Pendekar Pemanah Rajawali

"Pendekar Pemanah Rajawali"
~ Sia Tiauw Eng Hiong ~ Oleh : JIN YONG Pengantar Di luar gunung ada lagi gunung hijau, di luar lauwteng ada pula lauwteng lainnya, Nyanyian-nyanyian dan tari-tarian di Telaga Barat, hingga kapankah itu akan berhenti? Penghidupan mewah di Selatan telah membuat mabuk kepada pelancong-pelancong tetamu, Hingga kota Hangciu dianggapnya sebagai kota Pianciu! Syair di atas adalah lukisan dari peristiwa pada delapan ratus tahun yang lampau. Ketika itu kerajaan Song telah menjadi sedemikian lemahnya hingga kedua kaisar Hwie Cong dan Kim Cong sudah kena ditawan bangsa Kim (Kin), karena mana itu pangeran Kong Ong lalu menyeberang ke Selatan, menerima tahta kerajaan di kota Liman, menjadi Kaisar Kho Cong. Dalam waktu sesulit itu, selagi musuh mengancam di tapal batas, setelah separuh dari negara berada di dalam tangan musuh itu, sudah selayaknya satu kaisar bangkit bangun untuk membuat perlawanan, akan tetapi tidak demikian dengan Kaisar kho cong ini. Dia justru jeri terhadap bangsa Kim itu yang dipandangnya sebagai harimau saja, berbareng dengan itu dia pun khawatir kalau kedua Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong nanti kembali dari tawanan hingga dia tak dapat terus bercokol di atas singasana naga. Maka dengan itu menurut perkataannya dorna Cin Kwee4, dia titahkan membunuh Jenderal Gak Hui, pendekar yang menentang musuh Kim itu, sesudah mana itu dengan merendahkan martabat sendiri ia mengajukan permohonan damai dengan bangsa Kim. Inilah pengharapan bangsa Kim yang disaat itu tengah gelisah sebab telah berulangkali mereka memperoleh labrakan dari Jenderal Gak Hui, hingga semangatnya terpukul hebat, sementara di wilayah Utara mereka terancam pemberontakan tentera rakyat sukarela. Begitu di dalam bulan pertama tahun kerajaan Ciauw-hin ke12 (1138 masehi) perdamaian telah ditandatangani dengan syarat tapal batas kedua negara Song dan Kim adalah aliran tengah dari sungai Hoay-sui. Perdamaian itu namanya saja perdamaian, kenyataannya adalah penaklukan dari Kaisar Kho Cong itu (yang bernama Tio Kouw adalah putra ke-9 dari Kaisar Hwie Cong). Sebab di dalam suratnya, Kho Cong menyatakan dan mengaku sudah terima budi kebaikan dari raja Kim, karena mana turun temurun ia akan menjadi ―menteri yang setia‖ serta berjanji setiap hari lahirnya, ―Kaisar‖ demikian ia menyebut raja Kim itu – begitu juga setiap tahun, ia akan kirim utusan guna memberi selamat sambil menghanturkan upeti uang perak duapuluh lima laksa tail dan cita duapuluh lima laksa balok. Demikian macam martabatnya seorang Kaisar, ia sungguh memalukan, maka ketika tentera dan rakyat negeri mengetahui hal itu, semuanya menjadi murka dan berbareng berduka. Lebih bersedih adalah rakyat di wilayah utara sungai Hoay-sui itu, karena mereka menjadi tidak mempunyai harapan lagi akan bangunnya negara. Dipihak lain, Kho Cong menganggap itu adalah jasa besar dari dorna Cin Kwee, maka juga dorna yang sudah tinggi pangkatnya, yaitu Siaupo Copoksia merangkap Kie-bit-su gelar Pangeran Louw-kokong, dinaiki pula menjadi Taysu, hingga kedudukannya telah mencapai puncaknya kebesaran suatu menteri! Semenjak itu bangsa Kim menduduki separuh dari wilayah Tiongkok. Walaupun demikian pemerintahan di Hangciu malah bertambah buruk, raja dan menteri-menterinya, setiap hari berpelesiran saja, berpesta pora, tidak memikirkan lagi kepentingan negara, sedang beberapa menteri atau perwira yang setia, umumnya kalah pengaruh dan tidak berdaya, hingga mereka pada menutup mata karena mereras. Demikan syair di atas, gambaran dari kaisar yang lemah dan buruk tapi pecandu pelisir! ------------------------------1) Telaga Barat – See Ouw (Si Hu) 2) Piancu – Kaifeng (Kayhong), ibukota propinsi Honan. Bekas kotaraja. 3) Lim-an – Hangciu (Hangchow), ibukota Chekiang, inilah yang dimaksud dengan Selatan (Kanglam) 4) Dorna Cin Kwee – Di Hangciu telah dibuat patungnya sebagai tanda peringatan dari khianatnya terhadap negara dan ada satu waktu yang patungnya itu telah diperhina dengan ludah maupun kotoran manusia. Bab 1. Pertempuran di Tanah Bersalju

Irawan D Soedradjat

Page

Beberapa tahun telah berselang, Kaisar Kho Cong itu digantikan oleh Kaisar Hauw Cong. Kaisar Hauw Cong digantikan Kaisar Kong Cong, lalu Kaisar Leng Cong. Pada tahun Keng-goan ke-5 dari Kaisar ini, selagi musim

1

Pendekar Pemanah Rajawali

dingin, telah turun hujan salju lebat selama dua hari berturut-turut, hingga Hangciu, ibukota Kerajaan Song itu seperti bermandikan air perak, bercahaya berkilau, indah dipandang. Dan diwaktu begitu, Kaisar dan menterimenterinya dengan duduk mengelilingi perapian, bersenang-senang menenggak air kata-kata...... *** Di luar kota Hangciu, di sebelah timurnya, di dusun Gu-kee-cun, dua orang gagah pun tengah minum arak putih sambil duduk berhadapan, oleh karena mereka adalah bagaikan saudara sejati. Dari mereka itu, yang satu bernama Kwee Siauw Thian, yang lainnya Yo Tiat Sim, kedua-duanya adalah turunan orang-orang kenamaan. Siauw Thian itu adalah turunan dari Say-Jin-Kui Kwee Seng, itu adalah salah satu jago dari seratus delapan orang kosen dari gunung Liang San yang kesohor dengan ilmu silat tombaknya, hanya setelah tiba pada dia ini, tombak yang panjang itu diganti dengan sepasang tombak pendek dan bergaetan (siangkek). Sementara Yo Tiat Sim itu adalah turunan dari Panglima Yo Cay Hin, salah seorang bawahan Jenderal Gak Hui dan ilmu tombaknya adalah warisan leluhurnya. Mulanya kedua orang ini bertemu dalam pengembaraan, setelah merasa cocok, maka mereka mengangkat saudara, kemudian bersama-sama mereka pindah dan tinggal di dusun ini. Kebiasaan mereka adalah duduk berkumpul, pasang omong dan menyakinkan ilmu silat. Demikian juga pada hari itu, selagi salju turun, mereka duduk minum arak dan berbicara dengan asyiknya, tempo mereka omong hal nasibnya negera, keduanya menjadi berduka dan berdongkol, tiba-tiba saja Tiat Sim mengeprak meja dengan kerasnya. Justru saat itu ada seorang keluar dari ruang dalam, apabila gorden tersingkap, terlihatlah seorang wanita yang cantik sekali, tangannya memegang nenampan di atas mana ada terdapat masakan daging sapi serta ayam. ―Hai, urusan apa lagi yang membuat kamu berdua saudara marah?‖ tanya wanita itu sambil tertawa. ―Kami tengah membicarakan urusan yang gila-gila dari negara!‖ sahut Siauw Thian. ―Enso, mari kau pun minum satu cawan!‖ Wanita itu adalah Pauw-sie, istri dari Yo Tiat Sim. Di Lam-an ini, dia adalah merupakan wanita tercantik dan halus budi pekertinya, hingga ia tepat dengan romannya. Siapa yang melihat dia, pasti kagumlah hatinya. Dengan Tiat Sim, belum lama ia menikah, tetapi dia itu orangnya luwes dan dapat dengan gampang bergaul dengan kaum pria-dalam halnya dengan Siauw Thian, iparnya itu. Begitulah, setelah ia meletakkan barang makanan-nya, ia mengambil cawan dan mengisinya, sesudah itu mengambil kursi dan meminum araknya itu. ―Kemarin selagi aku berada di dalam warung teh di Tong Lam di ujung jembatan Cong An Kio, aku mendengar orang membicarakan halnya Han To Cu si perdana menteri keparat itu!‖ Tiat Sim menyahuti pertanyaan istrinya tadi. ―Rapi pembicaraan itu, hingga aku percaya itu bukanlah omong kosong belaka. Orang itu bilang, pembesar siapa juga, jikalau dia hendak mengajukan laporan, apabila di ujung sampulnya tidak disertai keterangan dia menghadiahkan sesuatu, pasti perdana keparat itu tidak akan memeriksanya!‖ Siauw Thian menghela napas. ―Ada rajanya, ada menterinya‖ katanya masgul. ―Ada menterinya, ada pembesarpembesar bawahannya.Lihat saja Tio Tayjin, residen dari kota Lim-an kita ini. Hari itu Han To Cu pesiar di luar kota dengan diiringi banyak pembesar. Kebetulan aku lagi mencari kayu di dekat situ. Tentu saja aku tidak ambil mumat padanya itu. Lalu aku mendengar dia menghela napas dan berkata seorang diri: ‗Di sini rumahrumah berpagar bambu dan beratap, sungguh suatu desa yang indah menarik hati, hanya sayang sekali, disini tidak terdengar suara ayam berkokok dan anjing menggonggong…‘ Belum lagi dia menutup mulutnya lalu terdengar gongongan anjing dari dalam semak-semak!‖ Pauw-sie bertepuk tangan sambil tertawa. ―Sungguh anjing yang tahu diri!‖ katanya. ―Memang anjing yang sangat tahu diri!‖ sahut Siauw Thian. ―Setelah menggonggong, dia muncul dari semaksemak itu! Enso tahu, anjing apakah itu? Dialah Tio Tayjin, residen kita!‖ Pauw-sie menjadi tertawa terpingkal-pingkal. Tiat Sim dan Siauw Thian pun tertawa. Mereka minum terus hingga terlihat salju turun makin lebat. ―Nanti aku undang enso minum bersama,!‖ kata Pauw-sie kemudian. ―Tidak usah,‖ Siauw Thian mencegah. ―Selama beberapa hari ini, dia merasa kurang sehat….‖

Irawan D Soedradjat

Page

Pauw-sie terkejut, ―Ah, mengapa aku tidak tahu!‖ katanya. ―Nanti aku tengok!‖

2

Pendekar Pemanah Rajawali

Siauw Thian tidak bilang apa-apa lagi, dia malah tersenyum. Menampak hal itu, legalah hati Tiat Sim. Itu artinya nyonya Kwee tidak berat sakitnya. Tak lama, nyonya Yo kembali sambil tersenyum-senyum. Ia isikan satu cawan, lalu mengansurkan cawan itu kepada suaminya. ―Lekas minum sampai habis!‖ katanya. ―Inilah tanda hormat kepada Toako!‖ ―Eh, apakah artinya ini?‖ tanya Tiat Sim tidak mengerti. ―Minum, lekas minum!‖ desak Pauw-sie. ―Habis minum nanti baru aku beri keterangan!‖ katanya kemudian. Tiat Sim lalu meminum kering cawan itu. ―Nah, Toako, kau biacaralah sendiri!‖ kata Pauw-sie sambil tertawa kepada Siauw Thian. Orang she Kwee itu tersenyum dan berkata, ―Selama sebulan ini dia senantiasa mengeluh pinggangnya pegal dan sakit. Baru kemarin dia pergi ke Thio Ie-seng di dalam kota, kata tabib itu dia sudah mengandung selama tiga bulan….‖ Tiat Sim menjadi girang sekali. ―Kiong hie, Toako!‖ katanya sambil memberi selamat. Lalu ketiganya meneguk arak mereka, masing-masing tiga cawan. Tentu saja dengan meminum sebanyaknya itu, sedikitnya arak itu telah mempengaruhi mereka. Pada saat itu di arah timur kelihatan satu tosu atau imam sedang mendatangi. Dia memakai tudung bambu dan tubuhnya di tutupi dengan baju rumput, yang seluruhnya penuh dengan salju. Ia bertindak dengan tegap dan cepat. Segera tertampak di punggungnya ada tergantung sebatang pedang, yang roncenya kuning dan memain di antara tiupan angin yang keras. ―Adik, imam ini pasti mengerti ilmu silat,‖ Siauw Thian bilang. ―Entah dari mana dia datang. Coba kita dapat berkenalan dengannya. Sayang kita belum tahu namanya………..‖ ―Benar,‖ sahut Tiat Sim. ―Baik kita undang dia minum untuk ikat persahabatan……‖ Keduanya segera berbangkit dan pergi keluar. Ketika itu karena cepat jalannya, si imam sudah lewat beberapa puluh tombak. Siauw Thian dan Tiat Sim saling melihat dengan herannya. ―Totiang, tunggu sebentar!‖ Tiat Sim segera memanggil. Cepat sekali si imam memutar tubuh dan mengangguk. ―Salju turun dengan lebatnya dan hawa pun sangat dingin,‖ kata Tiat Sim pula, ―Sudilah Totiang mampir untuk minum beberapa cawan guna melawan hawa dingin.‖ Iman itu menyahuti dengan tertawa dingin, lalu ia bertindak menghampir – cepat sekali tindakannya. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua sangat terperanjat dan heran guna menyaksikan muka orang yang berwajah sangat dingin sekali. ―Kamu pandai bergaul, eh!‖ katanya tawar Tiat Sim masih muda dan dia tidak senang dengan sikap orang. ―Dengan baik hati aku mengundang kau minum, kenapa kau begini tidak tahu aturan?‖ pikirnya. Maka ia menjadi diam saja. Siauw Thian sebaliknya lantas memberi hormat. ―Totiang, harap anda tidak marah dengan sikap saudaraku ini. ―Kami sedang minum arak, melihat Totiang melawan salju, dia besarkan nyali untuk mengundang Totiang minum bersama….‖ Imam itu memutar matanya. ―Baik,baik!‖ katanya. ―Minum arak ya minum arak!‖ Dan dengan tindakan lebar ia menuju ke dalam.

Irawan D Soedradjat

Page

3

Pendekar Pemanah Rajawali

Tiat Sim merasa dongkol, ia ulurkan tangannya hendak mencekal tangan kiri si imam untuk ditarik ke samping. ―Aku belum belajar kenal dengan Totiang!‖ katanya. Tapi tiba-tiba ia merasa kaget. Ia merasai tangan orang sangat licin. Ketika ia berniat menarik pulang tangannya, tahu-tahu tangan itu bagaikan terjepit dengan keras, rasanya sakit dan panas. Ia kerahkan tenaganya untuk melawan. Justru dengan berbuat demikian ia merasakan tangannya hilang tenaga dan sakit sekali, rasa sakitnya sampai ke ulu hati. Siauw Thian tampak wajah saudaranya merah dan pucat, ia tahu saudaranya ini tentu telah ―ketemu batunya‖. Ia mengerti gelagat yang kurang baik itu dan sangsi turun tangan untuk membantu. ―Totiang, mari silakan duduk di sini!‖ ia mengundang. Dua kali si imam kasih dengar tertawanya yang dingin itu, baru ia lepaskan cekalannya atas tangan Tiat Sim. Hal ini membuat orang she Yo itu mendongkol dan heran, ia terus masuk ke dalam, akan diberitahukannya istrinya tentang imam itu. ―Dia sangat aneh, pergi temani dulu,‖ kata Pauw-sie. ―Jangan turun tangan, perlahan-lahan saja kita cari tahu tentang dirinya…‖ Tiat Sim menuruti perkataan istrinya itu. Pauw-sie segera menyiapkan arak dan barang hidangan dan menyuruh Tiat Sim membawa keluar. ―Tunggu sebentar!‖ memanggil sang istri. Tiat Sim pun memutar kembali. Pauw-sie menurunkan sebuah pisau belati yang tajam mengkilap, yang tergantung pada tembok, ia memasukkan belati itu ke dalam saku suaminya. Tiat Sim pun kemudian keluar membawa barang hidangan itu dan mengaturnya di meja. Ia menuangkan tiga cawan, terus ia mengundang tamunya untuk minum. Ia juga meneguk satu cawan, habis minum ia berdiam saja. Imam itu memandang keluar jendela dan mengawasi salju. Ia tidak meminum araknya dan ia pun tidak membuka mulutnya melainkan hanya tertawa dingin saja. Siauw Thian menduga si imam tentu curigai araknya, ia mengambil cawan arak di hadapan imam itu, terus ia cegluk di hadapan imam itu. Ia menyambuti, terus diminumnya. ―Arakmu telah dingin Totiang, nanti aku tukar dengan yang baru,‖ katanya. Dan ia mengisikan pula. Si imam dapat mencium bau harum dari arak itu, ia menyambuti dan terus diminumnya. ―Walaupun arak ini di campuri dengan obat pulas, tidak nanti aku kena diracuni!‖ katanya. Tiat Sim menjadi hilang sabar. ―Kita undang kau minum dengan maksud baik, mustahil kami hendak mencelakai kau!‖ tegurnya. ―Totiang, kau omong tidak karuan, silakan lekas keluar! Arak kita tidak bakalan menjadi rusak dan sayur kita tak nanti tak ada yang memakannya!‖ ―Hm!‖ bersuara si imam itu. Tak lebih. Ia jemput poci arak dan menuang arak itu sendiri, lalu ia tenggak habis tiga cawan. Habis itu dia buka baju luarnya dan letaki tudungnya. Sekarang baru Tiat Sim dan Siauw Thian dapat melihat dengan tegas wajah orang. Mereka menduga si imam baru berumur tiga puluh tahun lebih, sepasang alisnya panjang lancip, kulit mukanya merah segar, mukanya lebar dan kupingnya besar. Ia bukan sembarang imam. Ketika ia kasih turun kantung di punggungnya, ia terus lempar barang itu ke atas meja hingga terbitlah suatu suara yang keras, hingga kedua tuan rumah itu menjadi kaget sekali. Sebab yang menerbitkan suara nyaring itu yang menggelinding keluar dari dalam kantung itu adalah kepala manusia yang masih berlumuran darah, hingga tak nampak jelas raut mukanya. Tiat Sim meraba pisau belati dalam kantungnya. Si imam menukik pula kantungnya, kali ini dikeluarkannya dua potong daging yang penuh darah juga, karena itu adalah hati dan jantung manusia. ―Jahanam!‖ teriak Tiat Sim yang sudah tak tahan sabar lagi, sedang tangannya melayang ke dada si imam.

Irawan D Soedradjat

Page

4

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kebetulan, aku memang menghendaki barang ini!‖ seru si imam sambil tertawa. Ia tidak menghiraukan tikaman itu, hanya ketika si orang she Yo itu datang mendekat, ia menggempur dengan tangan kirinya, hingga seketika juga Tiat Sim merasa bahunya tergetar, lalu tiba-tiba saja pisau belatinya kena dirampas orang! Siauw Thian kaget bukan kepalang. Ia tahu lihaynya adik angkatnya itu, yang cuma kalah sedikit dengannya. Tidak disangka, demikian gampang imam ini merampas senjata orang. Itulah ilmu silat ―Khong-ciu toat pek-jin‖ atau ―Tangan kosong merampas senjata tajam‖ yang lihay, yang baru pernah ia saksikan. Meskipun ia kaget, ia toh segera bersiap dengan memegang bangku, guna membela diri umpama kata si imam terus menyerang. Akan tetapi dugaannya ini salah adanya. Imam itu tidak menyerang siapa juga, ia hanya lantas gunai pisau itu untuk memotong-motong hati dan jantung manusia itu, lalu dengan tangan kiri mencekal poci arak, dengan tangan kanan ia jumputi potongan daging satu demi satu, untuk dimasukkan ke dalam mulutnya, buat dikuyah dan ditelan, saban-saban dia selang itu dengan tenggakan arak pada pocinya. Cepat daharnya, sebentar lagi habis sudah makanan yang rupanya sangat lezat itu! Siauw Thian dan Tiat Sim berdua saling mengawasi dengan tercengang. Sungguh aneh imam ini. Akan tetapi itu masih belum semua. Habis dahar, imam itu berdongak, lalu ia bersiul nyaring sekali, umpama kata genting sampai bergetar, kemudian tangan kanannya menyerang ke meja, hingga piring dan cawan berlompat! Yang hebat adalah sasaran serangan itu, ialah kepala manusia itu, yang remuk seketika! Sedang ujung meja turut sempal sedikit…….. Selagi dua saudara angkat itu berdiam, wajah si imam yang tadinya bermuram durja dan bengis, tiba-tiba berubah menjadi penuh dengan air mata, dengan air mata bercucuran ia lalu menangis dengan meraung-raung! ―Kiranya dia seorang yang edan…!‖ bisik Siauw Thian kepada adik angkatnya, yang ujung bajunya ia tarik. ―Dia lihay sekali, jangan kita ladeni dia….‖ Tiat Sim mengangguk, ia awasi imam itu. Sekarang tidak lagi ia gusur, sebaliknya ia merasa kasihan. Sedih tangisnya si imam ini, ilmu silat siapa sebaliknya ia kagumi. Maka kemudian ia lari ke dalam untuk mengambil semangkok kuwah yang masih panas. ―Totiang, mari minum kuwah ini!‖ katanya. Ia letaki mangkok itu di atas meja. Si imam bukan menerima kuwah iru, ia sebaliknya menggebrak meja hingga mangkok itu terbang berikut mejanya. Ia pun berseru :‖Kawanan tikus, hari ini toyamu membuka pantangan membunuh!‖ Menampak itu, meluaplah amarah Tiat Sim, maka ia melompat ke ujung ruang untuk menyambar tombaknya, lalu ia terus lari keluar, ke depan pintu dimana salju terhampar luas. ―Mari, mari!‖ ia menantang. ―Mari belajar kenal dengan tombak keluarga Yo!‖ Imam itu tersenyum. ―Tikus, pantaskah kau menggunai ilmu silat tombak keluarga Yo?‖ tanyanya. Ia bersuara sambil tubuhnya melompat keluar. Melihat keadaan mengancam itu, Siauw Thian lari untuk mengambil sepasang gaetannya, dengan lekas ia berbalik kembali. Imam berdiri tanpa menghunus pedangnya, Cuma sang angin menyampok-nyampok ujung bajunya. ―Hunus pedangmu!‖ seru Tiat Sim. ―Ah, dua tikus, kamu berdua majulah berbareng!‖ sahut si imam. ―Toya kamu akan layani kamu dengan tangan kosong!‖ Takabur bukan main orang pertapaan ini, hingga Tiat Sim tidak berayal sejenak juga untuk segera menikam dengan tombaknya yang beronce merah itu. Ia gunai tipu silatnya ―Tok liong cut tong‖ atau ―Naga berbisa keluar dari gua‖ ―Bagus!‖ seru si imam kagm menampak serangan itu yang menuju ke dadanya. Ia berkelit ke samping, tangan kirinya bergerak, untuk sambar kepala tombak itu. Lihay ilmu silat tombak keluarga Yo itu – Yo-kee Chio-hoat. Ketika Yo Cay Hin bersama tigaratus serdadunya – tentara kerajaan Song menghadapi empat laksa serdadu Kim, seorang diri ia telah membinasakan dua ribu lebih serdadu musuh berikut banyak perwiranya, sebelum akhirnya ia roboh karena terkena banyak panah, waktu ia binasa dan bangsa Kim membakar tubuhnya, dari dalam tubuhnya itu kedapatan banyak ujung panah,
Irawan D Soedradjat

Page

5

Pendekar Pemanah Rajawali

sebab selagi ia terpanah, gagang panah ia patahkan. Karena ini bangsa Kim menjadi jeri dan mengaguminya. Tiat Sim tidak segagah leluhurnya itu tetapi ilmu silatnya cukup sempurna, begitulah ia mencoba mendesak si imam tidak di kenal itu yang senantiasa lolos dari tikaman, tempo habis sudah dijalankan semua tujuh puluh dua jurus ilmu tombak itu, dia tidak kurang sesuatu apa. Baru sekarang si anak muda menjadi gentar, terpaksa ia seret tombaknya untuk keluar dari kalangan. Imam itu mengejar apabila ia dapatkan lawannya itu lari. Sekonyong-konyong Tiat Sim berseru keras, tubuhnya berputar balik, berbareng dengan itu, dengan kedua tangannya memegangi gagang tombak, ia menikam dengan hebat sekali. Itulah tipu silat ―Cwie-pek po-kian‖ atau ―menggempur tembok‖. Dengan tipu itu, musuh dibikin tidak menyangka dan menjadi kaget. Dengan tipu ini juga dulu Yo Cay Hin membikin rubuh Gak Hoan, adiknya Gak Hui. ―Bagus!‖ seru si imam buat kedua kalinya. Ia tidak menjadi gugup, justru ketika ujung tombak sampai, ia menyambutnya dengan kedua telapak tangan dirangkap, ditempel menjadi satu dengan keras, hingga ujung tombak itu kena terjepit. Tiat Sim kaget bukan kepalang. Ia mendorong dengan keras, tombaknya itu tak dapat maju melewati telapak tangan lawan. Ketika ia menarik dengan sekuat tenaga, betotannya pun sia-sia belaka, tombaknya tak terlepas dari cekalan lawannya itu, kuda-kuda si imam juga nancap bagaikan terpaku. Tiga kali ia mencoba menarik tanpa hasil, mukanya menjadi merah. Tiba-tiba saja si imam tertawa, lalu jepitan tangannya terlepas. Tapi ia tidak Cuma melepas, tempo tombak tertarik pulang, ia membacok dengan tangan kanannya kepada tombak, hingga dengan bersuara nyaring, tombak besi itu patah menjadi dua potong! Imam itu segera tertawa pula, lalu ia berkata. Kali ini dengan suara manis. ―Tuan, benar lihay ilmu silat tombakmu!‖ katanya. ―Maaf untuk perbuatanku ini! Mohon ku tanya she tuan‖ ―Aku yang rendah she Yo bernama Tiat Sim,‖ sahut Tiat Sim, selagi ia belum dapat tenangkan diri. Ia kesakitan pada kedua tangannya, ia pun heran sekali. ―Pernah apakah Tuan dengan Ciangkun Yo Cay Hin?‖ tanya si imam. ―Ia adalah leluhur saya,‖ jawab Tiat Sim pula. Mandadak si imam itu menjura kepada saudara angkat itu, sikapnya hormat sekali. ―Maaf, barusan aku menyangka Tuan-tuan adalah orang jahat,‖ ia berkata dengan pengakuannya. ―Aku tidak sangka Tuan-tuan adalah turunan orang-orang setia. Boleh kutanya she Tuan?‖ ia lanjuti kepada Siauw Thian. Dengan cara hormat Siauw Thian perkenalkan dirinya. ―Tuan ini kakak angkatku, dia adalah keturunan dari Say Jin Kui Kwee Seng dari gunung Liang San,‖ Tiat Sim menambahkan. ―Bagus!‖ berkata si imam, ia pun minta maaf pada pemuda she Kwee itu. Kembali ia menjura. Tiat Sim berdua membalas hormatnya. ―Silahkan Totiang minum arak pula,‖ ia mengundang pula kemudian. ―Memang kuingin minum dengan puas bersama jiwi!‖ kata si imam denagn tertawa. Tiat Sim dan Siauw Thian undang orang masuk pula ke dalam. Pauw-sie menyaksikan pertempuran dari muka pintu, girang ia mengetahui kesudahannya orang menjadi sahabat, ia terus lari ke dalam, untuk menyiapkan pula arak dan barang hidangan. Kali ini Tiat Sim dan Siauw Thian tanya gelaran si imam.

Siauw Thian terperanjat mendengar nama itu. ―Oh, apa bukannya Tiang Cun Cinjin?‖ ia menyela.
Irawan D Soedradjat

Page

6

―Pinto she Khu bernama Cie Kee,‖ sahut imam itu.

Pendekar Pemanah Rajawali

―Itulah nama pemberian rekan-rekanku, pinto malu menerimanya,‖ kata Cie Kee sambil tertawa. Siauw Thian segera berkata kepada adik angkatnya: ―Adik, totiang ini adalah orang gagah nomor satu di ini jaman! Sungguh beruntung kita dapat berjumpa dengannya!‖ ―Oh!‖ Tiat Sim berseru kaget. Lalu berdua, mereka berlutut di depan imam itu. Khu Cie Kee tertawa, ia memimpin bangun orang. ―Hari ini pinto telah membunuh seorang jahat, karenanya para pembesar negeri sedang mencari aku,‖ ia berkata. ―Barusan pinto lewat di sini, pinto lihat kamu berdua lagi minum arak. Di sini adalah kota raja dan kamu kelihatannya bukan sembarang orang, dari itu pinto menjadi curiga sendiri….‖ ―Keliru adalah saudaraku ini, yang tabiatnya keras,‖ Siauw Thian bilang. ―Totiang lihat sendiri, dia suruh lantas turun tangan, pantas kalau Totiang jadi curiga karenanya.‖ Siauw Thian dan Tiat Sim tertawa. Begitulah mereka lalu minum dan dahar dengan gembiranya. ―Sebenarnya pinto adalah orang utara,‖ kemudian Tian Cun Cinjin berkata pula. ―Rumah tanggaku hancur lebur karena kejahatan bangsa Kim, sedang pemerintah selalu mencari muka daripadanya, dari itu pinto telah sucikan diri.‖ Ia terus tuding kepala manusia yang remuk dan yang tergeletak di lantai itu. ―Dia itu adalah Ong To Kian, si pengkhianat besar. Pada tahun yang lalu kaisar mengutus dia kepada raja Kim, buat memberi selamat ulang tahun raja itu. Ketika itu digunai ia untuk bersekongkol, supaya bangsa Kim bisa menyerbu ke Kanglam. Pinto susul dia selama sepuluh hari, baru ia dapat dicandak, lalu pinto membunuhnya. Pikiranku sedang kacau maka juga tadi pinto berlaku tidak selayaknya.‖ Siauw Thian dan Tiat Sim membilang tidak apa. Mereka memang kagumi imam ini yang kesohor lihay ilmu silatnya. Sekarang ternyata orangpun menyinta negara, mereka lebih-lebih lagi menghormatinya. Lalu mereka mohon pengajaran silat. Khu Cie Kee tidak keberatan, lalu ia memberi beberapa petunjuk. ―Totiang, sunggguh beruntung kami dapat bertemu dengan Totiang,‖ kemudian Tiat Sim utarakan isi hatinya, ―Maka itu sudilah Totiang berdiam untuk beberapa hari di gubuk kami ini.‖ Imam itu hendak menjawab tuan rumah itu, ketika mendadak air mukanya berubah. ―Ada orang datang mencari aku,‖ ia bilang, ―Ingat, tidak peduli bagaimana denganku, sebentar kamu tidak boleh munculkan diri! Mengerti?!‖ Siauw Thian dan Tiat Sim heran akan tetapi mereka lantas mengangguk. Cie Kee lantas sambar kepalanya Ong To Kian, dengan cepat ia bertindak keluar, lalu gesit bagaikan burung terbang ia loncat naik ke atas sebuah pohon besar di dalam pekarangan, di situ ia umpatkan dirinya. Siauw Thian berdua heran bukan buatan. Kecuali deruan angin, mereka tidak dengar suara lainnya, mereka pun tidak nampak apa-apa. Baharu kemudian, sesudah memasang kuping dan angin pun lewat, mereka dengar tindakan kaki kuda. ―Sungguh jeli kuping cinjin!‖ puji Tiat Sim Suara kuda itu datang semakin mendekat, dan kemudian tampaklah belasan penunggang kuda, setiap penunggangnya mengenakan pakaian hitam dan kopiah hitam. Mereka itu menghampiri pintu, setelah tiba, orang yang pertama pecahkan kesunyian: ―Sampai di sini bekas-bekas kakinya, lalu lenyap!‖ Beberapa orang lompat turun dari kudanya, mereka periksa tapak kakinya Khu Cie Kee. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua sembunyi di dalam rumah, dari mana mereka mengintai di antara sela-sela jendela. Mereka dapat kenyataan orang semuanya gesit, suatu tanda dia orang mengerti ilmu silat dengan baik. ―Masuki rumah itu dan geledah!‖ terdengar memerintah orang yang maju di muka itu. Dua orang segera lompat turun dari kuda mereka, untuk itu lantas hampiri rumahnya Tiat Sim untuk menggedornya. Justru itu dari atas pohon menyambar sebuah benda, yang jitu sekali mengenai batok kepalanya satu di antara dua orang itu, hingga dia ini rubuh dengan kepalanya pecah hancur. Hingga kawannya menjadi kaget dan berteriak, hingga yang lain-lainnya turut berteriak pula, lebih-lebih setelah diketahui, benda yang
Irawan D Soedradjat

Page

7

Pendekar Pemanah Rajawali

dipakai menimpuk itu adalah kepalanya ―Ong Tayjin‖. Dengan lantas itu mereka mengurung pohon dari mana serangan itu datang. Orang yang menjadi pemimpin menghunus goloknya yang panjang, untuk memegang pimpinan, atas perintahnya lima orang menggunai panah untuk menyerang ke arah atas pohon! Yo Tiat Sim sambar sebatang golok dari pojok rumahnya, hendak dia menerjang keluar untuk membantu si imam, akan tetapi Siauw Thian menariknya. ―Jangan!‖ katanya. ―Totiang telah pesan kita jangan keluar! Kalau ternyata dia tidak sanggup melawan, baru kita turun tangan…….‖ Selagi orang she Kwee ini berbicara, Khu Cie Kee sudah beraksi. Dia sambut empat batang anak panah itu lalu ia pakai itu untuk menimpuk ke bawah, tubuhnya sendiri turut lompat turun, hingga akibatnya dua musuh menjerit dan rubuh binasa kena tikaman pedang. ―Imam bangsat, kiranya kau!‖ berseru si pemimpin, yang bajunya hitam. Dia perdengarkan suaranya seraya tangkis anak panah yang ditimpukkan ke arahnya, kemudian ia keprak kudanya maju untuk menyerang untuk mana tiga batang panah di tangannya telah mendahului majunya itu. Belum Cie Kee menyerang ini pemimpin, dia telah rubuhkan lagi dua musuh, hingga sebentar saja ia telah minta lima korban. Tiat Sim kagum hingga ia tergugu. Dia telah belajar silat belasan tahun, tetapi sedikit juga ia tidak dapat tandingi imam itu, yang gesit dan lihay sekali. Maka ia merasa ngeri waktu ia ingat tadi ia telah berani lawan imam yang lihay itu. Sekarang Cie Kee tengah layani si pemimpin, yang bengis sekali, meski demikian selang sesaat, Siauw Thian dan Tiat Sim segera mengerti bahwa sang imam tengah mempermainkan orang, sebab di lain pihak, saban-saban imam ini gunai ketika akan rubuhkan lain orang – ialah orang-orang yang mengepungnya. Terang si imam lagi gunai siasat, guna menumpas semua penyerangnya itu. Kalau dia lekas-lekas rubuhkan si pemimpin, mungkin bawahannya nanti lari kabur semua. Selang tak lama, imam itu dikepung hanya tujuh orang, yang ilmu silatnya paling baik. Menampak ini, si pemimpin menjadi kecil hatinya, dari itu, dengan tiba-tiba ia keprak kudanya, buat dikasih berbalik untuk lari pergi. Sang imam ada sangat jeli matanya dan cepat gerakannya, selagi kuda berputar, ia menyambar dengan tangan kirinya, akan cekal ekornya kuda itu, untuk ditarik. Sembari menarik ia enjot tubuhnya, untuk melompat naik, tetapi belum lagi ia bercokol di atas kuda itu, pedangnya sudah menikam tembus punggung si pemimpin, tembus dari belakang ke depan, hingga tubuh orang itu rubuh ke depan. Demikian dengan menunggang kuda, sekarang si imam ini bisa serang lain-lain musuhnya. Ia tidak membutuhkan banyak waktu untuk membikin setiap kuda tanpa penumpangnya, sebaliknya mayat-mayat bergelimpangan di tanah bersalju itu, yang menjadi merah karena berlumuran darah mereka itu…. Seorang diri si imam tertawa. ―Puas aku dengan pertempuran ini!‖ katanya kepada Siauw Thian dan Tiat Sim, yang telah lantas muncul. Hanya hati mereka masih kebat-kebit. ―Totiang, siapakah mereka ini?‖ tanya Siauw Thian. ―Kau geledah saja tubuh mereka!‖ sahut si imam. Siauw Thian menghampiri mayatnya si pemimpin, untuk memeriksa sakunya. Ia dapatkan sepotong surat titah, dari Tio Tayjin si residen Lim-an yang bisa ―menggonggong‖ sebagai anjing itu. Itu juga adalah titah rahasia untuk membekuk pembunuhnya Ong To Kian, untuk mana si residen bekerja sama dengan pihak bangsa Kim, sebab ia telah di desak oleh utusan negara Kim. Mengetahui itu, orang she Kwee ini menjadi sangat mendingkol. Sedang begitu, Tiat Sim telah perdengarkan seruan seraya tangannya menyekal beberapa potong yauw-pay, yang dia dapatkan dari beberapa mayat. Yauwpay itu adalah tanda kedudukan atau pangkat beberapa mayat itu, karena huruf-huruf yang kedapatan adalah huruf bahasa Kim, menjadi nyata, di antara orang-orangnya residen Lim-an itu adalah orang bangsa Kim.

