Pendekar Pemanah Rajawali

Pendekar Pemanah Rajawali

"Pendekar Pemanah Rajawali"
~ Sia Tiauw Eng Hiong ~ Oleh : JIN YONG Pengantar Di luar gunung ada lagi gunung hijau, di luar lauwteng ada pula lauwteng lainnya, Nyanyian-nyanyian dan tari-tarian di Telaga Barat, hingga kapankah itu akan berhenti? Penghidupan mewah di Selatan telah membuat mabuk kepada pelancong-pelancong tetamu, Hingga kota Hangciu dianggapnya sebagai kota Pianciu! Syair di atas adalah lukisan dari peristiwa pada delapan ratus tahun yang lampau. Ketika itu kerajaan Song telah menjadi sedemikian lemahnya hingga kedua kaisar Hwie Cong dan Kim Cong sudah kena ditawan bangsa Kim (Kin), karena mana itu pangeran Kong Ong lalu menyeberang ke Selatan, menerima tahta kerajaan di kota Liman, menjadi Kaisar Kho Cong. Dalam waktu sesulit itu, selagi musuh mengancam di tapal batas, setelah separuh dari negara berada di dalam tangan musuh itu, sudah selayaknya satu kaisar bangkit bangun untuk membuat perlawanan, akan tetapi tidak demikian dengan Kaisar kho cong ini. Dia justru jeri terhadap bangsa Kim itu yang dipandangnya sebagai harimau saja, berbareng dengan itu dia pun khawatir kalau kedua Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong nanti kembali dari tawanan hingga dia tak dapat terus bercokol di atas singasana naga. Maka dengan itu menurut perkataannya dorna Cin Kwee4, dia titahkan membunuh Jenderal Gak Hui, pendekar yang menentang musuh Kim itu, sesudah mana itu dengan merendahkan martabat sendiri ia mengajukan permohonan damai dengan bangsa Kim. Inilah pengharapan bangsa Kim yang disaat itu tengah gelisah sebab telah berulangkali mereka memperoleh labrakan dari Jenderal Gak Hui, hingga semangatnya terpukul hebat, sementara di wilayah Utara mereka terancam pemberontakan tentera rakyat sukarela. Begitu di dalam bulan pertama tahun kerajaan Ciauw-hin ke12 (1138 masehi) perdamaian telah ditandatangani dengan syarat tapal batas kedua negara Song dan Kim adalah aliran tengah dari sungai Hoay-sui. Perdamaian itu namanya saja perdamaian, kenyataannya adalah penaklukan dari Kaisar Kho Cong itu (yang bernama Tio Kouw adalah putra ke-9 dari Kaisar Hwie Cong). Sebab di dalam suratnya, Kho Cong menyatakan dan mengaku sudah terima budi kebaikan dari raja Kim, karena mana turun temurun ia akan menjadi ―menteri yang setia‖ serta berjanji setiap hari lahirnya, ―Kaisar‖ demikian ia menyebut raja Kim itu – begitu juga setiap tahun, ia akan kirim utusan guna memberi selamat sambil menghanturkan upeti uang perak duapuluh lima laksa tail dan cita duapuluh lima laksa balok. Demikian macam martabatnya seorang Kaisar, ia sungguh memalukan, maka ketika tentera dan rakyat negeri mengetahui hal itu, semuanya menjadi murka dan berbareng berduka. Lebih bersedih adalah rakyat di wilayah utara sungai Hoay-sui itu, karena mereka menjadi tidak mempunyai harapan lagi akan bangunnya negara. Dipihak lain, Kho Cong menganggap itu adalah jasa besar dari dorna Cin Kwee, maka juga dorna yang sudah tinggi pangkatnya, yaitu Siaupo Copoksia merangkap Kie-bit-su gelar Pangeran Louw-kokong, dinaiki pula menjadi Taysu, hingga kedudukannya telah mencapai puncaknya kebesaran suatu menteri! Semenjak itu bangsa Kim menduduki separuh dari wilayah Tiongkok. Walaupun demikian pemerintahan di Hangciu malah bertambah buruk, raja dan menteri-menterinya, setiap hari berpelesiran saja, berpesta pora, tidak memikirkan lagi kepentingan negara, sedang beberapa menteri atau perwira yang setia, umumnya kalah pengaruh dan tidak berdaya, hingga mereka pada menutup mata karena mereras. Demikan syair di atas, gambaran dari kaisar yang lemah dan buruk tapi pecandu pelisir! ------------------------------1) Telaga Barat – See Ouw (Si Hu) 2) Piancu – Kaifeng (Kayhong), ibukota propinsi Honan. Bekas kotaraja. 3) Lim-an – Hangciu (Hangchow), ibukota Chekiang, inilah yang dimaksud dengan Selatan (Kanglam) 4) Dorna Cin Kwee – Di Hangciu telah dibuat patungnya sebagai tanda peringatan dari khianatnya terhadap negara dan ada satu waktu yang patungnya itu telah diperhina dengan ludah maupun kotoran manusia. Bab 1. Pertempuran di Tanah Bersalju

Irawan D Soedradjat

Page

Beberapa tahun telah berselang, Kaisar Kho Cong itu digantikan oleh Kaisar Hauw Cong. Kaisar Hauw Cong digantikan Kaisar Kong Cong, lalu Kaisar Leng Cong. Pada tahun Keng-goan ke-5 dari Kaisar ini, selagi musim

1

Pendekar Pemanah Rajawali

dingin, telah turun hujan salju lebat selama dua hari berturut-turut, hingga Hangciu, ibukota Kerajaan Song itu seperti bermandikan air perak, bercahaya berkilau, indah dipandang. Dan diwaktu begitu, Kaisar dan menterimenterinya dengan duduk mengelilingi perapian, bersenang-senang menenggak air kata-kata...... *** Di luar kota Hangciu, di sebelah timurnya, di dusun Gu-kee-cun, dua orang gagah pun tengah minum arak putih sambil duduk berhadapan, oleh karena mereka adalah bagaikan saudara sejati. Dari mereka itu, yang satu bernama Kwee Siauw Thian, yang lainnya Yo Tiat Sim, kedua-duanya adalah turunan orang-orang kenamaan. Siauw Thian itu adalah turunan dari Say-Jin-Kui Kwee Seng, itu adalah salah satu jago dari seratus delapan orang kosen dari gunung Liang San yang kesohor dengan ilmu silat tombaknya, hanya setelah tiba pada dia ini, tombak yang panjang itu diganti dengan sepasang tombak pendek dan bergaetan (siangkek). Sementara Yo Tiat Sim itu adalah turunan dari Panglima Yo Cay Hin, salah seorang bawahan Jenderal Gak Hui dan ilmu tombaknya adalah warisan leluhurnya. Mulanya kedua orang ini bertemu dalam pengembaraan, setelah merasa cocok, maka mereka mengangkat saudara, kemudian bersama-sama mereka pindah dan tinggal di dusun ini. Kebiasaan mereka adalah duduk berkumpul, pasang omong dan menyakinkan ilmu silat. Demikian juga pada hari itu, selagi salju turun, mereka duduk minum arak dan berbicara dengan asyiknya, tempo mereka omong hal nasibnya negera, keduanya menjadi berduka dan berdongkol, tiba-tiba saja Tiat Sim mengeprak meja dengan kerasnya. Justru saat itu ada seorang keluar dari ruang dalam, apabila gorden tersingkap, terlihatlah seorang wanita yang cantik sekali, tangannya memegang nenampan di atas mana ada terdapat masakan daging sapi serta ayam. ―Hai, urusan apa lagi yang membuat kamu berdua saudara marah?‖ tanya wanita itu sambil tertawa. ―Kami tengah membicarakan urusan yang gila-gila dari negara!‖ sahut Siauw Thian. ―Enso, mari kau pun minum satu cawan!‖ Wanita itu adalah Pauw-sie, istri dari Yo Tiat Sim. Di Lam-an ini, dia adalah merupakan wanita tercantik dan halus budi pekertinya, hingga ia tepat dengan romannya. Siapa yang melihat dia, pasti kagumlah hatinya. Dengan Tiat Sim, belum lama ia menikah, tetapi dia itu orangnya luwes dan dapat dengan gampang bergaul dengan kaum pria-dalam halnya dengan Siauw Thian, iparnya itu. Begitulah, setelah ia meletakkan barang makanan-nya, ia mengambil cawan dan mengisinya, sesudah itu mengambil kursi dan meminum araknya itu. ―Kemarin selagi aku berada di dalam warung teh di Tong Lam di ujung jembatan Cong An Kio, aku mendengar orang membicarakan halnya Han To Cu si perdana menteri keparat itu!‖ Tiat Sim menyahuti pertanyaan istrinya tadi. ―Rapi pembicaraan itu, hingga aku percaya itu bukanlah omong kosong belaka. Orang itu bilang, pembesar siapa juga, jikalau dia hendak mengajukan laporan, apabila di ujung sampulnya tidak disertai keterangan dia menghadiahkan sesuatu, pasti perdana keparat itu tidak akan memeriksanya!‖ Siauw Thian menghela napas. ―Ada rajanya, ada menterinya‖ katanya masgul. ―Ada menterinya, ada pembesarpembesar bawahannya.Lihat saja Tio Tayjin, residen dari kota Lim-an kita ini. Hari itu Han To Cu pesiar di luar kota dengan diiringi banyak pembesar. Kebetulan aku lagi mencari kayu di dekat situ. Tentu saja aku tidak ambil mumat padanya itu. Lalu aku mendengar dia menghela napas dan berkata seorang diri: ‗Di sini rumahrumah berpagar bambu dan beratap, sungguh suatu desa yang indah menarik hati, hanya sayang sekali, disini tidak terdengar suara ayam berkokok dan anjing menggonggong…‘ Belum lagi dia menutup mulutnya lalu terdengar gongongan anjing dari dalam semak-semak!‖ Pauw-sie bertepuk tangan sambil tertawa. ―Sungguh anjing yang tahu diri!‖ katanya. ―Memang anjing yang sangat tahu diri!‖ sahut Siauw Thian. ―Setelah menggonggong, dia muncul dari semaksemak itu! Enso tahu, anjing apakah itu? Dialah Tio Tayjin, residen kita!‖ Pauw-sie menjadi tertawa terpingkal-pingkal. Tiat Sim dan Siauw Thian pun tertawa. Mereka minum terus hingga terlihat salju turun makin lebat. ―Nanti aku undang enso minum bersama,!‖ kata Pauw-sie kemudian. ―Tidak usah,‖ Siauw Thian mencegah. ―Selama beberapa hari ini, dia merasa kurang sehat….‖

Irawan D Soedradjat

Page

Pauw-sie terkejut, ―Ah, mengapa aku tidak tahu!‖ katanya. ―Nanti aku tengok!‖

2

Pendekar Pemanah Rajawali

Siauw Thian tidak bilang apa-apa lagi, dia malah tersenyum. Menampak hal itu, legalah hati Tiat Sim. Itu artinya nyonya Kwee tidak berat sakitnya. Tak lama, nyonya Yo kembali sambil tersenyum-senyum. Ia isikan satu cawan, lalu mengansurkan cawan itu kepada suaminya. ―Lekas minum sampai habis!‖ katanya. ―Inilah tanda hormat kepada Toako!‖ ―Eh, apakah artinya ini?‖ tanya Tiat Sim tidak mengerti. ―Minum, lekas minum!‖ desak Pauw-sie. ―Habis minum nanti baru aku beri keterangan!‖ katanya kemudian. Tiat Sim lalu meminum kering cawan itu. ―Nah, Toako, kau biacaralah sendiri!‖ kata Pauw-sie sambil tertawa kepada Siauw Thian. Orang she Kwee itu tersenyum dan berkata, ―Selama sebulan ini dia senantiasa mengeluh pinggangnya pegal dan sakit. Baru kemarin dia pergi ke Thio Ie-seng di dalam kota, kata tabib itu dia sudah mengandung selama tiga bulan….‖ Tiat Sim menjadi girang sekali. ―Kiong hie, Toako!‖ katanya sambil memberi selamat. Lalu ketiganya meneguk arak mereka, masing-masing tiga cawan. Tentu saja dengan meminum sebanyaknya itu, sedikitnya arak itu telah mempengaruhi mereka. Pada saat itu di arah timur kelihatan satu tosu atau imam sedang mendatangi. Dia memakai tudung bambu dan tubuhnya di tutupi dengan baju rumput, yang seluruhnya penuh dengan salju. Ia bertindak dengan tegap dan cepat. Segera tertampak di punggungnya ada tergantung sebatang pedang, yang roncenya kuning dan memain di antara tiupan angin yang keras. ―Adik, imam ini pasti mengerti ilmu silat,‖ Siauw Thian bilang. ―Entah dari mana dia datang. Coba kita dapat berkenalan dengannya. Sayang kita belum tahu namanya………..‖ ―Benar,‖ sahut Tiat Sim. ―Baik kita undang dia minum untuk ikat persahabatan……‖ Keduanya segera berbangkit dan pergi keluar. Ketika itu karena cepat jalannya, si imam sudah lewat beberapa puluh tombak. Siauw Thian dan Tiat Sim saling melihat dengan herannya. ―Totiang, tunggu sebentar!‖ Tiat Sim segera memanggil. Cepat sekali si imam memutar tubuh dan mengangguk. ―Salju turun dengan lebatnya dan hawa pun sangat dingin,‖ kata Tiat Sim pula, ―Sudilah Totiang mampir untuk minum beberapa cawan guna melawan hawa dingin.‖ Iman itu menyahuti dengan tertawa dingin, lalu ia bertindak menghampir – cepat sekali tindakannya. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua sangat terperanjat dan heran guna menyaksikan muka orang yang berwajah sangat dingin sekali. ―Kamu pandai bergaul, eh!‖ katanya tawar Tiat Sim masih muda dan dia tidak senang dengan sikap orang. ―Dengan baik hati aku mengundang kau minum, kenapa kau begini tidak tahu aturan?‖ pikirnya. Maka ia menjadi diam saja. Siauw Thian sebaliknya lantas memberi hormat. ―Totiang, harap anda tidak marah dengan sikap saudaraku ini. ―Kami sedang minum arak, melihat Totiang melawan salju, dia besarkan nyali untuk mengundang Totiang minum bersama….‖ Imam itu memutar matanya. ―Baik,baik!‖ katanya. ―Minum arak ya minum arak!‖ Dan dengan tindakan lebar ia menuju ke dalam.

Irawan D Soedradjat

Page

3

Pendekar Pemanah Rajawali

Tiat Sim merasa dongkol, ia ulurkan tangannya hendak mencekal tangan kiri si imam untuk ditarik ke samping. ―Aku belum belajar kenal dengan Totiang!‖ katanya. Tapi tiba-tiba ia merasa kaget. Ia merasai tangan orang sangat licin. Ketika ia berniat menarik pulang tangannya, tahu-tahu tangan itu bagaikan terjepit dengan keras, rasanya sakit dan panas. Ia kerahkan tenaganya untuk melawan. Justru dengan berbuat demikian ia merasakan tangannya hilang tenaga dan sakit sekali, rasa sakitnya sampai ke ulu hati. Siauw Thian tampak wajah saudaranya merah dan pucat, ia tahu saudaranya ini tentu telah ―ketemu batunya‖. Ia mengerti gelagat yang kurang baik itu dan sangsi turun tangan untuk membantu. ―Totiang, mari silakan duduk di sini!‖ ia mengundang. Dua kali si imam kasih dengar tertawanya yang dingin itu, baru ia lepaskan cekalannya atas tangan Tiat Sim. Hal ini membuat orang she Yo itu mendongkol dan heran, ia terus masuk ke dalam, akan diberitahukannya istrinya tentang imam itu. ―Dia sangat aneh, pergi temani dulu,‖ kata Pauw-sie. ―Jangan turun tangan, perlahan-lahan saja kita cari tahu tentang dirinya…‖ Tiat Sim menuruti perkataan istrinya itu. Pauw-sie segera menyiapkan arak dan barang hidangan dan menyuruh Tiat Sim membawa keluar. ―Tunggu sebentar!‖ memanggil sang istri. Tiat Sim pun memutar kembali. Pauw-sie menurunkan sebuah pisau belati yang tajam mengkilap, yang tergantung pada tembok, ia memasukkan belati itu ke dalam saku suaminya. Tiat Sim pun kemudian keluar membawa barang hidangan itu dan mengaturnya di meja. Ia menuangkan tiga cawan, terus ia mengundang tamunya untuk minum. Ia juga meneguk satu cawan, habis minum ia berdiam saja. Imam itu memandang keluar jendela dan mengawasi salju. Ia tidak meminum araknya dan ia pun tidak membuka mulutnya melainkan hanya tertawa dingin saja. Siauw Thian menduga si imam tentu curigai araknya, ia mengambil cawan arak di hadapan imam itu, terus ia cegluk di hadapan imam itu. Ia menyambuti, terus diminumnya. ―Arakmu telah dingin Totiang, nanti aku tukar dengan yang baru,‖ katanya. Dan ia mengisikan pula. Si imam dapat mencium bau harum dari arak itu, ia menyambuti dan terus diminumnya. ―Walaupun arak ini di campuri dengan obat pulas, tidak nanti aku kena diracuni!‖ katanya. Tiat Sim menjadi hilang sabar. ―Kita undang kau minum dengan maksud baik, mustahil kami hendak mencelakai kau!‖ tegurnya. ―Totiang, kau omong tidak karuan, silakan lekas keluar! Arak kita tidak bakalan menjadi rusak dan sayur kita tak nanti tak ada yang memakannya!‖ ―Hm!‖ bersuara si imam itu. Tak lebih. Ia jemput poci arak dan menuang arak itu sendiri, lalu ia tenggak habis tiga cawan. Habis itu dia buka baju luarnya dan letaki tudungnya. Sekarang baru Tiat Sim dan Siauw Thian dapat melihat dengan tegas wajah orang. Mereka menduga si imam baru berumur tiga puluh tahun lebih, sepasang alisnya panjang lancip, kulit mukanya merah segar, mukanya lebar dan kupingnya besar. Ia bukan sembarang imam. Ketika ia kasih turun kantung di punggungnya, ia terus lempar barang itu ke atas meja hingga terbitlah suatu suara yang keras, hingga kedua tuan rumah itu menjadi kaget sekali. Sebab yang menerbitkan suara nyaring itu yang menggelinding keluar dari dalam kantung itu adalah kepala manusia yang masih berlumuran darah, hingga tak nampak jelas raut mukanya. Tiat Sim meraba pisau belati dalam kantungnya. Si imam menukik pula kantungnya, kali ini dikeluarkannya dua potong daging yang penuh darah juga, karena itu adalah hati dan jantung manusia. ―Jahanam!‖ teriak Tiat Sim yang sudah tak tahan sabar lagi, sedang tangannya melayang ke dada si imam.

Irawan D Soedradjat

Page

4

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kebetulan, aku memang menghendaki barang ini!‖ seru si imam sambil tertawa. Ia tidak menghiraukan tikaman itu, hanya ketika si orang she Yo itu datang mendekat, ia menggempur dengan tangan kirinya, hingga seketika juga Tiat Sim merasa bahunya tergetar, lalu tiba-tiba saja pisau belatinya kena dirampas orang! Siauw Thian kaget bukan kepalang. Ia tahu lihaynya adik angkatnya itu, yang cuma kalah sedikit dengannya. Tidak disangka, demikian gampang imam ini merampas senjata orang. Itulah ilmu silat ―Khong-ciu toat pek-jin‖ atau ―Tangan kosong merampas senjata tajam‖ yang lihay, yang baru pernah ia saksikan. Meskipun ia kaget, ia toh segera bersiap dengan memegang bangku, guna membela diri umpama kata si imam terus menyerang. Akan tetapi dugaannya ini salah adanya. Imam itu tidak menyerang siapa juga, ia hanya lantas gunai pisau itu untuk memotong-motong hati dan jantung manusia itu, lalu dengan tangan kiri mencekal poci arak, dengan tangan kanan ia jumputi potongan daging satu demi satu, untuk dimasukkan ke dalam mulutnya, buat dikuyah dan ditelan, saban-saban dia selang itu dengan tenggakan arak pada pocinya. Cepat daharnya, sebentar lagi habis sudah makanan yang rupanya sangat lezat itu! Siauw Thian dan Tiat Sim berdua saling mengawasi dengan tercengang. Sungguh aneh imam ini. Akan tetapi itu masih belum semua. Habis dahar, imam itu berdongak, lalu ia bersiul nyaring sekali, umpama kata genting sampai bergetar, kemudian tangan kanannya menyerang ke meja, hingga piring dan cawan berlompat! Yang hebat adalah sasaran serangan itu, ialah kepala manusia itu, yang remuk seketika! Sedang ujung meja turut sempal sedikit…….. Selagi dua saudara angkat itu berdiam, wajah si imam yang tadinya bermuram durja dan bengis, tiba-tiba berubah menjadi penuh dengan air mata, dengan air mata bercucuran ia lalu menangis dengan meraung-raung! ―Kiranya dia seorang yang edan…!‖ bisik Siauw Thian kepada adik angkatnya, yang ujung bajunya ia tarik. ―Dia lihay sekali, jangan kita ladeni dia….‖ Tiat Sim mengangguk, ia awasi imam itu. Sekarang tidak lagi ia gusur, sebaliknya ia merasa kasihan. Sedih tangisnya si imam ini, ilmu silat siapa sebaliknya ia kagumi. Maka kemudian ia lari ke dalam untuk mengambil semangkok kuwah yang masih panas. ―Totiang, mari minum kuwah ini!‖ katanya. Ia letaki mangkok itu di atas meja. Si imam bukan menerima kuwah iru, ia sebaliknya menggebrak meja hingga mangkok itu terbang berikut mejanya. Ia pun berseru :‖Kawanan tikus, hari ini toyamu membuka pantangan membunuh!‖ Menampak itu, meluaplah amarah Tiat Sim, maka ia melompat ke ujung ruang untuk menyambar tombaknya, lalu ia terus lari keluar, ke depan pintu dimana salju terhampar luas. ―Mari, mari!‖ ia menantang. ―Mari belajar kenal dengan tombak keluarga Yo!‖ Imam itu tersenyum. ―Tikus, pantaskah kau menggunai ilmu silat tombak keluarga Yo?‖ tanyanya. Ia bersuara sambil tubuhnya melompat keluar. Melihat keadaan mengancam itu, Siauw Thian lari untuk mengambil sepasang gaetannya, dengan lekas ia berbalik kembali. Imam berdiri tanpa menghunus pedangnya, Cuma sang angin menyampok-nyampok ujung bajunya. ―Hunus pedangmu!‖ seru Tiat Sim. ―Ah, dua tikus, kamu berdua majulah berbareng!‖ sahut si imam. ―Toya kamu akan layani kamu dengan tangan kosong!‖ Takabur bukan main orang pertapaan ini, hingga Tiat Sim tidak berayal sejenak juga untuk segera menikam dengan tombaknya yang beronce merah itu. Ia gunai tipu silatnya ―Tok liong cut tong‖ atau ―Naga berbisa keluar dari gua‖ ―Bagus!‖ seru si imam kagm menampak serangan itu yang menuju ke dadanya. Ia berkelit ke samping, tangan kirinya bergerak, untuk sambar kepala tombak itu. Lihay ilmu silat tombak keluarga Yo itu – Yo-kee Chio-hoat. Ketika Yo Cay Hin bersama tigaratus serdadunya – tentara kerajaan Song menghadapi empat laksa serdadu Kim, seorang diri ia telah membinasakan dua ribu lebih serdadu musuh berikut banyak perwiranya, sebelum akhirnya ia roboh karena terkena banyak panah, waktu ia binasa dan bangsa Kim membakar tubuhnya, dari dalam tubuhnya itu kedapatan banyak ujung panah,
Irawan D Soedradjat

Page

5

Pendekar Pemanah Rajawali

sebab selagi ia terpanah, gagang panah ia patahkan. Karena ini bangsa Kim menjadi jeri dan mengaguminya. Tiat Sim tidak segagah leluhurnya itu tetapi ilmu silatnya cukup sempurna, begitulah ia mencoba mendesak si imam tidak di kenal itu yang senantiasa lolos dari tikaman, tempo habis sudah dijalankan semua tujuh puluh dua jurus ilmu tombak itu, dia tidak kurang sesuatu apa. Baru sekarang si anak muda menjadi gentar, terpaksa ia seret tombaknya untuk keluar dari kalangan. Imam itu mengejar apabila ia dapatkan lawannya itu lari. Sekonyong-konyong Tiat Sim berseru keras, tubuhnya berputar balik, berbareng dengan itu, dengan kedua tangannya memegangi gagang tombak, ia menikam dengan hebat sekali. Itulah tipu silat ―Cwie-pek po-kian‖ atau ―menggempur tembok‖. Dengan tipu itu, musuh dibikin tidak menyangka dan menjadi kaget. Dengan tipu ini juga dulu Yo Cay Hin membikin rubuh Gak Hoan, adiknya Gak Hui. ―Bagus!‖ seru si imam buat kedua kalinya. Ia tidak menjadi gugup, justru ketika ujung tombak sampai, ia menyambutnya dengan kedua telapak tangan dirangkap, ditempel menjadi satu dengan keras, hingga ujung tombak itu kena terjepit. Tiat Sim kaget bukan kepalang. Ia mendorong dengan keras, tombaknya itu tak dapat maju melewati telapak tangan lawan. Ketika ia menarik dengan sekuat tenaga, betotannya pun sia-sia belaka, tombaknya tak terlepas dari cekalan lawannya itu, kuda-kuda si imam juga nancap bagaikan terpaku. Tiga kali ia mencoba menarik tanpa hasil, mukanya menjadi merah. Tiba-tiba saja si imam tertawa, lalu jepitan tangannya terlepas. Tapi ia tidak Cuma melepas, tempo tombak tertarik pulang, ia membacok dengan tangan kanannya kepada tombak, hingga dengan bersuara nyaring, tombak besi itu patah menjadi dua potong! Imam itu segera tertawa pula, lalu ia berkata. Kali ini dengan suara manis. ―Tuan, benar lihay ilmu silat tombakmu!‖ katanya. ―Maaf untuk perbuatanku ini! Mohon ku tanya she tuan‖ ―Aku yang rendah she Yo bernama Tiat Sim,‖ sahut Tiat Sim, selagi ia belum dapat tenangkan diri. Ia kesakitan pada kedua tangannya, ia pun heran sekali. ―Pernah apakah Tuan dengan Ciangkun Yo Cay Hin?‖ tanya si imam. ―Ia adalah leluhur saya,‖ jawab Tiat Sim pula. Mandadak si imam itu menjura kepada saudara angkat itu, sikapnya hormat sekali. ―Maaf, barusan aku menyangka Tuan-tuan adalah orang jahat,‖ ia berkata dengan pengakuannya. ―Aku tidak sangka Tuan-tuan adalah turunan orang-orang setia. Boleh kutanya she Tuan?‖ ia lanjuti kepada Siauw Thian. Dengan cara hormat Siauw Thian perkenalkan dirinya. ―Tuan ini kakak angkatku, dia adalah keturunan dari Say Jin Kui Kwee Seng dari gunung Liang San,‖ Tiat Sim menambahkan. ―Bagus!‖ berkata si imam, ia pun minta maaf pada pemuda she Kwee itu. Kembali ia menjura. Tiat Sim berdua membalas hormatnya. ―Silahkan Totiang minum arak pula,‖ ia mengundang pula kemudian. ―Memang kuingin minum dengan puas bersama jiwi!‖ kata si imam denagn tertawa. Tiat Sim dan Siauw Thian undang orang masuk pula ke dalam. Pauw-sie menyaksikan pertempuran dari muka pintu, girang ia mengetahui kesudahannya orang menjadi sahabat, ia terus lari ke dalam, untuk menyiapkan pula arak dan barang hidangan. Kali ini Tiat Sim dan Siauw Thian tanya gelaran si imam.

Siauw Thian terperanjat mendengar nama itu. ―Oh, apa bukannya Tiang Cun Cinjin?‖ ia menyela.
Irawan D Soedradjat

Page

6

―Pinto she Khu bernama Cie Kee,‖ sahut imam itu.

Pendekar Pemanah Rajawali

―Itulah nama pemberian rekan-rekanku, pinto malu menerimanya,‖ kata Cie Kee sambil tertawa. Siauw Thian segera berkata kepada adik angkatnya: ―Adik, totiang ini adalah orang gagah nomor satu di ini jaman! Sungguh beruntung kita dapat berjumpa dengannya!‖ ―Oh!‖ Tiat Sim berseru kaget. Lalu berdua, mereka berlutut di depan imam itu. Khu Cie Kee tertawa, ia memimpin bangun orang. ―Hari ini pinto telah membunuh seorang jahat, karenanya para pembesar negeri sedang mencari aku,‖ ia berkata. ―Barusan pinto lewat di sini, pinto lihat kamu berdua lagi minum arak. Di sini adalah kota raja dan kamu kelihatannya bukan sembarang orang, dari itu pinto menjadi curiga sendiri….‖ ―Keliru adalah saudaraku ini, yang tabiatnya keras,‖ Siauw Thian bilang. ―Totiang lihat sendiri, dia suruh lantas turun tangan, pantas kalau Totiang jadi curiga karenanya.‖ Siauw Thian dan Tiat Sim tertawa. Begitulah mereka lalu minum dan dahar dengan gembiranya. ―Sebenarnya pinto adalah orang utara,‖ kemudian Tian Cun Cinjin berkata pula. ―Rumah tanggaku hancur lebur karena kejahatan bangsa Kim, sedang pemerintah selalu mencari muka daripadanya, dari itu pinto telah sucikan diri.‖ Ia terus tuding kepala manusia yang remuk dan yang tergeletak di lantai itu. ―Dia itu adalah Ong To Kian, si pengkhianat besar. Pada tahun yang lalu kaisar mengutus dia kepada raja Kim, buat memberi selamat ulang tahun raja itu. Ketika itu digunai ia untuk bersekongkol, supaya bangsa Kim bisa menyerbu ke Kanglam. Pinto susul dia selama sepuluh hari, baru ia dapat dicandak, lalu pinto membunuhnya. Pikiranku sedang kacau maka juga tadi pinto berlaku tidak selayaknya.‖ Siauw Thian dan Tiat Sim membilang tidak apa. Mereka memang kagumi imam ini yang kesohor lihay ilmu silatnya. Sekarang ternyata orangpun menyinta negara, mereka lebih-lebih lagi menghormatinya. Lalu mereka mohon pengajaran silat. Khu Cie Kee tidak keberatan, lalu ia memberi beberapa petunjuk. ―Totiang, sunggguh beruntung kami dapat bertemu dengan Totiang,‖ kemudian Tiat Sim utarakan isi hatinya, ―Maka itu sudilah Totiang berdiam untuk beberapa hari di gubuk kami ini.‖ Imam itu hendak menjawab tuan rumah itu, ketika mendadak air mukanya berubah. ―Ada orang datang mencari aku,‖ ia bilang, ―Ingat, tidak peduli bagaimana denganku, sebentar kamu tidak boleh munculkan diri! Mengerti?!‖ Siauw Thian dan Tiat Sim heran akan tetapi mereka lantas mengangguk. Cie Kee lantas sambar kepalanya Ong To Kian, dengan cepat ia bertindak keluar, lalu gesit bagaikan burung terbang ia loncat naik ke atas sebuah pohon besar di dalam pekarangan, di situ ia umpatkan dirinya. Siauw Thian berdua heran bukan buatan. Kecuali deruan angin, mereka tidak dengar suara lainnya, mereka pun tidak nampak apa-apa. Baharu kemudian, sesudah memasang kuping dan angin pun lewat, mereka dengar tindakan kaki kuda. ―Sungguh jeli kuping cinjin!‖ puji Tiat Sim Suara kuda itu datang semakin mendekat, dan kemudian tampaklah belasan penunggang kuda, setiap penunggangnya mengenakan pakaian hitam dan kopiah hitam. Mereka itu menghampiri pintu, setelah tiba, orang yang pertama pecahkan kesunyian: ―Sampai di sini bekas-bekas kakinya, lalu lenyap!‖ Beberapa orang lompat turun dari kudanya, mereka periksa tapak kakinya Khu Cie Kee. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua sembunyi di dalam rumah, dari mana mereka mengintai di antara sela-sela jendela. Mereka dapat kenyataan orang semuanya gesit, suatu tanda dia orang mengerti ilmu silat dengan baik. ―Masuki rumah itu dan geledah!‖ terdengar memerintah orang yang maju di muka itu. Dua orang segera lompat turun dari kuda mereka, untuk itu lantas hampiri rumahnya Tiat Sim untuk menggedornya. Justru itu dari atas pohon menyambar sebuah benda, yang jitu sekali mengenai batok kepalanya satu di antara dua orang itu, hingga dia ini rubuh dengan kepalanya pecah hancur. Hingga kawannya menjadi kaget dan berteriak, hingga yang lain-lainnya turut berteriak pula, lebih-lebih setelah diketahui, benda yang
Irawan D Soedradjat

Page

7

Pendekar Pemanah Rajawali

dipakai menimpuk itu adalah kepalanya ―Ong Tayjin‖. Dengan lantas itu mereka mengurung pohon dari mana serangan itu datang. Orang yang menjadi pemimpin menghunus goloknya yang panjang, untuk memegang pimpinan, atas perintahnya lima orang menggunai panah untuk menyerang ke arah atas pohon! Yo Tiat Sim sambar sebatang golok dari pojok rumahnya, hendak dia menerjang keluar untuk membantu si imam, akan tetapi Siauw Thian menariknya. ―Jangan!‖ katanya. ―Totiang telah pesan kita jangan keluar! Kalau ternyata dia tidak sanggup melawan, baru kita turun tangan…….‖ Selagi orang she Kwee ini berbicara, Khu Cie Kee sudah beraksi. Dia sambut empat batang anak panah itu lalu ia pakai itu untuk menimpuk ke bawah, tubuhnya sendiri turut lompat turun, hingga akibatnya dua musuh menjerit dan rubuh binasa kena tikaman pedang. ―Imam bangsat, kiranya kau!‖ berseru si pemimpin, yang bajunya hitam. Dia perdengarkan suaranya seraya tangkis anak panah yang ditimpukkan ke arahnya, kemudian ia keprak kudanya maju untuk menyerang untuk mana tiga batang panah di tangannya telah mendahului majunya itu. Belum Cie Kee menyerang ini pemimpin, dia telah rubuhkan lagi dua musuh, hingga sebentar saja ia telah minta lima korban. Tiat Sim kagum hingga ia tergugu. Dia telah belajar silat belasan tahun, tetapi sedikit juga ia tidak dapat tandingi imam itu, yang gesit dan lihay sekali. Maka ia merasa ngeri waktu ia ingat tadi ia telah berani lawan imam yang lihay itu. Sekarang Cie Kee tengah layani si pemimpin, yang bengis sekali, meski demikian selang sesaat, Siauw Thian dan Tiat Sim segera mengerti bahwa sang imam tengah mempermainkan orang, sebab di lain pihak, saban-saban imam ini gunai ketika akan rubuhkan lain orang – ialah orang-orang yang mengepungnya. Terang si imam lagi gunai siasat, guna menumpas semua penyerangnya itu. Kalau dia lekas-lekas rubuhkan si pemimpin, mungkin bawahannya nanti lari kabur semua. Selang tak lama, imam itu dikepung hanya tujuh orang, yang ilmu silatnya paling baik. Menampak ini, si pemimpin menjadi kecil hatinya, dari itu, dengan tiba-tiba ia keprak kudanya, buat dikasih berbalik untuk lari pergi. Sang imam ada sangat jeli matanya dan cepat gerakannya, selagi kuda berputar, ia menyambar dengan tangan kirinya, akan cekal ekornya kuda itu, untuk ditarik. Sembari menarik ia enjot tubuhnya, untuk melompat naik, tetapi belum lagi ia bercokol di atas kuda itu, pedangnya sudah menikam tembus punggung si pemimpin, tembus dari belakang ke depan, hingga tubuh orang itu rubuh ke depan. Demikian dengan menunggang kuda, sekarang si imam ini bisa serang lain-lain musuhnya. Ia tidak membutuhkan banyak waktu untuk membikin setiap kuda tanpa penumpangnya, sebaliknya mayat-mayat bergelimpangan di tanah bersalju itu, yang menjadi merah karena berlumuran darah mereka itu…. Seorang diri si imam tertawa. ―Puas aku dengan pertempuran ini!‖ katanya kepada Siauw Thian dan Tiat Sim, yang telah lantas muncul. Hanya hati mereka masih kebat-kebit. ―Totiang, siapakah mereka ini?‖ tanya Siauw Thian. ―Kau geledah saja tubuh mereka!‖ sahut si imam. Siauw Thian menghampiri mayatnya si pemimpin, untuk memeriksa sakunya. Ia dapatkan sepotong surat titah, dari Tio Tayjin si residen Lim-an yang bisa ―menggonggong‖ sebagai anjing itu. Itu juga adalah titah rahasia untuk membekuk pembunuhnya Ong To Kian, untuk mana si residen bekerja sama dengan pihak bangsa Kim, sebab ia telah di desak oleh utusan negara Kim. Mengetahui itu, orang she Kwee ini menjadi sangat mendingkol. Sedang begitu, Tiat Sim telah perdengarkan seruan seraya tangannya menyekal beberapa potong yauw-pay, yang dia dapatkan dari beberapa mayat. Yauwpay itu adalah tanda kedudukan atau pangkat beberapa mayat itu, karena huruf-huruf yang kedapatan adalah huruf bahasa Kim, menjadi nyata, di antara orang-orangnya residen Lim-an itu adalah orang bangsa Kim.

Irawan D Soedradjat

Page

―Celaka betul!‖ teriak Siauw Thian dalam murkanya. ―Tentara Kim main bunuh orang di wilayah kita, sekarang pembesar kita boleh disuruh-suruh dan diperintah olehnya. Negara kita ini menjadi negara apa?!‖

8

Pendekar Pemanah Rajawali

Khu Cie Kee sebaliknya tertawa. ―Sebenarnya orang suci sebagai aku mestinya berlaku murah hati dan berbelas kasihan,‖ katanya, ―Akan tetapi menyaksikan kebusukan segala pembesar dan orang-orang jahat, tak dapat aku memberi ampun pula!‖ ―Memang, memang mesti begitu!‖ seru dua saudara angkat she Kwee dan she Yo itu. ―Begini barulah puas!‖ Kemudian Tiat Sim ambil pacul dan sekop, untuk menggali laing, guna pendam belasan mayat itu. Didalam hal ini ia tidak kuatir ada orang yang melihat kejadian ini, sebab desa itu sedikit penduduknya dan itu waktu lagi turun salju dengan lebatnya, tak ada orang yang sudi berkeliaran di luaran. Habis itu nyonya rumah sapui sisa darah di atas salju. Nyonya ini rupanya tak dapat menahan bau bacin dari darah, ia rupanya bekerja keras, tiba-tiba saja ia rasai kepalanya pusing, matanya kabur, lalu ia rubuh. Tiat Sim terkejut, ia tubruk istrinya, untuk diangkat bangun. ―Kau kenapa?‖ tanya suaminya ini beberapa kali. Pauw-sie berdiam, kedua matanya tertutup rapat, mukanya pucat pias, kaki tangannya dingin seperti es. Tentu saja suaminya itu menjadi kaget dan berkhawatir. Cie Kee pegang nadi si nyonyi, lantas ia tertawa. ―Kionghie! Kionghie!‖ ia memberi selamat. ―Apa, Totiang?‖ tanya Tiat Sim heran. Justru itu Pauw-sie mennjerit, ia sadarkan diri. Mulanya ia heran di kerumuni tiga orang, habis itu ia likat, ia lari ke dalam. ―Istrimu lagi hamil!‖ kata Cie Kee kemudian. ―Benarkah itu, Totiang?‖ Tiat Sim tegaskan. ―Tidak salah!‖ si imam pastikan. ―Banyak ilmu yang pinto yakinkan, tiga yang memuaskan hatiku, ialah pertama ilmu tabib, kedua syair, dan ketiga ialah ilmu silat kucing kaki tiga ……‖ Dengan kata-kata ―kucing tiga kaki‖ atau tidak ada artinya, imam ini merendahkan diri. ―Totiang begini lihay tetapi totiang menyebutkan kepandaianmu sendiri sebagai kucing kaki tiga, kalau begitu kepandaian kami berdua pastilah kepastiannya si tikus berkaki tunggal!‖ katanya. Cie Kee tersenyum, begitu pula dengan Tiat Sim. Kemudian mereka bertiga masuk pula ke dalam untuk lanjuti minum arak. Dua saudara angkat itu sangat kagumi tetamu mereka, yang bertempur hebat tetapi tubuhnya tak berkeciprukan darah. Tiat Sim minum dengan gembira sekali. Ia ingat akan hamilnya istrinya. ―Kwee Toako,‖ katanya kemudian. ―Enso pun lagi berisi, maka aku pikir baiklah kita minta totiang yang memberi nama kepada anak-anak kita nanti!‖ Siauw Thian berikan kesetujuannya atas saran itu. Cie Kee pun tidak menampik, ia berpikir sebentar lantas ia bilang: ―Anak Kwee Toako baik diberi nama Ceng, yaitu Kwee Ceng, dan anak Yo Toako diberinama Kong, yaitu Yo Kong. Nama-nama ini dapat juga diberikan sekalianpun untuk anak perempuan.‖ ―Bagus!‖ seru Siauw Thian. ―Aku mengerti, totiang tentu tidak melupai peristiwa Ceng-kong yang memalukan, untuk memperingati ditawannya kedua raja kita.‖ ―Benar begitu!‖ sang imam mengakui. Terus ia merogoh sakunya, untuk kasih keluar dua potong pedang pendek, yang ia letaki di atas meja. Pedang itu sama panjang pendeknya dan besar kecilnya, sarungnya dari kulit hijau, gagangnya dari kayu hitam. Kemudian ia ambil pisaunya Tiat Sim, untuk dipakai mengukir gagang kedua pedang pendek itu. Ia mengukir masing-masing dua huruf ―Kwee Ceng‖ dan ―Yo Kong‖. Dua-duanya Siauw Thian dan Tiat Sim kagum menyaksikan kepandaiannya si imam mengukir huruf-huruf itu, cepat dan indah hurufnya.

Irawan D Soedradjat

Page

9

Pendekar Pemanah Rajawali

―Diwaktu berkelana seperti ini aku tidak punya barang apa-apa, pedang pendek ini saja aku berikan sebagai tanda mata untuk anak-anak kedua toako nanti!‖ kata si imam. Dua saudara angkat itu terima bingkisan itu, keduanya mengucapkan terima kasih. Tiat Sim mencoba menghunus pedangnya, ia menjadi kagum. Pedang itu berkilau dan memberikan hawa dingin. Demikian pun pedangnya Siauw Thian. Jadinya kedua pedang itu bukan sembarang pedang, meskipun badan pedang ada tipis sekali. Cie Kee pegang pedang yang satu, ia adu itu dengan pisau belatinya, dengan memberikan satu suara, ujungnya pisau belati itu putus menjadi dua potong. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua menjadi terkejut. ―Totiang, tak berani kami menerima hadiah ini!‖ kata mereka. Sebab kedua pedang itu adalah semacam pedang mustika. Tiang Cun Cinjin tertawa. ―Dua pedang ini pinto dapatkan secara kebetulan saja, walaupun benar untuk itu pinto mesti keluarkan sedikit tenaga,‖ ia berkata. ―Untukku, senjata ini tidak ada perlunya, sebaliknya adalah besar faedahnya apabila dibelakang hari anak-anak itu pakai untuk membela negeri, guna melabrak musuh!‖ Dua saudara angkat itu masih mencoba menampik hingga mereka membangkitkan amarahnya si imam itu. ―Aku anggap kamu adalah turunan orang-orang kenamaan, maka itu aku hargakan kamu, kenapa sekarang kamu begini tidak bersemangat?‖ ia menegur. Baharu sekarang Siauw Thian dan Tiat Sim tidak menolak lagi, mereka lantas menghanturkan terima kasih. Cie Kee berkata pula, dengan sungguh-sungguh: ―Kedua pedang ini adalah benda usia beberapa ratus tahun tua, setahu sudah berapa banyak orang terbunuh dan berapa banyak darah telah dihirupnya, maka mengertilah kamu, siapa saja yang mengerti ilmu silat melihat ini lantas matanya menjadi merah! Kamu pun mesti menginsafinya, seorang bocah yang ilmu silatnya tidak sempurna dengan menggunai pedang ini, dia Cuma dapat memperbahayakan dirinya sendiri, dari itu kamu mesti berhati-hati! Kamu ingatlah baik-baik!‖ Siauw Thian dan Tiat Sim berdua saling mengawasi, hati mereka tidak tentram. Khu Cie Kee tertawa panjang. ―Sepuluh tahun sejak ini, apabila pinto masih ada di dalam dunia ini, mesti pinto datang pula ke mari untuk ajarkan anak-anak itu ilmu silat,‖ ia berkata, ―Setujukah kamu?‖ Dua saudara angkat itu menjadi girang sekali. ―Terima kasih totiang, terima kasih!‖ mereka mengucap. ―Sekarang ini bangsa Kim sedang mengincar negara kita, terhadap rakyat dia sangat telengas,‖ berkata pula si imam, ―Karena mestinya tidak lama lagi bangsa itu turun tangan, dari itu pinto harap jiwi jaga diri baik-baik….‖ Dia angkat cawannya, untuk tenggat habis isinya, setelah itu dia buka pinti, untuk bertindak keluar. Siauw Thian berdua berniat meminta si imam berdiam lebih lama, siapa tahu tindakan orang cepat sekali, tahu-tahu imam itu sudah pergi jauh. ―Begitulah kelakuan orang berilmu, ia datang dan pergi tak ketentuannya,‖ kata Siauw Thian sambil menghela napas. ―Kita dapat bertemu dia tetapi sayang, kita tidak dapat meminta pengajaran daripadanya……..‖ Tiat Sim sebaliknya tertawa. ―Toako, hebat cara bertempurnya totiang hari ini!‖ ia bilang. ―Dengan menonton saja, sedikitnya terumbar juga hati pepat kit!‖ ia lantas buat main pedang yang satu, sampai ia lihat ukiran dua huruf Yo Kong. Lantas ia berkata ―Toako ada satu pikiran cepat dari aku, entah kau setuju atau tidak?‖ ―Apakah itu, Saudaraku?‖ Siauw Thian balik bertanya. ―Inilah mengenai anak-anak kita nanti,‖ Tiat Sim beri keterangan. ―Umpama anak kita laki-laki semua, biarlah mereka menjadi saudara satu dengan yang lain, apabila mereka adalah perempuan, biarlah mereka menjadi enci dan adik……….‖ ―Jikalau mereka adalah laki-laki dan perempuan, biarlah mereka menjadi suami-istri!‖ Siauw Thian menyela. Keduanya lantas menjabat tangan, mereka tertawa terbahak. Itulah janji mereka. Justru pada saat itu Pauw-sie muncul. ―Eh, kenapa kamu menjadi girang begini?‖ tanya si nyonya.
Irawan D Soedradjat

Page

10

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kami baru saja membuat janji,‖ sahut Tiat Sim, yang lantas tuturkan kecocokan mereka berdua. ―Cis!‖ si nyonya meludah. Tetapi di dalam hati, ia pun girang. ―Sekarang marilah kita saling tukar pedang dahulu,‖ Tiat Sim berkata pula. ―Ini adalah semacam tanda mata. Kalau mereka ada laki-laki atau perempuan, biarlah mereka jadi saudara satu dengan yang lain, kalau……..‖ ―Kalau begitu, kedua pedang ini akan berkumpul di rumah kakak!‖ Siauw Thian bilang. ―Mungkin akan berkumpul di rumahmu, Saudara!‖ kata Pauw-sie. Lantas mereka tukar kedua pedang itu. Sampai disitu, Siauw Thian pulang dengan membawa pedang itu, untuk memberitahukan kepada istrinya, Lie-sie. Tiat Sim ada gembira sekali, masih ia minum seorang diri, hingga ia mabuk. Pauw-sie pimpin suaminya ke kamar tidur, lalu ia benahkan piring mangkok dan cawan, habis mana melihat hari sudah mendekati sore, ia pergi ke belakang untuk kurungi ayamnya. Setibanya ia di pintu belakang, ia menjadi terkejut. Di situ, di atas salju, ia tampak tanda-tanda darah, yang melintas di luar pintu belakang itu. ―Kiranya di sini masih ada tanda darah yang belum dilenyapkan,‖ pikirnya heran. ―Kalau pembesar negeri melihat ini, inilah bahaya….‖ Maka ia cari sapu, lantas ia menyapu pula. Tanda darah itu menuju ke belakang rumah dimana ada pepohonan lebat. Di sini ia lihat tanda darah dari orang yang rupanya jalan merayap. Ia jadi bertambah heran, saking curiga, ia ikuti terus tanda darah itu, yang sampai di belakang sebuah kuburan tua. Di situ ia lihat suatu benda hitam yang tergeletak di tanah. Kapan ia sudah datang mendekat, ia kembali jadi terkejut. Itu adalah tubuhnya satu orang dengan pakaian serba hitam, ialh salah satu orang yang tadi mengepung Khu Cie Kee. Rupanya habis terluka, ia tidak terbinasa, ia lari ke belakang rumah. Selagi berpikir, Pauw-sie ingat untuk panggil suaminya, buat kubur orang itu. Ia belum bertindak tempo ia ingat, adalah berbahaya kalau ia tinggal pergi, sebab mungkin nanti diketemui lain orang yang kebetulan lewat di situ. Ia jadi beranikan diri, ia menghampiri orang itu dengan niat menyeret, guna dipindahkan ke dalam rujuk, setelah mana baru ia baru hendak panggil suaminya. Benar disaat ia cekal tubuh orang untuk ditarik, mendadakan tubuh itu bergerak, lau terdengar suara merintihnya. Ia menjadi sangat kaget, ia jadi berdiri bagaikan terpaku, sedang sebenarnya ingin ia lari pulang. Lewat sesaat, tubuh itu terdiam pula. Dengan beranikan hati, Pauw-sie pakai sesapu, untuk bentur tubuh orang. Maka sekali lagi ia dengar suara rintihan perlahan.

Bab 2. Berlalunya Dua Sahabat Kekal

Sekarang Pauw-sie dapat kenyataan orang belum mati dan pundaknya dia itu tertancapkan sebatang anak panah. Batang patah juga berbelepotan darah. Nyonya ini bernama Sek Yok, nama ini tepat sama sifatnya, yang selalu berhati murah. Nama itu pun berarti ―menyayangi yang lemah‖. Begitulah diwaktu masih kecil, kalau ia lihat burung gereja atau ayam terluka, atapun kutu seperti semut, tentu ia mengobatinya, sampai binatang itu sembuh, kalau tidak, ia buatnya berduka. Karena ini, dikamarnya ia rawat banyak kutu. Sifat ini tidak berubah sampai ia menikah, dari itu kebetulan untuknya Yo Tiat Sim, suaminya tidak menentangi padanya, maka juga di belakang rumahnya ia ada pelihara banyak burung dan binatang peliharaan lainnya. Suatu sifat lagi ialah Pauw-sie tidak tega menyembelih binatang piaraannya untuk suaminya dahar ayam, ia sengaja beli di pasar, ayamnya sendiri ia pelihara hingga matinya ayam itu. Demikian kali ini, menampak orang terluka parah timbul rasa kasihannya, walaupun ia tahu orang bukannya orang baik-baik. Cuma bersangsi sejenak, lantas ia lari pulang, niatnya untuk mengasih bangun suaminya. Tiat Sim lagi tidur nyenyak, mungkin disebabkan mabuk arak, ia tak mendusin kendati istrinya sudah gonyanggonyang tubuhnya.
Irawan D Soedradjat

Page

11

Pendekar Pemanah Rajawali

Pauw-sie menjadi sibuk. Ia tahu orang perlu lekas ditolongi. Akhirnya dengan terpaksa ia ambil obat-obatan suaminya, dengan bawa pisau kecil dan sepotong cita, juga arak yang hangat, ia kembali pada si luka. Biasa merawat binatang, ia jadi juga bisa merawat orang luka. Begitu setelah belek sedikit daging di dekat panah nancap, dengan sekeras tenaga, ia cabut anak panah itu. Si luka menjerit, lalu pingsan. Panahnya tercabut, darahnya muncrat mengenai bajunya si nyonya. Dengan hati memukul sendirinya, Pauw-sie lantas obati luka itu, ia bungkus dengan rapi. Selang sekian lama, si luka sadar pula, tapi ia sangat lemah, rintihannya pun sangat perlahan. Pauw-sie tidak kuat angkat tubuh orang, tetapi ia dapat akal, ia pulang untuk ambil sehelai papan pintu, ia letaki itu diatas salju, lalu ia tarik orang ke atas papan itu, lantas ia tarik sekuat-kuatnya. Ia tempatkan si luka di gudang kayu. Sampai ia telah salin pakaian, hati Pauw-sie masih belum tentram betul. Ia masak daging kuwah semangkok, lalu ia bawa ke belakang. Hari sudah gelap, ia bawa lilin. Sejak di depan pintu gudang, ia sudah dengar suara bernapas perlahan. Jadi orang itu tidak mati. Ia masuk ke dalam, ia berikan daging kuwah itu. Si luka makan sekira setengah mangkok, lalu ia batuk-batuk keras. Dengan bantuan api lilin, pauw-sie awasi muka orang. Ia dapatkan satu pemuda yang tampan, hidungnya mancung. Karena tangannya gemetar, tanpa ia merasa ia kena bikin tetesan lilin jatuh ke muka orang itu, yang lantas buka kedua matanya. Kaget ia akan lihat si nyonya cantik, sinar matanya jernih, kulitnya merah dadu. ―Apa yang kau rasakan baikan?‖ Pauw-sie toh menanya. ―Mari makan habis daging kuwah ini…..‖ Orang itu ulur tangannya, akan sambuti mangkok, tetapi ia lemah, hampir ia bikin mangkok itu terlepas. Maka terpaksa Pauw-sie bawa mangkok itu kemulutnya. Habis makan kuwah, nampaknya orang itu segaran. Dengan mata bersinar, ia awasi si nyonya, agaknya ia berterima kasih. Pauw-sie likat diawasi orang itu, maka lekas-lekas ia ambil rumput, akan tutupi tubuh orang itu, lalu dengan membawa lilinnya, ia balik ke kamarnya. Ia tidak dapat tidur tenang, diwaktu pulas, ia mimpi yang hebat-hebat, umpamanya suaminya tombak mati orang itu atau dua ekor harimau kejar padanya sampai ia tak tahu mesti lari ke mana. Beberapa kali ia mimpi, beberapa kali ia sadar, dengan hati tergoncang. Ketika akhirnya ia mendusin diwaktu pagi, ia dapatkan suaminya lagi gosok tombaknya. Ia ingat kejadian semalam, ia jadi kaget sendirinya. Diam-diam tapi dengan lekas, ia pergi ke belakang, ke gudang kayu. Selekasnya ia membuka pintu gudang, ia jadi terlebih kaget lagi. Di sana tak ada si luka, rumputnya teruwar kalang kabutan! Ia lantas pergi ke pintu belakang, ia lihat pintu cuma dirapatkan, di atas salju terlihat bekas orang merayap pergi, tujuannya ke arah barat. Ia mengawasi ke arah itu, pikirannya tidak karuan. Sampai sekian lama, setelah mukanya ditiup angin dingin, baru ia sadar. Itu waktu ia pun merasai pinggangnya ngilu dan lemas, ia jadi lelah sekali, maka itu, ia lantas kembali ke dalam. Tiat Sim masak bubur putih, yang diletaki di atas meja. ―Kau lihat!‖ kata suaminya dengan tertawa. ―Bubur masakanku tak ada celaannya, bukan?‖ Istri itu tertawa, ia tahu karena ia sedang hamil, suaminya itu yang sangat menyayangi ia telah masaki ia bubur. Ia lantas dahar bubur itu. Itu waktu ia telah ambil keputusan akan tutup mulut tentang si terluka yang ia tolongi itu, sebab ia tahu kebencian suaminya terhadap orang jahat, apabila suaminya diberitahukan, pasti ia bakal binasakan orang itu. Sejak itu beberapa bulan telah berlalu; dengan lewatnya sang waktu, Pauw-sie juga telah lupai itu peristiwa yang ia sudah tolongi orang yang luka. Pada suatu hari, Tiat Sim dan istrinya pergi ke rumah Siauw Thian, untuk bersantap dan minum arak, sorenya mereka pulang, akan terus masuk tidur. Tepat tengah malam, tiba-tiba Pauw-sie mendusin dan melihat suaminya telah bangun juga dan sedang duduk di atas pembaringan. Ada sesuatu yang mengejutkan suaminya itu hingga ia jadi terjaga dari tidurnya. Dan istri ini masih lungu-lungu ketika kupingnya dapat tangkap suara samar-samar dari tindakan kaki kuda di atas es, makin lama makin nyata, datangnya dari barat ke timur, kemudian itu disusul sama suara serupa yang datangnya dari arah timur. Ia menjadi kaget pula apabila ia dengar pula suara dari selatan dan utara. ―Toako!‖ katanya pada suaminya sambil bangun untuk berduduk, ―Kenapa ada suara kuda dari empat penjuru?‖
Irawan D Soedradjat

Page

12

Pendekar Pemanah Rajawali

Tiat Sim tidak menyahuti, ia hanya segera turun dari pembaringan untuk rapikan pakaiannya. Tindakan kuda dari empat penjuru datang semakin dekat, lalu disusul sama gongongan anjing kampung yang menyahutnya. ―Kita kena dikurung‖ kata Tiat Sim kemudian. Pauw-sie terkejut. ―Untuk apakah?‖ tanyanya ―Entahlah!‖ jawab suaminya itu. Ia terus serahkan pedang pengasihan dari Khu Cie Kee seraya memesan: ―Kau pegang ini untuk jaga dirimu!‖ Tiat Sim buka jendela, untuk melihat keluar, karena itu suara kuda sudah datang mendekat sekali. Ia lihat tegas kampungnya telah dikurung oleh sejumlah tentera, kurungannya berlapis. Ia dapat melihat karena tentera itu ada membawa obor yang diangkat tinggi-tinggi. Perwira yang memegang pemimpin ada tujuh atau delapan orang. ―Tangkap pengkhianat! Jangan kasih dia lolos!‖ demikian tentara itu mulai berseru-seru. ―Apakah ada pengkhianat yang lolos kemari?‖ Tiat Sim menduga-duga. Ia cekal tombaknya untuk melihat gelagat. Tiba-tiba satu perwira berseru: ―Kwee Siauw Thian! Yo Tiat Sim! Kamu berdua pemberontak, lekas muncul untk terima diringkus!‖ Tiat Sim menjadi kaget, sedang Pauw-sie menjadi pucat mukanya. ―Entah kenapa pembesar negeri menfitnah rakyat,‖ kata Tiat Sim kemudian, ―Tidak ada jalan lain, kita mesti menerobos keluar! Kau jangan takut, walaupun musuh berjumalh puluhan ribu, akan aku lindungi padamu!‖ Dasar turunan orang peperangan. Tiat Sim tidak menjadi kacau pikirannya. dengan tenang tetapi sebat, ia siapkan panahnya, terus ia pegangi tangan kanan istrinya. ―Nanti aku berbenah dulu…‖ kata Pauw-sie. ―Apa lagi yang hendak dibenahkan?‖ kata suaminya itu. ―Apa juga tak dapat. Lemah hatinya istri itu, lalu tiba-tiba ia menangis. ―Dan rumah ini?‖ katannya. ―Asal kita dapat lolos, nanti di lain tempat kita membangun pula rumah kita!‖ sahut sang suami. ―Dan itu anak-anak ayam dan anak-anak kucing?‖ istri itu menanya pula. Tiat Sim menghela napas. ―Ah, orang tolol, kamu masih memikirkan segala binatang itu! Mana dapat?‖ Baru Tiat Sim mengucap demikian, di luar kembali terdengar seruan berisik dan api terlihat berkobar. Dua ruang di depan telah dibakar, lalu dua orang serdadu Song mulai menyulut payon rumah. Bukan main mendelunya Tiat Sim. Ia buka pintu dan muncul. ―Aku Yo Tiat Sim!‖ ia perkenalkan diri. ―Kamu hendak bikin apa?‖ Dua serdadu itu kaget, mereka memutar tubuh, sembari melemparkan obornya, mereka lari balik. Di antara cahya api, satu perwira maju dengan kudanya. ―Kamu Yo Tiat Sim? Bagus!‖ ia berkata. ―Mari ikut kami menghadap pembesar kami! Tangkap!‖ Lima serdadu lantas merangsak. Tiat Sim geraki tombaknya, dalam jurus ―Ouw liong pa bwee‖, atau ― Naga hitam menggoyang ekor,‖ lalu tiga serdadu roboh terguling, kemudian dengan susulannya ―Cun lui cin nouw‖ atau ―Geledak musim semi murka,‖ ia rubuhkan satu yang lain, yang tubuhnya ia lempar balik ke dalam barisannya. ―Untuk menangkap orang, kamu mesti lebih dahulu beritahukan kedosaannya!‖ ia membentak. ―Pemberontak bernyali besar!‖ teriak si perwira. ―Kanu berani melawan?!‖
Irawan D Soedradjat

Page

13

Pendekar Pemanah Rajawali

Mesti begitu ia gentar hari, tak berani ia maju mendekati. Adalah satu perwira lain yang berada dibelakangnya, mewakilkan ia maju. Berkatalah perwira ini: ―Baik-baik saja ikut kami ke kantor, kau akan bebas dari kedosaan berat. Di sini ada surat titah!‖ ―Kasih aku lihat!‖ bentak Tiat Sim. ―Masih ada satu pemberontak lainnya, yang she Kwee?!‖ kata perwira itu. ―Kwee Siauw Thian ada di sini!‖ sahut Siauw Thian yang tiba-tiba muncul di muka jendela, panahnya telah siap sedia. Perwira itu terkejut, hatinya ciut. ―Letkai panahmu,‖ katanya. ―Nanti aku bacakan surat titah ini….‖ ―Lekas baca!‖ bentak Siauw Thian, yang justru tarik semakin melengkung gandewanya itu. Terpaksa dengan ketakutan, perwira itu membaca. Itulah surat titah untuk menawan Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim dua penduduk Gu-kee-cun, yang dituduh berontak melawan negara, sudah bersekongkol sama penjahat besar. ―Surat titah ini datang dari kantor mana?‖ Siauw Thian tanya. ―Inilah surat titah tulisannya Han Sinsiang sendiri!‖ jawab perwira itu. Dua-dua Siauw Thian dan Tiat Sim terkejut. ―Hebat urusan, sampai Han Sinsiang sendiri yang turun tangan menulis surat titah?‖ mereka berpikir. ―Mungkin ini disebabkan terbukanya rahasia Khu Cinjin telah membinasakan banyak hamba negara?‖ ―Siapakah yang mendakwa? Apa ada buktinya?‖ tanya Siauw Thian pula. ―Kita cuma mesti menawan orang!‖ kata si perwira. ―Nanti di muka pembesar kamu boleh bicara!‖ ―Han Sinsiang gemar menfitnah orang baik-baik, siapa tidak tahu itu?‖ kata Tiat Sim. ―Kami tak sudi kena jebak!‖ Dengan perlahan Tiat Sim kata pada istrinya: ―Pergi lapis bajumu, akan aku rampas kuda dia itu untukmu! Akan aku panah perwira itu, tenteranya bakal jadi kacau!‖ Dan terus ia tarik panahnya, maka setelah satu suara ―Ser!‖ si perwira berkoak keras, tubuhnya terjungkal dari kudanya. Semua serdadu lantas berteriak-teriak. ―Maju! Tangkap!‖ berseru perwira yang satunya. Sejumlah serdadu taati titah itu, akan tetapi selagi maju, mereka disambut busur-busurnya Siauw Thian dan Tiat Sim berdua, hingga enam atau tujuh diantaranya rubuh seketika. Akan tetapi jumlah mereka ini besar, dibawah anjuran pembesarnya, mereka maju terus. Tiat Sim menjdai mendongkol, ia tukar panah dengan tombaknya, setelah ia lompat keluar pintu, ia sambut penyerang-penyerangnya. Rombongan serdadu itu kena terpukul mundur. Atas itu, Tiat Sim melompat kepada satu perwira yang menunggang seekor kuda putih, ia menyerangnya. Perwira itu menangkis dengan tombaknya. Ia tapinya tak kenal ilmu tombak keluarga Yo, pahanya kena ditikam, maka dengan satu gentakan, tubuhnya terpelanting ke tanah. Dengan menekan tombaknya ke tanah, Tiat Sim lompat ke atas kuda putih, maka sesaat saja, ia sudah menerjang ke muka pintu rumahnya. Ia tikam rubuh satu serdadu Song, yang menghalangi dia, kemudian dengan satu jembretan, ia angkat tubuh istrinya naik ke kudanya. Itu waktu Pauw-sie sudah siap menanti padanya. ―Kwee Toako, mari turut aku!‖ orang she So itu teriaki saudara angkatnya. Siauw Thian tengah menyerang seru dengan sepasang tombak pendeknya yang bercagak. Ia membuka jalan untuk istrinya Lie-sie yang bernama Peng.

Irawan D Soedradjat

Page

14

Pendekar Pemanah Rajawali

Beberapa perwira tidak dapat mencegah kedua orang gagah itu, terpaksa mereka menitahkan menggunai anak panah. ―Enso, lekas naik!‖ seru Tiat Sim, yang hampiri Lie-sie. Ia pun lantas lompat turun dari kudanya. ―Tidak bisa….‖ berkata Lie-sie. Diwaktu demikian, tidak ada lagi aturan sungkan, maka tanpa bilang suatu apa, Tiat Sim cekal tubuh iparnya, untuk segera diangkat naik ke punggung kuda, kemudian ia bersama Siauw Thian mengikuti dari belakang, untuk melindungi. Lolos belum jauh, di sebelah depan mereka dicegat oleh satu pasukan lain. Riuh suara tentera itu, hebat serbuannya. Tiat Sim dan Siauw Thian mengeluh di dalam hati. Karena terpaksa, mereka jadi memikir untuk cari jalan lolos. Sekonyong-konyong terdengar suara panah sar-ser, lalu Pauw-sie menjerit keras. Kuda putih terpanah, kaki depannya tertekuk, lalu tubuhnya ngusruk. Pauw-sie rubuh bersama Lie-sie, yang pun ikut berteriak. Tiat Sim kaget tetapi ia tabah. ―Toako, lindungi mereka, akan aku rampas kuda pula!‖ serunya. Lalu dengan memutar tombaknya, ia menerjang musuh. Kwee Siauw Thian berpikir lain daripada saudara angkatnya itu. ―Terang kita berdua tidak bakal dapat menerobos kurungan musuh ini, atau istri kita sukar ditolongi. Karena kita tidak bersalah dosa, daripada antarkan jiwa disini, baiklah kita menemui pembesar negeri untuk berbicara dengannya.‖ Maka itu, ia teriaki adik angkatnya itu: ―Adik, mari kita ikuti mereka ke kantor!‖ Tiat Sim heran, akan tetapi ia hampiri saudaranya itu. Perwira pemimpin tentera itu menitahkan menunda penyerangan, tetapi mereka mengurung rapat-rapat. ―Letaki senjatamu, kami akan beri ampun jiwa kamu!‖ ia berteriak. ―Toako, jangan kena diperdayakan!‖ Tiat Sim memberi ingat. Siauw Thian menggeleng kepala, ia lemparkan sepasang tombaknya. Tiat Sim lihat istrinya ketakutan, hatinyapun menjadi lemah, maka seraya menghela napas, ia lemparkan panah dan tombaknya. Atas itu belasan tombak tajam dipakai mengurung empat orang itu, kemudian delapan serdadu maju mendekati, untuk membelenggu mereka berempat. Tiat Sim berdiri tegak, dia tertawa dingin. Sikap ini tidak menyenangi si pemimpin tentara, ia ayun cambuknya seraya mendamprat: ―Pemberontak bernyali besar, benarkah kamu tidak takut mampus?!‖ ―Bagus!‖ kata jago she Yo itu. ―Siapakah namamu?!‖ Perwira itu menjadi semakin gusur, cambuknya disabetkan berulang-ulang. ―Tuan besarmu tak pernah ubah she dan namanya!‖ katanya dengan jumawa. ―Tuan besarmu she Toan namanya Thian Tek. Thian Tek itu berarti kebijaksanaan Tuhan, kau mengerti? Ingatkah kau? Supaya kapan nanti kau bertemu Giam Kun, kau boleh ajukan dakwaanmu!‖ Tiat Sim tidak takut, ia malah mengawasi dengan bengis. ―Ingat olehmu, tuanmu ada cacat luka di jidatnya dan tanda biru di pipinya!‖ Thian Tek membentak pula. Ia angkat pula cambuknya. Pauw-sie menangis. ―Dia orang baik, ia belum pernah berbuat jahat, kenapa kau aniaya dia sampai begini?‖ tanya istri ini yang tidak tega melihat suaminya dicambuki. Tiat Sim meludah tepat mengenai mukanya perwira she Toan itu. Dia menjadi sangat murka, ia lalu cabut golok di pinggangnya.
Irawan D Soedradjat

Page

15

Pendekar Pemanah Rajawali

―Aku akan bunuh dulu padamu, pemberontak!‖ teriaknya. Tiat Sim tidak sudi mandat dibacok, ia berkelit ke samping. Tapi segera ia merasa ada tombak-tombak yang menahan tubuhnya. Thian Tek membacok pula. Tiat Sim tidak melihat lain jalan, ia berkelit mundur dengan mengkeratkan tubuhnya. Melihat bacokkannya kembali gagal, Thian Tek terus menikam. Kali ini goloknya yang tajam bagaikan gergaji dapat melukakan pundaknya orang she Yo itu. Dia tapinya belum puas, kembali ia ulangi bacokannya. Siauw Thian lihat adik angkatnya terancam bahaya, ia lompat maju seraya mendupak. Thian Tek terkejut, ia batal menyerang, terus dia menangkis. Siauw Thian lihay, ia tarik kakinya untuk ayun kakinya yang lain. Itulah tendangan saling susl dari ilmu tendangan Wan-yo-twie, maka tak ampun lagi, perwira itu terjejak pinggangnya. ―Hajar mampus dia!‖ dia berseru. Beberapa serdadu segera menyerang. Siauw Thian melawan, ia dapat menendang terguling dua serdadu, tetapi karena ia terbelenggu tangannya, akhirnya ia kena dibokong Thian Tek yang sambar ia dari belakang, hingga tangan kanannya terbacok kutung! Bukan main panasnya hati Tiat Sim menampak kakaknya itu menjadi korban keganasan si perwira, entah darimana datangnya tenaganya ketika ia berteriak keras sekali, belengguan pada tangannya terputus terlepas, maka sambil melompat maju, ia hajar rubuh satu serdadu, untuk rampas tombaknya yang panjang dengan apa ia terus mengamuk. Thian Tek menginsyafi bahaya, ia sudah mendahului mundur. Yo Tiat Sim menyerang bagaikan kalap, matanya menjdi merah. Semua serdadu mejadi kalah hati, dengan ketakutan mereka lari bubaran.. Tiat Sim tidak mengejar musuh, hanya ia menubruk kakak angkatnya yang telah mandi darah. Tanpa merasa ia kucurkan airmata. ―Adik sudah kau jangan pedulikan aku,‖ kata Siauw Thian lemah. ―Lekas, lekas kau singkirkan diri…‖ ―Akan aku merampas kuda, mari kita pergi bersama!‖ kata Tiat Sim. Siauw Thian tidak menyahut, ia hanya pingsan. Tiat Sim buka bajunya, hendak ia membalut luka kakak itu, tetapi lukanya lebar sekali, dari pundaknya merembet ke dada, sulit untuk membalutnya. Siauw Thian sadar pula. ― Adik, kau pergilah…‖ ia kata dengan suara yang sangat lemah. ―Pergi kau tolong teehu serta ensomu…aku, aku sudah habis…‖ Dan ia meramkan matanya untuk selamanya. Hampir Tiat Sim menyemburkan darah, sangking berduka dan mendongkol. Ia lantas berpaling ke arah di mana istrinya dan ensonya, istri Siauw Thian. Untuk kagetnya ia tidak dapat melihat mereka itu. ―Toako, aku akan balaskan sakit hatimu!‖ ia berteriak. Lalu dengan membawa tombaknya, ia lari kepada barisan serdadu, yang sekarang sudah berkumpul pula. Toan Thian Tek memberi perintahnya, maka barisannya itu menyambut dengan hujan anak panah. Tiat Sim maju terus seraya putar tombaknya, akan halau setiap busur. Ketika satu perwira dekati dia dan membacok, ia berkelit sambil mendak, akan nelusup ke bawahan perut kuda. Si perwira membacok sasaran kosong, hendak ia putar kudanya, tetapi tombaknya Tiat Sim tahu-tahu sudah menikam tepat kepadanya, maka
Irawan D Soedradjat

Page

16

Pendekar Pemanah Rajawali

ketika tubuhnya rubuh, orang she Yo itu gantikan ia lompat naik ke atas kudanya itu hingga dengan apa punya binatang tunggangan, Tiat Sim bisa menyerang dengan terlebih hebat. Sekali lagi barisan serdadu itu lari buyar. Tiat Sim mengejar, hingga ia lihat satu perwira lagi kabur sambil peluki seorang perempuan. Ia tidak mengejar, hanya ia lompat turun dari kudanya, akan rampas gendawanya satu serdadu Song lalu diantara terangnya api obor, ia panah perwira itu. Tepat panahnya ini, si perwira rubuh dari kudanya yang jatuh ngusruk. Dia rubuh bersama si wanita dalam pelukannya, hingga orang jadi terlepas. Lagi sekali Tiat Sim memanah. Selagi orang merayap bnagun. Kali ini perwira itu rubuh pula untuk tidak dapat bangun lagi. Tiat Sim lari kepada wanita itu untuk kegirangannya ia dapatkan pada istrinya. Sek Yok kaget dan girang, ia lompat ke dalam rangkulan suaminya itu. ―Mana enso?‖ Tiat Sim tanya. Dia lantas ingat istrinya Siauw Thian. ―Ia ada di sebelah depan, ia pun dibawa lari serdadu jahanam itu!‖ sahut Pauw-sie. Kapan Tiat Sim menoleh, ia tampak mendatanginya satu barisan lain. ―Toako telah menemui ajalnya, biar bagaimana aku mesti tolongi enso!‖ ini adik angkat ambil keputusan, ia bicara sama istrinya. ―Turunan toako mesti dilindungi. Kalau Thian mengasihi kita, kita berdua dapat bertemu pula…‖ Sek Yok rangkul keras leher suaminya itu, ia menangis menggerung-gerung. ―Tak dapat kita berpisah!‖ ia kata. ―Kau yang bilang sendiri, kalau kita mesti binasa, kita mesti binasa bersama! Bukankah benar kau pernah mengatakan demikian?‖ Tiat Sim peluki istrinya, hatinya karam. Tapi ia tiba-tiba keraskan hati, ia menolak dengan keras, ia sambar pula tombaknya, untuk lari. Ketika sudah lari beberapa puluh tindak, ia lihat istrinya menangis bergulingan di tanah, dan barisan serdadu yang mendatangi sudah mendekati istrinya itu. Ia usap mukanya, peluhnya bercampur sama darah muncratan. Ia lari pula. Telah bulat tekadnya untuk menolongi Lie-sie. Di sebelah depan, ia dapat rampas seekor kuda, maka itu ia jadi tambah semangat. Kebetulan ia dapat bekuk satu serdadu, atas pertanyaannya, serdadu itu bilang Lie-sie berada di sebelah depan. Maka ia kaburkan kudanya. Tiba-tiba dari samping jalanan mana ada perpohonan lebat, terdengar cacian seorang wanita. Ia lekas tahan kudanya, yang ia putar untuk hampirkan tempat lebat itu. Dengan tombaknya ia menyingkap cabang-cabang pohon.Maka di hadapannya terlihat dua serdadu sedang menyeret-nyeret Lie-sie. Tidak ampun lagi, Tiat Sim tikam mampus mereka satu demi satu. Lie-sie berbangkit dengan rambut kusut dan pakaian penuh tanah tidak karuan. Diwaktu begitu, tidak ada ketika untuk omong banyak, maka Tiat Sim angkat tubuh iparnya itu, dikasih naik ke atas kudanya, untuk mereka menunggang bersama. Ia lari balik untuk cari istrinya di tempat dimana tadi mereka berpisah. Untuk kedukaannya ia tak dapatkan Pauw-sie, tempat itu sunyi senyap dari segala apa. Ia turun dari kudanya untuk memeriksa tanah. Ketika itu sudah fajar. Ia lihat tapak-tapak kaki dan tanda bekas orang diseret, maka sakitlah hatinya. Ia percaya istrinya telah jatuh pula ke dalam tangan musuh…. ―Mari!‖ katanya seraya melompat naik ke atas kudanya yang ia terus kasih lari, perut kudanya pun dijepit hingga binatang itu kesakitan dan lari kabur. Sedang kuda lari keras mendadak dari samping jalanan muncul belasan orang yang hitam semua pakaiannya, orang yang terdengar segera menyerang dengan toyanya. Tiat Sim sempat menangkis, dapat ia menikam. Orang itu sebat dan gesit, ketika ia membuat perlawanan, nyata permainan toyanya pun lihay. Hal ini membuat heran kepada orang she Yo itu.

Irawan D Soedradjat

Page

17

Pendekar Pemanah Rajawali

Pernah Tiat Sim dan Siauw Thian berbicara tentang ilmu silat, bahwa dijamannya kawanan Liang San, Pek-lekhwee Cin Beng adalah yang terlihay ilmu toyanya, tetapi dijaman itu orang Kim-lah yang terkenal. Maka itu sekarang ia curigai lawannya itu ada satu perwira Kim. Ia hanya heran, kenapa perwira Kim bisa muncul di situ. Tapi ia tidak bisa berpikir lama-lama, ia lantas menyerang dengan hebat. Kali ini ia berhasil membuat lawan itu terjungkal, karena mana barisan serdadunya lantas kabur. Segera Tiat Sim menoleh, hatinya lega akan dapatkan iparnya tak kurang satu apapun. Ia masih mengawasi iparnya itu ketika ―Ser!‖ sebatang gendewa menyambar kepadanya, menyambar dari arah pepohonan yang lebat, hingga ia tidak sempat menagkis atau berkelit, busur itu tembus di punggungnya. ―Encek, kau kenapa?‖ tanya Lie-sie kaget. Tiat Sim tidak menyahuti, hanya di dalam hatinya ia kata: ―Aku tidak sangka bahwa aku bakal habis disini… Sebelum aku terbinasa, aku mesti labrak dulu musuh, supaya enso dapat lolos!‖ Ketika ia geraki tombaknya, ia menjadi kaget. Ia merasa sakit hingga ke peparunya. ―Cabut panah ini!‖ ia kata. Lie-sie tapi hatinya lemah, tenaganya tidak ada, tak dapat ia menolong. Tiat Sim lantas mendekam di atas kudanya, tangan kirinya diapakai mencekal gagang panah, dengan satu kali sentak, ia cabut busur itu terus ia pandangi. Anak panah itu nancap dalam kira tiga dim, gagangnya memakai bulu burung rajawali, batangnya terbuat dari perunggu. Itu bukanlah sembarang busur. tempo ia memeriksa lebih jauh, pada gagang itu ada terukir tiga huruf ―Wanyen Lieh‖ Ia terkejut. ―Wan-yen‖ itu adalah she, yaitu nama keluarga dari bangsa Kim, dari golongan keluarga raja. Biasanya dari raja hingga jenderalnya, bangsa itu memakai nama keluarga tersebut. ―Bagus!‖ serunya. ―Benar-benar si pembesar jahanam itu telah bersekongkol sama bangsa asing, bersama-sama mereka mencelakai rakyat negeri!‖ Ia serahkan busur itu kepada Lie-sie. ―Enso ingat baik-baik nama ini!‖ ia pesan. ―Pesanlah anakmu untuk menuntut balas….!‖ Habis berkata, ia putar tombaknya, ia menerjang ke antara musuh, tetapi darah di punggungnya membanjir keluar, tiba-tiba matanya menjadi gelap, tak dapat ia menahan diri lagi, ia rubuh dari kudanya. *** Hatinya Pauw-sie sakit bagai disayat-sayat karena tolakan suaminya, tempo ia mengawasi suaminya itu, sang suami sudah lantas lenyap, di pihak lain, rombongan serdadau telah mendatangi ke arahnya. Ia mencoba lari, tetapi sudah kasep, ia kena kecandak dan ditawan, tubuhnya segara dikasih naik ke atas seekor kuda. ―Aku tidak sangka dua orang itu demikian kosen hingga mereka dapat mencelakai tak sedikit saudara-saudara kita!‖ berkata satu perwira sambil tertawa. ―Tapi sekarang kita toh peroleh hasil!‖ kata satu perwira lain. ―Eh, sahabatku Ciong, untuk cape kita ini kita bakal dapat persen tiga atau empat puluh tail perak!‖ ―Hm!‖ menyahut si Ciong itu. ―Aku harap asal saja potongannya dikurangi sedikit…!‖ Terus ia menoleh kepada barisannya, akan beri titahnya: ―Kumpulkan barisan!‖ Serdadu tukang terompet sudah lantas kasih dengar suara alat tiupnya Pauw-sie menangis tersedu-sedu, ia lebih memikirkan suaminya yang ia tidak tahu bagaimana jadinya. Ketika itu sang fajar telah tiba, dijalanan sudah ada beberapa orang yang berlalu lintas, akan tetapi mereka nampak serdadu, mereka lalu menyingkir jauh-jauh. Mulanya Pauw-sie berkhawatir sangat kawanan serdadu itu nanti perlakukan kasar atau kurang ajar terhadapnya, kemudian ia merasa sedikit lega. Ia tidak saja tidak diganggu, ia malah diperlakukan dengan manis dan hormat.
Irawan D Soedradjat

Page

18

Pendekar Pemanah Rajawali

Barisan ini baru berjalan beberapa lie, tiba-tiba mereka dicegat oleh belasan orang yang mengenakan pakaian serba hitam, yang semua berbekal senjata. Mereka itu muncul dengan tiba-tiba dari pinggir jalanan. Seorang yang berada di paling depan sudah lantas kasih dengar suaranya yang bengis: ―Kawanan serdadu tak tahu malu dan kejam, tukang ganggu rakyat, kamu semua turun dari kuda kamu dan serahkan diri!‖ Perwira yang pimpin barisan itu menjadi gusur. ―Kawanan berandal dari mana ynag berani mengacau di wilayah kota raja?!‖ dia balas membentak. ―Lekas menggelinding pergi!‖ Pihak baju hitam itu tidak menggbris bentakan itu, sebaliknya mereka buktikan ancaman mereka, ialah tanpa bilang suatu apa lagi, mereka maju menerjang, dengan begitu pihak jadi bertempur kalut. Kawanan baju hitam itu berjumlah lebih kecil akan tetapi mereka mengerti ilmu silat denag baik, dengan begitu pertempuran menjadi berimbang. Menyaksikan pertempuran itu, diam-diam Pauw-sie bergirang. ―Bukankah mereka ini dalah kawan-kawannya suamiku, yang mendengar kabar dan telah datang menolong?‖ demikian ia menduga-duga. Selagi pertempuran berjalan terus, tiba-tiba satu busur nyasar menyambar punggung kudanya Pauw Sek Yok. Binatang itu kaget dan kesakitan, ia berlompat dan lari kabur. Sek Yok kaget dan ketakutan, ia mendekam di kudanya itu yang lehernya ia peluki keras-keras. Ia takut jatuh. Kuda itu kabur terus hingga beberapa lie, sampai di sebelah belakangnya, terdengar datangnya kuda lain, lalu tertampak satu penunggang kuda datang memburu. Cepat sekali larinya kuda pengejar ini segera ia menyandak dan lewat di samping Pauw-sie, si penunggangnya sendiri sambil melarikan kudanya itu memutar sehelai dadung panjang di atasan kepalanya, apabila ia melepaskan sebelah tangannya, dadung itu ialah lasso, lantas menyambar ke kudanya Sek Yok. Sekarang kedua kuda jadi lari berendeng, si penunggang kuda menahan dengan perlahan-lahan, dari itu sesaat kemudian kedua kuda itu larinya perlahan, akan akhirnya selang beberapa puluh lie, kuda si penunggang berhenti dengan tiba-tiba, sebab mulutnya penunggang itu perdengarkan tanda. Dengan begitu kuda Sek Yok pun berhenti seketika. Kuda itu meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya. Pauw-sie kaget dan ketakutan, ia pun ngantuk dan lelah, karena kuda itu berlompat berdiri habislah tenaganya, tak dapat ia memeluki lagi leher kuda lantas saja ia rubub ke tanah dan pingsan. Ia mendusin setahu beberapa lama kemudian, ia hanya dapatkan tubuhnya rebah di atas sebuah pembaringan yang empuk kasurnya dan tubuhnya pun dikerebongi selimut kapas yang membuat ia merasa hangat. Ia buka matanya perlahan-lahan. Yang pertama ia lihat ialah langit kelambu kembang. Maka sadarlah ia yang ia telah tidur di atas pembaringan. Ia menoleh ke samping, ia dapatkan sebuah meja dan satu pelitanya. Di tepi pembaringan berduduk satu orang laki-laki dengan pakaian serba hitam. Kapan pria itu melihat orang mendusin dan tubuhnya bergerak, lekas-lekas ia bangun berdiri, untuk singkap kelambu dan menggantungnya. ―Oh, kau sudah mendusin?‖ pria itu tanya, perlahan suaranya. Biar bagaimana, Sek Yok belum sadar sepenuhnya. Samar-samar ia seperti kenal pria itu, maka ia mengawasi. Si pria ulur tangannya, untuk meraba jidat si nyonya. ―Oh, panas sekali!‖ katanya. ―Tabib akan segera datang…‖ Sek Yok meramkan pula matanya, terus ia tidur pula. Ia baru sadar tempo dengan samar-samar ia merasa orang pegang nadinya, disusul mana orang memberi ia makan obat. Ia masih tak sadar benar, malah ia bagaikan bermimpi dan mengigau ketika ia berteriak: ― Engko Tiat! Engko Tiat!‖ Lalu ia merasa ada tangan pria yang dengan perlahan-lahan mengusap-usap pundaknya, yang menghiburi ia dengan lemah lembut. Kapan kemudian Sek Yok mendusin pula, hari sudah terang. Ia merintih sebentar, lantas ia bangkit untuk berduduk. Seorang menghampiri dia. ―Minum bubur?‖ tanya ia itu dari luar kelambu. Pauw-sie kasih dengar suara perlahan, atas mana pria itu singkap kelambunya. Sekarang dua muka saling berhadapan, mata mereka saling mengawasi. Sekarang Sek Yok dapat melihat denagn tegas, maka ia menjadi terkejut. Ia tampak satu wajah yang tampan, yang tersungging senyuman manis.
Irawan D Soedradjat

Page

19

―Nanti saja setelah kesehatanmu pulih.Pendekar Pemanah Rajawali Itulah si anak muda yang beberapa bulan yang lalu ia tolongi selagi orang terluka dan rebah tak berdaya di atas salju. lalu ia melanjuti: ―Sekarang ini rombongan serdadu sedang mencari Nyonya. ia telah buka mulutnya tetapi ia batal bicara. Irawan D Soedradjat Page 20 . Sekarang baiklah kau beristirahat dulu. ia hanya dengan manis budi menghibur dan membujuki untuk nyonya legakan hati. kita sekarang bearad dirumahnya seorang petani. mungkin suaminya telah menampak sesuatu kecelakaan.‖ si anak muda menghibur pula.maka itu jangan Nyonya sembarang munculkan diri. ―Nyonya. melarang orang berbicara. Besar sangat cintanya kepada suaminya. aku berukan keteranganku. ―Sudahlah. ―Sebenarnya aku bersama beberapa kawan kebetulan lewat di sini. yang bersenjatakan sebatang tombak panjang?‖ si anak muda tegaskan. Tetapi hatinya bukan tidak bekerja. ia telah dibinasakan oleh rombongan serdadu itu…‖ ia beri pebyahutan. ―Mana suamiku?‖ Pemuda itu menggoyang tangan. ia menangis sesambatan. aku tidak puas. Rupanya karena jodoh kita telah dapat bertemu satu dengan lain. Dari caranya orang berbicara. yang kemudian menghilang tidak keruan paran dari gudang kayu. ―Apa she dan nama Tuan?‖ kemudian Sek Yok menanya. ―Kenapa kau ketahui kita terancam bahaya dan kau dapat menolongi?‖ Pria itu bersangsi agaknya.‖ Sek Yok terperanjat. ―Sekarang kau letih dan lemah sekali. Harap Ynonya maafkan aku. dengan lancang aku telah mengaku bahwa akulah suami Nyonya…‖ Mukanya Sek Yok menjadi merah. Pemuda itu mengangguk. maka aku telah tolongi kau. ―Ya. kemudian barulah ia bisa omong juga. Lagi-lagi Sek Yok pingsan. ―Bukankah suami Nyonya berumur duapuluh kurang lebih. Nyonya.‖ ia berkata dengan perlahan. ia lantas pingsan. akan tetapi ia mengangguk. ―Tempat ini tempat apa?‖ nyonya ini kemudian tanya. Ia berkeputusan nekad untuk binasa bersama suaminya itu. Maka tiba-tiba saja timbul kecurigaannya. ia tidak memaksa. Si pria kelihatan halus budi pekertinya.‖ ia menyahut akhirnya Merah mukanya Sek Yok akan dengar itu perkataan ―jodoh‖. Maka itu hari ia tidak dahar nasi atau minum. jangan bergelisah tidak karuan. nyonya. tangannya mencekal keras-keras pada ujung kasur. ―Benar dia. ia balik kepalanya ke sebelah dalam pembaringan. ―Dia…dia kenapa.‖ kata pula si anak muda. ―Aku ada orang she Yen dan namaku Lieh. Rupanya roh suci atau malaikat yang telah menunjuki aku justru tolongi penolongku…‖ Ia berhenti sebentar.‖ ―Aku tengah melawan tiga musuh ketika satu musuh jalan mengitar ke belakangnya suamimu itu yang dia tombak punggungnya. Ia menjadi tak enak hati untuk bersikap tawar terus. ―Bagaimana caranya ia meninggal dunia?‖ Pauw-sie tanya. suamiku itu?‖ ia tanya.‖ orang itu menhibur. Ketika kemudian ia sadar. ―Menyaksikan rombongan serdadu itu berbuat sewenang-wenang. tubuhnya tinggi dan lebar. ―Mana suamiku?‖ ia tanya.‖ si anak muda beritahu. Sek Yok kaget. ―Untukmu paling baik adalah merawat diri…‖ ―Apakah dia…dia telah meninggal dunia?‖ Sek Yok menanya.

kau hendak dengari ceritaku atau tidak?‖ ia menegur. Irawan D Soedradjat Page 21 . tak tahu sebab musababnya. bagaimana dapat aku membalas dendam?‖ tanyanya. untuk apa aku memikirkan hidup lebih lama…?‖ katanya. Besok paginya. Nyonya!‖ katanya keras. kiranya kau kebenaran lewat saja dan bukannya dari satu rombongan dengan mereka itu?‖ berkata Sek Yok. ―Aku tadinya menyangka kau juga hendak bantu menawan Khu Totiang. karena mana imam itu telah membuatnya perlawanan dahsyat. ―Bukankah baru ini kau dapat luka karena kau bersama tentera negeri hendak mencoba menawan Khu Totiang?‖ Sek Yok tanya pula tanpa pedulikan pertanyaan pemuda itu.‖ ―Dia telah diketahui she dan namanya. Yen Lieh mengawasi orang berbicara. ―Tidak ingin aku yang kita nanti kena di bekuk mereka…‖ Sek Yok menangis. tetapi ia lemah hatinya. Sek Yok dapat lihat kelakuan orang itu. Pauw-sie turun dari pembaringannya. matanya tak meram…‖ Nyonya itu terkejut. ya aku tengah memikirkan cara bagaimana kita dapat meloloskan diri dari rombongna serdadu itu. ia berkata: ―Tentera di luar sudah berlalu. cara bagaimana kau bisa menuntut balas?‖ katanya perlahan setelah ia bawakan bubur dan telu asin itu kepada si nyonya. Ia terus pergi ke dapur. bagaimana kau Cuma ingat kematian saja? Nanti suamimu. ―Dia itu yang menjadi perwira yang mengepalai barisannya. ―Suamiku telah terbinasa. Sebenarnya imam siapa yang hendak mereka tawan itu?‖ ―Oh. yang berada di tanah baka. ―Ya. Yen Lieh bertindak masuk selagi si nyonya menangis. ―Suamimu telah dibinasakan hamba negeri. Coba tidak kau tolongi aku.‖ ia menjawab. ―Aku datang dari utara. maka ia menangis dengan mendekan di meja. ―Baik kau pergi sendiri saja…‖ ―Tetapi Nyonya!‖ peringatkan Yen Lieh. ia tampak romannya yang cantik bagikan bunga akan tetapi npemiliknya telah tak ada – yang satu tetap menjadi seorang manusia.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kau dan tentera negeri itu datang dari satu jurusan?‖ ia tanya ―Ke…kenapa?‖ Yen Lieh tanya. ia tunggu sampai orang sudah sedikit reda. ―Jikalau kita tidak pelihara kesehatanmu. hendak aku pergi ke Lim-an. Pauw-sie anggap perkataan itu benar. gampang untuk mencari dia. ia berhenti menangis. ―Eh. lalu ia turut keluar dari rumah itu. namanya Toan Thian Tek. setelah rapikan pakaiannya ia hadapi kaca untuk sisiri rambutnya. Kapan ia mengawasi kaca. ―Biarnya aku bodoh. ―Apakah nyonya tahu. hingga pada mulanya tak ingin aku menolongi kau. selagi aku lewat di kampungmu itu.‖ Sampai di situ. Yen Lieh kelihatannya murka. Ia menjadi sedih sekali.‖ Sek Yok susut air matanya. Itulah tanda ia berkabung untuk suaminya. pastilah aku terbinasa kecewa.‖ sahutnya kemudian. Nyonya. Ia cari sepotong kain putih. tiba-tiba sebatang busur nyasar telah menyambar pundakku. untuk sendok semangkok bubur serta satu biji telur asin. Pauw-sie tuturkan halnya Khu Cie Kee hendak ditawan tentera negeri. romannya heran. siapa musuh nyonya suamimu itu?‖ Nyonya Yo Tiat Sim berpikir sejenak. ―Dia mempunyakan tanda biru di mukanya. Yen Lieh terkejut. ia gunting itu merupakan setangkai bunga. ―Kejadian hari itu sungguh membuat aku penasaran!‖ bsahut Yen Lieh. mari kita berangkat. yang lain telah menjadi setan…. ―Aku seorang perempuan. agaknya ia kesengsem. ia sambuti bubur itu lalu ia dahar dengan perlahan-lahan. lalu ia tertawa. akan aku coba membalas dendam untukmu. lalu ia selipkan di kondenya. sakit hatimu belum terbalas.‖ berkata si anak muda.

sore itu mereka singgah di dusun Tiang-an-tin. Akan tetapi mendahar ini. keduanya sudah jalankan kuda mereka berendeng menuju ke utara. ―Nyonya silakan tidur!‖ ia berkata. sesudah mana terus ia meramkan matanya.‖ Irawan D Soedradjat Page 22 . akan tetapi hatinya tidak tentram.Pendekar Pemanah Rajawali Yen Lieh serahkan sepotong perak kepada tuan rumah. pedang pendeknya tergenggam di tangannya. ―Inilah barang yang tadi pagi tuan belikan untuk Nyonya.‖ jawab jongos itu. Diam-diam nyonya ini jadi sangat bersyukur. Sekarang mendengar omongan yang beralasan dari pemuda ini. Tujuh Orang Luar Biasa Kapan besok paginya Pauw-sie bangun dari tidurnya. Yen Lieh mengaku bahwa mereka berdua adalah suami-istri. daging asin. karenanya ia meminta satu kamar. Ia jadi ingat suaminya. sedap dan lezat. yang siapkan dua ekor kuda. satu diantaranya adalah kudanya Sek Yok. meskipun mesti menyerbu api berkobar-kobar. ialah pakaian baru. maka di lain saat. ia tunggu sampai si jongos itu sudah keluar. ―Tuan pesan supaya nyonya suka salin pakaian. hatinya Pauw-sie kurang tenang. karena itu diwaktu bersantap. Bab 3. ia bukan saja suka menerima. ikan dan bubur yang semuanya harum. walaupun badanku hancur dan tulang-tulangku remuk. Tak lama sehabisnya dahar. laki-laki sejati. akan aku bunuh diriku!‖ Yen Lieh menitahkan jongos ambil dua ikat rumput kering. untuk setengah jam ia masih duduk bercokol. Yen Siangkong. baru di hari raya atau tahun baru ia dapat hidangan istimewa.‖ Sek Yok lemah hatinya. ia lantas kunci pintu. ―Yen. Yen Lieh sudah keluar dari kamar.‖ Dua hari mereka berjalan.‖ Yen Lieh jawab. ―Kita tunggu sampai suasana sudah mulai reda. Itu waktu. ―Apakah itu?‖ tanya si nyonya. baru ia tidur tanpa buka pakaian luar lagi. ―Sekarang kita cari dahulu tempat sepi untuk tinggal sementara waktu. Hatinya Nyonya Yo berdebar-debar. didalam hatinya ia bilang: ―Asal dia berlaku kurang ajar sedikit saja. bagaimana kau harus membalas budimu ini?‖ katanya. ―Maka itu tubuhku ini aku serahkan kepada nyonya untuk nyonya suruh-suruh. Di akhirnya ia menghela napas panjang. ―Jiwaku ini adalah nyonya yang tolongi. itu sudah selayaknya saja. Belasan lie telah mereka lalui. pemuda itu telah pergi siapkan kuda mereka dan sudah pesan jongos menyediakan barang makanan. Yen Lieh sudah tidak ada di kamarnya. yang terkena panah. untuk dikubur dengan baik. ―Kita menuju kemana?‖ tanya Pauw-sie. Ia tidak lantas rebahkan diri. hatinya menjadi sangat berduka. yang sekarang telah diobati lukanya. jongos datang menyerahkan satu bungkusan. habis padamkan api lilin. Oleh karena itu semakin kurang penjagaan dirinya.‖ sahut Yen Liah. dan biasanya. ia bungkam. lemah lembut sikapnya. ―Kau hendak bawa aku kemana?‖ akhirnya Sek Yok menanya pula. Barang hidangan itu terdiri dari masakan ayam. ia memang tak dapat berpikir apa-apa. malah ia bersyukur sekali. yang didatangi. dedaharannya setiap hari adalah sayur dan ikan asin. Sek Yok tidak bilang suatu apa. Kepada pengurus hotel. ia menemui orang satu kuncu. baru kita pergi cari jenazah suamimu. matanya memandang ke satu arah. Ia ada dari satu keluarga sederhana. kemudian ia membantui nyonya itu naik ke atas kuda. di situ ia rebahkan dirinya terus ia tutupi dengan gudri. diam-diam ia meraba pedang peninggalan Khu Cie Kee. Yen Lieh kedipi mata. kemudian baru kita pergi cari si Toan Thian tek si jahanam itu guna menuntut balas. untuk cegah si nyonya sembarang bicara di depan orang lain. rumput kering itu ia delar di lantai.

akan aku panah batang lehernya!‖ Selagi pemuda ini berkata. baju pendek. Mereka maju terus. Dialah ynag tadi menjerit. tentu mereka kalah dan lari. ia berubah seperti seorang baru. Ia tertawa girang sekali. Sekarang setelah tukar pakaian. Yen Lieh lompat turun dari kudanya. Maka itu melihat Yen Lieh cuma berdua dengan satu nyonya manis. ―Tunggu sampai ia lari lagi tiga tindak. maka gendewa ditarik. si serdadu lari terus. ―Mari kita liat!‖ Pemuda ini berlaku tenang. Segera si nyonya lihat di tangan kawannya ada gendewa yang bersinar kuning emas. Tepat orang lari kira enampuluh tindak. ia putar balik kudanya untuk lari.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok buka bungkusan itu yang membuat dia melengak. mereka anggap inilah untung mereka. ―Lagi-lagi serdadu mengganggu rakyat jelata. lalu ia maju mendekati. Ia tampak seperangkat pakaian baru warna putih. tidak ada ampun lagi serdadu itu terpanah batang lehernya. Irawan D Soedradjat Page 23 . berikut sepatu dan kaos kaki putih juga. ―Hebat!‖ memuji Sek Yok tanpa terasa. ―Kamu ada bawahan siapa?‖ ia tanya. kupingnya mendengar suara menyambar ―Serr!‖ lalu satu serdadu menjerit dan rubuh. Dua serdadu lagi memeriksa mengaduk-aduk buntalannya si orang tua. ―Kamu bikin apa?‖ Yen Lieh benar-benar tidak takut. Bukankah ia baru saja lolos dari bahaya yang menakuti? ―Jangan takut!‖ kata Lien Yeh sambil tertawa. Menyaksikan orang lari ngiprit. Ia lantas siapkan pula busurnya. dituruti empat kawannya. dadanya tertumblaskan sebatang busur. akan tetapi terhadap rakyat jelata. sesudah itu untuk satu malaman ia mesti larilarian. sambil tertawa. Sore itu selagi mendekati dusun Kiap-sek-tin. anak panah mana dikasih masuk ke dalam kantungnya. Yen Lieh tertawa enteng. ia hampiri lima serdadu itu. lagi pegat seorang lelaki tua yang ada bersama satu anak muda serta satu nona. Tapi justru itu. Satu serdadu segera hampiri dua orang ini yang mereka dapat lihat. malah gendewa itu dipakai memanah pula beruntunruntun. sebaliknya dari angkat kaki. malah mereka main merampas dan paksa. hingga di sebuah tikungan. Serdadu itu lantas berseru. membentak. Tinggal serdadu yang kelima. Di situ terlihat lima serdadu. sapu tangan dan handuk. busur meleset mengejar dengan cepat sekali. Sek Yok takut bukan main. ―Lekas pergi!‖ Pada waktu itu tentera Song. dengan begitu dapat ia menentramkan sedikit hati si nyonya kawan seperjalanannya itu. habis itu ia melompat naik pula ke atas kudanya. kalau menghadapi musuh bangsa Kim. Perjalanan sudah lantas dilanjuti. tiba-tiba mereka mendengar jeritan hebat dari sebelah depan. ―Mari kita lekas menyingkir…‖ Yen Lieh sebaliknya tersenyum simpul. maka pakaiannya jadi kotor dan pecah disana sini. Pauw-sie kaget sekali. ia justru maju mendekati. pakaiannya tidak karuan. yang uangnya dan lainnya barang mereka pindahkan ke saku mereka sendiri. Tiga serdadu lainnya tengah mengurung si nona yang mereka perlakukan dengan ceriwis. ―Celaka!‖ Sek Yok menjerit karena kaget dan takut. yang sangat bersyukur. cara bagaimana ia dapat memikir begini sempurna?‖ katanya dalam hati. mereka galak bukan kepalang. ujung panah tembus ke tenggorokannya. dengan mencekal golok panjang. untuk cabuti anak panahnya dari tubuh mereka. ia berkata. Memang ketika ia keluar dari rumah. dia lalu putar tubuhnya untuk lari merat. Si nona menangis. yang lainnya ada pakaiaan dalam. ―Diam!‖ dia membentak. Yen Lieh cambuk punggung kuda si nyonya selagi ia pun kasih lari kudanya dengan begitu kedua ekor kuda segera lari keras. hingga lagi tiga serdadu rubuh seperti rekannya yang pertama. dari samping kiri muncul dengan tiba-tiba sepasukan serdadu dengan suara mereka yang berisik. ia berpaling kepada si nyonya. ia mengeluh dalam hatinya.‖ kata Sek Yok ketakutan. ―Dia seorang pria. Justru ia hendak ajak Pauw-sie melanjuti perjalanan. ia ketakutan.

tidak kenali tayjin. lukanya yang belum sembuh telah pecah pula dan mengeluarkan darah. Pauw-sie menoleh ke belakang. Heran perwira itu. hingga ia tercengang.‖ Tidak saja perwira itu membasakan dirinya ―pie-cit‖ yang artinya ―bawahan yang rendah‖. mukanya menjadi merah. kau lihatlah surat ini!‖ Perwira itu melirik kepada satu serdadu di sampingnya. Kerananya ia jadi ketinggalan Yen Lieh. tiba-tiba Yen Lieh tahan kudanya. Yen Lieh manggut perlahan ia lantas sambuti kudanya si perwiara. ia pondong Pauw-sie untuk dipindahkan ke kuda yang baru. terutama oleh pengejar yang motong jalan dari samping. mukanya menjadi pucat. maju tidak. baik. Irawan D Soedradjat Page 24 . ―Perwira itu tuntun kudanya sendiri. suaranya dan sikapnya sangat merendah. Pauw-sie mengawasi kejadian denga hatinya heran bukan main. Satu perwira yang bersenjatakan sebatang golok besar. setelah mana ia kaburkan kudanya itu. tayjin. Sementara itu.‖ katanya. ―Kau tidak hendak turun dari kudamu untuk manda dibelenggu?‖ perwira itu menegur. Yen Lieh tidak pedulikan lagi pemimpin pasukan itu. lalu bersama-sama mereka lanjuti perjalanan mereka ke utara. Ia mengedipi mata.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tangkap!‖ berteriak tentera yang di belakang itu apabila mereka melihat mayat-mayat rekannya. mereka mengejar. dari itu aku tak dapat pamitan lagi. surat itu pun segera ia ancungkan ke atas kepalanya. Yen Lieh sebaliknya tenang. ia dapatkan sejumlah tentara pengejar lebih dari seribu jiwa. maju menghampiri. ―Apakah kamu adalah pengawal pribadi dari Han Sinsiang?‖ ia tanya. ―Nanti pie-cit melakukan pemeriksaan untuk memberi hukuman. ―Kau siapa!‖ ia membentak. ―Kami masih kekurangan seekor kuda. ia sambar si nyonya untuk ditarik dan dipindahkan ke kudanya. Karena lari terlalu keras. lalu dengan tiba-tiba. ―Pie-cit mohon diberi ampun…. Seorang diri. Yen Lieh rogoh sakunya. lalu sambil terus berteriak-teriak. Akan tetapi ketika itu sudah terlambat. ―Pie-cit. pie-cit mengerti. selagi tentera pengejar mendatangi semakin dekat. ―Nah. ―Apakah kau tidak kenali aku?‖ dia bertanya. tanpa mengucap sepatah kata. selaku tanda hormat. Karena itu terpaksa ia tahan kudanya. Yen Lieh tertawa pula. Perwira itu menjura dalam. akan tunggu kudanya Pauw-sie rendengi ia. ―Nampaknya tentera mu kurang kenal tata tertib ketenteraan!‖ katanya sambil tertawa. lantas ia menjadi kaget sekali dan ketakutan. Karena tadi ia menunda kudanya.‖ katanya. Ia bicara terhadap Pauw-sie. Serdadu itu lantas sambuti surat itu untuk dihanturkan kepada pemimpinnya. Setelah lari serintasan.‖Kau hendak tunggu apalagi?‖ Sebaliknya daripada serahkan diri atau ketakutan. Pauw-sie takut bukan main. dengan tergesa-gesa ia lompat turun dari kudanya untuk memberi hormat.‖ ia berkata. Segera ia tidak punya jalan lagi. akan keluarkan sepucuk surat. nyampingpun tidak. Lagi selintasan. larinya pun menjadi tambah perlahan.‖ ―Baik. mana bisa Yen Lieh melawan mereka itu walaupun pemuda ini lihay ilmu panahnya? Celaka adalah kudanya si nyonya Yo ini. Sek Yok heran yang ia dipanggil ―hujin‖ atau nyonyanya si anak muda. Yen Lieh sambuti kembali surat itu. Dia tertawa pula. mukanya pucat pasi. ―Silahkan hujin pakai kudaku ini. kopiahnya kopiah besi dan bajunya lapis besi juga. Yen Lieh tertawa gembira. ―Bilang aku ada punya urusan penting dan mesti pulang lantas.‖ kata perwira itu tetap dengan sangat hormat. Kapan perwira itu sudah membaca. dan wajahnya terus menunjuki ia bergelisah.‖ katanya. dosaku berlaksa kali mati.‖ pintanya. Yen Lieh kena dicandak pengejarnya. ―Pergi kau sampaikan kepada Han Sinsiang.

‖ Sek Yok mengutarakan pikirannya..‖ dia bilang. ―Apanya yang dibilang lama?‖ Irawan D Soedradjat Page 25 . ―Soal itu ada lain. Untuk melegakan hati si nyonya. Untuk herannya ia lihat si perwira dan barisannya masih belum pergi. Orang pun tampan dan menyenangkan untuk dipandang. kota dari sutera dan beras. ―Walaupun Han To Cu sendiri yang melihat aku. pihak tentera tentu telah membuatnya persediaan. Nyonya. Ia tidak mengerti.‖ sahut si anak muda.‖ kata Pauw-sie. Hawa udara ada nyaman karena itu waktu pun ada di musim pertama yang indah. baru kita berangkat pula ke selatan ini untuk maksud menuntut balas itu. ―Sekarang ini mari kita balik dahulu ke utara. atau setempo dengan berendang. Yen Lieh berdiam sejenak. sekarang ia terletak dekat dengan kota raja. Pauw-sie mengangguk. Pada tengah hari di hari ketiga. kadang-kadang yang satu di depan yang lain di belakang. dia jerih tiga bagian. sambil tertawa mendahulukan dia. tidak melainkan kita bakal gagal. ―Baik.‖ Sek Yok bingung tidak berdaya.‖ ―Habis bagaimana?‖ si nyonya tanya pula. Bukankah ia sudah rudin dan tak bersanak kandung juga? Kemana ia mesti pergi untuk pernahkan diri? Bukankah lebih baik ia turut pemuda ini? Tapi dia ada satu janda. pandai ia memilih bahan pembicaraan. sebuah kota besar di Ciat-kang barat. Yen Lieh menjadi girang sekali. ―Budimu yang besar. Ia berpaling kepada si anak muda. Yen Lieh sering membuka pembicaraan. ―Pakaianmu sudah terpakai lama. ―Mari kita cari hotel untuk singgah dan beristirahat dulu. ―Disini ada banyak toko. ―Hari masih siang.‖ Yen Lieh berkata.‖ katanya.‖ Lantas keduanya larikan pula kuda mereka. keramaiannya menjadi bertambah sendirinya. Percaya saja ia ragu-ragu. Di sepanjang jalan ada kedapatan pohon-pohon yangliu dan bunga.‖ kata Yen Lieh melihat orang berdiam saja. ―Maka itu. sebenarnya kita masih dapat melanjutkan perjalanan. dapatkah kau mempercayai aku?‖ bia tanya. ―Nyonya . ingin ia menanya. ―Baiklah. mereka tiba di Kee-hin. Luas pengetahuannya si anak muda. Sek Yok menoleh ke belakang. orang pun bukan sahabat bukan sanak.Pendekar Pemanah Rajawali Sesudah jalan beberapa puluh tindak.‖ ―Jikalau begitu. kita pun bisa mendapat celaka. ―Akan aku turut segala titahmu. Sek Yok menjadi tak enak sendirinya. ―Nyonya…. ―Sekarang ini kita telah ketahuan siapa adanya. apabila kita pergi menuntut balas sekarang juga. Ia dapati orang halus sikapnya dan menarik kata-katanya. nanti aku belikan yang baru. ini kawan seperjalanannya yang sebenarnya asing untuknya. sambil tunduk. silahkan kau beri petunjukmu. cara bagaimana ia bisa terus ikuti pemuda itu? Dia jadi menjublak karena kesangsiannya itu.‖ Yen Lieh mengajak. Memangnya kota sudah ramai pada asalnya. apapula segala perwira itu……. tapi anak muda itu. Sek Yok heran dan kagum untuk si anak muda. Nyonya. tak nanti aku lupakan. ―Kita tunggu sampai suasana reda. ―Jikalau nyonya anggap saranku kurang sempurna. ―Bukankah ini baru dibeli?‖ tanyanya.‖ Menampak sikap orang itu.‖ ―Harap kau tidak sebut-sebut tentang budi…‖ kata Sek Yok. Nyonya legakan hati.‖ Sek Yok melengak. agaknya mereka itu masih mengasih selamat jalan……. sesukamu…‖ katanya perlahan. baik. Nyonya….‖ Yen Lieh bilang. pastilah gampang untuk kau membalaskan sakit hatiku. tentang sakit hati suamimu itu serahkan kepada tanggungjawabku seorang.

ia jadi menduga terlebih keras. sepatu itu berbunyi ketrak-ketruk walaupun ia jalannya perlahan. sepatunya terus berbunyi: ―Truk! Truk! Truk…!‖ Panas hatinya Yen Lieh. Ia menjadi tidak senang. Pauw-sie mengangguk. tetapi karena orang demikian jorok. ―Eh. tak tahu ia di mana lenyapnya uangnya itu. ―Kau tunggu . kau jangan pandang tak mata kepada baju tuanmu yang rubat-rabit ini! Kau tahu. Jongos itu lihat air muka orang. dengan kipas bututnya dia tepuk pundaknya Yen Lieh. ia gancangi tindakannya. ―Bukankah dia maksudkan aku?‖ Jongos itu melirik kepada pemuda ini.‖ kemudian kata si pemuda. Setibanya di dalam kamar. ia jalan terus. Orang itu perdengarkan pula tertawanya yang kering itu. Dia pun tidak karuan dandannya. ―Dengan dipakai baru satu dua hari. lalu duduk bersantap. ialah pakaiannya kotor. orang mana menyolok perhatiannya. tuan besarmu ada punya uang perak! Di pihak lain. kau mesti awas mata! Paling baik kau minta dia membayar uang sewa di muka!‖ Lalu dengan tak menantikan jawaban. Tepat ketika keduanya impas-impasan. ia lihat seorang mendatangi. kau bikin apa`?‖ ia menegur. tindakan kakinya terus berbunyi ketrakketruk. Nyonya itu lantas membungkam. Orang mirip dengan satu sastrawan tetapi ia jalan sambil menyeret sepatu kulit. dia ngeloyor terus. Nyonya. mana boleh kau tidak memakai pakaian dari bahan yang terbaik?‖ Diam-diam senang hatinya Sek Yok karena orang puji kecantikannya. dia pentang aksi untuk bikin orang silau guna menipu. pakaianmu sudah tak mentereng lagi. ―Apakah kau tengah menipu dia? Janganlah kau nanti rembet-rembet kami!‖ Irawan D Soedradjat Page 26 .Pendekar Pemanah Rajawali ―Kita jalan jauh dan ditengah jalan banyak debu. sembari jalan dia mengipasipas tak hentinya. ia menjadi tercengang pula. ―Kau tunggu sebentar. Di sini mereka paling dulu bersihkan tubuh. suaranya kering. ia tangal-tongol di muka pintu dengan begitu ia jadi dapat lihat orang tidak punya uang. Di tangannya ia mencekal satu kipas kertas minyak warna hitam yang sudah buntut. ―Apakah wanita ini benar istrimu?‖ dia tanya. Tiba-tiba orang jorok itu tertawa. laginya dengan wajah ini. tertawanya itu tajam menusuk telinga. bukannya aku kurang ajar…‖ katanya sambil memberi hormat. Jongos mengikuti ke kamar. akan tetapi. atas tepukan itu tak keburu ia berkelit. dengan pakaiannya yang mentereng. hendak aku balik ke kamarku untuk mengambil.‖ Yen Lieh bilang. Ia heran. ―Terang itu aku tahu. buat anglap makanan dan hotel! Terhadap bocah begitu macam. untuk mengakali kaum wanita. si jorok itu ulur tangannya. maka itu sambil mengerutkan kening. dia ada membekal uang empat atau lima puluh tail perak akan tetapi sekarang kantungnya kosong. Mungkin sudah belasan hari ia tidak pernah mandi. ada bocah yang tersesat. Anak muda ini gagah.‖ terangkan si anak muda. Yen Lieh terus tanya-tanya orang. khawatir tubuhnya nanti kena terlanggar. berminyak. Ketika ia tiba di ujung hotel. jongos. bagaikan siulannya burung malam. kotor juga mukanya yang penuh debu. baru ia sampai di muka hotel. mau tidak mau timbul kecurigaannya. Yen Lieh lantas pergi keluar. Yen Lieh bisa duga hati orang. Sekarang ia tak sungkan-sungkan lagi. walaupun orang mirip sastrawan. ―Apa?! Kau tidak membawa uang?‖ katanya. Ia dapatkan buntalannya tidak ada uangnya. tak mau ia jalan di dekatnya. ―Tuan. Ia menjadi berani. Sementara itu tangannya meragoh ke sakunya. Ia mau menyangka tadi karena terburu-buru ia lupa bawa uangnya. Yen Lieh ada apik. ―Binatang!‖ katanya dalam hatinya. Ia tahu. Dia tertawa terus beberapa kali. Nyonya. Dengan lekas ia menghampiri. tetapi segera ia melongo.‖ kata Yen Lieh. harap kau tidak kecil hati. ―Aku tengah berkabung…‖ katanya perlahan. akhirnya ia ajak nyonya itu ke hotel Siu sui yang paling besar untuk kota Kee-hin. ―Kau pegang uang ini!‖ katanya menyela. ia menoleh kepada jongos hotel seraya berkata dengan keras: ―Eh. hendak aku pergi berbelanja.

hingga orang itu jungkir balik. Menampak demikian. suaranya keren. sisa yang lainnya lantas lemparkan senjata mereka dengan memutar tubuh. ―Mau apa kau datang ke Kee-hin ini?‖ Yen Lieh tetap tidak bergerak. Jongos tadi yang telah kabur keluar segera kembali bersama belasan orang. Hendak aku lihat. Untuk kira setengah jam. Nyonya Yo bungkam. di luar terdengar suara berisik lalu muncul belasan orang polisi. lalu ia terus pergi. akan tetapi agaknya ia masih sangsi. ―Itulah yang aku kehendaki!‖ sahutnya.‖Bagaimana kau berani sembarang sebut namanya Khay Toaya kami?‖ Yen Lieh rogoh sakunya. Dengan tiba-tiba Yen Lieh mencelat ke pintu dan tangannya menyambar. yang bersenjatakan golok dan thie-cio. akan kemudian diturut oleh kawan-kawan yang telah terima hajarab. mukanya menjadi merah. Mereka pun bekal borgol yang rantainya berkontrangan. Tak tahu ia maksudnya pemuda ini. Yen Lieh tetap tertawa. masih berani galak. Kemudian mereka menjdi gusur. kau she apa?‖ menegur yang menjadi kepala. Menyaksikan sikap orang itu. kau juga berani pukul orang!‖ Dengan murkanya Yen Lieh mendupak. ―Apakah kau edan?‖ si kepala polisi tanya. Di situ ia lantas bercokol. yang repot merayap bangun. Baharu kemudian. ―Kamu jaga dia. ia datang ke mari atau tidak!‖ Orang polisi itu jumput surat itu. ―Jangan kita nginap disini!‖ ―Jangan takut!‖ kata Yen Lieh. ―Ah. kasihkan pada Khay Oen Cong. ―Eh. tiehu atau residen dari Keehin. ―Pergi kau panggil Khay Oen Cong kemari!‖ ia bilang. Ia malu dan bergelisah. sambil pegangi pipinya dia menjerit: ―Bagus.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok tidak tahu apa yang sudah terjadi tetapi ia dapat menduga. setelah membaca sampulnya ia terkejut. ia berkata: ―Kau bawa suratku ini. ialah ruyung pendek yang bercagar atau gagangnya bergaetan. Pihak hotel atau tetamu. Khay Oen Cong itu adalah namanya pembesar mereka.‖ kata SekYok dengan berkhawatir. Irawan D Soedradjat Page 27 . mungkin nanti datang pembesar negeri. Hamba negeri itu terkejut. rombongan oppas itu tidak berani lantang maju. Kata-kata itu disusul sama mencelatnya tubuhnya. urusan menjadi hebat. ―Mana dia si penjahat!‖ Yen Lieh bercokol tidak bergeming. Tentu ia menjadi gusur. kemudian sambil matanya memandang mega. Kali ini ia tertawa. ―Apakah kamu hendak berkelahi?‖ tanya Yen Lieh sambil tertawa. jangan kasih dia buron…‖ pesannya pada orang-orangnya. hotel menjadi sunyii. Sekejap saja empat lima orang telah terguling rubuh. ya bagus betul! Kau sewa kamar tidak mau bayar. tangan mereka membawa toya dan ruyung. lalu tahu-tahu ia telah rampas toyanya satu orang denagn apa terus ia menghantam kalang kabutan. mereka sipat kuping. ―Sudah menipu wanita. untuk mengeluarkan sepucuk surat yang mana ia lemparkan ke atas meja. yang romannya seperti buaya darat. ―Mari kita lekas pergi!‖ Sek Yok mengajak. sikap mereka garang. aturan dari mana?‖ demikian di antarannya pentang bacot. tidak ada yang berani banyak mulut lagi. ―Plok!‖ demikian suara di mukanya si jongos yang pipinya menjadi bengap dan giginya rontok beberapa biji. ―Kita tidak punya uang tetapi kita boleh suruh mereka mengadakannya!‖ Ia lantas sembat sebuah kursi yang ia letaki di ambang pintu.

dia berlutut seraya memohon ampun.‖ kata Oen Cong dan Bun Kay dengan cepat. ia lemparkan itu ke atas tanah.‖ Yen Lieh dongak. Sampai disitu Pauw Sek Yok menjadi heran. Kenapa dia sekarang berani terang-terangan menyebut nama kaisar? Irawan D Soedradjat Page 28 . ―Siapa itu Tio Kong?‖ tanyanya.‖ berkata mereka. ―Tempat di sini lebih meyenangkan. aku mohon Tuan-tuan suka tolong periksa dan mencarinya. harap tayjin suka memaafkannya.‖ katanya. ―Sekarang ini sudilah kiranya Tayjin menerima dahulu ini jumlah yang tidak berarti.‖ ia menyahut. ―Baik.‖ Yen Lieh tertawa. tiehu dari Kee-hin dan Kiang Bun Kay tiekoan dari Siu-sui-koan..‖ Dengan tiba-tiba wajah si anak muda menjadi keren. tetapi kapan kuasa hotel lihat wajah si tetamu tenang dan ramah. ―Lekas pergi!‖ Jongos itu melengak. kami tidak datang menyambut. Tak tahu ia urusan bakal jadi bagaimana hebatnya.‖ dia berpikir.‖ berkata Khay Oen Cong. habis mana. yang satu bermuatkan emas berkilau kuning dan yang satunya lagi bersis perak yang berkeredep putih. Dengan cara hormat. Khay Oen Cong menyahuti dengan cepat. nanti piecit siapkan. lalu dengan cepat ia seret si jongos pergi. hingga ia bisa tertawa. lekas-lekas ia pungut uang itu. sesudah mana di luar hotel terdengar pula suara berisik dari orang banyak. ―Tio Kong ialah Kaisar Leng Cong yang sekarang!‖ sahut Yen Lieh. ia menoleh ke belakang seraya geraki tangannya. ia mengangguk. Oen Cong dan Bun Kay mengundurkan diri dengan hormat dan tanpa berisik semua polisi mengikuti mereka. Yen Lieh mengambil sepotong perak dari atas nenapam. Itulah suara beberapa puluh orang polisi.‖ berkata Yen Lieh. ―Atau setidaknya dia pembesar berpangkat sangat tinggi…. ya. ―Ya. ―Dia mengaku sebagai sahabatnya Han Sinsiang. hatinya terus goncang. ―Sebenarnya suratmu itu wasiat apa?‖ ia tanya. ―Di tempat kami ada penjahat yang main gila. atas mana muncul dua orang polisi yang membawa dua menampan-menampan. semua pembesar sipil dan militer hormati dan takuti dia. ―Satu pembesar sampai ketakutan demikian rupa!‖ Yen Lieh tertawa. khawatir orang gusar. Karena ini. hatinya pun lega. keduanya lantas saja memberi hormat sambil tekuk lutut. ia berlutut dan manggut-manggut. Khay Tiehu lantas angsurkan suratnya pemuda itu. mukanya menjadi pucat. ―Tayjin masih membutuhkan apalagi. silahkan Tayin dan hujin singgah di sana. Dengan tidak bilang apa-apa lagi. Nyonya Yo Tiat Sim menjadi terperanjat. Cuma tangannya diulapkan. benar-benar tidak pantas!‖ Sek Yok heran. aku menyangka dialah sanaknya kaisar. yang mengiringi dua pembesar dengan pakaian dinasnya.‖ ia berkata.‖Piecit tidak ketahui tayjin tiba disini. ―Piecit adalah Khay Oen Cong. ia membungkuk sedikit. ―Piecit telah siapkan tempat beristirahat. tolong sebutkan. ia bersangsi. itulah kealpaan kami.‖ Yen Lieh ulapkan tangannya.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok saksikan itu semua. hebat ia menunggu kira setengah jam. ―Aku persen ini kepadamu!‖ katanya sambil tertawa. kalau negara mereka tidak lenyap.‖ tiehu itu memohon kemudian. terutama terhadap Kiang Bun Kay si camat. orang-orang sebawahannya Tio Kong semua bangsa kantong nasi. Bukankah residen dan camat pun mesti berlutut terhadap tetamunya itu? Tidak ayal lagi dengan dipimpin kuasa hotel. ―Aku telah kehilangan uang di dalam kecamatan ini. ―Sebenarnya tidak ku niat pedulikan mereka. baiklah. Jongos saksikan itu semua. Kamu jangan ganggu aku. ―Aku lebih suka tempat yang tenang. ia tidak menyahuti. lenyap darahnya. Kapan mereka berdua sampai di depan Yen Lieh. ―Pembesar itu sendirinya tak punya guna.

habis kita mesti memanggil apa?‖ Lagi sek Yok terkejut.Pendekar Pemanah Rajawali Kalau hal ini di dengar orang. maka kali ini aku tidak sungkan-sungkan lagi menghadapi Perdana Menteri Han To Cu. tetapi dengan alasan penghasilan negaranya tidak mencukupi. yang menjadi musuh Tionggoan. ―Semua keluar!‖ kemudian Yen Lieh berkata. ―Ya. nampaknya ia sangat tidak puas. ia tidak terlalu heran. orang dengan siapa siang dan malam ia berada bersama selama beberapa hari. terus ke muka kamarnya si anak muda. lenyap senyumnya si nyonya. Segera terdengar tindakan banyak kaki yang bersepatu kulit memasuki ruang hotel. apa itu bukan artinya sangat kurang ajar. ia juga ketahui bagimana hebat suaminya itu membenci bangsa Kim itu. apabila dalam tempo satu bulan upeti tidak dibayar penuh. ―Setibanya kita di utara. sering-sering kaisar Song tidak menepati janjinya. aku tandaskan kepadanya. ―Kalau begitu kau jadinya. ― Telah lama aku kagumi keindahan wilayah selatan. Begitu mereka melihat Yen Lieh..?‖ Maka lekaslekas ia berkata ― Bicara hati-hati! Nama raja mana boleh sembarangan disebut-sebut?‖ Senang Yen Lieh akan mengetahui nyonya ini menyayangi dia. apa ini didengar orang. Yen Lieh tertawa. dari itu Ayahanda raja menitah aku menagihnya sekalian. ―Semua serdadu itu adalah tentara pilihan dari negara Kim yang besar!‖ Dan dia tertawa pula.‖ ―Upeti tahunan?‖ Sek Yok heran. Itulah beberapa puluh serdadu denag pakaiannya yang tersulam. yang terus berbangkit untuk berdiri dengan tegak. ―Kerajaan Song mohon negaraku tidak menyerang dia. ia tercengang. jikalau kita tidak panggil dia Tio Kong. tangannya diulapkan.‖ Mau atau tidak Sek Yok terperanjat. Yen Lieh mengangguk. Dengan berbareng menyahuti semua serdadu itu mundur teratur. dibawa pulang ke negeri Kim itu. Mereka semua bertubuh besar dan kekar.‖ dia menyahuti. Peragamannya rapi. bagimana dua kaisar Tionggoan telah ditawan. setelah ia menikah dengan Yo Tiat Sim. semua menunjuki wajah sangat girang. ―Bagaimana kau lihat semua orangku dibandingkan dengan tentara Song?‖ ia tanya. Ia lantas saja mengerutka kening. putra keenam dari Raja Kim. Pangeran Tio Ong adalah aku yang rendah…. Tentu saja oleh karena ini ia menjadi tidak dapat membuka mulutnya. namaku mesti ditambah satu huruf ―Wan‖ di atasnya. Ia baharu mau menyahuti. panjang dan puas sekali. Yen Lieh kembali tertawa.‖ ia menyahut sambil tertawa. Ia hanya heran menyaksikan rombongan serdadu itu. adalah putranya raja Kim itu. aku sendiri bakal mengepalai angkatan perang untuk mengambilnya dan dia tak usah capekkan hati lagi mengurusnya!‖ ―Apa katanya Han Sinsiang?‖ Sek Yok tanya. Sek Yok sebaliknya terkejut.‖ sahut putra raja Kim itu. riang gembira. karenanya pada tahun baru yang baru lalu telah aku mohon Ayahanda raja mengirim aku ke Lim-an sebagai utusan yang datang untuk memberi selamat tahun Baru kepada kaisar Song. dia janji saban tahu mengirim upeti uang dan cita. ―Ke Utara?‖ dia bertanya. hampir berbareng mereka menyerukan: ―Ongya!‖ Dan lantas semuanya memberi hormat sambil berlutut. ―Akhir-akhirnya kamu dapat cari aku!‖ kata Yen Lieh sambil tertawa Sek Yok dengar orang dipanggil ―ong-ya‖ – ―sri paduka‖. Di samping itu kebetulan kaisar Song belum membayar upeti tahunannya yang berjumlah beberapa puluh laksa tail perak. Pernah dahulu ia dengar ayahnya bercerita bagaimana bangsa Kim telah menggilas-gilas wilayah Tionggoan. kau…‖ katanya Sek Yok dengan suara yang gemetar. Wanyen Lieh lihat air muka orang berubah. Sekarang diluar tahunya. Ia lantas berkata. bahwa rakyat di utara telah diperlakukan dengan kejam oleh bangsa Kim itu. ―Tidak ada halangannya untuk aku menyebeutkan namanya. Mereka beda daripada tentera Tionggoan. ―Sebenarnya aku yang rendah ini adalah Wanyen Lieh. ―Apakah mereka bukannya tentara Song?‖ si nyonya membaliki. ―Bicara terus terang nyonya. Kemudian. ―Sekarang baiklah aku omong terang padamu!‖ katanya. tapi di luar hotel terdengar tindakan dari beberapa puluh kuda yang terhenti tepat di muka hotel. Irawan D Soedradjat Page 29 .

maka dengan itu Wanyen Lieh dapat lihat tegas muka orang. tegap tubuhnya dan pesat gerakkannya. kapan ia saksikan penunggangnya. Kuda itu kaget.‖ pikirnya. tetapi sekarang tanpa merasa ia berseru. Itulah satu muka yang merah seperti ampas arak. diperhatikan demikian macam. ―Menagih upeti ada urusan yang remeh. sesudah itu. ia dapat bergerak merdeka. karena ingin aku menyaksikan kepermaian wilayah selatan ini. Penunggang kuda itu adalah seorang yang tubuhnya kate dan terokmok dan romannya jelek. ia hanya heran sekali. supaya dapat ia tinggal tetap di Kanglam…. Nyonya! Kau jangan takut. tubuh si kate turun pula. Kapan ia ingat suaminya. lehernya pun seperti tidak ada. maka itu diam-diam ia mengaguminya. karena hotel itu telah dijaga rapat. Kuda itu tidak pernah menerjang barang atau menyentil orang. yangmuncul mengkeret di atasan pundaknya. cukup dengan utus satu menteri. tidak nanti orang jahat yang berani ganggu padamu!‖ Mendengar itu Sek Yok mau menduga bahwa ia telah diancam dengan samar-samar bahwa tak dapat ia melarikan diri apabila ia memikir demikian. ―Bagus!‖ Si kate terokmok dengar orang memuji dia. Wanyen Lieh memuji akan tetapi. aku bertemu dengan Nyonya. dan pinggiran jalanan pun ditempati pedagang-pedagang gelar dan pikulan. matanya memandangi sekitarnya hingga mendadak ia dengar larinya kuda derap. kapan ia mengepalai angkatan perang mendatangi wilayah ini. yang kelihatan cuma kepalanya yang gede. Tepat di itu saat. ―Kuda itu jempol. sekarang hendak aku pergi beli pakaian. maka adalah diluar dugaanku. kate terokmok angkat lesnya. nampak beda juga. ia mirip setumpuk daging belaka. bercokol lagi di bebokong kuda seperti tadi.‖ kata Wanyen Lieh kemudian. jikalau aku pakai itu untuk membeli pakaian. tak habis kau pakai itu selama seribu tahun. Hampir di itu waktu. seperti kelit sana dan kelit sini. numprah dengan aman! Wanyen Lieh kagum hingga ia menjublak. ia lantas mendekam di pembaringannya dan menangis sedih sekali. Menampak kuda itu. Lihay luar biasa si cebol itu. orang-orang yang berlalu lintas kebetulan banyak. Dengan membekal uang. aneh juga cara kudanya berlari-lari. baik aku beli denagn harga istimewa. Sebentar saja kuda itu telah tiba. Itulah seekor kuda kuning yang tinggi dan besar. kuda mana terus lompat melewati atas kepalanya dua bocah itu. pangeran wilayah selatan ini. Wanyen Lieh pergi ke kota di bagaian yang ramai. walaupun kuli. Wanyen Lieh merasa ia adalah satu ahli penunggang kuda. di negaranya sendiri – negera Kim tidak ada penunggang kuda sepandai dia walaupun ia ada punya banyak ahli penunggang kuda. Itulah perlakuan istimewa. dengan hitung besar dan bulat seperti buah prim merah ditempel di muka.‖ kata Sek Yok tunduk. Dengan perasaan puas. Sekarang ia insyaf bahwa manusai tidak dapat di lihat dari romannya saja.‖ berkata pula Wanyen Lieh. Jalan besar di situ tidak lebar. dia berpaling.‖ Pauw Sek Yok tetap bungkam. terang itu adalah kuda asal luar tapal batas. uang dan cita sudah diseberangkan sungai. Sudah ia pendek tangan dan pendek kaki. Ia lantas memikir untuk nanti. apa maksudnya putra raja Kim itu yang ia seorang wanita dari rakyat jelata. ia jadi tertawa sendirinya. ―Uang pribadi Han Sinsiang sendiri yang dibekali padaku. ia akan mohon ayahnya angkat ia menjadi Gouw Ong. ―Tidak usah. Hahaha!!‖ Sek Yok berdiam. Ia lantas menyingkir ke pinggiran. kakinya bergerak. yang sangat mencintainya. orang bangsawan ini bertindak dengan perlahan-lahan. atau melompati pukulan pedagang-pedagang. di empat penjuru sini telah berjaga-jaga pasukan pribadiku. ―Aku tetapi datang sendiri. tubuhnya pun terangkat dari bebokong kuda. Ia lihat penduduk kota ada halus gerak-geriknya. dengan bercokol di atas kuda yang tinggi besar. Putra raja Kim itu tertawa ketika ia berkata pula.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apa lagi dia bisa bilang? Belum lagi aku meninggalkan Lim-an. Di sebelah keanehan si penunggang kuda. sungguh aku sangat beruntung. Irawan D Soedradjat Page 30 . Alisnya kuncup. di jalan itu muncul dua bocah berlari-lari main kejar-kejaran melintas di depan kuda. ―Nah. kenapa ada orang yang larikan kudanya di situ.

―Pemerintah di selatan ini justru buruk. yang satu sayuran saja. mulutnya dikasih masuk ke dalam guci. di samping aman ada pula empat huruf kecil bunyinya: ―Tong Po Kie-su‖. yang hurufnya kekar dan bagus. dan teliti sepak terjangnya. ia saksikan seekor kuda tunggangan diberikan arak itu! Si kate tinggalkan kudanya minum. ia kembali ke restoran.‖ dia negelamun terlebih jauh. berapa besar faedahnya apabila ia berhasil membeli kuda istimewa itu. ia lemparkan sepotong uang ke atas meja kuasa restoran itu. hingga ia tahu baik sekali tempat-tempat dimana ia dapat pernahkan tentaranya atau dimana dia dapat seberangi sungai. yang tak ada lawannya yang lainnya untuk teman arak! Tentang emas ini.‖ pikir Wanyen Lieh. yang aliasnya Thay-pek dan julukannya Cui Sian. sayang kalau orang pandai ini tak dapat digunai olehku. tidak nanti guci arak dapat ditebas kutung dengan tangan. aku minta sudi apakah kiranya samya simpan dahulu. untuk jadi guru. atau sebuah restoran. yang istimewa tinggidan besarnya. Riasannya ciulauw pun ada istimewa. sebaliknya lebar tubuhnya ada tiga kaki penuh. mulutnya dibuka untuk perdengarkan ringkikkan. itu penyair yang terkenal. Malah ia lantas lari untuk menyusul penunggang kuda itu. untuk sedot arak itu berulang-ulang! Dalam keheranan. mendadak kuda orang itu berhenti berlari.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau dia bisa diundang ke kota rajaku. ia berberang sudah perhatikan keletakan daerah. ia pun lantas berdiri di pinggiran. ibukotanya. arak simpanan tiga atau empat puluh tahun. di situ ia letak guci araknya. biasanya kuda itu mesti berlari-kari perlahan dahulu. ―Yang delapan meja makanan dengan daging. Tanpa Iweekang. Berdiri di tanah si kate nampaknya semakin tak mengasih. tak hendak ia sering-sering meminumnya. Maka inginWanyen Lieh menyaksikan orang punya sepak terjang lebih jauh. sedangnya ia berniat mengoaki si kate itu. Tak biasanya kuda larat dapat berhenti secara demikian tiba-tiba. Di depan ia adalah kudanya. Si kate tidak lompat naik ke atas kudanya. ia telah memasuki sebuah restoran di pinggiran mana kudanya dihentikan secara istimewa itu. dengan tidak pecah seluruhnya. Dengan mendatangi Kanglam. atau tenaga dalam yang sempurna. Dia pun melamun. Jadi itu ada ciulauw yang pakai nama Souw Tong Po. untuk berdongak. Karenanya ia lantas ambil ketetapan untuk undang kate terokmok itu. bukankah pasukan kudaku bakal menjagoi di kolong langit ini?‖ dia berpikir. akan tetapi di sini. Jadi itu sebuah ciulauw. Ia sangat menyayangi arak jempolan itu. kuda kuning itu angkat naik kaki depannya. maka dilain saat sudah terdengar tindakannya yang cepat di undakan tangga loteng. ia mengenal ilmu tenaga dalam yang lihay. Ia kenali arak itu adalah arak Siauwhin yang kesohor. sambil kasih dengar bentakan. ia babat guci sebatas pundaknya guci itu hingga tempat arak itu menjadi terbuka bagaikan jambangan. setelah turunkan kedua kakinya ia terus tunduki kepalanya. Malah ia ingat juga namanamanya setiap pembesar setiap tempat serta kepandaiannya setiap pembesar itu. Mengenai nperhitungannya nanti perlahan-lahan kita mengurusnya…‖ Irawan D Soedradjat Page 31 . si kate terokmok sudah lompat turun dari kudanya dengan cepat luar biasa. Kembali ia menjadi heran. Dengan berdiri berdekatan. ―Kebetulan hari ini kami dapat empat ekor ikan saylouw. habis mana dengan sebelah tangannya. Putra raja Kim ini ingin menontoni kelakuan. Selagi Wanyen Lieh terheran-heran.‖ ―Baik. ―Lekas kamu sajikan sembilan meja barang hidangan kelas satu!‖ kata si kate. hanya ia berdiri di depan binatang tunggangannya itu. Memang putra raja Kim ini adalah seorang denagn cita-cita luhur. Selagi ia khawatir nanti tak dapat menyandak. Pernah selama di Yankhia. Di atas loteng ada lagi sebuah papan merek dengan tiga huruf ―Cui Sian Lauw‖. Han Samya!‖ berkata si kuasa ciulauw sambil tertawa. Begitu lekas guci telah terbuka. ayahnya dikirimkan arak serupa oleh utusan kaisar Song dan oleh ayahnya ia dibagi beberapa guci. Wanyen Lieh segera dapat mencium baunya arak yang melulahkan terbawa angin. Putra raja Kim itu angkat kepalanya. Ia percaya ia dapat melakukan itu hanya tidak sedemikian sempurna. Tadinya Wanyen Lieh ingin memasuki ciulauw itu atau segera ia tampak si kate sudah keluar pula sambil tangannya membawa satu guci arak yang terus dibawa ke depan kudanya. ―Ah. si kate tidak cukup tinggi untuk kepalanya menyundul sanggurdi. maka matanya lantas melihat sepotong papan merek dengan bunyi empat huruf ―Tay Pek Ie Hong‖. Nyata itu adalah sepotong emas yang berkilau kuning. Tingginya tak ada tiga kaki. Dewa Mabuk.

