P. 1
Modul Kekayaan Negara yang Dipisahkan

Modul Kekayaan Negara yang Dipisahkan

|Views: 647|Likes:
Published by Ahmad Abdul Haq

More info:

Published by: Ahmad Abdul Haq on Jan 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/06/2012

pdf

text

original

1. LATAR BELAKANG

Sebagai suatu unit di dalam Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Perguruan Tinggi Negeri secara hukum tidak
dapat memiliki otonomi. Demikian juga akuntabilitas kepada
masyarakat (stakeholders) amat sulit untuk secara utuh
dimintakan kepada Perguruan Tinggi Negeri sebagai unit
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sedangkan
kredibilitas hanya akan dapat diperoleh apabila kedua hal
tersebut, otonomi dan akuntabilitas, secara nyata dimiliki dan
diterapkan.

Oleh karena itu Perguruan Tinggi Negeri harus diubah status
hukumnya menjadi badan hukum yang mandiri, terlepas dari
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

2. DASAR HUKUM

Sebagai landasan hukum dalam kerangka peraturan
perundangan-undangan yang berlaku di Republik Indonesia,
Pasal 1653 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Staatsblad
1847 nomor 23) memberi kewenangan kepada Pemerintah
untuk mendirikan suatu badan hukum. Sedangkan Pasal 5
ayat(2) Undang-undang Dasar 1945 memberi kewenangan
kepada Pemerintah untuk mengundangkan Peraturan
Pemerintah sebagai pelaksanaan Undang-undang dalam hal ini
Undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Selanjutnya dengan berlakunya Peraturan Pemerintah
ini semua Perguruan Tinggi Negeri dapat diubah status
hukumnya menjadi badan hukum dengan menggunakan
Peraturan Pemerintah ini sebagai pedoman.

DTSS Pengelolaan Kekayaan Negara
Pusdiklat Keuangan Umum

Kekayaan Negara Yang Dipisahkan
Kekayaan Negara Yang Dipisahkan

Modul : Penatausahaan Kekayaan Negara yang Dipisahkan

44

3. PENGERTIAN

Perguruan Tinggi Negeri adalah perguruan tinggi yang
diselenggarakan oleh, dalam hal ini Departemen yang
bertanggung jawab atas pendidikan tinggi. Perguruan Tinggi
adalah Perguruan Tinggi Negeri yang berbentuk Badan Hukum.
Sedangkan Menteri Keuangan adalah Menteri yang
bertanggung jawab untuk mewakili pemerintah dalam setiap
pemisahan kekayaan negara untuk ditempatkan sebagai
kekayaan awal pada Perguruan Tinggi.

Status hukum Perguruan Tinggi adalah badan hukum yang
mandiri dan berhak melakukan semua perbuatan hukum
sebagaimana layaknya suatu badan hukum pada umumnya.
Pada dasarnya penyelenggaraan Perguruan Tinggi bersifat
nirlaba. Walaupun demikian Perguruan Tinggi dapat
menyelenggarakan kegiatan lain dan mendirikan unit usaha
yang hasilnya digunakan untuk mendukung penyelenggaraan
fungsi-fungsi utama Perguruan Tinggi.

4. PENETAPAN PERGURUAN TINGGI

Perguruan Tinggi ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah
setelah melalui suatu proses pengkajian yang mendalam atas
usulan dan rencana pengembangan yang diajukan oleh
Perguruan Tinggi Negeri. Dimana Peraturan Pemerintah yang
menetapkan Perguruan Tinggi Negeri sebagai Perguruan Tinggi
sekurang-kurangnya memuat:

1. penetapan Perguruan Tinggi sebagai badan hukum;

2. Anggaran Dasar Perguruan Tinggi;

3. penunjukkan Menteri Keuangan selaku wakil Pemerintah
untuk mengawasi pemisahan kekayaan negara untuk
ditempatkan sebagai kekayaan awal pada Perguruan
Tinggi;

4. penunjukkan Menteri Pendidikan untuk melaksanakan

DTSS Pengelolaan Kekayaan Negara
Pusdiklat Keuangan Umum

Kekayaan Negara Yang Dipisahkan
Kekayaan Negara Yang Dipisahkan

Modul : Penatausahaan Kekayaan Negara yang Dipisahkan

45

pembinaan Perguruan Tinggi secara umum.

