P. 1
Laporan Umum PKPA Apotek Kimia Farma No 202

Laporan Umum PKPA Apotek Kimia Farma No 202

|Views: 40,610|Likes:

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Raj Aryan Pratama Putra on Jan 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2015

pdf

text

original

Saat memberikan obat kepada pasien, dikarenakan pasien baru pertama kali

mendapatkan resep tersebut, maka digunakan metode 3 prime questions seperti:

1. Apa yang dokter katakan mengenai obat tersebut?

2. Apa yang dokter katakan mengenai cara penggunaan obat tersebut?

3. Apa yang dokter katakan mengenai harapan setelah penggunaan obat

tersebut?

Kemudian pasien diberikan informasi mengenai bentuk obat, cara pemberian,

waktu pemberian, dan kegunaan obat, seperti:

“ Obat berbentuk kapsul digunakan untuk meredakan rasa nyeri, diminum 2 kali

sehari”.

94

BAB V

PEMBAHASAN

Apotek Kimia Farma No. 202 merupakan apotek pelayanan yang berada di bawah

koordinasi Unit Bisnis Manager wilayah Bogor. Apotek Kimia Farma ini berlokasi di

Jalan Kejayaan Raya Blok IX No. 2 Depok II Timur, lokasinya cukup strategis,

karena terletak di tepi jalan raya dan mudah dijangkau oleh masyarakat dengan

kendaraan umum maupun kendaraan pribadi dan berada pada pemukiman penduduk

sehingga cukup dikenal masyarakat sekitar. Selain itu letaknya dekat dengan klinik-

klinik, praktek dokter umum dan dokter spesialis yang merupakan salah satu

kelebihan tersendiri bagi apotek dan sebagai faktor penunjang keberhasilan Apotek

Kimia Farma No. 202.

Dari segi tata ruang, Apotek Kimia Farma No. 202 dinilai sudah cukup baik

untuk dapat menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan karena sudah sesuai

dengan KepMenKes RI No. 1332/MenKes/SK/X/2002. Hal ini dapat terlihat dari

adanya penataan ruang yang terpisah antara ruang tunggu pasien, penerimaan resep

dan penyerahan obat, ruang penyimpanan obat, ruang peracikan yang dilengkapi

dengan bak cuci, ruang administrasi, swalayan farmasi, mushola, praktek dokter dan

toilet. Ruangan yang ada di Apotek dilengkapi dengan pendingin udara dan

penerangan yang baik sehingga memberikan kenyamanan baik bagi petugas Apotek

maupun pasien. Selain itu, Apotek Kimia Farma No. 202 memiliki area parkir,

sehingga memudahkan pengunjung yang memiliki kendaraan. Pada bagian dalam

Apotek terdapat papan nama Apotek yang memuat nama Apotek, nama APA dan

nomor SIK APA.

Pada saat pengerjaan resep, sebaiknya dibuat semacam kartu HKRS (harga,

kemas, racik, dan serahkan) yang harus diisi oleh masing-masing petugas yang

melakukan pengambilan obat maupun yang melakukan peracikan. Hal ini bertujuan

untuk mencegah terjadinya kesalahan obat dan memudahkan penelusuran kembali

bila sewaktu-waktu terjadi kekeliruan atau masalah yang berkaitan dengan obat

95

dalam resep atau adanya komplain dari pasien. Untuk Apotek Kimia Farma No. 202

sendiri penggunaan kartu HKRS belum dijalankan.

Pelayanan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) untuk pasien serta

swamedikasi diberikan oleh apoteker. Apotek Kimia Farma No. 202 telah

mempunyai tempat khusus untuk melakukan konseling antara apoteker dengan

pasien. Akan tetapi hal ini belum terlaksana dengan baik. Hal ini disebabkan karena

kebanyakan pasien lebih memilih untuk bertanya langsung dengan asisten apoteker

yang ada di bagian administrasi mengenai informasi dan cara penggunaan obat.

