P. 1
Laporan Penelitian Marlene

Laporan Penelitian Marlene

|Views: 5,829|Likes:
Published by Ayrton Widiutomo

More info:

Published by: Ayrton Widiutomo on Jan 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/25/2013

pdf

text

original

Sections

  • BAB I
  • 1.1 Latar Belakang
  • 1.2 Tema Sentral Masalah
  • 1.3 Identifikasi Masalah
  • 1.4 Premis
  • 1.5 Hipotesis
  • 1.6 Tujuan Penelitian
  • 1.7 Manfaat Penelitian
  • BAB II
  • 2.1 Tebu dan Tetes Tebu
  • Tabel 2.1 Klasifikasi tebu yang digunakan sebagai penghasil gula [22]
  • 2.1.2 Proses Pembuatan Gula Dari Nira Tebu [9]
  • Gambar 2.1 Saccharum officinarum
  • 2.1.3 Tetes Tebu
  • 2.2.3 Gula Reduksi
  • Gambar 2.4 Struktur molekul glukosa[16]
  • Tabel 2.3 Kelarutan glukosa dalam air [1]
  • Tabel 2.4 Kelarutan fruktosa dalam air [1]
  • Gambar 2.5 Struktur molekul fruktosa [16]
  • 2.2.4 Abu
  • Tabel 2.5 Komposisi abu murni dalam tetes tebu [1]
  • 2.2.5 Zat Warna
  • 2.2.6 Persenyawaan Lain
  • 2.3 Koloid
  • 2.3.1 Koagulasi dan Flokulasi
  • 2.4.1 Kegunaan Zeolit
  • Gambar 2.7 Struktur kristal zeolit [23]
  • Tabel 2.6 Komposisi mineral zeolit Bayah [26]
  • Tabel 2.7 Komposisi kimia zeolit Bayah [26]
  • 2.4.3 Pengolahan Zeolit Bayah
  • Gambar 2.10 Perbandingan jenis ion terhadap besar pori zeolit [20]
  • Tabel 2.8 Urutan selektifitas pertukaran kation pada berbagai zeolit [7]
  • 2.5 Adsorpsi
  • Gambar 2.11 Electric Double Layer [29]
  • 2.5.1 Isoterm Adsorpsi Freundlich
  • 2.6 Adsorpsi Repetitif
  • 2.7 Desorpsi
  • 2.8 Analisis Kuantitatif
  • 2.8.1 Sukrosa
  • 2.8.2 Gula Reduksi
  • 2.8.3 Zat Warna
  • 2.8.4 Abu
  • 2.8.5 Total Dissolved Solid
  • BAB III
  • 3.1 Bahan
  • 3.2 Alat
  • 3.3 Tahap Persiapan
  • 3.3.1 Aktivasi Zeolit
  • Gambar 3.1 Proses aktivasi zeolit
  • 3.3.2 Pembuatan Kalium Zeolit
  • Gambar 3.2 Diagram alir proses pembuatan kalium-zeolit
  • 3.3.3 Penentuan Kapasitas Tukar Kation (KTK) Kalium-Zeolit
  • Gambar 3.3 Diagram alir proses penentuan KTK kalium-zeolit
  • 3.3.4 Proses Persiapan
  • Gambar 3.4 Diagram alir proses persiapan tahap 1
  • Gambar 3.5 Diagram alir proses persiapan tahap 2
  • Gambar 3.6 Diagram alir proses persiapan tahap 3
  • 3.4 Percobaan Utama
  • 3.4.1 Adsorpsi Repetitif Tahap 1
  • Gambar 3.7 Diagram alir proses adsorpsi repetitif tahap 1
  • 3.4.2 Adsorpsi Repetitif Tahap 2
  • Gambar 3.8 Diagram alir proses adsorpsi repetitif tahap 2
  • 3.4.3 Adsorpsi Repetitif Tahap 3
  • 3.5 Proses Extractive
  • Gambar 3.10 Proses extractive
  • 3.6 Metode Analisis
  • 3.6.1 Kadar padatan / total solid
  • 3.6.2 Kadar sukrosa
  • 3.6.3 Kadar gula reduksi
  • 3.6.4 Kadar zat warna
  • 3.6.5 Kadar abu
  • 3.7 Lokasi dan Jadwal Penelitian
  • 3.7.1 Jadwal Penelitian
  • BAB IV
  • 4.1 Analisis Molase Awal
  • Tabel 4.1 Hasil analisis molase awal
  • 4.2 Pembuatan Kalium Zeolit
  • Tabel 4.2 Kadar kalium dalam zeolit
  • Gambar 4.1 Rangkaian alat pertukaran ion
  • 4.3 Percobaan Pendahuluan
  • Tabel 4.3 Hasil analisis percobaan pendahuluan
  • 4.4 Percobaan Utama
  • 4.4.1 Analisis Kadar Gula Reduksi
  • Gambar 4.2 Kurva kadar gula reduksi
  • 4.4.2 Analisis Kadar Sukrosa
  • Gambar 4.3 Kurva kadar sukrosa
  • 4.4.3 Perbandingan Adsorpsi Kalium Zeolit dan Bentonite
  • Gambar 4.4 Kurva perbandingan adsorpsi gula reduksi dan sukrosa
  • 4.4.4 Analisis Kadar Abu dan Total Solids
  • Gambar 4.5 Hasil analisis abu
  • Gambar 4.6 Kurva kadar abu
  • Gambar 4.7 Kurva kadar total solids
  • 4.4.5 Analisis Kadar Zat Warna
  • Gambar 4.8 Kurva zat warna
  • BAB V
  • DAFTAR PUSTAKA
  • LAMPIRAN A
  • A.1 Analisis Sukrosa, Glukosa dan Fruktosa
  • Gambar A.1 Diagram alir penentuan gula reduksi dengan metode Eynon-Lane
  • Gambar A.2 Diagram alir penentuan gula total dengan metode Eynon-Lane
  • A.2 Analisis Abu
  • Gambar A.3 Diagram alir proses analisis abu
  • A.3 Analisis Zat Warna
  • Gambar A.4 Diagram alir proses analisis zat warna
  • A.4 Analisis Total Solids
  • Gambar A.5 Diagram alir proses analisis total solids
  • A.5 Analisis Kadar Kalium
  • A.5.1 Tahap Persiapan
  • Gambar A.6 Tahap persiapan analisis
  • A.5.2 Pembuatan Kurva Standar
  • Gambar A.7 Proses pembuatan kurva standar
  • A.5.3 Proses Analisis
  • Gambar A.8 Proses analisis kadar kalium
  • LAMPIRAN B
  • LEMBAR DATA KESELAMATAN BAHAN
  • LAMPIRAN C
  • LAMPIRAN D
  • DATA PERCOBAAN DAN HASIL ANTARA
  • D.1 Analisis Kadar Gula Reduksi
  • D.2 Analisis Kadar Gula Total dan Kadar Sukrosa
  • D.3 Analisis Kadar Abu
  • D.4 Analisis Kadar Total Solids
  • D.5 Analisis Kadar Zat Warna
  • D.6 Analisis Brix
  • LAMPIRAN E
  • E.1 Analisis Kadar Gula
  • E.1.1 Analisis Kadar Gula Reduksi
  • E.1.2 Analisis Kadar Gula Total
  • E.1.3 Analisis Kadar Sukrosa
  • E.2 Analisis Kadar Abu
  • E.3 Analisis Kadar Total Solids

ADSORPSI REPETITIF KOMPONEN TETES TEBU DENGAN KALIUM ZEOLIT

Laporan Penelitian Disusun untuk memenuhi tugas akhir guna mencapai gelar sarjana di bidang Ilmu Teknik Kimia

oleh : Marlene Setiono (2007620011)

Pembimbing : Dr. A. Koesdarminta

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN BANDUNG 2011

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL :

ADSORPSI REPETITIF KOMPONEN TETES TEBU DENGAN KALIUM ZEOLIT

CATATAN :

Telah diperiksa dan disetujui,

Bandung, Januari 2011 Pembimbing,

Dr. A. Koesdarminta

ii

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri Universitas Katolik Parahyangan Bandung

SURAT PERNYATAAN
Saya, yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Marlene Setiono NRP : 6207011 dengan ini menyatakan bahwa laporan pengantar penelitian dan seminar dengan judul : ADSORPSI REPETITIF KOMPONEN TETES TEBU DENGAN KALIUM ZEOLIT adalah hasil pekerjaan saya dan seluruh ide, pendapat, atau materi dari sumber lain telah dikutip dengan cara penulisan referensi yang sesuai. Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan jika pernyataan ini tidak sesuai dengan kenyataan, maka saya bersedia menanggung sanksi dari peraturan yang berlaku.

Bandung, Januari 2011

Marlene Setiono (6207011)

iii

Koesdarminta.KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian dengan judul “Adsorpsi Repetitif Komponen Tetes Tebu Dengan Kalium Zeolit” yang merupakan persyaratan kelulusan di jurusan Teknik Kimia Universitas Katolik Parahyangan tepat pada waktunya. nasehat. Bapak Dr. Dalam pelaksanaannya. penyusunan laporan penelitian ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak yang telah membantu. Chyntia. 5. Akhir kata penulis berharap proposal penelitian ini dapat berguna bagi kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan di kemudian hari. 4. yaitu kepada: 1. 6. 2. Orang tua dan keluarga atas doa dan dukungannya baik moril maupun materiil sampai saat ini. Januari 2011 Penulis iv . Semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyelesaian proposal penelitian ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Cath. Wenata Aryakusuma atas bantuan. 3. Alvina. Bandung. dukungan dan perhatiannya selama ini. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan penelitian yang akan dilaksanakan. saran. A. Upey dan Michelle buat dukungan dan bantuannya. baik secara langsung maupun tidak langsung dalam menyelesaikan proposal penelitian ini. dan pengarahan dalam penulisan proposal penelitian. Teman-teman Tekim angkatan 2007 tidak dapat disebutkan satu persatu atas dukungan serta masukkan kepada penulis. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan.

................2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA...........................................................2 1................................................ v DAFTAR GAMBAR ...........................................................................2 Sukrosa .......................................................3 2......DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... xii ABSTRACT ...............................................................................................................................................................................2....................................................................1 Air .....................................................................1 1........................................................................................................................................................................... xi INTISARI.........................................6 2...................2.....................................................1 Tebu dan Tetes Tebu............................................. xiii BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................................................................6 2.............1 1.....2 1..4 Premis .............................3 Identifikasi Masalah .............................................................. ii SURAT PERNYATAAN............................2 Tema Sentral Masalah ..........................1................................................................................. iii KATA PENGANTAR .........................................1 1.......................................................................................................................1.................................................. i LEMBAR PENGESAHAN ..................................................................................................7 v ......................................................................................................................................................................................................................................................3 2......................1 Tebu ...........2 1.......................................................4 2..........................................................................................................................................1 1.3 Gula Reduksi ...7 Manfaat Penelitian ....... ix DAFTAR TABEL ...6 Tujuan Penelitian ....................3 Tetes Tebu ..3 2....................................................................................................2 Komposisi dan Komponen Tetes Tebu .........6 2..................2...................................................................................................................................................1 Latar Belakang ..................5 2.................... iv DAFTAR ISI .........................................1...............................................5 Hipotesis ....................2 Proses Pembuatan Gula Dari Nira Tebu [9] ......................................................................................

.............................2 Pembuatan Kalium Zeolit .................................4 Percobaan Utama .............................................................................................................................................2 Gula Reduksi ..............14 2...............................25 BAB III BAHAN DAN METODE ......................................29 ..........28 3..................27 3.....16 2..............12 2.....28 3..............................8...................................................................................27 3.23 2..............................................................................................3....5 Adsorpsi .8................................................................4 Zeolit ....................................................................................................................................................................................................................5 Total Dissolved Solid ..............................................10 2.....................................8 Analisis Kuantitatif .................................8..3 Tahap Persiapan ..............................27 3....................................20 2.....................8............................................22 2...25 2................1 Sukrosa ...............................................................1 Bahan ...............................................3 Zat Warna ....................................26 3.........2 Alat........................................................................................................23 2...........................................................................3...15 2.................3...............................................................................9 2..................................................3 Koloid .................................6 Adsorpsi Repetitif ......................................................................6 Persenyawaan Lain........................17 2..........4..............1 Koagulasi dan Flokulasi ....5 Zat Warna ..........1 Adsorpsi Repetitif Tahap 1 ............................2.................3 Penentuan Kapasitas Tukar Kation (KTK) Kalium-Zeolit ..............1 Kegunaan Zeolit ..7 Desorpsi ................4...........................................3.............................29 3.............4...........22 2........3 Pengolahan Zeolit Bayah .................4 Pembuatan Kalium Zeolit ...23 2.............................................................................................................12 2...2............................18 2................8................vi 2..........................2........26 3.........4........5...................................4 Proses Persiapan .....................................................................................................................................................................................4 Abu ...........................................4.........2 Zeolit Bayah ......24 2.....4 Abu .........11 2............................................................3..................................................23 2.............................................................................................26 3.....1 Aktivasi Zeolit ...............................................1 Isoterm Adsorpsi Freundlich .................................................