Irawan D Soedradjat

Page

―Celaka betul!‖ teriak Siauw Thian dalam murkanya. ―Tentara Kim main bunuh orang di wilayah kita, sekarang pembesar kita boleh disuruh-suruh dan diperintah olehnya. Negara kita ini menjadi negara apa?!‖

8

Pendekar Pemanah Rajawali

Khu Cie Kee sebaliknya tertawa. ―Sebenarnya orang suci sebagai aku mestinya berlaku murah hati dan berbelas kasihan,‖ katanya, ―Akan tetapi menyaksikan kebusukan segala pembesar dan orang-orang jahat, tak dapat aku memberi ampun pula!‖ ―Memang, memang mesti begitu!‖ seru dua saudara angkat she Kwee dan she Yo itu. ―Begini barulah puas!‖ Kemudian Tiat Sim ambil pacul dan sekop, untuk menggali laing, guna pendam belasan mayat itu. Didalam hal ini ia tidak kuatir ada orang yang melihat kejadian ini, sebab desa itu sedikit penduduknya dan itu waktu lagi turun salju dengan lebatnya, tak ada orang yang sudi berkeliaran di luaran. Habis itu nyonya rumah sapui sisa darah di atas salju. Nyonya ini rupanya tak dapat menahan bau bacin dari darah, ia rupanya bekerja keras, tiba-tiba saja ia rasai kepalanya pusing, matanya kabur, lalu ia rubuh. Tiat Sim terkejut, ia tubruk istrinya, untuk diangkat bangun. ―Kau kenapa?‖ tanya suaminya ini beberapa kali. Pauw-sie berdiam, kedua matanya tertutup rapat, mukanya pucat pias, kaki tangannya dingin seperti es. Tentu saja suaminya itu menjadi kaget dan berkhawatir. Cie Kee pegang nadi si nyonyi, lantas ia tertawa. ―Kionghie! Kionghie!‖ ia memberi selamat. ―Apa, Totiang?‖ tanya Tiat Sim heran. Justru itu Pauw-sie mennjerit, ia sadarkan diri. Mulanya ia heran di kerumuni tiga orang, habis itu ia likat, ia lari ke dalam. ―Istrimu lagi hamil!‖ kata Cie Kee kemudian. ―Benarkah itu, Totiang?‖ Tiat Sim tegaskan. ―Tidak salah!‖ si imam pastikan. ―Banyak ilmu yang pinto yakinkan, tiga yang memuaskan hatiku, ialah pertama ilmu tabib, kedua syair, dan ketiga ialah ilmu silat kucing kaki tiga ……‖ Dengan kata-kata ―kucing tiga kaki‖ atau tidak ada artinya, imam ini merendahkan diri. ―Totiang begini lihay tetapi totiang menyebutkan kepandaianmu sendiri sebagai kucing kaki tiga, kalau begitu kepandaian kami berdua pastilah kepastiannya si tikus berkaki tunggal!‖ katanya. Cie Kee tersenyum, begitu pula dengan Tiat Sim. Kemudian mereka bertiga masuk pula ke dalam untuk lanjuti minum arak. Dua saudara angkat itu sangat kagumi tetamu mereka, yang bertempur hebat tetapi tubuhnya tak berkeciprukan darah. Tiat Sim minum dengan gembira sekali. Ia ingat akan hamilnya istrinya. ―Kwee Toako,‖ katanya kemudian. ―Enso pun lagi berisi, maka aku pikir baiklah kita minta totiang yang memberi nama kepada anak-anak kita nanti!‖ Siauw Thian berikan kesetujuannya atas saran itu. Cie Kee pun tidak menampik, ia berpikir sebentar lantas ia bilang: ―Anak Kwee Toako baik diberi nama Ceng, yaitu Kwee Ceng, dan anak Yo Toako diberinama Kong, yaitu Yo Kong. Nama-nama ini dapat juga diberikan sekalianpun untuk anak perempuan.‖ ―Bagus!‖ seru Siauw Thian. ―Aku mengerti, totiang tentu tidak melupai peristiwa Ceng-kong yang memalukan, untuk memperingati ditawannya kedua raja kita.‖ ―Benar begitu!‖ sang imam mengakui. Terus ia merogoh sakunya, untuk kasih keluar dua potong pedang pendek, yang ia letaki di atas meja. Pedang itu sama panjang pendeknya dan besar kecilnya, sarungnya dari kulit hijau, gagangnya dari kayu hitam. Kemudian ia ambil pisaunya Tiat Sim, untuk dipakai mengukir gagang kedua pedang pendek itu. Ia mengukir masing-masing dua huruf ―Kwee Ceng‖ dan ―Yo Kong‖. Dua-duanya Siauw Thian dan Tiat Sim kagum menyaksikan kepandaiannya si imam mengukir huruf-huruf itu, cepat dan indah hurufnya.

Irawan D Soedradjat

Page

9

Pendekar Pemanah Rajawali

―Diwaktu berkelana seperti ini aku tidak punya barang apa-apa, pedang pendek ini saja aku berikan sebagai tanda mata untuk anak-anak kedua toako nanti!‖ kata si imam. Dua saudara angkat itu terima bingkisan itu, keduanya mengucapkan terima kasih. Tiat Sim mencoba menghunus pedangnya, ia menjadi kagum. Pedang itu berkilau dan memberikan hawa dingin. Demikian pun pedangnya Siauw Thian. Jadinya kedua pedang itu bukan sembarang pedang, meskipun badan pedang ada tipis sekali. Cie Kee pegang pedang yang satu, ia adu itu dengan pisau belatinya, dengan memberikan satu suara, ujungnya pisau belati itu putus menjadi dua potong. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua menjadi terkejut. ―Totiang, tak berani kami menerima hadiah ini!‖ kata mereka. Sebab kedua pedang itu adalah semacam pedang mustika. Tiang Cun Cinjin tertawa. ―Dua pedang ini pinto dapatkan secara kebetulan saja, walaupun benar untuk itu pinto mesti keluarkan sedikit tenaga,‖ ia berkata. ―Untukku, senjata ini tidak ada perlunya, sebaliknya adalah besar faedahnya apabila dibelakang hari anak-anak itu pakai untuk membela negeri, guna melabrak musuh!‖ Dua saudara angkat itu masih mencoba menampik hingga mereka membangkitkan amarahnya si imam itu. ―Aku anggap kamu adalah turunan orang-orang kenamaan, maka itu aku hargakan kamu, kenapa sekarang kamu begini tidak bersemangat?‖ ia menegur. Baharu sekarang Siauw Thian dan Tiat Sim tidak menolak lagi, mereka lantas menghanturkan terima kasih. Cie Kee berkata pula, dengan sungguh-sungguh: ―Kedua pedang ini adalah benda usia beberapa ratus tahun tua, setahu sudah berapa banyak orang terbunuh dan berapa banyak darah telah dihirupnya, maka mengertilah kamu, siapa saja yang mengerti ilmu silat melihat ini lantas matanya menjadi merah! Kamu pun mesti menginsafinya, seorang bocah yang ilmu silatnya tidak sempurna dengan menggunai pedang ini, dia Cuma dapat memperbahayakan dirinya sendiri, dari itu kamu mesti berhati-hati! Kamu ingatlah baik-baik!‖ Siauw Thian dan Tiat Sim berdua saling mengawasi, hati mereka tidak tentram. Khu Cie Kee tertawa panjang. ―Sepuluh tahun sejak ini, apabila pinto masih ada di dalam dunia ini, mesti pinto datang pula ke mari untuk ajarkan anak-anak itu ilmu silat,‖ ia berkata, ―Setujukah kamu?‖ Dua saudara angkat itu menjadi girang sekali. ―Terima kasih totiang, terima kasih!‖ mereka mengucap. ―Sekarang ini bangsa Kim sedang mengincar negara kita, terhadap rakyat dia sangat telengas,‖ berkata pula si imam, ―Karena mestinya tidak lama lagi bangsa itu turun tangan, dari itu pinto harap jiwi jaga diri baik-baik….‖ Dia angkat cawannya, untuk tenggat habis isinya, setelah itu dia buka pinti, untuk bertindak keluar. Siauw Thian berdua berniat meminta si imam berdiam lebih lama, siapa tahu tindakan orang cepat sekali, tahu-tahu imam itu sudah pergi jauh. ―Begitulah kelakuan orang berilmu, ia datang dan pergi tak ketentuannya,‖ kata Siauw Thian sambil menghela napas. ―Kita dapat bertemu dia tetapi sayang, kita tidak dapat meminta pengajaran daripadanya……..‖ Tiat Sim sebaliknya tertawa. ―Toako, hebat cara bertempurnya totiang hari ini!‖ ia bilang. ―Dengan menonton saja, sedikitnya terumbar juga hati pepat kit!‖ ia lantas buat main pedang yang satu, sampai ia lihat ukiran dua huruf Yo Kong. Lantas ia berkata ―Toako ada satu pikiran cepat dari aku, entah kau setuju atau tidak?‖ ―Apakah itu, Saudaraku?‖ Siauw Thian balik bertanya. ―Inilah mengenai anak-anak kita nanti,‖ Tiat Sim beri keterangan. ―Umpama anak kita laki-laki semua, biarlah mereka menjadi saudara satu dengan yang lain, apabila mereka adalah perempuan, biarlah mereka menjadi enci dan adik……….‖ ―Jikalau mereka adalah laki-laki dan perempuan, biarlah mereka menjadi suami-istri!‖ Siauw Thian menyela. Keduanya lantas menjabat tangan, mereka tertawa terbahak. Itulah janji mereka. Justru pada saat itu Pauw-sie muncul. ―Eh, kenapa kamu menjadi girang begini?‖ tanya si nyonya.
Irawan D Soedradjat

Page

10

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kami baru saja membuat janji,‖ sahut Tiat Sim, yang lantas tuturkan kecocokan mereka berdua. ―Cis!‖ si nyonya meludah. Tetapi di dalam hati, ia pun girang. ―Sekarang marilah kita saling tukar pedang dahulu,‖ Tiat Sim berkata pula. ―Ini adalah semacam tanda mata. Kalau mereka ada laki-laki atau perempuan, biarlah mereka jadi saudara satu dengan yang lain, kalau……..‖ ―Kalau begitu, kedua pedang ini akan berkumpul di rumah kakak!‖ Siauw Thian bilang. ―Mungkin akan berkumpul di rumahmu, Saudara!‖ kata Pauw-sie. Lantas mereka tukar kedua pedang itu. Sampai disitu, Siauw Thian pulang dengan membawa pedang itu, untuk memberitahukan kepada istrinya, Lie-sie. Tiat Sim ada gembira sekali, masih ia minum seorang diri, hingga ia mabuk. Pauw-sie pimpin suaminya ke kamar tidur, lalu ia benahkan piring mangkok dan cawan, habis mana melihat hari sudah mendekati sore, ia pergi ke belakang untuk kurungi ayamnya. Setibanya ia di pintu belakang, ia menjadi terkejut. Di situ, di atas salju, ia tampak tanda-tanda darah, yang melintas di luar pintu belakang itu. ―Kiranya di sini masih ada tanda darah yang belum dilenyapkan,‖ pikirnya heran. ―Kalau pembesar negeri melihat ini, inilah bahaya….‖ Maka ia cari sapu, lantas ia menyapu pula. Tanda darah itu menuju ke belakang rumah dimana ada pepohonan lebat. Di sini ia lihat tanda darah dari orang yang rupanya jalan merayap. Ia jadi bertambah heran, saking curiga, ia ikuti terus tanda darah itu, yang sampai di belakang sebuah kuburan tua. Di situ ia lihat suatu benda hitam yang tergeletak di tanah. Kapan ia sudah datang mendekat, ia kembali jadi terkejut. Itu adalah tubuhnya satu orang dengan pakaian serba hitam, ialh salah satu orang yang tadi mengepung Khu Cie Kee. Rupanya habis terluka, ia tidak terbinasa, ia lari ke belakang rumah. Selagi berpikir, Pauw-sie ingat untuk panggil suaminya, buat kubur orang itu. Ia belum bertindak tempo ia ingat, adalah berbahaya kalau ia tinggal pergi, sebab mungkin nanti diketemui lain orang yang kebetulan lewat di situ. Ia jadi beranikan diri, ia menghampiri orang itu dengan niat menyeret, guna dipindahkan ke dalam rujuk, setelah mana baru ia baru hendak panggil suaminya. Benar disaat ia cekal tubuh orang untuk ditarik, mendadakan tubuh itu bergerak, lau terdengar suara merintihnya. Ia menjadi sangat kaget, ia jadi berdiri bagaikan terpaku, sedang sebenarnya ingin ia lari pulang. Lewat sesaat, tubuh itu terdiam pula. Dengan beranikan hati, Pauw-sie pakai sesapu, untuk bentur tubuh orang. Maka sekali lagi ia dengar suara rintihan perlahan.

Bab 2. Berlalunya Dua Sahabat Kekal

Sekarang Pauw-sie dapat kenyataan orang belum mati dan pundaknya dia itu tertancapkan sebatang anak panah. Batang patah juga berbelepotan darah. Nyonya ini bernama Sek Yok, nama ini tepat sama sifatnya, yang selalu berhati murah. Nama itu pun berarti ―menyayangi yang lemah‖. Begitulah diwaktu masih kecil, kalau ia lihat burung gereja atau ayam terluka, atapun kutu seperti semut, tentu ia mengobatinya, sampai binatang itu sembuh, kalau tidak, ia buatnya berduka. Karena ini, dikamarnya ia rawat banyak kutu. Sifat ini tidak berubah sampai ia menikah, dari itu kebetulan untuknya Yo Tiat Sim, suaminya tidak menentangi padanya, maka juga di belakang rumahnya ia ada pelihara banyak burung dan binatang peliharaan lainnya. Suatu sifat lagi ialah Pauw-sie tidak tega menyembelih binatang piaraannya untuk suaminya dahar ayam, ia sengaja beli di pasar, ayamnya sendiri ia pelihara hingga matinya ayam itu. Demikian kali ini, menampak orang terluka parah timbul rasa kasihannya, walaupun ia tahu orang bukannya orang baik-baik. Cuma bersangsi sejenak, lantas ia lari pulang, niatnya untuk mengasih bangun suaminya. Tiat Sim lagi tidur nyenyak, mungkin disebabkan mabuk arak, ia tak mendusin kendati istrinya sudah gonyanggonyang tubuhnya.
Irawan D Soedradjat

Page

11

Pendekar Pemanah Rajawali

Pauw-sie menjadi sibuk. Ia tahu orang perlu lekas ditolongi. Akhirnya dengan terpaksa ia ambil obat-obatan suaminya, dengan bawa pisau kecil dan sepotong cita, juga arak yang hangat, ia kembali pada si luka. Biasa merawat binatang, ia jadi juga bisa merawat orang luka. Begitu setelah belek sedikit daging di dekat panah nancap, dengan sekeras tenaga, ia cabut anak panah itu. Si luka menjerit, lalu pingsan. Panahnya tercabut, darahnya muncrat mengenai bajunya si nyonya. Dengan hati memukul sendirinya, Pauw-sie lantas obati luka itu, ia bungkus dengan rapi. Selang sekian lama, si luka sadar pula, tapi ia sangat lemah, rintihannya pun sangat perlahan. Pauw-sie tidak kuat angkat tubuh orang, tetapi ia dapat akal, ia pulang untuk ambil sehelai papan pintu, ia letaki itu diatas salju, lalu ia tarik orang ke atas papan itu, lantas ia tarik sekuat-kuatnya. Ia tempatkan si luka di gudang kayu. Sampai ia telah salin pakaian, hati Pauw-sie masih belum tentram betul. Ia masak daging kuwah semangkok, lalu ia bawa ke belakang. Hari sudah gelap, ia bawa lilin. Sejak di depan pintu gudang, ia sudah dengar suara bernapas perlahan. Jadi orang itu tidak mati. Ia masuk ke dalam, ia berikan daging kuwah itu. Si luka makan sekira setengah mangkok, lalu ia batuk-batuk keras. Dengan bantuan api lilin, pauw-sie awasi muka orang. Ia dapatkan satu pemuda yang tampan, hidungnya mancung. Karena tangannya gemetar, tanpa ia merasa ia kena bikin tetesan lilin jatuh ke muka orang itu, yang lantas buka kedua matanya. Kaget ia akan lihat si nyonya cantik, sinar matanya jernih, kulitnya merah dadu. ―Apa yang kau rasakan baikan?‖ Pauw-sie toh menanya. ―Mari makan habis daging kuwah ini…..‖ Orang itu ulur tangannya, akan sambuti mangkok, tetapi ia lemah, hampir ia bikin mangkok itu terlepas. Maka terpaksa Pauw-sie bawa mangkok itu kemulutnya. Habis makan kuwah, nampaknya orang itu segaran. Dengan mata bersinar, ia awasi si nyonya, agaknya ia berterima kasih. Pauw-sie likat diawasi orang itu, maka lekas-lekas ia ambil rumput, akan tutupi tubuh orang itu, lalu dengan membawa lilinnya, ia balik ke kamarnya. Ia tidak dapat tidur tenang, diwaktu pulas, ia mimpi yang hebat-hebat, umpamanya suaminya tombak mati orang itu atau dua ekor harimau kejar padanya sampai ia tak tahu mesti lari ke mana. Beberapa kali ia mimpi, beberapa kali ia sadar, dengan hati tergoncang. Ketika akhirnya ia mendusin diwaktu pagi, ia dapatkan suaminya lagi gosok tombaknya. Ia ingat kejadian semalam, ia jadi kaget sendirinya. Diam-diam tapi dengan lekas, ia pergi ke belakang, ke gudang kayu. Selekasnya ia membuka pintu gudang, ia jadi terlebih kaget lagi. Di sana tak ada si luka, rumputnya teruwar kalang kabutan! Ia lantas pergi ke pintu belakang, ia lihat pintu cuma dirapatkan, di atas salju terlihat bekas orang merayap pergi, tujuannya ke arah barat. Ia mengawasi ke arah itu, pikirannya tidak karuan. Sampai sekian lama, setelah mukanya ditiup angin dingin, baru ia sadar. Itu waktu ia pun merasai pinggangnya ngilu dan lemas, ia jadi lelah sekali, maka itu, ia lantas kembali ke dalam. Tiat Sim masak bubur putih, yang diletaki di atas meja. ―Kau lihat!‖ kata suaminya dengan tertawa. ―Bubur masakanku tak ada celaannya, bukan?‖ Istri itu tertawa, ia tahu karena ia sedang hamil, suaminya itu yang sangat menyayangi ia telah masaki ia bubur. Ia lantas dahar bubur itu. Itu waktu ia telah ambil keputusan akan tutup mulut tentang si terluka yang ia tolongi itu, sebab ia tahu kebencian suaminya terhadap orang jahat, apabila suaminya diberitahukan, pasti ia bakal binasakan orang itu. Sejak itu beberapa bulan telah berlalu; dengan lewatnya sang waktu, Pauw-sie juga telah lupai itu peristiwa yang ia sudah tolongi orang yang luka. Pada suatu hari, Tiat Sim dan istrinya pergi ke rumah Siauw Thian, untuk bersantap dan minum arak, sorenya mereka pulang, akan terus masuk tidur. Tepat tengah malam, tiba-tiba Pauw-sie mendusin dan melihat suaminya telah bangun juga dan sedang duduk di atas pembaringan. Ada sesuatu yang mengejutkan suaminya itu hingga ia jadi terjaga dari tidurnya. Dan istri ini masih lungu-lungu ketika kupingnya dapat tangkap suara samar-samar dari tindakan kaki kuda di atas es, makin lama makin nyata, datangnya dari barat ke timur, kemudian itu disusul sama suara serupa yang datangnya dari arah timur. Ia menjadi kaget pula apabila ia dengar pula suara dari selatan dan utara. ―Toako!‖ katanya pada suaminya sambil bangun untuk berduduk, ―Kenapa ada suara kuda dari empat penjuru?‖
Irawan D Soedradjat

Page

12

Pendekar Pemanah Rajawali

Tiat Sim tidak menyahuti, ia hanya segera turun dari pembaringan untuk rapikan pakaiannya. Tindakan kuda dari empat penjuru datang semakin dekat, lalu disusul sama gongongan anjing kampung yang menyahutnya. ―Kita kena dikurung‖ kata Tiat Sim kemudian. Pauw-sie terkejut. ―Untuk apakah?‖ tanyanya ―Entahlah!‖ jawab suaminya itu. Ia terus serahkan pedang pengasihan dari Khu Cie Kee seraya memesan: ―Kau pegang ini untuk jaga dirimu!‖ Tiat Sim buka jendela, untuk melihat keluar, karena itu suara kuda sudah datang mendekat sekali. Ia lihat tegas kampungnya telah dikurung oleh sejumlah tentera, kurungannya berlapis. Ia dapat melihat karena tentera itu ada membawa obor yang diangkat tinggi-tinggi. Perwira yang memegang pemimpin ada tujuh atau delapan orang. ―Tangkap pengkhianat! Jangan kasih dia lolos!‖ demikian tentara itu mulai berseru-seru. ―Apakah ada pengkhianat yang lolos kemari?‖ Tiat Sim menduga-duga. Ia cekal tombaknya untuk melihat gelagat. Tiba-tiba satu perwira berseru: ―Kwee Siauw Thian! Yo Tiat Sim! Kamu berdua pemberontak, lekas muncul untk terima diringkus!‖ Tiat Sim menjadi kaget, sedang Pauw-sie menjadi pucat mukanya. ―Entah kenapa pembesar negeri menfitnah rakyat,‖ kata Tiat Sim kemudian, ―Tidak ada jalan lain, kita mesti menerobos keluar! Kau jangan takut, walaupun musuh berjumalh puluhan ribu, akan aku lindungi padamu!‖ Dasar turunan orang peperangan. Tiat Sim tidak menjadi kacau pikirannya. dengan tenang tetapi sebat, ia siapkan panahnya, terus ia pegangi tangan kanan istrinya. ―Nanti aku berbenah dulu…‖ kata Pauw-sie. ―Apa lagi yang hendak dibenahkan?‖ kata suaminya itu. ―Apa juga tak dapat. Lemah hatinya istri itu, lalu tiba-tiba ia menangis. ―Dan rumah ini?‖ katannya. ―Asal kita dapat lolos, nanti di lain tempat kita membangun pula rumah kita!‖ sahut sang suami. ―Dan itu anak-anak ayam dan anak-anak kucing?‖ istri itu menanya pula. Tiat Sim menghela napas. ―Ah, orang tolol, kamu masih memikirkan segala binatang itu! Mana dapat?‖ Baru Tiat Sim mengucap demikian, di luar kembali terdengar seruan berisik dan api terlihat berkobar. Dua ruang di depan telah dibakar, lalu dua orang serdadu Song mulai menyulut payon rumah. Bukan main mendelunya Tiat Sim. Ia buka pintu dan muncul. ―Aku Yo Tiat Sim!‖ ia perkenalkan diri. ―Kamu hendak bikin apa?‖ Dua serdadu itu kaget, mereka memutar tubuh, sembari melemparkan obornya, mereka lari balik. Di antara cahya api, satu perwira maju dengan kudanya. ―Kamu Yo Tiat Sim? Bagus!‖ ia berkata. ―Mari ikut kami menghadap pembesar kami! Tangkap!‖ Lima serdadu lantas merangsak. Tiat Sim geraki tombaknya, dalam jurus ―Ouw liong pa bwee‖, atau ― Naga hitam menggoyang ekor,‖ lalu tiga serdadu roboh terguling, kemudian dengan susulannya ―Cun lui cin nouw‖ atau ―Geledak musim semi murka,‖ ia rubuhkan satu yang lain, yang tubuhnya ia lempar balik ke dalam barisannya. ―Untuk menangkap orang, kamu mesti lebih dahulu beritahukan kedosaannya!‖ ia membentak. ―Pemberontak bernyali besar!‖ teriak si perwira. ―Kanu berani melawan?!‖
Irawan D Soedradjat

Page

13

Pendekar Pemanah Rajawali

Mesti begitu ia gentar hari, tak berani ia maju mendekati. Adalah satu perwira lain yang berada dibelakangnya, mewakilkan ia maju. Berkatalah perwira ini: ―Baik-baik saja ikut kami ke kantor, kau akan bebas dari kedosaan berat. Di sini ada surat titah!‖ ―Kasih aku lihat!‖ bentak Tiat Sim. ―Masih ada satu pemberontak lainnya, yang she Kwee?!‖ kata perwira itu. ―Kwee Siauw Thian ada di sini!‖ sahut Siauw Thian yang tiba-tiba muncul di muka jendela, panahnya telah siap sedia. Perwira itu terkejut, hatinya ciut. ―Letkai panahmu,‖ katanya. ―Nanti aku bacakan surat titah ini….‖ ―Lekas baca!‖ bentak Siauw Thian, yang justru tarik semakin melengkung gandewanya itu. Terpaksa dengan ketakutan, perwira itu membaca. Itulah surat titah untuk menawan Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim dua penduduk Gu-kee-cun, yang dituduh berontak melawan negara, sudah bersekongkol sama penjahat besar. ―Surat titah ini datang dari kantor mana?‖ Siauw Thian tanya. ―Inilah surat titah tulisannya Han Sinsiang sendiri!‖ jawab perwira itu. Dua-dua Siauw Thian dan Tiat Sim terkejut. ―Hebat urusan, sampai Han Sinsiang sendiri yang turun tangan menulis surat titah?‖ mereka berpikir. ―Mungkin ini disebabkan terbukanya rahasia Khu Cinjin telah membinasakan banyak hamba negara?‖ ―Siapakah yang mendakwa? Apa ada buktinya?‖ tanya Siauw Thian pula. ―Kita cuma mesti menawan orang!‖ kata si perwira. ―Nanti di muka pembesar kamu boleh bicara!‖ ―Han Sinsiang gemar menfitnah orang baik-baik, siapa tidak tahu itu?‖ kata Tiat Sim. ―Kami tak sudi kena jebak!‖ Dengan perlahan Tiat Sim kata pada istrinya: ―Pergi lapis bajumu, akan aku rampas kuda dia itu untukmu! Akan aku panah perwira itu, tenteranya bakal jadi kacau!‖ Dan terus ia tarik panahnya, maka setelah satu suara ―Ser!‖ si perwira berkoak keras, tubuhnya terjungkal dari kudanya. Semua serdadu lantas berteriak-teriak. ―Maju! Tangkap!‖ berseru perwira yang satunya. Sejumlah serdadu taati titah itu, akan tetapi selagi maju, mereka disambut busur-busurnya Siauw Thian dan Tiat Sim berdua, hingga enam atau tujuh diantaranya rubuh seketika. Akan tetapi jumlah mereka ini besar, dibawah anjuran pembesarnya, mereka maju terus. Tiat Sim menjdai mendongkol, ia tukar panah dengan tombaknya, setelah ia lompat keluar pintu, ia sambut penyerang-penyerangnya. Rombongan serdadu itu kena terpukul mundur. Atas itu, Tiat Sim melompat kepada satu perwira yang menunggang seekor kuda putih, ia menyerangnya. Perwira itu menangkis dengan tombaknya. Ia tapinya tak kenal ilmu tombak keluarga Yo, pahanya kena ditikam, maka dengan satu gentakan, tubuhnya terpelanting ke tanah. Dengan menekan tombaknya ke tanah, Tiat Sim lompat ke atas kuda putih, maka sesaat saja, ia sudah menerjang ke muka pintu rumahnya. Ia tikam rubuh satu serdadu Song, yang menghalangi dia, kemudian dengan satu jembretan, ia angkat tubuh istrinya naik ke kudanya. Itu waktu Pauw-sie sudah siap menanti padanya. ―Kwee Toako, mari turut aku!‖ orang she So itu teriaki saudara angkatnya. Siauw Thian tengah menyerang seru dengan sepasang tombak pendeknya yang bercagak. Ia membuka jalan untuk istrinya Lie-sie yang bernama Peng.

Irawan D Soedradjat

Page

14

Pendekar Pemanah Rajawali

Beberapa perwira tidak dapat mencegah kedua orang gagah itu, terpaksa mereka menitahkan menggunai anak panah. ―Enso, lekas naik!‖ seru Tiat Sim, yang hampiri Lie-sie. Ia pun lantas lompat turun dari kudanya. ―Tidak bisa….‖ berkata Lie-sie. Diwaktu demikian, tidak ada lagi aturan sungkan, maka tanpa bilang suatu apa, Tiat Sim cekal tubuh iparnya, untuk segera diangkat naik ke punggung kuda, kemudian ia bersama Siauw Thian mengikuti dari belakang, untuk melindungi. Lolos belum jauh, di sebelah depan mereka dicegat oleh satu pasukan lain. Riuh suara tentera itu, hebat serbuannya. Tiat Sim dan Siauw Thian mengeluh di dalam hati. Karena terpaksa, mereka jadi memikir untuk cari jalan lolos. Sekonyong-konyong terdengar suara panah sar-ser, lalu Pauw-sie menjerit keras. Kuda putih terpanah, kaki depannya tertekuk, lalu tubuhnya ngusruk. Pauw-sie rubuh bersama Lie-sie, yang pun ikut berteriak. Tiat Sim kaget tetapi ia tabah. ―Toako, lindungi mereka, akan aku rampas kuda pula!‖ serunya. Lalu dengan memutar tombaknya, ia menerjang musuh. Kwee Siauw Thian berpikir lain daripada saudara angkatnya itu. ―Terang kita berdua tidak bakal dapat menerobos kurungan musuh ini, atau istri kita sukar ditolongi. Karena kita tidak bersalah dosa, daripada antarkan jiwa disini, baiklah kita menemui pembesar negeri untuk berbicara dengannya.‖ Maka itu, ia teriaki adik angkatnya itu: ―Adik, mari kita ikuti mereka ke kantor!‖ Tiat Sim heran, akan tetapi ia hampiri saudaranya itu. Perwira pemimpin tentera itu menitahkan menunda penyerangan, tetapi mereka mengurung rapat-rapat. ―Letaki senjatamu, kami akan beri ampun jiwa kamu!‖ ia berteriak. ―Toako, jangan kena diperdayakan!‖ Tiat Sim memberi ingat. Siauw Thian menggeleng kepala, ia lemparkan sepasang tombaknya. Tiat Sim lihat istrinya ketakutan, hatinyapun menjadi lemah, maka seraya menghela napas, ia lemparkan panah dan tombaknya. Atas itu belasan tombak tajam dipakai mengurung empat orang itu, kemudian delapan serdadu maju mendekati, untuk membelenggu mereka berempat. Tiat Sim berdiri tegak, dia tertawa dingin. Sikap ini tidak menyenangi si pemimpin tentara, ia ayun cambuknya seraya mendamprat: ―Pemberontak bernyali besar, benarkah kamu tidak takut mampus?!‖ ―Bagus!‖ kata jago she Yo itu. ―Siapakah namamu?!‖ Perwira itu menjadi semakin gusur, cambuknya disabetkan berulang-ulang. ―Tuan besarmu tak pernah ubah she dan namanya!‖ katanya dengan jumawa. ―Tuan besarmu she Toan namanya Thian Tek. Thian Tek itu berarti kebijaksanaan Tuhan, kau mengerti? Ingatkah kau? Supaya kapan nanti kau bertemu Giam Kun, kau boleh ajukan dakwaanmu!‖ Tiat Sim tidak takut, ia malah mengawasi dengan bengis. ―Ingat olehmu, tuanmu ada cacat luka di jidatnya dan tanda biru di pipinya!‖ Thian Tek membentak pula. Ia angkat pula cambuknya. Pauw-sie menangis. ―Dia orang baik, ia belum pernah berbuat jahat, kenapa kau aniaya dia sampai begini?‖ tanya istri ini yang tidak tega melihat suaminya dicambuki. Tiat Sim meludah tepat mengenai mukanya perwira she Toan itu. Dia menjadi sangat murka, ia lalu cabut golok di pinggangnya.
Irawan D Soedradjat

Page

15

Pendekar Pemanah Rajawali

―Aku akan bunuh dulu padamu, pemberontak!‖ teriaknya. Tiat Sim tidak sudi mandat dibacok, ia berkelit ke samping. Tapi segera ia merasa ada tombak-tombak yang menahan tubuhnya. Thian Tek membacok pula. Tiat Sim tidak melihat lain jalan, ia berkelit mundur dengan mengkeratkan tubuhnya. Melihat bacokkannya kembali gagal, Thian Tek terus menikam. Kali ini goloknya yang tajam bagaikan gergaji dapat melukakan pundaknya orang she Yo itu. Dia tapinya belum puas, kembali ia ulangi bacokannya. Siauw Thian lihat adik angkatnya terancam bahaya, ia lompat maju seraya mendupak. Thian Tek terkejut, ia batal menyerang, terus dia menangkis. Siauw Thian lihay, ia tarik kakinya untuk ayun kakinya yang lain. Itulah tendangan saling susl dari ilmu tendangan Wan-yo-twie, maka tak ampun lagi, perwira itu terjejak pinggangnya. ―Hajar mampus dia!‖ dia berseru. Beberapa serdadu segera menyerang. Siauw Thian melawan, ia dapat menendang terguling dua serdadu, tetapi karena ia terbelenggu tangannya, akhirnya ia kena dibokong Thian Tek yang sambar ia dari belakang, hingga tangan kanannya terbacok kutung! Bukan main panasnya hati Tiat Sim menampak kakaknya itu menjadi korban keganasan si perwira, entah darimana datangnya tenaganya ketika ia berteriak keras sekali, belengguan pada tangannya terputus terlepas, maka sambil melompat maju, ia hajar rubuh satu serdadu, untuk rampas tombaknya yang panjang dengan apa ia terus mengamuk. Thian Tek menginsyafi bahaya, ia sudah mendahului mundur. Yo Tiat Sim menyerang bagaikan kalap, matanya menjdi merah. Semua serdadu mejadi kalah hati, dengan ketakutan mereka lari bubaran.. Tiat Sim tidak mengejar musuh, hanya ia menubruk kakak angkatnya yang telah mandi darah. Tanpa merasa ia kucurkan airmata. ―Adik sudah kau jangan pedulikan aku,‖ kata Siauw Thian lemah. ―Lekas, lekas kau singkirkan diri…‖ ―Akan aku merampas kuda, mari kita pergi bersama!‖ kata Tiat Sim. Siauw Thian tidak menyahut, ia hanya pingsan. Tiat Sim buka bajunya, hendak ia membalut luka kakak itu, tetapi lukanya lebar sekali, dari pundaknya merembet ke dada, sulit untuk membalutnya. Siauw Thian sadar pula. ― Adik, kau pergilah…‖ ia kata dengan suara yang sangat lemah. ―Pergi kau tolong teehu serta ensomu…aku, aku sudah habis…‖ Dan ia meramkan matanya untuk selamanya. Hampir Tiat Sim menyemburkan darah, sangking berduka dan mendongkol. Ia lantas berpaling ke arah di mana istrinya dan ensonya, istri Siauw Thian. Untuk kagetnya ia tidak dapat melihat mereka itu. ―Toako, aku akan balaskan sakit hatimu!‖ ia berteriak. Lalu dengan membawa tombaknya, ia lari kepada barisan serdadu, yang sekarang sudah berkumpul pula. Toan Thian Tek memberi perintahnya, maka barisannya itu menyambut dengan hujan anak panah. Tiat Sim maju terus seraya putar tombaknya, akan halau setiap busur. Ketika satu perwira dekati dia dan membacok, ia berkelit sambil mendak, akan nelusup ke bawahan perut kuda. Si perwira membacok sasaran kosong, hendak ia putar kudanya, tetapi tombaknya Tiat Sim tahu-tahu sudah menikam tepat kepadanya, maka
Irawan D Soedradjat

Page

16

Pendekar Pemanah Rajawali

ketika tubuhnya rubuh, orang she Yo itu gantikan ia lompat naik ke atas kudanya itu hingga dengan apa punya binatang tunggangan, Tiat Sim bisa menyerang dengan terlebih hebat. Sekali lagi barisan serdadu itu lari buyar. Tiat Sim mengejar, hingga ia lihat satu perwira lagi kabur sambil peluki seorang perempuan. Ia tidak mengejar, hanya ia lompat turun dari kudanya, akan rampas gendawanya satu serdadu Song lalu diantara terangnya api obor, ia panah perwira itu. Tepat panahnya ini, si perwira rubuh dari kudanya yang jatuh ngusruk. Dia rubuh bersama si wanita dalam pelukannya, hingga orang jadi terlepas. Lagi sekali Tiat Sim memanah. Selagi orang merayap bnagun. Kali ini perwira itu rubuh pula untuk tidak dapat bangun lagi. Tiat Sim lari kepada wanita itu untuk kegirangannya ia dapatkan pada istrinya. Sek Yok kaget dan girang, ia lompat ke dalam rangkulan suaminya itu. ―Mana enso?‖ Tiat Sim tanya. Dia lantas ingat istrinya Siauw Thian. ―Ia ada di sebelah depan, ia pun dibawa lari serdadu jahanam itu!‖ sahut Pauw-sie. Kapan Tiat Sim menoleh, ia tampak mendatanginya satu barisan lain. ―Toako telah menemui ajalnya, biar bagaimana aku mesti tolongi enso!‖ ini adik angkat ambil keputusan, ia bicara sama istrinya. ―Turunan toako mesti dilindungi. Kalau Thian mengasihi kita, kita berdua dapat bertemu pula…‖ Sek Yok rangkul keras leher suaminya itu, ia menangis menggerung-gerung. ―Tak dapat kita berpisah!‖ ia kata. ―Kau yang bilang sendiri, kalau kita mesti binasa, kita mesti binasa bersama! Bukankah benar kau pernah mengatakan demikian?‖ Tiat Sim peluki istrinya, hatinya karam. Tapi ia tiba-tiba keraskan hati, ia menolak dengan keras, ia sambar pula tombaknya, untuk lari. Ketika sudah lari beberapa puluh tindak, ia lihat istrinya menangis bergulingan di tanah, dan barisan serdadu yang mendatangi sudah mendekati istrinya itu. Ia usap mukanya, peluhnya bercampur sama darah muncratan. Ia lari pula. Telah bulat tekadnya untuk menolongi Lie-sie. Di sebelah depan, ia dapat rampas seekor kuda, maka itu ia jadi tambah semangat. Kebetulan ia dapat bekuk satu serdadu, atas pertanyaannya, serdadu itu bilang Lie-sie berada di sebelah depan. Maka ia kaburkan kudanya. Tiba-tiba dari samping jalanan mana ada perpohonan lebat, terdengar cacian seorang wanita. Ia lekas tahan kudanya, yang ia putar untuk hampirkan tempat lebat itu. Dengan tombaknya ia menyingkap cabang-cabang pohon.Maka di hadapannya terlihat dua serdadu sedang menyeret-nyeret Lie-sie. Tidak ampun lagi, Tiat Sim tikam mampus mereka satu demi satu. Lie-sie berbangkit dengan rambut kusut dan pakaian penuh tanah tidak karuan. Diwaktu begitu, tidak ada ketika untuk omong banyak, maka Tiat Sim angkat tubuh iparnya itu, dikasih naik ke atas kudanya, untuk mereka menunggang bersama. Ia lari balik untuk cari istrinya di tempat dimana tadi mereka berpisah. Untuk kedukaannya ia tak dapatkan Pauw-sie, tempat itu sunyi senyap dari segala apa. Ia turun dari kudanya untuk memeriksa tanah. Ketika itu sudah fajar. Ia lihat tapak-tapak kaki dan tanda bekas orang diseret, maka sakitlah hatinya. Ia percaya istrinya telah jatuh pula ke dalam tangan musuh…. ―Mari!‖ katanya seraya melompat naik ke atas kudanya yang ia terus kasih lari, perut kudanya pun dijepit hingga binatang itu kesakitan dan lari kabur. Sedang kuda lari keras mendadak dari samping jalanan muncul belasan orang yang hitam semua pakaiannya, orang yang terdengar segera menyerang dengan toyanya. Tiat Sim sempat menangkis, dapat ia menikam. Orang itu sebat dan gesit, ketika ia membuat perlawanan, nyata permainan toyanya pun lihay. Hal ini membuat heran kepada orang she Yo itu.