Dalam melayani resep kredit, Apotek KF 202 bekerjasama dengan beberapa

instansi yang terkait. Sistem pelayanan resep dapat dilakukan di seluruh Apotek

Kimia Farma atau hanya di Apotek-apotek Kimia Farma tertentu saja, tergantung

dari kesepakatan antara instansi dengan Kimia Farma. Selain melayani resep kredit

instansi, Apotek Kimia Farma atau juga melayani resep ASKES. Resep ASKES

memiliki beberapa keuntungan dan kerugian. Keuntungannya antara lain obat telah

distandarisasi sehingga menghemat modal kerja Apotek, kemungkinan obat tidak

laku kecil dan dapat membeli obat dalam jumlah besar untuk memperoleh discount.

Sedangkan kerugiannya yaitu pembayaran dilakukan secara kredit sehingga perlu

menambah modal kerja, discount harga diminta oleh perusahaan asuransi.

Banyaknya pelayanan resep kredit sebenarnya menunjukkan bahwa suatu Apotek

cukup bagus dalam pengembangan usaha tetapi bila resep kredit yang diterima oleh

Apotek semakin banyak, maka semakin besar pula modal Apotek yang tertahan

dalam bentuk piutang.

Berdasarkan pengamatan secara visual selama PPKPA, Apotek Kimia Farma

No. 202 jarang melakukan penolakan resep karena sebagian besar pelanggan Apotek

Kimia Farma No. 202 adalah pelanggan dari ASKES, PLN, dan lain-lain yang

bekerjasama dengan Apotek Kimia Farma No. 202 dalam pengobatan karyawannnya

serta pelanggan dari praktek dokter bersama dengan Apotek Kimia Farma No. 202

(doctor in house) sehingga tidak tersedianya obat di Apotek Kimia Farma No. 202

sangat jarang terjadi. Apabila ada obat dalam resep yang tidak tersedia, ada upaya

untuk memenuhi permintaan konsumen dengan menawarkan obat lain sebagai

pengganti obat yang tidak ada dengan komposisi yang sama. Selain itu juga

96

dilakukan pencatatan terhadap resep yang ditolak guna mempersiapkan persediaan

obat agar mengurangi penolakan resep di masa mendatang. Jika ada obat yang

persediaannya habis, maka dilakukan pengecekkan stok obat di gudang dan jika obat

tersedia maka obat dapat langsung diberikan kepada pasien. Tetapi jika tidak ada

maka pasien ditawarkan untuk menunggu obat atau obat diantarkan ke rumah pasien

tanpa harus menunggu, selain itu obat yang kurang pun akan dijanjikan untuk

disediakan obatnya sehari setelah pembelian.

Penyimpanan obat-obat di Apotek Kimia Farma No. 202 diurutkan

berdasarkan kelompok tertentu seperti obat-obat generik, ASKES, obat bermerek

dagang yang disusun secara farmakologis, obat golongan psikotropika dan narkotik,

obat yang disusun berdasarkan bentuk sediaan (obat suntik, sediaan cair, obat tetes

oral, mata, hidung, telinga, dan inhaler), serta obat-obat yang stabilitasnya

dipengaruhi suhu dan udara sehingga harus disimpan di dalam lemari es

(suppositoria, ovula, insulin dan sebagainya). Semua kelompok obat tersebut disusun

secara alfabetis untuk mempermudah pencarian. Untuk obat-obat bebas disusun di

counter swalayan berdasarkan khasiat secara alfabetis. Selain itu juga terdapat

tempat khusus untuk penyimpanan alat-alat kesehatan. Penyimpanan narkotik dan

psikotropik berada di dalam lemari khusus dan tertutup tetapi tidak terkunci dengan

baik. Untuk memudahkan dalam pengontrolan obat, masing-masing obat memiliki

kartu stok pada kotak penyimpanannnya. Setiap ada obat yang masuk (berasal dari

pembelian maupun dari apotek lain) dan keluar (karena penjualan maupun droping

ke apotek lain) harus dicatat di kartu stok masing-masing dan di-entry ke komputer.

