P. 1
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD NEGERI SEKARAN 2 PADA MATERI POKOK KELIPATAN PERSEKUTUAN TERKECIL (KPK) DAN PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) BERCIRIKAN PENDAYAGUNAAN ALAT PERAGA DAN PENDAMPINGAN TAHUN PELAJARAN 2006/2007

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD NEGERI SEKARAN 2 PADA MATERI POKOK KELIPATAN PERSEKUTUAN TERKECIL (KPK) DAN PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) BERCIRIKAN PENDAYAGUNAAN ALAT PERAGA DAN PENDAMPINGAN TAHUN PELAJARAN 2006/2007

|Views: 1,847|Likes:
Published by EkaS.Nuryani
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI
MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD NEGERI SEKARAN 2 PADA
MATERI POKOK KELIPATAN PERSEKUTUAN TERKECIL (KPK)
DAN PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) BERCIRIKAN
PENDAYAGUNAAN ALAT PERAGA DAN PENDAMPINGAN TAHUN
PELAJARAN 2006/2007
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI
MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD NEGERI SEKARAN 2 PADA
MATERI POKOK KELIPATAN PERSEKUTUAN TERKECIL (KPK)
DAN PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) BERCIRIKAN
PENDAYAGUNAAN ALAT PERAGA DAN PENDAMPINGAN TAHUN
PELAJARAN 2006/2007

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: EkaS.Nuryani on Jan 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2013

pdf

text

original

Media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti

’tengah’, ’perantara’, atau ’pengantar’. Dalam bahasa arab, media adalah

perantara atau pengantar pesan dari pengirim atau penerima pesan.

(Arsyad, 2002: 91-92).

Media diartikan sebagai segala sesuatu yang dimanfaatkan untuk

proses komunikasi dengan siswa agar siswa belajar. Komunikasi dan

siswa yang belajar (learners) merupakan dua aspek yang pokok. Segala

sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong proses-proses

belajar dapat dikategorikan sebagai media (Andreas, 2002.:3).

Tujuan pemanfaatan media adalah untuk menciptakan komunikasi

yang baik diantara guru dan siswa. Prinsip pemanfaatan media adalah

“the right aid at the right time in the right place in the right manner” ,

merupakan kunci pemanfaatan media yang dapat meningkatkan kualitas

komunikasi guru-siswa yang pada akhirnya meningkatkan efektivitas

pembelajaran. Sebaliknya pemanfaatan yang kurang tepat sering kali

mengganggu komunikasi dan mengurangi efektivitas pembelajaran.

Pemanfaatan media di kelas untuk meningkatkan mutu komunikasi

guru-siswa sehingga proses pembelajaran berjalan sesuai yang

diharapkan (efektif). Semakin banyak indera yang dimanfaatkan oleh

siswa, semakin baik retensi (daya ingat) siswa sebagai kerucut

pengalaman E.Dale berikut (Arnie, 2002:75).

16

Kerucut Pengalaman Belajar

Yang kita ingat

Modus

10 % ……………………..

Verbal

20 % ………………….

30 % ………………

Visual

40 % ……………

70 % ………

90 % ….

Berbuat

Selain E.Dale, Emilia (1998) menekankan pentingnya pemanfaatan

multimedia bagi peningkatan proses pembelajaran eksakta.

Manfaat dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses

belajar mengajar sebagai berikut.

a. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan

informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses

dan hasil belajar.

b. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian

anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang

lebih langsung antara siswa dan lingkungannya dan kemungkinan

siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan

minatnya.

baca

dengar

lihat

lihat dan dengar

katakan

katakan dan lakukan

17

c. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang dan

waktu.

1) Obyek atau benda yang terlalu besar untuk ditampilkan langsung

di ruang kelas dapat diganti dengan gambar, foto, slide, realita,

film, radio atau model.

2) Obyek atau benda yang terlalu kecil yang tidak tampak oleh

indera dapat disajikan dengan bantuan mikroskop, film, slide

atau gambar.