Irawan D Soedradjat

Page

17

Pendekar Pemanah Rajawali

Pernah Tiat Sim dan Siauw Thian berbicara tentang ilmu silat, bahwa dijamannya kawanan Liang San, Pek-lekhwee Cin Beng adalah yang terlihay ilmu toyanya, tetapi dijaman itu orang Kim-lah yang terkenal. Maka itu sekarang ia curigai lawannya itu ada satu perwira Kim. Ia hanya heran, kenapa perwira Kim bisa muncul di situ. Tapi ia tidak bisa berpikir lama-lama, ia lantas menyerang dengan hebat. Kali ini ia berhasil membuat lawan itu terjungkal, karena mana barisan serdadunya lantas kabur. Segera Tiat Sim menoleh, hatinya lega akan dapatkan iparnya tak kurang satu apapun. Ia masih mengawasi iparnya itu ketika ―Ser!‖ sebatang gendewa menyambar kepadanya, menyambar dari arah pepohonan yang lebat, hingga ia tidak sempat menagkis atau berkelit, busur itu tembus di punggungnya. ―Encek, kau kenapa?‖ tanya Lie-sie kaget. Tiat Sim tidak menyahuti, hanya di dalam hatinya ia kata: ―Aku tidak sangka bahwa aku bakal habis disini… Sebelum aku terbinasa, aku mesti labrak dulu musuh, supaya enso dapat lolos!‖ Ketika ia geraki tombaknya, ia menjadi kaget. Ia merasa sakit hingga ke peparunya. ―Cabut panah ini!‖ ia kata. Lie-sie tapi hatinya lemah, tenaganya tidak ada, tak dapat ia menolong. Tiat Sim lantas mendekam di atas kudanya, tangan kirinya diapakai mencekal gagang panah, dengan satu kali sentak, ia cabut busur itu terus ia pandangi. Anak panah itu nancap dalam kira tiga dim, gagangnya memakai bulu burung rajawali, batangnya terbuat dari perunggu. Itu bukanlah sembarang busur. tempo ia memeriksa lebih jauh, pada gagang itu ada terukir tiga huruf ―Wanyen Lieh‖ Ia terkejut. ―Wan-yen‖ itu adalah she, yaitu nama keluarga dari bangsa Kim, dari golongan keluarga raja. Biasanya dari raja hingga jenderalnya, bangsa itu memakai nama keluarga tersebut. ―Bagus!‖ serunya. ―Benar-benar si pembesar jahanam itu telah bersekongkol sama bangsa asing, bersama-sama mereka mencelakai rakyat negeri!‖ Ia serahkan busur itu kepada Lie-sie. ―Enso ingat baik-baik nama ini!‖ ia pesan. ―Pesanlah anakmu untuk menuntut balas….!‖ Habis berkata, ia putar tombaknya, ia menerjang ke antara musuh, tetapi darah di punggungnya membanjir keluar, tiba-tiba matanya menjadi gelap, tak dapat ia menahan diri lagi, ia rubuh dari kudanya. *** Hatinya Pauw-sie sakit bagai disayat-sayat karena tolakan suaminya, tempo ia mengawasi suaminya itu, sang suami sudah lantas lenyap, di pihak lain, rombongan serdadau telah mendatangi ke arahnya. Ia mencoba lari, tetapi sudah kasep, ia kena kecandak dan ditawan, tubuhnya segara dikasih naik ke atas seekor kuda. ―Aku tidak sangka dua orang itu demikian kosen hingga mereka dapat mencelakai tak sedikit saudara-saudara kita!‖ berkata satu perwira sambil tertawa. ―Tapi sekarang kita toh peroleh hasil!‖ kata satu perwira lain. ―Eh, sahabatku Ciong, untuk cape kita ini kita bakal dapat persen tiga atau empat puluh tail perak!‖ ―Hm!‖ menyahut si Ciong itu. ―Aku harap asal saja potongannya dikurangi sedikit…!‖ Terus ia menoleh kepada barisannya, akan beri titahnya: ―Kumpulkan barisan!‖ Serdadu tukang terompet sudah lantas kasih dengar suara alat tiupnya Pauw-sie menangis tersedu-sedu, ia lebih memikirkan suaminya yang ia tidak tahu bagaimana jadinya. Ketika itu sang fajar telah tiba, dijalanan sudah ada beberapa orang yang berlalu lintas, akan tetapi mereka nampak serdadu, mereka lalu menyingkir jauh-jauh. Mulanya Pauw-sie berkhawatir sangat kawanan serdadu itu nanti perlakukan kasar atau kurang ajar terhadapnya, kemudian ia merasa sedikit lega. Ia tidak saja tidak diganggu, ia malah diperlakukan dengan manis dan hormat.
Irawan D Soedradjat

Page

18

Pendekar Pemanah Rajawali

Barisan ini baru berjalan beberapa lie, tiba-tiba mereka dicegat oleh belasan orang yang mengenakan pakaian serba hitam, yang semua berbekal senjata. Mereka itu muncul dengan tiba-tiba dari pinggir jalanan. Seorang yang berada di paling depan sudah lantas kasih dengar suaranya yang bengis: ―Kawanan serdadu tak tahu malu dan kejam, tukang ganggu rakyat, kamu semua turun dari kuda kamu dan serahkan diri!‖ Perwira yang pimpin barisan itu menjadi gusur. ―Kawanan berandal dari mana ynag berani mengacau di wilayah kota raja?!‖ dia balas membentak. ―Lekas menggelinding pergi!‖ Pihak baju hitam itu tidak menggbris bentakan itu, sebaliknya mereka buktikan ancaman mereka, ialah tanpa bilang suatu apa lagi, mereka maju menerjang, dengan begitu pihak jadi bertempur kalut. Kawanan baju hitam itu berjumlah lebih kecil akan tetapi mereka mengerti ilmu silat denag baik, dengan begitu pertempuran menjadi berimbang. Menyaksikan pertempuran itu, diam-diam Pauw-sie bergirang. ―Bukankah mereka ini dalah kawan-kawannya suamiku, yang mendengar kabar dan telah datang menolong?‖ demikian ia menduga-duga. Selagi pertempuran berjalan terus, tiba-tiba satu busur nyasar menyambar punggung kudanya Pauw Sek Yok. Binatang itu kaget dan kesakitan, ia berlompat dan lari kabur. Sek Yok kaget dan ketakutan, ia mendekam di kudanya itu yang lehernya ia peluki keras-keras. Ia takut jatuh. Kuda itu kabur terus hingga beberapa lie, sampai di sebelah belakangnya, terdengar datangnya kuda lain, lalu tertampak satu penunggang kuda datang memburu. Cepat sekali larinya kuda pengejar ini segera ia menyandak dan lewat di samping Pauw-sie, si penunggangnya sendiri sambil melarikan kudanya itu memutar sehelai dadung panjang di atasan kepalanya, apabila ia melepaskan sebelah tangannya, dadung itu ialah lasso, lantas menyambar ke kudanya Sek Yok. Sekarang kedua kuda jadi lari berendeng, si penunggang kuda menahan dengan perlahan-lahan, dari itu sesaat kemudian kedua kuda itu larinya perlahan, akan akhirnya selang beberapa puluh lie, kuda si penunggang berhenti dengan tiba-tiba, sebab mulutnya penunggang itu perdengarkan tanda. Dengan begitu kuda Sek Yok pun berhenti seketika. Kuda itu meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya. Pauw-sie kaget dan ketakutan, ia pun ngantuk dan lelah, karena kuda itu berlompat berdiri habislah tenaganya, tak dapat ia memeluki lagi leher kuda lantas saja ia rubub ke tanah dan pingsan. Ia mendusin setahu beberapa lama kemudian, ia hanya dapatkan tubuhnya rebah di atas sebuah pembaringan yang empuk kasurnya dan tubuhnya pun dikerebongi selimut kapas yang membuat ia merasa hangat. Ia buka matanya perlahan-lahan. Yang pertama ia lihat ialah langit kelambu kembang. Maka sadarlah ia yang ia telah tidur di atas pembaringan. Ia menoleh ke samping, ia dapatkan sebuah meja dan satu pelitanya. Di tepi pembaringan berduduk satu orang laki-laki dengan pakaian serba hitam. Kapan pria itu melihat orang mendusin dan tubuhnya bergerak, lekas-lekas ia bangun berdiri, untuk singkap kelambu dan menggantungnya. ―Oh, kau sudah mendusin?‖ pria itu tanya, perlahan suaranya. Biar bagaimana, Sek Yok belum sadar sepenuhnya. Samar-samar ia seperti kenal pria itu, maka ia mengawasi. Si pria ulur tangannya, untuk meraba jidat si nyonya. ―Oh, panas sekali!‖ katanya. ―Tabib akan segera datang…‖ Sek Yok meramkan pula matanya, terus ia tidur pula. Ia baru sadar tempo dengan samar-samar ia merasa orang pegang nadinya, disusul mana orang memberi ia makan obat. Ia masih tak sadar benar, malah ia bagaikan bermimpi dan mengigau ketika ia berteriak: ― Engko Tiat! Engko Tiat!‖ Lalu ia merasa ada tangan pria yang dengan perlahan-lahan mengusap-usap pundaknya, yang menghiburi ia dengan lemah lembut. Kapan kemudian Sek Yok mendusin pula, hari sudah terang. Ia merintih sebentar, lantas ia bangkit untuk berduduk. Seorang menghampiri dia. ―Minum bubur?‖ tanya ia itu dari luar kelambu. Pauw-sie kasih dengar suara perlahan, atas mana pria itu singkap kelambunya. Sekarang dua muka saling berhadapan, mata mereka saling mengawasi. Sekarang Sek Yok dapat melihat denagn tegas, maka ia menjadi terkejut. Ia tampak satu wajah yang tampan, yang tersungging senyuman manis.
Irawan D Soedradjat

Page

19

―Tempat ini tempat apa?‖ nyonya ini kemudian tanya. ―Bukankah suami Nyonya berumur duapuluh kurang lebih. ia balik kepalanya ke sebelah dalam pembaringan. ―Benar dia. Nyonya. Maka itu hari ia tidak dahar nasi atau minum. ―Sebenarnya aku bersama beberapa kawan kebetulan lewat di sini.maka itu jangan Nyonya sembarang munculkan diri. aku tidak puas. yang kemudian menghilang tidak keruan paran dari gudang kayu.‖ orang itu menhibur. ―Mana suamiku?‖ ia tanya. ―Nanti saja setelah kesehatanmu pulih.‖ Sek Yok terperanjat. dengan lancang aku telah mengaku bahwa akulah suami Nyonya…‖ Mukanya Sek Yok menjadi merah. ―Bagaimana caranya ia meninggal dunia?‖ Pauw-sie tanya. ―Untukmu paling baik adalah merawat diri…‖ ―Apakah dia…dia telah meninggal dunia?‖ Sek Yok menanya. Pemuda itu mengangguk. ―Apa she dan nama Tuan?‖ kemudian Sek Yok menanya. Harap Ynonya maafkan aku. ia hanya dengan manis budi menghibur dan membujuki untuk nyonya legakan hati. aku berukan keteranganku. suamiku itu?‖ ia tanya. Rupanya karena jodoh kita telah dapat bertemu satu dengan lain.‖ kata pula si anak muda.‖ ―Aku tengah melawan tiga musuh ketika satu musuh jalan mengitar ke belakangnya suamimu itu yang dia tombak punggungnya. ―Kenapa kau ketahui kita terancam bahaya dan kau dapat menolongi?‖ Pria itu bersangsi agaknya. kita sekarang bearad dirumahnya seorang petani. yang bersenjatakan sebatang tombak panjang?‖ si anak muda tegaskan. Tetapi hatinya bukan tidak bekerja. ―Aku ada orang she Yen dan namaku Lieh. maka aku telah tolongi kau.‖ ia berkata dengan perlahan. Si pria kelihatan halus budi pekertinya. melarang orang berbicara. Ia menjadi tak enak hati untuk bersikap tawar terus. Irawan D Soedradjat Page 20 . ia menangis sesambatan. ―Dia…dia kenapa. tangannya mencekal keras-keras pada ujung kasur. ―Menyaksikan rombongan serdadu itu berbuat sewenang-wenang. ia telah dibinasakan oleh rombongan serdadu itu…‖ ia beri pebyahutan. ―Ya. Dari caranya orang berbicara. ia telah buka mulutnya tetapi ia batal bicara. Maka tiba-tiba saja timbul kecurigaannya. kemudian barulah ia bisa omong juga. ―Nyonya. lalu ia melanjuti: ―Sekarang ini rombongan serdadu sedang mencari Nyonya. Ia berkeputusan nekad untuk binasa bersama suaminya itu. Sek Yok kaget. ―Sudahlah. Besar sangat cintanya kepada suaminya. jangan bergelisah tidak karuan. Ketika kemudian ia sadar.‖ si anak muda beritahu. ―Sekarang kau letih dan lemah sekali. tubuhnya tinggi dan lebar. ―Mana suamiku?‖ Pemuda itu menggoyang tangan.Pendekar Pemanah Rajawali Itulah si anak muda yang beberapa bulan yang lalu ia tolongi selagi orang terluka dan rebah tak berdaya di atas salju. ia tidak memaksa. mungkin suaminya telah menampak sesuatu kecelakaan. Rupanya roh suci atau malaikat yang telah menunjuki aku justru tolongi penolongku…‖ Ia berhenti sebentar. nyonya. Sekarang baiklah kau beristirahat dulu. Lagi-lagi Sek Yok pingsan.‖ si anak muda menghibur pula. akan tetapi ia mengangguk. ia lantas pingsan.‖ ia menyahut akhirnya Merah mukanya Sek Yok akan dengar itu perkataan ―jodoh‖.

Yen Lieh bertindak masuk selagi si nyonya menangis. tiba-tiba sebatang busur nyasar telah menyambar pundakku. Kapan ia mengawasi kaca. cara bagaimana kau bisa menuntut balas?‖ katanya perlahan setelah ia bawakan bubur dan telu asin itu kepada si nyonya. ―Dia mempunyakan tanda biru di mukanya. namanya Toan Thian Tek. pastilah aku terbinasa kecewa. gampang untuk mencari dia. untuk sendok semangkok bubur serta satu biji telur asin. ―Aku datang dari utara. ―Aku seorang perempuan. Pauw-sie anggap perkataan itu benar. Pauw-sie turun dari pembaringannya. ―Bukankah baru ini kau dapat luka karena kau bersama tentera negeri hendak mencoba menawan Khu Totiang?‖ Sek Yok tanya pula tanpa pedulikan pertanyaan pemuda itu. bagaimana dapat aku membalas dendam?‖ tanyanya. Itulah tanda ia berkabung untuk suaminya. Nyonya!‖ katanya keras. ya aku tengah memikirkan cara bagaimana kita dapat meloloskan diri dari rombongna serdadu itu. hendak aku pergi ke Lim-an. ia tampak romannya yang cantik bagikan bunga akan tetapi npemiliknya telah tak ada – yang satu tetap menjadi seorang manusia. Yen Lieh kelihatannya murka. ―Jikalau kita tidak pelihara kesehatanmu. ia berhenti menangis. Pauw-sie tuturkan halnya Khu Cie Kee hendak ditawan tentera negeri.‖ ia menjawab. ia berkata: ―Tentera di luar sudah berlalu. kiranya kau kebenaran lewat saja dan bukannya dari satu rombongan dengan mereka itu?‖ berkata Sek Yok. Irawan D Soedradjat Page 21 . ―Dia itu yang menjadi perwira yang mengepalai barisannya. untuk apa aku memikirkan hidup lebih lama…?‖ katanya. siapa musuh nyonya suamimu itu?‖ Nyonya Yo Tiat Sim berpikir sejenak.‖ sahutnya kemudian. tetapi ia lemah hatinya. ―Suamiku telah terbinasa. yang lain telah menjadi setan…. hingga pada mulanya tak ingin aku menolongi kau. Ia terus pergi ke dapur. Ia menjadi sedih sekali. akan aku coba membalas dendam untukmu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kau dan tentera negeri itu datang dari satu jurusan?‖ ia tanya ―Ke…kenapa?‖ Yen Lieh tanya. yang berada di tanah baka.‖ Sampai di situ. ―Aku tadinya menyangka kau juga hendak bantu menawan Khu Totiang. Yen Lieh mengawasi orang berbicara. agaknya ia kesengsem. selagi aku lewat di kampungmu itu. ―Tidak ingin aku yang kita nanti kena di bekuk mereka…‖ Sek Yok menangis. romannya heran. Nyonya. Sebenarnya imam siapa yang hendak mereka tawan itu?‖ ―Oh. lalu ia turut keluar dari rumah itu. lalu ia tertawa. ―Kejadian hari itu sungguh membuat aku penasaran!‖ bsahut Yen Lieh. ―Suamimu telah dibinasakan hamba negeri. ―Ya. ―Eh. ―Apakah nyonya tahu. Yen Lieh terkejut. karena mana imam itu telah membuatnya perlawanan dahsyat. bagaimana kau Cuma ingat kematian saja? Nanti suamimu. ia sambuti bubur itu lalu ia dahar dengan perlahan-lahan. ia gunting itu merupakan setangkai bunga. Ia cari sepotong kain putih. ―Biarnya aku bodoh. sakit hatimu belum terbalas. mari kita berangkat.‖ berkata si anak muda. maka ia menangis dengan mendekan di meja. Coba tidak kau tolongi aku. tak tahu sebab musababnya. ―Baik kau pergi sendiri saja…‖ ―Tetapi Nyonya!‖ peringatkan Yen Lieh. Besok paginya. lalu ia selipkan di kondenya. kau hendak dengari ceritaku atau tidak?‖ ia menegur. Sek Yok dapat lihat kelakuan orang itu.‖ Sek Yok susut air matanya. ia tunggu sampai orang sudah sedikit reda. setelah rapikan pakaiannya ia hadapi kaca untuk sisiri rambutnya.‖ ―Dia telah diketahui she dan namanya. matanya tak meram…‖ Nyonya itu terkejut.

―Inilah barang yang tadi pagi tuan belikan untuk Nyonya. itu sudah selayaknya saja. ia tunggu sampai si jongos itu sudah keluar. sedap dan lezat. baru ia tidur tanpa buka pakaian luar lagi. Ia tidak lantas rebahkan diri. ―Apakah itu?‖ tanya si nyonya. Sekarang mendengar omongan yang beralasan dari pemuda ini. ―Kita tunggu sampai suasana sudah mulai reda. didalam hatinya ia bilang: ―Asal dia berlaku kurang ajar sedikit saja. Itu waktu. karenanya ia meminta satu kamar. Bab 3.‖ sahut Yen Liah. ia bungkam. hatinya Pauw-sie kurang tenang. jongos datang menyerahkan satu bungkusan. Hatinya Nyonya Yo berdebar-debar. laki-laki sejati. sore itu mereka singgah di dusun Tiang-an-tin. ia memang tak dapat berpikir apa-apa. Yen Lieh sudah keluar dari kamar. Ia jadi ingat suaminya. hatinya menjadi sangat berduka. Barang hidangan itu terdiri dari masakan ayam. diam-diam ia meraba pedang peninggalan Khu Cie Kee. ia lantas kunci pintu. ia bukan saja suka menerima. yang terkena panah. keduanya sudah jalankan kuda mereka berendeng menuju ke utara. Oleh karena itu semakin kurang penjagaan dirinya. untuk cegah si nyonya sembarang bicara di depan orang lain. Diam-diam nyonya ini jadi sangat bersyukur.‖ Yen Lieh jawab. kemudian ia membantui nyonya itu naik ke atas kuda. rumput kering itu ia delar di lantai. ikan dan bubur yang semuanya harum. malah ia bersyukur sekali. dedaharannya setiap hari adalah sayur dan ikan asin. ―Kau hendak bawa aku kemana?‖ akhirnya Sek Yok menanya pula. Belasan lie telah mereka lalui. baru di hari raya atau tahun baru ia dapat hidangan istimewa. ia menemui orang satu kuncu. ―Sekarang kita cari dahulu tempat sepi untuk tinggal sementara waktu. Ia ada dari satu keluarga sederhana. yang siapkan dua ekor kuda. ―Maka itu tubuhku ini aku serahkan kepada nyonya untuk nyonya suruh-suruh. akan tetapi hatinya tidak tentram. Akan tetapi mendahar ini. sesudah mana terus ia meramkan matanya. karena itu diwaktu bersantap. baru kita pergi cari jenazah suamimu. Sek Yok tidak bilang suatu apa. dan biasanya. ialah pakaian baru. ―Yen.‖ Dua hari mereka berjalan. yang sekarang telah diobati lukanya.‖ Irawan D Soedradjat Page 22 . di situ ia rebahkan dirinya terus ia tutupi dengan gudri. Yen Lieh mengaku bahwa mereka berdua adalah suami-istri. ―Nyonya silakan tidur!‖ ia berkata. akan aku bunuh diriku!‖ Yen Lieh menitahkan jongos ambil dua ikat rumput kering. lemah lembut sikapnya. matanya memandang ke satu arah. habis padamkan api lilin.‖ Sek Yok lemah hatinya. ―Tuan pesan supaya nyonya suka salin pakaian. Yen Lieh sudah tidak ada di kamarnya. maka di lain saat. satu diantaranya adalah kudanya Sek Yok. Yen Siangkong. ―Jiwaku ini adalah nyonya yang tolongi. walaupun badanku hancur dan tulang-tulangku remuk. pemuda itu telah pergi siapkan kuda mereka dan sudah pesan jongos menyediakan barang makanan.‖ jawab jongos itu.Pendekar Pemanah Rajawali Yen Lieh serahkan sepotong perak kepada tuan rumah. daging asin. Yen Lieh kedipi mata. yang didatangi. kemudian baru kita pergi cari si Toan Thian tek si jahanam itu guna menuntut balas. pedang pendeknya tergenggam di tangannya. Kepada pengurus hotel. Tak lama sehabisnya dahar. Di akhirnya ia menghela napas panjang. Tujuh Orang Luar Biasa Kapan besok paginya Pauw-sie bangun dari tidurnya. meskipun mesti menyerbu api berkobar-kobar. bagaimana kau harus membalas budimu ini?‖ katanya. untuk dikubur dengan baik. untuk setengah jam ia masih duduk bercokol. ―Kita menuju kemana?‖ tanya Pauw-sie.

akan aku panah batang lehernya!‖ Selagi pemuda ini berkata. tentu mereka kalah dan lari. cara bagaimana ia dapat memikir begini sempurna?‖ katanya dalam hati. tiba-tiba mereka mendengar jeritan hebat dari sebelah depan. Irawan D Soedradjat Page 23 . Dialah ynag tadi menjerit. Tapi justru itu. ―Mari kita liat!‖ Pemuda ini berlaku tenang. maka pakaiannya jadi kotor dan pecah disana sini. dengan begitu dapat ia menentramkan sedikit hati si nyonya kawan seperjalanannya itu. ia justru maju mendekati. malah gendewa itu dipakai memanah pula beruntunruntun. ―Mari kita lekas menyingkir…‖ Yen Lieh sebaliknya tersenyum simpul. tidak ada ampun lagi serdadu itu terpanah batang lehernya. Ia lantas siapkan pula busurnya. lagi pegat seorang lelaki tua yang ada bersama satu anak muda serta satu nona. ―Lekas pergi!‖ Pada waktu itu tentera Song. ―Kamu ada bawahan siapa?‖ ia tanya. kalau menghadapi musuh bangsa Kim. Dua serdadu lagi memeriksa mengaduk-aduk buntalannya si orang tua. Menyaksikan orang lari ngiprit. berikut sepatu dan kaos kaki putih juga. mereka galak bukan kepalang. Justru ia hendak ajak Pauw-sie melanjuti perjalanan. Di situ terlihat lima serdadu. Tinggal serdadu yang kelima. baju pendek. ia berubah seperti seorang baru. Ia tampak seperangkat pakaian baru warna putih. ―Diam!‖ dia membentak. Yen Lieh tertawa enteng. ia berkata. kupingnya mendengar suara menyambar ―Serr!‖ lalu satu serdadu menjerit dan rubuh. Maka itu melihat Yen Lieh cuma berdua dengan satu nyonya manis. ―Tunggu sampai ia lari lagi tiga tindak.‖ kata Sek Yok ketakutan. dituruti empat kawannya. mereka anggap inilah untung mereka. pakaiannya tidak karuan. sesudah itu untuk satu malaman ia mesti larilarian. anak panah mana dikasih masuk ke dalam kantungnya. untuk cabuti anak panahnya dari tubuh mereka. sebaliknya dari angkat kaki. ia mengeluh dalam hatinya. si serdadu lari terus. akan tetapi terhadap rakyat jelata. Segera si nyonya lihat di tangan kawannya ada gendewa yang bersinar kuning emas. dari samping kiri muncul dengan tiba-tiba sepasukan serdadu dengan suara mereka yang berisik. sapu tangan dan handuk. Perjalanan sudah lantas dilanjuti. Pauw-sie kaget sekali. Sek Yok takut bukan main. Si nona menangis. Tepat orang lari kira enampuluh tindak. hingga lagi tiga serdadu rubuh seperti rekannya yang pertama. Serdadu itu lantas berseru. ia berpaling kepada si nyonya. Sore itu selagi mendekati dusun Kiap-sek-tin. ―Celaka!‖ Sek Yok menjerit karena kaget dan takut. hingga di sebuah tikungan. Yen Lieh lompat turun dari kudanya. dengan mencekal golok panjang. Yen Lieh cambuk punggung kuda si nyonya selagi ia pun kasih lari kudanya dengan begitu kedua ekor kuda segera lari keras. Bukankah ia baru saja lolos dari bahaya yang menakuti? ―Jangan takut!‖ kata Lien Yeh sambil tertawa. ―Kamu bikin apa?‖ Yen Lieh benar-benar tidak takut. lalu ia maju mendekati. ia ketakutan. malah mereka main merampas dan paksa. habis itu ia melompat naik pula ke atas kudanya. dia lalu putar tubuhnya untuk lari merat. ujung panah tembus ke tenggorokannya. yang uangnya dan lainnya barang mereka pindahkan ke saku mereka sendiri. Ia tertawa girang sekali. ia putar balik kudanya untuk lari. membentak. Memang ketika ia keluar dari rumah.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok buka bungkusan itu yang membuat dia melengak. busur meleset mengejar dengan cepat sekali. maka gendewa ditarik. Mereka maju terus. Sekarang setelah tukar pakaian. yang lainnya ada pakaiaan dalam. Tiga serdadu lainnya tengah mengurung si nona yang mereka perlakukan dengan ceriwis. ―Hebat!‖ memuji Sek Yok tanpa terasa. ―Dia seorang pria. yang sangat bersyukur. ―Lagi-lagi serdadu mengganggu rakyat jelata. Satu serdadu segera hampiri dua orang ini yang mereka dapat lihat. ia hampiri lima serdadu itu. dadanya tertumblaskan sebatang busur. sambil tertawa.

Segera ia tidak punya jalan lagi. setelah mana ia kaburkan kudanya itu. Irawan D Soedradjat Page 24 . maju menghampiri.‖ katanya. lalu bersama-sama mereka lanjuti perjalanan mereka ke utara. larinya pun menjadi tambah perlahan. ia pondong Pauw-sie untuk dipindahkan ke kuda yang baru. ―Kau siapa!‖ ia membentak. ia dapatkan sejumlah tentara pengejar lebih dari seribu jiwa. tidak kenali tayjin. ―Pergi kau sampaikan kepada Han Sinsiang. Karena itu terpaksa ia tahan kudanya. Yen Lieh tertawa gembira. Yen Lieh tidak pedulikan lagi pemimpin pasukan itu. ―Nanti pie-cit melakukan pemeriksaan untuk memberi hukuman. Dia tertawa pula. Pauw-sie menoleh ke belakang. Akan tetapi ketika itu sudah terlambat. Yen Lieh rogoh sakunya. selaku tanda hormat. tiba-tiba Yen Lieh tahan kudanya. ―Pie-cit mohon diberi ampun….‖Kau hendak tunggu apalagi?‖ Sebaliknya daripada serahkan diri atau ketakutan. Ia bicara terhadap Pauw-sie. ―Pie-cit. Pauw-sie mengawasi kejadian denga hatinya heran bukan main. Yen Lieh tertawa pula. Sek Yok heran yang ia dipanggil ―hujin‖ atau nyonyanya si anak muda. mereka mengejar. akan tunggu kudanya Pauw-sie rendengi ia. dan wajahnya terus menunjuki ia bergelisah. Karena lari terlalu keras. Pauw-sie takut bukan main. ―Apakah kamu adalah pengawal pribadi dari Han Sinsiang?‖ ia tanya. ―Perwira itu tuntun kudanya sendiri.‖ ―Baik. tanpa mengucap sepatah kata. tayjin. maju tidak. Karena tadi ia menunda kudanya. dosaku berlaksa kali mati. mukanya menjadi pucat. mukanya pucat pasi. hingga ia tercengang. dengan tergesa-gesa ia lompat turun dari kudanya untuk memberi hormat. Seorang diri. ―Nah. Ia mengedipi mata. ia sambar si nyonya untuk ditarik dan dipindahkan ke kudanya. Kerananya ia jadi ketinggalan Yen Lieh. baik. lalu sambil terus berteriak-teriak. selagi tentera pengejar mendatangi semakin dekat. akan keluarkan sepucuk surat. Yen Lieh sambuti kembali surat itu. dari itu aku tak dapat pamitan lagi. ―Bilang aku ada punya urusan penting dan mesti pulang lantas. ―Nampaknya tentera mu kurang kenal tata tertib ketenteraan!‖ katanya sambil tertawa. mukanya menjadi merah. ―Kau tidak hendak turun dari kudamu untuk manda dibelenggu?‖ perwira itu menegur. surat itu pun segera ia ancungkan ke atas kepalanya. Lagi selintasan. lalu dengan tiba-tiba.‖ ia berkata. pie-cit mengerti.‖ Tidak saja perwira itu membasakan dirinya ―pie-cit‖ yang artinya ―bawahan yang rendah‖. Serdadu itu lantas sambuti surat itu untuk dihanturkan kepada pemimpinnya. kopiahnya kopiah besi dan bajunya lapis besi juga. Perwira itu menjura dalam. Sementara itu. mana bisa Yen Lieh melawan mereka itu walaupun pemuda ini lihay ilmu panahnya? Celaka adalah kudanya si nyonya Yo ini.‖ pintanya. Yen Lieh sebaliknya tenang. Kapan perwira itu sudah membaca. lantas ia menjadi kaget sekali dan ketakutan. Heran perwira itu.‖ katanya. nyampingpun tidak. lukanya yang belum sembuh telah pecah pula dan mengeluarkan darah.‖ kata perwira itu tetap dengan sangat hormat. Yen Lieh kena dicandak pengejarnya. Setelah lari serintasan. Yen Lieh manggut perlahan ia lantas sambuti kudanya si perwiara. Satu perwira yang bersenjatakan sebatang golok besar. ―Silahkan hujin pakai kudaku ini. terutama oleh pengejar yang motong jalan dari samping.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tangkap!‖ berteriak tentera yang di belakang itu apabila mereka melihat mayat-mayat rekannya.‖ katanya. ―Kami masih kekurangan seekor kuda. suaranya dan sikapnya sangat merendah. ―Apakah kau tidak kenali aku?‖ dia bertanya. kau lihatlah surat ini!‖ Perwira itu melirik kepada satu serdadu di sampingnya.

silahkan kau beri petunjukmu. Luas pengetahuannya si anak muda. Ia berpaling kepada si anak muda. kadang-kadang yang satu di depan yang lain di belakang. Nyonya….‖ katanya. tidak melainkan kita bakal gagal. dia jerih tiga bagian.‖ Lantas keduanya larikan pula kuda mereka. ―Walaupun Han To Cu sendiri yang melihat aku. ―Nyonya . Nyonya. cara bagaimana ia bisa terus ikuti pemuda itu? Dia jadi menjublak karena kesangsiannya itu. ―Bukankah ini baru dibeli?‖ tanyanya. ―Soal itu ada lain. pandai ia memilih bahan pembicaraan.‖ Sek Yok bingung tidak berdaya. ―Mari kita cari hotel untuk singgah dan beristirahat dulu. ―Apanya yang dibilang lama?‖ Irawan D Soedradjat Page 25 . ―Sekarang ini kita telah ketahuan siapa adanya. ingin ia menanya. atau setempo dengan berendang. apapula segala perwira itu……. apabila kita pergi menuntut balas sekarang juga. Pauw-sie mengangguk. Untuk melegakan hati si nyonya. Ia dapati orang halus sikapnya dan menarik kata-katanya. Nyonya.. dapatkah kau mempercayai aku?‖ bia tanya. Yen Lieh menjadi girang sekali. ―Nyonya…. mereka tiba di Kee-hin. ini kawan seperjalanannya yang sebenarnya asing untuknya. Sek Yok menjadi tak enak sendirinya. kota dari sutera dan beras. ―Budimu yang besar. keramaiannya menjadi bertambah sendirinya. sekarang ia terletak dekat dengan kota raja. sambil tunduk. sebenarnya kita masih dapat melanjutkan perjalanan. ―Baik. agaknya mereka itu masih mengasih selamat jalan……. kita pun bisa mendapat celaka. ―Baiklah. baik. ―Kita tunggu sampai suasana reda. Hawa udara ada nyaman karena itu waktu pun ada di musim pertama yang indah.‖ Yen Lieh berkata. ―Sekarang ini mari kita balik dahulu ke utara. ―Jikalau nyonya anggap saranku kurang sempurna.‖ Sek Yok mengutarakan pikirannya. Ia tidak mengerti. tentang sakit hati suamimu itu serahkan kepada tanggungjawabku seorang. Yen Lieh berdiam sejenak. ―Akan aku turut segala titahmu. sambil tertawa mendahulukan dia. tapi anak muda itu. Sek Yok menoleh ke belakang. Percaya saja ia ragu-ragu. pihak tentera tentu telah membuatnya persediaan. Di sepanjang jalan ada kedapatan pohon-pohon yangliu dan bunga. Orang pun tampan dan menyenangkan untuk dipandang.‖ kata Yen Lieh melihat orang berdiam saja.‖ ―Jikalau begitu.‖ Yen Lieh bilang. ―Hari masih siang. orang pun bukan sahabat bukan sanak. Sek Yok heran dan kagum untuk si anak muda.‖ Sek Yok melengak.‖ sahut si anak muda. Bukankah ia sudah rudin dan tak bersanak kandung juga? Kemana ia mesti pergi untuk pernahkan diri? Bukankah lebih baik ia turut pemuda ini? Tapi dia ada satu janda.‖ dia bilang. Nyonya legakan hati. nanti aku belikan yang baru. pastilah gampang untuk kau membalaskan sakit hatiku.‖ ―Harap kau tidak sebut-sebut tentang budi…‖ kata Sek Yok. ―Disini ada banyak toko. tak nanti aku lupakan. sesukamu…‖ katanya perlahan. ―Pakaianmu sudah terpakai lama. Pada tengah hari di hari ketiga. sebuah kota besar di Ciat-kang barat. Memangnya kota sudah ramai pada asalnya.‖ Menampak sikap orang itu. Untuk herannya ia lihat si perwira dan barisannya masih belum pergi.Pendekar Pemanah Rajawali Sesudah jalan beberapa puluh tindak.‖ kata Pauw-sie. baru kita berangkat pula ke selatan ini untuk maksud menuntut balas itu. Yen Lieh sering membuka pembicaraan.‖ ―Habis bagaimana?‖ si nyonya tanya pula. ―Maka itu.‖ Yen Lieh mengajak.