........................................................37 4...............30 3.................38 4.....................32 3...........................................31 3..........4........................................6 Metode Analisis ...............................1 Analisis Molase Awal .....4......................................................3 Percobaan Pendahuluan ..............4 Kadar zat warna..............................................31 3..............................................32 3...............................................................2 Analisis Abu ........................................1 Jadwal Penelitian...........34 4.........................................................6.........................................................................47 A...............4.................2 Kadar sukrosa ....36 4.................................................................................................................................................................3 Perbandingan Adsorpsi Kalium Zeolit dan Bentonite .........................1 Analisis Sukrosa......41 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .......1 Kadar padatan / total solid ............4...........................................32 3..... Glukosa dan Fruktosa ..................7...........6................................................................................................30 3......2 Adsorpsi Repetitif Tahap 2 ...............3 Adsorpsi Repetitif Tahap 3 .........................................................................................................................................................2 Analisis Kadar Sukrosa .............................4 Percobaan Utama ................................................................................32 3...................31 3.........49 A..vii 3....43 DAFTAR PUSTAKA .....32 3............................................39 4...38 4....34 4...............................................................3 Kadar gula reduksi .................4.......6...........................................................7 Lokasi dan Jadwal Penelitian ..........................................5 Proses Extractive.................34 4........................5 Analisis Kadar Zat Warna ............................................................................................................6..........................................36 4....4.........................................................................47 A..........................................................................4..3 Analisis Zat Warna ...............2 Pembuatan Kalium Zeolit ..........49 .................................................................1 Analisis Kadar Gula Reduksi .............6..............................44 LAMPIRAN A PROSEDUR ANALISIS ..............................4 Analisis Kadar Abu dan Total Solids ................................................................5 Kadar abu .................33 BAB IV PEMBAHASAN.........

..57 LAMPIRAN D DATA PERCOBAAN DAN HASIL ANTARA ......1 Tahap Persiapan .......3 Analisis Kadar Abu ....................................................62 ...............................................................................................61 E............................................................52 A.........................................54 B.............................................2 Analisis Kadar Gula Total .................................60 LAMPIRAN E CONTOH PERHITUNGAN ..................................53 B...5....3 Analisis Kadar Total Solids ...58 D........59 D.2 Analisis Kadar Abu .5 Analisis Kadar Zat Warna...............................3 Larutan HCl .....................................................................58 D....................61 E.................51 A............................61 E....................................1 Larutan KOH .....................................................................................................4 Analisis Kadar Total Solids ....................................................................................2 Analisis Kadar Gula Total dan Kadar Sukrosa .........................................3 Analisis Kadar Sukrosa .............52 LAMPIRAN B LEMBAR DATA KESELAMATAN BAHAN ....2 Pembuatan Kurva Standar .....................50 A...............51 A............................................61 E.........................................................59 D..............1.......................................1 Analisis Kadar Gula Reduksi............................................1 Analisis Kadar Gula Reduksi ..................................................................55 LAMPIRAN C TABEL EYNON – LANE .............................2 Larutan Etanol.............................................................................................................................5.........5........................................................1................................................................................................................................................................................................5 Analisis Kadar Kalium.....................58 D..............59 D..........................................1............................4 Analisis Total Solids ..............................62 E.....................................................................viii A...........................................................................53 B..............................6 Analisis Brix ....1 Analisis Kadar Gula .......61 E...........................................3 Proses Analisis .......

. 35 Gambar 4.................................................................. 27 Gambar 3................ 18 Gambar 2.......................... 9 Gambar 2...... 8 Gambar 2............................................................ 28 Gambar 3............2 Molase .......................7 Diagram alir proses adsorpsi repetitif tahap 1 ............................ 29 Gambar 3.................................................6 Diagram alir proses persiapan tahap 3 ............................................5 Struktur molekul fruktosa ........ 15 Gambar 2.8 Sistem kanal pada mordenit ......9 Diagram alir proses adsorpsi repetitif tahap 3 ...4 Diagram alir proses persiapan tahap 1 ................................................................. 31 Gambar 4...............4 Kurva perbandingan adsorpsi gula reduksi dan sukrosa...5 Diagram alir proses persiapan tahap 2 .......10 Proses ekstractive....................................10 Perbandingan jenis ion terhadap besar pori zeolit ...........................................................................................................................................DAFTAR GAMBAR Gambar 2.................3 Diagram alir proses penentuan KTK kalium-zeolit ............................2 Diagram alir proses pembuatan kalium-zeolit ................................................................................................................... 37 Gambar 4......... 28 Gambar 3................... 40 Gambar 4.........................................6 Zeolit ..........................................................1 Rangkaian alat pertukaran ion ...........8 Diagram alir proses adsorpsi repetitif tahap 2 ........ 38 Gambar 4....... 40 Gambar 4............................................................................................................................................................ 29 Gambar 3........11 Electric Double Layer ............... 27 Gambar 3...................................2 Kurva kadar gula reduksi ..............................................................................................................7 Kurva kadar total solids ....... 39 Gambar 4........ 21 Gambar 3...................9 Bagan alir pengolahan zeolit ................ 41 ix ...... 19 Gambar 2...................... 16 Gambar 2................5 Hasil analisis abu ..... 30 Gambar 3............................................................................7 Struktur kristal zeolit ................. 29 Gambar 3......... 5 Gambar 2........................ 14 Gambar 2..............................4 Struktur molekul glukosa .... 5 Gambar 2..............................................3 Struktur molekul sukrosa .............................. 30 Gambar 3...6 Kurva kadar abu .....................................................1 Proses aktivasi zeolit......................................................................................................................................................1 Saccharum officinarum..............................................3 Kurva kadar sukrosa ............... 6 Gambar 2................................................................

........................8 Proses analisis kadar kalium .......5 Diagram alir proses analisis total solids ...... 50 Gambar A.................. 52 Gambar A......x Gambar 4............. 51 Gambar A.......1 Diagram alir penentuan gula reduksi dengan metode Eynon-Lane ....... 42 Gambar A..................4 Diagram alir proses analisis zat warna ............................................................................. 47 Gambar A......................... 50 Gambar A..............................7 Proses pembuatan kurva standar ...........................2 Diagram alir penentuan gula total dengan metode Eynon-Lane ..................................3 Diagram alir proses analisis abu ...................................................................................................8 Kurva zat warna ....... 49 Gambar A................................6 Tahap persiapan analisis .... 48 Gambar A....................................................... 52 ..

........ 9 Tabel 2...1 Klasifikasi tebu yang digunakan sebagai penghasil gula .........................................................2 Komposisi tetes tebu ...........................8 Urutan selektifitas pertukaran kation pada berbagai zeolit ..................................... 9 Tabel 2..3 Hasil analisis percobaan pendahuluan .................................1 Jadwal kerja penelitian ...................................................5 Komposisi abu murni dalam tetes tebu ................................... 20 Tabel 3...................1 Hasil analisa molase awal....................... 17 Tabel 2.............................................................................3 Kelarutan glukosa dalam air .............................................................. 31 Tabel 4......................................... 36 xi .............. 6 Tabel 2..............................................................................................7 Komposisi kimia zeolit Bayah .....6 Komposisi mineral zeolit Bayah .... 17 Tabel 2.........................................2 Kadar kalium dalam zeolit ............................................... 8 Tabel 2....... 35 Tabel 4....DAFTAR TABEL Tabel 2............................ 3 Tabel 2.. 34 Tabel 4..............................................4 Kelarutan fruktosa dalam air ....................................

Kalium zeolit juga mengadsorpsi zat warna yang terdapat didalam molase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kalium zeolit sama baiknya dalam mengadsorpsi gula reduksi maupun sukrosa. Sedangkan bagi masyarakat dapat menambah penghasilan. Selanjutnya dilakukan analisis kadar sukrosa. Padahal di dalam molase masih terdapat kandungan gula yang cukup besar. Percobaan ini didahului dengan membuat kalium zeolit dari zeolit Bayah dengan menggunakan metode pertukaran ion. Analisis hasil adsorpsi meliputi analisis gula reduksi. karena molase yang terbentuk dari pengolahan tebu menjadi gula dapat lebih dimanfaatkan dan meningkatkan nilai jual molase. Manfaat penelitian ini bagi industri. sebagai salah satu alternatif untuk pengolahan molase agar dapat dimanfaatkan dengan lebih optimal.INTISARI Molase sebagai salah satu produk samping dari pengolahan gula seringkali tidak dimanfaatkan secara maksimal. xii . 4 gr/100 mL. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari kemampuan kalium zeolit dalam mengadsorpsi komponen gula maupun non-gula yang terdapat di dalam molase. Untuk itu diupayakan suatu alternatif untuk memanfaatkan molase secara lebih lanjut. glukosa. zat warna. kadar abu. sukrosa. dan 6 gr/100 mL kedalam molase.6 x [sukrosa])/100 mL) dan 6 gr/100 mL kedalam larutan molase. Percobaan utama dilakukan dengan menambahkan kalium zeolit sebanyak 2 gr/100 mL. baik gula reduksi maupun sukrosa. dan total solids yang terdapat di dalam molase kemudian molase diencerkan 3x. Pada penelitian ini. dan fruktosa dicoba untuk diadsorpsi dengan menggunakan kalium zeolit. Percobaan dilanjutkan dengan memisahkan molase dan kalium zeolit dengan menggunakan centrifuge kemudian ditambahkan bentonite sebanyak ((0. komponen gula di dalam molase yang berupa sukrosa. zat warna. gula reduksi. dan total solids. abu.

6 x [sucrose])/100 mL) and 6 gr/100 mL to the molasses solution. Potassium zeolite also adsorb pigment contained in the molasses. Whereas there are still large enough sugar content in molasses. and 6 mL gr/100 mL into molasses. For that reason. and the total solids contained in molasses and molasses was diluted 3 times.ABSTRACT Molasses as a byproduct of sugar processing are often not maximally utilized. both reducing sugar and sucrose. ash. pigment. The experiment was preceded by making a potassium zeolite from zeolite Bayah using ion exchange method. sucrose. Further analysis of sucrose content. ash. The benefits of this research for the industry is as one alternative for the processing of molasses to be used more optimal. and total solids. the sugar components within the molasses in the form of sucrose. xiii . The purpose of this research is to study the ability of potassium zeolite to adsorb sugar and non-sugar components in molasses. The results of this study indicate that potassium zeolite adsorb equally well in reducing sugar or sucrose. The experiment was continued by separating the molasses and potassium zeolite using a centrifuge and then added bentonite as much ((0. because molasses made from processing sugar cane into sugar can be further utilized to increase the selling value of molasses. The main experiment was carried out by adding potassium zeolite 2 gram/100 mL. glucose. reducing sugar. and fructose tried to be adsorbed by using potassium zeolite. 4 mL gr/100 mL. As for the public is to raise their income. Analysis of adsorption results include analysis of reducing sugar. In this study. an alternative way is attempted to further utilize the molasses.

Gula diproduksi dari tanaman tebu.2 Bagaimana efek pertukaran ion dalam zeolit terhadap kemampuan menyaring? 1 . Oleh sebab itu diupayakan suatu cara untuk memperoleh gula yang masih terdapat di dalam. 1. Adsorben yang digunakan adalah kalium zeolit. Salah satu cara yang akan dilakukan yaitu dengan mengadsorpsi komponen gula yang terdapat didalam molase. Jumlah yang cukup besar apabila tidak dimanfaatkan.1 Identifikasi Masalah Berapa banyak kadar sukrosa dalam molase yang dapat diadsorp oleh kalium zeolit? 1.2 Tema Sentral Masalah Ketidakpastian pemisahan komponen gula maupun non-gula dari tetes tebu dengan cara adsorpsi repetitif menggunakan kalium zeolit. Di dalam molase masih terdapat kandungan gula reduksi sebesar ±32% dan sukrosa sebesar ±30%.BAB I PENDAHULUAN 1.3.1 Latar Belakang Gula merupakan salah satu bahan aditif yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kebutuhan gula terus meningkat setiap tahunnya. Molase merupakan sisa sirup terakhir dari nira tebu yang telah mengalami proses kristalisasi berulang kali dan sudah tidak mungkin lagi dihasilkan gula kristal.3 1.3. 1. Salah satu produk samping dari produksi gula adalah molase. Zeolit dipilih sebagai adsorben karena zeolit mudah ditemukan serta memiliki sifat adsorben yang cukup baik.

