di lokasi Banten Girang di tahun 1988 pada program Ekskavasi Franco ± Indonesia. Setelah menguasai Malaka pada tahun 1511. dapat diketahui. di tepi sungai Cibanten. Tidak banyak yang diketahui mengenai sejarah dari bagian terbarat pulau Jawa ini. tapi dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten sudah berlangsung sangat lama dan teori bahwa keberadaannya dimulai pada saat terbentuknya Kerajaan Islam di Banten. Kelemahan ini tidak luput dari perhatian Kerajaan Islam Demak. namun banyak bukti baru yang ditemukan. (2) sub etnik Banten-Sunda yang wilayah huniannya mulai dari Serang Selatan (Banten Girang) sampai ke pedalaman selatan berbatasan dengan Samudera India. Semenanjung Indochina. Beberapa dekade sebelumnya Kerajaan Demak telah menguasai bagian timur pulau Jawa dan pada saat itu bermaksud untuk juga menguasai pelabuhan Sunda. Banten pada masa itu sudah merupakan kawasan pemukiman yang penting yang ditandai dengan telah dikelilingi oleh benteng pertahanan dan didukung oleh berbagai pengrajin mulai dari pembuat kain. nama ini diberikan berdasarkan posisi geografisnya. dikarenakan posisi Banten sebagai pelabuhan yang penting dan strategis di Nusantara. berhasil menemukan titik terang akan sejarah Banten. yang menguasai Selat Sunda.

mengirim utusan ke Banten. Sebagaimana telah sebelumnya dilakukan di Jawa Tengah. baik atas inisiatifnya sendiri maupun atas seizin Pakuan. Tahun 1522 Masehi. sebagai ganti dari perlindungan yang diberikan. Jakarta ini. Pemilihan pembuatan benteng di daerah Tangerang tidak diragukan lagi untuk dua alasan : yang pertama. bagian utara Sumatera setelah tinggal beberapa lama di Mekah dan Demak. Kaum Muslim. Dan adalah puteranya. situasi politik telah sangat berubah dan sehingga armada Portugis gagal untuk merapat ke daratan. yang telah berulangkali datang berniaga ke Banten. tidak terlalu dekat dengan kota Banten. Seorang ulama yang sekarang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Kepala Pusat Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas. Otoritas Banten. Hasan Muarif Ambari. agar Portugis dapat menahan kapal yang berlayar dari Demak. Sadar akan adanya perjanjian antara Portugis dengan penguasa sebelumnya. Portugis di Malaka. akan tetapi Ia tetap meminta Demak mengirimkan pasukan untuk menguasai Banten ketika Ia menilai waktunya tepat. Islam mengambil alih kekuasaan pada tahun 1527 M bertepatan dengan datangnya armada Portugis. yaitu Kalapa dan Banten. Aplikasi dari perjanjian ini adalah adanya kesepakatan kekuasaan yang tak terbatas bagi Portugis. Negosiasi ini di mulai tahun 1521 Masehi. Banten. penduduk asli Pasai. bangsa Portugis menawarkan perlindungan ganda. dan yang kedua untuk menahan agar armada Portugis yang sangat kuat pada saat itu. yang memegang kekuasaan politik di Banten. Dr. Hasanudin dinobatkan sebagai Sultan Banten oleh Sultan Demak. Dan Banten dipilih sebagai ibukota Kerajaan baru tersebut. mungkin hanya dapat dikenali dengan merunut kembali peristiwa sejarah transformasi pusat administrative politik dari Banten Girang di pedalaman . Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia" (penerbit Logos) memperlihatkan fase-fase pertumbuhan perkembangan budaya Banten dalam panggung sejarah. Lima tahun yang panjang berlalu.Menghadapi ancaman ini. dapat menawarkan komoditas lada bagi Portugis. dimana sebelumnya juga telah memegang kekuasaan ekonomi. memohon kepada bangsa Portugis di Malaka. yang sadar akan pentingnya urusan ini. yang dipimpin oleh Henrique Leme. yang bertanggungjawab akan pembangunan benteng. dalam bukunya "Menemukan Peradaban.yang berada di bawah subordinasi Pakuan Pajajaran yang Hinduistik ke daerah pantai yang sekarang dikenal dengan Banten Lama. Sementara itu. Peristiwa transformasi tersebut berlangsung pada tahun 1526 oleh Syarif Hidayatullah dan Maulana Hasanuddin. sekarang merupakan kelas sosial baru. Walaupun pada awalnya kedatangannya diterima dengan baik oleh pihak otoriti. Islam mencegah siapapun untuk merapat ke Banten. Sejak itu embrio dan fondasi masyarakat dan budaya Banten diletakkan dan ditetapkan dalam format yang berciri keislaman. Kelihatannya Kaum Muslim menguasai secara serempak kedua pelabuhan utama Sunda. Kemurah hatian yang sangat tinggi ini menggaris bawahi tingginya tingkat kesulitan yang dihadapi Banten. Hasanudin. pada saat itu telah menetap di Banten Girang. bangsa Portugis sangat anti Islam. dan armada lautnya sangat kuat dan menguasai perairan di sekitar Banten. dan diperkenankan untuk membangun benteng di pesisir dekat Tangerang. Portugis akan diberikan akses tak terbatas untuk persediaan lada. penguasaan yang tidak lagi dapat ditolak oleh Pakuan. di sisi lain. Masyarakat dan budaya Banten. Putera Sunan Gunung Jati. sebelum akhirnya armada Portugis tiba di pesisir Banten. di bawah pimpinan Francisco de Sá. terutama dengan alam dan budaya Islamnya. Depdikbud Rl) yang juga staf peneliti pada Pusat Pengkaian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. sebuah dinasti baru telah terbentuk pada saat yang sama kerajaan yang baru didirikan. yang juga menikahkan adiknya dengan Hasanudin. Di mata otoritas Banten. yang memimpin operasi militer di Banten. Perjanjian dibuat antara kedua belah pihak. dirunut dalam fase-fase berikut: 34 . Dengan itu. dengan tujuan utama untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Prof.

