P. 1
HAK TERSANGKA

HAK TERSANGKA

|Views: 1,318|Likes:
Published by Blue Apple

More info:

Published by: Blue Apple on Jan 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

pdf

text

original

(Pasal 8 ) Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang
dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan
seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis,
kelompok agama, dengan cara :
a.Membunuh anggota kelompok
b.Mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat
terhadap anggota-anggota kelompok;
c.Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan
mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau
sebagiannya ;
d.Memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah
kelahiran didalam kelompok, atau

14

e.Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu
kekelompok lain.

(Pasal 9 ) Kejahatan terhadap kemanusiaan adalah salah satu
perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas
atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan
secara langsung terhadap penduduk sipil berupa :
a.Pembunuhan;
b.Pemusnahan
c.Perbudakan;
d.Pengusiran atau pemindahan secara paksa;
e.Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain
secara sewenang –wenang yang melanggar (asas-asas
Ketentuan Pokok Hukum Internasional;
f.Penyiksaan ;
g.Perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa,
pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa
atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara;
h.Penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau
perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras,
kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan
lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang
dilarang menurut Hukum Internasional;
i.Penghilangan orang secara paksa; atau
j.Kejahatan apartheid.
;

Contoh Kasus Pelanggaran HAM Berat

1.Kejahatan genosida
Di Indonesia contoh kasus kejahatan genosida belum ada, karena
untuk mengatakan kasus tersebut sebagai kejahatan genosida
didalam Statuta Roma pasal 6 ditegaskan bahwa setiap perbuatan
yang dilakukan dengan tujuan untuk menghancurkan, seluruhnya
atau sebagian , suatu kelompok nasional, etnis, ras dan keagamaan,
seperti misalnya:

15

a. membunuh anggota kelompok tersebut
b. menimbulkan luka atau mental yang serius terhadap para anggota
kelompok tersebut
c. secara sengaja menimbulkan kondisi kehidupan atas kelompok
tersebut yang diperhitungkan akan menyebabkan kehancuran fisik
secara keseluruhan atau sebagian
d. memaksakan tindakan-tindakan yang dimaksud untuk mencegah
kelahiran dalam kelompok tersebut
e. memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok itu kepada
kelompok lain.

2. Kejahatan terhadap kemanusiaan
Dalam pasal 9 undang-undang pengadilan HAM dikatakan bahwa
“ kejahatan terhadap kemanusiaan sebagaimana dimaksud pasal 7
huruf b adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian
dari serangan yang meluas atau sistematis yang diketahuinya bahwa
serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil,
berupa………..
Baik UU No 26 Th 2000 maupun Statuta Roma (1998) tidak
memberkan definisi mengenai arti meluas dan sistematis.Oleh karena
itu pengertian meluas atau sistematis perlu menggunakan
yurisprodensi antara lain Mahkamah Pidana Internasional Ad-Hoc
untuk bekas jajahan Yogolavia (The Internasional Criminal Tribunal
For the Former Yugoslavia/ICTY) dan Mahkamah Pidana
Internasional untuk Rwanda ( The Internasional Criminal Tribunal
for Rwanda/ICTR) dan doktrin berdasarkan yuriprodensi
internasional. Dalam putusan ICTR terhadap perkara AKAYESU
mengartikan “meluas”sebagai tindakan “massive” berulang-ulang
dan berskala besar yang dilakukan secara kolektif dengan dampak
serius dan diarahkan terhadap sejumlah korban (besar), sedangkan
“sistematis”diartikan diorganisasikan secara mendalam dan
mengikuti pola tertentu yang terus menerus berdasarkan kebijakan
yang melibatkan sumberdaya public atau privat yang substansial
meskipun kebijakan tersebut bukan merupakan kebijakan Negara
secara formal, rencana tidak harus dinyatakan secara tegas atau

16

terang-terangan.
Adapun berbagai pristiwa yang dapat dicurigai sebagai kejahatan
terhadap kemanusiaan antara lain:
- pembunuhan terhadap ratusan ribu orang yang dituduh sebagai
PKI pada tahun 1965/1966; pembunuhan sejumlah orang (yang
dituduh) “preman”lewat penembak misterius (petrus); pembunuhan
Amir Biki (pimpinan kelompok kasus Tanjung priok) yang terjadi
dalam pristiwa “Tanjung Priok”; pembunuhan dalam kasus
Talangsari-Lampung; pembunuhan yang terjadi di Aceh selama
DOM; kasus Trisakti, Kasus Semanggi (yang diganjal oleh
keputusan pansus DPR yang menyatakan bahwa tidak terjadi
pelanggaran HAM yang berat meskipun hasil penyelidikan Komnas
HAM menyatakan sebaliknya (terjadi pelanggaran HAM yang
berat).
- pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa (etnis madura
dalam pristiwa konflik horizontal di Kal-Bar; pengusiran penduduk
asli etnis Aceh oleh milisi-sipil penduduk bukan asli yang didukung
oleh militer di Aceh Tengah.
- penyiksaan para aktivis mahasiswa yang diculik oleh Kopasus
dalam kasus “penculikan aktivis; penyiksaan atas aktivis mahasiswa
demokrasi (dalam kasus penculikan aktivis); penyiksaan atas
penduduk sipil di Aceh.
- perkosaan yang terjadi dalam pristiwa kasus “kerusuhan Mei 1988.
- penghilangan orang secara paksa terhadap aktivis mahasiswa dan
terhadap penduduk sipil di Aceh selama konflik dll.