4.[7] Zeolit dapat digunakan sebagai penyaring.4.5 1. 1.3 Bagi dunia industri Mengembangkan ide baru tentang pemanfaatan zeolit dalam mengolah produk samping industri gula. .[6].[7] penyerap[5]. [6].2 1. 1.6 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan kalium zeolit dalam memisahkan komponen gula dan non-gula didalam molase. dan penukar ion.4.[7]. 1. Kalium zeolit dapat mengadsorpi komponen non-gula dalam tetes tebu. [4] Kadar sukrosa dapat dianalisis menggunakan metode Eynon-Lane [2] Kadar abu dapat dianalisis dengan menggunakan metode gravimetri [2] Zeolit Bayah terdiri dari mordenite dan klipnotilolit [5].4.5. [7] Zeolit dapat diaktifkan dengan cara pamanasan.4.7.5.7 1.4 1.[7] 1.4.1 Manfaat Penelitian Bagi mahasiswa Memperluas pengetahuan tentang pemanfaatan zeolit.7.7 1. [2] Sukrosa dapat dihirolisis menjadi glukosa dan fruktosa [3].7.4 1. 20% air.6 Premis Molase mengandung 62% sugars.2 Hipotesis Kalium zeolit dapat mengadsorpi komponen gula dalam tetes tebu.4.1 1.3 1. dan 8% abu [1].1 1.2 1.5 1. dan penambahan basa[5].2 Bagi masyarakat Memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat yang mengolah gula secara tradisional karena molase masih dapat diambil gulanya. penambahan asam. 1.

mempunyai bentuk seperti bambu. Tebu umumnya ditanam dengan cara memotong bagian yang sudah matang yang kemudian akan tumbuh dan menghasilkan tunas-tunas yang baru. 3 . Proses pemanenan dapat dilakukan dengan tangan (manual) atau dengan menggunakan mesin pemotong otomatis yang kemudian dilanjutkan dengan pembakaran untuk menghilangkan daun.1 2. Potongan tebu kemudian diangkut dengan menggunakan truk pengangkut dan dibawa ke tempat pengolahan.4) serta ketinggian kurang dari 500m dpl. tanah tidak terlalu asam (pH diatas 6. dan mengandung 11-15% sukrosa.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. dapat tumbuh hingga 3-5 meter. Gambar tebu dapat dilihat pada gambar 2.1. Tebu biasanya tumbuh di tanah yang bersifat kering-kering basah dengan curah hujan kurang dari 2000 mm per tahun.1 Tebu dan Tetes Tebu Tebu [8] Tebu merupakan anggota dari keluarga rerumputan. Pertumbuhan tebu sekitar 5-6 bulan.1.1 Klasifikasi tebu yang digunakan sebagai penghasil gula [22] Kingdom Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies Plantae (Tumbuhan) Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Spermatophyta (Menghasilkan biji) Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Liliopsida (berkeping satu / monokotil) Commelinidae Poales Poaceae (suku rumput-rumputan) Saccharum Saccharum officinarum L. Tabel 2.

Juice yang dapat diekstrak dari tebu sebanyak kurang lebih 93%. Juice ini kemudian masuk ke bagian pertama dari 3 panci vakum lalu dievaporasi hingga derajat supersaturasi yang sudah ditentukan. Inti gula kristal ditambahkan sebagai pemancing proses kristalisasi. Pada titik optimum. Kemudian tebu dipotong dan diiris dengan crusher sebagai perlakuan awal untuk pengambilan juice. Cairan terakhir hasil pengolahan ulang disebut blackstrap molase. Filtrat yang mengandung 85% air dievaporasi menggunakan evaporator selama beberapa kali hingga kadar air 40%. . Campuran ini kemudian dipanaskan dengan menggunakan kukus tekanan tinggi kemudian ditempatkan di sebuah tangki clarifier. Untuk mendapatkan gula dari lumpur yang diendapkan biasanya menggunakan penyaring rotary filter drum.4 2. Juice kemudian disaring untuk menghilangkan kotoran yang mengapung dan diberi lime untuk mengkoagulasi bagian koloidal. Massecuite kemudian disentrifugasi untuk memisahkan sirup. sedangkan sirup diolah kembali sebanyak 1-2 kali untuk mendapatkan kristal yang ada.2 Proses Pembuatan Gula Dari Nira Tebu [9] Mula-mula tebu dibersihkan untuk menghilangkan lumpur dan kotoran yang menempel. Ampas tebu (bagase) umumnya dibakar sebagai bahan bakar atau digunakan untuk pembuatan kertas atau material insulasi. Kristal yang terbentuk merupakan gula kualitas tinggi. Hasil akhir berupa juice kental yang berwarna kuning pucat. sebagian besar panci dipenuhi oleh kristal gula dengan kadar air 10%. Air dapat ditambahkan untuk membantu proses ekstraksi. Campuran kristal dan sirup (massecuite) ditempatkan ke dalam kristalisator yang dilengkapi dengan koil pendingin.1. mempresipitasi sebagian kotoran dan mengubah pH. Didalam kristalisator. Juice kemudian diekstraksi dengan cara melewatkan tebu yang sudah hancur melalui sejumlah penggiling yang masing-masing terdapat 3 roll yang memberikan tekanan yang besar. sukrosa tambahan yang terdapat dalam kristal sudah terbentuk dan proses kristalisasi selesai.

39-1.3 Tetes Tebu Tetes tebu atau molase didefinisikan sebagai produk samping dari produksi gula dan merupakan sisa sirup terakhir dari nira yang telah mengalami pengolahan di pabrik gula dan telah dipisahkan gulanya melalui kristalisasi secara berulang kali sehingga sudah tidak mungkin lagi dihasilkan gula kristal dengan cara biasa. tanah.2 Molase [10] . Komposisi yang terkandung dalam molase bergantung pada varietas.43 dan nilai pH berkisar 5.49. karbohidrat dan protein. iklim dan proses yang dilakukan.1.[1] Molase masih mengandung 30-35%[9] sukrosa dan 10-15%[9] gula reduksi serta komponen-komponen lain seperti air.5-6.5. Tetes tebu memiliki specific gravity 1.1 Saccharum officinarum 2. dengan rata-rata 1. Gambar 2. Namun pada molase komponen non-gulanya berjumlah cukup besar sehingga sudah tidak ekonomis lagi untuk produksi gula.5 Gambar 2.

2. dalam 170 mL alkohol atau 100 mL metanol. Molase komersial memiliki kandungan air rata-rata sebesar 20%.2 Komposisi tetes tebu [1] Komponen Jumlah Water 20% Sugars 62% Nonsugars 10% Abu 8% 2. Kelarutan : 1 gram sukrosa dapat larut dalam 0.2 Komposisi dan Komponen Tetes Tebu Secara umum.2 Sukrosa Sukrosa merupakan gula disakarida yang berasal dari glukosa dan fruktosa. serta sedikit larut dalam gliserol dan piridin.[1] 2.3 gr/mol 3. Rumus kimia : C12H22O11 2. Biasanya produk akhir industri mempunyai kandungan air sebesar 1217%. Densitas : 1.2. Massa molekul : 342. Warna : putih 4. padat 5.587 gr/cm3. Di dalam molase terdapat 32% sukrosa. tetapi merupakan air hidrat. tetes tebu memiliki komposisi sebagai berikut : Tabel 2.2 mL air mendidih.6 2.[1] Sifat fisik dan kimia dari sukrosa : [12] 1.3 Struktur molekul sukrosa [13] . Titik leleh : 186oC 6. Gambar 2.1 Air Air yang terkandung di dalam molase umumnya tidak terikat.5 mL air (20oC) atau dalam 0.

Gula invert termasuk golongan gula reduksi karena dapat mereduksi ion tembaga dalam larutan alkali. + H2O (air tidak ada rotasi) → C6H12O6 + (glukosa rotasi = +52. kadang-kadang disebut gula darah (karena dijumpai di dalam darah).5°).CHO 3. Reaksi hidrolisis sukrosa adalah sebagai berikut : [15] C12H22O11 (sukrosa. atau dekstrosa (karena memutar bidang polarisasi ke kanan). Titik leleh : 146°C 7. Gula reduksi dapat mereduksi ion logam karena mempunyai gugus aldehida atau keton yang dapat menarik kembali O2 dari logam basa. rotasi = +66.[1] Sifat fisik dan kimia dari glukosa : [12] 1. sehingga logam basa akan tereduksi dan mengendap sebagai Cu2O. Densitas : 1. Glukosa Glukosa merupakan salah satu monosakarida yang terpenting.54 gr/cm3 6. Sukrosa bereaksi bersama asam dalam campuran air dengan bantuan enzim invertase. gula anggur (karena dijumpai dalam buah anggur).3 .2. Kelarutan glukosa dalam air dapat dilihat dalam tabel 2. Massa molekul : 180. Bentuk dan warna : rhombik 5.7 2. Salah satu yang termasuk gula reduksi adalah gula invert. Rumus molekul : C5H11O5.7°) C6H12O6 (fruktosa rotasi = -92°) a.16 4.[3] Di dalam molase terdapat glukosa sekitar 14%. Nama senyawa : Glukosa (d-)(α-) 2. Gula invert dihasilkan dari hidrolisis sukrosa menghasilkan glukosa dan fruktosa.3 Gula Reduksi Gula reduksi adalah gula yang dalam bentuk larutan alkali membentuk [14] aldehida atau keton.

21 164.63 230 261.5 22. Massa molekul : 180. Fruktosa juga sulit dikristalisasi dalam bentuk larutan.51 112.3 b.45 45 50 55.22 64. Fruktosa Fruktosa merupakan monosakarida sederhana yang banyak terdapat di dalam makanan dan merupakan isomer dari glukosa.8 Glukosa (gr) / 100 gr air 54.75 70.[1] Sifat fisik dan kimia dari fruktosa : [12] 1.3 440. . [17] Fruktosa berwarna putih dan mudah larut dalam air. Kelarutan fruktosa dalam air dapat dilihat dalam tabel 2. Rumus molekul : C6H12O6 2. Titik leleh : 103oC 4.96 191.7 323.4.5 90.8 Gambar 2.4 41.0 359.98 28. Didalam molase terdapat fruktosa sekitar 16%.3 Kelarutan glukosa dalam air [1] Temperatur (oC) 20.2 562.72 120.07 30 35 40.4 Struktur molekul glukosa[16] Tabel 2.2 80.32 97. Warna : putih 5.16 3.46 138.06 168.

32 Gambar 2.6 14.2.7 13.5.49 441.63 598.8 404.63 665. Komposisi abu dalam tetes tebu dapat dilihat pada tabel 2.4 Kelarutan fruktosa dalam air [1] Temperatur (oC) 20 25 30 35 40 45 50 55 Fruktosa (gr) / 100 gr air 374.41 538.5 Komposisi abu murni dalam tetes tebu [1] Senyawa K2O KCl NaCl CaO MgO P 2 O5 SO3 SiO2 Total Tetes tebu yang mengandung 5.70 486.4% abu (%) 35.6 8.4 Abu Kandungan abu dalam tetes tebu dipengaruhi oleh jenis varietas tebu.5 Struktur molekul fruktosa [16] Reaksi antara fruktosa dengan Fehling : [18] RCHO + 2Cu(OH)2 + NaOH → RCOONa + Cu2O (s) ↓ + 3H2O 2.58 740. kondisi tebu tersebut tumbuh dan oleh metode yang digunakan dalam pabrik gula.4 5 16.9 100 . Tabel 2.9 Tabel 2.8 3 2.

10

2.2.5

Zat Warna

Zat warna yang terkandung dalam tetes tebu berasal dari tiga sumber : [1] 1. Tanaman tebu, yaitu klorofil, karoten, antosianin, dan xantofil. Klorofil merupakan pigmen yang memberikan warna hijau, karoten memberikan warna kuning, antosianin memberika warna merah, biru dan jingga, sedangkan xantofil memberikan warna kuning. 2. Zat-zat warna hasil reaksi antara gula pereduksi dengan zat-zat atau komponen lain di dalam molase, seperti polifenol dan gugus amino melalui berbaga macam reaksi dekomposisi dan kondensasi sehingga menghasilkan berbagai macam produk zat warna yang sulit diidentifikasi. 3. Caramel dan zat-zat hasil dekomposisi termal dari gula, yang berwarna coklat. Sebagian besar zat warna dalam molase bersifat koloid. Terdapat dua jenis koloid:
[1]

a. Koloid irreversibel Koloid jenis ini tidak larut dalam air, memiliki karakteristik berwarna coklat tua serta mengandung kadar nitrogen tinggi (sekitar 7,5-8,7%).
[1]

[honig, p. 544]

b. Koloid reversibel Koloid jenis ini bersifat larut dalam air. Karakteristiknya berwarna coklat muda, bersifat netral, dan kandungan nitrogen rendah (sekitar 4%).[1] Zat warna yang terdapat dalam industri gula : [1] 1. Caramel materials Substansi yang merupakan hasil dekomposisi termal sukrosa dan tidak mengandung nitrogen. Pembentukan caramel bergantung langsung pada temperature efektif pada pH konstan. 2. Polyphenol-iron complexes Kompleks ini memiliki warna hijau kekuningan dan tidak dapat dihilangkan sepenuhnya pada proses defekasi juice. Senyawa ini tergolong ke dalam koloid irreversible.

11

3. Melanoidines Senyawa ini merupakan produk kondensasi gula reduksi dan asam amino. Senyawa ini tergolong ke dalam koloid irreversible. 4. Melanins Pembentukan melanin hanya membutuhkan oksidasi enzimatik sebagai tahap inisisasinya dan selanjutnya mengalami reaksi rantai sampai diperoleh komponen sejenis orthoquinone. Melanin jarang ditemukan dalam tetes tebu karena dapat dihilangkan sempurna melalui proses pradefekasi. Senyawa ini tergolong koloid irreversible.

2.2.6

Persenyawaan Lain

2.2.6.1 Komponen Organik [1] Komponen organik yang terdapat dalam tetes tebu : a. Senyawa berikatan nitrogen antara lain protein kasar, asam amino (asam glutamat, asam aspartic, serin, alanin, theorin, γ-aminobutirik, glisin, leusin, lisin, dan varin), dan ikatan asam basa nukleotida (guanine, hiposantin, 5metilsitosin dan santin). b. Asam organik yaitu acetic, formic, lactic, malic, citric, mesaconic, dan aconitic. c. Lilin dan lemak yaitu 1-triacontanol, fitosterol dan stigmastrol. d. Pigmen yaitu klorofil, tannin, dan antosianin. 2.2.6.2 Komponen Anorganik [1] Komponen anorganik yang terdapat dalam tetes tebu : a. Asam yaitu SO3, Cl, P2O5, dan SiO2 [1] b. Basa yaitu K2O, CaO, MgO, FeO3, dan Al2O3 2.2.6.3 Vitamin dan Substansi Pertumbuhan [1] Terdiri dari vitamin B1 (tiamin), vitamin B2 (riboflavin), vitamin B kompleks (asam folik, niasin, dan asam pantotenik), vitamin B6 (pirodiksin), vitamin H (biotin).