Setelah Kesultanan Banten dihapuskan oleh Belanda timbul berbagai pergolakan. (4). Pesantren terus menerus menghasilkan kader dan para ulama tetap berdakwah. dan Turki datang melakukan transaksi perdagangan di Bandar Banten. Hindia Belanda terkena imbas perang Napoleonik/Rep. dan Anyer) di bawah pengawasan landraad (setara residen). Denmark. sehingga etnis terakhir ini telah membentuk satu komunitas tersendiri yang memberi sumbangan besar bagi perkembangan perdagangan di Banten. perang kemerdekaan. perpindahan pusat pemerintahan dan mulai berkembangnya Banten sebagai pelabuhan . awara dalam kehidupan masyarakat Banten 35 . Pada masa ini terjadi transformasi keagamaan. (6). Banten telah berhubungan dengan Cina. (2). Sebelumnya. Pada masa itu Banten merupakan daerah bawahan kerajaan Pakuan Pajajaran yang Hinduistis. Kesultanan Banten.alternatif setelah Malaka. Rakyat mulai mengarahkan orientasi kepemimpinan dari raja/sultan kepada para ulama/mubaligh/kiyai. dan pilihnya tingkat kemakmuran masyarakat Banten. dari segi budaya Banten dapat disetarakan dengan masyarakat kota seperti Mataram dan Cirebon. yang tidak memperlihatkan adanya dominasi satu kekuatan politik tertentu terhadap kekuatan politik lain: yakni penyerangan Banten ke Batavia. (5). Fase Pra-Sunda Islam (1400-1525). Banten mencapai puncak ketinggian budaya (tamaddun Islam). Fase Penguasaan (VOC) Belanda. pendudukan Jepang. budaya pesisiran dan budaya pedalaman di daerah selatan Banten (kecuali daerah Baduy) terus menerus memantapkan keislamannya. bencana alam (meletusnya Krakatau dan wabah penyakit sampar). pendirian Benteng Speelwik yang langsung atau tidak langsung memperlihatkan wujud hubungan antara Banten dan VOC. Oleh karena itu. pemindahan administrasi politik ke Serang Surosowan dihancurkan. yakni satu fase tanpa adidaya di mana seluruh kekuatan politik dan ekonomi yang ada di Banten memiliki kekuatan yang seimbang (armada dagang Eropa. Banten Hilir. (3). Fase Keseimbangan Kekuatan. Fase awal Penyebaran Islam (1525-1619). yang bermula sejak pertumbuhan Islam di Banten. Fase Surut dan Jatuhnya Kesultanan Banten. pada tahun 1809 pembuatan jalan raya Daendells. blokade Belanda atas Teluk Banten. interval penguasaan Inggris (1811-1816). yang berpusat di Banten Girang (Kota Serang sekarang). Fase Mutakhir. Portugis. dengan komponen-komponen arsitektur dan monumental berciri Islam. Dalam situasi seperti ini. Batavia dan Mataram). masih berkembangnya "kota" Surosowan dan lain-lain. Batavia. Pada fase inilah. pemberontakan dan perlawanan rakyat dipimpin oleh para ulama/bangsawan. suatu fase di mana Islam disiarkan oleh Sunan Gunung Jati dari Cirebon dan Maulana Hasanuddin yang beraliansi dengan Demak. Di balik semua kilas balik sejarah ini. tumbuh dan kuatnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. Cirebon. Keseimbangan kekuatan ini di antaranya bisa dilihat dari beberapa peristiwa politik yang berlangsung saat itu.(1). didirikannya Keraton Kaibon dan dipecahnya bekas wilayah Kesultanan Banten menjadi tiga daerah setara Kabupaten (Banten Hulu. Para pedagang Inggris. telah menyebabkan pertumbuhan dan ramainya perdagangan. dan sampai sekarang memasuki masa pembangunan. hal yang tetap hidup dan terus mengakar pada masyarakat Banten adalah kultur Islam. Pendirian kota Banten Sorasowan.

Bekasi-Pantura. jawara dianggap sebagai ³khodam´ nya para ulama. Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah. menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural. Penafsiran Sejarah Istilah Jawara Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat. pamong praja dan jawara merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. Dari stamboom yang ada. tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten. keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap eksis. yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. sebagai ³negeri para ulama dan jawara´. Sebagai subkultur kekerasan. Taufik Djajadiningrat. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore. Tesis S2 UI). yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam. kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat ³stamboom´ bukan ³geschiedenis´ atau ³history´. Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten. keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Berbeda dengan kedudukan ulama. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. kesultanan Banten. Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya. sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul. dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Belakangan. ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya. Namun diantara ketiganya. jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Karena dari para ulamalah sebagian besar ³keilmuan´ jawara itu berasal. bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. dan masa kolonial Belanda. mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. yaitu masa kerajaan Sunda. karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini.Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan Banten khususnya. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas. yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang. Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (RM. Oleh karena itu. yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). Sejarah dan Silsilah 36 . Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara. Seiring dengan perjalanan waktu. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani.

istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang. dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki tangannya. ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. F. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat. memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka. keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara. istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. Pada perkembangannya. Dalamperkembangan selanjutnya. Penafsiran ketiga. pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu ³kadugalan´ yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane. Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat. 37 . dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. Penafsiran kedua. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya. 1995 : 121-122). Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. yang bermakna harfiah sebagai ³bayi yang menjelang dewasa´. S. apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Penafsiran keempat.S menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. militan dan mampu mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin. Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. Putman Craemer. Miftahul Falah.Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat. Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan. tetapi juga membela dan melindunginya. Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak. Residen Banten (1925-1931). seperti jago dalam menyabung ayam. yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat.G. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban. sampaisampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka.

jawara sangat patuh kepada ulama. istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat. Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif. tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. pengacau. Jagoan. Terminologi Jawara. Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial. ongergeldheden (pemberontakan). mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar. kesultanan Banten. Berbeda dengan Jagoan. complot (komplotan). Berbeda dengan perampok atau pencuri. Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat. kata ini berasal dari kata dasar ³jago´ yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya ³champion´ atau juara (Ridwan Saidi. dan onrust (ketidak amanan). sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok ³kejawaraan´ nya itu sendiri. Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20. maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara. namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah ³potong letter´ lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri ³maenpukulan´ atau pencak silat. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan permasalahan. 38 . Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama. Jawara yang merasa citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda. dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa. Selain itu. yang merupakan akronim dari jalma wani nga-rampog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong (jalma wani nga-rahul). karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. dikenal dengan peristiwa Perang Pertama. dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat.Penafsiran kelima. baik semasa kerajaan Sunda. dan Preman Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. Seiring dengan perkembangan waktu. Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. berusaha mengcounter dengan istilah jalma jago nu wani ramah (orang yang jagoan berani dan ramah). Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. dan perampok. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan. yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran). Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. woelingen (kekacauan). Pada umumnya.