―Jikalau jumlahnya banyak. ia berpaling ke dalam dan berseru: ―kawankawan. kepalanya terangkat naik. kenderaan air itu segera mendekati restoran. yang laju pesat sekali. matanya si kate terbelalak. aku tunggu dulu. habis itu ia lompat ke darat. Wanyen Lieh diam-diam perhatikan dua pendatang baru ini. Kouw Cian telah labrak Raja Gouw. Wanyen Lieh lihat di tengah perahu ada berduduk satu orang. Telaga Selatan. ―Si kate ini berpakaian tidak karuan tetapi ia sangat royal. Di sini ada sinar matahari yang menyoroti pengayuh itu. ―Menenggak arak tanpa uangnya ? Apakah kau sangka Han Samya kamu ini tukang anglap?‖ Kuasa ciulauw itu tertawa haha-hihi. Wanyen Liaeh memandangi keindahan telaga. Di situ pun kedapatan banyak pohon lengkak yang daunnya hijau-hijau. Si cebol sudah lantas duduk minum arak di sebuah meja. Dia masuki pengayuh ke dalam air. sama kesohornya dengan araknya. tengah remajanya. hendak aku saksikan orang-orang macam bagaimana yang ia undang berjamu. kepada si kate terokmok. Sambil hirup araknya perlahan-lahan. ―Shako!‖ memanggil si nona tukang perahu setibanya di atas loteng. Perahu itu kecil tatapi panjang. tanpa layani si cebol itu. Si wanita tampak perahunya dipelatok di samping tangga batu di bawah loteng restiran. atau lengkak yang tidak ada ―tanduknya‖ yang rasanya empuk dan manis. nampaknya ia mengayuh denagn perlahan. sebagaimana kawannya juga duduk dikursi lainnya. ―Apa?!‖ serunya aneh. Kee-hin dipanggil Cui Lie atau Lie Mabuk. Setelah perahu kecil itu datang semakin mendekat. Itulah kulitnya Irawan D Soedradjat Page 32 . tak ada bandingannya untuk Kanglam.? Ia memikir tetapi tidak dapat jawabannya. Disini dahulu Raja Wat. lekas sajikan arak dan makanan untuk Han Samya!‖ Seruan itu sudah lantas sapat sambutan berulang-ulang. Mungkinkah ia ada okpa di kota Kee-hin ini? Kalau benar. Kali ini ia tampak sebuah perahu nelayan yang kecil. Itu waktu tengah telaga nampak kabut tipis. Ia minta satu poci arak serta barang makanan sekedarnya. Tiba-tiba ia dengar suara beradunya sumpit da cawan-cawan arak. Di jaman dahulu. citmoay. Dia beramta besar. Restoran Cui Sian Lauw ini letaknya di pinggir Lam Ouw. Dengan begitu ia pun menantikan tetamu-tetamunya si cebol. Kembali Wanyen Lieh memandang ke telaga. ―Dan di sini orang sangat menghormatinya. ia dapatkan beberapa jongos mulai mengatur sembilan buah meja. Telaga itu pun ada mengeluarkan hasil yang kesohor yaitu bu-kak-leng. panjang bulu matanya. tentu sulit rasanya untuk undang ia menjadi guru…Baiklah. yang duduk di belakang ada seseoarng yang memakai baju rumput. ―Kalau yang datang cuma sembilan orang. Wanyen Lieh menjadi heran sekali. sedang yang mengayuh yang berbareng menjadi pengemudi. ―Sietee. lompat mendarat juga setelah ia samber sepotong kayu pikulan yang kasar. Seorang wanita bertenaga demikian besar inilah aneh: maka aneh juga pengayuhnya itu yang dapat dipakai mengower air demikian kuat. Si wanita berusia tujuh atau delapanbelas tahun.‖ pikirnya. Dia pun lantas sambil sebuah meja. sampai sejenak saja perahu itu dapat melewati sebuah perahu kecil yang terpisah jauh darinya. minumnya ayal-ayalan. Lega hati untuk memandang permukaan telaga itu. apabila ia menoleh.‖ Karena ini ia hampiri ciulauw itu untuk naik ke loteng dimana ia pilih satu meja di pinggir jendela. tubuh perahu seperti melompat di atasan air. Hap Lu. Kee-hin adalah sebuah kota negara Wat. di muka air ada beberapa buah perahu kecil lagi mundar-mandir. Keduanya terus mendaki tangga loteng. Hanya herannya untuk setiap meja ditaruhkan Cuma sepasang sumpit dan satu cawan arak. buah lie keluaran sini kesohor manis. lalu tertampak suatu cahaya berkilau mengkeredep. mengapa Cuma disediakan sembilan cawan saja? Apa mungkin ini ada adat kebiasaan di selatan ini…. Segera ternyata ia adalah seorang wanita. Di pinggiran perahu berdiri dua baris burung-burung air peranti menangkap ikan. akan tetapi perahu itu lahu melesat. Mulanya ia tidak menaruh perhatian. kamu datang siang-siang?‖ kata si cebol. kulitnya putih bagaikan salju. untuk apa meja sembilan ini?‖ ia menerka-nerka. Itu pun sebabnya di dalam telaga tumbuh banyak pohon lengkak itu. Di jaman Cun Ciu.Pendekar Pemanah Rajawali Mendengar itu. Tenaga mengayuh itu mungkin ada tenaga dari dua ratus kati. Nyata pengayuh itu terbuat dari kuningan. Lagi beberapa gayuan. Orang yang menumpang perahu itu satu pria.

dibahasakan saudara?‖ Tengah si putra raja Kim berpikir demikian. rupanya peranti menjaga pikulan tidak merosot terlepas. ―Bagian anggotanya yang mana yang kena didupak kuda?‖ dia tanya. tampak dua orang tengah mengoser sambil merintih. ia mirip satu pembantai atau penyembelih hewan. ―Mereka datang ke Kee-hin untuk mencuri. Si cebol tertawa. Kedua pencuri kuda itu mencoba merayap bangun. tubuh itu meminyak.. tertampak pula dadanya berbulu gompiok. Maka teranglah ia seorang buta. Di pinggangnya orang itupun ada terselip sebuah kampak pendek. kenapa kedua orang ini yang mirip orang-orang kalangan rendah. Sungguh celaka. Di tikungan jalan besar terlihat munculnya satu orang pengkor yang pakaiannya rombeng dan tangan kirinya memegang sepotong tongkat besi dengan apa dia saban-saban memukul batu-batu yang menggelari jalan besar itu. sedang sepatunya ada cauw-ee. karena bajunya tidak dikancing. Sekarang ia lirik si pria yang membawa-bawa kayu pikulan. kata dia pada dua orang yang bercelaka itu: ―Kamu bangsat-bangsat luar kota. yang ujungnya dibanduli seekor macan tutul. liokko. ini namanya benturkan kepala dato…! Hayo lekas naik ke loteng untuk minta ampun!‖ Di bawah loteng itu ada lagi orang-orang yang berbicara. dipundak kanannya ia ada menggendol semacam senjata peranti memburu.! Sedang seorang yang lain bilang. ialah pesawat timbangan. Sudah begitu. yang jalan di depan berdedakan tinggi dan kekar. ialah tingtong-tingtong seperti besi mengadu dengan batu hinga orang pada memandang ke jurusan dari mana suara itu datang. ―Tiga orang yang pertama adalah orang-orang yang mungkin berkepandaian tinggi. mirip orang desa tulen. dia pun bercacat di atas. sama denagn kampak biasa. di bawah loteng terdengar ringkikan kuda yang disusul sama jeritan kesakitan hebat dari dua orang. pasti pikulan itu bukan terbuat dari besi entah dari bahan apa. pinggangnya dilibat tali rumput. Ia mencekal pengayuh kuningannya dengan tangan kanan dan menenteng baju rumputnya dengan tangan kiri. makan sendiri hasilnya!‖ dia bilang. ―Heran!‖ kata Wanyen Lieh dalam hati kecilnya. di tangga loteng sudah terdengar lagi tindakan kaki berisik dua orang lagi. Pengurus dari Cui Sian lauw tertawa. Wanyen Lieh segera melongok ke bawah loteng. pun terlihat lengannya berbulu hitam seperti dadanya itu. romannya jujur polos. kenapa kamu tidak dengar-dengar dulu namanya Han Samya? Bagus. Baharu dua orang itu duduk. Irawan D Soedradjat Page 33 . bentrok sama meja itu. Meja itu menggeser sedikit. dua jentilan kakinya cukup untuk dua pencuri ini. kepalanya ditutup kopiah kecil. baju dan celananya berbahan kain kasar. ―Shako. kembali ada orang hendak curi kuda twie-hong-ma‘mu!‖ katanya. yang sudah sedikit gompal. Dia pun mempunyai rambut yang hitam mengkilap. Segare suara mereka itu bercampuran sama satu suara baru. hingga ia mirip seorang pedagang kecil. yang warnanya hitam mengkilap. tubuhnya terlibat semacam kain. Ia bertangan kasar dan kaki gede. hingga ia awasi pikulan itu. dia toh menggairahkan dengan sifatnya sendiri. ―Belum pernah aku dengar orang picak lagi pengkor pandai berburu binatang hutan. kedua ujungnya muncul sedikit. ngoko. Ketika dia sanderkan pikulannya di samping meja. ―Bagus. serta sebuah keranjang bambu. Ia mendatangi dengan tindakan dangklak-dingkluk. Wanyen Lieh menjadi bertambah-tambah heran. Karena ia menggulung tangan bajunya tinggi-tinggi.mulut mereka masih berkoak-koak beraduh-aduh. kamu datang berbareng!‖ menyambut si nona nelayan. suaranya parau.Pendekar Pemanah Rajawali orang Kanglam sejati. yang dari romannya dari kepala sampai di kaki. hingga ia mesti gunai tongkat besinya untuk mencari jalanan untuk sekalian menunjang diri. sungguh mereka sudah bosan hidup!‖ ―Rupanya mereka hendak mencuri kuda lalu kena kuda jentil‖ pikir Wanyen Lieh. Karena beratnya itu.‖ berpikir putra raja Kim itu. Si pengkor merangkap buta ini rupanya telah dengar pembicaraan orang banyak itu. Dari dua orang ini. satu antaranya mengatakan: ―Kuda Han Samya lihay melebihkan manusia. Mereka ini ambil masing-masing sebuah meja. Si pedagang kecil lantas saja tertawa. selagi bercacat di bawah. Melihat potongannya. usianya kurang lebih tiga puluh tahun. terdengarlah suara beberapa kali. malah ia dapat membinasakan seekor harimau…‖ pikirnya. kulit mukanya putih. ―Walaupun dia tidak dapat melawan kecantikannya Pauw-sieku. ―Itu namanya berbuat sendiri. Sendirinya Wanyen Lieh terperanjat. Cuma ditangannya kurang sebatang golok lancip. tangannya mencekal dacin. Orang yang berjalan di belakangnya berpotongan sedang. sepatu rumput.

si buta lemparkan macan tutulnya ke lantai. Si buta pindahkan tongkatnya ke tangan kanan. Pencuri itu kegelian. kau suguhkan itu tuan untuk dia mencicipi rasanya…‖ ―Ya…ya…‖ sahut si jongos itu. yang tengah duduk lantas bangkit bangun. dengan tangan kirinya ia usapi dadanya pencuri itu. Hampir berbareng denagn itu. kau mohon toaya ini tolong obati padamu…‖ Dengan meringis-ringis. ―Toako!‖ mereka berseru. cepat kau urus macan ini!‖ ia perintahkan. aku mohon diberi maaf. dengan suara susah. berdiri di samping kursi. ―Jongos. di mana ia duduk di kursi yang ditepuk-tepuk oleh si nona nelayan. ―Sungguh hari ini aku sangat beruntung!‖ kata Wanyen Lieh dalam hatinya. Lalu si nelayan wanita bertindak ke meja nomor satu di sebelah timur. Tapi si buta menunjuk kepada Wanyen Lieh seraya ia berkata pada si jongos: ―Kau mesti potongi dagingnya barang dua kati. lalu bersama dua kawannya. lalu mendadak ia kitik ketiak orang. ia hanya bertindak memasuki restoran itu. ia tepuk-tepuk kursi itu seraya berkata: ―Toako. si buta bertindak ke mejanya. mengertilah Wanyen Lieh bahwa si buta benar-benar tak dapat melihat. lenyap rasa sakit di dadanya itu. Sembari berbicara. ―Hm!‖ si buta pendengarkan suaranya. tapi ia pandai berpikir.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tekukan dengkul kiri.‖ Si buta tidak menggubris pencuri itu.‖ katanya. ―Aku bodoh. lantas ia muntah beberapa kali. terus mendaki tangga loteng. ―Kenapa ia dapat melihat aku? Apakah dia bukan buta benarbenar?‖ dia berakta di dalam hatinya. sekarang denagn tiba-tiba sakitnya itu lenyap. ―Apakah jietee masih belum sampai?‖ ―Jieko sudah tiba di Kee-hin. ―Toaya binatang itu dupak dadaku…‖ katanya. Irawan D Soedradjat Page 34 . ―Diluar dugaanku. Ketika itu semua orang yang telah datang terlebih dahulu. kau juga hendak main gila sama aku!‖ Dan ia memburu sambil ulur tangannya untuk meninju.‖ Segera ia berpaling kepada kawannya dan berkata: ―Saudara mari lekas. sekarang sudah waktunya ia sampai disini‖ sahut orang yang potongannya seperti pembantai itu. ia mencoba menahan karena mana ia jadi tertawa cekikikan. Tuan orang pandai. hingga dia ini berteriak kesakitan. di sini kursimu!‖ ―Baik!‖ menyahuti si buta itu.‖ sahut salah satu pencuri kuda itu. Wanyen Lieh sendiri menjadi sangat terkejut. Tiba-tiba ia merasa enak perutnya. ―Tulang-tulangnya kau godok menjadi kuwah yang kental! Hati-hati supaya kulitnya tidak sampai kena terpotong rusak!‖ Satu jongos menyahuti. ―Terima kasih. lalu lantas ia memberi hormat samil menjura. Kalau tadi ini pencuri sakit kakinya sampai tak dapat digeraki. dia menjadi pentang mulutnya lebar-lebar. Menyaksikan perbuatan si nona. mulutnya pun mengecoh: ―Oh yaya yang sakti. mana dia berkelit tetapi sudah kasep. mengeluarkan ludah lender. ia gotong pergi macan tutul itu. sungguh…. ―Hei pengemis bangsat. Maka lekas-lekas ia jatuhkan diri untuk berkutut untuk manggut-manggut hingga jidatnya berbunyi mengenai batu. Karena kesakitan. aku dapat menemui orang-orang berilmu…‖ Sampai di atas loteng. Rupanya ia membutuhkan suara apa-apa untuk ketahui ke mana ia mesti pergi. maka tangannya yang telah diangkat tinggi segera dikasih turun pula. berbareng dengan mana dengan tiba-tiba ia totok pinggangnya si pencuri. pencuri itu bertindak denagn susah payah mendekati si buta dan pengkor itu. untuk kekasaranku barusan. maka setelah datang dekat si buta ia jadi berdiri menjublak.

maka kamu dahar dan minumlah dengan puas!‖ Si mahasiswa menoleh kepada Wanyen Lieh. ia bertanya pula: ―Mana si wanita baik-baik yang kau perdayakan?‖ Wanyen Lieh sudah putuskan untuk tidak menimbulkan kerewelan. dan jarak mereka jauh pula. hari ini kau beruntung!‖ serunya.. Hanya tepat ia hendak bertindak. ―Dan kau bawa dulu kepada kuasamu. bentrok dengan mereka tiada untungnya. ―Jiko. guna hampiri si buta. setelah mana ia menegur semua orang yang telah hadir di situ. dari itu masih lebih dua meja yang masih kosong. Si buta tidak awas matanya akan tetapi kupingnya jeli luar biasa. lalu menggoyang-goyang pula kepalanya. akan tetapi sembari tertawa. ―Oh.‖ Si nona nelayan tertawa bergelak melihat uang sebanyak itu. ―Tidak tahu siapa yang apes malang…. maka ia lantas berbalik dan memandang. ―Baiklah aku lihat gelagat dulu…‖ Maka ia berdiam terus. si mahasiswa itu mengawasi ke arahnya. ―Dia cuma tepuk pundakku dengan kipasnya. saudara yang kedua. mukanya bertekukan menggoda.‖ Wanyen Lieh berpikir. aku tahu!‖ sahut si nona. mengapa ia bisa curi uangku?‖ demikian ia berpikir tak habis herannya. ―Kembali mengenai negeri Kim.‖ Si mahasiswa melarat itu pun tertawa. sebab berbareng dengan itu. ialah kepalanya satu mahasiswa melarat. guna hanturkan terima kasihnya. ia dapat mendengarnya. baharu berhentilah ia merogoh sakunya. Meluap hawa amarahnya Wanyen Lieh akan melihat uang perak itu yang ia kenali adalah kepunyaannya yang hilang lenyap itu. tidak peduli orang berbisik. untuk daging yang dibagikan kepadanya – yang mana ada alasan bagus sekali untuk berkenalan – tiba-tiba ia dengar tindakan kaki yang bersepatu kulit di undakan tangga loteng. aku ada punya semacam tabiat buruk yang kau telah ketahui!‖ katanya. sekarang baharu datang tujuh orang. Wanyen Lieh heran bukan kepalang. Hatinya lantas menjadi panas. Lantas dia gapekan pelayan untuk bisiki padanya: ―Semua tuan-tuan ini akulah yang undang berjamu…‖ Dia pun lantas keluarkan dua potong emas. Dia benar-benar yang dimaksudkan si jietee atau jieko. ―Citmoay. ―Sungguh kepandaian yang lihay……. ―Uang orang bangsa asing ada sedikit berbau tetapi uang itu masih dapat digunai!‖ katanya. matanya menyapu. habis itu menyusul munculnnya satu kepala orang yang digoyang-goyang. Mengadu Kepandaian Sembari bernyanyi si mahasiswa melarat ini meragoh sakunya. Ia pun segera berbangkit dari kursinya. lepaskan dia…. Walaupun demikian hatinya tetapi berkerja. yang ia letaki di atas meja. Tindakan itu ada seperti separuh diseret. ia heran tidak kepalang. cara bagaimana ia masih mengenali aku?‖ dia tanya dirinya sendiri. jeriji-jeriji tangannya tentu ada menjepit potongan-potongan uang perak sampai jumlahnya semua belasan potong. ―Saudarasaudara ada orang yang mentraktir kita. dan setiap kali ia menarik keluar tangannya. Mendengar itu semua kawannya itu tertawa terbahak-bahak. Di situ ada sembilan buah meja. akan tetapi ia mencoba sebisa-bisanya untuk mengatasi dirinya.Pendekar Pemanah Rajawali Segera putra raja Kim itu ambil keputusannya untuk ikat perkenalan dan persahabatan dengan orang-orang kangkouw yang aneh ini. ―Semua mereka lihay. ―Aku menyamar sebagai orang Han. berulang-ulang. Siapa lagi dua tetamu itu? Bukankah tujuh orang yang bakal jadi tuan rumah? Irawan D Soedradjat Page 35 . bukankah?‖ Mahasiswa itu mengipasi uang di depannya dengan tak hentinya. untuk dititipkan!‖ katanya pula. Si mahasiswa sudah lantas tenggak araknya.Thian yang maha kuasa…umbar adatnya!‖ Bab 4. dan Wanyen Lieh segera kenali orang yang tadi ia ketemui di waktu lenyap uangnya. ia berpura-pura tidak mendengar pertanyaan itu. ―Mungkin dia inilah yang curi uangku…‖ ia menerka-nerka. bibirnya tersungging senyum. Justru begitu. mirip sekali. lalu ia mengangguk-angguk.. Yang pertama muncul di mulut tangga loteng adalah sehelai kipas kertas minyak yang gagangnya dekil. kipas itu dikipaskan beberapa kali. maka dengan itu lantas ia serukan kepada sudara-saudaranya. ia lantas berpaling ke lain jurusan. dari mulutnya keluar suara yang bersenandung: ―Uang tidak halal…. Ia menjadi heran pula.

lekas cegah dia. Kepala dari Cip-eng-thian dan pengurus Ciong-yu-koan. karena keserakahannya sudah terima sogokan besar dan berjanji suka bekerja sama. satu imam yang tangannya menyangga sebuah jambangan perunggu yang besar sekali. tidak dapat ia mengandal saja kepada pihak Song. kepalanya hilang berikut hati dan jantungnya. Sebenarnya menteri ini tidak berkuasa atas pemerintahan. merendahkan diri. Ong To Kian. Hanya kemudian ia menjadi sangat kaget akan mendapatkan Ong To Kian mati terbunuh secara gelap. Tak tahu ia apa faedahnya puntung kayu itu. Yang pertama ia ingin singkirkan adalah Sien Kee Ci. utusannya ini telah rela akan menakluk dan menjadi hambanya kerajaan Kim. Girang sekali ini putra raja Kim menampak ikhtiarnya telah berjalan baik sekali. kalau mendapat tahu siapa yang menitahkan dia melakukan pembunuhan yang hebat itu. yang ujungnya telah hitam bekas terbakar. baharu arak saja yang dikeluarkan. Dan menteri yang bekerjasama dengan Wanyen Lieh adalah Perdana Menteri Han To Cu.‖ berkata si buta. ―Nah. Tentang orang itu. meskipun dia tidak musuhkan kau. adalah Wanyen Lieh menghendaki menawan terlebih dulu pembunuhnya Ong To Kian. sedang rakyat umumnya mengandal padanya. guna mengompes dia. di tangga loteng telah terdengar suara yang sangat berat dan nyaring.‖ Pendeta itu ialah Ciauw Bok Taysu. kita bersaudara pasti tak mau sudah saja…‖ Belum lagi habis suaranya si buta ini. Wanyen Lieh tahu. tak dapat siauwceng membalasnya. tanpa sebab tanpa alasan. barang hidangan masih belum disajikan. maka itu siauwceng bersyukur yang liat-wie telah sudi membantu. Bagaikan orang yang matanya kabur. dia mencari gara-gara terhadap taysu. dia sangat mengharap dapat membangun pula kerjaan Song hingga menjadi jaya seperti semula. untuk menjaga diri turun tangan terlebih dahulu. tetapi yang tindakannya cepat pesat seperti ia tidak menginjak lantai. Dia pun bercita-cita besar sekali. Wanyen Lieh segera melihat munculnya satu tojin.Pendekar Pemanah Rajawali Sampai itu waktu. jangan kasih dia naik!‖ Suara berat itu tapinya terdengar terus. siauwceng merasa bahwa siauwceng bukanlah tandingannya. yang baharu suaranya terdengar. Oleh karena ini. ―Kami tujuh bersaudara pun berterima kasih kepadamu yang biasa melimpahkan kebaikan terhadap kami. Si hweshio menjura. ia dengar datangnya suara memuji dari bawah loteng: ―Amitabha Buddha!‖ Suara itu sangat jernih dan tedas. ―Harap kau tidak sungkan. maka itu dia sudah lantas berhubungan sama menterinya kerajaan Song untuk dijadikan si menteri serta konco-konconya sebagai alat untuk menyambut dari dalam bila sudah waktunya ia turun tangan. mana dia pandang mata lagi kaum Rimba Persilatan di Kanglam ini? Karena kejumawaannya itu. mungkin itu bukan suara gajah tetapi sedikitnya kerbau…. ingin ia merubuhkan menteri atau panglima yang paling keras kepala hendak melawan negara Kim. akan kemudian disusul sama mengerekeknya dua helai papan undakan lainnya. dia memang sangat aguli kepandaiannya. dia khawatir sekali rahasianya nanti bocor. Tengah putra raja ini berpikir. Kalau Han To Cu anggap paling baik mengirim orang untuk membunuh menteri itu. dan sekarang itu disusul sama munculnya satu tubuh kurus kering bagaikan pohon mampus. walaupun tubuhku hancur lebur. lantai loteng nanti kena bikin dobol…! Lekas. Pendeta itu dan tujuh saudara tersebut saling memberi hormat dan saling menegur. Ia menyebutkan dirinya ―siauwceng‖ si pendeta yang kecil rendah. Wanyen Lieh melihat satu pendeta usia empat puluh lebih. Ciauw Bok Taysu. taysu. yang berkerebong jubah kasee merah dengan lapis dalamnya jubah kuning. Menyusul itu pun lantas terdengar suara kaget dari kuasa ciulauw serta jongosnya: ―Benda begitu berat mana dapat dibawa naik ke atas…! Eh. disusul mana patahnya sehelai papan undakan tangga. dari itu ia Irawan D Soedradjat Page 36 . ia hanya pandai silat dan surat berbareng dan kesetiaannya terhadap negara adalah luar biasa. hingga dengan begitu – rupanya – tak usah dia bertindak lagi di undakan tangga. dia berkata: ― Orang itu telah datang menyatroni. Ciauw Bok Taysu tiba!‖ seru si buta yang terus berbangkit. habis itu si mahasiswa melarat pun pimpin tetamunya ke sebuah meja yang kosong untuk silahkan ia duduk. yang mana dibawa naik ke loteng sambil imam itu berlompat. Budi yang besar ini. Utusan Song yang datang dari Yankhia menemani dia sepanjangn jalan. Han To Cu juga kaget dan ketakutan karenanya. Dan untuk kagetnya putra raja Kim ini. kepada kerajaan Song. perbuatan mana diikuti oleh enam kawannya: Dengan sikap menghormati mereka berdiri untuk menyambut orang yang baharu tiba itu. seperti ada sesuatu yang mendaki. ―Ambithaba Buddha!‖ kembali terdengar pujian. ia kenali si imam adalah Tiang Cun Chu Khu Cie Kee atau Tiang Cun Cinjin! Wanyen Lieh ini mendapat tugas dari ayahnya menjadi utusan bangsa Kim ke Tionggoan. maka tujuh orang itu Cuma tenggak air kata-kata. nyata terdengar hingga ke atas loteng. Dengan perbuatannya itu. sedang tangannya memegang sepotong kayu.

Hanya dilain pihak. dia telah jatuh ke dalam genggaman putra raja Kim itu. hampir ia tak dapat lolos seperti orangorangnya. orang ribut ketakutan dan pada lari keluar. ia terkejut bukan main apabila ia sudah kenali jambangan perunggu yang dibawa-bawa si imam itu. ―Disana ada pesan untukku. ia menyangka pemuda itu bermaksud baik. namanya Coan Kim Hoat. ia lantas tak dapat melupai Pauw-sie. melainkan di tangan si imam. ia perintahkan orang untuk selidiki tentang Pauw-sie itu. Yang keenam adalah orang yang mirip pedagang. sedang beberapa orang yang melihat tak terjadi kecelakaan sesuatu. Si nona nelayan adalah Wat Lie Kiam Han Siauw Eng. Sementara itu. ia minta Han To Cu mengirim orang untuk menawan Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. jongos-jongos dan koki-koki. sedang dibawah loteng. sungguh pinto merasa sangat beruntung! Nayatalah pengharapanku seumur hidup telah kesampaian. yang beratnya tiga atau empat ratus kati. ―Sekarang mari siauwceng perkenalkan dahulu kau dengan Kanglam Cit Koay!‖ Khu Cie Kee menjura membungkuk tubuh. Dengan lantas pinto meikir-mikir. Rombongan ini dapat menyandak Khu Cie Kee di Gu-kee-cun. suka ia mengikuti. Sementara itu. Sudah lama pinto dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay. yang kedua ialah si mahasiswa melarat yang mencuri atau mencopet uangnya adalah Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong. Kwa Tin Ok mendahulukan bertujuh saudaranya untuk berbicara. Itu bukan jambangan biasa hanya tempat pembakaran kertas emas dalam kuil. ―Barusan pinto berkunjung ke kuil taysu. Lega juga hatinya Wanyen Lieh apabila selang sekian lama ia dapatkan itu imam tidak perhatikan padanya. ia belum terlihat nyata. Syukur untuknya Khu Cie Kee tidak kenali padanya. ―Sudah lama kami mendengar Totiang lihay ilmu silatnya. Selain Kwa Tin Ok yang berjuluk Hui Thian Pian-hok. sebab tempo ia diserang dengan panah. sekarang kita dapat bertemu. Demikian Wanyen Lieh. hanya berpaling kepada tujuh kawannya yang ia sebutkan Kanglam Cit Koay itu – Tujuh Manusia aneh dari kanglam – dan menunjuk kepada si imam. ialah yang termuda dari Kanglam Cit Koay. maka di luar tahunya sendiri. si Kelelawar Terbangkan Langit. imam ini seperti tidak menggunai tenaga. Akan tetapi. adalah Ma Ong Sin Han Po Kie atau si Malaikat Raja Kuda. pikirnya orang itu telah tidak kenali dia. sampai ia tak dapat menguasai dirinya lagi.‖ Ciauw Bok Taysu tidak menjawab si imam. baik ilmu silat tangan kosong maupun bersenjatakan pedang. Yang kelima yang tubuhnya kekar tegap mirip sebagai pembantai adalah Siauw Mie To Thio A Seng atau si Buddha Tertawa. sama sekali ia ia tak nampak lelah. Pauw-sie tidak tahu akal muslihat orang. Wanyen Lieh sendiri belum sampai turun tangan atau pundaknya telah terkena panah. Wanyen Lieh memasang kuping dan matanya. ―Benar-benar toheng telah dapat mencari siauwceng hingga ke mari!‖ terdengar suaranya Ciauw Bok Taysu keras tetapi dingin. syukur ia ditolong oleh Pauw Sek Yok. selama ia menyebutkan setiap nama Khu Cie Kee menjura kepada orang-orang yang diperkenalkan itu. Dan ini ialah…. Khu Cie Kee tetap pegangi tempat araknya yang istimewa itu. Dia inilah yang tiga. ini Ciauw Bok Taysu juga adalah satu sahabat Irawan D Soedradjat Page 37 . katanya taysu undang pinto datang ke Cui Sian Lauw ini untuk membuat pertemuan. yang ia anggap cantik dan manis. atau si Ahli Pedang Gadis Wat. imam itu lagi menghadapi Ciauw Bok Taysu serta tujuh orang luar biasa itu. Semua mereka itu khawatir loteng ambruk dan mereka nanti ketimpa. ia telah melihat banyak wanita elok. ia kerjakan otaknya akan mengingat baik-baik nama Kanglam Cit Koay itu. Katanya: ―Kami menonton‖ Habis perkenalan itu.‖ ia berkata . setiap kali si imam bertindak. ia memperkenalkan: ― Ini dia Totiang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee yang tuan-tuang telah lama kagumi nama besarnya!‖ Kemudian tanpa tunggu sesuatu dari Kanglam Cit Koay itu seraya menunjuki si buta melanjuti: ―Inilah tertua dari Cit Koay. tentu lantai loteng perdengarkan suara meletek nyaring. hanya apa lacur mereka menghadapi musuh yang terlalu tangguh untuk mereka. Selama Ciauw Bok Taysu memperkenalkan. dia-diam mendaki loteng untuk bicara. Si orang tani yang membawa-bawa pikulan adalah orang yang keempat. bukan main kagetnya ia akan tengok Khu Cie Kee. Setelah sembuh dari lukanya. Ia lari ke istananya Han To Cu. tanpa merasa ia membuatnya terlepas dan jatuh sepasang sumpit yang ia lagi pegang. mungkin taysu mengundang sahabat-sahabat. dan sekarang. Orang yang datang paling dulu ke restoran yaitu si kate terokmok yang menunggang kuda jempolan. Selagi orang diajar kenal. dia sudah lantas jatuh terguling.‖ Lalu dengan terus-terusan ia perkenalkan enam orang lainnya. Mahasiswa Tangan Lihay. tak terkecuali si kuasa restoran. nampaknya enteng sekali. hingga kami sangat mengaguminya. suatu bukti dari beratnya jambangan itu. untuk sembunyikan diri sambil berobat. ialah Lam San Ciauwcu Lam Hie Jin atau si Tukang Kayu dari Lam San (Gunung Selatan). tidak ada tandingannya. ke jalan besar. ia tidak perhatikan putra raja itu. meskipun sebagai putra raja.Pendekar Pemanah Rajawali tugaskan enam atau tujuh pengawal pribadinya dari Lim-an. yaitu Hui Thian Pian-hok Kwa Tin Ok. buktinya benarlah dugaan pinto itu. yang sekarang diisikan penuh dengan arak. sesudah itu. sedang ia sendiri menyamar sebagi orang baik-baik sebagai penolong nyonya yang ia gilai itu. hingga beratnya bertambah. gelarannya Lauw-sie In Hiap atau Pendekar Sembunyi di Kota. selama mana.

―Dua sahabatku. Khu Cie Kee ulur tangan kanannya. pasti tak dapat dipercaya!‖ Khu Cie Kee menjadi mendongkol. hingga tempat pembakaran kertas perunggu itu yang beratnya ratusan kati terbang menyambar ke kepalanya si pendeta. hingga mereka mesti hidup sengsara sebatang kara. ―Cara bagaimana dia dapat melakukan perbuatan sekeji itu? Totiang. ―Mustahilkah dia bukannya menyebutkan istri-istrinya Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian atau wanita yang lain?‖ berpikir putra raja asing ini. mestinya kau telah keliru dengar omongannya segala manusia rendah! Itu ngaco belo. ―Oleh karena itu asal Taysu sudi menyerahkan dua orang kepada pinto. mereka yang tadinya datang menonton dengan diam-diam pada lari mundur hingga mereka saling tabrak dan terguling jatuh ke tangga loteng. lekas-lekas Thio A Seng kerahkan tenaganya. ―Kanglam Cit Koay bukan bernama kosong saja!‖ ia memuji sambil tertawa. akan aku patah-patahkan hingga menjadi abu semua tulang-tulangmu dan akan bakar musnah hingga menjadi tanah putih kau punya kuil Hoat Hoa Sian Sien itu!‖ Cu Cong tidak lantas dapat mempercayai kata-kata imam itu. pendeta jahanam. ―Kau juga orang Rimba Persilatan yang kenamaan. asal kami ketahui perkaranya itu.‖ sahut si buta. Di dalam saat yang berbahaya itu karena kakinya bisa kejeblos terus. Ia tapinya tertawa sebentar. ―Sekarang ini pinto menghendaki Ciauw Bok taysu menyerahkan itu dua orang wanita yang bersengsara dan harus dikasihani itu!‖ Mendengar itu bukan hanya Kanglam Cit Koay yang heran melainkan juga Wanyen Lieh si putra raja Kim itu. maka walaupun totiang berdua ada dari dua golongan yang berbedaan. menerangkan.‖ ―Jelas!‖ seru si imam. Lihat. Sudikah kau Totiang?‖ ―Sebenarnya pinto dengan Ciauw Bok Taysu tidak kenal satu dengan lain dan kita juga tidak punya dendaman dan tidak punya permusuhan. mereka telah mendapatkan kebinasaannya hingga mereka mesti meninggalkan janda mereka yang tidak ada lagi sanderannya. maka dengan menerbitkan suara kaki kirinya melesak mendam. Oleh karena itu. Kembali ia pandang si pendeta dan membentak dengan pertanyaan: ―Bagaimana denagn dua wanita yang bercelaka itu? Hai. untuk kita minum arak bersama. segera wajahnya menjadi bermuram pula.‖ menyahut Khu Cie Kee. ia lantas lompat ke depannya Ciauw Bok Taysu. jikalau kau ganggu selembar saja rambut mereka itu. dalam hal apakah Taysu telah berbuat salah terhadap Totiang? Umpama kata Totiang sudi memandang muda kami bertujuh saudara. Di antara Kanglam Cit Koay adalah Tio A Seng yang tenaganya paling besar. Lantas ia ayun tangan kanannya. Khu Cie Kee menjadi gusar. dengan tenang ia menyambuti. supaya perselisihan dapat disingkirkan. ―Walaupun mereka adalah orangorang yang tidak dikenal. untuk ayun balik jambangan itu ke arah Tiang Cun Cu. ―Kau…kau…ngaco belo!‖ serunya kemudian. ingin sekali kami menjadi juru pendamai. ―Pinto menyaksikan itu dengan mataku sendiri. Itulah gerakan ―Twie chong bong goat‖ – ―Menolak daun jendela untuk memandangi si putri malam‖. Irawan D Soedradjat Page 38 . tidak beruntung untuk mereka. bagaimana bisa jadi dusta?!‖ dia berkata. untuk mendahului jambangan itu yang terus ia sambuti dengan kedua tangannya sambil berbuat mana ia berseru: ―Bagus!‖ Akan tetapi dia mesti pasang kudakuda teguh sekali. pasti kami akan bekerja sekuat tenaga untuk menolongi mereka. Kwa Tayhiap. satu Hud-kauw yang lain Tokauw. ―Ciauw Bok Taysu adalah satu pendeta beribadat.‖ sahut Tiang Cun Cu.‖ ―Siapakah orang yang harus diserahkan?‖ tanya Kwa Tin OK. Mukanya Ciauw Bok taysu menjadi kuning pucat. pastilah lain hari akan pinto pergi berkunjung ke Hoat Sian Sie untuk menghanturkan maaf. bagaimana kau berani melakukan kejahatan semacam ini?‖ ia menegur dengan bengis. ―Mereka telah difitnah dan dicelakai oleh pembesar negeri yang bekerjasama dengan tentera bangsa Kim. tak dapat ia membuka mulut. sedang lantai loteng tak demikian kuat.‖ katanya sambil tangannya mengipas-ngipas dan kepalanya di geleng-geleng. Semua orang menjadi kaget. percaya ia sanggup menanggapi jambangan itu. Untuk itu kami tak bakal menampik lagi.Pendekar Pemanah Rajawali sejati. pantas atau tidak permintaan pinto ini?‖ ―Jangan kata mereka adalah jandanya sahabat-sahabat totiang. hingga orang-orang di bawah loteng menjadi kaget dan semuanya menjerit. kami tidak tahu. tetap kedua-duanya adalah orang-orang Rimba Persilatan.

Han Samya?‖ imam itu membalik bertanya. ―Kami tidak punya kepandaian sesuatu apa juga akan tetapi untuk Kanglam ini nama kami terkenal juga sedikit. dengan niatan menarik si pengikut Buddha itu. ―Maafkan pinto. telah pastikah itu?‖ ―Tidak salah!‖ sahut Cit Koay serempak. Khu Cie Kee melengak.‖ akhirnya Ciauw Bok Taysu dapat buka mulutnya. ―Apa? Menggeledah kuil?‖ kata Khu Cie Kee dengan tawar. mari pergi!‖ Ia pun ulur sebelah tangannya. ―Pinto sudah menggeledahnya di luar dan di dalam. pendeta. buktinya mereka tidak kedapatan. ―Pinto cari pendeta ini. ―Seorang laki-laki sejati kangouw. satu kali dia bilang tidak. tak senang ia menampak orang mulai gunai kekerasan. Taysu sebaliknya menyangkal. ―Tuan-tuan bertujuh hendak campur tangan urusan ini. Ciauw Bok Taysu. ―Kami percaya habis Ciauw Bok Taysu. Mari kita bersama pergi ke Hoat Hoa Sian Sie. Irawan D Soedradjat Page 39 . ―Kanglam Cit Koay pasti membantu pihak si pendeta. Cu Cong menyahuti: ―Mereka itu ada bangsa dewi. siapa yang salah! Mataku menang tidak dapat melihat akan tetapi orangorang di sini tidak buta semuanya― Cu Cong berenam memberikan persetujuan mereka. ―Apa‖ katanya.Pendekar Pemanah Rajawali Kanglam Cit Koay melengak semuanya. sampai beberapa kali. ―Totiang menuduh Taysu menyembunyikan kedua nyonya itu. itulah sudah pasti!‖ dia berkata. jikalau mereka bukannya menghilang tentunya mereka sudah menyingkir dengan ilmu pinjam tanah!‖ Mendengar ini mau tidak mau. Dengan sikapnya yang wajar. ―Bagus betul yah!‖ katanya dingin. Ma Ong Sin Ho Po Kie bertabiat aseran. mereka bukannya manusia-manusia yang takut mampus. Imam itu menjadi gusur. begitu ia kasih turun lengannya. kau memikir menggunai jumlah yang banyak untuk mendapatkan kemenangan! Tidak. biarlah aku yang bereskan sendiri!‖ katanya kemudian. ―Perkaraku dengan si pendeta. tetapi walaupun pinto melihatnya dengan mataku sendiri kedua nyonya itu masuk ke situ. ―Kau telah undang banyak kawan. semua orang tersenyum.‘ Kamu tidak berani menghina orang lain tetapi kami juga tak dapat mengijinkan orang lain perhina kami!‖ Khu Cie Kee tidak ingin layani tujuh orang aneh dari Kanglam itu. tidak dapat pinto temani kau lebih lama! Eh. inilah sulit. ―Habis bagaimana. ia lolos dari cekalan si pendeta. ―Bagus! Kamu permainkan aku!‖ dia berseru. untuk melihat sendiri guna buktikan siapa sebenarnya yang benar. hari ini tidak nanti aku beri kau lolos!‖ ―Sabar Totiang!‖ Kwa Tin Ok memotong. hingga pinto habis daya! Tidak ada jalan lain daripada si pendeta serahkan mereka itu!‖ ―Jadinya dua wanita itu bukannya manusia!‖ berkata Cu Cong. Ciauw Bok Taysu paham ilmu dalam Hoat Hoa Lam Cong. melakukan perbuatan semacam itu?!‖ Cie Kee tertawa mengejek. bukankah?‖ Kwa Tin Ok jawab imam itu. ―Taruh kata benar kau sengaja datang ke Kanglam ini buat untuk angkat namamu. Mereka ynag kenal kami semua dapat mengatakan sepatah kata: ‗Walaupun Kanglam Cit Koay sedan-edanan lagak lagunya. mana ia dapat bicara dusta?!‖ Cie Kee nampaknya habis sabarnya. pasti tidak!― kata Cit Koay yang ketiga itu. ―Sebenarnya kau hendak gunai aturan atau tidak?‖ dia tegur si imam. ―Kenapa untuk itu kau mesti menodai nama baikku? Kau…kau…kau pergilah ke seluruh kota Kee-hin untuk menyelidiki! Mana bisa aku.

Maka dengangitulah ia menengak arak. kapan jambangan itu tiba Irawan D Soedradjat Page 40 . ―Cara bagaimana dia dapat menyambutnya?‖ ia berpikir. berbareng dengan mana kedua tangannya bergerak untuk memeluk jambangan. yang ia pakai menanggapi dasarnya jambangan itu. Wanyen Lieh heran dan berkhawatir pula. maka kepandaian ini dipakai modal mengemis nasi. imam ini kasih turun tangannya yang memegang jambangan arak itu. Satu kali tongkat itu miring. dengan mulutnya sendiri. sampai terdengar satu suara nyaring. kedua tangannya menolak juga dengan gerakannya. untuk sambut jambangan dengan kedua dadanya itu. berbareng dengan mana jambanganarak itu dilemparkan ke arah si buta. Adalah disaat ini dengan sebat ia tunduk. sesudah mana berbareng dia menolak dengan dadanya. mulutnya dikasih masuk ke dalam jambangan. ―Diwaktu kecil. Kwa Tin Ok sambut itu dengan tongkat besinya. ―Sekarang aku hormati Kwa Toako dengan satu jambangan!‖ ia berkata pula. semikian juga kali nini. Siauwtee melarat. Wanyen Lieh menyaksikam itu dengan kekaguman dan terkejut juga. ia kerahkan tenata dalamnya. ia tetap duduk tetap dan tenang seperti juga ia tidak mengetahuinya. Wanyen Lieh berkhawatir sehingga hampir ia berseru sendirinya. ahli luar yang lihay sekali. ―Tentang seorang gagah tidak ditanya asal usulnya. Maka melesatlah jambangan itu ke arah Khu Cie Kee. ―Sia ciang ie san‖ atau ―Sepasang tangan memindahkan bukit‖.Pendekar Pemanah Rajawali ―Baik!‖ seru si imam. ia tertawa. Tepat ketika jambangan menyambar ke dadanya. menghirup arak di dalamnya! ―Oh. ia dapat dengar suara sambarannya dan tahu tepat arahnya.‖ berkata si imam. Diwaktu jambangan dilemparkan kepadanya. habis minum barulah Tuan-tuan geraki tanganmu!‖ Habis berkata. kedua tangannyaditaruh di depan dadanya. tapi juga keras keinginan tahunya. Meski begitu ia sudah lantas mundur dua tindak. hingga jambangan jadi duduk di ujung tongkat. tiba-tiba ia angkat naik tongkatnya dengan kaget. jambangannya turut miring juga. hanya sekarang ia tidak lagi menunda seperti tadi. Tapi jambangan tetap tinggal miring. Sekalipun senjata rahasia. adalah araknya yang lantas meluncur keluar seperti pancuran. ―Sudah buta ia pun pincang…. menyusul mana tongkat itu diputar. tetapi tempo jambangan itu sampai. Lam San Ciauw-cu si Tukang kayu dari Gunung Selatang ada pendiam tak doyan berbicara. arak yang harum!‖ dia memuji. berbareng dengan mana jambangan itu bertolak balik kepada Khu Cie Kee. pada wajahnya tak tertera rasa girang atau murka. Ia telah menyaksikan suatu gerakan tenaga dalam dari Gwa-kee. Sesudah ini ia geraki pula tongkatnya.‖ Kwa Tin Ok ada tertua Kanglam Cit Koay. sampai belasan cegluk. apapula sebuah jambangan yang besar yang anginnya seperti menderu-deru. Tiang Cun Cu tunjuki jempolnya. Tepat ketika jambangan sampai. duduk sambil berputaran seperti tukang dangsu tengah mengasi pertunjukan. ―Sekarang aku hendak memberi selamat kepada Tuan bertujuh dengan seorang satu cawan arak. dipakai menolak tubuh jambangan. Sembari berbuat begitu. dadanya itu penuh dengan daging yang lembek. ―Sekarang hendak aku menyuguhkan Lam Sieko sejambangan arak!‖ Ia lantas menghirup pula satu segluk. ia pindahkan kedua tangannya ke bawah jambangan untuk dipakai menampa. ia pentang kedua tangannya itu. sikapnya tenang dan wajar. cara bagaimanaaku dapat meminumnya?‖ demikian katanya dalam hati kecilnya.‖ sahut Tin Ok dingin. Khu Cie Kee dengan tenang sambuti pulang jambangannya itu dan ia menghirup pula. Ia bertubuh terokmok. sampai jambangan seperti mumbul. pasti ada punya kepandaian yang istimewa. Hebat kalau jembangan jatuh dan menimpah batok kepalanya si buta ini. Selagi melayang jambangan itu masih mengasi dengar suara menguwang. ―Jikalau aku sambuti jambangan seperti tadi. Sembari bicara. dengan dipegang dan diangkat di atasan kepalaku. ia ayun tangannya kepada Siauw Mie To Thio A Seng. Si Buddha tertawa sudah lantas berpikir. ia sambut jambangan araknya itu. atas mana Kwa Tin Ok buka mulutnya akan menanggapi. ia hirup arak satu ceglukan. membuat jambangan itu berdiri tetap lagi. Dengan cepat ia lepaskan pelukannya. ―Diwaktu mudanya pasti Kwa Toako gemar main putaran nenempan!‖ kata ia. Tenaga yang dikerahkan itu bukan kepalang besarnya. ―Silahkan!‖ katanya habis menengak. setelah mana jambangan itu ia lemparkan ke arah Lam Hie Jin.

umpama kata aku tidak mampus ketindihan. terus melayang turun ke luar. Hie Jin sudah sambar araknya dengan tangannya untuk disendok dan dihirup. Pendeta ini sangat beribadat dan murah hatinya. maka itu ia gunai ketika yang baik ini untuk menengak arak tanpa tunggu Khu Cie Kee menyuguhkan kepadanya. Berbareng dengan itu kakinya sudah lantas menginjak palang jendela. ia angkat kayu pikulannya untuk menahan itu sebelum jambangan turun. tubuhnya lantas mencelat ke arah jendela. terdengarlah tertawanya Lauw-sie In Hiap Coan Kim Hoat. karenanya mejadi berat dan kuat luar biasa. Dengan cepat ia pasang kuda-kudanya. kemudian dengan gagang kipas. tapi kupingnya sudah dengar seruan keras tapi halus nadanya: ―Sian-cay!‖ Itu adalah suatu pujinya seorang penganut Buddha. tak sanggup ia melakukannya. manis dipandangnya. Ahli pedang Gadis Wat lihay ilmu pedangnya. ―Sekarang pinto hendak menyuguhkan kepada Cu Jieko!‖ Belum lagi jambangan itu dilemparkan.Justru ia baru memikir. emas hitam dan baja pilihan. Tapi ia tidak berlaku ayal. Habis itu. Kayu pikulan itu ternyata bukannya kayu melainkan sebangsa logam. membuatnya satu lobang besar ke dalam mana tubuh si mahasiswa terjeblos masuk di waktu mana terdengar jeritannya berulang-ulang: ―Tolong! Tolong!‖ Selagi jambangan mental balik. yang dia barengi tolak pergi. Wan Lie Kiam Han Siauw Eng telah lompat menyusul. maka itu dengan sekali sendok saja.Pendekar Pemanah Rajawali kepadanya. ―Jangan! Aku si mahasiswa cilik tak punya tenaga kekuatan untuk kata meringkus ayam. akan mendahului jambangan itu. Cu Cong sudah berjingkrak bangun. Cuma Lauw-sie In Hiap menambahkan itu dengan memulangkan jambangan kepada Khu Cie Kee. gerakkannya bagaikan burung walet menyambar air. keduanya menerbitkan suara yang keras dan nyaring. Begitu terbentur pikulan logam itu. jambangan itu diangkat. yang terbuat dari campuran hancuran tungsten. Kapan kayu pikulan dan jambangan beradu. ―Ayo! Tak dapat!‖ dia berseru. yang terus berkata: ―Aku si pedagang kecil suka sekali mendapat keuntungan oleh karenanya ingin aku tanpa menggunai banyak tenaga untuk turut minum arak!‖ Ia segera menghampiri Lam Hie Jin. si Pendekar Sembunyai di kota sudah turut mencicipi arak itu. mulutnya lantas menyedot arak. untuk korbankan diri. Lincah gerakannya itu. jambangan sudah lantas terbang melayang kearahnya. Berbareng kaget. Ia insaf. dengan dibantu tangan kanan. ia kerahkan tenaganya. hampir tiba dimulut jendela. ―Orang bakal mampus ketindihan! Tolong!‖ Di mulut ia mengoceh tidak karuan. dan lantai papan pecah bolong. Irawan D Soedradjat Page 41 . Kalau jambangan itu jatuh ke bawah loteng. karena untuk mencegahnya dengan menahan. untuk sendok araknya untuk bawa itu arak ke dalam mulutnya. Tiang Cun Cu sambuti jambangannya itu. guna mundurkan semua orang untuk mencegah kecelakaan yang tak dikehendaki itu. maka itu. Akal cerdik semacam ini tadi pun telah digunai oleh Coan Kim Hoat. kalau jambangan berat itu ditimpuki kepadanya – gilirannya memang bakal tiba – tidak nanti ia sanggup menganggapnya. sekarang ia gunai hasil latihannya beberapa puluh tahun. ―Bagus! Bagus!‖ Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong memuji seraja ia goyang-goyang kipasnya. lalu turun ke bawah akan tetapi belum lagi tempat arak istimewa itu jatuh ke lantai. ketika ia berada di atas jambangan. ke bawah loteng. Untuk itu ia perlu mendahului jambangan. pasti ada orang yang bakal tertimpa dan menjadi korban. kembali ia mencegluk araknya. yang telah kasih turun jambangan di tangannya. ―Brak!‖ demikian satu suara nyaring. dia segera menahan turunnya jambangan itu. jambangan berhenti menyambar. guna menolong siapa yang dapat ditolong dari bencana ketimpa jambangan itu. Jambangan itu tidak ada yang tahan. maka ia melintasi jendela. kipasnya tapinya ia pakai untuk mencelup ke dalam jambangan. kepalanya ditunduki ke dalam jambangan itu. mungkin aku bakal mati karena mabuk…‖ Akan tetapi sia-sia saja ia unjuk roman ketakutan seperti kalap itu. Berbareng dengan puji itu tubuhnya Ciauw Bok Taysu lompat melecat menyusuli jambangan itu. Semua orang terkejut. ―Bagus! Bagus!‖ ia pun turut memuji. ―Tolong! Tolong!‖ dia berteriak-teriak selagi jambangan itu mengancam padanya. maka dilain saat jambangan itu sudah terangkat naik dan terlempar terapung kearah Khu Cie Kee. yang sudah lantas tekuk sebelah lututnya yang kiri. maka jikalau aku disuguhkan. Nona ini dengan tiba-tiba menjejak dengan kaki kanannya. siap untuk dilemparkan pulang! Belum lagi jambangan dikasih melayang pergi. si imam sendiri tak terkecuali. perutku tak dapat memuat segantang arak. Tiang Cun Cu berniat lompat. Jambangan itu tertahan pikulan dan terduduk di dengkulnya orang aneh yang keempat ini. enteng tubuhnya tetapi ia kurang tenaga. cacat itu ditambal dengan kelincahan dan kecerdikannya.

―Urusan sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan Tuan-tuan bertujuh. ia berkata: ―Benar-benar Kanglam Cit tersohor bukan nama belaka. pinto tidak hendak mempersulit pula kepada si pendeta. kuda kuning di bawah loteng lantas saja lari ke jalan besar di betulan mulut jendela loteng itu. Han Po Kie geraki tubuhnya untuk naik sedikit. Ia sendiri masih bercokol terus di bebokong kuda. kedua tangannya dibantu kaki kanannya menahan jambangan. tetapi karena tidak ada jalan lain. ―Kita berdua sebenarnya tak saling dendam. apa saja yang kamu hendak perbuat!‖ ―Jikalau sudah pasti totiang menghendaki demikian.Pendekar Pemanah Rajawali Baru pendeta itu melewati jendela. guna diletaki di lantai loteng. Itulah seorang dengan baju kuning yang sembari melompat. sedangnya binatang itu mendaki loteng. Semua mata segera diarahkan ke mulut loteng. lalu satu persatu cawan dia keroboki ke dalam arak itu. dengan sekali sebat dan cerdik. oleh karenanya jikalau kita gunai senjata. lain orang telah dalui ia. Sejak tadi jongos-jongos umpatkan diri di bawah loteng. Khu Cie Kee tertawa. ―Pinto juga telah dengar lama yang Tuan-tuan adalah orang-orang yang gagah mulia untuk wilayah Kanglam. hingga jambangan itu dapat duduk tetap di atas kuda. empatbelas cawan terisi arak itu diatur dalam dua baris di lantai itu. Tepat sekali keduanya jatuh di bebokong kuda yang lalu lari beberapa tindak. itu pasti bakal merusak kerukunan. mereka sudah mendaki loteng untuk kembali ke atas loteng! Wanyen Lieh menyaksikan semua semua itu. dengan begitu teranglah Tuan-tuan terlalu andali kepandaiannya orang-orang lain! Tuan-tuan pinto tolol.‖ sahut Cie Kee. kau jadinya tidak percaya pada kami?!‖ tanyanya. ―Ciauw Bok Taysu ini adalah seorang yang beribadat dari beberpa puluh tahun. Irawan D Soedradjat Page 42 . ―Habis itu apakah yang totiang kehendaki?‖ Po Kie tanya pula. pinto takluk! Sekarang. untuk isikan penuh semuanya. kaki kirinya menyantel pada sanggurdi. begitu dipanggil. Totiang. yang harus dikasihani…‖ ―Tiang Cun Cu Totiang. cukup asal dia suka menyerahkan itu dua orang perempuan yang malang. Ciauw Bok Taysu juga sudah lantas menyusul naik kembali ke loteng. Ia lakukan itu sembari tertawa. ―Aku hanya lebih mempercayai mataku sendiri!‖ sahut sang imam. Sesuatunya lihay sekali. Kemudian. terpaksa pinto mesti mencoba denganmu untuk menetapkan siapa yang tinggi dan siapa yang rendah. Maka selang sesaat. tangannya yang sebelah mengedut les kudanya. sesudah itu. maka itu bagaimana bisa jadi taysu dapat menyembunyikan wanita baik-baik dalam kuil itu?‖ ―Di kolong langit yang luas itu mesti ada manusia palsu yang menipu duni!‖ berkata si imam dengan nyaring. Han Po Kie menjadi gusar. dan kuil Hoat Hoa Sin Sie juga adalah berhala kenamaan dalam kota Kee-hin ini. ―Dengan kata-katamu ini. lantas satu diantaranya muncul dengan belasan cangkir yang diminta itu. lalu keduanya jatuh miring dengan berbareng. Cie Kee berdiam sebentar. dengan begitu ia jadi bisa berbareng mencicipi juga arak itu. Pinto pikir baik diatur demikian saja…‖ Lantas ia teriaki si jongos untuk siapkan empatbelas cawan arak yang besar. guna ulur kepalanya ke mulut jambangan. telah perdengarkan satu suara bersiul. Maka itu mereka dapat lihat benda bagai segumpal daging yang seperti bentrok dengan jambangan. Habis itu.‖ dia bilang kemudian. sang kakak yang kedua dengan keduanya sambil tertawa. Mendengar siulan itu. ―Akan tetapi Tuantuan tampaknya memaksa hendak mencampuri tahu. Umpama kata pinto tak dapat melawan. silakan totiang tunjuki caramu!‖ bilang Kwa Tin Ok. Ma Ong Sin Han Po Kie. dengan memandang Tuan-tuan bertujuh. Cie Kee letaki jambangan arak di lantai. lalu kembali untuk terus lari masuk ke dalam ciaulauw dan mendaki loteng! Selagi kuda itu beraksi. dengan bergandengan tangan bersama Cu Cong. ia perdengarkan suara perlahan. terserah saja kepadaTuan-tuan. atas mana binatang itu sudah lantas lompat lewati jendela untuk turun ke bawah. hingga tenaga turunnya menjadi berkurang. inilah bagianmu yang tidak benar!‖ Kwa Tin Ok memotong. ia pondong jambangan untuk dikasih turun dari bebokong kuda. ialah segumpal daging yang tadi telah melayang menyambar jambangan sudah pernahkan dirinya dibawah perut kuda itu. ia ulur keluar lidahnya.

umpama kami menang. ―Hebat!‖ ia inipun berbisik. ―Jieko. Taruh kata si imam kuat minum tetapi berapakah besar perutnya? Dapatkah satu perutnya melawan perut tujuh orang? Han Siauw Eng adalah yang termuda diantara Kanglam Cit Koay. ia masih segar seperti biasa. Khu Cie Kee sebaliknya. dan inilah yang pertama kali!‖ Dan tanpa bersangsi lagi. mereka mendahului menyatakan akur. mari kau wakilkan kau!‖ berkata Thio A Seng kepada adik angkatnya yang ketujuh itu. Irawan D Soedradjat Page 43 . ialah yang menang. Akan tetapi Kwa Tin Ok berkata: ― Kami bertujuh melawan satu. ―Siapa juga yang meminumnya sama aja!‖ Maka itu. ia tidak menawar lagi. Coan Kim Hoat tampaknya sudah kewalahan. ―Tuan-tuan bertujuh minum satu cawan.‖ Kim Hoat berbisik pula. boleh tidak aku diwakilkan?‖ tanya si nona kepada si imam. Lalu semua cawan diisi pula. Banyak cara untuk adu pibu. ―Khu Totiang. Tetapi tiba-tiba saja ia terperanjat. ia tampak lantai dimana si imam berdiri menjadi basah. siapa yang tidak sinting. Silakan!‖ Hampir berbareng enam manusia aneh lainnya dari Kanglam itu angkat cawannya masing-masing dan mengiringnya seperti saudara angkat mereka yang bungsu. ia segera bisiki Cu Cong. dia tidak bakal rubuh…. pinto sendiri akan minum tujuh cawan. baiklah kau sebutkan lain cara!‖ ―Cara bagaimana tuan dapat merasa demikian pasti akan memperoleh kemenangan?‖ Tiang Cun Cu tegaskan. sedang si imam pun tanpa banyak omong lagi. ―Begini lihay tenaga dalamnya. Ia lantas ingat sesuatu. ―Kelihatannya untuk mereka minum lagi tiga atau empat cawan.‖ katanya kemudian. coba lihat kakinya si imam!‖ Cu Cong memandang ke tempat yang ditunjuki.‖ katanya. ―Ia gunai tenaga dalamnya memaksa arak turun ke kakinya…‖ ―Benar. ia pun polos dan bersikap jantan. ―Citmoay.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto hendak adu kekuatan minum arak dengan tuan-tuanbertujuh. Si imam juga tenggak habis tujuh cawannya. Ia memang bukan tukang minum. ―Akur!‖ jawab Khu Cie Kee. apakah ia masih bisa menghabisi lagi duapuluh cawan?‖ Oleh karena ia pikir begini. A Seng lantas wakilkan adiknya. habis bagaimana?‖ Cu Cong jadi berpikir. Perjanjian kita ialah sampai habisnya isi jambangan ini. Kapan hendak dilanjuti giliran yang lain. Tuan. ia menanyakan dulu pikirannya si imam itu. Maka heranlah Kim Hoat yang cerdik itu.‖ ia berpikir. ia jemput satu cawan dan jegluk isinya. ―Nona Han adalah jantannya wanita!‖ Khu Cie Kee puji nona itu. lantas semua itu di cegluk habis! Setelah cawan yang ketiga. atas perjanjiannya si imam. ―Nah. lagi seratus cawan dia minum. tenggak kering satu demi satu tujuh cawan bagiannya. Sebagai satu jantan. Dengan si imam. ―Baiklah!‖ demikian katanya. Tidakkah cara ini bagus?‖ Han Po Kie dan Thi A Seng adalah tukang tenggak susu macan. ―Dengan dibantu tenaga dalamnya. ―Mari kita adu minum arak dulu! Belum pernah aku mendapati orang yang begitu memandang enteng kepada kami bertujuh. mereka tentu masih sanggup. Kebetulan ia melihat ke lantai. ―Dengan jebolnya aku dan citmoay. Wanyen Lieh pun heran sekali. yang ia lihat sudah lelah. Nona Han Siauw Eng segera merasakan bahwa ia bakal tak sanggup minum terlebih jauh. kita tinggalberlima. . air mukanya takberubah. Kim Hoat percaya pihaknya bakal menang. Duapuluh cawan telah ditenggak kering. itu tidaklah cara laki-laki! Totiang.adu kepandaian – belum pernah ia dengar cara seperti itu.

Ia tertawa ketika ia berkata: ―Sebenarnya aku tidak kuat minum akan tetapi tempo tahun lalu aku pesiar ke daerah Selatan.Pendekar Pemanah Rajawali Mereka itu sudah keringi pula cawan mereka yang lainnya. Lam Hie Jin dan kawan-kawannya dapat lihat itu. Begitulah ia menantang. Ia heran juga menyaksikan orang kuat minum dan sikapnya tenang. ―Kanglam Cit Koay sungguh hebat. perut si Manusia aneh rada melendung. orang bukannya mengerahkan tenaga dalam. Dimana orang berpura-pura edan-edanan. ―Habis Cu Jieko memikir bagaimana?‖ dia tanya. cawan demi cawan. ―Khu Totiang. tidak ada arak yang merembas keluar. Kesudahannya akulah yang menang!‖ ―Cis!‖ Cie Kee kasih dengar suaranya. ―Saudara Cu. bagaimana dia ini hendak melawan sendirian? Keenam Manusia aneh menjadi heran. dengan sikap wajar itu. satu lawan satu!‖ sahutnya. begitu juga dengan pihak Kanglam Cit Koay. kami semua sangat mengaguminya. di sini lebih hebat lagi! Raja Siam telah suruh keluarkan seekor gajah putih yang besar. ―Sekarang begini saja. Ia telah perhatikan. dikatak gila. tak dapat ia bergusur. berapa jambangan aku tenggak habis?‖ Tiang Cun Cutahu orang bergurau. Han Po Kie letaki cawannya di meja. ia tidak angot. Selagi ia tetap belum mengerti. ―Sembilan jambangan!‖ katanya.‖ ia berkata. Tentu saja. Ia tahu orang bicara ngaco. Ia tidak tunggu sampai orang membilang atau menunjukkan sesuatu apa. ia tidak sinting. ―Di sana putra raja India seret keluar seekor lembu. ia minum araknya. Cie Kee turut minum juga. dia menghendaki aku lawan kerbau itu minum arak yang keras. aku disuruh lawan gajah itu minum arak! Binatang dogol itu telah sedot habis tujuh jambangan! Totiang tahu. Mereka tahu sebabnya itu. ujung bajunya yang kiri pun dikibaskan. akan pinto menyerah kalah. dengan itu dia dicaci sebagai kerbau. terus ia sambungi dengan nyaring: ―Mari minum! Lekas. Cu Jieko. Dengan tiba-tiba saja wajah Cu Cong menjadi sungguh-sungguh. tangannya sendiri menyambar satu cawan yang besar. akan tetapi dengan kami berlima melayani kamu. Mari keringkan!‖ Ia goyang-goyang kipasnya di tangan kanan. Sekarang lantai di kakinya Khu Cie Kee tertampak barang cair mengembang dan mengalir. ―Baiklah aku sendiri yang layani kau. Dikatakan mabuk. ―Aku menyerah!‖ Irawan D Soedradjat Page 44 . Cie Kee heran. Lima orang sudahke teter. setelah kandasnya ini jambangan . Cu Cong lihat perbuatan adiknya itu. hingga akhirnya jambangan arak itu nampak dasarnya! Imam itu segera tunjuki jempolnya. meskipun mereka tahu ini saudara yang kedua sangat cerdik dan licin. itu rasanya tidak terlalu adil…‖ Cie Kee melengak. kau benar satu manusia aneh!‖ serunya. sikapnya menarik hati. ia lantas mengedipi mata. ―Mustahilkah perutnya bisa kempas dan bisa kembang. isi itu masih banyak. untuk di pakai itu menyendok arak. ―Pada tahun dulu aku telah pergi ke negeri Siam. kaki dan tangannya digerak-geraki. akan tetapi Cu Cong seperti tidak pedulikan itu. ―Satu kali aku telah pergi ke India. ―Berapa jambangan?‖ dia tanya sekenanya. ia ngoceh pula. Mereka berdiam. meski begitu.Hanya rada aneh. perlahan tetapi mengesankan. hendak ia menyerah kalah. selama itu Khu Cie Kee mesti layani orang minum. kau temani aku minum terus. ―Hebat tenaga dalammu. tetapi mereka duga saudara ini tentu ada akal muslihatnya. Tidakkah ini bagus?‖ Arak di dalam jambangan perunggu itu tinggal separuh. mereka kagumi si imam untuk tenaga dalamnya yang sempurna itu. ia dengar orang berkata-kata pula.‖ sahut Cu Cong. saban-saban ia tenggak araknya. ―Apakah itu mahkluk yang lihay?‖ ia tanya.‖ kata Cie Kee kemudian. ―Ah. bisa dibuat main?‖ ia berpikir. di sana aku pernah menangkan beberapa makhluk yang lihay. lekas!‖ Lantas setelah itu. Cu Cong si Mahasiswa Tangan Lihay tertawa.‖ kata Cu Cong itu. hanya orang bicara secara wajar sekali.

bau arak tersiar menyampok hidung! Orang kedua dari Kanglam Cit Koay sudah perlihatkan kelihayannya. ―Itulah syairku yang kutulis di harian Tiong Ciu tahun yang lalu.udara membuatnya. Khu Cie Kee segera menyambaruntuk pegangi tubuhnya orang itu. ditangannya ada sepelas ikan emas. sembari berputaran.?‖ Lantas ia merogoh ke sakunya. ―Kepandaianmu ini toh tak dapatdibilang orang minum arak?!‖ ―Kau sendiri.Suatu hari……. suatu ilmu kepandaian turun temurun yang hingga kini telah membuat kagum orang di Eropa dan kepulauan selatan. niatku adalah untuk nanti meyambunginya. kapan tahang air itu ia balingkan. Satu kali ia jungkir balik. ―Totiang minum dengan andalkan tenaga dalam. ―Aku? Lihatlah!‖ Ia tertawa pula. di situ ia terpeleset.‖ katanya. Disitu ia berhadapan dengan orang lihay akan tetapi tidak ada seorang juga yang lihat darimana ia sembatnya tahang air itu! perutnya tinggal kempes. ―Kau benar-benar lihay! Sekarang pinto ingin mohon pengajaran…!‖ Rupanya barusan selagi ia pura-pura terpeleset. Tak ada syair itu didalam sakunya itu! Cu Cong seperti tidak ambil mumat orang terheran-heran.tangannya mencekal sebuah tahang air. arakmu kumpul dilantai! Ada apakah perbedaannya?‖ ia lantas jalan mundarmandir sampai ia kena injak lantai yang basah dengan araknya Khu Cie Kee. yang sekian lama disembunyikan di bawah jubahnya yang gerombongan. belum pernah aku perlihatkan orang syairku itu. ia tertawa. Tidak tempo lagi. Jalan susu bagaikan tenggelam…. apakah kau juga minum arak?‖si Manusia aneh membaliki. kau juga pandai ilmu surat!‖ katanya memuji. Biauw Ciu Sie-seng gunai ketikanya untuk rogoh kantung si imam... tapi ia melengak pula. yang masih belum selesai. ia membeber kertas di atas meja. ―Ah!‖ seru si imam kemudian. Wajahnya Khu Cie Kee menjadi berubah. Tentu saja ia sangat penasaran yang orang telah copet syairnya itu tanpa ia merasa. Khu Cie Kee heran hingga ia melengak. si Mahasiswa Tangan Lihay. tubuhnya rubuh membentur tubuhnya si imam. Kepandaiannya itu menyembunyikan tahang air adalah kepandaian umum di kalangan tukang sulap Tiongkok.mentereng seperti siluman air………‖ Panjang nada syairnya. bergelak-gelak lalu dengan sekonyong-konyongia lompat jumpalitan ketika ia telah berdiri pula. untuk cari syairnya itu.. ―Arakku kumpul di dalam tahang. ―Totiang lihay ilmu silatnya. Cu Cong pandai mencuri dan mencopet. Dan Cu Cong sekarang mengacau matanya Tiang Cun Cu dengan ilmu kepandaiannya itu. ia jadi kena dipermainkan. Totiang.!‖ ―Bagus!‖ seru Cie Kee yang mengerti bahwa benar-benar ia telah dipermainkan orang. air mana dapat ditambah menjadi banyak. mengapa sekarang ia dapat mengetahuinya…. Mungkin pembaca pernah menyaksikan pertunjukkan sulap semacam itu. CuCong lompat mundur.Di Waktu tibanya angin yang sejuk…malam yang jernih terang……. ―Sungguh aku kagum….rembulan gilang gemilang…. sebab semua arak pindah ke dalam tahang air ini. tidak kusangka. selagi si imam pegangi dia. Dengan‖Tangan Lihay‖ itu diartikan lihay mencopetnya. Setelah dapat berdiri pula. sebelah tangan si imam melayang. maka itu ia digelar sebagai Biauw Ciu Sie-seng. Itulah kertas bermuatkan syair yang baru ia bacakan.Ikan dan naga diempat penjuru lautan……. dua kali ia jungkir balik di atas pentes tambah semangkok air tawar. Tentu saja si imam tidak menyangka orang bergurau secara demikian. Irawan D Soedradjat Page 45 . ―Syair itu aku simpan.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong awasi imam itu. terus ia putar tubuhnya. syair yang bagus! Sejak jaman purbakala di pertengahan musim rontok….‖ katanya di dalam hatinya. mulutnya perdengarkan suara: ―Syair yang bagus.

harap kau tak katakan kami tak tahu aturan!‖ ia berkata sambil ia menggapekan kepada Lam Hie Jin dan Han Siauw Eng. Tangkisan si imam itu membuat tangannya sakit dan gemetaran. ia menyerang ke dadanya si imam. maka itu sampai sebegitu jauh. di tangga loteng terdengar riuh tindakan kaki yang keras. Ia cacat mata akan tetapi kupingnya awas bukan main.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong berkelit ke samping. kali ini tiga kali beruntun serangannya itu. Melihat mereka itu. Khu Cie Kee dapat lihat serangan itu. ―Totiang. Sangking murkanya. kamu masih menjanjikan bantuan! Biar di sana ada ribuan tentera dan tidak pandang itu di matanya!― Thio A Seng merasa pihaknya diejek. ia lompat untuk menghalang. ―Kita ada tujuh bersaudara!‖ ia bilang. yang dibawa ke depan dadanya. ―Benar!‖ sahut si imam memberikan kepastian. untuk ambil senjata mereka masingmasing. sebagaimana mereka gampang dikenali dengan seragam mereka. Bukan main kagetnya Siauw Mie To si Buddha tertawa. sampai saudara itu sulit membela dirinya. Dan menyerang pula. Ia telah mendengar puluhan orang berlari-lari mendatangi ke restoran itu.ia tertawa terbahak-bahak. Lega hati mereka akan saksikan putra Irawan D Soedradjat Page 46 . ―Lam Sieya sungguh lihay!‖ si imam memuji mendapatkan tangkisan itu. toya kamu masih tidak jerih!‖ Han Po Kie gusar mendengar ejekan itu. ―Semua mundur!‖ ia berseru. ―Siapakan senjata!‖ Thio A Seng semua segera lari balik ke tempat duduknya masing-masing. Hebat tangkisannya ini. mereka datangi rumah makan itu. Mereka menanti sekian lama putra raja mereka masih belum kembali. Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan dan Wan Lie Kiam si Gadis Watsudah lantas taati ajakannya saudaranya itu. ―Walaupun kasih datang tambahan tigaribu lagi serdadu berandal Kim. ―Totiang. Pertarungan Mati Hidup Segera terlihat orang banyak yang naik ke loteng itu adalah serdadu-serdadu bangsa Kim. ia menyangka mereka itu diperdayakan oleh Ciauw Bok Hweshio. ―Ciauw Bok Hweshio! Kanglam Cit Koay!‖ ia berseru. Manusia Aneh yang keempat. Coan Kim Hoat bisa duga perasaan saudaranya itu. sambil berlompat. Khu Cie Kee tidak gubris sindiran itu. Maka ia lompat berdiri. ―Kamu majulah berdelapan!‖ menentang Tiang Cun Cu menyaksikan orang pada turun tangan. ―Untuk apa menjanjikan bantuan lagi?!‖ Kwa Tin Ok tidak berpikir seperti saudaranya yang kelima itu. Hampir di waktu itu. lalu beberapa puluh orang tertampak merubul naik. atas mana Lam San Ciauw-cu menangkis dengan kedua tangannya. rasanya baal. Ia pun segera berseru dengan ejekan: ―Bagus betul. suara mana tercampur suara bentrokkannya senjata-senjata tajam. benarkahkau berniat mencari keputusan dengan kepalan dan kaki?‖ ia menegasi. Tentera Kim itu adalah tentera pengiringnya Wanyen Lieh. Tapi justru itu sekonyong-konyong wajahnya berubah. akan tetapi sekarang tak dapat ia atasi diri lagi. ―Siapakah yang kasih datang tentera Kim?!‖ ia menegur. ia lantas menangkis. timbuk kekhawatiran mereka itu. Thio A Seng lihat saudaranya sangat terdesak. kebetulan mereka dengar di Cui SianLauw ada orang berkelahi. ia menyerang Lam Hie Jin dengan sebelah tangan kirinya. mereka lantas pergi mencari. ia layani mereka separuh main-main. ―Jangan mengepul!‖ Kwa Tin Ok kata dengan dingin. seraya ia melompat maju untuk menyerang. Ia hargakan Kanglam Cit Koay. naik darahnya Khu Cie Kee. Bab 5.anginnya mendesir.. Inilah lawan tangguh yang pertama kali iapernah ketemukan.

sembari berkata ia gerakan pundak kanannya. Atas itu putra raja Kim itu lantas berbangkit dari kursinya. ―Minggir!‖ ia membentak. ia lompat maju.Pendekar Pemanah Rajawali rajamereka tidak kurang suatu apa pun. bangsa hohan. pinto tak dapat menemani lebih lama pula!‖ Lantas ia angkat jambangan araknya. hingga Wanyen Lieh lantas saja mundur beberapa tindak. maka tadi ia berlaku manis budi dengan suruh jongos membagi daging macamnya. maka itu sambil gerakin tongkat besinya. mereka bawa naik barang hidangan itu untuk disajikan disembilan meja dikecualikan mejanya Ciauw Bok Taysu. pendeta yang pantang makan daging. sekarang setelah mengetahui orang bangsa apa. ―Toako kami menitah kau pergi!‖ Han Po Kie wakilkan kakaknya menyahuti. Kwa Tin Ok lantas sudah bangkit berdiri. sambil membawa itu. Khu Cie Kee tangkis serang itu tanpa membalik tubuhnya. ―Terima kasih Kwa Toako!‖ ia mengucap. beberapa diantaranya segera menikam bebokongnya si imam dengan tombak mereka yang panjang. ―Cukup sudah. hingga tanpa suara apapun. Lalu tanpa tunggu jawaban lagi. walaupun orang tak dapat melihat kepadanya. Hidangan untuk Wanyen Lieh pun disiapkan sekalian. ―Adakah aku keliru mengerti?‖ jawab si imam sambil jalan terus. ―Kalau picak bagimana?!‖ tanyanya. guna menghampiriKwa Tin Ok. tidak peduli orang baru saja berhenti bertempur dan disitu ada banyak serdadu bangsa Kim. ia tak sudi melayani bicara. ―Hm!‖ Khu Cie Kee perdengarkan suara di hidung selagi Hui Thian Pian-hok belum sahuti orang asing itu. Dengan lantas ia berpaling kepada Kwa Tin Ok beramai. dia tidak usah dilayani! Tuan-tuan mari kita minum dulu. ―Bagus! Bagus!‖ ia menambahkan. ―Aku juga bukanya si picak!‖ sahutKhu Cie Kee mengejek. ―Apa!‖ tanyanya. Dengan berani ia lantas memanggil ―toako‖ atau kakak. sembari minum kita bicarakan daya untuk menghadapi dia!‖ Kwa Tin Ok tidak tahu orang adalah orang bangsa Kim. di depan siapa ia memberi hormat. maaf. WanyenLieh heran. ―Kamu adalah bangsa Enghiong. habis perlu apa kamu undang tentera bangsa Kim untuk bantu kamu?‖ Dengan sengit si imam menjengeki orang adalahEnghiong dan hohan – orang-orang gagah. jiwanya terbang pergi. maka itu beberapa batang tombak kena tercekal dan terampas.‖ Kwa Tin Ok menyangkal. Tiang Cun Cu tidak ladeni si buta itu. suara itu rubuh dengan kepalanya remuk. jangan kau keliru mengerti!‖ kata tertua darikanglam Cit Koay ini. mereka kaget dan gusar. Seperti bebokongnya ada matanya. mengenai kempolansi putra raja Kim itu. Beberapa serdadu lagi hendak maju untuk mengulangi penyerangan. Ketika itu pihak rumah makan baru siap dengan hidangan mereka yang terdiri dari daging macam tutul. sebaliknya ia layangkan tangannya yang kiri. putra itu lagi duduk tenang di mejanya. iabertindak ke tangga.ia paling benci orang mengatakan ia picak. tidak kenal Tuhan. ―Kami tidak undang atau janjikan mereka itu. Sambil manangkis tangannya menyambar. untuk mengatakan: ―Imam jahat itu tidak kenal undang-undang. Mereka lantas menghampiri untuk memberi hormat. ―Jangan!‖ Wanyen Lieh segera mencegah. tepat mengenai batok kepalanya satu serdadu Kim. ia ngeloyor ke tangga. Serdadu-serdadu Kim lainnya menjadi gaduh karena kebinasaan tidak karuan dari rekannya mereka itu. ―Khu Totiang. ―Inilah contohnya!‖ kata si imam kemudian. Irawan D Soedradjat Page 47 . Tin Ok buta. si hweshio.

―Kemarin dulu ia menulis surat padaku. Maka sebelum layani godaan orang itu. baru satu dua har I orang itu tiba. dalam mana ia bilang ada orang jahat hendak mengganggu mereka itu dan karenanya dia minta supaya aku beri tempat berlindung kepada merek itu. Mereka tidak dapat mengerti sikapnya Khu Cie Kee. aku serta semua serdaduku bukan tandingan mereka. Dari Gu-kee-cun. dengan tinggalkan restoran itu. Itu hari sehabisnya membinasakan Ong Tian Kian si pengkhianat. terus ia ajak si nyonya untuk berangkat ke Utara. tombak dan gendewanya pada patah. ia tepuk pundaknya putra raja Kim itu dengan kipasnya seraya bilang: ―Apakah kau telah jual itu orang perempuan yang kau tipu? Bagaimana kalau kau jual dia padaku? Hahaha!‖ Dan terus ia ngeloyor turun. Ciauw Bok Taysu bingung. ia tahu tidak ada peperangan dengan bangsa Kim. datang menyembunyikan diri di kuilku. Tempo ia lewat di muka Ceng ho-hong.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin OK semua lantas berlalu. ―Beberapa orang ini lihay sekali. jikalau mereka dapat tahu. Pasti tak dapat ia umbar hawa amarahnya terhadap serdadu itu. Sementara itu Kwa Tin Ok beramai telah ikuti Ciauw Bok Hweshio pergi ke kuil Hoat Hoa Sian Sie yang letaknya di bagian barat dari luar kota Kee-hin. ―Keliru mengerti ini jadi makin hebat…‖ Ciauw Bok Taysu mulai berkata smabil ia menghela napas. hingga kesudahannya ia labrak rombongan serdadu bangsa Kim serta orang-orang polisi yang mencari padanya. juga mereka itu tidak tahu suatu apa. Khu CieKee pergi ke Gu-kee-cun kepada Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. tidak ada huru-hara penjahat di dekat-dekat Hangciu. untuk korek keterangan dari mulutnya. habis mana ia lantas mengundurkan diri. Wanyen Lieh terkejut. paling dulu ia ragoh sakunya. merundingkan daya penjagaan. seragamnya tidak karuan.‖ sahut Ciauw Bok. inlah berbahaya……….‖ ―Itu benar.‖ ia berpikir. Ia ingat pada pengalamannya yang pertama. (Yankhia = Peking sekarang). ia menitahkan dua orang yang menyampaikan surat itu. lalu dengan diam-diam ia menyatroni. mesti dia bakal datang lagi menerbitkan onar. Ia tahu. Sampai disitu mereka berunding. turun di tangga loteng.‖ Oleh karena kekhawatirannya ini. Bersama dia turut juga semua pengiringnya. ia tidak lagi berpikir untuk beli pakaian buat si nyonya. Ia berduka berbareng murka akan dengar Siauw Thian terbinasa dalam pertempuran itu dan Tiat Sim terluka parah. Ciauw Bok Hweshio turut mereka. di dalam kuil itu mereka berkumpul di kamar bersemedhi.‖ sahut hweshio itu. ia ikuti rombongan serdadu sampai di tangsinya tentera itu. akan tetapi ia jerih pula. Ia tunggu sampai malam. ―Maka aku pikir. Kami orang beribadat mesti berlaku murah hati. ―Aku ada punya Suheng yang menjadi pendeta di kepala di kuil Kong Hauw Sie di Hangciu…‖ ―Itulah Kouw Bok Siansu. Nyatalah barisan itu adalah barisan yang telah pergi ke Gu-kee-cun untuk menawan Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. bukan?‖ Tin Ok memotong. Tentu saja aku menjadi tidak mengerti. ia menjadi mengeluh. untuk membuat perkenalan dengan caranya yang luar biasa itu. yang ia bawa ke ujung jalan besar. untuk pesiar ke telaga See Ouw dan tempat sekitarnya yang indah. Kacung hweshio lantas menyuguhkan air the. Diluar dugaanku. ―Benar. ia tampak lewatnya beberapa puluh serdadu dalam keadaan rudin. Untuk kagetnya ia dapatkan beberapa potong emas dalam sakunya terbang pula! Ia mendongkol. Imam ini sangat menyesal. Saking penasaran. dari kuil Kong Hauw Sie. Habis kenapakah barisan serdadu itu? Ia tanyakan keterangan beberapa penduduk. Ia heran. ―Taysu. ―Dia menyebutkan dua orang wanita.‖ tanya Han Siauw Eng. siapakah mereka itu? Bagaimana sebenarnya duduk perkaranya?‖ ―Nanti aku beri keterangan.‖ menyatakan Coan Kim Hoat. tentu saja aku mesti terima permintaannya itu. Kapan ia sudah dengar jawabannya.‖ Tin Ok juga menyatakan. akan menghirup permainannya sang salju. ―Pauw-sie ada padaku. seperti bekas kalah perang. entah kemana lolosnya tetapi ada kemungkinan dia pun tak kan hidup lama. ibukotanya kerajaan Kim. Kejadian itu membuat ia sangat gembira.‖ ―Melihat dari sikapnya tadi. ia lantas pergi ke Hangciu. pulang ke Yankhia. lebih bingung pula Kanglam Cit Koay. kita tak dapat tidak bersiaga. itulah akibatnya ia sudah mengikat persahabatan sama dua orang she Yo dan Kwee itu. ia lekas-lekas balik ke hotel. lantas Tiang Cun Cu datang menyatroni sambil dia menuduh ada dua orang wanita dari Hangciu. Ia bekuk satu serdadu yang sedang tidur pulas. selagi lewat di samping Wanyen Lieh. apapula ia adalah kakak seperguruanku. Irawan D Soedradjat Page 48 . Biauw Ciu Sieseng jalan paling belakang.

Di muka tangsi. dengan membawa goloknya. Imam itu. tidak berhasil ia mencari Toan Thian Tek. tubuhnya hampir tak dapat bergerak. Kemudian ia akan mohon belas kasihannya Thian. tetapi ia tidak peroleh hasil. Atau lebih benar. airmatanya turun mengucur. Lengannya Thian tek lantas saja kena dicekal. Beruntun dua malam Cie Kee telah satroni tangsi Wielok nomor enam. rumah tangga mereka tercerai berai dan musnah! Jikalau kau tidak menuntut balas untuk mereka. lalu laporan itu disusul dengan laporan lainnya. Dia paykui di depan kuburan. diam-diam ia memuji dan berjanji: ―Itu hari pinto sudah berjanji akan ajarkan ilmu silat kepada anak-anakmu.‖ sahut serdadu itu yang menyebutkan komandonnya. telah sambut serangan sesudah ia lemparkan satu serdadu. Sebentar lohor ia baru pulang. Segera ia melongok di jendela. yang ia bawa ke tepinya telaga See ouw. ―Dia…. ia lagi periksa Lie Peng. untuk menegur: ―Mana dia Toan Thian Tek?! Suruh dia keluar!‖ Justru itu hari. Habis itu dia hendak mencari istrinya dua sahabat itu guna menempatkan mereka ke tenpat yang aman. istrinya Siauw Thian. tidak tahu dimana tidurnya ciehui itu malam itu. kau sebaliknya rembet-rembet mereka hingga mereka bercelaka. Kemudian malamnya. Thian Tek gusur menyaksikan perkelahian semacam itu. mungkin Thian tek tidur di luar tangsi. untuk dikubur. Thian Tek segera berkata kepada dua serdadu yang ia kedipi mata: ―Pergi kamu antar toya ini ke telaga untuk cari Toan Tayjin!‖ Irawan D Soedradjat Page 49 . Ia dapat terka maksudnya si imam. ―Kau hendak memberontak?!‖ ia menegur sambil ia lantas menerjang. kedua sahabat itu jamu padamu.‖ Segera Khu Cie Kee atur rencananya. rombongan serdadu lagi dilabrak oleh imam itu yang bersenjatakan dua serdadu yang ia cekal kakinya dengan masing-masing mereka mengeluh. Cie Kee bebaskan serdadu itu. yang nampaknya gagah sekali. namanya Thian Tek. tapi ia licik sekali. si imam membela diri dengan dua serdadu korbannya itu. tidak ada muka pinto menemui kalian di dunia baka.‖ Cukup segitu. dia ambil cara singkat saja. ―Dia she Toan. ―Toya mencari Toan Tayjin?‖ dia balik menanya. lagi pelesiran minum arak di atas perahu. untuk mencari kesenangan. ―Ciehui tayjin kami. di atas tiang bendera yang tinggi.‖ Cie Kee kena diakali. ia hajar dengan tangannya tembok dimana tiang itu dipasang.dia sekarang ada di telaga See Ouw. masih dapatkah kau disebut satu laki-laki?!‖ Saking mendongkol. Thian Tek kesakitan. Satu imam. Tiang Cun Cu menampak hal yang membuat darahnya mendidih. Ia kaget akan dengar laporan ada orang cari padanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Siapakah itu perwira atasanmu?‖ ia tanya. ia lepas cekalannya. supaya kelak mereka menjadi orang-orang kosen. kalau tidak. Besok paginya. mungkin Thian Tek adalah satu komandan yang tak berdisiplin dan doyan pelesiran. Hampir dadanya meledak. Ia gunai tangannya yang kiri. Sejumlah serdadu lain menyerang dengan anak panah tetapi serangan itu tak ada hasilnya. ―Dengar baik-baik. lagi bertarung dengan robongan serdadu. supaya mereka dapat turunan.. Khu Cie Kee!‖ katanya seorang diri. hingga ia mau menduga. ciehui itu mesti dibinasakan guna membalaskan sakit hatinya Tiat Sim dan Siauw Thian. terus ia pergi cari Thian Tek di tangsi. Pertama-tama Toan Thian Tek mesti dicari. agar supaya anak-anak mereka dapat ia didik menjadi orang-orang sempurna seperti yang ia janjikan. Thian Tek ada di dalam tangsinya. tentung sudah terjadi pertempuran dengan orang yang mencari dia. oh. Oleh karena sudah habis sabar di hari yang ketiga setelah dua malam itu. ―Mana itu bajingan jahanam Toan Thian Tek?!‖ Cie menegur. Dia belum kenal perwira ini. dia panjat tiang itu untuk turunkan kepalanya Siauw Thian. Pemeriksaan dilakukan sebab lenyapnya kepala Siauw Thian itu. ia lompat keluar dari tangsi. ada di gantung kepalanya Kwee Siauw Thian untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai. ialah khu Cie Kee. hingga batu dan pasir kapurnya hancur. Ia ingin Lie Peng sebutkan sahabat atau sahabat-sahabatnya Siauw Thian yang dirasa bernyali besar berani mencuri kepalanya Siauw Thien itu. ―Khu Cie Kee. Dia pergi ke muka tangsi.

disusul sama masuknya laporan halnya satu imam datang mengacau. ahli waris dari partai Hoat Hoa Cong golongan Selatan. si imam tidak berhasil menavri dia terlebih jauh. ―Baik aku pergi ke paman. Dia malah menjadi ciang-bun-jin. ―Peehu. nama sucinya ialah Kouw Bok. yang bekas di cekal si imam. Sejak sucikan. Dan untuk mencegah kecurigaan orang luar. Sebabnya ialah satu serdadu jaga ketahuan lenyap tidak keruan paran. Kepada sahabat itu ia tuturkan halnya si imam jahat.‖ dia menyahut dengan cerita karangannya. rupanya ia telah kompes kedua serdadu pengantarnya. Dari itu. serdadu-serdadu membikin banyak berisik. Dia tahu sebabnya kenapa pamannya itu masuk menjadi paderi. ―Mau apa kau datang kemari?‖ sang paman tegur keponakannya. rasanya sakit sekali. dia ajak Lie Peng dan barisannya kabur dari belakang tangsi. Ia pernah memangku pangkat dalam ketenteraan. Malah segera ia bekerja. sehingga mereka terpaksa mesti mebuka rahasia. Dia bawa Lie Peng bersama dia. dia melebihi kebanyakan orang. mereka terbirit-birit menuju ke Kong Hauw Sie. Bukan saja pemerintah tidak membuat perlawanan. Thian Tek tidak berani berayal pula. yang terus hendak kumpulkan tenteranya. tak suka ia bergaul dengannya. Di sini ia selamat.‖ Irawan D Soedradjat Page 50 . siang-siang dia telah karang sebuah alasan. ―Lekas! lekas pergi!‖ Thian Tek membentak. Kalau perlu nyonya Kwee itu dapat di pakai sebagai tanggungan untuk jiwanya. Sebenarnya sudah lama dia tidak berhubungan dengan keponakannya itu. ia manggut-manggut. Di luar tangsi.Pendekar Pemanah Rajawali Dua serdadu itu belum mengerti. Seberlalunya si imam. Untuk memastikan keselamatannya terus ia bawa-bawa Lie-sie. mereka bingung. jeri Thian Tek terhadap pamannya. Karena ini. siapa berani perhina padamu?‖ paman itu tanya pula. Tepat tengah malam. mereka lantas ngeloyor pergi. Malam itu dia bermalam di tangsi itu. Tangsi ini terpernah di tempat sepi. dia ajak barisannya meninggalkan tangsi Wie-ko itu. dengan rajin ia berlatih terus. ke tangsi Coan-ciat nomor dua. ―Aku diperhina satu imam.‖ dia ambil keputusan. Baharu sekarang ia bisa bernapas sedikit lega. Tapi ia mesti menderita pada tangannya. Pamannya Thian Tek ini sudah lama sucikan diri. Umpama kata dia bercerita terus terang bahwa ia telah bekerja sama dengan bangsa Kim untuk menawan Kwee Siau Thian dan Yo Tiat Sim. dia takut pulang. hingga ia lantas menyusul ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan itu. Thian Tek takut bukan main. sebaliknya menteri dan panglima setia dibikin celaka. Kali ini ia lari keluar kota. Cie Kee ikuti kedua serdadu itu. Terus Thian Tek kasih lihat roman sangat berduka. ialah si paman sangat benci bangsa Kim dan sangat sesali pemerintah Song. kau memangku pankat. yang adalah pamannya. Thian Tek mendusin dengan kaget. tapi mendadak terdengar suara ribut-ribut di luar tangsi. Nyata tulang lengannya patah. tanpa pedulikan malam buta rata. hingga tulang itu mesti disambung. Mereka keluar secara diam-diam dari belakang tangsi. Thian Tek berkepandaian tidak seberapa. Sikapnya dingin. Thian Tek segera tekuk lutut di depan pamannya itu. Dalam ilmu silat. supaya selamat? Akhirnya dia ingat pendeta dari Kong Hauw Sie. Terang Khu Cie Kee balik kembali setelah ia tidak berhasil mencari Thian Tek. dia pasti dapat susah di tangan pamannya itu. Ia menjadi kepala di kuil Kong Hauw Sie itu.‖ katanya dengan suara susah dan mesgul. aku mohon pertolonganmu…‖ ―Kau tinggal di tangsi tentera. dengan memandang kepada muka ayah. dia paksa Lie Peng dandan sebagai serdadu. Dia cari tabib tentera untuk obati tangannya itu. Kemana ia mesti menyingkir. Dia pergi ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan yang komandannya adalah sahabat eratnya. ―Keponakanmu telah orang perhina. Kouw Bok Hwehio pandai ilmu silat. Maka kaget ia akan dapatkan tengah malam itu sang keponakan muncul dengan tiba-tiba. Tentu saja ia menjadi sangat ketakutan. Peehu. Lengan itu bengkak. ―Imam itu kepung-kepung aku hingga tak tahu kemana aku mesti singkirkan diri. aku minta kau suka tolongi keponakanmu ini…. dalam hal kecerdikan. sebab ialah dia tidak setujui kelakukan sang keponakan. ―Mari kita bekuk dia!‖ berkata si si komandan. ―Jangan kamu bikin toya gusar!‖ Baharu sekarang dua serdadu itu mendusin. yang sama martabatnya. tanpa pamitan dari rekannya. ia tidak abaikan ilmu silatnya itu.

― berkata paderi itu. keponakanmu celaka. tentera itu bakal membunuh habis semua pembesar dan tentera kita…‖ Kouw Bok lantas saja menjadi gusar. ia tutup mulut. dia katakan aku bakal terpisah kepala dari badanku. ―baik. genting utuh. setelah pemerintahan dipindah ke selatang. dasar tabiatku jelek.‖ ―Hm…!‖ sang paman perdengarkan suara di hidung. Thian Tek pura-pura tuli untuk ejekan pamannya itu. ―Kemarin dulu aku pergi ke barat jembatan Ceng Leng Kio. 51 ―Dia. benar dia…‖ kata Thian Tek. wa-sie itu diambil sebagai arti ringkas dari sebutan. hati Kouw Bok tergerak. Lam-wa-cu itu diambil dari kata-kata wa-sia. Lebih tegas lagi bermaksud. Aku minta peehu suka tolongi aku…. Irawan D Soedradjat Page ―Imam itu sangat galak.‖ ―Apa maksudnya dengan kata-katanya kepala terpisah dari badan?‖ tanya Kouw Bok lagi. maka itu dia dipanggil tiang-khoa. walaupun ia tahu orang sudah mendusta. ―Tapi kejadiannya benar demikian.‖ Thian Tek adalah satu perwira. hingga tak perlu aku main gila.‖ kata dia akhirnya. dia adalah paderi dari partai mana?‖ tanya sang paman. Disana kami bermain-main di Lam-wa-cu di bawah rangon Hie Cun Lauw…. terpaksa aku lari ke mari. Sayang aku bukan tandingan dia itu. semunculnya dia. Aku tak berani main gila lagi…. ―Kenapa itu imam kepung-kepung padamu?‖ ia tanya. untuk mengikat hati tentera. Itulah tempat pelesiran serdadu. aku suruh dia pergi. dia memaksa si nona melayani padanya…‖ ―Mustahil seorang suci pergi ke tempat semacam itu!‖ Kouw Bok menyela.‖ Dasar orang suci dan mengingat juga kepada almarhum saudaranya. ―Aku adalah seorang suci.‖ dia menjawab. Penghuni wan-sia adalah wanita-wanita melarat yang tidak punya sanak kandung. dan dia minta Toan Tiangkhoa keluar menemui padanya…. ―Tolong. Thian Tek sudah bangun berdiri. Aku lari. belakangan orang berpangkat atau sembarang hartawan pun dapat permainkan mereka. ―gampang berkumpul. Nyata dia sangat galak. tie-kek-cung. lekas-lekas dia berlutut pula. Ia omong terus: ―Aku ada punya satu nona kenalan. lari masuk dengan tegesa-gesa. Lebih jauh.‖ Thian Tek pura-pura merengek. Tapi maksudnya nag paling jelas ialah: Di jaman Song itu. ―Untuk beberapa hari kau boleh berdiam di sini.‖ Kouw Bok menitah. ―Dia menjelaskan. aku tegur dia dan jadi berkelahi karenanya. Tiba-tiba muncul imam itu.‖ Kouw Bok mengeluh. Mulanya itu mereka jadi barang permainan tentera. diwajtu pergi genting pecah‖. mengejar terus-terusan. ―Celaka. ―Satu pembesar tentera begini tidak punya guna.Pendekar Pemanah Rajawali Melihat roman orang. Dia damprat aku. Aku turur beberapa kawan. Lewat lhor itu hari. gampang bubar‖. dia mengejar. peehu. pemerintah mengadakan apa yang dinamakan wa-sia itu di dalam dan di luar kota Hangciu. Aku larang kau main gila pula!‖ Thian Tek menghanturkan terima kasih berulang-ulang. dan wa-sia berarti ―rumah genting‖. Maka itu aku telah singkirkan dia. tak dapat aku urus perkara main perempuan kamu ini. ―Dia berani mengatakan demikian?!‖ ―Benar. yaitu paderi tukang layani tetamu. ah…. . galak dia. ―Tolong untuk kali ini saja. Lie Peng sudah diancam oleh Thian Tek. hari itu aku minum arak bersamanya.‖ Thian Tek merintih. karena habis jalan. ―Panggil Thian Tek. ―Diwaktu datang. Kouw Bok merasa berkasihan juga. Ia menghela napas panjang. ia menemui Kouw Bok dan melaporkannya dengan gugup: ―Di luar ada satu imam. tak lama lagi tentera bangsa Kim akan datang menyeberang ke sini.

ia bukan Cuma besar tenaganya…‖ Lekas-lekas ia rangkap kedua tangannya untuk memberi hormat seraya menanya: ―Ada pengajaran apakah maka totiang datang berkunjung ke kuil kami ini?‖ ―Aku datang mencari satu bangsat busuk she Toan!‖ Cie Kee menjawab ringkas. diluar kendalinya. akan susul Kouw Bok.‖ Thian Tek mendusta tak kepalang tanggung. ―Inilah aneh. kecuali setibanya ia di mulut pintu pekarangan.‖ kata tie-kek-ceng. ia telah terlambat.‖ mengatakan Kouw Bok. Ketika itu. di hari-hari dari musim semi itu Kong Hauw Sie kedatangan banyak penduduk yang bersujud. Ia maju mendekati. Sebagai seorang yang beribadat. Thian Tek sudah umpatkan diri ke dalam sebuah kamar. yang disebutkan tadi. terpaksa ia berlalu. Kouw Bok berpikir. ia kaget sekali. tapi begitu ia kena langgar bahu si imam. selagi imam itu hendak memaksa memasuki pendopo walaupun paderi penjaga pendopo mencegah padanya. ―Dia membuang napas. Setelah mengetahui orang sudah pergi. Kouw Bok insyaf bahwa ia bukan tandingan ini imam. hingga ia mesti bekapi mukanya itu. Lebar tindakannya itu. habis itu dia angkat kaki sambil tertawa haha-hihi.Pendekar Pemanah Rajawali ―Entahlah dia imam dari desa mana. Kouw Bok Hweshio berdiri bengong mengawasi sepasang cio-say. aku tak sangggup lawan dia…‖ ―Baiklah. ia berlaku sabar. ―Singa-singaan itu musnah di tanganmu!‖ katanya.‖ Kouw Bok pakai jubahnya. ―Dia lihay sekali.‖ jawab muridnya itu. Di pintu pekarangan. Cie Kee tidak menjawab pertanyaan itu. Cie Kee juga tidak berani menggeledah.‖ sahut tie-kek-ceng. dia sendarkan diri di dua singa-singaan batu. Thian Tek keluar dari persembunyiannya. ia tak mau mengganggu kesujudan banyak orang itu. sebab ia dapatkan kenyataan. yang usianya tetelah beberapa ratus tahun…‖ Dan tangannya melayang ke muka Thian Tek. Ia lantas bertemu sama si imam. singa-singaan batu. celaka…. ia terus tolak bahu si imam itu. Ia nampaknya menggeraki tangan dengan perlahan tetapi ia menggunai tenaga dalam. Ia kena langgar daging yang empuk bagaikan kapas.‖ Kouw Bok lantas mengeluh. dasar aku yang tidak punya guna. penduduk pria dan wanita. ia hanya bertimdak masuk. kenapa totiang berpandangan sama dengan seorang biasa saja?‖ ia tanya. ―coba kalau dia tidak berlaku murah. Nampak romannya yang sangat berduka dan menyayangi singa-singaan itu. Kouw Bok lirik tie-kek-ceng untuk suruh muridnya itu antar tetamu tak diundang itu. jiwaku pasti sudah melayang!‖ Thian Tek membungkam. ialah Khu Cie Kee. yang muncul di depan gurunya. lebih-lebih Thian Tek yang mukanya menjadi bengap dan merah. celaka. waktu ia hendak tarik pulang tangannya. dengan seret Lie Peng. ―Apakah dia mengucapkan sesuatu?‖ tanya Kouw Bok setelah berdiam sesaat. ―Dia tak bilang suatu apa. dia Cuma bertenaga besar. terus ia pergi keluar. ―Tidak. agaknya ia sangat letih. sudah tentu benturan itu menimbulkan suara yang keras. ―Celakalah singa-singaan kita itu. separuh patung pun gempur! Dalam kagetnya yang tak terkira. Keduanya turut lari keluar. ―Seorang pertapa perpokok kepada belas kasihan dan murah hati.‖ lanjut muridnya lagi. Thian Tek dan tie-kek-ceng menjadi heran. ―Mana dia hanya satu imam dusun!‖ kata Kouw Bok dengan mendongkol. tubuhnya tertolak mundur keras sekali. ―Apakah ada sikapnya yang aneh selagi dia hendak berlalu?‖ tanya lagi. karenanya tentu saja ia tak dapat dicari. Irawan D Soedradjat Page 52 . habis mana ia lari keluar. ―Sebenarnya tak seberapa ilmu silatnya. Celakanya. ―Dia sudah pergi jauh. ia tak berani membuka mulut. tidak ampun lagi ia terlempar membentur patung Wie Hok di pendopo itu. ―Ah. Ia ingin mendorong imam itu keluar pendopo. Dengan tertawa dingin. nanti aku temui dia.

suaranya perlahan dan penuh rasa sangat menyesal. Ia mau percaya. Turut penglihatanku. Tie-kek-ceng heran. Ia mengawasi. Thian Tek tahu tidak selamat ia berdiam terus di Kong Hauw Sie ini. kecurigaannya timbul. ―Cio-say ini telah dirusak si imam dengan menggunai tenaga dalamnya…‖ katanya. Sayang ia terlambat. tidak berani dia membuka mulutnya.― Meyaksikan lihaynya Khu Cie Kee. ―Cio-say. ia dekati singa-singaan batu itu.ah!‖ Ia menghela napas panjang. kepada suteeku itu. aku pandang Cio-sang itu sebagai mustikanya Kong Hauw Sie. ia berhasil menyusul Thian Tek. pada ini mesti terselip salah mengerti. dari itu ia tidak bantah pamannya itu.‖ ―Aku pikir baiklah minta datang dua orang yang kakakmu itu perkenalkan. sekarang kita dapat buktikan itu. ketika itu Kaisar Liang Bu Tee telah memanggil tukang yang pandai untuk membuatnya.‖ berkata si pederi. begitu kena diraba. ―Eh…kenapa jadi beini…? katanya. ―Coba kita tanyakan keterangannya. Irawan D Soedradjat Page 53 . Demikianlah mereka berkumpul di restoran Cui Sian Lauw. singa batu itu gempur dan rubuh. lalu dengan menyewa perahu. Ia awasi cio-say itu. dia seperzi bukan hendak mengacau. ―Luar biasa sempurnya tenaga dalam dari imam itu. Seperti tanpa merasa. Habis menutur Ciauw Bok Taysu menambahkan: ―Telah lama aku dengar Tiang Cun Cu lihay.‖ ―Benar. pergilah kamu dengan baik-baik…‖ Kemudian dia berpaling kepada Toan Thian Tek. mungkin imam itu menyusul kita. Karena ia telah lihat Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya. Kebetulan ia lihat Lie Peng di dalam tamannya kuil. apa mungkin ia sudi layani kau yang begini hina memperebuti segala bunga berjiwa?‖ Thian Tek kaget. matanya mengawasi pamannya.‖ Ciauw Bok Taysu menyatakan akur. Sampai sebegitu jauh. ―Yang dikhawatirkan justru salah mengerti ini sukar dijelaskan…‖ kata Tin Ok pula.‖ kata Kouw Bok. Tiba-tiba saja. ―Pergilah kau kesana. maka itu mesti kita cari jalan untuk mengerti satu pada lain. Ingat Lie Peng. lebih pandai sepuluh lipat daripada aku. maka kalau kita bertempur pula.‖ Paderi ini hendak suruh panggil Thian Tek tempo Tin Ok peringatkan: ―Ciauw Bok Suheng. ia raba kepalanya. cio-say. Ia segera tarik pulang tangannya itu. ―Adikku seperguruan.‖ ―Kwa Toako betul. Kouw Bok menghela napas pula. ia terima mereka itu menumpang. Tiba-tiba saja ia menjadi kaget. malam itu ia ajak Lie Peng berlayar ke Kee-hin. maka sekarang. Karena ia telah lihat Lie-sie dengan matanya sendiri. ia berkeras. Khu Cie Kee ingat Pauw-sie. ia tidak mau percaya sangkalannya paderi itu. Ketika kemudian ia lompat masuk ke dalam pekarangan. maka aku mau percaya.‖ kata Kouw Bok kemudian. Pauw-sie pun disembunyikan di dalam kuil Hoat Hoa Sian Sie itu. sampai setiba Tiang Cun Cu dengan jambangan araknya yang istimewa itu. Ia berkata pula: ―Dia demikian lihay. mungkin dia sanggup melayani imam itu. begitu ia ingat pada Kanglam Cit Koay. Sekarang…. bertumpuk bagaikan puing. ia minta supaya Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya.‖ Kim Hoat menyarankan. ia pergi tolak tubuh cio-say yang satunya lagi. Keras adalah hatinya Khu Cie Kee. untuk beberapa ratus tahun kamu bercape lelah menjaga pintu kuil ini. mestinya jalannya tak sama dengan yang di rumah makan. ia cuma minta surat perantara. ia pergi minta bantuannya tujuh Manusia Aneh dari kanglam itu. Maka itu ia ketemukan Ciauw Bok Taysu. yang tidak kurang suatu apa. Lie Peng sudah disembunyikan Thian Tek dalam ruang bawah tanah. Oleh karena penasaran. ―Inilah takdir…‖ sahut si paderi dengan masgul. dia tidak bakal berlaku murah hati lagi. Ciauw Bok Taysu. sepasang cio-say ini adalah barang peninggalan jaman Lam Pak Tiauw. Kau tahu. kuping dan hidungnya cio-say itu runtuh jatuh. Tentu saja ia kaget hingga mukanya pucat. Thian Tek masih tidak mengerti. ia tidak sangka yang kawannya Thian Tek adalah satu wanita dalam penyamaran. Ciauw Bok Taysu merasa tidak ungkulan melawan imam itu. ―Aku keliru sudah menyalahkan kau…. Paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak menduga apa-apa. ―Aku memang bekum pernah tanyakan sesuatu kepada mereka. Pastilah dia menyangka kita telah bekerja sama dengan pihak Kim.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kenapa peehu?‖ sang keponakan tanya. untuk pergi menumpang pada Ciauw Bok Taysu.

cambuk Naga Emas. Suara itu seperti suaranya dua genta beradu keras. Kalau Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan bungkam mulutnya. si imam juga bebaskan diri dari ujung pedangnya si nona. Mendapatkan adik angkatnya terancam bahaya. ―Aku pikir tak apa. ia perbaiki. kakinya Cie Kee melayang. Seperti terlihat Khu Cie Kee. Ia menjadi sangat tidak puas dan berduka. Ia dan adiknya itu memang yang paling aseran diantara Cit Koay. dari pinggangnya. ―Nah. yang pandai sekali mengatur tentera. Ilmu silat itu asalnya tigapuluh enam jurus. sambil ia melompat. yang sekarang dipunyai Han Siauw Eng. beberapa kali Han Siauw Eng menghindari nacaman bahaya. tangan kirinya yang menyambar. Kali ini ia berhasil. Cambuk Naga Emas bukannya melilit tangan. Penambahan ini penting untuk si nona. Berdelapan mereka memburu ke depan. karena ia berkecimpung di dunia kang-ouw -Sungai Telaga – sedang raja Wat pakai ilmu itu dalam peperangan. Sikap kedua saudara ini sangat berbeda satu sama lain. Tiang Cun Cu mendesak Siauw Eng. sampai jambangan perunggu itu retak. di situ kedua negara biasa berperang. ia minta si gadis ajari ia ilmu silat itu. ia ulangi serangannya. ―Citmoay. Oleh karena disitulah tersiar luas perihal ilmu pedangnya si gadis Wat itu. Belum putus pembicaraan mereka. dengan jambangan arak di tangannya. mereka telah dikagetkan suara keras yang datangnya dari toan-thian. Pada suatu hari ia kedatangan satu gadis yang cantik. Berbareng dengan itu. yang satu geraki pikulannya yang istimewa. yang tajam mengkilap. panglima sangat tangguh dari negeri Gouw itu. Kota Kee-hin adalah tapal batas kedua negeri Gouw dan Wat itu. Untuk dapat menelan negeri Gouw itu. Dia menyerang beberapa kali. ia mesti menghadapi Ngow Cu Sih.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kalau terpaksa kita maju berdelapan…‖ Cu Cong turut berbicara. melainkan kita menghendaki dia sabar mendengarkan penjelasan Ciauw Bok Taysu. dengan itu ia lompat menikam bebokong imam itu. A Seng berkelit seraya melengak. Segera si imam serang tukang pentang bacot itu. Lam Han Jin dan Thio A Seng maju dengan berbareng. Ia menjadi sangat girang. ia tidak menyangka orang akali padanya. Siauw Eng menjadi penasaran. Cepat sekali Khu Cie Kee ketahui ilmu silat pedang si nona. si imam datang!‖ seru Kwa Tin Ok. Karena ini ia membuat si nona Han menjadi repot. ia membuat terbitnya suatu suara nyaring. mari kita maju lebih dahulu!‖ Ho Po Kie teiaki adiknya. negeri Gouw bermusuh dengan negeri Wat. Ia kembali gagal. yang pandai ilmu silat pedang. ditambah hingga menjadi empatpuluh sembilan jurus. Lincah sekali caranya ia berkelit. sedang menggempur genta di toa-thian itu. mengalun.‖ kata Coan Kim Hoat. suara itu lalu mengaung. Raja Wat. dia mencoba melilit lengan si imam yang memegang jambangan. Lagi sekali mereka dengar suara nyaring seperti tadi. untuk membinasakan panglima dan merubuhkan kuda perang.‖ ―Apakah nama kita tidak bercacat seumpama tersiar diluaran Ciauw Bok Taysu bersama Kanglam Cit Koay mengepung satu orang?‖ Han Siauw Eng pun bersangsi. ―Kita tidak berniat binasakan dia. ―Delapan orang lawan satu orang. sampai ia terdsak mundur ke tepinya patung Buddha. dengan satu gerakan tangan kanannya. orang kang-ouw juluki si nona Wat Lie Kiam – Akhli pednag Gadis Wat – Begitu lekas mengenali ilmu silatnya si nona. yang lain mainkan ―golok jagalnya‖ yang ujungnya lancip. dengan satu egosan tubuh. melatih keuletan diri dengan tidur sambil mencicipi nyali yang pahit. hendak ia merampas pedang si nona. hingga Khu Cie Kee tak ketahui apa yang diucapkannya. hanya menghajar jambangan perunggu itu. di tangan nona Han. Ia pun lantas tarik Kim-liong-pian. Sayang untuknya. Justru ia melengak itu. beruntun beberapa kali. Di pihak lain Han Siauw Eng sudah hunus pedangnya. sambil di lain pihak melayani Han Po Kie. tepat Irawan D Soedradjat Page 54 . dengan sabetan ―Naga hitam menggoyang ekor‖. hanya kali ini disusul sama campuran suara rengatnya barang logam. pendopo besar. itulah tidak benar…‖ menyangsikan Han Po Kie. negeri Gouw dapat dimusnahkan. Siauw Mie To si Buddha tertawa terus-terusan mengoceh tidak karuan juntrungannya. yang bernama Kouw Cian. Di jaman dahulu. Diserang dari depan dan belakang. Oleh karenanya. Khu Cie Kee tidak menjadi gugup.

Maka itu. ―Tahan! Tahan!‖ ia berseru-seru. dengan tangan kanan! Sebab sebat sekali. Atau lebih benar. Khu Cie Kee tidak peduli ia dikepung berenam. ia menangkis dengan jambangannya. tidak ada orang yang sudi dengar cegahannya itu. Tendangan itu mendatangkan rasa sakit dan akget. Ia merasa A Seng tidak akan luput dari bahaya. hanya guna mencegah si imam ulangi serangannya yang lihay itu. akan tetapi untuk dua serangan yang belakangan. Malah Khu Cie Kee perdengarkan seruannya: ―Kawanan pengkhianat tidak tahu malu. Dia akhirnya tidak dapat bersabar lagi. menampak ancaman bahaya. Menampak demikian Coan Kim Hoat tapinya menjadi penasaran. yang telah menjadi korban. ―Totiang. sedang Biauw Ciu Sie-seng si Mahasiswa Tangan Lihay. Walaupun begitu. sayang! Sayang apanya?!‖ tegaskan Siauw Mie To ―Sayang ilmu silatmu yang sempurna ini!‖ sahut Cie Kee sambil ia layani terus musuh-musuhnya. ia membalas menyerang dengan tangan kirinya. hendak aku bicara!‖ Dalam waktu pertempuran yang hebat itu. lihat!‖ Dan lantas ia mendesak dengan serangan tangan kirinya. sebagai tameng. ia tetap mainkan jambangannya sebagai senjata. Ia lihat ia dikepung berenam. Cie Kee memang menyerang dengan hebat sekali. kau ngaco belo!‖ mendamprat A Seng sangking murkanya. Keduanya maju dari samping. Ciauw Bok Taysu menjadi bergelisah menyaksikan jalannya pertempuran itu yang makin lama jadi makin hebat. Genggamannya Lauw-sie In Hiap adalah sebatang bacin. jangan turunkan tangan kejam!‖ Ciauw Bok Taysu berseru dalam kegelisahannya yang hebat. sebab Siauw Mie To tengan terdesak. ―Biarlah!‖ dia berseru. gaetan dan gembolan. Ia berkelit untuk serangan membalas sambil berkelit. ingin ia lekas-lekas menyudahi pertempuran itu. karena ia biasa berlatih mengadu tenaga dengan kerbau – sudah dagingnya keras dan kulitnya pun tebal. Disana masih ada dua musuh segar Kwa Tin OK dan Ciauw Bok Taysu – inilah berbahaya untuknya. setelah ia menganca. ialah tubuhnya tidak mempan senjata tajam. Irawan D Soedradjat Page 55 . ia sudah lantas pernahkan diri. yaitu alat peranti menimbangan barang. Di antara satu suara keras. Cie Kee melawan sambil berkelit. juga dengan kepalan. Tidak ampun lagi. sebagai jago ia tidak menghiraukan pedangnya yang terbang malah membarengi itu. ―Bagus!‖ Tiang Cun Cu puji lawannya ini. Kekebalannya itu ditambah sama tenaganya yang besar. Beruntun tiga kali. Cu Cong kaget bukan kepalang. diturut oleh kakak angkatnya itu. ia menyerang lawannya. imam bangsat. ia mengatakannya: ―Sayang! Sayang!‖ ―Eh. Thio A Seng ada punya ilmu kedot. dengan jari-jari tangan terbuka. ia pasang jambangan itu sebagai sasaran.Pendekar Pemanah Rajawali mengenai lengannya. lama-lama nanti ia kalah ulet. ia merasa bahwa ia telah mesti menggunai tenaga banyak. nyatanya mereka berada di bawah angin. dan ia sambuti serangannya si imam untuk keras lawan keras. maka itu senjata bisa dipakai berbareng sebagai toya. karena dengan itu ia lebih banyak membela dirinya. goloknya terlepas dan melayang. musuh bangsa Kim. ia lompat menerjang. Tapi ia salah menaksir ketangguhannya sendiri. Jikalau mereka ini meluruk juga? Dari itu. ia pakai tangan kirinya yang bebas yang tidak bersenjatakan apa juga. Totokan ini bukan untuk menolongi Thio A Seng. maka dua kali kepalannya A seng membuatanya jambangan itu bersuara nyaring. ―Tuan-tuan tahan! Dengar. dengan memberi tanda kepada kakaknya yang kedua. lengannya itu terhajar patah tangannya Khu Cie Kee. Ia khwatir juga. ia berlompat menotok jalan darah soan-kie-hiat dari Tiang Cu Cu. ia manjadi nekat. Untuk membalas menyerang. dalam hal ini. yang pandai ilmu menotok. Mana ia mau mengerti dikatakan menakluk pada musuh. Satu serangannya yang mengancam Thio A Seng hebat sekali. dengan kipasnya senantiasa mencari jalan darah lawannya. ―Kau begini lihay tetapi kau rendahkan dirimu dengan jalan menakluk kepada musuh negara!‖ ―Hai. Biauw Ciu Sie-seng merasa tidak enak karena berempat mereka mengepung.

Ciauw Bok Taysu lihat keadaan hebat. ―Dia hebat sekali!‖ pikirnya. maka setelah suara ting-tong. bagus! Sekarang serang beng-ie!‖ Setiap kali ia berseru. kuda-kudanya gempur. Bukan anggota tongjin yang ia incar. Coan Kim Hoat teriaki dia: ―Toako. Setelah turun tangannya paderi itu. Cuma ini jalan untuk tolongi saudara angkat mereka itu. Thie-leng adalah senkata rahasianya Hui Thian Pian-hok. kakinya si imam kena sambar pinggangnya. dia lihay. Ia juga tidak gunai satu-satu biji lengkak sebagaimana bermula tadi. ia kena tertipu si buta. Imam ini lihay. biar ia tidak terluka. dia toh tidak kalah. Coan Kim Hoat lompat melejit. Rupanya ia anggap belum cukup dengan korban Thio A Seng itu. Tidak dapat Kim Hoat pertahankan diri. dacin itu terus ditarik dengan keras. ia dapat bersedia setiap kali Kom Hoat perdengarkan petunjuknya. yang berkelit. Begitulah ia maju denagn sepotong kayunya yang mirip ruyung. makin perlahan. hingga ia menjadi kaget dan menjerit karenanya. hingga ia lantas saja rubuh terguling. Khu Cie Kee mesti berkelit. ia sungkan turun tangan. ia menangkis dengan jambangannya. tubuhnya terbetot. hingga orang tidak tahu dia masih hidup atau sudah mati… ―Serang! Serang!‖ Coan Kim Hoat masih bersuara lagi. ―Dia buta tetapi dia bisa mengincar dengan tepat. Ia menotok ke bawah ketiak. ia juga layani paderi itu. bagian hong dan lie. Irawan D Soedradjat Page 56 . Maka sebentar saja belasan lengkak telah membuatnya Cie Kee terpaksa main mundur saja. Berbareng dengan itu. Selagi melejit. Ciauw Bok Taysu dan Han Siauw Eng menyerang dari kanan. dan di kiri. Ia perhatikan suara anginnya. ia dapat menunjuki sasaran kepada toakonya. guna menhajar batok kepala lawannya itu. Menyusul tarikannya itu. tidak dapat lantas bangun. Kalut kedudukan mereka. Ia buta tetapi ia tahu dua saudaranya telah rubuh. ―Hajar tongjin…!‖ Yang terakhir ini Kwa Tin Ok tidak turuti tetap sasarannya Kim Hoat itu. setelah mana. yang mereka terjang dengan berbareng. Di saat ia hendak gerakkan tongkat besinya. ia mandi keringat. Batu dacinnya Lauw-sie In Hiap telah kena disambar oleh si imam. hajar lie! Bagus. Cie Kee terlalu perhatikan tongjin. yang menyerang ke lain jurusan. Di kanan ialah bagian ciat dan sun. Khu Cie Kee ayun terus tangan kirinya. kau gunai thieleng! Hajar dulu kedudukan cin. kedua senjata rahasia itu – thie-leng. untuk hampiri si imam. dan beda dengan dia adalah Thio A Seng. hanya kedua bagian kiri dan kanan dari tongjin itu. tetapi semakin lama. ia tolak jambangannya ke arah mereka itu. mirip lengkak tetapi ujung tajamnya ada empat. setiap kali juga lengkak besi dari Kwa Tin Ok menyambar. ―Dia ahli menotok.‖ pikir Khu Cie Kee. Sekarang ia menimpuk berbareng dengan empat buah senjata rahasianya itu. Cie Kee terkejut. yang satu mengenai pundak kanannya. Mau tidak mau. dua rupa senjata rahasia menyambar sar! ser! kearah si imam. ia tidak dapat tinggal peluk tanagn terlebih lama pula. semua sebab hampir berbareng. ia ulangi serangan-serangannya yang dikhawatirkan Biauw Ciu Sieseng. Dengan tidak kurang bengisnya. Sebenarnya ada sulit walaupun ada orang luar yang memberi petunjuk menurut garis-garus patkwa…‖ Ia lihat datangnya dua serangan itu. Sebagai seorang yang cerdik dan gesit. Ia lolos dari gempuran kepada batok kepalanya. ia tidak lolos seluruhnya. lalu kedudukan siauw-ko!‖ Menyusul anjuran itu. Kwa Tin Ok tidak dapat berdiam terlebih lama lagi. Lauw-sie In Hiap sendiri terancam lukanya. Cie Kee pun berkelit dari anggota tongjin sebagaimana diteriaki Kim Hoat.Pendekar Pemanah Rajawali Khu Cie Kee memang tidak berhenti sampai disitu. Coan Kim Hoat sudah berseru-seru pula: ―Hajar tionghu. meskipun sebenarnya ia tidak menghendaki pertempuran. Untuk cegah Lam Hie Jin dan Cu Cong. Ia tidak lolos dari semua empat lengkak. adiknya yang kelima dan yang keenam. yang berada paling dekat. Karena itu dengan berbareng dua orang perdengaran jeritan kaget. Atas itu. Yang satu menuju ke alis dan yang lain ke paha kanan sebelah dalam. Mesti begitu. suaranya makin lemah. Han Po Kie dan Han Siauw Eng kaget tidak terkira. atau lengkak besi – jatuh ke lantai. Segera juga terdengar jeritannya Coan Kim Hoat. yang ujungnya hitam hangus. ia melainkan tidak sempat membalas menyerang. suara beradunya setiap senjata. Kim Hoat itu adalah saudara angkat mereka. Yang mereka sayangi sebagai saudara betul. Jeritan itu menandakan adanya dua korban! Jitu serangan Tin Ok kali ini. Keduanya apungi tubuh mereka. pada itu tercampur rintihan juga. tidak terdengar suaranya sama sekali.

ia sendiri pun rasai pundaknya semakin kebas dan kaku. si cebol kena ketutup! Setelah itu Cie Kee lepaskan tangannya dari jambangan itu. Kwa Tin Ok kaget berbareng girang. Untuk tolong diri. ia keluarkan sebutir pil kuning. ia merasakan pundaknya sedikit kebas. Ia jadi berkhawatir. tanpa sangsi lagi. Sebab telapakan tangannya pecah dan mengeluarkan darah. ia tidak batalkan serangannya. ―Jangan lari. Han Siauw Eng tahu senjata rahasia kakaknya ada racunnya. Ketika mulut jambangan tiba di lantai. kerena mana meski ia bertenaga besar. hingga genggamannya terlepas dan jatuh ke lantai. Han Po Kie tidak sempat berdaya untuk membalikkan jambangan itu. Karena ini ia lantas tak berani melanjuti pertempuran itu. menyerah!‖ Kwa Tin Ok teriaki lawan itu. sebaliknya. lengkak yang mengarah bagian sun tepat mengenai pundaknya tanpa ia ketahui atau dapat berdaya mengelakkannya. ia melangsungkannya. ia lantas damprat dirinya sendiri. Berayal sedikit saja. Sekarang ia merasakan bahwa jambangan di tangannya itu menjadi berat. untuk keluar dari kurungan. ia hunus pedangnya. dia tidak boleh keluarkan tenaga. Maka pikulannya Hie Jin kena terhajar. maka tidak ada obat lagi untuk menolong. ―Lekas kau rebahkan diri di taman belakang. lengkaknya sudah nyasar di tubuh adik bungsunya itu. jangan lari!‖ Tin Ok teriaki. Ia tahu. jalan perlahan-lahan saja!‖ Siauw Eng mendusin. ―Citmoay. ―Toako!‖ ia memanggil. di tanah!‖ kakak ini beri petunjuk. Cie Kee terkena senjata rahasia. genta jatuh menimpa jambangan. ia menyapu kepada Han Po Kie yang maju untuk serang padanya. untuk membabat rantai gantungannya. racun bisa mengikuti jalan darah segera menyerang ke ulu hati. Sementara itu pucat mukanya Khu Cie Kee. Tin Ok lantas rogoh sakunya. ia baru sadar kapan ia dengar teriakannya Tin Ok kepada Siauw Eng. ―Lekas lemparkan pedangmu. Ia lantas lompat mencelat ke arah genta. yang dilarang lari. justru ia lagi ketakutan. muka siapa ia hajar. Hie Jin lantas merasa tubuhnya enteng. sehingga ia tidak bisa berkelit. Selagi nona ini maju menyerang. Inilah yang membikin ia kaget. tetapi ia dengar kata. Dengan tiba-tiba ia rangsak Lam Hie Jin. kedua matanya kabur. ia tidak perhatikan itu. Niscaya sekali ia menginsyafi bahaya yang mengancam dirinya. mulutnya manis. Tidak begitu saja. ―Ke mana kau hendak lari?!‖ bentak Tiang Cun Cu yang terus tolak tangan kanannya. dengan lantas ia jejalkan itu ke mulut adiknya. Itulah gerak ―Tiat so heng kang‖ atau ― Rantai besi dilintagi di sungai‖. Lam San Ciauw-cu lihat bahaya datang. lama-lama sang racun akan bekerja mencelakai ia. ia lari kepada itu kakak. Maka sambil membentak keras. ―Kau tidak boleh bergerak sedikit juga. Lantas ia menduga bahwa senajata rahasia itu ada racunnya. Khu Cie Kee tahu maksudnya lawan itu. ia lintangi pikulannya di depan mukanya. hingga tubuhnya si Tukang Kayu dari Gunung Selatan menjadi tergetar dan kedua tangannya dirasakan sangat sakit. Ia girang sebab ia dengar suaranya si imam. selagi dia ini belum tiba di lantai. jiwamu bakal tidak tertolong!‖ Si buta ini merasa pasti mengenai lawannya itu. akibat lainnya menyusul. Irawan D Soedradjat Page 57 . Dengan begitu. ―Tenangi hati. ia tidak mau singkirkan diri. Dengan senjatanya itu hendak ia sambut pukulan musuh. dikasih turun. begitu rantai putus. sambil pasang kuda-kudanya. berbareng tangan kirinya menolak tubuh genta itu yang beratnya mungkin ratusan seribu kati. sekalian diputar. kalau sampai itu terjadi. benar sementara itu ia cuma merasai sakit sedikit. Justru itu. lekas kemari!‖ ia memanggil. terus ia muntahkan darah hidup! Cie Kee telah dapat melukakan lawan yang menghalangi ia. ia dengar teriakannya kakak itu. Kau mesti tunggu sampai aku datang untuk mengobati!‖ Sebenarnya Siauw Eng keras kepala. peluhnya lantas turun menetes. ia terus lari ke belakang. ia pengkeratkan tubuhnya. begitu jeras. Siapa terkena senjata rahasia yang beracun itu. jambangannya jadi menungkrap dari atas. menyambar si cebol itu. Maka ia lantas berjalan dengan berpalahn tetapi tetap. Si cebol lari berkelit.Pendekar Pemanah Rajawali Jeritan yang lain dikeluarkan oleh Han Siauw Eng.

Cie Kee merasai pikirannya kacau tetapi kembali ia memusatkannya. Dia hampir membikin terlepas pedangnya. Orang she Toan itu terus sembunyi di dalam ruang dalam tanah. Tiba-tiba ia lihat tangan kiri Cie Kee bergerak. Ia Irawan D Soedradjat Page 58 . Cu Cong dan Ciauw Bok terarah semua bagian tubuhnya yang berbahaya. ―Sudah. ―Lihay tenaga dalam si buta ini! Mungkinkah ia melebihi aku?― pikirnya. Paderi-paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak mengerti ilmu silat. Tapi Tin Ok dan Cu Cong merintangi padanya. Nyatanya luka di pundaknya itu menyebabkan tenaganya jadi berkurang hingga separuhnya. maka lagi sekali. ia lantas pindahkan pedangnya ke tangan kiri. ujung pedangnya menikam ke arah muka. tubuhnya rubuh seketika! ―Imam anjing!‖ Cu Cong mencaci. darah pun berhamburan. Ia pun mulai terhuyung. Keras kedua senjata beradu. Maka repotlah mereka membuat perlawanan. Ia penasaran. ia merasakan dorongan suatu tenaga keras sekali. lekas-lekas ia pusatkan semangatnya. ia hanya berlari-lari berputaran di pendopo kuil. Paderi ini lihat ancaman bahaya. ia menangkis. belum lagi tubuh itu tiba di tanah. lalu Cie Kee menjadi kaget sekali. dengan cepat ia menangkis dengan tangan kanannya. Kali ini Cu Cong menimpuk dengan bok-hie. sudah. Justru itu. Sekarang ia baru ingat untuk angkat kaki saja. ia sudah muntahkan darah hidup! Cie Kee telah gunai tenaganya yang terakhir untuk serang lawannya itu. Tidak urung.. Ia geraki kipasnya untuk menotok jalan darah di dada si imam. Tin Ok dengar anginnya senjata. di sebelah musuh ia sendiri pun bisa celaka. Baharu belasan jurus paha Tin Ok telah tertikam pedang. Ia menginsyafi bahaya. ia menikam. takutnya bukan main. Oleh karena ini. Dengan tangan kiri ini. mereka juga tidak tahu bahwa guru mereka mengerti ilmu itu. dengan ―melukai semua‖ hendak diartikan ―mati bersama‖. tubuhnya terpental ke belakang. ―Kwa Toako. akan saksikan segala apa kacau dan orang rebah di sana sini. batok kepalanya telah terpukul keras. Dengan ini. Pengejaran Tidak ada jalan lain. Cie Kee terjang musuhnya. baru kita bicara!‖ berseru Cu Cong. mereka semua pada sembunyikan diri. ia melompat ke depan. ―Imam bangsat! Racun ditubuhmu telah menyerang hatimu! Kau tikamlah pula tiga kali!‖ Bangkit kumisnya si imam. Cie Kee insyaf bahwa tak dapat ia menyandak lawan itu. mereka lantas pergi mencari Toan Thian Tek. inilah pertama kalinya. Segera juga Kwa Tin Ok. Mendadak bebokongnya mengasi dengar suara keras! Ia merasa sakit sekali. Cie Kee belum pernah menemui lawan setimpal. ia berhenti mengejar. Tidak peduli tenaganya kurang. ia bersilat dengan ilmu silatnya ―Kie Siang Kim-hoat‖ atau ―Melukai Semua‖. Dengan menggunai ini ia telah menjadi nekat. ia insyaf kenapa ia kalah kuat. ia memikir untuk mengalah tetapi justru ia serukan kawannya. ia melompat kepada Manusia Aneh yang kedua itu. tetapi terlambat. Tempo ia diberitahu orang telah pada rubuh semua. tubuhnya terus terguling! ―Bekuk dia dulu. Ia menahan sakit. ia masih khawatirkan tidak ada Khu Cie Kee di antara korban-korban itu. dari itu selama pertempuran mengambil tempat. tanpa bilang suatu apa. Ia percaya. akan tetapi ketika kakinya menyentuh tanah. ujung pedang Cie Kee mengenai iga kanannya hingga ia kaget dan menjerit. cukup keras timpukannya itu. Sembari berlari. baru mereka keluar dari tempat persembunyian mereka. itu tambur teroktok peranti mambaca doa. yang rebah diam saja. Cu Jieko. kedua kakinya itu lemas. si buta itu. tubuhnya pun terhuyung! Cu Cong yang cerdik itu telah timpuk imam itu dengan sepatunya. menyerah berarti celaka. Cu Cong tidak melayani. Ia dekati imam itu. ia kaget. Sejak turun gunung.Pendekar Pemanah Rajawali Cie Kee tidak mau serahkan diri. Mereka jadi ketakutan. Sampai keadaan sunyi. Maka sambil menghela napas. Bab 6. biarkan si imam berlalu!‖ berseru Ciauw Bok Taysu. Tiba-tiba ia rasai matanya kabur. mendelik sepasang matanya. Kali ini. ia mau membuka jalan. dengan berlaku nekat ia tetap berbahaya. hari ini Tiang Cun Cu mesti terbinasa di tangannya bangsat-bangsat licik…‖ ia mengeluh. Maka ia putar pedangnya. Inilah ilmu silat yang sejak ia yakinkan belum pernah ia pakai untuk melawan musuh.

Ia bukannya seorang tolol. walaupun suaranya nyaring. segera ia pun sadar. Ia kerahkan tenaganya dengan kedua tangannya menekan lantai. Irawan D Soedradjat Page 59 . mendengar suara orang. Ciauw Bok dan Kanglam Cit Koay adalah orang-orang yang lihay. dengan sisa tenaganya ia timpuk Thian Tek dengan sepotong kayu di tangannya. ―Kenapa?‖ Thian Tek tanya. ―Kau…kau hendak lagi membunuh orang!‖ tanyanya. manusia jahat. Thian Tek gusar bukan kepalang. akan tetapi di saat seperti ini. Dengan tarik tangan Lie Peng. ―Letaki golokmu…!‖ Thian Tek tertawa tergelak. ―Dia Cuma berhati keras… Di sini telah terbit salah mengerti…‖ ―Orang baik apa!‖ kata Thian Tek. Ia telah diberitahu si imam lagi rebah diam dengan kedua mata tertutup. ―Kau ingin aku meletaki golokku? Hahaha!‖ ia tertawa mengejek. ia lantas menyerang. orang sangka ia adalah serdadu sebawahannya Thian Tek. kau kejar aku hingga aku bersengsara. Ciauw Bok Taysu juga gusar bukan main. lalu ia ayunkan goloknya. ia jadi kalap. ia bernapas berlahan sekali. Orang she Toan itu tidak menangkis. Ia ayunkan pula goloknya.Pendekar Pemanah Rajawali suruh dulu sat kacung paderi untuk melihatnya. ia lari keluar kuil. justru jiwa mereka sendiri terancam bahaya. tahan!‖ Tidak ada orang yang kenali Lie Peng. tanpa ingat budinya Ciauw Bok. ia lompat kepada Thian Tek.‖ katanya dalam hati. Hampir ia pingsan saking kerasnya ia melawan kemendongkolannya. tapi suaranya sangat lemah. hatinya menjadi ciut. Toan Thian Tek kaget. mukanya kena terhajar hingga rontok ziga buah giginya. Maka itu bukan main menyesalnya ia untuk kealpaannya itu. ia arahkan ke kepalanya si imam. hatinya lega. tubuh siapa dia dupak. dengan kejam. mereka ini kaget. Ia merasakan sangat sakit. dengan dua bacokan ia bikin kedua kacung itu rubuh.jangan bunuh dia…!‖ berseru Ciauw Bok Taysu. ―Kau tidak mau dengar perkataanku?!‖ dia membentak. hatinya mencekat. Tubuh paderi itu lewat terus.!‖ Ciauw Bok terkejut. Thian Tek cabut goloknya. Dengan mendadak Lie Peng berteriak. Satu kacung langsung tubruk Thian Tek untuk tarik lengannya. Ini nyonya tetap mengenakan seragam. maka tubuhnya rubuh dengan kepala pecah. Tiang Cun Cun. Lie Peng berteriak-teriak pula: ―Hai. ―Dia perlu dibunuh dulu…!‖ Ciauw Bok menjadi gusar. Maka itu sembari menghela napas. Thian Tek pergi cepat-cepat ke pendopo. dia tahu pasti orang adalah seorang wanita. tubuh itu tidak berkutik lagi. dengan cepat. ―Jangan…. mereka Cuma bisa membuka mata menyaksikan kejadian hebat itu. Ia rebah dengan terluka parah tapi ia dapat lihat perbuatan si keponakan murid. walaupun ia buta. yang lainnya mengigit. ―Imam bangsat. dia membikin aku mencelakai sahabat-sahabatku. kami semua telah kau aniaya! Benar saja di dalam kuilmu ini kau ada sembunyikan orang perempuan…. Di situ ada beberapa kacung paderi. Ia lantas hampirkan Cie Kee. ―Binatang ini telah jual aku. kemudian barulah ia keluar. dia hanya menyingkir sambil egos tubuhnya. Cuma Tin Ok. Thian Tek berkelit tetapi ia terlambat. sekarang hendak aku kirim kau pulang ke Langit Barat!‖ ia kata. tepat mengenai tiang pendopo. dari itu dengan sambar tangannya Lie Peng. Imam itu masih belum putus jiwanya. dia berkata: ― Ciauw Bok Hweshio. ―Dia adalah satu imam yang baik…‖ sahut Ciauw Bok.

Irawan D Soedradjat Page 60 . guna pindahkan mayat. hingga ia tak mampu keluar dari jambangan dan genta itu. disatu pihak ia ajukan pengaduan kepada pembesar negeri. Paderi pengurus dari Hoat Hoa Sian Sie telah bekerja. aku mohon maaf. terutama dirinya sendiri. ―Nanti aku susul dia!‖ teriak Po Kie sangkin gusarnya. Cu Cong dan Lam Hie Jin adalah yang terluka paling parah. Tin Ok tertawa dingin. Ia bukan lain daripada Ma Ong Sin Han Po Kie yang tadi kena ditungkrap Khu Cie Kee. yang kena ditikam kakinya hingga tak dapat dia berjalan dengan leluasa. bagaimana sekarang?‖ Siauw Eng tanya Khu Cie Kee.‖ ―Kwa Toako. Ia memang aneh tabiatnya. Ia pun keluarkan obatnya untuk suruh satu paderi pergi obat Khu Cie Kee dan Han Siauw Eng. hingga ia berkoak-koak.‖ dia bilang. Cu Cong semua membalas hormat. ia sendiri memberi keterangan pada Po Kie perihal jalannya pertempuran. Cie Kee dan Siauw Eng telah dapat ditolong dari racun. ia panggil Po Kie. untuk sabarkan padanya. kau saja yang bicara. Cie Kee mengerti ilmu obatobatan. ia lantas bangkit berbnagkit untuk menjura kepada tujuh saudara itu. Thio A Seng patah lengannya. mana kau melihat mata kepada kami!‖ katanya tawar. setelah mana mereka dapatkan satu tubuh tergelumuk menggelinding keluar. menyesal dan mendongkolnya. Hangciu. ia lantas obati Tin Ok semua. sekarang kau perlu rawat dulu saudara-saudaramu yang terluka. apa kata kaum kang-ouw bila peristiwa disini sampai tersiar? Tidakkah itu sangat memalukan? Tolong Totiang tunjuki kami bagaimana kami harus berbuat. Po Kie lantaa rawat semua saudaranya itu. Ia memangnya polos. Kwa Tin Ok masih sadar walaupun ia terluka. ―Tidak. semua orang duduk berkumpul dengan dirundung kemasgulan hingga mereka pada berdiam saja. akan tarik genta itu untuk dibikin terbalik. ―Nanti ada ketikanya untuk menghukum dia. akan tolongi orang-orang yang terluka. Mereka pun menjadi repot. tiba-tiba mereka dengar suara apa-apa dari arah genta. kita sekarang rubuh di tangannya satu kurcaci. tentang Toan Thian Tek dan si wanita yang menyamar sebagai serdadu. ia berpura-pura tidak tahu. semuanya telah dapat bangun dari pembaringan. Selagi mereka bekerja. aku tidak mau pergi…. ia tidak terancam bahaya. Jenazahnya Ciauw Bok Taysu pun lantas diurus. ia mengeluarkan napas lega. Cuma Tin Ok yang diam saja. di lain pihak ia kirim kabar pada Kouw Bok Taysu di Kong Hauw Sie. hingga selang beberapa hari. Coba ia tidak turuti hawa amarahnya dan berbicara dengan tenang sama Ciauw Bok. ―Totiang berkenamaan dan kami pun bukannya orang-orang yang masih hijau. setelah pingsan. ― Tentang ini untuk apa kau menanya pula kami…‖ Cie Kee tahu orang masih mendongkol. ―Jangan!‖ Tin Ok mencegah. Ia malu sekali yang ia bertujuh saudara kena dikalahi Cie Kee. ―Totiang. Ia sendiri pun bukan main masgul. Kemudian belasan paderi itu menggunai dadung. ia pun uruti mereka.‖ Po Kie dapat dibikin sadar. Ia merasakan kesembronoannya. Mereka menyesal sekali sudah jadi korbannya Toan Thian Tek. Ia heran dan kaget saksikan pendopo itu. ―Totiang biasa malang melintang. Kuil itu menjadi berisik. hingga Ciauw Bok Taysu menjadi korban.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tolong! Tolong!‖ Lie Peng berteriak-teriak. Tubuh bergelumbuk itu sudah lantas lompat bangun. Pada suatu hari. Selang beberapa hari. hingga mereka kaget.‖ kata Cie Kee menyahuti si nona. hingga suaranya tidak terdengar lagi. semua paderi menangis karena kebinasaan guru mereka. mereka lari serabutan. ia sadar. Mereka kaget. ―Pinto sangat menyesal.!‖ Tapi ia ditarik terus. peristiwa celaka itu pasti dapat dicegah.

Di dalam urusan kita ini. Dalam murkanya. kenapa kamu masih merasa belum cukup?‖ Ia lantas menjawab: ―Pedang ini adalah alat pembela diriku. Ia bersendirian dan mereka bertujuh.‖ Han Po Kie bersama Siauw Aeng dan A Seng bnagkit berdiri. jumlah mereka pun banyak – bertujuh – dari itu.‖ katanya seraya berbangkit.‖ ia berkata. ―Habis Kwa Toako memikir bagaimana?‖ menegaskan Cie Kee. tetap tenang. Ia sangat masgul. ―Hanya untuk itu. syaratnya haruslah pinto yang menetapkannya. pinto suka menyerah kalah saja. ―Aku masih ingin menerima pengajaran dari Totiang!‖ Kanglam Cit Koay gemar melakukan amal akan tetapi mereka berkepala besar.‖ ―Tak sanggup aku menelan peristiwa ini. Tetap ia sadar. ―Pinto telah terkena senjata rahasiamu. pasti sekarang aku telah berada di Negara Setan. Tin Ok bilang: ―sekarang kita sama-sama terluka. lain kali tak nanti aku datang kemari untuk membuat onar pula. Hampir berbareng mereka itu kata: ―Kalau Kanglam Cit Koay bertaruh selamanya adalah pihak sana yang memilih tempat dan waktunya!‖ Cie Kee tersenyum dapatkan orang demikian gemar menang sendiri. akan aku bunuh jahanaman itu! Sekarang aku mohon diri…‖ Ia menjura pula. ―Kau telah lukakan parah saudara-saudaraku ini. ia jengah hingga tak dapat ia membuka mulutnya. Irawan D Soedradjat Page 61 . kami akan melewati sisa hidup kami…‖ Mukanya Cie Kee menjadi merah. ―Tuan-tuan. maka itu baiklah lain tahun pada hari ini. kamu hendak adu kepandaian yang memutuskan denganku. kalau tidak. Sekarang mereka kalah di tangan Khu Cie Kee satu orang. ―Pinto tidak berani. Mungkin sekali. ―Tentang sakit hatinya Ciauw Bok Taysu serahkan itu padaku. Asal Totiang tidak mengganggu kami.‖ kata ini ketua Kanglam Cit Koay. mereka itu akan tambah kepandaiannya. lantas ia ngeloyor keluar. apakah itu cukup dengan hanya kata-katamu barusan?‖ tanya Tin Ok. Ia terus berpikir. ―Apa saja yang tenagaku dapat kerjakan. maka itu pinto menyerah kalah…‖ ―Kalau begitu. Imam itu memutar tubuhnya. ―Tahan!‖ Tin Ok berseru. aku telah menghanturkan maaf dan mengaku kalah. sulit untuk kita bertempur lagi. kami tidak ada muka untuk mencampuri tahu lagi. walaupun benar pinto telah lukai kamu. orang malui mereka. ―Dengan meninggalkan pedangmu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Segala urusan kaum kang-ouw. Kwa Toako. Ia pun bisa berlatih diri tapi barangkali sukar untuk beroleh kemajuan. malah dengan pernah mengalahkan seratus lebih jago Hoay Yang Pang. ―Kwa Toako hendak menitah apa?‖ ia tanya. di dalam hati ia berkata: ―Aku telah beri muka kepada kamu. suka aku menuruti titahmu. ―Selanjutnya kami akan berdiam di sini. sepak terjang mereka biasanya luar biasa. Kalau tidak. Mereka sendiri belum pernah nampak kegagalan. tidak nanti mereka disebut ―Cit Koay‖ – tujuh Manusia Aneh. selama tempo satu tahun. dan CU Cong dan lainnya yang terluka mengangkat kepalanya dari pembaringan. letaki pedang di bebokongmu itu!‖ bentak Tin Ok. Ia tahu Cit Koay bukan orang busuk. tak dapat ia layani mereka. sama saja dengan tongkat Kwa Toako…‖ Tin Ok tapi tetap murka. bagaimana mereka tidak menjadi penasaran? Cie Kee terkejut. tidak ada halangannya.‖ kata ia.‖ sahut si imam itu. sampai ia dapat satu pikiran.‖ Tin Ok bilang. dengan tanganku sendiri. aku minta totiang membuat pertemuan pula di Cui Siang Lauw!‖ Cie Kee mengerutkan keningnya. kenyataannya adalah pinto telah rubuh. Mereka semua lihay. ―Tanpa pertolonganmu. suka aku melepas kau pergi!‖ Bukan main mendongkolnya Cie Kee. Selang sesaat baru ia dapat bicara. untuk menangkap ikan atau mencari kayu. ―Kau pandang entang kakiku pengkor?!‖ ia membentak. ―Aku telah menerbitkan malapetaka. Bagaimana ia bisa loloskan diri dari mereka itu? Pula ada sulit untuk melayani mereka bertempur pada lain tahun. nama mereka jadi menggemparkan dunia Kang-ouw.

Cie Kee berkata pula. maka kami bukanlah tandingan kamu bangsa imam!‖ Khu Cie Kee pun tertawa. ―Biangnya gara-gara hingga kita bertempur dan saling melukai adalah urusan menolongi turunannya orang-orang gagah. karena itu ia telah ubar-ubar Toan Thian Tek. kita memakai akal budi. dengan menggunai alat senjata atau kepalan dan tendangan. ―Lekas bicara. ―Lekas kau bicara!‖ Cie Kee lantas berduduk.‖ ia menyahut dengan sabar. Mendengar itu Siauw Eng pun tertawa. oleh karena itu. Bukankah kita. beberapa kali Kanglam Cit Koay mengutuk bangsa Kim serta pemerintah Song yang sewenang-wenang dan kejam. lekas!‖ ia mendesak pula. habis apakah syaratmu itu?‖ Maka mereka menanti penjelasan. masih tetap berlaku kata-kataku tadi. Irawan D Soedradjat Page 62 . Aku akan menghadapi kalian bertujuh. Ialah umpama kata tuan-tuan anggap tidak sempurna. Kepandaian semacam itu. Ia juga tuturkan bagaimana caranya ia kejar Thian Tek itu. kaum Rimba Persilatan yang kenamaan tak dapat berlaku demikian cupat sebagai anak-anak muda yang terlahir belakangan?‖ Kanglam Cit Koay saling mengawasi. hati mereka masing-masing menduga: ―Kau tidak hendak menggunai senjata. siapa menyakinkan ilmu silat tentunya semua mengerti. ―Lekas bilang. ―Tapi apa yang kita akan adu adalah kepandaian sejati. ―Jikalau kita mencari pokok sebabnya. siapakah yang paling gagah – satu enghiong sajati!‖ Kata-kata ini membuat darahnya Kanglam Cit Koay mengalir deras.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kamu suka terima syarat apapun?‖ dia tanya. Cu Cong dan Coan Kim Hoat adalah yang tercerdik di antara saudara-saudaranya. Ia tahu benar Cit Koay adalah sangat besar kepala. mustahil kami nanti kalah…‖ ―Kata-katanya satu kuncu?‖ berkata imam itu. Di dalam hatinya mereka berkata: ―Tidak peduli kau pakai akal licin apa juga. ―Jangan kau coba pancing hawa amarah kami!‖ Tin Ok memotong. imam itu memancing hawa amarah ke tujuh Manusia Aneh itu. Lalu ia menjelaskan tentang persahabatannya sama Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim – yang ia maksudkan si orang-orang gagah itu – yang mengalami nasib celaka. Aku sendiri tidak menghendaki cara mengandali kekosenan saja. pinto tetap suka menyerah kalah!‖ Dengan ini. kita mesti melakukan suatu pertempuran yang memutuskan. dengan sikapnya yang agung. Thian Tek saban-saban dapat meloloskan diri. ―Sama cepatnya dengan satu cambukan kuda!‖ sahut Siauw Eng lantas. baiklah kita kembali kepada sebab musabab itu.‖ Dengan ―orang gagah‖ imam itu maksudkan ―ho-kiat‖ atau ―enghiong‖. ―Syaratku ini ada meminta tempo yang lama. ―Biar bagaimana. tetapi sangkin licinnya. Marilah kita lihat. Kwa Tin Ok masih sedang memikir ketika Khu Cie Kee berkata pula: ―Mengenai syaratku ini. ―Pinto juga tidak berpikir untuk adu kepandaian sama Cu Jieko dalam hal mencuri ayam atau meraba-raba anjing atau mengulur tangan menuntun kambing!‖ Ia maksudkan ilmu mencopet. ―Semakin sulit adanya syarat. mereka tidak jeri. semakin baik!‖ Cu Cong tapinya tertawa. lekas!‖ Han Siauw Eng.‖ kata Tiang Cun Cu dengan tenang. Selagi memasang kuping. tuan-tuan! Kita bukan Cuma mengadu kepandaian. Ia berkata: ―Kalau syaratmu itu adalah untuk mengadu bertapa atau membikin obat mujarab atau membikin surat jimat guna menangkap roh-roh jahat. ―Kau sebutkan saja syaratmu!‖ kata mereka. juga mengadu kesabaran. tangan dan kaki.

Bukankah syarat itu ada sangat luar biasa? ―Jikalau tuan-tuan bertujuh yang bertempur sama aku. empat saudara lainnya telah pernah lihat mereka itu‖ ―Aku ingat suaranya Lie-sie itu. Inilah yang pinto hendak gunai sebagai syarat pertaruhan kita…‖ Siauw Eng segera menyela: ―Kami pergi tolongi Lie-sie. setelah itu mereka bertanding satu lawan satu. ―Tuan-tuan berkenan menolongi abak yatim piatu dari keluarga Kwee itu. Heran untuk kata-kata si imam. umpama kami tak dapat lawan kamu. yaitu Pauw-sie. kau hendak membikin kamu bercapek lelah selama delapan belas tahun!‖ Irawan D Soedradjat Page 63 . ―Bukankah tuan-tuan menang karena jumlah yang banyak lawan jumlah yang sedikit? Kemenangan itu bukan kemenangan yang mentereng! Dengan syarat kita ini aku nanti turunkan kepandaianku kepada satu orang. ―Umpama berselang lagi tiga puluh tahun.Pendekar Pemanah Rajawali Habis menutur.‖ ―Apakah adanya itu?‖ Kwa Tin Ok bertanya.‖ kata Kwa Tin Ok. Kita membuatnya pesta. tidak ada satu jua yang segara menjawab imam itu. tuan-tuan pun mewariskan kepandaian kamu kepada satu orang juga. kau pergi tolong Pauw-sie! Siapa yang lebih dulu berhasil. ―Memang menolong anak piatu dan janda juga adalah perbuatan yang mulia. dan Lie-sie keburu dibikin binasa oleh Toan Thian Tek?‖ ―Biarlah kita sekalian adu keberuntungan juga!‖ sahut Cie Kee. ―Baiklah. Di situ nanti kita lihat. murid pinto yang berhasil atau muridnya tuan-tuan bertujuh!‖ Tjuh bersaudara itu saling memandang. bukankah tuan-tuan akan merasa puas?‖ Akhirnya Tin Ok ketruki tongkat besinya ke lantai. ―Akan aku jelaskan. lalu kita ajak mereka ke Kee-hin. ―Cuma dengan beberapa kata-katamu ini. kita mesti pernahkan mereka itu. sesudah puas makan minum. itu tidak ada artinya. lalu anak-anak mereka itu kita rawat dan didik dalam ilmu silat. tidak nanti aku dapat melupakannya. itu memang benar bukannya kerjaan terlalu gampang.‖ Cie Kee tonjolkan jempolnya. ―Bagaimana sebenarnya?‖ Han Po Kie tanya ―Kita menanti sampai lagi delapan belas tahun. ―Han Samya benar!‖ pujinya. tidak dengan demikian tuan-tuan.‖ berkata Cu Cong kemudian. istrinya Kwee Siauw Thian. Tapi Coan Kim Hoat campur bicara. sampai itu waktu. ―Aku masih belum tahu dia ada dimana. masih ada hal yang terlebih sukar lagi. ―Dua-duanya Pauw-sie dan Lie-sie itu sama-sama lagi mengandung. ―Cuma menolongi saja?‖ ia ulangi. kita undang sejumlah orang gagah lainnya untuk menjadi saksi.‖ Cie Kee berkata pula. yang meminta banyak waktu. Kecuali Kwa Toako bersama saudara Han.‖ ―Tentang istri Yo Tiat Sim. Pernah pinto melihat romanya Pauw-sie. Berbareng dengan itu. bukankah?‖ Khu Cie Kee tersenyum. akan tetapi selain itu. untuk membuat pertemuan di Cui Sian Lauw. andaikata muridku yang menang. Pinto ingin setelah dapat cari dan tolong mereka. ―Jikalau Thian menghendaki aku yang menang. secara demikian kita bertaruh! katanya. Pinto akan didik anak Yo Tiat Sim dan tuan-tuan bertujuh merawat anaknya Kwee Siauw Thian…‖ Tujuh bersaudara itu membuka mulut mereka. untuk ini sekarang pinto wakilkan saudara Kwee menghanturkan terima kasih terlebih dahulu!‖ Dan ia lantas menjura dalam. anak-naka itu telah berumur delapan belas tahun.‖ Cie Kee menambahkan. baru kita suruh kedua anak itu adu kepandaian. tenaga dan pikiran.. ―Itu waktu.‖ jawab si imam. apa hendak dibilang?‖ ―Baik!‖ Han Po Kie juga turut bicara. ―Cara pertaruhan ini adalah terlalu licin. dia yang menang. Cie Kee tambahkan: ―Orang yang Toan Thian Tek bawa lari itu adalah Lie-sie.‖ menerangkan Tiang Cun Cu. Ia tanya: ―Bagaimana kalau pertolongan kami terlambat. umpama kata kamu yang menang. ―Untuk pergi mencari dan menolongi. Kita tunggu sampai mereka telah melahirkan anak. kami toh telah lakukan juga satu perbuatan yang baik.

tetapi hari ini bertemu dengan kamu – hahaha!‖ Kanglam Cit Koay menjadi panas hatinya.‖ ia berkata pula.‖ sahut si imam yang ditanya. Paling dulu ia mencari rumah penginapan. begitu muncul kata-kata: ―Orang Utara naik kuda.‖ kata Cie Kee. ―Kalau satu orang gagah sejati bersahabt. ―Sha-tee! Sha-tee! Cu Cong memanggil-manggil. hingga pastilah sulit kita mencari padanya!‖ Di antara Cit Koay. ia tak tampak ada orang yang kejar atau susul padanya. tak dapat aku pulang untuk pangku pula jabatanku. ―Sejak zaman dahulu hingga sekarang ini. ia menukar perahu beberapa kali. Thian Tek lantas asah otaknya: ―Aku telah terbitkan onar besar. ―Lekas berangkat!‖ ia membentak tukang perahu sambil ia cabut goloknya. mereka gagah perkasa dan mulia. ―Apakah yang lucu?‖ tanya Han Siauw Eng.‖ Tukang perahu itu ketakutan lihat orang demikian galak. ia ajak Lie Peng bersama. Ia cerdik. Dengan mereka. tak ada sinarnya. Pengorbanan itu tidak ada artinya! Bukankah kita belum pernah dengar bahwa di jaman dahulu ada Keng Ko dan Liap Ceng berhitungan?‖ Wajahnya Cu Cong menjadi pucat. Kanglam adalah daerah air. guna susul Thian Tek. ia lantas lari keluar. maka itu segera ia menuju ke sungai. Tetapi Po Kie si tak sabaran telah pergi jauh. Thian Tek telah angkat kaki dengan naik perahu. ia lantas mengayuh.‖ Kudanya Po Kie lari pesat. Ketika ia tarik Lie Peng keluar dari tempat berbahaya itu. Han Po Kie segera menghajar bangku dengan tangannya. kendaraan air adalah alat penghubung atau pengangkut yang paling umum. akan tetapi ia berdongak dan tertawa besar. tibalah ia di Yangciu. Dengan lekas ia keluar dari daerah kota. kita bertujuh akan terima tanggung jawab kita ini!‖ Khu Cie Kee lantas berbangkit. untuk terus menaiki kudanya. ―Kau tidak kenal mereka itu!‖. Setelah berkata begitu. malah tanpa memilih kenderaan air lagi. ―Tidak salah apa yang totiang bilang!‖ katanya sambil goyang kipasnya. ―Maka itu lagi delapan belas tahun. ―Dia tak dapat dibiarkan menghilang. Ia tanya-tanya orang akan tetapi pertanyaannya tidak jelas. Semoga itu imam bangsat dan tujuh siluman dari Kanglam itu bertempur hingga mampus semuanya. ialah denagn segala urusan ia bersedia untuk mengorbankan dirinya. Baiklah aku pergi ke Utara untuk menyingkir dulu dari ancaman bahaya. ―Aku mengaku keliru! Baiklah. ia bertindak pergi. ia lompat naik ke sebuah perahu. ―Selama dalam dunia kang-ouw telah aku dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay. sama saja dengan kuda atau keledai di Utara. dialah yang tidak terluka.. ―Hari ini adalah tanggal dua puluh empat bulan tiga. apapula ia kenali roman orang itu. tentu sekali ia tak dapat cari Thian Tek. ia buka tambatan perahunya.Pendekar Pemanah Rajawali Wajahnya Khu Cie Kee berubah. dia bersahabat untuk menjual jiwanya. ―Orang umumnya bilang mereka itu gemar sekali menolong sesamanya. ―Nanti aku susul Toan Thian Tek!‖ kata Han Po Kie. kita akan bertemun pula di rumah makan Cui Siang Lauw. Berselang belasan hari. orang Selatan naik perahu. Thian Tek tunjuki terus kelicinannya. tetapi ia hanya mondar-mandir di darat. supaya aku dapat kembali ke Liman. orang she Cu ini menyebutkannya Thian Tek dan Lie Peng. lega hatinya apabila ia menoleh ke belakang. disana ada banyak sungai atau kali. seraya kibaskan tangannya. Ia hendak bicara tetapi si imam dului dia. Ia telah memikir untuk cari suatu tempat untuk bertinggal Irawan D Soedradjat Page 64 . untuk orang-orang gagah di kolong langit ini menyaksikan siapa sebenarnya laki-laki sejati!‖ Habis berkata. dari itu.

Malah Po Kie ada bersama denagn satu nona. Akan tetapi ia adalah satu wanita lemah. Po Kie bersama kawannya yaitu Siuaw Eng. tetapi tak urung. Setiap kali ia berlepas tangan atau mulutnya. hingga mereka sampai di perhentian Lie-kok-ek. ujung goloknya putus dan jatuh ke tanah dan ujung pisau belati menyambar terus ke dadanya. aku bertemu pula denganmu. napasnya memburu. Itu hari selagi berada di dalam kamar. ia tarik tangannya Lie Peng untuk diajak segera menyingkir dari pintu belakang. Thian Tek tetap jerih untuk Han Po Kie beramai. Belum sampai setengah bulan ia berdiam di tepi telaga itu. Ia kaget tetapi ia berlaku tenang. saban-saban ada orang mencari dia. ingin aku supaya sebelum datang saatnya. Kemudian ia menjadi mendongkol. selalu dapat ia menjauhkan diri dari mereka itu. Thian Tek berniat membunuh Nyonya Kwee itu. sudah lantas menjerit-jerit. nyonya Kwee suka ngoceh tidak karuan. kecuali si kate terokmok dan si nona. lebih baik bia ia bisa binasa bersama musuhnya itu. Thian Tek sambar sebuah kursi. ia terus berontak dan berteriak-teriak. Kelakuan si nyonya itu gampang menimbulkan kecurigaan orang. ialah seorang pincang dan bermata buta yang membawa-bawa sebatang tongkat besi. maupun di tengah perjalanan. Dari dalam kamarnya ia mengintai. ia terus membawa Lie Peng. ia juga tak dapat lari seorang diri. ada lagi seorang lain yang cari padanya. Syukur untuknya. yang merasa ada bintang penolongnya.Pendekar Pemanah Rajawali buat sementara waktu. ia sebenarnya sudah memikir untuk bunuh diri. maka itu sebaliknya dari ketakutan. hingga bayi di dalam perutnya itu meronta-ronta. Ini yang menyebabkan ia selamanya dapat lolos. tetap ia menuju ke Utara. ia menikam! Thian Tek kaget dan heran. Ia pun telah dipukuli. menampak sikapnya Thian Tek itu. saking khawatirnya. maka itu. Setiap ia mendarat. ia sudah umbar hebat hawa amarahnya tanpa merasa ia membuat kandungannya tergerak. ia justru mendahului sambil menubruk. hingga mereka jadi menarik perhatian orang. Syukur untuk Thian Tek. Ia telah hunus pedangnya. ia dekati Lie-sie. di tepi telaga Bie San Ouw di wilayah propinsi Shoatang. Kali ini ia kembali naik perahu. dadanya itu pasti telah tertancap pisau belati itu. baik selama di penginapan. ia tidak takut. ia diringkus Thian Tek. Lie Peng tidak mengerti silat. ―Aku tak akan membunuh padamu!‖ Lie Peng sendiri telah lemas kaki dan tangan dan tubuhnya. Dalam kagetnya ia buang diri ke belakang. dadanya kena tergurat. engko Siauw. Nyonya Kwee telah tawar hatinya sejak kebinasaan suaminya. ia justru diam-diam memuji kepada roh suaminya: ―Engko Siauw. ia siapkan pisau belati atau badik yang Cie Kee hadiahkan kepadanya. dibekap mulutnya dengan selimut. Adalah pikirannya Thian Tek. memasang mata. ia angkat tangannya untuk dikasih turun denagn bacokannya. Untuk bela diri terlebih jauh. walaupun kedua pihak bertemu muka. sudah kepalang tanggung. Ia menjadi masgul dan bingung sekali. selama tinggal di penginapan. Ia lihat tegas seorang kate dampak yang romannya jelek sekali yang berbicara dengan lidah Kee-hin. Dalam sengitnya. Ia melalui Lim-ceng dan Tek-ciu dan tiba di propinsi Hoopak. Maka terpaksa ia gunai goloknya untuk menangkis. Inilah ia tidak sangka. ia hanya berpura-pura edan. ia telah keluarkan tenaga terlalu besar. Syukur ia waspada dan cerdik. ―Simpan senjatamu!‖ ia membentak. Han Po Kie dapat susul ia. Sebab bukanlah soal yang sempurna untuk terus-terusan berkelana dengan hati tidak tentram. Coba Lie-sie bertenaga cukup. mereka itu tidak kenali padanya. tak sudi ia berjalan sedikit juga. Ia dapat kenyataan si nyonya si nyonya bukan gila benar-benar. Ia berlayar terus ke Utara. Kembali ia menyewa sebuah perahu. Dengan tiba-tiba otaknya Lie Peng terganggu. tiga orang itu tidak kenali dia. untuk Irawan D Soedradjat Page 65 . bajunya kena terobek. akan tetapi Lie Peng. adiknya. hingga darahnya lantas mengucur keluar. Ia peroleh kenyataan. Setelah merasa pasti bahwa orang adalah salah satu Cit Koay. ―Trang!‖ demikian satu suara nyaring. Dengan letih ia jatuhkan diri ke kursi. Thian Tek dapat godaan lain. agar dapat aku membinasakan manusia jahat ini!‖ Lalu dengan diam-diam. ia dengar suara Han Po Kie tengah berbicara sama pemilik penginapan. Tapi ia masih ingat akan pisau belatinya yang ia pegangi keras-keras. ada kalanya ia robek bajunya atau bikin kusut rambutnya. Untuk kagetnya manusia busuk ini. tidak mendengar apa-apa. tetapi telah bulat tekadnya. untuk keram diri di dalam kamarnya . kau lindungi kepadaku. menanyakan tentang dia dan Lie Peng. aku mohon kepadamu. Thian Tek tersenyum aneh. Selama itu rasa takutnya tak jadi berkurang. Tidak lama kemudian.

sang adik. Setiap hari aku bisa dahar dan minum enak. artinya ―Kota Tengah‖. aku masih belum dapat mempernahkannya. ia suka dengari adiknya yang cerdik dan tangkas.‖ Wanyen Yung Chi terima baik nasehat itu. kepergian putra ini sebenarnya guna melihat sendiri keadaan bangsa Monglia itu. Ia marah tetapi ia tidak bisa berlaku keras kepada nyonya itu kecuali ia mengancam agar si nyonya terus ikut padanya. yang tak kejam bukannya satu laki-laki?‖ Karena ini ia lantas tersenyum. supaya tentang perjalanan mereka – ke mana saja mereka menuju – ada menimbulkan bekas. Ketika itu hawa udara telah mulai berubah. mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tak nyata. Udara begini tidak terlalu mengganggu orang-orang yang membuat perjalanan. dia telah celakai aku hingga begini…‖ Justru ia ngoceh ini. setelah mana ia bertindak untuk sambut tetamunya.‖ katanya dengan manis. ia mengucapkan terima kasih. bagaimana senangnya aku. Karena tugasnya ini. guna menghargai jasanya itu. tetamunya adalah Toan Thian Tek dan orang ingin numpangi diri kepadanya. Kenapa aku mesti meninggalkan satu . malah menyenangkan. ibukota kerjaan Kim itu.Pendekar Pemanah Rajawali sengaja menarik perhatian orang. Temuchin sudah mulai kuat kedudukannya. Celaka untuknya. ―Pergilah kau beristirahat!‖ katanya sambil ia mengibaskan tangannya. Hawa panas mulai lenyap. tetapi dasar pangeran Kim yang keenam itu yang kemaruk sama istri orang. pergilah beristirahat dulu. Ia jadi semkin hati-hati. akan tetapi ia tetap dibayangi pengejar-pengejarnya. Thian Tek telah menyingkir jauh ke utara. oleh karena mana. Pada suatu. untuk pergi ke sana. sang putra pergi menganugerahkan Temuchin sebagai Pak Kiang Ciauw-touw-su. adik itu berkata kepadanya: ―Hari ini ada datang padaku satu mata-mata dari kerajaan Selatan. bekalan uangnya mulai habis. saking uring-uringan. ―Mereka juga bertabiat kasar. Wanyen Lieh bangkit dari kursinya. Didalam hatinya. tetapi satu hambanya pangeran itu muncul dengan tiba-tiba mengabarkan ‗kunjungannya Sam-ongya‘ – pangeran yang ketiga. Sam-ongya itu adalah Wanyen Yung Chi. Di samping itu. maka itu. ialah Tio Ong atau Chao Wang (Pangeran Tio atau Chao) Kapan Wanyen Lieh dengar tentang kedatangannya satu perwira dari selatan. pangeran Wei atau Wee. Di sana Thian Tek langsung mencari istananya pangeran itu. itu pangeran Kim yang ia maksudkan.‖ berkata Wanyen Lieh. dapat ku bersenang-senang dengan wanita-wanita cantik. selanjutnya mereka tidak akan berani berontak. putra yang ketiga dari Wanyen Ching. setelah berjalan jauh dan melewatkan banyak hari. sang angin sejuk telah mulai menghembus. gemar mereka menghina yang lemah tetapi jerih terhadap yang kuat. Ia ada lemah. Pada masa itu pemimpin bangsa Mongolia. ―Bangsa Monglia itu tak tetap tempat tinggalnya. Di antara saudara-saudaranya. kakak harus membawa satu pasukan tentera yang terpilih. ia malah membantui negara Kim memusnahkan bnagsa Tartar. Ibukota Yan-khia itu disebut juga Tiong-touw atau Chungtu. Ia sebenarnya hendak beritahu juga bahwa ia datang bersama Lie Peng. urusan bisa menjadi rewel. Ketika ia hendak berbnagkit. Ia bergelar Wei Wang atau Wee Ong. ―Kenapa aku tidak pergi kepada Liok-taycu?‖ Liok-taycu itu adalah putra keenam dari raja Kim. Sekarang ini ialah kota Pakkhia (Peking). heran. mendadak ia dapat ingat suatu apa.‖ ―Begitu?‖ tanya sang kakak. mulut hidup? Bukankah ada peribahasa kuno yang mengatakannya. ―Habis?‖ Irawan D Soedradjat Page 66 . Ia lantas mengerutkan kening. tetapi ia takluk kepada bangsa Kim. raja Kim. raja Kim utus Wanyen Yung Chi. ―Kau baru sampai dari satu perjalanan jauh. untuk memohon pikiran. kau tentunya letih. ia ngoceh seorang diri: ―Selama aku pangku pangku di Hangciu. Ia terkejut akan ketahui. Denagn begitu. ―Bukankah aku telah tidak jauh dari Yan-khia?‖ demikian ia ingat. ―Yang cupat pikirannya kuncu. bagaimana aku bisa menerima Thian Tek? Ia tahu rahasiaku. ia lantas ijinkan orang menemui dia. ia bergaul paling erat dengan Wanyen Lieh. setelah omong-omong lagi sebentar ia pamitan. Wee Ong telah datang menemui Tio Ong. Tanpa ragu-ragu lagi. hatinya menjadi ciut. kalau ia membocorkannya. supaya melihat keangkeran kita. ia bernagkat menuju ke Yan-khia. semacam kommissaris tinggi. dalam segala hal. ia berpikir: ―Tentang Pauw-sie. Thian Tek mengucap terima kasih.

Mereka itu terpencar si segala penjuru. Yung Chi menjadi kaget. berjalan di padang pasir yang seperti tak ada ujung pangkalnya. kalau dia ini dibunuh. Wanyen Yung chi berangkat bersama seribu serdadu pilihan yang semua kelihatan gagah dan mentereng. salju beterbangan turun bagaikan lembaran-lembaran unga. sebenarnya ia hendak mencari tahu keadaan kita bangsa Kim. ―Tindakan itu tidak sempurna. Dia sengaja menunjuki pengaruh menurut nasihat Wanyen Lieh. dengan cari satu alasan kakak boleh hukum mati padanya. Selagi Wanyen Yung Chi terheran-heran. dia kuatkan hati dan tubuhnya untuk lawan penderitaan ini. Wanyen Yung Chi lantas kirim belasan serdadunya untuk memberi warta terlebih dahulu tentang tibanya itu sekalian menitahkan Temuchin datang menyambut utusan Kim. ―Ya‖ sahut Wanyen Lieh. ―Sam-ongya. dia ajak Thian Tek bersama. sudah datang dekat sekali. sekonyong-konyong orang mendapat dengar suara berisik yang datangnya dari arah utara.‖ ―Kalau begitu. lekas kasih perintah untuk bersiap untuk berperang!‖ demikian kata perwiranya yang pimpin pasukan kecil itu setibanya dia di depan pangeran Kim itu. dia tertawa riang. apa yang disebutkan tentara musuh itu. Pada suatu hari tibalah barisan ini di satu tempat dekat dengan perkemahan Temuchin. bunuh saja padanya!‖ kata sang kakak. perjalanan jauh denagn menunggang kuda. memenuhi bukit dan tegalan di hadapan angaktan perang Kim itu. ―Baik!‖ katanya. Berselang beberapa hari. Hampir itu waktu. di padang gurun. katanya. Dialah Ouw See Houw.‖ ―Bawa ia ke Utara?‖ Yung Chi tanya. Wanyen Yung Chi berangkat ke Monglia. ia menurut saja. Sedang si nyonya ini masih mengharapkan datangnya pertolongan padanya……. dia terus menderita. Mungkin mata-mata yang datang bukan dia satu orang. bilang saja dia hendak dijadikan pengiringku.‖ sahut adik itu.‖ Sang adik menjadi girang. ia lantas tampak lari mendatangi satu pasukan kecil serdadu. Tatkala itu bulan kedelapan untuk di Utara.‖ ―Bagus!‖ Yung Chi bertepuk tangan. dia tak dapat berpikir.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia datang untuk tumpangkan diri padaku. ―Pasukan musuh manakah itu?‖ dia bertanya. ―Di sana. suara seperti satu pertempuran. sangat meletihkan dia. Ouw See Houw ada satu panglima yang berpengalaman yang diandalkan negeranya. ―Kakak tahu sendiri kecerdikan bangsa Selatan itu. ―Mana aku tahu?!‖ sahut si perwira yang lantas saja mengatur barisannya. Sementara itu perutnya Lie Peng makin menjadi besar. Tapi ia telah bertekad untuk membalas sakit hatinya. di mana tidak ada lain orang. Ia keprak kudanya untuk maju ke depan. Ia khawatir Lie Peng nanti buka rahasianya. Selagi pasukan ini berjalan terus. yang lainnya pasti bakal jadi waspada. barisan dari seribu serdadu pilihan dari bangsa Kim berjalan berlerot bagaikan seekor ular panjang.‖ Wanyen Lieh bilang. Thian Tek tidak tahu rencana orang. ―Sebentar kau kirim dia padaku. Irawan D Soedradjat Page 67 . Sore itu Wanyen Lieh tidak panggil Toan Thian Tek menghadap lagi padanya.. Ia mempengaruhinya hingga si nyonya diam saja. hanya sambil dibekali uang perak dua potong. dia suruh Thian Tek pergi ke istana Wei Wang untuk bantu pangeran itu. Diwaktu begini. Di sini aku nanti layani lain-lainnya mata-mata. kapan sang malam tiba. hawa ada dingin luar biasa. Di lain pihak ia jaga diri baik-baik agar tentara Kim tidak tahu siapa dia. ―Itulah alasannya belaka. Aku pikir hendak mohon kakak bawa ia pergi ke utara. maka itu kepala perang ini telah melancangi pangeran itu untuk mengatur persiapan. sebaliknya Wanyen Yung Chi lemah. ia tetap ajak nyonya itu. Demikian untuk beberapa puluh hari.

tanpa merasa ia menangis menggerung-gerung. untuk melindungi. muncul di antara sang awan. ia angkat bayinya itu. Ia geraki tubuhnya. yang terus menerjang tentera sisa. yang berjumlah lebih sedikit. untuk kegirangannya. Kekalutan sudah lantas terjadi. Dengan sendirinya mereka jadi bertempur sama tentara Kim. Terpaksa ia merayap keluar. setelah ia melihat dengan tegas. semua tidak menunggang kuda. ―Lepaskan panah‖ Ouw See Houw memberi titah. untuk membuat sebuah liang yang besar dimana bersama bayinya ia bisa menyingkir dari angin dan salju. setelah mana ia peluki anaknya. mau tidak mau. tentara sisa ini meluruk ke arah pasukan Kim. akan menggali pasir. sekarang timbullah harapannya. terpaksa nyonya Kwee lari sendirian. tak tahu ia dirinya berada di dunia baka atau masih hidup. Untuk kagetnya. semua mayat serdadu dan bangkai itu belum busuk. mereka pun lagi ketakutan. ia dapatkan satu bayi laki-laki. Entah dari mana datangnya tenaganya. Ia dapatkan sejumlah sisa. Lie-sie mencoba menggunai kedua tangannya. tidak ada sama sekali. akan tetapi jumlah mereka banyak. Di bawah terangnya sang rembulan. Hanya sesudah lari serintasan. Ketika itu masih malam. Lie-sie mesti kuatkan hati. di situ muncvul satu pasukan serdadu. Tiba-tiba dari arah kiri terdengar ramai suara terompet tanduk. tetapi serbuan sisa tentera ―musuh‖ itu demikian hebat. ia sadar sendirinya dengan perlahan-lahan. Ia mengeluarkan air mata kegirangan yang berlimmpah-limpah. karena sisa tentera itu main saling selamatan diri sendiri. lalu dihari ketiga. Sekarang baru Lie Peng sadar betul. Ouw See Houw berlaku tabah. Tentera sisa ini berjumlah lebih besar tapi mereka tidak berdaya terhadap pasukan berkuda ynag jauh lebih kecil itu. Hebat akibatnya untuk tentara Kim itu. ia beri perintah akan tenteranya mengurung pangerang mereka. mereka lari tanpa berani datang mendekati. musuh dan kawan bercampur menjadi satu. Nyatalah dalam keadaan seperti itu. Terpaksa untuk menyingkir. Ia belum sadar betul. mereka menerobos terus. bergumul. Kapan Ouw See Houw sudah mengawasi sekian lama. Air ada air salju tapi barang daharan. sang rembulan mengencang di atas langit. Adu Panah Lie Peng ada bersama Toan Thian Tek. Ia hanya dengar tangisan itu makin lama makin keras. Disamping itu di belakang mereka menerjang sejumlah pasukan berkuda. ia dapat kenyataan. bayi itu nampak cakap. Cepat nyonya itu berduduk. hingga banyak serdadu yang kena terinjak-injak. ia rubuh dari kudanya. Mereka bersiap tanpa bersuara. ia tidak mendapat gangguan. Lalu ia coba menyalakan api. samar-samar ia dengar tangisan bayi. sejumlah diantaranya lantas rubuh. Tentara sisa itu segera diserang. kalau tadinya ia telah berputus asa. Ouw See Houw kewalahan. tak tahan ia akan rasa laparnya. Di sekitarnya tidak ada seorang juga kecuali mayat-mayat serdadu dan kuda-kuda. Ia dapatkan golok dengan gampang karena di situ bergeletakan banyak alat senjata. suaranya pun nyaring.Pendekar Pemanah Rajawali Segera juga terlihat suatu keanehan. ia telah melahirkan anak……. dengan itu ia pun dapat bakar daging kuda. Irawan D Soedradjat Page 68 . Entah sudah lewat berapa lama. potongan wajahnya mirip dengan suaminya Kwee Siauw Thian. yang telah membuang panah dan tombak mereka. sakit sekali. Dengan gigitan ia bikin putus tali pusar. Ia pingsan. Tentera musuh yang kabur itu melihat pasukan Kim. Lie-sie coba geledah tubuhnya myat-mayat itu untk cari rangsum kering. Syukur untuknya. Buat dua malam satu hari. Cuma pemandangannya yang sangat menggiriskan hati. tapi ia merasa ada benda yang membanduli perutnya. Karena hawa dingin. roman mereka ketakutan. mereka ke dibikin terpencar. mereka kabur jauh-jauh. hingga tanpa dapat ditahan lagi. Roman anak ini telah membantu menguatkan semangatnya. maka bersama sejumlah serdadu ia lindungi Wanyen Yung Chi mundur ke arah selatan. Tentara ‗musuh‘ itu bukan terus menerjang pasukan Kim. itulah pasukan sisa yang habis kalah perang. mereka masing-masing menunggang satu kuda. Bab 7. Dari situ ia bisa dengar rintihan serdadu-serdadu yang terluka parah atau hendak mati dan ringkikannya banyak kuda perang. Lie Peng mendekam di liangnya itu. ia merasakan perutnya mulas. hanya mereka kabur keempat penjuru.

Sampai tiba-tiba ia mendengar anak panah mengaung di atasan kepalanya. diwaktu hendak berangkat.sie. mereka meninggalkan tiga ekor kambing. Ia menjadi takut. hingga ia mesti melahirkan anak seorang diri. ia dengar suara seperti tambur berikut meringkiknya kuda serta suara orang banyak. Kwee ceng giring kambingnya untuk diangon. Dua penunggang kuda itu adalah orang Monglia. untuk dikasih tempat meneduh dan barang makanan. Maka ia naiki kudanya untuk mengejar. Lie-sie dapat berdiam disitu bersama bayinya. Tapi di belakang mereka lantas tiba bala bantuan. ketika kedua penolongnya hendak berpindah tempat. mendatangi dari arah depan. mereka menyerang pula. Tepat tengah hari. ia Cuma kata ia lagi lewat di situ tempo ia terhalang oleh pertempuran tentera. Ia mesti membangun satu gubuk dengan beratap daun. untuk kemudian ibu dan bayinya itu tidur guna melepaskan lelah dan kantuknya. dibantu sama suara tambur. Sekoyong-konyong terdengar suara terompet riuh. tidak lama mereka mesti mundur sendirinya. Ia mengintai terus. hingga ia terperanjat. malah tanpa terasa enam tahun telah lewat. ia beri nama Ceng kepada putranya. hingga keras sekali ia rangkul bayinya. Kaget ia. dengan mengiring binatang piarannya. Orang Monglia itu tidak berumah tangga. anak itu bertubuh kuat dan cerdik. Ia tidak hendak melupakan peasn suaminya. ia bisa membantu ibunya menggembala kambing. terpaksa ia ditinggal pergi. yang ia tidak tahu berapa jumlahnya. baru ia dapat tangkap anak kambing itu. Lie Peng tidak buka rahasia. tapi selagi ia hendak menuntun pulang. Ia mesti terus berjalan di tempat yang sepi dimana ada terdapat pepohonan dan tegalan rumput. Demikian telah terjadi dengan Lie-sie. Bisalah dibayangi. tiba-tiba kwee Ceng lihat seekkor burung elang yang besar sekali menyambar kepada rombongan kambingnya. setelah ia mulai dapat pulang kesegarannya. ―Siapa kau?‖ tanya salah satu diantara dua penunggang kuda itu. yang menjadi kepala perang telah memberikan belbagai titahnya. Segera terlihat dua penunggang kuda. belum pernah ia dengar suara semacam itu. Semua binatang itu kaget. ia cuma dapatkan. untuk hidup sendiri. Ia memanggil dengan berteriak-teriak. ada yang ditancapkan bulu burung warna lima. timur dan barat. Meski begitu. maka tentera itu lantas memecah diri dalam dua barisan. lantas ia pimpin tentaranya menyerbu. walaupun tampaknya mereka kosen. Akan tetapi dua orang itu tidak menolong kepalang tanggung. lalu muncullah pasukan tentera. dari itu di situ sudah lantas terjadi suatu pertempuran. bagaimana hebat penderitaannya itu. Maka mulailah Lie Peng mesti bercape lelah. ia gendong bayinya untuk di bawa pergi ke araha timur. apa katanya Lie. ia mulai bertenun yang hasilnya ia dengan barang makanan. Ia sekarang memelihara anjing sebagi pembantunya. Oleh karena kebiasaan. untuk bersembunyi didalam rujuk. Tidak ayal lagi. Hidup sendiri. sebagai pengembala tak tentu tempat tinggalnya. Jauh di sebelah depan nampak debu mengepul naik. sebaliknya daripada takut. mendadak ia dengar susra keras dan nyaring. ia keluarkan kepalanya untuk mengintai. sampai setelah memasang kuping sekian lama. Kwee Ceng tuntun kambingnya buat diajak mendaki suatu tanjakan. Ada serdadu yang kepalanya digabut pelangi putih. guna mencari air. dan untuk menempuh perjalanan jauh. mereka biasa pergi ke timur atau ke barat untuk mencari makanan binatang. Tidak lama setelah barisan teraur rapi. dari sana muncul beberapa barisan lain yang dikepalai oelh satu perwira muda jangkkung dan kkurus. Tapi ia ingin mengetahui sesuatu. Untuk hidupnya. mereka jaka si nyonya ke tendanya. selagi ia menjagai kambing-kambingnya. walaupun mereka tidak tahu jelas. sebab bayinya masih belum mengerti suatu apa pun. Malah yang seekor – anak kambing – kabur ke timur. Pada suatu hari dari bulan tiga. sebagai rumah adalah tenda yang bertenung daripada bulu binatang. Selama tempo bertahun-tahun hidupnya Lie Peng ada lumayan. Ia mulanya menyangka kepada guntur. Pihak penyerang ini berjumlah lebih sedikit. hati Kwee ceng menjadi tertarik. Ia memegang sebatang golok panjang. ia menunggang kuda kecilnya. selagi uadra hangat. Sekarang. ia pun dapat hidup sebagai orang Mongolia. agaknya mereka ini tidak dapat bertahan lama. mereka itu berbaik hati. mendengar itu tentera penyerang lantas berseru-seru kegirangan: ―Kha Khan Temuchin telah datang! Kha Khan telah datang!‖ Irawan D Soedradjat Page 69 . Sekitar tujuh lie. segera terdengar suara terompet dari sebelah belakang. guna melindungi diri dari gangguan angin dan hujan. tubuhnya ditutupi dengan mantel merah. anak kambing itu lari terus. untuk kelegaan hatinya.Pendekar Pemanah Rajawali Buat tujuh atau delapan hari.

‖ Ketika itu penyerangan musuh di timur laut bertambah hebat. Kwee Ceng dengan matanya yang jeli. melindungiini pemimpin dari sambarannya berbagai anak panah. ia menyahuti: ―Musuh masih belum lelah. kau Borchu. ia gembira berbareng negri. seribu lebih telah terbinasa. Di sana pun dikerek batang bendera besar. Dari sana pun datang seruan-seruan kegirangan. bersama Jelmi panglima yang kosen. bersama Subotai serta selaksa serdadu. menjadi cemas hatinya. Disamping dia ada beberapa pengiringnya. Sambil berbuat begitu. hingga mereka dapat mengacaukan lawannya. lalu dengan suara dalam. mari kita mundur dulu!‖ berseru ia kepada orang di bawah tiang bendera itu. Di pihak Mongolia. Dia ada memakai kopiah perang dari besi. Kwee Ceng saksikan itu semua. banyak yang telah rubuh. Jelmi lari naik ke atas bukit. bersama Chilaun serta selaksa serdadumu mundur ke utara! Dan kau. ia tetap mengawasi medan perang. mereka tidak ambil peduli lagi kepada musuh yang lari tunggang-langgang. musuh berjumlah lebih banyak berlipat ganda. Musuh telah mendesak hingga hampir sukar untuk dicegah lagi. Tiang yang tinggi itu bergerak ke arah tanjakan bukit. Dengan matanya yang tajam bagai mata burung elang. Tentara musuh bersorak-sorai menampak lawannya lari tumpang siur. Setelah bertempur sekitar satu jam lebih. kau bersama pangeran kedua serta selaksa serdadu mundur ke barat. kau mesti kembali untuk melakukan penyerangan membalas!‖ Semua perwira itu menyahuti tanda mereka menerima titah. mereka pun segera melihat bendera putih besar dari Temuchin di atas bukit. Putra ketiga dari Temuchin. Temuchin. hanya karena jumlah mereka jauh lebih besar. dengan lima ribu jiwa serdadu mereka. mereka lantas saja berkoak-koak: ―Tangkap hidup Temuchin! Tangkap hidup Temuchin!‖ Lalu tentara itu dengan rapat sekali. Temuchin tetap berdiam tegak di tempatnya. dari tempat sembunyinya. Dengan begitu ia dapat lihat satu perwira yang menunggang kuda. dari lima ribu serdadunya Temuchin itu. habis itu semua bawa barisannya menyingkir ke arah yang telah disebutkan tadi. Irawan D Soedradjat Page 70 . Di tengah pasukan di panjar sebuah tiang yang tinggi di mana ada tergantung beberapa lapis bulu putih. apa boleh kita kerek bendera dan membunyikan terompet?‖ dia bertanya. tentera penyerang jadi dapat semangat. mengawasi ke arah tiang itu. dari atas kudanya ia memandang ke medan pertempuran. ―Ayah.Pendekar Pemanah Rajawali Atas itu orang-orang yang lagi bertempur lantas menoleh ke arah timur selatan. yang mendatangi dengan cepat. apa pula penyerang di pojok timur utara tampak lebih garang. Juga Kwee Ceng turut beralih pandangannya. akan tetapi juga serdadu musuh. Temuchin mengawasi ke bawah kepada tentara musuh. Itu ada tanda bahwa di sana ada tiga kepala perang yang memegang pimpinan. lantas ia berikan titahnya: ―Kau bawa selaksa serdadu mundur ke timur!‖ demikian titahnya itu. tentera Mongolia itu nampaknya lati serabutan keempat penjuru arah. Atas ini. sudah melihat tegas keadaan pertempuran itu. mereka menang di atas angin. mereka menyerang pula dengan seru. Tidak antara lama panglima muda yang bermantel merah larikan kudanya naik ke tanjakan. Lalu ia memberi perintah pula: ―Mukhali. yaitu Ogatai yang berada di samping ayahnya. berlomba mendaki bukit. ia dikitari belasan pengiringnya yang dengan memasang tameng mereka itu. Dilain pihak adik angkat Temuchin. ia Cuma berdiam sebentar. tak sudi mereka mundur dari serangan musuh. Kubilai. dari mana datangnya suara terompet dan tambur tadi. demikian panglima yang dipanggil ayah itu. melakukan pembelaan si sekitar bukit itu. lekas mundur ke selatan! Kapan kau lihat bendera besar di kerak tinggi dan dengar terompet dibunyikan. janggutnya merah. Ia tampak satu pasukan besar. orang terpaksa main mundur. jumlahnya bebearap ribu jiwa. mereka tidak menghiraukan anak panah dan golok. yaitu Sigi Kutuku. ―Ayah. maka sebentar saja. yang larikan kudanya itu naik ke tanjakan.

apakah kau ngiprit sebagai kelinci?‖ ia menegur dengan ejekannya. Dua perwira Mongolia maju hendak menerjang tetapi mereka disambut oleh anak panah dan rubuh karenanya. ia membuat kudanya berjingkrak berdiri dengan dua kaki belakangnya. Temuchin adalah satu orang peperangan yang ulung. sebatang busur membuat musuh itu rubuh. ia memburu ke bawah bukit. Sejumlah serdadu mush mundur melihat orang demikian bengis. anak panah tidak lagi menyambar ke perut orang. Temuchin tutup lukanya dengan telapakn tangannya. hebat ilmu panahnya. Maka tidak ampun lagi. sebentar saja ia telah rubuhkan belasan tentera Mongolia. terpaksa ia balik mundur. ―Bagaimana dapat kau banggakan diri sebagai satu pendekar gagah perkasa?!‖ Air mukanya Jelmi menjadi berubah. ia lemparkan itu kepada adik angkatnya itu. ―Saudaraku yang baik. nacap sampai di batas bulu. sebaliknya ia tertawa. Jelmi maju menyerang tiga serdadu musuh yang bertubuh besar. Justru itu. tentara Mongolia bertempik sorak. ―Kita tunggu sebentar lagi. ia membuka jalan hingga di depan satu bendera hitam. Musuh gunai ketika baik ini untuk menerjang naik dengan hebat.‖ Kutuku lantas berlutut di depan kakak angkatnya itu. sesudah mana. untuk rampas kuda musuh. ia tidak menjadi gugup. ―Kutuku. yang berbareng menjadi pemimpinnya. Mendapatkan anak panah. ―Bagus ilmu panahnya!‖ Temuchin puji musuh itu. sedang satu anak panah lainnya menyambar ke arah perutnya. Berselang lagi satu jam. Kutuku tidak gusar. dipihak musuh. walaupun lehernya terluka dan sakit sekali rasanya. Irawan D Soedradjat Page 71 . Kutuku di arah barat telah pimpin tentaranya melawan musuh. ia menerjang barisan musuh. rubuhlah binatang tunggangannya itu berikut penunggangnya. tampak satu panglima dengan pakaian perang hitam. hebat kau!‖ Temuchin puji adik angkatnya itu. Beruntun tiga kali ia memanah kepada musuh yang berada dibawahnya sebuah bendera hitam. ―Siapa lari ngiprit?‖ katanya. ia rangkul ketiga bendera besar itu untuk dibawa lari mendaki bukit. Dengan begitu. ia memandang ke arah musuh. Kutuku segera beraksi. kemudian dengan lemparkan goloknya. ―Aku kehabisan anak panah!‖ Temuchin yang rebah di tanah telah tarik keluar anak panahnya dari kantong panahnya yang tersulam. ia tancap tiga batang bendera itu di tanah! Kaget nusuh menyaksikan lawannya demikian kosen. suaranya perlahan. dengan bawa itu sambil serukan seruan-seruan peperangan bangsanya. semua lantas meluruh untuk tolongi kepala perang mereka. ―Tak sanggup bertahan?!‖ berseru Temuchin dengan gusar. hanya nancap di dadanya kuda. Semua serdadu Mongol kaget. ―Ser!‖ sebatang anak panah menyambar sebelum pimpinan Mongol ini dapat berdaya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kha Khan. akan kemudian ia lari pula naik ke atas. lantas ia rampas sebatang golok besar dari tangannya satu serdadu. di pojok barat selatan. anak-anak tak sanggup bertahan!‖ dia teriaki junjungannya. ―Apakah sekarang sudah boleh kita menaikkan bendera dan membunyikan terompet?‖ ia tanya. lehernya telah terkena anak panah itu. ia kehabisan anak panah dan tobaknya pun telah patah. dalam keadaan terluka.‖ sahutnya. ia binasakan satu demi satu. dengan kedut lesnya. Dilain pihak. Merah matanya Jelmi melihat kawannya itu mundur. darah molos keluar dari sela-sela jari tangannya itu. Kutuku mandi keringat. ―Musuh masih belum lelah. Biar bagaimana juga. setibanya di atas. mereka lantas tutup pula kebocoran di timur utara itu.

Dengan begitu pula pada akhirnya. Maka sejak itu. Ia mau anggap dirinya adalah satu panglima perang! Tengah anak ini main jenderal-jenderalan itu. Dengan kegirangan. ia bunuh tiga musuh yang menerjang ke arahnya. Akan tetapi lihay panah si panglima. panglima itu dapat meloloskan diri. telah peroleh kemenangan besar dan musuhnya ialah bangsa Taijiut. ia jadi gembira sekali. akan tetapi sia-sia saja percobaannya itu. Begitu datang dekat. ―Dasar turunan orang peperangan. ia mirip dengan ayahnya…‖ pikir ibu ini. waktu sudah tengah malam. Panglima dengan seragam hitam itu nampak keadaan jelek.dua helai permadani – dengan barang-barang makanan. ia berteriak-teriak untuk mencegah kekacauan. maka itu diserang demikian mendadak.‖ katanya. apabila ia menoleh. runtuhlah pasukan perang yang besar itu. Maka itu tidak usah berselang dua jam. hingga ia keluarkan teriakan tertahan. . ―Tangkap musuh itu!‖ Temuchin memberi titah. lalu bendera putih yang besar dikerek naik. Kwee Ceng segera terangkan kepada ibunya kenapa ia pulang lambat sekali. disusul sama bunyi terompet ynag riuh. tentaranya tak dapat dikendalikan lagi. ia mencoba menggiring kambingnya pulang pergi. memandang kepada si bocah itu. Sisa tentara lantas lari serabutan. treus angkat kepalanya. di bebokong kuda ada satu tubuh manusia yang mendekam. melihat sikap orang. pagi-pagi sekali. Maka diam-diam ia pun bergirang. baharu ia keluar dari tempat sembunyinya. tak pernah gagal. Kwee Ceng ditinggal di rumah untuk menjagai binatang piaraan mereka. telah musnah lebih daripada separuhnya. justru ibunya sedang berdebar-debar hatinya memikirkan anaknya yang dikhawatirkan menghadapi ancaman bahaya. tiba-tiba ia dengar tindakan kaki kuda di arah timur. ia anggap peperangan itu dapat dibuat permainan. Dengan goloknya yang panjang. termusnahkan pasukan Mongolia yang jumlahnya lebih sedikit tetapi yang semangatnya berapi-api. ―Tapi Kha Khan. sambil bersorak-sorak.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kami semua rela berkorban untuk kau. Senang Lie Peng akan saksikan anaknya bercerita dengan cara sangat gembira. tubuhmu penting sekali!‖ Mendengar itu. kuda itu kendorkan larinya. Kwee Ceng tunggu sampai orang sudah pergi semua. Kwee Ceng dari tempat sembunyinya sangat mengagumi panglima berbaju hitam itu. Tiga hari kemudian. Musuh berjumlah besar. ia tampak seekor kuda lari mendatangi. maka dengan mainkan cambuknya. Temuchin tidak usah khawatirkan lagi ancaman dari pihak musuhnya itu. Penunggang kuda itu yang mendekat. kaget melihat kepala perang lawannya dapat naik kuda pula. maka itu ia menjadi teringat kepada suaminya. maka itu belasan serdadu lantas saja terjungkal dari kuda mereka. Temuchin lihat keadaan itu. Anak ini ingat akan peperangan yang ia saksikan. tak kecuali mereka yang mengurus korban-korban. siapa lantas menjadi kaget sekali. tentera Mongolia dengan bersemangat menyerang dari segala penjuru. hingga penyerangan mereka menjadi reda. sendirinya mereka mundur. Mereka itu mendekati saling susul. Temuchin lantas berlompat untuk naik ke atas seekor kuda. hingga yang lainnya menjadi terhalang. Irawan D Soedradjat Page 72 . ―Semuanya membela mati bukit ini!‖ ia berseru. ialah pihak Mongolia. Serempak dengan itu. mereka menjadi bertambah kacau. ―Naikkan bendera! Tiup terompet!‖ dia berteriak dengan titahnya. Dengan pertempuran ini Temuchin. ia gunai ketikanya yang baik. anak ini tidak sedikit juga menunjukkan hati jeri. dimana mereka berada. Tentara Mongolia bertempik sorak. sambil ia duduk di atas kudanya. akan kejar panglima berbaju hitam itu. Musuh yang tengah merangsak naik. ―Hadiahnya sepuluh kati emas!‖ Beberapa puluh serdadu Mongol sudah lantas kaburkan kuda mereka. Lie Peng berangkat ke pasar yang terpisahnya kira-kira tigapuluh lie lebih dari rumahnya untuk menukar tenunannya. tentara Mongolia iringi kepala perangnya berangkat pulang. barisan mereka tengah kacau. si panglima seragam hitam sendiri terpaksa kaburkan kudanya. Ketika ia tiba dirumahnya.

‖ katanya panglim aitu kemudian. Orang itu perlihatkan roman girang. Dari lengannya ia tarik sebuah gelang emas yang kasar dan berat. Kwee ceng lantas lari mengambil air dingin dari jambangannya. kami harus membantu tetamu tetapi tidak boleh menginginkan barang tetamu. mendengar itu tetamunya Kwee Ceng ini menjadi gusar sekali. Kwee Ceng telah bawa gendewa dan anak panahnya yang kecil. yang Kwee Ceng saksikan dan mengaguminya. orang itu sadar dengan sendirinya. Itu waktu samar-samar terdengar suara larinya banyak kuda di arah timur. ―Untukmu!‖ dia tambhakan seraya dia angsurkan barang permata itu kepada bocah itu. hanya tempo si bocah itu kembali. Kwee Ceng pun lantas ikut memandang juga. Rupanya banyak sekali serdadu barisan berkuda temgah mendatangi. Demikian dia bisa geraki tubuhnya untuk berduduk. apakah kau ada punya panah?‖ tanya si tetamu. ―Mari lagi satu mangkok!‖ dia meminta pula. Sekarang di sebelah suara berisik itu terlihat debu mengepul. ―Adik yang baik. orang itu memakannya dengan sangat bernafsu. tetapi ia rupanya telah puas telah dapat air. ―Ibu telah pesan. yang mana si panglima lantas saja sambar untuk digelogoki. Orang itu tercengang.‖ sahut Kwee Ceng. matanya bersinar merah. Tubuh panglim aitu bergoyang-goyang. ditangan kirinya ia mencekal goloknya yang telah buntung. Selang sekian lama. Panglima itu baharu minum setengah mangkok. Mungkin ia yang tengah melarikan diri telah bertemu pula dengan musuh. setelah itu ia dapat pulang tenaganya. lalu ia tertawa terbahak-bahak. darahnya masih mengalir. ―Hm. Di pipi kanannya ada sebuah luka besar dan masih mengucurkan darah. banyak-banyak terima kasih kepadamu!‖ dia mengucap. ―Aku hendak bertempur. Paha kudanya pun terluka. aku ingin panah yang besar…. Ketika itu pasukan yang mendatangi telah tampak semakin tegas. ―Air…air…lekas bagi air…‖ katanya. suaranya parau. Kwee Ceng menggeleng-gelengkan kepala. golok yang mana pun ada darah yang sudah mengental. ―Ada!‖ sahut Kwee Ceng yang terus lari ke dalam untuk ambil panahnya. Kwee Ceng lekas-lekas mengambilkan beberapa potong daging kambing. ―Yang besar tidak ada…. Ia pun balut luka kudanya. ―Anak yang baik. Ia pun lantas memandang ke arah timur itu. benderanya pun berkibar-kibar. tiba-tiba ia tertawa. sedang panahnya tidak kedapatan padanya. Irawan D Soedradjat Page 73 . Tapi lekas sekali ia tertawa berkakakkan. Ia lantas sobek ujung bajunya. Kwee Ceng kaget dan bingung. ia menjadi lesu. tubuhnya terus rubuh dari atas kudanya itu. dia tak hendak melepaskan aku!‖ serunya sengit. air itu sudah bercampur dengan darah yang mengalir dari lukanya. ―Lapar! Lapar!‖ kali ini ia bersuara. ―Anak yang baik! Anak yang baik!‖ ia memuji. Tak tahu ia mesti berbuat apa. untuk dipakai membalut lukanya. alisnya lantas menjadi ciut. hanya habis itu wajahnya berjengit.Pendekar Pemanah Rajawali Penunggang kuda itu mukanya penuh debu bercampur darah. Dia jatuh pingsan. adalah si panglima perang berbaju hitam yang gagah.‖ ia bilang. ia menjerit.

bocah. suaranya dalam.‖ kata Kwee Ceng kemudian. yang tubuhnya ditutupi denagn mantel merah.‖ Kwee ceng menjawab. Irawan D Soedradjat Page 74 . Ia bisa berlaku tenang. hingga walaupun binatang itu berniat lari. ―Baik. dengan kudanya yang terluka. putra sulung itu memandang ke sekitarnya. ―Hm! Bukankah itu kudanya Jebe?‖ putra itu tanya. tak dapat ia lari lebih jauh. Dia adalah putra sulung dari Temuchin. ―Dia sudah pergi lama sekali. Lain jalan tidak ada. sepuluh serdadu lanats bergerak dengan mereka memecah diri dalam lima rombongan. jalannya sudah tertutup. Ia lantas dapat lihat itu kuda hitam yang lagi makan rumput di kejauhan. ―Pergi kau usir kudaku!‖ setelah berkata demikian. untuk hampirkan itu kuda denagn dikurung. kau lihat tidak satu orang yang menunggang kuda hitam?‖ Itulah teguran dari satu diantara dua serdadu itu. Jadi ada lebih selamat untuk sembunyikan diri. Kwee Ceng menunjuki tumpukan rumput kering di belakang rumahnya. aku dapat lihat. suaranya kasar. Dengan gampang ia kena ditangkap dan dituntun. Ia lihat banyak serdadu sedang mengiringi satu anak muda yang kurus dan jangkung. ―Ya. seperti tak pernah terjadi sesuatu. ―Aku tidak akan mengasih tahu kepada mereka. Kwee Ceng naik ke atas kudanya. aku serahkan jiwaku kepadamu!‖ katanya. ia laikan kuda itu bolak balik. ―Di mana?‖ tanya serdadu yang kedua. Dua serdadu itu sampaikan jawabannya Kwee Ceng. bahar ia berhenti untuk makan rumput. suara mereka riuh. ―Mari ketemu pangeran!‖ berkata dua serdadu itu. Ia tidak dengar pembicaraan di antara dua orangnya dengan si bocah. Mereka rupanya lihat bocah yang menunggang kuda itu. Kwee Ceng menunjuk ke barat. lebih baik kau sembunyi. Ia lantas kenali itu adalah panglima yang pimpin tentera. dua kali atas mana kuda yang hitam bulunya itu segera lompat kabur. Kwee Ceng mencambuk kuda itu.‖ ia menerangkan ―Bawa dia kemari‖ berseru perwira yang mengepalai pasukan itu. yang lantas terus tarik les kuda orang untuk dibawa kepada sang pangeran. walaupun ia sudah dapat pulang tenaganya. ―Apakah katanya bocah ini?‖ tanya ia membentak. ―Benar!‖ sahut banyak serdadu. Ia insyaf. ―Coba bawa kuda itu kemari!‖ Begitu keluar perintah itu. ia pun lari ke tumpukan kering itu dan menyelusup kedalamnya. Dengan matanya mengandung kecurigaan. Tidak lama tibalah barisan berkuda itu. dua serdadu lantas menghampirinya. ―Eh. ―Sembunyi di mana?‖ orang itu tanya. Orang itu mengambil putusan denagn segera. sesudah lari cukup jauh.‖ ia berjanji tanpa diminta. ―Bukankah itu kudanya?‖ ia tanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Seorang diri tak dapat kau lawan mereka. Si pangeran telah sampai di depan rumah ―Aku tidak akan bicara!‖ Kwee Ceng telah mabil keputusan dalam hatinya.

Ia lihat penganiayaan itu yang menyebabkan jidatnya Kwee ceng memebri tanda baret merah. Ogotai dan putra sulungnya. Satu malam dia gadangi semua panglimanya serta keempat putranya. mereka tidak lihat suatu apa yang bergerak. ―Jangan kau harap dapat mendustai aku!‖ Jebe. dia mestinya tidak lari jauh!‖ Juji berkata pula. Kwee Ceng lihat orang hendak tusuk bagian dimana panglima nelusup. setan cilik?!‖ tanya dengan bengis. Jagati. putranya yang ketiga. Berat lukanya Temuchin bekas terpanah Jebe. . ―Eh. Kali ini ia hunus goloknya. ―Ayah. Oleh karena itu. pergi menyusul dan mengejar. Lagi sekali ia mencambuk. Tidak ada jalan lain. lebih dahulu ia kirim putra sulungnya. Kha Khan – Khan yang terbesar. Musuh itu dikepung tetapi ia dapat meloloskan diri sambil membinasakan beberapa jiwa serdadu Mongol. kau hendak bicara atau tidak?!‖. Ia memikir: ―Pasti bocah itu tak tahan sakit dan ektakutan.Pendekar Pemanah Rajawali Putra sulung itu ayunkan cambuknya ke arah kepalanya Kwee Ceng. Juji. hai. hatinya menjdai memukul keras. ia pingsan beberapa kali. cepat menyusul. ―Kha Khan datang!‖ sejumlah serdadu berteriak. di hari kedua. itu panglima berseragam hitam yang sembunyi di dalam tumpukan rumput. yang hendak ditawan. Juji lantas berhenti mencambuk. 75 ―Aku tidak menghendaki kuda tetapi orangnya!‖ ayahnya itu menjawab. hingga ia perlu ditolongi dengan Jelmi panglimanya serta Ogotai putranya yang ketiga. Tapinya ia lantas berteriak : ―Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!‖ Ketika itu sejumlah serdadu sudah geledah rumahnya Kwee ceng. untuk hukum dia dengan dibeset empat kuda dan dicincang tubuhnya guna membalaskan sakit hatinya Khan yang terbesar itu. Ia kenal si putra sulung – putra Temuchin itu – ialah Juji yang tabiatnya keras dan kejam. tangannya mencekal keras goloknya yang panjang. adalah sehabisnya pertempuran. benda apakah itu yang bergerak-gerak?‖ Semua serdadu lantas berpaling mengawasi. ―Dia sembunyi di mana. tiba-tiba tangannya menunjuk ke tumpukan rumput yang jauh sambil ia berteriak: ―Lihat di sana. sepasukan serdadu berhasil menemukan Jebe. Tuli. tentera Mongolia dikirim ke empat penjuru untuk cari Jebe.‖ Kwee Ceng kesakitan bukan main. mau ia menangis akan tetapi ia menahan sakit. Temuchin. Irawan D Soedradjat Page ―Ya!‖ sahut putra itu. Kali ini Kwee Ceng tak dapat tak menangkis. dia lolos dari ancaman bahaya maut. kuda hitamnya bangsat itu telah dapat ditemukan!‖ ia memberitahukan. ia cegah keluarnya air matanya. Inilah sebabnya kenapa ia datang belakangan. Hampir di itu waktu dari kejauhan terdengar suara terompet. Dia mengancam pula Kwee Ceng dengan cambuknya diayun tiga kali beruntun. Dia angkat kepalanya dan menanya dengan berani: ―Kenapa kau pukul aku? Mana aku ketahui dia bersembunyi di mana!‖ ―Kau membandel?!‖ bentak Juji. sedang dua yang lain menusuk-nusuk ke dalam tumpukan rumput kering itu. ―Pasti kita akan mendapatkannya!‖ Ia balik kepada Kwee Ceng . kemudian ia sendiri mengajak putranya yang kedua. tetapi di medan perang. Dihari kedua pada wkatu sore. ia bolang-balingkan itu ke udara. ia putar kudanya untuk menyambut ayahnya. ia coba sebisanya akan menahan sakit. ―Ayah!‖ demikian ia menyambut. setan cilik. Baharu keesokan harinya. bersembunyi sambil memasang mata. aku terpaksa mesti keluar untuk adu jiwaku…. ―Kudanya ada disini. Kedua serdadu tadi pun sampai lupa untuk menusuk-nusuk terlebih jauh. mesti isap darah – hingga darahnya itu ada yang kena ketelan dan dimuntahkan. Ayahnya itu dirubungi banyak pengiringnya. Kapan Temuchin dengar kabar itu. Ia sendiri pun telah terluka.

Juji terperanjat. tak malukah?!‖ Lantas saja Jebe dikurung oleh serdadu Mongol. hanya kegagahan panglima berseragam hitam itu sangat mengesankan kepadanya. tempo ia berguling sampai di kaki si putra sulung. habis itu baru semuanya dilepaskan dari rantainya. mendadak ia angkat tubuhnya untuk sambar pahanya si Juji yang terus ia gigit. ―Aku tidak mau bicara! Aku tidak mau bicara!‖ ia berteriak berulang-ulang. Jagatai. ia perintah anjingnya maju. Sekarang setelah ia dianiaya Juji. Dari kopiah perangnya ia pun cabut dua batang bulu merak yang berkilauan.‖ Putra ketiga itu menurut sambil tertawa. akan aku berikan ini padamu…‖ ia kata seraya angsurkan bulu merak itu. Tapi ia gagah. ia mendahului menghalang di depan tumpukan rumput kering itu dan melarang enam ekor anjing itu menghampirinya. Jebe lompat keluar dari tempatnya bersembunyi. tahu ia akan tugasnya. ia ayunkan goloknya ke lehernya si Kwee Ceng. Bangsa Mongol paling gemar berburu. ia lanats digigit di sana sini. Kwee Ceng telah mandi darah pada mukanya. tahu ia panglima itu terancam akan ketahuan tempat persembunyiannya. Juji berontak tetapi ia tak dapat lepaskan pelukannya anak itu yang memegang ia dengan keras sekali. dia berkata: ―Menghina anak kecil. kenapa bocah itu mengatakan: ―Tidak mau bicara‖ dan bukannya ―Aku tidak tahu?‖ Maka ia lantas berbisik kepada Ogotai: ―Pergi kau bujuki ia hingga ia suka berbicara. anjing pembantu penggembala. sebab goloknya hampir terlepas dari cekalannya. dia tak mau mundur. Jagati menjadi tidak senang. Kapan ia lihat orang melepas anjing. untuk mencegah ia lantas bersiul memanggil anjingnya sendiri. Mendengar itu. mengenai tepat goloknya Juji itu. Sekarang anjing itu diperintah dibawa mengitari kuda hitam. Irawan D Soedradjat Page 76 . Ia lemparkan goloknya. Enam ekor anjingnya Jagati sudah mulai mencium-cium ke tumpukan rumput kering. ia perdengarkan suaranya berulang-ulang menganjuri anjingnya melawan terus. Temuchin berpikir. Sayang anjing penggembala itu jauh lebih kecil dan ia pun bersendirian. Menyusuli goloknya itu. ―Kau bicaralah. Hati Juji menjadi sangat dongkol. hingga ia rubuh bergulingan. kapan ia pergi berburu. ia hampiri Kwee Ceng. Putra kedua dari Temuchin menjadi habis sabar. bangkit keangkuhannya dan tidak sudi ia menyerah. Disaat batang lehernya bocah yang bernyali besar itu bakal menjadi putus. Jagatai adalah putra paling gemar berburu. Nyaring bentroknya kedua senjata itu. maka itu setiap keluarga bangsawan atau panglima perang mesti memelihara anjing-anjing peranti berburu. gonggongan mereka sangat berisik. tiba-tiba sebuah golok buntung menyambar. yang bersenjatakan golok dan tombak. tetapi ia pensaran dan marah. Menampak sang kakak kelabakan.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kau hendak berbicara atau tidak!‖ ia mengancam. Hati Kwee Ceng menjadi kecil. ia ayunkan pula cambuknya berulangkali hingga Kwee Ceng merasakan sakit ke ulu hatinya. ―Lepas anjing!‖ ia menitahkan. Mukanya Juji menjadi merah. dia tentu bawa enam ekor anjingnya itu. Kwee Ceng dengan Jebe tidak saling mengenal. timbul kemarahannya. begitupun burung elang besar. Lantas pengiringnya muncul dengan enam ekor anjing yang besar. Ogotai dan Tuli menjadi tertawa bergelak-gelak. antaranya ada yang berseru kaget. ―Aku tidak mau bicara!‖ Kwee Ceng ulangi jawabannya. muka ramai dengan senyuman. Ia sambar Kwee Ceng. kapan anjing Kwee Ceng dengar panggilan majikannya. ia jadi terlebih berani. yang ia tarik tubuhnya dengan tangan kiri untuk disingkirkan ke belakangnya. Semua orang terkejut. hingga dengan lantas ia suka memberikan pertolongannya. banyak lukanya. untuk diberi bercium bau. terus dengan tertawa dingin. maka sekejap saja terjadilah pertarungan yang sengit sekali.

Mendengar orang adalah ―sahabatnya‖ Temuchin. semuanya lompat mundur dengan ketakutan. Enam anjingnya Jagatai yang lagi gigiti anjingnya Kwee Ceng menjadi kaget. Borchu. dia tolongi Temuchin. ―Maka sekarang. dia mati digerumuti semut!‖ Habis mengucap begitu. orang sampai menyebut kau Jebe. dia berkata: ―Hari begini panas mengendus. Ia dinaiki ke atas sebuah kereta besar yang muat bulu kambing. Pemuda itu ialah Borchu. Sebaliknya ia berseu: ―Lekas bunuh aku!‖ Kemudian. Satu anak muda yang bernama Chila‘un tidak takut bahaya. ―Kha Khan. Setelah lolos ini. Dia berkata: ―Penderitaannya bangsa pria sama saja. Setelah pesta bubaran. ―Seorang diri akan aku bunuh kau. ia menambahkan: ―Sayang aku tak dapat terbinasa di tangannya satu orang gagah perkasa…!‖ ―Apakah kau bilang?‖ tanya Temuchin. ia cuma perdengarkan suara dingin. Borchu maju beberapa tindak. aku akan mati dengan puas. Ia ketemu satu anak muda yang lagi peras susu kuda. kereta itu batal digeledah.‖ sahut Jebe. supaya kau puas!‖ katanya nyaring. yang mereka hinakan sesudah mana mereka berniat membunuhnya. terbuka lebar matanya ini panglima. jangan kasih bocah ini pentang mulut besar!‖ dia berseru. pergilah kau bertanding dengan sahabatku ini!‖ ―Jebe‖ itu memang berarti ―Ahli memanah‖.‖ Temuchin sambut itu ajakan. mereka bubarkan rombongan pencuri kuda itu dan berhasil merampas pulang ke delapan kuda yang dicuri itu. mereka saban-saban mencaci Temuchin. Bersama ibu dan adik-adiknya ia mesti hidup dari daging tikus hutan. Jebe awasi orang itu. setiap orang seperti bermandikan keringat. Ia girang sekali. pergi kau layani dia!‖ ia menganjurkan. kiranya dia inilah orangnya…‖ Ia tidak menjawab. Dengan panah mereka yang lihay. Mereka anggap orang ini tidak tahu diri. Sudah itu pada suatu hari. yang tubuhnya besar dan suaranya nyaring. ―Jikalau aku dibinasakan di medan perang oleh orang yang dapat menangi aku. Ia penasaran. Disampingnya Temuchin muncul satu orang. ―Sekarang ini burung elang jatuh di tanah. Bangsa Taijiut itu membikin pesta di tepinya sungai Onan. ia meninju dada orang. digeledah juga kereta itu. ―Baik. Jebe ada punya namanya sendiri tetapi nama itu kalah dengan gelarannya. dia pernah ditawan bangsa Taijiut. kalung kayunya dirusaki dan dibakar. dia berseru dengan keras. Atas itu Jebe tidak membalas menyerang. musuhnya. sia-sia bangsa Taijiut mencari dia. ia pergi mencari pencuri kuda itu. Ia tanya kalau-kalau pemuda itu lihat pencuri kudanya. ia lari ke dalam rimba. delapan ekor kudanya yang putih pun kena orang curi. Jebe berkata: ―Kau adalah sahabatnya Khan yang terbesar. ―Siapa kau?!‖ ia tanya. Ketika dahulu Temuchin belum menjadi kepala bangsa Mongol. mari kita ikat persahabatan. mustahil orang dapat sembunyi di dalam bulu kambing‖ Memang hawa ada sangat panas. sengsara hidupnya Temuchin. Jebe berpikir: ―Memang pernah aku dengar Borchu adalah orang kosen bangsa Mongolia. lehernya dipakaikan kalung kayu. Borchu itu kosen dan belum pernah ada tandingannya. dengan suara mendalam.Pendekar Pemanah Rajawali Juji menjadi sangat gusar. ekornya diselipkan ke selangkangannya. Temuchin Irawan D Soedradjat Page 77 . Tiga hari mereka menyusul. ―Nanti aku layani dia!‖ Temuchin lihat orang itu adalah panglimanya. mereka berdua pergi mencari bersama.‖ berkata Temuchin. sembari minum koumiss. baharu mareka dapat menyandak si pencuri kuda. Temuchin berhasil menghajar penjaganya dengan kalung kayunya itu. hingga orang tidak mengetahuinya lagi. Hampir Temuchin kepergok tapi ayahnya Chila‘un pintar. Alasan itu kuat. ―Aku Borchu!‖ panglima itu membentak. ―Hm!‖ ―Kau andalkan ilmumu memanah. Maka kemudian. Ketika musuh Taijiut datang mencari dan rumah Chila‘un digeledah. aku akan lebih dahulu binasakan padamu!‖ Tertawa Mongol tertawa riuh.

tubuhnya meroyot hampir mengenao tanah. Ia tidak cuma menolong diri. jatuh nancap di tanah. ―Dengan sebuah gendewa saja. ―Itu sama saja dengan aku sendiri yang memanah dia!‖ ―Baik!‖ Borchu menyahuti. ―Kau kasihkan kudamu pada Jebe!‖ Temuchin berkata pada Ogotai.‖ katanya. ia pun larikan kudanya ke lain arah. lalu ―Ser!‖ maka sebuah anak panah menyambar ke arah Jebe. hingga bersama Chila‘un ia menjadi empat di antara menteri besar dan berjasa dari Jenghiz Khan (nama Temuchin setelah ia menaklukan bangsa-bangsa yang lain). lagi dua kali ia memanah dengan saling susul. Ia pun lompat turun dari kudanya. putranya yang ketiga. Borchu terkejut. Ketika ia diserang pula. Inilah ia tidak sangka. yang suruh orang serahkan kudanya. aku pun dapat membunuh kau!‖ Tentara Mongol menjadi berisik. beruntun tiga kali. kaki kanannya nyangkel pada sanggurdi. tak dapat aku layani dia cara seimbang. menangkap anak panah itu. Borchu lantas bersiap. habis mana ia angkat tubuhnya. seekor juga aku tidak menginginkannya!‖ Sejak itu keduanya bekerjasama. Temuchin tahu kegagahannya Borchu. tahu akan tugasnya. dia lompat ke atas kudanya Temuchin. Dengan tangan kiri mencekal gendewa dan tangan kanan memegang naka panah. Cepat sekali ia membalas memanah. Kemudian ia larikan kudanya. ia serahkan panahnya sendiri. Borchu perlihatkan kepandaiannya. ia berdiri di atas kudanya. Temuchin dan semua orangnya bersorak memuji. ia berbareng membalas memanah. Ia tanya sahabatnya itu menghendaki berapa ekor. Tidak lagi ia mendekam. satu kali. Jebe berkelit. Binatang itu yang telah berpengalaman. lalu dengan sebelah kakinya ia sampok anak panah yang menyambar kepadanya itu. selagi kuda itu lari. Irawan D Soedradjat Page 78 . Aku menghendaki hanya sebuah gendewa. Jebe naik ke bebokong kuda. aku bukannya seorang yang tak tahu diri. kesempatan ini dipakai untuk membalas menyerang. ia hanya bawa tubuhnya turun dari bebokong kuda. dia berkata pada Temuchin: ―Aku telah terkurung olehmu. Borchu menjawab: ―Aku keluarkan tenaga untuk sahabatku. Ia terus memanah. ―Sungguh dia beruntung!‖ kata Ogotai. Ia mengincar ke sebelah kanan. Ia selamat. terus ia main berkelit. tak usah anak panahnya!‖ ―Kau tak pakai anak panah?!‖ tanya Borchu gusar. setelah itu ia memanah betul-betul. ia menyambok dengan gendewanya. sekarang kau beri ketika untuk aku adu panah dengannya. ―Binatang ini sangat sombong!‖ seru mereka. Jebe tidak sempat menangkap pula. Borchu tahu Jebe memang lihay. ia memanah lagi pula. Borchu memanah pula. ―Tidak salah!‖ sahut Jebe. untuk duduk pula atas kudanya! ―Bagus!‖ Borchu memuji lawannya itu. Mulanya ia cuma mengancam. Maka kedua anak panah itu saling bentrok lalu mental. Jebe berkelit dan sambil berkelit tangannya menyambar. Tapi Borchu tidak berhenti sampai disitu. Jebe lihat anak panah datang. ia cenderungkan tubuh ke bawah untuk jemput tiga anak panah yang tergeletak di tanah. dia tidak berani memandang enteng. mengarah perut Borchu. sampai Temuchin berhasil mengangkat dirinya. Ia jepit perut kudanya akan bikin kuda itu lari. Borchu tetap menjadi sahabatnya dengan berbareng menjadi panglimanya. untuk papaki anak panah lawan. dengan enjot diri. hingga anak panah itu terpanah dua. ia mendekam akan aksih lewat anak panah itu. Tapi ia panah anak panahnya Borchu. ―Kau naik atas kudaku. Kali ini Jebe kaget. Dilain pihak. kau pakai panahku. hingga anak panah itu jatuh ke tanah. Jebe lihat kuda lawan gesit.Pendekar Pemanah Rajawali hendak membalas budi dengan membagi kudanya. sambil berkelit ia memanah pula.

kau panah mati padaku!‖ Jebe menjawab: ―Biasanya Jebe tidak pernah mengasih ampun pada musuhnya! Panahku barusan berarti. Tapi Jebe lihay. Ia khawatir ia nanti dipanah terus. Lantas ia memanah pula beruntun beberapa kali. untuk memberi semangat kepada Borchu. sambil bersembunyi. kali ini ia pakai kantong panah Temuchin. melihat serangan datang. Hanya aneh. ―Aku hendak menukarnya dengan jiwa anak ini!‖ katanya. Jebe hendak mengasih ampun padanya. ―Bukannya untuk ditukar dengan jiwaku!‖ Jebe berseru. tiba-tiba ia menjadi terkejut. rubuhlah binatang itu! Borchu turut rubuh. Jebe pun berkelit tak hentinya. dengan begini mana bisa aku membalaskan sakit hatinya Khan yang terbesar?‖ Ia menjadi bergelisah. ujung panah tidak menancap. ia mendahului membalas menyerang. yang anak panahnya ada batasnya. maka tidak ampun lagi. Anak panah itu tidak ada ujungnya yang tajam! Jebe telah singkirkan itu. dan tepat mengenai. walaupun sambaran anak panah itu keras sekali. hendak ia memanah lebih jauh. anak panah yang berdarah itu ia pasang di gendewanya. ―Baiklah!‖ kata Borchu. Kapan ia dengar perkataan Jebe itu. ia gunai ketikanya. Jadi terang. kamu jangan adu panah pula! Biar. Jebe kasih kudanya lari berputaran. Irawan D Soedradjat Page 79 . aku harus mendapatkan hukumanku!‖ Ia cabut anak panah di pundaknya. jiwanya ditukar dengan jiwamu!‖ ia mengatakannya pada Borchu. Jebe menunjuk kepada Kwee Ceng. terus-menerus. anak panah yang diberikan oleh Temuchin kepadanya. Borchu menjadi girang sekali. Selagi mata orang banyak seperti di bikin kabur. ia menjadi girang. hingga ia merasakan sangat sakit. satu jiwa tukar dengan satu jiwa!‖ Temuchin kaget dan berkhawatir menampak Borchu kena terpanah. sambil turunkan tubuhnya. Jebe lihat serangan berbahaya. Tentara Mongol bertempik sorak. Sementara itu serdadunya Borchu sudah hanturkan beberapa puluh batang anak panah kepala kepala perangnya itu. ia lindungi diri di perut kudanya. itu cuma menyebabkan Borchu merasa sakit pada bebokongnya. dengan saling susul.Pendekar Pemanah Rajawali Borchu menjadi berpikir: ―Aku ada punya anak panah.‖ sepasang alisnya bangkit bangun. ia pungut anak panah itu. ―Siapa menghendaki kamu jual kebaikanmu!‖ teriak Borchu. tanpa tanda dari penunggangnya. hingga gendewa itu panah menjadi dua potong. ia telah gunai habis semua anak panahnya. untuk rampas jiwa orang. Semua penonton bersorak. dia tidak. hingga akhirnya pundaknya yang kiri kena juga terpanah. yang berdiri di depan pintu. ―Aku telah panah kepada Khan yang mulia. ―Jikalau kau benar ada punya kepandaian. ia talangi Borchu menyahut: ―Baik! Sudah. ―Mari kita mengadu pula!‖ Ia lantas memanah pula. ia lompat berkelit ke kiri.. anak panah itu jatuh ke tanah! Dengan keheranan. Maka ia lantas merogoh ke kantung panahnya. Jebe telah lihat tegas musuhnya itu.. Kehilangan senjatanya. Tentang aku sendiri. Kali ini ia kena hajar gendewanya Jebe. kemudian mendapatkan orang tidak terbinasa atau terluka parah. ―Aku minta Khan yang mulia jangan ganggu itu anak.. Segera ia ketahui sebabnya ia tidak terluka. Tapi ia belum puas. Sebenarnya ia biasa berbekal banyak anak panah. Semua penonton kaget. incarannya luar biasa. Tapi anak panah datang demikian cepat. terguling ke tanah. ia membalas menyerang. mereka menjerit. Kudanya Borchu sangat lihay. anak panahnya justru mengenai batok kepalanya kuda. sekarang kita seri. ―Apa!‖ Temuchin menegaskan. Tanpa merasa. Ia panah bebokong musuh itu. Dalam kagetnya ia putar kudanya untuk balik. ia pungut anak panah di tanah.

aku rela. ia menggeser sedikit. walaupun ia incar tenggorokkan. ―Sebentar kau bawalah bocah ini kepadaku!‖ katanya kepada Jebe. kalau ia turut Temuchin. ia lantas perdengarkan nyanyiannya: Khan yang terbesar mengampunkan selembar jiwaku. anak panah lewat menyempret di pinggiran tenggorokkannya. kesana aku pergi! Temuchin menjadi sangat girang. demikian Jebe. ―Habislah aku hari ini…. Jebe gagal mengelakkan diri. ―Bagus! Bagus!‖ katanya. mungkin ketikanya akan lebih baik. Irawan D Soedradjat Page 80 . Ia lolos dari kematian dan mendapati tuan yang bijaksana. sambil mendekam. Di dalam pasukan perang. tak ingin ia mengambil jiwa orang. aku boleh kasihkan itu kepada siapa aku suka!‖ katanya. Maka kesudahannya. berilah ampun kepadanya!‖ Temuchin pun menyayangi Jebe. yang sepotong ia berikan kepada Borchu. tetapi ketika ia menoleh kepada Temuchin. ―Ibu bilang. ―Emas adalah kepunyaanmu. apakah kau masih tetap tidak mau menyerah?!‖ ia tanya panglima musuh itu. Akan aku memotong Sungai hitam menggempur batu gunung. ibunya bocah itu. Ia menjadi si orang gagah yang menyayangi sesama orang gagah. Temuchin telah sukai bocah ini. Jebe menghanturkan terima kasih. Lantas ia ajak pasukan perangnya balik ke arah darimana tadi ia datang. ―Eh. Ia merasa sakit dan kaget. Maka ketika ia memanah. sekarang mendengar perkataan orang. Kwee Ceng pun dapat berlatih ilmu perang. kalau kita membnatu tetamu kita. jangan kita termahai uangnya. tidak tahu sampai kapan Kwee Ceng dapat membalas dendamnya. ia ajak putranya ikut Jebe kepada Temuchin. maka ia lompat turun dari kudanya untuk terus bertekuk lutut. ―Kalau emas itu adalah emasku. kau boleh berikan kepada siapa kau suka!‖ Jebe angsurkan emas itu kepada Kwee Ceng. rasa sukanya menjadi bertambah-tambah. ia berkata: ―Kha Khan. mengikuti di sebelah belakang.‖ katanya. akan tuturkan kejadian barusan. Lie Peng lantas berpikir. Temuchin tertawa berbahak-bahak. di belakang hari walaupun mesti menyerbu api berkobar-kobar. Ia tunggu pulangnya Lie Peng. yang sepotongnya pula kepada Jebe. ―Khan yang mulia. tak mau ia menerimanya. Dengan hidup terus sebagai penggembala.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia satu laki-laki sejati!‖ Borchu sebaliknya berpikir. untuk dibawa bersama.‖ ia mengeluh dalam hatinya. Bocah itu menggoyangi kepala. untuk ambil hatinya! Ke mana aku diperintah pergi. Tapi ia terus menambahkan. darahnya lantas mengucur dengan keluar. akan aku tunjang Khan yang maha besar! Aku akan menghajar musuh. Jebe menjadi girang sekali. Ia percaya. ia beristirahat. Borchu siapkan pula anak panahnya. bolehkah?‖ Temuchin tertawa. ia menjadi kagum sekali. Beberapa serdadu angkat naik bangkai kuda putihnya ke bebokong dua kuda lainnya. ―Selanjutnya kau ikutlah aku!‖ Orang Mongol polos dan sangat gemar bernyanyi. Ia ambil dua potong emas. Jebe lihat Temuchin demikian angker. hendak aku berikan emas ini kepada itu bocah. Sambil rebahkan diri di atas rumput.

karena keduanya saling menghormati dan menghargai. komponi yang dikepalai oleh datu opsir disebut siphu-thio. kecuali napasnya kuda. Dengan diiringi putra-putranya. ―Kita telah kalahkan banyak musuh. Temuchin muncul dari dalam kemah. Ia ingin Temuchin dapat dipengaruhi dengan keangkerannya atau dengan cara halus. Irawan D Soedradjat Page 81 . ia dapat lihat mendatanginya dari kejauhan dua penunggang kuda yang larikan binatangnya tunggangannya dengan kencang sekali. Setelah menemui tiga putra Temuchin. Kwee Ceng dan kawan-kawannya terus tinggal menonton. dipimpin oleh satu banhu-thio. *** Pada suatu hari selagi Kwee Ceng memain timpuk-timpukan batu bersama beberapa kawannya anak-anak Mongol di depan markas Temuchin. raja Kim dengar Temuchin jadi semakin kuat. kebetulan Temuchin lagi berperang. Keras disiplin tentaranya Temuchin yang mengatir barisannya dalam empat rombongan. setelah terompet yang pertama. kaki kuda mereka berbunyi tak hentinya. sunyi senyap semuanya. atau satu resimen. Pedang Mustika Girang Temuchin melihat kedatangan Jebe. Kedua saudara itu membawa selaksa serdadu pilihan. Tidak lama sejak masuknya dua orang itu ke dalam markas. merupakan sebagai satu badan. putranya yang ketiga yang menjadi satu siphu-thio. Dengan satu titah dari ayahnya. tubuh setiap serdadu bergoyang-goyang. Ia menduga kepada berita penting yang mesti disampaikan kepada Khan yang terbesar itu. Lewat beberapa tahun setelah itu. Belum lagi pasukan perang itu datang dekat. hingga Yung Chi mesti lari pulang ke Chungtu. Mereka itu terlatih sempurna. Jebe mencari Borchu untuk menghanturkan terima kasih. terdiri dari seratus jiwa dipimpin oleh satu pekhu-thio. dikepalai satu cianhu-thio. hingga tampaknya jadi angker sekali. Mereka lihat. sampai mereka nampak debu mengepul naik. ―Begitulah negeri Kim itu sudah utus putranya yang ketiga bersama putranya yang keenam datang kemari untuk menganugrahkan pangkat kepada Kha Khan kamu!‖ Dengan angkat tinggi golok mereka. atau satu eskadron. Yang pertama ialah sepuluh jiwa serdadu menjadi satu barisan kecil. negeri Kim pun telah tahu itu. Juji si putra pertama maju bersama selaksa serdadunya untuk sambut utusan Kim. ia khawatir Temuchin itu menjadi bahaya untuknya di bagian utara. yang ia tahu cerdik. dan sepuluh resimen. maka sekarang dia utus putranya itu dengan dibantu Wanyen Lieh. mereka menjadi bersatu. Kwee ceng bersama kawan-kawannya berdiri menonton. Ia telah pikir. kalau ada titah dari Temuchin. Jebe ingat budinya Kwee Ceng. dari itu hebat penyerangan mereka. sebaliknya bangsa Mongol adalah suatu suku kecil di tanah datar atau padang pasir. pengaruhnya tersiar luas dan jauh. tandanya Juji telah dapat memapak dan menyambut utusan bangsa Kim itu. putranya yang keenam. sedang empat laksa serdadu lainnya mengatur diri dengan rapi untuk menanti. tinggal lihat gelagat saja untuk mewujudkan politik itu. kepala komponi yang memimpin sepuluh serdadu. setelah terompet yang kedua. menyusul mana dari pelbagai tangsi terlihat munculnya orang-orang peperangan. kudanya tinggi dan besar. ia perlakukan itu bocah dan ibunya dengan baik. yaitu wanyen Yung Chi dan Wanyen Lieh. lantas saja mereka menjdia sahabat kental. Begitu terdengar terompet yang ketiga kali. lebih dulu sudah terdengar suara beradunya pakaian baja mereka. Yangkhia. tentara musuh yang dikalahkan sudah menyerbu dan membikin bubarnya pasukan pengiringnya Wanyen Yung Chi. yang berseragam lapis baja. Ia menempatkan orang gagah itu dibawah Ogotai. setelah Kwee Ceng tambah umurnya akan ia wariskan ilmu panah dan ilmu silat kepadanya. semua serdadu sudah siap dengan senjata mereka dan naik kuda. lalu terdengar ramai suara terompet. lalu sepuluh komponi. Beberapa tahun yang lalu Wanyen Yung Chi telag diutus menganugrahkan pangkat kepada Wang Khan dan Temuchin. tentara Mongol bersorak. senjatanya tombak panjang. Borchu menyambut dengan baik. yang nampak adalah satu angkatan perang besar yang terdiri dari lima pasukan dari setiap sepuluh ribu jiwa. Tatkala itu bangsa Kim telah menduduki Tiongkok Utara. atau satu devisi. maka itu Temuchin anggap adalah suatu kehormatan yang ia dianugrahkan pangkat oleh kerajaan Kim itu.Pendekar Pemanah Rajawali Bab 8. kemudian lagi sepuluh eskadron.‖ berkata ini pemimpin besar.

ia lantas pungut beberapa potong emas. Bukankah ia telah diperhina di depan orang banyak? Adalah orang Mongol sendiri. Sebaliknya pihak tetamu tidak selayaknya berlaku tidak hormat atau memandang enteng. Belum pernah ada yang berani menghina dia. sedikit saja ia merasa tidak puas. ia melemparkannya kembali sekalian ia beseru: ―Hayo anak-anak. tetamunya tentu disambut dan dilayani dengan baik. untuk meraup sejumlah uang emas. mereka suka merampas dan memperkosa wanita. mereka tidak memperdulikannya. ia tetap panas hatinya. Kalau tetamu berbuat tidak mengindahkan kehormatan diantara tuan rumah dan tetamu. dan berteriakan. atau tengah bergurau. Akan tetapi kesudahannya ia menjadi kecewa. bagaimana bangsa Kim itu telah bersekongkol dengan pengkhianat-pengkhianat Han untuk membinasakan Gak Hui dan lainnya. setan-setan cilik!‖ Mendengar itu semua orang Mongol berubah air mukanya. ―Bocah haram jadah!‖ ia mencaci dengan perlahan. Ia lantas rampas sebatang tombak panjang dari satu pengiringnya. Irawan D Soedradjat Page 82 . walaupun masih kecil. tidak pernah mereka mengutuk atau mencaci. ia main bunuh orang. Bangsa Mongol paling mengutamakan menghormati tetamu. Umpama ada tetamu mendatangi tenda mereka. ―Shako. mereka sangat menghormati. maka sekarang melihat orang Kim itu demikian kurang ajar. Biasanya di Tiongkok. Wanyen Yung Chi lihat Kwee Ceng beramai. Kwee Ceng bukan orang Mongol. shako!‖ Wanyen Lieh mencegah. perbuatan itu dipandang sebagai kejahatan paling besar. Anak-anak Mongol itu juga terdidik menghormati tetamu mereka. itu anak-anak Mongol yang dengan membuka matanya lebar-lebar mengawasi kepadanya tanpa berkedip. tidak menghargai tuan rumah. ia toh malu bukan main. bersama putra-putranya ia sambut kedua tetamu itu dengan menyuguhkan koumiss dan daging kambing dan kuda. ramai-ramai kamu merebutnya! Hayo rebut. ia lantas tertawa dan merogoh ke dalam sakunya. dengan ketakutan ia mengangkat kaki. adat kebiasaan mereka masih ―kasar‖. tombak itu kena terserang tepat sekali dan jatuh bersama anak panah itu. akan tetapi memandang Kwee Ceng. Ia lihat gelagat jelek. Yung Chi jeri akan saksikan keangkeran tentara Mongolia itu. Sambil tertawa terus. terutama terhadap tetapi. ―Tahan. dari mulut mereka tidak pernah keluar kata-kata kotor. Sebaliknya tentara Mongol perdengarkan gemuruh seruan memuji penyerangan panah itu.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Yung Chi datang berendeng bersama adiknya. Kwee Ceng ketolongan tetapi ia telah bermandikan keringat dingin. meski ia tidak merasakan terlalu sakit. akan tetapi mereka biasa menaati adat istiadat. Temuchin bersikap tenang. kau cari mampus?‖ Yung Chi membentak. kenal atau tidak. Ia mengharap anak-anak itu nanti berebut memungutinya. Disaat Kwee Ceng menghadapi saat ajalnya. dan terhadap musuh. ia lari mendekati Yung Chi kepada muka siapa ia menimpuk sambil ia berseru: ―Siapa sudi mengambil emasmu yang bau!‖ Yung Chi berkelit tapi ada juga uang yang mengenai pipinya. Dengan berbuat begitu. perbuatan Yung Chi ini justru perbuatan yang memandang enteng. mereka dapat menghargai diri sendiri. selama berada bersama ibunya. pertama ia hendak unjuk keagungannya. tetapi tombak sudah melayang. dengan itu ia hendak menimpuk kepada bocah she Kwee itu. mereka polos dan pegang derajat. maka itu semua serdadu Mongol saling memandang satu dengan lainnya. jangan layani dia!‖ Wanyen Lieh berkata kepada kakaknya. menganiaya dan membunuh rakyat jelata. demikian menampak perbuatan Yung Chi itu. yang mana terus ia lemparkan ke arah anak-anak itu. sering ia dengar ibunya itu bercerita tentang kajahatan bangsa Kim yang di Tiongkok. dan kedua itulah sebagai pelesiran. maka ia mendelik kepada bocah itu. dari Temuchin sampai pada semua bawahannya pada merasa puas ―Setan cilik. ia berkata: ―Itulah persenan untuk kalian!‖ Yung Chin tidak tinggi ilmu silatnya akan tetapi uang emas hancur itu dapat ia lempar cukup jauh. Dimasa itu bangsa Mongol belum kenal mata surat. tiba-tiba sebatang anak panah menyambar dari pasukan Mongol yang kiri. Ia merogoh pula sakunya untuk mengambil uang emas lainnya. Ia mendongkol bukan main. Yung Chi menjadi penasaran. Temuchin bersama putra-putranya ambil tempat di samping untuk menyambut.

ayahnya Temuchin. Lalu Wang Khan angkat ia jadi anak pungut. ia dapat rampas pulang istrinya itu adalah dengan bantuan Wang Khan dan adik angkatnya. Malam itu bangsa Mongol jamu tetamu-tetamunya yang dilayani dengan hormat dan telaten. Ia berasal dari suku Kerait. selagi main panah-panahan dengan panah kecil yang terbuat dari kayu. ia diberi minum susu dari gelas kumala dari Wang Khan. Temuchin terima pengangkatannya sambil berlutut. ―Apakah benar?‖ Wanyen Lieh berkata dengan cepat. yaitu Jamukha. pangkat turun temurun. tetapi anak-anak gunakan itu untuk main timpuk-timpukan.‖ Erat sekali pergaulannya Temuchin dengan Jamukha. setipa pagi mereka berlomba bangun pagi. malam tidur berkerubung sehelai selimut. tetapi hubungan mereka masih tetap kekal. Wanyen Yung Chi berkata. Aku mohon sukalah sam-ongya dan liok-ongya juga menganugerahkan dia sesuatu pangkat.‖ jawab Wanyen Yung Chi Wanyen Lieh segera menambahkan:‖ Untuk di utara ini. Demikian ingat saudara angkatnya itu. Ketika dahulu hari Yesukai mati diracuni musuhnya. Pie-sek itu adalah biji yang orang Mongol biasa pakai untuk menimpuk kelinci. tanpa pikir ia langsung menjawab: ―Bangsa Mongolia berjumlah banyak. apakah Ciauwtouwsu suka turut pergi bersama?‖ Temuchin senang dengan ajakan itu. Temuchin tidak senang dengan jawaban itu. Girang Temuchin akan ketahui ayah angkatnya pun dianugerahkan pangkat. Itu waktu Temuchin menikah belum lama dan Juji. Temuchin timbulkan usul ini. ―Siapakah lagi yang dianugerahkan negara Kim yang besar?‖ ia tanya. Wang Khan dan Jamukha bekerja sama membantu merampasnya pulang. Khan sendiri serta Wang Khan adalah orang-orang gagah perkasa. diawaktu angkat saudara mereka saling mengasih barang tanda mata.: ―Besok kami hendak pergi menganugrahkan Wang Khan. Sekarang saling mereka minum arak dari satu cawan. Jamukha. Lagi sekali mereka mengangkat suadara. dan Temuchin membalas dengan biji pie-sek yang terbuat dari tembaga. Jamukha hadiahkan kepada Temuchin kepala panah yang terbuat dari tulang mata kerbau dan Temuchin sebaliknya menghadiahkan kepala panah yang terbuat dari kau pek. Wang Khan itu adalah pemimpin dari pelbagai suku di tanah datar. tempo istrinya Temuchin dirampas orang. sang kakak tetapi tidak memperdulikannya. angkatan perangnya besar dan kuat. Maka tidak heran. putranya masih belum lahir. Temuchin baru berumur sebelas tahun. siapa yang menang. Maka setelah angkat saudara. Kali ini Temuchin dan Jamukha saling menghadiahkan ban emas dan kuda. dia pandai memimpin angkatan perang. berdua mereka tinggal bersama-sama dengan Wang Khan. liok-ongya mungkin belum pernah mendengarnya.‖ ―Kami disini masih ada punya seorang gagah yang lain. Ia adalah saudara angkat dari Yesukai. musuhnya. ―Tidak ada lagi. selalu mereka saling menyayangi. ―Kalau begitu tidak apa.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Yung Chi membacakan firman dengan apa Temuchin diangkat menjadi Pak-kiang Ciauwtouwsu dari negeri Kim. orang lain tidak ada yang dapat disamakannya. mana kami negeri Kim yang besar dapat punyakan demikian banyak pembesar?‖ Wanyen Lieh mengedipkan mata kepada kakaknya. kalau semuanya diberi pangkat. ―Dia jujur dan berbudi tinggi. untuk dia selamanya menjadi seperti alingan di utara dari negeri Kim itu.‖ jawab Temuchin. Adalah kebiasaan bangsa Mongolia. Temuchin terlunta-lunta dan ia kemudian pergi ke Wang Khan untuk menumpang. ―Siapakah dia?‖ ―Dialah adik angkatku. yang airnya telah membeku menjadi es. pangeran keenam kepada Wanyen Lieh. ia menyambuti firman dan pelat emas itu. Kemudian setelah keduanya dewasa. Irawan D Soedradjat Page 83 . Ketika itu Jamukha memberikan Temuchin biji pie-sek yang terbuat dari tulang binatang. Kemudian tempo istrinya Temuchin dirampas bangsa Merkit. tempo mereka angkat saudara. serahkan saja pangkatku kepadanya!‖ ia bilang. Selagi minum. Wanyen Yung Chi telah minum hingga separuh mabuk. ia pun disebut Togrul Khan.‖ berkata Temuchin. Ia membasakan ―liok-ongya‖. mereka jadi berpencaran. Inilah untuk ketiga kalinya mereka angkat saudara. Ditahun kedua. ia menyatakan suka turut. keduanya bermain timpuk-timpukan di sungai Onon. Adalah kemudian karena masing-masing mencari air dan rumput sendiri dan memimpin barisan sendiri-sendiri.

maka itu tak senang ia tidak melihat anaknya itu. masih kecil. sama-sama mereka naiki kuda mereka. Di hari kedua. Mereka ialah Tuli bersama Kwee Ceng.‖ ia bilang. ia tutup mulutnya. Pada Mukhali ia tanya: ―Bagaimana pandanganmu terhadap tentara Kim itu?‖ ―Seribu serdau kita dapat lawan lima ribu serdadu mereka!‖ sahut Mukhali. ―Barusan aku membuat anda bersama saudar Kwee di tepi sungai. Orang mesti lagi menanti setangah jam barulah Wanyen Yung Chi dan saudaranya selesai dandan dan keluar dari kemahnya. Tuli itu putra yang keempat. ―Baik. pagi Temuchin berangkat dengan ajak keempat putranya serta lima ribu serdadunya. Semua orang menjadi cemas hatinya. ia menajdi tenang. untuk mengantari Wangyen Yung Chi dan Wanyen Lieh pergi menganugrahkan pangkat kepada Wang Khan.‖ sahut Tuli.‖ katanya. mentereng seragam dan alat senjatanya. ialah handuk buatan Lie Peng untuk putranya. berulang kali ia kasih dengar suara di hidung. ―Anda‖ itu kata-kata Mongol. ―Kema kau pergi?!‖ tanya Temuchin. tetapi Tuli sendiri tidak kelihatan orangnya. ―Pandanganmu sering cocok dengan pandanganku. akan tetapi dalam hal mendidik anak atau melatih tentara. Sambil mengatakan demikian. tentara Kim masih tidur nyenyak di kemahnya. untuk simpangkan soal.‖ Membuat ―anda‖ itu berarti mengangkat sudara. Matahari telah memancarkan cahaya ketika Temuchin telah berada di atas kudanya dan lima ribu serdadunya telah siap dengan rapi.‖ berkata Boroul. Ia tersenyum. ―Ini!‖ Kwee Ceng mendahulukan menyahut seraya ia tunjuk lehernya. kau juga turut kami!‖ Tuli dan Kwee Ceng girang sekali. Akan tetapi itu waktu. ―Dan dia menghadiahkan ini padaku. ―Katanya negeri Kim ada punya dua juta serdadu. nanti aku tengok. kita hanya lima puluh laksa.Pendekar Pemanah Rajawali Yung Chi tepuk pahanya. Tuli ulapkan tangannya yang mencekal sepotong handuk merah yang tersulam bunga-bungaan indah. Temuchin lihat kalung emas yang biasa dipakai oleh putra itu. yang menjadi gurunya Tuli. tetapi sekarang menyaksikan doyannya tidur mereka.‖ Ketika itu ia menoleh. Tadinya Temchin gentar menyaksikan roman gagah tentara Kim itu. ―Kwee Ceng. Temuchin segera ingat halnya sendiri bersama Jamukha. ia tampak kudanya Tuli. Irawan D Soedradjat Page 84 . ―Dia biasanya tidak berani bangun sampai siang. ia berseru: ―Apakah kau pandang enteng pangkat yang diberikan kerajaan Kim yang besar?!‖ Temuchin tahu diri. Tapi baru ia hendak putar kudanya. ―Kau sendiri. besar-besar kuda tunggangannya. ―Mana Tuli?!‖ ia tanya dengan gusar. tempo masih sangat muda mereka juga telah mengangkat saudara. Temuchin pakai aturan keras. di sana kelihatan dua bocah berlari-lari mendatangi sambil berpegangan tangan. kau menghadiahkan apa padanya?‖ ia tanya denagn sabar. hatinya menjadi tergerak. ―Selanjutnya kamu berdua mesti saling mencintai dan saling menyayangi serta saling membantu!‖ Tuli bersama Kwee Ceng menyahuti menerima pesan itu. Wanyen Lieh pun lantas menyelak dengan ia berbicara sambil tertawa. Temuchin girang sekali dengan jawaban itu. ―Ayah!‖ panggil Tuli kapan ia tiba di depan ayahnya itu. yang khawatir pemimpin itu gusari putranya. ―Sekarang semua naik kuda!‖ Temuchin lalu memerintah.

‖ Wanyen Lieh membisiki kakaknya.‖ sahut di juru warta. Sangum bersama Jamukha. ia lantas perintahkan tentaranya lekas siap. Maka itu. ―Bangsa Naiman itu sering merampas binatang piaraan kita. ―Saudara. mereka terperanjat. Wanyen Lieh lihat Jamukha bertubuh jangkung kurus. Justru itu dua serdadunya Temuchin yang bertugas jalan dimuka sekali. ―Kakak. habis mana dengan perlahan-lahan juga ia naik ke atas kudanya. Irawan D Soedradjat Page 85 . Pasukan perang itu menuju ke utara. pasukan ini jadi tertunda keberangkatannya. barulah mereka dipapak oleh wakilnya Wang Khan.‖ katanya. lari balik dengan laporannya bahwa di sebelah depan ada menghalang tentaranya bangsa Naiman yang berjumlah tiga puluh ribu jiwa. Hbais itu semua putra Temuchin menemui dan mengasih hormat kepada paman angkatnya itu. Kapan Temuchin dengar Jamukha ada bersama Sangum. hatinya goncang.‖ Wanyen Yung Chi menjadi kaget. tetapi ia mencoba mengendalikan diri. Jalan lagi satu hari. Dua saudara Wanyen tidak menyangka mendengar itu dan dan menyaksikan sikap orang. denagn ayal-ayalan ia minum araknya dan dahar kue. Dengan membawa sepuluh pengiring. atas mana tentara Mongolia menyambut dengan seruan perang mereka berulangkali. ―Biarlah kedua putra raja Kim yang besar ini melihat sepak terjang kita!‖ Ia pun lantas bersiul nyaring satu kali. Wanyen Yung Chi sebaliknya tunjuki tingkah polahnya satu putra raja. Wanyen Yung Chi terkejut. ―Hendak apakah mereka itu?‖ dia tanya. mereka juga menghendaki anugerah itu. maka keduanya lantas berpelukan. lagi kira setengah jam barulah tentara Kim itu siap berangkat. mereka hendak tangkap dan tahan kedua putra raja Kim.‖ berkata Mukhali kepada Temuchin.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Lieh lihat tentaranya Mongolia demikian rapi. ia telah lantas dapat memikirkannya. tubuhnya gemuk. Berselang tidak lama. Tentara terdepan dari pihak Mongol sebaliknya telah mundur kepada barisan mereka. dan musuh segera mulai tampak. wajahnya berubah. menandakan ketangkasannya. Mendengar itu barulah Yung Chi sadar dan manggut-manggut. ―Lekas suruh tentara kita maju! Ini orang-orang Mongol tidak ada gunanya!‖ ―Biarlah mereka yang bertempur lebih dulu. Mereka bilang. mereka sangat suka mengganggu. Wanyen Lieh sebaliknya segera mengatur pasukan perangnya. ―Jumlahnya mereka agaknya lebih banyak dari jumlah kita…‖ kata Yung Chi tidak lancar. Mukhali larikan kudanya ke depan. akan temui saudara angkatnya itu. Segera terlihat debu mengepul di sebelah depan. rombongan ini sudah mendekati tempat kediaman Wang Khan. apakah hari ini kita mesti lepaskan saja pada mereka?‖ Temuchin melihat sekitarnya. kumis kuningnya jarang. Mukhali telah kembali dengan laporannya: ―Bangsa Naiman mendengar putra raja kerajaan Kim datang menganugrahkan Khan kami yang terbesar. ―Adik. untuk bersiap sedia. apabila mereka tidak diberi anugerah. Dilain pihak. Temuchin tidak beri kesempatan untuk orang bicara lebih banyak. Karena hal ini. ―Kelihatannya mereka hendak menyerang. dia tidak mirip dengan seorang yang dibesarkan di gurun pasir. sesudah jalan enam hari. Sangum adalah berkulit putih. akan tetapi sepasang matanya sangat tajam dan berpengaruh. disusul sama dua kali cambukan ke udara dari cambuknya. tanda dari hidup senang dan dimanjakan. ia lantas maju ke depan. ―Pergilah kau tanya mereka!‖ ia perintahkan Mukhali. yang mengutus putranya.‖ Wanyen Yung Chi teriaki saudaranya.

Sesudah itu. ―Taruh kata kamu berterika-teriak hingga langit bergerak bumi bergoyang. Itu waktu Boroul berada di samping kiri. ia telad tentaranya ialah berkoak-koak dengan seruan peperangan. Ia khawatir tentara Naiman nanti keburu mendahulukan menyerbu kepada mareka. kematian dan luka Cuma seratus lebih. hanya sesudah musuh tinggal kira-kira dua ribu jiwa lebih. mereka kepraki kuda mereka untuk menerjang. yang sebaliknya lalu membagi diri dalam dua sayap. baru ia memegat. Sebagai orang baru. apakah dengan begitu dapat tentara musuh dibikin mundur?‖ berkata Yung Chi. yang membuat musuh kacau. Karena ini adalah penyerangan dari jauh. untuk kembali ke jalan darimana tadi mereka datang. jumlah mereka dua ribu lebih dipecah empat yang sebagian diserahkan kepada dua saudara Wanyen. jangan kau ketinggalan. Jamukha bersama Sangum menyerang dari kiri dan kanan. tentara mereka mengikuti untuk turut ambil kedudukan bagus itu. Sebagi kesudahan pertempuran. Wanyen Yung Chi dapat lihat wajah tentara Naiman itu sangat bengis. Dalam tempo yang pendek. keduanya ini lantas lari ke tanah tinggi di samping mereka. walaupun demikian. benda tebal itu dipasang di depan mereka dengan diri mereka teraling. Siwaktu itu. Musuh menjadi kecil nyalinya. Atas ini. Hampir semua panah mereka yang gagal. yang sebagian untuk Wang Khan. sambil mengertak gigi. ia biarkan mereka dihajar oleh kawan-kawannya. tentara Mongol tetap tidak bergerak. pergi kau serbu bagian belakangnya!‖ Jelmi menerima titah itu. Kejadian ini membingungkan pasukan yang berada di sebelah depan. anak panahnya tentara Kim ini tidak sampai kepada musuh. karena orang datang semakin dekat. Ia ambil jalan memotong. tentara musuh sudah datang dekat beberapa ratus tindak. yang sebagian untuk Irawan D Soedradjat Page 86 . Siasatnya ini memberi hasil. mereka lantas menyerang tentara Naiman. ia berkata kepada Tuli: ―Pangeran kecil. Kepala perang Naiman rupanya melihat kedudukannya tak selayaknya. Sekali ini serempak berhentilah seruan-seruan peperangan tentara Mongol itu. mereka turun dari kuda mereka dan menyerah. lantas ia berikan titahnya: ―Jelmi.Pendekar Pemanah Rajawali Tentara Mongol masih perdengarkan suara mereka yang nyaring tetapi mereka tidak bergeming. Jarak di antara kedua pihak masih cukup jauh. ia ingin membuat jasa. Ia mendekam di bebokong kudanya. Jelmi tidak merintangi musuh lari terus. musuh lantas lari serabutan. cambuknya Temuchin mengalun pula di tengah udara. ia memimpin untuk mencoba merampas kedudukan itu. dari tempat yang lebih tinggi. Bersama-sama Kwee Ceng. Mau tidak mau. Di pihak Mongolia. Tentara Kim menurut titah. Hanya sementara itu. Dalam tempo yang cepat sekali. Jebe dengan tombak panjang di tangan. musuh terbinasa dan luka seribu lebih. semuanya jatuh di hadapan mereka itu. suaranya nyaring. maju di paling muka. Temuchin titahkan loloskan seragam tentara Naiman itu. mereka lantas menghujani anak panah. ―Lepas panah!‖ ia mengasih titah. mereka tetap berteriak-teriak saja. masing-masing dipimpin Temuchin sendiri berdua dengan Jamukha. guna menduduki tempat yang bagus. kau turut aku. Kau lihat bagaimana kami nanti menghajar musuh!‖ Tuli mengangguk. Wanyen Lieh menjadi heran. barisan belakang Naiman menjadi kalu. penyerangan panah dilanjuti. Yung berkhawatir pula. dengan membawa goloknya yang besar. Temuchin dari tempat yang tinggi menyaksikan penyerangan pihaknya itu. Selagi kepala perang Naiman bersangsi. Tentara Mongol membuat tembok bentengan yang terdiri dari semacam permadani. merka menggunai anak panah. tertawan dua ribu lebih. ia pergi dengan seribu serdadunya.

yang tubuhnya gemuk. Segera Wanyen Lieh turun dari kudanya. Ramai sekali pesta itu. di depan kuda dua saudara ini.‖ berkata Wang Khan. Tidak demikian dengan Wanyen Yung Chi.‖ ―Dua anak angkatku ini adalah orang-orang gagah perkasa bangsa Mongol. Wanyen Lieh berpikir apabila ia dapatkan di dalam segala hal Wang Khan ada lebih unggul dari Temuchin. maka kami bangsa Kim di Utara dapat merasai aman sentosa. saban-saban ia cegluk arakanya dari cawannya yang besar. Wanyen Lieh sebaliknya gentar hatinya. ―Dia mana dapat dibandingkan dengan kedua anak angkatku? Irawan D Soedradjat Page 87 . Wanyen Lieh memasang mata kepada Wang Khan. ―Putramu terlebih gagah lagi. Temuchin dan Jamukha telah kalahkan musuhnya yang lebih besar jumlahnya. banyak suka lainnya yang takluk padanya. ia memberi keluarganya lima ekor kuda serta empat tawanan Naiman sebagai budak. ―Hajar pula padanya!‖ Akan tetapi juru warta Mongol datang dengan wartanya: ―Wang Khan sendiri datang dengan pasukan perangnya!‖ Mendengar itu Temuchin bersama Jamukha dan Sangum lantas pergi menyambut. Dia mengenakan jubah hitam dari kulit binatang tiauw dengan pinggang dilibat ikat pinggang emas. guna membalas menghormat. dan tentaranya kuat.‖ berkata Wang Khan sambil tertawa seraya menunjuk ke arah Temuchin dan Jamukha. ―Dengan orang Mongol saling bunuh. Ia menginsyafi ancaman bahaya dari pihak ini. Tidak heran kalau Khan ini menjagoi di Utara.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha san yang sisanya untuk dirinya sendiri. Wang Khan tiba untuk lantas lompatb turun dari kudanya. sudah sewajarnya dialah yang nanti menggantikan aku memimpin suku kita. ia menjalankan kehormatan. Sangum tidak puas mendengar perkataan ayahnya itu. ―Bagus!‖ berseru Wanyen Yung Chi. ―Jikalau aku telah menutup mata nanti. itu artinya negaraku tak aman lagi…‖ Oleh karena ini. Itulah tanda dari datangnya lagi satu pasukan perang. ―Hamba dengar bangsa Naiman hendak berbuat kurang ajar.‖ ia berpikir. ia menjadi berpikir keras. Itu waktu terlihat pula debu mengepul jauh di sebelah depan. Wanyen Lieh awas matanya. kumis dan jenggotnya telah putih bagaikan perak. Untuk serdadu-serdadunya yang terbinasa. untuk mengendalikan diri.‖ ia puji putra Khan itu. Syukur ketiga anak-anakku telah dapat membinasakan mereka!‖ Lantas dengan hormat sekali. Dengan jumlah yang lebih kecil.‖ berkata Wang Khan sambil tertawa.. ―Oleh karena khawatir kedua pangeran kaget maka hamba datang bersama tentaraku ini. yang Cuma rangkap kedua tangannya dari atas kuda. Ia menyuguhkan nyanyian dan tari-tarian oleh budak-budak wanitanya. pendekar tua. Tengah berpesta. ―Kalau Temuchin dan Jamukha bisa persatukan pelbagai suku bangsa Mongol itu. kepada Khan itu. untuk berjalan kaki menemui dua saudara Wanyen. Wanyen Lieh berkata: ―Aku ingin menyaksikan orang-orang gagah perkasa bangsa Mongolia. dengan gembira ia rundingkan itu. terus ia tuntun Temuchin dan Jamukha di tangan kiri dan kanannya. Wang Khan undung kedua utusan Kim itu datang ke tendanya. malam itu Wang Khan jamu tetamunya. Nampaknya ia keren sekali. Setelah selesai upacara penganugerahan. ia lihat ketidakpuasaan orang. ―Kenapa loo-enghiong tidak menyebut-nyebut dia?‖ Sengaja pangeran Kim ini memanggil loo-enghiong. Baru sekarang Wanyen Yung Chi sadar atas caranya bangsa Mongol itu berperang.

Jebe tidak ambil peduli. Jebe sudah lantas muncul. ―Kau kembali!‖ Sangum memanggil dengan membentak.‖ Mendengar itu. kasih aku yang minum!‖ Ia ambil cawan itu dari tangannya punggawanya itu. Dialah Mukhali yang pandai mengatur tentara. Yang ketiga ada berpotongan kecil dan kate tetapi gesit gerakkannya. ia letaki cangkir araknya dengan separuh dibanting.‖ katanya kemudian.‖ ―Mari cawan itu! Aku berdahaga. cara bagaimana kau beri minum dari cawan emasku?!‖ Jebe kaget berbareng murka. yang mukanya merah bagai darah. Wanyen Lieh mengawasi. ―Syukur Temuchin kirim empat panglimanya untuk membantu aku. air mukanya Sangum berubah. Temuchin meluluskan. dengan begitu semua binatang itu dapat dirampas pulang. Kata-kata orang ada mengandung pancingan atau unsur merenggangkan. ia tidak menjawab. Denga perlahan-lahan Temuchin tepuk-tepuk tangannya. Diberikan arak. Orang gagah yang mana yang tidak bakal menjual jiwanya untuk Temuchin?‖ ―Apakah sebawahan loo-engjiong tak dapat melawan dia?‖ Wanyen Lieh tanya. Anakku? Ah….‖ Wanyen Lieh puji mereka itu satu persatu. Menurut kebiasaan bangsa Mongol. ada satu panglima dengan seragam hitam. terus ia bertindak keluar. dia menerjang musuh bukan main gagahnya. tiba-tiba Sangum berseru: ―Kau cuma kepala komponi yang rendah pangkatnya. Dengan tangan kosong Temuchin bakal membangun negara. Merekalah orang-orang peperangan yang berjasa membangun negara Mongolia yang Temuchin sendiri menyebutnya empat panglima gagah. ―Apakah kegunaanku?‖ Temuchin lekas berkata.‖ Wanyen Lieh minta. ia menghanturkan terima kasih. Wang Khan urut kumisnya.‖ ―Bagaimana dengan empat panglimamu yang kesohor gagah itu?‖ Wanyen Lieh tanya. ia lantas tenggak isinya.‖ ―Suruhlah mereka masuk kemari!‖ Wang Khan berkata pula pada Temuchin. ―Mana mereka itu? Aku ingin melihatnya. Ia lantas berhati-hati sendirinya. Temuchin lirik putra raja Kim ini. biar aku kasih dia ampun.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha pandai dan cerdik. apapula dilakukan di muka orang banyak. ―Pernah bangsa Naiman rampas beberapa laksa binatang ternakku. yaitu Borchu. den Temuchin gagah tak tertandingkan. ia bertindak terus seraya angkat kepalanya. Irawan D Soedradjat Page 88 . Dialah Chi‘laun yang dulu hari pernah tolongi Temuchin dari ancaman malapetaka. Yang kedua ada bertubuh kekar dan sepasang matanya tajam seperti burung elang. ia adalah Boroul.‖ Temuchin menjawab. mencegah orang minum arak adalah satu penghinaan besar. pemimpin komponiku yang baru. segera setelah itu empat perwira masuk ke dalam tenda. ia lantas mengawasi Temuchin. ia beri titah untuk memanggil Jebe. Dan yang keempat ada seorang yang dengan seluruh lengannya bercacat bekas bacokan golok. Habis orang minum. ialah sahabatnya Temuchin. Maka itu Temuchin berpikir: ―Dengan memandang ayah angkat. ―Istriku dirampas orang. Siapakah dia?‖ ―Dia adalah Jebe. untuk itu adalah ayah angkatku dan saudara angkatku yang membantu aku merampas pulang. yang kulitnya putih sekali. ia haturkan secawan arak pada masing-masingnya. ―Coba suruh dia masuk kemari untuk minum satu cangkir. ia berkata pula: ―Tadi di medan perang. Ia hanya menghirup araknya. Batal ia minum. Dengan mata bengis Jebe awasi Sangum. Yang pertama adalah satu orang yang romannya lemah lembut. Ketika ia hendak hirup araknya itu.

mereka tengah berminum. ―Kita lagi gembira minum arak di sini. kau hendak mengacau apa lagi!‖ Wang Khan menegur putranya. dengan begitu kamu semua telah bercape lelah…!‖ Tentara itu berteriak: ―Adalah Wang Khan. Di luar tenda. Temuchin tersenyum. Ia lantas menghirup satu ceglukan. untuk dipakai di kepalanya. terus ia angkat kopiahnya itu tinggi-tinggi. sejenak itu juga. Dia lantas dibawakan satu poci besar. ―Inilah kopiahku. semuanya lantas bangkit berdiri.‖ Sangum mengajak. Pekhu-thio itu menjadi sangat bersyukur. Terpaksa orang banyak turut keluar pula. ―Apa siphu-thio!‖ berkata Temuchin. Temuchin Kha Khan dan Jamukha Khan yang memimpin kita menghajar mereka!‖ ―Hari ini aku telah lihat seseorang yang luar biasa beraninya yang sudah menyerbu ke belakang barisan musuh. ―Biarpun cawan emas yang paling berharga di kolong langit ini. ―Sungguh satu manusia yang luar biasa!‖ pikir Wanyen Lieh. ia berkata: ―Minum arak saja pun kurang gembira. habis itu. Ia sambuti pulang kopiahnya itu. Wanyen Yung Chi hendak melihat keramaian. Semua punggawa dan serdadu Mongol itu tahu Jebe telah menerima penghinaan. kopiah itu ia sadurkan kepada Jebe. yang aku pakai untuk membasmi musuh!‖ dia berkata dengan suara nyaring. sambil tekuk sebelah kakinya. Ia mengerti bawahannya itu penasaran dan gusar. mari kita melihat yang lainnya!‖ Ia pun lantas berbangkit dan bertindak keluar. Jebe tentulah rela!‖ Irawan D Soedradjat Page 89 . Ia angkat poci itu. ―Kalau sekarang dia suruh Jebe mati. ―Mari kita pergi keluar untuk melihatnya. akan tetapi menyaksikan sikapnya pemimpin mereka itu. tentu empat-empatnya mereka dapat dimakan habis dengan sekali telan!‖ ia pun tertawa dingin.Pendekar Pemanah Rajawali Sangum kecele. Temuchin menyambuti. bangsa Mongol telah menumpuk beberapa ratus api unggun. ―Makhluk apakah itu?‖ Wanyen Yung Chi bertanya. kapan mereka tampak Khan mereka muncul. Ia tahu juga bagaimana mesti perlakukan orang polos demikian. Temuchin telah naiki pangkatnya Jebe menjadi pemimpin eskadron. tidaklah itu dapat melawan kopiah besi dari Kha Khan ini!‖ katanya perlahan. ―Ambil arak!‖ ia menitah. tetapi ia kata kepada Temuchin: ―Saudara Temuchin ada punya empat pendekar tetapi asal aku keluarkan satu makhluk. mereka lantas bertempik sorak. dia pantas menjadi pekhu-thio!‖ ―Ambil kopiah perangku!‖ kata Temuchin kepada Jelmi. ia ulurkan tangannya untuk menyambuti. maka dengan kegirangan mereka berseru: ―Jebe gagah berani. tetapi segera mereka mengerti. ―Dia-lah pekhu-thio!‖ Dengan begitu. dengan sendirinya. ―Sekarang hendak aku pakai ini sebagai gantinya cawan arak!‖ Ia buka tutp poci arak. Temuchin lihat wajahnya Jebe merah. Untuk sejenak. Jelmi menurut dan menyerahkan kopiah itu dengan kedua tangannya. isinya ia tuang ke dalam kopiah besi itu.‖ Temuchin berkata pula: ―Beruntun tiga kali dia menyerbu bolak-balik! Siapakah dia?!‖ ―Itulah Siphu-thio Jebe!‖ sahut banyak serdadu. terus ia berkata dengan nyaring: ―Hari ini kita hajar bangsa Naiman hingga mereka dapatkan kekalahan besar. Di terangnya api unggun. terus ia mencegluk beberapa kali. orang melengak.

terus ia mundurkan diri. empat pahlawannya itu mengundurkan diri. Adakah kami babi hutan atau serigala maka kami hendak diadu sama macan tutulmu?‖ Juga Temuchin menjadi sangat tidak senang. ia lants pulang ke tendanya untuk tidur. jikalau mereka dapat dengan tangan kosong membinasakan dua ekor macanku ini. hingga ia dapat menelan keempat pahlawan?‖ dia tanya Sangum. ia hanya bertindak lagi. Tapi binatang ini sangat kuat makannya. ―Khan yang maha besar. Mereka dalam hati kecilnya berkata: ―Sudah kau hinakan Jebe. ―Mana dia empat pahlawan yang menggetarkan padang pasir itu?‖ Mukhali berempat lantas menghampirinya dan memberi hormat sambil menjura.‖ katanya. Sebab mereka itu adalah si pemelihara binatang buas itu. Maka ia berkata: ―Aku menyayangi keempat pahlawanku sebagai jiwaku sendiri. ia tapinya diam saja. orang tak dapat memeliharanya.‖ kata Sangum kepada Temuchin. setelah mana kedua macam tutul itu sudah datang sekat api unggun. dari itu kalau bukannya pangeran atau bangsawan. untuk bicara perlahan sekali dengan satu pengiringnya. tak dapat kau hilang muka! Nanti aku lawan macan tutul itu!‖ Wanyen Yung Chi menjadi sangat girang. yang dipakai untuk berburu. Sangum masuki cincin itu ke jari tangannya. Ia angkat jari tangannya itu. Tidak selang lama lantas orang mendengar suara mengaumnya seekor binatang liar. ia lempari itu ke tanah. untuk diletaki di tangannya saudara angkat itu. Jamukha mengerutkan alis. Macam tutul baik tenaga maupun kegalakannya melebihi anjing pemburu. yaitu dua ekor macam tutul yang besar. mereka itu masing-masing mencekal sebatang galah. cara bagaimana aku bisa biarkan mereka berkelahi sama macan tutul?‖ Sangum tertawa terbahak. ―Empat pahlawanmu adalah orang-orang gagah. ―Asal kau menang. tetapi macan tutul? bisakah binatang itu memimpin tentara? Bisakah binatang itu mengatur tentara bersembunyi dan mengurung musuh?‖ Temuchin pun segera berkata: ― Saudara Sangum. ―Buat apakah mengepul menjadi orang gagah kalau dua ekor macanku saja takut dilawan?‖ Diantara empat pahlawan itu. Pengiring itu menyahuti. ia pertontonkan ke empat penjuru. Lenyap kegembiraannya Yung Chi karena gagal menyaksikan pertandingan antara manusia lawan binatang liar itu. jalannya ayal-ayalan tetapi sikapnya sangat bengis. keempat pahlawan menjadi sangat dongkol. Chi‘laun yang paling keras tabiatnya. ―Begitu?‖ ia mengejek. ia tertawa besar dan lama. Adalah umum orang Mongol memelihara macam tutul. Sangum tersenyum. Sampai di situ. Irawan D Soedradjat Page 90 . Wanyen Yung Chi kaget hingga ia raba goloknya. baru hatinya lega. kita telah membunuh cukup banyak. ―Kau ada punya makhluk apa yang demikian hebat. membunuh musuh. Ia lantas loloskan sebuah cincinnya yang bermata berlian. Tentaranya Wang Khan lantas saja bersorak-sorai. Sangum berpaling. ―Kakak. Temuchin juga bersikap tenang dan agung. Mukhali tarik kawannya itu. Binatang itu dikalungi dengan kalung kulit dan setiap ekornya dituntun dua orang yang tubuhnya besar. ―Apakah emapt pahlawan saudara angkatnya Temuchin?‖ ia mengulangi. di atas itu ia duduk bercokol. tetapi kau. disusul mana munculnya binatang itu sendiri. yang bulunya belang bertotolan.Pendekar Pemanah Rajawali Beda dari saudaranya. Chi‘laun tidak pandang cincin itu. sekarang kau hinakan kami juga. dua pasang matanya bersinar mencorot. tak sudi ia minum arak lebih jauh. cincin itu menjadi kepunyaanmu!‖ katanya. Dia berkata: ―Kita menggentarkan padang pasir. Ia lantas bertindak maju ke depan. Ia suruh pengiringnya ambil kursi kulit harimau. kau menang!‖ Dan ia bertindak menjemputi cincin tadi. ―Tidak apa orang tertawakan kami. Wanyen Yung Chi justru pikirkan saja kata-katanya Sangum tentang empat pahlawannya Temuchin. barulah aku sangat takluk kepadamu!‖ Mendengar ini.

lalu ia tidak punya anak lain lagi. tanpa terasa mereka bertindak semakin jauh dari tenda mereka. Tuli keluarkan panah kecilnya dan memanah. Justru itu dari samping mereka. kemudian setelah ia mengawasi Tuli berdua. ―Kau berani membantah?!‖ dia membentak. ―Apakah kau sangka aku tidak ketahui hal itu? Maka apa artinya kalau aku naru ambil ini kelinci kecil?‖ Memang dahulu hari Wang Khan telah bantu anak angkatnya itu. Kelinci itu lari serintasan. Bocah itu yang telah berhenti berlari berdiri sepasang alisnya. sebab Temuchin anggap hal itu memalukan dan tidak pernah memberitahukan putranya. empat pahlawan dari ayahmu lantas tak berni bergiming!‖ Tuli bertambah gusar. Karena itu. satu yang berumur kira-kira sepuluh tahun. kelinci itu akulah yang memanahnya! Kenapa kau bawa lari?!― Bocah itu menoleh. ―Kakekku ialah Wang Khan! Ayahku ialah Sangum! kau tahu tidak?! Taruh kata benar kelinci kaulah kau yang panahm kalau aku hendak ambil. selang lama. Ia tidak sangka orang berani pukul padanya. Tuli gusar sekali yang ayahnya diperhina orang. karenanya. habis bagaimana?!‖ ―Ayahku Temuchin!‖ kata Tuli dengan sama jumbawanya. Tuli bersama Kwee Ceng lantas mengejar dengan berteriak-teriak. Ia putar tubuhnya untuk berlalu. Tapi tenaganya Tuli sangat terbatas. putra tunggal dari Sangum atau cucunya Wang Khan. ―Akan aku beritahu ayahku!‖ katanya. ―Ayahmu takuti ayahku. ―Ayahmu adalah hantu cilik yang nyalinya kecil. kau mengadu juga bisa apa?‖ katanya. ―Sudah bagus aku tidak minta ganti rugi!‖ ―Tidak tahu malu!‖ bentak Tuli. ―Guruku tak takut harimau. dia cabut anak panahnya dan lalu ia buang ke tanah. barulah ia dapatkan putranya ini. ―Siapa yang bilang?!‖ ia tanya dengan bengis. Boroul adalah gurunya. ―Panah ini toh kepunyaanku!‖ jawab Tuli. dengan sangat sebat. anak-anak mereka tidak kenal satu sama lain. Sebaliknya Tuli tidak tahu suatu apa. Tiba-tiba ada seekor kelinci putih lari lewat di samping mereka. mereka lompat maju untuk menubruk. dia lari bersama bangkai kelinci itu! Tuli lantas berteriak: „Eh. ―Terang ini adalah kelinci liar!‖ Bocah itu galak. Di antara empat pahlawan.Pendekar Pemanah Rajawali Besok paginya Tuli dan Kwee Ceng dengan bergandengan tangan pergi bermain. Sangum ingat baik-baik peristiwa itu dan menceritakan kepada orang lain hingga Tusaga yang masih kecil mendapat tahu juga. kelinci itu masih dapat lari terus dengan bawa anak panah yang nancap diperutnya itu. Irawan D Soedradjat Page 91 . putranya ini sangat disayangi dan dimanjakan. Mulainya Sangum dapat satu putri. Girang Tuli berdua. Tusaga tertawa terbahak. ―Fui!‖ bocah itu menghina. hingga Tusaga menjadi kepala besar. dia juga takuti ayahku!‖ Bocah itu adalah Tusaga. ia menghampiri Tuli dan mendorong pundak orang. adalah ayahku dan kakekku yang pergi menolongi merampas pulang!‖ sahut Tusaga. kau yang memanah?‖ tanyanya. ―Kau maki siapa?!‖ tegurnya. ―Kau tidak takuti aku?‖ Tuli melengak. Temuchin telah berpisah lama dengan Wang Khan dan Sangum. ―Tadi malam ayahku keluarkan dua macan tutulnya. apapula putranya itu masih kecil. telah mendahului menyambar binatang itu. Meski begitu. ―Kelinci ini adalah piaraanku!‖ dia kata. lantas ia roboh dengan sendirinya. dia tertawa. matanya pun melotot. muncul serombongan anak-anak. Tepat kelinci itu terpanah perutnya. Tuli gusar sekali. apapula segala macan tutul!‖ serunya sengit. yang merupakan rimba. ―Ayahku tidak takuti siapa juga!‖ ―Ibumu telah orang rampas. dia takuti kakekku. ―Siapa yang bilang. ―Hanya guruku tidak hendak melayani!‖ Tiba-tiba Tusaga maju dan tangannya melayang ke kuping orang.

Kemudian dengan tarik tangannya Kwee ceng. Justru ia melengek. apabila ia telah melihat denagn tegas. tertawa apabila ia lihat bocah-bocah itu sedang berkelahi. tidak ampun lagi dia roboh terjengkang. lalu ditepi sungai tertampak rombongan pedagang dari gurun pasir. ―Dua mengepung satu. Tapi kapan ia telah datang dekat dan lihat dua anak dikepung beramai. ia tarik dua bocah yang mengerubuti Tuli. ―Bagus! Kamu lagi berkelahi!‖ katanya. Tuli tertawa seraya tepuk-tepuk tangan. Kwee Ceng berontak dan loloskan dirinya seraya lompat bangun juga. ―Hayolah jalan!‖ berkata Kwa Tin Ok. Tuli dengan mata bersinar hawa amarah. lalu bersama kawannya ia angkat kaki! ―Kejar!‖ teriak Tusaga gusar. Pihaknya kebanyakan terlebih tua usianya. ―Menyerah atau tidak?‖Tusaga tanya. dia merayap bangun. ―Kejar!‖ Ia ajak kawan-kawannya mengubar. Anak-anak itu pun lantas maju. mereka itu kembali kena dikurung. dan merekapun berjumlah lebih banyak orang. kepalan dan kaki digunakan semua. sembari memukul bebokong orang. Maka itu ia menjadi besar kepala. ia lompat turun dari kudanya. Kanglam Cit Koay pada tersenyum. ―Bagus!‖ dia bersorak. jangan usilan. selama itu tidak pernah mereka dengar halnya si orang she Toan itu. Tuli pun tak dapat bergeming. dia pun turut menyerbu. ―Hajar lagi padanya!‖ Tusaga memberi komando. dia termanjakan. Untuk enam tahun lamanya mereka mondar-mandir. maka itu. yang pun bengal dan gemar berkelahi. ―Lepas tanganmu!‖ Ketika itu telah tiba beberapa yang lainnya. sebentar saja Kwee Ceng dan Tuli kena dipukul jatuh. ditindih oleh dua lawan. Tusaga menyaksikan kejadian itu. mereka menyusul hingga ke gurun pasir. Dia adalah putranya satu jago di Utara. mereka lantas jadi berkelahi bergumul. siapapun tidak berani lawan padanya. Dia maju dan seruduk perutnya Tusaga! Putranya Sangum juga tidak menyangka-nyangka. amri kita melanjutkan perjalanan. ―Hai anak. tak malukah kamu?!‖ tegurnya. ―Kita jangan bikin pasar keburu bubar. dua bocah itu telah babak-belur dan matang biru mukanya. Tusaga murka sekali. ia lari. lalu satu nona berkata: ―Shako.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee ceng panas hati semenjak tadi. Mereka ingat masa kecilnya mereka. dari kejauhan ada terdengar kelenengan unta. ia tak dapat bergerak. Irawan D Soedradjat Page 92 . kau lihat sendiri!‖ kata orang yang dipanggil shako itu – shako – kakak nomor tiga. Tubuh Kwee Ceng diduduki Tusaga. Salah satu diantaranya yang menunggang kuda putih. Tuli lompat bangun begitu lekas ia merasai tubuhnya enteng. Rombongan kalifah itu terdiri antaranya dari Kanglam Cit Koay. ia menyempar hingga orang berguling. dia ini berkata: ―Kau menyerah. nanti kita tak dapat menanyai orang!‖ Itu waktu Tusaga beramai telah dapat candak Tuli berdua. sia-sia saja. sekarang ia tidak dapat mengatasi pula dirinya.‖ ―Kau lihat sendiri. kau galak sekali!‖ kata penunggang kuda itu. Han Siauw Eng adalah si nona. Dalam saat tegang dari bocah-bocah ini. itu tujuh Manusia Aneh dari Kanglam. Mereka dengar Toan Thian Tek kabur ke utara. ia kata nyaring: ―Tidak malukah kamu?! Lekas lepaskan mereka!‖ ―Minggir! Jangan banyak omong disini!‖ bentak Tusaga. ia heran. aku kasih ampun!‖ Kwee Ceng berontak. Kawan-kawannya Tusaga tidak tinggal diam dan mengejar. lalu ditindihkan. menggelengkan kepala. Mereka semua mengerti bahasa Mongol.

batu mana terus terbabat kutung. Lie Peng menyayangi putranya. ―Kenapa belati ini terjatuh ke dalam tangan orang Mongol? Yo Kang? Yo Kang? Tidak pernah aku dengar orang gagah dengan nama ini…. ―Dia tentu curi itu untuk dibuat main. tak dapat kau ubah tabiatmu yang suka mencopet itu!‖ kata Siauw Bie To Thio A Seng.‖ minta Lauw-sie In Hiap Coan Kim Hoat. Ia dapatkan ukiran dua huruf ― Yo kang‖. satu anak kecil. ―Toako. Yo Kang itu adalah nama yang Khu Cie Kee berikan untuk anak yang masih ada dalam kandungannya Pauw Sek Yok. Kenapa sebuah mustika berada di tangan satu bocah? Ia jadi awasi Kwee Ceng begitu pun semua bocah lainnya. Nyata ia mencekal sebatang pisau belati. maka itu matanya tak pernah salah. Cu Cong lompat turun dari kudanya. walaupun kangzusi. dari itu. Ia mengharap pisau belati itu. lalu tangannya menyambar ke batu di dekatnya. ia susul kawan-kawannya. lihat sinar berkelebat berkilau itu. tentu saja Kanglam Cit Koay tidak kenal nama Yo Kang itu. Kim Hoat berdiam. Jadi mereka mestinya adalah anak-anak bangsawan Mongolia.‖ si setan tangan ulung berpikir pula. ―Siapa berani maju!‖ ia berseru. Kemudian ia lihat gagangnya pisau.‖ Bab 9. takukah kau siapa Yo Kang?‖ ―Yo Kang? Tak pernah aku dengar nama itu…‖ jawab Tin Ok. Si Mayat Perunggu dan Si Mayat Besi Untuk sesaat. ―Jangan berkelahi. senjata peninggalan suaminya itu ia serahkan kepada sang putra. ―Jieko. sambil tertawa berkakakan. Bersinar berkilau belati itu diantara sinar matahari. hingga semua Kanglam Cit Koay heran dan memuji. Semua mereka mengenakan kulit binatang yang mahal. yang telah larikan kudanya. ―Perlu aku lihat. jangan berkelahi!‖ katanya. pasti dapat senjatanya dirampasnya.Siapa tak gagah tak pantas ia mempunyai belati ini…. untuk sang putra yang simpan. ia manjadi heran. ―Bagus!‖ ia segera memuji. ini namanya orang Han!‖ katanya. ―Tak jelek untungku hari ini. sebagai mustika dapat mengusir pengaruh-pengaruh jahat. Cu Cong ayun tangannya. Menampak orang bersenjata. ―Mestinya bocah ini telah curi senjata ayahnya. ―Hayolah kamu baik-baik bermain…!‖ Ia menyelip di antara bocah-bocah itu. ia menjadi heran. sikapnya gagah sekali. Tiat Sim dan Siauw Thian telah saling mengasih tanda mata belati yang terukir nama Yo Kang dan Kwee Ceng. ―Mustika apakah itu? Mari kasih aku lihat.Pendekar Pemanah Rajawali Tiba-tiba sebuah benda berkelebat di tangannya Kwee Ceng. istrinya Yo Tiat Sim. Kemudian dia bertanya pula pada kakaknya yang tertua. Biauw Ciu Si-seng Cu Cong. melemparkan. atau sekejap saja belati di tangan Kwee Ceng telah pindah ke dalam cekalannya. ―Benda itu pasti mustika adanya. benda apakah itu…‖ Maka itu ia larikan kudanya ke arah anak-anak itu hingga ia menampak Kwee Ceng dengan belati di tangan. kecuali Kwee Ceng yang dilehernya pun berkalung gelang emas yang indah. ia jadi terperanjat. Bukannya tak halal kalau aku ambil barangnya orang bansawan…‖ Dengan timbul keinginannya akan punyai belati itu. Kim Hoat pun merasa memegang benda yang rasanya dingin. dia dekati semua bocah itu sambil ia tertawa haha-hihi. aku dapat mustika!‖ kata ia. Ia lompat pula untuk naik ke atas kudanya. bagaikan sinar bianglala. Jangan kata baharu Kwee Ceng. Banyak sudah ia mencuri barang-barang berharga kepunyaan pembesar rakus atau hartawan jahat.‖ ia berpikir. Tusaga semua tidak berani maju.com orang kosen lainnya. Irawan D Soedradjat Page 93 . ―Eh..

―Lain kali jangan kau berkelahi pula. ―Apakah kau she Yo?‖ Coan Kim Hoat kemudian menanya. . Ia berkata kemudian: ―Orang yang khu Totiang cari adalah istrinya Yo Tiat Sim. sekarang mereka dapati ada titik terang.‖ Kwee Ceng menjawab. mereka pegang satu kepercayaan sekalipun terhadap satu bocah. tak dapat ia menjawab. sedang Han Siauw Eng keluarkan sapu tangannya. ―Ibuku yang berikan padaku. ―Pergilah kau pulang. tetapi ia tidak dipedulikan. Cit Koay belum jalan jauh. hendak ia meminta bantuan Ogatai. jikalau kau berani. mengulurkan tangannya pada Cu Cong. Tapi kau mesti omong dulu biar terang. mereka menjadi putus asa. ―Apakah she ayahmu?‖ Cu Cong tanya pula. untuk susuti orang punya darah di hidung. Tusaga lihat orang kuat. darimana kau peroleh belati ini?‖ Dengan tangan bajunya Kwee ceng susuti darah yang masih mengalir dari hidungnya. maka itu Cu Cong lantas serahkan belati itu kembali kepada Kwee Ceng. seraya tangannya mencekal belati orang. ―Marilah kita tanya bocah itu!‖ Siauw Eng mengusulkan. kalau sebentar ia pulang. akan susul rombongan kalifah yang mereka ikuti.‖ katanya dengan halus dan ramah. Kwee Ceng menjublak mengawasi orang pergi. ia tak berani berkelahi terus. ―Siapakah nama ibumu?‖ tanya pula. Ia penasaran. ―Mari antar aku kepada ibumu. ―Kwee Ceng. ―Gampang untuk pulangi padamu!‖ kata Cu Cong sambil tertawa. mereka tak hendak melepaskannya dengan begitu saja.‖ sahutnya. sedang kakaknya itupun kuat. ia putar kudanya akan kembali kepada si bocah. besok kita bertempur pula disini!‖ ―Baik. ―Eh. Lantas ia ingat akan sesuatu. Kwee menggeleng-gelengkan kepalanya pula. Ia sudah lantas memikir. Tapi ia tuding Tuli dan menantang: ―Dua ekor anjing cilik. Maukah kau?‖ ia tanya lagi. Ia percaya Ogagati akan suka membantu padanya. Han Po Kie mempunyai kuda yang paling gesit. Kwee Ceng menberikan penyahutan yang membenarkan. Bukan kepalang girangnya Tin Ok. besok kita bertempur pula disini!‖ Tuli terima tantangan itu. Dengan berani ia minta belatinya kembali. Kwee ceng dengan muka berlumuran darah. mereka jadi bersemangat. Entah Yo Kang ini ada hubungannya sama Yo Tiat Sim atau tidak…‖ Enam tahun sudah tujuh saudara ini merantau di gurun apsir tanpa ada hasilnya. Ia berteriak-teriak menyuruh mereka berhenti berkelahi.. ia dengar panggilan ―Kwee Ceng‖ dari Tuli. Ia tak punya ayah. tanpa bersangsi pula. 94 ―Ibu ialah ibu…. cepat. anak. Cit Koay lihat orang rada tolol. kakaknya yang nomor tiga. ia berpikir terus. mendadak ia rasai tubuhnya menggetar. mari pulang!‖ Tuli lantas mengajak. Bocah itu melengak. Kemudian ia menggeleng kepalanya. Tin Ok mempunyai kupingnya paling lihay pendengarannya dibandingkan dengan saudara-saudaranya. dengan siapa ia paling erat hubungannya. dan kemudian ia langsung tarik beberapa bocah dan balingkan mereka ke pinggiran. apakah kau bernama Kwee Ceng?‖ ia tanya dengan sabar. ―Mari kasih pulang!‖ katanya. Irawan D Soedradjat Page Tin Ok menggaruk-garuk kepalanya. maka ia turun dari kudanya.‖ Lantas Cit Koay berangkat. Kanglam Cit Koay paling menjunjung kehormatan. ia mendahului berlari kepada kawanan bocah itu yang telah kembali bergumul berkelahi.Pendekar Pemanah Rajawali Coan Kim Hoat sabar dan teliti.

untuk ajaki saudarany itu besok membantui ia melawan Tusaga. batu itu telah lenyap.‖ bocah itu menjawab. Ia bernafsu. putranya itu sudah tahu segala sesuatunya. maka itu ia telah berikan penjelasan kepada anaknya. Nyonya Kwee tahu. sementara si cebol Han Po Kie jumpalitan si atas kudanya. Po Kie berlompat. jangan semberono!‖ Cu Cong cegah adiknya yang nomor tiga itu. ―Aku mau pulang. ―Menghilanglah!‖ ia berseru. Kedua bocah itu heran. tunggu dulu. supaya apabila ada terjadi sesautu atas dirinya. ia batal membekuk bocah itu. ―Aku akan main sulap untuk kamu!‖ katanya sembari tertawa.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ibuku tidak ada disini. untuk sambar pundaknya Kwee Ceng. Sambil kertak gigi. suaranya tetap ramah. ―Nanti kalau aku sudah besar. sikapnya manis. Tuli dan Kwee Ceng mengawasi. mari kita bicara perlahan-lahan…‖ nona Han berkata dengan suaranya ynag tetap ramah. sedang Kwa Tin Ok memuji kepada Thian.‖ sahut bocah itu. Lucunya adalah Thio A Seng. hingga suaranya sedikit menggetar. Kwee Ceng menggoyang kepala. suaranya dingin. kaulah ynag tanya dia. ―Adik kecil. ―Siapakah namanya itu orang yang membunuh ayahmu?!‖ Tin Ok turt tanya. Tin Ok dengar suara yang tak simpatik. untuk berjalan pergi. Cu Cong lari untuk susul kedua bocah itu. Cu Cong genggam ketiga batu itu di telapak tangan kanannya. Kemudian dia berkata kepada adiknya paling kecil. hingga Kwee Ceng ingat semua itu. ―Eh. Terus ia buka kopiahnya itu. ―Kau tak dapat pergi! Biarkan sahabatmu pulang lebih dulu. untuk halangi tangan adiknya. malah roman mukanya dan potongan tubuhnya. Kwee Ceng jawab: ―Dia bernama Toan Thian Tek!‖ Memang Lie Peng telah memberitahukan kepada anaknya itu she dan namanya Thian Tek. mereka lantas lari. ia lantas jemput tiga butir batu kecil. Cit Koay girang bukan kepalang. hendak aku cari musuh itu untuk membalaskan sakit hati ayahku!‖ ―Apakah namanya ayahmu itu?‖ Siauw Eng tanya pula. ―Shatee. mereka berdiam mengawasi. ―Mari pulang!‖ mengajak Tuli. eh. Po Kie heran. yang tepuk kopiahnya. si nona Han sampai berseru. Irawan D Soedradjat Page 95 . Ia pun telah memberitahukannya berulangkali. di dalam situ ada tiga butir batu itu. Ia pun bergerak. jiwanya terancam bayaha sembarang waktu. mereka merasa lucu dan heran. yang sudah rangkul Lam Hie Jin. Ia tarik tangannya Tuli dan ia putari tubuhnya. mari duduk.!‖ Melihat sikap orang yang luar biasa. dua bocah itu menjadi takut. Ia hendak cari kakaknya yang ketiga. Tuli dan Kwee Ceng berhenti berlari.‖ Po Kie memanggil.‖ Siauw Eng lompat turun dari kudanya dan ia menghampiri bocah itu. ―Cit moay. Kapan ia membuka kepalan tangannya. ―Orang telah celakai ayahku hingga terbinasa. ―Mana ayahmu?‖ dia tanya.. ―Nelusup masuk!‖ seru Cu Cong. mereka mendelong.‖ Kwee ceng berkata kepada Han Siauw Eng.

‖ Kwee Ceng menjawab. yang berdiri diam saja. datangnya dari utara. untuk balaskan dendaman ayahku!‖ sahutnya. ―Akan aku bunuh dia.‖ berkata Cu Cong.‖ kata ia. Kedua matanya Kwee Ceng bersinar. dia agaknya tidak tertarik. ia kata: ―Kau tutup matanya.‖ ―Hm. Mereka sangat kagum. ―Apakah kau tidak ingin belajar?‖ ia tanya bocah itu. ―Aku tidak percaya. lalu tertampak burungnya terbang mendatangi dalam dua rombongan. yang mana ia kasihkan kepada Tuli. ibu tnetu tidak senang. ―Tanpa mata. ―Bukan. aku tanggung besok kamu bakal dapat kalahkan mereka. Kemudian air matanya mengalir keluar.‖ kata Tuli. Tin Ok campur bicara. itulah tidak ada faedahnya. Cu Cong menimpuk dengan tiga butir batunya. Aku akan ajari kau sedikit kepandaian. ―Ibuku bilang. panahnya Tin Ok sudah meleset. ―Hm. Tuli girang sekali.‖ Ia terus serahkan gendewa dan anak panah kepada kakaknya. aku akan minta bantuan kakakku. ―Bagus! Bagus!‖ Tuli dan Kwee Ceng berseru dengan gembira. bocah bernyali kecil!‖ kata Po Kie perlahan. mereka menjadi tertarik. Itu waktu terdengar suara belibis mendatangi. tidak boleh aku berkelahi. habis bagaimana?!‖ ia tanya. Ia lantas rogoh keluar sepotong sapu tangan.‖ sahut Cu Cong. ia ikat matanya orang she Kwa itu. ―Habis. ―Akan aku suruh toako main sulap. dia masih dapat dibunuh musuhnya. ia dapat panah burung belibis itu. kau ajarkanlah aku!‖ Cu Cong awasi Kwee Ceng. ―Tadi mereka bertujuh atau berdelapan mengerubuti kamu berdua.‖ ―Besok kita bakal berkelahi pula. ―Mereka itu yang serang kami duluan. yang dapat pikiran baru. kenapa tadi kamu berkelahi?‖ Cu Cong tanya lagi. suaranya tetap dingin: ―Kalau kau bertemu dengan sama Toan Thian Tek. yang jadi pemimpinnya berbunyi. bagaimana kau dapat membalas dendam?‖ Kwee Ceng tercengang. ―Ayahmu pandai silat. sambil menunjuk kepada Kwa Tin Ok. burung itu terpanah batang lehernya dan bersama anak panahnya. Justru karena burung itu berbunyi dan hendak merubah tujuan. ―Baik! Nah. membuat burung-burung itu menjadi kaget.Pendekar Pemanah Rajawali ―Bagus!‖ seru Tuli dan Kwee Ceng. kamu tidak usah takut lagi kepada mereka. hendak diserahkan pada Kwa Tin Ok. Tanpa merasa. jatuh ke tanah. ―Coba kamu ada punya kepandaian. ―Minta bantuan kakakmu?‖ kata Cu Cong. ―Kalau aku belajar kepandaian untuk memukul orang.‖ Tuli menurut. Itu waktu kedua rombongan belibis sudah terbang mendekat.‖ ―Kami berdua dapat kalahkan mereka berdelapan?‖ tegaskan Tuli.‖ jawab Kwee Ceng lagi. Mereka pun lari untuk pungut burung itu. Irawan D Soedradjat Page 96 . musuhmu itu.‖ kata Tuli. ―Mau main petak umpat?‖ tanyanya tertawa. ―Ya!‖ Cu Cong beri kepastian. ―Kau tidak belajar ilmu kepandaian. jitu sekali.‖ Ton Ok kata pula.

Tapi di sini ia dipapaki tangan kiri si penyerang. ―Eh. ―Nach. Ia manggut-manggut. ―Ia bakal gagal…‖ Dalam dialek orang Kanglam. Ia merayap bangun dengan murka. ―Di waktu kecil. tepat kena hidungnya. ―Baik. ―Beginilah biasanya sieko!‖ kata Siauw Eng. ia snediri sangat kegirangan. Tiba-tiba Cu Cong tarik tangannya bocah itu. ―Apa yang baik?‖ menegaskan Cu Cong. kakinya mengaggaet. Ia girang luar biasa. untuk mendongko. ―Kalau kau sudah bisa. aku lihat dia tidak punya kekerasan hati.‖ kata Kim Hoat kemudian. kata-katanya tentu tepat. untuk mengeluarkan sepatah kata. Cuma kamu sendiri yang dapat datang. maka itu asal ia membuka mulut.‖ bilang Cu Cong.‖ Cu Cong tertawa. ―Kau ajari aku lagi!‖ Cu Cong mendak. ―Anak itu baik. kau tidak boleh beritahukan kepada orang lain. orang dewasa juga nanti tidak gampang-gampang kalahkan kau.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong menunjuk ke gunung di sebelah kiri. kita serahkan mereka kepada Khu Totiang. apa katamu?‖ Tin Ok tegur adiknya yang keempat itu. ―Bagus! bagus!‖ ia berseru. ―Paman. Tuli rubuh seketika. Kau berani tidak? Apakah kau takut setan?‖ Kwee Ceng masih berdiri menjublak. ―Sebentar tengah malam kau pergi ke sana untuk cari kami. kepalan kiri itu segera ditarik pulang. untuk di kasih tetap berdiri . ―Ya. ―Paling benar kita sambut ibu dan anak ini pulang ke Kanglam. tak hendak ia mengatakannya lebih sepatah kata!‖ Hie Jin tertawa. Lam San Ciauw-cu memang pendiam. ―Apakah kau pun sudah mengerti?‖ Kwee Ceng lagi menjublak. Siauw Eng sampai menghela napas dan air matanya berlinang.‖ kata Cu Cong sambil tertawa. Cu Cong menyambar dengan kepalannya. Cit Koay berdamai. ia memikirkan dahulu. segera ia mengerti. lalu ia seruduk pinggang orang. ―Coba ajarakan aku pula. atas mana Tuli tarik tangan Kwee Ceng untuk diajak pergi. aku tolol sekali. sietee. Irawan D Soedradjat Page 97 . ―Mengertikah kau?‖ Nyata Tuli sangat cerdas. ―Ini dia yang dibilang ilmu kepandaian. Tampa ampun Tuli berguling. akan tanya. Coan Kim Hoat sudah sambar tubuhnya. tapi Cuma hidung nempel. Bukan kepalang girangnya putra Temuchin itu. Ia ulurkan tangan kepada kedua bocah itu.‖ sahut Lam Hie Jin. ―Susah sekali untuk sieko membuka mulut emasnya.‖ kata Po Kie. Gunung Selatan yang berdiam saja. Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin si Tukang Kayu dari Lam San.‖ ia minta. ―Sudah.‖ ia bilang.‖ katanya. tapi belum sempat ia terbanting ke tanah. Cit Koay hilang kegembiraannya melihat Tuli demikian cerdas tapi bocah she Kwee ini begitu tolol.‖ jawab adik keempatnya itu. kita jangan terlalu capekan hati sekarang. ia menggeleng kepala. tak sabaran. ajari aku pula!‖ seru Tuli. Cukup sudah!‖ Ia lantas berpaling kepada Kwee Ceng. ―Kau ajarakan aku saja!‖ Tuli bilang. Selama mereka itu berbicara. pergilah kamu!‖ kata Siauw Eng akhirnya. kita menyerah kalah saja…‖ ―Anak ini miskin bakatnya. ―Kalau kau hendak belajar kepandaian guna menuntut balas untuk ayahmu. dia tak berbakatbelajar silat. Tuli berkelit ke kiri. ―Sekarang kau pelajari dulu tiga jurus ini. Dalam hal janji pibu.‖Kenapa kau serang aku?‖ tegurnya.

‖ kata Kim Hoat. yang biasanya sangat tabah. Hanya segera I berkata: ―Lekas jalan seratus tindak. ―Tingkat ynag bawah lima.Pendekar Pemanah Rajawali Karena itu juga. yang lima saudara lainnya lantas menghampiri saudara she Coan itu. yang bertumpuk rapi dalam tiga tumpukan. Jadi itu bukanlah perkerjaannya satu bocah cilik. Irawan D Soedradjat Page 98 ―Disini pun ada tumpukan tengkorak!‖ begitu suaranya Han Siauw Eng di timur utara dan Thi A Seng di barat utara. Ketika itu sang rembulan yang terang sudah sampai di tengah-tengah langit. Ia tak berani utarakan kesangsiannya ini. mari!‖ Suaranya sangat kedengarannya sangat terkejut. Cu Cong lantas saja menghela napas. kita tunggu sampai nanti malam. sampai bintang-bintang mulai menggeser. enam saudaranya biasa hargakan pikirannya. ke arah timur utara dan barat utara! Lihat ada apakah di sana!‖ Menampak sikap luar biasa dari saudara tua itu. Ia tidak menjawab. Kwa Tin Ok dengar saudara-saudaranya itu berbicara.!‖ dan tangannya pun menunjuk ke depan di mana ada gombolan pohon.‖ Dan ia lompat turun dari kudanya.‖ Po Kie membenarkan adiknya itu. sinarnya sampai kepada rumput tabal di mana ada tiga tumpuk benda putih yang nampaknya aneh.‖ Coan Kim Hoat kasih keterangan pada kakaknya yang tak dapat melihat itu. ―Tetapi kenapa tengkorak-tengkorak ini diatur begini rapi?‖ Kim Hoat tanya. romannya seperti bekas jari tangan. . mereka bagaikan mendapat sinar terang. Tiba-tina ia lompat mendekati mereka itu. ―Mustahil benar ada orang membuat liang ini dengan jeriji tangannya?‖ ia kata dalam hatinya. yang tiga pergi ke timur utara. Coan Kim Hoat lompat menghampiri benda itu..‖ kata Cu Cong kemudian. Mereka menanti sampai tengah malam. Ia pungut dua tengkorak lainnya. Ia jadi heran dan bersangsi. ―Kita lihat dia berani taua tidak datang seorang diri. ―Mungkinkah disini ada hantu gunung?‖ tanya Siauw Eng. ―Kanglam Cit Koay sudah malang melintang seumur hidupnya. tepat lima jarinya masuk ke dalam semua laing itu. tingkat tengah tiga dan tingkat atas satu buah?‖ ―Eh. ―Apa itu?‖ katanya. tak ada bayangan Kwee Ceng si bocah itu. ―Benarkah itu terbagi pula dalam tiga tingkat?‖ Tin Ok tanya. ―Kalau begitu. Ia ulur tangannya. dari jauh-jauh ia mengikuti Kwee Ceng dan Tuli. toako!‖ seru Kim Hoat heran. kali ini mereka rubuh di tangannya satu imam…!‖ katanya masgul. ―Baik aku cari tahu dulu tempat tinggalnya. enam adik angkat itu lekas bekerja. Sekarang mendengar keterangannya itu. Malam itu Cit Koay berkumpul di atas bukit. ―Eh…apakah ini? Jieko. maka kecuali Kwa Tin Ok. itulah siluman.‖ ―Kebanyakan ia tidak berani. Cu Cong dapatkan lima liang di embun-embunan tengkorak itu. teraur sebagai segi tiga. ―Kenapa toako ketahui itu?‖ Tin Ok perlihatkan roman cemas. ―Hantu tukang geregas manusia…‖ ―Benar. yang tiga lagi ke barat utara. Selagi tujuh saudara itu berduka. Saudara ini bersangsi. ―Lihat!‖ katanya lagi kemudian. Ia lihat mereka masuk ke dalam tenda. yang sodorkan sebuah tengkorak kepada Cu Cong. ―Entah bocah nakal siapa sudah bermain di sini. ―Semuanya terdiri dari tiga tumpuk. di situpun kedapatan masing-masing lima jari tangan yang sama. dan saban tumpukannya sembilan tengkorak. tengkorak orang diatur begini…‖ katanya. tiba-tiba Po Kie berseru tertahan: ―Eh. maka ia kenali itu sekumpulan tengkorak. ―Bagaimana itu diatur rapinya?‖ tanya ia.

Tin Ok lantas lari ke arah timur utara ke Han Siauw Eng. itulah sebabnya perbuatan musuh. kita pasti bukan tandingan mereka. tunggu aku selama sepuluh hari. ―Apakah tumpukan disini pun tiga?‖ tanya Tin Ok. lekas!‖ kata Tin Ok mendesak sekali. Thio A Seng bertiga terkejut. ―Lekas pergi. cinta mereka bagaikan cintanya saudara-saudara kandung. ―Inilah saat mati hidup kita. kita sudah bersumpah untuk hidup atau mati bersama. ―Mereka berdua lihay luar biasa. sekali-kali jangan kamu kembali! Sesudah kabur seribu lie. sambil membungkuk ia menghitung. Siauw Eng lari ke barat utara. mereka toh sudah paham delapan atau sembilan bagian. meski begitu. ia paling benci orang menyebut-nyebut cacadnya itu. suaranya perlahan tetapi nadanya tegas. sekarang barulah mereka itu ketahui. semua itu adalah hadiah mereka…‖ sahut kakak tertua ini.‖ ia beritahu. ―Yang di sana setiap tumpukannya tujuh tengkorak. dengan lekas. maka itu kenapa kau anjurkan kita lari menyingkir?‖ Tin Ok goyangi tangannya berulang-ulang. Kenapa kita mesti antaran jiwa secara sia-sia?‖ Irawan D Soedradjat Page 99 . Semua saudaranya sangka. dari itu sekalipun kita bertujuh. ―Apakah kau sangka kita orang-orang yang tidak berbudi?!‖ dia tanya membentak. Cu Cong terkejut hingga ia berjingkrak. ―Bukankah Tong Sie dan Tat Sie sudah lama mati?‖ dia tanya. dari situ bisa diduga betapa lihaynya musuh itu. mereka menantikan penjelasan. ―Saudara-saudara lekas naik ke kudamu masingmasing. mereka akan segera kembali!‖ kata Tin Ok. tidak ada yang berani menanyakan.‖ kata Tin Ok. lalu dengan lekas pula ia lari balik. ―Mereka sekarang lagi menyakinkan ilmu Kiu im Pek-kut Jiauw itu.‖ kata ia. ia pun cegah mereka bertiga omong keras-keras. Tin Ok Demikian lihay. ―Siluman atau musuh?‖ tanya Cu Cong.‖ sahut Siauw Eng. A Seng bertiga lari berkumpul sama kakak mereka itu. kiranya mereka sembuniy disini dan secara diam-diam tengah menyakinkan ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw. ―Kita sudah minum arak bercampur darah. ―Yang satunya delapan…‖ ―Coba hitung yang sebelah sana. mereka dengar perkataan si kakak. ―Kalau begitu. Nona Han menghitung. ―Mataku buta.‖ Tin Ok bilang. ―Dan setiap tumpukannya terdiri dari sembilan tengkorak?‖ sekali ini Tin Ok menanya perlahan sekali. Tin Ok angkat saudara sama enam orang itu. lekas pergi!‖ katanya mendesak. ―Benar. jikalau sepuluh hari aku tidak datang menyusul kamu. segera kabur ke selatan. ―Kenapa mereka masih ada di dalam dunia ini?‖ ―Aku juga menyangka mereka sudah mati.‖ jawabnya kemudian. ia toh kalah. ―Merekalah Tong Sie dan Tiat Sie. jangan bersuara keras. kakiku pincang. kamu tidak usah menunggui lebih lama lagi…!‖ ―Toako. ―Lambat sedikit atau sudah tidak keburu lagi!‖ Han Po Kie menjadi gusar.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin Ok lari ke arah barat utara itu. apakah katamu?‖ tanya Siauw Eng gelisah. kembali dengan suara perlahan.‖ Tin Ok bilang. cacadnya itu disebabkan kecelekan semenjak kecil. mereka semuanya jadi heran. Enam saudara itu mengawasi dengan melengak. ―Yang satu sembilan. walaupun mereka belum dapat merampunginya.

kau masih kecil sekali citmoay. Dua orang itu snagat kejam. Semenjak ia kenal kakaknya yang tertua itu. Tong Sie si Mayat Perunggu dan Tiat Sie si mayat Besi. setelah ia diberitahukan adanya kedua mayat itu. Cara membokong ini bukanlah cara yang benar akan tetapi musuh terlalu tangguh dan telangas. Sekarang ini tak ada tempo untuk menjelaskan tentang mereka itu. Tong Sie dan Tiat Sie itu makhluk macam apa?‖ ―Merekalah yang di dalam dunia kang-ouw kesohor sebagai Hek Hong Siang Sat. karenanya mereka menjadi ragu-ragu. di bawah batu itu tertampak sebuat peti mati bercorak kotak atau peti batu dan di dalam situ rebah dua mayat. Dia akhirnya menghela napas.‖ Enam saudara itu menurut. coba jalan seratus tindak ke selatan. ia tidak lihat peti mati yang disebutukan kakaknya itu. Mereka itu segera saja menghampirinya. ―Baiklah kalau begitu. tanpa cara ini jiwa kita bertujuh bakalan tidak dapat ditolongi lagi!‖ Tin Ok omong dengan perlahan-lahan. Han Siauw Eng adalah orang yang hatinya paling berkhawatir dan paling heran pula. Sekarang barulah papan batu itu dapat disingkirkan. Bukan sedikit orang gagah yang roboh di tangan mereka itu. inilah pertama kalinya ia dapatkan sikap yang tegang sekali dari kakaknya itu. adik yang nomor enam. itu waktu jangan kamu main kasihan-kasihan lagi. Lam Hie Jin dan Han Po Kie. ―Nusuh itu sangat cerdik dan getap. Irawan D Soedradjat Page 100 . ia Cuma nampak unjungnya sebuah batu lempangan muncul dari dalam tanah.‖ berkata ia. Dengan menggape. ―Aku cuma minta kalian semua suka berlaku hati-hati. ―Di masanya mereka itu malang-melintang di utara. Perlahan-lahan mereka letaki tutup peti mayat yang istimewa itu. Liok-tee. mereka berdua itu adalah suami-istri.‖ ―Kenapakah mereka itu tak hendak dikepung beramai-ramai?‖ Siauw Eng tanya pula. ilmu silat mereka lihay sekali. Setelah seratus tindak. mereka bakal dapat tahu. sebagai alatnya ialah kedua mayat ini. mereka pencar diri ke empat penjuru untuk sembunyi sambil memasang mata. belum pernah ia puji kepandaian lain orang. Thio A Seng. Kwa Tin Ok. mereka lantas bekerja. Tentu saja.‖ sahut sang kakak denagn perlahan. mereka mau percaya sang kakak tidaklah tengah berdusta. segera lari ke arah selatan. lihat benar atau tidak di sana ada sebuah peti mati. Cuma hendak aku pesan masing-masing jaga lah diri dengan hati-hati dari cengkraman mereka. Tin Ok tidak setuju. Ia tarik batu itu tetapi tidak bergeming. saki hati ini tak dapat tidak dibalas!‖ Lam Hie Jin segera campur bicara. maka itu kau tidak ketahui tentang mereka. Kemudian. Di bawah sinar rembulan. marilah kita pergi bersama-sama. ―Musuhku itu bakal lekas datang kemari untuk melatih ilmu silatnya itu. batu itu kotor dengan tanah dan ketutupan rumput hijau. tetapi sekarang ia jeri terhadap dua orang itu. Di situ ada banyak pepohonan dan rumput tebal.Pendekar Pemanah Rajawali Enam saudara itu ketahui kakak mereka ini beradat tinggi. dia berani lawan. ―Ada rejeki kita mencicipi bersama.‖ Kim Hoat mengajak. Sekarang tutuplah papan batu ini. ada kesusahan kita derita bersama juga!‖ katanya.‖ Tin Ok berkata pula dengan pesannya. jaga supaya mereka tidak dapat ketahui. hatinya ciut. Ia omong singkat tetapi kata-katanya sangat tepat yang tak dapat diubah lagi. ia panggil saudara-saudaranya yeng mengawasi ke arahnya. setelah melihat batu itu. baru kamu keluar untuk mengepung mereka. Ia bersembunyi di samping Cu Cong. Sadarlah ia bahwa saudara-saudaranya itu sudah berkeputusan bulat. dengan dingin ia berkata: ―Mereka sudah celakai aku seumur hidup. denagn siapakn masing-masing senjatanya. maka itu sambil berbisik ia tanya ini kakak nomor dua: ―Jieko. Semua saudaranya itu menyahuti dengan janji akan menaati. ―Sedikit saja ada kelisikan. Cuma tinggali sedikit liang kecil untuk aku bernapas. maupun di Jalan Putih. Kamu mesti menunggu sampai aku telah tidak dapat bertahan. untuk bokong pada mereka.‖ katanya kemudian. tapi kata-katanya ditandaskan setiap patah. bantui saudaranya untuk mencabut. ―Maka itu sekarang hendak aku sembunyi di sini. sudah lantas lompat turun ke dalam peti mati yang besar itu.‖ Coan Kim Hoat. Tin Ok menjadi diam dan berpikir. siapa dengar mereka. sekali pula Khu Cie Kee yang lihay. ―Kalau begitu. Tong Sie itu ialah pria dan Tat Sie itu wanita. baik di Jalan Hitam. Saudara-saudara pergi kau ambil tempat berlindung di empat penjuru.

belakangan orang tidak lihat lagi bekas-bekas tapak mereka. Siauw Eng diam sejenak. Siauw Eng bernyali besar tetapi ia toh menggigil pula. maka beberapa tahun kemudian orang anggap.‖ pikir Siauw Eng. Lalu ia menyambung lagi. namanya Tiauw Hong. Ynag kedua yang rambutnya panjang dan memain atas tiupan angin. ia tampak seuatu benda hitam lagi bergerak-gerak cepat di atas tanah berpasir. ―Mestinya dia Tong Sie dan Tiat Sie. disusul sama tangan kirinya menyerang dada si pria. ―Sungguh memalukan. degan darah dagingnya manusia. ―Sstt!‖ berbisik sang kakak itu seraya tangannya menunjuk ke bawah bukit. Dilihat dari kepalanya. Enam saudara dari Kanglam itu menahan napas. dia beroman seperti mayat saja.‖ ia mengeluh di dalam hatinya. di tara ini. si Mayat Perunggu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Menurut katanya mendiang guru. Kapan sebentar kemudian tindakan kaki tak menerbitkan suara pula. yang disebut Tong Sie itu. sebab Cu Cong mendekap mulutnya yang kecil mungil itu. Di bawah terangnya sinar rembulan. yang satu mirip orang Mongol. ―Tentang ilmu itu belum pernah aku mendengarnya. berdiri diam. Begitu lihat banyak orang.‖ ―Kalau begitu yang wanita. mengikuti jalannya. kita menemui mereka itu. guna cegah sinarnya berkilauan.‖ ―Toako menyebut ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw. ―Dia berparas muka semu kuning hangus seperti perunggu. Tiat Sie itu. ―Orang-orang gagah dari Selatan dan Utara Sungai Besar pernah tiga kali mengadakan perhimpunan besar di gunung Heng San. semuanya bersipa sedia. Sekarang terdengar suara pasir disebabkan tindakan kaki.‖ jawab sang kakak. hingga mereka merupakan sebagai satu bayangan yang besar. Irawan D Soedradjat Page 101 . Tiba-tiba si wanita itu angkat tangan kanannya.‖ Si wanita sudah lantas berjalan mengitari si pria. yang memakai kopiah kulit. saban-saban terdengar suara mereteknya. Tidak disangka-sangka sekarang. adalah seorang wanita. mereka itu telah menemui ajalnya.‖ Sebentar saja benda itu sudah datang semakin dekat. Wanita itu gerak-geraki kedua tangannya. sambil memberi keterangan padaku. Heran enam saudara itu. yang berjalan rapat satu dengan lain. Setahu bagaimana. ―Dapatkah si pria.‖ ―Apakah nama mereka itu?‖ Siauw Eng masih menanya. nyata terdengar buku tulang-tulangnya bersuara meretek. mereka lantas sembunyikan diri. ilmu apakah itu?‖ tanya adiknya lagi. setelah orang bubaran. diulur dan ditarik. Siauw Eng tancap pedangnya ke tanah. di tempat belukar seperti ini.‖ pikir mereka. ―Sekarang ingin aku saksikan bagaimana mereka melatih diri…. Maka sekarang tampaklah dengan nyata: Itulah dua orang. Enam saudara itu menjadi heran. di atas bukit itu tertampak dua orang bagai bayangan. Cu Cong cekal kipasnya peranti menotok jalan darah. Rambutnya pun mengikuti bergerak-gerak juga. lalu beruntun tiga tahun mereka mencoba mengepung Hek Hong Siang Sat. Siauw Eng segera memasang matanya ke arah tempat ynag ditunjuk itu. mereka muncul pula. karena dosa kejahatannya sudah meluap. ia terus pasang matanya. suara itu menyebabkan ketegangan di hati ke enam bersaudara itu. mestinya berkulit hitam legam?‖ ―Tidak salah! Dia she Bwee. ―Tenaga dalamnya begitu hebat. ―Yang pria. dari lambat menjadi cepat. suaranya semakin keras.‖ sahut kakak keduanya itu. ―Kiranya jieko waspada sekali. ―Kenapa toako tak pernah sebut-sebut itu? Mustahilkah…‖ Nona ini berhenti berbicara dengan tiba-tiba.‖ Cu Cong menerangkan pula. mereka itu dapat lolos. bernama Tan Hian Hong. bertahan terhadap serangan itu?‖ tanya mereka di dalam hati. pantas toako memuji mereka. maka itu orang juluki dia Tong Sie. pada wajahnya itu tak pernah tampak tanda kemurkaan atau tertawa.

mencengkeram ke ubun-ubun si pria. ia lompat ke arah pohon itu. yang rupanya ditangkap untuk dijadikan bahan atau korabn latihan Kiu Im Pek-kut Jiauw. berlompatan mengitari korbannya itu. Tanpa merasa. berbareng dengan pekiknya. ―Kalau sekarang aku tikam dia. dibawa ke peti mayat di mana Kwa Tin Ok umpatkan diri. Hanya aneh. nampak nyata bebokongnya bergerak-gerak. untuk merobek membuka pakaiannya pria korbannya itu. Seberhentinyatertawa. dengan sendirinya mereka menjadi membenci kekejaman wanita itu. Diwaktu melompat. Ia hendak berlompat turun ketika tubuhnya bergerak bangun. hendak mereka menerjang berbareng. Tak ayal lagi. Saudara yang kedua ini telah berpikir: Tiat Sie bersendirian. untuk angkat tutup peti mati istimewa itu. Kalau dia terbunuh lebih dahulu. Cengkeraman Tulang Putih. aku dapat tublas tembus bebokongnya!2 pikir si nona Han. ia tak bakal dapat dilihat. lalau ia membuangnya setiap isi perut itu.Tapi. Si pria tapinya mirip mayat. enam saudara itu merasa kagum. Tapat sampai pukulan yang ke sembilan. baiklah kita taai pesannya. Biar toako yang mendahului…‖ Habis memeriksa isi perut mayat. Disamping heran dan gusar. biar dia lihay. ia cabut pedangnya. Dengan menghadapi rembulan. si wanita sudah menyerang pula. tak dapat mereka layani…. ia turun di sisi mayat. mukanya tidak tersenyum. ia tidak 102 Tiba-tiba Bwee Tiauw Hong mendengar berkelisiknya daun pohon di sebelah belakangnya. sembilan puluh sembilan persen. Irawan D Soedradjat Page Itulah Ma Ong Sin Han Po Kie yang sembunyi di pohon itu. si pria bukan Tong Sie. Tiauw Hong geraki kedua tangannya. karena ragu-ragu. ia tarik napasnya keluar masuk. orang memakai baju dalam kulit. Ia membungkuk. ia toh berpaling dengan segera. Cu Cong tarik si nona dan menggoyangi tangannya. ia percaya dengan sembunyi di atas pohon. Dia lompat tingginya beberapa kaki. tumpukan tengkorak itu terang adalah korbankorbannya wanita kejam ini. Ia bertubuh kate.. kepala di bawah. walaupun ia tertawa. akibatnya mesti hebat sekali……………‖ Karena ini. hanya seorang yang lain. Perlahan sekali suara itu. kita pasti dapat melawan. Kalau mereka ada berdua. Tiba-tiba saja ia menoleh ke arah Siauw Eng. Enam saudara itu bersiap. Sekarang enam saudara itu ketahui. tangan kanannya. sang sistri. Ia duduk dengan membelakangi Cu Cong dan Siauw Eng. dengan sembilan kali serangannya – Kiu im – wanita ini membikin rusak isi perut pria itu. dia tidak tekuk dengkulnya. bertambah hebat. habis itu. paru-paru dan jantung.Pendekar Pemanah Rajawali Selagi begitu. tubuh siapa lalu ia letaki di tanah. kapan tangan kanannya di tarik. jumpalitan. dan ia memeriksa itu. untuk membokong kita? Toako telah memikir jauh. Disaat berbahaya itu. di Utara ini. Tegang hatinya. Bukan kepalang gusarnya Siauw Eng. tidak membungkuk tubuhnya. si wanita itu berjinjit. lima jarinya berlumuran darah pula. setiap serangan bertambah cepat. ia masih tertawa. Cu Cong pun sama tegangnya sampai ia menahan napasnya. dua tangannya dipakai menjambak dada dan perut mayat itu. tangan kirinya menyambar kopiah si pria. Maka terang sudah. wanita itu adalah Tiat Sie Bwee Tiauw Hong. Sembari mengawasi tangannya itu. dengan lima jari. kaki di atas. dengan rangkap kedua tangannya. yang semuanya telah tak utuh lagi. Ia lantas seret mayat korbannya. jadi lebih gampang untuk melayani Tong Sie. untuk menarik keluar isi perut orang. gampang saja si wanita ini menelanjangi pria itu. ia lantas duduk numprah di tanah. untuk melatih tenaga dalamnya. seperti desairnya angin. hingga si nona dapat nampak wajah orang – satu wajah hitam manis. ―Hanya kalau aku gagal. habis melatih napasnya. wanita itu lompat mencelat. ke perut. Wanita itu berhenti berlompatan dan berputaran sesudah ia berpekik keras dan panjang sambil ia lompat tinggi berjumpalitan dua kali. Si wanita sebaliknya tertawa besar dan panjang. Hampir Siauw Eng menjerit karena kagetnya. untuk membuktikan sampai di mana hasil latihannya itu. si Mayat Besi. tubuhnya tidaj bergeming. si suami. wanita itu memeriksa. lempang jegar. Nyatalah. ia dapat lihat seperti bayangannya satu kepala orang di atas pohon. ia bergemetar sendiri. tetapi sekarang. siapa tahu Tong Sie bersembunyi di mana? siapa tahu kalau dia muncul mendadak. usianya ditaksir kira-kira empatpuluh tahun. Tiat Sie nampaknya puas. ia dapat menduga. ia tak bersuara. kalau dikepung bertujuh. Bwee Tiauw Hong bangkit berdiri. . Di bawah sinar rembulan. Begitu tutup dibuka. dimana hawa udara adalah sangat dingin. beruntun hingga tujuh kali. hendak ia menerjang wanita itu.

―Mungkin ia tidak mempunyai jalan darah?‖ pikirnya. cepat-cepat ia melompat mundur. Han Po Kie sudah jemput cambuknya. Bwee Tiauw Hong tidak berkelit atau menangkis. ai lompat melesat. sebaliknya. dengan satu kali meleset. dengan bekersama dengan kelima saudaranya. di antara suara keras. sebab sepuluh kukunya telah nancap di dagingnya. ia terus melawan denagn sepasang tangannya yang berdarah daging! Dengan kuku-kukunya yang seperti gaetan besi. Hebat kesudahan tendangan ini. ia menyambok dengan tangannya yang kiri. Menyaksikan itu. ialah jalan darah kiok-tie-hiat. hanya dasar jago. hingga bahna sakitnya. dengan lihaynya matanya dan jelinya kupingnya. Ia mengarah ke lengan. sementara penyerang dengan kayu pikulan itu adalah seorang desa. Justru is bergirang itu. tahu-tahu tangan musuh berkelebat. Dia menjadi kesakitan. sedang di kirinya datang serangan golok dari seseorang yang bertubuh jangkung gemuk serta seorang kurus denagn senjatanya yanga neh. masih dia lompat. enam Manusia Aneh itu menjadi ingat semua tengkorak Irawan D Soedradjat Page 103 . dia angkat kakinya.Pendekar Pemanah Rajawali sangka. ia papaki cambuk itu. yang sampai ke ulu hati. sebab ia tidak pedulikan totokan itu.‖ Demikian. untuk terus disambar. Batal menyerang. di bawah pohon. Bwee Tiauw Hong menyambar dengan tangannya ynag kiri. lima jari tangannya menyambar ke arah bebokong si cebol itu. Di saat itu. menyambar ke kepalanya! Bukan main kagetnya Manusia Aneh yang kedua ini. untuk merampas senjata. dia lompat mundur satu tindak. ia menyerang jalan darah kiok-tie-hiat dari musuh lihay itu. atau lebih benar mengikuti cambuk Naga Emas. sedang di lain pihak. Maka ia lantas berpikir: ―Mereka banyak. Akan tetapi si Mayat Besi tak jeri. Po Kie merasakan angin dingin di pundaknya. dengan putar ugal-ugalan tangannya. akan menyingkirkan jauh. ai maju pula. akan lomcat pula. Tiauw Hong ketahui itu. kaget dan gusar. sebuah kayu pikulan yang hitam menyambar dia dari samping. menendang ke arah perut. menyambar ke arah musuh itu. dia masih bisa menggulingkan diri. Satu mahasiswa yang memegang kipas totokan dan satu nona yang bersenjatakan pedang. akan sambut wnaita itu dengan cambuknya Kim-liong-pian. untuk menendang bebokong musuh gelapny aitu. denagn perdengarkan suara membeletak. Siauw Eng membabat tangan musuh. mengepung musuh yang lihay itu. Cu Cong tahu ia telah dapat menghajar sasarannya. Po Kie meninsyafi bahaya. Biasanya. ia dapat dipergoki wanita lihay itu yang segera menerjang ke arahnya. Ia lolos tetapi kegetnya tak kepalang. Hanya kali ini. Disaat itu. Tanpa sangsi ia kerahkan tenaganya. ia menyambar ke mukanya Siauw Eng! Cu Cong melihat ancaman bahaya untuk adiknya itu. mengarah kakinya. maka juga pedang dan golok semua seperti merabu Bwee Tiauw Hong. ia juga balik menarik. yang sangat gesit. ia enjot tubuhnya. tangan kanannya telah merobek baju Po Kie di bagian bebokongnya! Po Kie menekan tanah denagn kaki kiri. Tiauw Hong snagat lihay. dan Coan Kim Hoat dengan sepasang panah tangannya. Tetapi Tiauw Hong. terus ia lompat berjumpalitan. Mengikuti tarikan orang. untuk membebaskan diri dari sambaran itu. dan gesit sekali. ia menjadi heran dan gentar pula. Bwee Tiauw Hong main sambar musuh. dia teruskan sambarannya kepada nona Han itu. anginnya pun tiba lebih dahulu. atas mana. Tiauw Hong tidak hendak memberi lolos. Semua penyerang itu tidak dikenalnya dan mereka agaknya lihay. Dengan satu gerakan ―Pek louw heng kang‖ atau ― Embun putih melintangi sungai‖. Tapi Tiat Sie si Myata Besi benar-benar lihay. seperti juga sebuah kipas besi. Bwee Tiauw Hong dengan berani berbalik menyambar pedang. Siauw Eng menjadi terkejut. Lam Hie Jin dengan Touw-kut-cui. yang cepat bagaikan angin. hatinya girang sekali. baiklah aku robohkan dulu beberapa diantaranya. dia segera mengerti bahwa dia telah berada dalam kepungan. kipas Cu Cong telah mengenai tepat sasarannya. segera tangannya kaku dan mati. kaki itu terseleo tekukannya. aku sendirian. hanya di saat itu. Ketika itu. menyerang ia dari kanannya. Dia agaknya tidak takuti senjata tajam itu. malah aneh juga. sudah lompat hingga di depannya dan sambil menaya: ―Kau siapa?! Perlu apa kau datang kemari?!‖ sepasang tangannya sudah mampir di pundak orang. Tendangan seperti mengenai papan batu. untuk dicekal dan dibarengi ditarik dengan keras! Po Kie merasakan satu tenaga keras menarik ia. Dengan perlihatkan kegesitannya. untuk meleset ke depan. tetapi ia juga bertenaga besar. ia roboh hampir pingsan. hingga PO Kie mersakan sakit sekali. herannya bukan buatan. ia lepaskan cambuknya. siapa terkena totokan itu. Bor Menembuskan Tulang. dia seperti tidak menghiraukan enam rupa senjata musuh itu. lagi sekali ia enjot tubuhnya. guna mencengkeram daging. hingga kedua senjata rahasia itu jatuh ke tanah.

mereka lantas berkelahi sambil mundur. Irawan D Soedradjat Page Bwee Tiauw Hong heran. Ia sudah menontok belasan kali. ia dapat lihat cahaya putih dari tengkoraktengkorak itu. Ia melainkan hanya lihat rembulan. ia tak tampak manusia seorang juga. sedang di perut jalan darah cee-cun dan di bebokong jalan darah bwee-liong. tidakkah mereka bertujuh saudara bakal roboh semuanya? Thio A Seng. yang diangkat tinggi. Kecuali golok lancipnya dari Thio A Seng dan pedang tajam dari Han Siauw Eng. Di batok kepala ia totok jalan darah pek-hoay. sudah lanats kerahkan tenaga mereka. Dipihaknya. celakalah ia.Pendekar Pemanah Rajawali yang berliangkan bkeas jari tangan itu. memandang ke atas. Tapi si Mayat Besi sudah berhasil. Syukur ia keburu membela dirinya. Hebat Bwee Tiauw Hong. Ia menjadi bersangsi. . Merka juga mendapatkan tubuh orang seperti besi kuatnya Dua kali bandulan timbangan Coan Kim Hoat mengenai bebokongnya Tiat Sie dan satu kali kayu pikulannya Kanglam Liok Koay menyambar paha. tak saja bajunya Kim Hoat robek. Lam Hie Jin bersama Coan Kim Boat dan Han Siauw Eng mencoba merintangi musuh ini. Dipihak sana. Lagi sesaat. Tiauw Hong malah bertambah gagah nampaknya. kalau tidak. Ia menggunai tangan kirinya. Coan Kim Hoat berlaku rada ayal. ―Sekarang sudah terlambat untuk kamu melarikan diri…!‖ segera ia merangsak. Cu Cong jadi berpikir. tidak juga ada hasilnya. tanpa merasa ia angkat kepalanya. menyerang sambil mencari-cari. jidat mereka bermandikan peluh. untuk angkat papan batu tutup dari peti mati itu. sedang seharusnya dia mesti patah atau remuk tulang-tulangnya. Dia berseru: ―Siucay rudin. ia mesti mempunyai suatu anggota kelemahannya. Karena ini ia berlompatan. selagi begitu Cu Cong bersama Thio A Seng dan Han Po Kie. ia jadi ingat sesuatu. tetapi Bwee Tiauw Hong agaknya tidak terluka. di mana Kwa Tin Ok lagi sembunyikan diri. Coba Tong Sie si Mayat Perunggu muncul. Satu kali Cu Cong kebetulan menoleh ke arah tumpukan tengkorak. untuk lari ke arah peti mati. ia menjadi terkesiap hatinya. pada nyonya besarmu tidak ada bagiannya yang lemah. untuk lihat lengannya. Manusia Aneh ynag kedua itu menyingkir beberapa tindak. 104 Disaat itu. sembari berlari. sepotong dagingnya pun kena tercukil dan dia berdarah-darah. supaya kawan itu segera turun tangan. ia menduga-duga dimana kelemahan musuh lihay itu. berani Tiat Sie sambut dengan tubuhnya yang tangguh itu. di tenggorokan jalan darah hoan-kiat. Tiauw Hong kena cekal barang keras. Bwee Tiauw Hong dapat menerka maksud orang. Tiba-tiba ia bergidik. ia menggapai-gapai. Lima Manusia aneh lainnya kaget. Cu Cong berteriak keras: ―Lekas turun menyerang!‖ Dengan tangan kanan ia menunjuk ke atas. baiknya ia gesit dan cerdik. Itulah teriakan dan tanda untuk kawannya yang sembunyi di dalam peti mati. Siauw Eng lantaran kegesitan tubuhnya. ia berteriak: ―Semua lekas menyingkir!‖ Lima saudara itu mengerti teriakan itu. justru itu Cu Cong bebaskan diri. Ia tahu betul. melihat mana. kedua matanya mengawasi ke langit. dengan sendirinya hati mereka menjadi gentar. Mereka menggesernya ke samping. Segera ia melompat. Karena ini. semua senjata lainnya. ia mendahului menotok telapak tangan orang. siapa punya ilmu kedot. dua macam ilmu kedot. Han Po Kie dan Coan Kim Hoat sudah lantas mulai tersengal-sengal napasnya. tak tunggu tibanya cengkeraman. ―Dari mana munculnya segala orang hutan yang hendak mencurangi nyonya besarmu!‖ kata Tiauw Hong dengan ejekannya. dan Tiat-pou-san – Baju Besi. ketahui olehmu. ia dapat menyambar kayu pikulan dari Lam Hie Jin. demikian pun jalan darah lainnya. tidak ampun lagi bahu kirinya kena dicengkeram Bwee Tiauw Hong. teranglah orang telah punyakan pelajaran Kim-ciongtiauw – Kurungan Loncang Emas. hingga ia menjadi berpikir keras. Di sana terpeta tapak lima jari tangan. ia heran. mereka menyerang dengan berbareng guna menolongi saudara mereka itu. dengan tangan kirinya. Tinggal Lam Hie Jin yang masih dapat bertahan demikian juga dengan Lam Siauw Eng – Hie Jin karena tenaga dalamnya sempurna. ia sambar sepasang mata lawannya itu. semua anggota tubuhnya telah terlatih sempurna!‖ Dan tangannya menyambar lengan si mahasiswa itu! Cu Cong terkejut. maka itu dengan tangan kanannya. sudah ada tiga yang kena tangan lihay si Mayat Besi. yang sudah lantas lari ke peti mati. tetapi tiba-tiba juga.

yang mengenai dada dan paha. Dalam murkanya. ―Hai. papan batu itu terpatah menjadi dua tanpa ampun lagi! Kanglam Cit Koay menyaksikan itu. Bwee Tiauw Hong berpekik keras. Dengan menerbitkan suara keras. suaminya…‖ kata Cu Cong dalam hatinya. tanpa hiraukan sakitnya itu. mereka menyaksikan lebih jauh bagaimana Mayat Besi menyambar pepohonan dan batu yang melintang di depannya. maka itu sekarang ia berkelahi secara kalap. merangkul pohon besar di belakang Tin Ok tadi. ia berdiam. tengah dan bawah. bocah kiranya kau belum mampus?‖ tanya dia. Bwee Tiauw Hong merasakan sangat sakit dan juga menjadi sangat gusar. dari jauh-jauh. ―Kau juga belum mampus. batang pohon besar itu tercengkeram sepuluh jarinya. segera kedua tangannya diayunkan. Cu Cong tidak buka suara. empat-empatnya jatuh menggeletak di tanah. ―Kamu siapa?!‖ ia berteriak dengan pertanyaannya. Belum habis peringatan kedua saudara itu. kedua tangannya menyambar berulang-ulang. tidak memberi hasil. hati mereka menggetar. ―Jadinya kau datang untuk menuntut balas untuk Hui-thian Sin Liong?‖ ―Tidak salah!‖ jawab Tin Ok. Baharu dua kali ia menggoyangkan tangannya. Selang sekian lama. Untuk sesaat mereka tidak menyerang pula. dengan kerahkan tenaga di tangannya. Kwa Tin Ok di dalam peti mati telah siap sedia. akan tetapi Tin Ok telah segara berkelit ke samping. Bwee Tiauw Hong telah kehilangan penglihatan kedua matanya. dengan menukikkan tongkat besinya ke tanah. Tujuh saudara itu mengawasi. senjata rahasianya Tin Ok itu. ia membuatnya pohon-pohon rubuh dan batu hancur tertendang. Maka itu. dia lagi memanggil Tong Sie. Bwee Tiauw Hong sendiri sudah lantas perdengarkan jeritan hebat dan menggiriskan. bagus!‖ Tiauw Hong menghela napas. Empat yang lain. Tiauw Hong terus menendang papan batu yang menghalangi di depannya. tubuhnya lalu meleset naik ke atas pohon. dengan tangannya ia memberi tanda kepada saudara-saudaranya menjauhkan diri dari orang kalap itu.Pendekar Pemanah Rajawali ― DI depan tujuh tindak!‖ Cu Cong teriak pula. Ketika itu angin dingin meniup membuat orang mengkirik. dari itu. sasarannya adalah tiga bagian atas. ―Apakah kau masih ingat Hui-thian Sin Liong Kwa Pek Shia atau Hui-thian Pian-hok Kwa Tin Ok?‖ demikian tanyanya. untuk kakak itu jangan membuka suara. karenanya tubuhnya maju terus. ia serang bebokongnya si Mayat Besi. ―Lekas kasih tahu! Kalau nyonya besarmu mati. mana dapat ia melihat tandanya itu? Benar saja. Pun. batu telah kena terhajar hancur. ia sudah lantas bekerja sama dengan enam saudaranya itu. Ia rupanya menginsyafi yang ia telah terkena senjata rahasia yang ada racunnya. sambil berseru keras. Tin Ok sudah perdengarkan suaranya yang dingin itu. Ia menepuk keras. Ia ingin si Mayat Besi mati sendirinya karena bekerjanya racun senjata rahasia itu. ―Toako awas!‖ sekonyong-konyong Cu Cong dan Coan Kim Hoat berseru. Tiauw Hong merasa matanya keras. Tin Ok sudah merasakan sambaran angin ke arah dadanya. enam Manusia Aneh itu bergidik sendirinya. Irawan D Soedradjat Page 105 . Bwee Tiauw Hong melengak dan lalu tertawa panjang. masihkah ia mempunyakan nyawanya? Gagal serangan itu. ia turut lompat keluar dari dalam peti mati. ia bersilat ke empat penjuru. ia akan mati dengan puas!‖ Cu Cong menggoyangi tangan kepada kakak tertuanya. dengan begitu enam buah senjata rahasianya sudah lantas menyerang ke tempat tujuh tindak. Bwee Tiauw Hong tubruk sasaran kosong. Nyata kedua matanya telah menjadi korbannya tok-leng. menampak mana. mereka berdiam tetapi siap sedia. ia menggempur terus dengan kedua tangannya kepada Kwa Tin Ok. ―Celaka. Kakak itu buta. suaranya tajam dan terdengar jauh. ia jadi terperanjat sendirinya. Coba Tin Ok yang terkena rangkul. Lalu ia meneruskan dengan seruannya:‖ Lekas bereskan dia!‖ Ia pun mendahulukan.

sambaran angin papan batu itu pun keras. Segera menyusul serangannya yang kedua. dengan melupakan bahaya. ia mendahulukan menyambar. Itu waktu Siauw Eng telah kasih dengar suara kaget. Pekikan itu membuat hati orang terkesiap. sampai sebegitu jauh belum pernah ia berani mengutarakan rasa hatinya itu. Ia dapat menghindar dari batu tetepi tidak serangannya Cu Cong. Rupanya Tiauw Hong telah dapat menduga. si nona terus menyingkir. Dan ia kemudia berlari. Kanglam Cit Koay terkejut. berbareng dengan itu. guna lari balik. Han Siauw Eng lompat ke samping. ia sambar bocah itu. ia berdiri diam dengan sikapnya yang siap sedia. ia segera berkelit ke samping. ia dengar angin itu. ia terpaksa menggunai akal ini. sekarang ia lihat si nona Han terancam bahaya. Setelah hasilnya yang pertama ini. tanpa bilang suatu apa. Tiat Sie buta sekarang. Cu Cong segera geraki tangannya ke arah Coan Kim Hoat. ia menjadi kegirangan hingga ie berseru. mereka bersedia dengan senjata rahasia masing-masing. guna mencegah racun di matanya dapat menjalar. Dengan sikapnya ini ia menantikan suaminya. Sembari mendatangi. Dengan beruntun ia mainkan Irawan D Soedradjat Page 106 . ―Hebat larinya orang itu!‖ kata beberapa diantaranya. yang kecil dan kate. ―Inilah hebat…‖ pikir Siauw Eng. Kwee Ceng pun menjerit kaget! Bocah itu telah dirampas Tan Hian Hong. tanda bahwa orang yang memperdengarkan itu telah datang lebih dekat. Ia menjadi kaget apabila ia merasakan bebokongnya sakit sampai jauh di ulu hatinya. sebab ia segera menduga kepada Kwee Ceng. Ia tanmpak sekarang. terpaksa ia berteriak: ―Bocah. maka ia susuli dengan tikaman ke arah mata. yang terlebih nyaring lagi. Kali ini ia gagal. dari itu. di belakangnya dia tangan maut lagi menghampiri. Siauw Eng lompat ke samping. bayangan ini tadi tidak kelihatan.Pendekar Pemanah Rajawali Thio A Seng menyerang dengan salah satu potong papan batu yang tdai ditendang patah Bwee Tiauw Hong. Tong Sie si Mayat Perunggu pun telah mendatangi semakin dekat kepada Kwee ceng. Segera juga Siauw Eng sampai kepada Kwee Ceng. di depan bayangan yang berpekikan tak hentinya itu. habis menolongi orang. ia tidak tahu. lalu berdua mereka lompat ke gombolan rumput. Ia dapat berlari dengan cepat luar biasa. terus ia memutar tubuh. untuk memberi tahu supaya. untuk menolongi Siauw Eng dan A Seng. Malam Yang Hebat Cu Cong ambil sikapnya ini untuk bersedia membokong musuh. Tidak peduli ia kebal tetapi serangan Biauw Ciu Sieseng hebat bukan main. maka itu. niatnya mendahului nona itu. lekas lari!‖ Kwee Ceng dengar suara itu. ia kaget dan berkhawatir. ia lihat si nona. mendaki bukit. ia pun belum pernah menyakinkan ilmu mendengar suara seprti Kwa Tin Ok. tetapi ia gagal. ―Aku bukan tandingannya Tong Sie…. Ketika itu Bwee Tiauw Hong sudah tidak mengamuk seorang diri lagi. ia malah mesti lompat menyingkir. untuk memapaki. Karena tubuhnya kecil. Ia tampak satu bayangan hitam lari mendatangi dengan cepat sekali. Ia lantas lari turun ke arah orang orang bertubuh kecil dan kate itu. tentu saja Manusia Aneh yang kedua ini tidak sudi menjadi korban. Tiba-tiba ia rasai tangannya enteng. Ia khawatirkan keselamatannya bocah itu. ia tergempur di bagian dalam. Dengan kegesitannya. untuk memandang ke bawah bukit. demikian bayangan yang mengejar itu. Ia pilih batok kepala musuh sebagai sasarannya. dari situ ia menyerang dengan pedangnya ke iga kiri si Mayat Perunggu. napasnya diempos. Selagi dua orang ini mendatangi dekat satu dengan lain. Bab 10. lalu menyusul pekik yang kedua. dari kejauhan terdengar pekikan nyaring seperti pekikan Tiauw Hong barusan. ia lari turun. Lam Hie Jin semua memasang mata ke bawah bukit. Siauw Mie To Thio A Seng telah menaruh hati kepada Han Siauw Eng sejak beberapa tahun. lekas lari. Ia berkhawatir berbareng girang. Ia percaya Tong Sie terlebih lihay daripada Tiat Sie. ada satu bayangan lain. ia girang yang orang telah menepati janji. Cu Cong tidak berhenti sampai di situ. untuk suaminya itu tolongi dia sambil membasmi musuh…. akan tetapi kupingnya terang. guna menyambut bocah itu. bayangan itu masih berpekik-pekik.tapi mana dapat aku tidak menolong bocah itu?‖ Maka terpaksa ia cepatkan tindakannya. Hampir berbareng dengan itu.

bagaimana kau?!‖ terdengar teriakannya Hian Hong. saban kali si Mayat Perunggu hendak menjambak. ia tak mau berkelahi secara rapat. Siauw Eng buang diri dengan bergulingan. maka itu. ―Kau masih memikir untuk menyingkir?‖ tanya Hian Hong. ia jatuh pingsan. Siauw Eng lepas dari marabahaya. ia menahan sakit. Lantas ia mendamprat: ―Bagus betul. sebentar akan aku adu jiwa denganmu!‖ ―Bangsat perempuan. Tapi sekarang ia menginsyafi lihaynya musuh. ia menyahut dengan keras: ―Lelaki bangsat. untuk diteruskan dipakai membabat. Cu Cong bersama Coan Kim Hoat. Berbareng dengan itu. Tan Hian Hong mengempit Kwee Ceng di dengan lengan kirinya. hingga lima jarinya si Mayat Perunggu masuk ke dalam dagingnya. tak dapat Siauw Mie To bertahan lagi. kiranya kau belum mampus! Jadinya kamu datang kemari untuk mengantarkan nyawa kamu!‖ Tapi ia juga khawatirkan keselamatan istrinya. malah Cu Cong bersama Coan Kim Hoat mendahulukan menyerang denagn senjata rahasia mereka.sepasang mataku dirusak oleh mereka itu! ikalau kau kasih lolos satu saja diantara tiga ekor anjing itu. ia kasih lewat ujung pedang. Thio A Seng sudah maju tinggal beberapa tindak lagi. tetapi justru karena ini. Di waktu itu. pedang itu meleset di dadanya itu. lalu dengan sikut kanannya. Ia menjerit keras tetapi pedangnya dikerjakan untuk dipakai menikam ke dadanya lawan! Hanya. lima jarinya masuk ke dalam daging betis. menampak nona Han dalam bahaya. untuk mengahalangi serangan. Lam Hie Jin dan Han Po Kie lantas lari menyusul tubuh saudaranya itu. ia melihat ancaman bahaya terhadap si nona yang ia sayangi. ia berputaran. Tan Hian Hong tidak berhenti sampai disitu. ia menyampok. ―Hai. Justru itu. setelah pedang itu berpindah arah. ia lompat kepada si nona itu. bangsat anjing.ilmu pedangnya gadis Wat. tanganya Hian Hong mendahulukan menepuk pundaknya. bagaimana dengan lukamu? Apakah luka itu menghendaki jiwa kecilmu yang busuk itu?!‖ Irawan D Soedradjat Page 107 . batal meneruskan serangannya kepada Siauw Eng. Ia bergerak dalam jurus Kiu Im Pek-kut Jiauw yang lihay yang untuk meremukkan batok kepala orang. ia jauhkan diri. Akhirnya ia berteriak: ―Eh. perempuan bangsat. ia menerjang kepada musuh itu. ia kerahkan semua tenaganya. kapan Hian Hong mengempos semangatnya. ia menyerang musuhnya. Hian Hong lihay sekali. ia memburu dan ulur tangannya yang terbuka ke ubun-ubunnya nona Han. si Mayat Perunggu lemparkan tubuh musuhnya. Tan Hian Hong kaget dan heran akan menyaksikan semua musuhnya demikian lihay. Thio A Seng rebah di tanah dengan terluka parah. perempuan bangsat. hingga ia bebas dari bahaya. ia menduga-duga siapa mereka dan kenapa mereka itu muncul di gurun pasir ini. Dengan gerakannya ―Lay louw ta Kun‖ atau ―Keledai malas bergulingan‖. ia lalu menanya: ―Eh. Lam Hie Jin dan yang lainnya telah tiba. bebokongnya mewakilkan Siauw Eng kena dijambret. ia papaki kakinya Thio A Seng itu. ia serang Han Siauw Eng dengan dua-dua tangannya. Sia-sia Siauw Eng tarik pedangnya. ―Satu juga tidak bakal lolos!‖ sambil mengucap begitu.Pendekar Pemanah Rajawali jurus ―Hong Hong tiam tauw‖ – Burung Hong menggoyang kepala. setelah satu jeritan keras. dengan begitu ia bisa menyingkir beberapa tindak. Tiauw Hong tengah memegangi pohon besar. perempuan bangsat. legakan hatimu!‖ sahut Tan Hian Hong. hingga seketika ia roboh ke tanah. makhluk-makhluk ini orang-orang macam apakah?!‖ Bwe Tiauw Hong sahuti suaminya itu: ―Mereka itu adalah saudaranya Hui-thian Sin Liong dan konconya Hui Thian Phian-hok!‖ ―Oh!‖ berseru Hian Hong. ia meneruskan menyambar si nona dengan jurusnya ―Sun swi twi couw‖ – Menolak Perahu Mengikuti Air. dan ―Wat Lie Kiam-hoat‖. sambil lompat bangun.

Belum lagi Hie Jin menarik pulang senjatanya. Dan ia lari ke samping beberapa tindak. Cu Cong berlima telah kurung padanya. Kiu Im Pek-kut Jiauw. yaitu Kwa Tin Ok. sudah selesai delapan atau sembilan bagian. Sekonyong-konyong saja guntur berbunyi sangat nyaring. Setelah berselang begitu lama. si Mayat Perunggu itu. Selagi ia dapat mencium bau itu. tangan kanannya yang keras seperti besi. Kim Hoat kaget melihat Kwee Ceng dilempar. lalu tangannya itu seperti terulur menjadi lebih panjang dari biasanya. Tiba-tiba ia berpekik. Ia tidak menghiraukan lagi hal ini karena adiknya terancam dan adiknya itu perlu ditolongi. Hian Hong kagum hingga ia memuji di dalam hatinya. tapi ia telengas. Han Po Kie tunujk keberaniannya. lalu dengan tiba-tiba juga. sambaran itu sudah sampai kepadanya. makin lihay musuh. tidak nanti ia pegang pohon saja dan tiak datang membantu. meninju dan menyambar. Maka itu kurungan mereka menjadi semakin lebar. setelah bebas. atau sekarang tangan itu – atau lebih benar lima jarinya – sudah mendekati ubun-ubunnya! Dalam keadaan sangat berbahya itu. guna membnagkol lengan musuh itu. hingga bebokongnya berbunyi bergedebuk. dengan lompat berjumpalit. ilmu menangkap tangan. sambil berkelit. guna menggempur kaki lawan. tangannya menyambar penyerangnya itu. Karena itu. orang dengar suara merekek dua kali dan suara ―Duk!‖ satu kali. Karena ini. yang ia lempar ke tanah. meneruskan gerakan tangan kirinya itu. Ia menyerang dengan Teetong Pian-hoat. ai terus lompat kepada Kwee Ceng. untuk lekas-lekas menjalankan napasnya. Hian Hong sendiri bukannya tidak menderita karenanya. Ia berkhawatir tetapi ia dapat menghampiri istrinya itu. untuk diputar ke kiri. makin keras niatnya untuk membinasakan mereka. untuk menolongi diri berbareng menolongi orang. tubuh siapa ia sambar. Itulah Tan Hian Hong. guna mencekik leher musuh itu. ―Citmoay. sebab tadi hampir-hampir ia tak dapat bernapas. karenanya mereka berkelahi dengan waspada. si adik yang ketujuh itu. Cu Cong pun merangsak ke belakang Tong Sie. berbareng dengan itu. ia gunai Kim-na-hoat. Ia lantas lepaskan Kwee Ceng. kedua tangannya bekerja. tanda tenaga diadu. ia menyingkir setombak lebih. apalagi sekarang ini latihannya ilmu yang baru. Lihay tangannya Hian Hong itu. Gerakannya itu ialah yang dinamakan ―Leng miauw pok cie‖ atau ―Kucing gesit menerkam tikus‖. Diwaktu dipakai menyambar. ia membikin perhatiannya tan Hian Hong menjadi terbagi. sedang sikutnya yang kiri menghajar dadanya Cu Cong. Rasa sakit tiba-tiba membuat Cu Cong meringis dan tangannya yang dipakai mencekik leher musuh terlepas sendirinya. mega hitam menutup sang putri malam. Istri itu sengaja pentang mulut besar. berdiri diam sambil menanti ketikanya. ia lompat ke samping. yang telah pertunjuki tenaganya yang menyebabkan Hie in patah bahu kirinya. dengan sendirinya dadanya menjadi terbuka. sebab tubuhnya terpental rubuh saking kerasnya serangan sikut itu. diulur. Berbareng dengan itu. sedang yang satunya lagi. buku-buku tulangnya memperdengarkan suara berkeretekan. Walaupun merasakan sakit. yaitu ilmu bergulingan di tanah. kau bagaimana…‖ ―Jangan bersuara!‖ menjawab Siauw Eng. terpaksa ia melenggakkan tubuhnya. tapinya ia tidak terluka. Karena tangan kanannya itu terangkat. kalau tidak. Kelima Manusia Aneh dari Kanglam itu menginsyafi bahaya. tak sudi mereka merapatkan diri. tangan musuh yang berwarna biru sudah mendekati alisnya. Irawan D Soedradjat Page 108 ―Semua renggang!‖ teriak Han Po Kie dalam gelap gulita itu. . Dengan caranya ini. satu kali ia kena dihajar kayu pikulan Lam Hie Jin. Hie Jin kaget sekali. hingga semua orang tidak dapat melihat sekalipun lima jari tangannya di depan matanya! Di dalam gelap gulita itu. ia serang Coan Kim Hoat.Pendekar Pemanah Rajawali Bwee Tiauw Hong menyahuti suaminya dengan mendongkol: ―Lekas bunuh mereka! Nyonya besarmu tidak bakalan mampus!‖ Hian Hong tahu luka istrinya itu berat. berbareng dengan itu juga da tercium bau bacin. Bocah itu dalam bahaya. dia hanya terteriak menjerit-jerit.

disebabkan ketegangan dan kecemasan hati mereka. akan terbangkan enam batang tok-leng. Tan Hian Hong adalah orang yang diserang. mereka dari itu Cuma andalkan kuping mereka. itu artinya Kanglam Cit Koay telah kalah besar. Han Po Kie bersama Han Siauw Eng dan Coan Kim Hoat. tangan kanannya menjambak ke depan. sudah lantas kasih dengar seruan mereka berulang-ulang. memperlihatkan sinar terang. Hui Thian Pian-hok si Kelelawar Terbangkan Langit itu menjadi girang luar biasa. Mendengar itu. Mendengar itu. ia menjadi tahu di mana adanya si penyerang. ia melihat bagaimana tongkat kakaknya itu. Po Kie semua bergirang. oleh Hian Hong dipakai menyerang ia dalam rupa timpukan! Bukan main girangnya si Mayat Perunggu. ia segera menunduk. Syukur dalam kagetnya itu. tetapi ia kebal seperti istrinya. Ia tidak hiraukan tongkat lawan. Ia tidak kasih dengar suara apa-apa. rasanya pertempuran itu berjalan sudah lama. kau bagaimana?‖ ia terpaksa bertanya. karena bajunya kena terjambak dan robek karenanya. ia tertawa sambil berlenggak. Coan Kim Hoat terkejut. Disamping itu dengan meraba-raba. Dengan begitu. Tin Ok kaget tidak kepalang. di tempat gelap gulita itu. awas!‖ Hian Hong sangat lihay dan gesit. ―Thian membantu aku!‖ ia memuji dalam hatinya. suara terhajarnya terdengar nyata. ia berpekik secara aneh. untuk mendesak Kwa Tin Ok. ―Jitee. siapa pun tidak dapat melihat siapa. yang tubuhnya terhuyung. Tin ok dengar suara angin.‖ Coan Kim Hoat memberitahu. ia tidak terluka. mereka melainkan mendengari suara sambarannya angin. itu bukan napas saudara angkatnya. ia masih ingat untuk segera menyerang denagn cambuknya. tangannya sendiri diputar ke atas. ia berseru: ―Toako. sang hujan pun turun menyusul. yang ketahui kakaknya tengah bertenpur. habis mana. guna mencoba mengacaukan pikiran musuh. samar-samar ia masih mendengar suara napas orang. Semua orang berhenti bertempur karenanya. mendadak kilat menyambar. dengan lantas ia ayunkan kedua tangannya. Dua kali ia terhajar tongkat. Ia dengar suara napas di sebelah kiri ia. maka juga Han Po Kie menjadi kaget sekali. tubuh Tin Ok terhuyung.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin Ok dengari segala gerak-gerik. Sinar kilat sudah lenyap tetapi sambaran itu telah mengenai sasarannya. ia menjadi heran sekali. Dua batang tok-leng lewat di atas kepalanya. guna mencegah dan melibat tongkat itu. kilat berkelebat pula. Tongkat itu ia papaki denagn pundaknya yang kiri. sang guntur menyebabkan langit menjadi gelap gulita. Kwa Tin Ok berdiam. Ia merasa pasti. Tongkatnya yang terampas Hian Hong. lengannya itu terulur panjang. Hian Hong lanjuti serangannya tanpa berlengah sedetikpun. ia menghajar dengan tongkatnya. untuk menganjurkan kakak itu. Si Mayat Perunggu lihay sekali. yang digunai Hian Hong. dua orang ini bertempur. ―Sekarang ini langit gelap sekali. Irawan D Soedradjat Page 109 . yang kembali mampir di tubuhnya yang kebal itu. Dengan waspada ia pasang terus kupingnya. ia melompat mundur. tengah menyambar ke kakaknya itu. diarahkan ke tiga penjuru. sambil berkelit. Berbareng dengan gerakan tangan kiri ini.com bergerak pula. mereka pun menolongi tiga saudara mereka yang tealh terluka. selagi Kim Hoat bersuara. ia lantas berkelit. maka syukur untuknya. tubuhnya sudah mencelat maju. guna menangkap tongkat musuh itu. walaupun ada suara hujan. terpisahnya delapan atau sembilan tindak daripadanya. musuhnya itu. Ia lompat ke arah musuh itu. Ingin mereka membantui saudara mereka itu tetapi mereka tidak dapat melihat. Satu dengan yang lain tidak dapat melihat. Itulah tandanya kakak mereka mulai berhasil. tapi ia belum bebas bahaya. Pertempuran Hian Hong dengan Tin Ok hebat dengan cepat telah berlalu dua sampai tigapuluh jurus. Untuk Han Po Kie beramai. Tiba-tiba Hian Hong menjerit aneh. Karena ini. ia lanjuti serangannya. Empat yang lain tepat mengenai tubuhnya. Ia dengar sambaran angin. Gerakannya itu terhalang. Justru itu. dengan lihaynya pendengarannya itu.kangzusi. Diantara tujuh Manusia Aneh. tiga sudah terluka parah. tidak ada satu pun yang berani mendahului www. dengan mengepal lima jari tangannya. Selagi orang kegirangan. Karena serangan tok-leng ini. ia melainkan merasa sangat sakit. kedua tangannya dipakai untuk menyambar. Telak serangan itu.

Tan Hian Hong tahu. ialah kitab Kiu Im Cin Keng bagian rahasianya. hanya saking murkanya. Maka sejenak itu. terpaksa ia membiarkan saja. untuk di daratan Tionggoan. Istri ini lantas meraba ke dada orang. dari atas bukit ia lari untuk menghampirkan. Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi dapat dengar jeritan suaminya itu. Dua saudara seperguruan itu terlibat api asmara sebelum mereka lulus. Ia terkena justru bagian tubuhnya yang terpenting. Sang istri kertak giginya. kalau rahasia mereka ketahuan. maka ia tak berbuat kepalang tanggung. habislah nyawa jago itu. yang lihat aksinya si orang she Han. Ia menduga tak keliru. tidak pernah ia pergi meninggalkan pulaunya itu. untuk mengambil kitab yang dikatakan suaminya itu. yang tajamnya bahkan sanggup mengutungi emas dan batu kemala. ia kuatkan hatinya lalu dengan tiba-tiba. sebagaimana juga kebiasaan suaminya. Oey Yok Su adalah pendiri dari suatu kaum persilatan sendiri. Lebih celaka lagi. untuk sambar bocah itu. Karena ini. Sebagai jago is terbinasa di tangannya satu bocah yang tidak mengerti ilmu silat. Tetapi tiba-tiba Tan Hian Hong perdengarkan jeritan yang hebat sekali. ―Lepaskan aku!‖ menjerit Kwee Ceng. kau kenapa?‖ ia tanya. ―Hm!‖ Hian Hong ksaih dengar suaranya yang seram. Laut Timur. ―Kitab itu telah aku bakar…‖ kata Hian Hong. perempuan bangsat…. ia terkena pisaunya Khu Cie Kee. ia curi sekalian kitab Kiu Im Cin Keng dari gurunya. ia terjeblos dan roboh terguling-guling. untuk mana ia nyelusup masuk ke kamar gurunya itu. ia bersembunyi di pinggiran. Itulah siksaan hebat. Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong ini asalnya adalah saudara satu perguruan. Tapi kakiknya terserimpat. di tanah rata kereta rubuh ringsak‖. Maka itu pada suatu malam gelap buta. Mereka insyaf. Tetapi ia bertubuh kuat. sekalian buron. kepandaiannya itu ia ciptakan dan yakinkan di pulau Tho Hoa To itu.‖ sahut Hian Hong lemah. kecuali pusarnya itu. tulang-tulangnya lantas meretak berulang-ulang. suaminya itu telah membuyarkan tenaga dalamnya. pemilik dari pulau Tho Hoa To di Tang Hay. Diwaktu bertempur ia selalu melindungi perutnya. disaat hendak menghembuskan napas terakhir. Orang itu bertubuh kecil. kabur ke pulau Heng To di sebelah selatan. Sejak ia berhasil menyempurnakan ilmu kepandaiannya. manusia cebol terokmok!‖ berseru Hian Hong. berurat tembaga bertulang besi. Tapi ia telah bersumpah tidak akan meninggalkan Thoa Hoa To. ia tak dapat mengawasi suaminya itu tersiksa begitu rupa. ilmu silatnya cukup untuk membela diri tetapi tak dapat digunai untuk menjagoi. Ia melatih diri dengan sempurnya. Setelah menikam dan terlepas dari cekukan. ―Lekas kau lari…!‖ Kwee Ceng dengar pembicaraan itu. ia hajar batok kepala suaminya. Ia takut bukan main. tetapi sekarang selagi mencekuk satu bocah. ia murka bukan main. Kapan Oey Yok Su ketahui perbuatannya kedua murid itu. ialah kelemahannya. sedikit orang yang ketahui kelihayannya. mereka adalah muridmuridnya Tocu Oey Yok Su.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sekarang hendak aku mengambil nyawa anjingmu. Segera ia tiba di samping suaminya. ia menjadi tidak mempan barang tajam. orang itu ialah Kwee Ceng! Segera ia menunduk. suaranya terputus-putus. Ini dia yang dibilang ―Orang yang pandai berenang mati kelelap. ia lupa. guna hampirkan si cebol. ―Celaka. yang menolongi kakanya itu. mereka bakal dihukum mati dengan disiksa. lain-lain muridnya Irawan D Soedradjat Page 110 . dari mana mereka menyingkir lebih jauh ke Lengpo di propinsi Ciatkang. Tak pernah ia lupai kebiasaannya membawa-bawa ―bangsat‖. maka juga ia kalah terkenal dari kaum Coan Cin Kauw yang kenamaan di Kwantong dan Kwansee dan Toan Sie yang kesohor di Selatan (Thian Lam). seperti ada tangan yang menyambar merangkul. Tiauw Hong tahu. Maka juga. ia tidak terluka. mereka naik sebuah perahu kecil. Satu kali ia kena injak tempat kosong. ―Rahasianya…di dadaku…‖ Ia tak dapat bernapas terus. Ia lantas berlompat. ―Lelaki bangsat. ―Akan aku balaskan sakit hatimu!‖ ia berseru. tubuhnya terus roboh terjengkang.

Pada waktu suami istri kejam ini dikeroyok orang-orang gagah dari pelbagai partai persilatan di utara Sungai Besar. Ketika ini digunai Siauw Eng akan menikam dengan pedangnya dan Kim Hoat dengan dacinnya. Ketika istrinya desak. Kim Hoat bertiga terpaksa lompat mundur. lukanya berbahaya. disaat dia hendak menutup mata. Terdesak juga Tiauw Hong diserang hebat dari belakang. Dibantu oleh Siauw Eng dan Po Kie. kau bisa celaka. Adalah Thio A Seng. ia berpikir keras. Saking hebatnya. tetapi segera ia menjerit heran. Justru di bagian atas adalah pelajaran pokok dasarnya. Adalah berbahaya menyakinkan bagian bawah tanpa bagian atas. Kwee Ceng mulai muncul dari belakang batu dimana ia tadi bersembunyi. sudah lantas maju menyerang. Hebat pengepungan ini. ia tidak ambil peduli. luka mereka tidak parah. mereka sendiri saban-saban menghadapi ancaman. walaupun mereka terhajar Tong Sie. sebagian bawah. Repot juga Tiauw Hong.Pendekar Pemanah Rajawali menjadi korbannya. syukur ia tidak terluka dalam. Malah dilain saat. Bisa celaka mereka dirabu pasir dan batu itu. Tapi bukan kitabnya sendiri yang dia telah bakar. dari itu. Ia tahu ada orang serang padanya. membarengi berkelebatnya kilat. Ketiga Manusia Aneh ini menjadi cemas. Sekonyong-konyong datang angin besar. mereka telah minta bnayak korban. ia tidak sempat mewujudkan niatnya itu. hingga mereka kabur untuk sembunyikan diri. hingga mereka bisa melihat musuh. aku mesti memilih dengan teliti. Sebaliknya. biar bagaimana Tiauw Hong memohonnya. pasir dan batu pada beterbangan. lalu ia usir mereka dari pulaunya. membuat langit menjadi gelap-gulita pula. kepada gerak-gerik angin. atau kalau kau termaha. Hujan pun turut berhenti perlahan-lahan. lenyap juga mayatnya Tan Hian Hong.‖ Tiauw Hong percaya pada suaminya. Di dalam hatinya. Cu Cong. Ia sekarang hanya mengandal pada kejelian kupingnya. Po Kie berkata: ―Celaka betul! Bertiga kita lawan satu wanita buta. baru ia turunkan kepandaian itu kepadanya istrinya. runtuhlah nama nama Kanglam Cit Koay…‖ Maka itu. ia menjadi penasaran. ia tidak hendak beri lihat kitab Kiu Im Cin Keng itu. Belum pernah ada orang yang sanggup robohkan mereka. Sebab Han Po kie bersama Siauw Eng dan Coan Kim Hoat. aku dapat curi cuma sebagian. bukan saja mereka tidak dapat mendesak. walaupun pada istrinya. hingga mereka menjadi manusia-manusia bercacad seumur hidupnya. si putri malam pun mulai mengintai pula dan muncul lagi. adalah setelah ia sendiri berhasil mempelajarinya. hanya singkatannya atau rahasia pokoknya. Mereka sembunyikan diri sampai belasan tahun. Kau tahu. yang tercengkeram Kiu Im Pek-kut Jiauw. ai melawan dengan mainkan tipu-tipu Kim-na-hoat. tidak ada kabar ceritanya. apapula makin lama mereka jadi makin telangas. jiwanya terancam. Dengan begini mereka bikin diri mereka menjadi jago. Adalah sekarangm. Sayang untuknya. membawa mega hitam dan tebal. baru ketiga kalinya. ia tidak dapatkan apa-apa. Syukur. dengan terbangnya sang mega. lam Hie Jin dan Thio A Seng. Lam Hie Jin patah lengannya. Coan Kim Hoat lantas tolongi saudara-saudaranya yang terluka itu. si Mayat Perunggu. Saking tergesa-gesa. ilmu Menyambar dan Menangkap. angin tidak mengganas terlalu lama. Kalau tidak. Aneh tabiat Hian Hong. untuk terus mendekam. Dua kali mereka mendapat kemenangan. mereka terus menyakinkan Kiu Im Cin Keng bagian ―Kiu Im Pek Kut Jiauw‖ atau ―Cengkeraman Tulang Putih‖ dan ―Cui Sim Ciang‖ atau ― Tangan Peremuk Hati‖. Setelah itu mendadak ia menyerang hebat kepada bebokong lawannya. Hian Hong menjawab: ―Sebenarnya kitab ini terdiri dari dua bagian. kepandaian yang kita sudah dapati dari suhu masih belum cukup untuk pelajari bagian bawah ini. Kekalahan ini disebabkan terlalu banyak pengepungnya. Tiauw Hong lantas raba dada suaminya. Semua muridnya itu ia putuskan urat-uratnya. ia tidak memaksa lebih jauh. Han Po Kie yang paling dulu lompat bangun. Maka itu. Ia membikin enam saudaranya Irawan D Soedradjat Page 111 . Hian Hong suka serahkan kitabnya itu pada istrinya. Hian Hong dan Tiauw Hong menyembunyikan diri untuk menyakinkan Kiu Im Cin Keng itu. maka ia hendak memeriksa. Tidak tahunya. Semua orang basah kuyup pakaiannya. mereka kena dilukakan. Ia ambil kedudukan di belakang musuhnya itu. Adalah keinginannya ilmu ini agar musuh berkelahi rapat. kita tidak berhasil. Ia heran hingga ia diam menjublak. Syukur Tin Ok dan Cu Cong telah lihay ilmu dalamnya. Medan pertempuran ada di atas gunung Heng San. untuk mencari terlebih jauh. Bwee Tiauw Hong lenyap. empat saudaranya itu. Masih rebah tengkurap adalah Kwa Tin Ok. biar aku yakinkan sendiri dulu. yang kedua matanya sudah buta. Tentu saja. hingga orang percaya mereka sudah mati karena luka-lukanya.

A Seng tertawa.‖ katanya. jangan menangis.‖ kata Cu Cong pula. Mereka mencari denagn sia-sia. Merek aitu pada melinangkan air mata. lebih-lebih Han Siauw Eng. ―Cukup…‖ katanya. karena sangat eratnya pergaulan mereka. sayang aku tidak dapat memberi pelajaran kepadmu…. Sebenarnya sia-sia saja kau berguru padaku. kau lihat contohnya gurumu ini…. Aku sangat bodoh. Masih dapat ia mengatakan demikian. ―Kau justru perlakukan aku baik. selanjutnya kau mesti dengar perkataan kami. Irawan D Soedradjat Page 112 . perlahan sekali.‖ kata Cu Cong. cuaca sudah menjadi terang.‖ Siauw Eng menjawab. Thio A Seng adalah Siauw Mie To. ―Aku telah jadi orangnya keluarga Thio.‖ kata pula si nona. aku pun malas kecuali tenagaku yang besar…. Itu waktu. untuk bersujud sambil mengangguk berulangkali. tapi masih meneruskan kata-katanya: ―Bakatmu tidak bagus. begitupun dengan yang lainnya. mari kau hunjuk hormatmu padanya. Bocah itu menyahuti. perlu kau belajar rajin dan ulet. di tanah berpasir mesti ada tapak kaki tetapi ini tidak. si Buddha Tertawa. mereka menggali liang. Thio A Seng tersenyum meringis. ―Citmoay. Entah kemana perginya Tiauw Hong beserta mayat suaminya itu. jaga supaya ia jangan kalah dengan itu…imam…‖ ―Jangan khawatir. kau tentu hendak berguru pada kami?‖ Cu Cong tanya Kwee Ceng. seumurku. aku tidak nanti menikah dengan lain orang…. Sebagai nisan. untuk menjadi istrimu! Kau setuju. inilah aku ketahui. mereka tetap manusia biasa. mereka mendirikan satu batu besar. aku baik-baik aja…‖ ia menghibur. hampir ia tak sadarkan diri. ―Kau datang kemari.. biasanya aku perlakukan kau tidak manis…‖ katanya. ―Anak yang baik. ia menarik napas. Habis hujan lebat. tidak nanti kita kalah…!‖ A Seng tertawa. ―Kami tujuh saudara adalah gurumu semua. untuk mengubur jenazah saudaranya itu ditempat itu. Ia menahan sakit.. bukan?‖ kata nona Han itu tanpa malu-malu. si Mayat Besi. kesedihan mereka bukan main. Tin Ok terharu sekali. jikalau kau alpa dan malas. Si nona masih dengar: ―Ajarilah ini anak dengan baik-baik. maka Siauw Eng pasang kupingnya. yang tahu kakak angkatnya yang kelima ini ada menaruh cinta kepadanya. Siauw Eng menangis. Ia lantas peluki A Seng dengan ia menangis tersedu sedan. kau pergilah dengan tenang…Kita Kanglam Cit Koay. ―Ini gurumu yang kelima bakal pulang ke langit. untuk mengusap-usap rambut adik angkatnya itu. aku akan selalu bersama kamu…‖ A Seng masih dengar suara tu. Kwee Ceng sudah mengerti banyak. maka itu. ―Ngoko. sedang ia pun ada menaruh hati. tidak nanti aku antarkan jiwa disini…. ia jatuhkan diri di depan tubuh A Seng. Ia ulur tangannya.‖ Meski masih kecil. Coba dulu aku rajin belajar. hingga dua kali. terus ia berjengit. legakan hatimu. ―Jangan menangis. Walaupun semuanya bertabiat aneh. ―Ngoko. walaupun lagi menghadapi bahaya maut.Pendekar Pemanah Rajawali sangat berduka. ia tersenyum pula. maka Coan Kim Hoat dan Han PO Kie lantas turun gunung untuk cari mayatnya si MayatPerunggu serta Bwee Tiauw Hong. tapi lukanya sangat mendatangkan rasa sakit. baik sekali. ia masih dapat tersenyum. mereka juga saling menyinta. akan aku menikah denganmu.‖ Masih A Seng hendak berkata pula. Kwee Ceng mengangguk. habis itu berhentilah ia bernapas…. di mulutnya kakak angkatnya itu. tenaganya sudah habis.‖ Tiba-tiba kedua matanya berbalik. ynag telah hampirkan mereka. Enam saudara itu memangis menggerung-gerung. Dengan masih menangis. ―Legakan hatimu.kalau nanti aku mati. ―Ya!‖ ―Kalau begitu.

‖ ia kata kepada Siauw Eng. Di sana tertampak serombongan orang serta dua ekor macam tutul menoker-noker pada tanah. seluruhnya berlumuran darah.‖ kata Cu Cng sekembalinya kedua saudara itu. maka habis mengucurkan airmata di depan kuburan A Seng. ―Akan aku laporkan kepada Khan besar!‖ Tusaga hendak mencegah tapi sudah kasep. ―Tak takutkah kau?‖ ―Aku takut…‖ sahut murid ini. Tidak ayal lagi. yang agaknya kaget. ―Suhu. Kalau tidak. Segera ia dapat tahu perbuatannya itu macan tutul. yang terluka dari leher sampai di perutnya. yang menjadi tukang pelihara macan tutul itu. tidak nanti wanita itu kabur jauh. Ia menitahkan orangnya. Kwee ceng terkejut. Tusaga ayun cambuknya. Dua ekor macan tutul itu telah dapat mengorek satu mayat. apa nanti paman Temuchin bisa bikin!‖ ―Jikalau kau pergi. yang terus terdengar berulang-ulang. maka itu kuda berlompat ke depan. Itulah sebabnya kenapa kuda si kate tidak berani maju terus. dia hendak suruh macan itu makan kakak angkatku.‖ Pikiran ini disetujui. . Po Kie keprak kudanya. mereka pun turun dari gunung. Ia lantas ajak pemelihara macan tutul itu untuk berlalu. hendak aku menyuruh kakak angkatku lari. ―Di mana dia?‖ Tusaga perlihatkan roman tembereng dan puas. kau sembunyi di sini! Kenapa kau tidak berani membantui Tuli bertarung? Makhluk tidak punya guna!‖ Bocah itu ialah Tusaga. dialah putranya Khan besar Temuchin!‖ berkata itu tukang rawat macan tutul. Irawan D Soedradjat Page 113 Kwee ceng jeri kepada macan tutul tetapi ia ingat keselamatannya Tuli.‖ kata itu guru. kau pun bakal digegaren macanku!‖ ia mengancam tetapi ia tak berani dekati musuhnya. ―Kenapa tadi ia serang aku! Lekas!‖ Dengan terpaksa. tukang rawat macan tutul itu turut perintah. kau sendiri bakalan digegares macan itu. setahu bagaimana jadinya dengan mereka. ―Sekarang mari kita antar anak ini dan kita pun merawat diri. shatee. ―Tarik macan itu!‖ kata satu anak kecil yang menunggang kuda. Mereka menjadi heran sekali. Tempo ia lihat Kwee Ceng. kemudian kau. ia maju ke arah mereka. Diam-diam mereka bergedik menyaksikan itu musuh tangguh. seperti ada dagingnya yang orang telah potong. ―Tuan muda. lioktee dan citmoay. yang berada di antara rombongan orang tadi. tentulah Kwee Ceng telah dihajarnya. ―Eh. Heran Po Kie. ―Macan tutulku telah gegares Tuli!‖ sahut Tusaga berteriak. kamu mengepung pula Tuli?‖ tanya Kwee Ceng. ia memasang mata ke depan. kenapa mayatnya ada di sini? Siapakah orang-orang itu? Apakah maksudnya maka itu mayat diganggu?‖ Itu waktu Coan Kim Hoat semua telah datang menyusul. Mereka jalan belum jauh tempo mereka dengar menderunya binatang liar. binatang itu berhenti dengan tibatiba. ―Kau lekas menyerah! Kalau tidak. Coba tidak ada Kwee Ceng. malah jago Kanglam ini kenali itu mayatnya Tan Hian Hong. Po Kie menjadi heran. Po Kie lompat turun dari kudanya. coba kau pergi mencari pula. maka mereka pun saksikan myatnya Hian Hong itu. jerih ia menampak Kanglam Cit Koay. tak mau ia maju walaupun dipaksa majikannya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Di tempat begini. ―Aku tuntun macan tutulku menyuruhnya geharesi dia!‖ sahutnya. ―Takut apa!‖ teriaknya. Dengan mendongkol ia berkata: ―Biarlah! Mari kita hajar Tuli dulu! Hendak aku lihat. Satu tukang rawat macan tutul yang lainnya ketakutan. ia berkata. Ia berpikir: ―Dia mati di atas gunung. dia membentak: ―Hai. maksudnya memberitahu. ―Mana Tuli?!‖ ia tanya. dengan cekal Kim-kiong-pian. putranya Sangum. menhajar kepalanya orang itu. Lari serintasan. Kedua macan tutul itu sudah mulai gerogoti mayatnya Hian Hong.

saking murkanya. tapi ia lagi dikurung. Tapi ia tidak peduli suatu apa. dan inilah untungnya negaraku. ia seperti lagi menunggang kuda. tetapi mereka tidak mau menerbitkan onar. yang pun lantas berlalu dengan cepat. ―Mari kita bantu dia!‖ Coan Kim Hoat lantas memesan: ―Bocah galak itu memelihara macan tutul. Irawan D Soedradjat Page Wang Khan semua iringi kedua saudara Wanyen itu. mereka lantas datang menyusul. ―Tuli! Tuli! Lekas lari. sebentar kemudian tibalah di satu tempat. ia pun sangat berani. tiga dari kita terluka…‖ Po Kie manggut. di depan mereka tertampak beberapa serdadu Kim tengah berkelahi sama pengiring Khan ini yang tadi diberikan titah. kedua mereka bakal jadi bentrok. Tuli yang sedang kegirangan tidak menyangka musuhnya itu bakalan minta bantuan binatang liar. hendak ia lari. sekarang ia dengar berita ini.‖ kata Siauw Eng. setelah menyandak. ia bikin musuh-musuhnya rubuh satu demi satu. Mereka jalan baharu satu lie lebih. yang dengan laporannya si tukang pelihara macan tutul. Dia orang ini turut perintahnya Tusaga. ingat. tanpa perkenanan dari Temuchin lagi. yang larinya sangat pesat. dan Sangum tengah menemani dua saudara Wanyen di tenda mereka. Itu wkatu Temuchin bersama Wang Khan. dimana tampak Tuli sedang dikurung oleh belasan orang. Tusaga penasaran. ia mungkin putranya satu pangeran atau raja muda. Ia berkata kepada saudarasaudaranya: ―Bocah ini bebal tetapi dialah orang segolongan dengan kita!‖ ―Matamutajam. sebab dua kali ia rubuh mencium tanah dan hidungnya kena diberi bogem mentah dua kali juga. sekalian mereka ingin saksikan sepak terjangnya Tuli dan Kwee Ceng. ia ulur tangannya. ia gunai jurus ajarannya Cu Cong. Ia tentu tidak tahu. tidak lantas dikeroyok. ia masgul. ia kagumi bocah itu. ―Mari kita lihat!― katanya. pertempuran sudah lantas dimulai. Sebenarnya Tuli rajin melatih diri menuruti ajarannya Cu Cong. kegembiraannya terbangun secara tiba-tiba. ia menyahuti: ―Aku mau pergi!‖ Benar-benar ia lantas lari. kakaknya. semua lantas lari keluar tenda untuk naiki kuda mereka. Wanyen Yung Chi kecewa gagal menyaksikan orang diadu dengan binatang. ―Tusaga bawa-bawa macan tutul!‖ Tuli kaget. tanpa minta bantuan Ogotai. Kanglam Cit Koay dapat lantas mencegah Tusaga apabila mereka kehendaki itu. Itu waktu ada beberapa kuda dilarikan keras ke arah mereka. kita harus berhati-hati. ketika besoknya pagi ia tidak dapat cari Kwee Ceng. . Tusaga datang dalam jumlah belasan. mereka terkejut mendengar laporan si tukang pelihara macan. heran dia melihat Tuli sendirian. ia lantas lari pulang untuk menagmbil macan tutul ayahnya. ia lantas saja lari menyusul Kwee Ceng. Sebabnya 114 Wanyen Lieh pun gembira tetapi ia tidak perlihatkan itu pada wajahnya. Sementara itu Han Po Kie dapat candak Tusaga dan melombainya. Cu Cong rebah di bebokongnya unta karena lukanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jadi kau batal pergi?‖ tanya gurunya lagi. ilmu silat tangan kosong. Kita tak boleh terbitkan onar. akan cekuk bocah itu. seorang diri ia pergi memenuhi janji kepada Tusaga untuk bertempur. untuk terus dipanggul! Tetap tubuh Kwee Ceng di atas pundak orang. jieko. Wang Khan mendahului perintah satu pengiringnya: ―Lekas sampaikan titahku. Jamukha. negara Kim yang besar!‖ Ia terus kisiki pengiringnya. Kwee Ceng bersangsi sebentar. jurusnya itu adalah jurus pojok dari ―Khong Khong Kun‖. Ia pikir: ―Jikalau anaknya Sangum membinasakan anaknya Temuchin. ―Jangan lepaskan macan tutul! Jangan lepaskan macan tutul!‖ Segera terlihat ternyata mereka itu adalah Mukhali berempat. cegah cucuku main gila!― Pengiring itu segera kabur dengan kudanya. salah satu penunggangnya berteriak-teriak. dari ini putranya Temuchin Cuma dikurung. lekas!‖ Kwee Ceng berteriak-teriak sebelum ia datang mendekat. Hebat Tuli itu.

Keempat pahlawannya lempar panah mereka dan menghunus golok untuk maju menyerang. untuk menjatuhkan diri. Mereka ini bilang: ―Kami tengah berdiam disini. Ia sangat khawatir melihat putranya terancam macan tutul itu. . Ia menjadi heran. keempat kakinya tengah menoker-noker dan mulutnya meraung-raung tidak hentinya. berniat mengusap-usap kepalanya seekor macan tutul. tidak ada seorang jua yang ketahui siapa si penyerang gelap itu. Gochin Baki. tiba diantara mereka. menyusul mana kedua macan itu rubuh berbareng. Anak itu menangis karena kagetnya. pria dan wanita. Kwee Ceng berlompat. Dua saudara Wanyen itu lantas memerintah serdadu-serdadunya berhenti berkelahi. maka ia dihiburi ibunya. melihat orang datang dekat. Semua orang kaget. yang pun terus tarik Tuli. ―Berangkat!‖ mereka menitah. tampak enam orang Han. Nyonya Temuchin tengah pasang omong dengan istrinya Sangum di tenda mereka. yang ditangkap sedari masih kecil dan dipelihara dan dididik dengan banyak sukar hingga jadi b esar dan dapat mengerti. ia jadi semakin temberang. sedang si petugas tidak berani abaikan kewajibannya. Temuchin dan keempat pahlawannya segera siapkan panah mereka. karena ia jadi waspada. Irawan D Soedradjat Page Semua orang berdiam. disaat ia hendak mencegah. Di antara empat pahlawan. Boroul sendiri tutup mulut. Terang itu adalah kerjaan orang yang lihay. Jamukha lihat itu semua. ia tubruk Gochin. dia terjang kami!‖ Pengiringnya Wang Khan itu mendongkol dan tidak mau mengerti. Tusaga lihat datangnya banyak orang dan kakek beserta ayahnya juga berada bersama. binatang adalah binatang kesayangan Sangum. dari itu asal putranya tidakterancam tidak mau ia memanah macan itu. Ia baharu berusia empat tahun. lalu terdengar suara kuda berlarilari mendatangi di arah belakang mereka. kuku macan telah mampir dipundaknya. apapula ia dapatkan. berulang-ulang ia anjuri macannya lekas menyerang. Sebentar saja kuda itu. khawatir kena putrinya. yang ia peluk.Pendekar Pemanah Rajawali adalah serdadu-serdadu Kim itu menghalang-halangi orang menjalankan tugas. Wang Khan murka melihat kelakuan cucunya itu. maka ia lantas menyusul. kupingnya mendengar beberapa kali suara angin menyambar. Gochin sebaliknya segera hampirkan kakaknya. ia menduga peristiwa itu terjadi karena bisanya dua Wanyen ini. tempo ia dengar perkara putranya. ialah yang maju di muka sekali. ia khawatirkan keselamatan putranya itu. Kapan ia berpaling ke arah darimana suara angin itu datang menyambar. ia tertawa haha-hihi. orang ini tidak ada matanya. Boroul yang bertubuh kate dan kecil adalah yang paling gesit. diarahkan kepada dua binatang liar itu. Di depan mereka berdiri dua bocah ialah Tuli dan Kwee Ceng. ―Siapa yang membunuh macanku?!‖ ia tanya dengan bengis. Tidak lama tibalah mereka di depan rombongannya Tusaga beramai. segera ia berlompat menubruk. romannya cantik dan manis. Dua ekor macan tutul sudah lepas dari ikatan pada lehernya. Anak perempuan yang ia bawabawa itu adalah putrinya. adalah istrinya Temuchin atau ibunya Tuli. Ia pun tidak karu-karuan dipegat dan dikeroyok. 115 Sangum sangat murka. tetapi justru ia maju. Ia lantas lomat turun dari kudanya. yang ia ambil dari rangkulannya Kwee ceng. Ia kata dengan sengit: ―Aku toh ada di sebelah depan kamu dan kamu di belakang aku…!‖ Dua saudara Wanyen itu tidak inginkan mereka adu mulut. untuk dirangkul dengan tangannya yang lain. ia belum tahu bahaya. sedang Temuchin tidak berani melepaskan anak panahnya. Temuchin ketahui baik. seekor kuda merah. meski demikian. Dalam saat mengancam itu. lagi mengawasi dengan sikapnya yang tenang sekali. Ia lantas menduga kepada mereka itu. kedua binatang itu berlubang masing-masing di kedua pelipisnya. Yulun Eke lantas saja peluki putrinya. Walaupun kejadian berlaku di depan mata mereka. rubuh celentang lalu tidak berkutik lagi. Penunggangnya seorang wanita usia pertengahan yang memakai mantel kulit indah dan mengempo satu anak perempuan yang elok romannya. yang darimana darah mengucur keluar. Macan itu lagi bersiap-siap. Kemudian ia ulurkan tangannya. ―Lepas panah!‖ Yulun Eke segera memerintah.

‖ .Pendekar Pemanah Rajawali ―Sudahlah saudara Sangum!‖ berkata Temuchin sambil tertawa. ia tutur kepada ayahnya sebabnya ia berkelahi sama Tusaga. Ia lantas menyahuti: ―Khan yang besar sudi terima kami. ―Nanti aku gantikan kau empat macan tutul yang paling jempolan ditambah sama delapan pasang burung elang. aku berniat menjodohkan dia dengan anakku. mereka berdiri jauh-jauh. Tuli tunggu sampai Wang Khan semuanya sudah berlalu. untuk dikasih bangun dengan dipeluk. ―Baik kamu berdiam di sini mengajari ilmu silat kepada putraku. tak senang ia berbesan dengannya. mana kami berani minta gaji besar? Terserah kepada Khan sendiri berapa sudi membayarnya. ia suruh Boroul memberi hadiah bulu dan emas. Aku lihat anak ini berbakat baik.‖ Sangum masih mendongkol. Diam-diam Jamukha kisiki Temuchin apa yang tadi terjadi di tengah jalan antara pengiringnya Wang Khan dan serdadu-serdadu Kim. untuk merundingkan urusan mereka. Kau akurkah?‖ Dengan girang. ―Memang selama ia belum disingkirkan. ia kata: ―Kamu hendak bikin kita bercedera. Panas hatinya Temuchin. Irawan D Soedradjat Page 116 ―Itulah aneh. entah itu perbuatan kawan atau lawan…‖ kata Han Po Kie. Ia menginsyafi peranan kedua saudara Wanyen itu.‖ Temuchin girang. ia penasaran. Wang Khan gusar. ―Saudara. yang ia usap-usap kepalanya. ia sangat bangga untuk keturunannya.‖ bilan Tin Ok. Berapa kamu menghendaki gaji kamu?‖ Coan Kim Hoat senang dengan tawaran itu. ia puji untuk keberaniannya. Temuchin kata sama Sangum. setelah dewasa. ia lihat. Mereka memang lagi pikirkan tenpat untuk bisa mendidik Kwee Ceng. terus ia kata pada Coan Kim Hoat. tak usah ditarik panjang. putramu yang sulung. Mereka tidak lihat Wanyen Lieh. Ia terperanjat dan heran sekali. ia tidak pedulikan walaupun kakeknya menitahkan ia berhenti menangis. Di dalam hatinya. ia mendamprat Tusaga. ia membungkam. Tin Ok beramai tidak mau menarik perhatian orang. Gochin sudah cantik. Gagallah tipu dayanya. Anak itu mencoba meronta tetapi tidak berhasil. kita justru hendak berserikat untuk menghadapi kamu!‖ Maka ia hampiri Tusaga. ia lihat rombongannya Kwa Tin Ok. kita selalu terancam bahaya. itu pun sudah bagus. Ia tertawa dan menyahuti: ―Mustahil aku tidak setuju? Marilah kita tambah erat persaudaraan kita. itulah kebetulan bagi pangeran ini yang lantas ngeloyor pergi duluan. bagaimana pikirmu?‖ Wang Khan girang. ―Sakit hatinya ngoko memang mesti dibalas!‖ kata Siauw Eng. ―Mayatnya Tan Hian Hong dipotong dada dan perutnya. Temuchin berpikir sebentar. aku tak dapat menerkanya.‖ menyatakan Cu Cong. Wanyen Lieh menjadi sangat tidak puas. Kanglam Liok Koay jalan perlahan-lahan. ia pun bicara hal Kanglam Cit Koay ( yang sekarang menjadi Kanglam Liok Koay sebab jumlah mereka telah berkurang satu). Cucu ini didamprat di depan orang banyak. keluarlah alemannya. Selagi ia berpaling. dan Cu Cong rebah di atas unta. Sambil tertawa. Cucuku yang perempuan hendak aku jodohkan dengan Juji. habis itu ia larikan kudanya. ―Eh. terpaksa ia menyambut dengan sambil tertawa. kenapa ini beberapa Manusia Aneh berada disini?‖ katanya dalam hatinya. terhadap Temuchin ia berdengki dan memandang enteng. Temuchin lantas dapat tahu enam itu ialah yang tolongi putranya. ia terus menangis sambil bergulingan di tanah. akan tetapi disitu ada putusannya ayahnya. ia suruh Boroul layani enam orang itu. untuk diberi tempat. mesti dia jadi elok sekali. guna mengadakan perjamuan perpisahan untuk mereka itu. Temuchin hampiri Wang Khan dan kata: ―Ayah inilah permainan anak-anak. tak senang ia berbesan. untuk susul kedua saudara Wanyen. meskipun masih kecil. sedang Kwee Ceng. ―Yang paling perlu ialah mencari tahu dimana beradanya Tiat Sie. sekarang kita menjadi besan!‖ Sangum itu angkuh.

Ia bersiap sedia menyambut Tiauw Hong. hanya ketika ia geraki tangannya itu. Kali ini. Bab 11. dari itu. dia tidak sampai memalukan nam akita Kanglam Cit Koay!‖ Sepuluh tahun enam saudara itu tinggal di utara. ―Wanita itu rusak matanya terkena tok-leng toako. apa mau ia kena injak sebuah batu kecil. Sekarang Kwee Ceng telah menjadi satu anak tanggung berumur enam belas tahun.Pendekar Pemanah Rajawali Karena ini kemudian Po Kie bersama Siauw Eng dan Kim Hota lantas pergi mencari. ia baharu merasa hatinya tentram kalau sudah dengan tangannya sendiri ia bisa raba mayatnya Tiat Sie si Mayat Besi itu. malah ia segera dapatkan maknanya itu. hawa udara masih dingin. ia tampak kemajuan Kwee Ceng. sepuluh tahun sudah lewat. ilmu tongkatnya. Cu Cong jadi seperti melamun. ia tetpa menarik hati. dulu ia pun ulet seprti bocah ini. Kemana perginya wanita seperti siluman itu? Dalam sepuluh tahun itu. kepandaiannya Liok Koay juga turut bertambah. maka mungkin ia mampus di dalam selat!‖ kata Po Kie kemudian sepulangnya mereka. yang pun melihatnya. masih ada sisa keelokannya. Memanah Burung Rajawali Angin mulai reda. walaupun demikian untuk daerah di gurun pasir utara. mestinya racunnya senjata itu bekerja. Lam Hie Jin paling menyanyangi Kwee Ceng. malah diteruskan hingga beberapa hari. Dalam iklim demikian. tapi Siauw Eng. Untuk itu ia dapatlah disebut. main panah dan ilmu tombak. Di situ ada tulang-tulang yang berserakan. lalu pai-kui. mayatnya juga tidak kedapat. Kwee Ceng juga diajak bersama. Mereka mencari bukan hanya disekitar tempat itu. mereka tidak peroleh hasil. untuk sembahyangi saudara yang sudah beristirahat untuk selamanya di alam baka itu. mereka pasang hio. Kwee Ceng bebal. adu kepandaian. Lagi dua tahun akan tiba saatnya janji pibu itu. belasan tahu kami didik anak ini. si bebal tapi rajin. rombongan ini mesti melarikan kuda mereka setengah harian. walaupun ia tidak secantik dulu. orangnya tidak ketemu. dengan tangan kanan ia sampok pundak muridnya itu. Ia ingat. Habis pai-kui. maka itu aku mohon bantuan kau. salju yang turun secara besar-besaran baru berhenti. Kanglam Liok Koay membawa barang-barang sembahyangan ke kuburannya thio A Seng. biarlah tahun lusa. Kwee Ceng berbangkit. tapi ajarannya Han Po Kie dan Lam Hie Jin tentang pokok dasar silat. ―Tongkat Menakluk Iblis‖. maka itu untuk pergi ke kuburan. ia mengerti dengan cepat. tapi Tin Ok tetap berkhawatir. dia tak jadi jatuh. Dugaan ini masuk di akal. akan ajari ilmu silat kepada Kwee Ceng dan Tuli yang juga diajari ilmu perang. baru mereka tiba. ia dapat imbangi tubuhnya. Mereka itu atur barang sembahyangan. dalam pertandingan di Kee-hin. kemajuannya sedikit. Ia ingat pada Bwee Tiauw Hong. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng terkejut tapi ia dapat menangkis. senjata rahasia dan entengi tubuh. Sang tempo berjalan dengan pesat. dia tidak dapat teriam semua pengajaran kita. Cu Cong bersama Coan Kim Hoat dan Han Siauw Eng mengajarakan ilmu kegesitan. Tentang perasaannya ini ia tidak utarakan. Hanya kalau malam. Sejak itu Kanglam Liok Koay menetap di gurun pasir. dan siang dan malam terus ia belajar silat tangan kosong dan pedang. Maka Kanglam Liok Koay perhebat pengajarannya. di sebelah itu ada sifatnya yang baik. Kalau tidak mati. ia terpeleset. pisau tumpul kalau digosok terus bisa menjadi tajam. Ia tahu ia mesti membalas sakit hati ayahnya. yang mebuat ia girang. Dan Jebe bersama boroul turut memberi petunujk juga. sayang di bebal. hingga untuk sementara muridnya dilarang belajar naik kuda dan memanah. Sebab diwaktu siang mereka diajari menunggang kuda. Tempat kediaman bangsa Mongol tidak berketentuan. untuk lindungi padanya. Ia menginsyafi lihaynya Bwee Tiauw ong. ia khawatir saudara-saudaranya bersusah hati. Ia tersenyum kepada Kim Hoat. . lekas ia kasih turun pula! 117 ―Mari!‖ katanya seraya ia lompat dengan tangan kiri melindungi diri. untuk itu ilmu silat penting. ia belajar dengan rajin sekali. Kwee Ceng dipanggil belajar sendirian untuk diajari ilmu pedang. ia utamakan ―Hok Mo Thung-hoat‖. tapi cepat sekali. rambu dan kumis jenggot mereka sudah mulai berwarna abu-abu. pada harian Ceng Beng. Umpamnya Tin Ok. Malah Siauw Eng berkata dalam hatinya: ―Ngo-ko. si Mayat Besi mestinya tak bisa bersembunyi terus-menerus. yang sia-sia saja dicari.

ia sembunyi di antara pepohonan lebat. guru yang keempat ini sudah menyusul dan tangan kanannya kembali menjambak pundak. Sering Kwee Ceng digoda. setelah itu. ―Kenapa manda diserang selalu?‖ Anjuran ini diturut. Mukanya Kwee Ceng menjadi merah. Ia sangat disayangi ayah ibunya. Nona itu tertawa. dengan satu enjotan tubuh. Cu Cong dan Kim Hoat terperanjat. si nona polos dan jenaka. ―Aku datang sendirian. Baru sekarang Kwee Ceng mengerti. dengan mendak. Senang Cu Cong semua menyaksikan eratnya hubungan anak-anak ini. ia pergi dulu dengan menunggang kuda. untuk bergurau?‖ Irawan D Soedradjat Page 118 ―Mana orang yang ikut padamu?‖ kemudian tiba-tiba Tin Ok tanya si putri. apakah kau kena dihajar suhu?‖ ia tanya. sampai mereka bentrok. Orang yang tertawa itu tidak lari. Sekarang ia meninju ke dada.― ―Bukannkah kakakmu pun datang. Ia pun dapat menempur dengan seru. ―Apakah kau tidak senang aku datang?‖ tanya si nona dengan tertawa. yang ingat budi Kwee Ceng telah menolongi putrinya. kali ini si murid melompat mundur. main bersamasama. . tapi tak lama mereka akur pula. cuma mukanya yang merah. Masih ia tersenyum. tak jadi ia pergi. ―Siapa suruh kau datang ke mari?‖ ia menegur. ―Kita pulang bersama sebentar. meskipun disana ada enam orang lainnya. Ia gunai ajaran Lo Han Kun. untuk tukar itu dengan sambaran tangan kiri ke pinggang. Gochin melengak. ia lompat bangun pula. mereka tersenyum. ynag datangnya dari pepohonan lebat disamping mereka. dia dan ibunya sering diantarkan pakaian dan binatang ternak. ―Siapa?!‖ mereka tanya. Hie Jin segera kasih mengerti bagian kelemahannya. baru ia muncul untuk menggodai anak muda itu. kau layani sie-suhu berlatih.‖ Gochin tertawa. ia rada manja. tapi begitu jatuh. tidak. ―Siapa?‖ ia tanya. ―Aku senang melihat kau dihajar!‖ sahutnya. Kwee Ceng luputkan dirinya. Sengaja sampai Kwee Ceng rubuh. Kwee Ceng malu. yang bersama Tuli dan pemuda she Kwee ini. Selang beberapa jurus. ilmu silat ―Tangan Arhat‖ dari guru she Han itu. ia pun bukan lain daripada Gochin Baki. kurang senang dan berbareng girang. selamanya si nona mengaku yang salah dan rela minta maaf. hingga tampak nyata ialah satu nona elok dengan muka putih potongan telur dan kedua pipinya bersemu merah. ―Engko Ceng. Mereka pun lompat untuk cegah jalanan orang buat lari turun. ―Balas menyerang. ―Kau kaih ngosuhu lihat padamu!‖ ―Sie-suhu‖ yaitu guru keempat dan ―ngo-suhu‖ guru ke lima. Demikian mereka hidup rukun seperti saudara saja. ia justru muncul dari tempatnya bersembunyi. ―Coba kau kasih lihat kebiasaanmu. ―Baiklah. Kwee Ceng dibikin terpental dan jatuh.‖ Saiuw Eng menganjurkan. sedang Kwee Ceng jujur dan rada tolol. hingga ia saksikan segalanya. putrinya Temuchin. dengan satu tolakan. Kalau Kwee Ceng likat. Hie Jin tersenyum. tapi Hie Jin lebih cepat pula. tidak!‖ kata Kwee Ceng lekas. usianya tak berjauhan serta biasa mereka bergaul. tiba-tiba terdengar dua kali suara tertawa. ―Oh. Selagi guru itu berbicara. sedang serangannya Hie Jin pun dibatalkan ditengah jalan. anak tolo!‖ Po Kie berseru.Pendekar Pemanah Rajawali Menampak itu. Ia berlaku cepat. Hari itu Gochin tahu Kwee Ceng hendak pergi pai-bong (sembahyang kuburan). dia dibelakangmu. Kwee Ceng membalas. sedang ibunya Gochin. yaitu bagian Kay San Ciang-hoat. pergaualan kedua anak muda itu juga tidak dilarang. perlakukan ia dengan baik. nanti aku pulang…!‖ Ia bicara dengan merdeka. Membuka Gunung.

tetapi kita tetap orang Han. maka itu tepat kalau ia dijodohkan sama cucunya Wang Khan…‖ Irawan D Soedradjat Page 119 . ia menjadi heran. Itu waktu terdengar suara tetabuan. Dengan tongkatnya ia menunjuk ke pepohonan lebat di belakang kuburan. Ia berduka. ―Terang sekali aku dengar suaranya dua orang!‖ Tin Ok berkukuh. untuk memberi hormat. Gochin masih bersangsi sesaat. tak senang ia menikah sama Tusaga. ―Disini tidak ada orang. tengkorak hilang satu!‖ tiba-tiba Kim Hoat berseru. Kembali orang heran.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kakak tidak datang! Benar aku datang sendirian. Coan Kim Hoat pergi memeriksa. Mesti baru saja orang curi itu. ―Ada datang utusannya Wang Khan. menyusul suaranya seorang lain. yang dikepalai oleh satu pekhu-thio. itulah tanda penyambutan pada utusan Wang Khan. Dengan berlari-lari. ia tidak perhatikan. lekas susul!‖ toako ini menitah. cucu Wang Khan. Ia sendiri mendahului lari turun gunung. perlahan bicaranya. yang sombong dan galak itu. ibunya. ia lantas menjadi gusar. ia toh berat nanti akan berpisah sama ini anak muda. ia tetap membungkam. Ia kata pada Kwee Ceng: ―Anak Ceng. ―Aku tak mau pulang!‖ katanya sengit. kaget dan curiga. Wang Khan itu mengantar panjar. semuanya orang Mongolia. ―Rupanya telah datang musuh yang lihay‖. Kha Khan bakal hukum hambamu ini…‖ Gochin dijodohkan dengan Tusaga. ―Disana ada tindakan kaki kuda. pergi kau temani tuan putri pulang. semua orang hampirkan saudara she Coan itu. Ia lihat itu semua. Tadi dengar tertawanya Gochin. Kha Khan titahkan aku menyambut.‖ sahut perwira itu.‖sahut Kwee Ceng. Melihat tuan putrinya. Siauw Eng tidak turut saudara-saudaranya pergi. Pekhu-thio itu menjadi serba salah. meski tidak ada soal asmara. bertanya. Kwee Ceng tidak mengantar terus sampai di tenda Temuchin. Tidak senang si nona mendengar itu. ―Tuan putri. Tidak lama dari itu muncul beberapa puluh penunggnag kuda. Kim Hoat menjelaskan semuanya kepada Tin Ok. maka ia duudk diam saja. pemimpin satu eskadron. Ketika Lie Peng. Ia memberi hormat pula dan katanya: ‖Kalau tuan putri tidak pulang.‖ ―Liok-tee. Si nona ulur lidahnya. keningnya mengerut. ia larikan kudanya pergi menyusul saudara-saudaranya. Memang telah lenyap sebuah tengkorak. Ia lantas berpikir.‖ Tanpa tunggu jawaban. saudarasaudaranya menyusul. Temuchin ingin putrinya temui si utusan. tapi ia erat bergaul dengan Kwee Ceng. sembari lari. dia itu lompat turun dari kudanya. akhirnya ia pulang juga. Maka saudarasaudara yang lain pun pada mengejar ke arah selatan itu. Maka tak mau ia pulang. kakak tertua. ia apsang kupingnya. Ia sangka orang itu adalah kawannya si nona. Ia lantas menghibur: ―Tuan putri benar baik sama kau.‖ katanya.‖ katanya. tongkatnya menuju ke selatan. coba lihat!‖ Tin Ok minta. masih ada bekasnya di salju. ―He. ―Cegat di empat penjuru!‖ seru toako ini. Sebaliknya. ―Untuk apakah?‖ tanya si putri. Tak mau ia menentangi ayahnya. ia terus balik ke tendanya sendiri. ―Apakah aku yang salah?‖ tanya Gochin pada si anak muda. Sekarang benar tidak ada orang disitu. Baru sekarang Lie Peng dapat mendugai hal putranya ini. ―Ini bukan urusanmu. di mana ia tinggal bersama ibunya.

Sebagai Biauw Ciu Si-seng. si Mahasiswa Tangan Lihay. tangan bajunya lebar. yang usianya delapan atau sembilanbelas tahun. Dia bicara dalam bahasa Tionghoa. ―Suhu tidak ada di sini. ―Habis kau mau apa?!‖ tanya Kwee Ceng. tanpa ampun lagi. ia putar goloknya. ia menghela napas. untuk membebaskan diri. Ia bukannya meloloskan diri hanya menyerang. Meski begitu. Kwee Ceng berdiam terus sampai habis bersantap malam. Ia melatih bersama Coan Kim Hoat. Adalah kira-kira tengah malam. Dia cuma kata: ―Kalau kau berani. cuma dengan ilmu ini ia nanti sanggup layani Kiu Im Pek-kut Ciauw dari Bwee Tiauw Hong yang setiap waktu lambat atau cepat. menyusul mana sebelah tangannya menekan ke dada orang. sebab tadinya ia tidak pikirkan untuk pelajarai itu. seorang diri mana aku sanggup melawan? Bagaimana kalau musuh menerjang ke dalam tenda untuk melukai ibuku?‖ Ia ambil keputusan dengan cepat. Kalau ia 120 ―Mari kita berlatih pula!‖ kata si imam. terpaksa ia lepaskan kedua tangannya dan mencelat mundur. aku bukan pikiran itu. habis berlatih. tangan kanannya menyambar lengan orang itu. mari turut aku?!‖. yang lain hendak membikin patah lengan musuh. mengatakannya dengan perlahan: ―Tak kecewa pelajarannya. Untuk kagetnya. ia lekas serang mukanya Kwee Ceng. sampai Kwee Ceng tidak bisa lindungi goloknya. Ia pun dengar si imam atau tosu. yang semuanya sudah pulang. bajunya gerombongan. Sebat gerakan orang itu. ―Habis apa daya kita sekarang?‖ katanya. Ilmu silat ini Kwee Ceng dapatkan dari Cu Cong dan Cu Cong mengutamakan ini karena ia pikir. kakinya menendang jatuh golok orang. Kalau orang itu kena diserang. ia bisa asah otaknya menciptakan ilmu silat itu. dengan sipa sedia. Inilah jurus ―Orang-orang patah bahunya‖ salah satu dari jurus ilmu silat. Tapi ia sempat berkelit. ia mendusin dengan terperanjat. Untuk lindungi diri. ―Membagi urat memisah Tulang‖.‖ Kwee Ceng akhirnya mau juga buka mulutnya. ―Mau apa kau cari aku?‖ ―Kau toh Kwee Ceng?!‖ orang itu tegasi. ia tampak satu tengkorak tepat di jalanan di muka kemahnya. Mereka itu sia-sia belaka menyusul penunggang kuda atau pencuri tengkorak itu. tuan putri bakal bersengsara…‖ Lie Peng tahu baik hati anakanya itu. Kim Hoat lantas ajari muridnya jurus-jurus dari Tiang Kun. Di sebelah kiri di bawah pohon ia tampak seorang berdiri diam. lalu ia sinngkap tenda dengan tiba-tiba. ia tidur terus sampai pulas. Ia dengar tanda tiga kali tepuk tangan. ―Musuh datang cari musuh…‖ pikirnya. sampai di sisi anak si muda. ia memandang ke sekitarnya. tangan kirinya menyambar lengan si imam dan tangan kanannya menyambar ke batang leher. . Ia lantas bangun. Lapat-lapat Kwee Ceng dengar tetabuan. terlepas sambungan sikutnya. ia mengegos ke kiri. untuk segera dupak tengkorak itu hingga mental jauh beberapa tembok. Setelah itu. bakal cari padanya. tangan kirinya menyerang sikut. untuk lompat keluar. di antara sinar rembulan. yang tidak gubris perkataan orang. Ia lebih dulu ambil goloknya. Ia pun dapat lihat tegas lima liang pada tengkorak itu. yang masih berjaga-jaga. Ilmu ini pun baru ia ciptakan sendiri. Itu bukan dandanan orang Mongolia. ―Hanya Tusaga itu kasar dan kejam. tidak sia-sia pengajarannya Kanglam Liok Koay selama sepuluh tahun…‖ ―Kau siapa?!‖ tegur Kwee Ceng. kapan tangan imam itu sudah hampir sampai pada dadanya. muridnya pulang. setelah mana ia pergi ke tenda gurunya. untuk naik pembaringan tanpa salin pakaian lagi. ―Untuk apakah kau mencari aku?‖ Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng menanti tidak bergeming.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ibu. Ia pun terus menyerang tanpa tunda kata-katanya itu. Setelah itu Kwee Ceng lihat orang adalah satu imam muda yang mukanya bersih dan tampan. denagn menikah sama dia. Orang itu terperanjat. dan sekarang Kwee Ceng menggunai itu untuk melawan musuhnya. Maka kagetlah Kwee Ceng. mukanya tidak kelihatan. ―Siapa kau?‖ tanya Kwee Ceng. bahu kanannya mesti patah. ―Mana pisau belatimu yang tajam mempan besi? Mari kasih aku lihat!‖ Tiba-tiba ia melompat mencelat. dia masih merasa sakit terkena sambaran anginnya serangan lawan itu. ia bertindak ke tendanya akan menyingkap dengan hati-hati.

ia bebaskan diri pula. Imam itu kenali serangan berbahaya itu. Saking gesitnya. ia sampai tidak ketahui munculnya keenam gurunya itu. Keinsyafan ini. lantas saja si imam berbalik terdesak. terus disempar. Untuk kegirangannya. Kwee Ceng kurang pengalaman. Coan Kim Hoat menyulut lilin. mengapa kau robohkan anak Ceng? Bukankah kau sengaja datang untuk pertunjuki pengaruh sebelum tiba saatnya bertanding?‖ Irawan D Soedradjat Page 121 Itu waktu Cu Cong telah membuka sampul dan membaca suratny. ia angsurkan kepada enam manusia aneh itu – tegasnya kepada Cu Cong. gurunya yang ketiga yaitu Han Po Kie. maka itu Po Kie sadarkan muridnya. Cu Cong berenam bersangsi. Tosu itu tidak bersiap untuk memberikan perlawanan. teecu datang untuk memujikan suhu semua sehat-sehat!‖ Lantas ia berlutut untuk mengangguk-angguk. ia memberi hormat kepada Kanglam Liok Koay. ia tampak keenam suhunya itu telah hadir semua.Pendekar Pemanah Rajawali berhasil. maka juga. Ia lantas menggeser ke kanan untuk terus menoleh. hingga terpaksa ia main mundur. Ia kata: ―Teecu In Cie Peng.‖ kata Kwa Tin Ok. sampai ia lihat lawannya terhuyung. hingga ia menjadi terdesak. Disaat kewalahan. dengan suara keras. Kwee Ceng merangsak maju. karena Siauw Eng tidur di kemahnya seorang wanita Mongolia. Tenda itu berperabot buruk. karena ia pikir: ―Kalau kau datang dengan maksud baik. Setelah belasan jurus. yang mana dengan kedua tangannya. Melihat itu. Di situ Cu Cong tinggal berlima. yang dapat bergerak-gerak dengan pesat sekali. dia titahkan teecu datang kemari untuk menghanturkan banyak-banyak terima kasih‖. Tanpa sangsi. Karena ini. Ia hendak maju pula tetapi ke enam gurunya sudah mulai kurung si imam muda. Khu Cie Kee memperingatkan bahwa sepuluh tahun sudah berlalu sejak perpisahan mereka di Kanglam dan dia turut berduka cita atas meninggalnya Thio A Seng. . sebaliknya dengan rangkap kedua tangannya. membuat hatinya gentar. atas titah guruku Tiang Cun Cu Khu Totiang. menuruti petunjuknya Po Kie. akan copotlah batang leher si imam itu. melihat keringan tubuh orang. ia mulai menyerang di bawah. maka itu si imam bangkit snediri untuk terus merogoh ke dalam sakunya guna menarik keluar sesampul surat. meskipun ia telah diperingatkan. kedua kakinya saling sambar dengan tipunya Lian-hoan Wan-yoh-twie – kaki Burung Wanyoh Berantai. ia menjura ketika ia mulai berkata: ―Suhu berlima banyak cape! Guruku sangat bersyukur. tidak tempo lagi. tubuhnya melayang. ia dapat lantas berlompat bangun dengan gerakannya ―Ikan Tambra Meletik‖. Segera. ia cuma terhuyung. yang dengar suara tindakan kaki mendatangi. Saking memusatkan perhatian pada lawan. ia lantas kurung diri dengan rapat. hingga ia merasakan sakit sekali. tempo kakinya lawan melayang. Ia kenali suaranya sam-suhu. kempolan kanannya kena didupak. dan ini terlihat tegas oleh Kanglam Liok Koay. ia juga tidak menunjukkan tanda hendak menerobos keluar dari kurungan. ―Awas!‖ teriak po Kie dan Siauw Eng yang terkejut. Ia sampai tidak menyangka bahwa musuhnya bakal menggunai akal. Ia memberitahu bahwa pada sembilan tahun yang lalu ia telah berhasil mencari turunan Yo Tiat Sim. Jurus ini oleh Cu Cong dengan lucu dinamakan ―Sembari tertawa dan berbicara melepaskan rahang‖. ditambah sama kekhawatirannya akan munculnya Bwee Tiauw Hong. mereka tidak mengulurkan tangan untuk mengasih bangun. tiba-tiba ia dengar seruan dari belakangnya: ―Serang bagian bawahannya!‖ Dengan tiba-tiba bangkitlah semangatnya Kwee Ceng. sudah terlambat. ―Mari kita bicara di dalam. Imam itu licah gerakannya. Kwee Ceng segera mengerti bahwa imam ini ada terlebih pandai daripadanya. ―Hm!‖ Tin Ok perdengarkan suara tawar. tidak terluka. hingga ia menduga kepada serdadu peronda bangsa Monglia. Karena ini. Cie Peng mengerti orang hidup bukan main sederhananya. tubuhnya itu jatuh celentang. tetapi lemah bagian bawahnya. Syukur kuda-kudanya kuat dan tendangan tak hebat. kaki kanannya kena dicekal lawan. In Cie Peng turut masuk. maka itu tak ampun lagi.

Cie Peng tidak segera menemui Kanglam Liok Koay. coba dia diam saja. ―Walaupun usiaku lebih tua.‖ jawab Cie Peng. Mendadak orang she Kwa ini berseru: ―Kau pun jumpalitan!‖ dan tangan kirinya menyambar ujung baju orang di betulan dada. ―Dia toh adik seperguruanmu?‖ Tin Ok menegaskan. Kali ini ia membangkitkan amarahnya tetuanya Liok Koay.‖ kata Po Kie. yang ia lihat aneh. Coan Cin Kauw banyak pengikutnya. hal kematiannya Thio A Seng. untuk dengan terpincang-pincang ngeloyor pergi…. ―Dialah kakak seperguruanku. tepat toako ajaradat padanya. ia dipesan untuk sekalian selidiki Kwee Ceng. Saking kaget.‖ katanya kemudian. Tidak diayana. tetapi ia diperogoki oleh Tin Ok dan kabur. ―Ach ya. bagaimana pula ia dapat melayani Yo Kang. untuk membebaskan diri. disaat bunga-bunga mekar.Pendekar Pemanah Rajawali Mengetahui ini.. satu sutee. Khu Cie Kee ketahui jelas tentang mereka. Tin Ok semua terperanjat. bebokongnya sakit. ―Apakah barusan kau layani dia untuk mencoba-coba?‖ Tin Ok tanya pula. ―Teecu memohon diri.‖ bilang Tin Ok. mereka sendiri tidak tahu suatu apa perihal imam itu! Inilah tanda mereka sudah berada di bawah angin. Bilang bahwa kami tidak usah membalas dengan surat. ia bermaksud baik. Cie Peng berdiam. perjanjian di Cui Sian Lauw tidak bakal digagalkan. baharu ia bisa merayap bangun. di tepi sungai Onon. Tin Ok antar orang sampai di muka tenda. Setibanya di Mongolia. Tentang Hek Hong Siang Sat dan Kiu Im Pek-ku Jiauw.‖ Dingin hatinya Kanglam Cit Koay mendengar keterangan itu. ―Walaupun Kanglam Liok Koay tidak punya guna. hanya ia mencuri lihat Kwee Ceng berlatih. tentang sifatnya dan ilmu silatnya. dia Cuma akan jungkir balik. tak ada maksud lainnya. ―Benar. suaranya dingin. Khu Cie Kee memperhatikan putra sahabatnya. Tak sangka ia bakal ditanyakan tentang tengkorak itu. walaupun ia tidak bermaksud jahat.‖ kata Cu Cong akhirnya. apa perlunya kau ambil itu tengkorak manusia!‖ Tin Ok tanya pula. tetapi buat cari satu nyonya yang lenyap. ―Memang ini tulisannya Khu Totiang. ―Atau kau tertawakan Kanglam Cit Koay yang satu diantaranya terbinasa di bawah cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw?‖ Baharu Cie Peng menjawab: ―Teecu ambil tengkorak itu untuk dibuat main. tetapi muridnya ini menyeleweng sedikit. Cie Kee begitu cepat menemui nyonya itu serta anaknya. benar-benar sulit. hal mereka dapatkan Kwee Ceng. dan hal sekarang mereka berdiam di padang gurun ini…. ―Anak turunan she Yo itu bernama Yo Kang?‖ Tin Ok bertanya. ―Sekarang kau sampaikanlah kepada gurumu itu. sampai sekian lama. Surat itu diakhir dengan pemberitahuan bahwa lagi dua tahun. Inilah hebatnya. ―Apakah kau ada punya hubungan sama Hek Hong Siang Sat?‖ tanya Tin Ok sebab orang diam saja. jadi dia tidak usah khawatir suatu apa pun. Tin Ok angkat tubuh orang dan membanting. sang suheng? Pula heran. Irawan D Soedradjat Page 122 . Cie Peng geraki kedua tangannya. maka jatuhlah ia dengan hebat. tidak nanti ia menerbitkan kecurigaan. mereka berdua pihak bakal bertemu pula di Cui Sian lauw di Kee-hin. hingga ia berdiam saja. kakakku itu mendahului dua tahun.‖ sahut pula tosu she In itu. ―Teecu tidak berani. Ia diperintah gurunya pergi ke utara untuk menyampaikan surat. ―Imam cilik itu tak tahu adat. malah ia menguntit juga orang pay-bong terhadap Thio A Seng hingga ia saksikan semuanya. Mereka sendiri menemui Kwee Ceng secara kebetulan. diwaktu memasuki perguruan. Kwee Ceng kalah oleh In Cie Peng. Sebaliknya. teecu tidak tahu-menahu…‖ ―Hm!‖ bersuara Tin Ok yang terus berdiam.‖ sahut Cie Peng. Cie Peng memberi hormat lagi sekali. yang berkhawatir oleh sikap orang.‖ Cie Peng likat. Coba ia lari tanpa sebat tengkorak. Cie Peng jadi jengah. yang tersebar luas di seluruh negara.

ia dengar teriakannya putri Gochin: ―Engko Ceng. habis itu baharu ia mengundurkan diri. ―Mari lekas lihat!‖ sahut putri Temuchin itu. Itu pagi Siauw Eng ajari Kwee Ceng ilmu pedang Wat Lie Kiam dijurus keempat yang bernama ―Di cabang pohong menyerang lutung putih‖. ia gagal senantiasa. ―Mari lekas lihat!‖. ia menjadi gelisah menampak guru-gurunya mulai perlihat roman tidak puas. ―Kalau tetap kau tidak hendak pergi melihat.‖ sahut Kwee Ceng. kau tidak mau pergi. Sekalipun seorang yang berotak cemerlang ada sulit untuk dibikin maju dalam tempo yang pendek.‖ Siauw Eng ajari muridnya itu. Tin Ok menghela napas pula perlahan. ―Kita bertujuh saudara sudah puas berkelana. apa pula Kwee Ceng yang bebal itu. Adalah kehendak mereka agar si murid maju cepat. hingga ia berdiri menjublak. Semenjak itu. ―Aku todak tahu. ―Sekarang pergilah kau pulang dan tidur. ―Sudahlah. Putri itu tertawa. mari lekas!‖ Kapan ini bocah menoleh. maka itu. ―Ada apa?‖ ia tanya. ―Bukankah sama kalau sebentar kau menceritakannya kepadaku?‖ . ia tampak putri itu yang duduk di atas seekor kuda. ―Ya. baik pun yang berbahaya. sieko. ―Apakah kau tidak dapat melatih dengan baik dan kembali dimarahin gurumu?‖ dia tanya. semakin rajin guru ini mengajari muridnya. malah makin didesak. Ia tahu semua gurunya ingin ia maju. tak pernah dipakai kecuali disaat genting. Ia menjadi masgul sekali. Murid ini mencoba berlompat. ia berduka sekali.‖ kata Hie Jin kemudian. mari lekas. Siauw Eng menjadi sangat berduka. mengasih lihat roma cemas bernareng gembira. apa boleh buat…. Kwee Ceng terperanjat. selanjutnya kau jangan pedulikan aku lagi!‖ Irawan D Soedradjat Page Gochin lompat turun dari kudanya. ―Anak Ceng. mereka turut masgul pula. aku juga tidak mau pergi…‖ bilangnya sambil cemberut.‖ Kwee Ceng beritahu. ―Hebat pertarungan itu!‖ ia kata pula mendesak. Putri itu masih tertawa. pula tak pernah diwariskan kepada lain orang. selama tujuh atau delapan kali. ia mengangguk. karena aku datang untuk mengajak kau!‖ katanya. hingga ia berlinang air mata. ―Banyak burung rajawali lagi bertarung!‖ ―Aku lagi berlatih. rajawalai yang hitam yang menang atau yang putih…‖ 123 ―Pergi kau kembali dan melihatnya sendiri. Senjata itu adalah senjata rahasia istimewa penjaga diri sejak si kakak tak dapat melihat matahari.‖ Siauw Eng bilang.‖ katanya pada Kwee Ceng. Mereka khawatir kalah berlomba dengan Khu Cie Kee menampak kemajuannya In Cie Peng itu. ia masih berdiam tatkala dari belakang. banyak pengalaman kita.Pendekar Pemanah Rajawali Tin Ok berdiam. kita belum pernah mengkerat atau mundur!‖ Tin Ok mengangguk. selang sesaat ia menghela napas. ia tinggalkan muridnya. Ia ingat perlakuannya Siauw Eng barusan.‖ Kwee Ceng bilang. Hebat senjata rahasia tok-leng dari kakaknya ini. ―Aku tidak mau. ia kasih moyong mulutnya. Semua saudaranya mengerti kedukaan toako ini. tapi sekarang hendak siturunkan kepada murid ini. Kwee Ceng mengucap terima kasih sambil berlutut dan mengangguk. ia membuatnya semakin banyak kesalahan. ia mejadi sangat menyesal. Akan tetapi sulit bagi mereka untuk mewujudkan kehendak itu. ―Aku sendiri sampai tidak melihat. ia lenyap kegembiraannya. Ia sangsi apa Kwee Ceng dapat wariskan kepandaiannya itu dengan sempurna.‖ Cu Cong semua gegutan. Akhirnya si putri menjadi tidak sabaran. ―Besok akan aku ajarkan kau senjata rahasia. lekas menghanturkan terima kasih kepada toa-suhu. tapi gurunya berjalan terus. dengan lemparkan pedangnya. yang lambat kesadarannya. ia menyusul. ia memanggil-manggil. Kwee Ceng jujur. ―Benar. percuma gurunya ajari ia mesti begini mesti begitu. Untuk itu perlu orang berlompat tinggi dan jumpalitan.

lantas berbunyi berulang-ulang. Temuchin tertawa. Tuli dan Gochin menjadi kaget dan cemas. Sering Kwee Ceng. ―Mari!‖ katanya. kira-kira sepuluh ekor musuhnya itu masih menyerbu terus. ―Siapa yang dapat memanah burung itu. lalu kira-kira sepuluh kawannya terbang pergi. dai liang itu tertampak munculnya dua kepala anak rajawali putih yang mencoba membuat perlawanan. terus ia menarik. yang menyaksikan siasat perang si hitam. Rajawali putih lebih besar dan patuknya terlebih kuat. ia akan mendapat hadiah!‖ Temuchin berseru. lalu tertampak belasan si hitam terbang kembali. segera ia siapkan panahnya. hingga sayap mereka pada rontok berhamburan. Panglima-panglima Teuchin lantas turut memanah. di udara terdengar riuh suara burung tadi. Kwee Ceng bertiga. Seekor rajawali hitam yang tubuhnya lebih besar daripada yang lainnya. satu si putih mengejar. ―Ayah. Setelah itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah itu sepasang rajawali putih yang besar yang berkelahi?‖ Kwee Ceng tanya. hati Kwee Ceng tertarik juga. guna kabur ke kaki lembah di mana terlihat belasan ekor rajawali hitam tengah mengurung dan menyerang rajawali putih. orang banyak hendak bubaran. Temuchin sebaliknya berkata kepada Ogotai dan Tuli: ―Si rajawali hitam menang perang. lekas berbalik! Bagus! Bagus! Kejar padanya! Kejar!‖ Lagi dua ekor rajawali hitam jatuh mati. patuk padanya! Awas di kiri. ―Coba kau memanah!‖ kata Temuchin seraya menyerahkan panahnya kepada Ogotai. Riuh tempik sorak memuji Khan yang besar itu. dia matikan satu musuhnya. buat diajak naik bersama ke atas kudanya itu. malah Temuchin yang mendengar kabar itu juga turut muncul. Habis itu. lalu bangkainya jatuh di depan Gochin. hampir setiap hari mereka tampak sepasang burung rajawali putih itu. bulunya yang putih ternodai dengan darahnya yang merah. tetapi sepasang rajawali putih juga telah mendapat luka. malah Gochin lantas menangis. tiga ekor si hitam lantas kabur. ―Bagus!‖ berseru Temuchin. Sudah begitu. dan ia tarik tangan si tuan putri. Gochin dan Tuli main-main bersama di lembah itu. ia memanah. semua sisa burung rajawali hitam itu terbang kabur. justru itu. hebat setiap patukan dan cengkeramannya. Demikian seekor musuhnya yang terlambat berkelit. Irawan D Soedradjat Page 124 . Pun burung itu dapat menyampok anak panah. ―Ayah. tinggal lagi tiga. kena disambarnya. tetapi burung-burung hitam itu sudah terbang tinggi. ada musuh. sudah enam atau tujuh ekor si hitam yang mampus…‖ Mendengar itu. maka itu tidak heran kalau sekrang mereka mengharapi kemenangannya si putih hingga mereka berteriak-teriak menganjuri si putih itu. ―Benar! Kawanan si hitam banyak tapi si putih lihay. masih kau tidak mau memanah?‖ tanya Gochin sambil menangis. yang rubuh terbinasa dengan segera. Habis pertarungan itu. ia merubuhkan seekor rajawali hitam itu. Ia datang dengan mengajak Ogotai dan Tuli. Sebentar saja sudah bnayak penduduk yang datang melihat pertempuran rajawali itu. sulit untuk mengenai mereka. Menampak itu. maka ingatlah kamu!‖ Dua putra itu mengangguk Habis membunuh si putih. terhadap burung itu mereka mendapat kesan yang baik. menerjang si putih yang lagi berdiri sambil merapikan bulunya. dan ia juga berhasil merubuhkan seekor. lekas panah!‖ ia teriaki ayahnya. dia melawan sebisanya. mereka itu menggunai siasat. tetapi akhirnya ia jatuh karena luka-lukanya. semua penonton bersorak-sorai. ke jurang. yang masih bertempur dengan seru. kawanan si hitam terbang ke arah sebelah liang di atas jurang. Hebat si putih. Putra itu menurut. Tuli pun mencoba. lalu anak panahnya nancap di badannya seekor rajawali hitam itu. Kata mereka itu saling ganti: ―Hayo putih.

terus menyambar perutnya rajawali yang kedua. malah adakalanya harimau atau macan tutul pun mesti lari dari burung ini.‖ berkata Kwee Ceng dengan jawabannya. ia dekati Kwee Ceng untuk menyerahkan panahnya itu. Semua orang mengawasi Kwee Ceng. yang terus tanya Kwee Ceng. Sekarang bocah ini bisa memanah sekaligus dua ekor. ia berniat pertontonkan ilmu panahnya Kwee Ceng. menarik habis hingga busur itu melengkung sepenuhnya. karena itu tidak usahlah aku diberikan apa-apa lagi. ―Kau menghendaki apa?‖ Tuli girang sekali. Tapi anak panah itu tembus. dan seekor rajawali rubuh. ia menjadi girang sekali. ia lantas menarik hingga busur itu. aku hendak mewakilkan seseorang mohon suatu hal…‖ Irawan D Soedradjat Page 125 . sekali memanah dua ekor burung. ―Gurunya Jebe. Harus diketahui. burung rajawali ada besar luar biasa. ―Anak yang baik. Busur itu beratnya dua ratus kati tapi ia dapat menariknya. untuk di utara ini. sebab heran mereka atas sikapnya Khan mereka itu. ―Benarkah barang apa pun boleh?‖ ia tegaskan ayahnya. dalam segala hal kau lebih dulu ingat ibumu!‖ katanya. muridnya juga Jebe!‖ pujinya. yang jadi rubuh bersama di sampingnya si tukang panah. ia turunkan panahnya. tidak lagi berputaran di atas jurang. ia dapat cekuk seekor kuda kecil atau kambing besar. ia tekuk sebelah kakinya. ―Serahkan burung itu kepada ayahku!‖ Gochin berbisik di kupingnya Kwee Ceng. Kwee Ceng sambuti panah itu. ―Kau berlutut! Kau panah lehernya burung itu!‖ ia menyuruh dengan suara perlahan. kalau sepasang sayapnya direntangkan. Kwee Ceng menarik tangan kanannya. kedua tangannya diangkat tinggi. ia memungut dua bangkai burung itu. Dan karena ini. kapan ia menyambar ke bawah. sisa burung yang lainnya terbang kabur. karena setelah sepuluh tahun berguru kepada Kanglam Liok Koay. jangan takut!‖ Kwee Ceng perdengarkan suara perlahan. Justru itu dua ekor burung rajawali hitam terbang beredeng. siapa yang berhasil memanah.― sahut Kwee Ceng yang tidak hendak mensia-siakan Jebe. ―Jebe‖ itu berarti ―ahli panah yang lihay atau dewa panah‖ Tuli hendak bantu adik angkatnya itu. ayah hendak menghadiahkan dia apakah?‖ ―Apa pun boleh!‖ sahut ayahnya itu. ―Inilah guruku yang mengajari. di depan siapa ia etkuk sebuah lututnya. lebar panjangnya sampai setombak lebih. sia-sia ia mencoba berkelit. ―Ayah tadi bilang.Pendekar Pemanah Rajawali Jebe si Jago Panah berdiri di samping Temuchin. Temuchin tertawa pula. semabri menarik. itulah hebat! Temuchin suruh pengiringnya ambil burung itu. dengan kedua kakinya ia berlutut di depan kudanya khan yang besar itu. Tidak tempo lagi. Ingin mereka mengetahui apa yang si bocah bakal minta. Menampak itu. Di dalam bahasa Mongol. ―Khan yang agung telah perlakukan aku begini baik. ―Kau anak yang berbakti. ―Kau sendiri. tenaganya menjadi besar sekali. sekarang ia saksikan Kwee Ceng serta sikapnya itu. ―Apakah aku dapat mendustai anak-anak?‖ ayahnya itu tertawa. untuk persembahkan burung itu. kau hebat!‖ ia kata pada si bocah. Seumurnya Temuchin paling menyukai panglima yang gagah perkasa dan orang kosen. datangnya dari arah kiri. bulu sayapnya pun kuat seumpama besi. Tepat ia terpanah batang lehernya. Si anak muda menurut. dia bakal dihadiahkan sesuatu. Temuchin tertawa lebar. gurunya itu. ibuku pun telah punyakan segala apa. ia kata kepada ayahnya. Ia berkata: ―Aku sendiri tidak menghendaki apa-apa. ia lari kepada Temuchin. sekarang saudaraku ini memanah sekaligus dua ekor. apakah yang kau kehendaki? Kau sebutkan saja. dengan tangan kiri memegang busur dan tangan kanan mencekal anak panah berikut talinya. Itulah yang dibilang. orang banyak bersorak dengan pujiannya. atau tangannya menjadi melengkung. ia mengincar. ―Ser!‖ demikian anak panah menyambar.

dimana ada terukir pula katakata: ―Golok pribadi dari Khan Temuchin‖. yang mengejar kawanan burung hitam itu. kaulah yang mewakilkan aku membunuh mereka!‖ Belum lagi Kwee Ceng sahuti si khan itu. hendak aku menghadiahkan kau serupa mustika!‖ Ia loloskan golok pendek di pinggangnya. Temuchin berkata. mendadak Gochin menangis. ―Mana dapat. Ia menahan sabar. ia dengar suara berkelengannya kuda. tetapi ia antap sapu tangan jatuh di sampingnya. tidak nanti ia serahkan goloknya itu. ia mengawasi burung itu. Golok pendek itu adalah goloknya khan mereka sendiri. buat terus rebahkan diri di atas rumput. ―Musuh-musuhku tak usahlah aku sendiri yang membunuhnya. ia dengar suara berisik dari kedua anak burung rajawali putih di atas tebing.‖ kata Kwee Ceng. yang menyatakan entah berapa banyak korban yang telah dimakan. Melengak Temuchin mendengar permintaan itu. Hanya ketika ia saksikan kawan itu sangat mengeluarkan tenaga. ―Tusaga. Kwee Ceng tunggu sampai orang sudah pergi semua. ―Sungguh ucapan kanak-kanak!‖ katanya. ia sodorkan itu pada si bocah. mari beristirahat!‖ ―Kau jangan ganggu aku. ai mencoba pula. lalu akhirnya ia tertawa terbahak. ―Kau sustlah peluhmu!‖ katanya. ―Engko Ceng. Baiklah. Ia masih tidak berhasil menyempurnakan jurus ―Di cabang pohon menyerang lutung putih‖. Kwee Ceng bersuara perlahan. cucunya Wang Khan itu busuk dan jahat. ia sudah lantas ketahui kebinasaan pasangannya. aku tidak punya waktu untuk temani kau berbicara. yangs seperti mendatangkan hawa dingin adem. Gochin terus mengawasi. bunyinya: ―Membunuh musuh dan memusnahkan musuh bagai menyembelih harimau dan kambing‖. Kalau ia tidak melompat terlalu rendah ia tentu tak keburu menggerakkan pedangnya. sebelah tangannya dipakai untuk menunjang kepalanya. Ia menanti sekian lama. Semua panglima dan pangeran mengikuti dari jauh-jauh. Dialah burung tadi.‖ ia berkata. Gochin berdiam. maka itu aku mohon denagn sangat supaya janganlah tuan putri dijodohkan dengan dia itu‖ sambungnya kemudian. lalu ia tertawa mengawasi kawannya itu. hingga ia bermandikan keringat. lalu ia tampak Gochin lari mendatangi dengan kudanya. ia hunus golok pendek itu dan melihat sinarnya yang tajam. dibelakang hari mestinya tuan putri menderita. Dia rupanya bermata tajam. untuk melatih Wat Lie Kiam-hoat. ia malah makin gagal. Pada golok itu berpeta tanda darah. Kemudian ia cabut pedangnya sendiri. ia sambuti golok itu. yang rupanya baharu kembali. yang lagi berlatih. Terus ia putar kudanya. terus ia lompat naik atas kudanya yang lantsa kasih kabur! Temuchin keras bagaikan berhati besi akan tetapi menyaksikan putrinya yang paling ia sayangi itu begitu bersusah hati. Tengah ia berlatih. agaknya ia terkejut. Di sebelah itu masih ada ukiran dua baris kata-kata. Kwee Ceng menhanturkan terima kasih. ia sendiri terus berlatih. ―Kalau Putri Gochin dinikahkan dengannya. sampai satu kali ia angkat kepalanya. menyusul mana segera terdengar suara yang keras tetapi agak hebat dari si rajawali putih besar yang terbang datnag. Semua panglima menjadi kagum dan memuji. ia masuki ke dalam sarungnya. engko Ceng. untuk pulang ke kemahnya. maka juga ie menghela napas. Kwee Ceng berhenti berlatih. Irawan D Soedradjat Page 126 . jangan berlatih terus. suaranya sedih. yang sarungnya terbuat dari emas dan gagang golok berukirkan emas berkepala harimau. lihat bagaimana harus dikasihani burung itu…‖ berkata Gochin. ia timpuki itu kepada si anak muda. ia berkata: ―Sudah.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah itu?‖ tanya Temuchin. agaknya mereka sangat ketarik hati. Ia lantas terbang berputaran. kau anak kecil. Ia tidak ganggu Kwee Ceng. hatinya menjadi lemah. habis membuat main itu golok. ditabur sepotong batu kumala hitam. hanya ia menontoni. Putri itu tiba untuk terus lompat turun dari kudanya. Coba tidak khan itu telah melepas kata. lalu ia mengeluarkan sapu tangannya. yang kedua ujungnya ia gumpal masing-masing sesudah mana. golok mustika yang pernah dipakai membinasakan bnayak musuh.

atau tahu-tahu ia telah serbu batu gunung yang besar. Bocah ini berdiri melengak. di dekat liang yang merupakan sarang burung rajawali putih itu. kedua burung itu masih kecil. yang tangannya mencekal hudtim atau kebutan pertapa. Ia menjadi tidak senang. lekas-lekas keduanya berpaling. ―Liaht biar tegas!‖ bersuara si imam itu. Ia pegang pula pedangnya dan mulai lagi denagn latihannya. ia menoleh. . Imam Berkonde Tiga Kwee Ceng menjublak sekian lama. Jurang itu tinggi. Mereka melihat satu tosu atau imam. yang tidak pedulikan sikpa orang. sebab ia telah mebuat tiga konde kecil di atas kepalanya. ―Burung rajawali putih itu harus dihormati. Ia awasi imam berkonde tiga itu. belum bisa terbang. belum ia menginsyafi gayanya. sedang jubahnya bersih sekali. Di atas tebing itu si imam tampak menjadi kecil tubuhnya. maka itu. baru anak-anak burung itu dapat di tolongi…‖ katanya. Untuk sejenak itu. hingga tahu-tahu ia sudah jalankan jurus yang Kwee Ceng tak sanggup pelajari itu. lalu Kwee Ceng merasai bahunya kaku. mulutnya terbuka lebar. sangat cepat. ia sudah roboh dengan tidak bernyawa lagi! Dua-dua Kwee Ceng dan Gochin terkejut sekali. setelah mana. terus ia terbang ke atas seprti memasuki mega. Belum berhenti suaranya Gochin.‖ sahut si engko Ceng itu. ―Kecuali orang bersayap dan dapat terbang naik ke atas sana. untuk mendaki dengan cepat. ―Apa katamu?‖ ia tanya. ia tidak menyahuti. ia berkhawatir untuk Gochin. ilmu dengna tangan kosong merampas senjata musuh. untuk bersiap melindungi putri ini. lalu dengan satu kelebatan. Si imam tersenyum. gerakannya bagai lutung atau kera. Pernah Kwee Ceng diajari gurunya yang kedua. Mereka menjerit dan sama-sama mencelat. maka di detik lain. yang aneh dandannya. memandang ke atas tebing. Dan ia pun berbicara dalam bahasa Tionghoa. Si imam lempar pedangnya ke tanah. hanya mendadak ia maju mendekati. ia tertawa. hanya ia mencelat ke atas. dan segera ia berkata: ―Bagaimana dengan kedua anak burung itu? Bapak dan ibunya telah mati…‖ Sarang di liang di atas tebing itu sukar dipanjat orang. Ia masih saja tidak berhasil melatih jurus keempat yang bau diajari gurunya itu. gerakan siapa ia sepertinya tidak melihatnya. 127 Hati Kwee Ceng dan Gochin berdenyut keras tak hentinya. ―Sungguh harus dihormati! Sungguh harus dihormati!‖ tiba-tiba mereka dengar satu suara nyaring di belakang mereka. Tiba-tiba terdengar suara dingin di belakangnya. Irawan D Soedradjat Page ―Bagaimana?‖ tanya Gochin yang memeramkan matanya. Mana bisa ia membela diri atau berkelit? Berbareng dengan itu. kagum ia untuk lihaynya ini imam. baru ia buka suara. yang berkumis abu-abu tetapi mukanya merah dadu. ―Dengan belajar secara demikian. sedang turunnya si imam adalah sangat cepat tetapi tenang. beroman sebagai huruf ―pin‖. keduanya kadi terdiam. tujuannya ke jurang. Mereka kagum. ia sudah mencapai hingga di atas jurang. ia lompat untuk lari ke jurang. ―Mau apa ia terbang ke atas?‖ tanya tuan putri itu. Lagi sekali burung besar itu perdengarkan suara nyaring. cara bagaimana mereka bisa mencari makan? Bukankah mereka itu bakal mati kelaparan…. burung itu sudah terbang turun pula. ia hunus golok hadiahnya Temuchin. heran dan berkhawatir untuk keselamatan si imam. turunannya pun tak boleh tak ditolongi!‖ ia berkata. menjambret dan merembet dengan tangan. Hancur-luluhlah kalau orang jatuh dari atasnya. tidak ada abunya sedikit juga. pedangnya telah pindah tangan kepada si imam itu. Cu Cong. hingga mereka menjadi heran. lagi seratus tahun juga tidak bakal berhasil!‖ Kwee Ceng berhenti bersilat. Gochin tidak mengerti bahasa itu. akan tetapi ia belum dapat menyakinkan itu dengan sempurnya. tidak biasanya untuk orang yang berada di gurun pasir.? Bab 12. Maka segera ia melompat ke depan tuan putri itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pasti ia sangat berduka. Ia pun sudah lantas menoleh pula. tebing dan semua batunya licin. sebentar kemudian. Ia berlari dengan kaki.

tubuhnya seperti terpelanting jatuh. ―Eh. Gochin lantas lompat naik ke atas kudanya dan kabur pergi. Akan tetapi si imam tiba dengan selamat. ―Aku ingin kau tidak beritahu siapa juga yang aku telah mendaki jurang itu dan mengambil anak burung ini. ―Kenapa?‖ si imam tanya. dilain saat. ia seperti menghadapi satu sanaknya yang terdekat. apakah yang kau kehendaki?‖ tanya si imam. untuk apa kau pay-kui terhadapku?‖ si imam tanya. dan dengan ulur kedua tangannya. lantas ia jatuhkan diri berlutut di depan si imam dan manggut-manggut. ia mulai menangkap dua anak rajawali itu. tapi biarlah aku tidak menyebutkannya. agaknya ia baru sadar.‖ Gochin loloskan benang ikatan rambutnya. ―To…totiang. Ia tertawa pula. tetap tertawa. seraya ia tanya Gochin.. bisa. dengan itu ia ikat kakinya kedua burung itu. yang merogoh keluar kedua anak burung itu. rupanya sulit ia berbicara. tunggu dulu!‖ kata si imam. Irawan D Soedradjat Page 128 . Kwee Ceng bengong mengawasiu tuan putri itu. ―Burung ini kecil akan tetapi patokannya sakit sekali. justru ia melihat si imam lompat ke liang.!― Gochin kasih turun kedua tangannya. Kwee Ceng dan Gochin lari menghampirkan pertapa itu. maka itu diwaktu mengasih makannya kau mesti hati-hati. yang pun pandai mainkan jurusnya yang sulit itu. Ia lihat si imam demikian sabar dan ramah. akan tetapi sekarang akulah yang bawa dulu. Si imam konde tiga itu pungut pedangnya untuk dikembalikan kepada pemiliknya. baru suka aku serahkan burung ini padamu!‖ ―Apakah itu?‖ si putri tanya. hingga ia menjerit kaget. ―Apakah kau ingin petunjukku?‖ imam itu tanya lagi. ia sudah mulai turun pula. Bocah ini menggaruk-garuk kepalanya. ia berkata: ―Kalau nanti sepasang anak burung ini menjadi besar. karena mana. jangan sampai tanganmu kena dipatuk!‖ memperingati si imam. Ia kata klepada Kwee Ceng: ―Engko Ceng. tetap aku gagal…‖ Kwee Ceng kata pula. untuk kemudian dimasukkan ke dalam sakunya. untuk mengangsurkan. Dia Tiba di bawah dengan tak kalah cepatnya sewaktu ia mendaki. bisa!‖ sahut si putri dengan cepat seraya menyambuti. ―Bagus! Bagus. ―Kau mesti berjanji padaku satu hal. Akur?‖ Kwee Ceng mengangguk. Mendadak Kwee Ceng mengucurkan air mata. tertawa. untuk berlalu. yang girangnya bukan main. tapi Cuma sejenak.‖ kata si imam.‖ Si imam ini tertawa. ―Totiang. aku ada sangat bebal…‖ ia kata kemudian.Pendekar Pemanah Rajawali ―Hampir tiba!‖ sahut Kwee Ceng. lalu di lain pihak ia kagumi si imam ini yang demikian lihay. mereka bakal menjadi sangat kuat dan galak. ―Siang dan malam aku berlatih. ―Bisakah kamu merawat anak-anak burung ini?‖ ―Bisa. Ia menjadi seperti kehilangan semangatnya. jangan pergi dulu…!‖ Kwee Ceng berkata. entah sampai berapa puluh kali.‖ sahut Gochin. habis itu ia memutar tubuhnya sembari tertawa. ―Hati-hati. ―Hal itu sebenarnya sulit juga. ―Aku belajar rajin dan ulet akan tetapi tetap aku tidak dapat belajar dengan sempurna hingga karenanya aku membuat keenam guruku menjadi tidak senang…‖ ―Habis.‖ ―Aku tahu.‖ sahut si nona. burung ini kita punyakan seorang seekor. Ia girang bukan main. ―Baik. hingga susah ia membuka mulutnya. untuk aku memeliharanya. ―Aku nanti ambilkan daging untuk memelihara padanya!‖ ―Eh.

lengan dan kakinya matang biru. seperti tembok yang licin. dia sendiri yang bisa bercelaka. yang kepalanya telah menjelut! Kwee Ceng tutup mulut. Maka ia kertak gigi. Ia cari lubang atau sela batu. untuk melihatnya. ―Aku…aku…tidak dapat mendaki…!‖ katanya. naik tak dapat. Ia merasakan sakit pada tubuhnya.‖ kata si imam. Po Kie mengajari lima jurus. ia meninggalkan pergi dengan menunggang kudanya. Tiga hari telah lewat. ia rebahkan diri di rumput dan kepulasan. Ia kenali suaranya si imam konde tiga. hampir ia terjatuh! Kapan ia memandang ke bawah. Tapi matanya masih mengawasi ke pundak. asal hati orang kuat!‖. maka terus ia berlatih lagi. turun pun sukar! Kwee Ceng menghela napas bahna sukarnya. ―Terang dia tidak ingin mengajari aku…‖ Cuma sesaat ia berpikir pula: ―Aku toh bukannya tidak punyakan guru yang pandai? Di depan mataku toh ada enam guru yang bersungguh-sungguh mengajari aku? Dasar aku yang tolol! Apa daya sekarang? Meski totiang lihay sekali. Satu kali ia terpeleset. Demikian sudah terjadi. Baru ia mulai. lenyap rasa dongkolnya Po Kie. Kwee Ceng tidak memperdulikannya. tapi ia memandang ke atas bukit. Kepalanya dan jidatnya benjut. dengan tangan kanannya ia libat pinggangnya. mustahil aku tidak!‖ akhirnya ia kata dengan penasaran. untuk mulai mendaki. aku nantikan kau di atas puncak. hingga semangatnya terbangun pula. Ia baru pulang sesudah matahari turun dari gunung dan ia rasai perutnya lapar. Setahu berapa banyak liang lagi harus dibikin untuk dapat naik ke atas. lalu ia berdiam. kakinya tangannya lemas. satu kali Kwee Ceng salah menggeraki tangannya dan cambuknya mengenai kepalanya sendiri! Po Kie menjadi mendongkol. setelah pesan si murid belajar terus dengan sungguh-sungguh. ia merayap tetapi ia dapat maju setindak dengan setindak. ia merasa ngeri bukan main. nanti selagi rembulan terang menderang. ia sekarang dapat akal. ia belajar terus. begini saja. Dan ia mencoba. sebaliknya. Dan ia lari ke kaki jurang. sangat ayal. Maka ia diam mendekam. Kwee Ceng menjadi korban. Ia telah mesti menggunai tenaga terlalu besar. Tiba-tiba ia ingat perkataan gurunya yang keempat: ―Di kolong langit ini tidak ada urusan yang sukar. Ia bisa naik setinggi enam atau tujuh belas tombak. mengangguk-angguk lagi. ujung cambuk mengenai diri sendiri. kepalanya sudah pusing. Setelah cukup beristirahat. tiba-tiba ada sehelai dadung meroyot turun. untuk mencokel batu. Si imam sudah lantas berjalan. ia tidak memperdulikannya lagi. hampir cekalannya terlepas. untuk dipegang. atau mendadak ia dengar suara orang tertawa diatasnya. hingga ia menjadi babak-belur. ujungnya berdiam tepat di depannya! ―Ikat pinggangmu. ia bernapas denagn perlahan-lahan. ―Mesti dapat!‖ ia keraskan hatinya. Irawan D Soedradjat Page 129 . Tiba-tiba ia menjadi girang sekali. Kwee Ceng menjadi bingung. Tapi kau tidak boleh beritahukan hal ini kepada siapa juga!‖ Ia menunjuk ke puncak yang ia sebutkan. buat dijadikan tempat injakan. Benar-benar sukar ilmu cambuk itu. Melihat orang bersungguh hati. dengan merasa sakit dan letih. Maka itu akhirnya. ialah ia pakai golok pendeknya. Untuk heranya. untuk ia menindak. Ia ingat janjinya si imam. Hari itu Han Po Kie ajarkan muridnya ilmu cambuk Kim-liong-pian. ―Aku lihat kau jujur dan bersungguh hati. Tanpa banyak pikir. kalau tenaga latihannya kurang orang tak akan terlukai kerenanya. ia naik seperti merayap. Sekarang. ―Dia bisa mendaki. Jalan naik lebih jauh batu melulu.‖ pikir Kwee Ceng. ia pun tidak berani dongak. mana dapat aku mewariskan kapandaiannya itu? Percuma aku belajar dengannya…‖ Bocah ini menjadi tawar hatinya. nanti aku tarik kau naik!‖ begitu suara terdengar. ia jalan terus. ia mulai pula mencongkel batu. ia simpan goloknya. ―Lagi tiga hari ada bulan pertengahan. ia sentil kupingnya si murid itu. sengaja totiang hendak menyulitkan aku. mengikat keras. Ia mendusin sesudah rembulan muncul. Ia heran. Lalu ia ingat pula pelajarannya. Senjata lemas itu beda darpada golok atau lainnya senjata tajam. sambil sebelah tangan terus pegangi liang batu. Ia membiarkan saja walaupun si murid lagi-lagi membuat beberapa kesalahan. Ia jambret setiap oyot rotan. baru manjat dua tombak. Saban salah menarik.Pendekar Pemanah Rajawali ―Benar!‖ Dan Kwee Ceng mendekam pula. guna menancap itu untuk dipakai sabagai alat pegangan. ―Kalau begini.

―Itulah tidak benar seluruhnya!‖ jawab si imam dengan tertawa. sudah cukup! Bagus. kau tariklah dadung ini.‖ kata si imam. di situ ada sebuah batu besar yang rata.‖ Kwee Ceng menjawab. biar suhu semua bersungguh-sungguh mengajarainya. aku lupa! Suaramu tidak cukup keras. ―Rupanya gurumu belum memberi keterangan padamu. ―Keenam gurumu itu semua orang-orang Rimba Persilatan kenamaan. ―Kau baru belajar silat. akan tetapi si imam cekal tangannya. sekarang baiklah kau tidak usah menanyakan.‖ menerangkan si imam pula. untuk pay-kui. Ia terkejut juga. ―Inilah dia yang dibilang. ia tidak terlalu berkhawatir. guna menghanturkan terima kasihnya. sudi mengajarinya.‖ Kwee Ceng bilang. untuk ditarik. Kenapa imam ini ketahui urusan kekelahannya itu? ―Imam itu memang daripada kau. ―Sudah!‖ sahut si bocah. lantas kau dijatuhkan si imam muda. aku mohon su…su…eh totiang. Kau duduklah!‖ Dengan hati bingung. ―Biar teecu nerdiri saja menemani suhu. Kwee Ceng berduduk. ―Sudah atau belum?‖ tanya lagi suara di atas. anak bagus.‖ Kwee Ceng memohon.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kau telah selesai mengikat?‖ tanya si imam dari atas. dalam hal pertaruhan. Rupanya ia tidak dengar jawabannya si bocah. jalan dan tidur…‖ Irawan D Soedradjat Page 130 . hingga terlepaslah pegangannya pada batu dan injakan kakinya juga. Untuk kau. kau sudah bisa tonjolkan diri di muka umum. tarik tiga kali!‖ Kwee Ceng menurut. ―Ketujuh gurumu telah bertaruh sama orang. kau lantas merasa pelajaranmu tak ada faedahnya. duduk. Mereka adalah orang-orang terhormat. ―Bicaranya tentang umumnya ilmu silat. mana mereka mau berlaku curang?‖ ―Pertaruhan apakah itu totiang?‖ tanya Kwee Ceng. aku tidak bisa peroleh kemajuan. ―Duduklah di sana!‖ kata si imam.‖ berkata si imam. kau ada punya semangat!‖ Puncak gunung itu boleh dibilang datar.‖ kembali si imam berkata. ―Coba kamu bertempur secara biasa. sambil tertawa. sudah cukup. berdiri tepat di depannya si imam! Bukan main ia girang dan bersyukur. Kesungguhan hatimu rupanya membuatnya kita berjodoh. aku bukannya gurumu. kau ternyata keliru!‖ Kwee Ceng heran.‖ kata si imam. asal kau dapat pelajarakn kepandaian satu saja dari enam gurumu itu. segera tubuhnya terangkat. Habis itu mendadakan ikatan pada pinggangnya menjadi keras. Hanya untuk herannya. mereka akan memberitahukannya padamu. ―Kau juga bukan muridku. tak tempo lagi ia tekuk lututnya. yang mengajar tak jelas caranya dan yang belajar tak menginsyafi jalannya…‖ ―Kalau begitu. ―Walaupun kita tidak kenal satu sama lain akan tetapi kita saling menghormati. ia sebenarnya telah menggunai akal. Nanti dua tahun lagi. lalu menambahkan: ―Ah. Akan aku ajarkan kau ilmu mengendalikan napas. tak sampai ke atas sini. ―Kau bukannya orang kaumku. tiba-tiba ia sudah sampai di atas. Kau bukannya tidak rajin belajar. ia membetot tiga kali. Disamping itu kepandaian keenam gurumu tak ada dibawahan aku. yang penuh dengan salju. kenaapa selama sepuluh tahun ini kemajuanmu tidak banyak? Tahukah kau sebabnya?‖ ―Itulah karena dasarku yang bebal. baru ia terangkat naik. tetapi sebab tahu ia lagi diangkat naik. belum tentu ia dapat menangkan kau. karena itu. ini pun satu pukulan untukmu. Hahaha. Kalau kau sudah mengikat rapi. mereka pasti menjadi tidak senang. Tiba-tiba ia tertawa. imam itu berkata: ―Kemarin kau telah pay-kui padaku seratus kali. Sekarang begini saja. sebenarnya sudah jarang orang Rimba Persilatan yang sepandai kau. ―Kalau aku ajarkan kau ilmu silat dan kemudian gurumu memdapat tahu. dari itu tidak dapat aku ajarkan kau ilmu silat!‖ Kwee Ceng heran berbareng putus asa.

im hapus. untuk ia belajar napas. da ia kerek turun tubuh bocah itu. Mulanya. Ia lantas turut pergi ke tempat berlatih. Hie Jin kata pada muridnya: ―Anak Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng heran bukan main. ―Sekarang kau rebahlah.‖ kata si imam. Lama-lama ia menjadi tenang juga. habis itu ia terus rebahkan dirinya di atasnya. maka lagi beberapa bulan akan tibalah saat pibu. Maka itu. tetapi ia menurut. semangat jangan goncang. tidur dan jalan. Mereka hendak tangkap kuda merah itu. ia ingat itu dan mengulanginya sampai beberapa kali. jangan pikir suatu apa juga. Nah. ia rasai tubuhnya jadi ringan sekali dan gesit. Ia ingati terus. orang-orang Mongol. Yang seng cek im siauw. tetapi tak dapat karena kuda itu lari kabur. hingga kuda ini menjadi kacau pula. fajar sudah menyingsing. yang kerek ia naik. ―Sekarang kau pulang. Si imam mengawasi. Kwee Ceng rasai ia dapat mendaki jurang lebih tinggi dan lebih gampang. duduk. tubuh kosong. Irawan D Soedradjat Page 131 . ―Kau singkirkan salju di atas batu itu. napas kasih jalan perlahan-lahan. Pada suatu pagi. Imam itu berkata pula. ada saja yang ia ingat. dan si penggembala. semangat hidup. tempo akhirnya ia sadar. selang satu jam. maka seterusnya setiap malam ia datang pada si imam. Ia rebah hingga ia tidur kepulasan tanpa merasa.‖ Lantas si imam mengajari caranya napas disedot masuk dan keluar sambil bersemadhi. baru di bagian yang licin. tapi mereka tidak bisa suatu apa. kau mesti bernapas.‖ katanya. barulah naik pembaringan dan rebah miring. sebentar malam datang pula. Kwee Ceng menurutm ia mencoba. repot mengendalikan. Tapi dia tidak pergi lama. aku hampir bisa semua itu sendirinya. yang lari larat. Selang setengah tahun. duduk. ―Ilmu bernapas. denagn kedua tangannya. Si imam tidak ajari ia ilmu lainnya. mungkin kau kurang leluasa dengan tangan kosongmu. buat apa akukah mengajarinya?‖ katanya. menerangkan: ―Sebelumnya tidur. Kwee Ceng menurut pula. jangan ngawur. Mereka menyangka kemajuan muridnya ini berkat kerajinan dan keuletannya. si imam kerek padanya.‖ kata si imam. ia rasai kaki dan tangannya kaku dan kesmutan. ia coba lupai segala apa. Baru semua kuda dapat dibikin tenang dan berkumpul. ―Sekarang duduklah dan mulai!‖ katanya pula. tetapi ia lawan itu. hawa berjalan. Hanya. kau ingat baik-baik. lalu berdiri diam di tempat jauh seraya perdengarkan meringkiknya berulang-ulang. kembali terlihat ia mendatangi. ―Aku ada punya empat perkataan. yang bangun. Tee hie cek kie oen. selama ini kau belajar mainkan senjata saja. kuda itu menyerbu ke rombongan kuda banyak itu. Mereka juga girang akan lekas kembali ke Kanglam. Hie in sedang hendak mulai berlatih sama muridnya itu tempo kelihatan debu mengepul jauh di sebelah depan dan terdengar berisik suara kuda dan orang.?‖ pikirnya. Mereka percaya muridnya bakal menang. rupanya ia puas sudah mengacau itu…. Si imam bersila di depan orang. ―Untuk tidur caramu ini. ―Begitu aku terlahir. ia lantas dapat lakukan apa-apa yang tadinya ia tidak sanggup lakukan. ia singkirkan salju itu. Sim soe cek cin hoat. orang mesti kosongkan otaknya. Kawanan penggembala itu menjadi dongkol. Inilah dia: Sue teng cek ceng bong. toh kapan di waktu siang ia berlatih silat. kembali ia mengacau rombongan kuda tadi.‖ Kwee Ceng menurut. buka matanya. pikirannya goncang. setiap hari mereka omongkan hal pibu dan bakal pulang itu. jalan dan tidur. perasaan terlupa. Itulah segerombolan kuda. menggigit dan menyentil. dari itu mari kau coba-coba. Perlu apa kau mengajarinya pula…?‖ Ia tapinya tutup mulut. ―Kau tidur di situ. Kwee Ceng menurut. Setelah itu. tetapi ia tak tahu apa artinya yang sebenarnya. Lekas ia merasakan suatu keanehan. Kanglam Liok Koay lihat itu kemajuan.‖ Kwee Ceng mengangguk. Lain keanehan yang nyata. mereka girang sekali. hati mati. mendadak dari arah barat datang seekor kuda kecil merah marong. begini. kuda itu lari pula ke utara dan lenyap. Kanglam Liok Koay merasa gembira. Kwee Ceng menjadi semakin heran. Ia melainkan tahu itu berarti: ―Pikiran tenang.‖ lantjutnya kemudian. Satu tahun telah berlalu dengan cepat..

ia jatuh sambil berdiri. dia bakal gagal!‖ Ia tahu. Kwee Ceng tidak rubuh karenanya. tahu-tahu si murid sudah kembali bersama kuda merah itu. bocah ini memeluk ke leher. Masih saja kuda itu berjingkrakan.‖ kata satu penggembala. dia berdiri diam! . kepandaian Kwee Ceng itu adalah hasilnya ajaran si imam konde tiga. mereka berteriak. Kuda itu lari ke arahnya. cuma tak sampai terguling. Dia kaget. ia seperti berada di bawahnya perut hewan itu. sebab orang itu tidak mau melepas cekalannya. Tepat dugaannya. Ia kate tapi ia dapat melompat tinggi. tiba-tiba dari smaping ada satu orang yang lompat menyambar kepadanya. karena ketekunan Kwee Ceng sendiri yang bebal tapi rajin dan ulet. lantas ia lari mengejar. ―Setahu darimana keluarganya kuda kecil ini. Ia sudah pandai. Si penggembala. ―Habis apakah itu?‖ tanya Po Kie. kami mencoba menangkap padanya tetapi gagal. lekas turun. sebaliknya ialah yang melompat ke bebokong kuda itu.‖ kata Siauw Eng.‖ sahut seorang penggembala. kedua kakinya menjepit. Han Po Kie segera bertindak. belum ia sempat mendudukinya. kanglam Liok Koay pun terkejut. yang mencegah. kalau seorang dapat menakluki kuda binal. ia percaya bakal berhasil. ―Ngaco belo!‖ ―Kau tahu apa. Malah Han Po Kie segera hampirkan rombongan penggembala itu. rupanya ingin dia membikin penunggangnya jungkir balik. Diakhirnya. kuda itu bakal tunduk untuk selama-lamanya kepada penakluk itu. kuda itu sukar bernapas. Kasih sam-suhu gantikan kau!‖ ―Jangan!‖ teriak Po Kie. yang percaya kuda itu adalah turunan naga. tidak pernah aku lihat kuda semacam ini!‖ Ia belum tutup mulutnya. ―Siapa bilang naga bisa menjdai kuda?‖ katanya. Setiap malam ia naik turun jurang. tenaganya dikerahkan. Ia menjadi dongkol. kudanya sendiri jempolan. karena itulah Kwee Ceng yang menyambar kuda itu. dia kena bawa orang yang menyambarnya itu. hanya disaat ia lari lewat. memegang surinya. siapa tahu. tahu ia sifat atau kebiasaannya hewan itu. Po Kie pun segera ajar dia bagaimana harus membikin jinak kuda. lalu ia berhenti meronta-ronta. ―Kalau digantikan. tetapi Kwee Ceng terus memegangi erat-erat. karena mana. ―Mungkinkah ia dipayungi ayahnya almarhum? Mungkinkah ngo-ko…? Nona ini tidak tahu. dia tak tercandak. Irawan D Soedradjat Page ―Bagus! Bagus!‖ seru Po Kie. dia lompat dan lari. pesat majunya anak Ceng. makin lama makin keras pelukan itu. Segera ia berada di atas punggung kuda. ―Dia berhasil‖ 132 Kuda itu masih berjingkrakan. ilmu enteng tubuh. dia tidak dapat diganggu!‖ jawab penggembala itu kemudian. anak kecil? Sudah puluhan tahun aku menggembvala kuda. ia memegangi dengan keras. Dia ada sangat cerdik dan gesit. dan kapannya ia mempelajari keng-sin-sut. tetapi masih kalah jauh dengan kuda merah itu. tapi ia tak kasih dirinya dilompati. Orang Mongol sendiri kagum padanya. ―Baharu beberapa hari yang lalu kami lihat dia.Pendekar Pemanah Rajawali Liok Koay dan Kwee Ceng heran. hingga ia jatuh ke tanah. Hebat larinya kuda itu. dia menjadi penasaran terhadap kami. yaitu ―Kim-gan-kang‖ atau ilmu ―Burung Welilis Emas. tanpa ia merasa.‖ ―Itulah bukannya kuda. kemudian ia meyentil dengan kedua kaki belakangnya. lau terusterusan ia mengacau. ―Inalah kuda turunan naga dari langit. Seorang penggembala lain tertawa. akan tanya kuda itu kepunyaan siapa. sudah lantas berlutut dan memuji supaya janganlah Tuhanbergusar karena kudanya itu dipermainkan… Siauw Eng pun lantas berteriak. yang terus angkat kedua kaki depannya.‖ Dia cuma tahu si imam konde tiga itu sangat baik hati suka memberi pengajaran kepadanya hingga ia dapat bersemadhi… Selagi Liok Koay bicarakan hal murid ini. Semua penggembala menjadi terkejut. ―Anak Ceng. kuda itu sudah lewati dia. ia memang seorang ahli kuda. ―Selama satu tahun ini. malah kemudian. dai seperti ingin menjungkirkan penunggangnya. Begitulah ia lari ke tempat dimana kuda itu bakal mundur. untuk berdiri. Mereka pun kagumi kuda merah itu. kapan kuda merah itu sudah datang menyerbu pula. Disamping itu mereka heran kapannya bocah ini pelajarkan sifatnya hewan. Ia kate. ia tengah menyakinkan ilmu ringan tubuh yang sangat lihay. Ia penggemar kuda.

Cuma tempo ia menggenai dada muridnya. ia tidak mau lantas turun.‖ ia menyerah.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng khawatir kuda itu bakal lari atau kabur. Liok Koay tidak suruh muridnya itu berlatih lebih jauh. sedang ilmu enteng tubuh. walaupun kau usir. lalu tangannya kena dihalau! Untuk sejenak Kwee Ceng tercengang. Si imam konde tiga tidak ajarkan ia ilmu silat. untuk gosoki keringatnya. ―Apakah kau hendak andalakn gurumu yang lihay itu maka kau jadi tidak pandang lagi kami berenam?! Hm!‖ ―Tenaga dalam?‖ Kwee Ceng melengak. Di mana saja orang bisa menghadapi musuh. dengan masing-masing mereka merasa heran. hendak ia membela diri. ingin aku lihat seberapa jauh kau punya ilmu Kay-san-ciang. maka orang mesti siap akan bertempur di kamar yang kecil. dia jadi jinak sekali. Ia omong dengan sebenarnya. Tin Ok semua berbangkit. Ia takut sekali.‖ Kata-kata itu disusul sama ancaman tangan kiri dan tinjuan kepalan kanan. Kwee Ceng mennagkis dan berkelit. ia mesti pingsan. ia diajarkan diluar tahunya. Siapa terkena itu. . ia dipersen jentilan hingga ia terjungkal! Kwee Ceng lantas tuntun kuda itu ke sisi instal. ―Masih kau berdusta?!‖ Cu Cong bentak pula. mereka masuk ke kemah mereka. Kuda itu benar tidak lari. silakan lioksuhu menghukum. ―Sedikit pun teecu tidak mengerti itu. Tentu saja. tapi serangan benar-benar yang berbahaya. untuk membersihkan badannya. cuma ilmu semadhi. air matanya mengucur keluar. dari kaget dan heran. ―Suhu semua memperlakukan teecu sebagai anak. tapi segera ia berlutut di depan gurunya itu. Ia mengarah ke dada. ―Disini?‖ sang murid tegaskan. Kwee Ceng pergi ke kemah gurunya. sebaliknya. habis bersantap. ―Cukup sudah!‖ Po Kie bilang pada muridnya. ia membalas.‖ Teecu salah. Tengah hari. ―Secara diam-diam kau turut orang lain belajar silat. tak tahu ia bersalah apa maka gurunya serang ia secara demikian telengas. kenapa kau tidak beritahu itu pada kita?!‖ tehur Cu Cong. Kim Hoat menyerang dengan hebat. Ini bukan jurus latihan. dia tidak nanti lari!‖ Mendengar itu barulah Kwee Ceng lompat turun. setelah diserang untuk keempat kalinya. mana berabi teecu berdusta?‖ sahutnya. ―Kau turun! Dia sudah tunduk kepadamu. Ia kaget seklai. Kwee Ceng menangis. orang menjadi tertawa! Satu penggembala dekati kuda itu.‖ Irawan D Soedradjat Page 133 ―Fui!‖ seru Cu Cong sambil ia ulurkan tangannya ke jalan darah hian-kee-hiat di bawahan tulang iga. ―Habis darimana kau dapat kepandaianmu tenaga dalam?!‖ Cu Cong masih bertanya.‖ berkata Coan Kim Hoat pada muridnya itu. ―Coba tidak liok-suhu mencoba padamu. hingga bebokongnya nempel sama tenda. ia rasai dada muridnya itu lembek seperti kapuk. ―Anak Ceng. Ia putar tangan kirinya. bukan?!‖ ―Cuma guru Jebe mengajarakan teecu main panah dan tombak. dia jilati belakang telapakan tangan si bocah. malah ia terus gunai jurusnya ―Masuk ke dalam guna harimau‖. Menampak itu. Akan tetapi hebat serangan si guru. kau tentu tetap hendak menyembunyikannya. semua mereka menunjuk roman bengis. ―Ya.‖ Kwee Ceng menjawab. guna menyingkirkan dua tangan gurunya itu. Kwee Ceng mundur. malah terus sampai tiga kali.

hatinya bersih.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng tidak berkelit atau menangkis. suhu. ―Kenapa pada anak Ceng juga ia tidak menjelaskan hal Iweekang itu?‖ ―Mungkin dia adalah kenalan kita. ―Hanya kenapa dia tidak menghendaki kita mendapat tahu?‖ tanya Kim Hoat. tapi ia terkejut dan heran. ―Benar-benar teecu tidak tahu kalau itu adalah pelajaran tenaga dalam. di sana Gochin sudah menantikan dia. Kedua burung itu telah membesar denagn cepat. Lalu ia mengasih keterangan: ―Selama dua tahun ini. Si bocah Cuma merasakan sakit. dari itu.‖ kata Kwee Ceng. tidak boleh teecu pikirkan apa juga. dari itu teecu tidak memberitahukan kepada suhu semua. pelajaranmu itu bukan tenaga dalam?‖ tanya Siauw Eng yang menegaskan. pergilah kau!‖ kata Cu Cong kemudian. terus ia terbang mencablok di pundaknya Kwee Ceng. tapi kalau begini.‖ Cu Cong bilang. Tenaga dalam itu adalah Iweekang (laykang). keduanya melebihkan tingginya tuan putri itu. dan ini menarik hati…‖ Liok Koay heran berbareng girang di dalam hati. Ia girang gurunya tidak marah. ―Nah.‖ Ia lantas mengangguk-angguk dan menambahkan: ―Teecu tahu teecu bersalah. dia tentu tidak bermaksud buruk. Dengan berpegangan tangan. Mulanya sulit. Teecu anggap hal ini bukan perbuatan busuk. Irawan D Soedradjat Page 134 . ada orang yang setiap malam mengajari teecu bagaimana harus menyedot napas. berdiri di tanah.‖ kata Cu Cong. teecu juga tidak mensia-siakan pelajaranku. Liok Koay berbicara. ia dapat menyakinkan Iweekang lebih cepat dari siapa juga. ―Tidak apa-apa. teecu ikuti ia belajar terus. Seekor rajawali angkat kakinya dan pentang sayapnya.‖ ―Baik. teecu anggap ajaran itu menarik hati. ―Di mana dia mengajarkannya?‖ ―Dia tidak mau beritahu she dan nama atau gelarannya pada teecu. muridnya ini telah dapatkan Iweekang sedemikian rupa. Cuma ia pesan supaya teecu jangan memberitahukan hal itu pada siapa pun.‖ Siauw Eng mengutarakan pikirannya. Cu Cong tidak menggunai tenaganya sepenuhnya. ―Malah dia suruh teecu bersumpah untuk tidak menjelaskan roman tubuh dan wajahnya. untuk menarik dan mengeluarkan napas dengan perlahan-lahan. dua kawan ini lari ke tegalan. Di dalam kemah. mesti ada sebab lainnya lagi.‖ Kwee Ceng jawab. Mulanya mereka menyangka Kwee Ceng cuma bertemu orang pandai. lain kali teecu tidak berani pergi bermain pula…‖ Enam guru itu saling pandang. Setibanya di kemah. Sebab apakah itu? ―Nah. ―Selanjutnya teecu tidak berani pergi bermain-main pula dengan dia itu. Kwee Ceng terkejut. di sampingnya ada dua ekor rajawali putih. Kwee Ceng jujur.‖ kata Kwee Ceng. ―Dia ajarkan ilmu kepada anak Ceng. yang terus undurkan diri. tetapi kemudian teecu merasakan hawa panas keluar masuk. apakah ini bukannya tenaga dalam!‖ serunya. ―Apakah kau tidak tahu. telah setengah harian aku menunggui kau!‖ kata putri itu. untuk bermain dengan burung mereka. membikin totokan itu kena dikemsampingkan. ―Adakah ini hasil latihannya totiang?‖ ia tanya pada dirinya sendiri. Tidak mereka sangka. ―Lekas. ketika totokannya Cu Cong mengenai. Terang murid ini tidak berdusta.‖ Kwee Ceng menyahuti. ―Siapa yang ajarkan kau ilmu itu?‖ Cu Cong tanya. mereka menjadi curiga. dia juga larang teecu memanggil suhu padanya. selama itu.‖ Liok Koay semakin heran. ia tak kurang suatu apa. dagingnya bergerak sendirinya. duduk bersila dan tidur. asal kau tidak beritahukan dia bahwa kami telah ketahui urusan ini. ―Kami tidak persalahkan padamu. Sama sekali ia tidak ajarakan ilmu silat pada teecu. ―Dia suruh teecu duduk. kau boleh pergi memain seperti biasa.

Siauw Eng dongak. Cu Cong terus lari pulang ke kemah untuk ambil dadung. Yang aneh. Segera juga mereka berserua karena kagetnya. sampai Tin Ok berempat datang menyusul. Mereka sendiri tidak khawatir nanti terlihat si murid. Cu Cong ceritakan halnya Kwee Ceng naik ke atas jurang. rasanya tak ada yang berkepandaian seperti dia…. Po Kie semua heran.‖ sahut kakak yang kedua itu. Di pinggiran lubang itu ada tanda hitam. Tempo mereka mulai menanjak. nah untuk apakah ia mengajari anak Ceng?‖ Siauw Eng tanya pula. Tak tampak juga orang yang dikatan gurunya itu. di atas jurang tidak terdengar gerak apa juga. khawatir nanti ketemu musuh lihay. ―Ibu. Kedua guru itu segera menguntit dari kejauhan. Di samping batu besar ada teratur sembilan buah tengkorak putih. ia gegetun. tentulah ia itu musuh…‖ Kim Hoat berpikir. ―Bisakah kita naik?‖ Kim Hoat tanya.‖ katanya. Kwee Ceng dapat mendaki jurang tanpa bantuan lagi.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kenalan?‖ ulangi Siauw Eng.‖ kata Cu Cong kemudian. aku hendak pergi!‖ begitu terdengar suaranya sang murid. kita coba saja. ―Siapa tahu kalau dia tidak tengah mengatur daya upaya busuk?‖ kata Tin Ok dingin. entah kemana perginya Kwee Ceng serta orang yang dikatakan gurunya itu. tentu saja.‖ Tin Ok mengatur. Empat saudara itu terperanjat. malah Kwee Ceng tak tampak turun. seperti terkorak pisau tajam. Semua tengkorak itu pun ada lubangnya. ―Kalau dia bukan sahabat. Cu Cong dan Kim Hoat heran bukan main. ―Kalau begitu. Sampai di lembah. Maka lekas-lekas mereka turun pula. di tengah tiga di atas satu. keduanya tiba juga di atas. maka itu. ―Belum tentu. ―Bwee Tiauw Hong!‖ sahut Cu Cong. Siauw Eng berpikir keras. Mereka menantikan. sang fajar telah menyingsing. Malam itu Cu Cong dan Kim Hoat menanti di luar kemah ibunya Kwee Ceng. cepat larinya. dengan ilmunya maju pesat. di bawah lima. ―Di antara kenalan kita. bekas totokan jari tangan. mereka lantas tanya ada apa dan kenapa dengan kedua saudara itu. Syukur di tanah datar itu tak ada sesuatu rintangan. Ia menjadi sangat berduka. Irawan D Soedradjat Page 135 . yang mana dikhawatirkan ada sisa racun. tepat dengan pengaturannya Hek Hong Siang Sat dahulu hari. Mereka lantas ambil tempatnya masing-masing. mereka gunai paku itu. hati mereka tegang dan cemas. akhirnya Cu Cong mengusulkan naik ke atas guna melihat. Tin Ok berlima mengangguk. Suasana malam ini mengingati ia malam itu tempo mereka mengepung Hek Hong Siang Sat dengan kesudahannya Thio A Seng menutup mata untuk selamanya. mereka dapat terus memasang mata. di situ tak ada orang. Keduanya kebat-kebit hatinya. masih si murid lari terus. Setelah bermandikan keringat. Semua saudara itu terkejut. puncak jurang tetap sunyi senyp. tunggu sampai mereka turun. masih tegang hatinya. dua buah kampak serta beberapa puluh potong paku besar. lalu ia lari keluar. yang larinya benar pesat sekali. Ketika itu. ―Kalau dia musuh. sang matahari sudah keluar. Sang waktu lewat detik demi detik. Mereka ini berbekal senjata. baiklah sebentar malam aku dan liok-tee pergi ikuti anak Ceng untuk lihat orang itu. ia lihat mega hitam. Lagi satu jam mereka menanti dengan sia-sia. Tanpa terasa. ―Mari kita sembunyi disini. mereka saling menarik.

―Habis bagaimana dengan janji pibu?‖ ―Lebih penting nyawa kita atau pibu itu?‖ tanya Tin Ok. bagaimana kau?‖ tanya Tin Ok. ―Aku setuju sama sie-ko. sangsi. kenapa si perempuan siluman itu tidak ajarkan dia ilmu silat?‖ tanya Po Kie. ―Kalau kita salah tindak karena kita merasa kasihan terhadapnya. mereka menggigil snedirinya. ―Apakah toako mau artikan si perempuan siluman buta itu hendak pinjam tangan anak ceng untuk celakai kita?‖ tanya Po Kie. Hebat ancaman bahaya yang mereka khawatirkan itu.‖ sahut Kim Hoat. Tin Ok menghajar tanah dengan tongkatnya. ―Mestinya begitu. ―Aku di pihak sietee. tak dapat diduga bagaimana hebatnya bencana yang bakalan terjadi. ―Tidak dapat?‖ Po Kie tegaskan pula. tidak nanti dia dapat berpura-rupa sedemikian rupa.‖ ―Tapi urusan ada sangat penting. Biar pun ia lihay. ia pun heran. yang akur sama kakaknya. ― Cu Cong peringati. kita memelihara harimau untuk meninggalkan bahaya untuk di kemudian hari. lalu tiba-tiba kita hajar dia hingga bercacat. ―Anak Ceng jujur dan polos. siapa tahu. baru kita pikir pula.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng?‖ tanya Siauw Eng. ―Habis kenapa ia ikuti si siluman itu selama dua tahun dan ia menutup mulut terus?‖ tanya Tin Ok. ―Samtee. ―Dia tak dapat dibikin bercacat!‖ jawab Hie Jin.‖ kata Siauw Eng. ―Anak Ceng hendak dibikin bercacat?!‖ serunya. akan tetapi kapan ia saksikan air mata adiknya. mustahil kita berenam kalah padanya…‖ Siauw Eng kaget. ia lantas tetapkan hatinya. ―Perempuan siluman itu hendak pakai tangannya si Ceng. ―Tubuhnya anak Ceng sudah cukup enteng. kita tunggu si Ceng datang pada kita. Hie Jin mengangguk. ―Kita berpura-pura tidak tahu. Si nona berdiam begitupun yang lainnya. ―Tidak bisa apa?‖ tanya Po Kie. Bagaimana kalau tindakan kita bocor?‖ ―Memang inilah berbahaya.‖ kata Kim Hoat. Po Kie bersangsi. ―Entahlah. tetapi ilmu silatnya masih kalah jauh denagn kita. ―Bukankah suaminya terbinasa di tangannya si Ceng?‖ Semua orang berdiam. dia bukannya satu manusia yang tak berbudi. mana dia begitu baik hati hendak menurunkan kepandaiannya?‖ kata Tin Ok.‖ Siauw Eng tetap bersangsi. ―Tidak bisa!‖ seru Hie Jin kemudian. ―Taruh kata anak Ceng mengandung maksud tidak baik. ―Lebih dulu kita mesti mencari kepastian.‖ jawabnya.‖ bilang Siauw Eng. ―Belasan tahun cape lelah kita. ―Mungkin mereka turun dari sebelah…‖ Ia lalu menjelaskan apa yang mereka lihat di atas sana. ―Sekarang mari kita pulang!‖ ia mengajak.‖ kata Tin Ok masgul. ―Mungkin siluman perempuan itu anggap waktunya belum tiba dan dia belum menjelaskan sesuatu kenapa anak ceng…‖ Kim Hoat pun mengutarakan dugaannya.‖ sahut Cu Cong. Iweekangnya sudah punya dasar. Irawan D Soedradjat Page 136 .

hati mereka tidak tenang. nanti aku yang turun tangan!‖ Demikian mereka bersiap sedia. hanya si imam ini segera menunjuk seraya berkata: ―Kau lihat. setelah toh dia datang untuk mencari.‖ ―Sebelum kau datang. mereka masih tetap ragu-ragu. kami tidak takut. masih belum tentu kita menang. tentulah si Mayat Besi datang untuk mencari guru-gurumu itu. ―Apakah bukan sengaja dia hendak membikin kita mendapat tahu dan bersiap sedia?‖ Irawan D Soedradjat Page 137 ―Aku pikir tidak demikian. ―Aku khawatir gurumu itu bukan tandingannya. Si imam itu tertawa. ―Dan sekarang kita ada berdelapan…. tiga setuju Kwee Ceng dibikin cacad dan tiga tidak. maka itu aku percaya. dia mestinya ada punya andalannya‖. ia datang.‖ ia bilang.‖ Mendengar disebut-sebutnya A Seng. ―Aku belum lama sampai disini. salah satu pihak tentulah lebih satu suara. tumpukan ini sudah ada.‖ katanya kemudian. ―Tempo aku sampai. Kalau begitu.Pendekar Pemanah Rajawali Dari enam bersaudara itu.‖ Si imam bicara dengan sungguh-sungguh. ―Mari kita pulang dulu!‖ Di dalam kemah mereka. berhneti mengucur air mata Siauw Eng. ―Adakah ini diatur oleh Hek Hong Saing Sat?‖ ia tanya. Maka Tin Ok bilang: ―Kalau benar. Tanghay. maka akhirnya. si imam sudah menantikan dia. ―Orang ini hebat ilmu silatnya. tidaklah demikian duduknya hal. siapa tahu. Umpama kata aku pun membantu pihakmu. kita pasti akan memperoleh putusan. ―Tidak dapat aku menduga sampai dimana lihaynya jeriji-jeriji tangannya itu.‖ ―Dia telah buta kedua matanya kena dihajar toasuhu. Ia kata: ―Sakit hati ngoko mana dapat tidak dibalaskan! Toako.‖ kata Kwee ceng. Tengkorak ini ada hubungannya sama Kiu Im Pek-ku iauw. ―Kiranya si Mayat Perunggu yang lihay itu terbinasa di tanganmu!‖ katanya.‖ sahut si imam. kami dengar titahmu!‖ ―Baiklah!‖ kata toako itu. Si imam jumput satu tengkorak. ―Eh. aku pun telah memikirkannya. maka sekarang kita harus mengerti. dia rupanya menyangka orang tak bakal datang ke tempat ini. Tentu saja ia menjadi kaget. lalu ia menggeleng-geleng kepala. Ia tuturkan hal pertempuran gurunya semua dengan Hek Hong Siang Sat itu dengan kesudahan gurunya yang kelima terbinasa. kamu halangi mereka. Kwee Ceng mengangguk. Tin Ok bersama Cu Cong dan Coan Kim hoat bukan bangsa sembrono akan tetapi menyaksikan keanehan Kwee Ceng dan di atas jurang kedapatan itu sembilan tengkorak dari Bwee Tiauw Hong. ia periksa itu. Cu Cong menghela napas. kita justru biasa datang kemari hingga kita mempergokinya. ―Pada belasan tahun dulu dia masih belum buta. kaut kepercayaan mereka bahwa Bwee Tiauw Hong adalah orang yang mengajari Iweekang kepada murid mereka. Nyatanya. ―Sebenarnya mau apa dia menyusun tengkorak-tengkorak di sini?‖ Kwee Ceng tanya.‖ berkata si imam. apakah itu?‖ Di bawah sinar rembulan guram. dia masih tidak dapat lawan tujuh guruku. ―Coba ngotee ada di sini. Kapan tadi malam Kwee Ceng tiba di atas jurang. Kwee Ceng kaget dan heran. heran. ia pun kasih tahu bagaimana dengan cara kebetulan ia dapat menikam mati pada Tan Hian Hong. ―Tetapi totiang. Tadinya aku menyangka ini permainan gila dari muridnya Oey Yok Su dari Tho Hoa To. jietee sama lioktee. adakah si Mayat Besi itu datang? Apakah totiang dapat lihat padanya?‖ tanya Kwee Ceng.‖ . kau pun kenal Hek Hong Siang Sat?‖ si imam tanya. Kwee Ceng lihat sembialn tengkorak.

disusul sama munculnya satu tubuh. dari itu dia terus dududk bersila di atas batu di mana biasa si anak muda bersemadhi. ia letaki itu ditanah. ―Jangan bersuara. Ia berbangkit. Menampak ini insyaflah Kwee Ceng akan pentingnya ilmu yang si imam ajari padanya. matanya memandang ke tempat sembunyi mereka. Habis itu. Diakhirnya ia ankat kaki. Tiauw Hong lantas bersilat. ujung itu ada punya belasan gaetan yang tajam. Kwee Ceng berdiam dan turut mengintai juga. Ia lihat tegas. Setelah matanya buta. dia bangkit berdiri. lantas ia hendak berlalu. atau tiba-tiba si imam sambar pinggangnya. Dalam jarak enam tombak. ujungnya yang lain menghajar batu besar! Habis itu Kwee Ceng dibikin kaget sama ujung cambuk yang emnyambar ke arahnya. Kupingnya menjadi terang sekali. Irawan D Soedradjat Page 138 . ―Kalau totiang tidak tolong aku. sedikit saja suara berkelisik. suara mereteknya Tiauw Hong menjadi kendor. untuk dipakai menangkis. cambuk ini berlipat sepuluh kali. Kwee Ceng heran walaupun ia tidak mengerti latihan orang yang luar biasa itu. lengan itu orang kasih paksa turun sedang bebokongnya ditekan supaya ia mendekam pula. Ia bergerak tanpa ia merasa. ia bikin gerakan seperti berlatih silat. napasnya ia tahan. mulanya perlahan. tangan kirinya menarik sesuatu dari pinggangnya. ujung cambuk lewat di atasan kepalanya! Anak tanggung ini mengeluarkan peluh dingin. yang dibawah sinar rembulan tampak nyata. ia dapat dengar. baru ia simpan pula barangnya itu. berlalu dari belakang jurang darimana ia datang tadi. Mungkin enam tombak. Dalam herannya. untuk keduanya berjongkok. Ia terkejut pula. Kwee Ceng hanya lihat berkelebatnya sinar putih perak dari suatu benda seperti ular panjang. ia rasakan lengannya sakit sekali.‖ katanya. Kim-liong-pian dari Han Po Kie panjang Cuma enam kaki. Cuma suara yang terdengar. Ia tidak takut. lalu berhenti. sukar orang lolos dari cambuknya yang panjang itu. untuk mereka memikirkan daya perlawanannya.‖ berbisik si imam itu yang terus mengintai. Ia berdiam. tubuhnya sendiri tidak bergerak. Tipu Lawan Tipu Berselang sesaat. cepatnya luar biasa. Sekarang ia melihat nyata itulah joan pian. sambil tertawa. Orang tidak usah menanti terlalu lama akan lantas terlihat berkelebatnya satu bayangan. buat segera diajak berlompat ke belakang batu besar. habis hancur kepalaku…‖ pikirnya. ―Baiklah. buat diajak mendekam. Itulah Tiat-sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi denagn rambutnya yang panjang dan riap-riapan. Tak dapat dia dilawan keras. Sekejap saja.‖ Kwee ceng terima pesan itu. Beberapa kali ia berbuat begitu. untuk dipondong. Tiauw Hong simpan cambuknya itu. atau mulutnya didului dibekap.Pendekar Pemanah Rajawali Hati Kwee ceng menjadi tidak tenang. Bwee Tiauw Hong sengaja menyakinkan cambuk lemas. Tak lama. Ketika ia berbangkit. ia cabut pisaunya yang tajam. Habis berlatih.‖ sahut si imam. dari keras dan nyaring. lagi ia berpikir. Ia kembali meraba barangnya itu . seperti lagi memikirkan sesuatu. ―Kalau begitu baiklah aku nlekas pulang untuk memberitahukan guruguruku. Yang hebat adalah tempo cambuk dipegang ujungnya dengan sebelah tangan kanan. Setahu bagaimana dia naiknya. Kwee Ceng menghela napas lega. Tapi si Mayat Besi tidak lihat siapa juga. lalu menjadi nyaring seperti meletusnya suara kacang goreng yang digoreng terlalu matang. hendak ia menanyakan sebabnya. tubuhnya Bwee Tiauw Hong kasih dengar suara meretek. karenanya ia jadi sangat bersyukur kepada si imam konde tiga ini yang tidak dikenal. cambuk lemas putih yang mengkilap. kaget ini bocah. Belum lagi kedua senjatanya beradu. lalu tangannya meraba-raba. Bab 13. Hebat bergeraknya cambuk lemas itu. Dengan ketakutan. Cambuk ini terus dicekal di tengahnya kedua tangan. ―Sekalian kau bilangi bahwa ada satu sahabatnya memesan dengan perantaraan kau bahwa lebih baik mereka menyingkir dari dia itu. sedang disebelah belakang jurang itu ada terlebih terjal tebingnya daripada bagian depan. Sekarang ia keluarkan suatu apa dari sakunya. yang ia telah latih dengan sempurna. untuk bela diri. Kwee Ceng mendekam. Di situ ia lantas menyakinkan ilmu dalamnya.. Kwee Ceng terkejut ketika Bwee Tiauw Hong memutar tubuh.

tidak nanti ia tidak memberikannya!‖ Wanyen Lieh. nah. tendanya berwarna kuning. ia berkata: ―Asal saja ayah angkatku Wang Khan memberikan titahnya. ketika ia melihat dari samping. ia ini kata. yang ekbetulan menoleh. untzk bawa ia turun dari belakang jurang itu. Pikirnya: ―Mustahilkah mereka bersekutu untuk mencelakai Khan yang agung? Bagaimana ini bisa terjadi?‖ Lalu terdengar seorang lain: ―Setelah kita berhasil.‖ Sangum tertawa dingin. Orang ada memakai jubah bulu ynag mahal. Ia tak usah mengingat-ingat lama.‖ Saudara angkatku Temuchin pintar dan gagah. Cara ini telah digunai oleh si Mayat Besi. di waktu langit mulai terang. maka ia lantas kenali sebagai Sangum.‖ berkata si imam. dengan goloknya membacok satu orang lain. maka ia menggeser. di sana ia menghilang. Di tengah-tengah ada sebuah kemah terbesar. sungguh bagus sekali!‖ Wanyen Lieh tersenyum. belum tentu kau akan berhasil. ia bilang: ―Berapa susahnya untuk ayahku memberi titahnya? Sebentar akan aku minta titahnya itu. sudah tentu aku tidak bakal sia-siakan padamu!‖ Kwee Ceng kenali orang itu adalah saudara angkat sehidup semati dari Temuchin. orang perempuan dan hartanya Temuchin terjatuh kepada Sangum. Justru itu terlihat satu orang. Jamukha bakal diangkat menjadi Tin Pak Ciauw-touw-su. Irawan D Soedradjat Page 139 .Pendekar Pemanah Rajawali ―Mari kita ikuti dia. Si imam kempit Kwee Ceng. Ia singkap lebih tinggi tenda. Malah ia sambar pinggang bocah itu. ia lari menyeusul. Dan Kwee Ceng merasakan dirinya seperti dibawa terbang. Di belakang ini si imam mendekam. orang pun bisa naik dengan melapati di oyot rotan. si putra Raja Kim yang keenam itu. ia menjadi heran. ialah pangeran keenam dari negara Kim!‖ Jamukha tertarik dengan janji itu. Lama mereka berlari-lari. entah ia bakal kasih pertunjukkan apalagi. dandannya mewah. untuk melihat tegas si pembunuh. ayahmu juga perlakukan aku baik sekali. yaitu Jamukha. si terbunuh itu adalah pengiringnya Temuchin. itu waktu kamu berdua masing-masing boleh memimpin duapuluh ribu serdadu untuk membantu. setelah usahanya berhasil. ia seperti mengenalinya. Dia itu sudah lantas susuti goloknya pada sepatu.‖ Sangum menjadi girang sekali. putranya Wang Khan. ia berkata: ―Kabarnya negara di Selatan itu adalah negara yang indah permai. berkata: ―Negeriku yang besar bakal lantas berangkat ke Selatan untuk menumpas kerajaan Song. terlihat Tiauw Hong berada jauh di arah utara. untuk melihat ke dalam. dia kata: ―Jikalau kau menyayangi kakak angkatmu. Kwee Ceng dapat kenyataan. Kwee Ceng kenali. rubuhnya ke dekat tenda di mana dua orang itu tengah mengintai. aku tentu menurut. pergilah kau melaporkannya!‖ Orang itu menyahuti: ―Kau adalah adik angkatku. Di situ ada satu orang lain. di seluruh tanahnya penuh denagn emas dan orang-orang perempuannya ada bagaikan bunga-bunga. untuk ini. dan dari pihak kami negara Kim yang besar. jika Tuan Pangeran mengajak kita bersaudara pergi ke sana. cara bagaimana kamu hendak menghadapi Temuchin?‖ dia tanya. yang rubuh dengan segera dan terbinasa. mereka mesti menyingkir dari serdadu-serdadu penjaga. Si imam mengcoba mengikuti terus. karena orang itu berdiri membelakangi dia. bukan?‖ berkata Sangum itu. kamu bakal dapat hadiah lainnya lagi!‖ Sangum girang sekali. yang pun lantas bangun. akan kata dalam hatinya: ―Ah. ia menjadi heran sekali. maka semua ternak. lalu ia dan Kwee Ceng menyingkap tenda.‖ Pangkat itu adalah pangkat tertinggi untuk wilayah utara dengan tugas memanggil menakluk dan menghukum pemberontak. semua sebawahannya untuk Jamukha. Tiauw Hong tiba di satu tempat di mana ada banyak kemah. Kwee Ceng tidak melihat tegas muka orang itu. Setibanya mereka di bawah. ―Sekarang tolong kedua tuan bilangi aku. ―Sekarang kau tidak akan sangsi pula. dibagian belakang ini.

ia lari ke dalam kemah. menuju kemahnya Kanglam Liok Koay. ―Biar apa dia lakukan.‖ 140 Imam itu bertindak mau. Bwee Tiauw Hong sendiri tidak ada bayangannya sekalipun. Pergilah kau masuk ke dalam. Terdengar Sangum berkata: ―Temuchin itu telah jodohkan putrinya kepada putraku. Ia membalas hormat. Mari lekas. Bukan main kagetnya Tin Ok berenam! Bagaimana mungkin Bwee Tiauw Hong datang diwaktu siang hari bolong? Maka bersama-sama mereka lompat keluar tenda. lalu ia berbisik: ―Tiauw Hong lagi cari orang untuk menanyakan tempat kediaman gurumu. maka terus ia rubuh. untuk menantikan kebinasaannya. ―Citmoay. di sana mereka tampak seorang imam tua.‖ dia berkata. . ―Dia ada di luar. ―Mana itu siluman perempuan‖ Cu Cong bentak muridnya. Ia lantas berbalik. baru saja ia kirim utusan untuk membicarakan hari pernikahan. maka bersama-sama mereka lari pesat. bilang pada gurumu bahwaTan-yang-cu Ma Goik mohon bertemu sama Kanglam Liok Koay.Pendekar Pemanah Rajawali Selagi Kwee Ceng memasang kuping. Cuma ia tetap belum tahu. siapa imam ini yang semestinya lihay. Dan melanjuti kemudian: ―Aku sudah lantas kirim orang untuk memberi balasan. Sekejap saja. tangannya itu kena orang sambar. sungguh pinto merasa sangat beruntung. tidak dapat aku berkukuh lebih lama lagi. Ia mengangguk. Maka ia lihat Bwee Tiauw Hong sedang membekuk satu orang. tidak nanti ia lolos dari jaring perangkapku ini! Ha-ha-haha!‖ Kwee Ceng kaget dengan berang gusar.‖ Dua tahun Kwee Ceng ikuti imam ini. Ketika itu hari telah siang.‖ sahut itu murid. apapula kapan ia kenali. maka itu baiklah kita sembunyikan orang disepanjang jalan. Tin Ok menghela napas. ―Suhu!‖ ia berseru begitu ia menyingkap tenda. mendadak ia merasakan dua tangannya sakit. hatimu lemah sekali!‖ katanya perlahan. menyusul mana Tiauw Hong berkelebat lewat. ia rasai si imam menarik ujung bajunya. ia tancap tongkapnya. ia dapatkan imam itu menunjuk ke belakang. Sekarang Kwee Ceng melihat. ―Biar aku dengari persekutuannya mereka ini yang hendak mencelakai Khan yang agung. yang hendak membinasakan saudara angkatnya sendiri.‖ sahut Kwee Ceng. akan tetapi urusan ada begini penting. sebatang tongkat melayang ke kepalanya! Bukan main kagetnya ia. Tapi di bawah terangnya sinar matahari. Aku percaya ia bakal datang dan tentunya tanpa membawa banyak pengiring. buat sesaat ini guru-guruku tidak bakal menghadapi bahaya. mungkin sebentar dia bakal datang kemari. Pedang guru itu telah terpental. bahaya tengah mengancam. akan setelah itu. Si imam tarik tangan si bocah. orang yang menyambar tangannya adalah Cu Cong dan Coan Kim Hoat.‖ Dia menunjuk orangnya Temuchin yang telah ia binasakan itu. sekarang kita dapat bertemu. ―Sudah lama pinto mengagumi tuan-tuan. lalu mereka mengawasi Ma Giok. Ia tidak sangka ada orang sedemikian jahat. Kanglam Liok Koay berdiam. Di sini si imam berkata: ―Sebenarnya tidak hendak aku perlihatkan diriku. ia menjura. kapan ia menoleh. ―Teecu telah lihat dia tadi. Ia pun lantas berkata: ―Tidak berani memohon tanya gelaran totiang. di tangannya ada orang yang dikempitnya. ialah Han Siauw Eng. si Mayat Besi sudah lewat jauh. rupanya ditanyakan sesuatu. aku minta ia besok datang sendiri untuk berembuk bersama ayahku. mereka berenam menjadi ragu-ragu. Kwee Ceng segera kenali gurunya yang ketujuh. dia mohon bertemu sama suhu semua. tahan!‖. ia masih hendak mendengari lebih jauh etika ia rasakan si imam sambar ia untuk ditekan. Irawan D Soedradjat Page Cu Cong lepaskan tangan Kwee Ceng. gurunya yang nomor satu. penyerangnya itu adalah Kwa Tin Ok. siapa terus berseru: ―Toako. disusul mana sakit di kakinya yang kena ditendang. tanpa ayal.‖ Kwee Ceng berpikir. Baharu saja ia memanggil itu. ―Mana dia gurumu yang mengajarkan kau ilmu dalam?!‖ tanya Tin Ok kemudian dengan dingin. baru sekarang ia ketahui nama orang. Ia lantas meramkan mata.‖ Maka itu ia mendekam terus seraya memasang kupingnya. kalau terlambat bisa gagal!‖ Kwee Ceng terpaksa menurut. Temuchin boleh mepunyai tiga kepala dan enam tangan. Segera itu menyusul terdengar suara senjata bentrok. yang ia masih pegangi. habis mana satu orang lompat kepada anak tanggung itu. Ia menjadi sangat bingung. akan pergi meninggalkan kemah beberapa puluh tindak.

―Kau berdiam bersama kami. hatinya berdenyutan. dalam hal nama ia kalah terkenal dengan Khu Cie Kee. sebentar aku akan kembali!‖ kata ini anak muda dalam bingung dan khawatirnya.ayahku ingin aku menikah sama Tusaga…‖ Lalu air matanya turun pula.‖ Tin Ok mencegah karena ia menyesal atas perbuatannya yang semberono tadi. Kwee Ceng menjadi sangat bingung.‖ berkata Ma Giok. ruapanya ia baru habis menangis. ―Maafkan kami! Entah ada pengajaran apa dari ciang-kauw maka telah datang ke gurun Utara ini? Adakah kiranya berhubungan sama janji suteemu mengenai pibu di Kee-hin nanti?‖ ―Suteeku itu adalah seorang pertapa. maka sekarang pinto mohon tuan-tuan tidak berkecil hati. Terpaksa ia berdiam. Pertama-tama pinto ingin bicara tentang anak ini. ―Itulah sebabnya walaupun pinto berada dekat dengan tuan-tuan tetapi pinto tidak membuat kunjungan. ia tidak berani pergi menghampirkan. Tentang itu pinto belum dapat perkenanan tuan-tuan. . Pinto bertemu dengannya pada dua tahun yang lalu. tidak ada orang yang mengetahuinya. justru itu terdengar suara tindakannya banyak kuda. lantas ia mengapai berulang-ulang. ia menjadi sangat menyayangi muridnya ini. mereka terperanjat. belum lagi ia menolongi si imam menyampaikan berita. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng tidak sahuti putri itu. ―Totiang larang aku bicara. ―Kenapa kau tidak hendak memberitahukannya dari siang-siang. denagn lancang pinto ajari dia cara untuk membantu panjang umurnya. tidak suka pinto orang ketahui tentang diriku. Siauw Eng menjadi girang sekali. Tiang Cun Cu Khu Cie Kee adalah adik seperguruan dari Ma Giok ini. itu adalah orang-orangnya Sangum. Tentang ini pinto pun memohon maaf. ia hanya menggapai. ―Pinto biasa berkelana. jangan pergi!‖ mencegah Tin Ok.‖ Ia lantas menjura pula.‖ Liok Koay heran tetapi tidak dapat mereka tidak mempercayainya. ia tampak datangnya Gochin. Dia biasanya berdiam di dalam kelentengnya. Bagaimana kalau si Mayat Besi datang dengan tiba-tiba? Kwee Ceng jadi semakin bingung.‖ Liok Koay heran. lalu tertampak beberapa penunggang kuda tengah mendatangi ke arah kemahnya Temuchin. tahulah ia. sedang tentang ilmu silatnya. kapan Kwee Ceng menoleh. dari itu. ―Toasuhu. Kanglam Liok Koay membalas hormat. Mereka tahu Ma Giok itu adalah murid kepala dari Ong Tiong Yang. ―Mengenai tabiatnya itu. karena mana. ―Kiranya ciang-kauw dari Coan Cin Kauw!‖ berkata Tin Ok. hingga kami menjadi keliru menyangka terhadapmu?‖ Ia mengusap-usap rambut muridnya itu.Pendekar Pemanah Rajawali Sekarang Kwee Ceng ingat. ―Adakah totiang ini yang ajarkan kamu ilmu?‖ ia tanya muridnya. ia lantas berkata: ―Inilah Tan-yang-cu Ma Goik Ma Totiang. pinto lihat dia polos dan jujur. tetapi ia masih gemar seklai dalam urusan pertaruhan. ―Jangan. Coan Kim Hoat lantas saja lepaskan cekalannya kepada muridnya itu. ia berkata dengan suara seperti mendumal: ―Ayahku…. kelihatan kedua matanya merah dan bendul. Disaat enam saudara ini hendak tanyakan hal Bwee Tiauw Hong. jarang sekali ia membuat perjalanan. kesan mereka lantas berubah. nampaknya ia sangat menyayanginya.‖ Kwee Ceng jawab gurunya ini. yang hendak memancing Temuchin. minta si tuan putri datang lebih dekat. Mengenai pertaruhan itu sendiri. ia hanya kata: ―Lekas kau pergi kepada Khan yang agung. terdengar pula congklangnya kuda. Kedatanganku ini adalah untuk lain urusana. Setelah wafatnya Ong Tiong Yang. hendak aku pergi sebentar. yang bertentangan dengan agama kami. Segera setelah itu.‖ Ma Giok berkata. Setelah datang dekat. ia jadi berkhawatir untuk ancaman bahaya dari pihaknya Bwee Tiauw Hong. Ia masih bicara sama guru itu tapi si guru sudah lantas bicara sama Ma Giok tentang pertempuran mereka melawan Hek Hong Siang Sat. dengan sendirinya dia menjadi pengganti kepala agama itu. sudah beberapa kali pinto menegurnya. pinto tidak ingin memcampurinya. Mereka lihat orang alim sekali. bilang Sangum bersama Jamukha lagi mengatur tipu daya untuk membinasakan kepada Khan!‖ 141 Gochin menghampiri. yang menjadi kauwcu atau kepala agama dari Coan Cin Kauw. beda daripada saudara-saudaranya. Putri itu menghentikan kudanya sejarak belasan tindak. Kwee Ceng takut pada gurunya.

kenapa dia girang?‖ ia tanya dirinya sendiri. dia pun buta matanya. ―Tentu saja benar!‖ sahut Kwee Ceng. pinto dapat menyatakan kepandaiannya Bwee Tiauw Hong telah maju pesat seklai. Silahkan totiang bicara. untuk selanjutnya tak dapat kita tidak berjaga-jaga.‖ Cu Cong semua berdiam. ―Pinto bukan hendak menangi lain orang dengan merendahkan diri sendiri. ―Tuan-tuan telah binasakan suaminya. ―Ah! dengan begini bukankah ia jadi tidak bakal menikah sama Tusaga?‖ Maka ia pun bergirang. untuk segera dikasih lari. ―Hek Hong Siang Sat adalah murid-murid murtad dari Oey Yok Yu.‖ Liok Koay berdiam. Kwee Ceng heran. ―Sejak dahulu kala ada dibilang. ―Ayahnya hendak dibikin celaka orang. ―Itulah memang benar. ―Kwa tayhiap berhati mulia. mereka awasi kakak mereka. untuk dengar putusan si kakak.‖ CU Cong berkata pula. bagaimana nanti…?‖ Tin Ok semua berdiam. Thian tentu akan memberkahi. tetapi untuk singkirkan dia. cara bagaimana dia dapat ajarakan pula ilmu?‖ ia tanya. kami pasti akan bersyukur. dapatkah kau membiarkannya saja?‖ ―Laginya sekarang ini dia yang mencari kami. Mereka mau menyangka orang bicara secara dilebih-lebihkan. dengan sebenarnya Bwee Tiauw Hong itu telah jadi sangat lihay.Pendekar Pemanah Rajawali Gochin terkejut. Umpama kata sekarang kita dapat singkirkan Bwee Tiauw Hong. ―Aku dengar sendiri persekutuan mereka itu! Lekas kau pergi kepada ayahmu!‖ Gochin menjadi tegang hatinya tetapi ia tertawa. permusuhan harus dilenyapkan. ―Maka itu totiang.‖ Coan Kim Hoat menyambungi.‖ berkata Ma Giok. hanya orang lagi melindungi juga mereka sendiri. Kalau kita bekerjasama berdelapan. Ia putar kudanya. Lalu ia ingat suatu apa. mereka masih kurang percaya sepenuhnya. entah bagaimana kemajuannya si Mayat Besi.‖ kata Po Kie kemudian. kita tidak bakal kalah.‖ berkata Ma Giok.‖ Irawan D Soedradjat Page 142 . ―Dia melatih diri secara demikian hebat. ―Jalan ini ada sempurna. jangan harap malah mungkin bakal rugi sendiri…‖ ―Habis apa sakit hatinya ngoko dan toako mesti dibiarkan tak terbalas?‖ kata Siauw Eng yang selalu ingat Thio A Seng. asal tuan-. Cu Cong semua terkejut. ―Kami Kanglam Cit Koay biasa sembrono. ―Kalau totiang sudi menunjuki suatu jalan terang. Dia sekarang telah dapat mewariskan kepandaiannya Tocu Oey Yok Su dari Tho Hoa To. ―Silakan totiang beri petunjuk kepada kami. tetapi jangan diperhebat. mungkin sekali Bwee Tiauw Hong telah dapat pengajaran baru dari Oey Yok Su…. kami Cuma gemar berkelahi. imam ini bukan melulu memintakan ampun untuk Bwee Tiauw Hong. ―Benarkah itu?‖ tanyanya. dia harus dikasihani.tuan suka berlaku murah dan suka mengasihani dia untul membuka satu jalan baru untuknya.‖ kata Tin Ok emudian.‖ kata Ma Giok seraya mengangguk. bukankah berarti sakit hati itu telah terbalas? Dia sebatang kara. ―Satu hal hendak pinto memberitahukannya. selama sepuluh tahun ini. Ia memang sayangi Gochin sebagai adik kandungnya! Itu wkatu terdengar suaranya Ma Giok. ―Baik!‖ katanya.‖ Cu Cong berkata kemudian. Suara kakaknya ini membikin heran saudara-saudaranya yang lain. Selama sepuluh tahun ini. dengan belajar sendiri.‖ Tin Ok mengerti. ―Kalau benar dia hendak menuntut balas. Mereka pernah mendengar perihal kepandaian Oey Yok Su itu.‖ Ma Giok bilang. Tanghay. tidak nanti ia dapat peroleh itu. Turut pikiranku. sedang cambuknya ada luar biasa. setiap tahun ia telah bunuh berapa banyak orang yang tidak bersalah dosa. ilmunya Kiu Im Pek-kut Jiauw sudah terlatih sempurnya. bukan kami yang emncari dia. Inilah sulit!‖ ―Untuk itu pinto telah dapat pikir suatu jalan untuk menghindarkannya. ―Hanya setelah mendengar Kwa tayhiap berusan perihal pertempuran pada belasan tahun yang sudah lalu itu. tapi aneh kenapa Ma Giok ini nampaknya jeri kepada pemilik pulau Tho Hoa To itu? ―Totiang benar. tanpa dapat penunjuk dari guru yang lihay. kemudian Oey Yok Su mendapat tahu. ―Taruh sekarang kita menyingkir dari dia.

‖ kata Ma Giok. kawan kesayangannya. imam ini tidak ada di sebawahannya Khu Cie Kee. Cuma Kwee Ceng yang hatinya goncang. Sekarang ini baharu mereka percaya habis imam itu. entah mayat atau orang hidup. Di bebokongnya ia menggendol satu orang. Kesunyian telah memerintah di atas jurang itu.‖ . Ia lantas saja bersembunyi di samping batu untuk memasang telinga. ia lantas mulai mendaki. Cuma kedua tangannya. terhadap kami dari Coan Cin Kauw. suaranya terdengar. di dalam hati mereka tertawa. mungkin Bwee Tiauw Hong tidak berani lancang turun tangan. ―Kita baik tunggui saja padanya. ―Pinto percaya. Irawan D Soedradjat Page Tiauw Hong sembunyi tanpa berani berkutik. ―St! Dia datang…!‖ kata Tin Ok. putrinya Temuchin. ―Ada siapakah yang tidak menghormati Cit Cu?‖ Dengan ―Cit Cu‖ dimaksudkan tujuh persaudaraan Tiang Cun Cu. Ia seperti tidak menggunai kakinya. tapi disaat itu juga.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto harap tuan-tuan tidak menertawainya. sekarang ia dengar suara orang bicara dan menyebut-nyebut Khu Cie Kee dan namanya juga. mengapa dia masih belum datang?‖ tanya Po Kie. ―Eh. . sambil beristirahat. Kwee Ceng terkejut kapan ia sudah lihat pakaian orang itu. enam saudara itu segera dapat lihat tumpukan tengokraknya Bwee Tiauw Hong. 143 ―Bwee Tiauw Hong atur tulang-tulangnya di sini. Karena ini juga. murid mereka itu. ―Bersyukur kepada guru kami. Sungguh gesit si Mayat Besi ini.‖ Ma Giok minta. Ia percaya. Kapan Cu Cong berpaling pada Coan kim Hoat dan Han Siauw Eng. si wanita siluman itu terjatuh ke dalam tanganku. Ia tidak tahu ada berapa orang lihay yang bersembunyi di situ. ia heran. Dengan lewatnya sang waktu. habis bersantap. Dia seperti naik di tangga saja. Sebenarnya Tiauw Hong masih jauh tetapi kuping lihay dari Tin Ok sudah mendengarnya. guna bnatu menggerek naik kepada Kanglam Liok Koay. yang adalah dari kulit burung tiauw yang putih. mereka sama-sama mandaki jurang. Cu Cong semua yang mengawasi. hati mereka berdenyut. Maka itu. hingga tibanya tengah malam. Itulah Gochin Baki. Sesempai di atas. Setibanya di kaki jurang. mulutnya bergerak. ia menjadi terlebih kaget. Lantas semua orang duduk bersamedhi. Tin Ok berenam jalan di belakang Kwee Ceng. cuaca mulai menjadi guram. Mereka percaya. Ma Giok dan Kwee Ceng yang jalan di muka. Masih mereka menantikan.‖ berkata Han Po Kie. Segera juga Tiauw Hong tiba di atas. mereka menantikan sang sore.aku Khu Cie Kee – pasti aku tidak akan mau sudah saja!‖ Tiauw Hong dengar seruan kaget dan suaranya Kwee Ceng itu. memang Cit Cu ini ada juga nama kosongnya di dalam dunia kangouw. Dia muncul dalam rupa seperti segumpal asap hitam. wajahnya sendiri tentu begitu juga. Ma Giok semua telah dapat lihat tingkah laku si Mayat Besi ini. karena ia pikirkan keselamatannya Gochin. Semua orang berdiam. dia tampak wajah orang tegang. tetapi untuk membari muka kepada Ma Giok. Tak dapat dicegah lagi. yang lemas. seraya guru yang kedua ini berkata terus: ―Kalau Bwee Tiauw Hong. terpaksa mereka menurut. mejadi kagum. Mereka dapat lihat cara naiknya ma Giok. Setibanya Ma Giok dan Kwee Ceng di atas.‖ kata Cu Cong. mereka lantas kasih turun dadung mereka. mulai habis sabarnya. Dia terlihat nyata di bawah sinar rembulan. sebentar dia bakal datang. Cuma tabiatnya itu dua saudara seperguruan saja yang berbeda. pinto hendak menggunai suatu akal untuk membikin ia kabur…‖ Lantas imam itu tuturkan tipunya. Sebenarnya Tin Ok tidak sudi mengalah. Cu Cong bekap mulutnya. lalu perlahan-lahan menjadi gelap. ―Harap totiang tidak terlalu merendah.

‖ berkata Cu Cong. perlahan-lahan si nona membuka matanya. Tiba-tiba Tiauw Hong ingat apa-apa.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia memang banyak kejahatannya. Demikian mereka ini berbicara. tentang mereka itu. karena lihaynya tendangannya dan pernah ia bertaruh mendaki jurang yang tinggi hingga ia dapat menakluki beberapa puluh orang gagah di Utara. Khu Cie Kee yang namanya paling tersohor. Cie Kee sendiri puji padanya. Dipihak Liok Koay juga mungkin bakal ada yang bercelaka. ―Selama ini telah maju pesat sekali kau punya ilmu Cie-pit-kang. ―Barusan teecu seperti dengar suara wanita. yang disini menyamar sebagai Tam Cie Toan. Cuma dikhawatirkan keselamatan Kwee Ceng dan Gochin. Kwee Ceng tahu peranannya. Ma Giok kasih lihat gerakan si Mayat Besi itu. Murid kepala. Pembicaraan itu membikin gentar hatinya si Mayat Besi. ―Tam Suko. kepandaian mereka juga maju pesat. itu tandanya si nona tidak dalam bahaya jiwa. untuk antarkan dia pergi ke sorga di Barat…‖ Dalam Coan Cin Cit Cu. Kalau terjadi pertempuran. ―Syukur langit gelap. dengan mata mereka yang lihay. Ia menjadi lega hatinya. apakah kau yang barusan berbicara?‖ tanya Coan Kim kepada muridnya. untuk mencegah si nona itu berbicara.‖ ia dengar suaranya Han Siauw Eng. Kau akur?‖ Hie in sengaja menyahut: ―Lebih baik minta Ong Sutee yang gunai kaki besinya untuk dupak dia. istrinya Ma Giok pada sebelum Ma Giok sucikan diri. ―Tapi karena Coan Cit Kauw mengutamakan wales asih. ―Kalau tidak. mereka tentulah telah dapat lihat aku. ―Ceng Ceng San-jin sangat murah hati. pantas suhu pernah bilang kau gampang untuk mencapai kesempurnaan!‖ katanya. seperti sandiwara. Kita mesti mencegah si siluman perempuan itu dapat meloloskan diri!‖ Girang Tiauw Hong mendengar itu. Siauw Eng bicara sebagai juga ia adalah Ceng Ceng San-jin.‖ ia menyahut. ―Engko Ceng lekas tolongi aku!‖ ia berteriak. Kwee Ceng menjadi sangat bingung. ―Cie Peng. tidak seorang juga kaum kangouw yang tidak mengetahuinya. Dan yang terakhir adalah Ceng Ceng San-jin Sun Put Jie. silahkan kau yang turun tangan. mengertilah ia bahwa orang mungkin mulai curiga.‖ Cu Cong tertawa. kalau sebentar si siluman perempuan datang. untuk menyakinkan kekuatan kakinya itu. hingga ia berpikir: ―Coan Cin Cit Cu telah berkumpul semua. Segera ia totok urat gagu si tuan putri itu. kalau sebentar kita turun tangan. kalau aku terlihat mereka. baiklah ia diberi jalan baru…. Yang keempat ialah Tang Cun Cu Khu Cie Kee. Irawan D Soedradjat Page 144 . ―Jangan bicara!‖ katanya. Yang kedua adalah Tiang-cin-cu Tam Cie Toan. yang ketiga Tiang-sen-cu Lauw Cie Hian. bagaimana pikiranmu?‖ tanya Siauw Eng. Sembilan tahun ia mengeram di dalam gua. Tapi dia toh bicara dengan suara keras! Kagetnya Tiauw Hong tidak kalah dengan kagetnya si anak muda. Kauwcu Ong Tiong Yang ada punya tujuh murid yang mendapat nama baik. Si nona tapinya tidak mengerti. Cuma Tin Ok yang bungkam.‖ katanya dalam hati. karena ia khawatir suaranya dikenali Bwee Tiauw Hong. Ia tanya Hie Jin. ―Coan Cin Cit Cu ada disini semua? Benarkah ada begini kebetulan? Bukankah orang lagi menghina aku karena aku buta dan sengaja mereka mengatur sandiwara?‖ ia mulai geraki tubuhnya. mana bisa aku hidup lebih lama?‖ Cu Cong berkata pula: ―Malam ini gelap sekali sampai lima jeriji tangan sukar terlihat. yang kelima Giok-yang-cu Ong Cie It. supaya kami yang menjadi saudara-saudaramu dapat membuka mata kami. yang disamarkan sebagai In Cie Peng. ―Tam Suko. ialah Tan-yang-cu Ma Giok. Ia menjadi berkhawatir. ia lantas menggoyangi tangan. si toa-suheng. ―Dia berdosa tak terampunkan!‖ sahut Hie Jin sebagai Cie Toan. pihaknya tak usah takut. yang kedua adalah Ong Cie It. yang mendapat julukan Thie Kak Sian si Dewa Kaki Besi. Berterima kasih kepada Langit dan Bumi yang sang rembulan tidak muncul!‖ Kwee ceng sendiri mengawasi Gochin. baik semua berlaku hati-hati. Ia lalu menjadi heran dan curiga. Yang keenam Kong-leng-cu Cek Tay Thong.

rasa hati harus dikendali. murid dari Tiang Cun Cin-jin. untuk mengasih bangun padanya.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong mengawasi gerak-geriknya Bwee Tiauw Hong. tubuhnya diam saja. Bwee Tiauw Hong ada di sini!‖ Semua orang terperanjat sangking herannya. dilain pihak ia geraki tangan kirinya itu. Kwee Ceng lantas lari menjauhkan diri.‖ Tiauw Hong segera berpikir: ―Muridnya begini muda tetapi tenaga dalamnya sudah bagus sekali. apakah artinya itu?‖ Ma Giok menyahuti: ―Timah itu sifatnya berat. Tahu-tahu tangan kirinya si Mayat Besi sudah lantas menyambar dan mencekal tangan kirinya. tidak berani aku memohon pengajaran dari totiang beramai. maka ia tanya Ma Giok: ―Ma totiang. timah dan air perak disimpan denagn hati-hati. Maka ia lantas membentak: ―Silumanm. tanpa pedulikan lihaynya Bwee Tiauw Hong. mungkin tangannya itu sudah tidak dapat ditolong lagi…. Coba si Mayat Besi tidak jeri. ia lantas menjawab: ―Sebenarnya walaupun aku menjadi saudara yang tertua. tetapi telah lama aku dengar ilmu silatnya Ceng Ceng San-jin. tidak dapat ia berdiam saja. asal dia suka mengubah perbuatannya…. berkumandang di dalam lembah.‖ Ma Giok tahu Cu Cong ingin dia perlihatkan kepandaiannya guna menakluki Bwe Tiauw Hong.‖ Tiba-tiba terdengar suara dingin dari belakang batu: ―Terima kasih untuk kebaikannya Coan Cin Cit Cu! Aku. Tapi ia ingat suatu apa.‖ Irawan D Soedradjat Page Pertanyaan itu membuat Ma Giok terkejut. Kwee Ceng lihat Gochin rebah di tanah. terdengar tedas sampai jauh. Ia dapat lolos. Memang persahabatannya erat sekali dengan itu putri serta Tuli. apabila ia lihat tangannya. ia dapat meloloskan diri dari tanganku. Itu artinya. tidak tahunya dia benar bernyali besar. tak dapat aku lawan kau. di situ ada petahan lima jari tangan. segera ia berkata dengan nyaring: ―Toa suko. ia menyambar pula. kali ini ia memegang nadi orang. yaitu Kimkwan Giok-cauw ie-sie Koat? Pastilah kau telah peroleh kemajuan. Bwee Tiauw Hong mengkerat mendengar suara orang itu. ingin aku memohon pengajaran daripadanya…‖ Habis berkata. siap sedia dengan cambuknya yang panjang itu. Ma Giok llihat kelakuan orang. kau hendak mendapatkan pelajaran sejati? Lekas pergi!‖ 145 Tiauw Hong tanya pula: ―Nona muda dan anak muda. kedua pihak baiklah menyudahi urusan mereka. Baiklah aku menyingkir dari mereka…‖ Dengan perdengarkan suara. ―Hm!‖ ia lepaskan cekalannya. Aku pikir. Tentu sekali. Coba kau pertunjuki untuk kami lihat. pergi kau menemui mereka itu. Tiauw Hong pun tidak berani mengulangi tantangannya untuk mencoba menempur Sun Put Jie. apakah artinya itu?‖ . kalau benar. dalam sepuluh tahun tidak ada dua…. ―Penyelesaiannya berada di pihak Bwee Tiauw Hong sendiri. ia lihat bahaya mengancam. Khu Sutee. Apa yang aku dapati dari guru kita. umpama kata ia menyesal dan suka mengubah kesalahannya yang dulu-dulu dan tidak tidak lagi mencelakai orang-orang yang tidak bersalah dosa serta tidak akan mengganggu pula kepada Kanglam Liok Koay. baiklah kita beri ampun kepadanya. diumpamakan dengan rasa hati. saudara-saudaraku. ia berkata pula: ―Kabarnya Bwee Tiauw Hong telah buta kedua matanya.‖ sahut Cu Cong. Tapi Tiauw Hong benar-benar lihay. lantaran aku bebal. Mereka duga Tiauw Hong jeri dan bakal menyingkirkan diri secara diam-diam. peryakinan berhasil. ia berdiri.‖ ―Itulah perkara gampang. maka anak muda itu menjadi mati daya. ia lompat kepada kawannya itu. bagaimana dengan penyakinan pelajaran yang suhu ajarakan beberapa tahun ini. Di satu pihak ia lemparkan tubuh Gochin kepada Siauw Eng. atas mana Kwee Ceng segera memberikan penyahutan: ―Teecu adalah In Cie Peng. dia malah menghampiri mereka. dengan berdiam. untuk mohon mereka jangan membuat perhitungan pula dengan dia. Perlahan-lahan ia kembali ke tempat sembunyinya. Itu bukanlah pertanyaan biasa. Imam ini bicara secara merendah akan tetapi ia telah gunai tenaga dalamnya. maka itu suaranya nyaring luar biasa. ia harus dikasihani juga. Kata-kata itu ialah istilah dalam kalangan agama To Kauw. Tiauw Hong berkata pula: ―Aku adalah seorang wanita. untuk berkelit. dagingnya melesak ke dalam. Oleh karena ini. kau bersahabat serat dengan Kanglam Liok Koay. ―Siapa kau?‖ tanya si buta. Maka sekarang. ia berkhawatir. Cu Cong memberi tanda dengan tangan kepada muridnya itu.

‖ Cu Cong tawarkan diri. ia hendak hukum padamu. suatu tanda bahwa ia ada mendukakan apa-apa. ayahku tidak percaya keteranganku. untuk berduduk di atas batu. tentulah batok kepalamu sudah berlobang lima jari tanga…‖ ―Sudah berapa lama Khan pergi?‖ tanya Kwee Ceng yang hatinya cemas. Ia rupanya sadar seluruhnya. ayah malah jadi semakin tidak percaya. lalu ia sadar. ayah tertawa terbahak-bahak. ayah sudah ajak orang pergi kepada Wang Khan…‖ Kwee Ceng kaget. ―Ilmunya si Mayat Besi ini.Pendekar Pemanah Rajawali Tiauw Hong tertawa lebar. dia belum berhasil menyakinkannya. apabila kau memerlukan sesuatu. . tanpa berpikir lagi. Adakah dia yang membawa aku menemui kamu?‖ Putri ini tak sadar akan bahaya yang mengancam padanya tadinya.‖ berkata imam itu setelah menghela napas panjang. walupun kami tidak punya guna. ―Kenapa Khan tidak percaya kepada kau?‖ ia tanya. tidak disangka si Mayat Besi telah jadi begini lihay.!‖ Selagi Ma Giok mengatakan demikian. Mestinya itu adalah jalan yang ia belum dapat tangkap artinya. cambuknya digeraki melilit batu. Ma Giok segera totok sadar kepada Gochin yang diletaki di atas batu untuk beristirahat. Irawan D Soedradjat Page 146 ―Sudah sekian lama. hingga orang semua kagum. Setahu darimana. Benar pinto telah baharu menjawab sekali. Kalau dia tambah lihay dan tetap ia berbuat jahat. mereka tidak mengerti. Hanya dalam Iweekang. dia belum menemui jalannya yang benar. akan tetapi itu satu juga bisa membantu banyak padanya untuk ia peroleh kemajuan…‖ ―Harap saja ia insyaf dan tidak nanti melakukan pula kejahatan.‖ berkata Ma Giok.‖ ―Jangan mengucap begitu. aku jadi hendak memperdayainya. atau ilmu dalam. tetapi di tengah jalan aku dibekuk perempuan buta itu. Ayah pergi dengan mengajak ketiga kakakku serta belasan pengiring. yang keningnya berkerut. ―Harap saja begitu.‖ sahut imam itu. Aku telah jelaskan bahwa hal itu kau dengar dengan kupingmu sendiri. ―Adakah totiang dilukai senjata rahasia?‖ mereka tanya. orang berlega hati melihat perginya wanita bagaikan siluman itu.‖ kata Siauw Eng separuh menghibur. yaitu yang disebut Gwa-mui atau ilmu luar. ―Hanya tadi ketika ia menanya padaku. ―Totiang. Terus ia angkat tubuhnya. Pinto khawatir jawaban itu nanti menjadi bahaya di belakang hari…‖ Cu Cong semua mengawasi. Ah. Tadi ia menanyakan jalan itu kepada pinto.‖ sahut si imam kemudian. apabila ia menarik dan tubuhnya mencelat.‖ ―Oleh karena kurang pikir. ―Harap totiang jangan segan-segan menitah kami. ―Coba tidak totiang membantu kami. ―Terima kasih atas petunjukmu. bagaimana sekarang?‖ Lantas saja ia menangis. Kwee Ceng menjadi bingung. Sangum dan Jamukha bakal celakai ayahku itu. kami bersedia untuk menerima titah-titahmu. ―Sepuluh tahun ia tak tertampak. Karena itu aku segera berangkat untuk cari kau. Ia lihat imam itu berduka. pinto telah jawab dia. dasar aku yang semberono. Engko Ceng. Ayah bilang. masih belum tentu kita dapat menangkan dia. gerakannya sangat enteng dan pesat. dia rupanya telah dapat cari jalan itu. ia lompat ke arah jurang. maka itu Cu Cong dan yang lainnya kata dalam hati mereka: ―Coba tidak ada kita disini. Ayah bilang. Terus ia berlompat. totiang!‖ katanya. aku tidak bercuriga…. Inilah yang pertama kali ia menghadapi soal sulit itu. hanya karena tidak ada orang yang tunjuki. karena ia lantas berkata kepada Kwee Ceng: ―Engko Ceng. Tidak lama lagi tentulah mereka akan sudah sampai di tempatnya Wang Khan. Di lain pihak. sepulangnya nanti. sejenak barusan pinto telah kena tertipu wanita yang sangat licin itu. Gochin perdengarkan suara. telah berada di atasan pinto dan saudara-saudara. sudah tentu kami sukar lolos dari nasib celaka.‖ berkata Cu Cong. dia jadi terlebih sukar untuk ditakluki. lantaran aku tidak sudi menikah denagn Tusaga. ―Itulah bukan. Cu Cong semua terkejut. ―Mereka menunggang kuda pilihan. ―Tempo aku beritahukan bahwa kedua paman Sangum dan Jamukha hendak membikin ayah celaka. ―Umpama kata Khu Sutee dan Ong Sutee berada di sini.‖ sahut Gochin.

Di lain pihak ia menjadi girang sekali. Sesudah lari lagi satu jam. tengah mengandali tenagaku. habis mana. ―Kha Khan. ―Kau pakai kuda merahmu itu untuk susul Khan yang agung! Umpama kata ia tidak mempercayaimu. Irawan D Soedradjat Page 147 . Ia pun berpendirian. Setibanya di lembah. ―Naik ke bukit itu!‖ Ia kasih perintah. terus ia lari. ―Benar-benar pasukannya Wang Khan!‖ ia berseru. ia kata pula: ―Kha Khan. Ia pun beritahukan perihal tentera pencegat di belakang mereka. untuk mengatakan: ―Lekas kamu pergi menyelediki!‖ Dua orang itu sudah lantas lari balik. Dan kau. Dengan roman bersangsi. ia tampak rombongan dari belasan orang yang tengah maju terus. baru kuda itu mau juga diistirahatkan sebentar. mereka lantas menggali lobang dan memindahkan batu. Terang Temuchin telah lewat di situ. sedang Ma Giok denagn mengikat tubuh Gochin. ―Jangan pergi lebih jauh!‖ Temuchin heran. itulah pasukan Wang Khan. Maka itu kemudian ia sudah mulai dapat melihat bendera yang besar dari Temuchin. tetapi ayah angkatku. ia mendahului turun dari atas jurang. yang siap sedia denagn panah dan golok terhunus. tanpa ayal lagi. ia tahan kudanya. dan itu berarti. dia harus mengirim orang untuk mencari keterangan terlebih dahulu. lekas kembali!‖ ia berteriak. untuk menaikinya. khan ini tidak jeri. Setelah ia mendatangi lebih dekat. Temuchin adalah seorang yang teliti. untuk minta ia lekas siapkan tentara guna segera pergi menyusul dan menolongi ayahmu!‖ Kwee Ceng menginsyafi keadaan. yang terus tuturkan persekutuannya Wanyen Lieh. Jebe ada sangat awas. begitu naik ke atas bukit. ―Siap sedia!‖ Dalam keadaan seperti itu. guna memegat Ogotai dan Chilaun. ia puas benar dengan kudanya yang larinya sangat pesat. ia kabur pula. kita sehidup semati. jalan pulang dari Khan agung itu telah terpegat. apa mungkin nia hendak mencelaki aku?‖ Kwee Ceng tahu khan itu bersangsi. ia sudah lewat jauh! Di tengah jalan Kwee Ceng tidak berani berlambat. panglimanya. tubuhnya mendekam di punggung kuda.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng lekas kau pergi!‖ berkata Cu Cong. mereka ambil sikap mengurung. untuk berjalan perlahan-lahan. cambuknya dipecut berulang-ulang. tibalah Kwee Ceng di tempat datar dimana kedapatan tiga baris tentera yang jumlahnya mungkin tiga ribu jiwa. untuk mencegah. Karena ini. ia tampak tentara itu tengah mengejar. Kwee Ceng kabur ke kemah di mana ia ambil kudanya. tetapi si kuda tidak mau berhenti.‖ sahut Kwee Ceng. Ia pun berpikir: ―Memang Sangum tidak akur dengan aku. apapula di tanah rata. nampaknya ia tidak takut capek. ―Lebih baik terpedaya satu kali tetapi jangan mati konyol!‖ Maka ia terus berpaling pada Ogotai. ―Ada bahaya. lekas kau pergi kepada kakakmu Tuli. Temuchin awasi bocah tanggung ini. Pernah ia mencoba menahan. Dipaling depan pasukan itu terlihat Ogotai dan Chilaun lari kabur mendatangi. disusul sama munculnya satu pasukan tentara terdiri dari beberapa ribu jiwa. Temuchin memandang ke sekelilingnya. Dari benderanya ketahuan. telah turunkan tuan putri itu. siapa sudah lari terus. Wang Khan. ―Ada apa?‖ ia menanya. cobalah kirim orang untuk periksa benar atau tidak ada tentara pencegat jalan!‖ Biar bagaimana. untuk tiba di samping khan itu. ia khawatir hewan itu terlalu letih. malah tiga jagaan telah ia lewatkan terus. buat berjagajaga diiri dari serangan anak panah. Segera terlihat pula. pasukan pengejar itu memecah diri dalam diri dalam jumlah ratusan jiwa. Ia pun ada bersama orang-orangnya ynag gagah. ia keprak kudanya. Selang dua jam. putranya yang kedua itu dan Chilaun. tuan putri. Saudaraku Jamukha ada sangat baik denganku. ia keprak kudanya untuk dikasih lari lewat di sini tentara itu. malah mereka ini tahu tugasnya. guna dikasih lari sekeras-kerasnya. Tak lama dari selatan terlihat debu mengepul naik. Ia khawatir Temuchin keburu sampai di tempat Wang Khan dan itu artinya bahaya untuk Khan yang maha agung itu. Ketika si opsir dapat ketahui dan berseru. Di dalam hati Kwee Ceng mengeluh.

ia hanya menanya: ―Apakah salahku terhadap ayahku Wang Khan. kenapakah kita tidak hendak pergi mengambil emas dan perak dan permatanya bangsa Kim itu? Kenapa kita mesti tiap tahun membayar upeti terhadap mereka? Kita bangsa Mongolia ada diantaranya yang rajin memelihara kerbau dan kambing. Kwee Ceng kenali panglima yang masih muda itu. ia menyusuli dengan anak panahnya yang keempat. Ia lantas saja berpikir. putranya Wang Khan. Ia anggap ia mesti menang tempo. mendahulukan gurunya. Bagaimana bahaya dapat dihindarkan? Selagi ia berpikir. Temuchin naik ke tempat yang lebih tinggi. Temuchin sengaja singgung sifat itu. Ia telah menyaksikan tentaranya Wang Khan tengah mendatangi di empat jurusan itu. akan memandang jauh ke empat penjuru. kambing dan kuda. Orang itu ialah Sangum. mereka sekarang turut menyerang denagn panah mereka. jangan kau memikir untuk hidup lebih lama pula!‖ Kwee Ceng menjadi cemas sekali. dengan berulang-ulang. ia pun nyata sekali kepuasannya. berlaksanaan anak panah bakal dilepaskan terhadap dirimu! Jikalau itu sampai terjadi. Temuchin tidak menyahuti. sudah lantas memanah juga. sukar buat ia menoblos kurungan. Dan ia keprak kudanya. negara itu menghendaki kita setiap tahun membayar upeti beberapa laksa ekor kerbau. Cepat luar biasa. Akan tetapi musuh berjumlah besar. ―Adik Sangum. Sendirian saja. diturut oleh muridnya. Dengan aksi ia larikan kudanya mondarmandir. ada juga yang malas dan cuma doyan gegares! Kenapa mereka yang rajin mengasih makan mereka yang malas itu? Kenapa kita tidak hendak memberikan lebih banyak kerbau dan kambing kepada yang rajin? Kenapa kita tidak mau membiarkan si malas itu mati kelaparan?‖ Dijaman dahulu bangsa Mongolia hidup dalam suatu keluarga atau suku. ternaknya adalah kepunyaan suku bersama. Panah mereka tidak pernah gagal. Juji dan lainnya. kenapa kita mesti takuti bangsa Kim itu?‖ Kata-kata ini tajam. Di sini khan itu bersama Borchu. putra Sangum. adakah itu selayaknya?‖ Temuchin balik tanya. Ketika ia buka mulutnya. ialah kebanyakan bangsa penggembala itu memakai cara memiliki sendirisendiri. Tuli sendiri belum tentu tepat datangnya. Hebat lari kudanya kwee Ceng. siap sedia tameng besi mereka guna menangkis panah gelap. kapan orang-orangnya Sangum mendengarnya. ―Temuchin. kemudian karena tenaga pertumbuhan mereka bertambah dan adanya pemakaian alat-alat dari besi. terus ia gunai panahnya. Tusaga adanya. maka denagn berulang-ulang sejumlah serdadu musuh rubuh terguling. tetapi kau kenapa. Sangum mendekati bukit. Sangum mengerti orang lagi menghasut tentaranya. diam-diam mereka itu pada mengangguk. mari kita sambut mereka!‖ Jebe berteriak. lekas menyerah!‖ demikian ia berteriak. yang ditawungi bendera kuning yang besar juga. kapan tiga anak panahnya melesat. sembari menyerang mereka mundur ke bukit dimana Temuchin menanti. ia mengenakan juga mantel bulu kulit binatang tiauw yang mahal. Ia berlaku jumawa. maka kau bawa pasukanmu untuk menyerang aku?‖ Sangum pun menjawab dengan pertanyaannya: ―Adakah sejak jaman dahulu kala bangsa Mongol tinggal pada masing-masing sukunya. tiga pengejar terdepan rubuh dari kuda mereka. ―Jikalau kau tidak mau menyerah!‖ ia membentak. Beberapa puluh tentara lain pun melindungi dia dengan mereka. perlahan-lahan sifat itu berubah. Mereka setujui perkataan itu. hati mereka goncang. Keadaan ada sangat mendesak dan sulit. ―Asal aku menuding dengan cambukku ini.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng. di sebelahnya baju lapis. Penunggang kuda itu dandan sebagai satu panglima perang. dengan memperlambat segala apa. ternaknya kambing dan kerbau adalah kepunyaan beramai satu suku. Dengan diiringi pasukan pengawalnya. ―Asal saja kuta bangsa Mongolia tidak saling menyerang. dengan siapa ia Irawan D Soedradjat Page 148 . mereka maju bagaikan gelombang! Ogotai dan Chilaun telah tahan kuda mereka dan berbalik. Jebe lebih lihay daripada muridnya ini. ia turut memanah. aku minta sukalah kau datang ke mari untuk bicara!‖ ia lanats teriaki itu saudara angkat. ia lihat satu penunggang kuda di kaki bukit itu. Di tangannya panglima itu ada sebatang golok besar. ia membuatnya tentaranya Sangum menyetujuinya. ia tiba lebih dahulu kepada Ogotai dan Chilaun. Temuchin lanjtui perkataannya: ―Bangsa Mongolia bangsa orang-orang peperangan yang pandai. denagn begitu pihak pengejar dapat tertahan majunya. kau langgar aturan leluhur kita? Kenapa kau hendak persatukan semua suku?‖ ―Bangsa Mongolia telah diperhina oleh negara Kim. Kemudian pada sebuah pasukan ia tampak seorang yang menunggang seekor kuda yang besar. karena ada kemungkinan tentaranya tak mau dengar putra yang masih muda itu.

begitu kena di cekal. Menampak itu. ia kasih perintah orangorangnya terus memasang mata. Celaka untuk Tusaga. untuk ringkus Tusaga. seorang denagn pakaian putih muncul di kaki bukit. mereka gagal. tubuhnya kena diangkat dari kudanya. maka ia jepit kudanya. ―Kakak kau telah menjadi Khan yang agung. dalam tujuh dan delapan lapis! Temuchin puji Kwee Ceng. ia dengar suara anginnya senjata mengaung di arah belakangnya. Dengan gampang mereka itu melakukannya. Ia lantas ingat suatu apa.‖ katanya Jamukha lagi. Ingatkah apa pesan leluhur kita itu?‖ Irawan D Soedradjat Page 149 . Temuchin usir utusan itu. ke dekatnya khan yang agung itu. ia berpaling lekas. Ia lantas duduk bersila. Ujian Yang Pertama Sangum murka berbareng bingung. untuk dipakai menjadi tameng. meminta putranya dimerdekaan. Kuda itu pun lantas mengerti. Jamukha menghela napas. tangan kirinya menangkis. ia lantas berteriak: ―Di sini Jamukha! Aku ingin bicara dengan saudara Temuchin!‖ ―Kau naiklah kemari!‖ Temuchin menjawab Jamukha mendaki dengan perlahan-lahan. ia kasih lari turun gunung. Mereka Cuma mundur. supaya Temuchin menyerah. Ia segera menuding dada Tusaga dengan ujung tombaknya sembari berbuat begitu. Temuchin hunus goloknya. Temuchin khawatir Sangum menyerbu. kembali ia menitahkan mereka untuk mematahkannya. tidak dapat ia berontak. ia suruh mereka masing-masing mematahkannya. ia masaki daging kambing kepada mereka. sambil berpaling. Tepat tangkisan itu. ia teriaki Sangum: ―Lekas kau suruh semua orangmu mundur seratus tombak!‖ Bab 14. Tanpa terasa. ia pegang tubuhnya Tusaga. ―Lima putra mereka tidak hidup rukun. katanya. ―Adakah kau masih anggap aku sebagai kakak angkatmu?‖ ia menegur. ia mati kutu. Bergantian mereka berlima mencoba mematahkan anak panah itu. maka tempo Kwee Ceng menarik. Tiga kali Sangum mengirim utusan.Pendekar Pemanah Rajawali pernah berkelahi waktu kecil. Ia lempar tubuh Tusaga ke tanah. sepasang tombak kena dibikin terpental ke udara. ―Lepas panah!‖ orang-orangnya Sangum berteriak. ―Pelbagai kepala suku pada membilangnya bahwa leluhur kita sudah turun temurun beberapa ratus tahun hidup secara begini. Dengan tidak kurang suatu apa pun Kwee Ceng tiba di samping Temuchin. tapi pengurungan tidak dibubarkan. Kwee Ceng tidak takut. Ia kaget dan tidak menyangka putranya dapat ditawan musuh selagi putra itu berada dalam lindungan tentaranya yang berjumlah besar itu. kenapa kau masih berambekan besar sekali?‖ ia tanya. Adalah adat istiadat bangsa Mongolia akan saudara muda memeluk dan merangkul saudara tuanya. Segera ia bentur perut kudanya denagn dengkulnya yang kanan. nanti jiwanya Temuchin akan diberi ampun. langit telah menjadi gelap. maka itu kenapa khan yang agung Temuchin hendak mengubahnya? Tuhan juga tidak memperkenankan itu. ia lantas lari ke arah bukit untuk mendaki. Ia maju mendekati. Dia dapat lari tak kalah pesatnya seperti waktu turun tadi. tidak ada satu serdadu pun yang berani memanah. ia tidak bisa berbuat lain daripada keluarkan titahnya untuk pasukannya itu mundur seratus tombak. mereka khawatir nanti kena memanah pemimpin mereka yang muda itu. yang diperintah gunai dadung. malah kereta besar dikitarkan diseputar bukit itu. Selagi Kwee ceng hendak geser pemuda itu. Kira-kira tengah malam. mereka juga masing-masing diberikan seorang sebatang anak panah. ―Kenapa kau bercita-cita mempersatukan bangsa Mongolia?‖ ―Kau sebenarnya menghendaki apa?‖ Temuchin tanya. Ia tampak Temuchin berdiri menantikan dengan romannya yang angker. untuk menghampiri pemuda itu. Bukan main girangnya Temuchin. ingin ia memeluk. ―Apakah kau masih ingat cerita tentang leluhur kita Maral Goa?‖ Temuchin tanya. tapi tiga-tiga kalinya. Lalu ia berikan mereka lima batang anak panah yang digabung menjadi satu.

tanpa membilang apa-apa. kau mengatakannya itu milik mereka pribadi. ―Jadinya kau suka yang kita semua diperhina dan ditindih bangsa Kim itu?‖ ―Mereka pun tidak menghina dan menindih kita. Aku minta supaya kau kasih pulang Tusaga kepada Sangum. ―Raja Kim itu telah anugerahkan pangkat Ciauwtouwusu padamu.‖ Temuchin menjadi mendongkol. dia minta kuda. dia bakal melahirkan dua putra lagi! Kalau satu Temuchin terbinasa. bagus!‖ seru Temuchin.!‖ kata Jamukha pula. Temuchin mengawasi belakang orang. Aku tanggung Sangum nanti melepaskan kau pulang dengan selamat!‖ ―Aku tidak percaya Sangum! Aku juga tidak percaya kau!‖ ―Sangum bilang. Ia tambahkan. kamu menjadi seperti anak panah ini. ―Kita juga adalah orang-orang gagah. Ia pun keluarkan satu kantung kulit kecil dari sakunya. ialah kepala panah dan biji piesek yang diwaktu muda mereka sering membuat main. bukannya milik suku beramai. bukannya kakak angkatmu!‖ Jamukha jemput bungkusan kecil itu. Mengenai itu. kau bakal tak dapat melihat lagi matahari besok!‖ Temuchin membacok ke udara. ―Harap kau tidak mengatakannya aku tidak berbudi!‖ Temuchin lantas keluarkan satu bungkusan kecil dari dalam sakunya.‖ kata Jamukha. Kata ia: ―Negeri Kim itu banyak tentaranya dan banyak panglima perangnya. ―Kita membagi-bagikan kerbau dan kambing rampasan kepada tentara. cara bagaimana bangsa Mongolia bisa main gila terhadapnya?‖ ―Hm!‖ Temuchin perdengarkan ejekannya. Ia bilang: ―Inilah tanda mata ketika angkat saudara untuk ketiga kalinya. kita bersatu hati bekerja sama untuk memusnahkan bangsa Kim itu!‖ Jamukha terkejut. dan sekarang dia menghendaki orang-orang peperangan kita membantu ia berperang!‖ ―Wang Khan dan Sangum tidak ingin memberontak terhadap negara Kim itu. tak nanti aku menyerah!‖ serunya. kenapa kita tidak hendak mempersatukan bangsa Monglia kita? Kita harus saling kepruk. tak tepat itu dengan pengajaran leluhur kita!‖ Temuchin berseru: ―Akan tetapi semau orang peperangan yang muda-muda senang dengan caraku itu!‖ ―Baiklah saudara Temuchin. ia lemparkan ke depan Jamukha. sekarang kau terimalah kembali! Besok kau membawa golokmu untuk berperang di sini!‖ Sembari berkata begitu. saudara angkat itu yang bagaikan saudara kandungnya bisa berubah demikian rupa. ―Benar begitu!‖ kata Temuchin. rangsumnya bertumpuk bagaikan gunung. Sungguh tidak ia sangka. ―Siapa tahu permintaannya kepada kita makin lama jadi makin hebat! Sudah minta kerbau dan kambing. akan tuang keluar isinya. ia geraki tangannya seperti hendak membacok batang lehernya. ―Aku lebih suka terbinasa dalam perang. Segera terbayang di hadapan Irawan D Soedradjat Page 150 . Ia ada sangat berduka. semua pelbagai kepala suku mengatakannya kau berlaku buruk. emasnya tersebar di seluruh negaranya. yang gampang sekali orang siapapun dapat mematahkannya. ia letaki itu di samping kakinya Temuchin.‖ katanya. yang tak dapat dipatahkan siapa juga!‖ ―Kau masih ingat itu. Lalu dengan perlahan-lahan ia buka kantung kulit itu. ―Kemudian bagaimana?‖ ―Kemudian mereka berlima bersatu padu bekerja sama. Jamukha bangkit berdiri. jikalau kamu berpadu hati bersatu tenaga. kamu menjadi seperti lima batang anak panah yang digabung menjadi satu ini. kakak.Pendekar Pemanah Rajawali Dengan perlahan Jamukha mengatakan: ―Jikalau kamu masing-masing bercerai-berai. sekian lama ia diam asaj. kalau satu putranya terbinasa.‖ kata Jamukha. ―Berontak? Hm! Berontak!‖ seru Temuchin menghina. lalu ia memutar tubuhnya untuk turun dari bukit itu. ―Yang dibunuh itu adalah musuh. untuk selamanya tidak bakal ada Temuchin lagi! Jikalau kau tidak merdekakan Tusaga. mereka menjadi leluhur kita bangsa Mongolia!‖ sahut Jamukha. hingga membaliki belakang kepadanya. ―Mulanya akun juga menyangka raja Kim itu baik hati. ―Dan bagaimana dengan kau sendiri?‖ ―Aku datang untuk meminta kau jangan gusar.

apa yang Temuchin pendam itu adalah persahabatan yang ia paling hargakan…. Dengan goloknya ia mencongkel sebuah liang di tanah. sayang kami saling bunuh satu sama lain! Coba semua dapat berserikat menjadi satu…‖ Ia memandang ke ujung langit. adakah kau hendak memberontak terhadap negara Kim yang agung?!‖ tanya itu pangeran. lantas sebatang panah tangan menyambar ke batang lehernya putra Temuchin itu. putra sulung Temuchin. hingga ia dapatkan Kwee Ceng berdiri diam di sampingnya. yang menerangi tanah datar seperti juga banyak bintang di langit. Berbareng dengan 151 Kwee Ceng jadi berkhawatir. ―Mari kita ingat pembicaraan kita malam ini! Selanjutnya akan aku pandang kau sebagai anak kandungku!‖ Dan ia rangkul si anak muda! Sementara itu. Ini waktu terlihat tentara musuh sudah mulai bergerak. Ia nampak api yang dinyalakan tentaranya Sangum dan Jamukha. tetapi dengan tamengnya. ―Aku tengah memikirkan ibuku. Mereka itu menggunai ilmu enteng tubuh.‖ Temuchin memuji. Dia ayun tangannya. kita bisa menang perang. Ia menunjuk kepada api di kejauhan itu. ―Benar!‖ sambutnya. Juji. Kwee Ceng terperanjat menyaksikan kegesitan empat orang itu. Dia dirintangi oleh Ogotai yang bersenjatakan sebatang golok besar. kita bukannya tandingan jago-jago Rimba Persilatan itu…‖ pikirnya. Di dalam pasukannya Sangum dan Jamukha segera terdengar suara terompet.‖ Kwee Ceng menyahuti. Habis menguruk tanah dengan kedua tangannya. di kiri Sangum. ―…. rupanya mereka hendak memulai penyerbuan mereka. Ia lantas kata: ―Khan yang agung. Ia memandag ke depan. Irawan D Soedradjat Page Satu di antara empat orang itu. ―Kita di sini adalah orang-orang peperangan semua. ―Bala bantuan tidak datang. jalanan yang bisa diambil musuh untuk menerjang naik. Dia sangat gesit dan gapa. yang menuju ke sisi gunung. Di belakang pangeran ini segera muncul satu orang. Ia menghela napas. di kanan Jamukha. Pangeran Kim ini memakai kopiah dan jubah perang bersalut emas. empat orang berlompat maju. membuat seluruh dua menjadi ladang tempat kita menggembala ternak kita!‖ Kagum Kwee Ceng akan dengar itu cita-cita dari Khan yang agung ini. sebuah bendera kuning muncul dari dalam pasukannya Sangum. dan di tengahtengah adalah Chao Wang Wanyen Lieh. tujukan panahnya dan memanah pangeran itu. Jadi mereka adalah orang-orang Rimba Persilatan. Temuchin bersama ketiga putranya dan semua panglimanya mendekam di belakang tumpukan tanah. cuaca sudah mulai terang. Ia mengerti. Di bawah bendera itu ada tiga orang. ―Bagaimana sekarang?‖ . orang gagah yang baik sekali. kemudaian berpaling. tidak nanti kita dapat dikalahkan Sangum yang berhati kecil dan hina dina itu!‖ Temuchin pun menjadi bersemangat. Mereka itu adalah. ―Kau ada seorang gagah. satu pemuda dengan pakaian hitam sudah lantas sampai di atas gunung. Ia berdiam sekian lama. ia melanjutkan: ―Mereka itu juga orang-orang gagah! Kami bangsa Mongolia ada punya begini banyak orang gagah. disusul sama bacokan goloknya. tangan kirinya mencekal tameng untuk pencegah panah. bukannya orang peperangan yang biasa. yang menyambuti anak panah itu dengan tangannya. Setibanya empat orang itu di tengah jalan. putra keenam dari raja Kim. Temuchin bangun berdiri. mereka halau setiap anak panah itu. mereka dipapaki hujan panah oleh Jebe dan Borchu beramai. di situ ia pendam itu barang tanda mata dari adik angkatnya itu. Kwee Ceng di samping mengawasi dengan perasaan berat. lalu menambahkan pula.Pendekar Pemanah Rajawali matanya saat dahulu hari ketika mereka sama-sama bermain-main di es. Hari ini kita akan mati perang di gunung ini!‖ kata Temuchin. Wanyen Lieh lantas saja berseru dengan titahnya: ―Tolongi Tusaga! Bekuk Temuchin!‖ Atas titah itu. ―Temuchin. Tidak antara lama.kita pasti dapat membuat seluruh dunia. anak panah mereka diarahkan ke setiap jalanan di gunung itu. ―Apakah kau takut?‖ ia tanya. untuk lari mendaki ke atas gunung.

waktu datang pula bacokan. Mereka hampirkan jiesuko itu.Pendekar Pemanah Rajawali itu. dia lompat menghampirkan. yang dipanggil toasuko atau kakak seperguruan yang tertua. ―Beritahukanlah she dan namamu!‖ Dia bicara dalam bahasa Tionghoa. ―Akan aku lantas memenggal!‖ Sangum menjadi khawatir dan bingung. Memangnya di antara empat saudara seperguruan ini ada perbedaan tabiat atau sikap. Dipihak lain. masing-masing tidak sudi mengalah. terkejut juga musuh menyaksikan orang seperti nekat. Kwee Ceng main mundur. Sekarang aku main menangkis aja. Ia pun tidak mengerti cara bersilatnya orang. ia ulangi serangannya dengan beruntun. menjadi bacokan ke kiri……… Mau tidak mau. sikap garang mereka membuat dua musuh lainnya yang memegang ruyung besi dan dan sepasang kampak pendek. yang untuk itu telah mengeluarkan banyak uang. Kali ini. Keras sekali. yang mencekal pedang. sebaliknya ia menyambut seraya tekuk kaki kanan dan tangan kiri bersiap sedia. Orang ini mengancam ke kanan. tiba-tiba ancamannya itu berubah di tengah jalan. kau lihat kepandaiannya toasukomu!‖ berseru orang yang bergenggaman golok itu. apakah itu ukan berarti aku kena didesak?‖ karena ini. tangan kanannya. membalas menikam lempang. ia lantas tarik pulang goloknya. dengan bawa tombaknya. supaya anakku jangan terbinasa…!‖ ―Tetapkan hatimu. sambil kelit lengannya. benar-benar musuh ini bukan sembarang orang. berat tangannya lawan itu. tiga kawannya orang ini sudah tiba di atas gunung dan tengah bertempur sama Chilaun. Segera juga ia ingat pengajaran gurunya yang kesatu: ―Di waktu bertempur mesti mempengaruhi orang tetapi jangan kasih diri kena dipengaruhi. Kwee Ceng sementara itu telah melihat. berkelebatlah sebatang golok putih mengkilap. Dia terkejut. sebab ia adalah orang undangannya Wanyen Lieh. Itu waktu Temuchin telah dilindungi dengan dikurung oleh Jebe dan lainnya yang belum terluka. Kwee Ceng lihat ini ia gunai ketikanya. ―Siapa berani maju!‖ ia berteriak. Dia ini menganggap dirinya adalah tertua kaum Rimba Persilatan. Maka ia lihat di depannya ada satu anak muda dengan alis gompiak dan mata besar. anakmu tak bakal terbinasa!‖ kata Wanyen Lieh sambil tertawa. sedang hari ini adalah yang pertama kalinya ia muncul di medan pertempuran. yang goloknya tebal. Orang-orangnya Sangum tidak berani naik. Terus ia bersilat dengan Wat Lie Kiam-hoat. Ia ini menghalang di depannya Ogotai. Boroul dan lainnya. ―Tidak pernah aku dengar namamu! Lekas kau menyerah!‖ kata orang itu sombong. akan menonton pertempuran sang kakak tertua. ―Tuan pangeran. Musuh kaget dan berlompat berkelit. sedang empat orangnya Wanyen Lieh itu melanjuti pertempurannya. tidak berani sembarang merangsak. ialah ia menikam pula. Tentu saja di hadapan ribuan serdadu. ia tidak mundur lagi. Dilain pihak orang-orangnya Sangum hendak bergerak pula. ―Aku Kwee Ceng!‖ sahut anak muda itu. untuk berdiri berendeng bertiga. ―Toasuko. ialah yang membuat lawannya repot. bersedia akan celaka bersama. ―Lihat kepandaiannya toasuko!‖ berseru saudaranya yang memegang tombka itu sambil tertawa. ia tekuk kaki kirinya dan menikam dari bawah ke atas. ―Kau lihat saja dari samping. Kwee ceng gunai ketika orang bicara. tiga kawannya musuh itu sudah berhasil merubuhkan empat atau lima lawannya. menikam dari samping kepada lengan penyerang itu. Segera ia dapat kenyataan. sedang dari enam gurunya pernah ia dengar pelbagai macam ilmu silat. ia lompat mundur. Mereka mau percaya musuh tidak bakal lolos lagi. Mereka ini pun telah dengar suaranya jiesuko mereka. Itulah gerakan ―Kie hong teng kauw‖ atau ―Burung hong bangkit dan ular naga mencelat‖. saudara yang kedua. ialah pedangnya. Irawan D Soedradjat Page 152 . ―Kau siapa?‖ dia menegur. tidak urung tangan bajunya yang kiri telah kena tersontek robek. Dia heran dalam rombongannya Temuchin ada orang yang pandai ilmu pedang. mari aku bantu kau!‖ dia berteriak. kapan satu di antaranya melihat ia terdesak. ia malu mengaku kalah terhadap adik seperguruannya itu. Kwee Ceng telah gunai ilmu pedang Wat Lie Kiam pengajaran Han Siauw Eng. ―Mari kita memikir daya lainnya. maka mereka anggap baiklah mereka menonton kakak mereka yang kesatu. ia layani musuh yang bersenjatakan golok itu. kapan musuh berkelit. titahkanlah mereka itu turun!‖ ia mohon kepada Wanyen Lieh. Mukhali lantas saja tandalkan goloknya di lehernya Tusaga.

untuk membarengi membalas menyerang. habis mana. Sebentar saja. akan tetapi ia adalah muridnya tujuh guru. sebagai gantinya. sambil memutar tubuh. ia membacok ke arah lengannya musuh. yaitu jurus ―Burung walet masuk ke sarangnya‖ dari tipu silat ―Lam Sam Too-hoat‖ – ilmu pedang Lam San.Pendekar Pemanah Rajawali Sebelum berkelahi terus.‖ ia menjawab dengan terus terang. ―Suwie‖ ialah ―keempat tuan‖. Kembali Kwee Ceng bebaskan diri dengan kelitan ―Dalam mabuk meloloskan sepatu‖. taruh kami mengatakannya. Irawan D Soedradjat Page 153 . dan ilmun pedangnya pun sudah dapat mendesak musuh ini. juga Temuchin semua. ia gagal. Kwee Ceng lihat pinggangnya terancam tebasan. kau satu anak kecil tentulah tak dapat mengetahuinya. ialah sambil melayangkan kaki kanannya ke bahu musuh. ―Kenapa kau datang kemari untuk antarkan jiwamu?!‖ Kwee Ceng lintangi pedangnya. Kwee Ceng dengar pemberian peringatan itu. Lihat golokku!‖ Ia lantas menyerang. ia membuatnya tombaknya musuh terpental. Ia tidak sangka si anak muda luas pengetahuannya dan gesit. pedang Kwee Ceng terlepas dan jatuh ke tanah. Demikian satu kali. katanya: ―Tentang nama kami berempat. Kali ini ia gunai bacokan ajarannya Lam Hie Jin. ia masih belum bisaberbuat suatu apa. Penyerang bertombak ini menggunai ketikanya yang baik. ia membokong. ia mendupak ke belakang. dengan bengis ia membacok melintang. ia mencoba mendesak terus. Ia lihat Kwee Ceng lihay dengan ilmu pedangnya. berdiam menyaksikan pertempuran itu. sedang sebenarnya. terus ia maju pula. bukan ia mundur. ―Teecu adalah muridnya Kanglam Cit Koay. Puluhan ribu serdadu musuh. ia bersikap tenang. ia lepas dan lemparkan pedangnya. ―Kau muridnya siapa?!‖ ia tegur Kwee Ceng. Kwee Ceng sudah tempur orang. tanpa membalik tubuh lagi. maka itu ia melawan dengan berani. sambil mendak sedikit. maka tangan itu bercucuran darahnya! ―Sayang!‖ kata Kwee Ceng di dalam hati. Hampir pada itu waktu ada angin menyambar di belakangnya. Musuh itu menjadi girang melihat lawan tidak berkelit hanya membalas menyerang. golokku sudah mengenai tubuhmu. sebat tangannya. ia menikam ke dada pula. Tapi ia penasaran. ia tahu musuh ingin menerbangkan goloknya. ia merasa orang ada terlebih terlatih daripadanya. Setelah berkelit dari bacokan. tigapuluh jurus telah dikasih lewat. tikamannya itu dapat dihalau dan ia ditendang. mendadak ia mengegos sedikit. Ia tertolong jiwanya tetapi pedangnya toh mampir juga di tangannya. setelah pedang orang terlepas. dengan tombaknya itu ia sudah punyakan pengalaman dua puluh tahun………… Kwee Ceng berkelahi sambil matanya melitah dan otaknya bekerja. Sambil berteriak. Lalu ia berpaling pula. ―Teecu mohon tanya suwie empunya she dan nama yang besar?‖ ia terus berbalik menanya empat orang itu. jeli matanya. ia menjadi seperti nekat. Cuma karena kurang pengalaman. Ia tunggu sampai ujung golok hampir mampir di pedangnya. si pemegang golok itu lompat keluar kalangan.‖ ia menebas terus tanpa membuat perubahan. Ia penasaran sebab ia tahu. dengan tangan kosong ia sampok pedang si anak muda. Tidak terkecuali adik seperguruannya si toasuko. Di dalam hatinya ia berkata: ―Belum lagi pedangmu tiba. hingga ia melayani musuh muda ini. Tenang adanya sikap Kwee Ceng. terpaksa ia menarik pulang serangannya. Orang itu menoleh kepada ketiga saudaranya. ―Awas!‖ Jebe teriaki muridnya. ―Bagus!‖ seru lawan yang bersenjatakan tombak itu. bahwa musuh itu ingin memperlekas kemenangannya. sedang tangan kanannya menikam terus ke dada lawannya itu! Bukan main kagetnya si toasuko. Diakhirnya. Tepat dupakannya ini. Selagi musuh lompat undur. Keras sampokan ini. ia jumput golok musuh yang jatuh di dekatnya. telah banyak pengetahuannya. dengan sedikit lebih sebat saja. ia mendahulukan menikam ke arah lengannya musuhnya. yang membokong. ia akan dapat tancapkam pedangnya di dada lawannya itu. Ia ini cemas juga setelah banyak jurus.

sambil membentak. yaitu Yo Kee Chio-hoat. Berat untuk Jebe berdua. maka Lam Hie Jin sengaja ajarkan muridnya ini tipu golok melawan tombak. Kebetulan sekali. maka itu. Tanpa ia ketahui. Kwee Ceng menggunai tipu. tidak dapat ia rubuhkan atau lukai musuhnya ini.Pendekar Pemanah Rajawali Maka ia melawannya dengan sabar dan hati-hati. tidak tahan sabaran. kampak itu terlepas dan terpental. Irawan D Soedradjat Page 154 . Hebat kampaknya itu. ia mencoba mendesak. ia batal membacok. Si toasuko ini tadinya menyangka orang hanya lihay dengan pedangnya. sia-sia saja dia itu mencoba berulang-ulang. Tiba-tiba ia merasa tenaga musuh berkurang. ia terus memapas ke sepanjang batang tombak. ia maju menyerang. tentara Mongolia di kaki gunung menjadi tidak senang. goloknya sama aja. mulutnya berteriakan tak henti-hentinya. Melihat orang main keroyok. ketika si orang Hwee menebas tangannya. ia melawan dengan ilmu silat tangan kosong melawan senjata. sepasang kampaknya turun dengan berbareng. apapula satu musuh itu bertangan kosong. ia gusar dan penasaran. Tapi ini bukan berarti ia berlaku kendor. seperti tadi melawan si toasuko. ia agaknya penasaran yang mereka kalah dari satu bocah. Kwee Ceng ada punya satu keuntungan. Lekas juga senjata mereka dirampas musuh. Boroul dan Jebe maju untuk membantu Kwee Ceng. Tapi ia bertabiat keras. Bangsa Mongolia adalah bangsa yang polos dan memuju orang gagah. ia mestinya menyampok tombak seraya membarengi membacok. Siapa menggunai senjata pendek. ia tertolong dari bahaya maut. Menghadapi lawan yang menggunai tombak ini. Apa yang tidak disangka. repot mereka menghadapi musuh-musuhnya yang lihay itu. baru ia kerahkan tenaganya. ilmu ini bukan digunai di Kee-hi hanya di sini. Tapi pemuda kita. ke arah jari tangan musuh itu. demikian ia ini. Orang itu rupanya bersatu pikiran. dengan putar kampaknya. mereka membaut ribut dengan mencaci maki dua pengeroyok itu. Ia berhasil. sekarang ini Kwee Ceng ada kesempatan akan pakai ilmu goloknya yang istimewa itu dan ia berhasil. Disaat kemenangannya itu. Musuh yang keempat. Diluar dugaannya. dua musuh lainnya turut maju juga. membuatnya orang kewalahan. Musuh tidak menduga jelek. karena Tiat Sim adalah keturunan kaum keluarga Yo yang terkenal untuk ilmu tombaknya keluarga Yo. ia lantas menantikan satu tikaman. gagang tombak kalah dan kena terkampak patah hingga menjadi tiga potong. ia lompat bangun untuk merangsak pula. Karena ini ia tampaknya jadi semakin lihay. untuk menghajar punggungnya. mereka tidak menghiraukan lagi Jebe berdua. maka di antara satu suara nyaring. Turut kebiasaan. Ia tetap berlaku cepta dan keras. ia lompat menubruk. mulutnya pun perdengarkan seruan. Syukur untuknya. tiba-tiba perutnya dirasainya sakit. Kwee Ceng angkat tombaknya untuk menangkis. Celaka kalau musuh itu tidak lepaskan cekalannya. si saudara yang ketiga melompat dengan ruyung besinya. tak tahunya. Musuh itu terkejut. Lagi beberapa lama. dengan tombaknya. ia mesti berkelahi rapat. Kwee Ceng tidak punya senjata. mereka bukan orang kaum Rimba Persilatan. mereka lantas meluruk kepada anak muda she Kwee ini. maka itu tidak puas mereka menyaksikan empat orang mengepung bergantian kepada satu musuh. Kwee Ceng lihat Boroul terancam bahaya. akan hajar kampak di tangan kiri itu. sebelah kaki Kwee Ceng telah melayang ke perutnya. mereka adalah orang-orang peperangan biasa. Segera ia dikepung oleh musuhnya yang ketiga. musuh hendak mengulangi kampakannya. ia segera tarik pulang tangannya itu untuk terus dipakai menyikut si jiesuheng. ia mendesak. tangan kirinya terbalik. malah ia terdumpak mental. guna mempengaruhi musuh. yang bersenjatakan ruyung besi itu. Melihat bahaya itu. Kwee Ceng dapatkan musuh mulai ayal gerakannya. Sampai disitu. Setelah dapat merampas tombak musuh. dia mencoba merapatkan Kwee Ceng. ia lantas mendahului lompat mundur. ia lompat kepada toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang. mengampak ke arah kepalanya sendiri. baru ia bisa mengenai musuh. Ia lantas berdiri diam mengawasi keempat musuhnya itu. hingga dengan begitu ia pun dapat menolongi Jebe. ia telah dipertaruhkan akan bertempur sama anaknya Yo Tiat Sim. Sesudah lewat beberapa jurus. sehingga ia membuatnya si toasuko heran. Karena majunya mereka berdua. yang paling muda. Kwee Ceng lempar goloknya ke bawah gunung. si pemiliknya sendiri jatuh numprah. Dengan cara biasa. Berbareng ia mental.

habis mana ia terus bekerja. ia lantas kena ditubruk musuh yang bersenjatakan kampak. kapan ia dengar itu teriakan. Matanya Jebe sangat tajam. ―Bandit-bandit tidak tahu malu. Selagi Kwee Ceng terancam bahaya. habis mana ia lompat bangun. asal aku pun telah membunuh seorang musuh!‖ Jebe berdua yang tadi telah terpukul mundur. sekali lagi ia roboh.nanti aku bunuh ini bocah haram!‖ kata si suheng yang memegang golok sebatang kepada dua saudaranya. Ia masih sempat berkelit pula seraya ia angkat kakinya yang kiri untuk menendang musuh yang memegang kampak yang berada paling dekat dengannya. denagn kerahkan semua tenaganya. atau kaki kanannya dirasakan sangat sakit. ia diserang oleh musuhnya yang menggenggam ruyung besi hingga goloknya Borchu kena disampok mental. Baharu ia berdiri dengan berniat melawan musuh. ia merasakan sangat sakit. ia lantas kenali enam orang itu. ―Kwee Ceng. Tak lama. sedang musuh yang memegang sepasang kampak memberangi mengampak juga. ia mencekik tenggorokan. lalu semangatnya bangun. Mereka merasa bahwa dalam tenaga dalam. ―Kamu pegat mereka .Pendekar Pemanah Rajawali Segera juga Kwee Ceng terancam bahaya. Kwee Ceng insyaf ia berada dalam bahaya. kedua matanya pun sudah mulai kabur. denagn begini Kwee Ceng kembali kena dikepung berempat. Kim Hoat lompat maju. tujuh gurunya. tetapi gerakannya menjadi lambat. Musuhnya yang ia cekik. Kwee Ceng sudah letih betul. terpaksa ia menggulingkan tubuh sekitar dua tombak. semangatnya terbangun. maju pula untuk membantu kawannya. Disaat Kwee Ceng hendak sambuti golok itu. matanya pun kabur. Empat musuh itu sudah lantas lompat mundur. ia roboh bersama-sama musuh itu. ia dibarengi musuh yang mencekal ruyung besri tadi. Karena ini. Kwee Ceng tetap bertahan secara demikian. lalu tertampak enam orang bergerak dengan lincah mengacau barisan itu. terus mereka berenam lari naik ke atas gunung. terus ia melawan dengan hebat. Kwee Ceng berkelit dengan berlompat. karena tidak mempunya senjata. ia berseru. mereka kalah jauh. tulang pahanya itu tidak patah. Kwee Ceng kaget. pasukan tentara kacau sendirinya. ia angkat tubuh orang ke atasan tubuhnya snediri. di bawah bukit. ia melakukan perlawanan dengan terus main bergulingan dengan ilmu silatnya ―Kim Liong Pian-hoat‖ atau ―Ilmu cambuk lemas naga emas‖ Musuh yang pingsan telah lantas sadar. Cu Cong lompat maju. lalu dengan menggulingkan tubuh. mereka segera tampak murid mereka dalam bahaya. hanya sekarang ia ubah caranya mencekal. ialah main berkelit dengan mengegos tubuh atau berlompatan. denagn tangan yang lainnya. ―Ini golok!‖ teriak Borchu seraya ia melemparkan goloknya. ia telah pikir: ―Biar aku mati. ia lompat bangun. terpaksa ia melawan dengan menunjuki kelincahannya. Hanya ketika itu. ia ingin membalas sakit hatinya. atau sebatang golok melayang ke arahnya. yang telah berhasil memukul mundur Jebe berdua. Cu Cong dan Coan Kim Hoat lari di paling depan. maka ia jambak dada musuh. untuk membikin dia itu tak dapat bergerak. tangan mereka kesemutan bekas rabuhan senjata aneh dari orang yang baru datang ini. Benar saja ketiga musuh lainnya berhenti menyerang karena mereka khawatir nanti mencelakai kawan sendiri. akan kasih muridnya bangun. hampir ia rubuh pingsan. pergi kamu!‖ Kim Hoat mengusir. ―Tidak tahu malu!‖ ia membentak. Irawan D Soedradjat Page 155 . untuk berdiri. untuk membantu saudaranya. Musuh sudah lantas tiba. Itu waktu. lekas-lekas ia lepaskan itu dari pinggangnya. Syukur untuknya. denagn begitu ia pakai musuh sebagai tameng. Tuli dan Gochin. Tin Ok bersama yang lain pun telah tiba. ia menangkis. Dlam keadaan sangat berbahaya itu. Ia tidak pedulikan orang menendangi pundak atau kakinya. Dia ini bersakit hati bekas kena didupak tadi. ia merasakan sakit pada pundaknya. kemudian selanjutnya. denagn sebelah tangan ia memencat nadi musuh. Kwee Ceng ingat ia ada punya joan-pian atau cambuk lemas pembela dirinya. dengan dacinnya ia rabu empat batang senjata musuh. telah rebah diam karena pingsan. yang telah melepaskan kampaknya itu. gurumu datang!‖. maka tidak ampun lagi. paha kanannya kena dihajar. yang tak sudi melepaskan pelukannya. mereka pun dibantu oleh dua saudara yang lain. sekejab itu ia ingat ibunya.

Syukur mereka tidak patah tangan dan kaki atau singkal batang lehernya. Juji dan Jagatai sudah lantas mendahulukan menerjang ke bawah. ia berteriak-teriak: ―Lekas buka jalan! Lekas buka jalan!‖ Sangum menyaksikan musuh menerobos turun. terus dilemparkan ke bawah gunung! Tiga pengepung lainnya menjadi kaget. satu demi satu. ―Siapakah tuan berempat?‖ ―Kami adalah empat muridnya Kwie-bun Liong Ong. putra itu tak dapat berkutik.‖ berkata Tin Ok pula. ―Pasti kamu berdusta!‖ bentak Tin Ok. mana bisa murid-muridnya ada bangsa tak berguna seperti kamu!‖ ―Siapa berdusta!‖ berseru orang ynag dicekik Kwee Ceng tadi. malah sebaliknya. hendak ia memegat. maka terkejutlah mereka mengetahui empat orang itu adalah murid-. emapt orang bersaudara mengepung satu musuh. tanda dari datangnya beberapa ribu serdadu. dengan mengincar Sangum. mereka juga kena dilempar-lemparkan si Kelelawar Terbangkan Langit! Tentara Mongolia di atas bukit bersorak-sorai menyaksikan keempat saudara itu. maka tak ampun lagi. Temuchin menampak datangnya bala bantuan. seorang bocah! Dialah muridku!‖ Gouw Ceng Liat membelar. Toan-hun-to Sim Ceng Kong! Ini jiesuheng Tiwi-beng-chiop Gouw Ceng Liat! Ini samsuheng Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong! Dan aku sendiri. mereka malu bertemu sama pangeran yang keenam. maka itu. sebab mereka itu main keroyok. tubuhnya terus mencelat. ―Tidak salah!‖ sahut Cu Cong tertawa. ia rubuh terjungkal dari kudanya. atau ia lantas tampak putranya berada di bawah ancama maut. ia berkelit ke kiri. tetapi Kwa Tin Ok dapat mendengarnya. ia menunjuk ke kiri ke pasukannya Sangum itu seraya berseru: ―Mari menerjang ke sini!‖ Jebe berempat dengan Borchu. Irawan D Soedradjat Page 156 . mereka maju untuk menolongi. malah Jebe sudah lantas saja turun tangan. kenapa kamu merendahkan diri begini rupa. Tentu saja. hingga tak tahu ia harus mengambil tindakan apa. ia menjadi mendongkol.‖ sahut si toasuheng. ia menjadi tergugu.muridnya Kwie-bun Liong Ong. mengetahui Jamukha lihay dan Sangum hanya mengandal kepintaran ayahnya. ―Liok-wie. yang masih merasakan sakit pada tenggorokannya. ―Inilah toasuheng kami. adakah kamu Kanglam Liok Koay?‖ ia tanya enam orang itu. tetapi mereka tidak berdaya. Kwa Tin OK dan Cu Cong mulanya menyangka orang adalah orang-orang yang tak bernama. merayap bangun dengan muka penuh debu dan seluruh badan dan pinggangnya sakit bekas jatuh terbanting dan bergeluntungan. darimana pun terdengar seruannya bala bantuan. tentaranya menjadi kaget dan kalut sendirinya. punggung Ceng Kong kena dijambak. karenanya. maka tidak ampun lagi. ―Siapa bilang kami berempat mengepung satu orang?!‖ katanya. ia memanah.Pendekar Pemanah Rajawali Si toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang menebali muka. cepat luar biasa. Sementara itu rombongannya Temuchin sudah sampai di bawah bukit. menampak demikian. ―Benarlah kau adalah Hong Ho Su Koay! Kamu cukup ternama. Sangum terperanjat. Itu waktu terlihat debu mengulah naik. tidak urung pipi kanannya kena tertancap anak panah. aku Song-bun-hu Cian Ceng Kian!‖ ―Kedengarannya kamu tidak berdusta. ―Kwie-bun Liong Ong bernama besar. sembari turut menerjang. batang leher siapa ia tandalkan goloknya. sebelah tangannya menyambar. Ia tahu pihaknya tak berdaya tetapi mereka malu untuk lari turun gunung. ―Bukankah di sini ada banyak orang Mongolia yang membantu padanya?‖ Cian Ceng Kong pun tanya Ma Ceng Hiong: ―Samsuheng. Tibatiba ia menekan denagn tongkatnya. Mukhali kaburkan kudanya denan ia peluki Tusaga. yaitu Hong Ho Su Koay. siapakah dia?‖ Ceng Kong menanya perlahan sekali. ini buta dan pengkor sangat berlagak. tentaranya Sangum menjadi kecil hatinya.

Adalah tengah mereka berpesta malam ketika mendadak datang serangannya Temuchin. rombongan ini bertemu sama bala bantuan. maka itu mereka lantas menggabungkan diri. serdadu kita sedikit. Temuchin kumpulkan orang-orang peperangannya. Semua orang menjadi bertambah heran dan mendongkol menyaksikan Khan mereka yang besar menjadi demikian lemah dan jeri terhadap Wang Khan. ia tahu jumlah musuh terlebih besar.Pendekar Pemanah Rajawali Temuchin ajak rombongannya kabur terus. Besok harinya Temuchin kirim sepuluh serdadunya mengiringi Tusaga pulang. yang sembari menyingkir telah menoleh ke belekang dan sabansaban menyerang denagn panah mereka. Temuchin bertemu bersama Gochin. Heran semua panglima itu. ia datang dengan cuma bersama itu beberapa ribu serdadu anak-anak muda. Kanglam Liok Koay turut mundur dengan Lam Hie Jin yang memondong Kwee Ceng. Temuchin hanturkan tiga cawan arak kepada putra Sangum itu. ―Sekarang juga kita menyerang Wang Khan!‖ demikian titahnya. Di tengah jalan pulang. Empat Siluman dari sungai Hong Ho. Di sana mereka kemudian terbinasa di tangan bangsa Naiman dan Liauw Barat. Putri ini girang bukan main melihat ayahnya semua tidak kurang satu apa pun. Mereka menjadi kaxau. walaupun ia adalah satu pangeran. Wang Khan dan Sangum dilain pihak girang melihat Tusaga pulang dengan selamat dan Temuchin pun mengirim bingkisan. yang aku minta supaya tidak menjadi berkecil hati. Irawan D Soedradjat Page 157 . tanpa berdaya mereka pada melarikan diri. tak dapat kita melawan dia dengan terang. mereka itu lihat Tusaga diundang duduk bersama di meja pesta. maka di dalam tendanya. putra keempat Temuchin. ―Maka itu aku persilahkan kau pulang untuk menyampaikan maafku. Tusaga terbinasa terinjak-injak kuda tentara. Tapi ia cerdik.‖ Baharu semua panglima itu sadar. mereka jamu Wanyen Lieh dan Jamukha. Sesudah melalui beberapa lie. ia perintahkan semua serdadu mengikat cabang pohon diekor masing-masing kuda mereka.‖ ia berkata kepada putranya Sangum itu.‖ Tusaga girang bukan main. Hanya untuk herannya semua orang. hanya ia telah didulukan Kanglam Liok Koay. ―Aku tidak bermusuh dengan ayah Wang Khan dan saudaraku Sangum. Wang Khan bersama Sangum kabur ke barat. Segera mereka bertindak maju dalam tiga pasukan. yang hatinya mendongkol. ―Wang Khan banyak tentaranya. itulah untuk membuatnya tidak bersiaga. Aku pun akan mengantar bingkisan kepada ayah dan saudara angkatku itu. yang mereka layani dengan hormat. dari itu. mereka jadi sangat mengagumi Khan mereka itu. mereka menyangka Temuchin jeri. dan diperlakukan sebagai tamu agung. Hong Ho Su Koay. kepala-kepala suku dan panglima-panglima Temuchin tidak suka dengar titahnya. mereka tidak bercuriga. ialah barisannya Tuli. berbareng dengan itu ia mengirimkan dua buah kereta yang berisikan emas dan kulit tiauw.‖ menjelaskan Temuchin. mereka melongo. yang bisa menerobos kepunganm telah lindungi Wanyen Lieh kabur pulang ke Tiongtouw (Pakkhia). Dengan mendadak ia perintahkan mereka itu kumpulkan tentara mereka. Malam itu Temuchin membuat pesta dengan semua panglima dan tentaranya diberi hadiah. Tuli masih muda. tetapi terpaksa mereka berdiam saja. ―Kita mesti membokong padanya! Aku merdekana Tusaga dan mengirim bingkisan. Ada beberapa ratus musuh yang mengejar. akan tetapi mereka dirintangi panahnya Jebe dan Borchu beramai.terangan. yang pun datang bersama sejumlah serdadu. Tiga hari sepulangnya Tusaga itu. Bukankah ia telah tidak dibunuh? Maka ia berjanji akan meyampaikan permohonan maaf dari Temuchin itu. dari itu debu menjadi mengulak besar dan musuh menyangkanya bala bantuan lawan ada berjumlah besar sekali.

mereka girang.‖ 158 ―Ada apa. Ia lagi mengutamakan ilmu silat. dia lari ke gunung Tannu. semua orang tertawa padanya. Kwee Ceng yang dianggap jasanya paling istimewa. ―Budi ini tak dapat aku balas walaupun tubuhku hancur lebur. Setelah pesta bubar. ―Mulai besaok kau adalah Kim-to Hu-ma!‖. mereka lantas memberi selamat kepada nyonya Kwee itu. Si anak muda sebaliknya berdiam diam. Bukankah murid mereka sangat dihargai oleh Khan dan peruntungannya bagus sekali? Lie Peng berdiam sebentar. Maka anehlah satu bocah umur belasan tahun. ―Baiklah. aku akan menghadiahkan pula kepadamu sesuatu yang aku paling hargakan!‖ Kwee Ceng sudah lantas berlutut untuk menghanturkan terima kasihnya. habis itu ia putar tubuhnya untuk bertindak keluar kemah.‖ berkata nyonya ini. Besoknya Temuchin mengadakan rapat besar di datar sungai Onon. menggodainya.‖ ia menyahuti. Ia menyukai Gochin. semacam kapten dari seribu serdadu. Maka di dalam rapat besar itu ia telah diangkat menjadi Kha Khan. ―Kenapa enso menjalankan kehormatan besar ini? Harap enso lekas bangun!‖ . enso?‖ mereka tanya.‖ Temuchin berdiam sekian lama. Apabila mereka mendengar hal pertunangan itu. aku sendiri tidak mempunyai muka akan hidup lebih lama pula di dalam dunia ini. ia pun bingung. Mereka juga berseru-seru: ―Kimto Hu-ma! Kim-to Hu-ma! Bagus! Bagus!‖ ―Kim-to Hu-ma‖ itu berarti menantu raja golok emas. lalu mereka memberi selamat kepada Kwee Ceng. bukan sebagai kekasih. Kepada Jamukha. tubuhnya terpaku. artinya Khan yang besar dan gagah bagaikan pengaruhnya lautan besar. maka rakyat dan orang peperangan dari pelbagai suku tak ada yang tak tunduk kepadanya. tak mau ia lekas-lekas melepaskannya. diangkat menjadi cian-hu-thio. ia berseru: ―Serdadu pengiring pemberontak dan berkhianat kepada majikan! Apakah gunanya akan mengasih hidup kepada orang-orang tak berbudi begini?‖ Di depan Jamukha sendiri. Boroul dan Chiluan serta Jebe. tetapi sebagai adik. dijadikan cian-hu-thio juga. di sana selagi ia dahar daging kambing. ia kata: ―Apakah tetap kita menjadi sahabt-sahabat kekal?‖ Jemukha mengucurkan air mata. Ketika itu namanya telah naik tinggi sekali. Irawan D Soedradjat Page ―Aku ada sangat bersyukur yang suhu beramai sudah didik anakku ini sehingga ia menjadi seorang yang berharga. sehingga mereka itu menjadi heran. Jelmi dan Subotai. ―Saudara. aku minta sudilah kau memberi kematian tak mengucurkan darah padaku. nanti aku kubur kau di tempat di mana dahulu hari. ia perintahkan hukum mati pada kelima pengiring itu.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha kehilangan tentaranya. ―Akan aku menghadiahkan kau kematian tak mengalirkan darah. Empat pahlawannya yakni Mukhali. Maka keget iamendengar hadiah Khan yang maha besar itu. semasa kecil. ―Coba undung gurumu semua!‖ titahnya kemudian. dia ditawan oleh tentara pengiringnya. Semua panglima bersorak. dalam keadaan seperti itu. soal asmara. ―Meskipun saudara suka memberi ampun padaku. dengan gelaran Jenghiz Khan. atau Khan terbesar dari Mongolia. Borchu. Kwee Ceng lantas cari ibunya. Tuli sangat kegirangan sehingga ia merangkul Kwee Ceng erat-erat. Temuchin terima orang tawanan itu. terus ia dibawa kepad Temuchin. Di sini Jenghiz Khan membagi hadiah besar. mulutnya bungkam. Dalam pesta itu Jenghiz Khan minum banyak arak hadiah dari pelbagai panglimanya. tetapi ia gusar. lalu tiba-tiba ia berlutut di depan enam manusia aneh itu. ia kata kepada Kwee Ceng: ―Anak yang baik.‖ berkata ia kemudian. Kanglam Liok Koay lantas datang. ―Aku serahkan Putri Gochin kepadamu!‖ berkata Jenghiz Khan. Liep Peng terdiam. Selagi ia tercengang. Hanya sekarang ada satu hal sulit untuk mana aku mohon pertimbangan dan keputusan suhu beramai. tak ia pikirkan lainnya soal apa pula soal jodoh. pangkatnya sama dengan satu pahlawan panglima yang berjasa. supaya rohku tidak mengikuti darahku dan meninggalkan tubuh ragaku…. semuanya menyunjungnya. yang ia awasi. akan tuturkan hadiah dari Jenghiz Khan itu. kita bermain bersama…‖ emukha memberi hormat sambil berlutut.

Memang semenjak kecil ia telah diempos ibunya.‖ menerangkan Cu Cong lebih jauh. setelah pamitan dati ibunya dengan keduanya mengucurkan air mata. yang sangat membenci bangsa Kimn itu. baharu Kwee Ceng nanti menikah dengan Gochin. Sepulangnya dari perjalanan itu. ―Sekalian kau pulang nanti bawalah juga kepalanya Wanyen Lieh. yang tidak mengerti ilmu enteng tubuh. untuk ambil selamat berpisah dari rohnya guru almarhum itu. ―Bagaimana suhu ketahui itu?‖ menanya Lie Peng kaget. Ia harap. maka itu kau harus bekerja baik-baik supaya kau tidak meninggalkan bekas-bekas!‖ Kwee Ceng memberikan janjinya. Irawan D Soedradjat Page 159 . ―Maka itu. Lebih dahulu mereka sambangi kuburannya Thio A Seng. yang tunangkan anak-anak mereka sebelum anak-anak itu lahir. melainkan pria. Lie Peng sangat girang.‖ Mendengar itu. ―Sahabat itu pun mengharap kami mengajak anak Ceng ke sana untuk menemui putranya orang she Yo itu. Kwee Ceng menghadap Jenghiz Khan. mana dapat ia menjadi hu-ma?‖ kata si nyonya kemudian. berepa banyak pengiring yang kau butuhkan?‖ Bab 15. putra keenam raja Kim! Untuk melakukan pekerjaan besar itu. yang pun adalah barang rampasan dari Wang Khan. Di hari ketiga. untuk membinasakan Wanyen Lieh. tak usah anak membawa pengiring. Baharu mereka jalan sepuluh lie lebih. Lalu tujuan mereka adalah selatan. ia pesan pula: ―Sekarang ini kuda kita belum terpelihara gemuk dan tentara kita belum terlatih sempurna. Gochin datang menemui bakal suaminya itu. Ia senang sekali dengan easn Khan ini. untuk mereka menguji kepandaian silat mereka. di atasan kepala mereka terlihat dua ekor burung rajawali kepala putih terbang berputaran. Kanglam Liok Koay tertawa. guna menuntut balas. Jenghis Khan lantas hadiahkan baba mantu itu uang emas tigapuluh tael.‖ sahut Kwee Ceng.‖ Cu Cong kasih keterangan. Jenhiz Khan menerima baik. Tuli memberi bingkisan sepotong baju bulu tiauw yang mahal. ia mengawasi mereka itu. ―Bagus. melainkan menambah berabe saja. sedang membawa pengiring-pengiring. Lie Peng heran. untuk ongkos di jalan. ―Orang she Yo itu benar telah memperoleh keturunan tetapi bukannya perempuan. cuma kulit mukanya menjadi bersmu merah. kendati kedudukan anakku mulia sekali. Oey Yong ―Anak akan pergi bersama keenam guruku. untuk memberitahukan tentang niat perjalanannya itu. Setelah mendapat keputusan.Pendekar Pemanah Rajawali Lie Peng tuturkan keputusan suaminya almarhum dengan Yo Tiat Sim. akan tetapi ia tidak dapat berbicara. Kwee Ceng berangkat bersama guru-gurunya. ia tentu bakal berhasil. ―Kalau aku menyangkal janji ini. aku malu sekali. lalu terlihat Tuli datang bersama Gochin dengan dua saudara itu merendengi kuda mereka. Bagaimana nanti suamiku dan aku menemui paman Yo dan istrinya itu di dunia baka?‖ Mengdengar keterangan. ―Seoarng sahabat di Tionggoan mengabarkan kami dengan sepucuk surat. Ia setuju anaknya itu diajak pergi. kita belum dapat menandingi negara Kim. kau pergilah!‖ Khan itu setuju. sedang Kanglam Liok Koay dipersen barang-barang emas dan berharga bekas rampasan dari Wang Khan. sekalian anaknya itu mencari Toan Thian Thek. Ia anggap dengan pergi bersama guru-gurunya.

terus mereka bertindak ke dalam rumah makan itu. Gochin menoleh. Tiba-tiba saja ia menjadi kaget. ia pondong tubuhnya. penuh dengan darah. malam singgah. Kwee Ceng dekati itu putri. Hampir ia mengucurkan air mata saking menyesal sudah menyiksa kudanya itu. Satu pemuda melihat Kwee Ceng mengawasi padanya. ia ambil sabuk dengan apa ia menyusuti. Adalah satu kawannya menjadi tidak senang. habis mana ia larikan kudanya guna menyusul keenam gurunya. Han Po Kie. Syukur unttuknya. Tanpa merasa. yang penunggangnya pun berpakaian serba putih putih . ia masih belum dapat bicara. siang jalan. Apabila ia mengawasi. Kwee Ceng sendiri berjalan terus. untuk menjauhkan diri. Ia tidak melihat guru-gurunya. Gochin menggelengkan kepalanya. terus ia larikan kudanya. Saking masgul. yang ketinggalan jauh. Dari gerak-geriknya mereka itu.‖ Kwee Ceng mengangguk. sekarang ia mulai tiba di Tionggoan. ia dapatkan pemandangan mata yang lain. membikin kudanya itu lari pesat. Ia lari kepada gurunya itu.. ia raba punduknya kuda itu. tidak ada tanda-tandanya terluka. bocah kau awasi apa?‖ ia menegur. ia dapatkan tibanya Han Po Kie. Kwee Ceng merasa kasihan melihat kudanya yang kecil itu lari demikian keras hingga bermandikan keringat. ia menjadi likat. Ia pun menjadi tertarik dan heran akan mendapatkan keempat penunggangnya semua masih muda-muda. Ia dekati kuda Kwee Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali ―Adikku. Lalu ia pun saling rangkul dengan Tuli itu. Maka lekas sekali tibalah ia di Hek Sui o. ia menjadi mengawasi. Sabuk itu menjadi merah seluruhnya. Setibanya di depan restauran. Ia sempat berpikir untuk menukar tempat singgahnya. inilah keringat!‖ serunya. Belum pernah Kwee ceng melihat unta-unta yang begitu bagus. Kuda itu sebaliknya nampak segar bugar. wajahnya pun bersemua dadu. bukan sebagai satu tunangan. Masih enam guru itu tak nampak. untuk terus beritahukan hal kudanya mengeluarkan keringat darah. Mereka itu pria semua. dan semuanya pun beroman tampan. Gochin melongo. untuk menghibur. Kwee Ceng lantas merasakan suasana bertukar. Kwee Ceng tercengang. terang mereka itu mengerti silmu silat. Tempo ia meraba kudanya dengan tangannya. yang sudah berjalan jauh juga. lekas-lekas ia melengos. terus ia bawa kepada Tuli. Tidakkah kuda itu bercelaka diluar keinginannya? Maka ia rangkul leher kuda itu. ―Keringat?‖ ia menanya. ia bawa tangannya yang berlepotan darah itu ke arah matahari. Kwee Ceng terperanjat. ia hajar kudanya hingga binatang itu lari berjimpratan. Belum pernah ia melintas dari gurun. barulah ia pesan: ―Kau mesti lekasan pulang…. tentu orang tengah menertawainya. kupingnya bocah ini mendengar mengalunnya kelenengan unta. setelah mana. akan mengawasi ke jalan besar darimana tadi ia datang. entah apa yang mereka bicarakan itu. Ia lantas dengar mereka itu berbicara satu pada lain. keempat penunggang unta itu lompat turun dari punggung masing-masing untanya. kau bicaralah dengannya. aku tak akan mendengarinya!‖ berkata Tuli sambil tertawa. ―Ada pesan lagi?‖ ia menanya. Selang beberapa lama. ia gencet perut kudanya. ―Ada keringat merah?‖ Irawan D Soedradjat Page 160 . Ia mengawasi sekian lama. di leher mereka itu terlihat bulu rase. lalu tiba-tiba ia tertawa lebar. mungkin baru berumur duapuluh dua atau duapuluh tiga tahun. keenam gurunya ajak dia menuju ke timur selatan. Ia mengharap-harap segera tibanya gurunya yang ketiga. Segera juga mereka melintasi tanah datar gurun pasir. Pada suatu hari hampir tiba di Hek Sui Ho. Ia malu sendirinya. ―Begitu?‖ tanya guru itu heran. tangannya itu juga menjadi merah. Disamping pakaian mereka yang putih. lekaslekas ia tunduk. habis itu mereka tertawa riuh. sebaliknya. ―Ini bukannya darah. disebuah rumah makan di tepi jalanan. hatinya menjadi tawar. Kwee Ceng menoleh. ia lihat mendatanginya empat ekor unta bulu putih. supaya guru itu suka tolong mengobati kudanya itu. ―Eh. Ia dapatkan sikap Kwee Ceng sama seperti biasa. tak jauh lagi dari Kalgan. maka berulangkali ia menoleh dan menoleh pula.

Cu Cong menghirup air tehnya.‖ tanya Cu Cong sehabis ia minum pula tehnya. Anak Ceng. Dan mereka dua rombongan lantas duduk bersama-sama. ia memberitahukannya kepada rajanya. Raja gusar. ialah kuda istimewa dengan keringat seperti darah. yang masuk ke dalam restauran. Cu Cong adalah seorang sastrawan. lalu tertampak datangnya lagi empat penunggang unta seperti empat yang pertama itu. kenapa dia mengeluarkan keringat bagaikan darah?‖ ia menegasi. ia terpaksa mundur ke Tun-hong. Ia heran akan mendengar halnya hanhiat po-ma. darisana ia meminta rajanya mengirim pula bala bantuan.‖ Kwee Ceng berseru heran. ia kirim utusan membawa pedang. ia luas pengetahuannya.‖ berkata Cu Cong. Kaisar menjadi kagum. ―Menurut kitab. ketika kemudian kuda biang itu mendapat anak. punduk kuda itu mengeluarkan keringat merah seperti darah. ―Shatee. ―Tentang itu ada ditulis jelas dalam Kitab Hikayat dan Kitab Jaman Han. Mereka lantas beritahukan tentang kuda berkeringat merah itu. mengumbar tabiatnya. satu hari dapat menempuh jarak seribu lie. keempat pemuda serba putih itu juga memperhatikan cerita itu. Tapi orang Ferghana telah mendapat satu akal bagus. rombongannya Tin Ok tiba. hingga orang liar tidak dapat mengejarnya. sekembalinya ke negerinya. ―Turut katanya guruku itu. anak kuda itu ialah po-ma tersebut. Dipihak lain. kau telah dapatkan han-hiat po-ma. yang dapat lari seperti terbang. Tapi Ferghana adalah negera gurun pasir. Melihat mereka itu. ke Barat itu. Ia bergirang sebab kudanya tidak terluka. yang untuk seribu tahun sukar didapatkan!‖ Kwee Ceng heran dan girang. ―Dulu pernah aku dengar keterangannya guruku. pasukan tentara itu tinggal hanya tiga bahagian. ―Dia lantas perintah Jenderal Lie Kong mengepalai beberapa laksa serdadu pergi ke Ferghana untk mendapatkan kuda itu. ia hajar rusak kuda emas itu. ke kota Gak-bun-kwan. Raja Ferghan pun gusar.Pada suatu malam hari musim semi. Irawan D Soedradjat Page 161 . belum pernah ada yang melihat buktinya. yang disebut kuda langit. yaitu di daerah Ferghana. ―Kemudian bagaimana?‖ tanya murid itu. dia mesti dihukum mati! Lie Kong menjadi serba salah. ―Mana mau dia sudah begitu saja. terus ia kirim utusan membawa emas seribu kati serta seekor kuda-kudaan emas. Utusan itu diberi tugas dan kekuasaan: Panglima atau serdadu mana saja yang pergi berperang benani memasuki kota Gak-bun-kwan itu. apa dia mau sudah saja?‖ menanya Han Siauw Eng. mungkin sekali kudamu itu adalah keturunan dari kuda Ferghana itu. untuk dipakai menukar dengan kuda istimewa itu.Pendekar Pemanah Rajawali Po Kie tidak sahuti muridnya itu. di Ferghana dia telah melihat seekor kuda hanhiat po-ma itu. terus ia pulang. Tentu itu baru cerita saja. di tanah barat. Lie Kong kalah oerang. ―Benar!‖ berkata Cu Cong. dia mengatakannya: ‗Kuda itu adalah kuda pusaka negara Ferghana. tak ada rangsum dan air disana. Lie Kong diangkat menjadi jenderal istimewa. po-ma terlahir dari perkawinan kuda rumahan dengan kuda liar!‖ sahut Po Kie.‖ kata Cu Cong. sebelum mencapai tempat tujuan. mereka lepas satu ekor kuda betina yang berwarna lima di kaki gunung. sebesar kuda biasa. takukha kau darimana asalnya po-ma?‖ ―Menurut keterangan guruku. jadi kuda itu tidak dapat dihadiahkan kepada bangsa Han. ―Ketika dahulu hari itu bangsawan Pok-bong-houw Thio Kian diutus ke Tanah Barat. Kuda liar itu kena terpincuk. ingin ia mempunyai kuda itu. dia perintah menawan utusan itu. bahwa kuda itu keras larinya. terpaksa ia menunda di Tun-hong itu. hanya dengan bersemangat ia kata. Mereka itu muda dan tampan dan pakaiannya serba putih seprti rombongan yang pertama. dia kawin dengan kuda pancingan itu. Untuk itu. Raja Ferghana menolak permintaan itu. emas dan kuda emas itu dirampas. yang tertarik denagn cerita kakak angkatnya itu. ada kedapatan sebangsa kuda liar biasa. untuk menjaga. ―Bagaimana dengan Kaisar Han Bu Tee itu. ―Suhu. almarhum. ―Kau ahli pemelihara kuda.‖ sahut Po Kie. Kwee Ceng heran.‖ Selagi guru dan murid ini berbicara. ―Anak Ceng. Kaisar Han Bu Tee.‘ Utusan Han itu menjadi gusar. di negara Ferghana itu ada sebuah gunung di dalam mana kedapatan sebangsa kuda liar. terus dibunuh. selama perjalanan banyak tentara terbinasa.‖ Ketika itu terdengar pula kelenengan unta.

Lioktee. ―Mereka berdelapan wanita semuanya. sebaliknya dengan shatee. hingga negera menjadi gempar. Banyak panglima musuh terbinasa. ―Katanya mereka adalah bawahannya Cian-ciu jin-touw Peng Lian Houw. Mereka pun serahkan kuda yang diperebuti itu. setahu berapa banyak uang sudah dikorbankan. ia khawatir bangsa lain memendang enteng bangsa Han.‖ berkata seorang muda yang lainnya lagi. yang dijadikan serdadu. ialah satu menjadi Kie-ma Kawm-oet. kita bunuh saja semua!‖ kata seorang lagi. ia siapkan serbau. dengan begitu delapan pemuda itu menjdai tidak bercuriga.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong melanjuti ceritanya: ―Kaisar Han Bu Tee tidak puas. mana kita dapat kebagian?‖ Irawan D Soedradjat Page 162 Tentang Peng Lian Houw ini Tin Ok ketahui dengan baik. Akhirnya kaum ningrat Ferghana menjadi ketakutkan. mereka kasak-kusuk tetapi kupingnya Kwa Tin Ok lihay. baba-baba mantu dan kaum pedagang. yang pun sangat kejam. tugasnya ialah nanti sesudah Ferghana dipukul pecah mereka mesti memilih kuda jempolan. ―Jikalau kawannya berani membantui. Untuk lebih daripada empatpuluh hari. San-cu pergi ke kota raja. ia perintah mengarang syair untuk memuji kuda langit itu. Ia terus memasang kupingnya. ia dapat mendengar jelas pembicaraan mereka. ia merasa malu. kepala raja diserahkan. Delapan pemuda itu duduk jauh-jauh. rajanya dibunuh. Maka ia berpikir. kuda dan rangsum tak terhingga banyaknya. Merek aitu tentu hendak berkumpul juga di kota raja.‖ berkata seorang pula. Hu Thian Pian-hk Kwa Tin Ok menjadi heran sekali. pamong praja rendah. apakah salahnya mereka?‖ Siauw Eng menanya. seorang paderi kenamaan dari Tibet itu.tentunya dia menjadi semakin terang mukanya! Pasti seklai Som Sian lao Koay dari Tiang Pek San dan Leng Tie Sianjin jago Bit Cong Pay dari Tibet tak dapat menangkan keagungannya…!‖ Tin Ok berpikir. Kaisar mengadakan satu pesta besart.‖ berakta satu pemuda. Dialah kepala penjahat paling berpengaruh untuk wilayah Hopak dan Shoasay. maka selang beberapa turunan. yang dianggap melainkan naga yang pantas menjadi kawannya…. maka juga dia dapat gelarannya itu. ―Pembunuh Ribuan Jiwa‖. yang lainnya menjadi Cit-ma Kauw-oet. ―Kalau kita hendak rampas kuda itu. ―Dalam beberapa hari ini di tengah jalan kita menemui tak sedikit sahabat dari Jalan Hitam. Pula dua ahli kuda diberi pangkat tinggi. siapa dapat mengubarnya?‖ ―Tapi disini ada banyak orang lain dan ia pun ada kawan-kawannya…‖ kata seorang yang lain. siapa kesudian dipungut mantu?‖ Cu Cong menjawab. Ia berdiam saja. apeslah kau. mereka berontak. tetapi tak tahu ia perihal Som Sian Lao Koay. mereka hendak bikin apa di sana? Delapan wanita ini. ―Siapa miskin dan tak punya sanderan. Lie Kong pulang dengan kemenangan besar. Kaisar Bu Han Tee sudah kerahkan kekuatan seluruh negeri untuk mendapatkan beberapa ekor kuda itu tapi kemudian ia tidak mendapatkan kuda liar. maka kalau mereka dapat lihat kuda ini. mereka melanjuti memasang omong sambil dahar mie. Orang-orang peperangan yang lainnya pun turut kenaikan pangkat. dia bisa memangku pangkat! Ha ha ha!‖ ―Dan baba-baba mantu itu. Mereka mohon menakluk. Maka ia mengerahkan pula lebih daripada duapuluh laksa serdadu. kalau kau hidup di jaman Kaisar Han Bu Tee. siapakah mereka?‖ . ia kurung dan serang kota musuh. kerajaan Han itu mengutamakan tani dan sebaliknya memandang enteng bangsa saudagar. dia di anugrahkan menjadi bangsawan Hay-see-houw. ―Orang lihay itu pergi ke kota raja. Dengan kalah perang. ia sengaja berpaling ke luar rumah makan. Ia pernah dengar namanya Leng Tie siangkin.‖ Mendengar cerita itu. semua kuda itu tak lagi menjadi po-ma dan keringatnya pun tidak merah…‖ Habis Cu Cong bercerita. ia menambah dengan semua orang hukuman. Masih ia khawatir tentaranya itu belum cukup. entah berapa banyak jiwa sudha melayang. delapan pemuda itu mengawasi kudanya Kwee Ceng. kita menghadiahkannya kepada San-cu. agaknya mereka sangat tertarik. ―Kali ini Lie Kong memimpin angkatan perang yang besar itu. mengapa mereka jadi begini galak dann telengas?‖ tanya ia dalam hatinya. Cu Cong berkata pula: ―Kuda langit menjadi kuda jempolan sebab perkawinannya dengan kuda liar. raja sangat girang. untuk seekor kuda po-ma itu. ―Setelah mendapatkan kuda jempolan ini. ―Satu kali kita sudah naik atas punggung kuda itu. ―Dengan menungggang kuda ini. cukup dengan satu kali turun tangan.

Hong Ho Su Koay adalah murid-murid paling disayangi oleh Kwie-bun Liong Ong. ―Sungguh pesat sekali tersiarnya kabaran dalam dunia kangouw!‖ katanya. Mendengar pembicaraan itu. ―Diwaktu begini tentulah San-cu lagi menantikanmu!‖ maka ia menjadi mengerutkan keningnya. supaya orang-orang kosen di kolong langit ini ketahui kegagahan kita dari Pek To San. delapan pemuda itu berlalu dengan cepat bersama untanya. yang berarti Gunung Unta Putih. ia tanya adiknya yang kedua: ―Jietee. bagaimana kau lihat kepandaiannya delapan wanita itu?‖ Irawan D Soedradjat Page 163 .‖ kata satu orang. delapan pemuda itu. baharulah heran anadikata San-cu melihat dia dan tidak menjadi kerindu-rinduan…‖ Tin Ok tahu Siauw Eng yang menjadi bulan-bulanan. coba kau terka. jangan seperti Hong Ho Su Koay yang sial dankalan itu.Pendekar Pemanah Rajawali Mendengar terlebih jauh. mereka itu tertawa. maka itu haruslah kita waspada. ia menajdi sebal…. ia teringat kepada mereka yang mengeroyok Kwee Ceng. akan tetapi mendengar disebutnya Hong Ho Su Koay – Empat Siluman dari sungai Hong Ho. maka tidaklah kecewa didikan mereka selama sepuluh tahun lebih ini. jangan kau mencari muka dari San-cu dan hendak mati-matian mencarikan nona manis untuknya…!‖ memperingati satu kawan. guna memegat di tengah jalan. Habis mengambil keputusan. namanya sangat kesohor. dia tentu mengerti ilmu silat. ―Awas. ―Kali ini kita datang ke Tionggoan untuk mengangkat nama. Merek ahendak pergi lebih dulu. ―Kalau kita menghadiahkan kuda ini kepada San-cu. guna menakluki orang kosen. Ilmu itu mana dapat dikuasai tanpa penyakinan belasan tahun? Anak umur belasan tahun mana mempunyakan semacam ilmu silat itu?‖ Diam-diam Tin Ok puas yang murid mereka dapat mengalahkan Hong Ho Su Koay. ―Kira-kira. ada dari partai mana. yang Tin Ok mengatakannya pemudi-pemudi. maka itu adalah sangat aneh yang mereka kabarnya roboh ditangannya satu bocah umur belasan tahun…‖ Satu kawannya menyahuti: ―Ada orang bilang bocah itu pandai ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw. hati-hatilah!‖ seorang memperingati. mereka pun bergurau. ―Kita harus berhati-hati. Yang seorang tertawa dan berkata: ― Pasti San-cu menghendaki kau menemani ia tidur untuk beberapa malam…! ―Kurang ajar!‖ membentak kawan yang digoda itu dan hendak mencubit. Ada yang kata ―San-cu paling sukai kamu!‖ Ada yang membilang. ―Dia juga cnatik sekali. Habis dahar mie. Tin Ok mendapat kepastian mereka itu hendak merampas kudanya Kwee Ceng. coba dia lebih muda sepuluh tahun. Yang lain-lain lantas tertawa geli. ia tidak menyahuti. karena tubuhnya Hong Ho Su Koay itu masing-masing meninggalkan beberapa bekas cengkeraman…‖ ―Maka hati-hatilah kau!‖ tertawa satu kawannya. ―Supaya kau jangan sampai kena dijambak bocah itu!‖ ―Cis!‖ sang kawan berludah. Tin Ok tunggu sampai orang sudah pergi jauh.‖ berkata pula seorang yang lain. ―Hanyalah tidak tepat untuk menyiarkan berita anak ceng mengerti Kiu-im Pek-kut Jiauw. Maka lagi sekali. ia percaya orang yang dipanggil ―San-cu‖ itu atau ―majikan gunung‖ mestilah bukan orang baik-baik. Tin Ok mendongkol berbareng merasa lucu. Seorang berkata pula: ―Menurut katanya San-cu. Orang itu tertawa. ia mendongkol. lalu berkasakkusuk tentang asmara. yang kembali ke urusan kuda. yang menyebabkan orang tertawa hingga giginya copot!‖ Tin Ok tidak tahu Pek To San itu. untuk di Liongsee dan Tiong-ciu. ―Jangan kita membocorkan rahasia sendiri…!‖ ―Wanita itu membawa pedang. San-vu bakal menghadiahkan apa kepada kita?‖ berkata satu orang.

kami akan menyusul. Maka ingatlah pesa gurumu yang keempat ini. jagalah supaya kau jangan terganggu urusan sampingan. mereka menyamar demikian sempurna!‖ berkata Cu Cong. Memang perlu murid ini membuat perjalanan sendiri. Kwee Ceng lantas memberi hormat kepada keenam gurunya. Liok Koay berlega melepaskan muridnya ini. Habis bersantap. Aku pikir tak dapat kita membiarkannya saja.‖ berkata Coan Kim Hoat. Kau mempunyai urusan penting. ―Kalau begitu. Cu Cong semua tertawa. Kudamu keras larinya. untuk mendahului mareka.‖ Tin Ok berkata pula. ―Biar anak Ceng berjalan seorang diri.‖ ―Tetapi janji pibu di Kee-hin bakal tiba harinya. Tak sampai satu bulan. Dia tetap menyebut diri Cit Koay meskipun sudah belasan tahun semenjak meninggalnya Thio A Seng. ―Ilmu silat tidak ada batasnya. biarpun kau sangat lihay. Ia utarakan perasaannya itu. itu mesti diperoleh sendiri. ―Memang. hingga sekarang mereka tinggal berenam (Liok Koay). Siauw Eng lantas membujuki: ―Kau pergi lebih dahulu di sana menunggui kita. Tidak menggembirakan untuk ia berjalan seorang diri. Lam Hie Jin mengangguk. yang kelihatan sudah dapat diandalkan menyaksikan perlawanannya terhadap Hong Ho Su Koay. rupanya seperi tidak mengerti…‖ ―Apakah pernah kau dengar tentang Pek To San?‖ Tin Ok tanya pula. melayani Empat Siluman dari Hong Ho. satu atau dua tentulah dapat tiba untuk mengurus kamu.‖ Tin Ok pesan.‖ ―Umpama benar mereka main gila.‖ Coan Kim Hoat memperingati. ―Benar. untuk mencari pengalaman. Tin Ok lantas tuturkan apa yang ia dengar barusan. mirip mengerti ilmu silat. mereka itu merasa sulit juga. tidak dapat kau menjagoi sendiri di kolong langit.‖ Cu Cong menyatakan setuju. paling belakang pesan Hie Jin singkat saja: ―Jikalau tidak ungkulan. ―Yang penting ialah pembilangan bahwa ada banyak orang gagah hendak berkumpul di kota raja. biarlah anak Ceng berangkat lebih dahulu!‖ Lam Hie Jin menyarankan. di sebelah orang ada lagi lain orang yang terlebih pandai. di luar gunung ada gunung lainnya lebih tinggi. Besar nyali mereka berani berniat menggempur gunung Tay San…. ―Perkara kecil niat mereka merampas kuda ana Ceng.‖ Mendengar itu Kwee Ceng merasa puas. perlu kita mencari tahu. Kanglam Cit Koay tidak nanti lepaskan mereka!‖ berkata Han Po Kie. menyingkir!‖ Pesan ini diberikan sebab ia melihat. ―Nampaknya mereka luar biasa. ―Delapan wanita itu hendak merampas kudamu. ―Habis?‖ sang kakak membalasi.‖ Dengan terpaksa Kwee Ceng memberikan persetujuannya.‖ Irawan D Soedradjat Page 164 . Umpama di harian pibu kita tidak dapat kumpul semua berenam. tidak dapat kita main ayal-ayalan. tidak nanti dapat mereka menyusul. ―Orang begini besar masih bersifat kebocahan!‖ Tin Ok menegur. Jangan kau khawatir. ―Oh. ―Tidak. Mungkin ada gerakan rahasia apa-apa. ―Pergi kau ambil jalan kecil. sebab pengalaman tak dapat diajari. Mereka itu berdiam. Mereka itu pada memesan. muridnya ini ngotot hingga ia membahayakan diri sendiri. ―Apakah sieko maksudkan biar anak Ceng pergi seorang diri ke Kee-hin? Kita menyusul dia sesudah kita menyelidiki warta perihal orang-orang gagah yang berkumpul di kota raja?‖ Siauw Eng menegaskan.‖ sahut Cu Cong setelah berpikir sejenak.Pendekar Pemanah Rajawali ―Wanita?‖ Cu Cong mengulangi dengan heran sebelum ia menjawab. Itulah tandanya ia tidak bisa melupakan saudara angkatnya itu. untuk mengucapak selamat jalan.