Tepat ketika keduanya impas-impasan. dia ngeloyor terus. kau mesti awas mata! Paling baik kau minta dia membayar uang sewa di muka!‖ Lalu dengan tak menantikan jawaban. ―Tuan. pakaianmu sudah tak mentereng lagi. kau bikin apa`?‖ ia menegur. tuan besarmu ada punya uang perak! Di pihak lain. Ia mau menyangka tadi karena terburu-buru ia lupa bawa uangnya. Ketika ia tiba di ujung hotel. Mungkin sudah belasan hari ia tidak pernah mandi. bukannya aku kurang ajar…‖ katanya sambil memberi hormat. laginya dengan wajah ini. baru ia sampai di muka hotel. tetapi segera ia melongo. Sementara itu tangannya meragoh ke sakunya. tak mau ia jalan di dekatnya.‖ kemudian kata si pemuda. Nyonya. Yen Lieh terus tanya-tanya orang. Jongos itu lihat air muka orang. atas tepukan itu tak keburu ia berkelit. ―Kau pegang uang ini!‖ katanya menyela. tertawanya itu tajam menusuk telinga. ―Aku tengah berkabung…‖ katanya perlahan.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kita jalan jauh dan ditengah jalan banyak debu. kau jangan pandang tak mata kepada baju tuanmu yang rubat-rabit ini! Kau tahu. Ia menjadi berani. Ia heran. ia menjadi tercengang pula. ―Apakah kau tengah menipu dia? Janganlah kau nanti rembet-rembet kami!‖ Irawan D Soedradjat Page 26 .‖ kata Yen Lieh. ―Terang itu aku tahu. jongos. ia jalan terus. sepatunya terus berbunyi: ―Truk! Truk! Truk…!‖ Panas hatinya Yen Lieh. dengan pakaiannya yang mentereng. buat anglap makanan dan hotel! Terhadap bocah begitu macam. orang mana menyolok perhatiannya. dengan kipas bututnya dia tepuk pundaknya Yen Lieh. ―Dengan dipakai baru satu dua hari. ada bocah yang tersesat.‖ terangkan si anak muda. Di sini mereka paling dulu bersihkan tubuh. sepatu itu berbunyi ketrak-ketruk walaupun ia jalannya perlahan. Yen Lieh lantas pergi keluar. berminyak. ia menoleh kepada jongos hotel seraya berkata dengan keras: ―Eh. bagaikan siulannya burung malam. Ia tahu. Pauw-sie mengangguk. Dengan lekas ia menghampiri. ―Eh. tetapi karena orang demikian jorok. ―Binatang!‖ katanya dalam hatinya.‖ Yen Lieh bilang. Orang mirip dengan satu sastrawan tetapi ia jalan sambil menyeret sepatu kulit. kotor juga mukanya yang penuh debu. ia lihat seorang mendatangi. dia ada membekal uang empat atau lima puluh tail perak akan tetapi sekarang kantungnya kosong. maka itu sambil mengerutkan kening. Dia tertawa terus beberapa kali. tak tahu ia di mana lenyapnya uangnya itu. Yen Lieh ada apik. ialah pakaiannya kotor. akhirnya ia ajak nyonya itu ke hotel Siu sui yang paling besar untuk kota Kee-hin. si jorok itu ulur tangannya. ―Bukankah dia maksudkan aku?‖ Jongos itu melirik kepada pemuda ini. ia gancangi tindakannya. suaranya kering. walaupun orang mirip sastrawan. ―Apa?! Kau tidak membawa uang?‖ katanya. hendak aku pergi berbelanja. mana boleh kau tidak memakai pakaian dari bahan yang terbaik?‖ Diam-diam senang hatinya Sek Yok karena orang puji kecantikannya. Yen Lieh bisa duga hati orang. Tiba-tiba orang jorok itu tertawa. sembari jalan dia mengipasipas tak hentinya. Jongos mengikuti ke kamar. Orang itu perdengarkan pula tertawanya yang kering itu. Di tangannya ia mencekal satu kipas kertas minyak warna hitam yang sudah buntut. mau tidak mau timbul kecurigaannya. hendak aku balik ke kamarku untuk mengambil. ―Apakah wanita ini benar istrimu?‖ dia tanya. Sekarang ia tak sungkan-sungkan lagi. ia tangal-tongol di muka pintu dengan begitu ia jadi dapat lihat orang tidak punya uang. Ia menjadi tidak senang. akan tetapi. Nyonya itu lantas membungkam. untuk mengakali kaum wanita. Nyonya. dia pentang aksi untuk bikin orang silau guna menipu. ia jadi menduga terlebih keras. ―Kau tunggu . Setibanya di dalam kamar. Anak muda ini gagah. khawatir tubuhnya nanti kena terlanggar. Ia dapatkan buntalannya tidak ada uangnya. harap kau tidak kecil hati. ―Kau tunggu sebentar. tindakan kakinya terus berbunyi ketrakketruk. lalu duduk bersantap. Dia pun tidak karuan dandannya.

ialah ruyung pendek yang bercagar atau gagangnya bergaetan. di luar terdengar suara berisik lalu muncul belasan orang polisi.‖ kata SekYok dengan berkhawatir. kasihkan pada Khay Oen Cong. Hendak aku lihat. Kali ini ia tertawa. Di situ ia lantas bercokol. jangan kasih dia buron…‖ pesannya pada orang-orangnya. Dengan tiba-tiba Yen Lieh mencelat ke pintu dan tangannya menyambar. untuk mengeluarkan sepucuk surat yang mana ia lemparkan ke atas meja. akan tetapi agaknya ia masih sangsi. Pihak hotel atau tetamu. tangan mereka membawa toya dan ruyung. sambil pegangi pipinya dia menjerit: ―Bagus. ―Sudah menipu wanita. lalu ia terus pergi. ―Jangan kita nginap disini!‖ ―Jangan takut!‖ kata Yen Lieh. ―Mari kita lekas pergi!‖ Sek Yok mengajak. mungkin nanti datang pembesar negeri. Kata-kata itu disusul sama mencelatnya tubuhnya. sisa yang lainnya lantas lemparkan senjata mereka dengan memutar tubuh. kau juga berani pukul orang!‖ Dengan murkanya Yen Lieh mendupak. lalu tahu-tahu ia telah rampas toyanya satu orang denagn apa terus ia menghantam kalang kabutan. akan kemudian diturut oleh kawan-kawan yang telah terima hajarab. Yen Lieh tetap tertawa. Irawan D Soedradjat Page 27 . Jongos tadi yang telah kabur keluar segera kembali bersama belasan orang. urusan menjadi hebat. suaranya keren. Tentu ia menjadi gusur. ―Apakah kau edan?‖ si kepala polisi tanya. rombongan oppas itu tidak berani lantang maju. Mereka pun bekal borgol yang rantainya berkontrangan. ia berkata: ―Kau bawa suratku ini. ―Kita tidak punya uang tetapi kita boleh suruh mereka mengadakannya!‖ Ia lantas sembat sebuah kursi yang ia letaki di ambang pintu. tidak ada yang berani banyak mulut lagi. ―Pergi kau panggil Khay Oen Cong kemari!‖ ia bilang. Baharu kemudian. Menyaksikan sikap orang itu. Hamba negeri itu terkejut. ―Apakah kamu hendak berkelahi?‖ tanya Yen Lieh sambil tertawa. ―Eh. sikap mereka garang. Tak tahu ia maksudnya pemuda ini. yang repot merayap bangun. yang bersenjatakan golok dan thie-cio. yang romannya seperti buaya darat. Kemudian mereka menjdi gusur. kau she apa?‖ menegur yang menjadi kepala. tiehu atau residen dari Keehin.‖Bagaimana kau berani sembarang sebut namanya Khay Toaya kami?‖ Yen Lieh rogoh sakunya. ―Plok!‖ demikian suara di mukanya si jongos yang pipinya menjadi bengap dan giginya rontok beberapa biji. Sekejap saja empat lima orang telah terguling rubuh. ―Itulah yang aku kehendaki!‖ sahutnya. ya bagus betul! Kau sewa kamar tidak mau bayar. ―Mana dia si penjahat!‖ Yen Lieh bercokol tidak bergeming. Khay Oen Cong itu adalah namanya pembesar mereka. kemudian sambil matanya memandang mega. Menampak demikian. ia datang ke mari atau tidak!‖ Orang polisi itu jumput surat itu. aturan dari mana?‖ demikian di antarannya pentang bacot. masih berani galak. Ia malu dan bergelisah. Nyonya Yo bungkam. mukanya menjadi merah.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok tidak tahu apa yang sudah terjadi tetapi ia dapat menduga. ―Kamu jaga dia. Untuk kira setengah jam. hotel menjadi sunyii. ―Ah. setelah membaca sampulnya ia terkejut. hingga orang itu jungkir balik. mereka sipat kuping. ―Mau apa kau datang ke Kee-hin ini?‖ Yen Lieh tetap tidak bergerak.

kalau negara mereka tidak lenyap. habis mana. Kamu jangan ganggu aku. terutama terhadap Kiang Bun Kay si camat. ―Tempat di sini lebih meyenangkan. ―Ya. ―Sebenarnya tidak ku niat pedulikan mereka. ia lemparkan itu ke atas tanah. ―Piecit adalah Khay Oen Cong.‖ ia berkata.‖ berkata Khay Oen Cong. ―Lekas pergi!‖ Jongos itu melengak. nanti piecit siapkan. Khay Oen Cong menyahuti dengan cepat. Bukankah residen dan camat pun mesti berlutut terhadap tetamunya itu? Tidak ayal lagi dengan dipimpin kuasa hotel.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok saksikan itu semua.‖ berkata Yen Lieh. lenyap darahnya.. harap tayjin suka memaafkannya. Cuma tangannya diulapkan. orang-orang sebawahannya Tio Kong semua bangsa kantong nasi. Sampai disitu Pauw Sek Yok menjadi heran. benar-benar tidak pantas!‖ Sek Yok heran. Dengan tidak bilang apa-apa lagi.‖ tiehu itu memohon kemudian. kami tidak datang menyambut.‖ kata Oen Cong dan Bun Kay dengan cepat. baiklah. mukanya menjadi pucat. ―Aku lebih suka tempat yang tenang. ―Sebenarnya suratmu itu wasiat apa?‖ ia tanya. Dengan cara hormat. hingga ia bisa tertawa. yang satu bermuatkan emas berkilau kuning dan yang satunya lagi bersis perak yang berkeredep putih. hatinya terus goncang. aku mohon Tuan-tuan suka tolong periksa dan mencarinya.‖ Yen Lieh dongak. Kenapa dia sekarang berani terang-terangan menyebut nama kaisar? Irawan D Soedradjat Page 28 . ―Piecit telah siapkan tempat beristirahat. ―Dia mengaku sebagai sahabatnya Han Sinsiang. ia berlutut dan manggut-manggut. tetapi kapan kuasa hotel lihat wajah si tetamu tenang dan ramah. ―Satu pembesar sampai ketakutan demikian rupa!‖ Yen Lieh tertawa. atas mana muncul dua orang polisi yang membawa dua menampan-menampan. Jongos saksikan itu semua. aku menyangka dialah sanaknya kaisar. ―Aku persen ini kepadamu!‖ katanya sambil tertawa.‖Piecit tidak ketahui tayjin tiba disini.‖ berkata mereka. Nyonya Yo Tiat Sim menjadi terperanjat. hatinya pun lega. lekas-lekas ia pungut uang itu. ia membungkuk sedikit. ia tidak menyahuti.‖ Yen Lieh tertawa. semua pembesar sipil dan militer hormati dan takuti dia.‖ Dengan tiba-tiba wajah si anak muda menjadi keren. keduanya lantas saja memberi hormat sambil tekuk lutut. silahkan Tayin dan hujin singgah di sana. Yen Lieh mengambil sepotong perak dari atas nenapam. khawatir orang gusar. tiehu dari Kee-hin dan Kiang Bun Kay tiekoan dari Siu-sui-koan. ―Atau setidaknya dia pembesar berpangkat sangat tinggi….‖ ia menyahut. sesudah mana di luar hotel terdengar pula suara berisik dari orang banyak. ―Baik. Khay Tiehu lantas angsurkan suratnya pemuda itu.‖ Yen Lieh ulapkan tangannya. ―Aku telah kehilangan uang di dalam kecamatan ini. ―Siapa itu Tio Kong?‖ tanyanya. Itulah suara beberapa puluh orang polisi. lalu dengan cepat ia seret si jongos pergi. yang mengiringi dua pembesar dengan pakaian dinasnya. ia menoleh ke belakang seraya geraki tangannya.‖ dia berpikir. ia mengangguk. tolong sebutkan. hebat ia menunggu kira setengah jam. ―Di tempat kami ada penjahat yang main gila. ―Sekarang ini sudilah kiranya Tayjin menerima dahulu ini jumlah yang tidak berarti. ―Tayjin masih membutuhkan apalagi. Tak tahu ia urusan bakal jadi bagaimana hebatnya. ya.‖ katanya. ―Tio Kong ialah Kaisar Leng Cong yang sekarang!‖ sahut Yen Lieh. Kapan mereka berdua sampai di depan Yen Lieh. itulah kealpaan kami. ia bersangsi. Karena ini. Oen Cong dan Bun Kay mengundurkan diri dengan hormat dan tanpa berisik semua polisi mengikuti mereka. dia berlutut seraya memohon ampun. ―Pembesar itu sendirinya tak punya guna.

kau…‖ katanya Sek Yok dengan suara yang gemetar. ―Apakah mereka bukannya tentara Song?‖ si nyonya membaliki. ― Telah lama aku kagumi keindahan wilayah selatan. aku tandaskan kepadanya. dia janji saban tahu mengirim upeti uang dan cita. apa ini didengar orang. riang gembira.‖ Mau atau tidak Sek Yok terperanjat.?‖ Maka lekaslekas ia berkata ― Bicara hati-hati! Nama raja mana boleh sembarangan disebut-sebut?‖ Senang Yen Lieh akan mengetahui nyonya ini menyayangi dia. ―Bagaimana kau lihat semua orangku dibandingkan dengan tentara Song?‖ ia tanya. ia juga ketahui bagimana hebat suaminya itu membenci bangsa Kim itu.‖ sahut putra raja Kim itu. Tentu saja oleh karena ini ia menjadi tidak dapat membuka mulutnya. Kemudian. Ia hanya heran menyaksikan rombongan serdadu itu. tangannya diulapkan. Pernah dahulu ia dengar ayahnya bercerita bagaimana bangsa Kim telah menggilas-gilas wilayah Tionggoan. bagimana dua kaisar Tionggoan telah ditawan. ―Bicara terus terang nyonya. karenanya pada tahun baru yang baru lalu telah aku mohon Ayahanda raja mengirim aku ke Lim-an sebagai utusan yang datang untuk memberi selamat tahun Baru kepada kaisar Song.‖ dia menyahuti. tetapi dengan alasan penghasilan negaranya tidak mencukupi. yang terus berbangkit untuk berdiri dengan tegak. orang dengan siapa siang dan malam ia berada bersama selama beberapa hari. namaku mesti ditambah satu huruf ―Wan‖ di atasnya. ―Setibanya kita di utara. setelah ia menikah dengan Yo Tiat Sim. Begitu mereka melihat Yen Lieh. Di samping itu kebetulan kaisar Song belum membayar upeti tahunannya yang berjumlah beberapa puluh laksa tail perak. dibawa pulang ke negeri Kim itu. Yen Lieh kembali tertawa. sering-sering kaisar Song tidak menepati janjinya. terus ke muka kamarnya si anak muda. panjang dan puas sekali. Pangeran Tio Ong adalah aku yang rendah…. apa itu bukan artinya sangat kurang ajar. ―Tidak ada halangannya untuk aku menyebeutkan namanya. ―Sekarang baiklah aku omong terang padamu!‖ katanya. Mereka semua bertubuh besar dan kekar. Segera terdengar tindakan banyak kaki yang bersepatu kulit memasuki ruang hotel. Ia lantas saja mengerutka kening. Peragamannya rapi. bahwa rakyat di utara telah diperlakukan dengan kejam oleh bangsa Kim itu. Ia lantas berkata. yang menjadi musuh Tionggoan. nampaknya ia sangat tidak puas. aku sendiri bakal mengepalai angkatan perang untuk mengambilnya dan dia tak usah capekkan hati lagi mengurusnya!‖ ―Apa katanya Han Sinsiang?‖ Sek Yok tanya. ―Kerajaan Song mohon negaraku tidak menyerang dia. ia tercengang. maka kali ini aku tidak sungkan-sungkan lagi menghadapi Perdana Menteri Han To Cu. lenyap senyumnya si nyonya. dari itu Ayahanda raja menitah aku menagihnya sekalian. Itulah beberapa puluh serdadu denag pakaiannya yang tersulam. ―Sebenarnya aku yang rendah ini adalah Wanyen Lieh. Sekarang diluar tahunya.Pendekar Pemanah Rajawali Kalau hal ini di dengar orang. ―Akhir-akhirnya kamu dapat cari aku!‖ kata Yen Lieh sambil tertawa Sek Yok dengar orang dipanggil ―ong-ya‖ – ―sri paduka‖. putra keenam dari Raja Kim. Sek Yok sebaliknya terkejut.‖ ia menyahut sambil tertawa. Yen Lieh tertawa. ―Kalau begitu kau jadinya. Wanyen Lieh lihat air muka orang berubah. ia tidak terlalu heran.. ―Ya. semua menunjuki wajah sangat girang. jikalau kita tidak panggil dia Tio Kong. Mereka beda daripada tentera Tionggoan. ―Semua keluar!‖ kemudian Yen Lieh berkata. Dengan berbareng menyahuti semua serdadu itu mundur teratur. Irawan D Soedradjat Page 29 . tapi di luar hotel terdengar tindakan dari beberapa puluh kuda yang terhenti tepat di muka hotel. ―Ke Utara?‖ dia bertanya. habis kita mesti memanggil apa?‖ Lagi sek Yok terkejut. ―Semua serdadu itu adalah tentara pilihan dari negara Kim yang besar!‖ Dan dia tertawa pula. adalah putranya raja Kim itu.‖ ―Upeti tahunan?‖ Sek Yok heran. Ia baharu mau menyahuti. hampir berbareng mereka menyerukan: ―Ongya!‖ Dan lantas semuanya memberi hormat sambil berlutut. Yen Lieh mengangguk. apabila dalam tempo satu bulan upeti tidak dibayar penuh.

dengan bercokol di atas kuda yang tinggi besar. apa maksudnya putra raja Kim itu yang ia seorang wanita dari rakyat jelata. Nyonya! Kau jangan takut. ―Kuda itu jempol. karena ingin aku menyaksikan kepermaian wilayah selatan ini. sekarang hendak aku pergi beli pakaian. maka adalah diluar dugaanku. ia akan mohon ayahnya angkat ia menjadi Gouw Ong.‖ pikirnya. aku bertemu dengan Nyonya. ―Uang pribadi Han Sinsiang sendiri yang dibekali padaku. yang kelihatan cuma kepalanya yang gede. karena hotel itu telah dijaga rapat. matanya memandangi sekitarnya hingga mendadak ia dengar larinya kuda derap. kakinya bergerak. supaya dapat ia tinggal tetap di Kanglam…. ia jadi tertawa sendirinya. dia berpaling. kapan ia mengepalai angkatan perang mendatangi wilayah ini. di jalan itu muncul dua bocah berlari-lari main kejar-kejaran melintas di depan kuda. kuda mana terus lompat melewati atas kepalanya dua bocah itu.‖ Pauw Sek Yok tetap bungkam. Sekarang ia insyaf bahwa manusai tidak dapat di lihat dari romannya saja. aneh juga cara kudanya berlari-lari. numprah dengan aman! Wanyen Lieh kagum hingga ia menjublak. tubuh si kate turun pula. di negaranya sendiri – negera Kim tidak ada penunggang kuda sepandai dia walaupun ia ada punya banyak ahli penunggang kuda. cukup dengan utus satu menteri. ia dapat bergerak merdeka. Itulah seekor kuda kuning yang tinggi dan besar. kapan ia saksikan penunggangnya. ―Menagih upeti ada urusan yang remeh. Di sebelah keanehan si penunggang kuda. Kuda itu tidak pernah menerjang barang atau menyentil orang. Penunggang kuda itu adalah seorang yang tubuhnya kate dan terokmok dan romannya jelek. terang itu adalah kuda asal luar tapal batas. di empat penjuru sini telah berjaga-jaga pasukan pribadiku.‖ kata Wanyen Lieh kemudian. pangeran wilayah selatan ini. walaupun kuli. Dengan membekal uang. Putra raja Kim itu tertawa ketika ia berkata pula. jikalau aku pakai itu untuk membeli pakaian. baik aku beli denagn harga istimewa. sungguh aku sangat beruntung. tegap tubuhnya dan pesat gerakkannya. ―Aku tetapi datang sendiri. Alisnya kuncup. tidak nanti orang jahat yang berani ganggu padamu!‖ Mendengar itu Sek Yok mau menduga bahwa ia telah diancam dengan samar-samar bahwa tak dapat ia melarikan diri apabila ia memikir demikian. ia lantas mendekam di pembaringannya dan menangis sedih sekali. ia hanya heran sekali. Ia lihat penduduk kota ada halus gerak-geriknya. maka itu diam-diam ia mengaguminya. orang bangsawan ini bertindak dengan perlahan-lahan. sesudah itu. orang-orang yang berlalu lintas kebetulan banyak. Tepat di itu saat. ia mirip setumpuk daging belaka. Ia lantas menyingkir ke pinggiran. tubuhnya pun terangkat dari bebokong kuda.‖ kata Sek Yok tunduk. dengan hitung besar dan bulat seperti buah prim merah ditempel di muka. Wanyen Lieh memuji akan tetapi. dan pinggiran jalanan pun ditempati pedagang-pedagang gelar dan pikulan. lehernya pun seperti tidak ada. Dengan perasaan puas. Wanyen Lieh pergi ke kota di bagaian yang ramai. Jalan besar di situ tidak lebar.‖ berkata pula Wanyen Lieh. Lihay luar biasa si cebol itu. tak habis kau pakai itu selama seribu tahun. yangmuncul mengkeret di atasan pundaknya. Itulah satu muka yang merah seperti ampas arak. ―Nah. Hampir di itu waktu. maka dengan itu Wanyen Lieh dapat lihat tegas muka orang. Kapan ia ingat suaminya. tetapi sekarang tanpa merasa ia berseru. Hahaha!!‖ Sek Yok berdiam. Sudah ia pendek tangan dan pendek kaki. kenapa ada orang yang larikan kudanya di situ. Wanyen Lieh merasa ia adalah satu ahli penunggang kuda. seperti kelit sana dan kelit sini. atau melompati pukulan pedagang-pedagang. uang dan cita sudah diseberangkan sungai. Menampak kuda itu. kate terokmok angkat lesnya. Irawan D Soedradjat Page 30 . Sebentar saja kuda itu telah tiba. nampak beda juga. diperhatikan demikian macam. Ia lantas memikir untuk nanti. Itulah perlakuan istimewa. yang sangat mencintainya. Kuda itu kaget.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apa lagi dia bisa bilang? Belum lagi aku meninggalkan Lim-an. ―Bagus!‖ Si kate terokmok dengar orang memuji dia. bercokol lagi di bebokong kuda seperti tadi. ―Tidak usah.

Riasannya ciulauw pun ada istimewa. ia lemparkan sepotong uang ke atas meja kuasa restoran itu. Karenanya ia lantas ambil ketetapan untuk undang kate terokmok itu. mulutnya dikasih masuk ke dalam guci. ibukotanya. Jadi itu ada ciulauw yang pakai nama Souw Tong Po. Di depan ia adalah kudanya. Ia kenali arak itu adalah arak Siauwhin yang kesohor. untuk berdongak. Putra raja Kim itu angkat kepalanya. Tanpa Iweekang. hingga ia tahu baik sekali tempat-tempat dimana ia dapat pernahkan tentaranya atau dimana dia dapat seberangi sungai. Mengenai nperhitungannya nanti perlahan-lahan kita mengurusnya…‖ Irawan D Soedradjat Page 31 . mulutnya dibuka untuk perdengarkan ringkikkan. atau sebuah restoran. Di atas loteng ada lagi sebuah papan merek dengan tiga huruf ―Cui Sian Lauw‖. Han Samya!‖ berkata si kuasa ciulauw sambil tertawa. sedangnya ia berniat mengoaki si kate itu. yang satu sayuran saja. aku minta sudi apakah kiranya samya simpan dahulu. tidak nanti guci arak dapat ditebas kutung dengan tangan. Jadi itu sebuah ciulauw. maka dilain saat sudah terdengar tindakannya yang cepat di undakan tangga loteng. dengan tidak pecah seluruhnya. biasanya kuda itu mesti berlari-kari perlahan dahulu. Malah ia lantas lari untuk menyusul penunggang kuda itu. Wanyen Lieh segera dapat mencium baunya arak yang melulahkan terbawa angin. Selagi Wanyen Lieh terheran-heran. berapa besar faedahnya apabila ia berhasil membeli kuda istimewa itu. itu penyair yang terkenal. akan tetapi di sini. di samping aman ada pula empat huruf kecil bunyinya: ―Tong Po Kie-su‖. ―Kebetulan hari ini kami dapat empat ekor ikan saylouw. bukankah pasukan kudaku bakal menjagoi di kolong langit ini?‖ dia berpikir. untuk sedot arak itu berulang-ulang! Dalam keheranan. yang hurufnya kekar dan bagus. ―Yang delapan meja makanan dengan daging. Maka inginWanyen Lieh menyaksikan orang punya sepak terjang lebih jauh. sayang kalau orang pandai ini tak dapat digunai olehku. ia kembali ke restoran. maka matanya lantas melihat sepotong papan merek dengan bunyi empat huruf ―Tay Pek Ie Hong‖. dan teliti sepak terjangnya. Tingginya tak ada tiga kaki.‖ pikir Wanyen Lieh. Dewa Mabuk. ia telah memasuki sebuah restoran di pinggiran mana kudanya dihentikan secara istimewa itu. ia pun lantas berdiri di pinggiran. ayahnya dikirimkan arak serupa oleh utusan kaisar Song dan oleh ayahnya ia dibagi beberapa guci. habis mana dengan sebelah tangannya. hanya ia berdiri di depan binatang tunggangannya itu. kuda kuning itu angkat naik kaki depannya. untuk jadi guru. Berdiri di tanah si kate nampaknya semakin tak mengasih. Tadinya Wanyen Lieh ingin memasuki ciulauw itu atau segera ia tampak si kate sudah keluar pula sambil tangannya membawa satu guci arak yang terus dibawa ke depan kudanya. sebaliknya lebar tubuhnya ada tiga kaki penuh. Memang putra raja Kim ini adalah seorang denagn cita-cita luhur. Tak biasanya kuda larat dapat berhenti secara demikian tiba-tiba. ―Lekas kamu sajikan sembilan meja barang hidangan kelas satu!‖ kata si kate. setelah turunkan kedua kakinya ia terus tunduki kepalanya. ia mengenal ilmu tenaga dalam yang lihay. ia berberang sudah perhatikan keletakan daerah. Dengan mendatangi Kanglam. Si kate tidak lompat naik ke atas kudanya. Dengan berdiri berdekatan. Selagi ia khawatir nanti tak dapat menyandak. si kate tidak cukup tinggi untuk kepalanya menyundul sanggurdi. ia saksikan seekor kuda tunggangan diberikan arak itu! Si kate tinggalkan kudanya minum. atau tenaga dalam yang sempurna. mendadak kuda orang itu berhenti berlari.‖ dia negelamun terlebih jauh.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau dia bisa diundang ke kota rajaku. Ia percaya ia dapat melakukan itu hanya tidak sedemikian sempurna. yang istimewa tinggidan besarnya. ―Pemerintah di selatan ini justru buruk. Putra raja Kim ini ingin menontoni kelakuan. arak simpanan tiga atau empat puluh tahun. Dia pun melamun. Nyata itu adalah sepotong emas yang berkilau kuning. Kembali ia menjadi heran. Pernah selama di Yankhia. Begitu lekas guci telah terbuka. yang aliasnya Thay-pek dan julukannya Cui Sian. ia babat guci sebatas pundaknya guci itu hingga tempat arak itu menjadi terbuka bagaikan jambangan. si kate terokmok sudah lompat turun dari kudanya dengan cepat luar biasa. sambil kasih dengar bentakan. yang tak ada lawannya yang lainnya untuk teman arak! Tentang emas ini.‖ ―Baik. di situ ia letak guci araknya. tak hendak ia sering-sering meminumnya. Ia sangat menyayangi arak jempolan itu. ―Ah. Malah ia ingat juga namanamanya setiap pembesar setiap tempat serta kepandaiannya setiap pembesar itu.

Pendekar Pemanah Rajawali Mendengar itu.‖ Karena ini ia hampiri ciulauw itu untuk naik ke loteng dimana ia pilih satu meja di pinggir jendela. Di jaman dahulu. Di pinggiran perahu berdiri dua baris burung-burung air peranti menangkap ikan. Mulanya ia tidak menaruh perhatian. Restoran Cui Sian Lauw ini letaknya di pinggir Lam Ouw. sampai sejenak saja perahu itu dapat melewati sebuah perahu kecil yang terpisah jauh darinya. ―Shako!‖ memanggil si nona tukang perahu setibanya di atas loteng. Kembali Wanyen Lieh memandang ke telaga. Si wanita berusia tujuh atau delapanbelas tahun. Dia beramta besar. untuk apa meja sembilan ini?‖ ia menerka-nerka. Wanyen Lieh lihat di tengah perahu ada berduduk satu orang. nampaknya ia mengayuh denagn perlahan. Tenaga mengayuh itu mungkin ada tenaga dari dua ratus kati. yang duduk di belakang ada seseoarng yang memakai baju rumput. Ia minta satu poci arak serta barang makanan sekedarnya. Itu pun sebabnya di dalam telaga tumbuh banyak pohon lengkak itu. apabila ia menoleh. Disini dahulu Raja Wat. Wanyen Lieh diam-diam perhatikan dua pendatang baru ini. ―Menenggak arak tanpa uangnya ? Apakah kau sangka Han Samya kamu ini tukang anglap?‖ Kuasa ciulauw itu tertawa haha-hihi. Di sini ada sinar matahari yang menyoroti pengayuh itu. mengapa Cuma disediakan sembilan cawan saja? Apa mungkin ini ada adat kebiasaan di selatan ini…. lekas sajikan arak dan makanan untuk Han Samya!‖ Seruan itu sudah lantas sapat sambutan berulang-ulang. Dia masuki pengayuh ke dalam air. tubuh perahu seperti melompat di atasan air. Hap Lu. Seorang wanita bertenaga demikian besar inilah aneh: maka aneh juga pengayuhnya itu yang dapat dipakai mengower air demikian kuat. sedang yang mengayuh yang berbareng menjadi pengemudi. kenderaan air itu segera mendekati restoran. ―Sietee. atau lengkak yang tidak ada ―tanduknya‖ yang rasanya empuk dan manis. kamu datang siang-siang?‖ kata si cebol. Mungkinkah ia ada okpa di kota Kee-hin ini? Kalau benar. kepalanya terangkat naik. Tiba-tiba ia dengar suara beradunya sumpit da cawan-cawan arak. ―Apa?!‖ serunya aneh. ia dapatkan beberapa jongos mulai mengatur sembilan buah meja. panjang bulu matanya. habis itu ia lompat ke darat. yang laju pesat sekali. ―Jikalau jumlahnya banyak. Wanyen Lieh menjadi heran sekali. tak ada bandingannya untuk Kanglam. Sambil hirup araknya perlahan-lahan. minumnya ayal-ayalan. Itulah kulitnya Irawan D Soedradjat Page 32 . ―Si kate ini berpakaian tidak karuan tetapi ia sangat royal. ―Dan di sini orang sangat menghormatinya. hendak aku saksikan orang-orang macam bagaimana yang ia undang berjamu. lalu tertampak suatu cahaya berkilau mengkeredep. Segera ternyata ia adalah seorang wanita. Dia pun lantas sambil sebuah meja. sama kesohornya dengan araknya. Kee-hin adalah sebuah kota negara Wat. tengah remajanya. kepada si kate terokmok. Kee-hin dipanggil Cui Lie atau Lie Mabuk. Orang yang menumpang perahu itu satu pria. Itu waktu tengah telaga nampak kabut tipis. Kali ini ia tampak sebuah perahu nelayan yang kecil. Si wanita tampak perahunya dipelatok di samping tangga batu di bawah loteng restiran. buah lie keluaran sini kesohor manis. kulitnya putih bagaikan salju. Nyata pengayuh itu terbuat dari kuningan. Di jaman Cun Ciu. Telaga Selatan. ia berpaling ke dalam dan berseru: ―kawankawan. aku tunggu dulu. Kouw Cian telah labrak Raja Gouw. tentu sulit rasanya untuk undang ia menjadi guru…Baiklah. Keduanya terus mendaki tangga loteng. Setelah perahu kecil itu datang semakin mendekat. sebagaimana kawannya juga duduk dikursi lainnya. matanya si kate terbelalak.‖ pikirnya. Perahu itu kecil tatapi panjang. Telaga itu pun ada mengeluarkan hasil yang kesohor yaitu bu-kak-leng. citmoay. Lega hati untuk memandang permukaan telaga itu. Di situ pun kedapatan banyak pohon lengkak yang daunnya hijau-hijau. ―Kalau yang datang cuma sembilan orang. tanpa layani si cebol itu. lompat mendarat juga setelah ia samber sepotong kayu pikulan yang kasar. akan tetapi perahu itu lahu melesat. Lagi beberapa gayuan. Si cebol sudah lantas duduk minum arak di sebuah meja.? Ia memikir tetapi tidak dapat jawabannya. Wanyen Liaeh memandangi keindahan telaga. Hanya herannya untuk setiap meja ditaruhkan Cuma sepasang sumpit dan satu cawan arak. di muka air ada beberapa buah perahu kecil lagi mundar-mandir. Dengan begitu ia pun menantikan tetamu-tetamunya si cebol.

yang jalan di depan berdedakan tinggi dan kekar. tubuhnya terlibat semacam kain. dipundak kanannya ia ada menggendol semacam senjata peranti memburu. Karena ia menggulung tangan bajunya tinggi-tinggi. Dia pun mempunyai rambut yang hitam mengkilap. Ia mendatangi dengan tindakan dangklak-dingkluk. pun terlihat lengannya berbulu hitam seperti dadanya itu.! Sedang seorang yang lain bilang. romannya jujur polos. Wanyen Lieh menjadi bertambah-tambah heran. baju dan celananya berbahan kain kasar. ini namanya benturkan kepala dato…! Hayo lekas naik ke loteng untuk minta ampun!‖ Di bawah loteng itu ada lagi orang-orang yang berbicara. Melihat potongannya. ialah pesawat timbangan. Kedua pencuri kuda itu mencoba merayap bangun. kamu datang berbareng!‖ menyambut si nona nelayan. karena bajunya tidak dikancing. Irawan D Soedradjat Page 33 . Di pinggangnya orang itupun ada terselip sebuah kampak pendek. yang ujungnya dibanduli seekor macan tutul. ―Bagus. ―Heran!‖ kata Wanyen Lieh dalam hati kecilnya. Di tikungan jalan besar terlihat munculnya satu orang pengkor yang pakaiannya rombeng dan tangan kirinya memegang sepotong tongkat besi dengan apa dia saban-saban memukul batu-batu yang menggelari jalan besar itu.mulut mereka masih berkoak-koak beraduh-aduh. Ia mencekal pengayuh kuningannya dengan tangan kanan dan menenteng baju rumputnya dengan tangan kiri. Ketika dia sanderkan pikulannya di samping meja. kedua ujungnya muncul sedikit. hingga ia mesti gunai tongkat besinya untuk mencari jalanan untuk sekalian menunjang diri. kenapa kamu tidak dengar-dengar dulu namanya Han Samya? Bagus. kenapa kedua orang ini yang mirip orang-orang kalangan rendah. selagi bercacat di bawah. hingga ia mirip seorang pedagang kecil. malah ia dapat membinasakan seekor harimau…‖ pikirnya. Wanyen Lieh segera melongok ke bawah loteng. Si pengkor merangkap buta ini rupanya telah dengar pembicaraan orang banyak itu. Dari dua orang ini. dua jentilan kakinya cukup untuk dua pencuri ini. mirip orang desa tulen. ―Shako. Cuma ditangannya kurang sebatang golok lancip. ―Walaupun dia tidak dapat melawan kecantikannya Pauw-sieku. di tangga loteng sudah terdengar lagi tindakan kaki berisik dua orang lagi. Sungguh celaka. ngoko. ―Itu namanya berbuat sendiri. Meja itu menggeser sedikit. pasti pikulan itu bukan terbuat dari besi entah dari bahan apa. rupanya peranti menjaga pikulan tidak merosot terlepas. kembali ada orang hendak curi kuda twie-hong-ma‘mu!‖ katanya. Orang yang berjalan di belakangnya berpotongan sedang. sedang sepatunya ada cauw-ee. bentrok sama meja itu. tertampak pula dadanya berbulu gompiok. kulit mukanya putih. dibahasakan saudara?‖ Tengah si putra raja Kim berpikir demikian. Si pedagang kecil lantas saja tertawa. Segare suara mereka itu bercampuran sama satu suara baru. tubuh itu meminyak. suaranya parau. satu antaranya mengatakan: ―Kuda Han Samya lihay melebihkan manusia. kata dia pada dua orang yang bercelaka itu: ―Kamu bangsat-bangsat luar kota. Sudah begitu. ―Belum pernah aku dengar orang picak lagi pengkor pandai berburu binatang hutan.. Baharu dua orang itu duduk. serta sebuah keranjang bambu. usianya kurang lebih tiga puluh tahun. sungguh mereka sudah bosan hidup!‖ ―Rupanya mereka hendak mencuri kuda lalu kena kuda jentil‖ pikir Wanyen Lieh. makan sendiri hasilnya!‖ dia bilang. sama denagn kampak biasa. kepalanya ditutup kopiah kecil. yang warnanya hitam mengkilap. hingga ia awasi pikulan itu.Pendekar Pemanah Rajawali orang Kanglam sejati.‖ berpikir putra raja Kim itu. Ia bertangan kasar dan kaki gede. ―Tiga orang yang pertama adalah orang-orang yang mungkin berkepandaian tinggi. sepatu rumput. ialah tingtong-tingtong seperti besi mengadu dengan batu hinga orang pada memandang ke jurusan dari mana suara itu datang. Karena beratnya itu. Pengurus dari Cui Sian lauw tertawa. pinggangnya dilibat tali rumput. di bawah loteng terdengar ringkikan kuda yang disusul sama jeritan kesakitan hebat dari dua orang. ia mirip satu pembantai atau penyembelih hewan. terdengarlah suara beberapa kali. yang dari romannya dari kepala sampai di kaki. Si cebol tertawa. dia toh menggairahkan dengan sifatnya sendiri. yang sudah sedikit gompal. liokko. ―Mereka datang ke Kee-hin untuk mencuri. ―Bagian anggotanya yang mana yang kena didupak kuda?‖ dia tanya. tangannya mencekal dacin. dia pun bercacat di atas. Sendirinya Wanyen Lieh terperanjat. Sekarang ia lirik si pria yang membawa-bawa kayu pikulan. tampak dua orang tengah mengoser sambil merintih. Mereka ini ambil masing-masing sebuah meja. Maka teranglah ia seorang buta.

kau juga hendak main gila sama aku!‖ Dan ia memburu sambil ulur tangannya untuk meninju. pencuri itu bertindak denagn susah payah mendekati si buta dan pengkor itu. dengan suara susah. berbareng dengan mana dengan tiba-tiba ia totok pinggangnya si pencuri.‖ sahut salah satu pencuri kuda itu. lalu bersama dua kawannya.‖ katanya. ―Toako!‖ mereka berseru. lenyap rasa sakit di dadanya itu. ―Apakah jietee masih belum sampai?‖ ―Jieko sudah tiba di Kee-hin. yang tengah duduk lantas bangkit bangun. terus mendaki tangga loteng. di mana ia duduk di kursi yang ditepuk-tepuk oleh si nona nelayan. ―Tulang-tulangnya kau godok menjadi kuwah yang kental! Hati-hati supaya kulitnya tidak sampai kena terpotong rusak!‖ Satu jongos menyahuti. sekarang sudah waktunya ia sampai disini‖ sahut orang yang potongannya seperti pembantai itu. si buta bertindak ke mejanya. sungguh…. Rupanya ia membutuhkan suara apa-apa untuk ketahui ke mana ia mesti pergi. ia mencoba menahan karena mana ia jadi tertawa cekikikan. aku dapat menemui orang-orang berilmu…‖ Sampai di atas loteng. ―Sungguh hari ini aku sangat beruntung!‖ kata Wanyen Lieh dalam hatinya. Irawan D Soedradjat Page 34 . mengeluarkan ludah lender. ia tepuk-tepuk kursi itu seraya berkata: ―Toako. Kalau tadi ini pencuri sakit kakinya sampai tak dapat digeraki. Menyaksikan perbuatan si nona. ―Jongos. Karena kesakitan. Ketika itu semua orang yang telah datang terlebih dahulu. Pencuri itu kegelian. lantas ia muntah beberapa kali. maka tangannya yang telah diangkat tinggi segera dikasih turun pula. ―Diluar dugaanku. dia menjadi pentang mulutnya lebar-lebar. Tapi si buta menunjuk kepada Wanyen Lieh seraya ia berkata pada si jongos: ―Kau mesti potongi dagingnya barang dua kati.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tekukan dengkul kiri. Tuan orang pandai. lalu lantas ia memberi hormat samil menjura. mulutnya pun mengecoh: ―Oh yaya yang sakti. sekarang denagn tiba-tiba sakitnya itu lenyap. di sini kursimu!‖ ―Baik!‖ menyahuti si buta itu. lalu mendadak ia kitik ketiak orang. Hampir berbareng denagn itu. Sembari berbicara. ia hanya bertindak memasuki restoran itu. ia gotong pergi macan tutul itu. ―Hm!‖ si buta pendengarkan suaranya. tapi ia pandai berpikir. Maka lekas-lekas ia jatuhkan diri untuk berkutut untuk manggut-manggut hingga jidatnya berbunyi mengenai batu. hingga dia ini berteriak kesakitan.‖ Segera ia berpaling kepada kawannya dan berkata: ―Saudara mari lekas. Tiba-tiba ia merasa enak perutnya. mana dia berkelit tetapi sudah kasep. kau mohon toaya ini tolong obati padamu…‖ Dengan meringis-ringis. maka setelah datang dekat si buta ia jadi berdiri menjublak. mengertilah Wanyen Lieh bahwa si buta benar-benar tak dapat melihat. ―Terima kasih. dengan tangan kirinya ia usapi dadanya pencuri itu. aku mohon diberi maaf. ―Kenapa ia dapat melihat aku? Apakah dia bukan buta benarbenar?‖ dia berakta di dalam hatinya. si buta lemparkan macan tutulnya ke lantai. Si buta pindahkan tongkatnya ke tangan kanan. untuk kekasaranku barusan. ―Hei pengemis bangsat. ―Aku bodoh. Lalu si nelayan wanita bertindak ke meja nomor satu di sebelah timur. berdiri di samping kursi. kau suguhkan itu tuan untuk dia mencicipi rasanya…‖ ―Ya…ya…‖ sahut si jongos itu. cepat kau urus macan ini!‖ ia perintahkan. Wanyen Lieh sendiri menjadi sangat terkejut.‖ Si buta tidak menggubris pencuri itu. ―Toaya binatang itu dupak dadaku…‖ katanya.