Syarat-syarat untuk sebuah Perguruan Tinggi Negeri dapat
ditetapkan sebagai Pergururan Tinggi mencakup kemampuan:

1. menyelenggarakan pendidikan tinggi yang efisien dan
berkualitas;

2. memenuhi standar minimum kelayakan finansial;

3. melaksanakan pengelolaan Perguruan Tinggi berdasarkan
prinsip ekonomis dan akuntabilitas.

5. KEKAYAAN PERGURUAN TINGGI

Kekayaan awal Perguruan Tinggi berasal dari kekayaan
Negara yang dipisahkan dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja. Besarnya kekayaan awal Perguruan Tinggi adalah
seluruh kekayaan negara yang tertanam pada Perguruan Tinggi
yang bersangkutan, kecuali tanah, yang nilainya ditetapkan
oleh Menteri Keuangan berdasarkan perhitungan yang
dilakukan bersama oleh Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan dan Departemen Keuangan. Hal ini dengan
maksud untuk menghindari adanya pemanfaatan yang tidak
sesuai dengan kepentingan Perguruan Tinggi, mengingat tanah
merupakan aset tetap yang sangat signifikan nilai dan
manfaatnya.

Sedangkan

kekayaan

Negara

berupa

tanah
dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan Perguruan Tinggi
yang bersangkutan. Hasil pemanfaatan kekayaan Negara
berupa tanah menjadi pendapatan dari Perguruan Tinggi dan
dipergunakan untuk pelaksanaan tugas dan fungsi Perguruan
Tinggi.

Penatausahaan pemisahan kekayaan Negara untuk
ditempatkan sebagai kekayaan awal Perguruan Tinggi
diselenggarakan oleh Menteri Keuangan. Belum adanya
melanisme penatausahaan atas kekayaan Negara perguruan

DTSS Pengelolaan Kekayaan Negara
Pusdiklat Keuangan Umum

Kekayaan Negara Yang Dipisahkan
Kekayaan Negara Yang Dipisahkan

Modul : Penatausahaan Kekayaan Negara yang Dipisahkan

46

Tinggi oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Negara,
mengakibatkan adanya dual counting dalam pencatatannya
baik oleh Perguruan Tinggi itu sendiri maupun Departemen
Pendidikan Nasional.

6. PENETAPAN PERGURUAN TINGGI NEGERI SEBAGAI BHMN

Sampai dengan Tahun 2006 telah ada 7 (tujuh) Perguruan
Tinggi yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah yaitu:

1. Universitas Indonesia

Universitas Indonesia ditetapkan sebagai BHMN dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 152 Tahun 2000 tanggal 26
Desember 2000 tentang Penetapan Universitas Indonesia
Sebagai Badan Hukum Milik Negara.

2. Universitas Gadjah Mada

Universitas Gadjah Mada ditetapkan sebagai BHMN dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 153 Tahun 2000 tanggal 26
Desember 2000 tentang Penetapan Universitas Gadjah
Mada Sebagai Badan Hukum Milik Negara.

3. Institut Pertanian Bogor

Institut Pertanian Bogor ditetapkan sebagai BHMN dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 154 Tahun 2000 tanggal 26
Desember 2000 tentang Penetapan Institut Pertanian Bogor
Sebagai Badan Hukum Milik Negara.

Nilai kekayaan awal Institut Pertanian Bogor setelah
dilakukan penilaian oleh Tim Penilai dan Inventaris Barang
Milik Negara pada Institut Pertanian Bogor adalah sebesar
Rp628.359.965.801,00 (enam ratus dua puluh delapan miliar
tiga ratus lima puluh juta delapan ratus satu rupiah) sesuai
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 698/KMK.06/2006
tanggal . . . .

4. Institut Teknologi Bandung

Institut Teknologi Bandung ditetapkan sebagai BHMN

DTSS Pengelolaan Kekayaan Negara
Pusdiklat Keuangan Umum

Kekayaan Negara Yang Dipisahkan
Kekayaan Negara Yang Dipisahkan

Modul : Penatausahaan Kekayaan Negara yang Dipisahkan

47

dengan Peraturan Pemerintah Nomor 155 Tahun 2000
tanggal 26 Desember 2000 tentang Penetapan Institut
Teknologi Bandung Sebagai Badan Hukum Milik Negara.

5. Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara ditetapkan sebagai BHMN
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2003
tanggal 11 November 2003 tentang Penetapan Universitas
Sumatera Utara Sebagai Badan Hukum Milik Negara.

6. Universitas Pendidikan Indonesia-Bandung

Universitas Pendidikan Indonesia ditetapkan sebagai BHMN
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2004 tanggal
30 Januari 2004 tentang Penetapan Universitas Gadjah
Mada Sebagai Badan Hukum Milik Negara.

