Pendekar Pemanah Rajawali

"Pendekar Pemanah Rajawali"
~ Sia Tiauw Eng Hiong ~ Oleh : JIN YONG Pengantar Di luar gunung ada lagi gunung hijau, di luar lauwteng ada pula lauwteng lainnya, Nyanyian-nyanyian dan tari-tarian di Telaga Barat, hingga kapankah itu akan berhenti? Penghidupan mewah di Selatan telah membuat mabuk kepada pelancong-pelancong tetamu, Hingga kota Hangciu dianggapnya sebagai kota Pianciu! Syair di atas adalah lukisan dari peristiwa pada delapan ratus tahun yang lampau. Ketika itu kerajaan Song telah menjadi sedemikian lemahnya hingga kedua kaisar Hwie Cong dan Kim Cong sudah kena ditawan bangsa Kim (Kin), karena mana itu pangeran Kong Ong lalu menyeberang ke Selatan, menerima tahta kerajaan di kota Liman, menjadi Kaisar Kho Cong. Dalam waktu sesulit itu, selagi musuh mengancam di tapal batas, setelah separuh dari negara berada di dalam tangan musuh itu, sudah selayaknya satu kaisar bangkit bangun untuk membuat perlawanan, akan tetapi tidak demikian dengan Kaisar kho cong ini. Dia justru jeri terhadap bangsa Kim itu yang dipandangnya sebagai harimau saja, berbareng dengan itu dia pun khawatir kalau kedua Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong nanti kembali dari tawanan hingga dia tak dapat terus bercokol di atas singasana naga. Maka dengan itu menurut perkataannya dorna Cin Kwee4, dia titahkan membunuh Jenderal Gak Hui, pendekar yang menentang musuh Kim itu, sesudah mana itu dengan merendahkan martabat sendiri ia mengajukan permohonan damai dengan bangsa Kim. Inilah pengharapan bangsa Kim yang disaat itu tengah gelisah sebab telah berulangkali mereka memperoleh labrakan dari Jenderal Gak Hui, hingga semangatnya terpukul hebat, sementara di wilayah Utara mereka terancam pemberontakan tentera rakyat sukarela. Begitu di dalam bulan pertama tahun kerajaan Ciauw-hin ke12 (1138 masehi) perdamaian telah ditandatangani dengan syarat tapal batas kedua negara Song dan Kim adalah aliran tengah dari sungai Hoay-sui. Perdamaian itu namanya saja perdamaian, kenyataannya adalah penaklukan dari Kaisar Kho Cong itu (yang bernama Tio Kouw adalah putra ke-9 dari Kaisar Hwie Cong). Sebab di dalam suratnya, Kho Cong menyatakan dan mengaku sudah terima budi kebaikan dari raja Kim, karena mana turun temurun ia akan menjadi ―menteri yang setia‖ serta berjanji setiap hari lahirnya, ―Kaisar‖ demikian ia menyebut raja Kim itu – begitu juga setiap tahun, ia akan kirim utusan guna memberi selamat sambil menghanturkan upeti uang perak duapuluh lima laksa tail dan cita duapuluh lima laksa balok. Demikian macam martabatnya seorang Kaisar, ia sungguh memalukan, maka ketika tentera dan rakyat negeri mengetahui hal itu, semuanya menjadi murka dan berbareng berduka. Lebih bersedih adalah rakyat di wilayah utara sungai Hoay-sui itu, karena mereka menjadi tidak mempunyai harapan lagi akan bangunnya negara. Dipihak lain, Kho Cong menganggap itu adalah jasa besar dari dorna Cin Kwee, maka juga dorna yang sudah tinggi pangkatnya, yaitu Siaupo Copoksia merangkap Kie-bit-su gelar Pangeran Louw-kokong, dinaiki pula menjadi Taysu, hingga kedudukannya telah mencapai puncaknya kebesaran suatu menteri! Semenjak itu bangsa Kim menduduki separuh dari wilayah Tiongkok. Walaupun demikian pemerintahan di Hangciu malah bertambah buruk, raja dan menteri-menterinya, setiap hari berpelesiran saja, berpesta pora, tidak memikirkan lagi kepentingan negara, sedang beberapa menteri atau perwira yang setia, umumnya kalah pengaruh dan tidak berdaya, hingga mereka pada menutup mata karena mereras. Demikan syair di atas, gambaran dari kaisar yang lemah dan buruk tapi pecandu pelisir! ------------------------------1) Telaga Barat – See Ouw (Si Hu) 2) Piancu – Kaifeng (Kayhong), ibukota propinsi Honan. Bekas kotaraja. 3) Lim-an – Hangciu (Hangchow), ibukota Chekiang, inilah yang dimaksud dengan Selatan (Kanglam) 4) Dorna Cin Kwee – Di Hangciu telah dibuat patungnya sebagai tanda peringatan dari khianatnya terhadap negara dan ada satu waktu yang patungnya itu telah diperhina dengan ludah maupun kotoran manusia. Bab 1. Pertempuran di Tanah Bersalju

Irawan D Soedradjat

Page

Beberapa tahun telah berselang, Kaisar Kho Cong itu digantikan oleh Kaisar Hauw Cong. Kaisar Hauw Cong digantikan Kaisar Kong Cong, lalu Kaisar Leng Cong. Pada tahun Keng-goan ke-5 dari Kaisar ini, selagi musim

1

Pendekar Pemanah Rajawali

dingin, telah turun hujan salju lebat selama dua hari berturut-turut, hingga Hangciu, ibukota Kerajaan Song itu seperti bermandikan air perak, bercahaya berkilau, indah dipandang. Dan diwaktu begitu, Kaisar dan menterimenterinya dengan duduk mengelilingi perapian, bersenang-senang menenggak air kata-kata...... *** Di luar kota Hangciu, di sebelah timurnya, di dusun Gu-kee-cun, dua orang gagah pun tengah minum arak putih sambil duduk berhadapan, oleh karena mereka adalah bagaikan saudara sejati. Dari mereka itu, yang satu bernama Kwee Siauw Thian, yang lainnya Yo Tiat Sim, kedua-duanya adalah turunan orang-orang kenamaan. Siauw Thian itu adalah turunan dari Say-Jin-Kui Kwee Seng, itu adalah salah satu jago dari seratus delapan orang kosen dari gunung Liang San yang kesohor dengan ilmu silat tombaknya, hanya setelah tiba pada dia ini, tombak yang panjang itu diganti dengan sepasang tombak pendek dan bergaetan (siangkek). Sementara Yo Tiat Sim itu adalah turunan dari Panglima Yo Cay Hin, salah seorang bawahan Jenderal Gak Hui dan ilmu tombaknya adalah warisan leluhurnya. Mulanya kedua orang ini bertemu dalam pengembaraan, setelah merasa cocok, maka mereka mengangkat saudara, kemudian bersama-sama mereka pindah dan tinggal di dusun ini. Kebiasaan mereka adalah duduk berkumpul, pasang omong dan menyakinkan ilmu silat. Demikian juga pada hari itu, selagi salju turun, mereka duduk minum arak dan berbicara dengan asyiknya, tempo mereka omong hal nasibnya negera, keduanya menjadi berduka dan berdongkol, tiba-tiba saja Tiat Sim mengeprak meja dengan kerasnya. Justru saat itu ada seorang keluar dari ruang dalam, apabila gorden tersingkap, terlihatlah seorang wanita yang cantik sekali, tangannya memegang nenampan di atas mana ada terdapat masakan daging sapi serta ayam. ―Hai, urusan apa lagi yang membuat kamu berdua saudara marah?‖ tanya wanita itu sambil tertawa. ―Kami tengah membicarakan urusan yang gila-gila dari negara!‖ sahut Siauw Thian. ―Enso, mari kau pun minum satu cawan!‖ Wanita itu adalah Pauw-sie, istri dari Yo Tiat Sim. Di Lam-an ini, dia adalah merupakan wanita tercantik dan halus budi pekertinya, hingga ia tepat dengan romannya. Siapa yang melihat dia, pasti kagumlah hatinya. Dengan Tiat Sim, belum lama ia menikah, tetapi dia itu orangnya luwes dan dapat dengan gampang bergaul dengan kaum pria-dalam halnya dengan Siauw Thian, iparnya itu. Begitulah, setelah ia meletakkan barang makanan-nya, ia mengambil cawan dan mengisinya, sesudah itu mengambil kursi dan meminum araknya itu. ―Kemarin selagi aku berada di dalam warung teh di Tong Lam di ujung jembatan Cong An Kio, aku mendengar orang membicarakan halnya Han To Cu si perdana menteri keparat itu!‖ Tiat Sim menyahuti pertanyaan istrinya tadi. ―Rapi pembicaraan itu, hingga aku percaya itu bukanlah omong kosong belaka. Orang itu bilang, pembesar siapa juga, jikalau dia hendak mengajukan laporan, apabila di ujung sampulnya tidak disertai keterangan dia menghadiahkan sesuatu, pasti perdana keparat itu tidak akan memeriksanya!‖ Siauw Thian menghela napas. ―Ada rajanya, ada menterinya‖ katanya masgul. ―Ada menterinya, ada pembesarpembesar bawahannya.Lihat saja Tio Tayjin, residen dari kota Lim-an kita ini. Hari itu Han To Cu pesiar di luar kota dengan diiringi banyak pembesar. Kebetulan aku lagi mencari kayu di dekat situ. Tentu saja aku tidak ambil mumat padanya itu. Lalu aku mendengar dia menghela napas dan berkata seorang diri: ‗Di sini rumahrumah berpagar bambu dan beratap, sungguh suatu desa yang indah menarik hati, hanya sayang sekali, disini tidak terdengar suara ayam berkokok dan anjing menggonggong…‘ Belum lagi dia menutup mulutnya lalu terdengar gongongan anjing dari dalam semak-semak!‖ Pauw-sie bertepuk tangan sambil tertawa. ―Sungguh anjing yang tahu diri!‖ katanya. ―Memang anjing yang sangat tahu diri!‖ sahut Siauw Thian. ―Setelah menggonggong, dia muncul dari semaksemak itu! Enso tahu, anjing apakah itu? Dialah Tio Tayjin, residen kita!‖ Pauw-sie menjadi tertawa terpingkal-pingkal. Tiat Sim dan Siauw Thian pun tertawa. Mereka minum terus hingga terlihat salju turun makin lebat. ―Nanti aku undang enso minum bersama,!‖ kata Pauw-sie kemudian. ―Tidak usah,‖ Siauw Thian mencegah. ―Selama beberapa hari ini, dia merasa kurang sehat….‖

Irawan D Soedradjat

Page

Pauw-sie terkejut, ―Ah, mengapa aku tidak tahu!‖ katanya. ―Nanti aku tengok!‖

2

Pendekar Pemanah Rajawali

Siauw Thian tidak bilang apa-apa lagi, dia malah tersenyum. Menampak hal itu, legalah hati Tiat Sim. Itu artinya nyonya Kwee tidak berat sakitnya. Tak lama, nyonya Yo kembali sambil tersenyum-senyum. Ia isikan satu cawan, lalu mengansurkan cawan itu kepada suaminya. ―Lekas minum sampai habis!‖ katanya. ―Inilah tanda hormat kepada Toako!‖ ―Eh, apakah artinya ini?‖ tanya Tiat Sim tidak mengerti. ―Minum, lekas minum!‖ desak Pauw-sie. ―Habis minum nanti baru aku beri keterangan!‖ katanya kemudian. Tiat Sim lalu meminum kering cawan itu. ―Nah, Toako, kau biacaralah sendiri!‖ kata Pauw-sie sambil tertawa kepada Siauw Thian. Orang she Kwee itu tersenyum dan berkata, ―Selama sebulan ini dia senantiasa mengeluh pinggangnya pegal dan sakit. Baru kemarin dia pergi ke Thio Ie-seng di dalam kota, kata tabib itu dia sudah mengandung selama tiga bulan….‖ Tiat Sim menjadi girang sekali. ―Kiong hie, Toako!‖ katanya sambil memberi selamat. Lalu ketiganya meneguk arak mereka, masing-masing tiga cawan. Tentu saja dengan meminum sebanyaknya itu, sedikitnya arak itu telah mempengaruhi mereka. Pada saat itu di arah timur kelihatan satu tosu atau imam sedang mendatangi. Dia memakai tudung bambu dan tubuhnya di tutupi dengan baju rumput, yang seluruhnya penuh dengan salju. Ia bertindak dengan tegap dan cepat. Segera tertampak di punggungnya ada tergantung sebatang pedang, yang roncenya kuning dan memain di antara tiupan angin yang keras. ―Adik, imam ini pasti mengerti ilmu silat,‖ Siauw Thian bilang. ―Entah dari mana dia datang. Coba kita dapat berkenalan dengannya. Sayang kita belum tahu namanya………..‖ ―Benar,‖ sahut Tiat Sim. ―Baik kita undang dia minum untuk ikat persahabatan……‖ Keduanya segera berbangkit dan pergi keluar. Ketika itu karena cepat jalannya, si imam sudah lewat beberapa puluh tombak. Siauw Thian dan Tiat Sim saling melihat dengan herannya. ―Totiang, tunggu sebentar!‖ Tiat Sim segera memanggil. Cepat sekali si imam memutar tubuh dan mengangguk. ―Salju turun dengan lebatnya dan hawa pun sangat dingin,‖ kata Tiat Sim pula, ―Sudilah Totiang mampir untuk minum beberapa cawan guna melawan hawa dingin.‖ Iman itu menyahuti dengan tertawa dingin, lalu ia bertindak menghampir – cepat sekali tindakannya. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua sangat terperanjat dan heran guna menyaksikan muka orang yang berwajah sangat dingin sekali. ―Kamu pandai bergaul, eh!‖ katanya tawar Tiat Sim masih muda dan dia tidak senang dengan sikap orang. ―Dengan baik hati aku mengundang kau minum, kenapa kau begini tidak tahu aturan?‖ pikirnya. Maka ia menjadi diam saja. Siauw Thian sebaliknya lantas memberi hormat. ―Totiang, harap anda tidak marah dengan sikap saudaraku ini. ―Kami sedang minum arak, melihat Totiang melawan salju, dia besarkan nyali untuk mengundang Totiang minum bersama….‖ Imam itu memutar matanya. ―Baik,baik!‖ katanya. ―Minum arak ya minum arak!‖ Dan dengan tindakan lebar ia menuju ke dalam.

Irawan D Soedradjat

Page

3

Pendekar Pemanah Rajawali

Tiat Sim merasa dongkol, ia ulurkan tangannya hendak mencekal tangan kiri si imam untuk ditarik ke samping. ―Aku belum belajar kenal dengan Totiang!‖ katanya. Tapi tiba-tiba ia merasa kaget. Ia merasai tangan orang sangat licin. Ketika ia berniat menarik pulang tangannya, tahu-tahu tangan itu bagaikan terjepit dengan keras, rasanya sakit dan panas. Ia kerahkan tenaganya untuk melawan. Justru dengan berbuat demikian ia merasakan tangannya hilang tenaga dan sakit sekali, rasa sakitnya sampai ke ulu hati. Siauw Thian tampak wajah saudaranya merah dan pucat, ia tahu saudaranya ini tentu telah ―ketemu batunya‖. Ia mengerti gelagat yang kurang baik itu dan sangsi turun tangan untuk membantu. ―Totiang, mari silakan duduk di sini!‖ ia mengundang. Dua kali si imam kasih dengar tertawanya yang dingin itu, baru ia lepaskan cekalannya atas tangan Tiat Sim. Hal ini membuat orang she Yo itu mendongkol dan heran, ia terus masuk ke dalam, akan diberitahukannya istrinya tentang imam itu. ―Dia sangat aneh, pergi temani dulu,‖ kata Pauw-sie. ―Jangan turun tangan, perlahan-lahan saja kita cari tahu tentang dirinya…‖ Tiat Sim menuruti perkataan istrinya itu. Pauw-sie segera menyiapkan arak dan barang hidangan dan menyuruh Tiat Sim membawa keluar. ―Tunggu sebentar!‖ memanggil sang istri. Tiat Sim pun memutar kembali. Pauw-sie menurunkan sebuah pisau belati yang tajam mengkilap, yang tergantung pada tembok, ia memasukkan belati itu ke dalam saku suaminya. Tiat Sim pun kemudian keluar membawa barang hidangan itu dan mengaturnya di meja. Ia menuangkan tiga cawan, terus ia mengundang tamunya untuk minum. Ia juga meneguk satu cawan, habis minum ia berdiam saja. Imam itu memandang keluar jendela dan mengawasi salju. Ia tidak meminum araknya dan ia pun tidak membuka mulutnya melainkan hanya tertawa dingin saja. Siauw Thian menduga si imam tentu curigai araknya, ia mengambil cawan arak di hadapan imam itu, terus ia cegluk di hadapan imam itu. Ia menyambuti, terus diminumnya. ―Arakmu telah dingin Totiang, nanti aku tukar dengan yang baru,‖ katanya. Dan ia mengisikan pula. Si imam dapat mencium bau harum dari arak itu, ia menyambuti dan terus diminumnya. ―Walaupun arak ini di campuri dengan obat pulas, tidak nanti aku kena diracuni!‖ katanya. Tiat Sim menjadi hilang sabar. ―Kita undang kau minum dengan maksud baik, mustahil kami hendak mencelakai kau!‖ tegurnya. ―Totiang, kau omong tidak karuan, silakan lekas keluar! Arak kita tidak bakalan menjadi rusak dan sayur kita tak nanti tak ada yang memakannya!‖ ―Hm!‖ bersuara si imam itu. Tak lebih. Ia jemput poci arak dan menuang arak itu sendiri, lalu ia tenggak habis tiga cawan. Habis itu dia buka baju luarnya dan letaki tudungnya. Sekarang baru Tiat Sim dan Siauw Thian dapat melihat dengan tegas wajah orang. Mereka menduga si imam baru berumur tiga puluh tahun lebih, sepasang alisnya panjang lancip, kulit mukanya merah segar, mukanya lebar dan kupingnya besar. Ia bukan sembarang imam. Ketika ia kasih turun kantung di punggungnya, ia terus lempar barang itu ke atas meja hingga terbitlah suatu suara yang keras, hingga kedua tuan rumah itu menjadi kaget sekali. Sebab yang menerbitkan suara nyaring itu yang menggelinding keluar dari dalam kantung itu adalah kepala manusia yang masih berlumuran darah, hingga tak nampak jelas raut mukanya. Tiat Sim meraba pisau belati dalam kantungnya. Si imam menukik pula kantungnya, kali ini dikeluarkannya dua potong daging yang penuh darah juga, karena itu adalah hati dan jantung manusia. ―Jahanam!‖ teriak Tiat Sim yang sudah tak tahan sabar lagi, sedang tangannya melayang ke dada si imam.

Irawan D Soedradjat

Page

4

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kebetulan, aku memang menghendaki barang ini!‖ seru si imam sambil tertawa. Ia tidak menghiraukan tikaman itu, hanya ketika si orang she Yo itu datang mendekat, ia menggempur dengan tangan kirinya, hingga seketika juga Tiat Sim merasa bahunya tergetar, lalu tiba-tiba saja pisau belatinya kena dirampas orang! Siauw Thian kaget bukan kepalang. Ia tahu lihaynya adik angkatnya itu, yang cuma kalah sedikit dengannya. Tidak disangka, demikian gampang imam ini merampas senjata orang. Itulah ilmu silat ―Khong-ciu toat pek-jin‖ atau ―Tangan kosong merampas senjata tajam‖ yang lihay, yang baru pernah ia saksikan. Meskipun ia kaget, ia toh segera bersiap dengan memegang bangku, guna membela diri umpama kata si imam terus menyerang. Akan tetapi dugaannya ini salah adanya. Imam itu tidak menyerang siapa juga, ia hanya lantas gunai pisau itu untuk memotong-motong hati dan jantung manusia itu, lalu dengan tangan kiri mencekal poci arak, dengan tangan kanan ia jumputi potongan daging satu demi satu, untuk dimasukkan ke dalam mulutnya, buat dikuyah dan ditelan, saban-saban dia selang itu dengan tenggakan arak pada pocinya. Cepat daharnya, sebentar lagi habis sudah makanan yang rupanya sangat lezat itu! Siauw Thian dan Tiat Sim berdua saling mengawasi dengan tercengang. Sungguh aneh imam ini. Akan tetapi itu masih belum semua. Habis dahar, imam itu berdongak, lalu ia bersiul nyaring sekali, umpama kata genting sampai bergetar, kemudian tangan kanannya menyerang ke meja, hingga piring dan cawan berlompat! Yang hebat adalah sasaran serangan itu, ialah kepala manusia itu, yang remuk seketika! Sedang ujung meja turut sempal sedikit…….. Selagi dua saudara angkat itu berdiam, wajah si imam yang tadinya bermuram durja dan bengis, tiba-tiba berubah menjadi penuh dengan air mata, dengan air mata bercucuran ia lalu menangis dengan meraung-raung! ―Kiranya dia seorang yang edan…!‖ bisik Siauw Thian kepada adik angkatnya, yang ujung bajunya ia tarik. ―Dia lihay sekali, jangan kita ladeni dia….‖ Tiat Sim mengangguk, ia awasi imam itu. Sekarang tidak lagi ia gusur, sebaliknya ia merasa kasihan. Sedih tangisnya si imam ini, ilmu silat siapa sebaliknya ia kagumi. Maka kemudian ia lari ke dalam untuk mengambil semangkok kuwah yang masih panas. ―Totiang, mari minum kuwah ini!‖ katanya. Ia letaki mangkok itu di atas meja. Si imam bukan menerima kuwah iru, ia sebaliknya menggebrak meja hingga mangkok itu terbang berikut mejanya. Ia pun berseru :‖Kawanan tikus, hari ini toyamu membuka pantangan membunuh!‖ Menampak itu, meluaplah amarah Tiat Sim, maka ia melompat ke ujung ruang untuk menyambar tombaknya, lalu ia terus lari keluar, ke depan pintu dimana salju terhampar luas. ―Mari, mari!‖ ia menantang. ―Mari belajar kenal dengan tombak keluarga Yo!‖ Imam itu tersenyum. ―Tikus, pantaskah kau menggunai ilmu silat tombak keluarga Yo?‖ tanyanya. Ia bersuara sambil tubuhnya melompat keluar. Melihat keadaan mengancam itu, Siauw Thian lari untuk mengambil sepasang gaetannya, dengan lekas ia berbalik kembali. Imam berdiri tanpa menghunus pedangnya, Cuma sang angin menyampok-nyampok ujung bajunya. ―Hunus pedangmu!‖ seru Tiat Sim. ―Ah, dua tikus, kamu berdua majulah berbareng!‖ sahut si imam. ―Toya kamu akan layani kamu dengan tangan kosong!‖ Takabur bukan main orang pertapaan ini, hingga Tiat Sim tidak berayal sejenak juga untuk segera menikam dengan tombaknya yang beronce merah itu. Ia gunai tipu silatnya ―Tok liong cut tong‖ atau ―Naga berbisa keluar dari gua‖ ―Bagus!‖ seru si imam kagm menampak serangan itu yang menuju ke dadanya. Ia berkelit ke samping, tangan kirinya bergerak, untuk sambar kepala tombak itu. Lihay ilmu silat tombak keluarga Yo itu – Yo-kee Chio-hoat. Ketika Yo Cay Hin bersama tigaratus serdadunya – tentara kerajaan Song menghadapi empat laksa serdadu Kim, seorang diri ia telah membinasakan dua ribu lebih serdadu musuh berikut banyak perwiranya, sebelum akhirnya ia roboh karena terkena banyak panah, waktu ia binasa dan bangsa Kim membakar tubuhnya, dari dalam tubuhnya itu kedapatan banyak ujung panah,
Irawan D Soedradjat

Page

5

Pendekar Pemanah Rajawali

sebab selagi ia terpanah, gagang panah ia patahkan. Karena ini bangsa Kim menjadi jeri dan mengaguminya. Tiat Sim tidak segagah leluhurnya itu tetapi ilmu silatnya cukup sempurna, begitulah ia mencoba mendesak si imam tidak di kenal itu yang senantiasa lolos dari tikaman, tempo habis sudah dijalankan semua tujuh puluh dua jurus ilmu tombak itu, dia tidak kurang sesuatu apa. Baru sekarang si anak muda menjadi gentar, terpaksa ia seret tombaknya untuk keluar dari kalangan. Imam itu mengejar apabila ia dapatkan lawannya itu lari. Sekonyong-konyong Tiat Sim berseru keras, tubuhnya berputar balik, berbareng dengan itu, dengan kedua tangannya memegangi gagang tombak, ia menikam dengan hebat sekali. Itulah tipu silat ―Cwie-pek po-kian‖ atau ―menggempur tembok‖. Dengan tipu itu, musuh dibikin tidak menyangka dan menjadi kaget. Dengan tipu ini juga dulu Yo Cay Hin membikin rubuh Gak Hoan, adiknya Gak Hui. ―Bagus!‖ seru si imam buat kedua kalinya. Ia tidak menjadi gugup, justru ketika ujung tombak sampai, ia menyambutnya dengan kedua telapak tangan dirangkap, ditempel menjadi satu dengan keras, hingga ujung tombak itu kena terjepit. Tiat Sim kaget bukan kepalang. Ia mendorong dengan keras, tombaknya itu tak dapat maju melewati telapak tangan lawan. Ketika ia menarik dengan sekuat tenaga, betotannya pun sia-sia belaka, tombaknya tak terlepas dari cekalan lawannya itu, kuda-kuda si imam juga nancap bagaikan terpaku. Tiga kali ia mencoba menarik tanpa hasil, mukanya menjadi merah. Tiba-tiba saja si imam tertawa, lalu jepitan tangannya terlepas. Tapi ia tidak Cuma melepas, tempo tombak tertarik pulang, ia membacok dengan tangan kanannya kepada tombak, hingga dengan bersuara nyaring, tombak besi itu patah menjadi dua potong! Imam itu segera tertawa pula, lalu ia berkata. Kali ini dengan suara manis. ―Tuan, benar lihay ilmu silat tombakmu!‖ katanya. ―Maaf untuk perbuatanku ini! Mohon ku tanya she tuan‖ ―Aku yang rendah she Yo bernama Tiat Sim,‖ sahut Tiat Sim, selagi ia belum dapat tenangkan diri. Ia kesakitan pada kedua tangannya, ia pun heran sekali. ―Pernah apakah Tuan dengan Ciangkun Yo Cay Hin?‖ tanya si imam. ―Ia adalah leluhur saya,‖ jawab Tiat Sim pula. Mandadak si imam itu menjura kepada saudara angkat itu, sikapnya hormat sekali. ―Maaf, barusan aku menyangka Tuan-tuan adalah orang jahat,‖ ia berkata dengan pengakuannya. ―Aku tidak sangka Tuan-tuan adalah turunan orang-orang setia. Boleh kutanya she Tuan?‖ ia lanjuti kepada Siauw Thian. Dengan cara hormat Siauw Thian perkenalkan dirinya. ―Tuan ini kakak angkatku, dia adalah keturunan dari Say Jin Kui Kwee Seng dari gunung Liang San,‖ Tiat Sim menambahkan. ―Bagus!‖ berkata si imam, ia pun minta maaf pada pemuda she Kwee itu. Kembali ia menjura. Tiat Sim berdua membalas hormatnya. ―Silahkan Totiang minum arak pula,‖ ia mengundang pula kemudian. ―Memang kuingin minum dengan puas bersama jiwi!‖ kata si imam denagn tertawa. Tiat Sim dan Siauw Thian undang orang masuk pula ke dalam. Pauw-sie menyaksikan pertempuran dari muka pintu, girang ia mengetahui kesudahannya orang menjadi sahabat, ia terus lari ke dalam, untuk menyiapkan pula arak dan barang hidangan. Kali ini Tiat Sim dan Siauw Thian tanya gelaran si imam.

Siauw Thian terperanjat mendengar nama itu. ―Oh, apa bukannya Tiang Cun Cinjin?‖ ia menyela.
Irawan D Soedradjat

Page

6

―Pinto she Khu bernama Cie Kee,‖ sahut imam itu.

Pendekar Pemanah Rajawali

―Itulah nama pemberian rekan-rekanku, pinto malu menerimanya,‖ kata Cie Kee sambil tertawa. Siauw Thian segera berkata kepada adik angkatnya: ―Adik, totiang ini adalah orang gagah nomor satu di ini jaman! Sungguh beruntung kita dapat berjumpa dengannya!‖ ―Oh!‖ Tiat Sim berseru kaget. Lalu berdua, mereka berlutut di depan imam itu. Khu Cie Kee tertawa, ia memimpin bangun orang. ―Hari ini pinto telah membunuh seorang jahat, karenanya para pembesar negeri sedang mencari aku,‖ ia berkata. ―Barusan pinto lewat di sini, pinto lihat kamu berdua lagi minum arak. Di sini adalah kota raja dan kamu kelihatannya bukan sembarang orang, dari itu pinto menjadi curiga sendiri….‖ ―Keliru adalah saudaraku ini, yang tabiatnya keras,‖ Siauw Thian bilang. ―Totiang lihat sendiri, dia suruh lantas turun tangan, pantas kalau Totiang jadi curiga karenanya.‖ Siauw Thian dan Tiat Sim tertawa. Begitulah mereka lalu minum dan dahar dengan gembiranya. ―Sebenarnya pinto adalah orang utara,‖ kemudian Tian Cun Cinjin berkata pula. ―Rumah tanggaku hancur lebur karena kejahatan bangsa Kim, sedang pemerintah selalu mencari muka daripadanya, dari itu pinto telah sucikan diri.‖ Ia terus tuding kepala manusia yang remuk dan yang tergeletak di lantai itu. ―Dia itu adalah Ong To Kian, si pengkhianat besar. Pada tahun yang lalu kaisar mengutus dia kepada raja Kim, buat memberi selamat ulang tahun raja itu. Ketika itu digunai ia untuk bersekongkol, supaya bangsa Kim bisa menyerbu ke Kanglam. Pinto susul dia selama sepuluh hari, baru ia dapat dicandak, lalu pinto membunuhnya. Pikiranku sedang kacau maka juga tadi pinto berlaku tidak selayaknya.‖ Siauw Thian dan Tiat Sim membilang tidak apa. Mereka memang kagumi imam ini yang kesohor lihay ilmu silatnya. Sekarang ternyata orangpun menyinta negara, mereka lebih-lebih lagi menghormatinya. Lalu mereka mohon pengajaran silat. Khu Cie Kee tidak keberatan, lalu ia memberi beberapa petunjuk. ―Totiang, sunggguh beruntung kami dapat bertemu dengan Totiang,‖ kemudian Tiat Sim utarakan isi hatinya, ―Maka itu sudilah Totiang berdiam untuk beberapa hari di gubuk kami ini.‖ Imam itu hendak menjawab tuan rumah itu, ketika mendadak air mukanya berubah. ―Ada orang datang mencari aku,‖ ia bilang, ―Ingat, tidak peduli bagaimana denganku, sebentar kamu tidak boleh munculkan diri! Mengerti?!‖ Siauw Thian dan Tiat Sim heran akan tetapi mereka lantas mengangguk. Cie Kee lantas sambar kepalanya Ong To Kian, dengan cepat ia bertindak keluar, lalu gesit bagaikan burung terbang ia loncat naik ke atas sebuah pohon besar di dalam pekarangan, di situ ia umpatkan dirinya. Siauw Thian berdua heran bukan buatan. Kecuali deruan angin, mereka tidak dengar suara lainnya, mereka pun tidak nampak apa-apa. Baharu kemudian, sesudah memasang kuping dan angin pun lewat, mereka dengar tindakan kaki kuda. ―Sungguh jeli kuping cinjin!‖ puji Tiat Sim Suara kuda itu datang semakin mendekat, dan kemudian tampaklah belasan penunggang kuda, setiap penunggangnya mengenakan pakaian hitam dan kopiah hitam. Mereka itu menghampiri pintu, setelah tiba, orang yang pertama pecahkan kesunyian: ―Sampai di sini bekas-bekas kakinya, lalu lenyap!‖ Beberapa orang lompat turun dari kudanya, mereka periksa tapak kakinya Khu Cie Kee. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua sembunyi di dalam rumah, dari mana mereka mengintai di antara sela-sela jendela. Mereka dapat kenyataan orang semuanya gesit, suatu tanda dia orang mengerti ilmu silat dengan baik. ―Masuki rumah itu dan geledah!‖ terdengar memerintah orang yang maju di muka itu. Dua orang segera lompat turun dari kuda mereka, untuk itu lantas hampiri rumahnya Tiat Sim untuk menggedornya. Justru itu dari atas pohon menyambar sebuah benda, yang jitu sekali mengenai batok kepalanya satu di antara dua orang itu, hingga dia ini rubuh dengan kepalanya pecah hancur. Hingga kawannya menjadi kaget dan berteriak, hingga yang lain-lainnya turut berteriak pula, lebih-lebih setelah diketahui, benda yang
Irawan D Soedradjat

Page

7

Pendekar Pemanah Rajawali

dipakai menimpuk itu adalah kepalanya ―Ong Tayjin‖. Dengan lantas itu mereka mengurung pohon dari mana serangan itu datang. Orang yang menjadi pemimpin menghunus goloknya yang panjang, untuk memegang pimpinan, atas perintahnya lima orang menggunai panah untuk menyerang ke arah atas pohon! Yo Tiat Sim sambar sebatang golok dari pojok rumahnya, hendak dia menerjang keluar untuk membantu si imam, akan tetapi Siauw Thian menariknya. ―Jangan!‖ katanya. ―Totiang telah pesan kita jangan keluar! Kalau ternyata dia tidak sanggup melawan, baru kita turun tangan…….‖ Selagi orang she Kwee ini berbicara, Khu Cie Kee sudah beraksi. Dia sambut empat batang anak panah itu lalu ia pakai itu untuk menimpuk ke bawah, tubuhnya sendiri turut lompat turun, hingga akibatnya dua musuh menjerit dan rubuh binasa kena tikaman pedang. ―Imam bangsat, kiranya kau!‖ berseru si pemimpin, yang bajunya hitam. Dia perdengarkan suaranya seraya tangkis anak panah yang ditimpukkan ke arahnya, kemudian ia keprak kudanya maju untuk menyerang untuk mana tiga batang panah di tangannya telah mendahului majunya itu. Belum Cie Kee menyerang ini pemimpin, dia telah rubuhkan lagi dua musuh, hingga sebentar saja ia telah minta lima korban. Tiat Sim kagum hingga ia tergugu. Dia telah belajar silat belasan tahun, tetapi sedikit juga ia tidak dapat tandingi imam itu, yang gesit dan lihay sekali. Maka ia merasa ngeri waktu ia ingat tadi ia telah berani lawan imam yang lihay itu. Sekarang Cie Kee tengah layani si pemimpin, yang bengis sekali, meski demikian selang sesaat, Siauw Thian dan Tiat Sim segera mengerti bahwa sang imam tengah mempermainkan orang, sebab di lain pihak, saban-saban imam ini gunai ketika akan rubuhkan lain orang – ialah orang-orang yang mengepungnya. Terang si imam lagi gunai siasat, guna menumpas semua penyerangnya itu. Kalau dia lekas-lekas rubuhkan si pemimpin, mungkin bawahannya nanti lari kabur semua. Selang tak lama, imam itu dikepung hanya tujuh orang, yang ilmu silatnya paling baik. Menampak ini, si pemimpin menjadi kecil hatinya, dari itu, dengan tiba-tiba ia keprak kudanya, buat dikasih berbalik untuk lari pergi. Sang imam ada sangat jeli matanya dan cepat gerakannya, selagi kuda berputar, ia menyambar dengan tangan kirinya, akan cekal ekornya kuda itu, untuk ditarik. Sembari menarik ia enjot tubuhnya, untuk melompat naik, tetapi belum lagi ia bercokol di atas kuda itu, pedangnya sudah menikam tembus punggung si pemimpin, tembus dari belakang ke depan, hingga tubuh orang itu rubuh ke depan. Demikian dengan menunggang kuda, sekarang si imam ini bisa serang lain-lain musuhnya. Ia tidak membutuhkan banyak waktu untuk membikin setiap kuda tanpa penumpangnya, sebaliknya mayat-mayat bergelimpangan di tanah bersalju itu, yang menjadi merah karena berlumuran darah mereka itu…. Seorang diri si imam tertawa. ―Puas aku dengan pertempuran ini!‖ katanya kepada Siauw Thian dan Tiat Sim, yang telah lantas muncul. Hanya hati mereka masih kebat-kebit. ―Totiang, siapakah mereka ini?‖ tanya Siauw Thian. ―Kau geledah saja tubuh mereka!‖ sahut si imam. Siauw Thian menghampiri mayatnya si pemimpin, untuk memeriksa sakunya. Ia dapatkan sepotong surat titah, dari Tio Tayjin si residen Lim-an yang bisa ―menggonggong‖ sebagai anjing itu. Itu juga adalah titah rahasia untuk membekuk pembunuhnya Ong To Kian, untuk mana si residen bekerja sama dengan pihak bangsa Kim, sebab ia telah di desak oleh utusan negara Kim. Mengetahui itu, orang she Kwee ini menjadi sangat mendingkol. Sedang begitu, Tiat Sim telah perdengarkan seruan seraya tangannya menyekal beberapa potong yauw-pay, yang dia dapatkan dari beberapa mayat. Yauwpay itu adalah tanda kedudukan atau pangkat beberapa mayat itu, karena huruf-huruf yang kedapatan adalah huruf bahasa Kim, menjadi nyata, di antara orang-orangnya residen Lim-an itu adalah orang bangsa Kim.

Irawan D Soedradjat

Page

―Celaka betul!‖ teriak Siauw Thian dalam murkanya. ―Tentara Kim main bunuh orang di wilayah kita, sekarang pembesar kita boleh disuruh-suruh dan diperintah olehnya. Negara kita ini menjadi negara apa?!‖

8

Pendekar Pemanah Rajawali

Khu Cie Kee sebaliknya tertawa. ―Sebenarnya orang suci sebagai aku mestinya berlaku murah hati dan berbelas kasihan,‖ katanya, ―Akan tetapi menyaksikan kebusukan segala pembesar dan orang-orang jahat, tak dapat aku memberi ampun pula!‖ ―Memang, memang mesti begitu!‖ seru dua saudara angkat she Kwee dan she Yo itu. ―Begini barulah puas!‖ Kemudian Tiat Sim ambil pacul dan sekop, untuk menggali laing, guna pendam belasan mayat itu. Didalam hal ini ia tidak kuatir ada orang yang melihat kejadian ini, sebab desa itu sedikit penduduknya dan itu waktu lagi turun salju dengan lebatnya, tak ada orang yang sudi berkeliaran di luaran. Habis itu nyonya rumah sapui sisa darah di atas salju. Nyonya ini rupanya tak dapat menahan bau bacin dari darah, ia rupanya bekerja keras, tiba-tiba saja ia rasai kepalanya pusing, matanya kabur, lalu ia rubuh. Tiat Sim terkejut, ia tubruk istrinya, untuk diangkat bangun. ―Kau kenapa?‖ tanya suaminya ini beberapa kali. Pauw-sie berdiam, kedua matanya tertutup rapat, mukanya pucat pias, kaki tangannya dingin seperti es. Tentu saja suaminya itu menjadi kaget dan berkhawatir. Cie Kee pegang nadi si nyonyi, lantas ia tertawa. ―Kionghie! Kionghie!‖ ia memberi selamat. ―Apa, Totiang?‖ tanya Tiat Sim heran. Justru itu Pauw-sie mennjerit, ia sadarkan diri. Mulanya ia heran di kerumuni tiga orang, habis itu ia likat, ia lari ke dalam. ―Istrimu lagi hamil!‖ kata Cie Kee kemudian. ―Benarkah itu, Totiang?‖ Tiat Sim tegaskan. ―Tidak salah!‖ si imam pastikan. ―Banyak ilmu yang pinto yakinkan, tiga yang memuaskan hatiku, ialah pertama ilmu tabib, kedua syair, dan ketiga ialah ilmu silat kucing kaki tiga ……‖ Dengan kata-kata ―kucing tiga kaki‖ atau tidak ada artinya, imam ini merendahkan diri. ―Totiang begini lihay tetapi totiang menyebutkan kepandaianmu sendiri sebagai kucing kaki tiga, kalau begitu kepandaian kami berdua pastilah kepastiannya si tikus berkaki tunggal!‖ katanya. Cie Kee tersenyum, begitu pula dengan Tiat Sim. Kemudian mereka bertiga masuk pula ke dalam untuk lanjuti minum arak. Dua saudara angkat itu sangat kagumi tetamu mereka, yang bertempur hebat tetapi tubuhnya tak berkeciprukan darah. Tiat Sim minum dengan gembira sekali. Ia ingat akan hamilnya istrinya. ―Kwee Toako,‖ katanya kemudian. ―Enso pun lagi berisi, maka aku pikir baiklah kita minta totiang yang memberi nama kepada anak-anak kita nanti!‖ Siauw Thian berikan kesetujuannya atas saran itu. Cie Kee pun tidak menampik, ia berpikir sebentar lantas ia bilang: ―Anak Kwee Toako baik diberi nama Ceng, yaitu Kwee Ceng, dan anak Yo Toako diberinama Kong, yaitu Yo Kong. Nama-nama ini dapat juga diberikan sekalianpun untuk anak perempuan.‖ ―Bagus!‖ seru Siauw Thian. ―Aku mengerti, totiang tentu tidak melupai peristiwa Ceng-kong yang memalukan, untuk memperingati ditawannya kedua raja kita.‖ ―Benar begitu!‖ sang imam mengakui. Terus ia merogoh sakunya, untuk kasih keluar dua potong pedang pendek, yang ia letaki di atas meja. Pedang itu sama panjang pendeknya dan besar kecilnya, sarungnya dari kulit hijau, gagangnya dari kayu hitam. Kemudian ia ambil pisaunya Tiat Sim, untuk dipakai mengukir gagang kedua pedang pendek itu. Ia mengukir masing-masing dua huruf ―Kwee Ceng‖ dan ―Yo Kong‖. Dua-duanya Siauw Thian dan Tiat Sim kagum menyaksikan kepandaiannya si imam mengukir huruf-huruf itu, cepat dan indah hurufnya.

Irawan D Soedradjat

Page

9

Pendekar Pemanah Rajawali

―Diwaktu berkelana seperti ini aku tidak punya barang apa-apa, pedang pendek ini saja aku berikan sebagai tanda mata untuk anak-anak kedua toako nanti!‖ kata si imam. Dua saudara angkat itu terima bingkisan itu, keduanya mengucapkan terima kasih. Tiat Sim mencoba menghunus pedangnya, ia menjadi kagum. Pedang itu berkilau dan memberikan hawa dingin. Demikian pun pedangnya Siauw Thian. Jadinya kedua pedang itu bukan sembarang pedang, meskipun badan pedang ada tipis sekali. Cie Kee pegang pedang yang satu, ia adu itu dengan pisau belatinya, dengan memberikan satu suara, ujungnya pisau belati itu putus menjadi dua potong. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua menjadi terkejut. ―Totiang, tak berani kami menerima hadiah ini!‖ kata mereka. Sebab kedua pedang itu adalah semacam pedang mustika. Tiang Cun Cinjin tertawa. ―Dua pedang ini pinto dapatkan secara kebetulan saja, walaupun benar untuk itu pinto mesti keluarkan sedikit tenaga,‖ ia berkata. ―Untukku, senjata ini tidak ada perlunya, sebaliknya adalah besar faedahnya apabila dibelakang hari anak-anak itu pakai untuk membela negeri, guna melabrak musuh!‖ Dua saudara angkat itu masih mencoba menampik hingga mereka membangkitkan amarahnya si imam itu. ―Aku anggap kamu adalah turunan orang-orang kenamaan, maka itu aku hargakan kamu, kenapa sekarang kamu begini tidak bersemangat?‖ ia menegur. Baharu sekarang Siauw Thian dan Tiat Sim tidak menolak lagi, mereka lantas menghanturkan terima kasih. Cie Kee berkata pula, dengan sungguh-sungguh: ―Kedua pedang ini adalah benda usia beberapa ratus tahun tua, setahu sudah berapa banyak orang terbunuh dan berapa banyak darah telah dihirupnya, maka mengertilah kamu, siapa saja yang mengerti ilmu silat melihat ini lantas matanya menjadi merah! Kamu pun mesti menginsafinya, seorang bocah yang ilmu silatnya tidak sempurna dengan menggunai pedang ini, dia Cuma dapat memperbahayakan dirinya sendiri, dari itu kamu mesti berhati-hati! Kamu ingatlah baik-baik!‖ Siauw Thian dan Tiat Sim berdua saling mengawasi, hati mereka tidak tentram. Khu Cie Kee tertawa panjang. ―Sepuluh tahun sejak ini, apabila pinto masih ada di dalam dunia ini, mesti pinto datang pula ke mari untuk ajarkan anak-anak itu ilmu silat,‖ ia berkata, ―Setujukah kamu?‖ Dua saudara angkat itu menjadi girang sekali. ―Terima kasih totiang, terima kasih!‖ mereka mengucap. ―Sekarang ini bangsa Kim sedang mengincar negara kita, terhadap rakyat dia sangat telengas,‖ berkata pula si imam, ―Karena mestinya tidak lama lagi bangsa itu turun tangan, dari itu pinto harap jiwi jaga diri baik-baik….‖ Dia angkat cawannya, untuk tenggat habis isinya, setelah itu dia buka pinti, untuk bertindak keluar. Siauw Thian berdua berniat meminta si imam berdiam lebih lama, siapa tahu tindakan orang cepat sekali, tahu-tahu imam itu sudah pergi jauh. ―Begitulah kelakuan orang berilmu, ia datang dan pergi tak ketentuannya,‖ kata Siauw Thian sambil menghela napas. ―Kita dapat bertemu dia tetapi sayang, kita tidak dapat meminta pengajaran daripadanya……..‖ Tiat Sim sebaliknya tertawa. ―Toako, hebat cara bertempurnya totiang hari ini!‖ ia bilang. ―Dengan menonton saja, sedikitnya terumbar juga hati pepat kit!‖ ia lantas buat main pedang yang satu, sampai ia lihat ukiran dua huruf Yo Kong. Lantas ia berkata ―Toako ada satu pikiran cepat dari aku, entah kau setuju atau tidak?‖ ―Apakah itu, Saudaraku?‖ Siauw Thian balik bertanya. ―Inilah mengenai anak-anak kita nanti,‖ Tiat Sim beri keterangan. ―Umpama anak kita laki-laki semua, biarlah mereka menjadi saudara satu dengan yang lain, apabila mereka adalah perempuan, biarlah mereka menjadi enci dan adik……….‖ ―Jikalau mereka adalah laki-laki dan perempuan, biarlah mereka menjadi suami-istri!‖ Siauw Thian menyela. Keduanya lantas menjabat tangan, mereka tertawa terbahak. Itulah janji mereka. Justru pada saat itu Pauw-sie muncul. ―Eh, kenapa kamu menjadi girang begini?‖ tanya si nyonya.
Irawan D Soedradjat

Page

10

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kami baru saja membuat janji,‖ sahut Tiat Sim, yang lantas tuturkan kecocokan mereka berdua. ―Cis!‖ si nyonya meludah. Tetapi di dalam hati, ia pun girang. ―Sekarang marilah kita saling tukar pedang dahulu,‖ Tiat Sim berkata pula. ―Ini adalah semacam tanda mata. Kalau mereka ada laki-laki atau perempuan, biarlah mereka jadi saudara satu dengan yang lain, kalau……..‖ ―Kalau begitu, kedua pedang ini akan berkumpul di rumah kakak!‖ Siauw Thian bilang. ―Mungkin akan berkumpul di rumahmu, Saudara!‖ kata Pauw-sie. Lantas mereka tukar kedua pedang itu. Sampai disitu, Siauw Thian pulang dengan membawa pedang itu, untuk memberitahukan kepada istrinya, Lie-sie. Tiat Sim ada gembira sekali, masih ia minum seorang diri, hingga ia mabuk. Pauw-sie pimpin suaminya ke kamar tidur, lalu ia benahkan piring mangkok dan cawan, habis mana melihat hari sudah mendekati sore, ia pergi ke belakang untuk kurungi ayamnya. Setibanya ia di pintu belakang, ia menjadi terkejut. Di situ, di atas salju, ia tampak tanda-tanda darah, yang melintas di luar pintu belakang itu. ―Kiranya di sini masih ada tanda darah yang belum dilenyapkan,‖ pikirnya heran. ―Kalau pembesar negeri melihat ini, inilah bahaya….‖ Maka ia cari sapu, lantas ia menyapu pula. Tanda darah itu menuju ke belakang rumah dimana ada pepohonan lebat. Di sini ia lihat tanda darah dari orang yang rupanya jalan merayap. Ia jadi bertambah heran, saking curiga, ia ikuti terus tanda darah itu, yang sampai di belakang sebuah kuburan tua. Di situ ia lihat suatu benda hitam yang tergeletak di tanah. Kapan ia sudah datang mendekat, ia kembali jadi terkejut. Itu adalah tubuhnya satu orang dengan pakaian serba hitam, ialh salah satu orang yang tadi mengepung Khu Cie Kee. Rupanya habis terluka, ia tidak terbinasa, ia lari ke belakang rumah. Selagi berpikir, Pauw-sie ingat untuk panggil suaminya, buat kubur orang itu. Ia belum bertindak tempo ia ingat, adalah berbahaya kalau ia tinggal pergi, sebab mungkin nanti diketemui lain orang yang kebetulan lewat di situ. Ia jadi beranikan diri, ia menghampiri orang itu dengan niat menyeret, guna dipindahkan ke dalam rujuk, setelah mana baru ia baru hendak panggil suaminya. Benar disaat ia cekal tubuh orang untuk ditarik, mendadakan tubuh itu bergerak, lau terdengar suara merintihnya. Ia menjadi sangat kaget, ia jadi berdiri bagaikan terpaku, sedang sebenarnya ingin ia lari pulang. Lewat sesaat, tubuh itu terdiam pula. Dengan beranikan hati, Pauw-sie pakai sesapu, untuk bentur tubuh orang. Maka sekali lagi ia dengar suara rintihan perlahan.

Bab 2. Berlalunya Dua Sahabat Kekal

Sekarang Pauw-sie dapat kenyataan orang belum mati dan pundaknya dia itu tertancapkan sebatang anak panah. Batang patah juga berbelepotan darah. Nyonya ini bernama Sek Yok, nama ini tepat sama sifatnya, yang selalu berhati murah. Nama itu pun berarti ―menyayangi yang lemah‖. Begitulah diwaktu masih kecil, kalau ia lihat burung gereja atau ayam terluka, atapun kutu seperti semut, tentu ia mengobatinya, sampai binatang itu sembuh, kalau tidak, ia buatnya berduka. Karena ini, dikamarnya ia rawat banyak kutu. Sifat ini tidak berubah sampai ia menikah, dari itu kebetulan untuknya Yo Tiat Sim, suaminya tidak menentangi padanya, maka juga di belakang rumahnya ia ada pelihara banyak burung dan binatang peliharaan lainnya. Suatu sifat lagi ialah Pauw-sie tidak tega menyembelih binatang piaraannya untuk suaminya dahar ayam, ia sengaja beli di pasar, ayamnya sendiri ia pelihara hingga matinya ayam itu. Demikian kali ini, menampak orang terluka parah timbul rasa kasihannya, walaupun ia tahu orang bukannya orang baik-baik. Cuma bersangsi sejenak, lantas ia lari pulang, niatnya untuk mengasih bangun suaminya. Tiat Sim lagi tidur nyenyak, mungkin disebabkan mabuk arak, ia tak mendusin kendati istrinya sudah gonyanggonyang tubuhnya.
Irawan D Soedradjat

Page

11

Pendekar Pemanah Rajawali

Pauw-sie menjadi sibuk. Ia tahu orang perlu lekas ditolongi. Akhirnya dengan terpaksa ia ambil obat-obatan suaminya, dengan bawa pisau kecil dan sepotong cita, juga arak yang hangat, ia kembali pada si luka. Biasa merawat binatang, ia jadi juga bisa merawat orang luka. Begitu setelah belek sedikit daging di dekat panah nancap, dengan sekeras tenaga, ia cabut anak panah itu. Si luka menjerit, lalu pingsan. Panahnya tercabut, darahnya muncrat mengenai bajunya si nyonya. Dengan hati memukul sendirinya, Pauw-sie lantas obati luka itu, ia bungkus dengan rapi. Selang sekian lama, si luka sadar pula, tapi ia sangat lemah, rintihannya pun sangat perlahan. Pauw-sie tidak kuat angkat tubuh orang, tetapi ia dapat akal, ia pulang untuk ambil sehelai papan pintu, ia letaki itu diatas salju, lalu ia tarik orang ke atas papan itu, lantas ia tarik sekuat-kuatnya. Ia tempatkan si luka di gudang kayu. Sampai ia telah salin pakaian, hati Pauw-sie masih belum tentram betul. Ia masak daging kuwah semangkok, lalu ia bawa ke belakang. Hari sudah gelap, ia bawa lilin. Sejak di depan pintu gudang, ia sudah dengar suara bernapas perlahan. Jadi orang itu tidak mati. Ia masuk ke dalam, ia berikan daging kuwah itu. Si luka makan sekira setengah mangkok, lalu ia batuk-batuk keras. Dengan bantuan api lilin, pauw-sie awasi muka orang. Ia dapatkan satu pemuda yang tampan, hidungnya mancung. Karena tangannya gemetar, tanpa ia merasa ia kena bikin tetesan lilin jatuh ke muka orang itu, yang lantas buka kedua matanya. Kaget ia akan lihat si nyonya cantik, sinar matanya jernih, kulitnya merah dadu. ―Apa yang kau rasakan baikan?‖ Pauw-sie toh menanya. ―Mari makan habis daging kuwah ini…..‖ Orang itu ulur tangannya, akan sambuti mangkok, tetapi ia lemah, hampir ia bikin mangkok itu terlepas. Maka terpaksa Pauw-sie bawa mangkok itu kemulutnya. Habis makan kuwah, nampaknya orang itu segaran. Dengan mata bersinar, ia awasi si nyonya, agaknya ia berterima kasih. Pauw-sie likat diawasi orang itu, maka lekas-lekas ia ambil rumput, akan tutupi tubuh orang itu, lalu dengan membawa lilinnya, ia balik ke kamarnya. Ia tidak dapat tidur tenang, diwaktu pulas, ia mimpi yang hebat-hebat, umpamanya suaminya tombak mati orang itu atau dua ekor harimau kejar padanya sampai ia tak tahu mesti lari ke mana. Beberapa kali ia mimpi, beberapa kali ia sadar, dengan hati tergoncang. Ketika akhirnya ia mendusin diwaktu pagi, ia dapatkan suaminya lagi gosok tombaknya. Ia ingat kejadian semalam, ia jadi kaget sendirinya. Diam-diam tapi dengan lekas, ia pergi ke belakang, ke gudang kayu. Selekasnya ia membuka pintu gudang, ia jadi terlebih kaget lagi. Di sana tak ada si luka, rumputnya teruwar kalang kabutan! Ia lantas pergi ke pintu belakang, ia lihat pintu cuma dirapatkan, di atas salju terlihat bekas orang merayap pergi, tujuannya ke arah barat. Ia mengawasi ke arah itu, pikirannya tidak karuan. Sampai sekian lama, setelah mukanya ditiup angin dingin, baru ia sadar. Itu waktu ia pun merasai pinggangnya ngilu dan lemas, ia jadi lelah sekali, maka itu, ia lantas kembali ke dalam. Tiat Sim masak bubur putih, yang diletaki di atas meja. ―Kau lihat!‖ kata suaminya dengan tertawa. ―Bubur masakanku tak ada celaannya, bukan?‖ Istri itu tertawa, ia tahu karena ia sedang hamil, suaminya itu yang sangat menyayangi ia telah masaki ia bubur. Ia lantas dahar bubur itu. Itu waktu ia telah ambil keputusan akan tutup mulut tentang si terluka yang ia tolongi itu, sebab ia tahu kebencian suaminya terhadap orang jahat, apabila suaminya diberitahukan, pasti ia bakal binasakan orang itu. Sejak itu beberapa bulan telah berlalu; dengan lewatnya sang waktu, Pauw-sie juga telah lupai itu peristiwa yang ia sudah tolongi orang yang luka. Pada suatu hari, Tiat Sim dan istrinya pergi ke rumah Siauw Thian, untuk bersantap dan minum arak, sorenya mereka pulang, akan terus masuk tidur. Tepat tengah malam, tiba-tiba Pauw-sie mendusin dan melihat suaminya telah bangun juga dan sedang duduk di atas pembaringan. Ada sesuatu yang mengejutkan suaminya itu hingga ia jadi terjaga dari tidurnya. Dan istri ini masih lungu-lungu ketika kupingnya dapat tangkap suara samar-samar dari tindakan kaki kuda di atas es, makin lama makin nyata, datangnya dari barat ke timur, kemudian itu disusul sama suara serupa yang datangnya dari arah timur. Ia menjadi kaget pula apabila ia dengar pula suara dari selatan dan utara. ―Toako!‖ katanya pada suaminya sambil bangun untuk berduduk, ―Kenapa ada suara kuda dari empat penjuru?‖
Irawan D Soedradjat

Page

12

Pendekar Pemanah Rajawali

Tiat Sim tidak menyahuti, ia hanya segera turun dari pembaringan untuk rapikan pakaiannya. Tindakan kuda dari empat penjuru datang semakin dekat, lalu disusul sama gongongan anjing kampung yang menyahutnya. ―Kita kena dikurung‖ kata Tiat Sim kemudian. Pauw-sie terkejut. ―Untuk apakah?‖ tanyanya ―Entahlah!‖ jawab suaminya itu. Ia terus serahkan pedang pengasihan dari Khu Cie Kee seraya memesan: ―Kau pegang ini untuk jaga dirimu!‖ Tiat Sim buka jendela, untuk melihat keluar, karena itu suara kuda sudah datang mendekat sekali. Ia lihat tegas kampungnya telah dikurung oleh sejumlah tentera, kurungannya berlapis. Ia dapat melihat karena tentera itu ada membawa obor yang diangkat tinggi-tinggi. Perwira yang memegang pemimpin ada tujuh atau delapan orang. ―Tangkap pengkhianat! Jangan kasih dia lolos!‖ demikian tentara itu mulai berseru-seru. ―Apakah ada pengkhianat yang lolos kemari?‖ Tiat Sim menduga-duga. Ia cekal tombaknya untuk melihat gelagat. Tiba-tiba satu perwira berseru: ―Kwee Siauw Thian! Yo Tiat Sim! Kamu berdua pemberontak, lekas muncul untk terima diringkus!‖ Tiat Sim menjadi kaget, sedang Pauw-sie menjadi pucat mukanya. ―Entah kenapa pembesar negeri menfitnah rakyat,‖ kata Tiat Sim kemudian, ―Tidak ada jalan lain, kita mesti menerobos keluar! Kau jangan takut, walaupun musuh berjumalh puluhan ribu, akan aku lindungi padamu!‖ Dasar turunan orang peperangan. Tiat Sim tidak menjadi kacau pikirannya. dengan tenang tetapi sebat, ia siapkan panahnya, terus ia pegangi tangan kanan istrinya. ―Nanti aku berbenah dulu…‖ kata Pauw-sie. ―Apa lagi yang hendak dibenahkan?‖ kata suaminya itu. ―Apa juga tak dapat. Lemah hatinya istri itu, lalu tiba-tiba ia menangis. ―Dan rumah ini?‖ katannya. ―Asal kita dapat lolos, nanti di lain tempat kita membangun pula rumah kita!‖ sahut sang suami. ―Dan itu anak-anak ayam dan anak-anak kucing?‖ istri itu menanya pula. Tiat Sim menghela napas. ―Ah, orang tolol, kamu masih memikirkan segala binatang itu! Mana dapat?‖ Baru Tiat Sim mengucap demikian, di luar kembali terdengar seruan berisik dan api terlihat berkobar. Dua ruang di depan telah dibakar, lalu dua orang serdadu Song mulai menyulut payon rumah. Bukan main mendelunya Tiat Sim. Ia buka pintu dan muncul. ―Aku Yo Tiat Sim!‖ ia perkenalkan diri. ―Kamu hendak bikin apa?‖ Dua serdadu itu kaget, mereka memutar tubuh, sembari melemparkan obornya, mereka lari balik. Di antara cahya api, satu perwira maju dengan kudanya. ―Kamu Yo Tiat Sim? Bagus!‖ ia berkata. ―Mari ikut kami menghadap pembesar kami! Tangkap!‖ Lima serdadu lantas merangsak. Tiat Sim geraki tombaknya, dalam jurus ―Ouw liong pa bwee‖, atau ― Naga hitam menggoyang ekor,‖ lalu tiga serdadu roboh terguling, kemudian dengan susulannya ―Cun lui cin nouw‖ atau ―Geledak musim semi murka,‖ ia rubuhkan satu yang lain, yang tubuhnya ia lempar balik ke dalam barisannya. ―Untuk menangkap orang, kamu mesti lebih dahulu beritahukan kedosaannya!‖ ia membentak. ―Pemberontak bernyali besar!‖ teriak si perwira. ―Kanu berani melawan?!‖
Irawan D Soedradjat

Page

13

Pendekar Pemanah Rajawali

Mesti begitu ia gentar hari, tak berani ia maju mendekati. Adalah satu perwira lain yang berada dibelakangnya, mewakilkan ia maju. Berkatalah perwira ini: ―Baik-baik saja ikut kami ke kantor, kau akan bebas dari kedosaan berat. Di sini ada surat titah!‖ ―Kasih aku lihat!‖ bentak Tiat Sim. ―Masih ada satu pemberontak lainnya, yang she Kwee?!‖ kata perwira itu. ―Kwee Siauw Thian ada di sini!‖ sahut Siauw Thian yang tiba-tiba muncul di muka jendela, panahnya telah siap sedia. Perwira itu terkejut, hatinya ciut. ―Letkai panahmu,‖ katanya. ―Nanti aku bacakan surat titah ini….‖ ―Lekas baca!‖ bentak Siauw Thian, yang justru tarik semakin melengkung gandewanya itu. Terpaksa dengan ketakutan, perwira itu membaca. Itulah surat titah untuk menawan Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim dua penduduk Gu-kee-cun, yang dituduh berontak melawan negara, sudah bersekongkol sama penjahat besar. ―Surat titah ini datang dari kantor mana?‖ Siauw Thian tanya. ―Inilah surat titah tulisannya Han Sinsiang sendiri!‖ jawab perwira itu. Dua-dua Siauw Thian dan Tiat Sim terkejut. ―Hebat urusan, sampai Han Sinsiang sendiri yang turun tangan menulis surat titah?‖ mereka berpikir. ―Mungkin ini disebabkan terbukanya rahasia Khu Cinjin telah membinasakan banyak hamba negara?‖ ―Siapakah yang mendakwa? Apa ada buktinya?‖ tanya Siauw Thian pula. ―Kita cuma mesti menawan orang!‖ kata si perwira. ―Nanti di muka pembesar kamu boleh bicara!‖ ―Han Sinsiang gemar menfitnah orang baik-baik, siapa tidak tahu itu?‖ kata Tiat Sim. ―Kami tak sudi kena jebak!‖ Dengan perlahan Tiat Sim kata pada istrinya: ―Pergi lapis bajumu, akan aku rampas kuda dia itu untukmu! Akan aku panah perwira itu, tenteranya bakal jadi kacau!‖ Dan terus ia tarik panahnya, maka setelah satu suara ―Ser!‖ si perwira berkoak keras, tubuhnya terjungkal dari kudanya. Semua serdadu lantas berteriak-teriak. ―Maju! Tangkap!‖ berseru perwira yang satunya. Sejumlah serdadu taati titah itu, akan tetapi selagi maju, mereka disambut busur-busurnya Siauw Thian dan Tiat Sim berdua, hingga enam atau tujuh diantaranya rubuh seketika. Akan tetapi jumlah mereka ini besar, dibawah anjuran pembesarnya, mereka maju terus. Tiat Sim menjdai mendongkol, ia tukar panah dengan tombaknya, setelah ia lompat keluar pintu, ia sambut penyerang-penyerangnya. Rombongan serdadu itu kena terpukul mundur. Atas itu, Tiat Sim melompat kepada satu perwira yang menunggang seekor kuda putih, ia menyerangnya. Perwira itu menangkis dengan tombaknya. Ia tapinya tak kenal ilmu tombak keluarga Yo, pahanya kena ditikam, maka dengan satu gentakan, tubuhnya terpelanting ke tanah. Dengan menekan tombaknya ke tanah, Tiat Sim lompat ke atas kuda putih, maka sesaat saja, ia sudah menerjang ke muka pintu rumahnya. Ia tikam rubuh satu serdadu Song, yang menghalangi dia, kemudian dengan satu jembretan, ia angkat tubuh istrinya naik ke kudanya. Itu waktu Pauw-sie sudah siap menanti padanya. ―Kwee Toako, mari turut aku!‖ orang she So itu teriaki saudara angkatnya. Siauw Thian tengah menyerang seru dengan sepasang tombak pendeknya yang bercagak. Ia membuka jalan untuk istrinya Lie-sie yang bernama Peng.

Irawan D Soedradjat

Page

14

Pendekar Pemanah Rajawali

Beberapa perwira tidak dapat mencegah kedua orang gagah itu, terpaksa mereka menitahkan menggunai anak panah. ―Enso, lekas naik!‖ seru Tiat Sim, yang hampiri Lie-sie. Ia pun lantas lompat turun dari kudanya. ―Tidak bisa….‖ berkata Lie-sie. Diwaktu demikian, tidak ada lagi aturan sungkan, maka tanpa bilang suatu apa, Tiat Sim cekal tubuh iparnya, untuk segera diangkat naik ke punggung kuda, kemudian ia bersama Siauw Thian mengikuti dari belakang, untuk melindungi. Lolos belum jauh, di sebelah depan mereka dicegat oleh satu pasukan lain. Riuh suara tentera itu, hebat serbuannya. Tiat Sim dan Siauw Thian mengeluh di dalam hati. Karena terpaksa, mereka jadi memikir untuk cari jalan lolos. Sekonyong-konyong terdengar suara panah sar-ser, lalu Pauw-sie menjerit keras. Kuda putih terpanah, kaki depannya tertekuk, lalu tubuhnya ngusruk. Pauw-sie rubuh bersama Lie-sie, yang pun ikut berteriak. Tiat Sim kaget tetapi ia tabah. ―Toako, lindungi mereka, akan aku rampas kuda pula!‖ serunya. Lalu dengan memutar tombaknya, ia menerjang musuh. Kwee Siauw Thian berpikir lain daripada saudara angkatnya itu. ―Terang kita berdua tidak bakal dapat menerobos kurungan musuh ini, atau istri kita sukar ditolongi. Karena kita tidak bersalah dosa, daripada antarkan jiwa disini, baiklah kita menemui pembesar negeri untuk berbicara dengannya.‖ Maka itu, ia teriaki adik angkatnya itu: ―Adik, mari kita ikuti mereka ke kantor!‖ Tiat Sim heran, akan tetapi ia hampiri saudaranya itu. Perwira pemimpin tentera itu menitahkan menunda penyerangan, tetapi mereka mengurung rapat-rapat. ―Letaki senjatamu, kami akan beri ampun jiwa kamu!‖ ia berteriak. ―Toako, jangan kena diperdayakan!‖ Tiat Sim memberi ingat. Siauw Thian menggeleng kepala, ia lemparkan sepasang tombaknya. Tiat Sim lihat istrinya ketakutan, hatinyapun menjadi lemah, maka seraya menghela napas, ia lemparkan panah dan tombaknya. Atas itu belasan tombak tajam dipakai mengurung empat orang itu, kemudian delapan serdadu maju mendekati, untuk membelenggu mereka berempat. Tiat Sim berdiri tegak, dia tertawa dingin. Sikap ini tidak menyenangi si pemimpin tentara, ia ayun cambuknya seraya mendamprat: ―Pemberontak bernyali besar, benarkah kamu tidak takut mampus?!‖ ―Bagus!‖ kata jago she Yo itu. ―Siapakah namamu?!‖ Perwira itu menjadi semakin gusur, cambuknya disabetkan berulang-ulang. ―Tuan besarmu tak pernah ubah she dan namanya!‖ katanya dengan jumawa. ―Tuan besarmu she Toan namanya Thian Tek. Thian Tek itu berarti kebijaksanaan Tuhan, kau mengerti? Ingatkah kau? Supaya kapan nanti kau bertemu Giam Kun, kau boleh ajukan dakwaanmu!‖ Tiat Sim tidak takut, ia malah mengawasi dengan bengis. ―Ingat olehmu, tuanmu ada cacat luka di jidatnya dan tanda biru di pipinya!‖ Thian Tek membentak pula. Ia angkat pula cambuknya. Pauw-sie menangis. ―Dia orang baik, ia belum pernah berbuat jahat, kenapa kau aniaya dia sampai begini?‖ tanya istri ini yang tidak tega melihat suaminya dicambuki. Tiat Sim meludah tepat mengenai mukanya perwira she Toan itu. Dia menjadi sangat murka, ia lalu cabut golok di pinggangnya.
Irawan D Soedradjat

Page

15

Pendekar Pemanah Rajawali

―Aku akan bunuh dulu padamu, pemberontak!‖ teriaknya. Tiat Sim tidak sudi mandat dibacok, ia berkelit ke samping. Tapi segera ia merasa ada tombak-tombak yang menahan tubuhnya. Thian Tek membacok pula. Tiat Sim tidak melihat lain jalan, ia berkelit mundur dengan mengkeratkan tubuhnya. Melihat bacokkannya kembali gagal, Thian Tek terus menikam. Kali ini goloknya yang tajam bagaikan gergaji dapat melukakan pundaknya orang she Yo itu. Dia tapinya belum puas, kembali ia ulangi bacokannya. Siauw Thian lihat adik angkatnya terancam bahaya, ia lompat maju seraya mendupak. Thian Tek terkejut, ia batal menyerang, terus dia menangkis. Siauw Thian lihay, ia tarik kakinya untuk ayun kakinya yang lain. Itulah tendangan saling susl dari ilmu tendangan Wan-yo-twie, maka tak ampun lagi, perwira itu terjejak pinggangnya. ―Hajar mampus dia!‖ dia berseru. Beberapa serdadu segera menyerang. Siauw Thian melawan, ia dapat menendang terguling dua serdadu, tetapi karena ia terbelenggu tangannya, akhirnya ia kena dibokong Thian Tek yang sambar ia dari belakang, hingga tangan kanannya terbacok kutung! Bukan main panasnya hati Tiat Sim menampak kakaknya itu menjadi korban keganasan si perwira, entah darimana datangnya tenaganya ketika ia berteriak keras sekali, belengguan pada tangannya terputus terlepas, maka sambil melompat maju, ia hajar rubuh satu serdadu, untuk rampas tombaknya yang panjang dengan apa ia terus mengamuk. Thian Tek menginsyafi bahaya, ia sudah mendahului mundur. Yo Tiat Sim menyerang bagaikan kalap, matanya menjdi merah. Semua serdadu mejadi kalah hati, dengan ketakutan mereka lari bubaran.. Tiat Sim tidak mengejar musuh, hanya ia menubruk kakak angkatnya yang telah mandi darah. Tanpa merasa ia kucurkan airmata. ―Adik sudah kau jangan pedulikan aku,‖ kata Siauw Thian lemah. ―Lekas, lekas kau singkirkan diri…‖ ―Akan aku merampas kuda, mari kita pergi bersama!‖ kata Tiat Sim. Siauw Thian tidak menyahut, ia hanya pingsan. Tiat Sim buka bajunya, hendak ia membalut luka kakak itu, tetapi lukanya lebar sekali, dari pundaknya merembet ke dada, sulit untuk membalutnya. Siauw Thian sadar pula. ― Adik, kau pergilah…‖ ia kata dengan suara yang sangat lemah. ―Pergi kau tolong teehu serta ensomu…aku, aku sudah habis…‖ Dan ia meramkan matanya untuk selamanya. Hampir Tiat Sim menyemburkan darah, sangking berduka dan mendongkol. Ia lantas berpaling ke arah di mana istrinya dan ensonya, istri Siauw Thian. Untuk kagetnya ia tidak dapat melihat mereka itu. ―Toako, aku akan balaskan sakit hatimu!‖ ia berteriak. Lalu dengan membawa tombaknya, ia lari kepada barisan serdadu, yang sekarang sudah berkumpul pula. Toan Thian Tek memberi perintahnya, maka barisannya itu menyambut dengan hujan anak panah. Tiat Sim maju terus seraya putar tombaknya, akan halau setiap busur. Ketika satu perwira dekati dia dan membacok, ia berkelit sambil mendak, akan nelusup ke bawahan perut kuda. Si perwira membacok sasaran kosong, hendak ia putar kudanya, tetapi tombaknya Tiat Sim tahu-tahu sudah menikam tepat kepadanya, maka
Irawan D Soedradjat

Page

16

Pendekar Pemanah Rajawali

ketika tubuhnya rubuh, orang she Yo itu gantikan ia lompat naik ke atas kudanya itu hingga dengan apa punya binatang tunggangan, Tiat Sim bisa menyerang dengan terlebih hebat. Sekali lagi barisan serdadu itu lari buyar. Tiat Sim mengejar, hingga ia lihat satu perwira lagi kabur sambil peluki seorang perempuan. Ia tidak mengejar, hanya ia lompat turun dari kudanya, akan rampas gendawanya satu serdadu Song lalu diantara terangnya api obor, ia panah perwira itu. Tepat panahnya ini, si perwira rubuh dari kudanya yang jatuh ngusruk. Dia rubuh bersama si wanita dalam pelukannya, hingga orang jadi terlepas. Lagi sekali Tiat Sim memanah. Selagi orang merayap bnagun. Kali ini perwira itu rubuh pula untuk tidak dapat bangun lagi. Tiat Sim lari kepada wanita itu untuk kegirangannya ia dapatkan pada istrinya. Sek Yok kaget dan girang, ia lompat ke dalam rangkulan suaminya itu. ―Mana enso?‖ Tiat Sim tanya. Dia lantas ingat istrinya Siauw Thian. ―Ia ada di sebelah depan, ia pun dibawa lari serdadu jahanam itu!‖ sahut Pauw-sie. Kapan Tiat Sim menoleh, ia tampak mendatanginya satu barisan lain. ―Toako telah menemui ajalnya, biar bagaimana aku mesti tolongi enso!‖ ini adik angkat ambil keputusan, ia bicara sama istrinya. ―Turunan toako mesti dilindungi. Kalau Thian mengasihi kita, kita berdua dapat bertemu pula…‖ Sek Yok rangkul keras leher suaminya itu, ia menangis menggerung-gerung. ―Tak dapat kita berpisah!‖ ia kata. ―Kau yang bilang sendiri, kalau kita mesti binasa, kita mesti binasa bersama! Bukankah benar kau pernah mengatakan demikian?‖ Tiat Sim peluki istrinya, hatinya karam. Tapi ia tiba-tiba keraskan hati, ia menolak dengan keras, ia sambar pula tombaknya, untuk lari. Ketika sudah lari beberapa puluh tindak, ia lihat istrinya menangis bergulingan di tanah, dan barisan serdadu yang mendatangi sudah mendekati istrinya itu. Ia usap mukanya, peluhnya bercampur sama darah muncratan. Ia lari pula. Telah bulat tekadnya untuk menolongi Lie-sie. Di sebelah depan, ia dapat rampas seekor kuda, maka itu ia jadi tambah semangat. Kebetulan ia dapat bekuk satu serdadu, atas pertanyaannya, serdadu itu bilang Lie-sie berada di sebelah depan. Maka ia kaburkan kudanya. Tiba-tiba dari samping jalanan mana ada perpohonan lebat, terdengar cacian seorang wanita. Ia lekas tahan kudanya, yang ia putar untuk hampirkan tempat lebat itu. Dengan tombaknya ia menyingkap cabang-cabang pohon.Maka di hadapannya terlihat dua serdadu sedang menyeret-nyeret Lie-sie. Tidak ampun lagi, Tiat Sim tikam mampus mereka satu demi satu. Lie-sie berbangkit dengan rambut kusut dan pakaian penuh tanah tidak karuan. Diwaktu begitu, tidak ada ketika untuk omong banyak, maka Tiat Sim angkat tubuh iparnya itu, dikasih naik ke atas kudanya, untuk mereka menunggang bersama. Ia lari balik untuk cari istrinya di tempat dimana tadi mereka berpisah. Untuk kedukaannya ia tak dapatkan Pauw-sie, tempat itu sunyi senyap dari segala apa. Ia turun dari kudanya untuk memeriksa tanah. Ketika itu sudah fajar. Ia lihat tapak-tapak kaki dan tanda bekas orang diseret, maka sakitlah hatinya. Ia percaya istrinya telah jatuh pula ke dalam tangan musuh…. ―Mari!‖ katanya seraya melompat naik ke atas kudanya yang ia terus kasih lari, perut kudanya pun dijepit hingga binatang itu kesakitan dan lari kabur. Sedang kuda lari keras mendadak dari samping jalanan muncul belasan orang yang hitam semua pakaiannya, orang yang terdengar segera menyerang dengan toyanya. Tiat Sim sempat menangkis, dapat ia menikam. Orang itu sebat dan gesit, ketika ia membuat perlawanan, nyata permainan toyanya pun lihay. Hal ini membuat heran kepada orang she Yo itu.

Irawan D Soedradjat

Page

17

Pendekar Pemanah Rajawali

Pernah Tiat Sim dan Siauw Thian berbicara tentang ilmu silat, bahwa dijamannya kawanan Liang San, Pek-lekhwee Cin Beng adalah yang terlihay ilmu toyanya, tetapi dijaman itu orang Kim-lah yang terkenal. Maka itu sekarang ia curigai lawannya itu ada satu perwira Kim. Ia hanya heran, kenapa perwira Kim bisa muncul di situ. Tapi ia tidak bisa berpikir lama-lama, ia lantas menyerang dengan hebat. Kali ini ia berhasil membuat lawan itu terjungkal, karena mana barisan serdadunya lantas kabur. Segera Tiat Sim menoleh, hatinya lega akan dapatkan iparnya tak kurang satu apapun. Ia masih mengawasi iparnya itu ketika ―Ser!‖ sebatang gendewa menyambar kepadanya, menyambar dari arah pepohonan yang lebat, hingga ia tidak sempat menagkis atau berkelit, busur itu tembus di punggungnya. ―Encek, kau kenapa?‖ tanya Lie-sie kaget. Tiat Sim tidak menyahuti, hanya di dalam hatinya ia kata: ―Aku tidak sangka bahwa aku bakal habis disini… Sebelum aku terbinasa, aku mesti labrak dulu musuh, supaya enso dapat lolos!‖ Ketika ia geraki tombaknya, ia menjadi kaget. Ia merasa sakit hingga ke peparunya. ―Cabut panah ini!‖ ia kata. Lie-sie tapi hatinya lemah, tenaganya tidak ada, tak dapat ia menolong. Tiat Sim lantas mendekam di atas kudanya, tangan kirinya diapakai mencekal gagang panah, dengan satu kali sentak, ia cabut busur itu terus ia pandangi. Anak panah itu nancap dalam kira tiga dim, gagangnya memakai bulu burung rajawali, batangnya terbuat dari perunggu. Itu bukanlah sembarang busur. tempo ia memeriksa lebih jauh, pada gagang itu ada terukir tiga huruf ―Wanyen Lieh‖ Ia terkejut. ―Wan-yen‖ itu adalah she, yaitu nama keluarga dari bangsa Kim, dari golongan keluarga raja. Biasanya dari raja hingga jenderalnya, bangsa itu memakai nama keluarga tersebut. ―Bagus!‖ serunya. ―Benar-benar si pembesar jahanam itu telah bersekongkol sama bangsa asing, bersama-sama mereka mencelakai rakyat negeri!‖ Ia serahkan busur itu kepada Lie-sie. ―Enso ingat baik-baik nama ini!‖ ia pesan. ―Pesanlah anakmu untuk menuntut balas….!‖ Habis berkata, ia putar tombaknya, ia menerjang ke antara musuh, tetapi darah di punggungnya membanjir keluar, tiba-tiba matanya menjadi gelap, tak dapat ia menahan diri lagi, ia rubuh dari kudanya. *** Hatinya Pauw-sie sakit bagai disayat-sayat karena tolakan suaminya, tempo ia mengawasi suaminya itu, sang suami sudah lantas lenyap, di pihak lain, rombongan serdadau telah mendatangi ke arahnya. Ia mencoba lari, tetapi sudah kasep, ia kena kecandak dan ditawan, tubuhnya segara dikasih naik ke atas seekor kuda. ―Aku tidak sangka dua orang itu demikian kosen hingga mereka dapat mencelakai tak sedikit saudara-saudara kita!‖ berkata satu perwira sambil tertawa. ―Tapi sekarang kita toh peroleh hasil!‖ kata satu perwira lain. ―Eh, sahabatku Ciong, untuk cape kita ini kita bakal dapat persen tiga atau empat puluh tail perak!‖ ―Hm!‖ menyahut si Ciong itu. ―Aku harap asal saja potongannya dikurangi sedikit…!‖ Terus ia menoleh kepada barisannya, akan beri titahnya: ―Kumpulkan barisan!‖ Serdadu tukang terompet sudah lantas kasih dengar suara alat tiupnya Pauw-sie menangis tersedu-sedu, ia lebih memikirkan suaminya yang ia tidak tahu bagaimana jadinya. Ketika itu sang fajar telah tiba, dijalanan sudah ada beberapa orang yang berlalu lintas, akan tetapi mereka nampak serdadu, mereka lalu menyingkir jauh-jauh. Mulanya Pauw-sie berkhawatir sangat kawanan serdadu itu nanti perlakukan kasar atau kurang ajar terhadapnya, kemudian ia merasa sedikit lega. Ia tidak saja tidak diganggu, ia malah diperlakukan dengan manis dan hormat.
Irawan D Soedradjat

Page

18

Pendekar Pemanah Rajawali

Barisan ini baru berjalan beberapa lie, tiba-tiba mereka dicegat oleh belasan orang yang mengenakan pakaian serba hitam, yang semua berbekal senjata. Mereka itu muncul dengan tiba-tiba dari pinggir jalanan. Seorang yang berada di paling depan sudah lantas kasih dengar suaranya yang bengis: ―Kawanan serdadu tak tahu malu dan kejam, tukang ganggu rakyat, kamu semua turun dari kuda kamu dan serahkan diri!‖ Perwira yang pimpin barisan itu menjadi gusur. ―Kawanan berandal dari mana ynag berani mengacau di wilayah kota raja?!‖ dia balas membentak. ―Lekas menggelinding pergi!‖ Pihak baju hitam itu tidak menggbris bentakan itu, sebaliknya mereka buktikan ancaman mereka, ialah tanpa bilang suatu apa lagi, mereka maju menerjang, dengan begitu pihak jadi bertempur kalut. Kawanan baju hitam itu berjumlah lebih kecil akan tetapi mereka mengerti ilmu silat denag baik, dengan begitu pertempuran menjadi berimbang. Menyaksikan pertempuran itu, diam-diam Pauw-sie bergirang. ―Bukankah mereka ini dalah kawan-kawannya suamiku, yang mendengar kabar dan telah datang menolong?‖ demikian ia menduga-duga. Selagi pertempuran berjalan terus, tiba-tiba satu busur nyasar menyambar punggung kudanya Pauw Sek Yok. Binatang itu kaget dan kesakitan, ia berlompat dan lari kabur. Sek Yok kaget dan ketakutan, ia mendekam di kudanya itu yang lehernya ia peluki keras-keras. Ia takut jatuh. Kuda itu kabur terus hingga beberapa lie, sampai di sebelah belakangnya, terdengar datangnya kuda lain, lalu tertampak satu penunggang kuda datang memburu. Cepat sekali larinya kuda pengejar ini segera ia menyandak dan lewat di samping Pauw-sie, si penunggangnya sendiri sambil melarikan kudanya itu memutar sehelai dadung panjang di atasan kepalanya, apabila ia melepaskan sebelah tangannya, dadung itu ialah lasso, lantas menyambar ke kudanya Sek Yok. Sekarang kedua kuda jadi lari berendeng, si penunggang kuda menahan dengan perlahan-lahan, dari itu sesaat kemudian kedua kuda itu larinya perlahan, akan akhirnya selang beberapa puluh lie, kuda si penunggang berhenti dengan tiba-tiba, sebab mulutnya penunggang itu perdengarkan tanda. Dengan begitu kuda Sek Yok pun berhenti seketika. Kuda itu meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya. Pauw-sie kaget dan ketakutan, ia pun ngantuk dan lelah, karena kuda itu berlompat berdiri habislah tenaganya, tak dapat ia memeluki lagi leher kuda lantas saja ia rubub ke tanah dan pingsan. Ia mendusin setahu beberapa lama kemudian, ia hanya dapatkan tubuhnya rebah di atas sebuah pembaringan yang empuk kasurnya dan tubuhnya pun dikerebongi selimut kapas yang membuat ia merasa hangat. Ia buka matanya perlahan-lahan. Yang pertama ia lihat ialah langit kelambu kembang. Maka sadarlah ia yang ia telah tidur di atas pembaringan. Ia menoleh ke samping, ia dapatkan sebuah meja dan satu pelitanya. Di tepi pembaringan berduduk satu orang laki-laki dengan pakaian serba hitam. Kapan pria itu melihat orang mendusin dan tubuhnya bergerak, lekas-lekas ia bangun berdiri, untuk singkap kelambu dan menggantungnya. ―Oh, kau sudah mendusin?‖ pria itu tanya, perlahan suaranya. Biar bagaimana, Sek Yok belum sadar sepenuhnya. Samar-samar ia seperti kenal pria itu, maka ia mengawasi. Si pria ulur tangannya, untuk meraba jidat si nyonya. ―Oh, panas sekali!‖ katanya. ―Tabib akan segera datang…‖ Sek Yok meramkan pula matanya, terus ia tidur pula. Ia baru sadar tempo dengan samar-samar ia merasa orang pegang nadinya, disusul mana orang memberi ia makan obat. Ia masih tak sadar benar, malah ia bagaikan bermimpi dan mengigau ketika ia berteriak: ― Engko Tiat! Engko Tiat!‖ Lalu ia merasa ada tangan pria yang dengan perlahan-lahan mengusap-usap pundaknya, yang menghiburi ia dengan lemah lembut. Kapan kemudian Sek Yok mendusin pula, hari sudah terang. Ia merintih sebentar, lantas ia bangkit untuk berduduk. Seorang menghampiri dia. ―Minum bubur?‖ tanya ia itu dari luar kelambu. Pauw-sie kasih dengar suara perlahan, atas mana pria itu singkap kelambunya. Sekarang dua muka saling berhadapan, mata mereka saling mengawasi. Sekarang Sek Yok dapat melihat denagn tegas, maka ia menjadi terkejut. Ia tampak satu wajah yang tampan, yang tersungging senyuman manis.
Irawan D Soedradjat

Page

19

jangan bergelisah tidak karuan. akan tetapi ia mengangguk. suamiku itu?‖ ia tanya. ―Nyonya. ―Kenapa kau ketahui kita terancam bahaya dan kau dapat menolongi?‖ Pria itu bersangsi agaknya. ia telah buka mulutnya tetapi ia batal bicara. ia menangis sesambatan. ia telah dibinasakan oleh rombongan serdadu itu…‖ ia beri pebyahutan. mungkin suaminya telah menampak sesuatu kecelakaan. ia hanya dengan manis budi menghibur dan membujuki untuk nyonya legakan hati. Dari caranya orang berbicara. Harap Ynonya maafkan aku.‖ si anak muda menghibur pula. maka aku telah tolongi kau.maka itu jangan Nyonya sembarang munculkan diri. ―Tempat ini tempat apa?‖ nyonya ini kemudian tanya. kemudian barulah ia bisa omong juga.Pendekar Pemanah Rajawali Itulah si anak muda yang beberapa bulan yang lalu ia tolongi selagi orang terluka dan rebah tak berdaya di atas salju. Sek Yok kaget. Ketika kemudian ia sadar. Ia menjadi tak enak hati untuk bersikap tawar terus. yang kemudian menghilang tidak keruan paran dari gudang kayu. ia tidak memaksa. tangannya mencekal keras-keras pada ujung kasur. ―Sekarang kau letih dan lemah sekali. Si pria kelihatan halus budi pekertinya. Sekarang baiklah kau beristirahat dulu. ―Ya. Maka itu hari ia tidak dahar nasi atau minum. ―Benar dia. ―Bagaimana caranya ia meninggal dunia?‖ Pauw-sie tanya. yang bersenjatakan sebatang tombak panjang?‖ si anak muda tegaskan. melarang orang berbicara. ―Nanti saja setelah kesehatanmu pulih. Ia berkeputusan nekad untuk binasa bersama suaminya itu. kita sekarang bearad dirumahnya seorang petani. Tetapi hatinya bukan tidak bekerja. Rupanya roh suci atau malaikat yang telah menunjuki aku justru tolongi penolongku…‖ Ia berhenti sebentar. Irawan D Soedradjat Page 20 . ―Sebenarnya aku bersama beberapa kawan kebetulan lewat di sini.‖ si anak muda beritahu. ―Mana suamiku?‖ Pemuda itu menggoyang tangan. Maka tiba-tiba saja timbul kecurigaannya. ―Bukankah suami Nyonya berumur duapuluh kurang lebih. Nyonya. aku tidak puas.‖ kata pula si anak muda. ―Aku ada orang she Yen dan namaku Lieh. Pemuda itu mengangguk. ―Dia…dia kenapa.‖ ia berkata dengan perlahan. nyonya. ia balik kepalanya ke sebelah dalam pembaringan. ―Menyaksikan rombongan serdadu itu berbuat sewenang-wenang.‖ orang itu menhibur.‖ Sek Yok terperanjat. ―Mana suamiku?‖ ia tanya.‖ ―Aku tengah melawan tiga musuh ketika satu musuh jalan mengitar ke belakangnya suamimu itu yang dia tombak punggungnya. ―Sudahlah. Besar sangat cintanya kepada suaminya. ia lantas pingsan. aku berukan keteranganku. dengan lancang aku telah mengaku bahwa akulah suami Nyonya…‖ Mukanya Sek Yok menjadi merah. Rupanya karena jodoh kita telah dapat bertemu satu dengan lain. Lagi-lagi Sek Yok pingsan. ―Apa she dan nama Tuan?‖ kemudian Sek Yok menanya. ―Untukmu paling baik adalah merawat diri…‖ ―Apakah dia…dia telah meninggal dunia?‖ Sek Yok menanya. lalu ia melanjuti: ―Sekarang ini rombongan serdadu sedang mencari Nyonya.‖ ia menyahut akhirnya Merah mukanya Sek Yok akan dengar itu perkataan ―jodoh‖. tubuhnya tinggi dan lebar.

ia berhenti menangis. ia sambuti bubur itu lalu ia dahar dengan perlahan-lahan. Nyonya!‖ katanya keras. Yen Lieh kelihatannya murka. lalu ia turut keluar dari rumah itu.‖ sahutnya kemudian. tak tahu sebab musababnya.‖ ia menjawab. kau hendak dengari ceritaku atau tidak?‖ ia menegur. agaknya ia kesengsem. lalu ia tertawa.‖ ―Dia telah diketahui she dan namanya. matanya tak meram…‖ Nyonya itu terkejut. ia berkata: ―Tentera di luar sudah berlalu. Besok paginya. untuk apa aku memikirkan hidup lebih lama…?‖ katanya. Coba tidak kau tolongi aku.‖ Sek Yok susut air matanya. untuk sendok semangkok bubur serta satu biji telur asin. akan aku coba membalas dendam untukmu. ―Jikalau kita tidak pelihara kesehatanmu. hingga pada mulanya tak ingin aku menolongi kau. namanya Toan Thian Tek. Sek Yok dapat lihat kelakuan orang itu. ia tunggu sampai orang sudah sedikit reda. yang lain telah menjadi setan…. tiba-tiba sebatang busur nyasar telah menyambar pundakku. Irawan D Soedradjat Page 21 . sakit hatimu belum terbalas. ―Aku tadinya menyangka kau juga hendak bantu menawan Khu Totiang. Sebenarnya imam siapa yang hendak mereka tawan itu?‖ ―Oh. ―Tidak ingin aku yang kita nanti kena di bekuk mereka…‖ Sek Yok menangis. Yen Lieh bertindak masuk selagi si nyonya menangis. karena mana imam itu telah membuatnya perlawanan dahsyat. setelah rapikan pakaiannya ia hadapi kaca untuk sisiri rambutnya.‖ Sampai di situ. Ia terus pergi ke dapur. Pauw-sie turun dari pembaringannya. bagaimana kau Cuma ingat kematian saja? Nanti suamimu. cara bagaimana kau bisa menuntut balas?‖ katanya perlahan setelah ia bawakan bubur dan telu asin itu kepada si nyonya. ―Suamimu telah dibinasakan hamba negeri. ―Apakah nyonya tahu. yang berada di tanah baka. ―Eh. maka ia menangis dengan mendekan di meja. Yen Lieh terkejut. Ia cari sepotong kain putih. tetapi ia lemah hatinya. ―Dia itu yang menjadi perwira yang mengepalai barisannya. ―Aku datang dari utara. kiranya kau kebenaran lewat saja dan bukannya dari satu rombongan dengan mereka itu?‖ berkata Sek Yok.‖ berkata si anak muda. Pauw-sie tuturkan halnya Khu Cie Kee hendak ditawan tentera negeri. mari kita berangkat. bagaimana dapat aku membalas dendam?‖ tanyanya. ia tampak romannya yang cantik bagikan bunga akan tetapi npemiliknya telah tak ada – yang satu tetap menjadi seorang manusia. Pauw-sie anggap perkataan itu benar. ―Bukankah baru ini kau dapat luka karena kau bersama tentera negeri hendak mencoba menawan Khu Totiang?‖ Sek Yok tanya pula tanpa pedulikan pertanyaan pemuda itu. ―Baik kau pergi sendiri saja…‖ ―Tetapi Nyonya!‖ peringatkan Yen Lieh. lalu ia selipkan di kondenya. ―Dia mempunyakan tanda biru di mukanya. selagi aku lewat di kampungmu itu. Kapan ia mengawasi kaca. Ia menjadi sedih sekali. ya aku tengah memikirkan cara bagaimana kita dapat meloloskan diri dari rombongna serdadu itu. Itulah tanda ia berkabung untuk suaminya. pastilah aku terbinasa kecewa. ia gunting itu merupakan setangkai bunga. Nyonya. hendak aku pergi ke Lim-an. Yen Lieh mengawasi orang berbicara. ―Aku seorang perempuan. gampang untuk mencari dia. siapa musuh nyonya suamimu itu?‖ Nyonya Yo Tiat Sim berpikir sejenak.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kau dan tentera negeri itu datang dari satu jurusan?‖ ia tanya ―Ke…kenapa?‖ Yen Lieh tanya. ―Biarnya aku bodoh. romannya heran. ―Ya. ―Kejadian hari itu sungguh membuat aku penasaran!‖ bsahut Yen Lieh. ―Suamiku telah terbinasa.

Belasan lie telah mereka lalui. laki-laki sejati. keduanya sudah jalankan kuda mereka berendeng menuju ke utara. jongos datang menyerahkan satu bungkusan. ―Yen. ialah pakaian baru. Barang hidangan itu terdiri dari masakan ayam.Pendekar Pemanah Rajawali Yen Lieh serahkan sepotong perak kepada tuan rumah. Bab 3. karenanya ia meminta satu kamar. sore itu mereka singgah di dusun Tiang-an-tin. ―Tuan pesan supaya nyonya suka salin pakaian. ―Inilah barang yang tadi pagi tuan belikan untuk Nyonya. didalam hatinya ia bilang: ―Asal dia berlaku kurang ajar sedikit saja.‖ Dua hari mereka berjalan. Yen Lieh mengaku bahwa mereka berdua adalah suami-istri. bagaimana kau harus membalas budimu ini?‖ katanya. ―Kau hendak bawa aku kemana?‖ akhirnya Sek Yok menanya pula. baru ia tidur tanpa buka pakaian luar lagi. ikan dan bubur yang semuanya harum. lemah lembut sikapnya. sesudah mana terus ia meramkan matanya. Hatinya Nyonya Yo berdebar-debar. yang terkena panah. ―Maka itu tubuhku ini aku serahkan kepada nyonya untuk nyonya suruh-suruh. akan tetapi hatinya tidak tentram. Ia jadi ingat suaminya. di situ ia rebahkan dirinya terus ia tutupi dengan gudri. Yen Lieh sudah keluar dari kamar. rumput kering itu ia delar di lantai. ia menemui orang satu kuncu. dedaharannya setiap hari adalah sayur dan ikan asin. diam-diam ia meraba pedang peninggalan Khu Cie Kee. Oleh karena itu semakin kurang penjagaan dirinya.‖ jawab jongos itu. ia memang tak dapat berpikir apa-apa. untuk cegah si nyonya sembarang bicara di depan orang lain. Di akhirnya ia menghela napas panjang.‖ Yen Lieh jawab. ―Nyonya silakan tidur!‖ ia berkata. habis padamkan api lilin. ia bukan saja suka menerima. ia tunggu sampai si jongos itu sudah keluar. Itu waktu. ―Kita tunggu sampai suasana sudah mulai reda. satu diantaranya adalah kudanya Sek Yok. hatinya menjadi sangat berduka. ―Jiwaku ini adalah nyonya yang tolongi. malah ia bersyukur sekali. Ia tidak lantas rebahkan diri. maka di lain saat. Ia ada dari satu keluarga sederhana. yang siapkan dua ekor kuda. Sekarang mendengar omongan yang beralasan dari pemuda ini.‖ Sek Yok lemah hatinya. kemudian baru kita pergi cari si Toan Thian tek si jahanam itu guna menuntut balas. walaupun badanku hancur dan tulang-tulangku remuk. sedap dan lezat. baru di hari raya atau tahun baru ia dapat hidangan istimewa. karena itu diwaktu bersantap. dan biasanya. Tak lama sehabisnya dahar. Yen Lieh sudah tidak ada di kamarnya. yang sekarang telah diobati lukanya. matanya memandang ke satu arah. Kepada pengurus hotel. untuk dikubur dengan baik. pedang pendeknya tergenggam di tangannya. ―Sekarang kita cari dahulu tempat sepi untuk tinggal sementara waktu. Yen Siangkong. ―Kita menuju kemana?‖ tanya Pauw-sie.‖ Irawan D Soedradjat Page 22 . itu sudah selayaknya saja. Tujuh Orang Luar Biasa Kapan besok paginya Pauw-sie bangun dari tidurnya. ―Apakah itu?‖ tanya si nyonya.‖ sahut Yen Liah. ia bungkam. ia lantas kunci pintu. daging asin. Akan tetapi mendahar ini. Yen Lieh kedipi mata. yang didatangi. Diam-diam nyonya ini jadi sangat bersyukur. baru kita pergi cari jenazah suamimu. meskipun mesti menyerbu api berkobar-kobar. akan aku bunuh diriku!‖ Yen Lieh menitahkan jongos ambil dua ikat rumput kering. untuk setengah jam ia masih duduk bercokol. kemudian ia membantui nyonya itu naik ke atas kuda. pemuda itu telah pergi siapkan kuda mereka dan sudah pesan jongos menyediakan barang makanan. Sek Yok tidak bilang suatu apa. hatinya Pauw-sie kurang tenang.

maka pakaiannya jadi kotor dan pecah disana sini. Mereka maju terus. Tinggal serdadu yang kelima. akan tetapi terhadap rakyat jelata. anak panah mana dikasih masuk ke dalam kantungnya. ia berubah seperti seorang baru. Yen Lieh tertawa enteng. maka gendewa ditarik. mereka galak bukan kepalang. ―Mari kita liat!‖ Pemuda ini berlaku tenang. Irawan D Soedradjat Page 23 . tidak ada ampun lagi serdadu itu terpanah batang lehernya. ―Kamu ada bawahan siapa?‖ ia tanya. Justru ia hendak ajak Pauw-sie melanjuti perjalanan. Di situ terlihat lima serdadu. ―Celaka!‖ Sek Yok menjerit karena kaget dan takut. kalau menghadapi musuh bangsa Kim. ―Hebat!‖ memuji Sek Yok tanpa terasa. akan aku panah batang lehernya!‖ Selagi pemuda ini berkata. Satu serdadu segera hampiri dua orang ini yang mereka dapat lihat. dituruti empat kawannya. ia mengeluh dalam hatinya. Memang ketika ia keluar dari rumah. mereka anggap inilah untung mereka. cara bagaimana ia dapat memikir begini sempurna?‖ katanya dalam hati. ujung panah tembus ke tenggorokannya. ―Diam!‖ dia membentak. lalu ia maju mendekati. sambil tertawa. dari samping kiri muncul dengan tiba-tiba sepasukan serdadu dengan suara mereka yang berisik.‖ kata Sek Yok ketakutan. ―Kamu bikin apa?‖ Yen Lieh benar-benar tidak takut. Bukankah ia baru saja lolos dari bahaya yang menakuti? ―Jangan takut!‖ kata Lien Yeh sambil tertawa. tiba-tiba mereka mendengar jeritan hebat dari sebelah depan. Segera si nyonya lihat di tangan kawannya ada gendewa yang bersinar kuning emas. yang sangat bersyukur. habis itu ia melompat naik pula ke atas kudanya. busur meleset mengejar dengan cepat sekali. ia putar balik kudanya untuk lari. berikut sepatu dan kaos kaki putih juga. dadanya tertumblaskan sebatang busur. Tepat orang lari kira enampuluh tindak. Ia tampak seperangkat pakaian baru warna putih. Si nona menangis. kupingnya mendengar suara menyambar ―Serr!‖ lalu satu serdadu menjerit dan rubuh. Menyaksikan orang lari ngiprit. dengan begitu dapat ia menentramkan sedikit hati si nyonya kawan seperjalanannya itu. Tiga serdadu lainnya tengah mengurung si nona yang mereka perlakukan dengan ceriwis. pakaiannya tidak karuan. dia lalu putar tubuhnya untuk lari merat. Dialah ynag tadi menjerit. sapu tangan dan handuk. ―Lekas pergi!‖ Pada waktu itu tentera Song. ―Dia seorang pria. si serdadu lari terus. Maka itu melihat Yen Lieh cuma berdua dengan satu nyonya manis. ia berpaling kepada si nyonya. hingga lagi tiga serdadu rubuh seperti rekannya yang pertama. ia hampiri lima serdadu itu. Ia lantas siapkan pula busurnya. ia berkata. Yen Lieh lompat turun dari kudanya. tentu mereka kalah dan lari. sesudah itu untuk satu malaman ia mesti larilarian. yang lainnya ada pakaiaan dalam. Pauw-sie kaget sekali. Serdadu itu lantas berseru. ―Lagi-lagi serdadu mengganggu rakyat jelata. ―Mari kita lekas menyingkir…‖ Yen Lieh sebaliknya tersenyum simpul. dengan mencekal golok panjang. Ia tertawa girang sekali. ia justru maju mendekati. Dua serdadu lagi memeriksa mengaduk-aduk buntalannya si orang tua. membentak. ―Tunggu sampai ia lari lagi tiga tindak. hingga di sebuah tikungan. yang uangnya dan lainnya barang mereka pindahkan ke saku mereka sendiri. sebaliknya dari angkat kaki. malah gendewa itu dipakai memanah pula beruntunruntun. malah mereka main merampas dan paksa.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok buka bungkusan itu yang membuat dia melengak. Sek Yok takut bukan main. Sore itu selagi mendekati dusun Kiap-sek-tin. ia ketakutan. Tapi justru itu. baju pendek. untuk cabuti anak panahnya dari tubuh mereka. Sekarang setelah tukar pakaian. Perjalanan sudah lantas dilanjuti. Yen Lieh cambuk punggung kuda si nyonya selagi ia pun kasih lari kudanya dengan begitu kedua ekor kuda segera lari keras. lagi pegat seorang lelaki tua yang ada bersama satu anak muda serta satu nona.

akan tunggu kudanya Pauw-sie rendengi ia. ―Pergi kau sampaikan kepada Han Sinsiang. ―Pie-cit. Lagi selintasan. terutama oleh pengejar yang motong jalan dari samping. pie-cit mengerti. Ia bicara terhadap Pauw-sie. lalu sambil terus berteriak-teriak. ia sambar si nyonya untuk ditarik dan dipindahkan ke kudanya. tanpa mengucap sepatah kata. dosaku berlaksa kali mati. ―Bilang aku ada punya urusan penting dan mesti pulang lantas. ―Silahkan hujin pakai kudaku ini. Heran perwira itu. ―Kau tidak hendak turun dari kudamu untuk manda dibelenggu?‖ perwira itu menegur. Kapan perwira itu sudah membaca. mukanya menjadi pucat. Karena lari terlalu keras. tidak kenali tayjin. Sek Yok heran yang ia dipanggil ―hujin‖ atau nyonyanya si anak muda. kau lihatlah surat ini!‖ Perwira itu melirik kepada satu serdadu di sampingnya. ―Nampaknya tentera mu kurang kenal tata tertib ketenteraan!‖ katanya sambil tertawa. Dia tertawa pula. Kerananya ia jadi ketinggalan Yen Lieh.‖ katanya. Yen Lieh sambuti kembali surat itu. selagi tentera pengejar mendatangi semakin dekat.‖ kata perwira itu tetap dengan sangat hormat. ―Pie-cit mohon diberi ampun…. Ia mengedipi mata. surat itu pun segera ia ancungkan ke atas kepalanya. ―Nanti pie-cit melakukan pemeriksaan untuk memberi hukuman. Yen Lieh tertawa gembira. Pauw-sie takut bukan main. setelah mana ia kaburkan kudanya itu. Karena tadi ia menunda kudanya.‖ katanya. ia dapatkan sejumlah tentara pengejar lebih dari seribu jiwa. maju menghampiri. ―Nah. nyampingpun tidak. Perwira itu menjura dalam. kopiahnya kopiah besi dan bajunya lapis besi juga. mereka mengejar.‖ Tidak saja perwira itu membasakan dirinya ―pie-cit‖ yang artinya ―bawahan yang rendah‖. ―Kami masih kekurangan seekor kuda.‖ katanya. ―Apakah kamu adalah pengawal pribadi dari Han Sinsiang?‖ ia tanya. ―Kau siapa!‖ ia membentak. ―Apakah kau tidak kenali aku?‖ dia bertanya. mukanya menjadi merah. Yen Lieh tidak pedulikan lagi pemimpin pasukan itu. lalu bersama-sama mereka lanjuti perjalanan mereka ke utara. Akan tetapi ketika itu sudah terlambat. ia pondong Pauw-sie untuk dipindahkan ke kuda yang baru. Yen Lieh tertawa pula. Pauw-sie mengawasi kejadian denga hatinya heran bukan main. akan keluarkan sepucuk surat. suaranya dan sikapnya sangat merendah. Seorang diri. larinya pun menjadi tambah perlahan. hingga ia tercengang. mana bisa Yen Lieh melawan mereka itu walaupun pemuda ini lihay ilmu panahnya? Celaka adalah kudanya si nyonya Yo ini. tiba-tiba Yen Lieh tahan kudanya. Sementara itu. Pauw-sie menoleh ke belakang. ―Perwira itu tuntun kudanya sendiri. maju tidak.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tangkap!‖ berteriak tentera yang di belakang itu apabila mereka melihat mayat-mayat rekannya. lantas ia menjadi kaget sekali dan ketakutan. mukanya pucat pasi. dan wajahnya terus menunjuki ia bergelisah.‖ ia berkata. Serdadu itu lantas sambuti surat itu untuk dihanturkan kepada pemimpinnya. lukanya yang belum sembuh telah pecah pula dan mengeluarkan darah. dengan tergesa-gesa ia lompat turun dari kudanya untuk memberi hormat. Segera ia tidak punya jalan lagi. Yen Lieh kena dicandak pengejarnya. baik.‖ pintanya.‖ ―Baik.‖Kau hendak tunggu apalagi?‖ Sebaliknya daripada serahkan diri atau ketakutan. Satu perwira yang bersenjatakan sebatang golok besar. Yen Lieh sebaliknya tenang. selaku tanda hormat. tayjin. Yen Lieh rogoh sakunya. dari itu aku tak dapat pamitan lagi. Yen Lieh manggut perlahan ia lantas sambuti kudanya si perwiara. lalu dengan tiba-tiba. Setelah lari serintasan. Irawan D Soedradjat Page 24 . Karena itu terpaksa ia tahan kudanya.

―Bukankah ini baru dibeli?‖ tanyanya.‖ Sek Yok mengutarakan pikirannya. Ia berpaling kepada si anak muda. tentang sakit hati suamimu itu serahkan kepada tanggungjawabku seorang.‖ Yen Lieh bilang.‖ sahut si anak muda.‖ ―Jikalau begitu. Nyonya. kota dari sutera dan beras. sambil tertawa mendahulukan dia. apapula segala perwira itu……. Untuk herannya ia lihat si perwira dan barisannya masih belum pergi. atau setempo dengan berendang. orang pun bukan sahabat bukan sanak. ―Hari masih siang. Luas pengetahuannya si anak muda. ―Nyonya . Sek Yok menjadi tak enak sendirinya.‖ ―Harap kau tidak sebut-sebut tentang budi…‖ kata Sek Yok.‖ Yen Lieh berkata. Yen Lieh berdiam sejenak.‖ katanya. cara bagaimana ia bisa terus ikuti pemuda itu? Dia jadi menjublak karena kesangsiannya itu. Hawa udara ada nyaman karena itu waktu pun ada di musim pertama yang indah. sebuah kota besar di Ciat-kang barat. nanti aku belikan yang baru. mereka tiba di Kee-hin. ―Maka itu. Pauw-sie mengangguk. apabila kita pergi menuntut balas sekarang juga. Orang pun tampan dan menyenangkan untuk dipandang. ini kawan seperjalanannya yang sebenarnya asing untuknya. ―Pakaianmu sudah terpakai lama.‖ kata Yen Lieh melihat orang berdiam saja.‖ Menampak sikap orang itu. ―Disini ada banyak toko. kadang-kadang yang satu di depan yang lain di belakang. sebenarnya kita masih dapat melanjutkan perjalanan. pihak tentera tentu telah membuatnya persediaan. baru kita berangkat pula ke selatan ini untuk maksud menuntut balas itu.‖ Yen Lieh mengajak. ―Apanya yang dibilang lama?‖ Irawan D Soedradjat Page 25 . ―Baik. silahkan kau beri petunjukmu. keramaiannya menjadi bertambah sendirinya.‖ Lantas keduanya larikan pula kuda mereka. ―Sekarang ini mari kita balik dahulu ke utara. pastilah gampang untuk kau membalaskan sakit hatiku.‖ dia bilang. Ia tidak mengerti.‖ Sek Yok bingung tidak berdaya.‖ ―Habis bagaimana?‖ si nyonya tanya pula. ingin ia menanya. Yen Lieh sering membuka pembicaraan. tapi anak muda itu. agaknya mereka itu masih mengasih selamat jalan……. Ia dapati orang halus sikapnya dan menarik kata-katanya. Memangnya kota sudah ramai pada asalnya. tidak melainkan kita bakal gagal. ―Budimu yang besar. pandai ia memilih bahan pembicaraan. sambil tunduk.‖ kata Pauw-sie.. sekarang ia terletak dekat dengan kota raja. ―Kita tunggu sampai suasana reda. Pada tengah hari di hari ketiga. Untuk melegakan hati si nyonya. ―Sekarang ini kita telah ketahuan siapa adanya. baik. Sek Yok menoleh ke belakang. ―Baiklah.Pendekar Pemanah Rajawali Sesudah jalan beberapa puluh tindak. ―Soal itu ada lain. Bukankah ia sudah rudin dan tak bersanak kandung juga? Kemana ia mesti pergi untuk pernahkan diri? Bukankah lebih baik ia turut pemuda ini? Tapi dia ada satu janda. ―Akan aku turut segala titahmu. Nyonya…. tak nanti aku lupakan. Percaya saja ia ragu-ragu. Nyonya legakan hati.‖ Sek Yok melengak. ―Jikalau nyonya anggap saranku kurang sempurna. dapatkah kau mempercayai aku?‖ bia tanya. ―Walaupun Han To Cu sendiri yang melihat aku. sesukamu…‖ katanya perlahan. Sek Yok heran dan kagum untuk si anak muda. ―Nyonya…. kita pun bisa mendapat celaka. Nyonya. ―Mari kita cari hotel untuk singgah dan beristirahat dulu. Yen Lieh menjadi girang sekali. dia jerih tiga bagian. Di sepanjang jalan ada kedapatan pohon-pohon yangliu dan bunga.

bukannya aku kurang ajar…‖ katanya sambil memberi hormat. dia ngeloyor terus. sembari jalan dia mengipasipas tak hentinya. Mungkin sudah belasan hari ia tidak pernah mandi. dengan kipas bututnya dia tepuk pundaknya Yen Lieh. ia jadi menduga terlebih keras. dengan pakaiannya yang mentereng. Di tangannya ia mencekal satu kipas kertas minyak warna hitam yang sudah buntut. dia ada membekal uang empat atau lima puluh tail perak akan tetapi sekarang kantungnya kosong. ―Apakah wanita ini benar istrimu?‖ dia tanya. ―Apakah kau tengah menipu dia? Janganlah kau nanti rembet-rembet kami!‖ Irawan D Soedradjat Page 26 . ―Terang itu aku tahu. si jorok itu ulur tangannya. ―Aku tengah berkabung…‖ katanya perlahan. Ia menjadi berani. Pauw-sie mengangguk. sepatunya terus berbunyi: ―Truk! Truk! Truk…!‖ Panas hatinya Yen Lieh. Ia tahu.‖ terangkan si anak muda. walaupun orang mirip sastrawan. ia tangal-tongol di muka pintu dengan begitu ia jadi dapat lihat orang tidak punya uang. laginya dengan wajah ini. ―Bukankah dia maksudkan aku?‖ Jongos itu melirik kepada pemuda ini. ada bocah yang tersesat. Setibanya di dalam kamar. ia menjadi tercengang pula. Dia tertawa terus beberapa kali. sepatu itu berbunyi ketrak-ketruk walaupun ia jalannya perlahan. Ketika ia tiba di ujung hotel. Ia heran. Sementara itu tangannya meragoh ke sakunya. tetapi karena orang demikian jorok. mau tidak mau timbul kecurigaannya. ialah pakaiannya kotor. Yen Lieh bisa duga hati orang. Nyonya itu lantas membungkam. ia lihat seorang mendatangi. Orang itu perdengarkan pula tertawanya yang kering itu. tindakan kakinya terus berbunyi ketrakketruk. ―Binatang!‖ katanya dalam hatinya. mana boleh kau tidak memakai pakaian dari bahan yang terbaik?‖ Diam-diam senang hatinya Sek Yok karena orang puji kecantikannya. Nyonya. maka itu sambil mengerutkan kening. suaranya kering.‖ kemudian kata si pemuda. baru ia sampai di muka hotel. Tepat ketika keduanya impas-impasan. Jongos itu lihat air muka orang. lalu duduk bersantap. Dengan lekas ia menghampiri. tak mau ia jalan di dekatnya.‖ Yen Lieh bilang. berminyak. hendak aku pergi berbelanja. Sekarang ia tak sungkan-sungkan lagi. Dia pun tidak karuan dandannya. orang mana menyolok perhatiannya. Di sini mereka paling dulu bersihkan tubuh. ―Kau tunggu . akan tetapi. pakaianmu sudah tak mentereng lagi. tak tahu ia di mana lenyapnya uangnya itu. hendak aku balik ke kamarku untuk mengambil. Yen Lieh ada apik. ―Kau tunggu sebentar. Ia menjadi tidak senang. buat anglap makanan dan hotel! Terhadap bocah begitu macam.‖ kata Yen Lieh. ―Kau pegang uang ini!‖ katanya menyela.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kita jalan jauh dan ditengah jalan banyak debu. harap kau tidak kecil hati. Yen Lieh terus tanya-tanya orang. Anak muda ini gagah. bagaikan siulannya burung malam. Yen Lieh lantas pergi keluar. kau mesti awas mata! Paling baik kau minta dia membayar uang sewa di muka!‖ Lalu dengan tak menantikan jawaban. ―Apa?! Kau tidak membawa uang?‖ katanya. Nyonya. ―Eh. Ia mau menyangka tadi karena terburu-buru ia lupa bawa uangnya. Ia dapatkan buntalannya tidak ada uangnya. ―Tuan. kotor juga mukanya yang penuh debu. ia menoleh kepada jongos hotel seraya berkata dengan keras: ―Eh. Orang mirip dengan satu sastrawan tetapi ia jalan sambil menyeret sepatu kulit. ia jalan terus. tuan besarmu ada punya uang perak! Di pihak lain. atas tepukan itu tak keburu ia berkelit. akhirnya ia ajak nyonya itu ke hotel Siu sui yang paling besar untuk kota Kee-hin. Jongos mengikuti ke kamar. dia pentang aksi untuk bikin orang silau guna menipu. kau bikin apa`?‖ ia menegur. kau jangan pandang tak mata kepada baju tuanmu yang rubat-rabit ini! Kau tahu. untuk mengakali kaum wanita. khawatir tubuhnya nanti kena terlanggar. ia gancangi tindakannya. jongos. tetapi segera ia melongo. ―Dengan dipakai baru satu dua hari. Tiba-tiba orang jorok itu tertawa. tertawanya itu tajam menusuk telinga.

Yen Lieh tetap tertawa. mungkin nanti datang pembesar negeri. masih berani galak. akan tetapi agaknya ia masih sangsi. Kemudian mereka menjdi gusur. yang bersenjatakan golok dan thie-cio. Hendak aku lihat. tiehu atau residen dari Keehin. urusan menjadi hebat. akan kemudian diturut oleh kawan-kawan yang telah terima hajarab. setelah membaca sampulnya ia terkejut. ―Mari kita lekas pergi!‖ Sek Yok mengajak. ―Apakah kamu hendak berkelahi?‖ tanya Yen Lieh sambil tertawa. ―Apakah kau edan?‖ si kepala polisi tanya. yang repot merayap bangun. Hamba negeri itu terkejut.‖ kata SekYok dengan berkhawatir. hingga orang itu jungkir balik. lalu tahu-tahu ia telah rampas toyanya satu orang denagn apa terus ia menghantam kalang kabutan.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok tidak tahu apa yang sudah terjadi tetapi ia dapat menduga. yang romannya seperti buaya darat. mereka sipat kuping. tangan mereka membawa toya dan ruyung. kau she apa?‖ menegur yang menjadi kepala. ya bagus betul! Kau sewa kamar tidak mau bayar. kemudian sambil matanya memandang mega. Pihak hotel atau tetamu. sikap mereka garang. ialah ruyung pendek yang bercagar atau gagangnya bergaetan. sambil pegangi pipinya dia menjerit: ―Bagus. Jongos tadi yang telah kabur keluar segera kembali bersama belasan orang. ―Itulah yang aku kehendaki!‖ sahutnya. Menampak demikian. ―Sudah menipu wanita. mukanya menjadi merah. Nyonya Yo bungkam. lalu ia terus pergi. Mereka pun bekal borgol yang rantainya berkontrangan. ―Eh. jangan kasih dia buron…‖ pesannya pada orang-orangnya. Tak tahu ia maksudnya pemuda ini. hotel menjadi sunyii. Tentu ia menjadi gusur. aturan dari mana?‖ demikian di antarannya pentang bacot. Kali ini ia tertawa. Ia malu dan bergelisah. sisa yang lainnya lantas lemparkan senjata mereka dengan memutar tubuh. rombongan oppas itu tidak berani lantang maju. kau juga berani pukul orang!‖ Dengan murkanya Yen Lieh mendupak. di luar terdengar suara berisik lalu muncul belasan orang polisi. Sekejap saja empat lima orang telah terguling rubuh. Irawan D Soedradjat Page 27 . ia datang ke mari atau tidak!‖ Orang polisi itu jumput surat itu. Baharu kemudian. ―Mana dia si penjahat!‖ Yen Lieh bercokol tidak bergeming. Di situ ia lantas bercokol. Menyaksikan sikap orang itu. kasihkan pada Khay Oen Cong. ―Kamu jaga dia. ―Jangan kita nginap disini!‖ ―Jangan takut!‖ kata Yen Lieh. ―Kita tidak punya uang tetapi kita boleh suruh mereka mengadakannya!‖ Ia lantas sembat sebuah kursi yang ia letaki di ambang pintu. tidak ada yang berani banyak mulut lagi. Khay Oen Cong itu adalah namanya pembesar mereka.‖Bagaimana kau berani sembarang sebut namanya Khay Toaya kami?‖ Yen Lieh rogoh sakunya. Untuk kira setengah jam. ―Plok!‖ demikian suara di mukanya si jongos yang pipinya menjadi bengap dan giginya rontok beberapa biji. ―Pergi kau panggil Khay Oen Cong kemari!‖ ia bilang. Dengan tiba-tiba Yen Lieh mencelat ke pintu dan tangannya menyambar. untuk mengeluarkan sepucuk surat yang mana ia lemparkan ke atas meja. Kata-kata itu disusul sama mencelatnya tubuhnya. ia berkata: ―Kau bawa suratku ini. ―Mau apa kau datang ke Kee-hin ini?‖ Yen Lieh tetap tidak bergerak. suaranya keren. ―Ah.

―Lekas pergi!‖ Jongos itu melengak. mukanya menjadi pucat. ―Tayjin masih membutuhkan apalagi. lenyap darahnya. sesudah mana di luar hotel terdengar pula suara berisik dari orang banyak. yang mengiringi dua pembesar dengan pakaian dinasnya. aku mohon Tuan-tuan suka tolong periksa dan mencarinya. hingga ia bisa tertawa. hebat ia menunggu kira setengah jam. Khay Oen Cong menyahuti dengan cepat. ―Baik. ―Aku persen ini kepadamu!‖ katanya sambil tertawa. tolong sebutkan.‖ kata Oen Cong dan Bun Kay dengan cepat.‖ Dengan tiba-tiba wajah si anak muda menjadi keren. ―Pembesar itu sendirinya tak punya guna. nanti piecit siapkan. ―Aku lebih suka tempat yang tenang. Yen Lieh mengambil sepotong perak dari atas nenapam. ―Piecit adalah Khay Oen Cong.‖ berkata Yen Lieh. kalau negara mereka tidak lenyap. aku menyangka dialah sanaknya kaisar.‖ berkata Khay Oen Cong. hatinya terus goncang. Dengan tidak bilang apa-apa lagi. lalu dengan cepat ia seret si jongos pergi. benar-benar tidak pantas!‖ Sek Yok heran.‖ Yen Lieh dongak. ―Sebenarnya tidak ku niat pedulikan mereka.‖Piecit tidak ketahui tayjin tiba disini. Bukankah residen dan camat pun mesti berlutut terhadap tetamunya itu? Tidak ayal lagi dengan dipimpin kuasa hotel. ―Tio Kong ialah Kaisar Leng Cong yang sekarang!‖ sahut Yen Lieh. ―Satu pembesar sampai ketakutan demikian rupa!‖ Yen Lieh tertawa. ―Atau setidaknya dia pembesar berpangkat sangat tinggi….‖ dia berpikir.‖ berkata mereka. ia lemparkan itu ke atas tanah. Kenapa dia sekarang berani terang-terangan menyebut nama kaisar? Irawan D Soedradjat Page 28 . Dengan cara hormat. habis mana. dia berlutut seraya memohon ampun.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok saksikan itu semua.‖ Yen Lieh ulapkan tangannya. ia mengangguk. keduanya lantas saja memberi hormat sambil tekuk lutut. harap tayjin suka memaafkannya.‖ katanya. Cuma tangannya diulapkan.‖ Yen Lieh tertawa. itulah kealpaan kami. kami tidak datang menyambut. ―Di tempat kami ada penjahat yang main gila. ―Ya. yang satu bermuatkan emas berkilau kuning dan yang satunya lagi bersis perak yang berkeredep putih. Tak tahu ia urusan bakal jadi bagaimana hebatnya. Kapan mereka berdua sampai di depan Yen Lieh. tetapi kapan kuasa hotel lihat wajah si tetamu tenang dan ramah. Kamu jangan ganggu aku. Karena ini. ia menoleh ke belakang seraya geraki tangannya. ia tidak menyahuti. ―Dia mengaku sebagai sahabatnya Han Sinsiang. khawatir orang gusar. semua pembesar sipil dan militer hormati dan takuti dia. silahkan Tayin dan hujin singgah di sana.‖ ia berkata. Nyonya Yo Tiat Sim menjadi terperanjat. ia membungkuk sedikit.. atas mana muncul dua orang polisi yang membawa dua menampan-menampan. hatinya pun lega. ia bersangsi. ―Sebenarnya suratmu itu wasiat apa?‖ ia tanya. Jongos saksikan itu semua. ia berlutut dan manggut-manggut. baiklah. ―Piecit telah siapkan tempat beristirahat. ―Tempat di sini lebih meyenangkan. ―Sekarang ini sudilah kiranya Tayjin menerima dahulu ini jumlah yang tidak berarti.‖ ia menyahut. tiehu dari Kee-hin dan Kiang Bun Kay tiekoan dari Siu-sui-koan. ―Aku telah kehilangan uang di dalam kecamatan ini. lekas-lekas ia pungut uang itu. Sampai disitu Pauw Sek Yok menjadi heran. Oen Cong dan Bun Kay mengundurkan diri dengan hormat dan tanpa berisik semua polisi mengikuti mereka. terutama terhadap Kiang Bun Kay si camat.‖ tiehu itu memohon kemudian. Itulah suara beberapa puluh orang polisi. ―Siapa itu Tio Kong?‖ tanyanya. Khay Tiehu lantas angsurkan suratnya pemuda itu. orang-orang sebawahannya Tio Kong semua bangsa kantong nasi. ya.

yang terus berbangkit untuk berdiri dengan tegak. Ia lantas saja mengerutka kening. tapi di luar hotel terdengar tindakan dari beberapa puluh kuda yang terhenti tepat di muka hotel. hampir berbareng mereka menyerukan: ―Ongya!‖ Dan lantas semuanya memberi hormat sambil berlutut. Tentu saja oleh karena ini ia menjadi tidak dapat membuka mulutnya. ia juga ketahui bagimana hebat suaminya itu membenci bangsa Kim itu. sering-sering kaisar Song tidak menepati janjinya.‖ ia menyahut sambil tertawa. Yen Lieh kembali tertawa. ―Semua keluar!‖ kemudian Yen Lieh berkata. ―Semua serdadu itu adalah tentara pilihan dari negara Kim yang besar!‖ Dan dia tertawa pula. nampaknya ia sangat tidak puas. dibawa pulang ke negeri Kim itu. yang menjadi musuh Tionggoan. namaku mesti ditambah satu huruf ―Wan‖ di atasnya. Irawan D Soedradjat Page 29 . Segera terdengar tindakan banyak kaki yang bersepatu kulit memasuki ruang hotel. ― Telah lama aku kagumi keindahan wilayah selatan. ―Ke Utara?‖ dia bertanya.‖ dia menyahuti. ia tidak terlalu heran. ―Apakah mereka bukannya tentara Song?‖ si nyonya membaliki. ―Tidak ada halangannya untuk aku menyebeutkan namanya. putra keenam dari Raja Kim. karenanya pada tahun baru yang baru lalu telah aku mohon Ayahanda raja mengirim aku ke Lim-an sebagai utusan yang datang untuk memberi selamat tahun Baru kepada kaisar Song. Itulah beberapa puluh serdadu denag pakaiannya yang tersulam. Pernah dahulu ia dengar ayahnya bercerita bagaimana bangsa Kim telah menggilas-gilas wilayah Tionggoan. habis kita mesti memanggil apa?‖ Lagi sek Yok terkejut. ―Sebenarnya aku yang rendah ini adalah Wanyen Lieh. dia janji saban tahu mengirim upeti uang dan cita. riang gembira. maka kali ini aku tidak sungkan-sungkan lagi menghadapi Perdana Menteri Han To Cu. Ia hanya heran menyaksikan rombongan serdadu itu.‖ ―Upeti tahunan?‖ Sek Yok heran. bagimana dua kaisar Tionggoan telah ditawan. lenyap senyumnya si nyonya. bahwa rakyat di utara telah diperlakukan dengan kejam oleh bangsa Kim itu. apabila dalam tempo satu bulan upeti tidak dibayar penuh. Peragamannya rapi. Wanyen Lieh lihat air muka orang berubah. ―Bicara terus terang nyonya. ia tercengang. Sek Yok sebaliknya terkejut. dari itu Ayahanda raja menitah aku menagihnya sekalian. ―Kerajaan Song mohon negaraku tidak menyerang dia.‖ sahut putra raja Kim itu. Mereka beda daripada tentera Tionggoan. ―Akhir-akhirnya kamu dapat cari aku!‖ kata Yen Lieh sambil tertawa Sek Yok dengar orang dipanggil ―ong-ya‖ – ―sri paduka‖. Dengan berbareng menyahuti semua serdadu itu mundur teratur.?‖ Maka lekaslekas ia berkata ― Bicara hati-hati! Nama raja mana boleh sembarangan disebut-sebut?‖ Senang Yen Lieh akan mengetahui nyonya ini menyayangi dia. orang dengan siapa siang dan malam ia berada bersama selama beberapa hari. Begitu mereka melihat Yen Lieh. panjang dan puas sekali. Mereka semua bertubuh besar dan kekar. Di samping itu kebetulan kaisar Song belum membayar upeti tahunannya yang berjumlah beberapa puluh laksa tail perak. Kemudian.. ―Sekarang baiklah aku omong terang padamu!‖ katanya. ―Kalau begitu kau jadinya.‖ Mau atau tidak Sek Yok terperanjat. jikalau kita tidak panggil dia Tio Kong. Pangeran Tio Ong adalah aku yang rendah….Pendekar Pemanah Rajawali Kalau hal ini di dengar orang. terus ke muka kamarnya si anak muda. Sekarang diluar tahunya. ―Setibanya kita di utara. aku tandaskan kepadanya. Yen Lieh tertawa. ―Ya. semua menunjuki wajah sangat girang. aku sendiri bakal mengepalai angkatan perang untuk mengambilnya dan dia tak usah capekkan hati lagi mengurusnya!‖ ―Apa katanya Han Sinsiang?‖ Sek Yok tanya. apa ini didengar orang. Ia lantas berkata. kau…‖ katanya Sek Yok dengan suara yang gemetar. Ia baharu mau menyahuti. ―Bagaimana kau lihat semua orangku dibandingkan dengan tentara Song?‖ ia tanya. tetapi dengan alasan penghasilan negaranya tidak mencukupi. apa itu bukan artinya sangat kurang ajar. Yen Lieh mengangguk. tangannya diulapkan. setelah ia menikah dengan Yo Tiat Sim. adalah putranya raja Kim itu.

Penunggang kuda itu adalah seorang yang tubuhnya kate dan terokmok dan romannya jelek. ia dapat bergerak merdeka. walaupun kuli. dia berpaling. ―Nah. ia lantas mendekam di pembaringannya dan menangis sedih sekali.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apa lagi dia bisa bilang? Belum lagi aku meninggalkan Lim-an. maka itu diam-diam ia mengaguminya. yangmuncul mengkeret di atasan pundaknya. Itulah satu muka yang merah seperti ampas arak. apa maksudnya putra raja Kim itu yang ia seorang wanita dari rakyat jelata. Ia lihat penduduk kota ada halus gerak-geriknya. kuda mana terus lompat melewati atas kepalanya dua bocah itu. lehernya pun seperti tidak ada. karena ingin aku menyaksikan kepermaian wilayah selatan ini. ia jadi tertawa sendirinya. Nyonya! Kau jangan takut. kate terokmok angkat lesnya. Wanyen Lieh memuji akan tetapi. ―Menagih upeti ada urusan yang remeh. Itulah perlakuan istimewa. maka dengan itu Wanyen Lieh dapat lihat tegas muka orang. orang bangsawan ini bertindak dengan perlahan-lahan. Di sebelah keanehan si penunggang kuda. di jalan itu muncul dua bocah berlari-lari main kejar-kejaran melintas di depan kuda. Sudah ia pendek tangan dan pendek kaki. aku bertemu dengan Nyonya. yang sangat mencintainya. aneh juga cara kudanya berlari-lari. Hampir di itu waktu. kakinya bergerak. ia akan mohon ayahnya angkat ia menjadi Gouw Ong. baik aku beli denagn harga istimewa. ―Bagus!‖ Si kate terokmok dengar orang memuji dia.‖ pikirnya. ―Aku tetapi datang sendiri. terang itu adalah kuda asal luar tapal batas.‖ Pauw Sek Yok tetap bungkam. dengan hitung besar dan bulat seperti buah prim merah ditempel di muka. uang dan cita sudah diseberangkan sungai. ―Kuda itu jempol. seperti kelit sana dan kelit sini.‖ berkata pula Wanyen Lieh. dan pinggiran jalanan pun ditempati pedagang-pedagang gelar dan pikulan. tubuh si kate turun pula. tak habis kau pakai itu selama seribu tahun. Dengan perasaan puas. bercokol lagi di bebokong kuda seperti tadi. di empat penjuru sini telah berjaga-jaga pasukan pribadiku. Ia lantas menyingkir ke pinggiran. Irawan D Soedradjat Page 30 . Tepat di itu saat. numprah dengan aman! Wanyen Lieh kagum hingga ia menjublak. Itulah seekor kuda kuning yang tinggi dan besar. Wanyen Lieh merasa ia adalah satu ahli penunggang kuda. Menampak kuda itu. kapan ia saksikan penunggangnya.‖ kata Wanyen Lieh kemudian. sesudah itu. pangeran wilayah selatan ini.‖ kata Sek Yok tunduk. matanya memandangi sekitarnya hingga mendadak ia dengar larinya kuda derap. tidak nanti orang jahat yang berani ganggu padamu!‖ Mendengar itu Sek Yok mau menduga bahwa ia telah diancam dengan samar-samar bahwa tak dapat ia melarikan diri apabila ia memikir demikian. Kuda itu tidak pernah menerjang barang atau menyentil orang. ia mirip setumpuk daging belaka. Putra raja Kim itu tertawa ketika ia berkata pula. Sekarang ia insyaf bahwa manusai tidak dapat di lihat dari romannya saja. Alisnya kuncup. diperhatikan demikian macam. ia hanya heran sekali. maka adalah diluar dugaanku. Wanyen Lieh pergi ke kota di bagaian yang ramai. sungguh aku sangat beruntung. Ia lantas memikir untuk nanti. ―Uang pribadi Han Sinsiang sendiri yang dibekali padaku. tegap tubuhnya dan pesat gerakkannya. Lihay luar biasa si cebol itu. nampak beda juga. tetapi sekarang tanpa merasa ia berseru. Jalan besar di situ tidak lebar. ―Tidak usah. dengan bercokol di atas kuda yang tinggi besar. Kuda itu kaget. cukup dengan utus satu menteri. karena hotel itu telah dijaga rapat. kenapa ada orang yang larikan kudanya di situ. orang-orang yang berlalu lintas kebetulan banyak. sekarang hendak aku pergi beli pakaian. tubuhnya pun terangkat dari bebokong kuda. di negaranya sendiri – negera Kim tidak ada penunggang kuda sepandai dia walaupun ia ada punya banyak ahli penunggang kuda. Hahaha!!‖ Sek Yok berdiam. supaya dapat ia tinggal tetap di Kanglam…. kapan ia mengepalai angkatan perang mendatangi wilayah ini. yang kelihatan cuma kepalanya yang gede. jikalau aku pakai itu untuk membeli pakaian. Dengan membekal uang. Kapan ia ingat suaminya. Sebentar saja kuda itu telah tiba. atau melompati pukulan pedagang-pedagang.

Pernah selama di Yankhia. yang aliasnya Thay-pek dan julukannya Cui Sian. yang tak ada lawannya yang lainnya untuk teman arak! Tentang emas ini. Dengan berdiri berdekatan. Memang putra raja Kim ini adalah seorang denagn cita-cita luhur. Si kate tidak lompat naik ke atas kudanya. sayang kalau orang pandai ini tak dapat digunai olehku. mendadak kuda orang itu berhenti berlari. Ia percaya ia dapat melakukan itu hanya tidak sedemikian sempurna. Jadi itu ada ciulauw yang pakai nama Souw Tong Po. ia berberang sudah perhatikan keletakan daerah. akan tetapi di sini. Maka inginWanyen Lieh menyaksikan orang punya sepak terjang lebih jauh. Malah ia lantas lari untuk menyusul penunggang kuda itu. Putra raja Kim itu angkat kepalanya. dan teliti sepak terjangnya. maka matanya lantas melihat sepotong papan merek dengan bunyi empat huruf ―Tay Pek Ie Hong‖. di situ ia letak guci araknya. Tak biasanya kuda larat dapat berhenti secara demikian tiba-tiba. aku minta sudi apakah kiranya samya simpan dahulu. bukankah pasukan kudaku bakal menjagoi di kolong langit ini?‖ dia berpikir. ―Ah. ia pun lantas berdiri di pinggiran. untuk jadi guru. di samping aman ada pula empat huruf kecil bunyinya: ―Tong Po Kie-su‖. Di atas loteng ada lagi sebuah papan merek dengan tiga huruf ―Cui Sian Lauw‖. Kembali ia menjadi heran. mulutnya dibuka untuk perdengarkan ringkikkan. mulutnya dikasih masuk ke dalam guci. Karenanya ia lantas ambil ketetapan untuk undang kate terokmok itu. Dengan mendatangi Kanglam. hingga ia tahu baik sekali tempat-tempat dimana ia dapat pernahkan tentaranya atau dimana dia dapat seberangi sungai. setelah turunkan kedua kakinya ia terus tunduki kepalanya. Riasannya ciulauw pun ada istimewa. si kate tidak cukup tinggi untuk kepalanya menyundul sanggurdi. ia mengenal ilmu tenaga dalam yang lihay. kuda kuning itu angkat naik kaki depannya. ia babat guci sebatas pundaknya guci itu hingga tempat arak itu menjadi terbuka bagaikan jambangan. Nyata itu adalah sepotong emas yang berkilau kuning. ia lemparkan sepotong uang ke atas meja kuasa restoran itu. yang satu sayuran saja. ia kembali ke restoran. untuk sedot arak itu berulang-ulang! Dalam keheranan. Wanyen Lieh segera dapat mencium baunya arak yang melulahkan terbawa angin. biasanya kuda itu mesti berlari-kari perlahan dahulu. Selagi ia khawatir nanti tak dapat menyandak. atau tenaga dalam yang sempurna. ―Yang delapan meja makanan dengan daging.‖ dia negelamun terlebih jauh. Selagi Wanyen Lieh terheran-heran. tidak nanti guci arak dapat ditebas kutung dengan tangan. Han Samya!‖ berkata si kuasa ciulauw sambil tertawa. ia saksikan seekor kuda tunggangan diberikan arak itu! Si kate tinggalkan kudanya minum. Putra raja Kim ini ingin menontoni kelakuan. Dewa Mabuk. tak hendak ia sering-sering meminumnya. Tanpa Iweekang. Dia pun melamun. hanya ia berdiri di depan binatang tunggangannya itu. ―Lekas kamu sajikan sembilan meja barang hidangan kelas satu!‖ kata si kate. sambil kasih dengar bentakan. ayahnya dikirimkan arak serupa oleh utusan kaisar Song dan oleh ayahnya ia dibagi beberapa guci. Tadinya Wanyen Lieh ingin memasuki ciulauw itu atau segera ia tampak si kate sudah keluar pula sambil tangannya membawa satu guci arak yang terus dibawa ke depan kudanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau dia bisa diundang ke kota rajaku. berapa besar faedahnya apabila ia berhasil membeli kuda istimewa itu. Malah ia ingat juga namanamanya setiap pembesar setiap tempat serta kepandaiannya setiap pembesar itu. habis mana dengan sebelah tangannya. Begitu lekas guci telah terbuka. ia telah memasuki sebuah restoran di pinggiran mana kudanya dihentikan secara istimewa itu. atau sebuah restoran. Jadi itu sebuah ciulauw. Mengenai nperhitungannya nanti perlahan-lahan kita mengurusnya…‖ Irawan D Soedradjat Page 31 . untuk berdongak. dengan tidak pecah seluruhnya. Ia kenali arak itu adalah arak Siauwhin yang kesohor.‖ ―Baik. Tingginya tak ada tiga kaki. Berdiri di tanah si kate nampaknya semakin tak mengasih. maka dilain saat sudah terdengar tindakannya yang cepat di undakan tangga loteng.‖ pikir Wanyen Lieh. ―Kebetulan hari ini kami dapat empat ekor ikan saylouw. yang istimewa tinggidan besarnya. ibukotanya. ―Pemerintah di selatan ini justru buruk. yang hurufnya kekar dan bagus. itu penyair yang terkenal. sebaliknya lebar tubuhnya ada tiga kaki penuh. Di depan ia adalah kudanya. arak simpanan tiga atau empat puluh tahun. sedangnya ia berniat mengoaki si kate itu. Ia sangat menyayangi arak jempolan itu. si kate terokmok sudah lompat turun dari kudanya dengan cepat luar biasa.

―Dan di sini orang sangat menghormatinya. Nyata pengayuh itu terbuat dari kuningan. Orang yang menumpang perahu itu satu pria. Sambil hirup araknya perlahan-lahan. Mulanya ia tidak menaruh perhatian. sebagaimana kawannya juga duduk dikursi lainnya. Hap Lu. Di pinggiran perahu berdiri dua baris burung-burung air peranti menangkap ikan. Di jaman Cun Ciu. tanpa layani si cebol itu. ―Menenggak arak tanpa uangnya ? Apakah kau sangka Han Samya kamu ini tukang anglap?‖ Kuasa ciulauw itu tertawa haha-hihi. Keduanya terus mendaki tangga loteng. nampaknya ia mengayuh denagn perlahan. Di situ pun kedapatan banyak pohon lengkak yang daunnya hijau-hijau. sama kesohornya dengan araknya. Itu pun sebabnya di dalam telaga tumbuh banyak pohon lengkak itu. tak ada bandingannya untuk Kanglam. Seorang wanita bertenaga demikian besar inilah aneh: maka aneh juga pengayuhnya itu yang dapat dipakai mengower air demikian kuat. Si wanita berusia tujuh atau delapanbelas tahun. tentu sulit rasanya untuk undang ia menjadi guru…Baiklah. panjang bulu matanya. Setelah perahu kecil itu datang semakin mendekat. ia berpaling ke dalam dan berseru: ―kawankawan. lompat mendarat juga setelah ia samber sepotong kayu pikulan yang kasar. buah lie keluaran sini kesohor manis. Kee-hin adalah sebuah kota negara Wat. Perahu itu kecil tatapi panjang. Dengan begitu ia pun menantikan tetamu-tetamunya si cebol. Wanyen Lieh diam-diam perhatikan dua pendatang baru ini. Telaga Selatan. Lagi beberapa gayuan. Kee-hin dipanggil Cui Lie atau Lie Mabuk. Itulah kulitnya Irawan D Soedradjat Page 32 . kepalanya terangkat naik. Disini dahulu Raja Wat. lalu tertampak suatu cahaya berkilau mengkeredep. matanya si kate terbelalak. hendak aku saksikan orang-orang macam bagaimana yang ia undang berjamu. atau lengkak yang tidak ada ―tanduknya‖ yang rasanya empuk dan manis. sampai sejenak saja perahu itu dapat melewati sebuah perahu kecil yang terpisah jauh darinya. akan tetapi perahu itu lahu melesat.Pendekar Pemanah Rajawali Mendengar itu. Kali ini ia tampak sebuah perahu nelayan yang kecil. ―Si kate ini berpakaian tidak karuan tetapi ia sangat royal.? Ia memikir tetapi tidak dapat jawabannya. Segera ternyata ia adalah seorang wanita. Dia masuki pengayuh ke dalam air. tubuh perahu seperti melompat di atasan air. sedang yang mengayuh yang berbareng menjadi pengemudi. citmoay. Di sini ada sinar matahari yang menyoroti pengayuh itu. ―Shako!‖ memanggil si nona tukang perahu setibanya di atas loteng. kenderaan air itu segera mendekati restoran. Wanyen Liaeh memandangi keindahan telaga. Tenaga mengayuh itu mungkin ada tenaga dari dua ratus kati. Restoran Cui Sian Lauw ini letaknya di pinggir Lam Ouw. Dia pun lantas sambil sebuah meja. aku tunggu dulu. ―Jikalau jumlahnya banyak. Hanya herannya untuk setiap meja ditaruhkan Cuma sepasang sumpit dan satu cawan arak. Lega hati untuk memandang permukaan telaga itu. Si cebol sudah lantas duduk minum arak di sebuah meja. Itu waktu tengah telaga nampak kabut tipis. di muka air ada beberapa buah perahu kecil lagi mundar-mandir. Ia minta satu poci arak serta barang makanan sekedarnya. minumnya ayal-ayalan. Si wanita tampak perahunya dipelatok di samping tangga batu di bawah loteng restiran. habis itu ia lompat ke darat. ia dapatkan beberapa jongos mulai mengatur sembilan buah meja. Wanyen Lieh lihat di tengah perahu ada berduduk satu orang. yang duduk di belakang ada seseoarng yang memakai baju rumput. apabila ia menoleh. Tiba-tiba ia dengar suara beradunya sumpit da cawan-cawan arak. Kouw Cian telah labrak Raja Gouw. lekas sajikan arak dan makanan untuk Han Samya!‖ Seruan itu sudah lantas sapat sambutan berulang-ulang. Kembali Wanyen Lieh memandang ke telaga. kepada si kate terokmok.‖ Karena ini ia hampiri ciulauw itu untuk naik ke loteng dimana ia pilih satu meja di pinggir jendela. untuk apa meja sembilan ini?‖ ia menerka-nerka. ―Kalau yang datang cuma sembilan orang. kulitnya putih bagaikan salju. ―Apa?!‖ serunya aneh. Wanyen Lieh menjadi heran sekali.‖ pikirnya. Mungkinkah ia ada okpa di kota Kee-hin ini? Kalau benar. kamu datang siang-siang?‖ kata si cebol. yang laju pesat sekali. Di jaman dahulu. ―Sietee. tengah remajanya. mengapa Cuma disediakan sembilan cawan saja? Apa mungkin ini ada adat kebiasaan di selatan ini…. Telaga itu pun ada mengeluarkan hasil yang kesohor yaitu bu-kak-leng. Dia beramta besar.

yang jalan di depan berdedakan tinggi dan kekar. Wanyen Lieh segera melongok ke bawah loteng. kenapa kedua orang ini yang mirip orang-orang kalangan rendah. Maka teranglah ia seorang buta. kenapa kamu tidak dengar-dengar dulu namanya Han Samya? Bagus. satu antaranya mengatakan: ―Kuda Han Samya lihay melebihkan manusia. sama denagn kampak biasa. Pengurus dari Cui Sian lauw tertawa. Mereka ini ambil masing-masing sebuah meja. Sendirinya Wanyen Lieh terperanjat. Di pinggangnya orang itupun ada terselip sebuah kampak pendek. liokko. kata dia pada dua orang yang bercelaka itu: ―Kamu bangsat-bangsat luar kota. suaranya parau. Wanyen Lieh menjadi bertambah-tambah heran. ―Tiga orang yang pertama adalah orang-orang yang mungkin berkepandaian tinggi. hingga ia mirip seorang pedagang kecil. tubuhnya terlibat semacam kain. Karena beratnya itu. Si pedagang kecil lantas saja tertawa. Meja itu menggeser sedikit. dia toh menggairahkan dengan sifatnya sendiri. tertampak pula dadanya berbulu gompiok. sungguh mereka sudah bosan hidup!‖ ―Rupanya mereka hendak mencuri kuda lalu kena kuda jentil‖ pikir Wanyen Lieh. sepatu rumput. makan sendiri hasilnya!‖ dia bilang. yang ujungnya dibanduli seekor macan tutul. Kedua pencuri kuda itu mencoba merayap bangun. yang warnanya hitam mengkilap. ialah pesawat timbangan. ―Itu namanya berbuat sendiri. bentrok sama meja itu. tampak dua orang tengah mengoser sambil merintih. kepalanya ditutup kopiah kecil. selagi bercacat di bawah. yang sudah sedikit gompal. ―Bagus. Di tikungan jalan besar terlihat munculnya satu orang pengkor yang pakaiannya rombeng dan tangan kirinya memegang sepotong tongkat besi dengan apa dia saban-saban memukul batu-batu yang menggelari jalan besar itu. ―Shako. sedang sepatunya ada cauw-ee.! Sedang seorang yang lain bilang. dia pun bercacat di atas. Dari dua orang ini. Ia mendatangi dengan tindakan dangklak-dingkluk. malah ia dapat membinasakan seekor harimau…‖ pikirnya. ngoko. Ketika dia sanderkan pikulannya di samping meja. baju dan celananya berbahan kain kasar. dibahasakan saudara?‖ Tengah si putra raja Kim berpikir demikian. kembali ada orang hendak curi kuda twie-hong-ma‘mu!‖ katanya. kulit mukanya putih. Karena ia menggulung tangan bajunya tinggi-tinggi. ―Mereka datang ke Kee-hin untuk mencuri. dua jentilan kakinya cukup untuk dua pencuri ini. Orang yang berjalan di belakangnya berpotongan sedang. serta sebuah keranjang bambu. Si cebol tertawa. Segare suara mereka itu bercampuran sama satu suara baru.mulut mereka masih berkoak-koak beraduh-aduh. Baharu dua orang itu duduk.. ―Walaupun dia tidak dapat melawan kecantikannya Pauw-sieku. Melihat potongannya. rupanya peranti menjaga pikulan tidak merosot terlepas. Ia bertangan kasar dan kaki gede. dipundak kanannya ia ada menggendol semacam senjata peranti memburu. Sudah begitu. Si pengkor merangkap buta ini rupanya telah dengar pembicaraan orang banyak itu. Ia mencekal pengayuh kuningannya dengan tangan kanan dan menenteng baju rumputnya dengan tangan kiri. ini namanya benturkan kepala dato…! Hayo lekas naik ke loteng untuk minta ampun!‖ Di bawah loteng itu ada lagi orang-orang yang berbicara. hingga ia awasi pikulan itu. di tangga loteng sudah terdengar lagi tindakan kaki berisik dua orang lagi. pasti pikulan itu bukan terbuat dari besi entah dari bahan apa. romannya jujur polos. hingga ia mesti gunai tongkat besinya untuk mencari jalanan untuk sekalian menunjang diri. Cuma ditangannya kurang sebatang golok lancip.‖ berpikir putra raja Kim itu. kedua ujungnya muncul sedikit. di bawah loteng terdengar ringkikan kuda yang disusul sama jeritan kesakitan hebat dari dua orang. kamu datang berbareng!‖ menyambut si nona nelayan. Irawan D Soedradjat Page 33 . Sungguh celaka. ialah tingtong-tingtong seperti besi mengadu dengan batu hinga orang pada memandang ke jurusan dari mana suara itu datang. Sekarang ia lirik si pria yang membawa-bawa kayu pikulan. Dia pun mempunyai rambut yang hitam mengkilap. tangannya mencekal dacin. mirip orang desa tulen. pun terlihat lengannya berbulu hitam seperti dadanya itu. ―Heran!‖ kata Wanyen Lieh dalam hati kecilnya. karena bajunya tidak dikancing. terdengarlah suara beberapa kali. ―Bagian anggotanya yang mana yang kena didupak kuda?‖ dia tanya. pinggangnya dilibat tali rumput. yang dari romannya dari kepala sampai di kaki. tubuh itu meminyak. usianya kurang lebih tiga puluh tahun. ia mirip satu pembantai atau penyembelih hewan. ―Belum pernah aku dengar orang picak lagi pengkor pandai berburu binatang hutan.Pendekar Pemanah Rajawali orang Kanglam sejati.

―Toaya binatang itu dupak dadaku…‖ katanya. berdiri di samping kursi. ―Apakah jietee masih belum sampai?‖ ―Jieko sudah tiba di Kee-hin. Kalau tadi ini pencuri sakit kakinya sampai tak dapat digeraki. Ketika itu semua orang yang telah datang terlebih dahulu.‖ sahut salah satu pencuri kuda itu. ―Sungguh hari ini aku sangat beruntung!‖ kata Wanyen Lieh dalam hatinya. dia menjadi pentang mulutnya lebar-lebar. sekarang denagn tiba-tiba sakitnya itu lenyap. ―Hei pengemis bangsat. lantas ia muntah beberapa kali. Tuan orang pandai. ―Hm!‖ si buta pendengarkan suaranya. Hampir berbareng denagn itu. ―Jongos. pencuri itu bertindak denagn susah payah mendekati si buta dan pengkor itu. terus mendaki tangga loteng. dengan suara susah. Wanyen Lieh sendiri menjadi sangat terkejut. maka tangannya yang telah diangkat tinggi segera dikasih turun pula. hingga dia ini berteriak kesakitan. ia gotong pergi macan tutul itu. Tiba-tiba ia merasa enak perutnya. lalu lantas ia memberi hormat samil menjura.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tekukan dengkul kiri. ia tepuk-tepuk kursi itu seraya berkata: ―Toako. ―Toako!‖ mereka berseru. ia hanya bertindak memasuki restoran itu. di mana ia duduk di kursi yang ditepuk-tepuk oleh si nona nelayan. aku mohon diberi maaf. berbareng dengan mana dengan tiba-tiba ia totok pinggangnya si pencuri. dengan tangan kirinya ia usapi dadanya pencuri itu. Karena kesakitan. ―Diluar dugaanku. lalu mendadak ia kitik ketiak orang.‖ katanya.‖ Segera ia berpaling kepada kawannya dan berkata: ―Saudara mari lekas. Irawan D Soedradjat Page 34 . mana dia berkelit tetapi sudah kasep. ―Terima kasih. ia mencoba menahan karena mana ia jadi tertawa cekikikan. Menyaksikan perbuatan si nona. Tapi si buta menunjuk kepada Wanyen Lieh seraya ia berkata pada si jongos: ―Kau mesti potongi dagingnya barang dua kati. mengeluarkan ludah lender. mengertilah Wanyen Lieh bahwa si buta benar-benar tak dapat melihat. si buta lemparkan macan tutulnya ke lantai. Si buta pindahkan tongkatnya ke tangan kanan. sungguh…. Lalu si nelayan wanita bertindak ke meja nomor satu di sebelah timur.‖ Si buta tidak menggubris pencuri itu. cepat kau urus macan ini!‖ ia perintahkan. untuk kekasaranku barusan. kau suguhkan itu tuan untuk dia mencicipi rasanya…‖ ―Ya…ya…‖ sahut si jongos itu. ―Aku bodoh. Rupanya ia membutuhkan suara apa-apa untuk ketahui ke mana ia mesti pergi. ―Kenapa ia dapat melihat aku? Apakah dia bukan buta benarbenar?‖ dia berakta di dalam hatinya. lalu bersama dua kawannya. aku dapat menemui orang-orang berilmu…‖ Sampai di atas loteng. si buta bertindak ke mejanya. di sini kursimu!‖ ―Baik!‖ menyahuti si buta itu. Pencuri itu kegelian. yang tengah duduk lantas bangkit bangun. kau mohon toaya ini tolong obati padamu…‖ Dengan meringis-ringis. sekarang sudah waktunya ia sampai disini‖ sahut orang yang potongannya seperti pembantai itu. Sembari berbicara. ―Tulang-tulangnya kau godok menjadi kuwah yang kental! Hati-hati supaya kulitnya tidak sampai kena terpotong rusak!‖ Satu jongos menyahuti. mulutnya pun mengecoh: ―Oh yaya yang sakti. lenyap rasa sakit di dadanya itu. maka setelah datang dekat si buta ia jadi berdiri menjublak. Maka lekas-lekas ia jatuhkan diri untuk berkutut untuk manggut-manggut hingga jidatnya berbunyi mengenai batu. tapi ia pandai berpikir. kau juga hendak main gila sama aku!‖ Dan ia memburu sambil ulur tangannya untuk meninju.

‖ Si mahasiswa melarat itu pun tertawa. Dia benar-benar yang dimaksudkan si jietee atau jieko. habis itu menyusul munculnnya satu kepala orang yang digoyang-goyang. bukankah?‖ Mahasiswa itu mengipasi uang di depannya dengan tak hentinya. ialah kepalanya satu mahasiswa melarat. ―Dan kau bawa dulu kepada kuasamu. lepaskan dia…. sebab berbareng dengan itu. Mengadu Kepandaian Sembari bernyanyi si mahasiswa melarat ini meragoh sakunya. guna hanturkan terima kasihnya. yang ia letaki di atas meja. dari mulutnya keluar suara yang bersenandung: ―Uang tidak halal…. lalu ia mengangguk-angguk. akan tetapi sembari tertawa. kipas itu dikipaskan beberapa kali. ―Kembali mengenai negeri Kim. maka kamu dahar dan minumlah dengan puas!‖ Si mahasiswa menoleh kepada Wanyen Lieh. dari itu masih lebih dua meja yang masih kosong. ―Dia cuma tepuk pundakku dengan kipasnya. maka dengan itu lantas ia serukan kepada sudara-saudaranya. ia berpura-pura tidak mendengar pertanyaan itu. sekarang baharu datang tujuh orang. ―Citmoay. setelah mana ia menegur semua orang yang telah hadir di situ. Siapa lagi dua tetamu itu? Bukankah tujuh orang yang bakal jadi tuan rumah? Irawan D Soedradjat Page 35 . untuk dititipkan!‖ katanya pula. maka ia lantas berbalik dan memandang. guna hampiri si buta. cara bagaimana ia masih mengenali aku?‖ dia tanya dirinya sendiri. bibirnya tersungging senyum. tidak peduli orang berbisik. mirip sekali. Tindakan itu ada seperti separuh diseret. dan jarak mereka jauh pula. bentrok dengan mereka tiada untungnya.. Yang pertama muncul di mulut tangga loteng adalah sehelai kipas kertas minyak yang gagangnya dekil. ―Sungguh kepandaian yang lihay……. Hanya tepat ia hendak bertindak. Walaupun demikian hatinya tetapi berkerja. ia lantas berpaling ke lain jurusan.Thian yang maha kuasa…umbar adatnya!‖ Bab 4. ―Baiklah aku lihat gelagat dulu…‖ Maka ia berdiam terus. jeriji-jeriji tangannya tentu ada menjepit potongan-potongan uang perak sampai jumlahnya semua belasan potong. akan tetapi ia mencoba sebisa-bisanya untuk mengatasi dirinya. ―Aku menyamar sebagai orang Han. si mahasiswa itu mengawasi ke arahnya. ―Oh. hari ini kau beruntung!‖ serunya. ―Uang orang bangsa asing ada sedikit berbau tetapi uang itu masih dapat digunai!‖ katanya. Mendengar itu semua kawannya itu tertawa terbahak-bahak. ia heran tidak kepalang. Ia pun segera berbangkit dari kursinya.. mukanya bertekukan menggoda. dan Wanyen Lieh segera kenali orang yang tadi ia ketemui di waktu lenyap uangnya. Ia menjadi heran pula. ―Tidak tahu siapa yang apes malang…. Di situ ada sembilan buah meja.‖ Wanyen Lieh berpikir. mengapa ia bisa curi uangku?‖ demikian ia berpikir tak habis herannya. Si buta tidak awas matanya akan tetapi kupingnya jeli luar biasa. ―Semua mereka lihay. Lantas dia gapekan pelayan untuk bisiki padanya: ―Semua tuan-tuan ini akulah yang undang berjamu…‖ Dia pun lantas keluarkan dua potong emas. lalu menggoyang-goyang pula kepalanya.Pendekar Pemanah Rajawali Segera putra raja Kim itu ambil keputusannya untuk ikat perkenalan dan persahabatan dengan orang-orang kangkouw yang aneh ini. Wanyen Lieh heran bukan kepalang. aku ada punya semacam tabiat buruk yang kau telah ketahui!‖ katanya. ia bertanya pula: ―Mana si wanita baik-baik yang kau perdayakan?‖ Wanyen Lieh sudah putuskan untuk tidak menimbulkan kerewelan. Justru begitu.‖ Si nona nelayan tertawa bergelak melihat uang sebanyak itu. Si mahasiswa sudah lantas tenggak araknya. matanya menyapu. Hatinya lantas menjadi panas. ia dapat mendengarnya. ―Jiko. ―Mungkin dia inilah yang curi uangku…‖ ia menerka-nerka. untuk daging yang dibagikan kepadanya – yang mana ada alasan bagus sekali untuk berkenalan – tiba-tiba ia dengar tindakan kaki yang bersepatu kulit di undakan tangga loteng. ―Saudarasaudara ada orang yang mentraktir kita. saudara yang kedua. dan setiap kali ia menarik keluar tangannya. berulang-ulang. aku tahu!‖ sahut si nona. Meluap hawa amarahnya Wanyen Lieh akan melihat uang perak itu yang ia kenali adalah kepunyaannya yang hilang lenyap itu. baharu berhentilah ia merogoh sakunya.

tetapi yang tindakannya cepat pesat seperti ia tidak menginjak lantai. adalah Wanyen Lieh menghendaki menawan terlebih dulu pembunuhnya Ong To Kian. Budi yang besar ini. Tentang orang itu. dia memang sangat aguli kepandaiannya. lekas cegah dia. baharu arak saja yang dikeluarkan. siauwceng merasa bahwa siauwceng bukanlah tandingannya. tanpa sebab tanpa alasan. Ciauw Bok Taysu tiba!‖ seru si buta yang terus berbangkit.‖ Pendeta itu ialah Ciauw Bok Taysu. Utusan Song yang datang dari Yankhia menemani dia sepanjangn jalan. yang baharu suaranya terdengar. Yang pertama ia ingin singkirkan adalah Sien Kee Ci. perbuatan mana diikuti oleh enam kawannya: Dengan sikap menghormati mereka berdiri untuk menyambut orang yang baharu tiba itu. yang berkerebong jubah kasee merah dengan lapis dalamnya jubah kuning. dia khawatir sekali rahasianya nanti bocor. tidak dapat ia mengandal saja kepada pihak Song. guna mengompes dia.Pendekar Pemanah Rajawali Sampai itu waktu. dia berkata: ― Orang itu telah datang menyatroni. kita bersaudara pasti tak mau sudah saja…‖ Belum lagi habis suaranya si buta ini. dan sekarang itu disusul sama munculnya satu tubuh kurus kering bagaikan pohon mampus. Wanyen Lieh segera melihat munculnya satu tojin. Dan untuk kagetnya putra raja Kim ini. Kalau Han To Cu anggap paling baik mengirim orang untuk membunuh menteri itu. ingin ia merubuhkan menteri atau panglima yang paling keras kepala hendak melawan negara Kim. sedang rakyat umumnya mengandal padanya.‖ berkata si buta. Ciauw Bok Taysu. maka itu dia sudah lantas berhubungan sama menterinya kerajaan Song untuk dijadikan si menteri serta konco-konconya sebagai alat untuk menyambut dari dalam bila sudah waktunya ia turun tangan. Han To Cu juga kaget dan ketakutan karenanya. Bagaikan orang yang matanya kabur. kalau mendapat tahu siapa yang menitahkan dia melakukan pembunuhan yang hebat itu. ia kenali si imam adalah Tiang Cun Chu Khu Cie Kee atau Tiang Cun Cinjin! Wanyen Lieh ini mendapat tugas dari ayahnya menjadi utusan bangsa Kim ke Tionggoan. kepalanya hilang berikut hati dan jantungnya. ―Harap kau tidak sungkan. yang mana dibawa naik ke loteng sambil imam itu berlompat. Hanya kemudian ia menjadi sangat kaget akan mendapatkan Ong To Kian mati terbunuh secara gelap. kepada kerajaan Song. disusul mana patahnya sehelai papan undakan tangga. Tak tahu ia apa faedahnya puntung kayu itu. nyata terdengar hingga ke atas loteng. akan kemudian disusul sama mengerekeknya dua helai papan undakan lainnya. Dia pun bercita-cita besar sekali. Dengan perbuatannya itu. untuk menjaga diri turun tangan terlebih dahulu. taysu. seperti ada sesuatu yang mendaki. Sebenarnya menteri ini tidak berkuasa atas pemerintahan. maka itu siauwceng bersyukur yang liat-wie telah sudi membantu. Girang sekali ini putra raja Kim menampak ikhtiarnya telah berjalan baik sekali. Oleh karena ini. karena keserakahannya sudah terima sogokan besar dan berjanji suka bekerja sama. tak dapat siauwceng membalasnya. yang ujungnya telah hitam bekas terbakar. Si hweshio menjura. Ia menyebutkan dirinya ―siauwceng‖ si pendeta yang kecil rendah. Tengah putra raja ini berpikir. barang hidangan masih belum disajikan. satu imam yang tangannya menyangga sebuah jambangan perunggu yang besar sekali. Wanyen Lieh tahu. dia sangat mengharap dapat membangun pula kerjaan Song hingga menjadi jaya seperti semula. meskipun dia tidak musuhkan kau. ia hanya pandai silat dan surat berbareng dan kesetiaannya terhadap negara adalah luar biasa. ―Nah. habis itu si mahasiswa melarat pun pimpin tetamunya ke sebuah meja yang kosong untuk silahkan ia duduk. hingga dengan begitu – rupanya – tak usah dia bertindak lagi di undakan tangga. dia mencari gara-gara terhadap taysu. ―Kami tujuh bersaudara pun berterima kasih kepadamu yang biasa melimpahkan kebaikan terhadap kami. Wanyen Lieh melihat satu pendeta usia empat puluh lebih. ia dengar datangnya suara memuji dari bawah loteng: ―Amitabha Buddha!‖ Suara itu sangat jernih dan tedas. Ong To Kian. Pendeta itu dan tujuh saudara tersebut saling memberi hormat dan saling menegur. maka tujuh orang itu Cuma tenggak air kata-kata. merendahkan diri. Menyusul itu pun lantas terdengar suara kaget dari kuasa ciulauw serta jongosnya: ―Benda begitu berat mana dapat dibawa naik ke atas…! Eh. Dan menteri yang bekerjasama dengan Wanyen Lieh adalah Perdana Menteri Han To Cu. jangan kasih dia naik!‖ Suara berat itu tapinya terdengar terus. sedang tangannya memegang sepotong kayu. dari itu ia Irawan D Soedradjat Page 36 . di tangga loteng telah terdengar suara yang sangat berat dan nyaring. mungkin itu bukan suara gajah tetapi sedikitnya kerbau…. ―Ambithaba Buddha!‖ kembali terdengar pujian. Kepala dari Cip-eng-thian dan pengurus Ciong-yu-koan. mana dia pandang mata lagi kaum Rimba Persilatan di Kanglam ini? Karena kejumawaannya itu. walaupun tubuhku hancur lebur. utusannya ini telah rela akan menakluk dan menjadi hambanya kerajaan Kim. lantai loteng nanti kena bikin dobol…! Lekas.

―Sekarang mari siauwceng perkenalkan dahulu kau dengan Kanglam Cit Koay!‖ Khu Cie Kee menjura membungkuk tubuh. Setelah sembuh dari lukanya.‖ Ciauw Bok Taysu tidak menjawab si imam. Dengan lantas pinto meikir-mikir. buktinya benarlah dugaan pinto itu. sampai ia tak dapat menguasai dirinya lagi. imam ini seperti tidak menggunai tenaga. ialah yang termuda dari Kanglam Cit Koay. Pauw-sie tidak tahu akal muslihat orang. suatu bukti dari beratnya jambangan itu. selama mana. dia sudah lantas jatuh terguling. ini Ciauw Bok Taysu juga adalah satu sahabat Irawan D Soedradjat Page 37 . ia lantas tak dapat melupai Pauw-sie. Syukur untuknya Khu Cie Kee tidak kenali padanya. gelarannya Lauw-sie In Hiap atau Pendekar Sembunyi di Kota. sedang ia sendiri menyamar sebagi orang baik-baik sebagai penolong nyonya yang ia gilai itu. bukan main kagetnya ia akan tengok Khu Cie Kee. Katanya: ―Kami menonton‖ Habis perkenalan itu. baik ilmu silat tangan kosong maupun bersenjatakan pedang. mungkin taysu mengundang sahabat-sahabat. dia-diam mendaki loteng untuk bicara. namanya Coan Kim Hoat. ―Barusan pinto berkunjung ke kuil taysu. ialah Lam San Ciauwcu Lam Hie Jin atau si Tukang Kayu dari Lam San (Gunung Selatan). meskipun sebagai putra raja. Rombongan ini dapat menyandak Khu Cie Kee di Gu-kee-cun. sungguh pinto merasa sangat beruntung! Nayatalah pengharapanku seumur hidup telah kesampaian. Wanyen Lieh sendiri belum sampai turun tangan atau pundaknya telah terkena panah. jongos-jongos dan koki-koki. ke jalan besar. yang sekarang diisikan penuh dengan arak. maka di luar tahunya sendiri. ia minta Han To Cu mengirim orang untuk menawan Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian.‖ ia berkata . tak terkecuali si kuasa restoran. hanya apa lacur mereka menghadapi musuh yang terlalu tangguh untuk mereka. Khu Cie Kee tetap pegangi tempat araknya yang istimewa itu. untuk sembunyikan diri sambil berobat. Mahasiswa Tangan Lihay. Selama Ciauw Bok Taysu memperkenalkan. hampir ia tak dapat lolos seperti orangorangnya. selama ia menyebutkan setiap nama Khu Cie Kee menjura kepada orang-orang yang diperkenalkan itu. pikirnya orang itu telah tidak kenali dia. tentu lantai loteng perdengarkan suara meletek nyaring. imam itu lagi menghadapi Ciauw Bok Taysu serta tujuh orang luar biasa itu. Sudah lama pinto dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay. tidak ada tandingannya. Yang kelima yang tubuhnya kekar tegap mirip sebagai pembantai adalah Siauw Mie To Thio A Seng atau si Buddha Tertawa. yang beratnya tiga atau empat ratus kati. ia menyangka pemuda itu bermaksud baik. adalah Ma Ong Sin Han Po Kie atau si Malaikat Raja Kuda. sebab tempo ia diserang dengan panah. sesudah itu. Sementara itu. hingga kami sangat mengaguminya. ―Benar-benar toheng telah dapat mencari siauwceng hingga ke mari!‖ terdengar suaranya Ciauw Bok Taysu keras tetapi dingin. Hanya dilain pihak. melainkan di tangan si imam. sama sekali ia ia tak nampak lelah. tanpa merasa ia membuatnya terlepas dan jatuh sepasang sumpit yang ia lagi pegang. Selain Kwa Tin Ok yang berjuluk Hui Thian Pian-hok. Demikian Wanyen Lieh. ia kerjakan otaknya akan mengingat baik-baik nama Kanglam Cit Koay itu. Lega juga hatinya Wanyen Lieh apabila selang sekian lama ia dapatkan itu imam tidak perhatikan padanya. yang ia anggap cantik dan manis. Akan tetapi. ―Sudah lama kami mendengar Totiang lihay ilmu silatnya. nampaknya enteng sekali. Wanyen Lieh memasang kuping dan matanya. yaitu Hui Thian Pian-hok Kwa Tin Ok. yang kedua ialah si mahasiswa melarat yang mencuri atau mencopet uangnya adalah Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong. Semua mereka itu khawatir loteng ambruk dan mereka nanti ketimpa. dia telah jatuh ke dalam genggaman putra raja Kim itu. suka ia mengikuti. setiap kali si imam bertindak. syukur ia ditolong oleh Pauw Sek Yok. Dan ini ialah….Pendekar Pemanah Rajawali tugaskan enam atau tujuh pengawal pribadinya dari Lim-an. orang ribut ketakutan dan pada lari keluar. Kwa Tin Ok mendahulukan bertujuh saudaranya untuk berbicara. Si orang tani yang membawa-bawa pikulan adalah orang yang keempat. sekarang kita dapat bertemu. sedang beberapa orang yang melihat tak terjadi kecelakaan sesuatu. dan sekarang. Orang yang datang paling dulu ke restoran yaitu si kate terokmok yang menunggang kuda jempolan. Itu bukan jambangan biasa hanya tempat pembakaran kertas emas dalam kuil. ―Disana ada pesan untukku. Ia lari ke istananya Han To Cu. katanya taysu undang pinto datang ke Cui Sian Lauw ini untuk membuat pertemuan. Si nona nelayan adalah Wat Lie Kiam Han Siauw Eng.‖ Lalu dengan terus-terusan ia perkenalkan enam orang lainnya. si Kelelawar Terbangkan Langit. Dia inilah yang tiga. ia tidak perhatikan putra raja itu. ia terkejut bukan main apabila ia sudah kenali jambangan perunggu yang dibawa-bawa si imam itu. ia telah melihat banyak wanita elok. Yang keenam adalah orang yang mirip pedagang. ia memperkenalkan: ― Ini dia Totiang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee yang tuan-tuang telah lama kagumi nama besarnya!‖ Kemudian tanpa tunggu sesuatu dari Kanglam Cit Koay itu seraya menunjuki si buta melanjuti: ―Inilah tertua dari Cit Koay. hingga beratnya bertambah. hanya berpaling kepada tujuh kawannya yang ia sebutkan Kanglam Cit Koay itu – Tujuh Manusia aneh dari kanglam – dan menunjuk kepada si imam. Sementara itu. Selagi orang diajar kenal. ia belum terlihat nyata. ia perintahkan orang untuk selidiki tentang Pauw-sie itu. sedang dibawah loteng. atau si Ahli Pedang Gadis Wat.

dalam hal apakah Taysu telah berbuat salah terhadap Totiang? Umpama kata Totiang sudi memandang muda kami bertujuh saudara. mestinya kau telah keliru dengar omongannya segala manusia rendah! Itu ngaco belo.‖ ―Siapakah orang yang harus diserahkan?‖ tanya Kwa Tin OK. ―Mustahilkah dia bukannya menyebutkan istri-istrinya Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian atau wanita yang lain?‖ berpikir putra raja asing ini. percaya ia sanggup menanggapi jambangan itu.‖ katanya sambil tangannya mengipas-ngipas dan kepalanya di geleng-geleng. ingin sekali kami menjadi juru pendamai. asal kami ketahui perkaranya itu. Khu Cie Kee menjadi gusar. Mukanya Ciauw Bok taysu menjadi kuning pucat. ―Kanglam Cit Koay bukan bernama kosong saja!‖ ia memuji sambil tertawa. Semua orang menjadi kaget. Di antara Kanglam Cit Koay adalah Tio A Seng yang tenaganya paling besar. ―Dua sahabatku. Khu Cie Kee ulur tangan kanannya. satu Hud-kauw yang lain Tokauw. tidak beruntung untuk mereka. Sudikah kau Totiang?‖ ―Sebenarnya pinto dengan Ciauw Bok Taysu tidak kenal satu dengan lain dan kita juga tidak punya dendaman dan tidak punya permusuhan. ―Sekarang ini pinto menghendaki Ciauw Bok taysu menyerahkan itu dua orang wanita yang bersengsara dan harus dikasihani itu!‖ Mendengar itu bukan hanya Kanglam Cit Koay yang heran melainkan juga Wanyen Lieh si putra raja Kim itu. ―Mereka telah difitnah dan dicelakai oleh pembesar negeri yang bekerjasama dengan tentera bangsa Kim. ―Cara bagaimana dia dapat melakukan perbuatan sekeji itu? Totiang. bagaimana kau berani melakukan kejahatan semacam ini?‖ ia menegur dengan bengis. mereka telah mendapatkan kebinasaannya hingga mereka mesti meninggalkan janda mereka yang tidak ada lagi sanderannya. ―Pinto menyaksikan itu dengan mataku sendiri. maka walaupun totiang berdua ada dari dua golongan yang berbedaan.‖ sahut si buta. ―Walaupun mereka adalah orangorang yang tidak dikenal. mereka yang tadinya datang menonton dengan diam-diam pada lari mundur hingga mereka saling tabrak dan terguling jatuh ke tangga loteng. kami tidak tahu. tak dapat ia membuka mulut. Itulah gerakan ―Twie chong bong goat‖ – ―Menolak daun jendela untuk memandangi si putri malam‖. hingga tempat pembakaran kertas perunggu itu yang beratnya ratusan kati terbang menyambar ke kepalanya si pendeta.‖ ―Jelas!‖ seru si imam. pasti tak dapat dipercaya!‖ Khu Cie Kee menjadi mendongkol. supaya perselisihan dapat disingkirkan. ―Kau juga orang Rimba Persilatan yang kenamaan.‖ sahut Tiang Cun Cu. segera wajahnya menjadi bermuram pula. sedang lantai loteng tak demikian kuat. untuk kita minum arak bersama. ia lantas lompat ke depannya Ciauw Bok Taysu. Kwa Tayhiap. untuk ayun balik jambangan itu ke arah Tiang Cun Cu. hingga orang-orang di bawah loteng menjadi kaget dan semuanya menjerit.Pendekar Pemanah Rajawali sejati. bagaimana bisa jadi dusta?!‖ dia berkata. Di dalam saat yang berbahaya itu karena kakinya bisa kejeblos terus. pendeta jahanam. Untuk itu kami tak bakal menampik lagi. akan aku patah-patahkan hingga menjadi abu semua tulang-tulangmu dan akan bakar musnah hingga menjadi tanah putih kau punya kuil Hoat Hoa Sian Sien itu!‖ Cu Cong tidak lantas dapat mempercayai kata-kata imam itu. menerangkan. maka dengan menerbitkan suara kaki kirinya melesak mendam. ―Kau…kau…ngaco belo!‖ serunya kemudian. Lantas ia ayun tangan kanannya. Lihat. untuk mendahului jambangan itu yang terus ia sambuti dengan kedua tangannya sambil berbuat mana ia berseru: ―Bagus!‖ Akan tetapi dia mesti pasang kudakuda teguh sekali. pantas atau tidak permintaan pinto ini?‖ ―Jangan kata mereka adalah jandanya sahabat-sahabat totiang. lekas-lekas Thio A Seng kerahkan tenaganya. jikalau kau ganggu selembar saja rambut mereka itu. Kembali ia pandang si pendeta dan membentak dengan pertanyaan: ―Bagaimana denagn dua wanita yang bercelaka itu? Hai. ―Oleh karena itu asal Taysu sudi menyerahkan dua orang kepada pinto.‖ menyahut Khu Cie Kee. tetap kedua-duanya adalah orang-orang Rimba Persilatan. Ia tapinya tertawa sebentar. pasti kami akan bekerja sekuat tenaga untuk menolongi mereka. Irawan D Soedradjat Page 38 . pastilah lain hari akan pinto pergi berkunjung ke Hoat Sian Sie untuk menghanturkan maaf. dengan tenang ia menyambuti. ―Ciauw Bok Taysu adalah satu pendeta beribadat. Oleh karena itu. hingga mereka mesti hidup sengsara sebatang kara.

kau memikir menggunai jumlah yang banyak untuk mendapatkan kemenangan! Tidak. hari ini tidak nanti aku beri kau lolos!‖ ―Sabar Totiang!‖ Kwa Tin Ok memotong. ―Taruh kata benar kau sengaja datang ke Kanglam ini buat untuk angkat namamu. siapa yang salah! Mataku menang tidak dapat melihat akan tetapi orangorang di sini tidak buta semuanya― Cu Cong berenam memberikan persetujuan mereka.Pendekar Pemanah Rajawali Kanglam Cit Koay melengak semuanya. ―Kanglam Cit Koay pasti membantu pihak si pendeta. untuk melihat sendiri guna buktikan siapa sebenarnya yang benar. dengan niatan menarik si pengikut Buddha itu. ―Tuan-tuan bertujuh hendak campur tangan urusan ini. ―Seorang laki-laki sejati kangouw. Khu Cie Kee melengak. melakukan perbuatan semacam itu?!‖ Cie Kee tertawa mengejek. Dengan sikapnya yang wajar. itulah sudah pasti!‖ dia berkata. ―Perkaraku dengan si pendeta. mari pergi!‖ Ia pun ulur sebelah tangannya. ―Kenapa untuk itu kau mesti menodai nama baikku? Kau…kau…kau pergilah ke seluruh kota Kee-hin untuk menyelidiki! Mana bisa aku. Mari kita bersama pergi ke Hoat Hoa Sian Sie. ―Pinto cari pendeta ini. ―Maafkan pinto. jikalau mereka bukannya menghilang tentunya mereka sudah menyingkir dengan ilmu pinjam tanah!‖ Mendengar ini mau tidak mau. mana ia dapat bicara dusta?!‖ Cie Kee nampaknya habis sabarnya. buktinya mereka tidak kedapatan. ―Pinto sudah menggeledahnya di luar dan di dalam. pendeta. Irawan D Soedradjat Page 39 . tetapi walaupun pinto melihatnya dengan mataku sendiri kedua nyonya itu masuk ke situ.‘ Kamu tidak berani menghina orang lain tetapi kami juga tak dapat mengijinkan orang lain perhina kami!‖ Khu Cie Kee tidak ingin layani tujuh orang aneh dari Kanglam itu. telah pastikah itu?‖ ―Tidak salah!‖ sahut Cit Koay serempak. ―Bagus! Kamu permainkan aku!‖ dia berseru. ―Bagus betul yah!‖ katanya dingin. Han Samya?‖ imam itu membalik bertanya. ―Apa? Menggeledah kuil?‖ kata Khu Cie Kee dengan tawar. ―Kau telah undang banyak kawan. inilah sulit. pasti tidak!― kata Cit Koay yang ketiga itu. tidak dapat pinto temani kau lebih lama! Eh. biarlah aku yang bereskan sendiri!‖ katanya kemudian. satu kali dia bilang tidak. ―Kami tidak punya kepandaian sesuatu apa juga akan tetapi untuk Kanglam ini nama kami terkenal juga sedikit. Ciauw Bok Taysu. ―Kami percaya habis Ciauw Bok Taysu. Ciauw Bok Taysu paham ilmu dalam Hoat Hoa Lam Cong. mereka bukannya manusia-manusia yang takut mampus. Cu Cong menyahuti: ―Mereka itu ada bangsa dewi. ―Sebenarnya kau hendak gunai aturan atau tidak?‖ dia tegur si imam. ―Habis bagaimana. sampai beberapa kali. begitu ia kasih turun lengannya. Taysu sebaliknya menyangkal. hingga pinto habis daya! Tidak ada jalan lain daripada si pendeta serahkan mereka itu!‖ ―Jadinya dua wanita itu bukannya manusia!‖ berkata Cu Cong. Imam itu menjadi gusur. Mereka ynag kenal kami semua dapat mengatakan sepatah kata: ‗Walaupun Kanglam Cit Koay sedan-edanan lagak lagunya. ―Totiang menuduh Taysu menyembunyikan kedua nyonya itu.‖ akhirnya Ciauw Bok Taysu dapat buka mulutnya. ia lolos dari cekalan si pendeta. Ma Ong Sin Ho Po Kie bertabiat aseran. semua orang tersenyum. ―Apa‖ katanya. bukankah?‖ Kwa Tin Ok jawab imam itu. tak senang ia menampak orang mulai gunai kekerasan.

ia tetap duduk tetap dan tenang seperti juga ia tidak mengetahuinya. Ia bertubuh terokmok. jambangannya turut miring juga. Sesudah ini ia geraki pula tongkatnya. sampai jambangan seperti mumbul. Sembari berbuat begitu. Wanyen Lieh menyaksikam itu dengan kekaguman dan terkejut juga. setelah mana jambangan itu ia lemparkan ke arah Lam Hie Jin. Satu kali tongkat itu miring.‖ berkata si imam. ―Sekarang aku hormati Kwa Toako dengan satu jambangan!‖ ia berkata pula. ―Sekarang aku hendak memberi selamat kepada Tuan bertujuh dengan seorang satu cawan arak. ―Diwaktu kecil. adalah araknya yang lantas meluncur keluar seperti pancuran. kedua tangannyaditaruh di depan dadanya. Wanyen Lieh berkhawatir sehingga hampir ia berseru sendirinya. imam ini kasih turun tangannya yang memegang jambangan arak itu. Meski begitu ia sudah lantas mundur dua tindak. Selagi melayang jambangan itu masih mengasi dengar suara menguwang. sesudah mana berbareng dia menolak dengan dadanya. ―Jikalau aku sambuti jambangan seperti tadi. hingga jambangan jadi duduk di ujung tongkat. ―Sia ciang ie san‖ atau ―Sepasang tangan memindahkan bukit‖. pada wajahnya tak tertera rasa girang atau murka. tapi juga keras keinginan tahunya. dadanya itu penuh dengan daging yang lembek. duduk sambil berputaran seperti tukang dangsu tengah mengasi pertunjukan. atas mana Kwa Tin Ok buka mulutnya akan menanggapi. arak yang harum!‖ dia memuji. membuat jambangan itu berdiri tetap lagi. menghirup arak di dalamnya! ―Oh. yang ia pakai menanggapi dasarnya jambangan itu. ―Diwaktu mudanya pasti Kwa Toako gemar main putaran nenempan!‖ kata ia. cara bagaimanaaku dapat meminumnya?‖ demikian katanya dalam hati kecilnya. berbareng dengan mana jambanganarak itu dilemparkan ke arah si buta. Tiang Cun Cu tunjuki jempolnya. ―Cara bagaimana dia dapat menyambutnya?‖ ia berpikir. Tapi jambangan tetap tinggal miring. berbareng dengan mana jambangan itu bertolak balik kepada Khu Cie Kee. ―Sekarang hendak aku menyuguhkan Lam Sieko sejambangan arak!‖ Ia lantas menghirup pula satu segluk. mulutnya dikasih masuk ke dalam jambangan. sampai terdengar satu suara nyaring. hanya sekarang ia tidak lagi menunda seperti tadi. Lam San Ciauw-cu si Tukang kayu dari Gunung Selatang ada pendiam tak doyan berbicara. ia kerahkan tenata dalamnya. semikian juga kali nini. tetapi tempo jambangan itu sampai. pasti ada punya kepandaian yang istimewa. Maka dengangitulah ia menengak arak.‖ sahut Tin Ok dingin. Diwaktu jambangan dilemparkan kepadanya. tiba-tiba ia angkat naik tongkatnya dengan kaget. kedua tangannya menolak juga dengan gerakannya. Tepat ketika jambangan menyambar ke dadanya. sikapnya tenang dan wajar. dipakai menolak tubuh jambangan. berbareng dengan mana kedua tangannya bergerak untuk memeluk jambangan. ia pentang kedua tangannya itu. kapan jambangan itu tiba Irawan D Soedradjat Page 40 . Tenaga yang dikerahkan itu bukan kepalang besarnya. ia dapat dengar suara sambarannya dan tahu tepat arahnya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Baik!‖ seru si imam. ia pindahkan kedua tangannya ke bawah jambangan untuk dipakai menampa. Ia telah menyaksikan suatu gerakan tenaga dalam dari Gwa-kee. apapula sebuah jambangan yang besar yang anginnya seperti menderu-deru. habis minum barulah Tuan-tuan geraki tanganmu!‖ Habis berkata. dengan dipegang dan diangkat di atasan kepalaku. ia tertawa. Tepat ketika jambangan sampai. Siauwtee melarat. Adalah disaat ini dengan sebat ia tunduk. untuk sambut jambangan dengan kedua dadanya itu. Dengan cepat ia lepaskan pelukannya. dengan mulutnya sendiri. ia ayun tangannya kepada Siauw Mie To Thio A Seng. menyusul mana tongkat itu diputar. sampai belasan cegluk. ia sambut jambangan araknya itu. ia hirup arak satu ceglukan. maka kepandaian ini dipakai modal mengemis nasi. ―Silahkan!‖ katanya habis menengak. ―Sudah buta ia pun pincang…. Kwa Tin Ok sambut itu dengan tongkat besinya. Wanyen Lieh heran dan berkhawatir pula. Sekalipun senjata rahasia. Sembari bicara.‖ Kwa Tin Ok ada tertua Kanglam Cit Koay. Maka melesatlah jambangan itu ke arah Khu Cie Kee. Khu Cie Kee dengan tenang sambuti pulang jambangannya itu dan ia menghirup pula. ahli luar yang lihay sekali. Hebat kalau jembangan jatuh dan menimpah batok kepalanya si buta ini. Si Buddha tertawa sudah lantas berpikir. ―Tentang seorang gagah tidak ditanya asal usulnya.

Berbareng dengan itu kakinya sudah lantas menginjak palang jendela. Kapan kayu pikulan dan jambangan beradu. maka itu ia gunai ketika yang baik ini untuk menengak arak tanpa tunggu Khu Cie Kee menyuguhkan kepadanya. Ia insaf. ―Jangan! Aku si mahasiswa cilik tak punya tenaga kekuatan untuk kata meringkus ayam. ―Tolong! Tolong!‖ dia berteriak-teriak selagi jambangan itu mengancam padanya. siap untuk dilemparkan pulang! Belum lagi jambangan dikasih melayang pergi. ia kerahkan tenaganya. guna menolong siapa yang dapat ditolong dari bencana ketimpa jambangan itu. kalau jambangan berat itu ditimpuki kepadanya – gilirannya memang bakal tiba – tidak nanti ia sanggup menganggapnya. Semua orang terkejut. yang dia barengi tolak pergi. ―Ayo! Tak dapat!‖ dia berseru. Tiang Cun Cu sambuti jambangannya itu. yang terus berkata: ―Aku si pedagang kecil suka sekali mendapat keuntungan oleh karenanya ingin aku tanpa menggunai banyak tenaga untuk turut minum arak!‖ Ia segera menghampiri Lam Hie Jin. Jambangan itu tertahan pikulan dan terduduk di dengkulnya orang aneh yang keempat ini. yang terbuat dari campuran hancuran tungsten. tapi kupingnya sudah dengar seruan keras tapi halus nadanya: ―Sian-cay!‖ Itu adalah suatu pujinya seorang penganut Buddha. guna mundurkan semua orang untuk mencegah kecelakaan yang tak dikehendaki itu. kemudian dengan gagang kipas. maka ia melintasi jendela. ke bawah loteng. ―Bagus! Bagus!‖ ia pun turut memuji. Kalau jambangan itu jatuh ke bawah loteng. Dengan cepat ia pasang kuda-kudanya. ―Orang bakal mampus ketindihan! Tolong!‖ Di mulut ia mengoceh tidak karuan. jambangan sudah lantas terbang melayang kearahnya. lalu turun ke bawah akan tetapi belum lagi tempat arak istimewa itu jatuh ke lantai.Justru ia baru memikir. Untuk itu ia perlu mendahului jambangan. kepalanya ditunduki ke dalam jambangan itu. Jambangan itu tidak ada yang tahan. Tapi ia tidak berlaku ayal. Tiang Cun Cu berniat lompat. terus melayang turun ke luar. manis dipandangnya. maka itu. tak sanggup ia melakukannya. mulutnya lantas menyedot arak. kipasnya tapinya ia pakai untuk mencelup ke dalam jambangan. Irawan D Soedradjat Page 41 . jambangan itu diangkat.Pendekar Pemanah Rajawali kepadanya. membuatnya satu lobang besar ke dalam mana tubuh si mahasiswa terjeblos masuk di waktu mana terdengar jeritannya berulang-ulang: ―Tolong! Tolong!‖ Selagi jambangan mental balik. mungkin aku bakal mati karena mabuk…‖ Akan tetapi sia-sia saja ia unjuk roman ketakutan seperti kalap itu. Wan Lie Kiam Han Siauw Eng telah lompat menyusul. Pendeta ini sangat beribadat dan murah hatinya. si Pendekar Sembunyai di kota sudah turut mencicipi arak itu. ia angkat kayu pikulannya untuk menahan itu sebelum jambangan turun. Akal cerdik semacam ini tadi pun telah digunai oleh Coan Kim Hoat. emas hitam dan baja pilihan. terdengarlah tertawanya Lauw-sie In Hiap Coan Kim Hoat. ―Bagus! Bagus!‖ Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong memuji seraja ia goyang-goyang kipasnya. maka jikalau aku disuguhkan. dia segera menahan turunnya jambangan itu. dan lantai papan pecah bolong. keduanya menerbitkan suara yang keras dan nyaring. Cuma Lauw-sie In Hiap menambahkan itu dengan memulangkan jambangan kepada Khu Cie Kee. Kayu pikulan itu ternyata bukannya kayu melainkan sebangsa logam. sekarang ia gunai hasil latihannya beberapa puluh tahun. maka itu dengan sekali sendok saja. enteng tubuhnya tetapi ia kurang tenaga. Begitu terbentur pikulan logam itu. pasti ada orang yang bakal tertimpa dan menjadi korban. Berbareng kaget. dengan dibantu tangan kanan. Habis itu. Berbareng dengan puji itu tubuhnya Ciauw Bok Taysu lompat melecat menyusuli jambangan itu. Lincah gerakannya itu. jambangan berhenti menyambar. umpama kata aku tidak mampus ketindihan. Hie Jin sudah sambar araknya dengan tangannya untuk disendok dan dihirup. karena untuk mencegahnya dengan menahan. perutku tak dapat memuat segantang arak. ketika ia berada di atas jambangan. Ahli pedang Gadis Wat lihay ilmu pedangnya. Cu Cong sudah berjingkrak bangun. yang telah kasih turun jambangan di tangannya. gerakkannya bagaikan burung walet menyambar air. ―Brak!‖ demikian satu suara nyaring. cacat itu ditambal dengan kelincahan dan kecerdikannya. untuk korbankan diri. kembali ia mencegluk araknya. tubuhnya lantas mencelat ke arah jendela. ―Sekarang pinto hendak menyuguhkan kepada Cu Jieko!‖ Belum lagi jambangan itu dilemparkan. maka dilain saat jambangan itu sudah terangkat naik dan terlempar terapung kearah Khu Cie Kee. hampir tiba dimulut jendela. yang sudah lantas tekuk sebelah lututnya yang kiri. si imam sendiri tak terkecuali. Nona ini dengan tiba-tiba menjejak dengan kaki kanannya. akan mendahului jambangan itu. karenanya mejadi berat dan kuat luar biasa. untuk sendok araknya untuk bawa itu arak ke dalam mulutnya.

hingga jambangan itu dapat duduk tetap di atas kuda. Han Po Kie menjadi gusar. kuda kuning di bawah loteng lantas saja lari ke jalan besar di betulan mulut jendela loteng itu. silakan totiang tunjuki caramu!‖ bilang Kwa Tin Ok. untuk isikan penuh semuanya. hingga tenaga turunnya menjadi berkurang. terpaksa pinto mesti mencoba denganmu untuk menetapkan siapa yang tinggi dan siapa yang rendah. dengan begitu ia jadi bisa berbareng mencicipi juga arak itu. Ciauw Bok Taysu juga sudah lantas menyusul naik kembali ke loteng. ialah segumpal daging yang tadi telah melayang menyambar jambangan sudah pernahkan dirinya dibawah perut kuda itu. kaki kirinya menyantel pada sanggurdi. inilah bagianmu yang tidak benar!‖ Kwa Tin Ok memotong. Ia sendiri masih bercokol terus di bebokong kuda. dengan sekali sebat dan cerdik. cukup asal dia suka menyerahkan itu dua orang perempuan yang malang. Pinto pikir baik diatur demikian saja…‖ Lantas ia teriaki si jongos untuk siapkan empatbelas cawan arak yang besar. mereka sudah mendaki loteng untuk kembali ke atas loteng! Wanyen Lieh menyaksikan semua semua itu. sang kakak yang kedua dengan keduanya sambil tertawa. Kemudian. ―Akan tetapi Tuantuan tampaknya memaksa hendak mencampuri tahu. dengan bergandengan tangan bersama Cu Cong. dengan begitu teranglah Tuan-tuan terlalu andali kepandaiannya orang-orang lain! Tuan-tuan pinto tolol. atas mana binatang itu sudah lantas lompat lewati jendela untuk turun ke bawah. yang harus dikasihani…‖ ―Tiang Cun Cu Totiang. Semua mata segera diarahkan ke mulut loteng. Han Po Kie geraki tubuhnya untuk naik sedikit. Khu Cie Kee tertawa. lantas satu diantaranya muncul dengan belasan cangkir yang diminta itu. ia perdengarkan suara perlahan. ―Habis itu apakah yang totiang kehendaki?‖ Po Kie tanya pula. maka itu bagaimana bisa jadi taysu dapat menyembunyikan wanita baik-baik dalam kuil itu?‖ ―Di kolong langit yang luas itu mesti ada manusia palsu yang menipu duni!‖ berkata si imam dengan nyaring. ia ulur keluar lidahnya. lalu satu persatu cawan dia keroboki ke dalam arak itu. tangannya yang sebelah mengedut les kudanya. dengan memandang Tuan-tuan bertujuh. kau jadinya tidak percaya pada kami?!‖ tanyanya. ia pondong jambangan untuk dikasih turun dari bebokong kuda. guna diletaki di lantai loteng. itu pasti bakal merusak kerukunan. Ia lakukan itu sembari tertawa. ―Pinto juga telah dengar lama yang Tuan-tuan adalah orang-orang yang gagah mulia untuk wilayah Kanglam. lain orang telah dalui ia. Cie Kee berdiam sebentar. pinto takluk! Sekarang. sedangnya binatang itu mendaki loteng. ―Dengan kata-katamu ini. Irawan D Soedradjat Page 42 . guna ulur kepalanya ke mulut jambangan. Itulah seorang dengan baju kuning yang sembari melompat. tetapi karena tidak ada jalan lain. Maka selang sesaat. terserah saja kepadaTuan-tuan. kedua tangannya dibantu kaki kanannya menahan jambangan. dan kuil Hoat Hoa Sin Sie juga adalah berhala kenamaan dalam kota Kee-hin ini. Sejak tadi jongos-jongos umpatkan diri di bawah loteng. ―Aku hanya lebih mempercayai mataku sendiri!‖ sahut sang imam. Habis itu. ―Urusan sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan Tuan-tuan bertujuh. oleh karenanya jikalau kita gunai senjata. ―Kita berdua sebenarnya tak saling dendam. Cie Kee letaki jambangan arak di lantai. ia berkata: ―Benar-benar Kanglam Cit tersohor bukan nama belaka. apa saja yang kamu hendak perbuat!‖ ―Jikalau sudah pasti totiang menghendaki demikian. lalu kembali untuk terus lari masuk ke dalam ciaulauw dan mendaki loteng! Selagi kuda itu beraksi. telah perdengarkan satu suara bersiul. pinto tidak hendak mempersulit pula kepada si pendeta. Tepat sekali keduanya jatuh di bebokong kuda yang lalu lari beberapa tindak.‖ dia bilang kemudian.Pendekar Pemanah Rajawali Baru pendeta itu melewati jendela. Sesuatunya lihay sekali. Totiang. begitu dipanggil. lalu keduanya jatuh miring dengan berbareng. ―Ciauw Bok Taysu ini adalah seorang yang beribadat dari beberpa puluh tahun.‖ sahut Cie Kee. sesudah itu. empatbelas cawan terisi arak itu diatur dalam dua baris di lantai itu. Mendengar siulan itu. Umpama kata pinto tak dapat melawan. Ma Ong Sin Han Po Kie. Maka itu mereka dapat lihat benda bagai segumpal daging yang seperti bentrok dengan jambangan.

adu kepandaian – belum pernah ia dengar cara seperti itu. yang ia lihat sudah lelah. Si imam juga tenggak habis tujuh cawannya. sedang si imam pun tanpa banyak omong lagi. ―Jieko. Tidakkah cara ini bagus?‖ Han Po Kie dan Thi A Seng adalah tukang tenggak susu macan. habis bagaimana?‖ Cu Cong jadi berpikir. Lalu semua cawan diisi pula. lantas semua itu di cegluk habis! Setelah cawan yang ketiga. ―Tuan-tuan bertujuh minum satu cawan.‖ ia berpikir. siapa yang tidak sinting. Kapan hendak dilanjuti giliran yang lain. umpama kami menang. air mukanya takberubah. baiklah kau sebutkan lain cara!‖ ―Cara bagaimana tuan dapat merasa demikian pasti akan memperoleh kemenangan?‖ Tiang Cun Cu tegaskan. Silakan!‖ Hampir berbareng enam manusia aneh lainnya dari Kanglam itu angkat cawannya masing-masing dan mengiringnya seperti saudara angkat mereka yang bungsu. Coan Kim Hoat tampaknya sudah kewalahan. ―Baiklah!‖ demikian katanya.‖ katanya kemudian. Wanyen Lieh pun heran sekali.‖ Kim Hoat berbisik pula. ―Mari kita adu minum arak dulu! Belum pernah aku mendapati orang yang begitu memandang enteng kepada kami bertujuh. Tuan. ia masih segar seperti biasa. Taruh kata si imam kuat minum tetapi berapakah besar perutnya? Dapatkah satu perutnya melawan perut tujuh orang? Han Siauw Eng adalah yang termuda diantara Kanglam Cit Koay. dan inilah yang pertama kali!‖ Dan tanpa bersangsi lagi. ―Akur!‖ jawab Khu Cie Kee.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto hendak adu kekuatan minum arak dengan tuan-tuanbertujuh. ia segera bisiki Cu Cong. ―Nona Han adalah jantannya wanita!‖ Khu Cie Kee puji nona itu. ia tidak menawar lagi. Nona Han Siauw Eng segera merasakan bahwa ia bakal tak sanggup minum terlebih jauh. Dengan si imam. Khu Cie Kee sebaliknya. Akan tetapi Kwa Tin Ok berkata: ― Kami bertujuh melawan satu. mereka mendahului menyatakan akur. ―Hebat!‖ ia inipun berbisik. ―Nah. A Seng lantas wakilkan adiknya. ia pun polos dan bersikap jantan. Kim Hoat percaya pihaknya bakal menang. mereka tentu masih sanggup. ―Dengan jebolnya aku dan citmoay. Duapuluh cawan telah ditenggak kering. ―Ia gunai tenaga dalamnya memaksa arak turun ke kakinya…‖ ―Benar. Kebetulan ia melihat ke lantai. tenggak kering satu demi satu tujuh cawan bagiannya. ―Citmoay. Banyak cara untuk adu pibu. itu tidaklah cara laki-laki! Totiang. ia tampak lantai dimana si imam berdiri menjadi basah. mari kau wakilkan kau!‖ berkata Thio A Seng kepada adik angkatnya yang ketujuh itu. coba lihat kakinya si imam!‖ Cu Cong memandang ke tempat yang ditunjuki. ialah yang menang. ―Kelihatannya untuk mereka minum lagi tiga atau empat cawan. dia tidak bakal rubuh…. Perjanjian kita ialah sampai habisnya isi jambangan ini. Maka heranlah Kim Hoat yang cerdik itu. Sebagai satu jantan. ―Begini lihay tenaga dalamnya.‖ katanya. ia jemput satu cawan dan jegluk isinya. boleh tidak aku diwakilkan?‖ tanya si nona kepada si imam. ―Khu Totiang. ―Dengan dibantu tenaga dalamnya. . kita tinggalberlima. lagi seratus cawan dia minum. apakah ia masih bisa menghabisi lagi duapuluh cawan?‖ Oleh karena ia pikir begini. Ia memang bukan tukang minum. pinto sendiri akan minum tujuh cawan. atas perjanjiannya si imam. Irawan D Soedradjat Page 43 . Tetapi tiba-tiba saja ia terperanjat. Ia lantas ingat sesuatu. ia menanyakan dulu pikirannya si imam itu. ―Siapa juga yang meminumnya sama aja!‖ Maka itu.

meski begitu. setelah kandasnya ini jambangan . ia dengar orang berkata-kata pula. ―Aku menyerah!‖ Irawan D Soedradjat Page 44 . tak dapat ia bergusur. di sini lebih hebat lagi! Raja Siam telah suruh keluarkan seekor gajah putih yang besar. dia menghendaki aku lawan kerbau itu minum arak yang keras. selama itu Khu Cie Kee mesti layani orang minum. ―Berapa jambangan?‖ dia tanya sekenanya. tidak ada arak yang merembas keluar. bisa dibuat main?‖ ia berpikir. Selagi ia tetap belum mengerti. Ia tahu orang bicara ngaco. kau temani aku minum terus. Mereka berdiam. Ia tidak tunggu sampai orang membilang atau menunjukkan sesuatu apa. ―Apakah itu mahkluk yang lihay?‖ ia tanya. di sana aku pernah menangkan beberapa makhluk yang lihay. aku disuruh lawan gajah itu minum arak! Binatang dogol itu telah sedot habis tujuh jambangan! Totiang tahu. tangannya sendiri menyambar satu cawan yang besar. Ia tertawa ketika ia berkata: ―Sebenarnya aku tidak kuat minum akan tetapi tempo tahun lalu aku pesiar ke daerah Selatan. ia tidak angot. ―Hebat tenaga dalammu. Dengan tiba-tiba saja wajah Cu Cong menjadi sungguh-sungguh. ―Habis Cu Jieko memikir bagaimana?‖ dia tanya. Cie Kee turut minum juga. ―Sembilan jambangan!‖ katanya.Pendekar Pemanah Rajawali Mereka itu sudah keringi pula cawan mereka yang lainnya. akan tetapi dengan kami berlima melayani kamu. Tidakkah ini bagus?‖ Arak di dalam jambangan perunggu itu tinggal separuh. ia tidak sinting. isi itu masih banyak. Lam Hie Jin dan kawan-kawannya dapat lihat itu. Cu Cong si Mahasiswa Tangan Lihay tertawa. orang bukannya mengerahkan tenaga dalam. Han Po Kie letaki cawannya di meja. saban-saban ia tenggak araknya. begitu juga dengan pihak Kanglam Cit Koay. Ia heran juga menyaksikan orang kuat minum dan sikapnya tenang. Dimana orang berpura-pura edan-edanan. akan pinto menyerah kalah. Cu Jieko. akan tetapi Cu Cong seperti tidak pedulikan itu. Dikatakan mabuk. mereka kagumi si imam untuk tenaga dalamnya yang sempurna itu. ―Satu kali aku telah pergi ke India. cawan demi cawan. dengan sikap wajar itu. ―Sekarang begini saja. kami semua sangat mengaguminya. Cu Cong lihat perbuatan adiknya itu. ―Saudara Cu. Tentu saja. ia lantas mengedipi mata. tetapi mereka duga saudara ini tentu ada akal muslihatnya. Ia telah perhatikan. kaki dan tangannya digerak-geraki. ―Pada tahun dulu aku telah pergi ke negeri Siam. bagaimana dia ini hendak melawan sendirian? Keenam Manusia aneh menjadi heran. berapa jambangan aku tenggak habis?‖ Tiang Cun Cutahu orang bergurau. meskipun mereka tahu ini saudara yang kedua sangat cerdik dan licin. terus ia sambungi dengan nyaring: ―Mari minum! Lekas. ujung bajunya yang kiri pun dikibaskan.‖ kata Cu Cong itu. Mereka tahu sebabnya itu. perlahan tetapi mengesankan. ia ngoceh pula.‖ sahut Cu Cong. ―Khu Totiang. ―Baiklah aku sendiri yang layani kau. Sekarang lantai di kakinya Khu Cie Kee tertampak barang cair mengembang dan mengalir. Lima orang sudahke teter. perut si Manusia aneh rada melendung.‖ ia berkata. Mari keringkan!‖ Ia goyang-goyang kipasnya di tangan kanan. satu lawan satu!‖ sahutnya. dikatak gila. itu rasanya tidak terlalu adil…‖ Cie Kee melengak. hanya orang bicara secara wajar sekali. kau benar satu manusia aneh!‖ serunya. dengan itu dia dicaci sebagai kerbau. ―Kanglam Cit Koay sungguh hebat. lekas!‖ Lantas setelah itu. hingga akhirnya jambangan arak itu nampak dasarnya! Imam itu segera tunjuki jempolnya. Kesudahannya akulah yang menang!‖ ―Cis!‖ Cie Kee kasih dengar suaranya. sikapnya menarik hati.‖ kata Cie Kee kemudian. ―Mustahilkah perutnya bisa kempas dan bisa kembang. hendak ia menyerah kalah. ―Ah.Hanya rada aneh. Cie Kee heran. ―Di sana putra raja India seret keluar seekor lembu. Begitulah ia menantang. untuk di pakai itu menyendok arak. ia minum araknya.

Itulah kertas bermuatkan syair yang baru ia bacakan.mentereng seperti siluman air………‖ Panjang nada syairnya. belum pernah aku perlihatkan orang syairku itu. kapan tahang air itu ia balingkan.‖ katanya. tapi ia melengak pula. sembari berputaran. ditangannya ada sepelas ikan emas.‖ katanya di dalam hatinya. Setelah dapat berdiri pula. ―Totiang lihay ilmu silatnya. Dan Cu Cong sekarang mengacau matanya Tiang Cun Cu dengan ilmu kepandaiannya itu... terus ia putar tubuhnya. maka itu ia digelar sebagai Biauw Ciu Sie-seng. dua kali ia jungkir balik di atas pentes tambah semangkok air tawar.tangannya mencekal sebuah tahang air. ―Sungguh aku kagum…. sebab semua arak pindah ke dalam tahang air ini. bergelak-gelak lalu dengan sekonyong-konyongia lompat jumpalitan ketika ia telah berdiri pula. ia jadi kena dipermainkan. yang masih belum selesai. di situ ia terpeleset. niatku adalah untuk nanti meyambunginya. tubuhnya rubuh membentur tubuhnya si imam.. sebelah tangan si imam melayang. Cu Cong pandai mencuri dan mencopet. air mana dapat ditambah menjadi banyak. ―Kau benar-benar lihay! Sekarang pinto ingin mohon pengajaran…!‖ Rupanya barusan selagi ia pura-pura terpeleset. ―Itulah syairku yang kutulis di harian Tiong Ciu tahun yang lalu. mulutnya perdengarkan suara: ―Syair yang bagus. Biauw Ciu Sie-seng gunai ketikanya untuk rogoh kantung si imam. Satu kali ia jungkir balik. Tentu saja ia sangat penasaran yang orang telah copet syairnya itu tanpa ia merasa. si Mahasiswa Tangan Lihay. Kepandaiannya itu menyembunyikan tahang air adalah kepandaian umum di kalangan tukang sulap Tiongkok. Disitu ia berhadapan dengan orang lihay akan tetapi tidak ada seorang juga yang lihat darimana ia sembatnya tahang air itu! perutnya tinggal kempes. kau juga pandai ilmu surat!‖ katanya memuji. ―Aku? Lihatlah!‖ Ia tertawa pula. Mungkin pembaca pernah menyaksikan pertunjukkan sulap semacam itu. Jalan susu bagaikan tenggelam….?‖ Lantas ia merogoh ke sakunya. Khu Cie Kee segera menyambaruntuk pegangi tubuhnya orang itu.Suatu hari……. tidak kusangka. Totiang. arakmu kumpul dilantai! Ada apakah perbedaannya?‖ ia lantas jalan mundarmandir sampai ia kena injak lantai yang basah dengan araknya Khu Cie Kee.rembulan gilang gemilang…. mengapa sekarang ia dapat mengetahuinya….udara membuatnya. bau arak tersiar menyampok hidung! Orang kedua dari Kanglam Cit Koay sudah perlihatkan kelihayannya. Khu Cie Kee heran hingga ia melengak. ―Ah!‖ seru si imam kemudian. ―Syair itu aku simpan. ia membeber kertas di atas meja. apakah kau juga minum arak?‖si Manusia aneh membaliki. ―Totiang minum dengan andalkan tenaga dalam. untuk cari syairnya itu. Tidak tempo lagi. ―Kepandaianmu ini toh tak dapatdibilang orang minum arak?!‖ ―Kau sendiri.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong awasi imam itu. Tak ada syair itu didalam sakunya itu! Cu Cong seperti tidak ambil mumat orang terheran-heran. suatu ilmu kepandaian turun temurun yang hingga kini telah membuat kagum orang di Eropa dan kepulauan selatan.Di Waktu tibanya angin yang sejuk…malam yang jernih terang……. CuCong lompat mundur. Tentu saja si imam tidak menyangka orang bergurau secara demikian.!‖ ―Bagus!‖ seru Cie Kee yang mengerti bahwa benar-benar ia telah dipermainkan orang. selagi si imam pegangi dia. Dengan‖Tangan Lihay‖ itu diartikan lihay mencopetnya. ―Arakku kumpul di dalam tahang. ia tertawa.Ikan dan naga diempat penjuru lautan……. syair yang bagus! Sejak jaman purbakala di pertengahan musim rontok…. Wajahnya Khu Cie Kee menjadi berubah. Irawan D Soedradjat Page 45 . yang sekian lama disembunyikan di bawah jubahnya yang gerombongan.

. atas mana Lam San Ciauw-cu menangkis dengan kedua tangannya. ―Walaupun kasih datang tambahan tigaribu lagi serdadu berandal Kim. Tapi justru itu sekonyong-konyong wajahnya berubah. Tangkisan si imam itu membuat tangannya sakit dan gemetaran. di tangga loteng terdengar riuh tindakan kaki yang keras. suara mana tercampur suara bentrokkannya senjata-senjata tajam. untuk ambil senjata mereka masingmasing. timbuk kekhawatiran mereka itu. ―Kamu majulah berdelapan!‖ menentang Tiang Cun Cu menyaksikan orang pada turun tangan. ia menyerang ke dadanya si imam. Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan dan Wan Lie Kiam si Gadis Watsudah lantas taati ajakannya saudaranya itu. Manusia Aneh yang keempat. lalu beberapa puluh orang tertampak merubul naik. toya kamu masih tidak jerih!‖ Han Po Kie gusar mendengar ejekan itu. ia menyerang Lam Hie Jin dengan sebelah tangan kirinya. rasanya baal.ia tertawa terbahak-bahak. Ia telah mendengar puluhan orang berlari-lari mendatangi ke restoran itu. ―Jangan mengepul!‖ Kwa Tin Ok kata dengan dingin. harap kau tak katakan kami tak tahu aturan!‖ ia berkata sambil ia menggapekan kepada Lam Hie Jin dan Han Siauw Eng. kamu masih menjanjikan bantuan! Biar di sana ada ribuan tentera dan tidak pandang itu di matanya!― Thio A Seng merasa pihaknya diejek. ―Untuk apa menjanjikan bantuan lagi?!‖ Kwa Tin Ok tidak berpikir seperti saudaranya yang kelima itu. Khu Cie Kee dapat lihat serangan itu. seraya ia melompat maju untuk menyerang. Bukan main kagetnya Siauw Mie To si Buddha tertawa. ―Semua mundur!‖ ia berseru. Tentera Kim itu adalah tentera pengiringnya Wanyen Lieh. kali ini tiga kali beruntun serangannya itu. mereka lantas pergi mencari. Maka ia lompat berdiri. Coan Kim Hoat bisa duga perasaan saudaranya itu. naik darahnya Khu Cie Kee. ―Ciauw Bok Hweshio! Kanglam Cit Koay!‖ ia berseru. Melihat mereka itu. ia lantas menangkis. ―Totiang. Pertarungan Mati Hidup Segera terlihat orang banyak yang naik ke loteng itu adalah serdadu-serdadu bangsa Kim. Thio A Seng lihat saudaranya sangat terdesak. Bab 5. akan tetapi sekarang tak dapat ia atasi diri lagi. Inilah lawan tangguh yang pertama kali iapernah ketemukan. Ia cacat mata akan tetapi kupingnya awas bukan main. ia menyangka mereka itu diperdayakan oleh Ciauw Bok Hweshio. sambil berlompat. maka itu sampai sebegitu jauh. yang dibawa ke depan dadanya. ―Totiang. kebetulan mereka dengar di Cui SianLauw ada orang berkelahi. sampai saudara itu sulit membela dirinya. ―Siapakah yang kasih datang tentera Kim?!‖ ia menegur. ―Benar!‖ sahut si imam memberikan kepastian. Sangking murkanya. benarkahkau berniat mencari keputusan dengan kepalan dan kaki?‖ ia menegasi.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong berkelit ke samping. Ia pun segera berseru dengan ejekan: ―Bagus betul. Hebat tangkisannya ini. Lega hati mereka akan saksikan putra Irawan D Soedradjat Page 46 .anginnya mendesir. Ia hargakan Kanglam Cit Koay. Hampir di waktu itu. mereka datangi rumah makan itu. Khu Cie Kee tidak gubris sindiran itu. ―Lam Sieya sungguh lihay!‖ si imam memuji mendapatkan tangkisan itu. Mereka menanti sekian lama putra raja mereka masih belum kembali. Dan menyerang pula. sebagaimana mereka gampang dikenali dengan seragam mereka. ia layani mereka separuh main-main. ―Siapakan senjata!‖ Thio A Seng semua segera lari balik ke tempat duduknya masing-masing. ―Kita ada tujuh bersaudara!‖ ia bilang. ia lompat untuk menghalang.

Serdadu-serdadu Kim lainnya menjadi gaduh karena kebinasaan tidak karuan dari rekannya mereka itu. beberapa diantaranya segera menikam bebokongnya si imam dengan tombak mereka yang panjang. ―Apa!‖ tanyanya. Beberapa serdadu lagi hendak maju untuk mengulangi penyerangan. ―Kami tidak undang atau janjikan mereka itu. Kwa Tin Ok lantas sudah bangkit berdiri. suara itu rubuh dengan kepalanya remuk. sekarang setelah mengetahui orang bangsa apa. walaupun orang tak dapat melihat kepadanya. putra itu lagi duduk tenang di mejanya. Lalu tanpa tunggu jawaban lagi. sebaliknya ia layangkan tangannya yang kiri. guna menghampiriKwa Tin Ok. untuk mengatakan: ―Imam jahat itu tidak kenal undang-undang. ia tak sudi melayani bicara. Tin Ok buta. Ketika itu pihak rumah makan baru siap dengan hidangan mereka yang terdiri dari daging macam tutul. sembari berkata ia gerakan pundak kanannya. Mereka lantas menghampiri untuk memberi hormat. tidak kenal Tuhan. ―Bagus! Bagus!‖ ia menambahkan. ―Adakah aku keliru mengerti?‖ jawab si imam sambil jalan terus. WanyenLieh heran. hingga tanpa suara apapun. tepat mengenai batok kepalanya satu serdadu Kim. ―Jangan!‖ Wanyen Lieh segera mencegah. Irawan D Soedradjat Page 47 . mengenai kempolansi putra raja Kim itu. hingga Wanyen Lieh lantas saja mundur beberapa tindak. mereka bawa naik barang hidangan itu untuk disajikan disembilan meja dikecualikan mejanya Ciauw Bok Taysu. di depan siapa ia memberi hormat. ―Toako kami menitah kau pergi!‖ Han Po Kie wakilkan kakaknya menyahuti. pendeta yang pantang makan daging. Sambil manangkis tangannya menyambar. jiwanya terbang pergi. ―Minggir!‖ ia membentak.ia paling benci orang mengatakan ia picak. maka tadi ia berlaku manis budi dengan suruh jongos membagi daging macamnya. si hweshio. ―Terima kasih Kwa Toako!‖ ia mengucap. iabertindak ke tangga. Dengan lantas ia berpaling kepada Kwa Tin Ok beramai. ―Khu Totiang. ―Inilah contohnya!‖ kata si imam kemudian. sembari minum kita bicarakan daya untuk menghadapi dia!‖ Kwa Tin Ok tidak tahu orang adalah orang bangsa Kim. maaf.Pendekar Pemanah Rajawali rajamereka tidak kurang suatu apa pun. ―Kamu adalah bangsa Enghiong. habis perlu apa kamu undang tentera bangsa Kim untuk bantu kamu?‖ Dengan sengit si imam menjengeki orang adalahEnghiong dan hohan – orang-orang gagah. Dengan berani ia lantas memanggil ―toako‖ atau kakak. ―Cukup sudah. mereka kaget dan gusar. ia ngeloyor ke tangga. pinto tak dapat menemani lebih lama pula!‖ Lantas ia angkat jambangan araknya. jangan kau keliru mengerti!‖ kata tertua darikanglam Cit Koay ini. ―Kalau picak bagimana?!‖ tanyanya. ―Hm!‖ Khu Cie Kee perdengarkan suara di hidung selagi Hui Thian Pian-hok belum sahuti orang asing itu. tidak peduli orang baru saja berhenti bertempur dan disitu ada banyak serdadu bangsa Kim. ia lompat maju. maka itu sambil gerakin tongkat besinya. bangsa hohan.‖ Kwa Tin Ok menyangkal. Tiang Cun Cu tidak ladeni si buta itu. sambil membawa itu. maka itu beberapa batang tombak kena tercekal dan terampas. Seperti bebokongnya ada matanya. ―Aku juga bukanya si picak!‖ sahutKhu Cie Kee mengejek. dia tidak usah dilayani! Tuan-tuan mari kita minum dulu. Hidangan untuk Wanyen Lieh pun disiapkan sekalian. Atas itu putra raja Kim itu lantas berbangkit dari kursinya. Khu Cie Kee tangkis serang itu tanpa membalik tubuhnya.

‖ ia berpikir. ―Taysu. Habis kenapakah barisan serdadu itu? Ia tanyakan keterangan beberapa penduduk.‖ sahut hweshio itu. ia tepuk pundaknya putra raja Kim itu dengan kipasnya seraya bilang: ―Apakah kau telah jual itu orang perempuan yang kau tipu? Bagaimana kalau kau jual dia padaku? Hahaha!‖ Dan terus ia ngeloyor turun. Maka sebelum layani godaan orang itu. Kejadian itu membuat ia sangat gembira. tombak dan gendewanya pada patah. dalam mana ia bilang ada orang jahat hendak mengganggu mereka itu dan karenanya dia minta supaya aku beri tempat berlindung kepada merek itu. Dari Gu-kee-cun. dari kuil Kong Hauw Sie. ia lekas-lekas balik ke hotel. kita tak dapat tidak bersiaga.‖ sahut Ciauw Bok. akan menghirup permainannya sang salju. untuk membuat perkenalan dengan caranya yang luar biasa itu. ―Beberapa orang ini lihay sekali. entah kemana lolosnya tetapi ada kemungkinan dia pun tak kan hidup lama. Saking penasaran. turun di tangga loteng. di dalam kuil itu mereka berkumpul di kamar bersemedhi. habis mana ia lantas mengundurkan diri. lantas Tiang Cun Cu datang menyatroni sambil dia menuduh ada dua orang wanita dari Hangciu. baru satu dua har I orang itu tiba. (Yankhia = Peking sekarang). bukan?‖ Tin Ok memotong. ―Keliru mengerti ini jadi makin hebat…‖ Ciauw Bok Taysu mulai berkata smabil ia menghela napas. Untuk kagetnya ia dapatkan beberapa potong emas dalam sakunya terbang pula! Ia mendongkol. Mereka tidak dapat mengerti sikapnya Khu Cie Kee. dengan tinggalkan restoran itu. tidak ada huru-hara penjahat di dekat-dekat Hangciu. Khu CieKee pergi ke Gu-kee-cun kepada Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. Sementara itu Kwa Tin Ok beramai telah ikuti Ciauw Bok Hweshio pergi ke kuil Hoat Hoa Sian Sie yang letaknya di bagian barat dari luar kota Kee-hin. ia menjadi mengeluh. seperti bekas kalah perang. ia lantas pergi ke Hangciu. lebih bingung pula Kanglam Cit Koay. Kacung hweshio lantas menyuguhkan air the. aku serta semua serdaduku bukan tandingan mereka. ―Benar. Irawan D Soedradjat Page 48 . Ia tunggu sampai malam. Itu hari sehabisnya membinasakan Ong Tian Kian si pengkhianat. Ia ingat pada pengalamannya yang pertama. Nyatalah barisan itu adalah barisan yang telah pergi ke Gu-kee-cun untuk menawan Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. Pasti tak dapat ia umbar hawa amarahnya terhadap serdadu itu. seragamnya tidak karuan. ia tampak lewatnya beberapa puluh serdadu dalam keadaan rudin. Kami orang beribadat mesti berlaku murah hati. Sampai disitu mereka berunding. Diluar dugaanku. ia tidak lagi berpikir untuk beli pakaian buat si nyonya. ―Aku ada punya Suheng yang menjadi pendeta di kepala di kuil Kong Hauw Sie di Hangciu…‖ ―Itulah Kouw Bok Siansu.‖ menyatakan Coan Kim Hoat. merundingkan daya penjagaan. ia menitahkan dua orang yang menyampaikan surat itu. Wanyen Lieh terkejut. tentu saja aku mesti terima permintaannya itu. ―Pauw-sie ada padaku.‖ Tin Ok juga menyatakan. lalu dengan diam-diam ia menyatroni. ia tahu tidak ada peperangan dengan bangsa Kim. juga mereka itu tidak tahu suatu apa. hingga kesudahannya ia labrak rombongan serdadu bangsa Kim serta orang-orang polisi yang mencari padanya.‖ Oleh karena kekhawatirannya ini. Ciauw Bok Taysu bingung. paling dulu ia ragoh sakunya. untuk pesiar ke telaga See Ouw dan tempat sekitarnya yang indah. ―Maka aku pikir. Biauw Ciu Sieseng jalan paling belakang.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin OK semua lantas berlalu. Tempo ia lewat di muka Ceng ho-hong. untuk korek keterangan dari mulutnya. ―Dia menyebutkan dua orang wanita. akan tetapi ia jerih pula. ia ikuti rombongan serdadu sampai di tangsinya tentera itu. pulang ke Yankhia. itulah akibatnya ia sudah mengikat persahabatan sama dua orang she Yo dan Kwee itu. Ia heran. Tentu saja aku menjadi tidak mengerti. apapula ia adalah kakak seperguruanku. jikalau mereka dapat tahu. selagi lewat di samping Wanyen Lieh. inlah berbahaya………. Bersama dia turut juga semua pengiringnya. ―Kemarin dulu ia menulis surat padaku. Kapan ia sudah dengar jawabannya.‖ ―Itu benar.‖ ―Melihat dari sikapnya tadi.‖ tanya Han Siauw Eng. yang ia bawa ke ujung jalan besar. siapakah mereka itu? Bagaimana sebenarnya duduk perkaranya?‖ ―Nanti aku beri keterangan. ibukotanya kerajaan Kim. Ciauw Bok Hweshio turut mereka. Imam ini sangat menyesal. mesti dia bakal datang lagi menerbitkan onar. datang menyembunyikan diri di kuilku. Ia tahu. Ia bekuk satu serdadu yang sedang tidur pulas. Ia berduka berbareng murka akan dengar Siauw Thian terbinasa dalam pertempuran itu dan Tiat Sim terluka parah. terus ia ajak si nyonya untuk berangkat ke Utara.

Satu imam. Dia belum kenal perwira ini. Ia gunai tangannya yang kiri. lagi bertarung dengan robongan serdadu. Thian Tek segera berkata kepada dua serdadu yang ia kedipi mata: ―Pergi kamu antar toya ini ke telaga untuk cari Toan Tayjin!‖ Irawan D Soedradjat Page 49 . Lengannya Thian tek lantas saja kena dicekal. tapi ia licik sekali. ia lompat keluar dari tangsi. terus ia pergi cari Thian Tek di tangsi. agar supaya anak-anak mereka dapat ia didik menjadi orang-orang sempurna seperti yang ia janjikan. rombongan serdadu lagi dilabrak oleh imam itu yang bersenjatakan dua serdadu yang ia cekal kakinya dengan masing-masing mereka mengeluh.‖ Segera Khu Cie Kee atur rencananya. kalau tidak. lagi pelesiran minum arak di atas perahu. tentung sudah terjadi pertempuran dengan orang yang mencari dia. Dia paykui di depan kuburan. ―Dengar baik-baik. ―Khu Cie Kee.‖ Cukup segitu.dia sekarang ada di telaga See Ouw. oh. Ia ingin Lie Peng sebutkan sahabat atau sahabat-sahabatnya Siauw Thian yang dirasa bernyali besar berani mencuri kepalanya Siauw Thien itu. Khu Cie Kee!‖ katanya seorang diri. Thian Tek kesakitan. Sejumlah serdadu lain menyerang dengan anak panah tetapi serangan itu tak ada hasilnya. ―Kau hendak memberontak?!‖ ia menegur sambil ia lantas menerjang. untuk menegur: ―Mana dia Toan Thian Tek?! Suruh dia keluar!‖ Justru itu hari. istrinya Siauw Thian. ialah khu Cie Kee. ia lagi periksa Lie Peng. Cie Kee bebaskan serdadu itu. dia ambil cara singkat saja. lalu laporan itu disusul dengan laporan lainnya. ada di gantung kepalanya Kwee Siauw Thian untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai. tidak ada muka pinto menemui kalian di dunia baka. supaya kelak mereka menjadi orang-orang kosen. hingga ia mau menduga. yang nampaknya gagah sekali. dengan membawa goloknya. Segera ia melongok di jendela. Ia kaget akan dengar laporan ada orang cari padanya. tidak berhasil ia mencari Toan Thian Tek. kau sebaliknya rembet-rembet mereka hingga mereka bercelaka.‖ sahut serdadu itu yang menyebutkan komandonnya. Habis itu dia hendak mencari istrinya dua sahabat itu guna menempatkan mereka ke tenpat yang aman. Di muka tangsi. Thian Tek ada di dalam tangsinya. tidak tahu dimana tidurnya ciehui itu malam itu. mungkin Thian tek tidur di luar tangsi. Pertama-tama Toan Thian Tek mesti dicari. Atau lebih benar. Kemudian ia akan mohon belas kasihannya Thian. Thian Tek gusur menyaksikan perkelahian semacam itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Siapakah itu perwira atasanmu?‖ ia tanya. Beruntun dua malam Cie Kee telah satroni tangsi Wielok nomor enam. namanya Thian Tek. supaya mereka dapat turunan. Hampir dadanya meledak. si imam membela diri dengan dua serdadu korbannya itu. masih dapatkah kau disebut satu laki-laki?!‖ Saking mendongkol. Imam itu. Tiang Cun Cu menampak hal yang membuat darahnya mendidih.. ―Dia…. untuk mencari kesenangan. tubuhnya hampir tak dapat bergerak. untuk dikubur. airmatanya turun mengucur. Ia dapat terka maksudnya si imam. Dia pergi ke muka tangsi. ―Toya mencari Toan Tayjin?‖ dia balik menanya.‖ Cie Kee kena diakali. kedua sahabat itu jamu padamu. mungkin Thian Tek adalah satu komandan yang tak berdisiplin dan doyan pelesiran. ia hajar dengan tangannya tembok dimana tiang itu dipasang. ―Mana itu bajingan jahanam Toan Thian Tek?!‖ Cie menegur. dia panjat tiang itu untuk turunkan kepalanya Siauw Thian. rumah tangga mereka tercerai berai dan musnah! Jikalau kau tidak menuntut balas untuk mereka. ciehui itu mesti dibinasakan guna membalaskan sakit hatinya Tiat Sim dan Siauw Thian. Pemeriksaan dilakukan sebab lenyapnya kepala Siauw Thian itu. Besok paginya. Sebentar lohor ia baru pulang. yang ia bawa ke tepinya telaga See ouw. di atas tiang bendera yang tinggi. Kemudian malamnya. ―Dia she Toan. ―Ciehui tayjin kami. hingga batu dan pasir kapurnya hancur. tetapi ia tidak peroleh hasil. ia lepas cekalannya. Oleh karena sudah habis sabar di hari yang ketiga setelah dua malam itu. diam-diam ia memuji dan berjanji: ―Itu hari pinto sudah berjanji akan ajarkan ilmu silat kepada anak-anakmu. telah sambut serangan sesudah ia lemparkan satu serdadu.

―Keponakanmu telah orang perhina. ―Jangan kamu bikin toya gusar!‖ Baharu sekarang dua serdadu itu mendusin. jeri Thian Tek terhadap pamannya. kau memangku pankat. Dia bawa Lie Peng bersama dia. dia pasti dapat susah di tangan pamannya itu. ke tangsi Coan-ciat nomor dua. Baharu sekarang ia bisa bernapas sedikit lega. disusul sama masuknya laporan halnya satu imam datang mengacau.‖ dia ambil keputusan. Tentu saja ia menjadi sangat ketakutan. Thian Tek berkepandaian tidak seberapa. dia takut pulang. ―Mau apa kau datang kemari?‖ sang paman tegur keponakannya. aku mohon pertolonganmu…‖ ―Kau tinggal di tangsi tentera. Dia tahu sebabnya kenapa pamannya itu masuk menjadi paderi. Di luar tangsi. ahli waris dari partai Hoat Hoa Cong golongan Selatan. Dalam ilmu silat. Bukan saja pemerintah tidak membuat perlawanan. si imam tidak berhasil menavri dia terlebih jauh. Thian Tek mendusin dengan kaget. Ia pernah memangku pangkat dalam ketenteraan. Kouw Bok Hwehio pandai ilmu silat. Di sini ia selamat. Tangsi ini terpernah di tempat sepi.Pendekar Pemanah Rajawali Dua serdadu itu belum mengerti. tapi mendadak terdengar suara ribut-ribut di luar tangsi. Dan untuk mencegah kecurigaan orang luar. yang adalah pamannya. sebab ialah dia tidak setujui kelakukan sang keponakan. Mereka keluar secara diam-diam dari belakang tangsi. aku minta kau suka tolongi keponakanmu ini…. Lengan itu bengkak. ―Lekas! lekas pergi!‖ Thian Tek membentak. Karena ini. Malam itu dia bermalam di tangsi itu. dia ajak barisannya meninggalkan tangsi Wie-ko itu. ―Aku diperhina satu imam. mereka bingung. sehingga mereka terpaksa mesti mebuka rahasia. yang bekas di cekal si imam. dia ajak Lie Peng dan barisannya kabur dari belakang tangsi. ―Peehu. Thian Tek takut bukan main. dengan memandang kepada muka ayah. tanpa pedulikan malam buta rata. Nyata tulang lengannya patah. Peehu. Thian Tek tidak berani berayal pula. dengan rajin ia berlatih terus. dia melebihi kebanyakan orang. rupanya ia telah kompes kedua serdadu pengantarnya. tanpa pamitan dari rekannya. siang-siang dia telah karang sebuah alasan.‖ dia menyahut dengan cerita karangannya. ia manggut-manggut. Maka kaget ia akan dapatkan tengah malam itu sang keponakan muncul dengan tiba-tiba. siapa berani perhina padamu?‖ paman itu tanya pula.‖ Irawan D Soedradjat Page 50 . dalam hal kecerdikan. Dia pergi ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan yang komandannya adalah sahabat eratnya. hingga ia lantas menyusul ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan itu. Dari itu. Seberlalunya si imam. Terang Khu Cie Kee balik kembali setelah ia tidak berhasil mencari Thian Tek. Terus Thian Tek kasih lihat roman sangat berduka. Sikapnya dingin. Kepada sahabat itu ia tuturkan halnya si imam jahat. hingga tulang itu mesti disambung. Ia menjadi kepala di kuil Kong Hauw Sie itu. yang sama martabatnya. ―Imam itu kepung-kepung aku hingga tak tahu kemana aku mesti singkirkan diri. rasanya sakit sekali. Thian Tek segera tekuk lutut di depan pamannya itu. Kali ini ia lari keluar kota. ialah si paman sangat benci bangsa Kim dan sangat sesali pemerintah Song. ia tidak abaikan ilmu silatnya itu. nama sucinya ialah Kouw Bok. dia paksa Lie Peng dandan sebagai serdadu. Sejak sucikan. Sebabnya ialah satu serdadu jaga ketahuan lenyap tidak keruan paran. Kemana ia mesti menyingkir.‖ katanya dengan suara susah dan mesgul. Malah segera ia bekerja. serdadu-serdadu membikin banyak berisik. ―Mari kita bekuk dia!‖ berkata si si komandan. Dia cari tabib tentera untuk obati tangannya itu. Kalau perlu nyonya Kwee itu dapat di pakai sebagai tanggungan untuk jiwanya. Pamannya Thian Tek ini sudah lama sucikan diri. Untuk memastikan keselamatannya terus ia bawa-bawa Lie-sie. mereka terbirit-birit menuju ke Kong Hauw Sie. mereka lantas ngeloyor pergi. Dia malah menjadi ciang-bun-jin. Sebenarnya sudah lama dia tidak berhubungan dengan keponakannya itu. Tepat tengah malam. yang terus hendak kumpulkan tenteranya. Cie Kee ikuti kedua serdadu itu. ―Baik aku pergi ke paman. supaya selamat? Akhirnya dia ingat pendeta dari Kong Hauw Sie. Tapi ia mesti menderita pada tangannya. sebaliknya menteri dan panglima setia dibikin celaka. tak suka ia bergaul dengannya. Umpama kata dia bercerita terus terang bahwa ia telah bekerja sama dengan bangsa Kim untuk menawan Kwee Siau Thian dan Yo Tiat Sim.

‖ Dasar orang suci dan mengingat juga kepada almarhum saudaranya. Disana kami bermain-main di Lam-wa-cu di bawah rangon Hie Cun Lauw….‖ Kouw Bok menitah. hari itu aku minum arak bersamanya. tak dapat aku urus perkara main perempuan kamu ini. dia mengejar. Lebih tegas lagi bermaksud. semunculnya dia. walaupun ia tahu orang sudah mendusta. Aku larang kau main gila pula!‖ Thian Tek menghanturkan terima kasih berulang-ulang. gampang bubar‖. 51 ―Dia. Thian Tek pura-pura tuli untuk ejekan pamannya itu. tentera itu bakal membunuh habis semua pembesar dan tentera kita…‖ Kouw Bok lantas saja menjadi gusar. dia katakan aku bakal terpisah kepala dari badanku. Lam-wa-cu itu diambil dari kata-kata wa-sia. . tak lama lagi tentera bangsa Kim akan datang menyeberang ke sini.‖ Thian Tek merintih. belakangan orang berpangkat atau sembarang hartawan pun dapat permainkan mereka. mengejar terus-terusan. wa-sie itu diambil sebagai arti ringkas dari sebutan. ―Untuk beberapa hari kau boleh berdiam di sini. Tapi maksudnya nag paling jelas ialah: Di jaman Song itu. benar dia…‖ kata Thian Tek. pemerintah mengadakan apa yang dinamakan wa-sia itu di dalam dan di luar kota Hangciu.‖ ―Apa maksudnya dengan kata-katanya kepala terpisah dari badan?‖ tanya Kouw Bok lagi. ―Kemarin dulu aku pergi ke barat jembatan Ceng Leng Kio. ―Kenapa itu imam kepung-kepung padamu?‖ ia tanya. Lebih jauh.‖ dia menjawab. dia memaksa si nona melayani padanya…‖ ―Mustahil seorang suci pergi ke tempat semacam itu!‖ Kouw Bok menyela. ia tutup mulut. dia adalah paderi dari partai mana?‖ tanya sang paman. ―gampang berkumpul. hingga tak perlu aku main gila. untuk mengikat hati tentera. diwajtu pergi genting pecah‖. genting utuh.― berkata paderi itu. Tiba-tiba muncul imam itu. ―Dia menjelaskan. Irawan D Soedradjat Page ―Imam itu sangat galak. Kouw Bok merasa berkasihan juga. aku suruh dia pergi. Aku minta peehu suka tolongi aku…. galak dia. yaitu paderi tukang layani tetamu.Pendekar Pemanah Rajawali Melihat roman orang. Aku turur beberapa kawan. ―Dia berani mengatakan demikian?!‖ ―Benar. ―Tolong. hati Kouw Bok tergerak.‖ Kouw Bok mengeluh. Itulah tempat pelesiran serdadu.‖ Thian Tek pura-pura merengek. Penghuni wan-sia adalah wanita-wanita melarat yang tidak punya sanak kandung.‖ Thian Tek adalah satu perwira.‖ ―Hm…!‖ sang paman perdengarkan suara di hidung. Dia damprat aku. Ia menghela napas panjang. aku tegur dia dan jadi berkelahi karenanya. tie-kek-cung. Lie Peng sudah diancam oleh Thian Tek. Sayang aku bukan tandingan dia itu. Aku tak berani main gila lagi…. lari masuk dengan tegesa-gesa. setelah pemerintahan dipindah ke selatang. ―baik. Mulanya itu mereka jadi barang permainan tentera. ―Tapi kejadiannya benar demikian. karena habis jalan. ―Diwaktu datang. Ia omong terus: ―Aku ada punya satu nona kenalan. Maka itu aku telah singkirkan dia. terpaksa aku lari ke mari. peehu. ah…. Lewat lhor itu hari. maka itu dia dipanggil tiang-khoa. Thian Tek sudah bangun berdiri. keponakanmu celaka. Aku lari. dan dia minta Toan Tiangkhoa keluar menemui padanya…. Nyata dia sangat galak. ―Celaka. ―Panggil Thian Tek. ―Aku adalah seorang suci. dasar tabiatku jelek. lekas-lekas dia berlutut pula. ―Tolong untuk kali ini saja.‖ kata dia akhirnya. dan wa-sia berarti ―rumah genting‖. ―Satu pembesar tentera begini tidak punya guna. ia menemui Kouw Bok dan melaporkannya dengan gugup: ―Di luar ada satu imam.

singa-singaan batu. Kouw Bok berpikir. ―coba kalau dia tidak berlaku murah. ―Apakah dia mengucapkan sesuatu?‖ tanya Kouw Bok setelah berdiam sesaat. Celakanya. ia berlaku sabar. kecuali setibanya ia di mulut pintu pekarangan. ia tak mau mengganggu kesujudan banyak orang itu. ia bukan Cuma besar tenaganya…‖ Lekas-lekas ia rangkap kedua tangannya untuk memberi hormat seraya menanya: ―Ada pengajaran apakah maka totiang datang berkunjung ke kuil kami ini?‖ ―Aku datang mencari satu bangsat busuk she Toan!‖ Cie Kee menjawab ringkas. terus ia pergi keluar. ―Inilah aneh. separuh patung pun gempur! Dalam kagetnya yang tak terkira. ―Mana dia hanya satu imam dusun!‖ kata Kouw Bok dengan mendongkol. Kouw Bok lirik tie-kek-ceng untuk suruh muridnya itu antar tetamu tak diundang itu.‖ kata tie-kek-ceng. tidak ampun lagi ia terlempar membentur patung Wie Hok di pendopo itu. Keduanya turut lari keluar. sebab ia dapatkan kenyataan. celaka…. diluar kendalinya. aku tak sangggup lawan dia…‖ ―Baiklah. di hari-hari dari musim semi itu Kong Hauw Sie kedatangan banyak penduduk yang bersujud. Irawan D Soedradjat Page 52 .‖ Kouw Bok pakai jubahnya. yang muncul di depan gurunya. dia sendarkan diri di dua singa-singaan batu. Thian Tek keluar dari persembunyiannya. ia tak berani membuka mulut. Ia kena langgar daging yang empuk bagaikan kapas. lebih-lebih Thian Tek yang mukanya menjadi bengap dan merah. Ia nampaknya menggeraki tangan dengan perlahan tetapi ia menggunai tenaga dalam. Ia ingin mendorong imam itu keluar pendopo.‖ sahut tie-kek-ceng. agaknya ia sangat letih. dengan seret Lie Peng. ialah Khu Cie Kee. selagi imam itu hendak memaksa memasuki pendopo walaupun paderi penjaga pendopo mencegah padanya. Cie Kee juga tidak berani menggeledah. jiwaku pasti sudah melayang!‖ Thian Tek membungkam. dia Cuma bertenaga besar.‖ jawab muridnya itu. sudah tentu benturan itu menimbulkan suara yang keras. kenapa totiang berpandangan sama dengan seorang biasa saja?‖ ia tanya. Lebar tindakannya itu. Ia maju mendekati. akan susul Kouw Bok.‖ Kouw Bok lantas mengeluh. nanti aku temui dia. tapi begitu ia kena langgar bahu si imam. terpaksa ia berlalu. Sebagai seorang yang beribadat. Nampak romannya yang sangat berduka dan menyayangi singa-singaan itu. ―Dia sudah pergi jauh. ―Sebenarnya tak seberapa ilmu silatnya. ―Celakalah singa-singaan kita itu.‖ Thian Tek mendusta tak kepalang tanggung. habis itu dia angkat kaki sambil tertawa haha-hihi.Pendekar Pemanah Rajawali ―Entahlah dia imam dari desa mana. celaka. Kouw Bok Hweshio berdiri bengong mengawasi sepasang cio-say. Di pintu pekarangan. Setelah mengetahui orang sudah pergi. yang usianya tetelah beberapa ratus tahun…‖ Dan tangannya melayang ke muka Thian Tek. hingga ia mesti bekapi mukanya itu. Kouw Bok insyaf bahwa ia bukan tandingan ini imam. ―Apakah ada sikapnya yang aneh selagi dia hendak berlalu?‖ tanya lagi. Ketika itu. ―Ah. Dengan tertawa dingin. tubuhnya tertolak mundur keras sekali. ia telah terlambat.‖ mengatakan Kouw Bok.‖ lanjut muridnya lagi. ―Singa-singaan itu musnah di tanganmu!‖ katanya. Thian Tek sudah umpatkan diri ke dalam sebuah kamar. ―Seorang pertapa perpokok kepada belas kasihan dan murah hati. Thian Tek dan tie-kek-ceng menjadi heran. ―Dia membuang napas. ia hanya bertimdak masuk. ―Dia tak bilang suatu apa. habis mana ia lari keluar. ia terus tolak bahu si imam itu. waktu ia hendak tarik pulang tangannya. ―Tidak. karenanya tentu saja ia tak dapat dicari. dasar aku yang tidak punya guna. Cie Kee tidak menjawab pertanyaan itu. ―Dia lihay sekali. yang disebutkan tadi. ia kaget sekali. penduduk pria dan wanita. Ia lantas bertemu sama si imam.

Tiba-tiba saja ia menjadi kaget. Turut penglihatanku. ―Inilah takdir…‖ sahut si paderi dengan masgul. Karena ia telah lihat Lie-sie dengan matanya sendiri. matanya mengawasi pamannya. kepada suteeku itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kenapa peehu?‖ sang keponakan tanya. ia tidak sangka yang kawannya Thian Tek adalah satu wanita dalam penyamaran. ia berkeras. mungkin dia sanggup melayani imam itu. maka sekarang. Kouw Bok menghela napas pula. cio-say. begitu ia ingat pada Kanglam Cit Koay. dari itu ia tidak bantah pamannya itu. pada ini mesti terselip salah mengerti. mestinya jalannya tak sama dengan yang di rumah makan.‖ ―Benar. ―Eh…kenapa jadi beini…? katanya. Habis menutur Ciauw Bok Taysu menambahkan: ―Telah lama aku dengar Tiang Cun Cu lihay. ―Adikku seperguruan. tidak berani dia membuka mulutnya. dia seperzi bukan hendak mengacau. ―Cio-say ini telah dirusak si imam dengan menggunai tenaga dalamnya…‖ katanya. Tie-kek-ceng heran. Ia berkata pula: ―Dia demikian lihay. ia berhasil menyusul Thian Tek. Tentu saja ia kaget hingga mukanya pucat. Pauw-sie pun disembunyikan di dalam kuil Hoat Hoa Sian Sie itu. Demikianlah mereka berkumpul di restoran Cui Sian Lauw. kuping dan hidungnya cio-say itu runtuh jatuh. maka itu mesti kita cari jalan untuk mengerti satu pada lain. Sayang ia terlambat. Karena ia telah lihat Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya. singa batu itu gempur dan rubuh.‖ ―Aku pikir baiklah minta datang dua orang yang kakakmu itu perkenalkan. Thian Tek masih tidak mengerti. ia minta supaya Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya. Ia segera tarik pulang tangannya itu. ―Yang dikhawatirkan justru salah mengerti ini sukar dijelaskan…‖ kata Tin Ok pula. pergilah kamu dengan baik-baik…‖ Kemudian dia berpaling kepada Toan Thian Tek. aku pandang Cio-sang itu sebagai mustikanya Kong Hauw Sie. malam itu ia ajak Lie Peng berlayar ke Kee-hin. lalu dengan menyewa perahu. Sampai sebegitu jauh. apa mungkin ia sudi layani kau yang begini hina memperebuti segala bunga berjiwa?‖ Thian Tek kaget. Seperti tanpa merasa. ―Cio-say. sepasang cio-say ini adalah barang peninggalan jaman Lam Pak Tiauw.‖ Paderi ini hendak suruh panggil Thian Tek tempo Tin Ok peringatkan: ―Ciauw Bok Suheng.‖ Ciauw Bok Taysu menyatakan akur. ―Pergilah kau kesana.― Meyaksikan lihaynya Khu Cie Kee. ―Luar biasa sempurnya tenaga dalam dari imam itu. ―Aku keliru sudah menyalahkan kau….‖ kata Kouw Bok kemudian. suaranya perlahan dan penuh rasa sangat menyesal. Irawan D Soedradjat Page 53 . ia pergi tolak tubuh cio-say yang satunya lagi. begitu kena diraba. Ia mau percaya. bertumpuk bagaikan puing. Ciauw Bok Taysu. kecurigaannya timbul.‖ kata Kouw Bok. Ia mengawasi. mungkin imam itu menyusul kita.ah!‖ Ia menghela napas panjang. Tiba-tiba saja. ia raba kepalanya. Paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak menduga apa-apa. maka aku mau percaya.‖ ―Kwa Toako betul. Keras adalah hatinya Khu Cie Kee. ia terima mereka itu menumpang. Ia awasi cio-say itu. ia tidak mau percaya sangkalannya paderi itu. ia pergi minta bantuannya tujuh Manusia Aneh dari kanglam itu. ―Coba kita tanyakan keterangannya. ia dekati singa-singaan batu itu. Pastilah dia menyangka kita telah bekerja sama dengan pihak Kim. maka kalau kita bertempur pula. Lie Peng sudah disembunyikan Thian Tek dalam ruang bawah tanah. ―Aku memang bekum pernah tanyakan sesuatu kepada mereka. Ketika kemudian ia lompat masuk ke dalam pekarangan. Ciauw Bok Taysu merasa tidak ungkulan melawan imam itu. Oleh karena penasaran.‖ Kim Hoat menyarankan. untuk beberapa ratus tahun kamu bercape lelah menjaga pintu kuil ini. Kau tahu. ketika itu Kaisar Liang Bu Tee telah memanggil tukang yang pandai untuk membuatnya. Thian Tek tahu tidak selamat ia berdiam terus di Kong Hauw Sie ini. Maka itu ia ketemukan Ciauw Bok Taysu.‖ berkata si pederi. lebih pandai sepuluh lipat daripada aku. sampai setiba Tiang Cun Cu dengan jambangan araknya yang istimewa itu. untuk pergi menumpang pada Ciauw Bok Taysu. Khu Cie Kee ingat Pauw-sie. ia cuma minta surat perantara. Kebetulan ia lihat Lie Peng di dalam tamannya kuil. yang tidak kurang suatu apa. Ingat Lie Peng. Sekarang…. dia tidak bakal berlaku murah hati lagi. sekarang kita dapat buktikan itu.

Segera si imam serang tukang pentang bacot itu. Ia kembali gagal. Kali ini ia berhasil. ―Kita tidak berniat binasakan dia. yang satu geraki pikulannya yang istimewa. ―Delapan orang lawan satu orang. panglima sangat tangguh dari negeri Gouw itu. di situ kedua negara biasa berperang. Cambuk Naga Emas bukannya melilit tangan. orang kang-ouw juluki si nona Wat Lie Kiam – Akhli pednag Gadis Wat – Begitu lekas mengenali ilmu silatnya si nona. Tiang Cun Cu mendesak Siauw Eng. ia minta si gadis ajari ia ilmu silat itu. Ia pun lantas tarik Kim-liong-pian. ―Aku pikir tak apa. dia mencoba melilit lengan si imam yang memegang jambangan. ditambah hingga menjadi empatpuluh sembilan jurus. dengan sabetan ―Naga hitam menggoyang ekor‖. Berdelapan mereka memburu ke depan. beruntun beberapa kali. melatih keuletan diri dengan tidur sambil mencicipi nyali yang pahit. Berbareng dengan itu. Ia menjadi sangat girang. Kalau Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan bungkam mulutnya. Lam Han Jin dan Thio A Seng maju dengan berbareng. sambil ia melompat. ia tidak menyangka orang akali padanya. Diserang dari depan dan belakang. dengan satu egosan tubuh. Oleh karena disitulah tersiar luas perihal ilmu pedangnya si gadis Wat itu. hanya menghajar jambangan perunggu itu. Sikap kedua saudara ini sangat berbeda satu sama lain. yang sekarang dipunyai Han Siauw Eng. dengan itu ia lompat menikam bebokong imam itu. yang pandai ilmu silat pedang. mengalun. yang lain mainkan ―golok jagalnya‖ yang ujungnya lancip. Lagi sekali mereka dengar suara nyaring seperti tadi. Seperti terlihat Khu Cie Kee. Di jaman dahulu. negeri Gouw bermusuh dengan negeri Wat. beberapa kali Han Siauw Eng menghindari nacaman bahaya. hendak ia merampas pedang si nona. karena ia berkecimpung di dunia kang-ouw -Sungai Telaga – sedang raja Wat pakai ilmu itu dalam peperangan. Di pihak lain Han Siauw Eng sudah hunus pedangnya. Ia menjadi sangat tidak puas dan berduka. ia perbaiki. yang bernama Kouw Cian. Penambahan ini penting untuk si nona. mari kita maju lebih dahulu!‖ Ho Po Kie teiaki adiknya. Siauw Mie To si Buddha tertawa terus-terusan mengoceh tidak karuan juntrungannya. di tangan nona Han. si imam datang!‖ seru Kwa Tin Ok. ia mesti menghadapi Ngow Cu Sih. Ia dan adiknya itu memang yang paling aseran diantara Cit Koay. Oleh karenanya. Kota Kee-hin adalah tapal batas kedua negeri Gouw dan Wat itu. ia ulangi serangannya. Mendapatkan adik angkatnya terancam bahaya.‖ kata Coan Kim Hoat. Khu Cie Kee tidak menjadi gugup. Ilmu silat itu asalnya tigapuluh enam jurus.‖ ―Apakah nama kita tidak bercacat seumpama tersiar diluaran Ciauw Bok Taysu bersama Kanglam Cit Koay mengepung satu orang?‖ Han Siauw Eng pun bersangsi.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kalau terpaksa kita maju berdelapan…‖ Cu Cong turut berbicara.cambuk Naga Emas. Sayang untuknya. Raja Wat. suara itu lalu mengaung. tangan kirinya yang menyambar. ia membuat terbitnya suatu suara nyaring. Suara itu seperti suaranya dua genta beradu keras. Karena ini ia membuat si nona Han menjadi repot. Siauw Eng menjadi penasaran. yang tajam mengkilap. pendopo besar. sampai jambangan perunggu itu retak. sambil di lain pihak melayani Han Po Kie. yang pandai sekali mengatur tentera. hanya kali ini disusul sama campuran suara rengatnya barang logam. dengan satu gerakan tangan kanannya. itulah tidak benar…‖ menyangsikan Han Po Kie. Untuk dapat menelan negeri Gouw itu. Cepat sekali Khu Cie Kee ketahui ilmu silat pedang si nona. Justru ia melengak itu. Belum putus pembicaraan mereka. Pada suatu hari ia kedatangan satu gadis yang cantik. dari pinggangnya. ―Nah. mereka telah dikagetkan suara keras yang datangnya dari toan-thian. sampai ia terdsak mundur ke tepinya patung Buddha. ―Citmoay. melainkan kita menghendaki dia sabar mendengarkan penjelasan Ciauw Bok Taysu. Lincah sekali caranya ia berkelit. si imam juga bebaskan diri dari ujung pedangnya si nona. kakinya Cie Kee melayang. sedang menggempur genta di toa-thian itu. untuk membinasakan panglima dan merubuhkan kuda perang. Dia menyerang beberapa kali. negeri Gouw dapat dimusnahkan. A Seng berkelit seraya melengak. dengan jambangan arak di tangannya. tepat Irawan D Soedradjat Page 54 . hingga Khu Cie Kee tak ketahui apa yang diucapkannya.

lama-lama nanti ia kalah ulet. gaetan dan gembolan. ―Kau begini lihay tetapi kau rendahkan dirimu dengan jalan menakluk kepada musuh negara!‖ ―Hai. ia menyerang lawannya. ia pasang jambangan itu sebagai sasaran. Ciauw Bok Taysu menjadi bergelisah menyaksikan jalannya pertempuran itu yang makin lama jadi makin hebat. setelah ia menganca. Walaupun begitu. Disana masih ada dua musuh segar Kwa Tin OK dan Ciauw Bok Taysu – inilah berbahaya untuknya. Tidak ampun lagi. Khu Cie Kee tidak peduli ia dikepung berenam. hanya guna mencegah si imam ulangi serangannya yang lihay itu. dan ia sambuti serangannya si imam untuk keras lawan keras. sebagai tameng. Genggamannya Lauw-sie In Hiap adalah sebatang bacin. imam bangsat. Keduanya maju dari samping. Thio A Seng ada punya ilmu kedot. ia mengatakannya: ―Sayang! Sayang!‖ ―Eh. dengan memberi tanda kepada kakaknya yang kedua. Tapi ia salah menaksir ketangguhannya sendiri.Pendekar Pemanah Rajawali mengenai lengannya. Menampak demikian Coan Kim Hoat tapinya menjadi penasaran. dengan jari-jari tangan terbuka. karena ia biasa berlatih mengadu tenaga dengan kerbau – sudah dagingnya keras dan kulitnya pun tebal. Maka itu. juga dengan kepalan. ingin ia lekas-lekas menyudahi pertempuran itu. dengan kipasnya senantiasa mencari jalan darah lawannya. Cie Kee melawan sambil berkelit. Dia akhirnya tidak dapat bersabar lagi. Kekebalannya itu ditambah sama tenaganya yang besar. ia membalas menyerang dengan tangan kirinya. akan tetapi untuk dua serangan yang belakangan. ―Bagus!‖ Tiang Cun Cu puji lawannya ini. Atau lebih benar. Irawan D Soedradjat Page 55 . musuh bangsa Kim. Beruntun tiga kali. maka dua kali kepalannya A seng membuatanya jambangan itu bersuara nyaring. sedang Biauw Ciu Sie-seng si Mahasiswa Tangan Lihay. goloknya terlepas dan melayang. ia sudah lantas pernahkan diri. ―Biarlah!‖ dia berseru. lengannya itu terhajar patah tangannya Khu Cie Kee. nyatanya mereka berada di bawah angin. Cu Cong kaget bukan kepalang. diturut oleh kakak angkatnya itu. Mana ia mau mengerti dikatakan menakluk pada musuh. sebagai jago ia tidak menghiraukan pedangnya yang terbang malah membarengi itu. kau ngaco belo!‖ mendamprat A Seng sangking murkanya. dalam hal ini. ―Tuan-tuan tahan! Dengar. yaitu alat peranti menimbangan barang. dengan tangan kanan! Sebab sebat sekali. Jikalau mereka ini meluruk juga? Dari itu. jangan turunkan tangan kejam!‖ Ciauw Bok Taysu berseru dalam kegelisahannya yang hebat. Ia lihat ia dikepung berenam. ia merasa bahwa ia telah mesti menggunai tenaga banyak. ia lompat menerjang. Untuk membalas menyerang. Totokan ini bukan untuk menolongi Thio A Seng. ia tetap mainkan jambangannya sebagai senjata. Di antara satu suara keras. ―Totiang. karena dengan itu ia lebih banyak membela dirinya. Ia khwatir juga. ia manjadi nekat. Ia merasa A Seng tidak akan luput dari bahaya. ―Tahan! Tahan!‖ ia berseru-seru. ia berlompat menotok jalan darah soan-kie-hiat dari Tiang Cu Cu. Biauw Ciu Sie-seng merasa tidak enak karena berempat mereka mengepung. tidak ada orang yang sudi dengar cegahannya itu. Satu serangannya yang mengancam Thio A Seng hebat sekali. sayang! Sayang apanya?!‖ tegaskan Siauw Mie To ―Sayang ilmu silatmu yang sempurna ini!‖ sahut Cie Kee sambil ia layani terus musuh-musuhnya. ialah tubuhnya tidak mempan senjata tajam. sebab Siauw Mie To tengan terdesak. ia pakai tangan kirinya yang bebas yang tidak bersenjatakan apa juga. maka itu senjata bisa dipakai berbareng sebagai toya. Ia berkelit untuk serangan membalas sambil berkelit. ia menangkis dengan jambangannya. yang pandai ilmu menotok. yang telah menjadi korban. menampak ancaman bahaya. Tendangan itu mendatangkan rasa sakit dan akget. Cie Kee memang menyerang dengan hebat sekali. lihat!‖ Dan lantas ia mendesak dengan serangan tangan kirinya. hendak aku bicara!‖ Dalam waktu pertempuran yang hebat itu. Malah Khu Cie Kee perdengarkan seruannya: ―Kawanan pengkhianat tidak tahu malu.

Ia tidak lolos dari semua empat lengkak. setelah mana. Batu dacinnya Lauw-sie In Hiap telah kena disambar oleh si imam. Ia perhatikan suara anginnya. Ciauw Bok Taysu dan Han Siauw Eng menyerang dari kanan. Ia menotok ke bawah ketiak. Mesti begitu. Karena itu dengan berbareng dua orang perdengaran jeritan kaget. pada itu tercampur rintihan juga. tetapi semakin lama. Tidak dapat Kim Hoat pertahankan diri. ia tidak lolos seluruhnya. hingga ia lantas saja rubuh terguling. ia juga layani paderi itu. Di kanan ialah bagian ciat dan sun. dia lihay. setiap kali juga lengkak besi dari Kwa Tin Ok menyambar. Di saat ia hendak gerakkan tongkat besinya. Sebenarnya ada sulit walaupun ada orang luar yang memberi petunjuk menurut garis-garus patkwa…‖ Ia lihat datangnya dua serangan itu. dua rupa senjata rahasia menyambar sar! ser! kearah si imam. kedua senjata rahasia itu – thie-leng. maka setelah suara ting-tong. Mau tidak mau. Selagi melejit. Kwa Tin Ok tidak dapat berdiam terlebih lama lagi. Sekarang ia menimpuk berbareng dengan empat buah senjata rahasianya itu. Coan Kim Hoat lompat melejit. ia melainkan tidak sempat membalas menyerang. yang satu mengenai pundak kanannya. semua sebab hampir berbareng. Imam ini lihay. yang menyerang ke lain jurusan. Ciauw Bok Taysu lihat keadaan hebat. Atas itu. hingga orang tidak tahu dia masih hidup atau sudah mati… ―Serang! Serang!‖ Coan Kim Hoat masih bersuara lagi. Ia buta tetapi ia tahu dua saudaranya telah rubuh. Untuk cegah Lam Hie Jin dan Cu Cong. biar ia tidak terluka. yang berada paling dekat. ia ulangi serangan-serangannya yang dikhawatirkan Biauw Ciu Sieseng. Lauw-sie In Hiap sendiri terancam lukanya. yang berkelit. Dengan tidak kurang bengisnya.Pendekar Pemanah Rajawali Khu Cie Kee memang tidak berhenti sampai disitu. Cie Kee pun berkelit dari anggota tongjin sebagaimana diteriaki Kim Hoat. bagus! Sekarang serang beng-ie!‖ Setiap kali ia berseru. suaranya makin lemah. kakinya si imam kena sambar pinggangnya. kuda-kudanya gempur. Khu Cie Kee mesti berkelit. tubuhnya terbetot. Segera juga terdengar jeritannya Coan Kim Hoat. Menyusul tarikannya itu. ia tolak jambangannya ke arah mereka itu. ia mandi keringat. hajar lie! Bagus. makin perlahan. Coan Kim Hoat teriaki dia: ―Toako. Yang satu menuju ke alis dan yang lain ke paha kanan sebelah dalam. hanya kedua bagian kiri dan kanan dari tongjin itu. yang ujungnya hitam hangus. ia kena tertipu si buta. Bukan anggota tongjin yang ia incar. Coan Kim Hoat sudah berseru-seru pula: ―Hajar tionghu. Berbareng dengan itu. ia menangkis dengan jambangannya. Yang mereka sayangi sebagai saudara betul. yang mereka terjang dengan berbareng. Khu Cie Kee ayun terus tangan kirinya. ―Hajar tongjin…!‖ Yang terakhir ini Kwa Tin Ok tidak turuti tetap sasarannya Kim Hoat itu. lalu kedudukan siauw-ko!‖ Menyusul anjuran itu. Begitulah ia maju denagn sepotong kayunya yang mirip ruyung. Cuma ini jalan untuk tolongi saudara angkat mereka itu. atau lengkak besi – jatuh ke lantai. ―Dia hebat sekali!‖ pikirnya. Keduanya apungi tubuh mereka. meskipun sebenarnya ia tidak menghendaki pertempuran. tidak dapat lantas bangun. bagian hong dan lie. dacin itu terus ditarik dengan keras. guna menhajar batok kepala lawannya itu. ―Dia buta tetapi dia bisa mengincar dengan tepat. kau gunai thieleng! Hajar dulu kedudukan cin. untuk hampiri si imam. Jeritan itu menandakan adanya dua korban! Jitu serangan Tin Ok kali ini.‖ pikir Khu Cie Kee. Irawan D Soedradjat Page 56 . Cie Kee terkejut. Han Po Kie dan Han Siauw Eng kaget tidak terkira. ia tidak dapat tinggal peluk tanagn terlebih lama pula. dan beda dengan dia adalah Thio A Seng. Cie Kee terlalu perhatikan tongjin. hingga ia menjadi kaget dan menjerit karenanya. mirip lengkak tetapi ujung tajamnya ada empat. Thie-leng adalah senkata rahasianya Hui Thian Pian-hok. adiknya yang kelima dan yang keenam. ia dapat menunjuki sasaran kepada toakonya. ―Dia ahli menotok. ia sungkan turun tangan. Ia juga tidak gunai satu-satu biji lengkak sebagaimana bermula tadi. Setelah turun tangannya paderi itu. Rupanya ia anggap belum cukup dengan korban Thio A Seng itu. dan di kiri. tidak terdengar suaranya sama sekali. dia toh tidak kalah. Kim Hoat itu adalah saudara angkat mereka. Kalut kedudukan mereka. Maka sebentar saja belasan lengkak telah membuatnya Cie Kee terpaksa main mundur saja. ia dapat bersedia setiap kali Kom Hoat perdengarkan petunjuknya. Ia lolos dari gempuran kepada batok kepalanya. suara beradunya setiap senjata. Sebagai seorang yang cerdik dan gesit.

Dengan begitu. dikasih turun. terus ia muntahkan darah hidup! Cie Kee telah dapat melukakan lawan yang menghalangi ia. kedua matanya kabur. ―Tenangi hati. lengkaknya sudah nyasar di tubuh adik bungsunya itu. Inilah yang membikin ia kaget. si cebol kena ketutup! Setelah itu Cie Kee lepaskan tangannya dari jambangan itu. ia pengkeratkan tubuhnya. Berayal sedikit saja. ia lantas damprat dirinya sendiri. tanpa sangsi lagi. Han Siauw Eng tahu senjata rahasia kakaknya ada racunnya. ia lintangi pikulannya di depan mukanya. jiwamu bakal tidak tertolong!‖ Si buta ini merasa pasti mengenai lawannya itu. mulutnya manis. Hie Jin lantas merasa tubuhnya enteng. Itulah gerak ―Tiat so heng kang‖ atau ― Rantai besi dilintagi di sungai‖. ia lari kepada itu kakak. Kwa Tin Ok kaget berbareng girang. Lam San Ciauw-cu lihat bahaya datang. maka tidak ada obat lagi untuk menolong. ―Jangan lari. Han Po Kie tidak sempat berdaya untuk membalikkan jambangan itu. Siapa terkena senjata rahasia yang beracun itu. begitu rantai putus. di tanah!‖ kakak ini beri petunjuk. Tin Ok lantas rogoh sakunya. jalan perlahan-lahan saja!‖ Siauw Eng mendusin. jambangannya jadi menungkrap dari atas. ia melangsungkannya. begitu jeras. kerena mana meski ia bertenaga besar. dia tidak boleh keluarkan tenaga. Dengan tiba-tiba ia rangsak Lam Hie Jin. ia menyapu kepada Han Po Kie yang maju untuk serang padanya. tetapi ia dengar kata. Cie Kee terkena senjata rahasia. menyerah!‖ Kwa Tin Ok teriaki lawan itu. Khu Cie Kee tahu maksudnya lawan itu. sehingga ia tidak bisa berkelit. Ia lantas lompat mencelat ke arah genta. Ia tahu. Maka ia lantas berjalan dengan berpalahn tetapi tetap. ―Lekas kau rebahkan diri di taman belakang. Maka pikulannya Hie Jin kena terhajar. ia tidak perhatikan itu. Justru itu. selagi dia ini belum tiba di lantai. ia baru sadar kapan ia dengar teriakannya Tin Ok kepada Siauw Eng.Pendekar Pemanah Rajawali Jeritan yang lain dikeluarkan oleh Han Siauw Eng. racun bisa mengikuti jalan darah segera menyerang ke ulu hati. Niscaya sekali ia menginsyafi bahaya yang mengancam dirinya. lekas kemari!‖ ia memanggil. Selagi nona ini maju menyerang. ia tidak batalkan serangannya. sambil pasang kuda-kudanya. ia merasakan pundaknya sedikit kebas. Tidak begitu saja. Ketika mulut jambangan tiba di lantai. akibat lainnya menyusul. ia tidak mau singkirkan diri. sebaliknya. Ia girang sebab ia dengar suaranya si imam. Maka sambil membentak keras. kalau sampai itu terjadi. Dengan senjatanya itu hendak ia sambut pukulan musuh. Sementara itu pucat mukanya Khu Cie Kee. jangan lari!‖ Tin Ok teriaki. ia sendiri pun rasai pundaknya semakin kebas dan kaku. peluhnya lantas turun menetes. ―Kau tidak boleh bergerak sedikit juga. hingga tubuhnya si Tukang Kayu dari Gunung Selatan menjadi tergetar dan kedua tangannya dirasakan sangat sakit. ―Citmoay. Ia jadi berkhawatir. untuk keluar dari kurungan. ia terus lari ke belakang. yang dilarang lari. ―Lekas lemparkan pedangmu. ―Toako!‖ ia memanggil. hingga genggamannya terlepas dan jatuh ke lantai. genta jatuh menimpa jambangan. justru ia lagi ketakutan. Untuk tolong diri. berbareng tangan kirinya menolak tubuh genta itu yang beratnya mungkin ratusan seribu kati. Karena ini ia lantas tak berani melanjuti pertempuran itu. untuk membabat rantai gantungannya. Sekarang ia merasakan bahwa jambangan di tangannya itu menjadi berat. Si cebol lari berkelit. ia hunus pedangnya. ia keluarkan sebutir pil kuning. lama-lama sang racun akan bekerja mencelakai ia. menyambar si cebol itu. dengan lantas ia jejalkan itu ke mulut adiknya. sekalian diputar. ―Ke mana kau hendak lari?!‖ bentak Tiang Cun Cu yang terus tolak tangan kanannya. Irawan D Soedradjat Page 57 . ia dengar teriakannya kakak itu. muka siapa ia hajar. Lantas ia menduga bahwa senajata rahasia itu ada racunnya. Sebab telapakan tangannya pecah dan mengeluarkan darah. benar sementara itu ia cuma merasai sakit sedikit. lengkak yang mengarah bagian sun tepat mengenai pundaknya tanpa ia ketahui atau dapat berdaya mengelakkannya. Kau mesti tunggu sampai aku datang untuk mengobati!‖ Sebenarnya Siauw Eng keras kepala.

di sebelah musuh ia sendiri pun bisa celaka. inilah pertama kalinya. Kali ini Cu Cong menimpuk dengan bok-hie. Cie Kee belum pernah menemui lawan setimpal. Paderi-paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak mengerti ilmu silat. akan tetapi ketika kakinya menyentuh tanah. ia berhenti mengejar. ia hanya berlari-lari berputaran di pendopo kuil. Paderi ini lihat ancaman bahaya. Tapi Tin Ok dan Cu Cong merintangi padanya. Dengan ini. tubuhnya terus terguling! ―Bekuk dia dulu. tubuhnya pun terhuyung! Cu Cong yang cerdik itu telah timpuk imam itu dengan sepatunya. ia mau membuka jalan. mereka lantas pergi mencari Toan Thian Tek. maka lagi sekali. Baharu belasan jurus paha Tin Ok telah tertikam pedang. mereka semua pada sembunyikan diri. Orang she Toan itu terus sembunyi di dalam ruang dalam tanah. Maka sambil menghela napas. ia bersilat dengan ilmu silatnya ―Kie Siang Kim-hoat‖ atau ―Melukai Semua‖. Sembari berlari. Dia hampir membikin terlepas pedangnya. ia sudah muntahkan darah hidup! Cie Kee telah gunai tenaganya yang terakhir untuk serang lawannya itu. Inilah ilmu silat yang sejak ia yakinkan belum pernah ia pakai untuk melawan musuh. Ia percaya. Maka repotlah mereka membuat perlawanan.Pendekar Pemanah Rajawali Cie Kee tidak mau serahkan diri. Ia pun mulai terhuyung. lalu Cie Kee menjadi kaget sekali. lekas-lekas ia pusatkan semangatnya. Dengan menggunai ini ia telah menjadi nekat.. dari itu selama pertempuran mengambil tempat. Ia menginsyafi bahaya. takutnya bukan main. Cu Cong tidak melayani. Cu Jieko. ―Kwa Toako. Tiba-tiba ia rasai matanya kabur. Sejak turun gunung. itu tambur teroktok peranti mambaca doa. menyerah berarti celaka. si buta itu. ―Lihay tenaga dalam si buta ini! Mungkinkah ia melebihi aku?― pikirnya. Sekarang ia baru ingat untuk angkat kaki saja. ―Imam bangsat! Racun ditubuhmu telah menyerang hatimu! Kau tikamlah pula tiga kali!‖ Bangkit kumisnya si imam. ―Sudah. hari ini Tiang Cun Cu mesti terbinasa di tangannya bangsat-bangsat licik…‖ ia mengeluh. Oleh karena ini. baru kita bicara!‖ berseru Cu Cong. ujung pedangnya menikam ke arah muka. Mendadak bebokongnya mengasi dengar suara keras! Ia merasa sakit sekali. Ia penasaran. Tiba-tiba ia lihat tangan kiri Cie Kee bergerak. ia menangkis. Tidak urung. biarkan si imam berlalu!‖ berseru Ciauw Bok Taysu. tanpa bilang suatu apa. ia memikir untuk mengalah tetapi justru ia serukan kawannya. Tidak peduli tenaganya kurang. Cu Cong dan Ciauw Bok terarah semua bagian tubuhnya yang berbahaya. Bab 6. dengan ―melukai semua‖ hendak diartikan ―mati bersama‖. ia melompat ke depan. Ia geraki kipasnya untuk menotok jalan darah di dada si imam. tubuhnya terpental ke belakang. Tempo ia diberitahu orang telah pada rubuh semua. ia lantas pindahkan pedangnya ke tangan kiri. ia masih khawatirkan tidak ada Khu Cie Kee di antara korban-korban itu. baru mereka keluar dari tempat persembunyian mereka. batok kepalanya telah terpukul keras. ia kaget. dengan berlaku nekat ia tetap berbahaya. Ia menahan sakit. Tin Ok dengar anginnya senjata. tubuhnya rubuh seketika! ―Imam anjing!‖ Cu Cong mencaci. ia menikam. ia melompat kepada Manusia Aneh yang kedua itu. sudah. belum lagi tubuh itu tiba di tanah. Ia dekati imam itu. tetapi terlambat. yang rebah diam saja. Sampai keadaan sunyi. Dengan tangan kiri ini. Keras kedua senjata beradu. Cie Kee terjang musuhnya. mendelik sepasang matanya. ia insyaf kenapa ia kalah kuat. darah pun berhamburan. Segera juga Kwa Tin Ok. Cie Kee merasai pikirannya kacau tetapi kembali ia memusatkannya. Mereka jadi ketakutan. cukup keras timpukannya itu. mereka juga tidak tahu bahwa guru mereka mengerti ilmu itu. Nyatanya luka di pundaknya itu menyebabkan tenaganya jadi berkurang hingga separuhnya. Kali ini. Ia Irawan D Soedradjat Page 58 . akan saksikan segala apa kacau dan orang rebah di sana sini. Cie Kee insyaf bahwa tak dapat ia menyandak lawan itu. Justru itu. ia merasakan dorongan suatu tenaga keras sekali. Maka ia putar pedangnya. ujung pedang Cie Kee mengenai iga kanannya hingga ia kaget dan menjerit. Pengejaran Tidak ada jalan lain. dengan cepat ia menangkis dengan tangan kanannya. kedua kakinya itu lemas.

Thian Tek pergi cepat-cepat ke pendopo. tanpa ingat budinya Ciauw Bok. hatinya menjadi ciut. Ciauw Bok dan Kanglam Cit Koay adalah orang-orang yang lihay. ia lompat kepada Thian Tek. dengan dua bacokan ia bikin kedua kacung itu rubuh. orang sangka ia adalah serdadu sebawahannya Thian Tek. Di situ ada beberapa kacung paderi. dia hanya menyingkir sambil egos tubuhnya. dari itu dengan sambar tangannya Lie Peng. dia tahu pasti orang adalah seorang wanita. Hampir ia pingsan saking kerasnya ia melawan kemendongkolannya.Pendekar Pemanah Rajawali suruh dulu sat kacung paderi untuk melihatnya. ―Binatang ini telah jual aku. kau kejar aku hingga aku bersengsara. ―Dia perlu dibunuh dulu…!‖ Ciauw Bok menjadi gusar. Maka itu bukan main menyesalnya ia untuk kealpaannya itu. ia arahkan ke kepalanya si imam. ―Kau tidak mau dengar perkataanku?!‖ dia membentak. dia berkata: ― Ciauw Bok Hweshio. dia membikin aku mencelakai sahabat-sahabatku. Dengan tarik tangan Lie Peng.jangan bunuh dia…!‖ berseru Ciauw Bok Taysu. tahan!‖ Tidak ada orang yang kenali Lie Peng. Ia ayunkan pula goloknya. tepat mengenai tiang pendopo. Thian Tek gusar bukan kepalang. ia jadi kalap. dengan kejam. yang lainnya mengigit. Lie Peng berteriak-teriak pula: ―Hai. hatinya mencekat. justru jiwa mereka sendiri terancam bahaya. manusia jahat.‖ katanya dalam hati. mukanya kena terhajar hingga rontok ziga buah giginya. ―Dia adalah satu imam yang baik…‖ sahut Ciauw Bok. walaupun suaranya nyaring. mendengar suara orang. dengan sisa tenaganya ia timpuk Thian Tek dengan sepotong kayu di tangannya. Cuma Tin Ok.!‖ Ciauw Bok terkejut. lalu ia ayunkan goloknya. mereka ini kaget. ―Jangan…. ―Kau ingin aku meletaki golokku? Hahaha!‖ ia tertawa mengejek. ―Kau…kau hendak lagi membunuh orang!‖ tanyanya. ―Letaki golokmu…!‖ Thian Tek tertawa tergelak. tubuh siapa dia dupak. Irawan D Soedradjat Page 59 . ―Imam bangsat. Toan Thian Tek kaget. ia lari keluar kuil. hatinya lega. mereka Cuma bisa membuka mata menyaksikan kejadian hebat itu. Maka itu sembari menghela napas. Tiang Cun Cun. Ia rebah dengan terluka parah tapi ia dapat lihat perbuatan si keponakan murid. ―Dia Cuma berhati keras… Di sini telah terbit salah mengerti…‖ ―Orang baik apa!‖ kata Thian Tek. Satu kacung langsung tubruk Thian Tek untuk tarik lengannya. Ini nyonya tetap mengenakan seragam. Orang she Toan itu tidak menangkis. Thian Tek berkelit tetapi ia terlambat. Ia merasakan sangat sakit. segera ia pun sadar. Ia bukannya seorang tolol. Dengan mendadak Lie Peng berteriak. Tubuh paderi itu lewat terus. maka tubuhnya rubuh dengan kepala pecah. Ia kerahkan tenaganya dengan kedua tangannya menekan lantai. Imam itu masih belum putus jiwanya. ia lantas menyerang. dengan cepat. kemudian barulah ia keluar. kami semua telah kau aniaya! Benar saja di dalam kuilmu ini kau ada sembunyikan orang perempuan…. Ciauw Bok Taysu juga gusar bukan main. tubuh itu tidak berkutik lagi. ―Kenapa?‖ Thian Tek tanya. Ia telah diberitahu si imam lagi rebah diam dengan kedua mata tertutup. sekarang hendak aku kirim kau pulang ke Langit Barat!‖ ia kata. Thian Tek cabut goloknya. akan tetapi di saat seperti ini. Ia lantas hampirkan Cie Kee. walaupun ia buta. ia bernapas berlahan sekali. tapi suaranya sangat lemah.

Cie Kee mengerti ilmu obatobatan. Ia bukan lain daripada Ma Ong Sin Han Po Kie yang tadi kena ditungkrap Khu Cie Kee. ―Tidak. kau saja yang bicara. Mereka kaget. tentang Toan Thian Tek dan si wanita yang menyamar sebagai serdadu. kita sekarang rubuh di tangannya satu kurcaci. tiba-tiba mereka dengar suara apa-apa dari arah genta. Cu Cong dan Lam Hie Jin adalah yang terluka paling parah. Coba ia tidak turuti hawa amarahnya dan berbicara dengan tenang sama Ciauw Bok. ia berpura-pura tidak tahu. ia tidak terancam bahaya. mereka lari serabutan. ―Totiang biasa malang melintang. Cie Kee dan Siauw Eng telah dapat ditolong dari racun. untuk sabarkan padanya. ― Tentang ini untuk apa kau menanya pula kami…‖ Cie Kee tahu orang masih mendongkol. hingga suaranya tidak terdengar lagi. hingga mereka kaget. ―Jangan!‖ Tin Ok mencegah. Thio A Seng patah lengannya. Ia sendiri pun bukan main masgul. hingga ia berkoak-koak. ia sadar. hingga Ciauw Bok Taysu menjadi korban. terutama dirinya sendiri. Kemudian belasan paderi itu menggunai dadung. Ia memang aneh tabiatnya. Cu Cong semua membalas hormat. bagaimana sekarang?‖ Siauw Eng tanya Khu Cie Kee. ia sendiri memberi keterangan pada Po Kie perihal jalannya pertempuran. Selagi mereka bekerja.‖ Po Kie dapat dibikin sadar. sekarang kau perlu rawat dulu saudara-saudaramu yang terluka. Ia heran dan kaget saksikan pendopo itu. Paderi pengurus dari Hoat Hoa Sian Sie telah bekerja. Cuma Tin Ok yang diam saja. semua orang duduk berkumpul dengan dirundung kemasgulan hingga mereka pada berdiam saja.!‖ Tapi ia ditarik terus. Pada suatu hari. semua paderi menangis karena kebinasaan guru mereka. di lain pihak ia kirim kabar pada Kouw Bok Taysu di Kong Hauw Sie. Kwa Tin Ok masih sadar walaupun ia terluka. Irawan D Soedradjat Page 60 .Pendekar Pemanah Rajawali ―Tolong! Tolong!‖ Lie Peng berteriak-teriak. Ia malu sekali yang ia bertujuh saudara kena dikalahi Cie Kee. hingga selang beberapa hari. Selang beberapa hari. ia lantas obati Tin Ok semua. akan tolongi orang-orang yang terluka. ia pun uruti mereka. ia panggil Po Kie. Mereka pun menjadi repot. mana kau melihat mata kepada kami!‖ katanya tawar. Tubuh bergelumbuk itu sudah lantas lompat bangun. setelah mana mereka dapatkan satu tubuh tergelumuk menggelinding keluar. Hangciu. setelah pingsan. ia mengeluarkan napas lega. Kuil itu menjadi berisik. Ia memangnya polos.‖ ―Kwa Toako. ―Totiang.‖ kata Cie Kee menyahuti si nona. akan tarik genta itu untuk dibikin terbalik. peristiwa celaka itu pasti dapat dicegah. hingga ia tak mampu keluar dari jambangan dan genta itu. Tin Ok tertawa dingin. aku tidak mau pergi…. ―Nanti ada ketikanya untuk menghukum dia. Ia merasakan kesembronoannya. semuanya telah dapat bangun dari pembaringan. ia lantas bangkit berbnagkit untuk menjura kepada tujuh saudara itu. ―Pinto sangat menyesal. Po Kie lantaa rawat semua saudaranya itu. apa kata kaum kang-ouw bila peristiwa disini sampai tersiar? Tidakkah itu sangat memalukan? Tolong Totiang tunjuki kami bagaimana kami harus berbuat. ―Totiang berkenamaan dan kami pun bukannya orang-orang yang masih hijau.‖ dia bilang. yang kena ditikam kakinya hingga tak dapat dia berjalan dengan leluasa. aku mohon maaf. ―Nanti aku susul dia!‖ teriak Po Kie sangkin gusarnya. Mereka menyesal sekali sudah jadi korbannya Toan Thian Tek. Jenazahnya Ciauw Bok Taysu pun lantas diurus. disatu pihak ia ajukan pengaduan kepada pembesar negeri. Ia pun keluarkan obatnya untuk suruh satu paderi pergi obat Khu Cie Kee dan Han Siauw Eng. menyesal dan mendongkolnya. guna pindahkan mayat.

―Aku telah menerbitkan malapetaka.‖ Han Po Kie bersama Siauw Aeng dan A Seng bnagkit berdiri. ia jengah hingga tak dapat ia membuka mulutnya. kenapa kamu masih merasa belum cukup?‖ Ia lantas menjawab: ―Pedang ini adalah alat pembela diriku. ―Selanjutnya kami akan berdiam di sini. ―Habis Kwa Toako memikir bagaimana?‖ menegaskan Cie Kee. maka itu pinto menyerah kalah…‖ ―Kalau begitu. kenyataannya adalah pinto telah rubuh. ―Hanya untuk itu. Ia pun bisa berlatih diri tapi barangkali sukar untuk beroleh kemajuan. tetap tenang. lain kali tak nanti aku datang kemari untuk membuat onar pula. kami tidak ada muka untuk mencampuri tahu lagi. suka aku melepas kau pergi!‖ Bukan main mendongkolnya Cie Kee.‖ ia berkata. Mereka sendiri belum pernah nampak kegagalan. Dalam murkanya. Asal Totiang tidak mengganggu kami. selama tempo satu tahun. apakah itu cukup dengan hanya kata-katamu barusan?‖ tanya Tin Ok. Irawan D Soedradjat Page 61 . ―Kau pandang entang kakiku pengkor?!‖ ia membentak. ―Kwa Toako hendak menitah apa?‖ ia tanya. pasti sekarang aku telah berada di Negara Setan. Di dalam urusan kita ini. ―Dengan meninggalkan pedangmu. syaratnya haruslah pinto yang menetapkannya. ―Tuan-tuan. akan aku bunuh jahanaman itu! Sekarang aku mohon diri…‖ Ia menjura pula. mereka itu akan tambah kepandaiannya. ―Apa saja yang tenagaku dapat kerjakan. maka itu baiklah lain tahun pada hari ini. ―Tahan!‖ Tin Ok berseru. Selang sesaat baru ia dapat bicara. ―Tanpa pertolonganmu. Ia terus berpikir.‖ kata ia. tidak nanti mereka disebut ―Cit Koay‖ – tujuh Manusia Aneh. dan CU Cong dan lainnya yang terluka mengangkat kepalanya dari pembaringan. bagaimana mereka tidak menjadi penasaran? Cie Kee terkejut. sulit untuk kita bertempur lagi. ―Pinto tidak berani. orang malui mereka. sepak terjang mereka biasanya luar biasa. sampai ia dapat satu pikiran. ―Tentang sakit hatinya Ciauw Bok Taysu serahkan itu padaku. aku minta totiang membuat pertemuan pula di Cui Siang Lauw!‖ Cie Kee mengerutkan keningnya. Mungkin sekali. Imam itu memutar tubuhnya. ―Pinto telah terkena senjata rahasiamu. sama saja dengan tongkat Kwa Toako…‖ Tin Ok tapi tetap murka. Ia tahu Cit Koay bukan orang busuk. malah dengan pernah mengalahkan seratus lebih jago Hoay Yang Pang. Ia bersendirian dan mereka bertujuh.‖ katanya seraya berbangkit. Mereka semua lihay.‖ sahut si imam itu. letaki pedang di bebokongmu itu!‖ bentak Tin Ok.‖ Tin Ok bilang. untuk menangkap ikan atau mencari kayu. Tin Ok bilang: ―sekarang kita sama-sama terluka. kamu hendak adu kepandaian yang memutuskan denganku. nama mereka jadi menggemparkan dunia Kang-ouw. Kalau tidak. jumlah mereka pun banyak – bertujuh – dari itu. lantas ia ngeloyor keluar. ―Aku masih ingin menerima pengajaran dari Totiang!‖ Kanglam Cit Koay gemar melakukan amal akan tetapi mereka berkepala besar. tak dapat ia layani mereka.‖ ―Tak sanggup aku menelan peristiwa ini. di dalam hati ia berkata: ―Aku telah beri muka kepada kamu. dengan tanganku sendiri. suka aku menuruti titahmu. aku telah menghanturkan maaf dan mengaku kalah. Bagaimana ia bisa loloskan diri dari mereka itu? Pula ada sulit untuk melayani mereka bertempur pada lain tahun. ―Kau telah lukakan parah saudara-saudaraku ini. Tetap ia sadar.‖ kata ini ketua Kanglam Cit Koay. pinto suka menyerah kalah saja. Kwa Toako. kalau tidak. Ia sangat masgul. walaupun benar pinto telah lukai kamu. Sekarang mereka kalah di tangan Khu Cie Kee satu orang. kami akan melewati sisa hidup kami…‖ Mukanya Cie Kee menjadi merah. Hampir berbareng mereka itu kata: ―Kalau Kanglam Cit Koay bertaruh selamanya adalah pihak sana yang memilih tempat dan waktunya!‖ Cie Kee tersenyum dapatkan orang demikian gemar menang sendiri. tidak ada halangannya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Segala urusan kaum kang-ouw.

oleh karena itu. lekas!‖ ia mendesak pula. kaum Rimba Persilatan yang kenamaan tak dapat berlaku demikian cupat sebagai anak-anak muda yang terlahir belakangan?‖ Kanglam Cit Koay saling mengawasi. Irawan D Soedradjat Page 62 . tangan dan kaki. hati mereka masing-masing menduga: ―Kau tidak hendak menggunai senjata. Ia juga tuturkan bagaimana caranya ia kejar Thian Tek itu. kita mesti melakukan suatu pertempuran yang memutuskan. Kepandaian semacam itu. ―Lekas bilang. ―Jikalau kita mencari pokok sebabnya. ―Jangan kau coba pancing hawa amarah kami!‖ Tin Ok memotong. siapakah yang paling gagah – satu enghiong sajati!‖ Kata-kata ini membuat darahnya Kanglam Cit Koay mengalir deras. tuan-tuan! Kita bukan Cuma mengadu kepandaian. masih tetap berlaku kata-kataku tadi. dengan sikapnya yang agung. ―Syaratku ini ada meminta tempo yang lama. habis apakah syaratmu itu?‖ Maka mereka menanti penjelasan. Marilah kita lihat.‖ Dengan ―orang gagah‖ imam itu maksudkan ―ho-kiat‖ atau ―enghiong‖.‖ kata Tiang Cun Cu dengan tenang. ―Lekas bicara. ―Kau sebutkan saja syaratmu!‖ kata mereka. lekas!‖ Han Siauw Eng. beberapa kali Kanglam Cit Koay mengutuk bangsa Kim serta pemerintah Song yang sewenang-wenang dan kejam. karena itu ia telah ubar-ubar Toan Thian Tek. baiklah kita kembali kepada sebab musabab itu.‖ ia menyahut dengan sabar. Cu Cong dan Coan Kim Hoat adalah yang tercerdik di antara saudara-saudaranya. mereka tidak jeri. ―Biar bagaimana. ―Lekas kau bicara!‖ Cie Kee lantas berduduk. Aku akan menghadapi kalian bertujuh. siapa menyakinkan ilmu silat tentunya semua mengerti. maka kami bukanlah tandingan kamu bangsa imam!‖ Khu Cie Kee pun tertawa. ―Sama cepatnya dengan satu cambukan kuda!‖ sahut Siauw Eng lantas. pinto tetap suka menyerah kalah!‖ Dengan ini.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kamu suka terima syarat apapun?‖ dia tanya. Bukankah kita. imam itu memancing hawa amarah ke tujuh Manusia Aneh itu. dengan menggunai alat senjata atau kepalan dan tendangan. ―Biangnya gara-gara hingga kita bertempur dan saling melukai adalah urusan menolongi turunannya orang-orang gagah. Lalu ia menjelaskan tentang persahabatannya sama Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim – yang ia maksudkan si orang-orang gagah itu – yang mengalami nasib celaka. Selagi memasang kuping. ―Semakin sulit adanya syarat. juga mengadu kesabaran. Ialah umpama kata tuan-tuan anggap tidak sempurna. ―Pinto juga tidak berpikir untuk adu kepandaian sama Cu Jieko dalam hal mencuri ayam atau meraba-raba anjing atau mengulur tangan menuntun kambing!‖ Ia maksudkan ilmu mencopet. semakin baik!‖ Cu Cong tapinya tertawa. Cie Kee berkata pula. Aku sendiri tidak menghendaki cara mengandali kekosenan saja. Thian Tek saban-saban dapat meloloskan diri. Mendengar itu Siauw Eng pun tertawa. Kwa Tin Ok masih sedang memikir ketika Khu Cie Kee berkata pula: ―Mengenai syaratku ini. ―Tapi apa yang kita akan adu adalah kepandaian sejati. Ia tahu benar Cit Koay adalah sangat besar kepala. tetapi sangkin licinnya. Di dalam hatinya mereka berkata: ―Tidak peduli kau pakai akal licin apa juga. kita memakai akal budi. Ia berkata: ―Kalau syaratmu itu adalah untuk mengadu bertapa atau membikin obat mujarab atau membikin surat jimat guna menangkap roh-roh jahat. mustahil kami nanti kalah…‖ ―Kata-katanya satu kuncu?‖ berkata imam itu.

secara demikian kita bertaruh! katanya.‖ Cie Kee menambahkan. ―Aku masih belum tahu dia ada dimana. kita undang sejumlah orang gagah lainnya untuk menjadi saksi. tidak ada satu jua yang segara menjawab imam itu. setelah itu mereka bertanding satu lawan satu. ―Dua-duanya Pauw-sie dan Lie-sie itu sama-sama lagi mengandung.‖ jawab si imam. ―Cuma menolongi saja?‖ ia ulangi. kau hendak membikin kamu bercapek lelah selama delapan belas tahun!‖ Irawan D Soedradjat Page 63 .. itu tidak ada artinya. Cie Kee tambahkan: ―Orang yang Toan Thian Tek bawa lari itu adalah Lie-sie. ―Bukankah tuan-tuan menang karena jumlah yang banyak lawan jumlah yang sedikit? Kemenangan itu bukan kemenangan yang mentereng! Dengan syarat kita ini aku nanti turunkan kepandaianku kepada satu orang. Ia tanya: ―Bagaimana kalau pertolongan kami terlambat. ―Tuan-tuan berkenan menolongi abak yatim piatu dari keluarga Kwee itu.Pendekar Pemanah Rajawali Habis menutur.‖ ―Apakah adanya itu?‖ Kwa Tin Ok bertanya. ―Bagaimana sebenarnya?‖ Han Po Kie tanya ―Kita menanti sampai lagi delapan belas tahun. lalu anak-anak mereka itu kita rawat dan didik dalam ilmu silat. dia yang menang. Pernah pinto melihat romanya Pauw-sie. tuan-tuan pun mewariskan kepandaian kamu kepada satu orang juga. kau pergi tolong Pauw-sie! Siapa yang lebih dulu berhasil. andaikata muridku yang menang.‖ berkata Cu Cong kemudian. masih ada hal yang terlebih sukar lagi. ―Cara pertaruhan ini adalah terlalu licin. sesudah puas makan minum. Di situ nanti kita lihat.‖ Cie Kee berkata pula. akan tetapi selain itu. ―Untuk pergi mencari dan menolongi. baru kita suruh kedua anak itu adu kepandaian. yang meminta banyak waktu. empat saudara lainnya telah pernah lihat mereka itu‖ ―Aku ingat suaranya Lie-sie itu. ―Umpama berselang lagi tiga puluh tahun. bukankah?‖ Khu Cie Kee tersenyum. Kecuali Kwa Toako bersama saudara Han. untuk membuat pertemuan di Cui Sian Lauw. sampai itu waktu. apa hendak dibilang?‖ ―Baik!‖ Han Po Kie juga turut bicara. ―Itu waktu. ―Akan aku jelaskan. ―Jikalau Thian menghendaki aku yang menang. Heran untuk kata-kata si imam. itu memang benar bukannya kerjaan terlalu gampang. ―Baiklah. ―Memang menolong anak piatu dan janda juga adalah perbuatan yang mulia. umpama kata kamu yang menang. Kita membuatnya pesta.‖ kata Kwa Tin Ok. istrinya Kwee Siauw Thian. Berbareng dengan itu. tidak dengan demikian tuan-tuan. ―Han Samya benar!‖ pujinya. yaitu Pauw-sie. Tapi Coan Kim Hoat campur bicara. Pinto ingin setelah dapat cari dan tolong mereka. ―Cuma dengan beberapa kata-katamu ini. tidak nanti aku dapat melupakannya. tenaga dan pikiran. murid pinto yang berhasil atau muridnya tuan-tuan bertujuh!‖ Tjuh bersaudara itu saling memandang. lalu kita ajak mereka ke Kee-hin. umpama kami tak dapat lawan kamu. Bukankah syarat itu ada sangat luar biasa? ―Jikalau tuan-tuan bertujuh yang bertempur sama aku. bukankah tuan-tuan akan merasa puas?‖ Akhirnya Tin Ok ketruki tongkat besinya ke lantai. kita mesti pernahkan mereka itu.‖ Cie Kee tonjolkan jempolnya. dan Lie-sie keburu dibikin binasa oleh Toan Thian Tek?‖ ―Biarlah kita sekalian adu keberuntungan juga!‖ sahut Cie Kee. Pinto akan didik anak Yo Tiat Sim dan tuan-tuan bertujuh merawat anaknya Kwee Siauw Thian…‖ Tujuh bersaudara itu membuka mulut mereka. Kita tunggu sampai mereka telah melahirkan anak.‖ ―Tentang istri Yo Tiat Sim. kami toh telah lakukan juga satu perbuatan yang baik. Inilah yang pinto hendak gunai sebagai syarat pertaruhan kita…‖ Siauw Eng segera menyela: ―Kami pergi tolongi Lie-sie. anak-naka itu telah berumur delapan belas tahun. untuk ini sekarang pinto wakilkan saudara Kwee menghanturkan terima kasih terlebih dahulu!‖ Dan ia lantas menjura dalam.‖ menerangkan Tiang Cun Cu.

―Maka itu lagi delapan belas tahun. untuk orang-orang gagah di kolong langit ini menyaksikan siapa sebenarnya laki-laki sejati!‖ Habis berkata.‖ Kudanya Po Kie lari pesat. Ia telah memikir untuk cari suatu tempat untuk bertinggal Irawan D Soedradjat Page 64 . Paling dulu ia mencari rumah penginapan. orang Selatan naik perahu. tetapi hari ini bertemu dengan kamu – hahaha!‖ Kanglam Cit Koay menjadi panas hatinya. dari itu.‖ kata Cie Kee. kita bertujuh akan terima tanggung jawab kita ini!‖ Khu Cie Kee lantas berbangkit. tentu sekali ia tak dapat cari Thian Tek. Pengorbanan itu tidak ada artinya! Bukankah kita belum pernah dengar bahwa di jaman dahulu ada Keng Ko dan Liap Ceng berhitungan?‖ Wajahnya Cu Cong menjadi pucat. ia bertindak pergi. ―Kalau satu orang gagah sejati bersahabt. dialah yang tidak terluka. tetapi ia hanya mondar-mandir di darat.‖ sahut si imam yang ditanya. lega hatinya apabila ia menoleh ke belakang. Han Po Kie segera menghajar bangku dengan tangannya. begitu muncul kata-kata: ―Orang Utara naik kuda. sama saja dengan kuda atau keledai di Utara. Baiklah aku pergi ke Utara untuk menyingkir dulu dari ancaman bahaya. dia bersahabat untuk menjual jiwanya. ialah denagn segala urusan ia bersedia untuk mengorbankan dirinya. ―Aku mengaku keliru! Baiklah. disana ada banyak sungai atau kali. maka itu segera ia menuju ke sungai. ia lantas lari keluar. kita akan bertemun pula di rumah makan Cui Siang Lauw.‖ Tukang perahu itu ketakutan lihat orang demikian galak.‖ ia berkata pula. Ia cerdik. malah tanpa memilih kenderaan air lagi. kendaraan air adalah alat penghubung atau pengangkut yang paling umum. ―Tidak salah apa yang totiang bilang!‖ katanya sambil goyang kipasnya. ―Hari ini adalah tanggal dua puluh empat bulan tiga. Tetapi Po Kie si tak sabaran telah pergi jauh. ―Lekas berangkat!‖ ia membentak tukang perahu sambil ia cabut goloknya. ia lantas mengayuh. ia tak tampak ada orang yang kejar atau susul padanya. Thian Tek tunjuki terus kelicinannya. Kanglam adalah daerah air. ―Apakah yang lucu?‖ tanya Han Siauw Eng.. supaya aku dapat kembali ke Liman. guna susul Thian Tek. ―Dia tak dapat dibiarkan menghilang. akan tetapi ia berdongak dan tertawa besar. ―Selama dalam dunia kang-ouw telah aku dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay. Thian Tek telah angkat kaki dengan naik perahu. ―Nanti aku susul Toan Thian Tek!‖ kata Han Po Kie. ia lompat naik ke sebuah perahu. Ia hendak bicara tetapi si imam dului dia. untuk terus menaiki kudanya. ―Orang umumnya bilang mereka itu gemar sekali menolong sesamanya. ia menukar perahu beberapa kali. tak ada sinarnya. ia buka tambatan perahunya. Ketika ia tarik Lie Peng keluar dari tempat berbahaya itu. tibalah ia di Yangciu. Dengan lekas ia keluar dari daerah kota. ia ajak Lie Peng bersama. hingga pastilah sulit kita mencari padanya!‖ Di antara Cit Koay. Setelah berkata begitu. Berselang belasan hari. Thian Tek lantas asah otaknya: ―Aku telah terbitkan onar besar. Semoga itu imam bangsat dan tujuh siluman dari Kanglam itu bertempur hingga mampus semuanya. seraya kibaskan tangannya. tak dapat aku pulang untuk pangku pula jabatanku. Dengan mereka. ―Sha-tee! Sha-tee! Cu Cong memanggil-manggil. apapula ia kenali roman orang itu. orang she Cu ini menyebutkannya Thian Tek dan Lie Peng. Ia tanya-tanya orang akan tetapi pertanyaannya tidak jelas. ―Kau tidak kenal mereka itu!‖.Pendekar Pemanah Rajawali Wajahnya Khu Cie Kee berubah. mereka gagah perkasa dan mulia. ―Sejak zaman dahulu hingga sekarang ini.

aku mohon kepadamu. maupun di tengah perjalanan. hingga mereka jadi menarik perhatian orang. hingga mereka sampai di perhentian Lie-kok-ek. Tidak lama kemudian. Malah Po Kie ada bersama denagn satu nona. Syukur ia waspada dan cerdik. tak sudi ia berjalan sedikit juga. Itu hari selagi berada di dalam kamar. Syukur untuk Thian Tek. Dengan tiba-tiba otaknya Lie Peng terganggu. kau lindungi kepadaku. Nyonya Kwee telah tawar hatinya sejak kebinasaan suaminya. ia hanya berpura-pura edan. di tepi telaga Bie San Ouw di wilayah propinsi Shoatang. hingga bayi di dalam perutnya itu meronta-ronta. Thian Tek tersenyum aneh. Ia peroleh kenyataan. ia justru mendahului sambil menubruk. Untuk bela diri terlebih jauh. Dengan letih ia jatuhkan diri ke kursi. nyonya Kwee suka ngoceh tidak karuan. Adalah pikirannya Thian Tek. Thian Tek tetap jerih untuk Han Po Kie beramai. ia angkat tangannya untuk dikasih turun denagn bacokannya. ia sudah umbar hebat hawa amarahnya tanpa merasa ia membuat kandungannya tergerak. tetap ia menuju ke Utara. memasang mata. ia dekati Lie-sie. agar dapat aku membinasakan manusia jahat ini!‖ Lalu dengan diam-diam. ujung goloknya putus dan jatuh ke tanah dan ujung pisau belati menyambar terus ke dadanya. maka itu. Akan tetapi ia adalah satu wanita lemah. Ia dapat kenyataan si nyonya si nyonya bukan gila benar-benar. baik selama di penginapan. sudah lantas menjerit-jerit. yang merasa ada bintang penolongnya. Kembali ia menyewa sebuah perahu. ia terus berontak dan berteriak-teriak. ia siapkan pisau belati atau badik yang Cie Kee hadiahkan kepadanya. hingga darahnya lantas mengucur keluar. selalu dapat ia menjauhkan diri dari mereka itu. ada kalanya ia robek bajunya atau bikin kusut rambutnya. ia menikam! Thian Tek kaget dan heran. Dalam kagetnya ia buang diri ke belakang. adiknya. Dari dalam kamarnya ia mengintai. Setiap kali ia berlepas tangan atau mulutnya. Maka terpaksa ia gunai goloknya untuk menangkis. Sebab bukanlah soal yang sempurna untuk terus-terusan berkelana dengan hati tidak tentram. Belum sampai setengah bulan ia berdiam di tepi telaga itu. Ia pun telah dipukuli. menanyakan tentang dia dan Lie Peng. Thian Tek berniat membunuh Nyonya Kwee itu. Ia telah hunus pedangnya. Thian Tek sambar sebuah kursi. Ini yang menyebabkan ia selamanya dapat lolos. ia juga tak dapat lari seorang diri. lebih baik bia ia bisa binasa bersama musuhnya itu. ialah seorang pincang dan bermata buta yang membawa-bawa sebatang tongkat besi. Dalam sengitnya. Lie Peng tidak mengerti silat. Coba Lie-sie bertenaga cukup. ia telah keluarkan tenaga terlalu besar. saban-saban ada orang mencari dia. selama tinggal di penginapan. sudah kepalang tanggung. ―Simpan senjatamu!‖ ia membentak. ia justru diam-diam memuji kepada roh suaminya: ―Engko Siauw. ia tidak takut. Kelakuan si nyonya itu gampang menimbulkan kecurigaan orang. tiga orang itu tidak kenali dia. dadanya kena tergurat. ―Aku tak akan membunuh padamu!‖ Lie Peng sendiri telah lemas kaki dan tangan dan tubuhnya. kecuali si kate terokmok dan si nona. Kali ini ia kembali naik perahu. untuk Irawan D Soedradjat Page 65 . Untuk kagetnya manusia busuk ini. Tapi ia masih ingat akan pisau belatinya yang ia pegangi keras-keras. Ia kaget tetapi ia berlaku tenang. ingin aku supaya sebelum datang saatnya. bajunya kena terobek. ia tarik tangannya Lie Peng untuk diajak segera menyingkir dari pintu belakang. Selama itu rasa takutnya tak jadi berkurang. engko Siauw. walaupun kedua pihak bertemu muka. aku bertemu pula denganmu. ia dengar suara Han Po Kie tengah berbicara sama pemilik penginapan. tidak mendengar apa-apa. menampak sikapnya Thian Tek itu. akan tetapi Lie Peng. tetapi telah bulat tekadnya. Setelah merasa pasti bahwa orang adalah salah satu Cit Koay. Kemudian ia menjadi mendongkol. Ia lihat tegas seorang kate dampak yang romannya jelek sekali yang berbicara dengan lidah Kee-hin. untuk keram diri di dalam kamarnya . maka itu sebaliknya dari ketakutan.Pendekar Pemanah Rajawali buat sementara waktu. ada lagi seorang lain yang cari padanya. tetapi tak urung. ―Trang!‖ demikian satu suara nyaring. Thian Tek dapat godaan lain. Inilah ia tidak sangka. Syukur untuknya. napasnya memburu. ia diringkus Thian Tek. Ia menjadi masgul dan bingung sekali. ia sebenarnya sudah memikir untuk bunuh diri. Han Po Kie dapat susul ia. saking khawatirnya. Ia berlayar terus ke Utara. Po Kie bersama kawannya yaitu Siuaw Eng. dibekap mulutnya dengan selimut. mereka itu tidak kenali padanya. ia terus membawa Lie Peng. Ia melalui Lim-ceng dan Tek-ciu dan tiba di propinsi Hoopak. Setiap ia mendarat. dadanya itu pasti telah tertancap pisau belati itu.

Di antara saudara-saudaranya. Pada suatu. sang adik. kau tentunya letih. supaya melihat keangkeran kita. mulut hidup? Bukankah ada peribahasa kuno yang mengatakannya. Hawa panas mulai lenyap. sang angin sejuk telah mulai menghembus. ia malah membantui negara Kim memusnahkan bnagsa Tartar. Di sana Thian Tek langsung mencari istananya pangeran itu. Ketika itu hawa udara telah mulai berubah. ia berpikir: ―Tentang Pauw-sie. bagaimana senangnya aku. itu pangeran Kim yang ia maksudkan. semacam kommissaris tinggi. Ketika ia hendak berbnagkit.‖ Wanyen Yung Chi terima baik nasehat itu. gemar mereka menghina yang lemah tetapi jerih terhadap yang kuat. ia ngoceh seorang diri: ―Selama aku pangku pangku di Hangciu. urusan bisa menjadi rewel. maka itu. Ia jadi semkin hati-hati. akan tetapi ia tetap dibayangi pengejar-pengejarnya. ia bernagkat menuju ke Yan-khia. Pada masa itu pemimpin bangsa Mongolia. Ia ada lemah. Sekarang ini ialah kota Pakkhia (Peking). Tanpa ragu-ragu lagi. tetapi dasar pangeran Kim yang keenam itu yang kemaruk sama istri orang. ―Yang cupat pikirannya kuncu. tetapi ia takluk kepada bangsa Kim. ―Habis?‖ Irawan D Soedradjat Page 66 . selanjutnya mereka tidak akan berani berontak. untuk memohon pikiran. kalau ia membocorkannya. setelah berjalan jauh dan melewatkan banyak hari. yang tak kejam bukannya satu laki-laki?‖ Karena ini ia lantas tersenyum. adik itu berkata kepadanya: ―Hari ini ada datang padaku satu mata-mata dari kerajaan Selatan. ia bergaul paling erat dengan Wanyen Lieh. Wee Ong telah datang menemui Tio Ong. untuk pergi ke sana. ―Kau baru sampai dari satu perjalanan jauh. Karena tugasnya ini. Ia sebenarnya hendak beritahu juga bahwa ia datang bersama Lie Peng. sang putra pergi menganugerahkan Temuchin sebagai Pak Kiang Ciauw-touw-su. hatinya menjadi ciut. Denagn begitu. kepergian putra ini sebenarnya guna melihat sendiri keadaan bangsa Monglia itu. pergilah beristirahat dulu. ia mengucapkan terima kasih. Sam-ongya itu adalah Wanyen Yung Chi. raja Kim. tetamunya adalah Toan Thian Tek dan orang ingin numpangi diri kepadanya.Pendekar Pemanah Rajawali sengaja menarik perhatian orang. Ibukota Yan-khia itu disebut juga Tiong-touw atau Chungtu. Thian Tek telah menyingkir jauh ke utara. Wanyen Lieh bangkit dari kursinya. putra yang ketiga dari Wanyen Ching. dia telah celakai aku hingga begini…‖ Justru ia ngoceh ini. Di samping itu. mendadak ia dapat ingat suatu apa. Ia marah tetapi ia tidak bisa berlaku keras kepada nyonya itu kecuali ia mengancam agar si nyonya terus ikut padanya. Ia bergelar Wei Wang atau Wee Ong. ia lantas ijinkan orang menemui dia. Temuchin sudah mulai kuat kedudukannya. Udara begini tidak terlalu mengganggu orang-orang yang membuat perjalanan. ―Mereka juga bertabiat kasar.‖ ―Begitu?‖ tanya sang kakak. Kenapa aku mesti meninggalkan satu . Ia terkejut akan ketahui. Didalam hatinya. ―Kenapa aku tidak pergi kepada Liok-taycu?‖ Liok-taycu itu adalah putra keenam dari raja Kim. bekalan uangnya mulai habis. Thian Tek mengucap terima kasih. Ia lantas mengerutkan kening. mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tak nyata. setelah omong-omong lagi sebentar ia pamitan. oleh karena mana. setelah mana ia bertindak untuk sambut tetamunya. ibukota kerjaan Kim itu. heran. pangeran Wei atau Wee. artinya ―Kota Tengah‖.‖ berkata Wanyen Lieh. guna menghargai jasanya itu. malah menyenangkan. kakak harus membawa satu pasukan tentera yang terpilih. aku masih belum dapat mempernahkannya.‖ katanya dengan manis. raja Kim utus Wanyen Yung Chi. dalam segala hal. bagaimana aku bisa menerima Thian Tek? Ia tahu rahasiaku. dapat ku bersenang-senang dengan wanita-wanita cantik. saking uring-uringan. Setiap hari aku bisa dahar dan minum enak. supaya tentang perjalanan mereka – ke mana saja mereka menuju – ada menimbulkan bekas. Celaka untuknya. ia suka dengari adiknya yang cerdik dan tangkas. ialah Tio Ong atau Chao Wang (Pangeran Tio atau Chao) Kapan Wanyen Lieh dengar tentang kedatangannya satu perwira dari selatan. ―Bangsa Monglia itu tak tetap tempat tinggalnya. ―Pergilah kau beristirahat!‖ katanya sambil ia mengibaskan tangannya. tetapi satu hambanya pangeran itu muncul dengan tiba-tiba mengabarkan ‗kunjungannya Sam-ongya‘ – pangeran yang ketiga. ―Bukankah aku telah tidak jauh dari Yan-khia?‖ demikian ia ingat.

‖ Sang adik menjadi girang.. dia terus menderita. maka itu kepala perang ini telah melancangi pangeran itu untuk mengatur persiapan. ―Pasukan musuh manakah itu?‖ dia bertanya. dia ajak Thian Tek bersama. sangat meletihkan dia. Sementara itu perutnya Lie Peng makin menjadi besar. Wanyen Yung chi berangkat bersama seribu serdadu pilihan yang semua kelihatan gagah dan mentereng. ―Itulah alasannya belaka. Berselang beberapa hari. Mereka itu terpencar si segala penjuru.‖ ―Bagus!‖ Yung Chi bertepuk tangan. Ia keprak kudanya untuk maju ke depan. ―Ya‖ sahut Wanyen Lieh. dia kuatkan hati dan tubuhnya untuk lawan penderitaan ini. apa yang disebutkan tentara musuh itu. berjalan di padang pasir yang seperti tak ada ujung pangkalnya. Selagi Wanyen Yung Chi terheran-heran. dengan cari satu alasan kakak boleh hukum mati padanya. Ia mempengaruhinya hingga si nyonya diam saja. Dia sengaja menunjuki pengaruh menurut nasihat Wanyen Lieh. ―Baik!‖ katanya. barisan dari seribu serdadu pilihan dari bangsa Kim berjalan berlerot bagaikan seekor ular panjang. di mana tidak ada lain orang. hawa ada dingin luar biasa. Yung Chi menjadi kaget. dia suruh Thian Tek pergi ke istana Wei Wang untuk bantu pangeran itu. Pada suatu hari tibalah barisan ini di satu tempat dekat dengan perkemahan Temuchin. ―Sebentar kau kirim dia padaku. ―Sam-ongya. Mungkin mata-mata yang datang bukan dia satu orang. suara seperti satu pertempuran. Demikian untuk beberapa puluh hari. perjalanan jauh denagn menunggang kuda. ―Di sana. Tatkala itu bulan kedelapan untuk di Utara. Selagi pasukan ini berjalan terus. hanya sambil dibekali uang perak dua potong.‖ sahut adik itu. Sore itu Wanyen Lieh tidak panggil Toan Thian Tek menghadap lagi padanya. memenuhi bukit dan tegalan di hadapan angaktan perang Kim itu. Di sini aku nanti layani lain-lainnya mata-mata. katanya. dia tak dapat berpikir. yang lainnya pasti bakal jadi waspada. ia menurut saja. lekas kasih perintah untuk bersiap untuk berperang!‖ demikian kata perwiranya yang pimpin pasukan kecil itu setibanya dia di depan pangeran Kim itu. sebenarnya ia hendak mencari tahu keadaan kita bangsa Kim. Ia khawatir Lie Peng nanti buka rahasianya. sebaliknya Wanyen Yung Chi lemah. ia lantas tampak lari mendatangi satu pasukan kecil serdadu. Wanyen Yung Chi berangkat ke Monglia. di padang gurun. Hampir itu waktu. Sedang si nyonya ini masih mengharapkan datangnya pertolongan padanya……. bilang saja dia hendak dijadikan pengiringku.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia datang untuk tumpangkan diri padaku. ia tetap ajak nyonya itu. sekonyong-konyong orang mendapat dengar suara berisik yang datangnya dari arah utara.‖ Wanyen Lieh bilang. salju beterbangan turun bagaikan lembaran-lembaran unga.‖ ―Kalau begitu. Diwaktu begini.‖ ―Bawa ia ke Utara?‖ Yung Chi tanya. ―Kakak tahu sendiri kecerdikan bangsa Selatan itu. Ouw See Houw ada satu panglima yang berpengalaman yang diandalkan negeranya. kalau dia ini dibunuh. dia tertawa riang. kapan sang malam tiba. ―Tindakan itu tidak sempurna. sudah datang dekat sekali. Irawan D Soedradjat Page 67 . Tapi ia telah bertekad untuk membalas sakit hatinya. Aku pikir hendak mohon kakak bawa ia pergi ke utara. bunuh saja padanya!‖ kata sang kakak. Wanyen Yung Chi lantas kirim belasan serdadunya untuk memberi warta terlebih dahulu tentang tibanya itu sekalian menitahkan Temuchin datang menyambut utusan Kim. Thian Tek tidak tahu rencana orang. Di lain pihak ia jaga diri baik-baik agar tentara Kim tidak tahu siapa dia. Dialah Ouw See Houw. ―Mana aku tahu?!‖ sahut si perwira yang lantas saja mengatur barisannya.

tapi ia merasa ada benda yang membanduli perutnya. Ia dapatkan sejumlah sisa. karena sisa tentera itu main saling selamatan diri sendiri. sekarang timbullah harapannya. dengan itu ia pun dapat bakar daging kuda. ia rubuh dari kudanya. Tentera musuh yang kabur itu melihat pasukan Kim. Mereka bersiap tanpa bersuara. mau tidak mau. untuk membuat sebuah liang yang besar dimana bersama bayinya ia bisa menyingkir dari angin dan salju. akan menggali pasir. mereka menerobos terus. terpaksa nyonya Kwee lari sendirian. mereka ke dibikin terpencar. Syukur untuknya. Kekalutan sudah lantas terjadi. ia merasakan perutnya mulas. mereka lari tanpa berani datang mendekati. tentara sisa ini meluruk ke arah pasukan Kim. semua mayat serdadu dan bangkai itu belum busuk. Lalu ia coba menyalakan api. muncul di antara sang awan. ia angkat bayinya itu. Ia hanya dengar tangisan itu makin lama makin keras. ―Lepaskan panah‖ Ouw See Houw memberi titah. sejumlah diantaranya lantas rubuh. Hanya sesudah lari serintasan. hingga tanpa dapat ditahan lagi. ia telah melahirkan anak……. kalau tadinya ia telah berputus asa. Ouw See Houw berlaku tabah. ia dapatkan satu bayi laki-laki. semua tidak menunggang kuda. Sekarang baru Lie Peng sadar betul. potongan wajahnya mirip dengan suaminya Kwee Siauw Thian. Ia mengeluarkan air mata kegirangan yang berlimmpah-limpah. Disamping itu di belakang mereka menerjang sejumlah pasukan berkuda. setelah ia melihat dengan tegas. hanya mereka kabur keempat penjuru. akan tetapi jumlah mereka banyak. tetapi serbuan sisa tentera ―musuh‖ itu demikian hebat. bergumul. yang terus menerjang tentera sisa. tak tahan ia akan rasa laparnya. untuk melindungi. itulah pasukan sisa yang habis kalah perang. Tentara sisa itu segera diserang. samar-samar ia dengar tangisan bayi. tak tahu ia dirinya berada di dunia baka atau masih hidup. Entah dari mana datangnya tenaganya. mereka kabur jauh-jauh. Dari situ ia bisa dengar rintihan serdadu-serdadu yang terluka parah atau hendak mati dan ringkikannya banyak kuda perang. Tiba-tiba dari arah kiri terdengar ramai suara terompet tanduk. Terpaksa untuk menyingkir. hingga banyak serdadu yang kena terinjak-injak. suaranya pun nyaring. Lie-sie mencoba menggunai kedua tangannya. Buat dua malam satu hari. untuk kegirangannya. Terpaksa ia merayap keluar. tidak ada sama sekali. ia tidak mendapat gangguan. yang berjumlah lebih sedikit. Tentara ‗musuh‘ itu bukan terus menerjang pasukan Kim. Karena hawa dingin. lalu dihari ketiga. Air ada air salju tapi barang daharan. Bab 7. sang rembulan mengencang di atas langit. ia beri perintah akan tenteranya mengurung pangerang mereka. Ouw See Houw kewalahan. Irawan D Soedradjat Page 68 . ia dapat kenyataan. setelah mana ia peluki anaknya. sakit sekali. mereka pun lagi ketakutan. musuh dan kawan bercampur menjadi satu. Dengan sendirinya mereka jadi bertempur sama tentara Kim. Ia belum sadar betul. Roman anak ini telah membantu menguatkan semangatnya. Di sekitarnya tidak ada seorang juga kecuali mayat-mayat serdadu dan kuda-kuda. Tentera sisa ini berjumlah lebih besar tapi mereka tidak berdaya terhadap pasukan berkuda ynag jauh lebih kecil itu. Lie-sie mesti kuatkan hati. roman mereka ketakutan. tanpa merasa ia menangis menggerung-gerung. maka bersama sejumlah serdadu ia lindungi Wanyen Yung Chi mundur ke arah selatan. Untuk kagetnya. Kapan Ouw See Houw sudah mengawasi sekian lama. Dengan gigitan ia bikin putus tali pusar. Nyatalah dalam keadaan seperti itu. yang telah membuang panah dan tombak mereka. Cepat nyonya itu berduduk. Cuma pemandangannya yang sangat menggiriskan hati. Lie Peng mendekam di liangnya itu. Ketika itu masih malam. Ia geraki tubuhnya. Ia pingsan. Ia dapatkan golok dengan gampang karena di situ bergeletakan banyak alat senjata. Entah sudah lewat berapa lama. ia sadar sendirinya dengan perlahan-lahan. di situ muncvul satu pasukan serdadu. Di bawah terangnya sang rembulan.Pendekar Pemanah Rajawali Segera juga terlihat suatu keanehan. Adu Panah Lie Peng ada bersama Toan Thian Tek. Lie-sie coba geledah tubuhnya myat-mayat itu untk cari rangsum kering. mereka masing-masing menunggang satu kuda. Hebat akibatnya untuk tentara Kim itu. bayi itu nampak cakap.

yang menjadi kepala perang telah memberikan belbagai titahnya. walaupun mereka tidak tahu jelas. lantas ia pimpin tentaranya menyerbu. Lie Peng tidak buka rahasia. maka tentera itu lantas memecah diri dalam dua barisan. anak kambing itu lari terus. Malah yang seekor – anak kambing – kabur ke timur. mereka jaka si nyonya ke tendanya. guna mencari air. Tapi ia ingin mengetahui sesuatu. untuk bersembunyi didalam rujuk. Ia menjadi takut. tapi selagi ia hendak menuntun pulang. Ia memegang sebatang golok panjang. ketika kedua penolongnya hendak berpindah tempat. ia gendong bayinya untuk di bawa pergi ke araha timur. Ia mengintai terus. untuk kelegaan hatinya. Semua binatang itu kaget. sampai setelah memasang kuping sekian lama. dan untuk menempuh perjalanan jauh. Sekarang. mendatangi dari arah depan. selagi uadra hangat. Ia memanggil dengan berteriak-teriak. Orang Monglia itu tidak berumah tangga. ia pun dapat hidup sebagai orang Mongolia. Ia sekarang memelihara anjing sebagi pembantunya. Sekitar tujuh lie. apa katanya Lie. timur dan barat. ia beri nama Ceng kepada putranya. Maka mulailah Lie Peng mesti bercape lelah. Segera terlihat dua penunggang kuda. Tidak ayal lagi. Selama tempo bertahun-tahun hidupnya Lie Peng ada lumayan. hingga ia terperanjat. Kwee ceng giring kambingnya untuk diangon. dibantu sama suara tambur. walaupun tampaknya mereka kosen. belum pernah ia dengar suara semacam itu. setelah ia mulai dapat pulang kesegarannya. hingga ia mesti melahirkan anak seorang diri. dari sana muncul beberapa barisan lain yang dikepalai oelh satu perwira muda jangkkung dan kkurus. Maka ia naiki kudanya untuk mengejar. ia menunggang kuda kecilnya. Ada serdadu yang kepalanya digabut pelangi putih. Bisalah dibayangi. mendadak ia dengar susra keras dan nyaring. Untuk hidupnya. Akan tetapi dua orang itu tidak menolong kepalang tanggung. tidak lama mereka mesti mundur sendirinya. ia cuma dapatkan. dengan mengiring binatang piarannya. sebaliknya daripada takut. segera terdengar suara terompet dari sebelah belakang. untuk dikasih tempat meneduh dan barang makanan. Sekoyong-konyong terdengar suara terompet riuh. guna melindungi diri dari gangguan angin dan hujan. baru ia dapat tangkap anak kambing itu. Oleh karena kebiasaan. Ia tidak hendak melupakan peasn suaminya. Lie-sie dapat berdiam disitu bersama bayinya. Jauh di sebelah depan nampak debu mengepul naik.sie. ia bisa membantu ibunya menggembala kambing. Pihak penyerang ini berjumlah lebih sedikit. Ia mesti terus berjalan di tempat yang sepi dimana ada terdapat pepohonan dan tegalan rumput. selagi ia menjagai kambing-kambingnya. diwaktu hendak berangkat.Pendekar Pemanah Rajawali Buat tujuh atau delapan hari. Sampai tiba-tiba ia mendengar anak panah mengaung di atasan kepalanya. mereka itu berbaik hati. Dua penunggang kuda itu adalah orang Monglia. sebab bayinya masih belum mengerti suatu apa pun. tubuhnya ditutupi dengan mantel merah. ―Siapa kau?‖ tanya salah satu diantara dua penunggang kuda itu. ia Cuma kata ia lagi lewat di situ tempo ia terhalang oleh pertempuran tentera. terpaksa ia ditinggal pergi. malah tanpa terasa enam tahun telah lewat. Demikian telah terjadi dengan Lie-sie. mereka menyerang pula. Tidak lama setelah barisan teraur rapi. Kaget ia. bagaimana hebat penderitaannya itu. Ia mulanya menyangka kepada guntur. Meski begitu. tiba-tiba kwee Ceng lihat seekkor burung elang yang besar sekali menyambar kepada rombongan kambingnya. ia keluarkan kepalanya untuk mengintai. dari itu di situ sudah lantas terjadi suatu pertempuran. mendengar itu tentera penyerang lantas berseru-seru kegirangan: ―Kha Khan Temuchin telah datang! Kha Khan telah datang!‖ Irawan D Soedradjat Page 69 . anak itu bertubuh kuat dan cerdik. mereka meninggalkan tiga ekor kambing. ada yang ditancapkan bulu burung warna lima. untuk kemudian ibu dan bayinya itu tidur guna melepaskan lelah dan kantuknya. Tepat tengah hari. untuk hidup sendiri. ia mulai bertenun yang hasilnya ia dengan barang makanan. mereka biasa pergi ke timur atau ke barat untuk mencari makanan binatang. sebagai rumah adalah tenda yang bertenung daripada bulu binatang. hati Kwee ceng menjadi tertarik. hingga keras sekali ia rangkul bayinya. lalu muncullah pasukan tentera. sebagai pengembala tak tentu tempat tinggalnya. Pada suatu hari dari bulan tiga. Tapi di belakang mereka lantas tiba bala bantuan. agaknya mereka ini tidak dapat bertahan lama. Hidup sendiri. yang ia tidak tahu berapa jumlahnya. Ia mesti membangun satu gubuk dengan beratap daun. ia dengar suara seperti tambur berikut meringkiknya kuda serta suara orang banyak. Kwee Ceng tuntun kambingnya buat diajak mendaki suatu tanjakan.

dari mana datangnya suara terompet dan tambur tadi. Musuh telah mendesak hingga hampir sukar untuk dicegah lagi. hingga mereka dapat mengacaukan lawannya. hanya karena jumlah mereka jauh lebih besar. Temuchin mengawasi ke bawah kepada tentara musuh. tentera penyerang jadi dapat semangat. Tiang yang tinggi itu bergerak ke arah tanjakan bukit. dengan lima ribu jiwa serdadu mereka. Tentara musuh bersorak-sorai menampak lawannya lari tumpang siur. mereka tidak ambil peduli lagi kepada musuh yang lari tunggang-langgang. banyak yang telah rubuh. ia Cuma berdiam sebentar. Disamping dia ada beberapa pengiringnya. Atas ini. Kwee Ceng saksikan itu semua. Jelmi lari naik ke atas bukit. Temuchin tetap berdiam tegak di tempatnya. Di sana pun dikerek batang bendera besar. lalu dengan suara dalam. sudah melihat tegas keadaan pertempuran itu. dari lima ribu serdadunya Temuchin itu. ia tetap mengawasi medan perang. bersama Chilaun serta selaksa serdadumu mundur ke utara! Dan kau. apa boleh kita kerek bendera dan membunyikan terompet?‖ dia bertanya. Temuchin. Lalu ia memberi perintah pula: ―Mukhali. Dengan begitu ia dapat lihat satu perwira yang menunggang kuda. Dengan matanya yang tajam bagai mata burung elang. Juga Kwee Ceng turut beralih pandangannya. kau mesti kembali untuk melakukan penyerangan membalas!‖ Semua perwira itu menyahuti tanda mereka menerima titah. ―Ayah. Di tengah pasukan di panjar sebuah tiang yang tinggi di mana ada tergantung beberapa lapis bulu putih. mereka menang di atas angin. menjadi cemas hatinya. apa pula penyerang di pojok timur utara tampak lebih garang. yang mendatangi dengan cepat. Tidak antara lama panglima muda yang bermantel merah larikan kudanya naik ke tanjakan. ia menyahuti: ―Musuh masih belum lelah. tentera Mongolia itu nampaknya lati serabutan keempat penjuru arah. demikian panglima yang dipanggil ayah itu. Itu ada tanda bahwa di sana ada tiga kepala perang yang memegang pimpinan. yang larikan kudanya itu naik ke tanjakan. lekas mundur ke selatan! Kapan kau lihat bendera besar di kerak tinggi dan dengar terompet dibunyikan. orang terpaksa main mundur. Ia tampak satu pasukan besar. Kwee Ceng dengan matanya yang jeli. janggutnya merah. Setelah bertempur sekitar satu jam lebih. berlomba mendaki bukit. kau Borchu. tak sudi mereka mundur dari serangan musuh. Irawan D Soedradjat Page 70 . mengawasi ke arah tiang itu. Putra ketiga dari Temuchin. dari atas kudanya ia memandang ke medan pertempuran. musuh berjumlah lebih banyak berlipat ganda. ia gembira berbareng negri. seribu lebih telah terbinasa. Dilain pihak adik angkat Temuchin.‖ Ketika itu penyerangan musuh di timur laut bertambah hebat. mereka menyerang pula dengan seru. mereka pun segera melihat bendera putih besar dari Temuchin di atas bukit. mereka tidak menghiraukan anak panah dan golok. Dia ada memakai kopiah perang dari besi. bersama Jelmi panglima yang kosen. ―Ayah. jumlahnya bebearap ribu jiwa. Kubilai. lantas ia berikan titahnya: ―Kau bawa selaksa serdadu mundur ke timur!‖ demikian titahnya itu. Sambil berbuat begitu. yaitu Ogatai yang berada di samping ayahnya. dari tempat sembunyinya. mari kita mundur dulu!‖ berseru ia kepada orang di bawah tiang bendera itu. kau bersama pangeran kedua serta selaksa serdadu mundur ke barat. Di pihak Mongolia. mereka lantas saja berkoak-koak: ―Tangkap hidup Temuchin! Tangkap hidup Temuchin!‖ Lalu tentara itu dengan rapat sekali. maka sebentar saja. melakukan pembelaan si sekitar bukit itu. Dari sana pun datang seruan-seruan kegirangan. ia dikitari belasan pengiringnya yang dengan memasang tameng mereka itu. bersama Subotai serta selaksa serdadu. akan tetapi juga serdadu musuh. yaitu Sigi Kutuku. melindungiini pemimpin dari sambarannya berbagai anak panah. habis itu semua bawa barisannya menyingkir ke arah yang telah disebutkan tadi.Pendekar Pemanah Rajawali Atas itu orang-orang yang lagi bertempur lantas menoleh ke arah timur selatan.

Kutuku segera beraksi. ―Bagaimana dapat kau banggakan diri sebagai satu pendekar gagah perkasa?!‖ Air mukanya Jelmi menjadi berubah. Temuchin tutup lukanya dengan telapakn tangannya. Kutuku di arah barat telah pimpin tentaranya melawan musuh. anak-anak tak sanggup bertahan!‖ dia teriaki junjungannya. kemudian dengan lemparkan goloknya. darah molos keluar dari sela-sela jari tangannya itu. suaranya perlahan. Mendapatkan anak panah. Semua serdadu Mongol kaget. hebat ilmu panahnya. Biar bagaimana juga. ―Tak sanggup bertahan?!‖ berseru Temuchin dengan gusar. ―Apakah sekarang sudah boleh kita menaikkan bendera dan membunyikan terompet?‖ ia tanya.‖ Kutuku lantas berlutut di depan kakak angkatnya itu. Irawan D Soedradjat Page 71 . ia membuat kudanya berjingkrak berdiri dengan dua kaki belakangnya. ―Saudaraku yang baik. Sejumlah serdadu mush mundur melihat orang demikian bengis. ia lemparkan itu kepada adik angkatnya itu. ―Aku kehabisan anak panah!‖ Temuchin yang rebah di tanah telah tarik keluar anak panahnya dari kantong panahnya yang tersulam.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kha Khan. Dilain pihak. Dua perwira Mongolia maju hendak menerjang tetapi mereka disambut oleh anak panah dan rubuh karenanya. terpaksa ia balik mundur. ia memburu ke bawah bukit. nacap sampai di batas bulu. Maka tidak ampun lagi. lantas ia rampas sebatang golok besar dari tangannya satu serdadu. di pojok barat selatan. sedang satu anak panah lainnya menyambar ke arah perutnya. sebaliknya ia tertawa. untuk rampas kuda musuh. tentara Mongolia bertempik sorak. ―Ser!‖ sebatang anak panah menyambar sebelum pimpinan Mongol ini dapat berdaya. mereka lantas tutup pula kebocoran di timur utara itu. Jelmi maju menyerang tiga serdadu musuh yang bertubuh besar.‖ sahutnya. dalam keadaan terluka. walaupun lehernya terluka dan sakit sekali rasanya. Dengan begitu. dengan bawa itu sambil serukan seruan-seruan peperangan bangsanya. ia rangkul ketiga bendera besar itu untuk dibawa lari mendaki bukit. Merah matanya Jelmi melihat kawannya itu mundur. yang berbareng menjadi pemimpinnya. Kutuku mandi keringat. sesudah mana. Kutuku tidak gusar. ―Musuh masih belum lelah. akan kemudian ia lari pula naik ke atas. ―Siapa lari ngiprit?‖ katanya. sebatang busur membuat musuh itu rubuh. ia tancap tiga batang bendera itu di tanah! Kaget nusuh menyaksikan lawannya demikian kosen. ―Kutuku. semua lantas meluruh untuk tolongi kepala perang mereka. dipihak musuh. setibanya di atas. ia binasakan satu demi satu. ia memandang ke arah musuh. Justru itu. Musuh gunai ketika baik ini untuk menerjang naik dengan hebat. apakah kau ngiprit sebagai kelinci?‖ ia menegur dengan ejekannya. ―Bagus ilmu panahnya!‖ Temuchin puji musuh itu. Beruntun tiga kali ia memanah kepada musuh yang berada dibawahnya sebuah bendera hitam. anak panah tidak lagi menyambar ke perut orang. ia membuka jalan hingga di depan satu bendera hitam. sebentar saja ia telah rubuhkan belasan tentera Mongolia. lehernya telah terkena anak panah itu. ia kehabisan anak panah dan tobaknya pun telah patah. hebat kau!‖ Temuchin puji adik angkatnya itu. hanya nancap di dadanya kuda. Berselang lagi satu jam. tampak satu panglima dengan pakaian perang hitam. ia tidak menjadi gugup. Temuchin adalah satu orang peperangan yang ulung. dengan kedut lesnya. rubuhlah binatang tunggangannya itu berikut penunggangnya. ia menerjang barisan musuh. ―Kita tunggu sebentar lagi.

ia bunuh tiga musuh yang menerjang ke arahnya. tak kecuali mereka yang mengurus korban-korban. anak ini tidak sedikit juga menunjukkan hati jeri.dua helai permadani – dengan barang-barang makanan. hingga penyerangan mereka menjadi reda. ia mirip dengan ayahnya…‖ pikir ibu ini. disusul sama bunyi terompet ynag riuh. ia anggap peperangan itu dapat dibuat permainan. ―Hadiahnya sepuluh kati emas!‖ Beberapa puluh serdadu Mongol sudah lantas kaburkan kuda mereka. kaget melihat kepala perang lawannya dapat naik kuda pula. treus angkat kepalanya. ia jadi gembira sekali. Temuchin lantas berlompat untuk naik ke atas seekor kuda. akan kejar panglima berbaju hitam itu. baharu ia keluar dari tempat sembunyinya. hingga yang lainnya menjadi terhalang. Lie Peng berangkat ke pasar yang terpisahnya kira-kira tigapuluh lie lebih dari rumahnya untuk menukar tenunannya. Maka sejak itu. lalu bendera putih yang besar dikerek naik. ―Tangkap musuh itu!‖ Temuchin memberi titah. tentara Mongolia iringi kepala perangnya berangkat pulang. Panglima dengan seragam hitam itu nampak keadaan jelek. si panglima seragam hitam sendiri terpaksa kaburkan kudanya. ialah pihak Mongolia. sambil bersorak-sorak. ―Tapi Kha Khan. pagi-pagi sekali. melihat sikap orang. Dengan begitu pula pada akhirnya. telah peroleh kemenangan besar dan musuhnya ialah bangsa Taijiut. Musuh yang tengah merangsak naik. ―Semuanya membela mati bukit ini!‖ ia berseru. . mereka menjadi bertambah kacau. Irawan D Soedradjat Page 72 . Maka itu tidak usah berselang dua jam. sendirinya mereka mundur. Serempak dengan itu. ―Dasar turunan orang peperangan. ia berteriak-teriak untuk mencegah kekacauan. Begitu datang dekat. termusnahkan pasukan Mongolia yang jumlahnya lebih sedikit tetapi yang semangatnya berapi-api. Kwee Ceng dari tempat sembunyinya sangat mengagumi panglima berbaju hitam itu. kuda itu kendorkan larinya. akan tetapi sia-sia saja percobaannya itu.‖ katanya. Ketika ia tiba dirumahnya. Akan tetapi lihay panah si panglima. Tiga hari kemudian. siapa lantas menjadi kaget sekali. di bebokong kuda ada satu tubuh manusia yang mendekam. ia gunai ketikanya yang baik. sambil ia duduk di atas kudanya. Temuchin lihat keadaan itu. barisan mereka tengah kacau. runtuhlah pasukan perang yang besar itu. memandang kepada si bocah itu. dimana mereka berada. Kwee Ceng tunggu sampai orang sudah pergi semua. Dengan kegirangan. tubuhmu penting sekali!‖ Mendengar itu. Senang Lie Peng akan saksikan anaknya bercerita dengan cara sangat gembira. Ia mau anggap dirinya adalah satu panglima perang! Tengah anak ini main jenderal-jenderalan itu. Tentara Mongolia bertempik sorak. hingga ia keluarkan teriakan tertahan. apabila ia menoleh. maka itu diserang demikian mendadak. ―Naikkan bendera! Tiup terompet!‖ dia berteriak dengan titahnya. Temuchin tidak usah khawatirkan lagi ancaman dari pihak musuhnya itu. waktu sudah tengah malam. Penunggang kuda itu yang mendekat. tentaranya tak dapat dikendalikan lagi. ia mencoba menggiring kambingnya pulang pergi. Anak ini ingat akan peperangan yang ia saksikan. tentera Mongolia dengan bersemangat menyerang dari segala penjuru. tiba-tiba ia dengar tindakan kaki kuda di arah timur.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kami semua rela berkorban untuk kau. Maka diam-diam ia pun bergirang. maka itu belasan serdadu lantas saja terjungkal dari kuda mereka. Sisa tentara lantas lari serabutan. Kwee Ceng segera terangkan kepada ibunya kenapa ia pulang lambat sekali. Dengan goloknya yang panjang. panglima itu dapat meloloskan diri. Musuh berjumlah besar. telah musnah lebih daripada separuhnya. justru ibunya sedang berdebar-debar hatinya memikirkan anaknya yang dikhawatirkan menghadapi ancaman bahaya. Dengan pertempuran ini Temuchin. maka itu ia menjadi teringat kepada suaminya. ia tampak seekor kuda lari mendatangi. tak pernah gagal. Kwee Ceng ditinggal di rumah untuk menjagai binatang piaraan mereka. Mereka itu mendekati saling susul. maka dengan mainkan cambuknya.

banyak-banyak terima kasih kepadamu!‖ dia mengucap. ia menjadi lesu.‖ katanya panglim aitu kemudian. kami harus membantu tetamu tetapi tidak boleh menginginkan barang tetamu. Ia pun balut luka kudanya. Sekarang di sebelah suara berisik itu terlihat debu mengepul. golok yang mana pun ada darah yang sudah mengental. Tapi lekas sekali ia tertawa berkakakkan. orang itu memakannya dengan sangat bernafsu. ―Ibu telah pesan. adalah si panglima perang berbaju hitam yang gagah. Kwee Ceng pun lantas ikut memandang juga. Tubuh panglim aitu bergoyang-goyang. apakah kau ada punya panah?‖ tanya si tetamu. matanya bersinar merah. Demikian dia bisa geraki tubuhnya untuk berduduk. Dia jatuh pingsan. Selang sekian lama. Panglima itu baharu minum setengah mangkok. ―Aku hendak bertempur. Irawan D Soedradjat Page 73 . ia menjerit. ―Anak yang baik. ditangan kirinya ia mencekal goloknya yang telah buntung.‖ ia bilang. ―Hm. ―Ada!‖ sahut Kwee Ceng yang terus lari ke dalam untuk ambil panahnya. aku ingin panah yang besar…. Ia pun lantas memandang ke arah timur itu. sedang panahnya tidak kedapatan padanya. Kwee Ceng kaget dan bingung. ―Adik yang baik. Rupanya banyak sekali serdadu barisan berkuda temgah mendatangi. hanya habis itu wajahnya berjengit. darahnya masih mengalir. tubuhnya terus rubuh dari atas kudanya itu. tetapi ia rupanya telah puas telah dapat air. dia tak hendak melepaskan aku!‖ serunya sengit.Pendekar Pemanah Rajawali Penunggang kuda itu mukanya penuh debu bercampur darah. Tak tahu ia mesti berbuat apa. lalu ia tertawa terbahak-bahak. Itu waktu samar-samar terdengar suara larinya banyak kuda di arah timur. orang itu sadar dengan sendirinya. Di pipi kanannya ada sebuah luka besar dan masih mengucurkan darah. yang mana si panglima lantas saja sambar untuk digelogoki. Mungkin ia yang tengah melarikan diri telah bertemu pula dengan musuh. Orang itu perlihatkan roman girang. hanya tempo si bocah itu kembali. benderanya pun berkibar-kibar. ―Yang besar tidak ada…. ―Mari lagi satu mangkok!‖ dia meminta pula. ―Air…air…lekas bagi air…‖ katanya. yang Kwee Ceng saksikan dan mengaguminya. Kwee Ceng menggeleng-gelengkan kepala. Kwee Ceng telah bawa gendewa dan anak panahnya yang kecil. ―Anak yang baik! Anak yang baik!‖ ia memuji. Kwee ceng lantas lari mengambil air dingin dari jambangannya. mendengar itu tetamunya Kwee Ceng ini menjadi gusar sekali. Orang itu tercengang. Paha kudanya pun terluka. tiba-tiba ia tertawa. Kwee Ceng lekas-lekas mengambilkan beberapa potong daging kambing. setelah itu ia dapat pulang tenaganya. ―Untukmu!‖ dia tambhakan seraya dia angsurkan barang permata itu kepada bocah itu. ―Lapar! Lapar!‖ kali ini ia bersuara. Ketika itu pasukan yang mendatangi telah tampak semakin tegas. untuk dipakai membalut lukanya. suaranya parau. Ia lantas sobek ujung bajunya. Dari lengannya ia tarik sebuah gelang emas yang kasar dan berat. air itu sudah bercampur dengan darah yang mengalir dari lukanya. alisnya lantas menjadi ciut.‖ sahut Kwee Ceng.

Irawan D Soedradjat Page 74 . seperti tak pernah terjadi sesuatu. Ia lantas kenali itu adalah panglima yang pimpin tentera. dua kali atas mana kuda yang hitam bulunya itu segera lompat kabur. tak dapat ia lari lebih jauh. ―Coba bawa kuda itu kemari!‖ Begitu keluar perintah itu. Kwee Ceng menunjuki tumpukan rumput kering di belakang rumahnya. lebih baik kau sembunyi. walaupun ia sudah dapat pulang tenaganya. ―Ya. yang tubuhnya ditutupi denagn mantel merah. yang lantas terus tarik les kuda orang untuk dibawa kepada sang pangeran. Kwee Ceng mencambuk kuda itu. dua serdadu lantas menghampirinya. ―Bukankah itu kudanya?‖ ia tanya. Dia adalah putra sulung dari Temuchin. ―Mari ketemu pangeran!‖ berkata dua serdadu itu. ―Dia sudah pergi lama sekali. suaranya dalam. Ia tidak dengar pembicaraan di antara dua orangnya dengan si bocah. hingga walaupun binatang itu berniat lari. putra sulung itu memandang ke sekitarnya. Ia lihat banyak serdadu sedang mengiringi satu anak muda yang kurus dan jangkung. Dua serdadu itu sampaikan jawabannya Kwee Ceng. Ia lantas dapat lihat itu kuda hitam yang lagi makan rumput di kejauhan. Orang itu mengambil putusan denagn segera. ―Benar!‖ sahut banyak serdadu. Dengan gampang ia kena ditangkap dan dituntun.‖ ia menerangkan ―Bawa dia kemari‖ berseru perwira yang mengepalai pasukan itu. ―Aku tidak akan mengasih tahu kepada mereka.‖ ia berjanji tanpa diminta. sesudah lari cukup jauh. ―Baik. Ia bisa berlaku tenang. ia pun lari ke tumpukan kering itu dan menyelusup kedalamnya. ―Di mana?‖ tanya serdadu yang kedua. jalannya sudah tertutup. aku dapat lihat. ―Eh. untuk hampirkan itu kuda denagn dikurung. Lain jalan tidak ada. Mereka rupanya lihat bocah yang menunggang kuda itu. ―Apakah katanya bocah ini?‖ tanya ia membentak. suara mereka riuh. bocah. sepuluh serdadu lanats bergerak dengan mereka memecah diri dalam lima rombongan. Si pangeran telah sampai di depan rumah ―Aku tidak akan bicara!‖ Kwee Ceng telah mabil keputusan dalam hatinya. Dengan matanya mengandung kecurigaan. Jadi ada lebih selamat untuk sembunyikan diri. ―Hm! Bukankah itu kudanya Jebe?‖ putra itu tanya. aku serahkan jiwaku kepadamu!‖ katanya. ―Pergi kau usir kudaku!‖ setelah berkata demikian. ―Sembunyi di mana?‖ orang itu tanya. ia laikan kuda itu bolak balik. bahar ia berhenti untuk makan rumput. Tidak lama tibalah barisan berkuda itu. dengan kudanya yang terluka. Kwee Ceng menunjuk ke barat.‖ kata Kwee Ceng kemudian.Pendekar Pemanah Rajawali ―Seorang diri tak dapat kau lawan mereka.‖ Kwee ceng menjawab. Ia insyaf. Kwee Ceng naik ke atas kudanya. kau lihat tidak satu orang yang menunggang kuda hitam?‖ Itulah teguran dari satu diantara dua serdadu itu. suaranya kasar.

Dia mengancam pula Kwee Ceng dengan cambuknya diayun tiga kali beruntun. Baharu keesokan harinya. hatinya menjdai memukul keras. aku terpaksa mesti keluar untuk adu jiwaku…. Kwee Ceng lihat orang hendak tusuk bagian dimana panglima nelusup. hai. sepasukan serdadu berhasil menemukan Jebe. ia cegah keluarnya air matanya. ―Ayah!‖ demikian ia menyambut. mereka tidak lihat suatu apa yang bergerak. ia putar kudanya untuk menyambut ayahnya. Ia sendiri pun telah terluka. mesti isap darah – hingga darahnya itu ada yang kena ketelan dan dimuntahkan. Ia memikir: ―Pasti bocah itu tak tahan sakit dan ektakutan. yang hendak ditawan. ―Ayah. tentera Mongolia dikirim ke empat penjuru untuk cari Jebe. dia lolos dari ancaman bahaya maut. benda apakah itu yang bergerak-gerak?‖ Semua serdadu lantas berpaling mengawasi. Lagi sekali ia mencambuk. untuk hukum dia dengan dibeset empat kuda dan dicincang tubuhnya guna membalaskan sakit hatinya Khan yang terbesar itu. Oleh karena itu. Tuli. setan cilik?!‖ tanya dengan bengis. Musuh itu dikepung tetapi ia dapat meloloskan diri sambil membinasakan beberapa jiwa serdadu Mongol. Tidak ada jalan lain. kuda hitamnya bangsat itu telah dapat ditemukan!‖ ia memberitahukan. 75 ―Aku tidak menghendaki kuda tetapi orangnya!‖ ayahnya itu menjawab. Ia kenal si putra sulung – putra Temuchin itu – ialah Juji yang tabiatnya keras dan kejam. di hari kedua. Ogotai dan putra sulungnya. Dihari kedua pada wkatu sore. adalah sehabisnya pertempuran. ―Kha Khan datang!‖ sejumlah serdadu berteriak. bersembunyi sambil memasang mata.‖ Kwee Ceng kesakitan bukan main. Kedua serdadu tadi pun sampai lupa untuk menusuk-nusuk terlebih jauh. Kali ini ia hunus goloknya. mau ia menangis akan tetapi ia menahan sakit. tetapi di medan perang. ―Kudanya ada disini. Hampir di itu waktu dari kejauhan terdengar suara terompet. Kha Khan – Khan yang terbesar. setan cilik. cepat menyusul. Temuchin. Satu malam dia gadangi semua panglimanya serta keempat putranya. Tapinya ia lantas berteriak : ―Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!‖ Ketika itu sejumlah serdadu sudah geledah rumahnya Kwee ceng. pergi menyusul dan mengejar. sedang dua yang lain menusuk-nusuk ke dalam tumpukan rumput kering itu. Juji. ia coba sebisanya akan menahan sakit. Irawan D Soedradjat Page ―Ya!‖ sahut putra itu. ―Dia sembunyi di mana. dia mestinya tidak lari jauh!‖ Juji berkata pula. ia bolang-balingkan itu ke udara. kau hendak bicara atau tidak?!‖. ―Pasti kita akan mendapatkannya!‖ Ia balik kepada Kwee Ceng . tangannya mencekal keras goloknya yang panjang. tiba-tiba tangannya menunjuk ke tumpukan rumput yang jauh sambil ia berteriak: ―Lihat di sana. kemudian ia sendiri mengajak putranya yang kedua. Dia angkat kepalanya dan menanya dengan berani: ―Kenapa kau pukul aku? Mana aku ketahui dia bersembunyi di mana!‖ ―Kau membandel?!‖ bentak Juji. ―Jangan kau harap dapat mendustai aku!‖ Jebe. Berat lukanya Temuchin bekas terpanah Jebe. Kapan Temuchin dengar kabar itu. Ia lihat penganiayaan itu yang menyebabkan jidatnya Kwee ceng memebri tanda baret merah. ia pingsan beberapa kali. .Pendekar Pemanah Rajawali Putra sulung itu ayunkan cambuknya ke arah kepalanya Kwee Ceng. Kali ini Kwee Ceng tak dapat tak menangkis. Juji lantas berhenti mencambuk. Inilah sebabnya kenapa ia datang belakangan. ―Eh. itu panglima berseragam hitam yang sembunyi di dalam tumpukan rumput. Ayahnya itu dirubungi banyak pengiringnya. putranya yang ketiga. hingga ia perlu ditolongi dengan Jelmi panglimanya serta Ogotai putranya yang ketiga. lebih dahulu ia kirim putra sulungnya. Jagati.

Sayang anjing penggembala itu jauh lebih kecil dan ia pun bersendirian. Jebe lompat keluar dari tempatnya bersembunyi. tahu ia akan tugasnya. Juji berontak tetapi ia tak dapat lepaskan pelukannya anak itu yang memegang ia dengan keras sekali. kapan ia pergi berburu. Jagati menjadi tidak senang. Temuchin berpikir. tempo ia berguling sampai di kaki si putra sulung. ia hampiri Kwee Ceng. dia tentu bawa enam ekor anjingnya itu. Ia lemparkan goloknya. ia mendahului menghalang di depan tumpukan rumput kering itu dan melarang enam ekor anjing itu menghampirinya. mengenai tepat goloknya Juji itu. ―Aku tidak mau bicara!‖ Kwee Ceng ulangi jawabannya. Sekarang anjing itu diperintah dibawa mengitari kuda hitam. terus dengan tertawa dingin. tetapi ia pensaran dan marah. sebab goloknya hampir terlepas dari cekalannya. gonggongan mereka sangat berisik. tahu ia panglima itu terancam akan ketahuan tempat persembunyiannya. maka itu setiap keluarga bangsawan atau panglima perang mesti memelihara anjing-anjing peranti berburu.‖ Putra ketiga itu menurut sambil tertawa. Menampak sang kakak kelabakan. Enam ekor anjingnya Jagati sudah mulai mencium-cium ke tumpukan rumput kering. Tapi ia gagah. Ia sambar Kwee Ceng. Irawan D Soedradjat Page 76 . maka sekejap saja terjadilah pertarungan yang sengit sekali. yang ia tarik tubuhnya dengan tangan kiri untuk disingkirkan ke belakangnya. Sekarang setelah ia dianiaya Juji. Bangsa Mongol paling gemar berburu. Putra kedua dari Temuchin menjadi habis sabar. dia tak mau mundur. hingga ia rubuh bergulingan. banyak lukanya. Jagatai adalah putra paling gemar berburu. ia perdengarkan suaranya berulang-ulang menganjuri anjingnya melawan terus. Jagatai. hingga dengan lantas ia suka memberikan pertolongannya. untuk diberi bercium bau. anjing pembantu penggembala. Hati Juji menjadi sangat dongkol. ia ayunkan pula cambuknya berulangkali hingga Kwee Ceng merasakan sakit ke ulu hatinya. begitupun burung elang besar. Hati Kwee Ceng menjadi kecil. Ogotai dan Tuli menjadi tertawa bergelak-gelak. timbul kemarahannya. dia berkata: ―Menghina anak kecil. ia lanats digigit di sana sini. Nyaring bentroknya kedua senjata itu. ia ayunkan goloknya ke lehernya si Kwee Ceng. bangkit keangkuhannya dan tidak sudi ia menyerah. ia perintah anjingnya maju. Kapan ia lihat orang melepas anjing. yang bersenjatakan golok dan tombak. Mukanya Juji menjadi merah. ―Lepas anjing!‖ ia menitahkan. ia jadi terlebih berani.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kau hendak berbicara atau tidak!‖ ia mengancam. habis itu baru semuanya dilepaskan dari rantainya. ―Aku tidak mau bicara! Aku tidak mau bicara!‖ ia berteriak berulang-ulang. akan aku berikan ini padamu…‖ ia kata seraya angsurkan bulu merak itu. Lantas pengiringnya muncul dengan enam ekor anjing yang besar. Disaat batang lehernya bocah yang bernyali besar itu bakal menjadi putus. mendadak ia angkat tubuhnya untuk sambar pahanya si Juji yang terus ia gigit. tiba-tiba sebuah golok buntung menyambar. Dari kopiah perangnya ia pun cabut dua batang bulu merak yang berkilauan. Mendengar itu. kapan anjing Kwee Ceng dengar panggilan majikannya. kenapa bocah itu mengatakan: ―Tidak mau bicara‖ dan bukannya ―Aku tidak tahu?‖ Maka ia lantas berbisik kepada Ogotai: ―Pergi kau bujuki ia hingga ia suka berbicara. hanya kegagahan panglima berseragam hitam itu sangat mengesankan kepadanya. Menyusuli goloknya itu. Kwee Ceng telah mandi darah pada mukanya. Semua orang terkejut. tak malukah?!‖ Lantas saja Jebe dikurung oleh serdadu Mongol. untuk mencegah ia lantas bersiul memanggil anjingnya sendiri. antaranya ada yang berseru kaget. Kwee Ceng dengan Jebe tidak saling mengenal. Juji terperanjat. muka ramai dengan senyuman. ―Kau bicaralah.

‖ sahut Jebe. kalung kayunya dirusaki dan dibakar. Ia dinaiki ke atas sebuah kereta besar yang muat bulu kambing. Borchu. ―Hm!‖ ―Kau andalkan ilmumu memanah. Mendengar orang adalah ―sahabatnya‖ Temuchin. terbuka lebar matanya ini panglima. kereta itu batal digeledah. Jebe ada punya namanya sendiri tetapi nama itu kalah dengan gelarannya. pergilah kau bertanding dengan sahabatku ini!‖ ―Jebe‖ itu memang berarti ―Ahli memanah‖. Borchu maju beberapa tindak. ―Nanti aku layani dia!‖ Temuchin lihat orang itu adalah panglimanya. ia meninju dada orang. Setelah lolos ini. Disampingnya Temuchin muncul satu orang. Maka kemudian. kiranya dia inilah orangnya…‖ Ia tidak menjawab. musuhnya.‖ berkata Temuchin. Ia girang sekali. Bangsa Taijiut itu membikin pesta di tepinya sungai Onan. orang sampai menyebut kau Jebe. delapan ekor kudanya yang putih pun kena orang curi. yang tubuhnya besar dan suaranya nyaring. semuanya lompat mundur dengan ketakutan. mereka berdua pergi mencari bersama. Borchu itu kosen dan belum pernah ada tandingannya.‖ Temuchin sambut itu ajakan. Tiga hari mereka menyusul. mereka bubarkan rombongan pencuri kuda itu dan berhasil merampas pulang ke delapan kuda yang dicuri itu. ―Sekarang ini burung elang jatuh di tanah. supaya kau puas!‖ katanya nyaring. Ketika dahulu Temuchin belum menjadi kepala bangsa Mongol. Mereka anggap orang ini tidak tahu diri. ia lari ke dalam rimba. ia cuma perdengarkan suara dingin. dengan suara mendalam. ―Siapa kau?!‖ ia tanya. ia pergi mencari pencuri kuda itu. mereka saban-saban mencaci Temuchin. dia berseru dengan keras. mustahil orang dapat sembunyi di dalam bulu kambing‖ Memang hawa ada sangat panas. Jebe berpikir: ―Memang pernah aku dengar Borchu adalah orang kosen bangsa Mongolia. mari kita ikat persahabatan. dia pernah ditawan bangsa Taijiut. dia tolongi Temuchin. Pemuda itu ialah Borchu. Ia ketemu satu anak muda yang lagi peras susu kuda. digeledah juga kereta itu. hingga orang tidak mengetahuinya lagi. Jebe awasi orang itu. Sebaliknya ia berseu: ―Lekas bunuh aku!‖ Kemudian. Ketika musuh Taijiut datang mencari dan rumah Chila‘un digeledah. ―Kha Khan. aku akan lebih dahulu binasakan padamu!‖ Tertawa Mongol tertawa riuh. baharu mareka dapat menyandak si pencuri kuda. Temuchin Irawan D Soedradjat Page 77 . Sudah itu pada suatu hari. dia mati digerumuti semut!‖ Habis mengucap begitu. Hampir Temuchin kepergok tapi ayahnya Chila‘un pintar. pergi kau layani dia!‖ ia menganjurkan. Ia tanya kalau-kalau pemuda itu lihat pencuri kudanya. jangan kasih bocah ini pentang mulut besar!‖ dia berseru. ―Seorang diri akan aku bunuh kau. Alasan itu kuat. Atas itu Jebe tidak membalas menyerang. aku akan mati dengan puas. ―Jikalau aku dibinasakan di medan perang oleh orang yang dapat menangi aku. Temuchin berhasil menghajar penjaganya dengan kalung kayunya itu. Ia penasaran. Jebe berkata: ―Kau adalah sahabatnya Khan yang terbesar. sembari minum koumiss. sengsara hidupnya Temuchin. Enam anjingnya Jagatai yang lagi gigiti anjingnya Kwee Ceng menjadi kaget. yang mereka hinakan sesudah mana mereka berniat membunuhnya. lehernya dipakaikan kalung kayu. dia berkata: ―Hari begini panas mengendus. setiap orang seperti bermandikan keringat. Setelah pesta bubaran.Pendekar Pemanah Rajawali Juji menjadi sangat gusar. Bersama ibu dan adik-adiknya ia mesti hidup dari daging tikus hutan. Dia berkata: ―Penderitaannya bangsa pria sama saja. Satu anak muda yang bernama Chila‘un tidak takut bahaya. ―Baik. sia-sia bangsa Taijiut mencari dia. ―Maka sekarang. ekornya diselipkan ke selangkangannya. ia menambahkan: ―Sayang aku tak dapat terbinasa di tangannya satu orang gagah perkasa…!‖ ―Apakah kau bilang?‖ tanya Temuchin. ―Aku Borchu!‖ panglima itu membentak. Dengan panah mereka yang lihay.

Temuchin dan semua orangnya bersorak memuji. untuk duduk pula atas kudanya! ―Bagus!‖ Borchu memuji lawannya itu. Jebe tidak sempat menangkap pula. Borchu tahu Jebe memang lihay. putranya yang ketiga. ia cenderungkan tubuh ke bawah untuk jemput tiga anak panah yang tergeletak di tanah. ―Kau naik atas kudaku. yang suruh orang serahkan kudanya. hingga anak panah itu terpanah dua. lagi dua kali ia memanah dengan saling susul. sekarang kau beri ketika untuk aku adu panah dengannya. untuk papaki anak panah lawan. Maka kedua anak panah itu saling bentrok lalu mental. Borchu memanah pula. tak dapat aku layani dia cara seimbang. Borchu perlihatkan kepandaiannya. tubuhnya meroyot hampir mengenao tanah. ―Itu sama saja dengan aku sendiri yang memanah dia!‖ ―Baik!‖ Borchu menyahuti. Irawan D Soedradjat Page 78 . selagi kuda itu lari. kau pakai panahku. Temuchin tahu kegagahannya Borchu. Borchu terkejut. ia hanya bawa tubuhnya turun dari bebokong kuda. jatuh nancap di tanah. Ketika ia diserang pula. dengan enjot diri. Borchu lantas bersiap. Ia tidak cuma menolong diri. ia berdiri di atas kudanya. kesempatan ini dipakai untuk membalas menyerang. Aku menghendaki hanya sebuah gendewa. ia memanah lagi pula. Borchu tetap menjadi sahabatnya dengan berbareng menjadi panglimanya. Jebe naik ke bebokong kuda. Tapi ia panah anak panahnya Borchu. Borchu menjawab: ―Aku keluarkan tenaga untuk sahabatku. tak usah anak panahnya!‖ ―Kau tak pakai anak panah?!‖ tanya Borchu gusar. ia menyambok dengan gendewanya. dia tidak berani memandang enteng. Ia mengincar ke sebelah kanan. Binatang itu yang telah berpengalaman. habis mana ia angkat tubuhnya. hingga anak panah itu jatuh ke tanah. Kali ini Jebe kaget. Mulanya ia cuma mengancam. Dengan tangan kiri mencekal gendewa dan tangan kanan memegang naka panah. mengarah perut Borchu. Jebe lihat anak panah datang. ―Kau kasihkan kudamu pada Jebe!‖ Temuchin berkata pada Ogotai. Dilain pihak. Jebe berkelit dan sambil berkelit tangannya menyambar. ia pun larikan kudanya ke lain arah. ―Dengan sebuah gendewa saja. tahu akan tugasnya. dia berkata pada Temuchin: ―Aku telah terkurung olehmu. setelah itu ia memanah betul-betul. lalu dengan sebelah kakinya ia sampok anak panah yang menyambar kepadanya itu. aku bukannya seorang yang tak tahu diri. sampai Temuchin berhasil mengangkat dirinya. sambil berkelit ia memanah pula. dia lompat ke atas kudanya Temuchin. seekor juga aku tidak menginginkannya!‖ Sejak itu keduanya bekerjasama. Ia pun lompat turun dari kudanya. Jebe berkelit. Tidak lagi ia mendekam. ia serahkan panahnya sendiri. Cepat sekali ia membalas memanah. kaki kanannya nyangkel pada sanggurdi. Ia jepit perut kudanya akan bikin kuda itu lari. hingga bersama Chila‘un ia menjadi empat di antara menteri besar dan berjasa dari Jenghiz Khan (nama Temuchin setelah ia menaklukan bangsa-bangsa yang lain). ―Sungguh dia beruntung!‖ kata Ogotai. ―Tidak salah!‖ sahut Jebe. Inilah ia tidak sangka. Ia terus memanah. Ia tanya sahabatnya itu menghendaki berapa ekor.‖ katanya. lalu ―Ser!‖ maka sebuah anak panah menyambar ke arah Jebe. aku pun dapat membunuh kau!‖ Tentara Mongol menjadi berisik. Ia selamat. ia berbareng membalas memanah. satu kali. ―Binatang ini sangat sombong!‖ seru mereka. Jebe lihat kuda lawan gesit. ia mendekam akan aksih lewat anak panah itu. beruntun tiga kali. Kemudian ia larikan kudanya.Pendekar Pemanah Rajawali hendak membalas budi dengan membagi kudanya. menangkap anak panah itu. terus ia main berkelit. Tapi Borchu tidak berhenti sampai disitu.

Kehilangan senjatanya. tiba-tiba ia menjadi terkejut. Irawan D Soedradjat Page 79 . rubuhlah binatang itu! Borchu turut rubuh. anak panahnya justru mengenai batok kepalanya kuda. Tentang aku sendiri. melihat serangan datang. walaupun sambaran anak panah itu keras sekali. ―Mari kita mengadu pula!‖ Ia lantas memanah pula. Jebe kasih kudanya lari berputaran. kemudian mendapatkan orang tidak terbinasa atau terluka parah. Jebe pun berkelit tak hentinya. kau panah mati padaku!‖ Jebe menjawab: ―Biasanya Jebe tidak pernah mengasih ampun pada musuhnya! Panahku barusan berarti. ia mendahului membalas menyerang. dia tidak. Tapi anak panah datang demikian cepat. ia telah gunai habis semua anak panahnya. itu cuma menyebabkan Borchu merasa sakit pada bebokongnya. untuk memberi semangat kepada Borchu. ia pungut anak panah itu. Tapi Jebe lihay. hingga akhirnya pundaknya yang kiri kena juga terpanah. sambil bersembunyi. sekarang kita seri. anak panah yang berdarah itu ia pasang di gendewanya. Jebe lihat serangan berbahaya. yang anak panahnya ada batasnya.. Lantas ia memanah pula beruntun beberapa kali. dan tepat mengenai. Hanya aneh. ujung panah tidak menancap. ia lindungi diri di perut kudanya. satu jiwa tukar dengan satu jiwa!‖ Temuchin kaget dan berkhawatir menampak Borchu kena terpanah. sambil turunkan tubuhnya. ―Apa!‖ Temuchin menegaskan. Ia panah bebokong musuh itu. Jadi terang. anak panah yang diberikan oleh Temuchin kepadanya.. ia gunai ketikanya. Kapan ia dengar perkataan Jebe itu. yang berdiri di depan pintu. ―Bukannya untuk ditukar dengan jiwaku!‖ Jebe berseru. Tentara Mongol bertempik sorak. aku harus mendapatkan hukumanku!‖ Ia cabut anak panah di pundaknya. Maka ia lantas merogoh ke kantung panahnya. Ia khawatir ia nanti dipanah terus. hingga gendewa itu panah menjadi dua potong. hingga ia merasakan sangat sakit. Kudanya Borchu sangat lihay. ia membalas menyerang. ―Aku telah panah kepada Khan yang mulia. Kali ini ia kena hajar gendewanya Jebe. incarannya luar biasa. Tapi ia belum puas. ia menjadi girang. dengan begini mana bisa aku membalaskan sakit hatinya Khan yang terbesar?‖ Ia menjadi bergelisah. tanpa tanda dari penunggangnya. mereka menjerit. ―Aku hendak menukarnya dengan jiwa anak ini!‖ katanya. ia talangi Borchu menyahut: ―Baik! Sudah. Jebe telah lihat tegas musuhnya itu. ―Siapa menghendaki kamu jual kebaikanmu!‖ teriak Borchu. anak panah itu jatuh ke tanah! Dengan keheranan. ―Aku minta Khan yang mulia jangan ganggu itu anak. kali ini ia pakai kantong panah Temuchin. terus-menerus. untuk rampas jiwa orang. Jebe hendak mengasih ampun padanya. Jebe menunjuk kepada Kwee Ceng. kamu jangan adu panah pula! Biar. dengan saling susul. ―Jikalau kau benar ada punya kepandaian. Segera ia ketahui sebabnya ia tidak terluka.. Dalam kagetnya ia putar kudanya untuk balik. terguling ke tanah. Sebenarnya ia biasa berbekal banyak anak panah. Tanpa merasa. Selagi mata orang banyak seperti di bikin kabur. jiwanya ditukar dengan jiwamu!‖ ia mengatakannya pada Borchu.Pendekar Pemanah Rajawali Borchu menjadi berpikir: ―Aku ada punya anak panah. Semua penonton kaget. ―Baiklah!‖ kata Borchu. Semua penonton bersorak. Borchu menjadi girang sekali. Sementara itu serdadunya Borchu sudah hanturkan beberapa puluh batang anak panah kepala kepala perangnya itu. ia lompat berkelit ke kiri. hendak ia memanah lebih jauh. Anak panah itu tidak ada ujungnya yang tajam! Jebe telah singkirkan itu.‖ sepasang alisnya bangkit bangun. maka tidak ampun lagi. ia pungut anak panah di tanah.

ia menjadi kagum sekali. akan tuturkan kejadian barusan. Kwee Ceng pun dapat berlatih ilmu perang. ―Khan yang mulia. sambil mendekam.‖ katanya. Dengan hidup terus sebagai penggembala. sekarang mendengar perkataan orang. Temuchin tertawa berbahak-bahak. di belakang hari walaupun mesti menyerbu api berkobar-kobar. ―Emas adalah kepunyaanmu. ia ajak putranya ikut Jebe kepada Temuchin. berilah ampun kepadanya!‖ Temuchin pun menyayangi Jebe. tak mau ia menerimanya. yang sepotongnya pula kepada Jebe. walaupun ia incar tenggorokkan. tak ingin ia mengambil jiwa orang. ―Habislah aku hari ini…. Akan aku memotong Sungai hitam menggempur batu gunung. Bocah itu menggoyangi kepala. akan aku tunjang Khan yang maha besar! Aku akan menghajar musuh. Jebe menjadi girang sekali. yang sepotong ia berikan kepada Borchu. Maka ketika ia memanah.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia satu laki-laki sejati!‖ Borchu sebaliknya berpikir. ibunya bocah itu. Ia tunggu pulangnya Lie Peng. ia menggeser sedikit. untuk dibawa bersama.‖ ia mengeluh dalam hatinya. ia berkata: ―Kha Khan. Lantas ia ajak pasukan perangnya balik ke arah darimana tadi ia datang. bolehkah?‖ Temuchin tertawa. ―Bagus! Bagus!‖ katanya. Ia lolos dari kematian dan mendapati tuan yang bijaksana. ―Kalau emas itu adalah emasku. Beberapa serdadu angkat naik bangkai kuda putihnya ke bebokong dua kuda lainnya. Irawan D Soedradjat Page 80 . Tapi ia terus menambahkan. ia beristirahat. Ia percaya. Lie Peng lantas berpikir. kesana aku pergi! Temuchin menjadi sangat girang. aku rela. kau boleh berikan kepada siapa kau suka!‖ Jebe angsurkan emas itu kepada Kwee Ceng. hendak aku berikan emas ini kepada itu bocah. Ia ambil dua potong emas. Maka kesudahannya. untuk ambil hatinya! Ke mana aku diperintah pergi. ―Ibu bilang. ia lantas perdengarkan nyanyiannya: Khan yang terbesar mengampunkan selembar jiwaku. Jebe gagal mengelakkan diri. rasa sukanya menjadi bertambah-tambah. Temuchin telah sukai bocah ini. Ia menjadi si orang gagah yang menyayangi sesama orang gagah. aku boleh kasihkan itu kepada siapa aku suka!‖ katanya. apakah kau masih tetap tidak mau menyerah?!‖ ia tanya panglima musuh itu. mengikuti di sebelah belakang. kalau kita membnatu tetamu kita. anak panah lewat menyempret di pinggiran tenggorokkannya. ―Sebentar kau bawalah bocah ini kepadaku!‖ katanya kepada Jebe. mungkin ketikanya akan lebih baik. kalau ia turut Temuchin. Ia merasa sakit dan kaget. jangan kita termahai uangnya. Sambil rebahkan diri di atas rumput. maka ia lompat turun dari kudanya untuk terus bertekuk lutut. Jebe menghanturkan terima kasih. tetapi ketika ia menoleh kepada Temuchin. ―Eh. ―Selanjutnya kau ikutlah aku!‖ Orang Mongol polos dan sangat gemar bernyanyi. darahnya lantas mengucur dengan keluar. Di dalam pasukan perang. Jebe lihat Temuchin demikian angker. demikian Jebe. Borchu siapkan pula anak panahnya. tidak tahu sampai kapan Kwee Ceng dapat membalas dendamnya.

yaitu wanyen Yung Chi dan Wanyen Lieh. Mereka itu terlatih sempurna. dari itu hebat penyerangan mereka. Jebe ingat budinya Kwee Ceng. Tidak lama sejak masuknya dua orang itu ke dalam markas. Ia menempatkan orang gagah itu dibawah Ogotai. ia dapat lihat mendatanginya dari kejauhan dua penunggang kuda yang larikan binatangnya tunggangannya dengan kencang sekali. pengaruhnya tersiar luas dan jauh. ―Kita telah kalahkan banyak musuh. Begitu terdengar terompet yang ketiga kali. *** Pada suatu hari selagi Kwee Ceng memain timpuk-timpukan batu bersama beberapa kawannya anak-anak Mongol di depan markas Temuchin. Dengan satu titah dari ayahnya. Mereka lihat. yang nampak adalah satu angkatan perang besar yang terdiri dari lima pasukan dari setiap sepuluh ribu jiwa. sampai mereka nampak debu mengepul naik. lalu sepuluh komponi. setelah Kwee Ceng tambah umurnya akan ia wariskan ilmu panah dan ilmu silat kepadanya. Tatkala itu bangsa Kim telah menduduki Tiongkok Utara. atau satu resimen. Yangkhia. tinggal lihat gelagat saja untuk mewujudkan politik itu. yang ia tahu cerdik. putranya yang ketiga yang menjadi satu siphu-thio. Beberapa tahun yang lalu Wanyen Yung Chi telag diutus menganugrahkan pangkat kepada Wang Khan dan Temuchin. lalu terdengar ramai suara terompet. yang berseragam lapis baja. ―Begitulah negeri Kim itu sudah utus putranya yang ketiga bersama putranya yang keenam datang kemari untuk menganugrahkan pangkat kepada Kha Khan kamu!‖ Dengan angkat tinggi golok mereka. ia khawatir Temuchin itu menjadi bahaya untuknya di bagian utara. ia perlakukan itu bocah dan ibunya dengan baik. kebetulan Temuchin lagi berperang. setelah terompet yang kedua. lebih dulu sudah terdengar suara beradunya pakaian baja mereka. tandanya Juji telah dapat memapak dan menyambut utusan bangsa Kim itu. karena keduanya saling menghormati dan menghargai. setelah terompet yang pertama. Borchu menyambut dengan baik. lantas saja mereka menjdia sahabat kental. Belum lagi pasukan perang itu datang dekat.Pendekar Pemanah Rajawali Bab 8. Yang pertama ialah sepuluh jiwa serdadu menjadi satu barisan kecil. Setelah menemui tiga putra Temuchin. Irawan D Soedradjat Page 81 . Lewat beberapa tahun setelah itu. semua serdadu sudah siap dengan senjata mereka dan naik kuda. kudanya tinggi dan besar. Ia ingin Temuchin dapat dipengaruhi dengan keangkerannya atau dengan cara halus. raja Kim dengar Temuchin jadi semakin kuat. maka sekarang dia utus putranya itu dengan dibantu Wanyen Lieh. atau satu eskadron. menyusul mana dari pelbagai tangsi terlihat munculnya orang-orang peperangan. putranya yang keenam. Kedua saudara itu membawa selaksa serdadu pilihan. Jebe mencari Borchu untuk menghanturkan terima kasih. tentara Mongol bersorak. terdiri dari seratus jiwa dipimpin oleh satu pekhu-thio. dan sepuluh resimen. Keras disiplin tentaranya Temuchin yang mengatir barisannya dalam empat rombongan. komponi yang dikepalai oleh datu opsir disebut siphu-thio. negeri Kim pun telah tahu itu. dikepalai satu cianhu-thio. Kwee Ceng dan kawan-kawannya terus tinggal menonton. sedang empat laksa serdadu lainnya mengatur diri dengan rapi untuk menanti. merupakan sebagai satu badan. sebaliknya bangsa Mongol adalah suatu suku kecil di tanah datar atau padang pasir. dipimpin oleh satu banhu-thio. mereka menjadi bersatu. hingga tampaknya jadi angker sekali. Ia menduga kepada berita penting yang mesti disampaikan kepada Khan yang terbesar itu. kepala komponi yang memimpin sepuluh serdadu. atau satu devisi. kemudian lagi sepuluh eskadron. senjatanya tombak panjang. hingga Yung Chi mesti lari pulang ke Chungtu. Juji si putra pertama maju bersama selaksa serdadunya untuk sambut utusan Kim. maka itu Temuchin anggap adalah suatu kehormatan yang ia dianugrahkan pangkat oleh kerajaan Kim itu. Temuchin muncul dari dalam kemah. tentara musuh yang dikalahkan sudah menyerbu dan membikin bubarnya pasukan pengiringnya Wanyen Yung Chi. Ia telah pikir. kalau ada titah dari Temuchin. Pedang Mustika Girang Temuchin melihat kedatangan Jebe.‖ berkata ini pemimpin besar. tubuh setiap serdadu bergoyang-goyang. sunyi senyap semuanya. Dengan diiringi putra-putranya. Kwee ceng bersama kawan-kawannya berdiri menonton. kecuali napasnya kuda. kaki kuda mereka berbunyi tak hentinya.

Ia lihat gelagat jelek. Disaat Kwee Ceng menghadapi saat ajalnya. ―Shako. walaupun masih kecil. Ia lantas rampas sebatang tombak panjang dari satu pengiringnya. mereka tidak memperdulikannya. selama berada bersama ibunya. dengan ketakutan ia mengangkat kaki. kenal atau tidak. perbuatan Yung Chi ini justru perbuatan yang memandang enteng. Kalau tetamu berbuat tidak mengindahkan kehormatan diantara tuan rumah dan tetamu. maka sekarang melihat orang Kim itu demikian kurang ajar. Sambil tertawa terus. tiba-tiba sebatang anak panah menyambar dari pasukan Mongol yang kiri. Anak-anak Mongol itu juga terdidik menghormati tetamu mereka. jangan layani dia!‖ Wanyen Lieh berkata kepada kakaknya. akan tetapi mereka biasa menaati adat istiadat. sering ia dengar ibunya itu bercerita tentang kajahatan bangsa Kim yang di Tiongkok. dan kedua itulah sebagai pelesiran. ia main bunuh orang. Temuchin bersikap tenang. meski ia tidak merasakan terlalu sakit. perbuatan itu dipandang sebagai kejahatan paling besar. maka ia mendelik kepada bocah itu. Dengan berbuat begitu. mereka dapat menghargai diri sendiri. akan tetapi memandang Kwee Ceng. menganiaya dan membunuh rakyat jelata. ia lantas pungut beberapa potong emas. ―Bocah haram jadah!‖ ia mencaci dengan perlahan. Irawan D Soedradjat Page 82 . ia tetap panas hatinya. Yung Chi menjadi penasaran. Temuchin bersama putra-putranya ambil tempat di samping untuk menyambut. adat kebiasaan mereka masih ―kasar‖. mereka polos dan pegang derajat. Akan tetapi kesudahannya ia menjadi kecewa. Ia mendongkol bukan main. Umpama ada tetamu mendatangi tenda mereka. maka itu semua serdadu Mongol saling memandang satu dengan lainnya. Biasanya di Tiongkok. tetamunya tentu disambut dan dilayani dengan baik.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Yung Chi datang berendeng bersama adiknya. tidak menghargai tuan rumah. Sebaliknya tentara Mongol perdengarkan gemuruh seruan memuji penyerangan panah itu. mereka suka merampas dan memperkosa wanita. demikian menampak perbuatan Yung Chi itu. terutama terhadap tetapi. ia lantas tertawa dan merogoh ke dalam sakunya. mereka sangat menghormati. untuk meraup sejumlah uang emas. pertama ia hendak unjuk keagungannya. tombak itu kena terserang tepat sekali dan jatuh bersama anak panah itu. bagaimana bangsa Kim itu telah bersekongkol dengan pengkhianat-pengkhianat Han untuk membinasakan Gak Hui dan lainnya. tetapi tombak sudah melayang. kau cari mampus?‖ Yung Chi membentak. ―Tahan. shako!‖ Wanyen Lieh mencegah. atau tengah bergurau. dan berteriakan. Wanyen Yung Chi lihat Kwee Ceng beramai. Bangsa Mongol paling mengutamakan menghormati tetamu. Ia merogoh pula sakunya untuk mengambil uang emas lainnya. Yung Chi jeri akan saksikan keangkeran tentara Mongolia itu. Ia mengharap anak-anak itu nanti berebut memungutinya. tidak pernah mereka mengutuk atau mencaci. ramai-ramai kamu merebutnya! Hayo rebut. bersama putra-putranya ia sambut kedua tetamu itu dengan menyuguhkan koumiss dan daging kambing dan kuda. dan terhadap musuh. Bukankah ia telah diperhina di depan orang banyak? Adalah orang Mongol sendiri. Kwee Ceng ketolongan tetapi ia telah bermandikan keringat dingin. Kwee Ceng bukan orang Mongol. setan-setan cilik!‖ Mendengar itu semua orang Mongol berubah air mukanya. itu anak-anak Mongol yang dengan membuka matanya lebar-lebar mengawasi kepadanya tanpa berkedip. Dimasa itu bangsa Mongol belum kenal mata surat. dari Temuchin sampai pada semua bawahannya pada merasa puas ―Setan cilik. sedikit saja ia merasa tidak puas. ia berkata: ―Itulah persenan untuk kalian!‖ Yung Chin tidak tinggi ilmu silatnya akan tetapi uang emas hancur itu dapat ia lempar cukup jauh. ia melemparkannya kembali sekalian ia beseru: ―Hayo anak-anak. ia lari mendekati Yung Chi kepada muka siapa ia menimpuk sambil ia berseru: ―Siapa sudi mengambil emasmu yang bau!‖ Yung Chi berkelit tapi ada juga uang yang mengenai pipinya. ia toh malu bukan main. Belum pernah ada yang berani menghina dia. dari mulut mereka tidak pernah keluar kata-kata kotor. yang mana terus ia lemparkan ke arah anak-anak itu. Sebaliknya pihak tetamu tidak selayaknya berlaku tidak hormat atau memandang enteng. dengan itu ia hendak menimpuk kepada bocah she Kwee itu.

‖ ―Kami disini masih ada punya seorang gagah yang lain. yaitu Jamukha.‖ jawab Wanyen Yung Chi Wanyen Lieh segera menambahkan:‖ Untuk di utara ini.‖ jawab Temuchin. Wang Khan itu adalah pemimpin dari pelbagai suku di tanah datar. apakah Ciauwtouwsu suka turut pergi bersama?‖ Temuchin senang dengan ajakan itu. Temuchin baru berumur sebelas tahun. ―Siapakah lagi yang dianugerahkan negara Kim yang besar?‖ ia tanya. ―Tidak ada lagi. Demikian ingat saudara angkatnya itu. ―Siapakah dia?‖ ―Dialah adik angkatku. Wanyen Yung Chi berkata. Malam itu bangsa Mongol jamu tetamu-tetamunya yang dilayani dengan hormat dan telaten. Selagi minum. Ia adalah saudara angkat dari Yesukai. malam tidur berkerubung sehelai selimut. mana kami negeri Kim yang besar dapat punyakan demikian banyak pembesar?‖ Wanyen Lieh mengedipkan mata kepada kakaknya. Maka setelah angkat saudara. Aku mohon sukalah sam-ongya dan liok-ongya juga menganugerahkan dia sesuatu pangkat. diawaktu angkat saudara mereka saling mengasih barang tanda mata. pangkat turun temurun.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Yung Chi membacakan firman dengan apa Temuchin diangkat menjadi Pak-kiang Ciauwtouwsu dari negeri Kim. Kali ini Temuchin dan Jamukha saling menghadiahkan ban emas dan kuda. ―Dia jujur dan berbudi tinggi. Temuchin terima pengangkatannya sambil berlutut. selagi main panah-panahan dengan panah kecil yang terbuat dari kayu. Ditahun kedua. Pie-sek itu adalah biji yang orang Mongol biasa pakai untuk menimpuk kelinci. liok-ongya mungkin belum pernah mendengarnya. ―Kalau begitu tidak apa. Wanyen Yung Chi telah minum hingga separuh mabuk. tetapi anak-anak gunakan itu untuk main timpuk-timpukan. ia pun disebut Togrul Khan.‖ berkata Temuchin. siapa yang menang. dia pandai memimpin angkatan perang. Ia membasakan ―liok-ongya‖. Lagi sekali mereka mengangkat suadara. Irawan D Soedradjat Page 83 . angkatan perangnya besar dan kuat. Girang Temuchin akan ketahui ayah angkatnya pun dianugerahkan pangkat. Jamukha hadiahkan kepada Temuchin kepala panah yang terbuat dari tulang mata kerbau dan Temuchin sebaliknya menghadiahkan kepala panah yang terbuat dari kau pek. ia diberi minum susu dari gelas kumala dari Wang Khan. ia dapat rampas pulang istrinya itu adalah dengan bantuan Wang Khan dan adik angkatnya. yang airnya telah membeku menjadi es. tempo mereka angkat saudara. Ketika itu Jamukha memberikan Temuchin biji pie-sek yang terbuat dari tulang binatang. musuhnya. selalu mereka saling menyayangi. Maka tidak heran. Temuchin terlunta-lunta dan ia kemudian pergi ke Wang Khan untuk menumpang. kalau semuanya diberi pangkat. berdua mereka tinggal bersama-sama dengan Wang Khan. Ia berasal dari suku Kerait. mereka jadi berpencaran. Temuchin tidak senang dengan jawaban itu. tempo istrinya Temuchin dirampas orang.: ―Besok kami hendak pergi menganugrahkan Wang Khan. Sekarang saling mereka minum arak dari satu cawan.‖ Erat sekali pergaulannya Temuchin dengan Jamukha. Ketika dahulu hari Yesukai mati diracuni musuhnya. keduanya bermain timpuk-timpukan di sungai Onon. Inilah untuk ketiga kalinya mereka angkat saudara. dan Temuchin membalas dengan biji pie-sek yang terbuat dari tembaga. tanpa pikir ia langsung menjawab: ―Bangsa Mongolia berjumlah banyak. setipa pagi mereka berlomba bangun pagi. ia menyambuti firman dan pelat emas itu. sang kakak tetapi tidak memperdulikannya. Adalah kebiasaan bangsa Mongolia. Temuchin timbulkan usul ini. Lalu Wang Khan angkat ia jadi anak pungut. pangeran keenam kepada Wanyen Lieh. Adalah kemudian karena masing-masing mencari air dan rumput sendiri dan memimpin barisan sendiri-sendiri. orang lain tidak ada yang dapat disamakannya. tetapi hubungan mereka masih tetap kekal. ayahnya Temuchin. Kemudian setelah keduanya dewasa. untuk dia selamanya menjadi seperti alingan di utara dari negeri Kim itu. putranya masih belum lahir. Itu waktu Temuchin menikah belum lama dan Juji. Jamukha. Kemudian tempo istrinya Temuchin dirampas bangsa Merkit. ―Apakah benar?‖ Wanyen Lieh berkata dengan cepat. ia menyatakan suka turut. serahkan saja pangkatku kepadanya!‖ ia bilang. Khan sendiri serta Wang Khan adalah orang-orang gagah perkasa. Wang Khan dan Jamukha bekerja sama membantu merampasnya pulang.

berulang kali ia kasih dengar suara di hidung. Tadinya Temchin gentar menyaksikan roman gagah tentara Kim itu. ―Ayah!‖ panggil Tuli kapan ia tiba di depan ayahnya itu. Akan tetapi itu waktu. ia tutup mulutnya.‖ Membuat ―anda‖ itu berarti mengangkat sudara. Temuchin lihat kalung emas yang biasa dipakai oleh putra itu. kau menghadiahkan apa padanya?‖ ia tanya denagn sabar. ia berseru: ―Apakah kau pandang enteng pangkat yang diberikan kerajaan Kim yang besar?!‖ Temuchin tahu diri. Matahari telah memancarkan cahaya ketika Temuchin telah berada di atas kudanya dan lima ribu serdadunya telah siap dengan rapi. akan tetapi dalam hal mendidik anak atau melatih tentara. ―Kema kau pergi?!‖ tanya Temuchin. Semua orang menjadi cemas hatinya.‖ Ketika itu ia menoleh. Temuchin girang sekali dengan jawaban itu. mentereng seragam dan alat senjatanya. tempo masih sangat muda mereka juga telah mengangkat saudara. Tuli itu putra yang keempat. Wanyen Lieh pun lantas menyelak dengan ia berbicara sambil tertawa. ―Kwee Ceng. ―Baik. Tuli ulapkan tangannya yang mencekal sepotong handuk merah yang tersulam bunga-bungaan indah. Temuchin pakai aturan keras. Pada Mukhali ia tanya: ―Bagaimana pandanganmu terhadap tentara Kim itu?‖ ―Seribu serdau kita dapat lawan lima ribu serdadu mereka!‖ sahut Mukhali. ―Pandanganmu sering cocok dengan pandanganku. tetapi sekarang menyaksikan doyannya tidur mereka. ―Dan dia menghadiahkan ini padaku. untuk simpangkan soal. yang menjadi gurunya Tuli. ―Anda‖ itu kata-kata Mongol.‖ berkata Boroul. ―Barusan aku membuat anda bersama saudar Kwee di tepi sungai. ―Dia biasanya tidak berani bangun sampai siang. tentara Kim masih tidur nyenyak di kemahnya.Pendekar Pemanah Rajawali Yung Chi tepuk pahanya. ―Katanya negeri Kim ada punya dua juta serdadu. ―Selanjutnya kamu berdua mesti saling mencintai dan saling menyayangi serta saling membantu!‖ Tuli bersama Kwee Ceng menyahuti menerima pesan itu. Di hari kedua. Irawan D Soedradjat Page 84 . ―Mana Tuli?!‖ ia tanya dengan gusar. ia menajdi tenang. ialah handuk buatan Lie Peng untuk putranya. Mereka ialah Tuli bersama Kwee Ceng. di sana kelihatan dua bocah berlari-lari mendatangi sambil berpegangan tangan. Temuchin segera ingat halnya sendiri bersama Jamukha. maka itu tak senang ia tidak melihat anaknya itu. Ia tersenyum. ―Kau sendiri. ia tampak kudanya Tuli. ―Sekarang semua naik kuda!‖ Temuchin lalu memerintah.‖ sahut Tuli. Tapi baru ia hendak putar kudanya. tetapi Tuli sendiri tidak kelihatan orangnya. hatinya menjadi tergerak. kau juga turut kami!‖ Tuli dan Kwee Ceng girang sekali. Sambil mengatakan demikian. nanti aku tengok. sama-sama mereka naiki kuda mereka. ―Ini!‖ Kwee Ceng mendahulukan menyahut seraya ia tunjuk lehernya.‖ katanya. Orang mesti lagi menanti setangah jam barulah Wanyen Yung Chi dan saudaranya selesai dandan dan keluar dari kemahnya. besar-besar kuda tunggangannya. yang khawatir pemimpin itu gusari putranya.‖ ia bilang. kita hanya lima puluh laksa. pagi Temuchin berangkat dengan ajak keempat putranya serta lima ribu serdadunya. untuk mengantari Wangyen Yung Chi dan Wanyen Lieh pergi menganugrahkan pangkat kepada Wang Khan. masih kecil.

akan temui saudara angkatnya itu. lagi kira setengah jam barulah tentara Kim itu siap berangkat. Berselang tidak lama. kumis kuningnya jarang. lari balik dengan laporannya bahwa di sebelah depan ada menghalang tentaranya bangsa Naiman yang berjumlah tiga puluh ribu jiwa. Justru itu dua serdadunya Temuchin yang bertugas jalan dimuka sekali. dia tidak mirip dengan seorang yang dibesarkan di gurun pasir. menandakan ketangkasannya. ―Lekas suruh tentara kita maju! Ini orang-orang Mongol tidak ada gunanya!‖ ―Biarlah mereka yang bertempur lebih dulu. Sangum adalah berkulit putih. sesudah jalan enam hari. Dilain pihak. ―Bangsa Naiman itu sering merampas binatang piaraan kita.‖ Wanyen Yung Chi teriaki saudaranya. ia lantas perintahkan tentaranya lekas siap. ―Hendak apakah mereka itu?‖ dia tanya. Wanyen Yung Chi sebaliknya tunjuki tingkah polahnya satu putra raja. mereka terperanjat. wajahnya berubah.‖ katanya. Dengan membawa sepuluh pengiring. Segera terlihat debu mengepul di sebelah depan. tanda dari hidup senang dan dimanjakan. barulah mereka dipapak oleh wakilnya Wang Khan. Mendengar itu barulah Yung Chi sadar dan manggut-manggut.‖ sahut di juru warta. apabila mereka tidak diberi anugerah. tubuhnya gemuk. Karena hal ini. Hbais itu semua putra Temuchin menemui dan mengasih hormat kepada paman angkatnya itu. Maka itu. untuk bersiap sedia. ―Kakak. Jalan lagi satu hari. yang mengutus putranya. ―Biarlah kedua putra raja Kim yang besar ini melihat sepak terjang kita!‖ Ia pun lantas bersiul nyaring satu kali. habis mana dengan perlahan-lahan juga ia naik ke atas kudanya. hatinya goncang. pasukan ini jadi tertunda keberangkatannya. Sangum bersama Jamukha. Wanyen Lieh lihat Jamukha bertubuh jangkung kurus. tetapi ia mencoba mengendalikan diri. ―Jumlahnya mereka agaknya lebih banyak dari jumlah kita…‖ kata Yung Chi tidak lancar. Wanyen Yung Chi terkejut. apakah hari ini kita mesti lepaskan saja pada mereka?‖ Temuchin melihat sekitarnya. Kapan Temuchin dengar Jamukha ada bersama Sangum.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Lieh lihat tentaranya Mongolia demikian rapi. Mukhali larikan kudanya ke depan. ia lantas maju ke depan. ―Kelihatannya mereka hendak menyerang. Mukhali telah kembali dengan laporannya: ―Bangsa Naiman mendengar putra raja kerajaan Kim datang menganugrahkan Khan kami yang terbesar. mereka hendak tangkap dan tahan kedua putra raja Kim. mereka juga menghendaki anugerah itu. Tentara terdepan dari pihak Mongol sebaliknya telah mundur kepada barisan mereka. akan tetapi sepasang matanya sangat tajam dan berpengaruh. atas mana tentara Mongolia menyambut dengan seruan perang mereka berulangkali. ―Saudara. dan musuh segera mulai tampak. ia telah lantas dapat memikirkannya. disusul sama dua kali cambukan ke udara dari cambuknya. maka keduanya lantas berpelukan.‖ Wanyen Yung Chi menjadi kaget. denagn ayal-ayalan ia minum araknya dan dahar kue. rombongan ini sudah mendekati tempat kediaman Wang Khan.‖ berkata Mukhali kepada Temuchin. Irawan D Soedradjat Page 85 . Dua saudara Wanyen tidak menyangka mendengar itu dan dan menyaksikan sikap orang. Mereka bilang.‖ Wanyen Lieh membisiki kakaknya. Wanyen Lieh sebaliknya segera mengatur pasukan perangnya. ―Pergilah kau tanya mereka!‖ ia perintahkan Mukhali. ―Adik. Temuchin tidak beri kesempatan untuk orang bicara lebih banyak. mereka sangat suka mengganggu. Pasukan perang itu menuju ke utara.

Pendekar Pemanah Rajawali Tentara Mongol masih perdengarkan suara mereka yang nyaring tetapi mereka tidak bergeming. Itu waktu Boroul berada di samping kiri. tentara mereka mengikuti untuk turut ambil kedudukan bagus itu. kematian dan luka Cuma seratus lebih. Ia mendekam di bebokong kudanya. Karena ini adalah penyerangan dari jauh. mereka turun dari kuda mereka dan menyerah. yang sebagian untuk Wang Khan. Siwaktu itu. sambil mengertak gigi. Sesudah itu. Bersama-sama Kwee Ceng. yang sebagian untuk Irawan D Soedradjat Page 86 . Kau lihat bagaimana kami nanti menghajar musuh!‖ Tuli mengangguk. tentara musuh sudah datang dekat beberapa ratus tindak. mereka kepraki kuda mereka untuk menerjang. pergi kau serbu bagian belakangnya!‖ Jelmi menerima titah itu. mereka tetap berteriak-teriak saja. Sekali ini serempak berhentilah seruan-seruan peperangan tentara Mongol itu. Kejadian ini membingungkan pasukan yang berada di sebelah depan. Jarak di antara kedua pihak masih cukup jauh. ―Lepas panah!‖ ia mengasih titah. Tentara Mongol membuat tembok bentengan yang terdiri dari semacam permadani. ia ingin membuat jasa. Temuchin titahkan loloskan seragam tentara Naiman itu. hanya sesudah musuh tinggal kira-kira dua ribu jiwa lebih. Yung berkhawatir pula. jangan kau ketinggalan. Temuchin dari tempat yang tinggi menyaksikan penyerangan pihaknya itu. musuh terbinasa dan luka seribu lebih. dari tempat yang lebih tinggi. guna menduduki tempat yang bagus. ia berkata kepada Tuli: ―Pangeran kecil. Sebagi kesudahan pertempuran. barisan belakang Naiman menjadi kalu. mereka lantas menyerang tentara Naiman. mereka lantas menghujani anak panah. apakah dengan begitu dapat tentara musuh dibikin mundur?‖ berkata Yung Chi. Wanyen Yung Chi dapat lihat wajah tentara Naiman itu sangat bengis. Hanya sementara itu. untuk kembali ke jalan darimana tadi mereka datang. musuh lantas lari serabutan. anak panahnya tentara Kim ini tidak sampai kepada musuh. yang membuat musuh kacau. baru ia memegat. Wanyen Lieh menjadi heran. Ia khawatir tentara Naiman nanti keburu mendahulukan menyerbu kepada mareka. suaranya nyaring. ―Taruh kata kamu berterika-teriak hingga langit bergerak bumi bergoyang. Jamukha bersama Sangum menyerang dari kiri dan kanan. semuanya jatuh di hadapan mereka itu. penyerangan panah dilanjuti. karena orang datang semakin dekat. Dalam tempo yang pendek. Mau tidak mau. Ia ambil jalan memotong. Dalam tempo yang cepat sekali. Tentara Kim menurut titah. ia pergi dengan seribu serdadunya. Selagi kepala perang Naiman bersangsi. Atas ini. Jelmi tidak merintangi musuh lari terus. benda tebal itu dipasang di depan mereka dengan diri mereka teraling. Jebe dengan tombak panjang di tangan. yang sebaliknya lalu membagi diri dalam dua sayap. Hampir semua panah mereka yang gagal. Di pihak Mongolia. Sebagai orang baru. Siasatnya ini memberi hasil. Musuh menjadi kecil nyalinya. jumlah mereka dua ribu lebih dipecah empat yang sebagian diserahkan kepada dua saudara Wanyen. tertawan dua ribu lebih. merka menggunai anak panah. dengan membawa goloknya yang besar. tentara Mongol tetap tidak bergerak. maju di paling muka. ia biarkan mereka dihajar oleh kawan-kawannya. cambuknya Temuchin mengalun pula di tengah udara. walaupun demikian. ia telad tentaranya ialah berkoak-koak dengan seruan peperangan. ia memimpin untuk mencoba merampas kedudukan itu. keduanya ini lantas lari ke tanah tinggi di samping mereka. masing-masing dipimpin Temuchin sendiri berdua dengan Jamukha. lantas ia berikan titahnya: ―Jelmi. Kepala perang Naiman rupanya melihat kedudukannya tak selayaknya. kau turut aku.

Syukur ketiga anak-anakku telah dapat membinasakan mereka!‖ Lantas dengan hormat sekali. ia menjalankan kehormatan. Setelah selesai upacara penganugerahan.‖ berkata Wang Khan sambil tertawa. ia menjadi berpikir keras. sudah sewajarnya dialah yang nanti menggantikan aku memimpin suku kita. kepada Khan itu. ia memberi keluarganya lima ekor kuda serta empat tawanan Naiman sebagai budak. itu artinya negaraku tak aman lagi…‖ Oleh karena ini. Wang Khan undung kedua utusan Kim itu datang ke tendanya. Ia menyuguhkan nyanyian dan tari-tarian oleh budak-budak wanitanya. dengan gembira ia rundingkan itu.‖ ia berpikir. Tidak heran kalau Khan ini menjagoi di Utara. banyak suka lainnya yang takluk padanya. ―Oleh karena khawatir kedua pangeran kaget maka hamba datang bersama tentaraku ini. Itu waktu terlihat pula debu mengepul jauh di sebelah depan. Ia menginsyafi ancaman bahaya dari pihak ini. Nampaknya ia keren sekali. Dengan jumlah yang lebih kecil. ―Dia mana dapat dibandingkan dengan kedua anak angkatku? Irawan D Soedradjat Page 87 . Wanyen Lieh berpikir apabila ia dapatkan di dalam segala hal Wang Khan ada lebih unggul dari Temuchin. Wanyen Lieh awas matanya. Tidak demikian dengan Wanyen Yung Chi. terus ia tuntun Temuchin dan Jamukha di tangan kiri dan kanannya. yang tubuhnya gemuk. malam itu Wang Khan jamu tetamunya.‖ ia puji putra Khan itu. ia lihat ketidakpuasaan orang. ―Hamba dengar bangsa Naiman hendak berbuat kurang ajar. untuk berjalan kaki menemui dua saudara Wanyen. kumis dan jenggotnya telah putih bagaikan perak. Segera Wanyen Lieh turun dari kudanya. guna membalas menghormat. Wanyen Lieh memasang mata kepada Wang Khan. Temuchin dan Jamukha telah kalahkan musuhnya yang lebih besar jumlahnya.‖ berkata Wang Khan sambil tertawa seraya menunjuk ke arah Temuchin dan Jamukha. Untuk serdadu-serdadunya yang terbinasa. ―Kenapa loo-enghiong tidak menyebut-nyebut dia?‖ Sengaja pangeran Kim ini memanggil loo-enghiong. Wanyen Lieh sebaliknya gentar hatinya. ―Jikalau aku telah menutup mata nanti. yang Cuma rangkap kedua tangannya dari atas kuda. pendekar tua. saban-saban ia cegluk arakanya dari cawannya yang besar.. maka kami bangsa Kim di Utara dapat merasai aman sentosa. ―Dengan orang Mongol saling bunuh. ―Hajar pula padanya!‖ Akan tetapi juru warta Mongol datang dengan wartanya: ―Wang Khan sendiri datang dengan pasukan perangnya!‖ Mendengar itu Temuchin bersama Jamukha dan Sangum lantas pergi menyambut.‖ berkata Wang Khan. Ramai sekali pesta itu. Tengah berpesta. Wanyen Lieh berkata: ―Aku ingin menyaksikan orang-orang gagah perkasa bangsa Mongolia. dan tentaranya kuat. di depan kuda dua saudara ini.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha san yang sisanya untuk dirinya sendiri. Baru sekarang Wanyen Yung Chi sadar atas caranya bangsa Mongol itu berperang. ―Kalau Temuchin dan Jamukha bisa persatukan pelbagai suku bangsa Mongol itu. ―Putramu terlebih gagah lagi. untuk mengendalikan diri. Dia mengenakan jubah hitam dari kulit binatang tiauw dengan pinggang dilibat ikat pinggang emas. Sangum tidak puas mendengar perkataan ayahnya itu.‖ ―Dua anak angkatku ini adalah orang-orang gagah perkasa bangsa Mongol. Itulah tanda dari datangnya lagi satu pasukan perang. Wang Khan tiba untuk lantas lompatb turun dari kudanya. ―Bagus!‖ berseru Wanyen Yung Chi.

untuk itu adalah ayah angkatku dan saudara angkatku yang membantu aku merampas pulang. ―Coba suruh dia masuk kemari untuk minum satu cangkir. apapula dilakukan di muka orang banyak. cara bagaimana kau beri minum dari cawan emasku?!‖ Jebe kaget berbareng murka. Dialah Chi‘laun yang dulu hari pernah tolongi Temuchin dari ancaman malapetaka.‖ Temuchin menjawab. ia lantas tenggak isinya. Yang pertama adalah satu orang yang romannya lemah lembut. ia menghanturkan terima kasih.‖ ―Bagaimana dengan empat panglimamu yang kesohor gagah itu?‖ Wanyen Lieh tanya. kasih aku yang minum!‖ Ia ambil cawan itu dari tangannya punggawanya itu. Habis orang minum. Ia lantas berhati-hati sendirinya. Maka itu Temuchin berpikir: ―Dengan memandang ayah angkat. Temuchin meluluskan. dia menerjang musuh bukan main gagahnya. ia adalah Boroul. ia bertindak terus seraya angkat kepalanya. Denga perlahan-lahan Temuchin tepuk-tepuk tangannya. Ia hanya menghirup araknya. Dialah Mukhali yang pandai mengatur tentara. Anakku? Ah…. ada satu panglima dengan seragam hitam. den Temuchin gagah tak tertandingkan. Dengan mata bengis Jebe awasi Sangum. ia haturkan secawan arak pada masing-masingnya. ia beri titah untuk memanggil Jebe. Orang gagah yang mana yang tidak bakal menjual jiwanya untuk Temuchin?‖ ―Apakah sebawahan loo-engjiong tak dapat melawan dia?‖ Wanyen Lieh tanya. segera setelah itu empat perwira masuk ke dalam tenda.‖ katanya kemudian. Batal ia minum.‖ Mendengar itu. Kata-kata orang ada mengandung pancingan atau unsur merenggangkan. ―Istriku dirampas orang. ―Kau kembali!‖ Sangum memanggil dengan membentak. pemimpin komponiku yang baru. Yang kedua ada bertubuh kekar dan sepasang matanya tajam seperti burung elang.‖ ―Suruhlah mereka masuk kemari!‖ Wang Khan berkata pula pada Temuchin. yang kulitnya putih sekali. Temuchin lirik putra raja Kim ini. Dan yang keempat ada seorang yang dengan seluruh lengannya bercacat bekas bacokan golok. Jebe tidak ambil peduli.‖ Wanyen Lieh puji mereka itu satu persatu. air mukanya Sangum berubah. Merekalah orang-orang peperangan yang berjasa membangun negara Mongolia yang Temuchin sendiri menyebutnya empat panglima gagah. yang mukanya merah bagai darah. ―Pernah bangsa Naiman rampas beberapa laksa binatang ternakku.‖ Wanyen Lieh minta.‖ ―Mari cawan itu! Aku berdahaga. Siapakah dia?‖ ―Dia adalah Jebe. Menurut kebiasaan bangsa Mongol. terus ia bertindak keluar. dengan begitu semua binatang itu dapat dirampas pulang. Yang ketiga ada berpotongan kecil dan kate tetapi gesit gerakkannya. ia berkata pula: ―Tadi di medan perang. yaitu Borchu. Diberikan arak. ia lantas mengawasi Temuchin. tiba-tiba Sangum berseru: ―Kau cuma kepala komponi yang rendah pangkatnya. ia tidak menjawab. Ketika ia hendak hirup araknya itu. ialah sahabatnya Temuchin. Dengan tangan kosong Temuchin bakal membangun negara. biar aku kasih dia ampun. ―Apakah kegunaanku?‖ Temuchin lekas berkata. ia letaki cangkir araknya dengan separuh dibanting. ―Mana mereka itu? Aku ingin melihatnya. mencegah orang minum arak adalah satu penghinaan besar. Jebe sudah lantas muncul. ―Syukur Temuchin kirim empat panglimanya untuk membantu aku. Irawan D Soedradjat Page 88 . Wang Khan urut kumisnya. Wanyen Lieh mengawasi.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha pandai dan cerdik.

mereka lantas bertempik sorak. habis itu. ―Kalau sekarang dia suruh Jebe mati. Semua punggawa dan serdadu Mongol itu tahu Jebe telah menerima penghinaan. Pekhu-thio itu menjadi sangat bersyukur. Temuchin telah naiki pangkatnya Jebe menjadi pemimpin eskadron. terus ia angkat kopiahnya itu tinggi-tinggi. dengan sendirinya. ―Ambil arak!‖ ia menitah. ia berkata: ―Minum arak saja pun kurang gembira. mereka tengah berminum. sejenak itu juga. tetapi ia kata kepada Temuchin: ―Saudara Temuchin ada punya empat pendekar tetapi asal aku keluarkan satu makhluk. Ia tahu juga bagaimana mesti perlakukan orang polos demikian. tidaklah itu dapat melawan kopiah besi dari Kha Khan ini!‖ katanya perlahan. semuanya lantas bangkit berdiri. Jelmi menurut dan menyerahkan kopiah itu dengan kedua tangannya. akan tetapi menyaksikan sikapnya pemimpin mereka itu. ―Apa siphu-thio!‖ berkata Temuchin. terus ia berkata dengan nyaring: ―Hari ini kita hajar bangsa Naiman hingga mereka dapatkan kekalahan besar. Terpaksa orang banyak turut keluar pula. terus ia mencegluk beberapa kali. kau hendak mengacau apa lagi!‖ Wang Khan menegur putranya. Ia angkat poci itu. ―Makhluk apakah itu?‖ Wanyen Yung Chi bertanya. ―Sekarang hendak aku pakai ini sebagai gantinya cawan arak!‖ Ia buka tutp poci arak. kapan mereka tampak Khan mereka muncul.‖ Temuchin berkata pula: ―Beruntun tiga kali dia menyerbu bolak-balik! Siapakah dia?!‖ ―Itulah Siphu-thio Jebe!‖ sahut banyak serdadu. Di luar tenda. Temuchin lihat wajahnya Jebe merah. maka dengan kegirangan mereka berseru: ―Jebe gagah berani. ―Sungguh satu manusia yang luar biasa!‖ pikir Wanyen Lieh. ia ulurkan tangannya untuk menyambuti. orang melengak. tentu empat-empatnya mereka dapat dimakan habis dengan sekali telan!‖ ia pun tertawa dingin. Dia lantas dibawakan satu poci besar. ―Inilah kopiahku. bangsa Mongol telah menumpuk beberapa ratus api unggun. Ia sambuti pulang kopiahnya itu. Di terangnya api unggun. ―Mari kita pergi keluar untuk melihatnya. Ia lantas menghirup satu ceglukan. Temuchin tersenyum. Temuchin menyambuti.Pendekar Pemanah Rajawali Sangum kecele. Temuchin Kha Khan dan Jamukha Khan yang memimpin kita menghajar mereka!‖ ―Hari ini aku telah lihat seseorang yang luar biasa beraninya yang sudah menyerbu ke belakang barisan musuh. dengan begitu kamu semua telah bercape lelah…!‖ Tentara itu berteriak: ―Adalah Wang Khan.‖ Sangum mengajak. kopiah itu ia sadurkan kepada Jebe. dia pantas menjadi pekhu-thio!‖ ―Ambil kopiah perangku!‖ kata Temuchin kepada Jelmi. Ia mengerti bawahannya itu penasaran dan gusar. tetapi segera mereka mengerti. isinya ia tuang ke dalam kopiah besi itu. Wanyen Yung Chi hendak melihat keramaian. ―Kita lagi gembira minum arak di sini. sambil tekuk sebelah kakinya. mari kita melihat yang lainnya!‖ Ia pun lantas berbangkit dan bertindak keluar. ―Biarpun cawan emas yang paling berharga di kolong langit ini. Untuk sejenak. ―Dia-lah pekhu-thio!‖ Dengan begitu. untuk dipakai di kepalanya. yang aku pakai untuk membasmi musuh!‖ dia berkata dengan suara nyaring. Jebe tentulah rela!‖ Irawan D Soedradjat Page 89 .

―Tidak apa orang tertawakan kami. barulah aku sangat takluk kepadamu!‖ Mendengar ini. Dia berkata: ―Kita menggentarkan padang pasir. yang dipakai untuk berburu. dari itu kalau bukannya pangeran atau bangsawan. orang tak dapat memeliharanya. Pengiring itu menyahuti.‖ kata Sangum kepada Temuchin. tak sudi ia minum arak lebih jauh. ―Mana dia empat pahlawan yang menggetarkan padang pasir itu?‖ Mukhali berempat lantas menghampirinya dan memberi hormat sambil menjura. Adalah umum orang Mongol memelihara macam tutul. keempat pahlawan menjadi sangat dongkol. Jamukha mengerutkan alis. Irawan D Soedradjat Page 90 . Ia angkat jari tangannya itu. ―Begitu?‖ ia mengejek. tak dapat kau hilang muka! Nanti aku lawan macan tutul itu!‖ Wanyen Yung Chi menjadi sangat girang. yaitu dua ekor macam tutul yang besar. Tidak selang lama lantas orang mendengar suara mengaumnya seekor binatang liar.Pendekar Pemanah Rajawali Beda dari saudaranya. Maka ia berkata: ―Aku menyayangi keempat pahlawanku sebagai jiwaku sendiri. untuk diletaki di tangannya saudara angkat itu. baru hatinya lega. Ia lantas loloskan sebuah cincinnya yang bermata berlian. ―Buat apakah mengepul menjadi orang gagah kalau dua ekor macanku saja takut dilawan?‖ Diantara empat pahlawan itu. kita telah membunuh cukup banyak. ―Kau ada punya makhluk apa yang demikian hebat. membunuh musuh. Sangum tersenyum. ―Empat pahlawanmu adalah orang-orang gagah. Sebab mereka itu adalah si pemelihara binatang buas itu. ―Khan yang maha besar. Sampai di situ. dua pasang matanya bersinar mencorot. terus ia mundurkan diri. jalannya ayal-ayalan tetapi sikapnya sangat bengis. Macam tutul baik tenaga maupun kegalakannya melebihi anjing pemburu. cincin itu menjadi kepunyaanmu!‖ katanya. Sangum berpaling. Wanyen Yung Chi justru pikirkan saja kata-katanya Sangum tentang empat pahlawannya Temuchin. jikalau mereka dapat dengan tangan kosong membinasakan dua ekor macanku ini. Mukhali tarik kawannya itu. Adakah kami babi hutan atau serigala maka kami hendak diadu sama macan tutulmu?‖ Juga Temuchin menjadi sangat tidak senang.‖ katanya. kau menang!‖ Dan ia bertindak menjemputi cincin tadi. cara bagaimana aku bisa biarkan mereka berkelahi sama macan tutul?‖ Sangum tertawa terbahak. Wanyen Yung Chi kaget hingga ia raba goloknya. tetapi macan tutul? bisakah binatang itu memimpin tentara? Bisakah binatang itu mengatur tentara bersembunyi dan mengurung musuh?‖ Temuchin pun segera berkata: ― Saudara Sangum. ia lants pulang ke tendanya untuk tidur. ia hanya bertindak lagi. Temuchin juga bersikap tenang dan agung. ―Kakak. ia lempari itu ke tanah. disusul mana munculnya binatang itu sendiri. Tapi binatang ini sangat kuat makannya. Chi‘laun yang paling keras tabiatnya. di atas itu ia duduk bercokol. Binatang itu dikalungi dengan kalung kulit dan setiap ekornya dituntun dua orang yang tubuhnya besar. untuk bicara perlahan sekali dengan satu pengiringnya. Ia lantas bertindak maju ke depan. Tentaranya Wang Khan lantas saja bersorak-sorai. tetapi kau. Chi‘laun tidak pandang cincin itu. ―Apakah emapt pahlawan saudara angkatnya Temuchin?‖ ia mengulangi. hingga ia dapat menelan keempat pahlawan?‖ dia tanya Sangum. ia pertontonkan ke empat penjuru. mereka itu masing-masing mencekal sebatang galah. Lenyap kegembiraannya Yung Chi karena gagal menyaksikan pertandingan antara manusia lawan binatang liar itu. sekarang kau hinakan kami juga. ia tapinya diam saja. ―Asal kau menang. Ia suruh pengiringnya ambil kursi kulit harimau. Mereka dalam hati kecilnya berkata: ―Sudah kau hinakan Jebe. yang bulunya belang bertotolan. setelah mana kedua macam tutul itu sudah datang sekat api unggun. Sangum masuki cincin itu ke jari tangannya. empat pahlawannya itu mengundurkan diri. ia tertawa besar dan lama.

Boroul adalah gurunya. Sebaliknya Tuli tidak tahu suatu apa. ―Ayahmu takuti ayahku. mereka lompat maju untuk menubruk. ―Ayahmu adalah hantu cilik yang nyalinya kecil. dia tertawa. ―Kelinci ini adalah piaraanku!‖ dia kata. Meski begitu. Tusaga tertawa terbahak. ―Tadi malam ayahku keluarkan dua macan tutulnya. Tiba-tiba ada seekor kelinci putih lari lewat di samping mereka. Tepat kelinci itu terpanah perutnya. matanya pun melotot. ―Sudah bagus aku tidak minta ganti rugi!‖ ―Tidak tahu malu!‖ bentak Tuli. ―Apakah kau sangka aku tidak ketahui hal itu? Maka apa artinya kalau aku naru ambil ini kelinci kecil?‖ Memang dahulu hari Wang Khan telah bantu anak angkatnya itu. ―Siapa yang bilang?!‖ ia tanya dengan bengis. tanpa terasa mereka bertindak semakin jauh dari tenda mereka. ―Guruku tak takut harimau. Tuli bersama Kwee Ceng lantas mengejar dengan berteriak-teriak. kemudian setelah ia mengawasi Tuli berdua. ia menghampiri Tuli dan mendorong pundak orang. ―Terang ini adalah kelinci liar!‖ Bocah itu galak. apapula segala macan tutul!‖ serunya sengit. lantas ia roboh dengan sendirinya. ―Siapa yang bilang. Tuli gusar sekali yang ayahnya diperhina orang. barulah ia dapatkan putranya ini. yang merupakan rimba. Tuli gusar sekali. anak-anak mereka tidak kenal satu sama lain. habis bagaimana?!‖ ―Ayahku Temuchin!‖ kata Tuli dengan sama jumbawanya. empat pahlawan dari ayahmu lantas tak berni bergiming!‖ Tuli bertambah gusar. Ia tidak sangka orang berani pukul padanya. muncul serombongan anak-anak. telah mendahului menyambar binatang itu. Tuli keluarkan panah kecilnya dan memanah. dia juga takuti ayahku!‖ Bocah itu adalah Tusaga. kau yang memanah?‖ tanyanya. ―Kakekku ialah Wang Khan! Ayahku ialah Sangum! kau tahu tidak?! Taruh kata benar kelinci kaulah kau yang panahm kalau aku hendak ambil. ―Fui!‖ bocah itu menghina. Kelinci itu lari serintasan. karenanya. Karena itu. dia lari bersama bangkai kelinci itu! Tuli lantas berteriak: „Eh. hingga Tusaga menjadi kepala besar. ―Akan aku beritahu ayahku!‖ katanya. satu yang berumur kira-kira sepuluh tahun. sebab Temuchin anggap hal itu memalukan dan tidak pernah memberitahukan putranya. ―Hanya guruku tidak hendak melayani!‖ Tiba-tiba Tusaga maju dan tangannya melayang ke kuping orang. Mulainya Sangum dapat satu putri. lalu ia tidak punya anak lain lagi. Temuchin telah berpisah lama dengan Wang Khan dan Sangum. dia cabut anak panahnya dan lalu ia buang ke tanah. apapula putranya itu masih kecil. ―Panah ini toh kepunyaanku!‖ jawab Tuli. ―Ayahku tidak takuti siapa juga!‖ ―Ibumu telah orang rampas. putranya ini sangat disayangi dan dimanjakan. ―Kau tidak takuti aku?‖ Tuli melengak. kau mengadu juga bisa apa?‖ katanya. dia takuti kakekku. Ia putar tubuhnya untuk berlalu. Irawan D Soedradjat Page 91 . kelinci itu masih dapat lari terus dengan bawa anak panah yang nancap diperutnya itu. kelinci itu akulah yang memanahnya! Kenapa kau bawa lari?!― Bocah itu menoleh. Bocah itu yang telah berhenti berlari berdiri sepasang alisnya. Tapi tenaganya Tuli sangat terbatas. Justru itu dari samping mereka. putra tunggal dari Sangum atau cucunya Wang Khan. dengan sangat sebat. Di antara empat pahlawan. selang lama. Sangum ingat baik-baik peristiwa itu dan menceritakan kepada orang lain hingga Tusaga yang masih kecil mendapat tahu juga. adalah ayahku dan kakekku yang pergi menolongi merampas pulang!‖ sahut Tusaga.Pendekar Pemanah Rajawali Besok paginya Tuli dan Kwee Ceng dengan bergandengan tangan pergi bermain. Girang Tuli berdua. ―Kau maki siapa?!‖ tegurnya. ―Kau berani membantah?!‖ dia membentak.

dia termanjakan. ia tak dapat bergerak. apabila ia telah melihat denagn tegas. Maka itu ia menjadi besar kepala. kepalan dan kaki digunakan semua. ia menyempar hingga orang berguling. aku kasih ampun!‖ Kwee Ceng berontak. ―Hajar lagi padanya!‖ Tusaga memberi komando. dua bocah itu telah babak-belur dan matang biru mukanya. ―Hai anak. ia kata nyaring: ―Tidak malukah kamu?! Lekas lepaskan mereka!‖ ―Minggir! Jangan banyak omong disini!‖ bentak Tusaga. dari kejauhan ada terdengar kelenengan unta.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee ceng panas hati semenjak tadi. tidak ampun lagi dia roboh terjengkang. ia tarik dua bocah yang mengerubuti Tuli. siapapun tidak berani lawan padanya. lalu ditindihkan. Dia maju dan seruduk perutnya Tusaga! Putranya Sangum juga tidak menyangka-nyangka. Rombongan kalifah itu terdiri antaranya dari Kanglam Cit Koay. nanti kita tak dapat menanyai orang!‖ Itu waktu Tusaga beramai telah dapat candak Tuli berdua. Tusaga murka sekali. ia heran. ia lari. dia ini berkata: ―Kau menyerah. Dalam saat tegang dari bocah-bocah ini. yang pun bengal dan gemar berkelahi. Han Siauw Eng adalah si nona. Mereka semua mengerti bahasa Mongol. Tubuh Kwee Ceng diduduki Tusaga. dia merayap bangun. ―Menyerah atau tidak?‖Tusaga tanya. ―Lepas tanganmu!‖ Ketika itu telah tiba beberapa yang lainnya. sekarang ia tidak dapat mengatasi pula dirinya. lalu ditepi sungai tertampak rombongan pedagang dari gurun pasir.‖ ―Kau lihat sendiri. Justru ia melengek. ―Kita jangan bikin pasar keburu bubar. kau lihat sendiri!‖ kata orang yang dipanggil shako itu – shako – kakak nomor tiga. tak malukah kamu?!‖ tegurnya. dan merekapun berjumlah lebih banyak orang. Tusaga menyaksikan kejadian itu. jangan usilan. tertawa apabila ia lihat bocah-bocah itu sedang berkelahi. sebentar saja Kwee Ceng dan Tuli kena dipukul jatuh. itu tujuh Manusia Aneh dari Kanglam. Salah satu diantaranya yang menunggang kuda putih. Mereka ingat masa kecilnya mereka. ―Kejar!‖ Ia ajak kawan-kawannya mengubar. Pihaknya kebanyakan terlebih tua usianya. selama itu tidak pernah mereka dengar halnya si orang she Toan itu. dia pun turut menyerbu. lalu bersama kawannya ia angkat kaki! ―Kejar!‖ teriak Tusaga gusar. menggelengkan kepala. Kanglam Cit Koay pada tersenyum. ―Hayolah jalan!‖ berkata Kwa Tin Ok. Kemudian dengan tarik tangannya Kwee ceng. Dia adalah putranya satu jago di Utara. mereka menyusul hingga ke gurun pasir. mereka lantas jadi berkelahi bergumul. mereka itu kembali kena dikurung. ditindih oleh dua lawan. lalu satu nona berkata: ―Shako. kau galak sekali!‖ kata penunggang kuda itu. Tuli lompat bangun begitu lekas ia merasai tubuhnya enteng. Tuli pun tak dapat bergeming. Tapi kapan ia telah datang dekat dan lihat dua anak dikepung beramai. Anak-anak itu pun lantas maju. ―Bagus!‖ dia bersorak. Irawan D Soedradjat Page 92 . sia-sia saja. maka itu. ―Bagus! Kamu lagi berkelahi!‖ katanya. Untuk enam tahun lamanya mereka mondar-mandir. ia lompat turun dari kudanya. Kwee Ceng berontak dan loloskan dirinya seraya lompat bangun juga. Tuli tertawa seraya tepuk-tepuk tangan. Kawan-kawannya Tusaga tidak tinggal diam dan mengejar. amri kita melanjutkan perjalanan. Tuli dengan mata bersinar hawa amarah. sembari memukul bebokong orang. Mereka dengar Toan Thian Tek kabur ke utara. ―Dua mengepung satu.

sambil tertawa berkakakan. benda apakah itu…‖ Maka itu ia larikan kudanya ke arah anak-anak itu hingga ia menampak Kwee Ceng dengan belati di tangan. Kenapa sebuah mustika berada di tangan satu bocah? Ia jadi awasi Kwee Ceng begitu pun semua bocah lainnya. walaupun kangzusi. Ia dapatkan ukiran dua huruf ― Yo kang‖.Pendekar Pemanah Rajawali Tiba-tiba sebuah benda berkelebat di tangannya Kwee Ceng. Si Mayat Perunggu dan Si Mayat Besi Untuk sesaat. dia dekati semua bocah itu sambil ia tertawa haha-hihi. ―Jieko. ―Eh. Biauw Ciu Si-seng Cu Cong.‖ ia berpikir. Jadi mereka mestinya adalah anak-anak bangsawan Mongolia. Ia lompat pula untuk naik ke atas kudanya. ―Benda itu pasti mustika adanya. ―Kenapa belati ini terjatuh ke dalam tangan orang Mongol? Yo Kang? Yo Kang? Tidak pernah aku dengar orang gagah dengan nama ini…. ―Tak jelek untungku hari ini. bagaikan sinar bianglala.‖ minta Lauw-sie In Hiap Coan Kim Hoat. tak dapat kau ubah tabiatmu yang suka mencopet itu!‖ kata Siauw Bie To Thio A Seng. ―Siapa berani maju!‖ ia berseru.Siapa tak gagah tak pantas ia mempunyai belati ini…. lihat sinar berkelebat berkilau itu. kecuali Kwee Ceng yang dilehernya pun berkalung gelang emas yang indah. senjata peninggalan suaminya itu ia serahkan kepada sang putra. aku dapat mustika!‖ kata ia. ―Toako. ―Jangan berkelahi. ia menjadi heran. Nyata ia mencekal sebatang pisau belati. Kemudian dia bertanya pula pada kakaknya yang tertua. Lie Peng menyayangi putranya. ―Mestinya bocah ini telah curi senjata ayahnya.com orang kosen lainnya. Menampak orang bersenjata. ―Bagus!‖ ia segera memuji. batu mana terus terbabat kutung. Ia mengharap pisau belati itu. sebagai mustika dapat mengusir pengaruh-pengaruh jahat. Kemudian ia lihat gagangnya pisau. takukah kau siapa Yo Kang?‖ ―Yo Kang? Tak pernah aku dengar nama itu…‖ jawab Tin Ok. lalu tangannya menyambar ke batu di dekatnya. ia susul kawan-kawannya. pasti dapat senjatanya dirampasnya. sikapnya gagah sekali. Tiat Sim dan Siauw Thian telah saling mengasih tanda mata belati yang terukir nama Yo Kang dan Kwee Ceng. Yo Kang itu adalah nama yang Khu Cie Kee berikan untuk anak yang masih ada dalam kandungannya Pauw Sek Yok. istrinya Yo Tiat Sim. Kim Hoat berdiam. atau sekejap saja belati di tangan Kwee Ceng telah pindah ke dalam cekalannya. Bukannya tak halal kalau aku ambil barangnya orang bansawan…‖ Dengan timbul keinginannya akan punyai belati itu. ia manjadi heran. ―Hayolah kamu baik-baik bermain…!‖ Ia menyelip di antara bocah-bocah itu. Irawan D Soedradjat Page 93 . Bersinar berkilau belati itu diantara sinar matahari. ia jadi terperanjat. maka itu matanya tak pernah salah. Cu Cong ayun tangannya. melemparkan. satu anak kecil. Semua mereka mengenakan kulit binatang yang mahal. Kim Hoat pun merasa memegang benda yang rasanya dingin. dari itu. ―Perlu aku lihat. hingga semua Kanglam Cit Koay heran dan memuji.‖ Bab 9. jangan berkelahi!‖ katanya. Banyak sudah ia mencuri barang-barang berharga kepunyaan pembesar rakus atau hartawan jahat. ―Mustika apakah itu? Mari kasih aku lihat. ini namanya orang Han!‖ katanya. Cu Cong lompat turun dari kudanya.‖ si setan tangan ulung berpikir pula. Jangan kata baharu Kwee Ceng. ―Dia tentu curi itu untuk dibuat main.. yang telah larikan kudanya. untuk sang putra yang simpan. Tusaga semua tidak berani maju. tentu saja Kanglam Cit Koay tidak kenal nama Yo Kang itu.

Ia penasaran. mereka menjadi putus asa. ―Lain kali jangan kau berkelahi pula. ―Kwee Ceng. Ia berteriak-teriak menyuruh mereka berhenti berkelahi. ia mendahului berlari kepada kawanan bocah itu yang telah kembali bergumul berkelahi. Kanglam Cit Koay paling menjunjung kehormatan. ia tak berani berkelahi terus. ―Apakah kau she Yo?‖ Coan Kim Hoat kemudian menanya. dengan siapa ia paling erat hubungannya. Kwee Ceng menberikan penyahutan yang membenarkan. mereka tak hendak melepaskannya dengan begitu saja. tetapi ia tidak dipedulikan. Tapi kau mesti omong dulu biar terang. Kwee Ceng menjublak mengawasi orang pergi. sedang kakaknya itupun kuat. tanpa bersangsi pula. Ia berkata kemudian: ―Orang yang khu Totiang cari adalah istrinya Yo Tiat Sim. Tin Ok mempunyai kupingnya paling lihay pendengarannya dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Bocah itu melengak. ―Marilah kita tanya bocah itu!‖ Siauw Eng mengusulkan. sekarang mereka dapati ada titik terang. mereka jadi bersemangat. ia dengar panggilan ―Kwee Ceng‖ dari Tuli. Ia tak punya ayah. Lantas ia ingat akan sesuatu. ―Eh. sedang Han Siauw Eng keluarkan sapu tangannya. Ia sudah lantas memikir.‖ Lantas Cit Koay berangkat. anak. ―Gampang untuk pulangi padamu!‖ kata Cu Cong sambil tertawa. kalau sebentar ia pulang.‖ Kwee Ceng menjawab. Kwee ceng dengan muka berlumuran darah. ia berpikir terus. apakah kau bernama Kwee Ceng?‖ ia tanya dengan sabar. darimana kau peroleh belati ini?‖ Dengan tangan bajunya Kwee ceng susuti darah yang masih mengalir dari hidungnya.‖ katanya dengan halus dan ramah. mendadak ia rasai tubuhnya menggetar. hendak ia meminta bantuan Ogatai. mengulurkan tangannya pada Cu Cong. ―Siapakah nama ibumu?‖ tanya pula. besok kita bertempur pula disini!‖ ―Baik. Maukah kau?‖ ia tanya lagi. Bukan kepalang girangnya Tin Ok. ―Mari kasih pulang!‖ katanya. Tusaga lihat orang kuat. dan kemudian ia langsung tarik beberapa bocah dan balingkan mereka ke pinggiran. jikalau kau berani. ―Pergilah kau pulang. Irawan D Soedradjat Page Tin Ok menggaruk-garuk kepalanya. Ia percaya Ogagati akan suka membantu padanya. maka itu Cu Cong lantas serahkan belati itu kembali kepada Kwee Ceng. Han Po Kie mempunyai kuda yang paling gesit. . Cit Koay lihat orang rada tolol.Pendekar Pemanah Rajawali Coan Kim Hoat sabar dan teliti.‖ sahutnya.. kakaknya yang nomor tiga. Kwee menggeleng-gelengkan kepalanya pula. cepat. mereka pegang satu kepercayaan sekalipun terhadap satu bocah. seraya tangannya mencekal belati orang. Tapi ia tuding Tuli dan menantang: ―Dua ekor anjing cilik. ―Mari antar aku kepada ibumu. Entah Yo Kang ini ada hubungannya sama Yo Tiat Sim atau tidak…‖ Enam tahun sudah tujuh saudara ini merantau di gurun apsir tanpa ada hasilnya. akan susul rombongan kalifah yang mereka ikuti. besok kita bertempur pula disini!‖ Tuli terima tantangan itu. Kemudian ia menggeleng kepalanya. tak dapat ia menjawab. maka ia turun dari kudanya. ―Ibuku yang berikan padaku. untuk susuti orang punya darah di hidung. Dengan berani ia minta belatinya kembali. mari pulang!‖ Tuli lantas mengajak. ia putar kudanya akan kembali kepada si bocah. Cit Koay belum jalan jauh. 94 ―Ibu ialah ibu…. ―Apakah she ayahmu?‖ Cu Cong tanya pula.

Tin Ok dengar suara yang tak simpatik. Ia bernafsu. mereka lantas lari. yang sudah rangkul Lam Hie Jin. eh. mereka berdiam mengawasi. untuk halangi tangan adiknya. mari duduk. yang tepuk kopiahnya. ia lantas jemput tiga butir batu kecil. ―Nanti kalau aku sudah besar. sementara si cebol Han Po Kie jumpalitan si atas kudanya. mereka merasa lucu dan heran.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ibuku tidak ada disini. Kwee Ceng jawab: ―Dia bernama Toan Thian Tek!‖ Memang Lie Peng telah memberitahukan kepada anaknya itu she dan namanya Thian Tek. ia batal membekuk bocah itu.‖ bocah itu menjawab.. hingga suaranya sedikit menggetar. Ia tarik tangannya Tuli dan ia putari tubuhnya. jangan semberono!‖ Cu Cong cegah adiknya yang nomor tiga itu. ―Adik kecil. ―Menghilanglah!‖ ia berseru. ―Kau tak dapat pergi! Biarkan sahabatmu pulang lebih dulu. dua bocah itu menjadi takut. Terus ia buka kopiahnya itu. hendak aku cari musuh itu untuk membalaskan sakit hati ayahku!‖ ―Apakah namanya ayahmu itu?‖ Siauw Eng tanya pula. batu itu telah lenyap. Po Kie berlompat. Ia hendak cari kakaknya yang ketiga.‖ Siauw Eng lompat turun dari kudanya dan ia menghampiri bocah itu. Kemudian dia berkata kepada adiknya paling kecil. Ia pun bergerak. ―Mana ayahmu?‖ dia tanya. sikapnya manis. untuk ajaki saudarany itu besok membantui ia melawan Tusaga. ―Aku mau pulang. suaranya dingin. Tuli dan Kwee Ceng mengawasi. ―Shatee. supaya apabila ada terjadi sesautu atas dirinya. untuk berjalan pergi. Po Kie heran. ―Eh. ―Siapakah namanya itu orang yang membunuh ayahmu?!‖ Tin Ok turt tanya. si nona Han sampai berseru. Cu Cong lari untuk susul kedua bocah itu. ―Cit moay. sedang Kwa Tin Ok memuji kepada Thian. kaulah ynag tanya dia. ―Mari pulang!‖ mengajak Tuli. Tuli dan Kwee Ceng berhenti berlari. Nyonya Kwee tahu.!‖ Melihat sikap orang yang luar biasa. Irawan D Soedradjat Page 95 . jiwanya terancam bayaha sembarang waktu.‖ sahut bocah itu. Sambil kertak gigi. putranya itu sudah tahu segala sesuatunya.‖ Po Kie memanggil. Lucunya adalah Thio A Seng. malah roman mukanya dan potongan tubuhnya. tunggu dulu. Cit Koay girang bukan kepalang. Kapan ia membuka kepalan tangannya. Ia pun telah memberitahukannya berulangkali. Kwee Ceng menggoyang kepala.‖ Kwee ceng berkata kepada Han Siauw Eng. mari kita bicara perlahan-lahan…‖ nona Han berkata dengan suaranya ynag tetap ramah. di dalam situ ada tiga butir batu itu. untuk sambar pundaknya Kwee Ceng. Cu Cong genggam ketiga batu itu di telapak tangan kanannya. hingga Kwee Ceng ingat semua itu. maka itu ia telah berikan penjelasan kepada anaknya. ―Orang telah celakai ayahku hingga terbinasa. mereka mendelong. suaranya tetap ramah. ―Aku akan main sulap untuk kamu!‖ katanya sembari tertawa. ―Nelusup masuk!‖ seru Cu Cong. Kedua bocah itu heran.

―Mau main petak umpat?‖ tanyanya tertawa. jitu sekali. ―Tadi mereka bertujuh atau berdelapan mengerubuti kamu berdua. aku akan minta bantuan kakakku. ―Ayahmu pandai silat.‖ kata ia. yang berdiri diam saja.‖ kata Tuli. ―Baik! Nah. Tin Ok campur bicara. hendak diserahkan pada Kwa Tin Ok. Cu Cong menimpuk dengan tiga butir batunya.‖ Ton Ok kata pula. musuhmu itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Bagus!‖ seru Tuli dan Kwee Ceng. ―Coba kamu ada punya kepandaian. habis bagaimana?!‖ ia tanya. tidak boleh aku berkelahi. ―Hm. ―Tanpa mata. lalu tertampak burungnya terbang mendatangi dalam dua rombongan. Mereka sangat kagum. ―Habis. ibu tnetu tidak senang.‖ ―Hm. ―Ibuku bilang. ―Akan aku suruh toako main sulap. suaranya tetap dingin: ―Kalau kau bertemu dengan sama Toan Thian Tek. mereka menjadi tertarik. jatuh ke tanah. ―Bagus! Bagus!‖ Tuli dan Kwee Ceng berseru dengan gembira. Aku akan ajari kau sedikit kepandaian. itulah tidak ada faedahnya. dia masih dapat dibunuh musuhnya. ―Minta bantuan kakakmu?‖ kata Cu Cong. Tuli girang sekali. ―Ya!‖ Cu Cong beri kepastian.‖ Ia terus serahkan gendewa dan anak panah kepada kakaknya.‖ Kwee Ceng menjawab.‖ ―Besok kita bakal berkelahi pula. burung itu terpanah batang lehernya dan bersama anak panahnya. ―Apakah kau tidak ingin belajar?‖ ia tanya bocah itu. Ia lantas rogoh keluar sepotong sapu tangan. ―Bukan. kamu tidak usah takut lagi kepada mereka. Tanpa merasa. Mereka pun lari untuk pungut burung itu.‖ berkata Cu Cong. ia kata: ―Kau tutup matanya.‖ ―Kami berdua dapat kalahkan mereka berdelapan?‖ tegaskan Tuli. yang dapat pikiran baru. ia ikat matanya orang she Kwa itu. datangnya dari utara. ―Mereka itu yang serang kami duluan. ia dapat panah burung belibis itu. dia agaknya tidak tertarik. aku tanggung besok kamu bakal dapat kalahkan mereka.‖ kata Tuli. kenapa tadi kamu berkelahi?‖ Cu Cong tanya lagi. ―Kau tidak belajar ilmu kepandaian. panahnya Tin Ok sudah meleset. ―Akan aku bunuh dia. Justru karena burung itu berbunyi dan hendak merubah tujuan. bagaimana kau dapat membalas dendam?‖ Kwee Ceng tercengang. yang jadi pemimpinnya berbunyi. Itu waktu kedua rombongan belibis sudah terbang mendekat. Irawan D Soedradjat Page 96 . membuat burung-burung itu menjadi kaget. bocah bernyali kecil!‖ kata Po Kie perlahan. kau ajarkanlah aku!‖ Cu Cong awasi Kwee Ceng. Kemudian air matanya mengalir keluar.‖ jawab Kwee Ceng lagi.‖ sahut Cu Cong. yang mana ia kasihkan kepada Tuli. sambil menunjuk kepada Kwa Tin Ok.‖ Tuli menurut. Itu waktu terdengar suara belibis mendatangi. Kedua matanya Kwee Ceng bersinar. ―Aku tidak percaya. untuk balaskan dendaman ayahku!‖ sahutnya. ―Kalau aku belajar kepandaian untuk memukul orang.

―Mengertikah kau?‖ Nyata Tuli sangat cerdas. Lam San Ciauw-cu memang pendiam. ia menggeleng kepala. Ia girang luar biasa. kita serahkan mereka kepada Khu Totiang. ―Coba ajarakan aku pula. ―Nach.‖ Cu Cong tertawa. ―Ya. Ia merayap bangun dengan murka. ia memikirkan dahulu. apa katamu?‖ Tin Ok tegur adiknya yang keempat itu. Tapi di sini ia dipapaki tangan kiri si penyerang. aku tolol sekali. pergilah kamu!‖ kata Siauw Eng akhirnya. ―Sekarang kau pelajari dulu tiga jurus ini. Cu Cong menyambar dengan kepalannya. tak hendak ia mengatakannya lebih sepatah kata!‖ Hie Jin tertawa. ―Kau ajarakan aku saja!‖ Tuli bilang. ia snediri sangat kegirangan.‖ kata Po Kie. atas mana Tuli tarik tangan Kwee Ceng untuk diajak pergi. tapi belum sempat ia terbanting ke tanah. Tuli rubuh seketika. ―Anak itu baik. ―Bagus! bagus!‖ ia berseru. tepat kena hidungnya. Cukup sudah!‖ Ia lantas berpaling kepada Kwee Ceng. orang dewasa juga nanti tidak gampang-gampang kalahkan kau. ―Sebentar tengah malam kau pergi ke sana untuk cari kami. ajari aku pula!‖ seru Tuli. ―Paman. ―Beginilah biasanya sieko!‖ kata Siauw Eng. kakinya mengaggaet. kita menyerah kalah saja…‖ ―Anak ini miskin bakatnya. kita jangan terlalu capekan hati sekarang. Bukan kepalang girangnya putra Temuchin itu. ―Sudah. tak sabaran. Siauw Eng sampai menghela napas dan air matanya berlinang. ―Di waktu kecil. Cit Koay berdamai. Kau berani tidak? Apakah kau takut setan?‖ Kwee Ceng masih berdiri menjublak. Dalam hal janji pibu. kata-katanya tentu tepat. ―Ini dia yang dibilang ilmu kepandaian. ―Susah sekali untuk sieko membuka mulut emasnya. maka itu asal ia membuka mulut. Cit Koay hilang kegembiraannya melihat Tuli demikian cerdas tapi bocah she Kwee ini begitu tolol. ―Kalau kau hendak belajar kepandaian guna menuntut balas untuk ayahmu.‖ ia bilang. ―Kalau kau sudah bisa. ―Eh.‖ kata Kim Hoat kemudian. Gunung Selatan yang berdiam saja. Tuli berkelit ke kiri. untuk di kasih tetap berdiri .‖ katanya.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong menunjuk ke gunung di sebelah kiri. kau tidak boleh beritahukan kepada orang lain. ―Kau ajari aku lagi!‖ Cu Cong mendak.‖ ia minta. tapi Cuma hidung nempel. untuk mendongko.‖ kata Cu Cong sambil tertawa. lalu ia seruduk pinggang orang. ―Paling benar kita sambut ibu dan anak ini pulang ke Kanglam. ―Baik. Ia ulurkan tangan kepada kedua bocah itu. Selama mereka itu berbicara. Tiba-tiba Cu Cong tarik tangannya bocah itu. Ia manggut-manggut. aku lihat dia tidak punya kekerasan hati. Coan Kim Hoat sudah sambar tubuhnya. segera ia mengerti. Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin si Tukang Kayu dari Lam San. kepalan kiri itu segera ditarik pulang. dia tak berbakatbelajar silat.‖ sahut Lam Hie Jin.‖ jawab adik keempatnya itu. Irawan D Soedradjat Page 97 . ―Apa yang baik?‖ menegaskan Cu Cong. ―Apakah kau pun sudah mengerti?‖ Kwee Ceng lagi menjublak. untuk mengeluarkan sepatah kata. sietee. ―Ia bakal gagal…‖ Dalam dialek orang Kanglam.‖Kenapa kau serang aku?‖ tegurnya. Cuma kamu sendiri yang dapat datang. akan tanya. Tampa ampun Tuli berguling.‖ bilang Cu Cong.

―Kita lihat dia berani taua tidak datang seorang diri. yang tiga pergi ke timur utara. tak ada bayangan Kwee Ceng si bocah itu. kita tunggu sampai nanti malam. enam adik angkat itu lekas bekerja. Hanya segera I berkata: ―Lekas jalan seratus tindak. Selagi tujuh saudara itu berduka. Irawan D Soedradjat Page 98 ―Disini pun ada tumpukan tengkorak!‖ begitu suaranya Han Siauw Eng di timur utara dan Thi A Seng di barat utara. Ia ulur tangannya. mari!‖ Suaranya sangat kedengarannya sangat terkejut. enam saudaranya biasa hargakan pikirannya.!‖ dan tangannya pun menunjuk ke depan di mana ada gombolan pohon. yang tiga lagi ke barat utara. ―Tetapi kenapa tengkorak-tengkorak ini diatur begini rapi?‖ Kim Hoat tanya. Ia lihat mereka masuk ke dalam tenda. itulah siluman. sinarnya sampai kepada rumput tabal di mana ada tiga tumpuk benda putih yang nampaknya aneh. yang sodorkan sebuah tengkorak kepada Cu Cong. yang lima saudara lainnya lantas menghampiri saudara she Coan itu. ―Baik aku cari tahu dulu tempat tinggalnya. tengkorak orang diatur begini…‖ katanya.‖ Dan ia lompat turun dari kudanya. ―Eh…apakah ini? Jieko. ―Kenapa toako ketahui itu?‖ Tin Ok perlihatkan roman cemas. tepat lima jarinya masuk ke dalam semua laing itu. dari jauh-jauh ia mengikuti Kwee Ceng dan Tuli.‖ ―Kebanyakan ia tidak berani. Ketika itu sang rembulan yang terang sudah sampai di tengah-tengah langit. yang bertumpuk rapi dalam tiga tumpukan. ―Semuanya terdiri dari tiga tumpuk. tiba-tiba Po Kie berseru tertahan: ―Eh.‖ kata Kim Hoat. Ia tidak menjawab.‖ Po Kie membenarkan adiknya itu. Sekarang mendengar keterangannya itu.Pendekar Pemanah Rajawali Karena itu juga. mereka bagaikan mendapat sinar terang. ―Tingkat ynag bawah lima. Coan Kim Hoat lompat menghampiri benda itu. Malam itu Cit Koay berkumpul di atas bukit. Ia jadi heran dan bersangsi. kali ini mereka rubuh di tangannya satu imam…!‖ katanya masgul.. tingkat tengah tiga dan tingkat atas satu buah?‖ ―Eh. ―Entah bocah nakal siapa sudah bermain di sini. Ia pungut dua tengkorak lainnya.‖ Coan Kim Hoat kasih keterangan pada kakaknya yang tak dapat melihat itu. Tiba-tina ia lompat mendekati mereka itu. teraur sebagai segi tiga. ―Mustahil benar ada orang membuat liang ini dengan jeriji tangannya?‖ ia kata dalam hatinya. Saudara ini bersangsi. Cu Cong dapatkan lima liang di embun-embunan tengkorak itu. Cu Cong lantas saja menghela napas. Ia tak berani utarakan kesangsiannya ini. Mereka menanti sampai tengah malam. romannya seperti bekas jari tangan. ―Lihat!‖ katanya lagi kemudian. Kwa Tin Ok dengar saudara-saudaranya itu berbicara. ―Mungkinkah disini ada hantu gunung?‖ tanya Siauw Eng. ―Bagaimana itu diatur rapinya?‖ tanya ia. sampai bintang-bintang mulai menggeser. yang biasanya sangat tabah.‖ kata Cu Cong kemudian. ―Kanglam Cit Koay sudah malang melintang seumur hidupnya. maka ia kenali itu sekumpulan tengkorak. di situpun kedapatan masing-masing lima jari tangan yang sama. maka kecuali Kwa Tin Ok. ―Hantu tukang geregas manusia…‖ ―Benar. Jadi itu bukanlah perkerjaannya satu bocah cilik. ke arah timur utara dan barat utara! Lihat ada apakah di sana!‖ Menampak sikap luar biasa dari saudara tua itu. dan saban tumpukannya sembilan tengkorak. ―Benarkah itu terbagi pula dalam tiga tingkat?‖ Tin Ok tanya. ―Apa itu?‖ katanya. ―Kalau begitu. . toako!‖ seru Kim Hoat heran.

ia toh kalah. ―Lambat sedikit atau sudah tidak keburu lagi!‖ Han Po Kie menjadi gusar. segera kabur ke selatan. cacadnya itu disebabkan kecelekan semenjak kecil. ―Saudara-saudara lekas naik ke kudamu masingmasing. Enam saudara itu mengawasi dengan melengak. kita sudah bersumpah untuk hidup atau mati bersama. Tin Ok Demikian lihay. ia pun cegah mereka bertiga omong keras-keras. Nona Han menghitung. mereka toh sudah paham delapan atau sembilan bagian. lekas pergi!‖ katanya mendesak.‖ jawabnya kemudian. ―Kita sudah minum arak bercampur darah. mereka menantikan penjelasan. mereka dengar perkataan si kakak. sambil membungkuk ia menghitung.‖ Tin Ok bilang. itulah sebabnya perbuatan musuh. dengan lekas. sekali-kali jangan kamu kembali! Sesudah kabur seribu lie. tunggu aku selama sepuluh hari.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin Ok lari ke arah barat utara itu. lekas!‖ kata Tin Ok mendesak sekali. cinta mereka bagaikan cintanya saudara-saudara kandung. ia paling benci orang menyebut-nyebut cacadnya itu. ―Lekas pergi. ―Apakah tumpukan disini pun tiga?‖ tanya Tin Ok. Tin Ok angkat saudara sama enam orang itu. mereka akan segera kembali!‖ kata Tin Ok. ―Mataku buta. ―Mereka berdua lihay luar biasa. ―Inilah saat mati hidup kita. dari itu sekalipun kita bertujuh. ―Apakah kau sangka kita orang-orang yang tidak berbudi?!‖ dia tanya membentak. walaupun mereka belum dapat merampunginya. mereka semuanya jadi heran. Semua saudaranya sangka.‖ sahut Siauw Eng. Cu Cong terkejut hingga ia berjingkrak. dari situ bisa diduga betapa lihaynya musuh itu.‖ ia beritahu. kakiku pincang. ―Bukankah Tong Sie dan Tat Sie sudah lama mati?‖ dia tanya. ―Kenapa mereka masih ada di dalam dunia ini?‖ ―Aku juga menyangka mereka sudah mati. ―Yang satu sembilan. jikalau sepuluh hari aku tidak datang menyusul kamu. maka itu kenapa kau anjurkan kita lari menyingkir?‖ Tin Ok goyangi tangannya berulang-ulang. semua itu adalah hadiah mereka…‖ sahut kakak tertua ini. ―Dan setiap tumpukannya terdiri dari sembilan tengkorak?‖ sekali ini Tin Ok menanya perlahan sekali. Thio A Seng bertiga terkejut. Siauw Eng lari ke barat utara. kembali dengan suara perlahan. apakah katamu?‖ tanya Siauw Eng gelisah. ―Benar. Tin Ok lantas lari ke arah timur utara ke Han Siauw Eng. ―Merekalah Tong Sie dan Tiat Sie. ―Kalau begitu. sekarang barulah mereka itu ketahui. ―Yang satunya delapan…‖ ―Coba hitung yang sebelah sana. A Seng bertiga lari berkumpul sama kakak mereka itu. kamu tidak usah menunggui lebih lama lagi…!‖ ―Toako. jangan bersuara keras. kiranya mereka sembuniy disini dan secara diam-diam tengah menyakinkan ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw. suaranya perlahan tetapi nadanya tegas. Kenapa kita mesti antaran jiwa secara sia-sia?‖ Irawan D Soedradjat Page 99 .‖ kata ia. ―Mereka sekarang lagi menyakinkan ilmu Kiu im Pek-kut Jiauw itu. kita pasti bukan tandingan mereka. ―Yang di sana setiap tumpukannya tujuh tengkorak.‖ kata Tin Ok.‖ Tin Ok bilang. ―Siluman atau musuh?‖ tanya Cu Cong. tidak ada yang berani menanyakan. meski begitu. lalu dengan lekas pula ia lari balik.

Di situ ada banyak pepohonan dan rumput tebal. Cara membokong ini bukanlah cara yang benar akan tetapi musuh terlalu tangguh dan telangas. Sekarang tutuplah papan batu ini.‖ Kim Hoat mengajak. Dia akhirnya menghela napas. denagn siapakn masing-masing senjatanya. baru kamu keluar untuk mengepung mereka. Perlahan-lahan mereka letaki tutup peti mayat yang istimewa itu.‖ Tin Ok berkata pula dengan pesannya. Dua orang itu snagat kejam. ia tidak lihat peti mati yang disebutukan kakaknya itu. Setelah seratus tindak.‖ katanya kemudian. Tong Sie dan Tiat Sie itu makhluk macam apa?‖ ―Merekalah yang di dalam dunia kang-ouw kesohor sebagai Hek Hong Siang Sat. inilah pertama kalinya ia dapatkan sikap yang tegang sekali dari kakaknya itu.Pendekar Pemanah Rajawali Enam saudara itu ketahui kakak mereka ini beradat tinggi. Lam Hie Jin dan Han Po Kie. untuk bokong pada mereka. mereka bakal dapat tahu. Cuma hendak aku pesan masing-masing jaga lah diri dengan hati-hati dari cengkraman mereka. sebagai alatnya ialah kedua mayat ini. ―Aku cuma minta kalian semua suka berlaku hati-hati. Ia tarik batu itu tetapi tidak bergeming. maka itu kau tidak ketahui tentang mereka. Sekarang ini tak ada tempo untuk menjelaskan tentang mereka itu. ―Baiklah kalau begitu. ia Cuma nampak unjungnya sebuah batu lempangan muncul dari dalam tanah. dia berani lawan. Mereka itu segera saja menghampirinya. di bawah batu itu tertampak sebuat peti mati bercorak kotak atau peti batu dan di dalam situ rebah dua mayat. ―Kalau begitu. ―Ada rejeki kita mencicipi bersama. tapi kata-katanya ditandaskan setiap patah. belum pernah ia puji kepandaian lain orang. baik di Jalan Hitam. sudah lantas lompat turun ke dalam peti mati yang besar itu.‖ Enam saudara itu menurut. Di bawah sinar rembulan. Irawan D Soedradjat Page 100 . marilah kita pergi bersama-sama. hatinya ciut. jaga supaya mereka tidak dapat ketahui. Thio A Seng. dengan dingin ia berkata: ―Mereka sudah celakai aku seumur hidup. mereka lantas bekerja. Tong Sie itu ialah pria dan Tat Sie itu wanita. Tong Sie si Mayat Perunggu dan Tiat Sie si mayat Besi. lihat benar atau tidak di sana ada sebuah peti mati. Kemudian. karenanya mereka menjadi ragu-ragu. ada kesusahan kita derita bersama juga!‖ katanya. Kamu mesti menunggu sampai aku telah tidak dapat bertahan. sekali pula Khu Cie Kee yang lihay. ―Musuhku itu bakal lekas datang kemari untuk melatih ilmu silatnya itu. siapa dengar mereka. Tin Ok menjadi diam dan berpikir. maupun di Jalan Putih. ―Maka itu sekarang hendak aku sembunyi di sini. batu itu kotor dengan tanah dan ketutupan rumput hijau. setelah melihat batu itu. Semua saudaranya itu menyahuti dengan janji akan menaati. Cuma tinggali sedikit liang kecil untuk aku bernapas. adik yang nomor enam. tanpa cara ini jiwa kita bertujuh bakalan tidak dapat ditolongi lagi!‖ Tin Ok omong dengan perlahan-lahan. ―Sedikit saja ada kelisikan. kau masih kecil sekali citmoay. ―Di masanya mereka itu malang-melintang di utara. mereka mau percaya sang kakak tidaklah tengah berdusta. segera lari ke arah selatan. Sadarlah ia bahwa saudara-saudaranya itu sudah berkeputusan bulat. bantui saudaranya untuk mencabut. Saudara-saudara pergi kau ambil tempat berlindung di empat penjuru. Tin Ok tidak setuju. setelah ia diberitahukan adanya kedua mayat itu.‖ berkata ia. Ia bersembunyi di samping Cu Cong. Ia omong singkat tetapi kata-katanya sangat tepat yang tak dapat diubah lagi. Han Siauw Eng adalah orang yang hatinya paling berkhawatir dan paling heran pula. tetapi sekarang ia jeri terhadap dua orang itu. Liok-tee.‖ sahut sang kakak denagn perlahan. Kwa Tin Ok. mereka pencar diri ke empat penjuru untuk sembunyi sambil memasang mata. ia panggil saudara-saudaranya yeng mengawasi ke arahnya. mereka berdua itu adalah suami-istri. Sekarang barulah papan batu itu dapat disingkirkan.‖ ―Kenapakah mereka itu tak hendak dikepung beramai-ramai?‖ Siauw Eng tanya pula. ―Nusuh itu sangat cerdik dan getap. coba jalan seratus tindak ke selatan. Tentu saja. Bukan sedikit orang gagah yang roboh di tangan mereka itu. itu waktu jangan kamu main kasihan-kasihan lagi. Dengan menggape. maka itu sambil berbisik ia tanya ini kakak nomor dua: ―Jieko. Semenjak ia kenal kakaknya yang tertua itu. saki hati ini tak dapat tidak dibalas!‖ Lam Hie Jin segera campur bicara.‖ Coan Kim Hoat. ilmu silat mereka lihay sekali.

guna cegah sinarnya berkilauan. maka beberapa tahun kemudian orang anggap. ia terus pasang matanya. Enam saudara dari Kanglam itu menahan napas. ilmu apakah itu?‖ tanya adiknya lagi.‖ ia mengeluh di dalam hatinya. namanya Tiauw Hong.Pendekar Pemanah Rajawali ―Menurut katanya mendiang guru. semuanya bersipa sedia. Siauw Eng segera memasang matanya ke arah tempat ynag ditunjuk itu. mengikuti jalannya. Enam saudara itu menjadi heran. Setahu bagaimana. Dilihat dari kepalanya. diulur dan ditarik. karena dosa kejahatannya sudah meluap. Tiba-tiba si wanita itu angkat tangan kanannya. Begitu lihat banyak orang.‖ sahut kakak keduanya itu. ―Mestinya dia Tong Sie dan Tiat Sie. Kapan sebentar kemudian tindakan kaki tak menerbitkan suara pula. Lalu ia menyambung lagi. nyata terdengar buku tulang-tulangnya bersuara meretek. sambil memberi keterangan padaku. mestinya berkulit hitam legam?‖ ―Tidak salah! Dia she Bwee. mereka itu telah menemui ajalnya. suaranya semakin keras. Ynag kedua yang rambutnya panjang dan memain atas tiupan angin. ―Yang pria. pada wajahnya itu tak pernah tampak tanda kemurkaan atau tertawa. ―Tenaga dalamnya begitu hebat. ―Sekarang ingin aku saksikan bagaimana mereka melatih diri…. Cu Cong cekal kipasnya peranti menotok jalan darah. Tiat Sie itu. bertahan terhadap serangan itu?‖ tanya mereka di dalam hati. ―Kenapa toako tak pernah sebut-sebut itu? Mustahilkah…‖ Nona ini berhenti berbicara dengan tiba-tiba. belakangan orang tidak lihat lagi bekas-bekas tapak mereka. berdiri diam. ia tampak seuatu benda hitam lagi bergerak-gerak cepat di atas tanah berpasir. pantas toako memuji mereka. Rambutnya pun mengikuti bergerak-gerak juga. bernama Tan Hian Hong. suara itu menyebabkan ketegangan di hati ke enam bersaudara itu. setelah orang bubaran. ―Orang-orang gagah dari Selatan dan Utara Sungai Besar pernah tiga kali mengadakan perhimpunan besar di gunung Heng San. ―Sstt!‖ berbisik sang kakak itu seraya tangannya menunjuk ke bawah bukit. kita menemui mereka itu.‖ ―Toako menyebut ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw. lalu beruntun tiga tahun mereka mencoba mengepung Hek Hong Siang Sat.‖ pikir Siauw Eng. saban-saban terdengar suara mereteknya. sebab Cu Cong mendekap mulutnya yang kecil mungil itu. Maka sekarang tampaklah dengan nyata: Itulah dua orang.‖ jawab sang kakak. Di bawah terangnya sinar rembulan. di atas bukit itu tertampak dua orang bagai bayangan. hingga mereka merupakan sebagai satu bayangan yang besar. Siauw Eng tancap pedangnya ke tanah. Tidak disangka-sangka sekarang. Wanita itu gerak-geraki kedua tangannya. ―Dapatkah si pria. ―Kiranya jieko waspada sekali. mereka lantas sembunyikan diri. Siauw Eng diam sejenak. disusul sama tangan kirinya menyerang dada si pria.‖ Sebentar saja benda itu sudah datang semakin dekat. di tempat belukar seperti ini.‖ pikir mereka. yang disebut Tong Sie itu. di tara ini. dia beroman seperti mayat saja. Heran enam saudara itu. ―Tentang ilmu itu belum pernah aku mendengarnya. dari lambat menjadi cepat. mereka itu dapat lolos. yang berjalan rapat satu dengan lain.‖ ―Apakah nama mereka itu?‖ Siauw Eng masih menanya. degan darah dagingnya manusia. si Mayat Perunggu.‖ Cu Cong menerangkan pula.‖ ―Kalau begitu yang wanita. yang memakai kopiah kulit. Sekarang terdengar suara pasir disebabkan tindakan kaki. Irawan D Soedradjat Page 101 . mereka muncul pula. adalah seorang wanita. maka itu orang juluki dia Tong Sie. yang satu mirip orang Mongol. Siauw Eng bernyali besar tetapi ia toh menggigil pula. ―Dia berparas muka semu kuning hangus seperti perunggu.‖ Si wanita sudah lantas berjalan mengitari si pria. ―Sungguh memalukan.

kapan tangan kanannya di tarik. ia masih tertawa. ia dapat lihat seperti bayangannya satu kepala orang di atas pohon. Bwee Tiauw Hong bangkit berdiri. ia cabut pedangnya. Bukan kepalang gusarnya Siauw Eng. tidak membungkuk tubuhnya. dengan sendirinya mereka menjadi membenci kekejaman wanita itu. ia toh berpaling dengan segera. paru-paru dan jantung. karena ragu-ragu. Tegang hatinya. sang sistri. Ia duduk dengan membelakangi Cu Cong dan Siauw Eng. wanita itu adalah Tiat Sie Bwee Tiauw Hong. ia turun di sisi mayat. usianya ditaksir kira-kira empatpuluh tahun. si wanita itu berjinjit. Saudara yang kedua ini telah berpikir: Tiat Sie bersendirian. Dia lompat tingginya beberapa kaki. yang semuanya telah tak utuh lagi. Si wanita sebaliknya tertawa besar dan panjang. tetapi sekarang. di Utara ini. dimana hawa udara adalah sangat dingin. Begitu tutup dibuka. Enam saudara itu bersiap. lalau ia membuangnya setiap isi perut itu. kita pasti dapat melawan. Tiat Sie nampaknya puas. si Mayat Besi. ia tak bakal dapat dilihat. kaki di atas. ia bergemetar sendiri. untuk merobek membuka pakaiannya pria korbannya itu. setiap serangan bertambah cepat. tumpukan tengkorak itu terang adalah korbankorbannya wanita kejam ini. yang rupanya ditangkap untuk dijadikan bahan atau korabn latihan Kiu Im Pek-kut Jiauw. ia percaya dengan sembunyi di atas pohon. tak dapat mereka layani…. Tiba-tiba saja ia menoleh ke arah Siauw Eng.. ke perut. . ia tidak 102 Tiba-tiba Bwee Tiauw Hong mendengar berkelisiknya daun pohon di sebelah belakangnya. Irawan D Soedradjat Page Itulah Ma Ong Sin Han Po Kie yang sembunyi di pohon itu. biar dia lihay. si wanita sudah menyerang pula. Tanpa merasa. Perlahan sekali suara itu. Tak ayal lagi. dengan sembilan kali serangannya – Kiu im – wanita ini membikin rusak isi perut pria itu. untuk membuktikan sampai di mana hasil latihannya itu. ―Kalau sekarang aku tikam dia. Maka terang sudah. Cengkeraman Tulang Putih. Tapat sampai pukulan yang ke sembilan. baiklah kita taai pesannya. Wanita itu berhenti berlompatan dan berputaran sesudah ia berpekik keras dan panjang sambil ia lompat tinggi berjumpalitan dua kali. Si pria tapinya mirip mayat. kepala di bawah. lempang jegar. berlompatan mengitari korbannya itu. Ia bertubuh kate. mencengkeram ke ubun-ubun si pria. sembilan puluh sembilan persen. Di bawah sinar rembulan. siapa tahu Tong Sie bersembunyi di mana? siapa tahu kalau dia muncul mendadak. hanya seorang yang lain. ia tak bersuara. enam saudara itu merasa kagum. untuk melatih tenaga dalamnya. Ia membungkuk. hendak mereka menerjang berbareng. habis itu. tangan kirinya menyambar kopiah si pria. kalau dikepung bertujuh. bertambah hebat. si suami. Diwaktu melompat. ia tarik napasnya keluar masuk. ia lompat ke arah pohon itu. Biar toako yang mendahului…‖ Habis memeriksa isi perut mayat. dia tidak tekuk dengkulnya. nampak nyata bebokongnya bergerak-gerak. tangan kanannya. Cu Cong tarik si nona dan menggoyangi tangannya. Kalau mereka ada berdua.Tapi. Hampir Siauw Eng menjerit karena kagetnya. ia lantas duduk numprah di tanah. seperti desairnya angin. Dengan menghadapi rembulan. dibawa ke peti mayat di mana Kwa Tin Ok umpatkan diri. dengan rangkap kedua tangannya. Disaat berbahaya itu. Disamping heran dan gusar. orang memakai baju dalam kulit. ―Hanya kalau aku gagal. jadi lebih gampang untuk melayani Tong Sie. hendak ia menerjang wanita itu. dan ia memeriksa itu. Kalau dia terbunuh lebih dahulu. gampang saja si wanita ini menelanjangi pria itu. wanita itu memeriksa. akibatnya mesti hebat sekali……………‖ Karena ini. Ia lantas seret mayat korbannya. jumpalitan. Nyatalah. beruntun hingga tujuh kali. wanita itu lompat mencelat. mukanya tidak tersenyum. ia dapat menduga. tubuh siapa lalu ia letaki di tanah. Sekarang enam saudara itu ketahui. aku dapat tublas tembus bebokongnya!2 pikir si nona Han. Ia hendak berlompat turun ketika tubuhnya bergerak bangun. dengan lima jari. untuk angkat tutup peti mati istimewa itu. lima jarinya berlumuran darah pula. untuk membokong kita? Toako telah memikir jauh.Pendekar Pemanah Rajawali Selagi begitu. Seberhentinyatertawa. hingga si nona dapat nampak wajah orang – satu wajah hitam manis. si pria bukan Tong Sie. Sembari mengawasi tangannya itu. tubuhnya tidaj bergeming. berbareng dengan pekiknya. walaupun ia tertawa. Hanya aneh. dua tangannya dipakai menjambak dada dan perut mayat itu. untuk menarik keluar isi perut orang. Cu Cong pun sama tegangnya sampai ia menahan napasnya. Tiauw Hong geraki kedua tangannya. habis melatih napasnya.

Ia lolos tetapi kegetnya tak kepalang. dengan putar ugal-ugalan tangannya. untuk merampas senjata. yang cepat bagaikan angin. Dengan satu gerakan ―Pek louw heng kang‖ atau ― Embun putih melintangi sungai‖. ia dapat dipergoki wanita lihay itu yang segera menerjang ke arahnya. sebab sepuluh kukunya telah nancap di dagingnya. dia segera mengerti bahwa dia telah berada dalam kepungan. sudah lompat hingga di depannya dan sambil menaya: ―Kau siapa?! Perlu apa kau datang kemari?!‖ sepasang tangannya sudah mampir di pundak orang. Akan tetapi si Mayat Besi tak jeri. Po Kie meninsyafi bahaya. kaget dan gusar. akan lomcat pula. Dengan perlihatkan kegesitannya. untuk menendang bebokong musuh gelapny aitu. anginnya pun tiba lebih dahulu. ia menyerang jalan darah kiok-tie-hiat dari musuh lihay itu. untuk meleset ke depan. atas mana. Bwee Tiauw Hong tidak berkelit atau menangkis. hingga PO Kie mersakan sakit sekali. ia menyambok dengan tangannya yang kiri. Tapi Tiat Sie si Myata Besi benar-benar lihay. ai maju pula. tahu-tahu tangan musuh berkelebat. Disaat itu. cepat-cepat ia melompat mundur. enam Manusia Aneh itu menjadi ingat semua tengkorak Irawan D Soedradjat Page 103 . Tiauw Hong tidak hendak memberi lolos. yang sangat gesit. ia papaki cambuk itu. sedang di lain pihak. kaki itu terseleo tekukannya. sedang di kirinya datang serangan golok dari seseorang yang bertubuh jangkung gemuk serta seorang kurus denagn senjatanya yanga neh. malah aneh juga. Dia agaknya tidak takuti senjata tajam itu. ia lepaskan cambuknya. segera tangannya kaku dan mati. tangan kanannya telah merobek baju Po Kie di bagian bebokongnya! Po Kie menekan tanah denagn kaki kiri. seperti juga sebuah kipas besi. Po Kie merasakan angin dingin di pundaknya. di bawah pohon. Di saat itu. lima jari tangannya menyambar ke arah bebokong si cebol itu. Ia mengarah ke lengan. menyambar ke arah musuh itu. Tiauw Hong ketahui itu. dengan bekersama dengan kelima saudaranya. untuk dicekal dan dibarengi ditarik dengan keras! Po Kie merasakan satu tenaga keras menarik ia. Bwee Tiauw Hong main sambar musuh. Siauw Eng menjadi terkejut. Bwee Tiauw Hong dengan berani berbalik menyambar pedang. hanya di saat itu. dengan lihaynya matanya dan jelinya kupingnya. di antara suara keras. denagn perdengarkan suara membeletak. baiklah aku robohkan dulu beberapa diantaranya. Hebat kesudahan tendangan ini. hatinya girang sekali. akan sambut wnaita itu dengan cambuknya Kim-liong-pian. hingga kedua senjata rahasia itu jatuh ke tanah. menyerang ia dari kanannya. ia juga balik menarik. Tanpa sangsi ia kerahkan tenaganya. ―Mungkin ia tidak mempunyai jalan darah?‖ pikirnya. dengan satu kali meleset. ia roboh hampir pingsan. ia menyambar ke mukanya Siauw Eng! Cu Cong melihat ancaman bahaya untuk adiknya itu. ia menjadi heran dan gentar pula. Batal menyerang. menendang ke arah perut. dan gesit sekali. ialah jalan darah kiok-tie-hiat. dia seperti tidak menghiraukan enam rupa senjata musuh itu. Hanya kali ini. Bwee Tiauw Hong menyambar dengan tangannya ynag kiri. Tetapi Tiauw Hong. Maka ia lantas berpikir: ―Mereka banyak. kipas Cu Cong telah mengenai tepat sasarannya. hingga bahna sakitnya. dia masih bisa menggulingkan diri. dia lompat mundur satu tindak. Tiauw Hong snagat lihay. Lam Hie Jin dengan Touw-kut-cui. sementara penyerang dengan kayu pikulan itu adalah seorang desa. Ketika itu. untuk membebaskan diri dari sambaran itu. akan menyingkirkan jauh. lagi sekali ia enjot tubuhnya. Bor Menembuskan Tulang. untuk terus disambar. ai lompat melesat. Cu Cong tahu ia telah dapat menghajar sasarannya. aku sendirian. Biasanya. Menyaksikan itu. mengarah kakinya. Satu mahasiswa yang memegang kipas totokan dan satu nona yang bersenjatakan pedang. Tendangan seperti mengenai papan batu. tetapi ia juga bertenaga besar. Mengikuti tarikan orang. atau lebih benar mengikuti cambuk Naga Emas.‖ Demikian. siapa terkena totokan itu. mengepung musuh yang lihay itu. Siauw Eng membabat tangan musuh. menyambar ke kepalanya! Bukan main kagetnya Manusia Aneh yang kedua ini. guna mencengkeram daging. terus ia lompat berjumpalitan. sebuah kayu pikulan yang hitam menyambar dia dari samping. Justru is bergirang itu. Dia menjadi kesakitan.Pendekar Pemanah Rajawali sangka. Semua penyerang itu tidak dikenalnya dan mereka agaknya lihay. dan Coan Kim Hoat dengan sepasang panah tangannya. masih dia lompat. hanya dasar jago. sebaliknya. yang sampai ke ulu hati. sebab ia tidak pedulikan totokan itu. ia terus melawan denagn sepasang tangannya yang berdarah daging! Dengan kuku-kukunya yang seperti gaetan besi. Han Po Kie sudah jemput cambuknya. ia enjot tubuhnya. maka juga pedang dan golok semua seperti merabu Bwee Tiauw Hong. dia angkat kakinya. herannya bukan buatan. dia teruskan sambarannya kepada nona Han itu.

ia menggapai-gapai. pada nyonya besarmu tidak ada bagiannya yang lemah. ia mendahului menotok telapak tangan orang. memandang ke atas. mereka lantas berkelahi sambil mundur. kedua matanya mengawasi ke langit. Syukur ia keburu membela dirinya. Ia sudah menontok belasan kali. Coan Kim Hoat berlaku rada ayal. tidak ampun lagi bahu kirinya kena dicengkeram Bwee Tiauw Hong. Itulah teriakan dan tanda untuk kawannya yang sembunyi di dalam peti mati. Tapi si Mayat Besi sudah berhasil. demikian pun jalan darah lainnya. berani Tiat Sie sambut dengan tubuhnya yang tangguh itu. tidakkah mereka bertujuh saudara bakal roboh semuanya? Thio A Seng. ia sambar sepasang mata lawannya itu. untuk angkat papan batu tutup dari peti mati itu. Cu Cong berteriak keras: ―Lekas turun menyerang!‖ Dengan tangan kanan ia menunjuk ke atas. teranglah orang telah punyakan pelajaran Kim-ciongtiauw – Kurungan Loncang Emas. sepotong dagingnya pun kena tercukil dan dia berdarah-darah. Ia menggunai tangan kirinya. Segera ia melompat. Cu Cong jadi berpikir. Satu kali Cu Cong kebetulan menoleh ke arah tumpukan tengkorak. semua senjata lainnya. Lima Manusia aneh lainnya kaget. Ia tahu betul. Coba Tong Sie si Mayat Perunggu muncul. ia dapat menyambar kayu pikulan dari Lam Hie Jin. Karena ini ia berlompatan. Karena ini. untuk lari ke arah peti mati. Tinggal Lam Hie Jin yang masih dapat bertahan demikian juga dengan Lam Siauw Eng – Hie Jin karena tenaga dalamnya sempurna. di tenggorokan jalan darah hoan-kiat. . ia mesti mempunyai suatu anggota kelemahannya. Tiauw Hong malah bertambah gagah nampaknya. ia menduga-duga dimana kelemahan musuh lihay itu. sedang di perut jalan darah cee-cun dan di bebokong jalan darah bwee-liong. selagi begitu Cu Cong bersama Thio A Seng dan Han Po Kie. siapa punya ilmu kedot. Manusia Aneh ynag kedua itu menyingkir beberapa tindak. ia tak tampak manusia seorang juga. Lam Hie Jin bersama Coan Kim Boat dan Han Siauw Eng mencoba merintangi musuh ini. kalau tidak. Tiba-tiba ia bergidik. tetapi Bwee Tiauw Hong agaknya tidak terluka. Mereka menggesernya ke samping. ia jadi ingat sesuatu. tak tunggu tibanya cengkeraman. sudah ada tiga yang kena tangan lihay si Mayat Besi. yang diangkat tinggi. celakalah ia. hingga ia menjadi berpikir keras. Lagi sesaat. Bwee Tiauw Hong dapat menerka maksud orang. Ia melainkan hanya lihat rembulan. dengan tangan kirinya. tak saja bajunya Kim Hoat robek. dengan sendirinya hati mereka menjadi gentar. Tiauw Hong kena cekal barang keras. Dipihak sana. Irawan D Soedradjat Page Bwee Tiauw Hong heran. dan Tiat-pou-san – Baju Besi. tetapi tiba-tiba juga. ia menjadi terkesiap hatinya. semua anggota tubuhnya telah terlatih sempurna!‖ Dan tangannya menyambar lengan si mahasiswa itu! Cu Cong terkejut. Merka juga mendapatkan tubuh orang seperti besi kuatnya Dua kali bandulan timbangan Coan Kim Hoat mengenai bebokongnya Tiat Sie dan satu kali kayu pikulannya Kanglam Liok Koay menyambar paha. maka itu dengan tangan kanannya.Pendekar Pemanah Rajawali yang berliangkan bkeas jari tangan itu. Di batok kepala ia totok jalan darah pek-hoay. sembari berlari. Kecuali golok lancipnya dari Thio A Seng dan pedang tajam dari Han Siauw Eng. ketahui olehmu. di mana Kwa Tin Ok lagi sembunyikan diri. justru itu Cu Cong bebaskan diri. supaya kawan itu segera turun tangan. sedang seharusnya dia mesti patah atau remuk tulang-tulangnya. ia dapat lihat cahaya putih dari tengkoraktengkorak itu. tanpa merasa ia angkat kepalanya. ―Dari mana munculnya segala orang hutan yang hendak mencurangi nyonya besarmu!‖ kata Tiauw Hong dengan ejekannya. baiknya ia gesit dan cerdik. untuk lihat lengannya. Han Po Kie dan Coan Kim Hoat sudah lantas mulai tersengal-sengal napasnya. ia berteriak: ―Semua lekas menyingkir!‖ Lima saudara itu mengerti teriakan itu. mereka menyerang dengan berbareng guna menolongi saudara mereka itu. ―Sekarang sudah terlambat untuk kamu melarikan diri…!‖ segera ia merangsak. jidat mereka bermandikan peluh. Ia menjadi bersangsi. yang sudah lantas lari ke peti mati. sudah lanats kerahkan tenaga mereka. menyerang sambil mencari-cari. Hebat Bwee Tiauw Hong. Siauw Eng lantaran kegesitan tubuhnya. Dia berseru: ―Siucay rudin. tidak juga ada hasilnya. ia heran. 104 Disaat itu. Dipihaknya. dua macam ilmu kedot. melihat mana. Di sana terpeta tapak lima jari tangan.

Tin Ok sudah perdengarkan suaranya yang dingin itu. merangkul pohon besar di belakang Tin Ok tadi. mana dapat ia melihat tandanya itu? Benar saja. Bwee Tiauw Hong melengak dan lalu tertawa panjang. bocah kiranya kau belum mampus?‖ tanya dia. ia sudah lantas bekerja sama dengan enam saudaranya itu. Untuk sesaat mereka tidak menyerang pula. Bwee Tiauw Hong telah kehilangan penglihatan kedua matanya. sambil berseru keras. menampak mana. akan tetapi Tin Ok telah segara berkelit ke samping. maka itu sekarang ia berkelahi secara kalap. hati mereka menggetar. batang pohon besar itu tercengkeram sepuluh jarinya. ia menggempur terus dengan kedua tangannya kepada Kwa Tin Ok. ―Toako awas!‖ sekonyong-konyong Cu Cong dan Coan Kim Hoat berseru. sasarannya adalah tiga bagian atas. Bwee Tiauw Hong berpekik keras.Pendekar Pemanah Rajawali ― DI depan tujuh tindak!‖ Cu Cong teriak pula. Maka itu. Irawan D Soedradjat Page 105 . ―Apakah kau masih ingat Hui-thian Sin Liong Kwa Pek Shia atau Hui-thian Pian-hok Kwa Tin Ok?‖ demikian tanyanya. Nyata kedua matanya telah menjadi korbannya tok-leng. masihkah ia mempunyakan nyawanya? Gagal serangan itu. Coba Tin Ok yang terkena rangkul. Tiauw Hong terus menendang papan batu yang menghalangi di depannya. papan batu itu terpatah menjadi dua tanpa ampun lagi! Kanglam Cit Koay menyaksikan itu. ―Jadinya kau datang untuk menuntut balas untuk Hui-thian Sin Liong?‖ ―Tidak salah!‖ jawab Tin Ok. Ia ingin si Mayat Besi mati sendirinya karena bekerjanya racun senjata rahasia itu. Tin Ok sudah merasakan sambaran angin ke arah dadanya. ―Lekas kasih tahu! Kalau nyonya besarmu mati. dia lagi memanggil Tong Sie. ―Celaka. empat-empatnya jatuh menggeletak di tanah. Ketika itu angin dingin meniup membuat orang mengkirik. Tujuh saudara itu mengawasi. dengan menukikkan tongkat besinya ke tanah. ―Kau juga belum mampus. ia membuatnya pohon-pohon rubuh dan batu hancur tertendang. untuk kakak itu jangan membuka suara. Bwee Tiauw Hong merasakan sangat sakit dan juga menjadi sangat gusar. batu telah kena terhajar hancur. yang mengenai dada dan paha. Ia rupanya menginsyafi yang ia telah terkena senjata rahasia yang ada racunnya. Bwee Tiauw Hong tubruk sasaran kosong. Kwa Tin Ok di dalam peti mati telah siap sedia. Dalam murkanya. Empat yang lain. Selang sekian lama. ia turut lompat keluar dari dalam peti mati. ia jadi terperanjat sendirinya. bagus!‖ Tiauw Hong menghela napas. dari jauh-jauh. Bwee Tiauw Hong sendiri sudah lantas perdengarkan jeritan hebat dan menggiriskan. ―Kamu siapa?!‖ ia berteriak dengan pertanyaannya. kedua tangannya menyambar berulang-ulang. karenanya tubuhnya maju terus. Kakak itu buta. senjata rahasianya Tin Ok itu. ―Hai. ia serang bebokongnya si Mayat Besi. suaminya…‖ kata Cu Cong dalam hatinya. suaranya tajam dan terdengar jauh. mereka berdiam tetapi siap sedia. dengan tangannya ia memberi tanda kepada saudara-saudaranya menjauhkan diri dari orang kalap itu. Lalu ia meneruskan dengan seruannya:‖ Lekas bereskan dia!‖ Ia pun mendahulukan. tidak memberi hasil. Tiauw Hong merasa matanya keras. Cu Cong tidak buka suara. ia bersilat ke empat penjuru. Baharu dua kali ia menggoyangkan tangannya. segera kedua tangannya diayunkan. ia berdiam. enam Manusia Aneh itu bergidik sendirinya. Pun. dengan begitu enam buah senjata rahasianya sudah lantas menyerang ke tempat tujuh tindak. dengan kerahkan tenaga di tangannya. ia akan mati dengan puas!‖ Cu Cong menggoyangi tangan kepada kakak tertuanya. tengah dan bawah. Belum habis peringatan kedua saudara itu. Ia menepuk keras. Dengan menerbitkan suara keras. dari itu. tanpa hiraukan sakitnya itu. tubuhnya lalu meleset naik ke atas pohon. mereka menyaksikan lebih jauh bagaimana Mayat Besi menyambar pepohonan dan batu yang melintang di depannya.

Cu Cong segera geraki tangannya ke arah Coan Kim Hoat. bayangan itu masih berpekik-pekik. Ia menjadi kaget apabila ia merasakan bebokongnya sakit sampai jauh di ulu hatinya. Ia berkhawatir berbareng girang. guna menyambut bocah itu. ―Aku bukan tandingannya Tong Sie…. Hampir berbareng dengan itu. guna lari balik. berbareng dengan itu. Ia lantas lari turun ke arah orang orang bertubuh kecil dan kate itu. Selagi dua orang ini mendatangi dekat satu dengan lain. sekarang ia lihat si nona Han terancam bahaya. untuk memandang ke bawah bukit. ia berdiri diam dengan sikapnya yang siap sedia. ada satu bayangan lain. Segera menyusul serangannya yang kedua. mereka bersedia dengan senjata rahasia masing-masing. Dengan beruntun ia mainkan Irawan D Soedradjat Page 106 . si nona terus menyingkir. di depan bayangan yang berpekikan tak hentinya itu. demikian bayangan yang mengejar itu. akan tetapi kupingnya terang. dengan melupakan bahaya. ia tergempur di bagian dalam. di belakangnya dia tangan maut lagi menghampiri. Sembari mendatangi. ―Hebat larinya orang itu!‖ kata beberapa diantaranya. sebab ia segera menduga kepada Kwee Ceng. untuk memberi tahu supaya. habis menolongi orang. Pekikan itu membuat hati orang terkesiap. ―Inilah hebat…‖ pikir Siauw Eng. untuk memapaki. lalu berdua mereka lompat ke gombolan rumput. ia terpaksa menggunai akal ini. ia tidak tahu. lekas lari!‖ Kwee Ceng dengar suara itu. Ia pilih batok kepala musuh sebagai sasarannya. sampai sebegitu jauh belum pernah ia berani mengutarakan rasa hatinya itu. Cu Cong tidak berhenti sampai di situ. Siauw Mie To Thio A Seng telah menaruh hati kepada Han Siauw Eng sejak beberapa tahun. Tidak peduli ia kebal tetapi serangan Biauw Ciu Sieseng hebat bukan main. Ia percaya Tong Sie terlebih lihay daripada Tiat Sie. Dengan kegesitannya. Karena tubuhnya kecil. dari kejauhan terdengar pekikan nyaring seperti pekikan Tiauw Hong barusan. ia girang yang orang telah menepati janji. yang terlebih nyaring lagi. ia lihat si nona. tentu saja Manusia Aneh yang kedua ini tidak sudi menjadi korban. Siauw Eng lompat ke samping. Han Siauw Eng lompat ke samping. napasnya diempos. ia mendahulukan menyambar. Ketika itu Bwee Tiauw Hong sudah tidak mengamuk seorang diri lagi. dari itu. tanda bahwa orang yang memperdengarkan itu telah datang lebih dekat. Tiba-tiba ia rasai tangannya enteng. dari situ ia menyerang dengan pedangnya ke iga kiri si Mayat Perunggu. tetapi ia gagal. Kwee Ceng pun menjerit kaget! Bocah itu telah dirampas Tan Hian Hong. Tiat Sie buta sekarang. terpaksa ia berteriak: ―Bocah. untuk suaminya itu tolongi dia sambil membasmi musuh…. maka ia susuli dengan tikaman ke arah mata. guna mencegah racun di matanya dapat menjalar. Ia dapat berlari dengan cepat luar biasa. Itu waktu Siauw Eng telah kasih dengar suara kaget. Tong Sie si Mayat Perunggu pun telah mendatangi semakin dekat kepada Kwee ceng. ia segera berkelit ke samping. Dan ia kemudia berlari. Kali ini ia gagal. yang kecil dan kate. ia pun belum pernah menyakinkan ilmu mendengar suara seprti Kwa Tin Ok.tapi mana dapat aku tidak menolong bocah itu?‖ Maka terpaksa ia cepatkan tindakannya. Rupanya Tiauw Hong telah dapat menduga. Lam Hie Jin semua memasang mata ke bawah bukit. Segera juga Siauw Eng sampai kepada Kwee Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali Thio A Seng menyerang dengan salah satu potong papan batu yang tdai ditendang patah Bwee Tiauw Hong. Dengan sikapnya ini ia menantikan suaminya. ia sambar bocah itu. mendaki bukit. Ia dapat menghindar dari batu tetepi tidak serangannya Cu Cong. untuk menolongi Siauw Eng dan A Seng. Kanglam Cit Koay terkejut. lekas lari. ia lari turun. Ia tanmpak sekarang. Ia khawatirkan keselamatannya bocah itu. ia dengar angin itu. Bab 10. Malam Yang Hebat Cu Cong ambil sikapnya ini untuk bersedia membokong musuh. tanpa bilang suatu apa. bayangan ini tadi tidak kelihatan. maka itu. Setelah hasilnya yang pertama ini. ia malah mesti lompat menyingkir. ia kaget dan berkhawatir. niatnya mendahului nona itu. Ia tampak satu bayangan hitam lari mendatangi dengan cepat sekali. terus ia memutar tubuh. lalu menyusul pekik yang kedua. sambaran angin papan batu itu pun keras. ia menjadi kegirangan hingga ie berseru.

perempuan bangsat. ia papaki kakinya Thio A Seng itu. Hian Hong lihay sekali. Dengan gerakannya ―Lay louw ta Kun‖ atau ―Keledai malas bergulingan‖. bagaimana dengan lukamu? Apakah luka itu menghendaki jiwa kecilmu yang busuk itu?!‖ Irawan D Soedradjat Page 107 . Akhirnya ia berteriak: ―Eh.Pendekar Pemanah Rajawali jurus ―Hong Hong tiam tauw‖ – Burung Hong menggoyang kepala. Berbareng dengan itu. ia meneruskan menyambar si nona dengan jurusnya ―Sun swi twi couw‖ – Menolak Perahu Mengikuti Air. ia jauhkan diri. ―Hai. batal meneruskan serangannya kepada Siauw Eng. Tan Hian Hong kaget dan heran akan menyaksikan semua musuhnya demikian lihay.ilmu pedangnya gadis Wat. saban kali si Mayat Perunggu hendak menjambak. sambil lompat bangun. dengan begitu ia bisa menyingkir beberapa tindak. ia menerjang kepada musuh itu. setelah satu jeritan keras. sebentar akan aku adu jiwa denganmu!‖ ―Bangsat perempuan. Siauw Eng lepas dari marabahaya. tak dapat Siauw Mie To bertahan lagi. dan ―Wat Lie Kiam-hoat‖. Siauw Eng buang diri dengan bergulingan. tanganya Hian Hong mendahulukan menepuk pundaknya. hingga ia bebas dari bahaya. Lam Hie Jin dan Han Po Kie lantas lari menyusul tubuh saudaranya itu. ―Kau masih memikir untuk menyingkir?‖ tanya Hian Hong. untuk diteruskan dipakai membabat. makhluk-makhluk ini orang-orang macam apakah?!‖ Bwe Tiauw Hong sahuti suaminya itu: ―Mereka itu adalah saudaranya Hui-thian Sin Liong dan konconya Hui Thian Phian-hok!‖ ―Oh!‖ berseru Hian Hong. Tan Hian Hong mengempit Kwee Ceng di dengan lengan kirinya. Thio A Seng sudah maju tinggal beberapa tindak lagi. ia menyahut dengan keras: ―Lelaki bangsat. ia tak mau berkelahi secara rapat. tetapi justru karena ini. malah Cu Cong bersama Coan Kim Hoat mendahulukan menyerang denagn senjata rahasia mereka. Lam Hie Jin dan yang lainnya telah tiba. bangsat anjing. ia memburu dan ulur tangannya yang terbuka ke ubun-ubunnya nona Han. perempuan bangsat. ia menahan sakit.sepasang mataku dirusak oleh mereka itu! ikalau kau kasih lolos satu saja diantara tiga ekor anjing itu. ia melihat ancaman bahaya terhadap si nona yang ia sayangi. ia berputaran. ia serang Han Siauw Eng dengan dua-dua tangannya. perempuan bangsat. Tapi sekarang ia menginsyafi lihaynya musuh. Cu Cong bersama Coan Kim Hoat. Sia-sia Siauw Eng tarik pedangnya. Tiauw Hong tengah memegangi pohon besar. lima jarinya masuk ke dalam daging betis. bagaimana kau?!‖ terdengar teriakannya Hian Hong. maka itu. Ia bergerak dalam jurus Kiu Im Pek-kut Jiauw yang lihay yang untuk meremukkan batok kepala orang. ia menyerang musuhnya. Thio A Seng rebah di tanah dengan terluka parah. Di waktu itu. ia menyampok. lalu dengan sikut kanannya. Lantas ia mendamprat: ―Bagus betul. ia kasih lewat ujung pedang. kiranya kau belum mampus! Jadinya kamu datang kemari untuk mengantarkan nyawa kamu!‖ Tapi ia juga khawatirkan keselamatan istrinya. Justru itu. ia kerahkan semua tenaganya. ia lalu menanya: ―Eh. Tan Hian Hong tidak berhenti sampai disitu. legakan hatimu!‖ sahut Tan Hian Hong. Ia menjerit keras tetapi pedangnya dikerjakan untuk dipakai menikam ke dadanya lawan! Hanya. hingga lima jarinya si Mayat Perunggu masuk ke dalam dagingnya. untuk mengahalangi serangan. bebokongnya mewakilkan Siauw Eng kena dijambret. ia jatuh pingsan. kapan Hian Hong mengempos semangatnya. pedang itu meleset di dadanya itu. ―Satu juga tidak bakal lolos!‖ sambil mengucap begitu. si Mayat Perunggu lemparkan tubuh musuhnya. ia lompat kepada si nona itu. menampak nona Han dalam bahaya. ia menduga-duga siapa mereka dan kenapa mereka itu muncul di gurun pasir ini. setelah pedang itu berpindah arah. hingga seketika ia roboh ke tanah.

Hian Hong kagum hingga ia memuji di dalam hatinya. Selagi ia dapat mencium bau itu. tanda tenaga diadu. hingga semua orang tidak dapat melihat sekalipun lima jari tangannya di depan matanya! Di dalam gelap gulita itu. tubuh siapa ia sambar. Hie Jin kaget sekali. kalau tidak. Karena itu. Ia tidak menghiraukan lagi hal ini karena adiknya terancam dan adiknya itu perlu ditolongi. ia membikin perhatiannya tan Hian Hong menjadi terbagi. meninju dan menyambar. hingga bebokongnya berbunyi bergedebuk. buku-buku tulangnya memperdengarkan suara berkeretekan. meneruskan gerakan tangan kirinya itu. yang telah pertunjuki tenaganya yang menyebabkan Hie in patah bahu kirinya. yang ia lempar ke tanah. kau bagaimana…‖ ―Jangan bersuara!‖ menjawab Siauw Eng.Pendekar Pemanah Rajawali Bwee Tiauw Hong menyahuti suaminya dengan mendongkol: ―Lekas bunuh mereka! Nyonya besarmu tidak bakalan mampus!‖ Hian Hong tahu luka istrinya itu berat. sedang yang satunya lagi. dengan sendirinya dadanya menjadi terbuka. Kiu Im Pek-kut Jiauw. tangan kanannya yang keras seperti besi. dengan lompat berjumpalit. Irawan D Soedradjat Page 108 ―Semua renggang!‖ teriak Han Po Kie dalam gelap gulita itu. si adik yang ketujuh itu. Setelah berselang begitu lama. Han Po Kie tunujk keberaniannya. Kim Hoat kaget melihat Kwee Ceng dilempar. lalu tangannya itu seperti terulur menjadi lebih panjang dari biasanya. atau sekarang tangan itu – atau lebih benar lima jarinya – sudah mendekati ubun-ubunnya! Dalam keadaan sangat berbahya itu. Ia menyerang dengan Teetong Pian-hoat. dia hanya terteriak menjerit-jerit. . apalagi sekarang ini latihannya ilmu yang baru. si Mayat Perunggu itu. ia serang Coan Kim Hoat. ia gunai Kim-na-hoat. lalu dengan tiba-tiba juga. Bocah itu dalam bahaya. yaitu ilmu bergulingan di tanah. untuk diputar ke kiri. Maka itu kurungan mereka menjadi semakin lebar. Walaupun merasakan sakit. Dan ia lari ke samping beberapa tindak. untuk menolongi diri berbareng menolongi orang. guna mencekik leher musuh itu. makin lihay musuh. karenanya mereka berkelahi dengan waspada. Lihay tangannya Hian Hong itu. berbareng dengan itu. ia lompat ke samping. yaitu Kwa Tin Ok. sebab tadi hampir-hampir ia tak dapat bernapas. guna menggempur kaki lawan. Ia lantas lepaskan Kwee Ceng. setelah bebas. sambaran itu sudah sampai kepadanya. sedang sikutnya yang kiri menghajar dadanya Cu Cong. Karena ini. Gerakannya itu ialah yang dinamakan ―Leng miauw pok cie‖ atau ―Kucing gesit menerkam tikus‖. Itulah Tan Hian Hong. kedua tangannya bekerja. tapinya ia tidak terluka. makin keras niatnya untuk membinasakan mereka. Kelima Manusia Aneh dari Kanglam itu menginsyafi bahaya. Berbareng dengan itu. Belum lagi Hie Jin menarik pulang senjatanya. Cu Cong pun merangsak ke belakang Tong Sie. mega hitam menutup sang putri malam. Cu Cong berlima telah kurung padanya. Dengan caranya ini. sambil berkelit. berbareng dengan itu juga da tercium bau bacin. guna membnagkol lengan musuh itu. tidak nanti ia pegang pohon saja dan tiak datang membantu. Rasa sakit tiba-tiba membuat Cu Cong meringis dan tangannya yang dipakai mencekik leher musuh terlepas sendirinya. ia menyingkir setombak lebih. diulur. tak sudi mereka merapatkan diri. sudah selesai delapan atau sembilan bagian. tapi ia telengas. Istri itu sengaja pentang mulut besar. untuk lekas-lekas menjalankan napasnya. terpaksa ia melenggakkan tubuhnya. Diwaktu dipakai menyambar. ilmu menangkap tangan. Hian Hong sendiri bukannya tidak menderita karenanya. satu kali ia kena dihajar kayu pikulan Lam Hie Jin. ai terus lompat kepada Kwee Ceng. Ia berkhawatir tetapi ia dapat menghampiri istrinya itu. Tiba-tiba ia berpekik. berdiri diam sambil menanti ketikanya. tangannya menyambar penyerangnya itu. ―Citmoay. tangan musuh yang berwarna biru sudah mendekati alisnya. orang dengar suara merekek dua kali dan suara ―Duk!‖ satu kali. Karena tangan kanannya itu terangkat. Sekonyong-konyong saja guntur berbunyi sangat nyaring. sebab tubuhnya terpental rubuh saking kerasnya serangan sikut itu.

Itulah tandanya kakak mereka mulai berhasil. Ia tidak kasih dengar suara apa-apa. Hian Hong lanjuti serangannya tanpa berlengah sedetikpun. guna mencoba mengacaukan pikiran musuh. sang guntur menyebabkan langit menjadi gelap gulita.kangzusi. ia berpekik secara aneh. Ingin mereka membantui saudara mereka itu tetapi mereka tidak dapat melihat. Sinar kilat sudah lenyap tetapi sambaran itu telah mengenai sasarannya. Tongkat itu ia papaki denagn pundaknya yang kiri. Diantara tujuh Manusia Aneh. Tin Ok kaget tidak kepalang. ―Thian membantu aku!‖ ia memuji dalam hatinya. dengan lihaynya pendengarannya itu. tapi ia belum bebas bahaya. itu artinya Kanglam Cit Koay telah kalah besar. ia menjadi tahu di mana adanya si penyerang. Berbareng dengan gerakan tangan kiri ini. tiga sudah terluka parah. tangannya sendiri diputar ke atas. kilat berkelebat pula. awas!‖ Hian Hong sangat lihay dan gesit. ia lantas berkelit. Tin ok dengar suara angin. yang ketahui kakaknya tengah bertenpur. suara terhajarnya terdengar nyata. Mendengar itu. Han Po Kie bersama Han Siauw Eng dan Coan Kim Hoat. mendadak kilat menyambar. mereka pun menolongi tiga saudara mereka yang tealh terluka. tubuh Tin Ok terhuyung. untuk menganjurkan kakak itu. ia melainkan merasa sangat sakit. Dengan waspada ia pasang terus kupingnya. di tempat gelap gulita itu. kau bagaimana?‖ ia terpaksa bertanya. Ia dengar sambaran angin. sudah lantas kasih dengar seruan mereka berulang-ulang. ia melihat bagaimana tongkat kakaknya itu. diarahkan ke tiga penjuru. dua orang ini bertempur. Untuk Han Po Kie beramai. habis mana. itu bukan napas saudara angkatnya. guna menangkap tongkat musuh itu. Po Kie semua bergirang. Mendengar itu.‖ Coan Kim Hoat memberitahu. ia segera menunduk. sang hujan pun turun menyusul. Dengan begitu. memperlihatkan sinar terang. Coan Kim Hoat terkejut. oleh Hian Hong dipakai menyerang ia dalam rupa timpukan! Bukan main girangnya si Mayat Perunggu. walaupun ada suara hujan. terpisahnya delapan atau sembilan tindak daripadanya. Ia lompat ke arah musuh itu. Telak serangan itu. Ia tidak hiraukan tongkat lawan. untuk mendesak Kwa Tin Ok. maka juga Han Po Kie menjadi kaget sekali. Kwa Tin Ok berdiam. ia lanjuti serangannya. Ia merasa pasti. kedua tangannya dipakai untuk menyambar. akan terbangkan enam batang tok-leng. Dua kali ia terhajar tongkat. Tiba-tiba Hian Hong menjerit aneh. ia menghajar dengan tongkatnya. Gerakannya itu terhalang. disebabkan ketegangan dan kecemasan hati mereka. musuhnya itu. ia masih ingat untuk segera menyerang denagn cambuknya. tidak ada satu pun yang berani mendahului www. Satu dengan yang lain tidak dapat melihat. dengan lantas ia ayunkan kedua tangannya. yang digunai Hian Hong. tetapi ia kebal seperti istrinya. ia berseru: ―Toako. tubuhnya sudah mencelat maju. ia melompat mundur. karena bajunya kena terjambak dan robek karenanya. Ia dengar suara napas di sebelah kiri ia. Si Mayat Perunggu lihay sekali. tangan kanannya menjambak ke depan. tengah menyambar ke kakaknya itu. Tongkatnya yang terampas Hian Hong. ia tidak terluka. rasanya pertempuran itu berjalan sudah lama. ―Sekarang ini langit gelap sekali. sambil berkelit. lengannya itu terulur panjang. Karena ini. guna mencegah dan melibat tongkat itu.com bergerak pula. ia menjadi heran sekali. Hui Thian Pian-hok si Kelelawar Terbangkan Langit itu menjadi girang luar biasa. mereka melainkan mendengari suara sambarannya angin. Dua batang tok-leng lewat di atas kepalanya. Syukur dalam kagetnya itu. Irawan D Soedradjat Page 109 . Tan Hian Hong adalah orang yang diserang. samar-samar ia masih mendengar suara napas orang. Pertempuran Hian Hong dengan Tin Ok hebat dengan cepat telah berlalu dua sampai tigapuluh jurus. dengan mengepal lima jari tangannya. mereka dari itu Cuma andalkan kuping mereka. Karena serangan tok-leng ini. maka syukur untuknya. yang tubuhnya terhuyung. ia tertawa sambil berlenggak. siapa pun tidak dapat melihat siapa. Selagi orang kegirangan. ―Jitee.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin Ok dengari segala gerak-gerik. yang kembali mampir di tubuhnya yang kebal itu. Disamping itu dengan meraba-raba. Justru itu. Empat yang lain tepat mengenai tubuhnya. Semua orang berhenti bertempur karenanya. selagi Kim Hoat bersuara.

berurat tembaga bertulang besi. di tanah rata kereta rubuh ringsak‖. dari mana mereka menyingkir lebih jauh ke Lengpo di propinsi Ciatkang. Dua saudara seperguruan itu terlibat api asmara sebelum mereka lulus. tubuhnya terus roboh terjengkang. Itulah siksaan hebat. Tetapi tiba-tiba Tan Hian Hong perdengarkan jeritan yang hebat sekali. sedikit orang yang ketahui kelihayannya. suaminya itu telah membuyarkan tenaga dalamnya. sekalian buron. habislah nyawa jago itu. disaat hendak menghembuskan napas terakhir. manusia cebol terokmok!‖ berseru Hian Hong. suaranya terputus-putus. Maka itu pada suatu malam gelap buta. untuk di daratan Tionggoan. ialah kitab Kiu Im Cin Keng bagian rahasianya. ia murka bukan main. ―Kitab itu telah aku bakar…‖ kata Hian Hong. ia terjeblos dan roboh terguling-guling. Tak pernah ia lupai kebiasaannya membawa-bawa ―bangsat‖. ia hajar batok kepala suaminya. ia curi sekalian kitab Kiu Im Cin Keng dari gurunya. kepandaiannya itu ia ciptakan dan yakinkan di pulau Tho Hoa To itu. sebagaimana juga kebiasaan suaminya. ia bersembunyi di pinggiran. ―Celaka. kalau rahasia mereka ketahuan. untuk mana ia nyelusup masuk ke kamar gurunya itu. tetapi sekarang selagi mencekuk satu bocah. Ia takut bukan main. Lebih celaka lagi. ―Akan aku balaskan sakit hatimu!‖ ia berseru. ialah kelemahannya. Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong ini asalnya adalah saudara satu perguruan. maka ia tak berbuat kepalang tanggung. Sebagai jago is terbinasa di tangannya satu bocah yang tidak mengerti ilmu silat. untuk sambar bocah itu. ia lupa. ia tidak terluka. ―Rahasianya…di dadaku…‖ Ia tak dapat bernapas terus. ―Lekas kau lari…!‖ Kwee Ceng dengar pembicaraan itu. tidak pernah ia pergi meninggalkan pulaunya itu. Orang itu bertubuh kecil. tulang-tulangnya lantas meretak berulang-ulang. yang lihat aksinya si orang she Han. Tapi ia telah bersumpah tidak akan meninggalkan Thoa Hoa To. Tiauw Hong tahu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sekarang hendak aku mengambil nyawa anjingmu. ia terkena pisaunya Khu Cie Kee. mereka bakal dihukum mati dengan disiksa. Istri ini lantas meraba ke dada orang. Ia melatih diri dengan sempurnya. lain-lain muridnya Irawan D Soedradjat Page 110 . kabur ke pulau Heng To di sebelah selatan. Maka juga. Karena ini. ia kuatkan hatinya lalu dengan tiba-tiba. mereka naik sebuah perahu kecil. hanya saking murkanya. Mereka insyaf. Sejak ia berhasil menyempurnakan ilmu kepandaiannya. Ini dia yang dibilang ―Orang yang pandai berenang mati kelelap. Tan Hian Hong tahu. dari atas bukit ia lari untuk menghampirkan. Sang istri kertak giginya. orang itu ialah Kwee Ceng! Segera ia menunduk. pemilik dari pulau Tho Hoa To di Tang Hay. ―Lepaskan aku!‖ menjerit Kwee Ceng. yang tajamnya bahkan sanggup mengutungi emas dan batu kemala. Diwaktu bertempur ia selalu melindungi perutnya. untuk mengambil kitab yang dikatakan suaminya itu. Setelah menikam dan terlepas dari cekukan. ―Lelaki bangsat. Ia menduga tak keliru. ia menjadi tidak mempan barang tajam. ilmu silatnya cukup untuk membela diri tetapi tak dapat digunai untuk menjagoi. Tapi kakiknya terserimpat. Tetapi ia bertubuh kuat. ―Hm!‖ Hian Hong ksaih dengar suaranya yang seram.‖ sahut Hian Hong lemah. Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi dapat dengar jeritan suaminya itu. Ia lantas berlompat. seperti ada tangan yang menyambar merangkul. Kapan Oey Yok Su ketahui perbuatannya kedua murid itu. Satu kali ia kena injak tempat kosong. Segera ia tiba di samping suaminya. yang menolongi kakanya itu. Maka sejenak itu. kau kenapa?‖ ia tanya. Laut Timur. guna hampirkan si cebol. kecuali pusarnya itu. perempuan bangsat…. Ia terkena justru bagian tubuhnya yang terpenting. terpaksa ia membiarkan saja. mereka adalah muridmuridnya Tocu Oey Yok Su. Oey Yok Su adalah pendiri dari suatu kaum persilatan sendiri. ia tak dapat mengawasi suaminya itu tersiksa begitu rupa. maka juga ia kalah terkenal dari kaum Coan Cin Kauw yang kenamaan di Kwantong dan Kwansee dan Toan Sie yang kesohor di Selatan (Thian Lam).

kepandaian yang kita sudah dapati dari suhu masih belum cukup untuk pelajari bagian bawah ini. Di dalam hatinya. biar aku yakinkan sendiri dulu. Ia membikin enam saudaranya Irawan D Soedradjat Page 111 . Ia heran hingga ia diam menjublak. sebagian bawah. hingga mereka kabur untuk sembunyikan diri. Lam Hie Jin patah lengannya. runtuhlah nama nama Kanglam Cit Koay…‖ Maka itu. untuk terus mendekam. membawa mega hitam dan tebal. Setelah itu mendadak ia menyerang hebat kepada bebokong lawannya. dari itu. Semua muridnya itu ia putuskan urat-uratnya. Sayang untuknya. jiwanya terancam. Medan pertempuran ada di atas gunung Heng San. walaupun mereka terhajar Tong Sie. membuat langit menjadi gelap-gulita pula. disaat dia hendak menutup mata. hingga orang percaya mereka sudah mati karena luka-lukanya.‖ Tiauw Hong percaya pada suaminya. mereka kena dilukakan. untuk mencari terlebih jauh. hingga mereka bisa melihat musuh. Maka itu. Coan Kim Hoat lantas tolongi saudara-saudaranya yang terluka itu. yang tercengkeram Kiu Im Pek-kut Jiauw. Dibantu oleh Siauw Eng dan Po Kie. Adalah keinginannya ilmu ini agar musuh berkelahi rapat. Adalah sekarangm. Ketiga Manusia Aneh ini menjadi cemas. Aneh tabiat Hian Hong. membarengi berkelebatnya kilat. kau bisa celaka. Tiauw Hong lantas raba dada suaminya. luka mereka tidak parah. empat saudaranya itu. Tentu saja. lam Hie Jin dan Thio A Seng. Terdesak juga Tiauw Hong diserang hebat dari belakang. lalu ia usir mereka dari pulaunya. lukanya berbahaya. bukan saja mereka tidak dapat mendesak. baru ketiga kalinya. mereka sendiri saban-saban menghadapi ancaman. Belum pernah ada orang yang sanggup robohkan mereka. Repot juga Tiauw Hong. Ia tahu ada orang serang padanya. syukur ia tidak terluka dalam. si putri malam pun mulai mengintai pula dan muncul lagi. angin tidak mengganas terlalu lama. Hebat pengepungan ini. Po Kie berkata: ―Celaka betul! Bertiga kita lawan satu wanita buta. Mereka sembunyikan diri sampai belasan tahun. atau kalau kau termaha. Kwee Ceng mulai muncul dari belakang batu dimana ia tadi bersembunyi. Saking hebatnya. aku mesti memilih dengan teliti. Cu Cong. walaupun pada istrinya. Adalah berbahaya menyakinkan bagian bawah tanpa bagian atas. Hian Hong menjawab: ―Sebenarnya kitab ini terdiri dari dua bagian. Bisa celaka mereka dirabu pasir dan batu itu. Sebaliknya. Kekalahan ini disebabkan terlalu banyak pengepungnya. kita tidak berhasil. ai melawan dengan mainkan tipu-tipu Kim-na-hoat. baru ia turunkan kepandaian itu kepadanya istrinya. Syukur Tin Ok dan Cu Cong telah lihay ilmu dalamnya. Sekonyong-konyong datang angin besar. Masih rebah tengkurap adalah Kwa Tin Ok. Adalah Thio A Seng. Bwee Tiauw Hong lenyap. Saking tergesa-gesa. ia tidak memaksa lebih jauh. maka ia hendak memeriksa. Sebab Han Po kie bersama Siauw Eng dan Coan Kim Hoat. Kim Hoat bertiga terpaksa lompat mundur. ia tidak hendak beri lihat kitab Kiu Im Cin Keng itu. Ia sekarang hanya mengandal pada kejelian kupingnya. si Mayat Perunggu. ilmu Menyambar dan Menangkap. Ketika istrinya desak. Syukur. Han Po Kie yang paling dulu lompat bangun. Tapi bukan kitabnya sendiri yang dia telah bakar. kepada gerak-gerik angin. Ketika ini digunai Siauw Eng akan menikam dengan pedangnya dan Kim Hoat dengan dacinnya. ia tidak dapatkan apa-apa. tetapi segera ia menjerit heran. mereka telah minta bnayak korban. Pada waktu suami istri kejam ini dikeroyok orang-orang gagah dari pelbagai partai persilatan di utara Sungai Besar. Ia ambil kedudukan di belakang musuhnya itu. Dengan begini mereka bikin diri mereka menjadi jago. Kau tahu. hingga mereka menjadi manusia-manusia bercacad seumur hidupnya. pasir dan batu pada beterbangan. mereka terus menyakinkan Kiu Im Cin Keng bagian ―Kiu Im Pek Kut Jiauw‖ atau ―Cengkeraman Tulang Putih‖ dan ―Cui Sim Ciang‖ atau ― Tangan Peremuk Hati‖. Hian Hong suka serahkan kitabnya itu pada istrinya. Hian Hong dan Tiauw Hong menyembunyikan diri untuk menyakinkan Kiu Im Cin Keng itu. Hujan pun turut berhenti perlahan-lahan. Dua kali mereka mendapat kemenangan. hanya singkatannya atau rahasia pokoknya. Justru di bagian atas adalah pelajaran pokok dasarnya. dengan terbangnya sang mega. Kalau tidak. Semua orang basah kuyup pakaiannya. lenyap juga mayatnya Tan Hian Hong. ia tidak sempat mewujudkan niatnya itu. Tidak tahunya. ia berpikir keras. biar bagaimana Tiauw Hong memohonnya. apapula makin lama mereka jadi makin telangas. aku dapat curi cuma sebagian. Malah dilain saat. ia tidak ambil peduli. tidak ada kabar ceritanya. adalah setelah ia sendiri berhasil mempelajarinya. sudah lantas maju menyerang. yang kedua matanya sudah buta. ia menjadi penasaran.Pendekar Pemanah Rajawali menjadi korbannya.

kau lihat contohnya gurumu ini…. Siauw Eng menangis. Masih dapat ia mengatakan demikian. Sebenarnya sia-sia saja kau berguru padaku. si Buddha Tertawa. jangan menangis. Ia lantas peluki A Seng dengan ia menangis tersedu sedan.kalau nanti aku mati. ―Ya!‖ ―Kalau begitu. Ia ulur tangannya. sedang ia pun ada menaruh hati. ia tersenyum pula. lebih-lebih Han Siauw Eng. kau pergilah dengan tenang…Kita Kanglam Cit Koay. untuk mengubur jenazah saudaranya itu ditempat itu. mari kau hunjuk hormatmu padanya. biasanya aku perlakukan kau tidak manis…‖ katanya. Ia menahan sakit. tenaganya sudah habis. sayang aku tidak dapat memberi pelajaran kepadmu…. aku pun malas kecuali tenagaku yang besar…. Kwee Ceng sudah mengerti banyak.. perlu kau belajar rajin dan ulet. Si nona masih dengar: ―Ajarilah ini anak dengan baik-baik. hingga dua kali. ia jatuhkan diri di depan tubuh A Seng. Tin Ok terharu sekali. si Mayat Besi.‖ Siauw Eng menjawab. mereka juga saling menyinta. ynag telah hampirkan mereka. maka Coan Kim Hoat dan Han PO Kie lantas turun gunung untuk cari mayatnya si MayatPerunggu serta Bwee Tiauw Hong. kesedihan mereka bukan main. karena sangat eratnya pergaulan mereka. ―Legakan hatimu. mereka tetap manusia biasa. ―Anak yang baik. inilah aku ketahui. untuk menjadi istrimu! Kau setuju. ia masih dapat tersenyum.‖ kata pula si nona. maka Siauw Eng pasang kupingnya. legakan hatimu. baik sekali. bukan?‖ kata nona Han itu tanpa malu-malu.‖ kata Cu Cong. untuk mengusap-usap rambut adik angkatnya itu. Entah kemana perginya Tiauw Hong beserta mayat suaminya itu. begitupun dengan yang lainnya. untuk bersujud sambil mengangguk berulangkali. kau tentu hendak berguru pada kami?‖ Cu Cong tanya Kwee Ceng. Aku sangat bodoh. terus ia berjengit. aku baik-baik aja…‖ ia menghibur. hampir ia tak sadarkan diri.‖ Meski masih kecil. tapi lukanya sangat mendatangkan rasa sakit. selanjutnya kau mesti dengar perkataan kami. aku akan selalu bersama kamu…‖ A Seng masih dengar suara tu. cuaca sudah menjadi terang. ―Aku telah jadi orangnya keluarga Thio. Bocah itu menyahuti. ―Citmoay. akan aku menikah denganmu. ia menarik napas. Irawan D Soedradjat Page 112 . habis itu berhentilah ia bernapas…. Enam saudara itu memangis menggerung-gerung. di mulutnya kakak angkatnya itu. ―Ini gurumu yang kelima bakal pulang ke langit.‖ Masih A Seng hendak berkata pula. Dengan masih menangis. Mereka mencari denagn sia-sia. Habis hujan lebat. maka itu.‖ Tiba-tiba kedua matanya berbalik.‖ kata Cu Cong pula.Pendekar Pemanah Rajawali sangat berduka. ―Ngoko. tidak nanti aku antarkan jiwa disini…. ―Kau datang kemari. Walaupun semuanya bertabiat aneh. ―Jangan menangis. aku tidak nanti menikah dengan lain orang…. Coba dulu aku rajin belajar. tidak nanti kita kalah…!‖ A Seng tertawa. jikalau kau alpa dan malas. Thio A Seng adalah Siauw Mie To. mereka mendirikan satu batu besar. A Seng tertawa. Sebagai nisan. Merek aitu pada melinangkan air mata. ―Cukup…‖ katanya. ―Kami tujuh saudara adalah gurumu semua. ―Kau justru perlakukan aku baik. Itu waktu. Thio A Seng tersenyum meringis. mereka menggali liang. ―Ngoko. tapi masih meneruskan kata-katanya: ―Bakatmu tidak bagus. perlahan sekali. di tanah berpasir mesti ada tapak kaki tetapi ini tidak.‖ katanya.. yang tahu kakak angkatnya yang kelima ini ada menaruh cinta kepadanya. walaupun lagi menghadapi bahaya maut. jaga supaya ia jangan kalah dengan itu…imam…‖ ―Jangan khawatir. Kwee Ceng mengangguk. seumurku.

Segera ia dapat tahu perbuatannya itu macan tutul. kemudian kau. Mereka menjadi heran sekali. Dengan mendongkol ia berkata: ―Biarlah! Mari kita hajar Tuli dulu! Hendak aku lihat. Satu tukang rawat macan tutul yang lainnya ketakutan. ―Takut apa!‖ teriaknya. Kedua macan tutul itu sudah mulai gerogoti mayatnya Hian Hong. yang agaknya kaget. Irawan D Soedradjat Page 113 Kwee ceng jeri kepada macan tutul tetapi ia ingat keselamatannya Tuli. kenapa mayatnya ada di sini? Siapakah orang-orang itu? Apakah maksudnya maka itu mayat diganggu?‖ Itu waktu Coan Kim Hoat semua telah datang menyusul. setahu bagaimana jadinya dengan mereka. ―Tarik macan itu!‖ kata satu anak kecil yang menunggang kuda. Ia lantas ajak pemelihara macan tutul itu untuk berlalu. dia membentak: ―Hai. lioktee dan citmoay. dialah putranya Khan besar Temuchin!‖ berkata itu tukang rawat macan tutul. Mereka jalan belum jauh tempo mereka dengar menderunya binatang liar. maka mereka pun saksikan myatnya Hian Hong itu. tukang rawat macan tutul itu turut perintah. ―Tuan muda. kau pun bakal digegaren macanku!‖ ia mengancam tetapi ia tak berani dekati musuhnya. dengan cekal Kim-kiong-pian. ia memasang mata ke depan. hendak aku menyuruh kakak angkatku lari. seluruhnya berlumuran darah. Di sana tertampak serombongan orang serta dua ekor macam tutul menoker-noker pada tanah. yang terluka dari leher sampai di perutnya. Tempo ia lihat Kwee Ceng. apa nanti paman Temuchin bisa bikin!‖ ―Jikalau kau pergi. menhajar kepalanya orang itu. ―Sekarang mari kita antar anak ini dan kita pun merawat diri. Po Kie lompat turun dari kudanya. Lari serintasan. Kwee ceng terkejut. mereka pun turun dari gunung. putranya Sangum. . malah jago Kanglam ini kenali itu mayatnya Tan Hian Hong. ―Macan tutulku telah gegares Tuli!‖ sahut Tusaga berteriak. ―Kau lekas menyerah! Kalau tidak. ia maju ke arah mereka. ―Tak takutkah kau?‖ ―Aku takut…‖ sahut murid ini. Itulah sebabnya kenapa kuda si kate tidak berani maju terus.‖ Pikiran ini disetujui. Heran Po Kie. Tusaga ayun cambuknya. yang menjadi tukang pelihara macan tutul itu. Tidak ayal lagi. Coba tidak ada Kwee Ceng. Dua ekor macan tutul itu telah dapat mengorek satu mayat. kamu mengepung pula Tuli?‖ tanya Kwee Ceng. yang terus terdengar berulang-ulang. Diam-diam mereka bergedik menyaksikan itu musuh tangguh. kau sembunyi di sini! Kenapa kau tidak berani membantui Tuli bertarung? Makhluk tidak punya guna!‖ Bocah itu ialah Tusaga. ―Eh.Pendekar Pemanah Rajawali ―Di tempat begini. Kalau tidak. dia hendak suruh macan itu makan kakak angkatku. yang berada di antara rombongan orang tadi. tidak nanti wanita itu kabur jauh. coba kau pergi mencari pula. kau sendiri bakalan digegares macan itu. ―Suhu. ―Aku tuntun macan tutulku menyuruhnya geharesi dia!‖ sahutnya. tentulah Kwee Ceng telah dihajarnya. ia berkata. shatee. seperti ada dagingnya yang orang telah potong. ―Di mana dia?‖ Tusaga perlihatkan roman tembereng dan puas. binatang itu berhenti dengan tibatiba. maka itu kuda berlompat ke depan. tak mau ia maju walaupun dipaksa majikannya. ―Akan aku laporkan kepada Khan besar!‖ Tusaga hendak mencegah tapi sudah kasep.‖ ia kata kepada Siauw Eng.‖ kata Cu Cng sekembalinya kedua saudara itu. maksudnya memberitahu. Po Kie menjadi heran. Po Kie keprak kudanya. ―Kenapa tadi ia serang aku! Lekas!‖ Dengan terpaksa. ―Mana Tuli?!‖ ia tanya.‖ kata itu guru. jerih ia menampak Kanglam Cit Koay. maka habis mengucurkan airmata di depan kuburan A Seng. Ia menitahkan orangnya. Ia berpikir: ―Dia mati di atas gunung.

semua lantas lari keluar tenda untuk naiki kuda mereka. ia pun sangat berani. ―Jangan lepaskan macan tutul! Jangan lepaskan macan tutul!‖ Segera terlihat ternyata mereka itu adalah Mukhali berempat. ilmu silat tangan kosong. Kwee Ceng bersangsi sebentar. Itu waktu ada beberapa kuda dilarikan keras ke arah mereka. kedua mereka bakal jadi bentrok. kita harus berhati-hati. ―Tusaga bawa-bawa macan tutul!‖ Tuli kaget. mereka lantas datang menyusul. setelah menyandak. ia bikin musuh-musuhnya rubuh satu demi satu. tanpa minta bantuan Ogotai. Sebenarnya Tuli rajin melatih diri menuruti ajarannya Cu Cong. ia masgul. yang dengan laporannya si tukang pelihara macan tutul. Cu Cong rebah di bebokongnya unta karena lukanya. salah satu penunggangnya berteriak-teriak. ketika besoknya pagi ia tidak dapat cari Kwee Ceng. ia lantas lari pulang untuk menagmbil macan tutul ayahnya. untuk terus dipanggul! Tetap tubuh Kwee Ceng di atas pundak orang. heran dia melihat Tuli sendirian. sebentar kemudian tibalah di satu tempat. Sementara itu Han Po Kie dapat candak Tusaga dan melombainya. Jamukha. Irawan D Soedradjat Page Wang Khan semua iringi kedua saudara Wanyen itu. mereka terkejut mendengar laporan si tukang pelihara macan. Ia pikir: ―Jikalau anaknya Sangum membinasakan anaknya Temuchin. Ia berkata kepada saudarasaudaranya: ―Bocah ini bebal tetapi dialah orang segolongan dengan kita!‖ ―Matamutajam. dan Sangum tengah menemani dua saudara Wanyen di tenda mereka. di depan mereka tertampak beberapa serdadu Kim tengah berkelahi sama pengiring Khan ini yang tadi diberikan titah. akan cekuk bocah itu. ia menyahuti: ―Aku mau pergi!‖ Benar-benar ia lantas lari. Mereka jalan baharu satu lie lebih. yang larinya sangat pesat. ingat. ia ulur tangannya. tidak lantas dikeroyok. ―Mari kita lihat!― katanya. lekas!‖ Kwee Ceng berteriak-teriak sebelum ia datang mendekat. jieko. Kita tak boleh terbitkan onar. . tiga dari kita terluka…‖ Po Kie manggut. kakaknya.‖ kata Siauw Eng. Dia orang ini turut perintahnya Tusaga. Kanglam Cit Koay dapat lantas mencegah Tusaga apabila mereka kehendaki itu. tanpa perkenanan dari Temuchin lagi. ia lantas saja lari menyusul Kwee Ceng. sekarang ia dengar berita ini. tetapi mereka tidak mau menerbitkan onar. seorang diri ia pergi memenuhi janji kepada Tusaga untuk bertempur. saking murkanya. dari ini putranya Temuchin Cuma dikurung. Tusaga penasaran. tapi ia lagi dikurung. ia kagumi bocah itu. negara Kim yang besar!‖ Ia terus kisiki pengiringnya. Sebabnya 114 Wanyen Lieh pun gembira tetapi ia tidak perlihatkan itu pada wajahnya. dimana tampak Tuli sedang dikurung oleh belasan orang. dan inilah untungnya negaraku. Tusaga datang dalam jumlah belasan. Hebat Tuli itu. cegah cucuku main gila!― Pengiring itu segera kabur dengan kudanya. Wang Khan mendahului perintah satu pengiringnya: ―Lekas sampaikan titahku. hendak ia lari. yang pun lantas berlalu dengan cepat. ―Tuli! Tuli! Lekas lari. jurusnya itu adalah jurus pojok dari ―Khong Khong Kun‖. sebab dua kali ia rubuh mencium tanah dan hidungnya kena diberi bogem mentah dua kali juga. ia seperti lagi menunggang kuda.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jadi kau batal pergi?‖ tanya gurunya lagi. Wanyen Yung Chi kecewa gagal menyaksikan orang diadu dengan binatang. sekalian mereka ingin saksikan sepak terjangnya Tuli dan Kwee Ceng. Tapi ia tidak peduli suatu apa. pertempuran sudah lantas dimulai. kegembiraannya terbangun secara tiba-tiba. Ia tentu tidak tahu. ia mungkin putranya satu pangeran atau raja muda. ia gunai jurus ajarannya Cu Cong. Tuli yang sedang kegirangan tidak menyangka musuhnya itu bakalan minta bantuan binatang liar. Itu wkatu Temuchin bersama Wang Khan. ―Mari kita bantu dia!‖ Coan Kim Hoat lantas memesan: ―Bocah galak itu memelihara macan tutul.

Sebentar saja kuda itu. Terang itu adalah kerjaan orang yang lihay. maka ia dihiburi ibunya. ia belum tahu bahaya. Kwee Ceng berlompat. dia terjang kami!‖ Pengiringnya Wang Khan itu mendongkol dan tidak mau mengerti. Ia kata dengan sengit: ―Aku toh ada di sebelah depan kamu dan kamu di belakang aku…!‖ Dua saudara Wanyen itu tidak inginkan mereka adu mulut. Semua orang kaget. maka ia lantas menyusul. Penunggangnya seorang wanita usia pertengahan yang memakai mantel kulit indah dan mengempo satu anak perempuan yang elok romannya. yang ia ambil dari rangkulannya Kwee ceng. Ia menjadi heran. Dua ekor macan tutul sudah lepas dari ikatan pada lehernya. yang ia peluk. kuku macan telah mampir dipundaknya. yang ditangkap sedari masih kecil dan dipelihara dan dididik dengan banyak sukar hingga jadi b esar dan dapat mengerti. pria dan wanita. berulang-ulang ia anjuri macannya lekas menyerang. Jamukha lihat itu semua. keempat kakinya tengah menoker-noker dan mulutnya meraung-raung tidak hentinya. untuk dirangkul dengan tangannya yang lain. lagi mengawasi dengan sikapnya yang tenang sekali. meski demikian. Yulun Eke lantas saja peluki putrinya. ia tubruk Gochin. sedang Temuchin tidak berani melepaskan anak panahnya. ―Lepas panah!‖ Yulun Eke segera memerintah. Macan itu lagi bersiap-siap. Boroul sendiri tutup mulut. ia khawatirkan keselamatan putranya itu. Ia lantas menduga kepada mereka itu. Dalam saat mengancam itu. Di depan mereka berdiri dua bocah ialah Tuli dan Kwee Ceng. Anak perempuan yang ia bawabawa itu adalah putrinya. 115 Sangum sangat murka. Tidak lama tibalah mereka di depan rombongannya Tusaga beramai. melihat orang datang dekat. Ia pun tidak karu-karuan dipegat dan dikeroyok. ia tertawa haha-hihi. lalu terdengar suara kuda berlarilari mendatangi di arah belakang mereka. menyusul mana kedua macan itu rubuh berbareng. Boroul yang bertubuh kate dan kecil adalah yang paling gesit. Temuchin ketahui baik. tampak enam orang Han. apapula ia dapatkan. kupingnya mendengar beberapa kali suara angin menyambar. Dua saudara Wanyen itu lantas memerintah serdadu-serdadunya berhenti berkelahi. Anak itu menangis karena kagetnya. Ia baharu berusia empat tahun. Gochin sebaliknya segera hampirkan kakaknya. tidak ada seorang jua yang ketahui siapa si penyerang gelap itu. diarahkan kepada dua binatang liar itu. Kapan ia berpaling ke arah darimana suara angin itu datang menyambar. Di antara empat pahlawan. Mereka ini bilang: ―Kami tengah berdiam disini. ia jadi semakin temberang. yang pun terus tarik Tuli. disaat ia hendak mencegah. binatang adalah binatang kesayangan Sangum. Walaupun kejadian berlaku di depan mata mereka. berniat mengusap-usap kepalanya seekor macan tutul. Nyonya Temuchin tengah pasang omong dengan istrinya Sangum di tenda mereka. Keempat pahlawannya lempar panah mereka dan menghunus golok untuk maju menyerang. sedang si petugas tidak berani abaikan kewajibannya. Ia lantas lomat turun dari kudanya. Wang Khan murka melihat kelakuan cucunya itu. orang ini tidak ada matanya. karena ia jadi waspada. segera ia berlompat menubruk. untuk menjatuhkan diri. Temuchin dan keempat pahlawannya segera siapkan panah mereka. Ia sangat khawatir melihat putranya terancam macan tutul itu. Kemudian ia ulurkan tangannya. khawatir kena putrinya. tetapi justru ia maju. ―Siapa yang membunuh macanku?!‖ ia tanya dengan bengis. rubuh celentang lalu tidak berkutik lagi. seekor kuda merah. dari itu asal putranya tidakterancam tidak mau ia memanah macan itu. ialah yang maju di muka sekali. yang darimana darah mengucur keluar. . tempo ia dengar perkara putranya. ―Berangkat!‖ mereka menitah. Irawan D Soedradjat Page Semua orang berdiam. tiba diantara mereka. romannya cantik dan manis. adalah istrinya Temuchin atau ibunya Tuli. Tusaga lihat datangnya banyak orang dan kakek beserta ayahnya juga berada bersama. kedua binatang itu berlubang masing-masing di kedua pelipisnya. ia menduga peristiwa itu terjadi karena bisanya dua Wanyen ini.Pendekar Pemanah Rajawali adalah serdadu-serdadu Kim itu menghalang-halangi orang menjalankan tugas. Gochin Baki.

Kanglam Liok Koay jalan perlahan-lahan. Temuchin hampiri Wang Khan dan kata: ―Ayah inilah permainan anak-anak. ―Yang paling perlu ialah mencari tahu dimana beradanya Tiat Sie. Ia menginsyafi peranan kedua saudara Wanyen itu. ia tidak pedulikan walaupun kakeknya menitahkan ia berhenti menangis. itu pun sudah bagus. ia kata: ―Kamu hendak bikin kita bercedera. aku tak dapat menerkanya. sedang Kwee Ceng. entah itu perbuatan kawan atau lawan…‖ kata Han Po Kie. Temuchin berpikir sebentar. Tin Ok beramai tidak mau menarik perhatian orang. habis itu ia larikan kudanya. untuk merundingkan urusan mereka. ia puji untuk keberaniannya. Gagallah tipu dayanya. ia suruh Boroul layani enam orang itu. Panas hatinya Temuchin. mereka berdiri jauh-jauh. ―Memang selama ia belum disingkirkan. untuk susul kedua saudara Wanyen. ―Sakit hatinya ngoko memang mesti dibalas!‖ kata Siauw Eng. Gochin sudah cantik.‖ Temuchin girang. Temuchin kata sama Sangum. keluarlah alemannya. Ia tertawa dan menyahuti: ―Mustahil aku tidak setuju? Marilah kita tambah erat persaudaraan kita. tak senang ia berbesan. yang ia usap-usap kepalanya. Tuli tunggu sampai Wang Khan semuanya sudah berlalu. akan tetapi disitu ada putusannya ayahnya. ―Eh. Wanyen Lieh menjadi sangat tidak puas. putramu yang sulung. bagaimana pikirmu?‖ Wang Khan girang. Di dalam hatinya. kita selalu terancam bahaya. guna mengadakan perjamuan perpisahan untuk mereka itu. Diam-diam Jamukha kisiki Temuchin apa yang tadi terjadi di tengah jalan antara pengiringnya Wang Khan dan serdadu-serdadu Kim. Sambil tertawa. Ia lantas menyahuti: ―Khan yang besar sudi terima kami. kita justru hendak berserikat untuk menghadapi kamu!‖ Maka ia hampiri Tusaga. Temuchin lantas dapat tahu enam itu ialah yang tolongi putranya. Mereka memang lagi pikirkan tenpat untuk bisa mendidik Kwee Ceng. ia sangat bangga untuk keturunannya. terpaksa ia menyambut dengan sambil tertawa. Berapa kamu menghendaki gaji kamu?‖ Coan Kim Hoat senang dengan tawaran itu. Kau akurkah?‖ Dengan girang. tak usah ditarik panjang. sekarang kita menjadi besan!‖ Sangum itu angkuh. ia mendamprat Tusaga. Mereka tidak lihat Wanyen Lieh. Anak itu mencoba meronta tetapi tidak berhasil. dan Cu Cong rebah di atas unta. ―Baik kamu berdiam di sini mengajari ilmu silat kepada putraku. mesti dia jadi elok sekali. terus ia kata pada Coan Kim Hoat. Cucu ini didamprat di depan orang banyak. tak senang ia berbesan dengannya. ia terus menangis sambil bergulingan di tanah. Cucuku yang perempuan hendak aku jodohkan dengan Juji. ―Nanti aku gantikan kau empat macan tutul yang paling jempolan ditambah sama delapan pasang burung elang. ia lihat. terhadap Temuchin ia berdengki dan memandang enteng. meskipun masih kecil. Ia terperanjat dan heran sekali.‖ bilan Tin Ok. ia membungkam. ―Mayatnya Tan Hian Hong dipotong dada dan perutnya.‖ . ia penasaran. kenapa ini beberapa Manusia Aneh berada disini?‖ katanya dalam hatinya. ia suruh Boroul memberi hadiah bulu dan emas. ia lihat rombongannya Kwa Tin Ok. itulah kebetulan bagi pangeran ini yang lantas ngeloyor pergi duluan.‖ Sangum masih mendongkol. untuk diberi tempat. Selagi ia berpaling. ia pun bicara hal Kanglam Cit Koay ( yang sekarang menjadi Kanglam Liok Koay sebab jumlah mereka telah berkurang satu). Aku lihat anak ini berbakat baik.‖ menyatakan Cu Cong. mana kami berani minta gaji besar? Terserah kepada Khan sendiri berapa sudi membayarnya. Irawan D Soedradjat Page 116 ―Itulah aneh. ―Saudara. Wang Khan gusar. setelah dewasa.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sudahlah saudara Sangum!‖ berkata Temuchin sambil tertawa. untuk dikasih bangun dengan dipeluk. aku berniat menjodohkan dia dengan anakku. ia tutur kepada ayahnya sebabnya ia berkelahi sama Tusaga.

ia baharu merasa hatinya tentram kalau sudah dengan tangannya sendiri ia bisa raba mayatnya Tiat Sie si Mayat Besi itu. rambu dan kumis jenggot mereka sudah mulai berwarna abu-abu. mereka pasang hio. Kemana perginya wanita seperti siluman itu? Dalam sepuluh tahun itu. di sebelah itu ada sifatnya yang baik. Tentang perasaannya ini ia tidak utarakan. Cu Cong bersama Coan Kim Hoat dan Han Siauw Eng mengajarakan ilmu kegesitan. untuk lindungi padanya. Sejak itu Kanglam Liok Koay menetap di gurun pasir.Pendekar Pemanah Rajawali Karena ini kemudian Po Kie bersama Siauw Eng dan Kim Hota lantas pergi mencari. Habis pai-kui. Kwee Ceng juga diajak bersama. ia dapat imbangi tubuhnya. Dan Jebe bersama boroul turut memberi petunujk juga. Kwee Ceng dipanggil belajar sendirian untuk diajari ilmu pedang. senjata rahasia dan entengi tubuh. . ia tampak kemajuan Kwee Ceng. untuk sembahyangi saudara yang sudah beristirahat untuk selamanya di alam baka itu. ―Wanita itu rusak matanya terkena tok-leng toako. hanya ketika ia geraki tangannya itu. Cu Cong jadi seperti melamun. ilmu tongkatnya. si Mayat Besi mestinya tak bisa bersembunyi terus-menerus. ia belajar dengan rajin sekali. sepuluh tahun sudah lewat. mayatnya juga tidak kedapat. belasan tahu kami didik anak ini. dengan tangan kanan ia sampok pundak muridnya itu. Hanya kalau malam. Ia ingat pada Bwee Tiauw Hong. Sekarang Kwee Ceng telah menjadi satu anak tanggung berumur enam belas tahun. ia mengerti dengan cepat. Malah Siauw Eng berkata dalam hatinya: ―Ngo-ko. sayang di bebal. Ia bersiap sedia menyambut Tiauw Hong. ia tetpa menarik hati. maka itu aku mohon bantuan kau. Kalau tidak mati. hingga untuk sementara muridnya dilarang belajar naik kuda dan memanah. dan siang dan malam terus ia belajar silat tangan kosong dan pedang. Mereka itu atur barang sembahyangan. hawa udara masih dingin. walaupun ia tidak secantik dulu. untuk itu ilmu silat penting. dia tak jadi jatuh. pada harian Ceng Beng. Mereka mencari bukan hanya disekitar tempat itu. ia terpeleset. si bebal tapi rajin. mestinya racunnya senjata itu bekerja. dia tidak sampai memalukan nam akita Kanglam Cit Koay!‖ Sepuluh tahun enam saudara itu tinggal di utara. Di situ ada tulang-tulang yang berserakan. Ia tahu ia mesti membalas sakit hati ayahnya. yang pun melihatnya. maka mungkin ia mampus di dalam selat!‖ kata Po Kie kemudian sepulangnya mereka. malah ia segera dapatkan maknanya itu. apa mau ia kena injak sebuah batu kecil. dia tidak dapat teriam semua pengajaran kita. ia utamakan ―Hok Mo Thung-hoat‖. salju yang turun secara besar-besaran baru berhenti. Ia menginsyafi lihaynya Bwee Tiauw ong. adu kepandaian. main panah dan ilmu tombak. mereka tidak peroleh hasil. Kwee Ceng bebal. Kali ini. Ia ingat. Dugaan ini masuk di akal. Ia tersenyum kepada Kim Hoat. Kwee Ceng berbangkit. tapi ajarannya Han Po Kie dan Lam Hie Jin tentang pokok dasar silat. orangnya tidak ketemu. Bab 11. Dalam iklim demikian. Umpamnya Tin Ok. Kanglam Liok Koay membawa barang-barang sembahyangan ke kuburannya thio A Seng. ―Tongkat Menakluk Iblis‖. baru mereka tiba. biarlah tahun lusa. rombongan ini mesti melarikan kuda mereka setengah harian. Sebab diwaktu siang mereka diajari menunggang kuda. tapi cepat sekali. maka itu untuk pergi ke kuburan. dulu ia pun ulet seprti bocah ini. Untuk itu ia dapatlah disebut. pisau tumpul kalau digosok terus bisa menjadi tajam. dalam pertandingan di Kee-hin. walaupun demikian untuk daerah di gurun pasir utara. masih ada sisa keelokannya. dari itu. malah diteruskan hingga beberapa hari. kemajuannya sedikit. lalu pai-kui. kepandaiannya Liok Koay juga turut bertambah. yang mebuat ia girang. Lam Hie Jin paling menyanyangi Kwee Ceng. akan ajari ilmu silat kepada Kwee Ceng dan Tuli yang juga diajari ilmu perang. Memanah Burung Rajawali Angin mulai reda. Sang tempo berjalan dengan pesat. yang sia-sia saja dicari. ia khawatir saudara-saudaranya bersusah hati. tapi Siauw Eng. Maka Kanglam Liok Koay perhebat pengajarannya. Lagi dua tahun akan tiba saatnya janji pibu itu. tapi Tin Ok tetap berkhawatir. Tempat kediaman bangsa Mongol tidak berketentuan. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng terkejut tapi ia dapat menangkis. lekas ia kasih turun pula! 117 ―Mari!‖ katanya seraya ia lompat dengan tangan kiri melindungi diri.

sedang ibunya Gochin. Nona itu tertawa. kurang senang dan berbareng girang. Sengaja sampai Kwee Ceng rubuh. Demikian mereka hidup rukun seperti saudara saja.‖ Gochin tertawa. tidak!‖ kata Kwee Ceng lekas. sedang serangannya Hie Jin pun dibatalkan ditengah jalan. hingga tampak nyata ialah satu nona elok dengan muka putih potongan telur dan kedua pipinya bersemu merah. ia pun bukan lain daripada Gochin Baki. ―Kau kaih ngosuhu lihat padamu!‖ ―Sie-suhu‖ yaitu guru keempat dan ―ngo-suhu‖ guru ke lima. untuk bergurau?‖ Irawan D Soedradjat Page 118 ―Mana orang yang ikut padamu?‖ kemudian tiba-tiba Tin Ok tanya si putri. yang bersama Tuli dan pemuda she Kwee ini. Kalau Kwee Ceng likat. Hie Jin tersenyum. Cu Cong dan Kim Hoat terperanjat. ―Apakah kau tidak senang aku datang?‖ tanya si nona dengan tertawa. sedang Kwee Ceng jujur dan rada tolol. meskipun disana ada enam orang lainnya. baru ia muncul untuk menggodai anak muda itu. putrinya Temuchin. tiba-tiba terdengar dua kali suara tertawa. kau layani sie-suhu berlatih. Selang beberapa jurus. Mukanya Kwee Ceng menjadi merah. nanti aku pulang…!‖ Ia bicara dengan merdeka. ilmu silat ―Tangan Arhat‖ dari guru she Han itu. Kwee Ceng luputkan dirinya. tak jadi ia pergi. dia dan ibunya sering diantarkan pakaian dan binatang ternak. si nona polos dan jenaka. dengan satu enjotan tubuh. Kwee Ceng malu. usianya tak berjauhan serta biasa mereka bergaul. ―Siapa suruh kau datang ke mari?‖ ia menegur. ―Balas menyerang. mereka tersenyum. ―Coba kau kasih lihat kebiasaanmu. pergaualan kedua anak muda itu juga tidak dilarang. ia sembunyi di antara pepohonan lebat. Selagi guru itu berbicara. Kwee Ceng dibikin terpental dan jatuh. ―Aku senang melihat kau dihajar!‖ sahutnya. selamanya si nona mengaku yang salah dan rela minta maaf. anak tolo!‖ Po Kie berseru. ia lompat bangun pula. kali ini si murid melompat mundur. Senang Cu Cong semua menyaksikan eratnya hubungan anak-anak ini. dengan mendak. guru yang keempat ini sudah menyusul dan tangan kanannya kembali menjambak pundak. Sering Kwee Ceng digoda. Hari itu Gochin tahu Kwee Ceng hendak pergi pai-bong (sembahyang kuburan).Pendekar Pemanah Rajawali Menampak itu. untuk tukar itu dengan sambaran tangan kiri ke pinggang. ―Aku datang sendirian. Gochin melengak. ia pergi dulu dengan menunggang kuda. Baru sekarang Kwee Ceng mengerti. tapi Hie Jin lebih cepat pula. tapi begitu jatuh. main bersamasama. ―Kita pulang bersama sebentar. ―Siapa?!‖ mereka tanya. Sekarang ia meninju ke dada. ―Baiklah. tidak. ia rada manja. cuma mukanya yang merah. setelah itu. yang ingat budi Kwee Ceng telah menolongi putrinya. Ia gunai ajaran Lo Han Kun. Ia sangat disayangi ayah ibunya. apakah kau kena dihajar suhu?‖ ia tanya. Ia berlaku cepat. dia dibelakangmu. ―Engko Ceng. dengan satu tolakan. Orang yang tertawa itu tidak lari. Mereka pun lompat untuk cegah jalanan orang buat lari turun. . ―Kenapa manda diserang selalu?‖ Anjuran ini diturut. hingga ia saksikan segalanya. Ia pun dapat menempur dengan seru. sampai mereka bentrok. perlakukan ia dengan baik. ―Siapa?‖ ia tanya. ynag datangnya dari pepohonan lebat disamping mereka. ia justru muncul dari tempatnya bersembunyi. ―Oh. tapi tak lama mereka akur pula.‖ Saiuw Eng menganjurkan. Masih ia tersenyum.― ―Bukannkah kakakmu pun datang. yaitu bagian Kay San Ciang-hoat. Membuka Gunung. Kwee Ceng membalas. Hie Jin segera kasih mengerti bagian kelemahannya.

Ia memberi hormat pula dan katanya: ‖Kalau tuan putri tidak pulang. Siauw Eng tidak turut saudara-saudaranya pergi. Tak mau ia menentangi ayahnya. Baru sekarang Lie Peng dapat mendugai hal putranya ini. Ia lihat itu semua. ―Aku tak mau pulang!‖ katanya sengit. ―Apakah aku yang salah?‖ tanya Gochin pada si anak muda. Ia sangka orang itu adalah kawannya si nona. Kha Khan titahkan aku menyambut. meski tidak ada soal asmara. di mana ia tinggal bersama ibunya. saudarasaudaranya menyusul. Ketika Lie Peng. sembari lari. yang dikepalai oleh satu pekhu-thio. Sebaliknya. maka itu tepat kalau ia dijodohkan sama cucunya Wang Khan…‖ Irawan D Soedradjat Page 119 . ia toh berat nanti akan berpisah sama ini anak muda. tengkorak hilang satu!‖ tiba-tiba Kim Hoat berseru. menyusul suaranya seorang lain. tongkatnya menuju ke selatan. maka ia duudk diam saja. Tadi dengar tertawanya Gochin. semuanya orang Mongolia. perlahan bicaranya. ―Ada datang utusannya Wang Khan. Si nona ulur lidahnya. ia apsang kupingnya. Kim Hoat menjelaskan semuanya kepada Tin Ok. Coan Kim Hoat pergi memeriksa. Dengan berlari-lari. pergi kau temani tuan putri pulang. Tidak senang si nona mendengar itu. Tidak lama dari itu muncul beberapa puluh penunggnag kuda. untuk memberi hormat. ―Tuan putri. Mesti baru saja orang curi itu. ia menjadi heran. ―Rupanya telah datang musuh yang lihay‖. ia lantas menjadi gusar. Kembali orang heran. dia itu lompat turun dari kudanya. ia larikan kudanya pergi menyusul saudara-saudaranya. bertanya. Wang Khan itu mengantar panjar.‖sahut Kwee Ceng. semua orang hampirkan saudara she Coan itu. Pekhu-thio itu menjadi serba salah. ―Ini bukan urusanmu. Kha Khan bakal hukum hambamu ini…‖ Gochin dijodohkan dengan Tusaga. itulah tanda penyambutan pada utusan Wang Khan. Ia lantas menghibur: ―Tuan putri benar baik sama kau. lekas susul!‖ toako ini menitah. tak senang ia menikah sama Tusaga. akhirnya ia pulang juga. Ia berduka. ―Disini tidak ada orang. Ia kata pada Kwee Ceng: ―Anak Ceng. coba lihat!‖ Tin Ok minta. ―He. tetapi kita tetap orang Han. Sekarang benar tidak ada orang disitu. Ia lantas berpikir. kaget dan curiga. keningnya mengerut. ―Disana ada tindakan kaki kuda.‖ sahut perwira itu. Memang telah lenyap sebuah tengkorak. kakak tertua.‖ Tanpa tunggu jawaban. ia tetap membungkam. pemimpin satu eskadron.‖ katanya. Melihat tuan putrinya. Kwee Ceng tidak mengantar terus sampai di tenda Temuchin.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kakak tidak datang! Benar aku datang sendirian.‖ katanya. ia terus balik ke tendanya sendiri. ―Untuk apakah?‖ tanya si putri. Itu waktu terdengar suara tetabuan. ibunya. ia tidak perhatikan. masih ada bekasnya di salju.‖ ―Liok-tee. Maka saudarasaudara yang lain pun pada mengejar ke arah selatan itu. ―Terang sekali aku dengar suaranya dua orang!‖ Tin Ok berkukuh. yang sombong dan galak itu. Dengan tongkatnya ia menunjuk ke pepohonan lebat di belakang kuburan. Ia sendiri mendahului lari turun gunung. Temuchin ingin putrinya temui si utusan. cucu Wang Khan. tapi ia erat bergaul dengan Kwee Ceng. Maka tak mau ia pulang. Gochin masih bersangsi sesaat. ―Cegat di empat penjuru!‖ seru toako ini.

tangan kirinya menyerang sikut. ia lekas serang mukanya Kwee Ceng. bakal cari padanya. ―Mau apa kau cari aku?‖ ―Kau toh Kwee Ceng?!‖ orang itu tegasi. ia putar goloknya. Maka kagetlah Kwee Ceng. tangan bajunya lebar. ―Siapa kau?‖ tanya Kwee Ceng. di antara sinar rembulan. Sebagai Biauw Ciu Si-seng. ―Untuk apakah kau mencari aku?‖ Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng menanti tidak bergeming. Ia lantas bangun. kapan tangan imam itu sudah hampir sampai pada dadanya. Lapat-lapat Kwee Ceng dengar tetabuan. ―Suhu tidak ada di sini. Ia pun dengar si imam atau tosu. tangan kanannya menyambar lengan orang itu. Ia melatih bersama Coan Kim Hoat. tidak sia-sia pengajarannya Kanglam Liok Koay selama sepuluh tahun…‖ ―Kau siapa?!‖ tegur Kwee Ceng. Kalau orang itu kena diserang. ia tidur terus sampai pulas. dan sekarang Kwee Ceng menggunai itu untuk melawan musuhnya. yang tidak gubris perkataan orang. ia bisa asah otaknya menciptakan ilmu silat itu. yang masih berjaga-jaga. habis berlatih. Setelah itu. mukanya tidak kelihatan. yang lain hendak membikin patah lengan musuh. lalu ia sinngkap tenda dengan tiba-tiba. terpaksa ia lepaskan kedua tangannya dan mencelat mundur.‖ Kwee Ceng akhirnya mau juga buka mulutnya. ia mendusin dengan terperanjat. mengatakannya dengan perlahan: ―Tak kecewa pelajarannya. Di sebelah kiri di bawah pohon ia tampak seorang berdiri diam. muridnya pulang. ―Hanya Tusaga itu kasar dan kejam. Kwee Ceng berdiam terus sampai habis bersantap malam. cuma dengan ilmu ini ia nanti sanggup layani Kiu Im Pek-kut Ciauw dari Bwee Tiauw Hong yang setiap waktu lambat atau cepat. ia mengegos ke kiri. setelah mana ia pergi ke tenda gurunya. ia bertindak ke tendanya akan menyingkap dengan hati-hati. seorang diri mana aku sanggup melawan? Bagaimana kalau musuh menerjang ke dalam tenda untuk melukai ibuku?‖ Ia ambil keputusan dengan cepat. untuk segera dupak tengkorak itu hingga mental jauh beberapa tembok. Ia dengar tanda tiga kali tepuk tangan. ia memandang ke sekitarnya. Untuk kagetnya. tanpa ampun lagi. . Kalau ia 120 ―Mari kita berlatih pula!‖ kata si imam. yang semuanya sudah pulang. ―Mana pisau belatimu yang tajam mempan besi? Mari kasih aku lihat!‖ Tiba-tiba ia melompat mencelat. Ilmu ini pun baru ia ciptakan sendiri. ia tampak satu tengkorak tepat di jalanan di muka kemahnya. tuan putri bakal bersengsara…‖ Lie Peng tahu baik hati anakanya itu. Ia lebih dulu ambil goloknya. ―Habis apa daya kita sekarang?‖ katanya. sebab tadinya ia tidak pikirkan untuk pelajarai itu. untuk lompat keluar. si Mahasiswa Tangan Lihay. sampai Kwee Ceng tidak bisa lindungi goloknya. Ia pun dapat lihat tegas lima liang pada tengkorak itu. Mereka itu sia-sia belaka menyusul penunggang kuda atau pencuri tengkorak itu. Ilmu silat ini Kwee Ceng dapatkan dari Cu Cong dan Cu Cong mengutamakan ini karena ia pikir. yang usianya delapan atau sembilanbelas tahun. Setelah itu Kwee Ceng lihat orang adalah satu imam muda yang mukanya bersih dan tampan. Adalah kira-kira tengah malam. Sebat gerakan orang itu. Untuk lindungi diri. kakinya menendang jatuh golok orang.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ibu. Ia bukannya meloloskan diri hanya menyerang. denagn menikah sama dia. menyusul mana sebelah tangannya menekan ke dada orang. bajunya gerombongan. mari turut aku?!‖. bahu kanannya mesti patah. dengan sipa sedia. Kim Hoat lantas ajari muridnya jurus-jurus dari Tiang Kun. ―Musuh datang cari musuh…‖ pikirnya. Meski begitu. Tapi ia sempat berkelit. Ia pun terus menyerang tanpa tunda kata-katanya itu. untuk naik pembaringan tanpa salin pakaian lagi. sampai di sisi anak si muda. ―Habis kau mau apa?!‖ tanya Kwee Ceng. Inilah jurus ―Orang-orang patah bahunya‖ salah satu dari jurus ilmu silat. Orang itu terperanjat. terlepas sambungan sikutnya. untuk membebaskan diri. dia masih merasa sakit terkena sambaran anginnya serangan lawan itu. aku bukan pikiran itu. Dia cuma kata: ―Kalau kau berani. ia menghela napas. ―Membagi urat memisah Tulang‖. tangan kirinya menyambar lengan si imam dan tangan kanannya menyambar ke batang leher. Dia bicara dalam bahasa Tionghoa. Itu bukan dandanan orang Mongolia.

Ia kata: ―Teecu In Cie Peng. sudah terlambat. Tanpa sangsi. meskipun ia telah diperingatkan.‖ kata Kwa Tin Ok. ia tampak keenam suhunya itu telah hadir semua. Disaat kewalahan. Karena ini. ia mulai menyerang di bawah. ―Mari kita bicara di dalam. menuruti petunjuknya Po Kie. lantas saja si imam berbalik terdesak. ia angsurkan kepada enam manusia aneh itu – tegasnya kepada Cu Cong. karena ia pikir: ―Kalau kau datang dengan maksud baik. gurunya yang ketiga yaitu Han Po Kie. tidak tempo lagi. ia lantas kurung diri dengan rapat. tubuhnya itu jatuh celentang. mereka tidak mengulurkan tangan untuk mengasih bangun. sampai ia lihat lawannya terhuyung. ia juga tidak menunjukkan tanda hendak menerobos keluar dari kurungan. Saking gesitnya. teecu datang untuk memujikan suhu semua sehat-sehat!‖ Lantas ia berlutut untuk mengangguk-angguk. Ia lantas menggeser ke kanan untuk terus menoleh. dia titahkan teecu datang kemari untuk menghanturkan banyak-banyak terima kasih‖. dan ini terlihat tegas oleh Kanglam Liok Koay. Syukur kuda-kudanya kuat dan tendangan tak hebat. Ia memberitahu bahwa pada sembilan tahun yang lalu ia telah berhasil mencari turunan Yo Tiat Sim. Ia hendak maju pula tetapi ke enam gurunya sudah mulai kurung si imam muda. Ia sampai tidak menyangka bahwa musuhnya bakal menggunai akal. kaki kanannya kena dicekal lawan. Jurus ini oleh Cu Cong dengan lucu dinamakan ―Sembari tertawa dan berbicara melepaskan rahang‖. Setelah belasan jurus. Karena ini. maka itu si imam bangkit snediri untuk terus merogoh ke dalam sakunya guna menarik keluar sesampul surat. karena Siauw Eng tidur di kemahnya seorang wanita Mongolia. Kwee Ceng kurang pengalaman. hingga terpaksa ia main mundur. hingga ia menjadi terdesak. Imam itu licah gerakannya. tiba-tiba ia dengar seruan dari belakangnya: ―Serang bagian bawahannya!‖ Dengan tiba-tiba bangkitlah semangatnya Kwee Ceng. mengapa kau robohkan anak Ceng? Bukankah kau sengaja datang untuk pertunjuki pengaruh sebelum tiba saatnya bertanding?‖ Irawan D Soedradjat Page 121 Itu waktu Cu Cong telah membuka sampul dan membaca suratny. Kwee Ceng segera mengerti bahwa imam ini ada terlebih pandai daripadanya.Pendekar Pemanah Rajawali berhasil. akan copotlah batang leher si imam itu. maka itu tak ampun lagi. Saking memusatkan perhatian pada lawan. ia dapat lantas berlompat bangun dengan gerakannya ―Ikan Tambra Meletik‖. yang mana dengan kedua tangannya. melihat keringan tubuh orang. maka juga. Imam itu kenali serangan berbahaya itu. sebaliknya dengan rangkap kedua tangannya. In Cie Peng turut masuk. Untuk kegirangannya. ditambah sama kekhawatirannya akan munculnya Bwee Tiauw Hong. yang dengar suara tindakan kaki mendatangi. ia sampai tidak ketahui munculnya keenam gurunya itu. Coan Kim Hoat menyulut lilin. tempo kakinya lawan melayang. maka itu Po Kie sadarkan muridnya. Khu Cie Kee memperingatkan bahwa sepuluh tahun sudah berlalu sejak perpisahan mereka di Kanglam dan dia turut berduka cita atas meninggalnya Thio A Seng. Cie Peng mengerti orang hidup bukan main sederhananya. Keinsyafan ini. membuat hatinya gentar. atas titah guruku Tiang Cun Cu Khu Totiang. ―Awas!‖ teriak po Kie dan Siauw Eng yang terkejut. terus disempar. ia menjura ketika ia mulai berkata: ―Suhu berlima banyak cape! Guruku sangat bersyukur. Tenda itu berperabot buruk. Cu Cong berenam bersangsi. tetapi lemah bagian bawahnya. hingga ia merasakan sakit sekali. kedua kakinya saling sambar dengan tipunya Lian-hoan Wan-yoh-twie – kaki Burung Wanyoh Berantai. tidak terluka. Melihat itu. ia bebaskan diri pula. Kwee Ceng merangsak maju. hingga ia menduga kepada serdadu peronda bangsa Monglia. Tosu itu tidak bersiap untuk memberikan perlawanan. Segera. yang dapat bergerak-gerak dengan pesat sekali. . ―Hm!‖ Tin Ok perdengarkan suara tawar. ia memberi hormat kepada Kanglam Liok Koay. tubuhnya melayang. dengan suara keras. Ia kenali suaranya sam-suhu. Di situ Cu Cong tinggal berlima. kempolan kanannya kena didupak. ia cuma terhuyung.

Cie Peng memberi hormat lagi sekali. satu sutee. perjanjian di Cui Sian Lauw tidak bakal digagalkan. Coba ia lari tanpa sebat tengkorak.‖ kata Cu Cong akhirnya. Cie Peng geraki kedua tangannya. Setibanya di Mongolia.‖ bilang Tin Ok. ―Dialah kakak seperguruanku. Kwee Ceng kalah oleh In Cie Peng. Bilang bahwa kami tidak usah membalas dengan surat. yang tersebar luas di seluruh negara. Cie Peng tidak segera menemui Kanglam Liok Koay. dan hal sekarang mereka berdiam di padang gurun ini…. Cie Kee begitu cepat menemui nyonya itu serta anaknya. walaupun ia tidak bermaksud jahat. tetapi ia diperogoki oleh Tin Ok dan kabur. ―Imam cilik itu tak tahu adat. hal kematiannya Thio A Seng. baharu ia bisa merayap bangun. ia bermaksud baik. hanya ia mencuri lihat Kwee Ceng berlatih. ―Walaupun usiaku lebih tua. disaat bunga-bunga mekar. Saking kaget. kakakku itu mendahului dua tahun. jadi dia tidak usah khawatir suatu apa pun. Mendadak orang she Kwa ini berseru: ―Kau pun jumpalitan!‖ dan tangan kirinya menyambar ujung baju orang di betulan dada. ia dipesan untuk sekalian selidiki Kwee Ceng. Inilah hebatnya. ―Benar. Ia diperintah gurunya pergi ke utara untuk menyampaikan surat. Tak sangka ia bakal ditanyakan tentang tengkorak itu. Tin Ok angkat tubuh orang dan membanting. Tin Ok antar orang sampai di muka tenda. malah ia menguntit juga orang pay-bong terhadap Thio A Seng hingga ia saksikan semuanya. apa perlunya kau ambil itu tengkorak manusia!‖ Tin Ok tanya pula. tidak nanti ia menerbitkan kecurigaan. teecu tidak tahu-menahu…‖ ―Hm!‖ bersuara Tin Ok yang terus berdiam. bagaimana pula ia dapat melayani Yo Kang.‖ sahut Cie Peng. Cie Peng jadi jengah..‖ jawab Cie Peng.‖ sahut pula tosu she In itu. hingga ia berdiam saja. Coan Cin Kauw banyak pengikutnya. tetapi muridnya ini menyeleweng sedikit.‖ Cie Peng likat. untuk membebaskan diri.‖ Dingin hatinya Kanglam Cit Koay mendengar keterangan itu. maka jatuhlah ia dengan hebat. ―Ach ya. Kali ini ia membangkitkan amarahnya tetuanya Liok Koay. ―Sekarang kau sampaikanlah kepada gurumu itu. bebokongnya sakit. suaranya dingin. ―Memang ini tulisannya Khu Totiang. Mereka sendiri menemui Kwee Ceng secara kebetulan. yang berkhawatir oleh sikap orang. Tin Ok semua terperanjat. Cie Peng berdiam. tentang sifatnya dan ilmu silatnya. Tentang Hek Hong Siang Sat dan Kiu Im Pek-ku Jiauw. yang ia lihat aneh. benar-benar sulit. sampai sekian lama. tak ada maksud lainnya. di tepi sungai Onon. Sebaliknya. Tidak diayana. ―Anak turunan she Yo itu bernama Yo Kang?‖ Tin Ok bertanya. tepat toako ajaradat padanya. Khu Cie Kee ketahui jelas tentang mereka. Khu Cie Kee memperhatikan putra sahabatnya. Irawan D Soedradjat Page 122 . Surat itu diakhir dengan pemberitahuan bahwa lagi dua tahun. ―Apakah barusan kau layani dia untuk mencoba-coba?‖ Tin Ok tanya pula.‖ kata Po Kie. tetapi buat cari satu nyonya yang lenyap. ―Walaupun Kanglam Liok Koay tidak punya guna. ―Atau kau tertawakan Kanglam Cit Koay yang satu diantaranya terbinasa di bawah cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw?‖ Baharu Cie Peng menjawab: ―Teecu ambil tengkorak itu untuk dibuat main. ―Teecu tidak berani. sang suheng? Pula heran. mereka berdua pihak bakal bertemu pula di Cui Sian lauw di Kee-hin. ―Teecu memohon diri. untuk dengan terpincang-pincang ngeloyor pergi….Pendekar Pemanah Rajawali Mengetahui ini. ―Dia toh adik seperguruanmu?‖ Tin Ok menegaskan. dia Cuma akan jungkir balik. hal mereka dapatkan Kwee Ceng. diwaktu memasuki perguruan.‖ katanya kemudian. coba dia diam saja. mereka sendiri tidak tahu suatu apa perihal imam itu! Inilah tanda mereka sudah berada di bawah angin. ―Apakah kau ada punya hubungan sama Hek Hong Siang Sat?‖ tanya Tin Ok sebab orang diam saja.

sieko. ―Sudahlah. Kwee Ceng jujur. ia membuatnya semakin banyak kesalahan. ia mengangguk. mari lekas. apa boleh buat….‖ Kwee Ceng bilang. Untuk itu perlu orang berlompat tinggi dan jumpalitan. Ia menjadi masgul sekali.‖ Cu Cong semua gegutan. Mereka khawatir kalah berlomba dengan Khu Cie Kee menampak kemajuannya In Cie Peng itu. ―Bukankah sama kalau sebentar kau menceritakannya kepadaku?‖ . kau tidak mau pergi. ―Ya. malah makin didesak. ―Aku todak tahu. yang lambat kesadarannya. Ia sangsi apa Kwee Ceng dapat wariskan kepandaiannya itu dengan sempurna. maka itu. ―Besok akan aku ajarkan kau senjata rahasia. Semua saudaranya mengerti kedukaan toako ini. ia berduka sekali. hingga ia berdiri menjublak. baik pun yang berbahaya.‖ sahut Kwee Ceng. ia dengar teriakannya putri Gochin: ―Engko Ceng. ia gagal senantiasa. ―Mari lekas lihat!‖. ia memanggil-manggil. Adalah kehendak mereka agar si murid maju cepat. ―Mari lekas lihat!‖ sahut putri Temuchin itu. ―Kita bertujuh saudara sudah puas berkelana. ―Sekarang pergilah kau pulang dan tidur. mereka turut masgul pula.‖ Siauw Eng bilang. Tin Ok menghela napas pula perlahan.‖ kata Hie Jin kemudian. Senjata itu adalah senjata rahasia istimewa penjaga diri sejak si kakak tak dapat melihat matahari. tapi sekarang hendak siturunkan kepada murid ini.‖ Kwee Ceng beritahu. Akhirnya si putri menjadi tidak sabaran. mengasih lihat roma cemas bernareng gembira. rajawalai yang hitam yang menang atau yang putih…‖ 123 ―Pergi kau kembali dan melihatnya sendiri. semakin rajin guru ini mengajari muridnya.‖ Siauw Eng ajari muridnya itu. ia masih berdiam tatkala dari belakang. dengan lemparkan pedangnya. ―Aku sendiri sampai tidak melihat. habis itu baharu ia mengundurkan diri.‖ katanya pada Kwee Ceng. hingga ia berlinang air mata. apa pula Kwee Ceng yang bebal itu. ―Anak Ceng. Siauw Eng menjadi sangat berduka. ia mejadi sangat menyesal. ia tinggalkan muridnya. tapi gurunya berjalan terus. banyak pengalaman kita. Itu pagi Siauw Eng ajari Kwee Ceng ilmu pedang Wat Lie Kiam dijurus keempat yang bernama ―Di cabang pohong menyerang lutung putih‖. selama tujuh atau delapan kali. pula tak pernah diwariskan kepada lain orang. ―Apakah kau tidak dapat melatih dengan baik dan kembali dimarahin gurumu?‖ dia tanya. selang sesaat ia menghela napas. karena aku datang untuk mengajak kau!‖ katanya. Murid ini mencoba berlompat. ia menjadi gelisah menampak guru-gurunya mulai perlihat roman tidak puas. Ia tahu semua gurunya ingin ia maju. ―Benar. ia tampak putri itu yang duduk di atas seekor kuda. Akan tetapi sulit bagi mereka untuk mewujudkan kehendak itu. Kwee Ceng mengucap terima kasih sambil berlutut dan mengangguk. ia kasih moyong mulutnya. ―Hebat pertarungan itu!‖ ia kata pula mendesak. ia lenyap kegembiraannya. Hebat senjata rahasia tok-leng dari kakaknya ini.Pendekar Pemanah Rajawali Tin Ok berdiam. lekas menghanturkan terima kasih kepada toa-suhu. percuma gurunya ajari ia mesti begini mesti begitu. Kwee Ceng terperanjat. ―Kalau tetap kau tidak hendak pergi melihat. tak pernah dipakai kecuali disaat genting. selanjutnya kau jangan pedulikan aku lagi!‖ Irawan D Soedradjat Page Gochin lompat turun dari kudanya. kita belum pernah mengkerat atau mundur!‖ Tin Ok mengangguk. ―Ada apa?‖ ia tanya. aku juga tidak mau pergi…‖ bilangnya sambil cemberut. Semenjak itu. Sekalipun seorang yang berotak cemerlang ada sulit untuk dibikin maju dalam tempo yang pendek. Putri itu tertawa. ―Aku tidak mau. ia menyusul. Putri itu masih tertawa. ―Banyak burung rajawali lagi bertarung!‖ ―Aku lagi berlatih. mari lekas!‖ Kapan ini bocah menoleh. Ia ingat perlakuannya Siauw Eng barusan.

tiga ekor si hitam lantas kabur. Tuli pun mencoba. orang banyak hendak bubaran. masih kau tidak mau memanah?‖ tanya Gochin sambil menangis. sudah enam atau tujuh ekor si hitam yang mampus…‖ Mendengar itu. kira-kira sepuluh ekor musuhnya itu masih menyerbu terus. Seekor rajawali hitam yang tubuhnya lebih besar daripada yang lainnya. semua penonton bersorak-sorai. hampir setiap hari mereka tampak sepasang burung rajawali putih itu. yang menyaksikan siasat perang si hitam. Putra itu menurut. lekas panah!‖ ia teriaki ayahnya. sulit untuk mengenai mereka. lekas berbalik! Bagus! Bagus! Kejar padanya! Kejar!‖ Lagi dua ekor rajawali hitam jatuh mati. tetapi akhirnya ia jatuh karena luka-lukanya. tinggal lagi tiga. kena disambarnya. Pun burung itu dapat menyampok anak panah. di udara terdengar riuh suara burung tadi. ―Siapa yang dapat memanah burung itu. Habis itu. Sering Kwee Ceng. Sudah begitu. Rajawali putih lebih besar dan patuknya terlebih kuat. Hebat si putih. maka itu tidak heran kalau sekrang mereka mengharapi kemenangannya si putih hingga mereka berteriak-teriak menganjuri si putih itu. terhadap burung itu mereka mendapat kesan yang baik. yang rubuh terbinasa dengan segera. Panglima-panglima Teuchin lantas turut memanah. Setelah itu. ia akan mendapat hadiah!‖ Temuchin berseru. yang masih bertempur dengan seru. justru itu. Demikian seekor musuhnya yang terlambat berkelit. Temuchin sebaliknya berkata kepada Ogotai dan Tuli: ―Si rajawali hitam menang perang. dan ia juga berhasil merubuhkan seekor. semua sisa burung rajawali hitam itu terbang kabur. ada musuh. malah Temuchin yang mendengar kabar itu juga turut muncul. Tuli dan Gochin menjadi kaget dan cemas. lalu tertampak belasan si hitam terbang kembali. buat diajak naik bersama ke atas kudanya itu. hebat setiap patukan dan cengkeramannya. Gochin dan Tuli main-main bersama di lembah itu. ―Benar! Kawanan si hitam banyak tapi si putih lihay. malah Gochin lantas menangis.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah itu sepasang rajawali putih yang besar yang berkelahi?‖ Kwee Ceng tanya. ia merubuhkan seekor rajawali hitam itu. Sebentar saja sudah bnayak penduduk yang datang melihat pertempuran rajawali itu. lalu anak panahnya nancap di badannya seekor rajawali hitam itu. lantas berbunyi berulang-ulang. mereka itu menggunai siasat. terus ia menarik. Ia datang dengan mengajak Ogotai dan Tuli. ―Mari!‖ katanya. Kata mereka itu saling ganti: ―Hayo putih. ―Ayah. Temuchin tertawa. Irawan D Soedradjat Page 124 . satu si putih mengejar. dai liang itu tertampak munculnya dua kepala anak rajawali putih yang mencoba membuat perlawanan. dia melawan sebisanya. lalu bangkainya jatuh di depan Gochin. menerjang si putih yang lagi berdiri sambil merapikan bulunya. bulunya yang putih ternodai dengan darahnya yang merah. ―Coba kau memanah!‖ kata Temuchin seraya menyerahkan panahnya kepada Ogotai. Menampak itu. Habis pertarungan itu. tetapi burung-burung hitam itu sudah terbang tinggi. ke jurang. lalu kira-kira sepuluh kawannya terbang pergi. kawanan si hitam terbang ke arah sebelah liang di atas jurang. hati Kwee Ceng tertarik juga. maka ingatlah kamu!‖ Dua putra itu mengangguk Habis membunuh si putih. ―Ayah. Riuh tempik sorak memuji Khan yang besar itu. guna kabur ke kaki lembah di mana terlihat belasan ekor rajawali hitam tengah mengurung dan menyerang rajawali putih. dan ia tarik tangan si tuan putri. ―Bagus!‖ berseru Temuchin. patuk padanya! Awas di kiri. hingga sayap mereka pada rontok berhamburan. tetapi sepasang rajawali putih juga telah mendapat luka. segera ia siapkan panahnya. ia memanah. Kwee Ceng bertiga. dia matikan satu musuhnya.

―Ser!‖ demikian anak panah menyambar. sia-sia ia mencoba berkelit. ia lari kepada Temuchin. jangan takut!‖ Kwee Ceng perdengarkan suara perlahan. gurunya itu. lebar panjangnya sampai setombak lebih. Itulah yang dibilang. ayah hendak menghadiahkan dia apakah?‖ ―Apa pun boleh!‖ sahut ayahnya itu. itulah hebat! Temuchin suruh pengiringnya ambil burung itu. dengan tangan kiri memegang busur dan tangan kanan mencekal anak panah berikut talinya. ia dekati Kwee Ceng untuk menyerahkan panahnya itu.― sahut Kwee Ceng yang tidak hendak mensia-siakan Jebe. ―Kau menghendaki apa?‖ Tuli girang sekali. dengan kedua kakinya ia berlutut di depan kudanya khan yang besar itu. karena setelah sepuluh tahun berguru kepada Kanglam Liok Koay. ia menjadi girang sekali. sekali memanah dua ekor burung. Semua orang mengawasi Kwee Ceng. ia dapat cekuk seekor kuda kecil atau kambing besar. sekarang saudaraku ini memanah sekaligus dua ekor. kalau sepasang sayapnya direntangkan. ―Khan yang agung telah perlakukan aku begini baik. ia mengincar. Seumurnya Temuchin paling menyukai panglima yang gagah perkasa dan orang kosen. ―Apakah aku dapat mendustai anak-anak?‖ ayahnya itu tertawa. ―Kau berlutut! Kau panah lehernya burung itu!‖ ia menyuruh dengan suara perlahan. ia tekuk sebelah kakinya. ia lantas menarik hingga busur itu. orang banyak bersorak dengan pujiannya. siapa yang berhasil memanah. ia turunkan panahnya. sisa burung yang lainnya terbang kabur. burung rajawali ada besar luar biasa. apakah yang kau kehendaki? Kau sebutkan saja. ―Jebe‖ itu berarti ―ahli panah yang lihay atau dewa panah‖ Tuli hendak bantu adik angkatnya itu. kau hebat!‖ ia kata pada si bocah. ―Anak yang baik. ibuku pun telah punyakan segala apa. ―Ayah tadi bilang. Dan karena ini. di depan siapa ia etkuk sebuah lututnya. yang terus tanya Kwee Ceng. Menampak itu. Busur itu beratnya dua ratus kati tapi ia dapat menariknya. semabri menarik.‖ berkata Kwee Ceng dengan jawabannya. Temuchin tertawa pula. Kwee Ceng sambuti panah itu. ―Gurunya Jebe. malah adakalanya harimau atau macan tutul pun mesti lari dari burung ini. karena itu tidak usahlah aku diberikan apa-apa lagi. datangnya dari arah kiri. ―Benarkah barang apa pun boleh?‖ ia tegaskan ayahnya.Pendekar Pemanah Rajawali Jebe si Jago Panah berdiri di samping Temuchin. Sekarang bocah ini bisa memanah sekaligus dua ekor. Temuchin tertawa lebar. tidak lagi berputaran di atas jurang. menarik habis hingga busur itu melengkung sepenuhnya. dan seekor rajawali rubuh. ―Kau sendiri. ―Kau anak yang berbakti. Justru itu dua ekor burung rajawali hitam terbang beredeng. tenaganya menjadi besar sekali. bulu sayapnya pun kuat seumpama besi. aku hendak mewakilkan seseorang mohon suatu hal…‖ Irawan D Soedradjat Page 125 . Tapi anak panah itu tembus. Di dalam bahasa Mongol. dalam segala hal kau lebih dulu ingat ibumu!‖ katanya. ia memungut dua bangkai burung itu. untuk di utara ini. ia berniat pertontonkan ilmu panahnya Kwee Ceng. terus menyambar perutnya rajawali yang kedua. Si anak muda menurut. yang jadi rubuh bersama di sampingnya si tukang panah. Ingin mereka mengetahui apa yang si bocah bakal minta. sebab heran mereka atas sikapnya Khan mereka itu. Ia berkata: ―Aku sendiri tidak menghendaki apa-apa. ia kata kepada ayahnya. Tepat ia terpanah batang lehernya. ―Inilah guruku yang mengajari. sekarang ia saksikan Kwee Ceng serta sikapnya itu. Tidak tempo lagi. Kwee Ceng menarik tangan kanannya. ―Serahkan burung itu kepada ayahku!‖ Gochin berbisik di kupingnya Kwee Ceng. Harus diketahui. kapan ia menyambar ke bawah. kedua tangannya diangkat tinggi. atau tangannya menjadi melengkung. dia bakal dihadiahkan sesuatu. muridnya juga Jebe!‖ pujinya. untuk persembahkan burung itu.

―Sungguh ucapan kanak-kanak!‖ katanya. Kwee Ceng menhanturkan terima kasih. lihat bagaimana harus dikasihani burung itu…‖ berkata Gochin. ia timpuki itu kepada si anak muda.‖ ia berkata. agaknya ia terkejut. engko Ceng. hingga ia bermandikan keringat. agaknya mereka sangat ketarik hati. Irawan D Soedradjat Page 126 .Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah itu?‖ tanya Temuchin. Ia tidak ganggu Kwee Ceng. yang menyatakan entah berapa banyak korban yang telah dimakan. Ia lantas terbang berputaran. ―Tusaga. ia sudah lantas ketahui kebinasaan pasangannya. ―Mana dapat. ―Musuh-musuhku tak usahlah aku sendiri yang membunuhnya. ia sodorkan itu pada si bocah. aku tidak punya waktu untuk temani kau berbicara. menyusul mana segera terdengar suara yang keras tetapi agak hebat dari si rajawali putih besar yang terbang datnag. ia sendiri terus berlatih. hatinya menjadi lemah. Kwee Ceng bersuara perlahan. Temuchin berkata. tidak nanti ia serahkan goloknya itu. Dialah burung tadi. ia berkata: ―Sudah. lalu akhirnya ia tertawa terbahak. lalu ia tampak Gochin lari mendatangi dengan kudanya. ia sambuti golok itu. mendadak Gochin menangis. ia dengar suara berkelengannya kuda. Terus ia putar kudanya. sampai satu kali ia angkat kepalanya. bunyinya: ―Membunuh musuh dan memusnahkan musuh bagai menyembelih harimau dan kambing‖. Semua panglima menjadi kagum dan memuji. yang mengejar kawanan burung hitam itu. Pada golok itu berpeta tanda darah. maka itu aku mohon denagn sangat supaya janganlah tuan putri dijodohkan dengan dia itu‖ sambungnya kemudian. hanya ia menontoni. ia masuki ke dalam sarungnya. terus ia lompat naik atas kudanya yang lantsa kasih kabur! Temuchin keras bagaikan berhati besi akan tetapi menyaksikan putrinya yang paling ia sayangi itu begitu bersusah hati. Melengak Temuchin mendengar permintaan itu. sebelah tangannya dipakai untuk menunjang kepalanya. Gochin terus mengawasi. hendak aku menghadiahkan kau serupa mustika!‖ Ia loloskan golok pendek di pinggangnya. dibelakang hari mestinya tuan putri menderita. kaulah yang mewakilkan aku membunuh mereka!‖ Belum lagi Kwee Ceng sahuti si khan itu. dimana ada terukir pula katakata: ―Golok pribadi dari Khan Temuchin‖. Semua panglima dan pangeran mengikuti dari jauh-jauh. yang sarungnya terbuat dari emas dan gagang golok berukirkan emas berkepala harimau. Di sebelah itu masih ada ukiran dua baris kata-kata. yangs seperti mendatangkan hawa dingin adem. tetapi ia antap sapu tangan jatuh di sampingnya. mari beristirahat!‖ ―Kau jangan ganggu aku.‖ kata Kwee Ceng. ia mengawasi burung itu. Ia menanti sekian lama. Tengah ia berlatih. yang lagi berlatih. Hanya ketika ia saksikan kawan itu sangat mengeluarkan tenaga. ia hunus golok pendek itu dan melihat sinarnya yang tajam. ―Kalau Putri Gochin dinikahkan dengannya. ditabur sepotong batu kumala hitam. habis membuat main itu golok. untuk pulang ke kemahnya. Baiklah. Golok pendek itu adalah goloknya khan mereka sendiri. lalu ia mengeluarkan sapu tangannya. golok mustika yang pernah dipakai membinasakan bnayak musuh. ia dengar suara berisik dari kedua anak burung rajawali putih di atas tebing. ia malah makin gagal. suaranya sedih. Gochin berdiam. jangan berlatih terus. buat terus rebahkan diri di atas rumput. Kemudian ia cabut pedangnya sendiri. ―Kau sustlah peluhmu!‖ katanya. Kwee Ceng tunggu sampai orang sudah pergi semua. Ia menahan sabar. Dia rupanya bermata tajam. untuk melatih Wat Lie Kiam-hoat. maka juga ie menghela napas. Putri itu tiba untuk terus lompat turun dari kudanya. Coba tidak khan itu telah melepas kata. ai mencoba pula. ―Engko Ceng. cucunya Wang Khan itu busuk dan jahat. kau anak kecil. Kalau ia tidak melompat terlalu rendah ia tentu tak keburu menggerakkan pedangnya. yang kedua ujungnya ia gumpal masing-masing sesudah mana. Kwee Ceng berhenti berlatih. Ia masih tidak berhasil menyempurnakan jurus ―Di cabang pohon menyerang lutung putih‖. yang rupanya baharu kembali. lalu ia tertawa mengawasi kawannya itu.

Ia pun sudah lantas menoleh pula. Mereka kagum. Ia pegang pula pedangnya dan mulai lagi denagn latihannya. tujuannya ke jurang. Ia masih saja tidak berhasil melatih jurus keempat yang bau diajari gurunya itu. Belum berhenti suaranya Gochin. Irawan D Soedradjat Page ―Bagaimana?‖ tanya Gochin yang memeramkan matanya. maka itu. hanya mendadak ia maju mendekati. untuk bersiap melindungi putri ini. sedang jubahnya bersih sekali. beroman sebagai huruf ―pin‖. baru ia buka suara. belum ia menginsyafi gayanya. ia tertawa. dan segera ia berkata: ―Bagaimana dengan kedua anak burung itu? Bapak dan ibunya telah mati…‖ Sarang di liang di atas tebing itu sukar dipanjat orang. tidak ada abunya sedikit juga. ia berkhawatir untuk Gochin. kedua burung itu masih kecil. lalu Kwee Ceng merasai bahunya kaku. maka di detik lain. . ―Sungguh harus dihormati! Sungguh harus dihormati!‖ tiba-tiba mereka dengar satu suara nyaring di belakang mereka. hingga tahu-tahu ia sudah jalankan jurus yang Kwee Ceng tak sanggup pelajari itu. lekas-lekas keduanya berpaling. ―Dengan belajar secara demikian. ―Apa katamu?‖ ia tanya. Untuk sejenak itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pasti ia sangat berduka. keduanya kadi terdiam. ilmu dengna tangan kosong merampas senjata musuh. Gochin tidak mengerti bahasa itu. Maka segera ia melompat ke depan tuan putri itu. ―Burung rajawali putih itu harus dihormati.‖ sahut si engko Ceng itu. turunannya pun tak boleh tak ditolongi!‖ ia berkata. Mana bisa ia membela diri atau berkelit? Berbareng dengan itu. hingga mereka menjadi heran.? Bab 12. gerakan siapa ia sepertinya tidak melihatnya. ―Kecuali orang bersayap dan dapat terbang naik ke atas sana. ia hunus golok hadiahnya Temuchin. Bocah ini berdiri melengak. lalu dengan satu kelebatan. Ia menjadi tidak senang. terus ia terbang ke atas seprti memasuki mega. di dekat liang yang merupakan sarang burung rajawali putih itu. akan tetapi ia belum dapat menyakinkan itu dengan sempurnya. hanya ia mencelat ke atas. atau tahu-tahu ia telah serbu batu gunung yang besar. Pernah Kwee Ceng diajari gurunya yang kedua. memandang ke atas tebing. kagum ia untuk lihaynya ini imam. burung itu sudah terbang turun pula. pedangnya telah pindah tangan kepada si imam itu. tebing dan semua batunya licin. Tiba-tiba terdengar suara dingin di belakangnya. yang tidak pedulikan sikpa orang. ia sudah roboh dengan tidak bernyawa lagi! Dua-dua Kwee Ceng dan Gochin terkejut sekali. yang berkumis abu-abu tetapi mukanya merah dadu. Mereka menjerit dan sama-sama mencelat. ―Mau apa ia terbang ke atas?‖ tanya tuan putri itu. lagi seratus tahun juga tidak bakal berhasil!‖ Kwee Ceng berhenti bersilat. menjambret dan merembet dengan tangan. sedang turunnya si imam adalah sangat cepat tetapi tenang. tidak biasanya untuk orang yang berada di gurun pasir. Ia berlari dengan kaki. gerakannya bagai lutung atau kera. belum bisa terbang. Cu Cong. Di atas tebing itu si imam tampak menjadi kecil tubuhnya. ―Liaht biar tegas!‖ bersuara si imam itu. sebab ia telah mebuat tiga konde kecil di atas kepalanya. baru anak-anak burung itu dapat di tolongi…‖ katanya. Si imam lempar pedangnya ke tanah. Ia awasi imam berkonde tiga itu. setelah mana. sebentar kemudian. untuk mendaki dengan cepat. ia menoleh. Si imam tersenyum. Mereka melihat satu tosu atau imam. ia sudah mencapai hingga di atas jurang. yang aneh dandannya. yang tangannya mencekal hudtim atau kebutan pertapa. Jurang itu tinggi. cara bagaimana mereka bisa mencari makan? Bukankah mereka itu bakal mati kelaparan…. mulutnya terbuka lebar. ia lompat untuk lari ke jurang. Lagi sekali burung besar itu perdengarkan suara nyaring. Imam Berkonde Tiga Kwee Ceng menjublak sekian lama. Dan ia pun berbicara dalam bahasa Tionghoa. ia tidak menyahuti. sangat cepat. Hancur-luluhlah kalau orang jatuh dari atasnya. 127 Hati Kwee Ceng dan Gochin berdenyut keras tak hentinya. heran dan berkhawatir untuk keselamatan si imam.

Si imam konde tiga itu pungut pedangnya untuk dikembalikan kepada pemiliknya. untuk berlalu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Hampir tiba!‖ sahut Kwee Ceng. ―Burung ini kecil akan tetapi patokannya sakit sekali. bisa. ―Siang dan malam aku berlatih. entah sampai berapa puluh kali. maka itu diwaktu mengasih makannya kau mesti hati-hati.‖ sahut Gochin. jangan sampai tanganmu kena dipatuk!‖ memperingati si imam. akan tetapi sekarang akulah yang bawa dulu. ―Bisakah kamu merawat anak-anak burung ini?‖ ―Bisa. karena mana. ia berkata: ―Kalau nanti sepasang anak burung ini menjadi besar. yang pun pandai mainkan jurusnya yang sulit itu. lalu di lain pihak ia kagumi si imam ini yang demikian lihay. Bocah ini menggaruk-garuk kepalanya.‖ kata si imam. dengan itu ia ikat kakinya kedua burung itu. ―Hal itu sebenarnya sulit juga. ia mulai menangkap dua anak rajawali itu. yang merogoh keluar kedua anak burung itu. lantas ia jatuhkan diri berlutut di depan si imam dan manggut-manggut. mereka bakal menjadi sangat kuat dan galak. habis itu ia memutar tubuhnya sembari tertawa. Ia lihat si imam demikian sabar dan ramah. dilain saat. agaknya ia baru sadar. tapi biarlah aku tidak menyebutkannya. Akan tetapi si imam tiba dengan selamat. bisa!‖ sahut si putri dengan cepat seraya menyambuti. ―Eh. tetap tertawa. Kwee Ceng dan Gochin lari menghampirkan pertapa itu. seraya ia tanya Gochin. rupanya sulit ia berbicara.. ―Aku nanti ambilkan daging untuk memelihara padanya!‖ ―Eh. ia seperti menghadapi satu sanaknya yang terdekat.‖ sahut si nona. ―To…totiang. untuk apa kau pay-kui terhadapku?‖ si imam tanya. Akur?‖ Kwee Ceng mengangguk. tunggu dulu!‖ kata si imam. tetap aku gagal…‖ Kwee Ceng kata pula. Mendadak Kwee Ceng mengucurkan air mata. untuk aku memeliharanya. Dia Tiba di bawah dengan tak kalah cepatnya sewaktu ia mendaki. apakah yang kau kehendaki?‖ tanya si imam.‖ Gochin loloskan benang ikatan rambutnya. ia sudah mulai turun pula. Ia tertawa pula. Ia menjadi seperti kehilangan semangatnya. burung ini kita punyakan seorang seekor. untuk mengangsurkan. ―Aku belajar rajin dan ulet akan tetapi tetap aku tidak dapat belajar dengan sempurna hingga karenanya aku membuat keenam guruku menjadi tidak senang…‖ ―Habis. untuk kemudian dimasukkan ke dalam sakunya. yang girangnya bukan main. dan dengan ulur kedua tangannya. ―Baik. hingga susah ia membuka mulutnya. justru ia melihat si imam lompat ke liang. ―Bagus! Bagus. Irawan D Soedradjat Page 128 .‖ ―Aku tahu. Kwee Ceng bengong mengawasiu tuan putri itu. baru suka aku serahkan burung ini padamu!‖ ―Apakah itu?‖ si putri tanya. tubuhnya seperti terpelanting jatuh. ―Apakah kau ingin petunjukku?‖ imam itu tanya lagi. tertawa. ―Totiang. hingga ia menjerit kaget.‖ Si imam ini tertawa.!― Gochin kasih turun kedua tangannya. Ia kata klepada Kwee Ceng: ―Engko Ceng. ―Aku ingin kau tidak beritahu siapa juga yang aku telah mendaki jurang itu dan mengambil anak burung ini. ―Hati-hati. jangan pergi dulu…!‖ Kwee Ceng berkata. ―Kau mesti berjanji padaku satu hal. tapi Cuma sejenak. Gochin lantas lompat naik ke atas kudanya dan kabur pergi. Ia girang bukan main. ―Kenapa?‖ si imam tanya. aku ada sangat bebal…‖ ia kata kemudian.

buat dijadikan tempat injakan. lengan dan kakinya matang biru. aku nantikan kau di atas puncak. ia sekarang dapat akal.‖ kata si imam. naik tak dapat. Maka ia kertak gigi. ia merasa ngeri bukan main. Tanpa banyak pikir. Maka itu akhirnya. asal hati orang kuat!‖. Melihat orang bersungguh hati. Ia merasakan sakit pada tubuhnya. ia pun tidak berani dongak. Ia telah mesti menggunai tenaga terlalu besar. turun pun sukar! Kwee Ceng menghela napas bahna sukarnya. Tiga hari telah lewat. hingga ia menjadi babak-belur. dia sendiri yang bisa bercelaka. Po Kie mengajari lima jurus. Dan ia lari ke kaki jurang. Kwee Ceng tidak memperdulikannya. nanti selagi rembulan terang menderang. untuk dipegang. Senjata lemas itu beda darpada golok atau lainnya senjata tajam. Ia cari lubang atau sela batu.‖ pikir Kwee Ceng. ia merayap tetapi ia dapat maju setindak dengan setindak. seperti tembok yang licin. Baru ia mulai. begini saja. Kwee Ceng menjadi korban. maka terus ia berlatih lagi. sebaliknya. Saban salah menarik. ia bernapas denagn perlahan-lahan. Setahu berapa banyak liang lagi harus dibikin untuk dapat naik ke atas. ―Dia bisa mendaki. ―Mesti dapat!‖ ia keraskan hatinya. Ia ingat janjinya si imam. Ia kenali suaranya si imam konde tiga. ujungnya berdiam tepat di depannya! ―Ikat pinggangmu. mengikat keras. Ia heran. hampir cekalannya terlepas. Satu kali ia terpeleset. Tapi matanya masih mengawasi ke pundak. ―Terang dia tidak ingin mengajari aku…‖ Cuma sesaat ia berpikir pula: ―Aku toh bukannya tidak punyakan guru yang pandai? Di depan mataku toh ada enam guru yang bersungguh-sungguh mengajari aku? Dasar aku yang tolol! Apa daya sekarang? Meski totiang lihay sekali. Untuk heranya. ialah ia pakai golok pendeknya. Jalan naik lebih jauh batu melulu. Maka ia diam mendekam. untuk melihatnya. ia mulai pula mencongkel batu. hampir ia terjatuh! Kapan ia memandang ke bawah. mana dapat aku mewariskan kapandaiannya itu? Percuma aku belajar dengannya…‖ Bocah ini menjadi tawar hatinya. hingga semangatnya terbangun pula. sambil sebelah tangan terus pegangi liang batu. Benar-benar sukar ilmu cambuk itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Benar!‖ Dan Kwee Ceng mendekam pula. dengan tangan kanannya ia libat pinggangnya. ia jalan terus. kakinya tangannya lemas. setelah pesan si murid belajar terus dengan sungguh-sungguh. Lalu ia ingat pula pelajarannya. kepalanya sudah pusing. Tapi kau tidak boleh beritahukan hal ini kepada siapa juga!‖ Ia menunjuk ke puncak yang ia sebutkan. ia naik seperti merayap. sangat ayal. Ia membiarkan saja walaupun si murid lagi-lagi membuat beberapa kesalahan. dengan merasa sakit dan letih. Ia bisa naik setinggi enam atau tujuh belas tombak. Dan ia mencoba. ujung cambuk mengenai diri sendiri. Kwee Ceng menjadi bingung. sengaja totiang hendak menyulitkan aku. Irawan D Soedradjat Page 129 . kalau tenaga latihannya kurang orang tak akan terlukai kerenanya. Ia jambret setiap oyot rotan. ―Aku…aku…tidak dapat mendaki…!‖ katanya. Kepalanya dan jidatnya benjut. ―Lagi tiga hari ada bulan pertengahan. nanti aku tarik kau naik!‖ begitu suara terdengar. baru manjat dua tombak. ia meninggalkan pergi dengan menunggang kudanya. Ia baru pulang sesudah matahari turun dari gunung dan ia rasai perutnya lapar. Ia mendusin sesudah rembulan muncul. tiba-tiba ada sehelai dadung meroyot turun. mengangguk-angguk lagi. untuk mencokel batu. ia simpan goloknya. ia rebahkan diri di rumput dan kepulasan. ia tidak memperdulikannya lagi. ―Kalau begini. Tiba-tiba ia ingat perkataan gurunya yang keempat: ―Di kolong langit ini tidak ada urusan yang sukar. ia belajar terus. Si imam sudah lantas berjalan. tapi ia memandang ke atas bukit. Tiba-tiba ia menjadi girang sekali. satu kali Kwee Ceng salah menggeraki tangannya dan cambuknya mengenai kepalanya sendiri! Po Kie menjadi mendongkol. ia sentil kupingnya si murid itu. Demikian sudah terjadi. yang kepalanya telah menjelut! Kwee Ceng tutup mulut. untuk ia menindak. Sekarang. untuk mulai mendaki. Hari itu Han Po Kie ajarkan muridnya ilmu cambuk Kim-liong-pian. lenyap rasa dongkolnya Po Kie. atau mendadak ia dengar suara orang tertawa diatasnya. lalu ia berdiam. ―Aku lihat kau jujur dan bersungguh hati. guna menancap itu untuk dipakai sabagai alat pegangan. Setelah cukup beristirahat. mustahil aku tidak!‖ akhirnya ia kata dengan penasaran.

Rupanya ia tidak dengar jawabannya si bocah. Hahaha. Kenapa imam ini ketahui urusan kekelahannya itu? ―Imam itu memang daripada kau. sebenarnya sudah jarang orang Rimba Persilatan yang sepandai kau. dari itu tidak dapat aku ajarkan kau ilmu silat!‖ Kwee Ceng heran berbareng putus asa. kenaapa selama sepuluh tahun ini kemajuanmu tidak banyak? Tahukah kau sebabnya?‖ ―Itulah karena dasarku yang bebal. ini pun satu pukulan untukmu.‖ kembali si imam berkata. berdiri tepat di depannya si imam! Bukan main ia girang dan bersyukur. Akan aku ajarkan kau ilmu mengendalikan napas. Kau duduklah!‖ Dengan hati bingung.‖ Kwee Ceng menjawab. mereka pasti menjadi tidak senang. kau ada punya semangat!‖ Puncak gunung itu boleh dibilang datar. ia sebenarnya telah menggunai akal. Disamping itu kepandaian keenam gurumu tak ada dibawahan aku. aku lupa! Suaramu tidak cukup keras. ia membetot tiga kali. Kau bukannya tidak rajin belajar. aku mohon su…su…eh totiang. ―Ketujuh gurumu telah bertaruh sama orang. sudi mengajarinya. ―Kau juga bukan muridku. ―Duduklah di sana!‖ kata si imam. sudah cukup! Bagus. Hanya untuk herannya. Habis itu mendadakan ikatan pada pinggangnya menjadi keras. kau tariklah dadung ini. ―Rupanya gurumu belum memberi keterangan padamu. tak tempo lagi ia tekuk lututnya. dalam hal pertaruhan.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kau telah selesai mengikat?‖ tanya si imam dari atas. tarik tiga kali!‖ Kwee Ceng menurut. biar suhu semua bersungguh-sungguh mengajarainya. ―Itulah tidak benar seluruhnya!‖ jawab si imam dengan tertawa. anak bagus. Nanti dua tahun lagi. kau lantas merasa pelajaranmu tak ada faedahnya.‖ menerangkan si imam pula. ―Walaupun kita tidak kenal satu sama lain akan tetapi kita saling menghormati. yang mengajar tak jelas caranya dan yang belajar tak menginsyafi jalannya…‖ ―Kalau begitu. untuk ditarik. Untuk kau. Mereka adalah orang-orang terhormat. jalan dan tidur…‖ Irawan D Soedradjat Page 130 . Ia terkejut juga. sambil tertawa. ―Kau bukannya orang kaumku. Kalau kau sudah mengikat rapi.‖ kata si imam. Kesungguhan hatimu rupanya membuatnya kita berjodoh. kau ternyata keliru!‖ Kwee Ceng heran. ―Sudah atau belum?‖ tanya lagi suara di atas. akan tetapi si imam cekal tangannya. aku tidak bisa peroleh kemajuan. ―Kalau aku ajarkan kau ilmu silat dan kemudian gurumu memdapat tahu. aku bukannya gurumu.‖ Kwee Ceng bilang. ―Keenam gurumu itu semua orang-orang Rimba Persilatan kenamaan. di situ ada sebuah batu besar yang rata. Tiba-tiba ia tertawa.‖ Kwee Ceng memohon. Kwee Ceng berduduk. ―Biar teecu nerdiri saja menemani suhu. mereka akan memberitahukannya padamu. sekarang baiklah kau tidak usah menanyakan. ia tidak terlalu berkhawatir. kau sudah bisa tonjolkan diri di muka umum. imam itu berkata: ―Kemarin kau telah pay-kui padaku seratus kali. ―Inilah dia yang dibilang. lantas kau dijatuhkan si imam muda.‖ berkata si imam. asal kau dapat pelajarakn kepandaian satu saja dari enam gurumu itu.‖ kata si imam. hingga terlepaslah pegangannya pada batu dan injakan kakinya juga. guna menghanturkan terima kasihnya. untuk pay-kui. duduk. ―Kau baru belajar silat. ―Coba kamu bertempur secara biasa. tak sampai ke atas sini. Sekarang begini saja. baru ia terangkat naik. ―Bicaranya tentang umumnya ilmu silat. lalu menambahkan: ―Ah. karena itu. belum tentu ia dapat menangkan kau. segera tubuhnya terangkat. tiba-tiba ia sudah sampai di atas. mana mereka mau berlaku curang?‖ ―Pertaruhan apakah itu totiang?‖ tanya Kwee Ceng. ―Sudah!‖ sahut si bocah. tetapi sebab tahu ia lagi diangkat naik. yang penuh dengan salju. sudah cukup.

ia rasai tubuhnya jadi ringan sekali dan gesit. hawa berjalan. da ia kerek turun tubuh bocah itu. Irawan D Soedradjat Page 131 . Baru semua kuda dapat dibikin tenang dan berkumpul. ―Begitu aku terlahir. Nah. orang mesti kosongkan otaknya.‖ katanya. baru di bagian yang licin.‖ Kwee Ceng menurut. Kwee Ceng rasai ia dapat mendaki jurang lebih tinggi dan lebih gampang. dari itu mari kau coba-coba.?‖ pikirnya. semangat jangan goncang. aku hampir bisa semua itu sendirinya. Ia melainkan tahu itu berarti: ―Pikiran tenang. Maka itu. Imam itu berkata pula.‖ Kwee Ceng mengangguk. Hie Jin kata pada muridnya: ―Anak Ceng. Satu tahun telah berlalu dengan cepat. Ia lantas turut pergi ke tempat berlatih. toh kapan di waktu siang ia berlatih silat. tempo akhirnya ia sadar. mereka girang sekali. setiap hari mereka omongkan hal pibu dan bakal pulang itu. selama ini kau belajar mainkan senjata saja. jalan dan tidur. Kwee Ceng menurut. duduk. im hapus. ―Kau tidur di situ. Kawanan penggembala itu menjadi dongkol. tetapi ia tak tahu apa artinya yang sebenarnya. napas kasih jalan perlahan-lahan. ―Untuk tidur caramu ini.‖ lantjutnya kemudian. Si imam mengawasi.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng heran bukan main. kuda itu lari pula ke utara dan lenyap. si imam kerek padanya. yang lari larat. barulah naik pembaringan dan rebah miring. Si imam bersila di depan orang. Tee hie cek kie oen. hati mati. untuk ia belajar napas. Kwee Ceng menurut pula.‖ Lantas si imam mengajari caranya napas disedot masuk dan keluar sambil bersemadhi. ia coba lupai segala apa. Kwee Ceng menurutm ia mencoba. mungkin kau kurang leluasa dengan tangan kosongmu. Itulah segerombolan kuda. Kwee Ceng menjadi semakin heran. Mereka menyangka kemajuan muridnya ini berkat kerajinan dan keuletannya. Selang setengah tahun. perasaan terlupa. ―Sekarang kau pulang. kau ingat baik-baik. ia rasai kaki dan tangannya kaku dan kesmutan. Kanglam Liok Koay lihat itu kemajuan. Ia ingati terus. ―Sekarang duduklah dan mulai!‖ katanya pula. Kanglam Liok Koay merasa gembira. rupanya ia puas sudah mengacau itu…. ia lantas dapat lakukan apa-apa yang tadinya ia tidak sanggup lakukan. ―Ilmu bernapas. Perlu apa kau mengajarinya pula…?‖ Ia tapinya tutup mulut. yang kerek ia naik. lalu berdiri diam di tempat jauh seraya perdengarkan meringkiknya berulang-ulang. tetapi tak dapat karena kuda itu lari kabur. Pada suatu pagi. maka lagi beberapa bulan akan tibalah saat pibu. tapi mereka tidak bisa suatu apa. fajar sudah menyingsing. mendadak dari arah barat datang seekor kuda kecil merah marong. selang satu jam. hingga kuda ini menjadi kacau pula. Lama-lama ia menjadi tenang juga. Mulanya. Lekas ia merasakan suatu keanehan. dan si penggembala. Sim soe cek cin hoat. Mereka percaya muridnya bakal menang. menggigit dan menyentil. maka seterusnya setiap malam ia datang pada si imam. menerangkan: ―Sebelumnya tidur. tubuh kosong. begini. semangat hidup. ―Sekarang kau rebahlah. jangan ngawur. jangan pikir suatu apa juga. ―Aku ada punya empat perkataan. Setelah itu. buka matanya. tetapi ia lawan itu. kembali ia mengacau rombongan kuda tadi.‖ kata si imam. tetapi ia menurut. yang bangun. repot mengendalikan. sebentar malam datang pula. ―Kau singkirkan salju di atas batu itu. kau mesti bernapas. Ia rebah hingga ia tidur kepulasan tanpa merasa. Si imam tidak ajari ia ilmu lainnya. kuda itu menyerbu ke rombongan kuda banyak itu. ia ingat itu dan mengulanginya sampai beberapa kali. duduk. ada saja yang ia ingat. Inilah dia: Sue teng cek ceng bong. orang-orang Mongol. Mereka juga girang akan lekas kembali ke Kanglam. Hanya. Mereka hendak tangkap kuda merah itu. Hie in sedang hendak mulai berlatih sama muridnya itu tempo kelihatan debu mengepul jauh di sebelah depan dan terdengar berisik suara kuda dan orang.‖ kata si imam. tidur dan jalan. Yang seng cek im siauw. denagn kedua tangannya.. kembali terlihat ia mendatangi. pikirannya goncang. ia singkirkan salju itu. buat apa akukah mengajarinya?‖ katanya. Tapi dia tidak pergi lama. habis itu ia terus rebahkan dirinya di atasnya. Lain keanehan yang nyata.

ia seperti berada di bawahnya perut hewan itu. tenaganya dikerahkan. Han Po Kie segera bertindak. dia menjadi penasaran terhadap kami. kedua kakinya menjepit. kapan kuda merah itu sudah datang menyerbu pula. untuk berdiri. belum ia sempat mendudukinya. Si penggembala. ―Mungkinkah ia dipayungi ayahnya almarhum? Mungkinkah ngo-ko…? Nona ini tidak tahu. kepandaian Kwee Ceng itu adalah hasilnya ajaran si imam konde tiga. tapi ia tak kasih dirinya dilompati. hanya disaat ia lari lewat. Semua penggembala menjadi terkejut. Dia kaget. dia berdiri diam! . kalau seorang dapat menakluki kuda binal. ilmu enteng tubuh. pesat majunya anak Ceng. Ia kate. rupanya ingin dia membikin penunggangnya jungkir balik. Segera ia berada di atas punggung kuda. Masih saja kuda itu berjingkrakan. tanpa ia merasa. Setiap malam ia naik turun jurang. ―Inalah kuda turunan naga dari langit. Hebat larinya kuda itu. Diakhirnya.‖ Dia cuma tahu si imam konde tiga itu sangat baik hati suka memberi pengajaran kepadanya hingga ia dapat bersemadhi… Selagi Liok Koay bicarakan hal murid ini. yang mencegah. ―Baharu beberapa hari yang lalu kami lihat dia. Disamping itu mereka heran kapannya bocah ini pelajarkan sifatnya hewan. memegang surinya. kuda itu sudah lewati dia. tiba-tiba dari smaping ada satu orang yang lompat menyambar kepadanya. kanglam Liok Koay pun terkejut. kudanya sendiri jempolan. tetapi masih kalah jauh dengan kuda merah itu. ―Anak Ceng. makin lama makin keras pelukan itu. tahu-tahu si murid sudah kembali bersama kuda merah itu. Ia kate tapi ia dapat melompat tinggi. kuda itu bakal tunduk untuk selama-lamanya kepada penakluk itu. yang terus angkat kedua kaki depannya. Ia penggemar kuda. Malah Han Po Kie segera hampirkan rombongan penggembala itu. sudah lantas berlutut dan memuji supaya janganlah Tuhanbergusar karena kudanya itu dipermainkan… Siauw Eng pun lantas berteriak. tahu ia sifat atau kebiasaannya hewan itu. sebab orang itu tidak mau melepas cekalannya. Kasih sam-suhu gantikan kau!‖ ―Jangan!‖ teriak Po Kie. lantas ia lari mengejar. ―Ngaco belo!‖ ―Kau tahu apa. siapa tahu. yaitu ―Kim-gan-kang‖ atau ilmu ―Burung Welilis Emas. kuda itu sukar bernapas. akan tanya kuda itu kepunyaan siapa. karena itulah Kwee Ceng yang menyambar kuda itu. ―Siapa bilang naga bisa menjdai kuda?‖ katanya. dia lompat dan lari. karena ketekunan Kwee Ceng sendiri yang bebal tapi rajin dan ulet. dai seperti ingin menjungkirkan penunggangnya. tetapi Kwee Ceng terus memegangi erat-erat. dia kena bawa orang yang menyambarnya itu. tidak pernah aku lihat kuda semacam ini!‖ Ia belum tutup mulutnya. Dia ada sangat cerdik dan gesit. kami mencoba menangkap padanya tetapi gagal. Po Kie pun segera ajar dia bagaimana harus membikin jinak kuda. Ia menjadi dongkol. dia tidak dapat diganggu!‖ jawab penggembala itu kemudian. Kuda itu lari ke arahnya. bocah ini memeluk ke leher. anak kecil? Sudah puluhan tahun aku menggembvala kuda. ―Kalau digantikan.‖ kata satu penggembala. ia jatuh sambil berdiri. lau terusterusan ia mengacau. Ia sudah pandai. malah kemudian. Irawan D Soedradjat Page ―Bagus! Bagus!‖ seru Po Kie. cuma tak sampai terguling. ia memang seorang ahli kuda.‖ ―Itulah bukannya kuda. Begitulah ia lari ke tempat dimana kuda itu bakal mundur. Kwee Ceng tidak rubuh karenanya. Mereka pun kagumi kuda merah itu. karena mana. Orang Mongol sendiri kagum padanya. dia bakal gagal!‖ Ia tahu. kemudian ia meyentil dengan kedua kaki belakangnya. hingga ia jatuh ke tanah. ―Selama satu tahun ini. ―Habis apakah itu?‖ tanya Po Kie. ia memegangi dengan keras. ―Dia berhasil‖ 132 Kuda itu masih berjingkrakan.‖ kata Siauw Eng. yang percaya kuda itu adalah turunan naga. ―Setahu darimana keluarganya kuda kecil ini. lalu ia berhenti meronta-ronta. sebaliknya ialah yang melompat ke bebokong kuda itu. Tepat dugaannya. Seorang penggembala lain tertawa. mereka berteriak. lekas turun.‖ sahut seorang penggembala. dia tak tercandak. ia percaya bakal berhasil. ia tengah menyakinkan ilmu ringan tubuh yang sangat lihay. dan kapannya ia mempelajari keng-sin-sut.Pendekar Pemanah Rajawali Liok Koay dan Kwee Ceng heran.

ingin aku lihat seberapa jauh kau punya ilmu Kay-san-ciang.‖ Kata-kata itu disusul sama ancaman tangan kiri dan tinjuan kepalan kanan.‖ Irawan D Soedradjat Page 133 ―Fui!‖ seru Cu Cong sambil ia ulurkan tangannya ke jalan darah hian-kee-hiat di bawahan tulang iga. guna menyingkirkan dua tangan gurunya itu. walaupun kau usir. Ini bukan jurus latihan. ―Anak Ceng. dia jadi jinak sekali. semua mereka menunjuk roman bengis. Ia omong dengan sebenarnya. bukan?!‖ ―Cuma guru Jebe mengajarakan teecu main panah dan tombak. Tengah hari.‖ ia menyerah. ia membalas. ―Ya. Kwee Ceng mennagkis dan berkelit. cuma ilmu semadhi. hendak ia membela diri. silakan lioksuhu menghukum. ia mesti pingsan. Liok Koay tidak suruh muridnya itu berlatih lebih jauh. Kwee Ceng pergi ke kemah gurunya. ia dipersen jentilan hingga ia terjungkal! Kwee Ceng lantas tuntun kuda itu ke sisi instal. Si imam konde tiga tidak ajarkan ia ilmu silat. habis bersantap. Ia mengarah ke dada. Siapa terkena itu. malah terus sampai tiga kali. Akan tetapi hebat serangan si guru. Kwee Ceng mundur. tak tahu ia bersalah apa maka gurunya serang ia secara demikian telengas. Kim Hoat menyerang dengan hebat. Kuda itu benar tidak lari. hingga bebokongnya nempel sama tenda. maka orang mesti siap akan bertempur di kamar yang kecil. Tentu saja. ―Secara diam-diam kau turut orang lain belajar silat. ia diajarkan diluar tahunya. setelah diserang untuk keempat kalinya. lalu tangannya kena dihalau! Untuk sejenak Kwee Ceng tercengang. air matanya mengucur keluar. kenapa kau tidak beritahu itu pada kita?!‖ tehur Cu Cong. ―Cukup sudah!‖ Po Kie bilang pada muridnya. ia tidak mau lantas turun. malah ia terus gunai jurusnya ―Masuk ke dalam guna harimau‖.‖ berkata Coan Kim Hoat pada muridnya itu. mana berabi teecu berdusta?‖ sahutnya. dengan masing-masing mereka merasa heran. Kwee Ceng menangis.‖ Kwee Ceng menjawab.‖ Teecu salah. . tapi segera ia berlutut di depan gurunya itu. ―Apakah kau hendak andalakn gurumu yang lihay itu maka kau jadi tidak pandang lagi kami berenam?! Hm!‖ ―Tenaga dalam?‖ Kwee Ceng melengak.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng khawatir kuda itu bakal lari atau kabur. sedang ilmu enteng tubuh. dia jilati belakang telapakan tangan si bocah. dia tidak nanti lari!‖ Mendengar itu barulah Kwee Ceng lompat turun. ―Kau turun! Dia sudah tunduk kepadamu. untuk gosoki keringatnya. Menampak itu. ―Suhu semua memperlakukan teecu sebagai anak. ―Sedikit pun teecu tidak mengerti itu. Tin Ok semua berbangkit. tapi serangan benar-benar yang berbahaya. ―Disini?‖ sang murid tegaskan. Di mana saja orang bisa menghadapi musuh. Ia takut sekali. Ia putar tangan kirinya. orang menjadi tertawa! Satu penggembala dekati kuda itu. ia rasai dada muridnya itu lembek seperti kapuk. sebaliknya. ―Masih kau berdusta?!‖ Cu Cong bentak pula. ―Coba tidak liok-suhu mencoba padamu. kau tentu tetap hendak menyembunyikannya. dari kaget dan heran. ―Habis darimana kau dapat kepandaianmu tenaga dalam?!‖ Cu Cong masih bertanya. Ia kaget seklai. mereka masuk ke kemah mereka. untuk membersihkan badannya. Cuma tempo ia menggenai dada muridnya.

Dengan berpegangan tangan. kau boleh pergi memain seperti biasa. suhu. pelajaranmu itu bukan tenaga dalam?‖ tanya Siauw Eng yang menegaskan. dia juga larang teecu memanggil suhu padanya. di sampingnya ada dua ekor rajawali putih. Ia girang gurunya tidak marah. tidak boleh teecu pikirkan apa juga. dia tentu tidak bermaksud buruk. Mulanya mereka menyangka Kwee Ceng cuma bertemu orang pandai. ―Benar-benar teecu tidak tahu kalau itu adalah pelajaran tenaga dalam. dan ini menarik hati…‖ Liok Koay heran berbareng girang di dalam hati. pergilah kau!‖ kata Cu Cong kemudian. hatinya bersih.‖ Liok Koay semakin heran. ―Nah. ―Siapa yang ajarkan kau ilmu itu?‖ Cu Cong tanya.‖ Ia lantas mengangguk-angguk dan menambahkan: ―Teecu tahu teecu bersalah. Teecu anggap hal ini bukan perbuatan busuk. keduanya melebihkan tingginya tuan putri itu.‖ ―Baik. dagingnya bergerak sendirinya. di sana Gochin sudah menantikan dia. membikin totokan itu kena dikemsampingkan. tapi ia terkejut dan heran. Kwee Ceng jujur. Terang murid ini tidak berdusta. Sama sekali ia tidak ajarakan ilmu silat pada teecu. terus ia terbang mencablok di pundaknya Kwee Ceng. Cuma ia pesan supaya teecu jangan memberitahukan hal itu pada siapa pun. ―Dia ajarkan ilmu kepada anak Ceng. selama itu. teecu anggap ajaran itu menarik hati. ―Adakah ini hasil latihannya totiang?‖ ia tanya pada dirinya sendiri. ia tak kurang suatu apa. asal kau tidak beritahukan dia bahwa kami telah ketahui urusan ini.‖ Kwee Ceng jawab. ―Kami tidak persalahkan padamu.‖ Kwee Ceng menyahuti. Cu Cong tidak menggunai tenaganya sepenuhnya.‖ kata Kwee Ceng. ―Malah dia suruh teecu bersumpah untuk tidak menjelaskan roman tubuh dan wajahnya. untuk menarik dan mengeluarkan napas dengan perlahan-lahan. ada orang yang setiap malam mengajari teecu bagaimana harus menyedot napas. dari itu. tapi kalau begini. Setibanya di kemah. Sebab apakah itu? ―Nah. Tidak mereka sangka.‖ Cu Cong bilang. muridnya ini telah dapatkan Iweekang sedemikian rupa. ―Selanjutnya teecu tidak berani pergi bermain-main pula dengan dia itu. telah setengah harian aku menunggui kau!‖ kata putri itu. duduk bersila dan tidur. Si bocah Cuma merasakan sakit. berdiri di tanah. dari itu teecu tidak memberitahukan kepada suhu semua. ketika totokannya Cu Cong mengenai. Seekor rajawali angkat kakinya dan pentang sayapnya. Mulanya sulit.‖ kata Kwee Ceng. ―Kenapa pada anak Ceng juga ia tidak menjelaskan hal Iweekang itu?‖ ―Mungkin dia adalah kenalan kita.‖ kata Cu Cong. dua kawan ini lari ke tegalan. ―Tidak apa-apa. ia dapat menyakinkan Iweekang lebih cepat dari siapa juga. mesti ada sebab lainnya lagi. Irawan D Soedradjat Page 134 . Kedua burung itu telah membesar denagn cepat. tetapi kemudian teecu merasakan hawa panas keluar masuk. teecu ikuti ia belajar terus. Tenaga dalam itu adalah Iweekang (laykang). lain kali teecu tidak berani pergi bermain pula…‖ Enam guru itu saling pandang. ―Di mana dia mengajarkannya?‖ ―Dia tidak mau beritahu she dan nama atau gelarannya pada teecu. apakah ini bukannya tenaga dalam!‖ serunya. untuk bermain dengan burung mereka.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng tidak berkelit atau menangkis. ―Dia suruh teecu duduk. ―Hanya kenapa dia tidak menghendaki kita mendapat tahu?‖ tanya Kim Hoat. Lalu ia mengasih keterangan: ―Selama dua tahun ini. Liok Koay berbicara. Di dalam kemah.‖ Siauw Eng mengutarakan pikirannya. Kwee Ceng terkejut. ―Apakah kau tidak tahu. teecu juga tidak mensia-siakan pelajaranku. mereka menjadi curiga. yang terus undurkan diri. ―Lekas.

yang larinya benar pesat sekali. sampai Tin Ok berempat datang menyusul. Sampai di lembah. puncak jurang tetap sunyi senyp. dengan ilmunya maju pesat.‖ katanya. cepat larinya. di atas jurang tidak terdengar gerak apa juga. Irawan D Soedradjat Page 135 . sang fajar telah menyingsing. ―Bwee Tiauw Hong!‖ sahut Cu Cong. Keduanya kebat-kebit hatinya. yang mana dikhawatirkan ada sisa racun. lalu ia lari keluar. ia gegetun.‖ kata Cu Cong kemudian. dua buah kampak serta beberapa puluh potong paku besar. malah Kwee Ceng tak tampak turun. mereka gunai paku itu. Cu Cong dan Kim Hoat heran bukan main. ―Di antara kenalan kita. nah untuk apakah ia mengajari anak Ceng?‖ Siauw Eng tanya pula. Mereka menantikan. Empat saudara itu terperanjat. tepat dengan pengaturannya Hek Hong Siang Sat dahulu hari. ―Mari kita sembunyi disini. Lagi satu jam mereka menanti dengan sia-sia. ―Bisakah kita naik?‖ Kim Hoat tanya. sang matahari sudah keluar. keduanya tiba juga di atas. mereka lantas tanya ada apa dan kenapa dengan kedua saudara itu. mereka dapat terus memasang mata. Cu Cong ceritakan halnya Kwee Ceng naik ke atas jurang. Kedua guru itu segera menguntit dari kejauhan. tentulah ia itu musuh…‖ Kim Hoat berpikir. Mereka lantas ambil tempatnya masing-masing. Syukur di tanah datar itu tak ada sesuatu rintangan. Segera juga mereka berserua karena kagetnya. Malam itu Cu Cong dan Kim Hoat menanti di luar kemah ibunya Kwee Ceng. mereka saling menarik. maka itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kenalan?‖ ulangi Siauw Eng. Tempo mereka mulai menanjak. Tanpa terasa. ―Kalau dia musuh. rasanya tak ada yang berkepandaian seperti dia…. ―Ibu. khawatir nanti ketemu musuh lihay. Sang waktu lewat detik demi detik. Ketika itu.‖ Tin Ok mengatur. di situ tak ada orang. bekas totokan jari tangan. Tak tampak juga orang yang dikatan gurunya itu. Yang aneh. ―Kalau begitu. di bawah lima. Di pinggiran lubang itu ada tanda hitam. ia lihat mega hitam. Mereka ini berbekal senjata. akhirnya Cu Cong mengusulkan naik ke atas guna melihat. baiklah sebentar malam aku dan liok-tee pergi ikuti anak Ceng untuk lihat orang itu.‖ sahut kakak yang kedua itu. aku hendak pergi!‖ begitu terdengar suaranya sang murid. tentu saja. tunggu sampai mereka turun. entah kemana perginya Kwee Ceng serta orang yang dikatakan gurunya itu. masih si murid lari terus. seperti terkorak pisau tajam. kita coba saja. Siauw Eng berpikir keras. Maka lekas-lekas mereka turun pula. Setelah bermandikan keringat. Tin Ok berlima mengangguk. Siauw Eng dongak. Suasana malam ini mengingati ia malam itu tempo mereka mengepung Hek Hong Siang Sat dengan kesudahannya Thio A Seng menutup mata untuk selamanya. Semua tengkorak itu pun ada lubangnya. Mereka sendiri tidak khawatir nanti terlihat si murid. Kwee Ceng dapat mendaki jurang tanpa bantuan lagi. ―Belum tentu. masih tegang hatinya. ―Siapa tahu kalau dia tidak tengah mengatur daya upaya busuk?‖ kata Tin Ok dingin. Semua saudara itu terkejut. Cu Cong terus lari pulang ke kemah untuk ambil dadung. Di samping batu besar ada teratur sembilan buah tengkorak putih. ―Kalau dia bukan sahabat. hati mereka tegang dan cemas. Ia menjadi sangat berduka. Po Kie semua heran. di tengah tiga di atas satu.

yang akur sama kakaknya. tak dapat diduga bagaimana hebatnya bencana yang bakalan terjadi. kita memelihara harimau untuk meninggalkan bahaya untuk di kemudian hari.‖ sahut Kim Hoat. ―Aku setuju sama sie-ko. lalu tiba-tiba kita hajar dia hingga bercacat.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng?‖ tanya Siauw Eng. ―Lebih dulu kita mesti mencari kepastian. Bagaimana kalau tindakan kita bocor?‖ ―Memang inilah berbahaya. ―Tidak bisa!‖ seru Hie Jin kemudian.‖ bilang Siauw Eng. tidak nanti dia dapat berpura-rupa sedemikian rupa. mereka menggigil snedirinya. ―Tubuhnya anak Ceng sudah cukup enteng.‖ kata Tin Ok masgul.‖ kata Siauw Eng. ―Mestinya begitu. ―Habis kenapa ia ikuti si siluman itu selama dua tahun dan ia menutup mulut terus?‖ tanya Tin Ok. ―Habis bagaimana dengan janji pibu?‖ ―Lebih penting nyawa kita atau pibu itu?‖ tanya Tin Ok. ―Taruh kata anak Ceng mengandung maksud tidak baik.‖ jawabnya. ―Mungkin mereka turun dari sebelah…‖ Ia lalu menjelaskan apa yang mereka lihat di atas sana. Si nona berdiam begitupun yang lainnya. ―Belasan tahun cape lelah kita.‖ ―Tapi urusan ada sangat penting. Po Kie bersangsi. bagaimana kau?‖ tanya Tin Ok. ― Cu Cong peringati. ―Perempuan siluman itu hendak pakai tangannya si Ceng. dia bukannya satu manusia yang tak berbudi. kita tunggu si Ceng datang pada kita. ―Mungkin siluman perempuan itu anggap waktunya belum tiba dan dia belum menjelaskan sesuatu kenapa anak ceng…‖ Kim Hoat pun mengutarakan dugaannya. mana dia begitu baik hati hendak menurunkan kepandaiannya?‖ kata Tin Ok. Hie Jin mengangguk. ―Aku di pihak sietee.‖ Siauw Eng tetap bersangsi. mustahil kita berenam kalah padanya…‖ Siauw Eng kaget. tetapi ilmu silatnya masih kalah jauh denagn kita. ia pun heran. ―Tidak dapat?‖ Po Kie tegaskan pula. ―Bukankah suaminya terbinasa di tangannya si Ceng?‖ Semua orang berdiam. ―Anak Ceng jujur dan polos. ―Entahlah. Biar pun ia lihay. Hebat ancaman bahaya yang mereka khawatirkan itu. ―Samtee. ―Kalau kita salah tindak karena kita merasa kasihan terhadapnya. ―Dia tak dapat dibikin bercacat!‖ jawab Hie Jin. ia lantas tetapkan hatinya. Irawan D Soedradjat Page 136 . sangsi. ―Tidak bisa apa?‖ tanya Po Kie.‖ kata Kim Hoat. kenapa si perempuan siluman itu tidak ajarkan dia ilmu silat?‖ tanya Po Kie. Iweekangnya sudah punya dasar. akan tetapi kapan ia saksikan air mata adiknya. Tin Ok menghajar tanah dengan tongkatnya. baru kita pikir pula. siapa tahu. ―Sekarang mari kita pulang!‖ ia mengajak. ―Anak Ceng hendak dibikin bercacat?!‖ serunya.‖ sahut Cu Cong. ―Kita berpura-pura tidak tahu. ―Apakah toako mau artikan si perempuan siluman buta itu hendak pinjam tangan anak ceng untuk celakai kita?‖ tanya Po Kie.

―Sebenarnya mau apa dia menyusun tengkorak-tengkorak di sini?‖ Kwee Ceng tanya. ―Adakah ini diatur oleh Hek Hong Saing Sat?‖ ia tanya. ―Eh. Kalau begitu.‖ berkata si imam. maka akhirnya. Si imam jumput satu tengkorak. Kwee Ceng kaget dan heran. dia mestinya ada punya andalannya‖. Tin Ok bersama Cu Cong dan Coan Kim hoat bukan bangsa sembrono akan tetapi menyaksikan keanehan Kwee Ceng dan di atas jurang kedapatan itu sembilan tengkorak dari Bwee Tiauw Hong. ―Kiranya si Mayat Perunggu yang lihay itu terbinasa di tanganmu!‖ katanya. ―Coba ngotee ada di sini. Ia kata: ―Sakit hati ngoko mana dapat tidak dibalaskan! Toako. ―Dan sekarang kita ada berdelapan…. maka sekarang kita harus mengerti. si imam sudah menantikan dia. jietee sama lioktee. kau pun kenal Hek Hong Siang Sat?‖ si imam tanya. tiga setuju Kwee Ceng dibikin cacad dan tiga tidak. ―Aku khawatir gurumu itu bukan tandingannya.‖ ―Dia telah buta kedua matanya kena dihajar toasuhu. hati mereka tidak tenang.Pendekar Pemanah Rajawali Dari enam bersaudara itu. Kwee Ceng lihat sembialn tengkorak. berhneti mengucur air mata Siauw Eng. Tanghay. setelah toh dia datang untuk mencari. Kapan tadi malam Kwee Ceng tiba di atas jurang. lalu ia menggeleng-geleng kepala. aku pun telah memikirkannya. kami tidak takut. ia datang. Si imam itu tertawa. apakah itu?‖ Di bawah sinar rembulan guram. Cu Cong menghela napas. adakah si Mayat Besi itu datang? Apakah totiang dapat lihat padanya?‖ tanya Kwee Ceng. heran. ia periksa itu. Tengkorak ini ada hubungannya sama Kiu Im Pek-ku iauw. hanya si imam ini segera menunjuk seraya berkata: ―Kau lihat. masih belum tentu kita menang. Umpama kata aku pun membantu pihakmu.‖ sahut si imam. ―Apakah bukan sengaja dia hendak membikin kita mendapat tahu dan bersiap sedia?‖ Irawan D Soedradjat Page 137 ―Aku pikir tidak demikian. ―Orang ini hebat ilmu silatnya. ―Tidak dapat aku menduga sampai dimana lihaynya jeriji-jeriji tangannya itu.‖ ia bilang.‖ katanya kemudian. Tentu saja ia menjadi kaget.‖ Mendengar disebut-sebutnya A Seng. dia rupanya menyangka orang tak bakal datang ke tempat ini. ―Pada belasan tahun dulu dia masih belum buta. tentulah si Mayat Besi datang untuk mencari guru-gurumu itu. ―Tempo aku sampai.‖ kata Kwee ceng. kami dengar titahmu!‖ ―Baiklah!‖ kata toako itu. dia masih tidak dapat lawan tujuh guruku.‖ Si imam bicara dengan sungguh-sungguh. salah satu pihak tentulah lebih satu suara. siapa tahu. kamu halangi mereka. ―Tetapi totiang. ―Aku belum lama sampai disini.‖ .‖ ―Sebelum kau datang. ia pun kasih tahu bagaimana dengan cara kebetulan ia dapat menikam mati pada Tan Hian Hong. tidaklah demikian duduknya hal. Maka Tin Ok bilang: ―Kalau benar. Kwee Ceng mengangguk. Nyatanya. kita pasti akan memperoleh putusan. kita justru biasa datang kemari hingga kita mempergokinya. ―Mari kita pulang dulu!‖ Di dalam kemah mereka. Ia tuturkan hal pertempuran gurunya semua dengan Hek Hong Siang Sat itu dengan kesudahan gurunya yang kelima terbinasa. mereka masih tetap ragu-ragu. tumpukan ini sudah ada. nanti aku yang turun tangan!‖ Demikian mereka bersiap sedia. maka itu aku percaya. Tadinya aku menyangka ini permainan gila dari muridnya Oey Yok Su dari Tho Hoa To. kaut kepercayaan mereka bahwa Bwee Tiauw Hong adalah orang yang mengajari Iweekang kepada murid mereka.

Cambuk ini terus dicekal di tengahnya kedua tangan. ―Jangan bersuara. Irawan D Soedradjat Page 138 . Tiauw Hong lantas bersilat. lagi ia berpikir. napasnya ia tahan. Ia berdiam. Habis itu. Mungkin enam tombak. ia cabut pisaunya yang tajam. Habis berlatih. ia bikin gerakan seperti berlatih silat. Ketika ia berbangkit. atau tiba-tiba si imam sambar pinggangnya. Yang hebat adalah tempo cambuk dipegang ujungnya dengan sebelah tangan kanan.Pendekar Pemanah Rajawali Hati Kwee ceng menjadi tidak tenang. Tipu Lawan Tipu Berselang sesaat. Setahu bagaimana dia naiknya. tangan kirinya menarik sesuatu dari pinggangnya. baru ia simpan pula barangnya itu. hendak ia menanyakan sebabnya. Itulah Tiat-sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi denagn rambutnya yang panjang dan riap-riapan. ―Kalau totiang tidak tolong aku. ia rasakan lengannya sakit sekali. Kwee Ceng mendekam. ia letaki itu ditanah. mulanya perlahan. berlalu dari belakang jurang darimana ia datang tadi. untuk bela diri. dari keras dan nyaring. Diakhirnya ia ankat kaki. sedikit saja suara berkelisik. Ia lihat tegas. buat segera diajak berlompat ke belakang batu besar. suara mereteknya Tiauw Hong menjadi kendor. Tak lama. matanya memandang ke tempat sembunyi mereka. Orang tidak usah menanti terlalu lama akan lantas terlihat berkelebatnya satu bayangan. ―Sekalian kau bilangi bahwa ada satu sahabatnya memesan dengan perantaraan kau bahwa lebih baik mereka menyingkir dari dia itu. Kim-liong-pian dari Han Po Kie panjang Cuma enam kaki. Menampak ini insyaflah Kwee Ceng akan pentingnya ilmu yang si imam ajari padanya. tubuhnya Bwee Tiauw Hong kasih dengar suara meretek. Kwee Ceng menghela napas lega. karenanya ia jadi sangat bersyukur kepada si imam konde tiga ini yang tidak dikenal. Cuma suara yang terdengar. sedang disebelah belakang jurang itu ada terlebih terjal tebingnya daripada bagian depan. Beberapa kali ia berbuat begitu. Ia berbangkit. Ia bergerak tanpa ia merasa.. ―Baiklah. Ia tidak takut. habis hancur kepalaku…‖ pikirnya.‖ katanya. cambuk lemas putih yang mengkilap. Sekarang ia keluarkan suatu apa dari sakunya. Bwee Tiauw Hong sengaja menyakinkan cambuk lemas. Setelah matanya buta. Kwee Ceng heran walaupun ia tidak mengerti latihan orang yang luar biasa itu. sambil tertawa. Dengan ketakutan. Dalam jarak enam tombak. untuk keduanya berjongkok. Dalam herannya. Ia kembali meraba barangnya itu . disusul sama munculnya satu tubuh. lalu tangannya meraba-raba. tubuhnya sendiri tidak bergerak. seperti lagi memikirkan sesuatu. ujung itu ada punya belasan gaetan yang tajam. untuk dipakai menangkis. buat diajak mendekam. Di situ ia lantas menyakinkan ilmu dalamnya. Tapi si Mayat Besi tidak lihat siapa juga. untuk mereka memikirkan daya perlawanannya. yang ia telah latih dengan sempurna. Kwee Ceng terkejut ketika Bwee Tiauw Hong memutar tubuh. lalu berhenti. cepatnya luar biasa.‖ sahut si imam. Belum lagi kedua senjatanya beradu. cambuk ini berlipat sepuluh kali. Sekarang ia melihat nyata itulah joan pian. Hebat bergeraknya cambuk lemas itu. dia bangkit berdiri. Kwee Ceng hanya lihat berkelebatnya sinar putih perak dari suatu benda seperti ular panjang. ujungnya yang lain menghajar batu besar! Habis itu Kwee Ceng dibikin kaget sama ujung cambuk yang emnyambar ke arahnya. lengan itu orang kasih paksa turun sedang bebokongnya ditekan supaya ia mendekam pula. Sekejap saja. Kwee Ceng berdiam dan turut mengintai juga. kaget ini bocah. atau mulutnya didului dibekap. lantas ia hendak berlalu. Kupingnya menjadi terang sekali. sukar orang lolos dari cambuknya yang panjang itu. Tiauw Hong simpan cambuknya itu. dari itu dia terus dududk bersila di atas batu di mana biasa si anak muda bersemadhi. lalu menjadi nyaring seperti meletusnya suara kacang goreng yang digoreng terlalu matang. ia dapat dengar. ujung cambuk lewat di atasan kepalanya! Anak tanggung ini mengeluarkan peluh dingin. Bab 13. untuk dipondong. ―Kalau begitu baiklah aku nlekas pulang untuk memberitahukan guruguruku.‖ berbisik si imam itu yang terus mengintai. Tak dapat dia dilawan keras. Ia terkejut pula.‖ Kwee ceng terima pesan itu. yang dibawah sinar rembulan tampak nyata.

maka semua ternak. Jamukha bakal diangkat menjadi Tin Pak Ciauw-touw-su. untuk ini. Justru itu terlihat satu orang. Tiauw Hong tiba di satu tempat di mana ada banyak kemah. pergilah kau melaporkannya!‖ Orang itu menyahuti: ―Kau adalah adik angkatku. berkata: ―Negeriku yang besar bakal lantas berangkat ke Selatan untuk menumpas kerajaan Song. ia seperti mengenalinya. ―Sekarang tolong kedua tuan bilangi aku. ia bilang: ―Berapa susahnya untuk ayahku memberi titahnya? Sebentar akan aku minta titahnya itu. nah. karena orang itu berdiri membelakangi dia. di waktu langit mulai terang.‖ Sangum tertawa dingin. belum tentu kau akan berhasil. aku tentu menurut. tendanya berwarna kuning.Pendekar Pemanah Rajawali ―Mari kita ikuti dia. Di belakang ini si imam mendekam. untuk melihat tegas si pembunuh. ia ini kata. si terbunuh itu adalah pengiringnya Temuchin. Irawan D Soedradjat Page 139 . Setibanya mereka di bawah. terlihat Tiauw Hong berada jauh di arah utara. ―Sekarang kau tidak akan sangsi pula. dengan goloknya membacok satu orang lain. mereka mesti menyingkir dari serdadu-serdadu penjaga. lalu ia dan Kwee Ceng menyingkap tenda. ialah pangeran keenam dari negara Kim!‖ Jamukha tertarik dengan janji itu. Ia singkap lebih tinggi tenda. Dan Kwee Ceng merasakan dirinya seperti dibawa terbang. Pikirnya: ―Mustahilkah mereka bersekutu untuk mencelakai Khan yang agung? Bagaimana ini bisa terjadi?‖ Lalu terdengar seorang lain: ―Setelah kita berhasil. orang perempuan dan hartanya Temuchin terjatuh kepada Sangum. di sana ia menghilang. ia lari menyeusul. jika Tuan Pangeran mengajak kita bersaudara pergi ke sana. Si imam mengcoba mengikuti terus. untuk melihat ke dalam. cara bagaimana kamu hendak menghadapi Temuchin?‖ dia tanya. dan dari pihak kami negara Kim yang besar. itu waktu kamu berdua masing-masing boleh memimpin duapuluh ribu serdadu untuk membantu.‖ Pangkat itu adalah pangkat tertinggi untuk wilayah utara dengan tugas memanggil menakluk dan menghukum pemberontak. orang pun bisa naik dengan melapati di oyot rotan. akan kata dalam hatinya: ―Ah. ketika ia melihat dari samping. tidak nanti ia tidak memberikannya!‖ Wanyen Lieh. yaitu Jamukha. Kwee Ceng kenali.‖ berkata si imam. Kwee Ceng tidak melihat tegas muka orang itu. Ia tak usah mengingat-ingat lama. maka ia lantas kenali sebagai Sangum. si putra Raja Kim yang keenam itu. Malah ia sambar pinggang bocah itu. sungguh bagus sekali!‖ Wanyen Lieh tersenyum. maka ia menggeser. rubuhnya ke dekat tenda di mana dua orang itu tengah mengintai. ia berkata: ―Asal saja ayah angkatku Wang Khan memberikan titahnya. kamu bakal dapat hadiah lainnya lagi!‖ Sangum girang sekali. Orang ada memakai jubah bulu ynag mahal.‖ Saudara angkatku Temuchin pintar dan gagah. Di situ ada satu orang lain. dandannya mewah. entah ia bakal kasih pertunjukkan apalagi. Cara ini telah digunai oleh si Mayat Besi. dibagian belakang ini. Si imam kempit Kwee Ceng. Lama mereka berlari-lari. Kwee Ceng dapat kenyataan. di seluruh tanahnya penuh denagn emas dan orang-orang perempuannya ada bagaikan bunga-bunga. setelah usahanya berhasil. yang ekbetulan menoleh. bukan?‖ berkata Sangum itu. putranya Wang Khan. semua sebawahannya untuk Jamukha. ayahmu juga perlakukan aku baik sekali.‖ Sangum menjadi girang sekali. yang pun lantas bangun. Dia itu sudah lantas susuti goloknya pada sepatu. ia berkata: ―Kabarnya negara di Selatan itu adalah negara yang indah permai. ia menjadi heran. Di tengah-tengah ada sebuah kemah terbesar. sudah tentu aku tidak bakal sia-siakan padamu!‖ Kwee Ceng kenali orang itu adalah saudara angkat sehidup semati dari Temuchin. ia menjadi heran sekali. yang rubuh dengan segera dan terbinasa. dia kata: ―Jikalau kau menyayangi kakak angkatmu. untzk bawa ia turun dari belakang jurang itu.

akan pergi meninggalkan kemah beberapa puluh tindak. tahan!‖. si Mayat Besi sudah lewat jauh. ia tancap tongkapnya. bilang pada gurumu bahwaTan-yang-cu Ma Goik mohon bertemu sama Kanglam Liok Koay. Segera itu menyusul terdengar suara senjata bentrok. Pergilah kau masuk ke dalam. orang yang menyambar tangannya adalah Cu Cong dan Coan Kim Hoat.‖ sahut itu murid. sebatang tongkat melayang ke kepalanya! Bukan main kagetnya ia. mendadak ia merasakan dua tangannya sakit. disusul mana sakit di kakinya yang kena ditendang. ―Mana itu siluman perempuan‖ Cu Cong bentak muridnya. ia rasai si imam menarik ujung bajunya. Ia mengangguk. ia masih hendak mendengari lebih jauh etika ia rasakan si imam sambar ia untuk ditekan. siapa terus berseru: ―Toako. kalau terlambat bisa gagal!‖ Kwee Ceng terpaksa menurut. Tapi di bawah terangnya sinar matahari. ia dapatkan imam itu menunjuk ke belakang. Sekarang Kwee Ceng melihat. Ia pun lantas berkata: ―Tidak berani memohon tanya gelaran totiang. Pedang guru itu telah terpental. tidak nanti ia lolos dari jaring perangkapku ini! Ha-ha-haha!‖ Kwee Ceng kaget dengan berang gusar.Pendekar Pemanah Rajawali Selagi Kwee Ceng memasang kuping. tidak dapat aku berkukuh lebih lama lagi. Cuma ia tetap belum tahu. Ia lantas meramkan mata. Ia tidak sangka ada orang sedemikian jahat.‖ Dua tahun Kwee Ceng ikuti imam ini.‖ sahut Kwee Ceng. yang hendak membinasakan saudara angkatnya sendiri. mereka berenam menjadi ragu-ragu. akan tetapi urusan ada begini penting. baru sekarang ia ketahui nama orang. maka itu baiklah kita sembunyikan orang disepanjang jalan.‖ Maka itu ia mendekam terus seraya memasang kupingnya. Mari lekas. ―Biar apa dia lakukan. Ia menjadi sangat bingung. Dan melanjuti kemudian: ―Aku sudah lantas kirim orang untuk memberi balasan. Terdengar Sangum berkata: ―Temuchin itu telah jodohkan putrinya kepada putraku. mungkin sebentar dia bakal datang kemari. ―Dia ada di luar. Ketika itu hari telah siang. Di sini si imam berkata: ―Sebenarnya tidak hendak aku perlihatkan diriku. ―Teecu telah lihat dia tadi. hatimu lemah sekali!‖ katanya perlahan. ―Citmoay. menuju kemahnya Kanglam Liok Koay. menyusul mana Tiauw Hong berkelebat lewat. akan setelah itu. Irawan D Soedradjat Page Cu Cong lepaskan tangan Kwee Ceng. ―Mana dia gurumu yang mengajarkan kau ilmu dalam?!‖ tanya Tin Ok kemudian dengan dingin. siapa imam ini yang semestinya lihay. ―Sudah lama pinto mengagumi tuan-tuan. dia mohon bertemu sama suhu semua. lalu ia berbisik: ―Tiauw Hong lagi cari orang untuk menanyakan tempat kediaman gurumu. untuk menantikan kebinasaannya. penyerangnya itu adalah Kwa Tin Ok. maka terus ia rubuh. ―Suhu!‖ ia berseru begitu ia menyingkap tenda. di sana mereka tampak seorang imam tua.‖ Dia menunjuk orangnya Temuchin yang telah ia binasakan itu. gurunya yang nomor satu. bahaya tengah mengancam. Sekejap saja. Si imam tarik tangan si bocah. Temuchin boleh mepunyai tiga kepala dan enam tangan. buat sesaat ini guru-guruku tidak bakal menghadapi bahaya. yang ia masih pegangi. Baharu saja ia memanggil itu. baru saja ia kirim utusan untuk membicarakan hari pernikahan.‖ dia berkata. Kanglam Liok Koay berdiam. Ia lantas berbalik. ―Biar aku dengari persekutuannya mereka ini yang hendak mencelakai Khan yang agung. Maka ia lihat Bwee Tiauw Hong sedang membekuk satu orang. ia lari ke dalam kemah. habis mana satu orang lompat kepada anak tanggung itu. aku minta ia besok datang sendiri untuk berembuk bersama ayahku.‖ Kwee Ceng berpikir.‖ 140 Imam itu bertindak mau. sekarang kita dapat bertemu. Bukan main kagetnya Tin Ok berenam! Bagaimana mungkin Bwee Tiauw Hong datang diwaktu siang hari bolong? Maka bersama-sama mereka lompat keluar tenda. Bwee Tiauw Hong sendiri tidak ada bayangannya sekalipun. sungguh pinto merasa sangat beruntung. maka bersama-sama mereka lari pesat. Tin Ok menghela napas. apapula kapan ia kenali. kapan ia menoleh. Aku percaya ia bakal datang dan tentunya tanpa membawa banyak pengiring. lalu mereka mengawasi Ma Giok. di tangannya ada orang yang dikempitnya. . ia menjura. rupanya ditanyakan sesuatu. Ia membalas hormat. tanpa ayal. ialah Han Siauw Eng. tangannya itu kena orang sambar. Kwee Ceng segera kenali gurunya yang ketujuh.

yang bertentangan dengan agama kami. pinto lihat dia polos dan jujur. ia berkata dengan suara seperti mendumal: ―Ayahku…. ―Maafkan kami! Entah ada pengajaran apa dari ciang-kauw maka telah datang ke gurun Utara ini? Adakah kiranya berhubungan sama janji suteemu mengenai pibu di Kee-hin nanti?‖ ―Suteeku itu adalah seorang pertapa. ―Kau berdiam bersama kami. bilang Sangum bersama Jamukha lagi mengatur tipu daya untuk membinasakan kepada Khan!‖ 141 Gochin menghampiri.‖ Ia lantas menjura pula. jangan pergi!‖ mencegah Tin Ok. justru itu terdengar suara tindakannya banyak kuda. tetapi ia masih gemar seklai dalam urusan pertaruhan. Kwee Ceng menjadi sangat bingung. sedang tentang ilmu silatnya. yang hendak memancing Temuchin. sudah beberapa kali pinto menegurnya. mereka terperanjat. ia hanya kata: ―Lekas kau pergi kepada Khan yang agung. Pinto bertemu dengannya pada dua tahun yang lalu. tidak suka pinto orang ketahui tentang diriku. belum lagi ia menolongi si imam menyampaikan berita. ia menjadi sangat menyayangi muridnya ini. hatinya berdenyutan.‖ Kwee Ceng jawab gurunya ini. ―Kiranya ciang-kauw dari Coan Cin Kauw!‖ berkata Tin Ok. ―Mengenai tabiatnya itu.‖ Liok Koay heran.‖ Liok Koay heran tetapi tidak dapat mereka tidak mempercayainya. kapan Kwee Ceng menoleh. Tiang Cun Cu Khu Cie Kee adalah adik seperguruan dari Ma Giok ini. Mengenai pertaruhan itu sendiri. pinto tidak ingin memcampurinya. dalam hal nama ia kalah terkenal dengan Khu Cie Kee.Pendekar Pemanah Rajawali Sekarang Kwee Ceng ingat. sebentar aku akan kembali!‖ kata ini anak muda dalam bingung dan khawatirnya. . ia jadi berkhawatir untuk ancaman bahaya dari pihaknya Bwee Tiauw Hong. itu adalah orang-orangnya Sangum. ia lantas berkata: ―Inilah Tan-yang-cu Ma Goik Ma Totiang. Siauw Eng menjadi girang sekali.ayahku ingin aku menikah sama Tusaga…‖ Lalu air matanya turun pula. nampaknya ia sangat menyayanginya.‖ Tin Ok mencegah karena ia menyesal atas perbuatannya yang semberono tadi. Putri itu menghentikan kudanya sejarak belasan tindak. ia tampak datangnya Gochin. Segera setelah itu. ―Kenapa kau tidak hendak memberitahukannya dari siang-siang. kelihatan kedua matanya merah dan bendul. Kanglam Liok Koay membalas hormat. tidak ada orang yang mengetahuinya. Tentang itu pinto belum dapat perkenanan tuan-tuan. Mereka lihat orang alim sekali. Bagaimana kalau si Mayat Besi datang dengan tiba-tiba? Kwee Ceng jadi semakin bingung. hendak aku pergi sebentar. ―Totiang larang aku bicara.‖ berkata Ma Giok. Setelah datang dekat. terdengar pula congklangnya kuda. Coan Kim Hoat lantas saja lepaskan cekalannya kepada muridnya itu. Ia masih bicara sama guru itu tapi si guru sudah lantas bicara sama Ma Giok tentang pertempuran mereka melawan Hek Hong Siang Sat. dari itu. ia hanya menggapai.‖ Ma Giok berkata. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng tidak sahuti putri itu. hingga kami menjadi keliru menyangka terhadapmu?‖ Ia mengusap-usap rambut muridnya itu. minta si tuan putri datang lebih dekat. Terpaksa ia berdiam. Kwee Ceng takut pada gurunya. maka sekarang pinto mohon tuan-tuan tidak berkecil hati. ―Jangan. Mereka tahu Ma Giok itu adalah murid kepala dari Ong Tiong Yang. Kedatanganku ini adalah untuk lain urusana. Disaat enam saudara ini hendak tanyakan hal Bwee Tiauw Hong. ruapanya ia baru habis menangis. ―Pinto biasa berkelana. dengan sendirinya dia menjadi pengganti kepala agama itu. ―Toasuhu. ia tidak berani pergi menghampirkan. kesan mereka lantas berubah. karena mana. ―Adakah totiang ini yang ajarkan kamu ilmu?‖ ia tanya muridnya. jarang sekali ia membuat perjalanan. lantas ia mengapai berulang-ulang. denagn lancang pinto ajari dia cara untuk membantu panjang umurnya. beda daripada saudara-saudaranya. Setelah wafatnya Ong Tiong Yang. Dia biasanya berdiam di dalam kelentengnya. Pertama-tama pinto ingin bicara tentang anak ini. ―Itulah sebabnya walaupun pinto berada dekat dengan tuan-tuan tetapi pinto tidak membuat kunjungan. tahulah ia. Tentang ini pinto pun memohon maaf. lalu tertampak beberapa penunggang kuda tengah mendatangi ke arah kemahnya Temuchin. yang menjadi kauwcu atau kepala agama dari Coan Cin Kauw.

―Pinto bukan hendak menangi lain orang dengan merendahkan diri sendiri. ―Kalau benar dia hendak menuntut balas. Lalu ia ingat suatu apa. ―Kwa tayhiap berhati mulia.tuan suka berlaku murah dan suka mengasihani dia untul membuka satu jalan baru untuknya. mereka awasi kakak mereka.‖ kata Ma Giok seraya mengangguk. Ia memang sayangi Gochin sebagai adik kandungnya! Itu wkatu terdengar suaranya Ma Giok.‖ Irawan D Soedradjat Page 142 . imam ini bukan melulu memintakan ampun untuk Bwee Tiauw Hong. tetapi jangan diperhebat. dia harus dikasihani. Dia sekarang telah dapat mewariskan kepandaiannya Tocu Oey Yok Su dari Tho Hoa To. kita tidak bakal kalah. ―Kami Kanglam Cit Koay biasa sembrono. permusuhan harus dilenyapkan. tetapi untuk singkirkan dia. Kwee Ceng heran. bukan kami yang emncari dia.‖ Tin Ok mengerti. sedang cambuknya ada luar biasa. setiap tahun ia telah bunuh berapa banyak orang yang tidak bersalah dosa. ―Satu hal hendak pinto memberitahukannya.Pendekar Pemanah Rajawali Gochin terkejut. ―Tentu saja benar!‖ sahut Kwee Ceng.‖ CU Cong berkata pula. dengan sebenarnya Bwee Tiauw Hong itu telah jadi sangat lihay. Thian tentu akan memberkahi. tidak nanti ia dapat peroleh itu. dengan belajar sendiri. ―Baik!‖ katanya. Silahkan totiang bicara.‖ kata Po Kie kemudian. asal tuan-. kenapa dia girang?‖ ia tanya dirinya sendiri. Turut pikiranku. kami pasti akan bersyukur. entah bagaimana kemajuannya si Mayat Besi. bagaimana nanti…?‖ Tin Ok semua berdiam. Kalau kita bekerjasama berdelapan. jangan harap malah mungkin bakal rugi sendiri…‖ ―Habis apa sakit hatinya ngoko dan toako mesti dibiarkan tak terbalas?‖ kata Siauw Eng yang selalu ingat Thio A Seng. dia pun buta matanya. hanya orang lagi melindungi juga mereka sendiri. untuk dengar putusan si kakak.‖ Cu Cong semua berdiam. ―Silakan totiang beri petunjuk kepada kami. mereka masih kurang percaya sepenuhnya. dapatkah kau membiarkannya saja?‖ ―Laginya sekarang ini dia yang mencari kami. Ia putar kudanya. ―Hek Hong Siang Sat adalah murid-murid murtad dari Oey Yok Yu. untuk segera dikasih lari. ―Sejak dahulu kala ada dibilang. kami Cuma gemar berkelahi. ―Ayahnya hendak dibikin celaka orang. Tanghay. ―Taruh sekarang kita menyingkir dari dia. Umpama kata sekarang kita dapat singkirkan Bwee Tiauw Hong. Cu Cong semua terkejut. ilmunya Kiu Im Pek-kut Jiauw sudah terlatih sempurnya. cara bagaimana dia dapat ajarakan pula ilmu?‖ ia tanya. mungkin sekali Bwee Tiauw Hong telah dapat pengajaran baru dari Oey Yok Su…. ―Jalan ini ada sempurna.‖ berkata Ma Giok.‖ Ma Giok bilang. tanpa dapat penunjuk dari guru yang lihay. Suara kakaknya ini membikin heran saudara-saudaranya yang lain. Selama sepuluh tahun ini. ―Itulah memang benar.‖ Liok Koay berdiam. ―Kalau totiang sudi menunjuki suatu jalan terang. ―Ah! dengan begini bukankah ia jadi tidak bakal menikah sama Tusaga?‖ Maka ia pun bergirang. ―Benarkah itu?‖ tanyanya. pinto dapat menyatakan kepandaiannya Bwee Tiauw Hong telah maju pesat seklai. ―Maka itu totiang. ―Aku dengar sendiri persekutuan mereka itu! Lekas kau pergi kepada ayahmu!‖ Gochin menjadi tegang hatinya tetapi ia tertawa. ―Tuan-tuan telah binasakan suaminya. bukankah berarti sakit hati itu telah terbalas? Dia sebatang kara. Mereka mau menyangka orang bicara secara dilebih-lebihkan. tapi aneh kenapa Ma Giok ini nampaknya jeri kepada pemilik pulau Tho Hoa To itu? ―Totiang benar. Mereka pernah mendengar perihal kepandaian Oey Yok Su itu.‖ kata Tin Ok emudian. untuk selanjutnya tak dapat kita tidak berjaga-jaga.‖ berkata Ma Giok.‖ Coan Kim Hoat menyambungi. Inilah sulit!‖ ―Untuk itu pinto telah dapat pikir suatu jalan untuk menghindarkannya.‖ Cu Cong berkata kemudian. ―Hanya setelah mendengar Kwa tayhiap berusan perihal pertempuran pada belasan tahun yang sudah lalu itu. selama sepuluh tahun ini. ―Dia melatih diri secara demikian hebat. kemudian Oey Yok Su mendapat tahu.

sekarang ia dengar suara orang bicara dan menyebut-nyebut Khu Cie Kee dan namanya juga. ―St! Dia datang…!‖ kata Tin Ok. mereka menantikan sang sore. dia tampak wajah orang tegang. entah mayat atau orang hidup. ―Bersyukur kepada guru kami. tetapi untuk membari muka kepada Ma Giok. mereka lantas kasih turun dadung mereka. suaranya terdengar. Sebenarnya Tiauw Hong masih jauh tetapi kuping lihay dari Tin Ok sudah mendengarnya.‖ berkata Han Po Kie. ia menjadi terlebih kaget. Cuma kedua tangannya. 143 ―Bwee Tiauw Hong atur tulang-tulangnya di sini. Sekarang ini baharu mereka percaya habis imam itu. karena ia pikirkan keselamatannya Gochin. Sebenarnya Tin Ok tidak sudi mengalah. ia heran. Kwee Ceng terkejut kapan ia sudah lihat pakaian orang itu. mengapa dia masih belum datang?‖ tanya Po Kie.‖ kata Cu Cong. Cuma Kwee Ceng yang hatinya goncang. sambil beristirahat. Itulah Gochin Baki. mulutnya bergerak. Dengan lewatnya sang waktu. Di bebokongnya ia menggendol satu orang. enam saudara itu segera dapat lihat tumpukan tengokraknya Bwee Tiauw Hong. terhadap kami dari Coan Cin Kauw.‖ kata Ma Giok. ―Harap totiang tidak terlalu merendah. lalu perlahan-lahan menjadi gelap. tapi disaat itu juga. Mereka percaya. terpaksa mereka menurut. Sungguh gesit si Mayat Besi ini. mereka sama-sama mandaki jurang.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto harap tuan-tuan tidak menertawainya. Tin Ok berenam jalan di belakang Kwee Ceng. ia lantas mulai mendaki. Tak dapat dicegah lagi. putrinya Temuchin. Dia seperti naik di tangga saja. Semua orang berdiam. Mereka dapat lihat cara naiknya ma Giok.‖ . Ia tidak tahu ada berapa orang lihay yang bersembunyi di situ. Maka itu. Cu Cong semua yang mengawasi. yang adalah dari kulit burung tiauw yang putih. mejadi kagum. Ia seperti tidak menggunai kakinya. . Cuma tabiatnya itu dua saudara seperguruan saja yang berbeda. Ma Giok semua telah dapat lihat tingkah laku si Mayat Besi ini. hingga tibanya tengah malam. imam ini tidak ada di sebawahannya Khu Cie Kee. Masih mereka menantikan. Dia muncul dalam rupa seperti segumpal asap hitam. si wanita siluman itu terjatuh ke dalam tanganku. ―Kita baik tunggui saja padanya. Kesunyian telah memerintah di atas jurang itu. kawan kesayangannya. guna bnatu menggerek naik kepada Kanglam Liok Koay. ―Ada siapakah yang tidak menghormati Cit Cu?‖ Dengan ―Cit Cu‖ dimaksudkan tujuh persaudaraan Tiang Cun Cu. hati mereka berdenyut. Ia lantas saja bersembunyi di samping batu untuk memasang telinga.‖ Ma Giok minta. Kapan Cu Cong berpaling pada Coan kim Hoat dan Han Siauw Eng. habis bersantap. Segera juga Tiauw Hong tiba di atas. murid mereka itu. Sesempai di atas. wajahnya sendiri tentu begitu juga. memang Cit Cu ini ada juga nama kosongnya di dalam dunia kangouw. ―Eh. Dia terlihat nyata di bawah sinar rembulan. Setibanya Ma Giok dan Kwee Ceng di atas. sebentar dia bakal datang. Cu Cong bekap mulutnya. seraya guru yang kedua ini berkata terus: ―Kalau Bwee Tiauw Hong. mungkin Bwee Tiauw Hong tidak berani lancang turun tangan. cuaca mulai menjadi guram. pinto hendak menggunai suatu akal untuk membikin ia kabur…‖ Lantas imam itu tuturkan tipunya. mulai habis sabarnya. Irawan D Soedradjat Page Tiauw Hong sembunyi tanpa berani berkutik. Setibanya di kaki jurang. di dalam hati mereka tertawa.aku Khu Cie Kee – pasti aku tidak akan mau sudah saja!‖ Tiauw Hong dengar seruan kaget dan suaranya Kwee Ceng itu. Lantas semua orang duduk bersamedhi. Ia percaya. Karena ini juga. ―Pinto percaya. yang lemas. Ma Giok dan Kwee Ceng yang jalan di muka.

itu tandanya si nona tidak dalam bahaya jiwa. Cie Kee sendiri puji padanya. Dan yang terakhir adalah Ceng Ceng San-jin Sun Put Jie. Siauw Eng bicara sebagai juga ia adalah Ceng Ceng San-jin. mana bisa aku hidup lebih lama?‖ Cu Cong berkata pula: ―Malam ini gelap sekali sampai lima jeriji tangan sukar terlihat.‖ katanya dalam hati. Cuma dikhawatirkan keselamatan Kwee Ceng dan Gochin. Yang kedua adalah Tiang-cin-cu Tam Cie Toan. Ia tanya Hie Jin. Dipihak Liok Koay juga mungkin bakal ada yang bercelaka.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia memang banyak kejahatannya. Kwee Ceng menjadi sangat bingung. mengertilah ia bahwa orang mungkin mulai curiga. Ia lalu menjadi heran dan curiga. ―Kalau tidak.‖ ia menyahut. kalau aku terlihat mereka. ialah Tan-yang-cu Ma Giok. baik semua berlaku hati-hati. ―Ceng Ceng San-jin sangat murah hati. ―Dia berdosa tak terampunkan!‖ sahut Hie Jin sebagai Cie Toan. bagaimana pikiranmu?‖ tanya Siauw Eng. ―Engko Ceng lekas tolongi aku!‖ ia berteriak. Pembicaraan itu membikin gentar hatinya si Mayat Besi. untuk menyakinkan kekuatan kakinya itu. ―Selama ini telah maju pesat sekali kau punya ilmu Cie-pit-kang. yang mendapat julukan Thie Kak Sian si Dewa Kaki Besi. ―Syukur langit gelap. istrinya Ma Giok pada sebelum Ma Giok sucikan diri. Irawan D Soedradjat Page 144 . perlahan-lahan si nona membuka matanya. karena ia khawatir suaranya dikenali Bwee Tiauw Hong. yang disini menyamar sebagai Tam Cie Toan. Kalau terjadi pertempuran. yang disamarkan sebagai In Cie Peng. si toa-suheng. ―Tapi karena Coan Cit Kauw mengutamakan wales asih. untuk antarkan dia pergi ke sorga di Barat…‖ Dalam Coan Cin Cit Cu. ―Tam Suko.‖ berkata Cu Cong. kalau sebentar si siluman perempuan datang. Si nona tapinya tidak mengerti. pihaknya tak usah takut. Kauwcu Ong Tiong Yang ada punya tujuh murid yang mendapat nama baik. ―Barusan teecu seperti dengar suara wanita. supaya kami yang menjadi saudara-saudaramu dapat membuka mata kami.‖ ia dengar suaranya Han Siauw Eng. yang kelima Giok-yang-cu Ong Cie It. Murid kepala. ―Jangan bicara!‖ katanya. ―Coan Cin Cit Cu ada disini semua? Benarkah ada begini kebetulan? Bukankah orang lagi menghina aku karena aku buta dan sengaja mereka mengatur sandiwara?‖ ia mulai geraki tubuhnya. dengan mata mereka yang lihay. tidak seorang juga kaum kangouw yang tidak mengetahuinya. kepandaian mereka juga maju pesat. baiklah ia diberi jalan baru…. Kau akur?‖ Hie in sengaja menyahut: ―Lebih baik minta Ong Sutee yang gunai kaki besinya untuk dupak dia. tentang mereka itu. ―Cie Peng. yang kedua adalah Ong Cie It. Kita mesti mencegah si siluman perempuan itu dapat meloloskan diri!‖ Girang Tiauw Hong mendengar itu.‖ Cu Cong tertawa. Tapi dia toh bicara dengan suara keras! Kagetnya Tiauw Hong tidak kalah dengan kagetnya si anak muda. Kwee Ceng tahu peranannya. silahkan kau yang turun tangan. yang ketiga Tiang-sen-cu Lauw Cie Hian. hingga ia berpikir: ―Coan Cin Cit Cu telah berkumpul semua. ia lantas menggoyangi tangan. Sembilan tahun ia mengeram di dalam gua. Ma Giok kasih lihat gerakan si Mayat Besi itu. Tiba-tiba Tiauw Hong ingat apa-apa. Demikian mereka ini berbicara. Berterima kasih kepada Langit dan Bumi yang sang rembulan tidak muncul!‖ Kwee ceng sendiri mengawasi Gochin. Khu Cie Kee yang namanya paling tersohor. seperti sandiwara. ―Tam Suko. Cuma Tin Ok yang bungkam. Segera ia totok urat gagu si tuan putri itu. karena lihaynya tendangannya dan pernah ia bertaruh mendaki jurang yang tinggi hingga ia dapat menakluki beberapa puluh orang gagah di Utara. apakah kau yang barusan berbicara?‖ tanya Coan Kim kepada muridnya. Yang keenam Kong-leng-cu Cek Tay Thong. untuk mencegah si nona itu berbicara. Ia menjadi berkhawatir. Yang keempat ialah Tang Cun Cu Khu Cie Kee. kalau sebentar kita turun tangan. pantas suhu pernah bilang kau gampang untuk mencapai kesempurnaan!‖ katanya. Ia menjadi lega hatinya. mereka tentulah telah dapat lihat aku.

dagingnya melesak ke dalam. untuk mengasih bangun padanya. Baiklah aku menyingkir dari mereka…‖ Dengan perdengarkan suara. di situ ada petahan lima jari tangan. Tapi ia ingat suatu apa. tubuhnya diam saja. terdengar tedas sampai jauh. Kwee Ceng lantas lari menjauhkan diri. maka anak muda itu menjadi mati daya. Tapi Tiauw Hong benar-benar lihay. Coba kau pertunjuki untuk kami lihat. tidak berani aku memohon pengajaran dari totiang beramai.‖ Tiba-tiba terdengar suara dingin dari belakang batu: ―Terima kasih untuk kebaikannya Coan Cin Cit Cu! Aku. ia lihat bahaya mengancam. Perlahan-lahan ia kembali ke tempat sembunyinya. berkumandang di dalam lembah. kali ini ia memegang nadi orang. Tentu sekali. diumpamakan dengan rasa hati. untuk berkelit.‖ ―Itulah perkara gampang. tak dapat aku lawan kau. Aku pikir. umpama kata ia menyesal dan suka mengubah kesalahannya yang dulu-dulu dan tidak tidak lagi mencelakai orang-orang yang tidak bersalah dosa serta tidak akan mengganggu pula kepada Kanglam Liok Koay. Itu bukanlah pertanyaan biasa. Memang persahabatannya erat sekali dengan itu putri serta Tuli. Maka ia lantas membentak: ―Silumanm.‖ sahut Cu Cong. yaitu Kimkwan Giok-cauw ie-sie Koat? Pastilah kau telah peroleh kemajuan. tetapi telah lama aku dengar ilmu silatnya Ceng Ceng San-jin. mungkin tangannya itu sudah tidak dapat ditolong lagi…. segera ia berkata dengan nyaring: ―Toa suko. Imam ini bicara secara merendah akan tetapi ia telah gunai tenaga dalamnya. tidak tahunya dia benar bernyali besar. Ia dapat lolos. baiklah kita beri ampun kepadanya. dia malah menghampiri mereka. Tahu-tahu tangan kirinya si Mayat Besi sudah lantas menyambar dan mencekal tangan kirinya. ia lompat kepada kawannya itu. Oleh karena ini. ia lantas menjawab: ―Sebenarnya walaupun aku menjadi saudara yang tertua. pergi kau menemui mereka itu. Mereka duga Tiauw Hong jeri dan bakal menyingkirkan diri secara diam-diam.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong mengawasi gerak-geriknya Bwee Tiauw Hong. bagaimana dengan penyakinan pelajaran yang suhu ajarakan beberapa tahun ini. ia berkhawatir. Apa yang aku dapati dari guru kita. rasa hati harus dikendali. maka itu suaranya nyaring luar biasa. asal dia suka mengubah perbuatannya…. murid dari Tiang Cun Cin-jin. Kwee Ceng lihat Gochin rebah di tanah. Kata-kata itu ialah istilah dalam kalangan agama To Kauw. kedua pihak baiklah menyudahi urusan mereka. kau bersahabat serat dengan Kanglam Liok Koay. Bwee Tiauw Hong ada di sini!‖ Semua orang terperanjat sangking herannya. ingin aku memohon pengajaran daripadanya…‖ Habis berkata. Bwee Tiauw Hong mengkerat mendengar suara orang itu. Tiauw Hong berkata pula: ―Aku adalah seorang wanita. Itu artinya. untuk mohon mereka jangan membuat perhitungan pula dengan dia. ia dapat meloloskan diri dari tanganku. apakah artinya itu?‖ Ma Giok menyahuti: ―Timah itu sifatnya berat. Tiauw Hong pun tidak berani mengulangi tantangannya untuk mencoba menempur Sun Put Jie. peryakinan berhasil. Khu Sutee. Di satu pihak ia lemparkan tubuh Gochin kepada Siauw Eng. lantaran aku bebal. ―Penyelesaiannya berada di pihak Bwee Tiauw Hong sendiri. dilain pihak ia geraki tangan kirinya itu. maka ia tanya Ma Giok: ―Ma totiang. ia berdiri. atas mana Kwee Ceng segera memberikan penyahutan: ―Teecu adalah In Cie Peng.‖ Irawan D Soedradjat Page Pertanyaan itu membuat Ma Giok terkejut. Maka sekarang. ―Hm!‖ ia lepaskan cekalannya. timah dan air perak disimpan denagn hati-hati. ia harus dikasihani juga. dalam sepuluh tahun tidak ada dua…. ia menyambar pula. kau hendak mendapatkan pelajaran sejati? Lekas pergi!‖ 145 Tiauw Hong tanya pula: ―Nona muda dan anak muda. Cu Cong memberi tanda dengan tangan kepada muridnya itu. Coba si Mayat Besi tidak jeri.‖ Tiauw Hong segera berpikir: ―Muridnya begini muda tetapi tenaga dalamnya sudah bagus sekali. ia berkata pula: ―Kabarnya Bwee Tiauw Hong telah buta kedua matanya. tanpa pedulikan lihaynya Bwee Tiauw Hong. Ma Giok llihat kelakuan orang. dengan berdiam. ―Siapa kau?‖ tanya si buta.‖ Ma Giok tahu Cu Cong ingin dia perlihatkan kepandaiannya guna menakluki Bwe Tiauw Hong. siap sedia dengan cambuknya yang panjang itu. apabila ia lihat tangannya. apakah artinya itu?‖ . saudara-saudaraku. tidak dapat ia berdiam saja. kalau benar.

dia rupanya telah dapat cari jalan itu. tetapi di tengah jalan aku dibekuk perempuan buta itu. karena ia lantas berkata kepada Kwee Ceng: ―Engko Ceng. orang berlega hati melihat perginya wanita bagaikan siluman itu. Ayah bilang.‖ sahut Gochin. Ma Giok segera totok sadar kepada Gochin yang diletaki di atas batu untuk beristirahat. mereka tidak mengerti. atau ilmu dalam. sudah tentu kami sukar lolos dari nasib celaka. Pinto khawatir jawaban itu nanti menjadi bahaya di belakang hari…‖ Cu Cong semua mengawasi.‖ berkata Ma Giok. Ia lihat imam itu berduka. sejenak barusan pinto telah kena tertipu wanita yang sangat licin itu. lalu ia sadar. tidak disangka si Mayat Besi telah jadi begini lihay. Ayah bilang. sepulangnya nanti. Irawan D Soedradjat Page 146 ―Sudah sekian lama. aku tidak bercuriga…. ―Sepuluh tahun ia tak tertampak. Setahu darimana. telah berada di atasan pinto dan saudara-saudara. Di lain pihak.‖ ―Oleh karena kurang pikir. Kalau dia tambah lihay dan tetap ia berbuat jahat. dia belum berhasil menyakinkannya. ia hendak hukum padamu. ―Hanya tadi ketika ia menanya padaku. Benar pinto telah baharu menjawab sekali.!‖ Selagi Ma Giok mengatakan demikian. Mestinya itu adalah jalan yang ia belum dapat tangkap artinya. lantaran aku tidak sudi menikah denagn Tusaga. Aku telah jelaskan bahwa hal itu kau dengar dengan kupingmu sendiri. hanya karena tidak ada orang yang tunjuki. maka itu Cu Cong dan yang lainnya kata dalam hati mereka: ―Coba tidak ada kita disini. aku jadi hendak memperdayainya. kami bersedia untuk menerima titah-titahmu. Inilah yang pertama kali ia menghadapi soal sulit itu. Karena itu aku segera berangkat untuk cari kau. ―Itulah bukan. Ia rupanya sadar seluruhnya. ―Harap saja begitu. Ayah pergi dengan mengajak ketiga kakakku serta belasan pengiring. Hanya dalam Iweekang.‖ sahut imam itu. ―Totiang. tentulah batok kepalamu sudah berlobang lima jari tanga…‖ ―Sudah berapa lama Khan pergi?‖ tanya Kwee Ceng yang hatinya cemas. Kwee Ceng menjadi bingung. gerakannya sangat enteng dan pesat. totiang!‖ katanya. hingga orang semua kagum. ayah tertawa terbahak-bahak. ―Terima kasih atas petunjukmu. akan tetapi itu satu juga bisa membantu banyak padanya untuk ia peroleh kemajuan…‖ ―Harap saja ia insyaf dan tidak nanti melakukan pula kejahatan. ―Mereka menunggang kuda pilihan. Sangum dan Jamukha bakal celakai ayahku itu. masih belum tentu kita dapat menangkan dia. . yaitu yang disebut Gwa-mui atau ilmu luar. Adakah dia yang membawa aku menemui kamu?‖ Putri ini tak sadar akan bahaya yang mengancam padanya tadinya. cambuknya digeraki melilit batu. dia jadi terlebih sukar untuk ditakluki. ayah malah jadi semakin tidak percaya. ia lompat ke arah jurang. yang keningnya berkerut. Gochin perdengarkan suara. ―Ilmunya si Mayat Besi ini.‖ sahut si imam kemudian. Tidak lama lagi tentulah mereka akan sudah sampai di tempatnya Wang Khan. Tadi ia menanyakan jalan itu kepada pinto. Terus ia berlompat. bagaimana sekarang?‖ Lantas saja ia menangis. Cu Cong semua terkejut. pinto telah jawab dia.‖ berkata imam itu setelah menghela napas panjang. tanpa berpikir lagi.‖ Cu Cong tawarkan diri.‖ kata Siauw Eng separuh menghibur.‖ berkata Cu Cong. Ah.‖ ―Jangan mengucap begitu. apabila ia menarik dan tubuhnya mencelat. ―Umpama kata Khu Sutee dan Ong Sutee berada di sini. ―Harap totiang jangan segan-segan menitah kami. ayahku tidak percaya keteranganku. suatu tanda bahwa ia ada mendukakan apa-apa. ―Kenapa Khan tidak percaya kepada kau?‖ ia tanya. ayah sudah ajak orang pergi kepada Wang Khan…‖ Kwee Ceng kaget. ―Tempo aku beritahukan bahwa kedua paman Sangum dan Jamukha hendak membikin ayah celaka. ―Coba tidak totiang membantu kami. Terus ia angkat tubuhnya. apabila kau memerlukan sesuatu. dasar aku yang semberono. Engko Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali Tiauw Hong tertawa lebar. dia belum menemui jalannya yang benar. untuk berduduk di atas batu. walupun kami tidak punya guna. ―Adakah totiang dilukai senjata rahasia?‖ mereka tanya.

begitu naik ke atas bukit. tetapi ayah angkatku. Selang dua jam. ―Siap sedia!‖ Dalam keadaan seperti itu. yang terus tuturkan persekutuannya Wanyen Lieh. ―Lebih baik terpedaya satu kali tetapi jangan mati konyol!‖ Maka ia terus berpaling pada Ogotai. kita sehidup semati. untuk tiba di samping khan itu. sedang Ma Giok denagn mengikat tubuh Gochin. tetapi si kuda tidak mau berhenti.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng lekas kau pergi!‖ berkata Cu Cong. malah mereka ini tahu tugasnya. ―Jangan pergi lebih jauh!‖ Temuchin heran. habis mana. ―Benar-benar pasukannya Wang Khan!‖ ia berseru. lekas kau pergi kepada kakakmu Tuli. khan ini tidak jeri. Temuchin adalah seorang yang teliti. disusul sama munculnya satu pasukan tentara terdiri dari beberapa ribu jiwa. Maka itu kemudian ia sudah mulai dapat melihat bendera yang besar dari Temuchin. Setibanya di lembah. tanpa ayal lagi. Ketika si opsir dapat ketahui dan berseru. Pernah ia mencoba menahan. Setelah ia mendatangi lebih dekat. Dari benderanya ketahuan. tuan putri. ―Kha Khan. ia keprak kudanya untuk dikasih lari lewat di sini tentara itu. ―Ada apa?‖ ia menanya. Irawan D Soedradjat Page 147 . Dengan roman bersangsi. ia khawatir hewan itu terlalu letih. mereka lantas menggali lobang dan memindahkan batu. ―Naik ke bukit itu!‖ Ia kasih perintah. ia kabur pula. ia kata pula: ―Kha Khan. Terang Temuchin telah lewat di situ. ―Kau pakai kuda merahmu itu untuk susul Khan yang agung! Umpama kata ia tidak mempercayaimu. untuk mengatakan: ―Lekas kamu pergi menyelediki!‖ Dua orang itu sudah lantas lari balik. Kwee Ceng kabur ke kemah di mana ia ambil kudanya. Saudaraku Jamukha ada sangat baik denganku. cobalah kirim orang untuk periksa benar atau tidak ada tentara pencegat jalan!‖ Biar bagaimana. ―Ada bahaya. Jebe ada sangat awas. Dipaling depan pasukan itu terlihat Ogotai dan Chilaun lari kabur mendatangi. panglimanya. Ia pun berpendirian. Sesudah lari lagi satu jam. buat berjagajaga diiri dari serangan anak panah. Ia khawatir Temuchin keburu sampai di tempat Wang Khan dan itu artinya bahaya untuk Khan yang maha agung itu. nampaknya ia tidak takut capek. tengah mengandali tenagaku. Di dalam hati Kwee Ceng mengeluh. terus ia lari. Karena ini. ia tampak tentara itu tengah mengejar. ia sudah lewat jauh! Di tengah jalan Kwee Ceng tidak berani berlambat. untuk mencegah. ia puas benar dengan kudanya yang larinya sangat pesat. tibalah Kwee Ceng di tempat datar dimana kedapatan tiga baris tentera yang jumlahnya mungkin tiga ribu jiwa. lekas kembali!‖ ia berteriak. Segera terlihat pula. malah tiga jagaan telah ia lewatkan terus. itulah pasukan Wang Khan. tubuhnya mendekam di punggung kuda. dan itu berarti. untuk berjalan perlahan-lahan. ia tahan kudanya. Ia pun beritahukan perihal tentera pencegat di belakang mereka. untuk minta ia lekas siapkan tentara guna segera pergi menyusul dan menolongi ayahmu!‖ Kwee Ceng menginsyafi keadaan. Temuchin memandang ke sekelilingnya. baru kuda itu mau juga diistirahatkan sebentar. Dan kau. putranya yang kedua itu dan Chilaun.‖ sahut Kwee Ceng. Tak lama dari selatan terlihat debu mengepul naik. Ia pun ada bersama orang-orangnya ynag gagah. Di lain pihak ia menjadi girang sekali. ia tampak rombongan dari belasan orang yang tengah maju terus. Temuchin awasi bocah tanggung ini. apa mungkin nia hendak mencelaki aku?‖ Kwee Ceng tahu khan itu bersangsi. dia harus mengirim orang untuk mencari keterangan terlebih dahulu. cambuknya dipecut berulang-ulang. apapula di tanah rata. Ia pun berpikir: ―Memang Sangum tidak akur dengan aku. jalan pulang dari Khan agung itu telah terpegat. ia mendahului turun dari atas jurang. siapa sudah lari terus. guna memegat Ogotai dan Chilaun. pasukan pengejar itu memecah diri dalam diri dalam jumlah ratusan jiwa. guna dikasih lari sekeras-kerasnya. Wang Khan. untuk menaikinya. ia keprak kudanya. mereka ambil sikap mengurung. telah turunkan tuan putri itu. yang siap sedia denagn panah dan golok terhunus.

kambing dan kuda. Jebe lebih lihay daripada muridnya ini. diturut oleh muridnya. siap sedia tameng besi mereka guna menangkis panah gelap. kapan orang-orangnya Sangum mendengarnya. ia tiba lebih dahulu kepada Ogotai dan Chilaun. kau langgar aturan leluhur kita? Kenapa kau hendak persatukan semua suku?‖ ―Bangsa Mongolia telah diperhina oleh negara Kim. ia pun nyata sekali kepuasannya. sukar buat ia menoblos kurungan. Penunggang kuda itu dandan sebagai satu panglima perang. Tusaga adanya. sudah lantas memanah juga. Ia anggap ia mesti menang tempo. ada juga yang malas dan cuma doyan gegares! Kenapa mereka yang rajin mengasih makan mereka yang malas itu? Kenapa kita tidak hendak memberikan lebih banyak kerbau dan kambing kepada yang rajin? Kenapa kita tidak mau membiarkan si malas itu mati kelaparan?‖ Dijaman dahulu bangsa Mongolia hidup dalam suatu keluarga atau suku. ia turut memanah. terus ia gunai panahnya. tiga pengejar terdepan rubuh dari kuda mereka. Panah mereka tidak pernah gagal. Akan tetapi musuh berjumlah besar. Beberapa puluh tentara lain pun melindungi dia dengan mereka. Ia berlaku jumawa. kenapa kita mesti takuti bangsa Kim itu?‖ Kata-kata ini tajam. ternaknya kambing dan kerbau adalah kepunyaan beramai satu suku. Temuchin tidak menyahuti. putranya Wang Khan. maka kau bawa pasukanmu untuk menyerang aku?‖ Sangum pun menjawab dengan pertanyaannya: ―Adakah sejak jaman dahulu kala bangsa Mongol tinggal pada masing-masing sukunya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng. ―Temuchin. kemudian karena tenaga pertumbuhan mereka bertambah dan adanya pemakaian alat-alat dari besi. Dan ia keprak kudanya. Orang itu ialah Sangum. ia membuatnya tentaranya Sangum menyetujuinya. Hebat lari kudanya kwee Ceng. Dengan aksi ia larikan kudanya mondarmandir. Keadaan ada sangat mendesak dan sulit. dengan siapa ia Irawan D Soedradjat Page 148 . Kemudian pada sebuah pasukan ia tampak seorang yang menunggang seekor kuda yang besar. Tuli sendiri belum tentu tepat datangnya. Temuchin lanjtui perkataannya: ―Bangsa Mongolia bangsa orang-orang peperangan yang pandai. Kwee Ceng kenali panglima yang masih muda itu. mereka sekarang turut menyerang denagn panah mereka. ―Asal saja kuta bangsa Mongolia tidak saling menyerang. karena ada kemungkinan tentaranya tak mau dengar putra yang masih muda itu. negara itu menghendaki kita setiap tahun membayar upeti beberapa laksa ekor kerbau. denagn begitu pihak pengejar dapat tertahan majunya. mari kita sambut mereka!‖ Jebe berteriak. ternaknya adalah kepunyaan suku bersama. mereka maju bagaikan gelombang! Ogotai dan Chilaun telah tahan kuda mereka dan berbalik. Di tangannya panglima itu ada sebatang golok besar. ia mengenakan juga mantel bulu kulit binatang tiauw yang mahal. ―Adik Sangum. di sebelahnya baju lapis. lekas menyerah!‖ demikian ia berteriak. Sangum mengerti orang lagi menghasut tentaranya. Temuchin naik ke tempat yang lebih tinggi. Bagaimana bahaya dapat dihindarkan? Selagi ia berpikir. diam-diam mereka itu pada mengangguk. kenapakah kita tidak hendak pergi mengambil emas dan perak dan permatanya bangsa Kim itu? Kenapa kita mesti tiap tahun membayar upeti terhadap mereka? Kita bangsa Mongolia ada diantaranya yang rajin memelihara kerbau dan kambing. ia hanya menanya: ―Apakah salahku terhadap ayahku Wang Khan. jangan kau memikir untuk hidup lebih lama pula!‖ Kwee Ceng menjadi cemas sekali. berlaksanaan anak panah bakal dilepaskan terhadap dirimu! Jikalau itu sampai terjadi. ―Asal aku menuding dengan cambukku ini. ia menyusuli dengan anak panahnya yang keempat. Ia lantas saja berpikir. Juji dan lainnya. Dengan diiringi pasukan pengawalnya. Di sini khan itu bersama Borchu. adakah itu selayaknya?‖ Temuchin balik tanya. maka denagn berulang-ulang sejumlah serdadu musuh rubuh terguling. Mereka setujui perkataan itu. hati mereka goncang. perlahan-lahan sifat itu berubah. tetapi kau kenapa. Temuchin sengaja singgung sifat itu. Sendirian saja. Ketika ia buka mulutnya. akan memandang jauh ke empat penjuru. Cepat luar biasa. ―Jikalau kau tidak mau menyerah!‖ ia membentak. aku minta sukalah kau datang ke mari untuk bicara!‖ ia lanats teriaki itu saudara angkat. ialah kebanyakan bangsa penggembala itu memakai cara memiliki sendirisendiri. Ia telah menyaksikan tentaranya Wang Khan tengah mendatangi di empat jurusan itu. Sangum mendekati bukit. mendahulukan gurunya. putra Sangum. sembari menyerang mereka mundur ke bukit dimana Temuchin menanti. ia lihat satu penunggang kuda di kaki bukit itu. dengan memperlambat segala apa. dengan berulang-ulang. kapan tiga anak panahnya melesat. yang ditawungi bendera kuning yang besar juga.

Ujian Yang Pertama Sangum murka berbareng bingung. Kuda itu pun lantas mengerti. ia kasih perintah orangorangnya terus memasang mata. Temuchin hunus goloknya. Jamukha menghela napas. ―Kakak kau telah menjadi Khan yang agung. ia mati kutu.‖ katanya Jamukha lagi. katanya. mereka khawatir nanti kena memanah pemimpin mereka yang muda itu. Selagi Kwee ceng hendak geser pemuda itu. Kira-kira tengah malam. seorang denagn pakaian putih muncul di kaki bukit. ia suruh mereka masing-masing mematahkannya. Ia tampak Temuchin berdiri menantikan dengan romannya yang angker. Ia lantas ingat suatu apa. tapi pengurungan tidak dibubarkan. Bukan main girangnya Temuchin. ―Adakah kau masih anggap aku sebagai kakak angkatmu?‖ ia menegur.Pendekar Pemanah Rajawali pernah berkelahi waktu kecil. maka ia jepit kudanya. ―Kenapa kau bercita-cita mempersatukan bangsa Mongolia?‖ ―Kau sebenarnya menghendaki apa?‖ Temuchin tanya. sambil berpaling. Bergantian mereka berlima mencoba mematahkan anak panah itu. ―Pelbagai kepala suku pada membilangnya bahwa leluhur kita sudah turun temurun beberapa ratus tahun hidup secara begini. ia masaki daging kambing kepada mereka. Dia dapat lari tak kalah pesatnya seperti waktu turun tadi. ia lantas lari ke arah bukit untuk mendaki. Tiga kali Sangum mengirim utusan. Ia lantas duduk bersila. Ingatkah apa pesan leluhur kita itu?‖ Irawan D Soedradjat Page 149 . Tepat tangkisan itu. ia lantas berteriak: ―Di sini Jamukha! Aku ingin bicara dengan saudara Temuchin!‖ ―Kau naiklah kemari!‖ Temuchin menjawab Jamukha mendaki dengan perlahan-lahan. ingin ia memeluk. Adalah adat istiadat bangsa Mongolia akan saudara muda memeluk dan merangkul saudara tuanya. tubuhnya kena diangkat dari kudanya. Temuchin usir utusan itu. tangan kirinya menangkis. meminta putranya dimerdekaan. Dengan tidak kurang suatu apa pun Kwee Ceng tiba di samping Temuchin. kenapa kau masih berambekan besar sekali?‖ ia tanya. ia dengar suara anginnya senjata mengaung di arah belakangnya. malah kereta besar dikitarkan diseputar bukit itu. langit telah menjadi gelap. Temuchin khawatir Sangum menyerbu. ―Apakah kau masih ingat cerita tentang leluhur kita Maral Goa?‖ Temuchin tanya. untuk ringkus Tusaga. Mereka Cuma mundur. Lalu ia berikan mereka lima batang anak panah yang digabung menjadi satu. Ia maju mendekati. ―Lima putra mereka tidak hidup rukun. Dengan gampang mereka itu melakukannya. Ia segera menuding dada Tusaga dengan ujung tombaknya sembari berbuat begitu. yang diperintah gunai dadung. Ia lempar tubuh Tusaga ke tanah. supaya Temuchin menyerah. tapi tiga-tiga kalinya. Menampak itu. untuk dipakai menjadi tameng. Ia kaget dan tidak menyangka putranya dapat ditawan musuh selagi putra itu berada dalam lindungan tentaranya yang berjumlah besar itu. Celaka untuk Tusaga. ia kasih lari turun gunung. dalam tujuh dan delapan lapis! Temuchin puji Kwee Ceng. ia tidak bisa berbuat lain daripada keluarkan titahnya untuk pasukannya itu mundur seratus tombak. Segera ia bentur perut kudanya denagn dengkulnya yang kanan. ―Lepas panah!‖ orang-orangnya Sangum berteriak. tidak dapat ia berontak. nanti jiwanya Temuchin akan diberi ampun. begitu kena di cekal. ke dekatnya khan yang agung itu. sepasang tombak kena dibikin terpental ke udara. Tanpa terasa. maka tempo Kwee Ceng menarik. ia teriaki Sangum: ―Lekas kau suruh semua orangmu mundur seratus tombak!‖ Bab 14. mereka gagal. Kwee Ceng tidak takut. kembali ia menitahkan mereka untuk mematahkannya. maka itu kenapa khan yang agung Temuchin hendak mengubahnya? Tuhan juga tidak memperkenankan itu. ia pegang tubuhnya Tusaga. mereka juga masing-masing diberikan seorang sebatang anak panah. untuk menghampiri pemuda itu. tidak ada satu serdadu pun yang berani memanah. ia berpaling lekas.

Sungguh tidak ia sangka. hingga membaliki belakang kepadanya. untuk selamanya tidak bakal ada Temuchin lagi! Jikalau kau tidak merdekakan Tusaga. dia minta kuda. akan tuang keluar isinya. kalau satu putranya terbinasa. ―Mulanya akun juga menyangka raja Kim itu baik hati. Aku tanggung Sangum nanti melepaskan kau pulang dengan selamat!‖ ―Aku tidak percaya Sangum! Aku juga tidak percaya kau!‖ ―Sangum bilang. tak tepat itu dengan pengajaran leluhur kita!‖ Temuchin berseru: ―Akan tetapi semau orang peperangan yang muda-muda senang dengan caraku itu!‖ ―Baiklah saudara Temuchin. Ia pun keluarkan satu kantung kulit kecil dari sakunya. kau mengatakannya itu milik mereka pribadi. kamu menjadi seperti lima batang anak panah yang digabung menjadi satu ini. ―Kita membagi-bagikan kerbau dan kambing rampasan kepada tentara. ―Aku lebih suka terbinasa dalam perang. tanpa membilang apa-apa. sekian lama ia diam asaj. ―Jadinya kau suka yang kita semua diperhina dan ditindih bangsa Kim itu?‖ ―Mereka pun tidak menghina dan menindih kita. ―Raja Kim itu telah anugerahkan pangkat Ciauwtouwusu padamu. ia letaki itu di samping kakinya Temuchin.‖ katanya. ―Dan bagaimana dengan kau sendiri?‖ ―Aku datang untuk meminta kau jangan gusar. Ia ada sangat berduka.‖ kata Jamukha. ―Harap kau tidak mengatakannya aku tidak berbudi!‖ Temuchin lantas keluarkan satu bungkusan kecil dari dalam sakunya. Aku minta supaya kau kasih pulang Tusaga kepada Sangum. Temuchin mengawasi belakang orang. kau bakal tak dapat melihat lagi matahari besok!‖ Temuchin membacok ke udara. bukannya kakak angkatmu!‖ Jamukha jemput bungkusan kecil itu. rangsumnya bertumpuk bagaikan gunung. bukannya milik suku beramai. Mengenai itu. kakak. kita bersatu hati bekerja sama untuk memusnahkan bangsa Kim itu!‖ Jamukha terkejut. ―Berontak? Hm! Berontak!‖ seru Temuchin menghina. ―Siapa tahu permintaannya kepada kita makin lama jadi makin hebat! Sudah minta kerbau dan kambing. ia lemparkan ke depan Jamukha. Ia tambahkan. ia geraki tangannya seperti hendak membacok batang lehernya. kenapa kita tidak hendak mempersatukan bangsa Monglia kita? Kita harus saling kepruk. cara bagaimana bangsa Mongolia bisa main gila terhadapnya?‖ ―Hm!‖ Temuchin perdengarkan ejekannya. Ia bilang: ―Inilah tanda mata ketika angkat saudara untuk ketiga kalinya. sekarang kau terimalah kembali! Besok kau membawa golokmu untuk berperang di sini!‖ Sembari berkata begitu.‖ kata Jamukha. ―Kita juga adalah orang-orang gagah. saudara angkat itu yang bagaikan saudara kandungnya bisa berubah demikian rupa. Jamukha bangkit berdiri. Lalu dengan perlahan-lahan ia buka kantung kulit itu. Kata ia: ―Negeri Kim itu banyak tentaranya dan banyak panglima perangnya. kamu menjadi seperti anak panah ini. ialah kepala panah dan biji piesek yang diwaktu muda mereka sering membuat main.Pendekar Pemanah Rajawali Dengan perlahan Jamukha mengatakan: ―Jikalau kamu masing-masing bercerai-berai.‖ Temuchin menjadi mendongkol.!‖ kata Jamukha pula. yang gampang sekali orang siapapun dapat mematahkannya. bagus!‖ seru Temuchin. lalu ia memutar tubuhnya untuk turun dari bukit itu. ―Benar begitu!‖ kata Temuchin. Segera terbayang di hadapan Irawan D Soedradjat Page 150 . semua pelbagai kepala suku mengatakannya kau berlaku buruk. jikalau kamu berpadu hati bersatu tenaga. yang tak dapat dipatahkan siapa juga!‖ ―Kau masih ingat itu. dan sekarang dia menghendaki orang-orang peperangan kita membantu ia berperang!‖ ―Wang Khan dan Sangum tidak ingin memberontak terhadap negara Kim itu. ―Kemudian bagaimana?‖ ―Kemudian mereka berlima bersatu padu bekerja sama. ―Yang dibunuh itu adalah musuh. emasnya tersebar di seluruh negaranya. tak nanti aku menyerah!‖ serunya. dia bakal melahirkan dua putra lagi! Kalau satu Temuchin terbinasa. mereka menjadi leluhur kita bangsa Mongolia!‖ sahut Jamukha.

kita bukannya tandingan jago-jago Rimba Persilatan itu…‖ pikirnya. yang menerangi tanah datar seperti juga banyak bintang di langit. Ia berdiam sekian lama. di situ ia pendam itu barang tanda mata dari adik angkatnya itu. Dia sangat gesit dan gapa. ―Kau ada seorang gagah. ―Apakah kau takut?‖ ia tanya. mereka dipapaki hujan panah oleh Jebe dan Borchu beramai. kita bisa menang perang. lantas sebatang panah tangan menyambar ke batang lehernya putra Temuchin itu. Jadi mereka adalah orang-orang Rimba Persilatan. ―Temuchin. Habis menguruk tanah dengan kedua tangannya. Di bawah bendera itu ada tiga orang. jalanan yang bisa diambil musuh untuk menerjang naik. ―…. tujukan panahnya dan memanah pangeran itu.Pendekar Pemanah Rajawali matanya saat dahulu hari ketika mereka sama-sama bermain-main di es. untuk lari mendaki ke atas gunung. dan di tengahtengah adalah Chao Wang Wanyen Lieh. Wanyen Lieh lantas saja berseru dengan titahnya: ―Tolongi Tusaga! Bekuk Temuchin!‖ Atas titah itu. Ini waktu terlihat tentara musuh sudah mulai bergerak. Irawan D Soedradjat Page Satu di antara empat orang itu.kita pasti dapat membuat seluruh dunia. Ia mengerti. anak panah mereka diarahkan ke setiap jalanan di gunung itu. di kiri Sangum. Ia menunjuk kepada api di kejauhan itu. Kwee Ceng terperanjat menyaksikan kegesitan empat orang itu. disusul sama bacokan goloknya. yang menyambuti anak panah itu dengan tangannya. Dengan goloknya ia mencongkel sebuah liang di tanah. Juji. Mereka itu menggunai ilmu enteng tubuh. Di belakang pangeran ini segera muncul satu orang. tetapi dengan tamengnya. Ia menghela napas. tangan kirinya mencekal tameng untuk pencegah panah. empat orang berlompat maju. tidak nanti kita dapat dikalahkan Sangum yang berhati kecil dan hina dina itu!‖ Temuchin pun menjadi bersemangat. bukannya orang peperangan yang biasa. Ia nampak api yang dinyalakan tentaranya Sangum dan Jamukha. di kanan Jamukha. ia melanjutkan: ―Mereka itu juga orang-orang gagah! Kami bangsa Mongolia ada punya begini banyak orang gagah. Berbareng dengan 151 Kwee Ceng jadi berkhawatir. putra keenam dari raja Kim. sebuah bendera kuning muncul dari dalam pasukannya Sangum. ―Benar!‖ sambutnya. Dia ayun tangannya. yang menuju ke sisi gunung. Tidak antara lama. rupanya mereka hendak memulai penyerbuan mereka. adakah kau hendak memberontak terhadap negara Kim yang agung?!‖ tanya itu pangeran. Temuchin bersama ketiga putranya dan semua panglimanya mendekam di belakang tumpukan tanah. membuat seluruh dua menjadi ladang tempat kita menggembala ternak kita!‖ Kagum Kwee Ceng akan dengar itu cita-cita dari Khan yang agung ini.‖ Kwee Ceng menyahuti. orang gagah yang baik sekali. satu pemuda dengan pakaian hitam sudah lantas sampai di atas gunung. sayang kami saling bunuh satu sama lain! Coba semua dapat berserikat menjadi satu…‖ Ia memandang ke ujung langit. cuaca sudah mulai terang. Setibanya empat orang itu di tengah jalan. Di dalam pasukannya Sangum dan Jamukha segera terdengar suara terompet. hingga ia dapatkan Kwee Ceng berdiri diam di sampingnya. kemudaian berpaling. Hari ini kita akan mati perang di gunung ini!‖ kata Temuchin. Dia dirintangi oleh Ogotai yang bersenjatakan sebatang golok besar. putra sulung Temuchin.‖ Temuchin memuji. mereka halau setiap anak panah itu. Mereka itu adalah. lalu menambahkan pula. ―Mari kita ingat pembicaraan kita malam ini! Selanjutnya akan aku pandang kau sebagai anak kandungku!‖ Dan ia rangkul si anak muda! Sementara itu. Ia memandag ke depan. apa yang Temuchin pendam itu adalah persahabatan yang ia paling hargakan…. Temuchin bangun berdiri. ―Bala bantuan tidak datang. Pangeran Kim ini memakai kopiah dan jubah perang bersalut emas. ―Bagaimana sekarang?‖ . Ia lantas kata: ―Khan yang agung. Kwee Ceng di samping mengawasi dengan perasaan berat. ―Kita di sini adalah orang-orang peperangan semua. ―Aku tengah memikirkan ibuku.

Dipihak lain. yang mencekal pedang. Mereka ini pun telah dengar suaranya jiesuko mereka. ―Siapa berani maju!‖ ia berteriak. saudara yang kedua. Mukhali lantas saja tandalkan goloknya di lehernya Tusaga. yang dipanggil toasuko atau kakak seperguruan yang tertua. apakah itu ukan berarti aku kena didesak?‖ karena ini. ―Kau lihat saja dari samping. Memangnya di antara empat saudara seperguruan ini ada perbedaan tabiat atau sikap. Orang ini mengancam ke kanan. terkejut juga musuh menyaksikan orang seperti nekat. ―Beritahukanlah she dan namamu!‖ Dia bicara dalam bahasa Tionghoa. menjadi bacokan ke kiri……… Mau tidak mau. Musuh kaget dan berlompat berkelit. tidak berani sembarang merangsak. ialah yang membuat lawannya repot. dengan bawa tombaknya. ―Akan aku lantas memenggal!‖ Sangum menjadi khawatir dan bingung. masing-masing tidak sudi mengalah. ia ulangi serangannya dengan beruntun. Dilain pihak orang-orangnya Sangum hendak bergerak pula. benar-benar musuh ini bukan sembarang orang. ia lantas tarik pulang goloknya. ―Kau siapa?‖ dia menegur. sedang dari enam gurunya pernah ia dengar pelbagai macam ilmu silat. Kali ini. kapan satu di antaranya melihat ia terdesak. sebaliknya ia menyambut seraya tekuk kaki kanan dan tangan kiri bersiap sedia. supaya anakku jangan terbinasa…!‖ ―Tetapkan hatimu. Segera ia dapat kenyataan. waktu datang pula bacokan. tiga kawannya musuh itu sudah berhasil merubuhkan empat atau lima lawannya. ―Tuan pangeran. ―Toasuko. ialah pedangnya. tiba-tiba ancamannya itu berubah di tengah jalan. Terus ia bersilat dengan Wat Lie Kiam-hoat. kapan musuh berkelit. anakmu tak bakal terbinasa!‖ kata Wanyen Lieh sambil tertawa. Orang-orangnya Sangum tidak berani naik. Dia terkejut. Kwee ceng gunai ketika orang bicara. menikam dari samping kepada lengan penyerang itu. titahkanlah mereka itu turun!‖ ia mohon kepada Wanyen Lieh. ―Lihat kepandaiannya toasuko!‖ berseru saudaranya yang memegang tombka itu sambil tertawa. Mereka hampirkan jiesuko itu. sedang hari ini adalah yang pertama kalinya ia muncul di medan pertempuran. Dia ini menganggap dirinya adalah tertua kaum Rimba Persilatan. Ia pun tidak mengerti cara bersilatnya orang. ―Tidak pernah aku dengar namamu! Lekas kau menyerah!‖ kata orang itu sombong. Segera juga ia ingat pengajaran gurunya yang kesatu: ―Di waktu bertempur mesti mempengaruhi orang tetapi jangan kasih diri kena dipengaruhi. ia malu mengaku kalah terhadap adik seperguruannya itu. Boroul dan lainnya. Ia ini menghalang di depannya Ogotai. Mereka mau percaya musuh tidak bakal lolos lagi. ―Aku Kwee Ceng!‖ sahut anak muda itu. Keras sekali. ia tidak mundur lagi. maka mereka anggap baiklah mereka menonton kakak mereka yang kesatu. akan menonton pertempuran sang kakak tertua.Pendekar Pemanah Rajawali itu. tiga kawannya orang ini sudah tiba di atas gunung dan tengah bertempur sama Chilaun. tidak urung tangan bajunya yang kiri telah kena tersontek robek. untuk berdiri berendeng bertiga. Kwee Ceng sementara itu telah melihat. membalas menikam lempang. ia lompat mundur. Maka ia lihat di depannya ada satu anak muda dengan alis gompiak dan mata besar. ―Mari kita memikir daya lainnya. Kwee Ceng lihat ini ia gunai ketikanya. ia tekuk kaki kirinya dan menikam dari bawah ke atas. mari aku bantu kau!‖ dia berteriak. sedang empat orangnya Wanyen Lieh itu melanjuti pertempurannya. yang goloknya tebal. bersedia akan celaka bersama. ia layani musuh yang bersenjatakan golok itu. Kwee Ceng main mundur. sikap garang mereka membuat dua musuh lainnya yang memegang ruyung besi dan dan sepasang kampak pendek. Tentu saja di hadapan ribuan serdadu. berkelebatlah sebatang golok putih mengkilap. Irawan D Soedradjat Page 152 . yang untuk itu telah mengeluarkan banyak uang. Itu waktu Temuchin telah dilindungi dengan dikurung oleh Jebe dan lainnya yang belum terluka. Dia heran dalam rombongannya Temuchin ada orang yang pandai ilmu pedang. dia lompat menghampirkan. sambil kelit lengannya. Sekarang aku main menangkis aja. Itulah gerakan ―Kie hong teng kauw‖ atau ―Burung hong bangkit dan ular naga mencelat‖. Kwee Ceng telah gunai ilmu pedang Wat Lie Kiam pengajaran Han Siauw Eng. tangan kanannya. ialah ia menikam pula. sebab ia adalah orang undangannya Wanyen Lieh. kau lihat kepandaiannya toasukomu!‖ berseru orang yang bergenggaman golok itu. berat tangannya lawan itu.

dan ilmun pedangnya pun sudah dapat mendesak musuh ini. Ia ini cemas juga setelah banyak jurus. Ia tertolong jiwanya tetapi pedangnya toh mampir juga di tangannya. kau satu anak kecil tentulah tak dapat mengetahuinya. ―Bagus!‖ seru lawan yang bersenjatakan tombak itu. setelah pedang orang terlepas. Kwee Ceng lihat pinggangnya terancam tebasan. tanpa membalik tubuh lagi. taruh kami mengatakannya. ia tahu musuh ingin menerbangkan goloknya. Orang itu menoleh kepada ketiga saudaranya. akan tetapi ia adalah muridnya tujuh guru. Cuma karena kurang pengalaman. Tenang adanya sikap Kwee Ceng. Tapi ia penasaran. Lalu ia berpaling pula. sedang tangan kanannya menikam terus ke dada lawannya itu! Bukan main kagetnya si toasuko. jeli matanya. Diakhirnya. bahwa musuh itu ingin memperlekas kemenangannya. telah banyak pengetahuannya. Selagi musuh lompat undur. dengan tombaknya itu ia sudah punyakan pengalaman dua puluh tahun………… Kwee Ceng berkelahi sambil matanya melitah dan otaknya bekerja. dengan tangan kosong ia sampok pedang si anak muda. Kali ini ia gunai bacokan ajarannya Lam Hie Jin. Ia tunggu sampai ujung golok hampir mampir di pedangnya. Setelah berkelit dari bacokan. ia mendupak ke belakang. katanya: ―Tentang nama kami berempat. Kwee Ceng dengar pemberian peringatan itu. si pemegang golok itu lompat keluar kalangan. tigapuluh jurus telah dikasih lewat. ia mendahulukan menikam ke arah lengannya musuhnya. ia membokong. sedang sebenarnya. pedang Kwee Ceng terlepas dan jatuh ke tanah. Ia penasaran sebab ia tahu. Tepat dupakannya ini. Lihat golokku!‖ Ia lantas menyerang. untuk membarengi membalas menyerang.‖ ia menjawab dengan terus terang. dengan bengis ia membacok melintang. Kembali Kwee Ceng bebaskan diri dengan kelitan ―Dalam mabuk meloloskan sepatu‖. Puluhan ribu serdadu musuh. ―Suwie‖ ialah ―keempat tuan‖.Pendekar Pemanah Rajawali Sebelum berkelahi terus. terpaksa ia menarik pulang serangannya. ia menikam ke dada pula. ia jumput golok musuh yang jatuh di dekatnya. dengan sedikit lebih sebat saja. ―Kenapa kau datang kemari untuk antarkan jiwamu?!‖ Kwee Ceng lintangi pedangnya. ia masih belum bisaberbuat suatu apa. Irawan D Soedradjat Page 153 . Kwee Ceng sudah tempur orang. terus ia maju pula. sebat tangannya. bukan ia mundur. hingga ia melayani musuh muda ini. sambil memutar tubuh. ia bersikap tenang. Ia tidak sangka si anak muda luas pengetahuannya dan gesit. Sebentar saja. ia membacok ke arah lengannya musuh. juga Temuchin semua. Musuh itu menjadi girang melihat lawan tidak berkelit hanya membalas menyerang. sebagai gantinya. maka itu ia melawan dengan berani. berdiam menyaksikan pertempuran itu. Sambil berteriak. ia akan dapat tancapkam pedangnya di dada lawannya itu. Di dalam hatinya ia berkata: ―Belum lagi pedangmu tiba. ―Kau muridnya siapa?!‖ ia tegur Kwee Ceng. mendadak ia mengegos sedikit. Ia lihat Kwee Ceng lihay dengan ilmu pedangnya. Penyerang bertombak ini menggunai ketikanya yang baik. ialah sambil melayangkan kaki kanannya ke bahu musuh.‖ ia menebas terus tanpa membuat perubahan. ―Teecu adalah muridnya Kanglam Cit Koay. ia merasa orang ada terlebih terlatih daripadanya. yang membokong. golokku sudah mengenai tubuhmu. habis mana. ia mencoba mendesak terus. ―Teecu mohon tanya suwie empunya she dan nama yang besar?‖ ia terus berbalik menanya empat orang itu. yaitu jurus ―Burung walet masuk ke sarangnya‖ dari tipu silat ―Lam Sam Too-hoat‖ – ilmu pedang Lam San. maka tangan itu bercucuran darahnya! ―Sayang!‖ kata Kwee Ceng di dalam hati. ia membuatnya tombaknya musuh terpental. Hampir pada itu waktu ada angin menyambar di belakangnya. Tidak terkecuali adik seperguruannya si toasuko. ia lepas dan lemparkan pedangnya. Demikian satu kali. Keras sampokan ini. ia menjadi seperti nekat. ―Awas!‖ Jebe teriaki muridnya. ia gagal. sambil mendak sedikit. tikamannya itu dapat dihalau dan ia ditendang.

Disaat kemenangannya itu. ke arah jari tangan musuh itu. Apa yang tidak disangka. untuk menghajar punggungnya. goloknya sama aja. mulutnya pun perdengarkan seruan. ia lantas mendahului lompat mundur. sebelah kaki Kwee Ceng telah melayang ke perutnya. maka itu. mengampak ke arah kepalanya sendiri. Musuh itu terkejut. ia mestinya menyampok tombak seraya membarengi membacok. Melihat orang main keroyok. dia mencoba merapatkan Kwee Ceng. ia lantas menantikan satu tikaman. sekarang ini Kwee Ceng ada kesempatan akan pakai ilmu goloknya yang istimewa itu dan ia berhasil. Kwee Ceng ada punya satu keuntungan. Sesudah lewat beberapa jurus. Dengan cara biasa. Siapa menggunai senjata pendek. hingga dengan begitu ia pun dapat menolongi Jebe. ia telah dipertaruhkan akan bertempur sama anaknya Yo Tiat Sim. Tapi ia bertabiat keras. tiba-tiba perutnya dirasainya sakit. Melihat bahaya itu. maka itu tidak puas mereka menyaksikan empat orang mengepung bergantian kepada satu musuh. sambil membentak. Tapi pemuda kita. Turut kebiasaan. yaitu Yo Kee Chio-hoat. Lekas juga senjata mereka dirampas musuh. ilmu ini bukan digunai di Kee-hi hanya di sini. Celaka kalau musuh itu tidak lepaskan cekalannya. tidak dapat ia rubuhkan atau lukai musuhnya ini. Ia lantas berdiri diam mengawasi keempat musuhnya itu. Boroul dan Jebe maju untuk membantu Kwee Ceng. Ia tetap berlaku cepta dan keras. baru ia bisa mengenai musuh. Segera ia dikepung oleh musuhnya yang ketiga. Berat untuk Jebe berdua. mereka lantas meluruk kepada anak muda she Kwee ini. maka Lam Hie Jin sengaja ajarkan muridnya ini tipu golok melawan tombak. gagang tombak kalah dan kena terkampak patah hingga menjadi tiga potong. tidak tahan sabaran. ketika si orang Hwee menebas tangannya. mereka bukan orang kaum Rimba Persilatan. mereka membaut ribut dengan mencaci maki dua pengeroyok itu. musuh hendak mengulangi kampakannya. Kwee Ceng menggunai tipu. baru ia kerahkan tenaganya. Irawan D Soedradjat Page 154 . Tapi ini bukan berarti ia berlaku kendor. Si toasuko ini tadinya menyangka orang hanya lihay dengan pedangnya. membuatnya orang kewalahan. ia maju menyerang. Karena majunya mereka berdua. Kwee Ceng angkat tombaknya untuk menangkis. Kwee Ceng lihat Boroul terancam bahaya. Kwee Ceng lempar goloknya ke bawah gunung. Hebat kampaknya itu. Berbareng ia mental. guna mempengaruhi musuh. ia gusar dan penasaran. akan hajar kampak di tangan kiri itu.Pendekar Pemanah Rajawali Maka ia melawannya dengan sabar dan hati-hati. si saudara yang ketiga melompat dengan ruyung besinya. mereka tidak menghiraukan lagi Jebe berdua. Menghadapi lawan yang menggunai tombak ini. Musuh yang keempat. Ia berhasil. yang paling muda. Diluar dugaannya. mereka adalah orang-orang peperangan biasa. sepasang kampaknya turun dengan berbareng. karena Tiat Sim adalah keturunan kaum keluarga Yo yang terkenal untuk ilmu tombaknya keluarga Yo. dengan putar kampaknya. Tiba-tiba ia merasa tenaga musuh berkurang. Kwee Ceng dapatkan musuh mulai ayal gerakannya. mulutnya berteriakan tak henti-hentinya. ia lompat kepada toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang. Lagi beberapa lama. Kebetulan sekali. Syukur untuknya. ia lompat bangun untuk merangsak pula. repot mereka menghadapi musuh-musuhnya yang lihay itu. ia terus memapas ke sepanjang batang tombak. maka di antara satu suara nyaring. Karena ini ia tampaknya jadi semakin lihay. Musuh tidak menduga jelek. Kwee Ceng tidak punya senjata. malah ia terdumpak mental. sehingga ia membuatnya si toasuko heran. ia mendesak. si pemiliknya sendiri jatuh numprah. sia-sia saja dia itu mencoba berulang-ulang. ia lompat menubruk. ia batal membacok. ia melawan dengan ilmu silat tangan kosong melawan senjata. kampak itu terlepas dan terpental. ia mesti berkelahi rapat. dengan tombaknya. demikian ia ini. yang bersenjatakan ruyung besi itu. ia mencoba mendesak. Sampai disitu. dua musuh lainnya turut maju juga. ia segera tarik pulang tangannya itu untuk terus dipakai menyikut si jiesuheng. Bangsa Mongolia adalah bangsa yang polos dan memuju orang gagah. Tanpa ia ketahui. ia agaknya penasaran yang mereka kalah dari satu bocah. seperti tadi melawan si toasuko. tak tahunya. tangan kirinya terbalik. ia tertolong dari bahaya maut. Setelah dapat merampas tombak musuh. Orang itu rupanya bersatu pikiran. tentara Mongolia di kaki gunung menjadi tidak senang. apapula satu musuh itu bertangan kosong.

Musuh sudah lantas tiba. Disaat Kwee Ceng hendak sambuti golok itu. untuk membikin dia itu tak dapat bergerak. ―Bandit-bandit tidak tahu malu. Matanya Jebe sangat tajam. terpaksa ia menggulingkan tubuh sekitar dua tombak. Kwee Ceng berkelit dengan berlompat. untuk berdiri. dengan dacinnya ia rabu empat batang senjata musuh. tetapi gerakannya menjadi lambat. Kwee Ceng sudah letih betul. terus ia melawan dengan hebat. sekejab itu ia ingat ibunya. ―Kamu pegat mereka . maka tidak ampun lagi. paha kanannya kena dihajar. ia telah pikir: ―Biar aku mati. ia merasakan sangat sakit. maka ia jambak dada musuh. ialah main berkelit dengan mengegos tubuh atau berlompatan. pergi kamu!‖ Kim Hoat mengusir. Kwee Ceng kaget. tangan mereka kesemutan bekas rabuhan senjata aneh dari orang yang baru datang ini. Mereka merasa bahwa dalam tenaga dalam. ia roboh bersama-sama musuh itu. lalu semangatnya bangun. untuk membantu saudaranya. hanya sekarang ia ubah caranya mencekal. kapan ia dengar itu teriakan. Musuhnya yang ia cekik. di bawah bukit. ia diserang oleh musuhnya yang menggenggam ruyung besi hingga goloknya Borchu kena disampok mental. maju pula untuk membantu kawannya. Empat musuh itu sudah lantas lompat mundur. denagn begitu ia pakai musuh sebagai tameng. ia merasakan sakit pada pundaknya. ―Tidak tahu malu!‖ ia membentak. Hanya ketika itu. lekas-lekas ia lepaskan itu dari pinggangnya. Itu waktu. terus mereka berenam lari naik ke atas gunung. terpaksa ia melawan dengan menunjuki kelincahannya. Tak lama. kemudian selanjutnya. Kwee Ceng tetap bertahan secara demikian. Tuli dan Gochin. kedua matanya pun sudah mulai kabur. ia ingin membalas sakit hatinya. Ia masih sempat berkelit pula seraya ia angkat kakinya yang kiri untuk menendang musuh yang memegang kampak yang berada paling dekat dengannya. lalu tertampak enam orang bergerak dengan lincah mengacau barisan itu. pasukan tentara kacau sendirinya. hampir ia rubuh pingsan. Dlam keadaan sangat berbahaya itu. tulang pahanya itu tidak patah. tujuh gurunya.Pendekar Pemanah Rajawali Segera juga Kwee Ceng terancam bahaya. habis mana ia terus bekerja. yang tak sudi melepaskan pelukannya. Tin Ok bersama yang lain pun telah tiba. telah rebah diam karena pingsan. yang telah berhasil memukul mundur Jebe berdua. denagn sebelah tangan ia memencat nadi musuh. ia dibarengi musuh yang mencekal ruyung besri tadi. Kwee Ceng insyaf ia berada dalam bahaya. ia melakukan perlawanan dengan terus main bergulingan dengan ilmu silatnya ―Kim Liong Pian-hoat‖ atau ―Ilmu cambuk lemas naga emas‖ Musuh yang pingsan telah lantas sadar. Dia ini bersakit hati bekas kena didupak tadi. akan kasih muridnya bangun. gurumu datang!‖. semangatnya terbangun. ia mencekik tenggorokan. Selagi Kwee Ceng terancam bahaya. mereka segera tampak murid mereka dalam bahaya. atau sebatang golok melayang ke arahnya. Kwee Ceng ingat ia ada punya joan-pian atau cambuk lemas pembela dirinya. Cu Cong dan Coan Kim Hoat lari di paling depan. denagn begini Kwee Ceng kembali kena dikepung berempat. atau kaki kanannya dirasakan sangat sakit. sekali lagi ia roboh. mereka kalah jauh. denagn tangan yang lainnya. ia lantas kena ditubruk musuh yang bersenjatakan kampak. yang telah melepaskan kampaknya itu. Syukur untuknya. ia menangkis. asal aku pun telah membunuh seorang musuh!‖ Jebe berdua yang tadi telah terpukul mundur. Cu Cong lompat maju. Irawan D Soedradjat Page 155 . Baharu ia berdiri dengan berniat melawan musuh. ia lantas kenali enam orang itu. habis mana ia lompat bangun. sedang musuh yang memegang sepasang kampak memberangi mengampak juga. Kim Hoat lompat maju. mereka pun dibantu oleh dua saudara yang lain. lalu dengan menggulingkan tubuh. karena tidak mempunya senjata. ―Ini golok!‖ teriak Borchu seraya ia melemparkan goloknya. Karena ini. ia berseru. ia lompat bangun.nanti aku bunuh ini bocah haram!‖ kata si suheng yang memegang golok sebatang kepada dua saudaranya. Benar saja ketiga musuh lainnya berhenti menyerang karena mereka khawatir nanti mencelakai kawan sendiri. Ia tidak pedulikan orang menendangi pundak atau kakinya. denagn kerahkan semua tenaganya. ―Kwee Ceng. ia angkat tubuh orang ke atasan tubuhnya snediri. matanya pun kabur.

satu demi satu. Itu waktu terlihat debu mengulah naik. tentaranya menjadi kaget dan kalut sendirinya. ia berteriak-teriak: ―Lekas buka jalan! Lekas buka jalan!‖ Sangum menyaksikan musuh menerobos turun. mereka maju untuk menolongi. tetapi Kwa Tin Ok dapat mendengarnya. Sementara itu rombongannya Temuchin sudah sampai di bawah bukit. ia menjadi mendongkol. Irawan D Soedradjat Page 156 . Ia tahu pihaknya tak berdaya tetapi mereka malu untuk lari turun gunung. merayap bangun dengan muka penuh debu dan seluruh badan dan pinggangnya sakit bekas jatuh terbanting dan bergeluntungan. maka tidak ampun lagi. maka tak ampun lagi. mereka malu bertemu sama pangeran yang keenam. ia memanah. tanda dari datangnya beberapa ribu serdadu. siapakah dia?‖ Ceng Kong menanya perlahan sekali. hendak ia memegat. ―Kwie-bun Liong Ong bernama besar. emapt orang bersaudara mengepung satu musuh. terus dilemparkan ke bawah gunung! Tiga pengepung lainnya menjadi kaget. Tibatiba ia menekan denagn tongkatnya. ia berkelit ke kiri. hingga tak tahu ia harus mengambil tindakan apa. atau ia lantas tampak putranya berada di bawah ancama maut.‖ sahut si toasuheng. cepat luar biasa. maka terkejutlah mereka mengetahui empat orang itu adalah murid-. tetapi mereka tidak berdaya. ―Inilah toasuheng kami. Temuchin menampak datangnya bala bantuan. yaitu Hong Ho Su Koay. ―Pasti kamu berdusta!‖ bentak Tin Ok. Syukur mereka tidak patah tangan dan kaki atau singkal batang lehernya. darimana pun terdengar seruannya bala bantuan. ―Tidak salah!‖ sahut Cu Cong tertawa. tentaranya Sangum menjadi kecil hatinya. ―Liok-wie. ia rubuh terjungkal dari kudanya.‖ berkata Tin Ok pula. malah sebaliknya. Tentu saja. sebab mereka itu main keroyok. adakah kamu Kanglam Liok Koay?‖ ia tanya enam orang itu. kenapa kamu merendahkan diri begini rupa. Mukhali kaburkan kudanya denan ia peluki Tusaga. batang leher siapa ia tandalkan goloknya. ―Benarlah kau adalah Hong Ho Su Koay! Kamu cukup ternama. karenanya. seorang bocah! Dialah muridku!‖ Gouw Ceng Liat membelar.Pendekar Pemanah Rajawali Si toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang menebali muka. sebelah tangannya menyambar. Juji dan Jagatai sudah lantas mendahulukan menerjang ke bawah.muridnya Kwie-bun Liong Ong. ―Siapa bilang kami berempat mengepung satu orang?!‖ katanya. maka itu. ―Siapakah tuan berempat?‖ ―Kami adalah empat muridnya Kwie-bun Liong Ong. mereka juga kena dilempar-lemparkan si Kelelawar Terbangkan Langit! Tentara Mongolia di atas bukit bersorak-sorai menyaksikan keempat saudara itu. mengetahui Jamukha lihay dan Sangum hanya mengandal kepintaran ayahnya. putra itu tak dapat berkutik. ini buta dan pengkor sangat berlagak. Toan-hun-to Sim Ceng Kong! Ini jiesuheng Tiwi-beng-chiop Gouw Ceng Liat! Ini samsuheng Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong! Dan aku sendiri. Sangum terperanjat. ia menjadi tergugu. tidak urung pipi kanannya kena tertancap anak panah. aku Song-bun-hu Cian Ceng Kian!‖ ―Kedengarannya kamu tidak berdusta. mana bisa murid-muridnya ada bangsa tak berguna seperti kamu!‖ ―Siapa berdusta!‖ berseru orang ynag dicekik Kwee Ceng tadi. dengan mengincar Sangum. ia menunjuk ke kiri ke pasukannya Sangum itu seraya berseru: ―Mari menerjang ke sini!‖ Jebe berempat dengan Borchu. ―Bukankah di sini ada banyak orang Mongolia yang membantu padanya?‖ Cian Ceng Kong pun tanya Ma Ceng Hiong: ―Samsuheng. malah Jebe sudah lantas saja turun tangan. menampak demikian. tubuhnya terus mencelat. Kwa Tin OK dan Cu Cong mulanya menyangka orang adalah orang-orang yang tak bernama. sembari turut menerjang. yang masih merasakan sakit pada tenggorokannya. punggung Ceng Kong kena dijambak.

yang mereka layani dengan hormat. mereka tidak bercuriga. akan tetapi mereka dirintangi panahnya Jebe dan Borchu beramai. rombongan ini bertemu sama bala bantuan. ia tahu jumlah musuh terlebih besar. Putri ini girang bukan main melihat ayahnya semua tidak kurang satu apa pun. Temuchin bertemu bersama Gochin. putra keempat Temuchin. Bukankah ia telah tidak dibunuh? Maka ia berjanji akan meyampaikan permohonan maaf dari Temuchin itu. mereka menyangka Temuchin jeri. tak dapat kita melawan dia dengan terang. ialah barisannya Tuli. maka di dalam tendanya. Segera mereka bertindak maju dalam tiga pasukan. ia perintahkan semua serdadu mengikat cabang pohon diekor masing-masing kuda mereka. ―Aku tidak bermusuh dengan ayah Wang Khan dan saudaraku Sangum. Temuchin hanturkan tiga cawan arak kepada putra Sangum itu. serdadu kita sedikit. Temuchin kumpulkan orang-orang peperangannya. dari itu. yang hatinya mendongkol. berbareng dengan itu ia mengirimkan dua buah kereta yang berisikan emas dan kulit tiauw. Kanglam Liok Koay turut mundur dengan Lam Hie Jin yang memondong Kwee Ceng. yang sembari menyingkir telah menoleh ke belekang dan sabansaban menyerang denagn panah mereka. ―Kita mesti membokong padanya! Aku merdekana Tusaga dan mengirim bingkisan. Di tengah jalan pulang. mereka melongo. yang pun datang bersama sejumlah serdadu. mereka itu lihat Tusaga diundang duduk bersama di meja pesta. itulah untuk membuatnya tidak bersiaga. Wang Khan bersama Sangum kabur ke barat.‖ menjelaskan Temuchin. ―Sekarang juga kita menyerang Wang Khan!‖ demikian titahnya. Semua orang menjadi bertambah heran dan mendongkol menyaksikan Khan mereka yang besar menjadi demikian lemah dan jeri terhadap Wang Khan. Tiga hari sepulangnya Tusaga itu. yang aku minta supaya tidak menjadi berkecil hati.‖ Tusaga girang bukan main. Ada beberapa ratus musuh yang mengejar. Empat Siluman dari sungai Hong Ho. Heran semua panglima itu. Tapi ia cerdik. ―Maka itu aku persilahkan kau pulang untuk menyampaikan maafku. Adalah tengah mereka berpesta malam ketika mendadak datang serangannya Temuchin. maka itu mereka lantas menggabungkan diri. yang bisa menerobos kepunganm telah lindungi Wanyen Lieh kabur pulang ke Tiongtouw (Pakkhia). Di sana mereka kemudian terbinasa di tangan bangsa Naiman dan Liauw Barat.‖ ia berkata kepada putranya Sangum itu. Wang Khan dan Sangum dilain pihak girang melihat Tusaga pulang dengan selamat dan Temuchin pun mengirim bingkisan. Hanya untuk herannya semua orang. ia datang dengan cuma bersama itu beberapa ribu serdadu anak-anak muda. Besok harinya Temuchin kirim sepuluh serdadunya mengiringi Tusaga pulang. hanya ia telah didulukan Kanglam Liok Koay. Dengan mendadak ia perintahkan mereka itu kumpulkan tentara mereka. walaupun ia adalah satu pangeran. Malam itu Temuchin membuat pesta dengan semua panglima dan tentaranya diberi hadiah. Irawan D Soedradjat Page 157 . tetapi terpaksa mereka berdiam saja.terangan. Sesudah melalui beberapa lie. ―Wang Khan banyak tentaranya. kepala-kepala suku dan panglima-panglima Temuchin tidak suka dengar titahnya. Tusaga terbinasa terinjak-injak kuda tentara. mereka jadi sangat mengagumi Khan mereka itu. Tuli masih muda. Mereka menjadi kaxau. Aku pun akan mengantar bingkisan kepada ayah dan saudara angkatku itu. dan diperlakukan sebagai tamu agung. tanpa berdaya mereka pada melarikan diri.Pendekar Pemanah Rajawali Temuchin ajak rombongannya kabur terus.‖ Baharu semua panglima itu sadar. dari itu debu menjadi mengulak besar dan musuh menyangkanya bala bantuan lawan ada berjumlah besar sekali. Hong Ho Su Koay. mereka jamu Wanyen Lieh dan Jamukha.

lalu mereka memberi selamat kepada Kwee Ceng. diangkat menjadi cian-hu-thio. ―Coba undung gurumu semua!‖ titahnya kemudian. Dalam pesta itu Jenghiz Khan minum banyak arak hadiah dari pelbagai panglimanya. Maka keget iamendengar hadiah Khan yang maha besar itu. terus ia dibawa kepad Temuchin. tak ia pikirkan lainnya soal apa pula soal jodoh. ―Budi ini tak dapat aku balas walaupun tubuhku hancur lebur. Ketika itu namanya telah naik tinggi sekali. Kepada Jamukha. Jelmi dan Subotai. dengan gelaran Jenghiz Khan. tetapi ia gusar. ia pun bingung. atau Khan terbesar dari Mongolia. maka rakyat dan orang peperangan dari pelbagai suku tak ada yang tak tunduk kepadanya. lalu tiba-tiba ia berlutut di depan enam manusia aneh itu. artinya Khan yang besar dan gagah bagaikan pengaruhnya lautan besar.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha kehilangan tentaranya. ―Mulai besaok kau adalah Kim-to Hu-ma!‖. dijadikan cian-hu-thio juga.‖ berkata nyonya ini. semasa kecil. dia ditawan oleh tentara pengiringnya. aku minta sudilah kau memberi kematian tak mengucurkan darah padaku. sehingga mereka itu menjadi heran. ia kata kepada Kwee Ceng: ―Anak yang baik. habis itu ia putar tubuhnya untuk bertindak keluar kemah. Kwee Ceng lantas cari ibunya. semuanya menyunjungnya. Selagi ia tercengang. Besoknya Temuchin mengadakan rapat besar di datar sungai Onon. tak mau ia lekas-lekas melepaskannya. Maka di dalam rapat besar itu ia telah diangkat menjadi Kha Khan. ia perintahkan hukum mati pada kelima pengiring itu. Borchu. mereka girang. ia berseru: ―Serdadu pengiring pemberontak dan berkhianat kepada majikan! Apakah gunanya akan mengasih hidup kepada orang-orang tak berbudi begini?‖ Di depan Jamukha sendiri. Di sini Jenghiz Khan membagi hadiah besar. mulutnya bungkam. ―Akan aku menghadiahkan kau kematian tak mengalirkan darah. Tuli sangat kegirangan sehingga ia merangkul Kwee Ceng erat-erat. Irawan D Soedradjat Page ―Aku ada sangat bersyukur yang suhu beramai sudah didik anakku ini sehingga ia menjadi seorang yang berharga. mereka lantas memberi selamat kepada nyonya Kwee itu. ―Meskipun saudara suka memberi ampun padaku. kita bermain bersama…‖ emukha memberi hormat sambil berlutut. di sana selagi ia dahar daging kambing. Kwee Ceng yang dianggap jasanya paling istimewa. menggodainya. akan tuturkan hadiah dari Jenghiz Khan itu.‖ Temuchin berdiam sekian lama. enso?‖ mereka tanya. ―Baiklah. Hanya sekarang ada satu hal sulit untuk mana aku mohon pertimbangan dan keputusan suhu beramai. Temuchin terima orang tawanan itu. Bukankah murid mereka sangat dihargai oleh Khan dan peruntungannya bagus sekali? Lie Peng berdiam sebentar. dia lari ke gunung Tannu.‖ berkata ia kemudian. pangkatnya sama dengan satu pahlawan panglima yang berjasa. semacam kapten dari seribu serdadu. ia kata: ―Apakah tetap kita menjadi sahabt-sahabat kekal?‖ Jemukha mengucurkan air mata. Apabila mereka mendengar hal pertunangan itu. Maka anehlah satu bocah umur belasan tahun. ―Kenapa enso menjalankan kehormatan besar ini? Harap enso lekas bangun!‖ . semua orang tertawa padanya. Empat pahlawannya yakni Mukhali. Ia menyukai Gochin. Kanglam Liok Koay lantas datang. bukan sebagai kekasih. Setelah pesta bubar.‖ ia menyahuti. aku sendiri tidak mempunyai muka akan hidup lebih lama pula di dalam dunia ini. Ia lagi mengutamakan ilmu silat. Mereka juga berseru-seru: ―Kimto Hu-ma! Kim-to Hu-ma! Bagus! Bagus!‖ ―Kim-to Hu-ma‖ itu berarti menantu raja golok emas. tubuhnya terpaku. Liep Peng terdiam. nanti aku kubur kau di tempat di mana dahulu hari. dalam keadaan seperti itu. aku akan menghadiahkan pula kepadamu sesuatu yang aku paling hargakan!‖ Kwee Ceng sudah lantas berlutut untuk menghanturkan terima kasihnya. ―Saudara. yang ia awasi. supaya rohku tidak mengikuti darahku dan meninggalkan tubuh ragaku…. Semua panglima bersorak. soal asmara. Boroul dan Chiluan serta Jebe. ―Aku serahkan Putri Gochin kepadamu!‖ berkata Jenghiz Khan. tetapi sebagai adik.‖ 158 ―Ada apa. Si anak muda sebaliknya berdiam diam.

ia pesan pula: ―Sekarang ini kuda kita belum terpelihara gemuk dan tentara kita belum terlatih sempurna. Lebih dahulu mereka sambangi kuburannya Thio A Seng. akan tetapi ia tidak dapat berbicara. Jenhiz Khan menerima baik. Baharu mereka jalan sepuluh lie lebih. Sepulangnya dari perjalanan itu. aku malu sekali. kau pergilah!‖ Khan itu setuju. Jenghis Khan lantas hadiahkan baba mantu itu uang emas tigapuluh tael. ―Bagaimana suhu ketahui itu?‖ menanya Lie Peng kaget. sekalian anaknya itu mencari Toan Thian Thek. Kwee Ceng berangkat bersama guru-gurunya. melainkan pria. untuk ongkos di jalan. Lie Peng sangat girang. untuk ambil selamat berpisah dari rohnya guru almarhum itu. guna menuntut balas. setelah pamitan dati ibunya dengan keduanya mengucurkan air mata.‖ Cu Cong kasih keterangan. ―Sekalian kau pulang nanti bawalah juga kepalanya Wanyen Lieh. maka itu kau harus bekerja baik-baik supaya kau tidak meninggalkan bekas-bekas!‖ Kwee Ceng memberikan janjinya. kita belum dapat menandingi negara Kim. Ia anggap dengan pergi bersama guru-gurunya. Di hari ketiga. Bagaimana nanti suamiku dan aku menemui paman Yo dan istrinya itu di dunia baka?‖ Mengdengar keterangan.Pendekar Pemanah Rajawali Lie Peng tuturkan keputusan suaminya almarhum dengan Yo Tiat Sim. kendati kedudukan anakku mulia sekali. ―Bagus. untuk membinasakan Wanyen Lieh. yang tunangkan anak-anak mereka sebelum anak-anak itu lahir.‖ sahut Kwee Ceng.‖ menerangkan Cu Cong lebih jauh. Tuli memberi bingkisan sepotong baju bulu tiauw yang mahal. sedang membawa pengiring-pengiring.‖ Mendengar itu. sedang Kanglam Liok Koay dipersen barang-barang emas dan berharga bekas rampasan dari Wang Khan. tak usah anak membawa pengiring. putra keenam raja Kim! Untuk melakukan pekerjaan besar itu. ia tentu bakal berhasil. Gochin datang menemui bakal suaminya itu. di atasan kepala mereka terlihat dua ekor burung rajawali kepala putih terbang berputaran. untuk mereka menguji kepandaian silat mereka. Irawan D Soedradjat Page 159 . Kanglam Liok Koay tertawa. melainkan menambah berabe saja. baharu Kwee Ceng nanti menikah dengan Gochin. cuma kulit mukanya menjadi bersmu merah. ―Maka itu. ―Kalau aku menyangkal janji ini. ia mengawasi mereka itu. untuk memberitahukan tentang niat perjalanannya itu. Oey Yong ―Anak akan pergi bersama keenam guruku. lalu terlihat Tuli datang bersama Gochin dengan dua saudara itu merendengi kuda mereka. Ia senang sekali dengan easn Khan ini. ―Orang she Yo itu benar telah memperoleh keturunan tetapi bukannya perempuan. berepa banyak pengiring yang kau butuhkan?‖ Bab 15. Lie Peng heran. ―Seoarng sahabat di Tionggoan mengabarkan kami dengan sepucuk surat. Setelah mendapat keputusan. Memang semenjak kecil ia telah diempos ibunya. Ia harap. ―Sahabat itu pun mengharap kami mengajak anak Ceng ke sana untuk menemui putranya orang she Yo itu. Ia setuju anaknya itu diajak pergi. yang sangat membenci bangsa Kimn itu. Lalu tujuan mereka adalah selatan. yang pun adalah barang rampasan dari Wang Khan. Kwee Ceng menghadap Jenghiz Khan. yang tidak mengerti ilmu enteng tubuh. mana dapat ia menjadi hu-ma?‖ kata si nyonya kemudian.

maka berulangkali ia menoleh dan menoleh pula. lalu tiba-tiba ia tertawa lebar. ia menjadi mengawasi. ia hajar kudanya hingga binatang itu lari berjimpratan. ―Ada pesan lagi?‖ ia menanya. Saking masgul. Pada suatu hari hampir tiba di Hek Sui Ho. sebaliknya. ―Ada keringat merah?‖ Irawan D Soedradjat Page 160 . yang penunggangnya pun berpakaian serba putih putih . tentu orang tengah menertawainya. Kwee Ceng terperanjat. Tidakkah kuda itu bercelaka diluar keinginannya? Maka ia rangkul leher kuda itu. ia menjadi likat. Gochin melongo. terus ia larikan kudanya. Ia pun menjadi tertarik dan heran akan mendapatkan keempat penunggangnya semua masih muda-muda. yang ketinggalan jauh. Gochin menoleh. untuk menjauhkan diri. Ia dekati kuda Kwee Ceng. Ia mengawasi sekian lama. kupingnya bocah ini mendengar mengalunnya kelenengan unta. terang mereka itu mengerti silmu silat. ia lihat mendatanginya empat ekor unta bulu putih. Kwee Ceng sendiri berjalan terus. Ia lari kepada gurunya itu. Tiba-tiba saja ia menjadi kaget.‖ Kwee Ceng mengangguk. untuk menghibur. Selang beberapa lama. mungkin baru berumur duapuluh dua atau duapuluh tiga tahun. Satu pemuda melihat Kwee Ceng mengawasi padanya. Setibanya di depan restauran. wajahnya pun bersemua dadu. ―Eh. habis mana ia larikan kudanya guna menyusul keenam gurunya. Belum pernah ia melintas dari gurun. keempat penunggang unta itu lompat turun dari punggung masing-masing untanya. sekarang ia mulai tiba di Tionggoan. entah apa yang mereka bicarakan itu. hatinya menjadi tawar. tidak ada tanda-tandanya terluka. Kwee Ceng lantas merasakan suasana bertukar. ia masih belum dapat bicara. Syukur unttuknya. lekas-lekas ia melengos. aku tak akan mendengarinya!‖ berkata Tuli sambil tertawa. Ia lantas dengar mereka itu berbicara satu pada lain. Maka lekas sekali tibalah ia di Hek Sui o. Segera juga mereka melintasi tanah datar gurun pasir. kau bicaralah dengannya. Hampir ia mengucurkan air mata saking menyesal sudah menyiksa kudanya itu. Masih enam guru itu tak nampak. Mereka itu pria semua. Apabila ia mengawasi. Sabuk itu menjadi merah seluruhnya. Ia malu sendirinya. Kwee Ceng tercengang. ia dapatkan pemandangan mata yang lain. disebuah rumah makan di tepi jalanan. penuh dengan darah. Ia sempat berpikir untuk menukar tempat singgahnya.. ia ambil sabuk dengan apa ia menyusuti. Kuda itu sebaliknya nampak segar bugar.Pendekar Pemanah Rajawali ―Adikku. akan mengawasi ke jalan besar darimana tadi ia datang. ―Ini bukannya darah. Ia dapatkan sikap Kwee Ceng sama seperti biasa. untuk terus beritahukan hal kudanya mengeluarkan keringat darah. ia dapatkan tibanya Han Po Kie. ―Begitu?‖ tanya guru itu heran. malam singgah. setelah mana. ia bawa tangannya yang berlepotan darah itu ke arah matahari. di leher mereka itu terlihat bulu rase. Kwee Ceng dekati itu putri. inilah keringat!‖ serunya. terus mereka bertindak ke dalam rumah makan itu. habis itu mereka tertawa riuh. supaya guru itu suka tolong mengobati kudanya itu. Ia mengharap-harap segera tibanya gurunya yang ketiga. Kwee Ceng menoleh. Tempo ia meraba kudanya dengan tangannya. Ia tidak melihat guru-gurunya. bukan sebagai satu tunangan. Dari gerak-geriknya mereka itu. ia gencet perut kudanya. Disamping pakaian mereka yang putih. ―Keringat?‖ ia menanya. barulah ia pesan: ―Kau mesti lekasan pulang…. tangannya itu juga menjadi merah. ia raba punduknya kuda itu. Lalu ia pun saling rangkul dengan Tuli itu. lekaslekas ia tunduk. terus ia bawa kepada Tuli. Kwee Ceng merasa kasihan melihat kudanya yang kecil itu lari demikian keras hingga bermandikan keringat. Han Po Kie. membikin kudanya itu lari pesat. ia pondong tubuhnya. dan semuanya pun beroman tampan. keenam gurunya ajak dia menuju ke timur selatan. Gochin menggelengkan kepalanya. Tanpa merasa. yang sudah berjalan jauh juga. bocah kau awasi apa?‖ ia menegur. tak jauh lagi dari Kalgan. Belum pernah Kwee ceng melihat unta-unta yang begitu bagus. Adalah satu kawannya menjadi tidak senang. siang jalan.

ia kirim utusan membawa pedang. mereka lepas satu ekor kuda betina yang berwarna lima di kaki gunung. Kwee Ceng heran. ―Shatee. yang disebut kuda langit. ialah kuda istimewa dengan keringat seperti darah. Kaisar menjadi kagum. Utusan itu diberi tugas dan kekuasaan: Panglima atau serdadu mana saja yang pergi berperang benani memasuki kota Gak-bun-kwan itu. dia mesti dihukum mati! Lie Kong menjadi serba salah.‖ sahut Po Kie. ke kota Gak-bun-kwan. apa dia mau sudah saja?‖ menanya Han Siauw Eng.Pendekar Pemanah Rajawali Po Kie tidak sahuti muridnya itu. di tanah barat. Irawan D Soedradjat Page 161 . terpaksa ia menunda di Tun-hong itu. Ia heran akan mendengar halnya hanhiat po-ma. ingin ia mempunyai kuda itu.‖ kata Cu Cong. ia memberitahukannya kepada rajanya. pasukan tentara itu tinggal hanya tiga bahagian. ia terpaksa mundur ke Tun-hong. bahwa kuda itu keras larinya.‘ Utusan Han itu menjadi gusar. hingga orang liar tidak dapat mengejarnya. ―Bagaimana dengan Kaisar Han Bu Tee itu. ―Dulu pernah aku dengar keterangannya guruku. punduk kuda itu mengeluarkan keringat merah seperti darah. Tapi orang Ferghana telah mendapat satu akal bagus. di Ferghana dia telah melihat seekor kuda hanhiat po-ma itu. yang untuk seribu tahun sukar didapatkan!‖ Kwee Ceng heran dan girang. Mereka lantas beritahukan tentang kuda berkeringat merah itu. kenapa dia mengeluarkan keringat bagaikan darah?‖ ia menegasi. yaitu di daerah Ferghana. ketika kemudian kuda biang itu mendapat anak. Melihat mereka itu. Dipihak lain. lalu tertampak datangnya lagi empat penunggang unta seperti empat yang pertama itu. Ia bergirang sebab kudanya tidak terluka. Cu Cong menghirup air tehnya. dia mengatakannya: ‗Kuda itu adalah kuda pusaka negara Ferghana. emas dan kuda emas itu dirampas. Tentu itu baru cerita saja. sebelum mencapai tempat tujuan. mungkin sekali kudamu itu adalah keturunan dari kuda Ferghana itu. belum pernah ada yang melihat buktinya. Lie Kong kalah oerang. ke Barat itu. Dan mereka dua rombongan lantas duduk bersama-sama.Pada suatu malam hari musim semi.‖ Selagi guru dan murid ini berbicara. kau telah dapatkan han-hiat po-ma. Raja Ferghan pun gusar. ―Kemudian bagaimana?‖ tanya murid itu. Cu Cong adalah seorang sastrawan. ―Suhu. Tapi Ferghana adalah negera gurun pasir. terus ia pulang. jadi kuda itu tidak dapat dihadiahkan kepada bangsa Han. ―Turut katanya guruku itu. terus ia kirim utusan membawa emas seribu kati serta seekor kuda-kudaan emas. Kuda liar itu kena terpincuk. Mereka itu muda dan tampan dan pakaiannya serba putih seprti rombongan yang pertama. untuk menjaga. ―Mana mau dia sudah begitu saja. ―Benar!‖ berkata Cu Cong. tak ada rangsum dan air disana. Raja gusar. darisana ia meminta rajanya mengirim pula bala bantuan. almarhum. Untuk itu. takukha kau darimana asalnya po-ma?‖ ―Menurut keterangan guruku.‖ Ketika itu terdengar pula kelenengan unta. selama perjalanan banyak tentara terbinasa. yang tertarik denagn cerita kakak angkatnya itu. satu hari dapat menempuh jarak seribu lie. ia luas pengetahuannya. dia perintah menawan utusan itu. Kaisar Han Bu Tee. Anak Ceng. anak kuda itu ialah po-ma tersebut. dia kawin dengan kuda pancingan itu.‖ tanya Cu Cong sehabis ia minum pula tehnya.‖ berkata Cu Cong. Lie Kong diangkat menjadi jenderal istimewa. ―Tentang itu ada ditulis jelas dalam Kitab Hikayat dan Kitab Jaman Han. ―Menurut kitab. yang dapat lari seperti terbang. untuk dipakai menukar dengan kuda istimewa itu. keempat pemuda serba putih itu juga memperhatikan cerita itu. ―Ketika dahulu hari itu bangsawan Pok-bong-houw Thio Kian diutus ke Tanah Barat. po-ma terlahir dari perkawinan kuda rumahan dengan kuda liar!‖ sahut Po Kie. hanya dengan bersemangat ia kata. yang masuk ke dalam restauran. ia hajar rusak kuda emas itu. rombongannya Tin Ok tiba. mengumbar tabiatnya. sekembalinya ke negerinya. sebesar kuda biasa. ―Anak Ceng. terus dibunuh. Raja Ferghana menolak permintaan itu. di negara Ferghana itu ada sebuah gunung di dalam mana kedapatan sebangsa kuda liar. ada kedapatan sebangsa kuda liar biasa. ―Dia lantas perintah Jenderal Lie Kong mengepalai beberapa laksa serdadu pergi ke Ferghana untk mendapatkan kuda itu. ―Kau ahli pemelihara kuda.‖ Kwee Ceng berseru heran.

delapan pemuda itu mengawasi kudanya Kwee Ceng. mereka berontak. ―Jikalau kawannya berani membantui. Lioktee. mereka melanjuti memasang omong sambil dahar mie. semua kuda itu tak lagi menjadi po-ma dan keringatnya pun tidak merah…‖ Habis Cu Cong bercerita. dengan begitu delapan pemuda itu menjdai tidak bercuriga. ―Orang lihay itu pergi ke kota raja. mereka kasak-kusuk tetapi kupingnya Kwa Tin Ok lihay. kita bunuh saja semua!‖ kata seorang lagi.‖ Mendengar cerita itu. kepala raja diserahkan. Untuk lebih daripada empatpuluh hari. Ia berdiam saja. Cu Cong berkata pula: ―Kuda langit menjadi kuda jempolan sebab perkawinannya dengan kuda liar. sebaliknya dengan shatee. agaknya mereka sangat tertarik. ―Siapa miskin dan tak punya sanderan. Masih ia khawatir tentaranya itu belum cukup. mengapa mereka jadi begini galak dann telengas?‖ tanya ia dalam hatinya. ―Pembunuh Ribuan Jiwa‖. ―Kali ini Lie Kong memimpin angkatan perang yang besar itu. Banyak panglima musuh terbinasa. hingga negera menjadi gempar. Kaisar mengadakan satu pesta besart. kuda dan rangsum tak terhingga banyaknya. entah berapa banyak jiwa sudha melayang. San-cu pergi ke kota raja. dia bisa memangku pangkat! Ha ha ha!‖ ―Dan baba-baba mantu itu. Maka ia berpikir. setahu berapa banyak uang sudah dikorbankan. apeslah kau. rajanya dibunuh. ―Katanya mereka adalah bawahannya Cian-ciu jin-touw Peng Lian Houw. untuk seekor kuda po-ma itu. Delapan pemuda itu duduk jauh-jauh. tetapi tak tahu ia perihal Som Sian Lao Koay. ia merasa malu. ia kurung dan serang kota musuh.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong melanjuti ceritanya: ―Kaisar Han Bu Tee tidak puas. kerajaan Han itu mengutamakan tani dan sebaliknya memandang enteng bangsa saudagar.‖ berakta satu pemuda. Pula dua ahli kuda diberi pangkat tinggi. ia menambah dengan semua orang hukuman. ia dapat mendengar jelas pembicaraan mereka.‖ berkata seorang pula. Dialah kepala penjahat paling berpengaruh untuk wilayah Hopak dan Shoasay. Dengan kalah perang. cukup dengan satu kali turun tangan. Lie Kong pulang dengan kemenangan besar. Ia pernah dengar namanya Leng Tie siangkin. ―Kalau kita hendak rampas kuda itu.tentunya dia menjadi semakin terang mukanya! Pasti seklai Som Sian lao Koay dari Tiang Pek San dan Leng Tie Sianjin jago Bit Cong Pay dari Tibet tak dapat menangkan keagungannya…!‖ Tin Ok berpikir. mana kita dapat kebagian?‖ Irawan D Soedradjat Page 162 Tentang Peng Lian Houw ini Tin Ok ketahui dengan baik. ialah satu menjadi Kie-ma Kawm-oet. maka kalau mereka dapat lihat kuda ini. yang dianggap melainkan naga yang pantas menjadi kawannya…. apakah salahnya mereka?‖ Siauw Eng menanya. ―Satu kali kita sudah naik atas punggung kuda itu. Merek aitu tentu hendak berkumpul juga di kota raja. mereka hendak bikin apa di sana? Delapan wanita ini. Orang-orang peperangan yang lainnya pun turut kenaikan pangkat. kita menghadiahkannya kepada San-cu. yang dijadikan serdadu. Kaisar Bu Han Tee sudah kerahkan kekuatan seluruh negeri untuk mendapatkan beberapa ekor kuda itu tapi kemudian ia tidak mendapatkan kuda liar. Maka ia mengerahkan pula lebih daripada duapuluh laksa serdadu. tugasnya ialah nanti sesudah Ferghana dipukul pecah mereka mesti memilih kuda jempolan. maka selang beberapa turunan. seorang paderi kenamaan dari Tibet itu. siapa kesudian dipungut mantu?‖ Cu Cong menjawab. maka juga dia dapat gelarannya itu. kalau kau hidup di jaman Kaisar Han Bu Tee. ia khawatir bangsa lain memendang enteng bangsa Han. Mereka pun serahkan kuda yang diperebuti itu. Ia terus memasang kupingnya. ―Setelah mendapatkan kuda jempolan ini. yang pun sangat kejam. ―Dengan menungggang kuda ini. siapa dapat mengubarnya?‖ ―Tapi disini ada banyak orang lain dan ia pun ada kawan-kawannya…‖ kata seorang yang lain. siapakah mereka?‖ . ia siapkan serbau. ―Dalam beberapa hari ini di tengah jalan kita menemui tak sedikit sahabat dari Jalan Hitam.‖ berkata seorang muda yang lainnya lagi. Hu Thian Pian-hk Kwa Tin Ok menjadi heran sekali. baba-baba mantu dan kaum pedagang. Akhirnya kaum ningrat Ferghana menjadi ketakutkan. ia sengaja berpaling ke luar rumah makan. raja sangat girang. Mereka mohon menakluk. ia perintah mengarang syair untuk memuji kuda langit itu. yang lainnya menjadi Cit-ma Kauw-oet. pamong praja rendah. dia di anugrahkan menjadi bangsawan Hay-see-houw. ―Mereka berdelapan wanita semuanya.

Hong Ho Su Koay adalah murid-murid paling disayangi oleh Kwie-bun Liong Ong. ―Kira-kira. namanya sangat kesohor. ―Dia juga cnatik sekali. ia menajdi sebal…. coba dia lebih muda sepuluh tahun. hati-hatilah!‖ seorang memperingati. Ada yang kata ―San-cu paling sukai kamu!‖ Ada yang membilang. jangan kau mencari muka dari San-cu dan hendak mati-matian mencarikan nona manis untuknya…!‖ memperingati satu kawan. Orang itu tertawa. yang berarti Gunung Unta Putih. ―Awas. ―Kalau kita menghadiahkan kuda ini kepada San-cu. Ilmu itu mana dapat dikuasai tanpa penyakinan belasan tahun? Anak umur belasan tahun mana mempunyakan semacam ilmu silat itu?‖ Diam-diam Tin Ok puas yang murid mereka dapat mengalahkan Hong Ho Su Koay. yang Tin Ok mengatakannya pemudi-pemudi.‖ kata satu orang. ia percaya orang yang dipanggil ―San-cu‖ itu atau ―majikan gunung‖ mestilah bukan orang baik-baik. baharulah heran anadikata San-cu melihat dia dan tidak menjadi kerindu-rinduan…‖ Tin Ok tahu Siauw Eng yang menjadi bulan-bulanan. maka tidaklah kecewa didikan mereka selama sepuluh tahun lebih ini. coba kau terka. ia tidak menyahuti. Yang seorang tertawa dan berkata: ― Pasti San-cu menghendaki kau menemani ia tidur untuk beberapa malam…! ―Kurang ajar!‖ membentak kawan yang digoda itu dan hendak mencubit. ia tanya adiknya yang kedua: ―Jietee. maka itu haruslah kita waspada. ia teringat kepada mereka yang mengeroyok Kwee Ceng. Merek ahendak pergi lebih dulu.Pendekar Pemanah Rajawali Mendengar terlebih jauh. lalu berkasakkusuk tentang asmara. mereka itu tertawa. Seorang berkata pula: ―Menurut katanya San-cu. Tin Ok tunggu sampai orang sudah pergi jauh. dia tentu mengerti ilmu silat. maka itu adalah sangat aneh yang mereka kabarnya roboh ditangannya satu bocah umur belasan tahun…‖ Satu kawannya menyahuti: ―Ada orang bilang bocah itu pandai ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw. ―Hanyalah tidak tepat untuk menyiarkan berita anak ceng mengerti Kiu-im Pek-kut Jiauw. Habis mengambil keputusan. guna menakluki orang kosen. ―Supaya kau jangan sampai kena dijambak bocah itu!‖ ―Cis!‖ sang kawan berludah. bagaimana kau lihat kepandaiannya delapan wanita itu?‖ Irawan D Soedradjat Page 163 . San-vu bakal menghadiahkan apa kepada kita?‖ berkata satu orang. ―Sungguh pesat sekali tersiarnya kabaran dalam dunia kangouw!‖ katanya. karena tubuhnya Hong Ho Su Koay itu masing-masing meninggalkan beberapa bekas cengkeraman…‖ ―Maka hati-hatilah kau!‖ tertawa satu kawannya. ―Jangan kita membocorkan rahasia sendiri…!‖ ―Wanita itu membawa pedang. yang kembali ke urusan kuda. ―Kita harus berhati-hati. ―Diwaktu begini tentulah San-cu lagi menantikanmu!‖ maka ia menjadi mengerutkan keningnya. Yang lain-lain lantas tertawa geli. Tin Ok mendongkol berbareng merasa lucu. ia mendongkol.‖ berkata pula seorang yang lain. delapan pemuda itu. jangan seperti Hong Ho Su Koay yang sial dankalan itu. delapan pemuda itu berlalu dengan cepat bersama untanya. Habis dahar mie. Tin Ok mendapat kepastian mereka itu hendak merampas kudanya Kwee Ceng. yang menyebabkan orang tertawa hingga giginya copot!‖ Tin Ok tidak tahu Pek To San itu. Maka lagi sekali. Mendengar pembicaraan itu. akan tetapi mendengar disebutnya Hong Ho Su Koay – Empat Siluman dari sungai Hong Ho. ada dari partai mana. supaya orang-orang kosen di kolong langit ini ketahui kegagahan kita dari Pek To San. ―Kali ini kita datang ke Tionggoan untuk mengangkat nama. guna memegat di tengah jalan. untuk di Liongsee dan Tiong-ciu. mereka pun bergurau.

‖ Mendengar itu Kwee Ceng merasa puas. ―Tidak. ―Apakah sieko maksudkan biar anak Ceng pergi seorang diri ke Kee-hin? Kita menyusul dia sesudah kita menyelidiki warta perihal orang-orang gagah yang berkumpul di kota raja?‖ Siauw Eng menegaskan. tidak dapat kita main ayal-ayalan. ―Biar anak Ceng berjalan seorang diri. ―Oh. untuk mengucapak selamat jalan. ―Habis?‖ sang kakak membalasi. itu mesti diperoleh sendiri.‖ Irawan D Soedradjat Page 164 . Maka ingatlah pesa gurumu yang keempat ini. Kanglam Cit Koay tidak nanti lepaskan mereka!‖ berkata Han Po Kie. paling belakang pesan Hie Jin singkat saja: ―Jikalau tidak ungkulan. perlu kita mencari tahu. biarlah anak Ceng berangkat lebih dahulu!‖ Lam Hie Jin menyarankan. biarpun kau sangat lihay. ―Delapan wanita itu hendak merampas kudamu. Kau mempunyai urusan penting. Kwee Ceng lantas memberi hormat kepada keenam gurunya. yang kelihatan sudah dapat diandalkan menyaksikan perlawanannya terhadap Hong Ho Su Koay. Mereka itu pada memesan. mereka menyamar demikian sempurna!‖ berkata Cu Cong. satu atau dua tentulah dapat tiba untuk mengurus kamu.‖ sahut Cu Cong setelah berpikir sejenak.‖ ―Tetapi janji pibu di Kee-hin bakal tiba harinya. Memang perlu murid ini membuat perjalanan sendiri. Dia tetap menyebut diri Cit Koay meskipun sudah belasan tahun semenjak meninggalnya Thio A Seng.‖ Coan Kim Hoat memperingati.‖ Tin Ok pesan. Cu Cong semua tertawa. Kudamu keras larinya. menyingkir!‖ Pesan ini diberikan sebab ia melihat. Liok Koay berlega melepaskan muridnya ini.Pendekar Pemanah Rajawali ―Wanita?‖ Cu Cong mengulangi dengan heran sebelum ia menjawab. tidak nanti dapat mereka menyusul.‖ Tin Ok berkata pula. ―Memang. Tidak menggembirakan untuk ia berjalan seorang diri. Itulah tandanya ia tidak bisa melupakan saudara angkatnya itu. Tak sampai satu bulan. Ia utarakan perasaannya itu. rupanya seperi tidak mengerti…‖ ―Apakah pernah kau dengar tentang Pek To San?‖ Tin Ok tanya pula. Jangan kau khawatir. Mereka itu berdiam. di sebelah orang ada lagi lain orang yang terlebih pandai. ―Perkara kecil niat mereka merampas kuda ana Ceng. mirip mengerti ilmu silat. untuk mencari pengalaman. untuk mendahului mareka. sebab pengalaman tak dapat diajari. jagalah supaya kau jangan terganggu urusan sampingan. muridnya ini ngotot hingga ia membahayakan diri sendiri. mereka itu merasa sulit juga. di luar gunung ada gunung lainnya lebih tinggi. Habis bersantap.‖ Cu Cong menyatakan setuju. ―Kalau begitu. melayani Empat Siluman dari Hong Ho.‖ Dengan terpaksa Kwee Ceng memberikan persetujuannya. Aku pikir tak dapat kita membiarkannya saja. Umpama di harian pibu kita tidak dapat kumpul semua berenam. ―Benar. ―Pergi kau ambil jalan kecil. ―Yang penting ialah pembilangan bahwa ada banyak orang gagah hendak berkumpul di kota raja. ―Nampaknya mereka luar biasa. kami akan menyusul.‖ ―Umpama benar mereka main gila. Mungkin ada gerakan rahasia apa-apa. ―Ilmu silat tidak ada batasnya. Tin Ok lantas tuturkan apa yang ia dengar barusan.‖ berkata Coan Kim Hoat. tidak dapat kau menjagoi sendiri di kolong langit. Besar nyali mereka berani berniat menggempur gunung Tay San…. ―Orang begini besar masih bersifat kebocahan!‖ Tin Ok menegur. Lam Hie Jin mengangguk. Siauw Eng lantas membujuki: ―Kau pergi lebih dahulu di sana menunggui kita. hingga sekarang mereka tinggal berenam (Liok Koay).

―Kalau sam-suhu melihat sikapku nini. mari kasih aku lihat!‖ kata satu nona lain. takut apa?‖ kata satu diantaranya. ia lihat menyambarnya dua rupa barang berkilauan. di sebuah tikungan. ―Bukankah kita tidak kenal satu sama lain dan tidak bermusuhan?‖ Tapi ia tidak mau membalas. Kwee Ceng terkejut. hatinya pun tercekat. Irawan D Soedradjat Page 165 . ―Kamu telengas hendak mengambil jiwaku. ketiganya bercokol di atas punggung unta. Nyata dua senjata rahasia itu adalah gin-so atau torak terbuat dari perak yang indah. ia menyambuti dengan kopiahnya. ia tahan kudanya. ia berjalan seraya menuntun binatang ini. Kwee Ceng sendiri tidak tak terkecuali. pemuda ini larikan pula kudanya. untuk tahan kuda itu. ―Bagus!‖ memuji dua nona. Ia bersangsi. Belum ada dua lie. tajam juga kedua pinggirannya. tak sudi iamelayani. Ketiga nona itu tertawa tergelak. Ia mau berlaku hati-hati. untuk lari dengan tiba-tiba. ―Lewat saja! Kami pun tidak nanti gegares padamu!‖ Kwee Ceng jengah. Kwee Ceng periksa kopiahnya. jalanan sempit dan banyakl batu besarnya. mukanya dirasai panas. Di tempat begitu. Jalanan pun sukar. terus ia jalan pula. yang datangnya dari tempat lain tempat. Maka ia lantas ambil keputusan. Jalanan ini lebih jauh. gin-so itu ia masuki dalam sakunya. Ia turuti pesan Tin Ok. ia khawatir senjata rahasia itu ada racunnya. Seorang diri ia dahar dengan bernafsu. Satu nona lompat turun dari untanya. perdagangannya ramai. terus berlompat tinggi.‖ pikir si anak muda denagn mendongkol. Ia hanya tidak pakai sumpit. ia berlaku hati-hati. maksudnya hendak menyambar les kuda. Untungnya untuk dia. Bicara dulu atau menerjang saja? ―Kudamu bagus. Ia mengawasi jalanan yang sempit itu. ia seperti hendak menerjang ketiga orang itu. ia sudah dengar bentakan ketiga nona itu. ujungnya tajam. dari utara ke selatan. belum sore. Dari jauh-jauh. ia sudah tiba di Kalgan. ia merasa lapar. Belum sempat ia menoleh ke belakang. ia turut kebiasaan orang Mongolia. tepat waktu ia menoleh. Tapi Kwee Ceng membentak. Kwee Ceng tiba di jalanan pegunungan yang sulit dan berbahaya. ia lantas ambil jalan kecil. Di situ terutama terdapat banyak kulit dan bulu binatang. ia sudah melalui seratus lie lebih. dia pasti akan damprat aku…‖ pikirnya. ia menunggang kuda dan kudanya pun dapat lari pesat. Belum pernah ia melihat kota seramai ini. Kalgan adalah kota hidup untuk perhubungan antara selatan dan utara. sebab ia duga jarak mereka kedua pihak ada jarak seperjalanan tiga hari……. Di sini Kwee Ceng turun dari kudanya. untuk pengalamannya ini yang luar biasa. sebab kecil dan berliku-liku. Pesat lari kudanya. kedua kakinya menjepit. Sekira tujuh atau delapan lie.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng mengangguk. lantas ia menuju ke selatan. banyak kolar dan pasirnya. Tentu saja tak puas Kwee Ceng diperlakukan demikian. sebentar saja ia sudah datang dekat. Mereka itu melintag di tengah jalan. tak dapat ia tempur mereka itu. Di depan ada tiga nona dengan pakaian serba putih. ada pepehonan kecil yang liar. Ia singgah sebentar. Ia minta sepring daging kerbau dan dua kati mie. penduduknya padat. yang ia lekas cabut. ia kasih kudanya kaget. Dengan ini cara. Tidak sampai satu jam. kudanya berbenger. di sini sangat sedikit orang berlalu lintas. I apun meraba ganggang pedangnya. ―Numpag jalan!‖ ia lantas berkata. mau tidak mau. Ia hanya khawatir nanti ada yang memegat pula. Ia hanya dapat lihat. ia masuk ke dalam. Ia mengasih dengar nada lagi bicara sama anak kecil. matanya menoleh ke kiri dan ke kanan. ―Awas! Buka jalan!‖ ia berseru seraya ia hunus pedangnya. Kebetulan tiba di depan restoran. gin-so bertabur emas yang merupakan unta-unta kecil. Selagi jalan terus. memakai tangannya. Ia payku kepada enam gurunya itu. maka ia tambat kudanya di luar. saking heran atas lihaynya kuda itu. ―Adik kecil. ia percaya ketiga nona tadi tidak bakal dapat candak dia. akan pilih tempat duduk. Ia tidak menaruh perhatian ketika ia dengar dua ekor burung dara terbang lewat di atas kepalanya. Sampai disitu. ia sudah menghadapi jalan cabang dua. iamaju seraya ulur tangannya. Ia tarik les kudanya. lompat lewati tiga nona itu! Ketiga nona itu terkejut. suaranya nyaring.

yang ia lihat lagak lagunya. ―Sayang…sayang…‖ kata satu jongos. Ia lantas ingat kepada kudanya. ―Aku yang membayar uangnya. Kwee Ceng menjadi kasihan. ―Aku sendirian tidak gembira. dua yang asam manis. Bukankah ibunya berasal dari Lim-an. baik kita makan bebuahan dulu!‖ menyahuti si anak muda. Pemuda itu mengikuti ke dalam.‖ Ia bicara dengan lidah Selatan. mukanya pun hitam mehongan. ini aku bagi kau!‖ berkata ia. ia mengawasi ana muda kita Kwee Ceng lihat kelakuan orang. habis kau dahar. sebab ia lihat pakaian orang yang butut dan kotor itu. kepalan lewat diatasan kepalanya. untuk duduk bersama. hawa udara dingin. Pemuda itu menghampiri. Jongos itu menjadi gusar. Di utara. tetapi ia diam saja. untuk menyindir. ia menjadi malu hati. ―Mau apa lagi?!‖ menegur satu jongos. ―Pasti!‖ sahut Kwee Ceng tanpa berpikir lagi.‖ Kwee Ceng pun heran. lebih dulu kau sediakan empat rupa buah kering dan empat rupa buah segar. ia dengar suara kerisik di luar rumah makan. kawan. Dan ia lemparkan itu kepada seekor anjing buduk di depan pintu. lepas bakpauw itu!‖ menitah jongos yang satunya. ―Makhluk yang harus dikasihani. ―Coba lojinkee menyebutkannya. dua yang manis bermadu. maukah kau yang mentraktir?‖ tanyanya. aku memang lagi mencari kawan. Di tangannya ia mencekal sepotong bakpauw. Ia lantas kata pada jongos: ―Eh. menubruk dengan kegirangan. pemuda itu mendak. ―Eh. pasti kami dapat membuatnya! Hanya aku khawatir. hingga terlihat dua baris giginya yang putih. untuk melongok keluar. ―Kenapa kau tidak mau lantas pergi?!‖ ―Baiklah. Pemuda itu mengawasi Kwee Ceng. pergi ya pergi…‖ kata pemuda itu seraya ia putar tubuhnya. bagiku itu rasanya masih kurang cocok. Kwee ceng teriaki jongos. ia lompat bangun. Ia menoleh pula kepada si anak muda: ―Kita minum arak atau tidak?‖ ia tanya. ia tahu orang tentu sudah lapar. Ia mengawasi kedua jongos dengan tertawa. sekalipun di musim semi. ia sodorkan kepada si pemuda. seekor anjing kecil. Pemuda itu letaki bakpauw itu yang tapinya sekarang tertanda tapak tangan. kau tidak punya uang untuk membayarnya!‖ Dengan sengaja ia menyebut ―lojinkee‖ atau orang tua yang dihormati. ―Baik!‖ tertawa pula pemuda itu. hitam dan kotor. Tentu saja kue itu tak laku dijual.‖ Irawan D Soedradjat Page 166 . makanan yang paling lezat di kolong langit ini adalah daging kerbau dan kambing. Pemuda itu menyambuti. akan memerintahkan: ―Potongi aku sekati daging kerbau serta setengah kati hati daging kambing!‖ Ia telah hidup terlalu lama di Mongolia hingga tahunya. hingga tidak terlihat tegas wajahnya. dan pemuda ini tidak memakai sepatu. Ser! kepalannya melayang. kepalanya ditutup dengan kopiah kulit yang sudah pecah dan hitam dekil. Yang membikin banyak berisik adalah dua jongos terhadap satu pemuda ynag tubuhnya kurus dan pakaiannya butut. Ia menoleh kepada si jongos. Ia dapatkan kudanya sedang makan rumput dengan tenang. meminta tambahan makanan. Kwee Ceng mengerti omongan orang. meski kau menyuguhkan makananmu yang paing jempol. Anjing itu. dan ia biasa dengar ibunya bicara? Ia malah girang mendengar lagu suara orang sekampung.‖ Ia jumput bakpauw itu. ―Bakpauw yang lezat dikasihi ke anjing…. ―Tidak peduli aku dahar berapa banyak. ―Mari dahar bersama!‖ ia mengundang. ―Apakah kau sangka aku melarat dan jadinya tak pantas aku dahar barang makananmu?‖ si pemuda tegur jongos itu. ia balik ke mejanya untuk melanjuti bersantap.‖ lanjutnya lagi. rata. Pemuda itu berumur lima atau enambelas tahun. Teranglah ia seorang melarat. ―Aku khawatir. ―Kita jangan repoti mendahar daging. ―Apa?!‖ sahut jongos itu tawar. hingga gigi bagus itu tak sembabat sama dandannya yang compang-camping itu. ―Jangan!‖ ia cegah si jongos. Jongos itu melayani dengan ogah-ogahan. terus ia gegares bakpauw itu. Cit-kang.Pendekar Pemanah Rajawali Tengha bersantap.

―Ah. Tidak terlalu lama. ―Rumah makanmu ini rumah makan kecil dan tempatmu ini tempat melarat. ia jadi Cuma bicara tentang memburu binatang liar. co dan ginheng. Sembari dahar bebuahan. ―Untuk teman arak. ia pun Cuma dahar beberapa sumpitan. hendak minum arak apa.‖ Mendengari itu mulutnya si jongos ternganga. paha mencak dan kaki babi hong.‖ berkata pula si anak muda. dan ia merasakan kelezatan yang dulu-dulunya ia belum pernah cicipi. hingga ia tertawa dan bertepuk tangan.Pendekar Pemanah Rajawali Jongos itu heran hingga ia terperanjat. tapi si anak muda sangat tertarik hatinya. ―Apakah sudah cukup semua ini?‖ ―Habis itu. datanglah barang hidangan. yang asam aku ingin uah ento harum. Kwee Ceng ingat pesan gurunya. di sini tidak ada ikan dan udang segar. baharu ia keluar pula. ia ada punya arak Pek-hun-ciu simpanan sepuluh tahun. Irawan D Soedradjat Page 167 .‖ sahutnya kemudian. tak tahunya dia terpelajar tinggi. yang dandannya indah dan malah mengenakan bulu tiauw. ia duga bukan sembarang orang. Ia tidak menyangka orang omong demikian takabur. semua buah yang diminta telah disajikan saling susul-menyusul. apakah kau kira dia tidak kuat membayaranya?‖ tanya ia. Barang hidangan. Orang bicara rapi. Anak muda itu minum sedikit sekali. yang mesti disajikan atas dua meja disambung menjadi satu. buah tho-tong-songtiauw dan buah lay-hauwlongkun…. lidah ayam cah. yang mengaku datang dari padang pasir. ceker bebek goreng. soto burung wanyoh. yang ia pilih. sebegitu dulu!‖ Jongos itu berlalu dengan cepat. ia khawatir orang nanti minta pula makanan lainnya. soto manjangan keekangyauw. Selang kira setengah jam. dan kiang-sie-bwee. satu demi satu. Setelah pesan koki.‖ katanya dalam hatinya. kau sajikan lagi duabelas rupa untuk teman nasi. ―Untuk ceker bebek dan lidah ayam saja kita membutuhkan beberapapuluh ekor ayam…. memanah burung rajawali. Buah yang segar yaitu kau cari yang baharu dipetik. Si anak muda berkata pula. ―Toaya menghendaki buah apa yang segar bermadu?‖ tanyanya. jongos itu menjadi melongo. tidak dijelaskan. Sembari berdahar. ―Aku menyangka ia cuma miskin. lengkeng. ―Baiklah. ―Delapan rupa masakan itu ialah puyuh asap. enak didengarinya. Sekarang ia tak berani lagi memandang enteng kepada anak muda ini. ―Lainnya ialah delapan rupa tiamsim. maka kau sajikan saja delapan rupa barang hidangan yang biasa!‖ Jongos itu mengawasi. ―Delapan masakan itu mahal harganya. si anak muda bercerita banyak. Entah disini ada yang jual atau tidak? Yang manis bermadu? Ialah jeruk tiauwhoa-kim-kie. ia tidak berani bicara terlalu banyak. ―Tuan ini yang mentraktir. Rupanya orang luas pengetahuannya. bakso kelinci. tentang segala apa di Kanglam. Kwee ceng cobai itu semua. apa boleh ia menyediakan dulu dua poci? ―Baiklah!‖ sahut si anak muda yang mengenai arak tak banyak cerewet. Sekarang ia tanya tetamunya. anggur hiangyoh. suaranya tawar. tidak beres!‖ berkata si anak muda itu. pasti tidak dapat kamu menyediakan barang bagus. ―Sebenarnya tuan-tuan ingin dahar masakan apa?‖ ia tanya. Nah. Si anak muda menunjuki Kwee Ceng.‖ kata kemudian. anak muda itu ada lebih pintar daripada gurunya yang kedua.‖ Mendengar itu. Ia kata.‖ berkata si anak muda. ia sekarang banyak bertanya kepada Kwee Ceng. Jongos mengawasi pemuda kita. ―Sekarang begini saja! Empat rupa buah kering itu ialah leeci. menunggang kuda dan menggembala kambing. Kwee ceng tertarik hatinya. Ia sampai mau percaya.

―Aku tidak niat pulang ke Selatan. untuk dipegang keras-keras. ―aku pun sampai lupa! Aku she Kwee. ―Benar. bocah tolol! Bocah hina ini permainkan padamu!‖ Kapan kuasa restoran sudah berhitungan.‖ jawab anak muda itu. mereka mengantar keluar kedua tetamunya itu. Kwee ceng pun kasih persen sepuluh tael hingga kuasa restoran dan jongos itu menjadi girang. tetapi tentang ini.‖ ia menyahuti.‖ sahutnya.‖ kata si anak muda seraya tarik tangannya. lalu ia mengatakannya sudah cukup. Hanya aneh. tujuh chie empat hun. menyuruh menukar hidangan yang terlalu dingin dengan yang baru! Jongos dan kuasa brumah menjadi heran. Ia masih punya sisa empat potong emas. ialah Tuli sering mendampingi ayahnya. Di luar salju memenuhi jalan besar. Kwee Ceng mengeluarkan dua potong emas. toh masih ada perbedaannya. walaupun mehongan. Pernah Kwee Ceng menatap muka si anak muda. Seumurnya. Kwee ceng pun tertawa.‖ si anak muda meminta diri seraya memberi hormat. baru kalin ini mereka mendapatkan tetamu seaneh ini. namaku Ceng. Di gurun pasir ia bergaul erat sekali dengan Tuli dan Gochin. ia cekal tangan si anak muda. ―Umpama kata hiantee hendak kembali ke Kanglam. ia tidak memperhatikannya. ia kerobongi itu di tubuh si anak muda. Si anak muda tidak mengucap terima kasih. ia pakai baju itu. bicara lebih jauh. aku merasa lapar pula…‖ ia menambahkan. ia loloskan baju kulit tiauwnya. apakah kau masih kekurangan apa-apa?‖ ia menanya. anak muda itu dahar lagi sedikit saja. yang tapinya memanggil jongos. ijinkan aku pamitan. Satu kali. untuk menggapaikan. kecuali hal ia mengerti silat dan mempunyai hubungan erat dengan Temuchin. seperti juga pemuda itu kehilangan sesuatu. Tapi mereka iringi kehendak itu. ―Saudaraku. sadar. Untuk membayar itu. Sehabis membayar. tangan itu ia rasai halus sekali. Maka itu. Sesudah barang makanan siap semua. harganya semua buah dan makanan itu berjumlah tigaratus sembilan tail. bagaimana apabila kita berjalan bersama?‖ . kita baharu ketemu tetapi kita sudah seperti sahabatsahabat kekal. Kwee Ceng lihat itu panggilan.‖ sahut Kwee ceng. Gochin benar baik tetapi putri itu kadang-kadang manja sekali dan ia tidak sudi mengalah. terus ia negeloyor pergi. Si anak muda pun tersenyum dan menunduk.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sendiri sangat gembira berkumpul bersama ini kawan baru. ―Tapi toako. Yong. ―Sudah terlalu lama kita bicara. barang hidangan keburu dingin. Kau sendiri hiantee?‖ ―Aku she Oey. terlalu panas pun tidak dapat didahar. Ia sebenarnya memanggil adik (hiantee). Adalah setelah jalan beberapa tindak. ia pun memberikan uang. ia pun suka omong lebih banyak. ia baru menoleh ke belakang. Kwee Ceng berhati mulia. ia menghampirkan dengan cepat. Menyaksikan itu. Kwee Ceng pun berdiam saja. ia lantas saja angkat tangannya. dengan kelakuan sangat menghormat. ―Baik suruh panasi lagi…‖ ―Tidak usahlah. ―Aku telah mengganggu kamu. hingga ia tampak Kwee Ceng lagi berdiri bengong dengan tangan memegangi les kuda merahnya. si jongos katakan Kwee ceng dalam hatinya: ―Dasar kau. 168 ―Sekarang hiantee hendak pergi kemana?‖ Kwee ceng tanya. Irawan D Soedradjat Page Oey Yong menggeleng kepala. kult muka itu agakanya halus dan bersemu putih. saking gembira. maka aku minta sukalah kau pakai baju ini!‖ Tidak Cuma baju. Ia kata: ―Saudara. maka sering mereka bertengkar. ―Nasi pun sudah dingin…‖ ―Benar. namaku pun satu. ―Aku masih belum belajar kenal she dan nama kakak yang mulia. yang tiga ia sisipkan ke dalam saku baju tiauw itu.‖ berkata si anak muda. melihat pakaian orang yang tipis dan pecah. Anak muda itu tersenyum. ia tidak pikirkan harganya barang makanan itu. benar!‖ katanya. untuk ditukar dengan limaratus tael perak.

―Kalau begitu. yang tidak merasa aneh atau mendongkol.‖ berkata si anak muda. ibukota dahulu. di tangga lauwteng terdengar suara tindakan kaki. Oey Yong tertawa. tak bisa jadi. hingga ia tak dapat didekatkan. ialah dua kacung yang mengiringi satu pemuda denagn baju sulam yang indah.‖ ―Hanya sukar untuk mencari anaknya. Karena itu malam-malam aku minggat…. ―Justru sekarang tidak tahu aku mesti pergi ke mana. ―Jikalau begitu. Atas itu kedua kacung menghampirkan meja yang ditunjuk itu. ―Dan ibumu?‖ ―Ibuku sudah meninggal dunia. cuma empat rupa serta sepoci the Liong-ceng.mari aku temani lagi kau bersantap. ―Ayah damprat aku.‖ jawab Kwee ceng.‖ ―Sekarang pasti ayahmu tengah memikirkan kau. ―Kenapa begitu?‖ Kwee Ceng tanya.‖ kata Kwee ceng lagi. ―Ah. habis pesiar aku pulang!‖ katanya. tetapi kuda itu berjinkrakan. untuk mengatur mangkok dan sepasang sumpit. Kali ini Oey Yong yang mengajak kawannya itu. Lantas ia berseru: ―Di siang bolong kamu berani merampas kudaku?‖ Irawan D Soedradjat Page 169 .‖ sahut Oey Yong. Hanya kali nini ia tidak meminta banyak macam makanan. orangorang itu adalah delapan penunggang unta yang memang berniat merampas kudanya itu. Melihat pakaian orang yang kotor. Ia hanya heran kenapa orang dapat menyusul ia demikian lekas.‖ Kwee ceng beritahu. Aku tidak punya ibu sejak masih kecil…‖ ―Kalau begitu. Kwee Ceng tidak dapat menjawab. Kwee Ceng mengawasi sebentar. Cuma tidak ketmu…‖ Kwee ceng mencoba menghibur. ―Ayahku larang aku pergi pesiar.‖ ia kata. wajahnya terang. disusul mana beberapa kali bentakan dari beberapa orang. ―Ayahku tidak menginginkan aku…‖ ia menyahut. ―Kenapa kau tidak mau pulang saja?‖ Tiba-tiba saja mata Oey Yong menjadi merah. ia mengerutkan kening. ia pun menemuinya burung itu secara kebetulan. Oey Yong menangis. Ia kembali mengobrol bersama sahabat barunya itu. ―Di sana aku cari dan tangkap dua anak burung itu untuk aku buat main. lantas ia menunjuk meja yang terpisah jauh. Ia memandang Kwee Ceng dan Oey Yong. baik besok aku pergi saja ke Mongolia. Ia dapatkan beberapa orang dengan pakaian serba putih tengah mengurung kudanya itu.‖ Kwee Ceng bilang. maka ia lari ke jendela untuk melongok ke bawah. Mangkok dan sumpit yang mana disimpan dalam sebuah kotak. Jongos juga segera repot melayani tetamu baru ini. usianya barangkali baru delapan atau sembilanbelas tahun. ―Cuma aku mesti dapati dulu dua ekor anak rajawali putih…‖ Selagi kedua pemuda ini bicara dengan asyik. ―Mungkin ia mencari. habis pesiar. yang hendak ditangkap. kenapa ayah tidak cari aku?‖ kata si anak muda lagi. aku justru mau pergi. kau mesti pulang. Di sini kembali mereka pasang omong. Kapan Oey Yong dengar Kwee ceng omong perihal dua ekor burung rajawali putih. baiklah. Ia ingat akan kudanya. ―Eh. hiantee. lantas ia tidak pedulikan lagi tetamu itu. Belum lama. yaitu Restoran Tiang Keng Lauw.Pendekar Pemanah Rajawali ―Baiklah. terutama sebab ia lantas kenali. di bawah lauwteng terdengar suara kuda meringkik. Ia pilih rumah makan yang paling besar dan kenamaan untuk kota Kalgan. Ia menjadi gusar sekali. rumahmu di mana?‖ ia tanya. ―Tapi kau toh dapat menemuinya.‖ Kwee ceng berkata pula. lalu tertampak munculnya tiga orang. yang bangunannya juga mencontoh model restoran besar dari Pian Liang. ia menjadi tertarik hatinya. pemuda itu tampan sekali. yang ia bawa dari rumah. ―Ayahku tidak menginginkan aku lagi…‖ katanya.

ia memandang Kwee Ceng. hingga terbit satu suara nyaring dan ia merasakan sakit ngilu pada pundaknya itu. Cepat-cepat Kwee Ceng cabuti kopiahnya. Kwee ceng lekas-lekas membalasi. pundaknya kena tersambar juga. Maka dengan ia lantas tunduk. Karena ini. sinar matanya menandakan ia sangat heran. dengan menyentil dua kali.‖ Irawan D Soedradjat Page 170 . di sana ia dapatkan delapan orang berpakaian putih itu sedang rebah tanpa berkutik. kudamu itu bagus sekali!‖ katanya memuji. ia tuangi air the di cawannya pemuda itu. Gara-Gara Sepatu Sulam Dan Jubah Salut Emas Tiba-tiba Kwee Ceng sadar. ia melayangkan dua batang senjata rahasia yang bersinar emas berkilauan. Kwee ceng cepat-cepat membalas hormat. ―Aku mohon tanya she dan nama mulia dari toako. mereka pada rubuh sendirinya…. ―Kongcu ada pengajaran apakah?‖ lanjutnya. Oey Yong tarik tangannya Kwee ceng. Inilah Kwee ceng tidak sangka. yang menyambuti seraya terus dikasih masuk ke dalam sakunya. dengan lantas ia lihat Oey Yong. jatuh bareng bersama senjata penyerangnya. ―Siauwtw she Kwee. diserahkan kepada si pemuda. ―Kau…kau…. ke arah pemuda ini. ada urusan apakah saudara datang ke mari?‖ Ditanya begitu. tanda dari kemurkaan. guna terus lompat berjumpalitan.‖ ia menyahut. Setibanya ia di depan rumah makan. Meski begitu. mari kita naik pula ke lauwteng!‖ berkata ini sahabat baru. atas mana dua potong ginso menyambar ke loteng. yang setahu kapan telah turun dari lauwteng. ―Aku mohon tanya. salah satu nona menoleh ke belakang.‖ Kongcu itu berkata: ―Saudara Kwee tak hendak mengenalkan diri.‖ Meski ia mengucap demikian. ia lantasbertindak naik di tangga lauwteng. Ia menjadi heran sekali. kemudian ia mengawasi kedua anak muda itu. Barusan kongcu membnatu aku. ―Setahu kenapa. kemudian sembari tertawa manis. mereka lihat delapan nona serba putih itu berlalu dengan unta mereka. untuk terus segera memberi hormat sambil berjura. nah di sini saja kita berpisahan. Kwee ceng menurut. dia terus menghampirkan Kwee Ceng. ia kaget dan gusar dengan berbareng. Demikian juga si anak muda itu. Ketika ia menoleh. untuk naik di tangga. ―Apakah saudara Kwee datang dari pulau Tho Hoa To dari Tang-hay? pemuda itu menaya. Kwee melengak. ia memutar tubuhnya. ―Toako. bernama ceng. ujung tangan bajunya menjurus ke matanya. ―Jangan pedulikan dengan mereka. Sembari memberi hormat orang menyerang ia secara hebat sekali. apabila mereka melongok ke bawah.Pendekar Pemanah Rajawali Lantas ia lari turun dari lauwteng. Kongcu itu telah mengibaskan tangannya. maka Kwee Ceng dapat melihat sinar matanya yang tajam. sehingga ie berdiri menjublak. ia pergi ke jendela diikuti Oey Yong. ―Mereka ini hendak merampas kudaku. Celaka kalau ia kena tersampok. ginso itu jatuh sendirinya. lalu di antara dua kali suara tintong. untuk masuki kepalanya ke selangkangannya. diwaktu ia sudah taruh kakinya. aku sangat berterima kasih. ―Belum pernah siauwtee pergi ke pulau Tho Hoa To itu. Habis itu. Tiba-tiba saja ia ayun tangannya yang kanan. dengan niat menyambuti torak perak itu.‖ kata Kwee Ceng.‖ ia menyahuti. si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu juga telah berada di depan. malah ia sudah lantas membungkuk kana melihat delapan pemudi yang menyamar sebagai pemuda-pemuda itu. di waktu mana ia merasakan sambaran angin. kedua kacung lantas pungut empat senjata rahasia itu.‖ ia minta. Ia merasakan ada tangan yang lemas yang memegang tangannya. Justru mereka memutar tubuh. sepasang alisnya pun terbangun. ―Siauwtee datang dari gurun pasir utara. Akan tetapi si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu telah dului ia. di depan siapa ia berhenti. Bab 16. Kwee Ceng hendak sahuti sahabatnya ketika ini tatkala ia dengar ramai suara kelengan unta di depan rumah makan itu. sampai nanti kita bertemu pula!‖ Lalu ia menjura dalam sekali.

ia mundur setindak. Kongcu itu terkejut.Pendekar Pemanah Rajawali Tapi si kongcu pegat ia. ―Itu waktu memang aku lihat terbangnya dua ekor burung di atasan kepalaku. tangannya disodorkan. ia dapatkan Oey Yong mengawasi ia sambil sahabat itu tertawa geli. Menampak barangnya itu. ―Sungguh memusingkan kepala. kongcu terkejut sehingga air mukanya berubah.‖ jawab Kwee Ceng. Maaf…!‖ Kembali ia menjura. Ilmu totok kau lihay sekali. adakah kongcu ini sekaum dengan Tiat Sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi? Ia menginsyafi hebatnya cengkeraman Tulang Putih itu. empat senjata itu sudah mendahulukan menyambar ke arahnya. Kwee Ceng angsurkan kedua barang emas dan perak itu. ―Ya. kau lupakan barangmu ini!‖ ia panggil si pemuda yang seperti anak bangsawan itu. disaat kongcu itu mengangkat tubuhnya habis menjura. Di tangan kawan ini terlihat dua potong tusuk konde emas serta dua potong ginso. yang menyamar sebagai pemuda-pemuda dan menunggang unta. ia sudah dapat menduga orang bergerak dengan ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw seperti keenam gurunya sering menuturkan kepadanya. kepada Kwee Ceng ia tersenyum. Ia tercengang sebentar lantas ia ingat. Setelah menatap. Kapan Kwee Ceng kembali ke kursinya. belum lagi serangannya mengenai. lima jarinya yang kuat seperti kuku garuda menyambar ke tangan Kwee Ceng itu. entah kenapa. ―Kenapa barang itu berada di tanganmu?‖ ia menanya. Oey Yong pun telah dapat menjumput sumpitnya itu. empat senjata di tangannya sudah lantas mencelat. Si kongcu rupanya jijik untuk pakaian kotor anak muda ini. ia juga dapat lihat anak muda itu berdiri tegar ditempatnya. Dengan terpaksa ia sambuti empat potong benda itu. heran. yang bergemerlapan kuning dan putih. kenapa rombongan wanita itu mencoba merampas kudamu?‖ kemudian Oey Yong menanya. sambaran kongcu ini kalah jauhnya sebatnya dengan sambarannya si Mayat Besi. cuma ia dapat membedakannya. sembari tertawa. tangannya menjatuhkan sebatang sumpit ke kaki kongcu. ia kata: Aku cuma mencoba ilmu kepandaianmu. ia berpaling. ia tercengang. Kwee ceng khawatir orang nanti bokong pula padanya. Kwee Ceng kaget tidak terkira. mereka dapat menyusul padaku…‖ Kwee Ceng kemudian mengutarakan keheranannya.‖ ―Aku lihat di antara mereka ada satu yang mencekal sepasang burung dara. ia memutar tubuhnya untuk terus turun di tangga lauwteng. Tidak berani ia menangkis atau menyambuti cengkeraman itu. Oey Yong agaknya kaget. Ia dapatkan.‖ kata Oey Yong. yang terus tuturkan perihal kuda itu sampai ia bertemu rombongan si wanita itu. Kalau tidak tentulah mesti terjadi pertempuran hebat…‖ Oey Yong masih tersenyum. Entah kapan sahabat ini mengambilnya. tubuhnya bergeser. Kwee Ceng jujur. ―Dia membikinnya jatuh selagi dia menjura kepadamu. sebab masih ada bekas cengkeramannya Bwee Tiauw Hong dulu hari pada lengannya. saudara Kwee. Kemudian ia melanjuti: ―Setahu siapa yang membnatu aku secara diam-diam dengan merobohkan mereka itu. ilmu silatmu tangan kosong tapi biasa saja. Dari gerakannya saja. belum ia terjambak. Itulah ginso yang tadi si kongcu simpan dalam sakunya. Kwee Ceng melihat telapak tangan anak muda ini. ―Ini untuk kau…‖ kata Oey Yong dengan perlahan. ―Sebab kudaku adalah han-hiat-po-ma. cepat luar biasa ia telah kerahkan tenaganya. Kongcu itu menghentikan tindakannya. Maka ia menduga. Ia sambuti tusuk konde emas dan ginso itu. ia mundur satu tindak. ia tidak menduga orang mendusta. ia mengerti. ―Kongcu. aku ingat sekarang!‖ ia kata pula separuh berseru. Rupanya tiga wanita itu melepaskan burung Irawan D Soedradjat Page 171 . terus ia putar tubuhnya untuk bertindak ke tangga lauwteng. cepat luar biasa tangannya menyambar ke arah Kwee ceng. lantas aku jumput!‖ sahut Oey Yong masih tertawa. ―Kudaku itu lari cepat sekali. sebenarnya aku telah lombai mereka seperjalanan tiga hari.. ―Toako. Tiba-tiba Kwee ceng menepuk meja.

Dua orang yang ke lima. hingga tampak dua baris kulitnya yang putih mulus. Mukanya penuh air mata. Kwee Ceng turun dari pembaringan. apapula mereka dibantu oleh paman gurunya itu. hingga ia melihat tegas. ia terkejut bukan main. Karena ini. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng mengerti bahwa ia telah terkurung. Oey Yong tanya tentang tenaga larinya kuda merah itu dan Kwee ceng menuturkannya dengan jelas. bahwa Hong Ho Su Koay saja sudah bukan tandingannya. ―Satu sahabat. dengan dingin.‖katanya. untuk mereka memegat atau mengawasi aku. ―Baik. Sekarang adalah giliran Kwee Ceng yang menjadi heran. Ia keringkan secawan teh. maka baik-baiklah kau mendengar katanya. ia awasi tuan rumah. yang usianya kurang lebih lima puluh tahun.‖ Setelah itu. aku hadiahkan itu padamu!‖ kata Kwee Ceng tanpa bersangsi. Setelah ia mengenali orang. apa kau sudi mengabulkannya?‖ dia bertanya. ia terus tepuk kempolan kudanya itu. ―Kenapa tidak?‖ Kwee Ceng menjawab. tiba-tiba ia dengar ketokan pada pintu. kau kenapakah?‖ ia menanya cpat.‖ sahut suara di luar. akan tetapi ia sekarang tidak membangkang. sebaliknya ia tertawa. di jidatnya ada tiga kutil besar. ―Apakah kau kurang sehat?‖ Oey Yong angkat kepalanya. ia mengawasi si pemuda. Pemuda itu menanti sampai orang tidak terlihat lagi. Ia lantas mendekam di meja. Ia kelihatannya menjadi kagum sekali. Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay yang sangat ternama besar! Lekas kau berlutut dan mengangguk-angguk kepalanya!‖ . romannya sangat tidak mengasih untuk diawasi. tanpa bilang suatu apa. ia lantas pergi mencari rumah penginapan. Bukankah mereka baru pertama bertemu? Ia malah mengharap jawaban si pemuda adalah penolakan. yang julukannya pun berarti si Ular Naga Kepala Tiga. untuk rebahkan diri.‖ Kemudian sembari menoleh kepada si anak muda. Ia pesan kepada kudanya: ―Aku haurkan kau kepada sahabatku yang baik. ―Siapa?‖ ia tanya heran. ia mepersilakan: ―Hiantee. Kwee Ceng pun mengawasi. tubuhnya kurus. Di antara cahaya lilin.Pendekar Pemanah Rajawali itu untuk memberi kabar kepada lima kawannya. Dengan lantas kuda itu berlari pergi. muka orang ada tanda bekas luka-luka senjata tajam.‖ menerangkan Oey Yong. ―Toako. Kwee Ceng menurut. Mereka itulah Hong Ho Su Koay. Empat di antaranya ada membawa golok dan ruyung. Tapi sekarang ia tidak menangis. ―Sebenarnya aku suka sekali dengan kudamu itu. sambil melirik. baru ia tuntun kudanya. ia membuka tindakan lebar akan memasuki kamar orang. Air matanya itu yang mengalir di kedua belah pipinya itu. ia tampak lima orang berdiri di depannya. lantas berkata: ―Inilah paman guru kami. terus terdengar tangisannya sesegukan. baru ia melihat langit. ―Hendak aku meminta sesuatu yang berharga darimu. akan terus mencokol di atas pembaringan. mukanya lonjong. marilah kita pergi!‖ ia mengajak. lalu ia tertawa. 172 Toan-hu-to Sim Ceng Kong si Golok Memutus Roh. Si kurus sudah lantas tertawa tawar. jangan kau bawa adatmu. dari itu. ia membuka pintu. hiantee. Oey Yong naik kuda itu. hingga dia itutak dapat melihat lepas ke depan. kau naiklah!‖ Sebenarnya kuda itu tak dapat ditunggangi orang lain. suaranya parau. Ia mendapatkan sang malam bakal lekas tiba. Lebih dulu ia membayar uang makan. Ketika disaat ia hendak memadamkan api. ―Toako. ―Hiantee. Sebenarnya ia main-main saja. Bersama-sama mereka turun dari lauwteng. mereka gampang saja mencari padaku. Kwee Ceng menyerahkan les kuda itu. menyebabkan mehongan luntur. Oey Yong terperanjat.

―Sudah terang aku tidak bakal dapat lolos. ia tidak bertemu dengan musuhnya. baiklah aku mati bertempur!‖ Oleh karena berpikir begini. agar orang tidak nanti mengatakan Sam-tauw-kauw menghina anak kecil. Ia masih berdiam saja. ia sudah ngeloyor keluar. maka ia lupa akan malunya. disusul sama bentakan: ―Bocah. . jongos muncul dengan air cuci muka dan tiamsim. ―Bocah haram! Anak campuran! Anak jadah!‖ demikian ia dengar makian hebat. rimba pun lebat. Selagi Kwee ceng bertindak. memandang ke arah dari mana cacian itu datang. Tiba-tiba ia dapat ingatan. berubah pikirannya. ia suruh Twie-beng-chio Gouw Ceng Liat si Tombak Mengejar Jiwa menutup pintu. ―Sungguh menggembirkan. Rupanya orang telah menjaga ia di luar kamar. Tapi ia tidak dapat pulas. Sambil berdiri diam. semakin hebat. Lantas ia berdiri menjublak! Di atas empat pohon di dekatnya itu.‖ Kwee Ceng berpikir. Besok tengah hari aku menantikan di rimba Hek-siong-lim di luar kota. Satu lie sudah ia berjalan. ia angkat kepalanya. kaki dan tangan mereka terbelenggu. menuju ke arah barat. Ia menjaga diri dari bokongan di kiri atau kanannya. untuk sarapan. Ia bersemadhi hingga tengah hari. ia maju. engkongmu menunggui kau disini!‖ Jadi terang dia telah dikurung keras. Ia takut mati. tidak dapat aku menemani kalian lama-lama…!‖ ―Kwee Enghiong. untuk melindungi diri. ―Aku mohon sukalah kau memerdekakan kami!‖ Irawan D Soedradjat Page 173 Sim Ceng Kong berempat mencaci maki pula. Dia lantas rebahkan dirinya. untuk dengan cepat bertindak ke sebelah dalam rimba. Di belakang jongos itu terlihat Cian Ceng Kian dengan sepasang kampaknya. kenapa aku tidak hendak sembunyikan diri?‖ Maka hendak ia segera mewujudkan pikirannya ini. Akan tetapi tidak ada serangan terhadapnya. Ia lantas saja bercokol di atas pembaringan. tidak nanti mereka dapat menolongi aku. ―Mari kita pergi!‖ ia kata kepada Cian Ceng Kian. niatnya untuk tidur tanpa menghiraukan segala apa. Kwee Ceng heran bukan kepalang. Sesampai di luar. Di sini Ceng Kian tinggalkan si pemuda. terus ia duduk numprah di atas pembaringannya. yang menutupi matahari. lari!‖ Maka ia berpikir: ―Sekarang tidak ada orang mengawasi aku. ―Ah! Kalau begitu hendak aku memberi ketika padamu untuk hidup lagi setengah harian!‖ kata Ular Naga Kepala Tiga itu. Di sana ada sebuah rimba besar.‖ sahut Kwee Ceng. ―Sekarang hendak kau memberi pengajaran kepadamu. Selang tidak lama. cambuk lemasnya. ―Mana guru-guru kamu?‖ Hauw Thong hay menanya. ia tampak bayangan orang mondar-mandir. Mereka mencaci kalang-kabutan begitu lekas mereka tampak si pemuda musuhnya itu. ―Apakah kau tengah main ayunan di sini?‖ dia bertanya. Seram suasana di situ. ia dapat dengar apa-apa di atas genting. Kwee Ceng memadamkan api. akan tetapi ia tertawa. Ia berlaku tenang. Kwee Ceng putar cambuknya. Kwee ceng loloskan joan-pian. Mereka malu untuk minta tolong. Sambil berlompat. Ma Ceng Hiong si Cambuk Perampas Roh. hingga terdengar suara membeletok. tiba-tiba Toat-pek-pian. ―Suhu semua berada di tempat jauh. Besok pagi. ―Guruku tidak ada di sini. hampir ia lenyap dari pandangan mata. Itulah suara ketokan beberapa kali. sia-sia saja mereka mencoba meronta-ronta. ia tampak Hong Ho Su Koay tergantung masing-masing di sebuah cabang besar. tubuh mereka bergelantungan. melainkan mulut mereka yang dapat di pentang lebar-lebar. untuk bersemadhi menuruti ajarannya Ma Giok. setindak demi setindak. Kapan ia memandang ke jendela. ia berbangkit. Di samping itu mereka heran sekali kenapa paman guru mereka itu yaitu Hauw Thong Hay. Mereka jalan berendeng. jangan kau memikir untuk kabur. kau datang ke sana dengan minta gurumu semua temani padamu!‖ Habis berkata. hatinya menjadi mantap. tanpa menanti penyahutannya Kwee Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tuan-tuan ada punya urusan apa?‖ ia tanya sambil menjura. tidak lekas kembali. ia mesti gulak-galik saja. kami menyerah kalah!‖ dia berteriak. ialah pesan gurunya yang keempat: ―Jikalau tidak ungkulan. baru ia berbangkit turun. sampai sepuluh lie lebih. bukan?‖ Nah sampai bertemu pula! Sampai bertemu pula! Maaf. Tapi tiba-tiba.

nona itu menggunai akal. ia berkata: ―Lagi dua belas jam baru kamu dapat pulang tenaga dalam dan merdeka. Mukanya pemuda itu menjadi merah. negara Kim (Kin) yang besar. yang paling ramai dan indah. ia khawatir paman guru mereka itu nanti keburu kembali. mesti ada orang yang sudah tolongi ianya. ia berjalan-jalan. Sebetulnya. belum pernah ia menyaksikan suasana kota besar itu. Si pria dapat melihat lowongan. maka sekarang si nona tidaj menghajar hebat kepadanya. Ia lantas saja mengangkat kaki. Di mana di situ tidak ada Hauw Thong Hay. maka ia pikir. maka itu apa perlunya aku membiarkan mereka mati bersengsara di sini?‖ Dengan cepat ia mengambil keputusan. terus ia balik ke kota. ia cari sebuah restoran yang kecil. Sambil tertawa. Pria itu tidak sampai hati. Ia heran orang menuduh padanya. setelah memegang tanah. Untuk bersantap. akan meninggalkan mereka itu. tetapi ia mengerti. hanya syukur. sampai tidak dapat dilawan oleh Pian-liang. Pantas Hong Ho Su Koay tidak sanggup berontak melepaskan diri. terus ia kembali dengan berlompatan. Ia pun mengutanginya itu dengan golok emasnya. adalah mereka yang memusuhi aku. habis berdahar. kapan aku pernah bertemu orang lain? Aku tadinya menyangka. ―Kalau bukannya kau. malah di sini ia segera membeli seekor kuda untuk dengan itu ia lantas melanjuti perjalannya ke selatan. Orang banyak itu mengurung sebuah tanah lapang. ke mana perginya Hauw Thong Hay si Ular Naga itu? dia tidak tertampak sekalipun bayangannya?‖ Kwee Ceng terus melakukan perjalannya itu. lalu iamundur ke bawah bendera. Kwee Ceng pandang nona itu. yang permai sero-seronya. kota raja yang baru. yang cantik sekali. di situ ada dipancar bendera suram. sedang kereta-kereta bagus dengan semua kuda pilihannya mondar-mandir di jalan-jalan besar. teranglah lawannya itu mesti jauh terlebih lihay daripada mereka. Pada suatu hari. aku pikir kenapa ada demikian banyak wanita cantik. habis mana barulah ia putuskan belengguan mereka itu. Yang hebat mereka sampai tidak melihat padanya. Di pelbagai rumah minum ia pun dengar suara tertawa. siapa Irawan D Soedradjat Page 174 . kota raja yang lama dari kerajaan Song. tibalah ia di Tiongtouw. ia menolak ke arah pundak. Ia lari keluar rimba. mesti ia lekas menyingkir. Ia berpikir: ―Dia lihay. hingga ia berpikir: ―Kenapa aku seperti kenal dia? seperti aku pernah bertemu dengannya. Mendadak ia ingat apa-apa. entah dimana…?‖ kemudian ia tersenyum sendiri. nona-nona serba putih dan menunggang unta itu sudah elok semua. dasarnya putih. ia baru berhenti ketika di sebelah depannya ia dengar sorak-sorai yang ramai. Luar biasa gesitnya nona itu. Nona itu singkap naik rambut yang turun ke dahinya. atau berkelit. ia sampai tidak berani memilih erstoran yang mentereng. kapan tangan kirinya diayunkan. Ia menjadi besar di gurun pasir. untuk melihat ke sebelah dalam. kedua kakinya bergerak saling susul-menyusul. kota raja Tay Kim Kok. di sana ada berkumpul sejumlah orang. hanya mengubah kepalannya menjadi tangan terbuka.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sudah lantas berpikir: ―Sebenarnya aku tidak bermusuh dengan mereka. siapakah yang menggantung kamu di sini?‖ ―Kau masih berpura-pura!‖ membentak Cian Ceng Kian mendongkol. ia menjadi kegirangan. ada sulaman empat huruf besar: ―Pi Bu Ciauw Cin‖. merdunya bunyi tetabuan. ―Buk!‖ punggung si pria kena terhajar. Herannya. untuk berlompat bangun. pemuda itu totok mereka bergantian. yang tubuhnya jangkung dan besar. kenapa dia munculkan diri di tempat umum seperti ini?‖ Selang lagi beberapa jurus. atau Lim-an. Di bawah bendera itu ada satu nona dengan baju merah tengah bertempur sama seorang pria. ia berkelit dengan mendak. ia kasih turun mereka itu satu per satu. yang indah lauwteng dan rangonnya. Ia mendekati. ia ingat: ―Baharu saat ini kau tiba di Tionggoan. Sesudah empat Siluman itu direbahkan di tanah. Keanehan itu tak dapat ia melupainya. ia batal meninju. Heran Kwee Ceng apabila ia saksikan ilmu silat si nona itu. ―Hong Ho Su Koay lihay tetapi mereka dapat digantung. Nona itu tidak mengambil sikap menangkis. dengan kemalu-maluan ia menyelinap di antara orang banyak. dia dapat menahan diri dan mengerahkan tenaga. Semua itu ia saksikan diwaktu siang berderang. Syukur untuknya. sikapnya pun berpengaruh. Para penonton lantas saja bertampik sorak. ―Siapakah itu orang secara diam-diam menolongi aku?‖ ia berpikir di sepanjang jalan. siapa lagi?‖ Kwee Ceng heran. membawa tubuhnya melejit ke samping ke belakang penyerangnya itu. hingga mereka menyangka aku. Artinya: mencari jodoh denagn jalan pibu atau mengadu kepandaian. Ia menyelak di antara banyak orang itu. roboh ke tanah. ke arah dada. umurnya mungkin baru tujuh atau delapanbelas tahun. bertempur dengan seru sekali. ia lantas menyerang dengan kedua tangannya. sampai terjerunuk ke depan. ia tadi berkasihan terhadap si nona. maka mereka itu lantas saja tidak dapat geraki kaki dan tangan mereka. alat menggantungnya itu adalah tambang kulit yang kuat.

Siapa yang usianya di bawah tiga puluh tahun dan belum menikah. akan aku rangkap jodoh anakku ini dengan jodohnya. walaupun ia telah melihat wajah-wajah yang cantik manis. hanya guna anakku ini. nanti aku yang melayani mereka. akhirnya mereka semua tertawa geli. berniat ia menghajar kedua manusia ceriwis itu. lalu ia cabut benderanya. Orang bnayak lantas mengawasi. ―Nanti. lagi sekali orang itu mengangguk. dan umurnya juga sudah lewat lebih dari setengah abad. pria itu mengangguk. Tidakkah pemandangan itu sangat lucu? Irawan D Soedradjat Page ―Bagus!‖ berseru si paderi. disini mesti banyak orang berilmu dan gagah. Si empe dan paderi masih adu omong terus. Tiba-tiba saja. ayah dan anak. Tuan-tuan. mukanya penuh berewokan. Si nona lantas bicara perlahan sama seorang yang berdiri di dekatnya. aku mancarikan jadohnya dengan jalan pibu ini. aku masih belum menikah! Mustahilkah aku tidak cocok?‖ Si paderi itu awasi si tua. kamu tertawakan apa?‖ tanya si tua itu kepada orang banyak. akan tetapi kami masih belum menemui jodoh yang dicari itu. para penonton juga tak henti-hentinya tertawa. sepasang alisnya terbangun. asal ia bisa menyerang anakku dengan satu kepalannya atau kakinya. aku lewat di tempat tuan-tuan tidak dengan maksud mencari nama atau mencari uang. sudah membuat perjalanan dari selatan hingga di utara. kakek-kakek!‖ katanya. dari mana lantas terlihat dua orang berlompat ke dalam kalangan. Adalah keinginanku. perkenankanlah kami undurkan diri. nanti besok kami datang pula ke mari untuk melayani tuan-tuan. yang ia awasi. Mendengar itu. mereka yang gagah sudah pada menikah atau mereka yang muda sungkan hatinya?‖ Ia berhenti sebentar. wajahnya menjadi merah. Yang muncul dari sebelah timur itu adalah seorang tua dengan tubuh terokmok. aku harap tuan-tuan memaafkannya kalau ada kata-kataku yang tidak tepat. ia tertawa. aku akan segera pulang asal menjadi orang biasa lagi!‖ sahutnya. kembali riuhlah tertawa orang banyak. Maka itu ia lantas memandang ke kiri dan kanannya. Si nona menjadi mendongkol. Anakku sudah dewasa usianya. hatinya masih terbuka.Pendekar Pemanah Rajawali tahu nona ini melebihkan mereka itu…. Yang datang dari barat itu lebih lucu pula. yang datangnya dari sebelah kiri dan kanan. apakah kau mau dengan datang kemari?‖ ia menegur. matanya bersorot tajam. terus ia mengangguk keempat penjuru seraya terus berkata: ―Aku yang rendah bernama Bok Ek. ―Bukankah dia mau adu kepandaian untuk mencari suami? Nah. Disamping mereka. itu bendera Pi Bu Ciauw Cin. siapa yang menang. Kami berdua. ―Taruh kata kau menang. Bok Ek tarik tangan gadisnya. Dasar aku kurang berpengalaman! Rupanya di Tionggoan ini dimanamana wanitanya cantik semuanya. sebabnya rupanya. untuk pulang ke rumah penginapan guna beristirahat. hatinya tidaj tergiur. ―Tunggu dulu!‖ Itulah suara berbareng. ia masih belum ketemu jodohnya. sudah melintas tiga belas propinsi. ―Tenang. ―Oh. baharu ia menambahkan: ―Kota Pakhia ini adalah tempat rebahnya harimau atau tempat sembunyi naga. Karena ini dengan beranikan diri. mari kita berdua main-main…!‖ 175 ―Saudara-saudara.‖ ia membujuk. mereka jadi sengit sekali. ia yang maju melawan si nonan manis!‖ . maka itu. yang agaknya tidak menghiraukan ejekan orang banyak itu. ―Setelah aku mendapatkan istri begini cantik. lagi ia menjura kepada orang banyak. maka juga. maka itu sekarang aku lagi mencarikan jodohnya itu.‖ Habis mengucap. Ia merasa bagaimana orang hendak mempermainkan padanya. cukup asal ia satu pria sejati yang mengerti ilmu silat. kumisnya sudah ubanan separuh lebih. apakah kau tidak kasihan terhadap si nona yang masih demikan remaja bagaikan sekuntum bunga? Apakah setelah kau menikah kau hendak membuatnya ia menjadi janda?‖ Orang tua itu menjadi gusar. Dialah satu paderi yang kepalanya licin lanang! ―Eh. ―Aki-aki. oleh karena itu. ―Habis kau. maka tak usahlah aku menjadi heran…‖ Pemuda ini polos. nah kamu pibulah terlebih dulu!‖ satu penonton yang membuka mulut. Ia lantas loloskan mantelnya. Paderi itu tersenyum. pasangan anakku tidak usah berharta.

Cuma rambut dekat kedua samping kupingnyas udah berwarna kelabu dan kulit mukanya berkerenyut dan itu waktu.‖ menyahut si nona. ―Apakah nona ynag mengadakan pibu untuk mencari jodoh?‖ ia menanya sambil ia memberi hormat. Si paderi dapat berlompat danmendekam dengan cepat. tanpa membilang suatu apa lagi. segera ia jatuh duduk. belum lagi ia peroleh jawaban. untuk mengasih keluar sepotong thiephie atau ruyung besi. ia mungkin telah berusia enam puluh hampir. segera ia balas menyerang. untuk angkat kaki! Kwee Ceng mengawasi Bok Ek. sedang si empe menggunai ilmu silat Ngo Heng Kun. Si empe-empe berkelit. ia hajar itu dengan ruyung sehingga golok itu patah dua! Para penonton kagum. ia masuk ke dalam kalangan. keduanya nyelusup antara orang banyak. Jadi keduanya ada dari golongan Gawkang. mereka bersorak. kepalannya menumbuk kepala licin mengkilap dari si paderi. kemudian selagi golok turun. Hanya sambil berseru-seru. untuk dikasih turun ke arah kepala lawannya. Bukankah pibu telah berakhir? Tapi justru itu. Melihat ia tidak dihiraukan. penonton hendak bubaran. Kapan Kwee Ceng telah melihat si koncu. Dilihat dari roman. ―Bagus! Bagus!‖ teriak orang banyak berulangkali. dalam sengitnya. Irawan D Soedradjat Page 176 Kongcu itu melihat bendera Pi Bu Ciauw Cin. ia membuat golok kayto terpental tinggi dan dengan sambaran tangan ia rampas ruyungnya si empek-empek. tidak dapat kita sembarang menggunai senjata tajam!‖ Dua orang itu lagi bertempur seru sekali. ke arah pinggang lawannya. jangan pandang usianya yang tua. bagaikan martil. wajahnya guram. tiba-tiba Bok Ek menyerbu. keduanya menjadi bertempur. mereka tidak memperdulikan seruan itu. ―Di sini adalah kota raja. takut mereka nanti kena terserempet…. Kwee Ceng pun tak terkecuali. berbareng dengan mana. hingga mereka pada menoleh. Si empek kuat sekali. Si tua dapat menolong diri dengan berlompat berkelit. Hebat menyambar-nyambarnya golok kayto dan ruyung besi. Ia dapatkan si paderi bersilat dengan jurus-jurus Lo Han Kun dari ilmu silat Siauw Lim Pay. sembari tersenyum. tenaganya sebenarnya masih besar. mereka dengar suara kelenengan kuda. mendadak ia tarik keluar sebatang golok kayto dari dalam jubahnya. Suara kelenengan itu datang dari rombongan itu. ―Besok kita pulang ke selatan…‖ berkata dia dengan masgul. dengan itu ia membabat kakinya si tua! ―Celaka!‖ berteriak orang banyak. tanda dari tenaganya yang besar. Si empek sebaliknya tenang tegar.Pendekar Pemanah Rajawali Paderi ini menantang. Ia kenali si kongcu yang ia telah ketemukan di rumah makan di Kalgan. . yang diajak bicara. lekas-lekas ia sembunyikan diri di antara orang banyak itu. Dia pun menghela napas. Ia berdiam tidak lama. ―Tuan-tuan. sebelah tangannya sudah melayang. kepalannya menghajar tiga kali beruntun. Ke situ datang satu kongcu atau pemuda sambil diiringi beberapa puluh pengikut. Kiranya mereka sama-sama membekal senjata. ilmu Bagian Luar. tetapi. ia terima serangan tanpa berkelit atau menangkis. numprah di tanah. ia lantas menekuk. lincah gerakannya. tangannya meraba ke pinggangnya. Kwee Ceng menonton. Dengan satu dupakan. Maka itu sekarang mereka melansungkan pertandingan itu dengan golok dan ruyungnya masingmasing. hingga sudah tentu saja selanjutnya tak dapat digunai lagi! Si tua dan si paderi tercengang. ia lantas awasi si nona baju merah. maka ruyung itu menjadi bengkok melengkung. Maka dengan itu. Bok Ek cekal kedua ujung ruyung. tapi berbareng dengan itu. ―Ya. Sampai disitu. Satu kali si paderi dapat meraptakan diri. mereka menjadi kuncup hatinya. Tapi itu belum semua. terus ia loncat dari kudanya. mereka pada mengundurkan diri setindak demi setindak. tahan!‖ Bok Ek berseru seraya ia menghampirkan. ia angkat tinggi tangan kanannya. Tak tahan paderi itu. yang tubuhnya sedikit bongkok tetapi badannya lebar dan kekar.

Tiba-tiba ia memutar ke kanan. tidak menunggu kedua kaki si nona keburu menginjak tanah.‖ menjawab Bok Ek dengan sebenarnya.‖ berkata nona itu. ―Tidak usah. orang ada sangat gesit. Diam-diam girang hatinya Bok Ek. ―Kenapa begitu?‖ si pemuda menegaskan. ia nyelusup di bawah ujung bajunya pemuda itu. Adalah Bok Ek. ia tersenyum. Maka itu ia loloskan mantelnya. masa mereka berani bikin malu satu kongcu? Tentu si kongcu bakal dibikin mundur teratur. Ia lantas merangsak.‖ kata si pemuda. Bok Ek tersenyum.‖ ia menerangkan. ―Sebabnya mungkin. ia hanya berjumpalitan. sebelah kakinya menjejak ke arah hidung si kongcu. ―Bagaimana aturan atau syarat-syaratnya pibu perjodohan ini?‖ menanya si pemuda. Lagi-lagi ia memberi hormat. maka itu ketika si kongcu datang dekat. di dalam tiga belas propinsi. supaya ia tidak hilang mukanya…‖ ―Silahkan. kongcu bergurau!‖ berkata Bok Ek tertawa. Kongcu ada keperluan apa apakah?‖ ia menanya. ―Apakah mungkin belum pernah ada orang yang dapat menangkan dia?‖ ia menegaskan. Nona itu bukan melainkan berlompat mundur. aku tidak percaya!‖ Ia tunjuki si nona. melengos. Ia dapatkan orang. Untuk membebaskan diri. Terkejut si nona itu apabila ia menyaksikan gerakn orang yang luar biasa itu. ―Bagus!‖ berseru si kongcu. Irawan D Soedradjat Page 177 . ―Si nona lihay sekali. ―Sampai sebegitu jauh sudah satu tahun lebih dan kami telah menjelajahi tiga belas propinsi. Para penonton pada berkata dalam hatinya. Bok Ek memberikan keterangannya. Pemuda itu membalas hormat. ―Ah. turut bergerak. ―Silakan mulai. untuk memberi hormat. lalu tangan kirinya menyambar ke pundak si nona. yang menghampirkan pemuda itu. ―Laginya ini bukannya cuma soal menang atau kalah. ia hampirkan si pemuda untuk memberi hormat. Aku minta kongcu sudi memaafkan aku. mana berani kami beradu tangan sama kongcu?‖ menyahut Bok Ek. ―Kami adalah orang kangouw. ―Ah. ia tidak menyahuti. ini mengenai hari kemudian dari anakku. ―Silakan kongcu membuka dulu bajumu. Si nona agaknya kagumi pemuda itu. ―Kalau begitu. hendak aku mencoba-coba. orang yang pandai silat itu sudah menikah atau ia sungkan beradu tangan dengan anakku. kongcu itu lompat ke kanan. Di luar dugaannya. maka barenglah mereka diwaktu mereka menurunkan tubuh.Pendekar Pemanah Rajawali Nona itu dengan wajah bersemu merah. mari.‖ Pemuda itu mengawasi si nona. Ia bertindak ke tengah kalangan. ―Kalau begitu. hingga bajunya yang panjang dan tangan bajunya juga. ia mengebut pula. Ia tahu. belum pernah ia bertemu pemuda semacam ini. Sukar untuk menyingkir dari serangan susulan itu. Pemuda itu tampaknya heran. muda dan tampan. ―Sudah berapa lama sejak kamu mengadakan pibu ini?‖ ia tanya pula. menantang. kongcu!‖ berkata si nona.‖ menyahuti si kongcu. nona!‖ ia kata. sebentar kau nanti merasai…‖ Tapi ada juga yang berpikir: ―Bok Ek ayah dan anak adalah orang kangouw. mari!‖ berkata si pemuda. Kali ini kongcu itu sudah tidak sungkan lagi. maka si nona menjejak tanah untuk mencelat mundur. Sambil mendak. Sekarang ujung baju dari tangan kanan si pemuda yang menyusul menyambar. ―Aku yang rendah she Bok.

merangkul. Bok Ek lantas maju. untuk lihaynya si kongcu dan untuk kelincahan si nona. Ia bukan membuka dengan baik. satu kongcu demikian lihay. Nyata si nona dapat menjambret ujung baju si kongcu dan ia menariknya. ―Kongcu sudah menang. ia masih belum mau melepaskan pelukannya. Sekarang si koncu yang main berkelit. ―Kongcu. Bercahaya wajahnya yang putih dan bibirnya yang merah. yang itu malam menempur aku. karena itu sukar untuk si nona membalas mendesak. yang pinggangnya dilibat dengan sabuk hijau. Si nona menjadi sangat malu. Pertandingan itu berjalan terus dengan seru. sebab si kongcu juga membetot. Apakah boleh jadi mereka berasal dari satu perguruan?‖ Sekarang si kongcu tidak mau mengalah lagi. Ia menggunai tangan kirinya. dan baju si nona seperti mega bermain. tangan kiri si nona kena dicekal. nanti aku lepas kau!‖ sahutnya. Kwee Ceng jadi berpikir: ―Ilmu silatnya dia ini mirip betul sama ilmu silatnya In Cie Peng. kedua tangannya bergerak. selagi si nona mengerahkan tenaganya. si imam muda. sekarang ia mengharap-harap akan kemenangan si kongcu. Pemuda-pemudi itu berimbang usianya. Si nona lantas lompat mundur jauh-jauh. Ia nampak semakin tampan. Kwee Ceng pun kagum. Itulah permintaann ceriwis. Tapi sia-sia saja. malah untuk merapatkan saja sulit. ia malah terpeluk semakin keras. . tangannya mengibaskan baju rampasannya itu! ―Tunggu dulu!‖ Bok Ek segera kasih dengar suaranya. Tanpa berkata apa-apa. Mereka itu sama-sama lincah. mereka pun pandai silat. ujung baju itu putus dengan menerbitkan suara nyaring itu. hingga si nona manis lantas berada di dalam pelukannya. Setelah menyaksikan lagi sekian lama.Pendekar Pemanah Rajawali Penonton semua kagum. Mereka tidak sangka. kongcu ini mulai menyerang. Melihat itu si nona. nona itu rubuh terjengkang. Karena ini tidak lagi ia benci si kongcu untuk kelakuannya di rumah makan baru-baru ini. tolong kau lepaskan anakku. Cuma aku tidak tega…‖ Benar saja. menjadi suami-istri. belum lagi tubuh orang mengnai tanah.‖ ia minta. mereka tampan dan elok. ―Lekas lepaskan aku!‖ ia minta.: ―Kalau sekarang aku hendak robohkan kau. anginnya menyambar keras. si nona menjejak. sungguh cocok apabila mereka menjadi pasangan hidup. Sekarang terlihat kongcu ini dengan pakaian dalamnya dari sutera hijau muda yang indah. suaranya perlahan. Maka tidak ampun lagi. ―Kongcu ini lebih lihay daripada In Cie Peng. Si kongcu tertawa. sampai tiba-tiba orang dengar suara ―bret!‖ robek. Maka ada menarik akan menyaksikan baju indah si kongcu bagaikan bercahaya. Orang banyak bertempik bersorak. ―Kau panggil engko padaku. Hanya. kongcu menang jauh daripadamu…!‖ Tapi orang lagi bertempur hebat sekali. Dalam sengitnya. ia hanya menyobeknya! Satu pengiring lari menghampirkan guna membantui meloloskan baju itu. si nona bukan tandingannya.‖ berpikir Kwee Ceng setelah ia menyaksikan terlebih jauh. tangan kanan si kongcu sudah menyambar. Ia tahu si nona bakal mengibas keluar. malah ia lantas berseru: ―Anak Liam. Ia lantas berontak. Irawan D Soedradjat Page 178 Nona itu mendongkol. tapi ada juga yang menggerutu. silakan kau loloskan bajumu. ―Pasti jodoh mereka bakal terangkap…‖ Bok Ek pun girang melihat jalannya pertempuran ini. kancing-kancingnya jatuh di tanah. sedang si kongcu kata di dalam hatinya. Bok Ek dan Kwee Ceng terperanjat. ketika tangan kirinya menyambar. Pemuda itu tertawa lebar. gampang sekali. mulai membalas menyerang. sudah tak usah kau melawan lebih lama lagi. Si nona dengan wajah merah. untuk kamu menentukan kemenangan terakhir!‖ Kongcu itu bermuram wajahnya. ia sekalian menolak seraya cekalannya itu dilepaskan. maka robeklah bajunya.

―Tidak usah bicara lagi!‖ katanya. beberapa giginya rontok. tempo akhirnya ia bebas. sembari tunduk. lantas saja berseru-seru. Bok Ek heran. ia raba kaos kakinya yang putih. maka itu tentu saja aku hendak jodohkan anakku ini denganmu. ―Kau…! Kau…!‖ katanya kemudian seraya menuding. Ia menjadi malu sekali. tangannya melayang. Ia tertawa. Kongcu itu pun tertawa.‖ ―Aku tidak sempat. ―Sepatu ini toh anakmu yang dengan suka sendiri menghanturkannya kepadaku. manusia hina dina! Bayar pulang sepatu anakku itu!‖ Kongcu itu mengawasi. ―Harum! Harum!‖ ―Kau she apa kongcu?‖ Bok Ek menanya. terima kasih banyak!‖ Mukanya Bok Ek menjadi pucat. ―Apakah yang hendak dibicarakan?‖ tanya kemudian.‖ berkata si anak muda. ―Aku telah melepas kata. Pengiringnya si kongcu tertawa dingin dan menyela.Pendekar Pemanah Rajawali Kongcu itu melepaskan tangannya yang kanan. Itulah jurus ―Ciong kouw cie beng‖ atau ―Gembreng dan tambur ditabuh berbareng. tapi ia menoleh kepada si nona yang ia awasi. Kongcu itu berdiri sambil tertawa haha-hihi. seraya ia putar tubuhnya untuk minta jubah sulamnya dari pengiringnya. maka itu tubuhnya lantas mencelat ke tengah kalangan. ―Bukankah kita main-main dengan ilmu silat?‖ katanya. tetap ia memegang tubuh di nona. ia jatuh terduduk di tanah. ia berontak sekuat tenaganya. ―Kau kira kongcu kami ini bangsa apa? Kongcu kami bersanak dengan kamu orang kangouw tukang jual silat dari kelas tiga rendah empat bawah? Hm! Pergilah kau tidur dengan mimpimu di siang bolong!‖ Bukan main gusarnya Bok Ek. ia injak sanggurdi denagn sebelah kakinya. maka pengiring itu berkoak kesakitan. Irawan D Soedradjat Page 179 . ia tertawa. beberapa penonton bangsa bergajul. ia tertawa besar. dengan tangan kirinya ia cekal lengan kiri pemuda itu. kedua tangannya digeraki berbareng. Ini ada urusan seumur hidupnya manusia. dengan begitu. ―Mari kita pergi sama-sama ke sana untuk berbicara. seketika ia roboh di tanah. mulutnya mengeluarkan darah. ia suruh lain pengiringnya tolongi pengiring yang terluka itu. sepatu siapa ia masuki ke dalam sakunya. mana bisa kita memandangnya enteng?‖ Kongcu itu melengak. ―Baik!‖ serunya. untuk menyerang kedua pelipis orang.‖ ia menyahuti. ―Kami tinggal di Hotel Ko Seng di jalan utama kota barat. ―Anakku pun tidak nanti nikah dengan kau. ia sendiri menghampirkan kudanya.‖ berkata Bok Ek. Bok Ek habis sabar. ―Tidakkah itu sangat menarik hati? Tentang perjodohan. tangan itu dipakai menangkis dan menangkap kaki orang. Nona ini penasaran. ia sampai berdiam saja. ―Jadi kau sengaja mengganggu kami?!‖ berteriak Bok Ek. Kongcu itu tetap tidak mengambil mumat. ―Ada apa sangkut pautnya denganmu?‖ Ia terus geraki tangan kirinya itu dan terlepaslah cekalannya Bok Ek.‖ Kongcu ini berkelit sambil menjajak sanggurdinya. Sebab sepatunya telah terlepas. tangannya mencekali sepatu orang. terus pingsan! Kongcu itu tidak ambil peduli kejadian itu. ia tidak menghiraukan sikap ceriwis si pemuda. yang ia bawa ke hidungnya! Melihat itu. ia tunduk. air mukanya sampai berubah. untuk menaikinya. ―Akan aku adu jiwa!‖ berteriak ayah yang dipermainkan itu seraya ia lompat berjingkrak. ―Kau toh telah mengalahkan anakku!‖ ia kata.

mendadak saja kedua tangannya bergerak. ―Halo. ia memandang tajam kepada si pemuda. sepuluh jarinya berubah menjadi merah semuanya. Ia tidak lantas menginsyafi orang lagi permainkan padanya. lupa kepada tangannya yang sakit. semua penonton menjadi panas hatinya. kali ini dengan kedua tangannya. sebab si nona tidak keburu membatalkan tikamannya. menyusul mana ia menarik tubuhnya. Cumalah mereka bisa mendelu saja. ke arah kedua belah pipi. Para penonton berseru kaget. tidak kelihatan ia menarik pulang tangan kirinya atau tangan kanannya sudah melakukan penyerangan pembalasan. Ketika lawan itu berkelit. Tentu saja mereka menganggap itu lucu. Untuk membalas serangan dengan serangan. ia menyerang dengan tangan kanannya. sesudah mana dari samping. Tiba-tiba tangannya merogoh ke sakunya. ia tertawa haha-hihi. ―Bagaimana baru tepat?‖ Semua pengiring si kongcu tertawa ramai. orang tua. ia berseru. maka dengan sebat ia berkelit. Tangan kirinya itu telah diangkat ke depan mukanya. tangan kirinya membalas menyerang perut dengan jurusnya ―Tok coa sim hiat‖ yaitu ―Ular berbisa mencari lubang. mencelat mundur. dan lagu suaranya pun beda dari lagu suara mereka. atau aku tidak hendak berhenti!‖ Wajahnya si nona guram. menyusul itu. Selagi si kongcu hendak menaiki pula kudanya. Si kongcu miringkan kepalanya. Kongcu itu lihay. Bok Ek tarik lengan kirinya. Itulah salah satu jurus ―Eng Jiauw Kun‖ atau ―Kuku Garuda‖ dari ilmu silat Utara. Irawan D Soedradjat Page 180 . Mereka pun tidak berani mencampur tangan. sahabat! Perbuatanmu ini tidak tepat!‖ Kongcu itu berpaling. ia bertindak ke dalam kalangan. Para penonton menjadi mendongkol berberang berduka. Kwee Ceng melongo sebentar. akan mengasih keluar sebuah pisau belati dengan apa ia terus tublas dadanya sendiri. maka ia tidak mau main acuh tak acuh lagi. maka sekarang ia terlukai anaknya itu. Bok Ek kaget bukan main. Kongcu itu tidak memandang enteng kepada musuh ini. ―Habis kau mau apa!‖ ia menantang. kapan ia lihat anak muda kita. untuk menolongi. guna melindungi mukanya. dengan tidak kalah sebatnya. Kongcu ini terang selain ceriwis pun kurang ajar dan keterlaluan. lalu ia lolos dari bahaya. ai memburu kepada ayahnya itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau aku telag hajar roboh padamu. untuk mengejek. dari situ ia menyerang pula. dari berkesan baik mereka menjadi jemu dan membenci. ia tercengang. ia mendesak. ―Jikalau aku tidak sudi nikahi dia?‖ dia tanya. kau tentunya tidak bakal memaksa aku nikahi anakmu. menyambar kedua tangannya Bok Ek itu. Inilah pukulan ―Wie Hok Hong cu‖ atau ―Malaikat Wie Hok mempersembahkan toya‖. Tapi cuma sebentar saja. dilain pihak. lagi ia menyerang. ―Hari ini saku mesti mengadu jiwa dengannya. guna robekannya dipakai membalut lukanya. ia tangkis tublasan itu. Ia robek ujung baju si ayah. bukan?‖ kata ia sambil tertawa. ―Kau minggir!‖ katanya sengit. Sebab belakang telapakan tangan dari Bok Ek telah berlumuran darah! Si nona menjadi kaget berbareng gusar. terus ia tertawa. Bok Ek tolak mundur anaknya. Adalah Kwee Ceng yang tidak dapat melihat terlebih jauh. sikap dan lagu suara itu telah diajoki kongcu mereka. tidak ada yang berani membuka mulut. Inilah mereka tidak sangka. ia hanya tidak menyangka semua serangan lawan sedemikian berbahayanya. dua jari tangannya mencari pundak bagian yang kosong. Kecuali bangsa bergajul. ―Kau harus menikah dengan baik-baik dengan nona ini!‖ ia menjawab kongcu itu. Bok Ek sudah lantas lompat untuk menerjang pemuda itu. Mereka lihat roman orang yang ketolol-tololan. agaknya dengan gampang saja ia mendak sedikit. dalam sikap ―Touw in hoat jit‖ atau ―Nyelusup ke mega menukar matahari‖. pada bagian belakang telapakan tangan. Kongcu itu mengetahui orang seperti kalap. ia membalas dengan sama hebatnya.‖ Bok Ek berkelit ke kanan. bahwa serangannya itu sangat berbahaya.

ia tertawa. ―Kau gemar campur urusan bukan urusanmu!‖ ia berkata. ―Asal nyawaku masih ada. kenapa kau hendak pergi pula?‖ ia menanya. ―Apakah kau tidak lihat itu merek bendera yang menjelaskan pibu untuk pernikahan?‖ Kongcu itu tidak menjawab. ―Bukankah aku telah beri nasehat kepadamu untuk kau nikahi nona ini?‖ kata Kwee Ceng. siapa yang ajarkan kau ilmu menotok istimewa dari pulau Tho Hoa To it?‖ si kongcu masih menanya. ―Aku tidak mau memberitahu‖ jawab Kwee Ceng pula. yang menggeleng kepalanya. kau tinggalkan she dan namamu!‖ Kongcu itu berpaling. ―Nona ini cantik dan ilmu silatnya pun sempurna. ―Eh. ―Baiklah. Kwee Ceng ulur tangannya untuk mencegah.‖ ―Habis. Ia berontak tetapi tidak berdaya. dia buka tindakannya yang lebar. ―Bukankah kau menaruh hati kepada nona itu?‖ ―Bukan!‖ jawab Kwee Ceng. ―Sebenarnya kau hendak membayar pulang sepatu itu atau tidak?‖ Dengan mendadak saja anak muda ini menggeraki kedua tangannya. kenapa kau tidak sudi menikah dengannya? Jikalau kau tidak hendak menikah sama nona macam vegini. . tidak dapat aku memanggil mertua kepadamu. Ilmu silat itu adalah untuk menangkap tangan lawan. ―Ilmu menotok jalan darahku itu adalah guruku yang kedua yang mengajarkannya. di belakang hari ke mana lagi kau hendak mencarinya?‖ ―Eh. dengan sebat ia tarik tangannya kongcu itu. ―Siapa guruku. ―Habis kenapa?‖ kata si kongcu lagi. ―Aku sudah bilang. Ia Cuma merasa orang masih terlalu muda dan belum mengenal dunia. ―Sebenarnya kau hendak main gila denganku atau bagaimana? dia tanya tegas kemudian. ―Saudara kecil. Kwee ceng tidak menjawab. Ia telah gunai salah satu tipu dari ilmu silat Kim-na-ciu. Sajak tadi ia mendengari orang pasang omong. mencekal kedua nadi si kongcu. Kongcu itu menatap. sakit hati ini tidak dapat tidak dilampiaskan!‖ Terus ia kata dengan suara nyaring: ―Anak muda. Sampai di situ. masa bodoh!‖ berkata itu pemuda yang lantas memutar tubuhnya. dengan begitu. ―Aku tidak tahu Oey Yok Su itu orang macam apa. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng tidak menangkis atau berkelit.‖ menjawab Kwee Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau kau tidak sudi menikah dengannya. ia bebsa dari tendangan orang itu. kau bayar pulang sepatunya si nona!‖ ia membentak. apa perlunya kau maju dalam pertandingan?‖ Kwee Ceng tanya. disamping ia mendongkol terhadap si kongcu. 181 Kongcu itu terkejut berbareng gusar. kau tidak mengerti urusan. ―Kau mau mampus?!‖ tanyanya. untuk berjalan pergi. jangan kau ladeni dia!‖ dia berkata. Kwee Ceng menjadi habis sabar. maka kenapa kau begini melit hendak mengetahui she dan namaku?‖ ia bertanya. ―Kau sebenarnya murid siapa? Kau memanggil apa kepada Oey Yok Su dari pulau Tho Hoa To?‖ Kwee Ceng menggoyangi kepalanya. hanya ia pun balik menanya. yang semuanya terdiri dari tujuh puluh dua jurus. tak dapat aku beritahu padamu!‖ ia jawab. Bok Ek hampairkan ini anak muda. ia hanya mengawasi dengan tajam. ―Siapa itu gurumu yang kedua?‖ tanya kongcu itu kemudian. tahu ia bahwa anak muda ini baik hatinya dan berpihak padanya. hingga orang terlempar tubuhnya. sebelah kakinya menendang ke bawahan perut si anak muda. ―Kalau begitu. bicara denganmu sia-sia saja!‖ kata si kongcu. Kongcu itu tertawa dingin. ia lompat kepada pemuda itu.

Tujuh tendangan ia bisa kasih lolos. Justru itu dua kali iganya kena dihajar. tetapi yang kedelapan dan kesembilan. ―Kau tidak mau nikahi dia. Kongcu itu kena tertendang. ―Buat apakah aku bertempur denganmu?‖ ia berkata. Kwee Ceng belum mendapatkan kesempurnaannya. dengan mengasih dengar suara ―Bruk!‖ ia roboh memegang tanah! Semua pengiringnya si kongcu lantas bertepuk tangan dan tertawa. maka tidak membuat tempo lagi. ia tertawa tawar. ia tak sampai tertendang roboh. Karena ini ketika ia didesak. ia sadar akan dirinya. ia Cuma terpelanting. akan tetapi ia dipaksa menyerahkan sepatu si nona. Syukur untuknya. dipakai menungkrap kepala orang. pemuda kita merasa kegelapan mata. dengan ilmu mana Han Po Kie pernah robohkan beberapa jago dari Selatan dan Utara. maka tempo kakinya disambar. atau ia menjadi kaget. . Inilah pelajaran yang ia wariskan dari Ma Ong Sin Han Po Kie di Malaikat Raja Kuda. Bab 17. ia cuma merasakan sangat sakit. baik kau pulang dulu untuk belajar lagi sama gurumu sedikitnya buat duapuluh tahun!‖ ―Lihat kepalan!‖ ia berseru sambil menyerang. ―Kau sudah bosan hidup. itu cocok dengan keinginannya. walaupun ia telah terlempar. bocah?‖ ia berseru. ia tidak terluka. ia telah kalah satu babak. ―Dengan kepandaian begini kau hendak mencari balas untuk orang lain?‖ ia mengejek. ia kewalahan. ia dapat menendang terus-terusan sembilan kali. Kwee Ceng menangkis. Kongcu itu tepuki kempolannya yang penuh debu. mulutnya mengasih dengar tertawa dingin. tidak sampai ia mencium tanah. Ia merasa asing untuk kelakuan curang. Dalam pada itu. Irawan D Soedradjat Page 182 Kwee Ceng tidak menyahuti. ia berklit dan berlompatan tiada hentinya. Ia berkelit. dengan tendangan beruntun Wanyoh Lian-hoan-twie. lalu perlahan-lahan ia melihat perubahan. walaupun ia terhajar hebat. akhirnya cuma sebegitu saja sikapnya. Bagus untuknya. ia menggeleng kepala. sebab si kongcu sudah tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu. selama dua tahun ia telah peroleh latihan tenaga dalam dari Tang Yang Cu Ma Giok. semuanya cepat dan hebat. Kwee Ceng mengawasi. Mulanya di Mongolia ia menghadapi orang-orang jujur. karena berberang ia berkelit. ―Hm. Si kongcu lantas menggunai ketikanya. ia memutar tubuh. kau bayar pulang sepatunya itu!‖ Orang banyak menyangka pemuda ini hendak membelai keadilan. Ia berlompat bangun kapan ia lihat orang kembali hendak ngeloyor pergi. Kongcu itu menjadi repot. Kongcu ini jeri juga terhadap Kwee Ceng. Hanya sampai sebegitu jauh. Kwee Ceng gelagapan. ia menjadi gusar sekali. ia hanya menjalankan napasnya. Karena ini keduanya menjadi terpisah. Hanya dengan begitu. Kwee Ceng lantas aja singkirkan jubah sulam yang menungkrup kepalanya itu.Pendekar Pemanah Rajawali Kongcu itu enteng sekali tubuhnya. maka dalam sekejap saja. maka dia segera maju seraya tangan kirinya dipakai menyerang ke pundaknya si pemuda. Tiba-tiba saja ia merasakan sakit pada dadanya. ia melakukan pembalasan. Ia menjadi gusar sekali. jubahnya itu dilayangkan sekali. Mereka yang gemar menonton menjadi kecele. hingga ia merasakan sakit di dadanya itu berkurang. Ia menjadi kaget dan mendongkol. sudah saja. ia cuma terjerunuk. mana dapat ia mengalah: Tidakkah ia berada di hadapan orang banyak? Maka itu seraya menyingkap jubahnya. bahwa orang tidak ingin berkelahi. telah mengenakan kempolannya kiri dan kanan. Pangeran Wanyen Kang Kena dihajar secara demikian. Pertempuran itu merupakan satu pengalaman luar biasa untuknya. Tidak sempat ia mengempos semangatnya. ―Apakah kau hendak pergi?‖ menegur Kwee Ceng seraya menyambar jubah orang itu. mereka tidak ayana. tidak patah tulang-tulang rusuknya.

ia rubuh ngusruk. Si kongcu sendiri merasa lucu berbareng mendeluh. ia menangkis dari belakang. Ketika ini digunai si kongcu. ―Kau pergi!‖ berseru si kongcu. Pertempuran seru itu ditonton semakin banyak orang. buat terus ditarik dengan kaget sambil berbareng kakinya dipakai menjejak paha si pemuda. tak sempat ia menahan dirinya. ia menjadi gusar sekali. hanya ia merangsak. Tidak dapat Kwee Ceng bertahan. untuk mengasih bangun. maka kewalahan juga si kongcu. ―Tolol. ipar. Kwee Ceng menyedot napas. dari itu. Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu. awas!‖ ia berseru seraya menyerang. Tiba-tiba ia rasai tenaga lawan lenyap. ―Kau pulangi sepatu orang!‖ bentak Kwee Ceng. Kali ini pemuda ini berlaku waspada. selagi begitu ia masih tetap menolak. Selama tujuhpuluh jurus. Kwee Ceng tidak menyahuti. mereka saling menolak. mereka berimbang dengan ketangguhannya. tidak lagi ia kena dipancing. maka itu. ia kalah pandai tapi ia bersemangat. tetapi sikutnya mengenai tanah. aku tidak mau mengerti!‖ Kongcu itu tertawa melihat orang berkukuh. kongcu itu berkelit. Si kongcu menangkis. keduanya bertempur terus. ia bisa dapat susah. ia hendak mengerahkan tenaganya. tetapi ia tidak tahu. kau masih belum takluk?‖ berkata si kongcu. ―Eh. Ia berlaku sangat sebat. Kongcu itu dapat berkelit. ia membela diri dengan berlaku hati-hati. ia lantas maju. Kedua tangan lantas bentrok. untuk mencari kemenangan. ―Kalau tidak. mati kita pergi. Maka itu mereka menjadi berimbang. dengan cepat ia mencelat bangun. Ia hendak menotok jalan darah hian-kiehiat. ―Bukankah nona itu bukan adikmu?‖ ia bertanya. Kwee Ceng berkelit. Kongcu ini pernah juga menyakinkan Hun-kin Co-ku Ciu hanya pelajarannya beda daripada pelajaran Kwee Ceng yang didapat dari Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong. yang menangkis dengan tangan kiri. Maka tidak ampun lagi. mereka menjadi bergumul pula. ia maju pula.Pendekar Pemanah Rajawali Dengan mendak. romannya ketolol-tololan. ia ditertawai sekalian pengikut si kongcu. jangan kita layani segala manusia hina!‖ Kwee Ceng roboh dengan mata kabur dan kepala pusing. Tiba-tiba ia ingat bahwa ia tidak bermusuhan sama si kongcu. jangan salahkan aku berlaku kejam!‖ kongcu itu mengancam. ―Kenapa kau seperti hendak mengadu jiwa memaksa aku menjadi toakomu!‖ ―Kurang ajar!‖ mencaci Kwee Ceng. Kwee Ceng melawan. ia lantas menyerang. Menampak demikian si kongcu menggunai akal. lalu ia membalas. yang tangannya menolak keras. ia lantas geser incarannya ke sisi sasanan semula. yang menang seurat. dengan menggeser pinggangnya. Kwee Ceng tidak tahu lawannya lagi memancing. tubuhnya terhuyung ke depan. mendapatkan tiga kali Kwee Ceng roboh. pemuda itu terguling jatuh. Habis itu. tenaga dalam Kwee Ceng terlatih besar tetapi si kongcu menang latihan ilmu silatnya. seraya mundur. Ia tahu. ―Jikalau kau tetap ganggu aku. Ia sudah terjerunuk melewati lawannya. ia lepaskan diri dari tangan Bok Ek. Ketika ia bisa menahan dirinya. Ia juga berkhawatir untuk Irawan D Soedradjat Page 183 . kakinya dibarengi dipakai menendang dada lawannya. siapa bilang dia adikku!‖ Ia gusar sebab kongcu itu ejek dia sebagai toaku. ia didesak oleh si pemuda yang bersilat dengan ―Hun-kin Co-kut Ciu‖ yaitu ilmu silat untuk memisah otot-otot dan tulang. tangan kirinya menyambar ke muka orang. Bok Ek menonton dari bawah benderanya. ia ingin membalas. Karena dicaci begitu. sedikitnya ia bakal diseret ke kantor pembesar setempat. ―Aku tidak kenal dia. Bok Ek jadi merasa tidak enak hati. ia cuma mendongkol. Itulah cacian di antara orang Pakhia. tubuhnya sekalian diputar. kalau datang polisi. hanya setelah itu. sudah membarengi menyerang dengan tangan kanan kanan ke arah pinggang. Maka adalah diluar dugaannya ketika si kongcu. Lukanya telah dibalut rapi oleh putrinya. untuk memegang tangan orang yang kanan itu. Ia tahu sekarang. untuk menyerang. dari belakangnya datang serangan. malah tinjuan itu dilakukan saling susul hingga tiga kali. maka setelah dikasih bangun. dalam keadaan sulit itu. Ia pun kata: ―Lao-tee. pemuda itu bukan lawan si kongcu. Kelihatan nyata.

nampaknya sangat gesit. Maka juga.‖ berkata seorang di pinggiran. sungguh aneh!‖ kata si kate kecil itu. bukan?‖ ia berkata. ―Pheng Ceecu benar. bencana akan datang kalau sampai siauw-ongya itu terluka. yang matanya bersinar. Di sebelah mereka. kau ke sini!‖ Dia pun menarik keluar sebatang kongce atau cagak dari dalam sakunya.‖ berkata satu pengiring. sia-sia saja beberapa kali siauw-ongya menyerang padanya. semua pada berpaling memandang dia. matanya mencorong tajam. Dia berdiri tegar hingga ia melebihkan tingginya semua orang. diantara mereka itu ada tiga orang yang menarik perhatiannya. ―Kelihatannya kepandaiannya itu kacau. dari partai mana asalnya ilmu silat si bocah itu?‖ ia tanya. yang mukanya kurus dan sinarnya biru. ―Ilmu silat siauw-ongya itu ada dari partai mana?‖ Kali ini ia berbicara dengan perlahan. dan tidak keriputan. tukang jual silat ini terkejut hatinya. siapa saja tak dapat ia undang?‖ kata pula si rambut ubanan itu.Pendekar Pemanah Rajawali banyaknya orang. tubuhnya besar. segera ia lihat. kopiahnya disalut emas. Si rambut putih tertawa. Si ubanan sudah lantas mengawasi kedua anak muda yang lagi bertempur itu. Si rambut putih tertawa. saudara Nio. ―Siauw-ongya lebih lihay daripada lawannya itu!‖ Orang ini kate dan kecil akan tetapi suaranya mengejutkan.‖ berkata si kate kecil. ―Haouw Laotee. apa benar mereka masih hidup?‖ Selagi Bok Ek berpikir.‖ Bok Ek pandang ornag itu. hingga mereka lekas-lekas melengos. ―Haouw Laotee. ―Bocah ini adalah muridnya Kanglam Cit Koay. kau lagi uji mataku. Orang disebutnya siauw-ongya dan ongya. Suara itu nyaring. Kalau begitu. dia tidak menjawab. coba bilang. mengawasi mereka. Kau biasa menjagoi di dua propinsi Shoatang dan Shoasay. hilanglah jiwa kami semua…‖ Itulah se pendeta Tibet yang ditegur. Orang yang ketiga bertubuh kate dan kecil. di jidatnya ada tiga tahi lalatnya. yang bicarakan silat kedua anak muda itu. dia tentu bukan satu gurunya. ada yang bertaruh untuk siapa yang bakal menang. itulah ilmu silatnya kaum agama Coan Cin Kauw. ―Bukankah kaum Coan Cin Kauw itu bangsa aneh? Kenapa mereka justru mewariskan kepandaiannya pada siauw-ongya…?‖ ―Ongya pandai bergaul. ―Leng Tie Siangjin. ada juga yang membekal senjata. si muka biru dan kurus itu sudah berlompat maju ke tengah kalangan seraya ia berseru: ―Hai bocah. mungkinkah si kate kecil ini adalah kepala berandal? Nama Kanglam Cit Koay sudah lama tidak terdengar. hingga beberapa orang disampingnya menjadi terkejut. kecewa kalau itu tidak dipertontonkan di muka orang banyak. Yang satu adalah satu pendeta bangsa Tibet. i antara siapa ia tampak beberapa yang matanya tajam dan air mukanya luar biasa. kalau mereka bertempur terus dan siauw-ongya salah tangan hingga ia terluka.‖ sahut si kate kecil itu kemudian. pangeran muda dan pangeran. Tidakkah di antara pengiringpengiringnya si siauw-ongya adalah orang-orang yag gagah dan lihay?‖ ―Jangan takut!‖ berkata si orang kate dan kecil. sebab rambutnya sudah putih semua. tubuhnya sedang saja. coba lihat. dia pun berkata: ―Siauw-ongya telah belajar ilmu silat belasan tahun. benar juga.‖ ―Sungguh begitu. Dengan perlahan-lahan Bok Ek menggeser ke tempat pengiring-pengiringnya si kongcu. Ia dapatkan Kwee Ceng berubah silatnya. tak bisa diduga usianya yang tepat. ―Kalau mataku tidak salah. Dia tentu tidak senang ada orang yang membantu padanya…‖ ―Eh. Irawan D Soedradjat Page 184 . jubahnya merah dan gerombongan. ―Umpama kau sendiri. Orang yang kedua sudah lanjut usianya. Adalah si rambut ubanan yang berkata sambil tertawa: ―Paling juga kakimu dikemplang patah! Mustahil ongya hendak mengehndaki jiwamu?‖ Bok Ek terperanjat. kenapa kau juga berada di istana ongya?‖ Si kate kecil itu mengangguk. Ia kata di dalam hatinya: ―Dia memanggil Pheng Ceecu. mukanya pun bersinar merah. Dia pun bermata tajam. Karena romannya yang luar biasa itu. ialah gerakannya jadi ayal tapi tubuhnya terjaga rapat. Haouw Laotee. hanya mukanya bercahaya segar. ―Baik kau maju dan hajar bocah itu. Dia tersenyum.

kalu ditakut-takuti. ia diikuti empat orang lainnya yang bukan lain daripada Hong Ho Su Koay. paman gurunya Hong Ho Su Koay. sinar itu ditimpali tiga gelangnya yang bergerak dan berbunyi nyaring setiap kali digeraki. pada pipinya yang kiri dan kanan. ketua dari partai Tiang Pek Pay dari Gunung Tiang Pek San. terlihatlah datang memburunya tiga orang yang napasnya tersengal-sengal. tambah tanda tapak lima jari tangan. berulang-ulang ia tikam bebokong orang yang ia kejar itu! Oey Yong sangat lincah. Ia berteriakan. ―Aku hendak pergi sebentar. ia khawatirkan keselamatannya Oey Yong. tiba-tiba ia tampak sahabatnya itu lari mendatangi. Dan orang ynag matanya tajam bagaikan kilat itu adalah orang ynag sangat terkenal di Tionggoan. Pemuda dengan pakaian tidak karuan itu adalah Oey Yong. Kelakuannya ini. pikirannya lagi kusut. Dewa Jinsom-Siluman Tua.com dan utara Sungai Besar. Bok Ek pun tidak kurang kagetnya. di bawah cahaya matahari. Irawan D Soedradjat Page 185 . ai terkejut. Dia pun terus tertawa. dibelakangnya. tetapi justru ia hendak melompat lari. mulutnya mencaci kalang kabutan. si Siluman Tua. Merekalah tiga Siluman dari Hong Ho. julukannya Cian-ciu Jin Touw. Hauw Thong Hay bukan menyerang Kwee Ceng. yang ia tinggalkan lalu ia berdiri diam. menyebabkan rombongannya Leng Tie Siangjin memperbincangkannya. di antara siapa ada satu anak muda yang tubuhnya kurus lemah. Di selatan www. Kwee Ceng sedang bertempur. ditimpali sama kalapnya Thong Hay. ada yang berteriak. kawannya yang ubanan tapi mukanya tampak segar bagai muka anak kecil. sekalipun wanita umumnya kenal namanya itu. ―Mari! Mari!‖ Oey Yong menantang.kangzusi. dan siapa bukan orang-orang partainya. Dalam saat itu. ―Jikalau aku tidak berhasil menggeset kulitmu dan mematahkan tulang-tulangmu. Segera juga orang banyak tertawa riuh. Oey Yong menanti sampai orang sudah datang dekat. tidak tampak. untuk angkat langkah panjang. dan anak-anak yang lagi nangis. Tapak Tangan yang lihay. Kwee Ceng tidak berniat berkelahi terus.‖ ia pikir. menyebut ia Lao Koay. setiap kali ia dapat pisahkan diri jauh-jauh dari lawannya. keistimewaannya ialah ilmu Tay-ciu-in. segera aku kembali!‖ ―Lebih baik kau mengaku kalah!‖ mengejek si kongcu. membuatnya orang banyak saban-saban tertawa riuh. Leng Tie itu adalah paderi dari Tibet.Pendekar Pemanah Rajawali Orang banyak terkejut. dari partai Cong Gee. Song-bun-hu Cian Ceng Kian. memanggilnya Som Sian. Ia tetap awet muda sebab sejak masih kecil ia doyan makan jinsom serta lainnya pohon obat. Kongce itu ada cagak tiga. tangannya menggapai berulang-ulang. Karena ini. tanda arang hitam. Terang sudah dia telah kena ditampar oleh lawannya yang licin itu. aku Sam-tauw-kauw tidak sudi menjadi manusia!‖ Thong Hay sesumbar. dia hanya maju ke antara orang banyak. hingga ia dijuluki Som Sian Lao Koay. tapi senjata itu tidak dihiraukan Oey Yong. ialah Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. sahabat barunya. Siluman yang keempat. namanya Pheng Lian Houw. setelah datang dekat. Di belakangnya tampak Thong Hay tengah mengajar tengah mengejar. Pembunuh Sribu Tangan. Ia nyelusup sana dan nyelusup sini di antara orang banyak. yang dipermainkan Oey Yong. Itu waktu barulah Kwee Ceng menginsyafi bahwa sebenarnya Oey Yong itu lihay ilmu silatnya. untuk membantu Kwee Ceng. selalu dapat ia kelit tubuhnya. ―Peng Lian Houw datang!‖ tentulah berhenti tangisnya. Dewa Jinsom. semuanya tajam. ―Tahan dulu!‖ ia berseru seraya lompat keluar kalangan. bahwa ialah yang selama di hutan cemara Hek-siong-lim di Kalgan sudah menggantung Hong Ho Su Koay di atas pohon dan memancing kepada Hauw Thong Hay. kapan anak itu dapat lihat dia. ―Bagus perbuatannya. ia sudah lantas kena ditendang si kongcu. ia heran atas itu suara bentakan. kapan ia lihat siapa yang dikejar Thong Hay. kembali ia lari. Thong Hay mengejar terus. tapi ia segera bersiap. Julukan ini harus dipecah dua: Siapa yang menghormati dia. ia mengejar. Tentu saja ia tidak kenal si orang ini. adalah Nio Cu Ong. menoleh dan mengejek. Mukanya Hauw Thong Hay. yang pakaiannya compang-camping. Kelakuan Hauw Thong Hay itu. sinarnya berkilauan. dia menjerit ―Ayo!‖ seraya terus memutar tubuh. sepatu kulitnya diseret hingga berisik kedengarannya.

―Siapakah telah pergi membawa berita kepada ong-hui!?‖ Tidak ada berani ynag menjawab. dengan sapu tangannya. hingga si penjual silat ini tak dapat mendengarnya dengan tegas. yang halus dan perlahan. suara yang halus: ―Kenapa berkelahi? Baju luar pun tidak dipakai! Nanti masuk angin!‖ Bok Ek dapat mendengar tegas sekali suara itu. Oey Yong dan Hauw Thong Hay saudh lenyap pula. ―Tidak apa-apa…‖ ―Lekas pakai bajumu. Dia bersahabat erat dengan Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian si Raja Naga Pintu Iblis. yang tertutup rapat. telah berhenti. untuk beristirahat. sampai satu bocah pun dia tidak sanggup layani?‖ Pheng Lian Houw mengkerutkan keningnya. mereka menjadi tertarik untuk menonton terus. lagi menyerang kalang-kabutan ke kira dan ke kanan. yang menjadi penonton. Suara itu seperti mengaung di kupingnya. Dipihak lain. ia hampirkan Kwee Ceng untuk dihiburkan. dan ia tahu baik Houw Thong Hay lihay. lantas terdengar suaranya seorang wanita. yang lainnya ruyung. belum kebeuru mereka berangkat. heran berberang merasa lucu. Maka itu. yang terus berdebaran. dia sangat letih. ia susuti peluhnya. Tiba-tiba ia tertawa sendirinya. untuk mendekati joli indah itu. yang memegang sapu tangan putih. ―Ibu.Pendekar Pemanah Rajawali Berkatalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong: ―Selama aku di Kwan-gwa. semua pengikut maju untuk memberi hormat. kepada orang banyak. dengan cambuk di tangan. Semua orang banyak. mereka sudah dengar ramainya tindakan kaki serta berisiknya gelang konce. Hauw Thong Hay sebaliknya. Siauw-ongya telah robohkan Kwee Ceng lima-enam kali. maka kenapa hari ini orang she Hauw itu jadi demikian tidak berdaya? Selagi Oey Yong permainkan Hauw Thong Hay. apakah aku sudah pikun? Sungguh gila untuk memikir yang tidak-tidak…‖ Tidak dapat ia lantas melenyapkan pikirannya itu. lalu terlihat Oey Yong berlari-lari kembali dengan tetap dikejar oleh Hauw Thong Hay. maka ia bertindak.‖ terdengar suaranya pangeran muda itu. onghui ialah selir seorang pangeran atau raja. Bok Ek telah kasih turun bendera Pie-bu Ciauw-cin. kenapa adik seperguruannya ini begini tidak punya guna. aku memikir kepada istriku. ―Ong-hui datang! Ong-hui datang!‖ pengikut-pengikutnya si siauw-ongya berseru berulang-ulang setelag mereka melihat joli itu. tangan dan kakinya dirasakan ngilu. Justru itu. untuk diajak pulang ke penginapannya. hingga kelihatan baju dalamnya yang putih. Siauw-ongya lantas mengerutkan keningnya. telah aku dengar nama besar dari Kwie Bun Liong Ong. si wanita masih mengucapkan beberapa kata-kata. bahwa ia lihay sekali. lari mendatangi dengan napas memburu. Menyausul rombongan hamba-hamba galak itu. sembari berbuat begitu. Dari dalam joli. pertempuran di antara Kwee Ceng dan si siauw-ongya. ―Benarkah di kolong langit ini ada dua orang yang suaranya sangat mirip satu dengan lainnya?‖ ia menanya dalam hatinya. Tapi. ―Rewel!‖ ia menggerutu. Tangannya Oey Yong sambil mengibar-ibarkan dua potong kain. ia menjadi diam sambil berpikir keras. untuk singkirkan peluh dan debunya. Kebetulan itu waktu. mereka lantas dengar bentakan-bentakan riuh yang datang dari arah barat. orang banyak itu lantas saja mundur ke kedua pinggir jalan. ―Kenapa suara ini sama suaranya orangku ini?‖ katanya di dalam hatinya. dia bungkam. Irawan D Soedradjat Page 186 . pakiaannya menjadi tidak karuan macam: Baju di dadanya robek putus. dengan apa mukanya si siauw-ongya disusuti. yang satu bersenjatakan tombak. lalu mereka tampak belasan orang polisi serta pengiring. dari dalam joli diulur keluar sebelah tangan yang putih dan halus. hatinya tercekat. Kembali si Bok Ek terperanjat. Ia berpikir pula: ―Orang ini adalah onghui dari negeri Kim. dia pun berdahaga dan lapar. yang mereka usir pergi. sering mereka ―bekerja tanpa modal‖. terlihatlah enam orang menggotong sebuah joli besar yang indah. aku senang bermain-main. Jauh di belakang mereka terlihat Gouw Ceng Liat serta Ma Ceng Hiong. Ketika mereka ini datang dekat. Mungkin si saiuw-ongya ditegur dan dihiburi oleh onghui ini. mari kita pulang bersama!‖ kata si onghui kembali. Segara juga joli telah sampai di lapangan pibu. pangeran muda.

untuk menolong apabila siauw-ongya benar-benar terancam jiwanya. malah ia seperti termanjakan. parasnya pun pucat. dia bukan menyerah kalah. ibu . tetapi tempo mereka mulai menyerang Kwee Ceng. untuk tolongi dua serdadu yang dilemparkan paling belakang. maka kali ini. ia membalas membangkol dan memegang leher lawannya itu. kau telah bikin kotor jubah ini!‖ Satu pengiring lain. Siauw-ongya menjadi gusar. keduanya jadi bertempur lagi. sekarang di rambutnya Sam-tauw-kauw. mengawasi kedua anak muda yang lagi bertarung itu. berbareng dengan mana. ia maju. Mereka adalah orang-orang tua yang kosen. berbareng dengan itu. kapan perlu. sembari berbuat begitu. satu demi satu. onghui sampai berparas pucat. lalu dilemparkan saling susul. yang tangannya mencekal cambuk. 187 . dengan begitu berarti. sebaliknya mereka merasa. Inilah tidak heran sebab ia hidup di tanah gurun. ia dapat melayani pukulan berulang-ulang kepada tubuhnya itu. Bok Ek tidak pedulikan segala apa disekitarnya. ilmu menangkap yang terdiri ari tujuh puluh dua jurus. ia menjadi ulet sekali. yang lain hendak mencekik. ―Siapa suruh kau menganiaya rakyat jelata!‖ ia menegur. Ia pun menang ‗kang-lat‘ atau tenaga latihan. satu kakinya menyapu. Ia terus lompat. ia menjadi lebih kosen.Pendekar Pemanah Rajawali Satu pengiring menjumput jubah sulam dari siauw-ongya. Itu waktu. Satu kali Kwee Ceng menyambar ke muka siauw-ongya itu. Siauw-ongya berkelit. Thong Hay hendak menjual kepalanya itu! Ia hanya tidak tahu bahwa ia telah dipermainkan oleh Oey Yong. ia tidak dapat dirobohkan pula. berlompat bangun. terus ia membalas meninju. ada ditancapkan cauw-piauw atau tanda barang hendak dijual. Tidak ampun lagi. atas mana. Karena ini Leng Tie Siangjin dan Nio Cu Ong lantas menyiapkan senjata rahasia mereka. Selama itu. terus saja menghajar ke arah kepala si anak muda. sungkan mereka mengepung Kwee Ceng. yang satu hendak mematahkan tangan. Ia berkelahi terus. sebelah tangannya diangkat. Belasan serdadu maju. sinar mata itu ayu sekali. lawannya yang lincah dan licik itu. Putrinya Bok Ek. Sebaliknya siauw-ongya biasa hidup di istana. Orang senang melihat kejadian itu. Siauw-ongya terkejut. Kwee Ceng berkelahi dengan ilmu silat Hun-kin Co-ku-hoat. Ia bertubuh kuat. guna dipakai menyabet hingga tiga kali. mungkin mereka telah kena dirobohkan pemuda itu. lengan Kwee Ceng kena dihajar satu kali. Nio Cu Ong bertiga menjadi heran. Ular Naga Kepala Tiga itu. dengan tangan kanannya. ia termanja. ―Kau masih berani main gila?!‖ tegurnya. Di belakang mereka tidak tertampak dua Siluman. untuk merabu otot dan tulang musuh. ia membentur sikut kanan si pemuda agung. kedua-duanya saling terancam hilang jiwa atau terluka parah. Mereka jadi semakin sengit berkelahinya. ia tendang itu anka muda. untuk menangkap lengan orang. Maka itu. Oey Yong itu sebenarnya orang macam apa. pengiring itu roboh terguling. Atas itu. Maka keduanya menjadi berkutat. siauw-ongya itu berkelahi dengan hebat sekali. Irawan D Soedradjat Page Semua orang kaget. Mengawasi mata orang itu. sembari berkelahi. bisa mereka mencegah Kwee Ceng menurunkan tangan jahat terhadap si pangeran muda. ia pandang Kwee Ceng dengan bengis dan memdamprat: ―Binatang cilik! Lihat. Kwee Ceng lantas terdesak lagi. Bok Ek berdiri menjublak bagaikan patung. Selagi bertempur. hingga mereka menduga-duga. siauw-ongya itu agaknya tidak takut. Terhadap ibunya. Kwee Ceng mendahulukan. ia dapat melihat satu wajah dengan sepasang mata jeli dan rambut yang bagus. lalu ia menyerang. ia menyahuti: ―Tidak. Oey Yong dan Thong Hay telah berlari-lari balik. tidak dapat tidak. lalu ia membalas memukul paha siauw-ongya. ―Jangan! Jangan berkelahi!‖ onghui berseru mencegah. lalu tangan kanannya diteruskan untuk memegang leher lawan. ia kalah ulet. siauw-ongya sebaliknya dengan Kim-na-ciu. rupanya ia hendak banggakan kegagahannya di depan ibunya. maka ia lantas terdesak. tangan kirinya membangkol tangan lawan itu. Kwee Ceng berkelit. Tapi Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu. sepasang matanya terus diarahkan kepada joli indah itu. Kwee Ceng dirobohkan dua kali. mereka ditangkap si anak muda. Makin lama Kwee Ceng makin gagah. ia rampas cambuk orang itu. Maka tempo tenda tersingkap. untuk menolongi kawannya itu. dua kali ia kena dibikin memegang tanah. ynag tadinya numprah di tanah. Dengan begitu. ini hari aku mesti labrak dia ini!‖ Setelah belasan jurus. separuh mukanya keluar dari tenda. habis mana. Kwee Ceng berkelit.

Kwee Ceng menghindarkan diri. ia menyambar kedua kaki lawannya itu. Karena didesak tak hentinya. lebih-lebih ia tahu. ia sambar bajunya siuaw-ongya. ia dikam terus. tangannya menyambar tombak di tangan seorang serdadu yang berada dekat dengannya. Dia ini sebat. meskipun Kwee Ceng hanya bergenggaman tiang bendera. ia memaksa menangkis juga. lengannya kena terhajar. ia berguling hingga ke dekat tiang bendera Pibu Tiauw-cin. Siauw-ongya tidak kenal permainan silat lawannya itu. ynag bersilat denagn tipu Hang Mo Thunghoat. ia lompat mundur. Maka sekarang mereka bertempur dengan bersenjata. untuk dilemparkan. dia adalah satu tojin atau imam usia pertengahan. ia dapat mainkan itu dengan baik. Habis itu sama sebatnya. sekonyong-konyong datang teriakan dari antara orang banyak: ―Perlahan!‖ Lalu terlihat melesetnya satu bayangan abu-abu perak disusul serangan semacam senjata. Setelah merobohkan bocah itu. tidak kepada anak perempuan. tiang bendera lantas terlepas dari cekalannya. segera ia menikam Kwee Ceng. Orang yang baru datang itu agaknya terperanjat. yang pinggangnya ia peluk. ia segera geraki tangan kirinya. dengan cepat ia ayun tubuhnya itu. tidak dapat ia mencegah mengucurnya air matanya. belum pernah ia menemui tandingan selihay ini. Nona Bok pun memperhatikan jalannya pertempuran. Belum sempat ia memandang orang. justru si anak muda lagi merayap bangun. hingga benderanya berkibar-kibar bagus. sebab siauw-ongya merubah siasat. Ia berkelit dengan cepat. setelah mana. akan tetapi. kurang tepat untuk Kwee Ceng. Tiang bendera itu terlalu panjang. akan aku bereskan dia ini. hingga ia tercengang. Nyata muka Kwee Ceng kena digaplok. ilmu mana diturunkan hanya kepada anak laki-laki. sepotong yang lain masih melibat ditangannya Lian Houw. Diakhirnya terdengar teriakannya onghui: ―Berhenti! Berhenti! Jangan berkelahi lagi!‖ Karena nyonya agung itu mendapatkan putranya telah bermandikan keringat. tetapi tidak urung. ia maju ke Kwee Ceng. dengan tombak itu. Dengan menggulingkan tubuh. sesudah mana ia berlompat bangun.Pendekar Pemanah Rajawali Disaat itu terdengar suara menggelepok. ia sudah berdaya. Seumurnya kecuali Bwee Tiauw Hong. ia menarik keras. Tidak ampun lagi. Anak muda itu terkejut. hingga serangan itu batal. Pheng Lian Houw berpaling kepada si pangeran muda dan berkata sambil tertawa: ―Siauw-ongya. Mendengar suaranya onghui. ia layani tombak musuhnya itu. Disaat anak muda ini terancam bahaya maut. hanya siauw-ongya berada disebelah atas. jubahnya warna abu-abu. mental ke udara. tapi ia didesak. maka Kwee Ceng kena ditarik roboh hingga saling tindih. Hek Pian-hok Kwa Tin Ok si Kelelawar Hitam. terus ia pakai menangkis. Peng Lian Houw bertindak ke dalam kalangan. Atas itu. ia segera menarik pulang tanagnnya. Yang menegrti ilmu itu. adakah kau Irawan D Soedradjat Page 188 . terpaksa ia kembali bergulingan. Kwee Ceng kaget. Ia nyata telah menggunai ilmu silat bangsa Mongolia. untuk menyampok tiang bendera. terus ia kerahkan tenaganya. sambil berseru. ia juga agaknya berpikir keras. tetapi lekas juga ia sambar Kwee Ceng. yaitu ilmu tombak Keluarga Yo. pengajaran dari gurunya yang pertama. Siauw-ongya dilemparkannya. Untuk tolongi dirinya. Kwee Ceng merasakan telapak tangannya sakit. hingga sukar untuk ia melompat bangun. yang terus saja melibat tangannya si orang she Pheng itu. sampai akhirnya ia merasa sedih sendirinya. Ia terus mengawasi pada Lian Houw. tapi sebelum tubuhnya dilepas. Tetapi Lian Houw tidak diam saja. Di sini ia gunai kesempatannya. yang kemudian berkata: ―Tuan. ia angkat tubuh siauw-ongya. ia terguling roboh. begitu keras. Bok Ek tetap perhatikan ilmu silat tombak dari siauw-ongya. Keras pukulan itu. supaya dia jangan mengganggu terlebih jauh…‖ Sembari berkata. Kedua tangannya menyambar tanah. Kwee Ceng merasakan matanya berkunang-kunang dan kepalanya pusing. makin lama ia menjadi makin heran. untuk bagian Selatan Tionggoan saja sudah jarang. yang ia peroleh dari Jebe. ia lantas saja kena didesak hingga ia mesti selalu membela diri. Sekarang orang bisa lihat. terpaksa sambil bergulingan. maka heran kenapa di negara Kim ada yang dapat memainkannya itu? Ia terus mengawasi. untuk melakukan penyerangan membalas. kedua tangannya sakit. atau satu pukulan telah menjurus ke mukanya. ia tidak terbanting. Itulah terang Yo Kee Ciang-hoat. dia lompat. lagi dua kali. ia sambar tiang itu. tangannya mencekal sebatang hudtim atau kebutan. dengan begitu. hanya kebutan itu tinggal sepotong. Tapi ia masih sadar. ia ulur tangan kanannya ke arah kepala orang. hingga senjata yang melibatnya ia terputus.

Peng Lian Houw suka berbuat baik. Mereka dapatkan orang sungguh alim dan agung. tetapi karena injakan atau tindakannya itu. lalu ia menarik pulang. Sebenarnya ia sudah memikir untuk berlalu. hatiku menjadi sangat tertarik. Dengan sabar. karena ia tahu ia lagi berhadapan dengan satu cianpwee. Kaos kakinya yang putih serta sepatunya yang abu-abu bersih sekali. ia menghadapi si siauwongya dengan wajahnya keren sekali. ―Anak.‖ Peng Lian Houw. Imam itu menjura. baru sekarang mereka menemui sendiri orangnya. sungguh aku merasa sangat girang!‖ ―Tidak berani aku menerima yang namaku yang rendah dijunjung sedemikian tinggi olehmu. atau mendadak matanya si imam bersinar tajam bagaikan kilat.‖ Melihat sikap orang yang demikian hormat.‖ Semua orang lantas mengawasi kepada imam itu. ia sudah lantas menjura kepada Kwee Ceng. kalau kita tidak bertempur. maka itu dengan besarkan nyali. tidak nanti mereka mau percaya dia adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu si Dewa Kaki Besi yang pernah menakluki jago-jago di Utara. kalau gurunya ketahui perbuatannya.‖ berkata Ong Cinjin. bagus benar perbuatanmu ya? Pada mula kali gurumu hendak mengajarkan silat padamu. ―Hm!‖ Ong Cie It perdengarkan suaranya. di tanah lalu tertapak dalam. hendak ia menjawab secara jenaka. Sudah lama mereka ketahui hal imam ini. kau adalah muridnya Khu Suhengku itu. pinto adalah Ong Cie It. batal ia untuk main gila. ia berkata: ―Saudara Kwee. maka itu sambil membalas hormat.‖ ―Bukankah gurumu ada tanda tahi lalat merah pada pipinya yang kiri? Ong Cit It tanya pula. tanpa tunggu orang buka mulut lagi. Nama guruku tidak dapat aku beritahukan padamu. untuk dimajukan satu tindak.‖ sahut Lian Houw. ―Aku mohon ketahui gelaran suci dari totiang. ―Teecu terlalu memuji kepadaku. yang kumis dan janggutnya terbelah tiga. terus ia menunjuk pada Kwee Ceng dan berkata: ―Pinto tidak kenal anak ini. ―Memang telah aku duga. begitu juga Som Sian Lao Koay. tetapi ia terlambat. ia mendapat satu pikiran. Ia insyaf. ―Memang benar. Wanyen Kang benar-benar cerdik. Sedang di tanah utara ini. Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin mengawasi imam itu. Maka itu. ―Siapakah namamu?‖ ia menanya bengis. sedang orang pun dari Coan Cin Kauw. justru berbareng dengan itu. Ia lantas mengangguk. sembari tersenyum. ―Jadinya totiang adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu Ong Cinjin?‖ ia menanya. pinto mohon Pheng Ceecu memberi ampun kepada jiwanya. yang romannya toapan. Tidak berani pinto menerima itu sebutan cinjin. pasti kita tidak kenal satu Irawan D Soedradjat Page 189 . lekas ia ubah sikapnya. ia berkata: ―Totiang kenal guruku itu. lekas pulang!‖ demikain terdengar suara ibunya dari dalam joli. hanya Ia ulur kakinya. ―Hm. Coba tadi mereka tidak telah menyaksikan gerakan yang gesit dan melihat itu tapak kaki. ―Siapakah gurumu?!‖ Siauw-ongya itu telah merasa kurang enak hati. Ia tidak menjawab. Melihat tapak sepatu itu.‖ Dengan lantas siauw-ongya ini membahasakan diri ―boanpwe‖. inilah hebat. hanya karena kemuliaan hatinya dan kegagahannya berusan. ketika ia memutar tubuh. Peng Lian Houw terperanjat. Wanyen Kang tertawa hihi-hihi.Pendekar Pemanah Rajawali Pheng Cecu yang namanya sangat tersohor? Hari ini aku dapat bertemu denganmu. ia memberikan persetujuannya. terang totiang adalah satu cianpwee. oleh karena itu boanpwe mohon sukalah totiang datang ke rumahku. orang yang tingkat derajatnya terlebih tua. orang dari tingkat lebih rendah. untuk boanpwe anti mendengar segala pengajaranmu. Ia dapat lihat suasana buruk. apakah ia telah bilang padamu? Apakah pesannya?‖ Wanyen Kang perlihatkan roman cemas. Ong Cie It tersenyum. Ia berdiri diam dan menyahuti: ―Namaku Wanyen Kang. maka hatinya terkesiap. Anak ini dapat dengar panggilan itu.‖ ia menyahut. Ong Cie It menjura pula seraya menghanturkan terima kasih. tanah kering dan keras. yang mereka tahu namanya tidak kalah daripada Tiang Cun Cu Khu Cie Kee.

Memang ia hendak menguji enteng tubuhnya si bocah. untuk diajak pergi. ia mengawasi imam itu. dari itu. ia cuma tertawa saja. ―Buat apa kau layani pula manusia hina dina ini?‖ Wanyen Kang dengar suara orang menghina itu. ―Orang dengan siapa tadi kau bertempur. ―Sekarang aku tidak usah mengkhawatirkan apa-apa lagi!‖ Kwee Ceng heran. bownpwe menantikan segala kehormatan atas kedatangan totiang ke rumahku. Maka itu. Cepat tindakannya si imam. aku pun minta suka kau bersama totiang berkunjung ke rumahku. Oey Yong muncul dari antara orang banyak. ―Siapakah gurumu?‖ Ong Cinjin menanya lagi. ―Kenapa kau tidak dapat mengalahkan dia itu?‖ Kwee Ceng tidak tahu bagaimana harus menjawab. Melihat si Ular Naga Kepala Tiga ini. banyak-banyak terima kasih. ia hanya menunjuk kepada Bok Ek dan gadisnya serta bertanya: ―Bagaimana urusan jodohmu dengan nona itu?‖ Wanyen Kang menjadi likat. hingga mereka itu berlari-lari untuk menyingkir dari bahaya kena diterjang kuda. bagus!‖ katanya. Ia menyebutkan Kanglam Cit Koay dan Ma Giok. Sampai sebegitu jauh. Ong Cie It cekala tangan orang.Pendekar Pemanah Rajawali sama lain. Tapinya ia berkata kepada Kwee ceng. Ilmu silat kau saudara. Ia memang bertubuh kecil dan lincah. Ia terperanjat dan mengawasi bocah itu. Belum berhenti suaranya bocah ini. ―Dasarmu tidak jelek!‖ ia berkata dalam herannya itu. hingga dilain saat mereka sudah tinggalkan orang banyak itu dan tengah menuju keluar kota. ia hanya menjura pula kepada Ong Cie It seraya berkata: ―Totiang. ―Engko kecil.‖ ia berkata. Ong Cie It tidak bilang suatu apa. kemudian ia menyelinap di antara orang banyak itu. tibalah mereka di belakang sebuah puncak buklit. kau turut aku. Kwee Ceng dapat mengikuti denagn baik kepada si imam itu. ia lantas menjatuhkan diri di depan Ong Cinjin. ia bisa berlari-lari tanpa napasnya memburu atau hatinya berdenyutan. Sukalah kau kalau kita mengikat persahabatan?‖ Kwee Ceng tidak menjawab. Irawan D Soedradjat Page 190 . tidak mau ia mendusta.‖ Habis berkata begitu. ialah ini imam. maka itu. lantas terlihat Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay lari mendatangi. sebentar saja mereka sudah berada diluar kota. Di sini si imam berjalan semakin cepat. tubuhnya enteng. Kwee Cneg tahu di antara adik seperguruan dari ma Giok ada yang bernama Ong Cie It.‖ katanya. ia lari terus-terusan. ―Hal itu kita perlahan-lahan saja kita bicarakan pula. Mendengar itu Ong Cie It menjadi girang sekali. kau tahu atau tidak? bertanya si imam. aku sangat mengaguminya. yang dipanggil setahu apa siauw-ongya Wanyen Kang itu adalah muridnya suhengku Tiang Cun Cu. ―Engko Kwee kecil. Kwee Ceng tertawa di dalam hati. terus ia lompat naik ke atas kuda itu. Mendengar itu. Ia sudah belajar lari keras. ia dapat manjat puncak. tiba-tiba ia melepaskannya. ia sambar les dari seekor kuda pilihan yang satu pengiringnya bawa kepadanya. ia tidak menjadi gusar. Di lain pihak. ―Totiang. ia cekal tangan si bocah. lantas saja ia berkata sambil tertawa: ―Aku tidak kenapa-kenapa! Sebentar aku pergi mencari padamu…!‖ Baru ia mengucap. Totiang tanyakan saja istananya Chao Wang.‖ ―Aku hendak menantikan dulu sahabatku…‖ Kwee ceng menjawab. Bok Ek tarik tangannya Kwee Ceng. yang pun ia kasih lari ke antara orang banyak. dan dibawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok. ―Toasuko telah ajarkan kau ilmu silat. Tapi ia pun cerdik. Ong Cie It mendongkol untuk sikap keagung-agungan itu. mari kita pulang!‖ berkata ia. Selang lagi beberapa lie.

yang tidak mendendam. Di sini ada aku. ia menjadi ingat kepada pertempurannya sama In Cie Peng hingga ia ingat juga. Ong Cie It menggeleng kepala. hatinya masih ingin merekoki jodohnya nona Bok. Kanglam Cit Koay pasti menghendaki kemenangan. kalau ada murid yang bersalah. Kwee Ceng juga tidak berani menanya apa-apa lagi. ―Totiang. gurunya tidak memberikan keterangan apa-apa. maka itu tidak heran Tujuh Manusia Aneh dari Kanglam itu tidak mau menjelaskan sesuatu kepada Kwee Ceng. Atau mungkin disebabkan musuh adalah turunan sahabat ayahnya. teecu mohon totiang suka memberi maaf. Toasuka telah menerima satu murid she Yo.‖ Mereka lantas menyerahkan sehelai kartu nama di atas mana ada tertera: ―Hormat dari teecu Wanyen Kang. maka itu ia heran atas kata-katanya imam ini. semua lantas memberi hormat kepada Ong Cinjin seraya berkata: ―Kami diperintahkan siauw-ongya mengundang totiang serta Tuan Kwee menghadiri pesat di gedung kami. bocah ini menjadi tidak tahu tentang ilmu silat kaum Coan Cin Kauw. Dia telah mendengar lelakonnya kedua keluarga Yo dan Kwee itu. Ia lantas menunduki kepala. Kwee Ceng itu nanti berkelahi tidak dengan sungguh-sungguh dan karenanya menjadi tidak memperoleh kemenangan. ―Dimana totiang dan Tuan Kwee tinggal? Nanti kami pergi mengantarkan ke sana. terus ke rumah penginapan Kho Seng di jalan besar utama. sekarang setelah mendengar pertanyaannya Ong Cie It. ia menghela napas. Kemudian ia meneruskan dengan sikapnya sungguh-sungguh : ―Kami kaum Coan Cin Kauw ada punya aturan yang keras. maksudnya pasti untuk mencegah Kwee Ceng menjadi bersusah hati hingga pernyakinan ilmu silatnya menjadi terganggu. maka setelah bertemu dengannya.‖ Kwee Ceng telah terima titah gurunya untuk sebelum tanggal duapuluh empat bulan tiga sampai di Kee-hin.‖ berkata pula si pengiring.‖ Irawan D Soedradjat Page 191 . bahwa dalam pibu. dalam beberapa hari ini tentulah ia bakal tiba. aku suka sekali! Mustahil aku nanti persalahkan kau!‖ ia berkata. tetapi tidak nanti dilindungi atau dieloni. kemudian setelah berpikir. ia menjadi ingat kepada nona itu. ―Apa?‖ dia menanya. Ciat-kang untuk apa ia dimestikan pergi ke Kee. Ong Cie It tertawa bergelak. aku khawatir dia nanti menerbitkan bencana jiwa…‖ Kwee Ceng terkejut. ―Nonan itu bertabiat keras. Ong Cie It dapat menduga. dari dalam hotel sudah muncul beberapa pengiring dengan pakaian seragam bersulamnya.hin itu. ilmu silat Wanyen Kang sama dengan ilmu silatnya In Cie Peng itu.‖ berkata Ong Cie It. Entah bagaimana kepandaiannya murdi she Yo itu. siauw-ongya minta totiang dan Tuan Kwee sudi menerimanya. pibu apakah itu?‖ ia bertanya.‖ ―Sebentar kita datang. ―Aku tidak tahu…‖ Ma Giok mengajarkan Kwee Ceng tanpa penjelasan.‖ ia memohon. ia tidak bilang suatu apa. dia kata hendak ajak muridnya itu pergi ke Kee-hin untuk dicoba pibu denganmu. dia cuma manggut-manggut.‖ ia menjawab. ―Gurumu belum membilang suatu apa kepadamu. Siauw-ongya itu sombong dan ceriwis. di dalam hatinya tapinya ia suka bocah ini yang jujur dan hatinya pemurah.‖ berkata Kwee Ceng. ―Dan ini kue-kue dan bebuahan. ―Teecu tidak tahu siauw-ongya itu adalah muridnya Khu Totiang. teecu telah berlaku kurang ajar. nanti aku suka minta toasuko menghukum padanya!‖ ―Asal ia suka menikah dengan nona Bok. ―Sekarang masri kita lihat itu orang she Bok dan gadisnya. Ong Cie It ketahui maksudnya Kanglam Cit Koay. dia dapat dihukum berat. baiklah totiang memberi ampun padanya. ―Hatimu mulia. maka itu kenapa dia bolehnya mengajari silat kepada satu pangeran Kim? Sungguh membikin pusing kepala…‖ Terus ia mengawasi Kwee Ceng dan berkata pula: ―Khu Toasuko telah menjanjikan aku bertemu di Yan-khia.‖ berkata Ong Cie It kemudian. tak baik aku mewakilkan mereka memberi keterangan. aku akan menanya jelas segala apa. tidak nanti aku bikin kau memdapat susah…. Baharu mereka sampai di depan pintu.Pendekar Pemanah Rajawali Bocah itu tercengang. dia lebih-lebih membenci bangsa Kim. ia berkata-kata seorang diri: ―Toasuko biasanya benci kejahatan sebagai musuh besarnya. nanti kau jangan khawatir. Maka keduanya lantas berjalan dengan cepat ke kota barat.

yang terus lari masuk pula ke dalam hotel. Kwee Ceng tahu. Melihat dandanan pangeran itu. hendak ia menampik.Pendekar Pemanah Rajawali Beberapa pengiring lainnya lantas maju untuk mengsih lihat barang antaran mereka. kau tunggu sebentar. ―Totiang. di dalam hatinya ia berkata: ―Dasar bocah! Dia tidak harus dipersalahkan. Ong Cinjin periksa lukanya Bok Ek. Di luar hotel. untuk mengeluarkan uang perak dua potong. menyusul mana ia tampak si siauw-ongya keluar menyambut. Maka itu tanpa merasa. bunyinya: ―Chao Wang Hu‖ atau istana pangeran Chao Wang. ia bungkus itu dengan sapu tangan. Ia tersenyum. akan tetapi kapan ia melihat sikap Kwee Ceng. ―Mungkinkah si pangeran muda itu adalah putranya Wanyen Lieh?‖ ia kata di dalam hatinya.‖ ia menyahut perlahan. batu mana dipasang terus sampai di thia depan. tetapi mungkin dikhawatir menjadi nowa. seraya menambahkan: ―Besok aku akan datang untuk menjenguk pula padamu. si nona berbangkit berdiri. Chao Wang itu adalah Wanyen Lieh. Undakan tangga dari batu putih semua. ―Aneh. atau singa batu. ―Luka ayahmu ini tak enteng. Kwee Ceng paling dulu lihat dua lembar bendera berkibar di tiang yang tinggi. kalau di sini aku bertemu dengannya. hingga nampak tulang-tulangnya dan kedua lengannya bengkak besar. Bok Ek sendiri berbangkit untuk berduduk di atas pembaringan. dimana ia lantas dipersilakan duduk di kursi atas. Ia pilih empat rupa kue. yang rupanya diperdengarkan untuk menyambut ia dan Ong Cie It. pakaiannya jubah merah dengan gioktay atau ikat pinggang kumala. ia lari pula ke luar.‖ Lalu menanti jawaban si nona. Mengadu Kepandaian Habis menerima antaran itu. ia bersedia menerima antaran itu. atau lebih tepat istana. baik aku tinggalkan untuk dia. yang terus merogoh sakunya. ke dalam kamar di mana ada bingkisan kue dan buah dari Wanyen Kang. siapakah namamu?‖ Nona itu menunduki kepalanya. ―Namaku Bok Liam Cu. Ia polos. sedang kepalanya ditutupi kopiah emas. ―Ilmu silat Wanyen Kang terang adalah ajarannya toasuko. Ong Cie It tak berkesan baik terhadap Wanyen Kang. untuk bersama si imam pergi mengikuti keempat pengiring itu pergi ke onghu. yang satunya memberitahukan bahwa siauw-ongya mereka lagi menentikan di gedung dan imam serta bocah itu diundang ke sana. putra keenam dari raja Kim. maka darimana dia dapatkan ilmu pukulan jahat ini? Pada ini mesti ada rahasianya…?‖ Lantas ia pandang si nona dan menanya: ―Nona. isinya semua adalah makanan dan bebuahan yang istimewa. ―Wanyen Lieh mengenali aku. dia perlu dirawat baik-baik. ia lantas terima itu. mereka dipapaki empat pengiring. setelah mereka itu memberi hormat. ia diam saja. gadisnya duduk smabil menangis. yang terdiri dari duabelas. Ong Cie It mengangguk. Irawan D Soedradjat Page 192 . gedungnya Wanyen Kang. ia turut dipimpin ke dalam thia.‖ Selagi si bocah terbenam dalam keragu-raguan. di kiri dan di kanan pintu ada nongkrong masing-masing seekor cio-say. ia tarik tangan Kwee Ceng buat meninggalkan hotel itu. inilah cade…. Luka itu telah ditorehkan obat. hingga ia dapatkan orang she Bok itu sedang rebah dengan muka pucat dan di tepi pembaringan. Ong Cie It menanyakan keterangan kamarnya Bok Ek.‖ Bab 18.‖ Kwee Ceng berpikir. sesudah masuki itu ke dalam sakunya. yang mana ia letaki di atas meja. lalu ia terus masuk ke dalam kamar orang. ―Oey Yong suka dahar makanan semacam ini. lantas ia dengar ramainya suara tetabuhan. hatinya tercekat. Ong Cie It mengkerutkan keningnya.‖ berkata Kwee Ceng. Di pintu besar ada dituliskan tiga huruf besar air emas. yang setiap belakang telapakan tangannya bertanda lima lobang jari tangan.‖ kata Cie It. yang rimannya bengis. Tiba di muka gedung.‖ pikir Ong Cie It. Kapan mereka lihat tetamu. sudah tidak dibalut.

yaitu Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. biji matanya menonjol keluar. maka juga mereka menjadi begini malang melintang. sampai ia merasakan matanya berkunang-kunang. tidak tahu ia mesti bersikap bagaimana andaikata ia bertemu dengan Wanyen Lieh. maka tidaklah kecewa yang lohu sudah datang ke Tionggoan ini. ―Siapakan meja santapan!‖ ia memberi perintah kepada pengiringnya. Wanyen Kang menepuk tangan dua kali.‖ Wanyen Kang memperkenalkan pula orang yang rambutnya putih tapi mukanya segar sebagai muka seorang bocah. locianpwe dari Tiang Pek San. katanya: ―Ini adalah Leng Tie Siangjin. mengitari lauwteng yang indah. kedua pihak sudah saling mengenal.‖ Dan lantas ia perkenalkan paderi di sampingnya. ―Mana boanpwe mengerti ilmu silat?‖ sahut Wanyen Kang sambil tertawa. Wanyen Kang bergirang ketika ia kata pada Ong Cie It. Kwee Ceng terkejut juga hingga ia pernahkan dirinya dekat sekali dengan si imam. beberapa tuan ini sudah lama mengagumi kau dan semuanya merasa sangat ingin bertemu denganmu!‖ Ia lantas menunjuk Peng Lian Houw dan kata: ―Inilah Pheng Cecu. kau tahu tidak?‖ ―Guruku ada di sini. sungguh aku merasa sangat beruntung!‖ berkata tuan rumah yang muda ini. Ong Cie It menjadi heran sekali. ahli Tay-ciu-in dari partai Bit Cong dari Tibet. di antara siapa yang kepalanya benjut tiga. satu dari timur utara.‖ Ong Cie It awasi orang yang pentang bacot itu. Selama itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Totiang bersama saudara Kwee sudi datang kemari. kepala siapa lanang. ―Benar!‖ sahut orang itu. suaranya menandakan kemarahannya. ―Dan ini adalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong. bahkan ia mendongkol. matanya merah. selama itu aku main-main kucing kaki tiga hingga aku membikinnya totiang dan saudara Kwee menertawai aku. untuk mana mereka melintasi sebuah lorong. Hatinya pun tidak tentram. Ong Cie It tidak puas. ia sudah lantas mengenalinya. hingga mereka mesti jalan sekian lama.‖ Kedua orang itu saling memberi hormat. Pangeran itu tidak berlutut didepannya dan tidak juga memanggil susiok atau paman guru kepadanya. yang tubuhnya jangkung dan kate tidak rata. Dengan melihat roman orang saja. tidak ada selembar rambutnya. ―Totiang. Setibanya di hoa-thia.‖ ―Hm!‖ Ong Cie It kasih dengar suaranya. ―Aku ikuti suhu buat dua tahun lamanya. Justru itu seorang yang suaranya serak terdengar berkata nyaring: ―Kiranya Kanglam Cit Koay didukung dari belakang oleh Coan Cin Pay. Pengiring itu berlalu untuk menyampaikan titah lebih jauh. dari empat ribu lie. Wanyen Kang sudah lantas ajak kedua tetamunya pergi ke hoa-thia. apakah totiang ingin bertemu dengannya?‖ Wanyen Kang balas menanya. maka pertemuan ini benar-benar satu jodoh!‖ Ong Cie It memberi hormat kepada paderi dari Tibet itu dengan menjura dan si paderi membalasnya seraya menakopi kedua tangannya. ―Sudah berapa lama kau ikuti gurumu belajar silat?‖ ia tanya. Kami berdua. Ong Cie It heran hingga ia berpikir: ―Kenapa Siluman Tua ada disini juga?‖ io Cu Ong sudah lantas memberi hormat dan berkata: ―Di sini lohu dapat bertemu sama Thie Kak Sian Ong Cinjin. Kwee Ceng dapak menyaksikan keindahannya istana. di sana sudah menantikan enam-tujuh orang. Dia itu mengawasi anak muda kita ini dengan sorot mata bengis! Biar bagaimana. . ―Kiranya kau masih kenal aku!‖ Irawan D Soedradjat Page 193 ―Bukankah tuan adalah Kwie-bun Liong Ong See Locianpwee?‖ ia bertanya. satu lagi dari barat selatan. ―Walaupun ilmu silat Coan Cin kauw tidak tinggi tetapi ilmu itu bukannya ilmu kucing kaki tiga! Gurumu bakal tiba di sini. ―Ada di mana ia sekarang?‖ ia tanya.

Dia banyak lebih lihay daripada Hauw Thong Hay. sikapnya tenang sekali. Lantas ia berpaling kepada pengiringnya dan memrintah dengan singkat: ―Undang suhu!‖ Pengiring itu sudah lantas mengundurkan diri. suatu tanda ia adalah seorang opsir. diundurkan satu dari yang lain. ―Kenapa tidak kau minta ia keluar?‖ ―Ya. hingga adik seperguruan ini juga gagal. Maka ia lantas pandang tuan rumah. sekalipun di depan orang banyak. ―Bagus! benar-benar kau melindungi binatang cilik ini!‖ ia berseru. maka ia pun angkat tangannya. usianya empat puluh lebih. romannya tampan. Dua-dua See Thong Thian dan Ong Cie It terperanjat. Dan semua mereka kagum akan caranya sancu ini datang menengah. semua hadirin di situ itu ada bangsa lihay. kapan dan di dalam hal apa aku pernah berbuat salah terhadapnya?‖ Ia menunjuki sikap sabar. dua orang itu dapat dipisahkan. Celakanya Thong Hay telah kena dipermainkan oleh Oey Yong. untuk menghalang di depannya.pemilik bukit – dari Pek To San itu. tak terkira gusarnya Thong Thian. siucay. Segera juga Wanyen Kang menghampirkan. Mereka bukan sembarang orang. terus ia berkata: ―Sebenarnya aku telah mesti siangsiang tiba di kota Yankhia ini. adik seperguruannya. Dia bernama Thong Thian dan gelarannya. dia mendamprat habis-habisan.‖ sahut Wanyen Kang denagn sederhana. Ia mengerti. Sebab tabiatnya itu. Thong Thian gusar bukan main waktu ia dengar kekalahan empat muridnya itu. musuh boleh tambah lagi. ia lantas ingat kepada si nonannona serba putih yang di tengah jalan sudah mencoba merampas kudanya. ia kata: ―Nama besar dari See Locianpwee memang telah lama aku pangeni. maka juga.‖ Orang she See ini tidak ambil mumat sikap orang yang halus itu. supaya Kwee Ceng dibekuk. Karena ini. hingga kata dalam hati kecilnya: ―Kita ada bagaikan air kali dan air sungai yang tidak saling menerjang. terus ia mengibas keluar. Inilah sebabnya kenapa murid-muridnya tidak dapat wariskan tiga bagian saja dari sepuluh ilmu kepandaiannya. sayang di tengah jalan aku mendapatkan satu urusan penting dan karenanya menjadi terlambat beberapa hari. Irawan D Soedradjat Page Tidak lama lantas terdengar tindakan sepatu. alisnya panjang hingga ujungnya mengenai rambut di pelipisnya. akan jambak Kwee Ceng. Bocah itu mundur. sembari tertawa ia berkata: ―Tuan ini adalah Auwyang Kongcu. lalu di depan pintu thia terlihat seseorang bertubuh gemuk yang mengenakan seragam baju sulam. seumumnya.Pendekar Pemanah Rajawali Cie It heran. Memangnya dia bertabiat keras. Dandanannya. percuma kalau ia melayani mereka itu. ia tetap berangasan dan galak. masih dapat kami membela diri…‖ . tangannya terus menyambar si imam. tak peduli ia bahwa perbuatannya melanggar adat sopan santun. untuk menangkis. hingga ia mirip dengan satu sastrawan. sancu dari Pek To San dari pegunungan Kun Lun San di Tibet. Dia berjanggut lebat. Tanpa merasa keduanya lantas mengawasi si pemisah itu. 194 Cie It merasakan hatinya lega. ia tengah diliputi kemarahan besar. Ia telah berpikir: ―Dengan adanya Khu Suheng disini. Auwyang Kongcu ini sudah lantas rankap kedua tangannya. tetapi mendengar nama bukit Pek To San itu. umurnya ditaksir tigapuluh lima atau tipuluh enam tahun. Mereka belum pernah mendengar nama Pek To San – Bukit Unta Putih itu. sedang Ong Cie It segera maju. romannya sangat keren. seperti dandanan seorang bangsawan. maka dengan berbareng. dari samping mereka tiba-tiba muncul satu orang. Ia menjadi menduga-duga: ―Mungkinkah enam guruku sudah bertempur dengan dia ini?‖ Ong Cie It pandai berpikir. Melihat orang demikian galak. maka itu ini adalah pertama kalinya ia bertemu sama tuan-tuan!‖ Bukan melainkan Ong Cie It dan Kwee Ceng yang belum pernah melihat sancu. tak dapat ia mengatasi diri. ia tidak hunjuk kemurkaan. tidak heran kalau Hong Ho Su Koay gagal mengepung Kwee Ceng. maka mereka heran ada seorang yang dapat pisahkan mereka secara demikian gampang. Untuk itu aku mohon tuan-tuan suka memaafkannya. Ong Cie It tidak dapat mundur. Dia belum pernah datang ke Tionggoan. ia hajar mereka. tangan kirinya menyambar lengan See Thong Thian.‖ Kwee Ceng tidak kenal sancu ini. Kwie-bun Liong Ong ialah Raja Naga dari Pintu Iblis. ialah seoarng dengan jubah putih. Sesudah itu ia kirim Hauw Thong Hay untuk menuntu balas. Demikian ia ulur sebelah tangannya. tangan kanannya menyambar lengan Ong Cinjin. Disaat kedua tangan hampir bentrok. di waktu mengajari silat. juga Nio Cu Ong dan Peng Lian Houw serta lainnya hadiran di situ. ―Mana gurumu?‖ ia tanya.

terus ia undurkan diri. entah kemana. Sambil tertawa. Maka terpaksa pemuda ini pulang ke onghu dengan tangan hampa.Pendekar Pemanah Rajawali ―Suhu!‖ Wanyen Kang lantas memanggil. ―Totiang ini hendak bertemu sama suhu. Akhirnya. jawabannya adalah Bok Ek dan gadisnya itu ada yang undang sudah pergi entah ke mana. Ia lantas kata pada pengiringnya: ―Lekas kau siapkan uang itu. silakan duduk di kursi kepala. imam atau paderi perempuan!‖ Dengan paksakan diri. Terus ia menoleh pada pengiringnya. Tidak dapat ia menduga. aku paling tidak senang terhadap segala paderi. yang treus tuturkan kepergiannya Bok Ek serta anaknya itu.‖ menyahut Wanyen Kang. untuk kita membicarakan urusannya.‖ Cie It heran hingga ia tercengang. Ayah dan anak dara itu tidak ada di kamarnya. ―Banyak cape. ia berkata: ―Tidak peduli orang bermain sandiwara apa. Tentang si orang she Bok yah dan anak itu. siapa itu yang mengundang. ―Tuan-tuan. Ong Cinjin tertawa. boanpwe selalu bersedia untuk menuruti. bagaimana juga hendak diaturnya. Ketika jongos ditanya. Tiba di sana. maka bolehlah kita bicara dari hal keadilan. Kwee Ceng heran. ―Untuk urusan apakah kau hendak bertemu sama aku. ―Mana tuan Bok itu?‖ ―Ia telah pergi. barang-barangnya pun telah dibawa pergi. kepala barisan pengiring dari Wanyen Lieh di masa Wanyen Kang masih muda sekali. ia menjadi heran. uang sewa kamar pun sudah dibayar lunas. Ia berkata kemudian: ―Bagus! Sekarang baik si orang she Bok itu diundang kemari. dari kaki ke kepala. ia mengawasi imam itu.. Ia lantas hirup arak itu.‖ Ong Cie It menagngguk dan Kwee Ceng segera berbangkit. ia tidak sangka pangeran ini dapat bersikap demikian.‖ berkata Wanyen Kang. silakan duduk!‖ Wanyen Kang mengundang. ―Oh. Tentang itu. ia berkata: ―Sekarang ini telah hadir banyak cianpwee kaum Rimba Persilatan.‖ Ong Cie It merendahkan diri tetapi ia didesak terus.‖ berkata Wanyen Kang sembari tertawa. Ia telah berpikir: ―Bocah binatang ini. hatinya Ong Cie It menjadi panas sekali. ―Aku minta saudara Kwee saja yang pergi mengundang tuan Bok itu. aku menyesal…‖ berkata Wanyen Kang cepat.!‖ Tapi ia mencoba untuk mengendalikan diri. ―Adalah sudah biasa bagi aku. semua mata diarahkan kepada Wanyen Kang. pernah ia ajarkan ilmu silat kepada pangeran itu. Irawan D Soedradjat Page 195 . karenanya ia dipanggil guru. Setelah tiga edaran arak. Yang lain-lain pun turut memanggil guru padanya. tetapi ia bercuriga. Ong Cie It menjadi membungkam.‖ sahut Kwee Ceng. imam?‖ si opsir menanya. untuk memerintah: ―Kau lekas ajak orang pergi mencari tuan Bok dan putrinya itu. Jongos itu tidak dapat memberikan keterangan. urusan toh akan ketahuan akhirnya!‖ ―Totiang benar. dari kepala ke kaki. untuk pergi ke hotel dimana Bok Ek dan gadisnya menumpang.‖ ―Bagus begitu.‖ Thung Couw Tek celangap. sebentar kau antarkan ke hotelnya totiang. ―Itulah selayaknya. sikapnya jumawa. ―Totiang baharu pertama ini tiba disini. Ia tanya jongos. yang mendahului gurunya itu. tuan Kwee!‖ katanya. Ia bernama Thung Couw Tek. ia berbangkit untuk bawa itu kepada Ong Cie It seraya terus berkata: ―Silahkan totiang keringkan dahulu cawan ini. imam ini orang macam apa. dia mesti dapat diundang datang kemari!‖ Pengiring itu menyahuti. malah ia sudah menanyakan beberapa kali…‖ Melihat orang itu dan mendengar perkataan si pangeran. Pangeran itu mengisikan sebuah cangkir. Wanyen Kang sambut tetamunya. bagaimana urusannya itu harus diatur?‖ Mendengar pertanyaan itu. akhirnya ia duduk juga di kursi pertama itu.‖ ia berkata. ―Tayjin hendak memohon derma. kau permainkan aku. ―Ingin aku minta buat banyaknya seribu tail perak!‖ Heran opsir itu atas permintaan derma tersebut.

―Imam siluman. cepat luar biasa. ―Aku hendak memohon sesuatu kepada totiang. terus ia lari ke dalam. ―Jangan gusar. maka ketika ia berbangkit pula. tubuhnya jatuh terduduk di kursinya akibat tekanannya Nio Cu Ong. tetapi dia tidak berhasil. aku yang bodoh tidak merasa takut. sungguh namanya bukan kosong belaka!‖ berkata See Thong Thian. Akhirnya ia menegur: ―Eh. Lantas ia lompat bangun. ―Baiklah ciangkun duduk dan keringkan arakmu!‖ Ia ulur tangannya. ia sangat mendongkol.‖ berkata Giok Yang Cu. sudikah totiang meluluskannya?‖ ―Tidak berani aku menerima pujianmu. Maka juga perkataannya Ong Cie It membikin ia merasa tersinggung. Ia malu bukan main. Dia terus menarik pulang tangannya itu. kalau begitu!‖ berseru See Thong Thian. hebatnya tak sama dengan Kiu-im Pek-ku Jiauw dari Hek Hong Siang Sat akan tetapi toh tidak kalah. tidak satu pun yang pinto kenal. untuk disuapi dengan paksa! Couw Tel menjadi gelagapan. ―Maka perlu apa kau bergusar dan menggunakan kekerasan?‖ Ia angkat sumpitnya untuk menjempit kepalan orang. ciangkun. lengan kirinya berbareng dipakai membentur bocah itu.‖ berkata Giok Yang Cu. ―Kau tidak hendak memberitahu pun tidak apa. ciangkun. kaget dan gusar menjadi satu. sumpitnya dapat mempengaruhi Couw Tek tetapi tidak si orang she Nio ini. yang segera dibawa masuk ke dalam mulutnya orang she Thung itu. Maka mukanya menjadi merah. pangkatnya bukan kecil tetapi ia tetap ditempatkan di onghu. akan ulur sebelah tangannya.Pendekar Pemanah Rajawali Sementara itu Thung Couw Tek heran dan mendongkol. maka itu. kau asal kuil mana? Kenapa kau datang kemari untuk main gila?!‖ Ong Cie It tidak menyahuti. ―Maka itu aku mohon keterangan. ―Sekarang kau serahkan ini bocah kepadaku!‖ ia lantas berbangkit. ia lekas berbangkit. ia sudah bekerja matimatian untuk negara Kim. sumpitnya itu terus ia pakai menyambar sepotong paha ayam. untuk menghalang. dia jengah sekali. hingga kursi itu tercengkeram rusak seraya menerbitkan suara keras. Jambakan itu adalah jambakan dari Gwa-kang. tetapi dengan mereka itu. Ia memang tidak puas dengan kedudukannya. ―Pinto tahu tentang Kanglam Cit Koay.‖ ―Bagus.‖ berkata Kwie-bun Liong Ong. ia melepaskan jepitannya. akan tekan pundak si jenderal. ―Coan Cin Pay berpengaruh di Selatan dan Utara. ia hanya balik bertanya: ―Jenderal.‖ ia berkata. sedikitnya ia tentu terluka enteng. Thie Kak Sian Giok Yang Cu tahu. walaupun di depannya ada Nio Cu Ong dan Auwyang Kongcu. ia ulur tangannya meninju mukanya Ong Cinjin! Cie It tertawa. Bukankha ia orang Han yang bekerja pada bangsa Kim? Kenapa ia mesti ditanya lagi kalau bukan orang hendak menghina padanya? Ia justru paling tidak senang orang menyebut-nyebut kebangsaannya. guna menjambak batang lehernya Kwee Ceng. Menyaksikan kejadian itu.‖ berkata Nio Cu Ong.‖ ―Pihak kami tidak ada sangkutannya sama Coan Cin Pay.‖ ―See Locianpwe. Ia anggap dirinya gagah. ilmu Bahagian Luar. tetapi pemerintah Kim tidak pernah mengijinkan ia memimpin pasukan tentara sendiri. selagi si pangeran berlaku manis. kenapa pihakmu berdiri sepenuhnya dibelakang Kanglam Cit Koay dan dengan begitu menyusahkan pihakku? Walaupun Coan Cin Pay banyak anggotanya dan sangat berpengaruh. tosu. Irawan D Soedradjat Page 196 . Ong Cie It mengerti. bocah itu tidak bakal lolos dari jambakan itu. maka selagi orang menekan pundak si jenderal itu. yang berada di sampingnya. selagi mulutnya tersumpel. hanya salah satu suhengku ada punya sangkutan dengan mereka. kau menggunai ilmumu!‖ ia membentak. tak dapat ia meneruskan meninju. ia penasaran sekali. kau ada asal negara mana? Kau mengandal apa maka kau datang kemari dan menjadi pembesar negeri?‖ Couw Tek gusar sekali. ―Silakan locianpwe mengatakannya. Tidak karu-karuan cukongnya kehilangan uang seribu tail perak. Menyusul itu jambakannya si orang she See itu mengenai kursi yang diduduki Kwee Ceng. pada ini terang ada salah mengerti. Sudah duapuluh tahun ia bekerja. Maka itu sama sekali tidak ada soal pihakku membantu Kanglam Cit Koay menghadapi Hong Ho Su Koay. Kepalan Couw Tek kena tertahan. hingga tubuhnya Kwee Ceng tertolak mental. semua hadirin tertawa. si imam bersikap seperti tidak tahu aturan. See Locianpwe.

Dengan lantas mereka itu memikir untuk menahan si bocah. ―Nama besar dari tuan-tuan telah lama pinto buat pangenan. Tentang bocah ini. untuk minta Ong Cinjin memberi pengajaran padamu!‖ ―Itulah aku tidak berani. aku minta sukalah kau mempertunjuki sesuatu agar pinto dapat pentang mataku. untuk singsatkan bajunya. dengan membesarkan nyali. Yang Mulia Chao Wang menjadi sangat gusar karenanya. memang lebih baik tidak usah bertempur dengannya. lalu mendadak ia lompat maju. yang diundang dengan kehormatan dan bingkisan berarti. guna diserahkan pada Chao Wang.‖ Hauw Thong Hay sudah menahan sabar sekian lama. Kecuali Cie It dan Kwee Ceng. selagi mereka berkerja dan nampaknya bakal berhasil.Pendekar Pemanah Rajawali ―Hau. tiba-tiba mereka diganggu oleh bocah ini. ia menginjak-injak. . itulah hal yang sangat menggembirakan pinto. Cuma lebih dulu daripada itu. Kemudian ia berkata: ―Sebenarnya aku tidak bermusuh langsung dengan anak she Kwee ini. Ia lihat. ia mendahului berbangkit. dia jangan berani pula banyak tingkah!‖ Hauw Thong Hay mendongkol sekali.‖ Maka ia lantas awasi Thong Hay dan berkata kepadanya: ―Sutee. ―Bagaimana caranya bocah ini mendapat salah dari saudara See?‖ dia tanya. supaya bocah ini dapat melihatnya. supaya selanjutnya dibelakang hari. Aku ada punya empat murid tolol. ia pernah menghadapi pelbagai pertempuran tetapi tidak seperti ini kali. ―Ia muda dan tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. mereka dalah orang-orang undangan Wanyen Lieh. di atas orang pandai ada pula yang terlebih pandai lagi. Ia lantas memikirkan daya untuk meloloskan diri bocah itu. locianpwe.‖ Cie It membilang keras.‖ Ong Cie It berkata pula. tidak dapatkah kau mencari ia dilain hari?‖ Auwyang Kongcu lantas campur bicara. pinto tidak dapat bilang suatu apa. sampai sebatas dada. ―Maka itu saudara Hauw. sekalian untuk memberi pengajaran kepada bocah ini. ―Biarlah aku yang belajar kenal lebih dulu denganmu. Ia tahu orang mengejek padanya tetapi tidak tahu ia bagaimana harus memberikan jawaban. supaya ia insyaf bahwa di luar langit ada langit lainnya. aku mesti dapat satu pembantu yang lihay…‖ Maka itu. Ia bingung sebab musuh tangguh semuanya. Perkataan orang diatur dengan halus. jalan yang terbuka ialah memperlambat tempo sambil mencoba mencari tahu sikap sebenarnya dari para hadirin masing-masing. ―Anak ini pinto yang bawa datang ke istana ini. habis itu. Coba tuantuan pikir. ―Kebiasaanku tidak berarti.‖ ia menambahkan. cawannya ia hirup kering. kepala di bawah kaki di atas. bahkan ia berbareng mesti melindungi satu bocah. kalau ia mengotot.‖ Sebelum menjawab. pinto minta tuan-tuan mempertunjuki dulu ilmu kepandaian kamu. Tuan-tuan berniat menahan dia. Hauw Thong Hay sudah lantas pergi ke lataran dimana dengan kedua tangannya ia menumpuk salju sampai tingginya tiga kaki. ini juga pinto tidak dapat menentangi.‖ ia berkata. ia mendapat salah dari Yang Mulia Chao Wang. Irawan D Soedradjat Page 197 Ketika itu hujan salju masih belum berhenti. untuk membikin padat. kau lindungi bocah ini?‖ menegur Thong Thian karena kegagalannya itu. See Thong Thian juga berpikir: ―Imam-imam dari Coan Cin Pay tidak dapat dibuat permainan. Untuk melayani dia. supaya nanti ia jangan mengatakan pinto todak sudi melindungi padanya. Kalau benar saudara tidak sudi melepaskan padanya. ―Sabar. seraya menunjuk Kwee Ceng. supaya kita dapat menimbangnya. See Thong Thian telah berpikir: ―Imam ini lihay tak ada di bawahanku. mendengar perkatannya Giok Yang Cu. bocah ini pasti tidak bisa dibiarkan tinggal tetap di sini. kepala itu nuncap melesak ke dalam tumpukan salju itu. ―Coba jelaskan duduknya hal. mana berani pinto mengadu kepandaian dengan tuan-tuan.‖ ia berkata. maka itu sudah selayaknya kalau nanti pinto membawanya keluar secara baik-baik. mereka turut Yang Mulia Chao Wang pergi ke Mongolia untuk suatu urusan. menentang si imam. Sejak turun gunung. Diam-diam Cie It bingung juga mendapatkan semua mata diarahkan kepada Kwee Ceng. ―Hari ini pinto berjodoh bertemu sama tuan-tuan. coba kau perlihatkan Soat-lie May Jin. ia lantas duduk pula. kalau satu bocah begini tidak dapat dibereskan.‖ berkata Cie It tenang. cara bagaimana kami bisa lakukan usaha yang besar?‖ Kata-kata itu berpengaruh untuk para hadirin itu. ia mundur tiga tindak. sedang sebenarnya pinto tidak sanggup berbuat demikian….

ia sudah keluar dari salju dan berdiri tegak. ia tidak tahu ilmu silat apa itu. Saking kagum. Sebenarnya See Thong Thian bersama-sama Hauw Thong Hay telah menjagoi di sungai Hong Ho. barulah dua tangan Thong Hay bergerak. mulanya ia merintangi . Kwee Ceng yang polos memuji sambil bertepuk tangan. dengan bergembira mereka luluskan permintaan itu.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng heran. sumpit bekas itu ia ambil dari tangannya si pelayan. tubuhnya ikut. Jarak ke tembok ada kira-kira tiga tembok. lantas semua sumpit – dua puluh pasang – terlempar ke salju dan nancap. meski ia tahu namanya seperti telah disebutkan See Thong Thian. itulah bukti dari tenaga dalam yang terlatih sempurna. mulutnya itu sudah lantas kermakkermik. seperti burung menyisit. untuk menjumput. Peng Lian Houw sudah memegat meluncurnya biji-biji kwaci itu. tetapi mereka terus minum arak mereka. ia ayun tangannya. mereka pandai berenang dan tahan selulup lama. ―See toako. Menyaksikan itu Peng Lian Houw manjadi bertangan gatal. maka itu dapat diduga See Thong Thian hendak menuliskan empat huruf ―yauw bu yang wie‖ yang artinya menentang pengaruh atau menjagoi. Thong Hay melirik pada bocah itu. Malah Ong Cie It segera Irawan D Soedradjat Page 198 . maka biji kwaci itu meluncur ke tembok putih di hoa-thia itu. dia berdiam saja. Selang sekian lama. Ia berkata. yang terus aja lompat balik ke kursinya. nancap di tembok merupakan satu huruf ―Yauw‖. kepandaianmu ini membuatnya aku takluk sekali! Kita biasa berkerjasama. Orang semua heran dan akgum. lalu sejenak saja. untuk mana ia mesti menahan napas.‖ Di tembok sekarang terlihat lagi dua huruf. untuk mengatakan: ―Auwyang Kongcu hendak mempertunjukan apa untuk kami dapat membuka mata kami?‖ Kongcu itu dengar suara orang ada mengandung nada menyindir. ―Bu‖ dan ―Yang‖. aku pun dengan meminjam pengaruhmu. mereka telah mengenal baik satu dengan lain. kwaci itu ia makan isinya dan kulitnya dilepehkan! ―Bagus!‖ orang banyak berseru memuji. Apa yang luar biasa. maka mereka ini diam-diam terkejut sendirinya. See Thong Thian dan lainnya yang lihay. Persahabatan mereka adalah dari persahabatan dua tigapuluh tahun. kemudian Thong Thian menoleh kepada Auwyang Kongcu. aku tidak sanggup memakan lebih jauh!‖ berseru Peng Lian Houw. dia malah tersenyum. tidak demikian dengan Ong Cie It. yang sembari bicara mengulurkan tangannya ke piring kwaci. ia hanya mendatangkan tertawaan…‖ berkata See Thong Thian. lalu semua biji beruntun dikasih masuk ke dalam mulutnya. yaitu ―Soat-lie May Jin‖ atau ―Mengubur orang di dalam salju‖ See Thong Thian lantas berkata pada pengiring-pengiringnya Wanyen Kang: ―Tolong tuan-tuan membikin padat dan keras salju disekitarnya Tuan Huaw!‖ Kawanan pengiring itu girang sekali. maka setelah totiang ini hendak menguji kepandaian kita. ―Ah. dia memang lihya sekali. atas mana. akan tetapi baru huruf selesai separuhnya. tetapi biji kwaci itu dapat disentilkan demikian rupa. setelah mana jari tangannya yang tengah disentilkan tak hentinya. ingin mempertunjuki sesuatu…‖ Ia lantas saja lompat ke tengah ruangan itu. Kata Ong Cie It dalam hatinya: ―Tidak heran Kwie-bun Liong Ong menjagoi sungai Hong Ho. Ia tunggu sampai pelayan membawa datang tambahan barang makanan dan semua sumpit bekas ditukar dengan yang baru. Gangguannya Peng Lian Houw itu tidak membuat Thong Thian kecil hati. ―Kasar kepandaiannya suteeku ini. biji kwaci enteng. Ketika itu See Thong Thian benar-benar telah membuat huruf ―Wie‖ yang terakhir. karena ini Thong Hay dapat nyelusup ke dalam salju. semua sumpit nancap rapi merupakan empat tangkai bunga bwee! Kwee ceng dan Wanyen Kang kurang mengerti ilmu kepandaian itu. lalu ia kembali ke kursinya. Segera setalah memegang. Setelah itu barulah See Thong Thian rampungkan huruf ―Wie‖ itu.

melewati dua orang. Ong Cie It cenderungkan tubuhnya. ia pergi ke samping tambur batu di depan hoa-thia itu. Baskomnya si paderi lantas saja menghembuskan hawa napas sebagai uap. ia menangkap nadinya siauw-ongya itu. Orang lantas melihat kejadian ini. ini dimainkan di atas pelatok sumpit dan sumpitnya tidak ada yang patah atau miring karena ketindihan tubuh dan batu yang berat itu. maka itu. Dengan tangan kanannya. Kemudian. untuk ulur tangannya yang kanan ke pinggangnya batu.‖ Ia tidak berbangkit tapi ia dapat menuangi arak ke dalam cawannya semua orang. mereka menjadi heran. Leng Tie Siangjin mencuci tangan seperti yang lain-lain. hanya selagi yang lain-lain sudah selesai. mereka ini bakal turun tangan…‖ Maka itu si imam segera melirik paderi dari Tibetb itu. Ong Cinjin berbuat begini tentulah disebabkan dia bersendirian saja. turun ke dalam cawan. tangannya menyambar kepada Wanyen Kang. Kelihatannya pesta bakal ditutup sampai disitu. memainkan ilmu silat ―Yan Ceng Kun. ia lompat turun dari pelatok sumpit. Ong Cie It terperanjat. Leng Tie Siangjin beramai menginsyafi tenaga dalam yang terlatih baik dari imam ini. mereka lihat pangeran itu ditotok hingga ia menjadi tak berdaya lagi. Ong Cinjin angkat poci arak. ―Aku tidak boleh berlambat lagi.‖ Cie It berpikir. ia memuji tak henti-hentinya. kemudian ia letaki poci arak. Selang lagi sesaat. dan setelah turunkan ketiga batu itu. untuk semua tetamu membersihkan tangan mereka. aku mesti mendahului turun tangan terhadap dia…‖ Tengah semua mata diarahkan kepada Leng Tie Siangjin. mirip asap. terus ia berkata: ―Barusan aku saksikan kepandaian mengagumkan dari tuan-tuan. sedang beratnya batu ada tujuh atau delapan puluh kati. memberi hormat kepada orang banyak. Pelayan-pelayan telah datang dengan baskom yang terisi air hangat. Cu Ong jalan perlahan-lahan ke tengah latar.‖ katanya dalam hati. tidak ada arak yang berceceran. Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong berbangkit sambil tertawa. ia tiba diatasnya pelatok-pelatok sumpit Auwyang Kongcu tadi. ―Hebat tenaga dalamnya paderi ini. Mereka insyaf juga. Asal tangannya digeraki. berdiri di atas itu ia lantas bersilat. ―Cuma Leng Siangjin yang belum mengasih lihat kepandaiannya. asal tangan kirinya digeraki. dan setiap tindakan kakinya tidak pernah meleset dari ujung sumpit. Kemudian lagi si imam taruh tangan kirinya di punggung pangeran itu. Baru setelah habis semua jurus itu. Sebelum batu itu turun. Paling akhir Ong Cie It isikan cawannya Kwee Ceng serta cawannya sendiri. Habis itu ia berbicara. terlepas dari tangan dan mencelat naik dua tombak tingginya. Batu itu segera diapungkan. Dengan rangkapi kedua tangannya. Lalu menyusul batu yang kedua dan yang ketiga. Selagi semua orang heran dan kagum. yang duduk berselang daripadanya. Yang lain-lain baru dapat melihat setelah uap itu nampak semakin nyata. hanya yang istimewa. Ia mengasih lihat senyuman. Adalah biasa untuk tukang-tukang dangsu mempertunjukan permainan batu seperti Nio Cu Ong ini. ia tanggapi dengan dahi. Kwee Ceng kagum bukan main. untuk menemui satu saja sudah sukar! Apakah tak boleh jadi bahwa mereka ada mengandung sesuatu maksud?‖ Selagi si imam berpikir. batu itu kena terangkat. Dengan satu lompatan.Pendekar Pemanah Rajawali berpikir: ―Kenapa orang-orang lihay ini dapat berkumpul di sini? Biasanya. tidak ada tanda bahwa ia merasa letih. Mereka justru menantikan tanda dari paderi itu untuk bergerak. untuk digeser ke depannya. ia masih merendam kedua tangannya di dalam baskom. Ong Cie It dan Auwyang Kongcu adalah yang paling dulu menampak perubahan. lagi dua batu diangkat dan diapungi seperti yang pertama itu. See Thong Thian semua kaget berbareng gusar tetapi mereka tak segera dapat berdaya. tubuh siapa ia terus angkat. tapi barang berat itu tidak mengurangi kegesitannya. begitu ia kerahkan tenaganya. haha-hihi. Irawan D Soedradjat Page 199 . mereka heran. Dan ketika batu yang pertama turun.‖ Ia menjunjung tiga buah batu yang beratnya rua ratus kati lebih. ketiganya menjadi saling susul. untuk kagetnya mereka. Hal ini dapat dilihat semua orang. mengisi hingga penuh. sikapnya wajar saja. ia kembali ke kursinya. celakalah Wanyen Kang. akan kemudian terdengar suara perlahan dari air bergolak. ―Mungkin sehabis dia. maka dengan ini aku hendak menghormati kamu dengan secawan arak. untuk angkat cawannya yang ia hirup kering. arak meluncur keluar dari mulut poci. maka batu itu lantas diam di dahinya itu.

setelah melintasi sebuah tikungan dan melihat di belakangnya tidak ada orang yang menyusul mereka. ia pun berbalik menyambar lengan lawan. terus ia dikembalikan ke kursinya. ―Baiklah. tangan kanannya diulur. tidak bermusuhan dengan tuan-tuan. silakan sembarang waktu datang untuk pasang omong di sini. yang kau membuatnya orang sangat kagum!‖ demikian katanya. Habis itu ia mengangguk kepada semua orang. contoh dalam dirinya Leng Tie Siangjin juga membikin hati mereka gentar. Maka itu denagn memandang kepada mukaku. lantas saja ia muntah darah. Sambil tersenyum.‖ Semua orang berdiam. ia bertanya: ―Nama Taysu bersemarak dalam dunia kangouw. See Thong Thian beramai tidak berani mencegah. Siauw-ongya adalah seumpama cabang emas daun kumala. Imam ini benar-benar tidak dapat dibuat permainan. cuma pinto merasa suka kepadanya karena dia berhati polos dan pemurah. kau baik sekali!‖ berkata Nio Cu Ong tertawa. dengan sikutnya Ong Cie It bentur pinggangnya Wanyen Kang. aku hanya hendak menahan kau…‖ katanya. Cuma hanya sekali bentrok. lalu ia tarik tangannya Kwee Ceng untuk diajak pergi. ia mengantarkan keluar. pinto minta sukalah tuan-tuan melepaskan dia hari ini.‖ katanya. Sesudah belasan tombak keluar dari pintu istana. mengapa kata-katanya tidak masuk hitungan?‖ Leng Tie menjadi gusar.‖ berkata pula Ong Cie It. tetapi ia diejek si imam. Ia merangkapkan kedua tangannya. Coba ia berlaku tenang dan mainkan napasnya. tidakkah siauw-ongya rugi? Bagaimana?‖ ―Ong Totiang. ―Sungguh aku takluk. ―Pinto juga tidak bersanak tidak bersahabat dengan anak ini. dari itu jikalau mereka ditukar guling. Leng Tie Siangjin mengubah tenaga dalamnya menjadi tenaga luar. Masih ia mengucapkannya: ―Ijinkanlah kami mengundurkan diri. ―Hm!‖ bersuara si imam. aku takluk!‖ berkata Leng Tie Siangjin yang air mukanya berubah. untuk memberi hormat. apabila ada tempo yang luang. supaya aku yang lebih muda dapat banyak pengajaran. Ong Cie It tersenyum. darahnya itu tidak nanti menyemprot keluar. buat diajak berlalu dengan cepat-cepat dari istana itu. ―Aku bukan hendak menahan ini bocah she Kwee. ―Totiang sangat lihay. tapi belum dapat ia meneruskan. dengan sikapnya yang menghormat. Ia kerahkan tenaga latihannya dari beberapa puluh tahun untuk memcahkan serangan hebat itu. Mereka berdiam sejak Wanyen Kang dicekuk.‖ Tanpa bersangsi sedikit juga. kedua tangan sama-sama ditarik pulang. tiba-tiba Leng Tie Siangjin berbicara. Ia percaya semua jago itu. yang terus bilang: ―Urusan kita telah selesai. Sebat luar biasa. maka pangeran itu bebas dari totokan. seraya melompat mundur. siuran angin hebat menyambar ke arah si imam! ―Celaka!‖ Ong Cie It berseru di dalam hatinya dengan ia lekas-lekas angkat kedua tangannya untuk membalas hormat. tidak berani mereka merintangi. ia kata kepada Ong Cinjin: ―Totiang. bukan saja memang mereka seudah berjanji. ia menyambuti dengan sama kerasnya. untuk menyambar lengannya Ong Cie It.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto tidak berselisih.‖ Ia lantas berbangkit. maka itu mesti ada harinya yang kita nanti bertemu pula!‖ Setibanya mereka di pintu hoa-thia. akan tetapi ketika ia buka kedua tangannya itu. ―Jikalau tuan-tuan memberi ampun kepada anak ini. tidak peduli mereka licin atau licik. ―Maka pinto juga akan bebaskan ini siauw-ongya. beginilah kita mengambil keputusan. Ong Cie It segera tarik tangan Kwee Ceng. Bukankah ikan telah masuk ke dalam jala tetapi dapat lolos pula? Tidakkah itu sayang? Wanyen Kang telah lantas dapat menenangkan hatinya. tetapi si imam pun tidak diam saja. Sebab bentrokan itu membuat ia terluka. ia tidak dapat mengendalikan diri. yang menanti jawaban. ini anak sebaliknya adalah satu anak rakyat jelata. dengan perlahan Giok Yang Cu berkata kepada bocah yang ia tuntun itu: ―Kau gendong aku sampai di rumah penginapan…‖ Irawan D Soedradjat Page 200 . ia bersemangat. karena ia telah lantas dapat melihat sambaran itu. Sampai bertemu pula!‖ Semua orang mengawasi denagn air muka guram.

Ong Cie It merendam di dalam jambangan seraya memeramkan kedua matanya. tetapi tanpa pedulikan itu. Imam ini umpama kata cuma menang seurat. ―Adakah totiang terluka?‖ ia tanya heran. Kwee Ceng mengerti. Syukur ia lantas dapat cari sebuah hotel yang kecil dan jorok. ―Bagus. sambil berlari-lari. ia segera turunkan imam itu di atas pembaringan. mereka bisa terancam bahaya.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng kaget sekali.‖ ia minta kepada Kwee Ceng. cepat-cepat ia sediakan barang yang diminta itu. Maka itu jongos kegirangan. Tapi ia menghela napas ketika ia berkata pula: ―Paderi dari Tibet itu sangat berbahaya!‖ Kwee Ceng berlega hati. ―Sekarang pondong aku. ―Coba bantui aku bangun. Ia dengar suara orang sangat lemah. Kwee Ceng melayani terus sampai ia tukar air tujuh kali. air ini tukar dengan yang bersih. Ia cari orang hotel. ia masuki tubuh orang ke dalam jambangan hingga sebatas leher. Hari ini hampir aku kehilangan jiwa…‖ ―Totiang ingin dahar apa? Nanti aku pergi belikan. untuk menggendong dia. yang diletaki di cimche. ia dapat merayap keluar. Kwee Ceng menurut. Ia tahu imam ini khawatir nanti disusul musuh.‖ Kwee Ceng tanya kemudian. Tangn Pasir Merah sering aku menemukan tetapi tidak ada yang lihay seperti ini. Ia juga memberi persen kepada si jongos. ia pilih yang sepi saja. totiang?‖ Kwee Ceng tanya. Ilmu semacam itu. ia maju terus. Sekarang barulah Kwee Ceng ketahui orang tengah mengerahkan tenaga dalamnya. terus diisikan air dingin. maka sebentar kemudian. ―Itulah racun dari Cu-see-ciang. seperti ynag kehabisan napas. Kau larang orang lain datang dekat padaku…‖ Kwee Ceng tidak mengerti tetapi ia pondong si imam itu. untuk menyembuhkan diri dari luka di dalam akibat pertempuran dahsyat dengan Leng Tie Siangjin. untuk dibawa pergi denagn cepat. ia girang sekali. Ia juga lantas dapat melihat roman pucat dari si imam. Cie It sudah berendam pula di dalam air yang baru. lalu tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung. Setibanya di dalam. Sementara itu ia merasai napasnya si imam semakin mendesak. kau letaki aku di dalam jambangan itu. Kira semakanan nasi lamanya. tetapi Cie It bilang dengan perlahan: ―Cari…cari tempat yang sepi dan hotel kecil…‖ Kwee Ceng menurut. yang ia terluka dan ia sendiri tidak punya guna. ia hanya memberi tanda dengan tangannya. kulit muka si imam dari pucat pasi berubah menjadi bersemu dadu. ia letaki sepotong perak di atas meja seraya minta lekas disediakan jambangan. Cie It tidak menyahuti. ia memasukinya. Di pihak lain. Irawan D Soedradjat Page 201 . supaya bocah itu lekas pergi. Ong Cie It mengangguk. maka lantas saja ia membungkuk di depan si imam itu. sedang jongos ia pesan untuk melarang siapa saja masuk ke cimche itu. ―Kau isikan penuh air bersih…‖ ―Untuk apakah itu. atas mana Giok Yang Cu lantas saja tertawa dan berkata: ―Sudah tidak ada bahaya lagi!‖ Dengan pegangi pinggiran jambangan. air jambangan yang bersih bening itu berubah menjadi hitam. ―Benar. anak yang baik!‖ berkata Ong Cie It. Ia mau mampir di sebuah hotel yang pertama diketemukan.‖ sahut Cie It. Permintaan itu diturut. ―Apakah tangannya paderi Tibet itu ada racunnya?‖ ia tanya. baru air itu tak lagi berubah hitam. Kwee Ceng lari ke dalam kamar untuk memberi kabar. Ia tidak tahu jalanan. ―Lekas…lekas cari sebuah jambangan besar…‖ berkata Ong Cie It. dengan tenang ia mainkan napasnya.

Untuk kegirangannya Kwee Ceng kenali romannya Oey Yong. ―Sayang tuan. ―Kenapa aku tidak mau pergi ke tempat yang berdekatan. katanya baru saja ada orang yang borong.‖ Kwee Ceng mengerti. akibatnya akan menyebabkan cacad seumur hidup. Ia terus robek sambpul surat. ―Akun mengerti sekarang. Sungguh jahat!‖ Dengan masgul. Irawan D Soedradjat Page 202 . ―Kematian pun tidak harus disayangkan. kepada Ong Cie It ia tuturkan kegagalannya. Di jalan perapatan ia lihat rumah obat yang pertama. hatinya lega. Sekarang kau tolongi aku lekas membeli obat.‖ pikirnya kemudian. ―Tidak usahlah kau pergi.‖ ia berkata. ―Tentulah orang dari istana Chao Wang yang memborong semua obat itu. ―Seorang gelandangan di jalan besar. Makanya ia mesti pergi ke lain toko obat lagi. Maka itu ia beritahu bahwa ia ingin menemui sahabatnya itu. Ia putus asa. empat rupa obat itu tidak ada. gu-cit. ia segera mampir dan serahkan resepnya itu. Ia pun beri lihat suratnya Oey Yong itu. tujuh atau delapan rumah obat semua kehabisan empat rupa bahan obat itu. Maka ia mau tanya jongos. untuk lari ke rumah obat yang lain.‖ Tanpa minta penjelasan. Surat itu dialamatkan kepadanya. Ia heran. Ong Cie It tertawa. hingga mereka menjadi sahabat. Lekas datang!‖ Surat itu tidak memakai tanda-tanda hanya lukisan gambar dari satu pengemis bocah. Di sini ia diberi tahu. Ong Cie It berpikir. jikalau dalam duabelas jam itu tak disingkirkan. Kwee Ceng masuk ke dalam kamar Cie It. ia lihat imam itu lagi melatih kaki dan tangannya. diam-diam ia keluar dari kamar. Kwee ceng tuturkan pertemuannya sama Oey Yong. Untuk herannya. Kwee Ceng samber resepnya.‖ kata pelayan setelah ia membaca surat obat itu. Imam itu menghela napas. Ia lantas kasih tahu bahwa ia mau pergi beli obat ditempat lain. ―Aku telah bebas dari bahaya jiwa. Ia menjadi bingung dan mendongkol. untuk dibaca isinya. Surat itu berbunyi singkat saja: ―Aku menunggu kau di telaga di luar kota barat. menyerahkan sepucuk surat kepadanya. obat-obatan itu masih tidak kedapatan. Ia ingat Oey Yong cerdik sekali. di dekat-dekat dimana ada toko obat. Bocah ini tidak berani mengganggu.Pendekar Pemanah Rajawali Cie It pinjam perabot tulis pada tuan rumah. jongos datang dengan cepat. yang tersenyum berseri-seri. bocah ini lari pulang ke hotel.‖ kata bocah ini kemudian. ―Siapa yang mengirim surat ini?‖ ia menanya dalam hatinya. ia menulis sehelai surat obat. Justru ia mau cari jongos. ―Kita dapat pikir ini. jauhnya kira-kira sepuluh lie. ia ingin mencoba. ―Cara bagaimana kau kenal anak itu?‖ ia tanya.‖ sahut jongos itu. mungkin ia dapat berunding dengan temannya itu. ―Kebetulan saja obat hiat-kat. bek-yo dan hitam baru habis.‖ berkata si imam itu. sebab mereka ketahui Ong Cinjin pasti membutuhkannya. Cit It tertawa pula. Kwee Ceng sangat jujur dan hatinya lemah. Malah didua tiga rumah obat yang terbesar. ―Siapa bawa surat ini?‖ ia tanya jongos. Surat itu bagus tulisannya dan kertanya berbau harum. ―Tetapi hawa racun di dalam tubuh belum bersih betul.‖ Kwee Ceng tidak menjadi putus asa. ia pergi sambil terus berlari. Kwee Ceng heran. wajahnya menjadi guram. maka itu kenapa kau menangis?‖ Lalu dengan suara halus ia bernyanyi. Ia girang berbareng heran. terus ia duduk bersemadhi di atas pembaringan. ia lantas taruh kepalanya di atas meja dan menangis megerunggerung. Laginya belum tentu aku bakal mati. kenapa mereka tidak?‖ berkata si imam. Ada urusan penting yang hendak aku damaikan. ―Di sana belum tentu obat itu telah orang beli juga…‖ Ingat begini. ―Jiwa manusia sudah ditakdirkan. ia mengawasi.

Orang berumur belum lima atau enambelas tahun. Lantas ia tuturkan perihal kebaikannya sahabatnya itu. dengan hatinya masgul. Belum terlalu lama atau dari tengah telaga terdengar suara tertawa halus. tanda ia sangat percaya pada Oey Yong. lantas lumer. ada satu nona. Kwee Ceng berpikir: ―Totiang membeilang begini sebab ia belum tahu sifatnya Oey Hiantee…‖ Ia menyebutnya ―Oey Hiantee‖ = ―adik she Oey‖.‖ menyatakan Kwee Ceng. ―Di dalam ilmu kepandaian. Itulah sebuah perahu kecil dengan penumpangnya. Tanpa mengalami sesuatu.‖ ia pesan. salju jatuh ke air. rambutnya di bagian atas ada pitanya dari emas. Kau harus berhati-hati.‖ berkata Ong Cinjin. engko Kwee.. hingga emas itu bercahaya di antara sinar putih dari salju. Ia dipanggil selagi ia menoleh ke lain jurusan.‖ Di dalam hatinya. ―Mungkin ia belum datang. ―Baik. Kenapa sekarang tercipta menjadi satu bidadari? Irawan D Soedradjat Page 203 . Ia dapatkan si nona bagaikan bidadari. ―Apakah kau tidak kenal aku?‖ Kwee Ceng perhatikan suara orang. eh. Adalah di tepian. sedang tangan baju orang memain di antara sampokan angin. telaga itu tidak membeku. kulitnya putih halus. di pepohonan. Aku lihat padanya seperti ada terselip sifat-sifat kesesatan. Ada Kuping Di Balik Tembok Kwee Ceng tiada bilang apa-apa lagi. jikalau ia hendak mencelakai padamu. Kwee Ceng mengawasi dengan menjublak. Ia pun bertindak dari tepian. Ong Cinjin menghela napas. Tidak ada bayangan orang sekalipun. kemudian ia kucak-kucak matanya dengan kedua tangannya. dia jauh terlebih lihay daripada kau. Ia lari keluar kota barat tanpa menghiraukan salju berterbangan menyampok mukanya. ―Bagaimana. ―Apa mungkin dia sia-sia menanti aku dan dia lantas pergi duluan?‖ ia berpikir. ―Dia luar biasa gerak tubuhnya. tidak tambah kecerdikan kamu…‖ Imam ini tetap percaya Oey Yong bukan orang dari golongan yang sadar. hanya aku tidak tahu pasti apa itu…‖ ―Kita bersahabat sangat erat. mari naik ke perahu!‖ tiba-tiba dia memanggil. kau tentu tidak dapat layani dia…. tidak berani ia mengawasi terus-terusan. yang duduk di belakang perahu. Ia lantas berpaling ke lain jurusan. akan perdengarkan suara nyaring: ―Oey Hiantee! Oey Hiantee!‖ Tidak ada jawaban. Memandang ke sekitarnya. Kwee Ceng terkejut. Dia menyebutnya ―Kwee Koko‖ = ―Engko Kwee‖. Si nona mengayuh perahunya sampai ke pinggir telaga.‖ berkata pula si nona. Begitu ia menoleh. yang percaya betul sahabatnya itu. ―Baru berapa lama kamu bersahabat?‖ katanya. yang rambutnya panjang meroyot melewati pundak. ―Semua anak muda berkelakuan seperti kamu. ! Tapi sahabatnya itu adalah satu pemuda dengan muka kotor dan pakaian compang-camping…. ―Kwee Koko. sahabat sehidup semiati……. romannya cantik sekali dan manis. Ia berdiri menjublak bagaikan orang yang tengah bermimpi. begitu ia tampak satu wajah yang manis sekali.Pendekar Pemanah Rajawali ―Aku telah saksikan caranya ia mempermainkan Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. Karena hawa udara tidak sangat dingin. bajunya putih mulus. cuma dua ekor burung air yang terbang gelapakan di telaga. Bab 19. maka baiklah aku menunggu ia disini…‖ Maka ia lantas menantikan sambil ia pandangi keindahan telaga di musim salju itu. Itulah suaranya Oey Yong. tidak nanti ia celakai kau. bocah ini menjadi heran. ―Mana itu dapat disebut persahataban sehidup semati? Jangan kau pandang enteng dia sebagai bocah! Kau tahu. mukanya dadu segar. ia tampak segala apa putih meletak. ia masuki resep ke dalam sakunya. Tapi ia masih dapat berpikir. ia lihat sebuah perahu muncul dari bagian telaga yang lebat dengan pepohonan. sahabat eratnya. Disekitarnya yang luas. salju melulu yang tampak. ia lihat sinar terang dari air telaga. kau pergilah lekas!‖ katanya. Sesudah hampir sepuluh lie. kapan Kwee Ceng menoleh. lanats ia berlalu dari hotel. ―Oey Hiantee! Oey Hiantee!‖ ia memanggil pula. disana tidak ada tapak-tapak manusia. sehidup semati. Tapi ia buka mulutnya. Ong Cinjin tertawa.

Pendekar Pemanah Rajawali

Dalam kesangsiannya, bocah ini mengawasi dengan mendelong. Nona itu tertawa. ―Aku adalah Oey Hianteemu!‖ ia berkata. ―Benarkah kau telah tidak kenali aku?‖ Oleh karena ia menatap, Kwee Ceng kenali roman mukanya Oey Yong yang alisnya lentik dan mulutnya mungil, cuma dandannya lain. ―Kau…kau….‖ katanya perlahan. Oey Yong tertawa pula. ―Sebenarnya aku adalah seorang wanita,‖ ia berkata pula. ―Siapa suruh kau panggil aku Oey Hiantee dan Oey Hiantee tak sudahnya? Ayolah lekas naik ke perahu ini!‖ Kwee Ceng sadar, lalu ia enjoti tubuhnya, lompat ke perahu itu. ―Oey Hiantee…!‖ katanya. Oey Yong tidak menyahuti, ia hanya kayuh perahunya ke telaga. Ia lantas sajikan bekalannya, barang makanan dan arak. ―Kita duduk disini, dahar dan minum arak sambil memandangi sang salju, bagus bukan?‖ katanya merdu. Kwee Ceng mencoba akan menenangi diri. ―Ah…aku tolol sekali!‖ katanya kemudian. ―Sampai sebegitu jauh, aku sangka kau adalah seorang pria! Selanjutnya tidak dapat aku panggil lagi kau Oey Hiantee….‖ Oey Yong tertawa. ―Kau juga jangan panggil aku Oey Hian-moay,‖ ia berkata. ―Aku dipanggil Yong-jie. Ayahpun selalu memanggil aku begitu.‖ Dengan sendirinya nona ini tidak menghendaki di panggil ―Oey Hian-moay‖ = ―adik Oey‖ dan menghendaki di sebut namanya saja. ―Yong-jie‖ berarti ―anak Yong‖. Tiba-tiba Kwee Ceng ingat sesuatu. ―Aku membekali kau tiamsim!‖ katanya seraya terus kasih keluar tiamsim yang ia bawa dari istananya Wanyen Kang. Cuma sekarang tiamsim itu sudah pusak-pesok tiada karuan. Oey Yong mengawasi macamnya tiamsim yang tidak karuan itu, ia tertawa. Merah mukanya Kwee Ceng, ia jengah. ―Tiamsim ini tak dapat dimakan…‖ katanya. Ia ambil itu, untuk dilemparkan ke air. Oey Yong sambar tiamsim itu. ―Aku bisa makan!‖ katanya. ―Aku doyan!‖ Selagi si bocah tercengang, Oey Yong sudah menggayem tiamsim itu. Kwee Ceng mengawasi, sampai ia mendadak menjadi heran sekali. Oey Yong dahar tiamsim itu, lantas perlahan-lahan matanya menjadi merah, lalu air matanya perlahan-lahan mengalir turun… ―Begitu aku dilahirkan, aku sudah tidak punya ibu,‖ berkata Oey Yong yang dapat membade pikirannya sahabatnya. ―Seumurku, belum pernah ada orang yang ingat aku seperti kau ini…‖ Air matanya mengalir deras, ia keluarkan sapu tangannya ang putih bersih. Kwee Ceng menyangka orang hendak menyusuti air matanya, tak tahunya dengan cara hati-hati nona itu bungkus sisa tiamsim yang kemudian ia masuki ke dalam sakunya. ―Aku akan dahar ini perlahan-lahan…‖ katanya, dan kali ini ia tertawa. Benar-benar aneh kelakuan bocah wanita ini, Kwee Ceng asing betul dengan tingkah lakunya ini ―Oey Hiantee‖. ―Bilangnya ada urusan penting yang kau hendak bicarakan dengan aku, urusan apakah itu?‖ kemudian ia tanya. Ia sudah lantas ingat surat si nona dan untuk apa ia datang ke telaga ini. Oey Yong tertawa ketika ia menyahuti: ―Aku panggil kau datang kemari untuk memberitahukan padamu bahwa aku bukannya Oey Hianteemu, hanya Yong-jie. Apa ini bukannya urusan penting?‖

Oey Yong melengos ke samping. ―Kau bilang aku manis dipandang?‖ ia tanya. ―Manis sekali!‖ sahut si anak muda. ―Kau mirip dengan bidadari dari puncak gunung salju!‖ Ia menghela napas.
Irawan D Soedradjat

Page

204

Kwee Ceng tersenyum. Orang benar-benar jenaka. ―Kau begitu manis untuk dipandang, kenapa mulanya kau menyamar sebagai penemis?‖ ia tanya.

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong tertawa pula. ―Pernahkah kau melihat bidadari?‖ tanyanya. ―Aku belum pernah lihat. Kalau aku dapat menemui, mana aku masih hidup lagi…?‖ Oey Yong heran. ―Eh, kenapa begitu?‖ ia menegaskan. ―Sebab pernah aku dengar pembilangannya orang-orang tua, siapa dapat melihat bidadari, dia tidak bakal kembali ke tanah datar, untuk selamanya ia akan duduk bengong saja di gunung salju, lalu lewat beberapa hari, dia akan mati beku….‖ Oey Yong tertawa pula. ―Sekarang kau melihat aku, kau bakal bengong saja atau tidak?‖ tanyanya kemudian. Mukanya Kwee Ceng menjadi merah. ―Kita toh sahabat-sahabat kekal, kita lain…‖ Oey Yong menganggguk. Lalu ia berkata dengan sungguh-sungguh: ―Aku tahu kau baik hati dengan sesungguhnya, terhadap aku, tidak peduli aku pria ataupun wanita, biarpun aku bagus atau jelek.‖ Ia berhenti sebentar. ―Dengan dandananku ini, kalau orang bersikap baik terhadap aku, apakah anehnya? Diwaktu aku menjadi pengemis, kau baik sekali dengan aku, nah itu barulah sahabat sejati.‖ Ia rupanya sangat girang, semabri tertawa ia kata pula: ―Aku ingin bernyanyi untukmu, sukakah kau mendengarnya?‖ ―Apakah tidak boleh besok saja kau bernyanyi?‖ Kwee Ceng minta. ―Sekarang ini aku mesti pergi beli obat untuk Ong Totiang.‖ Kwee Ceng lantas tuturkan tentang adu kepandaian di istana Chao Wang, sampai Ong Cie It, yang melindungi ia, mendapat luka parah, bahwa sia-sia belaka ia mencari obat. Oey Yong mengawasi, ia tertawa. ―Aku pun heran sekali menyaksikan kau lari mondar-mandir di jalan besar dan memasuki rumah obat dari yang satu kepada yang lain, entah kau bikin apa, tidak tahunya kau hendak membeli obat,‖ katanya. Kwee Ceng menduga, selagi ia lari mondar-mandir, Oey Yong tentu telah mengintai padanya tetapi ia tidak tahu, kalau tidak, niscaya nona itu tidak ketahui ia tinggal di hotel mana. ―Oey Hiantee,‖ katanya kemudian, ―Apakah boleh pinjam kuda merahmu yang kecil untuk aku pergi membeli obat?‖ Oey Yong menatap. ―Ketahuilah!‖ katanya. ―Kesatu, aku bukannya si Oey Hiantee! Kedua, kuda merah yang kecil itu adalah kepunyaanmu! Apakah kau sangka benar-benar aku menghendaki kudamu itu? Aku melainkan lagi menguji hatimu. Ketiga, di tempat sekitar ini, belum tentu kau dapat mencari obat itu…!‖ Kwee Ceng berdiam, hatinya pepat. Ia bingung sekali. Dugaan si nona nyata cocok betul dengan dugaannya Ong Cie It. Oey Yong tertawa. ―Sekarang aku nyanyai, kau dengari!‖ dia kata. Lalu kedua bibirnya yang merah tergerak terbuka, segera lidahnya bergerak, memperdengarkan nyanyiannya yang halus dan merdu. Kwee Ceng mendengari dengan hati kesengsem walaupun tidak mengerti jelas artinya nyanyian itu, hatinya menjadi goncang. Seumurnya belum pernah ia peroleh pengalaman ini. ―Inilah nyanyian Sui Ho Sian dari Sin Tayjin,‖ kata Oey Yong perlahan habis ia nyanyi. ―Bagaimana kau bilang, bagus atau tidak?‖ ―Aku kurang mengerti tetapi didengarnya menarik hati,‖ Kwee Ceng menjawab. ―Siapa itu Sin Tayjin?‖ ―Dialah Sin Kee Cie,‖ sahut Oey Yong. ―Menurut ayahku dialah satu pembesar jempolan yang menyinta negara dan rakyat. Ketika dulu hari utara Tionggoan terjatuh ke dalam tangan bangsa Kim dan Gak Bu Bok terbinasa di tangan dorna, tinggal Sin Tayjin sendiri yang masih berdaya untuk merampas pulang daerah-daerah yang terhilang itu.‖ Kwee Ceng tahu kekejaman bangsa Kim dari penuturan ibunya, karena ia hidup di Mongolia, ia kurang tahu. Ia kata: ―Belum pernah aku pergi ke Tionggoan, maka hal ini baik nanti saja perlahan-lahan kau tuturkan padaku. Sekarang kita mesti pikirkan daya menacri obat untuk Ong Totiang.‖
Irawan D Soedradjat

Page

205

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kau dengar aku,‖ berakta Oey Yong. ―Kita pesiar dulu disini, tak usah kau cemas tidak karuan.‖ ―Ong Totiang bilang, kalau dalam tempo dua belas jam ia tidak dapat obat, ia bisa celaka,‖ Kwee Ceng jelaskan. ―Aku tanggung, kau akan dapatkan obat itu,‖ si nona bilang. Mendengar si nona bicara dengan sungguh-sungguh dan juga percaya orang memang ada terlebih pandai dan cerdik daripadanya, Kwee Ceng dapat juga melegakan hatinya. ―Mungkin ia tidak akan membikin gagal,‖ pikirnya. Maka ia lantas layani si cantik itu minum arak dan dahar makanan sambil mereka pasang omong. Dengan gembira, dan secara menarik hati, Oey Yong tuturkan bagaimana caranya ia menggangtung Hong Ho Su Koay, bagaimana ia ganggu Hauw Thong Hay sampai si Ular Naga Kepala Tiga itu mendongkol bukan main. ―Bagus!‖ seru Kwee Ceng saking gembira. ―Memang bagus!‖ kata si nona. Dan keduanya bertepuk tangan. Tanpa merasa sang tempo telah berlalu, Oey Yong lihat bagaimana secara perlaha-lahan sang mega atau kabut mulai menutupi air telaga yang putih. Dengan perlahan sekali ia ulur tangannya, terus ia genggam tangannya si Kwee Ceng, sembari berbuat begitu ia kata dengan perlahan: ―Sekarang aku tidak takut apa juga…!‖ ―Kenapa?‖ menanya si anak muda dengan heran. ―Taruh kata ayah tidak menginginkan aku, kau tentunya sudi aku ikuti kau, bukankah?‖ si nona tanya tanpa ia menyahuti pertanyaan orang. ―Pasti!‖ jawab Kwee Ceng sungguh-sungguh. ―Aku sendiri, belum pernah aku bergembira seperti sekarang ini!‖ Oey Yong membawa tubuhnya mendekati dada si pemuda dan menempelkannya, maka Kwee Ceng lantas saja merasakan ia bagai terkurung bau harum, bau yang meliputi juga antero telaga, seluruh langit dan bumi…… Tanpa mengucap sepatah kata, keduanya saling berpegang tangan….. Lagi sekian lama, tiba-tiba Oey Yong menghela napas. ―Tempat ini sungguh indah, sayang kita bakal meninggalkannya…‖ katanya. ―Kenapa begitu?‖ Kwee Ceng tanya. Ia heran. ―Bukankah kita harus mencari obat untuk menolongi Ong Totiang?‖ sahut si nona. Kwee Ceng sadar, ia menjadi girang sekali. ―Ah, ke mana kita mencarinya?‖ ―Ke manakah perginya itu beberapa rupa obat yang dibutuhkan, yang tidak berada di rumah-rumah obat?‖ Oey Yong menanya. ―Tentulah semua itu dibeli oleh orangnya Chao Wang,‖ menyahut Kwee Ceng. ―Benar!‖ berkata si nona. ―Tetapi tidak dapat kita pergi ke sana!‖ Kwee Ceng bilang. ―Pergi ke sana artinya kita mengantari jiwa kita…‖ ―Habis apakah kau tega membiarkan Ong Totiang menjadi bercacad seumur hidupnya?‖ Oey Yong tanya. ―Jangan-jangan, karena lukanya itu berubah menjadi berbahaya, ia pun bisa hilang jiwanya….‖ Darahnya Kwee Ceng bergolak. ―Baik, aku akna pergi!‖ ia bilang. ―Tapi kau jangan turut…‖

Kwee Ceng berdiam. Ia tidak punyakan alasan untuk kata-katanya itu.

Irawan D Soedradjat

Page

206

―Jangan turut? Kenapakah?‖ tanya si nona.

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong mengawasi. ―Engko yang baik,‖ katanya perlahan. ―Kau kasihanilah aku. Umpama kata kau menemui bencana, apakah kau sangka aku dapat hidup seorang diri saja?‖ Kwee Ceng menjadi sangat bersyukur dan bergirang. ―Baiklah!‖ katanya kemudian. ―Mari kita pergi bersama!‖ Keduanya lantas mengayuh, membuatnya perahu mereka ke pinggir, setelah mendarat, mereka menuju langsung ke istana Chao Wang, ke arah belakang. Mereka memasuki pekarangan dengan melompati tembok. ―Engko Ceng, sempurna sekali ilmu ringan tubuhmu!‖ Oey Yong memuji selagi si anak muda mendekam di kaki tembok untuk memasang kuping dan mata. Mendengar pujian itu, Kwee Ceng gembira bukan main. Merdu sekali suara si nona. Tak lama, mereka mendapat dengar tindakan kaki dibarengi sama suara bicara sambil tertawa. Mereka menutup mulut. ―Siauw-ongya mengurung si nona di sini, kau tahu untuk apa?‖ terdengar seorang menanya. ―Siauw-ongya‖ itu ialah pangeran muda. ―Buat apa lagi!‖ tertawa orang yang kedua. ―Si nona ada demikian cantik! Sejak kau dilahirkan, pernahkah kau melihat nona secantik itu?‖ ―Kau hati-hati, sahabat!‖ kata yang pertama, ―Melihat macammu ini, hati-hatilah, nanti siauw-ongya kutungi batang lehermu…‖ Kwee Ceng lantas berpikir: ―Kiranya Wanyen Kang sudah punya pacar maka juga ia tidak sudi nikahi nona Bok. Dalam hal ini, dia tidak dapat disesalkan. Cuma mengapa ia mengurung nona itu? Mustahilkah si nona menolak dan ia hendak gunai kekerasan untuk memaksa?‖ Dua orang itu sudah lantas datang dekat sekali, yang satu membawa tengloleng, yang lainnya menenteng barang makanan. Yang membawa makanan itu berkata pula sambil tertawa: ―Siauw-ongya aneh! Dia mengurung orang, dia juga khawatir orang kelaparan! Lihat, sudah malam begini dia masih suruh mengantarkan barang makanan….‖ ―Jikalau tidak berlaku manis budi, mana dia dapat merampas hati si nona?‖ berkata yang membawa lentera. Lantas mereka lewat, suara tertawa mereka masih terdengar. ―Mari kita lihat!‖ berbisik Oey Yong, yang hatinya menjadi tertarik. ―Sebenarnya bagaimana sih cantiknya orang itu…‖ ―Lebih perlu kita mencari obat,‖ Kwee Ceng bilang. ―Aku ingin lihat dulu si cantik!‖ kata Oey Yong, yang tertawa. Kwee Ceng heran sekali. ―Apa sih bagusnya orang perempuan untuk di lihat?‖ katanya dalam hati. Ia tidak menginsyafi sifat wanita. Kalau satu nona mendengar ada nona cantik lainnya, sebelum melihatnya, hatinya tidak nanti puas, kalau dia sendiri cantik, lebih keras lagi keinginannya melihatnya itu. ―Ah, dasar anak kecil….!‖ Luas pekarangan dalam dari gedung Chao wang itu. Mereka berdua berjalan berliku-liku menguntit dua hamba tadi. Mereka tiba di depan sebuah gedung besar yang gelap, tapi ada yang jaga. Mereka lantas umpatkan diri, untuk mendenagri kedua kacung itu bicara sama penjaga rumah itu, yang ialah seoarng serdadu. Dia ini lantas membuka pintu, untuk mengijinkan orang masuk. Oey Yong cerdik. Ia menjumput sebutir batu, dengan itu ia menimpuk lentera orang, hingga apinya lentera itu padam seketika, membarengi mana ia tarik tangan si anak muda, untuk diajak berlompat masuk ke pintu. Kedua kacung dan serdadu itu tidak menduga jelek, mereka cuma menyangka batu jatuh dari atas. Sembari mengutuk, mereka nyalakan pula lenteranya. Setelah membuka sebuah pintu dalam, yang kecil, berdua mereka masuk lebih jauh.

Irawan D Soedradjat

Page

207

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong dan Kwee Ceng menempatkan diri di sebelah belakang, dengan hati-hati mereka menguntit pula, sampai mereka berada di depan sebuah ruang seperti kerangkeng binatang liar, jerujinya semua besi kasar. Di dalam situ ada dua orang, terlihat samar-samar seperti pria dan wanita. Satu bujang lantas memasang lilin, yang mana ia masuki ke dalam kerengkeng. Maka sekarang terlihat tegaslah dua orang yang terkurung itu. Mengenali mereka, Kwee Ceng terkejut. Mereka adalah Bok Ek serta gadisnya, yang tadi siang mengadakan pibu mencari jodoh. Bok Ek nampaknya tengah bergusar. Liam Cu duduk di samping ayahnya dengan kepala tunduk. ―Bagaimana dengan Wanyen Kang? Sebenarnya dia sukai nona ini atau tidak?‖ Kwee Ceng beragu-ragu. Kedua bujang itu memasuki barang makanan berikut araknya. Bok Ek sembat sebuah mangkok, terus ia lemparkan. Ia berseru: ―Aku telah terjatuh ke dalam tipumu yang busuk, kalau kau hendak membinasakan, binasakanlah! Buat apa kamu berpura-pura menaruh belas kasihan?!‖ Belum sampai si bujang membilang apa-apa, di sebelah luar terdengar suaranya serdadu penjaga pintu yang tadi: ―Siauw-ongya baik?‖ Mendengar itu, Kwee Ceng dan Oey Yong berpaling, lalu lekas-lekas mereka mencari tempat sembunyi. Segera juga terdengar suara membentak sari Wanyen kang, yang datang dengan tindakan lebar: ―Siapa yang membikin Bok Loenghiong gusar? Awas, sebentar aku hajar patah kaki anjingmu!‖ Kedua hamba itu lantas bertekuk lutut. ―Hambamu tidak berani…‖ berakat mereka. ―Lekas berlalu!‖ membentak pula si pangeran. ―Ya, ya…‖ menyahuti kedua hamba itu, yang berlalu dengan cepat. Hanya setibanya mereka di pintu luar, mereka saling mengawasi dengan mengulurkan lidahnya masing-masing….. Wanyen Kang tunggu sampai orang telah merapatkan daun pintu, ia hampiri Bok Ek dan gadisnya. ―Jiwi silahkan kemari!‖ ia berkata, suaranya sabar sekali. ―Aku hendak membilangi sesuatu kepada kamu, harap kamu jangan salah mengerti.‖ ―Kau telah kurung kami sebagai pesakitan, apakah artinya undanganmu ini?!‖ Bok Ek menegur. Ia gusar sekali. ―Maafkan aku, menyesal sekali,‖ berkata Wanyen kang. ―Untuk sementara aku minta jiwi harap bersabar. Aku pun merasa tak enak hati.‖ ―Kau boleh akali bocah umur tiga tahun!‖ Bok Ek membentak pula. ―Aku tahu baik sifatnya kamu orang besar! Hm!‖ Wanyen Kang hendak bicara pula, saban-saban ia terhalang oleh bentakan orang tua itu, tetapi ia sabar luar biasa, sebaliknya dari bergusar, ia tertawa. ―Ayah, coba dengar dulu apa ia hendak bilang,‖ akhirnya Liam Cu berkata dengan perlahan. ―Hm!‖ orang tua itu perdengarkan suara di hidungnya. ―Nona seperti putrimu, mustahil aku tidak sukai dia‖ berkata Wanyen Kang. Mendengar itu, wajahnya Liam Cu menjadi merah, ia tunduk lebih rendah. ―Hanyalah aku adalah satu pangeran dan aturan rumah tanggaku keras sekali,‖ Wanyen Kang berkata pula. ―Umpama kata orang mendapat tahu aku mempunyai mertua seorang kangouw, bukan cuma ayahku bisa memarahinya, malah ada kemungkinan sri baginda juga nanti menegur ayahku itu…‖ ―Habis kau mau apa?‖ menanya Bok Ek. Ia anggap orang bicara beralasan juga. ―Sekarang ini aku mau minta jiwi berdiam dulu beberapa hari di sini, untuk sekalian merawat lukamu,‖ sahut pangeran itu. ―Setelah itu barulah kamu pulang ke kampung halamanmu. Nanti, selang satu atau setengah tahun, setelah suasana sudah reda, akan aku nikahi putrimu ini, baik dengan jalan aku pergi menjemput ke rumahmu atau dengan minta locianpwee datang ke mari. Tidakkah itu lebih bagus?‖ kata pangeran ini lebih lanjut.
Irawan D Soedradjat

Page

208

Pendekar Pemanah Rajawali

Bok Ek berdiam. Ia tengah memikir satu hal lain. ―Peristiwa ini bisa merembet ayahku,‖ Wanyen Kang berkata pula, sambil tertawa. ―Oleh karena kenakalanku, beberapa kali ayah pernah ditegur sri baginda raja, maka kalau urusan ini sampai didengar oleh sri baginda, pastilah pernikahan ini gagal. Maka itu aku minta sukalah locianpwee menyimpan rahasia.‖ Bok Ek gusar. ―Menurut caramu ini!‖ katanya sengit, ―Kalau nanti anakku menikah sama kamu, untuk seumur hidupnya ia mesti main sembunyi-sembunyi! Dia jadinya bukan satu istri yang terang di muka umum!‖ ―Dalam hal ini pastilah aku akan mengatur lainnya,‖ Wanyen Kang memberi keterangan. ―Sekarang pun aku sudah pikir nanti minta perantaraannya beberapa menteri sebagai orang pertengahan, supaya kita nanti menikah secara terhormat….‖ Wajahnya Bok Ek berubah. ―Kalau begitu, pergi kau panggil ibumu datang ke mari,‖ katanya. ―Aku ingin kita omong depan berdepan dan secara terus terang!‖ Wanyen Kang tersenyum. ―Mana dapat ibuku menemui locianpwee?‖ katanya. ―Jikalau aku tidak dapat bicara dengan ibumu, biar bagaimana, tidak sudi aku melayani kamu!‖ kata Bok Ek kaku, tangannya menyambar sepoci arak, yang dia timpukkan di antara jeruji besi. Bok Liam Cu kaget dan berduka menyaksikan sikap ayahnya ini. Sebenarnya, semenjak memulai bertanding sama pangeran itu, ia telah menaruh hati, maka juga ia senang mendengar pembicaraannya si anak muda yang ia anggap beralasan. Ia tidak sangka, ayahnya telah ambil sikapnya yang tegas itu. Wanynn Kang geraki tangannya menyambar poci arak itu, terus ia letaki itu ditempatnya, di atas meja. ―Menyesal tidak dapat aku menemani lebih lama,‖ katanya. Ia tertawa dan memutar tubuhnya untuk berlalu. Kwee Ceng anggap omongannya Wanyen Kang beralasan. Bukankah si pangeran ada kesulitannya sendiri? Maka itu, menyaksikan kemurkaannya Bok Ek, ia lantas berpikir; ―Baiklah aku bujuki ia…‖ Ia lantas geraki tubuhnya, untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi ia tidak dapat wujudkan apa yang ia pikirkan itu. Oey Yong telah tarik tangan bajunya, untuk ajak ia keluar. ―Apakah sudah diambil?‖ mereka lantas dengar suaranya Wanyen Kang, yang bicara sama satu hambanya. ―Sudah,‖ sahut si hamba, yang terus angkat sebelah tangannya. Nyata ia mencekal seekor kelinci. Wanyen Kang menyambuti dengan kedua tangannya, tiba-tiba saja ia patahkan kedua kakinya kelinci itu, yang ia terus masuki ke dalam sakunya, setelah mana ia bertindak dengan cepat. Binatang itu berpekik satu kali, lalu kelengar. Dua-duanya Oey Yong dan Kwee Ceng heran sekali. Merak lantas kuntiti pangeran itu, yang jalan memutari sebuah pagar bambu, setelah mana terlihatlah sebuah rumah tembik putih yang kecil. Itulah rumah bermodel rumah rakyat di Kanglam. Maka heran di dalam pekarangan istana mentereng itu ada sebuah rumah yang begini sederhana. Maka mereka jadi bertambah heran. Wanyen Kang menolak pintu rumah itu dan masuk ke dalamnya. Dengan lekas Kwee Ceng berdua lari ke jendela untuk memasang kuping sambil mengintai di sela-sela jendela itu. Mereka percaya mesti ada perbuatan yang aneh dari si pangeran itu. ―Ma!‖ mereka lantas dengar suara si pangeran. ―Ya..!‖ demikian suara penyahutan perlahan, suaranya seorang wanita. Wanyen Kang lantas masuk ke dalam kamar.

―Mama, apakah hari ini kau kurang sehat?‖ tanya Wanyen Kang seraya pegangi tangan si nyonya.
Irawan D Soedradjat

Page

209

Untuk bisa melihat, Kwee Ceng berdua menghampirkan sebuah jendela lain. Maka mereka lantas tampak satu nyonya tengah berduduk di pinggiran meja, sebelah tangannya menunjang dagu, matanya mendelong. Dia belum berumur empatpuluh tahun dan mukanya cantik sekali. Di rambut dekat kupingnya dia memakai setangkai bunga putih. Pakaiannya semua terdiri dari kain kasar.

Pendekar Pemanah Rajawali

Nyonya itu menghela napas. ―Bukankah aku tak berlega hati untukmu?‖ sahutnya. Wanyen Kang sanderkan diri di tubuh nyonya itu, yang ia panggil ibu, agaknya ia manja sekali. ―Ma, bukankah anakmu berada di sini?‖ katanya, aleman. ―Toh aku tidak kekurangan walaupun sebelah kakiku…?‖ ―Kau mengacau, kalau ayahmu dengar itu, masih tidak apa,‖ berkata si ibu itu, ―Tetapi gurumu? Bagaimana kalau ia mendengar kabar? Tidakkah hebat?‖ ―Ma,‖ berkata si pangeran, tertawa, ―Tahukah kau siapa imam itu yang datang menyela untuk menolongi orang?‖ ―Siapakah imam itu?‖ ―Dialah adik seperguruan dari guruku…‖ ―Celaka!‖ berseru si nyonya kaget. ―Pernah aku melihatnya gurumu disaat ia tengah murka! Dia dapat membunuh orang! Sungguh menakutkan…!‖ Wanyen Kang agaknya heran. ―Pernah mama melihat suhu membunuh orang?‖ dia tanya. ―Di manakah itu? Kenapa suhu membunuh orang?‖ Nyonya itu angkat kepalanya, memandang lilin. Ia agaknya tengah memikir jauh. ―Itulah sudah lama, sudah lama,‖ katanya kemudian dengan perlahan. ―Ah, kejadian daulu hari itu hampir aku lupa….‖ Wanyen Kang tidak menanyakan lebih jauh, sebaliknya dengan gembira, ia kata; ―Ong Susiok itu telah mendesak aku, menanyakan bagaimana urusan pibu hendak diselsaikan. Aku telah menjanjikan untuk menerima baik. Asal si orang she Bok itu datang, apa yang diatur, aku terima baik.‖ ―Apakah kau sudah bicara dengan ayahmu?‖ tanya si nyonya itu. ―Bersediakah dia akan memberikan perkenanannya?‖ Wanyen Kang tertawa. ―Ma, kau memang baik sekali!‖ katanya. ―Dari siang-siang telah aku perdayakan orang she Bok itu dan gadisnya datang ke mari, sekarang mereka ditahan di kerangkeng di belakang sini. Mana Ong Susiok dapat mencari mereka?‖ Selagi si pangeran ini demikian gembira, Kwee Ceng sebaliknya bertambah kemendongkolannya dan kemurkaannya. Kata pemuda ini dalam hatinya; ―Aku menyangka dia bermaksud baik, siapa tahu ia sebenarnya sangat licik!‖ Si wanita pun tidak setujui putranya itu. ―Kau telah permainkan anak dara orang,‖ katanya kurang senang, ―Kau juga kurung mereka di sini. Apakah artinya itu? pergi lekas kau merdekakan mereka! Kau berikan mereka uang, kau menghanturkan maaf, lantas kau persilahkan mereka pulang ke kampung halaman mereka.‖ Kwee Ceng mengangguk-angguk. Ia setujui sikap nyonya itu. ―Begitu baru benar,‖ pikirnya. Wanyen kang tetap tertawa. ―Ma, kau belum tahu,‖ katanya. ―Orang kangouw seperti mereka tidak memandang uang! Jikalau mereka dilepaskan, setelah merdeka, tentu mereka akan buka suara lebar-lebar. Kalau itu sampai terjadi, bagaimana suhu bisa tak ketahui urusan ini?‖ ―Habis, apakah kau hendak kurung mereka seumur hidup mereka?‖ tanya si nyonya. Putra itu tetap tertawa. ―Akan aku bicara baik-baik dengan mereka, nanti aku perdayakan hingga mereka suka pulang ke kampung halaman mereka,‖ ia bilang. ―Biarlah di sana mereka menanti-nanti hingga mereka putus asa…‖. Lantas ia tertawa terbahak.

Irawan D Soedradjat

Page

―Jangan turuti adat…!‖ demikian ia dengar bisikan di kupingnya, berbareng denagn mana sebuah tangan yang halus menutup mulutnya dan tangan yang lain menarik tangannya. Merdu bisikan itu……

210

Kembali bangki hawa amarahnya Kwee Ceng, hingga ia ayun sebelah tangannya ke daun jendela dan mulutnya pun hendak dibuka.

Pendekar Pemanah Rajawali

Cuma sejenak itu, pemuda ini insyaf akan kekeliruannya, maka ia menoleh kepada si nona manis di sisinya dan bersenyum. Karena itulah Oey Yong yang mencegah padanya. Kemudian ia mengintai pula ke dalam kamar. ―Tua bangka she Bok itu sangat licin,‖ terdengar pula suaranya Wanyen Kang. ―Telah aku bujuki dia, dia tak mau makan umpan. Maka biarlah dia ditahan lagi beberapa hari, untuk lihat akhirnya dia suka menurut atau tidak.‖ ―Aku lihat nona itu bagus romannya dan gerak-gerakinya, aku suka dia,‖ berkata si nyonya. ―Aku pikir hendak bicara dengan ayahmu, supaya kau diijinkan menikah dengannya. Bukankah dengan begitu selesai sudah semuanya?‖ ―Ah, mama, ada-ada saja!‖ berkata sang putra sambil tertawa. ― Kita dari keluarga apa? Cara bagaimana aku bisa menikah dengan satu nona kangouw? Ayah sering bilang padaku bahwa dia hendak mencarikan satu jodoh dari keluarga agung. Sayangnya ialah ayah bersaudara dengan raja yang sekarang…‖ ―Apakah yang dibuat sayang?‖ nyonya itu bertanya. ―Sebab,‖ menyahut sang putra, ―Kalau tidak, pasti aku kana mendapatkan putri raja dan aku bakal menjadi menantu raja!‖ Nyonya itu menghela napas, ia tak bicara lagi. ―Ma, ada satu lagi hal yang lucu,‖ Wanyen Kang berkata pula, tak ketinggalan tertawanya. ―Tua bangka she Bok itu bilang ingin bertemu sama kau, ingin dia bicara sendiri, untuk mendapat kepastian, setelah itu barulah dia mau mempercayai aku.‖ ―Tidak nanti aku bantui kau memperdayakan orang, itulah perbuatan yang tidak baik!‖ berkata pula si ibu. Wanyen Kang tertawa geli, ia jalan mondar-mandir di dalam kamar. Oey Yong dan Kwee Ceng dapat kesempatan memperhatikan kamar itu. Semua meja dan kursi terbuat dari kayu kasar. Pembaringan serta perlengkapannya mirip dengan kepunyaan kebanyakan petani di Kanglam, semua kasar dan jelek. Di tembok ada tergantung tombak serta sebuah pacul. Di pojokan ada sebuah mesin tenun. Maka, menyaksikan semua itu, mereka menjadi heran. ―Wanita ini mulia sebagai selir, mengapa ia tinggal dalam kamar dengan perlengkapan semacam ini?‖ mereka itu berpikir. Justru itu Wanyen Kang menekan ke dadanya, ke sakunya, lalu terdengar dua kali pekikan perlahan. ―Eh, apakah itu?‖ sang ibu tanya. ―Oh, hampir aku lupa!‖ sahut putranya itu, agaknya ia terperanjat. ―Tadi di tengah perjalanan pulang aku melihat seekor kelinci yang terluka, aku bawa dia pulang. Mama, coba kau tolong obati dia…‖ Ia lantas keluarkan kelinci putih itu, diletaki di atas meja. Dengan kakinya patah, binatang itu tidak dapat jalan. ―Anak yang baik!‖ berkata si nyonya. Ia lantas mencari obat, untuk mengobati kelinci itu. Lagi-lagi darahnya Kwee Ceng bergolak. Ia sungguh membenci orang punya kelicinan dan kekejaman itu, terutama untuk memperdayakan seorang ibu yang hatinya demikian mulia. Tidakkah binatang yang harus dikasihani itu sengaja disakiti? Bukankah ibu telah didustai, untuk mengobati binatang yang sengaja disiksa? Kalau terhadap ibu sendiri saja ia mendusta demikian, maka bisalah diketahui buruknya sifat anak itu. Oey Yong yang tubuhnya menempel sama tubuh si anak muda merasakan tubuh orang bergemetar. Ia menginsyafi bahwa orang ada sangat gusar. Tentu saja ia khawatir kawan ini perluap hawa amarahnya itu hingga Wanyen kang bisa pergoki mereka. Ia lantas pegang tangannya si pemuda itu, yang ia tarik untuk diajak mengundurkan diri.

―Tahukah kamu obat itu disimpan di mana?‖ Kwee Ceng tanya. Nona itu menggeleng kepala. ―Aku tidak tahu,‖ sahutnya. ―Mari kita cari…‖
Irawan D Soedradjat

Page

211

―Jangan pedulikan dia, mari kita pergi cari obat,‖ bisiknya.

Pendekar Pemanah Rajawali

Kwee Ceng bersangsi. Dimana mesti mencari obat di istana demikan besar? Bukankah berbahaya kalau mereka kepergok See Thong Thian atau lainnya? Ia tidak sempat berpikir lama-lama. Pikirannya itu berhenti secara tiba-tiba. Sebab kupingnya segera mendengar orang mengoceh seorang diri dan di depan matanya berkelebat sinar api. ―Anak yang manis, kalau kau tidak mencintai aku, kau mencintai siapa lagi? Maka, kau kasihanilah aku…‖ Sembari perdengarkan suaranya yang berlagu, terlihatlah seorang bertindak dengan perlahan-lahan. Dia mencekal sebuah tenglong. Selagi Kwee ceng hendak menyembunyikan diri di belakang sebuah pohon, Oey Yong justru maju memapak orang itu, hingga ia menjadi tercengang, lalu lantas saja ia diam bagai patung, hatinya goncang keras. Oey Yong telah ancam dia dengan sebatang pisau belati. ―Siapa kau?‖ si nona menanya, membentak tapi perlahan. Orang itu kaget dan ketakutan, selang berepa detik baru ia dapat menyahuti, suaranya tidak lancar. Ia adalah pengurus surat-surat di istana itu. ―Kau menjadi pengurus, bagus!‖ kata si nona. ―Di mana disimpannya obat-obatan yang hari ini pangeranmu yang muda menitahkan orang membeli?!‖ ―Semua itu siauw-ongya yang simpan sendiri, aku…aku tidak tahu…‖ Oey Yong cekal tangan orang dengan tangan kirinya untuk memencet, sedang ujung pisaunya ditempel kepada kulit leher. Orang itu kesakitan akan tetapi ia tidak berani berteriak. ―Kau hendak bilang atau tidak?!‖ si nona mengancam. ―Benar-benar aku tidak tahu….‖ jawab orang itu dengan gugup. Oey Yong kerahkan tenaga di tangan kirinya itu, lalu dengan menerbitkan suara membeletak, patahlah tangan kanan si pengurus itu. Ia buka mulutnya, untuk berteriak tetapi dengan cepat si nona sambar kopiah orang, untuk dipakai menyumbat mulutnya. Maka hanya sekali saja dia itu mengasih dengar suara keras tertahan, lalu ia roboh dengan pingsan. Kwee Ceng tidak menyangka satu nona demikian cantik dan halus gerak-geriknya dapat berbuat demikian telengas, ia menjadi tercengang, tak dapat ia membilang apa-apa. Oey Yong menotok dua kali kepada iganya pengurus istana itu, lantas ia sadar. Ia tarik kopiah orang, untuk dibelesaki ke kepelanya. ―Apakah kau ingin tangan kirimu pun dipatahkan?‖ ia tanya. Pengurus itu lantas saja menangis, ia menjatuhkan diri berlutut. ―Dengan sebenarnya aku tidak tahu, percuma umpama nona membunuh aku,‖ katanya. Sekarang Oey Yong mempercayainya, tetapi ia kata: ―Sekarang pergi kau kepada pengeranmu itu, bilang bahwa kau jatuh dan patah tanganmu. Kau kasih tahu bahwa tabib membilang kau perlu obat hiat-kat, gu-cit, thim-tha dan bu-yok. Obat itu semua tak dapat dibeli di kota raja ini, maka kau mintalah kepada pangeran itu.‖ Pengurus itu sudah membuktikan si nona tidak pernah main gila, ia suka menurut. ―Siauw-ongya ada pada ibunya, lekas-lekas kau pergi padanya!‖ Oey Yong bilang. ―Aku akan ikuti padamu. Jikalau kau tidak dengar aku dan sengaja kau membuka rahasia, akan aku patahkan batang lehermu, akan aku kerek matamu!‖

Irawan D Soedradjat

Page

Wanyen Kang masih ada pada ibunya, mereka masih pasang omong. Ia heran ketika ia lihat datangnya pengurus itu, yang bermandikan peluh dan air mata, dengan separuh mewek dia mohon diberi obat. Dia mengaku seperti ajarannya Oey Yong.

212

Tubuhnya orang itu bergemetar, ia merayap bangun, lalu dengan menggertak gigi, menahan sakit, ia lari ke arah kamarnya onghui, si selir.

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kasihlah dia obat!‖ berkata onghui, yang hatinya lemah. Ia lihat muka orang berpucat-pasi dan ia merasa kasihan. Wanyen Kang mengkerutkan alisnya. ―Semua obat itu ada apa Nio Losianseng,‖ katanya. ―Pergi kau mengambil sendiri!‖ ―Tolong ongya memberikan sehelai surat,‖ si pengurus meminta. Onghui itu sudah lantas sediakan perabot tulisnya. Wanyen Kang menulis beberapa kata-kata, untuk si Nio Losianseng, ialah io Cu Ong. Pengurus itu mengangguk-angguk mengucapkan terima kasihnya. ―Lekas kau pergi!‖ menitah onghui. ―Sebentar sesudah sembuh baru kau haturkan terima kasihmu!‖ Pengurus itu lantas saja bertindak keluar. Ia baru jalan beberapa tindak, atau pisau belati telah tertanda di pundaknya. ―Pergi kepada Nio Losianseng!‖ menitah Oey Yong separuh berbisik. Orang itu berjalan, baru beberapa puluh tindak, ia sudah terhuyung, rupanya tak sanggup ia menahan rasa sakitnya. ―Sebelum kau dapatkan obat itu, jangan harap jiwamu selamat!‖ si nona mengancam pula. Kaget hamba itu, ia mengeluarkan keringat dingin, entah dari mana, datanglah tenaga kekuatannya, maka dapat ia berjalan terus. Sekarang ia jalan dengan menemui beberapa hamba lainnya, mereka itu lihat ia diikuti si nona dan pemuda, mereka itu heran tetapi tidak ada di antara mereka yang menanya apa-apa. Tiba di kamarnya Nio Cu Ong, pintu kamar tertutup terkunci. Pengurus itu tanya satu hamba, ia dapat jawaban bahwa Nio Losianseng lagi menghadari perjamuannya pengeran di ruang Hoa Cui Kok. Kwee ceng lantas merasa kasihan menampak orang seperti tidak kuat jalan, ia lantas mencekal tubuh orang, untuk dipepayang. Bersama-sama mereka menuju ke tempat pesta itu. ―Berhenti! Siapa kamu!‖ Itulah teguran oleh dua orang, yang memapaki sekira beberapa tindak dari Hoa Cui Kok. Mereka itu masing-masing memegang golok dan cambuk. ―Aku hendak menemui Nio Losianseng,‖ sahut si pengurus, yang perlihatkan suratnya siauw-ongya. Dia lantas dikasih lewat. Ketika Kwee Ceng dan si nona ditanya, pengurus itu mendahului menerangkan: ―Mereka kawan kita.‖ Oey Yong berlaku tenang. Ia kenali dua orang itu, ialah dua dari keempat Hong Ho Su Koay, yaitu Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong. Mereka ini sebaliknya tidak mengenali orang, yang telah dandan sebagai asalnya, seorang nona. Hanya melihat Kwee Ceng, mereka tercengang, lantas mereka mau seraya angkat tangan mereka. Tapi sejenak itu, tidak dapat mereka menyerang dengan golok dan cambuk mereka. Tiba-tiba saja iga mereka kaku. Karena dengan kesebatannya yang luar biasa, Oey Yong sudah totok mereka. Kwee Ceng kagum vukan main. Ia berada di samping si nona tetapi ia tak sempat melihat gerakan tangan orang. Mendadak ia mengingat kejadian di rumah makan di Kalgan, tempo kawanan nona-nona serba putih hendak rampas kudanya, tahu-tahu mereka itu roboh tanpa berkutik. ―Pastilah mereka telah terkena tangan lihay dari si Yong ini,‖ pikirnya lebih jauh. ―Eh, kau pikirkan apa?‖ menegur si nona sambil tertawa menampak orang termenung. Ia lantas saja tarik Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong ke belakang pot-pot kembang, untuk disembunyikan, kemudian ia tarik tangan si pemuda, untuk menyusul si pengurus. Di depan Hoa Cui Kok, Oey Yong tolak tubuh si pengurus, untuk ia masuk, ia sendiri bersama Kwee Ceng lantas lompat naik ke payon, guna mengintai dari jendela, hinngga mereka dapat melihat jelas ke dalam. Terang sekali ruang dalam itu di mana ada sebuah meja penuh dengan pelbagai barang hidangan dan arak, tetapi yang membuat Kwee ceng terperanjat adalah kapan matanya bentrok sama hadirin yang duduk mengitari meja
Irawan D Soedradjat

Page

213

Pendekar Pemanah Rajawali

itu, sampai hatinya berdenyutan. Ia lihat dan mengenali Auwyang Kongcu dari pek To San, Kwie-bun Liongong See Thong Thian, Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay, Som Sian Lao-koay Nio Cu Ong dan Cian-ciu Jintouw Pheng Lian Houw. Menemani mereka itu, duduk di sebelah bawah adalah Chao Wang Wanyen Lieh, yaitu Liok-hong-cu atau pangeran keenam dari negara Kim. Duduk di samping, di atas kursi tay-su-ie yang besar dan tebal amparnya, adalah Tay-cu-in Leng Tie Siangjin, kedua mata siapa terbuka sedikit dan mukanya bagaikan kertas kuning, suatu tanda lukanya tak enteng. Diam-diam Kwee Ceng girang sekali, maka ia kata di dalam hatinya: ―Kau hendak mencelakai Ong Totiang, kau juga dapat merasakan enak….‖ Si pengurus bertindak masuk untuk terus berlutut di depan Nio Cu Ong, kedua tangannya mempersembahkan suratnya siauw-ongya. Nio Cu Ong menyambuti, ia baca surat itu, terus ia awasi si pembawa surat, kemudian ia angsurkan surat itu kepada Wanyen Lieh. ―Ongya, benarkah ini tulisannya siauw-ongya?‖ ia tanya. Chao Wang membaca surat itu, ia mengangguk. ―Benar,‖ katanya. ―Berikanlah dia obat itu.‖ Nio Cu Ong menoleh kepada kacung di sisinya. ―Tadi siauw-ongya ada mengirimkan empar macam rupa obat,‖ katanya. ―Kau ambilkan masing-masing itu satu tail, berikan kepada koankee ini.‖ Bocah itu menyahuti, lalu ia ajak si koankee atau pengurus itu mengundurkan diri. Kwee Ceng berbisik di kupingnya Oey Yong: ―Mari kita pergi, lekas! Semua mereka itu sangat lihay!‖ Oey Yong tertawa perlahan, ia menggeleng kepala. Oleh karena ia menggoyang kepalanya,rambutnya si nona mengenai mukanya si pemuda, hingga Kwee Ceng merasa gatal dari muka terus ke hatinya. Pemuda ini tidak hendak berbantahan, ia hanya lantas geraki tubuhnya untuk melompat turun. ia baru bergerak, atau si nona telah sambar tangannya, untuk ditahan. Untuk itu, nona itu mesti menyantel keras kedua kakinya pada payon, habis mana perlahan-lahan ia kasih turun tubuh si pemuda. Kwee Ceng terkejut, di dalam hatinya ia kata, ―Ah, aku semberono sekali. Tidakkah ini berbahaya? Bukankah orang-orang di dalam itu lihay semua? Jikalau aku berlompat mundur, bagaimana mereka tidak dapat memergokinya?‖ ia insyaf, dasar baru masuk dalam dunia kangouw, ia jadi kurang berpengalaman. Dengan lantas ia ikuti si pengurus dan kacung itu. Satu kali ia menoleh ke belakang, ia dapatkan Oey Yong masih belum turun, dengan masih bergelantungan nona itu mengawasi ke dalam ruangan. Oey Yong tidak segera berangkat. Untuk mencari tahu orang di dalam ketahui tentang dirinya atau tidak, ia mengintai terus. Ia lakukan itu setelah itu setelah ia lihat Kwee Ceng sudah pergi belasan tembok jauhnya. Katika ia mengawasi ke dalam, sinar matanya bentrok sama sinar mata tajam dari Pheng Lian Houw, ynag kebetulan berpaling. Ia tidak berani mengawasi terus, ia hanya memasang kuping. Seorang yang suaranya serak, berkata; ―Saudara-saudara, bagaimana pandangan kamu mengenai Ong Cie It? Adakah ia datang dengan maksud sengaja atau itu cuma kebetulan saja?‖ ―Peduli ia datang dengan sengaja atau bukan!‖ berkata seseorang, yang suaranya nyaring dan keras sekali. ―Dia telah merasai tangannya Leng Tie Siangjin, jikalau ia tidak mampus, sedikitnya ia mesti bercacad seumur hidupnya!‖ Oey Yong lantas mengawasi pula. Ia dapatkan orang itu adalaha Pheng Lian Houw yang matanya tajam, yang tubuhnya kate dan kecil. Seorang, yang suaranya tedas sekali, berkata smabil tertawa; ―Selama aku berada di wilayah Barat, aku pernah dengar namanya Coan Cin Cit Cu yang kesohor itu, sekarang terbukti mereka benar-benar lihay, coba Leng Tie Siangjin tidak menghadiahkan dia pukulan Tay-ciu-in, pastilah hari ini kita roboh di tangan mereka itu.‖ Seorang yang suaranya keras tetapi dalam berkata; ―Auwyang Kongcu, janganlah kau menempeli emas di mukamu….. Kita berdua pihak sama-sama nampak kerugian, siapa juga tidak ada yang menang…‖

Irawan D Soedradjat

Page

Sampai di situ, tuan rumah mempersilahkan tetamunya mengeringi arak mereka.

214

Orang yang dipanggil Auwyang Kongcu itu berkata pula: ―Biar bagaimana, kalau ia tidak kehilangan jiwanya, dia bakal bercacad. Siangjin cuma perlu beristirahat sekian waktu.‖

Pendekar Pemanah Rajawali

Habsi itu terdengar seorang berkata: ―Tuan-tuan telah memerlukan datang dari tempat ynag jauh, atas itu siauwong sangat berterima kasih. Sungguh inilah keberuntungan dari Negara Kim yang tuan-tuan telah dapat diundang!‖ ―Dia tentulah Chao Wang Wanyen Lieh,‖ pikir Oey Yong. Atas kata-kata itu, beberapa orang perdengarkan suara yang merendah. Setelah itu, terdengar pula suaranya Chao Wang: ―Leng Tie Siangjin adalah paderi suci mulia dari Tibet, Nio Losianseng adalah guru silat kenamaan Kwan-gwa, Auwyang Kongcu biasa hidup berbahagia di wilayah Barat dan belum pernah datang ke Tionggoan. Pheng Ceecu jago dari Tionggoan dan See Pangcu jago dari sungai Hong Hoo. Dari lima tuan-tuan, satu saja sudi datang membantu, pasti uasaha besar dari Negara Kim bakal berhasil, apapula sekarang lima-limanya telah datang semua. Hahahaha!‖ Agaknya bukan main gembiranya pangeran itu. ―Jikalau ongya ada titah apa-apa, pasti kami akan lakukan itu dengan sepenuh tenaga kami,‖ berkata Nio Cu Ong sambil tertawa. ―Apa yang dikhawatirkan adalah tenagaku tidak cukup nanti dan mensia-siakan kepercayaan ongya yang dilimpahkan kepada kami. Jikalau itu sampai terjadi, pastilah kami akan kehilangan muka kami.‖ Ia pun lantas tertawa. Kelima orang itu adalah bangsa jago dari beberapa puluh tahun, maka itu meskipun mereka bicara secara merendah, masih tetap tak hilang sifat jumawanya. Chao Wang mengangkat pula cawannya, mempersilahkan mereka itu minum. Terus ia kata: ―Siauw-ong telah mengundang tuan-tuan, pasti sekali siauw-ong akan menaruh kepercayaan kepada tuan-tuan, urusan bagaimana besar juga, tidak nanti siauw-ong sembunyikan, dilain pihak, apabila tuan-tuan telah ketahui segala apa, aku percaya tidak nanti tuan-tuan beritahukan itu kepada lain orang siapa juga, untuk mencegah pihak yang bersangkutan nanti mendapat ketahui dan dapat bersiap sedia….‖ Semua orang itu mengerti maksudnya pangeran ini, yang mempercayai mereka tetapi secara tidak langsung masih memesan untuk mereka menyimpan rahasia itu. ―Baik Ongya tetapkan hati, tidak nanti kami membikin rahasia bocor,‖ kata mereka. Dengan sendirinya mereka itu tegang hatinya. Mereka percaya, Chao Wang bakal percayakan mereka satu rahasia besar. ―Di tahun Thian-hwee ketika dari Sri Baginda Thay Cong kami dari Negara Kim,‖ berkata pula Chao Wang kemudian, ―Itulah tahun Soan-hoo ketujuh dari Kaisar Hiw Cong dari Keluarga Tio. Ketika itu dua Panglima besar kami ienmeho dan Kanlipu telah pimpin angkatan perangnya menerjang kerajaan Song, mereka berhasil menawan kedua Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong dari kerajaan musuh itu. Sejaka jaman dahulu, belum pernah negeri kami sekuat itu, walaupun demikian, sampai sekarang ini, Keluarga Tio itu yang tetap duduk sebagai raja di Hangciu. Tahukah tuan-tuan sebab dari pada itu?‖ Semua orang terdiam. Mereka heran raja muda itu membicarakan urusan negera. Cuma Nio Cu Ong yang lantas memohon penjelasan. ―Duni telah ketahui yang kerajaan kami telah berulang-ulang kalah di tangan Gak Hui, tentang ini tak usah disembunyikan lagi,‖ berkata pula Chao Wang. ―Wunchu, panglima kami, pandai mengatur tentara, akan tetapi menghadapi Gak Hui, dia selamanya kena dipecundangi. Benar kemudian Gak Hui dapat dibinasakan Cin Kwee yang dititahkan pemerintah kami, akan tetapi tenaga kami sudah lemah, kami tidak sanggup lagi berperang ke Selatan. Atas ini, aku tidak puas, tanpa mengukur tenaga sendiri, ingin aku mendirikan suatu jasa besar untuk negeraku. Untuk ini, tidak dapat tidak, aku mebutuhkan bantuan tuan-tuan.‖ Orang saling memandang, bagi mereka belum jelas maskudnya raja muda ini. Mereka bukan orang peperangan tukang merobohkan atau merampas kota. Chao Wang tampaknya sangat puas den bernafsu ketika ia berbicara pula, suaranya sedikit menggetar. Katanya: ―Baru beberapa bulan yang lalu, diluar dugaanku, aku telah dapat menemui sebuah surat peninggalan pemerintahku yang dulu. Itulah suratnya Gak Hui yang bunyinya luar biasa. Selang beberapa bulan, barulah aku dapat terka maksudnya surat itu. Gak Hui menulis itu ketika ia dipenjarakan. Rupanya ia mengerti bahwa ia tidak bakal hidup lebih lama lagi, tetapi ia sangat mencintai negaranya, maka ia tinggalkan warisannya itu. Itulah surat yang merupakan rahasia ilmu perang, bagaimana harus mendidik tentara dan berperang. Ia mengharapkan warisannya itu terjatuh di dalam tangan seorang yang nanti bisa pakai itu untuk melawan negara
Irawan D Soedradjat

Page

215

Pendekar Pemanah Rajawali

Kim. Tapi Cin Kwee menjaga keras sekali, sampai hari matinya Gak Hui, surat itu tidak dapat diberiakan kepada orang luar. Para hadiran sangat tertarik hatinya, sampai mereka melupakan arak dan barang hidangan mereka. Oey Yong pun ketarik hatinya. ―Gak Hui dapat mengetahui warisan itu tidak dapat diloloskan, ia terus simpan itu ditubuhnya,‖ Chao Wang melanjuti. ―Sebagai gantinya, ia meninggalkan sepucuk surat warisan, yang bunyinya tidak keruan junterungannya. Cin Kwee mempunyai kepandaian sebagai conggoan, ia masih tidak dapat menangkap artinya surat wasiat itu, maka surat itu ia dikirim ke negriku. Selama beberapa puluh tahun, surat itu disimpan di dalam istana. Dipihak kami juga tidak ada yang bisa mengartikan surat itu, orang hanya menduga, saking berduka dan penasaran, disaat-saat kematiannya, Gak Hui menulis ngaco belo. Tidak tahunya, itu adalah sebuah teka-teki istimewa.‖ Orang heran tetepi sekarang mereka memuji kecerdikan Chao Wang itu. ―Gak Hui begitu pandai, kalau kita bisa dapatkan surat warisan ilmu perangnya itu, bukankah gampang untuk negaraku mempersatukan benua ini?‖ berkata Chao Wang. Mendengar itu barulah semua orang dapat menerka maksudnya pangeran ini. Mereka pada berkata dalam hati masing-masing. ―Kiranya Chao Wang mengundang kita untuk minta kita menjadi pembongkar kuburan…‖ ―Turut dugaanku semula, surat wasiat itu mestinya dibawa Gak Hui ke dalam liang kubur,‖ Chao Wang berkata pula. Ia berdiam sebentar, agaknya ia berpaling. ―Tapi….Tuan-tuan adalah orang-orang yang gagah, mustahillah aku nanti meminta tuan-tuan pergi mencuri dengan membongkar kuburan? Di samping itu, ada satu keberatan lainnya. Gak Hui itu memang musuh negaraku, tetapi ia adalah satu orang gagah dan setia, satu pencinta negara, yang siapa pun menghormatinya, dari itu, cara bagaimana aku berani mengganggu tempat perkuburannya? Karena ini, aku sudah lantas memikirkannya terlebih jauh. Aku pun telah membongkar surat-suratnya kerajaan Song, yang telah dikirim semenjak dulu-dulu. Diakhirnya, aku telah berhasil memperoleh suatu sumber lain. Ketika itu hari Gak Hui menjalankan hukuman mati di paseban Hong Po Teng, dia dikubur di tepinya jembatan Ciong An Kio di dekat paseban itu, baru kemudian kaisar Song Hauw Cong memindahkan kuburannya ke tepi telaga See Ouw, dimana pun didirikan sebuah rumah abu untuknya. Dilain pihak lagi, pakaian dan kopiahnya Gak Hui disimpan di tempat lain, ialah di kota raja Lim-an. Karena itu tidak gampang untuk mencari surat wasiat itu. Pada ini ada satu rahasia yang tidak boleh didengar lain orang, atau orang nanti mendahului kita mengambilnya. Harus diketahui di wilayah Selatan ada banyak sekali orang-orang gagah. Maka itu, setelah memikir lama, tidak ada jalan bagiku kecuali mengundang tuan-tuan, yang terhitung orang-orang Rimba Persilatan kelas satu.‖ Mendengar ini, para hadiran itu pada mengangguk. ―Pernah aku menduga, mungkin surat wasiat itu telah diambil lain orang,‖ Wanyen Lieh berkata lebih jauh. ―Bukankah pakaiannya Gak Hui itu telah dipindahkan? Ada kemungkinan, selama perpindahan itu, suratnya telah diambil orang. Hanya kalau surat itu sampai ada yang ambil, orang itu mesti mengerti kepentingannya itu. Siapa yang menghormati Gak Hui, dia tentu tidak berani menggangu pakaiannya. Aku percaya, belum ada lain orang yang mengetahuinya. Kalau kita sudah sampai di sana, aku percaya, kita bakal dapatkan surat itu. Memang, kalau dikata sukar, sukarnya bukan main, akan tetapi di mata orang lihay, gampangnya bukan buatan. Sebenarnya surat wasiat itu disimpan di…..‖ Baru Chao Wang mengucapkan sampai di situ, tiba-tiba pintu ruang ada yang tabrak hingga terbuka terpentang, lalu satu orang terlihat menebros masuk, matanya bengkat dan mukanya matang biru. Dia lantas lari ke Nio Cu Ong. ―Suhu…!‖ dia berseru, lantas suaranya tertahan. Segera orang kenali, dia adalah si kacung yang tadi Nio Cu Ong titahkan pergi mengambil obat……

Bab 20. Tombak Besi Dan Pakaian Lama

Irawan D Soedradjat

Page

216

Pendekar Pemanah Rajawali

Kwee Ceng telah terus ikut si pengurus bersama si kacung pergi untuk mengambil obat. Jalanan ada berlikuliku. Selama itu ia masih terus mengancam si pengurus, yang khawatir nanti jatuh atau main gila. Akhirnya mereka tiba di tempatnya Nio Cu Ong. Kacung itu membuka pintu, ia masuk ke dalam dan menyulut lilin. Begitu ia berada di dalam kamar, Kwee Ceng lihat obat-obatan memenuhi meja, pembaringan dan lantai. Di situ pun ada banyak botol dan guci, besar dan kecil. Rupanya Nio Cu Ong gemar sekali membuat obat-obatan. Kacung itu rupanya mengerti obat-obatan, ia sudah lantas mengambil kertas, untuk menjumput empat rupa obat yang dibungkus masing-masing. Obat-obatan mana terus ia serahkan pada si koanke. Tapi Kwee Ceng yang, yang tak tahan sabar, sudah lantas mengulur tangannya, akan sambut obat-obatan itu, terus tanpa pedulikan si koanke, ia bertindak untuk pergi lebih dulu. Si koankee itu cerdik, walaupun ia telah terluka, pikirannya berekrja. ia sengaja jalan perlahan. Ia tunggu sampai Kwee Ceng dan si kacung sudah keluar dari kamar, dengan sebat ia tiup padam api lilin, segera ia sambar daun pintu, untuk digabruki dan dikunci, menyusul mana ia berteriak-teriak: ―Ada penjahat! Ada penjahat!― Kwee Ceng terkejut, ia memutar tubuh, ia mencoba membuka pintu tetapi sia-sia belaka, ia sudah ketinggalan. Ia gusar dan terburu nafsunya, selagi begitu si kacung sambar bungkusan obat di tangannya, bungkusan mana terus dilemparkan ke empang di dekat mereka. Kacung itu adalah muridnya Nio Cu Ong, dia masih kecil tetapi cerdik, mendegar teriakannya si koanke, dia menjadi kaget dan heran, kemudian dia menjadi curiga, maka ia rampas obat itu dan dibuang. Dalam gusarnya, kwee Ceng kerahkan tenaganya menghajar pula pintu kamar. Kali ini daun pintu dapat digempur terbuka. Dalam sengitnya, ia serang si koanke yang segera roboh tanpa dapat membuka suara. Tempo Kwee Kwee Ceng menoleh, si kacung sudah lari. Dalam murkanya, ia berlompat untuk mengejar, segera ia berada di balakang kacung itu, pundak siapa ia jambret. Kacung itu dapat dengar suara menyambar, ia berkelit sambil mendak, lalu seraya memutar tubuh, ia membalas menyerang denagn sapuan kakinya. Kwee Ceng jadi tambah penasaran, setelah berkelit, ia menyerang dengan hebat. Dua kali kacung itu kena dihajar mukanya, cuma sebab ia masih keburu membuang mukanya, dia tak sampai roboh. Adalah kemudian, setelah kepalanya ke disampok, dia roboh dengan pingsan. Dengan satu dupakan, Kwee Ceng bikin tubuh si kacung terlempar ke tempat tumbuh rumput didekatnya, habis itu ia lari ke dalam kamar. Ia lantas menyalakan api. Terlihat si koanke masih rebah tanpa berkutik. Ia mengawasi obat, ia menjadi bingung. tadi ketika si kacung mengambil obat, dia tidak perhatikan darimana orang mengambilnya. Pun nama obat yang tertempel di peles obat tidak dapat ia baca, sebab itu ditulis dalam hurufhuruf Nuchen. Tapi ia mesti bekerja cepat, tidak bisa ia memikir lama-lama. ―Tadi kacung ini berdiri di dekat sini, baik aku ambil semua obat ini, sebentar Ong Totiang yang pilih sendiri,‖ pikirnya kemudian. Maka ia lantas ambil kertas, ia membungkus setiap obat. Karena ia bekerja cepat, tanpa sengaja Kwee Ceng kena langgar sebuah keranjang di sampingnya. Ketika itu jatuh ke lantai, tutupnya terbuka. Untuk kagetnya, ia lihat isi keranjang adalah sebuah ular besar yang tubuhnya merah mulus. Malah ular itu segera menyambar! Kwee Ceng kaget, syukur ia masih sempat berlompat. Sekarang ia dapat melihat dengan tegas, tubuh ular ada sebesar cangkir, separuh tubuhnya masih ada di dalam keranjang, jadi belum ketahuan berapa panjangnya tubuh ular itu. Yang aneh adalah itu warna merah mulus. Lidah ular, yang diulur keluar, bercabang dua, lidah itu bergerak-gerak tak hentinya. Selagi mundur, Kwee Ceng membentur meja, lilin di atas meja roboh dan padam, maka ruangannya segera menjadi gelap-gulita. Tapi obat telah didapat, ia lantas lari ke pintu untuk mengangkat kaki. Tiba-tiba ia merasakan kakinya disambar dan dipeluk, atau itu mirip dengan libatan dadung/tali, saking kaget, ia melompat untuk meloloskan diri. Tapi ia dapat berhasil. Sebaliknya ia lantas merasakan barang adem mengenakan lengannya.Kembali ia menjadi kaget. Ia tahu sekarang bahwa ia telah dililit ular. Tapi ia tak hilang akal, dengan tangan kirinya hendak ia cabut golok emas hadiah Jenghiz Khan. Disaat itu, ia merasakan bau obat tercampur bau amis menyambar hidungnya, lalu mukanya terasa dingin. Itulah ular yang telah menjilati mukanya! Lagi sekali ia kaget tak terkira! Tak sempat ia menghunus goloknya, dengan tangan kirinya ia sambar leher ular untuk dipencet.

Irawan D Soedradjat

Page

217

Pendekar Pemanah Rajawali

Ular itu agaknya kaget, dia bertenaga besar, sebelum lehernya tercekik, ia pentang mulutnya, untuk mencoba mengigit muka Kwee Ceng. Dilain pihak, ia melibat dengan mengerahkan tenaganya, hingga Kwee Ceng lantas merasai tubuhnya terlilit keras, sampai napasnya mulai sesak bahkan tenaga tangan kirinya mulai berkurang. Baunya ular itu sangat mengganggu pernapasan si anak muda, hingga ia menjadi mual, hendak ia muntah. Adalah sejenak kemudian, ia kehabisan tenaga, ia seperti hendak pingsan, cekikan tangan kirinya terlepas sendirinya….. Adalah disaat itu dilain pihak si kacung telah sadar dari pingsannya. Dia mendapatkan kamar gelap sekali. Dia tahu, orang jahat itu tentu telah kabur. Maka tidak ayal lagi, ia lari keluar dari kamar, dia kabur kepada gurunya itu. Oey Yong terkejut akan dengar keterangan si kacung, denagn gerakan ―Burung meliwis turun di pasir datar‖, dengan enteng sekali, ia lompat turun. ia menaruh kaki tanpa menerbitkan suara. Meski begitu, tak urung ia telah keperogok. Inilah sebabnya, segera setelah keterangan si kacung, semua orang menjadi curiga. Mereka memang semuanya orang-orang lihay. Sejenak saja tubuh io Cu Ong sudah mencelat keluar, bahkan segera ia menghadang di depan si nona. Dia lantas menegur; ―Siapa kau?‖ Oey Yong menginsyafi bahaya. Ia tahu orang lihay. Disamping dia ini, masih ada yang lainnya. Maka ia hendak menggunakan akal. Untuk ini ia cerdik sekali. Tiba-tiba saja ia tertawa dengan manis. ―Bunga bwee ini indah sekali, maukah kau memetiknya setangkai untuk aku?‖ ia berkata kepada orang she Nio itu, jago dari Kwan-gwa. Nio Cu Ong tercengang. Tidak ia sangka bakal menghadapi satu nona, malah satu nona yang begitu cantik manis, yang suaranya halus dan merdu. Tanpa merasa ia mengulurkan tangannya, akan memetik setangkai bunga, yang untuk terus diangsukan kepada si nona. Oey Yong menyambuti. ―Loya-cu, terim kasih!‖ katanya, kembali tertawa dengan suaranya yang halus merdu itu. Di ambang pintu berkumpul semua orang lainnya, merek aitu berdiri mengawasi kedua orang itu. Ketika Oey Yong lantas memutar tubuhnya, untuk berlalu. ―Ongya,‖ Pheng Lian Houw menanya, ―Adakah nona ini, nona dari istana ini?‖ ―Bukan,‖ menjawab Wanyen Lieh sambil menggelengkan kepala. Hanya dengan menjejak dengan kakinya yang kiri, Lian ouw sudah mencelat ke depan si nona. ―Tunggu nona!‖ katanya, ―Aku pun akan memetik setangkai bunga untukmu…!‖ Terus ia ulur tangannya yang kanan, hendak menangkap lengan orang, tetap sebat luar biasa, ia ubah tujuan, untuk meraba buah dada si nona. Oey Yong kaget bukan main. Ia sebenarnya hendak berpura-pura tidak mengerti ilmu silat. ia gagal. Lian Houw, sebagai jago di antara berandal di Hoopak, adalah sangat tajam matanya dan cerdik. Tidak bisa lain, ia geraki tangan kanannya, jari tangannya menyambuti tangan jago itu. Lian Houw terperanjat waktu ia merasakan getaran di jalan darahnya koik-tie-hiat, lekas-lekas ia menarik pulang tangannya itu, dengan begitu dia dapat lolos dari bahaya. Dia menjadi heran, nona demikian muda tetapi demikian lihay, dia pun tak kenal ilmu silat si nona itu. Tentu saja ia tidak ketahui kepandaian yang Oey Yong dapatkan sebagai warisan, namanya Totokan Bunga Anggrek. Yang lain-lain pun terkejut dan heran. ―Nona, kau she apa?‖ Lian Houw lantas menanya, ―Siapakah gurumu?‖ ―Bukankah bunga bwee ini permai sekali?‖ tanya Oey Yong sambil tertawa. Ia terus berlagak pilon, ia tidak menunjukki kagetnya tadi. ―Bukankah kau menghendaki aku menancapnya di dalam pot?‖ Sikap ini kembali membuatnya orang heran dan menjadi menduga-duga. ―Kau dengar apa tidak, apa yang kami tanya?‖ Lian Houw menegur. Ia tidak sabaran, dia lantas menunjuki kesembronoannya dengan campur bicara.
Irawan D Soedradjat

Page

218

Pendekar Pemanah Rajawali

―Apakah itu yang kau bicarakan?‖ balik tanya Oey Yong, tertawa. Justru itu, Pheng Lian Houw dapat mengenali si nona ini adalah si nona yang diwaktu siangnya sudah mempermainkan Hauw Thong Hay, cuma waktu itu orang menyamar menjadi satu bocah dekil. ―Lao Houw, apakah kau tidak kenal nona ini?‖ ia tanya sahabatnya. Ia tertawa. Thong hay tercengang. Lantas ia awasi si nona, dari atas sampai bawah dan sebaliknya. Cepat sekali, ia mengenalinya. Mendadak saja hawa amarahnya meluap. ―Ha, anak busuk!‖ dia mendamprat. Dia pun terus pentang kedua tangannya untuk menubruk. Dengan berkelit ke samping, Oey Yong bebaskan dirinya. Tapi di sini ia dipapaki See Thong Thian, yang tubuhnya tahu-tahu berkelebat dan tangannya menyambar ke lengan. ―Kau hendak lari ke mana?‖ menegur Kwie-bun Liong Ong. Oey Yong terkejut. Ia tidak menyangka lengannya bisa disambar secara demikian. Tapi ia tidak gugup, ia pun tidak kekurangan akal. Dengan dua jari dari tangan kirinya ia menotok kepada kedua matanya si orang she See itu. Hebat See Thong Thian itu, hampir tak nampak bagaimana ia geraki tangannya, juga tangan kiri si nona sudah lantas kena dia cekal. ―Tidak tahu malu!‖ mendamprat Oey Yong, yang kaget sekali. ―Tidak tahu malu apa?!‖ balik tanya See Thong Thian. ―Tua bangka menghina anak kecil! Laki-laki menghina anak perempuan!‖ Oey Yong menyahuti. See Thong Thian terperanjat. Dia memang seorang tua dan kenamaan juga. Memang, dengan perbuatannya ini, terang dia telah menghina anak kecil, seorang anak perempuan….. ―Masuk ke dalam!‖ katanya seraya kendorkan cekalannya. Oey Yong tahu tidak dapat ia menolak, ia lantas turut masuk. ―Nanti aku bikin dia bercacad dulu baru kita bicara!‖ kata Hauw Thong Hay, yang ada sangat mendongkol. Dia terus maju, untuk menanyakan kata-katanya itu. ―Tanyakan dulu, siapa gurunya dan siapa yang menitah ia itu datang ke mari!‖ berkata Pheng Lian Houw. Hauw Thong Hay tidak pedulikan jago dari Hoopak itu, sebelah tangannya sudah lantas melayang. Oey Yong berkelit. ―Benar-benarkah kau hendak menurunkan tangan?‖ ia menanya. ―Aku hendak cegah kau melarikan diri!‖ jawab Thong Hay. Dia paling takut si nona minggat, karena terang sudah, dia bakalan tidak dapat mengejar…. ―Jikalau kau benar hendak adu kepandaian denagn aku, baiklah!‖ kata Oey Yong yang sikapnya sabar tapi rada mengejek. Ia terus mengisikan enam buah cawan arak di atas meja. Cawan yang satu ia letaki di batok kepalanya dan dua yang lain ia cekal di antara kedua tangannya. Lantas ia menantang: ―Beranikah kau mencontoh aku ini?‖ ―Setan alas!‖ berseru orang she See itu, jago tunggal dari sungai Hong Hoo. Oey Yong tidak mengambil mumat, ia memandang kepada orang banyak. Ia kata, ―Aku tidak bermusuhan dengan tuan ini, bagaimana jadinya apabila aku keliru menggeraki tangan dan kena melukakan dia?‖

Irawan D Soedradjat

Page

Kembali Oey Yong tidak mengambil mumat. Ia kata pula, ―Dengan cara begini hendak aku mengadu kepandaian dengannya! Siapa yang araknya tumpah lebih dahulu, dialah yang kalah? Akurkah kau?‖

219

Thong Hay maju setindak, kedua matanya terbuka lebar. ―Kau dapat melukakan aku? Kau?‖ katanya sengit.

Pendekar Pemanah Rajawali

Nona ini menggunai kecerdikannya. Ia tahu bahwa ia tidak bakal meloloskan diri dari orang-orang lihay ini. Sekalipun terhadap Hauw Thong Hay, ia menang cuma sebab ia andalkan kegesitan dan kelincahannya. Ia percaya, dengan bergurau secara demikian, ia bakal dapat lolos. ―Siapa kesudian main-main denganmu!‖ Thong Hay membentak. Kembali ia menyerang sambarannya bagaikan angin. ―Bagus!‖ Oey Yong tertawa, seraya ia berkelit. ―Pada tubuhku ada tiga buah cawan, kau snediri boleh bertangan kosong! Nah mari kita adu kepandaian!‖ Bukan alang kepalang gusarnya Thong Hay. Dia berusia jauh terlebih tua, meski ia tidak sangat kesohor seperti See Thong Thian, kakak seperguruannya itu, ia toh ternama juga. Sekarang dia dipermainkan secara begini! Tanpa berpikir sejenak juga, ia jumput sebuah cawan arak, untuk diletaki di batok kepalanya, habis mana ia sambar dua yang lain, masing-masing dengan sebelah tangan. Kemudian, dengan sama cepatnya, ia tekuk sedikit kaki kirinya, untuk menyusul melayangkan kaki kanannya mendupak nona itu! ―Bagus! Nah ini barulah namanya enghiong sejati!‖ Oey Yong berseru sambil tertawa, seraya ia berkelit. Belum sempat ia melanjuti perkataannya atau dia sudah ditendang pula, kali ini berulang-ulang. Karena dengan kedua tangan mencekal cangkir dan kepala ditaruhkan cangkir juga, Thong Hay tidak dapat berbuat lain dari menggunai kedua kakinya. Oey Yong akhirnya repot akan tetapi ia selalu dapat lompat berkelit atau mengegos tubuhnya, menyingkir dari tendangan. Untuk ini, ia mesti seperti memutari ruangan itu. Nio Cu Ong memasang mata kepada gerakan kakinya si nona cilik. Itulah gerakan bagaikan ―Mega berjalan atau air mengalir‖. Tubuh tetap tegak, tidak bergerak sedikit juga, dan kedua kaki seperti ketutupan kun tetapi bergeraknya cepat. Dipihak sana, tindakannya Hauw Thong Hay cepat dan lebar. Si nona berkelit bukan cuma main berkelit saja, ia saban-saban mencoba dengan sikutnya akan membentur lengan lawannya, supaya benturannya dapat membuat arak tumpah atau ngeplok. ―Bocah ini begini lihay, sebenarnya sulit untuk melatih diri hingga begini rupa…‖ berpikir jago tua ini. ―Hanya, lama-lama dia toh bakal menjadi bukan tandingannya Lao Hauw…‖ Disaat itu, tiba-tiba Cu Ong ingin obat-obatannya, maka lenyaplah keinginannya menyaksikan pertempuran, ingin ia lari ke pintu, untuk terus ke kamarnya, guna cari si pencuri obat. Tentu saja ia tidak sempat memikir bagaimana halnya dengan si pencuri obat sensiri…… Kwee Ceng belum sampai pingsan tatkala ia merasakan bau ular menjadi semakin hebat. Ia insyaf bahayanya apabila binatang berbisa itu sampai dapat memagut padanya. Maka ia lantas tempel mukanya di tubuh ular itu. Oleh karena ia tidak dapat menggeraki tubuhnya, atau kaki tangannya, sekarang tinggal mulutnya yang masih merdeka. Mendadak saja ia ingat suatu apa. Lantas ia kuatkan hatinya, agar tidak sampai roboh pingsan, terus ia gigit leher ular itu. Binatang itu kaget dan kesakitan, dia bergerak, hingga lilitan kepada anak muda itu menjadi semakin keras. Tanpa pedulikan apa juga, Kwee Ceng menggigit terus, lalu terus menghisap, menyedot darah binatang itu. Ia tidak ambil mumat lagi binatang itu berbisa. Ia juga tidak gubris pula bau darah yang sangat tidak enak. Ia melainkan ketahui, kalau darahnya berkurang, maka tenaga binatang itu juga akan berkurang pula dan dengan begitu, lilitannya akan menjadi kendor. Itu pun artinya ia bakal terlolos dari bahaya maut. Maka ia menghisap terus-terusan, hingga tanpa merasa, perutnya mulai kembung. Dugaannya bocah ini tepat. Setelah darahnya terkuras banyak, tenaganya binatang itu segera menjadi berkurang, lilitannya segera menjadi kendor, atau sesaat kemudian, ia lepaskan lilitannya itu, tubuhnya pun jatuh sendirinya. Sebab itu waktu, dia kehabisan tenaga, napasnya lantas berhenti berjalan! Kwee Ceng terjatuh duduk. Tapi dia masih sadar, lekas-lekas ia empos semangatnya, untuk menjalankan napasnya dengan beraturan. Dengan dapat bersemadhi lekas ia dapat pulang tenaganyanya. Hanya aneh sekarang ia merasakan darahnya bergerak keseluruh tubuhnya. Ia mengerti itulah darahnya si ular yang lagi bekerja. Ia terus bersemadhi sampai ia merasa sangat lega hati dan tubuh. Segera setelah merasa segar betul, ia gunai tenaganya untuk mencelat bangun. Yang pertama diingat bocah ini adalah obat-obatan di dalam sakunya. Ia lantas meraba. Ia menjadi girang sekali. Obat-obatan itu masih ada. Karena ini, ia segera teringat pula kepada Bok Ek.
Irawan D Soedradjat

Page

220

Pendekar Pemanah Rajawali

―Dia dan anak gadisnya dikurung Wanyen Kang, aku telah ketahui halnya itu, bagaimana dapat aku tidak menolongi mereka?‖ demikian ia berpikir. Ia lantas bekerja. Ia tindak ke pintu, dari situ, setelah melihat ke sekitarnya, ia jalan dengan cepat ke arah kurungannya Bok Ek dan gadisnya. Selagi ia mendekati kurungan, ia mendapati penjagaan kuat di situ. Tapi ia mesti bisa masuk ke dalam. Ia memutar ke belakang. Di situ ia tunggu lewatnya serdadu ronda, lalu cepat sekali ia lompat turun ke sebelah dalam. Ia hampirkan kurungan. Sembari memasang kuping, ia melihat ke sekeliling. Tidak ada serdadu jaga di situ. ―Bok Cianpwee, aku datang untuk menolongi,‖ ia lantas berkata dengan perlahan. ―Kau siapa, tuan?‖ ada jawabannya Bok Ek yang menanya. Kwee Ceng perkenalkan dirinya. Bok Ek pernah dengar lapat-lapat namanya Kwee Ceng itu, karena berisik dan ia pun terluka, ia tidak sempat memikirkannya, sekarang di tengah malam, ia mendengarnya dengan nyata. ―Kau…kau she Kwee?‖ tanyanya, menegaskan. Agaknya ia terperanjat. ―Benar,‖ sahut si bocha hormat, ―Aku yang muda adalah orang yang tadi siang melawan si pangeran muda.‖ ―Siapakah ayahmu?‖ Bok Ek tanya pula. ―Ayahku almarhum bernama Siauw Thian,‖ Kwee Ceng menyahut pula. Dengan tiba-tiba saja air matanya Bok Ek mengembang dan berlinang-linang, lalu ia angkat kepalanya, dongak, seraya mengeluh: ―Oh, Thian….Thian….‖ ia pun ulur keluar tangannya dari dalam jeruji, untuk mencekal tangannya si anak muda dengan erat. Kwee Ceng merasakan tangan orang itu bergemetar dan air mata orang itu pun menetes jatuh ke belakang telapakan tangannya itu. Ia kata dalam hati kecilnya: ―Rupanya dia ketahui ada orang bakal menolong dia, dia menjadi girang luar biasa.‖ Maka ia kata dengan perlahan sekali: ―Aku punya golok yang tajam, dengan itu kunci dapat dirusak untuk Cianpwee bisa keluar dari kerangkeng ini…‖ ―Ibumu she Lie, bukankah?‖ Bok Ek menanya pula, ia seperti tidak pedulikan perkataan orang. ―Apakah ibumu itu masih ada atau ia telah menutup mata?‖ Kwee Ceng heran sehingga ia balik menanya: ―Ah, kenapa Cianpwee ketahui ibuku she Lie? Ibu masih ada di Mongolia.‖ Hatinya Bok Ek goncang keras, ia cekal tangan Kwee Ceng semakin keras, ia tidak hendak melepaskannya. ―Tolong, lepaskan cekalanmu, nanti aku bacok kunci ini,‖ Kwee Ceng bilang. Bok Ek tetap memegangi erat-eart. Ia seperti mendapati sesuatu yang berharga dan tak ingin itu lenyap pula. ―Ah, kau telah menjadi begini besar…‖ katanya menghela napas. ―Ah, dengan memeramkan mata sekejapan saja, lantas aku dapat membayangkan wajah ayahmu yang telah almarhum itu…‖ Kwee Ceng menjadi semakin heran. ―Cianpwee kenal ayahku itu?‖ tanyanya. ―Ayahmu adalah kakak angkatku,‖ Bok Ek beritahu. ―Kita telah mengangkat saudara hingga perhubungan kita erat bagaikan saudara kandung….‖ Orang tua ini tidak dapat melanjuti kata-katanya, ia menangis sesegukan. Tanpa merasa, air matanya Kwee Ceng pun berlinang. Ia tidak tahu Bok Ek ini adalah Yo Tiat Sim, yang dulu hari itu, diwaktu bertempur bersama tentera negeri, sudah terluka tusukan tombak pada punggungnya, karena lukanya parah, ia roboh pingsan. Syukur untuknya, disebabkan malam dan gelap, dia tidak kena tertawan. Adalah besok paginya ia sadar sendirinya, dengan merayap dia pergi ke rumah seorang petani di dekat tempat kejadian. Satu tahun lebih ia merawat dirinya, baru dia sembuh. Setelah itu ia merantau mencari Lie Peng, istrinya Kwee Siauw Thian, serta Pauw See Yok, istrinya sendiri. Tentu saja ia tidak berhasil. Karena yang satu berada jauh sekali di gurun pasir, yang lain berada di Utara. Dia tidak pakai terus she dan namanya – Yo Tiat Sim – dia hanya rombak she Yo itu, di ambil bagiannya ynag kiri, yaitu huruf ―Bok‖ yang berarti ―Kayu‖. Tapi juga huruf ―Bok‖ ini diganti lagi dengan huruf ―Bok‖ yang berarti ―Akur‖. Dia cuma ambil suaranya saja. Dan
Irawan D Soedradjat

Page

221

Pendekar Pemanah Rajawali

nama ―Ek‖ dia ambil dari huruf pecahan sebelah kanan dari huruf ―Yo‖ shenya itu. Huruf ―Yo‖ itu terdiri dari dua huruf ―Bok = kayu dan Ek = gampang atau tukar‖. Selama delapan belas tahun ia merantau. Sekarang secara kebetulan ia bertemu sama putra sahabat atau saudara angkatnya itu, cara bagaimana ia tidak menjadi bersedih hati? Selama ayahnya itu berbicara sama si anak muda, Bok Liam Cu berniat memberi ingat serta meminta Kwee Ceng menolongi dulu mereka, tentang pasang omong, itu boleh dilanjuti lain kali, akan tetapi belum lagi ia membuka mulutnya, lalu datang pikiran lain, yang membuatnya berubah. Ia kata dalam hatinya: ―Satu kali kita keluar dari sini, aku khawatir untuk selama-lamanya aku nanti tidak dapat bertemu dengan dia…‖ Dengan ―dia‖ yang dimaksud oleh Liam Cu adalah Wanyen Kang, si pangeran muda. Dengan sendirinya, ia telah jatuh cinta kepada pangeran itu, hingga ia tak ingin pergi jauh, untuk memisahkan diri…. Kwee Ceng pun ingat bahaya yang mengancam mereka, maka ia sudah lantas tarik keluar tangannya dari dalam kerangkeng, hanya di saat ia hendak ayun goloknya, untuk menggempur kunci, mendadak ia tampak sinar terang yang disusul sama suara tindakan kaki. ia terkejut, dengan sebat ia simpan goloknya, dengan gesit ia lompat sembunyi di belakang pintu. Sekejap saja, dengan mengasih suara, daun pinttu dipenntang, lalu terlihat masuknya beberapa orang, di antara siapa yang jalan di muka adalah yang menenteng lentera. Kwee Ceng heran akan melihat orang itu yang bukan lain daripada onghui atau selirnya Chao Wang dan ibunya Wanyen Kang. Ia tidak dapat menerka orang datang dengan maksud apa. Ia memasang kuping dan matanya. ―Adakah mereka ini yang hari ini dikurung siauw-ongya?‖ demikian Kwee Ceng dengan pertanyaannya si nyonya mulia. ―Ya,‖ menyahuti si opsir atau pemimpin dari beberapa pengiring nyonya itu. ―Sekarang juga merdekakan mereka!‖ onghui memberi titah. Opsir itu terkejut, dia ragu-ragu, hingga tak dapat ia segera menjawab. ―Jikalau siauw-ongya menanyakan, bilang aku yang memerdekakan mereka,‖ onghui berkata pula menampak orang sangsi. ―Lekas buka kuncinya!‖ Sampai di situ, opsir itu tidak berani berlambat pula. Setelah ayah dan gadis itu sudah berada di luar kerangkeng, onghui merogoh sakunya untuk mengeluarkan dua potong emas, yang mana ia angsurkan kepada Bok Ek atau Yo Tiat Sim. Ia kata: ―Nah, pergilah kamu baikbaik!‖ Tiat Sim tidak menyambut emas itu, sebaliknya ia mengawasi dengan tajam. Ditatap demikian, onghui heran. ―Putraku berbuat keliru, harap kamu tidak sesalkan dia…‖ dia berkata lagi kemudian. Cuma sedetik atau Tiat Sim telah ubah pikiran. Ia sambuti itu emas, terus ia tuntun tangan putrinya, untuk diajak berlalu dengan tindakan lebar. ―Ha, orang kasar!‖ membentak si opsir. ―Kamu tidak membilang terima kasih kepada onghui yang telah menolong jiwamu!‖ Bagaikan tidak mendengar, Tiat Sim jalan terus. Sampai di situ, onghui pun berlalu bersama sekalian pengiringnya. Kwee Ceng tunggu sampai pintu sudah ditutup dan mendengar tindakan kaki onghui sudah jauh, baru ia keluar dari tempat sembunyinya, untuk keluar juga. Ia melihat ke sekeliling, ia tidak dapatkan Bok Ek dan Liam Cu. ―Pasti mereka sudah keluar dari istana,‖ pikirnya. Maka ia lantas menuju ke Hoa Cui Kok untuk mencari Oey Yong. Ingin ia membujuk nona itu buat jangan mengintai lebih lama, supaya mereka bisa lekas pergi menolongi Ong Cie It.
Irawan D Soedradjat

Page

222

yang baru saja turun. Berbareng dengan itu. ―Mau apa kau menghalangi aku?‖ dia bertanya. Nio Cu Ong yang menduga Oey Yong bakal kalah baru saja memutar tubuhnya atau pertandingan telah salin rupa. ―Budak cilik. hingga tidak memperdulikan urusan besar. cawan itu jatuh ke lantai. Semua terjadi dengan cepat luar biasa. Justru itu. ia merdekakan dua orang itu. untuk umpatkan diri. mengganti kedudukan‖. sekarang ia menyaksikan cara mencelat orang. parasnya tidak menunjuki perubahan. Di antara cahaya api. berlagak pilon. sedang kepalanya menyambut cawan yang ketiga yang tadi ia letaki di batok kepalanya itu. ia terkejut juga.Pendekar Pemanah Rajawali Baru ia tiba disebuah tikungan. ―Aku ingin ketahui untuk apa kau datang nyelusup ke istana ini?‖ Irawan D Soedradjat Page 223 . terpaksa ia menangkis! Begitu kedua tangan bentrok. tangan kanan si nona menyambar pula. dia menyerang dengan hebat. semua cawan itu tidak miring. Oey Yong bawa jari-jari tangan ke pipinya ―Tak malukah kau?‖ dia bertanya. kau licin sekali! Siapa sebenarnya gurumu!‖ ―Besok akan aku mengasih keterangan kepada kau!‖ menjawab si nona tertawa. Dengan satu gerakan berbareng ia membuat tiga cawan di kepala dan kedua tangannya terlepas. ia kaget sekali. maka ia datang dengan cepat. mumbul naik ke atas menyusul mana dengan satu lompatan enteng tetapi gesit ia menerjang pada Thong Hay dengan kedua tangannya. ia bertemu dengan Kwee Ceng. tiba-tiba saja tubuhnya sudah mencelat ke ambang pintu. begitu juga kedua cawan di tangan orang she Hauw itu tergerak. Kwee Ceng lihat sinar terang dari dua buah lentera serta mendengar suara tindakan kaki yang cepat. Bukan main masgul dan cemasnya Kwee Ceng. Hebat si nona. yang ada dari tipu ―Menukar wujud. diluar dugaannya. mereka mesti puji nona ini yang merebut kemenangan dengan kecerdikan dan kelincahannya itu. membasahkan lantai. Beberapa kali ia mencoba untuk meloloskan diri. untuk membebaskan diri. saking malu dan mendongkolnya. Oey Yong sudah lantas mencelat mundur. Sementara itu dilain pihak. Kwee Ceng geraki tangannya. cara bagaimana aku dapat menyangkal?‖ Ia berniat memegat Bok Ek dan Liam Cu. Mau atau tidak. Ia hanya mengkerutkan kening. Tapi ia dapat menenangkan diri. Wanyen Kang telah datang dengan cepat karena baru saja ia terima laporan dari opsir yang mengiringi onghui bahwa Bok Ek dan gadisnya telah dimerdekakan. kedua tangannya menyambar kedua cawannya. ―Sekarang aku mesti pergi dulu!‖ Setahu bagaimana gerakkannya Thong Thian. tidak dapat ia menangkis. saban-saban ia gagal. Dengan kedua tangan mencekal cawan. ia membikin perlawanan. dengan kesebatannya. hingga kedua tangannya tidak dapat digeraki lagi. araknya tidak tumpah! ―Bagus!‖ seru orang banyak. pecah hancur menerbitkan suara berisik dan araknya melulahkan. Ia lantas lompat ke samping di mana ada gunung-gunungan dari batu. Maka itu. ia perlihatkan kepandaian yang luar biasa. mereka lantas saja bertempur seru melebihkan pertandingan mereka tadi siang. ia kenali Wanyen Kang si siauw-ongya atau pangeran muda. Oey Yong telah merasakan tadi bagaimana orang she See ini tanpa ia mengetahui. untuk menghalangi di situ. Ia kaget dan kata dalam hatinya: ―Sungguh lemah hati ibu. Wanyen Kang hendak menawan. ―Mari kita bertanding pula!‖ ia menantang. berparas bermuram durja. semacam ilmu yang luhur. Kalau guruku ketahui ini. ―Siapa?!‖ Bahkan orang itu sudah lantas berlompat maju dan tangannya menyambar. Orang she Hauw ini menjadi repot. Pemuda she Kwee ini hendak meloloskan diri. isinya lantas tumpah. Kali ini. maka terpaksa ia berkelit ke kiri. ―Aku ingin ketahui kau murid siapa?‖ menyahut See Thong Thian. Yang hebat adalah cawan di batok kepalanya. Thong Hay sebaliknya bermuka merah. mengejek. Tak kurang hebatnya rintangan si siauw-ongya. ―Hm!‖ See Thong Thian mengasih suaranya menyaksikan adik seperguruannya itu dibikin malu secara demikian. kemudian ia segera dengar teguran dari orang yang jalan di paling depan. Thong Hay tidak dapat mengegos pula tubuhnya.

‖ katanya. Tidak bersangsi lagi. Suara orang merdu dan bernada minta dikasihani. ―Pertanyaannya Kwie-bun Liong Ong tidak dapat tidak dijawab!‖ sahut orang she See itu. musuh belum pergi jauh. Hampir ia menjerit menangis. Ia pun mau percaya. buat apa See Liong Ong sampai menurunkan tangan?‖ katanya. Tanpa merasa. ―Maka janganlah kau mensia-siakan tenaga. ia lantas pergi berkelana. untuk mencari bahan-bahan obatnya. menantang. ia lari keluar. budak cilik. Ia meundur dengan cepat. Lantas dia hadapkan Thong Thian untuk mengancam. ―Setelah kau berikan jawabanmu. terutama lukanya. See Thong Thian mengawasi. satu kali ia mengucap. tubuhnya meleset.Pendekar Pemanah Rajawali Sepasang alis yang bagus dari si nona bergerak bangun. ―Tapi awas. ―Jikalau aku tidak sudi mengasih keterangan?‖ tanyanya. Berbangkit pula hawa Irawan D Soedradjat Page 224 . ―Celaka!‖ serunya. ia lantas menegur. ―Bagus!‖ seru Oey Yong. Mulanya tubuh ular itu warnanya hitam abu-abu. ia tertawa. siapa tahu sekarang ularnya itu terbinasa. lewat di samping jago tunggal dari sungai Hong Ho itu. Lantas ular ini ia kasih makan pelbagai macan obat pilihan. Benar-benar lihay See Thong Thian. warnanya lantas berubah menjadi merah mulus. Di situ tergeletak bangkai ularnya. Ia sudah lantas nyalakan api. ia dapat menahan tubuhnya hingga ia tidak usah melanggar kepala orang itu. ―Aku justru tidak sudi menjawab dia!‖ sahutnya. See Liong Ong. ai menjadi merasa suka kepada si nona. setelah banyak kesulitan. Pula. ia lantas hendak pergi. kau lihat itu di sana apa?‖ Semabri mengucap. karena habislah usahanya beberapa puluh tahun. sebab ia berangan-angan untuk menjagoi dan merobohkan segala jago lainnya. Oey Yong melihat ke sekitarnya. untuk memandang sekitarnya. ―See Liong Ong. untuk lari ke kamarnya. Cepat setelah ia tersadar. Hati Cu Ong tertarik. kau tidak boleh serang aku!‖ berkata si nona.‖Asal kau mampu!‖ bilangnya. See Thong berpaling ke arah yang ditunjuk itu. Ia sudah memikir buat lagi beberapa hari akan menghisap darahnya ular itu. ―Jikalau kau tidak mengijinkan aku pergi. Som Sian Lao Koay bukan melainkan pandai ilmu silat tetapi pun ia paham ilmu tabib. Oey Yong gunai kesempatan ketika orang menoleh. dia menunjuk ke arah kiri. hingga ia menjadi tercengang. tidak dapat ia memaksa menerobos keluar. malah ia ketahui juga terbinasanya ular itu sebab darahnya telah orang sedot. itu telah menjadi kepastian! Eh. io Cu Ong periksa tubuh ularnya itu. Sekarang telah buntu jalannya si nona itu. Oey Yong tertawa. maka kebetulan untuknya pada suatu waktu ia dapat resep yang istimewa. warna merah itu menjadi marong sesudah sang ular dipiara duapuluh tahun lamanya. jago sugai Hong Ho itu senantiasa menghadang di depannya. bocah ini bukan sembarang orang. maka tahulah ia. nanti aku pergi denagn cara paksa!‖ See Thong Thian tertawa dingin. atau kepalanya sudah menghadang di depan si nona. ―Seorang laki-laki.‖ ia kata. Untuk ini. tetap dengan manis. ia telah dapatkan ularnya yang besar itu yang sanat berbisa. Nio Cu Ong menyaksikan itu. setelah makan banyak macan obat itu. Baru orang berkelebat. tertawa. Syukur si nona itu pun lihay. untuk membikin ia panjang umur. adalah satu ahli tersebar. Baru saja ia tiba di ambang pintu atau hidungnya sudah tercium bau yang membuatnya sangat terkejut. dan obat-obatannya kacau tidak karuan. dia nanti mengasih ijin kau berlalu. Pintu ada di belakang Thong Thian. dia tidak mau kasih aku pulang?‖ katanya. ia lompat naik ke atas pohon besar. kau mengaku kalah saja!‖ Habis berkata. guna mencari si pencuri. Dua kali lagi ia mencoba. ―Untuk memegat kau. Justru itu ia dapatkan Bio Cu Ong hendak pergi ke luar. ―Lopepe. untuk menambah kekuatan tubuhnya. Ia dapat melihat di dalam taman ada dua orang lagi bergumul. ynag hendak menggunai pula kecerdikannya. resep untuk membikin sehat dan kuat tubuh. dia pegat aku. ―Kau jawablah pertanyaannya See Liong Ong.

maka dengan lantas ia lari ke arah taman. begitu juga datanglah perubahan atas dirinya. mestinya si bocah diberi petunjuk oleh seorang berilmu.Pendekar Pemanah Rajawali amarahnya. beda daripada biasanya. siapa habis minum darah ular. maka itu tubuhnya menjadi kuat luar biasa. karena pelbagai pukulannya tidak menyebabkan orang kesakitan atau roboh. Dengan lantas ia dapat menangkap tangannya si anak muda. Nio Cu Ong tidak menjadi heran yang ia tidak bisa mencekal terus tangannya bocah itu. segera ia gunai kakinya untuk menggaet. Cu Ong menjadi menyesal berbareng penasaran dan mendongkol. hingga sengaja ia membuatnya lowongan. untuk sedot darah dari tubuhnya itu. maka juga kali ini diwaktu mulai bertempur. hawa darah itu buyar. begitu lewat beberapa jurus. ia menjadi girang. Ia pikir: ―Dia telah minum darah ularku. ―Kali ini habislah jiwaku…‖ pikirnya. Tapi juga penyerangan ini mendatangkan perubahan lainnya. Kwee Ceng pun pun terus merasakan perubahan. Menyaksikan itu. Baru ia datang atau hidungnya telah mendapat cium bau obat tercampur bau amis yang datangnya dari arah si pemuda. ia pun menjadi alpa. ―Heran. lalu ia menangkap pula. tetapi sekarang. Kwee Ceng kalah dari Wanyen Kang. Ia menanti lain serangan. maka si pangeran menangkis. Ia menjadi heran berbareng girang. Disaat itu tenaganya lantas bertambah sendirinya. tidak heran kalau ia menjadi bingung. mungkin kekuatannya obat masih ada atau mungkin kekuatan itu bertambah besar…‖ Karena ini. Nio Cu Ong merasakan pula sambaran bau obat dan amis dari ular. mendadak hatinya menjadi panas. ai sudah lantas keteter. tangan itu segera terlepas dari cekalannya lawan. ia lantas menggunai akal. ―Hai. Kali ini ia menunggu sampai orang berontak. Satu kali ia serang Wanyen Kang. sebagai bocah Kwee Ceng tentunya tidak ketahui rahasia resepnya itu. Siauw-ongya tidak ketahui rahasia itu. ―Tentulah bisa ular lagi bekerja…‖ Ingat kepada bisa ular. bukannya ia merasa sakit hanya gatal. bangsat anjing!‖ dia menegu. Siauw-ongya itu turut menjadi heran. yang kalah pandai dan kalah pengalaman. Karena ini. setelah mana. yang entah siapa. lantas ia menyambuti serangan. Mendadak ia merasa perutnya sangat panas seperti ada bola api di dalam perutnya itu. supaya dengan begitu. Tidak sedikit pun ia merasakan sakit lagi. Tatkala Nio Cu Ong tiba. untuk ditarik. ―Kenapa sekalipun dengan pukulan yang membahayakan aku tidak dapat melukai dia?‖ pikirnya. dia seperti meggaruki gatalku?‖ Adalah aturan dari resepnya io Cu Ong itu. Sebentar saja ia sudah sampai si taman di mana Kwee Ceng dan Wanyen Kang tengah bertempur. Begitulah ketika kakinya kena digaet. dia terhuyung. dan enak sekali rasa gatal itu. oleh karena itu ia gusar yang ia telah dicaci. hatinya pemuda ini menjadi kecil. supaya racunnya tidak bekerja lagi. kenapa pukulannya empuk sekali. kiranya kau yang piara ular berbisa itu!‖ ia berseru. tubuhnya mesti dipukuli. sampai Wanyen Kang dapat menyerang sepuasnya. Sedang Kwee Ceng berpikir: ―Heran. Kwee Ceng roboh Irawan D Soedradjat Page 225 . maka itu ketika ia mengibaskan tangannya. ―Siapa yang anjurkan kau mencuri ularku?!‖ Dia percaya. baik aku bunuh dia. Maka itu kebetulan sekali Kwee Ceng bertempur sama Wanyen Kang. Tenaganya Kwee Ceng telah bertambah luar biasa. yang sudah dapat memperbaiki dirinya. ia merasa sakit. Di mana-mana ia merasakan gatal pada tubuhnya. hendak aku mengadu nyawa denganmu!‖ Ia lompat maju untuk menyerang itu jago dari Kwan-gwa. telah cukup lama Kwee Ceng terhajar. Jago ini lihay berlipat kali dari kwee Ceng. Tubuhnya panas hingga ia seperti tidak sanggup menahannya. Biasanya kalo ia kena diserang. lantas timbul pikirannya yang kejam. ―Aku sekarang telah terkena bisanya binatang jahat itu. kenapa tenaganya menjadi kuat?‖ tanya si pangeran dalam hatinya. ―Bagus. pelbagai pukulannya Wanyen Kang menjadi tidak ada artinya. Dalam halnya ilmu silat. akan tetapi. yang leuar dari baju atau tubuhnya Kwee Ceng. Ia menjadi sangat berbahaya. tubuh orang yang bersangkutan menjadi tambah kuat. ia tentu dapat berbuat sesukanya terhadap anak muda itu. hingga dua kali bebokongnya kena dihajar si pangeran. kalah cerdik juga. Kwee Ceng memang tidak tahu suatu apa mengenai resep itu atau darah ular yang ia minum.

untuk menggigit leher itu. ―Siapakah ayahmu itu?!‖ ―Jikalau aku sebutkan nama ayahku. Oey Yong lantas menghela napas. Kim-chie lewat di atasannya kepala Oey Yong. ―Sayang. ―Kau ngaco-belo. beberapa kali aku mencoba. kau tidak bakal mengganggu pula aku. guna menyedot darah ularnya. ayahku cuma ajarkan aku menyerang masuk. ―See Liong Ong.‖ katanya. atau kim-chie yang belakangan sudah menyambar pula. terus ia tertawa geli. Oey Yong lantas saja meleset keluar. Maka menyambarlah dua renteng senjata rahasia yang berupa kim-chie atau uang emas. Ingin ia menyaksikan orang menyerang masuk. ―Dari luar masuk ke dalam sama dari dalam pergi keluar. ―Baiklah kau boleh coba dari luar!‖ Ia lantas menggeser tubuhnya.‖ sahut si nona. Oey Yong heran dan kaget..‖ ―Apakah itu menyerang masuk dan menerjang keluar?‖ tanya See Thong Thian. Senjata rahasianya itu adalah seperti bumerang. akan aku menyerah kalah!‖ Thong Thian jawab. ia telah kembali ke ruangan besar! Irawan D Soedradjat Page 226 . lalu kedua senjata rahasia itu berbalik. hingga ia peroleh gelarannya yang luar biasa – Cian Ciu Jin-touw. dengan mencekal tangannya. menyambar ai di kiri-kanan mengarah batok kepalanya. budak cilik!‖ bentaknya. ia dengar suara angin.. ia menjadi heran. Karena ini tidak ada jalan lain. tak usah menggunai tenaga untuk meniup debu. apa macam ilmu menyerang masuk itu. ―Ketika dulu hari ia ajarkan aku menyerang masuk. ia lihat serangan lewat di atasan kepalanya. Memang telah dibikin perjanjian itu. aku memasukinya dari luar. dua renceng kim-chie dari Phen Lian Houw terdiri dari beberapa puluh biji. terpaksa ia melompat maju pula. Ia menjadi kaget sekali. ―Itulah ilmu untuk merobohkan kau. sayang…. celakalah ia. aku khawatir kau nanti kaget hingga semangatmu terbang!‖ Oey Yong menjawab. ayahku itu menjaga di mulut pintu. dengan gampang ia bisa bekuk nona itu. Orang she Pheng ini adalah satu ahli. dia tidak mengajarkan aku ilmu menerjang keluar. maka tidaklah heran kalau ia ada mempunyakan keistimewaannya sendiri. hingga sulit orang lolos dari salah satunya. sampai ketemu pula!‖ See Thong Thian berdiri diam. ―Asal aku dapat lolos.. bukankah aku sekarang telah berada di luar? Nah. Hebat untuk dia. Sebenarnya. Sementara itu Oey Yong di dalam Hoa Cui Kok masih tidak dapat menerobos penjagaannya See Thong Thian. biarnya ia sangat lincah. Kau lihat. ―Sayang. Ia percaya ilmunya sudah dipuncak kemahiran.. ia belum pernah dengar hal ilmu masuk dann keluar itu. Saking menyesalnya. Tidak dapat kim-chie itu ditanggapi. serangannya itu untuk atas dan bawah. ia lompat ke depan. tidak suka ia membiarkan kawannya itu diperdayakan secara demikian. dari itu ia segera ayun kedua kedua tangannya. Adalah umum kalau orang menyerang dengan kim-chie. tidak peduli si nona telah menggunai akal bulus. yang berarti pembunuh manusia seribu tangan. aku gagal. dia hendak pertontonkan kepandaiannya. ―Kau punya ilmu Menukar Wujud Memindahkan Kedudukan ini. asal aku berada di luar. Mengenai kepandaianmu ini. Karena ini. Akhirnya ia berhenti mencoba. Lantas Cu Ong menubruk. lalu berbalik sendirinya. Maka dilain saat. ―Kau telah bilang sendiri. untuk memegang keras pundak orang.Pendekar Pemanah Rajawali dengan segera. ia pun tidak senang orang dapat pergi dengan begitu saja. Ia ada punya mustika pelindung tubuh. ―See Liong Ong. kau telah tertipu olehku!‖ katanya nyaring. datangnya saling susul. pasti aku akan dapat molos. kau tidak dapat mengganggu pula padaku. setelah mana ia majukan mukanya ke arah leher. kalau ia terserang jitu. memang dari dalam aku tidak sanggup menerjang keluar. bedanya masih jauh sekali!‖ Thong Thian gusar. Biar bagaimana. ia ketoki kepalanya sampai tiga kali. Ia baru menaruh kaki. untuk mengetahui.‖ katanya dengan masgul. Akurkah kau?‖ ―Asal kau dapat molos. untuk menggunai akal pula. Oey Yong menjadi cemas. walaupun sudah tidak dapat dicela. kenapa kepandaian orang ini begini buruk? Tapi justru ia heran. kau akan menyerah kalah. kalau Thong Thian menghendaki. dia sengaja permainkan nona itu. semua percobaannya sia-sia belaka. apabila dibandingkan sama kepandaian ayahku. yang ia tekankan kepada tanah. ia berlompatan. tetapi di depan Chao Wang. Pheng Lian Houw bersahabat erat sekali sama Kwie-bun Liong.‖ Thong Thian mendongkol sekali. tidak demikian dengan kepalanya. tidakkah itu sama saja?‖ dia menanya. terus menyerang ke bebokong. hingga ia memikir. guna mengasih si nona pergi keluar. akan tetapi kalau dari luar.

‖ bilangnya.‖ jawabnya. demikian pun dengan yang keempat ini. Keluarag itu memang mengutamakan kelincahan. ia pun tidak berkelit. ―Inilah jurus Pak-kek-sie dari ilmu silat Liok Hap dari Kangpak. tawar. ―Inilah jurus yang kedua!‖ berseru si nona. denagn begitu tidak dapat ia tidak menggunai ilmu silatnya yang sejati guna menolong diri. akan tetapi ia tidak menjadi kaget dan gugup. pasti Oey Yong tidak sanggup membebaskan diri dari bahaya maut atau entengnya terluka. ―Lekas menangkis!‖ ia berseru. tetapi ilmu silat Oey Yong membuatnya bersangsi. Sebat sekali ia mundur sambil memutar tubuh dengan sebelah kaki. ia menyerang denagn sennjata rahasianya itu guna menggiring nona itu kembali ke dalam. ―kau bilang dulu. kalau tidak demikian. Nona nakal itu tertawa. siapa yang ajarkan kamu ilmu silat. Pheng Lian Houw menjadi heran. hingga dengan begitu ia perlihatkan sikap ―Si ayam emas berdiri dengan satu kaki‖. ―Inilah ilmu silat Jie Long Kun dari Keluarga Luow dari Ceciu.‖ Lalu pikiran ini ia wujuskan denagn cepat sekali. Coba aku desak pula dia dengan dua jurus. ―Jikalau sampai sepuluh jurus kau masih belum dapat mengetahui?‖ tanya Oey Yong. Di dalam hatinya. tinju mana dibarengi sama tendangan kaki kanan.‖ kata si nona. ―Melainkan sayang kau gunai itu untuk menghina satu anak perempuan! Apakah yang aneh?‖ ―Siapa menghina kau?‖ Lian Houw tanya. aku orang she Pheng pasti akan ketahui asalusulmu!‖ Dia memang luas pengetahuannya dan mengenali ilmu silat pelbagai golongan.Pendekar Pemanah Rajawali Tidak ada niatnya Pheng Lian Houw untuk melukai si nona. ia lantas menarik pulang. Shoatong. Ia tahu tidak dapat ia lawan jago ini. Menampak itu. ―Aku toh tidak melukai kamu?‖ ―Kalau begitu. ―Aku akan merdekakan padamu! Awas!‖ Sambil menjawab demikian. Pheng Lian Houw berkata. Lian Houw menjadi bertambah heran. yang adalah dari pihak gwa-kee. Oey Yong tidak menangkis. Lian Houw menyampok dengan tangan kiri yang disusul sama tinju kanan. ―Lekas! Di dalam sepuluh jurus. Lian Houw sendiri lantas berdiri di ambang pintu. ―Kau tidak hendak memberitahu. ―Ilmu silat ini bertentangan dengan Jie Long Kun. ―Bagaimana?‖ dia tertawa. Kenapa dia dapat menyakinkan dalam dan luar dengan berbareng?‖ Gwa-kee ialah ahli luar. ynag ketiga dan keempat. Dengan begitu. dari itu ingin ia menempur selama sepuluh jurus untuk memeproleh kepastian. ―Kau kembali ke dalam?‖ Oey Yong membuat main mulutnya untuk mengejek.‖ katanya dalam hati. ―Aku telah pelajarkan ini sejak aku dalam kandungan ibuku. ia mencoba berlaku norek. Hendak ia menyangkal terus-menerus. Inilah pukulan berantai tiga kali yang hebat. apakah dengan begitu kau menyangka aku tidak akan mengetahuinya?‖ Lian Houw berkata seraya sebelah tangannya menyemboki pundak orang. ―Heran bocah ini mempunyai ilmu silat campur aduk seperti ini! Mungkinkah ia sengaja berbuat begini untuk mencegah aku dapat mengenali asal-usulnya? Baik aku gunai pukulan yang telengas. Lantas orang she Pheng ini melanjuti serangannya. Ia bersilat dengan ilmu silatnya Iwee-kee si ahli dalam. disaat tangannya hampir mengenai pundak si nona. semua orang bersorak saking gembira. ―Kepandaianmu menggunai senjata rahasia bagus sekali. yaitu ilmu silat ―Cut In Ciu‖ atau ―Keluar dari Mega‖.‖ Lian Houw bilang. Oey Yong terkesiap juga melihat datangnya serangan saling susul dan berbareng itu. Irawan D Soedradjat Page 227 . Oey Yong menolong diri dengan ilmu silat Keluarga Swee dari Thay-goan.‖ ia berpikir pula. kau biarkanlah aku berlalu dari sini. karena juga yang kedua dan ketiga itu dapat dihindarkan si nona. ia lolos dari bahaya. Lian Houw lihat orang diam saja. yang menangkis dengan tangan kiri buat memunahkan serangan orang.

Tapi ia tidak menyerang habis. setelah ia dilayani dengan ilmu silatnya delapan partai. Pheng Lian Houw menyerang dengan hebat. segera ia terjang tangan kiri si orang she Pheng itu denagn jurusnya ―Tibanya air mata es dingin. yang hebat sekali. terus ia berontak sekuat-kuatnya. yang mirip dengan ilmu silatnya saudara Som Sian Lao Koay. waktu ia rasakan mulutnya orang si she Nio itu mengenai batang lehernya. suara mana bernada kaget dan gusar. mukanya menjadi pucat. terpelanting tujuhdelapan tindak! Semua orang terperanjat dengan perkataan Pheng Lian Houw itu. Semua orang terkejut melihat kawannya bersikap telengas begitu. hingga gagallah serangannya itu. Memang juga itu waktu. mendadak saja ia dapat tenaga pula. Kalau yang keempat pertama bengis. Kwee Ceng telah dibikin tak berdaya oleh Nio Cu Ong. tangan kanannya meninju. Ia menduga kawannya itu telah menghadapi ancaman malapetaka. Pheng Lian Houw telah dapat membuktikan ilmu silatnya Oey Yong di jurus kesembilan. Menampak itu. rata-rata orang jeri. ketika denagn sekonyong-konyong. setelah berdiri tetap. dia celaka! Kenapa ia tidak berkelit ke kiri?‖ Pheng Lian Houw mendesak terus. Lian Houw segera menyerang dengan jurusnya yang kelima.ah. Sebab mereka semua adalah orang-orang kangouw berpengalaman dan terhadap Hek Hong Siang Sat.Pendekar Pemanah Rajawali Oleh karena berpikir begini. disaat si nona hendak memunahkannya. sesudah mana. ia menjadi mendongkol terhadap si nona .‖ salah satu jurus dari ilmu silat ―Soat San Pat To‖ dari See Hek. Ia menggunai tipu silat ―Binatang jatuh di tengah udara‖. mendadak ia rasakan sakit pada dadanya yang kiri. hingga habislah tenaganya. jurus dari Cu-ngo Tay Kok Kiam dari Kanglam. Tapi sekarang. Ah. Dengan gampang ia membebaskan dirinya. yang mana ditambah sama kisikannya san-cu dari Pek To San itu. sampai pada jurus yang kedelapan. budak?!‖ Ia memang telengas. tetapi justru itu. sedang si nona pun segera menjadi kelabakan. Ia telah ditekan ke tanah. ―Ha. Ia menjadi kaget. Terpaksa ia lantas berkelit. Karena ini. lantas berkata: ―Budak ini barusan menggunai jurus Menggantung kumala di gantungan emas. kepalanya di aksih mendak. Irawan D Soedradjat Page 228 . Oey Yong terkejut melihat gerakan lawan ini. Oey Yong tahu tangan kiri itu adalah ancaman belaka. Oey Yong dapat mempertahankan diri. kecuali Chao Wang. tangan kanan ke atas. Ia kaget bukan main. Banyak benar ragam ilmu silatnya. sampai ia mengeluh di dalam hatinya. Batok kepalanya bakal hancur luluh kalau ia sampai kena di serang. tidak dapat ia mencoba membalas menyerang. dengan sendirinya mereka jadi berkhawatir untuk Oey Yong. dia menggunai ilmu silatnya tetanggaku!‖ Pheng Lian Houw mendelu mendengar suaranya orang she Auwyang itu. ia menjadi penasaran. Dengan satu gerakan ―Ikan gabus meletik‖ ia kasih dengar jeritannya itu. dari penasaran. inilah Tepukan tiga kali dan Gunting emas. Ah. akan tetapi ia waspada. ia cuma bisa berkelit dan menangkis. Auwyang Kongcu. ia dengar perkataan terakhir dari sancu dari Pek To San itu. tiba-tiba ia mendapat pikiran baru. di malam yang tenang itu. kedua tangannya ditekuk. untuk membalas menyikut naik dadanya penyeranganya itu. ia bergerak denagn kedua tangannya. Itulah ilmu silat Lo Cia Sie dari partai Siong Yang Pay. tangan kirinya menggertak. ia melanjuti dengan jurusnya yang kesepuluh. Setahu dari mana datangnya. tangannya dan kakinya telah dicekal keras. san-cu atau pemilik dari Pek To San. ia menjadi gusar. tapi tidak sekejam ini. maka berniat ia berkelit ke kanan. tak dapat ia berkutik. Ia menggunai jurus ―Menolak jendela untuk memandang rembulan‖. Ia tidak lantas menginsyafi bahwa ia dapat tenaga besar berkat darah ular yang dicampur latihan tenaga dalam dari Tan Yang Cu Ma Giok. wilayah Barat. Untuk menangkis sudah tidak keburu lagi. itu disebabakan si nona cantik dan manis. Auwyang Kongcu tertawa dan mengatakan. ia dengar satu suara keras dari kejauhan. atas mana Oey Yong terhuyung ke belakang. usianya pun masih sangat muda. dari itu pada jurus kesepuluh batal ia dengan maksudnya menghajar si nona. tangan kiri di balik ke bawah. maka itu ia dapat melihat perlawanan si nona. malah ia segera kenali suaranya Kwee Ceng. kalau mulanya ia menaruh ―belas kasihan‖. ia cuma mendorong saja denagn keras. Sebenarnya hendak ia bicara. Dia menyusuli itu dengan jurus Menunggang harimau mengalah tindak dari ilmu silat Tiang Kun dari Kwan-tong. Segera ia menyerang denagn jurusnya yang kesembilan. ia berhenti setengah jalan sambil terus berseru: ―Kau muridnya Hek Hong Siang Sat!‖ Dan seruan ini disusul sama gerakan tangan kanan. Terang si bocah wanita ini telah diberi kisikan berterang. mereka jadinya ragu-ragu. hingga Nio Cu Ong tidak dapat menguasai ia terlebih lama. Benar terkabar kalau Tong Sie Tan Hian Hong si Mayat Perunggu telah meninggal dunia akan tetapi tidak ada diantara mereka ini yang pernah menyaksikan sendiri. Ia kata dalam hatinya: ―Mustahil aku tidak mampu hajar mampus padamu.

―Dalam kejadian itu adalah anakku yang salah. Satu kali Cu Ong berlompat. Ia lihat yang datang itu onghui sendiri. Putra itu lantas keluar pula. Kwee Ceng menyangka orang sudah ajak gadisnya pergi menyingkir.‖ onghui itu menghela napas. Tiba-tiba ia menjadi sangat berduka. Cuma sebegitu jawabannya. Dari sela-sela lemari. Kwee Ceng lantas lari sekeras-kerasnya. Kebetulan ia tiba di depan rumah petani dari onghui. Kwee Ceng terkejut. Nio Cu Ong tidak dapat mencari.‖ Tiat Sim tidak menyahuti. di antara pohon-pohon dan gunung-gunungan. Dengan masih mencekal terus goloknya. di jendela terdengar satu suara keras. mungkin ia dapat menolong aku…‖ Karena ini. baju itu lantas robek sebagian.‖ ―Terima kasih untuk kebaikan onghui. Orang yang datang itu adalah Yo Tiat Sim yang menyebut dirinya Bok Ek. lalu ia masuk ke dalamnya. akan buka pintunya. Ia melihat ke seluruh kamar. ―Tombak ini sudah karatan.Pendekar Pemanah Rajawali Nio Cu Ong bukan melainkan membikin terlepas cekalannya. tanpa ia dapat menahan. Kwee Ceng mengintai. Di dalam hatinya ia berpikir: ―Onghui murah hati. Ia bertindak ke tembok.‖ Kwee Ceng pikir. karena sakitnya dan kaget. Onghui dapat menenangkan diri. denagn siapa ia berbicara. ―Kau baiklah lekas pergi. ―Apakah tidak ada orang jahat masuk ke mari?‖ Onghui menggeleng kepala. Kwee Ceng lari terus. ia mengawasi Bok Ek itu. Dia memang ringan tubuhnya.‖ Suara itu berirama sedih. untuk bersama Io Cu Ong dan yang lainnya pergi mencari ke lain-lain bagian dari istana itu. air matanya menguncur turun. hingga itu Nio Cu Ong tidak dapat segera menyandak.‖ bilangnya kemudian. Akhir-akhirnya sambil menghela ia berkata. pukulannya Nio Cu Ong bukan seperti pukulannya Wanyen Kang. Lantas ia pegang terus tombak itu. bajunya kena terpegang. ia hanya memandang seluruh kamar. onghui mengunci pintu. tandanya sudah lama tidak pernah digunakan lagi…. Di situ ia mendekam. ia lari ke dalam kamar si nyonya agung. tangannya menjambak. ia lompat masuk ke dalam rumah itu. hingga mereka berlari-larian di taman. Maka itu. Ia dapatkan sebuah kamar yang diterangi lilin tetapi penghuninya tidak ada. aku akan lari dari jendela. dia membuatnya kamu ayah dan anak bersusah hati…. onghui kebetulan berada di kamar yang lain. cuma kupingnya mendengar pembicaraan orang itu. juga kedua telapakan tangannya pecah dan berdarah. Kwee Ceng berkelit dengan berlompat ke belakang. Dengan uujung bajunya.‖ sapanya. Sebentar kemudian. Kemudian ia disusul oleh Wanyen Kang.‖ berkata Yo Tiat Sim. bebokongnya kena terjambret hingga berdarah. sudahlah. darahnya mengalir keluar. ―Jikalau aku tidak datang sendiri untuk menghanurkan terima kasihku. disusul sama menjublaknya daun jendela itu dan mana segera lompat masuk satu orang.‖ Irawan D Soedradjat Page 229 . ―Ya. Selama itu Kwee Ceng terus diam saja. ―Ma. ia menghela napas lega. ―Istrinya Yo Tiat Sim‖. ia susuti air matanya itu. untuk menyembunyikan diri. ia hampirkan itu. begitu juga onghui. Tepat enam dim dekat tajamnya tombak. Kedatangannya ini pastilah diluar dugaannya Kwee Ceng dan onghui. Segera tedengar tindakan kaki perlahan masuk ke dalam kamar. meskipun aku mati tidaklah aku dapat memeramkan mata. Nyonya agung itu duduk di samping meja. Di sebelah timur ada sebuah lemari besar.‖ Hampir di itu waktu. yang artinya. ia keluar dari tempat sembunyinya. ―Tidak boleh mereka dapat lihat kita…. Ia meneliti gagang tombak itu. pukulan ini mendatangkan rasa sangat sakit. matanya bengong mengawasi lilin. ―Aku percaya adik Yong sudah lama pulang…. ―Setelah sebentar ia meniup lilin. sakitnya bukan main. kedua matanya menjadi merah. tetapi Nio Cu Ong ada sangat gesit. di situ ia kasih turun tombak besi yang tergantung. Ia menjadi kaget berbareng gusar. Segera ia maju untuk menyerang pemuda itu. setelah meminum darah ular. Wanyen Kang bertindak masuk. di situ ada terukir empat huruf ―Tiat Sim Yo-sie‖. bertapak tanda lima jari. Hendak ia beristirahat. tenaganya bertambah. ia mengusap-usap. Tidak antara lama. Saking takut. Kali ini. malah nyonya itu mengasih dengar jeritan tertahan. Kwee Ceng berayal. tangannya tiba di bebokongnya.

tidak dapat aku lepaskan kau!‖ katanya. suaranya menggetar. ―Tidak peduli kau manusia atau setan. biarlah besok besok suruh Thio Bok-jie dari dusun timur memperbaikinya dengan tambah setengah kati besi…‖ katanya peralahan. untuk menarik lacinya meja itu. ―Ah…‖ Tiat Sim bersuara perlahan. ia tidak lagi seperti masa mudanya. kemudian ia gulung tangan bajunya. mana ia percaya suaminya telah menutup mata.‖ katanya.‖ ia berkata pula. tubuh onghui bergemetar. Di pintu ia berhenti dan mengetok perlahan beberapa kali. Irawan D Soedradjat Page Mendapatkan ibu itu tidak hendak membuka pintu.Aku akan turut kau ke lain dunia. Ia lantas berbangkit.‖ . kenapakah kau berduka pula? Dengan siapakah kau berbicara?‖ Se Yok kaget tetapi ia lantas menyahuti: ―Aku tidak apa-apa.‖ Wanyen Kang tidak lantas pergi hanya ia jalan mengitari rumah itu. ―Kau…kau kata apa?‖ tanyanya. famili pun tidak ada. Pauw Sek Yok tidak dapat lantas mengenali suaminya itu. apakah aku setan?‖ kata suaminya ini kemudian. Ia jumput sepotong baju. ―Aku bilang lanjam ini sudah rusak. Sudah delapan belas tahun ia tinggal di istana. dengan menambah setengah kati besi…‖ Tiba-tiba saja onghui menjadi lemas kedua kakinya. See Yok memeluk erat-erat. dengan terpaksa ia turut Wanyen Lieh pergi ke Utara. hingga ia dapat lihat di lengan kiri orang satu tanda bekas luka. Yo Tiat Sim tidak menjawab. siauw-ongya ini menjadi semakin bercuriga. Itulah pakaian yang ia pakai pada dulu hari.‖ Tiat Sim menyahuti. itulah kata-kata suaminya dulu hari tempo ia tengah hamil membuatkan sepotong baju baru. Ia berdiam aja mengawasi Tiat Sim. lantas aku pergi. ―Kau lihat. baju dan celana biru. ―Lekas kau bawa aku pergi…. Rumah tangganya telah runtuh.Pendekar Pemanah Rajawali Agakanya onghui heran atas lagak-lagu orang itu. tak usah kau membikin pakaian lagi untukku…‖ Sek Yok terkejut. hendak aku bicara denganmu. ―maka besok baiklah suruh Thio Bok-jie dari dusun timur membetulkannya. ―Ma. ―Aku minta janganlah kau raba tombak itu. Sampai sekian lama baru ia dapat membuka mulutnya. ―Aku hendak omong sedikit saja. kau baik-baiklah beristirahat. ―Sekarang aku letih sekali. di akhirnya ia serahkan dirinya dijadikan onghui atau selir. untuk mati bersama…Aku lebih suka menjadi setan untuk tetap berada bersama denganmu…!‖ Tiat Sim rangkul istrinya itu. ―Kau…kau siapa?‖ tanyanya. akan hampirkan Tiat Sim. terus ia gantung tombak itu. ―Kenapa…kenapa kau ketahui kata-katanya suamiku pada itu malam dari saat kematiannya…?‖ Hancur hatinya onghui ini yang sebenarnya bukan lain daripada Pauw Sek Yok atau nyonya Yo Tiat Sim.‖ katanya perlahan. aku hendak tidur…. selama itu wajahnya tidak berubah banyak. kau pun tengah mengandung. baju siapa ia tarik. air matanya turun bercucuran. Tubuhmu lemah. ia kerebongi itu pada tubuhnya: ―Bajuku telah cukup dipakai. Sebaliknya To Tiat Sim yang mesti hidup dalam pengembaraan. ia hanya bertindak ke samping meja. Di dalam situ ada tersimpan beberapa potong pakaian pria. ia roboh di kursi.‖ sahut si nyonya agung. Hanya sejenak kemudian ia bertanya: ―Mustahilkah kau belum mati? Mustahilkah kau masih hidup?‖ Tiat Sim hendak menyahuti istrinya itu tatkala mereka mendengar suara Wanyen Kang dari luar kamar: ―Mama. maka lantas saja ia tubruk suaminya itu dan merangkulnya erat-erat seraya ia menangis sedih sekali. 230 ―Besok saja. Ia ingat betul. Tidak dapat ia menampik bujukannya pangeran itu yang perlakukan ia dengan baik sekali. ―Itulah barang yang aku paling hargai.‖ sahut sang ibu. ―Ujung lanjam ini sudah rusak. Sekarang ia tidak bersangsi pula. Ia menjadi curiga sebab tadi terang ia dengar suara orang berbicara. ―Kenapakah?‖ Tiat Sim tanya. Sekarang ia mengawasi lanjam yang berada si pinggiran tombak itu. Mendengar kata-kata itu. maka itu sekalipun mereka berada di dalam sebuah kamar. ―Aku tidak takut!‖ katanya kemudian.

―Aku mau tidur. entah ibu mengetahuinya atau tidak. Wanyen Kang dapatkan ibunya bermuka pucat dan mukanya itu bermandikan air mata. Sebelum orang nerobos masuk. ―Ma. Sambil berbuat begitu. ― Di dalam lemari itu ada seorang sembunyi. Urusan itu kau jangan campur tahu!‖ Wanyen Kang tertawa. rupanya ada orang yang menahannya dari sebelah luar. ―Ma. ―Hatiku tidak tentram.‖ katanya. ―Orang jahat telah nyelusup masuk kedalam istana. ibu tahu di dalam lemari ini ada orang…‖ pikirnya. maka kembali timbul kecurigaannya.‖ Wanyen Kang beritahu. tiga orang menjadi terkejut sekali. ia kaget bukan main. Ia pun lihat ibunya itu roboh. Tiat Sim suka menurut. ia segera tabrak pintu kamar itu. ―Tidak apa-apa.‖ kata ibu itu. ―Siapa mengandalkan pengaruh. Begitu pintu lemari terpentang. Pauw Sek Yok melihat itu. batal ia menikam lemari disaat ujung tombak hampir mengenai daun pintu lemari. hingga ia lantas roboh pingsan.‖ Putra itu menghampiri ibunya.‖ katanya. bertindak perlahan-lahan. untuk di minum dengan perlahan-lahan. Ia lantas bertindak ke lemari yang ditunjuk itu. Ia memang tidak rela meninggalkan istrinya itu. Ia batal pergi.‖ demikian pikirnya. kau pergilah. aku tak akan main gila lagi. baiklah. Pauw Sek Yok segera menunjuk ke lemari. Itulah gerakan ―burung hong terbang. hingga daun pintunya mejeblak terbuka. Ma?‖ sahut si anak. Ia masih menghirup beberapa kali. ―Aku tempur itu anak tolol dengan andalkan kepandaianku. begitu lekas ia mencekal dengan baik – yang mana ia lakukan dengan luar biasa cepat – mendadak saja ia menikam ke arah lemari. ―Tentara pengawal semuanya kantong nasi!‖ katanya. ada terjadi apakah?‖ ia menanya. kau tidurlah!‖ Putra ini memberi ucapan selamat malam.‖ Ia telah sampai di tembok. Ia menjadi curiga sekali. maksudnya menganjurkan suaminya itu masuk ke dalamnya untuk bersembunyi. ―Siapakah dia?‖ tanya ibunya. hatinya bekerja. Sembari minum. tapi disaat ia hendak mengundurkan diri. Di dalam kamar itu tapinya tidak ada lain orang. ia tetap mengawasi ke lemari. ―Ma. Tapi Wanyen Kang telah menahan gerakan tangannya. melihat siapa onghui menjadi tergugu.Pendekar Pemanah Rajawali Tiat Sim menduga orang bakal masuk ke dalam. ―Ah. baru ia berbangkit. Di dalam lemari itu tertampak Kwee Ceng. ―Begitu?‖ tanya ibunya. ia lantas ambil tempat duduk. jendela itu keras. apakah tidak ada orang masuk ke mari?‖ putra itu tanya pula. ia takut ibunya diganggu orang jahat. Ia lantas senderkan tombaknya.‖ sang ibu bilang.‖ ―Ma. Wanyen Kang berkhawatir mendengar jeritan ibunya itu. Kwee Ceng tarik Tiat Sim masuk ke dalam lemari. Irawan D Soedradjat Page 231 . untuk menjambret pintunya untuk dibuka.‖ ―Nah. hingga ia mengeluarkan jeritan tertahan. tetapi ketika ia menolak. ular naga melayang‖.‖ sahut si ibu. yang pintunya ia segera tutup pula. yang menenangkak dirinya. di tubuh siapa ia menyanderkan diri. ―Ma. ―Aku minta supaya kau jangan bersusah hati. hatinya berdenyut. Dasar anakmu yang buruk…. tangannya diulur kepada tombak. ia dapat melihat ujung baju di sela-sela lemari. ―Sekarang lekas kau pergi tidur. Dengan pundaknya. bagus atau tidak?‖ ―Lain kali aku larang kau menghina orang karena kau andalkan pengaruhmu. Ia pun menuang the ke dalam cangkir. untuk mengasih bangun pada ibunya. ―Bagaimana tadi permainan tombakku. ia lepaskan Sek Yok dan bertindak ke jendela dengan niat lompat keluar.

―Ma. mana dapat ia mengikuti pula aku seorang rakyat kasar? Dia hendak membuka rahasia. ―Ma.‖ Sang putra heran hingga ia mengawasi dengan matanya dibuka lebar-lebar. Wanyen Kang mengawasi ibunya. ―Ma.‖ berkata dia. kau tidak dapat tinggal di rumah bobrok ini bersama-sama dengan ayah dan ibu kandungmu snediri…. ia berduduk. kau tidak punyai untung bagus. tidak ada satu yang bukan dibawanya dari Lim-an. seperti meja. lemari dan pembaringan. yang segalanya serba dilukis dan diukir dan diperaboti mentereng! Anak. dialah pangeran Chao Wang. Putra itu menurut. suaranya keras. ―Kenapa mama suka sekali tinggal di ini rumah bobrok.‖ ―Kau menyebutkan rumah ini bobrok?‖ tanya sang ibu. ia heran dan bercuriga. Wanyen Kang telah menyaksikan kelakuan ibunya ini. bangku. apakah katamu?‖ tanyanya saking heran. ―Oleh karena itu mana bisa dia berdiam dengan tenang dan tentram di rumah ini….‖ Karena memikir ini.‖ katanya keras. air matanya lantas bercucuran deras.‖ ―Sampai sebegitu jauh aku tidak mengerti. ―Tetapi ibu tidak hendak menjelaskan siapa Yo Tiat Sim itu. Aku sengaja menitahkan orang melakukan perjalanan jauh ribuan lie untuk mengambilnya. ―Sekarang aku akan menerangkannya kepadamu. anakmu membawakan kau perabot rumah tangga yang baru tetapi semua itu ibu tolak. kau dengari aku bicara. makin lama kau bicara. ―Kasihan ayahmu itu. Wanyen kang tertawa. Hanya karena kagetnya itu.‖ Jantungnya Tiat Sim berdenyut. makin aneh!‖ katanya. Hatinya Pauw Sek Yok goncang keras.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok sadar dengan perlahan-lahan. habis itu barulah aku mencari jalan pendekku…. hatinya tergoncang keras. ―Ayahku adalah adiknya sri baginda. hatinya menjadi lega. ibukota dari kerajaan Song di Kanglam. Ia pun berpikir: ―Sekarang dia telah menjadi satu onghui. ―Mana bisa ayah tinggal di sini?‖ Sek Yok menghela napas.‖ kemudian kata si ibu. biarlah mereka ayah dan anak bertemu. inilah kesalahan besar yang tidak dapat diperbaiki lagi.‖ sahut Wanyen Kang. tetapi tombaknya masih dipegangi. ―Apakah kau sudah lihat itu ukiran empat huruf di gagang tombak?‖ Pauw Sek Yok tanya. kenapa ada apa-apa yang disembunyikan kepadaku?‖ si anak bertanya pula.‖ berkata Wanyen Kang. ―Aku ini anak kandungmu atau bukan?‖ ―Tentu saja. ―Sedari aku masih kecil telah aku menanyakannya. Aku telah hilang kehormatan diriku. ―Kau duduklah baik-baik. mungkinkah ia hendak menyuruh anaknya itu mencelakai aku?‖ Ia lantas dengar perkataannya Pauw Sek Yok: ―Tombak ini tadinya berada di dusun Gu-kee-cun di kota Lim-an. tubuhnya menjadi lemah sekali. ―Taukah kau siapa ayahmu yang sebenarnya?‖ Sek Yok menanya. Ia pikir: ―Kejadian ini mesti dijelaskan kepada anak ini. pedih ia merasa. Itu lanjam di tembok dan semua perabotan dalam ruangan ini. kapan ia dapatkan lemari tidak kurang satu apa. ―Kenapa mama menanya begitu?‖ Irawan D Soedradjat Page 232 .‖ menjawab anak itu.‖ kata ibu itu.‖ sahut ibunya itu. ―Aku justru merasa ini jauh terlebih bagus dibandingkan istana yang indah. Tiat Sim dalam lemari telah dengar nyata pembicaraan di antara ibu dan anak itu. selama delapan belas tahun dia berkelana di duni kangouw. maka dalam dunia ini tidak bisa aku hidup pula bersama Tiat Sim. ―Kenapa kau menanya begini?‖ ―Kalau begitu.

Sebenarnya habis itu. cepat sekali ia mendak. kiranya kau!‖ seru pangeran itu. ia jadi berdiri menjublak. pangeran itu menjadi tercengang. kenapa kau masih tidak berlutut untuk memberi hormat!‖ Wanyen Kang bersangsi. walaupun Khu Cie Kee lihay. mereka mencekal masing-masing satu ujungnya tombak itu. akan lihat ibunya itu. dari itu tentulah gurumu tidak dapat mengajarakan kepadamu!‖ Memang benar.‖ katanya sesegukan. Ia lantas memutar tubuhnya. segera ia pun lari keluar. dengan bawa istrinya . gagang tombak itu patah sendirinya.‖ katanya. yang di arah tenggorokannya. yang gagangnya sudah tua. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng juga tidak berani berayal-ayalan. Ia telah mainkan ilmu silat Keluarga Yo bagian jurus ―Hui ma chio‖ atau ―Membaliki kuda‖. ―Apakah kau sangka kau adalah orang bangsa Kim? Kau adalah orang Han! Kau bukannya bernama Wanyen Kang. yang kaget sekali. ia telah tiba di luar. untuk di tarik keluar. ―Nanti aku pergi panggil tabib. untuk buka pintunya. Wanyen Kang kaget. Dengan begitu. akan tetapi sekarang ia memeluki Pauw Sek Yok dengan tangan kanannya itu. Inilah hebatnya untuk tombak itu sendiri. Kemudian piasu itu telah dipakai menikam mati pada Tan Hian Hong si Mayat Perunggu. Ia hanya lupa. Tiat Sim berkelit. yang kepalanya mandi darah dan napasnya empasempis. ―Kau tidak tahu. ia putar tangan kirinya ke belakang. angin menyambar lewat di mukanya. ia membentak: ―Kau telah bertemu dengan ayahmu sendiri. sesudah mana. tetapi nama kau ialah Yo Kang!‖ Mendengar di sebutnya nama Yo Kang itu. tapi ia tidak dapat mengerti sedalam-dalamnya ilmu silat Keluarga Yo itu. ialah tipu istimewa yang hanya diketahui keluarganya yang mewariskan ilmu silat itu. ―Ma. Wanyen Kang heran bukan kepalang. ―Nanti aku minta ayah datang ke mari!‖ katanya. Kemudian lagi piasu itu lenyap entah ke mana. tangan kanannya sudah mesti membarengi menyerang. tanpa menanti musuh menarik pulang tombaknya. Tombak ini…inilah senjatanya ayahmu yang sejati…‖ Ia pun lantas menunjuk pada ukiran empat huruf di gagang tombak: ―Ini barulah namanya ayahmu itu!‖ Tubuhnya sang putra bergemetar. ia membentak: ―Ilmu silatku ini diwariskan cuma kepada anak laki-laki. tempo ia masih kecil. ―Kau tidak dapat disesalkan. tidak kepada anak perempuan. di sana ada sebuah piasu belati yang gagangnya berukiran dua huruf ―Yo Kang‖ itu. tidak dapat ia menyerang. Bab 21. ia menjadi tidak berayal. yang mendadak saja menikam Bok Ek. lantas air matanya turun dengan deras. jadi kepandaian Wanyen Kang menggunai tombak itu belum sempurna. ―Ayahmu ada disini!‖ Sek Yok bilang. anak. ia pegang tangannya Yo Tiat Sim.Pendekar Pemanah Rajawali Ibu itu berbangkit. ―Oh. Kwee Ceng lantas lompat maju. ia merasakan sambaran angin ke arah kepalanya. ―Lepaskan!‖ teriak Wanyen Kang. Maka seraya memutar tubuh. pikiranmu was-was.‖ ―Aku was-was kenapa?‖ ibu itu bilang. di mana ia pernah dengar itu. Tiat Sim tubruk istrinya itu. yang ia terus peluk dan angkat untuk dibawa lari keluar dari rumah bobrok itu. Meski begitu. ia putar tubuhnya. . Itulah menandakan lihaynya si 233 Yo Tiat Sim tidak pedulikan pangeran itu. Ia menjadi kaget sekali. Semua Berkumpul Tiat Sim mendengar angin menyambar belakangnya. maka ditegur begitu. ia peluki tombak besi itu. inilah tidak heran. Kemudian ia ingat. maka juga sambil berlompat dengan gerakan ―Seekor belibis keluar dari rombongannya‖. maka ujung tombak lantas kena terpegang. sedang Sek Yok menjerit: ―Inilah ayahmu! Apakah kau masih tidak percaya?‖ Lantas ia benturkan kepalanya ke tembok hingga tubuhnya terus roboh ke lantai. Kwee Ceng ingat segera ingat satu nama yang ia rasa kenal baik. Lantas dia bertindak cepat le arah lemari. gadisnya itu. Saking tergugu. Tempo keduanya saling membetot. Disaat ia hendak melompat tembok. untuk menangkis seraya mencekal. maka bersama-sama mereka melompati tembok untuk menyeingkirkan diri. ia merasakan perih bagaikan kebaret pisau. Tapi ia masih sadar. ia serang bebokongnya Yo Tiat Sim. Ia sudah lantas disambut Bok Liam Cu.

dengan kepandaian semacam itu dari mereka. kenapa sekarang kau menyangkal?‖ Pheng Lian Houw gusar sekali. ―Aku si Lao Pheng kagum sekali untukmu! Sekarang aku memikir untuk meminta tanya namamu yang harum. tidak ada kejahatan yang mereka tidak lakukan. jikalau dalam sepuluh jurus kau tidak dapat mengenali ilmu silatku. tatkala mendengar Pheng Lian Houw mengatakan ialah muridnya Hek Homh Siang Sat. Cuma dengan satu kelebatan. karena hatinya cemas bukan main mendengar suaranya Kwee Ceng. hingga wajahnya bersemu merah.‖ dia kata. ―Nama Hek Hong Siang Sat pernah aku dengar.‖ Oey Yong bilang tanpa pedulikan perkataan orang. ―Aku tidak punya she. ―Oleh karena kau adalah muridnya Hek Hong Siang Sat. aku dipanggil Yong-jie. Semua orang di situ. ―Maafkan. mengapa kau tidak membantu aku?‖ dia tanya. aku si orang tua sudah lama menantikanmu di sini!‖ Itulah suaranya Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong! Pada itu waktu di lain kalangan. kelihatannya cuma Auwyang Kongcu yang bisa menghalangi nona ini. Mau tidak mau. Pheng Lian Hoauw sudah mengahdang di ambang pintu. Orang boleh berdusta hebat tetapi tidak nanti ada murid yang berani mencela dan mencaci guru sendiri di hadapan orang banyak. ―Nona kecil.‖ . yang tersenyum. aku tidak berniat mengganggu padamu. ―Laginya. 234 Auwyang Kongcu tertawa. yang dikatakan Pheng Lian Houw sebagai gurunya. ―Belum pernah aku melihat Hek Hong Siang Sat. menegaskan. akan tetapi mendengar ia bicara demikian hebat terhadap Hek Hong Siang Sat. lantas bertindak perlahan. kau akan membiarkannya aku berlalu dari sini. Auwyang Kongcu. Apakah itu bukannya pengajaran dari Hek Hong Siang Sat?!‖ Oey Yong tertawa pula. jadinya mereka adalah orang-orang dari Rimba Persilatan? Kenapa Pheng Cecu samakan aku dengan mereka itu?‖ Mulanya orang menyangka nona ini tidak hendak omong terus terang.‖ ia menyahut. maka habis berkata. ―Apakah shemu?‖ Lian Houw menanya pula. ―Mereka itu – ini nona-nona cantik yang menunggang unta putih – adakah mereka orang-orangmu?‖ dia menanya. terutama untuk pakaian orang yang serba putih. mereka mana tepat menjadi guruku?‖ ―Percuma kau menyangkal!‖ bilang Lian Houw. apa perlunya gurumu menitah kau datang kemari?‖ Oey Yong tertawa.Pendekar Pemanah Rajawali penyerang. hitunglah kau telah menang. Dia menyenggapi: ―Kau sendiri yang bilang. Pheng Lian Houw menggeser tubuhnya ke samping. Ia menyahuti dengan membentak: ―Jurusmu yang terakhir adaöah jurus ―Tindakannya si binatang sakti‖. semua mata ditujukan kepada pemuda she Auwyang ini. Selagi ia terkejut. Mereka pun telah mendurhaka terhadap guru dan kakek guru mereka. oleh karena Leng Tie Siangjin telah terluka parah. ia dengar bentakan: ―Anak tolol. ingin aku meminta pengajaran beberapa jurus dari nona. kecuali Leng Tie Siangjin dan Auwyang Kongcu.‖ sahut si nona. ―Hanya kau bilanglah. mereka menjadi saling mengawasi. ―Aku yang rendah dan bodoh. telah menjadi pecundangnya nona ini. ―Apa yang aku tahu tentang mereka ialah mereka pengrusak perikeadilan dan prikemanusiaan. ―Di sini ada beberapa tua bangka yang hendak menyusahkan aku.‖ Oey Yong tertawa lagi. Oey Yong mengawasi. Irawan D Soedradjat Page Oey Yong agaknya jengah. sambil tertawa Oey Yong kata kepada cecu itu: ―Kau kalah!‖ Ia berbicara dengan terpaksa. maka itu. ―Kecantikan mereka itu tidak ada separuhnya dari kecantikanmu. Kau adalah satu laki-laki sejati. dari heran mereka jadi mau mempercayai. ia terus putar tubuhnya dan bertindak ke pintu.‖ katanya. sambil tersenyum.‖ berkata orang she Pheng ini. hingga tidak dapat ia menggeraki tubuhnya.‖ ia berkata. ―Apakah kau telah bertemu dengan mereka itu?‖ tanyanya.

Oey Yong telah robohkan delapan dari nona-nona itu. guna mengambil hatinya suami merangkap guru itu. melainkan tubuh orang ada yang kurus dan montok. mereka jadi kaget sekali dan tergiur hatinya. ―Nah. semuanya bakal datang. tapi Auwyang Kongcu cerdik.‖ Si nona tertawa. mana aku tega membalas memukul?‖ katanya kemudian. tinggi dan kate. untuk mencari nona-nona cantik dan manis. itu pun dapat. dia datang ke kota raja – Yan-khia – dengan mengajak sekalian gundik-gundiknya yang merangkap murid-muridnya itu. supaya dengan begitu kemudian aku tak usahlah menerima penghinaan orang. Auwyang Kongcu pun bangga akan gundik-gundiknya itu. Mereka dengar itu Biauw Ciu Sieseng bicara perihal kuda jempolan. dia mengerling kepada si nona. Mengetahui akalnya gagal. Tapi ia pun gemar sekali pada paras elok. kau kemarilah! Kau tak usah takut.‖ Auwyang Kongcu bilang.Pendekar Pemanah Rajawali Auwyang Kongcu tidak bisa lantas menjawab. ―Walaupun kau pukul aku. yang berjumlah delapan orang. yang ia percaya adalah tercantik di kolong langit ini. di See Hek. aku tidak akan balas menyerang. ―Memang tidak ada yang terlebih baik daripada aku mengangkat kau menjadi guru. mereka gagal. Maka juga sejak beberapa tahun dia sudah kirim orang ke pelbagai tempat. ―Benar!‖ jawab si nona. Oleh karena gundik-gundiknya itu banyak. ―Murid-muridku beda daripada murid-muridnya orang lain.ia tidak nyana mereka itu kalah dari Oey Yong. mereka jadi ketarik hati dan ingin merampasnya untuk diserahkan kepada Auwyang Kongcu. kau bantu aku. dengan tajam ia menatap.‖ Oey Yong miringkan kepalanya. ―Nah. Kali ini ia berlalu dari kampung halamannya atas undangan Chao Wang.‖ . tak usahlah untuk selama-lamanya aku mengikuti kau!‖ dia bilang. dari itu dengan sendirinya mereka itu menjadi juga murid-muridnya. yang keringatnya merah. sekarang ia sengaja permainkan Auwyang Kongcu supaya orang mengumpulkan gundik-gundiknya itu. ―Apakah tanpa membalas menyerang kau dapat mengalahkan aku? Benarkah?‖ Pemuda itu tertawa. hendak aku pergi!‖ katanya si nona pula. adalah mereka yang di tengah jalan bertemu dengan Kanglam Liok Koay dan Kwee Ceng. dia rupanya telah dapat menerka. ia menjagoi seorang diri. ―Untuk aku membantu kau. ―Aku tidak percaya!‖ ujarnya. Ia merasa hatinya gatal dan tulangtulangnya lemas…… Anak muda ini lihay ilmu silatnya. dengan perlahanlahan dia mengipasi dirinya. ―Asal kau angkat aku menjadi gurumu dan untuk selamanya kau mengikuti aku. maukah kau?‖ Auwyang Kongcu tertawa. ―Jikalau kau benar-benar lihay.‖ ia bilang. untuk dia ambil mereka itu sebagai gundik-gundiknya. ―Semua muridku wanita dan asal sekali saja aku memanggil. Oey Yong mengasah pula otaknya. wilayah Barat. Ia mengharap. ia dapat mencari jalan untuk meloloskan diri. selagi orang berkumpul banyak. ―Umpama kata aku menjadi muridmu. dengan semua dimestikan mengenakan pakaian serba putih seraya menunggang unta-unta putih juga. . Adalah diwaktuwaktu yang senggang. Irawan D Soedradjat Page 235 ―Baiklah!‖ berkata kongcu itu. Serombongan di antaranya. ia ketahui kepandaian silat mereka itu biasa saja. Dia kelihatannya tenang dan puas. Auwyang Kongcu hendak membuktikan perkatannya. . ia lantas mengasih dengar suaranya. baru mereka muncul setelah ada panggilan.‖ ―Apakah kau hendak mencobanya?‖ Auwyang Kongcu menegaskan. hingga ia menjadi tergila-gila sampai umpama kata kepalanya pening. belum tentu ada tandingannya. Dengan lantas mereka berdiri berkumpul di belakangnya anak muda itu. ―Bagaimana?‖ si nona menanya. Dia sengaja menitahkan mereka menyamar sebagai pria.sekalipun di dalam keraton raja. sedang di bawah sinar merah dari api lilin. Ketika di Kalgan. maka juga ia terus pergi ke ambang pintu. Sebentar saja di muka pintu terlihat beberapa puluh wanita muda dengan pakaian serba putih yang berseragam. dia pecah mereka dalam beberapa rombongan. Di luar sangkaan mereka. ―Kalau mereka itu menghalangi aku. Demikian hatinya goncang kana mendengar suara orang yang merdu itu. ia ajarkan mereka itu ilmu silat dan ilmu surat.‖ katanya. Pheng Lian Houw semua seperti bermata kabur. Mereka ini berkumpul di luar selagi Auwyang Kongcu berpesta. memandang nona-nona manis itu.

Kongcu itu lihay tenaga dalamnya. Ia bukan cuma bertindak masuk saja. yang dari dalam jubahnya mengasih keluar sepasang cecer tembaga. yang terus buka ikatan pinggangnya yang ia serahkan kepada si nona. Semua orang tua di sini menjadi saksinya!‖ kongcu itu memberi kepastian. Ia sudah lantas berkelit ke samping. Ia pikir: ―Terang sekali orang ini tidak bermaksud baik. meminjam tenaga untuk menyerang tenaga. segera ia percepat tindakannya itu. Hal ini membuat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw kagum sekali. pemuda ini benar-benar ceriwis.‖ berkata Auwyang Kongcu. Lingkaran pun seluas enam kaki. tindakannya pun dihentikan. kaki kanannya terus menggurat. dengan itu ia terus ikat tangan orang. sebenatr saja ia sudah tiba di dekat pintu. yang orang benar-benar menyerahkan diri untuk dibelenggu. tetapi hatinya terkesiap. ia tetap senyum. Mereka pikir: ―Nona ini lihay. ―Bagaimana sekarang – bagaimana kalah menangnya?‖ si nona tanya. Ia tentu saja tidak berani menyerang untuk kedua kalinya. segera ia merasakan pukulannya itu membal balik. dia yang kalah.‖ Karena ini. Dia duduk di kursi tapi ia lebih tinggi dari si nona. ―Siapa yang keluar dari lingkaran ini.‖ jawab Auwyang Kongcu. walaupun dia lebih pandai sepuluh lipat. mana bisa dia mengalahkannya tanpa dia membalas menyerang? Mungkinkah dia hendak menggunai ilmu siluman?‖ ―Aku tidak percaya yang kau benar-benar tidak bakal balas menyerang!‖ bilang Oey Yong pula. pada wajahnya ia tidak ketarakan suatu apa. yang terbuat dari benang sutra tetapi kuat. tetapi menerjangnya berbareng. begitu kedua tangannya dirapatkan. Dia hanya bisa berdiri menjublak tanpa bisa bicara apa-apa! Si nona tidak menghiraukannya lagi. yang lain keras. bersedia untuk dibelenggu. ia berputar dengan kaki kiri itu. meski begitu yang terkejut adalah si nona sendiri. kedua tangan si nona mengenai tepat pundaknya. hingga ia lantas terhuyung sendirinya. di atasnya mana ada bercokol satu paderi dari Tibet yang tubuhnya tinggi dan besar. ia bertindak dengan tenang. berbunyilah alat tetabuhan itu Irawan D Soedradjat Page 236 . ia menjadi berpikir keras. Lingkarannya sendiri dalam kira setengah dim. yang lain berat. Sebab ia mengerti sembarang waktu bisa terjadi perubahan. ―Tentu saja! Tapi kalau kau yang kalah. yang satu enteng.‖ Maka ia sambuti ikat pinggang itu. akan tetapi ia gunai kepandaiannya. ―Begitu pun boleh dianggap aku yang kalah. dia membilang tidak akan membalas menyerang. yang mengenakan jubah warna merah. Oey Yong heran. kemudian seraya ia bertindak masuk ke dalam lingkaran itu. bukan?‖ si nona menegaskan. hingga ia dapat berlompat bersama-sama kursinya itu. maka sungguh hebat jikalau aku sampai kena dibekuk dia…. habis mana ia bawa kedua tangannya ke belakangnya. maka kau mesti baik-baik turut aku. dengan begitu ia membuat lingkaran. ia menginsyafi keadaan yang tidak wajar. suatu tanda dari kuatnya kaki kanannya itu. Auwyang Kongcu sudah lantas mengegos tubuhnya akan tetapi sia-sia saja ia berkelit. kau yang kalah!‖ Auwyang Kongcu tercengang karena herannya. tangan kiri dengan jurus ―Angin menyambar yanglui‖. keluar dari lingkaran. Maka terlihatlah gelang rambutnya yang terbuat dari emas itu berkeliauan dan bajunya yang putih berkibar-kibar. Sebaliknya.Pendekar Pemanah Rajawali Lian Houw semua heran. ―Jikalau dua-duanya yang keluar?‖ Oey Yong masih menanya. maka itu. lalu dengan kaki kiri menahan diri. yang satu lemah. ―Jikalau kau kalah. Anehnya. Hanya begitu ia berada di luar. aku bekerka setindak demi setindak…. ia kata: ―Aku hendak pergi sekarang! Kau tidak dapat keluar dari lingkaran untuk menyusul aku! Tadi kau sendiri yang mengatakannya. tiba-tiba terlihat berupa benda besar yang melayang jatuh di depannya. Mereka pun dapat anggapan.‖ sahut Auwyang Kongcu. Lekas ia mengambil putusan: ―Biarlah. karena begitu tangan mengenai sasaran. ia taruh itu di lantai. benda itu adalah sebuah kursi thaysu. ―Baik!‖ kata Oey Yong. toh kau tidak bakal merintangi aku lagi. dengan kecerdikannya. yang lantas bertindak memasuki lingkaran itu. Oey Yong hendak menegur di pederi itu tetapi ia telah di dahului Leng Siangjin. ―Hendak aku telingkung tanganmu ke belakang!‖ ―Baik. dia buktikan perkataannya itu. Auwyang Kongcu lonjorkan kaki kanannya. maka begitu serangn Oey Yong mengenakan padanya. hampir ia melintasi garis lingkaran itu. dia duduk seperti terpaku di kursinya. Segera ia dapat kenyataan. begitu masuk lantas kedua tangannya bekerja. kalau kita berdua sama-sama keluar dari lingkaran.

Mendadak kakinya menjadi lemas. dengan ilmu pukulan ―Tay ciu ini‖ atau ―Tapak tangan besar‖. Biar bagaimana tidak dapat ia melupakan nona yang manis itu. tangannya terus dipakai merebaraba kepada benda itu. untuk mencari. bagaikan rebung muda atau pedang yang ditancap di tanah. ―Baju lapis itu tidak takut kepada senjata tajam seperti golok dan tombak. Dalam kagetnya. sekian lama dia tidak dapat dicandak. ia menjadi mendekati si orang suci itu. mungkin ia tidak terluka. hingga ia seperti hendak menyerbu ke rangkulannya lawannya itu. ketika dia merasakan sakit pada kakinya. ia terus terpeleset dan terguling. terus tubuhnya terjatuh hingga ia menjerit keras. asal ke tempat yang gelap. Sembari berbicara. dia mesti menderita sebab tertusuk duri-duri landak itu. tangan kanannya diangsurkan. Nona yang begitu cantik manis. Baju itu mempunyai duri yang seperti duri landak. ia maju terus.‖ Hauw Thong Hay mengulur lidahnya. Cuma. maka maulah dia nanti merangkulnya…. ynag tidak tahu apa itu Joan-wie-kah. Sebentar kemudian dia sampai di satu tempat. ia justru mencelat ke depan. orang menjadi heran sekali. Maka siapa memukul atau menendangnya. untuk menampa dasarnya cecer. ia pun tidak berlompat itu lari menyingkir. yang bertemu sama Nio Cu Ong. ―Pernahkah kau melihat landak?‖ Pheng Lian Houw mendahului menanya ―Tentu pernah aku melihatnya!‖ sahut orang she Hauw itu.‖ Lian Houw lantas memberi keterangan. dia terjatuh ke dalam sebuah liang. maka sekejap kemudian. sebab telapakan tangannya pecah menjadi sepuluh liang kecil. Irawan D Soedradjat Page 237 . di mana ada banyak pohon berduri serta batu muncul di sana-sini. Lekas-lekas ia merayap bangun. bukan saja tulang-tulangnya bakal patah. dia kena injak bukan batu atau tanah keras. Cu Ong sebaliknya mengejar dia dengan hebat.sebuah di atas. sebuah lagi di bawah. yang dalamnya beberapa tombak. di antara gelap petang tidak dapat lagi ia melihat bayangannya si nona. Pheng Lian Houw berseru: ―Budak itu memakai Joan-wie-kah! Itulah mustika pemilik pulau dari pulau Tho-hoa di Tang Hay!‖ See Thong Thian pun berseru: ―Dia masih begini muda. Ia penasaran. dia pun berlari-lari di tempat yang gelap. Kali ini Leng Tie Siangjin mengangkat tangannya. dia dapatkan sebuah tengkorak manusia. juga isi perutnya. Dia menjadi terlebih kaget. Dia heran yang di pekarangannya istana ada tempat yang demikian. hingga mereka tercengang. Oey Yong tidak menjadi gugup. dia lantas siapkan kakinya. hingga tidak ampun lagi. Tapi ia masih sadar. Mungkin ia menerka. dia lari tanpa memilih lagi jurusan timur atau barat. lalu sepasang cecer itu menyambar ke arahnya…. dia memukul ke arah tubuhnya si nona. selatan atau utara. ia lari mencari. untuk berlari-lari keluar. ―Dia dapat lolos. ia sudah lewat di antara kedua senjata rahasia itu.Pendekar Pemanah Rajawali hingga menulikan kuping. menanyakan itu kepada kakak seperguruannya. hanya tempo ia sampai di luar. si nona sendiri melayang terus bagaikan layangan putus. sampai di luar gedung! Dari kaget. Oey Yong seperti juga tidak dapat menahan tubuhnya. supaya setibanya di bawah. yang tertusuk duri. ―Syukur aku tidak sampai kena menghajar budak itu…‖ katanya. kenapa dia dapat memiliki Joan-wie-kah itu?‖ Sementara itu Auwyang Kongcu sudah berlompat. Ketika akhirnya kakinya tiba di dasar liang. walaupun itu sudah lolos dari bahaya. Ia masih heran tatkala di depan matanya berkelebat suatu sinar. Di dalam hatinya ia menghibur diri.‖ Hauw Thong Hay. maka sambil serukan sekalian gundiknya. hanya serupa benda licin. ialah punggung si nona. Hingga istana pangeran itu menjdai kacar dan gempar! Di pihaknya Kwee Ceng. Dalam keadaan seperti itu. Som Sian Lao Koay ingin membekuk orang untuk dihisap darahnya! Kwee Ceng dapat lari keras. Selagi orang kaget. Thong Hay dan Lian Houw sertia Thong Thian turut pergi mengejar. Serangannya Leng Tie Siangjin tepat mengenai sasarannya. Malah Chao Wang juga menitahkan Thung Couw Tek mengepalai barisan pengiringnya pergi mencari. dia takutnya bukan main. karena ia berlompat maju. Untuk kagetnya. kaki kirinya ditekankan di atasan cecer yang di bawah tubuhnya dipengkeratkan. Bahaya tidak dapat dicegah lagi. sebaliknya. tak usah dia jatuh terbanting. Mereka lihat tangan kanan dari Leng Tie Siangjin mengucurkan darah. Orang menjadi kaget hingga mereka pada berseru. bakalan remuk semua…. dengan begitu. dengan menjejak dengan kedua kakinya. pastilah bakal runtuh di tangan yang kasar dari si paderi. satu suara keras segra terdengar. ―Di dalam bajunya ia memakai baju lapis yang lemas.

yang kosen dan nyalinya besar. baru menyusul kira dua tembok. tidak dapat ia berdiam saja atau mendusta. Kemudian ia putar tubuhnya. sembari meraba dia sembari mundur. dia tidak bakal hidup pula! Apakah kamu sudah bosan hidup?!‖ Terang suara itu adalah suaranya seorang wanita. dia bertindak dengan enteng. Kembali terdengar suara seram dingin tadi: ―Siapa ke dalam gua ini. akan aku susul padamu!‖ terdengar pula suaranya Nio Cu Ong. ―Aku datang kemari tidak sengaja. dari pojok kiri terdengar ini suara dingin seram: ―Siapa berbuat kurang ajar di sini?!‖ Kwee Ceng kaget. Di belakangnya. Baru Kwee Ceng berhenti bicara. ia tidak dapat meraba apa juga. Kwee Ceng bingung. hanya kali ini suara itu disusul sama napas yang memburu. Ia mengucap demikian tetapi ia tidak berkisar dari tempatnya. bahkan kali ini tubuhnya terus lompat turun. atau ia telah dengar sambaran angin. di sana habislah jiwaku…. ―Biarpun kau kabur ke istana Raja Akherat. ia bahka bergusar. supaya ia tidak mengasih dengar suara apa-apa. Ia tidak melihat siapa juga tetapi ia merasa pasti Nio Cu Ong sedang menyusul padanya. Hanya karena berada di tempat gelap. mari kau sembunyi padaku di sini!‖ Ia rupanya dapat menduga dari suara orang. Dalam liang gelap yang gelap itu. lekas naik!‖ ―Aku tidak ada begitu gila mau naik untuk mengantar jiwa…. Justru hatinya lagi berpikir. ia turut terkejut juga. ―Ha. ―Apakah kau hendak menyamar menjadi iblis untuk menakut-nakuti aku?!‖ dia menegur. Nio Cu Ong pun tiba dengan segera. Ia lantas saja berkelit. ―Terowongan ini mesti ada ujungnya. Liang itu merupakan sebuah terowongan. Dia bernyali besar.Pendekar Pemanah Rajawali ―Rupanya ini adalah lubang peranti membuang mayatnya orang yang dibunuh di istana…. Justru itu. Nio Cu Ong tengah menyerang padanya. Dia pun rtidak sudi memberi penyahutan. ia hanya kepada Kwee Ceng: ―Eh. menyahuti orang itu. ke mana kau hendak kabur?!‖ dia berseru. yang bisa menghalangi mundurnya. Ia menjadi semakin takut. ia menyerang pula. dia andalkan kepandaiannya. dia tidak dapat melihat apa juga. Nio Cu Ong tidak takut. Nio Cu Ong telah dapat mengetahuinya.‖ Sebagai seorang polos. bocah. tibalah Kwee Ceng di satu tempat yang terbuka. Itulah ujungnya terowongan itu. Nio Cu Ong mendapatkan tangkapannya gagal.‖ pikir bocah ini. Ini pun ada penjagaan untuk lari terus andaikata Nio Cu Ong berlompat turun. Sekalipun Nio Cu Ong. Lagi beberapa tombak.‖ ia menduga-duga. di mana terdapat cahaya terang. Wanita itu tidak menyahuti. dia dengar teriakannya Nio Cu Ong: ―Bocah. ia melihat ke sekitarnya. dia mesti mati. dia menyusul terus. Kwee Ceng kaget dan takut. Itulah sebuah kamar atau ruang bertembok tanah. di atas sana. Dia masih tidak dapat meraba sesuatu apa. Dia takut Kwee Ceng nanti bokong padanya. mungkin untuk ditawan.‖ ia mengeluh. tahulah ia. terus ia mundur. untuk berjalan dengan kedua tangannya dilonjorkan ke depan. lantas dia tertawa lebar. Siapa sangka di temapt demikian boleh ada penghuninya. ia berkelit ke kiri dan kanan. Irawan D Soedradjat Page 238 . dia bahkan tidak dapat melihat jeriji tangan di hadapannya. ―Siapa yang berani datang kemari menangkap orang?!‖ terdengar pula suara wanita tadi.‖ berkata Kwee Ceng perlahan. dialah seorang yang sedang sakit. hatinya goncang keras. hanya ia lantas meraba ke belakangnya. mungkin sekali. Kwee Ceng menjadi cemas dan sibuk. Kwee Ceng menyingkir terus dengan hatinya memukul keras. anak muda. maka ia mundur terus. ―Aku lagi dikejar-kejar orang….

tidak dapat tidak. aku mohon tanya shemu yang mulia. untuk wilayah Kwan-gwa. ―Apakah kau sakit?‖ ia tanya perlahan. Syukur tangguh ilmu dalamnya. Disaat ia hendak berlompat. lalu perlahan-lahan cekalannya menjadi kendor. Ia pun mendengar orang merintih. tiba-tiba kaku sendirinya. kenapa dia sebaliknya segera mengenali asalusulnya ilmu silatku?‖ ia berpikir. ―Aku tidak dapat melihat dia. ia menjadi lebih tabah. mari maju!‖ ia berseru saking murkanya. ia menjadi bergusar pula. mungkinkah dia itu siluman?‖ Juga sampokan Cu Ong adalah sampokan istimewa. Nio Cu Ong dapat mendengar suaranya kwee ceng itu. besar tenaga orang itu. hingga ia terhuyung tiga tindak. lantas ia merasakan tangannya wanita itu bergemetar keras. Ia menjadi kaget sekali. ia mesti lantas roboh. Tiba-tiba terdengar urat-urat meretek. hingga diluarnya dapatlah ia bernapas lega. biasanya siapa kena tertotok. kakinya terus menendang ke arah wanita itu! Tendangan orang she Nio ini ada sangat kesohor. Ia sangat andalkan kegagahannya. kalu serangannya mengenai sasarannya. tanda bahwa nyonya itu sangat menderita. kiranya saudagar Som Sian Nio Cu Ong!‖ berkata wanita itu. Jalan darah itu ada di batas mata kaki. kesudahannya membuat ia kaget tidak terkira. karena ini. dia kata terhadap Nio Cu Ong: ―Barusan seranganmu. walaupun begitu. yang tidak tahu apa-apa. yang sebelah tangannya segera mampir di bebokongnya Som Sian Loa Koay. ―Aku…. untuk membekuk si anak muda. Dalam kagetnya. Bocah ini telah curi barangku. lalu sebuah cambuk panjang menyambar ke kakinya. untuk menyerang! ―Pergi!‖ membentak si wanita. Kali ini kedua tangan bentrok. tetapi kali ini. ia kenamaan duapuluh tahun lebih. Wanita itu masih bernapas memburu. yang ia duga sedang sakit keras atau terluka parah.aku…. pastilah itu tidak bakal gagal. bagaikan es. bahkan dengan merayap. she Nio. tidak dapat lagi ia bersangsi sedikit juga. untuk bergulingan pergi. ia lantas menyahuti: ―Aku adalah seoarng saudagar jinsom dari Kwantong. tetapi ia tidak mau kasih dirinya diserang demikian. Tidak ayal lagi. Ia pun menduga orang lagi sakit. Aku minta sukalah nyonya tidak menghalangi aku…‖ ―Oh. lalu tangannya si wanita diulur panjang. ―Kalau lain orang. tubuhnya segera tertarik hingga ia roboh menubruk sebuah dipan tempat duduk bersemadhi. Sekarang Nio Cu Ong percaya pasti orang tidak dapat bergerak. tenaganya telah dikerahkan sepenuhnya kepada tangannya itu.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sedang bingung. bukan seperti daging. untuk menerjang. Kwee Ceng baru mendengar sampai disitu. ia rasakan tangan lawan dingin sekali. Apakah kau ada satu jago Rimba Persilatan dari Kwan-gwa?‖ Nio Cu Ong heran bukan buatan. ada lihay sekali. Dengan perlahan ia bertindak menghampirkan wanita itu. Cu Ong terkejut. apapula kau Nio Lao Koay. kau ketua sebuah partai! Apakah benar kau tidak kenal aturan kaum Rimba Persilatan?!‖ Som Sian Lao Koay terperanjat. Di dalam hatinya ia berkata: ―Wanita ini awas sekali matanya! Dia bisa menotok jalan darah.‖ ia meminta. ujung kukunya menyambar ke pundak. Irawan D Soedradjat Page 239 . Ia baru saja melanggar bajunya Kwee Ceng lalu mendadak ia merasakan tangannya terbentur tenaga yang besar. ―He. ia ayun tubuhnya untuk berjumpalitan. tetapi untuk kagetnya. tubuhnya tidak bergerak. ia segera kirim tangan kirinya. bangsat perempuan. Wanita itu terdengar napasnya memburu. maka ia lantas berlompat ke arah darimana suara itu datang. sedang tangannya dipakai menyampok. Lantas ia ulur kedua tangannya. di dalam keadaan seperti ini. ―Nyonya yang terhormat. ia merasakan tangannya disambar dan dicekal tangan lain orang yang dingin enyam. tiba-tiba ia mendengar suara angin. ia buang dirinya ke tanah. ia tidak ambil pusing siapa si nyonya itu. ―Dia lihay sekali! Mungkinkah ia dapat melihat di tempat gelap?‖ Ia menjadi tidak mau berlaku semberono. yang berupa tangkapan. sambil lompat mencelat. dia sudah tidak dapat diberi ampun. aku mesti tangkap dia. Belum lagi tendangannya itu mengenai sasaran atau jalan darahnya kongsun-hiat. ia menangkis dengan tangan kirinya. hingga ia terkejut. Ia hanya heran atas kesebatan wanita itu. Begitu kakinya menginjak tanah. lancang masuk ke rumahku ini.‖ sahut si wanita itu. ia tidak sampai mendapat luka di dalam. terus ia keluar dari terowongan itu.

hatinya menjadi lemas pula apabila ia dengar suara napas empas-empis dari wanita itu. Ia terus bungkam. dengan kegirangan dan bersyukur. maka itu teecu datang ke istana ini…‖ Kwee Ceng menyahut. hingga tak tahu ia mesti membilang apa. cekikan itu menjadi semakin keras. belum pernah aku mengalami kejadian seperti ini. akan melihat bintang-bintang di langit. ialah liang yang tadi. tangan si wanita menjadi kendor sendirinya. Maka ia membelas. yang seperti tidak memperdulikan perkataan orang. Ia mengangkat kepalanya.‖ kata si wanita. ―Benarkah di dalam dunia ini ada iblis? Ah. yang ketemu batunya. Ia jalan terus hingga di mulut terowongan. terus ia menarik. setelah napasnya tidak terlalu memburu lagi. apakah ia bukan orangnya Wanyen Lieh?‖ ―Oh…!‖ berseru si wanita. diletaki di pundak Kwee Ceng. ―Tidak dapat aku dijual orang…‖ Mendengar ini. Tiba-tiba ia berhenti. akan merayap naik. Sebaliknya. Sebab tangan kanan si wanita sudah merangkulnya. agaknya ia gusar. Kalau cianpwee…. mari boanpwee menggendong buat pergi keluar…‖ ―Siapakah ynag tua?!‖ wanita itu membentak.‖ pikirnya. ia telah menggunakan tenaga berkelebihan.ya. ―Memang aku pun hendak menggendong kau. .‖ kata wanita itu. Kwee Ceng merasakan pundaknya itu sakit sekali. hiat-kat. lantas ia berlulut di depan wanita itu untuk mengangguk-angguk hingga tiga kali.‖ sahut Kwee Ceng. Irawan D Soedradjat Page Saking kagetnya. ia telah berlatih cukup di bawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok. Tidak lama keluarlah mereka dari gua itu.‖ kata Kwee Ceng dalam hatinya. ya. ―Jadinya kau telah curi obatnya Lao Koay! Aku dengar kabar ia tengah menyakinkan pembuatan obat-obatan…. ―Teecu ada punya empat macam obat yaitu thian-cit. Yang membikin ia terkejut adalah lehernya terasa dingin dengan mendadak.‖ Wanita itu bernapas tersengal-sengal. Ia tanya pula: ―Kau menghendaki barang apa? Nanti aku pergi mengambilkannya…. mungkin ongya ketahui rahasia ini…‖ Maka dengan cepat ia kembali ke Hoa Cui Kok. dia membutuhkan obat.‖ ―Apakah cianpwee terluka?‖ menanya Kwee Ceng. ―Adalah aku yang memaksa kau menggendong aku keluar dari sini. Ong totiang tentu tidak membutuhkan sebanyak itu. Ia berkata: ―Teecu mengucap banyak-banyak terima kasih untuk pertolongan cianpwee. Kwee Ceng dapat dengar sauara orang berlari pergi.‖ sahut Kwee Ceng. rupanya melawan Nio Cu Ong. kau benar baik…. dengan tindakan perlahan ia menuju ke luar. 240 ―Siapa yang ajari kau ilmu ringan tubuh?!‖ si wanita tanya. Liang sumur itu cukup tinggi tetapi Kwee Ceng dapat memanjatnya. habis itu ia mencoba menggunai kedua tangannya. Kwee Ceng merasa orang sangat berkepala besar. ―Siapa yang menghendaki kebaikanmu itu!‖ ―Ya. Ia pun batuk-batuk.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sudah beberapa puluh tahun. untuk melawan cekikan. him-tha dan bu-yok. keren. Hanya sesaat kemudian. yang tidak berani banyak omong. ―Ong Totiang mendapat luka. ―Lekas bicara!‖ Ia memegang keras leher orang sampai si anak muda sukar bernapas. Ia telah lantas pikir. ―Bocah tolol.‖ ―Ah. tetapi ia tertawa dingin. hatinya jadi lega. ―Kenapa Lao Koay hendak membunuh kau?‖ ia tanya selang seaat. untuk meninggalkan pergi kepada wanita ini tetapi ia tidak tega hati. karena ia berpikir: ―Wanita ini tinggal di dalam istana. Ia tidak tahu orang menguji padanya. tanpa berdaya ia kena ditarik hingga ke depan wanita itu. ―Gendong aku pergi!‖ berseru si wanita itu. Dalam hal kepandaian ini. Maka ia kata pula: ―Jikalau cianpwee tidak merdeka untuk jalan. Ia lantas menggendong.‖ ―Mana aku terluka!‖ memotong si wanita. cara bagaimana kau ketahui aku sudah tua?‖ ―Ya. Ia ulur tangan kirinya. orang tidak sudi menerima budi. Kwee Ceng kerahkan tenaganya di leher.

‖ sahut Kwee Ceng pula. ia berontak. Selagi si anak muda mengawasi pisau itu. Kwee Ceng rasanya kenal. kau mengerti ilmu tenaga dalam yang sejati.‖ Kwee Ceng mengangguk. ―Guru teecu semuanya ada tujuh orang. terus di cekik. sebelah tangannya menyerangi si wanita. salah satu dari Hek Hong Siang Sat. lehernya sudah dicekal si wanita.‖ ―Habis. Dia agaknya mendesak. Kwee Ceng berpikir: ―Kau telah tolongi padaku. ―Dialah Kwa Tin Ok!‖ katanya kemudian. napasnya pun tersengal-sengal. yang heran sekali. tangannya telah dicekal keras. melihat mana. bunyinya : ―Yo Kang‖. seorang she Kwa.‖ sahut Kwee Ceng.‖ Tiba-tiba wanita itu menggetar. ―Teecu bukan murid Coan Cin Kauw. sebaliknya ia kena ditikam Kwee Ceng pada anggota tubuh kematiannya. ―Adalah Tan Yan Cu Ma Giok. ―Kau lihat. ―Di masa kecil pernah aku pakai pisau ini membunuh seorang jahat. Diwaktu malam seperti itu. dari sakunya ia tarik keluar serupa barang. Matanya Kwee Ceng telah berkunang-kunang tetapi ia masih bisa melihat si wanita yang rambutnya yang panjang riap-riapan. ia lantas berontak pula tetapi sia-sia saja. lalu mendadak orang jahat itu lenyap dan pisau ini…. agaknya susah ia berbicara. Tan Hian Hong telah jambak mati kepada Thi A Seng. Apakah namanya Ong totiang itu?‖ Sebelum menjawab. ―Benar. tetapi ia masih bisa bawa lari mayat suaminya itu. segala apa kau boleh tanyakan. di dalamnya tertampak barang yang berkilauan. Kapan bungkusan itu telah dibuka. mukanya pucat seperti kertas. ―Kenapa wanita ini ketahui aku datang dari Mongolia?‖ ia pikir. yaitu Ma Totiang yang pernah ajarkan aku ilmu mengendalikan napas dan bersemadhi. ―Merekalah yang disebut Kanglam Cit Koay. Guru yang nomor satu ialah Hui Thian Pian-hok.‖ Kwee Ceng berkata. Ia lantas mengenali Tiat Sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi.‖ menjawab Kwee Ceng. siapakah gurumu itu?!‖ si wanita tanya pula. ―Kau dipanggil Yo Kang. orang dipanggil Giok Yang Cu. entah dari cita atau kertas. kuku orang sudah masuk ke dalam dagingnya… Ketika malam itu di atas gunung terjadi pertempuran di antara Kanglam Cit Koay dengan Hek Hong Siang Sat. ―Benar. si wanita merampasnya. tidak nanti aku mendusta.‖ Belum habis ia mengucap. ia lolos justru ketika itu turun hujan lebat. bukan?!‖ dia tanya. ―Benar.‖ Wanita itu batuk-batuk beberapa kali. Ia kaget tidak kepalang. Tapi tangan itu sudah lantas kena ditangkap! Segera si wanita melepaskan tangannya yang kanan. Itulah sebuah hungkusan. seram suaranya. ―Apakah kau datang dari Mongolia?‖ tanya wanita itu lagi. Itulah sebuah pisau belati. aku ini siapa?!‖ ia tanya dengan bentakannya. ―Bukan. ―Kau bilang barusan Ong totiang mendapat luka. ―Jadinya kau adalah muridnya Coan Cin Pay!‖ katanya. benar tidak?!‖ masih wanita itu bertanya. Wanita itu perdengarkan suara seperti merintih. Itulah pisau yang ia pakai untuk menikam Tong Sie Tan Hian Hong si Mayat Perunggu. Kenapa kau berlaku begini kasar?‖ Tapi ia toh menjawab: ―Ong Totiang itu bernama Ong Cie It. bukan suhu atau susiok?‖ Suhu dan susiok ialah guru dan paman guru. yang ia letaki di tanah. ia duduk di tanah.‖ menjawab si anak muda. ―Ong Cie It itu kau punya pernah apa? Kenapa kau memanggil ia totiang. Sekarang denagn tiba-tiba Kwee Ceng mengantarkan Irawan D Soedradjat Page 241 . Di gagangnya ia dapatkan dua hruf ukiran.‖ seru wanita itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ha. ―Kau kenal pisau belati ini. Ia menjemput untuk dilihat teliti. teecu she Kwee. Bwee Tiauw Hong sudah buta kedua matanya. Ia kaget.

goncang hati kami. budi siapa aku tidak dapat lupakan. kita mesti jadi tanpa tandingan di kolonng langit ini. sekalipun aku. Sudah belasan tahun ia cari pembunuh suaminya denagn siasia. dia mengawasi aku sambil tertawa. di bawah pohon tho. kaki siapa dia telah hajar patah. seperti mau lompat keluar. Segera ia menjadi girang bercampur sedih. dimana aku diajarkan ilmu silat. hingga selanjutnya dipulaunya itu guru hidup berdua saja dengan istrinya serta beberapa budak pelayan. Habis itu. ―Dulu aku adalah satu nona yang lincah. barulah suamiku itu padam hatinya. Pastilah dia anaknya suboku itu. Itu waktu Tan Hian Hong telah memberitahukan bahwa ia telah mencuri sebagian kitab ―Kiu Im Cie Keng‖.‖ demikian ia melamun. aku tak akan lihat kitabmu!‘ Dia jawab aku. mungkinkah subo meninggal sehabis melahirkan yang sulit? Karena ini aku pikir untuk tidak melahirkan anak juga! Selagi aku berpikir begitu. suhu telah dapat dengar suara kami. ‗Bukan cuma kepandaian suhu belum dapat kita pelajari sebagian saja. ―Kami tahu. aku ditolongi dan dibawa ke pulau Tho Hoa To. seorang pemuda yang matanya besar terbayang dihadapanku. suaminya itu: ―Eh. ‗Baiklah. orang perhina aku. kitab Kiu Im Cie Keng itu aku cuma dapat curi sebagian saja. kami menemukan berbagai peristiwa yang luar biasa. Hian Hong pun jeri. kita curi pula yang sebagian itu!‖ Ia tidak berani pergi. mendadak ia rangkul aku…‖ Wajahnya si Mayat Besi menjadi merah dengan tiba-tiba. Sekejap kemudian. Ketika kami tiba di pulau. Bocha ini mirip dengan subo. mari kita lekas pergi!‖ Tapinya suamiku menampik. Kwee Ceng pun dengar napas orang memburu. Suhu khawatir dia jatuh. Dia kata. si wanita menghela napas panjang. aku dikasihi oleh ayah dan ibuku. kita gagal. Banyak orang kosen yang mereka robohkan. ia menjawab dengan balik menanya: ―Apa daya?‖ ―Kita kembali ke Tho Hoa TO. perempuan busuk!‖ Ia tidak sudi menjadi janda. yang terus ia usir. ‗Eh.‖ Ketika itu angin bersiur. Bwee Tiauw Hong masih ingat baik-baik perkataan Tan Hian Hong. bangsat lelaki. Aku dengar bocah itu berseru. empo!‘ Dia tertawa manis. Oey Yok Su. bagian bawah. Demikian pada suatu malam di musim semi. Aku pergi ke jendela. Maka aku kata kapadanya. malah Hui Thian Sin-liong Kwa Pek Sia telah mereka binasakan dan Kwa Tin Ok sudah mereka bikin buta matanya. lantas mereka menikah. karena buronan kami. sampai hati kita coco satu sama lain. tetapi kau Irawan D Soedradjat Page 242 . Aku ingat kepada subo. sedang tangannya terus memegang keras si anak muda. lantas ia ingat penghidupannya yang dulu-dulu. mereka sembunyikan diri di gunung. Suamiku itu berkhawatir kitabnya nanti ada yang curi. dia hendak pergi mencurinya juga. dia tidak kasih lihat.s esudah kedua orang tuaku menutup mata. kau tentu ingin mempelajarinya. hingga oleh guruku. Karena kupingnya jeli. Aku juga tidak tahu dimana ia menyembunyikannya. tentang peristiwa dulu-dulu itu. Ditepi meja abu aku lihat satu anak perempuan kecil duduk di kursi. perempuan bangsat. ―Dalam murkanya suhu telah putuskan ototnya semua muridnya. Setelah itu. kakak seperguruanku. Dengan begitu. Aku pikir. Bagian atasnya adalah mengutamakan pelajaran tenaga dalam. Dia bilang pada istrinya: ―Aku mesti pergi. untuk mengintai. hatiku memukul terus. ―Baru kemudian. setiap hari aku memain saja. Kami telah menyaksikan suhu telah dapat membekuk musuhnya. Aku kaget hingga lemas kaki tanganku. maka kejadianlah mereka berdua berlaku nekad. ―Eh. Biar kepandaian merka sepuluh lipat lebh lihay. Dengan berbisik aku kata kepada suamiku. Bwee Tiauw Hong dapat dengar itu semua. Lantas si bangsat laki-laki menarik tanganku. Kiranya subo telah menutup mata. mereka buron dari Thoa Hoa To. aku justru berbuat baik terhadapmu! Jikalau kau lihat ini. mereka masih tidak sanggup lawan dua jari tangan saja dari guru mereka. Ia ingat sebab takut digusari guru mereka. Ia masih terbenam dalam lamunannya. ia ingat. Apa yang aku lihat adalah meja abu. tidak dapat aku bergerak. ‗Ayah. hawanya dingin. Bagaimana sekarang?‖ Atas itu. Kiranya musuhnya suhu telah datang ke pulau untuk mengadu kepandaian.Pendekar Pemanah Rajawali jiwanya. mereka berkelana dan menjagoi dunia kangouw. Bocha itu menolong kami. Tiauw Hong lantas melamun pula. Dialah Tan Hian Tong. suhu telah sangat gusar dan telah umbar kegusarannya itu. untuk menyakinkan ilmu seperti pengajaran kitab istimewa itu. dia pentang kedua tangannya dengan apa ia tubruk ayahnya. bagaimana Tiauw Hong tidak jadi girang. atau kau menjadi janda. tetapi dia penasaran. burung hantu pun mengasih dengar suaranya yang seram. Aku menjadi bersedih. ia menyambuti anak itu. pelajaran kita jadi kepalang tanggung. lelaki bangsat. Di kejauhan. untuk diajak lari. kami menyingkir jauh sekali sampai di gurun pasir di Mongolia.‖ Tiauw Hong melamun lebih jauh. Sama-sama kita belajar ilmu silat. Demikian ia berkata terus dalam hatinya: ―Menyaksikan pertempuran dahsyat dari suhu. hingga setelah pandai. yang merupakan pengalamannya. Suhu muncul di ruang meja abu itu. perempuan bangsat. Kami kabur dengan naik perahu. Pertandingan itu itu membuatnya kami kaget. Air laut telah muncrat memasuki perahu kami. juga kepandaian lawannya itu kita berdua tidak dapat melawannya!‘ Maka itu kami lantas meninggalkan wilayah Tionggoan.

dinginnya luar biasa. ‗Aku ingin kau selalu mendampingi aku…‘ Ketika itu aku tidak bersedih lagi sebaliknya aku tertawa terbahak-bahak.‖ jawab Kwee Ceng. Tempo aku meraba pula dadanya. Ah. setelah orangnya mati.‖ dia berkata di dalam hatinya lagi. Aku empos semangatku. kitabnya pun ada. kiranya pembunuh si lelaki bangsat itu bernama Yo Kang! Mana dapat aku tidak menuntut balas? Sebelum membinasakan Yo Kang itu. hendak aku memberi obat kepada kulit itu.‖ demikian dia ngelamun pula.Pendekar Pemanah Rajawali tidak mengerti ilmu dalam. tetapi mereka juga tidak mengejar. tetapi mataku buta! Suamiku pun binasa! Itulah pembalasan! Pernah kami membinasakan kakaknya dan mata adiknya dibikin buta. ia tidak dapat melihat sinar bintang lagi. Aku penasaran! Aku lalu mencari di rambut kepalanya. ‗Mataku! Mataku!‘ Ya. dia membikin aku merasa sakit sampai di tulang-tulangku. dan mereka itu tidak dapat melihat aku. ―Memang. Aku tidak dapat melihat musuh-musuhku itu. ―Suamiku berkata. di situ aku merasakan kulit dagingnya yang rada luar biasa.‘ Itulah kata-katanya yang terakhir. langit mestinya gelap gulita. ―Suhu yang demikian lihay. dibawah lidah. aku lawan serangan racun. Sebenarnya apakah yang heran? Orang dibunuh. Seluruh tubuhku bergemetar. aku lantas menggali sebuah liang besar. ‗Bagus betul pikiranmu ini. mendadak hujan turun seperti di tuangtuang. ia lantas berkata: ―Eh. Tubuhnya si lelaki bangsat mulanya masih hangat. Penyerang itu sempurna ilmu dalamnya. Tidak ada bagian anggotanya yang aku bikin kelompatan. ―Ya. bagaimana tawar! Lantas aku bawa ujung belati ke mulutku. Bwee Tiauw Hong merasa ia telah berada pula di gurun pasir. Hanya. menyeramkan. Sudahlah. harap kau suka meluluskannya. Di situ aku kubur si lelaki bangsat. ngelamun. Dia tidak ingat lagi berapa banyak kesengsaraan yang dideritanya dan berapa banyak jiwa yang telah dibunuhnya. Dengan kedua tanganku. Sia-sia aku mencari.‖ ―Seumurku aku tidak pernah melakukan kebaikan!‖ Tiauw Hong membilang. ―Entah dia bakal gunai cara kejam bagaimana akan siksa aku hingga aku terbinasa…. sekarang aku tidak menghendaki hidup pula! Aku hendak minta suatu apa padamu. apakah benar-benar kau telah mati?‘ Aku bertanya. mana boleh aku mati? Maka itu aku meraba ke dadanya si lelaki bangsat. Aku tidak mati. Lalu Kanglam Cit Koay perhebat serangannya atas diriku. tetapi pertempuran dahsyat di atas gunung itu. di luar kota barat.‖ Karenanya. aku tidak mendapatkannya. bebokongku telah kena tertinju. akan tetapi tubuh itu ia rasakan panas sekali. supaya tidak menjadi nawoh dan rusak. Kemudian terjadilah pertempuran di atas gunung itu.‖ Mengingat itu semua. akan cari rahasianya kitab Kiu Im Cie Keng itu. ia tertawa dingin. lalu perlahan-lahan menjadi dingin. Hian Hong khawatir kitabnya dicuri orang.‖ Bwee Tiauw Hong lantas mengasih dengar suara tertawa kering dari tenggorokannya. Lantas aku sembunyikan diri di dalam gua. oh. Tiba-tiba aku kena raba huruf-huruf ukiran di gagang pisau belati itu.‖ ―Kau hendak minta sesuatu dari aku?‖ Bwee Tiauw Hong tanya. Kanglam Cit Koay telah mengepung aku. ‗Baiklah! Jangan kau terus mengaco-belo!‘ Tapi ia mengajarkan aku Kiu Im Pek-ku Jiauw dan Cwie-sim-ciang. entah berapa banyak orang telah aku bunuh…. hujan besar telah membasahkan seluruh tubuhnya. Nyata dada itu dicacah dengan jarum. tubuhmu bisa rusak. ‗Lelaki bangsat. aku kabur. ―Matilah aku kali ini…‖ kata Kwee Ceng di dalam hatinya. setelah itu ia bakar kitabnya itu. Aku berlalri-lari di dalam hujan. yang ia selalu panggil dengan sebutan ‗lelaki bangsat‘.‘ Aku lantas gunai pisau belati mengiris kulit dadanya si lelaki bangsat. Sekonyong-konyong matanya menjadi gelap. aku minta kau tolong serahkan itu pada Onng Totiang yang sekarang ini lagi mondok di penginapan Ang Ie. Kwee Ceng sampai bergidik. Itu dia rahasianya Kiu Im Cie Keng. Itulah aneh! Hujan turun hebat sekali. kau mati tidak karuan?‘ aku cabut pisau belati dari pusarnya. tanpa ada orang yang memanggil dia lelaki bangsat. Aku sendiri. yaitu cengkeramnan Tulang Putih serta Pukulan Meremukkan Hati. kitabnya lenyap bersama. darah lantas muncrat keluar. ‗Kau yang begini lihay. aku merasa gatal sekali. Ah. aku khawatir Kanglam Cit Koay dapat Irawan D Soedradjat Page 243 . merupakan huruf-huruf dan peta. ―‘Aku tidak bakal ketolongan lagi…rahasianya Kiu Im Cie Keng ada di dadaku…. terus ke bawah. Aku pondong tubuhnya si lelaki bangsat. Dia merasa seperti telah meraba dada suaminya. Hebat suara itu. Maka siapa berani tanggung yang kitab kami pun tak ada yang bakal mencurinya? Maka ia kata pada waktu itu. ‗Kau ajarkan aku cengkaraman Kiu Im Pek-ku Jiauw. Itulah temapt kematianku. hatiku pun turut menjadi dingin karenanya. ingin aku membawa-bawanya di tubuhku. dia cacah tubuhnya sendiri. ia masih ingat jelas sekali. ―Di tubuhku ada beberapa rupa obat. Ini artinya. kitabnya masih kena kita curi. aku pun harus mati bersama si lelaki bangsat. dengan sendirinya cekalan Bwee Taiuw Hong menjadi semakin keras dan giginya pun bercatrukan. selama orangnya masih hidup.‘ Aku jawab. sekarang dengan kepandaian itu aku menggalikan kau liang kubur. sebagaimana dia sendiri dipanggil ‗perempuan bangsat‘ oleh suaminya itu. Itulah dua huruf ‗Yo Kang‘. aku merasakan sangat sakit pada mataku. darahnya pasti mengalir keluar. Aku lantas meraba-raba.

Ia telah mendapatkan pelajaran dari Ma Giok. pangeran cilik itu memberitahukan kepada aku. Tidak dapat ilmu dalam itu dipeljarakan tanpa petunjuk. tidak peduli aku bisa terluka di dalam atau tidak. aku berdiam di dalam terowongan dalam tanah. supaya kemudian aku bunuh si bocah untuk menuntu balas untuknya!‖ Saking senang dan gembiranya. bekerja menyapui rumput. Tangannya itu telah tergetar. Tiauw Hong tertawa berkakakan tak hentinya. Irawan D Soedradjat Page Begitu kedua tangannya beradu. ia pegang tangan si wanita. Semua orang menganggap akulah seorang wanita tua yang buta yang harus dikasihani. Beberapa tahun telah lewat tanpa ada yang mengetahui perbuatanku itu. Aku bekerja di taman belakang. Peduli apa! Berselang dua hari.Pendekar Pemanah Rajawali mencari aku. Ternyatalah ia berotak terang sekali! Aku jadi gembira. Oh. Di saat mati atau hidup itu. Ongya menerima baik permintaan itu. setiap hati manusia! Aku akan belajar. pangeran itu adalah Pangeran Chao Wang. Sekali saja. asal rahasia bocor. walaupun ia tidak berbicara keras. selagi perutku lapar. Aku hendak mengajari dia segala macam kepandaian asal dia suka bersumpah tidak membuka rahasia kepada siapa juga. untuk menangkis. Dia lantas menjambak pula. Tapi dia pun nekat. bahwa ongya hendak pergi lagi ke Mongolia. aku lantas keluar dari tempat sembunyiku. di mana aku menyakinkan kepandaianku. maka ia angkat tangannya yang kanan. tidak kecuali kepada ongya dan onghui. tangannya menyambar ke batok kepala. akan aku cambuk toblos batok kepalanya!‖ ―Lewat beberapa bulan. hingga ia secara sembarangan mengajari aku sepatah kata rahasianya ilmu dalam. Itu dia pukulannya yang berbahaya. Sepulangnya ke istana. yang lihay tenaga dalamnya adalah Tan Yang Cu Ma Giok. yang segala keinginannya senantiasa dipenuhi. untuk mencari telur burung. pastilah aku akan mati kelaparan di dalam situ. Terpaksa aku ajarkan dia tiga jurus. di sana aku dapatkan tujuh saudara imam dari Coan Cin Kauw. Perjalananku ke Mongolia itu tidak sia-sia belaka. ia berontak dengan berhasil. sedang juga. Ia menjadi heran sekali. Ia tidak ketahui yang pelajaranku telah tersesat. Aku mengancam. tangan kanannya pun masih dicekal si wanita. ia dapat tenaga akibat darah ular yang ia sedot. sedang tangan kanannya mengerahkan tenaganya. dia suka menolong. di situ secara diam-diam aku menyakinkan ilmu kepandaianku. Aku dapat mendesak kepada Ma Giok. Dia tertawa haha tercampur hmhm. ―Tidak jelek kepandaiannya bocah ini!‖ pikirnya. dia memaksa minta aku memberi pelajaran padanya. aku mempelajarinya dengan memaksa. Pengejarannya Nio Cu Ong dan pertempurannya sama Wanyen Kang membuatnya tenaga obat menguatkan tubuhnya. cara bagaimana aku bisa melawan mereka? Di antara mereka. Panas hatinya Tiauw Hong. . Kesudahannya. putra nomor enam dari raja Kim. hingga tubuhnya menggetar. supaya ia menolongi aku. juga seluruh tubuhnya menjadi panas. Lantas aku hendak mencari Kanglam Cit Koay. Sekarang ini aku bukannya tandingan mereka. Belakangan aku mendapat tahu. Kwee ceng merasakan tenggorokannya tercekik keras sekali. suaranya dapat terdengar sampai di tempat jauh. Hm! itu waktu akan aku jambret setiap batok kepala. separuh tubuhku ini tidak dapat digeraki. Hm. Kwee Ceng selalu berkelit dengan berhasil. Asal ia membuka mulutnya. Sungguh aku sangat beruntung. pukulan Cwi-sim-ciang. tertawa dingin! Bab 22.‖ ―Kemudian pada suatu tengah malam…. maka aku terus mengajari dia. untuk dipaksa melepaskan cekikannya. aku dengar suara pasukan tentara lewat di depan guaku. sampai tiga kali. aku minta barang makanan. Pertempuran Dahsyat Wanita ini tertawa. dia berseru panjang. agar aku bisa bersembahyang di kuburan suamiku. Bwee Tiauw Hong sudah lantas menarik pulang tangannya. ia sudah menyakinkannya beberapa tahun. Coba kalau bocah ini tidak menerobos masuk ke dalam terowongan. Lantas aku minta supaya aku diajak. Ia lantas menggerembengi aku. tenaga dalamnya telah cukup kuat. Dia sangat menyayangi pangeran kecil itu. Ia berpikir: ―Aku berlatih tanpa 244 Kwee Ceng kalah pandai. Mereka itu bicara dengan bahasa Nuchen dari negara Kim. ia telah dapat belajar dengan baik. Aku melarang si pangeran cilik datang padaku. Maka juga. dia telah mempergoki aku lagi menyakinkan cambuk perak. Bwee Tiauw Hong terperanjat. Mataku tidak bisa melihat. tidak dapat ia berkelit lagi. rupanya dari si lelaki bangsat yang memimpin bocah itu datang padaku. Pangeran yang memimpin pasukan itu mengasihani aku. maka tunggulah aku selesai dengan pelajaranku. Ah! Pangeran cilik yang nakal itu telah datang ke taman belakang. disana tidak dapat aku mencari tulang-tulangnya si lelaki bangsat. malah ia terus ajak aku ke istananya si Tiongtouw.

‖ katanya lemah lembut. aku tidak sangka Bwee Tiauw Hong satu jago yang telah malang melintang di kolong langit ini. mereka itu jalan pergi. ―Kau telah membunuh suamiku. ia tidak pedulikan ancamanan orang. ―Kau mau menolongi atau tidak. ialah dari Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay.‖ katanya. hatinya cemas dan mendongkol. jika tidak. ―Kiranya Yong-jie masih ada disini. Tetapi ia sudah nekat.‖ bilangnya. biarlah aku tersiksa untuk selama-lamanya!‖ Wanita ini baru memberikan sumpahnya itu lalu tiba-tiba di sebelah kiri mereka. dia tidak bakal lolos!‖ Sembari berbicara. Setelah itu. Mendengar ini. tidak nanti aku membikin harimau tumbuh sayap!‖ Maka ia lantas tutup rapat kedua matanya. apabila aku si orang she Bwee tidak mengantarkan obat kepada Ong Cie It.!‖ 245 Kwee Ceng tidak menyahuti. Kenapa aku tidak mau memaksa dia untuk mengajari aku?‖ Maka kembali ia mencekik leher si bocah itu. ―Bagaimana Tan Yang Cu mengajarkan kau ilmu bersemadhi?!‖ Tiauw Hong tanya. ―Tetapi jikalau kau meu dengar perkataanku.‖ sahut si anak muda: ―Sahabatku itu lagi dikejar-kejar lawannya.‖ Dia lantas berpikir pula. biarlah tubuhku tidak dapat bergerak seluruhnya. aku menerima baik permintaanmu. ―Budak hina. jangan ngoceh terus! Lekas kau jelaskan ilmu itu!‖ Dia pun kembali memencet.‖ katanya dalam hatinya. Ah. tiba-tiba dia telah muncul dari gerombolan pohon kembang mawar di samping mereka. kau ingin aku mengajarkan kau ilmu tenaga dalam! Tidak nanti! Biar aku mati. ―Budak cilik ini mesti ada di dekat-dekat sini! Jangan khawatir. satu nona kecil. Ia membandel. hal itu membuat Kwee Ceng merasai lengannya sakit sekali. ia kata kepada Bwee Tiauw Hong. Kwee Ceng terkejut. Kau mesti turun tangan untuk menolongi sahabatku itu!‖ ―Hm!‖ Tiauw Hong kasih dengar ejekannya.‖ . Ia berpikir. ke mari! Yong-jie! Yong-jie…. Kwee Ceng menahan sakit. ―Inilah urusan penting. sejarak belasan tembok. untuk menolongi jiwanya. Dia lantas menyahuti: ―Sudah lama aku ada di sini…. ada orang membentak dengan dampratannya. Bocah ini sebaliknya sempurna ilmu dalamnya. terserah padaku!‖ Tiauw Hong kewalahan. ―Orang she Kwee….Pendekar Pemanah Rajawali guru. lekas kau munculkan dirimu untuk terima binasa!‖ Kwee Ceng kenali itu suara bentakan. ―Kau masih harus melakukan baik satu hal lagi. ―Aku berjanji akan mengantarkan obatmu kepada Ong Cie It. Kwee Ceng dapat menerka isi hati orang.. sekarang aku mesti menyerah kepada segala kehendakmu!‖ Irawan D Soedradjat Page Baru dua kali Oey Yong dipanggil. Bwee Tiauw Hong mengerahkan tenaga di tangan kirinya. ―Baiklah bocah.‖ Tiauw Hong lantas saja menjadi kegirangan. dia hanya berkoak-koak: ―Yong-jie. ―Cara bagaiman aku bisa mengetahui di mana adanya sahabatmu itu? Sudah. Lantas ia dengar pula suara seorang lain. ―Bocah cilik yang bau. ―Aku ada punya satu sahabat. aku tersesat. kau boleh siksa aku. akan kau membikin kau mati dengan puas! Jikalau kau membela. ―Dan dia telah dipergoki mereka itu….‖ pikirnya. Lekas ia bilang: ―Baik! Tapi kau mesti bersumpah dulu – sumpah yang berat. aku nanti siksa padamu!‖ Kwee Ceng tidak menjawab. tidak ada harapan algi untuk kau hidup lebih lama!‖ ia kata dengan bengis. nanti aku ajarkan kau ilmu yang Ma Totiang ajarkan aku. Kwee Ceng berpikir. aku akan tutup mulutku!‖ ―Masih ada apalagi?!‖ tanya Tiauw Hong yang murka sekali. terserah padamu!‖ katanya keras. malah ia kata: ―Kau memikir untuk mendapatkan kepandaianku? Hm! Baiklah siang-siang kau matikan keinginanmu itu!‖ Tiauw Hong kendorkan pencetannya. ―Aku suka bicara atau tidak. ―Sesudah si bocah she Kwee yang baru mengajari aku ilmu dalam dari Coan Cin Kauw. dengan sumpahnya.

air matanya turun meleleh di kedua belah pipinya yang halus. sampai ia tiba di gua. Ia bicara sama musuh itu. Memang Oey Yong ini adalah putrinya Oey Yok Su. ia menyerang ke arah Tiauw Hong. Ibunya telah meninggal dunia karena kesulitan bersalin setelah ia dilahirkan. dalam suara seruling dan tambur ada si bintang tetamu…. ia terperanjat. ―Kau siapa?!‖ ia tanya. Ia cerdas sekali tetepi dalam pelajaran ilmu silat. ―Bagus!‖ seru si nona. Maka itu. ia memberikan sedikit arak. Pada suatu hati Oey Yong pesiar kelilingan di pulaunya itu. Belakangan Oey Yok Su ketahui perbuatan anaknya itu. ia gusar. Bwee Jiak Hoa itu adalah nama benar dari Tiauw Hong. Belum pernah Oey Yong ditegur. Tocu pemilik pulau dari pulau Thoa Hoa To di Tang Hay. anaknya baru mendapat permulaan saja dari kepandaiannya itu. Tiba-tiba pula Tiauw Hong ingat: ―Selama ini suhu tidak pernah meninggalkan Tho Hoa To. Karena ia sangat disayang. maka itu ia jadi tahu nama benar dari Tiauw Hong. Dalam kedukaannya. ―Kau…kau…. ia tegur anaknya itu. Ia menyamar sebagai satu pemuda melarat. Tapi ia tidak menangis terus.!‖ tanyanya membentak. Sekarang Tiauw Hong dengar nama orang menyebutnya. hanya ia lantas kata pada Bwee Tiauw Hong: ―Bwee Jiak Hoa. Oey Yong pernah dengar ayahnya omong tentang Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong.Aku she Oey…. Semua puncak. Oey Yong berlompat tinggi setombak lebih. ia angkat tangannya untuk menangkis seraya ia berkata: ―Sumoay. ―Kau pernah apa dengan Oey Suhu. kedua murid ayahnya itu. Nama itu pun sudah beberapa puluh tahun tidak pernah terdengar lagi. nama itu tidak dikenal kaum kongouw. gua dan paseban itu adalah tempat. gua Twie In Tong dan paseban Sie Kiam Teng dari pulau Tho-hoa-to di Tang Hay?‖ Tiauw Hong berdiam. marilah kita bicara baik-baik! Mana suhu?‖ Oey Yong tidak segera menjawab. ia merasakan seperti tubuhnya melayang-layang. ia kurang bersungguh-sungguh. maka cara bagaimana dia bisa datang kemari? Bukankah aku tengah di perdayakan?‖ Menyaksikan keragu-raguan orang. ia pergi ke mana ia suka. malah keduanya tertarik satu pada yang lain hingga mereka lantas saja menjadi bersahabat erat. Tentang kata-katanya tadi. ia menjadi sangat nakal. ―Kau bagaimana?!‖ balas tanya Oey Yong. ia putar tubuhnya dua kali sebelum tubuhnya turun. Dia menjadi terharu dan tertarik hatinya kepada si pria. yaitu: ― Di dalam tumpukan cita Irawan D Soedradjat Page 246 . walaupun Oey Yok Su ada satu jago yang lihay. ia tidak dipaksa ayahnya itu yang ingat ia masih berusia terlalu muda. ia menjadi tidak senang. selagi lompat. maka itu dia pun telah denar pembicaraan di antara Tiauw Hong dan Kwee Ceng. kau mengertikan jurus ini?‖ Tiauw Hong merasakan serangan itu dari anginnya saja. nama sebelum ia berguru. yang begitu perhatikan dan menyayangi kepadanya. lekas kau merdekakan dia!‖ Kwee Ceng heran. Oey Yok Su menghibur diri dengan merawat dan memanjakan putrinya ini dengan dibantu sejumlah pelayan. suaranya bergemetar. seumpama kata semangatnya terbang pergi. dimana ayahnya telah mengurung musuhnya.‖ Tiauw Hong menjawab terlebih kaget lagi. ia menaya: ―Kau sudah mencuri kitab Kiu Im Cie Keng. dimana ia biasa pesiar semasa dia masih belajar silat. di waktu tubuhnya turun ke bawah. Dia adalah anak tunggal dan tersayang. sampai di Kalgan ia – diluar dugaannya – bertemu sama Kwee Ceng. begitu pun Bwee Tiauw Hong. Heran ia akan mendengar disebutnya semua itu. ia lantas ulur tangannya akan sambar Kwee Ceng guna ditarik. Oey Yong menjawab. ―Kau nyatanya belum melupai ayahku! Tapi juga ayahku belum melupakannya kau! Dia telah datang sendiri menjenguk padamu!‖ Tiauw Hong ingin berbangkit bangun akan tetapi kakinya tidak mau menurut perintah. ―Lekas lepaskan dia!‖ Oey Yong berkata pula.Pendekar Pemanah Rajawali Memang nona itu sudah sekian lama bersembunyi di situ. katanya: ―Di dalam tumpukan cita menyembunyikan pedang mustika. maka itu ia pergi buron dengan menaiki sebuah getek kayu. yang namanya Yok di atas dan Su di bawah?‖ ia tanya kemudian. ―Masih ingkatkah kau kepada puncak Cek Cui Hong. Tanpa merasa. Laut Timur. Sembari menyerang. Ia menjadi kaget. Ia merasa kasihan. Itulah jurus ―Burung garuda terbang ke langit‖ dari Cwie-sim-ciang. Ia menjadi bingung sekali.

nyata mereka sudah putus jiwanya semua. seperti habis sudah ilmu silatnya.‖ Oey Yong terangkan. untuk menyerang Bwee Tiauw Hong. Ia tarik tangan Kwee Ceng. Itulah Hauw Thong Hay yang telah datang ke situ dan lantas menyerang. untuk menggertak kepada Tiauw Hong. hingga Auwyang Kongcu tidak berani merapatkan diri.‖ ―Jasa baik apakah itu?‖ Bwee Tiauw Hong tanya. Itu artinya ia mengajak sahabat itu lari bersama. adik seperguruan. itulah nyanyiannya Oey Yok Suk yangs ering dinyanyikan. ia ulur tangannya akan sambar Oey Yong. mereka dengar satu suara seruan yang disusul tertawa panjang. kaulah yang mesti hajar dia. atau ―Unta Sakti Gunung Salju‖. Walaupun begitu. nyonya itu berserba hitam dan romannya tidak luar biasa. ia masih kurang sebat. Oey Yong lantas kenali Auwyang Kongcu. Ia mengerti yang ia sukar lolos. hanya sekarang kau mesti mendirikan dulu beberapa jasa baik. membuat ia mendapat harapan. ia baru menarik tangan Kwee Ceng atau tiba-tiba ia dengar bentakan di belakangnya. musuh bagaimana tangguh juga tidak dapat buat ia jeri. tetapi teecu mohon sukalah guru mengampunkan teecu dari hukuman mati mengingat mata teecu telah buta dan separuh tubuhku cacat…‖ Kwee Ceng heran menyaksikan orang demikian ketakutan dan pasrah sedang begitu jauh yang ia ketahui. dengan pundaknya menggendol sebuah pacul kecil peranti menggali obat-obatan. otak mereka telah dilobangi lima jari tangan. Tiauw Hong masih berpikir: ―Suhu telah datang. Lekas-lekas ia mengetok denagn kipasnya ke lengan si nyonya. entah dengan cara apa dia bakal menghukum aku…‖ Mukanya menjadi pucat kapan ia ingat kebengisannya Oey Yok Su. ia lompat maju. dan orang pun hendak membekuk padanya. tubuhnya menggigil sendirinya. dalam suara seruling dan tambur ada si bintang tetamu‖. Kwee Ceng baru memandang ke tembok tatkala di belakang mereka.‖ Tiauw Hong suka memberikan bantuannya. ―Ada orang busuk lagi menghina aku. Oey Yong hendak menggunai ketikanya untuk menyingkir. ―Akan aku berpura-pura tidak sanggup melawan. Bwee Tiauw Hong membuat perlawanan dengan Kiu Im Pek-kut Jiauw. Ia kaget bukan main. untuk memernahkan diri di belakangnya Bwee Tiauw Hong. hatinya tentu girang.Pendekar Pemanah Rajawali menyembunyikan pedang mustika. tetapi ia cerdik sekali. terus ia menunjuk ke luar jendela. ialah ―Sin To Soat San Ciong‖. Yang membikin ia terkejut sekali adalah keempat muridnya telah roboh terguling. sebab dia tahu si nona memakai lapis berduri. Sebentar ayah datang. Benar-benar Tiauw Hong jeri dan melepaskan Kwee Ceng. Ia keluarkan kepandaiannya yang istimewa. Oey Yog tarik tangannya Kwee Ceng. ke arah muka. ayah paling dengar perkataanku. Oey Yong tertawa di dalam hatinya. Mendadak tubuhnya menjadi lemas. tubuhnya pun dibawa berlompat berkelit. Mendadak saja ia merasakan angin menyambar ke arah dadanya. Irawan D Soedradjat Page 247 . ujung bajunya robek sepotong sedang kipasnya patah menjadi dua potong. Itulah cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw. hingga semangatnya bangun dengan mendadak. Auwyang Kongcu melihat Tiauw Hong sedang duduk numprah. ―Anak yang baik. sambungan tulang-tulangnya mengasih dengar suara meretek. Ia buta tetapi ia seperti membayangkan guru itu dengan bajunya warna kuning muda. lalu di sana muncul seorang yang tangannya menggoyang-goyang kipas. kapan ia lihat kau membantui aku. segera ia dapat akal. ia mau ajak sahabatnya itu menyingkirkan diri. sebentar nanti aku mohonkan ampun kepadanya. Sementara itu Auwyang Kongcu lagi mendatangi bersama keempat murid wanitanya. untuk memeriksa. disusul sama serangan dua tangan. si Mayat Besi biasanya galak dan telengas. Nona ini telah pikir. Kata-katanya ini sumoy. dengan menerbitkan suara memberebet. begitu lekas Tiauw Hong dan si kongcu bertempur. Kongcu ini menjadi murka sekali. kedua tangannya bergerak panjang dan pendek. Belum pernah ia mendapat serangan sehebat ini. supaya ayah suka mengampunkannya. tidak banyak omong lagi. yang ia tahu ilmu silatnya lihay. lantas ia menghadapi Bwee Tiauw Hong dan berkata: ―Bwee Suci. maka setiap muridnya kenal itu baik sekali. yang kepandaiannya tidak dapat ia tandingi. ia lihat tangan si nyonya menjambak secara hebat. Begitu dia tiba di depan mereka bertiga. lagi berdiri di hadapannya. ia terus mendekam ke tanah seraya berkata: ―Teecu ketahui dosaku yang mesti dibunuh berlaksa kali. buat menyingkir dari istana itu. apabila ia mendekati mereka. Ia sengaja menyebutkan itu. aku tidak kena kau jual!‖ orang itu berkata sambil tertawa.

Chao Wang bersama putranya repotnya mencari orang yang menculik onghui. Tidak lama. maka Thong Hay lantas saja berkoak. di dalam dan di laur istana. lantas ia putar tubuhnya. ―Aduh!‖ karena tepat ia terkena piauw itu. ―Bagaimana sih caranya menyakinkan ilmu dalam?‖ dia tanya Kwee Ceng selagi ia melayani musuh. Maka setelah itu Tiauw Hong manjadi menang diatas angin. ia menjadi lemas sekujur tubuhnya. Ia bertenaga besar. Di luar dugaannya tangan si nyonya.Pendekar Pemanah Rajawali Segera setelah itu. ―Dengan itu dimaksudkan telapakan dua tangan. akan tetapi ia insyaf bahwa mereka bekerjasama menangkis musuh. Dia tidak dapat melupakan ilmu itu. tanpa berdaya lagi. hingga tubuhnya segera diangkat. ―Dudk numprah.‖ Kwee ceng menjawab. segera ia membungkuk memegang kedua pahanya Tiauw Hong. maka kagetlah ia tempo bebokongnya kena dijambak. dia membutuhkan bantuanku!‖ Ia terus bekerja. dari arah kiri terdengar suara angin menyambar. ―Apa itu ynag dinamakan lima hati?‖ Tiauw Hong menanya pula. Dia ini mengkeratkan diri. ―Hajar dulu ini dua orang!‖ ia kata pada Tiauw Hong. dan tubuh Tiauw Hong tidak berat. tangan mereka sama-sama kesemutan. kagetnya bukan main. guna mundur sembari menangkis atau berkelit. Hati mereka tapinya gentar menyaksikan kehilayan si nyonya. tak dapat ia bergerak lagi. telapakan kedua kaki dan embun-embunan. Irawan D Soedradjat Page Tiauw Hong dapat tahu datangnya serangan gelap. untuk diangkat. Dengan tangan kirinya Tiauw Hong tangkis serangan Auwyang Kongcu. See Thong Thian dan Pheng Lian Houw menanti di pinggiran. mereka berlari-lari bersama barisan pengiring mereka. Karenanya kedua tangan beradu satu sama lain. ia membuatnya orang she hauw itu kewalahan. bersiap untuk membantui. ia menjadi kaget. SeeThong Thian menyaksikan itu. ia tidak mengerti maksud orang. lima hati di hadapkan ke langit. untuk maju memburu. ia menjadi gemas sekali sambil berseru. enteng tubuhnya. ia kata kepada Kwee Ceng: ―Kau pondong aku. untuk berkelit. dengan tangan kanannya ia jambak Nio Cu Ong. semabri berbuat demikian. untuk memburu. ke situ pun datang See Thong Thian bersama Nio Cu Ong dan Pheng Lian Houw. dia dapat mengcengkram pundaknya. kau kejar si orang she Nioitu!‖ Baru sekarang Kwee Ceng mengerti maksud orang. sedang di lain pihak lima jari tangan kanan si nyonya itu menyambar ke abtok kepalanya. ia jadi dapat berbegrak dengan leluasa. Maka tidak tempo lagi. 248 Berbareng dengan itu. untuk menghalau lengan nyonya itu. Bwee Tiauw Hong merasakan repot melayani dua lawan yang tangguh. pundaknya orang she Nio itu berlumuran darah. Tiba-tiba ia tarik sebelah tangannya dan menyambar bebokongnya Kwee Ceng seraya ia berseru: ―Kau podong kedua kakiku!‖ Kwee Ceng kaget. Itulah serangan kim-chie-piauw. lalu dia bergerak kesana ke mari menuruti setiap petunjuk nyonya itu. Nio Cu Ong lihat bagaimana Auwyang Kongcu terdesak. .‖ Girang Tiauw Hong hingga ia menjadi bersemangat. tatkala ia melihat Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian maju membantu suteenya untuk menggerubungi Oey Yong. keduanya menjadi kaget. Kwee Ceng lompat. Ia bukan lagi pondong si nyonya. hingga ketika ia menjambret Nio Cu Ong. Oey Yong main berkelit terhadap pelbagai serangan Hauw Thong Hay. atau senjata rahasia yang berupa uang dari Pheng Lian Houw. Ia pun lantas ingat bagaimana di dalam gua ia telah dipermainkan nyonya itu. Nyonya itu sudah lantas kasih bekerja kedua tangannya. dia hanya memanggulnya. ia menangkis dengan melemparkan tubuhnya Hauw Thong Hay ke arah datangnya piauw itu. hingga ia mesti melompat menyingkir. ia maju akan membantui si pemuda mengepung. ynag kiri ke arah bebokongnya Hauw Thong Hay. Pikirnya: ―Dia tidak dapat menggunai kedua kakinya. sampai bajunya robek dan terlihat baju dalamnya. Ia berlompat. ia turut perkataan orang itu.

sebenarnya ia berkhawatir. Nio Cu Ong berseru. siapa tahu. Tiauw Hong segera diserang dari tiga penjuru. begitu pun Oey Yong. semua itu terjadi dalam sejenak. Untuk membebaskan dirinya. ia mementang kedua tangannya untuk menangkis. dan tanah dari Tiong Ie. maka itu. atas mana Cu Ong menangkis dengan tangan kanannya. Ia heran atas tidak datangnya bala bantuan. mereka tidak nanti dapat mengganggu selembar rambutmu!‖ Ia ingin membangkitkan kejumawaannya si Mayat Besi. Nona ini segera menyerang punggungnya orang she Nio itu. oleh piauwnya Pheng Lian Houw. Maka ia menanya. emas. Dengan mencelat ke samping.‖ Ngo-heng ialah kayu. Ia mengharap Tiauw Hong bisa melibat musuh-musuhnya. Sementara itu Pheng Lian Houw lantas mengetahui wanita itu adalah Bwee Tiauw Hong. supaya Kwee Ceng dilepaskan. darimana kau memancing begini banyak musuh lihay? Mana suhu?‖ Ia menanya demikian. akan menyentil balik setiap piauw. apapula ia dapatkan tubuh sutee itu bakal jatuh ke tanah. ia serang Nio Cu Ong. dari itu. Terpaksa ia melompat maju. ―Itulah kayu dari Tong-hun. sedang tangan kirinya tidak melepaskan rambutnya si Mayat Besi. supaya ia bisa ajak Kwee Ceng kabur. lantas jari-jari tangannya dipakai menyentil. menyerang kepada Auwyang Kongcu. belum lagi Kwee Ceng menjawab ia.‖ Girang Tiauw Hong mendapatkan keterangan ini. Maka kali ini Thong Hay bisa kerahkan tenaganya. Pheng Lian Houw dan See Thong Thian. Ia kaget. ―Dia bakal segera datang!‖ Oey Yong menyahuti. ―Apakah itu yang dinamakan mengumpulkan ngo-heng?‖ Tiauw Hong menanya lagi. ―Mereka ini bukannya tandinganmu! Umpama kata kau duduk di tanah. Dengan begini ia telah memecah perhatiannya.‖ ―Tidak salah! Itu yang dinamakan ngo-kie-tiauw-goan – lima hawa dipusatkan kepada asalnya?‖ ―Itulah. Segera juga Tiauw Hong terdesak dibawah angin. Itulah nio Cu Ong. Tiauw Hong melemparkan tubuh orang dan See Thong Thian menolongi sutee itu. Sudah belasan tahun ia menyakinkan Kiu Im Cie Keng. salah satu dari Hek Hong Siang sat. Ia bertubuh kuat akan tetapi toh hajaran itu membikin ia merasakan sangat sakit. air dan tanah. mengebalkan kuping. semua piauw itu mental kembali. rambutnya itu kutung putus. ia berlompat menerjang. juga kepada Nio Cu Ong. menyusuli itu. tetapi ia merasakan rambutnya ada yang tarik. Bwee Tiauw Hong memasang kupingnya. api. yang menyambar rambutnya itu. pundak kirinya dan iga kanannya telah terkena hajar oleh Auwyang Kongcu dan See Thong Thian. mata tidak melihat tetapi semangatnya ada di jantung. untuk menanggapi dengan menyambar pinggang si adik seperguruan itu. ia repot melayani musuh-musuhnya. maka bagaikan sitebas. hingga ia jatuh dengan wajar. Cu Ong menolong dirinya. meluruskan napas dan menutup lidah. dan hidung tidak mencium bau tetapi rohnya ada di peparu. pemuda ini mesti membantui orang. oleh Auwyang Kongcu dan See Thong Thian. Kalau ia terbanting. maka akhirnya ia teriaki Oey Yong: ―Eh. dia menegur : ―Eh. emas dari See-pek. lidah tidak berbunyi tetapi pemikirannya ada di hati. yang ia tahu telengas. Tetapi Tiauw Hong tengah sulit sekali. Tiauw Hong merasakan ada serangan di kiri dan kanannya. Sungguh tak ingin ia bertemu sama gurunya. yang turut maju pula. air dari Pak Ceng. sekalian dia hendak membangkol tangannya si nona itu. budak cilik! Kau bilang kau bukannya murid Hek Hong. tidak pernah ia mengerti itu. Oey Yong pun menjadi cemas. nyata kau mendusta!‖ Irawan D Soedradjat Page 249 . Tiauw Hong menyambar ke rambutnya. ynag terus ia lemparkan. ―Apakah itu yang disebut mengakurkan su-ciang?‖ ―Itu artinya menyimpan mata. menyusul mana.Pendekar Pemanah Rajawali See Thong Thian kaget. kuping tidak mendengar tetapi pendengarannya ada di geginjal. apabila ia dapat kenyataan Oey Yong membnatui si Mayat Hidup. api dari Lam Sin. celakalah sutee itu.

Cambuknya itu bergerak bagaikan naga beracun. ia melihat ancaman bahaya untuk si Mayat Besi – artinya untuk ia sendiri berdua sama Kwee Ceng. ―Dia guruku?‖ dia membalik. Pheng Lian Houw penasaran. ynag tubuhnya kate. hingga empat lawannya mesti menjauhkan diri. Enam orang. Maka itu. mereka terus mengurung. Tiauw Hong kaget. dua diantaranya sudah lantas lompat turun. kemudian mereka menguntit delapan murid wanita dari Pek To San. Auwyang Kongcu membuat perlawanan. Ia lantas dapat akal. yang menjadi kaget sekali. Memang keenam orang itu adalah Kanglam Liok Koay. Kenapa si nona menyangkal? Kenapa agaknya si nona tidak menghormati Tiauw Hong itu? Justru itu terdengarlah suaranya See Thong Thian: ―Memanah orang lebih dulu memanah kudanya!‖ Kata-kata itu ditujukan kepada Kwee Ceng. Nyata ia telah kasih keluar cambuknya. terpaksa ia lepaskan si nona mangsanya itu dan lari kabur. yang tubuhnya tinggi kate tdak rata. Adalah Kwee Ceng. ada datang orang dari pihak ketiga. ia menjadi girang sekali. Tiauw Hong mengasih dengar suara ―Hm!‖ Mendadak saja tangan kanannya terayun. Merasa tidak ungkulan. Diwaktu malam. Dilain pihak. di dalam kalangan enam tombak. Sebenarnya cambuk Tong-liong Gin-pian dari Bwee Tiauw Hong lihay sekali. tidak mengambil mumat atas teriakan itu. mereka lantas mempergoki Auwyang Kongcu beserta sekalian muridnya merampas anak gadisnya suatu keluarga baik-baik. ―Suhu lekas tolongi teecu!‖ ia berteriak. Pheng Lian Houw semua tahu. muridnya mereka itu. begitupun ketiga kawannya. Auwyang Kongcu membarengi menumbuk bebokongnya. mereka berkelahi terus. dia masih belum mampu menjadi guruku!‖ Lian Houw heran. dalam takutnya. guna menjambret si orang she Pheng itu. tetapi Liok Koay telah berlatih bersungguh-sungguh di gurun pasir. cuma sekarang ia menghadapi Auwyang Kongcu berempat…semua bukan sembarang orang. ia pun bisa susah. atau tiba-tiba ia dengar lain orang mendahulukan padanya: ―Semua berhenti. membarengi mendamprat: ―Bangsat tukang petik bunga. Oey Yong berkhawatir dan penasaran. mereka membikin ia kewalahan. dengan senjatanya itu. Orang yang mencekal joan-pian itu. cambuk emas. lalu terlihat berkelebatnya satu sinar putih terang. Oey Yong segera berpaling. untuk menyambut kakinya orang she See itu. hendak ia berteriak pula. Pheng Lian Houw berpikir: ―Ini perempuan buta mesti lebih dulu dibinasakan. mereka lantas serang Auwyang Kongcu. Begitulah tubuhnya kena dihajar tongkatnya Kwa Tin Ok dan kakinya tertendang Cu Cong. Ia tahu Kwee Ceng masih lemah. tertampak berdiri di atas tembok. Sejak di Utara mereka terpisah dari Kwee Ceng. Atas ini tahulah Tiauw Hong atas datangnya musuh-musuh. dengan tubuhnya si nyonya turun rendah. kalau naka itu roboh. Justru itu. ia menjerit. ia lantas ulur tangan kirinya. Dua muridnya terhajar binasa masing-masing oleh Lam Hie Jin dan Coan Kim Hoat. siapa kena dicambuk. dia mesti terbinasa. jikalau suaminya si Mayat Perunggu keburu datang.Pendekar Pemanah Rajawali Oey Yong tidak mau mengalah. maka ia berteriak: ―Semua berhenti! Aku hendak bicara!‖ Pheng Lian Houw. telah memperoleh banyak kemajuan. mengejak. Tiauw Hong tidak tahu orang hendak membokong dia. yang ia lantas rabu kakinya. Tapi malam ada gelap. ―Lagi seratus tahun ia belajar silat. Rupanya keenam orang di atas tembok itu tidak dapat manahan sabar. karena cambuk orang merintangi majunya. yang bisa membebaskan diri. Ia cuma bisa membikin mereka itu merenggangkan diri. kemana kau hendak lari?!‖ Kwee Ceng dengar suara orang. aku hendak ada bicara!‖ Suara itu datangnya dari arah tembok. sambil berseru. dengan apa ia menyambet ke empat penjuru. untuk menyerbu dengan bergulingan. Merek ini masing-masing bersenjatakan joan-pian dan pikulan besi. ia membungkuk. dia menjatuhkan diri. Oey Yong tidak dapat membantu Tiauw Hong lagi. Terang mereka berdua sama ilmu silatnya. mereka lantas menyerang. Irawan D Soedradjat Page 250 . dia tetapi melayani ketiga musuhnya. merek atidak ambil peduli. sungguh sulit!‖ Ia memikir demikian karena ia tidak tahu Tan Hian Hong sudah terbinasa. muka mereka tidak terlihat nyata. Mereka gusar.

―Tengah malam buta. Maka kedua cambuk itu beradu keras. Begitulah mereka menguntit hingga di onghu. pastilah aku bakal binasa…. Ia ketahui datangnya Kanglam Liok Koay begitu lekas ia dengar suaranya Kwa Tin Ok. mereka semua mundur. Diwaktu gelap. Kemudian Auwyang Kongcu dikejar. Cambuknya itu terlepas. Ia lantas mengambil keputusan: ―Nio Lao Koay beramai tak ada permusuhannya dengan aku. Coba hari bukannya hari ini. Rupanya bocah itu berada dibawah pengaruh orang. aku hampir tidak dapat bertahan. akan keluar dari gelangan. Ketika ia jatuh ke tanah. entah yang satunya lagi bersembunyi di mana…?‖ Ia tidak tahu yang Siauw Bie To Thio A Seng telah terbinasa di tangan suaminya. ia melemparkan tubuh si nyonya sampai jauhnya setombak lebih. tahan dulu!‖ Dua saudara itu menurut. kau lancang masuk ke dalam istana. ―Kali ini kau telah berjasa!‖ katanya. menyerang si Mayat Besi juga. Karena ini tanpa bersangsi lagi. ―Anak Ceng. gampang sekali untuk melihat pakaiannya rombongan Auwyang Kongcu itu. Ia tahu orang muncul yang berenam. pasti aku bersyukur sangat kepada Langit dan Bumi. dengan mengerahkan tenaga.‖ Ia lantas mengertak gigi. Kwa Tin Ok. ia sendiri segera lompat mundur. istananya Chao Wang itu. Ia kaget. Han Siauw Eng maju menyerang si Mayat Besi yang ia sangat benci itu.‖ jawab Kwee Ceng. menulikan telinga. Tapi mereka terus melakukan penyeledikan. Liok Koay bersama rombongannya Nio Cu Ong berdiam semua. Inilah tidak sukar. Cambuk itu ada banyak gaetannya. dia menolongi. akan dengari gerak-geriknya Cit Koay itu. sebab rombongannya Auwyang Kongcu gampang dikenali dari dandanan mereka yang serba putih itu. cambuk perak yang bergemerlapan sudah lantas menyambar kepadanya. ia hanya bernapas memburu. yang dengar teriakan hebat itu. Biauw Ciu Sie-seng heran. kamu hendak berbuat apa?‖ Irawan D Soedradjat Page 251 . habis itu ia duduk dengan hati-hati. Hanya. Liok Koay juga tidak mengejar dengan berpisahan. Merekanjuga lantas mengawasi. yang ia gendong pulang ke rumahnya. lebih dahulu ia menampa dengan tangannya. Oey Yong sudha lantas menghampirkan murid ayahnya itu. Akhirnya ia berkata: ―Nah. ia memasang kuping. belum lagi ia menaruh kaki di tanah.Pendekar Pemanah Rajawali Wat Lie Kiam Han Siauw Eng lantas menolong si nona. apapula mereka itu lantas menyerang Auwyang Kongcu. agar sahabatnya itu melemparkan tubuh orang. untuk simpangi perhatian si Mayat Besi. Tiauw Hong pun sudah berhenti bersilat. maka ia pun teriaki saudara-saudaranya: ―Shatee dan citmoay. Nio Cu Ong bersama See Thong Thian mendahulukan mundur. Tanpa ayal lagi ia menyerang dengan Kim-liong-pian. hingga mereka dapat lihat dengan tegas: Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi telah bersilat dengan cambuknya. Sekarang ini aku lagi dikurung oleh musuh. Mereka kaget akan dengar teriakannya Kwee Ceng. Kwee Ceng mengerti. terlibat dan tertarik sama cambuknya Bwee Tiauw Hong. Kemudian ia berteriak: ―Semua berhenti! Aku hendak bicara!‖ Teriakannya nyaring sekali. si Naga Emas. maka hari ini baiklah aku terbinasa bersama-sama dengan Cit Koay saja!‖ Ia cekal keras cambuknya. kenapa mereka itu bertempur?‖ Cu Cong berbisik kepada muridnya. begitupun yang lainnya. mengapa kau bantui perempuan siluman itu?‖ ―Mereka hendak membunuh aku. Pheng Lian Houw semua heran atas datangnya enam orang itu. karena mereka ketahui. ―Aku minta kau memberitahukan nama kamu?!‖ Nio Cu Ong menegur Kanglam Liok Koay. kau ingatlah baik-baik!‖ Berbareng dengan itu. sedang Coan Kim Hoat maju untuk menolongi muridnya. tetapi ia licin dan dapat meloloskan diri. jikalau aku mesti tambah musuh dalam dirinya Tujuh Manusia Aneh ini. ―Kua sendiri. ―Celaka!‖ teriak Han Po Kie. kalau bertempur satu lawan satu. Empat yang lainnya turut heran juga. maka itu Lam Hie Jin dan Han Po Kie sudah lantas melakukan penyerangan. Ia menyerang Kwee Ceng begitu lekas ia dapatkan tubuhnya dilemparkan. cambuknya. ia heran: ―Dari Cit Koay cuma muncul yang enam. ia memberi keterangan atas pertanyaan orang tadi. mereka pun memernahkan diri di jarak tujuh tombak dari wanita kosen itu yang cambuknya sangat lihay. hari ini mereka mengantarkan diri. Ia mendongkol berbareng khawatir. Tapi kepada Kwee Ceng ia memberi tanda dengan gerakan tangan. pihaknya tidak sanggup. Lian Houw lantas menggulingkan tubuh. Ia pikir: ―Aku cari mereka ke mana-mana. percaya yang orang adalah orang lihay. yang menyaksikan bahaya mengancam muridnya. dia sepertinya duduk bersilat di pundaknya Kwee Ceng. telapakan tangannya sakit.

dari itu tidak berani ia menghajar tubuh orang. sebab serangan datang dalam rupa tangan kiri lawan. lantas ia menyerang dengan hebat. yang satu merusak usahanya. SeeThong Thian dan Pheng Lian Houw benar lihay. tahulah ia bahwa ia bukannya tandingan musuh she See itu. Karena ini. Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin. hingga ia membikin Kim Hoat terdesak. ―Ini toh barang yang diperantikan menimbang di pasar tetapi kau pakai untuk menyerang orang!‖ Coan Kim Hoat mendongkol dan menyahut: ―Dacin ini untuk menimbang kau. Karena ini Oey Yong yang dapat mendesak. sambil berseru keras. ―Sudah lama aku mengagumi nama kamu!‖ See Thong Thian tapinya berteriak: ―Bagus! Cit Koay telah datang sendiri! Aku orang she See hendak belajar kenal. maka ia lantas mengambil keputusan: ―Baiklah aku binasakan dulu ini beberapa manusia jahat. Ia pun lantas membentak: ―Kamu usilan. Han Siauw Eng lantas maju dengan pedangnya dan Coan Kim Hoat dengan dacinnya. Kanglam Cit Koay!‖ kata Pheng Lian Houw. . Han Po Kie kate dampak dan gemuk. mereka jadi bertempur dalam dua rombongan dengan masing-masing tiga lawan satu. Pheng Lian Houw tidak berdiam saja melihat kawannya dikerubuti. ia serangn musuh ini hingga si musuh kaget dan mesti berkelit dengan lompatan jungkir balik ―Ular naga membalik tubuh. Auwyang Kongcu berdiam sambil bersiap. gerakannya aneh. kepandaiannya sebenarnya bagaimana!‖ Thong Thian gusar karena ia ingat penghinaan yang diterima empat muridnya.‖ ―Eh. Orang Kangouw menyebut kami Kanglam Cit Koay. Ia lantas lompat ke depannya Pheng Lian Houw. ia lantas tinggalkan musuh ini. untuk menyerang yang lain. ia menangkis dengan ujung tongkatnya. walaupun mereka dikepung. Tapi Kim Hoat lihay. Meyaksikan saudara keenamnya itu kewalahan. Karena ini. Si wanita siluman.‖ menyahut Tin Ok. dia boleh dibereskan belakangan…‖ Segera ia lompat ke sampingnya Kwa Tin Ok. Ia lantas saja berkelit denagn mendak. 252 Auwyang Kongcu menyingkir dari serangan itu. Han Siauw Eng satu nona yang manis. yang ia terus serang. Han Po Kie berlompat maju. sesudah berkelit ke kiri dan ke kanan. Coan Kim Hoat kurus kering. heran. Ia bermusuh dengan Liok Koay dan Bwee Tiauw Hong. Auwyang Kongcu telah memasang mata. ia ketahui pihaknya keteter. tetapi ia bukannya menyingkir untuk berlari. Inilah ketikanya untuk turun tangan. Ia dapatkan Kwa Tin Ok bercacat mata dan kakinya. ia menangkis serangan.Pendekar Pemanah Rajawali ―Aku she Kwa. dengan begitu. Begitu ia berkelahi. babi!‖ Lian Houw murka dikatakan babi. yang lainnya membinasakan muridnya atau gundiknya tersayang. yang romannya gagah. Lam Hie Jin menancap pikulannya. hingga Hie Jin terkejut dan mesti berbalik akan melayani. segera ia serang si Tukang Kayu dari gunung Lam San itu. bangsat buta. hingga ia menempur Liok Koay dengan bergantian. Maka teranglah. maka kau rasailah lihaynya kongcumu!‖ Lalu tangannya kanannya meninju. hanya ia lompat kepada Lam Hie Jin. Pertempuran di antara Oey Yong dan Hauw Thong Hay juga berjalan dengan seru. ia menyerang pula dengan jurusnya ―Arhat menunjuk pengaruh‖. See Thong Thian maju sambil mengawasi keenam Manusia Aneh itu.‖ ―Oh. Ia bergerak dengan jurus ―Sekejap seribu lie‖ dari ilmu silatnya Sin To Soat-san-ciang. ―Kami bersaudara bertujuh orang. hingga lawannya itu main mundur. Kwa Tin Ok mendengar suara angin di kanan. Karena itu. Cambuknya kena dirampas Bwee Tiauw Hong tetapi ia punyakan kepalannya. untuk melihat Cit Koay yang namanya demikian besar. mereka masih menang diatas angin. Kali ini pihak Liok Koay yang menang di atas angin. biar bagaimana tidak nanti ia dapat kabur. tetapi ia kebogehan. yang senjatanya yang luar biasa itu hendak dirampasnya. Ia lihay akan tetapi baru beberapa jurus. Sebenarnya Thong Hay lebih lihay terapi ia kalha gesit dan ia pun jeri untuk beju lapis si nona. Kwa Tin Ok dan Cu Cong lantas maju. untuk membantui saudara-saudaranya itu. berbareng dengan mana. sedang Cu Cong lemah lembut bukan seperti orang Rimba Persilatan. senjata apa senjata kau ini?‖ dia tanya. Irawan D Soedradjat Page Melayani Hie Jin pun Auwyang Kongcu pun tidak mau mengulur tempo. tanpa bersuara. ia lompat maju akan rintangi Coan Kim Hoat.

maka tempo ia menginsyafi aksinya Auwyang Kongcu itu. aku minta ganti!‖ Tiauw Hong melongo. maka katanya dalam hatinya: ―Ah. ―Kau peluki aku! Jangan takuti Lao Kaoy!‖ ia menyahuti.Pendekar Pemanah Rajawali ia tengah mengganggu musuh-musuhnya itu. Anak muda itu menghampirkan. ia tidak bakal lolos pula. ia waspada terhadap nyonya itu terutama terhadap cambuknya. Ia terkejut ketika Kwee Ceng kena dijambret Nio Cu Ong. ia dapat tahu nona itu tidak kesakitan. sembari mengejar. Justru itu Oey Yong tertawa geli. untuk merabu kakai si anak muda! Oey Yong melayani Hauw Thong Hay dengan selalu memperhatikan Kwee Ceng. supaya ia bisa menghisap darah anak muda itu. encimu ini yang salah. meskipun ia tahu. Kwee Ceng tahu. hingga belasan bungkusan obatnya kena disambar musuh. maka dengan meninggalkan Thong Hay. terus ia lari ke arah Bwee Tiauw Hong sambil berteriak: ―Tolongi aku!‖ Girang Tiauw Hong mendengar suara orang. Kwee Ceng membela diri. dalam beberapa jurus saja ia sudah terdesak. Ia percaya tubuh si nona itu sudah tercengkeram pelbagai gaetan cambuknya. karena itu. Dia pun berpikir: ―Cambukku banyak gaetannya. Dengan tangan kanannya. hanya ia berlompat ke atas cambuk di mana ia menggulingkan tubuhnya. bagaimana suhu dapat mengampunkan aku? Tapi sudah terlanjur. satu kali ia peluk wanita itu. Ia mengkeratkan perutnya. hingga ia dapat cekal tubuh si nona. gerak-geriknya. hingga terdengar suara robek dari bajunya. Liok Koay yang mulai keteter pula. Suasana kembali terbalik. kecuali ayahnya. ia dapat menolong. Kwee Ceng tertolong dari bahaya tetapi sekarang Oey Yong yang kena kelibat cambuk itu. Ia memang ingin meminta beberapa keterangan pula kepada anak muda itu. Nio Cu Ong dapat mencium bau obat. setelah mana kembali ia menjambak. hingga ia memandikan peluh dingin. ia tidak berani menghampirkan. Nio Cu Ong sementara itu terus memasang matanya terhadap Kwee Ceng. Dengan tiba-tiba ia ingat. nanti aku pasti mengganti bajumu ini…‖ Oey Yong lantas menggapai pada Kwee Ceng. sekarang aku lukai budak ini. ia menjambret dengan kedua tangannya. Kwee Ceng berontak sekuat-kuatnya. beranikah kau melukai aku?!‖ Kaget Tiauw Hong mengenali suaranya Oey Yong. Ia memakai lapisan joan-wie-kah. di sekitarnya. ia dapat meloloskan diri. hingga Pheng Lian Houw dan See Thong Thian jadi dapat bernapas. tubuhnya tidak terluka. untuk diletaki di tanah. ia lompat ke arah cambuk! Ia tidak takuti cambuk itu. Dengan jenaka ia berkata: ―Kau merusaki pakaianku. Nio Cu Ong memburu. baiklah aku habiskan dia dulu!‖ Maka dia terus menarik. ia berdiri jauhnya tujuh atau delapan kaki dari Tiauw Hong. ia lantas lompat kepada bocah itu sambil ulur tangannya. ia masuki semua bungkusan itu ke dalam sakunya. tentu saja baju lapis berduri dari suhu telah diberikan padanya!‖ Ia lantas menyahuti: ―Ya. Atas itu Oey Yong lanats berseru: ―Bwee Jiak Hoak. ia hanya lari berputaran dekat. hingga ia memasuki kalangan smabaran cambuknya si wanita kosen. sudah tidak keburu lagi. Dari suaranya orang. Sekarang ia tidak dihampirkan oleh Nio Cu Ong. Dalam saat berbahaya itu. Bwee Tiauw Hong sendiri memperhatikan suaranya Kwee Ceng. maka juga mendadak saja ia geraki cambuknya. Cu Ong menjambak ke arah perut. untuk menolongi. Ia pun bukannya hendak menangkis. melainkan baju luarnya dan dalamnya pada robek. sukar dicari orag yang bisa mengalahkannya. yang jeri kepada cambuknya si wanita lihay itu. Kwee Ceng bukan tandingan jago ini. malah lekas juga dadanya kena dicengkram. yang terus ditarik Bwee Tiauw Hong. untuk membikin pecah perut orang. Irawan D Soedradjat Page 253 . Sekarang ia melihat kawannya terancam cambuknya Tiauw Hong.

ia menimpuk dengan senjata rahasianya. yang numprah di tanah. ―Ibuku telah dibawa buron penjahat. sesudah jatuh ia pungut. ayahku ada urusan penting untuk mana ia minta bantuan kamu! Lekas!‖ Orang itu mengenakan kopiah emas. Pheng Lian Houw semua menjadi bingung. mereka keteter juga. apa perlunya kami berdiam di dalam istana?‖ Mereka juga menduga: ―Pasti Liok Koay ini lagi menjalankan siasat memancing harimau turun dari gunung. ia takut keluar dari kalangan. ia gunai tangan bajunya untuk menyapu itu. toako?‖ Han Siauw Eng tanya sambil ia menunjuk Tiauw Hong. untuk menolongi. ia tidak dapat melihat Bwee Tiauw Hong. dengan kipasnya ia sampok paku itu. Justru itu terlihat muncul dari gombolan pohon bunga. kau pulangi obatku!‖ Dalam sengitnya. ―Ayah minta semua suhu membantu mencari.‖ ―Hm!‖ Pheng Lian Houw mengasih dengar suara si hidung. aku kembalikan pada kau. keluar dari gelanggang. mereka tidak usah repot-repot menjagai punggung mereka. Ia berkelahi sambil menggertak gigi. Irawan D Soedradjat Page 254 . ―Ini . ―Membuka mega untuk menolak rembulan. Inilah cara berkelahi yang Liok Koay baru pahamkan dan melatih selama mereka berdiam di gurun pasir. ―Bagaimana dia. dilain pihak. Satu malaman ia menumpuh bahaya. Kwee Ceng menjadi masgul sekali. maka lima saudaranya lantas menyusul. ―Apa?‖ dia menanya seraya ia merandak. belakang dengan belakang. kopiahnya miring. Cu Cong lompat maju. ―Siapa kesudian kau mengambil hatiku?!‖ Cu Ong membentak. paku beracun Cu-ngo Touw-kut-teng! Inilah paku yang asal menemui darah lantas menutup tenggorakan orang hingga orang mati seketika!‖ Nio Cu Ong tercengang mengetahui orang kenal pakunya itu. Thong Hay ditinggalkan Oey Yong. terus ia putar tubuhnya untuk berlalu. Dengan begitu. inilah hebat!‖ pikir Lian Houw semua. Cu Cong dapat lihat ujung baju orang penuh rumput dan debu. cara bagaimana aku tidak pergi membantu dia?‖ Karena ini. Cu Cong lari menghampirkan. kawannya pergi menculik onghui!‖ Karena ini tanpa sangsi lagi. mereka lari mengikuti Wanyen Kang. sekarang dia ada punya urusan penting. tubuhnya pun diputar. untuk dicium. yaitu paku Cu-ngo Touw-kut-teng. denagn begitu mereka dapat melayani See Thong Thian. si pangeran muda. ―Onghui telah orang bawa lari. untuk melibat kami semua. ia berkelahi terus. Untuk menggunai kekerasan. tuan!‖ katanya sembari tertawa. dengan tangan kirinya ia angsurkan paku itu.‖ Wanyen Kang beritahu dengan perlahan. Pheng Lian Houw. Justru itu. Ia pun mendahului lompat ke tembok. Ia berkelit. lantas ia memutar tubuh untuk membalas menyerang. Tidak nanti kami berani melupakan budi suhu semua!‖ Pangeran ini datang secara kesusu. Kwee ceng lihat gurunya yang nomor tiga itu terancam bahaya. melupakan segala apa. terus dibawa ke hidungnya. Hauw Thong Hay dan Auwyang Kongcu berempat. mereka lantas lompat mundur. dia berseru: ―Semua suhu. Nio Cu Ong berlari paling belakang. Ia ingat Kwee Ceng darah siapa ia belum sempat hisap. sambil berlari-lari mendatangi. mereka meninggalkan musuh-musuh mereka. sebab Pheng Lian Houw yang lihay sudah cecar padanya. ―Mari kita pulang!‖ mengajak Tin Ok selagi muridnya ragu-ragu. Ia tidak jeri karena ia tahu orang kalah daripadanya. Masing-masing mereka lantas berpikir: ―Ongya adalah yang mengundang kami semua. ―Kalau begitu. malampun gelap. ―Dengan begitu saja kita pulang…‖ katanya menyesal. ia lantas membantui kawannya itu. ia lari menghampirkan. kesudahannya obat tak didapatkan juga. terus ia serang bebokongnya Pheng Lian Houw dengan jurusnya. harapannya tidak ada. Ialah siauw-ongya Wanyen Kang. Kwee Ceng teriakin dia: ―Eh. khawatir nanti benteng perlawanannya itu menjadi dobol. Cu Ong pun ulur tangannya untuk menyambuti. ia pergi dengan perasaan sangta tidak puas.Pendekar Pemanah Rajawali Kanglam Liok Koay sekarang berkelahi dengan mengumpulkan diri. ―Oh. Han Po Kie terluka pundaknya. Meski begini.

―Tanpa aku dustakan kau. Tiba-tiba Tiauw Hong sadar. akibatnya kedua kakinya mati. Ketik aitu fajar sudah menyingsing. mana kau mau lepaskan dia?‖ Dengan ―dia‖ ia maksudkan Kwee Ceng. Oey Yong terkejut. Ia tidak sabaran dan cemas juga. Kwee Ceng menjawab guru ini dengan tuturkan semua pengalamannya. dan makin ia memaksakan diri. ―Perlahan!‖ Tiat Sim mengasih ingat. dari itu ia pondong erat-erat istrinya itu ketika ia lari keluar dengan melompati tembok istana. Di bawah tembok. mana suhu?‖ Tiauw Hong tanya nona itu. dengan kedua tangannya ia menekan tanah. ―Sebentar kita bicara. habis ia menanya. ―Ayahku?‖ balik tanya Oey Yong masih tertawa. mari kita tolongi Ong Totiang!‖ Cu Cong mengajak. Bab 23. Ia heran ketika ia lihat ayahnya kembali dengan memondong seorang wanita. Kira-kira serintasan. ―Eh. Tapi kali ini. lekas ia lompat turun ke lain sebelah. mereka tidak mau turun tangan. Gampang sekali kalau Liok Koay hendak merampas jiwa orang akan tetapi untuk menepati janji kepada Ma Giok. ia kata pula: ―Kau toh yang membilangnya kalau suhu datang ke mari!‖ Oey Yong tertawa pula. ialah suami yang ia buat pikiran siang dan malam. Ia telah keliru menyakinkannya ilmu silat dala. ia lihat orang yang memondongnya. ―Ibuku?‖ ia menegasi. Tiauw Hong murka bukan kepalang. ―Kalau begitu. Ia tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa. mendadak ia roboh pula. apakah aku juga sudah mati?‖ ia tanya. Bisa Lawan Bisa Yo Tiat Sim girang bukan main dapat menemukan istrinya.‖ Ia sudah lantas lari. ―Toako. Satu barisan serdadu sedang lari mendatangi. Ia heran hingga ia menyangka ia sedang bermimpi. kedua kakinya lemas dan kaku. malah ia dapat menolongi juga. ―Mari lekas kita menyingkir!‖ Liam Cu kaget dan heran. ia lupa segalanya. maka itu mereka berlalu dengan terus. Ia ulur tangannya. ―Adik kecil. ―Inlah ibumu!‖ sahut ayah itu. Oey Yong tertawa haha-hihi. Pauw Sek Yok tersadar. ia naik ke ujung lainnya. Justru ia sadar. Ia pun pingsan.‖ sahut kakak tertua itu. Ketika ia pun lompat ke tembok. Ia berhenti dengna tiba-tiba sebab kupingnya segera dengar suara berisik berupa teriakan-teriakan dan melihat cahaya terang dari banyak obor. untuk lari menghilang. ―Eh. ―Ayah. Ia dengar nyata: ―Jangan kasih lolos penjahat yang menculik onghui!‖ Irawan D Soedradjat Page 255 . di antara cahaya pagi remangremang. lantas saja ia bangkit berdiri. ―Kita tidak kurang suatu apa…. mengapa aku bisa jalan?‖ tanyanya pada diri sendiri. siapa ini?‖ ia lantas tanya. Mereka ajak Kwee Ceng bersama. sampai ia berikhtiar untuk menolongi Ong Cie It.‖ sahutnya halus.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kita telah memberikan janji kepada Ma Totiang. ―Tentu sekali ayah berada di pulau Thoa Hoa To! Tidak pernah ayah meninggalkan rumah! Ada apa kau menanyakannya?‖ Tiauw Hong menjadi sangat gusar. akan meraba muka suaminya. hingga napasnya memburu. Ia percaya suaminya itu sudah meninggal dunia. kenapa kau berada disini?‖ kemudian Han Siauw Eng menanya. ia menubruk kepada si nona. anak Ceng. Tiat Sim girang hingga ia mengucurkan air mata. makin pendek napasnya. Setelah berhenti sejenak. ia tidak memberi hormat kepada Liok Koay. lalu dengan tindakan terhuyung-huyung. Liam Cu menantikan ayahnya dengan pikiran tegang. biar kita mengasih ampun padanya.

Setelah terang tanah. ia tidak dapatkan tempat untuk menyembunyikan diri. hingga ia mengawasi saja. Tan Yang Cu Ma Giok. ia berkata: ―Apakah totiang masih ingat peristiwa delapan belas tahun yang lampau di dusun Gu-kee-cun di Lim-an. peristiwa dahulu bakal terulang pula. kau menyingkirlah seorang diri! Ibumu dan aku akan berdiam disini…. wajahnya sangat berwales asih. Dalam kegirangan sangat. ―Jadinya tuan…. sikapnya gagah. Pauw Sek Yok dapatkan suaminya berdarah di sana sini.Pendekar Pemanah Rajawali Tiat Sim menjadi kecil hatinya. justru itu. Maka ia rangkul leher suaminya. Delapanbelas tahun lamanya mereka telah berpisah. Tidak ayal lagi. berdua mereka datang dengan terburu-buru. cuma rambutnya yang berubah. yang lain kumisnya abu-abu. baru saja ia bertemu kembali dengan suaminya. dibelakangnya tergendol sebatang pedang. dilain jurusan ia melihat datangnya dua imam yang satu berkumis dan rambutnya ubanan. Sek Yok heran. Ia melihat kesekelilingnya. ―Sudahlah.!‖ kata Tiat Sim sambil menyeringai. ia ajak istri dan anaknya lari terus.!‖ menegaskan imam itu. Sekarang ia pun merasakan kedua lengannya sakit dan sukar digeraki. Opsir yang memimpin pasukan itu bernama Thung Couw Tek. Dalam dua tiga gebark saja. daripada terhina ia rela terbinasa dalam pertempuran. Khu Cie Kee telah sempurna Iweekangnya. Yo Tiat Sim menjadi nekat. mereka ketakutan. di dalam gelap petang mereka dikejar tentara. Ia menginsyafi bahaya. Senjata ini membangunkan semangatnya. hatinya tegang sekali. kau peluklah ibumu…!‖ Sejenak itu terbayanglah di matanya Pauw Sek Yok pengalamannya delapan belas tahun yang lampau. ia bagaikan harimau tumbuh sayap. karena repot melarikan diri. Ia lantas menoleh kepada gadisnya dan kata: Anak. Ia lantas lari memapaki tentara pengejarnya. di luar dugaan. ―Aku yang rendah ialah Yo Tiat Sim. ―Biarlah kita bertiga mati bersama!‖ katanya gagah. tapi ia menajadi tenang. tak usah aku menyesal…!‖ Lantas ia kata pada anaknya: ―Liam Cu. hingga tangannya itu mengeluarkan darah. maka sekalipun telah bertambah delapan belas tahun umurnya. ia tidak rasai itu. Dari itu ia paksa melepaskan rangkulan istrinyaitu yang ia serahkan kepada anak gadisnya. wajahnya tetapi seperti dahulu hari itu. Karena itu ia tidak lantas mengenal waktu ia dipanggil dan melihat Tiat Sim. ia mengawasi nona itu. ia berduka dan terhina saking terpaksa. Mereka hendak menempati janji dengan Giok Yang Cu Ong Cie It. ―Kau terluka?‖ ia tanya. kalau sekarang akan terbinasa. dia kena ditusuk pahanya hingga ia terjungkal dari kudanya. ia telah dapat merampas sebatang tobak. ia berseru menyapa salha satu imam itu: ―Khu Totiang. tatkala selagi kita minum arak kita menumpas musuh?‖ . Ia menjadi kaget sekali. Menampak tentara pengejar datang semakin dekat. Tiat Sim hendak menjadwab istrinya tetapi ia daptakan tentara itu sudah semakin mendekat. di sini mereka bertemu dengan Yo Tiat Sim suami-istri. Lega juga hatinya Tiat Sim yang mengathui pasukan itu tidak dipimpin oleh opsir yang kosen. ia lupa pada sakitnya. tidak mau ia melepaskannya. di kampung halamannya itu. atas mana tentaranya lantas kabur serabutan. ―Dia…dia mengapa adalah anak kita?‖ dia tanya. Pauw Sek Yok lantas balut tangan suaminya itu. ―Semoga totiang tidak kurang suatu apa. Tanpa pemimpinnya. Di dalam hatinya ia kata: Thian mengasihani aku hingga hari ini aku dapat bertemu sama istriku kembali. Hampir itu wkatu kembali terdengar suara sangat berisik. pada peristiwa di dusun Gu-kee-cun di kota Lim-an. ia pun menyesal yang ia tidak sempat merampas kuda musuh. lalu terlihat debu mengepul baik dan mengulak. Melihat mereka itu.‖ Tiat Sim berkata cepat. Ia dipondong oleh suaminya dan dibawa lari sekuat-kuatnya. tiba-tiba saja Tiat Sim merasakan sakit pada belakang telapakan tangannya.‖ Liam Cu tidak menangis. lantas ia sadar. tak usah dibalut…. atau sekarang. guna membicarakan urusan pibu dengan pihak Kanglam Liok Koay. akan bertemu di kota raja. Di tanya begitu.‖ Irawan D Soedradjat Page 256 Tiat Sim bisa menduga orang lupa padanya. baru sekarang ia ingat tadi ia telah dismabar sepuluh jari tangannya Wanyen Kang. anakku. hari ini kembali aku bertemu denganmu!‖ Imam itu memang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee serta saudara seperguruannya. Itulah tandanya satu pasukan besar lagi mendatangi. Ia angkat kepalany. Yo Tiat Sim tercengang.

Maka lagi dua serdadu roboh pingsan. Ia menjadi girang bercampur terharu dapat bertemu sama kenalan lama ini. Ia pun berseru: ―Khu Totiang. dengan tangan kosong ia tidak bisa berbuat apa-apa. orang she Yo itu lantas menjatuhkan diri berlutut di depan orang suci itu. Yo Laotee!‖ katanya. Mendadak saja ia geraki tombaknya dan menikam imam itu dengan tipu tombaknya. dengan sabar ia melayani. sesudah belasan jurus. Tetapi See Thong Thian telah punyakan latihan beberapa puluh tahun. dengan cara itu ia robohkan lagi delapan serdadu. ia membalas menyerang. ia lantas menarik roboh dua serdadu berkuda itu. habis itu keduanya mundur sendirinya masing-masing tiga tindak. hanya melihat orang demikian lincah. Orang she Yo ini bisa mengerti kesangsiannya si imam. Dia membentak: ―Darimana datangnya si bulu campur aduk ini!‖ Lantas tubuhnya mencelat ke depan Tiang Cun Cu. Ia bersedia melayani musuh yang bersenjata itu.!‖ Tiat Sim tarik pulang tombaknya. Ia tidak sahuti imam itu. Lantas ia tertawa. untuk lari balik. Kejadian ini membikin kaget serdadu-serdadu yang lainnya. maka lagi-lagi ada delapan serdadu yang terguling. hingga ia kaget berabreng mendongkol. dari belakang ia dengar ini pertanyaan yang nyaring sekali: ―Kau ada totiang mana dari Coan Cin Kauw?‖ Ia lantas berlompat. disebabkan penderitaannya. tetapi ia tetap ragu-ragu. tubuh siapa terus ia timpuki ke serdadu yang lainnya yang lagi mendatangi. menghajar pundak si imam dengan jurusnya ―Souw Cin menggendol pedang‖. mereka lantas putar kuda mereka. hingga ia melihat empat orang berdiri berendeng. ―Aku harap kau tidak gusari aku!‖ Ma Giok mengerti. dengan itu ia menyerang pula. Tiat Sim berubah roman dan suaranya juga. Di lain pihak hatinya tegang melihat tentara pengejar telah mendatangi semakin dekat. delapan-delapannya ia timpuki bergantian kepada kawan mereka. di antara mereka muncul seorang yang tubuhnya besar dan kekar. setelah berkelit. lantas ia meraba pada pinggangnya di mana ia selipkan genggamannya yang berupa pengayuh besi yang berat. hanya lantas ia kata: ―Totiang. Orang she See ini insyaf. Belum lagi semua serdadu kabur. tolongilah aku!‖ Imam itu bisa mengerti keadaan orang. Irawan D Soedradjat Page 257 . Luar biasa sebatnya imam ini. Khu Cie Kee tetap bertangan kosong. ―Oh. hari ini kembali aku mesti membuka pantangan membunuh!‖ katanya. tangannya menyampok kepala orang hingga di kepalanya See Thong Thian bertapak lima jari berwarna merah. Setelah hampir duapuluh tahun. dia bergerak dengan gesit sekali. mereka itu terus menerjang dengan begis. ia menjawab: ―Kurangilah pembunuhan! Gertak saja meraka itu!‖ Khu Cie Kee tertawa nyaring dan lama. adalah Kwie-bun Liong Ong – demikian si lanang itu – merasakan tangannya sakit. Dengan hanya mementang kedua tangannya. malah mendapatkan dia menghalang-halangi. Kata-kata ―bulu campur aduk‖ itu adalah hinaan untuk suatu imam. Hanya. untuk merampas senjata lawan. kepada saudara seperguruannya. yang kepalanya licin mengkilap. Ia tangkis seragan itu. Ia lantas mengenali ilmu tombaknya Keluarga Yo itu. yang sudah lantas sampai. ia hendak menguji tangan orang. Kedua tangan beradu dengan keras dan bersuara nyaring. hingga ia ingin tanya she dan namanya lawan ini. Tiang Cun Cu heran juga atas kegagahan orang. Tiang Cun Cu lekas membalas hormat. maka sekali ia maju menyerang. Tiang Cun Cu tidak menghiraukan itu. Adalah masksudnya.Pendekar Pemanah Rajawali Habis berkata. Ia menoleh ke arah tentara pengajar. tak gampang senjatanya itu dapat dirampas. belum sampai ia membuka mulutnya. kau telah melupakan aku tetapi kau tentu tidak dapat melupakan ini ilmu tombak dari keluarga Yo!‖ Tiang Cun Cu terkejut tetapi ia mundur. Kali ini Khu Tiang Cun tidak berani bergerak sembarangan. Sebaliknya. ―Suheng. untuk menoleh. lantas ia maju ke arah tentara itu. Khu Cie Kee heran hingga ia kata di dalam hatinya: ―Kenapa di sini ada orang begini lihay?‖ Selagi si imam ini terheran-heran. ―Kau masih hidup…. yang terus ia serang. maka sekarang ia ingat ebtul peristiwa delapanbelas tahun dulu ketika ia mencoba ilmu silat orang.

maka terpaksa ia lompat maju untuk menghalangi. Imam ini heran mendapatkan munculnya begitu banyak orang pandai. sedangkan ia tidak mengerti. kempolannya kena didupak si imam. ubanan rambut dan kumisnya. lalu kipasnya dia ini kena ditahan. sebaliknya. Maka ia lantas berkata: ―Nama Coan Irawan D Soedradjat Page 258 . ia berpikir: ―Kita telah bentrok dengan pihak Coan Cin Kauw. suaranya tetap keras. Pinto mohon tanya nama mulia dari tuan-tuan. maaf!‖ ―Pengetahuan pinto tentang agamaku masih terlalu sedikit. Perkara di belakangada soal lain. sekarang kita bertemu sama Khu Cie Kee. sebutan Cinjin itu tidak berani pinto terima.?‖ Ia lantas melihat ke sekitarnya. atau mendadak satu bayangan berkelebat si samping si kongcu. tidak keras dan mengagetkan seperti suaranya Pheng lian Houw.‖ menolak Ma Giok. Auwyang Kongcu pun menyerang secara membokong itu. itu artinya ganjalan dengan Coan Cin Kauw.‖ Ma Giok menyahut. Inilah cara berkelahi yang langka. Ketika ia telah menarik pulang pedangnya itu. Hampir saja Hauw Thong Hay terkena pedang. Ia pun lompat ke belakang. hingga dengan sendirinya orang-orang yang lagi bertempur itu pada lompat mundur. suaranya halus. sambil menarik pulang kipasnya. ―Maaf. ―Tuan-tuan siap?‖ tanya Ma Giok. ―Kita tidak kenal satu dengan lain. Hanya. Auwyang Kongcu lihat berkelebatnya satu bayangan. sekarang dua anggota utama dari mereka berada disini. ―Apaha she totiang yang mulia?‖ Auwyang Kongcu bertanya. di belakang hari pastilah sukar untuk menyelesaikan masalah ini. tetapi pada itu ada nada yang mengandung pengaruh. tetapi di dalam hatinya. Itulah Ma Giok yang membantu saudaranya. ada salah paham apakah di antara kita? Aku minta sukalah tuan-tuan menjelaskannya. tetap sabar. Di situ cuma tertampak Yo Tiat Sim sekeluarga bertiga jiwa. maka itu lantas ia menotok kepada kedua jalan darah kin-jie dan pek-hay-hiat. yang hendak dirampas. ia cuma berpikir. ia memandang bayangan itu. apakah di sini masih ada lain-lain saudaranya…. dengan apa ia terus terjang imam itu. ia meneruskan menikam jalna darah ciang-bun-hiat di iganya Hauw Thong Hay. Kelihatannya Khu Cie Kee sudah sangat terdesak.Pendekar Pemanah Rajawali Itulah Nio Cu Ong bersama Pheng Lian Houw. Pheng Lian Houw mencoba bersikap halus. Dengan tangan kiri hanya mengancam.‖ Imam ini berbicara dengan sabar sekali. Ia tahu lawan lihay. Nio Cu Ong menyusul untuk mengepung. Ia lantas menduga kepada anggota Coan Cin Kauw yang tertua. Auwyang Kongcu melihat bagaimana si imam ini dilibat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw dan bagaimana Nio Cu Ong merangsak dari kirinya. yang terus menggeroyok saudaranya. Auwyang Kongcu dan Hauw Thong Hay yang telah lantas dapat menyusul See Thong Thian. tetapi ia berkelit dari serangan orang.‖ Nama Tiang Cun Cu kesohor sekali di Selatan dan Utara. Orang she Nio ini terperanjat untuk kesebatannya si imam. ia pun lantas menggunai ketika untuk mengeroyok. ialah seoarng imam berusia lanjut. tetapi ia kena disusuli. ia menikam ke pinggangnya See Thong Thian. dia memang gagah. la lantas berseru: ―Mari maju berbareng!‖ Ia pun lantas mengeluarkan sepasang poan-koan-pitnya. baiklah kita berlima mengepung mereka itu untuk membinasakannya. ―Pinto berasal dari keluarga Ma. syukur ia keburu berkelit. kiranya Tan Yang Cinjin Ma Totiang!‖ berkata Pheng Lian Houw. ―Si kate ini galak sekali! Dia pun agaknya lihay!‖ Ia lantas menghunus pedangnya. imam ini telah melayani tiga lawan. ceng-cok dan pwee-sim di punggung si imam. baiklah ia sekalian dibunuh saja! Ini adalah ketika yang paling baik untuk mengangkat nama kita!‖ Karena berpikir begini. Ia menerjang sambil berlompat. ketiga jalan darahnya itu bakal menjadi sasaran kipas yang istimewa itu. Pheng Lian Houw dan See Thong Thian lantas menyerang.‖ Pheng Lian Houw sendiri berpikir lebih jauh: ―Kita sudah melukakan Ong Cie It. akan terus mengawasi orang suci ini. mengarah tiga jalan darah hongbwee. hati mereka berkata: ―Pantaslah dia bernama besar. ―Oh. Khu Cie Kee tidak heran yang orang sudah lantas menerjang kepadanya. Khu Cie Kee lantas mengangguk kepada mereka itu seraya memberikan penyahutannya: ―Pinto she Khu. maka itu Pheng Lian Houw berempat saling mengawasi. Jadi dengan sekali bergerak. ia menotok dengan kipasnya di tangan kanan.

Pheng Lian Houw sempat mencabut poan-koan-pitnya. tetapi ia terus menyerang pula dengan dua-dua tangannya. ia berkata: ―Totiang berdua tidak mencela kami. Orang cuma berdua dan mereka belum sempat menemui Ong Cie It. Khu Cie Kee kenal baik kakak seperguruannya ini. dia telah melukai aku dengan racun!‖ menyahut Ma Giok. Pheng Lian Houw segera main mundur. Saking kaget. untuk menerjang. mereka pikirkan siapa Sam Hek Miauw ini. lima jarinya berlobang kecil masing-masing dan bergaris hitam. ia lawan keras dengan keras. tapi telapakan tangannya dibalik ke bawah. Ilmu silat di kolong langit ini banyak perbedaannya tetapi asal mulanya adalah satu. hingga hatinya menjadi gentar. ia pun mengulurkan tangannya. Ma Giok melihat telapakan tangannya. buat menyambuti. ialah ilmu pukulan paling lihay dari kaumnya.‖ katanya seraya mengangsurkan tangannya. dengan itu ia menangkis. ia lompat maju ke depan Pheng Lian Houw. ―Jahanam licik. maka itu bagaimana pula jikalau kita mengikat persahabatan?‖ Imam ini jujur. Ia tidak tahu. ia lantas menarik pulang tangannya itu. Maka boleh ia mengeroyok. sedang Auwyang Kongcu dan Hauw Thian Hay segera membantui Pheng Lian Houw. waktu ia mengerahkan tenaga dan menarik.Pendekar Pemanah Rajawali Cin Kauw sangat kesohor. ia mengerti sebabnya kegusaran itu. untuk menyerang pula. ialah poan-koan-pitnya itu terputus menjadi dua potong! ―Bagus!‖ Khu Cie Kee memuji. Aku she Sam dan namaku Hek Miauw. ada sukar untuk kami datang berkumpul. sembari tenaganya dikerahkan. yang namanya aneh. ―Nama kami kosong belaka.‖ menyahut Ma Giok. di sini kebetulan kita bertemu sama tuan-tuan. untuk membuat Ma Giok memikirkan. untuk berjabat tangan. ―Kenapa?‖ tanyanya. kami sangat mengaguminya. sedang sekarang ia menyerang dengan ―Sam Hoa Cie Teng Ciang-hoat‖. baru saja kami mendapat tahu alamatnya. Kali ini kami datang ke Tiong-touw untuk mencari Ong Sutee. Imam ini menyambuti poan-koan-pit. si licik sudah lompat mundur. beruntun dua tikaman. Sama sekali mereka belum pernah mendengarnya. Tapi ia masih tertawa. yaitu ban Tok-hoan-taya. ia tidak menduga bahwa orang lagi memancing padanya. hebat kesudahannya. ia berpikir. Nama itu berarti Tiga Kucing Hitam. Pheng Lian Houw selipkan senjatanya di pinggangnya. yang untuk beberapa puluh tahun tidak pernah berkelahi. aku merasa beruntung dengan pertemuan kita ini. berbareng ia menarik keluar senjata rahasianya. yang berlompat maju. tangan kirinya Tiang Cun Cu lihay seperti tangan kanannya ang memegang pedang. yang ia sambar ujungnya. ia gunai jarum jahatnya itu.‖ Itulah kata-kata pancingan. itulah bagus sekali. Ketika tadi Pheng Lian Houw menyelipkan senjatanya. terus ia menggentak ke samping seraya berseru: ―Lepas!‖ Pheng Lian Houw pun ada seorang jago. Ketika Ma Giok insyaf ia telah dicurangi dan hendak ia menyerang. Khu Cie Kee heran melihat saudaranya berjabat tangan tapi sudah lantas menyerang. Irawan D Soedradjat Page 259 .‖ Ma Giok dan Khu Cie Kee heran. Di lain pihak. Tiba-tiba ia merasakan lima jari tangannya sakit. Ia merasa orang memegang keras sekali. baiklah!‖ Ia tersenyum. ―Ma Totiang. senjatanya tidak terlepas. Maka ia pun menggeraki pedangnya. Ia sengaja memakai nama Sam Hek Miauw. selagi orang tidak bercuriga. Orang toh lihay…. yang sangat sabar. karena ia merasakan tangan kanannya kesemutan. dalam tempo enam jam dia bakal terbinasa. Ma Giok menyangka orang bermaksud baik. Pheng Lian Houw tertawa tetapi ia mencelat mundur setombak lebih. terus ia membalas satu kali. cuma untuk ditertawakan tuan-tuan. yang tipis seperti benang tetapi disitu ada lima batang jarumnya. jarum yang telah dipakaikan racun yang keras seklai. ―Kau hendak uji tenagaku. See Thong Thia dan Nio Cu Ong maju memegat Ma Giok. siapa terluka hingga di dagingnya. ia menghampirkan Ma Giok. ―Kami bertujuh sudara tinggal di beberapa propinsi. Pheng Lian Houw girang sekali. seperti tertusuk jarum. justru kami hendak menjenguk dia. Mana lagi lima saudara totiang? Silahkan minta mereka itu sudi menemui kami.

Wanyen Kang lari kepada ibunya. racun begini lihay!‖ serunya. rasannya kaku dan gatal. Benar Hauw Thong Hay rada lemah tetapi Auwyang Kongcu lebih gagah daripada Pheng Lian Houw. ia kena terdesak. Syukur ia keburu berkelit. . sedang dengan tangan kirinya melindungi diri. yang datang itu adalah Wanyen Lieh bersama Wanyen Kang. Auwyang Kongcu sudah menendang patah tombak orang dengan kaki kirinya dan kaki kanannya mendupak roboh orang she Yo itu. Karena ini. Inilah tidak disangka imam itu. tidak dapat!‖ Irawan D Soedradjat Page Pauw Sek Yok menunjuk kepada Yo Tiat Sim. Wanyen Lieh melihat istrinya duduk di tengah. tidak demikian dengan kakak seperguruannya. Ma Giok terancam bahaya. Nona itu segera dikepung pengikut-pengikutnya. Tangan Ma Giok menjadi bengkak dan hitam. Lantas ia berpaling kepada Pheng Lian Houw. ia berhasil mencegah menjalarnya racun itu. dari kejauhan terdengar lari mendatanginya beberapa ekor kuda akan kemudian ternyata.Pendekar Pemanah Rajawali Khu Cie Kee heran kenapa mendadak berkumpul orang-orang tangguh ini. ia berkata: ―Ma. akhirnya kita dapat cari kau!‖ Tapi pauw Sek Yok berkata dengan keras: ―Untuk menghendaki aku kembali ke istana. Adalah di itu waktu. Ia ingat. sudah delapan tahun belum pernah ia menemui tandingan. yang seperti dari embun-embuannya terlihat mengepul hawa seperti uap. ―Saudara Yo. meski ia pergi ke ujung langit dan pangkal laut.‖ katanya kemudian. jangan maju!‖ mencegah Khu Cie Kee. Dikepung bertiga. segera ia menghampirkan. ia bersilat dengan sungguh-sungguh. Justru itu sebatang golok menyambar kepadanya. ia girang. Karena menginsyafi bahaya. Ia mesti melawan musuh di luar dan di dalam tubuhnya. Hendak ia menolongi tetapi ia tidak sanggup. barulah Pheng Lian Houw semua berlompat mundur. ia maju menyerang Auwyang Kongcu. untuk memberi hormat. Itulah tanda bekerjanya racun dahsyat. Khu Cie Kee tidak jatuh di bawah angin. yang segera menghampirkan kakaknya. semenjak menempur Kanglam Cit Koay. Maka itu. Nio Cu Ong menyerang terus dengan senjatanya yang merupakan gunting panjang dan See Thong Thian dengan pengagayuh besinya. Ia segera mendapatkan. yang perlahanlahan mulai turun. yang pun sudah tidak berkelahi lagi. ―Suhu. ia melihat orang segera sampai pada ajalnya. ―Apa?!‖ kata mereka. segera ia menjatuhkan diri untuk duduk bersemadhi. jalan darahnya makin cepat. Karena hatinya berkhawatir. ia lantas berteriak: ―Semua berhenti! Tuan-tuan berhenti!‖ Pangeran ini mesti berteriak beberapa kali. akan perdengarkan suaranya yang keren: ―Keluarkan obat pemunahnya!‖ Pheng Lian Houw bersangsi. ketiga musuhnya mendesak keras padanya. akan tetapi melihat kedua imam itu terancam bahaya. akan aku ikuti dia!‖ 260 Wanyen Kang dan Wanyen Lieh menjadi heran. Yo Tiat Sim tahu ilmu silatnya tidak berarti. Makin ia bergerak. Wanyen Kang heran menampak gurunya dikepung. penyerangnya itu satu nona dengan baju merah.‖ Belum habis ucapan imam ini. Ia terkejut akan melihat tangan kanan kakaknya itu menjadi hitam terus sampai di lengan. ia kata nyaring: ―Suamiku masih belum mati. Wanyen Kang segera menghampirkan gurunya. selang beberapa puluh jurus. Ma Giok sendiri mengempos terus semangatnya. ―Ha. mari teecu mengajar kenal. yang ia arah punggungnya.‖ ―Hm!‖ bersuara imam itu. yang goloknya lihat. yang menduga kepada racun biasa. ―Inilah beberapa cianpwee Rimba Persilatan yang diundang ayahku. ―Percuma kau mengantarkan jiwa…. guna mencegah ransakan racun. Khu Cie Kee heran melihat kelakuan kakaknya itu.

Ia tidak mempunyai senjata rahasia untuk mencegah paku itu. Ia melihat seorang dengan pakaian tua dan pecah. berlaksa kali tidak!‖ Maka ia lantas berseru. Maka dua orang itu beda bagaikan langit dengan bumi. sekarang ia dengar perkataan gurunya ini. lalu membabat si orang she Pheng itu. tolongl