Glosari Betawi: 43). bukan tentara. seperti yang tersirat dalam buku berjudul ³The Sultanate of Banten´ secara resmi diserahkan oleh Duta Besar Perancis Patrick O¶Cornesse. Vrijman yang bermakna ³orang bebas´ atau dalam bahasa Inggris disebut free man. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya. 2. Bahkan banyak pula melakukan manuver-manuver dalam sistem perdagangan. kepada bupati Serang Mas Ahmad Sampurna dipendopo kabupaten Serang beberapa tahun yang lalu. karena dalam persaingan perdagangan internasional. orang yang kuat. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman. Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak. BP Jakarta 1996 Miftahul Falah. STAIN Serang. 2002 Kota Banten. Terlebih dalam kemapuan berpolitik. Taufik Djajadiningrat. tukang pukul dan pemberani. fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. sipil. hal ini yang membuat cemas bangsa Eropa. 39 . Glosari Betawi. Sumber tulisan: Atu Karomah. ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta1995 Tasbih & Golok. Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas. S. sudah menjalin hubungan perdagangan dengan bangsa Eropa dan Asia disekitarnya. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda. Lalu bagaimana dengan preman?. Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten. Amsterdam di Hindia Belanda Banten menurut data historis dan arkeologis kira-kira pada 450 tahun yang lalu. Jakarta1995 Ridwan Saidi. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. hendaknya kita masih dapat membedakan makna. Banten merupakan pesaing yang cukup disegani oleh bangsa Eropa pada masa itu. pada saat zaman Sultan Maulana Yusuf yang dikenal dengan julukan Penembahan Pakalangan yaitu sekitar tahun 1570. partikelir. non pemerintah. jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar. Cerita ini merupakan bukti bahwa sistem perdagangan zaman kesultanan tidak dapat diremehkan. Disisi lain menurut tradisi lisan. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya.S. swasta. Tesis S2 UI. Jakarta 2007 RM. yaitu: 1. Dari tiga terminologi di atas. kuli yang bekerja menggarap sawah. jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan ³tukang pukul´ dan seorang yang suka berkelahi. Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten. juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. Secara hirarki. Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain.

atau Bantahan menurut sebutan negara Barat. Banten menjadi pusat persaingan dan perebutan kongsi perdagangan Eropa. Akhirnya pada tahun 1660-an Sultan Haji memerintahkan 40 . juga berkembang menjadi satu kota muslim yang bersaing dengan negara-negara Arab dalam memiliki istana. Begitu pula penduduk di daerah Sumatera diwajibkan untuk menanam 500 pohon lada dan hasilnya dikirimkan ke Kota Banten. Lada ini lah yang sangat di gemari oleh bangsa Eropa termasuk bangsa Sepanyol yang mengintruksikan Magellan dan Portugal untuk mencari lada di Banten pada tahun 1519. Menurut catatan sejarah kesultanan Banten pada tahun 1527 berkembang menjadi pusat perdagangan.Buku dalam bahasa Inggris dengan kata pengantar oleh Menteri Pendidikan pada saat itu dijabat bapak Fuad Hasan. Dengan tidakan ini bangsa Eropa menilai Banten sudah menjadi Imperium Lada. dikenal sebagai kota metropolitan sekaligus kota yang produktif. saat itu Banten masih dibawah Kerajaan Pajajaran yang beragama Hindu. mengagumi Banten dan menjadikannya satu pelabuhan kosmopolitan besar pada abad 17. Banten di masa itu merupakan pusat peniagaan dunia. Kedua raksasa Eropa ini terlibat pertempuran untuk merebutkan pasar dan pusat produksi lada. penelitian tersebut bertujuan untuk mengangkat kembali kebesaran masa silam bangsa indonesia. Perdagangan lada ini begitu ramai dan menguntungkan. kota Banten Lama yang didirikan 1526 dipesisir utara Jawa Barat (sekarang Provinsi Banten). Portugis segera menjalin perdagangan dengan Makasar dan Banten. Perdagangan lada di Banten sangat ramai karena mutu jenis lada di Banten lebih baik dibadingkan mutu lada dari Malabar dan Aceh. terutama pada 1570 samapi abad 19. kemasyurannya tetap tersimpan dalam kenangan bangsa perancis kata O¶Cornesse. pasar dan juga masjid besar. Perancis atau bangsa Eropa lainnya. Kota Banten. sehingga para sultan Banten mengambil strategi untuk mengendalikan sepenuhnya komoditi tersebut. sama