7. Universitas Airlangga

Universitas Airlangga ditetapkan sebagai BHMN dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2006 tanggal 14
September 2006 tentang Penetapan Universitas Gadjah
Mada Sebagai Badan Hukum Milik Negara.

Nilai kekayaan awal Universitas Airlangga setelah dilakukan
penilaian oleh Tim Penilai dan Inventaris Barang Milik Negara
pada Universitas Airlangga adalah sebagai berikut:

a. bangunan sejumlah 43 (empat puluh tiga) unit, seluas
151.865,58 m2 (seratus lima puluh satu ribu delapan ratus
enam puluh lima koma lima puluh delapan meter
persegi), senilai Rp252.964.541.410,00 (dua ratus lima
puluh dua miliar sembilan ratus enam puluh empat juta
lima ratus empat puluh satu ribu empat ratus sepuluh
rupiah);

b. alat angkutan kendaraan bermotor sejumlah 134
(seratus tiga puluh empat) unit, senilai Rp7.073.466.500,00
(tujuh miliar tujuh puluh tiga juta empat ratus enam
puluh enam ribu lima ratus rupiah);

DTSS Pengelolaan Kekayaan Negara
Pusdiklat Keuangan Umum

Kekayaan Negara Yang Dipisahkan
Kekayaan Negara Yang Dipisahkan

Modul : Penatausahaan Kekayaan Negara yang Dipisahkan

48

c. peralatan kantor, mesin, peralatan laboratorium, dan
aset tetap lainnya sejumlah 482.465 (empat ratus
delapan puluh dua ribu empat ratus enam puluh lima)
unit, senilai Rp58.661.000.792,00 (lima puluh delapan
miliar enam ratus enam puluh satu juta tujuh ratus
sembilan puluh dua rupiah).

Untuk nilai kekayaan awal Universitas Indonesia, Universitas
Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas
Sumatera Utara, dan Universitas Pendidikan Indonesia
belum ditetapkan.

7. PERMASALAHAN PADA BHMN

1. Keputusan Menteri Keuangan tentang Penetapan
Kekayaan Awal Badan Hukum Milik Negara.

Masih adanya Perguruan Tinggi (BHMN) yang belum
ditetapkan nilai kekayaan awalnya oleh Menteri Keuangan,
maka terjadi ketidakpastian hukum dalam hal kewenangan
pengelolaan kekayaan Negara yang dipisahkan pada
Perguruan Tinggi yang telah ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah namun belum ditetapkan dengan Keputusan
Menteri Keuangan.

2. Penatausahaan Kekayaan Negara yang dipisahkan pada
Badan Hukum Milik Negara.

Belum adanya aturan (Peraturan Menteri Keuangan) yang
mengatur mekanisme penatausahaan atas kekayaan
Negara yang dipisahkan yang terdapat pada Perguruan
Tinggi (BHMN).

3. Pemanfaatan tanah yang dikuasai Badan Hukum Milik
Negara.

Belum adanya aturan (Peraturan Menteri Keuangan) yang
mengatur tentang batasan dan persyaratan mengenai
pemanfaatn tanah dalam rangka pelaksanaan tugas dan
fungsi Perguruan Tinggi kecuali pada Universitas Sumatera

DTSS Pengelolaan Kekayaan Negara
Pusdiklat Keuangan Umum

Kekayaan Negara Yang Dipisahkan
Kekayaan Negara Yang Dipisahkan

Modul : Penatausahaan Kekayaan Negara yang Dipisahkan

49

Utara dan Universitas Pendidikan Indonesia, ditegaskan
bahwa tanah tidak dapat dipindahtangankan.

4. Kontradiksi pengaturan Penerimaan Negara Bukan Pajak.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 1999
dinyatakan bahwa hasil pemanfaatan tanah menjadi
pendapatan Perguruan Tinggi (BHMN) yang bersangkutan.
Hal ini bertentangan dengan Undang-undang Nomor 20
Tahun 2007 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak dan
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang
Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dimana setiap
hasil pemanfataan tanah wajib disetorkan ke Rekening Kas
Umum Negara.

DTSS Pengelolaan Kekayaan Negara
Pusdiklat Keuangan Umum

Kekayaan Negara Yang Dipisahkan
Kekayaan Negara Yang Dipisahkan

Modul : Penatausahaan Kekayaan Negara yang Dipisahkan

50

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->