Si mahasiswa sudah lantas tenggak araknya. ―Uang orang bangsa asing ada sedikit berbau tetapi uang itu masih dapat digunai!‖ katanya. Justru begitu. jeriji-jeriji tangannya tentu ada menjepit potongan-potongan uang perak sampai jumlahnya semua belasan potong. untuk dititipkan!‖ katanya pula. yang ia letaki di atas meja. mukanya bertekukan menggoda. Walaupun demikian hatinya tetapi berkerja. berulang-ulang. Meluap hawa amarahnya Wanyen Lieh akan melihat uang perak itu yang ia kenali adalah kepunyaannya yang hilang lenyap itu. dari mulutnya keluar suara yang bersenandung: ―Uang tidak halal…. akan tetapi ia mencoba sebisa-bisanya untuk mengatasi dirinya. sekarang baharu datang tujuh orang.‖ Wanyen Lieh berpikir. cara bagaimana ia masih mengenali aku?‖ dia tanya dirinya sendiri. Mendengar itu semua kawannya itu tertawa terbahak-bahak. si mahasiswa itu mengawasi ke arahnya. Dia benar-benar yang dimaksudkan si jietee atau jieko. ―Semua mereka lihay. saudara yang kedua. kipas itu dikipaskan beberapa kali. ―Saudarasaudara ada orang yang mentraktir kita. lalu ia mengangguk-angguk.. maka ia lantas berbalik dan memandang. dan Wanyen Lieh segera kenali orang yang tadi ia ketemui di waktu lenyap uangnya. ―Sungguh kepandaian yang lihay……. aku tahu!‖ sahut si nona. ia dapat mendengarnya. ―Baiklah aku lihat gelagat dulu…‖ Maka ia berdiam terus. guna hanturkan terima kasihnya. ―Citmoay. Hatinya lantas menjadi panas. ia heran tidak kepalang. Yang pertama muncul di mulut tangga loteng adalah sehelai kipas kertas minyak yang gagangnya dekil.‖ Si mahasiswa melarat itu pun tertawa. Siapa lagi dua tetamu itu? Bukankah tujuh orang yang bakal jadi tuan rumah? Irawan D Soedradjat Page 35 . ―Dan kau bawa dulu kepada kuasamu. setelah mana ia menegur semua orang yang telah hadir di situ. bibirnya tersungging senyum. ―Jiko. maka kamu dahar dan minumlah dengan puas!‖ Si mahasiswa menoleh kepada Wanyen Lieh. ia lantas berpaling ke lain jurusan. ―Tidak tahu siapa yang apes malang…. Di situ ada sembilan buah meja. Tindakan itu ada seperti separuh diseret. untuk daging yang dibagikan kepadanya – yang mana ada alasan bagus sekali untuk berkenalan – tiba-tiba ia dengar tindakan kaki yang bersepatu kulit di undakan tangga loteng.Thian yang maha kuasa…umbar adatnya!‖ Bab 4. lalu menggoyang-goyang pula kepalanya. mengapa ia bisa curi uangku?‖ demikian ia berpikir tak habis herannya. ―Kembali mengenai negeri Kim. baharu berhentilah ia merogoh sakunya. Mengadu Kepandaian Sembari bernyanyi si mahasiswa melarat ini meragoh sakunya. hari ini kau beruntung!‖ serunya. akan tetapi sembari tertawa. sebab berbareng dengan itu. lepaskan dia…. Ia pun segera berbangkit dari kursinya. tidak peduli orang berbisik. habis itu menyusul munculnnya satu kepala orang yang digoyang-goyang. bukankah?‖ Mahasiswa itu mengipasi uang di depannya dengan tak hentinya. Ia menjadi heran pula.Pendekar Pemanah Rajawali Segera putra raja Kim itu ambil keputusannya untuk ikat perkenalan dan persahabatan dengan orang-orang kangkouw yang aneh ini.. Lantas dia gapekan pelayan untuk bisiki padanya: ―Semua tuan-tuan ini akulah yang undang berjamu…‖ Dia pun lantas keluarkan dua potong emas. dan jarak mereka jauh pula. ia berpura-pura tidak mendengar pertanyaan itu. maka dengan itu lantas ia serukan kepada sudara-saudaranya. ―Mungkin dia inilah yang curi uangku…‖ ia menerka-nerka. bentrok dengan mereka tiada untungnya. dan setiap kali ia menarik keluar tangannya.‖ Si nona nelayan tertawa bergelak melihat uang sebanyak itu. Si buta tidak awas matanya akan tetapi kupingnya jeli luar biasa. Hanya tepat ia hendak bertindak. mirip sekali. aku ada punya semacam tabiat buruk yang kau telah ketahui!‖ katanya. ―Oh. matanya menyapu. ―Dia cuma tepuk pundakku dengan kipasnya. dari itu masih lebih dua meja yang masih kosong. ialah kepalanya satu mahasiswa melarat. guna hampiri si buta. ―Aku menyamar sebagai orang Han. ia bertanya pula: ―Mana si wanita baik-baik yang kau perdayakan?‖ Wanyen Lieh sudah putuskan untuk tidak menimbulkan kerewelan. Wanyen Lieh heran bukan kepalang.

dia berkata: ― Orang itu telah datang menyatroni. lantai loteng nanti kena bikin dobol…! Lekas. maka itu siauwceng bersyukur yang liat-wie telah sudi membantu.‖ berkata si buta. baharu arak saja yang dikeluarkan. meskipun dia tidak musuhkan kau. maka itu dia sudah lantas berhubungan sama menterinya kerajaan Song untuk dijadikan si menteri serta konco-konconya sebagai alat untuk menyambut dari dalam bila sudah waktunya ia turun tangan. Tengah putra raja ini berpikir. Ia menyebutkan dirinya ―siauwceng‖ si pendeta yang kecil rendah. Tentang orang itu.Pendekar Pemanah Rajawali Sampai itu waktu. ia kenali si imam adalah Tiang Cun Chu Khu Cie Kee atau Tiang Cun Cinjin! Wanyen Lieh ini mendapat tugas dari ayahnya menjadi utusan bangsa Kim ke Tionggoan. sedang tangannya memegang sepotong kayu. dia mencari gara-gara terhadap taysu. Dan untuk kagetnya putra raja Kim ini. sedang rakyat umumnya mengandal padanya. Tak tahu ia apa faedahnya puntung kayu itu. Yang pertama ia ingin singkirkan adalah Sien Kee Ci. habis itu si mahasiswa melarat pun pimpin tetamunya ke sebuah meja yang kosong untuk silahkan ia duduk. Ciauw Bok Taysu tiba!‖ seru si buta yang terus berbangkit. Wanyen Lieh segera melihat munculnya satu tojin. adalah Wanyen Lieh menghendaki menawan terlebih dulu pembunuhnya Ong To Kian. tidak dapat ia mengandal saja kepada pihak Song. untuk menjaga diri turun tangan terlebih dahulu. Ong To Kian. tetapi yang tindakannya cepat pesat seperti ia tidak menginjak lantai. ―Nah. Sebenarnya menteri ini tidak berkuasa atas pemerintahan. taysu. yang baharu suaranya terdengar. Menyusul itu pun lantas terdengar suara kaget dari kuasa ciulauw serta jongosnya: ―Benda begitu berat mana dapat dibawa naik ke atas…! Eh. walaupun tubuhku hancur lebur. karena keserakahannya sudah terima sogokan besar dan berjanji suka bekerja sama. ―Kami tujuh bersaudara pun berterima kasih kepadamu yang biasa melimpahkan kebaikan terhadap kami. Utusan Song yang datang dari Yankhia menemani dia sepanjangn jalan. hingga dengan begitu – rupanya – tak usah dia bertindak lagi di undakan tangga. dari itu ia Irawan D Soedradjat Page 36 . perbuatan mana diikuti oleh enam kawannya: Dengan sikap menghormati mereka berdiri untuk menyambut orang yang baharu tiba itu. Kepala dari Cip-eng-thian dan pengurus Ciong-yu-koan. siauwceng merasa bahwa siauwceng bukanlah tandingannya. Budi yang besar ini. tanpa sebab tanpa alasan. ―Ambithaba Buddha!‖ kembali terdengar pujian. tak dapat siauwceng membalasnya. merendahkan diri. ―Harap kau tidak sungkan. Oleh karena ini. ingin ia merubuhkan menteri atau panglima yang paling keras kepala hendak melawan negara Kim. akan kemudian disusul sama mengerekeknya dua helai papan undakan lainnya. maka tujuh orang itu Cuma tenggak air kata-kata. dia memang sangat aguli kepandaiannya. dia khawatir sekali rahasianya nanti bocor. kalau mendapat tahu siapa yang menitahkan dia melakukan pembunuhan yang hebat itu. Wanyen Lieh melihat satu pendeta usia empat puluh lebih. lekas cegah dia. yang ujungnya telah hitam bekas terbakar. Han To Cu juga kaget dan ketakutan karenanya. Hanya kemudian ia menjadi sangat kaget akan mendapatkan Ong To Kian mati terbunuh secara gelap. Wanyen Lieh tahu. barang hidangan masih belum disajikan. guna mengompes dia. jangan kasih dia naik!‖ Suara berat itu tapinya terdengar terus. mungkin itu bukan suara gajah tetapi sedikitnya kerbau…. Dan menteri yang bekerjasama dengan Wanyen Lieh adalah Perdana Menteri Han To Cu. dia sangat mengharap dapat membangun pula kerjaan Song hingga menjadi jaya seperti semula. Si hweshio menjura. utusannya ini telah rela akan menakluk dan menjadi hambanya kerajaan Kim. kepalanya hilang berikut hati dan jantungnya. Bagaikan orang yang matanya kabur. kepada kerajaan Song. mana dia pandang mata lagi kaum Rimba Persilatan di Kanglam ini? Karena kejumawaannya itu. ia hanya pandai silat dan surat berbareng dan kesetiaannya terhadap negara adalah luar biasa. Dia pun bercita-cita besar sekali. Girang sekali ini putra raja Kim menampak ikhtiarnya telah berjalan baik sekali. dan sekarang itu disusul sama munculnya satu tubuh kurus kering bagaikan pohon mampus. satu imam yang tangannya menyangga sebuah jambangan perunggu yang besar sekali. yang berkerebong jubah kasee merah dengan lapis dalamnya jubah kuning. seperti ada sesuatu yang mendaki. di tangga loteng telah terdengar suara yang sangat berat dan nyaring. Pendeta itu dan tujuh saudara tersebut saling memberi hormat dan saling menegur. yang mana dibawa naik ke loteng sambil imam itu berlompat. kita bersaudara pasti tak mau sudah saja…‖ Belum lagi habis suaranya si buta ini. nyata terdengar hingga ke atas loteng. ia dengar datangnya suara memuji dari bawah loteng: ―Amitabha Buddha!‖ Suara itu sangat jernih dan tedas. disusul mana patahnya sehelai papan undakan tangga. Dengan perbuatannya itu.‖ Pendeta itu ialah Ciauw Bok Taysu. Kalau Han To Cu anggap paling baik mengirim orang untuk membunuh menteri itu. Ciauw Bok Taysu.

Dengan lantas pinto meikir-mikir. Si orang tani yang membawa-bawa pikulan adalah orang yang keempat. imam ini seperti tidak menggunai tenaga. sama sekali ia ia tak nampak lelah. hingga kami sangat mengaguminya. Dia inilah yang tiga. adalah Ma Ong Sin Han Po Kie atau si Malaikat Raja Kuda. yang kedua ialah si mahasiswa melarat yang mencuri atau mencopet uangnya adalah Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong.‖ Lalu dengan terus-terusan ia perkenalkan enam orang lainnya. ―Barusan pinto berkunjung ke kuil taysu. Wanyen Lieh memasang kuping dan matanya. ia perintahkan orang untuk selidiki tentang Pauw-sie itu.Pendekar Pemanah Rajawali tugaskan enam atau tujuh pengawal pribadinya dari Lim-an. maka di luar tahunya sendiri. Ia lari ke istananya Han To Cu. yang beratnya tiga atau empat ratus kati. katanya taysu undang pinto datang ke Cui Sian Lauw ini untuk membuat pertemuan. bukan main kagetnya ia akan tengok Khu Cie Kee. hingga beratnya bertambah. mungkin taysu mengundang sahabat-sahabat. ialah Lam San Ciauwcu Lam Hie Jin atau si Tukang Kayu dari Lam San (Gunung Selatan). Mahasiswa Tangan Lihay. Selagi orang diajar kenal.‖ Ciauw Bok Taysu tidak menjawab si imam. ini Ciauw Bok Taysu juga adalah satu sahabat Irawan D Soedradjat Page 37 . Akan tetapi. dia-diam mendaki loteng untuk bicara. gelarannya Lauw-sie In Hiap atau Pendekar Sembunyi di Kota. sedang ia sendiri menyamar sebagi orang baik-baik sebagai penolong nyonya yang ia gilai itu. nampaknya enteng sekali. Sudah lama pinto dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay. Rombongan ini dapat menyandak Khu Cie Kee di Gu-kee-cun. dia sudah lantas jatuh terguling. ke jalan besar. selama ia menyebutkan setiap nama Khu Cie Kee menjura kepada orang-orang yang diperkenalkan itu. Khu Cie Kee tetap pegangi tempat araknya yang istimewa itu. melainkan di tangan si imam. baik ilmu silat tangan kosong maupun bersenjatakan pedang. ia minta Han To Cu mengirim orang untuk menawan Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. tanpa merasa ia membuatnya terlepas dan jatuh sepasang sumpit yang ia lagi pegang. syukur ia ditolong oleh Pauw Sek Yok. ia memperkenalkan: ― Ini dia Totiang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee yang tuan-tuang telah lama kagumi nama besarnya!‖ Kemudian tanpa tunggu sesuatu dari Kanglam Cit Koay itu seraya menunjuki si buta melanjuti: ―Inilah tertua dari Cit Koay. ―Benar-benar toheng telah dapat mencari siauwceng hingga ke mari!‖ terdengar suaranya Ciauw Bok Taysu keras tetapi dingin. Sementara itu. si Kelelawar Terbangkan Langit. selama mana. suka ia mengikuti. Selama Ciauw Bok Taysu memperkenalkan. tidak ada tandingannya. Dan ini ialah…. ia belum terlihat nyata. Selain Kwa Tin Ok yang berjuluk Hui Thian Pian-hok. Setelah sembuh dari lukanya. sesudah itu. dan sekarang. sekarang kita dapat bertemu. Yang keenam adalah orang yang mirip pedagang. orang ribut ketakutan dan pada lari keluar. Hanya dilain pihak. hanya berpaling kepada tujuh kawannya yang ia sebutkan Kanglam Cit Koay itu – Tujuh Manusia aneh dari kanglam – dan menunjuk kepada si imam. atau si Ahli Pedang Gadis Wat. Pauw-sie tidak tahu akal muslihat orang. Itu bukan jambangan biasa hanya tempat pembakaran kertas emas dalam kuil.‖ ia berkata . sampai ia tak dapat menguasai dirinya lagi. yang ia anggap cantik dan manis. hampir ia tak dapat lolos seperti orangorangnya. suatu bukti dari beratnya jambangan itu. ia kerjakan otaknya akan mengingat baik-baik nama Kanglam Cit Koay itu. Si nona nelayan adalah Wat Lie Kiam Han Siauw Eng. tak terkecuali si kuasa restoran. untuk sembunyikan diri sambil berobat. buktinya benarlah dugaan pinto itu. Orang yang datang paling dulu ke restoran yaitu si kate terokmok yang menunggang kuda jempolan. Kwa Tin Ok mendahulukan bertujuh saudaranya untuk berbicara. yang sekarang diisikan penuh dengan arak. Sementara itu. meskipun sebagai putra raja. dia telah jatuh ke dalam genggaman putra raja Kim itu. Demikian Wanyen Lieh. ia menyangka pemuda itu bermaksud baik. Syukur untuknya Khu Cie Kee tidak kenali padanya. ialah yang termuda dari Kanglam Cit Koay. hanya apa lacur mereka menghadapi musuh yang terlalu tangguh untuk mereka. Semua mereka itu khawatir loteng ambruk dan mereka nanti ketimpa. setiap kali si imam bertindak. pikirnya orang itu telah tidak kenali dia. ―Disana ada pesan untukku. sungguh pinto merasa sangat beruntung! Nayatalah pengharapanku seumur hidup telah kesampaian. tentu lantai loteng perdengarkan suara meletek nyaring. Katanya: ―Kami menonton‖ Habis perkenalan itu. sedang dibawah loteng. sebab tempo ia diserang dengan panah. ―Sekarang mari siauwceng perkenalkan dahulu kau dengan Kanglam Cit Koay!‖ Khu Cie Kee menjura membungkuk tubuh. ia telah melihat banyak wanita elok. imam itu lagi menghadapi Ciauw Bok Taysu serta tujuh orang luar biasa itu. Yang kelima yang tubuhnya kekar tegap mirip sebagai pembantai adalah Siauw Mie To Thio A Seng atau si Buddha Tertawa. Lega juga hatinya Wanyen Lieh apabila selang sekian lama ia dapatkan itu imam tidak perhatikan padanya. sedang beberapa orang yang melihat tak terjadi kecelakaan sesuatu. ia tidak perhatikan putra raja itu. jongos-jongos dan koki-koki. ―Sudah lama kami mendengar Totiang lihay ilmu silatnya. ia lantas tak dapat melupai Pauw-sie. ia terkejut bukan main apabila ia sudah kenali jambangan perunggu yang dibawa-bawa si imam itu. Wanyen Lieh sendiri belum sampai turun tangan atau pundaknya telah terkena panah. namanya Coan Kim Hoat. yaitu Hui Thian Pian-hok Kwa Tin Ok.

‖ sahut si buta. segera wajahnya menjadi bermuram pula. ―Kanglam Cit Koay bukan bernama kosong saja!‖ ia memuji sambil tertawa. Oleh karena itu. satu Hud-kauw yang lain Tokauw.‖ katanya sambil tangannya mengipas-ngipas dan kepalanya di geleng-geleng. akan aku patah-patahkan hingga menjadi abu semua tulang-tulangmu dan akan bakar musnah hingga menjadi tanah putih kau punya kuil Hoat Hoa Sian Sien itu!‖ Cu Cong tidak lantas dapat mempercayai kata-kata imam itu. ―Mereka telah difitnah dan dicelakai oleh pembesar negeri yang bekerjasama dengan tentera bangsa Kim.‖ ―Siapakah orang yang harus diserahkan?‖ tanya Kwa Tin OK. Mukanya Ciauw Bok taysu menjadi kuning pucat. Kembali ia pandang si pendeta dan membentak dengan pertanyaan: ―Bagaimana denagn dua wanita yang bercelaka itu? Hai. ―Kau…kau…ngaco belo!‖ serunya kemudian. ―Oleh karena itu asal Taysu sudi menyerahkan dua orang kepada pinto. Kwa Tayhiap. mestinya kau telah keliru dengar omongannya segala manusia rendah! Itu ngaco belo. pastilah lain hari akan pinto pergi berkunjung ke Hoat Sian Sie untuk menghanturkan maaf. Semua orang menjadi kaget. Irawan D Soedradjat Page 38 . menerangkan.‖ sahut Tiang Cun Cu. hingga tempat pembakaran kertas perunggu itu yang beratnya ratusan kati terbang menyambar ke kepalanya si pendeta. tetap kedua-duanya adalah orang-orang Rimba Persilatan. pasti kami akan bekerja sekuat tenaga untuk menolongi mereka. ―Mustahilkah dia bukannya menyebutkan istri-istrinya Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian atau wanita yang lain?‖ berpikir putra raja asing ini. maka dengan menerbitkan suara kaki kirinya melesak mendam. pendeta jahanam. Lantas ia ayun tangan kanannya. pantas atau tidak permintaan pinto ini?‖ ―Jangan kata mereka adalah jandanya sahabat-sahabat totiang. sedang lantai loteng tak demikian kuat. Khu Cie Kee menjadi gusar.Pendekar Pemanah Rajawali sejati. pasti tak dapat dipercaya!‖ Khu Cie Kee menjadi mendongkol. bagaimana kau berani melakukan kejahatan semacam ini?‖ ia menegur dengan bengis. percaya ia sanggup menanggapi jambangan itu. dalam hal apakah Taysu telah berbuat salah terhadap Totiang? Umpama kata Totiang sudi memandang muda kami bertujuh saudara. hingga mereka mesti hidup sengsara sebatang kara. ―Walaupun mereka adalah orangorang yang tidak dikenal. ia lantas lompat ke depannya Ciauw Bok Taysu. ―Cara bagaimana dia dapat melakukan perbuatan sekeji itu? Totiang. mereka telah mendapatkan kebinasaannya hingga mereka mesti meninggalkan janda mereka yang tidak ada lagi sanderannya.‖ menyahut Khu Cie Kee. ingin sekali kami menjadi juru pendamai. ―Kau juga orang Rimba Persilatan yang kenamaan. kami tidak tahu.‖ ―Jelas!‖ seru si imam. hingga orang-orang di bawah loteng menjadi kaget dan semuanya menjerit. tidak beruntung untuk mereka. jikalau kau ganggu selembar saja rambut mereka itu. Lihat. Di dalam saat yang berbahaya itu karena kakinya bisa kejeblos terus. Khu Cie Kee ulur tangan kanannya. ―Sekarang ini pinto menghendaki Ciauw Bok taysu menyerahkan itu dua orang wanita yang bersengsara dan harus dikasihani itu!‖ Mendengar itu bukan hanya Kanglam Cit Koay yang heran melainkan juga Wanyen Lieh si putra raja Kim itu. supaya perselisihan dapat disingkirkan. lekas-lekas Thio A Seng kerahkan tenaganya. maka walaupun totiang berdua ada dari dua golongan yang berbedaan. asal kami ketahui perkaranya itu. dengan tenang ia menyambuti. Untuk itu kami tak bakal menampik lagi. ―Dua sahabatku. tak dapat ia membuka mulut. mereka yang tadinya datang menonton dengan diam-diam pada lari mundur hingga mereka saling tabrak dan terguling jatuh ke tangga loteng. Ia tapinya tertawa sebentar. Sudikah kau Totiang?‖ ―Sebenarnya pinto dengan Ciauw Bok Taysu tidak kenal satu dengan lain dan kita juga tidak punya dendaman dan tidak punya permusuhan. bagaimana bisa jadi dusta?!‖ dia berkata. ―Pinto menyaksikan itu dengan mataku sendiri. Itulah gerakan ―Twie chong bong goat‖ – ―Menolak daun jendela untuk memandangi si putri malam‖. untuk mendahului jambangan itu yang terus ia sambuti dengan kedua tangannya sambil berbuat mana ia berseru: ―Bagus!‖ Akan tetapi dia mesti pasang kudakuda teguh sekali. untuk ayun balik jambangan itu ke arah Tiang Cun Cu. Di antara Kanglam Cit Koay adalah Tio A Seng yang tenaganya paling besar. untuk kita minum arak bersama. ―Ciauw Bok Taysu adalah satu pendeta beribadat.

tetapi walaupun pinto melihatnya dengan mataku sendiri kedua nyonya itu masuk ke situ. ―Apa‖ katanya. mana ia dapat bicara dusta?!‖ Cie Kee nampaknya habis sabarnya. siapa yang salah! Mataku menang tidak dapat melihat akan tetapi orangorang di sini tidak buta semuanya― Cu Cong berenam memberikan persetujuan mereka. semua orang tersenyum. ―Pinto cari pendeta ini. ―Kami percaya habis Ciauw Bok Taysu. jikalau mereka bukannya menghilang tentunya mereka sudah menyingkir dengan ilmu pinjam tanah!‖ Mendengar ini mau tidak mau. pasti tidak!― kata Cit Koay yang ketiga itu. ―Taruh kata benar kau sengaja datang ke Kanglam ini buat untuk angkat namamu. Mereka ynag kenal kami semua dapat mengatakan sepatah kata: ‗Walaupun Kanglam Cit Koay sedan-edanan lagak lagunya. bukankah?‖ Kwa Tin Ok jawab imam itu. ―Kanglam Cit Koay pasti membantu pihak si pendeta. ―Seorang laki-laki sejati kangouw. mereka bukannya manusia-manusia yang takut mampus. ia lolos dari cekalan si pendeta. ―Bagus! Kamu permainkan aku!‖ dia berseru. melakukan perbuatan semacam itu?!‖ Cie Kee tertawa mengejek. ―Pinto sudah menggeledahnya di luar dan di dalam. Han Samya?‖ imam itu membalik bertanya. ―Kau telah undang banyak kawan. dengan niatan menarik si pengikut Buddha itu. sampai beberapa kali. itulah sudah pasti!‖ dia berkata. begitu ia kasih turun lengannya. Dengan sikapnya yang wajar. ―Maafkan pinto. ―Bagus betul yah!‖ katanya dingin. Ciauw Bok Taysu. Imam itu menjadi gusur. Taysu sebaliknya menyangkal. telah pastikah itu?‖ ―Tidak salah!‖ sahut Cit Koay serempak. ―Kami tidak punya kepandaian sesuatu apa juga akan tetapi untuk Kanglam ini nama kami terkenal juga sedikit. satu kali dia bilang tidak.‖ akhirnya Ciauw Bok Taysu dapat buka mulutnya. pendeta. biarlah aku yang bereskan sendiri!‖ katanya kemudian.‘ Kamu tidak berani menghina orang lain tetapi kami juga tak dapat mengijinkan orang lain perhina kami!‖ Khu Cie Kee tidak ingin layani tujuh orang aneh dari Kanglam itu. tidak dapat pinto temani kau lebih lama! Eh. ―Apa? Menggeledah kuil?‖ kata Khu Cie Kee dengan tawar. hingga pinto habis daya! Tidak ada jalan lain daripada si pendeta serahkan mereka itu!‖ ―Jadinya dua wanita itu bukannya manusia!‖ berkata Cu Cong. tak senang ia menampak orang mulai gunai kekerasan. Khu Cie Kee melengak. ―Sebenarnya kau hendak gunai aturan atau tidak?‖ dia tegur si imam. Cu Cong menyahuti: ―Mereka itu ada bangsa dewi.Pendekar Pemanah Rajawali Kanglam Cit Koay melengak semuanya. ―Totiang menuduh Taysu menyembunyikan kedua nyonya itu. buktinya mereka tidak kedapatan. ―Kenapa untuk itu kau mesti menodai nama baikku? Kau…kau…kau pergilah ke seluruh kota Kee-hin untuk menyelidiki! Mana bisa aku. inilah sulit. ―Habis bagaimana. ―Tuan-tuan bertujuh hendak campur tangan urusan ini. kau memikir menggunai jumlah yang banyak untuk mendapatkan kemenangan! Tidak. ―Perkaraku dengan si pendeta. Mari kita bersama pergi ke Hoat Hoa Sian Sie. untuk melihat sendiri guna buktikan siapa sebenarnya yang benar. Ciauw Bok Taysu paham ilmu dalam Hoat Hoa Lam Cong. Ma Ong Sin Ho Po Kie bertabiat aseran. hari ini tidak nanti aku beri kau lolos!‖ ―Sabar Totiang!‖ Kwa Tin Ok memotong. Irawan D Soedradjat Page 39 . mari pergi!‖ Ia pun ulur sebelah tangannya.

untuk sambut jambangan dengan kedua dadanya itu. hanya sekarang ia tidak lagi menunda seperti tadi. setelah mana jambangan itu ia lemparkan ke arah Lam Hie Jin. Tepat ketika jambangan sampai. Siauwtee melarat. mulutnya dikasih masuk ke dalam jambangan. Khu Cie Kee dengan tenang sambuti pulang jambangannya itu dan ia menghirup pula. kedua tangannyaditaruh di depan dadanya. apapula sebuah jambangan yang besar yang anginnya seperti menderu-deru. Sembari berbuat begitu. tapi juga keras keinginan tahunya.‖ berkata si imam. atas mana Kwa Tin Ok buka mulutnya akan menanggapi. sesudah mana berbareng dia menolak dengan dadanya. dengan mulutnya sendiri. membuat jambangan itu berdiri tetap lagi. Maka melesatlah jambangan itu ke arah Khu Cie Kee. dengan dipegang dan diangkat di atasan kepalaku. Sekalipun senjata rahasia. imam ini kasih turun tangannya yang memegang jambangan arak itu. arak yang harum!‖ dia memuji. Adalah disaat ini dengan sebat ia tunduk. Selagi melayang jambangan itu masih mengasi dengar suara menguwang. berbareng dengan mana jambanganarak itu dilemparkan ke arah si buta. semikian juga kali nini. Ia telah menyaksikan suatu gerakan tenaga dalam dari Gwa-kee. Wanyen Lieh menyaksikam itu dengan kekaguman dan terkejut juga. cara bagaimanaaku dapat meminumnya?‖ demikian katanya dalam hati kecilnya. sampai jambangan seperti mumbul. berbareng dengan mana jambangan itu bertolak balik kepada Khu Cie Kee. ―Diwaktu kecil. jambangannya turut miring juga. ahli luar yang lihay sekali. Tiang Cun Cu tunjuki jempolnya. pasti ada punya kepandaian yang istimewa. ia hirup arak satu ceglukan. habis minum barulah Tuan-tuan geraki tanganmu!‖ Habis berkata. sampai belasan cegluk. ia sambut jambangan araknya itu. kedua tangannya menolak juga dengan gerakannya. Satu kali tongkat itu miring. ia pindahkan kedua tangannya ke bawah jambangan untuk dipakai menampa. ia kerahkan tenata dalamnya. ia ayun tangannya kepada Siauw Mie To Thio A Seng. ―Cara bagaimana dia dapat menyambutnya?‖ ia berpikir. menyusul mana tongkat itu diputar. ia pentang kedua tangannya itu. Sembari bicara. Wanyen Lieh heran dan berkhawatir pula. Tenaga yang dikerahkan itu bukan kepalang besarnya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Baik!‖ seru si imam. duduk sambil berputaran seperti tukang dangsu tengah mengasi pertunjukan. menghirup arak di dalamnya! ―Oh.‖ sahut Tin Ok dingin. ―Sekarang aku hormati Kwa Toako dengan satu jambangan!‖ ia berkata pula. pada wajahnya tak tertera rasa girang atau murka. Si Buddha tertawa sudah lantas berpikir. dadanya itu penuh dengan daging yang lembek. ―Tentang seorang gagah tidak ditanya asal usulnya. Wanyen Lieh berkhawatir sehingga hampir ia berseru sendirinya. Ia bertubuh terokmok. ―Sia ciang ie san‖ atau ―Sepasang tangan memindahkan bukit‖. ―Sekarang aku hendak memberi selamat kepada Tuan bertujuh dengan seorang satu cawan arak. tetapi tempo jambangan itu sampai. ―Diwaktu mudanya pasti Kwa Toako gemar main putaran nenempan!‖ kata ia. berbareng dengan mana kedua tangannya bergerak untuk memeluk jambangan. Tapi jambangan tetap tinggal miring. Tepat ketika jambangan menyambar ke dadanya. ―Sekarang hendak aku menyuguhkan Lam Sieko sejambangan arak!‖ Ia lantas menghirup pula satu segluk. Lam San Ciauw-cu si Tukang kayu dari Gunung Selatang ada pendiam tak doyan berbicara. Kwa Tin Ok sambut itu dengan tongkat besinya. ―Jikalau aku sambuti jambangan seperti tadi. ia dapat dengar suara sambarannya dan tahu tepat arahnya. sikapnya tenang dan wajar. Dengan cepat ia lepaskan pelukannya. Meski begitu ia sudah lantas mundur dua tindak. ―Sudah buta ia pun pincang…. Hebat kalau jembangan jatuh dan menimpah batok kepalanya si buta ini. Sesudah ini ia geraki pula tongkatnya. Maka dengangitulah ia menengak arak. Diwaktu jambangan dilemparkan kepadanya.‖ Kwa Tin Ok ada tertua Kanglam Cit Koay. sampai terdengar satu suara nyaring. ―Silahkan!‖ katanya habis menengak. ia tertawa. yang ia pakai menanggapi dasarnya jambangan itu. adalah araknya yang lantas meluncur keluar seperti pancuran. dipakai menolak tubuh jambangan. kapan jambangan itu tiba Irawan D Soedradjat Page 40 . hingga jambangan jadi duduk di ujung tongkat. ia tetap duduk tetap dan tenang seperti juga ia tidak mengetahuinya. tiba-tiba ia angkat naik tongkatnya dengan kaget. maka kepandaian ini dipakai modal mengemis nasi.

―Orang bakal mampus ketindihan! Tolong!‖ Di mulut ia mengoceh tidak karuan. yang terus berkata: ―Aku si pedagang kecil suka sekali mendapat keuntungan oleh karenanya ingin aku tanpa menggunai banyak tenaga untuk turut minum arak!‖ Ia segera menghampiri Lam Hie Jin. Nona ini dengan tiba-tiba menjejak dengan kaki kanannya. Ahli pedang Gadis Wat lihay ilmu pedangnya. emas hitam dan baja pilihan. kemudian dengan gagang kipas. ke bawah loteng. ia kerahkan tenaganya. pasti ada orang yang bakal tertimpa dan menjadi korban. kembali ia mencegluk araknya. ―Bagus! Bagus!‖ ia pun turut memuji. yang terbuat dari campuran hancuran tungsten. tapi kupingnya sudah dengar seruan keras tapi halus nadanya: ―Sian-cay!‖ Itu adalah suatu pujinya seorang penganut Buddha.Justru ia baru memikir. Berbareng dengan itu kakinya sudah lantas menginjak palang jendela. yang telah kasih turun jambangan di tangannya. Jambangan itu tertahan pikulan dan terduduk di dengkulnya orang aneh yang keempat ini. maka ia melintasi jendela. akan mendahului jambangan itu. karena untuk mencegahnya dengan menahan. untuk sendok araknya untuk bawa itu arak ke dalam mulutnya. Wan Lie Kiam Han Siauw Eng telah lompat menyusul. Habis itu. guna menolong siapa yang dapat ditolong dari bencana ketimpa jambangan itu. ketika ia berada di atas jambangan. tubuhnya lantas mencelat ke arah jendela. mulutnya lantas menyedot arak. umpama kata aku tidak mampus ketindihan. Dengan cepat ia pasang kuda-kudanya. yang sudah lantas tekuk sebelah lututnya yang kiri. Kapan kayu pikulan dan jambangan beradu. terus melayang turun ke luar. dia segera menahan turunnya jambangan itu. jambangan berhenti menyambar. ―Ayo! Tak dapat!‖ dia berseru. hampir tiba dimulut jendela. Tiang Cun Cu sambuti jambangannya itu. siap untuk dilemparkan pulang! Belum lagi jambangan dikasih melayang pergi. terdengarlah tertawanya Lauw-sie In Hiap Coan Kim Hoat. ―Bagus! Bagus!‖ Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong memuji seraja ia goyang-goyang kipasnya. gerakkannya bagaikan burung walet menyambar air. si Pendekar Sembunyai di kota sudah turut mencicipi arak itu. Cuma Lauw-sie In Hiap menambahkan itu dengan memulangkan jambangan kepada Khu Cie Kee. jambangan itu diangkat. Cu Cong sudah berjingkrak bangun. Akal cerdik semacam ini tadi pun telah digunai oleh Coan Kim Hoat. jambangan sudah lantas terbang melayang kearahnya. Pendeta ini sangat beribadat dan murah hatinya. mungkin aku bakal mati karena mabuk…‖ Akan tetapi sia-sia saja ia unjuk roman ketakutan seperti kalap itu. Semua orang terkejut. ―Brak!‖ demikian satu suara nyaring. maka itu ia gunai ketika yang baik ini untuk menengak arak tanpa tunggu Khu Cie Kee menyuguhkan kepadanya. keduanya menerbitkan suara yang keras dan nyaring. dan lantai papan pecah bolong. si imam sendiri tak terkecuali. sekarang ia gunai hasil latihannya beberapa puluh tahun. ―Jangan! Aku si mahasiswa cilik tak punya tenaga kekuatan untuk kata meringkus ayam. Lincah gerakannya itu. enteng tubuhnya tetapi ia kurang tenaga. yang dia barengi tolak pergi. Berbareng dengan puji itu tubuhnya Ciauw Bok Taysu lompat melecat menyusuli jambangan itu. kepalanya ditunduki ke dalam jambangan itu. maka dilain saat jambangan itu sudah terangkat naik dan terlempar terapung kearah Khu Cie Kee. Kayu pikulan itu ternyata bukannya kayu melainkan sebangsa logam. karenanya mejadi berat dan kuat luar biasa. Tapi ia tidak berlaku ayal. manis dipandangnya. tak sanggup ia melakukannya. lalu turun ke bawah akan tetapi belum lagi tempat arak istimewa itu jatuh ke lantai. Tiang Cun Cu berniat lompat. membuatnya satu lobang besar ke dalam mana tubuh si mahasiswa terjeblos masuk di waktu mana terdengar jeritannya berulang-ulang: ―Tolong! Tolong!‖ Selagi jambangan mental balik. cacat itu ditambal dengan kelincahan dan kecerdikannya. maka itu dengan sekali sendok saja. Ia insaf. perutku tak dapat memuat segantang arak. Irawan D Soedradjat Page 41 .Pendekar Pemanah Rajawali kepadanya. Untuk itu ia perlu mendahului jambangan. Kalau jambangan itu jatuh ke bawah loteng. ―Sekarang pinto hendak menyuguhkan kepada Cu Jieko!‖ Belum lagi jambangan itu dilemparkan. maka itu. untuk korbankan diri. Begitu terbentur pikulan logam itu. Hie Jin sudah sambar araknya dengan tangannya untuk disendok dan dihirup. ia angkat kayu pikulannya untuk menahan itu sebelum jambangan turun. kalau jambangan berat itu ditimpuki kepadanya – gilirannya memang bakal tiba – tidak nanti ia sanggup menganggapnya. ―Tolong! Tolong!‖ dia berteriak-teriak selagi jambangan itu mengancam padanya. kipasnya tapinya ia pakai untuk mencelup ke dalam jambangan. dengan dibantu tangan kanan. guna mundurkan semua orang untuk mencegah kecelakaan yang tak dikehendaki itu. maka jikalau aku disuguhkan. Berbareng kaget. Jambangan itu tidak ada yang tahan.