12

2.2.6.4 Trace Elements [1] Terdiri dari barium, timah hitam, besi, kobalt, tembaga, stronsium, boron, perak, silicon, thalium, seng, yodium, mangan dan molibdenum.

2.3

Koloid Koloid merupakan suatu campuran yang berada diantara larutan sejati dan

suspensi. Koloid juga merupakan suatu sistem dispersi partikel bermuatan. Diameter partikel koloid antara 1-100μm. Dalam koloid terdapat dua istilah, yaitu fasa terdispersi dan medium pendispersi. Fasa terdispersi merupakan partikel koloid sedangkan medium pendispersi adalah medium tempat partikel koloid terdispersi. Koloid dalam tetes tebu sulit dikur dan diidentifikasi secara tepat karena terdiri atas berbagai ukuran dan muatan yang berbeda. Berat koloid dalam tetes tebu antara 0,2-0,44%, dimana sekitar 20-90%nya larut dalam air. Hampir 96% koloid tetes tebu terdiri atas zat organik sedangkan sisanya zat anorganik. Komponen tetes tebu yang termasuk ke dalam koloid adalah zat warna, protein, dan lemak. Sedangkan yang termasuk dalam larutan sejati adalah air, gula invert, dan sukrosa. Komponen lainnya termasuk dalam suspense, misalnya partikel tanah, lumpur dan debu. Partikel-partikel di dalam dispersi koloid sangat kecil, maka luas permukaan per unit volume sangat besar. Akibatnya pada batas permukaan antara fasa terdispersi dan medium pendispersi, sifat-sifat dan efek permukaan seperti efek adsorpsi dan efek listrik lapis ganda (“electric double layer”) sangat besar.

2.3.1

Koagulasi dan Flokulasi Koagulasi adalah proses penggumpalan pertikel koloid yang stabil menjadi

tidak stabil akibat adanya senyawa koagulan. Flokulasi adalah proses membesarnya gumpalan yang terbentuk dari proses koagulasi kemudian mengandap. Koagulasi merupakan ketidakstabilan sistem koloid yang disebabkan oleh bergabungnya partikel-partikel kecil dan membentuk partikel yang lebih besar

dan penambahan zat kimia koagulan. maka partikel-partikel tersebut akan bergabung dan terjadilah koagulasi. yaitu: 1. sedangkan flokulasi adalah pengikatan partikel-partikel netral tersebut sehingga menjadi partikel yang lebih besar. contoh: darah 2. Ketika partikel ini mencapai elektrode. contoh: tepung kanji 3. Pengadukan. Makin besar . Pendinginan. maka sistem koloid akan kehilangan muatannya dan bersifat netral. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan koloid bersifat netral. sehingga muatannya tidak cukup kuat untuk mencegah tumbukan . Kenaikan suhu sistem koloid menyebabkan tumbukan antar partikel-partikel sol dengan molekul-molekul air bertambah banyak. contoh: agar-agar 2. 2. Pemanasan. partikel-partikel koloid akan tetap tertinggal dalam keadaan terdispersi. Akibatnya partikel tidak bermuatan. Proses koagulasi berhubungan dengan netralisasi muatan partikel. Proses elektroforesis adalah pergerakan partikel-partikel koloid yang bermuatan ke elektrode dengan muatan yang berlawanan. sedangkan koloid yang bermuatan positif akan menarik ion negatif (anion). pencampuran koloid yang berbeda muatan. Menggunakan prinsip Elektroforesis. Apabila selubung lapisan kedua itu terlalu dekat maka selubung itu akan menetralkan muatan koloid sehingga terjadi koagulasi. Koagulasi dapat terjadi secara fisika dan kimia : [19] 1. Secara fisika Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti : 1. Penambahan koloid. Hal ini melepaskan elektrolit yang teradsorpsi pada permukaan koloid. dapat terjadi sebagai berikut : Koloid yang bermuatan negatif akan menarik ion positif (kation). Ion-ion tersebut akan membentuk selubung lapisan kedua.13 kemudian mengendap karena adanya gaya gravitasi. Pada konsentrasi elektrolit rendah. sedangkan jika konsentrasinya tinggi. Secara kimia Sedangkan secara kimia seperti penambahan elektrolit.

d 7) 2. 3. partikel positif akan mengadsorpsi partikel negatif (anion) dari elektrolit. Zeolit [20] Zeolit adalah mineral dengan struktur kristal alumino silikat yang berbentuk rangka (framework) tiga dimensi. Pencampuran dua dispersi koloid dengan muatan yang berbeda akan menyebabkan koagulasi kedua koloid tersebut.[(AlO2)x. yaitu kerangka Alumino-silikat.14 muatan ion makin kuat daya tariknya dengan partikel koloid. Penambahan Elektrolit. ion-ion. serta mengandung ion Na. sehingga makin cepat terjadi koagulasi. Mg.4 Gambar 2. maka partikel koloid yang bermuatan negatif akan mengadsorpsi koloid dengan muatan positif (kation) dari elektrolit. mempunyai rongga dan saluran. Ca dan Fe serta molekul air. dan molekul air. rumus molekul zeolit yaitu : Mx/n. Jika suatu elektrolit ditambahkan pada sistem koloid. K.d 10) y = bilangan tertentu (2 s. maka terjadi koagulasi. Secara empiris.zH2O Dimana : M = kation alkali atau alkali tanah n = valensi logam alkali 1 z = jumlah molekul air x = bilangan tertentu (2 s.6 Zeolit [21] . Begitu juga sebaliknya. Zeolit terdiri dari tiga komponen. Dari adsorpsi diatas.(SiO2)y].

Zeolit dapat menyaring molekul. sedangkan yang berukuran lebih kecil akan lolos melewati pori zeolit. Proses penyaringan molekul berdasarkan perbedaan ukuran. . sehingga zeolit dapat menyerap molekul yang berbeda muatan. Square = Silicon. namun ada juga yang tidak dapat terserap.15 2. bentuk. Zeolit sering dimanfaatkan sebagai penyaring karena besarnya pori/rongga zeolit dapat diatur sehingga dapat disesuaikan dengan molekul yang akan disaring. Struktur zeolit dapat dilihat pada gambar 2. Apabila cincin-cincin ini saling menyambung satu sama lain maka akan membentuk sebuah saluran atau pipa. O2.7.4. Oleh sebab itu ada beberapa jenis molekul yang dapat terserap dalam rongga dan saluran zeolit. Penyaringan dengan menggunakan zeolit berdasarkan prinsip size exclusion. aluminium Gambar 2. karena mempunyai saluran dan rongga yang berukuran molekul.[20] Sedangkan zeolit sebagai penyerap karena adanya kation-kation di sekitar rongga zeolit. dan semua gas-gas yang permanen kecuali ammonia. zeolit dapat meng-exclude (menahan) semua hidrokarbon. Rongga Legend: Circle = Oxygen.7 Struktur kristal zeolit [23] Struktur zeolit yang seperti ini yang menyebabkan zeolit dapat dimanfaatkan sebagai penyaring sekaligus penyerap. N2.[20] yaitu molekul yang berukuran lebih besar daripada pori zeolit akan tertahan. Pada proses pengeringan atau dehidrasi gas atau alkohol oleh zeolit 3A. dan polaritas molekul yang akan disaring.1 Kegunaan Zeolit Zeolit memiliki struktur menyerupai bentuk cincin dengan kation-kation yang terdapat di sekeliling lingkaran bagian dalam.

6 dapat dilihat bahwa mineral yang dominan dalam zeolit Bayah adalah klinoptilolit. Namun sumber lain menyebutkan bahwa mineral yang dominan adalah mordenit.57 H2O [24] Komposisi mineral dan kimia zeolit Bayah disajikan dalam tabel 2.[25] .02 Fe0.8.7.8 Sistem kanal pada mordenit [25] Adanya klinoptilolit didalam zeolit Bayah berguna untuk menyerap gas dan cairan seperti penyerapan ion Cesium dan nitrogen.76 (SiO2)}29.6 dan 2. benzene.16 2.32 6. yang arahnya sejajar sumbu c dan kanal segi 8 yang arahnya sejajar sumbu b. Zeolit dari Bayah terdiri dari jenis mineral klinoptilolit dan mordernit. klinoptilolit dapat digunakan sebagai penyerap uap air.44 {(AlO2)6. Salah satu mineral yang dominan dalam zeolit Bayah adalah mordenit.4. methanol.42 nm. Diameter kanal segi 12 adalah 0. Zeolit Bayah berasal dari kecamatan Bayah. Sistem kanal dapat dilihat pada gambar 2.67 nm. terdapat kesamaan yaitu zeolit Bayah mengandung mineral klinoptilolit dan mordenit. isopentana. Setelah dilakukan perlakuan asam terlebih dahulu.70 Mn0. tetapi mineral ini hanya mampu menyerap molekul tidak lebih dari 0. [25] Gambar 2. Dalam tabel 2.44 Ca2. Banten. etanol. kabupaten Lebak.2 Zeolit Bayah Zeolit digunakan dalam percobaan ini adalah zeolit Bayah.[25] Berdasarkan sumber-sumber yang ada. sedangkan yang lebih besar terbuka. Pada sistem kanal ini kation terletak pada pusat kanal sempit segi 8 yang sejajar sumbu c. Rumus kimia dari zeolit Bayah : Na0.04 Mg0. Mordenit memiliki struktur sistem kanal segi 8 dan 12.15 K1. yang member kesempatan untuk difusi molekul.

(K2Na2Ca)3Al6Si3O72 Mordernite.9 .1 – 33.68% 0.75 – 2.28H2O Plagioclasse Quartz Feldspar Ion oxide Glass/mika 33.98 – 1.7 Komposisi kimia zeolit Bayah [26] SiO2 Al2O3 Na2O3 CaO MgO Fe2O3 K2O3 58.36 – 0.38% 0.6 Komposisi mineral zeolit Bayah [26] Clinoptilolite. Zeolit tersebut harus mengalami proses pengolahan terlebih dahulu sebelum siap untuk digunakan.44% 1. Bagan alir pengolahan zeolit disajikan dalam gambar 2.4 – 61.17% 2.05% 2.99 – 44.4.17 – 12.08 – 2.1% 18 – 20% Tabel 2.65% 30.24% 0.31% 11.41 – 0.1. (Na2Ca)4Al8Si40O96.17 Tabel 2. .62% 2 -3% 3 – 4% 2 – 3% 0.9.3 Pengolahan Zeolit Bayah Zeolit yang diperoleh dari alam tidak dapat langsung digunakan.

10+28. -28+48. Besarnya pori bergantung pada jenis ion yang terdapat di dalam zeolit. .[28] Besarnya jari-jari ion kalium menyebabkan pori zeolit semakin kecil. Mg2+.18 Umpan zeolit Minimal 30% klipnotilolit atau 60% zeolit ukuran 15 cm Peremuk / dengan palu Pengering Penggiling Pengayak getar Kantong Penampung (Filter Bag) Fraksi-fraksi ukuran zeolit -5+10.9 Bagan alir pengolahan zeolit [27] 2.4.4 Pembuatan Kalium Zeolit Ukuran rongga atau pori dalam zeolit dapat diatur sesuai kebutuhan. Ion kalium (K+) memiliki jari-jari ion yang paling besar jika dibandingkan dengan ion Na+. sehingga proses penyaringan menjadi lebih selektif. dan Ca2+. -48+60 dan -60 mesh Pengaktifan Pemanasan Pereaksi kimia NaOH dan H2SO4 Pengantongan dan Pemanfaatan Perikanan Pengolahan Air Pertanian Peternakan Gambar 2.