Hal ini penting dilakukan untuk mempermudah dalam pengontrolan stok obat dan

kesesuaian antara jumlah fisik obat dengan jumlah obat pada kartu stok. Namun

dalam hal ini petugas terkadang mengalami kendala yaitu pada jam-jam sibuk,

setelah mengambil obat, petugas tidak sempat mencatat pada kartu stok sehingga

jumlah barang yang ada seringkali tidak sesuai dengan kartu stok. Hal ini dapat

menghambat dan memperlama kegiatan stock opname yang dilakukan setiap satu

bulan sekali. Stock opname juga berfungsi untuk mengecek barang secara fisik

apakah sesuai dengan jumlah yang ada di komputer atau tidak. Agar obat yang ada

97

tidak kadaluarsa, maka apotek KF No.202 membuat semacam kertas berwarna yang

di tempel pada kotak obat untuk menunjukkan tahun kadaluarsa obat.

Proses administrasi di Apotek Kimia Farma No. 202 dilakukan secara

komputerisasi untuk meningkatkan kelancaran dan efisiensi pelayanan apotek.

Sistem komputer kasir mengharuskan petugas memasukkan alamat dan nomor

telepon pasien yang dapat dihubungi sebelum melakukan pencetakan struk

pembayaran. Hal ini dilakukan untuk membantu apotek dalam mengatasi masalah

yang mungkin baru diketahui setelah obat diserahkan kepada pasien. Apotek Kimia

Farma No. 202 sudah menerapkan konsep GPP dalam rangka menjamin kualitas,

keamanan dan khasiat obat. Hal-hal yang dilakukan seperti: penataan obat

berdasarkan kelas terapi; etiket obat yang disertai dengan jumlah obat, nama obat;

stempel pada copy resep; pemberian informasi obat pada saat penyerahan obat

kepada pasien serta keramahan kepada pasien.

Setiap pasien yang membeli atau menebus obat di apotek selain obat bebas

tanpa membawa resep, maka petugas apotek akan mencatat nama dan alamat pasien

di komputer sehingga bisa ditelusuri riwayat pengobatan pasien. Data tersebut

sekaligus menjadi medical record pasien yang terkomputerisasi serta bisa digunakan

untuk kepentingan tertentu bagi APA seperti konseling, diskusi dengan dokter,

penelitian dan lain-lain.

Secara umum, petugas yang bekerja di bagian pelayanan atau penjualan telah

melayani dengan ramah, biasanya dimulai dengan sapaan dan tawaran bantuan serta

diakhiri dengan ucapan terima kasih sebagai penutup. Petugas juga bersikap santun

dan informatif dengan selalu berbicara dengan bahasa yang baik. Petugas selalu

tanggap dan cepat menangani keluhan serta membantu mengatasi kesulitan

konsumen. Misalnya, jika konsumen tidak mampu menebus obat maka dicarikan

obat dengan zat aktif atau khasiat sama dengan harga yang lebih terjangkau atau

ditebus sebagian dulu. Keadaan tersebut perlu terus dipertahankan dan sedapat

mungkin ditingkatkan karena keramahan petugas merupakan salah satu unsur

pendorong untuk menimbulkan minat pelanggan sehingga melakukan pembelian.

