P. 1
20101104214232.Kinerja Otsus Papua

20101104214232.Kinerja Otsus Papua

|Views: 735|Likes:
Published by Nidia 'Nichanz'

More info:

Published by: Nidia 'Nichanz' on Jan 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/28/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1. Memahami Papua
  • 1.2. Papua dan Indonesia
  • 1.3. Papua dan Reformasi Indonesia
  • 1.4. Papua dan UU Otsus
  • 1.5. Evaluasi Kinerja Otsus
  • 2.1. Proses Kebijakan
  • 2.2. Muatan Kebijakan
  • 2.3.2. Implementasi Kelembagaan
  • 2.3.3. Implementasi Pendanaan/Pembiayaan
  • 2.3.4. Implementasi Pembangunan
  • 3.1. Muatan Kebijakan
  • 3.2.1 Kurikulum
  • 3.2.2. Muatan Lokal
  • 3.2.3. Mutu Pendidikan
  • 3.2.4. Kesempatan Pendidikan
  • 3.2.5. Partisipasi Masyarakat
  • 3.2.6. Pembiayaan
  • 3.2.7. Sarana dan Prasarana
  • 3.3.1. Pendidikan Anak Usia Dini
  • 3.3.2. Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun
  • 3.3.3. Pendidikan Menengah
  • 3.3.4. Pendidikan Tinggi
  • 3.3.5. Pendidikan Luar Sekolah (PLS)
  • 3.4. Simpulan
  • 4.1. Muatan Kebijakan
  • 4.2.2. Implementasi di Tingkat Kabupaten/Kota Kabupaten Sorong
  • 4.3.2. Kinerja di Tingkat Kabupaten/Kota Kabupaten Sorong
  • 4.4. Simpulan
  • 5.1. Muatan Kebijakan
  • 5.2. Implementasi Kebijakan
  • 5.3. Kinerja Kebijakan 5.3.1. Kinerja di Tingkat Masyarakat
  • 5.4. Simpulan
  • 6.1.2. Listrik
  • 6.1.3. Pos dan Telekomunikasi
  • 6.1.4. Tempat Peribadatan
  • 6.1.5. Air Bersih
  • 6.1.6. Prasarana Pendidikan
  • 6.1.7. Prasarana Kesehatan
  • 6.4. Simpulan
  • 7.2.2.Kabupaten Manokwari
  • 7.2.3. Kabupaten Jayapura
  • 7.3. Simpulan
  • 8.1. Wajah Otsus
  • 8.2. Model Penilaian Evaluasi
  • 8.3. Penilaian Evaluasi
  • 8.4. Simpulan Umum
  • 9.1. Pendekatan Pembelajaran Kebijakan
  • 9.2. Rumusan Kebijakan
  • 9.3. Implementasi Kebijakan
  • 9.4. Kinerja Kebijakan
  • 9.5. Lingkungan Kebijakan
  • 9.6. Beyond Policy

kem raan

partnership

Kinerja Otonomi Khusus Papua
Editor : Agung Djojosoekarto Rudiarto Sumarwono Cucu Suryaman Penulis : Agung Djojosoekarto Drs. JRG. Djopari, MA Prof. Sutriyono, M.Sc. Ph.D Dr. Daniel Lantang, M.Kes Indra Jaya Piliang Drs. Agustinus Fatem, MT Drs. Naffi Sanggenafa, MA Design & Layout : Ashep Ramdhan Katalog Dalam Terbitan Cetakan Pertama, Desember 2008 Kinerja Otonomi Khusus Papua Cet. I - Jakarta: Kemitraan, 2008; 154 hlm. ; 148 x 210mm; ISBN : 978-979-26-9656 Diterbitkan oleh: Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan di Indonesia. Menara Eksekutif , Lt 10 MH. Thamrin Kav. 9 Jakarta 10350 Telp: (+62-21) 3902566 ; 3902626 Fax : (62-21)2302933 ; 2303924 www.kemitraan.or.id

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

1

KINERJA OTONOMI KHUSUS

PAPUA

2

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

DAFTAR ISI
Bagian Kesatu PENDAHULUAN Bagian Kedua KEBIJAKAN UMUM Bagian Ketiga PENDIDIKAN Bagian Keempat KESEHATAN Bagian Kelima MASYARAKAT SIPIL Bagian Keenam INFRASTRUKTUR Bagian Ketujuh EKONOMI KERAKYATAN Bagian Kedelapan SIMPULAN Bagian Kesembilan PEMBELAJARAN 3 28 50 68 89 113 130 135 145

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

3

dengan digerakkan oleh berbagai kelompok 1 Yang dimaksud dengan Papua di sini dan seterusnya adalah kawasan Pulau Papua bagian barat. 4 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . yang kemudian merupakan provinsi terakhir di Indonesia tidak dianggap sebagai kawasan yang paling akhir menjadi bagian dari Indonesia karena dua alasan.Bagian Pertama PENDAHULUAN 1. kemiskinan dan keterbelakangan yang nampak dengan mata telanjang di sisi lain--. Salah satu indikatornya adalah adanya gejolak disintegrasi di kawasan ini.1. yaitu karena proses integrasinya dilatarbelakangi kepentingan negara-negara besar yang anti-komunis. dan karena kawasan ini telah menjadi negara merdeka. setelah negara-negara yang anti komunis yang mendukung aneksasi tersebut memaksa Republik Indonesia untuk melepaskan Timor Timur menjadi negara merdeka. sehingga prosesnya mengandung unsur aneksasi. dan pada saat ini Timor Timur menjadi negara merdeka dengan nama Republik Timor Loro Sae. Kawasan ini adalah kawasan yang paling akhir2 mendapatkan pengakuan internasional sebagai bagian dari Indonesia setelah Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) menyerahkan Papua ke Republik Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963 melalui negosiasi yang berat berhadapan dengan Pemerintah penjajah Belanda. kawasan yang menjadi bagian dari Indonesia. 2 Timor-Timur. Memahami Papua Papua1 adalah salah satu bagian dari Indonesia yang mempunyai ironi paling besar--memiliki kekayaan alam begitu melimpah di satu sisi. Pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dinilai oleh masyarakat Papua sebagai pembangunan yang tidak berhasil.

Bersama Aceh. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 5 . 3 PBB secara resmi menyerahkan wilayah Papua kepada Republik Indonesia pada tanggl 1 Mei 1963 4 �pembangkangan� dalam �tanda petik� dirupakan dalam bentuk penentangan-penentangan halus hingga mengarah kepada penciptaan konflik disintegrasi yang berjalan secara terus-menerus sejak reformasi. termasuk melakukan “pembangkangan politik”4 dalam bentuk gerakan-gerakan yang mendekati arah ke separatisme. Papua menjadi kawasan yang paling bergejolak setelah reformasi digulirkan pada tahun 1998. Upaya tersebut dijalankan dengan berbagai cara. Kekecewaan yang mendalam terhadap perjalanan selama 35 tahun (196331998) menjadi bagian dari Republik Indonesia ditengarai menjadi bagian inti dari gejolak tersebut.separatis. Indikator lain yang memperkuat penilaian tersebut adalah munculnya gerakan besar dari masyarakat Papua untuk menjadikan Papua sebagai kawasan dengan perhatian khusus dari Pemerintah Indonesia. Reformasi yang terjadi pada tahun 1998 memberikan ruang baru bagi Papua untuk melakukan exercise model baru pembangunan untuk kawasan ini. Tidak mengherankan jika Papua menjadi salah satu kawasan yang menjadi perhatian utama dari Pemerintah Jakarta setelah reformasi.

Dinamakan “Nieuw Guinea” karena penduduk yang ditemui berwarna hitam. Pertama. Ynigo Ortiz de Retes. Versi lain dari penamaan papua adalah dari Papua bagian Timur. ekologi rawa. kawasan yang berupa bagian barat dari Pulau Papua –karena sebelah timur adalah Negara Papua New Guinea—bernama Irian Jaya. Sebelum diberi nama “Irian Jaya”. Dalam bahasa Biak.R. dengan mengakronimkan IRIAN sebagai “Ikut Republik Indonesia Anti Nederland” (Koentjaraningrat. Nama “Papua” pada awalnya dipergunakan oleh pelaut Portugis Antonio d’Arbrau. Sifat kemajemukan penduduk Papua juga dapat dilihat dari prinsip hak ulayat tanah. Nama “Irian” diperkenalkan pada Konferensi Malino pada tahun 1946. Ciri-ciri fisiologi Tanah Papua yang beragam menyebabkan diferensiasi sistem mata pencaharian. Selain itu terdapat pula kolektifkolektif lain yang mengatur hak ulayatnya melalui keluarga inti atau hak individu. perkembangan struktur sosial masyarakat juga turut dipengaruhi oleh proses-proses adaptasi manusia terhadap lingkungan alam. Presiden Soekarno menjadi penganjur utama penggunaan nama Irian. melalui negosiasi yang alot dan sengit di forum Internasional (Bachtiar. M. Afrika.Sebelum reformasi. yang mengunjungi kawasan utara pulau ini pada tahun 1545. kawasan ini dikenal dengan nama “Papua”. kini menjadi Papua Nieuw Guinea. 1994: 3-5). Sebutan “Nieuw Guinea” digunakan oleh para pelaut Belanda.hD Thesis. Bukan hanya itu. Indonesia: Studi Perbandingan.T. Sistem Politik Tradisonal di Irian Jaya. 1994: 88). Di antara masyarakat Papua terdapat kolektif-kolektif etnik yang mengatur sistem hak ulatnya melalui klan (merupakan hak komunal). Leiden University. Walker dan J. 1994 6 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Nama ini kemudian dipakai oleh Antonio Pigafetta yang ikut dalam pelayaran dengan Ferdinand Magellan mengelilingi bumi. Mansoben5 mencatat bahwa keanekaragaman orang Papua bertalian erat dengan pola adaptasi sosio-ekonomi penduduk pada zona ekologi utama. seperti penduduk di Pantai Guinea. P. sebuah nama yang dipilih oleh Pemerintah Indonesia setelah kawasan ini resmi menjadi bagian dari Republik Indonesia pada 1 Mei 1962. Papua mempunyai kondisi sosial-budaya-politik yang khas. yang mendarat di pulau ini pada tahun 1521. 5 Dikutip Johsz R Mansoben. kata itu berarti “sinar matahari menghalau kabut di laut”. kata “papua” berasal dari kata dalam bahasa Melayu kuno “pua-pua”. Diperkirakan. Setidaknya ada empat zona ekologi utama. menggunakan penamaan dari seorang pelaut Spanyol. yang berarti “keriting”.

sedangkan perkawinan sebagai sarana reproduksi kekuasaan. misalnya. van Baal mencermati bahwa ekologi muara. dan federasi yang kompleks. masyarakat hidup dalam rumahrumah besar dalam hubungan keluarga yang luas. untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kedua tipe ini menghasilkan relasi yang berbeda sehingga berpengaruh terhadap ikatan kolektif yang terbentuk. keluarga mempunyai fungsi produktif. dan muara sungai. Lebih jauh. dengan jaringan luas dari sistem klan. ketiga. Lingkungan ekologi yang berpengaruh terhadap pola-pola adaptasi tercermin dalam sistem mata pencaharian hidup meliputi teknologi dan sistem pembagian kerja. Lebih jauh untuk 6 Baal (1954) dikutip dalam Mansoben. Karena wilayah pesisir dan kepulauan relatif sulit dijadikan lahan pertanian. Contoh masyarakat ini adalah penduduk pantai utara. Antroplog J. ibid. Kebutuhan pesta adat inilah yang di kemudian hari memberikan porsi bagi munculnya pola patron-klien dimana patron merupakan pihak yang mensponsori pesta. kepulauan dan pesisir pantai. Di satu sisi. dengan aktifitas produksinya meramu sagu. dataran pantai. Tipe ini menghasilkan ikatan horisontal yang kuat. Aktifitas perang lantas menjadi bagian dari persaingan produksi.daerah pantai. Semakin kompleks inovasi teknologi dan sistem pembagian kerja. Mekanisme hierarki internal suku terbentuk berdasar pola pembagian kerja dan adanya ritual tertentu. Kompleksitas sistem ritus dan keagaman yang berbeda ini dipengaruhi oleh lingkungan alam yang berbeda6. gabungan klan. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 7 . Pada zona ekologi muara sungai. maka aspek budaya lain seperti organisasi sosial dan sistem ideologi (ritual agama) juga kian rumit. Tidak mengherankan jika ritual ini menyedot konsumsi besar untuk keperluan pesta adat. penduduk hidup dalam keluarga-keluarga inti kecil yang amat bersifat individualis. Contoh penduduk yang menganut pola ini adalah suku Dani. Dua hal yang penting untuk dilihat adalah mekanisme penurunan kekuasaan dan sistem politik yang terbentuk. kedua. kaki gunung dan lembah-lembah kecil. pada umumnya menyelenggarakan upacara keagamaan jauh lebih meriah dibanding dengan penduduk yang menggantungkan dirinya dari bertani umbi-umbian. dan keempat pegunungan tinggi. di sisi lain keluarga merupakan identitas untuk sarana reproduksi kekuasaan. Di sinilah kemudian makna keluarga mendapat tempat dalam struktur hierarki masyarakat. Di zona ekologi pegunungan tengah. mendorong mereka untuk berdagang.

dan suku Muyu. setara dengan desa). Masyarakat adat yang menerapkan sistem ini adalah suku Dani. Pewarisan bersifat senioritas baik dilihat dari urutan kelahiran maupun klan. keberanian memimpin perang. Pusat orientasi kekuasaannya adalah perdagangan. ekonomi dan agama antar-desa. Oleh karena itu keputusan yang diambil oleh pemimpin selalu dianggap benar dari segi kepentingan umum. yaitu: pertama. Mansoben mengidentifikasi empat sistem politik tradisional. hanya wilayahnya lintas okul. dan sifat murah hati. Dewan adat 7 Ibid. Teluk Berau. di suku Dani mengenal empat kesatuan wilayah. Pesta babi adalah ritual penting bagi suku Dani karena merupakan media untuk memperkuat solidaritas kesatuan sosial kelompok. suku di Semananjung Onin.memahami pola dan keteraturan macam apa yang mendasari hierarki kekuasaan dalam suatu suku. Semakin menonjol peran kain di tingkatan itu. Di kerajaan Raja Ampat. 7 Kedua. struktur organisasi terdiri dari dua bentuk. dan daerah Kaimana. wilayah bertetangga (ap-logalek). Sistem upeti dan pemungutan pajak sudah dikenal dalam masyarakat ini. Masyarakat pendukung sistem ini meliputi kepulauan Raja Ampat. Ciri utama sistem ini adalah pola kepemimpinan yang bersumber pada pewarisan kedudukan pemimpin. 8 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . kepandaian berdiplomasi dan pidato. keberhasilan dalam mendistribusikan kekayaan. Wewenang dan kekuasaan terpenting dari kain pada tingkat uma adalah mengatur pemanfaatan tanah milik uma. sistem politik kerajaan. Pemimpin ap-logalek memiliki wewenang yang hampir sama dengan okul. sistem pria berwibawa. bertubuh besar dan tegap. prinsipprinsip organisasi sudah menampilkan struktur mapan dengan wewenang dan kewajiban yang ketat dan tersentralisasi. yaitu struktur organisasi pusat dengan seorang raja yang dibantu 5 orang. suku Meybrat. Walau sistem organisasi kerja tidak ada. Di samping itu. Sistem ini bercirikan bahwa kedudukan pemimpin diperoleh melalui pencapaian individu yang bersumber pada kemampuan individual. Dalam sistem ini. makin besar peluang untuk menjadi pemimpin di tingkat yang lebih tinggi. Sementara pemimpin konfederasi hanya berwenang dalam memimpin perang dan mensponsori penyelenggaraan pesta babi. Sedangkan wewenang dan kekuasaan kain tingkat o-ukul adalah mengatur masalah-masalah penting yang menyangkut kehidupan politik. terdapat pula dewan adat yang diketuai raja dengan anggota terdiri dari kepala klan kecil. Sistem ini sudah mengenal pembagian fungsi dalam melaksanakan kekuasaan dengan berbasis pada teritori. Masing-masing kesatuan wilayah dipimpin oleh seorang kain. gabungan kompleks (o-ukul. suku Asmat. kekuasaan dijalankan oleh satu orang serta tidak mengenal organisasi kerja dan pembagian kerja. suku Me. Karena banyak dipengaruhi oleh kerajaan di Maluku. dan konfederasi. yakni kompleks (uma).

raja mengangkat seorang pembantu yang diberi gelar marinpnu untuk meneruskan perintah raja yang berkaitan dengan penarikan upeti dan pemungutan pajak pada rakyat di wilayahnya. Seperti halnya suku Dani. yaitu bidang religi. bidang kemakmuran. dan mengatur pemanfaatan sumber daya alam bagi warganya. dan bidang ketertiban. suku Tabla. Berbeda dengan sistem kerajaan yang berdasar pada wilayah teritori. suku Genyem (Nimboran). Tingkat di atas kampung adalah konfederasi atau gabungan kampung dengan syarat mempunyai latar asal-usul moyang yang sama. dan hutan) dalam lingkungan kekuasaannya yang disebut phuke khelahe. Ciri utama kepemimpinan sistem ini adalah melalui pewarisan kedudukan. Tingkat di atas klan kecil adalah kampung yang merupakan gabungan sejumlah klan kecil. yakni klan kecil dengan pemimpin yang disebut khoselo dengan dibantu dua pembantu pelaksana ritus (abu-akho) dan bendahara (akhona-fafa).berfungsi merundingkan dan memutuskan secara musyawarah persoalan yang berkaitan dengan pemilihan pemimpin baru. sistem politik ondoafi atau kepala suku. air. suku Yakari-Skao. dan sejumlah pembantu dengan pembagian tugas yang jelas. Pemimpinnya disebut Hu Ondoafi yang bertempat di kampung asal moyang pertama yang sekaligus berperan sebagai pusat persebaran bagi kampung-kampung lain dalam konfederasi. Sistem kepemimpinan ini mengenal suatu organisasi terdiri dari seorang kepala.8 Ketiga. Wewenang utama hu ondoafi adalah memimpin perang antar konfederasi dan memimpin upacara inisiasi bagi pemuda kampungnya. Pendukung sistem ini adalah suku Sentani. Pemimpinnya disebut ondoafi. Ondoafi mempunyai hak atas semua sumber-sumber hidup (tanah. suku Yaona. Di samping itu. suku di Teluk Yos Sudarso. Para fungsionaris yang membidangi empat fungsi tersebut biasanya diambil dari khosole. bidang keamanan. di kampung juga dibentuk satu dewan adat (yonow) sebagai tempat membicarakan semua urusan dan persoalan penting yang menyangkut kehidupan kampungnya. mengurus perkawinan. memimpin upacara adat. Bentuk kedua adalah organisasi di tingkat daerah. dan suku Arso-Waris. Organisasi di tingkat kampung sudah memiliki empat fungsi yang jelas dengan empat bidang utama. Pusat orientasi kekuasaanya adalah religi. sistem ini pun mengenal tingkatan organisasi. Pada tiap kampung (pnu) di daerah. sistem ini hanya terbatas pada satu golongan atau klan saja. Tugas Khoselo adalah bertindak sebagai hakim untuk mengurus dan memutuskan perkara-perkara yang menyangkut warganya.9 8 ibid 9 ibid KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 9 .

Di Biak pemimpinnya disebut mananwir. Tabel 1. Berbeda dengan sistem kerajaan dan ondoafi. bisa dikatakan bahwa suku-suku di Papua memiliki persyaratan dari sebuah negara yang sifatnya struktural fungsional dalam artian pemerintahan yang berdasar pada teritori tertentu yang efektif. Jadi. Pada soal-soal tertentu mananwir akan mengkoordinasikan kepalakepala klan kecil (keret) dengan tokoh masyarakat untuk membuat keputusan yang menyangkut kepentingan kampung lewat lembaga yang disebut kainkain karkara mnu. Yawa. Situasi bisa berupa peperangan. belum ada pembagian kerja dan birokrasi • mengenal hierarki wilayah 1. terutama umbi-umbian dan sayuran • Kegiataan ekstraksi (meramu) dan berburu • Mengenal peternakan sederhana Sistem Pemerintahan • Kepemimpinan diperoleh melalui pencapaian individu pada kemampuan individual • one man show. sistem kepemimpinan campuran. dalam sistem campuran ini tidak mengenal birokrasi.Keempat. dan Maya). mananwir mnu membuat keputusan berdasarkan keputusan bersama. Wandamen. dll. Mekanisme pewarisan dilaksanakan jika situasi dalam keadaan tenang. Dan melalui pencapaian jika terjadi situasi tertentu yang menuntut penampilan pemimpin untuk menjawab tantangan tersebut. di suku Biak dan suku Waropen mengenal pula hierarki model sistem ondoafi dengan hierarki tertinggi berada di kampung. suku Meybrat. bencana alam. sebagai unit yang otonom. Dengan adanya keempat sistem ini. Pendukung sistem ini adalah suku-suku di Teluk Cendarwasih (Biak. Walau kental dengan nuansa hubungan darah dan kekerabatan. legislatif dan yudikatif berlaku efektif dan menjadi kesatuan yang dipatuhi oleh seluruh anggota suku. Waropen. dan suku Muyu Pegunungan Tinggi 10 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Pria berwibawa: Suku Dani.1 Tipologi Sistem Politik Masyarakat Adat di Papua No Sistem Politik Tipe Ekologi Corak Produksi • Pertanian konvensional. Walau tidak mengenal birokrasi. suku Me. Ciri sistem campuran adalah kedudukan pemimpin diperoleh melalui pewarisan dan pencapaian. perangkat-perangkat semacam eksekutif. suku Asmat.

Teluk Berau. Wandamen. Dataran pantai Berdagang 3. Keempat. terutama: pertama. ini akan berlanjut pada hal-hal yang dimonopoli dan atau dipersaingkan. bukan mengikat individu tapi mencakup keseluruhan komunal atau klan. ritus agama. tersentral • prinsip-prinsip organisasi menampilkan struktur mapan dengan wewenang dan kewajiban yang ketat dan tersentralisasi • kepemimpinan diperoleh melalui sistem pewarisan • mengenal hierarki wilayah berdasar klan • Pusat orientasi kekuasaanya adalah religi • Sudah ada pelembagaan dengan struktur yang sederhana • Kepemimpinan diperoleh melalui pewarisan dan pencapaian • tidak ada birokrasi • mengenal hierarki wilayah 2. Ketiga. dimensi sosio-politik pemimpin suku atas persoalan yang berada pada lingkup tanah ulayatnya. suku di Teluk Yos Sudarso. suku Yakari-Skao. dan daerah Kaimana • kepemimpinan melalui sistem pewarisan • mengenal hierarki wilayah berdasarkan teritorial. macam-macam prioritas dalam dimensi sosioekonomis masyarakat ulayat. suku Genyem (Nimboran). rawa.Sistem Kerajaan: Suku di kepulauan Raja Ampat. konsekuensi hukum adat yang berlaku. Kedua. suku Tabla. atau KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 11 . setidaknya memberikan catatan bagi pengambil kebijakan di Papua untuk memperhatikan. suku di Semananjung Onin. reproduksi kekuasaan melalui perkawinan. Yawa. dan muara sungai • Berladang dan menangkap ikan • berdagang Selain itu. Sistem Ondoafi: suku Sentani. Waropen. suku Yaona. dan mekanisme mengukuhkan pemimpin (lewat perang. daerah pantai. pengetahuan tentang ekologi dan sistem kepemimpinan dari tipe yang ada. apabila dilanggar. dan suku ArsoWaris Sistem campuran: suku-suku di Teluk Cendarwasih (Biak. dan Maya) Lembah dan kaki gunung kecil • Kegiataan ekstraksi (meramu) dan menangkap ikan • Berladang • Mengenal beternak sederhana 4. terutama pola relasi antara pemimpin dengan masyarakatnya.

untuk merebut kembali wilayah Irian Barat (Papua sekarang).062 km2. 45 Tahun 1999. 3. -yang terkenal dengan sebutan Tiga Komando Rakyat (Trikora). 12 Tahun 1969 dan UU No. 8. di sebelah selatan Laut Arafura. 11. 5. Provinsi ini berbatasan di sebelah timur dengan negara Papua Nieuw Guinea. ketika diproklamirkan kemerdekannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Wilayah Irian Barat akhirnya terintegrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pada bulan Mei 1963. 9. Berdasarkan nota kesepakatan antara pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Belanda pada Konferensi Meja Bundar (KMB). secara de jure mencakup seluruh wilayah bekas jajahan Kerajaan Hindia Belanda.kecakapan tertentu) yang melibatkan sumber daya dalam hal upacara adat yang memerlukan biaya besar. maka kebijakan pembangunan di wilayah ini berbeda dengan wilayah lain yang berimplikasi luas dalam aspek pembangunan sosial. Provinsi Papua yang didirikan dengan dasar hukum UU No.2. Namun nota kesepakatan itu diingkari oleh pihak Kerajaan Belanda yang memunculkan reaksi dari pemerintah Indonesia pada tahun 1963 dengan melahirkan kebijakan melalui Komando Mobilisasi Umum. 7. 13. yaitu 1. 14. ekonomi dan politik. 12. maka wilayah Irian Barat (Papua sekarang) akan diserahkan kemudian. Dengan latar seperti itu. 1. 4. Provinsi Papua terdiri dari 19 Kabupaten dan Kota. mempunyai luas wilayah 317. Papua dan Indonesia Wilayah kekuasaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 2. Kabupaten Asmat Kabupaten Biak Numfor Kabupaten Boven Digoel Kabupaten Jayapura Kabupaten Jayawijaya Kabupaten Keerom Kabupaten Mappi Kabupaten Merauke Kabupaten Mimika Kabupaten Nabire Kabupaten Paniai Kabupaten Pegunungan Bintang Kabupaten Puncak Jaya Kabupaten Sarmi 12 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . 10. atau sekitar 20% dari luas daratan Indonesia. 6.

namun Papua memiliki kekayaan alam yang melimpah. Ada proven deposit 2. dan (3) ekologi wilayah pegunungan tinggi. dan 9 juta ha hutan konversi untuk KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 13 . dan perbatasan negara. (1) ekologi wilayah rawa-rawa. 17. yakni.5 milyar ton bahan tambang emas & tembaga (konsesi Freeport saja). akselerasi pertumbuhan yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia tidak dapat diimbangi oleh kemajuan pembangunan di Tanah Papua Kondisi ini. Sekitar 70% penduduk asli Papua bertempat tinggal di kampung-kampung yang terpencil. pemerintahan. 540 juta m3 potensi lestari kayu komersial. 16. (2) ekologi wilayah pesisir. dataran rendah. setelah merasa dikecewakan dalam peristiwa Pepera Tahun 1969. Pada dasarnya. pedalaman. pantai. dan pelayanan jasa kemasyarakatan. Berbarengan dengan itu. Terlambatnya mengawali proses pembangunan tersebut lebih disebabkan oleh kesibukan Pemerintah dalam hal penyelesaian masalah politik kembalinya Irian Barat ke Pangkuan Ibu Pertiwi. Kabupaten Talikara Kabupaten Waropen Kabupaten Yakuhimo Kabupaten Yapen Waropen Kota Jayapura Provinsi Papua ditandai oleh tiga ekologi wilayah utama. belum sempat terencana secara matang seperti yang telah dilakukan di provinsi lainnya dengan format REPELITA-GBHN. Meskipun merupakan kawasan yang secara kategori pembangunan disebut terbelakang. proses pembangunan oleh Pemerintah Indonesia di Tanah Papua baru efektif dimulai pada awal tahun 1980an. diperburuk oleh pola anutan sentralistik di bawah pengaruh kekuasaan Orde Baru. Praktis. pulau-pulau kecil. kawasan ini tetap menjadi kawasan terbelakang dan semakin tertinggal dibanding kawasan lain.15. dan kepulauan. 18. 19. hal ini menjadi motif utama bagi munculnya ketidakpuasan yang menyuburkan intensitas pergerakan kemerdekaan politik bagi sebagian komponen masyarakat. Desakan untuk menggunakan kembali nama “Papua” berangkat dari kekecewaan elit politik lokal karena selama 36 tahun (1962-1998) menjadi bagian dari Indonesia di bawah tatanan Orde Lama (1945-1965) dan Orde Baru (1966-1998). Itupun masih sangat bersifat sporadis. yang ternyata telah menggiring eksistensi masyarakat Papua ke dalam situasi enclave. dan kaki gunung. dengan kondisi topografis yang sulit diakses oleh pelayanan pembangunan.

pembangunan perkebunan skala besar. Panjang pantai wilayah ini mencapai 2.000 mil, luas perairan 228.000 km2, dengan tidak kurang dari 1,3 juta ton potensi lestari perikanan per tahun. Namun demikian, di balik semua keberlimpahan tersebut, Papua juga dikenal sebagai provinsi dengan jumlah masyarakat miskin terbanyak. Dibanding daerah-daerah lain di Indonesia, kawasan ini tetap menjadi kawasan paling terbelakang dan paling miskin, tidak berbeda dengan posisinya pada saat bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1963. Papua merupakan provinsi yang paling terbelakang di Indonesia. Pada tahun 1997 –sebelum krisis-- tingkat kemiskinan Papua dilaporkan di atas 50%, sementara rerata tingkat kemiskinan nasional telah mendekati 14%. Papua menjadi provinsi dengan populasi miskin terbesar di Indinesia. Pada tahun 1999 dilaporkan persentase penduduk miskin Papua adalah 54,75%, yang menjadikan Papua tetap sebagai provinsi dengan populasi miskin terbesar, disusul Nusa Tenggara Timur 46,73%, dan Maluku 46,14%. Tahun 2000, persentase kemiskinan menurun menjadi 41,80%, tetapi masih yang terbesar di Indonesia, disusul Maluku 46,14%,dan Nusa Tenggara Timur 36,52%. Kemiskinan dan keterbelakangan yang mendalam di Papua, sudah pada tempatnya, diakui sebagai kegagalan pendekatan pembangunan Papua selama masa Orde Baru. Dibanding kawasan Indonesia lainnya, Papua merupakan kawasan dengan kondisi keterbelakangan yang paling tinggi. Kondisi keterbelakangan ini, secara internal, disebabkan lima hal utama, yaitu bahwa pada saat menjadi bagian dari Indonesia: 1. sebagian besar masyarakat Papua hidup dalam kondisi keterbelakangan, atau dalam bahasa akademis disebut keprimitifan; 2. tidak terdapat infrastruktur fisik, dalam arti transportasi dan telekomunikasi, yang memadai, bahkan pada tingkat paling minimal; 3. rendahnya tingkat kesejahteraan dan kesehatan karena rendahnya tingkat pendidikan; 4. rendahnya kemampuan dari sumberdaya manusia di kawasan ini untuk dapat secara langsung masuk ke dalam “mesin” pembangunan yang berjalan dengan “mode” masyarakat dengan kondisi seperti di Jawa dan kawasan lain yang lebih maju dari Papua; 5. rendahnya kemampuan dari sumberdaya manusia di jajaran elit lokal untuk menjadi bagian dari sistem kepemerintahan modern.

14

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

Simpulan yang dapat diambil adalah meskipun keputusan politik penyatuan Papua menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia pada hakikatnya mengandung cita-cita luhur yaitu membangun rakyat di Papua (Barat) menjadi masyarakat modern dan makmur, kenyataan yang terjadi masih jauh dari harapan. Paling tidak, dua hal mendasar yang mendesakkan keinginan untuk memperoleh Otonomi khusus sebagai salah satu varian konsep desentralisasi yang dikenal dengan desentralisasi asimetris (asymmetrical decentralization), sebagai “pilihan antara” atas pilihan biner yang ada. Pertama, pendekatan dalam kebijakan pembangunan Papua (atau Irian Jaya, pada saat itu) selama masa Orde Baru lebih ditentukan oleh Pusat daripada aspirasi setempat. Pendekatan ini biasanya disebut sebagai “pendekatan sentralistik”. Sebuah pendekatan yang dinilai lazim pada awal tahun 1970n hingga 1980an, di mana Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang “membangun”, di dalam arti sedang melakukan “perubahan sosial yang dipercepat”, yang memerlukan pola yang “satu ide, satu komando”, atau perencanaan dan pengendalian pembangunan yang terpusat. Terlepas dari upaya dari Pemerintah Pusat untuk melakukan pemahaman permasalahan pembangunan di tingkat lokal, namun kebijakan pembangunan di Papua lebih banyak ditentukan oleh Pemerintah Pusat, sebagaimana kebijakan pembangunan di daerah-daerah di Indonesia pada umumnya. Selain berasal dari paradigma pembangunan yang ada dan diyakini pada saat itu, pendekatan yang sentralistik juga didukung oleh elit politik di tingkat nasional dan elit politik Papua yang berkepentingan dengan pemusatan kebijakan pembangunan Papua di Jakarta. Pendekatan pembangunan yang dijalankan, yang berpola sentralistik tidak cukup berhasil membuat Papua menjadi kawasan yang maju dan makmur. Kemakmuran cenderung lebih dinikmati perusahaan-perusahaan multinasional dan nasional yang beroperasi di Papua, yang melakukan eksploitasi alam, dan para pendatang dari luar Papua. Kedua, momentum reformasi di Indonesia memberi peluang bagi timbulnya pemikiran dan kesadaran baru untuk menyelesaikan berbagai permasalahan besar bangsa Indonesia dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Sehubungan dengan itu, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) menetapkan perlunya pemberian status Otonomi Khusus kepada Provinsi Irian Jaya sebagaimana diamanatkan dalam Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara Tahun 1999-2004 Bab IV huruf (g) angka 2. Dalam Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah, yang antara lain menekankan tentang pentingnya segera merealisasikan Otonomi Khusus

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

15

tersebut melalui penetapan suatu undang-undang otonomi khusus bagi Provinsi Irian Jaya dengan memperhatikan aspirasi masyarakat. Hal ini merupakan suatu langkah awal yang positif dalam rangka membangun kepercayaan rakyat kepada Pemerintah, sekaligus merupakan langkah strategis untuk meletakkan kerangka dasar yang kokoh bagi berbagai upaya yang perlu dilakukan demi tuntasnya penyelesaian masalah-masalah di Provinsi Papua. Dapat disimpulkan, pembangunan Irian Jaya dipersepsikan oleh masyarakat lokal belum sesuai dengan keinginan dan aspirasinya, karena dibanding seluruh provinsi di Indonesia, Irian Jaya merupakan kawasan yang paling tertinggal dari berbagai sisi pembangunan. Ironisnya, Irian Jaya merupakan salah satu kawasan Indonesia yang memberikan sumbangan pendapatan nasional yang tinggi, terutama dari hasil eksploitasi pertambangan. 1.3. Papua dan Reformasi Indonesia Krisis ekonomi yang dialami Indonesia pada tahun 1998 mendorong lahirnya gerakan reformasi yang merubah peta politik, sosial, dan ekonomi nasional. Momentum perubahan besar ini dipergunakan oleh masyarakat dan elit di Irian Jaya bagi reformasi hubungan Pusat-Irian Jaya, dengan tujuan meletakkan Irian Jaya sebagai sebuah daerah yang mendapatkan prioritas pembangunan yang sama besar dengan daerah lain di Indonesia. Berbeda dengan gerakan sebelumnya yang bersifat separatis seperti gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM), maka gerakan rakyat dan elit Irian Jaya mengarah kepada dua isu, yaitu (1) penggantian nama Irian Jaya, dan (2) perlakuan khusus dalam kebijakan otonomi daerah yang diberikan Pusat kepada Irian Jaya. Momentum pertama diperoleh pada tahun 2000. Presiden Abdurrahman Wahid memberikan dukungannya untuk merubah nama Irian Jaya menjadi Papua, sebagaimana aspirasi lokal yang disampaikan ke Pusat. Perubahan nama Irian Jaya menjadi Papua ini tertuang dalam Keputusan DPRD Provinsi Irian Jaya Nomor 7/DPRD/2000 tanggal 16 Agustus 2000 tentang Pengembalian Nama Irian Jaya Menjadi Papua. Perubahan nama ini merupakan instrumen penting untuk mendorong perlakuan khusus Papua sebagai daerah otonom. Pada tahun 2000-2001, delegasi Papua memperjuangkan adanya kebijakan “otonomi khusus” bagi Papua. Setelah melalui pengkajian yang komprehensif dan melibatkan berbagai fihak yang terkait, maka Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dan Presiden memberikan persetujuan untuk

16

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

Sebuah KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 17 . Desakan ini akhirnya mendapatkan “angin segar” ketika Presiden Abdurrahman Wahid memberikan dukungan untuk menggunakan kembali nama Papua sebagai ganti Irian Jaya. yaitu pemekaran provinsi Papua menjadi dua: Provinsi Papua. yang menggantikan Presiden Abdurrahman Wahid pada tahun 2001. Pada tahun 2003. Papua Barat dan Papua Tengah. menemui Presiden BJ Habibie. terjadi perubahan signifikan. melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 1 Tahun 2003. atau disebut sebagai bagian “Kepala Burung”. Pada tahun 2003. Namun Presiden Habibie tidak memberikan dukungan kepada pemintaan tersebut. yang merupakan Papua bagian barat. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. 1 Tahun 2003 yang membagi Provinsi Papua menjadi dua: Papua dan Irian Jaya Barat. yang berada di timur. dan Provinsi Irian Jaya Barat. merespon tuntutan merdeka untuk Papua dengan menandatangani UU No. Presiden Megawati. win-win solution antara rakyat Papua yang berkeinginan terlepas dari NKRI serta Pemerintah RI yang kokoh-teguh mempertahankan kedaulatan NKRI. dan kekayaan Papua. dan pemberian ijin untuk mempergunakan bendera Bintang Kejora sebagai bendera provinsi. Sebuah prasyarat untuk mengangkat orang Papua dari ketertinggalan dibanding saudaranya di kawasan tengah dan timur.menerbitkan kebijakan Otonomi Khusus (Otsus). UU Otsus merupakan hasil tawar-menawar antara rakyat Papua dengan Pemerintah RI tanggal 26 Februari 1999 di Istana Negara ketika 100 delegasi resmi. Pada tahun 2000. berkembang wacana untuk membagi Papua menjadi dua provinsi baru. Undang-Undang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua Nomor 21 tahun 2001 merupakan pengakuan Pemerintah RI untuk melindungi hak ulayat orang Papua akan tanah. yang mewakili elemen di Papua dengan dipimpin Thomas Beanal. Pada saat ini. Presiden Megawati menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) No. yang ditandatangani oleh Presiden Megawati pada tanggal 21 November 2001. desakan integrasi semakin menguat dan memuncak pada Kongres Papua II di Jayapura tanggal 29 Mei – 3 Juni 2000. 21 Tahun 2001 tanggal 21 November 2001 tentang otonomi khusus. Lahirnya undang-undang tentang otonomi khusus ini dapat dilihat sebagai penyelesaian konflik. dalam bentuk UU No. air.