[27] Selama proses perendaman terjadi proses pertukaran ion didalam zeolit. Pembuatan kalium zeolit didasarkan pada prinsip pertukaran ion.19 Gambar 2. Zeolit diaktivasi dahulu dengan cara direndam didalam larutan basa (misal. KOH). Ion K+ yang berasal dari larutan KOH akan mendorong ion-ion lain yang terdapat didalam zeolit. .8.10 dapat dilihat bahwa dengan jenis zeolit yang sama. namun kandungan ionnya berbeda maka besarnya pori zeolit juga akan berbeda. Dari tabel 2.10 Perbandingan jenis ion terhadap besar pori zeolit [20] Dari gambar 2. ion K+ memiliki selektifitas yang tinggi.8 dapat dilihat bahwa baik untuk klinoptilolit maupun mordenit. Hal ini disebabkan karena perbedaan selektifitas ion dalam zeolit yang disajikan dalam tabel 2.

sehingga menjadikan zeolit lebih porous dan permukaannya lebih aktif. adsorben) dan akhirnya membentuk suatu lapisan tipis atau film (zat terserap. Adsorben yang polar akan mengadsorp adsorbat polar lebih kuat daripada adsorbat nonpolar. luas permukaan adsorben. jenis adsorbat. Pada umumnya KTK ditentukan dalam miliekivalen/100 gram adsorben.8 Urutan selektifitas pertukaran kation pada berbagai zeolit [7] Jenis Zeolit Analsim Khabasit Klinoptilolit Heulandit Mordenit Urutan Selektifitas K<Li<Na<Ag Li<Na<K<Cs Mg<Ca<Na<NH4<K Peneliti Barrer (1950) Sherry (1969) Ames (1961) Ca<Ba<Sr<Li<Na<Rb<K Filizova (1974) Li<Na<Rb<K<Cs Ames (1961) 2.[5] Zeolit tersebut kemudian disaring.1 Penentuan Kapasitas Tukar Kation (KTK) Zeolit yang sudah diaktivasi kemudian dikontakan dengan HCl (bisa direndam). cairan maupun gas. demikian sebaliknya. adsorbat) pada permukaannya. Penambahan HCl ini akan melarutkan logam-logam seperti K+. Dengan demikian dapat diketahui besarnya kapasitas tukar kation (KTK) zeolit terhadap ion kalium. konsentrasi. dan suhu. tekanan (pada gas).20 Tabel 2. Na+.4. Pada proses penyaringan. 2. Muatan permukaan mempengaruhi distribusi ion-ion di dekat . terikat kepada suatu padatan atau cairan (zat penyerap.4. Jumlah zat yang teradsorpsi oleh adsorben tergantung pada karaktristik permukaan adsorben. Larutan hasil saringan kemudian dianalisis dengan menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometer untuk mengetahui kadar kalium yang terdapat didalamnya. Sebagian besar zat akan mendapat muatan apabila dikontakkan dengan medium yang polar.5 Adsorpsi Adsorpsi adalah suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida. zeolit akan tertahan di saringan sedangkan larutan HCl akan lolos. Mg2+ yang menutupi sebagian rongga pori dan menggantikannya dengan H+.

Hal ini berpengaruh terhadap pembentukan sifat listrik lapisan ganda dengan cara penyusunan muatan permukaan dan netralisasi kelebihan muatan yang berlawanan di sekeliling distribusi muatan yang sama secara difusi dalam medium polar. atau berhubungan dengan gaya dan jarak antar partikel yang saling bertolakan agar tidak terjadi koagulasi. Zeta potensial adalah potensial yang terdapat pada permukaan yang memisahkan daerah sebelah dalam dengan daerah yang tersebar pada lapis ganda. gaya tolak-menolak antar partikel menjadi minimum. Berdasarkan teori double layer. pada suatu keadaan dimana zeta potensial adalah nol (titik potensial). Ion-ion yang berlawanan muatan akan ditarik ke permukaan sedangkan ion-ion yang bermuatan sama akan ditolak menjauhi permukaan. Zeta potensial merupakan ukuran dari muatan lapis ganda dan jaraknya dari permukaan.11 Electric Double Layer [29] . Bila jarak partikel menurun hingga 20 Å atau kurang.21 medium polar. maka gaya Van der Waals akan menjadi dominan sehingga koloid akan terkoagulasi. Gambar 2.

Hal ini menunjukkan adanya perbedaan kesetimbangan antar senyawa yang ada di dalam larutan. Jumlah massa adsorben yang sama serta konsentrasi solut yang sama akan memberikan jumlah adsorbat yang berbeda.1 Isoterm Adsorpsi Freundlich Isoterm adsorpsi Freundlich ini berlaku untuk adsorpsi dalam fasa cair dengan konsentrasi rendah. Adsorpsi dilakukan secara repetitif untuk mengantisipasi larutan yang menjadi pekat apabila ditambahkan zeolit terus menerus tanpa pengurangan zeolit . molekul-molekul adsorbat mudah terlepas dengan cara pemanasan. Adsorpsi fisika terjadi karena adanya gaya Van der Waals.22 Terdapat dua macam adsorpsi yaitu adsorpsi fisika dan adsorpsi kimia. C(1/n) [30] Dimana : y = x/m = berat zat yang diadsorp per berat adsorben yang digunakan C = konsentrasi solut dalam larutan k dan n = konstanta Nilai dari konstanta k dan n dapat ditentukan dengan menlinierkan persamaan diatas menjadi : log y = log k + (1/n) log C Harga k dan n diperoleh dengan membuat grafik log y terhadap log C. Nilai k merupakan konstanta kesetimbangan. 2. Persamaan matematisnya : y = k.5. Apabila ditinjau dari hukum Freundlich.6 Adsorpsi Repetitif Adsorpsi repetitif dilakukan berdasarkan isotherm Freundlich. perbedaan nilai kesetimbangan itulah yang menyebabkan zeolit dapat mengadsorp senyawasenyawa secara selektif. Perbedaan nilai kesetimbangan dapat diamati apabila mengasumsi jumlah massa adsorben (m) serta konsentrasi solut sama (C). Konstanta kesetimbangan setiap senyawa atau molekul berbeda nilainya. 2. Adsorpsi kimia disebabkan karena terjadi ikatan kimia yang cukup kuat sehingga molekul adsorbat tidak mudah dilepaskan.

23 sebelumnya. [31] 2. Campuran zeolit air kemudian dipanaskan pada suhu 65oC. Larutan yang pekat memiliki proses pengolahan yang lebih sulit daripada larutan yang encer.8. Cu(OH)2 merupakan oksidator lemah dan gula reduksi merupakan reduktor kuat. Desorben yang umum digunakan adalah air. Jika . yaitu desorpsi dengan gas inert.2 Gula Reduksi Metode ini didasarkan pada sifat aldehid dan keton yang dapat mereduksi larutan alkali. Metode yang paling umum digunakan adalah dengan cara pemanasan. dan desorpsi akibat penurunan tekanan.8.7 Desorpsi Desorpsi adalah suatu proses dimana komponen tertentu dari suatu zat dilepaskan dari suatu adsorben setelah mengalami proses adsorpsi. Dalam metode ini digunakan bahan sebagai berikut : 1.1 Analisis Kuantitatif Sukrosa Metode yang sering digunakan dalam analisis sukrosa adalah Eynon-Lane. kemudian dikontakkan dengan desorben. Desorpsi dapat terjadi melalui beberapa cara. Dalam pereaksi Fehling. 2. yaitu terhadap konsentrasi dan terhadap jumlah sisa tembaga yang tidak terduksi. Zeolit yang telah digunakan untuk adsorpsi. desorpsi dengan pemanasan. glukosa dan fruktosa yang terbentuk ekivalen dengan sukrosa. metilen biru sebagai indikator Larutan Fehling ini terdiri atas dua macam larutan diatas yaitu larutan tembaga sulfat dan larutan alkali tartrat. larutan alkali tartrat 3. 2. Kadar sukrosa dalam molase dapat diamati dengan menentukan kadar gula pereduksi dalam molase karena reaksi hidrolisis sukrosa.8 2. larutan tembaga sulfat 2.

sebaiknya titrasi dilakukan dengan mendidihkan dahulu larutan yang akan dititrasi. sebagian sinar dipantulkan. Larutan yang dididihkan akan menghasilkan uap yang dapat mencegah kontak dengan udara. Konsentrasi zat warna yan diabsorp oleh larutan yang dilewati cahaya dapat dianalisis dengan Hukum Lambert-Beer yang menyatakan : A=a. 2. absorptivitas molar bergantung pada panjang gelombang cahaya. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut. Perubahan warna yang terjadi pada saat titrasi adalah dari biru hingga hilang tak berwarna kemudian berubah menjadi jingga atau kemerahan yang menandakan terbentuknya endapan Cu2O. suhu. sebagian terabsorpsi ke dalam medium. Selektivitas absorpsi maksimum akan diperoleh jika digunakan panjang gelombang cahaya maksimum. dan larutan yang digunakan.3 Zat Warna Analisis zat warna di dalam dilakukan dengan menggunakan sprktrofotometer. Warna yang hilang dapat kembali menjadi biru karena teroksidasi balik oleh udara. Pada saat suatu sinar jatuh di atas sebuah medium homogeny.24 dipanaskan larutan ini akan membentuk endapan Cu2O yang berwarna merah.8.C dengan A = absorbans a = absorptivitas molar b = tebal medium (kuvet) C = konsentrasi larutan Dalam Hukum Lambert-Beer. dan sisanya ditransmisikan.b. Gula yang dianalisis dengan menggunakan titrasi Eynon-Lane adalah gula yang mereduksi tembaga.[2] . Reaksi yang terjadi saat titrasi : RCHO + 2Cu(OH)2 +NaOH→ RCOONa + Cu2O↓ +3H2O Pada metode ini indikator yang digunakan adalah metilen biru karena metilen biru sangat sensitif terhadap kelebihan sedikit saja gula reduksi sehingga dapat digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi.

P2O5. .4 Abu Dalam proses pembakaran. CaO. Analisis abu yang dilakukan secara gravimetri untuk mengetahui kadar abu atau zat-zat anorganik yang ada. MgO. dan SiO2. 2. zat yang tertinggal hanyalah abu dan beratnya kemudian ditimbang. Prinsip inilah yang akan digunakan dalam penentuan kadar abu dalam tetes tebu. Analisis dilakukan dengan memanaskan sampel pada suhu sekitar 100oC hingga seluruh air menguap.8.8. Analisis ini dilakukan dengan memijarkan sampel pada krus dengan menggunakan furnace pada temperatur 550oC. Dengan pembakaran ini. senyawa-senyawa organik akan terurai menjadi H2O dan CO2 sedangkan logamnya tidak akan terurai dan menjadi abu. Tetes tebu mengandung sejumlah zat-zat anorganik dalam bentuk senyawa seperti K2O. SO3. Fe2O3/Al2O3.5 Total Dissolved Solid Analisis total solid dilakukan secara gravimetri untuk mengetahui kadar total solid yang terkandung dalam tetes tebu. Na2O. kemudian ditimbang.25 2.

1.1 3.2.1 Bahan Bahan Baku Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah tetes tebu dan zeolit Bayah.2 Peralatan Pendukung Peralatan pendukung penelitian ini meliputi waterbath. indikator phenolphthalein dan metil biru. batu didih dan aquadest. 3. larutan HCl. decanter.1. dan kertas saring. krus.2. kolom penukar ion. 3.3 Bahan Analisis Bahan yang digunakan untuk analisis dalam penelitian ini adalah larutan Fehling A dan Fehling B. dan HCl. eksikator.1. pH meter.1 Alat Peralatan Utama Peralatan yang digunakan dalam percobaan utama adalah : Stirrer Centrifuge Spektrofotometer neraca analitik dan digital stopwatch buret furnace dan oven 3. larutan etanol 80%. 3.2 Bahan Penunjang Bahan penunjang dalam analisis ini adalah larutan KOH. 26 .BAB III BAHAN DAN METODE 3.2 3.

1 Tahap Persiapan Aktivasi Zeolit Zeolit yang digunakan merupakan zeolit asal Bayah.27 3. Zeolit yang digunakan adalah zeolit yang lolos saringan 200 mesh.2 Diagram alir proses pembuatan kalium-zeolit .3. Diagram alir proses pembuatan kalium-zeolit sebagai berikut : Zeolit dari eksikator ditimbang 500 gram Larutan KOH 1N 500 mL disiapkan Zeolit dimasukkan ke dalam wadah penampung Ke dalam wadah penampung dimasukkan larutan KOH 1 N hingga zeolit terendam Diaduk secara manual ±15 menit.3.2 Pembuatan Kalium Zeolit Proses ini memanfaatkan prinsip pertukaran kation. Zeolit yang dibeli kemudian ditumbuk hingga halus dan diayak dengan saringan 200 mesh.1 Proses aktivasi zeolit 3. Zeolit dikeringkan dalam oven selama 120 menit dengan suhu 120oC Dimasukkan ke dalam eksikator sampai dingin Gambar 3. dan didiamkan selama ±3 jam Zeolit dipisahkan dengan mengalirkan larutan yang ada Zeolit yang sudah terpisah dicuci dengan air sampai pH 7-8 Zeolit basah tersebut dikeringkan di oven pada suhu 60oC sampai berat konstan Gambar 3.3 3.

Larutan keluaran dianalisa kadar kaliumnya dengan menggunakan AAS.4 Proses Persiapan 3. Kemudian dialiri dengan HCl 0.3 Penentuan Kapasitas Tukar Kation (KTK) Kalium-Zeolit Mula-mula zeolit ditimbang sebanyak 0.5 gram Kalium-zeolit Dimasukkan ke dalam kolom penukar ion Dialiri larutan etanol 80% sebanyak 40 mL selama 1 jam Hasil larutan yang tertampung dibuang Selanjutnya aliri unggun zeolit dengan HCl 0.1 Persiapan Tahap 1 Diagram alir proses persiapan tahap 1 sebagai berikut : Tetes tebu 1000 gr diencerkan dengan air 1000 mL Diperoleh data V1 dan massa Diaduk dengan kecepatan 300 rpm hingga homogen Didiamkan di suhu kamar selama 1 malam Terbentuk endapan Di sentrifuge pada 3000 rpm selama 45 menit Supernatant di decanter Diperoleh data V2 Gambar 3.2 N sebanyak 80 mL secara perlahan-lahan selama 2 jam.4.3.3. Diagram alir proses penentuan KTK sebagai berikut : Ditimbang ±0.28 3.2 N sebanyak 80 mL secara perlahan-lahan selama 2 jam Larutan keluaran ditampung dan dianalisa kadar kaliumnya dengan menggunakan AAS Gambar 3.5 gram kemudian dimasukkan ke dalam kolom penukar ion.3.3 Diagram alir proses penentuan KTK kalium-zeolit 3. Setelah itu dialiri dengan larutan etanol 80% sebanyak 40 mL selama 1 jam.4 Diagram alir proses persiapan tahap 1 .

total solid. dibuat bubuk Semua bubuk dikeringkan dengan menggunakan oven pada 105oC sampai beratnya konstan V2 ditentukan Brix-nya Gambar 3. gula reduksi.4.4 3. dan abu Gambar 3.5 jam Diaduk dengan kecepatan 50 rpm selama 0.5 jam Didiamkan 1 malam Di-centrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 45 menit Supernatant (Sp1) Endapan (E1) Diambil 20 mL untuk analisis Disimpan Gambar 3.4.7 Diagram alir proses adsorpsi repetitif tahap 1 . zat warna.29 3.2 Persiapan Tahap 2 Diagram alir proses persiapan tahap 2 sebagai berikut : Semua endapan dikeringkan dibawah matahari.4.3 Persiapan Tahap 3 Diagram alir proses persiapan tahap 3 sebagai berikut : V2 diencerkan dengan 1000 mL air Diaduk hingga homogen Larutan I Dianalisis kadar sukrosa.6 Diagram alir proses persiapan tahap 3 3.5 Diagram alir proses persiapan tahap 2 3.3.1.1 Percobaan Utama Adsorpsi Repetitif Tahap 1 Dari V3 diambil 2000 mL Ditambah K-Zeolit 4gr/100 mL Diaduk dengan kecepatan 300 rpm selama 0.