Pengadaan barang di Apotek Kimia Farma No. 202 dilakukan dengan

menggunakan sistem Distribution Center (DC). Berdasarkan sistem ini, pengeluaran

98

dan pemasukan barang di apotek langsung terhubung secara komputerisasi dengan

Apotek Bussiness Manager (BM) sehingga apotek BM dapat mengetahui barang

yang mencapai minimum stok. Barang yang mencapai minimum stok akan dikirim

oleh BM berdasarkan kebutuhan masing-masing apotek pelayanan. Selain itu, dibuat

Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA) dimana setiap hari dilakukan pengecekan

barang secara fisik oleh petugas apotek. Barang-barang yang sudah hampir habis

dibuat BPBA untuk kemudian dikirimkan ke Apotek BM. Untuk obat-obat narkotik,

permintaan barang harus menggunakan Surat Pesanan (SP) khusus rangkap empat

yang dalam satu SP hanya dapat memesan satu macam obat dan harus ditandatangani

oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA). Sedangkan untuk obat-obat psikotropik,

permintaan barang harus menggunakan SP khusus rangkap dua dan dalam satu SP

dapat memesan beberapa jenis psikotropik dan harus ditandatangani oleh APA.

Karena itu, khusus untuk pemesanan narkotika dan psikotropik tidak termasuk ke

dalam sistem DC melainkan langsung dilakukan oleh masing-masing apotek

pelayanan. Sistem DC memiliki keuntungan diantaranya jumlah barang yang dipesan

banyak, sehingga dapat memperoleh diskon yang lebih besar dari distributor serta

mengurangi tugas apotek pelayanan dalam pengadaan barang karena pada sistem DC

semua administrasi pembayaran yang berhubungan dengan pengadaan barang

(kecuali narkotika dan psikotropika) dilakukan oleh BM.

Dalam setiap pergantian shift, petugas apotek yang bertanggung jawab harus

melaporkan seluruh hasil penjualan apotek dalam bentuk bukti setoran kasir apotek

untuk selanjutnya divalidasi. Validasi dilakukan terhadap semua transaksi, baik tunai

maupun kredit. Validasi adalah proses pengecekan data transaksi dari hasil entry, lalu

bukti setoran kas untuk transaksi tunai dicocokkan dengan kas yang ada. Validasi

dilakukan setiap hari dan dikirim ke apotek BM sebelum jam 10.00 wib.

99

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan selama Pelatihan Praktek Kerja Profesi Apoteker

(PPKPA) di Apotek Kimia Farma No. 202 Depok, maka dapat disimpulkan

bahwa:

1. Apotek merupakan suatu sarana yang memiliki peranan penting dalam

pelayanan kefarmasian serta tanggung jawab moral dan etika profesi.

2. Apoteker Pengelola Apotek (APA) di Apotek Kimia Farma 202 dalam

melaksanakan tugasnya di apotek memiliki tanggung jawab yang besar

dalam pelayanan kefarmasian dan berwenang untuk mengambil keputusan

yang berkaitan dengan mutu pelayanan apotek dan manajemen apotek.

3. Lokasi Apotek Kimia Farma No. 202 cukup strategis karena berada di

pinggir jalan raya yang berdekatan dengan pemukiman penduduk,

pertokoan, pasar, klinik, rumah sakit dan banyak dilalui oleh kendaran

umum sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat.

4. Apotek Kimia Farma No. 202 merupakan apotek pelayanan yang

menggunakan sistem pengadaan barang secara desentralisasi yaitu

pengadaan barang dilakukan oleh bagian pembelian di Unit Bisnis Manager

dan administrasi telah didukung oleh sistem komputerisasi sehingga dapat

meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan di apotek.

5. Penyimpanan obat di Apotek Kimia Farma 202 berdasarkan farmakologi

dan bentuk sediaan dimana penyusunannya secara alfabetis sehingga

memudahkan petugas untuk mengambil obat.

6. Penyimpanan obat golongan narkotika dan psikotropika di Apotek Kimia

Farma 202 disimpan pada rak yang terpisah. Penambahan dan pengurangan

barang dicatat dalam kartu stok masing-masing barang.

7. Apotek KF 202 memiliki praktek dokter in house yaitu praktek dokter

spesialis anak.

100

8. Dalam rangka meningkatkan pelayanan, Apotek Kimia Farma No. 202

menyediakan layanan pesan antar obat (Delivery Service).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->