Ia turuti pesan Tin Ok. Ia hanya dapat lihat. Tidak sampai satu jam. ―Kamu telengas hendak mengambil jiwaku. ―Kalau sam-suhu melihat sikapku nini. Selagi jalan terus. matanya menoleh ke kiri dan ke kanan. takut apa?‖ kata satu diantaranya.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng mengangguk. sebab kecil dan berliku-liku. ia sudah menghadapi jalan cabang dua. ia merasa lapar. ia berjalan seraya menuntun binatang ini. Dari jauh-jauh. ada pepehonan kecil yang liar. Kwee Ceng periksa kopiahnya. tajam juga kedua pinggirannya. iamaju seraya ulur tangannya. ia berlaku hati-hati. ―Lewat saja! Kami pun tidak nanti gegares padamu!‖ Kwee Ceng jengah. Tentu saja tak puas Kwee Ceng diperlakukan demikian. hatinya pun tercekat. tak dapat ia tempur mereka itu. ia menunggang kuda dan kudanya pun dapat lari pesat. Ia tarik les kudanya. Ia bersangsi. ―Awas! Buka jalan!‖ ia berseru seraya ia hunus pedangnya. ia sudah tiba di Kalgan. ia masuk ke dalam. I apun meraba ganggang pedangnya. lantas ia menuju ke selatan. di sini sangat sedikit orang berlalu lintas. akan pilih tempat duduk. Bicara dulu atau menerjang saja? ―Kudamu bagus. Ia mau berlaku hati-hati. kudanya berbenger. dari utara ke selatan. Di depan ada tiga nona dengan pakaian serba putih. Jalanan pun sukar. ia percaya ketiga nona tadi tidak bakal dapat candak dia. ia tahan kudanya. gin-so itu ia masuki dalam sakunya. mau tidak mau. Ia tidak menaruh perhatian ketika ia dengar dua ekor burung dara terbang lewat di atas kepalanya. Kalgan adalah kota hidup untuk perhubungan antara selatan dan utara. terus berlompat tinggi. belum sore. Kwee Ceng tiba di jalanan pegunungan yang sulit dan berbahaya. Ia payku kepada enam gurunya itu. Di situ terutama terdapat banyak kulit dan bulu binatang. yang ia lekas cabut. penduduknya padat. ia lantas ambil jalan kecil. yang datangnya dari tempat lain tempat. Tapi Kwee Ceng membentak. Ketiga nona itu tertawa tergelak. untuk lari dengan tiba-tiba. maksudnya hendak menyambar les kuda. sebab ia duga jarak mereka kedua pihak ada jarak seperjalanan tiga hari……. Belum ada dua lie. Nyata dua senjata rahasia itu adalah gin-so atau torak terbuat dari perak yang indah. perdagangannya ramai. terus ia jalan pula. tak sudi iamelayani. ia sudah melalui seratus lie lebih. Sampai disitu. Belum sempat ia menoleh ke belakang. pemuda ini larikan pula kudanya. ia seperti hendak menerjang ketiga orang itu. untuk pengalamannya ini yang luar biasa. banyak kolar dan pasirnya. Di tempat begitu. suaranya nyaring. ―Numpag jalan!‖ ia lantas berkata. ujungnya tajam. ia lihat menyambarnya dua rupa barang berkilauan. mari kasih aku lihat!‖ kata satu nona lain. tepat waktu ia menoleh. ―Bukankah kita tidak kenal satu sama lain dan tidak bermusuhan?‖ Tapi ia tidak mau membalas. sebentar saja ia sudah datang dekat. Seorang diri ia dahar dengan bernafsu. Sekira tujuh atau delapan lie. ketiganya bercokol di atas punggung unta. gin-so bertabur emas yang merupakan unta-unta kecil. ia menyambuti dengan kopiahnya. ia khawatir senjata rahasia itu ada racunnya. Kebetulan tiba di depan restoran. Di sini Kwee Ceng turun dari kudanya. Ia hanya khawatir nanti ada yang memegat pula. Kwee Ceng sendiri tidak tak terkecuali. kedua kakinya menjepit. Ia singgah sebentar. jalanan sempit dan banyakl batu besarnya. ―Bagus!‖ memuji dua nona. ia turut kebiasaan orang Mongolia. Untungnya untuk dia. Ia mengawasi jalanan yang sempit itu. ia sudah dengar bentakan ketiga nona itu. Jalanan ini lebih jauh. dia pasti akan damprat aku…‖ pikirnya. Mereka itu melintag di tengah jalan. Pesat lari kudanya. ―Adik kecil. Ia minta sepring daging kerbau dan dua kati mie. Belum pernah ia melihat kota seramai ini. Irawan D Soedradjat Page 165 . Satu nona lompat turun dari untanya. mukanya dirasai panas. Maka ia lantas ambil keputusan. Ia mengasih dengar nada lagi bicara sama anak kecil. di sebuah tikungan. Kwee Ceng terkejut. ia kasih kudanya kaget. Dengan ini cara. untuk tahan kuda itu. lompat lewati tiga nona itu! Ketiga nona itu terkejut.‖ pikir si anak muda denagn mendongkol. memakai tangannya. maka ia tambat kudanya di luar. saking heran atas lihaynya kuda itu. Ia hanya tidak pakai sumpit.

‖ Irawan D Soedradjat Page 166 . ia menjadi malu hati. sekalipun di musim semi. dan ia biasa dengar ibunya bicara? Ia malah girang mendengar lagu suara orang sekampung. bagiku itu rasanya masih kurang cocok. ia sodorkan kepada si pemuda. ―Mari dahar bersama!‖ ia mengundang. untuk melongok keluar. habis kau dahar. hitam dan kotor. ia lompat bangun. Ia lantas ingat kepada kudanya. kawan. Jongos itu menjadi gusar. untuk menyindir. Ia lantas kata pada jongos: ―Eh. akan memerintahkan: ―Potongi aku sekati daging kerbau serta setengah kati hati daging kambing!‖ Ia telah hidup terlalu lama di Mongolia hingga tahunya. Kwee ceng teriaki jongos. dua yang asam manis. kau tidak punya uang untuk membayarnya!‖ Dengan sengaja ia menyebut ―lojinkee‖ atau orang tua yang dihormati. ―Aku sendirian tidak gembira. Pemuda itu letaki bakpauw itu yang tapinya sekarang tertanda tapak tangan. dua yang manis bermadu. ―Apakah kau sangka aku melarat dan jadinya tak pantas aku dahar barang makananmu?‖ si pemuda tegur jongos itu. maukah kau yang mentraktir?‖ tanyanya. Yang membikin banyak berisik adalah dua jongos terhadap satu pemuda ynag tubuhnya kurus dan pakaiannya butut. terus ia gegares bakpauw itu.‖ Ia bicara dengan lidah Selatan. ―Kita jangan repoti mendahar daging. hingga terlihat dua baris giginya yang putih. yang ia lihat lagak lagunya. pemuda itu mendak. meski kau menyuguhkan makananmu yang paing jempol. ―Baik!‖ tertawa pula pemuda itu. hawa udara dingin. Jongos itu melayani dengan ogah-ogahan. Tentu saja kue itu tak laku dijual. ―Aku khawatir. lebih dulu kau sediakan empat rupa buah kering dan empat rupa buah segar. pasti kami dapat membuatnya! Hanya aku khawatir. hingga tidak terlihat tegas wajahnya. ―Mau apa lagi?!‖ menegur satu jongos. ia dengar suara kerisik di luar rumah makan. Kwee Ceng mengerti omongan orang. Di tangannya ia mencekal sepotong bakpauw. Bukankah ibunya berasal dari Lim-an. hingga gigi bagus itu tak sembabat sama dandannya yang compang-camping itu.Pendekar Pemanah Rajawali Tengha bersantap. Ser! kepalannya melayang. Di utara. sebab ia lihat pakaian orang yang butut dan kotor itu. Anjing itu. Ia menoleh pula kepada si anak muda: ―Kita minum arak atau tidak?‖ ia tanya. ―Jangan!‖ ia cegah si jongos.‖ Ia jumput bakpauw itu. Pemuda itu menyambuti. Teranglah ia seorang melarat. ―Kenapa kau tidak mau lantas pergi?!‖ ―Baiklah.‖ lanjutnya lagi. Kwee Ceng menjadi kasihan. ia balik ke mejanya untuk melanjuti bersantap. ―Pasti!‖ sahut Kwee Ceng tanpa berpikir lagi. meminta tambahan makanan. ia tahu orang tentu sudah lapar. Ia mengawasi kedua jongos dengan tertawa. Ia dapatkan kudanya sedang makan rumput dengan tenang. Pemuda itu mengikuti ke dalam. kepalanya ditutup dengan kopiah kulit yang sudah pecah dan hitam dekil. ―Coba lojinkee menyebutkannya. kepalan lewat diatasan kepalanya. lepas bakpauw itu!‖ menitah jongos yang satunya. seekor anjing kecil. ―Tidak peduli aku dahar berapa banyak. ―Apa?!‖ sahut jongos itu tawar. ini aku bagi kau!‖ berkata ia. makanan yang paling lezat di kolong langit ini adalah daging kerbau dan kambing. baik kita makan bebuahan dulu!‖ menyahuti si anak muda. ―Makhluk yang harus dikasihani. ―Aku yang membayar uangnya. mukanya pun hitam mehongan. Pemuda itu menghampiri. dan pemuda ini tidak memakai sepatu. ia mengawasi ana muda kita Kwee Ceng lihat kelakuan orang. Pemuda itu mengawasi Kwee Ceng. pergi ya pergi…‖ kata pemuda itu seraya ia putar tubuhnya. Ia menoleh kepada si jongos. Dan ia lemparkan itu kepada seekor anjing buduk di depan pintu.‖ Kwee Ceng pun heran. tetapi ia diam saja. menubruk dengan kegirangan. untuk duduk bersama. ―Eh. Cit-kang. ―Sayang…sayang…‖ kata satu jongos. rata. aku memang lagi mencari kawan. Pemuda itu berumur lima atau enambelas tahun. ―Bakpauw yang lezat dikasihi ke anjing….

tentang segala apa di Kanglam. menunggang kuda dan menggembala kambing.‖ Mendengari itu mulutnya si jongos ternganga. Barang hidangan. yang dandannya indah dan malah mengenakan bulu tiauw. apa boleh ia menyediakan dulu dua poci? ―Baiklah!‖ sahut si anak muda yang mengenai arak tak banyak cerewet. Anak muda itu minum sedikit sekali. ceker bebek goreng. Irawan D Soedradjat Page 167 . tidak beres!‖ berkata si anak muda itu. Sekarang ia tanya tetamunya. Sembari dahar bebuahan. Nah. anak muda itu ada lebih pintar daripada gurunya yang kedua.‖ kata kemudian. ―Toaya menghendaki buah apa yang segar bermadu?‖ tanyanya. hingga ia tertawa dan bertepuk tangan. Ia kata. ia khawatir orang nanti minta pula makanan lainnya. enak didengarinya. jongos itu menjadi melongo. Setelah pesan koki. kau sajikan lagi duabelas rupa untuk teman nasi. di sini tidak ada ikan dan udang segar. ia pun Cuma dahar beberapa sumpitan. Ia sampai mau percaya. yang mengaku datang dari padang pasir. ―Aku menyangka ia cuma miskin. paha mencak dan kaki babi hong. tak tahunya dia terpelajar tinggi. ―Sebenarnya tuan-tuan ingin dahar masakan apa?‖ ia tanya. soto burung wanyoh. ―Untuk ceker bebek dan lidah ayam saja kita membutuhkan beberapapuluh ekor ayam…. Kwee ceng cobai itu semua.‖ Mendengar itu. tapi si anak muda sangat tertarik hatinya. soto manjangan keekangyauw. Jongos mengawasi pemuda kita.‖ berkata si anak muda.‖ berkata pula si anak muda. Kwee Ceng ingat pesan gurunya. semua buah yang diminta telah disajikan saling susul-menyusul. dan kiang-sie-bwee. dan ia merasakan kelezatan yang dulu-dulunya ia belum pernah cicipi. Rupanya orang luas pengetahuannya. apakah kau kira dia tidak kuat membayaranya?‖ tanya ia. si anak muda bercerita banyak. yang asam aku ingin uah ento harum. ―Tuan ini yang mentraktir.Pendekar Pemanah Rajawali Jongos itu heran hingga ia terperanjat. Entah disini ada yang jual atau tidak? Yang manis bermadu? Ialah jeruk tiauwhoa-kim-kie. ―Delapan rupa masakan itu ialah puyuh asap. tidak dijelaskan. Sembari berdahar. Orang bicara rapi.‖ katanya dalam hatinya. yang ia pilih. lidah ayam cah. ia jadi Cuma bicara tentang memburu binatang liar. ―Rumah makanmu ini rumah makan kecil dan tempatmu ini tempat melarat. co dan ginheng. bakso kelinci. ia sekarang banyak bertanya kepada Kwee Ceng. ―Apakah sudah cukup semua ini?‖ ―Habis itu. memanah burung rajawali. Tidak terlalu lama. yang mesti disajikan atas dua meja disambung menjadi satu. Buah yang segar yaitu kau cari yang baharu dipetik. buah tho-tong-songtiauw dan buah lay-hauwlongkun…. ―Baiklah. sebegitu dulu!‖ Jongos itu berlalu dengan cepat. Sekarang ia tak berani lagi memandang enteng kepada anak muda ini. ia duga bukan sembarang orang. hendak minum arak apa. ―Lainnya ialah delapan rupa tiamsim. Kwee ceng tertarik hatinya. Si anak muda berkata pula. maka kau sajikan saja delapan rupa barang hidangan yang biasa!‖ Jongos itu mengawasi. anggur hiangyoh. ia ada punya arak Pek-hun-ciu simpanan sepuluh tahun. ―Ah. ―Sekarang begini saja! Empat rupa buah kering itu ialah leeci. ―Untuk teman arak. lengkeng. satu demi satu. suaranya tawar. datanglah barang hidangan. ia tidak berani bicara terlalu banyak. ―Delapan masakan itu mahal harganya. baharu ia keluar pula. Si anak muda menunjuki Kwee Ceng. Ia tidak menyangka orang omong demikian takabur. pasti tidak dapat kamu menyediakan barang bagus.‖ sahutnya kemudian. Selang kira setengah jam.

harganya semua buah dan makanan itu berjumlah tigaratus sembilan tail. Kwee ceng pun tertawa. aku merasa lapar pula…‖ ia menambahkan. kecuali hal ia mengerti silat dan mempunyai hubungan erat dengan Temuchin. Si anak muda tidak mengucap terima kasih.‖ si anak muda meminta diri seraya memberi hormat. menyuruh menukar hidangan yang terlalu dingin dengan yang baru! Jongos dan kuasa brumah menjadi heran. ―Saudaraku.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sendiri sangat gembira berkumpul bersama ini kawan baru. Satu kali. bagaimana apabila kita berjalan bersama?‖ . dengan kelakuan sangat menghormat. untuk ditukar dengan limaratus tael perak. Kwee Ceng pun berdiam saja. ialah Tuli sering mendampingi ayahnya. ia pakai baju itu. saking gembira. maka sering mereka bertengkar. Adalah setelah jalan beberapa tindak. hingga ia tampak Kwee Ceng lagi berdiri bengong dengan tangan memegangi les kuda merahnya. Hanya aneh. Di gurun pasir ia bergaul erat sekali dengan Tuli dan Gochin. Menyaksikan itu.‖ ia menyahuti. yang tapinya memanggil jongos. tetapi tentang ini. tangan itu ia rasai halus sekali. melihat pakaian orang yang tipis dan pecah. mereka mengantar keluar kedua tetamunya itu. kult muka itu agakanya halus dan bersemu putih. Kwee Ceng berhati mulia.‖ berkata si anak muda. ―Sudah terlalu lama kita bicara. Sehabis membayar. tujuh chie empat hun. anak muda itu dahar lagi sedikit saja. ―Aku masih belum belajar kenal she dan nama kakak yang mulia. bocah tolol! Bocah hina ini permainkan padamu!‖ Kapan kuasa restoran sudah berhitungan. untuk dipegang keras-keras. ijinkan aku pamitan. ia tidak pikirkan harganya barang makanan itu. maka aku minta sukalah kau pakai baju ini!‖ Tidak Cuma baju. terus ia negeloyor pergi. ia kerobongi itu di tubuh si anak muda. Kau sendiri hiantee?‖ ―Aku she Oey. untuk menggapaikan. Ia kata: ―Saudara. ―Baik suruh panasi lagi…‖ ―Tidak usahlah. terlalu panas pun tidak dapat didahar. 168 ―Sekarang hiantee hendak pergi kemana?‖ Kwee ceng tanya. Di luar salju memenuhi jalan besar. Pernah Kwee Ceng menatap muka si anak muda. ―Benar.‖ jawab anak muda itu. Ia masih punya sisa empat potong emas. yang tiga ia sisipkan ke dalam saku baju tiauw itu. ―Umpama kata hiantee hendak kembali ke Kanglam. Tapi mereka iringi kehendak itu. ia cekal tangan si anak muda. Gochin benar baik tetapi putri itu kadang-kadang manja sekali dan ia tidak sudi mengalah. toh masih ada perbedaannya. lalu ia mengatakannya sudah cukup. ―Aku tidak niat pulang ke Selatan. namaku Ceng. barang hidangan keburu dingin. apakah kau masih kekurangan apa-apa?‖ ia menanya. ia tidak memperhatikannya. baru kalin ini mereka mendapatkan tetamu seaneh ini. benar!‖ katanya. kita baharu ketemu tetapi kita sudah seperti sahabatsahabat kekal. Si anak muda pun tersenyum dan menunduk. si jongos katakan Kwee ceng dalam hatinya: ―Dasar kau.‖ sahut Kwee ceng. ia pun memberikan uang.‖ kata si anak muda seraya tarik tangannya. Kwee ceng pun kasih persen sepuluh tael hingga kuasa restoran dan jongos itu menjadi girang. Seumurnya. Irawan D Soedradjat Page Oey Yong menggeleng kepala. ―Aku telah mengganggu kamu. namaku pun satu. Anak muda itu tersenyum. Kwee Ceng lihat itu panggilan. ―Tapi toako. Kwee Ceng mengeluarkan dua potong emas. ia lantas saja angkat tangannya. Maka itu. Ia sebenarnya memanggil adik (hiantee). ia loloskan baju kulit tiauwnya. Sesudah barang makanan siap semua. Yong. bicara lebih jauh. Untuk membayar itu. ia pun suka omong lebih banyak. ―aku pun sampai lupa! Aku she Kwee. sadar. seperti juga pemuda itu kehilangan sesuatu.‖ sahutnya. ia menghampirkan dengan cepat. ia baru menoleh ke belakang. walaupun mehongan. ―Nasi pun sudah dingin…‖ ―Benar.

Kwee Ceng mengawasi sebentar.‖ Kwee Ceng bilang. rumahmu di mana?‖ ia tanya. Cuma tidak ketmu…‖ Kwee ceng mencoba menghibur.‖ ―Hanya sukar untuk mencari anaknya. ―Mungkin ia mencari. untuk mengatur mangkok dan sepasang sumpit. ―Ayahku tidak menginginkan aku lagi…‖ katanya. ―Ayahku larang aku pergi pesiar. Ia memandang Kwee Ceng dan Oey Yong. Atas itu kedua kacung menghampirkan meja yang ditunjuk itu. ―Eh.‖ ia kata. ―Di sana aku cari dan tangkap dua anak burung itu untuk aku buat main.‖ ―Sekarang pasti ayahmu tengah memikirkan kau. ―Kenapa begitu?‖ Kwee Ceng tanya. hingga ia tak dapat didekatkan. Di sini kembali mereka pasang omong. di tangga lauwteng terdengar suara tindakan kaki. usianya barangkali baru delapan atau sembilanbelas tahun.‖ jawab Kwee ceng. lantas ia menunjuk meja yang terpisah jauh. ―Justru sekarang tidak tahu aku mesti pergi ke mana. ialah dua kacung yang mengiringi satu pemuda denagn baju sulam yang indah. Ia hanya heran kenapa orang dapat menyusul ia demikian lekas. Karena itu malam-malam aku minggat…. Ia menjadi gusar sekali. ia menjadi tertarik hatinya. Kali ini Oey Yong yang mengajak kawannya itu. Ia ingat akan kudanya. yang bangunannya juga mencontoh model restoran besar dari Pian Liang. ―Ayahku tidak menginginkan aku…‖ ia menyahut. tetapi kuda itu berjinkrakan. Melihat pakaian orang yang kotor. kau mesti pulang. terutama sebab ia lantas kenali. Kwee Ceng tidak dapat menjawab. ia mengerutkan kening. Ia pilih rumah makan yang paling besar dan kenamaan untuk kota Kalgan. Jongos juga segera repot melayani tetamu baru ini. baik besok aku pergi saja ke Mongolia. yang ia bawa dari rumah. ―Jikalau begitu.‖ sahut Oey Yong. cuma empat rupa serta sepoci the Liong-ceng. habis pesiar. Ia kembali mengobrol bersama sahabat barunya itu.‖ berkata si anak muda. yang tidak merasa aneh atau mendongkol. maka ia lari ke jendela untuk melongok ke bawah. hiantee. ibukota dahulu. Hanya kali nini ia tidak meminta banyak macam makanan. ―Cuma aku mesti dapati dulu dua ekor anak rajawali putih…‖ Selagi kedua pemuda ini bicara dengan asyik. ―Dan ibumu?‖ ―Ibuku sudah meninggal dunia. Aku tidak punya ibu sejak masih kecil…‖ ―Kalau begitu. ―Ah. baiklah. ―Kalau begitu. lalu tertampak munculnya tiga orang.Pendekar Pemanah Rajawali ―Baiklah.‖ Kwee ceng beritahu.mari aku temani lagi kau bersantap. ―Kenapa kau tidak mau pulang saja?‖ Tiba-tiba saja mata Oey Yong menjadi merah. tak bisa jadi. yaitu Restoran Tiang Keng Lauw. aku justru mau pergi. Kapan Oey Yong dengar Kwee ceng omong perihal dua ekor burung rajawali putih. habis pesiar aku pulang!‖ katanya. disusul mana beberapa kali bentakan dari beberapa orang. Oey Yong menangis. Oey Yong tertawa. ―Ayah damprat aku. ia pun menemuinya burung itu secara kebetulan. di bawah lauwteng terdengar suara kuda meringkik. lantas ia tidak pedulikan lagi tetamu itu. ―Tapi kau toh dapat menemuinya. pemuda itu tampan sekali. orangorang itu adalah delapan penunggang unta yang memang berniat merampas kudanya itu. Lantas ia berseru: ―Di siang bolong kamu berani merampas kudaku?‖ Irawan D Soedradjat Page 169 . Belum lama. yang hendak ditangkap.‖ Kwee ceng berkata pula. Mangkok dan sumpit yang mana disimpan dalam sebuah kotak. wajahnya terang.‖ kata Kwee ceng lagi. Ia dapatkan beberapa orang dengan pakaian serba putih tengah mengurung kudanya itu. kenapa ayah tidak cari aku?‖ kata si anak muda lagi.

―Jangan pedulikan dengan mereka. kedua kacung lantas pungut empat senjata rahasia itu.‖ Kongcu itu berkata: ―Saudara Kwee tak hendak mengenalkan diri. ―Toako. si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu juga telah berada di depan. diwaktu ia sudah taruh kakinya. Kwee melengak. mari kita naik pula ke lauwteng!‖ berkata ini sahabat baru. ―Mereka ini hendak merampas kudaku. ―Setahu kenapa. jatuh bareng bersama senjata penyerangnya. ia tuangi air the di cawannya pemuda itu. untuk masuki kepalanya ke selangkangannya. kemudian sembari tertawa manis. ia memutar tubuhnya. Ketika ia menoleh. Celaka kalau ia kena tersampok. Kwee ceng cepat-cepat membalas hormat.‖ Irawan D Soedradjat Page 170 . atas mana dua potong ginso menyambar ke loteng. Kwee Ceng hendak sahuti sahabatnya ketika ini tatkala ia dengar ramai suara kelengan unta di depan rumah makan itu. untuk terus segera memberi hormat sambil berjura. Maka dengan ia lantas tunduk. mereka pada rubuh sendirinya…. ia lantasbertindak naik di tangga lauwteng. di sana ia dapatkan delapan orang berpakaian putih itu sedang rebah tanpa berkutik. Cepat-cepat Kwee Ceng cabuti kopiahnya. ia kaget dan gusar dengan berbareng. nah di sini saja kita berpisahan. ada urusan apakah saudara datang ke mari?‖ Ditanya begitu. yang setahu kapan telah turun dari lauwteng. Justru mereka memutar tubuh. Oey Yong tarik tangannya Kwee ceng. ia melayangkan dua batang senjata rahasia yang bersinar emas berkilauan. Meski begitu.‖ ia menyahuti. apabila mereka melongok ke bawah. Tiba-tiba saja ia ayun tangannya yang kanan. di waktu mana ia merasakan sambaran angin. sampai nanti kita bertemu pula!‖ Lalu ia menjura dalam sekali. ―Aku mohon tanya she dan nama mulia dari toako. ―Siauwtw she Kwee. Inilah Kwee ceng tidak sangka. ―Belum pernah siauwtee pergi ke pulau Tho Hoa To itu.‖ kata Kwee Ceng. kudamu itu bagus sekali!‖ katanya memuji. ―Kau…kau…. lalu di antara dua kali suara tintong. ―Kongcu ada pengajaran apakah?‖ lanjutnya. dengan lantas ia lihat Oey Yong. Kongcu itu telah mengibaskan tangannya. Kwee ceng menurut. di depan siapa ia berhenti. ―Siauwtee datang dari gurun pasir utara. ginso itu jatuh sendirinya. Setibanya ia di depan rumah makan. Bab 16. ia pergi ke jendela diikuti Oey Yong. Kwee ceng lekas-lekas membalasi. sepasang alisnya pun terbangun. sinar matanya menandakan ia sangat heran. pundaknya kena tersambar juga. kemudian ia mengawasi kedua anak muda itu. Karena ini.Pendekar Pemanah Rajawali Lantas ia lari turun dari lauwteng.‖ ia menyahut. Gara-Gara Sepatu Sulam Dan Jubah Salut Emas Tiba-tiba Kwee Ceng sadar. Ia merasakan ada tangan yang lemas yang memegang tangannya. salah satu nona menoleh ke belakang. sehingga ie berdiri menjublak. malah ia sudah lantas membungkuk kana melihat delapan pemudi yang menyamar sebagai pemuda-pemuda itu. dia terus menghampirkan Kwee Ceng. ―Aku mohon tanya. dengan niat menyambuti torak perak itu. Demikian juga si anak muda itu.‖ Meski ia mengucap demikian. Habis itu. Ia menjadi heran sekali. ujung tangan bajunya menjurus ke matanya. hingga terbit satu suara nyaring dan ia merasakan sakit ngilu pada pundaknya itu. ke arah pemuda ini. ―Apakah saudara Kwee datang dari pulau Tho Hoa To dari Tang-hay? pemuda itu menaya. maka Kwee Ceng dapat melihat sinar matanya yang tajam. mereka lihat delapan nona serba putih itu berlalu dengan unta mereka. Sembari memberi hormat orang menyerang ia secara hebat sekali. tanda dari kemurkaan. guna terus lompat berjumpalitan. yang menyambuti seraya terus dikasih masuk ke dalam sakunya. Akan tetapi si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu telah dului ia. diserahkan kepada si pemuda. ia memandang Kwee Ceng.‖ ia minta. Barusan kongcu membnatu aku. untuk naik di tangga. dengan menyentil dua kali. aku sangat berterima kasih. bernama ceng.

Kwee Ceng melihat telapak tangan anak muda ini. yang terus tuturkan perihal kuda itu sampai ia bertemu rombongan si wanita itu. Kapan Kwee Ceng kembali ke kursinya. ilmu silatmu tangan kosong tapi biasa saja. cepat luar biasa tangannya menyambar ke arah Kwee ceng. ia mengerti. terus ia putar tubuhnya untuk bertindak ke tangga lauwteng. sebenarnya aku telah lombai mereka seperjalanan tiga hari. Oey Yong agaknya kaget. adakah kongcu ini sekaum dengan Tiat Sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi? Ia menginsyafi hebatnya cengkeraman Tulang Putih itu. kau lupakan barangmu ini!‖ ia panggil si pemuda yang seperti anak bangsawan itu. Rupanya tiga wanita itu melepaskan burung Irawan D Soedradjat Page 171 . Ilmu totok kau lihay sekali. yang bergemerlapan kuning dan putih. ia mundur setindak. kongcu terkejut sehingga air mukanya berubah. sambaran kongcu ini kalah jauhnya sebatnya dengan sambarannya si Mayat Besi. ―Kongcu. Ia dapatkan. ―Sungguh memusingkan kepala. Oey Yong pun telah dapat menjumput sumpitnya itu. Maaf…!‖ Kembali ia menjura. ia sudah dapat menduga orang bergerak dengan ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw seperti keenam gurunya sering menuturkan kepadanya. Kemudian ia melanjuti: ―Setahu siapa yang membnatu aku secara diam-diam dengan merobohkan mereka itu. Ia tercengang sebentar lantas ia ingat. saudara Kwee. Ia sambuti tusuk konde emas dan ginso itu. ia berpaling. ia mundur satu tindak. kenapa rombongan wanita itu mencoba merampas kudamu?‖ kemudian Oey Yong menanya. Setelah menatap. lima jarinya yang kuat seperti kuku garuda menyambar ke tangan Kwee Ceng itu. Entah kapan sahabat ini mengambilnya. Tiba-tiba Kwee ceng menepuk meja. disaat kongcu itu mengangkat tubuhnya habis menjura. belum lagi serangannya mengenai. ia dapatkan Oey Yong mengawasi ia sambil sahabat itu tertawa geli. ia memutar tubuhnya untuk terus turun di tangga lauwteng. Kwee Ceng jujur. ―Toako. tubuhnya bergeser. ―Ya. ―Ini untuk kau…‖ kata Oey Yong dengan perlahan. ia juga dapat lihat anak muda itu berdiri tegar ditempatnya. Maka ia menduga. Kwee ceng khawatir orang nanti bokong pula padanya. sembari tertawa. tangannya disodorkan. ia kata: Aku cuma mencoba ilmu kepandaianmu. empat senjata itu sudah mendahulukan menyambar ke arahnya. cuma ia dapat membedakannya. lantas aku jumput!‖ sahut Oey Yong masih tertawa. kepada Kwee Ceng ia tersenyum. Si kongcu rupanya jijik untuk pakaian kotor anak muda ini. ―Sebab kudaku adalah han-hiat-po-ma. Kongcu itu menghentikan tindakannya. belum ia terjambak. heran. ―Itu waktu memang aku lihat terbangnya dua ekor burung di atasan kepalaku. ―Dia membikinnya jatuh selagi dia menjura kepadamu. ―Kudaku itu lari cepat sekali. mereka dapat menyusul padaku…‖ Kwee Ceng kemudian mengutarakan keheranannya.. entah kenapa.‖ jawab Kwee Ceng. ―Kenapa barang itu berada di tanganmu?‖ ia menanya. Kwee Ceng kaget tidak terkira.‖ ―Aku lihat di antara mereka ada satu yang mencekal sepasang burung dara. Itulah ginso yang tadi si kongcu simpan dalam sakunya. Tidak berani ia menangkis atau menyambuti cengkeraman itu. tangannya menjatuhkan sebatang sumpit ke kaki kongcu. Kalau tidak tentulah mesti terjadi pertempuran hebat…‖ Oey Yong masih tersenyum. cepat luar biasa ia telah kerahkan tenaganya. Menampak barangnya itu. Kwee Ceng angsurkan kedua barang emas dan perak itu. sebab masih ada bekas cengkeramannya Bwee Tiauw Hong dulu hari pada lengannya. ia tercengang. empat senjata di tangannya sudah lantas mencelat. Dengan terpaksa ia sambuti empat potong benda itu. aku ingat sekarang!‖ ia kata pula separuh berseru. Dari gerakannya saja. yang menyamar sebagai pemuda-pemuda dan menunggang unta.Pendekar Pemanah Rajawali Tapi si kongcu pegat ia. ia tidak menduga orang mendusta. Di tangan kawan ini terlihat dua potong tusuk konde emas serta dua potong ginso.‖ kata Oey Yong. Kongcu itu terkejut.

hingga dia itutak dapat melihat lepas ke depan. ia terus tepuk kempolan kudanya itu. Pemuda itu menanti sampai orang tidak terlihat lagi. mukanya lonjong. apapula mereka dibantu oleh paman gurunya itu. Oey Yong tanya tentang tenaga larinya kuda merah itu dan Kwee ceng menuturkannya dengan jelas. ia lantas pergi mencari rumah penginapan. yang julukannya pun berarti si Ular Naga Kepala Tiga. lantas berkata: ―Inilah paman guru kami. marilah kita pergi!‖ ia mengajak. ―Apakah kau kurang sehat?‖ Oey Yong angkat kepalanya. muka orang ada tanda bekas luka-luka senjata tajam. yang usianya kurang lebih lima puluh tahun. apa kau sudi mengabulkannya?‖ dia bertanya.‖ sahut suara di luar. ia membuka tindakan lebar akan memasuki kamar orang. tiba-tiba ia dengar ketokan pada pintu. kau naiklah!‖ Sebenarnya kuda itu tak dapat ditunggangi orang lain. tubuhnya kurus. Ia mendapatkan sang malam bakal lekas tiba. hiantee. aku hadiahkan itu padamu!‖ kata Kwee Ceng tanpa bersangsi. jangan kau bawa adatmu. ―Toako. mereka gampang saja mencari padaku. Sekarang adalah giliran Kwee Ceng yang menjadi heran. Sebenarnya ia main-main saja. Empat di antaranya ada membawa golok dan ruyung. maka baik-baiklah kau mendengar katanya. Bersama-sama mereka turun dari lauwteng. hingga tampak dua baris kulitnya yang putih mulus.‖ Kemudian sembari menoleh kepada si anak muda. Mereka itulah Hong Ho Su Koay. ia mengawasi si pemuda. sambil melirik. Mukanya penuh air mata. untuk mereka memegat atau mengawasi aku. ―Sebenarnya aku suka sekali dengan kudamu itu. ―Satu sahabat. akan tetapi ia sekarang tidak membangkang. ―Hendak aku meminta sesuatu yang berharga darimu. Karena ini.‖katanya. di jidatnya ada tiga kutil besar. tanpa bilang suatu apa. Ia lantas mendekam di meja. Dua orang yang ke lima. Tapi sekarang ia tidak menangis. romannya sangat tidak mengasih untuk diawasi. sebaliknya ia tertawa. Oey Yong terperanjat. ia awasi tuan rumah. Si kurus sudah lantas tertawa tawar. ―Baik. dengan dingin. ―Siapa?‖ ia tanya heran. ia terkejut bukan main. Ia keringkan secawan teh. akan terus mencokol di atas pembaringan. Air matanya itu yang mengalir di kedua belah pipinya itu. baru ia tuntun kudanya. Bukankah mereka baru pertama bertemu? Ia malah mengharap jawaban si pemuda adalah penolakan. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng mengerti bahwa ia telah terkurung. ―Toako. Kwee Ceng turun dari pembaringan. terus terdengar tangisannya sesegukan. hingga ia melihat tegas. Setelah ia mengenali orang.‖ menerangkan Oey Yong. Kwee Ceng menurut. Ketika disaat ia hendak memadamkan api. Di antara cahaya lilin. Kwee Ceng pun mengawasi. bahwa Hong Ho Su Koay saja sudah bukan tandingannya. untuk rebahkan diri. Ia kelihatannya menjadi kagum sekali. ia tampak lima orang berdiri di depannya. ia mepersilakan: ―Hiantee. kau kenapakah?‖ ia menanya cpat. Oey Yong naik kuda itu.Pendekar Pemanah Rajawali itu untuk memberi kabar kepada lima kawannya. baru ia melihat langit. ―Hiantee. ―Kenapa tidak?‖ Kwee Ceng menjawab. menyebabkan mehongan luntur. lalu ia tertawa. Kwee Ceng menyerahkan les kuda itu. 172 Toan-hu-to Sim Ceng Kong si Golok Memutus Roh. Ia pesan kepada kudanya: ―Aku haurkan kau kepada sahabatku yang baik. Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay yang sangat ternama besar! Lekas kau berlutut dan mengangguk-angguk kepalanya!‖ . Dengan lantas kuda itu berlari pergi. ia membuka pintu.‖ Setelah itu. dari itu. Lebih dulu ia membayar uang makan. suaranya parau.

Ia menjaga diri dari bokongan di kiri atau kanannya. agar orang tidak nanti mengatakan Sam-tauw-kauw menghina anak kecil. Sambil berdiri diam. Kapan ia memandang ke jendela. Seram suasana di situ. ia suruh Twie-beng-chio Gouw Ceng Liat si Tombak Mengejar Jiwa menutup pintu. Di sini Ceng Kian tinggalkan si pemuda. untuk bersemadhi menuruti ajarannya Ma Giok. niatnya untuk tidur tanpa menghiraukan segala apa. Lantas ia berdiri menjublak! Di atas empat pohon di dekatnya itu. Ma Ceng Hiong si Cambuk Perampas Roh. ia angkat kepalanya. Rupanya orang telah menjaga ia di luar kamar. Ia berlaku tenang. untuk dengan cepat bertindak ke sebelah dalam rimba. ―Bocah haram! Anak campuran! Anak jadah!‖ demikian ia dengar makian hebat. Itulah suara ketokan beberapa kali. ia berbangkit. disusul sama bentakan: ―Bocah. bukan?‖ Nah sampai bertemu pula! Sampai bertemu pula! Maaf. engkongmu menunggui kau disini!‖ Jadi terang dia telah dikurung keras. tidak lekas kembali. Akan tetapi tidak ada serangan terhadapnya. kau datang ke sana dengan minta gurumu semua temani padamu!‖ Habis berkata. jongos muncul dengan air cuci muka dan tiamsim. sia-sia saja mereka mencoba meronta-ronta. maka ia lupa akan malunya. Ia lantas saja bercokol di atas pembaringan. ―Guruku tidak ada di sini. Besok pagi. menuju ke arah barat. Kwee ceng loloskan joan-pian. Tiba-tiba ia dapat ingatan. jangan kau memikir untuk kabur. ―Sudah terang aku tidak bakal dapat lolos. Mereka jalan berendeng. ia tampak bayangan orang mondar-mandir. Selang tidak lama. tidak nanti mereka dapat menolongi aku. cambuk lemasnya. melainkan mulut mereka yang dapat di pentang lebar-lebar. ―Apakah kau tengah main ayunan di sini?‖ dia bertanya. yang menutupi matahari. sampai sepuluh lie lebih. Di belakang jongos itu terlihat Cian Ceng Kian dengan sepasang kampaknya. Dia lantas rebahkan dirinya. untuk melindungi diri.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tuan-tuan ada punya urusan apa?‖ ia tanya sambil menjura. ia tidak bertemu dengan musuhnya. tubuh mereka bergelantungan. Besok tengah hari aku menantikan di rimba Hek-siong-lim di luar kota. Di sana ada sebuah rimba besar. ia sudah ngeloyor keluar. Ia bersemadhi hingga tengah hari.‖ sahut Kwee Ceng. Mereka malu untuk minta tolong. ―Mari kita pergi!‖ ia kata kepada Cian Ceng Kian. terus ia duduk numprah di atas pembaringannya. ia maju. setindak demi setindak. Tapi ia tidak dapat pulas. Sesampai di luar. ia tampak Hong Ho Su Koay tergantung masing-masing di sebuah cabang besar. rimba pun lebat. Satu lie sudah ia berjalan. berubah pikirannya. Ia takut mati. ―Sekarang hendak kau memberi pengajaran kepadamu. Sambil berlompat. hingga terdengar suara membeletok. Kwee Ceng heran bukan kepalang. kenapa aku tidak hendak sembunyikan diri?‖ Maka hendak ia segera mewujudkan pikirannya ini. ialah pesan gurunya yang keempat: ―Jikalau tidak ungkulan.‖ Kwee Ceng berpikir. Mereka mencaci kalang-kabutan begitu lekas mereka tampak si pemuda musuhnya itu. Di samping itu mereka heran sekali kenapa paman guru mereka itu yaitu Hauw Thong Hay. lari!‖ Maka ia berpikir: ―Sekarang tidak ada orang mengawasi aku. untuk sarapan. . Selagi Kwee ceng bertindak. semakin hebat. memandang ke arah dari mana cacian itu datang. tiba-tiba Toat-pek-pian. hatinya menjadi mantap. baiklah aku mati bertempur!‖ Oleh karena berpikir begini. akan tetapi ia tertawa. ia mesti gulak-galik saja. ―Aku mohon sukalah kau memerdekakan kami!‖ Irawan D Soedradjat Page 173 Sim Ceng Kong berempat mencaci maki pula. ―Mana guru-guru kamu?‖ Hauw Thong hay menanya. ―Sungguh menggembirkan. kami menyerah kalah!‖ dia berteriak. hampir ia lenyap dari pandangan mata. Tapi tiba-tiba. Ia masih berdiam saja. ia dapat dengar apa-apa di atas genting. baru ia berbangkit turun. ―Ah! Kalau begitu hendak aku memberi ketika padamu untuk hidup lagi setengah harian!‖ kata Ular Naga Kepala Tiga itu. Kwee Ceng putar cambuknya. ―Suhu semua berada di tempat jauh. Kwee Ceng memadamkan api. tanpa menanti penyahutannya Kwee Ceng. tidak dapat aku menemani kalian lama-lama…!‖ ―Kwee Enghiong. kaki dan tangan mereka terbelenggu.

ia sampai tidak berani memilih erstoran yang mentereng. malah di sini ia segera membeli seekor kuda untuk dengan itu ia lantas melanjuti perjalannya ke selatan. kedua kakinya bergerak saling susul-menyusul. untuk melihat ke sebelah dalam. ia berjalan-jalan. ―Hong Ho Su Koay lihay tetapi mereka dapat digantung. atau Lim-an. Yang hebat mereka sampai tidak melihat padanya. nona-nona serba putih dan menunggang unta itu sudah elok semua. dengan kemalu-maluan ia menyelinap di antara orang banyak. ia menjadi kegirangan. habis berdahar. Pada suatu hari. teranglah lawannya itu mesti jauh terlebih lihay daripada mereka. Ia pun mengutanginya itu dengan golok emasnya. yang cantik sekali. siapa lagi?‖ Kwee Ceng heran. sampai tidak dapat dilawan oleh Pian-liang. hanya syukur. Para penonton lantas saja bertampik sorak. tetapi ia mengerti. Semua itu ia saksikan diwaktu siang berderang. Di mana di situ tidak ada Hauw Thong Hay. hingga ia berpikir: ―Kenapa aku seperti kenal dia? seperti aku pernah bertemu dengannya. bertempur dengan seru sekali. maka mereka itu lantas saja tidak dapat geraki kaki dan tangan mereka. maka sekarang si nona tidaj menghajar hebat kepadanya. Di pelbagai rumah minum ia pun dengar suara tertawa. kenapa dia munculkan diri di tempat umum seperti ini?‖ Selang lagi beberapa jurus. ia khawatir paman guru mereka itu nanti keburu kembali. nona itu menggunai akal. ia lantas menyerang dengan kedua tangannya. Ia heran orang menuduh padanya. umurnya mungkin baru tujuh atau delapanbelas tahun. ―Siapakah itu orang secara diam-diam menolongi aku?‖ ia berpikir di sepanjang jalan. yang permai sero-seronya. habis mana barulah ia putuskan belengguan mereka itu. siapakah yang menggantung kamu di sini?‖ ―Kau masih berpura-pura!‖ membentak Cian Ceng Kian mendongkol. entah dimana…?‖ kemudian ia tersenyum sendiri. atau berkelit. dasarnya putih. ―Buk!‖ punggung si pria kena terhajar. mesti ada orang yang sudah tolongi ianya. ia menolak ke arah pundak. kapan tangan kirinya diayunkan. ia ingat: ―Baharu saat ini kau tiba di Tionggoan. roboh ke tanah. akan meninggalkan mereka itu. Syukur untuknya. pemuda itu totok mereka bergantian. setelah memegang tanah. Ia mendekati. ia batal meninju. membawa tubuhnya melejit ke samping ke belakang penyerangnya itu. di situ ada dipancar bendera suram. maka ia pikir. kota raja yang lama dari kerajaan Song. Luar biasa gesitnya nona itu. Nona itu tidak mengambil sikap menangkis. kapan aku pernah bertemu orang lain? Aku tadinya menyangka. ke arah dada. ia kasih turun mereka itu satu per satu. Pantas Hong Ho Su Koay tidak sanggup berontak melepaskan diri. Ia menjadi besar di gurun pasir. Orang banyak itu mengurung sebuah tanah lapang. ia cari sebuah restoran yang kecil.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sudah lantas berpikir: ―Sebenarnya aku tidak bermusuh dengan mereka. kota raja Tay Kim Kok. terus ia balik ke kota. ia tadi berkasihan terhadap si nona. sedang kereta-kereta bagus dengan semua kuda pilihannya mondar-mandir di jalan-jalan besar. yang indah lauwteng dan rangonnya. Mukanya pemuda itu menjadi merah. Nona itu singkap naik rambut yang turun ke dahinya. Untuk bersantap. ada sulaman empat huruf besar: ―Pi Bu Ciauw Cin‖. alat menggantungnya itu adalah tambang kulit yang kuat. Sesudah empat Siluman itu direbahkan di tanah. Pria itu tidak sampai hati. negara Kim (Kin) yang besar. dia dapat menahan diri dan mengerahkan tenaga. Sebetulnya. Ia lari keluar rimba. Ia menyelak di antara banyak orang itu. tibalah ia di Tiongtouw. ia berkata: ―Lagi dua belas jam baru kamu dapat pulang tenaga dalam dan merdeka. belum pernah ia menyaksikan suasana kota besar itu. sikapnya pun berpengaruh. yang tubuhnya jangkung dan besar. terus ia kembali dengan berlompatan. adalah mereka yang memusuhi aku. Kwee Ceng pandang nona itu. untuk berlompat bangun. merdunya bunyi tetabuan. Artinya: mencari jodoh denagn jalan pibu atau mengadu kepandaian. Keanehan itu tak dapat ia melupainya. di sana ada berkumpul sejumlah orang. Di bawah bendera itu ada satu nona dengan baju merah tengah bertempur sama seorang pria. Ia berpikir: ―Dia lihay. Herannya. siapa Irawan D Soedradjat Page 174 . ke mana perginya Hauw Thong Hay si Ular Naga itu? dia tidak tertampak sekalipun bayangannya?‖ Kwee Ceng terus melakukan perjalannya itu. mesti ia lekas menyingkir. Sambil tertawa. yang paling ramai dan indah. kota raja yang baru. maka itu apa perlunya aku membiarkan mereka mati bersengsara di sini?‖ Dengan cepat ia mengambil keputusan. aku pikir kenapa ada demikian banyak wanita cantik. hingga mereka menyangka aku. ia berkelit dengan mendak. Mendadak ia ingat apa-apa. Heran Kwee Ceng apabila ia saksikan ilmu silat si nona itu. sampai terjerunuk ke depan. ―Kalau bukannya kau. Si pria dapat melihat lowongan. ia baru berhenti ketika di sebelah depannya ia dengar sorak-sorai yang ramai. Ia lantas saja mengangkat kaki. hanya mengubah kepalannya menjadi tangan terbuka. lalu iamundur ke bawah bendera.

dan umurnya juga sudah lewat lebih dari setengah abad. cukup asal ia satu pria sejati yang mengerti ilmu silat. Ia lantas loloskan mantelnya. oleh karena itu. lagi sekali orang itu mengangguk. mereka yang gagah sudah pada menikah atau mereka yang muda sungkan hatinya?‖ Ia berhenti sebentar. berniat ia menghajar kedua manusia ceriwis itu. maka itu. Yang muncul dari sebelah timur itu adalah seorang tua dengan tubuh terokmok. itu bendera Pi Bu Ciauw Cin. perkenankanlah kami undurkan diri. sebabnya rupanya. walaupun ia telah melihat wajah-wajah yang cantik manis. aku mancarikan jadohnya dengan jalan pibu ini. pasangan anakku tidak usah berharta. ―Tenang. aku harap tuan-tuan memaafkannya kalau ada kata-kataku yang tidak tepat. Orang bnayak lantas mengawasi. lalu ia cabut benderanya. Siapa yang usianya di bawah tiga puluh tahun dan belum menikah. nanti besok kami datang pula ke mari untuk melayani tuan-tuan. baharu ia menambahkan: ―Kota Pakhia ini adalah tempat rebahnya harimau atau tempat sembunyi naga. matanya bersorot tajam. Si nona menjadi mendongkol. asal ia bisa menyerang anakku dengan satu kepalannya atau kakinya. ―Oh. ―Nanti. kumisnya sudah ubanan separuh lebih. lagi ia menjura kepada orang banyak. Paderi itu tersenyum. Tuan-tuan. nanti aku yang melayani mereka. Yang datang dari barat itu lebih lucu pula. siapa yang menang. ayah dan anak. mari kita berdua main-main…!‖ 175 ―Saudara-saudara. ―Habis kau. hatinya tidaj tergiur. ia yang maju melawan si nonan manis!‖ . para penonton juga tak henti-hentinya tertawa.Pendekar Pemanah Rajawali tahu nona ini melebihkan mereka itu…. maka itu sekarang aku lagi mencarikan jodohnya itu. Disamping mereka. ―Aki-aki. hatinya masih terbuka. Si empe dan paderi masih adu omong terus. aku akan segera pulang asal menjadi orang biasa lagi!‖ sahutnya. maka tak usahlah aku menjadi heran…‖ Pemuda ini polos. mereka jadi sengit sekali. mukanya penuh berewokan. yang ia awasi. Adalah keinginanku. pria itu mengangguk. Bok Ek tarik tangan gadisnya. ―Taruh kata kau menang. Si nona lantas bicara perlahan sama seorang yang berdiri di dekatnya. Dasar aku kurang berpengalaman! Rupanya di Tionggoan ini dimanamana wanitanya cantik semuanya. disini mesti banyak orang berilmu dan gagah.‖ Habis mengucap. terus ia mengangguk keempat penjuru seraya terus berkata: ―Aku yang rendah bernama Bok Ek.‖ ia membujuk. yang datangnya dari sebelah kiri dan kanan. kembali riuhlah tertawa orang banyak. aku lewat di tempat tuan-tuan tidak dengan maksud mencari nama atau mencari uang. ―Setelah aku mendapatkan istri begini cantik. akhirnya mereka semua tertawa geli. untuk pulang ke rumah penginapan guna beristirahat. Dialah satu paderi yang kepalanya licin lanang! ―Eh. sudah membuat perjalanan dari selatan hingga di utara. Anakku sudah dewasa usianya. sudah melintas tiga belas propinsi. ia tertawa. Tiba-tiba saja. ―Tunggu dulu!‖ Itulah suara berbareng. Karena ini dengan beranikan diri. Tidakkah pemandangan itu sangat lucu? Irawan D Soedradjat Page ―Bagus!‖ berseru si paderi. akan tetapi kami masih belum menemui jodoh yang dicari itu. maka juga. sepasang alisnya terbangun. kakek-kakek!‖ katanya. kamu tertawakan apa?‖ tanya si tua itu kepada orang banyak. apakah kau tidak kasihan terhadap si nona yang masih demikan remaja bagaikan sekuntum bunga? Apakah setelah kau menikah kau hendak membuatnya ia menjadi janda?‖ Orang tua itu menjadi gusar. aku masih belum menikah! Mustahilkah aku tidak cocok?‖ Si paderi itu awasi si tua. akan aku rangkap jodoh anakku ini dengan jodohnya. dari mana lantas terlihat dua orang berlompat ke dalam kalangan. Maka itu ia lantas memandang ke kiri dan kanannya. Kami berdua. nah kamu pibulah terlebih dulu!‖ satu penonton yang membuka mulut. Ia merasa bagaimana orang hendak mempermainkan padanya. apakah kau mau dengan datang kemari?‖ ia menegur. wajahnya menjadi merah. ia masih belum ketemu jodohnya. yang agaknya tidak menghiraukan ejekan orang banyak itu. ―Bukankah dia mau adu kepandaian untuk mencari suami? Nah. Mendengar itu. hanya guna anakku ini.

mereka dengar suara kelenengan kuda. Maka dengan itu. Dilihat dari roman. Jadi keduanya ada dari golongan Gawkang. Bok Ek cekal kedua ujung ruyung. dalam sengitnya. sedang si empe menggunai ilmu silat Ngo Heng Kun. mereka tidak memperdulikan seruan itu. mereka pada mengundurkan diri setindak demi setindak. untuk mengasih keluar sepotong thiephie atau ruyung besi. Satu kali si paderi dapat meraptakan diri. Si empek kuat sekali. Si tua dapat menolong diri dengan berlompat berkelit. Ke situ datang satu kongcu atau pemuda sambil diiringi beberapa puluh pengikut. Ia berdiam tidak lama. Dia pun menghela napas. Hanya sambil berseru-seru. tidak dapat kita sembarang menggunai senjata tajam!‖ Dua orang itu lagi bertempur seru sekali. mereka menjadi kuncup hatinya. ia angkat tinggi tangan kanannya. Dengan satu dupakan. numprah di tanah. Si empek sebaliknya tenang tegar. dengan itu ia membabat kakinya si tua! ―Celaka!‖ berteriak orang banyak. Melihat ia tidak dihiraukan. jangan pandang usianya yang tua. tapi berbareng dengan itu. hingga sudah tentu saja selanjutnya tak dapat digunai lagi! Si tua dan si paderi tercengang. wajahnya guram. Ia dapatkan si paderi bersilat dengan jurus-jurus Lo Han Kun dari ilmu silat Siauw Lim Pay. takut mereka nanti kena terserempet…. Bukankah pibu telah berakhir? Tapi justru itu. ia terima serangan tanpa berkelit atau menangkis. tangannya meraba ke pinggangnya. mereka bersorak. ia mungkin telah berusia enam puluh hampir. ia hajar itu dengan ruyung sehingga golok itu patah dua! Para penonton kagum. ―Besok kita pulang ke selatan…‖ berkata dia dengan masgul. berbareng dengan mana. Si paderi dapat berlompat danmendekam dengan cepat. Hebat menyambar-nyambarnya golok kayto dan ruyung besi. untuk dikasih turun ke arah kepala lawannya. Kiranya mereka sama-sama membekal senjata. penonton hendak bubaran. tenaganya sebenarnya masih besar. tanpa membilang suatu apa lagi. Ia kenali si kongcu yang ia telah ketemukan di rumah makan di Kalgan. ia lantas awasi si nona baju merah. Kwee Ceng menonton. bagaikan martil. keduanya nyelusup antara orang banyak. hingga mereka pada menoleh. ―Apakah nona ynag mengadakan pibu untuk mencari jodoh?‖ ia menanya sambil ia memberi hormat. segera ia jatuh duduk. segera ia balas menyerang. tanda dari tenaganya yang besar. yang diajak bicara. ke arah pinggang lawannya. lekas-lekas ia sembunyikan diri di antara orang banyak itu. mendadak ia tarik keluar sebatang golok kayto dari dalam jubahnya. maka ruyung itu menjadi bengkok melengkung. ―Tuan-tuan. Irawan D Soedradjat Page 176 Kongcu itu melihat bendera Pi Bu Ciauw Cin.Pendekar Pemanah Rajawali Paderi ini menantang. Si empe-empe berkelit. terus ia loncat dari kudanya. ―Bagus! Bagus!‖ teriak orang banyak berulangkali. belum lagi ia peroleh jawaban. tetapi. keduanya menjadi bertempur. ―Di sini adalah kota raja. Maka itu sekarang mereka melansungkan pertandingan itu dengan golok dan ruyungnya masingmasing. ia membuat golok kayto terpental tinggi dan dengan sambaran tangan ia rampas ruyungnya si empek-empek. Sampai disitu. kepalannya menumbuk kepala licin mengkilap dari si paderi. ―Ya. Tapi itu belum semua. tahan!‖ Bok Ek berseru seraya ia menghampirkan. lincah gerakannya. sembari tersenyum. Kapan Kwee Ceng telah melihat si koncu. ia lantas menekuk. . Cuma rambut dekat kedua samping kupingnyas udah berwarna kelabu dan kulit mukanya berkerenyut dan itu waktu. Tak tahan paderi itu. kepalannya menghajar tiga kali beruntun. untuk angkat kaki! Kwee Ceng mengawasi Bok Ek. kemudian selagi golok turun. ia masuk ke dalam kalangan. ilmu Bagian Luar. Kwee Ceng pun tak terkecuali.‖ menyahut si nona. yang tubuhnya sedikit bongkok tetapi badannya lebar dan kekar. Suara kelenengan itu datang dari rombongan itu. tiba-tiba Bok Ek menyerbu. sebelah tangannya sudah melayang.

Terkejut si nona itu apabila ia menyaksikan gerakn orang yang luar biasa itu. lalu tangan kirinya menyambar ke pundak si nona. maka barenglah mereka diwaktu mereka menurunkan tubuh.‖ menyahuti si kongcu. Ia bertindak ke tengah kalangan. ―Ah. ini mengenai hari kemudian dari anakku. Di luar dugaannya. maka itu ketika si kongcu datang dekat. ―Bagus!‖ berseru si kongcu. Ia tahu. hingga bajunya yang panjang dan tangan bajunya juga. ia hampirkan si pemuda untuk memberi hormat. Maka itu ia loloskan mantelnya. kongcu bergurau!‖ berkata Bok Ek tertawa. orang yang pandai silat itu sudah menikah atau ia sungkan beradu tangan dengan anakku. ia tersenyum. ―Kami adalah orang kangouw. Irawan D Soedradjat Page 177 . Bok Ek tersenyum. ―Laginya ini bukannya cuma soal menang atau kalah. ―Bagaimana aturan atau syarat-syaratnya pibu perjodohan ini?‖ menanya si pemuda.‖ berkata nona itu. menantang. ―Sudah berapa lama sejak kamu mengadakan pibu ini?‖ ia tanya pula. sebelah kakinya menjejak ke arah hidung si kongcu.Pendekar Pemanah Rajawali Nona itu dengan wajah bersemu merah. kongcu!‖ berkata si nona. belum pernah ia bertemu pemuda semacam ini. sebentar kau nanti merasai…‖ Tapi ada juga yang berpikir: ―Bok Ek ayah dan anak adalah orang kangouw. maka si nona menjejak tanah untuk mencelat mundur.‖ ia menerangkan. ―Silakan kongcu membuka dulu bajumu. mana berani kami beradu tangan sama kongcu?‖ menyahut Bok Ek. ―Apakah mungkin belum pernah ada orang yang dapat menangkan dia?‖ ia menegaskan. Diam-diam girang hatinya Bok Ek. Ia lantas merangsak. Sukar untuk menyingkir dari serangan susulan itu. Para penonton pada berkata dalam hatinya. ―Si nona lihay sekali. Sambil mendak. supaya ia tidak hilang mukanya…‖ ―Silahkan. ―Sebabnya mungkin. ia nyelusup di bawah ujung bajunya pemuda itu. mari. kongcu itu lompat ke kanan.‖ kata si pemuda. Nona itu bukan melainkan berlompat mundur. orang ada sangat gesit. nona!‖ ia kata. Bok Ek memberikan keterangannya. ―Ah. Tiba-tiba ia memutar ke kanan. ―Silakan mulai.‖ Pemuda itu mengawasi si nona. ―Tidak usah. ―Aku yang rendah she Bok. aku tidak percaya!‖ Ia tunjuki si nona. Pemuda itu tampaknya heran. di dalam tiga belas propinsi. Pemuda itu membalas hormat. ―Kalau begitu. Untuk membebaskan diri. Kali ini kongcu itu sudah tidak sungkan lagi. turut bergerak. mari!‖ berkata si pemuda. ―Kenapa begitu?‖ si pemuda menegaskan. tidak menunggu kedua kaki si nona keburu menginjak tanah. Ia dapatkan orang. ia tidak menyahuti. Aku minta kongcu sudi memaafkan aku. muda dan tampan. masa mereka berani bikin malu satu kongcu? Tentu si kongcu bakal dibikin mundur teratur. Adalah Bok Ek. untuk memberi hormat. melengos. Lagi-lagi ia memberi hormat. ―Sampai sebegitu jauh sudah satu tahun lebih dan kami telah menjelajahi tiga belas propinsi. Kongcu ada keperluan apa apakah?‖ ia menanya. hendak aku mencoba-coba. Sekarang ujung baju dari tangan kanan si pemuda yang menyusul menyambar. ia hanya berjumpalitan. yang menghampirkan pemuda itu.‖ menjawab Bok Ek dengan sebenarnya. ―Kalau begitu. ia mengebut pula. Si nona agaknya kagumi pemuda itu.

Ia tahu si nona bakal mengibas keluar. sudah tak usah kau melawan lebih lama lagi. hingga si nona manis lantas berada di dalam pelukannya. kongcu menang jauh daripadamu…!‖ Tapi orang lagi bertempur hebat sekali. tapi ada juga yang menggerutu. Orang banyak bertempik bersorak. Maka ada menarik akan menyaksikan baju indah si kongcu bagaikan bercahaya. Apakah boleh jadi mereka berasal dari satu perguruan?‖ Sekarang si kongcu tidak mau mengalah lagi. Kwee Ceng jadi berpikir: ―Ilmu silatnya dia ini mirip betul sama ilmu silatnya In Cie Peng. kongcu ini mulai menyerang. Sekarang terlihat kongcu ini dengan pakaian dalamnya dari sutera hijau muda yang indah. selagi si nona mengerahkan tenaganya. Si nona menjadi sangat malu. Si kongcu tertawa. sungguh cocok apabila mereka menjadi pasangan hidup. Si nona dengan wajah merah. Maka tidak ampun lagi. Bercahaya wajahnya yang putih dan bibirnya yang merah. Nyata si nona dapat menjambret ujung baju si kongcu dan ia menariknya. menjadi suami-istri. nona itu rubuh terjengkang. tangannya mengibaskan baju rampasannya itu! ―Tunggu dulu!‖ Bok Ek segera kasih dengar suaranya. ―Kau panggil engko padaku. sampai tiba-tiba orang dengar suara ―bret!‖ robek. karena itu sukar untuk si nona membalas mendesak. yang itu malam menempur aku. malah ia lantas berseru: ―Anak Liam. Bok Ek lantas maju. yang pinggangnya dilibat dengan sabuk hijau. sebab si kongcu juga membetot. untuk lihaynya si kongcu dan untuk kelincahan si nona. silakan kau loloskan bajumu. untuk kamu menentukan kemenangan terakhir!‖ Kongcu itu bermuram wajahnya. suaranya perlahan. Sekarang si koncu yang main berkelit. Ia menggunai tangan kirinya. Bok Ek dan Kwee Ceng terperanjat. satu kongcu demikian lihay. Pemuda itu tertawa lebar. Kwee Ceng pun kagum. si nona menjejak. gampang sekali. ―Lekas lepaskan aku!‖ ia minta. belum lagi tubuh orang mengnai tanah. ―Pasti jodoh mereka bakal terangkap…‖ Bok Ek pun girang melihat jalannya pertempuran ini. si nona bukan tandingannya. Cuma aku tidak tega…‖ Benar saja. mereka pun pandai silat. ia masih belum mau melepaskan pelukannya. Tanpa berkata apa-apa. Si nona lantas lompat mundur jauh-jauh. Pemuda-pemudi itu berimbang usianya. ia hanya menyobeknya! Satu pengiring lari menghampirkan guna membantui meloloskan baju itu. Karena ini tidak lagi ia benci si kongcu untuk kelakuannya di rumah makan baru-baru ini. Mereka tidak sangka.‖ ia minta. malah untuk merapatkan saja sulit. Irawan D Soedradjat Page 178 Nona itu mendongkol. sedang si kongcu kata di dalam hatinya. tangan kanan si kongcu sudah menyambar. Dalam sengitnya. ketika tangan kirinya menyambar. sekarang ia mengharap-harap akan kemenangan si kongcu. kedua tangannya bergerak. kancing-kancingnya jatuh di tanah. Pertandingan itu berjalan terus dengan seru. tolong kau lepaskan anakku. Ia lantas berontak. ―Kongcu. maka robeklah bajunya. Itulah permintaann ceriwis. ia sekalian menolak seraya cekalannya itu dilepaskan. . Ia bukan membuka dengan baik. Tapi sia-sia saja. ―Kongcu sudah menang. merangkul.‖ berpikir Kwee Ceng setelah ia menyaksikan terlebih jauh. ―Kongcu ini lebih lihay daripada In Cie Peng. dan baju si nona seperti mega bermain. mulai membalas menyerang. mereka tampan dan elok.Pendekar Pemanah Rajawali Penonton semua kagum. Hanya. nanti aku lepas kau!‖ sahutnya. tangan kiri si nona kena dicekal. Setelah menyaksikan lagi sekian lama. ujung baju itu putus dengan menerbitkan suara nyaring itu.: ―Kalau sekarang aku hendak robohkan kau. si imam muda. anginnya menyambar keras. Melihat itu si nona. Ia nampak semakin tampan. Mereka itu sama-sama lincah. ia malah terpeluk semakin keras.

maka itu tentu saja aku hendak jodohkan anakku ini denganmu.‖ berkata si anak muda. ―Sepatu ini toh anakmu yang dengan suka sendiri menghanturkannya kepadaku. lantas saja berseru-seru. Bok Ek habis sabar. ―Apakah yang hendak dibicarakan?‖ tanya kemudian. ia tertawa. Kongcu itu pun tertawa. ia sampai berdiam saja. ―Akan aku adu jiwa!‖ berteriak ayah yang dipermainkan itu seraya ia lompat berjingkrak. tangan itu dipakai menangkis dan menangkap kaki orang. yang ia bawa ke hidungnya! Melihat itu. Kongcu itu berdiri sambil tertawa haha-hihi. kedua tangannya digeraki berbareng. ―Mari kita pergi sama-sama ke sana untuk berbicara. ia sendiri menghampirkan kudanya. ia tunduk. Nona ini penasaran. terima kasih banyak!‖ Mukanya Bok Ek menjadi pucat. Bok Ek heran. ia berontak sekuat tenaganya. mulutnya mengeluarkan darah. ―Jadi kau sengaja mengganggu kami?!‖ berteriak Bok Ek. dengan tangan kirinya ia cekal lengan kiri pemuda itu. ia jatuh terduduk di tanah. terus pingsan! Kongcu itu tidak ambil peduli kejadian itu. tangannya melayang. ―Bukankah kita main-main dengan ilmu silat?‖ katanya. ―Aku telah melepas kata.‖ ia menyahuti. beberapa penonton bangsa bergajul. ia tertawa besar. ia suruh lain pengiringnya tolongi pengiring yang terluka itu. tapi ia menoleh kepada si nona yang ia awasi. ―Tidak usah bicara lagi!‖ katanya. manusia hina dina! Bayar pulang sepatu anakku itu!‖ Kongcu itu mengawasi. sembari tunduk. air mukanya sampai berubah. ―Kami tinggal di Hotel Ko Seng di jalan utama kota barat. ―Harum! Harum!‖ ―Kau she apa kongcu?‖ Bok Ek menanya. Sebab sepatunya telah terlepas. Pengiringnya si kongcu tertawa dingin dan menyela. Irawan D Soedradjat Page 179 . sepatu siapa ia masuki ke dalam sakunya. ―Tidakkah itu sangat menarik hati? Tentang perjodohan. ―Kau…! Kau…!‖ katanya kemudian seraya menuding. ―Kau kira kongcu kami ini bangsa apa? Kongcu kami bersanak dengan kamu orang kangouw tukang jual silat dari kelas tiga rendah empat bawah? Hm! Pergilah kau tidur dengan mimpimu di siang bolong!‖ Bukan main gusarnya Bok Ek. Ia menjadi malu sekali. ―Kau toh telah mengalahkan anakku!‖ ia kata. Ia tertawa.‖ Kongcu ini berkelit sambil menjajak sanggurdinya. maka itu tubuhnya lantas mencelat ke tengah kalangan.‖ ―Aku tidak sempat. maka pengiring itu berkoak kesakitan. ―Anakku pun tidak nanti nikah dengan kau. ia raba kaos kakinya yang putih. dengan begitu. ―Ada apa sangkut pautnya denganmu?‖ Ia terus geraki tangan kirinya itu dan terlepaslah cekalannya Bok Ek. untuk menaikinya. ―Baik!‖ serunya. tetap ia memegang tubuh di nona. Kongcu itu tetap tidak mengambil mumat.Pendekar Pemanah Rajawali Kongcu itu melepaskan tangannya yang kanan. ia injak sanggurdi denagn sebelah kakinya. Ini ada urusan seumur hidupnya manusia. tangannya mencekali sepatu orang.‖ berkata Bok Ek. mana bisa kita memandangnya enteng?‖ Kongcu itu melengak. untuk menyerang kedua pelipis orang. seketika ia roboh di tanah. Itulah jurus ―Ciong kouw cie beng‖ atau ―Gembreng dan tambur ditabuh berbareng. tempo akhirnya ia bebas. ia tidak menghiraukan sikap ceriwis si pemuda. beberapa giginya rontok. seraya ia putar tubuhnya untuk minta jubah sulamnya dari pengiringnya.

mendadak saja kedua tangannya bergerak. Si kongcu miringkan kepalanya. untuk mengejek. kapan ia lihat anak muda kita. Bok Ek tolak mundur anaknya. ―Hari ini saku mesti mengadu jiwa dengannya. Ia robek ujung baju si ayah. ―Halo. ia membalas dengan sama hebatnya. Mereka pun tidak berani mencampur tangan. Kongcu itu lihay. Tentu saja mereka menganggap itu lucu. Itulah salah satu jurus ―Eng Jiauw Kun‖ atau ―Kuku Garuda‖ dari ilmu silat Utara. Cumalah mereka bisa mendelu saja. mencelat mundur. Kecuali bangsa bergajul. Kongcu itu tidak memandang enteng kepada musuh ini. dari berkesan baik mereka menjadi jemu dan membenci. akan mengasih keluar sebuah pisau belati dengan apa ia terus tublas dadanya sendiri. lalu ia lolos dari bahaya. Bok Ek tarik lengan kirinya. ―Kau minggir!‖ katanya sengit. Sebab belakang telapakan tangan dari Bok Ek telah berlumuran darah! Si nona menjadi kaget berbareng gusar. Para penonton menjadi mendongkol berberang berduka. Tangan kirinya itu telah diangkat ke depan mukanya. semua penonton menjadi panas hatinya. menyusul mana ia menarik tubuhnya.‖ Bok Ek berkelit ke kanan. guna melindungi mukanya. ia tercengang. ia tangkis tublasan itu. ia berseru. menyambar kedua tangannya Bok Ek itu. kau tentunya tidak bakal memaksa aku nikahi anakmu. dari situ ia menyerang pula. Tiba-tiba tangannya merogoh ke sakunya. lagi ia menyerang. terus ia tertawa. sahabat! Perbuatanmu ini tidak tepat!‖ Kongcu itu berpaling. Para penonton berseru kaget. ia menyerang dengan tangan kanannya. kali ini dengan kedua tangannya. Irawan D Soedradjat Page 180 . ―Jikalau aku tidak sudi nikahi dia?‖ dia tanya. orang tua.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau aku telag hajar roboh padamu. Adalah Kwee Ceng yang tidak dapat melihat terlebih jauh. dan lagu suaranya pun beda dari lagu suara mereka. ia bertindak ke dalam kalangan. dengan tidak kalah sebatnya. lupa kepada tangannya yang sakit. sesudah mana dari samping. maka ia tidak mau main acuh tak acuh lagi. Inilah mereka tidak sangka. maka sekarang ia terlukai anaknya itu. ―Bagaimana baru tepat?‖ Semua pengiring si kongcu tertawa ramai. Bok Ek sudah lantas lompat untuk menerjang pemuda itu. ia memandang tajam kepada si pemuda. Bok Ek kaget bukan main. tidak kelihatan ia menarik pulang tangan kirinya atau tangan kanannya sudah melakukan penyerangan pembalasan. maka dengan sebat ia berkelit. Kongcu itu mengetahui orang seperti kalap. ia mendesak. ia tertawa haha-hihi. pada bagian belakang telapakan tangan. sepuluh jarinya berubah menjadi merah semuanya. menyusul itu. Ketika lawan itu berkelit. Kwee Ceng melongo sebentar. ―Habis kau mau apa!‖ ia menantang. bukan?‖ kata ia sambil tertawa. ―Kau harus menikah dengan baik-baik dengan nona ini!‖ ia menjawab kongcu itu. tidak ada yang berani membuka mulut. bahwa serangannya itu sangat berbahaya. agaknya dengan gampang saja ia mendak sedikit. Inilah pukulan ―Wie Hok Hong cu‖ atau ―Malaikat Wie Hok mempersembahkan toya‖. atau aku tidak hendak berhenti!‖ Wajahnya si nona guram. Kongcu ini terang selain ceriwis pun kurang ajar dan keterlaluan. Tapi cuma sebentar saja. ai memburu kepada ayahnya itu. tangan kirinya membalas menyerang perut dengan jurusnya ―Tok coa sim hiat‖ yaitu ―Ular berbisa mencari lubang. dilain pihak. dua jari tangannya mencari pundak bagian yang kosong. sebab si nona tidak keburu membatalkan tikamannya. Untuk membalas serangan dengan serangan. untuk menolongi. ke arah kedua belah pipi. Selagi si kongcu hendak menaiki pula kudanya. dalam sikap ―Touw in hoat jit‖ atau ―Nyelusup ke mega menukar matahari‖. ia hanya tidak menyangka semua serangan lawan sedemikian berbahayanya. sikap dan lagu suara itu telah diajoki kongcu mereka. guna robekannya dipakai membalut lukanya. Ia tidak lantas menginsyafi orang lagi permainkan padanya. Mereka lihat roman orang yang ketolol-tololan.

―Kau sebenarnya murid siapa? Kau memanggil apa kepada Oey Yok Su dari pulau Tho Hoa To?‖ Kwee Ceng menggoyangi kepalanya. apa perlunya kau maju dalam pertandingan?‖ Kwee Ceng tanya. .‖ menjawab Kwee Ceng. ―Aku tidak mau memberitahu‖ jawab Kwee Ceng pula. ―Habis kenapa?‖ kata si kongcu lagi. Bok Ek hampairkan ini anak muda. jangan kau ladeni dia!‖ dia berkata. ―Kalau begitu. ―Sebenarnya kau hendak membayar pulang sepatu itu atau tidak?‖ Dengan mendadak saja anak muda ini menggeraki kedua tangannya. ―Ilmu menotok jalan darahku itu adalah guruku yang kedua yang mengajarkannya. kau tidak mengerti urusan. yang menggeleng kepalanya. ―Bukankah kau menaruh hati kepada nona itu?‖ ―Bukan!‖ jawab Kwee Ceng. ia tertawa. dengan begitu. Ia telah gunai salah satu tipu dari ilmu silat Kim-na-ciu. kau bayar pulang sepatunya si nona!‖ ia membentak. ―Siapa guruku. Sajak tadi ia mendengari orang pasang omong. ―Nona ini cantik dan ilmu silatnya pun sempurna. yang semuanya terdiri dari tujuh puluh dua jurus. untuk berjalan pergi. Sampai di situ. tak dapat aku beritahu padamu!‖ ia jawab. sebelah kakinya menendang ke bawahan perut si anak muda. dia buka tindakannya yang lebar. ―Sebenarnya kau hendak main gila denganku atau bagaimana? dia tanya tegas kemudian. Ia Cuma merasa orang masih terlalu muda dan belum mengenal dunia. Kongcu itu tertawa dingin. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng tidak menangkis atau berkelit. masa bodoh!‖ berkata itu pemuda yang lantas memutar tubuhnya. ―Saudara kecil. bicara denganmu sia-sia saja!‖ kata si kongcu. ―Siapa itu gurumu yang kedua?‖ tanya kongcu itu kemudian. ia lompat kepada pemuda itu. ―Eh. Kwee Ceng ulur tangannya untuk mencegah. Ia berontak tetapi tidak berdaya. Ilmu silat itu adalah untuk menangkap tangan lawan. ―Aku tidak tahu Oey Yok Su itu orang macam apa. Kwee ceng tidak menjawab.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau kau tidak sudi menikah dengannya. ia hanya mengawasi dengan tajam. ―Kau gemar campur urusan bukan urusanmu!‖ ia berkata. siapa yang ajarkan kau ilmu menotok istimewa dari pulau Tho Hoa To it?‖ si kongcu masih menanya. ―Bukankah aku telah beri nasehat kepadamu untuk kau nikahi nona ini?‖ kata Kwee Ceng. kau tinggalkan she dan namamu!‖ Kongcu itu berpaling. di belakang hari ke mana lagi kau hendak mencarinya?‖ ―Eh. Kongcu itu menatap. tahu ia bahwa anak muda ini baik hatinya dan berpihak padanya. hingga orang terlempar tubuhnya. Kwee Ceng menjadi habis sabar. 181 Kongcu itu terkejut berbareng gusar. ―Aku sudah bilang. ―Apakah kau tidak lihat itu merek bendera yang menjelaskan pibu untuk pernikahan?‖ Kongcu itu tidak menjawab. kenapa kau tidak sudi menikah dengannya? Jikalau kau tidak hendak menikah sama nona macam vegini. disamping ia mendongkol terhadap si kongcu. hanya ia pun balik menanya. kenapa kau hendak pergi pula?‖ ia menanya. mencekal kedua nadi si kongcu. sakit hati ini tidak dapat tidak dilampiaskan!‖ Terus ia kata dengan suara nyaring: ―Anak muda.‖ ―Habis. ―Asal nyawaku masih ada. ―Baiklah. ia bebsa dari tendangan orang itu. ―Kau mau mampus?!‖ tanyanya. maka kenapa kau begini melit hendak mengetahui she dan namaku?‖ ia bertanya. tidak dapat aku memanggil mertua kepadamu. dengan sebat ia tarik tangannya kongcu itu.

ia cuma terjerunuk. Ia berkelit. Irawan D Soedradjat Page 182 Kwee Ceng tidak menyahuti. Mulanya di Mongolia ia menghadapi orang-orang jujur. ia kewalahan. baik kau pulang dulu untuk belajar lagi sama gurumu sedikitnya buat duapuluh tahun!‖ ―Lihat kepalan!‖ ia berseru sambil menyerang. ia telah kalah satu babak. tetapi yang kedelapan dan kesembilan. ia tertawa tawar. Tidak sempat ia mengempos semangatnya. akan tetapi ia dipaksa menyerahkan sepatu si nona. Karena ini ketika ia didesak. Hanya dengan begitu. Hanya sampai sebegitu jauh. dengan tendangan beruntun Wanyoh Lian-hoan-twie. ia memutar tubuh. atau ia menjadi kaget. pemuda kita merasa kegelapan mata. Ia menjadi kaget dan mendongkol. sudah saja. ia melakukan pembalasan. ia hanya menjalankan napasnya. Kwee Ceng mengawasi. ia sadar akan dirinya. tidak sampai ia mencium tanah. Dalam pada itu. ia cuma merasakan sangat sakit. Bagus untuknya. Pangeran Wanyen Kang Kena dihajar secara demikian. ia Cuma terpelanting. Kwee Ceng gelagapan. Bab 17. akhirnya cuma sebegitu saja sikapnya. maka tempo kakinya disambar. Ia menjadi gusar sekali. ia menggeleng kepala. sebab si kongcu sudah tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu. ia tak sampai tertendang roboh. ―Kau sudah bosan hidup. Karena ini keduanya menjadi terpisah. ia berklit dan berlompatan tiada hentinya. Kongcu ini jeri juga terhadap Kwee Ceng. ―Buat apakah aku bertempur denganmu?‖ ia berkata. ―Kau tidak mau nikahi dia. maka tidak membuat tempo lagi. dengan mengasih dengar suara ―Bruk!‖ ia roboh memegang tanah! Semua pengiringnya si kongcu lantas bertepuk tangan dan tertawa. ia dapat menendang terus-terusan sembilan kali. Kwee Ceng menangkis. . Kongcu itu kena tertendang. jubahnya itu dilayangkan sekali. dengan ilmu mana Han Po Kie pernah robohkan beberapa jago dari Selatan dan Utara. Ia berlompat bangun kapan ia lihat orang kembali hendak ngeloyor pergi. itu cocok dengan keinginannya. Ia merasa asing untuk kelakuan curang. walaupun ia terhajar hebat. Kwee Ceng lantas aja singkirkan jubah sulam yang menungkrup kepalanya itu. maka dia segera maju seraya tangan kirinya dipakai menyerang ke pundaknya si pemuda. Justru itu dua kali iganya kena dihajar. kau bayar pulang sepatunya itu!‖ Orang banyak menyangka pemuda ini hendak membelai keadilan. Mereka yang gemar menonton menjadi kecele. hingga ia merasakan sakit di dadanya itu berkurang. walaupun ia telah terlempar. Tiba-tiba saja ia merasakan sakit pada dadanya. tidak patah tulang-tulang rusuknya. mulutnya mengasih dengar tertawa dingin. ―Apakah kau hendak pergi?‖ menegur Kwee Ceng seraya menyambar jubah orang itu.Pendekar Pemanah Rajawali Kongcu itu enteng sekali tubuhnya. maka dalam sekejap saja. ia tidak terluka. Kwee Ceng belum mendapatkan kesempurnaannya. Kongcu itu tepuki kempolannya yang penuh debu. semuanya cepat dan hebat. Syukur untuknya. ―Dengan kepandaian begini kau hendak mencari balas untuk orang lain?‖ ia mengejek. Kongcu itu menjadi repot. Inilah pelajaran yang ia wariskan dari Ma Ong Sin Han Po Kie di Malaikat Raja Kuda. telah mengenakan kempolannya kiri dan kanan. ia menjadi gusar sekali. bocah?‖ ia berseru. bahwa orang tidak ingin berkelahi. Tujuh tendangan ia bisa kasih lolos. dipakai menungkrap kepala orang. Pertempuran itu merupakan satu pengalaman luar biasa untuknya. Si kongcu lantas menggunai ketikanya. ―Hm. lalu perlahan-lahan ia melihat perubahan. karena berberang ia berkelit. mereka tidak ayana. mana dapat ia mengalah: Tidakkah ia berada di hadapan orang banyak? Maka itu seraya menyingkap jubahnya. selama dua tahun ia telah peroleh latihan tenaga dalam dari Tang Yang Cu Ma Giok.

Tiba-tiba ia rasai tenaga lawan lenyap. ia lepaskan diri dari tangan Bok Ek. ipar. ia maju pula. Ia sudah terjerunuk melewati lawannya. Selama tujuhpuluh jurus. kakinya dibarengi dipakai menendang dada lawannya. sedikitnya ia bakal diseret ke kantor pembesar setempat. Tidak dapat Kwee Ceng bertahan. ―Bukankah nona itu bukan adikmu?‖ ia bertanya. Kwee Ceng berkelit. tidak lagi ia kena dipancing. ―Kau pulangi sepatu orang!‖ bentak Kwee Ceng. Bok Ek jadi merasa tidak enak hati. kau masih belum takluk?‖ berkata si kongcu. Ketika ini digunai si kongcu. Kwee Ceng menyedot napas. tangan kirinya menyambar ke muka orang. tubuhnya sekalian diputar. seraya mundur. ―Kalau tidak. tubuhnya terhuyung ke depan. Kongcu itu dapat berkelit. awas!‖ ia berseru seraya menyerang. Ia juga berkhawatir untuk Irawan D Soedradjat Page 183 . ia cuma mendongkol. maka setelah dikasih bangun. ia ingin membalas. Si kongcu menangkis. ia bisa dapat susah. buat terus ditarik dengan kaget sambil berbareng kakinya dipakai menjejak paha si pemuda. dengan cepat ia mencelat bangun. Pertempuran seru itu ditonton semakin banyak orang. untuk mencari kemenangan. Habis itu. Lukanya telah dibalut rapi oleh putrinya. siapa bilang dia adikku!‖ Ia gusar sebab kongcu itu ejek dia sebagai toaku. hanya ia merangsak. mereka saling menolak. ia ditertawai sekalian pengikut si kongcu. Maka adalah diluar dugaannya ketika si kongcu. ia lantas menyerang. ia menangkis dari belakang. dalam keadaan sulit itu. mati kita pergi. Karena dicaci begitu. lalu ia membalas. mereka berimbang dengan ketangguhannya. ia menjadi gusar sekali. ia lantas maju. untuk mengasih bangun. Itulah cacian di antara orang Pakhia. Kali ini pemuda ini berlaku waspada. Kwee Ceng tidak tahu lawannya lagi memancing. Si kongcu sendiri merasa lucu berbareng mendeluh. ―Aku tidak kenal dia. ―Jikalau kau tetap ganggu aku. Kelihatan nyata. aku tidak mau mengerti!‖ Kongcu itu tertawa melihat orang berkukuh. yang menangkis dengan tangan kiri. mereka menjadi bergumul pula. jangan kita layani segala manusia hina!‖ Kwee Ceng roboh dengan mata kabur dan kepala pusing. tetapi ia tidak tahu. ia didesak oleh si pemuda yang bersilat dengan ―Hun-kin Co-kut Ciu‖ yaitu ilmu silat untuk memisah otot-otot dan tulang. Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu. Menampak demikian si kongcu menggunai akal. yang tangannya menolak keras. yang menang seurat. ―Kenapa kau seperti hendak mengadu jiwa memaksa aku menjadi toakomu!‖ ―Kurang ajar!‖ mencaci Kwee Ceng. Kedua tangan lantas bentrok. hanya setelah itu. Kwee Ceng tidak menyahuti. Tiba-tiba ia ingat bahwa ia tidak bermusuhan sama si kongcu. pemuda itu terguling jatuh. kalau datang polisi. tak sempat ia menahan dirinya. romannya ketolol-tololan. dengan menggeser pinggangnya. Kwee Ceng melawan. maka itu. Ketika ia bisa menahan dirinya. ―Eh. maka kewalahan juga si kongcu. jangan salahkan aku berlaku kejam!‖ kongcu itu mengancam. Ia pun kata: ―Lao-tee. dari belakangnya datang serangan. ia membela diri dengan berlaku hati-hati. Maka tidak ampun lagi. Kongcu ini pernah juga menyakinkan Hun-kin Co-ku Ciu hanya pelajarannya beda daripada pelajaran Kwee Ceng yang didapat dari Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong. keduanya bertempur terus.Pendekar Pemanah Rajawali Dengan mendak. ―Kau pergi!‖ berseru si kongcu. dari itu. pemuda itu bukan lawan si kongcu. ia rubuh ngusruk. tetapi sikutnya mengenai tanah. ia hendak mengerahkan tenaganya. Maka itu mereka menjadi berimbang. Bok Ek menonton dari bawah benderanya. ―Tolol. Ia hendak menotok jalan darah hian-kiehiat. kongcu itu berkelit. malah tinjuan itu dilakukan saling susul hingga tiga kali. mendapatkan tiga kali Kwee Ceng roboh. tenaga dalam Kwee Ceng terlatih besar tetapi si kongcu menang latihan ilmu silatnya. Ia tahu. Ia tahu sekarang. sudah membarengi menyerang dengan tangan kanan kanan ke arah pinggang. untuk menyerang. ia lantas geser incarannya ke sisi sasanan semula. untuk memegang tangan orang yang kanan itu. ia kalah pandai tapi ia bersemangat. Ia berlaku sangat sebat. selagi begitu ia masih tetap menolak.

nampaknya sangat gesit. dari partai mana asalnya ilmu silat si bocah itu?‖ ia tanya. siapa saja tak dapat ia undang?‖ kata pula si rambut ubanan itu. ada yang bertaruh untuk siapa yang bakal menang. ―Kalau mataku tidak salah. Si ubanan sudah lantas mengawasi kedua anak muda yang lagi bertempur itu. ―Haouw Laotee. Orang yang ketiga bertubuh kate dan kecil. bencana akan datang kalau sampai siauw-ongya itu terluka. Adalah si rambut ubanan yang berkata sambil tertawa: ―Paling juga kakimu dikemplang patah! Mustahil ongya hendak mengehndaki jiwamu?‖ Bok Ek terperanjat. Dia tentu tidak senang ada orang yang membantu padanya…‖ ―Eh. bukan?‖ ia berkata.Pendekar Pemanah Rajawali banyaknya orang. dia tentu bukan satu gurunya.‖ berkata satu pengiring. Yang satu adalah satu pendeta bangsa Tibet. jubahnya merah dan gerombongan. matanya mencorong tajam. ―Ilmu silat siauw-ongya itu ada dari partai mana?‖ Kali ini ia berbicara dengan perlahan.‖ sahut si kate kecil itu kemudian. hingga mereka lekas-lekas melengos. yang mukanya kurus dan sinarnya biru. tubuhnya besar.‖ berkata si kate kecil. di jidatnya ada tiga tahi lalatnya. kopiahnya disalut emas. mukanya pun bersinar merah. ―Kelihatannya kepandaiannya itu kacau. dia pun berkata: ―Siauw-ongya telah belajar ilmu silat belasan tahun.‖ berkata seorang di pinggiran. mungkinkah si kate kecil ini adalah kepala berandal? Nama Kanglam Cit Koay sudah lama tidak terdengar. yang bicarakan silat kedua anak muda itu. Si rambut putih tertawa. Dia berdiri tegar hingga ia melebihkan tingginya semua orang. saudara Nio. Orang yang kedua sudah lanjut usianya. Ia dapatkan Kwee Ceng berubah silatnya. apa benar mereka masih hidup?‖ Selagi Bok Ek berpikir. hanya mukanya bercahaya segar. diantara mereka itu ada tiga orang yang menarik perhatiannya. itulah ilmu silatnya kaum agama Coan Cin Kauw. Suara itu nyaring.‖ Bok Ek pandang ornag itu. kecewa kalau itu tidak dipertontonkan di muka orang banyak. Dia tersenyum. sia-sia saja beberapa kali siauw-ongya menyerang padanya.‖ ―Sungguh begitu. kalau mereka bertempur terus dan siauw-ongya salah tangan hingga ia terluka. segera ia lihat. mengawasi mereka. si muka biru dan kurus itu sudah berlompat maju ke tengah kalangan seraya ia berseru: ―Hai bocah. ―Pheng Ceecu benar. Kalau begitu. ―Baik kau maju dan hajar bocah itu. coba lihat. pangeran muda dan pangeran. sungguh aneh!‖ kata si kate kecil itu. Ia kata di dalam hatinya: ―Dia memanggil Pheng Ceecu. ialah gerakannya jadi ayal tapi tubuhnya terjaga rapat. Di sebelah mereka. Si rambut putih tertawa. semua pada berpaling memandang dia. Orang disebutnya siauw-ongya dan ongya. ―Haouw Laotee. ada juga yang membekal senjata. sebab rambutnya sudah putih semua. tak bisa diduga usianya yang tepat. ―Bukankah kaum Coan Cin Kauw itu bangsa aneh? Kenapa mereka justru mewariskan kepandaiannya pada siauw-ongya…?‖ ―Ongya pandai bergaul. hilanglah jiwa kami semua…‖ Itulah se pendeta Tibet yang ditegur. ―Siauw-ongya lebih lihay daripada lawannya itu!‖ Orang ini kate dan kecil akan tetapi suaranya mengejutkan. ―Bocah ini adalah muridnya Kanglam Cit Koay. Karena romannya yang luar biasa itu. i antara siapa ia tampak beberapa yang matanya tajam dan air mukanya luar biasa. tukang jual silat ini terkejut hatinya. Dia pun bermata tajam. kau ke sini!‖ Dia pun menarik keluar sebatang kongce atau cagak dari dalam sakunya. Dengan perlahan-lahan Bok Ek menggeser ke tempat pengiring-pengiringnya si kongcu. hingga beberapa orang disampingnya menjadi terkejut. Irawan D Soedradjat Page 184 . benar juga. yang matanya bersinar. ―Umpama kau sendiri. kau lagi uji mataku. kenapa kau juga berada di istana ongya?‖ Si kate kecil itu mengangguk. coba bilang. Maka juga. Kau biasa menjagoi di dua propinsi Shoatang dan Shoasay. tubuhnya sedang saja. Haouw Laotee. ―Leng Tie Siangjin. Tidakkah di antara pengiringpengiringnya si siauw-ongya adalah orang-orang yag gagah dan lihay?‖ ―Jangan takut!‖ berkata si orang kate dan kecil. dan tidak keriputan. dia tidak menjawab.

kembali ia lari. menoleh dan mengejek. hingga ia dijuluki Som Sian Lao Koay. Di selatan www. Itu waktu barulah Kwee Ceng menginsyafi bahwa sebenarnya Oey Yong itu lihay ilmu silatnya. ―Peng Lian Houw datang!‖ tentulah berhenti tangisnya. untuk membantu Kwee Ceng. Ia nyelusup sana dan nyelusup sini di antara orang banyak. Irawan D Soedradjat Page 185 . terlihatlah datang memburunya tiga orang yang napasnya tersengal-sengal. ketua dari partai Tiang Pek Pay dari Gunung Tiang Pek San. Hauw Thong Hay bukan menyerang Kwee Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali Orang banyak terkejut. julukannya Cian-ciu Jin Touw. tetapi justru ia hendak melompat lari. untuk angkat langkah panjang. Ia tetap awet muda sebab sejak masih kecil ia doyan makan jinsom serta lainnya pohon obat. ia diikuti empat orang lainnya yang bukan lain daripada Hong Ho Su Koay. Bok Ek pun tidak kurang kagetnya. dan anak-anak yang lagi nangis. membuatnya orang banyak saban-saban tertawa riuh. ―Jikalau aku tidak berhasil menggeset kulitmu dan mematahkan tulang-tulangmu. Merekalah tiga Siluman dari Hong Ho. tapi senjata itu tidak dihiraukan Oey Yong. namanya Pheng Lian Houw. Kelakuan Hauw Thong Hay itu. tidak tampak. memanggilnya Som Sian. Leng Tie itu adalah paderi dari Tibet. sinarnya berkilauan.‖ ia pikir. kalu ditakut-takuti. di antara siapa ada satu anak muda yang tubuhnya kurus lemah. yang ia tinggalkan lalu ia berdiri diam. Dalam saat itu. Song-bun-hu Cian Ceng Kian. semuanya tajam. tapi ia segera bersiap. dari partai Cong Gee. Dewa Jinsom-Siluman Tua. segera aku kembali!‖ ―Lebih baik kau mengaku kalah!‖ mengejek si kongcu. Kwee Ceng sedang bertempur. tanda arang hitam. ia heran atas itu suara bentakan. ada yang berteriak. Terang sudah dia telah kena ditampar oleh lawannya yang licin itu. Dewa Jinsom. ―Aku hendak pergi sebentar. Pembunuh Sribu Tangan. Segera juga orang banyak tertawa riuh. bahwa ialah yang selama di hutan cemara Hek-siong-lim di Kalgan sudah menggantung Hong Ho Su Koay di atas pohon dan memancing kepada Hauw Thong Hay. Mukanya Hauw Thong Hay. Thong Hay mengejar terus. Ia berteriakan. ―Mari! Mari!‖ Oey Yong menantang. Siluman yang keempat. berulang-ulang ia tikam bebokong orang yang ia kejar itu! Oey Yong sangat lincah. tangannya menggapai berulang-ulang. Dan orang ynag matanya tajam bagaikan kilat itu adalah orang ynag sangat terkenal di Tionggoan. Oey Yong menanti sampai orang sudah datang dekat. kapan ia lihat siapa yang dikejar Thong Hay. keistimewaannya ialah ilmu Tay-ciu-in. ialah Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. ―Tahan dulu!‖ ia berseru seraya lompat keluar kalangan. selalu dapat ia kelit tubuhnya. Tapak Tangan yang lihay. yang pakaiannya compang-camping. setelah datang dekat. sahabat barunya. sekalipun wanita umumnya kenal namanya itu. tiba-tiba ia tampak sahabatnya itu lari mendatangi. Pemuda dengan pakaian tidak karuan itu adalah Oey Yong. ―Bagus perbuatannya. pikirannya lagi kusut. dibelakangnya. si Siluman Tua.com dan utara Sungai Besar. tambah tanda tapak lima jari tangan. adalah Nio Cu Ong. menyebabkan rombongannya Leng Tie Siangjin memperbincangkannya. yang dipermainkan Oey Yong. Dia pun terus tertawa. Kelakuannya ini. ditimpali sama kalapnya Thong Hay. sinar itu ditimpali tiga gelangnya yang bergerak dan berbunyi nyaring setiap kali digeraki. Tentu saja ia tidak kenal si orang ini. dia hanya maju ke antara orang banyak. kawannya yang ubanan tapi mukanya tampak segar bagai muka anak kecil. dia menjerit ―Ayo!‖ seraya terus memutar tubuh. ia mengejar. setiap kali ia dapat pisahkan diri jauh-jauh dari lawannya. aku Sam-tauw-kauw tidak sudi menjadi manusia!‖ Thong Hay sesumbar. di bawah cahaya matahari. kapan anak itu dapat lihat dia. Di belakangnya tampak Thong Hay tengah mengajar tengah mengejar. Julukan ini harus dipecah dua: Siapa yang menghormati dia. mulutnya mencaci kalang kabutan. sepatu kulitnya diseret hingga berisik kedengarannya.kangzusi. Kwee Ceng tidak berniat berkelahi terus. ia khawatirkan keselamatannya Oey Yong. menyebut ia Lao Koay. dan siapa bukan orang-orang partainya. paman gurunya Hong Ho Su Koay. Kongce itu ada cagak tiga. Karena ini. pada pipinya yang kiri dan kanan. ai terkejut. ia sudah lantas kena ditendang si kongcu.

yang mereka usir pergi. hatinya tercekat. Dari dalam joli. ―Rewel!‖ ia menggerutu. Dia bersahabat erat dengan Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian si Raja Naga Pintu Iblis. Semua orang banyak. pakiaannya menjadi tidak karuan macam: Baju di dadanya robek putus. yang menjadi penonton. bahwa ia lihay sekali. yang lainnya ruyung. lagi menyerang kalang-kabutan ke kira dan ke kanan. yang terus berdebaran. untuk beristirahat. Justru itu. pangeran muda. mereka sudah dengar ramainya tindakan kaki serta berisiknya gelang konce. hingga kelihatan baju dalamnya yang putih. mari kita pulang bersama!‖ kata si onghui kembali. aku memikir kepada istriku. ia menjadi diam sambil berpikir keras. untuk diajak pulang ke penginapannya. ―Ong-hui datang! Ong-hui datang!‖ pengikut-pengikutnya si siauw-ongya berseru berulang-ulang setelag mereka melihat joli itu. dengan sapu tangannya. Irawan D Soedradjat Page 186 . telah aku dengar nama besar dari Kwie Bun Liong Ong. dengan apa mukanya si siauw-ongya disusuti. dia sangat letih. mereka menjadi tertarik untuk menonton terus. sering mereka ―bekerja tanpa modal‖. Mungkin si saiuw-ongya ditegur dan dihiburi oleh onghui ini. Bok Ek telah kasih turun bendera Pie-bu Ciauw-cin. sembari berbuat begitu. dari dalam joli diulur keluar sebelah tangan yang putih dan halus. hingga si penjual silat ini tak dapat mendengarnya dengan tegas. dia bungkam. Hauw Thong Hay sebaliknya. yang memegang sapu tangan putih. Suara itu seperti mengaung di kupingnya. ―Kenapa suara ini sama suaranya orangku ini?‖ katanya di dalam hatinya. Siauw-ongya telah robohkan Kwee Ceng lima-enam kali. maka kenapa hari ini orang she Hauw itu jadi demikian tidak berdaya? Selagi Oey Yong permainkan Hauw Thong Hay. Oey Yong dan Hauw Thong Hay saudh lenyap pula. belum kebeuru mereka berangkat. ―Ibu. Dipihak lain. apakah aku sudah pikun? Sungguh gila untuk memikir yang tidak-tidak…‖ Tidak dapat ia lantas melenyapkan pikirannya itu. kepada orang banyak. Tapi. lantas terdengar suaranya seorang wanita. tangan dan kakinya dirasakan ngilu. onghui ialah selir seorang pangeran atau raja. yang satu bersenjatakan tombak.‖ terdengar suaranya pangeran muda itu. Kembali si Bok Ek terperanjat. si wanita masih mengucapkan beberapa kata-kata. Siauw-ongya lantas mengerutkan keningnya. lari mendatangi dengan napas memburu. ―Siapakah telah pergi membawa berita kepada ong-hui!?‖ Tidak ada berani ynag menjawab. ia susuti peluhnya. pertempuran di antara Kwee Ceng dan si siauw-ongya. Ketika mereka ini datang dekat. aku senang bermain-main. dan ia tahu baik Houw Thong Hay lihay. untuk singkirkan peluh dan debunya. kenapa adik seperguruannya ini begini tidak punya guna. lalu mereka tampak belasan orang polisi serta pengiring. orang banyak itu lantas saja mundur ke kedua pinggir jalan. lalu terlihat Oey Yong berlari-lari kembali dengan tetap dikejar oleh Hauw Thong Hay. Menyausul rombongan hamba-hamba galak itu. maka ia bertindak. ―Tidak apa-apa…‖ ―Lekas pakai bajumu. sampai satu bocah pun dia tidak sanggup layani?‖ Pheng Lian Houw mengkerutkan keningnya. heran berberang merasa lucu. Kebetulan itu waktu. suara yang halus: ―Kenapa berkelahi? Baju luar pun tidak dipakai! Nanti masuk angin!‖ Bok Ek dapat mendengar tegas sekali suara itu. Jauh di belakang mereka terlihat Gouw Ceng Liat serta Ma Ceng Hiong. dengan cambuk di tangan. mereka lantas dengar bentakan-bentakan riuh yang datang dari arah barat. semua pengikut maju untuk memberi hormat. Ia berpikir pula: ―Orang ini adalah onghui dari negeri Kim. Segara juga joli telah sampai di lapangan pibu. ―Benarkah di kolong langit ini ada dua orang yang suaranya sangat mirip satu dengan lainnya?‖ ia menanya dalam hatinya. ia hampirkan Kwee Ceng untuk dihiburkan.Pendekar Pemanah Rajawali Berkatalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong: ―Selama aku di Kwan-gwa. Tiba-tiba ia tertawa sendirinya. yang tertutup rapat. dia pun berdahaga dan lapar. untuk mendekati joli indah itu. yang halus dan perlahan. Maka itu. telah berhenti. terlihatlah enam orang menggotong sebuah joli besar yang indah. Tangannya Oey Yong sambil mengibar-ibarkan dua potong kain.

Orang senang melihat kejadian itu. yang lain hendak mencekik. ia dapat melihat satu wajah dengan sepasang mata jeli dan rambut yang bagus. lalu tangan kanannya diteruskan untuk memegang leher lawan. Maka keduanya menjadi berkutat. hingga mereka menduga-duga. siauw-ongya sebaliknya dengan Kim-na-ciu. tetapi tempo mereka mulai menyerang Kwee Ceng. Maka tempo tenda tersingkap. malah ia seperti termanjakan. guna dipakai menyabet hingga tiga kali. sungkan mereka mengepung Kwee Ceng. Belasan serdadu maju. Siauw-ongya menjadi gusar. dengan begitu berarti. siauw-ongya itu berkelahi dengan hebat sekali. Maka itu. atas mana. Kwee Ceng dirobohkan dua kali. Itu waktu. ―Jangan! Jangan berkelahi!‖ onghui berseru mencegah. Tidak ampun lagi. rupanya ia hendak banggakan kegagahannya di depan ibunya.Pendekar Pemanah Rajawali Satu pengiring menjumput jubah sulam dari siauw-ongya. satu kakinya menyapu. mengawasi kedua anak muda yang lagi bertarung itu. maka ia lantas terdesak. Ular Naga Kepala Tiga itu. ia menjadi lebih kosen. sebaliknya mereka merasa. Makin lama Kwee Ceng makin gagah. Karena ini Leng Tie Siangjin dan Nio Cu Ong lantas menyiapkan senjata rahasia mereka. Siauw-ongya terkejut. kau telah bikin kotor jubah ini!‖ Satu pengiring lain. ilmu menangkap yang terdiri ari tujuh puluh dua jurus. Terhadap ibunya. Tapi Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu. sekarang di rambutnya Sam-tauw-kauw. ia membalas membangkol dan memegang leher lawannya itu. ia kalah ulet. siauw-ongya itu agaknya tidak takut. Mereka adalah orang-orang tua yang kosen. ―Kau masih berani main gila?!‖ tegurnya. untuk menolongi kawannya itu. ia pandang Kwee Ceng dengan bengis dan memdamprat: ―Binatang cilik! Lihat. sembari berbuat begitu. terus saja menghajar ke arah kepala si anak muda. mungkin mereka telah kena dirobohkan pemuda itu. bisa mereka mencegah Kwee Ceng menurunkan tangan jahat terhadap si pangeran muda. untuk tolongi dua serdadu yang dilemparkan paling belakang. Di belakang mereka tidak tertampak dua Siluman. Nio Cu Ong bertiga menjadi heran. Sebaliknya siauw-ongya biasa hidup di istana. kedua-duanya saling terancam hilang jiwa atau terluka parah. dua kali ia kena dibikin memegang tanah. ia rampas cambuk orang itu. ibu . untuk menangkap lengan orang. mereka ditangkap si anak muda. Bok Ek tidak pedulikan segala apa disekitarnya. Inilah tidak heran sebab ia hidup di tanah gurun. lalu ia menyerang. Satu kali Kwee Ceng menyambar ke muka siauw-ongya itu. onghui sampai berparas pucat. Ia bertubuh kuat. ynag tadinya numprah di tanah. untuk merabu otot dan tulang musuh. 187 . Selama itu. parasnya pun pucat. Putrinya Bok Ek. yang satu hendak mematahkan tangan. Selagi bertempur. tangan kirinya membangkol tangan lawan itu. ia maju. sinar mata itu ayu sekali. Ia pun menang ‗kang-lat‘ atau tenaga latihan. ia termanja. Mengawasi mata orang itu. Kwee Ceng berkelit. Irawan D Soedradjat Page Semua orang kaget. Dengan begitu. keduanya jadi bertempur lagi. yang tangannya mencekal cambuk. untuk menolong apabila siauw-ongya benar-benar terancam jiwanya. Oey Yong dan Thong Hay telah berlari-lari balik. lalu dilemparkan saling susul. Kwee Ceng berkelahi dengan ilmu silat Hun-kin Co-ku-hoat. Mereka jadi semakin sengit berkelahinya. Ia terus lompat. berbareng dengan mana. sebelah tangannya diangkat. Kwee Ceng lantas terdesak lagi. ia menjadi ulet sekali. ―Siapa suruh kau menganiaya rakyat jelata!‖ ia menegur. lalu ia membalas memukul paha siauw-ongya. satu demi satu. maka kali ini. Kwee Ceng berkelit. ia membentur sikut kanan si pemuda agung. tidak dapat tidak. ada ditancapkan cauw-piauw atau tanda barang hendak dijual. Thong Hay hendak menjual kepalanya itu! Ia hanya tidak tahu bahwa ia telah dipermainkan oleh Oey Yong. kapan perlu. ini hari aku mesti labrak dia ini!‖ Setelah belasan jurus. ia tendang itu anka muda. separuh mukanya keluar dari tenda. sembari berkelahi. Bok Ek berdiri menjublak bagaikan patung. Atas itu. berbareng dengan itu. Ia berkelahi terus. habis mana. dia bukan menyerah kalah. Siauw-ongya berkelit. ia menyahuti: ―Tidak. Kwee Ceng mendahulukan. lawannya yang lincah dan licik itu. berlompat bangun. sepasang matanya terus diarahkan kepada joli indah itu. Oey Yong itu sebenarnya orang macam apa. ia tidak dapat dirobohkan pula. lengan Kwee Ceng kena dihajar satu kali. pengiring itu roboh terguling. terus ia membalas meninju. ia dapat melayani pukulan berulang-ulang kepada tubuhnya itu. dengan tangan kanannya.

Diakhirnya terdengar teriakannya onghui: ―Berhenti! Berhenti! Jangan berkelahi lagi!‖ Karena nyonya agung itu mendapatkan putranya telah bermandikan keringat. Kwee Ceng merasakan telapak tangannya sakit. terus ia kerahkan tenaganya. sepotong yang lain masih melibat ditangannya Lian Houw. ia menyambar kedua kaki lawannya itu. hingga serangan itu batal. tetapi tidak urung. untuk bagian Selatan Tionggoan saja sudah jarang. ia segera geraki tangan kirinya. justru si anak muda lagi merayap bangun. makin lama ia menjadi makin heran. sekonyong-konyong datang teriakan dari antara orang banyak: ―Perlahan!‖ Lalu terlihat melesetnya satu bayangan abu-abu perak disusul serangan semacam senjata. Tidak ampun lagi. Ia nyata telah menggunai ilmu silat bangsa Mongolia. dengan begitu. ia sambar bajunya siuaw-ongya. Maka sekarang mereka bertempur dengan bersenjata. terus ia pakai menangkis. Nona Bok pun memperhatikan jalannya pertempuran. hingga senjata yang melibatnya ia terputus. yang ia peroleh dari Jebe. Peng Lian Houw bertindak ke dalam kalangan. ia lompat mundur. hanya kebutan itu tinggal sepotong. ia maju ke Kwee Ceng. terpaksa sambil bergulingan. ia dikam terus. ynag bersilat denagn tipu Hang Mo Thunghoat. sesudah mana ia berlompat bangun. Pheng Lian Houw berpaling kepada si pangeran muda dan berkata sambil tertawa: ―Siauw-ongya. yang terus saja melibat tangannya si orang she Pheng itu. Habis itu sama sebatnya. Keras pukulan itu. Dengan menggulingkan tubuh. setelah mana. Kwee Ceng merasakan matanya berkunang-kunang dan kepalanya pusing. Belum sempat ia memandang orang. hingga sukar untuk ia melompat bangun. lagi dua kali. tapi ia didesak. yang pinggangnya ia peluk. Kwee Ceng menghindarkan diri. yaitu ilmu tombak Keluarga Yo. tidak dapat ia mencegah mengucurnya air matanya. kedua tangannya sakit. sambil berseru. Tapi ia masih sadar. Tetapi Lian Houw tidak diam saja. Siauw-ongya dilemparkannya. ilmu mana diturunkan hanya kepada anak laki-laki. mental ke udara. Anak muda itu terkejut. ia layani tombak musuhnya itu. tidak kepada anak perempuan. ia segera menarik pulang tanagnnya. pengajaran dari gurunya yang pertama. Atas itu. Dia ini sebat. maka heran kenapa di negara Kim ada yang dapat memainkannya itu? Ia terus mengawasi. Tiang bendera itu terlalu panjang. Kwee Ceng kaget. sebab siauw-ongya merubah siasat. Sekarang orang bisa lihat. ia juga agaknya berpikir keras. segera ia menikam Kwee Ceng. ia sudah berdaya. jubahnya warna abu-abu. Nyata muka Kwee Ceng kena digaplok. supaya dia jangan mengganggu terlebih jauh…‖ Sembari berkata. Kedua tangannya menyambar tanah. kurang tepat untuk Kwee Ceng. begitu keras. dia adalah satu tojin atau imam usia pertengahan. Mendengar suaranya onghui. ia terguling roboh. dia lompat. dengan tombak itu. Karena didesak tak hentinya. Setelah merobohkan bocah itu. Ia berkelit dengan cepat. Itulah terang Yo Kee Ciang-hoat. ia dapat mainkan itu dengan baik. tetapi lekas juga ia sambar Kwee Ceng. Yang menegrti ilmu itu. ia tidak terbanting. tangannya menyambar tombak di tangan seorang serdadu yang berada dekat dengannya. ia memaksa menangkis juga. Hek Pian-hok Kwa Tin Ok si Kelelawar Hitam. ia angkat tubuh siauw-ongya. ia sambar tiang itu. adakah kau Irawan D Soedradjat Page 188 . lebih-lebih ia tahu. yang kemudian berkata: ―Tuan. akan tetapi. Siauw-ongya tidak kenal permainan silat lawannya itu. Di sini ia gunai kesempatannya. hanya siauw-ongya berada disebelah atas. tapi sebelum tubuhnya dilepas. tiang bendera lantas terlepas dari cekalannya. Orang yang baru datang itu agaknya terperanjat. tangannya mencekal sebatang hudtim atau kebutan. Disaat anak muda ini terancam bahaya maut. sampai akhirnya ia merasa sedih sendirinya. akan aku bereskan dia ini. untuk dilemparkan. hingga benderanya berkibar-kibar bagus. ia berguling hingga ke dekat tiang bendera Pibu Tiauw-cin. belum pernah ia menemui tandingan selihay ini. Seumurnya kecuali Bwee Tiauw Hong. Bok Ek tetap perhatikan ilmu silat tombak dari siauw-ongya. ia lantas saja kena didesak hingga ia mesti selalu membela diri. meskipun Kwee Ceng hanya bergenggaman tiang bendera. Ia terus mengawasi pada Lian Houw. maka Kwee Ceng kena ditarik roboh hingga saling tindih. atau satu pukulan telah menjurus ke mukanya. ia menarik keras. hingga ia tercengang. untuk menyampok tiang bendera. lengannya kena terhajar. terpaksa ia kembali bergulingan. untuk melakukan penyerangan membalas. Untuk tolongi dirinya. dengan cepat ia ayun tubuhnya itu.Pendekar Pemanah Rajawali Disaat itu terdengar suara menggelepok. ia ulur tangan kanannya ke arah kepala orang.

baru sekarang mereka menemui sendiri orangnya. karena ia tahu ia lagi berhadapan dengan satu cianpwee. ―Teecu terlalu memuji kepadaku. pinto adalah Ong Cie It. Dengan sabar.‖ Melihat sikap orang yang demikian hormat. Tidak berani pinto menerima itu sebutan cinjin. di tanah lalu tertapak dalam. ia berkata: ―Saudara Kwee. hatiku menjadi sangat tertarik. ―Memang telah aku duga. pasti kita tidak kenal satu Irawan D Soedradjat Page 189 . tetapi karena injakan atau tindakannya itu. ia sudah lantas menjura kepada Kwee Ceng. pinto mohon Pheng Ceecu memberi ampun kepada jiwanya. ―Siapakah gurumu?!‖ Siauw-ongya itu telah merasa kurang enak hati. atau mendadak matanya si imam bersinar tajam bagaikan kilat.‖ Peng Lian Houw. Ong Cie It tersenyum. Melihat tapak sepatu itu. maka hatinya terkesiap. lekas ia ubah sikapnya. tanah kering dan keras. hanya Ia ulur kakinya. Imam itu menjura. ―Aku mohon ketahui gelaran suci dari totiang. orang yang tingkat derajatnya terlebih tua. Ia dapat lihat suasana buruk. sedang orang pun dari Coan Cin Kauw.‖ sahut Lian Houw. Peng Lian Houw terperanjat. Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin mengawasi imam itu. Wanyen Kang tertawa hihi-hihi. sembari tersenyum. Peng Lian Houw suka berbuat baik. justru berbareng dengan itu. Mereka dapatkan orang sungguh alim dan agung. ―Hm. Wanyen Kang benar-benar cerdik. lalu ia menarik pulang.Pendekar Pemanah Rajawali Pheng Cecu yang namanya sangat tersohor? Hari ini aku dapat bertemu denganmu. ia mendapat satu pikiran. Maka itu. tidak nanti mereka mau percaya dia adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu si Dewa Kaki Besi yang pernah menakluki jago-jago di Utara. inilah hebat. begitu juga Som Sian Lao Koay. kalau kita tidak bertempur. Ia tidak menjawab. ketika ia memutar tubuh. oleh karena itu boanpwe mohon sukalah totiang datang ke rumahku. kau adalah muridnya Khu Suhengku itu. batal ia untuk main gila. untuk boanpwe anti mendengar segala pengajaranmu. apakah ia telah bilang padamu? Apakah pesannya?‖ Wanyen Kang perlihatkan roman cemas. Ong Cie It menjura pula seraya menghanturkan terima kasih.‖ berkata Ong Cinjin. ―Anak. Anak ini dapat dengar panggilan itu. ―Siapakah namamu?‖ ia menanya bengis. ―Hm!‖ Ong Cie It perdengarkan suaranya. terus ia menunjuk pada Kwee Ceng dan berkata: ―Pinto tidak kenal anak ini. hanya karena kemuliaan hatinya dan kegagahannya berusan. orang dari tingkat lebih rendah. maka itu sambil membalas hormat. Nama guruku tidak dapat aku beritahukan padamu. untuk dimajukan satu tindak.‖ Dengan lantas siauw-ongya ini membahasakan diri ―boanpwe‖. sungguh aku merasa sangat girang!‖ ―Tidak berani aku menerima yang namaku yang rendah dijunjung sedemikian tinggi olehmu. ia memberikan persetujuannya. yang kumis dan janggutnya terbelah tiga.‖ Semua orang lantas mengawasi kepada imam itu. tanpa tunggu orang buka mulut lagi. ia berkata: ―Totiang kenal guruku itu. Ia insyaf. bagus benar perbuatanmu ya? Pada mula kali gurumu hendak mengajarkan silat padamu. Sebenarnya ia sudah memikir untuk berlalu. Sudah lama mereka ketahui hal imam ini. kalau gurunya ketahui perbuatannya. Coba tadi mereka tidak telah menyaksikan gerakan yang gesit dan melihat itu tapak kaki. maka itu dengan besarkan nyali. tetapi ia terlambat. ―Jadinya totiang adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu Ong Cinjin?‖ ia menanya. terang totiang adalah satu cianpwee. ―Memang benar. Ia berdiri diam dan menyahuti: ―Namaku Wanyen Kang. lekas pulang!‖ demikain terdengar suara ibunya dari dalam joli.‖ ia menyahut. yang mereka tahu namanya tidak kalah daripada Tiang Cun Cu Khu Cie Kee. yang romannya toapan. hendak ia menjawab secara jenaka. ia menghadapi si siauwongya dengan wajahnya keren sekali. Sedang di tanah utara ini. Kaos kakinya yang putih serta sepatunya yang abu-abu bersih sekali.‖ ―Bukankah gurumu ada tanda tahi lalat merah pada pipinya yang kiri? Ong Cit It tanya pula. Ia lantas mengangguk.

yang pun ia kasih lari ke antara orang banyak. banyak-banyak terima kasih. Kwee Ceng tertawa di dalam hati. ―Totiang. ―Sekarang aku tidak usah mengkhawatirkan apa-apa lagi!‖ Kwee Ceng heran. Ong Cie It mendongkol untuk sikap keagung-agungan itu. Belum berhenti suaranya bocah ini. hingga mereka itu berlari-lari untuk menyingkir dari bahaya kena diterjang kuda. ―Kenapa kau tidak dapat mengalahkan dia itu?‖ Kwee Ceng tidak tahu bagaimana harus menjawab. Tapinya ia berkata kepada Kwee ceng. kemudian ia menyelinap di antara orang banyak itu. Memang ia hendak menguji enteng tubuhnya si bocah. bownpwe menantikan segala kehormatan atas kedatangan totiang ke rumahku. dan dibawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok. maka itu. sebentar saja mereka sudah berada diluar kota. ia lari terus-terusan. Tapi ia pun cerdik.‖ ia berkata. hingga dilain saat mereka sudah tinggalkan orang banyak itu dan tengah menuju keluar kota. Totiang tanyakan saja istananya Chao Wang. ―Hal itu kita perlahan-lahan saja kita bicarakan pula. Mendengar itu Ong Cie It menjadi girang sekali. tiba-tiba ia melepaskannya. kau turut aku.Pendekar Pemanah Rajawali sama lain. ialah ini imam. aku sangat mengaguminya. ia mengawasi imam itu. Ia sudah belajar lari keras. ―Buat apa kau layani pula manusia hina dina ini?‖ Wanyen Kang dengar suara orang menghina itu. Sampai sebegitu jauh. Cepat tindakannya si imam. mari kita pulang!‖ berkata ia. bagus!‖ katanya.‖ Habis berkata begitu. ―Dasarmu tidak jelek!‖ ia berkata dalam herannya itu. ia bisa berlari-lari tanpa napasnya memburu atau hatinya berdenyutan. dari itu. tubuhnya enteng. ―Toasuko telah ajarkan kau ilmu silat. tidak mau ia mendusta. Ia terperanjat dan mengawasi bocah itu. yang dipanggil setahu apa siauw-ongya Wanyen Kang itu adalah muridnya suhengku Tiang Cun Cu. Ia menyebutkan Kanglam Cit Koay dan Ma Giok. ia sambar les dari seekor kuda pilihan yang satu pengiringnya bawa kepadanya. Melihat si Ular Naga Kepala Tiga ini. Ilmu silat kau saudara. ia cekal tangan si bocah. Irawan D Soedradjat Page 190 . lantas terlihat Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay lari mendatangi. ia tidak menjadi gusar. Mendengar itu. Oey Yong muncul dari antara orang banyak. ―Orang dengan siapa tadi kau bertempur.‖ katanya. Bok Ek tarik tangannya Kwee Ceng. ―Engko kecil. Di lain pihak. ―Siapakah gurumu?‖ Ong Cinjin menanya lagi. Ong Cie It cekala tangan orang. ia hanya menunjuk kepada Bok Ek dan gadisnya serta bertanya: ―Bagaimana urusan jodohmu dengan nona itu?‖ Wanyen Kang menjadi likat. Maka itu. ia cuma tertawa saja. ia dapat manjat puncak. Di sini si imam berjalan semakin cepat. untuk diajak pergi. kau tahu atau tidak? bertanya si imam. Sukalah kau kalau kita mengikat persahabatan?‖ Kwee Ceng tidak menjawab.‖ ―Aku hendak menantikan dulu sahabatku…‖ Kwee ceng menjawab. ia hanya menjura pula kepada Ong Cie It seraya berkata: ―Totiang. Kwee Cneg tahu di antara adik seperguruan dari ma Giok ada yang bernama Ong Cie It. Ong Cie It tidak bilang suatu apa. aku pun minta suka kau bersama totiang berkunjung ke rumahku. Ia memang bertubuh kecil dan lincah. Kwee Ceng dapat mengikuti denagn baik kepada si imam itu. Selang lagi beberapa lie. terus ia lompat naik ke atas kuda itu. ―Engko Kwee kecil. tibalah mereka di belakang sebuah puncak buklit. lantas saja ia berkata sambil tertawa: ―Aku tidak kenapa-kenapa! Sebentar aku pergi mencari padamu…!‖ Baru ia mengucap. ia lantas menjatuhkan diri di depan Ong Cinjin.

ia menjadi ingat kepada nona itu. kalau ada murid yang bersalah. ia menjadi ingat kepada pertempurannya sama In Cie Peng hingga ia ingat juga.‖ berkata Ong Cie It kemudian. ―Apa?‖ dia menanya.‖ Irawan D Soedradjat Page 191 . Ia lantas menunduki kepala.Pendekar Pemanah Rajawali Bocah itu tercengang. Atau mungkin disebabkan musuh adalah turunan sahabat ayahnya.‖ Kwee Ceng telah terima titah gurunya untuk sebelum tanggal duapuluh empat bulan tiga sampai di Kee-hin. dari dalam hotel sudah muncul beberapa pengiring dengan pakaian seragam bersulamnya. teecu telah berlaku kurang ajar. kemudian setelah berpikir. dia dapat dihukum berat. maka setelah bertemu dengannya. hatinya masih ingin merekoki jodohnya nona Bok. maka itu ia heran atas kata-katanya imam ini. Kemudian ia meneruskan dengan sikapnya sungguh-sungguh : ―Kami kaum Coan Cin Kauw ada punya aturan yang keras.‖ berkata Ong Cie It. tidak nanti aku bikin kau memdapat susah….‖ berkata pula si pengiring. ―Sekarang masri kita lihat itu orang she Bok dan gadisnya. maksudnya pasti untuk mencegah Kwee Ceng menjadi bersusah hati hingga pernyakinan ilmu silatnya menjadi terganggu. ―Totiang.‖ Mereka lantas menyerahkan sehelai kartu nama di atas mana ada tertera: ―Hormat dari teecu Wanyen Kang. pibu apakah itu?‖ ia bertanya. di dalam hatinya tapinya ia suka bocah ini yang jujur dan hatinya pemurah. bahwa dalam pibu. maka itu kenapa dia bolehnya mengajari silat kepada satu pangeran Kim? Sungguh membikin pusing kepala…‖ Terus ia mengawasi Kwee Ceng dan berkata pula: ―Khu Toasuko telah menjanjikan aku bertemu di Yan-khia. Ong Cie It menggeleng kepala. aku suka sekali! Mustahil aku nanti persalahkan kau!‖ ia berkata. ―Nonan itu bertabiat keras. Siauw-ongya itu sombong dan ceriwis. sekarang setelah mendengar pertanyaannya Ong Cie It. nanti kau jangan khawatir. Kwee Ceng itu nanti berkelahi tidak dengan sungguh-sungguh dan karenanya menjadi tidak memperoleh kemenangan. siauw-ongya minta totiang dan Tuan Kwee sudi menerimanya. teecu mohon totiang suka memberi maaf. Ong Cie It ketahui maksudnya Kanglam Cit Koay. ilmu silat Wanyen Kang sama dengan ilmu silatnya In Cie Peng itu.‖ ia menjawab. baiklah totiang memberi ampun padanya. Maka keduanya lantas berjalan dengan cepat ke kota barat. terus ke rumah penginapan Kho Seng di jalan besar utama. Ciat-kang untuk apa ia dimestikan pergi ke Kee. Ong Cie It dapat menduga. maka itu tidak heran Tujuh Manusia Aneh dari Kanglam itu tidak mau menjelaskan sesuatu kepada Kwee Ceng. Ong Cie It tertawa bergelak. dalam beberapa hari ini tentulah ia bakal tiba. ―Dimana totiang dan Tuan Kwee tinggal? Nanti kami pergi mengantarkan ke sana. Baharu mereka sampai di depan pintu. gurunya tidak memberikan keterangan apa-apa. ―Gurumu belum membilang suatu apa kepadamu. Toasuka telah menerima satu murid she Yo.hin itu.‖ ―Sebentar kita datang.‖ berkata Kwee Ceng. bocah ini menjadi tidak tahu tentang ilmu silat kaum Coan Cin Kauw. yang tidak mendendam. Di sini ada aku. ia tidak bilang suatu apa. ―Aku tidak tahu…‖ Ma Giok mengajarkan Kwee Ceng tanpa penjelasan. aku khawatir dia nanti menerbitkan bencana jiwa…‖ Kwee Ceng terkejut. dia lebih-lebih membenci bangsa Kim. ―Hatimu mulia.‖ ia memohon. ia menghela napas. semua lantas memberi hormat kepada Ong Cinjin seraya berkata: ―Kami diperintahkan siauw-ongya mengundang totiang serta Tuan Kwee menghadiri pesat di gedung kami. nanti aku suka minta toasuko menghukum padanya!‖ ―Asal ia suka menikah dengan nona Bok. Entah bagaimana kepandaiannya murdi she Yo itu. Kwee Ceng juga tidak berani menanya apa-apa lagi. dia kata hendak ajak muridnya itu pergi ke Kee-hin untuk dicoba pibu denganmu. ―Dan ini kue-kue dan bebuahan. tetapi tidak nanti dilindungi atau dieloni. tak baik aku mewakilkan mereka memberi keterangan. ―Teecu tidak tahu siauw-ongya itu adalah muridnya Khu Totiang. ia berkata-kata seorang diri: ―Toasuko biasanya benci kejahatan sebagai musuh besarnya. aku akan menanya jelas segala apa. Dia telah mendengar lelakonnya kedua keluarga Yo dan Kwee itu. dia cuma manggut-manggut. Kanglam Cit Koay pasti menghendaki kemenangan.

ia lari pula ke luar. ―Mungkinkah si pangeran muda itu adalah putranya Wanyen Lieh?‖ ia kata di dalam hatinya. ―Namaku Bok Liam Cu. Ong Cinjin periksa lukanya Bok Ek. maka darimana dia dapatkan ilmu pukulan jahat ini? Pada ini mesti ada rahasianya…?‖ Lantas ia pandang si nona dan menanya: ―Nona. Kapan mereka lihat tetamu. ―Aneh. tetapi mungkin dikhawatir menjadi nowa. dimana ia lantas dipersilakan duduk di kursi atas. hendak ia menampik. yang terus merogoh sakunya. ia tarik tangan Kwee Ceng buat meninggalkan hotel itu. yang mana ia letaki di atas meja. siapakah namamu?‖ Nona itu menunduki kepalanya.‖ berkata Kwee Ceng. Mengadu Kepandaian Habis menerima antaran itu. yang rupanya diperdengarkan untuk menyambut ia dan Ong Cie It.‖ ia menyahut perlahan. Ong Cie It mengkerutkan keningnya. mereka dipapaki empat pengiring. yang terus lari masuk pula ke dalam hotel. Di pintu besar ada dituliskan tiga huruf besar air emas. Maka itu tanpa merasa. bunyinya: ―Chao Wang Hu‖ atau istana pangeran Chao Wang.‖ Bab 18. yang satunya memberitahukan bahwa siauw-ongya mereka lagi menentikan di gedung dan imam serta bocah itu diundang ke sana. ―Oey Yong suka dahar makanan semacam ini.‖ Lalu menanti jawaban si nona. untuk mengeluarkan uang perak dua potong. lalu ia terus masuk ke dalam kamar orang. yang rimannya bengis. sedang kepalanya ditutupi kopiah emas. sudah tidak dibalut. untuk bersama si imam pergi mengikuti keempat pengiring itu pergi ke onghu. gadisnya duduk smabil menangis. kau tunggu sebentar. Ong Cie It tak berkesan baik terhadap Wanyen Kang. Melihat dandanan pangeran itu. Ong Cie It menanyakan keterangan kamarnya Bok Ek. yang terdiri dari duabelas. menyusul mana ia tampak si siauw-ongya keluar menyambut. yang setiap belakang telapakan tangannya bertanda lima lobang jari tangan. di dalam hatinya ia berkata: ―Dasar bocah! Dia tidak harus dipersalahkan. Kwee Ceng tahu. kalau di sini aku bertemu dengannya. ―Wanyen Lieh mengenali aku.‖ Selagi si bocah terbenam dalam keragu-raguan. Bok Ek sendiri berbangkit untuk berduduk di atas pembaringan. setelah mereka itu memberi hormat. atau singa batu. Chao Wang itu adalah Wanyen Lieh. hingga nampak tulang-tulangnya dan kedua lengannya bengkak besar. isinya semua adalah makanan dan bebuahan yang istimewa. Luka itu telah ditorehkan obat. ia bersedia menerima antaran itu. Ia tersenyum. Tiba di muka gedung. ia diam saja. putra keenam dari raja Kim. Ia pilih empat rupa kue. seraya menambahkan: ―Besok aku akan datang untuk menjenguk pula padamu. ia lantas terima itu. akan tetapi kapan ia melihat sikap Kwee Ceng.‖ kata Cie It. batu mana dipasang terus sampai di thia depan.‖ pikir Ong Cie It. Ong Cie It mengangguk.Pendekar Pemanah Rajawali Beberapa pengiring lainnya lantas maju untuk mengsih lihat barang antaran mereka. ―Ilmu silat Wanyen Kang terang adalah ajarannya toasuko. Kwee Ceng paling dulu lihat dua lembar bendera berkibar di tiang yang tinggi. baik aku tinggalkan untuk dia. hatinya tercekat. Undakan tangga dari batu putih semua. Di luar hotel. di kiri dan di kanan pintu ada nongkrong masing-masing seekor cio-say. ―Totiang. Ia polos. inilah cade…. atau lebih tepat istana. ia bungkus itu dengan sapu tangan. hingga ia dapatkan orang she Bok itu sedang rebah dengan muka pucat dan di tepi pembaringan. pakaiannya jubah merah dengan gioktay atau ikat pinggang kumala. ―Luka ayahmu ini tak enteng. ia turut dipimpin ke dalam thia. dia perlu dirawat baik-baik. sesudah masuki itu ke dalam sakunya. lantas ia dengar ramainya suara tetabuhan. Irawan D Soedradjat Page 192 .‖ Kwee Ceng berpikir. si nona berbangkit berdiri. gedungnya Wanyen Kang. ke dalam kamar di mana ada bingkisan kue dan buah dari Wanyen Kang.

Pendekar Pemanah Rajawali ―Totiang bersama saudara Kwee sudi datang kemari. ―Ada di mana ia sekarang?‖ ia tanya. Kami berdua. ahli Tay-ciu-in dari partai Bit Cong dari Tibet. Wanyen Kang bergirang ketika ia kata pada Ong Cie It. Wanyen Kang sudah lantas ajak kedua tetamunya pergi ke hoa-thia.‖ Ong Cie It awasi orang yang pentang bacot itu. kepala siapa lanang. Pengiring itu berlalu untuk menyampaikan titah lebih jauh. Kwee Ceng dapak menyaksikan keindahannya istana.‖ Kedua orang itu saling memberi hormat. Ong Cie It menjadi heran sekali. . ―Benar!‖ sahut orang itu. satu lagi dari barat selatan. biji matanya menonjol keluar. maka tidaklah kecewa yang lohu sudah datang ke Tionggoan ini. selama itu aku main-main kucing kaki tiga hingga aku membikinnya totiang dan saudara Kwee menertawai aku. sungguh aku merasa sangat beruntung!‖ berkata tuan rumah yang muda ini. dari empat ribu lie. ia sudah lantas mengenalinya. Ong Cie It tidak puas. matanya merah. ―Dan ini adalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong. untuk mana mereka melintasi sebuah lorong.‖ Wanyen Kang memperkenalkan pula orang yang rambutnya putih tapi mukanya segar sebagai muka seorang bocah. ―Totiang. di antara siapa yang kepalanya benjut tiga. di sana sudah menantikan enam-tujuh orang. Dengan melihat roman orang saja. kau tahu tidak?‖ ―Guruku ada di sini. Dia itu mengawasi anak muda kita ini dengan sorot mata bengis! Biar bagaimana. satu dari timur utara. katanya: ―Ini adalah Leng Tie Siangjin. sampai ia merasakan matanya berkunang-kunang. Pangeran itu tidak berlutut didepannya dan tidak juga memanggil susiok atau paman guru kepadanya. maka pertemuan ini benar-benar satu jodoh!‖ Ong Cie It memberi hormat kepada paderi dari Tibet itu dengan menjura dan si paderi membalasnya seraya menakopi kedua tangannya. yang tubuhnya jangkung dan kate tidak rata. ―Siapakan meja santapan!‖ ia memberi perintah kepada pengiringnya. mengitari lauwteng yang indah.‖ Dan lantas ia perkenalkan paderi di sampingnya.‖ ―Hm!‖ Ong Cie It kasih dengar suaranya. suaranya menandakan kemarahannya. kedua pihak sudah saling mengenal. Kwee Ceng terkejut juga hingga ia pernahkan dirinya dekat sekali dengan si imam. apakah totiang ingin bertemu dengannya?‖ Wanyen Kang balas menanya. Ong Cie It heran hingga ia berpikir: ―Kenapa Siluman Tua ada disini juga?‖ io Cu Ong sudah lantas memberi hormat dan berkata: ―Di sini lohu dapat bertemu sama Thie Kak Sian Ong Cinjin. bahkan ia mendongkol. locianpwe dari Tiang Pek San. tidak ada selembar rambutnya. yaitu Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. beberapa tuan ini sudah lama mengagumi kau dan semuanya merasa sangat ingin bertemu denganmu!‖ Ia lantas menunjuk Peng Lian Houw dan kata: ―Inilah Pheng Cecu. ―Mana boanpwe mengerti ilmu silat?‖ sahut Wanyen Kang sambil tertawa. maka juga mereka menjadi begini malang melintang. Selama itu. tidak tahu ia mesti bersikap bagaimana andaikata ia bertemu dengan Wanyen Lieh. hingga mereka mesti jalan sekian lama. ―Sudah berapa lama kau ikuti gurumu belajar silat?‖ ia tanya. Hatinya pun tidak tentram. Setibanya di hoa-thia. Wanyen Kang menepuk tangan dua kali. ―Aku ikuti suhu buat dua tahun lamanya. ―Kiranya kau masih kenal aku!‖ Irawan D Soedradjat Page 193 ―Bukankah tuan adalah Kwie-bun Liong Ong See Locianpwee?‖ ia bertanya. ―Walaupun ilmu silat Coan Cin kauw tidak tinggi tetapi ilmu itu bukannya ilmu kucing kaki tiga! Gurumu bakal tiba di sini. Justru itu seorang yang suaranya serak terdengar berkata nyaring: ―Kiranya Kanglam Cit Koay didukung dari belakang oleh Coan Cin Pay.

―Bagus! benar-benar kau melindungi binatang cilik ini!‖ ia berseru. ia hajar mereka. Kwie-bun Liong Ong ialah Raja Naga dari Pintu Iblis. 194 Cie It merasakan hatinya lega. juga Nio Cu Ong dan Peng Lian Houw serta lainnya hadiran di situ. seperti dandanan seorang bangsawan. dia mendamprat habis-habisan. tetapi mendengar nama bukit Pek To San itu. musuh boleh tambah lagi. ia lantas ingat kepada si nonannona serba putih yang di tengah jalan sudah mencoba merampas kudanya. Untuk itu aku mohon tuan-tuan suka memaafkannya. sembari tertawa ia berkata: ―Tuan ini adalah Auwyang Kongcu. kapan dan di dalam hal apa aku pernah berbuat salah terhadapnya?‖ Ia menunjuki sikap sabar. Dandanannya. Mereka bukan sembarang orang. usianya empat puluh lebih. tangannya terus menyambar si imam. Disaat kedua tangan hampir bentrok. terus ia mengibas keluar. Celakanya Thong Hay telah kena dipermainkan oleh Oey Yong. Ia mengerti. supaya Kwee Ceng dibekuk. Tanpa merasa keduanya lantas mengawasi si pemisah itu. ―Mana gurumu?‖ ia tanya. ―Kenapa tidak kau minta ia keluar?‖ ―Ya. suatu tanda ia adalah seorang opsir. adik seperguruannya. Karena ini. Memangnya dia bertabiat keras. dua orang itu dapat dipisahkan. Ong Cie It tidak dapat mundur. lalu di depan pintu thia terlihat seseorang bertubuh gemuk yang mengenakan seragam baju sulam. Auwyang Kongcu ini sudah lantas rankap kedua tangannya. umurnya ditaksir tigapuluh lima atau tipuluh enam tahun. Bocah itu mundur. romannya sangat keren. ialah seoarng dengan jubah putih. sikapnya tenang sekali. Sebab tabiatnya itu. Dan semua mereka kagum akan caranya sancu ini datang menengah. Mereka belum pernah mendengar nama Pek To San – Bukit Unta Putih itu.‖ Orang she See ini tidak ambil mumat sikap orang yang halus itu. diundurkan satu dari yang lain. ia tengah diliputi kemarahan besar. Inilah sebabnya kenapa murid-muridnya tidak dapat wariskan tiga bagian saja dari sepuluh ilmu kepandaiannya. Dia berjanggut lebat. Ia menjadi menduga-duga: ―Mungkinkah enam guruku sudah bertempur dengan dia ini?‖ Ong Cie It pandai berpikir. seumumnya. Dia belum pernah datang ke Tionggoan. maka itu ini adalah pertama kalinya ia bertemu sama tuan-tuan!‖ Bukan melainkan Ong Cie It dan Kwee Ceng yang belum pernah melihat sancu. terus ia berkata: ―Sebenarnya aku telah mesti siangsiang tiba di kota Yankhia ini. semua hadirin di situ itu ada bangsa lihay. ia tetap berangasan dan galak. Irawan D Soedradjat Page Tidak lama lantas terdengar tindakan sepatu. ia kata: ―Nama besar dari See Locianpwee memang telah lama aku pangeni. sayang di tengah jalan aku mendapatkan satu urusan penting dan karenanya menjadi terlambat beberapa hari.Pendekar Pemanah Rajawali Cie It heran.‖ Kwee Ceng tidak kenal sancu ini. maka dengan berbareng. akan jambak Kwee Ceng. maka mereka heran ada seorang yang dapat pisahkan mereka secara demikian gampang. dari samping mereka tiba-tiba muncul satu orang. tak terkira gusarnya Thong Thian. tangan kirinya menyambar lengan See Thong Thian. hingga ia mirip dengan satu sastrawan. Maka ia lantas pandang tuan rumah. maka juga. percuma kalau ia melayani mereka itu.‖ sahut Wanyen Kang denagn sederhana. di waktu mengajari silat. Melihat orang demikian galak. siucay. masih dapat kami membela diri…‖ . Demikian ia ulur sebelah tangannya. Dia bernama Thong Thian dan gelarannya. untuk menghalang di depannya. sekalipun di depan orang banyak.pemilik bukit – dari Pek To San itu. hingga adik seperguruan ini juga gagal. Thong Thian gusar bukan main waktu ia dengar kekalahan empat muridnya itu. Ia telah berpikir: ―Dengan adanya Khu Suheng disini. romannya tampan. Sesudah itu ia kirim Hauw Thong Hay untuk menuntu balas. tak dapat ia mengatasi diri. hingga kata dalam hati kecilnya: ―Kita ada bagaikan air kali dan air sungai yang tidak saling menerjang. tangan kanannya menyambar lengan Ong Cinjin. alisnya panjang hingga ujungnya mengenai rambut di pelipisnya. maka ia pun angkat tangannya. tak peduli ia bahwa perbuatannya melanggar adat sopan santun. sancu dari Pek To San dari pegunungan Kun Lun San di Tibet. sedang Ong Cie It segera maju. untuk menangkis. ia tidak hunjuk kemurkaan. Segera juga Wanyen Kang menghampirkan. tidak heran kalau Hong Ho Su Koay gagal mengepung Kwee Ceng. Dua-dua See Thong Thian dan Ong Cie It terperanjat. Dia banyak lebih lihay daripada Hauw Thong Hay. Lantas ia berpaling kepada pengiringnya dan memrintah dengan singkat: ―Undang suhu!‖ Pengiring itu sudah lantas mengundurkan diri.

‖ ―Bagus begitu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Suhu!‖ Wanyen Kang lantas memanggil.‖ menyahut Wanyen Kang.‖ Cie It heran hingga ia tercengang. untuk memerintah: ―Kau lekas ajak orang pergi mencari tuan Bok dan putrinya itu. terus ia undurkan diri. semua mata diarahkan kepada Wanyen Kang. Sambil tertawa. Akhirnya. entah kemana. Terus ia menoleh pada pengiringnya. Maka terpaksa pemuda ini pulang ke onghu dengan tangan hampa. untuk pergi ke hotel dimana Bok Ek dan gadisnya menumpang. ―Tayjin hendak memohon derma. ia menjadi heran. pernah ia ajarkan ilmu silat kepada pangeran itu. Tentang itu. sebentar kau antarkan ke hotelnya totiang. Ong Cie It menjadi membungkam. Ia tanya jongos. ―Itulah selayaknya. ―Totiang ini hendak bertemu sama suhu. Tiba di sana. barang-barangnya pun telah dibawa pergi. Ong Cinjin tertawa. uang sewa kamar pun sudah dibayar lunas. bagaimana juga hendak diaturnya. ia berkata: ―Tidak peduli orang bermain sandiwara apa. malah ia sudah menanyakan beberapa kali…‖ Melihat orang itu dan mendengar perkataan si pangeran. silakan duduk di kursi kepala. ia mengawasi imam itu. dari kepala ke kaki.!‖ Tapi ia mencoba untuk mengendalikan diri. silakan duduk!‖ Wanyen Kang mengundang. dia mesti dapat diundang datang kemari!‖ Pengiring itu menyahuti. ―Oh. bagaimana urusannya itu harus diatur?‖ Mendengar pertanyaan itu. kepala barisan pengiring dari Wanyen Lieh di masa Wanyen Kang masih muda sekali.‖ Ong Cie It menagngguk dan Kwee Ceng segera berbangkit. Ketika jongos ditanya. jawabannya adalah Bok Ek dan gadisnya itu ada yang undang sudah pergi entah ke mana. ―Aku minta saudara Kwee saja yang pergi mengundang tuan Bok itu. sikapnya jumawa. akhirnya ia duduk juga di kursi pertama itu. ―Adalah sudah biasa bagi aku. boanpwe selalu bersedia untuk menuruti. Ia berkata kemudian: ―Bagus! Sekarang baik si orang she Bok itu diundang kemari. Tidak dapat ia menduga. ―Mana tuan Bok itu?‖ ―Ia telah pergi. imam ini orang macam apa. Pangeran itu mengisikan sebuah cangkir. tuan Kwee!‖ katanya. ―Totiang baharu pertama ini tiba disini.‖ sahut Kwee Ceng. aku menyesal…‖ berkata Wanyen Kang cepat. kau permainkan aku. Yang lain-lain pun turut memanggil guru padanya.‖ Thung Couw Tek celangap. ia berbangkit untuk bawa itu kepada Ong Cie It seraya terus berkata: ―Silahkan totiang keringkan dahulu cawan ini. ―Tuan-tuan. siapa itu yang mengundang. Ia telah berpikir: ―Bocah binatang ini. hatinya Ong Cie It menjadi panas sekali. Ia lantas kata pada pengiringnya: ―Lekas kau siapkan uang itu. karenanya ia dipanggil guru. Ayah dan anak dara itu tidak ada di kamarnya. imam atau paderi perempuan!‖ Dengan paksakan diri. maka bolehlah kita bicara dari hal keadilan. Setelah tiga edaran arak. Jongos itu tidak dapat memberikan keterangan. Kwee Ceng heran. Ia bernama Thung Couw Tek.‖ berkata Wanyen Kang. ia berkata: ―Sekarang ini telah hadir banyak cianpwee kaum Rimba Persilatan. ―Banyak cape. Ia lantas hirup arak itu. aku paling tidak senang terhadap segala paderi. Tentang si orang she Bok yah dan anak itu.. tetapi ia bercuriga. yang treus tuturkan kepergiannya Bok Ek serta anaknya itu. urusan toh akan ketahuan akhirnya!‖ ―Totiang benar. Wanyen Kang sambut tetamunya. ―Ingin aku minta buat banyaknya seribu tail perak!‖ Heran opsir itu atas permintaan derma tersebut.‖ ia berkata. Irawan D Soedradjat Page 195 . ―Untuk urusan apakah kau hendak bertemu sama aku. yang mendahului gurunya itu.‖ berkata Wanyen Kang sembari tertawa. dari kaki ke kepala. untuk kita membicarakan urusannya.‖ Ong Cie It merendahkan diri tetapi ia didesak terus. imam?‖ si opsir menanya. ia tidak sangka pangeran ini dapat bersikap demikian.

Ia anggap dirinya gagah. yang berada di sampingnya. kau ada asal negara mana? Kau mengandal apa maka kau datang kemari dan menjadi pembesar negeri?‖ Couw Tek gusar sekali. maka ketika ia berbangkit pula. tidak satu pun yang pinto kenal. Maka juga perkataannya Ong Cie It membikin ia merasa tersinggung. hanya salah satu suhengku ada punya sangkutan dengan mereka. Dia terus menarik pulang tangannya itu. Ong Cie It mengerti.‖ berkata Kwie-bun Liong Ong. tetapi dengan mereka itu. sedikitnya ia tentu terluka enteng. sudikah totiang meluluskannya?‖ ―Tidak berani aku menerima pujianmu. Menyusul itu jambakannya si orang she See itu mengenai kursi yang diduduki Kwee Ceng. ia sudah bekerja matimatian untuk negara Kim.‖ berkata Giok Yang Cu. guna menjambak batang lehernya Kwee Ceng.‖ ia berkata. ―Pinto tahu tentang Kanglam Cit Koay. sumpitnya dapat mempengaruhi Couw Tek tetapi tidak si orang she Nio ini.Pendekar Pemanah Rajawali Sementara itu Thung Couw Tek heran dan mendongkol. maka selagi orang menekan pundak si jenderal itu. Maka itu sama sekali tidak ada soal pihakku membantu Kanglam Cit Koay menghadapi Hong Ho Su Koay. semua hadirin tertawa.‖ berkata Giok Yang Cu. kaget dan gusar menjadi satu. selagi mulutnya tersumpel. sungguh namanya bukan kosong belaka!‖ berkata See Thong Thian. tubuhnya jatuh terduduk di kursinya akibat tekanannya Nio Cu Ong. yang segera dibawa masuk ke dalam mulutnya orang she Thung itu. Irawan D Soedradjat Page 196 . ―Jangan gusar. untuk disuapi dengan paksa! Couw Tel menjadi gelagapan.‖ ―See Locianpwe. ia lekas berbangkit. Menyaksikan kejadian itu. akan tekan pundak si jenderal. ―Baiklah ciangkun duduk dan keringkan arakmu!‖ Ia ulur tangannya. ciangkun. Tidak karu-karuan cukongnya kehilangan uang seribu tail perak. sumpitnya itu terus ia pakai menyambar sepotong paha ayam. si imam bersikap seperti tidak tahu aturan. Ia malu bukan main. ―Maka itu aku mohon keterangan. Bukankha ia orang Han yang bekerja pada bangsa Kim? Kenapa ia mesti ditanya lagi kalau bukan orang hendak menghina padanya? Ia justru paling tidak senang orang menyebut-nyebut kebangsaannya. Akhirnya ia menegur: ―Eh. Lantas ia lompat bangun. lengan kirinya berbareng dipakai membentur bocah itu. tak dapat ia meneruskan meninju.‖ berkata Nio Cu Ong. ―Silakan locianpwe mengatakannya. See Locianpwe. kalau begitu!‖ berseru See Thong Thian. Thie Kak Sian Giok Yang Cu tahu.‖ ―Pihak kami tidak ada sangkutannya sama Coan Cin Pay. ilmu Bahagian Luar. hingga tubuhnya Kwee Ceng tertolak mental. ―Sekarang kau serahkan ini bocah kepadaku!‖ ia lantas berbangkit. walaupun di depannya ada Nio Cu Ong dan Auwyang Kongcu. ―Maka perlu apa kau bergusar dan menggunakan kekerasan?‖ Ia angkat sumpitnya untuk menjempit kepalan orang. aku yang bodoh tidak merasa takut. ia melepaskan jepitannya. tetapi dia tidak berhasil. akan ulur sebelah tangannya. pada ini terang ada salah mengerti. ia sangat mendongkol. Maka mukanya menjadi merah. Sudah duapuluh tahun ia bekerja. ia penasaran sekali. kau menggunai ilmumu!‖ ia membentak. pangkatnya bukan kecil tetapi ia tetap ditempatkan di onghu. ia ulur tangannya meninju mukanya Ong Cinjin! Cie It tertawa. tosu. ―Aku hendak memohon sesuatu kepada totiang. dia jengah sekali. maka itu. ciangkun. untuk menghalang. hebatnya tak sama dengan Kiu-im Pek-ku Jiauw dari Hek Hong Siang Sat akan tetapi toh tidak kalah. cepat luar biasa. Ia memang tidak puas dengan kedudukannya. ―Coan Cin Pay berpengaruh di Selatan dan Utara. tetapi pemerintah Kim tidak pernah mengijinkan ia memimpin pasukan tentara sendiri. bocah itu tidak bakal lolos dari jambakan itu.‖ ―Bagus. ia hanya balik bertanya: ―Jenderal. Jambakan itu adalah jambakan dari Gwa-kang. kau asal kuil mana? Kenapa kau datang kemari untuk main gila?!‖ Ong Cie It tidak menyahuti. hingga kursi itu tercengkeram rusak seraya menerbitkan suara keras. selagi si pangeran berlaku manis. Kepalan Couw Tek kena tertahan. ―Imam siluman. terus ia lari ke dalam. ―Kau tidak hendak memberitahu pun tidak apa. kenapa pihakmu berdiri sepenuhnya dibelakang Kanglam Cit Koay dan dengan begitu menyusahkan pihakku? Walaupun Coan Cin Pay banyak anggotanya dan sangat berpengaruh.

Aku ada punya empat murid tolol. . di atas orang pandai ada pula yang terlebih pandai lagi. supaya nanti ia jangan mengatakan pinto todak sudi melindungi padanya. ―Sabar. ia menginjak-injak. dengan membesarkan nyali. mereka turut Yang Mulia Chao Wang pergi ke Mongolia untuk suatu urusan. maka itu sudah selayaknya kalau nanti pinto membawanya keluar secara baik-baik.‖ berkata Cie It tenang. guna diserahkan pada Chao Wang. kalau satu bocah begini tidak dapat dibereskan. selagi mereka berkerja dan nampaknya bakal berhasil. sedang sebenarnya pinto tidak sanggup berbuat demikian…. kau lindungi bocah ini?‖ menegur Thong Thian karena kegagalannya itu. ―Ia muda dan tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. Ia lihat. memang lebih baik tidak usah bertempur dengannya.‖ ia berkata. ―Maka itu saudara Hauw. supaya ia insyaf bahwa di luar langit ada langit lainnya. Ia bingung sebab musuh tangguh semuanya. Cuma lebih dulu daripada itu. Ia tahu orang mengejek padanya tetapi tidak tahu ia bagaimana harus memberikan jawaban. See Thong Thian telah berpikir: ―Imam ini lihay tak ada di bawahanku. habis itu. locianpwe.‖ ia berkata. See Thong Thian juga berpikir: ―Imam-imam dari Coan Cin Pay tidak dapat dibuat permainan. mana berani pinto mengadu kepandaian dengan tuan-tuan.‖ ia menambahkan. Kecuali Cie It dan Kwee Ceng. Kalau benar saudara tidak sudi melepaskan padanya. supaya selanjutnya dibelakang hari. pinto tidak dapat bilang suatu apa. cara bagaimana kami bisa lakukan usaha yang besar?‖ Kata-kata itu berpengaruh untuk para hadirin itu. menentang si imam. mereka dalah orang-orang undangan Wanyen Lieh. untuk singsatkan bajunya. supaya kita dapat menimbangnya. aku minta sukalah kau mempertunjuki sesuatu agar pinto dapat pentang mataku. ―Biarlah aku yang belajar kenal lebih dulu denganmu. ia pernah menghadapi pelbagai pertempuran tetapi tidak seperti ini kali. yang diundang dengan kehormatan dan bingkisan berarti. ―Coba jelaskan duduknya hal. ia mundur tiga tindak. jalan yang terbuka ialah memperlambat tempo sambil mencoba mencari tahu sikap sebenarnya dari para hadirin masing-masing. tidak dapatkah kau mencari ia dilain hari?‖ Auwyang Kongcu lantas campur bicara. Tentang bocah ini.‖ Sebelum menjawab.‖ Cie It membilang keras. ia mendahului berbangkit. Yang Mulia Chao Wang menjadi sangat gusar karenanya. aku mesti dapat satu pembantu yang lihay…‖ Maka itu. Ia lantas memikirkan daya untuk meloloskan diri bocah itu. pinto minta tuan-tuan mempertunjuki dulu ilmu kepandaian kamu. kepala di bawah kaki di atas. Diam-diam Cie It bingung juga mendapatkan semua mata diarahkan kepada Kwee Ceng. Sejak turun gunung. ―Bagaimana caranya bocah ini mendapat salah dari saudara See?‖ dia tanya. supaya bocah ini dapat melihatnya. coba kau perlihatkan Soat-lie May Jin. ia lantas duduk pula. cawannya ia hirup kering. sampai sebatas dada. Dengan lantas mereka itu memikir untuk menahan si bocah. Untuk melayani dia. untuk minta Ong Cinjin memberi pengajaran padamu!‖ ―Itulah aku tidak berani. Hauw Thong Hay sudah lantas pergi ke lataran dimana dengan kedua tangannya ia menumpuk salju sampai tingginya tiga kaki.‖ Hauw Thong Hay sudah menahan sabar sekian lama. mendengar perkatannya Giok Yang Cu. Irawan D Soedradjat Page 197 Ketika itu hujan salju masih belum berhenti. ―Nama besar dari tuan-tuan telah lama pinto buat pangenan. dia jangan berani pula banyak tingkah!‖ Hauw Thong Hay mendongkol sekali. ―Anak ini pinto yang bawa datang ke istana ini. itulah hal yang sangat menggembirakan pinto.‖ Maka ia lantas awasi Thong Hay dan berkata kepadanya: ―Sutee. ini juga pinto tidak dapat menentangi. kalau ia mengotot. ia mendapat salah dari Yang Mulia Chao Wang. Coba tuantuan pikir. sekalian untuk memberi pengajaran kepada bocah ini.Pendekar Pemanah Rajawali ―Hau. tiba-tiba mereka diganggu oleh bocah ini. bocah ini pasti tidak bisa dibiarkan tinggal tetap di sini. bahkan ia berbareng mesti melindungi satu bocah. seraya menunjuk Kwee Ceng.‖ Ong Cie It berkata pula. lalu mendadak ia lompat maju. ―Hari ini pinto berjodoh bertemu sama tuan-tuan. kepala itu nuncap melesak ke dalam tumpukan salju itu. Perkataan orang diatur dengan halus. ―Kebiasaanku tidak berarti. Tuan-tuan berniat menahan dia. Kemudian ia berkata: ―Sebenarnya aku tidak bermusuh langsung dengan anak she Kwee ini. untuk membikin padat.