5 jam Diaduk dengan kecepatan 50 rpm selama 0.5 jam Didiamkan 1 malam Di-centrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 45 menit .30 3.5 jam Diaduk dengan kecepatan 50 rpm selama 0.8 Diagram alir proses adsorpsi repetitif tahap 2 3.5 jam Didiamkan 1 malam Di-centrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 45 menit Disaring dengan corong Buchner.44 gr/100 mL Diaduk dengan kecepatan 300 rpm selama 0. dengan Whatman 1-4 Filtrat (Sp2) Endapan (E2) Diambil 20 mL untuk analisis Disimpan Gambar 3.2 Adsorpsi Repetitif Tahap 2 Digunakan larutan VSp1 Ditambah K-Zeolit 2.4.4 gr/100 mL Diaduk dengan kecepatan 300 rpm selama 0.4.3 Adsorpsi Repetitif Tahap 3 Digunakan larutan VSp2 Ditambah K-Zeolit 1.

6.31 Disaring dengan corong Buchner.10 Proses extractive 3. .5 Proses Extractive Proses ini dilakukan jika analisis supernatant memberikan hasil yang baik. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan metode gravimetri. setelah proses adsorpsi tahap 1.6 3.9 Diagram alir proses adsorpsi repetitif tahap 3 3. sesudah proses persiapan tahap 3. Semua endapan dicampurkan Ditambahkan 1000 mL air Diaduk pada kecepatan 500 rpm Dipanaskan pada 50oC selama 45 menit Didiamkan selama 1 malam Disaring atau di centrifuge Supernatant dianalisis Gambar 3.1 Metode Analisis Kadar padatan / total solid Analisis kadar total solid ini dilakukan untuk mengetahui kadar total solid awal pada tetes tebu. dengan Whatman 1-4 Filtrat (Sp3) Endapan (E3) Diambil 20 mL untuk analisis Disimpan Gambar 3.2 dan 3 (menganalisis supernatant dan filtrat).

2 dan 3 (menganalisis supernatant dan filtrat).32 3.2 dan 3 (menganalisis supernatant dan filtrat). setelah proses adsorpsi tahap 1. 3.7 Lokasi dan Jadwal Penelitian Penelitian akan dilakukan di Laboratorium Teknik Kimia Universitas Katolik Parahyangan dan Laboratorium Kimia Industri Universitas Padjajaran. setelah proses adsorpsi tahap 1. . sesudah proses persiapan tahap 3.2 Kadar sukrosa Analisis kadar sukrosa dilakukan untuk mengetahui kadar sukrosa awal pada tetes tebu. setelah proses adsorpsi tahap 1. 3.5 Kadar abu Analisis kadar abu ini dilakukan untuk mengetahui kadar awal pada tetes tebu.2 dan 3 (menganalisis supernatant dan filtrat). Analisis ini dilakukan dengan menggunakan metode gravimetrik.6. setelah proses adsorpsi tahap 1. 3. sesudah proses persiapan tahap 3. sesudah proses persiapan tahap 3.6. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan metode titrasi volumetrik Eynon-Lane. 3. sesudah proses persiapan tahap 3. Analisis ini dilakukan dengan metode spektrofotometri dengan menggunakan spektrofotometer pada λ = 436 nm.3 Kadar gula reduksi Analisis kadar gula reduksi ini dilakukan untuk mengetahui kadar gula reduksi awal pada tetes tebu.6. Analisis ini dilakukan dengan metode Eynon-Lane.2 dan 3.6.4 Kadar zat warna Analisis zat warna ini dilakukan untuk mengetahui konsentrasi zat warna awal pada tetes tebu.

Tabel 3.7.33 3.1 Jadwal kerja penelitian Kegiatan Penyiapan bahan Peminjaman peralatan Penelitian pendahuluan Penelitian inti dan analisis Pembahasan hasil percobaan Penyelesaian laporan Agustus 1 2 3 4 1 September 2 3 4 1 Oktober 2 3 4 1 November 2 3 4 1 Desember 2 3 4 .1.1 Jadwal Penelitian Jadwal kerja penelitian disajikan dalam tabel 3.

Pada percobaan ini. Zeolit yang digunakan berukuran sangat kecil dengan tujuan untuk memperbesar luas permukaan zeolit yang kontak dengan molase agar proses adsorpsi dapat berlangsung dengan lebih optimal. komposisi molase yang digunakan dalam percobaan ini sudah mendekati literature yang diperoleh. Hasil analisa molase awal dapat dilihat pada tabel 4. zeolit yang digunakan diperoleh dari Bapak Toni Toha Apandi dengan alamat sebagai berikut : PT. Tabel 4.BAB IV PEMBAHASAN 4. total solid. Transindo Jalan Soekarno Hatta 151 Ruko Taman Surya D-9 Daerah Pasir Koja – Caringin Telp : (022) 6009270 34 .72 % 13.9 % 3571x pengenceran Literatur [Honig] ± 32 % ± 30 % ±8% - Berdasarkan hasil analisa. dan zat warna yang terdapat di dalam molase yang akan digunakan selama proses penelitian.2 Pembuatan Kalium Zeolit Zeolit yang digunakan dalam penelitian ini adalah zeolit Bayah yang lolos saringan 200 mesh.1 Hasil analisis molase awal Gula reduksi Sukrosa Abu Total Solid Zat Warna Percobaan 30.1. 4.1 Analisis Molase Awal Analisis molase awal dilakukan untuk mengetahui kadar gula.18 % 90.32 % 32. abu.

2. Pembuatan kalium zeolit dilakukan dengan mempertukarkan ionion yang terdapat di dalam zeolit dengan ion kalium. Prosedur analisis dengan menggunakan AAS yang dilakukan oleh pihak LIPI dapat dilihat pada lampiran A. Tabel 4. Li dan Mg) sehingga diharapkan diperoleh zeolit dengan ukuran pori yang relatif kecil yang mampu mengadsorp komponen gula.35 Percobaan ini menggunakan kalium zeolit karena ion kalium memiliki jari-jari ion yang paling besar jika dibandingkan dengan ion-ion lain yang terdapat didalam zeolit (Na.65 % 1. Dari hasil analisis yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) diperoleh kadar kalium di dalam zeolit seperti yang tercantum dalam tabel 4.1 Rangkaian alat pertukaran ion Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa kadar kalium di dalam zeolit setelah mengalami proses pertukaran ion meningkat jika dibandingkan . Kadar kalium di dalam zeolit selanjutnya diukur dengan menggunakan alat AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Ion kalium berasal dari larutan KOH.84 % Gambar 4.2 Kadar kalium dalam zeolit Sebelum Pertukaran Ion Setelah Pertukaran Ion Kadar Kalium 0.

74 % 1. Tabel 4. Endapan yang diperoleh kemudian dikeringkan dengan menggunakan oven sehingga diperoleh padatan kering. 4.3. abu.36 dengan zeolit awal.3 Hasil analisis percobaan pendahuluan Gula reduksi Sukrosa Abu Total Solid Zat Warna Brix 9.3 % 2500x pengenceran 28.3% Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan pengenceran 3x komposisi gula. total solid serta zat warna.4 Percobaan Utama Percobaan utama dalam penelitian ini adalah proses adsorpsi komponen tetes tebu secara repetitif dengan menggunakan kalium zeolit dan bentonite DM (drilling mud). Molase sebanyak 1 kg diencerkan dengan 2L air kemudian disentrifuge.66 % 27. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa proses pertukaran ion berhasil dilakukan dengan baik. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 4. Pada tahap 2 adsorben yang digunakan adalah kalium zeolit sebanyak 2 gr/100 mL.3 Percobaan Pendahuluan Percobaan ini dilakukan untuk menghilangkan non-gula yang terdapat di dalam molase. Pada tahap 3 adsorben yang digunakan adalah kalium zeolit sebanyak 4 gr/100 mL. Molase yang telah dihilangkan non-gulanya selanjutnya dianalisis kadar gula. abu. serta total solids yang terdapat didalam molase berkurang menjadi kurang lebih sepertiga dari komposisi awal. Molase inilah yang akan digunakan sebagai larutan asal adsorpsi. 4. Endapan inilah yang merupakan komponen non-gula yang terdapat di dalam molase. Larutan . Tahap 1 merupakan pengenceran molase 1 kg dengan 2 L air.77 % 10. Pada tahap 4 adsorben yang digunakan adalah kalium zeolit sebanyak 6 gr/100 mL.

33 5.54 4 5 6 7 Tahap Percobaan Gambar 4.2 Kurva kadar gula reduksi Dari Gambar 4. Hal ini menunjukkan bahwa kalium zeolit lebih mengadsorpsi gula reduksi dibandingkan dengan bentonite. Gula reduksi yang terdapat didalam molase adalah glukosa dan fruktosa.00 6. Sedangkan pada tahap 6 adsorben yang digunakan adalah bentonite DM sebanyak 6 gram/100 mL 4.50 7.77 8.00 2. . Analisis gula reduksi dilakukan dengan metode Eylon-Lane. Pada tahap 5 adsorben yang digunakan adalah bentonite DM sebanyak .00 0 % Gula Reduksi Bentonite 9.60 5.37 disentrifuge dan endapan kalium zeolit disimpan.00 8.00 4.2 dapat dilihat bahwa konsentrasi gula reduksi di dalam molase berkurang karena proses adsorpsi.1 Analisis Kadar Gula Reduksi Gula reduksi adalah gula yang dalam bentuk larutan alkali membentuk aldehida atau keton.4. jumlah gula reduksi yang diadsorpsi lebih banyak (tahap 1-4) dibandingkan dengan adsorpsi menggunakan bentonite (tahap 5-6).00 0.85 Kalium Zeolit 1 2 3 5. Pada proses adsorpsi dengan menggunakan kalium zeolit. Kadar Gula Reduksi 12.00 10.

00 10. Penentuan kadar sukrosa didalam molase dilakukan dengan menentukan kadar gula total terlebih dahulu dilanjutkan dengan penentuan kadar gula reduksi.38 4.4.00 0 % Sukrosa 10.2 Analisis Kadar Sukrosa Kadar sukrosa didalam molase tidak dapat ditentukan secara langsung.75 9. Kadar Sukrosa 12.00 2. Kadar sukrosa merupakan selisih antara gula total dan gula reduksi. Hal ini menunjukkan bahwa bentonite lebih mengadsorpi sukrosa daripada kalium zeolit.4 dapat dilihat bahwa kurva gula reduksi dan sukrosa hampir berhimpitan.72 6.3 menunjukkan perubahan kadar sukrosa dalam molase setelah diadsorpsi.00 8.00 0. .25 6 7 Bentonite Kalium Zeolit Tahap Percobaan Gambar 4. Hal ini menunjukkan kalium zeolit mengadsorpsi gula reduksi dan sukrosa sama baiknya.00 4.3 Perbandingan Adsorpsi Kalium Zeolit dan Bentonite Dari Gambar 4.13 1 2 3 4 5 2. perubahan kadar sukrosa lebih kecil jika dibandingkan dengan adsorpsi menggunakan bentonite (tahap 5-6).3 Kurva kadar sukrosa Gambar 4. Kadar gula total dan gula reduksi ditentukan dengan menggunakan metode Eynon-Lane.80 7.4.94 3. 4.00 6. Dapat dilihat bahwa pada percobaan yang menggunakan kalium zeolit sebagai adsorben (tahap 2-4).

