P. 1
Pendekatan Konflik Kognitif Dalam Pembelajaran Fisika

Pendekatan Konflik Kognitif Dalam Pembelajaran Fisika

|Views: 741|Likes:
Published by Ade Rohana

More info:

Published by: Ade Rohana on Jan 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2014

pdf

text

original

PENDEKATAN KONFLIK KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN FISIKA Oleh : SUGIYANTA Widyaiswara LPMP DIY ABSTRAK Tujuan dari penelitian

ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran Fisika terhadap hasil belajar siswa dan lingkungan belajar di kelas. Untuk keperluan tersebut model penelitian menggunakan metode quasi eksperimen. Adapun subjek penelitian terdiri dari kelompok penelitian dan kelompok kontrol yang diambil secara acak, masing-masing terdiri dari 40 siswa . Data hasil belajar siswa berupa data kuantitatif dianalisis secara deskriptif dan uji-t, sedangkan data lingkungan belajar di kelas dianalisis secara secara komparatif kualitatif antara kedua kelompok penelitian. Berdasarkan analisis dan pengujian yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran Fisika mempunyai pengaruh yang berarti meningkatkan hasil belajar siswa pada taraf signifikan 0,05. Selain itu pendekatan konflik kogntif dalam pembelajaran Fisika juga mampu meningkatkan kualitas lingkungan belajar di dalam kelas lebih kondusif bagi proses pembelajaran. Kata kunci : Konflik kognitif BAB IPENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tuntutan terhadap peningkatan mutu pendidikan, khususnya pembelajaran sains dewasa ini makin terasa. Selain teknis pembelajaran terdapat pula aspek-aspek penting seperti moral dan nilai-nilai (values) yang harus diperhatikan dalam pembelajaran, bukan hanya sekedar pernyataan tentang fakta, konsep, teori maupun hukum-hukum sains. Dengan demikian pendidikan perlu ditempatkan dalam konteks pembentukan manusia seutuhnya sesuai amanat UU Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003. Tetapi kenyataan di lapangan masih terdapat gejala yang menandai tidak efektifnya pembelajaran di sekolah. Satu di antaranya masih banyak sistem pembelajaran fisika di sekolah yang berjalan secara tradisional dan instingtif sehingga menghambat siswa untuk belajar secara aktif-kreatif, mengalami dan menghayati sendiri proses sains melalui kegiatan belajarnya (Sugiyanta, 2003). Pragmatisme sempit menjadi hantu bagi dunia pendidikan kita. Bukan hal yang mengejutkan jika hasil belajar fisika relatif masih rendah, dan kurang diminati oleh siswa.

Karenanya diperlukan reorientasi dan pendekatan baru yang lebih efektif dalam pembelajaran sains fisika. Menurut Moh. Amien (1987) efektivitas pendekatan instruksional sains tergantung pada produk dan proses yang diinginkan. Produk didasarkan pada transfer produk ilmiah (fakta, konsep, generalisasi, prinsip, teori, dan hukum) yang dapat dilakukan dengan aplikasi spesifik tugas-tugas serupa dengan pengalaman aslinya (Specific transfer of training). Sedangkan proses adalah transfer “science is what scientists do”, meliputi sikap ilmiah (hasrat ingin tahu, jujur, obyektif dsb) dan proses / metode ilmiah (mengidentifikasi problem, mengamati, merumuskan hipotesa dsb). Sikap dan proses ilmiah tersebut merupakan dimensi penting yang harus menjadi fokus dalam pembelajaran Fisika . Dengan demikian pendekatan baru dalam pembelajaran sains adalah merupakan suatu keyakinan bahwa sains harus diajarkan pada siswa untuk kemanfaatan yang dapat membawa ke arah peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan, mampu mengembangkan potensi secara utuh (self-actualized), melakukan pendekatan baru terhadap situasi untuk memecahkan masalah melalui pemikiran yang mendalam, dengan mengkombinasikan unsur-unsur kemampuan yang dimiliki yaitu kognitif, psikomotorik dan affektif. Banyak penelitian dilakukan, diantaranya penelitian Munandar (1977) menyatakan bahwa pembelajaran yang terbuka, responsif mengakomodasi perbedaan individu dan berorientasi pada kebutuhan siswa dapat memberikan pengalaman belajar yang bernilai, menyenangkan dan memberi kepuasan pada siswa. Moh. Sidin Ali (1985) menemukan hubungan yang berarti antara berpikir divergen dan kemampuan operasi logik terhadap prestasi belajar fisika dengan koefisien korelasi masing-masing r=0,79 dan r = 0,88. Kemudian Rowe (1970) mengungkapkan hasil penelitiannya bahwa terdapat korelasi yang tinggi antara rangsangan pertanyaan yang diajukan guru dengan tanggapan kreatif siswa. Dengan demikian pembelajaran yang mengakomodasi perbedaan, bersifat terbuka dan memberikan rangsangan efektif akan lebih efektif dalam membantu siswa membangun ilmu pengetahuannya. Teori konstruktivisme Piaget menyatakan ketika seseorang membangun ilmu pengetahuannya, maka untuk membentuk keseimbangan ilmu yang lebih tinggi diperlukan asimilasi, yaitu kontak atau konflik kognitif yang efektif antara konsep lama dengan kenyataan baru(Woolfolk, 1984). Secara spesifik Van den Berg (1991) dalam penelitiannya menyatakan bahwa metode konfik kognitif dalam pembelajaran Fisika cukup efektif untuk mengatasi

. B. Maka penelitian ini hanya memusatkan pada pengaruh pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran Fisika kaitannya dengan hasil belajar dan kualitas lingkungan belajar di kelas pada siswa SMP. E. yaitu bagaimana mengelola lingkungan belajar anak dan bukan mengelola anak. Dalam hal ini Bloom (1976) berpendapat bahwa. siswa maupun praktisi pendidikan lainnya. dalam belajar faktor yang sangat penting adalah lingkungan belajar. Sajian Definisi Agar diperoleh kesamaan persepsi perlu dikemukakan beberapa definisi berikut: 1. Untuk itu pendekatan konflik kognitif perlu dilakukan dalam strategi pembelajaran sains fisika Namun demikian tidaklah mudah untuk mendesain dan melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan baru. karena masalah instruksional adalah kompleks.miskonsepsi pada siswa dalam rangka membentuk keseimbangan ilmu yang lebih tinggi. Rumusan Masalah Bagaimanakah pengaruh pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran sains Fisika terhadap hasil belajar dan lingkungan belajar di kelas pada siswa SMP ? C. 2. Pendekatan konflik kognitif : Adalah seperangkat kegiatan pembelajaran dengan mengkomunikasikan dua atau lebih rangsangan berupa sesuatu yang berlawanan atau berbeda kepada peserta didik agar terjadi proses internal yang intensif dalam rangka mencapai keseimbangan ilmu pengetahuan yang lebih tinggi. D. Lingkungan belajar di kelas 3. Rangsangan konflik kognitif dalam pembelajaran akan sangat membantu proses asimilasi menjadi lebih efektif dan bermakna dalam pergulatan intelektualitas siswa. Lingkungan belajar yang kondusif memberi pengaruh nyata bagi subjek didik mengembangkan potensi dan intelektualitasnya. Hasil belajar siswa : : Adalah kondisi interaksi dan keaktifan peserta didik di kelas ketika proses pembelajaran . Tujuan Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran sains Fisika terhadap hasil belajar dan lingkungan belajar di kelas pada siswa SMP. Manfaat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis dan teoritis bagi peningkatan kualitas layanan pendidikan baik bagi guru.

