P. 1
Pengertian Profesional

Pengertian Profesional

|Views: 750|Likes:
Published by Ahmad Subhan
Dalam tulisan ini, Putu Laxman Pendit, Labibah Zain, dan Imas Maesaroh membedah pengertian profesionalisme yang selama ini oleh kebanyakan penulis kerap dibahas dengan pendekatan taksonomis atau pendekatan kecirian. Pendekatan tersebut dianggap memiliki kelemahan. Kemudian ketiga penulis artikel ini menawarkan pendekatan baru dalam membahas profesionalisme pustakawan dengan menautkan pengertian profesionalisme dengan konteks sosial-politik sebuah profesi.
Dalam tulisan ini, Putu Laxman Pendit, Labibah Zain, dan Imas Maesaroh membedah pengertian profesionalisme yang selama ini oleh kebanyakan penulis kerap dibahas dengan pendekatan taksonomis atau pendekatan kecirian. Pendekatan tersebut dianggap memiliki kelemahan. Kemudian ketiga penulis artikel ini menawarkan pendekatan baru dalam membahas profesionalisme pustakawan dengan menautkan pengertian profesionalisme dengan konteks sosial-politik sebuah profesi.

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Ahmad Subhan on Jan 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2013

pdf

text

original

Pengertian Profesional

Profesi dan profesionalisme seringkali dilihat sebagai seseorang atau sebuah aktivitas yang memiliki ciri-ciri khusus. Penekanan analisa di dalam tulisan-tulisan tentang profesi seringkali adalah pada syarat-syarat agar seseorang dapat dianggap profesional. Dengan cara ini, maka profesionalisme pertama-tama selalu didefinisikan sebagai “kegiatan yang memerlukan pendidikan dan dasar ilmu tertentu”. Misalnya, seseorang dianggap pustakawan yang melakukan kegiatan profesional jika ia memiliki latar belakang pendidikan perguruan tinggi atau pendidikan formal setingkat itu, yang berbeda dari jika ia adalah seorang arsiparis, atau seorang manajer rekod. Selain membahas landasan keahlian, para penulis umumnya juga selalu melihat profesionalisme dengan beberapa ciri khusus lainnya. Misalnya, semua profesi diharapkan memiliki asosiasi, dan asosiasi ini selalu dilihat sebagai organisasi kolektif yang memiliki pengurus dan kegiatan. Profesionalisme pustakawan Indonesia, misalnya, dikaitkan dengan keberadaan organisasi profesi ini. Termasuk dalam pembahasan tentang organisasi ini biasanya muncul pembahasan tentang kode etik profesi. Cara-cara menggambarkan profesi dan profesionalisme seperti di atas dikenal sebagai pendekatan taksonomis atau pendekatan kecirian (trait approach). Pendekatan ini muncul sebelum tahun 1960an, dan terutama dipengaruhi oleh tulisan Albert Flexner (1915). Konsentrasinya adalah pada penemuan ciri-ciri, klasifikasi, atau taksonomi profesionalisme. Di dalam perkembangannya, pendekatan taksonomis ini kemudian juga menekankan pada aspek fungsi, tugas dan kewajiban sebuah profesi di dalam masyarakatnya, sehingga dikenal sebagai pendekatan fungsional yang amat cocok dengan aliran fungsionalisme Talcot Parsons. Kelemahan dari pendekatan taksonomis-fungsional ini adalah karena menganggap bahwa sebuah profesi sudah ada begitu saja dan bersifat “dari sananya” alias terberi (given). Pendekatan ini kemudian dikoreksi oleh Wilensky (1964) yang tidak hanya berkonsentrasi pada ciri-ciri profesionalisme, tetapi juga pada bagaimana proses terbentuknya profesionalisme itu. Pendekatan oleh Wilensky ini dikenal juga dengan nama pendekatan proses. Berdasarkan pendapat Wilensky, isyu profesionalisme harus dibahas dari segi proses pertumbuhan profesi yang bersangkutan. Menurut Wilensky, proses pertumbuhan profesi dimulai dari upaya memastikan batasan tentang suatu pekerjaan tertentu yang memerlukan orang-orang dengan keahlian khusus. Orang-orang ini akan diterima sebagai kelompok eksklusif yang dipercaya melakukan pekerjaan bermanfaat bagi masyarakatnya. Dalam tahap awal ini, mungkin saja penerimaan masyarakat itu masih bersifat informal. Proses selanjutnya adalah upaya memperkuat pondasi kekhususan keahlian dengan ilmu pengetahuan. Dari sini lahirlah hubungan antara kelompok profesi dengan perguruan tinggi. Selanjutnya, ketika anggota kelompok profesional ini semakin besar, mulailah upaya membentuk organisasi yang semakin mengokohkan eksklusivisme dan membentuk landasan legal bagi profesi yang bersangkutan. Biasanya, bersamaan dengan pembentukan organisasi ini, terbentuk pula kode etik dan kode perilaku (code of conduct). Pendekatan proses lebih memperjelas profesionalisme sebagai sesuatu yang berkembang, bukan “sudah dari sananya”. Namun analisa terhadap proses kelahiran sebuah profesi sebagaimana dilakukan Wilensky sebenarnya masih memiliki kekurangan. Pendekatan ini seringkali mengabaikan konteks lingkungan sosial, politik, dan budaya di tempat sebuah profesi berkembang. Kekurangan pendekatan proses inilah yang kemudian dilengkapi dengan analisa tentang sejarah kelembagaan (institusionalisasi) dan hubungan sosial-politik antara organisasi profesi dengan organisasi-organisasi lainnya, terutama dengan pemerintah dan 1