4 Kurva perbandingan adsorpsi gula reduksi dan sukrosa 4. . Analisis kadar abu dilakukan secara gravimetri.4 Analisis Kadar Abu dan Total Solids Selain mengandung senyawa-senyawa organik.39 Sebaliknya pada proses adsorpsi dengan menggunakan bentonite dapat dilihat dengan jelas bahwa bentonite lebih baik mengadsorpsi sukrosa dibandingkan gula reduksi. Abu yang dihasilkan dalam pembakaran ini berwarna abu-abu dan halus.4. Analisis abu ini dilakukan untuk menentukan jumlah senyawa anorganik yang terdapat di dalam molase.5. Proses pembakaran dengan menggunakan furnace pada suhu 550oC menyebabkan zat-zat organik yang terdapat didalam molase terurai menjadi karbondioksida dan air. molase juga mengandung senyawa anorganik. Hasil pembakaran dapat dilihat pada gambar 4. Perbedaan kemampuan mengadsorpsi antara kalium zeolit dan bentonite disebabkan Perbandingan Adsorpsi Gula Reduksi dan Sukrosa Persen Adsorpsi (%) 80 60 40 20 0 0 2 4 Tahap Percobaan 6 Gula Reduksi Sukrosa Kalium Zeolit Bentonite 8 Gambar 4.

hasil analisis menunjukkan kecenderungan turun. .97 Tahap Percobaan Gambar 4.63 3.66 Kalium Zeolit 2.40 Gambar 4. Sedangkan untuk analisis abu dengan menggunakan adsorben bentonite (tahap 5-6).00 0.00 1.6 Kurva kadar abu Hasil analisis abu dengan menggunakan adsorben kalium zeolit (tahap 2-4) tidak menunjukkan kecenderungan yang jelas.00 2.00 2.00 % Abu 3.32 2.5 Hasil analisis abu Kadar Abu 4.00 0 1 2 3 4 5 6 7 1.66 Bentonite 1. Hal ini menunjukkan bahwa bentonite lebih mengadsorpsi abu daripada kalium zeolit.

4.5 Analisis Kadar Zat Warna Analisis kadar zat warna dilakukan untuk mengetahui besarnya adsorpsi kalium zeolit terhadap zat warna yang terdapat didalam molase.41 Kadar Total Solids 30.10 22.00 23.30 24.00 25.59 Kalium Zeolit Bentonite 3 4 5 6 1 2 Tahap Percobaan Gambar 4.1. Setelah dilakukan pemanasan maka akan terbentuk padatan berwarna coklat kehitaman.00 20.7 dapat dilihat bahwa perubahan kadar total solids tidak begitu besar. Analisis dilakukan dengan mengencerkan sampel hasil adsorpsi hingga diperoleh nilai absorbansi sebesar ±0.00 15.7 Kurva kadar total solids Analisis kadar total solids dilakukan dengan memanaskan tetes tebu pada temperatur ±105oC untuk menghilangkan kandungan air.00 5. Hal ini menunjukkan bahwa baik kalium zeolit maupun bentonite tidak mengadsorpsi padatan yang terdapat di dalam molase.00 10.11 22.00 % Total Solids 27. Dari Gambar 4.25 24. 4.00 0. .

42 Zat Warna 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 Pengenceran 2500 1666 1500 1166 4 Bentonite 1000 5 Kalium Zeolit 1 2 3 900 6 Tahap Percobaan Gambar 4. .8 Kurva zat warna Dari kurva dapat dilihat bahwa terjadi penurunan jumlah pengenceran dari setiap sampel hasil adsorpsi. Hal ini berarti kalium zeolit dapat mengadsorpsi zat warna yang terdapat didalam molase.

2. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mempelajari proses desorpsi komponen yang sudah teradsorp didalam zeolit. 2. Saran 1. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai proses pemisahan komponen gula di dalam molase. Kalium zeolit dapat mengadsorpsi gula reduksi dan sukrosa dengan sama baiknya.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Zeolit yang digunakan dalam percobaan ini berhasil dipertukarkan ionnya dan menjadi kalium zeolit. 43 .

George T. and Meade.DAFTAR PUSTAKA 1. Komar Priatna. USA 3. Kurnia.com/sugar- information/molasses. Sukrosa. Budidaya Tebu. Honig. Komposisi Tetes Tebu.blogspot.html 12.. http://teknis-budidaya. Anwar. http://anggitsaputradwipramana. Bandung : Puslitbang Teknologi Mineral.blogspot.. Pengolahan. & Green.html 11. 2004. 8th edition. Bandung : Puslitbang Teknologi Mineral. Nugraha. 1963 2. Prospek Pemakaian Zeolit Bayah Sebagai Penukar Kation. Adi. jilid 2. 8. Pramono. Austin. George P. http://www. Principles of Sugar Technology. 7. Dr. http://en. Aktifasi Zeolit Bayah/Karangnunggal Untuk Mengadsorpsi Gas Buang Pembakaran Batubara. Guilford L. 7th edition 44 . 1984 10. John Wiley and Sons Inc.... Amsterdam. vol. dkk. Shreve’s Chemical Process Industries. Husaini. Spencer.wikipedia.org/wiki/Sucrose 5.. Elsevier. Ir. Perry. Singapore : McGraw-Hill.trivenigroup. Bandung : Puslitbang Teknologi Mineral. Fessenden & Fessenden. Perry’s Chemical Engineers’ Handbook. Robert H.com/2007/10/budidayatebu. 4. Yuhelda. Don W. Cane Sugar Handbook. 6.html 9. 2000. dan Karakterisasi Zeolit Karangnunggal Tasikmalaya. Preparasi. P. edisi ketiga. Kimia Organik. 3.com/2008/07/selayang-pandangtentang-molase-tetes. 1985. Jakarta : Erlangga. 1982. 5th edition. Gambar Molase. Yahya.

htm 18. Adsorben.htm 19.45 13. Husaini. http://duniasapi. http://www. Apandi. Drs. Gambar Struktur Kristal Zeolit. Struktur Molekul Sukrosa.com/index. Rumus kimia zeolit bayah. Adsorbents : Fundamentals and Application.id/bebas/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Kimia/ 0170%20Kim%201-4b. Ralph T.moutere.edinformatics.com/foods/sucrose.Jawa Barat.uniregensburg. Koagulasi. 27. Bandung : Puslitbang Teknologi Mineral. Toni Toha. . http://kambing. 2003. 1999.phyastr. Penyaring Molekuler dan Katalis.edu/hbase/Organic/sugar. Reaksi Fruktosa dengan Fehling.ui.plantamor.htm 14. http://www. Struktur Molekul Fruktosa dan Glukosa. Fruktosa. Karakteristik Zeolit Alam Asal Bayah. Yang. http://en.worldofmolecules. http://hyperphysics. Percontohan Pengolahan Zeolit Bayah.htm 20. John Wiley & Sons Inc.html 17.php?plant=1100 23. Taksonomi tebu. http://www.de/Organische_Chemie/Didaktik/Keusch/D-Fehling-e.chemie. Citra Aditya Bakti. Gula Reduksi.org/wiki/Inverted_sugar_syrup 16. Rustiadi. http://en.com/math_science/science_of_cooking/ fructose.. Hiskia. 28. Achmad. Bandung : Puslitbang Teknologi Mineral. 1998. 2001.id/ptlr/08id/?q=node/14 25. Gambar Zeolit.wikipedia.ac. Reaksi Hidrolisis Sukrosa.com/zeolit-untuk-peternakan/ 22.wikipedia. Bandung : PT. http://www.batan. http://www. Rekayasa Sistem Pengolahan Limbah Industri Menggunakan Mineral Zeolit Sebagai Penukar Ion.go.com/stories/storyReader$39 24. Kimia Unsur dan Radiokimia. http://www.Sukabumi. 21. Purawiardi. 26. 1990.org/wiki/Reducing_sugar 15.gsu.

com/5000794.html .46 29.substech.org/wiki/Freundlich_equation 31. http://en. Gambar Electric Double Layer. Rumus Isoterm Freundlich. http://www.com/dokuwiki/doku.freepatentsonline. Desorpsi.wikipedia. http://www.php? id=stabilization_of_colloids&s=electric%20doub%20layer 30.

tunggu hingga mendidih 2 menit Tambahkan 5 tetes indikator metil biru sehingga larutan menjadi berwarna biru.1 Analisis Sukrosa. Glukosa dan Fruktosa Kadar sukrosa dan gula invert dianalisis dengan menggunakan metode Eynon- Lane.1 Diagram alir penentuan gula reduksi dengan metode Eynon-Lane 47 . ulangi langkah di atas dengan menggunakan 14 mL sampel Titrasi larutan sampel sampai warna birunya hilang. jika tidak berarti sampel yang digunakan terlalu banyak Jika larutan sampel terlalu banyak. jumlah sampel yang digunakan dicatat (x mL) Ulangi titrasi dengan menggunakan (x-1) mL larutan sampel Gambar A. Penentuan gula reduksi Timbang 5 gr sampel dalam 100 mL gelas kimia dan tambahkan aquadest Encerkan larutan sampel sampai 500 mL dalam labu takar Ambil 5 mL larutan Fehling A dan masukkan ke erlenmeyer 250 mL Tambahkan 5 mL larutan Fehling B ke dalam erlenmeyer yang sama Tambahkan larutan sampel yang telah diencerkan sebanyak 15 mL ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan buret dan masukkan batu didih Tempatkan pada hot plate yang sebelumnya telah dipanaskan.1.LAMPIRAN A PROSEDUR ANALISIS A. Diagram alir proses analisis disajikan dalam gambar A.

Reducing substance ditentukan dari tabel Eynon-Lane kolom 0.5. kemudian netralkan dengan NaOH 6.%RS) x 0. ambil larutan tersebut kira-kira 1.5 gr dan tempatkan pada gelas piala kecil Pindahlan larutan ke labu ukur 200 mL dan usahakan air pembilas tidak melebihi 100 mL Tambahkan 10 mL HCl 6.48 % RS = Dengan : mL titer = volume sampel yang digunakan dikalikan dengan berat sampel yang ditimbang dibagi dengan 5.2 Diagram alir penentuan gula total dengan metode Eynon-Lane % TS = Reducing substance ditentukan dengan menggunakan tabel Eynon-Lane kolom 0. dimulai dari penambahan larutan Fehling A hingga titrasi Gambar A.34 N Panaskan dalam waterbath selama 3 menit dengan suhu 70-80oC Dinginkan sampai suhu kamar Tambahkan 2-3 tetes indikator fenolftalein. Untuk menentukan kadar sukrosa dapat digunakan perhitungan berikut : % Sukrosa = (%TS . Penentuan gula total Buat larutan dengan mencampurkan larutan sampel dan air dengan perbandingan 1 : 1.95 .34 N Tambahkan aquadest hingga garis Lakukan langkah yang sama seperti pada proses penentuan gula reduksi.

3 Analisis Zat Warna Langkah-langkah dalam menganalisis zat warna : 1.49 A.2 Analisis Abu Langkah-langkah dalam proses menganalisis abu adalah : 1. Krus dan sampel dipijarkan dengan bunsen hingga temperatur 550oC sampai semua karbondioksida hilang 3. Tentukan panjang gelombang pada spektrofotometer. Krus disimpan di dalam eksikator selama 1 jam 4. 2-3 gr sampel ditimbang dan disimpan pada krus yang sebelumnya telah ditimbang 2. Berat krus dan sampel ditimbang Diagram alir proses analisis abu : 2-3 gr sampel ditimbang dan disimpan pada krus yang sebelumnya telah ditimbang Krus dan sampel dipijarkan dengan furnace hingga temperatur 550oC sampai semua karbondioksida hilang Krus disimpan di dalam eksikator selama 1 jam Berat krus dan sampel ditimbang Gambar A. kemudian kalibrasi dengan larutan blanko berupa aquadest 4. Kuvet yang akan digunakan dibersihkan terlebih dahulu 3. Spektrofotometer dinyalakan terlebih dahulu selama kurang lebih 20 menit 2.3 Diagram alir proses analisis abu Perhitungannya adalah : Berat abu = berat (abu + krus) – berat krus A. Nilai %T dicatat .

50 Diagram alir proses analisis zat warna sebagai berikut : Spektrofotometer dinyalakan terlebih dahulu selama kurang lebih 20 menit Kuvet yang akan digunakan dibersihkan terlebih dahulu Tentukan panjang gelombang pada spektrofotometer (436 nm). Timbang 100 gr sampel kemudian disimpan di dalam krus yang telah ditimbang 2.4 Diagram alir proses analisis zat warna A. Berat krus dan sampel kemudian ditimbang Diagram alir proses analisis total solids sebagai berikut : Timbang 100 gr sampel kemudian disimpan di dalam krus yang telah ditimbang Sampel dan krus dipanaskan hingga 100oC dalam oven Krus dan sampel kemudian disimpan di dalam eksikator selama 1 jam Berat krus dan sampel kemudian ditimbang Gambar A. kemudian kalibrasi dengan larutan blanko berupa aquadest Nilai %T dicatat Gambar A.5 Diagram alir proses analisis total solids Perhitungannya adalah : Berat total solid = berat (krus + total solid) – berat krus . Krus dan sampel kemudian disimpan di dalam eksikator selama 1 jam 4.4 Analisis Total Solids Langkah-langkah dalam menganalisis total solids : 1. Sampel dan krus dipanaskan hingga 100oC dalam oven 3.

5 0 3 250 Saring dengan kertas Whatman no 42 kedalam labu takar 25 mL dan tambahkan akuades sampai tanda batas Gambar A.1 Tahap Persiapan Sebanyak 0.4 gram sampel ditimbang Dimasukkan ke dalam vessel Teflon Ditambahkan 3 mL HNO3 65% dan 0.5 Analisis Kadar Kalium A.2-0.51 A.5.5 mL H2O2 30-35% Dimasukkan ke dalam microwave dan diatur program pemanasan sebagai berikut Waktu (menit) Daya (watt) 5 500 0.5 0 3 250 Sampel didinginkan Ditambahkan 2 mL HNO3 65% dan 1 mL H2O2 30-35% Dimasukkan ke dalam microwave dan diatur program pemanasan sebagai berikut Waktu (menit) Daya (watt) 5 500 0.6 Tahap persiapan analisis .