Ciauw Bok Taysu juga sudah lantas menyusul naik kembali ke loteng. terpaksa pinto mesti mencoba denganmu untuk menetapkan siapa yang tinggi dan siapa yang rendah. ia perdengarkan suara perlahan. terserah saja kepadaTuan-tuan. itu pasti bakal merusak kerukunan. Ma Ong Sin Han Po Kie. Semua mata segera diarahkan ke mulut loteng. kaki kirinya menyantel pada sanggurdi. dengan bergandengan tangan bersama Cu Cong. Khu Cie Kee tertawa. dengan sekali sebat dan cerdik. yang harus dikasihani…‖ ―Tiang Cun Cu Totiang. Ia sendiri masih bercokol terus di bebokong kuda. Itulah seorang dengan baju kuning yang sembari melompat. Kemudian. telah perdengarkan satu suara bersiul. Cie Kee letaki jambangan arak di lantai. Cie Kee berdiam sebentar. Sesuatunya lihay sekali. Ia lakukan itu sembari tertawa. Maka selang sesaat. kuda kuning di bawah loteng lantas saja lari ke jalan besar di betulan mulut jendela loteng itu. atas mana binatang itu sudah lantas lompat lewati jendela untuk turun ke bawah. Umpama kata pinto tak dapat melawan. lalu satu persatu cawan dia keroboki ke dalam arak itu. sang kakak yang kedua dengan keduanya sambil tertawa. tetapi karena tidak ada jalan lain. Tepat sekali keduanya jatuh di bebokong kuda yang lalu lari beberapa tindak. tangannya yang sebelah mengedut les kudanya. Totiang. oleh karenanya jikalau kita gunai senjata. Pinto pikir baik diatur demikian saja…‖ Lantas ia teriaki si jongos untuk siapkan empatbelas cawan arak yang besar. lantas satu diantaranya muncul dengan belasan cangkir yang diminta itu. ―Pinto juga telah dengar lama yang Tuan-tuan adalah orang-orang yang gagah mulia untuk wilayah Kanglam. lalu keduanya jatuh miring dengan berbareng. dan kuil Hoat Hoa Sin Sie juga adalah berhala kenamaan dalam kota Kee-hin ini. pinto takluk! Sekarang. ―Habis itu apakah yang totiang kehendaki?‖ Po Kie tanya pula. hingga jambangan itu dapat duduk tetap di atas kuda. Irawan D Soedradjat Page 42 . Habis itu. maka itu bagaimana bisa jadi taysu dapat menyembunyikan wanita baik-baik dalam kuil itu?‖ ―Di kolong langit yang luas itu mesti ada manusia palsu yang menipu duni!‖ berkata si imam dengan nyaring. ―Ciauw Bok Taysu ini adalah seorang yang beribadat dari beberpa puluh tahun. pinto tidak hendak mempersulit pula kepada si pendeta. kedua tangannya dibantu kaki kanannya menahan jambangan. begitu dipanggil. dengan begitu teranglah Tuan-tuan terlalu andali kepandaiannya orang-orang lain! Tuan-tuan pinto tolol. Han Po Kie menjadi gusar. cukup asal dia suka menyerahkan itu dua orang perempuan yang malang. apa saja yang kamu hendak perbuat!‖ ―Jikalau sudah pasti totiang menghendaki demikian. guna ulur kepalanya ke mulut jambangan.Pendekar Pemanah Rajawali Baru pendeta itu melewati jendela. guna diletaki di lantai loteng. dengan begitu ia jadi bisa berbareng mencicipi juga arak itu. inilah bagianmu yang tidak benar!‖ Kwa Tin Ok memotong. kau jadinya tidak percaya pada kami?!‖ tanyanya. lalu kembali untuk terus lari masuk ke dalam ciaulauw dan mendaki loteng! Selagi kuda itu beraksi. Mendengar siulan itu. mereka sudah mendaki loteng untuk kembali ke atas loteng! Wanyen Lieh menyaksikan semua semua itu. ia berkata: ―Benar-benar Kanglam Cit tersohor bukan nama belaka. ―Aku hanya lebih mempercayai mataku sendiri!‖ sahut sang imam. untuk isikan penuh semuanya.‖ sahut Cie Kee. ―Urusan sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan Tuan-tuan bertujuh.‖ dia bilang kemudian. ―Kita berdua sebenarnya tak saling dendam. sedangnya binatang itu mendaki loteng. ia ulur keluar lidahnya. Maka itu mereka dapat lihat benda bagai segumpal daging yang seperti bentrok dengan jambangan. hingga tenaga turunnya menjadi berkurang. dengan memandang Tuan-tuan bertujuh. ―Akan tetapi Tuantuan tampaknya memaksa hendak mencampuri tahu. ia pondong jambangan untuk dikasih turun dari bebokong kuda. lain orang telah dalui ia. sesudah itu. Han Po Kie geraki tubuhnya untuk naik sedikit. silakan totiang tunjuki caramu!‖ bilang Kwa Tin Ok. Sejak tadi jongos-jongos umpatkan diri di bawah loteng. ―Dengan kata-katamu ini. ialah segumpal daging yang tadi telah melayang menyambar jambangan sudah pernahkan dirinya dibawah perut kuda itu. empatbelas cawan terisi arak itu diatur dalam dua baris di lantai itu.

Tidakkah cara ini bagus?‖ Han Po Kie dan Thi A Seng adalah tukang tenggak susu macan. tenggak kering satu demi satu tujuh cawan bagiannya. coba lihat kakinya si imam!‖ Cu Cong memandang ke tempat yang ditunjuki. ialah yang menang. ―Citmoay. atas perjanjiannya si imam.adu kepandaian – belum pernah ia dengar cara seperti itu. Kebetulan ia melihat ke lantai. Akan tetapi Kwa Tin Ok berkata: ― Kami bertujuh melawan satu. kita tinggalberlima. ―Siapa juga yang meminumnya sama aja!‖ Maka itu. ―Dengan dibantu tenaga dalamnya. ―Begini lihay tenaga dalamnya. ―Akur!‖ jawab Khu Cie Kee. ―Baiklah!‖ demikian katanya. pinto sendiri akan minum tujuh cawan. . itu tidaklah cara laki-laki! Totiang. ―Nah. Tetapi tiba-tiba saja ia terperanjat. Ia memang bukan tukang minum. Sebagai satu jantan. Taruh kata si imam kuat minum tetapi berapakah besar perutnya? Dapatkah satu perutnya melawan perut tujuh orang? Han Siauw Eng adalah yang termuda diantara Kanglam Cit Koay.‖ ia berpikir. Irawan D Soedradjat Page 43 . ―Mari kita adu minum arak dulu! Belum pernah aku mendapati orang yang begitu memandang enteng kepada kami bertujuh. Banyak cara untuk adu pibu. Coan Kim Hoat tampaknya sudah kewalahan. Nona Han Siauw Eng segera merasakan bahwa ia bakal tak sanggup minum terlebih jauh. baiklah kau sebutkan lain cara!‖ ―Cara bagaimana tuan dapat merasa demikian pasti akan memperoleh kemenangan?‖ Tiang Cun Cu tegaskan. Dengan si imam. Kapan hendak dilanjuti giliran yang lain. ia segera bisiki Cu Cong. boleh tidak aku diwakilkan?‖ tanya si nona kepada si imam. Tuan. ia pun polos dan bersikap jantan.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto hendak adu kekuatan minum arak dengan tuan-tuanbertujuh. ―Kelihatannya untuk mereka minum lagi tiga atau empat cawan. Maka heranlah Kim Hoat yang cerdik itu. Duapuluh cawan telah ditenggak kering. Silakan!‖ Hampir berbareng enam manusia aneh lainnya dari Kanglam itu angkat cawannya masing-masing dan mengiringnya seperti saudara angkat mereka yang bungsu. dia tidak bakal rubuh…. yang ia lihat sudah lelah. ―Hebat!‖ ia inipun berbisik. Wanyen Lieh pun heran sekali. ―Nona Han adalah jantannya wanita!‖ Khu Cie Kee puji nona itu. ―Tuan-tuan bertujuh minum satu cawan. Ia lantas ingat sesuatu. sedang si imam pun tanpa banyak omong lagi. ia masih segar seperti biasa. A Seng lantas wakilkan adiknya. lantas semua itu di cegluk habis! Setelah cawan yang ketiga. air mukanya takberubah. ia jemput satu cawan dan jegluk isinya. Perjanjian kita ialah sampai habisnya isi jambangan ini.‖ katanya kemudian. siapa yang tidak sinting. lagi seratus cawan dia minum. Kim Hoat percaya pihaknya bakal menang. mereka tentu masih sanggup. ia menanyakan dulu pikirannya si imam itu. ia tampak lantai dimana si imam berdiri menjadi basah. mereka mendahului menyatakan akur. Si imam juga tenggak habis tujuh cawannya. ia tidak menawar lagi. ―Khu Totiang. ―Dengan jebolnya aku dan citmoay.‖ Kim Hoat berbisik pula. mari kau wakilkan kau!‖ berkata Thio A Seng kepada adik angkatnya yang ketujuh itu. habis bagaimana?‖ Cu Cong jadi berpikir. apakah ia masih bisa menghabisi lagi duapuluh cawan?‖ Oleh karena ia pikir begini. Khu Cie Kee sebaliknya. ―Ia gunai tenaga dalamnya memaksa arak turun ke kakinya…‖ ―Benar. dan inilah yang pertama kali!‖ Dan tanpa bersangsi lagi. ―Jieko. umpama kami menang. Lalu semua cawan diisi pula.‖ katanya.

Begitulah ia menantang. orang bukannya mengerahkan tenaga dalam. ia dengar orang berkata-kata pula.‖ kata Cu Cong itu. kau benar satu manusia aneh!‖ serunya. Mereka tahu sebabnya itu. ia tidak sinting. ―Apakah itu mahkluk yang lihay?‖ ia tanya. untuk di pakai itu menyendok arak. kami semua sangat mengaguminya. Tentu saja. Mari keringkan!‖ Ia goyang-goyang kipasnya di tangan kanan. Cu Jieko. kaki dan tangannya digerak-geraki. kau temani aku minum terus. itu rasanya tidak terlalu adil…‖ Cie Kee melengak. Lima orang sudahke teter. dia menghendaki aku lawan kerbau itu minum arak yang keras. terus ia sambungi dengan nyaring: ―Mari minum! Lekas. ―Aku menyerah!‖ Irawan D Soedradjat Page 44 . ia ngoceh pula. begitu juga dengan pihak Kanglam Cit Koay. akan tetapi Cu Cong seperti tidak pedulikan itu. bisa dibuat main?‖ ia berpikir. Cu Cong si Mahasiswa Tangan Lihay tertawa. isi itu masih banyak. ―Sekarang begini saja. lekas!‖ Lantas setelah itu. Lam Hie Jin dan kawan-kawannya dapat lihat itu. tidak ada arak yang merembas keluar. ―Kanglam Cit Koay sungguh hebat. mereka kagumi si imam untuk tenaga dalamnya yang sempurna itu. ―Habis Cu Jieko memikir bagaimana?‖ dia tanya. sikapnya menarik hati. cawan demi cawan. ―Berapa jambangan?‖ dia tanya sekenanya. selama itu Khu Cie Kee mesti layani orang minum. ―Saudara Cu. bagaimana dia ini hendak melawan sendirian? Keenam Manusia aneh menjadi heran. Selagi ia tetap belum mengerti. Dengan tiba-tiba saja wajah Cu Cong menjadi sungguh-sungguh. meski begitu. Kesudahannya akulah yang menang!‖ ―Cis!‖ Cie Kee kasih dengar suaranya. ―Baiklah aku sendiri yang layani kau. dengan itu dia dicaci sebagai kerbau.‖ sahut Cu Cong. Han Po Kie letaki cawannya di meja. ―Pada tahun dulu aku telah pergi ke negeri Siam. Tidakkah ini bagus?‖ Arak di dalam jambangan perunggu itu tinggal separuh. Mereka berdiam. berapa jambangan aku tenggak habis?‖ Tiang Cun Cutahu orang bergurau. di sini lebih hebat lagi! Raja Siam telah suruh keluarkan seekor gajah putih yang besar. Cu Cong lihat perbuatan adiknya itu. satu lawan satu!‖ sahutnya. Sekarang lantai di kakinya Khu Cie Kee tertampak barang cair mengembang dan mengalir. meskipun mereka tahu ini saudara yang kedua sangat cerdik dan licin. Ia tertawa ketika ia berkata: ―Sebenarnya aku tidak kuat minum akan tetapi tempo tahun lalu aku pesiar ke daerah Selatan. di sana aku pernah menangkan beberapa makhluk yang lihay. setelah kandasnya ini jambangan .‖ kata Cie Kee kemudian. tangannya sendiri menyambar satu cawan yang besar. ―Khu Totiang. ―Satu kali aku telah pergi ke India.‖ ia berkata. hingga akhirnya jambangan arak itu nampak dasarnya! Imam itu segera tunjuki jempolnya. aku disuruh lawan gajah itu minum arak! Binatang dogol itu telah sedot habis tujuh jambangan! Totiang tahu. dikatak gila. Ia heran juga menyaksikan orang kuat minum dan sikapnya tenang. perlahan tetapi mengesankan. akan tetapi dengan kami berlima melayani kamu. perut si Manusia aneh rada melendung. ―Ah. ia lantas mengedipi mata. tetapi mereka duga saudara ini tentu ada akal muslihatnya. ―Hebat tenaga dalammu. ―Sembilan jambangan!‖ katanya. Cie Kee heran. Ia telah perhatikan. Dikatakan mabuk. ―Di sana putra raja India seret keluar seekor lembu. hanya orang bicara secara wajar sekali. ujung bajunya yang kiri pun dikibaskan. Ia tidak tunggu sampai orang membilang atau menunjukkan sesuatu apa. Ia tahu orang bicara ngaco. tak dapat ia bergusur.Pendekar Pemanah Rajawali Mereka itu sudah keringi pula cawan mereka yang lainnya. ―Mustahilkah perutnya bisa kempas dan bisa kembang. akan pinto menyerah kalah. Cie Kee turut minum juga. saban-saban ia tenggak araknya. ia minum araknya. dengan sikap wajar itu. Dimana orang berpura-pura edan-edanan. hendak ia menyerah kalah. ia tidak angot.Hanya rada aneh.

ia jadi kena dipermainkan. yang masih belum selesai. kapan tahang air itu ia balingkan.Ikan dan naga diempat penjuru lautan……. mengapa sekarang ia dapat mengetahuinya…. yang sekian lama disembunyikan di bawah jubahnya yang gerombongan. suatu ilmu kepandaian turun temurun yang hingga kini telah membuat kagum orang di Eropa dan kepulauan selatan.‖ katanya. Khu Cie Kee segera menyambaruntuk pegangi tubuhnya orang itu. bau arak tersiar menyampok hidung! Orang kedua dari Kanglam Cit Koay sudah perlihatkan kelihayannya. di situ ia terpeleset. tapi ia melengak pula. Biauw Ciu Sie-seng gunai ketikanya untuk rogoh kantung si imam. apakah kau juga minum arak?‖si Manusia aneh membaliki. tidak kusangka. Tidak tempo lagi. Setelah dapat berdiri pula.. niatku adalah untuk nanti meyambunginya. Totiang. ―Kau benar-benar lihay! Sekarang pinto ingin mohon pengajaran…!‖ Rupanya barusan selagi ia pura-pura terpeleset. Wajahnya Khu Cie Kee menjadi berubah. sembari berputaran.. ―Kepandaianmu ini toh tak dapatdibilang orang minum arak?!‖ ―Kau sendiri.udara membuatnya. ditangannya ada sepelas ikan emas. sebelah tangan si imam melayang. selagi si imam pegangi dia.. Mungkin pembaca pernah menyaksikan pertunjukkan sulap semacam itu. Tak ada syair itu didalam sakunya itu! Cu Cong seperti tidak ambil mumat orang terheran-heran.mentereng seperti siluman air………‖ Panjang nada syairnya. Irawan D Soedradjat Page 45 . belum pernah aku perlihatkan orang syairku itu.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong awasi imam itu. Cu Cong pandai mencuri dan mencopet.‖ katanya di dalam hatinya.Di Waktu tibanya angin yang sejuk…malam yang jernih terang…….?‖ Lantas ia merogoh ke sakunya. sebab semua arak pindah ke dalam tahang air ini. Tentu saja si imam tidak menyangka orang bergurau secara demikian. maka itu ia digelar sebagai Biauw Ciu Sie-seng. ―Syair itu aku simpan.rembulan gilang gemilang…. ―Itulah syairku yang kutulis di harian Tiong Ciu tahun yang lalu. syair yang bagus! Sejak jaman purbakala di pertengahan musim rontok…. si Mahasiswa Tangan Lihay. ―Sungguh aku kagum…. ia tertawa. terus ia putar tubuhnya.!‖ ―Bagus!‖ seru Cie Kee yang mengerti bahwa benar-benar ia telah dipermainkan orang. dua kali ia jungkir balik di atas pentes tambah semangkok air tawar. bergelak-gelak lalu dengan sekonyong-konyongia lompat jumpalitan ketika ia telah berdiri pula. Dengan‖Tangan Lihay‖ itu diartikan lihay mencopetnya. Itulah kertas bermuatkan syair yang baru ia bacakan. ―Aku? Lihatlah!‖ Ia tertawa pula. mulutnya perdengarkan suara: ―Syair yang bagus. kau juga pandai ilmu surat!‖ katanya memuji. CuCong lompat mundur. arakmu kumpul dilantai! Ada apakah perbedaannya?‖ ia lantas jalan mundarmandir sampai ia kena injak lantai yang basah dengan araknya Khu Cie Kee.Suatu hari…….tangannya mencekal sebuah tahang air. ―Totiang minum dengan andalkan tenaga dalam. Kepandaiannya itu menyembunyikan tahang air adalah kepandaian umum di kalangan tukang sulap Tiongkok. Disitu ia berhadapan dengan orang lihay akan tetapi tidak ada seorang juga yang lihat darimana ia sembatnya tahang air itu! perutnya tinggal kempes. Tentu saja ia sangat penasaran yang orang telah copet syairnya itu tanpa ia merasa. ―Ah!‖ seru si imam kemudian. ia membeber kertas di atas meja. Dan Cu Cong sekarang mengacau matanya Tiang Cun Cu dengan ilmu kepandaiannya itu. Satu kali ia jungkir balik. Jalan susu bagaikan tenggelam…. Khu Cie Kee heran hingga ia melengak. ―Totiang lihay ilmu silatnya. untuk cari syairnya itu. tubuhnya rubuh membentur tubuhnya si imam. air mana dapat ditambah menjadi banyak. ―Arakku kumpul di dalam tahang.

suara mana tercampur suara bentrokkannya senjata-senjata tajam.. Ia cacat mata akan tetapi kupingnya awas bukan main. Khu Cie Kee dapat lihat serangan itu. kamu masih menjanjikan bantuan! Biar di sana ada ribuan tentera dan tidak pandang itu di matanya!― Thio A Seng merasa pihaknya diejek. ―Ciauw Bok Hweshio! Kanglam Cit Koay!‖ ia berseru. Thio A Seng lihat saudaranya sangat terdesak. Ia pun segera berseru dengan ejekan: ―Bagus betul. sebagaimana mereka gampang dikenali dengan seragam mereka. harap kau tak katakan kami tak tahu aturan!‖ ia berkata sambil ia menggapekan kepada Lam Hie Jin dan Han Siauw Eng. ―Totiang. Manusia Aneh yang keempat. Mereka menanti sekian lama putra raja mereka masih belum kembali. kali ini tiga kali beruntun serangannya itu. sampai saudara itu sulit membela dirinya. Hebat tangkisannya ini. Bukan main kagetnya Siauw Mie To si Buddha tertawa. untuk ambil senjata mereka masingmasing. di tangga loteng terdengar riuh tindakan kaki yang keras. ia lompat untuk menghalang. Sangking murkanya. timbuk kekhawatiran mereka itu. Melihat mereka itu. ―Benar!‖ sahut si imam memberikan kepastian. akan tetapi sekarang tak dapat ia atasi diri lagi. ia layani mereka separuh main-main. atas mana Lam San Ciauw-cu menangkis dengan kedua tangannya. Ia hargakan Kanglam Cit Koay. kebetulan mereka dengar di Cui SianLauw ada orang berkelahi. ―Semua mundur!‖ ia berseru. Hampir di waktu itu. ia menyerang ke dadanya si imam. Tangkisan si imam itu membuat tangannya sakit dan gemetaran. toya kamu masih tidak jerih!‖ Han Po Kie gusar mendengar ejekan itu. ―Lam Sieya sungguh lihay!‖ si imam memuji mendapatkan tangkisan itu. ―Walaupun kasih datang tambahan tigaribu lagi serdadu berandal Kim. yang dibawa ke depan dadanya.ia tertawa terbahak-bahak. Bab 5. maka itu sampai sebegitu jauh. Tapi justru itu sekonyong-konyong wajahnya berubah. Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan dan Wan Lie Kiam si Gadis Watsudah lantas taati ajakannya saudaranya itu. ―Jangan mengepul!‖ Kwa Tin Ok kata dengan dingin. ―Untuk apa menjanjikan bantuan lagi?!‖ Kwa Tin Ok tidak berpikir seperti saudaranya yang kelima itu. Coan Kim Hoat bisa duga perasaan saudaranya itu. seraya ia melompat maju untuk menyerang. Lega hati mereka akan saksikan putra Irawan D Soedradjat Page 46 .anginnya mendesir. Tentera Kim itu adalah tentera pengiringnya Wanyen Lieh. ―Kamu majulah berdelapan!‖ menentang Tiang Cun Cu menyaksikan orang pada turun tangan. ―Kita ada tujuh bersaudara!‖ ia bilang. benarkahkau berniat mencari keputusan dengan kepalan dan kaki?‖ ia menegasi. ia menyerang Lam Hie Jin dengan sebelah tangan kirinya. naik darahnya Khu Cie Kee. rasanya baal. ia menyangka mereka itu diperdayakan oleh Ciauw Bok Hweshio. mereka datangi rumah makan itu. ia lantas menangkis. lalu beberapa puluh orang tertampak merubul naik. Ia telah mendengar puluhan orang berlari-lari mendatangi ke restoran itu. Maka ia lompat berdiri.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong berkelit ke samping. sambil berlompat. Pertarungan Mati Hidup Segera terlihat orang banyak yang naik ke loteng itu adalah serdadu-serdadu bangsa Kim. mereka lantas pergi mencari. Dan menyerang pula. Khu Cie Kee tidak gubris sindiran itu. ―Siapakan senjata!‖ Thio A Seng semua segera lari balik ke tempat duduknya masing-masing. ―Totiang. Inilah lawan tangguh yang pertama kali iapernah ketemukan. ―Siapakah yang kasih datang tentera Kim?!‖ ia menegur.

mereka kaget dan gusar. putra itu lagi duduk tenang di mejanya. pendeta yang pantang makan daging. pinto tak dapat menemani lebih lama pula!‖ Lantas ia angkat jambangan araknya. jangan kau keliru mengerti!‖ kata tertua darikanglam Cit Koay ini. Dengan lantas ia berpaling kepada Kwa Tin Ok beramai. tepat mengenai batok kepalanya satu serdadu Kim. Hidangan untuk Wanyen Lieh pun disiapkan sekalian. ―Toako kami menitah kau pergi!‖ Han Po Kie wakilkan kakaknya menyahuti. tidak peduli orang baru saja berhenti bertempur dan disitu ada banyak serdadu bangsa Kim. ―Kami tidak undang atau janjikan mereka itu. di depan siapa ia memberi hormat. Tiang Cun Cu tidak ladeni si buta itu. Khu Cie Kee tangkis serang itu tanpa membalik tubuhnya. suara itu rubuh dengan kepalanya remuk. Serdadu-serdadu Kim lainnya menjadi gaduh karena kebinasaan tidak karuan dari rekannya mereka itu. Dengan berani ia lantas memanggil ―toako‖ atau kakak. si hweshio. Seperti bebokongnya ada matanya. ―Hm!‖ Khu Cie Kee perdengarkan suara di hidung selagi Hui Thian Pian-hok belum sahuti orang asing itu.Pendekar Pemanah Rajawali rajamereka tidak kurang suatu apa pun. ―Apa!‖ tanyanya. ia lompat maju. mereka bawa naik barang hidangan itu untuk disajikan disembilan meja dikecualikan mejanya Ciauw Bok Taysu. hingga tanpa suara apapun. WanyenLieh heran. walaupun orang tak dapat melihat kepadanya. Mereka lantas menghampiri untuk memberi hormat. ―Aku juga bukanya si picak!‖ sahutKhu Cie Kee mengejek. jiwanya terbang pergi. sembari berkata ia gerakan pundak kanannya. maka itu sambil gerakin tongkat besinya. iabertindak ke tangga. Lalu tanpa tunggu jawaban lagi. sebaliknya ia layangkan tangannya yang kiri. mengenai kempolansi putra raja Kim itu. bangsa hohan. sekarang setelah mengetahui orang bangsa apa. ―Adakah aku keliru mengerti?‖ jawab si imam sambil jalan terus. Irawan D Soedradjat Page 47 . maka tadi ia berlaku manis budi dengan suruh jongos membagi daging macamnya. ―Terima kasih Kwa Toako!‖ ia mengucap. Atas itu putra raja Kim itu lantas berbangkit dari kursinya. ―Inilah contohnya!‖ kata si imam kemudian. ia ngeloyor ke tangga.ia paling benci orang mengatakan ia picak. ―Minggir!‖ ia membentak. maka itu beberapa batang tombak kena tercekal dan terampas. dia tidak usah dilayani! Tuan-tuan mari kita minum dulu. ―Kalau picak bagimana?!‖ tanyanya. tidak kenal Tuhan.‖ Kwa Tin Ok menyangkal. maaf. sambil membawa itu. guna menghampiriKwa Tin Ok. ―Kamu adalah bangsa Enghiong. hingga Wanyen Lieh lantas saja mundur beberapa tindak. habis perlu apa kamu undang tentera bangsa Kim untuk bantu kamu?‖ Dengan sengit si imam menjengeki orang adalahEnghiong dan hohan – orang-orang gagah. ―Bagus! Bagus!‖ ia menambahkan. Tin Ok buta. ―Cukup sudah. beberapa diantaranya segera menikam bebokongnya si imam dengan tombak mereka yang panjang. Ketika itu pihak rumah makan baru siap dengan hidangan mereka yang terdiri dari daging macam tutul. ―Jangan!‖ Wanyen Lieh segera mencegah. Beberapa serdadu lagi hendak maju untuk mengulangi penyerangan. untuk mengatakan: ―Imam jahat itu tidak kenal undang-undang. Sambil manangkis tangannya menyambar. Kwa Tin Ok lantas sudah bangkit berdiri. ia tak sudi melayani bicara. ―Khu Totiang. sembari minum kita bicarakan daya untuk menghadapi dia!‖ Kwa Tin Ok tidak tahu orang adalah orang bangsa Kim.

Ia ingat pada pengalamannya yang pertama. datang menyembunyikan diri di kuilku. Habis kenapakah barisan serdadu itu? Ia tanyakan keterangan beberapa penduduk. ―Beberapa orang ini lihay sekali. kita tak dapat tidak bersiaga. akan tetapi ia jerih pula. hingga kesudahannya ia labrak rombongan serdadu bangsa Kim serta orang-orang polisi yang mencari padanya.‖ menyatakan Coan Kim Hoat.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin OK semua lantas berlalu. ―Dia menyebutkan dua orang wanita. seperti bekas kalah perang. dari kuil Kong Hauw Sie. pulang ke Yankhia. Kejadian itu membuat ia sangat gembira. lebih bingung pula Kanglam Cit Koay. Biauw Ciu Sieseng jalan paling belakang. Sementara itu Kwa Tin Ok beramai telah ikuti Ciauw Bok Hweshio pergi ke kuil Hoat Hoa Sian Sie yang letaknya di bagian barat dari luar kota Kee-hin. ia lantas pergi ke Hangciu. ia lekas-lekas balik ke hotel. paling dulu ia ragoh sakunya. ―Aku ada punya Suheng yang menjadi pendeta di kepala di kuil Kong Hauw Sie di Hangciu…‖ ―Itulah Kouw Bok Siansu. baru satu dua har I orang itu tiba. Untuk kagetnya ia dapatkan beberapa potong emas dalam sakunya terbang pula! Ia mendongkol. entah kemana lolosnya tetapi ada kemungkinan dia pun tak kan hidup lama.‖ tanya Han Siauw Eng. ―Benar. juga mereka itu tidak tahu suatu apa. yang ia bawa ke ujung jalan besar. ia tampak lewatnya beberapa puluh serdadu dalam keadaan rudin. untuk pesiar ke telaga See Ouw dan tempat sekitarnya yang indah.‖ sahut Ciauw Bok. Ciauw Bok Taysu bingung. ia ikuti rombongan serdadu sampai di tangsinya tentera itu. habis mana ia lantas mengundurkan diri. ia tidak lagi berpikir untuk beli pakaian buat si nyonya. untuk membuat perkenalan dengan caranya yang luar biasa itu. ia menitahkan dua orang yang menyampaikan surat itu. apapula ia adalah kakak seperguruanku. lalu dengan diam-diam ia menyatroni. ia tahu tidak ada peperangan dengan bangsa Kim. Khu CieKee pergi ke Gu-kee-cun kepada Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. Kacung hweshio lantas menyuguhkan air the. jikalau mereka dapat tahu. Irawan D Soedradjat Page 48 .‖ Oleh karena kekhawatirannya ini. untuk korek keterangan dari mulutnya. aku serta semua serdaduku bukan tandingan mereka.‖ ia berpikir. merundingkan daya penjagaan.‖ sahut hweshio itu. selagi lewat di samping Wanyen Lieh.‖ Tin Ok juga menyatakan. Imam ini sangat menyesal. Ia bekuk satu serdadu yang sedang tidur pulas. lantas Tiang Cun Cu datang menyatroni sambil dia menuduh ada dua orang wanita dari Hangciu. Ciauw Bok Hweshio turut mereka. tombak dan gendewanya pada patah. Ia tunggu sampai malam. Wanyen Lieh terkejut. dengan tinggalkan restoran itu. Kapan ia sudah dengar jawabannya. akan menghirup permainannya sang salju. Tempo ia lewat di muka Ceng ho-hong. Kami orang beribadat mesti berlaku murah hati. ia tepuk pundaknya putra raja Kim itu dengan kipasnya seraya bilang: ―Apakah kau telah jual itu orang perempuan yang kau tipu? Bagaimana kalau kau jual dia padaku? Hahaha!‖ Dan terus ia ngeloyor turun. (Yankhia = Peking sekarang). ia menjadi mengeluh. Saking penasaran. Mereka tidak dapat mengerti sikapnya Khu Cie Kee. tidak ada huru-hara penjahat di dekat-dekat Hangciu. ―Taysu.‖ ―Itu benar. Ia berduka berbareng murka akan dengar Siauw Thian terbinasa dalam pertempuran itu dan Tiat Sim terluka parah. turun di tangga loteng. Dari Gu-kee-cun. Ia heran. Sampai disitu mereka berunding. dalam mana ia bilang ada orang jahat hendak mengganggu mereka itu dan karenanya dia minta supaya aku beri tempat berlindung kepada merek itu. Maka sebelum layani godaan orang itu. itulah akibatnya ia sudah mengikat persahabatan sama dua orang she Yo dan Kwee itu. seragamnya tidak karuan. siapakah mereka itu? Bagaimana sebenarnya duduk perkaranya?‖ ―Nanti aku beri keterangan. Ia tahu. terus ia ajak si nyonya untuk berangkat ke Utara. Itu hari sehabisnya membinasakan Ong Tian Kian si pengkhianat. bukan?‖ Tin Ok memotong. ibukotanya kerajaan Kim. ―Keliru mengerti ini jadi makin hebat…‖ Ciauw Bok Taysu mulai berkata smabil ia menghela napas. inlah berbahaya………. ―Maka aku pikir. ―Pauw-sie ada padaku. Nyatalah barisan itu adalah barisan yang telah pergi ke Gu-kee-cun untuk menawan Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian.‖ ―Melihat dari sikapnya tadi. ―Kemarin dulu ia menulis surat padaku. tentu saja aku mesti terima permintaannya itu. Bersama dia turut juga semua pengiringnya. mesti dia bakal datang lagi menerbitkan onar. Diluar dugaanku. Pasti tak dapat ia umbar hawa amarahnya terhadap serdadu itu. di dalam kuil itu mereka berkumpul di kamar bersemedhi. Tentu saja aku menjadi tidak mengerti.

lagi pelesiran minum arak di atas perahu. ciehui itu mesti dibinasakan guna membalaskan sakit hatinya Tiat Sim dan Siauw Thian. kalau tidak. ―Dia she Toan. oh. untuk mencari kesenangan. rombongan serdadu lagi dilabrak oleh imam itu yang bersenjatakan dua serdadu yang ia cekal kakinya dengan masing-masing mereka mengeluh. ia hajar dengan tangannya tembok dimana tiang itu dipasang.‖ Cukup segitu. ia lompat keluar dari tangsi. Oleh karena sudah habis sabar di hari yang ketiga setelah dua malam itu. Ia ingin Lie Peng sebutkan sahabat atau sahabat-sahabatnya Siauw Thian yang dirasa bernyali besar berani mencuri kepalanya Siauw Thien itu. ialah khu Cie Kee. Thian Tek segera berkata kepada dua serdadu yang ia kedipi mata: ―Pergi kamu antar toya ini ke telaga untuk cari Toan Tayjin!‖ Irawan D Soedradjat Page 49 . istrinya Siauw Thian. lalu laporan itu disusul dengan laporan lainnya. ada di gantung kepalanya Kwee Siauw Thian untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai. dengan membawa goloknya. si imam membela diri dengan dua serdadu korbannya itu. Habis itu dia hendak mencari istrinya dua sahabat itu guna menempatkan mereka ke tenpat yang aman. ―Dia…. tidak ada muka pinto menemui kalian di dunia baka. tentung sudah terjadi pertempuran dengan orang yang mencari dia. Dia paykui di depan kuburan. untuk menegur: ―Mana dia Toan Thian Tek?! Suruh dia keluar!‖ Justru itu hari. Satu imam. Di muka tangsi. mungkin Thian tek tidur di luar tangsi. Atau lebih benar. ia lepas cekalannya. dia panjat tiang itu untuk turunkan kepalanya Siauw Thian.‖ Cie Kee kena diakali. Beruntun dua malam Cie Kee telah satroni tangsi Wielok nomor enam. rumah tangga mereka tercerai berai dan musnah! Jikalau kau tidak menuntut balas untuk mereka. Thian Tek kesakitan. diam-diam ia memuji dan berjanji: ―Itu hari pinto sudah berjanji akan ajarkan ilmu silat kepada anak-anakmu. Sejumlah serdadu lain menyerang dengan anak panah tetapi serangan itu tak ada hasilnya. Ia dapat terka maksudnya si imam. hingga batu dan pasir kapurnya hancur.dia sekarang ada di telaga See Ouw. kedua sahabat itu jamu padamu. Khu Cie Kee!‖ katanya seorang diri. tetapi ia tidak peroleh hasil.‖ sahut serdadu itu yang menyebutkan komandonnya. Kemudian ia akan mohon belas kasihannya Thian. Cie Kee bebaskan serdadu itu. tapi ia licik sekali. airmatanya turun mengucur. yang nampaknya gagah sekali. Dia belum kenal perwira ini. Ia gunai tangannya yang kiri. ―Toya mencari Toan Tayjin?‖ dia balik menanya. untuk dikubur. tubuhnya hampir tak dapat bergerak. ―Dengar baik-baik. yang ia bawa ke tepinya telaga See ouw. Thian Tek ada di dalam tangsinya. agar supaya anak-anak mereka dapat ia didik menjadi orang-orang sempurna seperti yang ia janjikan. kau sebaliknya rembet-rembet mereka hingga mereka bercelaka. ―Khu Cie Kee. Kemudian malamnya. hingga ia mau menduga. di atas tiang bendera yang tinggi. Sebentar lohor ia baru pulang. Tiang Cun Cu menampak hal yang membuat darahnya mendidih. Lengannya Thian tek lantas saja kena dicekal. Thian Tek gusur menyaksikan perkelahian semacam itu. ―Mana itu bajingan jahanam Toan Thian Tek?!‖ Cie menegur. Imam itu. Ia kaget akan dengar laporan ada orang cari padanya.. Dia pergi ke muka tangsi. lagi bertarung dengan robongan serdadu. Besok paginya. masih dapatkah kau disebut satu laki-laki?!‖ Saking mendongkol. supaya kelak mereka menjadi orang-orang kosen. namanya Thian Tek. Pertama-tama Toan Thian Tek mesti dicari. tidak berhasil ia mencari Toan Thian Tek. ia lagi periksa Lie Peng. terus ia pergi cari Thian Tek di tangsi. Segera ia melongok di jendela. tidak tahu dimana tidurnya ciehui itu malam itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Siapakah itu perwira atasanmu?‖ ia tanya. mungkin Thian Tek adalah satu komandan yang tak berdisiplin dan doyan pelesiran. Hampir dadanya meledak.‖ Segera Khu Cie Kee atur rencananya. supaya mereka dapat turunan. ―Ciehui tayjin kami. ―Kau hendak memberontak?!‖ ia menegur sambil ia lantas menerjang. telah sambut serangan sesudah ia lemparkan satu serdadu. dia ambil cara singkat saja. Pemeriksaan dilakukan sebab lenyapnya kepala Siauw Thian itu.