Zat dan Wujudnya . konsep. teori. Pemetaan masalah dan analisis materi Langkah awal yang perlu dilakukan adalah analisis tematik dan maping terhadap masalah materi esensial. hal ini terkait dengan konsep. B. Berikut ini beberapa tahapan yang perlu diperhatikan . serta Gerak Lurus. kesalahan struktur konsep. Sedangkan media pembelajaran menggunakan alat-alat laboratorium maupun sumber belajar lain di lingkungan sekitar. 3. dirancang silabus pembelajaran dengan memasukkan unsur konflik kognitif sebagai bentuk pengalaman belajar siswa. Perencanaan. Desain instruksional dengan pendekatan konflik kognitif memerlukan persiapan yang matang. hukum. . 1. Menyusun Silabus Berdasarkan analisis tematik dan peta masalah di atas. Hal ini dapat dikembangkan sesuai konteks masalah. serta sarana fasilitas dan media yang tersedia. konteks lingkungan dan fasilitas yang tersedia. Analisis tematik digunakan untuk melihat kaitan suatu konsep dengan konsep lain dalam suatu tema pembelajaran yang dipilih. Menemukan dan menentukan rangsangan konflik kognitif. Adapun materi pembelajaran meliputi Pengukuran. Secara lengkap hal ini disajikan dalam bentuk Lembar Kerja Siswa dan perangkat pembelajaran. serta kemungkinan masalah lain. 2. tingkat kematangan berpikir subjek didik. Sedangkan pemetaan masalah sangat diperlukan untuk melihat permasalahan yang mungkin timbul pada suatu konsep seperti miskonsepsi. BAB IIIDESKRIPSI PENELITIAN A. fakta. kondisi lingkungan siswa. terutama kejadian riel dalam kehidupan sehari-hari. informasi media cetak dan elektronik maupun prediksi. data. Konteks Implementasi Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VII semester gasal Tahun Pelajaran 2004/2005 di SMP Negeri 1 Kalasan. peta konsep yang rumit dan sulit untuk dipahami. Bentuk konflik kognitif berupa rangsangan kognitif(pembanding) yang mengandung pertentangan dan dinilai mampu memberikan pengalaman belajar berarti sebagai acuan bagi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang dapat berupa hasil pengamatan. pendapat.Adalah nilai ulangan harian siswa meliputi tes pemahaman dan aplikasi konsep fisika serta kinerja ilmiah.

… … ….. Standar Kompetensi : …………………………………………………………… Kompetensi Materi Dasar Pokok 1. meski dalam hal ini bersifat dinamik dan kondisional. Sintaks pembelajaran Garis besar prilaku guru perlu digambarkan terlebih dahulu dalam sintaks berikut. ………. Mata Pelajaran : ……………………………. SINTAKS PEMBELAJARAN MODEL PENDEKATAN KONFLIK KOGNITIF FASE-FASE KEGIATAN GURU . 4. 1. ….Silabus pembelajaran dengan pendekatan konflik kognitif (Contoh terlampir) Sekolah : ……………………………. Kelas/semester : ……………………………. ………………… …………. Strategi Pembelajaran Alokasi Sumber Waktu Bahan Tatapmuka/ Pengalaman Belajar Konflik Metode Kognitif …………. ………...

yaitu berupa urutan kegiatan pembelajaran sehingga tampak apa yang akan dikerjakan baik oleh guru maupun peserta didik dalam satuan waktu yang telah ditetapkan. dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya. menjelaskan sumber belajar yang dibutuhkan. Fase 5 Menganalisis dan mengevaluasi Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan prosesproses yang mereka lakukan 5. memotivasi siswa terlibat aktif dalam penmecahan konflik dan mencari kebenaran konsep siswa untuk Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan konflik Fase 2 Mengorganisasi belajar Fase 3 Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang relevan. diskus internal untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan Fase 4 Mengembangkan dan menyajikan masalah/konflik hasil karya Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan hasil karya. maka dapat disusun skenario pembelajaran. Menyusun Rencana Pembelajaran Berdasarkan analisis pemetaan materi. silabus dan sintaks pembelajaran di atas.Fase 1 Orientasi siswa kepada konflik Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. melaksanakan eksperimen. Untuk lebih memberi tekanan pada strategi konflik kognitif maka dikembangkan format Rencana Pembelajaran berikut: RENCANA PEMBELAJARAN ( Contoh terlampir) : …………………………………………………… : Identitas Mata Pelajaran Skenario Pembelajaran .

b. dan kompetensi yang diamanatkan harus diperhatikan dengan seksama. Motivasi adalah suatu rangsangan yang akan digunakan untuk meningkatkan minat peserta didik untuk mempelajari suatu konsep. 3. Pendahuluan : a. norma pembelajaran adalah norma inquiri terbuka dan bebas mengemukakan pendapat. Kegiatan Inti : Pengelolaan konflik adalah cara-cara yang akan ditempuh dalam mengkomunikasikan konflik yang terjadi sesuai metode yang digunakan. 2. namun bersifat terbuka. Motivasi 2 Kegiatan Inti(Fase 2-4) Pengelolaan konflik Penutup(fase 5) ……………………………… 3 ………………………………. siswa berperanan aktif. karena tidak seperti lingkungan belajar yang terstruktur dengan ketat. 6. ………………………………. Kelas yang ada dipilih secara random menjadi dua bagian. Dalam pembelajaran ini pengelolaan kelas menjadi amat penting. Penyajian konflik adalah cara-cara yang akan digunakan oleh guru dalam menyajikan konflik (bersifat elastis dan dinamis) sesuai dengan metode yang akan digunakan. Keterangan : 1. yaitu kelompok . waktu. Pelaksanaan Untuk menguji pengaruh sebuah perlakuan maka digunakan metode quasi eksperimen dengan desain 2x1. Meskipun guru dan siswa melakukan tahapan pembelajaran yang terstruktur dan dapat diprediksi. C. demokratis. Penyajian konflik dan Prasyarat pengetahuan ……………………………… b.No Tahap Langkah-langkah 1 Pendahuluan(Fase 1) a. Penutup adalah kegiatan akhir dari satu proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk merangkum dan membuat kesimpulan atas konflik yang ada. Waktu …… menit …… menit …… menit …… menit Prasyarat pengetahuan adalah merupakan pengetahuan yang harus dimiliki peserta didik untuk memahami konsep yang akan di ajarkan . Pengelolaan kelas. Oleh karena itu pengendalian terhadap fokus materi bahasan .

Konflik tersebut kemudian dikelola dalam bentuk diskusi kelompok dan diskusi kelas Dengan bimbingan guru. Penilaian Dalam pembelajaran ini ada dua aspek yang akan diteliti yaitu hasil belajar siswa (meliputi nilai pemahaman aplikasi konsep fisika dan kinerja ilmiah) dan kualitas lingkungan belajar di kelas. pendapat maupun teori yang mengandung pertentangan sehingga terjadi konflik kognitif. Kemudian secara bergantian. yaitu untuk mendapatkan data hasil belajar siswa. Sedangkan analisis uji beda ( Uji –t ). Untuk itu dikembangankan instrumen berupa : 1. Data hasil belajar siswa akan dianalisis secara deskriptif analitis . 2.afektif dan psikomotorik. siswa menyelesaikan konflik masalah yang timbul dalam rangka membangun teori yang benar. Hasil Belajar Siswa Berdasarkan tes yang telah dilakukan diperoleh data sebagai berikut: Tabel 1. Untuk lebih mengoptimalkan interaksi kognitif. kelas dibagi dalam beberapa kelompok untuk melakukan eksperimen. Soal Tes Ulangan Harian dan Lembar Observasi Siswa(LOS) . digunakan untuk menguji keberartian pengaruh perlakuan pendekatan konflik kognitif terhadap hasil belajar. Pada kesempatan tersebut guru menyajikan data pembanding yang lain berupa informasi. simpulan percobaan siswa merupakan sumber konflik kognitif yang efektif. untuk mendapatkan data kualitas lingkungan belajar di kelas. siswa mempresentasikan hasilnya. Analisis komparasi kualitatif akan digunakan untuk melihat sejauhmana kualitas lingkungan belajar di kelas. D.penelitian terdiri dari 40 siswa diberi perlakuan pendekatan konflik kognitif dan kelompok kontrol terdiri dari 40 siswa tidak diberi perlakuan tersebut. Meski demikian dalam penelitian sosial – pendidikan tidak dapat melakukan pengontrolan secara ketat terhadap variabel-variabel terkait seperti dalam penelitian ilmu murni. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa Kelompok Penelitian ( Kelas VII A ) Ulangan Harian ke Rata-rata Median Modus Standar Deviasi Jumlah Siswa Tuntas Belajar . Lembar Observasi Kelas dengan menggunakan skala likert. Perbedaan hasil pengukuran / data percobaan .

5 %) 18 (45. Tabel 3.94 0.0 %) 23 (57.00 8.47 Jumlah Siswa Tuntas Belajar 28 (70. Dengan demikian hasil belajar semakin = 7.41 7. yaitu hanya 57.62 Median 8.57 0.30 8.00 7. Sedangkan tingkat ketuntasan belajar lebih rendah dibanding kelompok penelitian.67 8.85.04 0.0 % ) 25.90 7.71 0.33 % tuntas belajar. dimana pembelajaran disampaikan secara konvensional sehingga kurang memberikan rangsangan kognitif yang baik bagi subjek didik.00 6. Pada kelompok kontrol justru sejumlah indikator mengalami penurunan dengan nilai ratarata 7. Sebaran nilai pada kelompok yang diberi pendekatan konflik kognitif ternyata lebih baik meningkat.17 7.51 Standar Deviasi 0.33(63. Adapun ketuntasan belajar (nilai >= 7.62 median7.80 8.50 %. Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa kedua Kelompok Kelompok Kelompok Penelitian Kelompok Kontrol Rata-rata Nilai Standar Deviasi (s) UH χ µ 0 dibanding kelompok kontrol.67 8.51.20 6.0 % ) 26 (65.5 % ) 27 (67.00 7.5) mengalami peningkatan prosentase yang signifikan dengan rata-rata 63.24 7. Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa Kelompok Kontrol ( Kelas VII C ) Ulangan Harian ke 1 2 3 Rata-rata Rata-rata 7. Hal ini berkaitan dengan intensitas proses kognitif belajar siswa .33 %) Tabel 2.20 7.5 % ) 28 (70.94 6. hal ini menunjukkan adanya peningkatan interaksi- induksi kognitif yang cukup berarti antar siswa.74 21 (52.00 8.63 7.00 0.85 7.4714 .71 0.98 8.8511 = 7.71 0.40 7.5 %) Berdasarkan data di atas tampak bahwa rata-rata nilai ulangan harian pada kelompok penelitian mengalami peningkatan yang cukup berarti dengan nilai rata-rata 7.7385 0. Demikian pula median pada kelompok ini juga mengalami peningkatan.6183 0.43 Modus 8.1 2 3 Rata-rata 7.43 dan modus 6.

Dari tabel 3 di atas setelah dilakukan pengujian diperoleh t hitung = 1. maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa :1. Harga ini jauh lebih besar dari t tabel yaitu 1.05. BAB V PENUTUP A. Pendekatan konflik kognitif pada .2. Data Perbandingan Kualitas Lingkungan Belajar di Kelas Aspek Keaktifan siswa Kondisi Kelas Kelompok Penelitian Skor 31 21 Kriteria Baik sekali Baik Kelompok Kontrol Skor 23 19 Kriteria Cukup Baik Baik Jumlah Skor 52 Baik sekali 42 Keterangan : Data lengkap dan penetapan kriteria terlampir. tetapi skor kelompok penelitian lebih tinggi yaitu 21 dibanding skor kelompok kontrol yaitu 19 . perlakuan yang diberikan pada kelompok penelitian juga memberikan pengaruh positif terhadap penciptaan lingkungan belajar di kelas. Khususnya aspek keaktifan siswa pada kelompok penelitian memiliki skor 31 dengan kategori baik sekali sedang skor kelompok kontrol adalah 23 dengan kategori cukup. digunakan uji–t pada taraf signifikan 0. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa : Pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran IPA Fisika mempunyai pengaruh yang berarti terhadap hasil belajar siswa. sehingga lebih hangat.68. Lingkungan Belajar di Kelas Berdasarkan observasi kelas yang telah dilakukan diperoleh data sebagai berikut : Tabel 4.Untuk menguji sejauh mana keberartian perlakuan pendekatan konflik dalam pembelajaran sains fisika terhadap hasil belajar siswa .9937 ( perhitungan lengkap terlampir). Dengan demikian pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran sains fisika mampu memberikan pengaruh positif terhadap kualitas lingkungan belajar di kelas. kondisi ini lebih tinggi dibanding kelompok kontrol yaitu 42 dengan kategori baik.B. Kesimpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan. komunikatif dan siswa enjoy belajar. kualitas lingkungan belajar di kelas untuk kelompok penelitian adalah 52 dengan kategori baik sekali. meskipun keduanya mempunyai kategori baik . Berdasarkan tabel 4 di atas. Yaitu ada peningkatan hasil belajar yang cukup signifikan pada kelas yang diberi pendekatan konflik kognitif. Pada aspek kondisi kelas. Pendekatan konflik kognitif pada pembelajaran Fisika mempunyai pengaruh yang berarti terhadap hasil belajar siswa.