. maka hasil dari perhitungan diatas dikalikan dengan .5.7 Proses pembuatan kurva standar A.2 Pembuatan Kurva Standar Larutan KCl dibuat dengan konsentrasi tertentu Masing-masing larutan diukur absorbansinya dengan menggunakan AAS Data absorbansi dan konsentrasi diplot dalam sebuah kurva sehingga diperoleh sebuah persamaan kurva standar Gambar A.8 Proses analisis kadar kalium Kadar kalium dalam sampel dapat dihitung dengan menggunakan persamaan : ppm = Jika ingin mengubah ke dalam satuan persen kalium.5.3 Proses Analisis Blanko asam nitrat 65% disiapkan Sampel diukur absorbansinya dengan menggunakan AAS Data absorban yang diperoleh kemudian dimasukkan ke dalam persamaan kurva standar untuk mengetahui konsentrasi sampel Gambar A.52 A.

Pencegahan : gunakan sarung tangan dan baju lengan panjang. 2. kontak langsung dapat menyebabkan luka terbuka pada kornea mata. dan koma. Oleh sebab itu perlu diketahui sifat-sifat dari bahan berbahaya tersebut. Data-data tersebut meliputi sifat – sifat bahaya bahan. dan Pencegahan 1. Pertolongan Pertama. Iritasi dpat menyebabkan pneumonitis.1. 4.1 Efek Kesehatan. 53 . keselamatan dan pengamanan. Jika sesak napas. dapat menyebabkan kegagalan sistem pencernaan. sifat – sifat fisika bahan. 3. Mata Efek : dapat menyebabkan rasa terbakar pada mata. dapat menyebabkan kematian. Pencegahan : gunakan safety google. sesak napas. Segera minta bantuan. Kulit Efek : dapat menyebabkan rasa terbakar pada kulit. Pencernaan Efek : sangat berbahaya apabila tertelan. Pertolongan : bilas dengan air dan sabun selama 15 menit. Segera lepaskan baju yang terkontaminasi agar tidak menyebar. B. Apabila korban masih sadar. Pertolongan : jangan dipaksa untuk muntah. beri 2-4 gelas susu.LAMPIRAN B LEMBAR DATA KESELAMATAN BAHAN Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini ada yang merupakan bahan berbahaya. Pertolongan : segera bawa ke udara luar. Dapat menyebabkan batuk-batuk. Data-data tersebut akan dilampirkan di bawah ini. Pertolongan pertama : bilas dengan air selama 15 menit. Pernapasan Efek : berbahaya jika terhirup.1 Larutan KOH B. beri oksigen.

3. .54 B.1M solution) : Not available. : Not available. dan pusing. : Soluble in water : 2. : Not available. Bilas dengan air dan sabun. dan Pencegahan 1. : (estimated) Health: 3. : Not available.1.edu/MSDS/KOH.2. : 2408 deg F : 680 deg F : Not applicable. Pernapasan Efek : dapat menyebabkan muntah-muntah.1 Efek Kesehatan.1047 [MSDS Potassium Hydroxide. Pertolongan : segera lepaskan baju yang terkontaminasi. Pencegahan : gunakan sarung tangan dan baju lengan panjang. Lower Upper Solubility Specific Gravity/Density Molecular Formula Molecular Weight : Solid : white or yellow : odorless : 13. Pertolongan : segera bawa ke udara luar. : Not applicable.chem. beri oksigen. : Not available. Pencernaan Efek : dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal. : Not available. Kulit Efek : dapat menyebabkan rasa terbakar pada kulit. mual.5 (0. 2. http://avogadro. Segera minta bantuan. Pertolongan Pertama. Flammability: 0. Pertolongan : kumur-kumur dengan air. Pencegahan : gunakan safety google.htm ] B. 4. Jika sesak napas.04 : KOH : 56. Pertolongan pertama : bilas dengan air.iastate. Mata Efek : dapat menyebabkan iritasi pada mata. : Not available.2 Larutan Etanol B.2 Sifat Fisik Physical State Appearance Odor pH Vapor Pressure Vapor Density Evaporation Rate Viscosity Boiling Point Freezing/Melting Point Autoignition Temperature Flash Point Decomposition Temperature NFPA Rating Reactivity: 1 Explosion Limits.

kegagalan sistem pernapasan.com] B.55 B. Pungent Odor [MSDS Ethanol. Beri air dan susu yang banyak 4. : Pungent odor. Larutan yang pekat dapat menghilangkan warna kulit. kematian. B. Bilas dengan air dan sabun.86 Vapor Pressure mm Hg/20°C : 96 Percent Volatile by Vol : 91% Vapor Density (Air 1:1) : 1. Pernapasan Efek : korosif! Terhirup uap HCl dapat menyebabkan batuk-batuk. Dapat menimbulkan mual. Segera minta bantuan. 2. Pertolongan pertama : bilas dengan air selama 15 menit. rasa terbakar pada hidung dan kerongkongan. Pertolongan : segera bawa ke udara luar. dapat juga menyebabkan kematian. kerongkongan.3.1 Efek Kesehatan. dan diare. rasa sakit dan terbakar. Pencegahan : gunakan safety google. Mata Efek : korosif! Uap dapat menyebabkan iritasi pada mata. dan dalam beberapa kasus. Pencegahan : gunakan sarung tangan dan baju lengan panjang.3. 3. colorless liquid. http://www.3 Larutan HCl B. Pencernaan Efek : korosif! Menelan HCl dapat menyebabkan rasa sakit seketika dan rasa terbakar pada mulut. : Infinitely soluble. Pertolongan : segera lepaskan baju yang terkontaminasi.05 @ 15C (59F) .astraldiagnostics. beri oksigen. : 1. Pertolongan : jangan dipaksa untuk muntah. Kulit Efek : korosif! Dapat menyebabkan kemerahan pada kulit. tenggorokan.2. muntah. Kontak langsung dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata.11 Evaporation Rate (ether = 1) : >1 Solubility in H2O : Complete Appearance & Odor : Clear Liquid. Jika sesak napas. Pertolongan Pertama. dan Pencegahan 1. dan sistem pencernaan..2 Sifat Fisik Appearance Odor Solubility Density : Clear.2 Sifat Fisik Boiling Point : 148oF Specific Gravity (H2O = 1) : 0.

http://cheville. 1. : No information found.1 : 100 : 101 .edu] .02 (0.217F) : No information found.56 pH (0.1 N). 2.1 (1. : No information found. : No information found.0 N).103C (214 . [MSDS Hydrochloric acid.01 N) % Volatiles by volume @ 21C (70F) Boiling Point Melting Point Vapor Density (Air=1) Vapor Pressure (mm Hg) Evaporation Rate (BuAc=1) : For HCL solutions: 0.okstate.

5 51.5 Reducing substances (mg) for 5 mL standar copper solution 50.5 51.3 51.4 51.3 52.5 51.0 51.4 51.3 50.0 52.4 50.8 50.4 51.5 50.4 51.6 51.9 51.3 51.7 50.5 51.7 50.8 50.1 52.1 51.7 51.1 51.2 51.0 52.4 52.2 51.3 51.3 51.6 51.2 52.4 50.6 50.6 51.2 50.8 50.5 51.5 51.2 51.9 52.9 50.5 52.8 51.4 50.7 51.9 51.4 51.5 50.7 50.9 50.2 51.9 51.6 51.7 51.3 52.LAMPIRAN C TABEL EYNON – LANE Titer (mL) 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Sucroce present per 100 mL of sugar solution (gr) 0 0.6 50.6 50.2 52.4 52.5 51.5 50.3 51.1 52.8 51.0 51.0 51.1 51.0 51.7 57 .

2 gr/ 100 mL) Bentonite II (6 gr/100 mL) 58 .5 51.72 10.55 Kadar Gula Reduksi (%) 30.8 51 51.15 8.80 7.50 7.2 Analisis Kadar Gula Total dan Kadar Sukrosa mL Titer (mL) 21 16 18 22 26 39 44 mg Reducing Substance (mg) 51 50.34 50.54 Molase awal Pengenceran hingga 2000 mL Adsorpsi tahap I (2 gr/100mL) Adsorpsi tahap II (4 gr/100 mL) Adsorpsi tahap III (6 gr/100 mL) Bentonite I (4.72 6.6 50.45 13.25 Analisis Molase awal Pengenceran hingga 2000 mL Adsorpsi tahap I (2 gr/100mL) Adsorpsi tahap II (4 gr/100 mL) Adsorpsi tahap III (6 gr/100 mL) Bentonite I (4.91 Kadar Sukrosa (%) 32.8 51 51.13 2.2 Jumlah Sampel (mL) 1.LAMPIRAN D DATA PERCOBAAN DAN HASIL ANTARA D.85 5.5 51.94 3.5 mg Reducing Substance (mg) 59.33 5.81 15.3 51.3 52 52.08 18.76 21.6 26 30 35 44 46 46.5 6 6 6 6 6 6 Kadar Gula Total (%) 64.2 gr/ 100 mL) Bentonite II (6 gr/100 mL) D.75 9.1 Analisis Kadar Gula Reduksi Analisis mL Titer (mL) 16.32 9.60 5.89 7.77 8.

91 27.98 71.41 20.5 Analisis Kadar Zat Warna Analisis Panjang Gelombang 436 nm Pengenceran Absorban 3571 0.31 0.32 3.07 0.57 0.05 0.09 1666 0.35 20.01 Massa Massa cawan+solid solid (gram) (gram) 90.4 19.49 0.09 0.33 20.83 72.66 0.9 19.09 Molase awal Pengenceran hingga 2000 mL Adsorpsi tahap I Adsorpsi tahap II Adsorpsi tahap III Bentonite I Bentonite II .49 87.25 24.01 3.31 19.095 2500 0.03 3.39 Massa abu (gram) 0.33 19.11 22.75 71.4 20.45 0.30 24.7 72.63 2.4 20.01 3.73 62.98 Massa sampel (gram) 2.06 Kadar abu (%) 18.67 62.59 Molase awal Pengenceran hingga 2000 mL Adsorpsi tahap I (2 gr/100mL) Adsorpsi tahap II (4 gr/100 mL) Adsorpsi tahap III (6 gr/100 mL) Bentonite I (4.75 61.08 0.085 1000 0.97 3.00 2.7 0.3 Analisis Kadar Abu Analisis Massa krus (gram) 19.2 gr/ 100 mL) Bentonite II (6 gr/100 mL) D.02 3 3.33 Massa sampel (gram) 3.091 900 0.48 71.66 2.97 Molase awal Pengenceran hingga 2000 mL Adsorpsi tahap I (2 gr/100mL) Adsorpsi tahap II (4 gr/100 mL) Adsorpsi tahap III (6 gr/100 mL) Bentonite I (4.66 1.4 Analisis Kadar Total Solids Analisis Massa cawan (gram) 87.10 22.04 Massa krus+abu (gram) 19.4 19.7 88.04 3.01 3 3.03 3.19 2.091 1500 0.68 Kadar solid (%) 90.08 0.72 72.00 23.42 0.2 gr/ 100 mL) Bentonite II (6 gr/100 mL) D.76 61.04 3.32 19.59 D.01 3.33 20.94 1.094 1166 0.

9 Analisis Molase awal Pengenceran hingga 2000 mL Adsorpsi tahap I (2 gr/100mL) Adsorpsi tahap II (4 gr/100 mL) Adsorpsi tahap III (6 gr/100 mL) Bentonite I (6 gr/ 100 mL) Bentonite II (6 gr/100 mL) .5 27.3 27.6 28.6 Analisis Brix Brix (%) 43 28.60 D.7 28.4 28.

95 = 32.6 mL. % Sukrosa = 64.6 x Maka.3 Analisis Kadar Sukrosa Misalnya : analisis tetes tebu awal % Gula reduksi (RS) = 30.34 mg. % Gula reduksi = = 16. Dari tabel Eynon-Lane kolom 0. mL titer = 16. % Gula Total = = = 64.2 Analisis Kadar Gula Total Misalnya : analisis tetes tebu awal mL titer yang diperlukan = 21 mL Dari tabel Eynon-Lane kolom 0 (lampiran B) diperoleh Reducing Substance = 51 mg Maka.6 = = 30.5 (lampiran B) diperoleh Reducing Substance = 50.1.76 % E.1.718 % 61 .1.1 Analisis Kadar Gula Reduksi Misalnya : analisis tetes tebu awal mL titer yang diperlukan = 16.325 % % Gula total (TS) Maka.325% E.1 Analisis Kadar Gula E.LAMPIRAN E CONTOH PERHITUNGAN E.76 % = (TS – RS) x 0.

2 Analisis Kadar Abu Misalnya : analisis tetes tebu awal Massa krus (a) Massa sampel (b) Massa krus + sampel (c) Massa abu (d) Maka.18 % E.19 gram = c – a = 2.49 gram = 2.56 gram = 13.89 gram = c – a = 0.25 gram = 19.62 E. % Total Solids = = 87. % Abu = = = 19.97 gram = 90.3 Analisis Kadar Total Solids Misalnya : analisis tetes tebu awal Massa cawan (a) Massa sampel (b) Massa cawan + sampel (c) Massa solid (d) Maka.33 gram = 4.7 gram = = 90.9 % .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->