Bahwa pelanggaran HAM yang berat merupakan suatu kejahatan
Internasional dan dikatagorikan sebagai musuh semua umat manusia
(hostis humanis generis), karena itu merupakan tanggungjawab
semua umat manusia (obligatio erga omnes ) untuk
menyelesaikannya secara hokum dan menghukum pelaku secara adil.
Pada awalnya doktrin ini berlaku untuk kejahatan “bajak laut dan
perdagangan budak”pada abad ke 19 yang selanjutnya berkembang
mencakup kejahatan serius seperti genosida dan kejahatan terhadap
kemanusiaan.

17

Belum ada definisi yang cukup memadai untuk menjelaskan
perbuatan yang dapat dikatagorikan sebagai pelanggaran HAM yang
berat (Gross Violation of Human Rights), hal ini dikarenakan
berbagai bentuk pelanggaran HAM yang berat tidak cukup
diterangkan dalam satu definisi hokum. Begitu juga dengan konsep
pelanggaran HAM yang berat berdasarkan UU No 26 Th 2000
tentang Pengadilan HAM, tidak dijelaskan mengenai “definisi dan
unsure-unsur dari pelanggaran HAM yang berat tersebut (lihat pasal
8 dan pasal 9 ).Untuk itulah Mahkamah Agung (MA) membuat
tafsiran tersendiri mengenai unsure-unsur adanya pelanggaran HAM
yang berat yang diterbitkan dalam bentuk buku yang berjudul
“pedoman unsure-unsur tindak pidana pelanggaran hak asasi
manusia yang berat dan pertanggungjawaban komando”pada tahun
2006, untuk memudahkan dalam memberikan analisa hokum untuk
mencari unsure-unsur adanya pelanggaran HAM yang berat yang
terjadi dalam

yuridiksi Negara

Republik

Indonesia………………………………..

Pasal 1 angka (3) UU No 26 Th 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi
Manusia yang selanjutnya disebut Pengadilan HAM adalah
pengadilan khusus terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang
berat . Pelanggaran HAM yang berat meliputi kejahatan genosida
dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Dengan demikian dapatlah
dikatakan bahwa “pengadilan HAM adalah pengadilan khusus
mengadili kejahatan genosida dan kejahatan kemanusia.”

Selain Pengadilan HAM, dikenal pula Pengadilan HAM Ad Hoc
yang eksistensinya berdasarkan ketentuan UU No 26 Th 2000 Pasal
43 ayat (1) yang berbunyi “ Pelanggaran hak asasi manusia yang
berat yang terjadi sebelum diundangkanya Undang-undang ini,
diperiksa dan diputus oleh Pengadilan HAM ad hoc. Dari ketentuan
pasal tersebut dapat diketahui bahwa undang-undang pengadilan
HAM dapat diberlakukan surut (retroaktif). Terhadap hal ini timbul

18

kotroversi, karena dalam hukum pidana asas yang dipegang teguh
adalah “asas legalitas” (tidak ada penghukuman tanpa adanya
pemidanaan terlebih dahulu) selain itu juga larangan berlaku surut
terdapat dalam pasal 28 I ayat (1) UUD 1945.Adapun alasan utnuk
dapat digunakannya asas retroaktif adalah “bahwa asas legalitas
(nullum crimen sine lege) mempunyai landasan fundamental moral
yaitu hendak melindungi rakyat dari kezaliman penguasa. Di
Indonesia telah begitu banyak korban kejahatan terhadap
kemanusiaan yang dilakukan oleh kekuasaan selama puluhan tahun
dan tidak ada ketentuan yang melindungi martabat kemanusiaan
rakyat , tidak ada kasus yang dibawa ke pengadilan. Dalam
masyarakat Internasional sejak 52 tahun yang lalu terdapat peradilan
Nurenberg dan Tokyo yang menggunakan prinsip retroaktif untuk
mengadili kejahatan terhadap kemanusiaan.Dalam praktek
peradilan internasional mengadili para pelaku kejahatan
Internasional (pelanggaran HAM yang berat) ditempuh dengan
membentuk
“ad hoc extra judicial tribunal “ dan telah menjadi
kesepakatan universal bahwa sejak berakhirnya PD ke II kejahatan-
kejahatan terhadap kemanusiaan harus diperangi dan diadili. Pradilan
ini bersifat extra legal atau extra judicial, karena dibentuk dengan
sangat terpaksa untuk mensiasati kekosongan norma-norma
Internasional dan adanya pertentangan antara norma Internasional
dengan norma Nasional.Penjahat perang yang diahadapkan ke
peradilan tersebut telah diadili dengan norma-norma yang dibuat
untuk kepentingan pengadilan itu sendiri. Sejak itulah untuk
pertama kalinya dilakukan penyimpangan terhadap asas
legalitas dengan menerapkan prinsip retroaktif
. Penyimpangan
terhadap asas legalitas ini bukannya tanpa disadari oleh para
pembentuknya, tetapi adanya kesadaran bahwa pelanggaran terhadap
asas legalitas karena suatu keadaan yang tidak terelakkan ,dan
adanya komitmen yang sungguh –sungguh untuk mebatasi
akibatnya. Komitmen untuk membatasi dampak dari pelanggaran
asas legalitas ini memberikan sifat ad hoc bagi peradilan tersebut.Di
Indonesia keberlakuan asas retroaktif telah dikuatkan dengan
Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yaitu dengan keputusan