Beberapa aspek substansi ilmu pendidikan.X. B. Mengajarkan ilmu pengetahuan alam(IPA) dengan menggunakan metode discovery dan inquiri. terbuka. Imam Barnadib (1995). S. Tesis .Yogyakarta. Moh.( 1987). Yogyakarta: IKIP Yogyakarta. karena kelas dan norma pembelajaran bersifat terbuka maka penggunaan pendekatan konflik kognitif harus dilakukan dengan hati-hati dan cermat. inovasi dan semangat guru untuk selalu berpihak pada peningkatan kualitas layanan pendidikan.H.(1977). New York : Columbia University. Mitchel. National Educational Planning.(1984).(1976). The farther reaches of human nature. Jakarta. maka perlu ada refleksi bersama. Amien.3. Euwe Van den Berg. Planning for creative learning. Pembelajaran dengan pendekatan ini menuntut kreativitas. A. Wait-time and reward as instructional variabel: Influence on inquiry and sense and fate control. Washington: Kendall/Hunt Publishing Company. New York : Mc. Creativity and education: A Study relationsip between measures of creative thinking and a number of educational variabels in Indonesian primary and junior secondary schools. Agar diperoleh hasil yang lebih komprehensif maka aspek maupun variabel penelitian perlu diperluas.4. H. Human characteristic and school learning.C.(1970). Bloom. Yogyakarta: Program Pascasarjana UNY. kondusif. .(1971). baik dengan siswa maupun sesama guru. Jumlah sampel perlu ditambah dan perlu dilakukan pada jenjang pendidikan lainnya. maka dari hasil penelitian ini dikemukakan saran sebagai berikut :1.5. Testing and Measurement. Agar proses pembelajaran lebih bermakna dan terkontrol . kemampuan operasi logik dan kemampuan dasar berhitung dengan prestasi belajar fisika pada siswa SMA di kotmadya Ujung Pandang.S. Rowe.(1976). Grow Hill.U. dimana kelas menjadi lebih hangat. DAFTAR PUSTAKA Bambang Subali. Munandar.J. Salatiga: UKSW Fernandes. Saran Dengan segala keterbatasannya. Moh. B. Maslow. pengelolaan kelas dan waktu harus efisien.B. Dari sisi teknis pembelajaran. Sidin Ali (1995). Pedoman khusus penyusunan silabus berbasis kemampuan dasar siswa SMP. (1991)Miskonsepsi fisika dan remidiasi.M.W. dan interaktif.pembelajaran Fisika mampu meningkatkan kualitas lingkungan belajar di kelas. New York : The Viking Press. Jakarta : UI. B.(2002).2. Kreativitas. Yogyakarta: Andi Offset. untuk itu perlu adanya keberanian dan kerja keras.

A. Tesis.Inc Lampiran 1. Ventura Clif : Ventura Country Super Intendent of School Office. Pengujian Hipotesis. Berdasarkan tabel 3. Berdasarkan observasi kelas yang telah dilakukan diperoleh data sebagai berikut : a. D. Yogyakarta Sukamto (1997). Treffinger.68 Perhitungan : o : ( Pendekatan konflik kognitif tidak menyebabkan meningkatnya hasil belajar siswa ) o (Pendekatan konflik kognitif menyebabkan meningkatnya hasil belajar siswa ) 2. Siswa aktif bertanya pada guru 4. Kelompok Penelitian Tabel 5.(1992). Eductional phsycology for teachers.(1984). Siswa aktif mengemukakan pendapat 2. Pengujian Hipotesis dan data penelitian 1.E.(1976). Siswa siswa aktif melakukan percobaan 3.J. Woolfolk. Tes Prestasi: Fungsi dan pengembangan pengukuran prestasi belajar. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Siswa aktif bertanya pada siswa atau kelompok lain 5.Saifudin Azwar. Diketahui berdasarkan daftar distribusi Student t (α =0. Hubungan antara beberapa faktor karakteristik guru dengan gaya mengajar kreatif pada pembelajaran fisika. Skor Kualitas Lingkungan Belajar di Kelas Kelompok Penelitian ( Kelas VII A ) Aspek Keaktifan Siswa Indikator 1. Course material on applied educational research. di depan dapat dikemukakan : Hipotesa Ho : µ = µ Hi : µ > µ Rumus : Kriteria : Ho ditolak jika ( dk=n – 1= 40-1=39 ). Siswa aktif berdiskusi kelompok Skor 1 2 3 4 √ √ √ √ √ 5 . Medan: PPPGT.05) dengan dk=39 adalah 1. New Jersey: Prentice-Hall. Sugiyanta(2003). Encouraging creative learning for gifted and the talented. Kualitas Lingkungan Belajar di Kelas.

Siswa aktif mempresentasikan hasil karyanya. 7. Skor Kualitas Lingkungan Belajar di Kelas Kelompok Kontrol ( Kelas VII C) Aspek Indikator Skor 1 2 3 4 √ √ √ √ √ √ √ 2 9 12 √ √ √ √ 4 √ 8 5 5 1. Siswa aktif mengemukakan pendapat Keaktifan 2. Siswa aktif bertanya pada siswa atau kelompok lain Siswa 5. 7. Komparasi hasil 4 = Baik 5 = Baik Sekali Berdasarkan tabel di atas diperoleh rekapitulasi skor antara kedua kelompok sebagai berikut : Tabel 7. Rekapitulasi Skor Kualitas Lingkungan Belajar di Kelas Kedua Kelompok Aspek Keaktifan siswa Kelompok Penelitian 31 Kelompok Kontrol 23 . Kelompok Kontrol 3 8 √ √ √ 3 8 √ √ 20 √ √ 10 Tabel 6. Suasana kelas hangat Kondisi 9.6. Siswa enjoy mengikuti proses pembelajaran 10. Siswa aktif berdiskusi kelompok 6. Ketertiban siswa di dalam kelas 12. Siswa aktif membuat laporan praktikum. Siswa siswa aktif melakukan percobaan 3. Fokus terhadap materi bahasan Kelas 11. jumlah 8. Suasana kelas hangat Kondisi 9. Pemanfaatan sumber belajar Jumlah Keterangan : 1 = Sangat kurang 2 = Kurang 3 = Cukup c. Ketertiban siswa di dalam kelas 12. Siswa enjoy mengikuti proses pembelajaran 10. Siswa aktif mempresentasikan hasil karyanya. Pemanfaatan sumber belajar Jumlah b. Jumlah 8. Siswa aktif membuat laporan praktikum. Fokus terhadap materi bahasan Kelas 11. Siswa aktif bertanya pada guru 4.

Hasil skor penilaian diatas dibagi dalam kategori yaitu baik sekali .skor minimum = Range : Jumlah kategori = skor minimum + range/2 (Fernandes. baik . Adapun Kriteria penilaian ditentukan sebagai berikut : Range Rentang kriteria penilaian Median Contoh : Berdasarkan data keaktifan siswa tabel 5 di atas. maka dapat ditentukan kriteria sebagai berikut : Range = Skor maksimal . Kriteria Kondisi kelas : Dengan menggunakan rumus seperti di atas maka diperoleh kriteria sebagai berikut : Skor Skor 5–8 9 – 12 : kurang sekali : kurang : cukup : baik : baik sekali Skor 13 – 17 Skor 18 – 21 Skor 22 – 25 . 1984) 2. dan kurang sekali .Kondisi Kelas Jumlah Skor 21 52 19 42 Untuk memberikan penilaian kualitatif pada hasil tersebut.skor minimum = 35 – 7 = 28 Rentang kriteria penilaian = Range : Jumlah kategori = 28 : 5 kategori = 5.kurang. diperlukan kriteria yang jelas dan tegas.cukup . Kriteria Keaktifan siswa : Skor 7 – 12 Skor 13 – 18 Skor 19 – 23 Skor 24 – 29 Skor 30 – 35 : kurang sekali : kurang : cukup : baik : baik sekali = Skor maksimal .6 dibulatkan jadi 6 Median = skor minimum + range/2 = 7 + 28/2 = 21 Sehingga diperoleh kriteria sebagai berikut : 1.

Pengalaman tidak .3. menganalisis dan menyimpulkan gejala fisis yang dialami dalam kegiatan praktikum secara kelompok dengan menggunakan alat peraga sederhana yang bahannya dapat dibuat dari bahan lingkungan sekitar. 1992). Permasalahan tersebut perlu diupayakan pemecahannya agar siswa dalam pembelajaran dapat terlibat aktif dalam suasana pembelajaran yang ilmiah dan menyenangkan.org/index. sehingga pemahaman konsep siswa hanya menekankan pada penghapalan konsep sehingga berakibat siswa tidak dapat mengaplikasikan konsep fisis yang telah dipelajari dalam situasi lain. mengambil data. Kriteria Lingkungan Belajar di kelas : Dengan menggunakan rumus seperti di atas maka diperoleh kriteria sebagai berikut Skor Skor Skor Skor Skor 12 – 21 22 – 31 32 – 41 42 – 51 52 – 60 : kurang sekali : kurang : cukup : baik : baik sekali http://lpmpjogja. Hal ini membuat siswa tertarik untuk lebih mengamati.php? option=com_content&task=view&id=225&Itemid=112 PENDAHULUAN Pembelajaran sains di Sekolah Menengah masih dijumpai siswa kurang memiliki kompetensi pemahaman konsep. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa dan pemahaman konsep fisika siswa yang menerapkan pengembangan strategi konplik kognitif dengan model PBL dan CL berbantuan alat peraga dengan tanpa alat peraga. tetapi peserta didik harus mengartikan apa yang diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalaman-pengalaman mereka atau konstruksi yang telah mereka bangun/miliki sebelumnya (Lorbach dan Tobin. Untuk itu guru dapat merancang pembelajaran dengan menghadapkan siswa pada suatu peristiwa dalam kehidupan sehari-hari secara kontekstual yang memperlihatkan gejala fisis untuk merekonstruksi suatu konsep fisika. Perbedaaan antara prakonsepsi dengan pengamatan menimbulkan konflik kognitif dalam struktur kognitif siswa. keterampilan proses sains dan kurang motivasi berprestasi yang berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa. MATERI DAN METODE Materi Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang guru ke peserta didik. Hal ini tersebut dapat terjadi karena dalam pembelajaran fisika di sekolah masih banyak dilakukan secara oral oleh guru tanpa memperlihatkan peristiwa fisis yang membangun konsep yang diajarkan. Tanpa pengalaman seseorang tidak dapat membentuk pengetahuan.

Startegi Konplik Kognitif Pembelajaran yang dapat mengklarifikasi atau memodifikasi konsepsi siswa salah satu alternatifnya adalah menggunakan strategi konflik kognitif yang merupakan penerapan paham konstruktivisme seperti yang dikemukan oleh Osborne (1993) bahwa strategi konflik kognitif mempunyai pola umum yaitu: exposing alternative framework (mengungkapkan konsepsi awal). creating conceptual cogntif ( menciptakan konflik koseptual). prinsip atau hukum. Proses asimilasi seseorang menggunakan struktur kognitif dan kemampuan yang sudah ada untuk beradaptasi dengan masalah atau informasi baru yang datang dari lingkungannya. encouraging cognitive accommodation (mengupayakan terjadinya akomodasi kogntif). Adaptasi dapat terjadi jika informasinya mengandung kesamaan dengan struktur mental yang ada. 1989). Hal inilah yang menyebabkan tidak setiap informasi dari guru dapat dimengerti atau dipahami dengan baik oleh siswa dalam proses pembelajaran.seja melalui pengalaman fisik tetapi juga pengalaman kognitif dan mental. Sedangkan proses akomodasi adalah modifikasi struktur kognitif untuk melakukan respon terhadap informasi yang dihadapi. Miskonsepsi dapat terjadi karena setiap siswa mempunyai konsepsi awal tentang suatu peristiwa atau gejala yang diamati tetapi bertentangan dengan konsep ilmuwan. Pengetahuan dibentuk oleh struktur penerimaan konsep seseorang sewaktu dia berinterksi dengan lingkungannya yaitu semua obyek yang dibstraksikan dalam diri seseorang dan di sekeliling kita. Apabila mereka bertemu dengan objek. Untuk itu guru harus berusaha dalam pembelajaran untuk mengetahui konsepsi awal siswa dan memodifikasi atau mengkalarifikasi agar sesuai dengan konsepsi ilmuan. Menurut pandangan konstruktivisme oleh Brooks & Brooks (1993) bahwa murid membina makna tentang dunia dengan mensintesis pengalaman baru kepada apa yang mereka telah fahami sebelumnya. maka mereka akan sama ada menginterpretasi apa yang mereka lihat supaya secocok dengan peraturan yang mereka telah bentuk atau mereka akan menyesuaikan peraturan mereka agar dapat menerangkan pemahaman baru ini dengan lebih baik Menurut Gagne (1974) ketika seorang berinteraksi dengan lingkungannya maka dalam otaknya akan terbentuk struktur kognitif tertentu yang disebut skemata berupa organisasi mental yang melalui dua mekanisme yaitu asimilasi dan akomodasi. Belajar sains khusunya fisika memerlukan proses sains dalam pembentukan konsep. (von Glaserfeld. idea atau perkaitan yang tidak bermakna kepada mereka. Untuk itu pembelajaran sains di sekolah diharuskan taat pada proses sains agar tidak terjadi salah konsep atau miskonsepsi. . Mereka membentuk peraturan melalui refleksi tentang interaksi mereka dengan objek dan idea.

Untuik mengetahui konsepsi awal siswa dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan dengan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai gejala alam yang relevan dengan tujuan pembelajaran atau kompotensi dasar yang akan dicapai. Pengembangan Strategi Konflik Kognitif Strategi konflik kognitif dapat dikembangkan dengan mengintegrasikannya kedalam model Problem Based Learning (PBL) dan Cooperative Learning (CL) dengan sintaks pembelajaran seperti pada Tabel 1. 3. dan bagaimana bisa terjadi. Tabel 1. Menciptakan Konflik Konseptual Menciptakan konflik konseptual dalam fikiran siswa merupakan fase yang menantang siswa untuk menguji konsepsi awalnya apakah benar atau salah dengan konsepsi ilmuwan. Sintaks Pengembangan Pembelajaran Strategi Konflik Kognitif (SKK) dengan mengintegrasikan model CL dan PBL Pola SKK Mengungkapka n Konsepsi Awal Siswa Fase-Fase CL Fase-Fase PBL Tingkah Laku Guru Memberikan pertanyaan secara lisan atau tulisan Menciptakan Konflik Konseptual Menyampaikan Tujuan dan motivasi siswa Menyajikan informasi Orientasi siswa kepada masalah Menyampaikan tujuan pembelajaran. Mengungkapkan Konsepsi Awal Siswa Belajar konsep sains melibatkan akomodasi kognitif terhadap konsepsi awal siswa. mempersiapkan kegiatan ilmiah dan . mengapa. 2. Pada fase ini guru dapat membimbing siswa mendemonstrasikan atau melakukakan percobaan untuk menguji konsepsi awalnya.1. Mengupayakan Terjadinya Akomadasi Kognitif Akomodasi kognitif merupakan interpretasi dari hasil demonstrasi atau percobaan yang dilakukan siswa agar konsepsinya benar dan meyakinkan. Pada fase ini guru membimbing siswa dengan pertanyaan yang sifatnya inkuiri dengan mengajukan pertanyaan seperti: apa yang anda maksud.

2007) pembelajaran inovatif berorientasi .Mengorganisas ikan siswa dalam kelompokkelompok belajar Membimbing kelompok bekerja dan belajar Mengorganisasik an siswa untuk belajar memotivasi siswa Mendemonstrasikan dan atau membimbing dalam membuat permasalahan Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok Mengembangk an dan menyajikan hasil karya Mendorong siswa dalam kerja kelompok untuk pemecahan masalah dan mengkomunikasikan nya Membantu siswa dalam evaluasi dan atau refleksi dari proses pemecahan masalah Mengupaya kan Terjadinya Akomadasi Kognitif Evaluasi Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Penghargaan Memberikan penghargaan baik secara individu maupun kelompok Modifikasi dari sintaks model-model konstruktivistik (Trianto.

I 3. Penigkatan KBKS yang diajar dengan integrasi strategi konflik kognitif berbantuan alat peraga.53 1. evaluasi penelitian berupa lembar observasi keterampilan berpikir kritis siswa dan tes pemahaman konsep fisika siswa.68 3.42 2.9 . Analisis data untuk keterampilan berpikir kritis siswa secara deskriptif sedangkan untuk prestasi belajar fisika siswa menggunakan uji infrensial uji t-studen. No 1 2 3 4 5 Parameter KBPS Bertanya Menjawab Menanggapi Menarik Kesimpulan Mengkomunikasikan Hasil Rata-Rata Skor KBKS Pert.Metode Metode dalam penelitian menggunakan metode eksperimen semu dengan desain penelitian pretest and posttest control group designe yang dilakukan di SMA Negeri 1 Kupang tahun ajaran 2008/2009 dengan Sampel dua kelas X yang diambil secara random kelompok. dan Alat peraga. tahap pelakasanaan yaitu pembukaan pembelajaran berupa pemberian tes pemahaman konsep awal (prior knowlidge) siswa. Pengumpulan data keterampilan berpikir kritis dilakukan pada setiap pertemuan oleh dua orang observer sedangkan pemahamn konsep fisika siswa dilakukan pada awal dan akhir pelaksanaan penelitian.7 Pert.6 Pert. II 3.58 3.13 2.38 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Data hasil rata-rata keterampilan berpikir kritis siswa selama 3 kali pertemuan mengalami perubahan seperti pada tabel 1 dan 2.59 3. kegiatan inti berupa menciptakan konflik kognitif berupa demonstrasi sehingga siswa melakukan penyelidikan dalam kelompok dengan menggunakan LKS sementara itu guru membimbing kelompok bekerja dan belajar.44 1.75 2. Instrumen penelitian berupa: perangkat pembelajaran yaitu silabus. Lembar kegiatan Siswa (LKS). apersepsi berupa pertanyaan dari peristiwa kehidupan sehari-hari dan gejala fisis yang didemonstrasikan.81 2. Penutup berupa rangkuman dan penghargaan kepada individu atau kelompok. III 3. Prosedur penelitian berupa: tahap persiapan menyusun instrumen perangakat pembelajaran dan instrumen evaluasi penelitian. mengupayakan terjadinya akomodasi kognitif berupa evaluasi dari proses penyelidikan untuk pemecahan masalah.46 1.09 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).37 2.31 3.40 2. Tabel 1.