negara-bangsa. Dalam mempelajari konteks sosial-politik sebuah profesi, maka pusat perhatiannya tidak lagi hanya pada ciri profesionalisme atau proses pembentukan organisasi profesi, melainkan juga pada hubungan kekuasaan dan pembentukan legitimasi sebuah profesi di dalam masyarakatnya. Pendekatan baru ini seringkali disebut sebagai pendekatan kritis, atau pendekatan hubungan-kekuasaan (power relationships). Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa sebuah profesi tak hanya dapat diulas dalam bentuk syarat-syarat, melainkan harus dilihat sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat di mana ia berada, dan lebih khusus lagi sebagai bagian dari perubahan dan perkembangan masyarakatnya. Jika kita bersikeras hanya membicarakan ciri-ciri dan klasifikasi atau taksonomi sebuah profesi, maka kita menghadapi risiko berbicara tentang halhal yang dikehendaki oleh profesi tersebut tetapi tak terlalu didukung oleh masyarakatnya. Sama halnya kita bicara tentang ciri-ciri pustakawan atau arsiparis atau manajer rekod, padahal masyarakat merasa tak terlalu memerlukan mereka dan karena itu tak terlalu peduli tentang ciri-ciri mereka. Dengan kata lain, adalah penting bagi sebuah profesi, termasuk profesi yang bergerak di bidang informasi, untuk memahami bagaimana sebenarnya masyarakat di mana mereka berada. Masyarakat itu sendiri dapat dilihat dari berbagai cara, dan dalam konteks pembicaraan kali ini maka tentu yang paling cocok kita bicarakan adalah masyarakat informasi (information society). ###

Artikel ini merupakan penggalan dari tulisan berjudul “Menjadi Profesional di Bidang Informasi : menghadapi fenomena demokratisasi dan konvergensi teknologi” yang ditulis oleh Putu Laxman Pendit, Labibah Zain, dan Imas Maesaroh. Tulisan ini merupakan makalah dalam seminar bertema “Library & Information Education@the Crossroad” yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) dan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI), pada 17 November 2009, di Hotel Topas Galeria, Bandung. Makalah ini dapat diunduh di: http://isipii.or.id/menjadi-profesional-di-bidang-informasi-menghadapi-fenomenademokratisasi-dan-konvergensi-teknologi/

Untuk keperluan pengutipan silahkan gunakan bibliografi berikut ini: Pendit, Putu Laxman, Labibah Zain, dan Imas Maesaroh. 2009. “Menjadi Profesional di Bidang Informasi : menghadapi fenomena demokratisasi dan konvergensi teknologi”. Makalah dalam seminar “Library & Information Education@the Crossroad” yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) dan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI), pada 16-18 November 2009, di Hotel Topas Galeria, Bandung.

2

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->