Saking kagum. mulutnya itu sudah lantas kermakkermik. lalu ia kembali ke kursinya. Gangguannya Peng Lian Houw itu tidak membuat Thong Thian kecil hati. semua sumpit nancap rapi merupakan empat tangkai bunga bwee! Kwee ceng dan Wanyen Kang kurang mengerti ilmu kepandaian itu. yaitu ―Soat-lie May Jin‖ atau ―Mengubur orang di dalam salju‖ See Thong Thian lantas berkata pada pengiring-pengiringnya Wanyen Kang: ―Tolong tuan-tuan membikin padat dan keras salju disekitarnya Tuan Huaw!‖ Kawanan pengiring itu girang sekali. Segera setalah memegang. Peng Lian Houw sudah memegat meluncurnya biji-biji kwaci itu. ia tidak tahu ilmu silat apa itu. itulah bukti dari tenaga dalam yang terlatih sempurna. Kata Ong Cie It dalam hatinya: ―Tidak heran Kwie-bun Liong Ong menjagoi sungai Hong Ho. sumpit bekas itu ia ambil dari tangannya si pelayan. ―Bu‖ dan ―Yang‖. kepandaianmu ini membuatnya aku takluk sekali! Kita biasa berkerjasama. dia berdiam saja. setelah mana jari tangannya yang tengah disentilkan tak hentinya. ia hanya mendatangkan tertawaan…‖ berkata See Thong Thian.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng heran. kemudian Thong Thian menoleh kepada Auwyang Kongcu. yang terus aja lompat balik ke kursinya. akan tetapi baru huruf selesai separuhnya. aku tidak sanggup memakan lebih jauh!‖ berseru Peng Lian Houw. Orang semua heran dan akgum.‖ Di tembok sekarang terlihat lagi dua huruf. dia memang lihya sekali. Menyaksikan itu Peng Lian Houw manjadi bertangan gatal. tetapi mereka terus minum arak mereka. dengan bergembira mereka luluskan permintaan itu. maka biji kwaci itu meluncur ke tembok putih di hoa-thia itu. Malah Ong Cie It segera Irawan D Soedradjat Page 198 . maka setelah totiang ini hendak menguji kepandaian kita. Jarak ke tembok ada kira-kira tiga tembok. untuk mengatakan: ―Auwyang Kongcu hendak mempertunjukan apa untuk kami dapat membuka mata kami?‖ Kongcu itu dengar suara orang ada mengandung nada menyindir. aku pun dengan meminjam pengaruhmu. biji kwaci enteng. dia malah tersenyum. tidak demikian dengan Ong Cie It. ia ayun tangannya. nancap di tembok merupakan satu huruf ―Yauw‖. lantas semua sumpit – dua puluh pasang – terlempar ke salju dan nancap. Apa yang luar biasa. Sebenarnya See Thong Thian bersama-sama Hauw Thong Hay telah menjagoi di sungai Hong Ho. mereka telah mengenal baik satu dengan lain. ―Ah. ―Kasar kepandaiannya suteeku ini. karena ini Thong Hay dapat nyelusup ke dalam salju. Ketika itu See Thong Thian benar-benar telah membuat huruf ―Wie‖ yang terakhir. meski ia tahu namanya seperti telah disebutkan See Thong Thian. ―See toako. mereka pandai berenang dan tahan selulup lama. tetapi biji kwaci itu dapat disentilkan demikian rupa. untuk mana ia mesti menahan napas. kwaci itu ia makan isinya dan kulitnya dilepehkan! ―Bagus!‖ orang banyak berseru memuji. Selang sekian lama. ingin mempertunjuki sesuatu…‖ Ia lantas saja lompat ke tengah ruangan itu. See Thong Thian dan lainnya yang lihay. ia sudah keluar dari salju dan berdiri tegak. lalu sejenak saja. mulanya ia merintangi . Setelah itu barulah See Thong Thian rampungkan huruf ―Wie‖ itu. seperti burung menyisit. maka mereka ini diam-diam terkejut sendirinya. untuk menjumput. tubuhnya ikut. lalu semua biji beruntun dikasih masuk ke dalam mulutnya. Persahabatan mereka adalah dari persahabatan dua tigapuluh tahun. Ia tunggu sampai pelayan membawa datang tambahan barang makanan dan semua sumpit bekas ditukar dengan yang baru. yang sembari bicara mengulurkan tangannya ke piring kwaci. Ia berkata. Thong Hay melirik pada bocah itu. atas mana. barulah dua tangan Thong Hay bergerak. maka itu dapat diduga See Thong Thian hendak menuliskan empat huruf ―yauw bu yang wie‖ yang artinya menentang pengaruh atau menjagoi. Kwee Ceng yang polos memuji sambil bertepuk tangan.

memberi hormat kepada orang banyak. Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong berbangkit sambil tertawa. tapi barang berat itu tidak mengurangi kegesitannya. memainkan ilmu silat ―Yan Ceng Kun. ―Mungkin sehabis dia. untuk kagetnya mereka. sikapnya wajar saja.‖ Ia tidak berbangkit tapi ia dapat menuangi arak ke dalam cawannya semua orang. tidak ada tanda bahwa ia merasa letih. untuk ulur tangannya yang kanan ke pinggangnya batu. Selang lagi sesaat. See Thong Thian semua kaget berbareng gusar tetapi mereka tak segera dapat berdaya. Selagi semua orang heran dan kagum. mereka lihat pangeran itu ditotok hingga ia menjadi tak berdaya lagi. Adalah biasa untuk tukang-tukang dangsu mempertunjukan permainan batu seperti Nio Cu Ong ini. ia kembali ke kursinya. terlepas dari tangan dan mencelat naik dua tombak tingginya. ia menangkap nadinya siauw-ongya itu. lagi dua batu diangkat dan diapungi seperti yang pertama itu. Ong Cinjin berbuat begini tentulah disebabkan dia bersendirian saja. Mereka insyaf juga. ―Hebat tenaga dalamnya paderi ini. Paling akhir Ong Cie It isikan cawannya Kwee Ceng serta cawannya sendiri. berdiri di atas itu ia lantas bersilat. Ong Cie It dan Auwyang Kongcu adalah yang paling dulu menampak perubahan. celakalah Wanyen Kang. untuk angkat cawannya yang ia hirup kering. haha-hihi. Kemudian. mereka ini bakal turun tangan…‖ Maka itu si imam segera melirik paderi dari Tibetb itu. untuk semua tetamu membersihkan tangan mereka. batu itu kena terangkat. mengisi hingga penuh. Dan ketika batu yang pertama turun. Hal ini dapat dilihat semua orang. terus ia berkata: ―Barusan aku saksikan kepandaian mengagumkan dari tuan-tuan. begitu ia kerahkan tenaganya. dan setelah turunkan ketiga batu itu. Dengan satu lompatan. Sebelum batu itu turun. Pelayan-pelayan telah datang dengan baskom yang terisi air hangat. Yang lain-lain baru dapat melihat setelah uap itu nampak semakin nyata. ia tanggapi dengan dahi. hanya selagi yang lain-lain sudah selesai. ia memuji tak henti-hentinya. tubuh siapa ia terus angkat. Ong Cinjin angkat poci arak. maka batu itu lantas diam di dahinya itu. Leng Tie Siangjin mencuci tangan seperti yang lain-lain. melewati dua orang. Leng Tie Siangjin beramai menginsyafi tenaga dalam yang terlatih baik dari imam ini. ini dimainkan di atas pelatok sumpit dan sumpitnya tidak ada yang patah atau miring karena ketindihan tubuh dan batu yang berat itu. ia lompat turun dari pelatok sumpit. mereka menjadi heran. untuk digeser ke depannya. Baskomnya si paderi lantas saja menghembuskan hawa napas sebagai uap. ―Aku tidak boleh berlambat lagi. ia masih merendam kedua tangannya di dalam baskom. mirip asap. untuk menemui satu saja sudah sukar! Apakah tak boleh jadi bahwa mereka ada mengandung sesuatu maksud?‖ Selagi si imam berpikir. Lalu menyusul batu yang kedua dan yang ketiga. asal tangan kirinya digeraki. Kemudian lagi si imam taruh tangan kirinya di punggung pangeran itu. maka dengan ini aku hendak menghormati kamu dengan secawan arak.‖ Ia menjunjung tiga buah batu yang beratnya rua ratus kati lebih. Ong Cie It terperanjat. Irawan D Soedradjat Page 199 . Dengan rangkapi kedua tangannya. dan setiap tindakan kakinya tidak pernah meleset dari ujung sumpit. Dengan tangan kanannya. tidak ada arak yang berceceran. Orang lantas melihat kejadian ini. Mereka justru menantikan tanda dari paderi itu untuk bergerak. aku mesti mendahului turun tangan terhadap dia…‖ Tengah semua mata diarahkan kepada Leng Tie Siangjin.‖ katanya dalam hati. Ong Cie It cenderungkan tubuhnya. Ia mengasih lihat senyuman. Kwee Ceng kagum bukan main. Kelihatannya pesta bakal ditutup sampai disitu. hanya yang istimewa. ia tiba diatasnya pelatok-pelatok sumpit Auwyang Kongcu tadi. turun ke dalam cawan. Cu Ong jalan perlahan-lahan ke tengah latar. ―Cuma Leng Siangjin yang belum mengasih lihat kepandaiannya. Batu itu segera diapungkan. maka itu. arak meluncur keluar dari mulut poci. Asal tangannya digeraki. yang duduk berselang daripadanya. kemudian ia letaki poci arak. mereka heran. akan kemudian terdengar suara perlahan dari air bergolak.Pendekar Pemanah Rajawali berpikir: ―Kenapa orang-orang lihay ini dapat berkumpul di sini? Biasanya. ketiganya menjadi saling susul. ia pergi ke samping tambur batu di depan hoa-thia itu. sedang beratnya batu ada tujuh atau delapan puluh kati.‖ Cie It berpikir. Baru setelah habis semua jurus itu. Habis itu ia berbicara. tangannya menyambar kepada Wanyen Kang.

‖ berkata pula Ong Cie It. Habis itu ia mengangguk kepada semua orang. Sebab bentrokan itu membuat ia terluka. maka itu mesti ada harinya yang kita nanti bertemu pula!‖ Setibanya mereka di pintu hoa-thia. Sambil tersenyum. tetapi si imam pun tidak diam saja.‖ Ia lantas berbangkit. Leng Tie Siangjin mengubah tenaga dalamnya menjadi tenaga luar. Masih ia mengucapkannya: ―Ijinkanlah kami mengundurkan diri. kedua tangan sama-sama ditarik pulang. Imam ini benar-benar tidak dapat dibuat permainan. tidak berani mereka merintangi. lalu ia tarik tangannya Kwee Ceng untuk diajak pergi. Maka itu denagn memandang kepada mukaku. supaya aku yang lebih muda dapat banyak pengajaran. Ong Cie It tersenyum. yang kau membuatnya orang sangat kagum!‖ demikian katanya. akan tetapi ketika ia buka kedua tangannya itu. Sampai bertemu pula!‖ Semua orang mengawasi denagn air muka guram. contoh dalam dirinya Leng Tie Siangjin juga membikin hati mereka gentar. tapi belum dapat ia meneruskan. cuma pinto merasa suka kepadanya karena dia berhati polos dan pemurah. ia pun berbalik menyambar lengan lawan. ―Maka pinto juga akan bebaskan ini siauw-ongya. Cuma hanya sekali bentrok. maka pangeran itu bebas dari totokan. lantas saja ia muntah darah. ia kata kepada Ong Cinjin: ―Totiang. ―Pinto juga tidak bersanak tidak bersahabat dengan anak ini. Ia merangkapkan kedua tangannya. buat diajak berlalu dengan cepat-cepat dari istana itu. dengan perlahan Giok Yang Cu berkata kepada bocah yang ia tuntun itu: ―Kau gendong aku sampai di rumah penginapan…‖ Irawan D Soedradjat Page 200 . siuran angin hebat menyambar ke arah si imam! ―Celaka!‖ Ong Cie It berseru di dalam hatinya dengan ia lekas-lekas angkat kedua tangannya untuk membalas hormat. ―Jikalau tuan-tuan memberi ampun kepada anak ini. karena ia telah lantas dapat melihat sambaran itu. yang menanti jawaban. tidak peduli mereka licin atau licik. aku takluk!‖ berkata Leng Tie Siangjin yang air mukanya berubah. mengapa kata-katanya tidak masuk hitungan?‖ Leng Tie menjadi gusar. ia menyambuti dengan sama kerasnya. Coba ia berlaku tenang dan mainkan napasnya. ini anak sebaliknya adalah satu anak rakyat jelata.‖ katanya. tetapi ia diejek si imam. kau baik sekali!‖ berkata Nio Cu Ong tertawa. ―Totiang sangat lihay. untuk memberi hormat. Ia percaya semua jago itu. See Thong Thian beramai tidak berani mencegah.‖ Semua orang berdiam. Mereka berdiam sejak Wanyen Kang dicekuk. tidak bermusuhan dengan tuan-tuan. apabila ada tempo yang luang. ia tidak dapat mengendalikan diri.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto tidak berselisih. silakan sembarang waktu datang untuk pasang omong di sini. Siauw-ongya adalah seumpama cabang emas daun kumala. yang terus bilang: ―Urusan kita telah selesai. ia bertanya: ―Nama Taysu bersemarak dalam dunia kangouw. ia bersemangat. setelah melintasi sebuah tikungan dan melihat di belakangnya tidak ada orang yang menyusul mereka. dengan sikapnya yang menghormat. seraya melompat mundur. Sebat luar biasa. ―Sungguh aku takluk. Bukankah ikan telah masuk ke dalam jala tetapi dapat lolos pula? Tidakkah itu sayang? Wanyen Kang telah lantas dapat menenangkan hatinya. tidakkah siauw-ongya rugi? Bagaimana?‖ ―Ong Totiang. darahnya itu tidak nanti menyemprot keluar. ―Baiklah. ―Aku bukan hendak menahan ini bocah she Kwee.‖ Tanpa bersangsi sedikit juga. tangan kanannya diulur. Ia kerahkan tenaga latihannya dari beberapa puluh tahun untuk memcahkan serangan hebat itu. aku hanya hendak menahan kau…‖ katanya. beginilah kita mengambil keputusan. Sesudah belasan tombak keluar dari pintu istana. untuk menyambar lengannya Ong Cie It. ia mengantarkan keluar. dengan sikutnya Ong Cie It bentur pinggangnya Wanyen Kang. Ong Cie It segera tarik tangan Kwee Ceng. bukan saja memang mereka seudah berjanji. pinto minta sukalah tuan-tuan melepaskan dia hari ini. tiba-tiba Leng Tie Siangjin berbicara. terus ia dikembalikan ke kursinya. ―Hm!‖ bersuara si imam. dari itu jikalau mereka ditukar guling.

ia segera turunkan imam itu di atas pembaringan. yang ia terluka dan ia sendiri tidak punya guna. air jambangan yang bersih bening itu berubah menjadi hitam. ―Benar. atas mana Giok Yang Cu lantas saja tertawa dan berkata: ―Sudah tidak ada bahaya lagi!‖ Dengan pegangi pinggiran jambangan. anak yang baik!‖ berkata Ong Cie It. Setibanya di dalam. Tapi ia menghela napas ketika ia berkata pula: ―Paderi dari Tibet itu sangat berbahaya!‖ Kwee Ceng berlega hati. Irawan D Soedradjat Page 201 . Ia tidak tahu jalanan. tetapi tanpa pedulikan itu. ―Sekarang pondong aku. Sementara itu ia merasai napasnya si imam semakin mendesak. Kwee Ceng lari ke dalam kamar untuk memberi kabar. kulit muka si imam dari pucat pasi berubah menjadi bersemu dadu. Sekarang barulah Kwee Ceng ketahui orang tengah mengerahkan tenaga dalamnya. Permintaan itu diturut. ia hanya memberi tanda dengan tangannya. terus diisikan air dingin. ia dapat merayap keluar. ―Coba bantui aku bangun. lalu tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung. ia masuki tubuh orang ke dalam jambangan hingga sebatas leher. untuk menggendong dia. sedang jongos ia pesan untuk melarang siapa saja masuk ke cimche itu. Ia juga memberi persen kepada si jongos. Ia dengar suara orang sangat lemah. Kau larang orang lain datang dekat padaku…‖ Kwee Ceng tidak mengerti tetapi ia pondong si imam itu. Ia tahu imam ini khawatir nanti disusul musuh. ia girang sekali. untuk dibawa pergi denagn cepat. ia maju terus. Kwee Ceng melayani terus sampai ia tukar air tujuh kali. maka sebentar kemudian. baru air itu tak lagi berubah hitam. ia memasukinya. Kwee Ceng mengerti. supaya bocah itu lekas pergi. Cie It tidak menyahuti. ―Kau isikan penuh air bersih…‖ ―Untuk apakah itu. Syukur ia lantas dapat cari sebuah hotel yang kecil dan jorok. kau letaki aku di dalam jambangan itu. Ia mau mampir di sebuah hotel yang pertama diketemukan. ―Bagus.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng kaget sekali. ―Lekas…lekas cari sebuah jambangan besar…‖ berkata Ong Cie It. seperti ynag kehabisan napas. totiang?‖ Kwee Ceng tanya. mereka bisa terancam bahaya. tetapi Cie It bilang dengan perlahan: ―Cari…cari tempat yang sepi dan hotel kecil…‖ Kwee Ceng menurut. Cie It sudah berendam pula di dalam air yang baru. Ong Cie It merendam di dalam jambangan seraya memeramkan kedua matanya.‖ sahut Cie It. untuk menyembuhkan diri dari luka di dalam akibat pertempuran dahsyat dengan Leng Tie Siangjin. ia pilih yang sepi saja. Ia juga lantas dapat melihat roman pucat dari si imam. ―Itulah racun dari Cu-see-ciang. dengan tenang ia mainkan napasnya. cepat-cepat ia sediakan barang yang diminta itu. ―Adakah totiang terluka?‖ ia tanya heran. Ilmu semacam itu. Ong Cie It mengangguk. maka lantas saja ia membungkuk di depan si imam itu. Hari ini hampir aku kehilangan jiwa…‖ ―Totiang ingin dahar apa? Nanti aku pergi belikan.‖ Kwee Ceng tanya kemudian. Di pihak lain.‖ ia minta kepada Kwee Ceng. yang diletaki di cimche. ia letaki sepotong perak di atas meja seraya minta lekas disediakan jambangan. Imam ini umpama kata cuma menang seurat. air ini tukar dengan yang bersih. Kira semakanan nasi lamanya. Ia cari orang hotel. sambil berlari-lari. ―Apakah tangannya paderi Tibet itu ada racunnya?‖ ia tanya. Kwee Ceng menurut. Tangn Pasir Merah sering aku menemukan tetapi tidak ada yang lihay seperti ini. Maka itu jongos kegirangan.

―Kematian pun tidak harus disayangkan. ―Seorang gelandangan di jalan besar. Surat itu dialamatkan kepadanya. Di sini ia diberi tahu. ia segera mampir dan serahkan resepnya itu. Ong Cie It berpikir. Kwee Ceng heran. Ada urusan penting yang hendak aku damaikan. menyerahkan sepucuk surat kepadanya. Laginya belum tentu aku bakal mati. ―Akun mengerti sekarang.‖ Kwee Ceng tidak menjadi putus asa. yang tersenyum berseri-seri. maka itu kenapa kau menangis?‖ Lalu dengan suara halus ia bernyanyi. Ia menjadi bingung dan mendongkol. ia ingin mencoba. Kwee ceng tuturkan pertemuannya sama Oey Yong. ―Cara bagaimana kau kenal anak itu?‖ ia tanya. Ia putus asa. Untuk herannya. tujuh atau delapan rumah obat semua kehabisan empat rupa bahan obat itu. Untuk kegirangannya Kwee Ceng kenali romannya Oey Yong. ―Kenapa aku tidak mau pergi ke tempat yang berdekatan. kepada Ong Cie It ia tuturkan kegagalannya. ―Siapa bawa surat ini?‖ ia tanya jongos. Cit It tertawa pula.‖ Tanpa minta penjelasan.‖ kata pelayan setelah ia membaca surat obat itu. Sungguh jahat!‖ Dengan masgul.Pendekar Pemanah Rajawali Cie It pinjam perabot tulis pada tuan rumah. untuk lari ke rumah obat yang lain. obat-obatan itu masih tidak kedapatan. ―Jiwa manusia sudah ditakdirkan.‖ kata bocah ini kemudian. Kwee Ceng samber resepnya. Surat itu bagus tulisannya dan kertanya berbau harum. Malah didua tiga rumah obat yang terbesar. Lekas datang!‖ Surat itu tidak memakai tanda-tanda hanya lukisan gambar dari satu pengemis bocah. ia pergi sambil terus berlari. untuk dibaca isinya. kenapa mereka tidak?‖ berkata si imam. Ong Cie It tertawa. Makanya ia mesti pergi ke lain toko obat lagi. Sekarang kau tolongi aku lekas membeli obat. Imam itu menghela napas. Ia ingat Oey Yong cerdik sekali. ia lihat imam itu lagi melatih kaki dan tangannya. Ia lantas kasih tahu bahwa ia mau pergi beli obat ditempat lain. Ia heran. hingga mereka menjadi sahabat. gu-cit. Surat itu berbunyi singkat saja: ―Aku menunggu kau di telaga di luar kota barat. jongos datang dengan cepat. wajahnya menjadi guram. diam-diam ia keluar dari kamar.‖ sahut jongos itu. ia lantas taruh kepalanya di atas meja dan menangis megerunggerung. jikalau dalam duabelas jam itu tak disingkirkan. jauhnya kira-kira sepuluh lie. ―Aku telah bebas dari bahaya jiwa. bek-yo dan hitam baru habis. ia mengawasi. ―Di sana belum tentu obat itu telah orang beli juga…‖ Ingat begini. ―Sayang tuan. hatinya lega. mungkin ia dapat berunding dengan temannya itu. ―Tidak usahlah kau pergi. ia menulis sehelai surat obat. Maka itu ia beritahu bahwa ia ingin menemui sahabatnya itu. Justru ia mau cari jongos. Ia girang berbareng heran. Di jalan perapatan ia lihat rumah obat yang pertama.‖ pikirnya kemudian.‖ ia berkata. katanya baru saja ada orang yang borong. empat rupa obat itu tidak ada. Maka ia mau tanya jongos. sebab mereka ketahui Ong Cinjin pasti membutuhkannya. Kwee Ceng masuk ke dalam kamar Cie It. terus ia duduk bersemadhi di atas pembaringan. bocah ini lari pulang ke hotel. Irawan D Soedradjat Page 202 . Ia terus robek sambpul surat. di dekat-dekat dimana ada toko obat. ―Kita dapat pikir ini. ―Tetapi hawa racun di dalam tubuh belum bersih betul. akibatnya akan menyebabkan cacad seumur hidup. Kwee Ceng sangat jujur dan hatinya lemah. ―Siapa yang mengirim surat ini?‖ ia menanya dalam hatinya.‖ Kwee Ceng mengerti. Ia pun beri lihat suratnya Oey Yong itu.‖ berkata si imam itu. ―Kebetulan saja obat hiat-kat. ―Tentulah orang dari istana Chao Wang yang memborong semua obat itu. Bocah ini tidak berani mengganggu.

―Baik.‖ Di dalam hatinya. ia lihat sinar terang dari air telaga. telaga itu tidak membeku. romannya cantik sekali dan manis. Bab 19. Ada Kuping Di Balik Tembok Kwee Ceng tiada bilang apa-apa lagi. mari naik ke perahu!‖ tiba-tiba dia memanggil. ―Apa mungkin dia sia-sia menanti aku dan dia lantas pergi duluan?‖ ia berpikir. Ia lari keluar kota barat tanpa menghiraukan salju berterbangan menyampok mukanya. maka baiklah aku menunggu ia disini…‖ Maka ia lantas menantikan sambil ia pandangi keindahan telaga di musim salju itu. kapan Kwee Ceng menoleh. rambutnya di bagian atas ada pitanya dari emas. Ia pun bertindak dari tepian. Kau harus berhati-hati. hingga emas itu bercahaya di antara sinar putih dari salju. Kwee Ceng berpikir: ―Totiang membeilang begini sebab ia belum tahu sifatnya Oey Hiantee…‖ Ia menyebutnya ―Oey Hiantee‖ = ―adik she Oey‖.‖ berkata pula si nona. tidak berani ia mengawasi terus-terusan. ! Tapi sahabatnya itu adalah satu pemuda dengan muka kotor dan pakaian compang-camping…. Tapi ia masih dapat berpikir. begitu ia tampak satu wajah yang manis sekali. dengan hatinya masgul. bajunya putih mulus. sedang tangan baju orang memain di antara sampokan angin. tanda ia sangat percaya pada Oey Yong. ―Di dalam ilmu kepandaian. ―Baru berapa lama kamu bersahabat?‖ katanya. ia masuki resep ke dalam sakunya. lanats ia berlalu dari hotel. Tapi ia buka mulutnya. ―Mana itu dapat disebut persahataban sehidup semati? Jangan kau pandang enteng dia sebagai bocah! Kau tahu. yang rambutnya panjang meroyot melewati pundak. ―Oey Hiantee! Oey Hiantee!‖ ia memanggil pula. Kwee Ceng terkejut. kulitnya putih halus. salju melulu yang tampak. sahabat eratnya. Memandang ke sekitarnya. disana tidak ada tapak-tapak manusia. sahabat sehidup semiati……. yang percaya betul sahabatnya itu. Disekitarnya yang luas. Ia dapatkan si nona bagaikan bidadari. salju jatuh ke air. Ia berdiri menjublak bagaikan orang yang tengah bermimpi. kemudian ia kucak-kucak matanya dengan kedua tangannya. Ia dipanggil selagi ia menoleh ke lain jurusan. Itulah sebuah perahu kecil dengan penumpangnya. Ong Cinjin tertawa. Tanpa mengalami sesuatu. Orang berumur belum lima atau enambelas tahun. Tidak ada bayangan orang sekalipun. Itulah suaranya Oey Yong. yang duduk di belakang perahu. Dia menyebutnya ―Kwee Koko‖ = ―Engko Kwee‖. kau tentu tidak dapat layani dia…. dia jauh terlebih lihay daripada kau. ia lihat sebuah perahu muncul dari bagian telaga yang lebat dengan pepohonan. akan perdengarkan suara nyaring: ―Oey Hiantee! Oey Hiantee!‖ Tidak ada jawaban. Kwee Ceng mengawasi dengan menjublak. hanya aku tidak tahu pasti apa itu…‖ ―Kita bersahabat sangat erat. eh. ―Apakah kau tidak kenal aku?‖ Kwee Ceng perhatikan suara orang.. lantas lumer. Kenapa sekarang tercipta menjadi satu bidadari? Irawan D Soedradjat Page 203 . Karena hawa udara tidak sangat dingin.Pendekar Pemanah Rajawali ―Aku telah saksikan caranya ia mempermainkan Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. Si nona mengayuh perahunya sampai ke pinggir telaga. mukanya dadu segar. sehidup semati. ―Mungkin ia belum datang. kau pergilah lekas!‖ katanya. cuma dua ekor burung air yang terbang gelapakan di telaga. ―Dia luar biasa gerak tubuhnya. Lantas ia tuturkan perihal kebaikannya sahabatnya itu. Begitu ia menoleh. tidak tambah kecerdikan kamu…‖ Imam ini tetap percaya Oey Yong bukan orang dari golongan yang sadar. ada satu nona. jikalau ia hendak mencelakai padamu. ―Bagaimana. Aku lihat padanya seperti ada terselip sifat-sifat kesesatan. tidak nanti ia celakai kau. ia tampak segala apa putih meletak. Sesudah hampir sepuluh lie. engko Kwee. Belum terlalu lama atau dari tengah telaga terdengar suara tertawa halus. di pepohonan. bocah ini menjadi heran. Ia lantas berpaling ke lain jurusan.‖ berkata Ong Cinjin. ―Kwee Koko.‖ menyatakan Kwee Ceng. ―Semua anak muda berkelakuan seperti kamu.‖ ia pesan. Ong Cinjin menghela napas. Adalah di tepian.

Pendekar Pemanah Rajawali

Dalam kesangsiannya, bocah ini mengawasi dengan mendelong. Nona itu tertawa. ―Aku adalah Oey Hianteemu!‖ ia berkata. ―Benarkah kau telah tidak kenali aku?‖ Oleh karena ia menatap, Kwee Ceng kenali roman mukanya Oey Yong yang alisnya lentik dan mulutnya mungil, cuma dandannya lain. ―Kau…kau….‖ katanya perlahan. Oey Yong tertawa pula. ―Sebenarnya aku adalah seorang wanita,‖ ia berkata pula. ―Siapa suruh kau panggil aku Oey Hiantee dan Oey Hiantee tak sudahnya? Ayolah lekas naik ke perahu ini!‖ Kwee Ceng sadar, lalu ia enjoti tubuhnya, lompat ke perahu itu. ―Oey Hiantee…!‖ katanya. Oey Yong tidak menyahuti, ia hanya kayuh perahunya ke telaga. Ia lantas sajikan bekalannya, barang makanan dan arak. ―Kita duduk disini, dahar dan minum arak sambil memandangi sang salju, bagus bukan?‖ katanya merdu. Kwee Ceng mencoba akan menenangi diri. ―Ah…aku tolol sekali!‖ katanya kemudian. ―Sampai sebegitu jauh, aku sangka kau adalah seorang pria! Selanjutnya tidak dapat aku panggil lagi kau Oey Hiantee….‖ Oey Yong tertawa. ―Kau juga jangan panggil aku Oey Hian-moay,‖ ia berkata. ―Aku dipanggil Yong-jie. Ayahpun selalu memanggil aku begitu.‖ Dengan sendirinya nona ini tidak menghendaki di panggil ―Oey Hian-moay‖ = ―adik Oey‖ dan menghendaki di sebut namanya saja. ―Yong-jie‖ berarti ―anak Yong‖. Tiba-tiba Kwee Ceng ingat sesuatu. ―Aku membekali kau tiamsim!‖ katanya seraya terus kasih keluar tiamsim yang ia bawa dari istananya Wanyen Kang. Cuma sekarang tiamsim itu sudah pusak-pesok tiada karuan. Oey Yong mengawasi macamnya tiamsim yang tidak karuan itu, ia tertawa. Merah mukanya Kwee Ceng, ia jengah. ―Tiamsim ini tak dapat dimakan…‖ katanya. Ia ambil itu, untuk dilemparkan ke air. Oey Yong sambar tiamsim itu. ―Aku bisa makan!‖ katanya. ―Aku doyan!‖ Selagi si bocah tercengang, Oey Yong sudah menggayem tiamsim itu. Kwee Ceng mengawasi, sampai ia mendadak menjadi heran sekali. Oey Yong dahar tiamsim itu, lantas perlahan-lahan matanya menjadi merah, lalu air matanya perlahan-lahan mengalir turun… ―Begitu aku dilahirkan, aku sudah tidak punya ibu,‖ berkata Oey Yong yang dapat membade pikirannya sahabatnya. ―Seumurku, belum pernah ada orang yang ingat aku seperti kau ini…‖ Air matanya mengalir deras, ia keluarkan sapu tangannya ang putih bersih. Kwee Ceng menyangka orang hendak menyusuti air matanya, tak tahunya dengan cara hati-hati nona itu bungkus sisa tiamsim yang kemudian ia masuki ke dalam sakunya. ―Aku akan dahar ini perlahan-lahan…‖ katanya, dan kali ini ia tertawa. Benar-benar aneh kelakuan bocah wanita ini, Kwee Ceng asing betul dengan tingkah lakunya ini ―Oey Hiantee‖. ―Bilangnya ada urusan penting yang kau hendak bicarakan dengan aku, urusan apakah itu?‖ kemudian ia tanya. Ia sudah lantas ingat surat si nona dan untuk apa ia datang ke telaga ini. Oey Yong tertawa ketika ia menyahuti: ―Aku panggil kau datang kemari untuk memberitahukan padamu bahwa aku bukannya Oey Hianteemu, hanya Yong-jie. Apa ini bukannya urusan penting?‖

Oey Yong melengos ke samping. ―Kau bilang aku manis dipandang?‖ ia tanya. ―Manis sekali!‖ sahut si anak muda. ―Kau mirip dengan bidadari dari puncak gunung salju!‖ Ia menghela napas.
Irawan D Soedradjat

Page

204

Kwee Ceng tersenyum. Orang benar-benar jenaka. ―Kau begitu manis untuk dipandang, kenapa mulanya kau menyamar sebagai penemis?‖ ia tanya.

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong tertawa pula. ―Pernahkah kau melihat bidadari?‖ tanyanya. ―Aku belum pernah lihat. Kalau aku dapat menemui, mana aku masih hidup lagi…?‖ Oey Yong heran. ―Eh, kenapa begitu?‖ ia menegaskan. ―Sebab pernah aku dengar pembilangannya orang-orang tua, siapa dapat melihat bidadari, dia tidak bakal kembali ke tanah datar, untuk selamanya ia akan duduk bengong saja di gunung salju, lalu lewat beberapa hari, dia akan mati beku….‖ Oey Yong tertawa pula. ―Sekarang kau melihat aku, kau bakal bengong saja atau tidak?‖ tanyanya kemudian. Mukanya Kwee Ceng menjadi merah. ―Kita toh sahabat-sahabat kekal, kita lain…‖ Oey Yong menganggguk. Lalu ia berkata dengan sungguh-sungguh: ―Aku tahu kau baik hati dengan sesungguhnya, terhadap aku, tidak peduli aku pria ataupun wanita, biarpun aku bagus atau jelek.‖ Ia berhenti sebentar. ―Dengan dandananku ini, kalau orang bersikap baik terhadap aku, apakah anehnya? Diwaktu aku menjadi pengemis, kau baik sekali dengan aku, nah itu barulah sahabat sejati.‖ Ia rupanya sangat girang, semabri tertawa ia kata pula: ―Aku ingin bernyanyi untukmu, sukakah kau mendengarnya?‖ ―Apakah tidak boleh besok saja kau bernyanyi?‖ Kwee Ceng minta. ―Sekarang ini aku mesti pergi beli obat untuk Ong Totiang.‖ Kwee Ceng lantas tuturkan tentang adu kepandaian di istana Chao Wang, sampai Ong Cie It, yang melindungi ia, mendapat luka parah, bahwa sia-sia belaka ia mencari obat. Oey Yong mengawasi, ia tertawa. ―Aku pun heran sekali menyaksikan kau lari mondar-mandir di jalan besar dan memasuki rumah obat dari yang satu kepada yang lain, entah kau bikin apa, tidak tahunya kau hendak membeli obat,‖ katanya. Kwee Ceng menduga, selagi ia lari mondar-mandir, Oey Yong tentu telah mengintai padanya tetapi ia tidak tahu, kalau tidak, niscaya nona itu tidak ketahui ia tinggal di hotel mana. ―Oey Hiantee,‖ katanya kemudian, ―Apakah boleh pinjam kuda merahmu yang kecil untuk aku pergi membeli obat?‖ Oey Yong menatap. ―Ketahuilah!‖ katanya. ―Kesatu, aku bukannya si Oey Hiantee! Kedua, kuda merah yang kecil itu adalah kepunyaanmu! Apakah kau sangka benar-benar aku menghendaki kudamu itu? Aku melainkan lagi menguji hatimu. Ketiga, di tempat sekitar ini, belum tentu kau dapat mencari obat itu…!‖ Kwee Ceng berdiam, hatinya pepat. Ia bingung sekali. Dugaan si nona nyata cocok betul dengan dugaannya Ong Cie It. Oey Yong tertawa. ―Sekarang aku nyanyai, kau dengari!‖ dia kata. Lalu kedua bibirnya yang merah tergerak terbuka, segera lidahnya bergerak, memperdengarkan nyanyiannya yang halus dan merdu. Kwee Ceng mendengari dengan hati kesengsem walaupun tidak mengerti jelas artinya nyanyian itu, hatinya menjadi goncang. Seumurnya belum pernah ia peroleh pengalaman ini. ―Inilah nyanyian Sui Ho Sian dari Sin Tayjin,‖ kata Oey Yong perlahan habis ia nyanyi. ―Bagaimana kau bilang, bagus atau tidak?‖ ―Aku kurang mengerti tetapi didengarnya menarik hati,‖ Kwee Ceng menjawab. ―Siapa itu Sin Tayjin?‖ ―Dialah Sin Kee Cie,‖ sahut Oey Yong. ―Menurut ayahku dialah satu pembesar jempolan yang menyinta negara dan rakyat. Ketika dulu hari utara Tionggoan terjatuh ke dalam tangan bangsa Kim dan Gak Bu Bok terbinasa di tangan dorna, tinggal Sin Tayjin sendiri yang masih berdaya untuk merampas pulang daerah-daerah yang terhilang itu.‖ Kwee Ceng tahu kekejaman bangsa Kim dari penuturan ibunya, karena ia hidup di Mongolia, ia kurang tahu. Ia kata: ―Belum pernah aku pergi ke Tionggoan, maka hal ini baik nanti saja perlahan-lahan kau tuturkan padaku. Sekarang kita mesti pikirkan daya menacri obat untuk Ong Totiang.‖
Irawan D Soedradjat

Page

205

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kau dengar aku,‖ berakta Oey Yong. ―Kita pesiar dulu disini, tak usah kau cemas tidak karuan.‖ ―Ong Totiang bilang, kalau dalam tempo dua belas jam ia tidak dapat obat, ia bisa celaka,‖ Kwee Ceng jelaskan. ―Aku tanggung, kau akan dapatkan obat itu,‖ si nona bilang. Mendengar si nona bicara dengan sungguh-sungguh dan juga percaya orang memang ada terlebih pandai dan cerdik daripadanya, Kwee Ceng dapat juga melegakan hatinya. ―Mungkin ia tidak akan membikin gagal,‖ pikirnya. Maka ia lantas layani si cantik itu minum arak dan dahar makanan sambil mereka pasang omong. Dengan gembira, dan secara menarik hati, Oey Yong tuturkan bagaimana caranya ia menggangtung Hong Ho Su Koay, bagaimana ia ganggu Hauw Thong Hay sampai si Ular Naga Kepala Tiga itu mendongkol bukan main. ―Bagus!‖ seru Kwee Ceng saking gembira. ―Memang bagus!‖ kata si nona. Dan keduanya bertepuk tangan. Tanpa merasa sang tempo telah berlalu, Oey Yong lihat bagaimana secara perlaha-lahan sang mega atau kabut mulai menutupi air telaga yang putih. Dengan perlahan sekali ia ulur tangannya, terus ia genggam tangannya si Kwee Ceng, sembari berbuat begitu ia kata dengan perlahan: ―Sekarang aku tidak takut apa juga…!‖ ―Kenapa?‖ menanya si anak muda dengan heran. ―Taruh kata ayah tidak menginginkan aku, kau tentunya sudi aku ikuti kau, bukankah?‖ si nona tanya tanpa ia menyahuti pertanyaan orang. ―Pasti!‖ jawab Kwee Ceng sungguh-sungguh. ―Aku sendiri, belum pernah aku bergembira seperti sekarang ini!‖ Oey Yong membawa tubuhnya mendekati dada si pemuda dan menempelkannya, maka Kwee Ceng lantas saja merasakan ia bagai terkurung bau harum, bau yang meliputi juga antero telaga, seluruh langit dan bumi…… Tanpa mengucap sepatah kata, keduanya saling berpegang tangan….. Lagi sekian lama, tiba-tiba Oey Yong menghela napas. ―Tempat ini sungguh indah, sayang kita bakal meninggalkannya…‖ katanya. ―Kenapa begitu?‖ Kwee Ceng tanya. Ia heran. ―Bukankah kita harus mencari obat untuk menolongi Ong Totiang?‖ sahut si nona. Kwee Ceng sadar, ia menjadi girang sekali. ―Ah, ke mana kita mencarinya?‖ ―Ke manakah perginya itu beberapa rupa obat yang dibutuhkan, yang tidak berada di rumah-rumah obat?‖ Oey Yong menanya. ―Tentulah semua itu dibeli oleh orangnya Chao Wang,‖ menyahut Kwee Ceng. ―Benar!‖ berkata si nona. ―Tetapi tidak dapat kita pergi ke sana!‖ Kwee Ceng bilang. ―Pergi ke sana artinya kita mengantari jiwa kita…‖ ―Habis apakah kau tega membiarkan Ong Totiang menjadi bercacad seumur hidupnya?‖ Oey Yong tanya. ―Jangan-jangan, karena lukanya itu berubah menjadi berbahaya, ia pun bisa hilang jiwanya….‖ Darahnya Kwee Ceng bergolak. ―Baik, aku akna pergi!‖ ia bilang. ―Tapi kau jangan turut…‖

Kwee Ceng berdiam. Ia tidak punyakan alasan untuk kata-katanya itu.

Irawan D Soedradjat

Page

206

―Jangan turut? Kenapakah?‖ tanya si nona.

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong mengawasi. ―Engko yang baik,‖ katanya perlahan. ―Kau kasihanilah aku. Umpama kata kau menemui bencana, apakah kau sangka aku dapat hidup seorang diri saja?‖ Kwee Ceng menjadi sangat bersyukur dan bergirang. ―Baiklah!‖ katanya kemudian. ―Mari kita pergi bersama!‖ Keduanya lantas mengayuh, membuatnya perahu mereka ke pinggir, setelah mendarat, mereka menuju langsung ke istana Chao Wang, ke arah belakang. Mereka memasuki pekarangan dengan melompati tembok. ―Engko Ceng, sempurna sekali ilmu ringan tubuhmu!‖ Oey Yong memuji selagi si anak muda mendekam di kaki tembok untuk memasang kuping dan mata. Mendengar pujian itu, Kwee Ceng gembira bukan main. Merdu sekali suara si nona. Tak lama, mereka mendapat dengar tindakan kaki dibarengi sama suara bicara sambil tertawa. Mereka menutup mulut. ―Siauw-ongya mengurung si nona di sini, kau tahu untuk apa?‖ terdengar seorang menanya. ―Siauw-ongya‖ itu ialah pangeran muda. ―Buat apa lagi!‖ tertawa orang yang kedua. ―Si nona ada demikian cantik! Sejak kau dilahirkan, pernahkah kau melihat nona secantik itu?‖ ―Kau hati-hati, sahabat!‖ kata yang pertama, ―Melihat macammu ini, hati-hatilah, nanti siauw-ongya kutungi batang lehermu…‖ Kwee Ceng lantas berpikir: ―Kiranya Wanyen Kang sudah punya pacar maka juga ia tidak sudi nikahi nona Bok. Dalam hal ini, dia tidak dapat disesalkan. Cuma mengapa ia mengurung nona itu? Mustahilkah si nona menolak dan ia hendak gunai kekerasan untuk memaksa?‖ Dua orang itu sudah lantas datang dekat sekali, yang satu membawa tengloleng, yang lainnya menenteng barang makanan. Yang membawa makanan itu berkata pula sambil tertawa: ―Siauw-ongya aneh! Dia mengurung orang, dia juga khawatir orang kelaparan! Lihat, sudah malam begini dia masih suruh mengantarkan barang makanan….‖ ―Jikalau tidak berlaku manis budi, mana dia dapat merampas hati si nona?‖ berkata yang membawa lentera. Lantas mereka lewat, suara tertawa mereka masih terdengar. ―Mari kita lihat!‖ berbisik Oey Yong, yang hatinya menjadi tertarik. ―Sebenarnya bagaimana sih cantiknya orang itu…‖ ―Lebih perlu kita mencari obat,‖ Kwee Ceng bilang. ―Aku ingin lihat dulu si cantik!‖ kata Oey Yong, yang tertawa. Kwee Ceng heran sekali. ―Apa sih bagusnya orang perempuan untuk di lihat?‖ katanya dalam hati. Ia tidak menginsyafi sifat wanita. Kalau satu nona mendengar ada nona cantik lainnya, sebelum melihatnya, hatinya tidak nanti puas, kalau dia sendiri cantik, lebih keras lagi keinginannya melihatnya itu. ―Ah, dasar anak kecil….!‖ Luas pekarangan dalam dari gedung Chao wang itu. Mereka berdua berjalan berliku-liku menguntit dua hamba tadi. Mereka tiba di depan sebuah gedung besar yang gelap, tapi ada yang jaga. Mereka lantas umpatkan diri, untuk mendenagri kedua kacung itu bicara sama penjaga rumah itu, yang ialah seoarng serdadu. Dia ini lantas membuka pintu, untuk mengijinkan orang masuk. Oey Yong cerdik. Ia menjumput sebutir batu, dengan itu ia menimpuk lentera orang, hingga apinya lentera itu padam seketika, membarengi mana ia tarik tangan si anak muda, untuk diajak berlompat masuk ke pintu. Kedua kacung dan serdadu itu tidak menduga jelek, mereka cuma menyangka batu jatuh dari atas. Sembari mengutuk, mereka nyalakan pula lenteranya. Setelah membuka sebuah pintu dalam, yang kecil, berdua mereka masuk lebih jauh.

Irawan D Soedradjat

Page

207

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong dan Kwee Ceng menempatkan diri di sebelah belakang, dengan hati-hati mereka menguntit pula, sampai mereka berada di depan sebuah ruang seperti kerangkeng binatang liar, jerujinya semua besi kasar. Di dalam situ ada dua orang, terlihat samar-samar seperti pria dan wanita. Satu bujang lantas memasang lilin, yang mana ia masuki ke dalam kerengkeng. Maka sekarang terlihat tegaslah dua orang yang terkurung itu. Mengenali mereka, Kwee Ceng terkejut. Mereka adalah Bok Ek serta gadisnya, yang tadi siang mengadakan pibu mencari jodoh. Bok Ek nampaknya tengah bergusar. Liam Cu duduk di samping ayahnya dengan kepala tunduk. ―Bagaimana dengan Wanyen Kang? Sebenarnya dia sukai nona ini atau tidak?‖ Kwee Ceng beragu-ragu. Kedua bujang itu memasuki barang makanan berikut araknya. Bok Ek sembat sebuah mangkok, terus ia lemparkan. Ia berseru: ―Aku telah terjatuh ke dalam tipumu yang busuk, kalau kau hendak membinasakan, binasakanlah! Buat apa kamu berpura-pura menaruh belas kasihan?!‖ Belum sampai si bujang membilang apa-apa, di sebelah luar terdengar suaranya serdadu penjaga pintu yang tadi: ―Siauw-ongya baik?‖ Mendengar itu, Kwee Ceng dan Oey Yong berpaling, lalu lekas-lekas mereka mencari tempat sembunyi. Segera juga terdengar suara membentak sari Wanyen kang, yang datang dengan tindakan lebar: ―Siapa yang membikin Bok Loenghiong gusar? Awas, sebentar aku hajar patah kaki anjingmu!‖ Kedua hamba itu lantas bertekuk lutut. ―Hambamu tidak berani…‖ berakat mereka. ―Lekas berlalu!‖ membentak pula si pangeran. ―Ya, ya…‖ menyahuti kedua hamba itu, yang berlalu dengan cepat. Hanya setibanya mereka di pintu luar, mereka saling mengawasi dengan mengulurkan lidahnya masing-masing….. Wanyen Kang tunggu sampai orang telah merapatkan daun pintu, ia hampiri Bok Ek dan gadisnya. ―Jiwi silahkan kemari!‖ ia berkata, suaranya sabar sekali. ―Aku hendak membilangi sesuatu kepada kamu, harap kamu jangan salah mengerti.‖ ―Kau telah kurung kami sebagai pesakitan, apakah artinya undanganmu ini?!‖ Bok Ek menegur. Ia gusar sekali. ―Maafkan aku, menyesal sekali,‖ berkata Wanyen kang. ―Untuk sementara aku minta jiwi harap bersabar. Aku pun merasa tak enak hati.‖ ―Kau boleh akali bocah umur tiga tahun!‖ Bok Ek membentak pula. ―Aku tahu baik sifatnya kamu orang besar! Hm!‖ Wanyen Kang hendak bicara pula, saban-saban ia terhalang oleh bentakan orang tua itu, tetapi ia sabar luar biasa, sebaliknya dari bergusar, ia tertawa. ―Ayah, coba dengar dulu apa ia hendak bilang,‖ akhirnya Liam Cu berkata dengan perlahan. ―Hm!‖ orang tua itu perdengarkan suara di hidungnya. ―Nona seperti putrimu, mustahil aku tidak sukai dia‖ berkata Wanyen Kang. Mendengar itu, wajahnya Liam Cu menjadi merah, ia tunduk lebih rendah. ―Hanyalah aku adalah satu pangeran dan aturan rumah tanggaku keras sekali,‖ Wanyen Kang berkata pula. ―Umpama kata orang mendapat tahu aku mempunyai mertua seorang kangouw, bukan cuma ayahku bisa memarahinya, malah ada kemungkinan sri baginda juga nanti menegur ayahku itu…‖ ―Habis kau mau apa?‖ menanya Bok Ek. Ia anggap orang bicara beralasan juga. ―Sekarang ini aku mau minta jiwi berdiam dulu beberapa hari di sini, untuk sekalian merawat lukamu,‖ sahut pangeran itu. ―Setelah itu barulah kamu pulang ke kampung halamanmu. Nanti, selang satu atau setengah tahun, setelah suasana sudah reda, akan aku nikahi putrimu ini, baik dengan jalan aku pergi menjemput ke rumahmu atau dengan minta locianpwee datang ke mari. Tidakkah itu lebih bagus?‖ kata pangeran ini lebih lanjut.
Irawan D Soedradjat

Page

208

Pendekar Pemanah Rajawali

Bok Ek berdiam. Ia tengah memikir satu hal lain. ―Peristiwa ini bisa merembet ayahku,‖ Wanyen Kang berkata pula, sambil tertawa. ―Oleh karena kenakalanku, beberapa kali ayah pernah ditegur sri baginda raja, maka kalau urusan ini sampai didengar oleh sri baginda, pastilah pernikahan ini gagal. Maka itu aku minta sukalah locianpwee menyimpan rahasia.‖ Bok Ek gusar. ―Menurut caramu ini!‖ katanya sengit, ―Kalau nanti anakku menikah sama kamu, untuk seumur hidupnya ia mesti main sembunyi-sembunyi! Dia jadinya bukan satu istri yang terang di muka umum!‖ ―Dalam hal ini pastilah aku akan mengatur lainnya,‖ Wanyen Kang memberi keterangan. ―Sekarang pun aku sudah pikir nanti minta perantaraannya beberapa menteri sebagai orang pertengahan, supaya kita nanti menikah secara terhormat….‖ Wajahnya Bok Ek berubah. ―Kalau begitu, pergi kau panggil ibumu datang ke mari,‖ katanya. ―Aku ingin kita omong depan berdepan dan secara terus terang!‖ Wanyen Kang tersenyum. ―Mana dapat ibuku menemui locianpwee?‖ katanya. ―Jikalau aku tidak dapat bicara dengan ibumu, biar bagaimana, tidak sudi aku melayani kamu!‖ kata Bok Ek kaku, tangannya menyambar sepoci arak, yang dia timpukkan di antara jeruji besi. Bok Liam Cu kaget dan berduka menyaksikan sikap ayahnya ini. Sebenarnya, semenjak memulai bertanding sama pangeran itu, ia telah menaruh hati, maka juga ia senang mendengar pembicaraannya si anak muda yang ia anggap beralasan. Ia tidak sangka, ayahnya telah ambil sikapnya yang tegas itu. Wanynn Kang geraki tangannya menyambar poci arak itu, terus ia letaki itu ditempatnya, di atas meja. ―Menyesal tidak dapat aku menemani lebih lama,‖ katanya. Ia tertawa dan memutar tubuhnya untuk berlalu. Kwee Ceng anggap omongannya Wanyen Kang beralasan. Bukankah si pangeran ada kesulitannya sendiri? Maka itu, menyaksikan kemurkaannya Bok Ek, ia lantas berpikir; ―Baiklah aku bujuki ia…‖ Ia lantas geraki tubuhnya, untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi ia tidak dapat wujudkan apa yang ia pikirkan itu. Oey Yong telah tarik tangan bajunya, untuk ajak ia keluar. ―Apakah sudah diambil?‖ mereka lantas dengar suaranya Wanyen Kang, yang bicara sama satu hambanya. ―Sudah,‖ sahut si hamba, yang terus angkat sebelah tangannya. Nyata ia mencekal seekor kelinci. Wanyen Kang menyambuti dengan kedua tangannya, tiba-tiba saja ia patahkan kedua kakinya kelinci itu, yang ia terus masuki ke dalam sakunya, setelah mana ia bertindak dengan cepat. Binatang itu berpekik satu kali, lalu kelengar. Dua-duanya Oey Yong dan Kwee Ceng heran sekali. Merak lantas kuntiti pangeran itu, yang jalan memutari sebuah pagar bambu, setelah mana terlihatlah sebuah rumah tembik putih yang kecil. Itulah rumah bermodel rumah rakyat di Kanglam. Maka heran di dalam pekarangan istana mentereng itu ada sebuah rumah yang begini sederhana. Maka mereka jadi bertambah heran. Wanyen Kang menolak pintu rumah itu dan masuk ke dalamnya. Dengan lekas Kwee Ceng berdua lari ke jendela untuk memasang kuping sambil mengintai di sela-sela jendela itu. Mereka percaya mesti ada perbuatan yang aneh dari si pangeran itu. ―Ma!‖ mereka lantas dengar suara si pangeran. ―Ya..!‖ demikian suara penyahutan perlahan, suaranya seorang wanita. Wanyen Kang lantas masuk ke dalam kamar.

―Mama, apakah hari ini kau kurang sehat?‖ tanya Wanyen Kang seraya pegangi tangan si nyonya.
Irawan D Soedradjat

Page

209

Untuk bisa melihat, Kwee Ceng berdua menghampirkan sebuah jendela lain. Maka mereka lantas tampak satu nyonya tengah berduduk di pinggiran meja, sebelah tangannya menunjang dagu, matanya mendelong. Dia belum berumur empatpuluh tahun dan mukanya cantik sekali. Di rambut dekat kupingnya dia memakai setangkai bunga putih. Pakaiannya semua terdiri dari kain kasar.

Pendekar Pemanah Rajawali

Nyonya itu menghela napas. ―Bukankah aku tak berlega hati untukmu?‖ sahutnya. Wanyen Kang sanderkan diri di tubuh nyonya itu, yang ia panggil ibu, agaknya ia manja sekali. ―Ma, bukankah anakmu berada di sini?‖ katanya, aleman. ―Toh aku tidak kekurangan walaupun sebelah kakiku…?‖ ―Kau mengacau, kalau ayahmu dengar itu, masih tidak apa,‖ berkata si ibu itu, ―Tetapi gurumu? Bagaimana kalau ia mendengar kabar? Tidakkah hebat?‖ ―Ma,‖ berkata si pangeran, tertawa, ―Tahukah kau siapa imam itu yang datang menyela untuk menolongi orang?‖ ―Siapakah imam itu?‖ ―Dialah adik seperguruan dari guruku…‖ ―Celaka!‖ berseru si nyonya kaget. ―Pernah aku melihatnya gurumu disaat ia tengah murka! Dia dapat membunuh orang! Sungguh menakutkan…!‖ Wanyen Kang agaknya heran. ―Pernah mama melihat suhu membunuh orang?‖ dia tanya. ―Di manakah itu? Kenapa suhu membunuh orang?‖ Nyonya itu angkat kepalanya, memandang lilin. Ia agaknya tengah memikir jauh. ―Itulah sudah lama, sudah lama,‖ katanya kemudian dengan perlahan. ―Ah, kejadian daulu hari itu hampir aku lupa….‖ Wanyen Kang tidak menanyakan lebih jauh, sebaliknya dengan gembira, ia kata; ―Ong Susiok itu telah mendesak aku, menanyakan bagaimana urusan pibu hendak diselsaikan. Aku telah menjanjikan untuk menerima baik. Asal si orang she Bok itu datang, apa yang diatur, aku terima baik.‖ ―Apakah kau sudah bicara dengan ayahmu?‖ tanya si nyonya itu. ―Bersediakah dia akan memberikan perkenanannya?‖ Wanyen Kang tertawa. ―Ma, kau memang baik sekali!‖ katanya. ―Dari siang-siang telah aku perdayakan orang she Bok itu dan gadisnya datang ke mari, sekarang mereka ditahan di kerangkeng di belakang sini. Mana Ong Susiok dapat mencari mereka?‖ Selagi si pangeran ini demikian gembira, Kwee Ceng sebaliknya bertambah kemendongkolannya dan kemurkaannya. Kata pemuda ini dalam hatinya; ―Aku menyangka dia bermaksud baik, siapa tahu ia sebenarnya sangat licik!‖ Si wanita pun tidak setujui putranya itu. ―Kau telah permainkan anak dara orang,‖ katanya kurang senang, ―Kau juga kurung mereka di sini. Apakah artinya itu? pergi lekas kau merdekakan mereka! Kau berikan mereka uang, kau menghanturkan maaf, lantas kau persilahkan mereka pulang ke kampung halaman mereka.‖ Kwee Ceng mengangguk-angguk. Ia setujui sikap nyonya itu. ―Begitu baru benar,‖ pikirnya. Wanyen kang tetap tertawa. ―Ma, kau belum tahu,‖ katanya. ―Orang kangouw seperti mereka tidak memandang uang! Jikalau mereka dilepaskan, setelah merdeka, tentu mereka akan buka suara lebar-lebar. Kalau itu sampai terjadi, bagaimana suhu bisa tak ketahui urusan ini?‖ ―Habis, apakah kau hendak kurung mereka seumur hidup mereka?‖ tanya si nyonya. Putra itu tetap tertawa. ―Akan aku bicara baik-baik dengan mereka, nanti aku perdayakan hingga mereka suka pulang ke kampung halaman mereka,‖ ia bilang. ―Biarlah di sana mereka menanti-nanti hingga mereka putus asa…‖. Lantas ia tertawa terbahak.

Irawan D Soedradjat

Page

―Jangan turuti adat…!‖ demikian ia dengar bisikan di kupingnya, berbareng denagn mana sebuah tangan yang halus menutup mulutnya dan tangan yang lain menarik tangannya. Merdu bisikan itu……

210

Kembali bangki hawa amarahnya Kwee Ceng, hingga ia ayun sebelah tangannya ke daun jendela dan mulutnya pun hendak dibuka.

Pendekar Pemanah Rajawali

Cuma sejenak itu, pemuda ini insyaf akan kekeliruannya, maka ia menoleh kepada si nona manis di sisinya dan bersenyum. Karena itulah Oey Yong yang mencegah padanya. Kemudian ia mengintai pula ke dalam kamar. ―Tua bangka she Bok itu sangat licin,‖ terdengar pula suaranya Wanyen Kang. ―Telah aku bujuki dia, dia tak mau makan umpan. Maka biarlah dia ditahan lagi beberapa hari, untuk lihat akhirnya dia suka menurut atau tidak.‖ ―Aku lihat nona itu bagus romannya dan gerak-gerakinya, aku suka dia,‖ berkata si nyonya. ―Aku pikir hendak bicara dengan ayahmu, supaya kau diijinkan menikah dengannya. Bukankah dengan begitu selesai sudah semuanya?‖ ―Ah, mama, ada-ada saja!‖ berkata sang putra sambil tertawa. ― Kita dari keluarga apa? Cara bagaimana aku bisa menikah dengan satu nona kangouw? Ayah sering bilang padaku bahwa dia hendak mencarikan satu jodoh dari keluarga agung. Sayangnya ialah ayah bersaudara dengan raja yang sekarang…‖ ―Apakah yang dibuat sayang?‖ nyonya itu bertanya. ―Sebab,‖ menyahut sang putra, ―Kalau tidak, pasti aku kana mendapatkan putri raja dan aku bakal menjadi menantu raja!‖ Nyonya itu menghela napas, ia tak bicara lagi. ―Ma, ada satu lagi hal yang lucu,‖ Wanyen Kang berkata pula, tak ketinggalan tertawanya. ―Tua bangka she Bok itu bilang ingin bertemu sama kau, ingin dia bicara sendiri, untuk mendapat kepastian, setelah itu barulah dia mau mempercayai aku.‖ ―Tidak nanti aku bantui kau memperdayakan orang, itulah perbuatan yang tidak baik!‖ berkata pula si ibu. Wanyen Kang tertawa geli, ia jalan mondar-mandir di dalam kamar. Oey Yong dan Kwee Ceng dapat kesempatan memperhatikan kamar itu. Semua meja dan kursi terbuat dari kayu kasar. Pembaringan serta perlengkapannya mirip dengan kepunyaan kebanyakan petani di Kanglam, semua kasar dan jelek. Di tembok ada tergantung tombak serta sebuah pacul. Di pojokan ada sebuah mesin tenun. Maka, menyaksikan semua itu, mereka menjadi heran. ―Wanita ini mulia sebagai selir, mengapa ia tinggal dalam kamar dengan perlengkapan semacam ini?‖ mereka itu berpikir. Justru itu Wanyen Kang menekan ke dadanya, ke sakunya, lalu terdengar dua kali pekikan perlahan. ―Eh, apakah itu?‖ sang ibu tanya. ―Oh, hampir aku lupa!‖ sahut putranya itu, agaknya ia terperanjat. ―Tadi di tengah perjalanan pulang aku melihat seekor kelinci yang terluka, aku bawa dia pulang. Mama, coba kau tolong obati dia…‖ Ia lantas keluarkan kelinci putih itu, diletaki di atas meja. Dengan kakinya patah, binatang itu tidak dapat jalan. ―Anak yang baik!‖ berkata si nyonya. Ia lantas mencari obat, untuk mengobati kelinci itu. Lagi-lagi darahnya Kwee Ceng bergolak. Ia sungguh membenci orang punya kelicinan dan kekejaman itu, terutama untuk memperdayakan seorang ibu yang hatinya demikian mulia. Tidakkah binatang yang harus dikasihani itu sengaja disakiti? Bukankah ibu telah didustai, untuk mengobati binatang yang sengaja disiksa? Kalau terhadap ibu sendiri saja ia mendusta demikian, maka bisalah diketahui buruknya sifat anak itu. Oey Yong yang tubuhnya menempel sama tubuh si anak muda merasakan tubuh orang bergemetar. Ia menginsyafi bahwa orang ada sangat gusar. Tentu saja ia khawatir kawan ini perluap hawa amarahnya itu hingga Wanyen kang bisa pergoki mereka. Ia lantas pegang tangannya si pemuda itu, yang ia tarik untuk diajak mengundurkan diri.

―Tahukah kamu obat itu disimpan di mana?‖ Kwee Ceng tanya. Nona itu menggeleng kepala. ―Aku tidak tahu,‖ sahutnya. ―Mari kita cari…‖
Irawan D Soedradjat

Page

211

―Jangan pedulikan dia, mari kita pergi cari obat,‖ bisiknya.

Pendekar Pemanah Rajawali

Kwee Ceng bersangsi. Dimana mesti mencari obat di istana demikan besar? Bukankah berbahaya kalau mereka kepergok See Thong Thian atau lainnya? Ia tidak sempat berpikir lama-lama. Pikirannya itu berhenti secara tiba-tiba. Sebab kupingnya segera mendengar orang mengoceh seorang diri dan di depan matanya berkelebat sinar api. ―Anak yang manis, kalau kau tidak mencintai aku, kau mencintai siapa lagi? Maka, kau kasihanilah aku…‖ Sembari perdengarkan suaranya yang berlagu, terlihatlah seorang bertindak dengan perlahan-lahan. Dia mencekal sebuah tenglong. Selagi Kwee ceng hendak menyembunyikan diri di belakang sebuah pohon, Oey Yong justru maju memapak orang itu, hingga ia menjadi tercengang, lalu lantas saja ia diam bagai patung, hatinya goncang keras. Oey Yong telah ancam dia dengan sebatang pisau belati. ―Siapa kau?‖ si nona menanya, membentak tapi perlahan. Orang itu kaget dan ketakutan, selang berepa detik baru ia dapat menyahuti, suaranya tidak lancar. Ia adalah pengurus surat-surat di istana itu. ―Kau menjadi pengurus, bagus!‖ kata si nona. ―Di mana disimpannya obat-obatan yang hari ini pangeranmu yang muda menitahkan orang membeli?!‖ ―Semua itu siauw-ongya yang simpan sendiri, aku…aku tidak tahu…‖ Oey Yong cekal tangan orang dengan tangan kirinya untuk memencet, sedang ujung pisaunya ditempel kepada kulit leher. Orang itu kesakitan akan tetapi ia tidak berani berteriak. ―Kau hendak bilang atau tidak?!‖ si nona mengancam. ―Benar-benar aku tidak tahu….‖ jawab orang itu dengan gugup. Oey Yong kerahkan tenaga di tangan kirinya itu, lalu dengan menerbitkan suara membeletak, patahlah tangan kanan si pengurus itu. Ia buka mulutnya, untuk berteriak tetapi dengan cepat si nona sambar kopiah orang, untuk dipakai menyumbat mulutnya. Maka hanya sekali saja dia itu mengasih dengar suara keras tertahan, lalu ia roboh dengan pingsan. Kwee Ceng tidak menyangka satu nona demikian cantik dan halus gerak-geriknya dapat berbuat demikian telengas, ia menjadi tercengang, tak dapat ia membilang apa-apa. Oey Yong menotok dua kali kepada iganya pengurus istana itu, lantas ia sadar. Ia tarik kopiah orang, untuk dibelesaki ke kepelanya. ―Apakah kau ingin tangan kirimu pun dipatahkan?‖ ia tanya. Pengurus itu lantas saja menangis, ia menjatuhkan diri berlutut. ―Dengan sebenarnya aku tidak tahu, percuma umpama nona membunuh aku,‖ katanya. Sekarang Oey Yong mempercayainya, tetapi ia kata: ―Sekarang pergi kau kepada pengeranmu itu, bilang bahwa kau jatuh dan patah tanganmu. Kau kasih tahu bahwa tabib membilang kau perlu obat hiat-kat, gu-cit, thim-tha dan bu-yok. Obat itu semua tak dapat dibeli di kota raja ini, maka kau mintalah kepada pangeran itu.‖ Pengurus itu sudah membuktikan si nona tidak pernah main gila, ia suka menurut. ―Siauw-ongya ada pada ibunya, lekas-lekas kau pergi padanya!‖ Oey Yong bilang. ―Aku akan ikuti padamu. Jikalau kau tidak dengar aku dan sengaja kau membuka rahasia, akan aku patahkan batang lehermu, akan aku kerek matamu!‖

Irawan D Soedradjat

Page

Wanyen Kang masih ada pada ibunya, mereka masih pasang omong. Ia heran ketika ia lihat datangnya pengurus itu, yang bermandikan peluh dan air mata, dengan separuh mewek dia mohon diberi obat. Dia mengaku seperti ajarannya Oey Yong.

212

Tubuhnya orang itu bergemetar, ia merayap bangun, lalu dengan menggertak gigi, menahan sakit, ia lari ke arah kamarnya onghui, si selir.

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kasihlah dia obat!‖ berkata onghui, yang hatinya lemah. Ia lihat muka orang berpucat-pasi dan ia merasa kasihan. Wanyen Kang mengkerutkan alisnya. ―Semua obat itu ada apa Nio Losianseng,‖ katanya. ―Pergi kau mengambil sendiri!‖ ―Tolong ongya memberikan sehelai surat,‖ si pengurus meminta. Onghui itu sudah lantas sediakan perabot tulisnya. Wanyen Kang menulis beberapa kata-kata, untuk si Nio Losianseng, ialah io Cu Ong. Pengurus itu mengangguk-angguk mengucapkan terima kasihnya. ―Lekas kau pergi!‖ menitah onghui. ―Sebentar sesudah sembuh baru kau haturkan terima kasihmu!‖ Pengurus itu lantas saja bertindak keluar. Ia baru jalan beberapa tindak, atau pisau belati telah tertanda di pundaknya. ―Pergi kepada Nio Losianseng!‖ menitah Oey Yong separuh berbisik. Orang itu berjalan, baru beberapa puluh tindak, ia sudah terhuyung, rupanya tak sanggup ia menahan rasa sakitnya. ―Sebelum kau dapatkan obat itu, jangan harap jiwamu selamat!‖ si nona mengancam pula. Kaget hamba itu, ia mengeluarkan keringat dingin, entah dari mana, datanglah tenaga kekuatannya, maka dapat ia berjalan terus. Sekarang ia jalan dengan menemui beberapa hamba lainnya, mereka itu lihat ia diikuti si nona dan pemuda, mereka itu heran tetapi tidak ada di antara mereka yang menanya apa-apa. Tiba di kamarnya Nio Cu Ong, pintu kamar tertutup terkunci. Pengurus itu tanya satu hamba, ia dapat jawaban bahwa Nio Losianseng lagi menghadari perjamuannya pengeran di ruang Hoa Cui Kok. Kwee ceng lantas merasa kasihan menampak orang seperti tidak kuat jalan, ia lantas mencekal tubuh orang, untuk dipepayang. Bersama-sama mereka menuju ke tempat pesta itu. ―Berhenti! Siapa kamu!‖ Itulah teguran oleh dua orang, yang memapaki sekira beberapa tindak dari Hoa Cui Kok. Mereka itu masing-masing memegang golok dan cambuk. ―Aku hendak menemui Nio Losianseng,‖ sahut si pengurus, yang perlihatkan suratnya siauw-ongya. Dia lantas dikasih lewat. Ketika Kwee Ceng dan si nona ditanya, pengurus itu mendahului menerangkan: ―Mereka kawan kita.‖ Oey Yong berlaku tenang. Ia kenali dua orang itu, ialah dua dari keempat Hong Ho Su Koay, yaitu Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong. Mereka ini sebaliknya tidak mengenali orang, yang telah dandan sebagai asalnya, seorang nona. Hanya melihat Kwee Ceng, mereka tercengang, lantas mereka mau seraya angkat tangan mereka. Tapi sejenak itu, tidak dapat mereka menyerang dengan golok dan cambuk mereka. Tiba-tiba saja iga mereka kaku. Karena dengan kesebatannya yang luar biasa, Oey Yong sudah totok mereka. Kwee Ceng kagum vukan main. Ia berada di samping si nona tetapi ia tak sempat melihat gerakan tangan orang. Mendadak ia mengingat kejadian di rumah makan di Kalgan, tempo kawanan nona-nona serba putih hendak rampas kudanya, tahu-tahu mereka itu roboh tanpa berkutik. ―Pastilah mereka telah terkena tangan lihay dari si Yong ini,‖ pikirnya lebih jauh. ―Eh, kau pikirkan apa?‖ menegur si nona sambil tertawa menampak orang termenung. Ia lantas saja tarik Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong ke belakang pot-pot kembang, untuk disembunyikan, kemudian ia tarik tangan si pemuda, untuk menyusul si pengurus. Di depan Hoa Cui Kok, Oey Yong tolak tubuh si pengurus, untuk ia masuk, ia sendiri bersama Kwee Ceng lantas lompat naik ke payon, guna mengintai dari jendela, hinngga mereka dapat melihat jelas ke dalam. Terang sekali ruang dalam itu di mana ada sebuah meja penuh dengan pelbagai barang hidangan dan arak, tetapi yang membuat Kwee ceng terperanjat adalah kapan matanya bentrok sama hadirin yang duduk mengitari meja
Irawan D Soedradjat

Page

213

Pendekar Pemanah Rajawali

itu, sampai hatinya berdenyutan. Ia lihat dan mengenali Auwyang Kongcu dari pek To San, Kwie-bun Liongong See Thong Thian, Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay, Som Sian Lao-koay Nio Cu Ong dan Cian-ciu Jintouw Pheng Lian Houw. Menemani mereka itu, duduk di sebelah bawah adalah Chao Wang Wanyen Lieh, yaitu Liok-hong-cu atau pangeran keenam dari negara Kim. Duduk di samping, di atas kursi tay-su-ie yang besar dan tebal amparnya, adalah Tay-cu-in Leng Tie Siangjin, kedua mata siapa terbuka sedikit dan mukanya bagaikan kertas kuning, suatu tanda lukanya tak enteng. Diam-diam Kwee Ceng girang sekali, maka ia kata di dalam hatinya: ―Kau hendak mencelakai Ong Totiang, kau juga dapat merasakan enak….‖ Si pengurus bertindak masuk untuk terus berlutut di depan Nio Cu Ong, kedua tangannya mempersembahkan suratnya siauw-ongya. Nio Cu Ong menyambuti, ia baca surat itu, terus ia awasi si pembawa surat, kemudian ia angsurkan surat itu kepada Wanyen Lieh. ―Ongya, benarkah ini tulisannya siauw-ongya?‖ ia tanya. Chao Wang membaca surat itu, ia mengangguk. ―Benar,‖ katanya. ―Berikanlah dia obat itu.‖ Nio Cu Ong menoleh kepada kacung di sisinya. ―Tadi siauw-ongya ada mengirimkan empar macam rupa obat,‖ katanya. ―Kau ambilkan masing-masing itu satu tail, berikan kepada koankee ini.‖ Bocah itu menyahuti, lalu ia ajak si koankee atau pengurus itu mengundurkan diri. Kwee Ceng berbisik di kupingnya Oey Yong: ―Mari kita pergi, lekas! Semua mereka itu sangat lihay!‖ Oey Yong tertawa perlahan, ia menggeleng kepala. Oleh karena ia menggoyang kepalanya,rambutnya si nona mengenai mukanya si pemuda, hingga Kwee Ceng merasa gatal dari muka terus ke hatinya. Pemuda ini tidak hendak berbantahan, ia hanya lantas geraki tubuhnya untuk melompat turun. ia baru bergerak, atau si nona telah sambar tangannya, untuk ditahan. Untuk itu, nona itu mesti menyantel keras kedua kakinya pada payon, habis mana perlahan-lahan ia kasih turun tubuh si pemuda. Kwee Ceng terkejut, di dalam hatinya ia kata, ―Ah, aku semberono sekali. Tidakkah ini berbahaya? Bukankah orang-orang di dalam itu lihay semua? Jikalau aku berlompat mundur, bagaimana mereka tidak dapat memergokinya?‖ ia insyaf, dasar baru masuk dalam dunia kangouw, ia jadi kurang berpengalaman. Dengan lantas ia ikuti si pengurus dan kacung itu. Satu kali ia menoleh ke belakang, ia dapatkan Oey Yong masih belum turun, dengan masih bergelantungan nona itu mengawasi ke dalam ruangan. Oey Yong tidak segera berangkat. Untuk mencari tahu orang di dalam ketahui tentang dirinya atau tidak, ia mengintai terus. Ia lakukan itu setelah itu setelah ia lihat Kwee Ceng sudah pergi belasan tembok jauhnya. Katika ia mengawasi ke dalam, sinar matanya bentrok sama sinar mata tajam dari Pheng Lian Houw, ynag kebetulan berpaling. Ia tidak berani mengawasi terus, ia hanya memasang kuping. Seorang yang suaranya serak, berkata; ―Saudara-saudara, bagaimana pandangan kamu mengenai Ong Cie It? Adakah ia datang dengan maksud sengaja atau itu cuma kebetulan saja?‖ ―Peduli ia datang dengan sengaja atau bukan!‖ berkata seseorang, yang suaranya nyaring dan keras sekali. ―Dia telah merasai tangannya Leng Tie Siangjin, jikalau ia tidak mampus, sedikitnya ia mesti bercacad seumur hidupnya!‖ Oey Yong lantas mengawasi pula. Ia dapatkan orang itu adalaha Pheng Lian Houw yang matanya tajam, yang tubuhnya kate dan kecil. Seorang, yang suaranya tedas sekali, berkata smabil tertawa; ―Selama aku berada di wilayah Barat, aku pernah dengar namanya Coan Cin Cit Cu yang kesohor itu, sekarang terbukti mereka benar-benar lihay, coba Leng Tie Siangjin tidak menghadiahkan dia pukulan Tay-ciu-in, pastilah hari ini kita roboh di tangan mereka itu.‖ Seorang yang suaranya keras tetapi dalam berkata; ―Auwyang Kongcu, janganlah kau menempeli emas di mukamu….. Kita berdua pihak sama-sama nampak kerugian, siapa juga tidak ada yang menang…‖

Irawan D Soedradjat

Page

Sampai di situ, tuan rumah mempersilahkan tetamunya mengeringi arak mereka.

214

Orang yang dipanggil Auwyang Kongcu itu berkata pula: ―Biar bagaimana, kalau ia tidak kehilangan jiwanya, dia bakal bercacad. Siangjin cuma perlu beristirahat sekian waktu.‖

Pendekar Pemanah Rajawali

Habsi itu terdengar seorang berkata: ―Tuan-tuan telah memerlukan datang dari tempat ynag jauh, atas itu siauwong sangat berterima kasih. Sungguh inilah keberuntungan dari Negara Kim yang tuan-tuan telah dapat diundang!‖ ―Dia tentulah Chao Wang Wanyen Lieh,‖ pikir Oey Yong. Atas kata-kata itu, beberapa orang perdengarkan suara yang merendah. Setelah itu, terdengar pula suaranya Chao Wang: ―Leng Tie Siangjin adalah paderi suci mulia dari Tibet, Nio Losianseng adalah guru silat kenamaan Kwan-gwa, Auwyang Kongcu biasa hidup berbahagia di wilayah Barat dan belum pernah datang ke Tionggoan. Pheng Ceecu jago dari Tionggoan dan See Pangcu jago dari sungai Hong Hoo. Dari lima tuan-tuan, satu saja sudi datang membantu, pasti uasaha besar dari Negara Kim bakal berhasil, apapula sekarang lima-limanya telah datang semua. Hahahaha!‖ Agaknya bukan main gembiranya pangeran itu. ―Jikalau ongya ada titah apa-apa, pasti kami akan lakukan itu dengan sepenuh tenaga kami,‖ berkata Nio Cu Ong sambil tertawa. ―Apa yang dikhawatirkan adalah tenagaku tidak cukup nanti dan mensia-siakan kepercayaan ongya yang dilimpahkan kepada kami. Jikalau itu sampai terjadi, pastilah kami akan kehilangan muka kami.‖ Ia pun lantas tertawa. Kelima orang itu adalah bangsa jago dari beberapa puluh tahun, maka itu meskipun mereka bicara secara merendah, masih tetap tak hilang sifat jumawanya. Chao Wang mengangkat pula cawannya, mempersilahkan mereka itu minum. Terus ia kata: ―Siauw-ong telah mengundang tuan-tuan, pasti sekali siauw-ong akan menaruh kepercayaan kepada tuan-tuan, urusan bagaimana besar juga, tidak nanti siauw-ong sembunyikan, dilain pihak, apabila tuan-tuan telah ketahui segala apa, aku percaya tidak nanti tuan-tuan beritahukan itu kepada lain orang siapa juga, untuk mencegah pihak yang bersangkutan nanti mendapat ketahui dan dapat bersiap sedia….‖ Semua orang itu mengerti maksudnya pangeran ini, yang mempercayai mereka tetapi secara tidak langsung masih memesan untuk mereka menyimpan rahasia itu. ―Baik Ongya tetapkan hati, tidak nanti kami membikin rahasia bocor,‖ kata mereka. Dengan sendirinya mereka itu tegang hatinya. Mereka percaya, Chao Wang bakal percayakan mereka satu rahasia besar. ―Di tahun Thian-hwee ketika dari Sri Baginda Thay Cong kami dari Negara Kim,‖ berkata pula Chao Wang kemudian, ―Itulah tahun Soan-hoo ketujuh dari Kaisar Hiw Cong dari Keluarga Tio. Ketika itu dua Panglima besar kami ienmeho dan Kanlipu telah pimpin angkatan perangnya menerjang kerajaan Song, mereka berhasil menawan kedua Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong dari kerajaan musuh itu. Sejaka jaman dahulu, belum pernah negeri kami sekuat itu, walaupun demikian, sampai sekarang ini, Keluarga Tio itu yang tetap duduk sebagai raja di Hangciu. Tahukah tuan-tuan sebab dari pada itu?‖ Semua orang terdiam. Mereka heran raja muda itu membicarakan urusan negera. Cuma Nio Cu Ong yang lantas memohon penjelasan. ―Duni telah ketahui yang kerajaan kami telah berulang-ulang kalah di tangan Gak Hui, tentang ini tak usah disembunyikan lagi,‖ berkata pula Chao Wang. ―Wunchu, panglima kami, pandai mengatur tentara, akan tetapi menghadapi Gak Hui, dia selamanya kena dipecundangi. Benar kemudian Gak Hui dapat dibinasakan Cin Kwee yang dititahkan pemerintah kami, akan tetapi tenaga kami sudah lemah, kami tidak sanggup lagi berperang ke Selatan. Atas ini, aku tidak puas, tanpa mengukur tenaga sendiri, ingin aku mendirikan suatu jasa besar untuk negeraku. Untuk ini, tidak dapat tidak, aku mebutuhkan bantuan tuan-tuan.‖ Orang saling memandang, bagi mereka belum jelas maskudnya raja muda ini. Mereka bukan orang peperangan tukang merobohkan atau merampas kota. Chao Wang tampaknya sangat puas den bernafsu ketika ia berbicara pula, suaranya sedikit menggetar. Katanya: ―Baru beberapa bulan yang lalu, diluar dugaanku, aku telah dapat menemui sebuah surat peninggalan pemerintahku yang dulu. Itulah suratnya Gak Hui yang bunyinya luar biasa. Selang beberapa bulan, barulah aku dapat terka maksudnya surat itu. Gak Hui menulis itu ketika ia dipenjarakan. Rupanya ia mengerti bahwa ia tidak bakal hidup lebih lama lagi, tetapi ia sangat mencintai negaranya, maka ia tinggalkan warisannya itu. Itulah surat yang merupakan rahasia ilmu perang, bagaimana harus mendidik tentara dan berperang. Ia mengharapkan warisannya itu terjatuh di dalam tangan seorang yang nanti bisa pakai itu untuk melawan negara
Irawan D Soedradjat

Page

215

Pendekar Pemanah Rajawali

Kim. Tapi Cin Kwee menjaga keras sekali, sampai hari matinya Gak Hui, surat itu tidak dapat diberiakan kepada orang luar. Para hadiran sangat tertarik hatinya, sampai mereka melupakan arak dan barang hidangan mereka. Oey Yong pun ketarik hatinya. ―Gak Hui dapat mengetahui warisan itu tidak dapat diloloskan, ia terus simpan itu ditubuhnya,‖ Chao Wang melanjuti. ―Sebagai gantinya, ia meninggalkan sepucuk surat warisan, yang bunyinya tidak keruan junterungannya. Cin Kwee mempunyai kepandaian sebagai conggoan, ia masih tidak dapat menangkap artinya surat wasiat itu, maka surat itu ia dikirim ke negriku. Selama beberapa puluh tahun, surat itu disimpan di dalam istana. Dipihak kami juga tidak ada yang bisa mengartikan surat itu, orang hanya menduga, saking berduka dan penasaran, disaat-saat kematiannya, Gak Hui menulis ngaco belo. Tidak tahunya, itu adalah sebuah teka-teki istimewa.‖ Orang heran tetepi sekarang mereka memuji kecerdikan Chao Wang itu. ―Gak Hui begitu pandai, kalau kita bisa dapatkan surat warisan ilmu perangnya itu, bukankah gampang untuk negaraku mempersatukan benua ini?‖ berkata Chao Wang. Mendengar itu barulah semua orang dapat menerka maksudnya pangeran ini. Mereka pada berkata dalam hati masing-masing. ―Kiranya Chao Wang mengundang kita untuk minta kita menjadi pembongkar kuburan…‖ ―Turut dugaanku semula, surat wasiat itu mestinya dibawa Gak Hui ke dalam liang kubur,‖ Chao Wang berkata pula. Ia berdiam sebentar, agaknya ia berpaling. ―Tapi….Tuan-tuan adalah orang-orang yang gagah, mustahillah aku nanti meminta tuan-tuan pergi mencuri dengan membongkar kuburan? Di samping itu, ada satu keberatan lainnya. Gak Hui itu memang musuh negaraku, tetapi ia adalah satu orang gagah dan setia, satu pencinta negara, yang siapa pun menghormatinya, dari itu, cara bagaimana aku berani mengganggu tempat perkuburannya? Karena ini, aku sudah lantas memikirkannya terlebih jauh. Aku pun telah membongkar surat-suratnya kerajaan Song, yang telah dikirim semenjak dulu-dulu. Diakhirnya, aku telah berhasil memperoleh suatu sumber lain. Ketika itu hari Gak Hui menjalankan hukuman mati di paseban Hong Po Teng, dia dikubur di tepinya jembatan Ciong An Kio di dekat paseban itu, baru kemudian kaisar Song Hauw Cong memindahkan kuburannya ke tepi telaga See Ouw, dimana pun didirikan sebuah rumah abu untuknya. Dilain pihak lagi, pakaian dan kopiahnya Gak Hui disimpan di tempat lain, ialah di kota raja Lim-an. Karena itu tidak gampang untuk mencari surat wasiat itu. Pada ini ada satu rahasia yang tidak boleh didengar lain orang, atau orang nanti mendahului kita mengambilnya. Harus diketahui di wilayah Selatan ada banyak sekali orang-orang gagah. Maka itu, setelah memikir lama, tidak ada jalan bagiku kecuali mengundang tuan-tuan, yang terhitung orang-orang Rimba Persilatan kelas satu.‖ Mendengar ini, para hadiran itu pada mengangguk. ―Pernah aku menduga, mungkin surat wasiat itu telah diambil lain orang,‖ Wanyen Lieh berkata lebih jauh. ―Bukankah pakaiannya Gak Hui itu telah dipindahkan? Ada kemungkinan, selama perpindahan itu, suratnya telah diambil orang. Hanya kalau surat itu sampai ada yang ambil, orang itu mesti mengerti kepentingannya itu. Siapa yang menghormati Gak Hui, dia tentu tidak berani menggangu pakaiannya. Aku percaya, belum ada lain orang yang mengetahuinya. Kalau kita sudah sampai di sana, aku percaya, kita bakal dapatkan surat itu. Memang, kalau dikata sukar, sukarnya bukan main, akan tetapi di mata orang lihay, gampangnya bukan buatan. Sebenarnya surat wasiat itu disimpan di…..‖ Baru Chao Wang mengucapkan sampai di situ, tiba-tiba pintu ruang ada yang tabrak hingga terbuka terpentang, lalu satu orang terlihat menebros masuk, matanya bengkat dan mukanya matang biru. Dia lantas lari ke Nio Cu Ong. ―Suhu…!‖ dia berseru, lantas suaranya tertahan. Segera orang kenali, dia adalah si kacung yang tadi Nio Cu Ong titahkan pergi mengambil obat……

Bab 20. Tombak Besi Dan Pakaian Lama

Irawan D Soedradjat

Page

216

Pendekar Pemanah Rajawali

Kwee Ceng telah terus ikut si pengurus bersama si kacung pergi untuk mengambil obat. Jalanan ada berlikuliku. Selama itu ia masih terus mengancam si pengurus, yang khawatir nanti jatuh atau main gila. Akhirnya mereka tiba di tempatnya Nio Cu Ong. Kacung itu membuka pintu, ia masuk ke dalam dan menyulut lilin. Begitu ia berada di dalam kamar, Kwee Ceng lihat obat-obatan memenuhi meja, pembaringan dan lantai. Di situ pun ada banyak botol dan guci, besar dan kecil. Rupanya Nio Cu Ong gemar sekali membuat obat-obatan. Kacung itu rupanya mengerti obat-obatan, ia sudah lantas mengambil kertas, untuk menjumput empat rupa obat yang dibungkus masing-masing. Obat-obatan mana terus ia serahkan pada si koanke. Tapi Kwee Ceng yang, yang tak tahan sabar, sudah lantas mengulur tangannya, akan sambut obat-obatan itu, terus tanpa pedulikan si koanke, ia bertindak untuk pergi lebih dulu. Si koankee itu cerdik, walaupun ia telah terluka, pikirannya berekrja. ia sengaja jalan perlahan. Ia tunggu sampai Kwee Ceng dan si kacung sudah keluar dari kamar, dengan sebat ia tiup padam api lilin, segera ia sambar daun pintu, untuk digabruki dan dikunci, menyusul mana ia berteriak-teriak: ―Ada penjahat! Ada penjahat!― Kwee Ceng terkejut, ia memutar tubuh, ia mencoba membuka pintu tetapi sia-sia belaka, ia sudah ketinggalan. Ia gusar dan terburu nafsunya, selagi begitu si kacung sambar bungkusan obat di tangannya, bungkusan mana terus dilemparkan ke empang di dekat mereka. Kacung itu adalah muridnya Nio Cu Ong, dia masih kecil tetapi cerdik, mendegar teriakannya si koanke, dia menjadi kaget dan heran, kemudian dia menjadi curiga, maka ia rampas obat itu dan dibuang. Dalam gusarnya, kwee Ceng kerahkan tenaganya menghajar pula pintu kamar. Kali ini daun pintu dapat digempur terbuka. Dalam sengitnya, ia serang si koanke yang segera roboh tanpa dapat membuka suara. Tempo Kwee Kwee Ceng menoleh, si kacung sudah lari. Dalam murkanya, ia berlompat untuk mengejar, segera ia berada di balakang kacung itu, pundak siapa ia jambret. Kacung itu dapat dengar suara menyambar, ia berkelit sambil mendak, lalu seraya memutar tubuh, ia membalas menyerang denagn sapuan kakinya. Kwee Ceng jadi tambah penasaran, setelah berkelit, ia menyerang dengan hebat. Dua kali kacung itu kena dihajar mukanya, cuma sebab ia masih keburu membuang mukanya, dia tak sampai roboh. Adalah kemudian, setelah kepalanya ke disampok, dia roboh dengan pingsan. Dengan satu dupakan, Kwee Ceng bikin tubuh si kacung terlempar ke tempat tumbuh rumput didekatnya, habis itu ia lari ke dalam kamar. Ia lantas menyalakan api. Terlihat si koanke masih rebah tanpa berkutik. Ia mengawasi obat, ia menjadi bingung. tadi ketika si kacung mengambil obat, dia tidak perhatikan darimana orang mengambilnya. Pun nama obat yang tertempel di peles obat tidak dapat ia baca, sebab itu ditulis dalam hurufhuruf Nuchen. Tapi ia mesti bekerja cepat, tidak bisa ia memikir lama-lama. ―Tadi kacung ini berdiri di dekat sini, baik aku ambil semua obat ini, sebentar Ong Totiang yang pilih sendiri,‖ pikirnya kemudian. Maka ia lantas ambil kertas, ia membungkus setiap obat. Karena ia bekerja cepat, tanpa sengaja Kwee Ceng kena langgar sebuah keranjang di sampingnya. Ketika itu jatuh ke lantai, tutupnya terbuka. Untuk kagetnya, ia lihat isi keranjang adalah sebuah ular besar yang tubuhnya merah mulus. Malah ular itu segera menyambar! Kwee Ceng kaget, syukur ia masih sempat berlompat. Sekarang ia dapat melihat dengan tegas, tubuh ular ada sebesar cangkir, separuh tubuhnya masih ada di dalam keranjang, jadi belum ketahuan berapa panjangnya tubuh ular itu. Yang aneh adalah itu warna merah mulus. Lidah ular, yang diulur keluar, bercabang dua, lidah itu bergerak-gerak tak hentinya. Selagi mundur, Kwee Ceng membentur meja, lilin di atas meja roboh dan padam, maka ruangannya segera menjadi gelap-gulita. Tapi obat telah didapat, ia lantas lari ke pintu untuk mengangkat kaki. Tiba-tiba ia merasakan kakinya disambar dan dipeluk, atau itu mirip dengan libatan dadung/tali, saking kaget, ia melompat untuk meloloskan diri. Tapi ia dapat berhasil. Sebaliknya ia lantas merasakan barang adem mengenakan lengannya.Kembali ia menjadi kaget. Ia tahu sekarang bahwa ia telah dililit ular. Tapi ia tak hilang akal, dengan tangan kirinya hendak ia cabut golok emas hadiah Jenghiz Khan. Disaat itu, ia merasakan bau obat tercampur bau amis menyambar hidungnya, lalu mukanya terasa dingin. Itulah ular yang telah menjilati mukanya! Lagi sekali ia kaget tak terkira! Tak sempat ia menghunus goloknya, dengan tangan kirinya ia sambar leher ular untuk dipencet.

Irawan D Soedradjat

Page

217

Pendekar Pemanah Rajawali

Ular itu agaknya kaget, dia bertenaga besar, sebelum lehernya tercekik, ia pentang mulutnya, untuk mencoba mengigit muka Kwee Ceng. Dilain pihak, ia melibat dengan mengerahkan tenaganya, hingga Kwee Ceng lantas merasai tubuhnya terlilit keras, sampai napasnya mulai sesak bahkan tenaga tangan kirinya mulai berkurang. Baunya ular itu sangat mengganggu pernapasan si anak muda, hingga ia menjadi mual, hendak ia muntah. Adalah sejenak kemudian, ia kehabisan tenaga, ia seperti hendak pingsan, cekikan tangan kirinya terlepas sendirinya….. Adalah disaat itu dilain pihak si kacung telah sadar dari pingsannya. Dia mendapatkan kamar gelap sekali. Dia tahu, orang jahat itu tentu telah kabur. Maka tidak ayal lagi, ia lari keluar dari kamar, dia kabur kepada gurunya itu. Oey Yong terkejut akan dengar keterangan si kacung, denagn gerakan ―Burung meliwis turun di pasir datar‖, dengan enteng sekali, ia lompat turun. ia menaruh kaki tanpa menerbitkan suara. Meski begitu, tak urung ia telah keperogok. Inilah sebabnya, segera setelah keterangan si kacung, semua orang menjadi curiga. Mereka memang semuanya orang-orang lihay. Sejenak saja tubuh io Cu Ong sudah mencelat keluar, bahkan segera ia menghadang di depan si nona. Dia lantas menegur; ―Siapa kau?‖ Oey Yong menginsyafi bahaya. Ia tahu orang lihay. Disamping dia ini, masih ada yang lainnya. Maka ia hendak menggunakan akal. Untuk ini ia cerdik sekali. Tiba-tiba saja ia tertawa dengan manis. ―Bunga bwee ini indah sekali, maukah kau memetiknya setangkai untuk aku?‖ ia berkata kepada orang she Nio itu, jago dari Kwan-gwa. Nio Cu Ong tercengang. Tidak ia sangka bakal menghadapi satu nona, malah satu nona yang begitu cantik manis, yang suaranya halus dan merdu. Tanpa merasa ia mengulurkan tangannya, akan memetik setangkai bunga, yang untuk terus diangsukan kepada si nona. Oey Yong menyambuti. ―Loya-cu, terim kasih!‖ katanya, kembali tertawa dengan suaranya yang halus merdu itu. Di ambang pintu berkumpul semua orang lainnya, merek aitu berdiri mengawasi kedua orang itu. Ketika Oey Yong lantas memutar tubuhnya, untuk berlalu. ―Ongya,‖ Pheng Lian Houw menanya, ―Adakah nona ini, nona dari istana ini?‖ ―Bukan,‖ menjawab Wanyen Lieh sambil menggelengkan kepala. Hanya dengan menjejak dengan kakinya yang kiri, Lian ouw sudah mencelat ke depan si nona. ―Tunggu nona!‖ katanya, ―Aku pun akan memetik setangkai bunga untukmu…!‖ Terus ia ulur tangannya yang kanan, hendak menangkap lengan orang, tetap sebat luar biasa, ia ubah tujuan, untuk meraba buah dada si nona. Oey Yong kaget bukan main. Ia sebenarnya hendak berpura-pura tidak mengerti ilmu silat. ia gagal. Lian Houw, sebagai jago di antara berandal di Hoopak, adalah sangat tajam matanya dan cerdik. Tidak bisa lain, ia geraki tangan kanannya, jari tangannya menyambuti tangan jago itu. Lian Houw terperanjat waktu ia merasakan getaran di jalan darahnya koik-tie-hiat, lekas-lekas ia menarik pulang tangannya itu, dengan begitu dia dapat lolos dari bahaya. Dia menjadi heran, nona demikian muda tetapi demikian lihay, dia pun tak kenal ilmu silat si nona itu. Tentu saja ia tidak ketahui kepandaian yang Oey Yong dapatkan sebagai warisan, namanya Totokan Bunga Anggrek. Yang lain-lain pun terkejut dan heran. ―Nona, kau she apa?‖ Lian Houw lantas menanya, ―Siapakah gurumu?‖ ―Bukankah bunga bwee ini permai sekali?‖ tanya Oey Yong sambil tertawa. Ia terus berlagak pilon, ia tidak menunjukki kagetnya tadi. ―Bukankah kau menghendaki aku menancapnya di dalam pot?‖ Sikap ini kembali membuatnya orang heran dan menjadi menduga-duga. ―Kau dengar apa tidak, apa yang kami tanya?‖ Lian Houw menegur. Ia tidak sabaran, dia lantas menunjuki kesembronoannya dengan campur bicara.
Irawan D Soedradjat

Page

218

Pendekar Pemanah Rajawali

―Apakah itu yang kau bicarakan?‖ balik tanya Oey Yong, tertawa. Justru itu, Pheng Lian Houw dapat mengenali si nona ini adalah si nona yang diwaktu siangnya sudah mempermainkan Hauw Thong Hay, cuma waktu itu orang menyamar menjadi satu bocah dekil. ―Lao Houw, apakah kau tidak kenal nona ini?‖ ia tanya sahabatnya. Ia tertawa. Thong hay tercengang. Lantas ia awasi si nona, dari atas sampai bawah dan sebaliknya. Cepat sekali, ia mengenalinya. Mendadak saja hawa amarahnya meluap. ―Ha, anak busuk!‖ dia mendamprat. Dia pun terus pentang kedua tangannya untuk menubruk. Dengan berkelit ke samping, Oey Yong bebaskan dirinya. Tapi di sini ia dipapaki See Thong Thian, yang tubuhnya tahu-tahu berkelebat dan tangannya menyambar ke lengan. ―Kau hendak lari ke mana?‖ menegur Kwie-bun Liong Ong. Oey Yong terkejut. Ia tidak menyangka lengannya bisa disambar secara demikian. Tapi ia tidak gugup, ia pun tidak kekurangan akal. Dengan dua jari dari tangan kirinya ia menotok kepada kedua matanya si orang she See itu. Hebat See Thong Thian itu, hampir tak nampak bagaimana ia geraki tangannya, juga tangan kiri si nona sudah lantas kena dia cekal. ―Tidak tahu malu!‖ mendamprat Oey Yong, yang kaget sekali. ―Tidak tahu malu apa?!‖ balik tanya See Thong Thian. ―Tua bangka menghina anak kecil! Laki-laki menghina anak perempuan!‖ Oey Yong menyahuti. See Thong Thian terperanjat. Dia memang seorang tua dan kenamaan juga. Memang, dengan perbuatannya ini, terang dia telah menghina anak kecil, seorang anak perempuan….. ―Masuk ke dalam!‖ katanya seraya kendorkan cekalannya. Oey Yong tahu tidak dapat ia menolak, ia lantas turut masuk. ―Nanti aku bikin dia bercacad dulu baru kita bicara!‖ kata Hauw Thong Hay, yang ada sangat mendongkol. Dia terus maju, untuk menanyakan kata-katanya itu. ―Tanyakan dulu, siapa gurunya dan siapa yang menitah ia itu datang ke mari!‖ berkata Pheng Lian Houw. Hauw Thong Hay tidak pedulikan jago dari Hoopak itu, sebelah tangannya sudah lantas melayang. Oey Yong berkelit. ―Benar-benarkah kau hendak menurunkan tangan?‖ ia menanya. ―Aku hendak cegah kau melarikan diri!‖ jawab Thong Hay. Dia paling takut si nona minggat, karena terang sudah, dia bakalan tidak dapat mengejar…. ―Jikalau kau benar hendak adu kepandaian denagn aku, baiklah!‖ kata Oey Yong yang sikapnya sabar tapi rada mengejek. Ia terus mengisikan enam buah cawan arak di atas meja. Cawan yang satu ia letaki di batok kepalanya dan dua yang lain ia cekal di antara kedua tangannya. Lantas ia menantang: ―Beranikah kau mencontoh aku ini?‖ ―Setan alas!‖ berseru orang she See itu, jago tunggal dari sungai Hong Hoo. Oey Yong tidak mengambil mumat, ia memandang kepada orang banyak. Ia kata, ―Aku tidak bermusuhan dengan tuan ini, bagaimana jadinya apabila aku keliru menggeraki tangan dan kena melukakan dia?‖

Irawan D Soedradjat

Page

Kembali Oey Yong tidak mengambil mumat. Ia kata pula, ―Dengan cara begini hendak aku mengadu kepandaian dengannya! Siapa yang araknya tumpah lebih dahulu, dialah yang kalah? Akurkah kau?‖

219

Thong Hay maju setindak, kedua matanya terbuka lebar. ―Kau dapat melukakan aku? Kau?‖ katanya sengit.

Pendekar Pemanah Rajawali

Nona ini menggunai kecerdikannya. Ia tahu bahwa ia tidak bakal meloloskan diri dari orang-orang lihay ini. Sekalipun terhadap Hauw Thong Hay, ia menang cuma sebab ia andalkan kegesitan dan kelincahannya. Ia percaya, dengan bergurau secara demikian, ia bakal dapat lolos. ―Siapa kesudian main-main denganmu!‖ Thong Hay membentak. Kembali ia menyerang sambarannya bagaikan angin. ―Bagus!‖ Oey Yong tertawa, seraya ia berkelit. ―Pada tubuhku ada tiga buah cawan, kau snediri boleh bertangan kosong! Nah mari kita adu kepandaian!‖ Bukan alang kepalang gusarnya Thong Hay. Dia berusia jauh terlebih tua, meski ia tidak sangat kesohor seperti See Thong Thian, kakak seperguruannya itu, ia toh ternama juga. Sekarang dia dipermainkan secara begini! Tanpa berpikir sejenak juga, ia jumput sebuah cawan arak, untuk diletaki di batok kepalanya, habis mana ia sambar dua yang lain, masing-masing dengan sebelah tangan. Kemudian, dengan sama cepatnya, ia tekuk sedikit kaki kirinya, untuk menyusul melayangkan kaki kanannya mendupak nona itu! ―Bagus! Nah ini barulah namanya enghiong sejati!‖ Oey Yong berseru sambil tertawa, seraya ia berkelit. Belum sempat ia melanjuti perkataannya atau dia sudah ditendang pula, kali ini berulang-ulang. Karena dengan kedua tangan mencekal cangkir dan kepala ditaruhkan cangkir juga, Thong Hay tidak dapat berbuat lain dari menggunai kedua kakinya. Oey Yong akhirnya repot akan tetapi ia selalu dapat lompat berkelit atau mengegos tubuhnya, menyingkir dari tendangan. Untuk ini, ia mesti seperti memutari ruangan itu. Nio Cu Ong memasang mata kepada gerakan kakinya si nona cilik. Itulah gerakan bagaikan ―Mega berjalan atau air mengalir‖. Tubuh tetap tegak, tidak bergerak sedikit juga, dan kedua kaki seperti ketutupan kun tetapi bergeraknya cepat. Dipihak sana, tindakannya Hauw Thong Hay cepat dan lebar. Si nona berkelit bukan cuma main berkelit saja, ia saban-saban mencoba dengan sikutnya akan membentur lengan lawannya, supaya benturannya dapat membuat arak tumpah atau ngeplok. ―Bocah ini begini lihay, sebenarnya sulit untuk melatih diri hingga begini rupa…‖ berpikir jago tua ini. ―Hanya, lama-lama dia toh bakal menjadi bukan tandingannya Lao Hauw…‖ Disaat itu, tiba-tiba Cu Ong ingin obat-obatannya, maka lenyaplah keinginannya menyaksikan pertempuran, ingin ia lari ke pintu, untuk terus ke kamarnya, guna cari si pencuri obat. Tentu saja ia tidak sempat memikir bagaimana halnya dengan si pencuri obat sensiri…… Kwee Ceng belum sampai pingsan tatkala ia merasakan bau ular menjadi semakin hebat. Ia insyaf bahayanya apabila binatang berbisa itu sampai dapat memagut padanya. Maka ia lantas tempel mukanya di tubuh ular itu. Oleh karena ia tidak dapat menggeraki tubuhnya, atau kaki tangannya, sekarang tinggal mulutnya yang masih merdeka. Mendadak saja ia ingat suatu apa. Lantas ia kuatkan hatinya, agar tidak sampai roboh pingsan, terus ia gigit leher ular itu. Binatang itu kaget dan kesakitan, dia bergerak, hingga lilitan kepada anak muda itu menjadi semakin keras. Tanpa pedulikan apa juga, Kwee Ceng menggigit terus, lalu terus menghisap, menyedot darah binatang itu. Ia tidak ambil mumat lagi binatang itu berbisa. Ia juga tidak gubris pula bau darah yang sangat tidak enak. Ia melainkan ketahui, kalau darahnya berkurang, maka tenaga binatang itu juga akan berkurang pula dan dengan begitu, lilitannya akan menjadi kendor. Itu pun artinya ia bakal terlolos dari bahaya maut. Maka ia menghisap terus-terusan, hingga tanpa merasa, perutnya mulai kembung. Dugaannya bocah ini tepat. Setelah darahnya terkuras banyak, tenaganya binatang itu segera menjadi berkurang, lilitannya segera menjadi kendor, atau sesaat kemudian, ia lepaskan lilitannya itu, tubuhnya pun jatuh sendirinya. Sebab itu waktu, dia kehabisan tenaga, napasnya lantas berhenti berjalan! Kwee Ceng terjatuh duduk. Tapi dia masih sadar, lekas-lekas ia empos semangatnya, untuk menjalankan napasnya dengan beraturan. Dengan dapat bersemadhi lekas ia dapat pulang tenaganyanya. Hanya aneh sekarang ia merasakan darahnya bergerak keseluruh tubuhnya. Ia mengerti itulah darahnya si ular yang lagi bekerja. Ia terus bersemadhi sampai ia merasa sangat lega hati dan tubuh. Segera setelah merasa segar betul, ia gunai tenaganya untuk mencelat bangun. Yang pertama diingat bocah ini adalah obat-obatan di dalam sakunya. Ia lantas meraba. Ia menjadi girang sekali. Obat-obatan itu masih ada. Karena ini, ia segera teringat pula kepada Bok Ek.
Irawan D Soedradjat

Page

220

Pendekar Pemanah Rajawali

―Dia dan anak gadisnya dikurung Wanyen Kang, aku telah ketahui halnya itu, bagaimana dapat aku tidak menolongi mereka?‖ demikian ia berpikir. Ia lantas bekerja. Ia tindak ke pintu, dari situ, setelah melihat ke sekitarnya, ia jalan dengan cepat ke arah kurungannya Bok Ek dan gadisnya. Selagi ia mendekati kurungan, ia mendapati penjagaan kuat di situ. Tapi ia mesti bisa masuk ke dalam. Ia memutar ke belakang. Di situ ia tunggu lewatnya serdadu ronda, lalu cepat sekali ia lompat turun ke sebelah dalam. Ia hampirkan kurungan. Sembari memasang kuping, ia melihat ke sekeliling. Tidak ada serdadu jaga di situ. ―Bok Cianpwee, aku datang untuk menolongi,‖ ia lantas berkata dengan perlahan. ―Kau siapa, tuan?‖ ada jawabannya Bok Ek yang menanya. Kwee Ceng perkenalkan dirinya. Bok Ek pernah dengar lapat-lapat namanya Kwee Ceng itu, karena berisik dan ia pun terluka, ia tidak sempat memikirkannya, sekarang di tengah malam, ia mendengarnya dengan nyata. ―Kau…kau she Kwee?‖ tanyanya, menegaskan. Agaknya ia terperanjat. ―Benar,‖ sahut si bocha hormat, ―Aku yang muda adalah orang yang tadi siang melawan si pangeran muda.‖ ―Siapakah ayahmu?‖ Bok Ek tanya pula. ―Ayahku almarhum bernama Siauw Thian,‖ Kwee Ceng menyahut pula. Dengan tiba-tiba saja air matanya Bok Ek mengembang dan berlinang-linang, lalu ia angkat kepalanya, dongak, seraya mengeluh: ―Oh, Thian….Thian….‖ ia pun ulur keluar tangannya dari dalam jeruji, untuk mencekal tangannya si anak muda dengan erat. Kwee Ceng merasakan tangan orang itu bergemetar dan air mata orang itu pun menetes jatuh ke belakang telapakan tangannya itu. Ia kata dalam hati kecilnya: ―Rupanya dia ketahui ada orang bakal menolong dia, dia menjadi girang luar biasa.‖ Maka ia kata dengan perlahan sekali: ―Aku punya golok yang tajam, dengan itu kunci dapat dirusak untuk Cianpwee bisa keluar dari kerangkeng ini…‖ ―Ibumu she Lie, bukankah?‖ Bok Ek menanya pula, ia seperti tidak pedulikan perkataan orang. ―Apakah ibumu itu masih ada atau ia telah menutup mata?‖ Kwee Ceng heran sehingga ia balik menanya: ―Ah, kenapa Cianpwee ketahui ibuku she Lie? Ibu masih ada di Mongolia.‖ Hatinya Bok Ek goncang keras, ia cekal tangan Kwee Ceng semakin keras, ia tidak hendak melepaskannya. ―Tolong, lepaskan cekalanmu, nanti aku bacok kunci ini,‖ Kwee Ceng bilang. Bok Ek tetap memegangi erat-eart. Ia seperti mendapati sesuatu yang berharga dan tak ingin itu lenyap pula. ―Ah, kau telah menjadi begini besar…‖ katanya menghela napas. ―Ah, dengan memeramkan mata sekejapan saja, lantas aku dapat membayangkan wajah ayahmu yang telah almarhum itu…‖ Kwee Ceng menjadi semakin heran. ―Cianpwee kenal ayahku itu?‖ tanyanya. ―Ayahmu adalah kakak angkatku,‖ Bok Ek beritahu. ―Kita telah mengangkat saudara hingga perhubungan kita erat bagaikan saudara kandung….‖ Orang tua ini tidak dapat melanjuti kata-katanya, ia menangis sesegukan. Tanpa merasa, air matanya Kwee Ceng pun berlinang. Ia tidak tahu Bok Ek ini adalah Yo Tiat Sim, yang dulu hari itu, diwaktu bertempur bersama tentera negeri, sudah terluka tusukan tombak pada punggungnya, karena lukanya parah, ia roboh pingsan. Syukur untuknya, disebabkan malam dan gelap, dia tidak kena tertawan. Adalah besok paginya ia sadar sendirinya, dengan merayap dia pergi ke rumah seorang petani di dekat tempat kejadian. Satu tahun lebih ia merawat dirinya, baru dia sembuh. Setelah itu ia merantau mencari Lie Peng, istrinya Kwee Siauw Thian, serta Pauw See Yok, istrinya sendiri. Tentu saja ia tidak berhasil. Karena yang satu berada jauh sekali di gurun pasir, yang lain berada di Utara. Dia tidak pakai terus she dan namanya – Yo Tiat Sim – dia hanya rombak she Yo itu, di ambil bagiannya ynag kiri, yaitu huruf ―Bok‖ yang berarti ―Kayu‖. Tapi juga huruf ―Bok‖ ini diganti lagi dengan huruf ―Bok‖ yang berarti ―Akur‖. Dia cuma ambil suaranya saja. Dan
Irawan D Soedradjat

Page

221

Pendekar Pemanah Rajawali

nama ―Ek‖ dia ambil dari huruf pecahan sebelah kanan dari huruf ―Yo‖ shenya itu. Huruf ―Yo‖ itu terdiri dari dua huruf ―Bok = kayu dan Ek = gampang atau tukar‖. Selama delapan belas tahun ia merantau. Sekarang secara kebetulan ia bertemu sama putra sahabat atau saudara angkatnya itu, cara bagaimana ia tidak menjadi bersedih hati? Selama ayahnya itu berbicara sama si anak muda, Bok Liam Cu berniat memberi ingat serta meminta Kwee Ceng menolongi dulu mereka, tentang pasang omong, itu boleh dilanjuti lain kali, akan tetapi belum lagi ia membuka mulutnya, lalu datang pikiran lain, yang membuatnya berubah. Ia kata dalam hatinya: ―Satu kali kita keluar dari sini, aku khawatir untuk selama-lamanya aku nanti tidak dapat bertemu dengan dia…‖ Dengan ―dia‖ yang dimaksud oleh Liam Cu adalah Wanyen Kang, si pangeran muda. Dengan sendirinya, ia telah jatuh cinta kepada pangeran itu, hingga ia tak ingin pergi jauh, untuk memisahkan diri…. Kwee Ceng pun ingat bahaya yang mengancam mereka, maka ia sudah lantas tarik keluar tangannya dari dalam kerangkeng, hanya di saat ia hendak ayun goloknya, untuk menggempur kunci, mendadak ia tampak sinar terang yang disusul sama suara tindakan kaki. ia terkejut, dengan sebat ia simpan goloknya, dengan gesit ia lompat sembunyi di belakang pintu. Sekejap saja, dengan mengasih suara, daun pinttu dipenntang, lalu terlihat masuknya beberapa orang, di antara siapa yang jalan di muka adalah yang menenteng lentera. Kwee Ceng heran akan melihat orang itu yang bukan lain daripada onghui atau selirnya Chao Wang dan ibunya Wanyen Kang. Ia tidak dapat menerka orang datang dengan maksud apa. Ia memasang kuping dan matanya. ―Adakah mereka ini yang hari ini dikurung siauw-ongya?‖ demikian Kwee Ceng dengan pertanyaannya si nyonya mulia. ―Ya,‖ menyahuti si opsir atau pemimpin dari beberapa pengiring nyonya itu. ―Sekarang juga merdekakan mereka!‖ onghui memberi titah. Opsir itu terkejut, dia ragu-ragu, hingga tak dapat ia segera menjawab. ―Jikalau siauw-ongya menanyakan, bilang aku yang memerdekakan mereka,‖ onghui berkata pula menampak orang sangsi. ―Lekas buka kuncinya!‖ Sampai di situ, opsir itu tidak berani berlambat pula. Setelah ayah dan gadis itu sudah berada di luar kerangkeng, onghui merogoh sakunya untuk mengeluarkan dua potong emas, yang mana ia angsurkan kepada Bok Ek atau Yo Tiat Sim. Ia kata: ―Nah, pergilah kamu baikbaik!‖ Tiat Sim tidak menyambut emas itu, sebaliknya ia mengawasi dengan tajam. Ditatap demikian, onghui heran. ―Putraku berbuat keliru, harap kamu tidak sesalkan dia…‖ dia berkata lagi kemudian. Cuma sedetik atau Tiat Sim telah ubah pikiran. Ia sambuti itu emas, terus ia tuntun tangan putrinya, untuk diajak berlalu dengan tindakan lebar. ―Ha, orang kasar!‖ membentak si opsir. ―Kamu tidak membilang terima kasih kepada onghui yang telah menolong jiwamu!‖ Bagaikan tidak mendengar, Tiat Sim jalan terus. Sampai di situ, onghui pun berlalu bersama sekalian pengiringnya. Kwee Ceng tunggu sampai pintu sudah ditutup dan mendengar tindakan kaki onghui sudah jauh, baru ia keluar dari tempat sembunyinya, untuk keluar juga. Ia melihat ke sekeliling, ia tidak dapatkan Bok Ek dan Liam Cu. ―Pasti mereka sudah keluar dari istana,‖ pikirnya. Maka ia lantas menuju ke Hoa Cui Kok untuk mencari Oey Yong. Ingin ia membujuk nona itu buat jangan mengintai lebih lama, supaya mereka bisa lekas pergi menolongi Ong Cie It.
Irawan D Soedradjat

Page

222

maka terpaksa ia berkelit ke kiri. ―Aku ingin ketahui untuk apa kau datang nyelusup ke istana ini?‖ Irawan D Soedradjat Page 223 . parasnya tidak menunjuki perubahan. semacam ilmu yang luhur. ia bertemu dengan Kwee Ceng. saban-saban ia gagal. cara bagaimana aku dapat menyangkal?‖ Ia berniat memegat Bok Ek dan Liam Cu. begitu juga kedua cawan di tangan orang she Hauw itu tergerak. Oey Yong bawa jari-jari tangan ke pipinya ―Tak malukah kau?‖ dia bertanya. Ia kaget dan kata dalam hatinya: ―Sungguh lemah hati ibu. Berbareng dengan itu. Ia lantas lompat ke samping di mana ada gunung-gunungan dari batu. Tapi ia dapat menenangkan diri. mumbul naik ke atas menyusul mana dengan satu lompatan enteng tetapi gesit ia menerjang pada Thong Hay dengan kedua tangannya. Mau atau tidak. Hebat si nona. berlagak pilon. ia membikin perlawanan. yang baru saja turun. ―Budak cilik. sekarang ia menyaksikan cara mencelat orang. cawan itu jatuh ke lantai. araknya tidak tumpah! ―Bagus!‖ seru orang banyak. Yang hebat adalah cawan di batok kepalanya. ―Hm!‖ See Thong Thian mengasih suaranya menyaksikan adik seperguruannya itu dibikin malu secara demikian. mereka lantas saja bertempur seru melebihkan pertandingan mereka tadi siang. ia merdekakan dua orang itu. Nio Cu Ong yang menduga Oey Yong bakal kalah baru saja memutar tubuhnya atau pertandingan telah salin rupa. Dengan kedua tangan mencekal cawan. kemudian ia segera dengar teguran dari orang yang jalan di paling depan. isinya lantas tumpah. Kwee Ceng geraki tangannya. ia kenali Wanyen Kang si siauw-ongya atau pangeran muda. sedang kepalanya menyambut cawan yang ketiga yang tadi ia letaki di batok kepalanya itu. Bukan main masgul dan cemasnya Kwee Ceng. pecah hancur menerbitkan suara berisik dan araknya melulahkan. ―Aku ingin ketahui kau murid siapa?‖ menyahut See Thong Thian. dengan kesebatannya. Tak kurang hebatnya rintangan si siauw-ongya. Sementara itu dilain pihak. Pemuda she Kwee ini hendak meloloskan diri. ―Siapa?!‖ Bahkan orang itu sudah lantas berlompat maju dan tangannya menyambar. dia menyerang dengan hebat. mengganti kedudukan‖. ia perlihatkan kepandaian yang luar biasa. ia terkejut juga. maka ia datang dengan cepat. ―Mau apa kau menghalangi aku?‖ dia bertanya. diluar dugaannya. Thong Hay tidak dapat mengegos pula tubuhnya. berparas bermuram durja. tidak dapat ia menangkis. kedua tangannya menyambar kedua cawannya. Oey Yong sudah lantas mencelat mundur. ―Mari kita bertanding pula!‖ ia menantang. untuk membebaskan diri. Kwee Ceng lihat sinar terang dari dua buah lentera serta mendengar suara tindakan kaki yang cepat. Kali ini. Thong Hay sebaliknya bermuka merah. yang ada dari tipu ―Menukar wujud. Orang she Hauw ini menjadi repot. Dengan satu gerakan berbareng ia membuat tiga cawan di kepala dan kedua tangannya terlepas. terpaksa ia menangkis! Begitu kedua tangan bentrok. untuk umpatkan diri. Semua terjadi dengan cepat luar biasa.Pendekar Pemanah Rajawali Baru ia tiba disebuah tikungan. saking malu dan mendongkolnya. tangan kanan si nona menyambar pula. ―Sekarang aku mesti pergi dulu!‖ Setahu bagaimana gerakkannya Thong Thian. hingga tidak memperdulikan urusan besar. tiba-tiba saja tubuhnya sudah mencelat ke ambang pintu. Beberapa kali ia mencoba untuk meloloskan diri. mereka mesti puji nona ini yang merebut kemenangan dengan kecerdikan dan kelincahannya itu. semua cawan itu tidak miring. Maka itu. hingga kedua tangannya tidak dapat digeraki lagi. Kalau guruku ketahui ini. Ia hanya mengkerutkan kening. Di antara cahaya api. membasahkan lantai. kau licin sekali! Siapa sebenarnya gurumu!‖ ―Besok akan aku mengasih keterangan kepada kau!‖ menjawab si nona tertawa. Wanyen Kang telah datang dengan cepat karena baru saja ia terima laporan dari opsir yang mengiringi onghui bahwa Bok Ek dan gadisnya telah dimerdekakan. Oey Yong telah merasakan tadi bagaimana orang she See ini tanpa ia mengetahui. Wanyen Kang hendak menawan. untuk menghalangi di situ. ia kaget sekali. mengejek. Justru itu.

―See Liong Ong. setelah makan banyak macan obat itu. hingga ia menjadi tercengang. lewat di samping jago tunggal dari sungai Hong Ho itu. Oey Yong tertawa. Untuk ini. dia tidak mau kasih aku pulang?‖ katanya. dan obat-obatannya kacau tidak karuan. ―Maka janganlah kau mensia-siakan tenaga. untuk lari ke kamarnya. ―Lopepe. warna merah itu menjadi marong sesudah sang ular dipiara duapuluh tahun lamanya. guna mencari si pencuri. itu telah menjadi kepastian! Eh. Benar-benar lihay See Thong Thian. Pula. satu kali ia mengucap. ynag hendak menggunai pula kecerdikannya. Mulanya tubuh ular itu warnanya hitam abu-abu. tetap dengan manis. Oey Yong melihat ke sekitarnya.‖ ia kata. ia lari keluar. ―Jikalau kau tidak mengijinkan aku pergi. ia lantas hendak pergi. Som Sian Lao Koay bukan melainkan pandai ilmu silat tetapi pun ia paham ilmu tabib. atau kepalanya sudah menghadang di depan si nona. Ia dapat melihat di dalam taman ada dua orang lagi bergumul. buat apa See Liong Ong sampai menurunkan tangan?‖ katanya. tertawa. ―Celaka!‖ serunya. malah ia ketahui juga terbinasanya ular itu sebab darahnya telah orang sedot. Pintu ada di belakang Thong Thian. dia menunjuk ke arah kiri. Hati Cu Ong tertarik. Tidak bersangsi lagi. Dua kali lagi ia mencoba. resep untuk membikin sehat dan kuat tubuh.‖ katanya. See Thong Thian mengawasi. Tanpa merasa. Hampir ia menjerit menangis. nanti aku pergi denagn cara paksa!‖ See Thong Thian tertawa dingin. See Liong Ong. karena habislah usahanya beberapa puluh tahun. bocah ini bukan sembarang orang. Ia sudah lantas nyalakan api. ia telah dapatkan ularnya yang besar itu yang sanat berbisa. terutama lukanya. ai menjadi merasa suka kepada si nona. ―Untuk memegat kau. ia lantas pergi berkelana. Justru itu ia dapatkan Bio Cu Ong hendak pergi ke luar. Suara orang merdu dan bernada minta dikasihani. ia tertawa. ―Tapi awas. maka tahulah ia. Di situ tergeletak bangkai ularnya.Pendekar Pemanah Rajawali Sepasang alis yang bagus dari si nona bergerak bangun. maka kebetulan untuknya pada suatu waktu ia dapat resep yang istimewa. Baru saja ia tiba di ambang pintu atau hidungnya sudah tercium bau yang membuatnya sangat terkejut. See Thong berpaling ke arah yang ditunjuk itu. dia nanti mengasih ijin kau berlalu. tubuhnya meleset. Ia sudah memikir buat lagi beberapa hari akan menghisap darahnya ular itu. ia dapat menahan tubuhnya hingga ia tidak usah melanggar kepala orang itu. untuk memandang sekitarnya. ia lantas menegur. ―Kau jawablah pertanyaannya See Liong Ong. dia pegat aku. ―Bagus!‖ seru Oey Yong. Oey Yong gunai kesempatan ketika orang menoleh. sebab ia berangan-angan untuk menjagoi dan merobohkan segala jago lainnya. Nio Cu Ong menyaksikan itu. Sekarang telah buntu jalannya si nona itu. untuk mencari bahan-bahan obatnya. tidak dapat ia memaksa menerobos keluar. ―Setelah kau berikan jawabanmu. Ia meundur dengan cepat.‖Asal kau mampu!‖ bilangnya. Ia pun mau percaya. siapa tahu sekarang ularnya itu terbinasa. musuh belum pergi jauh. kau tidak boleh serang aku!‖ berkata si nona. kau lihat itu di sana apa?‖ Semabri mengucap. Baru orang berkelebat. Berbangkit pula hawa Irawan D Soedradjat Page 224 . warnanya lantas berubah menjadi merah mulus. ―Seorang laki-laki. ia lompat naik ke atas pohon besar. menantang. budak cilik. untuk menambah kekuatan tubuhnya. Cepat setelah ia tersadar. ―Aku justru tidak sudi menjawab dia!‖ sahutnya. jago sugai Hong Ho itu senantiasa menghadang di depannya. io Cu Ong periksa tubuh ularnya itu. ―Jikalau aku tidak sudi mengasih keterangan?‖ tanyanya. Lantas dia hadapkan Thong Thian untuk mengancam. kau mengaku kalah saja!‖ Habis berkata. ―Pertanyaannya Kwie-bun Liong Ong tidak dapat tidak dijawab!‖ sahut orang she See itu. Lantas ular ini ia kasih makan pelbagai macan obat pilihan. untuk membikin ia panjang umur. setelah banyak kesulitan. adalah satu ahli tersebar. Syukur si nona itu pun lihay.

Kali ini ia menunggu sampai orang berontak. tangan itu segera terlepas dari cekalannya lawan. hingga sengaja ia membuatnya lowongan. yang sudah dapat memperbaiki dirinya. Ia pikir: ―Dia telah minum darah ularku. Kwee Ceng pun pun terus merasakan perubahan. untuk ditarik. tetapi sekarang. telah cukup lama Kwee Ceng terhajar. Begitulah ketika kakinya kena digaet. begitu juga datanglah perubahan atas dirinya. tidak heran kalau ia menjadi bingung. segera ia gunai kakinya untuk menggaet. ia lantas menggunai akal. hendak aku mengadu nyawa denganmu!‖ Ia lompat maju untuk menyerang itu jago dari Kwan-gwa. Ia menjadi heran berbareng girang.Pendekar Pemanah Rajawali amarahnya. Menyaksikan itu. Sedang Kwee Ceng berpikir: ―Heran. maka juga kali ini diwaktu mulai bertempur. kiranya kau yang piara ular berbisa itu!‖ ia berseru. ia merasa sakit. Nio Cu Ong tidak menjadi heran yang ia tidak bisa mencekal terus tangannya bocah itu. Dengan lantas ia dapat menangkap tangannya si anak muda. yang leuar dari baju atau tubuhnya Kwee Ceng. mendadak hatinya menjadi panas. baik aku bunuh dia. Siauw-ongya itu turut menjadi heran. bukannya ia merasa sakit hanya gatal. Jago ini lihay berlipat kali dari kwee Ceng. hingga dua kali bebokongnya kena dihajar si pangeran. Tidak sedikit pun ia merasakan sakit lagi. dia terhuyung. mungkin kekuatannya obat masih ada atau mungkin kekuatan itu bertambah besar…‖ Karena ini. Dalam halnya ilmu silat. Kwee Ceng memang tidak tahu suatu apa mengenai resep itu atau darah ular yang ia minum. ia tentu dapat berbuat sesukanya terhadap anak muda itu. ―Hai. begitu lewat beberapa jurus. Nio Cu Ong merasakan pula sambaran bau obat dan amis dari ular. ―Aku sekarang telah terkena bisanya binatang jahat itu. ia pun menjadi alpa. untuk sedot darah dari tubuhnya itu. karena pelbagai pukulannya tidak menyebabkan orang kesakitan atau roboh. Tapi juga penyerangan ini mendatangkan perubahan lainnya. tubuh orang yang bersangkutan menjadi tambah kuat. ―Siapa yang anjurkan kau mencuri ularku?!‖ Dia percaya. mestinya si bocah diberi petunjuk oleh seorang berilmu. Kwee Ceng kalah dari Wanyen Kang. ia menjadi girang. Mendadak ia merasa perutnya sangat panas seperti ada bola api di dalam perutnya itu. dan enak sekali rasa gatal itu. ―Tentulah bisa ular lagi bekerja…‖ Ingat kepada bisa ular. Cu Ong menjadi menyesal berbareng penasaran dan mendongkol. Ia menanti lain serangan. kalah cerdik juga. dia seperti meggaruki gatalku?‖ Adalah aturan dari resepnya io Cu Ong itu. sebagai bocah Kwee Ceng tentunya tidak ketahui rahasia resepnya itu. Ia menjadi sangat berbahaya. Di mana-mana ia merasakan gatal pada tubuhnya. Siauw-ongya tidak ketahui rahasia itu. Maka itu kebetulan sekali Kwee Ceng bertempur sama Wanyen Kang. ―Bagus. Satu kali ia serang Wanyen Kang. ―Kenapa sekalipun dengan pukulan yang membahayakan aku tidak dapat melukai dia?‖ pikirnya. Sebentar saja ia sudah sampai si taman di mana Kwee Ceng dan Wanyen Kang tengah bertempur. beda daripada biasanya. Tubuhnya panas hingga ia seperti tidak sanggup menahannya. Baru ia datang atau hidungnya telah mendapat cium bau obat tercampur bau amis yang datangnya dari arah si pemuda. pelbagai pukulannya Wanyen Kang menjadi tidak ada artinya. ―Kali ini habislah jiwaku…‖ pikirnya. maka itu ketika ia mengibaskan tangannya. maka si pangeran menangkis. sampai Wanyen Kang dapat menyerang sepuasnya. siapa habis minum darah ular. setelah mana. yang kalah pandai dan kalah pengalaman. kenapa tenaganya menjadi kuat?‖ tanya si pangeran dalam hatinya. Tenaganya Kwee Ceng telah bertambah luar biasa. ai sudah lantas keteter. lalu ia menangkap pula. yang entah siapa. hatinya pemuda ini menjadi kecil. supaya racunnya tidak bekerja lagi. ―Heran. maka itu tubuhnya menjadi kuat luar biasa. hawa darah itu buyar. Kwee Ceng roboh Irawan D Soedradjat Page 225 . kenapa pukulannya empuk sekali. lantas ia menyambuti serangan. supaya dengan begitu. Biasanya kalo ia kena diserang. maka dengan lantas ia lari ke arah taman. Tatkala Nio Cu Ong tiba. lantas timbul pikirannya yang kejam. oleh karena itu ia gusar yang ia telah dicaci. bangsat anjing!‖ dia menegu. akan tetapi. Karena ini. Disaat itu tenaganya lantas bertambah sendirinya. tubuhnya mesti dipukuli.

kalau ia terserang jitu. Karena ini. pasti aku akan dapat molos. setelah mana ia majukan mukanya ke arah leher. tidak demikian dengan kepalanya. semua percobaannya sia-sia belaka. tidak peduli si nona telah menggunai akal bulus. guna menyedot darah ularnya.‖ katanya dengan masgul. Adalah umum kalau orang menyerang dengan kim-chie. Senjata rahasianya itu adalah seperti bumerang. bedanya masih jauh sekali!‖ Thong Thian gusar. akan tetapi kalau dari luar. Maka dilain saat. Memang telah dibikin perjanjian itu. ―Itulah ilmu untuk merobohkan kau. terpaksa ia melompat maju pula. ―Sayang. bukankah aku sekarang telah berada di luar? Nah. ―Dari luar masuk ke dalam sama dari dalam pergi keluar. dia tidak mengajarkan aku ilmu menerjang keluar. Oey Yong heran dan kaget. aku gagal. dengan gampang ia bisa bekuk nona itu. Biar bagaimana. Oey Yong lantas saja meleset keluar.‖ sahut si nona. ―Kau ngaco-belo. Akurkah kau?‖ ―Asal kau dapat molos. dua renceng kim-chie dari Phen Lian Houw terdiri dari beberapa puluh biji. dia sengaja permainkan nona itu. asal aku berada di luar. ia menjadi heran. kenapa kepandaian orang ini begini buruk? Tapi justru ia heran. walaupun sudah tidak dapat dicela. Mengenai kepandaianmu ini. kau tidak dapat mengganggu pula padaku. biarnya ia sangat lincah. menyambar ai di kiri-kanan mengarah batok kepalanya. terus menyerang ke bebokong. Hebat untuk dia. maka tidaklah heran kalau ia ada mempunyakan keistimewaannya sendiri. ia dengar suara angin. ―Ketika dulu hari ia ajarkan aku menyerang masuk. ―Siapakah ayahmu itu?!‖ ―Jikalau aku sebutkan nama ayahku. ia berlompatan. Ia percaya ilmunya sudah dipuncak kemahiran. untuk memegang keras pundak orang. Tidak dapat kim-chie itu ditanggapi. untuk menggigit leher itu. ia telah kembali ke ruangan besar! Irawan D Soedradjat Page 226 . kalau Thong Thian menghendaki. untuk mengetahui. sampai ketemu pula!‖ See Thong Thian berdiri diam. apa macam ilmu menyerang masuk itu. terus ia tertawa geli.. ―Sayang. dari itu ia segera ayun kedua kedua tangannya. ia pun tidak senang orang dapat pergi dengan begitu saja. Ia baru menaruh kaki. Ia ada punya mustika pelindung tubuh. yang ia tekankan kepada tanah. lalu berbalik sendirinya.‖ Thong Thian mendongkol sekali. ―Kau punya ilmu Menukar Wujud Memindahkan Kedudukan ini. ―Baiklah kau boleh coba dari luar!‖ Ia lantas menggeser tubuhnya. tetapi di depan Chao Wang. ia lihat serangan lewat di atasan kepalanya. sayang…. Karena ini tidak ada jalan lain. Pheng Lian Houw bersahabat erat sekali sama Kwie-bun Liong. yang berarti pembunuh manusia seribu tangan.. ―See Liong Ong. Ia menjadi kaget sekali.. untuk menggunai akal pula. lalu kedua senjata rahasia itu berbalik. ia ketoki kepalanya sampai tiga kali. ―Kau telah bilang sendiri. dia hendak pertontonkan kepandaiannya.. Oey Yong lantas menghela napas. tidakkah itu sama saja?‖ dia menanya. ayahku itu menjaga di mulut pintu. budak cilik!‖ bentaknya. atau kim-chie yang belakangan sudah menyambar pula.‖ ―Apakah itu menyerang masuk dan menerjang keluar?‖ tanya See Thong Thian. tidak suka ia membiarkan kawannya itu diperdayakan secara demikian. hingga sulit orang lolos dari salah satunya. ia lompat ke depan. ―Asal aku dapat lolos. ayahku cuma ajarkan aku menyerang masuk. aku khawatir kau nanti kaget hingga semangatmu terbang!‖ Oey Yong menjawab. Maka menyambarlah dua renteng senjata rahasia yang berupa kim-chie atau uang emas. hingga ia peroleh gelarannya yang luar biasa – Cian Ciu Jin-touw. Saking menyesalnya. beberapa kali aku mencoba. Kau lihat. dengan mencekal tangannya. Lantas Cu Ong menubruk. kau telah tertipu olehku!‖ katanya nyaring.‖ katanya.Pendekar Pemanah Rajawali dengan segera. Kim-chie lewat di atasannya kepala Oey Yong. ―See Liong Ong. Akhirnya ia berhenti mencoba. akan aku menyerah kalah!‖ Thong Thian jawab. aku memasukinya dari luar. datangnya saling susul. kau tidak bakal mengganggu pula aku. Ingin ia menyaksikan orang menyerang masuk. kau akan menyerah kalah. serangannya itu untuk atas dan bawah. Oey Yong menjadi cemas. tak usah menggunai tenaga untuk meniup debu. celakalah ia. hingga ia memikir. ia belum pernah dengar hal ilmu masuk dann keluar itu. memang dari dalam aku tidak sanggup menerjang keluar. Orang she Pheng ini adalah satu ahli. apabila dibandingkan sama kepandaian ayahku. Sebenarnya. guna mengasih si nona pergi keluar. Sementara itu Oey Yong di dalam Hoa Cui Kok masih tidak dapat menerobos penjagaannya See Thong Thian.

dari itu ingin ia menempur selama sepuluh jurus untuk memeproleh kepastian. ―Lekas menangkis!‖ ia berseru. ―Kau kembali ke dalam?‖ Oey Yong membuat main mulutnya untuk mengejek. Oey Yong tidak menangkis. demikian pun dengan yang keempat ini. ―kau bilang dulu. ―Aku telah pelajarkan ini sejak aku dalam kandungan ibuku. kau biarkanlah aku berlalu dari sini. yang adalah dari pihak gwa-kee. ―Heran bocah ini mempunyai ilmu silat campur aduk seperti ini! Mungkinkah ia sengaja berbuat begini untuk mencegah aku dapat mengenali asal-usulnya? Baik aku gunai pukulan yang telengas. karena juga yang kedua dan ketiga itu dapat dihindarkan si nona. ―Lekas! Di dalam sepuluh jurus. Pheng Lian Houw menjadi heran. ia menyerang denagn sennjata rahasianya itu guna menggiring nona itu kembali ke dalam. yang menangkis dengan tangan kiri buat memunahkan serangan orang. Lantas orang she Pheng ini melanjuti serangannya. Nona nakal itu tertawa.‖ jawabnya.‖ Lalu pikiran ini ia wujuskan denagn cepat sekali. tawar. ia mencoba berlaku norek. Oey Yong menolong diri dengan ilmu silat Keluarga Swee dari Thay-goan. tetapi ilmu silat Oey Yong membuatnya bersangsi. siapa yang ajarkan kamu ilmu silat. Hendak ia menyangkal terus-menerus.‖ katanya dalam hati. ―Inilah jurus yang kedua!‖ berseru si nona. yaitu ilmu silat ―Cut In Ciu‖ atau ―Keluar dari Mega‖. Kenapa dia dapat menyakinkan dalam dan luar dengan berbareng?‖ Gwa-kee ialah ahli luar. ―Kau tidak hendak memberitahu. ―Jikalau sampai sepuluh jurus kau masih belum dapat mengetahui?‖ tanya Oey Yong. Di dalam hatinya. Sebat sekali ia mundur sambil memutar tubuh dengan sebelah kaki. Oey Yong terkesiap juga melihat datangnya serangan saling susul dan berbareng itu. disaat tangannya hampir mengenai pundak si nona. apakah dengan begitu kau menyangka aku tidak akan mengetahuinya?‖ Lian Houw berkata seraya sebelah tangannya menyemboki pundak orang. ―Inilah ilmu silat Jie Long Kun dari Keluarga Luow dari Ceciu. ia pun tidak berkelit. Coba aku desak pula dia dengan dua jurus. pasti Oey Yong tidak sanggup membebaskan diri dari bahaya maut atau entengnya terluka. ―Kepandaianmu menggunai senjata rahasia bagus sekali. ynag ketiga dan keempat. ―Aku akan merdekakan padamu! Awas!‖ Sambil menjawab demikian.‖ Lian Houw bilang. Pheng Lian Houw berkata. ―Melainkan sayang kau gunai itu untuk menghina satu anak perempuan! Apakah yang aneh?‖ ―Siapa menghina kau?‖ Lian Houw tanya. Ia tahu tidak dapat ia lawan jago ini. aku orang she Pheng pasti akan ketahui asalusulmu!‖ Dia memang luas pengetahuannya dan mengenali ilmu silat pelbagai golongan. ―Ilmu silat ini bertentangan dengan Jie Long Kun. Ia bersilat dengan ilmu silatnya Iwee-kee si ahli dalam. Inilah pukulan berantai tiga kali yang hebat. Lian Houw menjadi bertambah heran. kalau tidak demikian. Menampak itu. Dengan begitu. hingga dengan begitu ia perlihatkan sikap ―Si ayam emas berdiri dengan satu kaki‖. ia lantas menarik pulang. semua orang bersorak saking gembira. ia lolos dari bahaya. Lian Houw menyampok dengan tangan kiri yang disusul sama tinju kanan. Lian Houw sendiri lantas berdiri di ambang pintu. ―Inilah jurus Pak-kek-sie dari ilmu silat Liok Hap dari Kangpak.‖ kata si nona. akan tetapi ia tidak menjadi kaget dan gugup. ―Bagaimana?‖ dia tertawa. Shoatong.Pendekar Pemanah Rajawali Tidak ada niatnya Pheng Lian Houw untuk melukai si nona. Lian Houw lihat orang diam saja. tinju mana dibarengi sama tendangan kaki kanan.‖ bilangnya. Keluarag itu memang mengutamakan kelincahan. ―Aku toh tidak melukai kamu?‖ ―Kalau begitu.‖ ia berpikir pula. denagn begitu tidak dapat ia tidak menggunai ilmu silatnya yang sejati guna menolong diri. Irawan D Soedradjat Page 227 .

Oey Yong tahu tangan kiri itu adalah ancaman belaka. segera ia terjang tangan kiri si orang she Pheng itu denagn jurusnya ―Tibanya air mata es dingin. dari penasaran. Auwyang Kongcu. inilah Tepukan tiga kali dan Gunting emas. Auwyang Kongcu tertawa dan mengatakan. ia dengar satu suara keras dari kejauhan. yang hebat sekali. untuk membalas menyikut naik dadanya penyeranganya itu. budak?!‖ Ia memang telengas.‖ salah satu jurus dari ilmu silat ―Soat San Pat To‖ dari See Hek. ia menjadi mendongkol terhadap si nona . tidak dapat ia mencoba membalas menyerang. Ia tidak lantas menginsyafi bahwa ia dapat tenaga besar berkat darah ular yang dicampur latihan tenaga dalam dari Tan Yang Cu Ma Giok. jurus dari Cu-ngo Tay Kok Kiam dari Kanglam. tetapi justru itu. sesudah mana. Ah. ia menjadi gusar.ah. Itulah ilmu silat Lo Cia Sie dari partai Siong Yang Pay. Sebenarnya hendak ia bicara. terpelanting tujuhdelapan tindak! Semua orang terperanjat dengan perkataan Pheng Lian Houw itu. san-cu atau pemilik dari Pek To San. waktu ia rasakan mulutnya orang si she Nio itu mengenai batang lehernya. Lian Houw segera menyerang dengan jurusnya yang kelima. Ah. Irawan D Soedradjat Page 228 . Batok kepalanya bakal hancur luluh kalau ia sampai kena di serang. sampai pada jurus yang kedelapan. Ia kaget bukan main. Terang si bocah wanita ini telah diberi kisikan berterang. mendadak ia rasakan sakit pada dadanya yang kiri. sampai ia mengeluh di dalam hatinya. Pheng Lian Houw menyerang dengan hebat. Tapi sekarang. Ia telah ditekan ke tanah. Memang juga itu waktu. hingga habislah tenaganya. ia melanjuti dengan jurusnya yang kesepuluh. mendadak saja ia dapat tenaga pula. dia menggunai ilmu silatnya tetanggaku!‖ Pheng Lian Houw mendelu mendengar suaranya orang she Auwyang itu. ia menjadi penasaran. Kwee Ceng telah dibikin tak berdaya oleh Nio Cu Ong. ia dengar perkataan terakhir dari sancu dari Pek To San itu. Kalau yang keempat pertama bengis. Karena ini. hingga gagallah serangannya itu. Ia menduga kawannya itu telah menghadapi ancaman malapetaka. Setahu dari mana datangnya. dia celaka! Kenapa ia tidak berkelit ke kiri?‖ Pheng Lian Houw mendesak terus. Semua orang terkejut melihat kawannya bersikap telengas begitu. tiba-tiba ia mendapat pikiran baru. kedua tangannya ditekuk. dari itu pada jurus kesepuluh batal ia dengan maksudnya menghajar si nona. setelah berdiri tetap. Benar terkabar kalau Tong Sie Tan Hian Hong si Mayat Perunggu telah meninggal dunia akan tetapi tidak ada diantara mereka ini yang pernah menyaksikan sendiri. Dia menyusuli itu dengan jurus Menunggang harimau mengalah tindak dari ilmu silat Tiang Kun dari Kwan-tong. tangan kirinya menggertak. kecuali Chao Wang. dengan sendirinya mereka jadi berkhawatir untuk Oey Yong. Tapi ia tidak menyerang habis. Dengan satu gerakan ―Ikan gabus meletik‖ ia kasih dengar jeritannya itu. Pheng Lian Houw telah dapat membuktikan ilmu silatnya Oey Yong di jurus kesembilan. Ia menggunai jurus ―Menolak jendela untuk memandang rembulan‖. usianya pun masih sangat muda. Ia menjadi kaget. suara mana bernada kaget dan gusar. tak dapat ia berkutik. ia cuma mendorong saja denagn keras. ia cuma bisa berkelit dan menangkis. wilayah Barat. ia berhenti setengah jalan sambil terus berseru: ―Kau muridnya Hek Hong Siang Sat!‖ Dan seruan ini disusul sama gerakan tangan kanan. tapi tidak sekejam ini. Oey Yong terkejut melihat gerakan lawan ini. Sebab mereka semua adalah orang-orang kangouw berpengalaman dan terhadap Hek Hong Siang Sat. maka itu ia dapat melihat perlawanan si nona. kalau mulanya ia menaruh ―belas kasihan‖. Ia menggunai tipu silat ―Binatang jatuh di tengah udara‖.Pendekar Pemanah Rajawali Oleh karena berpikir begini. Banyak benar ragam ilmu silatnya. Terpaksa ia lantas berkelit. akan tetapi ia waspada. malah ia segera kenali suaranya Kwee Ceng. disaat si nona hendak memunahkannya. atas mana Oey Yong terhuyung ke belakang. maka berniat ia berkelit ke kanan. mereka jadinya ragu-ragu. yang mirip dengan ilmu silatnya saudara Som Sian Lao Koay. hingga Nio Cu Ong tidak dapat menguasai ia terlebih lama. itu disebabakan si nona cantik dan manis. ketika denagn sekonyong-konyong. tangan kanan ke atas. Oey Yong dapat mempertahankan diri. kepalanya di aksih mendak. ia bergerak denagn kedua tangannya. Ia kata dalam hatinya: ―Mustahil aku tidak mampu hajar mampus padamu. Menampak itu. Segera ia menyerang denagn jurusnya yang kesembilan. di malam yang tenang itu. mukanya menjadi pucat. ―Ha. lantas berkata: ―Budak ini barusan menggunai jurus Menggantung kumala di gantungan emas. yang mana ditambah sama kisikannya san-cu dari Pek To San itu. Untuk menangkis sudah tidak keburu lagi. Dengan gampang ia membebaskan dirinya. setelah ia dilayani dengan ilmu silatnya delapan partai. tangan kanannya meninju. rata-rata orang jeri. sedang si nona pun segera menjadi kelabakan. tangannya dan kakinya telah dicekal keras. tangan kiri di balik ke bawah. terus ia berontak sekuat-kuatnya.

pukulannya Nio Cu Ong bukan seperti pukulannya Wanyen Kang. Tepat enam dim dekat tajamnya tombak. mungkin ia dapat menolong aku…‖ Karena ini. Ia dapatkan sebuah kamar yang diterangi lilin tetapi penghuninya tidak ada.‖ Kwee Ceng pikir. tetapi Nio Cu Ong ada sangat gesit. untuk bersama Io Cu Ong dan yang lainnya pergi mencari ke lain-lain bagian dari istana itu. ―Ya. Kedatangannya ini pastilah diluar dugaannya Kwee Ceng dan onghui.‖ Hampir di itu waktu. ―Jikalau aku tidak datang sendiri untuk menghanurkan terima kasihku. denagn siapa ia berbicara. Putra itu lantas keluar pula. ia hampirkan itu. ia hanya memandang seluruh kamar. karena sakitnya dan kaget. tenaganya bertambah. ―Kau baiklah lekas pergi. Tidak antara lama. Segera ia maju untuk menyerang pemuda itu. Ia bertindak ke tembok. Ia melihat ke seluruh kamar. Nyonya agung itu duduk di samping meja. ―Setelah sebentar ia meniup lilin. Di situ ia mendekam. bertapak tanda lima jari. ―Istrinya Yo Tiat Sim‖.‖ sapanya. tandanya sudah lama tidak pernah digunakan lagi…. begitu juga onghui. dia membuatnya kamu ayah dan anak bersusah hati…. Saking takut. ia menghela napas lega. yang artinya. onghui mengunci pintu. Kwee Ceng lari terus. sudahlah. Maka itu. tangannya menjambak. aku akan lari dari jendela. ―Tidak boleh mereka dapat lihat kita…. lalu ia masuk ke dalamnya. Dari sela-sela lemari.‖ Tiat Sim tidak menyahuti. meskipun aku mati tidaklah aku dapat memeramkan mata. Dengan uujung bajunya. Orang yang datang itu adalah Yo Tiat Sim yang menyebut dirinya Bok Ek. di situ ia kasih turun tombak besi yang tergantung.‖ berkata Yo Tiat Sim. Dengan masih mencekal terus goloknya. Kemudian ia disusul oleh Wanyen Kang. ia susuti air matanya itu. Kwee Ceng lantas lari sekeras-kerasnya. Kali ini. disusul sama menjublaknya daun jendela itu dan mana segera lompat masuk satu orang. cuma kupingnya mendengar pembicaraan orang itu. Hendak ia beristirahat. sakitnya bukan main. di antara pohon-pohon dan gunung-gunungan. Sebentar kemudian. Cuma sebegitu jawabannya. di jendela terdengar satu suara keras. Kwee Ceng berkelit dengan berlompat ke belakang.‖ onghui itu menghela napas. ―Tombak ini sudah karatan. Kwee Ceng mengintai. bebokongnya kena terjambret hingga berdarah.Pendekar Pemanah Rajawali Nio Cu Ong bukan melainkan membikin terlepas cekalannya. Lantas ia pegang terus tombak itu. bajunya kena terpegang. Ia lihat yang datang itu onghui sendiri. setelah meminum darah ular. tangannya tiba di bebokongnya. Kwee Ceng terkejut. Tiba-tiba ia menjadi sangat berduka. malah nyonya itu mengasih dengar jeritan tertahan. Nio Cu Ong tidak dapat mencari. darahnya mengalir keluar. Segera tedengar tindakan kaki perlahan masuk ke dalam kamar. ia mengawasi Bok Ek itu. Akhir-akhirnya sambil menghela ia berkata.‖ bilangnya kemudian. ―Apakah tidak ada orang jahat masuk ke mari?‖ Onghui menggeleng kepala. Selama itu Kwee Ceng terus diam saja.‖ Irawan D Soedradjat Page 229 . di situ ada terukir empat huruf ―Tiat Sim Yo-sie‖.‖ ―Terima kasih untuk kebaikan onghui. Ia meneliti gagang tombak itu. tanpa ia dapat menahan. baju itu lantas robek sebagian. ia lari ke dalam kamar si nyonya agung. Dia memang ringan tubuhnya. Satu kali Cu Ong berlompat. Ia menjadi kaget berbareng gusar. ―Aku percaya adik Yong sudah lama pulang….‖ Suara itu berirama sedih. pukulan ini mendatangkan rasa sangat sakit. akan buka pintunya. Kwee Ceng berayal. ia mengusap-usap. Kwee Ceng menyangka orang sudah ajak gadisnya pergi menyingkir. matanya bengong mengawasi lilin. untuk menyembunyikan diri. hingga mereka berlari-larian di taman. kedua matanya menjadi merah. Di sebelah timur ada sebuah lemari besar. Wanyen Kang bertindak masuk. air matanya menguncur turun. ia keluar dari tempat sembunyinya. Onghui dapat menenangkan diri. Di dalam hatinya ia berpikir: ―Onghui murah hati. hingga itu Nio Cu Ong tidak dapat segera menyandak. onghui kebetulan berada di kamar yang lain. ―Ma. ―Dalam kejadian itu adalah anakku yang salah. ia lompat masuk ke dalam rumah itu. juga kedua telapakan tangannya pecah dan berdarah. Kebetulan ia tiba di depan rumah petani dari onghui.

Tubuhmu lemah. famili pun tidak ada. mana ia percaya suaminya telah menutup mata. Ia lantas berbangkit. kenapakah kau berduka pula? Dengan siapakah kau berbicara?‖ Se Yok kaget tetapi ia lantas menyahuti: ―Aku tidak apa-apa. ―Sekarang aku letih sekali. ―Kau lihat. baju siapa ia tarik. ―Tidak peduli kau manusia atau setan. Mendengar kata-kata itu. Sekarang ia mengawasi lanjam yang berada si pinggiran tombak itu. Irawan D Soedradjat Page Mendapatkan ibu itu tidak hendak membuka pintu. ―Aku tidak takut!‖ katanya kemudian.‖ Tiat Sim menyahuti. terus ia gantung tombak itu. ia hanya bertindak ke samping meja. ia tidak lagi seperti masa mudanya. maka lantas saja ia tubruk suaminya itu dan merangkulnya erat-erat seraya ia menangis sedih sekali. ia roboh di kursi.‖ Wanyen Kang tidak lantas pergi hanya ia jalan mengitari rumah itu. air matanya turun bercucuran. hingga ia dapat lihat di lengan kiri orang satu tanda bekas luka. lantas aku pergi. ―Kau…kau kata apa?‖ tanyanya. selama itu wajahnya tidak berubah banyak. suaranya menggetar.Aku akan turut kau ke lain dunia.‖ sahut sang ibu.Pendekar Pemanah Rajawali Agakanya onghui heran atas lagak-lagu orang itu.‖ ia berkata pula. Ia jumput sepotong baju. Sudah delapan belas tahun ia tinggal di istana. Di pintu ia berhenti dan mengetok perlahan beberapa kali. aku hendak tidur…. di akhirnya ia serahkan dirinya dijadikan onghui atau selir.‖ katanya perlahan.‖ katanya. untuk menarik lacinya meja itu. hendak aku bicara denganmu. kemudian ia gulung tangan bajunya. Sampai sekian lama baru ia dapat membuka mulutnya. Tidak dapat ia menampik bujukannya pangeran itu yang perlakukan ia dengan baik sekali. ―Kenapakah?‖ Tiat Sim tanya. ―Lekas kau bawa aku pergi…. ―maka besok baiklah suruh Thio Bok-jie dari dusun timur membetulkannya. ―Kenapa…kenapa kau ketahui kata-katanya suamiku pada itu malam dari saat kematiannya…?‖ Hancur hatinya onghui ini yang sebenarnya bukan lain daripada Pauw Sek Yok atau nyonya Yo Tiat Sim. siauw-ongya ini menjadi semakin bercuriga. akan hampirkan Tiat Sim. Rumah tangganya telah runtuh. kau pun tengah mengandung. ―Itulah barang yang aku paling hargai. Itulah pakaian yang ia pakai pada dulu hari. tubuh onghui bergemetar. Di dalam situ ada tersimpan beberapa potong pakaian pria. Ia menjadi curiga sebab tadi terang ia dengar suara orang berbicara. ―Ujung lanjam ini sudah rusak.‖ . ―Kau…kau siapa?‖ tanyanya. tidak dapat aku lepaskan kau!‖ katanya. ia kerebongi itu pada tubuhnya: ―Bajuku telah cukup dipakai. ―Ah…‖ Tiat Sim bersuara perlahan. Pauw Sek Yok tidak dapat lantas mengenali suaminya itu. Ia berdiam aja mengawasi Tiat Sim. ―Ma. Hanya sejenak kemudian ia bertanya: ―Mustahilkah kau belum mati? Mustahilkah kau masih hidup?‖ Tiat Sim hendak menyahuti istrinya itu tatkala mereka mendengar suara Wanyen Kang dari luar kamar: ―Mama. kau baik-baiklah beristirahat. Ia ingat betul. dengan menambah setengah kati besi…‖ Tiba-tiba saja onghui menjadi lemas kedua kakinya.‖ sahut si nyonya agung. apakah aku setan?‖ kata suaminya ini kemudian. Yo Tiat Sim tidak menjawab. 230 ―Besok saja. maka itu sekalipun mereka berada di dalam sebuah kamar. ―Aku bilang lanjam ini sudah rusak. untuk mati bersama…Aku lebih suka menjadi setan untuk tetap berada bersama denganmu…!‖ Tiat Sim rangkul istrinya itu. itulah kata-kata suaminya dulu hari tempo ia tengah hamil membuatkan sepotong baju baru. biarlah besok besok suruh Thio Bok-jie dari dusun timur memperbaikinya dengan tambah setengah kati besi…‖ katanya peralahan. Sekarang ia tidak bersangsi pula. See Yok memeluk erat-erat. tak usah kau membikin pakaian lagi untukku…‖ Sek Yok terkejut. baju dan celana biru. ―Aku minta janganlah kau raba tombak itu. Sebaliknya To Tiat Sim yang mesti hidup dalam pengembaraan. ―Aku hendak omong sedikit saja. dengan terpaksa ia turut Wanyen Lieh pergi ke Utara.

ia lepaskan Sek Yok dan bertindak ke jendela dengan niat lompat keluar. Ia menjadi curiga sekali. untuk mengasih bangun pada ibunya. jendela itu keras. hatinya berdenyut. ― Di dalam lemari itu ada seorang sembunyi.Pendekar Pemanah Rajawali Tiat Sim menduga orang bakal masuk ke dalam. apakah tidak ada orang masuk ke mari?‖ putra itu tanya pula.‖ ―Ma. ―Aku tempur itu anak tolol dengan andalkan kepandaianku.‖ katanya. ―Orang jahat telah nyelusup masuk kedalam istana. Ia masih menghirup beberapa kali. ia segera tabrak pintu kamar itu. Sambil berbuat begitu. kau tidurlah!‖ Putra ini memberi ucapan selamat malam. tapi disaat ia hendak mengundurkan diri. Begitu pintu lemari terpentang. ular naga melayang‖. ―Bagaimana tadi permainan tombakku. di tubuh siapa ia menyanderkan diri. Irawan D Soedradjat Page 231 . hatinya bekerja. ―Ma. Wanyen Kang berkhawatir mendengar jeritan ibunya itu. ―Hatiku tidak tentram. ada terjadi apakah?‖ ia menanya. bagus atau tidak?‖ ―Lain kali aku larang kau menghina orang karena kau andalkan pengaruhmu. Sebelum orang nerobos masuk. ―Begitu?‖ tanya ibunya. Itulah gerakan ―burung hong terbang. Di dalam kamar itu tapinya tidak ada lain orang.‖ sahut si ibu. ia tetap mengawasi ke lemari.‖ Putra itu menghampiri ibunya. Tiat Sim suka menurut. ibu tahu di dalam lemari ini ada orang…‖ pikirnya. Di dalam lemari itu tertampak Kwee Ceng. melihat siapa onghui menjadi tergugu. maka kembali timbul kecurigaannya. Ia batal pergi. kau pergilah. ia dapat melihat ujung baju di sela-sela lemari. Sembari minum. batal ia menikam lemari disaat ujung tombak hampir mengenai daun pintu lemari.‖ katanya. baru ia berbangkit. ia takut ibunya diganggu orang jahat. maksudnya menganjurkan suaminya itu masuk ke dalamnya untuk bersembunyi. rupanya ada orang yang menahannya dari sebelah luar. hingga daun pintunya mejeblak terbuka. ―Ah. tangannya diulur kepada tombak.‖ sang ibu bilang. tetapi ketika ia menolak. ―Tentara pengawal semuanya kantong nasi!‖ katanya. Kwee Ceng tarik Tiat Sim masuk ke dalam lemari. tiga orang menjadi terkejut sekali.‖ demikian pikirnya. Dasar anakmu yang buruk…. Pauw Sek Yok segera menunjuk ke lemari. ia kaget bukan main. Urusan itu kau jangan campur tahu!‖ Wanyen Kang tertawa. Wanyen Kang dapatkan ibunya bermuka pucat dan mukanya itu bermandikan air mata. aku tak akan main gila lagi. Ma?‖ sahut si anak. Pauw Sek Yok melihat itu. untuk menjambret pintunya untuk dibuka. ―Ma. Ia lantas bertindak ke lemari yang ditunjuk itu. Ia memang tidak rela meninggalkan istrinya itu. Ia pun menuang the ke dalam cangkir.‖ Wanyen Kang beritahu.‖ ―Nah. hingga ia mengeluarkan jeritan tertahan. baiklah. Tapi Wanyen Kang telah menahan gerakan tangannya.‖ Ia telah sampai di tembok. hingga ia lantas roboh pingsan. untuk di minum dengan perlahan-lahan. begitu lekas ia mencekal dengan baik – yang mana ia lakukan dengan luar biasa cepat – mendadak saja ia menikam ke arah lemari. ―Aku mau tidur. ―Ma. ―Siapa mengandalkan pengaruh. Ia lantas senderkan tombaknya. ―Ma. ―Aku minta supaya kau jangan bersusah hati. ―Siapakah dia?‖ tanya ibunya. entah ibu mengetahuinya atau tidak. ―Tidak apa-apa. yang menenangkak dirinya. Dengan pundaknya.‖ kata ibu itu. yang pintunya ia segera tutup pula. ―Sekarang lekas kau pergi tidur. Ia pun lihat ibunya itu roboh. ia lantas ambil tempat duduk. bertindak perlahan-lahan.

‖ sahut ibunya itu. ―Mana bisa ayah tinggal di sini?‖ Sek Yok menghela napas. kau tidak dapat tinggal di rumah bobrok ini bersama-sama dengan ayah dan ibu kandungmu snediri…. ―Ma. kapan ia dapatkan lemari tidak kurang satu apa. anakmu membawakan kau perabot rumah tangga yang baru tetapi semua itu ibu tolak. dialah pangeran Chao Wang. ―Aku ini anak kandungmu atau bukan?‖ ―Tentu saja. kau tidak punyai untung bagus. bangku.‖ Sang putra heran hingga ia mengawasi dengan matanya dibuka lebar-lebar.‖ Karena memikir ini. mungkinkah ia hendak menyuruh anaknya itu mencelakai aku?‖ Ia lantas dengar perkataannya Pauw Sek Yok: ―Tombak ini tadinya berada di dusun Gu-kee-cun di kota Lim-an.‖ berkata Wanyen Kang. ―Kenapa mama suka sekali tinggal di ini rumah bobrok. hatinya menjadi lega.‖ menjawab anak itu. ―Taukah kau siapa ayahmu yang sebenarnya?‖ Sek Yok menanya.‖ katanya keras. ibukota dari kerajaan Song di Kanglam. habis itu barulah aku mencari jalan pendekku…. apakah katamu?‖ tanyanya saking heran. tubuhnya menjadi lemah sekali. Wanyen kang tertawa. biarlah mereka ayah dan anak bertemu. inilah kesalahan besar yang tidak dapat diperbaiki lagi. ―Apakah kau sudah lihat itu ukiran empat huruf di gagang tombak?‖ Pauw Sek Yok tanya. Tiat Sim dalam lemari telah dengar nyata pembicaraan di antara ibu dan anak itu. ―Ma. ―Kenapa mama menanya begitu?‖ Irawan D Soedradjat Page 232 .‖ ―Sampai sebegitu jauh aku tidak mengerti. ―Kau duduklah baik-baik. yang segalanya serba dilukis dan diukir dan diperaboti mentereng! Anak. ia heran dan bercuriga. ―Ma. Wanyen Kang mengawasi ibunya. ―Sedari aku masih kecil telah aku menanyakannya.‖ Jantungnya Tiat Sim berdenyut.‖ berkata dia. Itu lanjam di tembok dan semua perabotan dalam ruangan ini. Hanya karena kagetnya itu. ia berduduk.‖ ―Kau menyebutkan rumah ini bobrok?‖ tanya sang ibu. ―Aku justru merasa ini jauh terlebih bagus dibandingkan istana yang indah.‖ sahut Wanyen Kang. kau dengari aku bicara. makin lama kau bicara. pedih ia merasa.‖ kemudian kata si ibu. ―Kasihan ayahmu itu. Aku telah hilang kehormatan diriku. tetapi tombaknya masih dipegangi. lemari dan pembaringan. ―Tetapi ibu tidak hendak menjelaskan siapa Yo Tiat Sim itu. makin aneh!‖ katanya. Aku sengaja menitahkan orang melakukan perjalanan jauh ribuan lie untuk mengambilnya. air matanya lantas bercucuran deras. Hatinya Pauw Sek Yok goncang keras. hatinya tergoncang keras. maka dalam dunia ini tidak bisa aku hidup pula bersama Tiat Sim. Wanyen Kang telah menyaksikan kelakuan ibunya ini. ―Ayahku adalah adiknya sri baginda. Ia pikir: ―Kejadian ini mesti dijelaskan kepada anak ini. Putra itu menurut.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok sadar dengan perlahan-lahan. selama delapan belas tahun dia berkelana di duni kangouw. suaranya keras. mana dapat ia mengikuti pula aku seorang rakyat kasar? Dia hendak membuka rahasia. ―Kenapa kau menanya begini?‖ ―Kalau begitu. Ia pun berpikir: ―Sekarang dia telah menjadi satu onghui. kenapa ada apa-apa yang disembunyikan kepadaku?‖ si anak bertanya pula. ―Sekarang aku akan menerangkannya kepadamu. tidak ada satu yang bukan dibawanya dari Lim-an.‖ kata ibu itu. ―Oleh karena itu mana bisa dia berdiam dengan tenang dan tentram di rumah ini…. seperti meja.

Ia hanya lupa. di sana ada sebuah piasu belati yang gagangnya berukiran dua huruf ―Yo Kang‖ itu. walaupun Khu Cie Kee lihay. pikiranmu was-was. yang ia terus peluk dan angkat untuk dibawa lari keluar dari rumah bobrok itu.‖ katanya. mereka mencekal masing-masing satu ujungnya tombak itu.Pendekar Pemanah Rajawali Ibu itu berbangkit. ia serang bebokongnya Yo Tiat Sim. ia pegang tangannya Yo Tiat Sim.‖ katanya sesegukan. ia membentak: ―Ilmu silatku ini diwariskan cuma kepada anak laki-laki. maka ujung tombak lantas kena terpegang. ia merasakan sambaran angin ke arah kepalanya. Itulah menandakan lihaynya si 233 Yo Tiat Sim tidak pedulikan pangeran itu. ―Ayahmu ada disini!‖ Sek Yok bilang. ia membentak: ―Kau telah bertemu dengan ayahmu sendiri. Kemudian piasu itu telah dipakai menikam mati pada Tan Hian Hong si Mayat Perunggu. Meski begitu. yang mendadak saja menikam Bok Ek. tidak dapat ia menyerang. Tapi ia masih sadar. Saking tergugu. Tombak ini…inilah senjatanya ayahmu yang sejati…‖ Ia pun lantas menunjuk pada ukiran empat huruf di gagang tombak: ―Ini barulah namanya ayahmu itu!‖ Tubuhnya sang putra bergemetar. tapi ia tidak dapat mengerti sedalam-dalamnya ilmu silat Keluarga Yo itu. ―Kau tidak tahu. tidak kepada anak perempuan. di mana ia pernah dengar itu. maka juga sambil berlompat dengan gerakan ―Seekor belibis keluar dari rombongannya‖. gadisnya itu. maka ditegur begitu. Ia menjadi kaget sekali. pangeran itu menjadi tercengang. ―Ma. untuk buka pintunya. Ia telah mainkan ilmu silat Keluarga Yo bagian jurus ―Hui ma chio‖ atau ―Membaliki kuda‖. Disaat ia hendak melompat tembok. Wanyen Kang heran bukan kepalang. sedang Sek Yok menjerit: ―Inilah ayahmu! Apakah kau masih tidak percaya?‖ Lantas ia benturkan kepalanya ke tembok hingga tubuhnya terus roboh ke lantai. untuk di tarik keluar. yang kaget sekali. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng juga tidak berani berayal-ayalan. yang gagangnya sudah tua. Tempo keduanya saling membetot. segera ia pun lari keluar. dari itu tentulah gurumu tidak dapat mengajarakan kepadamu!‖ Memang benar. Wanyen Kang kaget. gagang tombak itu patah sendirinya. tetapi nama kau ialah Yo Kang!‖ Mendengar di sebutnya nama Yo Kang itu. ia jadi berdiri menjublak. tanpa menanti musuh menarik pulang tombaknya. lantas air matanya turun dengan deras. jadi kepandaian Wanyen Kang menggunai tombak itu belum sempurna. Kwee Ceng lantas lompat maju. ia telah tiba di luar. . untuk menangkis seraya mencekal. ―Apakah kau sangka kau adalah orang bangsa Kim? Kau adalah orang Han! Kau bukannya bernama Wanyen Kang. Maka seraya memutar tubuh. sesudah mana. ia menjadi tidak berayal.‖ ―Aku was-was kenapa?‖ ibu itu bilang. Ia lantas memutar tubuhnya. Bab 21. akan lihat ibunya itu. ―Nanti aku minta ayah datang ke mari!‖ katanya. tempo ia masih kecil. ―Nanti aku pergi panggil tabib. dengan bawa istrinya . Ia sudah lantas disambut Bok Liam Cu. Tiat Sim tubruk istrinya itu. ia peluki tombak besi itu. Inilah hebatnya untuk tombak itu sendiri. anak. Kemudian ia ingat. ―Oh. kenapa kau masih tidak berlutut untuk memberi hormat!‖ Wanyen Kang bersangsi. Semua Berkumpul Tiat Sim mendengar angin menyambar belakangnya. kiranya kau!‖ seru pangeran itu. inilah tidak heran. maka bersama-sama mereka melompati tembok untuk menyeingkirkan diri. Dengan begitu. ―Lepaskan!‖ teriak Wanyen Kang. cepat sekali ia mendak. ia putar tubuhnya. akan tetapi sekarang ia memeluki Pauw Sek Yok dengan tangan kanannya itu. ―Kau tidak dapat disesalkan. yang di arah tenggorokannya. ia merasakan perih bagaikan kebaret pisau. Lantas dia bertindak cepat le arah lemari. ialah tipu istimewa yang hanya diketahui keluarganya yang mewariskan ilmu silat itu. angin menyambar lewat di mukanya. yang kepalanya mandi darah dan napasnya empasempis. Sebenarnya habis itu. ia putar tangan kirinya ke belakang. Tiat Sim berkelit. tangan kanannya sudah mesti membarengi menyerang. Kemudian lagi piasu itu lenyap entah ke mana. Kwee Ceng ingat segera ingat satu nama yang ia rasa kenal baik.

‖ Oey Yong tertawa lagi. ―Nama Hek Hong Siang Sat pernah aku dengar.‖ Oey Yong bilang tanpa pedulikan perkataan orang. kelihatannya cuma Auwyang Kongcu yang bisa menghalangi nona ini.‖ ia berkata.‖ berkata orang she Pheng ini. ―Mereka itu – ini nona-nona cantik yang menunggang unta putih – adakah mereka orang-orangmu?‖ dia menanya. Irawan D Soedradjat Page Oey Yong agaknya jengah. tidak ada kejahatan yang mereka tidak lakukan. aku si orang tua sudah lama menantikanmu di sini!‖ Itulah suaranya Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong! Pada itu waktu di lain kalangan. ―Maafkan. mengapa kau tidak membantu aku?‖ dia tanya.‖ sahut si nona. maka itu. Mau tidak mau. hingga wajahnya bersemu merah. yang dikatakan Pheng Lian Houw sebagai gurunya. hitunglah kau telah menang. Pheng Lian Houw menggeser tubuhnya ke samping. jikalau dalam sepuluh jurus kau tidak dapat mengenali ilmu silatku. apa perlunya gurumu menitah kau datang kemari?‖ Oey Yong tertawa. ―Kecantikan mereka itu tidak ada separuhnya dari kecantikanmu. Oey Yong mengawasi.‖ dia kata.Pendekar Pemanah Rajawali penyerang. mereka menjadi saling mengawasi. lantas bertindak perlahan.‖ . ―Nona kecil. jadinya mereka adalah orang-orang dari Rimba Persilatan? Kenapa Pheng Cecu samakan aku dengan mereka itu?‖ Mulanya orang menyangka nona ini tidak hendak omong terus terang. Ia menyahuti dengan membentak: ―Jurusmu yang terakhir adaöah jurus ―Tindakannya si binatang sakti‖. sambil tertawa Oey Yong kata kepada cecu itu: ―Kau kalah!‖ Ia berbicara dengan terpaksa. ―Apa yang aku tahu tentang mereka ialah mereka pengrusak perikeadilan dan prikemanusiaan. ―Di sini ada beberapa tua bangka yang hendak menyusahkan aku. Mereka pun telah mendurhaka terhadap guru dan kakek guru mereka. ―Hanya kau bilanglah. ―Apakah shemu?‖ Lian Houw menanya pula. kecuali Leng Tie Siangjin dan Auwyang Kongcu. maka habis berkata. hingga tidak dapat ia menggeraki tubuhnya. menegaskan.‖ ia menyahut. dengan kepandaian semacam itu dari mereka. Semua orang di situ. kenapa sekarang kau menyangkal?‖ Pheng Lian Houw gusar sekali. aku tidak berniat mengganggu padamu. ―Aku si Lao Pheng kagum sekali untukmu! Sekarang aku memikir untuk meminta tanya namamu yang harum. Dia menyenggapi: ―Kau sendiri yang bilang. oleh karena Leng Tie Siangjin telah terluka parah. dari heran mereka jadi mau mempercayai. ia dengar bentakan: ―Anak tolol.‖ katanya. Auwyang Kongcu. sambil tersenyum. kau akan membiarkannya aku berlalu dari sini. ―Aku yang rendah dan bodoh. aku dipanggil Yong-jie. ingin aku meminta pengajaran beberapa jurus dari nona. tatkala mendengar Pheng Lian Houw mengatakan ialah muridnya Hek Homh Siang Sat. telah menjadi pecundangnya nona ini. ―Aku tidak punya she. ia terus putar tubuhnya dan bertindak ke pintu. akan tetapi mendengar ia bicara demikian hebat terhadap Hek Hong Siang Sat. ―Laginya. ―Oleh karena kau adalah muridnya Hek Hong Siang Sat. mereka mana tepat menjadi guruku?‖ ―Percuma kau menyangkal!‖ bilang Lian Houw. karena hatinya cemas bukan main mendengar suaranya Kwee Ceng. ―Belum pernah aku melihat Hek Hong Siang Sat. terutama untuk pakaian orang yang serba putih. Cuma dengan satu kelebatan. yang tersenyum. ―Apakah kau telah bertemu dengan mereka itu?‖ tanyanya. Kau adalah satu laki-laki sejati. Selagi ia terkejut. 234 Auwyang Kongcu tertawa. Pheng Lian Hoauw sudah mengahdang di ambang pintu. semua mata ditujukan kepada pemuda she Auwyang ini. Orang boleh berdusta hebat tetapi tidak nanti ada murid yang berani mencela dan mencaci guru sendiri di hadapan orang banyak. Apakah itu bukannya pengajaran dari Hek Hong Siang Sat?!‖ Oey Yong tertawa pula.

Oey Yong telah robohkan delapan dari nona-nona itu. . dia mengerling kepada si nona. ia lantas mengasih dengar suaranya. Maka juga sejak beberapa tahun dia sudah kirim orang ke pelbagai tempat. dengan semua dimestikan mengenakan pakaian serba putih seraya menunggang unta-unta putih juga. Di luar sangkaan mereka. ―Memang tidak ada yang terlebih baik daripada aku mengangkat kau menjadi guru. Mereka ini berkumpul di luar selagi Auwyang Kongcu berpesta. dari itu dengan sendirinya mereka itu menjadi juga murid-muridnya. mana aku tega membalas memukul?‖ katanya kemudian. Serombongan di antaranya. guna mengambil hatinya suami merangkap guru itu. hingga ia menjadi tergila-gila sampai umpama kata kepalanya pening. ―Asal kau angkat aku menjadi gurumu dan untuk selamanya kau mengikuti aku. belum tentu ada tandingannya. Dengan lantas mereka berdiri berkumpul di belakangnya anak muda itu. ―Kalau mereka itu menghalangi aku. adalah mereka yang di tengah jalan bertemu dengan Kanglam Liok Koay dan Kwee Ceng.‖ . tapi Auwyang Kongcu cerdik. Ia mengharap. mereka jadi kaget sekali dan tergiur hatinya. ―Umpama kata aku menjadi muridmu. Sebentar saja di muka pintu terlihat beberapa puluh wanita muda dengan pakaian serba putih yang berseragam. ―Aku tidak percaya!‖ ujarnya. kau bantu aku. Oey Yong mengasah pula otaknya. ia menjagoi seorang diri. semuanya bakal datang. ―Nah.‖ katanya. ia ketahui kepandaian silat mereka itu biasa saja. kau kemarilah! Kau tak usah takut. dia pecah mereka dalam beberapa rombongan. mereka gagal. Pheng Lian Houw semua seperti bermata kabur. tak usahlah untuk selama-lamanya aku mengikuti kau!‖ dia bilang. maka juga ia terus pergi ke ambang pintu. sedang di bawah sinar merah dari api lilin. supaya dengan begitu kemudian aku tak usahlah menerima penghinaan orang. ―Bagaimana?‖ si nona menanya.ia tidak nyana mereka itu kalah dari Oey Yong. Dia kelihatannya tenang dan puas.‖ ―Apakah kau hendak mencobanya?‖ Auwyang Kongcu menegaskan. dia datang ke kota raja – Yan-khia – dengan mengajak sekalian gundik-gundiknya yang merangkap murid-muridnya itu. Irawan D Soedradjat Page 235 ―Baiklah!‖ berkata kongcu itu. untuk mencari nona-nona cantik dan manis. melainkan tubuh orang ada yang kurus dan montok. Tapi ia pun gemar sekali pada paras elok. Oleh karena gundik-gundiknya itu banyak. Ketika di Kalgan. wilayah Barat. sekarang ia sengaja permainkan Auwyang Kongcu supaya orang mengumpulkan gundik-gundiknya itu. dengan tajam ia menatap. yang keringatnya merah. mereka jadi ketarik hati dan ingin merampasnya untuk diserahkan kepada Auwyang Kongcu. ia ajarkan mereka itu ilmu silat dan ilmu surat. Adalah diwaktuwaktu yang senggang. ―Untuk aku membantu kau.‖ ia bilang. memandang nona-nona manis itu. selagi orang berkumpul banyak. ia dapat mencari jalan untuk meloloskan diri. yang ia percaya adalah tercantik di kolong langit ini.‖ Si nona tertawa. dengan perlahanlahan dia mengipasi dirinya. ―Semua muridku wanita dan asal sekali saja aku memanggil. hendak aku pergi!‖ katanya si nona pula. yang berjumlah delapan orang. Auwyang Kongcu pun bangga akan gundik-gundiknya itu. ―Walaupun kau pukul aku. maukah kau?‖ Auwyang Kongcu tertawa. aku tidak akan balas menyerang. Dia sengaja menitahkan mereka menyamar sebagai pria. Auwyang Kongcu hendak membuktikan perkatannya. ―Apakah tanpa membalas menyerang kau dapat mengalahkan aku? Benarkah?‖ Pemuda itu tertawa. Mereka dengar itu Biauw Ciu Sieseng bicara perihal kuda jempolan. dia rupanya telah dapat menerka. tinggi dan kate. di See Hek.Pendekar Pemanah Rajawali Auwyang Kongcu tidak bisa lantas menjawab. Ia merasa hatinya gatal dan tulangtulangnya lemas…… Anak muda ini lihay ilmu silatnya.sekalipun di dalam keraton raja. Demikian hatinya goncang kana mendengar suara orang yang merdu itu. ―Murid-muridku beda daripada murid-muridnya orang lain.‖ Oey Yong miringkan kepalanya. untuk dia ambil mereka itu sebagai gundik-gundiknya. itu pun dapat. Kali ini ia berlalu dari kampung halamannya atas undangan Chao Wang. ―Nah. baru mereka muncul setelah ada panggilan. Mengetahui akalnya gagal. ―Jikalau kau benar-benar lihay.‖ Auwyang Kongcu bilang. . ―Benar!‖ jawab si nona.

‖ Maka ia sambuti ikat pinggang itu. habis mana ia bawa kedua tangannya ke belakangnya. ―Hendak aku telingkung tanganmu ke belakang!‖ ―Baik. begitu kedua tangannya dirapatkan. segera ia merasakan pukulannya itu membal balik. kalau kita berdua sama-sama keluar dari lingkaran. meminjam tenaga untuk menyerang tenaga. ―Tentu saja! Tapi kalau kau yang kalah. maka itu. sebenatr saja ia sudah tiba di dekat pintu. Auwyang Kongcu sudah lantas mengegos tubuhnya akan tetapi sia-sia saja ia berkelit. kaki kanannya terus menggurat. pada wajahnya ia tidak ketarakan suatu apa. Ia pikir: ―Terang sekali orang ini tidak bermaksud baik. di atasnya mana ada bercokol satu paderi dari Tibet yang tubuhnya tinggi dan besar. yang terbuat dari benang sutra tetapi kuat. bersedia untuk dibelenggu. ia taruh itu di lantai. Oey Yong hendak menegur di pederi itu tetapi ia telah di dahului Leng Siangjin. yang terus buka ikatan pinggangnya yang ia serahkan kepada si nona. dia yang kalah. yang satu enteng. yang lain keras. pemuda ini benar-benar ceriwis.Pendekar Pemanah Rajawali Lian Houw semua heran. Ia sudah lantas berkelit ke samping. ―Baik!‖ kata Oey Yong. hingga ia lantas terhuyung sendirinya. akan tetapi ia gunai kepandaiannya. dia duduk seperti terpaku di kursinya. Lingkarannya sendiri dalam kira setengah dim. kemudian seraya ia bertindak masuk ke dalam lingkaran itu. suatu tanda dari kuatnya kaki kanannya itu. ―Jikalau kau kalah. Ia bukan cuma bertindak masuk saja. Dia duduk di kursi tapi ia lebih tinggi dari si nona. keluar dari lingkaran. ia kata: ―Aku hendak pergi sekarang! Kau tidak dapat keluar dari lingkaran untuk menyusul aku! Tadi kau sendiri yang mengatakannya. dengan itu ia terus ikat tangan orang. ia menginsyafi keadaan yang tidak wajar. meski begitu yang terkejut adalah si nona sendiri. Dia hanya bisa berdiri menjublak tanpa bisa bicara apa-apa! Si nona tidak menghiraukannya lagi. Sebaliknya. maka kau mesti baik-baik turut aku. dia buktikan perkataannya itu. benda itu adalah sebuah kursi thaysu. hingga ia dapat berlompat bersama-sama kursinya itu. yang dari dalam jubahnya mengasih keluar sepasang cecer tembaga. aku bekerka setindak demi setindak…. yang orang benar-benar menyerahkan diri untuk dibelenggu. Hanya begitu ia berada di luar. Oey Yong heran. kedua tangan si nona mengenai tepat pundaknya. lalu dengan kaki kiri menahan diri. ―Begitu pun boleh dianggap aku yang kalah. Maka terlihatlah gelang rambutnya yang terbuat dari emas itu berkeliauan dan bajunya yang putih berkibar-kibar. walaupun dia lebih pandai sepuluh lipat. yang lain berat. mana bisa dia mengalahkannya tanpa dia membalas menyerang? Mungkinkah dia hendak menggunai ilmu siluman?‖ ―Aku tidak percaya yang kau benar-benar tidak bakal balas menyerang!‖ bilang Oey Yong pula. ―Jikalau dua-duanya yang keluar?‖ Oey Yong masih menanya. Auwyang Kongcu lonjorkan kaki kanannya. tetapi menerjangnya berbareng. yang satu lemah. kau yang kalah!‖ Auwyang Kongcu tercengang karena herannya.‖ Karena ini. Lingkaran pun seluas enam kaki. dengan begitu ia membuat lingkaran. Hal ini membuat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw kagum sekali. Kongcu itu lihay tenaga dalamnya. Semua orang tua di sini menjadi saksinya!‖ kongcu itu memberi kepastian. Mereka pun dapat anggapan. bukan?‖ si nona menegaskan. yang lantas bertindak memasuki lingkaran itu. tetapi hatinya terkesiap. ia bertindak dengan tenang.‖ berkata Auwyang Kongcu.‖ sahut Auwyang Kongcu. berbunyilah alat tetabuhan itu Irawan D Soedradjat Page 236 . ia tetap senyum. ―Bagaimana sekarang – bagaimana kalah menangnya?‖ si nona tanya.‖ jawab Auwyang Kongcu. Anehnya. dengan kecerdikannya. Mereka pikir: ―Nona ini lihay. ia menjadi berpikir keras. segera ia percepat tindakannya itu. maka sungguh hebat jikalau aku sampai kena dibekuk dia…. ia berputar dengan kaki kiri itu. Sebab ia mengerti sembarang waktu bisa terjadi perubahan. tangan kiri dengan jurus ―Angin menyambar yanglui‖. toh kau tidak bakal merintangi aku lagi. ―Siapa yang keluar dari lingkaran ini. Lekas ia mengambil putusan: ―Biarlah. dia membilang tidak akan membalas menyerang. maka begitu serangn Oey Yong mengenakan padanya. tiba-tiba terlihat berupa benda besar yang melayang jatuh di depannya. karena begitu tangan mengenai sasaran. tindakannya pun dihentikan. begitu masuk lantas kedua tangannya bekerja. Ia tentu saja tidak berani menyerang untuk kedua kalinya. yang mengenakan jubah warna merah. hampir ia melintasi garis lingkaran itu. Segera ia dapat kenyataan.

supaya setibanya di bawah. terus tubuhnya terjatuh hingga ia menjerit keras. kaki kirinya ditekankan di atasan cecer yang di bawah tubuhnya dipengkeratkan. Sebentar kemudian dia sampai di satu tempat. Serangannya Leng Tie Siangjin tepat mengenai sasarannya. sebuah lagi di bawah. Som Sian Lao Koay ingin membekuk orang untuk dihisap darahnya! Kwee Ceng dapat lari keras. Di dalam hatinya ia menghibur diri. orang menjadi heran sekali. dia terjatuh ke dalam sebuah liang. Untuk kagetnya.‖ Hauw Thong Hay mengulur lidahnya. hingga tidak ampun lagi. Oey Yong seperti juga tidak dapat menahan tubuhnya. asal ke tempat yang gelap. Bahaya tidak dapat dicegah lagi. Oey Yong tidak menjadi gugup. Orang menjadi kaget hingga mereka pada berseru. ―Syukur aku tidak sampai kena menghajar budak itu…‖ katanya. Cuma. Hingga istana pangeran itu menjdai kacar dan gempar! Di pihaknya Kwee Ceng. karena ia berlompat maju. dia kena injak bukan batu atau tanah keras. Tapi ia masih sadar. Ia masih heran tatkala di depan matanya berkelebat suatu sinar. Dia heran yang di pekarangannya istana ada tempat yang demikian. menanyakan itu kepada kakak seperguruannya. yang dalamnya beberapa tombak. Nona yang begitu cantik manis. dia dapatkan sebuah tengkorak manusia. Dalam keadaan seperti itu. Ia penasaran. dia pun berlari-lari di tempat yang gelap. bagaikan rebung muda atau pedang yang ditancap di tanah. maka sekejap kemudian. dia takutnya bukan main. di antara gelap petang tidak dapat lagi ia melihat bayangannya si nona. hanya serupa benda licin. ia lari mencari. juga isi perutnya. ialah punggung si nona. maka sambil serukan sekalian gundiknya. dia mesti menderita sebab tertusuk duri-duri landak itu. tak usah dia jatuh terbanting. ia menjadi mendekati si orang suci itu. hingga ia seperti hendak menyerbu ke rangkulannya lawannya itu. di mana ada banyak pohon berduri serta batu muncul di sana-sini. selatan atau utara. sebaliknya. Sembari berbicara. Lekas-lekas ia merayap bangun. Dalam kagetnya. tangan kanannya diangsurkan. Kali ini Leng Tie Siangjin mengangkat tangannya.sebuah di atas. untuk menampa dasarnya cecer. Maka siapa memukul atau menendangnya. Cu Ong sebaliknya mengejar dia dengan hebat. ketika dia merasakan sakit pada kakinya. Irawan D Soedradjat Page 237 . dia lari tanpa memilih lagi jurusan timur atau barat. ia terus terpeleset dan terguling. walaupun itu sudah lolos dari bahaya.‖ Hauw Thong Hay. sebab telapakan tangannya pecah menjadi sepuluh liang kecil. hingga mereka tercengang. Pheng Lian Houw berseru: ―Budak itu memakai Joan-wie-kah! Itulah mustika pemilik pulau dari pulau Tho-hoa di Tang Hay!‖ See Thong Thian pun berseru: ―Dia masih begini muda.Pendekar Pemanah Rajawali hingga menulikan kuping. Baju itu mempunyai duri yang seperti duri landak. kenapa dia dapat memiliki Joan-wie-kah itu?‖ Sementara itu Auwyang Kongcu sudah berlompat. hanya tempo ia sampai di luar. lalu sepasang cecer itu menyambar ke arahnya…. tangannya terus dipakai merebaraba kepada benda itu. ia pun tidak berlompat itu lari menyingkir. Mendadak kakinya menjadi lemas. ―Baju lapis itu tidak takut kepada senjata tajam seperti golok dan tombak. Malah Chao Wang juga menitahkan Thung Couw Tek mengepalai barisan pengiringnya pergi mencari. Ketika akhirnya kakinya tiba di dasar liang. dengan begitu. yang tertusuk duri. bukan saja tulang-tulangnya bakal patah. dia lantas siapkan kakinya. Selagi orang kaget. si nona sendiri melayang terus bagaikan layangan putus. sampai di luar gedung! Dari kaget. Dia menjadi terlebih kaget. ynag tidak tahu apa itu Joan-wie-kah. yang bertemu sama Nio Cu Ong. dia memukul ke arah tubuhnya si nona. dengan ilmu pukulan ―Tay ciu ini‖ atau ―Tapak tangan besar‖. maka maulah dia nanti merangkulnya…. Mungkin ia menerka. ia maju terus. Thong Hay dan Lian Houw sertia Thong Thian turut pergi mengejar. bakalan remuk semua…. ia sudah lewat di antara kedua senjata rahasia itu. sekian lama dia tidak dapat dicandak. Mereka lihat tangan kanan dari Leng Tie Siangjin mengucurkan darah. untuk berlari-lari keluar. ―Dia dapat lolos. ia justru mencelat ke depan.‖ Lian Houw lantas memberi keterangan. ―Di dalam bajunya ia memakai baju lapis yang lemas. dengan menjejak dengan kedua kakinya. Biar bagaimana tidak dapat ia melupakan nona yang manis itu. untuk mencari. satu suara keras segra terdengar. mungkin ia tidak terluka. pastilah bakal runtuh di tangan yang kasar dari si paderi. ―Pernahkah kau melihat landak?‖ Pheng Lian Houw mendahului menanya ―Tentu pernah aku melihatnya!‖ sahut orang she Hauw itu.

dialah seorang yang sedang sakit. Justru hatinya lagi berpikir. ke mana kau hendak kabur?!‖ dia berseru. ―Apakah kau hendak menyamar menjadi iblis untuk menakut-nakuti aku?!‖ dia menegur. ―Biarpun kau kabur ke istana Raja Akherat. Siapa sangka di temapt demikian boleh ada penghuninya. Nio Cu Ong tidak takut. Itulah sebuah kamar atau ruang bertembok tanah. dia bahkan tidak dapat melihat jeriji tangan di hadapannya. ―Aku datang kemari tidak sengaja. ia hanya kepada Kwee Ceng: ―Eh. Irawan D Soedradjat Page 238 . ia turut terkejut juga. Dia takut Kwee Ceng nanti bokong padanya. menyahuti orang itu. tidak dapat ia berdiam saja atau mendusta. Di belakangnya. Hanya karena berada di tempat gelap.‖ ia menduga-duga. Kemudian ia putar tubuhnya. Dia masih tidak dapat meraba sesuatu apa. ―Aku lagi dikejar-kejar orang….‖ ia mengeluh. Nio Cu Ong mendapatkan tangkapannya gagal. tahulah ia.‖ Sebagai seorang polos. hatinya goncang keras. Nio Cu Ong tengah menyerang padanya. dia andalkan kepandaiannya. di atas sana. bocah. akan aku susul padamu!‖ terdengar pula suaranya Nio Cu Ong. di sana habislah jiwaku…. Nio Cu Ong telah dapat mengetahuinya. ―Ha. dia tidak dapat melihat apa juga. Dia pun rtidak sudi memberi penyahutan. ―Terowongan ini mesti ada ujungnya. dia tidak bakal hidup pula! Apakah kamu sudah bosan hidup?!‖ Terang suara itu adalah suaranya seorang wanita. ia melihat ke sekitarnya. Ini pun ada penjagaan untuk lari terus andaikata Nio Cu Ong berlompat turun. dia dengar teriakannya Nio Cu Ong: ―Bocah. lekas naik!‖ ―Aku tidak ada begitu gila mau naik untuk mengantar jiwa…. Dalam liang gelap yang gelap itu. supaya ia tidak mengasih dengar suara apa-apa. di mana terdapat cahaya terang. dia menyusul terus. Kwee Ceng menyingkir terus dengan hatinya memukul keras. terus ia mundur. dari pojok kiri terdengar ini suara dingin seram: ―Siapa berbuat kurang ajar di sini?!‖ Kwee Ceng kaget. yang kosen dan nyalinya besar. atau ia telah dengar sambaran angin.‖ pikir bocah ini. Itulah ujungnya terowongan itu.‖ berkata Kwee Ceng perlahan. mungkin untuk ditawan. Wanita itu tidak menyahuti. ia bahka bergusar. Kwee Ceng bingung. Ia mengucap demikian tetapi ia tidak berkisar dari tempatnya. ia tidak dapat meraba apa juga. tibalah Kwee Ceng di satu tempat yang terbuka. Justru itu. Lagi beberapa tombak. yang bisa menghalangi mundurnya. Ia menjadi semakin takut. lantas dia tertawa lebar. Sekalipun Nio Cu Ong. Kembali terdengar suara seram dingin tadi: ―Siapa ke dalam gua ini. Kwee Ceng menjadi cemas dan sibuk. Liang itu merupakan sebuah terowongan. ia berkelit ke kiri dan kanan. baru menyusul kira dua tembok. Nio Cu Ong pun tiba dengan segera. hanya ia lantas meraba ke belakangnya. mungkin sekali. mari kau sembunyi padaku di sini!‖ Ia rupanya dapat menduga dari suara orang. maka ia mundur terus. sembari meraba dia sembari mundur. ―Siapa yang berani datang kemari menangkap orang?!‖ terdengar pula suara wanita tadi. Baru Kwee Ceng berhenti bicara. hanya kali ini suara itu disusul sama napas yang memburu. untuk berjalan dengan kedua tangannya dilonjorkan ke depan. dia bertindak dengan enteng. Dia bernyali besar. Kwee Ceng kaget dan takut. Ia lantas saja berkelit. dia mesti mati. anak muda. bahkan kali ini tubuhnya terus lompat turun. ia menyerang pula.Pendekar Pemanah Rajawali ―Rupanya ini adalah lubang peranti membuang mayatnya orang yang dibunuh di istana…. Ia tidak melihat siapa juga tetapi ia merasa pasti Nio Cu Ong sedang menyusul padanya.

ia kenamaan duapuluh tahun lebih. ia ayun tubuhnya untuk berjumpalitan. ―Kalau lain orang. ia segera kirim tangan kirinya. tenaganya telah dikerahkan sepenuhnya kepada tangannya itu. Ia sangat andalkan kegagahannya. yang sebelah tangannya segera mampir di bebokongnya Som Sian Loa Koay. yang berupa tangkapan. tetapi kali ini. ia rasakan tangan lawan dingin sekali. Syukur tangguh ilmu dalamnya.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sedang bingung. terus ia keluar dari terowongan itu. mari maju!‖ ia berseru saking murkanya. dia kata terhadap Nio Cu Ong: ―Barusan seranganmu. lantas ia merasakan tangannya wanita itu bergemetar keras. hingga ia terhuyung tiga tindak. she Nio. hingga diluarnya dapatlah ia bernapas lega. Disaat ia hendak berlompat. ia tidak sampai mendapat luka di dalam. ia menangkis dengan tangan kirinya. ujung kukunya menyambar ke pundak. Wanita itu masih bernapas memburu. pastilah itu tidak bakal gagal. kakinya terus menendang ke arah wanita itu! Tendangan orang she Nio ini ada sangat kesohor. walaupun begitu. aku mohon tanya shemu yang mulia. Dengan perlahan ia bertindak menghampirkan wanita itu. tiba-tiba ia mendengar suara angin. ―Aku tidak dapat melihat dia. tubuhnya tidak bergerak. untuk bergulingan pergi. untuk menyerang! ―Pergi!‖ membentak si wanita. ―Apakah kau sakit?‖ ia tanya perlahan. kenapa dia sebaliknya segera mengenali asalusulnya ilmu silatku?‖ ia berpikir. ―Nyonya yang terhormat. Ia hanya heran atas kesebatan wanita itu. ―Dia lihay sekali! Mungkinkah ia dapat melihat di tempat gelap?‖ Ia menjadi tidak mau berlaku semberono. tidak dapat tidak. bahkan dengan merayap. Di dalam hatinya ia berkata: ―Wanita ini awas sekali matanya! Dia bisa menotok jalan darah. tidak dapat lagi ia bersangsi sedikit juga. Sekarang Nio Cu Ong percaya pasti orang tidak dapat bergerak. maka ia lantas berlompat ke arah darimana suara itu datang. ia buang dirinya ke tanah. lalu sebuah cambuk panjang menyambar ke kakinya. hingga ia terkejut. yang tidak tahu apa-apa. untuk menerjang. Tidak ayal lagi. ―Aku….aku…. Lantas ia ulur kedua tangannya. Ia menjadi kaget sekali. biasanya siapa kena tertotok.‖ ia meminta. aku mesti tangkap dia. karena ini. Ia pun menduga orang lagi sakit. Belum lagi tendangannya itu mengenai sasaran atau jalan darahnya kongsun-hiat. tetapi ia tidak mau kasih dirinya diserang demikian. Ia pun mendengar orang merintih. kau ketua sebuah partai! Apakah benar kau tidak kenal aturan kaum Rimba Persilatan?!‖ Som Sian Lao Koay terperanjat. besar tenaga orang itu. bagaikan es. ia merasakan tangannya disambar dan dicekal tangan lain orang yang dingin enyam. Jalan darah itu ada di batas mata kaki. ia lantas menyahuti: ―Aku adalah seoarng saudagar jinsom dari Kwantong. apapula kau Nio Lao Koay. Aku minta sukalah nyonya tidak menghalangi aku…‖ ―Oh. ia menjadi bergusar pula. ia menjadi lebih tabah. Tiba-tiba terdengar urat-urat meretek. lancang masuk ke rumahku ini. kiranya saudagar Som Sian Nio Cu Ong!‖ berkata wanita itu. Ia baru saja melanggar bajunya Kwee Ceng lalu mendadak ia merasakan tangannya terbentur tenaga yang besar. Cu Ong terkejut. di dalam keadaan seperti ini. lalu perlahan-lahan cekalannya menjadi kendor. tanda bahwa nyonya itu sangat menderita. dia sudah tidak dapat diberi ampun. ―He. tiba-tiba kaku sendirinya. Nio Cu Ong dapat mendengar suaranya kwee ceng itu. ada lihay sekali. ia mesti lantas roboh. sambil lompat mencelat. Dalam kagetnya. yang ia duga sedang sakit keras atau terluka parah. Apakah kau ada satu jago Rimba Persilatan dari Kwan-gwa?‖ Nio Cu Ong heran bukan buatan. tubuhnya segera tertarik hingga ia roboh menubruk sebuah dipan tempat duduk bersemadhi. bangsat perempuan. lalu tangannya si wanita diulur panjang. Kwee Ceng baru mendengar sampai disitu. Kali ini kedua tangan bentrok. mungkinkah dia itu siluman?‖ Juga sampokan Cu Ong adalah sampokan istimewa. sedang tangannya dipakai menyampok. Wanita itu terdengar napasnya memburu. untuk wilayah Kwan-gwa. Irawan D Soedradjat Page 239 . kalu serangannya mengenai sasarannya. tetapi untuk kagetnya. kesudahannya membuat ia kaget tidak terkira. untuk membekuk si anak muda.‖ sahut si wanita itu. Begitu kakinya menginjak tanah. Bocah ini telah curi barangku. bukan seperti daging. ia tidak ambil pusing siapa si nyonya itu.

Maka ia kata pula: ―Jikalau cianpwee tidak merdeka untuk jalan. Ia telah lantas pikir. Ia mengangkat kepalanya. mungkin ongya ketahui rahasia ini…‖ Maka dengan cepat ia kembali ke Hoa Cui Kok. Maka ia membelas. ia telah berlatih cukup di bawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok. ―Tidak dapat aku dijual orang…‖ Mendengar ini.‖ kata Kwee Ceng dalam hatinya. Hanya sesaat kemudian. dia membutuhkan obat. hatinya jadi lega.‖ pikirnya. lantas ia berlulut di depan wanita itu untuk mengangguk-angguk hingga tiga kali. Tidak lama keluarlah mereka dari gua itu. ya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sudah beberapa puluh tahun. Kwee Ceng dapat dengar sauara orang berlari pergi. Yang membikin ia terkejut adalah lehernya terasa dingin dengan mendadak. ―Siapa yang menghendaki kebaikanmu itu!‖ ―Ya. Dalam hal kepandaian ini. karena ia berpikir: ―Wanita ini tinggal di dalam istana. ―Memang aku pun hendak menggendong kau. tetapi ia tertawa dingin. him-tha dan bu-yok. untuk melawan cekikan. habis itu ia mencoba menggunai kedua tangannya. Kwee Ceng kerahkan tenaganya di leher. diletaki di pundak Kwee Ceng. Tiba-tiba ia berhenti. cara bagaimana kau ketahui aku sudah tua?‖ ―Ya. Sebab tangan kanan si wanita sudah merangkulnya. ia telah menggunakan tenaga berkelebihan.‖ sahut Kwee Ceng. setelah napasnya tidak terlalu memburu lagi. maka itu teecu datang ke istana ini…‖ Kwee Ceng menyahut. hingga tak tahu ia mesti membilang apa. ―Ong Totiang mendapat luka. Kalau cianpwee….‖ ―Mana aku terluka!‖ memotong si wanita. belum pernah aku mengalami kejadian seperti ini. orang tidak sudi menerima budi. Ia tidak tahu orang menguji padanya. .ya. hiat-kat. ―Lekas bicara!‖ Ia memegang keras leher orang sampai si anak muda sukar bernapas. ―Adalah aku yang memaksa kau menggendong aku keluar dari sini. Ong totiang tentu tidak membutuhkan sebanyak itu. Sebaliknya. Ia ulur tangan kirinya. Ia tanya pula: ―Kau menghendaki barang apa? Nanti aku pergi mengambilkannya…. ialah liang yang tadi. kau benar baik…. 240 ―Siapa yang ajari kau ilmu ringan tubuh?!‖ si wanita tanya. Ia berkata: ―Teecu mengucap banyak-banyak terima kasih untuk pertolongan cianpwee. dengan kegirangan dan bersyukur. mari boanpwee menggendong buat pergi keluar…‖ ―Siapakah ynag tua?!‖ wanita itu membentak. Irawan D Soedradjat Page Saking kagetnya.‖ kata si wanita. dengan tindakan perlahan ia menuju ke luar. ―Teecu ada punya empat macam obat yaitu thian-cit. ―Jadinya kau telah curi obatnya Lao Koay! Aku dengar kabar ia tengah menyakinkan pembuatan obat-obatan…. untuk meninggalkan pergi kepada wanita ini tetapi ia tidak tega hati. tangan si wanita menjadi kendor sendirinya.‖ sahut Kwee Ceng. Ia pun batuk-batuk. Ia terus bungkam.‖ ―Apakah cianpwee terluka?‖ menanya Kwee Ceng. keren. agaknya ia gusar. Kwee Ceng merasakan pundaknya itu sakit sekali. akan merayap naik.‖ ―Ah. Ia lantas menggendong. hatinya menjadi lemas pula apabila ia dengar suara napas empas-empis dari wanita itu. ―Benarkah di dalam dunia ini ada iblis? Ah. cekikan itu menjadi semakin keras. apakah ia bukan orangnya Wanyen Lieh?‖ ―Oh…!‖ berseru si wanita. rupanya melawan Nio Cu Ong.‖ kata wanita itu. yang tidak berani banyak omong. akan melihat bintang-bintang di langit. yang seperti tidak memperdulikan perkataan orang. ―Kenapa Lao Koay hendak membunuh kau?‖ ia tanya selang seaat. terus ia menarik. tanpa berdaya ia kena ditarik hingga ke depan wanita itu. Liang sumur itu cukup tinggi tetapi Kwee Ceng dapat memanjatnya. ―Bocah tolol. ―Gendong aku pergi!‖ berseru si wanita itu. Kwee Ceng merasa orang sangat berkepala besar. Ia jalan terus hingga di mulut terowongan.‖ Wanita itu bernapas tersengal-sengal. yang ketemu batunya.

―Dialah Kwa Tin Ok!‖ katanya kemudian. tetapi ia masih bisa bawa lari mayat suaminya itu. yang ia letaki di tanah. tangannya telah dicekal keras. ―Ong Cie It itu kau punya pernah apa? Kenapa kau memanggil ia totiang.‖ menjawab si anak muda. ia duduk di tanah. di dalamnya tertampak barang yang berkilauan.‖ sahut Kwee Ceng.‖ Kwee Ceng mengangguk. benar tidak?!‖ masih wanita itu bertanya. dari sakunya ia tarik keluar serupa barang. seorang she Kwa. lehernya sudah dicekal si wanita. entah dari cita atau kertas. tidak nanti aku mendusta. ―Bukan. ―Kau kenal pisau belati ini. Wanita itu perdengarkan suara seperti merintih. Kenapa kau berlaku begini kasar?‖ Tapi ia toh menjawab: ―Ong Totiang itu bernama Ong Cie It.‖ menjawab Kwee Ceng. ―Benar. ―Merekalah yang disebut Kanglam Cit Koay. ―Kau dipanggil Yo Kang. ―Adalah Tan Yan Cu Ma Giok. ia lantas berontak pula tetapi sia-sia saja.‖ ―Habis.‖ Belum habis ia mengucap. siapakah gurumu itu?!‖ si wanita tanya pula. Kwee Ceng berpikir: ―Kau telah tolongi padaku.‖ sahut Kwee Ceng pula. ―Kenapa wanita ini ketahui aku datang dari Mongolia?‖ ia pikir. Ia kaget tidak kepalang. ―Kau lihat. Itulah sebuah pisau belati. kau mengerti ilmu tenaga dalam yang sejati. salah satu dari Hek Hong Siang Sat. Ia kaget. terus di cekik. Kwee Ceng rasanya kenal. yang heran sekali. melihat mana. Di gagangnya ia dapatkan dua hruf ukiran. Kapan bungkusan itu telah dibuka. si wanita merampasnya. agaknya susah ia berbicara. ―Benar. bukan?!‖ dia tanya. Diwaktu malam seperti itu. ia berontak. yaitu Ma Totiang yang pernah ajarkan aku ilmu mengendalikan napas dan bersemadhi. mukanya pucat seperti kertas. orang dipanggil Giok Yang Cu. sebelah tangannya menyerangi si wanita. Sekarang denagn tiba-tiba Kwee Ceng mengantarkan Irawan D Soedradjat Page 241 . napasnya pun tersengal-sengal. Itulah pisau yang ia pakai untuk menikam Tong Sie Tan Hian Hong si Mayat Perunggu. ―Jadinya kau adalah muridnya Coan Cin Pay!‖ katanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ha. aku ini siapa?!‖ ia tanya dengan bentakannya. bunyinya : ―Yo Kang‖. Apakah namanya Ong totiang itu?‖ Sebelum menjawab. sebaliknya ia kena ditikam Kwee Ceng pada anggota tubuh kematiannya. ―Apakah kau datang dari Mongolia?‖ tanya wanita itu lagi. segala apa kau boleh tanyakan. Dia agaknya mendesak. teecu she Kwee. Ia menjemput untuk dilihat teliti. Itulah sebuah hungkusan. seram suaranya. lalu mendadak orang jahat itu lenyap dan pisau ini….‖ seru wanita itu.‖ Tiba-tiba wanita itu menggetar. kuku orang sudah masuk ke dalam dagingnya… Ketika malam itu di atas gunung terjadi pertempuran di antara Kanglam Cit Koay dengan Hek Hong Siang Sat.‖ Wanita itu batuk-batuk beberapa kali. ―Kau bilang barusan Ong totiang mendapat luka. bukan suhu atau susiok?‖ Suhu dan susiok ialah guru dan paman guru. Selagi si anak muda mengawasi pisau itu. Bwee Tiauw Hong sudah buta kedua matanya. ―Di masa kecil pernah aku pakai pisau ini membunuh seorang jahat. ―Benar. Ia lantas mengenali Tiat Sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi. Tan Hian Hong telah jambak mati kepada Thi A Seng. Guru yang nomor satu ialah Hui Thian Pian-hok. ia lolos justru ketika itu turun hujan lebat. Tapi tangan itu sudah lantas kena ditangkap! Segera si wanita melepaskan tangannya yang kanan. Matanya Kwee Ceng telah berkunang-kunang tetapi ia masih bisa melihat si wanita yang rambutnya yang panjang riap-riapan. ―Teecu bukan murid Coan Cin Kauw.‖ Kwee Ceng berkata. ―Guru teecu semuanya ada tujuh orang.

seperti mau lompat keluar.‖ Tiauw Hong melamun lebih jauh. hingga oleh guruku. mari kita lekas pergi!‖ Tapinya suamiku menampik. lelaki bangsat. orang perhina aku. tidak dapat aku bergerak. Aku juga tidak tahu dimana ia menyembunyikannya. perempuan bangsat. pelajaran kita jadi kepalang tanggung. perempuan busuk!‖ Ia tidak sudi menjadi janda. yang merupakan pengalamannya. Ia ingat sebab takut digusari guru mereka. kami menyingkir jauh sekali sampai di gurun pasir di Mongolia. mereka buron dari Thoa Hoa To. seorang pemuda yang matanya besar terbayang dihadapanku. ia menjawab dengan balik menanya: ―Apa daya?‖ ―Kita kembali ke Tho Hoa TO. kau tentu ingin mempelajarinya. Aku dengar bocah itu berseru. Ditepi meja abu aku lihat satu anak perempuan kecil duduk di kursi. aku ditolongi dan dibawa ke pulau Tho Hoa To. Aku kaget hingga lemas kaki tanganku. Demikian ia berkata terus dalam hatinya: ―Menyaksikan pertempuran dahsyat dari suhu. Bwee Tiauw Hong dapat dengar itu semua. untuk menyakinkan ilmu seperti pengajaran kitab istimewa itu. Aku pikir. Bocha itu menolong kami. ―Kami tahu. ‗Baiklah. sampai hati kita coco satu sama lain. suhu telah dapat dengar suara kami. mereka berkelana dan menjagoi dunia kangouw. ―Dulu aku adalah satu nona yang lincah. hatiku memukul terus. si wanita menghela napas panjang. Apa yang aku lihat adalah meja abu. tentang peristiwa dulu-dulu itu. mendadak ia rangkul aku…‖ Wajahnya si Mayat Besi menjadi merah dengan tiba-tiba. aku tak akan lihat kitabmu!‘ Dia jawab aku. Dialah Tan Hian Tong. Aku ingat kepada subo. hingga setelah pandai. lantas mereka menikah. Suhu muncul di ruang meja abu itu. Air laut telah muncrat memasuki perahu kami. kitab Kiu Im Cie Keng itu aku cuma dapat curi sebagian saja. hawanya dingin. ‗Eh. Suamiku itu berkhawatir kitabnya nanti ada yang curi. mereka masih tidak sanggup lawan dua jari tangan saja dari guru mereka. Kiranya musuhnya suhu telah datang ke pulau untuk mengadu kepandaian. Di kejauhan. setiap hari aku memain saja. dia mengawasi aku sambil tertawa. Karena kupingnya jeli. dimana aku diajarkan ilmu silat. Habis itu. Pastilah dia anaknya suboku itu. di bawah pohon tho. burung hantu pun mengasih dengar suaranya yang seram. empo!‘ Dia tertawa manis. Dengan begitu. dia hendak pergi mencurinya juga. atau kau menjadi janda. Ketika kami tiba di pulau.s esudah kedua orang tuaku menutup mata. dia pentang kedua tangannya dengan apa ia tubruk ayahnya. ia menyambuti anak itu. suaminya itu: ―Eh. Dia bilang pada istrinya: ―Aku mesti pergi. karena buronan kami. mungkinkah subo meninggal sehabis melahirkan yang sulit? Karena ini aku pikir untuk tidak melahirkan anak juga! Selagi aku berpikir begitu. Dia kata. hingga selanjutnya dipulaunya itu guru hidup berdua saja dengan istrinya serta beberapa budak pelayan.Pendekar Pemanah Rajawali jiwanya. Kwee Ceng pun dengar napas orang memburu. Bwee Tiauw Hong masih ingat baik-baik perkataan Tan Hian Hong. Bocha ini mirip dengan subo. bangsat lelaki. tetapi dia penasaran. kita mesti jadi tanpa tandingan di kolonng langit ini. Sama-sama kita belajar ilmu silat. Aku pergi ke jendela. kakak seperguruanku. suhu telah sangat gusar dan telah umbar kegusarannya itu. yang terus ia usir. Bagian atasnya adalah mengutamakan pelajaran tenaga dalam. ―Eh. kami menemukan berbagai peristiwa yang luar biasa.‖ demikian ia melamun. budi siapa aku tidak dapat lupakan. maka kejadianlah mereka berdua berlaku nekad. Kami telah menyaksikan suhu telah dapat membekuk musuhnya. Setelah itu. malah Hui Thian Sin-liong Kwa Pek Sia telah mereka binasakan dan Kwa Tin Ok sudah mereka bikin buta matanya. goncang hati kami. Dengan berbisik aku kata kepada suamiku. untuk mengintai. Ia masih terbenam dalam lamunannya. Itu waktu Tan Hian Hong telah memberitahukan bahwa ia telah mencuri sebagian kitab ―Kiu Im Cie Keng‖. Oey Yok Su. dia tidak kasih lihat. kita curi pula yang sebagian itu!‖ Ia tidak berani pergi. kita gagal. Kami kabur dengan naik perahu. sedang tangannya terus memegang keras si anak muda. aku justru berbuat baik terhadapmu! Jikalau kau lihat ini. tetapi kau Irawan D Soedradjat Page 242 . juga kepandaian lawannya itu kita berdua tidak dapat melawannya!‘ Maka itu kami lantas meninggalkan wilayah Tionggoan. aku dikasihi oleh ayah dan ibuku. Suhu khawatir dia jatuh. ‗Ayah. ia ingat. Maka aku kata kapadanya. sekalipun aku. Hian Hong pun jeri. Segera ia menjadi girang bercampur sedih. Banyak orang kosen yang mereka robohkan. Sudah belasan tahun ia cari pembunuh suaminya denagn siasia. ―Baru kemudian. ―Dalam murkanya suhu telah putuskan ototnya semua muridnya. Bagaimana sekarang?‖ Atas itu. Sekejap kemudian. Aku menjadi bersedih.‖ Ketika itu angin bersiur. bagian bawah. Lantas si bangsat laki-laki menarik tanganku. Kiranya subo telah menutup mata. kaki siapa dia telah hajar patah. Tiauw Hong lantas melamun pula. barulah suamiku itu padam hatinya. Pertandingan itu itu membuatnya kami kaget. bagaimana Tiauw Hong tidak jadi girang. ‗Bukan cuma kepandaian suhu belum dapat kita pelajari sebagian saja. lantas ia ingat penghidupannya yang dulu-dulu. mereka sembunyikan diri di gunung. Biar kepandaian merka sepuluh lipat lebh lihay. untuk diajak lari. Demikian pada suatu malam di musim semi. perempuan bangsat.

kau mati tidak karuan?‘ aku cabut pisau belati dari pusarnya. kitabnya pun ada. Aku sendiri. di luar kota barat. Hian Hong khawatir kitabnya dicuri orang. sekarang dengan kepandaian itu aku menggalikan kau liang kubur. ‗Bagus betul pikiranmu ini. Itulah aneh! Hujan turun hebat sekali. oh. ―‘Aku tidak bakal ketolongan lagi…rahasianya Kiu Im Cie Keng ada di dadaku…. hendak aku memberi obat kepada kulit itu. aku kabur.‖ ―Seumurku aku tidak pernah melakukan kebaikan!‖ Tiauw Hong membilang. ‗Kau ajarkan aku cengkaraman Kiu Im Pek-ku Jiauw. aku khawatir Kanglam Cit Koay dapat Irawan D Soedradjat Page 243 . ia lantas berkata: ―Eh. supaya tidak menjadi nawoh dan rusak. aku minta kau tolong serahkan itu pada Onng Totiang yang sekarang ini lagi mondok di penginapan Ang Ie. dengan sendirinya cekalan Bwee Taiuw Hong menjadi semakin keras dan giginya pun bercatrukan. Hebat suara itu. Kwee Ceng sampai bergidik. Di situ aku kubur si lelaki bangsat.‖ jawab Kwee Ceng. dibawah lidah. hujan besar telah membasahkan seluruh tubuhnya. Lalu Kanglam Cit Koay perhebat serangannya atas diriku.‖ dia berkata di dalam hatinya lagi. Tempo aku meraba pula dadanya. akan cari rahasianya kitab Kiu Im Cie Keng itu. Ah. ―Matilah aku kali ini…‖ kata Kwee Ceng di dalam hatinya. Aku tidak mati. tetapi mataku buta! Suamiku pun binasa! Itulah pembalasan! Pernah kami membinasakan kakaknya dan mata adiknya dibikin buta. Dia merasa seperti telah meraba dada suaminya. lalu perlahan-lahan menjadi dingin. Tidak ada bagian anggotanya yang aku bikin kelompatan. di situ aku merasakan kulit dagingnya yang rada luar biasa. ia masih ingat jelas sekali. dinginnya luar biasa. Nyata dada itu dicacah dengan jarum. hatiku pun turut menjadi dingin karenanya. dia cacah tubuhnya sendiri. Dengan kedua tanganku. Penyerang itu sempurna ilmu dalamnya. ‗Aku ingin kau selalu mendampingi aku…‘ Ketika itu aku tidak bersedih lagi sebaliknya aku tertawa terbahak-bahak. setelah orangnya mati. Maka siapa berani tanggung yang kitab kami pun tak ada yang bakal mencurinya? Maka ia kata pada waktu itu. ―Memang. aku lantas menggali sebuah liang besar. kitabnya masih kena kita curi. sebagaimana dia sendiri dipanggil ‗perempuan bangsat‘ oleh suaminya itu. bagaimana tawar! Lantas aku bawa ujung belati ke mulutku. Kanglam Cit Koay telah mengepung aku. Itulah dua huruf ‗Yo Kang‘. Sekonyong-konyong matanya menjadi gelap. Lantas aku sembunyikan diri di dalam gua. setelah itu ia bakar kitabnya itu. ―Entah dia bakal gunai cara kejam bagaimana akan siksa aku hingga aku terbinasa…. tanpa ada orang yang memanggil dia lelaki bangsat.‖ demikian dia ngelamun pula.‘ Aku jawab. ‗Baiklah! Jangan kau terus mengaco-belo!‘ Tapi ia mengajarkan aku Kiu Im Pek-ku Jiauw dan Cwie-sim-ciang. ―Di tubuhku ada beberapa rupa obat. mana boleh aku mati? Maka itu aku meraba ke dadanya si lelaki bangsat. tetapi pertempuran dahsyat di atas gunung itu.‖ Mengingat itu semua. apakah benar-benar kau telah mati?‘ Aku bertanya. aku pun harus mati bersama si lelaki bangsat.‘ Aku lantas gunai pisau belati mengiris kulit dadanya si lelaki bangsat. ―Ya. ia tidak dapat melihat sinar bintang lagi. Ini artinya. Ah. terus ke bawah. tetapi mereka juga tidak mengejar. Dia tidak ingat lagi berapa banyak kesengsaraan yang dideritanya dan berapa banyak jiwa yang telah dibunuhnya. dan mereka itu tidak dapat melihat aku. Aku berlalri-lari di dalam hujan.‖ ―Kau hendak minta sesuatu dari aku?‖ Bwee Tiauw Hong tanya. Aku penasaran! Aku lalu mencari di rambut kepalanya. ia tertawa dingin. menyeramkan. tubuhmu bisa rusak. ‗Lelaki bangsat. kiranya pembunuh si lelaki bangsat itu bernama Yo Kang! Mana dapat aku tidak menuntut balas? Sebelum membinasakan Yo Kang itu. Aku empos semangatku. Itulah temapt kematianku. selama orangnya masih hidup. Seluruh tubuhku bergemetar. harap kau suka meluluskannya. Sia-sia aku mencari. yaitu cengkeramnan Tulang Putih serta Pukulan Meremukkan Hati. yang ia selalu panggil dengan sebutan ‗lelaki bangsat‘. ingin aku membawa-bawanya di tubuhku. Kemudian terjadilah pertempuran di atas gunung itu. ngelamun. Itu dia rahasianya Kiu Im Cie Keng. Tiba-tiba aku kena raba huruf-huruf ukiran di gagang pisau belati itu. sekarang aku tidak menghendaki hidup pula! Aku hendak minta suatu apa padamu. Bwee Tiauw Hong merasa ia telah berada pula di gurun pasir. Hanya.‘ Itulah kata-katanya yang terakhir. akan tetapi tubuh itu ia rasakan panas sekali. langit mestinya gelap gulita. aku merasakan sangat sakit pada mataku. Tubuhnya si lelaki bangsat mulanya masih hangat. dia membikin aku merasa sakit sampai di tulang-tulangku. entah berapa banyak orang telah aku bunuh…. mendadak hujan turun seperti di tuangtuang. ―Suamiku berkata. Aku pondong tubuhnya si lelaki bangsat. darah lantas muncrat keluar. ‗Mataku! Mataku!‘ Ya. ―Suhu yang demikian lihay. Aku lantas meraba-raba. Sebenarnya apakah yang heran? Orang dibunuh.‖ Bwee Tiauw Hong lantas mengasih dengar suara tertawa kering dari tenggorokannya. bebokongku telah kena tertinju. aku tidak mendapatkannya. kitabnya lenyap bersama. aku merasa gatal sekali. ‗Kau yang begini lihay. Aku tidak dapat melihat musuh-musuhku itu.‖ Karenanya. darahnya pasti mengalir keluar. aku lawan serangan racun.Pendekar Pemanah Rajawali tidak mengerti ilmu dalam. Sudahlah. merupakan huruf-huruf dan peta.

Di saat mati atau hidup itu. asal rahasia bocor. untuk dipaksa melepaskan cekikannya. disana tidak dapat aku mencari tulang-tulangnya si lelaki bangsat. Perjalananku ke Mongolia itu tidak sia-sia belaka. Sepulangnya ke istana. cara bagaimana aku bisa melawan mereka? Di antara mereka.Pendekar Pemanah Rajawali mencari aku. ia berontak dengan berhasil. Pengejarannya Nio Cu Ong dan pertempurannya sama Wanyen Kang membuatnya tenaga obat menguatkan tubuhnya. Aku bekerja di taman belakang. pangeran cilik itu memberitahukan kepada aku. Ah! Pangeran cilik yang nakal itu telah datang ke taman belakang. Ia berpikir: ―Aku berlatih tanpa 244 Kwee Ceng kalah pandai. selagi perutku lapar. Ongya menerima baik permintaan itu. Itu dia pukulannya yang berbahaya. suaranya dapat terdengar sampai di tempat jauh. Mataku tidak bisa melihat. yang lihay tenaga dalamnya adalah Tan Yang Cu Ma Giok. dia telah mempergoki aku lagi menyakinkan cambuk perak. aku minta barang makanan. . dia memaksa minta aku memberi pelajaran padanya. Bwee Tiauw Hong sudah lantas menarik pulang tangannya. pangeran itu adalah Pangeran Chao Wang. sampai tiga kali. ia dapat tenaga akibat darah ular yang ia sedot. sedang tangan kanannya mengerahkan tenaganya. Mereka itu bicara dengan bahasa Nuchen dari negara Kim. Bwee Tiauw Hong terperanjat. Ternyatalah ia berotak terang sekali! Aku jadi gembira. setiap hati manusia! Aku akan belajar. Dia lantas menjambak pula. supaya kemudian aku bunuh si bocah untuk menuntu balas untuknya!‖ Saking senang dan gembiranya. Ia tidak ketahui yang pelajaranku telah tersesat. maka aku terus mengajari dia. Aku hendak mengajari dia segala macam kepandaian asal dia suka bersumpah tidak membuka rahasia kepada siapa juga. ia pegang tangan si wanita. Panas hatinya Tiauw Hong. akan aku cambuk toblos batok kepalanya!‖ ―Lewat beberapa bulan. hingga ia secara sembarangan mengajari aku sepatah kata rahasianya ilmu dalam. rupanya dari si lelaki bangsat yang memimpin bocah itu datang padaku. Kwee Ceng selalu berkelit dengan berhasil. Hm! itu waktu akan aku jambret setiap batok kepala. tangannya menyambar ke batok kepala. hingga tubuhnya menggetar. sedang juga. Aku mengancam. Belakangan aku mendapat tahu. tidak peduli aku bisa terluka di dalam atau tidak. Semua orang menganggap akulah seorang wanita tua yang buta yang harus dikasihani. ia telah dapat belajar dengan baik. Tapi dia pun nekat. Aku melarang si pangeran cilik datang padaku. Asal ia membuka mulutnya. Irawan D Soedradjat Page Begitu kedua tangannya beradu. tertawa dingin! Bab 22. tenaga dalamnya telah cukup kuat. di situ secara diam-diam aku menyakinkan ilmu kepandaianku. Pangeran yang memimpin pasukan itu mengasihani aku. Pertempuran Dahsyat Wanita ini tertawa. Terpaksa aku ajarkan dia tiga jurus. tangan kanannya pun masih dicekal si wanita. Tangannya itu telah tergetar. aku mempelajarinya dengan memaksa. untuk menangkis. Kesudahannya. aku berdiam di dalam terowongan dalam tanah. maka ia angkat tangannya yang kanan.‖ ―Kemudian pada suatu tengah malam…. agar aku bisa bersembahyang di kuburan suamiku. Peduli apa! Berselang dua hari. Ia lantas menggerembengi aku. Coba kalau bocah ini tidak menerobos masuk ke dalam terowongan. maka tunggulah aku selesai dengan pelajaranku. walaupun ia tidak berbicara keras. pastilah aku akan mati kelaparan di dalam situ. Kwee ceng merasakan tenggorokannya tercekik keras sekali. separuh tubuhku ini tidak dapat digeraki. putra nomor enam dari raja Kim. Lantas aku hendak mencari Kanglam Cit Koay. ―Tidak jelek kepandaiannya bocah ini!‖ pikirnya. Ia telah mendapatkan pelajaran dari Ma Giok. dia berseru panjang. Hm. yang segala keinginannya senantiasa dipenuhi. Sekali saja. Tiauw Hong tertawa berkakakan tak hentinya. Dia tertawa haha tercampur hmhm. bekerja menyapui rumput. Maka juga. Beberapa tahun telah lewat tanpa ada yang mengetahui perbuatanku itu. bahwa ongya hendak pergi lagi ke Mongolia. Oh. dia suka menolong. malah ia terus ajak aku ke istananya si Tiongtouw. Sekarang ini aku bukannya tandingan mereka. juga seluruh tubuhnya menjadi panas. Lantas aku minta supaya aku diajak. aku lantas keluar dari tempat sembunyiku. Dia sangat menyayangi pangeran kecil itu. Tidak dapat ilmu dalam itu dipeljarakan tanpa petunjuk. di sana aku dapatkan tujuh saudara imam dari Coan Cin Kauw. Sungguh aku sangat beruntung. aku dengar suara pasukan tentara lewat di depan guaku. tidak kecuali kepada ongya dan onghui. Ia menjadi heran sekali. Aku dapat mendesak kepada Ma Giok. untuk mencari telur burung. di mana aku menyakinkan kepandaianku. pukulan Cwi-sim-ciang. tidak dapat ia berkelit lagi. ia sudah menyakinkannya beberapa tahun. supaya ia menolongi aku.

kau ingin aku mengajarkan kau ilmu tenaga dalam! Tidak nanti! Biar aku mati. mereka itu jalan pergi. ―Aku ada punya satu sahabat. Bocah ini sebaliknya sempurna ilmu dalamnya. aku akan tutup mulutku!‖ ―Masih ada apalagi?!‖ tanya Tiauw Hong yang murka sekali. ―Orang she Kwee…. dia hanya berkoak-koak: ―Yong-jie. ―Kau masih harus melakukan baik satu hal lagi. tiba-tiba dia telah muncul dari gerombolan pohon kembang mawar di samping mereka. jangan ngoceh terus! Lekas kau jelaskan ilmu itu!‖ Dia pun kembali memencet. Kwee Ceng dapat menerka isi hati orang.!‖ 245 Kwee Ceng tidak menyahuti. kau boleh siksa aku. ―Aku suka bicara atau tidak. Setelah itu. ―Sesudah si bocah she Kwee yang baru mengajari aku ilmu dalam dari Coan Cin Kauw. biarlah tubuhku tidak dapat bergerak seluruhnya. dia tidak bakal lolos!‖ Sembari berbicara. hal itu membuat Kwee Ceng merasai lengannya sakit sekali. tidak ada harapan algi untuk kau hidup lebih lama!‖ ia kata dengan bengis. Mendengar ini. malah ia kata: ―Kau memikir untuk mendapatkan kepandaianku? Hm! Baiklah siang-siang kau matikan keinginanmu itu!‖ Tiauw Hong kendorkan pencetannya.‖ Tiauw Hong lantas saja menjadi kegirangan. ―Baiklah bocah. ―Kau telah membunuh suamiku. aku tidak sangka Bwee Tiauw Hong satu jago yang telah malang melintang di kolong langit ini. Lantas ia dengar pula suara seorang lain. untuk menolongi jiwanya. apabila aku si orang she Bwee tidak mengantarkan obat kepada Ong Cie It.‖ bilangnya. ―Kau mau menolongi atau tidak. ―Aku berjanji akan mengantarkan obatmu kepada Ong Cie It. terserah padaku!‖ Tiauw Hong kewalahan.‖ katanya dalam hatinya. Dia lantas menyahuti: ―Sudah lama aku ada di sini…. terserah padamu!‖ katanya keras. Kwee Ceng terkejut. Ia berpikir. sekarang aku mesti menyerah kepada segala kehendakmu!‖ Irawan D Soedradjat Page Baru dua kali Oey Yong dipanggil. ―Bagaimana Tan Yang Cu mengajarkan kau ilmu bersemadhi?!‖ Tiauw Hong tanya. Kenapa aku tidak mau memaksa dia untuk mengajari aku?‖ Maka kembali ia mencekik leher si bocah itu. akan kau membikin kau mati dengan puas! Jikalau kau membela. ada orang membentak dengan dampratannya. aku tersesat.‖ katanya lemah lembut..‖ sahut si anak muda: ―Sahabatku itu lagi dikejar-kejar lawannya. Ia membandel. sejarak belasan tembok. ―Budak cilik ini mesti ada di dekat-dekat sini! Jangan khawatir.‖ pikirnya. biarlah aku tersiksa untuk selama-lamanya!‖ Wanita ini baru memberikan sumpahnya itu lalu tiba-tiba di sebelah kiri mereka. nanti aku ajarkan kau ilmu yang Ma Totiang ajarkan aku.Pendekar Pemanah Rajawali guru. Lekas ia bilang: ―Baik! Tapi kau mesti bersumpah dulu – sumpah yang berat. Bwee Tiauw Hong mengerahkan tenaga di tangan kirinya. ―Bocah cilik yang bau. ia tidak pedulikan ancamanan orang. Kau mesti turun tangan untuk menolongi sahabatku itu!‖ ―Hm!‖ Tiauw Hong kasih dengar ejekannya. lekas kau munculkan dirimu untuk terima binasa!‖ Kwee Ceng kenali itu suara bentakan. ―Dan dia telah dipergoki mereka itu….‖ katanya. ―Budak hina. satu nona kecil. ―Tetapi jikalau kau meu dengar perkataanku.‖ . Kwee Ceng menahan sakit. Kwee Ceng berpikir. ialah dari Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. aku menerima baik permintaanmu.‖ Dia lantas berpikir pula. ―Inilah urusan penting. ―Cara bagaiman aku bisa mengetahui di mana adanya sahabatmu itu? Sudah. hatinya cemas dan mendongkol. Tetapi ia sudah nekat. Ah. ―Kiranya Yong-jie masih ada disini. ia kata kepada Bwee Tiauw Hong. jika tidak. dengan sumpahnya. ke mari! Yong-jie! Yong-jie…. aku nanti siksa padamu!‖ Kwee Ceng tidak menjawab. tidak nanti aku membikin harimau tumbuh sayap!‖ Maka ia lantas tutup rapat kedua matanya.

Ia menyamar sebagai satu pemuda melarat. Tapi ia tidak menangis terus. Ia menjadi bingung sekali. kau mengertikan jurus ini?‖ Tiauw Hong merasakan serangan itu dari anginnya saja. sampai ia tiba di gua. yaitu: ― Di dalam tumpukan cita Irawan D Soedradjat Page 246 . ia terperanjat. Heran ia akan mendengar disebutnya semua itu. hanya ia lantas kata pada Bwee Tiauw Hong: ―Bwee Jiak Hoa. maka itu ia jadi tahu nama benar dari Tiauw Hong. suaranya bergemetar. ia merasakan seperti tubuhnya melayang-layang. ―Masih ingkatkah kau kepada puncak Cek Cui Hong. Sekarang Tiauw Hong dengar nama orang menyebutnya. ―Kau nyatanya belum melupai ayahku! Tapi juga ayahku belum melupakannya kau! Dia telah datang sendiri menjenguk padamu!‖ Tiauw Hong ingin berbangkit bangun akan tetapi kakinya tidak mau menurut perintah. kedua murid ayahnya itu. Tiba-tiba pula Tiauw Hong ingat: ―Selama ini suhu tidak pernah meninggalkan Tho Hoa To. gua Twie In Tong dan paseban Sie Kiam Teng dari pulau Tho-hoa-to di Tang Hay?‖ Tiauw Hong berdiam. Ia menjadi kaget. yang begitu perhatikan dan menyayangi kepadanya. yang namanya Yok di atas dan Su di bawah?‖ ia tanya kemudian. ia putar tubuhnya dua kali sebelum tubuhnya turun. Dia adalah anak tunggal dan tersayang. ia tegur anaknya itu. gua dan paseban itu adalah tempat. nama sebelum ia berguru. marilah kita bicara baik-baik! Mana suhu?‖ Oey Yong tidak segera menjawab. walaupun Oey Yok Su ada satu jago yang lihay. di waktu tubuhnya turun ke bawah. Dia menjadi terharu dan tertarik hatinya kepada si pria. Nama itu pun sudah beberapa puluh tahun tidak pernah terdengar lagi. ―Kau…kau…. ia kurang bersungguh-sungguh. Bwee Jiak Hoa itu adalah nama benar dari Tiauw Hong. dimana ia biasa pesiar semasa dia masih belajar silat. ―Lekas lepaskan dia!‖ Oey Yong berkata pula. anaknya baru mendapat permulaan saja dari kepandaiannya itu. Tanpa merasa. Tentang kata-katanya tadi. Sembari menyerang. ia gusar.Aku she Oey…. maka itu dia pun telah denar pembicaraan di antara Tiauw Hong dan Kwee Ceng.‖ Tiauw Hong menjawab terlebih kaget lagi. ―Bagus!‖ seru si nona. Belum pernah Oey Yong ditegur. ia lantas ulur tangannya akan sambar Kwee Ceng guna ditarik. ia angkat tangannya untuk menangkis seraya ia berkata: ―Sumoay. ―Kau bagaimana?!‖ balas tanya Oey Yong. Tocu pemilik pulau dari pulau Thoa Hoa To di Tang Hay. Karena ia sangat disayang. Oey Yong pernah dengar ayahnya omong tentang Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong. ―Kau pernah apa dengan Oey Suhu. Semua puncak. maka itu ia pergi buron dengan menaiki sebuah getek kayu. Itulah jurus ―Burung garuda terbang ke langit‖ dari Cwie-sim-ciang. ia menjadi tidak senang. selagi lompat. nama itu tidak dikenal kaum kongouw. Oey Yong berlompat tinggi setombak lebih. katanya: ―Di dalam tumpukan cita menyembunyikan pedang mustika.Pendekar Pemanah Rajawali Memang nona itu sudah sekian lama bersembunyi di situ. Oey Yong menjawab. Memang Oey Yong ini adalah putrinya Oey Yok Su. Oey Yok Su menghibur diri dengan merawat dan memanjakan putrinya ini dengan dibantu sejumlah pelayan. dimana ayahnya telah mengurung musuhnya. Maka itu. seumpama kata semangatnya terbang pergi. malah keduanya tertarik satu pada yang lain hingga mereka lantas saja menjadi bersahabat erat. ia menaya: ―Kau sudah mencuri kitab Kiu Im Cie Keng. air matanya turun meleleh di kedua belah pipinya yang halus. ia tidak dipaksa ayahnya itu yang ingat ia masih berusia terlalu muda. Laut Timur. ia memberikan sedikit arak. ―Kau siapa?!‖ ia tanya. ia menyerang ke arah Tiauw Hong. Ibunya telah meninggal dunia karena kesulitan bersalin setelah ia dilahirkan. Ia merasa kasihan. Dalam kedukaannya.!‖ tanyanya membentak. Belakangan Oey Yok Su ketahui perbuatan anaknya itu. begitu pun Bwee Tiauw Hong. sampai di Kalgan ia – diluar dugaannya – bertemu sama Kwee Ceng. lekas kau merdekakan dia!‖ Kwee Ceng heran. dalam suara seruling dan tambur ada si bintang tetamu…. ia pergi ke mana ia suka. Ia bicara sama musuh itu. ia menjadi sangat nakal. Ia cerdas sekali tetepi dalam pelajaran ilmu silat. Pada suatu hati Oey Yong pesiar kelilingan di pulaunya itu. maka cara bagaimana dia bisa datang kemari? Bukankah aku tengah di perdayakan?‖ Menyaksikan keragu-raguan orang.

Bwee Tiauw Hong membuat perlawanan dengan Kiu Im Pek-kut Jiauw. kaulah yang mesti hajar dia.Pendekar Pemanah Rajawali menyembunyikan pedang mustika. supaya ayah suka mengampunkannya. ia lihat tangan si nyonya menjambak secara hebat. dalam suara seruling dan tambur ada si bintang tetamu‖. membuat ia mendapat harapan. terus ia menunjuk ke luar jendela. kedua tangannya bergerak panjang dan pendek. untuk memernahkan diri di belakangnya Bwee Tiauw Hong. Benar-benar Tiauw Hong jeri dan melepaskan Kwee Ceng. Oey Yong tertawa di dalam hatinya. mereka dengar satu suara seruan yang disusul tertawa panjang. entah dengan cara apa dia bakal menghukum aku…‖ Mukanya menjadi pucat kapan ia ingat kebengisannya Oey Yok Su. Yang membikin ia terkejut sekali adalah keempat muridnya telah roboh terguling. hingga semangatnya bangun dengan mendadak. tetapi ia cerdik sekali. Walaupun begitu. tubuhnya pun dibawa berlompat berkelit. Oey Yong lantas kenali Auwyang Kongcu. Oey Yog tarik tangannya Kwee Ceng. atau ―Unta Sakti Gunung Salju‖. Ia sengaja menyebutkan itu. ia ulur tangannya akan sambar Oey Yong. yang ia tahu ilmu silatnya lihay. yang kepandaiannya tidak dapat ia tandingi. segera ia dapat akal. maka setiap muridnya kenal itu baik sekali. tidak banyak omong lagi. otak mereka telah dilobangi lima jari tangan. tubuhnya menggigil sendirinya. kapan ia lihat kau membantui aku. Ia buta tetapi ia seperti membayangkan guru itu dengan bajunya warna kuning muda. Sementara itu Auwyang Kongcu lagi mendatangi bersama keempat murid wanitanya. Kwee Ceng baru memandang ke tembok tatkala di belakang mereka. untuk memeriksa. sebentar nanti aku mohonkan ampun kepadanya. Itu artinya ia mengajak sahabat itu lari bersama. Mendadak tubuhnya menjadi lemas. Mendadak saja ia merasakan angin menyambar ke arah dadanya. ialah ―Sin To Soat San Ciong‖. nyata mereka sudah putus jiwanya semua. si Mayat Besi biasanya galak dan telengas. begitu lekas Tiauw Hong dan si kongcu bertempur. ―Anak yang baik. Auwyang Kongcu melihat Tiauw Hong sedang duduk numprah. lalu di sana muncul seorang yang tangannya menggoyang-goyang kipas. musuh bagaimana tangguh juga tidak dapat buat ia jeri. adik seperguruan. Sebentar ayah datang. ia lompat maju. Nona ini telah pikir. sebab dia tahu si nona memakai lapis berduri. Oey Yong hendak menggunai ketikanya untuk menyingkir. dengan menerbitkan suara memberebet. apabila ia mendekati mereka. ia terus mendekam ke tanah seraya berkata: ―Teecu ketahui dosaku yang mesti dibunuh berlaksa kali. Ia keluarkan kepandaiannya yang istimewa. ―Ada orang busuk lagi menghina aku. dan orang pun hendak membekuk padanya. Ia kaget bukan main. Itulah cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw. ke arah muka. ia baru menarik tangan Kwee Ceng atau tiba-tiba ia dengar bentakan di belakangnya. sambungan tulang-tulangnya mengasih dengar suara meretek. Kata-katanya ini sumoy. ―Akan aku berpura-pura tidak sanggup melawan. hanya sekarang kau mesti mendirikan dulu beberapa jasa baik. hatinya tentu girang. Ia tarik tangan Kwee Ceng. disusul sama serangan dua tangan. Begitu dia tiba di depan mereka bertiga. Lekas-lekas ia mengetok denagn kipasnya ke lengan si nyonya. hingga Auwyang Kongcu tidak berani merapatkan diri. untuk menggertak kepada Tiauw Hong. lantas ia menghadapi Bwee Tiauw Hong dan berkata: ―Bwee Suci.‖ Tiauw Hong suka memberikan bantuannya. buat menyingkir dari istana itu. Itulah Hauw Thong Hay yang telah datang ke situ dan lantas menyerang. Tiauw Hong masih berpikir: ―Suhu telah datang.‖ ―Jasa baik apakah itu?‖ Bwee Tiauw Hong tanya. Kongcu ini menjadi murka sekali. itulah nyanyiannya Oey Yok Suk yangs ering dinyanyikan. Belum pernah ia mendapat serangan sehebat ini. aku tidak kena kau jual!‖ orang itu berkata sambil tertawa. nyonya itu berserba hitam dan romannya tidak luar biasa.‖ Oey Yong terangkan. ujung bajunya robek sepotong sedang kipasnya patah menjadi dua potong. lagi berdiri di hadapannya. ayah paling dengar perkataanku. dengan pundaknya menggendol sebuah pacul kecil peranti menggali obat-obatan. seperti habis sudah ilmu silatnya. Irawan D Soedradjat Page 247 . Ia mengerti yang ia sukar lolos. ia masih kurang sebat. ia mau ajak sahabatnya itu menyingkirkan diri. tetapi teecu mohon sukalah guru mengampunkan teecu dari hukuman mati mengingat mata teecu telah buta dan separuh tubuhku cacat…‖ Kwee Ceng heran menyaksikan orang demikian ketakutan dan pasrah sedang begitu jauh yang ia ketahui. untuk menyerang Bwee Tiauw Hong.

Dengan tangan kirinya Tiauw Hong tangkis serangan Auwyang Kongcu. Nyonya itu sudah lantas kasih bekerja kedua tangannya. untuk menghalau lengan nyonya itu. Dia tidak dapat melupakan ilmu itu. ―Aduh!‖ karena tepat ia terkena piauw itu. mereka berlari-lari bersama barisan pengiring mereka. ―Bagaimana sih caranya menyakinkan ilmu dalam?‖ dia tanya Kwee Ceng selagi ia melayani musuh. ia turut perkataan orang itu. untuk maju memburu. Dia ini mengkeratkan diri. Chao Wang bersama putranya repotnya mencari orang yang menculik onghui. Karenanya kedua tangan beradu satu sama lain. Nio Cu Ong lihat bagaimana Auwyang Kongcu terdesak.‖ Girang Tiauw Hong hingga ia menjadi bersemangat.Pendekar Pemanah Rajawali Segera setelah itu. Oey Yong main berkelit terhadap pelbagai serangan Hauw Thong Hay. segera ia membungkuk memegang kedua pahanya Tiauw Hong. hingga ketika ia menjambret Nio Cu Ong. untuk diangkat. Ia bertenaga besar. ke situ pun datang See Thong Thian bersama Nio Cu Ong dan Pheng Lian Houw. maka Thong Hay lantas saja berkoak. Tidak lama. hingga tubuhnya segera diangkat. Ia pun lantas ingat bagaimana di dalam gua ia telah dipermainkan nyonya itu. untuk berkelit. dia dapat mengcengkram pundaknya. guna mundur sembari menangkis atau berkelit. untuk memburu. Pikirnya: ―Dia tidak dapat menggunai kedua kakinya. kau kejar si orang she Nioitu!‖ Baru sekarang Kwee Ceng mengerti maksud orang. tak dapat ia bergerak lagi. ―Apa itu ynag dinamakan lima hati?‖ Tiauw Hong menanya pula. tatkala ia melihat Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian maju membantu suteenya untuk menggerubungi Oey Yong. Maka tidak tempo lagi. ia tidak mengerti maksud orang. pundaknya orang she Nio itu berlumuran darah. hingga ia mesti melompat menyingkir. Di luar dugaannya tangan si nyonya. dan tubuh Tiauw Hong tidak berat. ia menangkis dengan melemparkan tubuhnya Hauw Thong Hay ke arah datangnya piauw itu. ynag kiri ke arah bebokongnya Hauw Thong Hay. atau senjata rahasia yang berupa uang dari Pheng Lian Houw.‖ Kwee ceng menjawab. lalu dia bergerak kesana ke mari menuruti setiap petunjuk nyonya itu. ia menjadi gemas sekali sambil berseru. telapakan kedua kaki dan embun-embunan. 248 Berbareng dengan itu. ia menjadi kaget. ia membuatnya orang she hauw itu kewalahan. sampai bajunya robek dan terlihat baju dalamnya. tanpa berdaya lagi. di dalam dan di laur istana. enteng tubuhnya. ia menjadi lemas sekujur tubuhnya. tangan mereka sama-sama kesemutan. sedang di lain pihak lima jari tangan kanan si nyonya itu menyambar ke abtok kepalanya. akan tetapi ia insyaf bahwa mereka bekerjasama menangkis musuh. Ia bukan lagi pondong si nyonya. dari arah kiri terdengar suara angin menyambar. . maka kagetlah ia tempo bebokongnya kena dijambak. ia jadi dapat berbegrak dengan leluasa. lantas ia putar tubuhnya. Kwee Ceng lompat. Maka setelah itu Tiauw Hong manjadi menang diatas angin. keduanya menjadi kaget. Tiba-tiba ia tarik sebelah tangannya dan menyambar bebokongnya Kwee Ceng seraya ia berseru: ―Kau podong kedua kakiku!‖ Kwee Ceng kaget. Itulah serangan kim-chie-piauw. Ia berlompat. dia hanya memanggulnya. dengan tangan kanannya ia jambak Nio Cu Ong. bersiap untuk membantui. ia maju akan membantui si pemuda mengepung. ―Hajar dulu ini dua orang!‖ ia kata pada Tiauw Hong. semabri berbuat demikian. ia kata kepada Kwee Ceng: ―Kau pondong aku. SeeThong Thian menyaksikan itu. See Thong Thian dan Pheng Lian Houw menanti di pinggiran. kagetnya bukan main. ―Dengan itu dimaksudkan telapakan dua tangan. Irawan D Soedradjat Page Tiauw Hong dapat tahu datangnya serangan gelap. lima hati di hadapkan ke langit. Hati mereka tapinya gentar menyaksikan kehilayan si nyonya. dia membutuhkan bantuanku!‖ Ia terus bekerja. ―Dudk numprah. Bwee Tiauw Hong merasakan repot melayani dua lawan yang tangguh.

Maka kali ini Thong Hay bisa kerahkan tenaganya. begitu pun Oey Yong. rambutnya itu kutung putus. api.‖ Ngo-heng ialah kayu. oleh piauwnya Pheng Lian Houw. maka akhirnya ia teriaki Oey Yong: ―Eh. Tiauw Hong merasakan ada serangan di kiri dan kanannya. sekalian dia hendak membangkol tangannya si nona itu. maka itu. Itulah nio Cu Ong. ―Itulah kayu dari Tong-hun. kuping tidak mendengar tetapi pendengarannya ada di geginjal. Ia kaget. belum lagi Kwee Ceng menjawab ia. Kalau ia terbanting. Ia bertubuh kuat akan tetapi toh hajaran itu membikin ia merasakan sangat sakit. supaya ia bisa ajak Kwee Ceng kabur. Nona ini segera menyerang punggungnya orang she Nio itu. nyata kau mendusta!‖ Irawan D Soedradjat Page 249 . ynag terus ia lemparkan. pundak kirinya dan iga kanannya telah terkena hajar oleh Auwyang Kongcu dan See Thong Thian. akan menyentil balik setiap piauw. Cu Ong menolong dirinya. dari itu. siapa tahu. tidak pernah ia mengerti itu. menyusuli itu. semua piauw itu mental kembali. oleh Auwyang Kongcu dan See Thong Thian. darimana kau memancing begini banyak musuh lihay? Mana suhu?‖ Ia menanya demikian. Sungguh tak ingin ia bertemu sama gurunya. hingga ia jatuh dengan wajar. yang ia tahu telengas. apapula ia dapatkan tubuh sutee itu bakal jatuh ke tanah. Pheng Lian Houw dan See Thong Thian. Tiauw Hong menyambar ke rambutnya.‖ ―Tidak salah! Itu yang dinamakan ngo-kie-tiauw-goan – lima hawa dipusatkan kepada asalnya?‖ ―Itulah. Segera juga Tiauw Hong terdesak dibawah angin. supaya Kwee Ceng dilepaskan. lidah tidak berbunyi tetapi pemikirannya ada di hati. Sementara itu Pheng Lian Houw lantas mengetahui wanita itu adalah Bwee Tiauw Hong. budak cilik! Kau bilang kau bukannya murid Hek Hong. ia berlompat menerjang. yang turut maju pula. mengebalkan kuping. air dan tanah. untuk menanggapi dengan menyambar pinggang si adik seperguruan itu. ia repot melayani musuh-musuhnya.Pendekar Pemanah Rajawali See Thong Thian kaget. Tiauw Hong melemparkan tubuh orang dan See Thong Thian menolongi sutee itu. Tetapi Tiauw Hong tengah sulit sekali. Tiauw Hong segera diserang dari tiga penjuru. yang menyambar rambutnya itu.‖ Girang Tiauw Hong mendapatkan keterangan ini. sebenarnya ia berkhawatir. emas dari See-pek. lantas jari-jari tangannya dipakai menyentil. semua itu terjadi dalam sejenak. air dari Pak Ceng. tetapi ia merasakan rambutnya ada yang tarik. ―Apakah itu yang dinamakan mengumpulkan ngo-heng?‖ Tiauw Hong menanya lagi. dan hidung tidak mencium bau tetapi rohnya ada di peparu. ―Mereka ini bukannya tandinganmu! Umpama kata kau duduk di tanah. api dari Lam Sin. salah satu dari Hek Hong Siang sat. pemuda ini mesti membantui orang. Ia mengharap Tiauw Hong bisa melibat musuh-musuhnya. Bwee Tiauw Hong memasang kupingnya. menyerang kepada Auwyang Kongcu. mereka tidak nanti dapat mengganggu selembar rambutmu!‖ Ia ingin membangkitkan kejumawaannya si Mayat Besi. Dengan mencelat ke samping. Terpaksa ia melompat maju. ia mementang kedua tangannya untuk menangkis. mata tidak melihat tetapi semangatnya ada di jantung. apabila ia dapat kenyataan Oey Yong membnatui si Mayat Hidup. sedang tangan kirinya tidak melepaskan rambutnya si Mayat Besi. meluruskan napas dan menutup lidah. Untuk membebaskan dirinya. ―Dia bakal segera datang!‖ Oey Yong menyahuti. emas. dia menegur : ―Eh. ia serang Nio Cu Ong. menyusul mana. dan tanah dari Tiong Ie. maka bagaikan sitebas. Maka ia menanya. Oey Yong pun menjadi cemas. Ia heran atas tidak datangnya bala bantuan. Dengan begini ia telah memecah perhatiannya. celakalah sutee itu. Sudah belasan tahun ia menyakinkan Kiu Im Cie Keng. atas mana Cu Ong menangkis dengan tangan kanannya. ―Apakah itu yang disebut mengakurkan su-ciang?‖ ―Itu artinya menyimpan mata. Nio Cu Ong berseru. juga kepada Nio Cu Ong.

Oey Yong berkhawatir dan penasaran. mengejak. Atas ini tahulah Tiauw Hong atas datangnya musuh-musuh. dua diantaranya sudah lantas lompat turun. mereka membikin ia kewalahan. hingga empat lawannya mesti menjauhkan diri. cuma sekarang ia menghadapi Auwyang Kongcu berempat…semua bukan sembarang orang. ―Suhu lekas tolongi teecu!‖ ia berteriak. tertampak berdiri di atas tembok. Tapi malam ada gelap. guna menjambret si orang she Pheng itu. Merasa tidak ungkulan. yang tubuhnya tinggi kate tdak rata. Pheng Lian Houw berpikir: ―Ini perempuan buta mesti lebih dulu dibinasakan. Ia tahu Kwee Ceng masih lemah. Irawan D Soedradjat Page 250 . Orang yang mencekal joan-pian itu. dengan tubuhnya si nyonya turun rendah. dalam takutnya. Justru itu. Adalah Kwee Ceng. Sejak di Utara mereka terpisah dari Kwee Ceng. Pheng Lian Houw semua tahu. Nyata ia telah kasih keluar cambuknya. ynag tubuhnya kate. muridnya mereka itu. hendak ia berteriak pula. ia melihat ancaman bahaya untuk si Mayat Besi – artinya untuk ia sendiri berdua sama Kwee Ceng. membarengi mendamprat: ―Bangsat tukang petik bunga. Dilain pihak. Tiauw Hong tidak tahu orang hendak membokong dia. Begitulah tubuhnya kena dihajar tongkatnya Kwa Tin Ok dan kakinya tertendang Cu Cong. mereka terus mengurung. maka ia berteriak: ―Semua berhenti! Aku hendak bicara!‖ Pheng Lian Houw. siapa kena dicambuk. tidak mengambil mumat atas teriakan itu. Mereka gusar. yang ia lantas rabu kakinya. ―Dia guruku?‖ dia membalik. Rupanya keenam orang di atas tembok itu tidak dapat manahan sabar. Auwyang Kongcu membarengi menumbuk bebokongnya. sungguh sulit!‖ Ia memikir demikian karena ia tidak tahu Tan Hian Hong sudah terbinasa. dia mesti terbinasa. Terang mereka berdua sama ilmu silatnya. dengan senjatanya itu. Maka itu. dia masih belum mampu menjadi guruku!‖ Lian Houw heran. aku hendak ada bicara!‖ Suara itu datangnya dari arah tembok. ia membungkuk. sambil berseru. Ia cuma bisa membikin mereka itu merenggangkan diri. mereka lantas serang Auwyang Kongcu. Oey Yong segera berpaling. ada datang orang dari pihak ketiga.Pendekar Pemanah Rajawali Oey Yong tidak mau mengalah. yang bisa membebaskan diri. ia pun bisa susah. tetapi Liok Koay telah berlatih bersungguh-sungguh di gurun pasir. Ia lantas dapat akal. telah memperoleh banyak kemajuan. mereka berkelahi terus. kalau naka itu roboh. di dalam kalangan enam tombak. dengan apa ia menyambet ke empat penjuru. yang menjadi kaget sekali. Auwyang Kongcu membuat perlawanan. atau tiba-tiba ia dengar lain orang mendahulukan padanya: ―Semua berhenti. Tiauw Hong kaget. begitupun ketiga kawannya. kemana kau hendak lari?!‖ Kwee Ceng dengar suara orang. kemudian mereka menguntit delapan murid wanita dari Pek To San. Pheng Lian Houw penasaran. mereka lantas menyerang. terpaksa ia lepaskan si nona mangsanya itu dan lari kabur. ia menjadi girang sekali. Cambuknya itu bergerak bagaikan naga beracun. mereka lantas mempergoki Auwyang Kongcu beserta sekalian muridnya merampas anak gadisnya suatu keluarga baik-baik. Tiauw Hong mengasih dengar suara ―Hm!‖ Mendadak saja tangan kanannya terayun. dia menjatuhkan diri. muka mereka tidak terlihat nyata. ia lantas ulur tangan kirinya. cambuk emas. Sebenarnya cambuk Tong-liong Gin-pian dari Bwee Tiauw Hong lihay sekali. Oey Yong tidak dapat membantu Tiauw Hong lagi. karena cambuk orang merintangi majunya. jikalau suaminya si Mayat Perunggu keburu datang. lalu terlihat berkelebatnya satu sinar putih terang. merek atidak ambil peduli. dia tetapi melayani ketiga musuhnya. untuk menyerbu dengan bergulingan. Dua muridnya terhajar binasa masing-masing oleh Lam Hie Jin dan Coan Kim Hoat. untuk menyambut kakinya orang she See itu. Enam orang. Merek ini masing-masing bersenjatakan joan-pian dan pikulan besi. Diwaktu malam. ―Lagi seratus tahun ia belajar silat. ia menjerit. Kenapa si nona menyangkal? Kenapa agaknya si nona tidak menghormati Tiauw Hong itu? Justru itu terdengarlah suaranya See Thong Thian: ―Memanah orang lebih dulu memanah kudanya!‖ Kata-kata itu ditujukan kepada Kwee Ceng. Memang keenam orang itu adalah Kanglam Liok Koay.

yang ia gendong pulang ke rumahnya. tetapi ia licin dan dapat meloloskan diri. belum lagi ia menaruh kaki di tanah. apapula mereka itu lantas menyerang Auwyang Kongcu. agar sahabatnya itu melemparkan tubuh orang. Merekanjuga lantas mengawasi. istananya Chao Wang itu. jikalau aku mesti tambah musuh dalam dirinya Tujuh Manusia Aneh ini. Ketika ia jatuh ke tanah. ia sendiri segera lompat mundur. kalau bertempur satu lawan satu. pihaknya tidak sanggup. ―Kali ini kau telah berjasa!‖ katanya. ―Kua sendiri. maka itu Lam Hie Jin dan Han Po Kie sudah lantas melakukan penyerangan. Ia tahu orang muncul yang berenam. Begitulah mereka menguntit hingga di onghu. tahan dulu!‖ Dua saudara itu menurut. Tapi kepada Kwee Ceng ia memberi tanda dengan gerakan tangan. yang dengar teriakan hebat itu. Kemudian ia berteriak: ―Semua berhenti! Aku hendak bicara!‖ Teriakannya nyaring sekali. ―Anak Ceng. Han Siauw Eng maju menyerang si Mayat Besi yang ia sangat benci itu. menulikan telinga. untuk simpangi perhatian si Mayat Besi. ia melemparkan tubuh si nyonya sampai jauhnya setombak lebih. Oey Yong sudha lantas menghampirkan murid ayahnya itu. Kemudian Auwyang Kongcu dikejar. Ia ketahui datangnya Kanglam Liok Koay begitu lekas ia dengar suaranya Kwa Tin Ok. Biauw Ciu Sie-seng heran. aku hampir tidak dapat bertahan. mengapa kau bantui perempuan siluman itu?‖ ―Mereka hendak membunuh aku. Kwee Ceng mengerti. Diwaktu gelap. Ia kaget. ―Tengah malam buta. hari ini mereka mengantarkan diri. percaya yang orang adalah orang lihay.‖ Ia lantas mengertak gigi. entah yang satunya lagi bersembunyi di mana…?‖ Ia tidak tahu yang Siauw Bie To Thio A Seng telah terbinasa di tangan suaminya. kau lancang masuk ke dalam istana. sebab rombongannya Auwyang Kongcu gampang dikenali dari dandanan mereka yang serba putih itu. ―Celaka!‖ teriak Han Po Kie. kenapa mereka itu bertempur?‖ Cu Cong berbisik kepada muridnya. kamu hendak berbuat apa?‖ Irawan D Soedradjat Page 251 . ―Aku minta kau memberitahukan nama kamu?!‖ Nio Cu Ong menegur Kanglam Liok Koay. Ia menyerang Kwee Ceng begitu lekas ia dapatkan tubuhnya dilemparkan. Ia pikir: ―Aku cari mereka ke mana-mana. dia menolongi. Ia lantas mengambil keputusan: ―Nio Lao Koay beramai tak ada permusuhannya dengan aku.Pendekar Pemanah Rajawali Wat Lie Kiam Han Siauw Eng lantas menolong si nona. dia sepertinya duduk bersilat di pundaknya Kwee Ceng.‖ jawab Kwee Ceng. maka hari ini baiklah aku terbinasa bersama-sama dengan Cit Koay saja!‖ Ia cekal keras cambuknya. Sekarang ini aku lagi dikurung oleh musuh. cambuknya. begitupun yang lainnya. hingga mereka dapat lihat dengan tegas: Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi telah bersilat dengan cambuknya. akan dengari gerak-geriknya Cit Koay itu. karena mereka ketahui. sedang Coan Kim Hoat maju untuk menolongi muridnya. Pheng Lian Houw semua heran atas datangnya enam orang itu. Karena ini tanpa bersangsi lagi. Nio Cu Ong bersama See Thong Thian mendahulukan mundur. Kwa Tin Ok. Liok Koay juga tidak mengejar dengan berpisahan. Tapi mereka terus melakukan penyeledikan. terlibat dan tertarik sama cambuknya Bwee Tiauw Hong. pastilah aku bakal binasa…. cambuk perak yang bergemerlapan sudah lantas menyambar kepadanya. dengan mengerahkan tenaga. si Naga Emas. lebih dahulu ia menampa dengan tangannya. habis itu ia duduk dengan hati-hati. Cambuknya itu terlepas. Liok Koay bersama rombongannya Nio Cu Ong berdiam semua. Inilah tidak sukar. ia memberi keterangan atas pertanyaan orang tadi. pasti aku bersyukur sangat kepada Langit dan Bumi. Hanya. gampang sekali untuk melihat pakaiannya rombongan Auwyang Kongcu itu. telapakan tangannya sakit. menyerang si Mayat Besi juga. mereka pun memernahkan diri di jarak tujuh tombak dari wanita kosen itu yang cambuknya sangat lihay. maka ia pun teriaki saudara-saudaranya: ―Shatee dan citmoay. Tanpa ayal lagi ia menyerang dengan Kim-liong-pian. Rupanya bocah itu berada dibawah pengaruh orang. Maka kedua cambuk itu beradu keras. ia hanya bernapas memburu. kau ingatlah baik-baik!‖ Berbareng dengan itu. ia memasang kuping. Cambuk itu ada banyak gaetannya. mereka semua mundur. Akhirnya ia berkata: ―Nah. Empat yang lainnya turut heran juga. ia heran: ―Dari Cit Koay cuma muncul yang enam. akan keluar dari gelangan. yang menyaksikan bahaya mengancam muridnya. Lian Houw lantas menggulingkan tubuh. Ia mendongkol berbareng khawatir. Tiauw Hong pun sudah berhenti bersilat. Mereka kaget akan dengar teriakannya Kwee Ceng. Coba hari bukannya hari ini.

Karena ini. gerakannya aneh. lantas ia menyerang dengan hebat. yang ia terus serang. maka ia lantas mengambil keputusan: ―Baiklah aku binasakan dulu ini beberapa manusia jahat.Pendekar Pemanah Rajawali ―Aku she Kwa. untuk menyerang yang lain. Tapi Kim Hoat lihay. Pheng Lian Houw tidak berdiam saja melihat kawannya dikerubuti. Kwa Tin Ok mendengar suara angin di kanan. segera ia serang si Tukang Kayu dari gunung Lam San itu. Si wanita siluman. mereka masih menang diatas angin. dengan begitu. Karena itu. dari itu tidak berani ia menghajar tubuh orang. . Coan Kim Hoat kurus kering. ―Sudah lama aku mengagumi nama kamu!‖ See Thong Thian tapinya berteriak: ―Bagus! Cit Koay telah datang sendiri! Aku orang she See hendak belajar kenal. senjata apa senjata kau ini?‖ dia tanya. See Thong Thian maju sambil mengawasi keenam Manusia Aneh itu. Kwa Tin Ok dan Cu Cong lantas maju. SeeThong Thian dan Pheng Lian Houw benar lihay. untuk melihat Cit Koay yang namanya demikian besar. tanpa bersuara. heran. Pertempuran di antara Oey Yong dan Hauw Thong Hay juga berjalan dengan seru. ia serangn musuh ini hingga si musuh kaget dan mesti berkelit dengan lompatan jungkir balik ―Ular naga membalik tubuh. Ia lantas lompat ke depannya Pheng Lian Houw. Orang Kangouw menyebut kami Kanglam Cit Koay. tahulah ia bahwa ia bukannya tandingan musuh she See itu. untuk membantui saudara-saudaranya itu. walaupun mereka dikepung. Ia bergerak dengan jurus ―Sekejap seribu lie‖ dari ilmu silatnya Sin To Soat-san-ciang. Ia pun lantas membentak: ―Kamu usilan. Kanglam Cit Koay!‖ kata Pheng Lian Houw. Han Po Kie kate dampak dan gemuk. kepandaiannya sebenarnya bagaimana!‖ Thong Thian gusar karena ia ingat penghinaan yang diterima empat muridnya. ―Kami bersaudara bertujuh orang. ia lantas tinggalkan musuh ini. yang romannya gagah. yang satu merusak usahanya. tetapi ia bukannya menyingkir untuk berlari. Maka teranglah. ia menyerang pula dengan jurusnya ―Arhat menunjuk pengaruh‖. Sebenarnya Thong Hay lebih lihay terapi ia kalha gesit dan ia pun jeri untuk beju lapis si nona. Begitu ia berkelahi. berbareng dengan mana. biar bagaimana tidak nanti ia dapat kabur. sesudah berkelit ke kiri dan ke kanan. babi!‖ Lian Houw murka dikatakan babi. Karena ini Oey Yong yang dapat mendesak.‖ menyahut Tin Ok. 252 Auwyang Kongcu menyingkir dari serangan itu. yang lainnya membinasakan muridnya atau gundiknya tersayang. Inilah ketikanya untuk turun tangan. Ia bermusuh dengan Liok Koay dan Bwee Tiauw Hong. ia ketahui pihaknya keteter. sebab serangan datang dalam rupa tangan kiri lawan. ia menangkis serangan. Auwyang Kongcu berdiam sambil bersiap. yang senjatanya yang luar biasa itu hendak dirampasnya.‖ ―Oh. sedang Cu Cong lemah lembut bukan seperti orang Rimba Persilatan. Irawan D Soedradjat Page Melayani Hie Jin pun Auwyang Kongcu pun tidak mau mengulur tempo. Lam Hie Jin menancap pikulannya. mereka jadi bertempur dalam dua rombongan dengan masing-masing tiga lawan satu. Ia dapatkan Kwa Tin Ok bercacat mata dan kakinya. Meyaksikan saudara keenamnya itu kewalahan. Cambuknya kena dirampas Bwee Tiauw Hong tetapi ia punyakan kepalannya. ia lompat maju akan rintangi Coan Kim Hoat.‖ ―Eh. Han Siauw Eng lantas maju dengan pedangnya dan Coan Kim Hoat dengan dacinnya. sambil berseru keras. ―Ini toh barang yang diperantikan menimbang di pasar tetapi kau pakai untuk menyerang orang!‖ Coan Kim Hoat mendongkol dan menyahut: ―Dacin ini untuk menimbang kau. Ia lantas saja berkelit denagn mendak. Han Po Kie berlompat maju. Auwyang Kongcu telah memasang mata. bangsat buta. hingga Hie Jin terkejut dan mesti berbalik akan melayani. ia menangkis dengan ujung tongkatnya. hingga ia membikin Kim Hoat terdesak. Han Siauw Eng satu nona yang manis. Kali ini pihak Liok Koay yang menang di atas angin. maka kau rasailah lihaynya kongcumu!‖ Lalu tangannya kanannya meninju. hingga lawannya itu main mundur. Ia lihay akan tetapi baru beberapa jurus. dia boleh dibereskan belakangan…‖ Segera ia lompat ke sampingnya Kwa Tin Ok. tetapi ia kebogehan. hingga ia menempur Liok Koay dengan bergantian. Karena ini. hanya ia lompat kepada Lam Hie Jin. Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin.

Ia pun bukannya hendak menangkis.Pendekar Pemanah Rajawali ia tengah mengganggu musuh-musuhnya itu. Irawan D Soedradjat Page 253 . Ia memakai lapisan joan-wie-kah. yang jeri kepada cambuknya si wanita lihay itu. Dengan jenaka ia berkata: ―Kau merusaki pakaianku. maka tempo ia menginsyafi aksinya Auwyang Kongcu itu. hanya ia berlompat ke atas cambuk di mana ia menggulingkan tubuhnya. untuk merabu kakai si anak muda! Oey Yong melayani Hauw Thong Hay dengan selalu memperhatikan Kwee Ceng. Dengan tangan kanannya. Nio Cu Ong memburu. maka katanya dalam hatinya: ―Ah. ia tidak bakal lolos pula. Kwee Ceng berontak sekuat-kuatnya. sembari mengejar. sudah tidak keburu lagi. beranikah kau melukai aku?!‖ Kaget Tiauw Hong mengenali suaranya Oey Yong. hingga ia memandikan peluh dingin. Suasana kembali terbalik. Dalam saat berbahaya itu. Justru itu Oey Yong tertawa geli. Dia pun berpikir: ―Cambukku banyak gaetannya. hingga belasan bungkusan obatnya kena disambar musuh. Cu Ong menjambak ke arah perut. Bwee Tiauw Hong sendiri memperhatikan suaranya Kwee Ceng. Ia mengkeratkan perutnya. sekarang aku lukai budak ini. ia waspada terhadap nyonya itu terutama terhadap cambuknya. encimu ini yang salah. meskipun ia tahu. terus ia lari ke arah Bwee Tiauw Hong sambil berteriak: ―Tolongi aku!‖ Girang Tiauw Hong mendengar suara orang. Kwee Ceng bukan tandingan jago ini. Liok Koay yang mulai keteter pula. ia dapat tahu nona itu tidak kesakitan. Dari suaranya orang. Kwee Ceng membela diri. yang terus ditarik Bwee Tiauw Hong. setelah mana kembali ia menjambak. kecuali ayahnya. Dengan tiba-tiba ia ingat. di sekitarnya. ia menjambret dengan kedua tangannya. Nio Cu Ong sementara itu terus memasang matanya terhadap Kwee Ceng. malah lekas juga dadanya kena dicengkram. tubuhnya tidak terluka. Atas itu Oey Yong lanats berseru: ―Bwee Jiak Hoak. hingga ia memasuki kalangan smabaran cambuknya si wanita kosen. karena itu. Sekarang ia tidak dihampirkan oleh Nio Cu Ong. Anak muda itu menghampirkan. nanti aku pasti mengganti bajumu ini…‖ Oey Yong lantas menggapai pada Kwee Ceng. hingga terdengar suara robek dari bajunya. maka dengan meninggalkan Thong Hay. ia lantas lompat kepada bocah itu sambil ulur tangannya. sukar dicari orag yang bisa mengalahkannya. ia dapat menolong. untuk membikin pecah perut orang. Ia terkejut ketika Kwee Ceng kena dijambret Nio Cu Ong. tentu saja baju lapis berduri dari suhu telah diberikan padanya!‖ Ia lantas menyahuti: ―Ya. supaya ia bisa menghisap darah anak muda itu. ia berdiri jauhnya tujuh atau delapan kaki dari Tiauw Hong. baiklah aku habiskan dia dulu!‖ Maka dia terus menarik. ―Kau peluki aku! Jangan takuti Lao Kaoy!‖ ia menyahuti. gerak-geriknya. Sekarang ia melihat kawannya terancam cambuknya Tiauw Hong. Ia percaya tubuh si nona itu sudah tercengkeram pelbagai gaetan cambuknya. Nio Cu Ong dapat mencium bau obat. satu kali ia peluk wanita itu. bagaimana suhu dapat mengampunkan aku? Tapi sudah terlanjur. ia hanya lari berputaran dekat. aku minta ganti!‖ Tiauw Hong melongo. melainkan baju luarnya dan dalamnya pada robek. Ia memang ingin meminta beberapa keterangan pula kepada anak muda itu. ia lompat ke arah cambuk! Ia tidak takuti cambuk itu. hingga ia dapat cekal tubuh si nona. dalam beberapa jurus saja ia sudah terdesak. ia masuki semua bungkusan itu ke dalam sakunya. hingga Pheng Lian Houw dan See Thong Thian jadi dapat bernapas. maka juga mendadak saja ia geraki cambuknya. ia tidak berani menghampirkan. untuk menolongi. untuk diletaki di tanah. Kwee Ceng tertolong dari bahaya tetapi sekarang Oey Yong yang kena kelibat cambuk itu. Kwee Ceng tahu. ia dapat meloloskan diri.

kawannya pergi menculik onghui!‖ Karena ini tanpa sangsi lagi. ―Kalau begitu. Nio Cu Ong berlari paling belakang. Pheng Lian Houw semua menjadi bingung. untuk menolongi. terus dibawa ke hidungnya. Pheng Lian Houw. cara bagaimana aku tidak pergi membantu dia?‖ Karena ini. ―Ibuku telah dibawa buron penjahat. paku beracun Cu-ngo Touw-kut-teng! Inilah paku yang asal menemui darah lantas menutup tenggorakan orang hingga orang mati seketika!‖ Nio Cu Ong tercengang mengetahui orang kenal pakunya itu. Ialah siauw-ongya Wanyen Kang. khawatir nanti benteng perlawanannya itu menjadi dobol. sambil berlari-lari mendatangi. Untuk menggunai kekerasan. si pangeran muda. harapannya tidak ada. Cu Ong pun ulur tangannya untuk menyambuti. tuan!‖ katanya sembari tertawa. kesudahannya obat tak didapatkan juga. ―Ayah minta semua suhu membantu mencari. ia pergi dengan perasaan sangta tidak puas. mereka meninggalkan musuh-musuh mereka. mereka lari mengikuti Wanyen Kang. terus ia putar tubuhnya untuk berlalu. yang numprah di tanah. ―Siapa kesudian kau mengambil hatiku?!‖ Cu Ong membentak. Han Po Kie terluka pundaknya. dengan kipasnya ia sampok paku itu. terus ia serang bebokongnya Pheng Lian Houw dengan jurusnya. kopiahnya miring. Inilah cara berkelahi yang Liok Koay baru pahamkan dan melatih selama mereka berdiam di gurun pasir. Cu Cong lari menghampirkan. ―Oh. dengan tangan kirinya ia angsurkan paku itu. Ia pun mendahului lompat ke tembok.‖ ―Hm!‖ Pheng Lian Houw mengasih dengar suara si hidung. mereka tidak usah repot-repot menjagai punggung mereka. Cu Cong dapat lihat ujung baju orang penuh rumput dan debu. Ia berkelahi sambil menggertak gigi. ia berkelahi terus. melupakan segala apa. dilain pihak. ia tidak dapat melihat Bwee Tiauw Hong. untuk melibat kami semua. ―Onghui telah orang bawa lari. ―Bagaimana dia. Cu Cong lompat maju. lantas ia memutar tubuh untuk membalas menyerang. apa perlunya kami berdiam di dalam istana?‖ Mereka juga menduga: ―Pasti Liok Koay ini lagi menjalankan siasat memancing harimau turun dari gunung. Ia tidak jeri karena ia tahu orang kalah daripadanya. belakang dengan belakang. Kwee Ceng menjadi masgul sekali. inilah hebat!‖ pikir Lian Houw semua. Hauw Thong Hay dan Auwyang Kongcu berempat. aku kembalikan pada kau. Justru itu terlihat muncul dari gombolan pohon bunga. yaitu paku Cu-ngo Touw-kut-teng. sekarang dia ada punya urusan penting. Thong Hay ditinggalkan Oey Yong. toako?‖ Han Siauw Eng tanya sambil ia menunjuk Tiauw Hong. ia lantas membantui kawannya itu. mereka keteter juga. maka lima saudaranya lantas menyusul. keluar dari gelanggang. mereka lantas lompat mundur. Kwee Ceng teriakin dia: ―Eh. kau pulangi obatku!‖ Dalam sengitnya. ia gunai tangan bajunya untuk menyapu itu. Irawan D Soedradjat Page 254 . Meski begini. Masing-masing mereka lantas berpikir: ―Ongya adalah yang mengundang kami semua. Satu malaman ia menumpuh bahaya. malampun gelap. Tidak nanti kami berani melupakan budi suhu semua!‖ Pangeran ini datang secara kesusu. ia takut keluar dari kalangan. untuk dicium. Kwee ceng lihat gurunya yang nomor tiga itu terancam bahaya. tubuhnya pun diputar. ia menimpuk dengan senjata rahasianya. Justru itu. dia berseru: ―Semua suhu. Ia berkelit. Dengan begitu. ia lari menghampirkan. sesudah jatuh ia pungut. ―Ini . ―Mari kita pulang!‖ mengajak Tin Ok selagi muridnya ragu-ragu.Pendekar Pemanah Rajawali Kanglam Liok Koay sekarang berkelahi dengan mengumpulkan diri.‖ Wanyen Kang beritahu dengan perlahan. ayahku ada urusan penting untuk mana ia minta bantuan kamu! Lekas!‖ Orang itu mengenakan kopiah emas. denagn begitu mereka dapat melayani See Thong Thian. ―Apa?‖ dia menanya seraya ia merandak. ―Dengan begitu saja kita pulang…‖ katanya menyesal. Ia ingat Kwee Ceng darah siapa ia belum sempat hisap. sebab Pheng Lian Houw yang lihay sudah cecar padanya. ―Membuka mega untuk menolak rembulan.

―Perlahan!‖ Tiat Sim mengasih ingat. Setelah berhenti sejenak. ―Ayahku?‖ balik tanya Oey Yong masih tertawa. lalu dengan tindakan terhuyung-huyung. Gampang sekali kalau Liok Koay hendak merampas jiwa orang akan tetapi untuk menepati janji kepada Ma Giok. lantas saja ia bangkit berdiri. akan meraba muka suaminya. ―Sebentar kita bicara. ―Eh. Mereka ajak Kwee Ceng bersama. makin pendek napasnya. ―Tentu sekali ayah berada di pulau Thoa Hoa To! Tidak pernah ayah meninggalkan rumah! Ada apa kau menanyakannya?‖ Tiauw Hong menjadi sangat gusar. mana kau mau lepaskan dia?‖ Dengan ―dia‖ ia maksudkan Kwee Ceng. ―Kalau begitu. hingga napasnya memburu. Ia telah keliru menyakinkannya ilmu silat dala. anak Ceng. mereka tidak mau turun tangan. ia kata pula: ―Kau toh yang membilangnya kalau suhu datang ke mari!‖ Oey Yong tertawa pula. ia lupa segalanya. Oey Yong tertawa haha-hihi. Ia heran hingga ia menyangka ia sedang bermimpi. Ketik aitu fajar sudah menyingsing. Justru ia sadar. siapa ini?‖ ia lantas tanya. di antara cahaya pagi remangremang. ia naik ke ujung lainnya. Tiauw Hong murka bukan kepalang. Bisa Lawan Bisa Yo Tiat Sim girang bukan main dapat menemukan istrinya. lekas ia lompat turun ke lain sebelah.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kita telah memberikan janji kepada Ma Totiang. Kira-kira serintasan. Ia ulur tangannya. mendadak ia roboh pula. Ia heran ketika ia lihat ayahnya kembali dengan memondong seorang wanita. Tiat Sim girang hingga ia mengucurkan air mata. ―Eh. Oey Yong terkejut. Kwee Ceng menjawab guru ini dengan tuturkan semua pengalamannya. Tapi kali ini. apakah aku juga sudah mati?‖ ia tanya. ―Kita tidak kurang suatu apa…. ―Inlah ibumu!‖ sahut ayah itu. dari itu ia pondong erat-erat istrinya itu ketika ia lari keluar dengan melompati tembok istana. mengapa aku bisa jalan?‖ tanyanya pada diri sendiri. ―Toako. Tiba-tiba Tiauw Hong sadar.‖ sahut kakak tertua itu. Liam Cu menantikan ayahnya dengan pikiran tegang. ia menubruk kepada si nona. ―Ibuku?‖ ia menegasi. Di bawah tembok. kedua kakinya lemas dan kaku. habis ia menanya. ―Mari lekas kita menyingkir!‖ Liam Cu kaget dan heran. Ia pun pingsan. mari kita tolongi Ong Totiang!‖ Cu Cong mengajak. dan makin ia memaksakan diri. untuk lari menghilang. ―Adik kecil. sampai ia berikhtiar untuk menolongi Ong Cie It. kenapa kau berada disini?‖ kemudian Han Siauw Eng menanya. Bab 23. dengan kedua tangannya ia menekan tanah. ―Ayah. ia lihat orang yang memondongnya. malah ia dapat menolongi juga.‖ sahutnya halus. ―Tanpa aku dustakan kau. Ia dengar nyata: ―Jangan kasih lolos penjahat yang menculik onghui!‖ Irawan D Soedradjat Page 255 . Pauw Sek Yok tersadar. Ia percaya suaminya itu sudah meninggal dunia. Ia tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia berhenti dengna tiba-tiba sebab kupingnya segera dengar suara berisik berupa teriakan-teriakan dan melihat cahaya terang dari banyak obor. akibatnya kedua kakinya mati. Satu barisan serdadu sedang lari mendatangi. maka itu mereka berlalu dengan terus. ia tidak memberi hormat kepada Liok Koay. Ia tidak sabaran dan cemas juga. mana suhu?‖ Tiauw Hong tanya nona itu. biar kita mengasih ampun padanya. ialah suami yang ia buat pikiran siang dan malam. Ketika ia pun lompat ke tembok.‖ Ia sudah lantas lari.

dia kena ditusuk pahanya hingga ia terjungkal dari kudanya. di kampung halamannya itu. ―Semoga totiang tidak kurang suatu apa. Opsir yang memimpin pasukan itu bernama Thung Couw Tek. tapi ia menajadi tenang.‖ Irawan D Soedradjat Page 256 Tiat Sim bisa menduga orang lupa padanya. Karena itu ia tidak lantas mengenal waktu ia dipanggil dan melihat Tiat Sim.‖ Tiat Sim berkata cepat.‖ Liam Cu tidak menangis. Pauw Sek Yok dapatkan suaminya berdarah di sana sini. Dalam kegirangan sangat. mereka ketakutan. Dalam dua tiga gebark saja. ―Biarlah kita bertiga mati bersama!‖ katanya gagah. ia berseru menyapa salha satu imam itu: ―Khu Totiang. Delapanbelas tahun lamanya mereka telah berpisah. Khu Cie Kee telah sempurna Iweekangnya. Tiat Sim hendak menjadwab istrinya tetapi ia daptakan tentara itu sudah semakin mendekat. baru saja ia bertemu kembali dengan suaminya. Mereka hendak menempati janji dengan Giok Yang Cu Ong Cie It. Yo Tiat Sim menjadi nekat. peristiwa dahulu bakal terulang pula. ―Jadinya tuan…. ―Aku yang rendah ialah Yo Tiat Sim. dilain jurusan ia melihat datangnya dua imam yang satu berkumis dan rambutnya ubanan. di luar dugaan. akan bertemu di kota raja. ia bagaikan harimau tumbuh sayap. berdua mereka datang dengan terburu-buru.Pendekar Pemanah Rajawali Tiat Sim menjadi kecil hatinya. guna membicarakan urusan pibu dengan pihak Kanglam Liok Koay. ia tidak dapatkan tempat untuk menyembunyikan diri. di dalam gelap petang mereka dikejar tentara. atau sekarang. Yo Tiat Sim tercengang. ia berkata: ―Apakah totiang masih ingat peristiwa delapan belas tahun yang lampau di dusun Gu-kee-cun di Lim-an. Ia angkat kepalany. ia mengawasi nona itu. hingga ia mengawasi saja. Tanpa pemimpinnya. ―Sudahlah. ia tidak rasai itu. Pauw Sek Yok lantas balut tangan suaminya itu. tatkala selagi kita minum arak kita menumpas musuh?‖ . justru itu. Sek Yok heran. Di tanya begitu. Maka ia rangkul leher suaminya. atas mana tentaranya lantas kabur serabutan. Senjata ini membangunkan semangatnya. ia telah dapat merampas sebatang tobak. kau peluklah ibumu…!‖ Sejenak itu terbayanglah di matanya Pauw Sek Yok pengalamannya delapan belas tahun yang lampau. Ia melihat kesekelilingnya. baru sekarang ia ingat tadi ia telah dismabar sepuluh jari tangannya Wanyen Kang. daripada terhina ia rela terbinasa dalam pertempuran. kalau sekarang akan terbinasa. ―Kau terluka?‖ ia tanya. cuma rambutnya yang berubah. yang lain kumisnya abu-abu. ia pun menyesal yang ia tidak sempat merampas kuda musuh. anakku. di sini mereka bertemu dengan Yo Tiat Sim suami-istri. tidak mau ia melepaskannya. hari ini kembali aku bertemu denganmu!‖ Imam itu memang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee serta saudara seperguruannya. Ia lantas lari memapaki tentara pengejarnya. Itulah tandanya satu pasukan besar lagi mendatangi. maka sekalipun telah bertambah delapan belas tahun umurnya. tiba-tiba saja Tiat Sim merasakan sakit pada belakang telapakan tangannya. tak usah aku menyesal…!‖ Lantas ia kata pada anaknya: ―Liam Cu.!‖ kata Tiat Sim sambil menyeringai.!‖ menegaskan imam itu. hingga tangannya itu mengeluarkan darah. Menampak tentara pengejar datang semakin dekat. ia lupa pada sakitnya. Dari itu ia paksa melepaskan rangkulan istrinyaitu yang ia serahkan kepada anak gadisnya. Ia dipondong oleh suaminya dan dibawa lari sekuat-kuatnya. hatinya tegang sekali. Ia lantas menoleh kepada gadisnya dan kata: Anak. ia berduka dan terhina saking terpaksa. dibelakangnya tergendol sebatang pedang. lantas ia sadar. wajahnya tetapi seperti dahulu hari itu. lalu terlihat debu mengepul baik dan mengulak. Tan Yang Cu Ma Giok. Sekarang ia pun merasakan kedua lengannya sakit dan sukar digeraki. Ia menjadi kaget sekali. Hampir itu wkatu kembali terdengar suara sangat berisik. Ia menginsyafi bahaya. wajahnya sangat berwales asih. Melihat mereka itu. Di dalam hatinya ia kata: Thian mengasihani aku hingga hari ini aku dapat bertemu sama istriku kembali. kau menyingkirlah seorang diri! Ibumu dan aku akan berdiam disini…. Setelah terang tanah. Lega juga hatinya Tiat Sim yang mengathui pasukan itu tidak dipimpin oleh opsir yang kosen. Tidak ayal lagi. sikapnya gagah. ―Dia…dia mengapa adalah anak kita?‖ dia tanya. tak usah dibalut…. pada peristiwa di dusun Gu-kee-cun di kota Lim-an. karena repot melarikan diri. ia ajak istri dan anaknya lari terus.

Kata-kata ―bulu campur aduk‖ itu adalah hinaan untuk suatu imam. dengan cara itu ia robohkan lagi delapan serdadu. maka sekarang ia ingat ebtul peristiwa delapanbelas tahun dulu ketika ia mencoba ilmu silat orang. habis itu keduanya mundur sendirinya masing-masing tiga tindak. orang she Yo itu lantas menjatuhkan diri berlutut di depan orang suci itu. mereka itu terus menerjang dengan begis. Kedua tangan beradu dengan keras dan bersuara nyaring. Kali ini Khu Tiang Cun tidak berani bergerak sembarangan. Yo Laotee!‖ katanya. Lantas ia tertawa. Mendadak saja ia geraki tombaknya dan menikam imam itu dengan tipu tombaknya. yang kepalanya licin mengkilap. ia lantas menarik roboh dua serdadu berkuda itu. tubuh siapa terus ia timpuki ke serdadu yang lainnya yang lagi mendatangi. Hanya. Sebaliknya. Khu Cie Kee tetap bertangan kosong. di antara mereka muncul seorang yang tubuhnya besar dan kekar. hari ini kembali aku mesti membuka pantangan membunuh!‖ katanya. adalah Kwie-bun Liong Ong – demikian si lanang itu – merasakan tangannya sakit. dengan sabar ia melayani. Orang she Yo ini bisa mengerti kesangsiannya si imam. ―Kau masih hidup…. Tiat Sim berubah roman dan suaranya juga. Ia menjadi girang bercampur terharu dapat bertemu sama kenalan lama ini. tak gampang senjatanya itu dapat dirampas. tolongilah aku!‖ Imam itu bisa mengerti keadaan orang. Ia pun berseru: ―Khu Totiang. Khu Cie Kee heran hingga ia kata di dalam hatinya: ―Kenapa di sini ada orang begini lihay?‖ Selagi si imam ini terheran-heran. Ia menoleh ke arah tentara pengajar. hingga ia ingin tanya she dan namanya lawan ini. Ia tidak sahuti imam itu. Setelah hampir duapuluh tahun. hanya lantas ia kata: ―Totiang. Adalah masksudnya. Luar biasa sebatnya imam ini. tangannya menyampok kepala orang hingga di kepalanya See Thong Thian bertapak lima jari berwarna merah. Dengan hanya mementang kedua tangannya. yang terus ia serang. dengan tangan kosong ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tiang Cun Cu tidak menghiraukan itu. ―Suheng.!‖ Tiat Sim tarik pulang tombaknya. untuk menoleh. kepada saudara seperguruannya. Maka lagi dua serdadu roboh pingsan. delapan-delapannya ia timpuki bergantian kepada kawan mereka. lantas ia meraba pada pinggangnya di mana ia selipkan genggamannya yang berupa pengayuh besi yang berat. belum sampai ia membuka mulutnya. ―Oh. disebabkan penderitaannya. hingga ia kaget berabreng mendongkol. mereka lantas putar kuda mereka. dia bergerak dengan gesit sekali. ia hendak menguji tangan orang. menghajar pundak si imam dengan jurusnya ―Souw Cin menggendol pedang‖. hanya melihat orang demikian lincah. Ia bersedia melayani musuh yang bersenjata itu. maka lagi-lagi ada delapan serdadu yang terguling. kau telah melupakan aku tetapi kau tentu tidak dapat melupakan ini ilmu tombak dari keluarga Yo!‖ Tiang Cun Cu terkejut tetapi ia mundur. ia menjawab: ―Kurangilah pembunuhan! Gertak saja meraka itu!‖ Khu Cie Kee tertawa nyaring dan lama. setelah berkelit. Orang she See ini insyaf. yang sudah lantas sampai. Belum lagi semua serdadu kabur. tetapi ia tetap ragu-ragu. Dia membentak: ―Darimana datangnya si bulu campur aduk ini!‖ Lantas tubuhnya mencelat ke depan Tiang Cun Cu.Pendekar Pemanah Rajawali Habis berkata. Tiang Cun Cu lekas membalas hormat. ―Aku harap kau tidak gusari aku!‖ Ma Giok mengerti. dengan itu ia menyerang pula. malah mendapatkan dia menghalang-halangi. Irawan D Soedradjat Page 257 . ia membalas menyerang. sesudah belasan jurus. Ia lantas mengenali ilmu tombaknya Keluarga Yo itu. Tiang Cun Cu heran juga atas kegagahan orang. Di lain pihak hatinya tegang melihat tentara pengejar telah mendatangi semakin dekat. Ia tangkis seragan itu. untuk lari balik. Kejadian ini membikin kaget serdadu-serdadu yang lainnya. Tetapi See Thong Thian telah punyakan latihan beberapa puluh tahun. dari belakang ia dengar ini pertanyaan yang nyaring sekali: ―Kau ada totiang mana dari Coan Cin Kauw?‖ Ia lantas berlompat. lantas ia maju ke arah tentara itu. hingga ia melihat empat orang berdiri berendeng. maka sekali ia maju menyerang. untuk merampas senjata lawan.

Ketika ia telah menarik pulang pedangnya itu. lalu kipasnya dia ini kena ditahan. Maka ia lantas berkata: ―Nama Coan Irawan D Soedradjat Page 258 . ia cuma berpikir. ada salah paham apakah di antara kita? Aku minta sukalah tuan-tuan menjelaskannya. maka itu lantas ia menotok kepada kedua jalan darah kin-jie dan pek-hay-hiat. dengan apa ia terus terjang imam itu. Jadi dengan sekali bergerak. ia menotok dengan kipasnya di tangan kanan. ia menikam ke pinggangnya See Thong Thian. tetapi ia berkelit dari serangan orang.‖ Pheng Lian Houw sendiri berpikir lebih jauh: ―Kita sudah melukakan Ong Cie It. baiklah ia sekalian dibunuh saja! Ini adalah ketika yang paling baik untuk mengangkat nama kita!‖ Karena berpikir begini. ―Kita tidak kenal satu dengan lain. kiranya Tan Yang Cinjin Ma Totiang!‖ berkata Pheng Lian Houw. hati mereka berkata: ―Pantaslah dia bernama besar. ―Pinto berasal dari keluarga Ma. kempolannya kena didupak si imam. Ia menerjang sambil berlompat. di belakang hari pastilah sukar untuk menyelesaikan masalah ini. Auwyang Kongcu dan Hauw Thong Hay yang telah lantas dapat menyusul See Thong Thian. mengarah tiga jalan darah hongbwee. sekarang dua anggota utama dari mereka berada disini. Khu Cie Kee lantas mengangguk kepada mereka itu seraya memberikan penyahutannya: ―Pinto she Khu. Khu Cie Kee tidak heran yang orang sudah lantas menerjang kepadanya. ―Si kate ini galak sekali! Dia pun agaknya lihay!‖ Ia lantas menghunus pedangnya. itu artinya ganjalan dengan Coan Cin Kauw. tetapi pada itu ada nada yang mengandung pengaruh. Pheng Lian Houw mencoba bersikap halus. ketiga jalan darahnya itu bakal menjadi sasaran kipas yang istimewa itu. Hanya. ―Maaf. tidak keras dan mengagetkan seperti suaranya Pheng lian Houw. sebutan Cinjin itu tidak berani pinto terima. imam ini telah melayani tiga lawan. ―Oh. ialah seoarng imam berusia lanjut.?‖ Ia lantas melihat ke sekitarnya. apakah di sini masih ada lain-lain saudaranya…. Ia pun lompat ke belakang. Kelihatannya Khu Cie Kee sudah sangat terdesak. sambil menarik pulang kipasnya. sedangkan ia tidak mengerti. maka terpaksa ia lompat maju untuk menghalangi. ―Apaha she totiang yang mulia?‖ Auwyang Kongcu bertanya. suaranya tetap keras. Ia tahu lawan lihay. maka itu Pheng Lian Houw berempat saling mengawasi. baiklah kita berlima mengepung mereka itu untuk membinasakannya. la lantas berseru: ―Mari maju berbareng!‖ Ia pun lantas mengeluarkan sepasang poan-koan-pitnya. Pheng Lian Houw dan See Thong Thian lantas menyerang. Auwyang Kongcu melihat bagaimana si imam ini dilibat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw dan bagaimana Nio Cu Ong merangsak dari kirinya. atau mendadak satu bayangan berkelebat si samping si kongcu. yang terus menggeroyok saudaranya. Orang she Nio ini terperanjat untuk kesebatannya si imam. dia memang gagah. ia pun lantas menggunai ketika untuk mengeroyok. Imam ini heran mendapatkan munculnya begitu banyak orang pandai. Dengan tangan kiri hanya mengancam. hingga dengan sendirinya orang-orang yang lagi bertempur itu pada lompat mundur. ia memandang bayangan itu. ―Tuan-tuan siap?‖ tanya Ma Giok. ia berpikir: ―Kita telah bentrok dengan pihak Coan Cin Kauw. Auwyang Kongcu pun menyerang secara membokong itu.Pendekar Pemanah Rajawali Itulah Nio Cu Ong bersama Pheng Lian Houw. Itulah Ma Giok yang membantu saudaranya. ia meneruskan menikam jalna darah ciang-bun-hiat di iganya Hauw Thong Hay. Ia lantas menduga kepada anggota Coan Cin Kauw yang tertua. suaranya halus.‖ menolak Ma Giok. Di situ cuma tertampak Yo Tiat Sim sekeluarga bertiga jiwa. Pinto mohon tanya nama mulia dari tuan-tuan.‖ Ma Giok menyahut. Hampir saja Hauw Thong Hay terkena pedang. Inilah cara berkelahi yang langka. sekarang kita bertemu sama Khu Cie Kee. Perkara di belakangada soal lain. akan terus mengawasi orang suci ini. syukur ia keburu berkelit. tetapi di dalam hatinya.‖ Nama Tiang Cun Cu kesohor sekali di Selatan dan Utara. ceng-cok dan pwee-sim di punggung si imam. Auwyang Kongcu lihat berkelebatnya satu bayangan. ubanan rambut dan kumisnya. tetapi ia kena disusuli. tetap sabar. Nio Cu Ong menyusul untuk mengepung. maaf!‖ ―Pengetahuan pinto tentang agamaku masih terlalu sedikit. yang hendak dirampas. sebaliknya.‖ Imam ini berbicara dengan sabar sekali.

di sini kebetulan kita bertemu sama tuan-tuan. senjatanya tidak terlepas. Khu Cie Kee kenal baik kakak seperguruannya ini. Maka ia pun menggeraki pedangnya. yang ia sambar ujungnya. baru saja kami mendapat tahu alamatnya. terus ia menggentak ke samping seraya berseru: ―Lepas!‖ Pheng Lian Houw pun ada seorang jago. Ketika Ma Giok insyaf ia telah dicurangi dan hendak ia menyerang. buat menyambuti. aku merasa beruntung dengan pertemuan kita ini. beruntun dua tikaman. ia tidak menduga bahwa orang lagi memancing padanya. si licik sudah lompat mundur. Irawan D Soedradjat Page 259 . sedang sekarang ia menyerang dengan ―Sam Hoa Cie Teng Ciang-hoat‖. selagi orang tidak bercuriga. Pheng Lian Houw sempat mencabut poan-koan-pitnya. justru kami hendak menjenguk dia. karena ia merasakan tangan kanannya kesemutan. Ma Giok menyangka orang bermaksud baik. Tapi ia masih tertawa. Maka boleh ia mengeroyok. See Thong Thia dan Nio Cu Ong maju memegat Ma Giok. Pheng Lian Houw selipkan senjatanya di pinggangnya. tapi telapakan tangannya dibalik ke bawah. ialah ilmu pukulan paling lihay dari kaumnya. berbareng ia menarik keluar senjata rahasianya. Ilmu silat di kolong langit ini banyak perbedaannya tetapi asal mulanya adalah satu. ia lompat maju ke depan Pheng Lian Houw. ia lawan keras dengan keras. mereka pikirkan siapa Sam Hek Miauw ini. waktu ia mengerahkan tenaga dan menarik. terus ia membalas satu kali. maka itu bagaimana pula jikalau kita mengikat persahabatan?‖ Imam ini jujur. siapa terluka hingga di dagingnya. Orang cuma berdua dan mereka belum sempat menemui Ong Cie It. yang namanya aneh. dia telah melukai aku dengan racun!‖ menyahut Ma Giok. Ia sengaja memakai nama Sam Hek Miauw. ia menghampirkan Ma Giok. ―Kau hendak uji tenagaku. hebat kesudahannya. ia berpikir. yang sangat sabar. untuk menyerang pula. ada sukar untuk kami datang berkumpul. cuma untuk ditertawakan tuan-tuan. ―Ma Totiang. ―Kami bertujuh sudara tinggal di beberapa propinsi. Imam ini menyambuti poan-koan-pit. lima jarinya berlobang kecil masing-masing dan bergaris hitam. baiklah!‖ Ia tersenyum. yang berlompat maju. yang untuk beberapa puluh tahun tidak pernah berkelahi. yaitu ban Tok-hoan-taya. Ma Giok melihat telapakan tangannya. ia lantas menarik pulang tangannya itu. ia berkata: ―Totiang berdua tidak mencela kami. ialah poan-koan-pitnya itu terputus menjadi dua potong! ―Bagus!‖ Khu Cie Kee memuji.‖ menyahut Ma Giok. sembari tenaganya dikerahkan. Pheng Lian Houw girang sekali.Pendekar Pemanah Rajawali Cin Kauw sangat kesohor. ―Nama kami kosong belaka. Mana lagi lima saudara totiang? Silahkan minta mereka itu sudi menemui kami. ―Kenapa?‖ tanyanya. Orang toh lihay…. Pheng Lian Houw segera main mundur. Nama itu berarti Tiga Kucing Hitam. tangan kirinya Tiang Cun Cu lihay seperti tangan kanannya ang memegang pedang. sedang Auwyang Kongcu dan Hauw Thian Hay segera membantui Pheng Lian Houw. Tiba-tiba ia merasakan lima jari tangannya sakit. Khu Cie Kee heran melihat saudaranya berjabat tangan tapi sudah lantas menyerang. ia gunai jarum jahatnya itu. itulah bagus sekali. yang tipis seperti benang tetapi disitu ada lima batang jarumnya. seperti tertusuk jarum. Di lain pihak. untuk membuat Ma Giok memikirkan.‖ Ma Giok dan Khu Cie Kee heran. ia pun mengulurkan tangannya. kami sangat mengaguminya.‖ Itulah kata-kata pancingan. untuk menerjang. hingga hatinya menjadi gentar. dengan itu ia menangkis. Sama sekali mereka belum pernah mendengarnya. jarum yang telah dipakaikan racun yang keras seklai.‖ katanya seraya mengangsurkan tangannya. tetapi ia terus menyerang pula dengan dua-dua tangannya. Saking kaget. Pheng Lian Houw tertawa tetapi ia mencelat mundur setombak lebih. Aku she Sam dan namaku Hek Miauw. Ia merasa orang memegang keras sekali. dalam tempo enam jam dia bakal terbinasa. ―Jahanam licik. Ia tidak tahu. Kali ini kami datang ke Tiong-touw untuk mencari Ong Sutee. Ketika tadi Pheng Lian Houw menyelipkan senjatanya. untuk berjabat tangan. ia mengerti sebabnya kegusaran itu.

sedang dengan tangan kirinya melindungi diri. Khu Cie Kee tidak jatuh di bawah angin. yang menduga kepada racun biasa. ia kata nyaring: ―Suamiku masih belum mati. untuk memberi hormat. Wanyen Kang lari kepada ibunya. Inilah tidak disangka imam itu. Adalah di itu waktu. yang ia arah punggungnya. selang beberapa puluh jurus.‖ Belum habis ucapan imam ini. ―Inilah beberapa cianpwee Rimba Persilatan yang diundang ayahku. ―Percuma kau mengantarkan jiwa….Pendekar Pemanah Rajawali Khu Cie Kee heran kenapa mendadak berkumpul orang-orang tangguh ini.‖ katanya kemudian. Karena hatinya berkhawatir.‖ ―Hm!‖ bersuara imam itu. yang segera menghampirkan kakaknya. ia berkata: ―Ma. Ma Giok sendiri mengempos terus semangatnya. dari kejauhan terdengar lari mendatanginya beberapa ekor kuda akan kemudian ternyata. ia girang. Benar Hauw Thong Hay rada lemah tetapi Auwyang Kongcu lebih gagah daripada Pheng Lian Houw. akan tetapi melihat kedua imam itu terancam bahaya. Auwyang Kongcu sudah menendang patah tombak orang dengan kaki kirinya dan kaki kanannya mendupak roboh orang she Yo itu. ia bersilat dengan sungguh-sungguh. segera ia menjatuhkan diri untuk duduk bersemadhi. yang perlahanlahan mulai turun. barulah Pheng Lian Houw semua berlompat mundur. Justru itu sebatang golok menyambar kepadanya. Maka itu. Ia segera mendapatkan. Wanyen Kang heran menampak gurunya dikepung. Makin ia bergerak. Wanyen Lieh melihat istrinya duduk di tengah. ―Suhu. racun begini lihay!‖ serunya. ―Ha. guna mencegah ransakan racun. ia maju menyerang Auwyang Kongcu. Ia ingat. ia melihat orang segera sampai pada ajalnya. Yo Tiat Sim tahu ilmu silatnya tidak berarti. Ma Giok terancam bahaya. ketiga musuhnya mendesak keras padanya. yang seperti dari embun-embuannya terlihat mengepul hawa seperti uap. tidak demikian dengan kakak seperguruannya. yang goloknya lihat. tidak dapat!‖ Irawan D Soedradjat Page Pauw Sek Yok menunjuk kepada Yo Tiat Sim. Khu Cie Kee heran melihat kelakuan kakaknya itu. Nona itu segera dikepung pengikut-pengikutnya. Nio Cu Ong menyerang terus dengan senjatanya yang merupakan gunting panjang dan See Thong Thian dengan pengagayuh besinya. meski ia pergi ke ujung langit dan pangkal laut. rasannya kaku dan gatal. . penyerangnya itu satu nona dengan baju merah. Lantas ia berpaling kepada Pheng Lian Houw. Tangan Ma Giok menjadi bengkak dan hitam. Syukur ia keburu berkelit. Itulah tanda bekerjanya racun dahsyat. ia berhasil mencegah menjalarnya racun itu. mari teecu mengajar kenal. yang pun sudah tidak berkelahi lagi. akan aku ikuti dia!‖ 260 Wanyen Kang dan Wanyen Lieh menjadi heran. jalan darahnya