28 3 Menanggapi 2.75 2.53 2 Menjawab 3.25 1. hal ini karena siswa belum terbiasa dalam menarik kesimpulan dari proses yang telah dilakukan Dari data Tabel 2 diperoleh bahwa secara keseluruhan KBKS pembelajaran pengembangan strategi konflik kognitif dengan model PBL dan CL berbantuan alat peraga mengalami peningkatan. hal ini karena siswa belum terbiasa dalam menarik kesimpulan dari proses yang telah dilakukan.41 2. Hal ini terjadi karena siswa sebelumnya belum terbiasa dalam menyampaikan pendapat tapi setelah mengalami proses pembiasaan dalam mengambil data. Peningkatan pemahaman konsep fisika siswa yang pembelajarannya menerapkan pengembangan strategi konflik kognitif dengan PBL dan CL yang berbantuan alat . II Pert. Peningkatan yang besar terjadi pada kemampuan mengkomunikasikan dalam menyampaikan pendapat ke teman-temannya.00 3.16 3.7 Dari data Tabel 1 diperoleh bahwa secara keseluruhan KBKS pembelajaran pengembangan strategi konflik kognitif dengan model PBL dan CL berbantuan alat peraga mengalami peningkatan. KBKS yang paling tinggi peningkatannya adalah keterampilan dalam bertanya. Hal ini terjadi karena siswa sebelumnya belum terbiasa dalam menyampaikan pendapat tapi setelah mengalami proses pembiasaan dalam mengambil data.38 3. maka siswa sudah mulai berusaha mengemukakan pendapat sesuai apa yang diobservasi.84 4 Menarik Kesimpulan 2.28 1. III 1 Bertanya 3. maka siswa sudah mulai berusaha mengemukakan pendapat sesuai apa yang diobservasi. Data Pada Tabel 2 juga menunjukkan bahwa secara keseluruhan KBKS pembelajaran pengembangan strategi konflik kognitif dengan PBL dan CL tanpa baerbantuan alat peraga mengalami peningkatan tetapi lebih rendah daripada dengan berbantuan alat peraga.5 2.16 5 Mengkomunikasikan Hasil 1.44 3. Sedangkan dalam menarik kesimpulan peningkatannya paling rendah.63 2.6 2.44 Rata-Rata Skor KBKS 2. Penigkatan KBKS yang diajar dengan integrasi strategi konflik kognitif tanpa berbantuan alat peraga No Parameter KBPS Pert.63 2. Sedangkan dalam menarik kesimpulan peningkatannya paling rendah. karena siswa susah melakukan proses sains tanpa alat peraga sehingga dia sering bertanya mengenai proses sains yang mungkin terjadi. Keterampilan yang lain berfluktuasi karena kurangnya penguatan saat terjadi proses sains yang hanya berdasarkan nalar saja.Tabel 2. I Pert. Peningkatan yang besar terjadi pada kemampuan mengkomunikasikan dalam menyampaikan pendapat ke teman-temannya.

Salah satu prinsip kunci yang diturunkan dari teorinya adalah menekankan pada hakikat sosial dan pembelajaran. 1997: 12).M.G. alah satu landasan teoretik pendidikan IPA (fisika) modern termasuk pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) adalah teori pembelajaran konstruktivis. Ia mengemukakan bahwa siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa atau ternan sebaya yang lebih mampu (Slavin. Jika siswa sudah menjadi ragu terhadap kebenaran gagasannya. Implikasi penting dalam pembeiajaran fisika menurut piaget (Slavin.J. . pembelajaran berbasis kegiatan.peraga lebih baik daripada tanpa alat peraga pada taraf signifikasi . yaitu siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Hal ini dilakukan secara hati-hati jangan sampal konflik kognitif yang disampaikan justru akan memperkuat stabilitas miskonsepsi siswa. dan penemuan. SIMPULAN Peningkatan keterampilan berpikir kritis dan pemahaman konsep fisika siswa yang pembelajarannya mengembangkan strategi konflik kogtif dengan model PBL dan CL berbantuan alat peraga lebih baik daripada tanpa alat peraga DAFTAR PUSTAKA Brooks. Ide-ide konstruktivis modern banyak berlandaskan pada teori Vygotsky yang telah digunakan untuk menunjang metode pengajaran yang menekankan pada pembelajaran kooperatif. maka dapat diharapkan mereka akan mau merekonstruksi gagasan atau konsepsinya sehingga pada akhir proses pembelajaran di kepala siswa hanya terdapat sains guru yang berupa pengetahuan ilmiah (Sadia. Proses belajar mengajar lebih diwarnai student centered daripada teacher centered. VA:Association for Supervision and Curriculum Development (ASCD). Konflik kognitif yang disajikan dalam proses pembelajaran harus mampu menggoyahkan stabilitas miskonsepsi siswa. Sebagian besar waktu proses belaJar mengajar beriangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa. & Books. Alexandria. Educational Leadership. 2000).G. Hal ini dapat terjadi karena selain disebabkan adanya peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa juga karena siswa belajar aktif melalui aktivitas proses sains secara riil dari alat peraga yang didemonstrasikan.1994:45) adalah (a) Memusatkan perhatian pada berpikir atau proses mental anak. diperlukan strategi pengubahan konsep (conceptual change) yang tepat dan diberikan pada saat yang tepat pula. Pendekatan ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Dalam mengubah miskonsepsi siswa menuju konsepsi ilmiah dalam pembelajaran fisika. Pengubahan konsepsi dapat dilakukan dengan menyajikan konflik kognitif (cognitive conflict). Berdasarkan teori ini dikembangkan pembelajaran kooperatif. The Courage To Be Constructivist. (1993).

Sedangkan strategi pengubahan miskonsepsi diwujudkan dalam bentuk modul tentang konsep-konsep esensial yang mengacu pada konsepsi awal siswa yang telah dijaring sebelum pernbelajaran dilaksanakan. Identifikasi ini dilakukan dengan tes diagnostik (pra tes) dan interview klinis yang dilaksanakan sebelum pernbelajaran. (b) Konflik Kognitif dan Diskusi Kelas. sehingga siswa dapat berinteraksi di sekitar tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif di dalam masing-masing zone of proximal development mereka. (5) Restrukturisasi Ide. menulis. Mereka diminta untuk meramalkan hasil percobaan dan memberikan alasan untuk mendukung ramalannya itu. serta keterlibatannya secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Usaha untuk mencari penjelasan ini dilakukan dengan proses konfrontasi rnelalui diskusi dengan ternan atau guru yang pada kapasitasnya sebagai fasilitator dan mediator. Program pernbelajaran dijabarkan dalam bentuk Satuan Pelajaran. Siswa diberikan pertanyaan-pertanyaan tentang gejala-gejala yang kemudian dapat diperagakan atau diselidiki dalam praktikum. Dalam tahap ini. Pengungkapan gagasan tersebut dapat rnelalui diskusi. (4) Refleksi. melakukan percobaan di laboratorium.tidak sekedar kepada hasilnya. Siswa akan dapat melihat sendiri apakah ramalan mereka benar atau salah. agar siswa tidak khawatir dicemoohkan dan ditertawakan bila gagasan-gagasannya salah. mereka akan mengalami konflik kognitif dan mulai tidak puas dengan gagasan mereka. ilustrasi gambar dan sebagainya. berupa: (a) Tantangan. berbagai macam gagasan-gagasan yang bersifat miskonsepsi yang muncul pada tahap orientasi dan elicitasi direfleksikan dengan miskonsepsi yang telah dijaring pada tahap awal. guna untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan akan munculnya miskonsepsi yang menghinggapi struktur kognitif siswa. Situasi pembelajaran yang kondusif dan mengasyikkan sangatlah perlu diciptakan pada awal pembelajaran guna membangkitkan minat mereka terhadap topik yang akan dibahas Siswa dituntun agar mereka mau mengemukakan gagasan intuitifnya sebanyak mungkin tentang gejala-gejala fisika yang mereka amati dalam lingkungan hidupnya sehari-hari. (c) Membangun Ulang Kerangka Konseptual . Bila ramalan mereka meleset. Mereka didorong untuk menguji keyakinan dengan. (c) Memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan intelektual. Suasana pembeiajaran dibuat santai. (b) Memperhatikan peranan dan inisiatif siswa. Tahapan-tahapan penerapan model konstruktivis dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: (1) Identifikasi awal terhadap prior knowledge dan miskonsepsi siswa tentang konsep tekanan Pada tahap ini guru mengidentifikasi pengetahuan awal siswa tentang konsep tekanan. Sedangkan implikasi utama dalam pembelajaran fisika berdasarkan teori Vygotsky adalah dikehendakinya susunan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif antar siswa. (3) Orientasi dan Elicitasi. (2) Penyusunan Program Pembelaiaran dan Strategi Pengubahan Miskonsepsi. Miskonsepsi ini diklasifikasikan berdasarkan tingkat kesalahan untuk memudahkan merestrukturisasinya.