3) Kejadian langka yang terjadi di masa lalu atau terjadi sekali

dalam puluhan tahun dapat ditampilkan melalui rekaman video,

film, foto, slide disamping secara verbal.

4) Obyek atau proses yang amat rumit seperti peredaran darah dapat

ditampilkan secara kongkret melalui film, gambar, slide atau

simulasi komputer.

5) Kejadian atau percobaan yang dapat membahayakan dapat

disimulasikan.

Menurut Drs. Ahmad D. Marimba (dalam Syaiful Bahri Djamarah

dan Aswan Zain,1995:54) alat adalah segala sesuatu yang dapat

digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Sebagai segala

sesuatu yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan pengajaran, alat

mempunyai fungsi, yaitu alat sebagai perlengkapan, alat sebagai

pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan, dan alat sebagai

tujuan.

18

Setiap materi pelajaran tentu memiliki tingkat kesukaran yang

bervariasi. Pada satu sisi ada bahan pelajaran yang tidak memerlukan

alat bantu, tetapi di lain pihak ada bahan pelajaran yang sangat

memerlukan alat bantu berupa media pengajaran seperti globe, grafik,

gambar dan sebagainya.

Media pendidikan sebagai salah satu sumber belajar ikut

membantu guru memperkaya wawasan anak didik. Aneka macam

bentuk dan jenis media pendidikan yang digunakan oleh guru menjadi

sumber ilmu pengetahuan bagi anak didik. Dalam menerangkan suatu

benda, guru dapat membawa bendanya secara langsung ke hadapan anak

didik di kelas. Dengan menghadirkan bendanya seiring dengan

penjelasan mengenai benda itu, maka benda itu dijadikan sebagai

sumber belajar.

Menurut Sugiarto dan Hidayah (2005:4-5), media pembelajaran

dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

a) media obyek fisik (model, alat peraga);

b) media grafis/visual (poster, chart, kartu dll);

c) media proyeksi;

d) media audio;

e) media audio-visual.

Nilai praktis media pembelajaran antara lain sebagai berikut.

(1) Mampu mengatasi keterbatasan perbedaan pengalaman pribadi

siswa.

19

(2) Mampu mengatasi keterbatasan ruang kelas.

(3) Mampu mengatasi keterbatasan ukuran benda.

(4) Mampu mengatasi keterbatasan kecepatan gerak benda.

(5) Mampu mempengaruhi motivasi belajar siswa.

(6) Mampu mempengaruhi daya abstraksi siswa.

(7) Memungkinkan pembelajaran yang lebih bervariasi.

4. KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)

a. Kurikulum

Kata “kurikulum” berasal dari satu kata bahasa Latin yang berarti

“jalur pacu”, dan secara tradisional, kurikulum sekolah disajikan seperti

itu (ibarat jalan) bagi kebanyakan orang (Dimyati dan Mudjiono,

2002:64).

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai

tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai

pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai

tujuan pendidikan tertentu (Suyitno, 2007:1).

b. Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah suatu konsep kurikulum

yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan

(kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga

hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap

seperangkat kompetensi tertentu (Mulyasa,2002:27).

20

Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-

nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Pada

pendidikan kejuruan, kompetensi yang terkait dengan tugas-tugas

lulusan di tempat kerja, ditetapkan berdasarkan standar kompetensi yang

berlaku di dunia kerja sesuai dengan keahliannya (Suyitno, 2007:2).

Implementasi KBK dalam pembelajaran adalah pembelajaran

konstektual. Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and

Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan

antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan

mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki

dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari

Dirjen Dikdasmen (2002:10) menyebutkan pendekatan CTL

memiliki tujuh komponen utama, yaitu konstruktivisme

(Constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning),

masyarakat belajar (Learning Community), permodelan (Modelling),

refleksi (reflekstion) dan penilaian sebenarnya (Authentic Assesment).

1) Konstruktivisme (Constructivism)

Konstruktivisme (Constructivism) merupakan landasan berfikir

(filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh

manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui

konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong.

Pengetahuan bukanlah seperangkat kata-kata, konsep, atau kaidah

yang siap untuk diambil dan diingat.