Bukan saja pemerintah tidak membuat perlawanan. jeri Thian Tek terhadap pamannya. yang adalah pamannya. tanpa pamitan dari rekannya. Mereka keluar secara diam-diam dari belakang tangsi. Ia menjadi kepala di kuil Kong Hauw Sie itu. Kali ini ia lari keluar kota. hingga ia lantas menyusul ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan itu.‖ Irawan D Soedradjat Page 50 . Malam itu dia bermalam di tangsi itu. Sejak sucikan. Untuk memastikan keselamatannya terus ia bawa-bawa Lie-sie. Pamannya Thian Tek ini sudah lama sucikan diri. serdadu-serdadu membikin banyak berisik. Malah segera ia bekerja. Maka kaget ia akan dapatkan tengah malam itu sang keponakan muncul dengan tiba-tiba. Dia cari tabib tentera untuk obati tangannya itu. rupanya ia telah kompes kedua serdadu pengantarnya. Tepat tengah malam. dengan rajin ia berlatih terus. tapi mendadak terdengar suara ribut-ribut di luar tangsi. aku mohon pertolonganmu…‖ ―Kau tinggal di tangsi tentera. Tapi ia mesti menderita pada tangannya. Thian Tek berkepandaian tidak seberapa. mereka terbirit-birit menuju ke Kong Hauw Sie. Peehu. Thian Tek takut bukan main. sehingga mereka terpaksa mesti mebuka rahasia. Tangsi ini terpernah di tempat sepi. Thian Tek mendusin dengan kaget. siang-siang dia telah karang sebuah alasan. dia pasti dapat susah di tangan pamannya itu. Terus Thian Tek kasih lihat roman sangat berduka. Thian Tek segera tekuk lutut di depan pamannya itu. nama sucinya ialah Kouw Bok. Sebenarnya sudah lama dia tidak berhubungan dengan keponakannya itu. Di luar tangsi. Baharu sekarang ia bisa bernapas sedikit lega. Dia bawa Lie Peng bersama dia. mereka lantas ngeloyor pergi. Di sini ia selamat. sebab ialah dia tidak setujui kelakukan sang keponakan. dia ajak Lie Peng dan barisannya kabur dari belakang tangsi. Kalau perlu nyonya Kwee itu dapat di pakai sebagai tanggungan untuk jiwanya. ―Imam itu kepung-kepung aku hingga tak tahu kemana aku mesti singkirkan diri. Kemana ia mesti menyingkir. Seberlalunya si imam.‖ katanya dengan suara susah dan mesgul. ialah si paman sangat benci bangsa Kim dan sangat sesali pemerintah Song. Cie Kee ikuti kedua serdadu itu. siapa berani perhina padamu?‖ paman itu tanya pula. ia manggut-manggut. ―Baik aku pergi ke paman. dalam hal kecerdikan. aku minta kau suka tolongi keponakanmu ini…. dia ajak barisannya meninggalkan tangsi Wie-ko itu. Tentu saja ia menjadi sangat ketakutan. dia paksa Lie Peng dandan sebagai serdadu. Umpama kata dia bercerita terus terang bahwa ia telah bekerja sama dengan bangsa Kim untuk menawan Kwee Siau Thian dan Yo Tiat Sim. Sebabnya ialah satu serdadu jaga ketahuan lenyap tidak keruan paran. Dan untuk mencegah kecurigaan orang luar. rasanya sakit sekali. ―Keponakanmu telah orang perhina. sebaliknya menteri dan panglima setia dibikin celaka. Terang Khu Cie Kee balik kembali setelah ia tidak berhasil mencari Thian Tek. ia tidak abaikan ilmu silatnya itu. Dia pergi ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan yang komandannya adalah sahabat eratnya. dengan memandang kepada muka ayah. tanpa pedulikan malam buta rata. yang sama martabatnya.‖ dia ambil keputusan. ke tangsi Coan-ciat nomor dua. Dalam ilmu silat.Pendekar Pemanah Rajawali Dua serdadu itu belum mengerti. supaya selamat? Akhirnya dia ingat pendeta dari Kong Hauw Sie. Kepada sahabat itu ia tuturkan halnya si imam jahat. hingga tulang itu mesti disambung. ―Lekas! lekas pergi!‖ Thian Tek membentak.‖ dia menyahut dengan cerita karangannya. ―Aku diperhina satu imam. dia takut pulang. Ia pernah memangku pangkat dalam ketenteraan. ahli waris dari partai Hoat Hoa Cong golongan Selatan. Karena ini. Thian Tek tidak berani berayal pula. yang bekas di cekal si imam. kau memangku pankat. ―Jangan kamu bikin toya gusar!‖ Baharu sekarang dua serdadu itu mendusin. Lengan itu bengkak. disusul sama masuknya laporan halnya satu imam datang mengacau. yang terus hendak kumpulkan tenteranya. ―Mau apa kau datang kemari?‖ sang paman tegur keponakannya. Dia malah menjadi ciang-bun-jin. Dari itu. Sikapnya dingin. mereka bingung. Nyata tulang lengannya patah. tak suka ia bergaul dengannya. ―Peehu. Dia tahu sebabnya kenapa pamannya itu masuk menjadi paderi. si imam tidak berhasil menavri dia terlebih jauh. ―Mari kita bekuk dia!‖ berkata si si komandan. dia melebihi kebanyakan orang. Kouw Bok Hwehio pandai ilmu silat.

keponakanmu celaka. Tapi maksudnya nag paling jelas ialah: Di jaman Song itu. ―Tolong. mengejar terus-terusan. tentera itu bakal membunuh habis semua pembesar dan tentera kita…‖ Kouw Bok lantas saja menjadi gusar.‖ Thian Tek pura-pura merengek. pemerintah mengadakan apa yang dinamakan wa-sia itu di dalam dan di luar kota Hangciu. yaitu paderi tukang layani tetamu. untuk mengikat hati tentera. benar dia…‖ kata Thian Tek. Ia omong terus: ―Aku ada punya satu nona kenalan. tak lama lagi tentera bangsa Kim akan datang menyeberang ke sini. dia mengejar. Ia menghela napas panjang. walaupun ia tahu orang sudah mendusta. Itulah tempat pelesiran serdadu.‖ Kouw Bok mengeluh. ―Dia berani mengatakan demikian?!‖ ―Benar. Penghuni wan-sia adalah wanita-wanita melarat yang tidak punya sanak kandung.‖ Thian Tek adalah satu perwira.‖ Kouw Bok menitah. maka itu dia dipanggil tiang-khoa. ―Dia menjelaskan. Kouw Bok merasa berkasihan juga. hati Kouw Bok tergerak. setelah pemerintahan dipindah ke selatang. ah….‖ kata dia akhirnya. hingga tak perlu aku main gila. . ―Satu pembesar tentera begini tidak punya guna. hari itu aku minum arak bersamanya.‖ ―Apa maksudnya dengan kata-katanya kepala terpisah dari badan?‖ tanya Kouw Bok lagi. 51 ―Dia. ―Tapi kejadiannya benar demikian. dan dia minta Toan Tiangkhoa keluar menemui padanya…. genting utuh. Disana kami bermain-main di Lam-wa-cu di bawah rangon Hie Cun Lauw…. ―Untuk beberapa hari kau boleh berdiam di sini. Lie Peng sudah diancam oleh Thian Tek. ―Diwaktu datang. dia memaksa si nona melayani padanya…‖ ―Mustahil seorang suci pergi ke tempat semacam itu!‖ Kouw Bok menyela.― berkata paderi itu. Thian Tek sudah bangun berdiri. galak dia. belakangan orang berpangkat atau sembarang hartawan pun dapat permainkan mereka. tak dapat aku urus perkara main perempuan kamu ini.‖ Dasar orang suci dan mengingat juga kepada almarhum saudaranya. semunculnya dia. Aku lari. Lebih jauh. lari masuk dengan tegesa-gesa. Thian Tek pura-pura tuli untuk ejekan pamannya itu. dasar tabiatku jelek. Aku turur beberapa kawan. tie-kek-cung. Aku larang kau main gila pula!‖ Thian Tek menghanturkan terima kasih berulang-ulang. Mulanya itu mereka jadi barang permainan tentera. ―Kemarin dulu aku pergi ke barat jembatan Ceng Leng Kio. terpaksa aku lari ke mari. ―gampang berkumpul. ia menemui Kouw Bok dan melaporkannya dengan gugup: ―Di luar ada satu imam. Dia damprat aku. gampang bubar‖. ia tutup mulut.‖ dia menjawab. dan wa-sia berarti ―rumah genting‖. diwajtu pergi genting pecah‖. Lebih tegas lagi bermaksud. ―Aku adalah seorang suci.‖ Thian Tek merintih. ―Panggil Thian Tek. Sayang aku bukan tandingan dia itu. ―Celaka. Nyata dia sangat galak. karena habis jalan. ―Kenapa itu imam kepung-kepung padamu?‖ ia tanya. ―baik. aku tegur dia dan jadi berkelahi karenanya. aku suruh dia pergi. wa-sie itu diambil sebagai arti ringkas dari sebutan.Pendekar Pemanah Rajawali Melihat roman orang. dia adalah paderi dari partai mana?‖ tanya sang paman. Maka itu aku telah singkirkan dia. ―Tolong untuk kali ini saja. Irawan D Soedradjat Page ―Imam itu sangat galak. Lewat lhor itu hari. Tiba-tiba muncul imam itu. Aku minta peehu suka tolongi aku….‖ ―Hm…!‖ sang paman perdengarkan suara di hidung. lekas-lekas dia berlutut pula. Aku tak berani main gila lagi…. peehu. Lam-wa-cu itu diambil dari kata-kata wa-sia. dia katakan aku bakal terpisah kepala dari badanku.

―Ah. lebih-lebih Thian Tek yang mukanya menjadi bengap dan merah. Thian Tek dan tie-kek-ceng menjadi heran. tubuhnya tertolak mundur keras sekali. Thian Tek keluar dari persembunyiannya. terus ia pergi keluar. Ia nampaknya menggeraki tangan dengan perlahan tetapi ia menggunai tenaga dalam. Nampak romannya yang sangat berduka dan menyayangi singa-singaan itu. Celakanya. ia tak mau mengganggu kesujudan banyak orang itu. tidak ampun lagi ia terlempar membentur patung Wie Hok di pendopo itu. ―coba kalau dia tidak berlaku murah.‖ sahut tie-kek-ceng. ia berlaku sabar. dengan seret Lie Peng. Irawan D Soedradjat Page 52 . Ia ingin mendorong imam itu keluar pendopo. ―Celakalah singa-singaan kita itu. Sebagai seorang yang beribadat. ―Singa-singaan itu musnah di tanganmu!‖ katanya. separuh patung pun gempur! Dalam kagetnya yang tak terkira. Lebar tindakannya itu. ―Dia sudah pergi jauh. habis itu dia angkat kaki sambil tertawa haha-hihi. habis mana ia lari keluar. selagi imam itu hendak memaksa memasuki pendopo walaupun paderi penjaga pendopo mencegah padanya. diluar kendalinya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Entahlah dia imam dari desa mana. terpaksa ia berlalu. ―Dia tak bilang suatu apa. tapi begitu ia kena langgar bahu si imam. karenanya tentu saja ia tak dapat dicari. Kouw Bok berpikir. Ia kena langgar daging yang empuk bagaikan kapas. ―Tidak. Cie Kee tidak menjawab pertanyaan itu. kecuali setibanya ia di mulut pintu pekarangan.‖ Kouw Bok lantas mengeluh. celaka…. di hari-hari dari musim semi itu Kong Hauw Sie kedatangan banyak penduduk yang bersujud. nanti aku temui dia. Kouw Bok Hweshio berdiri bengong mengawasi sepasang cio-say. Ia maju mendekati. Setelah mengetahui orang sudah pergi. Kouw Bok insyaf bahwa ia bukan tandingan ini imam. ―Inilah aneh. ia hanya bertimdak masuk.‖ kata tie-kek-ceng. ia tak berani membuka mulut. sebab ia dapatkan kenyataan. Dengan tertawa dingin. ialah Khu Cie Kee. ―Apakah ada sikapnya yang aneh selagi dia hendak berlalu?‖ tanya lagi. ―Dia membuang napas. Keduanya turut lari keluar. dasar aku yang tidak punya guna. ―Sebenarnya tak seberapa ilmu silatnya. Ia lantas bertemu sama si imam. aku tak sangggup lawan dia…‖ ―Baiklah.‖ lanjut muridnya lagi. akan susul Kouw Bok. jiwaku pasti sudah melayang!‖ Thian Tek membungkam. yang muncul di depan gurunya. ―Seorang pertapa perpokok kepada belas kasihan dan murah hati. waktu ia hendak tarik pulang tangannya. dia Cuma bertenaga besar. dia sendarkan diri di dua singa-singaan batu. sudah tentu benturan itu menimbulkan suara yang keras. ia kaget sekali. ia bukan Cuma besar tenaganya…‖ Lekas-lekas ia rangkap kedua tangannya untuk memberi hormat seraya menanya: ―Ada pengajaran apakah maka totiang datang berkunjung ke kuil kami ini?‖ ―Aku datang mencari satu bangsat busuk she Toan!‖ Cie Kee menjawab ringkas. Thian Tek sudah umpatkan diri ke dalam sebuah kamar. hingga ia mesti bekapi mukanya itu.‖ Thian Tek mendusta tak kepalang tanggung. ia telah terlambat.‖ jawab muridnya itu. Kouw Bok lirik tie-kek-ceng untuk suruh muridnya itu antar tetamu tak diundang itu. ―Dia lihay sekali. Ketika itu. ―Apakah dia mengucapkan sesuatu?‖ tanya Kouw Bok setelah berdiam sesaat. kenapa totiang berpandangan sama dengan seorang biasa saja?‖ ia tanya. Di pintu pekarangan.‖ Kouw Bok pakai jubahnya. Cie Kee juga tidak berani menggeledah. penduduk pria dan wanita. ia terus tolak bahu si imam itu. yang usianya tetelah beberapa ratus tahun…‖ Dan tangannya melayang ke muka Thian Tek.‖ mengatakan Kouw Bok. ―Mana dia hanya satu imam dusun!‖ kata Kouw Bok dengan mendongkol. celaka. yang disebutkan tadi. agaknya ia sangat letih. singa-singaan batu.

ia tidak mau percaya sangkalannya paderi itu. Tentu saja ia kaget hingga mukanya pucat. Sayang ia terlambat. Maka itu ia ketemukan Ciauw Bok Taysu.‖ Ciauw Bok Taysu menyatakan akur. pada ini mesti terselip salah mengerti. Ciauw Bok Taysu. Turut penglihatanku. ―Cio-say. ia dekati singa-singaan batu itu. ia berkeras. Ciauw Bok Taysu merasa tidak ungkulan melawan imam itu. Karena ia telah lihat Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya. cio-say. Ia mau percaya. ia pergi minta bantuannya tujuh Manusia Aneh dari kanglam itu. suaranya perlahan dan penuh rasa sangat menyesal. ia raba kepalanya. Pauw-sie pun disembunyikan di dalam kuil Hoat Hoa Sian Sie itu. Sekarang…. ―Coba kita tanyakan keterangannya. aku pandang Cio-sang itu sebagai mustikanya Kong Hauw Sie.‖ Paderi ini hendak suruh panggil Thian Tek tempo Tin Ok peringatkan: ―Ciauw Bok Suheng. Ketika kemudian ia lompat masuk ke dalam pekarangan. Kebetulan ia lihat Lie Peng di dalam tamannya kuil. singa batu itu gempur dan rubuh. ―Inilah takdir…‖ sahut si paderi dengan masgul. begitu ia ingat pada Kanglam Cit Koay. ia tidak sangka yang kawannya Thian Tek adalah satu wanita dalam penyamaran. Thian Tek tahu tidak selamat ia berdiam terus di Kong Hauw Sie ini. Irawan D Soedradjat Page 53 .― Meyaksikan lihaynya Khu Cie Kee. lebih pandai sepuluh lipat daripada aku. Tie-kek-ceng heran.‖ kata Kouw Bok kemudian.‖ ―Kwa Toako betul. maka sekarang. untuk pergi menumpang pada Ciauw Bok Taysu. Ia mengawasi. Oleh karena penasaran. untuk beberapa ratus tahun kamu bercape lelah menjaga pintu kuil ini.‖ ―Benar. tidak berani dia membuka mulutnya. Seperti tanpa merasa. kecurigaannya timbul. maka kalau kita bertempur pula. ―Adikku seperguruan.‖ ―Aku pikir baiklah minta datang dua orang yang kakakmu itu perkenalkan. yang tidak kurang suatu apa. matanya mengawasi pamannya. apa mungkin ia sudi layani kau yang begini hina memperebuti segala bunga berjiwa?‖ Thian Tek kaget. Sampai sebegitu jauh. ketika itu Kaisar Liang Bu Tee telah memanggil tukang yang pandai untuk membuatnya. mestinya jalannya tak sama dengan yang di rumah makan. sepasang cio-say ini adalah barang peninggalan jaman Lam Pak Tiauw. lalu dengan menyewa perahu. Habis menutur Ciauw Bok Taysu menambahkan: ―Telah lama aku dengar Tiang Cun Cu lihay. maka itu mesti kita cari jalan untuk mengerti satu pada lain. Ingat Lie Peng. Paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak menduga apa-apa. ―Yang dikhawatirkan justru salah mengerti ini sukar dijelaskan…‖ kata Tin Ok pula.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kenapa peehu?‖ sang keponakan tanya. Kau tahu.‖ berkata si pederi. malam itu ia ajak Lie Peng berlayar ke Kee-hin. dari itu ia tidak bantah pamannya itu.‖ kata Kouw Bok. ia cuma minta surat perantara. ―Aku memang bekum pernah tanyakan sesuatu kepada mereka. maka aku mau percaya. Tiba-tiba saja. pergilah kamu dengan baik-baik…‖ Kemudian dia berpaling kepada Toan Thian Tek. dia tidak bakal berlaku murah hati lagi. Ia segera tarik pulang tangannya itu. Khu Cie Kee ingat Pauw-sie. dia seperzi bukan hendak mengacau.ah!‖ Ia menghela napas panjang. Ia awasi cio-say itu. Pastilah dia menyangka kita telah bekerja sama dengan pihak Kim. kepada suteeku itu. ―Pergilah kau kesana. ―Aku keliru sudah menyalahkan kau…. ia terima mereka itu menumpang. bertumpuk bagaikan puing. ―Luar biasa sempurnya tenaga dalam dari imam itu. sampai setiba Tiang Cun Cu dengan jambangan araknya yang istimewa itu. Thian Tek masih tidak mengerti. ―Eh…kenapa jadi beini…? katanya. begitu kena diraba. Demikianlah mereka berkumpul di restoran Cui Sian Lauw. Kouw Bok menghela napas pula. Keras adalah hatinya Khu Cie Kee. ―Cio-say ini telah dirusak si imam dengan menggunai tenaga dalamnya…‖ katanya. ia pergi tolak tubuh cio-say yang satunya lagi. Lie Peng sudah disembunyikan Thian Tek dalam ruang bawah tanah. mungkin imam itu menyusul kita. Karena ia telah lihat Lie-sie dengan matanya sendiri. mungkin dia sanggup melayani imam itu. Ia berkata pula: ―Dia demikian lihay.‖ Kim Hoat menyarankan. Tiba-tiba saja ia menjadi kaget. ia berhasil menyusul Thian Tek. kuping dan hidungnya cio-say itu runtuh jatuh. sekarang kita dapat buktikan itu. ia minta supaya Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya.

melatih keuletan diri dengan tidur sambil mencicipi nyali yang pahit. Cambuk Naga Emas bukannya melilit tangan. Pada suatu hari ia kedatangan satu gadis yang cantik. dengan itu ia lompat menikam bebokong imam itu. Di jaman dahulu. dari pinggangnya. Justru ia melengak itu. Ia menjadi sangat girang. mari kita maju lebih dahulu!‖ Ho Po Kie teiaki adiknya. ―Delapan orang lawan satu orang. si imam juga bebaskan diri dari ujung pedangnya si nona. suara itu lalu mengaung. yang bernama Kouw Cian. Kali ini ia berhasil. tangan kirinya yang menyambar. di situ kedua negara biasa berperang.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kalau terpaksa kita maju berdelapan…‖ Cu Cong turut berbicara. sambil di lain pihak melayani Han Po Kie. si imam datang!‖ seru Kwa Tin Ok. ia perbaiki. yang pandai sekali mengatur tentera. negeri Gouw dapat dimusnahkan. Oleh karenanya.‖ kata Coan Kim Hoat. Penambahan ini penting untuk si nona. Seperti terlihat Khu Cie Kee. Ia dan adiknya itu memang yang paling aseran diantara Cit Koay. sambil ia melompat. melainkan kita menghendaki dia sabar mendengarkan penjelasan Ciauw Bok Taysu. Mendapatkan adik angkatnya terancam bahaya. sedang menggempur genta di toa-thian itu. Ia pun lantas tarik Kim-liong-pian. Kota Kee-hin adalah tapal batas kedua negeri Gouw dan Wat itu. sampai jambangan perunggu itu retak. Siauw Mie To si Buddha tertawa terus-terusan mengoceh tidak karuan juntrungannya. Lam Han Jin dan Thio A Seng maju dengan berbareng. yang pandai ilmu silat pedang. Lincah sekali caranya ia berkelit. hendak ia merampas pedang si nona. panglima sangat tangguh dari negeri Gouw itu. itulah tidak benar…‖ menyangsikan Han Po Kie. mereka telah dikagetkan suara keras yang datangnya dari toan-thian. yang sekarang dipunyai Han Siauw Eng. Cepat sekali Khu Cie Kee ketahui ilmu silat pedang si nona. Dia menyerang beberapa kali. pendopo besar. ia ulangi serangannya. untuk membinasakan panglima dan merubuhkan kuda perang. Berdelapan mereka memburu ke depan. sampai ia terdsak mundur ke tepinya patung Buddha. Khu Cie Kee tidak menjadi gugup. ia minta si gadis ajari ia ilmu silat itu. Kalau Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan bungkam mulutnya. yang satu geraki pikulannya yang istimewa. Ia kembali gagal. ―Aku pikir tak apa. karena ia berkecimpung di dunia kang-ouw -Sungai Telaga – sedang raja Wat pakai ilmu itu dalam peperangan. yang lain mainkan ―golok jagalnya‖ yang ujungnya lancip. dengan jambangan arak di tangannya. Raja Wat. negeri Gouw bermusuh dengan negeri Wat. Di pihak lain Han Siauw Eng sudah hunus pedangnya. hingga Khu Cie Kee tak ketahui apa yang diucapkannya. Karena ini ia membuat si nona Han menjadi repot. hanya kali ini disusul sama campuran suara rengatnya barang logam. Untuk dapat menelan negeri Gouw itu. beberapa kali Han Siauw Eng menghindari nacaman bahaya. ―Nah. ia membuat terbitnya suatu suara nyaring. Sayang untuknya. kakinya Cie Kee melayang.‖ ―Apakah nama kita tidak bercacat seumpama tersiar diluaran Ciauw Bok Taysu bersama Kanglam Cit Koay mengepung satu orang?‖ Han Siauw Eng pun bersangsi. ditambah hingga menjadi empatpuluh sembilan jurus. ia mesti menghadapi Ngow Cu Sih. yang tajam mengkilap. Ia menjadi sangat tidak puas dan berduka. mengalun. ia tidak menyangka orang akali padanya. A Seng berkelit seraya melengak. Tiang Cun Cu mendesak Siauw Eng. dia mencoba melilit lengan si imam yang memegang jambangan. Diserang dari depan dan belakang. Berbareng dengan itu. Ilmu silat itu asalnya tigapuluh enam jurus. di tangan nona Han. dengan satu gerakan tangan kanannya. Sikap kedua saudara ini sangat berbeda satu sama lain. beruntun beberapa kali. orang kang-ouw juluki si nona Wat Lie Kiam – Akhli pednag Gadis Wat – Begitu lekas mengenali ilmu silatnya si nona. Lagi sekali mereka dengar suara nyaring seperti tadi. hanya menghajar jambangan perunggu itu. Suara itu seperti suaranya dua genta beradu keras. Belum putus pembicaraan mereka. ―Citmoay. Segera si imam serang tukang pentang bacot itu. tepat Irawan D Soedradjat Page 54 . dengan sabetan ―Naga hitam menggoyang ekor‖. Oleh karena disitulah tersiar luas perihal ilmu pedangnya si gadis Wat itu. dengan satu egosan tubuh. Siauw Eng menjadi penasaran. ―Kita tidak berniat binasakan dia.cambuk Naga Emas.

juga dengan kepalan. ingin ia lekas-lekas menyudahi pertempuran itu. ―Totiang. Totokan ini bukan untuk menolongi Thio A Seng. Walaupun begitu. sedang Biauw Ciu Sie-seng si Mahasiswa Tangan Lihay. Cie Kee memang menyerang dengan hebat sekali. maka dua kali kepalannya A seng membuatanya jambangan itu bersuara nyaring. diturut oleh kakak angkatnya itu. menampak ancaman bahaya. Menampak demikian Coan Kim Hoat tapinya menjadi penasaran. jangan turunkan tangan kejam!‖ Ciauw Bok Taysu berseru dalam kegelisahannya yang hebat. Beruntun tiga kali. ialah tubuhnya tidak mempan senjata tajam. ia berlompat menotok jalan darah soan-kie-hiat dari Tiang Cu Cu. ―Biarlah!‖ dia berseru. setelah ia menganca. Ia khwatir juga. ―Tuan-tuan tahan! Dengar. Thio A Seng ada punya ilmu kedot. gaetan dan gembolan. ―Bagus!‖ Tiang Cun Cu puji lawannya ini. Untuk membalas menyerang. ia menyerang lawannya. Tidak ampun lagi. yang pandai ilmu menotok. yang telah menjadi korban. Malah Khu Cie Kee perdengarkan seruannya: ―Kawanan pengkhianat tidak tahu malu. Cu Cong kaget bukan kepalang. sayang! Sayang apanya?!‖ tegaskan Siauw Mie To ―Sayang ilmu silatmu yang sempurna ini!‖ sahut Cie Kee sambil ia layani terus musuh-musuhnya. Tapi ia salah menaksir ketangguhannya sendiri. imam bangsat. dan ia sambuti serangannya si imam untuk keras lawan keras. kau ngaco belo!‖ mendamprat A Seng sangking murkanya. Genggamannya Lauw-sie In Hiap adalah sebatang bacin. dengan jari-jari tangan terbuka. musuh bangsa Kim. hanya guna mencegah si imam ulangi serangannya yang lihay itu. ia manjadi nekat. Ciauw Bok Taysu menjadi bergelisah menyaksikan jalannya pertempuran itu yang makin lama jadi makin hebat. yaitu alat peranti menimbangan barang. ia sudah lantas pernahkan diri. Disana masih ada dua musuh segar Kwa Tin OK dan Ciauw Bok Taysu – inilah berbahaya untuknya. Biauw Ciu Sie-seng merasa tidak enak karena berempat mereka mengepung. lihat!‖ Dan lantas ia mendesak dengan serangan tangan kirinya. ia lompat menerjang. hendak aku bicara!‖ Dalam waktu pertempuran yang hebat itu. dengan tangan kanan! Sebab sebat sekali. sebab Siauw Mie To tengan terdesak. Ia merasa A Seng tidak akan luput dari bahaya. ia membalas menyerang dengan tangan kirinya. ia mengatakannya: ―Sayang! Sayang!‖ ―Eh. karena dengan itu ia lebih banyak membela dirinya. dengan kipasnya senantiasa mencari jalan darah lawannya. sebagai tameng. Mana ia mau mengerti dikatakan menakluk pada musuh. Satu serangannya yang mengancam Thio A Seng hebat sekali.Pendekar Pemanah Rajawali mengenai lengannya. Ia berkelit untuk serangan membalas sambil berkelit. maka itu senjata bisa dipakai berbareng sebagai toya. akan tetapi untuk dua serangan yang belakangan. goloknya terlepas dan melayang. lama-lama nanti ia kalah ulet. dengan memberi tanda kepada kakaknya yang kedua. ia merasa bahwa ia telah mesti menggunai tenaga banyak. karena ia biasa berlatih mengadu tenaga dengan kerbau – sudah dagingnya keras dan kulitnya pun tebal. ia pasang jambangan itu sebagai sasaran. Irawan D Soedradjat Page 55 . ia tetap mainkan jambangannya sebagai senjata. lengannya itu terhajar patah tangannya Khu Cie Kee. ―Tahan! Tahan!‖ ia berseru-seru. tidak ada orang yang sudi dengar cegahannya itu. nyatanya mereka berada di bawah angin. ia menangkis dengan jambangannya. Ia lihat ia dikepung berenam. Dia akhirnya tidak dapat bersabar lagi. Kekebalannya itu ditambah sama tenaganya yang besar. ―Kau begini lihay tetapi kau rendahkan dirimu dengan jalan menakluk kepada musuh negara!‖ ―Hai. Jikalau mereka ini meluruk juga? Dari itu. Atau lebih benar. Tendangan itu mendatangkan rasa sakit dan akget. sebagai jago ia tidak menghiraukan pedangnya yang terbang malah membarengi itu. Khu Cie Kee tidak peduli ia dikepung berenam. Keduanya maju dari samping. Maka itu. Di antara satu suara keras. Cie Kee melawan sambil berkelit. ia pakai tangan kirinya yang bebas yang tidak bersenjatakan apa juga. dalam hal ini.

dia lihay. yang berkelit. Di kanan ialah bagian ciat dan sun. Selagi melejit. Jeritan itu menandakan adanya dua korban! Jitu serangan Tin Ok kali ini. meskipun sebenarnya ia tidak menghendaki pertempuran. Ia perhatikan suara anginnya. Sekarang ia menimpuk berbareng dengan empat buah senjata rahasianya itu. bagus! Sekarang serang beng-ie!‖ Setiap kali ia berseru. lalu kedudukan siauw-ko!‖ Menyusul anjuran itu. Menyusul tarikannya itu. Karena itu dengan berbareng dua orang perdengaran jeritan kaget. Kwa Tin Ok tidak dapat berdiam terlebih lama lagi. suaranya makin lemah. Ia tidak lolos dari semua empat lengkak. Coan Kim Hoat teriaki dia: ―Toako. Lauw-sie In Hiap sendiri terancam lukanya. guna menhajar batok kepala lawannya itu. Ia lolos dari gempuran kepada batok kepalanya. Yang satu menuju ke alis dan yang lain ke paha kanan sebelah dalam. Ciauw Bok Taysu dan Han Siauw Eng menyerang dari kanan. Ia juga tidak gunai satu-satu biji lengkak sebagaimana bermula tadi. Atas itu. ia ulangi serangan-serangannya yang dikhawatirkan Biauw Ciu Sieseng. Untuk cegah Lam Hie Jin dan Cu Cong. yang satu mengenai pundak kanannya. Coan Kim Hoat sudah berseru-seru pula: ―Hajar tionghu. kedua senjata rahasia itu – thie-leng. ia melainkan tidak sempat membalas menyerang. untuk hampiri si imam. hingga ia lantas saja rubuh terguling. Kalut kedudukan mereka. Dengan tidak kurang bengisnya. ia kena tertipu si buta. ―Dia buta tetapi dia bisa mengincar dengan tepat.Pendekar Pemanah Rajawali Khu Cie Kee memang tidak berhenti sampai disitu. tubuhnya terbetot. Cie Kee terlalu perhatikan tongjin. setelah mana. Coan Kim Hoat lompat melejit. Cuma ini jalan untuk tolongi saudara angkat mereka itu. hajar lie! Bagus. biar ia tidak terluka. atau lengkak besi – jatuh ke lantai. Cie Kee pun berkelit dari anggota tongjin sebagaimana diteriaki Kim Hoat. Tidak dapat Kim Hoat pertahankan diri. semua sebab hampir berbareng. tetapi semakin lama. kakinya si imam kena sambar pinggangnya. ia tidak dapat tinggal peluk tanagn terlebih lama pula. adiknya yang kelima dan yang keenam. Keduanya apungi tubuh mereka. bagian hong dan lie. Cie Kee terkejut. Han Po Kie dan Han Siauw Eng kaget tidak terkira. setiap kali juga lengkak besi dari Kwa Tin Ok menyambar. makin perlahan. ia dapat menunjuki sasaran kepada toakonya. Setelah turun tangannya paderi itu. ―Dia hebat sekali!‖ pikirnya. yang menyerang ke lain jurusan. Ciauw Bok Taysu lihat keadaan hebat. tidak terdengar suaranya sama sekali. dan di kiri. Begitulah ia maju denagn sepotong kayunya yang mirip ruyung. ia dapat bersedia setiap kali Kom Hoat perdengarkan petunjuknya. yang mereka terjang dengan berbareng. Ia menotok ke bawah ketiak. Berbareng dengan itu. yang berada paling dekat. yang ujungnya hitam hangus. tidak dapat lantas bangun. ia juga layani paderi itu. Rupanya ia anggap belum cukup dengan korban Thio A Seng itu. Bukan anggota tongjin yang ia incar. suara beradunya setiap senjata. hingga orang tidak tahu dia masih hidup atau sudah mati… ―Serang! Serang!‖ Coan Kim Hoat masih bersuara lagi. mirip lengkak tetapi ujung tajamnya ada empat. dia toh tidak kalah. Sebenarnya ada sulit walaupun ada orang luar yang memberi petunjuk menurut garis-garus patkwa…‖ Ia lihat datangnya dua serangan itu. Sebagai seorang yang cerdik dan gesit. ―Dia ahli menotok. pada itu tercampur rintihan juga. Imam ini lihay. Irawan D Soedradjat Page 56 . kau gunai thieleng! Hajar dulu kedudukan cin. maka setelah suara ting-tong. dua rupa senjata rahasia menyambar sar! ser! kearah si imam. ia sungkan turun tangan.‖ pikir Khu Cie Kee. Mesti begitu. dan beda dengan dia adalah Thio A Seng. Thie-leng adalah senkata rahasianya Hui Thian Pian-hok. Maka sebentar saja belasan lengkak telah membuatnya Cie Kee terpaksa main mundur saja. hanya kedua bagian kiri dan kanan dari tongjin itu. ―Hajar tongjin…!‖ Yang terakhir ini Kwa Tin Ok tidak turuti tetap sasarannya Kim Hoat itu. Khu Cie Kee ayun terus tangan kirinya. Kim Hoat itu adalah saudara angkat mereka. ia tidak lolos seluruhnya. hingga ia menjadi kaget dan menjerit karenanya. Ia buta tetapi ia tahu dua saudaranya telah rubuh. dacin itu terus ditarik dengan keras. Yang mereka sayangi sebagai saudara betul. Di saat ia hendak gerakkan tongkat besinya. ia mandi keringat. ia menangkis dengan jambangannya. Khu Cie Kee mesti berkelit. Mau tidak mau. ia tolak jambangannya ke arah mereka itu. Segera juga terdengar jeritannya Coan Kim Hoat. kuda-kudanya gempur. Batu dacinnya Lauw-sie In Hiap telah kena disambar oleh si imam.

ia lari kepada itu kakak. Selagi nona ini maju menyerang. maka tidak ada obat lagi untuk menolong. sambil pasang kuda-kudanya. tanpa sangsi lagi. muka siapa ia hajar. dikasih turun. lama-lama sang racun akan bekerja mencelakai ia. hingga genggamannya terlepas dan jatuh ke lantai. ―Kau tidak boleh bergerak sedikit juga. terus ia muntahkan darah hidup! Cie Kee telah dapat melukakan lawan yang menghalangi ia. ―Ke mana kau hendak lari?!‖ bentak Tiang Cun Cu yang terus tolak tangan kanannya. begitu jeras. Ketika mulut jambangan tiba di lantai. ia hunus pedangnya. jangan lari!‖ Tin Ok teriaki. yang dilarang lari. Han Siauw Eng tahu senjata rahasia kakaknya ada racunnya. Berayal sedikit saja. sebaliknya. ―Toako!‖ ia memanggil. ia tidak perhatikan itu. Siapa terkena senjata rahasia yang beracun itu. justru ia lagi ketakutan. ia baru sadar kapan ia dengar teriakannya Tin Ok kepada Siauw Eng. menyerah!‖ Kwa Tin Ok teriaki lawan itu. ia tidak batalkan serangannya. ―Lekas kau rebahkan diri di taman belakang. kerena mana meski ia bertenaga besar. kalau sampai itu terjadi. ia merasakan pundaknya sedikit kebas. hingga tubuhnya si Tukang Kayu dari Gunung Selatan menjadi tergetar dan kedua tangannya dirasakan sangat sakit. ia lantas damprat dirinya sendiri. Niscaya sekali ia menginsyafi bahaya yang mengancam dirinya. akibat lainnya menyusul. ―Tenangi hati. Ia lantas lompat mencelat ke arah genta. Inilah yang membikin ia kaget. lengkaknya sudah nyasar di tubuh adik bungsunya itu. Ia jadi berkhawatir. benar sementara itu ia cuma merasai sakit sedikit. Sekarang ia merasakan bahwa jambangan di tangannya itu menjadi berat. selagi dia ini belum tiba di lantai. ―Citmoay. kedua matanya kabur. ia menyapu kepada Han Po Kie yang maju untuk serang padanya. Han Po Kie tidak sempat berdaya untuk membalikkan jambangan itu. ia terus lari ke belakang. si cebol kena ketutup! Setelah itu Cie Kee lepaskan tangannya dari jambangan itu. Lantas ia menduga bahwa senajata rahasia itu ada racunnya. ia pengkeratkan tubuhnya. untuk membabat rantai gantungannya. Dengan tiba-tiba ia rangsak Lam Hie Jin. lengkak yang mengarah bagian sun tepat mengenai pundaknya tanpa ia ketahui atau dapat berdaya mengelakkannya. ia keluarkan sebutir pil kuning. Irawan D Soedradjat Page 57 . genta jatuh menimpa jambangan. di tanah!‖ kakak ini beri petunjuk. Sebab telapakan tangannya pecah dan mengeluarkan darah. ia sendiri pun rasai pundaknya semakin kebas dan kaku. Kau mesti tunggu sampai aku datang untuk mengobati!‖ Sebenarnya Siauw Eng keras kepala. Kwa Tin Ok kaget berbareng girang. begitu rantai putus. Tidak begitu saja. sekalian diputar. tetapi ia dengar kata. Ia girang sebab ia dengar suaranya si imam.Pendekar Pemanah Rajawali Jeritan yang lain dikeluarkan oleh Han Siauw Eng. untuk keluar dari kurungan. Maka sambil membentak keras. ia tidak mau singkirkan diri. racun bisa mengikuti jalan darah segera menyerang ke ulu hati. Karena ini ia lantas tak berani melanjuti pertempuran itu. jalan perlahan-lahan saja!‖ Siauw Eng mendusin. Maka ia lantas berjalan dengan berpalahn tetapi tetap. Cie Kee terkena senjata rahasia. Si cebol lari berkelit. Sementara itu pucat mukanya Khu Cie Kee. dia tidak boleh keluarkan tenaga. Khu Cie Kee tahu maksudnya lawan itu. Itulah gerak ―Tiat so heng kang‖ atau ― Rantai besi dilintagi di sungai‖. ―Lekas lemparkan pedangmu. ia melangsungkannya. ia lintangi pikulannya di depan mukanya. Maka pikulannya Hie Jin kena terhajar. Lam San Ciauw-cu lihat bahaya datang. berbareng tangan kirinya menolak tubuh genta itu yang beratnya mungkin ratusan seribu kati. mulutnya manis. Dengan begitu. Tin Ok lantas rogoh sakunya. Hie Jin lantas merasa tubuhnya enteng. peluhnya lantas turun menetes. sehingga ia tidak bisa berkelit. Dengan senjatanya itu hendak ia sambut pukulan musuh. dengan lantas ia jejalkan itu ke mulut adiknya. Untuk tolong diri. ―Jangan lari. jambangannya jadi menungkrap dari atas. Ia tahu. menyambar si cebol itu. lekas kemari!‖ ia memanggil. Justru itu. jiwamu bakal tidak tertolong!‖ Si buta ini merasa pasti mengenai lawannya itu. ia dengar teriakannya kakak itu.

