P. 1
METODOLOGI PERIWAYATAN HADIS

METODOLOGI PERIWAYATAN HADIS

|Views: 48|Likes:
Published by imamwewe

More info:

Published by: imamwewe on Jan 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/25/2012

pdf

text

original

METODOLOGI PERIWAYATAN HADIS (Kajian Terhadap Periwayatan Hadis bi al-Lafẓīy wa al-Ma’na dan Metode al-Taḥammul al-Ḥadīth wa Adāʻuhū) Oleh

: Akh. Syaiful Rijal PAI-FIQIH (A) PASCASARJANA IAIN SUNAN AMPEL 2010 A. Pendahuluan Hadis Nabi Saw. merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an yang dihadirkan sebagai salah satu petunjuk bagi umat Islam dalam menjalankan tuntunan agamanya. Keberadaan hadis dalam kehidupan masyarakat menjadi penting tatkala dalam al-Qur’an tidak didapatkan penjelasan yang rinci dalam suatu persoalan. Namun, kehadiran hadis sebagai sumber pokok ajaran Islam, memang banyak dipersoalkan, hal ini berkaitan dengan matan, perawi, sanad dan lainnya, yang kesemuanya menjadi penentu boleh atau tidaknya suatu hadis untuk dijadikan hujjah. Hal ini yang menyebabkan ijtihad para ulama hadis bisa melahirkan dua komponen ilmu dalam mempelajari, memahami, menganalisa dan mengamalkan hadis Nabi saw, yaitu yang dikenal dengan ilmu riwayah dan ilmu dirayah hadis . Keduanya tidak dapat dipisahkan sebagai dasar untuk mengetahui otentisitas hadis. Di awal masa Islam sudah timbul perbedaan pemahaman dalam penyampaian redaksi hadis yang dilakukan para sahabat antara tekstual dengan kontekstual sehingga melahirkan apa yang disebut dengan periwayatan hadis bi al-lafẓi wa al-ma’na. Pada tingkat selanjutnya ada permasalahan dalam tata cara penerimaan dan penyampaian hadis yang dikenal dengan istilah taḥammul al-ḥadīth wa adā’uhū, yang bisa menentukan kualitas sebuah hadis karena terkait dengan orang yang meriwayatkannya. Dalam makalah ini kami akan mendeskripsikan dan menganalisa lebih jauh tentang taḥammul al-ḥadīth wa adā’uhū dan periwayatan hadis bi al- lafẓi wa al-ma’na, sebagai salah satu bidang cakupan penentu kevalidan sebuah hadis. B. Definisi Periwayatan Hadis bi al-Lafẓiy dan bi al-Ma’na Ada dua tata cara dalam proses transmisi redaksi hadis, yakni periwayatan yang dilakukan secara lafal dan periwayatan secara makna. 1. Definisi Periwayatan Hadis bi al-Lafẓiy Periwayatan hadis dengan lafal adalah cara periwayatan hadis yang disampaikan sesuai dengan lafal yang disabdakan oleh Nabi saw. secara persis tanpa ada perubahan sedikitpun pada tatanan kalimatnya. Atau dengan kata lain, meriwayatkan hadis dengan lafal yang masih asli dari Nabi saw. Riwayat hadis dengan lafal ini sebenarnya tidak ada persoalan, karena sahabat menerima langsung dari Nabi baik melalui perkataan maupun perbuatan, dan pada saat itu sahabat langsung menulis atau menghafalnya. Sahabat yang terkenal ketat dalam menjaga otentisitas redaksi hadis adalah Abdullah bin Umar. Ia tidak memperkenankan adanya pengurangan atau penambahan satu huruf pun dari redaksi hadis. Dalam sebuah kasus, ia pernah menegur ‘Ubaid bin Amir ketika meletakkan puasa dalam lima prinsip Islam pada urutan nomor tiga yang seharusnya ada pada urutan nomor empat sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi saw. Dikisahkan pula bahwa Barrā’ ibn ‘Āzib pernah diajari oleh rasulullah saw. sebuah do’a sebelum tidur yang didalamnya ada kata “bi nabiyyika” dan ketika itu al-Barra’ menyakan apakah kata itu bisa diganti dengan “bi rasūlika” beliau menolak, dan tetap meneruskan dengan kata “bi nabiyyika”. Untuk lebih jelasnya penulis bisa menyajikan bentuk doa yang diajarkan oleh Nabi saw kepada al-Barra’ bin ‘Azib,

rukun Islam. ” b. Hadis yang berkaitan dengan masalah aqidah seperti tentang dzat dan sifat Allah. Akan tetapi dalam kenyataannya periwayatan hadis dengan lafal ini sangat sedikit jumlahnya. bersabda. Hal demikian dilakukan karena mengingat peringatan keras Nabi saw yang akan memasukkan mereka pada golongan pendusta hadis. إذا قال حين‬ ّ ّ ‫. Jawāmi’ al-kalimah (ungkapan-ungkapan Nabi saw yang sarat makna) karena Nabi saw memiliki faṣaḥaḥ dalam perkataan yang tidak dimiliki yang lainnya. bersabda. Aku akui segala nikmat-Mu bagiku. doa. Mereka mewajibkan periwayatan hadis dengan lafal. rukun iman. أمنت بكتابك الذي أنزلت ونبيك الذي أرسلت‬ “Apabila kamu berbaring di tempat tidurmu dalam keadaan suci lalu meletakkakan tangan kananmu (pada kepalamu sebagai bantal) maka berdoalah. aku pasrahkan urusanku pada-Mu. ‫المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده . Jika mereka menemukan keraguan untuk meriwayatkan sebuah hadis. ulama ushul dan ulama hadis yang tidak memberikan ruang sedikitpun pada periwayatan hadis secara makna. dan sebagainya. Ya Allah aku sejahterakan wajahku di hadapan-Mu. seperti tentang bacaan azan. Bisa diambil contoh seperti sabda Nabi saw tentang umat Islam. Dari Abū Hurairah ra.” Tingkat kepedulian para sahabat dalam menjaga otentisitas hadis ini tergambar jelas ketika mereka tidak gegabah dalam meriwayatkan hadis sebelum mereka yakin betul kebenaran lafal dan ketepatan huruf serta memahami maknanya. bahwa Rasulullah saw.يمسي فمات دخل الجنة، أو كان من أهل الجنة، وإذا قال حين يصبح فمات من يومه مثله‬ “Paling tingginya ucapan istighfar adalah: ‘Ya Allah Engkaulah Tuhanku. ‫سيد الستغفار: اللهم أنت ربي، ل إله إل أنت، خلقتني وأنا عبدك، وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت، أبوء لك‬ ‫بنعمتك علي، وأبوء لك بذنبي فاغفر لي، فإنه ل يغفر الذنوب إل أنت، أعوذ بك من شر ما صنعت. tiada Tuhan selain Engkau. dan ku akui segala dosa ini pada-Mu maka ampunilah aku karena tiada yang bisa mengampuni segala dosaku selain Engkau. Dan atas janji dan ancaman-Mu aku lakukan semampuku. Hadis yang bisa dijadikan contoh untuk lafal ibadah ini seperti bacaan dzikir yang diriwayatkan dari Shaddad bin Aus ra. demikian juga jika dibaca pada waktu pagi. zikir.اليك ل ملجأ ول منجى ال اليك.sebagai berikut. Sikap demikian tidak hanya terjadi di tingkatan pada sahabat tetapi dapat ditemui pula dari pendapat segolongan ulama fiqh. tiada pelindung dan tempat berharap selain kepada Engkau. bahwa Rasulullah saw. Jika ini dibaca pada waktu sore kemudian ia mati maka ia langsung masuk surga atau ia termasuk dari penduduk surga. syahadat. Ciri-ciri hadis yang memang harus diriwayatkan dengan lafal ini hanya terbatas pada antara lain: a. seperti. dan lain sebagainya. والمهاجر من هجر ما نهى ال عنه‬ “Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya. Aku beriman pada kitab yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang Engkau utus. mereka memilih diam. Hadis yang merupakan lafal-lafal ibadah (ta’abbudiyyah). Untuk kategori ini penulis mengambil contoh hadis tentang sifat Allah swt. dan tidak memperbolehkan periwayatan dengan makna sama sekali.” c. Aku berlindung pada-Mu dari keburukan apa yang aku lakukan’. dan aku lindungkan harapanku pada-Mu. Engkau menciptakanku maka aku adalah hamba-Mu. . ‫إذا أويت الى فراشك طاهرا فتوسد يمينك ثم قل: اللهم أسلمت وجهي اليك وفوضت أمري اليك وألجأت ظهري‬ ‫.

atau wa al-lafẓ li alBukhārīy”. kemungkinan masanya sudah lama sehingga yang masih diingat hanya maksudnya sementara apa yang diucapkan Nabi sudah tidak diingatnya lagi. Karena itu. banyak dijumpai hadis yang memiliki makna sama tapi diungkapkan dengan redaksi yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan para sahabat memiliki kualitas daya ingatan yang beragam. Menukil atau meriwayatkan hadis secara makna ini hanya diperbolehkan ketika hadishadis belum terkodifikasi. Definisi Periwayatan Hadis bi al-Ma’na Dalam sejarah perjalanan hadis diketahui bahwa sepeninggal Rasulullah saw. meskipun tidak setingkat dengan susunan kalimat Nabi saw. dimanakah para raja dunia itu?’” Namun ketika dihadapkan pada persoalan bahwa hadis bukan hanya berbentuk perkataan saja tetapi juga dengan perbuatan dan ketetapan Nabi saw. periwayatan hadis itu diperketat agar tidak terjadi periwayatan yang bukan dari Nabi saw. periwayatan secara lafal tidak mungkin seluruh hadis bisa dilaksanakan mengingat pengertian hadis itu sendiri merupakan segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi saw. Qasim bin Muhammad. 2.‫يقبض ال الرض يوم القيامة، ويطوي السماء بيمينه، ثم يقول: أنا الملك، أين ملوك الرض؟‬ “Pada hari kiamat Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kananNya. apa yang diungkapkan oleh Rasulullah saw hanya dipahami maksudnya saja. ibadah dan yang mengandung kalimat-kalimat yang sarat makna dari Nabi saw. yaitu tidak boleh masuk pada ranah hadis yang berbau aqidah. Bisa didefinisikan bahwa periwayatan hadis dengan makna adalah periwayatan hadis dengan maknanya saja sedangkan redaksinya disusun sendiri oleh orang yang meriwayatkan. tidak diperbolehkan merubahnya dengan lafal/matan yang lain meskipun maknanya tetap tanpa ada perubahan. Adapun hadis-hadis yang sudah terhimpun dan dibukukan dalam kitab-kitab tertentu (seperti sekarang). dengan mengharuskan para perawi menyampaikan hadis apa adanya. kita bisa menjumpai komentar hadis “muttafaq ‘alayh. seperti Abu Bakar al-Arabi. lalu disampaikan oleh para sahabat dengan lafal atau susunan redaksi mereka sendiri. Dengan demikian. dan Sa’lab bin Nahwiy. perbuatan. Muhammad bin Sirin. penetapan. tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikitpun. dan mereka telah menyaksikan secara langsung keadaan dan perbuatan Nabi saw. Untuk memperjelas adanya hadis yang diriwayatkan secara makna penulis akan memberikan gambaran contoh sebagai berikut. sehingga redaksi hadis tidak mengalami perubahan sama sekali. tekad dan cita-cita Nabi saw. Tetapi dalam kenyataannya. Yaitu. Atau dengan kata lain. para ulama yang bersikeras mempertahankan riwayat hadis secara lafal. ‫ل يجد احد حلوة اليمان حتى يحب المرء ل يحبه ال ل و حتى ان يقذف فى النار احب اليه من ان يرجع الى‬ ‫. ‘Akulah yang Raja Diraja. Di samping itu. Menurut hemat penulis. Kemudian Dia berfirman. mereka berpendapat bahwa periwayatan redaksi hadisnya secara makna sepenuhnya hanya diperbolehkan pada tingkatan sahabat. mengingat karena para sahabat memiliki pengetahuan bahasa Arab yang tinggi (faṣaḥaḥ). Tentunya hal ini tetap dalam batasanbatasan yang telah diungkapkan oleh para ulama di atas. ada yang kuat dan ada pula yang lemah. tetapi mereka menyandarkannya pada Nabi saw demi kepentingan diri atau kelompok mereka. Raja’ bin Haywah. baik perkataan. yang tidak semua dalam bentuk perkataan sehingga keharusan periwayatan hadis harus dengan lafal itu tidak bisa terjadi.الكفر بعد إن انقذه ال وحتى يكون ال ورسوله احب اليه مما سواهما‬ . wa al-lafẓ li Muslīm. tampak sangat jelas bahwa periwayatan hadis secara makna itu ada dan diperbolehkan.

Imam Shāfi’iy menerangkan tentang sifat-sifat perawi. adalah ‘Alī bin Abī Ṭālib. Bahkan. sebab jika hadis tersebut tidak tersampaikan meski dengan maknanya.” Dari penjelasan ini nyatalah bahwa orang yang mengetahui hal-hal yang memalingkan makna dari lafal. Abū Hurairah.ل، وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار‬ “Tiga hal yang membuat seseorang akan merasakan manisnya iman. tetapi dengan syarat ia termasuk orang yang berilmu sangat dalam mengenai Bahasa Arab. lebih senang dilempar ke dalam neraka daripada kembali pada kekufuran sesudah ia diselamatkan oleh Allah. lafal dan maknanya. ‫ثلث من كن فيه وجد حلوة اليمان: أن يكون ال ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء ل يحبه إل‬ ‫. mengetahui hal-hal yang memalingkan makna dari lafal dan hendaklah dia dari orang yang menyampaikan hadis persis sebagaimana yang didengar. “Jika seseorang tidak lupa kepada lafal hadis niscaya tidak boleh dia menyebutkan hadis itu dengan bukan . mengetahui sistem penyampaian dan penyusunan kalimatnya. Secara tidak langsung mereka memperbolehkan meriwayatkan hadis secara makna. namun keduanya diungkapkan dengan redaksi yang berbeda. dan berpandangan luas tentang fiqh beserta istilah-istilah hukum di dalamnya sehingga akan tetap terjaga dari pemahaman yang berlainan dan hilangnya kandungan hukum dari hadis tersebut. Tetapi apabila ia menyampaikan hadis secara yang didengarnya. karena dia telah menerima hadis. ‘Ikrāmah. bukan diriwayatkan dengan makna. baik dalam penggunaan lafal maupun susunannya. tidak lagi kita khawatir bahwa dia memalingkan hadis kepada yang bukan maknanya. Hadis di atas sama-sama menerangkan tema tentang iman. yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari lainnya. Dan hendaklah ia benar-benar memelihara kitabnya jika dia meriwayatan dengan hadis itu dari kitabnya. ia mencintai seseorang karena Allah dan membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci untuk dicampakkan ke dalam neraka”. ‘Amr bin ‘Ash. Imam Mawardi mewajibkan menyampaikan hadis dengan maknanya jika susunan lafalnya tidak bisa diingat lagi. antara lain.“Tidaklah seseorang akan mendapatkan manisnya iman sampai ia mencintai seseorang hanya karena Allah. Kalau tidak demikian maka tidak diperbolehkan meriwayatkan hadis hanya dengan maknanya saja dan wajib menyampaikan dengan lafal yang ia dengan dari gurunya. maka ia termasuk orang yang menyembunyikan sumber hukum Islam. “Hendaknya orang yang menyampaikan hadis itu seorang yang kepercayaan tentang agamanya lagi terkenal bersifat benar dalam pembicaraannya. Dalam kesempatan lain Al-Māwardiy juga berpendapat. Anas bin Mālik. dan Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada lainnya”. boleh meriwayatkan dengan makna apabila dia tidak ingat lagi lafal yang asli. dan lain sebagainya. Jumhur ulama pun sebenarnya telah sepakat memperbolehkan seseorang mendatangkan atau meriwayatkan hadis dengan maknanya saja tidak harus dengan lafal aslinya. Ibnu Abbās. 3. karena apabila diriwayatkan dengan makna sedang dia seorang yang tidak mengetahui hal-hal yang memalingkan makna niscaya tidaklah dapat kita mengetahui boleh jadi ia memalingkan yang halal kepada yang haram. memahami apa yang diriwayatkan. yaitu hadis itu sendiri. Sikap Para Sahabat dan Jumhur Ulama terhadap Periwayatan Hadis bi al-Ma’na Para sahabat yang banyak menerima hadis dengan redaksi yang beragam.

penghinggaan (al-ghāyah) dan yang semacamnya. Nabi saw bersabda. setelah meriwayatkan hadis mereka mengatakan “aw kamā qāla” (atau seperti yang disabdakan Nabi saw). b. Sesungguhnya berpangkal dari perbedaan tentang boleh-tidaknya periwayatan secara makna.” Dengan pengakuan di atas menunjukkan bahwa periwayatan hadis dengan makna sudah tidak asing lagi di kalangan umat Islam.” Pendapat lain diungkapkan oleh Ibnu Sirin . “Aku telah mendengarkan hadis dari sepuluh perawi yang mengandung makna sama tapi diungkapkan berbeda-beda. Pendapat yang terakhir ini banyak diikuti oleh ulama hadis. termasuk di dalamnya imam mazhab yang empat. tabi’in dan para ahli hadis setelah mereka sudah mentradisikan ungkapan khusus sebagai tanda bahwa hadis yang diriwayatkannya dilakukan secara makna. Maka sepatutnya kiranya kita mengikuti jejak mereka dalam setiap selesai mengutarakan sebuah hadis sebagai sikap kehati-hatian kita atau memang ada keraguan dalam membacakan susunan kalimatnya. ُ ْ ُ َّ َ . dan lain-lain. ulama hadis mempersoalkan tentang boleh tidaknya perawi hadis meringkas atau memenggal matan hadis. Hadis riwayat al-Baihaqiy dari Abdullah bin al-Ukaymah al-Laith. tidak terpenggal kalimat yang mengandung kata pengecualian (al-istithnā’). Metodologi al-Taḥammul wa al-Adāʻ Hadis Dalam ilmu hadis istilah yang digunakan oleh ulama ahli hadis tentang proses penerimaan dan periwayatan hadis (al-Taḥammul wa al-Adāʻ). maka harus ada hadis yang dikemukakan secara sempurna. e. yang melakukan peringkasan haruslah orang yang benar-benar telah mengetahui kandungan hadis yang bersangkutan. Menurut penulis. Pendapat yang cukup realistik dan hati-hati adalah pendapat yang membolehkannya dengan catatan harus dipenuhi syarat-syarat tertentu. Hadis Rasulullah saw menjadi landasan untuk memperkuat pendapat para ulama yang memperbolehkan meriwayatkan hadis secara makna. syarat yang dimaksud adalah: a. Abu Darda’. Gambaran kondisi ini juga yang memperkuat pendapat jumhur ulama tentang pembolehan meriwayatkan hadis dengan makna. atau “aw shibhahu” (atau riwayat yang serupa). “aw nahwa hādha” (atau riwayat sejenis ini). syarat. Selajutnya. 1. ada yang membolehkannya tanpa syarat dan ada yang membolehkannya dengan syarat-syarat tertentu. yang melakukan ringkasan bukanlah periwayat hadis yang bersangkutan. terutama mengenai keadaan peperangan atau peristiwa tertentu.lafalnya.تحمل – يتحمل تحمل‬ ً ّ َ َ ُ ّ َ ََ َ ّ َ َ Dikatakan ‫ حمله المر‬maknanya adalah “membebankan suatu urusan kepadanya”. C. d. Praktek seperti ini sering dilakukan oleh Abdullah Ibnu Mas’ūd. Ada yang melarangnya. apabila peringkasan dilakukan oleh periwayat hadis. peringkasan tidak merusak petunjuk dan penjelasan yang terkandung dalam hadis yang bersangkutan. karena di dalam ucapan-ucapan nabi sendiri terdapat faṣaḥaḥ yang tidak terdapat pada perawinya. “aw qarīban minhu” (atau yang mendekati). ‫إذا لم تحلوا حراما ول تحرموا حلل فل بأس‬ “Jika kalian tidak merubah yang halal menjadi haram dan yang haram menjadi halal maka itu tidak apa-apa” Untuk menjaga sikap kehati-hatiannya dalam setiap meriwayatkan hadis para sahabat. Definisi al-Taḥammul al-Hadith dan al-Adāʻ al-Hadīth Pengertian al-taḥammul menurut bahasa yaitu bentuk maṣdar dari : ‫. Anas bin Malik. c. ulama berbeda pendapat tentang periwayatan hadis dengan cara meringkas atau memenggal matan tersebut.

d. dan tidak pelupa. Perbedaan tersebut tergambar sebagai berikut. Al-’adalah. Untuk itulah para ulama juga berbeda dalam menentukan boleh dan tidaknya anak yang belum baligh menerimakan hadis. Al-dhabtu. c. Abdullah bin Zubayr. Ada syarat ukuran usia dari perawi yang masih anak-anak untuk bisa mendengarkan riwayat hadis. orang seperti ini mempunyai hafalan yang kuat. Contoh dari kalangan sahabat pada saat mereka masih belia sudah menerima hadis adalah seperti Ḥasan Ḥusain. Umur minimalnya lima tahun. Orang ini tidak mau melakukan dosa besar. Adapun orang yang menyampaikan (adā’ al-hadīth) hadis harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. kriteria di atas merupakan penentu diterima tidaknya riwayat hadis yang mereka sampaikan. b. Islam. c. dan aku ketika itu berusia lima tahun. Yang dimaksud dengan persyaratan ini adala sifat yang melekat pada seorang periwayat hadis sehingga ia selalu setia terhadap Islam. maka ia sudah masuk usia tamyiz. pintar. Dan sebaliknya kegiatan menyampaikan atau meriwayatkan hadis dari seorang perawi kepada orang lain disebut dengan istilah al-adā’. Pendapat ini dirumuskan oleh ulama hadis mutaqaddimīn. Namun demikian para sahabat. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Hafīẓ Musa bin Hārūn alHammāl. Salah satu syarat tidak terpenuhi maka gugurlah ia sebagai perawi hadis. berkata. bak ketika menerima pelajaran hadits maupun menyampaikannya. Syarat Kelayakan Penerima dan Penyampai Hadis Dalam kelayakan si penerima hadis para ulama memfokuskan diri pada pengambil hadis dari kalangan anak-anak. Mahmūd bin Rabī’. Dimaksudkan di sini adalah teliti dan cermat.” b. Sebenarnya kegiatan mengumpulkan dan meriwayatkan hadis pada anak-anak sudah biasa terjadi di kalangan ulama.sedangkan menurut istilah adalah mengambil sebuah hadis dari seorang guru dengan cara atau metode tertentu (sebagaimana yang akan dibahas selanjutnya). a. Abdullah bin Abbās. Hadis yang diriwayatkan oleh non Islam tidak dapat diterima. dan selalu menjaga diri sedapat mungkin tidak melakukan dosa kecil. dan sebagainya. Anās bin Mālik. baik mutaqaddimīn maupun muta’akhkhirīn. yaitu ukuran tamyiz. Hadis yang diriwayatkan oleh orang yang tidak mukallaf tidak dapat diterima. Ini dilandaskan pada riwayat Imam al-Bukhārīy dalam ṣaḥīḥ-nya dari hadis Muḥammad bin Rabī’ ra. tabi’in dan ulama fiqh tetap saja menerima hadis mereka tanpa ada pemilihan antara hadis yang mereka terima di waktu para sahabat tadi belum baligh dan sesudah baligh. Namun permasalahan yang muncul kemudian adalah mengenai ukuran tamyiz itu sendiri bagi bisa dipandang berbeda-beda. Sudah barang tentu. Kegiatan mendengar oleh anak-anak itu bisa absah jika ia sudah bisa membedakan antara sapi dan himar. Karena tidak tertutup kemungkinan ada seorang perawi hadis yang ketika menerima hadis ia masih kecil sehingga dimungkinkan juga periwayatan hadisnya tidak sesuai dengan apa yang diterima dari gurunya. Meskipun kegiatan menerima hadis di kalangan anak-anak masih diperbolehkan tetapi dalam menyampaikan atau meriwayatkan hadis mereka . Ini menunjukkan secara jelas tentang keabsahan anak yang belum baligh mendengarkan hadis. Baligh dan berakal sehat. “aku masih ingat siraman Nabi saw dari timba ke mukaku. Abū Sa’id al-Khuḍriy. Menurut analisa penulis. Terbukti bahwa beberapa ahli hadis seperti al-A’mash aktif menyebarkan hadis pada anakanak. Keabsahan mendengarkan hadis bagi anak-anak jika ia telah memahami isi pembicaraan dan mampu memberikan jawaban. 2.

yaitu: a. penerimaan dan periwayatan hadis dengan cara ini (ijazah) merupakan penerimaan lemah dan belum pantas untuk langsung menerimanya. contohnya. 3. maka hadisnya pun juga bisa diterima. Metode al-Taḥammul al-Ḥadīth dan Sighat-Sighat al-Adā’ Metode al-Taḥammul al-Ḥadīth adalah tata cara penerimaan hadis dari seorang guru kepada muridnya. sedangkan dia meriwayatkan beberapa kitab sunan. Istilah yang dipakai adalah: Akhbaranā. yaitu. akhbaranā ijāzatan atau ḥaddathanā ijāzatan. Sementara bagian-bagian ijazah yang lain. 3. yaitu: 1) Yang paling baik dengan mengatakan: ‫أجاز لي‬ . Memberi ijazah kepada orang yang tidak diketahui atau riwayat yang tidak diketahui seperti. bentuknya bisa membaca hafalan. Istilah yang dipakai adalah: Anba’anā. Mengenai pembagian ijazah dalam meriwayatkan hadis para ulama berbeda pendapat. Ungkapan yang dipakai adalah: Sami’tu. 5. dan sebagainya. Dalam metode ini seorang guru dapat mengoreksi hadis yang dibacakan murid. metode inilah yang paling kuat. tanya-jawab atau dikte. Al-ijāzah. “saya memberi ijazah kepada anda untuk meriwayatkan kitab sunan”. atau “saya memberi ijazah kepada Muḥammad bin Khālid al-Dimashqiy. Lafadz-lafadz Penyampaian. b. “saya memberi ijazah kepada si fulan dan anak yang akan dilahirkan”. “Saya memberi ijazah kepadamu meriwayatkan Sahih al-Bukhari”. Memberi ijazah kepada orang yang tidak tertentu dengan riwayat yang tidak tertentu seperti saya memberi ijazah kepada orang-orang di zaman saya untuk meriwayatkan hadis-hadis yang saya dengar. yaitu seorang murid membacakan hadis dihadapan guru.belum bisa diterima. Namun di sini penulis hanya menyajikannya dalam lima kategori saja. Guru memberi ijazah kepada orang tertentu untuk menerima riwayat yang tidak tertentu seperti dia mengatakan. sedangkan sighat-sighat al-adā’ adalah ungkapan-ungkapan yang dipergunakan ketika meriwayatkan atau menyampaikan hadis kepada muridnya sebagai sarana untuk menunjukkan cara pengambilan hadis yang diambil dari gurunya. yaitu suatu metode penyampaian langsung antara guru dengan murid. Dengan kata lain. Guru memberi izin kepada orang tertentu untuk riwayat yang tertentu seperti dia mengatakan. Al-’ardhu atau al-qirā’ah. Beberapa kumpulan ulama pula menganggap cara ini tidak tepat dan ini salah satu dari dua pendapat yang dinukilkan dari Imam al-Shāfi’iy. 1. khilaf tentang keharusan pemakaiannya. ḥaddathanī. c. Metode penerimaan hadis ada 8. Kategori ini adalah bagian ijazah tanpa munawalah yang paling tinggi. Hukum untuk bagian pertama di atas adalah ṣaḥīḥ menurut pendapat mayoritas ulama dan dipakai secara berterusan serta harus meriwayatkan dengan cara ini dan beramal dengannya. boleh menerima hadis di waktu belum baligh dan diriwayatkannya pada waktu sudah baligh dan riwayat hadisnya bisa diterima. Hal ini memiliki relevansi dengan periwatan hadis yang dilakukan oleh seseorang yang di waktu menerima atau mendengar hadis ia belum masuk Islam dan menyampaikannya ketika sudah masuk Islam. ada juga yang membaginya menjadi sembilan . padahal banyak orang yang mempunyai nama ini. 4. yaitu pemberian ijin seorang guru kepada murid untuk meriwayatkan hadis tanpa membacakan hadis satu per satu. 2. “Saya memberi ijazah kepada anda untuk meriwayatkan hadis-hadis yang saya dengar”. Memberi ijazah kepada orang yang tidak ada. membacakan kitab. Ada yang mengatakan dibagi menjadi delapan . Bagaimanapun. Al-samā’. atau ḥaddathanā qirā’atan ‘alayh. Dalam proses penyampaian hadis. Guru membacakan hadis.

Al-Munāwalah. Syekh al-Albany dalam kitabnya “Al-Ḍa’īfah”. g. Ulama dari Mālikiyyah menolak metode ini. “ini riwayat hadisku dari si Fulan. [2] Kedua yang tanpa adanya ijazah seperti perkataan. Ungkapan al-ada’ yang dipergunakan adalah nawalanī. f. Al-wijādah. Karena seandainya pengamalan itu tergantung pada periwayatan hadis maka akan tertutuplah pintu pengamalan hadis yang dinukil (dari Nabi saw) karena tidak mungkin terpenuhi syarat periwayatan padanya. Ibnu Ṣālaḥ mengatakan. Al-waṣiyyah. “ini kumpulan riwayat hadisku yang aku dengar dari si Fulan. cenderung memasukkan pada kumpulan hadis ḍa’īfnya. namun kebanyakan memperbolehkan meriwayatkannya. “aku ijazahkan hadis yang aku tulis ini”. d. karena metode ini masuk kategori maqthū’. nawalanī ijāzatan. Banyak pendapat berkenaan dengan metode al-wijādah. Ulama hadis berbeda pendapat mengenai hukum bagian yang kedua ini. mereka membolehkan mengamalkan hadis dengan cara periwayatan al-wijādah. Sighat yang digunakan seperti “awṣā ilayya fulān bi kadhā atau akhbaranī fulān bi kadhā waṣiyyatan”. Lain halnya dengan golongan ulama Shāfi’iyyah. tapi kebanyakan ulama hadis tidak memperbolehkan meriwayatkannya. yaitu seseorang menemukan catatan hadis seseorang tanpa ada rekomendasi untuk meriwayatkan hadis tersebut. maka riwayatkanlah dariku. 2) Diharuskan dengan lafadz sama’ yang mempunyai ketenntuan seperti ‫( حدثنا إجازة‬dia telah menceritakan kepada kami ّ secara ijazah) atau ‫( أخبرنا إجازة‬dia telah mengabarkan kepada kami secara ijazah). 3) Istilah ulama muta`akhkhirīn: Lafadz ‫(أنبأنا‬menyampaikan kepada kami) dan ini dipilih oleh pengarang kitab al-Wijādah. namun juga ada yang tidak membolehkannya. [1] al-munawalah yang disertai ijazah seperti seseorang mengatakan. Hukumnya kontroversial. Ulama Malikiyah berpendapat. yaitu seseorang memberitahukan satu atau beberapa buah hadis atau kitab hadis kepada orang lain. Ulama hadis membaginya dua macam.” dan ulama hadis menghukuminya boleh. e. Para ulama membagi al-munawalah dalam dua bentuk.” . atau akhbaranā munāwalatan wa ijāzatan. Sighat yang dipakai seperti “a’lamanī shaykhīy bi kadhā”.[2] al-munāwalah tanpa ada ijazah seperti guru menulis surat yang berisi hadis Nabi saw tapi tanpa ada ijazah untuk meriwayatkannya dari penulisnya. yaitu guru mewasiatkan buku catatan hadis kepada muridnya sebelum meninggal dunia. bahwa hadis ini atau kitab hadis ini adalah hasil periwayatannya dari seseorang tanpa menyebut namanya dan tanpa ada izin untuk meriwayatkannya. yaitu guru menginformasikan kepada muridnya. bahwa metode al-wijādah tidak bisa diterima riwayatnya. [1] al-mukatabah yang disertai ijazah seperti perkataan. I’lām al-shaykh. Ini dihukumi ṣaḥīḥ dan sighat aladā’ yang dipergunakan adalah kataba ilayya fulān. Hukumnya boleh karena guru mewasiatkan kitab miliknya bukan riwayatnya.” dan dihukumi tidak boleh untuk meriwayatkannya pada orang lain. yaitu seseorang memberi catatan hadis kepada orang lain. h. sedangkan ulama Shāfi’iyyah menerimanya. “Inilah yang mesti dilakukan pada masa-masa akhir ini. Pendapat ini didukung oleh Imam Nawawi dan Ibnu Ṣālaḥ. Al-Mukātabah.‫( فلن‬si fulan telah mengijazahkan kepada saya). terputus jalan periwayatannya karena tidak adanya pertemuan langsung antara guru dengan murid. akhbaranī fulān kitābatan atau ḥaddathanī fulān kitābatan. Sighat yang digunakan seperti “wajadtu bi khatti fulānin kadzā”.

(Haidar Abad: alMa’arif al-‘Uthmaniyah. 2003. Penutup Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa periwayatan hadis secara lafal memang seharusnya dilakukan namun tidak tertutup kemungkinan untuk bisa menghindari.” Beliau menjawab: “Bagaimana kalian tidak beriman. terj. sedang mereka di sisi Tuhan mereka. Ḥasan Muḥammad Maqbūliy. Kitāb al-Kifāyah fi ‘ilm al-Riwāyah. Uṣūl al-Ḥadīth ‘Ulūmuhū wa Muṣṭalaḥuhū. al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ al-Bukhāriy. apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dari segi penulisan dan pembahasan setelah dilakukan revisi karena minimnya referensi yang ada.” Mereka (para sahabat) menyebut: “Para nabi. sedang wahyu turun kepada mereka. Usūl al-Ḥadīth: Pokok-Pokok Ilmu Hadits. Kemudian metode tahammul dan al-ada’ hadis merupakan sesuatu yang harus dipenuhi karena menyangkut kevalidan sebuah hadis. Muḥammad bin Muḥammad.” D. Al-Khāṭib. tt. Qodirun Nur dan Ahmad Musyfiq. M.”Nabi saw menjawab: “Bagaimana mereka tidak beriman. penulis mengucapkan banyak terima kasih atas segala koreksi dan kesediaannya untuk membimbing penulis. Ahmad bin Hanbal. Al-Bukhāriy. Beirut: Dār al-Fikr. Al-Aḥdaliy. alDarimi dan al-Hakim dari Abi Juma’ah al-Anshari). Al-Baghdādiy. Demikian makalah ini penulis sajikan. Yaman: Maktabah al-Jail al-Jadīd. (Kairo: al-Maṭba’ah al-Salafiyyah wa Maktabatuha. Akhirnya. dan ini memang banyak beredar. 1980 Al-Khāṭib. sehingga jika sudah terpenuhi semua syarat tersebut maka wajib mengamalkannya. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Beirut: Dār al-Fikr.” Nabi saw bersabda: “Bagaimana mereka tidak beriman. Muḥammad ‘Ajjāj. maka penulis mohon maaf yang tiada batasnya. Abu ‘Abdullah Muhammad bin Isma’il. Riyāḍ: ‘Ālam al-Ma’rifah. Al-Khāṭib.” Mereka mengatakan: “Kalau begitu kami.Tentu saja pembolehan ini ada batasannya.” (HR. menyatakan bahwa para ulama yang memperbolehkan mengamalkan hadis dengan metode al-wijādah ini menyandarkan pada sabda Rasulullah saw: ‫أي الخلق أعجب إليكم إيمانا؟ قالوا: الملئكة، قال وكيف ل يؤمنون وهم عند ربهم؟ وذكروا النبياء، فقال: وكيف‬ ً ‫ل يؤمنون والوحي ينزل عليهم؟ قالوا: فنحن، قال: وكيف ل تؤمنون وأنا بين أظهركم؟ قالوا: فمن يا رسول ال؟‬ ‫قال: قوم يأتون من بعدكم، يجدون صحفا يؤمنون بما فيها ” ، )رواه احمد و الدارمى والحاكم من حديث ابي‬ ً ‫)جمعة النصارى‬ “Makhluk mana yang menurut kalian (para sahabat) paling menakjubkan keimanannya?” Mereka berkata: “Para malaikat. sedang aku ada di tengah-tengah kalian. bahwa orang yang menulis kitab kumpulan hadis yang ditemukan itu adalah orang yang terpercaya dan sanad hadisnya ṣaḥīḥ. Muḥammad Ajjāj. 1435 H. 1971. Al-Baghdādiy. Sebagaimana diisyaratkan oleh al-Budaihi. Majmū’ah Rasā’il fi ‘Ulūm al-Ḥadīth. 1971. (Jakarta: Gaya Media Pratama.” Mereka mengatakan: “Lalu siapakah wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang datang setelah kalian. Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth wa Rijāluhū. Muḥammad ‘Ajjāj. Al-Khaṭīb. mereka mendapatkan lembaran-lembaran lalu mereka beriman dengan apa yang di dalamnya. Al-Sayūṭiy dan al-Baiquni kemudian dijadikan argumen oleh al-‘Imād bin Kathīr. Juz I. 1998 . Al-Wasīṭ fi ‘Ulūm wa Muṣṭalaḥ alḤadīth. al-Sunnah Qabla al-Tadwīn. hadis yang diriwayatkan secara makna. 1993. Daftar Pustaka Abū Shuhbah. al-Khaṭīb.

Kaedah Kesahihan Sanad Hadis: Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Sejarah. Adnan Qohhar. Al-Shāfi’iy. terj. Al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ wahuwa Sunan al-Turmidhīy. Muhaimin. Ikhtiṣār Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth. al-Ma’arif. Al-Turmīdhiy. al-Risālah. 1995. STAIN. Jakarta: Bulan Bintang. 2000. 2004. Mudzakir. Fadlil Sa’id an-Nadwi. Ṣubḥiy. Surabaya: al-Hidayah. bab “Persoalan Tentang Iman”. Mudjib. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah. 1975. Muḥammad. Bandung: PT. Al-Mas’udiy. Pustaka Setia. . 1930. Pustaka Setia.Al-Mālikiy. 1994. Beirut: Dār al-‘Ilm li al-Malayīn. Fatḥ. Ṭaḥḥān. Muḥammad ‘Alawiy. dan PTAIS. Riyāḍ: Maktabah al-Ma’ārif. Abu ‘Isa Muḥammad bin ‘Isa bin Saurah. kitab al-Īmān. tt.Terjemah: H. Bustami dan Salam. Raja Grafindo Persadu. 2004. Al-Manhaj al-Ḥadīth fi Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth. ‘Ilm Uṣūl al-Ḥadīth. Muslīm. Muḥammad bin Idrīs. Muhammad Ahmad. Ilmu Hadis: Untuk IAIN. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Juz V. 1974. Abu al-Ḥusain bin al-Ḥajjāj al-Nasaiburiy. Ṣaliḥ. Metodologi Kritik Hadis. 1991. (Mesir: Maktabah wa Maṭba’ah al-Muṣṭafā. Bandung: CV. Ulumul Hadis: Untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MKDK. Syuhudi. Ṣaḥīḥ Muslīm. Bandung: CV. Al-Rahmān. Beirut: Dār al-Fikr. Tajab. Ilmu Mushthalah Hadis: Disertai Keterangan dan Skemanya. Jakarta: PT. Mudasir. 1999. 2009. ‘Ulūm al-Ḥadīth wa Muṣṭalaḥuhu. Dimensi-Dimensi Studi Islam. 1999. Surabaya: Karya Abditama.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->