21

Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses

‘mengkontruksi’ bukan menerima pengetahuan. Dalam proses

pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka

melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Siswa

menjadi pusat kegiatan bukan guru.

Landasan berpikir kontruktivisme agak berbeda dengan

pandangan kaum objektivis, yang lebih menekankan pada hasil

pembelajaran. Dalam pandangan kontruktivis, strategi memperoleh

lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh

dan mengingat pengetahuan, untuk itu tugas guru adalah

memfasilitasi proses tersebut dengan:

a) menjadikan pengetahuan yang relevan dan bermakna bagi siswa;

b) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya

sendiri, dan;

c) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri

dalam belajar.

2) Menemukan (Inquiry)

Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran

berbasis CTL. Model pengajaran inquiry merupakan pengajaran yang

mengharuskan siswa mengolah pesan sehingga memperoleh

pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai. Dalam model inquiry

siswa dirancang untuk melakukan kegiatan inquiry sehingga kegiatan

pengajaran berpusat pada siswa. Guru harus selalu merancang

kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi

22

yang diajarkan. Dimyati dan Mudjiono (2002:173) menyatakan

“tujuan utama model inkuiri adalah mengembangkan keterampilan

intelektual, berpikir kritis, dan mampu menyelesaikan masalah”.

Langkah–langkah kegiatan menemukan (inquiry).

a) Merumuskan masalah (dalam mata pelajaran apapun).

b) Mengamati atau melakukan observasi.

c) Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar,

laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya.

d) Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca,

teman sekelas, guru atau audien yang lain.

3) Bertanya (Questioning)

Questioning (bertanya) merupakan strategi utama pembelajaran

yang berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai

kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai

kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya

merupakan bagian penting dalam melaksanakana pembelajaran yang

berbasis inkuiri, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa

yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang

belum diketahuinya.

Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya

berguna untuk:

a) menggali informasi, baik administrasi maupun akademis;

b) mengecek pemahaman siswa;

c) membangkitkan respon kepada siswa;

23

d) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa;

e) mengetahui hal–hal yang sudah diketahui siswa;

f) memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki

guru;

g) untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa;

h) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

Questioning dapat diterapkan: antara siswa dengan siswa,

antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa

dengan orang lain yang didatangkan ke kelas, dan sebagainya.

4) Masyarakat Belajar (Learning Community)

Konsep learning Community menyarankan agar hasil

pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil

belajar diperoleh dari sharing antara teman, antar kelompok, dan

antara yang tahu dengan yang belum tahu, yang cepat menangkap

mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera

memberi usul, dan seterusnya. Kelompok siswa bisa sangat

bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah, bahkan bisa

melibatkan siswa dikelas atasnya, atau guru melakukan kolaborasi

dengan mendatangkan seorang ahli ke kelas.

Masyarakat belajar terjadi apabila ada proses komunikasi dua

arah. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar

memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan

sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman

belajarnya.

24

Metode pembelajaran dengan teknik learning community ini

sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Prakteknya dalam

pembelajaran terwujud dalam.

a) Pembentukan kelompok kecil.

b) Pembentukan kelompok besar.

c) Mendatangkan ahli ke kelas (tokoh, olah ragawan, dokter,

perawat, petani, pengurus organisasi, polisi, dsb).

d) Bekerja dengan kelas sederajat.

e) Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya.

f) Bekerja dengan masyarakat.

Siswa di dalam kelompok kecil adalah kelompok belajar untuk

memecahkan masalah kelompok. Dimyati dan Mudjiono (2002: 166)

menyatakan “ ciri-ciri kelompok kecil yang menonjol sebagai

berikut: (i) tiap siswa merasa sadar diri sebagai anggota kelompok,

(ii) tiap siswa merasa diri memiliki tujuan bersama berupa tujuan

kelompok, (iii) memiliki rasa saling membutuhkan dan saling

tergantung, (iv) ada interaksi dan komunikasi antar anggota, serta (v)

ada tindakan bersama sebagai perwujudan tanggung jawab

kelompok”.