dan menjadi salah satu pemikir utama kebijakan otsus bagi Papua. Wilayah Provinsi Papua pada saat ini terdiri atas 12 Kabupaten dan dua Kota. yang merupakan bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. di sebelah barat dengan Provinsi Maluku dan Maluku Utara. Kabupaten Paniai. Kabupaten Sorong. Presiden Yudhoyono mendukung kebijakan Otsus. Kabupaten Puncak Jaya. maka yang dimaksud Provinsi Papua adalah Provinsi yang sebelumnya bernama Irian Jaya. Kota Jayapura. yang diberi status Otonomi Khusus. presiden terpilih pada Pemilu 2004. dan bermartabat. di sebelah selatan dengan Provinsi Maluku dan Laut Arafura. Papua dan UU Otsus Sebagaimana dikemukakan pada UU No. yaitu: Kabupaten Jayapura. yang memiliki keragaman suku dan lebih dari 250 bahasa daerah serta dihuni juga oleh suku-suku lain di Indonesia. Karenanya. masalah Papua hanya terselesaikan melalui kompromi dengan didasarkan pada nilai-nilai dasar yang mencakup perlindungan dan penghargaan terhadap rakyat Papua. Kabupaten Yapen Waropen. Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua pada dasarnya adalah pemberian kewenangan yang lebih luas bagi Provinsi dan rakyat Papua untuk mengatur dan mengurus diri sendiri di dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kabupaten Fakfak.eksekusi dari wacana yang berkembang pada tahun 1999. Kabupaten Mimika. Kabupaten Nabire. Kabupaten Jayawijaya. Kabupaten Merauke.981 km2 dengan topografi yang bervariasi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. dan di sebelah timur dengan Negara Papua New Guinea. Wilayah Provinsi Papua berbatasan di sebelah utara dengan Samudera Pasifik. yang pada saat dirumuskannya beliau menjadi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan. Kabupaten Biak Numfor. Kabupaten Manokwari. Kewenangan yang lebih luas berarti pula tanggung jawab yang lebih besar bagi Provinsi dan rakyat Papua untuk menyelenggarakan pemerintahan dan mengatur pemanfaatan kekayaan alam di Provinsi Papua untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat Papua sebagai bagian dari rakyat Indonesia sesuai dengan 18 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Provinsi Papua memiliki luas kurang lebih 421. demokratis. mengembangkan pemahaman bahwa membangun Papua harus komprehensif. 1. Dengan demikian. dan Kota Sorong. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Otonomi khusus untuk Papua menjadi fakta bagi sketsa baru dari tata hubungan pusat-deerah pasca reformasi. mulai dari dataran rendah yang ber-rawa sampai dengan pegunungan yang puncaknya diselimuti salju.4.

termasuk memberikan peran yang memadai bagi orang-orang asli Papua melalui para wakil adat. Hal-hal mendasar yang menjadi isi Undang-Undang ini adalah:  pengaturan kewenangan antara Pemerintah dengan Pemerintah Provinsi Papua serta penerapan kewenangan tersebut di Provinsi Papua yang dilakukan dengan kekhususan. Peran yang dilakukan adalah ikut serta merumuskan kebijakan daerah. dan yudikatif. serta Majelis Rakyat Papua (MRP) sebagai representasi kultural penduduk asli Papua yang diberikan kewenangan tertentu.  pembagian wewenang. dan kaum perempuan. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 19 . masyarakat adat.  mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik yang berciri: a) partisipasi rakyat sebesar-besarnya dalam perencanaan. dan tanggung jawab yang tegas dan jelas antara badan legislatif. lambang daerah dalam bentuk bendera daerah dan lagu daerah sebagai bentuk aktualisasi jati diri rakyat Papua dan pengakuan terhadap eksistensi hak ulayat. pelaksanaan dan pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan serta pelaksanaan pembangunan melalui keikutsertaan para wakil adat. yang tercermin melalui perubahan nama Irian Jaya menjadi Papua. c) penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan yang transparan dan bertanggungjawab kepada masyarakat. b) pelaksanaan pembangunan yang diarahkan sebesar-besarnya untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk asli Papua pada khususnya dan penduduk Provinsi Papua pada umumnya dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip pelestarian lingkungan. pembangunan berkelanjutan. adat. Kewenangan ini berarti pula kewenangan untuk memberdayakan potensi sosial-budaya dan perekonomian masyarakat Papua. berkeadilan dan bermanfaat langsung bagi masyarakat. dan kaum perempuan. agama. menentukan strategi pembangunan dengan tetap menghargai kesetaraan dan keragaman kehidupan masyarakat Papua. dan hukum adat. agama.peraturan perundang-undangan.  pengakuan dan penghormatan hak-hak dasar orang asli Papua serta pemberdayaannya secara strategis dan mendasar. tugas. melestarikan budaya serta lingkungan alam Papua. eksekutif.

makmur. Keberadaan Pemerintah. Pertimbangan tersebut juga didasari oleh pengakuan bahwa penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan di Provinsi Papua selama ini belum sepenuhnya memenuhi rasa keadilan. semua diarahkan untuk memberikan pelayanan terbaik dan pemberdayaan rakyat. maka kebijakan otonomi khusus dapat diberikan. 21 Tahun 2001 ini juga disebutkan agenda-agenda yang mendasari penerbitannya. Pembentukan komisi ini dimaksudkan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi di masa lalu dengan tujuan memantapkan persatuan dan kesatuan nasional Indonesia di Provinsi Papua. Pada UU No.Pemberian Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua dimaksudkan untuk mewujudkan keadilan. adat istiadat. sejarah. dan belum sepenuhnya menampakkan penghormatan 20 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dari segi yuridis. Pemerintah Kabupaten/Kota. penegakan supremasi hukum. Dari sisi politik. serta perangkat di bawahnya. dalam rangka kesetaraan dan keseimbangan dengan kemajuan provinsi lain. peningkatan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat Papua. dan bahasa sendiri. Undang-Undang ini juga mengandung semangat penyelesaian masalah dan rekonsiliasi. Pemerintah menilai bahwa integrasi bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus tetap dipertahankan dengan menghargai kesetaraan dan keragaman kehidupan sosial budaya masyarakat Papua. belum sepenuhnya memungkinkan tercapainya kesejahteraan rakyat. Pemerintah Provinsi. penghormatan terhadap HAM. belum sepenuhnya mendukung terwujudnya penegakan hukum. Dalam agenda ini dipahami bahwa masyarakat Papua memiliki hak untuk menikmati hasil pembangunan secara wajar. yaitu berkenaan dengan cita-cita dan tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tertuang dalam konstitusi UUD 1945. melalui penetapan daerah Otonomi Khusus. yang memiliki keragaman kebudayaan. Undang-Undang ini menempatkan orang asli Papua dan penduduk Papua pada umumnya sebagai subjek utama pembangunan. sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut UndangUndang Dasar 1945 mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dalam undangundang. yaitu membangun masyarakat Indonesia yang adil. antara lain dengan pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. percepatan pembangunan ekonomi. Dengan melihat bahwa penduduk asli di Provinsi Papua adalah salah satu rumpun dari ras Melanesia yang merupakan bagian dari suku-suku bangsa di Indonesia.

demokrasi. dan kewajiban sebagai warga negara. hak-hak dasar penduduk asli. Hak Asasi Manusia. dan meningkatkan taraf hidup masyarakat di Provinsi Papua. Pemberian kebijakan Otsus sendiri diberikan dengan melihat sisi penegakan hakhak dasar di Papua. serta merupakan pengabaian hak-hak dasar penduduk asli Papua. menyampaikan bahwa sekitar 75% warga Papua diperkirakan masih hidup di bawah garis kemiskinan akibat keterbatasan sarana dan prasarana transportasi laut. pluralisme. darat. hak. berbeda dengan data dari Gubernur Papua. termasuk bahwa pengelolaan dan pemanfaatan hasil kekayaan alam Provinsi Papua belum digunakan secara optimal untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat asli. Data KPK-BPS menyebutkan pada tahun 2002 kemiskinan di Papua adalah 41. Papua dapat mengatasi persoalan ketertinggalan dan kemiskinan Permasalahannya adalah. Gubernur Solosa menyatakan optimis dengan pemberlakuan UU No. diperlukan adanya kebijakan khusus dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. serta persamaan kedudukan. dan udara di daerah10 itu.terhadap Hak Asasi Manusia di Provinsi Papua. khususnya untuk merespon kemiskinan di Papua. serta memberikan kesempatan kepada penduduk asli Papua. Keterbatasan sarana dan prasarana transportasi menghambat program-program pembangunan pemerintah yang akan dilaksanakan bagi kepentingan masyarakat di seluruh Papua. 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus. 24 Agustus 2002. khususnya masyarakat Papua. hal yang utama adalah otonomi khusus diberikan dalam konteks untuk mengurangi kesenjangan antara Provinsi Papua dan Provinsi lain. Pemberian otonomi khusus dengan demikian juga diletakkan pada keyakinan bahwa telah lahir kesadaran baru di kalangan masyarakat Papua untuk memperjuangkan secara damai dan konstitusional pengakuan terhadap hak-hak dasar serta adanya tuntutan penyelesaian masalah yang berkaitan dengan pelanggaran dan perlindungan Hak Asasi Manusia penduduk asli Papua. Pemberian Otsus didukung oleh masyarakat dan elit Papua. bagaimana kinerja Papua setelah dilaksanakannya 10 Republika. sehingga telah mengakibatkan terjadinya kesenjangan antara Provinsi Papua dan daerah lain. Pada UU ini disebutkan bahwa pemberlakuan kebijakan khusus didasarkan pada nilai-nilai dasar yang mencakup perlindungan dan penghargaan terhadap etika dan moral. Pada tahun 2002. Dengan Otsus. supremasi hukum. Gubernur Papua pada saat itu –sebelum pemekaran—JP Solosa. Di sisi lain.80%. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 21 .

and Policy Implication. jaringan infrastruktur yang masih memprihatinkan. Masyarakat asli Papua mulai mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam mencari solusi berbagai persoalan mendasar di Papua. Situasi ini yang menyebabkan Papua mengalami kondisi yang biasa disebut sebagai problems of plenty atau masalah dari keberlimpahruahan. Ketertinggalan perekonomian masyarakat. meskipun status Otonomi Khusus telah diberikan. hingga persoalan rendahnya kualitas sumberdaya manusia (SDM) merupakan permasalahan mendasar di wilayah ini. Jawaban dari pertanyaan inilah yang menjadi bagian ini dari tulisan ini. Dasar pemikirannya adalah bahwa Kebijakan Otonomi Khusus merupakan kebijakan yang bertujuan untuk memperbaiki berbagai ketertinggalan serta ketimpangan yang ada di Provinsi Papua. hal. berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah pusat 11 Arifah Rahmawati.Kebijakan Otonomi Khusus?. Terlebih lagi.11 Berbagai aspirasi dan tuntutan agar pemerintah lebih memperhatikan ketertinggalan Papua telah lama disuarakan oleh masyarakat. Evaluasi Kinerja Otsus Laporan ini merupakan sintesa hasil implementasi kebijakan Otonomi Khusus di Provinsi Papua. 2004. Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah ternyata justru membawa dampak negatif yang sangat besar. 1. Kontradiksi seperti ini lambat laun menciptakan kesenjangan yang secara langsung sangat dirasakan oleh masyarakat Papua. mulai dari kerusakan lingkungan hingga peminggiran hak-hak masyarakat asli. minimnya penyelenggaraan pelayanan publik yang berkualitas.5. Context. Daerah yang sebenarnya sangat kaya dengan potensi sumberdaya alam (SDA) ternyata pada tataran riil menghadapi fakta yang bertolak belakang. Namun lambannya respon pemerintah menyebabkan aspirasi dan tuntutan tersebut berubah menjadi resistensi masyarakat yang tidak jarang berubah menjadi konflik fisik yang mengarah pada tuntutan kemerdekaan. Thesis. Sebuah ironi tentang tetap miskinnya penduduk Papua di tengah keberlimpahan sumber daya alam yang dimilikinya. California. 22 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Pertanyaan ini mengemuka karena isu tentang keberlimpahan sumber daya alam dan semua potensi yang dimiliki Papua yang tidak sepenuhnya bisa dinikmati oleh penduduknya muncul kembali di era otonomi khusus. 19-20. Papua Ethno-Political Conflict: Causes. Provinsi Papua merupakan provinsi di wilayah timur Indonesia yang menghadapi berbagai persoalan mendasar terkait dengan fakta ketertinggalan wilayah. Naval Post Graduate School Menterey.

Mekanisme 12 Untuk Elaborasi mendalam terkait dengan ketertinggalan pembangunan dan kualitas kehidupan masyarakat Papua. Lahirnya kebijakan Otonomi Khusus merupakan sebuah pilihan kebijakan pemerintah pusat dan rakyat Papua sebagai suatu bentuk langkah kompromistis antara kepentingan nasional dan desakan pemenuhan tuntutan rakyat Papua. Konsep desentralisasi juga mulai diterapkan oleh pemerintah untuk konteks wilayah Papua. Akibatnya. Papua Ethno-Political Conflict: Causes. University of Sydney. California. meskipun secara de jure pemilik kekayaan tanah Papua adalah masyarakat lokal. penyelenggaraan pemerintahan yang lebih sensitif terhadap konteks lokal mulai menjadi mainstream utama reformasi pemerintahan. Thesis. Departemen Dalam Negeri. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah disahkan. yang diharapkan dapat menciptakan perbaikan kualitas penyelenggaraan pemerintahan di Papua. Pada saat itu. 1994. and Policy Implication. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 23 . Penyelenggaraan pemerintahan mulai dijalankan dengan pendekatan yang berbeda. pembangunan lebih banyak diwujudkan dalam bentuk eksploitasi alam secara besar-besaran. halaman 13 dan halaman 28-32.14 Kebijakan ini diterapkan secara resmi melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua (UU No. Kebijakan otonomi khusus akhirnya diambil oleh pemerintah pusat guna menyelesaikan berbagai persoalan di Papua. Bahkan banyak hak-hak masyarakat lokal (misalnya kepemilikan tanah adat) yang justru banyak yang dinafikkan. 14 Salah satu tulisan yang mengelaborasi sejarah atau latar belakang implementasi kebijakan Otonomi Khusus di Papua menyebutkan bahwa kebijakan ini dilatarbelakangi antara lain oleh ketidakpuasan masyarakat lokal terhadap pemerintah pusat. Bidang Kebijakan Umum. Lihat dalam Arifah Rahmawati. Context. 21 Tahun 2001). Irian Jaya Development and Indigenous Welfare The Impact of Development on The Population and Environment of The Indonesian Province of Irian Jaya (Melanesia West New Guinea or West Papua).12 Intensitas konflik fisik maupun tuntutan kemerdekaan yang semakin tinggi akhirnya membuat pemerintah mau tidak mau harus secara serius memperhatikan perkembangan aspirasi masyarakat Papua.terkait dengan kekayaan alam Papua terkesan sangat eksploitatif dan justru meminggirkan peran masyarakat lokal yang berdampak pada mandegnya tingkat kesejahteraan mereka. tetapi secara secara de facto mereka justru tersingkir dari proses pembangunan. 13 Laporan Studi Evaluasi Kebijakan Otonomi Khusus Papua. salah satunya dapat dilihat dalam tulisan John Robert Wing. Naval Post Graduate School Menterey. Thesis. Thesis ini membahas pengaruh program percepatan pembangunan Indonesia Timur pada masa Orde Baru terhadap kondisi di Irian Jaya. otonomi khusus merupakan salah satu varian konsep desentralisasi yang dikenal dengan desentralisasi asimetris (asymmetrical decentralization).13 Sebagaimana dikemukakan di depan. konflik yang muncul di dalamnya yang akhirnya membuat kebijakan Otonomi Khusus dipilih sebagai solusi. 2004. Seiring dengan semakin populernya konsep desentralisasi pemerintahan sejak UU No.

halaman 13-16. halaman 14. mempertahankan integrasi NKRI dan mencari jalan tengah terhadap berbagai kemelut selama ini. Principal Thoughts Concerning Development Policies in Papua Province. UU ini mengatur berbagai sektor dasar yang menjadi bagian dari pelaksanaan Otonomi Khusus. 21 Tahun 2001 ini memiliki filosofi perlindungan. Departemen Dalam Negeri. keterbelakangan. Dengan kata lain. 16 Laporan Studi Evaluasi Kebijakan Otonomi Khusus Papua. pemberdayaan. 21 Tahun 2001 merupakan kerangka kebijakan umum yang menjadi pedoman dalam melaksanakan Otonomi Khusus di Tanah Papua.15 Undang-Undang No. kebijakan Otonomi Khusus menciptakan sebuah tata pemerintahan daerah Papua yang unik dan berbeda dengan wilayah lain. Jayapura. Dengan demikian. UU No. Sebagai bentuk kebijakan umum di tanah Papua. masalah sosial yang berkepanjangan. dan pemihakan. 15 Democratic Center Cenderawasih University. kebijakan ini dapat menjadi instumen efektif dalam mengakomodasi hak masyarakat Papua secara lebih proporsional serta menyelesaikan berbagai persoalan mendasar di Papua seperti kemiskinan.baru penyelenggaraan pemerintahan ini dimaksudkan sebagai jalan tengah untuk memfasilitasi aspirasi masyarakat daerah dengan kepentingan pemerintah nasional. 24 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . June 2003. halaman 8. Thesis. hingga kesenjangan ekonomi. School of Social Sciences. Pada dasarnya kebijakan otonomi khusus dimaksudkan untuk memberikan ruang dan otoritas yang lebih luas dan adil bagi pemerintah daerah dan masyarakat Papua untuk mengelola wilayahnya sesuai dengan karakter dan keunikan lokal. 2002. Otoritas yang diberikan mencakup jaminan hak agar provinsi ini dapat mengelola kekayaan alam di Papua sehingga dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat asli.16 Filosofi ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk berbagai persoalan di Papua. kebijakan Otonomi Khusus pada tataran umum sebenarnya merupakan kebijakan yang dimaksudkan untuk mengakomodasi tiga hal. La Trobe University. Morning Star Rising: Maximising The Effectiveness of The Non Violent Struglles in West Papua. Bidang Kebijakan Umum. Sektor-sektor yang diatur dalam undang-undang ini menciptakan karakter spesifik pada arah kebijakan daerah di tanah Papua yang membedakannya dengan daerah lain di NKRI. menjawab kebutuhan peningkatan dan perbaikan kesejahteraan daerah.17 Harapannya. 17 Latar belakang munculnya filosofi ini dapat dilihat dalam uraian Jason Mcleod.

Capaian hasil dapat digunakan sebagai motivasi untuk meningkatkan keberhasilan yang telah diperoleh. 3. kesehatan. maupun untuk meningkatkan target manfaat implementasi kebijakan otonomi khusus di masa yang akan datang. Dari rentang waktu tersebut. Tujuan penulisan sintesa ini adalah untuk memetakan pencapaian hasil maupun kelemahan-kelemahan implementasi kebijakan Otonomi Khusus di Papua. 21 Tahun 2001). kebijakan otonomi khusus mulai diimplementasikan setelah pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 (UU No. Di sisi lain. saat tulisan ini sedang dibuat pada April 2008. maka laporan ini berisi intisari temuan-temuan lapangan yang berguna sebagai dasar evaluasi keberhasilan maupun langkahlangkah perbaikan yang dapat diambil oleh pemerintah terkait dengan kebijakan implementasi otonomi khusus. Kemitraan bekerjasama dengan Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia (Depdagri) telah melakukan penelitian yang terkait dengan evaluasi implementasi kebijakan Otonomi Khusus di Papua. bidang infrastruktur. kebijakan otonomi khusus telah berjalan kurang lebih tujuh tahun. Artinya. berbagai langkah nyata telah dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuan implementasi otonomi khusus di atas. bidang perekonomian. Kebijakan strategis tersebut meliputi bidang kebijakan umum. pemetaan berbagai kekurangan maupun kelemahan implementasi kebijakan Otonomi Khusus dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyempurnaan kelemahan KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 25 . untuk menilai efektivitas implementasi kebijakan ini. kebijakan bidang infrastruktur. kebijakan bidang kesehatan. 4. 2. Penelitian yang dilakukan meliputi evaluasi: 1. 5. Terkait dengan hal ini. kebijakan umum. bidang pendidikan. Sebagai sebuah sintesa. dan bidang masyarakat sipil. Evaluasi tersebut dilakukan untuk melihat efektifitas implementasi kebijakan otonomi khusus dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat asli Papua.Seperti telah disebutkan sebelumnya. kebijakan pengembangan masyarakat sipil. diperlukan sebuah instrumen evaluasi yang dapat digunakan sebagai tolokukur keberhasilan maupun kekurangan implementasi kebijakan ini. kebijakan bidang pendidikan. Kebijakan-kebijakan strategis di bidang pelayanan dasar telah diimplementasikan dengan melibatkan mobilisasi sumberdaya dan sumberdana yang jumlahnya sangat signifikan.

kebijakan. Rumusan rekomendasi ini akan berguna untuk menentukan langkah tindaklanjut yang dapat dilakukan oleh semua level pemerintahan. 26 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . sumber penulisan juga diperkaya dengan berbagai referensi yang berasal dari sumber-sumber dokumen pendukung lain serta interaksi Tim Penulis yang cukup intens dengan masyarakat maupun pengambil kebijakan di Papua. diharapkan laporan sintesa hasil penelitian ini dapat menyajikan informasi yang komperhensif terkait dengan evaluasi kebijakan otonomi khusus di Papua. Aktifitas ini dilakukan sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk merancang kebijakan yang lebih aspiratif dan efektif dalam mewujudkan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat Papua. Laporan sintesa hasil penelitian evaluasi kebijakan otonomi khusus ini ditulis dengan bersumber pada enam Laporan Penelitian di beberapa kabupaten/kota di Papua yang dilakukan oleh beberapa Perguruang Tinggi dan Lembaga Swasta bekerjasama dengan Kemitraan dan Depdagri. dan alternatif kebijakan strategis yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Selain berdasarkan hasil laporan penelitian tersebut. pemerintah kabupaten/kota. Melalui pemetaan ini. Kunjungan lapangan yang dilakukan Tim Penulis ke beberapa kabupaten/ kota di dan lingkungan pemerintah Provinsi Papua ditambah dengan interaksi dengan para pengambil kebijakan di tempat itu menjadi referensi penting dalam penulisan sintesa hasil penelitian ini. pemerintah provinsi. Penulisan sintesa penelitian ini dengan demikian diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dan instrumen evaluasi bagi segenap stakes holders yang terlibat untuk mewujudkan kualitas kehidupan masyarakat dan kondisi umum di Papua yang lebih baik melalui kebijakan Otonomi Khusus. dalam hal ini adalah pemerintah nasional. akan didapatkan sebuah dasar yang bermanfaat bagi perumusan rekomendasi kebijakan dan tindak lanjut kebijakan yang tepat. Dengan dukungan sumber penulisan yang cukup lengkap semacam ini. Sintesa hasil penulisan ini juga diharapkan bisa memberikan gambaran secara komprehensif tentang peta masalah yang dihadapi pemerintah daerah dan masyarakat Papua dalam implementasi kebijakan Otonomi Khusus.

21/2001 tentang Otonomi Khusus bagi Papua. 2 Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan di Daerah. UU Otsus merupakan respon dari kekecewaan Papua terhadap kebijakan sentralistik yang dilakukan pada masa Orde Baru.Bagian Kedua KEBIJAKAN UMUM1 2.1.2 disebut sebagai “otonomi khusus” karena memberikan perlakuan yang khusus. yang menggantikan kebijakan sebelumnya. UU No. Otonomi Khusus adalah kewenangan khusus yang diakui dan diberikan kepada Provinsi Papua untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan hak-hak dasar masyarakat Papua. Momentum reformasi yang dihela oleh euforia 1 Bagian ini mengambil materi dari Laporan Evaluasi Otonomi Khusus Papua Bidang Kebijakan Umum. �Ketentuan Umum� KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 27 . Jakarta: Kemitraan untuk Tata Kelola yang Baik. Kebijakan umum tentang Papua dilembagakan dalam bentuk UU No. dan merupakan ekstrapolasi dari kebijakan desentralisasi yaitu UU No. dalam arti mendapatkan prioritas dukungan yang lebih banyak daripada daerah lain. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Papua atau UU Otsus. 2008. Proses Kebijakan Kebijakan umum pemerintahan dan pembangunan di Papua adalah kebijakan otonomi khusus.

Atas dasar itu. Papua dalam keIndonesiaan adalah harga mati. Pemerintah Pusat mengambil langkah paralel. Kondisi politik domestik tidak menguntungkan. Pemerintah lebih mengutamakan kepentingan nasional demi terwujudnya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meliputi wilayah di Tanah Papua. dan memasuki diskusi internasional. Disamping itu. Tercatat. perdebatan di seputar eksistensi Majelis Rakyat Papua (MRP) yang dapat dipandang setara dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). maupun internasional. Oleh karena itu. solusinya bukanlah keluar dari NKRI. tetapi perlu diterapkan special treatment 28 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Tim ini diberi mandat untuk menyusun naskah akademis otonomi daerah yang “berpihak kepada masyarakat lokal”. Sehubungan dengan itu. yang memperoleh dukungan penuh dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Irian Jaya. Dari evaluasi ini ditemukan bahwa RUU versi Tim Asistensi ditentang oleh Pemerintah Pusat. Keterlibatan pemerintah pusat dalam proses pembentukan UU Otsus dipandang sangat kuat.demokrasi dan kebebasan memunculkan suara “merdeka secara berdaulat”. senantiasa dihadapi dengan diplomasi yang meneguhkan prinsip “tetap satu dalam keIndonesiaan. domestik. yaitu Pemerintah Provinsi Irian Jaya mengambil inisiatif dengan membentuk “Tim Asistensi” yang terdiri dari sejumlah akademisi Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura. karena Timor Timur baru saja merdeka dari Indonesia. Materi perdebatan memuncak pada kecurigaan terhadap kemungkinan penyalahgunaan isi pasalpasal yang terkandung di dalam rancangan undang-undang yang diusulkan oleh Tim Asistensi Universitas Cenderawasih keluar dari bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu. kemerdekaan yang diperjuangan oleh beberapa tokoh dan kelompok masyarakat di Tanah Papua. setiap pergerakan kelompok masyarakat yang bermaksud untuk menggugat keabsahannya. Padahal MRP sesungguhnya hanya merupakan institusi “pelengkap” dalam tata pemerintahan Papua. nasional. Bagi Pemerintah. Pada saat yang sama. di mana Depdagri menyusun draf Rancangan Undang-Undang Otonomi Khusus. tidak untuk memisahkan diri dari NKRI. kekhawatiran lain berkisar pada penggunaan identitas daerah seperti lambang. baik dalam forum nasional. bendera dan lagu. Persitiwa Pepera Tahun 1969 adalah sah sebagai bagian dari sejarah bangsa yang sudah permanen. dan berkembang dari konteks lokal. yang harus diperbaiki. sebagai representasi kultural dari masyarakat Papua. terjadi tarik ulur yang cukup kencang dalam pengaturan kewenangan pengelolaan sumber daya alam. Pemerintah daerah. Pemerintah menyadari bahwa ada kesalahan penerapan kebijakan pembangunan di Tanah Papua pada masa lalu. tidak dapat ditawar-tawar lagi.

melalui penyusunan draft rancangan berdasarkan hasil kajian komprehensif pada skala nasional yang mencoba mengakomodasi kepentingan semua pihak. Dalam pembahasan tersebut. yang merupakan “kompromi” antara Pemerintah Pusat dan elit Papua. karena kebijakan ini memuat “pernyataan maaf” dari Pemerintah nasional kepada Papua. dan demokratis. Melalui kajian akademis. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. partisipatif. pendekatan dari bawah sebagaimana dilakukan oleh Tim Asistensi Univeristas Cenderawasih. pendekatan dari atas sebagaimana dilakukan oleh Pemerintah – dalam hal ini Depdagri. yang dinyatakan dalam muatan perundangan Otsus. belum sepenuhnya memungkinkan tercapainya kesejahteraan rakyat. 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Dialog-dialog yang terjadi di forum Dewan. telah melalui mekanisme penyusunan yang dipandang bersifat akademis. Sumber inspirasi penyusunan materi muatan pasal-pasalnya berasal dari dua pihak dengan pendekatan yang berbeda. Meskipun merupakan “kompromi”. berbagai langkah partisisipatif yang demokratis telah ditempuh sejak lahirnya draft awal hingga diwujudkannya draft akhir. Sebagai suatu produk kebijakan nasonal. cukup mencerminkan aspek partisipatif dan demokratis dalam mewujudkan undang-undang ini. Namun kenyataannya berbagai kebijakan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang sentralistik belum sepenuhnya memenuhi rasa keadilan. Pada akhirnya. yang kemudian melahirkan satu format draf usulan yang diajukan oleh Pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk dibahas menjadi undang-undang. Secara eksplisit UU Otsus mengatakan bahwa keputusan politik penyatuan Papua menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia pada hakikatnya mengandung cita-cita luhur. kemudian dipersandingkan untuk menemukan persamaan dan perbedaannya. Kedua draf rancangan tersebut. UU No. baik dari Pemerintah maupun dari pemerintah Provinsi Papua dan Tim Asistensi Universitas Cenderawasih. Kedua. telah dilakukan klarifikasi kepada semua pihak yang berkepentingan. belum sepenuhnya mendukung terwujudnya KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 29 . ditetapkan kebijakan otonomi khusus dalam bentuk UU No. Dari berbagai momentum penjaringan aspirasi masyarakat Papua hingga konsultasi publik diberbagai forum lokal. masyarakat Papua menerima kebijakan ini dengan baik. Pertama.dengan bersungguh sungguh memperhatikan dimensi-dimensi sosio-budaya masyarakat Papua.

kebudayaan dan sosial politik. 30 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . terutama dalam bidang pendidikan. sehingga memicu berbagai bentuk kekecewaan dan ketidakpuasan3. Pernyataan tersebut diperkuat dengan pernyataan yang memberikan keabsahan bagi kekhususan otonomi Papua dengan menyebut adanya momentum reformasi sebagai ruang bagi timbulnya pemikiran dan kesadaran baru untuk menyelesaikan berbagai permasalahan besar bangsa Indonesia dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Dalam Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya kesenjangan pada hampir semua sektor kehidupan. Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia menetapkan perlunya pemberian status Otonomi Khusus kepada Provinsi Irian Jaya sebagaimana diamanatkan dalam Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara Tahun 1999-2004 Bab IV huruf (g) angka 2. ekonomi. dan belum sepenuhnya menampakkan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) di Provinsi Papua. Penjelasan. sekaligus merupakan langkah strategis untuk meletakkan kerangka dasar yang kokoh bagi berbagai upaya yang perlu dilakukan demi tuntasnya penyelesaian masalah-masalah di Provinsi Papua. Sehubungan dengan itu. Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua pada dasarnya adalah pemberian kewenangan yang lebih luas bagi Provinsi dan rakyat Papua untuk mengatur dan mengurus diri sendiri di dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia . pengabaian hakhak dasar penduduk asli dan adanya perbedaan pendapat mengenai sejarah penyatuan Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah masalahmasalah yang perlu diselesaikan. Pernyatan-pernyataan ini secara tegas menggaris-bawahi kebijakan di masa lalu yang mengorbankan Papua. yang antara lain menekankan tentang pentingnya segera merealisasikan Otonomi Khusus tersebut melalui penetapan suatu undang-undang otonomi khusus bagi Provinsi Irian Jaya dengan memperhatikan aspirasi masyarakat .penegakan hukum. khususnya masyarakat Papua. Kewenangan yang lebih luas berarti pula tanggung jawab yang lebih besar bagi Provinsi dan rakyat Papua untuk menyelenggarakan pemerintahan dan mengatur pemanfaatan kekayaan alam di Provinsi Papua untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat Papua sebagai 3 UU Otsus. Pelanggaran HAM. kesehatan. Upaya penyelesaian masalah tersebut selama ini dinilai kurang menyentuh akar masalah dan aspirasi masyarakat Papua. Kebijakan Otsus merupakan kebijakan “kompromi” antara kepentingan nasional dan desakan pemenuhan tuntutan rakyat Papua. Hal ini merupakan suatu langkah awal yang positif dalam rangka membangun kepercayaan rakyat kepada Pemerintah.

pertama. lambang daerah dalam bentuk bendera daerah dan lagu daerah sebagai bentuk aktualisasi jati diri rakyat Papua dan pengakuan terhadap eksistensi hak ulayat. pembagian wewenang. dan tanggung jawab yang tegas dan jelas antara badan legislatif. 2.4 2. Keempat. kedua. dan 3. dan hukum adat. Peran yang dilakukan adalah ikut serta merumuskan kebijakan daerah. hal-hal mendasar yang menjadi isi Undang-Undang ini adalah. berkeadilan dan bermanfaat langsung bagi masyarakat. menentukan strategi pembangunan dengan tetap menghargai kesetaraan dan keragaman kehidupan masyarakat Papua. pelaksanaan pembangunan yang diarahkan sebesar-besarnya untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk asli Papua pada khususnya dan penduduk Provinsi Papua pada umumnya dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip pelestarian lingkungan. dan yudikatif. termasuk memberikan peran yang memadai bagi orang-orang asli Papua melalui para wakil adat. melestarikan budaya serta lingkungan alam Papua. dan ketiga. Kewenangan ini berarti pula kewenangan untuk memberdayakan potensi sosialbudaya dan perekonomian masyarakat Papua. tugas. pengaturan kewenangan antara Pemerintah dengan Pemerintah Provinsi Papua serta penerapan kewenangan tersebut di Provinsi Papua yang dilakukan dengan kekhususan. Muatan Kebijakan Sebagaimana dikemukakan pada bagian “penjelasan” UU Otsus. eksekutif. pengakuan dan penghormatan hak-hak dasar orang asli Papua serta pemberdayaannya secara strategis dan mendasar. agama. adat. dan kaum perempuan. partisipasi rakyat sebesar-besarnya dalam perencanaan.2. pembangunan berkelanjutan. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 31 .bagian dari rakyat Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. yang tercermin melalui perubahan nama Irian Jaya menjadi Papua. dan kaum perempuan. masyarakat adat. 4 Ibid. mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik yang berciri: 1. agama. penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan yang transparan dan bertanggungjawab kepada masyarakat. pelaksanaan dan pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan serta pelaksanaan pembangunan melalui keikutsertaan para wakil adat. serta Majelis Rakyat Papua sebagai representasi kultural penduduk asli Papua yang diberikan kewenangan tertentu.

dalam rangka kesetaraan dan keseimbangan dengan kemajuan provinsi lain. penghormatan terhadap HAM. dan pengawasan tata ruang. moneter dan fiskal. Rincian kewenangan tertentu di bidang lain. yaitu UU No. perencanaan. yang tidak diserahkan oleh Pemerintah Pusat ke Provinsi Papua. dengan menyebutkan pemilahan kewenangan sebagai berikut: (a) Kewenangan Umum yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada Pemerintah Provinsi Papua. Adapun rincian kewenangan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana disebutkan di dalam UU No. rincian kewe-nangan tertentu tersebut tidak diatur lagi di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang kemudian direvisi dan berubah menjadi No. (b) Kewenangan khusus yang diberikan kepada Pemerintah Provinsi Papua maupun Pemerintah Kabupaten/Kota. Padahal. dan pemerintah kabupaten/kota sebagai penjabaran lebih lanjut dari UU No. pertahanan dan keamanan. kewenangan umum bagi Pemerintah Kabupaten/Kota dilaksanakan berdasarkan UU No. penyelenggaraan 32 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . yaitu : perencanaan dan pengendalian pembangunan. Sementara itu. dan (f ) Konservasi dan stándarisasi nasional. Pasal yang dengan eksplisit menunjukkannya adalah pasal 4 UU No. 38 Tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah. agama. dan kewenangan tertentu di bidang lain yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. pemerintah daerah provinsi. 21 Tahun 2001 yang memilah kewenangan antara Pemerintah Pusat (nasional) dan Pemerintah Daerah. (c) Sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara. 32 Tahun 2004 Pasal 14 adalah : (a) Urusan Wajib meliputi 16 urusan. 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. (b) Dana perimbangan keuangan. peningkatan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat Papua. 8 Tahun 2005 tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) No. meliputi: (a) Kebijakan makro tentang perencanaan dan pengendalian pembangunan nasional. penegakan supremasi hukum. (d) Pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia. kecuali urusan politik luar negeri. 3 Tahun 2005 tentang perubahan atas Undang-Undang No. Muatan kebijakan otsus sebangun dengan kebijakan penyelenggaraan desentralisasi dari Pemerintahan Indonesia. percepatan pembangunan ekonomi. 32 Tahun 2004. 22 Tahun 1999 yang telah diganti dengan UU No. (e) Pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis. peradilan.Simpulan yang dibuat oleh Otsus adalah bahwa kebijakan pemberian Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua dimaksudkan untuk mewujudkan keadilan. pemanfaatan.