19

nomor 065/PUU-II/2004 atas gugatan ABILIO SOARES dalam
kasus Timur Timor yang meminta pemberlakuan pasal 43 UU No 26
Th 2000 dibatalkan karena tidak sesuai dengan Konstitusi, namun
Mahkamah Konstitusi menolak gugatan tersebut dan menguatkan
eksistensi Pengadilan HAM ad hoc. Demikian pula halnya dengan
ketentuan Pasal 43 ayat (2) nya yang menyebutkan bahwa”
Pengadilan HAM ad hoc sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dibentuk atas usul Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
berdasarkan pristiwa tertentu dengan keputusan Presiden” , serta
penjelasan pasal tersebut berbunyi “ Dalam hal Dewan Perwakilan
Rakyat Indonesia mengusulkan dibentuknya Pengadilan HAM Ad
Hoc Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia mendasarkan
pada dugaan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia yang berat
yang dibatasi pada locus dan tempus delicti tertentu yang terjadi
sebelum diundangkannya Undang-Undang ini” Mahkamah
Konstitusi berdasarkan Keputusannya Nomor 18/PUU-V/2007 yang
diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim pada tanggal 20
Februari Th 2007 dan diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah
Konstitusi terbuka untuk umum pada tanggal 21 Februari Th 2007,
Penjelasan Pasal 43 ayat (2) UU Pengadilan HAM sepanjang kata
“dugaan” bertentangan dengan UUD Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hokum yang
mengikat.Mahkamah Konstitusi dalam putusan a quo berpendapat
bahwa untuk menentukan perlu tidaknya pembentukan Pengadilan
HAM ad hoc atas suatu kasus tertentu menurut locus dan tempus
delicti memang memerlukan keterlibatan institusi politik yang
mencerminkan representasi rakyat yaitu DPR. Akan tetapi,DPR
dalam merekomendasikan pembentukan Pengadilan HAM ad hoc
harus memperhatikan hasil penyelidikan dan penyidikan dari institusi
yang berwenang untuk itu. Oleh karena itu , DPR tidak serta merta
menduga sendiri tanpa memperoleh hasil penyelidikan dan
penyidikan terlebih dahulu dari institusi yang berwenang .,dalam hal
ini Komnas HAM sebagai penyelidik dan Kejaksaan Agung sebagai
Penyidik sesuai ketentuan UU Pengadilan HAM.Harus dipahami
bahwa kata “dugaan” dalam penjelasan Pasal 43 ayat (2) UU

20

Pengadilan HAM dapat menimbulkan ketidakpastian hokum
(rechtsonzekerheid)sebagai akibat dapat ditafsirkannya kata
“dugaan”berbeda dengan mekanisme sebagaimana diuraikan
diatas”. Adapun Kata “ad hoc” yang berasal dari bahasa latin dapat
diartikan “khusus” mengandung arti “formed for a particular
purpose”(dibentuk untuk suatu tujuan tertentu) juga mengandung
pengertian “tidak permanent” artinya keberadaan suatu badan atau
lembaga ad hoc akan berakhir apabila maksud pembentukan badan
itu telah selesai dilaksanakan.

Dari ketentuan UU No 26 Th 2000 (Pasal 1 angka 3 dan Pasal 43
ayat (1) ) dapat diketahui bahwa kewenangan Pengadilan HAM
dapat diklasifikasikan dalam dua (2) katagori,yaitu:
1.kewenangan Pengadilan HAM (memeriksa dan memutus
perkara pelanggaran HAM berat yang terjadi setelah
disahkannya UU No 26 Th 2000)
2.kewenangan Pengadilan HAM Ad Hoc (memeriksa dan
memutus perkara pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum
disahkannya UU No 26 Th 2000).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->