5) Pemodelan (modelling)

Dalam pendekatan CTL guru bukan satu–satunya model.

Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa bisa

ditunjuk untuk memberi contoh temannya cara menggunakan alat

25

peraga. Siswa yang memberi contoh tersebut dikatakan sebagai

model.

6) Refleksi (Reflection)

Refleksi dalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari

atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di

masa yang lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian,

aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.

Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari proses.

Pengetahuan dimiliki siswa diperluas melalui konteks pembelajaran,

yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit. Guru atau orang

dewasa membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara

pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang

baru.

7) Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)

Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa

memberikan gambaran perkembangan siswa. Apabila data yang

dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami

kemacetan belajar, maka guru segera mengambil tindakan yang tepat

agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran

tentang kemajuan belajar itu diperlukan disepanjang proses

pembelajaran, maka assessment tidak dilakukan di akhir periode

pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar

(Ebta/Ebtanas), tetapi dilakukan bersama secara integral tidak

terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. Data yang dikumpulkan

26

melalui kegiatan penilaian bukanlah untuk mencari informasi tentang

belajar siswa.

Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada

upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to

learn), bukan ditekankan pada diperolehnya pada sebanyak mungkin

informasi di akhir periode pembelajaran. Karena assessment

menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan

harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat

melakukan proses pembelajaran. Kemajuan belajar dinilai dari proses

bukan melulu hasil. Penilaian autentik menilai pengetahuan dan

keterampilan (performansi) yang diperoleh siswa. Dengan demikian

sebagai penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman atau orang

lain.

Tujuan utama KBK adalah memandirikan atau memberdayakan

sekolah dalam mengembangkan kompetensi yang akan disampaikan

kepada siswa, sesuai dengan kondisi lingkungan. Pemberian wewenang

(otonomi) kepada sekolah diharapkan dapat mendorong sekolah untuk

melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif.

Depdiknas (2002) mengemukakan bahwa kurikulum berbasis

kompetensi memiliki karakteristik sebagai berikut.

1) Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara

individual maupun klasikal.

27

2) Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan

keberagaman.

3) Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan

metode yang bervariasi.

4) Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya

yang memenuhi unsur edukatif.

5) Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya

penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi (Mulyasa,2002:42).

Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai

dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.

Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus

memungkinkan seseorang (siswa) menjadi kompeten, dalam arti

memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk

melakukan sesuatu. Mulai tahun pelajaran 2004/2005, sekolah-sekolah

di Indonesia akan secara bertahap diberlakukan Kurikulum berbasis

kompetensi yang juga dikenal sebagai Kurikulum Berbasis Kompetensi.

Dasar pelaksanaanya adalah PP No.25 Th.2000 bidang Pendidikan dan

Kebudayaan.

Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) merupakan perangkat

rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus

dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan

sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. KBK

ini berorientasi pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul

28

pada diri siswa melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna,

(2) keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan

kebutuhannya.

Landasan kurikulum berbasis kompetensi ini pada prinsipnya ingin

menggali dan memberdayakan potensi dan bakat siswa yang meliputi 4

pilar, yaitu (1) learning to be, (2) learning to know, (3) learning to do,

dan (4) learning to live together (Suyitno, 2004:59-60).

Hal berikut yang perlu pencermatan adalah standar kompetensi

bahan kajian matematika. Kecakapan atau kemahiran matematika yang

diharapkan dapat tercapai dalam belajar matematika mulai dari SD dan

MI sampai SMA dan MA, adalah sebagai berikut.

(1) Menunjukkan pemahaman konsep matematika yang dipelajari,

menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep

atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam

pemecahan masalah.

(2) Memiliki kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan

simbol, tabel, grafik atau diagram untuk memperjelas keadaan atau

masalah.

(3) Menggunakan penalaran pada pola, sifat atau melakukan

manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun

bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.

29

(4) Menunjukkan kemampuan strategik dalam membuat

(merumuskan), menafsirkan, dan menyelesaikan model matematika

dalam pemecahan masalah.

(5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam

kehidupan ( Depdiknas, 2003:2-3).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->