32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan di Daerah. usaha kecil dan menengah. pelayanan pertanahan. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang meletakkan otonomi daerah di tingkat kabupaten/kota. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya. yang difahami sebagai lembaga representasi kultural orang asli Papua. dan pemantapan kerukunan hidup beragama sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini. pelayanan bidang ketenagakerjaan. secara muatan kebijakan. Jika dibandingkan dengan UU No. dan potensi unggulan daerah. terjadi kesebangunan. pelayanan kependudukan dan catatan sipil. Representasi kultural ini menjadikan hukum-hukum adat yaitu aturan atau norma tidak tertulis yang hidup dalam masyarakat hukum adat. pelayanan administrasi umum dan pemerintahan. fasilitasi pengembangan koperasi. pelayanan administrasi penanaman modal. Di provinsi Papua terdapat lembaga Majelis Rakyat Papua. yang meliputi hak untuk KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 33 . mengatur. yang selanjutnya disebut MRP. mengikat dan dipertahankan. penyelenggaraan pendidikan. di Papua dibentuk institusi representasi kultural. penyediaan sarana dan prasarana umum. Dengan demikian. khususnya yang berkenaan dengan hak atas tanah ulayat. Namun demikian. terjadi perbedaan penting antara kebijakan di tingkat nasional dengan kebijakan di Papua. penanggulangan masalah social. Pertama.ketertiban umum dan ketertiban masyarakat. kekhasan. 21 Tahun 2001 tentang Otsus meletakkan otonomi daerah pada tingkat provinsi. maka UU No. serta mempunyai sanksi. meskipun tidak menghilangkan keotonomian di tingkat kabupaten/kota. karena kebijakan ini meletakkan kekuatan otonomi di tingkat provinsi. Namun demikian. penanganan bidang kesehatan. terdapat tiga hal dalam muatan kebijakan yang memang menjadikan otonomi di Papua bersifat khusus. ditemukan hal-hal dasar berkenaan dengan karakter kekhususan dari kebijakan Otsus Papua tidak berbeda dengan otonomi bagi daerah-daerah lain di Indonesia. meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai kondisi. Dalam komparasi kebijakan. pengendalian lingkungan hidup. yang memiliki wewenang tertentu dalam rangka perlindungan hak-hak orang asli Papua dengan berlandaskan pada penghormatan terhadap adat dan budaya. jika dibandingkan dengan UU No. dan urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundangan. (b) Urusan yang bersifat pilihan. pemberdayaan perempuan. yaitu hak persekutuan yang dipunyai oleh masyarakat hukum adat tertentu atas suatu wilayah tertentu yang merupakan lingkungan hidup para warganya.

kekhususan dalam pendapatan daerah untuk Papua. yang terutama ditujukan untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur. Hal yang membedakan Papua dengan daerah lain adalah adanya “Penerimaan Khusus” dalam rangka pelaksanaan Otonomi Khusus yang besarnya setara dengan 2% dari plafon Dana Alokasi Umum Nasional. Sebagaimana diatur pada UU No. dan air serta isinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. DPRP adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Papua yang berfungsi sebagai badan legislatif Daerah Provinsi Papua. Sementara itu. yaitu dalam bentuk pendapatan asli daerah.5% dan untuk gas alam 30. penerimaan dalam rangka Otonomi Khusus berlaku selama 20 tahun. yang terutama ditujukan untuk pembiayaan pendidikan dan kesehatan. pinjaman Daerah. dana perimbangan. yaitu Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) dan Peraturan Daerah Provinsi (Perdasi). di mana tidak dikenal Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Papua. Perdasus adalah Peraturan Daerah Provinsi Papua dalam rangka pelaksanaan pasal-pasal tertentu dalam Undang-undang 34 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Kekhususan Papua adalah pada besaran dana bagi hasil untuk sumberdaya alam di sektor pertambangan minyak bumi sebesar 70% dan pertambangan gas alam sebesar 70%. mulai tahun ke-26. penerimaan dalam rangka Otonomi Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (4) menjadi 50% untuk pertambangan minyak bumi dan sebesar 50% untuk pertambangan gas alam. Ketiga. hutan. maka antara Daerah Otonomi Khusus Papua dan daerah lain di Indonesia tidak berbeda dalam hal sumber penerimaan daerah. berkenaan dengan eksistensi kultural. Disebutkan bahwa “Lambang Daerah” adalah panji kebesaran dan simbol kultural bagi kemegahan jati diri orang Papua dalam bentuk bendera Daerah dan lagu Daerah yang tidak diposisikan sebagai simbol kedaulatan. di mana bagi hasil pertambangan minyak bumi untuk daerah adalah 15. Diatur di dalam UU No. meskipun tidak mempunyai perbedaan signifikan dalam makna. Pertama.memanfaatkan tanah. namun Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP). lain-lain penerimaan yang sah. diakui keabsahannya sebagai hukum formal. Kedua. Ketiga. dan dana tambahan dalam rangka pelaksanaan Otonomi Khusus yang besarnya ditetapkan antara Pemerintah dengan DPR berdasarkan usulan Provinsi pada setiap tahun anggaran. 21 Tahun 2001 bahwa penerimaan dalam rangka Otonomi Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b angka 4) dan angka 5) berlaku selama 25 tahun. Kedua. Selanjutnya. Persentase ini lebih besar dari persentase yang diatur untuk daerah lain. penggunaan peristilahan yang secara semantik berbeda. penamaan lembaga legislatif daerah.05%. kebijakan di tingkat daerah diberi penamaan yang berbeda.

terdiri dari sekurang-kurangnya 2 PP.3. Berikut ini.dan Perdasi adalah Peraturan Daerah Provinsi Papua dalam rangka pelaksanaan kewenangan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. Tabel 2. ditampilkan pasal-pasal otsus yang belum ditindak lanjuti.1 Pasal Otsus yang Belum Ditindaklanjuti PasalPasal Pasal 2 Isu Utama Lambang Daerah • Pemekaran Kabupaten Pasal 3 • Pemekaran Distrik/Kampung • Kawasan Khusus • Kewenangan Pemeritahan pada Level Provinsi • Kewenangan Khusus Provinsi • Kewenangan Pemerintahan Kab/Kota Pasal 4 • Kewenangan kab/kota lainnya • Perjanjian Internasional • Tata cara Perjanjian • Kerjasama Luar Negeri • Tata ruang Pertahanan • Tatacara pertimbangan Aturan Tindak Lanjut Perdasus Peraturan Perundangan Perda Kab/Kota Peraturan Perundangan Peraturan Perundangan Perdasi/Perdasus Peraturan Perundangan Perdasi/Perdasus Peraturan Perundangan Perdasus Peraturan Perundangan Perdasus Status T. Implementasi Kebijakan 2.1. 2. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua merupakan salah satu acuan dan wadah utama bagi pelaksanaan pembangunan di Tanah Papua.3. dan 21 Perdasi. Implementasi Pasal-Pasal Pada prinsipnya. dalam perjalanan implementasinya hingga Tahun 2006. Hal ini. Tetapi. masih belum dapat dioptimalkan sebagai sumber acuan legalistik. Lanjut - KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 35 . Acuan dimaksud. 13 Perdasus. 2 Keppres. terutama dikaitkan dengan eksistensi dan treatment Orang Asli Papua. UU No.

Hak-hak DPRP Hak-hak Anggota DPRP Pelaksanaan kewajiban DPRP Tatacara pemilihan Gub/Wagub Syarat-syarat Orang Asli Papua Pengangkatan/pelantikan Gub/ Wagub Kewajiban Gubernur Pelaksanaan tugas dan wewenang Gub. Tugas Wakil Gubernur Masa Jabatan Wagub Tatacara Pertanggung-jawaban Gub.Pasal 5 Pasal 6 Pembagian Pemerintahan Keanggotaan DPRP Kedudukan Keuangan DPRD Tugas dan Wewenang DPRP Peraturan Perundangan Tatip DPRP - Pasal 7 Pelaksanaan tugas & wewenang DPRD Pelaks. Keanggotaan MRP Kedudukan Keuangan MRP Tugas dan Wewenang MRP Pelaksanaan Hak MRP Pelaksanaan Hak Anggota MRP Keppres Belum PP No. 54 Tahun 2004 Peraturan Perundangan Perdasus Peraturan Perundangan Pasal 8 Pasal 9 Pasal 10 Pasal 11 Pasal 12 Pasal 13 Pasal 14 Pasal 15 Pasal 16 Pasal 17 Pasal 18 Pasal 19 PP Pasal 20 Pasal 21 Pasal 22 Perdasus Perdasus Tatip MRP berpedoman pada PP 36 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .

54 Tahun 2004 - Pasal 24 Tatacara Pemilihan Anggota MRP Perdasi .Pasal 23 Pelaksanaan Kewajiban MRP PP PP No. 54 Tahun 2004 PP No. 54 Tahun 2004 Perdasi No. 4 Tahun 2004 PP No.dasar PP Pasal 25 Tatacara pengesahan dan pelantikan anggota MRP Perangkat Pemerintah Provinsi Kebijakan Kepegawaian Parpol : rekrut prioritas Penduduk Papua PP Pasal 26 Pasal 27 Pasal 28 Perdasi Perdasi - Pasal 29 Tatacara pembuatan Perda Peraturan Perundangan Pasal 30 Pasal 31 Pelaksanaan Perdasus/Perdasi Keputusan Gubernur tentang Perdasus/Perdasi Efektivitas pembentukan & pelaksanaan hukum (Pembentukan Komisi Ad Hoc) Pembiayaan tugas DPRP/MRP Pembiayaan tugas pemprov Dana Alokasi Umum Pembagian Dana Otsus Ketentuan pelaksanaan BLN Keputusan Gubernur Lembaran Daerah Provinsi Perdasi Perdasi Perdasi Peraturan Perundangan Perdasus Perdasi Pasal 32 - Pasal 33 Pasal 34 Pasal 35 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 37 .

pelestarian lingkungan. relokasi satuan polisi Kekuasaan Kehakiman 38 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .Pasal 36 Perubahan dan Perhitungan APBD Tatacara penyusunan & pelaksanaa APBD Penyampaian Data dan informasi penerimaan pajak dan PNBP oleh Pemerintah kepada Pemprov dan DPRP tiap tahun Usaha-usaha perekonomian. jaminan hukum. ketenteraman dan biaya Pengangkatan Kapolda Perdasi Perdasi - Pasal 37 - - Pasal 38 Perdasus - Pasal 39 Pasal 40 Pasal 41 Pasal 42 Pasal 43 Pasal 44 Pasal 45 Pasal 46 Pasal 47 Perdasi Peraturan Perundangan Peraturan Perundangan Peraturan Perundangan Keppres . penghormatan hak-hak adat. pembangunan berkelanjutan Pengelolaan SDA Perizinan dan Perjanjian Kerjasama Tatacara penyertaan modal Ekonomi Kerakyatan Pelaksanaan hak ulayat oleh penguasa adat Hak kekayaan intelektual HAM Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Penegakan HAM Perempuan Tugas ketertiban.usul Gubernur Perdasi Persetujuan Gubernur Koordinasi Gubernur Peraturan Perundangan - Pasal 48 Pasal 49 Pasal 50 Penempatan.

sosial Pengawasan fungsional Perdasi Pasal 58 Pasal 59 Pasal 60 Perdasi Perdasi Perdasi Perdasi Perdasi Perdasi Perdasus Perdasus Peraturan Perundangan - Pasal 62 Pasal 63 Pasal 64 Pasal 65 Pasal 66 Pasal 67 Pasal 68 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 39 . politik. 5 Tahun 2006 - Pasal 56 Penyelenggaraan Pendidikan Perdasi Pasal 57 Perlindungan. dan pengembangan budaya asli Papua Pelestarian bahasa & sastra daerah Pelayanan kesehatan Perbaikan gizi Penempatan penduduk Kesempatan kerja orang asli papua Pembangunan berkelanjutan Pengelolaan lingkungan hidup Penyandang masalah sosial Penanganan suku terasing Pengawasan hukum.pembinaan.Pasal 51 Pasal 52 Pasal 53 Peradilan Adat Pengangkatan Jaksa Tinggi Hak dan kebebasan untuk memeluk agama Kewajiban pemerintah dalam pengembangan keagamaan Dukungan Pemerintah dalam pengembangan keagamaan Persetujuan Gubernur - - Pasal 54 Pasal 55 - Perdasi No.

2.2.Pasal 69 Kerjasama ekonomi. sosial. Kedua lembaga ini bekerja sebagai representasi politik dan representasi kultural dari masyarakat Papua. peralatan dan dokumen Hal yang tidak diatur Peraturan pelaksanaan UU otsus Pemekaran provinsi Perubahan UU Otsus Evaluasi Tahunan UU otsus Dan 3 tahunan Pengundangan - Pasal 71 - PP No.3. budaya dgn provinsi lain Perselisihan antar kab/kota Pilihan hukum yang disepakati Fasilitasi provinsi Fasilitasi pemerintah - Pasal 70 Perselisihan kab/kota dan provinsi Pengaturan Pimpinan Daerah sebelum Otsus Tatacara pemilihan anggota MRP untuk pertamakalinya Kewenangan atas pengelolaan sumberdaya (biaya. 54 Tahun 2004 - Pasal 72 - Pasal 73 Peraturan Perundangan Pasal 74 Pasal 75 Pasal 76 Pasal 77 Pasal 78 Pasal 79 Peraturan Perundangan Persetujuan MRP dan DPRP Diusulkan oleh rakyat melalui MRP dan DPP - - Sumber : Hasil Kajian. personil. Kelembagaan Otsus mengalami perubahan penting ketika Pemerintah 40 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . 21 Tahun 2001 tentang Otsus. 2006. Implementasi Kelembagaan Implementasi kebijakan Otsus secara kelembagaan adalah dalam rupa pembentukan DPR Papua dan Majelis Rakyat Papua. sebagaimana diamanatkan dalam UU No.

Manuel Kaisiepo. Kebijakan ini dipandang sebagai respon Pemerintah untuk perlunya program khusus untuk mempromosikan pembangunan Papua. Peningkatan infrastruktur dasar guna meningkatkan aksesibilitas di wilayah terpencil. 1 Tahun 2003. melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 5. Menko Perekonomian menerbitkan Surat Keputusan Menko Perekonomian Nomor Kep-38/M. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti. pedalaman dan perbatasan negara. Menko Perekonomian ditunjuk untuk menjadi Ketua Tim Asistensi Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat. Rektor Universitas Papua. pada tahun 2007 Presiden Yudhoyono menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) No. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 41 . 5 Tahun 2007. mantan Menteri Kawasan Tertinggal. 2.Ekon/07/2007 tentang Pelaksana Harian Tim Asistensi Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. dari Universitas Indonesia. Inpres ini mengamanatkan kepada 11 Menteri untuk memberikan dukungan secara khusus kepada pembangunan Papua. secara kelembagaan. yang menunjuk Meneg PPN/Ka-Bappenas sebagai Pelaksana Harian Tim Asistensi Inpres No. dan Perlakuan khusus (affirmative action) bagi pengembangan kualitas sumberdaya manusia putra-putri asli Papua. yang merupakan Papua bagian barat. Pemantapan ketahanan pangan dan pengurangan kemiskinan. yang berada di timur. Peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan. dan Drs. 3. 4. Untuk mempercepat kinerja Otsus. atau disebut sebagai bagian “Kepala Burung”. Untuk melaksanakan tugasnya. yakni: 1. sebagai penajaman dan perkuatan dari kebijakan otonomi khusus. Prof. yang terdiri dari Rektor Universitas Cenderawasih.Pusat mengakomodasi usulan lokal untuk pemekaran wilayah Papua menjadi dua: Provinsi Papua. Untuk melaksanakan Inpres ini. 5 Tahun 2007 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. dan Provinsi Irian Jaya Barat. Dr. Inpres ini banyak disebut sebagai “pendekatan kebijakan baru” atau “the new deal policy for Papua” yang memuat lima aspek strategis. Meneg PPN/Ka-Bappenas dibantu oleh “nara-sumber”.

Kementerian Koordinator Bidang Politik.Gambar 2. Departemen Dalam Negeri. Deputi Bidang Koordinasi Politik Dalam Negeri.EKON/07/2007 tentang Sekretariat dan Tim Teknis pada Tim Asistensi Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.1 Kerangka Kerja Tim Asistensi dengan Gubernur Untuk melaksanakan tugas keseharian dari tim pelaksana harian. Departemen Keuangan. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan. Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah. Hukum dan Keamanan. Badan Perencanaan. Departemen Keuangan. maka Menko Perekonomian menerbitkan lagi Surat Keputusan Menko Perekonomian Nomor KEP-39/M. yang menunjuk Kepala adalah Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah. dengan Wakil Ketua Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah. Direktur Jenderal Bina Administrasi Keuangan Daerah. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. dan delapan anggota. sebagai ketua. Staf Ahli Bidang Otonomi 42 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Departemen Dalam Negeri. yang terdiri dari Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Hukum. Direktur Jenderal Anggaran.

dukungan yang paling utama diharapkan adalah dukungan keuangan. dapat dilihat bahwa kebijakan percepatan pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat ditata pada kebijakan yang sangat berjenjang. 5/2007 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Surat Keputusan Menko Perekonomian Nomor Kep38/M. Mohamad Ikhsan. sebagaimana digambarkan berikut ini: Undang-Undang No. Sebagaimana dikemukakan di depan. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 43 . 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua Instruksi Presiden No. dan Dr. kebijakan otonomi khusus diarahkan kepada kewenangan dari masyarakat Papua untuk mengembangkan kebijakan pembangunan yang menjadi aspirasinya. Namun demikian. Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.EKON/07/2007 tentang Sekretariat dan Tim Teknis pada Tim Asistensi Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat “Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat” Keberadaan tim khusus dari Pemerintah Pusat untuk melakukan percepatan pembangunan Papua merupakan strategi utama dari dukungan khusus Pemerintah Pusat secara kelembagaan. Dengan demikian.Daerah.Ekon/07/2007 tentang Pelaksana Harian Tim Asistensi Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Surat Keputusan Menko Perekonomian Nomor KEP39/M.

presentasi. sebagaimana daerah lain di Indonesia.2 Alur Dana dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah Papua5 Sesuai dengan pasal 34 UU No.3. dan dana alokasi khusus. 21 Tahun 2001 tentang Otsus. dana alokasi umum. yang terdiri dari dana bagi hasil. diatur dana perimbangan dalam konteks otonomi khusus sebagai berikut. Peta Alur Dana Pemerintah Pusat ke Provinsi Papua dan Irian Jaya Barat Tahun 2006-2007. 2007.3. ditambah dengan dana penyesuaian. Implementasi Pendanaan/Pembiayaan Kebijakan otonomi khusus didukung oleh dana perimbangan. 44 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Mekanisme alur dana Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah Papua sebagai berikut. Gambar 2. 5 Departemen Keuangan Republik Indonesia. Untuk Papua. telah ditambahkan dana otonomi khusus.2.

312.91 trilyun pada tahun 2006.038.539.000 2.2 Aturan Dana Perimbangan dalam Otonomi Khusus Bagi hasil pajak • • • 90% dari pajak bumi dan bangunan (PBB) 80% dari bea BB (BBB) 20% dari pajak penghasilan perseorangan Bagi hasil sumberdaya alam • 80% dari kehutanan.775.642.24 trilyun. sekitar 1.000 3.000.3 Dana Otsus dari Tahun ke Tahun Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Dana Otsus (Rupiah) 1. Total dana otonomi khusus selama 2002-2008 mencapai Rp 16. Suatu jumlah yang sangat besar dibandingan dengan jumlah manusia yang dikelola.617. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 45 . Dana ini diberikan sejak tahun 2002 sebesar Rp 1.274.8 juta jiwa.20 trilyun pada tahun 2007.943.000. perikanan.64 trilyun pada tahun 2004.000 1. dan pada tahun 2008 dirancang senilai Rp 3. sesuai tahun. Tabel 2.000.53 trilyun pada tahun 2003. dan pertambangan umum • 70% dari minyak bumi* dan gas bumi* Bagi hasil dana alokasi umum • DAK sesuai perundang-undangan • 20% dari DAU khusus untuk pendidikan dan kesehatan** • DAK untuk infrastruktur (berdasarkan usulan provinsi dan ditetapkan Pemerintah dan DPR) * selama 25 tahun. maka Pemerintah Pusat memberikan alokasi dana khusus otonomi atau Dana Otsus.000.913.000 1. Rp 3. Jumlah tersebut terus meningkat menjadi Rp 1.230.000.000 1. kemudian menjadi 50% ** selama 20 tahun Dengan keberadaannya sebagai daerah yang ditata dengan otonomi khusus.218. Rp 1.77 trilyun pada tahun 2005.560.Tabel 2. Rp 2.81 trilyun. Rp 1.000 Sumber : Departemen Keuangan.000.38 trilyun.

Pemerintah kabupaten/kota di lokasi sasaran evaluasi.4. Dalam implementasinya. dan (c) Pedoman Teknis Kebijakan alokasi penggunaan dana otonomi khusus untuk pembangunan Provinsi Papua. Pemerintah Provinsi Papua dan Kabupaten/Kota diharuskan memfasilitasi dalam bentuk bantuan/subsidi yang diatur lebih lanjut di dalam Perdasi tentang pendidikan. a. Kabupaten Jayawijaya. Kabupaten Merauke. dan Kabupaten Teluk Bintuni) diarahkan pada peningkatan pemerataan dan mutu pelayanan pendidikan. Dalam hal ini. Diakui bahwa kebijakan pendidikan kabupaten/kota (misalnya di Kota Jayapura. Pendidikan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 Pasal 56 : 1-6. tidak ditemukan langkah-langkah kebijakan kabupaten/kota untuk menerjemahkannya lebih lanjut. maka bidang pendidikan menjadi bagian penting dalam kerangka kebijakan dan strategi pembangunan di kabupaten/kota. Kabupaten Jayapura. 46 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Pihak swasta (Lembaga Agama. Lembaga Swadaya Masyarakat dan Dunia Usaha) yang memenuhi syarat diberi kesempatan yang luas untuk berperan dalam mengembangkan program-program. terutama untuk suksesnya Wajar 9 tahun dengan memanfaatkan secara optimal prasarana dan sarana fisik/nonfisik dan meningkatkan jumlah dan mutu pengajar. Infrastruktur. Terkait dengan regulasi di atas. Kesehatan. pada tahun 2006 adalah : (a) Nota Kesepahaman antar Gubernur Provinsi Papua dengan Bupati/Walikota se Provinsi Papua Tanggal 10 Pebruari 2006 tentang Pembagian Dana Otonomi Khusus Tahun Anggaran 2006. Implementasi Pembangunan Implementasi kebijakan dalam bentuk program pembangunan.. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. terutama bidang infrastruktur. Sebagai contoh. Terjadi pemangkasan atau pengalihan peruntukan pembiayaan di bidang lain. tidak sesuai kebutuhan dan masih kurang transparan terhadap besaran alokasi dana. Tahun Anggaran 2006. misalnya dalam bentuk Peraturan Daerah atau keputusan Bupati/Walikota. (b) Rencana Definitif Penggunaan Dana Otsus Provinsi Papua Tahun Anggaran 2006 yang dikeluarkan pada Bulan April 2006.3. mengatur tentang hak setiap penduduk memperoleh pendidikan bermutu pada semua jenjang. jalur dan jenis pendidikan dengan meminimalkan beban masyarakat yang sekecil mungkin. mencakup bidang : Pendidikan. dan Penunjang Lainnya. hanya berpedoman pada petunjuk teknis yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Papua setiap tahun anggaran.2. Sehubungan dengan itu. dana otsus yang disediakan Pemerintah Daerah untuk dikelola oleh Dinas terkait.

Masih ada kesangsian dari masyarakat, apakah ada kesungguhan pemerintah untuk menerapkan kebijakan pembangunan pendidikan yang telah diagendakan itu. Kesangsian tersebut cukup beralasan jika mencermati berapa argumen indikatif yang diajukan : Pertama, Selama 6 tahun implementasi otonomi khusus, pendidikan bermutu pada semua jenjang, jalur dan jenis pendidikan umumnya hanya dapat dinikmati oleh masyarakat asli Papua yang tinggal di perkotaan dan sekitarnya. Sedangkan mereka yang berada di kampung-kampung yang sulit diakses dari ibukota kabupaten/kota belum memperoleh layanan pendidikan yang memadai; Kedua, alokasi bantuan beasiswa menjadi sangat terbatas dan tidak lancar. Padahal undang-undang Otonomi khusus Pasal 56 ayat (3) dan penjelasannya telah mengamanatkan perlunya alokasi pembiayaan seluruh atau sebagian biaya pendidikan bagi putra putri asli Papua pada semua jenjang pendidikan. Masyarakat sangat berharap agar dengan penuh kejujuran, Pemerintah dapat membebaskan biaya anak sekolah hingga ke jenjang Perguruan Tinggi. Lahirnya Perdasi Provinsi Papua Nomor : 5 Tahun 2006 tentang pembangunan pendidikan di Provinsi Papua, diharapkan menjadi landasan utama bagi suksesnya implementasi otonomi khusus di bidang pendidikan. Sehingga alokasi dana untuk pendidikan minimal 30% yang selama ini belum berjalan sebagaimana mestinya, segera dapat diwujudkan. Hingga tahun 2006, alokasi dana untuk pendidikan di kabupaten/kota sasaran evaluasi, baru berkisar antara 12-21% saja. b. Kesehatan Amanat Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001, agar Pemerintah provinsi wajib menetapkan standar mutu dan memberikan pelayanan kesehatan dan gizi (Pasal 59 ayat (1)), di mana setiap penduduk asli Papua berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu dengan beban masyarakat serendah-rendahnya (Pasal 59 ayat (3)), tampaknya belum dapat diwujudkan dengan baik. Sementara itu, pihak swasta dan lembaga sosial keagamaan yang diberi peran untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan, masih memiliki keterbatasan sehingga seringkali harus menerapkan pelayanan berbiaya mahal. Rendahnya mutu pelayanan kesehatan umumnya disebabkan sulitnya akses penduduk ke pusatpusat pelayanan kesehatan karena kendala geografis dan transportasi. Penyebab lainnya adalah adanya keterbatasan tenaga, sarana dan fasilitas pelayanan kesehatan. Alokasi dana otonomi khusus untuk pembangunan kesehatan sekitar 15% tidak cukup signifikan untuk menolong perbaikan layanan kesehatan masyarakat Papua. Sasaran penggunaan dana belum terfokus pada upaya nyata

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

47

peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara langsung. Pelayanan kesehatan bagi penduduk dengan beban masyarakat yang serendahrendahnya masih jauh dari harapan. Hal ini terutama dirasakan oleh penduduk yang jauh dari perkotaan. Pelayanan kesehatan di rumah sakit masih dirasakan mahal terutama pembelian obat-obatan. Keikutsertaan lembaga non pemerintah, terutama lembaga agama dalam pelayanan kesehatan telah terlaksana selama ini, terutama terhadap penduduk di wilayah pedalaman dan terpencil. Ada juga lembaga swadaya masyarakat yang terlibat dalam pelayanan kesehatan, namun jumlahnya masih minim. Sedangkan dunia usaha sangat minim keterlibatannya dalam upaya pelayanan kesehatan. Kebijakan pemerintah kabupaten/kota sasaran evaluasi, dalam rangka implementasi Otonomi khusus di bidang kesehatan diarahkan pada peningkatan jangkauan/pemerataan dan mutu pelayanan kesehatan. c. Ekonomi Kerakyatan Pembangunan ekonomi kerakyatan di kabupaten/kota sasaran evaluasi pada umumnya terumuskan dalam rangkuman arahan kebijakan sebagai berikut: Peningkatan kemampuan komoditi ekonomi tradisional masyarakat; Pembentukan dan peningkatan sentra ekonomi rakyat dan produksi masyarakat; Penciptaan sirkulasi ekonomi rakyat terpadu; Pelatihan dan magang peningkatan ekonomi rakyat; Peningkatan perilaku yang berorientasi pada usaha produktif; Peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat. Pemberdayaan ekonomi rakyat bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berbagai aktivitas pembangunan khususnya di bidang ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu mengolah sumber daya alam secara efisien dan berkelanjutan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya. Mendorong masyarakat, pengusaha kecil dan menengah untuk berkembang serta mampu mendorong berkembangnya ekonomi daerah dan menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha. Untuk merealisasikan hal tersebut, maka sejalan dengan semangat dan filosofi undang-undang otonomi khusus, pemerintah kabupaten/kota telah berupaya menerjemahkannya dalam berbagai bentuk program disemua sektor ekonomi di perkotaan dan di kanpung-kampung. Namun dalam bidang ekonomi kerakyatan masih memerlukan pelatihan dan sosialisasi yang intensif terhadap masyarakat.

48

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

Bagian Ketiga

PENDIDIKAN1

3.1. Muatan Kebijakan Undang-Undang Otsus mengatur hal-hal yang berkenaan dengan pendidikan, terutama pada pasal 56. Pada pasal ini disebutkan bahwa Pemerintah Provinsi bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan pada semua jenjang, jalur, dan jenis pendidikan di Provinsi Papua. Pemerintah Pusat menetapkan kebijakan umum tentang otonomi perguruan tinggi, kurikulum inti, dan standar mutu pada semua jenjang, jalur, dan jenis pendidikan sebagai pedoman pelaksanaan bagi pimpinan perguruan tinggi dan Pemerintah Provinsi. Mengingat tujuan Otsus adalah membangun sumberdaya manusia Papua yang unggul, maka pada pasal ini ditetapkan bahwa setiap penduduk Provinsi Papua berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sampai dengan tingkat sekolah menengah dengan beban masyarakat serendah-rendahnya. Pada pasal ini juga diatur bahwa dalam mengembangkan dan menyelenggarakan pendidikan, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, dan dunia usaha yang memenuhi syarat sesuai dengan peraturan perundangundangan untuk mengembangkan dan menyelenggarakan pendidikan yang bermutu di Provinsi Papua. Untuk itu, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota
1 Bagian ini mengambil materi dari Laporan Evaluasi Otonomi Khusus Papua Bidang Pendidikan, 2008, Jakarta: Kemitraan untuk Tata Kelola yang Baik.

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

49

dapat memberikan bantuan dan/atau subsidi kepada penyelenggara pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat. Pengaturan diatas didukung oleh Pasal 57 dan Pasal 58. Pada Pasal 57 diatur bahwa Pemerintah Provinsi wajib melindungi, membina, dan mengembangkan kebudayaan asli Papua. Dalam melaksanakan kewajiban tersebut, Pemerintah Provinsi memberikan peran sebesar-besarnya kepada masyarakat, termasuk lembaga swadaya masyarakat yang memenuhi persyaratan, termasuk di dalamnya memberikan pembiayaan. Pada Pasal 58 disebutkan bahwa Pemerintah Provinsi berkewajiban membina, mengembangkan, dan melestarikan keragaman bahasa dan sastra daerah guna mempertahankan dan memantapkan jati diri orang Papua. Selain bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa Inggris ditetapkan sebagai bahasa kedua di semua jenjang pendidikan. Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar di jenjang pendidikan dasar sesuai kebutuhan. Untuk melaksanakannya, pada 27 April tahun 2006 diterbitkan Perdasi No. 5 tahun 2006 Dalam Perda tersebut telah diatur berbagai kebijakan di bidang pendidikan yang mencerminkan pengelolaan pendidikan di Papua. Diantara kebijakan tersebut adalah menyangkut:
Tabel 3.1 Pasal Pasal Perdasi No. 5 Tahun 2006 Terkait Pengelolaan Pendidikan 1 Pasal 9 Hak atas pendidikan dengan pola khusus bagi setiap orang asli Papua yang bermukim di daerah terisolasi, terpencil, dan terabaikan. Hak setiap keluarga Papua untuk menyelenggarakan pendidikan berdasarkan nilai dan norma agama dan adat yang dianut, serta memperoleh bimbingan kependidikan untuk penyelenggaraan pendidikan dalam keluarga. Kewajiban setiap orang tua di Papua untuk (a) melindungi anggota keluarga dari pengaruh merugikan, serta memberi arah bagi keluarga untuk berperilaku baik sesuai dengan norma agama, adat, sosial dan hukum, (b) menyekolahkan anaknya serendah-rendahnya pada jenjang pendidikan dasar. Hak pengelola pendidikan swasta atas bantuan teknis, subsidi dana, serta sumber daya lainnya secara adil dan proporsional dari Pemerintah dan Pemda

2

Pasal 11

3

Pasal 12 ayat (2)

50

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

tunjangan daerah terpencil. pensiun. dan sosial budaya Papua Muatan kurikulum lokal yang antara lain mencakup etnosains. teknologi lokal dll. Penerapan pola pendidikan khusus sperti sekolah khusus. dll. plasma induk. sejarah lokal. Sumber-sumber pendanaan pendidikan 5 Pasal 15 ayat (1) huruf f 6 Pasal 19 ayat (2) 7 Pasal 20 ayat (1) & (2) Pasal 23 ayat (2) Pasal 24 ayat (3) 8 9 10 Pasal 29 11 Pasal 30 12 13 Pasal 34 Pasal 36 14 Pasal 44 15 Pasal 45 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 51 . Pemaduan bahan ajar kurikulum nasional dengan keanekaragaman fisik. yang disesuaikan dengan kebutuhan.4 Pasal 14. Peran pemerintah kampung dan lembaga adat dalam membina dan mengembangkan pendidikan kearifan lokal yang dilaksanakan setiap keluarga. bahasa. serta tunjangan lain sesuai dengan undang-undang. termasuk peran laki-laki dalam mengelola keluarga. Pengetahuan kearifan lokal dipelajari sebagai materi muatan lokal yang diintegrasikan kedalam mata pelajaran terkait. Penyelenggaraan PAUD dengan model Sekolah Minggu. Memperoleh pelayanan transportasi pulang pergi bagi yang bekerja di daerah terpencil. serta mengakui dan menghormati tradisi dan kebudayaan masyarakat setempat. sekolah ketrampilan kerumahtanggaan. ayat (1) & (2) Hak peserta didik yang berasal dari keluarga ekonomi lemah dan tidak mampu membiayai pendidikannya serta memiliki kemampuan akademik untuk mendapat biaya pendidikan dari Pemerintah dan Pemda Hak pendidik dan tenaga pendidik: Gaji. Akreditasi sekolah-sekolah khusus Penetapan bahasa Inggris sebagai bahasa wajib kedua di lembagalembaga pendidikan formal Jenis-jenis pendidikan khusus di Papua mencakup: Kolese Pendidikan Guru. pembinaan keagamaan peserta didik. Peluang untuk menyelenggaran pendidikan berasrama atau semi asrama. bahasa daerah. sekolah ketrampilan lapangan bagi masyarakat. kelas khusus dll. lingkungan dan usia peserta didik. tunjangan fungsional. kelas ganjil-genap.

tunjangan kelebihan mengajar bagi guru. penyediaan seragam bagi murid baru. rehabilitasi gedung sekolah. Termasuk dalam pengelolaan sekolah. Otonomi Khusus bidang pendidikan ini juga dipahami sebagai pengalokasian dana yang cukup besar dari pemerintah pusat untuk pembangunan pendidikan bagi masyarakat asli Papua melalui Pemerintah Kabupaten dan Provinsi.2. Perubahan sebelum dan sesudah Otonomi Khusus di Jayapura menjadi lebih signifikan jika dibanding dengan di Merauke dan Manokwari. Implementasi Kebijakan Kebijakan Otonomi Khusus Bidang Pendidikan di Papua dipahami sebagai perhatian pemerintah Pusat terhadap Provinsi Papua terutama masalah pendidikan. penyediaan buku paket. Dengan Otonomi Khusus juga memungkinkan pendidikan di Papua disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sesuai dengan budaya dan keadaan geografis. Sedangkan masyarakat di dua kabupaten lain (Merauke dan Manokwari). melalui dana Otonomi Khusus. belum merasakan seperti yang diharapkan.16 17 Pasal 48 Pasal 54 Pemerintah daerah memberikan subsidi dalam bentuk hibah untuk keperluan penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan oleh lembaga pendidikan swasta. penyediaan kendaraan bermotor bagi Kepala Sekolah. alat tulis. 3. yaitu seperti di Jayapura. serta penyediaan rumah dinas bagi guru. penyusunan kurikulum. Semasa Otonomi Khusus masyarakat sudah merasakan ada perbedaan yang berarti dalam hal pendidikan. Sebagian dari responden hanya mendengar bahwa sebelum Otonomi Khusus pendanaan berasal dari pusat sedangkan sesudah Otonomi Khusus pendanaan berasal dari Kabupaten/Kota atau Provinsi. kewenangan mengatur dirinya sendiri sesuai dengan manajemen berbasis sekolah. yang memungkinkan terjadinya peningkatan pembangunan di bidang pendidikan. Beberapa responden menyatakan 52 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Perbedaan tersebut tampak dari dibangunnya sekolah berstandar nasional dan internasional. Kualifikasi pendidik untuk PAUD dan SD minimal DII Keguruan. penyediaan akses pendidikan yang lebih luas dan merata. Beberapa perubahan yang dirasakan antara lain dalam hal pembebasan biaya pendaftaran masuk. khususnya di Jayapura. di mana pendanaan ini masih dirasa juga belum cukup menunjang pengembangan profesi guru.

Maka dari itu. beasiswa bagi guru untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. diperoleh data bahwa banyak masyarakat yang belum mengetahui dengan jelas. Dalam proses pembuatan peraturan-peraturan bidang pendidikan di aras provinsi dan kabupaten. penggunaan buku. yang meliputi antara lain materi pengajaran. Pendidikan yang sekarang dijalankan masih mengacu pada standar nasional. jika dibandingkan sebelum masa Otonomi Khusus. uang pendaftaran masuk sekolah. responden menyarankan adanya kajian khusus tentang hal tersebut.1 Kurikulum Kebijakan Otonomi Khusus Bidang Pendidikan untuk pengembangan kurikulum di Papua belum mendapat respon yang optimal kecuali di Sekolah Unggulan/ rintisan SBI. misalnya untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jurusan Pertanian dan Pengolahan Hasil Pertanian kurikulumnya harus disesuaikan dengan potensi KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 53 .bahwa dukungan bagi guru untuk meningkatkan karirnya cenderung berkurang. distrik/ kampung (tradisional). Hal ini penting karena melalui pelatihan dapat saling tukar informasi. Padahal menurut mereka itulah salah satu cara untuk komunikasi dengan guru dari lain daerah. beberapa responden minta agar dalam hal pengadaan buku. diperoleh informasi masih adanya kabupaten yang belum memiliki sekolah. Khusus untuk buku pelajaran. sudah dirasakan adanya perubahan. Bagi siswa dan orang tua. mentalitas pengajar. yayasan-yayasan dan LSM pendidikan. kabupaten (pra-modern). praktisi pendidikan. misalnya dengan berkurangnya frekuensi pelatihan dan penataran untuk guru. dalam masa Otonomi Khusus juga belum dibuat suatu formula atau desain untuk mendidik anak Papua sesuai kondisi sosial dan budaya (misalnya berdasarkan pemetaan wilayah kota (modern). perguruan tinggi. Yaitu model pendidikan yang berorientasi pada budaya lokal (daerah) Papua. dengan dihapuskannya uang sekolah. yaitu birokrat. alat tulis dan buku pelajaran. Dirasa oleh sebagian masyarakat. serta perwakilan orang tua murid. dan sarana pendukung pendidikan lainnya. Walau begitu secara umum telah diusahakan adanya kebijakan Kurikulum. pihak sekolah atau guru perlu dilibatkan sehingga buku yang dibeli dapat bermanfaat langsung bagi siswa. tanpa adanya penyesuaian yang signifikan dengan lokalitas daerah.2. pemberian seragam. Masyarakat menghimbau agar pembuatan peraturan tersebut melibatkan unsur-unsur masyarakat yang terkait. sampai saat evaluasi dilakukan. penggunaan buku tersebut belum optimal. Untuk membuat desain ini. pengamat pendidikan. Jangankan kebijakan tentang kurikulum. 3.

2. 54 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Muatan lokal berupa mata pelajaran pengetahuan masyarakat setempat. Hiruk pikuk pembaharuan kurikulum di tingkat Nasional baik dalam bentuk Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) maupun KTSP cukup dirasakan mengganggu dinamika implementasi di dua kabupaten. belum ada muatan lokal khas Papua dalam kurikulum sekolah baik intra maupun ekstra kurikuler. bahasa daerah.wilayah/daerah Papua. Namun sampai saat evaluasi. Merauke dan Manokwari. Sedang di Manokwari ada sekolah SMP yang memberikan muatan lokal berupa pelajaran ketrampilan membuat panah dan anak panah. Memang ada sekolah yang memberikan muatan lokal. Namun demikian. Juga dimasukkan nilai kehidupan lokal seperti masamu melalui pelajaran PKn. Ketrampilan membuat anak panah dan panah ini diberikan karena sementara ini panah masih banyak digunakan sebagai alat untuk berburu binatang sebagai mata pencaharian sebagian penduduk di Papua.2. pengembangan Kurikulum perlu mengikuti Model Pendidikan Dasar yang Berorientasi Budaya Lokal/Daerah Papua. dan bahasa Indonesia. kebijakan pendidikan memasukkan muatan lokal. kebudayaan asli Papua. Selain itu. misalnya di Merauke dan Manokwari. Sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Merauke memasukkan budaya lokal dalam mata pelajaran seperti seni suara maupun seni tari lokal. Stakeholders berharap agar pengembangan kurikulum tidak dilakukan berdasarkan hasil kajian di sekolah-sekolah di Jawa melainkan lebih merupakan kajian kebutuhan nyata masyarakat Papua. sedangkan untuk sekolah umum kurikulum ekstra kurikulernya-pun perlu menyesuaikan juga. diberikan dengan tujuan untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu beradaptasi dengan perubahan global dengan tetap berakar pada nilai-nilai budaya Papua. muatan lokal yang mengatur tentang sikap dan perilaku yang luhur masih sangat jarang diberikan di sekolah. proses penyiapan guru dan aparat pendidikan harus dilakukan terlebih dahulu agar pembaharuan pendidkan itu benar-benar dapat dilaksanakan. 3. Muatan Lokal Pada implementasinya. Lebih dari itu sekiranya akan diimplementasikan kurikulum baru. sejarah lokal. Penyelenggaraan Ujian Akhir National (UAN) juga dianggap sebagai kendala tersendiri bagi pengembangan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan pengembangan kurikulum yang demikian. siswa diberi peluang untuk mengembangkan diri dan berkreasi dalam rangka peningkatan kemampuan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Dengan kebijakan sekolah unggulan ini diharapkan terjadi persaingan positif di antara siswa. Murid-murid sejak SD mendapat pelajaran komputer (teori dan praktek) di sekolahnya masing-masing. 3. sebagai perhatian lebih khusus tentang kebijakan dan kewenangan yang diberikan untuk kemajuan mutu pendidikan.2. dan juga yang lebih utama adalah mendorong adanya kompetisi antar sekolah-sekolah di daerah yang mengarah ke sekolah bermutu/favorit dan menuju sekolah bertaraf internasional. Sayangnya kebijakan ini belum bisa bergulir ke daerah/kabupaten lain diluar Jayapura. termasuk melalui belajar berkelompok. terbukti dengan diperolehnya prestasi dalam berbagai kejuaraan olimpiade. SMP dan SMA. dapat meningkatkan cara belajarnya yang lebih baik. terciptanya siswa yang mandiri. walaupun begitu jika bercermin dari satu sekolah aras Provinsi dan satu sekolah di Kota Jayapura. siswa-siswa berhasil dalam lomba olimpiade Sience Nasional dan Internasional. sehingga hasil UAN maupun prestasi dalam mengikuti lomba-lomba pada tingkat nasional terus meningkat (terlebih Khusus SMK). dan berkemampuan yang bermutu/sangat baik. Kebijakan mutu pendidikan dalam Kebijakan Otonomi Khusus Bidang Pendidikan di daerah perkotaan seperti Jayapura. (3) Jumlah mahasiswa asli Papua pada perguruan tinggi negeri (di Papua maupun di luar KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 55 . hasilnya cukup menggembirakan. sudah dapat dikatakan telah berhasil membuat mutu pendidikan hampir sama dengan mutu pendidikan di daerah lain di luar Papua.Implementasi Kebijakan Otonomi Khusus Bidang Pendidikan di Papua juga diwujudkan dalam bentuk kebijakan mutu pendidikan melalui Sekolah Unggulan. Mutu Pendidikan Kebijakan Otonomi Khusus Bidang Pendidikan dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar. dan atau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.Hasilnya adalah: (1) Anak-anak bisa mengikuti pelajaran lebih baik. Kebijakan ini disadari cukup banyak menyedot dana. sangat kreatif. Hal ini bisa dilihat dari sangat tingginya kesadaran siswa akan arti pentingnya sekolah. menunjukkan bahwa pemerintah mempunyai kepedulian yang tinggi tentang mutu pendidikan yaitu dengan kebijakan menjadikan Sekolah-Sekolah Ber-Standar Nasional (SSN) dan menuju Sekolah Ber-Standar Internasional (SSI) mulai dari rintisan sekolah pada aras Provinsi dengan Model SMA sebagai Sekolah Unggul dengan Berasrama dan di Kota Jaya Pura dengan Model Sekolah Satu Atap SD. (2) Sebagian besar tamatan terserap di lapangan kerja.3. Keberhasilan kebijakan ini bisa diidentifikasi misalnya: murid mulai sejak tingkat SD sudah dapat mengikuti Olimpiade Matematika dan IPA tingkat Nasional. Menengah dan Tinggi.

56 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Bahkan sekalipun penduduk asli Papua yang berasal dari pedalaman-pun dapat memperoleh pendidikan dokter di Perguruan Tinggi ternama. dan belum sampai daerah kabupaten yang lain.Papua) semakin meningkat. Sayangnya hal ini masih terpusat di kota Jayapura saja.

namun dengan semakin tingginya animo masyarakat akan pentingnya pendidikan dapat dipakai sebagai tolok ukur keberhasilan dalam kebijakan ini. utamanya di sekolah bermutu seperti di SSN atau SNBI. Walaupun begitu. Kesempatan Pendidikan Kebijakan yang menyangkut perluasan kesempatan masyarakat memperoleh pendidikan secara khusus dan tersurat dalam era Otonomi Khusus ini belum dipahami benar oleh para birokrat peserta Focus Group Discussion (FGD). mengarah ke pertanda semakin luasnya kesempatan penduduk asli Papua untuk memperoleh pendidikan. komitmen pemerintah untuk membuka seluas mungkin akses pendidikan bagi masyarakat Papua khususnya yang ada di pedalaman kurang bersambut baik dengan sistem reward bagi para pendidik yang bertugas di pedalaman maupun kesadaran warga masyarakat untuk menyekolahkan putra putri mereka. S2 dan S3 semakin meningkat jumlahnya baik dari lulusan Papua maupun luar Papua. Lebih lanjut. Kondisi geografis yang membatasi jangkauan layanan pendidikan yang bermutu dan kekayaan alam juga menjadi kendala rendahnya partisipasi masyarakat.4. siswa SMTA mendapatkan subsidi. juga diakui ada banyak siswasiswa (terutama asli Papua) dengan tingkat kemampuan rendah yang semakin tersisih dari pendidikan. Murid SD. Selain itu juga semakin tinggi jumlah penduduk asli Papua dari pedalaman yang melanjutkan pendidikan ke jenjang Pendidikan Tinggi. baik dari dalam maupun luar negeri. Sementara sekolah yang bermutu di kota lebih didominasi putra-putri pendatang. Demikian juga mahasiswa berprestasi memperoleh bea siswa. dan atau bantuan tugas akhir dari Dinas Pendidikan dan Pengajaran (P dan P). Selain itu para dosen juga dapat mengadakan penelitian dengan menggunakan peralatan laboratorium dan dana yang sebagian bersumber dari Otonomi Khusus. Berbeda dengan di Merauke maupun di Manokwari.Kebijakan Otonomi Khusus Bidang Pendidikan Di kalangan Perguruan Tinggi di Papua juga telah berhasil karena telah terjadi peningkatan jenjang pendidikan dosen dari S1 menjadi S2 dan S3 yang sebagian dibiayai dari dana Otonomi Khusus. Rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan membuat mereka merasa bebas untuk bersekolah. yang disebabkan juga karena kualitas guru itu sendiri. Sumber Daya Manusia yang berkualifikasi S1.2. Penghargaan terhadap guru di daerah pedalaman juga menurun atau merosot. 3. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 57 . SMP memperoleh dana Otonomi Khusus dan juga Biaya Operasional Sekolah (BOS). dalam artian bebas masuk dan bebas keluar. sedangkan putra-putri Papua sendiri tergeser ke sekolah yang kurang bermutu.

perpustakaan) juga alat dan bahan baik yang bersumber dari dana Orang Tua Murid ataupun dari Otonomi Khusus/Pemerintah. Sekolah yang didirikan oleh masyarakat ini sangat berperan terutama sebelum adanya sekolah Inpres. Pemerintah daerah sudah membantu sekolah swasta ini dengan berbagai bantuan yang berupa guru sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) diperbantukan. dan penyediaan rumah guru. tidaklah mengherankan jika kualitas sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat ini sangat beragam. atau memberi dukungan kepada sekolah yang sudah ada. sarana dan prasarana. tetapi cara kerjanya masih sama dengan cara kerja BP3 pada waktu sebelumnya. Partisipasi Masyarakat Otonomi Khusus di bidang pendidikan di Papua memberi kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat guna berpartisipasi dalam pendidikan. baik dalam penyelenggaraan pendidikan. Kehadiran sekolah ini dipandang oleh pemerintah sangat penting karena keterbatasan pemerintah untuk menyediakan fasilitas sekolah bagi semua putra-putri Papua. sarana prasarana. BOP dan lain-lain. 58 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . dibandingkan dengan sekolah negeri. Oleh karena itu. jumlah dan kualitas guru yang terbatas. kualitas PBM. penyelenggaraan MBS di sekolah. Awalnya sekolah didirikan oleh lembaga-lembaga keagamaan. Mengingat semakin banyaknya siswa-siswa (terutama asli Papua) yang tingkat kemampuannya rendah tersisih dari sekolah yang bermutu. Meskipun sejak Otonomi Khusus sudah terbentuk komite sekolah pada sekolah-sekolah swasta ini. Bagaimanapun beberapa sekolah yang didirikan oleh masyarakat ini masih banyak kendala terkait dengan kualitas guru. penggunaan dana dari masyarakat. Peran masyarakat dalam pendidikan melalui sekolah swasta makin menurun. khususnya yang berada di daerah pedalaman.3. Partisipasi tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk pengadaan dan pemeliharaan sarana/prasarana (laboratorium. kemampuan sekolah untuk membayar guru.5. Partisipasi masyarakat dalam pendidikan cukup besar baik dalam bentuk pendirian sekolah formal maupun non formal. maka partisipasi masyarakat semakin terbuka. mekanisme pengucuran dana. dan lain-lainnya. kurangnya masyarakat dalam membayar uang sekolah. Selain itu juga dalam bentuk pengawasan terhadap kebijakan pendidikan.2.

pemerintah kabupaten memberikan bantuan pembebasan uang pendaftaran untuk masuk ke sekolah. siswa sudah dapat menggunakan seragam yang dibagikan tersebut. antara lain meliputi: pembebasan dana pendidikan bagi penduduk asli Papua mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan menengah atas. sampai saat penelitian ini dilakukan. Hanya saja realisasi bantuan seragam sering mengalami keterlambatan karena luasnya rentang kendali. dan pengendalian mutu pendidikan. pengadaan alat Laboratorium dan program ketrampilan. Kebijakan sehubungan dana pendidikan tersebut nampak dengan adanya alokasi dana yang cukup besar untuk dunia pendidikan khususnya bagi daerah-daerah (kabupaten dan distrik). Sesuai dengan Perda No. Oleh karena itu sistem pengaturannya perlu ada modifikasi. siswa yang tidak mampu juga diberi bantuan sepeda sebagai alat transportasi. Pembiayaan Selama dekade terakhir ini di Jayapura. Menurut informasi. yaitu biaya penyelenggaraan pendidikan publik. subsidi/hibah bagi lembaga KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 59 . biaya pelaksanaan akreditasi. serta pembangunan rumah guru di sekolah. dan alat transportasi untuk putra daerah. Pengaturan yang lebih efisien perlu dilakukan supaya paling lama satu bulan setelah masuk. Beasiswa juga disediakan bagi siswa berprestasi dan siswa tidak mampu secara ekonomi. Sementara di kabupaten Manokwari dan Merauke.3. 5 Tahun 2006. juga sudah ditetapkan perda tentang mekanisme pengaturan dan pertanggungjawaban keuangan Otonomi Khusus. Bagi guru. dan disediakan sepeda motor bagi Kepala Sekolah. Kebijakan-kebijakan tersebut perlu segera disosialisasikan dengan lebih efektif lagi. dan pakaian seragam bagi siswa kelas satu. serta bantuan uang ujian Evaluasi Belajar Tahap Akhir (Ebta). pengawasan. Hal ini tidak terlepas dari adanya perhatian serius pemerintah provinsi Papua. pengadaan dan atau renovasi sarana prasarana pendidikan dan secara khusus penyelenggaraan Sekolah Unggulan baik aras Provinsi maupun Kota di Jayapura. Apalagi ditambah dengan adanya dukungan dana Otonomi Khusus yang dinilai cukup memadai untuk provinsi saja. Namun. peraturan tersebut belum disosialisasikan. di samping perdasi tersebut. Khusus untuk kabupaten Merauke.2. subsidi penyelenggaraan pendidikan keagamaan. animo masyarakat akan pentingnya pendidikan semakin tinggi. diberi insentif untuk kelebihan jam mengajar. sebagai ibukota provinsi Papua. alokasi dana Otonomi Khusus diperuntukkan bagi enam pos.6.

Untuk Merauke dan Manokwari. belum berjalan seperti yang mereka harapkan. tapi di daerah pedalaman belum menggembirakan. Yang mereka pahami adalah adanya penyaluran dana ke berbagai lembaga penyelenggara pendidikan umum. dana baru turun. atau dana Otonomi Khusus. Penyaluran dana ke sekolah swasta disarankan tidak langsung ke sekolah. Selain penghapusan SPP dari tingkat SD sampai SMP bagi penduduk asli Papua. sebagian disalurkan ke kabupaten atau kota yang oleh Pemerintah Kota/ Kabupaten dimasukkan sebagai pos penerimaan daerah. Pengalokasian dana di level provinsi. biaya penyelenggaraan pendidikan tinggi dan swasta. terlebih bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Di Jayapura juga dikembangkan hal yang sama untuk jurusan IPA dan Matematika.pendidikan swasta. berlokasi di Abepura. dana Otonomi Khusus dimasukkan sebagai pos penerimaan dana kabupaten atau kota. Perbedaan antara tahun takwin dengan tahun ajaran juga menjadi kesulitan bagi pengelolaan keuangan pendidikan di kabupaten/kota karena biasanya sekolah sudah berjalan enam bulan. alat Laboratorium dan pemeliharaannya.7. Otonomi Khusus juga dipahami sebagai bantuan sarana/fasilitas sekolah setiap anak.2. Memang diakui bahwa partisipasi masyarakat sangat menonjol di daerah perkotaan. Indikatornya: masih banyak gedung sekolah yang rusak dan tidak diperbaiki. Sarana dan Prasarana Kebijakan Otonomi Khusus Bidang Pendidikan untuk pengembangan sarana dan prasarana pendidikan di Papua dipahami sebagai usaha Pemerintah membantu pengadaan sarana dan prasarana sekolah. tetapi sumbernya tidak jelas apakah dari Dana Alokasi Umum (DAU). bantuan kepada lembaga pendidikan swasta nasional. Sebagai ilustrasi. tetapi ada koordinasi dan pengawasan dari yayasan. 3. Dana Alokasi Khusus (DAK). terdapat sekolah yang kondisi sarana prasarananya sangat bervariasi. sementara mengharapkan partisipasi masyarakat sangatlah sedikit. pengadaan perpustakaan beserta koleksinya. Dalam realisasinya tidak lagi dibedakan berdasarkan dana Otonomi Khusus atau bukan. Pada aras provinsi juga digunakan untuk pengadaan sekolah menengah yang bertaraf internasional. Sama halnya dengan kondisi di Manokwari dan Merauke. wajar jika sebagian besar responden tidak tahu pasti porsi 30% dana Otonomi Khusus apakah benar-benar dipakai untuk pendidikan. bahkan peralatan laboratorium di beberapa sekolah juga meningkat jumlah maupun jenisnya. Walau begitu dalam implementasinya. sebagian untuk pengembangan sekolah bertaraf internasional. dan juga alat dan bahan pembelajaran dari dana Otonomi Khusus/Pemerintah. Oleh karena itu. Di sekolah tertentu yang ada di Jayapura tersedia sarana dan prasarana pendidikan yang relatif memadai. 60 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .

249 anak belum tertampung pada pendidikan TK. tetapi di jurusan elektro sangatlah minim.3. sedangkan pendidikan anak usia Taman Kanak-kanak yang tidak tertampung pada pendidikan formal ditangani oleh Sub Dinas PLS. Masih terdapat 8 kabupaten/kota yang belum memiliki TK Negeri. sebagaimana dipaparkan berikut ini. Visi ini diimplementasikan dalam bentuk kebijakan pendidikan untuk anak usia dini hingga perguruan tinggi.3. sehingga mampu meletakkan landasan ekonomi.keadaan laboratorium SMKN 1 Manokwari. politik yang kokoh bagi terwujudnya masyarakat Papua menjadi Tuan di negeri sendiri”. merata dan bermutu bagi masyarakat Papua guna memiliki ketrampilan hidup yang berorientasi pada kebutuhan pembangunan daerah Provinsi Papua. terbagi dalam: 13. serta kemampuan ekonomi orang tua yang masih terbatas. Sampai dengan tahun 2001 kondisi pendidikan secara umum adalah: belum semua kecamatan/distrik memiliki TK. Berbagai kendala tersebut berpengaruh pada rendahnya jumlah anak usia 4-6 tahun yang masuk pada lembaga TK.943 anak tertampung di TK. sosial. serta sebagian besar belum pernah mengikuti pelatihan yang dipersyaratkan.653 anak . 3. Sampai dengan tahun 2000 jumlah lembaga pendidikan TK sebanyak 6 TK Negeri yang terdapat di 6 kabupaten. Pendidikan Anak Usia Dini Program Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan melalui pendidikan formal pada jenjang Taman Kanak-kanak ditangani oleh Sub Dinas Dikdasmen. Sebgian besar guru negeri/swasta tersebut tidak memiliki kualifikasi sebagai tenaga guru TK. Pada tahun pelajaran 1999/2000 Penduduk usia 4 – 6 tahun sebanyak 206. terdiri dari 26 orang guru negeri dan 260 orang guru swasta. terdapat TK swasta sebanyak 261 lembaga. di jurusan perkayuan peralatan laboratoriumnya begitu lengkap. Terselenggara pendidikan dan pengajaran yang kontekstual. pada lembaga taman kanak-kanak dan 192. kurangnya kesadaran orang tua memasukkan anaknya pada lembaga TK. dengan tenaga pengajar sebanyak 703 orang guru tetap KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 61 .1.692 anak. Kinerja Kebijakan Visi Pendidikan Provinsi Papua pada tahun 2001/2002 adalah: “Pada Tahun 2005. sangat terbatas prasarana pendidikan yang tersedia. budaya. Dari 267 TK Negeri dan TK swasta tersebut terdapat tenaga guru sebanyak 886 orang. 3. dengan jumlah murid sebanyak 16. Pada tahun 2006 jumlah lembaga Taman Kanak-kanak di Provinsi Papua sebanyak 157 buah terdiri dari 6 TK negeri dan 151 TK swasta. Selain TK negeri.

kesenjangan yang terjadi masih jauh dibandingkan dengan target program penuntasan wajib belajar Pendidikan Dasar. Hal ini karena sangat terbatasnya TK yang disediakan oleh pemerintah serta lembaga PAUD yang tersedia di kabupaten/kota. keadaan Pendidikan Dasar di Provinsi Papua yang meliputi SD dan SMP bila dikaitkan dengan peserta didik dan penduduk berumur 7-12 tahun untuk usia SD dan 13-15 tahun untuk usia SMP saat itu. tersedia SD dan MI sebanyak 2. atau 22.pemerintah maupun yayasan serta dibantu dengan 529 guru tidak tetap dan lembaga PAUD yang terdiri dari kelompok Bermain. Pada tahun pelajaran 2004/2005 jumlah murid SD/MI sebanyak 288.68%.791 anak dan baru terlayani sekitar 22. 3.341 orang dan usia 13-15 tahun.152 anak.49%.102 orang.642 anak dan tenaga pendidik sebanyak 610 orang. Ini dapat dilihat dari data yang menunjukkan bahwa jumlah usia sekolah yang tertampung di SD baru mencapai 83. Lembaga PAUD yang tersebar di Provinsi Papua sebanyak 150 kelompok dengan jumlah peserta didik sebanyak 7.850 orang maka Angka Partisipasi Kasar mencapai 106. Pada tahun 2005/2006 Provinsi Papua dengan jumlah penduduk usia 7 – 12 tahun sebanyak 365.54%.845 orang belum tertampung di SD dan SMP.606 siswa dan tenaga pendidik 495 orang.01%).07% dan untuk SMP baru mencapai 38. Demikian halnya dengan lembaga PAUD yang diselenggarakan oleh pemerintah. yayasan maupun masyarakat juga belum mampu menjangkau seluruh kabupaten yang ada. Kebutuhan pendidikan untuk kelompok umur 0-4 tahun maupun 5-6 tahun. sebanyak 349. baik melalui jalur pendidikan TK dan yang sederajat.259 anak (9. baik melalui lembaga PAUD maupun TK. Penitipan Anak dan Satuan Paud Sejenis sebanyak 125 kelompok dengan jumlah 6. yang terdiri dari kelompok bermain. maupun jalur pendidikan luar sekolah belum dapat terlayani secara layak dan memadai.703 yang terdiri dari 1.103 SD Swasta yang tersebar di 29 kabupaten/kota. Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun Pada tahun 2001. dengan demikian Angka Partisipasi Murni (APM) baru mencapai 87. Dari jumlah penduduk usia 7 – 12 tahun yang tertampung di SD sebanyak 237. Untuk lembaga TK bahkan terdapat beberapa kabupaten yang belum tersedia TK negeri maupun swasta.600 SD Negeri dan 1.437 anak dan bila dibandingkan dengan penduduk usia 7 – 12 tahun sebanyak 270. 62 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .2. Angka putus sekolah jenjang SD mencapai 7.25%.838 orang. sebanyak 181. Jumlah penduduk usia 0-6 tahun mencapai 277.3. penitipan anak dan satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sejenis. Dari jumlah anak usia 7-12 tahun.

915 ruang belajar SD Negeri dan 3. dengan jumlah ruangan kelas sebanyak 803 ruangan dalam kondisi baik dan rusak ringan. Tenaga pengajar pada di 236 sekolah SMP Negeri dan 112 SMP Swasta terdapat 3.407 siswa.027 orang.225 tenaga guru tetap yang diangkat oleh pemerintah.083 tenaga guru honorer. didukung oleh tenaga guru sebanyak 1. Pendidikan Menengah Untuk penduduk usia 16-18 tahun yang telah tamat pada jenjang pendidikan tingkat SMP sampai tahun 1999/2000 telah tersedia 44 SMA Negeri dan 68 SMA Swasta. Dari ruang belajar yang tersedia kurang lebih 45% sudah mengalami kerusakan baik rusak ringan dan rusak berat.718 ruang. Dengan jumlah ruang 860 lokal mempunyai kapasitas maksimal 24. serta 248 ruang dalam keadaan rusak. serta 57 ruangan lainnya dalam keadaan rusak. Pendidik pada 308 SMP/MTs negeri dan swasta berjumlah 3. terdapat beberapa distrik yang belum memiliki SMP. memiliki ruang belajar 2. dan ini masih dirasakan kurang terutama pada daerah pedalaman. dengan jumlah murid usia 1315 tahun di SMP/MTs sebanyak 58. untuk Provinsi Papua memiliki ruang kelas 860 lokal dan jumlah 35. terdiri dari 5. Pada tahun 2001 terdapat 348 sekolah SMP.3. Jumlah sekolah menengah kejuruan sebanyak KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 63 . bahkan untuk sekolah yang berlokasi di daerah pedalaman kondisinya sudah tidak layak lagi untuk dihuni. Dengan demkian angka partisipasi kasar mencapai 60. dengan perincian 236 SMP/MTS Negeri dan 112 SMP/MTS Swasta. secara bertahap. Angka putus sekolah pada SMP mencapai 8.708 orang. dengan jumlah murid 8. dengan jumlah murid SMP/MTs yang tertampung pada 308 sekolah sebanyak 75. Angka partisipasi siswa pada tingkat SMP baru 38.3. 186 guru tetap yayasan dan dibantu 1.796 guru negeri dan dibantu guru tidak tetap sebanyak 1. Sejak terjadinya pemekaran kabupaten/ kota yang diikuti dengan pengembangan distrik.07% atau 6.25%. untuk menampung lulusan SD disekitarnya.055 siswa.Tenaga pendidik SD/MI pada tahun 2005/2006 sebanyak 11.803 ruang belajar SD Swasta. 3. Lima tahun ke depan.68%.586 orang guru negeri dan 92 orang guru tetap yayasan serta dibantu 946 guru tidak tetap.24%.592 orang. Pada tahun 2004/2005 jumlah penduduk usia 13 -15 sebanyak 123.407 orang. yang pada akhirnya dapat meningkatkan angka partisipasi. Ruang belajar yang tersedia sebanyak 9. diharapkan setiap distrik memiliki SMP.400 siswa.157 orang guru tetap yang diangkat oleh pemerintah maupun swasta serta dibantu oleh 1.574 guru tidak tetap. sedangkan angka partisipasi murni 47.021 ruang dengan kondisi baik dan rusak ringan.638 orang.

Peserta kejar paket B berjumlah 14. 3.3. dengan APK sebesar 45. Angka putus sekolah SMA sebesar 12.695 orang. Pada tahun 2004/2005 jumlah sekolah sebanyak 169 sekolah yang terdiri dari 116 SMA. Berbagai fasilitas KPG telah dilengkapi.3.436 orang dan IJB 71. Merauke.985 orang yang mengikuti pendidikan pada SMA berjumlah 34. 3.34% dan pada Sekolah Menengah Kejuruan sebesar 18.43%.374 orang.5. Ketersediaan buku/alat bantu pendidikan masih kurang. Provinsi Papua telah memiliki dua Perguruan Tinggi Negeri dan 24 Perguruan Tinggi Swasta yang tersebar di berbagai kabupaten/ kota. yang sekaligus juga untuk mengatasi kekurangan guru yang dikhususkan bagi guru SD di daerah pedalaman/terpencil. Sampai dengan tahun 2006.721 orang. 64 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .570 orang.41% dengan jumlah peserta didik pada paket A dan SD/MI sebanyak 342.49% yang dicapai oleh Sekolah Dasar.32 SMK Negeri dan 18 SMK Negeri dan 14 SMK Swasta dengan jumlah ruang belajar 259 ruang dengan pengajar sebanyak 695 guru negeri dan 133 guru tetap yayasan. dengan jumlah peserta didik sebanyak 49. Penyelenggaraan paket C telah menampung peserta kejar sebanyak 6. menjadi 126.297 orang MA 314 orang dan SMK 15. KPG ini bertujuan untuk mencetak guru-guru SD yang siap terjun ke lapangan. 7 MA dan 46 SMK. secara bertahap akan terus dibenahi. berbagai program yang telah dilaksanakan antara lain: Pembangunan KPG di empat lokasi (Nabire.07% dari jumlah penduduk usia 6-18 tahun yang berjumlah 115.289 orang. Sampai tahun 2005/2006.368 orang. sementara yang berada di Provinsi Papua berjumlah 296. Pendidikan Tinggi Sampai tahun 2001/2002. jumlah penduduk penyandang buta aksara di 29 kabupaten/kota sebanyak 367.675 orang.4. Timika dan Sorong). Pada umumnya ke 24 PTS ini masih menggunakan sarana gedung sekolah SD/SMP yang ada di kabupaten/kota. Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Pada tahun 2005/2006 siswa Paket A dan Paket B berjumlah 53. kondisi ini dapat mengangkat angka partisipasi kasar pada program wajib belajar 6 tahun dari 106. serta 346 guru tidak tetap.958 orang. dan capaian tersebut sangat menopang dalam pelaksanaan program wajib belajar 9 tahun.

Sebagian besar keluarga Papua yang miskin mengeluhkan beratnya beban biaya pendidikan yang masih harus ditanggung. disalahartikan sebagai sekolah gratis. dan mendorong adanya kompetisi antar sekolah sebagai sekolah bermutu dan favorit. Biaya yang harus ditanggung orang tua murid sekitar lima ratus ribu rupiah setiap bulan.3. Biaya yang ditanggung masyarakat serendah-rendahnya. dengan dibentuknya sekolah unggulan bertaraf internasional. dan masih ditambah biaya transport. Sebagai contoh untuk masuk SMP yang bagus di Kota Jayapura dikenai uang masuk sekitar lima ratus sampai satu juta rupiah.4. Walaupun begitu. yang kelak diharapkan menjadi SDM yang berperan penting bagi kemajuan Papua. tetapi untuk daerah-daerah pedalaman masih banyak mengalami kesulitan. Konsekuensinya menciptakan ketidakadilan antara orang tua yang kaya dan yang miskin. Terjadinya peningkatan mutu pendidikan. Konsep sekolah gratis juga membawa kesulitan bagi sekolah jika akan menarik dana dari orang tua. 3. Pihak sekolah dan masyarakat merasa semakin diperhatikan. walaupun sudah ada BOS dan dana Otonomi Khusus. transport. Simpulan Undang-undang Otonomi Khusus yang telah ditindaklanjuti dengan Perda dan SK walaupun belum efektif. Ini disebabkan karena orang tua masih harus menanggung biaya lain. tetapi menjadi pedoman bagi penyelenggaraan pendidikan di semua jenjang. Pada gilirannya akan memunculkan juara-juara olimpiade. uang saku. 5. 2. sehingga peran Papua diakui di dunia Internasional maupun nasional. dan peralatan sekolah yang lain. Kebutuhan guru terutama di kota Jaya Pura semakin terpenuhi. seperti uang masuk. Kebijakan pembiayaan dengan adanya pengalokasian dana yang besar untuk kemajuan pendidikan ini menghasilkan serangkaian dampak positif seperti: 1. telah terjadi persaingan positif di antara siswa. Manokwari dan Merauke. uang saku. Jumlah mahasiswa asli Papua di perguruan tinggi negeri Papua maupun di luar Papua semakin meningkat. dinilai cukup memberatkan. 2. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 65 . 4. dan peralatan sekolah. Bertambahnya sekolah-sekolah baru khususnya di daerah pedalaman atau terpencil serta dibangunnya rumah guru untuk Sekolah Dasar seperti di Kab. kebijakan pembiayaan pendidikan tersebut tidak luput dari dampak negatif. antara lain: 1. SPP sebesar empat puluh sampai delapan puluh ribu rupiah.

tanpa harus membayar. Mereka datang lagi pada saat akan ujian atau ulangan dan dipastikan hasilnya akan tidak menggembirakan. juga mengalami kekurangan guru mata pelajaran dan praktek. pada akhir tahun orangtua tetap memaksa anaknya naik kelas atau lulus dalam ujian. 4. Dana Otonomi Khusus belum mampu menggaji pengangkatan guru lebih banyak lagi sesuai kebutuhan di daerah pedalaman. Adanya kekurangan guru untuk mata guru pelajaran eksakta dan bahasa Inggris. yang dapat menurunkan kualitas pendidikan. 7. 6. Sekolah ini biasanya adalah sekolah yang cukup favorit dan berada di perkotaan. ditangkap oleh masyarakat bahwa segala-galanya gratis. Konsep sekolah gratis. 5. Pemaknaan beban biaya yang serendah-rendahnya dari masyarakat yang sama dengan sekolah gratis justru menyulitkan pihak sekolah untuk menggalang dana dari masyarakat. berakibat pada turunnya keperdulian masyarakat terhadap pengembangan pendidikan di sekolah.3. sebagai partisipasi masyarakat dalam pendidikan. Dampaknya. 66 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . belum mencukupi. tanggung jawabnya dalam hal pendidikan anak menurun. Banyak sekolah terpaksa meloloskan permintaan orang tua. orang tua merasa tidak perlu lagi ikut berpartisipasi terhadap kebutuhan sekolah. perlengkapan/peralatan laboratorium. termasuk dana Otonomi Khusus. tetapi ada juga sekolah yang berani menolak permintaan orang tua tersebut. Sementara masih banyak kebutuhan sekolah yang belum bercukupi dari dana-dana yang datang dari pemerintah. Pada umumnya orang tua di daerah perkotaan telah banyak yang mempunyai kesadaran akan sistem pendidikan yang berlaku. dengan tunjangan khususnya yang memadai. sementara dana dari pemerintah. Peruntukan dana Otonomi Khusus belum dapat mengatasi keseluruhan gedung yang rusak. Namun demikian. Dengan konsep sekolah gratis tersebut. Khusus di SMK. Kurangnya kesadaran orangtua akan sistem pendidikan yang seharusnya berjalan. dan biaya operasional. Banyak anak Papua yang masuk pada awal-awal sekolah. dan selanjutnya menghilang.

Bagian Keempat

KESEHATAN1

4.1. Muatan Kebijakan
Salah satu prioritas dalam otonomi khusus adalah pembangunan kesehatan. Pada pasal 34 ayat (2) disebutkan bahwa dalam rangka pelaksanaan Otonomi Khusus yang besarnya setara dengan 2% dari plafon Dana Alokasi Umum Nasional, yang terutama ditujukan untuk pembiayaan pendidikan dan kesehatan. Pada pasal 36 ayat (2) dikatakan bahwa sekurang-kurangnya 30% penerimaan sebagaimana yang dimaksud dialokasikan untuk biaya pendidikan, dan sekurang-kurangnya 15% untuk kesehatan dan perbaikan gizi. Bab XVII UU Otsus secara spesifik mengatur masalah pembangunan kesehatan di Papua, yang diatur pada pasal 59 dan 60. Pada pasal 59 disebutkan bahwa Pemerintah Provinsi berkewajiban menetapkan standar mutu dan memberikan pelayanan kesehatan bagi penduduk. Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota berkewajiban mencegah dan menanggulangi penyakit-penyakit endemis dan/atau penyakit-penyakit yang membahayakan kelangsungan hidup penduduk. Selanjutnya ditetapkan bahwa setiap penduduk Papua berhak memperoleh pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud,
1 Bagian ini mengambil materi dari Laporan Evaluasi Otonomi Khusus Papua Bidang Kesehatan, 2008, Jakarta: Kemitraan untuk Tata Kelola yang Baik.

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

67

dengan beban masyarakat yang serendah-rendahnya. Dalam melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud, Pemerintah Provinsi memberikan peranan sebesar-besarnya kepada lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, dan dunia usaha yang memenuhi persyaratan. Ketentuan mengenai kewajiban menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan beban masyarakat serendahrendahnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dan keikutsertaan lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, serta dunia usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Perdasi. Pada pasal 60 ditetapkan bahwa Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/ Kota berkewajiban merencanakan dan melaksanakan program-program perbaikan dan peningkatan gizi penduduk, dan pelaksanaannya dapat melibatkan lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, dan dunia usaha yang memenuhi persyaratan, di mana pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Perdasi. Kebijakan pembangunan kesehatan di bawah kebijakan Otsus diarahkan untuk meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan melalui; (1) Program Pemberantasan Penyakit, (2) Pencegahan dan Penangulangan HIV/AIDS, (3) Peningkatan SDM di bidang kesehatan baik medis dan para medis, (4) Pelayanan Puskesmas, (5) Pelayanan Rumah Sakit, (6) Penyediaan Obat-obatan, (7) perbaikan gizi dan penyehatan lingkungan. Kebijakan ini diarahkan kepada enam isu, yaitu (1) terbangunnya kerjasama Pemerintah dan Swasta dalam penyediaan sarana dan prasarana kesehatan; (2) Peningkatan derajat kesehatan masyarakat; (3) Meningkatnya angka harapan hidup menjadi 70 tahun; (4) Melakukan rekruitmen dan pembinaan tenaga medis dan paramedis kearah profesional; (5) Meningkatkan peran serta masyarakat di dalam penanggulangan HIV/AIDS dan rehabilitasi orang yang terinfeksi HIV/AIDS; dan (6) Peningkatan jangkauan dan manajemen pelayanan kesehatan. Kebijakan ini diambil sebagai responsi dan antisipasi dari permasalahan kesehatan yang muncul dan diperkirakan akan berkembang di Papua, yang dapat dikelompokkan menjadi enam isu, yaitu (1) Tenaga medis dan paramedis masih sangat terbatas; (2) Pelayanan kesehatan bagi masyarakat ditingkat puskemas dan pustu serta posyandu masih perlu dioptimalkan; (3) Ketersediaan obat-obatan di tingkat Puskesmas dan Pustu masih perlu ditingkatkan; (4) Sarana dan prasarana kesehatan yang belum lengkap; (5) Masih rendahnya pemahaman masyarakat tentang pola hidup sehat; (6) Belum optimalnya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.

68

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

Dalam pelaksanaannya, kebijakan tersebut ditata dalam delapan program prioritas, yaitu (1) Program-program Pembangunan Bidang Kesehatan; (2) Peningkatan SDM tenaga medis; (3) Peningkatan jangkauan pelayanan kesehatan ke masyarakat; (4) Peningkatan pengelolaan manajemen puskesmas dan pustu yang lebih profesional; (5) Peningkatan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan; (6) Peningkatan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular; Peningkatan kesehatan keluarga; (7) Peningkatan kesadaran masyarakat tentang sanitasi lingkungan; dan (8) Pemahaman tentang tentang perlunya tanaman obat keluarga (obat alternatif ). Kebijakan di bidang kesehatan difokuskan pada delapan sasaran, yaitu (1) Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai; (2) Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular, khususnya 10 besar angka kesakitan; (3) Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata di seluruh puskesmas; (4) Menurunkan angka kematian ibu dan anak; (5) Menurunkan angka kesakitan masyarakat; (6) Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat; (7) Peningkatan sarana puskesmas keliling; (8) Terbinanya manajemen puskesmas dan puskemas tunggu serta puskemas keliling. Kedelapan sasaran ini merupakan key success indicator dari pembangunan kesehatan Papua di bawah kebijakan Otsus. 4.2 Implementasi Kebijakan Kesehatan 4.2.1. Impelementasi di Tingkat Provinsi Implementasi kebijakan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Papua dalam mengimplementasikan Otsus, masih berpegang pada UU No. 21. Tahun 2001, sebagaimana yang diamanatkan pada BAB XVII, Pasal 59 ayat (1), (2), (3), (4), dan (5) serta pasal 60, ayat (1) dan (2). Dana Otsus yang dikelola Oleh Provinsi lebih banyak digunakan untuk pelayanan dasar yaitu belanja Obat, Pelatihan, Pembiayaan Mikro Nutrien dan gisi, sedangkan untuk infrastruktur dan peralatan medis serta Pusling dananya diambil dari dana DAK. Kendala yang dihadapi di dalam memaksimalkan program agar dapat mencapai sasaran secara maksimal adalah dana Otsus selalu turun terlambat yang berakibat program tidak dapat terealisasi 100%. Untuk tahun 2007, saat ini sudah bulan November namun dana triwulan 3 dan 4 belum turun, padahal bulan Desember sudah harus dilaporkan penggunaan dana tersebut. Terbatasnya tenaga

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

69

383 33. Komitmen pemerintah kabupaten Sorong dalam memberikan pelayanan kepada masayarakat sebaik mungkin di era Otonomi Khusus terus dilakukan melalui peningkatan sarana 70 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .913.539. namun ada beberapa Kabupaten yang menggunakan untuk sektor lain sehingga target/sasaran tidak tercapai. misalnya dalam hal pertanggungjawaban.2.312 62.218 862.239 15. Program kesehatan bersumber dana Otsus pada dasarnya telah diarahkan dari Provinsi. Sorong.69% dan 46.10945 km2 dan jumlah penduduk 78.642. sangat sulit diperoleh setelah dana tersebut di transfer. Dengan adanya Otonomisasi.kesehatan di tempat-tempat pelayanan kesehatan dan di dinas Kesehatan. Kebijakan ini dilakukan oleh pemerintah untuk meminimalisasi rujukan pasien ke luar Papua yang memerlukan biaya yang sangat mahal.300 87.560 85. yang diharapkan selesai pada anggaran tahun 2008. Waktu pelaksanaan sangat singkat dan turunnya dana selalu terlambat.2. Rumah sakit ini diprioritaskan berdasarkan kebijakan Gubernur Papua yaitu rumah sakit rujukan di Jayapura.898 14. 9% 2003 1. masing-masing satu.382.191 18.1 Dana Otsus dan Dana Kesehatan Provinsi Papua Tahun 2002 Dana Otsus Kesehatan % 1. dan Biak.775. namun dalam proses administrasi. baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Adanya kegiatan Kabupaten Pemekaran masuk dalam DASK Provinsi.6% 2005 1. Tabel 4.7% Keterangan : dalam juta rupiah Sumber : Pemprov Papua 2002-2007 Bidang kesehatan yang paling banyak menyerap dana Otsus sejak tahun 20052006 yaitu 70. provinsi kesulitan mendata program dari kabupaten/kota. dengan mempunyai luas wilayah 1.617 111.67% adalah bidang pembangunan rumah-rumah sakit berstandar nasional. 4.3% 2006 2. Implementasi di Tingkat Kabupaten/Kota Kabupaten Sorong Kabupaten Sorong termasuk daerah kepala burung Papua.806 jiwa.7% 2004 1.724 28.

dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pembangunan kesehatan sebagai berikut: KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 71 . Pembangunan Rumah Sakit Rujukan. 13. 6. c) Pelayanan KIA. Proyek Pelayanan Kesehatan Dasar di kabupaten Sorong. 11. Kebijakan pembangunan kesehatan di kabupaten Sorong di bawah Otsus pada tahun 2002 sampai tahun 2006 menyerap anggaran sebesar Rp 51. hal ini tertuang dalam berbagai program yang bersumber dana Otsus tahun 20022006.96 milyar. b) Operasional Puskesmas. dengan luas wilayah 13. Pembangunan Puskesmas dan Rumah Jabatan Kepala Puskesmas di ibuklota Distrik. 2. Pencegahan penanggulangan penyakit menular dan HIV/AIDS di kabupaten Sorong. 8. Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (Rumah Sakit Rujukan Kabupaten Sorong) di Aimas.02 milyar. Pendidikan Tenaga Keseahatan di kabupaten Sorong. Implementasi dana Otonomi Khusus bidang kesehatan di kabupaten Nabire Otsus pada tahun 2002 sampai tahun 2006 dengan besaran dana sebesar Rp 8. Operasional dan Pemeliharaan RSUD Sorong. 3. dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pembangunan kesehatan sebagai berikut: 1. 12.59 km2.dan prasarana dan peningkatan sumber daya manusia dibidang kesehatan. 5. jumlah penduduk 11174 jiwa. 9. Peningkatan Pelayanan Kesehatan Dasar di kabupaten Sorong. 10. Pembangunan Puskesmas dan Rumah Jabatan Kepala Puskesmas di ibukota distrik.397. 4. a) Pelayanan Kesehatan Dasar. Operasional dan Pemeliharaan RSUD Sorong. Kabupaten Nabire. 7. Penanggulangan gizi buruk dan Pengembangan Posyandu di kabupaten Sorong. Peningkatan Pelayanan Kesehatan Dasar. Operasional Puskesmas. Kabupaten Nabire secara ekologis masuk ke dalam wilayah ekologis Teluk Cenderawasih.

Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan. 2. Besaran dana tersebut tidak semuanya diserahkan ke dinas Kesehatan. survey filariasis di 12 distrik. Penyenggalaraan Pendidikan Akademi Keperawatan. Operasional Penyelenggaraan Puskesmas. yang mencakup kegiatan: a. Pusling dokter terbang. Pembangunan Puskesmas Pembantu MOT di Batom. Rujukan rawat nginap dan gadar. 72 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Penanggulangan TB paru. f.529 jiwa. Pengadaan BHP. e. Penduduk tersebut tersebar di 10 distrik dengan kondisi geografis yang sangat sulit. Administrasi Kesehatan Imunisasi. d. Kabupaten Pegunungan Bintang Kabupaten Pegunungan Bintang adalah salah satu kabupaten yang masuk zona ekologis pegunungan tengah dengan luas wilayah 15. Pengadaan Obat dan BHP Puskesmas. 5. c. 3. Pengadaan Obat-Obatan. Pelatihan PWS dan Juru Imunisasi. Kebijakan pembangunan kesehatan di Kabupaten Pegunungan Bintang di bawah Otsus pada tahun 2002 sampai tahun 2006 menyerap anggaran sebesar Rp 6. yang mencakup: a. e. Penyelesaian Pembangunan Kantor Dinas Kesehatan. 6. 2. Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Program Upaya Kesehatan. 4. b. c. b.683 km2 dengan jumlah penduduk 88. Rehabilitasi Rumah Dokter.04 milyar dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pembangunan kesehatan sebagai berikut: 1. Pembangunan Rumah Dokter di Kwirok. d. b. Peningkatan pelayanan RSUD: a. Pembangunan Barak Pegawai Puskesmas di Oksibil. kebutuhan rumah sakit diserahkan langsung ke Puskesmas dan rumah sakit. melainkan kebutuhan Puskesmas.1. Pembangunan Balai Pengobatan di distrik Pepera.

di mana dana otonomi khusus selalu mengalami keterlambatan sampai. Sumber dana dana untuk pembangunan kesehatan Kabupaten Kerom berasal dari tiga pos: Dana Alokasi Umum (DAU). KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 73 . 2. Implementasi kebijakan kesehatan di Kabupaten Kerom tidak berjalan sebagaimana yang direncanakan. Distribusi Obat-obatan dan alat kesehatan. Program peningkatan mutu gizi masyarakat. 7. Dana Alokasi Khusus (DAK). paramedis. Kabupaten Merauke Merauke merupakan salah satu dari beberapa Kabupaten yang masuk wilayah ekologis Pantai Selatan Papua. tetapi dipaparkan bahwa kebijakan pembangunan kesehatan di era otsus dilaksanakan dalam bentuk: 1. 3. dengan luas wilayah 45. Bintek Subdin Yankes ke 10. Pengadaan alat Kesehatan Medis dan Non Medis di 12 distrik. Program pencegahan penyakit menular. Program KIA di 12 distrik. 4. i. j. Peneliti evaluasi bidang kesehatan dari Kemitraan tidak memberikan informasi jumlah dana otsus untuk bidang kesehatan di Kabupaten Kerom tahun 20022006. Bintek Subdin P2MPL ke 10.071 km2 dengan jumlah penduduk 180. pengadaan obat-obatan. dan Dana Otsus. 9.781 jiwa. h. yaitu menjelang akhir tahun. Sumber dana DAU dengan peruntukan membayar gaji pegawai dan administrasi. Pengadaan Obat-obatan di 12 distrik. Sumberdana DAK untuk membangun infrastruktur dan pengadaan peralatan medis.g. yang tinggal di 11 distrik dan 160 kampung dan 8 kelurahan. Implementasi program dilaporkan berjalan hanya pada kuartal ke empat setiap tahun. Monev Program. Kabupaten Kerom. 10. terutama untuk Puskesmas dan Pustu. dengan pertanggungjawaban pada akhir tahun. dokter PTT. Insentif tenaga dokter tetap. 8. Penanggulangan gizi buruk di 12 distrik.

Program pengembangan tenaga kesehatan dilaksanakan untuk melakukan analisis kebutuhan tenaga kesehatan dan pengembangannya serta pembinaan teknis akreditasi tenaga kesehatan dan sarana kesehatan. b. 3) Melaksanakan seleksi dan pengusulan pendidikan tenaga kesehatan. Program peningkatan mutu pelayanan dilaksanakan melalui upaya peningkatan pelayanan kesehatan dasar. Kegiatan program pembinaan tenaga kesehatan dan sarana kesehatan. 2) Bimbingan teknis upaya kesehatan. 3. terdiri dari: 1) Membuat penilaian/akreditasi tenaga kesehatan melalui penetapan angka kredit (PAK). Kegiatan program pengembangan tenaga kesehatan. dengan tujuan : mencegah berjangkitnya 2. meliputi : a. terdiri dari: 1) Melaksanakan analisis kebutuhan tenaga kesehatan. 2) Melaksanakan pembinaan teknis akreditasi tenaga kesehatan. Pembangunan sarana dan prasarana kesehatan 1) Peningkatan puskesmas pembantu menjadi puskesmas. 2) Pembangunan PUSTU dan POLINDES. 4) Melaksanakan pembinaan teknis akreditasi sarana Kesehatan. b. 3) Membuat penilaian/akreditasi sarana kesehatan. peningkatan peran dan tanggung jawab masyarakat dan koordinasi dengan program dan sektor terkait. 2) Merencanakan pengembangan tenaga kesehatan. penyelenggaraan Program D-3 Keperawatan Merauke. 4) Melaksanakan koordinasi untuk penyelenggaraan pelatihan pengembangan tenaga kesehatan. sarana dan prasarana tenaga pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan dasar 1) Pelayanan kesehatan di daerah terpencil. 74 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .Peneliti evaluasi bidang kesehatan dari Kemitraan tidak memberikan informasi jumlah dana otsus untuk bidang kesehatan di Kabupaten Kerom tahun 20022006. Kegiatan program pengembangan tenaga kesehatan meliputi : a. Program Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit dilaksanakan melalui upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit secara terpadu. tetapi dipaparkan bahwa kebijakan pembangunan kesehatan di era otsus dilaksanakan dalam bentuk: 1.

1) Pemberantasan penyakit malaria. 7) Pemberantasan penyakit kecacingan. kesadaran. 3) Pemberantasan penyakit kelamin/PMS. 6) Pemberantasan penyakit frambusia. 5) TT WUS. 4) Bulan imunisasi anak sekolah (BIAS). 2) Pemberantasan penyakit ISPA (Pneumonia). Kegiatan program kesehatan masyarakat meliputi: a. Program pelayanan dan pengendalian perizinan di bidang kesehatan dilaksanakan untuk mengemban kewenangan perizinan yang diberikan Menteri Kesehatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten sejalan dengan Program Desentralisasi. 2) Pemberantasan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Kegiatan Program Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit meliputi: a. menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mengurangi akibat buruk penyakit. serta pengawasan dan pengendalian terhadap izin . Pemberdayaan Masyarakat 5. 4. Kegiatan program pelayanan dan pengendalian perizinan di bidang kesehatan meliputi : Pemeriksaan setempat pada sarana kesehatan dan memeriksa kelengkapan berkas sarana dan tenaga kesehatan. Pengamatan penyakit menular dan imunisasi. yakni. termasuk dari dunia usaha. c. Program Penyuluhan Kesehatan Masyarakat terselenggara melalui upaya penyuluhan kesehatan langsung maupun secara massal dalam rangka meningkatkan pengetahuan. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 75 .penyakit. yakni. 2) Pengamatan penyakit khusus (AFP = Acute Flaccid Paralysis). yakni. 1) Pemberantasan penyakit diare. Pemberantasan penyakit bersumber binatang (P2B2). menerbitkan izin kerja/praktek kepada sarana dan tenaga kesehatan. dan kemampuan masyarakat untuk hidup bersih dan sehat serta peran aktif masyarakat. 5) Pemberantasan penyakit kusta. 3) Imunisasi rutin. Pemberantasan penyakit menular langsung (P2ML). kemauan. 1) Pengamatan penyakit potensial wabah (W1 dan W2). 4) Pemberantasan penyakit TB Paru. dan sarana distribusi obat (Apotek dan Toko Obat). 3) Pemberantasan penyakit filariasis. b.

Advokasi kesehatan 1) Pengembangan kebijakan pelayanan kesehatan melalui pertemuan dengan para pengambil keputusan. balita dan bumil. yaitu pada pasal 36 ayat (2) UU Otsus yang menyebutkan bahwa sekurang-kurangnya 15% untuk kesehatan dan perbaikan gizi. Kinerja di Tingkat Provinsi Dari segi alokasi anggaran. Program Perbaikan Gizi Masyarakat dilaksanakan melalui upaya pembinaan gizi masyarakat dan penanggulangan gizi buruk dengan tujuan: meningkatkan pelayanan dan pencegahan masalah gizi untuk mencapai keadaan gizi yang baik dengan menurunkan prevalensi gizi kurang. 4. bawah lima tahun (balita) dan ibu hamil (bumil). Targetnya adalah penurunan prevalensi ketidakseimbangan antara kebutuhan dan cakupan energi dan protein sehingga tercapai peningkatan status gizi masyarakat. e. Pemantauan status gizi bayi. bumil dan bufas. c. anak dan bufas. d. 1) Penyebarluasan informasi melalui media masa. Pemantapan sistim kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG). Kegiatan Program Perbaikan Gizi Masyarakat meliputi : a. Lomba Balita Sejahtera Indonesia (LBSI).1. g. Penangggulangan anemia WUS. b. maka implementasi kebijakan kesehatan dalam kerangka Otsus telah 76 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . 3) Pelatihan/Orientasi (capacity building). 6. 2) Pengembangan penyelenggaraan penyuluhan.3. Penyuluhan gizi masyarakat. Pembinaan suasana 1) Pengembangan potensi swadaya masyarakat. Kinerja Kebijakan 4. c. Revitalisasi Posyandu.b. Pemberian vitamin A pada bayi. meningkatkan intelektualitas dan produktifitas sumber daya manusia melalui dukungan gizi dan meningkatkan penganekaragaman konsumsi pangan bermutu untuk memantapkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga.3. h. meningkatkan kemandirian keluarga dalam upaya perbaikan status gizi guna mencapai hidup sehat. f. Penangggulangan gizi buruk pada bayi. 2) Penyuluhan langsung.

Kinerja di Tingkat Kabupaten/Kota Kabupaten Sorong Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. 8. khususnya 10 besar angka kesakitan. sedangkan Puskesmas rawat ginap dari tahun 2001 hingga tahun 2006 terjadi KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 77 .9% dari dana otsus. Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular. tahun 2004 sebesar 14. bahkan untuk Kabupaten Kerom terlambat hingga pada kuartal akhir setiap tahun. Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. Turunnya angka kesakitan masyarakat. Kabupaten Sorong mempunyai dua rumah sakit yaitu rumah sakit Pertamina dan rumah sakit umum. 6. Turunnya angka kematian ibu dan anak.7%. karena masih terdapat kendala keterlambatan penyaluran dana. Jumlah Puskesmas di Kabupaten Sorong sebelum dan diera otsus tidak bertambah. 4.2. Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata di seluruh puskesmas. yang masih perlu untuk ditingkatkan. Dari segi penyaluran. Tantangan bagi provinsi adalah koordinasi pembangunan kesehatan antar kabupaten/kota.3. tahun 2003 sebesar 18. Untuk tingkat ketercapaian. kinerja pembangunan kesehatan masih perlu diperbaiki.24% per tahun. Peningkatan sarana puskesmas keliling. tahun 2005 sebesar 28. di mana pada tahun 2002 dana yang dialokasikan untuk pembangunan kesehatan mencapai 15.5%. atau sebesar 22. yang sekaligus merupakan indikator kinerja pembangunan kesehatan.mencapai kinerja yang baik. 7.7%. dan tahun 33. Sejak tahun 2005 pemerintah telah membangun rumah sakit rujukan yang saat ini masih dalam tahap penyelesaian. 5. Terbinanya manajemen puskesmas dan puskemas tunggu serta puskemas keliling. 2. Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat.6%. yaitu: 1. akan dievaluasi di tingkat kabupatren/kota dengan ukuran sasaran pembangunan kesehatan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi. 3. 4. Dengan selesainya rumah sakit rujukan diharapkan masyarakat memperoleh pelayanan lebih baik.

Kesadaran kesehatan. bidan 135. bidan di Kabupaten Sorong termasuk baik. dan dapat diturunkan menjadi 24. Kabupaten Sorong telah berhasil mencapai taget dalam jumlah. Data tahun 2005 dan 2006 tidak didapatkan. menyebabkan animo masyarakat berobat secara medis cenderung meningkat. Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular dan Menurunnya angka kesakitan masyarakat. Pada tahun 2006. Jika dibandingkan dengan ratio penduduk dan dokter.916 jiwa. Dari target terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata. Jika mempergunakan data 2003-2004. dan menurunnya angka kesakitan masyarakat. namun masih perlu peningkatan dalam kemerataan tenaga medis. termasuk di antaranya kesehatan ibu dan anak. kemudian ISPA.052 imunisasi yang terdiri dari imunisasi BCG. perawat 392. Pustu cenderung menurun secara drastis demikian halnya dengan polindes dan posyandu sedangkan pusling bertambah 2 unit. Kesehatan Ibu dan Anak. non perawat 110 serta apoteker 5. Penyakit malaria merupakan penyakit dominan di Kabupaten Sorong. DPT. dari target upaya penurunan persebaran penyakit infeksi dan menular. dan Angka Kesakitan. perawat. Hasil dari kebijakan ini adalah meningkatnya kesehatan publik secara relatif. 78 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Namun kebijakan ini masih perlu untuk ditingkatkan di tingkat pelaksanaannya. polio. Kabupaten Sorong telah berhasil mencapai kemajuan yang penting. maka cenderung meningkat setiap tahun. Pada tahun 2003 total penderita jenis penyakit menular sebesar 24. telah terjadi pencapaian sebagaimana dihrapkan.486 pada tahun 2004. Kabupaten Sorong mempunyai dokter spesialis sebanyak 15. penyakit kulit. dokter umum 35.peningkatan. dan BUMIL. dan merupakan penyakit endemik di Papua. serta penyakit telinga dan frambosia. Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata. Jika dilihat dari perkembangan tenaga kesehatan. antara tahun 2001-2005 Pemerintah telah melakukan 41.dokter gigi 5. TT. kecacingan. Dari target tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. campak. Kebijakan pemerintah Kabupaten Sorong adalah memberikan keringanan biaya serendah-rendahnya kepada masyarakat. karena masih ditemukan laporan yang menyebutkan adanya oknum petugas medis dan pengurus Askeskin yang memungut biaya secara tidak sah dari masyarakat. scabies. maka untuk tenaga dokter. Untuk mencegah adanya penyakit infeksi dan menular untuk anak-anak.

093 (2003). selain itu terdapat 36 unit Balai Pengobatan. Puskesmas keliling untuk menunjang efektifitas pelayanan di daerah yang tingkat kesulitannya tinggi yaitu dengan menggunakan kendaraan roda empat dan perahu motor. penyakit kulit/kelamin. Dokter spesialis sebelum Otonomi Khusus yang bertugas di rumah sakit 5 orang meliputi spesialis Bedah.202 (2006). Sarana pelayanan kesehatan dasar di Kabupaten Nabire menunjukkan adanya peningkatan secara bertahap. Dari data penyakit terbesar diderita adalah ISPA. Penyakit terbesar yang diderita adalah malaria.448 jiwa (2002). spesialis patologi klinik. Pada tahun 2001-2006 terjadi peningkatan penanganan penduduk yang terkena penyakit infeksi dan menular.645 (2004). meningkat menjadi 55. Rumah sakit yang terdapat di Kabupaten Nabire sampai tahun 2006 atau selama 5 tahun Otonomi Khusus berjalan. menurun menjadi 53. kecacingan.666 (2005). meningkat menjadi 75. serta penyakit telinga dan frambosia dapat dilihat bahwa tingkat kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat masih belum tinggi. dan semua distrik telah mempunyai Puskesmas bahkan terdapat distrik yang mempunyai 3 sampai 6 Puskesmas. penyakit kulit. Puskesmas hingga tahun 2006 berjumlah 25 unit. hal ini disebabkan ada yang telah dimutasi ke daerah lain sehingga saat ini rumah sakit di kabupaten Nabire baru mempunyai 5 dokter spesialis. 4 diantaranya telah dikembangkan menjadi Puskesmas Perawatan atau Puskesmas Rawat nginap. Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. dan 1 rumah sakit ABRI . terdapat 1 rumah sakit umum dengan kapasitas 79 tempat tidur. Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata di seluruh puskesmas dan Peningkatan sarana puskesmas keliling. menurun menjadi 36. Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular dan Menurunnya angka kesakitan masyarakat. spesialis penyakit dalam. maupun darat.166 jiwa. dan HIV. spesialis kebidanan. diare/kolera. meningkat kembali menjadi 109. 21 roda 4 dan 51 roda dua.Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. didukung oleh 1 pearahu. setelah era Otonomi Khusus dokter spesialis cenderung tetap. Dokter umum yang bertugas baik di rumah sakit maupun di Puskesmas sampai tahun 2006 berjumlah 18 dokter. Dalam meningkatkan pelayanan di kampung-kampung baik antara pulau. juga terjadi penurunan tenaga dokter KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 79 . dan spesialis radiology. Total penderita yang dilayani pada tahun 2001 tercatat 5. scabies. Kabupaten Nabire.

RSUD Jayapura. pasien yang mendapat rujukan umumnya dirujuk ke rumah sakit Kota Jayapura yaitu Abepura. dan campak. terdapat program pemberian makanan makanan tambahan. Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. umumnya di dinas kesehatan dan Pusat pelayanan kesehatan di kota dan daerah pinggiran kota. karena terkait dengan akan dipindahkannya pusat pemerintahan dari Arso Kota ke Waris. Kabupaten Kerom Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. dua diantaranya terdapat di Distrik Arso sedangkan distrik yang lain masing-masing 80 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Dari data penyakit terbesar diderita adalah malaria. Hingga saat ini pemerintah Kerom belum menentukan lokasi pembangunan rumah sakit. Peningkatan sarana puskesmas keliling. dan HIV dapat dilihat bahwa tingkat kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat masih belum tinggi. sedangkan yang lainnya cenderung meningkat. Sedangkan tenaga perawat dan bidan serta Apoteker dari tahun 2001 sampai tahun 2005 hampir tidak mengalami perubahan. diare/kolera. Adanya penurunan tenaga dokter umum dan gigi disebabkan oleh adanya bencana alam yang melanda Nabire dengan berbagai issue sehingga sebagian dari pegawai banyak yang berpindah tugas ke tempat lain. namun ada juga yang mengalami kenaikan. Hingga tahun 2007 Kabupaten Kerom belum mempunyai Rumah Sakit. serta Rumah sakit ABRI. beberapa yang mengalami penurunan antara lain BCG. Untuk kesehatan anak-anak. penyakit kulit/kelamin. Dian harapan. Cakupan Imunisasi dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 belum maksimal bahkan ada yang mengalami penurunan. Kesehatan ibu hamil masih tertinggal. sebagai konsekwensi tidak adanya bidan yang bertugas di tingkat kampung. DPT-1. namun tidak ada lagi setelah Otsus. dan Terbinanya manajemen puskesmas dan puskemas tunggu serta puskemas keliling. Sebelum Otsus juga terdapat dana untuk Posyandu. dan tidak disebutkan dari dana Otsus. Akibatnya.umum dan gigi jika dibandingkan dengan tenaga dokter yang bertugas pada tahun 2001 dan 2002. Sarana pelayanan kesehatan dasar di kabupaten Kerom hingga tahun 2006 adalah terdapat 6 puskesmas. Yang menjadi kendala adalah tenaga kesehatan tidak terdistribusi secara merata. banyak posyandu yang tidak berfungsi lagi. yang disebabkan karena masih masih banyak ibu hamil yang ditangani oleh dukun. namun program ini dibiayai oleh bantuan provinsi. Menurunkan angka kematian ibu dan anak.

Menurunkan angka kematian ibu dan anak. sedangkan daerah yang sulit cakupan imunisasinya dilaporkan masih rendah. khususnya kaum Ibu-ibu. TT anak. Pada tahun 2005 dilakukan 10. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 81 . malaria. Pasien yang perlu mendapat pelayanan rawat nginap. serta daerah pinggiran kota yang mudah terjangkau. Puskesmas pembantu 30 unit. dan AKI cenderung mengalami penurunan. AKABA. Pusling 6 M. Cakupan imunisasi umumnya masih terpusat di ibu kota kabupaten. Pada tahun 2004-2006 terjadi peningkatan penanganan penduduk yang terkena penyakit infeksi dan menular. Diare. Berdasarkan laporan Puskesmas di kabupaten Kerom sepuluh besar penyakit adalah. hal ini terutama disebabkan kondisi geografis yang sulit untuk melakukan pelayanan secara maksimal. Tahun 2005 terdapat 8 dokter umum dan 2 dokter gigi. dan TT BUMIL. Apotik 1 dan toko obat swasta 1. Pada tahun 2004 dilakukan 7. Pada tahun 2004 terdapat 7 dokter umum dan 2 dokter gigi. campak dan TB. 14 SPM. posyandu 65. untuk tenaga dokter cenderung meningkat.224 imunisasi untuk jenis BCG. Paru sebagai penyebab utama kesakitan. Pada tahun 2006 jumlah imunisasi dilaporkan hanya 4. penyakit kulit. untuk memeriksakan kesehatannya ke Puskesmas. Meskipun jumlah dokter dan perawat setiap tahun cenderung meningkat. Situasi tenaga kesehatan di Kabupaten Kerom dari tahun 2004 sampai tahun 2006. serta kesadaran masyarakat. Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular dan Menurunnya angka kesakitan masyarakat. campak. 3 dokter gigi. Masyarakat yang umumnya terinfeksi penyakit tersebut di atas adalah masyarakat lokal atau orang asli Papua.085.015 imunisasi untuk jenis yang sama. polio. ISPA. Adanya kecenderungan ini menunjukkan bahwa di erah Otonomi Khusus terjadi peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. akan tetapi belum dapat memenuhi jumlah tenaga yang ada di setiap Puskesmas atau pendistribusian tenaga belum merata secara baik. Tahun 2006 terdapat 15 dokter umum. Total penderita yang dilayani pada tahun 2004 tercatat 68250 jiwa. Berdasarkan trend perkembangan derajat kesehatan menunjukkan kelahiran hidup.dilayani oleh satu Puskesmas. rumah bersalin 1. DT. Selain itu kemampuan laboratorium di Puskesmas semakin baik dan memberikan kepuasan pelayanan kepada masyarakat. meningkat menjadi 70910 (2006). DPT. perawatannya di lakukan di Puskesmas Arso Kota dan Arso 5. meningkat menjadi 70170 jiwa (2005). AKB. polindes 9. dan 3 dokter spesialis/ahli. Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata di seluruh puskesmas.

Pada tahun 2006 dilaporkan terdapat 47. Penyakit Kulit. Minimnya sarana dan Prasarana kesehatan di Kabupaten Pegunungan Bintang disebabkan oleh rentang geografis yang sangat sulit serta kurang sumberdaya manusia dalam merencanakan pembangunan kesehatan. Paru sebagai penyebab utama kesakitan dapat dilihat bahwa tingkat kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat masih belum tinggi. penyakit kulit. Dari data penyakit terbesar diderita adalah malaria. dapat dikatakan bahwa tingkat kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat masih belum tinggi. untuk Puskesmas lainnya belum mempunyai dokter. sebagian besar bertugas di Oksibil. Penyakit lain adalah cacingan dan TB. terdapat 1 rumah sakit umum dengan kapasitas 142 82 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis. serta Rumah sakit ABRI. Dian harapan.Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. Kabupaten Pegunungan Bintang telah mempunyai Puskesmas di setiap distrik dan Puskesmas pembantu. Tenaga perawat sebanyak 124 orang. Kabupaten Merauke Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. ISPA. sedangkan dokter PTT2 orang ditempatkan di Kwirok dan Iwur. RSUD Jayapura. campak dan TB. Peningkatan sarana puskesmas keliling dan Terbinanya manajemen puskesmas dan puskemas tunggu serta puskemas keliling. ISPA.Paru. sedangkan sarana kesehatan yang lainnya belum tersedia. pasien yang mendapat rujukan umumnya dirujuk ke rumah sakit Kota Jayapura yaitu Abepura. dan Diare/Kolera. Hingga tahun 2007 Kabupaten Pegunungan Bintang belum mempunyai Rumah Sakit. Diare. Tenaga kesehatan yang bertugas di Kabupaten Pegunungan Bintang meliputi tenaga dokter sebanyak 7 orang.627 kasus penyakit menular. yang didominasi oleh penyakit Malaria. Kabupaten Pegunungan Bintang Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. Dari data penyakit terbesar diderita tersebut. Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular dan Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. Rumah sakit yang terdapat di Kabupaten Merauke sampai tahun 2006 atau selama 5 tahun Otonomi Khusus berjalan. 3 diantaranya dokter tetap dan semuanya bertugas di Oksibil. namun belum tersedia Puskesmas rawat inap.

2 RS swasta. Pada tahun 2005 RSUD Merauke dengan klasifikasi tipe C telah memiliki 5 dokter spesialis dasar (2 dokter spesialis bedah) dan 1 spesialis THT. dengan demikian terdapat penambahan tempat tidur sebanyak 32 di era Otonomi khusus. terdapat 27 dokter umum.212 penderita. Penyebab utama kesakitan masih didominasi penyakit malaria. 4 dokter gigi.tempat tidur. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa kesadaran kesehatan lingkungan masyarakat sudah cukup tinggi dibanding kabupaten lain.605 imunisasi untuk jenis BCG. RSUD Merauke merupakan rumah sakit satu-satunya di Kabupaten Merauke. DT. Ibu bersalin yang mendapatkan pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan pada tahun 2005 sebesar 60. Pada tahun 2002 tercatat 241. dan 95 perawat. 34 dokter ahli/spesialis. polio. 198 bidan. 6 dokter gigi. dan Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. kemudian diikuti oleh penyakit lainnya.472 dan 360.314 penderita. Pada tahun 2003 tercatat 200. Pada tahun 2002 dilakukan 376. 11 Puskesmas (9 puskesmas rawat inap).1%. Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis. campak. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 83 . bedah. Pada tahun 2003 tercatat 356. dan TT BUMIL. 6 dokter ahli/spesialis. Pada tahun 2003 tercatat 265. DPT.935 penderita. dan 6 apoteker.558 penderita. Persalinan oleh tenaga kesehatan adalah persalinan yang ditolong oleh dokter spesialis kebidanan atau dokter umum atau pembantu bidan atau perawat bidan. 92 Pustu dan 12 Polindes. Hampir seluruh persediaan obat (90%) untuk pelayanan kesehatan dasar maupun mendukung pelayanan kesehatan rujukan merupakan obat generik berlogo (OGB). Pada tahun 2002 terdapat 35 dokter umum. Pelayanan Kesehatan Spesialis Dasar di RS adalah pelayanan kandungan dan kebidanan. Pada tahun 2006. 190 perawat. TB Paru. penyakit dalam serta anak. Menurunkan angka kematian ibu dan anak. Menurunkan angka kesakitan masyarakat. dan frambosia.8% (pada tahun 2004) menjadi 100% (pada tahun 2005). penyakit kulit. 6 Balai Pengobatan (4 milik TNI/POLRI). Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular. Pada tahun 2004 dan 2005 dilakukan 386. Pada tahun 2003 dilakukan 388421imunisasi untuk jenis yang sama. Sarana kesehatan tahun 2005 terdiri atas : 1 Rumah Sakit Daerah.806 imunisasi. Cakupan imunisasi di kabupaten Merauke sejak tahun 2002 sampai tahun 2005 cenderung mengalami peningkatan. Rumah sakit tersebut telah dibangun sejak Otonomi khusus dengan kapasitas 110 tempat tidur. Sarana kesehatan dengan kemampuan laboratorium meningkatan dari 77.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah mengetahui tempat yang ditujukan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. terdapat kesenjangan > 20%. kuratif dan rehabilitatif ). preventif. Persentase penduduk yang memanfaatkan puskesmas mengalami peningkatan dari 94.43% (tahun 2004) menjadi 98% (tahun 2005). Peningkatan sarana puskesmas keliling dan Terbinanya manajemen puskesmas dan puskemas tunggu serta puskemas keliling. 84 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . hal ini berarti masih ada desa/kelurahan yang belum mencapai UCI. baik milik pemerintah maupun swasta. Penduduk yang memanfaatkan puskesmas adalah penduduk yang datang berkunjung ke puskesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang diberikan di puskesmas (promotif. yaitu 43.3%).22%. preventif.7%). Jika dibandingkan dengan target yang diharapkan > 80%. maka diharapkan semua masyarakat dapat terlayani dengan baik. walaupun jika dibandingkan dengan target yang ditentukan (90%) masih agak jauh kesenjangannya (22. Penduduk yang memanfaatkan rumah sakit adalah penduduk yang datang berkunjung ke rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang diberikan rumah sakit (promotif. kuratif dan rehabilitatif ). dan dapat berarti tenaga kesehatan di puskesmas telah melaksanakan pelayanan yang baik kepada masyarakat.6% dari 43. HB 3 kali. lain halnya dengan Polindes yang cenderung menurun atau berkurang. Kecilnya peningkatan pemanfaatan RS disebabkan sistem pencatatan dan pelaporan RS yang belum optimal. DPT 3 kali. Hal ini berarti masih banyak bumil yang menjalani persalinan di luar tenaga kesehatan seperti dukun atau keluarga sendiri dengan resiko persalinan yang besar. Persentase penduduk yang memanfaatkan Rumah Sakit pada tahun 2005 hanya sedikit mengalami peningkatan. Demikian juga kemampuan bidan desa untuk melaksanakan pelayanan ke daerah terpencil masih sangat terbatas.sedikit menurun dibanding tahun 2004 (67. Kabupaten Merauke hingga tahun 2007 telah memiliki 10 Puskesmas dan semuanya telah dikembangkan menjadi Puskesmas rawat inap. Polio 4 kali dan campak 1 kali) pada bayi > 80%. Hal ini dapat terjadi karena beberapa daerah yang sebelumnya masuk wilayah pemerintahan Kabupaten Merauke telah dimekarkan sehingga masuk ke kabupaten lain atau kabupaten pemekaran. demikian pustu cenderung bertambah dengan bertambahnya jumlah Pustu. Persentase desa Universal Child Imunization (UCI): 60 % Desa mencapai UCI adalah desa/kelurahan dengan cakupan imunisasi dasar lengkap (BCG 1 kali.

Menurunnya angka kematian ibu dan anak. Kendala ketiga yang terpengaruh atas dua kendala tersebut adalah ketersediaan sarana kesehatan. Kendala ke empat adalah secara kesadaran kesehatan dan lingkungan masyarakat Papua masih rendah. Kabupaten Merauke merupakan kabupaten yang paling maju pembangunan kesehatannya. Tantangannya adalah mengembangkan transparansi implementasi kebijakan otsus kesehatan. ditengarai terdapat kasus-kasus korupsi dalam pelayanan kesehatan. sehingga mengganggu kelancaran pembangunan kesehatan yang telah diprogramkan. khususnya 10 besar angka kesakitan. yang terdiri dari 8 indikator yaitu: Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. Menurunnya angka kesakitan masyarakat. dan sistem administrasi kesehatan yang memadai. Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata di seluruh puskesmas. Kendala utama implementasi adalah kondisi geografis yang sangat berat membuat pemberian pelayanan kesehatan menjadi amat mahal. dan Terbinanya manajemen puskesmas dan puskemas tunggu serta puskemas keliling.4. tenaga medis. Implementasi kebijakan pembangunan kesehatan di bawah Otsus dilaksanakan dengan fokus kepada target kinerja tersebut di bawah bimbingan provinsi. Kelima. dari kabupaten yang diteliti. terutama dalam pengadaan obat-obatan. Simpulan Kebijakan Otsus telah mempunyai turunan dalam bentuk kebijakan pembangunan kesehatan dengan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan dengan baik. Kendala-kendala implementasi tersebut menyebabkan kinerja pembangunan kesehatan di era otsus masih perlu ditingkatkan. Sementara itu. Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. Peningkatan sarana puskesmas keliling. Kendala kedua adalah penyaluran dana otsus yang terlambat. Dilaporkan bahwa pengelolaan dana otsus masih lebih besar di provinsi daripada kabupaten/kota dengan komposisi 40% Provinsi dan 60% Kabupaten/Kota.4. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 85 . Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular.

86 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .

dan menuju masyarakat demokrasi yang bersifat pluralistik. meskipun tetap mengandung unsur rekayasa sebagaimana halnya institusi politik3. Secara sederhana. 2000.Bagian Kelima MASYARAKAT SIPIL1 5. 3 Ibid. hh. Pemahaman paling populer tentang masyarakat sipil adalah pemahaman yang dikembangkan pemikir Marxis Antonio Gramsci yang menyebutkan bahwa masyarakat sipil sebagai bagian dari negara yang terlepas dari pemaksaan atau aturan formal. konsep “masyarakat sipil” 1 Bagian ini mengambil materi dari Laporan Evaluasi Otonomi Khusus Papua Bidang Masyarakat Sipil. Civil Society.113-115. Jakarta: Kemitraan untuk Tata Kelola yang Baik. 2008. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. Konsep masyarakat sipil menjadi populer sejak terjadi proses kejatuhan negara-negara komunis.2 Hegel mendefinisikan masyarakat sipil sebagai agen penyangga sekaligus jembatan penghubung antara rakyat dengan negara. 2 Khrisnan Kumar. di mana pemahaman “masyarakat sipil” sebagai sebuah proses di mana masyarakat membangun partisipasi yang lepas dari kekangan politik otoritarian. Muatan Kebijakan Istilah “masyarakat sipil” diperkirakan berasal dari istilah Romawi kuno societas civilis atau istilah Yunani koinonia politike yang pada dasarnya bermakna “arena bagi warganegara yang aktif secara politik”. Jakarta: Rajawali Press.1. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 87 . dalam Adam Kuper dan Jessica Kuper.

dan pengadilan. Pada pasal 5 ayat (2) disebutkan dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Khusus di Provinsi Papua dibentuk Majelis Rakyat Papua yang merupakan representasi kultural orang asli Papua yang memiliki kewenangan tertentu dalam rangka perlindungan hak-hak orang asli Papua. Komunitas ini berada di luar Negara . Pada pasal 5 ayat (7) disebutkan bahwa di Kampung dibentuk Badan Musyawarah Kampung dan Pemerintah Kampung atau dapat disebut dengan nama lain. pada pasal 10 disebutkan bahwa DPRP mempunyai kewajiban membina demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. dan sejenisnya. Di antaranya adalah lembaga keagamaan. Dalam bentuk yang umum. angkatan bersenjata. Di tingkat legislatif. sebagaimana pemahaman Gramsci. masyarakat sipil didefinisikan sebagai sebuah entitas yang sadar politik dan memiliki peran tertentu dalam mendorong proses perubahan di Papua. yaitu “Majelis Rakyat Papua” sebagai representasi kultural masyarakat Papua. menerima keluhan dan 88 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . (2) Komunitas Agama. dengan berlandaskan pada penghormatan terhadap adat dan budaya. dan pemantapan kerukunan hidup beragama. polisi. Pemahaman “masyarakat sipil” di Papua berkaitan dengan dengan pemahaman umum di atas. sekolah. baik lembaga maupun individu yang mewakili (1) Komunitas Adat.Birokrasi politik. pemberdayaan perempuan. Meskipun demikian terdapat beberapa pasal yang dapat dikaitkan dengan upaya membangun masyarakat sipil. Dalam konteks UU Otsus Papua. serikat pekerja. dan (3) Komunitas Perempuan. meningkatkan kesejahteraan rakyat di daerah berdasarkan demokrasi ekonomi. Pada evaluasi. Karena itu definisi masyarakat sipil yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kelompok masyarakat. dan memperhatikan dan menyalurkan aspirasi. secara langsung atau tidak langsung. bentuk kelembagaan masyarakat sipil adalah organisasi-organisasi bukan negara yang bergerak di ranah politik atau berkenaan dengan politik. ketiga komunitas ini merupakan komunitas kultural yang terwakili dalam Majelis Rakyat Papua (MRP). UU Otsus tidak secara spesifik menyebutkan hal tentang “masyarakat sipil”. Pasal 5 tentang bentuk dan susunan pemerintahan menyebutkan pengakuan terhadap lembaga masyarakat nonnegara dalam proses politik. yaitu semacam kelembagaan di tingkat rakyat yang bersifat bukan negara yang mempunyai peran untuk membangun demokrasi yang pluralis di Papua. lembaga swadaya masyarakat.hadir sebagai sebuah alternatif untuk melawan kekuasaan yang otoriter.

perusahaan dan lain sebagainya. bisnis.pengaduan masyarakat. memberdayakan dan mengembangkan hak-hak masyarakat adat dengan berpedoman pada ketentuan peraturan hukum yang berlaku. Di tingkat eksekutif. sebagaimana tabel sebagai berikut: Tabel 5. terdapat tiga tujuan.1 Peta Sikap Lembaga Masyarakat Sipil Terhadap Otsus No 1 Nama Lembaga Forum Kerjasama LSM (Foker LSM) Yayasan Pengembangan Masyarakat Desa (YPMD) Solidaritas Perempuan Papua (SPP) Bidang Kegiatan Kajian Kebijakan Sikap Terhadap Otsus Berpartisipasi aktif dalam memberikan kritik. (3) Menilai perkembangan dan aktivitas jaringan kerja antara masyarakat sipil dengan negara. Implementasi Kebijakan Berkenaan dengan implementasi kebijakan berkenaan dengan pengembangan masyarakat sipil di bawah Otsus.2. 21 Tahun 2001 khususnya. Salah satu pasal yang relatif berkaitan adalah pasal 43 yang menyebutkan bahwa Pemerintah Provinsi Papua wajib mengakui. Implementasi kebijakan Otsus di Papua berkenaan dengan peta sikap dari lembaga-lembaga masyarakat sipil terhadap Otsus. yang berkaitan dengan masyarakat sipil (2) Menilai kapasitas masyarakat sipil dalam menindaklanjuti kebijakan otonomi khusus dalam arena mereka masing-masing. menghormati. yaitu (1) Mengevaluasi dari segi konsep dan Implementasi UU No. dan bahwa Pemerintah Provinsi. 5. serta memfasilitasi tindak lanjut penyelesaiannya. Kabupaten/ Kota memberikan mediasi aktif dalam usaha penyelesaian sengketa tanah ulayat dan bekas hak perorangan secara adil dan bijaksana. saran dan masukan terhadap pelaksanaan Otsus Moderat Moderat tetapi tidak pernah merasa dilibatkan pemerintah dalam kegiatan pemberdayaan perempuan 2 Ekonomi kerakyatan 3 Lembaga perempuan KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 89 . tidak disebutkan secara spesifik tugas Gubernur dan Bupati/ Walikota berkenaan dengan pengembangan masyarakat sipil. melindungi. sehingga dapat dicapai kesepakatan yang memuaskan para pihak yang bersangkutan.

4 5 6 7 8 Aliansi Demokrasi untuk Papua (AlDP) Presidium Dewan Papua (PDP) Dewan Adat Papua (DAP) FP3 PPMA Kajian Kebijakan dan Advokasi Organ Politik Lembaga Adat Kajian Kebijakan Pemberdayaan masyarakat Adat Kajian Kebijakan Pers Pers Pasif tetapi tidak menarik diri secara menyeluruh terhadap isu Otsus Pasif dan skeptis terhadap pelaksanaan Otsus Menganggap Otsus sebenarnya telah dikembalikan oleh rakyat Papua. Pasif karena organisasi tersebut tidak lagi aktif 9 10 11 ICS Jujur Bicara (Jubi) Aliansi Jurnalis Independen Papua (AJI) LP3AP Moderat dengan masukan untuk perbaikan terutama dalam hal aturan tatalaksana Pers Pers Sedikit skeptis karena merasa tidak pernah terlibat dalam tataran pelaksanaan kebijakan Pelaksanaan Otsus telah banyak melenceng dari idealismenya Menarik diri dari isu Otsus tetapi tetap berusaha melakukan pemberdayaan masyarakat Otsus perlu dilanjutkan tetapi perlu koreksi terhadap pelaksaan Otsus serta revisi UU Otsus Pasif 12 Lembaga Perempuan 13 Keuskupan Jayapura Lembaga agama 14 Klasis Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jayapura Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Jayapura Persatuan Mahasiwa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Jayapura Lembaga agama Organisasi Kemahasiswaan Organisasi Kemahasiswaan 15 16 Pasif 90 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .

1 Peta Lembaga Masyarakat Sipil Beberapa bentuk jaringan kerjasama yang muncul di tengah kelompok masyarakat sipil Papua di Jayapura antara lain : KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 91 . dengan mengeluarkan lembaga yang tidak mempunyai posisi yang tegas terhadap Otsus. dapat dibuat pemetaan lembaga masyarakat sipil sebagai berikut. Gambar 5.17 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jayapura Organisasi Kemahasiswaan Pasif Dengan mempergunakan data di atas.

92 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . seharusnya ke depan bisa dirancang sebuah sinergi positif setiap elemen masyarakat sipil di Papua khususnya kota dan kabupaten Jayapura untuk mengoptimalisasi peran mereka di tengah masyarakat. Pendekatan yang komprehensif ini kelak menghasilkan kritisi. 4. 2. Tetapi realitasnya ajang ini juga mempertemukan seluruh komponen jaringan masyarakat sipil Papua terutama simpul-simpul adat dan jaringan organisasi yang bergerak di bidang politik dan kebijakan. Pertemuan ini juga menghasilkan rekomendasi kebijakan politik. bekerjasama dengan Aliansi Demokrasi untuk Papua (AlDP) untuk advokasi dan juga bekerjasama dengan Yayasan Pengembangan Masyarakat Desa (YPMD) untuk pengembangan ekonomi masyarakat pedalaman. kongres DAP juga berdimensi luas. Dengan melihat peran lembaga dan jaringan antara masyarakat sipil. Keuskupan misalnya yang melakukan program pendampingan masyarakat pedalaman. Normatifnya acara ini hanya ajang untuk pergantian kepemimpinan dan perumusan kebijakan baru DAP. Kerjasama Dalam Kegiatan Dalam kegiatan pendampingan masyarakat banyak lembaga non pemerintah yang melakukan sinergi untuk mengisi bidang kegiatan pendampingan. Forum ini menampung sekitar 64 LSM di seluruh Papua yang bergerak dalam berbagi bidang. Akan tetapi dampak jangka panjangnya muncul dari rekomendasi politik dari hasil kongres. maka dimungkinkan kajian komperehensif menyangkut banyak isu yang terjadi di Papua. kegiatan pemberdayaan seperti ini stagnan. Sidang Dewan Adat Papua Hampir sama dengan Kongres Rakyat Papua. 3. Kongres Rakyat Papua Ajang Kongres Rakyat Papua II pada tahun 200 terbukti telah menjadi forum besar berbagai elemen masyarakat sipil Papua. Dengan kerjasama strategis seperti ini. Forum Kerjasama LSM Foker adalah bentuk kerjasama kelompok masyarakat sipil yang terlembagakan sejak tahun 1991. Salah satu hasil konkret dari keberadaan Foker LSM adalah draft Otoritas Khusus yang menjadi inisiatif awal dari UU Otsus Papua. ajang kongres hanya bersifat tentatif. Berbeda dengan Foker yang bersifat strategis dan jangka panjang. saran dan masukan kepada setiap pemangku kebijakan di Papua.1. Kegiatan seperti ini berjalan dengan baik selama era sebelum Otsus tetapi pada saat Otsus datang dan masyarakat memusatkan perhatiannya pada dana Otsus.

5. Secara umum sebagian besar masyarakat di kota dan kabupaten Jayapura mengetahui tentang Otonomi khusus Papua. Otonomi khusus sendiri telah berlangsung hampir enam tahun sejak digulirkan pada akhir tahun 2001. Kinerja Kebijakan Kinerja di Tingkat Masyarakat. Otonomi khusus bertujuan untuk seluas-luasnya meningkatkan derajat hidup masyarakat Papua terutama dalam bidang pendidikan. Sehingga kemudian dapat dilihat sejauh mana interaksi antara masyarakat sipil dengan lembaga-lembaga non pemerintah selama otonomi khusus berlangsung. selama berlangsungnya Otonomi khusus ternyata masyarakat yang berinteraksi langsung dengan lembaga non pemerintah sangat sedikit. Untuk menilai kinerja kemajuan civil society di tingkat masyarakat dilakukan evaluasi berkenaan dengan persepsi publik pada tiga isu pokok. area penelitian yang mencakup wilayah kota dan kabupaten Jayapura yang merupakan wilayah yang berada di dalam dan dekat dengan ibukota provinsi Papua yang menjadi gerbang informasi untuk seluruh provinsi. Kedua. Pengenalan Otsus. dan (3) penilaian publik tentang Otsus. Pertama. Besarnya persentase masyarakat yang mengetahui tentang Otonomi khusus terjadi karena beberapa hal.3. ekonomi kerakyatan dan infrastruktur. (2) interaksi dengan lembaga masyarakat sipil. Atau bagaimana akses masyarakat dalam mengetahui otsus. Tetapi di sisi lain. kesehatan. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 93 . yaitu (1) Tingkat pengenalan Otsus.3. Hal pertama yang harus diketahui sebelum mengetahui dampak otonomi khusus Papua terhadap masyarakat sipil di kota dan kabupaten Jayapura adalah sejauh mana informasi Otsus menjangkau masyarakat. disebarkan 600 kuesioner pada 13 distrik dan 39 kampung/kelurahan di kota dan kabupaten Jayapura.1. Untuk itu.5. Itu sebabnya kata-kata Otsus tidak terlalu aneh di telinga masyarakat sipil di kota dan kabupaten Jayapura walaupun itu tidak serta merta menjamin pemahaman mendalam mereka mengenai Otsus.

disusul koran dan radio menempati urutan dua dan tiga. Ini sekaligus menguatkan data tentang tingginya intensitas masyarakat dalam menikmati sajian televisi.3 Sumber Informasi Otsus 94 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Gambar 5.2 Pengetahuan Masyarakat tentang Otsus Papua Televisi muncul sebagai sumber utama informasi Otsus. Koran dan radio jauh lebih baik dibanding Lembaga Swadaya Masyarakat dan Gereja yang langsung bersentuhan dengan masyarakat yang berada pada urutan paling belakang.Gambar 5.

disusul lembaga perempuan. kesehatan. secara lebih banyak menjadi wahana partisipasi masyarakat selama Otsus. Gambar 5. Interaksi dengan lembaga non pemerintah artinya sejauh mana keterlibatan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan lembaga non pemerintah selama pelaksanaan Otsus Papua dalam bidang pendidikan.62% responden yang menyatakan pernah berinteraksi dengan lembaga non pemerintah selama pelaksanaan Otsus Papua. lembaga perlindungan anak. Minimnya sumber informasi Otsus yang didapatkan masyarakat dari lembaga non pemerintah berbanding lurus dengan rendahnya interaksi mereka dengan lembaga non pemerintah. Ini dapat dipahami karena lembaga-lembaga ini yang lebih mengakar di tengah-tengah masyarakat Papua. Ini membuktikan perbandingan lurus antara sumber informasi dengan interaksi. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 95 . ekonomi kerakyatan dan infrastruktur. seperti lembaga internasional.Interaksi dengan Lembaga Masyarakat Sipil. Isu pertama yang diangkat adalah interaksi masyarakat dengan lembaga non pemerintah. dan kemudian lembaga adat. Hanya 12. Sedangkan lembaga lain. lembaga Muhammadiyah muncul belakangan. khususnya di kota dan kabupaten Jayapura.4 Interaksi Masyarakat dengan Lembaga Non Pemerintah Lembaga gereja.

Ukuran awal dari ada atau tidaknya program tersebut adalah dengan melihat perubahan kondisi masyarakat sebelum dan sesudah Otsus. Lebih dari 40 % responden memberikan jawaban pelatihan. Ditemukan bahwa 52% responden merasakan ada perubahan kondisi ekonomi rumah tangga ke arah kondisi lebih baik sejak diberlakukannya Otsus. Peningkatan kapasitas diri dalam bentuk pelatihan ternyata lebih dirasakan manfaatnya ketimbang misalnya penyuluhan. Pertanyaan ini bertujuan untuk menggali lebih jauh. Keterlibatan lembaga non pemerintah dalam pengembangan ekonomi kerakyatan selama Otsus dapat dilihat dari programprogram pendampingan dan pemberian modal atau kredit pada masyarakat.Isu ke dua berkenaan dengan Pelayanan Lembaga Non Pemerintah di Bidang Ekonomi Kerakyatan. sementara 41% responden merasakan tidak ada perubahan kondisi ekonomi rumah tangga ke arah kondisi lebih baik. dan 7% responden mengatakan tidak tahu. pemberian bibit dan supervisi. Gambar 5. Perbedaan antara masyarakat yang merasakan perubahan dengan yang tidak tidak terlalu besar. metode mana yang lebih efektif dalam pendampingan yang dilakukan lembaga non pemerintah terhadap rakyat di bidang ekonomi kerakyatan. Isu ke tiga adalah Bentuk layanan yang diberikan lembaga non pemerintah.5 Bentuk Layanan yang Diberikan Lembaga Non Pemerintah 96 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .

terutama setelah KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 97 . dipahami bahwa kehadiran lembaga non pemerintah di tengah masyarakat di samping untuk memberdayakan masyarakat secara swadaya juga menjadi fasilitator kepentingan dan kebutuhan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Ukuran tingkat kepuasan tidak mencakup keseluruhan persepsi terhadap penataan bidang ekonomi kerakyatan dalam Otsus tetapi hanya menyangkut pelayanan lembaga non pemerintah di bidang pengembangan ekonomi kerakyatan saja. berkenaan dengan tugas fasilitator.6 Tingkat Kepuasan Masyarakat terhadap Pelayanan Lembaga Non Pemerintah Isu kelima adalah berkenaan dengan Evaluasi Umum Terhadap Lembaga Non Pemerintah dalam (1) tugasnya sebagai fasilitator. Pertama.Isu ke empat adalah Tingkat Kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan oleh lembaga non pemerintah. Artinya pelayanan bidang perekonomian yang diberikan oleh lembaga non pemerintah selama pelaksanaan Otsus perlu lebih memperhatikan azas manfaat untuk rakyat banyak dan tidak sekedar melaksanakan program yang telah ditetapkan lembaga bersangkutan. dan (2) penilaian umum terhadap eksistensi lembaga non pemerintah. Hampir setengah responden menjawab cukup puas dengan layanan yang diberikan oleh lembaga non pemerintah. Tetapi yang perlu juga dilihat adalah tingkat ketidakpuasan dan kekurangpuasan yang juga cukup tinggi. Gambar 5. Di Papua khususnya kota dan kabupaten Jayapura.

Sebagian besar responden yaitu 85% masih percaya bahwa lembaga non pemerintah bisa menjadi fasilitator kearah kehidupan yang lebih baik.7 Penilaian Umum Masyrakat terhadap Eksistensi Lembaga Non Pemerintah 98 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . yaitu mereka yang pernah berinteraksi dengan lembaga non pemerintah. Banyak lembaga yang bertahan dan eksis di tengah masyarakat. begitu banyak bermunculan lembaga-lembaga non pemerintah yang bergerak dalam berbagai bidang dan isu.kehadiran Otsus. sebagian lain bergantung pada durasi proyek. Muaranya adalah mengenai eksistensi dari lembaga non pemerintah itu sendiri di kota dan kabupaten Jayapura. Kedua. Tetapi yang perlu diperhatikan dari hasil ini adalah bahwa angka itu didapatkan hanya dari sekitar 12% dari total 600 responden. tentu saja masyarakat umum terutama mereka yang pernah berinteraksi bisa memberikan penilaian yang sifanya menyeluruh. Gambar 5. penilaian umum terhadap eksistensi lembaga non pemerintah dengan melihat penilaian atas peran lembaga non pemerintah di Papua yang pasang surut dalam berbagai isu. Untuk itu perlu dilihat sejauh mana ekpektasi masyarakat terhadap kehadiran lembaga non pemerintah di kota dan kabupaten Jayapura. tetapi tidak sedikit pula yang bubar atau menghilang begitu saja.

apakah Bapak/Ibu merasakan ada perubahan suasana kehidupan ke arah yang lebih baik?” 54% responden menjawab tidak ada perubahan. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 99 . yaitu “Secara umum.63% responden menjawab tidak puas dan kurang puas. namun jawaban ini masih mengandung bias. Persepsi dari responden terhadap Otsus diambil dari pertanyaan yang bersifat umum. dan 16. Gambar 5.lembaga non pemerintah masih dibutuhkan.8 Perubahan Kehidupan Berkenaan dengan pelaksanaan Otsus. karena hanya ditanyakan kepada responden yang berhubungan dengan lembaga non pemerintah saja.Meskipun 96% responden menjawab kehadiran . 81. Persepsi publik terhadap Otsus Papua.3% cukup puas. setelah pelaksanaan Otsus Papua semenjak tahun 2002. sementara 2% menjawab puas. dan 17% menilai tambah buruk. 29% menilai ada perubahan lebih baik.

dilakukan wawancara mendalam terhadap tokoh-tokoh yang bergerak dalam berbagai isu dengan beragam latar belakang dengan menggunakan pedoman wawancara terstruktur.9 Penilaian terhadap Otsus. 5.2 Kinerja di Tingkat Lembaga Masyarakat Sipil. Mengapa Harus Ada Otonomi Khusus Papua. Masalah distribusi ekonomi yang tidak menyentuh penduduk asli Papua hanyalah salah satu pilar yang menumbuhkan aspirasi merdeka. Tuntutan itu sendiri muncul sebagai akumulasi dari berbagai ketidakpuasan yang terdiferensiasi dalam berbagai konteks historis.3. dan (4) Revisi Mengenai UU Otsus Papua. Untuk menilai perkembangan masyarakat sipil dalam konteks otonomi khusus. Artinya. Untuk itu. ada empat isu utama yang diangkat yaitu (1) Mengapa Harus Ada Otonomi Khusus Papua (2) Pelaksanaan Otsus (3) Peran Lembaga dan Hubungan Dengan Lembaga Lain dan Pemerintah. dalam hal ini tuntutan merdeka yang dikumandangkan sebagian kalangan masyarakat sipil di Papua. Beberapa tokoh malah memberikan pendapat lebih keras dengan 100 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Tokoh-tokoh organisasi massa masih mempermasalahkan masalah proses Penentuan Pendapat Rakyat tahun 1969 yang dinilai tidak partisipatif dan representatif. 1. Ini berdampak kemudian pada kebijakan represif orde baru dalam menghadapi apa yang disebut dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Sebagian besar dari aktor masyarakat sipil yang kami wawancarai berpendapat bahwa Otonomi Khusus Papua muncul sebagai reaksi terhadap aksi politik. mereka masih memandang bahwa penuntasan masalah Papua lebih kental unsur politis yang diikuti dengan pendekatan keamanan oleh TNI-Polri.Gambar 5.

menurut sebagian tokoh yang kami wawancara. Yang kentara terlihat malah keinginan Jakarta untuk memastikan bahwa Papua masih berada dalam lingkup NKRI. Aktor-Aktor Yang Memainkan Peranan Penting. munculnya inisiatif ini berasal dari kalangan akademisi. Mereka menangkap kesan tidak serius pemerintah pusat dalam menciptakan rasa aman dan kesejahteraan di Papua dengan kebijakan Otsus ini. Setelah UU No. Pada awalnya mereka berencana membawa aspirasi merdeka ke Jakarta tetapi kemudian diambil jalan tengah dengan inisiatif tawaran Otonomi Khusus untuk Papua. Pergeseran lebih jauh adalah semakin minimnya peran lembaga non pemerintah dalam era Otsus. bahwa disamping kental unsur politisnya. ternyata penggodokan Rancangan Undang-Undang oleh DPR tidak seluruhnya menampung aspirasi sebagaimana terdapat dalam dokumen yang diusulkan oleh tokoh-tokoh yang terlibat dalam penyusunan draft awal otonomi khusus. kewenangan yang luas ini tidak diikuti oleh reformasi struktural aparat pemerintahan daerah yang menjadi aktor dalam pelaksanaan Otsus. mereka yang kelak disebut dengan tim 100. intelektual dan tokoh masyarakat Papua kepada para penyusun Undang-Undang dan pengambil keputusan tingkat pusat di Jakarta. Pada tahun 1999.menyatakan. Hanya saja mereka melihat. adat dan perempuan sebagai penekanan sasaran objektif Otsus tidak serta merta memberi ruang kepada tokoh-tokoh ini dalam implementasi Otsus. Gagasan Otsus pada mulanya berawal dari kalangan akademisi Universitas Cendrawasih dan tokoh-tokoh masyarakat sipil dari berbagai latar belakang. intelektual dan tokoh masyarakat Papua. 21 Tahun 2001 ditetapkan dan kemudian terimplementasikan dalam bentuk Otonomi khusus Papua maka pemerintah provinsi Papua muncul sebagai aktor utama disamping pemerintah pusat. Inilah awal pergeseran aktor kunci Otsus dari kalangan akademisi. bertemu dengan Presiden BJ Habibie di Jakarta. Akibatnya seringkali pelaksanaan kebijakan masih menunggu hasil “konsultasi” pemerintah daerah ke Jakarta. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 101 . Munculnya unsur agama. Dalam perkembangannya kemudian. Jadi pada awalnya. Otsus Papua sebenarnya memberi peluang besar bagi masyarakat Papua untuk menata dirinya sendiri dengan kewenangan yang lebih luas. Otsus tidak lebih dari gula-gula dari Jakarta untuk melenakan penduduk Papua dari perut yang lapar. Tetapi ada juga tokoh yang coba berpikir positif.

MRP dilihat tidak berdaya dalam proses politik di Papua. 21 Tahun 2001 atau sama seperti provinsi lain di Indonesia diatur lewat UU No. tidak adanya perbaikan mendasar dalam kehidupan masyarakat Papua dimana semua itu bermuara pada lambannya penyusunan Perdasus yang seharusnya mengiringi implementasi UU No. Hanya saja. Itu sebabnya yang lebih kentara dari Otsus ini adalah proses politik untuk menekan aspirasi merdeka. proses politik yang diharapkan itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Lembaga yang dianggap sebagai representasi kultural masyarakat Papua itu dinilai tidak bisa berbuat banyak. 32 Tahun 2004?. kesehatan dan infrastruktur. bukan menjadi representasi tetapi hanya ornamen kultural masyarakat Papua. pengelolaan dana Otsus yang dinilai tidak transparan. hingga saat ini. Kewenangannya dinilai terlalu sempit. Menurut sebagian tokoh. pemerintah provinsi Papua memegang peranan penting dalam era Otsus. Narasumber bersepakat bahwa Otsus Papua yang diberikan oleh pemerintah pusat lebih sebagai solusi politik ketimbang solusi kesejahteraan. kewenangan besar itu ternyata tidak diikuti oleh inisiatif-inistiatif yang mampu mendorong pelaksanaan Otsus agar sebesar-sebesarnya memberikan manfaat kepada masyarakat Papua. apakah provinsi tersebut tercakup dalam UU No. Tetapi dalam kenyataannya. hal ini diperparah lagi dengan pemekaran Provinsi Irian Jaya Barat. Ini menimbulkan dilema politik. Proses Politik dan Ekonomi Yang Mengikuti Otsus. Proses politik lainnya seperti pemekaran kabupaten ternyata tidak dibarengi dengan kesiapan infrastruktur dan aparat pelaksana. dari 19 Perdasus yang seharusnya ditetapkan hanya Perdasus tentang Majelis Rakyat Papua (MRP) yang baru ditetapkan dan berjalan. Yang terjadi malah. Hingga lima tahun pelaksanaan Otsus. Perluasan kewenangan yang diberikan oleh pusat pada awalnya dimaksudkan untuk menciptakan inisiatif lokal demi memajukan kehidupan masyarakat Papua lewat proses politik yang akan berdampak pada sektor lainnya seperti ekonomi kerakyatan. pemekaran provinsi dan kabupaten.Narasumber yang kami wawancara melihat. Yang tergambar dari proses politik selama pelaksanaan Otsus hanyalah “bagibagi kursi” antara elit lokal. pendidikan. Perdasus yang menjadi elemen penting implementasi Otsus sangat lambat penyusunannya. 21 Tahun 2001. Aktor lain seperti Majelis Rakyat Papua (MRP) dinilai sebagai ornamen saja. Dalam perkembangannya. 102 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .

ada pula kalangan akademisi yang memang berkutat di kampus dan ada pula yang memang tidak pernah dilibatkan atau diajak bicara oleh pemerintah provinsi yang menjadi aktor utama pelaksanaan Otsus. mereka memberikan jawaban yang hampir seragam dalam menanggapi pelaksanaan Otsus Papua. 2.Mandegnya proses politik ini berimplikasi pada bidang lain terutama perekonomian. Distribusi dana Otsus lebih banyak terpakai untuk birokrasi ketimbang turun kepada masyarakat. Tetapi pada dasarnya. Memang ada beberapa tokoh yang masih terlibat dalam penyusunan kebijakan selama pelaksanaan Otsus tetapi lebih banyak yang mengambil jarak dan pesimis terhadap pelaksanaan Otsus. Masyarakat memiliki ekpektasi yang sangat besar bahwa Otsus akan meningkatkan derajat kehidupan mereka. Apalagi dalam UU Otsus banyak sekali penekanan tentang hak-hak mendasar orang Papua yang harus dipenuhi. Hal ini ditambah lagi dengan keberadaaan dana Otsus yang jumlahnya cukup besar. para narasumber KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 103 . tetapi itu belum diikuti dengan penataan manajemen dan manajerial yang cukup akuntabel dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan. Manfaat Otsus Untuk Masyarakat Papua. Sebab yang sering muncul justru kembali isu-isu kemerdekaan dan integrasi. Polemik seputar simbol kultural yang sebenarnya telah diatur UU No. Sebagian tokoh membenarkan adanya pembangunan infrastruktur selama Otsus tetapi itu tidak cukup mengatrol kemampuan ekonomi penduduk asli Papua hingga level bawah. Pelaksanaan Otsus Kesan yang kami dapatkan dari sebagian besar tokoh. Ini menimbulkan kecurigaan di kalangan beberapa tokoh bahwa Jakarta sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh memberikan Otsus kepada masyarakat Papua. adalah bahwa mereka tidak sepenuhnya terlibat aktif selama pelaksanaan Otsus. Tetapi dalam kenyataannya. Ini bisa dipahami dalam berbagai kerangka berpikir. Pada awalnya Otsus dianggap sebagai berkah besar untuk masyarakat Papua. Walaupun pada masa gubernur Barnabas Suebu dana Otsus mulai dikucurkan langsung ke kampung-kampung. dengan menyatakan bahwa kemandegan proses politik dan juga ekonomi ini bersumber pada lambannya penyusunan Perdasus. ada tokoh yang ingin mempertahankan independesinya. Narasumber satu suara dalam hal ini. Tidak ada capaian penting selama pelaksanaan Otsus selain dana Otsus yang cukup besar tetapi tidak pernah dirasakan masyarakat. 21 Tahun 2001 masih saja menghiasi media massa lewat pengibaran bendera Bintang Kejora ketimbang masalah kesejahteraan dan alokasi dana Otsus.

Inefesiensi itu selama ini memang tidak terlihat karena lagi-lagi bisa tertutup dengan dana Otsus yang besar. tentu saja tetap ada pihak yang diuntungkan dengan adanya Otsus ini. Otsus tidak banyak membawa perubahan derajat kehidupan untuk masyarakat Papua. Sementara dana yang benar-benar terarah untuk pengembangan perekonomian kerakyatan belum tampak hingga saat ini. narasumber mengakui. dana Otsus dan janjijanji perbaikan kesejahteraan tetapi mereka tidak pernah merasakan manfaatnya. menurut beberapa tokoh. Besarnya alokasi dana Otsus untuk birokrasi pada tahun-tahun awal pelaksanaan Otsus adalah salah satu alasan kenapa mereka menunjuk elit birokrat lokal. memang ada pembangunan di Papua. Penggelontoran dana langsung. termasuk elemen lembaga masyarakat sipil. Dana tersebut (dalam bentuk tunai) habis untuk konsumsi dan bukan untuk mengembangkan perekonomian mereka. Penting untuk mengetahui pendapat para narasumber tentang pihak yang diuntungkan dengan adanya Otsus Papua. Lebih luas lagi termasuk mereka yang terlibat dalam kebijakan ini seperti DPRP. berkaitan dengan rencana strategis provinsi yang tidak terkomunikasikan dengan baik dan terbuka pada seluruh masyarakat. 104 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . pemerintah kabupaten hingga aparat tingkat bawah. Karena mengharapkan dana tunai tersebut masyarakat mematikan potensi inovasi dan kewirausahaan mereka. Poin-poin penting dalam UU Otsus seperti pemenuhan hak-hak mendasar orang Papua tidak dibarengi dengan penafsiran yang jelas dan detail sehingga mandeg dalam impelementasi. Pada beberapa hal. Yang Diuntungkan Oleh Otsus. Itu sebabnya. Sebagian besar narasumber menunjuk elit birokrat Papua sebagai pihak yang diuntungkan dengan adanya Otsus ini. Masyarakat mendengar tentang Otsus. Terlepas dari sinyalemen negatif dalam kaitannya dengan Otsus dan perbaikan kehidupan masyarakat Papua. kenyataan yang diterima oleh masyarakat tidak sebesar ekpektasi mereka Permasalahan mendasar Otsus. selain masalah Perdasus.nyaris satu suara dalam hal ini. karena miskin output yang benar-benar berasal dari Papua. Ditambah lagi dengan banyaknya alokasi dana Otsus yang dinilai kurang jelas dan untuk proyek-proyek yang tidak pernah dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Tetapi proyek-proyek pembangunan tersebut hanya memperbesar cash outflow bukan cash inflow. justru kontraproduktif terhadap masyarakat.

Ketidaksiapan regulasi tergambarkan dalam mandegnya penyusunan perdasus yang berimplikasi pada masalah implementasi Otsus. Menurut mereka. Dalam isu perempuan misalnya. Struktur pelaksana Otsus juga mendapatkan sorotan karena tidak banyak mengalami perubahan setelah Otsus. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 105 . Sementara tidak adanya sistem pengawasan yang jelas telah menimbulkan kecurigaan-kecurigaan terhadap akuntabilitas pengelolaan dana Otsus. struktur dan sistem pengawasan adalah hal-hal yang disoroti oleh narasumber wawancara dalam menyoal kesiapan pemerintah terutama pemerintah provinsi Papua dalam melaksanakan Otsus. Pemberian Otsus memperkuat posisi politik Jakarta terhadap Papua. (2) kurang terarah karena tidak adanya reformasi struktural serta (3) kurang terpercaya karena belum adanya sistem pengawasan yang jelas. Kesiapan Pemerintah Dalam Era Otsus. Selain dari proyek-proyek yang diberikan oleh pemerintah mereka juga mendapatkan peluang dari kewenangan kultural yang didapatkan kembali oleh kepala suku (Ondoafi) terhadap tanah ulayat. setelah memberikan Otsus. Pemerintah pusat sekarang punya alasan logis untuk menindak setiap gerakan yang dianggap berpotensi menumbuhkan disintegrasi di Papua sebab Otsus telah diberikan. Ketidaksiapan ini berimplikasi besar pada pelaksanaan Otsus yang. Beberapa pihak swasta dengan mudah mendapatkan tanah ulayat untuk kepentingan usaha setelah melakukan pendekatan dengan kepala suku yang justru tidak mendapatkan proteksi dari pemerintah. kantor pemberdayaan perempuan jarang sekali men-share program-program mereka dengan lembaga non pemerintah yang bergerak dalam isu yang sama. Realitas ini terasa kontraproduktif tetapi kenyatan itulah yang terjadi. Kewenangan yang luas tidak dibarengi dengan otonomi struktur pemerintahan Papua yang seharusnya juga lebih luas. (1) tidak tepat sasaran karena kurangnya panduan regulasi. Beberapa narasumber juga mengeluhkan tentang kurangnya peranan yang diberikan pemerintah pada mereka yang justru lebih mengakar. Regulasi. pemerintah pusat juga diuntungkan dengan Otsus ini.Selain elit birokrat lokal. Beberapa tokoh juga menunjuk pihak swasta juga meraup untung dari Otsus ini. pemerintah pusat seolah bisa lepas tangan dan menganggap permasalahan Papua telah selesai.

Hubungan Lembaga Dengan Lembaga Non Pemerintah Lainnya. Misalnya. Pertanyaan seputar peran lembaga bertujuan untuk mendapatkan gambaran aktifitas lembaga bersangkutan yang kemudian dikaitkan dengan hubungan dan tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh lembaga bersangkutan. Jawaban dari pertanyaan ini akan memberikan analisa tentang perlu atau tidaknya kerjasama antara kedua belah pihak serta hasil-hasil yang mungkin bisa dicapai dari kerjasama tersebut. keuskupan bekerjasama dengan YPMD dalam pengembangan ekonomi jemaat yang dilayaninya pada sebuah daerah. Dalam bentuk lainnya. Pertanyaan ini bertujuan untuk melihat ada/tidaknya interaksi antara lembaga non pemerintah di kota dan kabupaten Jayapura dengan pemerintah setempat terkait programprogram yang mereka lakukan.3. Peran Lembaga dan Hubungan Dengan Lembaga Lain dan Pemerintah Pertanyaan ini bertujuan untuk menggali lebih dalam jaringan antar lembaga non pemerintah di kota dan kabupaten Jayapura serta interaksi dan hubungan mereka dengan pemerintah setempat dalam era Otsus. Berbagai lembaga non pemerintah bergerak dalam beragam isu dan melakukan kegiatan dengan berbagai pendekatan pada masyarakat baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Dalam menjalankan program-program swadaya masyarakatnya seringkali lembaga non pemerintah melakukan kerjasama dengan lembaga sejenis. kerjasama itu terjalin lebih strategis seperti lembaga-lembaga non pemerintah yang berkoordinasi dalam Forum Kerjasama LSM (Foker LSM). 106 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Bidang dan Peran Lembaga. Dengan melihat jaringan kerja antar lembaga maka kita dapat menilai efektifitas dari kerjasama tersebut dalam memberikan pelayanan alternatif kepada masyarakat. Hubungan Lembaga dengan Pemerintah. Banyak di antara kegiatan dan program yang dilakukan oleh lembaga-lembaga non pemerintah yang bersinggungan langsung dengan program-program pemerintah. Daya dukung tiap lembaga dalam melaksanakan program dapat memberikan gambaran tentang program-program swadaya bersama yang mungkin bisa dilakukan pada masa yang akan datang.

Tetapi ada juga kerjasama yang terjalin baik antar lembaga dalam kegiatan-kegiatan pendampingan masyarakat. ada yang memandang perlu diadakan revisi karena ada beberapa pasal yang tidak kontekstual serta tidak menjawab kebutuhan masyarakat Papua. Narasumber menilai bahwa peran lembaga masyarakat sipil bisa ditingkatkan selama mereka masih diberikan ruang dan keleluasaan untuk kegiatan-kegiatan swadaya masyarakat di Papua. tidak perlu dilakukan revisi sebab Otsus telah gagal.Pandangan Terhadap Masyarakat Sipil dan Lembaganya. Yang perlu dilakukan hanyalah dialog terbuka antara Jakarta dan Papua sebagaima dialog Jakarta dan Aceh. revisi perlu dilakukan tetapi dengan syarat dilakukannya terlebih dahulu dialog terbuka antara Jakarta dengan Papua sebagaimana dialog yang dilakukan antara Jakarta dan Aceh. Pertama. Kedua. Revisi Mengenai UU Otsus Papua Terkait dengan pertanyaan terakhir. 4. Sebagian besar narasumber menilai kehidupan masyarakat sipil Papua tidak terlalu mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dengan adanya Otsus Papua. Ini tentu saja perspektif baru yang harus jadi perhatian serius dalam menindaklanjuti kebijakan Otsus Papua. Tentang peran lembaga masyarakat sipil. Perspektif yang muncul tentu saja berangkat dari pengalaman mereka di tengah-tengah masyarakat. Di samping itu UU Otsus perlu direvisi terkait dengan dinamika kewilayahan dengan pemekaran provinsi Irian Jaya Barat. ada tokoh yang menilai bahwa sulit sekali menjalin kerjasama strategis antar lembaga dalam menindaklanjuti sebuah program kerja. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 107 . Kerjasama seringkali muncul bersifat insidentil ketika ada “musuh bersama”. Ketiga. Ada pula yang mengatakan bahwa Otsus dan dananya telah membangkitkan kembali sentimen kesukuan dan daerah di Papua. itu pun hanya bersifat kebijakan dan advokasi. Sebagian tokoh malah berpendapat ekstrem dengan mengatakan bahwa Otsus Papua bisa memicu disintegrasi sosial di Papua. Tokoh-tokoh masyarakat memiliki pandangan tersendiri terhadap masyarakat yang selama ini mereka dampingi. Dalam nada yang lebih ekstrem mereka menyatakan bahwa pada prinsipnya masyarakat Papua sebenarnya telah mengembalikan Otsus Papua ke Jakarta. pendapat dari narasumber terhadap pertanyaan mendalam ini terbelah. Ini akan membantu dalam menilai kapasitas masyarakat sipil dalam menindaklanjuti kebijakan Otsus Papua.

Kasus pengibaran Bendera Bintang Kejora adalah contoh yang sering terjadi. Sangat sedikit ruang yang tersedia untuk program-program konkret meningkatkan taraf hidup masyarakat asli Papua. demonstrasi. ketiga komunitas ini merupakan komunitas kultural yang terwakili dalam Majelis Rakyat Papua (MRP). Dalam konteks UU Otsus Papua. Karena itu definisi masyarakat sipil yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kelompok masyarakat. yakni: a. b. dimensi politik dalam penyelesaian masalah Papua jauh lebih kuat dibanding pembangunan kesejahteraaan. kronologis pelaksanaan Otsus lebih banyak diisi oleh peristiwa politik seperti pemekaran. Itu sebabnya. tetapi pada sisi lain juga tidak ada definisi dan lambang bendera daerah sebagaimana dimaksud di atas. Suatu hal yang diakui dalam pasal 2 ayat (2) UU No. UU Otsus menimbulkan polemik yang tidak terselesaikan antara masyarakat Papua dengan pemerintah. Apapun pandangan yang muncul dari tokoh masyarakat sipil Papua terkait revisi UU Otsus ini. Penelitian menunjukkan tingginya tingkat ketidakpuasan masyarakat terhadap pelaksanaan Otsus Papua. Dalam implementasinya.4. selama pelaksanaan Otsus yang lebih muncul adalah percikan api dari gesekan politik. lima tahun pelaksanaan Otsus tidak banyak perubahan yang dirasakan masyarakat. Lambang dan bendera daerah misalnya. Otsus meningkatkan ketidakpercayaan masyarakat pada pemerintah. dan (3) Komunitas Perempuan. Pada beberapa kasus. kegiatan dan interaksi yang mereka lakukan. Simpulan Penelitian yang dilakukan mempergunakan definisi masyarakat sipil sebagai sebuah entitas yang sadar politik dan memiliki peran tertentu dalam mendorong proses perubahan di Papua. 21 Tahun 2001 tetapi tidak mendapatkan rumusan lebih lanjut tentang lambang dan bendera seperti apa. baik lembaga maupun individu yang mewakili (1) Komunitas Adat. Pemerintah menolak pengibaran bendera tersebut. 5.Perbedaaan pandangan para tokoh ini bisa dimengerti dengan melihat latar belakang organisasi. semuanya patut diperhatikan sebab semuanya berangkat dari realitas yang mereka lihat dalam sudut pandang yang berbeda. Kami melihat ada beberapa alasan kenapa hal itu terjadi. (2) Komunitas Agama. 108 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . pengembalian Otsus hingga Pilkada. Sebagaimana telah kami paparkan pada bagian sebelumnya. Akibatnya.

e. tetapi itulah kenyataan di lapangan yang kami dapatkan. Yang berkembang di tengah masyarakat adalah bahwa dana Otsus banyak diselewengkan oleh birokrasi pemerintahan. Hal yang menarik. Otsus berjalan menjadi kebijakan yang tidak partisipatif. Perdasus pertama baru muncul enam tahun setelah Otsus. mengingat tingkat interaksi masyarakat lembaga masyarakat sipil masih rendah. Otsus memang ter-informasikan kepada masyarakat luas (dalam hal ini di kota dan kabupaten Jayapura) tetapi tidak well-informed. Kebijakan yang tidak dijalankan secara partisipatif telah menjadikan masyarakat hanya sekedar menjadi objek pasif. Akibatnya masyarakat tidak pernah mendapatkan potret pelaksanaan Otsus dalam hal pemenuhan hak-hak mendasar mereka secara utuh. khususnya di bidang kesehatan. d. Padahal sejak tahun 2002. sehingga masyarakat cenderung mengambil jarak karena memang mereka tidak merasakan perubahan dari pelaksanaan Otsus ini. banyak lembaga masyarakat sipil yang memberikan peran-peran pembangunan masyarakat. Kebijakan yang dijalankan dengan satu perspektif tunggal dari pemerintah. Meskipun kelahiran Otsus berawal dari inisiatif kalangan lembaga masyarakat sipil yang tergabung dalam Foker LSM. Masyarakat mengetahui tentang Otsus tetapi tidak memahaminya secara menyeluruh. sementara KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 109 . Otsus tidak bisa dikatakan gagal tetapi dalam implementasinya Otsus juga tidak bisa dikatakan berhasil. sementara implementasi dan kesiapaan tata aturan pelaksananya di lapangan tidak pernah terealisasikan. Akibatnya tidak ada satu kerangka aturan yang bisa menjamin dana Otsus mengalir untuk pembangunan yang berorientasi meningkatkan taraf hidup masyarakat.c. Konsep Otsus tidak bisa dinilai gagal memberikan solusi. dana Otsus dalam jumlah yang sangat besar terus mengucur. peran lembaga masyarakat sipil sendiri tidak menunjukkan perannya yang penting. Sementara itu. Ini mungkin rancu. Secara konsep. Dengan realitas seperti itu. Salah satu penyebabnya adalah kurang memadainya pemahaman masyarakat tentang otonomi khusus. Evaluasi terhadap Otsus yang seharusnya dilakukan setiap tahun setelah evaluasi pertama pada tahun ketiga sebagaimana diamanatkan UU Otsus tidak dilakukan secara mendalam dan komperehensif. mengalami penurunan. Perumusan aturan tatalaksana Otsus tidak berjalan secepat pengucuran dana Otsus. PP tentang MRP baru selesai setelah 3 tahun Otsus.

Kondisi ini berpengaruh terhadap persepsi masyarakat terhadap komunitas sipil yang rendah. terjadi penurunan peran “pembangunan” dari masyarakat sipilnya.peran lembaga masyarakat sipil yang memasuki peran politik sebagai kelompok kepentingan dan kelompok penekan semakin meningkat. Dapat dikatakan. Di sisi lain. terdapat “pergeseran” isu dari masyarakat sipil Papua dari isuisu “pembangunan” ke isu-isu “politik”. Dari segi kemajuan dalam arti politik terjadi kemajuan. karena terbangun demokrasi yang pluralistik di Papua. 110 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .

1 Bagian ini mengambil materi dari Laporan Evaluasi Otonomi Khusus Papua Bidang Infrastruktur. SMU/SMK. Muatan Kebijakan Tantangan terbesar pembangunan Papua adalah lemahnya dukungan infrasruktur fisik. Perumahan Rakyat. Air Bersih. Transportasi Udara. Pada dasarnya. kebijakan dan strategi pembangunan dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini diarahkan pada sasaran strategis di bidang infrastruktur. Persampahan. gedung sekolah (SD. pelabuhan. sarana transportasi pendukung. percepatan pembangunan ekonomi. dalam rangka kesetaraan dan keseimbangan dengan kemajuan provinsi lain. pemberian Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua dimaksudkan untuk mewujudkan keadilan. Pasar. Karena itu. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 111 . Pos. dan telekomunikasi. peningkatan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat Papua. dan fasilitas umum. penegakan supremasi hukum. Transportasi Laut. sebagaimana dikemukakan pada Penjelasan UU Otsus. SMP. bandar udara. 2008.Bagian Keenam INFRASTRUKTUR1 6.1. Listrik. Rumah Sakit. energi. Puskesmas. yang meliputi Transportasi Darat. Telematika. PT). jembatan. khususnya dalam bentuk jalan raya. penghormatan terhadap HAM. Jakarta: Kemitraan untuk Tata Kelola yang Baik.

Pada tahun 2005 turun kembali menjadi Rp 200. pada tahun 2001 dana untuk Sub Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Rp 41.000. di mana dana Otsus untuk DPU pada tahun 2002 menjadi Rp 279.2.000.00 Rp200.62 milyar.000.00 Rp150.00 Rp300.000. sedangkan pada tahun 2004-2005 mengalami penurunan. Gambar 6.22 milyar.00 Rp2002 2003 2004 2005 2006 Alokasi Otsus Secara rinci. Jumlah ini melonjak sejak implementasi kebijakan Otsus. dana untuk DPU meningkat menjadi Rp 320. Implementasi Kebijakan Implementasi kebijakan percepatan pembangunan infrastruktur di bawah kebijakan Otsus dilaksanakan dalam bentuk kebijakan Alokasi dana yang digunakan pada sub Dinas di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua dari Alokasi dana Otsus.29 milyar. 112 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .45 milyar.00 Rp50. Tahun 2003.83 milyar.00 Rp250.000.000.53 milyar.1 Alokasi Dana Otsus untuk Dinas Pekerjaan Umum Alokasi Otsus Rp350.26 trilyun.6. kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2006. Total dana Otsus untuk pembangunan infrastruktur 2002-2006 mencapai Rp 1. Perkembagan alokasi penggunan dana Otsus untuk Departemen Pekerjaan Umum sejak Tahun 2002 sampai dengan tahun 2006 menunjukkan trend meningkat sejak tahun 2002 – 2004. Pada tahun 2004 turun menjadi Rp 311.000.00 Rp100. Pada tahun 2006 meningkat kembali menjadi Rp 311.

6. 2004. 2006 dan Olah Data Gambar 6. Prasarana dan Sarana Transportasi Darat Jalan. Gambar 6. 2001.3.3 Perkembangan Panjang Jalan Menurut Jenis Jalan Setelah Otonomi Khusus 25000 20000 15000 10000 5000 0 Jalan Negara Jalan Provinsi Jalan Kabupaten 2002 2004 2005 Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2006 dan Olah Data KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 113 .000 km).3. 2002. 2002. 2001. Kinerja Kebijakan 6.000 km) sedangkan setelah otsus pertumbuhan sebesar 12% (27. Rata-rata pertumbuhan panjang jalan sebelum otsus sebesar 8% (15. 2003.2 Perkembangan Panjang Jalan Menurut Jenis Jalan Sebelum Otonomi Khusus 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 1997 1998 1999 2000 2001 Jalan Negara Jalan Provinsi Jalan Kabupaten Sumber : Papua Dalam Angka 1999.terjadi akselerasi pertumbuhan panjang jalan sebesar 5% peningkatan pertumbuhan panjang jalan. 2003. 2004. 2005. 2005.1.

2001. 2003. 2003. 114 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . 2004. Hal tersebut menunjukkan infrastruktur jalan merupakan prioritas perkerjaan pembangunan di tanah Papua pada masa pelaksanaan Otsus untuk membuka keterisolasian suatu desa atau kota. 2001. 2005. 2004. 2002. 2006 dan Olah Data Gambar 6. 2005. 2006 dan Olah Data Peningkatan pertumbuhan jenis konstruksi jalan mengalami perkembangan dan peningkatan yang cepat.Gambar 6. 2002.4 Perkembangan Jalan menurut Jenis konstruksi jalan Sebelum Otonomi Khusus 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 1997 1998 1999 2000 2001 Aspal Diperkeras Tanah Sumber : Papua Dalam Angka 1999.5 Perkembangan Jalan menurut Jenis Konstruksi Jalan Setelah Otonomi Khusus 50000 40000 30000 20000 10000 0 2002-2003 2004-2005 Aspal Diperkeras tanah Sumber : Papua Dalam Angka 1999.

35 km) dan mengalami penurunan 8.24 Km. yang berarti terjadi akselerasi pertumbuhan panjang jalan.pada perlima tahun masa sesudah Otsus pertumbuhan panjang jalan 12. Pertumbuhan tersebut menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan panjang jalan 4.022.9% atau 27007. pertumbuhan panjang jembatan tingkat Provinsi Papua 7. 2002. sedangkan sebelum pertumbuhan panjang jalan 8.9% .6 Perkembangan Jumlah Panjang Jembatan Sebelum Otsus 25000 20000 15000 Beton Baja 10000 Kayu 5000 0 1997 1998 2000 2001 Sumber : Papua Dalam Angka 1999. Rata-rata pertumbuhan panjang jembatan sebelum Otsus sebesar 10. Jembatan.36 Km).54% atau 15808. Gambar 6. 2005. 2001. 2003. 2004.45 km sesudah Otsus.24 Km. Peningkatan panjang jalan rata. jalan pripinsi dan jalan kabupaten) dengan pertumbuhan panjang jalan selama 5 tahun sebesar 8.Trend perkembangan infrastruktur sebelum otonomi khusus untuk pertumbuhan jumlah panjang jalan mengalami peningkatan tiap tahun untuk ketiga jenis jalan tersebut (jalan negara. 2006 dan Olah Data KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 115 .57% atau 15808.36% (11199.27% (34.144. Secara jumlah panjang jembatan terjadi peningkatan pertumbuhan panjang jembatan 40.60 Km.7% pada tahun 2002 dan 2005.

Dapat disimpulkan.35 m. 2003. Trend Pertumbuhan panjang jambatan menurut jenis dan tingkat kabupaten’kota sebelum pelaksanaan Otsus pada tahun 1997 dan tahun 2001 mengalami trend peningkatan pertumbuhan panjang jembatan sebesar 10. Hal ini yang menyebabkan penurunan jumlah panjang jembatan tingkat Provinsi Papua.144.27% (34.7 Perkembangan Jumlah Panjang Jembatan Setelah Otsus Sumber : Papua Dalam Angka 1999.27% atau 34. 2002. 2005. sebelum pelaksanaan Otsus pertumbuhan panjang jembatan sebesar 10.6% (34.35 km) dan mengalami peningkatan pertumbuhan panjang jembatan 40.008 kendaraan ) sebelum Otsus dan sesudah Otsus pertumbuhan jumlah kendaraan rata–rata 3.45 km dalam pelaksanaan Otsus pada tahun kelima. 2004. Kalau dilihat secara keseluruhan. Pertumbuhan rata-rata jumlah kendaraan mengalami penurunan 0. 2006 dan Olah Data Penurunan jumlah panjang jembatan tingkat Provinsi Papua pada tahun 2005 disebabkan pengaruh Kabupaten Sorong sudah tidak memasukkan data perkembangan kabupaten/kota untuk Provinsi Papua. Dari hasil tersebut maka pertumbuhan panjang jembatan tingkat Provinsi Papua meningkat rata-rata sekitar 5878 km perlima tahun atau sama dengan 7. 2001.022.9% . Kendaraan.452 kendaraan) .Hal tersebut menunjukkan adanya pertumbuhan jumlah kendaran 31.934 kendaraan) 116 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . seluruh kabupaten dan kota mengalami peningkatan pertumbuhan panjang jalan untuk Provinsi Papua dan Papua Barat.Gambar 6.144.8% (110.5% (58.

2003. 2002. 2005. 2005.9 Pertumbuhan Jumlah Kendaraan Sebelum dan Setelah Otsus 100000 90000 80000 70000 60000 50000 40000 30000 20000 10000 0 Mobil Penumpang Mobil Barang Mobil Bis Sepeda Motor 2002 2003 2004 2005 Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2006 dan Olah Data Gambar 6. 2002. 2006 dan Olah Data KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 117 . 2001. 2003. 2004. 2001.8 Pertumbuhan Jumlah Kendaraan Sebelum Otsus 80000 70000 60000 50000 40000 30000 20000 10000 0 1997 1998 1999 2000 2001 Mobil Penumpang Mobil Barang Mobil Bis Sepeda Motor Sumber : Papua Dalam Angka 1999.Gambar 6. 2004.

grafik menunjukkan trend meningkat untuk periode tahun 1997 sampai dengan tahun 2001.452 kendaraan).8% (334. menunjukkan adanya peningkatan yang tidak begitu besar pada unit pembangkit PLN sebesar 4. Trend pertumbuhannya tidak terlalu melonjak tajam selama lima tahun sebelum Otsus yaitu mengalami pertumbuhan jumlah unit PLN 8. 6.2 unit). sedangkan Jumlah pertumbuhan rata-rata tiap tahun 75.518 kendaraan. 2003.8 unit. Trend pertumbuhan jumlah pembangkit PLN tiap tahun sesudah pelaksanaan Otsus grafik menunjukkan trend meningkat pada periode tahun 2000 sampai dengan tahun 2004. Trend pertumbuhan jumlah kendaraan mengalami penurunan 0.1. Dapat disimpulkan sebelum Otsus pertumbuhan rata-rata Jumlah kendaraan tiap tahun berjumlah 75. 118 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . mengalami peningkatan tiap tahun. Pertumbuhan jumlah unit tenaga listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN).1% (14.8 unit). Dapat diambil simpulan sebelum Otsus pertumbuhan rata-rata 334. dilihat pada empat tahun terakhir sesudah pelaksanaan Otsus Papua mengalami peningkatan untuk periode tahun 2002. menurut tingkat kabupaten/kota sesudah pelaksanaan Otsus di provinsi Papua dilihat pada 5 tahun terakhir. dan 2004. Sedangkan pada tahun 2005 mengalami penurunan. kapasitas terpasang.518 kendaraan dan setelah pelaksanaan Otsus pertumbuhan jumlah kendaraan selama lima tahun 3.5% selama 5 tahun. grafik juga menunjukkan trend menurun mulai tahun 1998 sampai dengan tahun 2001. kemampuan mesin dan beban puncak periode tahun 2000 sampai dengan tahun 2004.2.6%.8 unit.2 unit tahun dan sesudah Otsus selama lima tahun 348.8% (110.7% atau 348. Dapat dikatakan pertumbuhan jumlah kendaraan trendnya meningkat setelah Otsus. Hal tersebut disebabkan terjadinya pemekaran Provinsi Papua.Sedangkan pertumbuhan jumlah kendaraan menurut jenis kendaraan bermotor dan tingkat kabupaten/kota sesudah pelaksanaan Otsus di provinsi Papua. Pada Trend pertumbuhan jumlah kendaraan tiap tahun dapat dilihat pada grafik garis pertumbuhan jumlah kendaraan Provinsi Papua sebelum pelaksanaan Otsus. Listrik. naik sekitar 31. Trend pertumbuhannya tidak terlalu melonjak tajam selama lima tahun sebelum Otsus yaitu menglami pertumbuhan rata-rata 2. Hal tersebut menunjukkan adanya pertumbuhan jumlah kendaran sebanyak 34. Sedangkan Trend pertumbuhan jumlah unit pembangkit listrik tiap tahun dapat dilihat pada grafik garis pertumbuhan sebelum pelaksanaan Otsus.934 kendaraan setelah Otsus.

2002. 2003. Kemampuan Mesin dan Beban Puncak Sebelum Otsus 140000 120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 1997 1998 1999 2000 2001 Banyak Unit Kapasitas Terpasangan Kemampuan Mesin Beban Puncak Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2005. 2003. Kemampuan Terpasang. 2004.10 Pertumbuhan Jumlah Unit PLN. 2006 dan Olah Data KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 119 . Kemampuan Terpasang. Kemampuan Mesin dan Beban Puncak Setelah Otsus 180000 160000 140000 120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 2000 2001 2002 2003 2004 Banyak Unit Kapasitas Terpasangan Kemampuan Mesin Beban Puncak Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2001.11 Pertumbuhan Jumlah Unit PLN. 2002. 2005.Gambar 6. 2006 dan Olah Data Gambar 6. 2001. 2004.

Gambar 6. 2004.3. 2002. dilihat dari sebelum Otsus 203. menunjukkan adanya penurunan 31%. 2003. Pos dan Telekomunikasi Pos. 2006 dan Olah Data 120 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Dapat diambil simpulan pertumbuhan infrastruktur pos dan giro mengalami penurunan setelah pelaksanaan Otsus.6. 2001. 2005.12 Banyaknya Kantor Pos dan Giro Sebelum Otosus 140 120 100 80 60 40 20 0 1997 1998 1999 2000 2001 Ktr Pos & Giro Ktr Pos & Giro Pmbt Ktr Pos & Giro Tmbh Rumah Pos 42 42 43 116 53 Kantor Pos Sumber : Papua Dalam Angka 1999.25 unit. Pertumbuhan kantor pos dan giro sesudah pelasanaan Otsus ke lima tahun dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2005 menurut tingkat kabupaten/ kota mengalami perkembangan kenaikan sampai tahun 2004.80 unit dan sesudah Otsus 155.1. Pada tahun 2005 mengalami penurunan jumlah pos dan giro.

14 Banyaknya Telepon Umum Sebelum Otsus 1200 1000 800 600 400 200 0 1995 1996 1997 1998 1999 2001 Telepon Coin Telepon Kartu Warung Telp Kamar Bicara KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 121 .Gambar 6. 2001. dari 1571 unit menjadi 1492 unit. 2005. Gambar 6. Infrastruktur telekomunikasi dilihat dari data sebelum Otsus dan Sesudah pelaksanaan Otsus tahun kelima menunjukkan adanya penurunan. 2006 dan Olah Data Telekomunikasi. 2002. 2003. Penurunan sekitar 5. 2004.2% ini salah saru faktor penyebabnya adalah adanya pertumbuhan penggunaan handphone (HP) yang begitu pesat di tanah Papua dan pemekaran Provinsi Papua.13 Banyaknya Kantor Pos dan Giro Setelah Otsus 1200 1000 800 600 400 200 0 1995 1996 1997 1998 1999 2001 Telepon Coin Telepon Kartu Warung Telp Kamar Bicara Sumber : Papua Dalam Angka 1999.

2004. 2005. sebelum Otsus 6722 tempat ibadah dan sesudah Otsus tahun kelima menunjukkan peningkatan 8199 tempat ibadah. 2002. 2006 dan Olah Data Gambar 6. 2003. Terjadi penumbuhan sebesar 18%.Sumber : Papua Dalam Angka 1999. Tempat Peribadatan Pertumbuhan banyaknya tempat peribadahan dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2001. 2004. 122 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . 2001. 2001. mengalami pertumbuhan dengan adanya peningkatan tiap tahunnya.1. 2005. 2002.4. 2003. 2006 dan Olah Data 6. menurut tingkat kabupaten/kota sebelum pelaksanaan Otsus di Provinsi Papua dilihat pada lima tahun terakhir.15 Banyaknya Telepon Umum Sesudah Otsus 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 2003 2004 2005 Telp Coin Telp Kartu Warung Telp Kamar Wicara Sumber : Papua Dalam Angka 1999.

2006 dan Olah Data Gambar 6. 2003. 2003. 2002.16 Banyaknya Tempat Peribadatan Sebelum Otonomi Khusus 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 1997 1998 1999 2000 2001 Gereja Gereja Katolik Mesjid Pura Wihara Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2001. 2004.Gambar 6. 2006 dan Olah Data KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 123 .17 Banyaknya Tempat Peribadatan Sesudah Otonomi Khusus 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 2001 2002 2003 Gereja Gereja Katolik Mesjid Pura Wihara Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2005. 2001. 2004. 2002. 2005.

2004.5. Gambar 6. kapasitas produksi. Penurunan tersebut dipengaruhi salah satunya oleh faktor pemekaran provinsi Papua. mengalami peningkatan pada tahun 2001 sampai dengan 2003.18 Banyaknya Perusahaan Air Minum.1. Sedangkan pada tahun 2004 dan 2005 mengalami penurunan. 2001. Air Bersih Pertumbuhan banyaknya perusahaan air minum. grafik tidak mengalami peningkatan atau 0% (tetap). menurut tingkat kabupaten/ kota sesudah pelaksanaan Otsus di Provinsi Papua dilihat pada lima tahun terakhir. sumber air baku dan tenaga kerja dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2001. 2005. menurut tingkat kabupaten/kota sebelum pelaksanaan Otsus di provinsi Papua dilihat pada lima tahun terakhir. Menunjukkan adanya akselerasi peningkatan.8% atau 11 unit perusahaan baru/ pengelola air bersih. mengalami peningkatan. Pertumbuhan fasilitas air bersih sebelum Otsus. Kapasitas Produksi dan Sumber Air Baku Sebelum Otonomi Khusus 1800 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 1997 1998 1999 2000 2001 Jml Perusahaan Kapasitas Potensial Kapasitas Efektif Tenaga Kerja Sumber : Papua Dalam Angka 1999. Kabupaten dan kota yang berada pada wilayah administrasi Papua Barat sudah tidak memberikan data terbaru ke Provinsi Papua.6. Pertumbuhan banyaknya perusahaan air minum. 2002. Pertumbuhan perusahaan air minum setelah Otsus sebesar 1. kapasitas produksi. sumber air baku dan tenaga kerja dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2005. 2006 dan Olah Data 124 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . 2003.

1. menurut tingkat kabupaten/kota sesudah pelaksanaan Otsus di Provinsi Papua pada lima tahun terakhir. Pada tahun ajaran 1997/1998 ke tahun ajaran 1998/1999 mengalami trend penurunan. 2003.Gambar 6. mengalami pertumbuhan atau adanya peningkatan jumlah sekolah menurut jenisnya. Pada tahun ajaran 2000/1001 sampai dengan tahun ajaran 2004 mengalami trend peningkatan.9% atau 2747 tempat pendidikan. Penurunan fasilitas pendidikan sebesar 2. yang memunculkan Provinsi Papua Barat. 2005. 2002. 2001. Sedangkan pada tahun 2005 mengalami penurunan yang dipengaruhi faktor pemekaran Provinsi Papua.6%. Penurunan dipengaruhi pemekaran Provinsi Papua menjadi dua provinsi yakni Papua dan Papua Barat. 2004. Kapasitas Produksi dan Sumber Air Baku Sesudah Otonomi Khusus 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 2001 2002 2003 2004 2005 Jml Perusahaan Kapasitas Potensial Kapasitas Efektif Tenaga Kerja Sumber : Papua Dalam Angka 1999. sedangkan pada tahun ajaran 1998/1999 sampai dengan tahun ajaran 2000/2001 menunjukkan adanya pertumbuhan 0.19 Banyaknya Perusahaan Air Minum.6. 2006 dan Olah Data 6. Prasarana Pendidikan Pertumbuhan banyaknya sekolah dirinci menurut jenisnya per kabupaten/kota di Provinsi Papua dari tahun ajaran 2000/2001 sampai dengan tahun ajaran tahun 2004. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 125 . sedangkan pada tahun ajaran 2005 menunjukkan adanya penurunan fasilitas pendidikan.

2004.Gambar 6. 2006 dan Olah Data 6. Prasarana Kesehatan Trend pertumbuhan jumlah puskesmas.20 Pertumbuhan Banyaknya Sekolah Sebelum Otonomi Khusus 2500 2000 1500 1000 500 0 Sekolah Dasar SLTP SLTA 1997/1998 1998/1999 1999/2000 2000/2001 Sumber : Papua Dalam Angka 1999. dan balai pengobatan gigi Pertumbuhannya selama lima tahun sebesar 0. 2001. 2003.8% (1198 unit sarana kesehatan) sesudah Otsus mengalami 126 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . puskesmas pembantu. 2003. 2002. 2002.7. balai pengobatan swasta.6% (1144 unit sarana kesehatan ) dan Setelah Otsus Pertumbuhan fasilitas kesehatan 3. 2006 dan Olah Data Gambar 6. 2005. 2001. 2005.21 Pertumbuhan Banyaknya Sesudah Otonomi Khusus 2500 2000 1500 1000 500 0 Sekolah Dasar SLTP SLTA Umum SLTA Kejuruan 2000/ 2001 2001 2002 / 2002/ 2003 2003/ 2004 2004 2005 Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2004.1.

2003. Menunjukkan adanya akselerasi peningkatan. Balai Pengobatan Swasta dan Gigi Sebelum Otonomi Khusus 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 1997 1998 1999 2000 2001 Puskesmas Pembantu Balai Pengobatan Swasta Balai Pengobatan Gigi Puskesmas Sumber : Papua Dalam Angka 1999. Puskesmas Pembantu. Pertumbuhan jumlah rumah sakit pemerintah.peningkatan sekitar 4. sebelum pelaksanaan Otsus di Provinsi Papua pada lima tahun terakhir. mengalami penurunan untuk jumlah rumah sakit umum pemerintah. 2001.7%. swasta dan TNI sebesar 23. Sedangkan Pertumbuhan banyaknya rumah sakit umum pemerintah.22 Pertumbuhan Banyaknya Puskesmas. 2002. Gambar 6. 2005. Sedangkan rumah sakit swasta meningkat dan TNI tetap.5%. setelah Otsus pertumbuhannya 0.4%. 2006 dan Olah Data KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 127 . 2004. swasta dan TNI menurut per kabupaten kota di Provinsi Papua dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2001.

2003. Balai Pengobatan Swasta dan Gigi Sesudah Otonomi Khusus 1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Balai Pengobatan Swasta Balai Pengobatan Gigi Puskesmas Puskesmas Pembantu Sumber : Papua Dalam Angka 1999.24 Pertumbuhan Banyaknya Rumah Sakit Sebelum Otonomi Khusus 14 12 10 8 6 4 2 0 1997 1998 1999 2000 2001 RS. 2004. Swasta RS. 2005. Puskesmas Pembantu.23 Pertumbuhan Banyaknya Puskesmas. 2003. TNI Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2006 dan Olah Data 128 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . 2006 dan Olah Data Gambar 6.Gambar 6. 2001. 2004. 2001. 2002. 2002. Pemerintah RS. 2005.

25 Pertumbuhan Banyaknya Rumah Sakit Sesudah Otonomi Khusus 12 10 8 6 4 2 0 2000 2001 2002 2003 2004 2005 RS. 2002. TNI Sumber : Papua Dalam Angka 1999. Air Bersih. Kemajuan ini masih dapat ditingkatkan lagi. atau sekitar 13. Swasta RS.4.Gambar 6. 2005.62% dari total dana Otsus tahun 20022006 yang mencapai Rp 9. Pos dan Telekomunikasi. karena pada tahun 2001-2006. 2006 dan Olah Data 6. Pemerintah RS. 2004.25 trilyun. Simpulan Secara umum terdapat kemajuan yang penting dalam bidang Infrastruktur di Papua pasca Otsus. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 129 . Tempat Peribadatan.26 trilyun. total dana Otsus untuk pembangunan infrastruktur mencapai Rp 1. yaitu pada Prasarana dan Sarana Transportasi Darat. 2003. dan Prasarana Kesehatan. 2001. Prasarana Pendidikan. Listrik.

130 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .

Jakarta: Kemitraan untuk Tata Kelola yang Baik. perkebunan.Bagian Ketujuh EKONOMI KERAKYATAN1 1. kecil. yang juga dianut oleh Pemerintah. kelautan. Pemahaman ini yang juga diambil dalam evaluasi pengembangan ekonomi kerakyatan di Papua di era Otsus. adalah perekonomian yang berbasis setempat. hingga mikro. dan makanan. dan mempunyai bentuk usaha formal maupun informal. pemahaman umum. pelaku lokal. Namun demikian. dan perdagangan berskala menengah hingga mikro. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 131 . Kebijakan pengembangan ekonomi kerakyatan tidak dicantumkan secara khusus pada UU Otsus. mempunyai skala usaha menengah. Muatan Kebijakan Salah satu pemahaman yang masih ambigu adalah pemahaman berkenaan dengan istilah “ekonomi kerakyatan”. 2008. misalnya usaha pertanian. peternakan. industri kecil atau juga disebut sebagai industri kerajinan. Pada pasal 42 ayat (1) UU Otsus disebutkan bahwa “Pembangunan perekonomian berbasis 1 Bagian ini mengambil materi dari Laporan Evaluasi Otonomi Khusus Papua Bidang Ekonomi Kerakyatan. terdapat sejumlah pasal yang dapat dikaitkan dengan usaha untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan. Jenis usaha ekonomi kerakyatan biasanya terikat dengan kondisi lokal. Meskipun demikian. perikanan. Salah satu bentuk usaha yang dimasukkan pada pemahaman “ekonomi kerakyatan” adalah koperasi.

75 ton. di mana produksi pada tahun 2001 adalah 4 ton. Pada bagian terakhir pada pasal 42 disebutkan bahwa “Pemberian kesempatan berusaha sebagaimana dimaksud (pasal 42 ayat (1)) dilakukan dalam kerangka pemberdayaan masyarakat adat agar dapat berperan dalam perekonomian seluas-luasnya”. namun pada tahun 2005 dilaporkan memproduksi 125 ton. ubi kayu. Selanjutnya disebutkan juga bahwa “Penanam modal yang melakukan investasi di wilayah Provinsi Papua harus mengakui dan menghormati hak-hak masyarakat adat setempat” dan bahwa “Perundingan yang dilakukan antara Pemerintah Provinsi. Komoditi jambu mete. Kota Sorong Pertanian. Perkembangan produksi pertanian meningkat untuk semua komoditi. Tiga komoditi terakhir merupakan kelompok makanan pokok lokal.2. Perkebunan.1. meningkat menjadi 262 ton pada tahun 2005.2. Di tingkat daerah. belum didapatkan kebijakan yang merupakan penerjemahaman secara operasional dari kebijakan UU Otsus ini. Tidak terdapat laporan luas lahan pertahun dan perkembangannya sebelum dan setelah Otsus. Produksi ubi jalar pada tahun 2001 adalah 92 ton. dengan pertumbuhan paling tinggi pada produksi buah-buahan. Pada tahun 2001 (sebelum Otsus) produksi buah-buahan hanya 56 ton/tahun. meningkat menjadi 304 ton/tahun pada tahun 2005. Produksi jagung pada tahun 2001 adalah 3. meningkat menjadi 156 ton pada tahun 2005. yaitu coklat merosot dari 34 ton pada tahun 2001 menjadi 3 ton pada tahun 2005. hingga tahun 2004 tidak ada produksi. Perkembangan produksi perkebunan mengalami peningkatan penting hanya untuk komoditi kelapa. Pada masa Otsus dilaporkan terdapat kemajuan yang terbatas dalam produksi perkebunan di Kota Sorong. Komoditi penting. Kabupaten/ Kota. ubi jalar. 7. Pada masa Otsus dilaporkan terdapat kemajuan dalam produksi pertanian di Kota Sorong. meningkat menjadi 550 ton pada tahun 2005.kerakyatan dilaksanakan dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat adat dan/atau masyarakat setempat”. dan jagung. Implementasi dan Kinerja Kebijakan 7. 132 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . dan penanam modal harus melibatkan masyarakat adat setempat”. meningkat menjadi 66 ton pada tahun 2005. Produksi ubi kayu pada tahun 2001 adalah 339 ton. baik dalam bentuk Perda Khusus (Perdasus) maupun Perda Provinsi (Perdasi).

Pada tahun 2004 berjumlah 284 unit dengan tenaga kerja 2.2.91 ton. 7.48 ton.39 milyar menjadi Rp 21. tepung ikan.62 milyar pada tahun 2005. Pada kelompok ke dua terdapat usaha makanan-minuman dan tembakau.3. Pertanian. disusul usaha kerajinan dan umum. pada tahun 2005 merosot menjadi 2.447 pada tahun 2002. tetapi pekerja yang diserap menurun menjadi 1. Pada tahun 2002 meningkat menjadi 341. Populasi ternak potong –sapi. Nilai produksi meningkat dari Rp 9. Pada tahun 2001 produksi padi mencapai 9.212 pada tahun 2003.Kabupaten Manokwari. Pada kelompok ke tiga terdapat industri sandang dan kulit.228 ton pada tahun 2001 menjadi KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 133 . Secara keekonomian.960 ekor. Peternakan. Produksi pertanian di Kabupaten Jayapura mengalami penurunan semenjak Otsus. dan tahun 2004 meningkat kembali menjadi 439 ton.187. Kabupaten Jayapura.2. ikan kaleng. tetapi masih di bawah potensi yang dapat dicapai maupun terhadap rerata laju pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi selama 5 tahun berjalan.766 pada tahun 2005. Industri kecil di Manokwari didominasi oleh industri kimia dan bahan bangunan. Alasan yang dikemukakan adalah adanya pemekaran wilayah Kabupaten. Pada tahun 2005 dilaporkan meningkat kembali menjadi 4.251 ton. Untuk populasi ternak unggas mengalami kemajuan penting.612 ekor.010 pekerja. dan ikan kayu. babi.634.854 pekerja. Nilai investasi meningkat dari Rp 16. Produksi jagung menurun dari 3. Pada tahun 2000 total produksi untuk seluruh komoditi mencapai 1. Industri. dari 463 unit usaha pada tahun 2001 menjadi 447 pada tahun 2005. Pada tahun 2001 populasi ternak potong mencapai 2. kambing—mengalami fluktuasi sepanjang implementasi Otsus. pada tahun 2004 menurun menjadi 1.2.87 juta menjadi Rp 16. cakalang.193. dari populasi 36.175 pada tahun 2001 menjadi 360. meningkat menjadi 3. yang mengurangi areal lahan pertanian di Kabupaten Jayapura. meningkat kembali menjadi 4.83 ton di tahun 2001.Perikanan. tuna. Komoditas perikanan di Kota Sorong adalah udang beku. Industri. Pada tahun 2005 jumlah tersebut meningkat menjadi 362 unit usaha. 7. menurun drastis pada tahun 2002 menjadi 331. meningkat menjadi 1.51 juta. Industri kecil mengalami peningkatan setelah Otsus. dapat dikatakan terdapat pertumbuhan.917 ton.62 ton.

Produksi tiga komoditi utama perkebunan di Kabupaten Jayapura. Setelah Otsus ditemukan penurunan kredit yang disalurkan kepada KUK. dari 29 ton pada tahun 2001 meningkat menjadi 76 ton pada tahun 2005. Namun demikian. 7. terutama karena adanya injeksi finansial dan berkembangnya ruang untuk 134 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . sebesar 67. Produksi kedelai menurun dari 3. kelapa (kopra).035 ton pada tahun 2005.512 ton pada tahun 2001 menjadi 795 ton pada tahun 2005. dan 29. Produksi kelapa menurun dari 3. 15. Peternakan. mengalami penurunan setelah Otsus.8% untuk investasi.443 ton.070 ton pada tahun 2005. Perkebunan. 24.969 hektar pada tahun 2001 menjadi 4. pada tahun 2005 jumlah tersebut menurun menjadi Rp 139. Kenaikan hanya terjadi pada komoditi kopi.885 pada tahun 2005.5% untuk modal kerja. Simpulan Perkembangan ekonomi rakyat pasca Otsus seharusnya meningkat pesat. Pada tahun 2001 tahun jumlah kredit yang disalurkan kepada KUK senilai Rp 216.882 hektar pada tahun 2005. Ubi jalar menurun dari 7.24 milyar. meningkat menjadi 846 ekor pada tahun 2005.447 hektar pada tahun 2001 menjadi 1. dari 4. Pada tahun 2005 komposisinya adalah 58.487 ton pada tahun 2005.3. meningkat menjadi 1. terjadi perubahan komposisi kredit. Produksi sapi potong pada tahun 2001 adalah 750 ekor. Kredit Usaha Kecil (KUK). Produksi yang mengalami sedikit penurunan adalah ubi kayu.2% kredit disalurkan untuk kredit konsumsi.261 ekor pada tahun 2005.9% untuk kredit konsumsi. menurun menjadi 1. meningkat menjadi 1. Luas lahan untuk perkebunan pinang menurun dari 297 hektar pada tahun 2001 menjadi 121 hektar pada tahun 2005. Luas lahan untuk perkebunan kopi menurun dari 195 hektar pada tahun 2001 menjadi 133 hektar pada tahun 2005. yaitu kakao. Produksi kambing potong pada tahun 2001 adalah 370 ekor.882 ton pada tahun 2005. Penyebab utama adalah terjadi penurunan jumlah lahan untuk perkebunan tersebut.3% untuk investasi. Luas lahan untuk perkebunan kakao menurun dari 6. Produksi babi potong pada tahun 2001 adalah 674 ekor.803 ekor pada tahun 2005.238 hektar pada tahun 2005.325 ton pada tahun 2001 menjadi 1.03 milyar. dan buah pinang.638 ton pada tahun 2001 menjadi 2.3% untuk modal kerja. Pada tahun 2001. Luas lahan untuk perkebunan kelapa menurun dari 5. Pada tahun 2001 produksi kakao mencapai 3.830 ton pada tahun 2001 menjadi 3. dan 8.

di dalam perkembangannya. perkebunan. sebagian besar sektor ekonomi kerakyatan menurun.pengembangan ekonomi secara otonom dan “dari dalam” (indigenous). terutama di sektor pertanian. dan perikanan. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 135 . Namun. serta mengalami perkembangan di bawah harapan untuk usaha kecil menengah dan peternakan.

136 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .

Arti penting evaluasi ini karena hingga hari ini “wajah Otsus” lebih berupa besaran Rupiah yang ditransfer Pusat ke otoritas lokal di Papua.943.1 Dana Otsus Dari Tahun ke Tahun Tahun 2002 2003 2004 Dana Otsus 1.000 1.000 1.Bagian Kedelapan SIMPULAN 8.642.000 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 137 .560.300.1. bagaimana kinerja kebijakan Otsus selama ini. memberikan gambaran penting untuk pertanyaan dasarnya adalah.000.539. Wajah Otsus Penelitian evaluatif tentang kinerja Otsus selama lima tahun pelaksanaan (20022007) yang dilaksanakan. Data berikut ini menggambarkan besaran “wajah otsus” tersebut.382. Tabel 8.617. khususnya berkenaan dengan transfer dana Otsus dalam jumlah yang cukup memadai untuk percepatan pembangunan di Papua.000.

000 2005** 28.723.745.000 59.000 40.191.600.798.896.062.000.2005 2006 2007 1.715.000.051.000 28.829.628.000 40.000.000 30.465.937.000 30.000.244.330.000.000 47.000.000 61.000 28.562.779.768.000 5.000 53.775.150.000 59.774.000.000 30.000.000.400 32.196.314.000 38.411.000 30.000 61.000 33.000.000 42.000.000.000 35.000 32.330.730.549.000.600 37.000 31.000.300.000.000 31.000 33.100.656.667.230.972.676.000 25.300.232.000 3.223.652.136.280.274.600.000.242.400 5.000.000 29.190.000 5.061.000 37.000 2003* 46.000 31.300.000 33.000 33.000 5.991.530.000.569.190.050.768.711.200 33.460.000 32.000 32.000 54.927.100.330.760.570.000.200 39.000 33.926.972.000 Tabel 8. 2007 138 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .000.000 2.250.000.360.669.000.000 59.998.400 38. Pemprov Papua.915.000.082.000 36.008.018.000 34.000 5.060.330.000.936.000.100.584.430.109.000 61.589.092.913.000 29.200 33.000.000 52.211.972.000 30.000 5.610.000 30.000 30.604.500.000 1 Laporan Pengelolaan Dana Penerimaan Khusus dalam Rangka Pelaksanaan Otsus Papua 2002-2006.300.983.995.690.505.000 30.964.000.000.000 55.200 35.000 37.000 36.000 57.000.000.2 Alokasi Dana Otsus Kabupaten/Kota Tahun 2002-20061 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Kabupaten/ Kota Jayapura Yapen Waropen Biak Numfor Merauke Jayawijaya Paniai Puncak Jaya Mimika Nabire Kota Jayapura Waropen Asmat Boven Digoel Mappi Sarmi Keerom Tolikara 2002* 44.000 28.000.000 5.455.000 56.312.500.000.000.790.453.000 27.981.000.407.000 57.407.100.000 2006** 54.019.163.801.000 61.471.000.130.110.218.958.845.100.000 55.000 41.000 2004** 35.506.798.000 27.530.648.948.301.000.500.000 35.931.500.178.000.191.760.852.000 55.300.000.000 37.260.980.788.000.200 56.000 39.

246.000.000.465.692. implementasi.798.000.040.000 32.530.600 605.000 46.000.000. kebijakan bidang kesehatan 3.000 5.937.481.438.000 50.647.656.000 29.100.170.000. kinerja.000.000.000.448.000 52.930.2.731.000. lihat Riant Nugroho.000 53.705.712.777.000 54.300. kebijakan umum 2. implementasi.000 55.000 5.000 Ket: (*) perimbangan alokasi dana Otsus kab/kota 40%.200. Model Penilaian Evaluasi Pada laporan di atas ditunjukkan bahwa kebijakan otonomi khusus memberikan kontribusi yang penting dalam enam sektor kebijakan.000 31.760. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 139 .056.000.000 5.798.000 38.500.000 56.000 55.000 34.000.200 37. Kebijakan pengembangan ekonomi kerakyatan Evaluasi dilakukan pada dimensi muatan atau rumusan kebijakan.232.520.956. dan kinerja kebijakan2. 8.000.000 27.471.400 34.447. Pada evaluasi ini.600.191. provinsi 60%.802.000 32.000 19.386. dan lingkungan. dan lingkungan.000 30.000 5.000 55.000 552.000.000 20.191.000.481. sehingga tidak dilakukan evaluasi.000.768.000.668.000 33.315.557.000 5.331.000 855.512.000 31.000.000 43.000. kinerja.000.500.000.000 61.000 30.002.000 959.622.073.000 32.000 35.000 5. implementasi kebijakan.000 30. Jakarta: Elex/Gramedia.050.539. kebijakan bidang infrastruktur 5.000 32.000 29.000 33.711. Dimensi evaluasi kebijakan adalah rumusan.000 61. (**) Kab/kota 60%.804.000 29.865.360.030.754.000 1.000.219.804. bidang pendidikan 4.927.000 28.000 29.260.710.000 54.760.000.000 30.000 32.549.000.000. yaitu: 1. kebijakan pengembangan masyarakat sipil 6. Provinsi 40%.770.18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 Pegunungan Bintang Yahukimo Supiori Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Sorong Selatan Raja Ampat Fak-Fak Manokwari Sorong Kota Sorong Total 30.000.500. Dimensi evaluasi kebijakan adalah rumusan. materi yang tidak tersedia adalah lingkungan.000.500.980.000.750.937.000.000.407. 2008.229.000 28.000.000.563.000.806.000.000 57.000 48. Public Policy.768.800.000.000 30.530. 2 Untuk pendekatan ini.140.294.292.000 5.062.

(2) Ada tidak memadai. Untuk kinerja bermakna “tidak ada kinerja kebijakan”.Gambar 8. Untuk implementasi bermakna “ada implementasi kebijakan dan memadai untuk mencapai kinerja yang diharapkan”. sehingga tidak dilakukan evaluasi. (3) Ada dan memadai. Penilaian dalam bentuk skala nilai pilah tiga: (1) Tidak ada. Dengan penjelasan: Untuk “muatan kebijakan” bermakna “ada kebijakan yang mendukung dan sudah memadai”. Untuk implementasi bermakna “tidak ada implementasi kebijakan”. Dengan penjelasan: Untuk “muatan kebijakan” bermakna “tidak ada kebijakan yang mendukung”. 140 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Dengan penjelasan: Untuk “muatan kebijakan” bermakna “ada kebijakan yang mendukung tetapi tidak memadai”. materi yang tidak tersedia adalah lingkungan kebijakan. Untuk kinerja bermakna “ada kinerja kebijakan dan memadai atau mendekati yang diharapkan”.1 Rangkaian kebijakan Pada evaluasi ini. Untuk implementasi bermakna “ada implementasi kebijakan tetapi tidak memadai untuk mencapai kinerja yang diharapkan”. Untuk kinerja bermakna “ada kinerja kebijakan tetapi tidak memadai”.

Dwidjowijoto and Muhamad Abas. Rumusan kebijakan yang baik adalah rumusan yang membuat pelaksananya dapat melaksanakan dengan mudah sesuai dengan kemampuannya dan akhirnya mudah pula dalam mencapai kinerja yang sudah dirancang. UNDP-Bappenas.8. Thematic Assessments on Strengthening Local Governance Central Sulawesi and North Maluku. kondisi muatan kebijakan berada pada rerata penilaian 2 ke 3. 2004. Kondisi ini disebabkan karena kebijakan yang ada belum mengandung muatan atau rumusan yang mendukung implementasi.1. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 141 . Rahmi Yunita. kecuali untuk kebijakan masyarakat sipil dan ekonomi kerakyatan. lihat tabel 1. 4 Untuk Tipologi Sistem Politik Masyarakat Adat di Papua.4 3 Skoring pada penilaian ini didasarkan kepada model penelitian grounded. Riant Nugroho. Secara politis. Dapat dikatakan. Metode penilaian dengan model grounded ini digunakan antara lain dalam Nina Shatifan.3. tetapi tidak memadai”. agar rancangan pembangunan sesuai dengan mereka yang akan dibangun –tailored-made model of development srategy. baik kebijakan di tingkat pusat (UU Otsus) maupun di tingkat daerah (Provinsi). kebijakan ini masih memerlukan kejelasan pemahaman untuk dapat dilaksanakan. pada Bab I.3 Penilaian atas Hasil Evaluasi Otsus3 Kebijakan kebijakan umum Kesehatan Pendidikan infrastruktur masyarakat sipil ekonomi kerakyatan Muatan 2 ke 3 2 ke 3 2 ke 3 2 1 1 ke 2 implementasi 2 2 1 ke 2 1 ke 2 1 ke 2 1 ke 2 Kinerja 2 2 1 ke 2 2 1 ke 2 1 ke 2 Dari gambaran tersebut dapat dikatakan bahwa rata-rata kinerja Otsus untuk keenam sektor kurang dari 2 atau “ada kinerja. masih diperlukan rumusan kebijakan yang bersifat operasional dan dapat dilaksanakan sesuai dengan kondisi daerah. Penilaian Evaluasi Dengan mempergunakan pendekatan di atas. Salah satu pendekatannya adalah dengan memahami tipologi atau karakter dan keragaman masyarakat yang hendak dibangun. kinerja Otsus dapat dipetakan melalui tabel hasil evaluasi berikut ini: Tabel 8. Namun.

penilaian evaluasi dari muatan. Lemahnya implementasi disumbangkan oleh lemahnya muatan kebijakan dan lemahnya kelembagaan di tingkat pelaksana (Provinsi dan Kabupaten/Kota).Faktor lemahnya implementasi –dengan rerata 1 ke 2-. implementasi. namun masih perlu ditingkatkan dimensi manajerialnya (atau managerial quality of the policy).2 Rangkaian Evaluasi Jadi dapat disimpulkan dari sisi muatan. dan kinerja kebijakan terhadap enam sektor. divisualisasikan secara sederhana sebagai berikut: Gambar 8. agar dapat diimplementasikan secara efektif. 142 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . khususnya rumusan kebijakan di tingkat daerah/lokal. rumusan kebijakan yang ada telah memadai.menentukan rendahnya kinerja kebijakan. Secara keseluruhan.

8. baik disebabkan oleh faktor implementasi maupun faktor rumusan/muatan kebijakannya sendiri. Namun demikian. Simpulan Umum Secara umum. menjadikan kinerja otonomi khusus belum dapat mencapai sebagaimana yang dikehendaki.578 atau sama dengan 81. kondisi desa dimaksud di Papua berbeda dengan kondisi di Jawa. dan rumusan kebijakan yang masih kurang tinggi kualitas implementabiltasnya (atau disebut sebagai managerial quality sebagaimana disebut di atas). baik dari sisi capaian yang tangible. keseluruhan kampung tersebut dalam kondisi di bawah sejahtera. Angka ini kurang lebih setara dengan 72. bahkan miskin absolut. khususnya dalam konteks tingkat keterbelakangan. yaitu kinerja-kinerja yang dapat diukur dengan indikator kuantitatif.593 Kampung5 yang tersebar di 254 distrik (kecamatan). Kata kampung di Papua lebih berkonotasi kawasan bukan perkotaan.Dari sisi implementasi. Dapat dikatakan. 70% penduduk asli Papua berdomisili di 2. mengakibatkan kualitas implementasi tidak memadai. Februari 2007. khususnya dalam ukuran ke-modern-an. 5 Secara penggunaan kata. Special-Autonomy dari Papua masih banyak difahami sebagai Special-Automoney.52% dari total rumah tangga yang ada. belum tingginya kapasitas kelembagaan dan sumberdaya manusia untuk menyelenggarakan Otsus di satu sisi.72% penduduk asli Papua yang tingkat kehidupannya dikategorikan miskin.4. Pada pertemuan tersebut Gubernur menyampaikan --berdasarkan laporan data statistik-. Otsus dirancang untuk fokus kepada pengembangan masyarakat yang hidup di kampung ini. maupun capaian yang bersifat intangible berupa tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelaksanaan kebijakan otonomi khusus. disimpulkan bahwa kinerja Otsus selama lima tahun implementasi masih belum mencapai kinerja yang diharapkan.Rumah Tangga (RT) miskin di Papua tercatat sebanyak 480. Salah satu pernyataan resmi yang dinilai signifikan sebagai indikator rendahnya kinerja Otsus adalah pernyataan Gubernur Barnabas Suebu pada Sidang Paripurna perdana pembahasan RAPBD Papua Tahun Anggaran 2007. Impak dari kegagalan implementasi. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 143 . kampung adalah sebuah kawasan setara dengan desa namun letaknya di perkotaan. atau suatu kawasan perdesaan. Kelemahan kinerja tersebut ditunjukkan dari pernyatan resmi yang disampaikan oleh pejabat Pemerintah Daerah pada berbagai kesempatan.

adalah orang-orang miskin-papa.060.78%). berarti jumlah penduduk miskin naik sebesar 32 ribu atau 3.7 917. sedangkan di Papua Barat pada periode yang sama sebesar 266.8 ribu (39.Laporan Pemerintah Provinsi Papua menyebutkan pada tahun 2007 terdapat 480. Laporan BPS Maret 2007 menyebutkan.028.2 ribu. jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Papua pada bulan Maret 2007 sebesar 793. atau bahkan miskin absolut. Dengan perkataan lain.83%).2 1.4 ribu (40.4 Penduduk Miskin Papua 1999-2006 Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Sumber : BPS 2007 Jumlah (dalam ribuan jiwa) 1. Total penduduk miskin di kedua provinsi tersebut pada bulan Maret 2007 berjumlah 1.060. Tabel 8. dan Raperdasi Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRP. atau sama dengan 81.9 900.7 970.2 793. Angka ini kurang lebih setara dengan 72.148. Maret 2007 144 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . tanpa kecuali.72% penduduk Papua yang dikategorikan miskin. Kamis 1 Februari 2008 7 Laporan BPS.8 1. di seluruh pelosok Papua. Dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan Juli 2005 yang berjumlah 1.2 ribu (40.1% pada periode 2005-20077.52% dari total rumah tangga yang ada.0 956. penduduk di semua kampung. Raperdasi Tata Cara Persetujuan MRP.31%). yang harus memperoleh perhatian utama dalam seluruh kebijakan dan program pembangunan di tanah Papua6.028.8 984.4 6 Gubernur Barnabas Suebu pada Pembukaan Rapat Paripurna DPRP dalam rangka Pengesahan Raperdasus Pembagian Dana Otsus.578 rumah tangga miskin di Provinsi Papua.

Maret 2007 Laporan BPS.46% pada Maret 2007.54%) penduduk miskin berada di daerah perdesaan. mayoritas (95. pendidikan. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 145 .76%. terjadi penambahan penduduk miskin di daerah perdesaan sebesar 38 ribu orang. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. persentase penduduk miskin di perkotaan turun sebesar 0. Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan. Pada bulan Maret 2007. Maret 2007 Publikasi awal Millenium Development Goals di Provinsi Papua dan Papua Barat. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin menjauh dari garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin melebar. 8 9 10 11 Laporan BPS. Pada periode Juli 2005-Maret 2007. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menaik meskipun besarannya kecil.82% sementara di pedesaan sebanyak 84. Pada bulan Maret 2007. peranan komoditi makanan di perkotaan sebesar 63.7% menjadi 5. Pada gambar berikut kita dapat melihat kondisi kedalaman dan keparahan kemiskinan pada Provinsi Papua11. sandang. sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 77.03% merupakan sumbangan dari komoditi makanan10.Selama periode Juli 2005-Maret 2007. Maret 2007 Laporan BPS. sementara di daerah perkotaan penduduk miskinnya berkurang sebanyak 6 ribu orang8. Dibanding periode Juli 2005. dan kesehatan). Sementara penduduk miskin di pedesaan mengalami kenaikan9.15% pada Juli 2005 dan 4. Dilihat antar daerah.

38%. Kondisi ini diperkuat dengan perkembangan PDRB Papua yang mengalami penurunan persentase pertumbuhan antara tahun 2005-2007.4%. baik dilihat dari segi rerata kemiskinan di dalam Papua. Data sementara pada tahun 2007 menunjukkan pertumbuhan PDRB -17.60%.20%. Laporan Pekembangan Mutakhir Beberapa Indikator Terpilih 33 Provinsi di Seluruh Indonesia 146 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . atau mengalami penurunan 53.3. jauh di atas rata-rata pertumbuhan PDRB yaitu 5. angka sementara pada tahun 2006 menunjukkan bahwa pertumbuhan PDRB menurun menjadi -17. Namun demikian.Gambar 8. Kondisi Kedalaman (P1) dan Keparahan (P2) Kemiskinan di Papua Simpulan sementara adalah kemiskinan di Papua tetap memprihatinkan.96%12. Pada tahun 2005 pertumbuhan PDRB mencapai 36.58%. Otsus telah memperkuat kelembagaan pemerintahan dan masyarakat di tingkat 12 Bappenas. juga dibandingkan dengan tingkat kemiskinan nasional yang pada tahun 2008 sudah menurun menjadi 16.

000.000.000.382.642.83 40. sehingga menyerap anggaran yang besar.539.78 Gambaran tersebut memberikan simpulan bahwa kebijakan Otsus yang telah mendapatkan dukungan besar di tingkat nasional.300.560. injeksi dana Otsus. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 147 . Otsus juga mendapatkan dukungan dana khusus yang jumlahnya semakin meningkat sejak 2002-2007.03 38.230.943.218.5 Perbandingan Dana Otsus Dengan Tingkat Kemiskinan Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Dana Otsus (trilyun rupiah) 1. di luar ketiga dana perimbangan.274. Tabel berikut memberikan perbandingan antara perkembangan jumlah dana otonomi khusus dengan tingkat kemiskinan.80 39.000. belum menunjukkan keterkaitan dengan upaya penanggulangan kemiskinan di Papua. dalam perkembangannya.40 40.000 2. secara umum belum menghasilkan kinerja kebijakan sebagaimana yang diharapkan.69 40.000 1.617.000 1.913.000 1. Tabel 8.000 Sumber : BPS 2007 Jumlah penduduk miskin (%) 41.775. penguatan kelembagaan di tingkat lokal.000 3. Namun demikian.312.000.lokal.

maka setiap kebijakan senantiasa merupakan suatu rangkaian rumusan.1 Rangkaian Kebijakan 148 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . lingkungan.Bagian Kesembilan PEMBELAJARAN 9. Sebagaimana dikemukakan di atas. implementasi. dan kinerja kebijakan itu sendiri. Gambar 9.1. Pendekatan Pembelajaran Kebijakan Penyebab rendahnya kinerja suatu kebijakan tidak pernah tunggal.

sudah memadai. rekomendasi pertama adalah merumuskan regional strategic management yang sesuai dengan kebijakan Otsus dan kemampuan dari lembaga pemerintahan dan masyarakat di tingkat daerah untuk melaksanakannya. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 149 . utamanya dalam bentuk prioritas yang sesuai dengan kapasitas lokal. yaitu 1. namun berpotensi untuk membelokkan upaya untuk menemukan faktor kunci yang selama ini menjadi kendala untuk mencapai kinerja Otsus itu sendiri. berhubungan dengan pemekaran Provinsi Papua menjadi Provinsi Papua dan Papua Barat (sebelumnya Irian Jaya Barat). Kebijakan UU No. Perdakot. dalam bentuk kebijakan publik di tingkat Daerah (Perdasi.9. 4. Perdasus) yang bermuatan strategi manajemen untuk melaksanakan kebijakan Otsus. menyempurnakan. Perdakab. 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas UU No. Dari pemetaan di atas.2. Agenda untuk merubah. Terlebih. yang diturunkan dari Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara Tahun 1999-2004 Bab IV huruf (g) angka 2 dan Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. 21 Tahun 2001 yang menyebutkan bahwa Otsus diberikan untuk Provinsi Papua adalah Provinsi Irian Jaya yang kemudian menjadi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. dan penahapan yang tepat. disarankan agar rumusannya bersifat dapat dilaksanakan (manage-able) dalam kondisi lokal. Untuk itu. 6. 3. telah diterbitkan Perpu No. atau melengkapi dapat diajukan. kebijakan umum kebijakan bidang kesehatan bidang pendidikan kebijakan bidang infrastruktur kebijakan pengembangan masyarakat sipil Kebijakan pengembangan ekonomi kerakyatan Dengan demikian. kebutuhan pertama adalah membangun kebijakan pelaksana di tingkat daerah. Fokus dari kebijakan yang hendak dikembangkan dapat mengacu kepada ke enam sektor yang dievaluasi di depan. 2. Rumusan Kebijakan Dari segi rumusan atau muatan kebijakan. pada tanggal 16 April 2008. 5.

hal. Akulturasi budaya birokrasi menjadi suatu yang mendesak dibutuhkan. Tantangan terbesar bagi implementasi Otsus adalah bagaimana melaksanakannya tanpa tergantung kepada lembaga dan sumberdaya manusia yang tidak terdapat di Papua dan Papua Barat. Beverly Hills. Kecenderungan pemekaran daerah turut andil dalam memperkuat dominasi dari formasi suku dominan untuk menguasai struktur pemerintah. Secara akademis dapat dikatakan bahwa birokrasi yang diterapkan di Papua lebih mendekati pengertian Weber tentang “dominasi patrimonial”. 2 S. cit.2 Dalam masyarakat yang mengenal sistem monopoli atas penguasaan sumber daya seperti sistem politik pewarisan. baik fungsi politik maupun administratif. California. 23. 1991. maka cenderung terbentuk bibit pola patron-klien di masyarakat. instalasi budaya butuh waktu lama sedangkan 1 Syukur Abdullah.N. Sage Publication. Implementasi Kebijakan Rekomendasi kedua adalah melakukan upaya membangun kapasitas kelembagaan dan manusia di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. terlebih budaya birokrasi-responsif. Eisenstadt. 5. 150 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Profil Budaya Politik Indonesia. Hanya warga Papua dan Papua Barat yang dapat melakukan implementasi kebijakan secara lebih efektif. Pustaka Utama Grafiti. Ketiga. Dan keempat.1 Ciri-ciri dominasi birokrasi patrimonial menurut Weber ini adalah: pertama. Jakarta. 1973. dalam Priyo Budi Santoso. Akibatnya kecenderungan korupsi menguat manakala unit-unit keluarga suku masuk dan menguasai struktur pemerintahan.3. pejabat-pejabat disaring atas dasar kriteria pribadi dan politik. op. Tantangan terbesar adalah membangun birokrasi pemerintahan lokal.. dalam arti elit-elit suku mampu membeli loyalitas itu dengan cumacuma lewat legitimasi kekerabatan dan hukum adat sehingga peluang elit suku untuk berkuasa melalui struktur pemerintah jauh lebih menjanjikan. sebagai pelaku utama implementasi Otsus. Mobilisasi suku jauh lebih efektif manakala sistem patron-klien yang berkembang di internal suku kuat. hal. Jabatan dipandang sebagai sumber kekayaan atau keuntungan. pejabat-pejabat mengontrol. Kedua. “Budaya Birokrasi di Indonesia” dalam Alfian dan Nazaruddin Sjamsuddin (eds). hal. jabatan dan perilaku dalam keseluruhan hirarki lebih didasarkan pada hubungan pribadi dan hubungan patron-klien. setiap tindakan diarahkan oleh hubungan pribadi dan politik. karena tidak ada pemisahan antara sarana-sarana produksi dan administrasi.9. Gejala membelah diri yang cepat di beberapa daerah banyak menguntungkan suku-suku yang secara teritori memiliki cakupan luas dengan jumlah klan yang besar. 22. Traditional Patrimonialism and Modern Neo-patrimonialism. Persoalannya.

Di daerah hasil pemekaran. Kajian Akademik Pemekaran Kabupaten Puncak dari Kabupaten Puncak Jaya. sehingga harus dibuat kebijakan baru. komunikasi dan relasi dengan pelaku ekonomi dari luar. hingga tahun 2007 sudah terbentuk 15 kabupaten pemekaran baru yang hampir seluruhnya belum diketahui evaluasi menyeluruh atas kinerja pemerintahan pasca pemekaran. masalah muncul manakala pemisahan diri dari daerah induk tidak diikuti oleh persiapan manajemen transisi di daerah pemekaran. Pasca otsus digulirkan tahun 2002. Keterbatasan sumberdaya aparatur. Kuantitas dan kualitas aparat yang juga sangat terbatas. d. Keterbatasan sumberdaya fiskal. �Perjuangan Menuju Puncak�. 2006 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 151 . Bidang Pemerintahan a. baik dari sisi jumlah. seperti gedung dan peralatan perkantoran. dan pasar. 3. b. seperti rumah sakit. responsif dan bermoral. bahkan belum adanya kebijakan yang akan diteruskan atau dikembangkan. mulai dari transportasi. hasil studi dari beberapa daerah pemekaran di luar ke 15 kabupaten baru di Papua. Infrastruktur fisik pendukung proses pemerintahan. Pengalaman lembaga dalam menjalankan fungsi pemerintahan yang sangat terbatas. Insfrastruktur pendukung pembangunan ekonomi yang sangat terbatas. Institusi ekonomi seperti pelaku produksi. Bidang Ekonomi a. Namun. serta kualifikasi teknis dan substantif. c. distribusi dan keuangan (lembaga keuangan bank maupun non-bank) yang sangat terbatas. 3 Cornelis Lay dan Purwo Santoso (editor). sekolah. permasalahan ini terutama mencakup beberapa hal:3 1. Barangkali ini yang menjadi dilema manajemen sumber daya manusia (SDM) di Papua manakala dihadapkan pada tantangan menyiapkan SDM yang terampil. kualifikasi administratif (seperti golongan kepegawaian sebagai prasyarat untuk menduduki jabatan tertentu). Bidang Pelayanan Publik a. b.pemerintahan butuh pemahaman yang cepat agar roda pelayanan publik segera berjalan. 2. Terlebih jika sumber daya aparatur di daerah induk juga tidak memadai. S2PLOD UGM. karena mengandalkan transfer dari daerah induk. yang terjadi adalah disposisi ini membuat birokrasi pemerintah di daerah induk juga tertatih-tatih. Tantangan membangun kelembagaan berhadapan dengan isu pelik: pemekaran wilayah. Infrastruktur fisik pelayanan yang terbatas. b.

bidang kesehatan 11. dan prioritas pembangunan pada sektor pendidikan dan kesehatan. Kehadiran desentralisasi kekuasaan dalam bentuk otonomi daerah. anggaran infrastruktur menghabiskan 55% dana otsus di tahun 2004 dan 45% di tahun 2005. yang dimekarkan tahun 2003.4. Pegawai yang cakap dan mempunyai cukup kemampuan justru tersisih atas nama identitas kultural.75%.89%.43% dan 11. namun belum ada pelembagaan dan preseden sebelumnya. berturut-turut dalam dua tahun anggaran 2004 dan 2005 pendidikan mendapat 15. Pemekaran juga berdampak pada konsentrasi penggunaan dana terutama dalam mempersiapkan infrastruktur pemerintah. Di Sarmi misalnya. Studi Wilayah Pantura. tapi lebih pada semangat menempatkan putra asli daerah pada jabatan strategis pemerintahan.2%.86% dan 7. 1 November 2007. Bidang Sosial dan Politik a. Perebutan posisi-posisi politik dan birokratik dalam pemerintahan antar kelompok yang ada dalam masyarakat. apalagi otonomi khusus. hal 4 5 Kasus alokasi dana Otsus di Kabupaten Sarmi pasca pemekaran tahun 2003. kekuasaan berada di tangan putra asli daerah. Tantangannya adalah bagaimana memastikan setiap program yang didisain dalam konteks Otsus. Pada konteks ini. Persaingan untuk menduduki posisi strategis di pemerintahan tidak lagi didasarkan pada kompetensi personal. b. 4 Evaluasi Otsus Provivinsi Papua. makin menegaskan pengertian otonomi adalah soal pengelolaan daerah yang menjadi hak masyarakat asli daerah. Perebutan sumberdaya antara daerah baru hasil pemekaran dengan daerah induk maupun daerah tetangga.65% dan 8.4 Tersedotnya dana Otsus untuk pembangunan fisik pemerintahan menyebabkan penurunan prioritas alokasi dana Otsus untuk pelaksanaan program berbasis masyarakat di bidang pendidikan. Sederhananya. tetapi bukan lembaga dan SDM lokal –sementara lembaga dan SDM lokal belum mampu. harus didisain sesuai dengan kapasitas lokal dalam melaksanakannya. dalam bentuk upaya membangun kapasitas kelembagaan dan sumberdaya manusia di dalam organisasi publik di tingkat lokal (provinsi dan kabupaten/kota). termasuk yang ditawarkan oleh donor. ibid 152 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . kesehatan. dan bidang ekonomi 17. ekonomi kerakyatan dan kebijakan publik lain. 5 Tantangan implementasi selanjutnya adalah ketergantungan yang tinggi kepada implementor dalam bentuk lembaga dan SDM berketrampilan tinggi yang diperlukan untuk melaksanakan rancangan implementasi. dimungkinkan untuk mengarahkan prioritas pembangunan kepada upaya membangun kapasitas lokal.

berkenaan dengan lingkungan kebijakan. Model ini dapat dinamakan penilaian-mandiri-kinerja-pembangunan-Otsus (Otsus-selfassesment-performance). Konsep “khusus” lebih berkenan dengan besaran hak finansial bagi daerah daripada sebuah desakan untuk membuat sebuah bentuk khusus dari suatu otonomi. perlu dirancang program untuk menciptakan kesebangunan (kongruensi) pola pikir. Pertama. 22 Tahun 1999 yang kemudian digantikan oleh UU No.9. berpotensi untuk menurunkan peluang mencapai kinerja Otsus secara maksimal.4. Kebijakan desntralistik yang telah diambil Indonesia sejak reformasi dalam bentuk UU No. Kinerja Kebijakan Rekomendasi ketiga. Kedua. terutama yang terjadi pada lembagalembaga yang secara tradisional mempunyai pengaruh kuat kepada masyarakat lokal. ini merupakan revitalisasi dari oligarki kesukuan dalam bentuk kelembagaan modern. Sebagai sebuah asymetric decentralization Otsus merupakan keunikan. tidak pernah terdapat kepastian yang jernih KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 153 . 9.5. bahwa pluralitas yang ekstrem. yaitu dalam konteks kinerja kebijakan. Kinerja pembangunan di bawah Otsus atau di bawah metode apa pun tidak akan tercapai dengan efektif jika konteks pembangunannya sendiri berada pada kondisi konflik. Otsus dinilai memberikan kemanfaatan kepada elit politik lokal daripada masyarakat secara luas. dengan tiga pertimbangan. dan tindak dari elit politik dan masyarakat Papua dan Papua Barat berkenaan dengan Pembangunan di bawah Otsus. Kedua. Beyond Policy Pada tingkat tertentu.6. kebijakan Otsus perlu difahami sebagai sebagai sebuah fenomena “beyond policy”. 32 Tahun 2004 telah membangun tata kelola Indonesia yang baru dalam pola “desentralistik” daripada “sentralistik”. Pertama. Lingkungan Kebijakan Rekomendasi ke empat. model pemantauan dan penilaian pembangunan dapat ditingkatkan efisiensinya. 9. Dengan demikian. dan model tersebut menyatu satu sama lain antar program pembangunan. sekaligus keanehan. perlu disusun model penilaian kinerja yang melekat kepada setiap program pembangunan. Dalam pemahaman politik. sikap. Analisis terhadap lembaga masyarakat sipil memperlihatkan dua hal kritikal. Otsus sebenarnya adalah sebuah “kompromi politik” daripada sebuah pilihan kebijakan.

Dengan sebagian masyarakatnya yang berada pada peradaban awal. kondisi pembangunan di Papua memerlukan sebuah strategi pembangunan yang tidak mungkin mengadopsi dari Jawa atau daerah lain di Indonesia. karena begitu khasnya dari sisi manusia hingga alam yang penuh dengan tantangan.and Why Poor Countries Stays Poor (New York” Carol Graff.. apakah hendak membangun kesejahteraan rakyat Papua ataukah memperkuat posisi atau kekuatan politik di tingkat lokal dan terhadap Pusat. namun pada kondisi birokrasi yang korup. kegagalan pembangunan bukan disebabkan kesalahan dalam konsep atau kebijakan. Ketiga. Reinert dalam How Rich Countries Got Rich. 6 David Bodanis dalam The Undercover Economics (London: Little Bron.yang begitu jauh di depan. 2006) mengemukakan bahwa dalam banyak negara berkembang. 2007). Bodanis mengambil contoh negara-negara Afrika dan Amerika Latin. Lemahnya birokrasi identik dengan birokrasi yang tidak efisien. dan teramat minimnya infrastruktur modern. membangun tata kelola yang baik (good governance) di tingkat lokal menjadi kebutuhan yang penting untuk berjajar dengan prioritas lain6. Karena itu. Premis yang sama diungkap oleh oleh Erik S.apa kehendak dari elit politik Papua. Kebijakan Otsus berpotensi “dibajak” oleh oligarkhi lokal. 154 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . dan identik dengan itu adalah birokrasi yang korup. berhadapan secara diametral dengan kemajuan daerah lain di Indonesia –dan dunia-. Hal ini dicerminkan dari inkongruensi dari pemikiran Otsus dengan bentuk kebijakan lokal serta arah implementasi. menjadikan upaya membangun Papua memerlukan “lebih dari sekedar kebijakan”.

Irian Jaya: Membangun Masyarakat Majemuk. 1995 (1923). Globalization and Decentralization. Wright. 1988 (1974). Jong S. 1996. Practices. & Deil S. 1996. Jakarta: KPK-BPS RI KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 155 . 1985 (1906).. Jakarta: Djambatan KPK. Management: Task.DAFTAR PUSTAKA Drucker. Anthony. Washington: Georgetown Univesity Press Kemitraan-POLOKDA. Responsibilities. Aceh di mata Kolonialis. Peter F. Snouck.). “Globalization and Decentralization: An Overview”. Laporan Partnership-Ilmu Pemerintahan UGM. London: Butterworth and Heinemman Hurgronje. “Aceh” Jay. 2008. Naskah Akademik dan RUU Keistimewaan Yogyakarta Koentjaraningrat (ed) 1993.. Jakarta: INIS.1987 (1967) Management and Machiavelli. Data dan Informasi Komite Penanggulangan Kemiskinan 2003. Jung & Wright (eds. Snouck. Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje. London: Hutchinson Book Jun. Jakarta: Yayasan Soko Guru Hurgronje.

2001. Administrative Behavior. Subardi. Jakarta: KPG/Gramedia Wehner. Decentralization and Development: Policy Implementations in Developing Countries. Ricklefs. 2004. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. 1971. “Asymetrical Devolution”. Membongkar Mitos Keistimewaan Yogyakarta. 1983. Dennis A. Abdur. Jakarta: Serambi Rozaki. Fadel. no. London: Sage Simon. Yogyakarta: Pilar Sumardjan. Papua Ethno-Political Conflict: Causes.. & Shabbir Cheema. 1981. 2 June 2000. Arifah. Jakarta: Elex/Gramedia. and Keith Putman. 2003. Yogyakarta: UGM Press Vlekke. Selo. New York: Free Press. Mengisi Rumah Kosong: Polemik Seputar RUU DIY. 1998. 2008. vol 17. Context. Thesis. “Implementing Decentralization Policies: An Introduction”. 156 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Yogyakarta: IRE Press Rondinelli.). 1993 Pollit. Joachim. Reinventing Local Governance. Perubahan Sosial di Yogyakarta. 2008. MC. Herbert. dan Titok Hariyanto. Marwati Djoened. 2008. Development Souhthern Africa. Poesponegoro. Johnson Birchall. and Policy Implication. Decentralising Public Serive Management. dan Nugroho Notosusanto. Christopher.Muhammad. Naval Post Graduate School Menterey. BHM. London: MacMillan Rahmawati. 1983. California. 2000. Nusantara: Sejarah Indonesia. dalam Cheema & Rondinelli (eds.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->