menghasilkan. meramu. Flavel (Dahar. Sintesis menggabung. membentuk. memadukan. Berikut merupakan Taxonomy of Educational Objectives menurut Benjamin Bloom (Ginnis. 3. Hal ini penting dilakukan agar miskonsepsi yang resisten tersebut tidak selarnanya menghinggapi struktur kognitif. merangking. menstruktur. Revisi terhadap strategi pembelajaran dilakukan bila miskonsepsi yang muncul kembali bersifat sangat resisten. menengahi konflik. bahwa konsep dapat berbeda dalam tujuh dimensi. 3) keabstrakan. menyortir. Uniknya pada taksonomi ini. Dari ketujuh dimensi konsep tersebut. siswa harus mengetahui konsep dasar permasalahan yang dihadapinya. Rustaman et al. Menuniukkan bahwa konsep ilmiah yang baru itu memiliki keunggulan dari gagasan yang lama. 4. meramu. menilai. karakter atau atribut yang sama dari sekelompok objek dari suatu fakta. menghasilkan. menaksir. mencampur. mencipta. memberi bobot. Review dilaksanakan untuk meninjau keberhasilan strategi pembelajaran yang telah beriangsung dalam upaya mereduksi miskonsepsi yang muncul pada awal pembelajaran. Evaluasi memeriksa. mengambil keputusan. (2003: 61) menambahkan. (7) Review. atau hubungan yang mempunyai atribut yang sama. menyertakan. (6) Aplikasi. mengelompokkan. 7) kekuatan (power). terdapat suatu urutan atau tingkatan yang menandakan level kemampuan siswa. membentuk. 6) ketepatan. konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili satu kelas objek. 2008: 63): 1. menyusun. menyertakan. kegiatan. menurut Ginnis (2008: 63) saat berpindah dari level bawah ke atas. Meyakinkan siswa akan manfaat untuk beralih konsepsi dari miskonsepsi menuju konsepi ilmiah. mengelompokkan ulang. dapat ditarik definisi konsep menurut Rosser (Dahar. menentukan. memadukan. 2) struktur. mencipta. Menganjurkan rnereka untuk menerapkan konsep iimiahnya tersebut dalam berbagai macam situasi untuk memecahkan masalah yang instruktif dan kemudian menguji penyelesaiaanya secara ernpiris. dibutuhkan kecakapan yang lebih maju dari siswa. 4) keinklusifan. Konsep-konsep merupakan batu-batu pembangun (building blocks) dalam berpikir. menguji mutu. peristiwa. 5) generalitas atau keumuman. menstruktur. Konsep merupakan suatu abstraksi yang menggambarkan ciri. mengkonsepsi. Konsep-konsep merupakan dasar bagi proses-proses mental yang lebih tinggi untuk memutuskan prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi. yang pada akhirnya akan bermuara pada kesulitan belajar dan rendahnya prestasi siswa yang bersangkutan. dikenal suatu teori dari Benjamin Bloom yang disebut Taxonomy of Educational Objectives atau lebih populer dengan istilah Taksonomi Bloom. baik suatu proses. Menurut Dahar (1988: 95) belajar konsep merupakan hasil utama pendidikan. Pada penguasaan konsep. 1988: 37). mengelompokkan ulang. 1988: 96) mengemukakan. kejadian. benda atau fenomena di alam yang membedakannya dari kelompok lain. Analisis menggabung. mengkonsepsi.Siswa dituntun untuk menemukan sendiri bahwa konsep-konsep yang baru itu memiliki konsistensi internal. mempersingkat. mencampur. untuk memecahkan masalah dalam belajar. Aplikasi . yaitu: 1) atribut. 2. menyusun.

melafalkan. mentransfer. Faktor lingkungan rumah atau keluarga ini merupakan lingkungan pertama dan utama pula dalam menentukan keberhasilan belajar seseorang. merangkum. 6) lingkungan dan kesempatan. keberhasilan belajar itu juga dapat dipengaruhi oleh dua faktor besar. Selain faktor-faktor tersebut. menempatkan. 5) alat-alat pembelajaran. Pemahaman menyusun ulang kata. menggunakan. menyusun ulang kalimat. memanipulasi. hasil belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. mengkonversi. 3) keadaan keluarga. 8) kecerdasan/intelegensi. 2008) Level kemampuan siswa dalam penguasaan konsep ditentukan pula oleh cara setiap orang dalam menerima dan memproses konsep tersebut. 5. yaitu: 1) kematangan/pertumbuhan. 2) sifat-sifat pribadi seseorang. menyebutkan. menerjemahkan. mendefinisikan. menafsirkan. 6. (Sumber: Ginnis. mendaftar. siapa. mengubah urutan. mengidentifikasi. mengubah. faktor lingkungan sekolah. 7) motivasi. memparaphrase.menerapkan. memahami. kapan. yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Slameto. menjelaskan. menyelesaikan. mengaitkan. 2003: 64). Lebih lanjut diungkapkan bahwa faktor internal terdiri atas faktor biologis (jasmaniah) dan faktor psikologis. sedangkan faktor eksternal terdiri atas faktor lingkungan keluarga. menghitung. mencari. mengulang. mengadopsi. mengkonsep. Pengetahuan apa. 4) cara guru mengajar. menggunakan. mengubah. . Menurut Purwanto (1994: 102). mengingat. dimana. mentransplantasi. melabeli. mengadaptasi. memanfaatkan. dan faktor lingkungan masyarakat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->