pula yang diungkapkan oleh Vincent Leblanc asal Perancis waktu tiba di Banten pada abad 16. khususnya Belanda dan Portugis. Menurut Cornelis de Houtman asal Belanda pada tahun 1596 Banten disebut Kota Pelabuhan dan Perdagangan yang sama besar dengan Kota di Amsterdam saat itu. Banten bertambah penting posisinya sebagai kota perdagangan internasional setelah Malaka jatuh ketangan Portugis. Selain Malaka. Sebelum Banten menjadi Kota Muslim. Karena dilihat dari sarana dan pra sarana sejak dulu seperti Pelabuhan Karangantu yang menarik para pedagang Eropa dan Asia. sekaligus berdagang langsung dengan Bangsa Eropa dan Asia lainnya. Malaka akhirnya jatuh ketangan Belanda pada tahun 1641. beliau mencari hasil bumi terutama LADA dan beliau berucap bahwa Kota Banten ini hampir sama dengan Kota Rouen di negerinya yang ramai dengan para pedang. Menurut Dubes O¶Cornesse. Banten terkenal dalam perdagangan Ladanya yang menjadi daya tarik bangsa Eropa. Pada tahun 1522 Protugis mengadakan perjanjian dagang dengan para pengusaha Banten. penelitian ini berlangsung hingga tahun 1987. Banten Sadar pentingnya armada dagang untuk menguasai dan mempertahankan industri lada. isi dari buku ini merupakan hasil dari para peneliti yang bekerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Prancis dengan sasaran penelitian adalah untuk merawat dan merestorasikan kerajaan serta kesultanan Banten. terutama kesultanan Banten yang telah terkubur dalam tanah dan dalam arsiparsip yang ada di Eropa. sebelum melakukan petualangannya untuk mengelilingi dunia. Di Banten pusat industri untuk produksi lada adalah di Kampung Pamarican yang masih dikenal hingga kini. Para sultan mengadakan tindakan pengetatan pada hasil produksi lada di Banten. dengan cara menginstruksikan semua penduduk di pedalaman ataupun di kota untuk membawa hasil lada mereka ke Kota Banten. untuk diolah dengan standar mutu tinggi.

Syarif Makkah saat itu.1687 Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690) Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733) Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752) Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750) Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753) Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773) Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799) Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801) Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802) Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803) Aliyuddin II (1803-1808) Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809) Muhammad Syafiuddin (1809-1813) Muhammad Rafiuddin (1813-1820) 41 . Pulau Panaitan. Vietnam. Berita yang paling meyakinkan tentang hubungan Banten dengan Eropa.1640 (dianugerahi gelar tersebut pada tahun 1048 H (1638) oleh Syarif Zaid. Peta ini dibuat pada tahun 165 M. Dengan armadanya yang kuat akhirnya Banten mampu berdagang langsung dengan Mekkah. Siam. Kamboja. Kesultanan Banten memasuki persaingan perdagangan lada internasional yang sangat ramai pada kurun waktu antara tahun 1651 dan tahun 1672 sampai VOC (Belanda) merebut Banten pada tahun 1682. berdasarkan tulisan geograf Starbo (27 .1590 Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 .14 SM) dan Plinius (akhir abad pertama masehi). 1978: 21-38). Dalam peta ini digambarkan tentang jalur pelayaran dari Eropa ke Cina dengan melalui: India. India dan Cina adalah dengan diketemukannya peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus. Taiwan dan Jepang. ujung utara Sumatra. terus melalui Laut Tiongkok Selatan sampai ke Cina (Yogaswara. Selat Sunda.1570 Maulana Yusuf 1570 .) Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad 1640 . saat kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa Abulfathi Abdul Fatah dan Sultan Haji Abunhasr Abdul Kahhar. India. dan bangsa Inggris dipercaya untuk membangun armada tersebut.1650 Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680 Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 .1580 Maulana Muhammad 1585 . Daftar pemimpin Kesultanan Banten y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y Sunan Gunung Jati Sultan Maulana Hasanudin 1552 . kemudian menyusuri pantai barat Sumatra.pembangunan armada kapal dagangnya dengan model seperti kapal-kapal Eropa. Vietnam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful