P. 1
Bahasa Dan Kuasa Simbolik Pierre Bourdieu

Bahasa Dan Kuasa Simbolik Pierre Bourdieu

4.77

|Views: 7,602|Likes:
Published by indi aunullah
File ini adalah skripsi di fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Indonesia. Opsi download sengaja tidak diaktifkan untuk menghindari peredaran berlebihan dan tidak semestinya. Jadi, silakan baca di sini. Kalau Anda memang benar-benar membutuhkan file-nya, silakan kontak saya di bukansiapa-at-yahoo-dot-com (tapi nggak janji saya kirimin ya :)
File ini adalah skripsi di fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Indonesia. Opsi download sengaja tidak diaktifkan untuk menghindari peredaran berlebihan dan tidak semestinya. Jadi, silakan baca di sini. Kalau Anda memang benar-benar membutuhkan file-nya, silakan kontak saya di bukansiapa-at-yahoo-dot-com (tapi nggak janji saya kirimin ya :)

More info:

Published by: indi aunullah on Nov 10, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial Share Alike

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

05/21/2013

Poros Temporal

A : Mobilitas Turun
B : Mobilitas Naik
C : Rekonversi Modal

Disarikan dari Bourdieu (1996: 114)

57

Struktur kelas ini beserta struktur ranah yang sudah dijelaskan sebelumnya

membentuk apa yang disebuit Bourdieu “ruang sosial”, yaitu sebuah ruang

teoretis atau topologi sosial yang terdiri dari jejaring posisi-posisi objektif

(Bourdieu 1995a: 229).

Kelas, yang secara objektif disatukan oleh kondisi sosial-ekonomi yang

kurang lebih sama, cenderung menghasilkan habitus yang juga kurang lebih sama

bagi para anggotanya. Habitus kelas inilah yang menghasilkan praktik sekaligus

apresiasi yang terpola dalam ranah-ranah yang berbeda, termasuk juga dalam

praktik konsumsi budaya dan gaya hidup, mulai pilihan musik, tontonan, bacaan,

pakaian, makanan, minuman, olahraga, hingga dekorasi dan perabot rumah

tangga. Dengan demikian, baik apresiasi maupun konsumsi terhadap benda-benda

terstruktur berdasarkan kelas (Bourdieu dkk. 1999: 178; Bourdieu 1994: 131).

Selera, yaitu penilaian terhadap suatu benda atau praktik sebagai baik-buruk,

indah-jelek, disukai-tidak disukai, bermutu-tidak bermutu, halus-kasar, dsb.,

selain berfungsi untuk mengklasifikasi benda dan praktik konsumsi, juga berperan

mengklasifikasikan pembuat klasifikasi itu sendiri. Singkatnya, agen

“diklasifikasikan oleh caranya mengklasifikasi, dibedakan oleh pembedaan yang

dibuatnya” (Bourdieu 1996: 6, 482). Karena itu, lazim dibuat penilaian mengenai

seseorang sebagai memiliki selera “tinggi”, “bagus”, “halus”, “berbudaya”, atau

sebaliknya memiliki selera “rendah”, “pasaran”, “kasar”, “tidak berbudaya”.

Dengan memiliki selera yang “tinggi” dan “berbudaya”, kelas dominan

membedakan dirinya dengan kelas-kelas yang lain, dengan kata lain, memperoleh

distingsi (distinction—rasa bergengsi, yaitu rasa berbeda sekaligus rasa lebih).

Selera dalam ranah konsumsi budaya, seperti halnya bakat dalam ranah

pendidikan, disalah-kenali bukan sebagai sesuatu yang kontingen dan dihasilkan

oleh kondisi sosial-ekonomi tertentu, melainkan sebagai terberi dan alamiah, dan

dengan demikian berperan mengabsahkan hierarki sosial. Misalnya, selera

anggota kelas atas terhadap karya seni “tinggi”, meski dikenali sebagai bakat

alamiah bawaan, sebenarnya diperoleh dari kondisi sosial-ekonomi yang

memungkinkan investasi waktu dan modal ekonomi untuk menginternalisasi

58

kemampuan apresiasi seni melalui pendidikan di rumah maupun di sekolah

(Bourdieu dkk. 1992: 178-9; 1993: 227).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->