Cu Jieko. Keras kedua senjata beradu. ia melompat ke depan. itu tambur teroktok peranti mambaca doa. Ia dekati imam itu. ia lantas pindahkan pedangnya ke tangan kiri.Pendekar Pemanah Rajawali Cie Kee tidak mau serahkan diri. ujung pedang Cie Kee mengenai iga kanannya hingga ia kaget dan menjerit. Sampai keadaan sunyi. Dengan tangan kiri ini. Cu Cong tidak melayani. si buta itu. baru mereka keluar dari tempat persembunyian mereka. lekas-lekas ia pusatkan semangatnya. menyerah berarti celaka. ia menangkis. Ia geraki kipasnya untuk menotok jalan darah di dada si imam. yang rebah diam saja.. Tin Ok dengar anginnya senjata. dari itu selama pertempuran mengambil tempat. mereka lantas pergi mencari Toan Thian Tek. Tapi Tin Ok dan Cu Cong merintangi padanya. Mereka jadi ketakutan. Bab 6. belum lagi tubuh itu tiba di tanah. dengan berlaku nekat ia tetap berbahaya. Cu Cong dan Ciauw Bok terarah semua bagian tubuhnya yang berbahaya. tubuhnya terus terguling! ―Bekuk dia dulu. Dengan ini. takutnya bukan main. ia masih khawatirkan tidak ada Khu Cie Kee di antara korban-korban itu. ia menikam. Cie Kee belum pernah menemui lawan setimpal. Kali ini. batok kepalanya telah terpukul keras. ia berhenti mengejar. Paderi-paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak mengerti ilmu silat. inilah pertama kalinya. Ia percaya. Ia Irawan D Soedradjat Page 58 . ia insyaf kenapa ia kalah kuat. tubuhnya pun terhuyung! Cu Cong yang cerdik itu telah timpuk imam itu dengan sepatunya. Sembari berlari. ia bersilat dengan ilmu silatnya ―Kie Siang Kim-hoat‖ atau ―Melukai Semua‖. Cie Kee terjang musuhnya. Tiba-tiba ia rasai matanya kabur. Maka sambil menghela napas. Maka ia putar pedangnya. Segera juga Kwa Tin Ok. ia mau membuka jalan. Baharu belasan jurus paha Tin Ok telah tertikam pedang. Cie Kee merasai pikirannya kacau tetapi kembali ia memusatkannya. Justru itu. ia merasakan dorongan suatu tenaga keras sekali. darah pun berhamburan. dengan ―melukai semua‖ hendak diartikan ―mati bersama‖. Mendadak bebokongnya mengasi dengar suara keras! Ia merasa sakit sekali. tubuhnya rubuh seketika! ―Imam anjing!‖ Cu Cong mencaci. Sekarang ia baru ingat untuk angkat kaki saja. baru kita bicara!‖ berseru Cu Cong. Tidak peduli tenaganya kurang. Maka repotlah mereka membuat perlawanan. mendelik sepasang matanya. ―Sudah. ―Imam bangsat! Racun ditubuhmu telah menyerang hatimu! Kau tikamlah pula tiga kali!‖ Bangkit kumisnya si imam. Dia hampir membikin terlepas pedangnya. Inilah ilmu silat yang sejak ia yakinkan belum pernah ia pakai untuk melawan musuh. ujung pedangnya menikam ke arah muka. ia melompat kepada Manusia Aneh yang kedua itu. mereka juga tidak tahu bahwa guru mereka mengerti ilmu itu. Tidak urung. Ia menginsyafi bahaya. mereka semua pada sembunyikan diri. dengan cepat ia menangkis dengan tangan kanannya. ―Kwa Toako. Cie Kee insyaf bahwa tak dapat ia menyandak lawan itu. Oleh karena ini. lalu Cie Kee menjadi kaget sekali. di sebelah musuh ia sendiri pun bisa celaka. akan tetapi ketika kakinya menyentuh tanah. sudah. tanpa bilang suatu apa. ia hanya berlari-lari berputaran di pendopo kuil. Nyatanya luka di pundaknya itu menyebabkan tenaganya jadi berkurang hingga separuhnya. ia memikir untuk mengalah tetapi justru ia serukan kawannya. hari ini Tiang Cun Cu mesti terbinasa di tangannya bangsat-bangsat licik…‖ ia mengeluh. cukup keras timpukannya itu. ia sudah muntahkan darah hidup! Cie Kee telah gunai tenaganya yang terakhir untuk serang lawannya itu. biarkan si imam berlalu!‖ berseru Ciauw Bok Taysu. Orang she Toan itu terus sembunyi di dalam ruang dalam tanah. Ia menahan sakit. Sejak turun gunung. Ia penasaran. Dengan menggunai ini ia telah menjadi nekat. tubuhnya terpental ke belakang. kedua kakinya itu lemas. ia kaget. Paderi ini lihat ancaman bahaya. Ia pun mulai terhuyung. maka lagi sekali. Tiba-tiba ia lihat tangan kiri Cie Kee bergerak. ―Lihay tenaga dalam si buta ini! Mungkinkah ia melebihi aku?― pikirnya. tetapi terlambat. Kali ini Cu Cong menimpuk dengan bok-hie. Tempo ia diberitahu orang telah pada rubuh semua. Pengejaran Tidak ada jalan lain. akan saksikan segala apa kacau dan orang rebah di sana sini.

Ia merasakan sangat sakit. mukanya kena terhajar hingga rontok ziga buah giginya. Di situ ada beberapa kacung paderi. tanpa ingat budinya Ciauw Bok. hatinya menjadi ciut. yang lainnya mengigit. dengan kejam. ―Binatang ini telah jual aku. kemudian barulah ia keluar. ia jadi kalap. tahan!‖ Tidak ada orang yang kenali Lie Peng. Tiang Cun Cun. hatinya mencekat. mereka ini kaget. tapi suaranya sangat lemah. Satu kacung langsung tubruk Thian Tek untuk tarik lengannya. Thian Tek berkelit tetapi ia terlambat. ―Letaki golokmu…!‖ Thian Tek tertawa tergelak. ―Kenapa?‖ Thian Tek tanya. sekarang hendak aku kirim kau pulang ke Langit Barat!‖ ia kata. Ciauw Bok dan Kanglam Cit Koay adalah orang-orang yang lihay. hatinya lega. Maka itu sembari menghela napas. ia lari keluar kuil. Thian Tek cabut goloknya. dengan sisa tenaganya ia timpuk Thian Tek dengan sepotong kayu di tangannya. ia arahkan ke kepalanya si imam. akan tetapi di saat seperti ini. Maka itu bukan main menyesalnya ia untuk kealpaannya itu. Ia rebah dengan terluka parah tapi ia dapat lihat perbuatan si keponakan murid. ―Dia adalah satu imam yang baik…‖ sahut Ciauw Bok. ―Dia Cuma berhati keras… Di sini telah terbit salah mengerti…‖ ―Orang baik apa!‖ kata Thian Tek. segera ia pun sadar. Imam itu masih belum putus jiwanya. Cuma Tin Ok. dia berkata: ― Ciauw Bok Hweshio. maka tubuhnya rubuh dengan kepala pecah. dia membikin aku mencelakai sahabat-sahabatku. ―Kau…kau hendak lagi membunuh orang!‖ tanyanya. Dengan tarik tangan Lie Peng. ia bernapas berlahan sekali. walaupun suaranya nyaring. tubuh siapa dia dupak. ―Kau tidak mau dengar perkataanku?!‖ dia membentak. justru jiwa mereka sendiri terancam bahaya. dia tahu pasti orang adalah seorang wanita. Thian Tek gusar bukan kepalang. ia lompat kepada Thian Tek. ―Dia perlu dibunuh dulu…!‖ Ciauw Bok menjadi gusar.!‖ Ciauw Bok terkejut. Toan Thian Tek kaget. mendengar suara orang. ―Kau ingin aku meletaki golokku? Hahaha!‖ ia tertawa mengejek. tepat mengenai tiang pendopo. dari itu dengan sambar tangannya Lie Peng. ―Jangan….jangan bunuh dia…!‖ berseru Ciauw Bok Taysu. Dengan mendadak Lie Peng berteriak. Ia kerahkan tenaganya dengan kedua tangannya menekan lantai. Ini nyonya tetap mengenakan seragam.Pendekar Pemanah Rajawali suruh dulu sat kacung paderi untuk melihatnya.‖ katanya dalam hati. dengan dua bacokan ia bikin kedua kacung itu rubuh. manusia jahat. mereka Cuma bisa membuka mata menyaksikan kejadian hebat itu. Thian Tek pergi cepat-cepat ke pendopo. Irawan D Soedradjat Page 59 . Ia ayunkan pula goloknya. Ia bukannya seorang tolol. Ia lantas hampirkan Cie Kee. dengan cepat. lalu ia ayunkan goloknya. Orang she Toan itu tidak menangkis. Lie Peng berteriak-teriak pula: ―Hai. kami semua telah kau aniaya! Benar saja di dalam kuilmu ini kau ada sembunyikan orang perempuan…. Ia telah diberitahu si imam lagi rebah diam dengan kedua mata tertutup. dia hanya menyingkir sambil egos tubuhnya. Ciauw Bok Taysu juga gusar bukan main. orang sangka ia adalah serdadu sebawahannya Thian Tek. ia lantas menyerang. Hampir ia pingsan saking kerasnya ia melawan kemendongkolannya. kau kejar aku hingga aku bersengsara. ―Imam bangsat. Tubuh paderi itu lewat terus. tubuh itu tidak berkutik lagi. walaupun ia buta.

tiba-tiba mereka dengar suara apa-apa dari arah genta. disatu pihak ia ajukan pengaduan kepada pembesar negeri. semua orang duduk berkumpul dengan dirundung kemasgulan hingga mereka pada berdiam saja. aku tidak mau pergi….Pendekar Pemanah Rajawali ―Tolong! Tolong!‖ Lie Peng berteriak-teriak. Selang beberapa hari. mana kau melihat mata kepada kami!‖ katanya tawar. akan tolongi orang-orang yang terluka. Ia sendiri pun bukan main masgul. hingga mereka kaget. ―Jangan!‖ Tin Ok mencegah. sekarang kau perlu rawat dulu saudara-saudaramu yang terluka. ―Nanti ada ketikanya untuk menghukum dia. ia sendiri memberi keterangan pada Po Kie perihal jalannya pertempuran. akan tarik genta itu untuk dibikin terbalik. tentang Toan Thian Tek dan si wanita yang menyamar sebagai serdadu. semuanya telah dapat bangun dari pembaringan. hingga suaranya tidak terdengar lagi.‖ Po Kie dapat dibikin sadar. untuk sabarkan padanya. Paderi pengurus dari Hoat Hoa Sian Sie telah bekerja. kita sekarang rubuh di tangannya satu kurcaci. Kemudian belasan paderi itu menggunai dadung. Kuil itu menjadi berisik. ―Totiang berkenamaan dan kami pun bukannya orang-orang yang masih hijau. Coba ia tidak turuti hawa amarahnya dan berbicara dengan tenang sama Ciauw Bok. ia mengeluarkan napas lega. apa kata kaum kang-ouw bila peristiwa disini sampai tersiar? Tidakkah itu sangat memalukan? Tolong Totiang tunjuki kami bagaimana kami harus berbuat. di lain pihak ia kirim kabar pada Kouw Bok Taysu di Kong Hauw Sie. setelah mana mereka dapatkan satu tubuh tergelumuk menggelinding keluar. hingga ia berkoak-koak. ia lantas bangkit berbnagkit untuk menjura kepada tujuh saudara itu. hingga selang beberapa hari. mereka lari serabutan.‖ dia bilang. Tin Ok tertawa dingin. aku mohon maaf. ia panggil Po Kie. Po Kie lantaa rawat semua saudaranya itu.‖ ―Kwa Toako. ―Tidak. Pada suatu hari. ia pun uruti mereka. Irawan D Soedradjat Page 60 . kau saja yang bicara. menyesal dan mendongkolnya. Jenazahnya Ciauw Bok Taysu pun lantas diurus. ia sadar. ―Nanti aku susul dia!‖ teriak Po Kie sangkin gusarnya. Cuma Tin Ok yang diam saja. yang kena ditikam kakinya hingga tak dapat dia berjalan dengan leluasa. ―Totiang biasa malang melintang. Ia pun keluarkan obatnya untuk suruh satu paderi pergi obat Khu Cie Kee dan Han Siauw Eng. Mereka kaget. ia lantas obati Tin Ok semua. Kwa Tin Ok masih sadar walaupun ia terluka. ―Pinto sangat menyesal. ―Totiang. hingga Ciauw Bok Taysu menjadi korban. Mereka pun menjadi repot. Thio A Seng patah lengannya. Cu Cong semua membalas hormat. ia tidak terancam bahaya. Cie Kee mengerti ilmu obatobatan. Ia memangnya polos.‖ kata Cie Kee menyahuti si nona. Ia heran dan kaget saksikan pendopo itu. Mereka menyesal sekali sudah jadi korbannya Toan Thian Tek. Ia memang aneh tabiatnya. hingga ia tak mampu keluar dari jambangan dan genta itu. ― Tentang ini untuk apa kau menanya pula kami…‖ Cie Kee tahu orang masih mendongkol. bagaimana sekarang?‖ Siauw Eng tanya Khu Cie Kee. Selagi mereka bekerja. ia berpura-pura tidak tahu. Cie Kee dan Siauw Eng telah dapat ditolong dari racun. terutama dirinya sendiri. setelah pingsan. Tubuh bergelumbuk itu sudah lantas lompat bangun. Ia merasakan kesembronoannya. guna pindahkan mayat. Hangciu. semua paderi menangis karena kebinasaan guru mereka. Ia malu sekali yang ia bertujuh saudara kena dikalahi Cie Kee. Ia bukan lain daripada Ma Ong Sin Han Po Kie yang tadi kena ditungkrap Khu Cie Kee. peristiwa celaka itu pasti dapat dicegah.!‖ Tapi ia ditarik terus. Cu Cong dan Lam Hie Jin adalah yang terluka paling parah.

―Tahan!‖ Tin Ok berseru. kenyataannya adalah pinto telah rubuh. nama mereka jadi menggemparkan dunia Kang-ouw. ―Aku masih ingin menerima pengajaran dari Totiang!‖ Kanglam Cit Koay gemar melakukan amal akan tetapi mereka berkepala besar. sulit untuk kita bertempur lagi. lain kali tak nanti aku datang kemari untuk membuat onar pula. Ia tahu Cit Koay bukan orang busuk. di dalam hati ia berkata: ―Aku telah beri muka kepada kamu. Ia terus berpikir. aku telah menghanturkan maaf dan mengaku kalah. tidak ada halangannya. mereka itu akan tambah kepandaiannya. Selang sesaat baru ia dapat bicara. ―Tuan-tuan.‖ Han Po Kie bersama Siauw Aeng dan A Seng bnagkit berdiri. sampai ia dapat satu pikiran. untuk menangkap ikan atau mencari kayu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Segala urusan kaum kang-ouw. malah dengan pernah mengalahkan seratus lebih jago Hoay Yang Pang. tak dapat ia layani mereka.‖ ―Tak sanggup aku menelan peristiwa ini. suka aku melepas kau pergi!‖ Bukan main mendongkolnya Cie Kee. pinto suka menyerah kalah saja. dan CU Cong dan lainnya yang terluka mengangkat kepalanya dari pembaringan. walaupun benar pinto telah lukai kamu. Tetap ia sadar. apakah itu cukup dengan hanya kata-katamu barusan?‖ tanya Tin Ok.‖ ia berkata. Dalam murkanya. Bagaimana ia bisa loloskan diri dari mereka itu? Pula ada sulit untuk melayani mereka bertempur pada lain tahun. kamu hendak adu kepandaian yang memutuskan denganku. ―Kau telah lukakan parah saudara-saudaraku ini.‖ kata ini ketua Kanglam Cit Koay. letaki pedang di bebokongmu itu!‖ bentak Tin Ok. Ia bersendirian dan mereka bertujuh. ―Pinto telah terkena senjata rahasiamu. sepak terjang mereka biasanya luar biasa. Mereka semua lihay. syaratnya haruslah pinto yang menetapkannya. kalau tidak. orang malui mereka. Mereka sendiri belum pernah nampak kegagalan. ―Kwa Toako hendak menitah apa?‖ ia tanya. suka aku menuruti titahmu. lantas ia ngeloyor keluar. selama tempo satu tahun. ―Dengan meninggalkan pedangmu. dengan tanganku sendiri. Kalau tidak. pasti sekarang aku telah berada di Negara Setan. Mungkin sekali.‖ sahut si imam itu. ―Habis Kwa Toako memikir bagaimana?‖ menegaskan Cie Kee. kami akan melewati sisa hidup kami…‖ Mukanya Cie Kee menjadi merah. ―Hanya untuk itu. Imam itu memutar tubuhnya. ―Tanpa pertolonganmu. bagaimana mereka tidak menjadi penasaran? Cie Kee terkejut.‖ Tin Ok bilang. Asal Totiang tidak mengganggu kami. jumlah mereka pun banyak – bertujuh – dari itu. maka itu pinto menyerah kalah…‖ ―Kalau begitu. aku minta totiang membuat pertemuan pula di Cui Siang Lauw!‖ Cie Kee mengerutkan keningnya.‖ katanya seraya berbangkit. tetap tenang. kami tidak ada muka untuk mencampuri tahu lagi. ―Aku telah menerbitkan malapetaka. maka itu baiklah lain tahun pada hari ini. ia jengah hingga tak dapat ia membuka mulutnya. Hampir berbareng mereka itu kata: ―Kalau Kanglam Cit Koay bertaruh selamanya adalah pihak sana yang memilih tempat dan waktunya!‖ Cie Kee tersenyum dapatkan orang demikian gemar menang sendiri. akan aku bunuh jahanaman itu! Sekarang aku mohon diri…‖ Ia menjura pula. Irawan D Soedradjat Page 61 . tidak nanti mereka disebut ―Cit Koay‖ – tujuh Manusia Aneh. Tin Ok bilang: ―sekarang kita sama-sama terluka. ―Selanjutnya kami akan berdiam di sini. Ia pun bisa berlatih diri tapi barangkali sukar untuk beroleh kemajuan. ―Kau pandang entang kakiku pengkor?!‖ ia membentak. ―Apa saja yang tenagaku dapat kerjakan. kenapa kamu masih merasa belum cukup?‖ Ia lantas menjawab: ―Pedang ini adalah alat pembela diriku. Sekarang mereka kalah di tangan Khu Cie Kee satu orang. ―Pinto tidak berani. Ia sangat masgul. Kwa Toako.‖ kata ia. Di dalam urusan kita ini. sama saja dengan tongkat Kwa Toako…‖ Tin Ok tapi tetap murka. ―Tentang sakit hatinya Ciauw Bok Taysu serahkan itu padaku.

―Lekas bilang. Mendengar itu Siauw Eng pun tertawa.‖ Dengan ―orang gagah‖ imam itu maksudkan ―ho-kiat‖ atau ―enghiong‖.‖ kata Tiang Cun Cu dengan tenang. Selagi memasang kuping. ―Kau sebutkan saja syaratmu!‖ kata mereka. ―Semakin sulit adanya syarat. Ia berkata: ―Kalau syaratmu itu adalah untuk mengadu bertapa atau membikin obat mujarab atau membikin surat jimat guna menangkap roh-roh jahat. karena itu ia telah ubar-ubar Toan Thian Tek. Aku sendiri tidak menghendaki cara mengandali kekosenan saja. juga mengadu kesabaran. masih tetap berlaku kata-kataku tadi. Ia tahu benar Cit Koay adalah sangat besar kepala. dengan sikapnya yang agung. Di dalam hatinya mereka berkata: ―Tidak peduli kau pakai akal licin apa juga. Ia juga tuturkan bagaimana caranya ia kejar Thian Tek itu. maka kami bukanlah tandingan kamu bangsa imam!‖ Khu Cie Kee pun tertawa. tuan-tuan! Kita bukan Cuma mengadu kepandaian. ―Jikalau kita mencari pokok sebabnya. Cu Cong dan Coan Kim Hoat adalah yang tercerdik di antara saudara-saudaranya.‖ ia menyahut dengan sabar. tangan dan kaki. pinto tetap suka menyerah kalah!‖ Dengan ini.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kamu suka terima syarat apapun?‖ dia tanya. mereka tidak jeri. kita mesti melakukan suatu pertempuran yang memutuskan. ―Tapi apa yang kita akan adu adalah kepandaian sejati. Irawan D Soedradjat Page 62 . baiklah kita kembali kepada sebab musabab itu. Lalu ia menjelaskan tentang persahabatannya sama Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim – yang ia maksudkan si orang-orang gagah itu – yang mengalami nasib celaka. ―Syaratku ini ada meminta tempo yang lama. dengan menggunai alat senjata atau kepalan dan tendangan. Bukankah kita. Marilah kita lihat. kaum Rimba Persilatan yang kenamaan tak dapat berlaku demikian cupat sebagai anak-anak muda yang terlahir belakangan?‖ Kanglam Cit Koay saling mengawasi. semakin baik!‖ Cu Cong tapinya tertawa. ―Sama cepatnya dengan satu cambukan kuda!‖ sahut Siauw Eng lantas. habis apakah syaratmu itu?‖ Maka mereka menanti penjelasan. ―Lekas kau bicara!‖ Cie Kee lantas berduduk. ―Lekas bicara. ―Pinto juga tidak berpikir untuk adu kepandaian sama Cu Jieko dalam hal mencuri ayam atau meraba-raba anjing atau mengulur tangan menuntun kambing!‖ Ia maksudkan ilmu mencopet. siapakah yang paling gagah – satu enghiong sajati!‖ Kata-kata ini membuat darahnya Kanglam Cit Koay mengalir deras. Aku akan menghadapi kalian bertujuh. siapa menyakinkan ilmu silat tentunya semua mengerti. ―Biangnya gara-gara hingga kita bertempur dan saling melukai adalah urusan menolongi turunannya orang-orang gagah. hati mereka masing-masing menduga: ―Kau tidak hendak menggunai senjata. kita memakai akal budi. beberapa kali Kanglam Cit Koay mengutuk bangsa Kim serta pemerintah Song yang sewenang-wenang dan kejam. oleh karena itu. imam itu memancing hawa amarah ke tujuh Manusia Aneh itu. Thian Tek saban-saban dapat meloloskan diri. lekas!‖ Han Siauw Eng. Kwa Tin Ok masih sedang memikir ketika Khu Cie Kee berkata pula: ―Mengenai syaratku ini. ―Biar bagaimana. tetapi sangkin licinnya. Cie Kee berkata pula. mustahil kami nanti kalah…‖ ―Kata-katanya satu kuncu?‖ berkata imam itu. lekas!‖ ia mendesak pula. ―Jangan kau coba pancing hawa amarah kami!‖ Tin Ok memotong. Ialah umpama kata tuan-tuan anggap tidak sempurna. Kepandaian semacam itu.

‖ Cie Kee berkata pula. ―Akan aku jelaskan. itu memang benar bukannya kerjaan terlalu gampang. murid pinto yang berhasil atau muridnya tuan-tuan bertujuh!‖ Tjuh bersaudara itu saling memandang. untuk membuat pertemuan di Cui Sian Lauw.‖ jawab si imam. Pinto akan didik anak Yo Tiat Sim dan tuan-tuan bertujuh merawat anaknya Kwee Siauw Thian…‖ Tujuh bersaudara itu membuka mulut mereka. kau hendak membikin kamu bercapek lelah selama delapan belas tahun!‖ Irawan D Soedradjat Page 63 . Ia tanya: ―Bagaimana kalau pertolongan kami terlambat. Kita tunggu sampai mereka telah melahirkan anak. ―Tuan-tuan berkenan menolongi abak yatim piatu dari keluarga Kwee itu.‖ kata Kwa Tin Ok. Tapi Coan Kim Hoat campur bicara. ―Han Samya benar!‖ pujinya. dan Lie-sie keburu dibikin binasa oleh Toan Thian Tek?‖ ―Biarlah kita sekalian adu keberuntungan juga!‖ sahut Cie Kee. ―Untuk pergi mencari dan menolongi.‖ berkata Cu Cong kemudian. tidak nanti aku dapat melupakannya. itu tidak ada artinya. andaikata muridku yang menang. tidak dengan demikian tuan-tuan. ―Cuma dengan beberapa kata-katamu ini. istrinya Kwee Siauw Thian. Pinto ingin setelah dapat cari dan tolong mereka. anak-naka itu telah berumur delapan belas tahun. apa hendak dibilang?‖ ―Baik!‖ Han Po Kie juga turut bicara.‖ Cie Kee menambahkan. Heran untuk kata-kata si imam. Inilah yang pinto hendak gunai sebagai syarat pertaruhan kita…‖ Siauw Eng segera menyela: ―Kami pergi tolongi Lie-sie.‖ Cie Kee tonjolkan jempolnya.Pendekar Pemanah Rajawali Habis menutur. tenaga dan pikiran. kita mesti pernahkan mereka itu. ―Bukankah tuan-tuan menang karena jumlah yang banyak lawan jumlah yang sedikit? Kemenangan itu bukan kemenangan yang mentereng! Dengan syarat kita ini aku nanti turunkan kepandaianku kepada satu orang. ―Umpama berselang lagi tiga puluh tahun.. ―Itu waktu. tidak ada satu jua yang segara menjawab imam itu. ―Aku masih belum tahu dia ada dimana. secara demikian kita bertaruh! katanya.‖ ―Apakah adanya itu?‖ Kwa Tin Ok bertanya. yaitu Pauw-sie. ―Baiklah. kami toh telah lakukan juga satu perbuatan yang baik. lalu anak-anak mereka itu kita rawat dan didik dalam ilmu silat. umpama kata kamu yang menang. lalu kita ajak mereka ke Kee-hin. kau pergi tolong Pauw-sie! Siapa yang lebih dulu berhasil. ―Cuma menolongi saja?‖ ia ulangi. bukankah tuan-tuan akan merasa puas?‖ Akhirnya Tin Ok ketruki tongkat besinya ke lantai. tuan-tuan pun mewariskan kepandaian kamu kepada satu orang juga. akan tetapi selain itu. ―Cara pertaruhan ini adalah terlalu licin. Pernah pinto melihat romanya Pauw-sie. baru kita suruh kedua anak itu adu kepandaian. ―Memang menolong anak piatu dan janda juga adalah perbuatan yang mulia. sesudah puas makan minum. untuk ini sekarang pinto wakilkan saudara Kwee menghanturkan terima kasih terlebih dahulu!‖ Dan ia lantas menjura dalam.‖ menerangkan Tiang Cun Cu. ―Bagaimana sebenarnya?‖ Han Po Kie tanya ―Kita menanti sampai lagi delapan belas tahun. ―Dua-duanya Pauw-sie dan Lie-sie itu sama-sama lagi mengandung. sampai itu waktu. bukankah?‖ Khu Cie Kee tersenyum. Kecuali Kwa Toako bersama saudara Han. ―Jikalau Thian menghendaki aku yang menang. Di situ nanti kita lihat. setelah itu mereka bertanding satu lawan satu. Berbareng dengan itu. masih ada hal yang terlebih sukar lagi. Kita membuatnya pesta. dia yang menang.‖ ―Tentang istri Yo Tiat Sim. umpama kami tak dapat lawan kamu. Cie Kee tambahkan: ―Orang yang Toan Thian Tek bawa lari itu adalah Lie-sie. Bukankah syarat itu ada sangat luar biasa? ―Jikalau tuan-tuan bertujuh yang bertempur sama aku. yang meminta banyak waktu. empat saudara lainnya telah pernah lihat mereka itu‖ ―Aku ingat suaranya Lie-sie itu. kita undang sejumlah orang gagah lainnya untuk menjadi saksi.

ialah denagn segala urusan ia bersedia untuk mengorbankan dirinya. kita bertujuh akan terima tanggung jawab kita ini!‖ Khu Cie Kee lantas berbangkit. kendaraan air adalah alat penghubung atau pengangkut yang paling umum.Pendekar Pemanah Rajawali Wajahnya Khu Cie Kee berubah. ia lantas mengayuh. ―Kau tidak kenal mereka itu!‖. ―Apakah yang lucu?‖ tanya Han Siauw Eng.‖ kata Cie Kee. tak dapat aku pulang untuk pangku pula jabatanku. Thian Tek lantas asah otaknya: ―Aku telah terbitkan onar besar. guna susul Thian Tek. malah tanpa memilih kenderaan air lagi. Ia cerdik. ―Dia tak dapat dibiarkan menghilang. Ia telah memikir untuk cari suatu tempat untuk bertinggal Irawan D Soedradjat Page 64 . Baiklah aku pergi ke Utara untuk menyingkir dulu dari ancaman bahaya. ia tak tampak ada orang yang kejar atau susul padanya. ―Hari ini adalah tanggal dua puluh empat bulan tiga. ia menukar perahu beberapa kali. ia buka tambatan perahunya. akan tetapi ia berdongak dan tertawa besar. ―Orang umumnya bilang mereka itu gemar sekali menolong sesamanya. ia lompat naik ke sebuah perahu. ia ajak Lie Peng bersama. ―Maka itu lagi delapan belas tahun. Han Po Kie segera menghajar bangku dengan tangannya. supaya aku dapat kembali ke Liman. ―Lekas berangkat!‖ ia membentak tukang perahu sambil ia cabut goloknya. ―Nanti aku susul Toan Thian Tek!‖ kata Han Po Kie. seraya kibaskan tangannya. tetapi ia hanya mondar-mandir di darat. disana ada banyak sungai atau kali.‖ Tukang perahu itu ketakutan lihat orang demikian galak. dialah yang tidak terluka. Paling dulu ia mencari rumah penginapan. Ia tanya-tanya orang akan tetapi pertanyaannya tidak jelas. dia bersahabat untuk menjual jiwanya. begitu muncul kata-kata: ―Orang Utara naik kuda. Dengan mereka. ―Selama dalam dunia kang-ouw telah aku dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay. Tetapi Po Kie si tak sabaran telah pergi jauh. kita akan bertemun pula di rumah makan Cui Siang Lauw. ―Tidak salah apa yang totiang bilang!‖ katanya sambil goyang kipasnya. Berselang belasan hari. ―Sha-tee! Sha-tee! Cu Cong memanggil-manggil. Ia hendak bicara tetapi si imam dului dia. tak ada sinarnya. Semoga itu imam bangsat dan tujuh siluman dari Kanglam itu bertempur hingga mampus semuanya. Setelah berkata begitu. apapula ia kenali roman orang itu.‖ sahut si imam yang ditanya.‖ ia berkata pula. orang she Cu ini menyebutkannya Thian Tek dan Lie Peng. orang Selatan naik perahu. Dengan lekas ia keluar dari daerah kota. ―Sejak zaman dahulu hingga sekarang ini. Thian Tek telah angkat kaki dengan naik perahu. maka itu segera ia menuju ke sungai. ia lantas lari keluar. lega hatinya apabila ia menoleh ke belakang. ia bertindak pergi. tetapi hari ini bertemu dengan kamu – hahaha!‖ Kanglam Cit Koay menjadi panas hatinya. hingga pastilah sulit kita mencari padanya!‖ Di antara Cit Koay. Pengorbanan itu tidak ada artinya! Bukankah kita belum pernah dengar bahwa di jaman dahulu ada Keng Ko dan Liap Ceng berhitungan?‖ Wajahnya Cu Cong menjadi pucat. untuk orang-orang gagah di kolong langit ini menyaksikan siapa sebenarnya laki-laki sejati!‖ Habis berkata.. Kanglam adalah daerah air. Ketika ia tarik Lie Peng keluar dari tempat berbahaya itu. mereka gagah perkasa dan mulia. ―Kalau satu orang gagah sejati bersahabt.‖ Kudanya Po Kie lari pesat. sama saja dengan kuda atau keledai di Utara. tentu sekali ia tak dapat cari Thian Tek. untuk terus menaiki kudanya. dari itu. ―Aku mengaku keliru! Baiklah. tibalah ia di Yangciu. Thian Tek tunjuki terus kelicinannya.

ia sudah umbar hebat hawa amarahnya tanpa merasa ia membuat kandungannya tergerak. Thian Tek tersenyum aneh. ―Simpan senjatamu!‖ ia membentak. Kelakuan si nyonya itu gampang menimbulkan kecurigaan orang. selama tinggal di penginapan. kau lindungi kepadaku. adiknya. Ia menjadi masgul dan bingung sekali. Thian Tek berniat membunuh Nyonya Kwee itu. aku mohon kepadamu. ia telah keluarkan tenaga terlalu besar. ia terus berontak dan berteriak-teriak. ia siapkan pisau belati atau badik yang Cie Kee hadiahkan kepadanya. sudah lantas menjerit-jerit. Ia kaget tetapi ia berlaku tenang. Han Po Kie dapat susul ia. Ia melalui Lim-ceng dan Tek-ciu dan tiba di propinsi Hoopak. dadanya itu pasti telah tertancap pisau belati itu. tiga orang itu tidak kenali dia. Dengan tiba-tiba otaknya Lie Peng terganggu. mereka itu tidak kenali padanya. Setiap kali ia berlepas tangan atau mulutnya. saban-saban ada orang mencari dia. tetapi tak urung. ―Aku tak akan membunuh padamu!‖ Lie Peng sendiri telah lemas kaki dan tangan dan tubuhnya. ialah seorang pincang dan bermata buta yang membawa-bawa sebatang tongkat besi. tidak mendengar apa-apa. ada lagi seorang lain yang cari padanya. Lie Peng tidak mengerti silat. ia sebenarnya sudah memikir untuk bunuh diri. bajunya kena terobek. Thian Tek tetap jerih untuk Han Po Kie beramai. Akan tetapi ia adalah satu wanita lemah. Ia pun telah dipukuli. Kali ini ia kembali naik perahu. sudah kepalang tanggung. ―Trang!‖ demikian satu suara nyaring. Syukur untuknya. ia menikam! Thian Tek kaget dan heran. Ia telah hunus pedangnya. tak sudi ia berjalan sedikit juga. walaupun kedua pihak bertemu muka. Dengan letih ia jatuhkan diri ke kursi. yang merasa ada bintang penolongnya. di tepi telaga Bie San Ouw di wilayah propinsi Shoatang. Setelah merasa pasti bahwa orang adalah salah satu Cit Koay. kecuali si kate terokmok dan si nona. Maka terpaksa ia gunai goloknya untuk menangkis. Tapi ia masih ingat akan pisau belatinya yang ia pegangi keras-keras. Syukur ia waspada dan cerdik. lebih baik bia ia bisa binasa bersama musuhnya itu. ia angkat tangannya untuk dikasih turun denagn bacokannya. untuk keram diri di dalam kamarnya . menanyakan tentang dia dan Lie Peng. Dalam kagetnya ia buang diri ke belakang. Selama itu rasa takutnya tak jadi berkurang. tetap ia menuju ke Utara. Thian Tek dapat godaan lain. akan tetapi Lie Peng. saking khawatirnya. Ia peroleh kenyataan. Untuk bela diri terlebih jauh. ada kalanya ia robek bajunya atau bikin kusut rambutnya. Inilah ia tidak sangka. tetapi telah bulat tekadnya. Kembali ia menyewa sebuah perahu. hingga darahnya lantas mengucur keluar. Dalam sengitnya. Coba Lie-sie bertenaga cukup. untuk Irawan D Soedradjat Page 65 . dibekap mulutnya dengan selimut. memasang mata. Thian Tek sambar sebuah kursi. Syukur untuk Thian Tek. engko Siauw. agar dapat aku membinasakan manusia jahat ini!‖ Lalu dengan diam-diam. ia hanya berpura-pura edan. Ia lihat tegas seorang kate dampak yang romannya jelek sekali yang berbicara dengan lidah Kee-hin. baik selama di penginapan. Kemudian ia menjadi mendongkol. Ia dapat kenyataan si nyonya si nyonya bukan gila benar-benar. Ini yang menyebabkan ia selamanya dapat lolos. Adalah pikirannya Thian Tek. ingin aku supaya sebelum datang saatnya. Tidak lama kemudian. napasnya memburu. Itu hari selagi berada di dalam kamar. Sebab bukanlah soal yang sempurna untuk terus-terusan berkelana dengan hati tidak tentram. ia dekati Lie-sie. Nyonya Kwee telah tawar hatinya sejak kebinasaan suaminya. Malah Po Kie ada bersama denagn satu nona. Ia berlayar terus ke Utara. ia justru mendahului sambil menubruk.Pendekar Pemanah Rajawali buat sementara waktu. hingga mereka jadi menarik perhatian orang. ia juga tak dapat lari seorang diri. Untuk kagetnya manusia busuk ini. ia terus membawa Lie Peng. Setiap ia mendarat. ia tidak takut. maka itu. ia justru diam-diam memuji kepada roh suaminya: ―Engko Siauw. ia tarik tangannya Lie Peng untuk diajak segera menyingkir dari pintu belakang. ujung goloknya putus dan jatuh ke tanah dan ujung pisau belati menyambar terus ke dadanya. ia diringkus Thian Tek. aku bertemu pula denganmu. Dari dalam kamarnya ia mengintai. nyonya Kwee suka ngoceh tidak karuan. hingga bayi di dalam perutnya itu meronta-ronta. maupun di tengah perjalanan. Belum sampai setengah bulan ia berdiam di tepi telaga itu. maka itu sebaliknya dari ketakutan. ia dengar suara Han Po Kie tengah berbicara sama pemilik penginapan. menampak sikapnya Thian Tek itu. dadanya kena tergurat. Po Kie bersama kawannya yaitu Siuaw Eng. hingga mereka sampai di perhentian Lie-kok-ek. selalu dapat ia menjauhkan diri dari mereka itu.

Thian Tek telah menyingkir jauh ke utara. Kenapa aku mesti meninggalkan satu . tetapi satu hambanya pangeran itu muncul dengan tiba-tiba mengabarkan ‗kunjungannya Sam-ongya‘ – pangeran yang ketiga. ―Habis?‖ Irawan D Soedradjat Page 66 . putra yang ketiga dari Wanyen Ching. Ketika ia hendak berbnagkit. urusan bisa menjadi rewel. kau tentunya letih. ia berpikir: ―Tentang Pauw-sie. setelah omong-omong lagi sebentar ia pamitan. Ia ada lemah. tetamunya adalah Toan Thian Tek dan orang ingin numpangi diri kepadanya. ―Bukankah aku telah tidak jauh dari Yan-khia?‖ demikian ia ingat. kakak harus membawa satu pasukan tentera yang terpilih. raja Kim utus Wanyen Yung Chi. tetapi ia takluk kepada bangsa Kim. setelah mana ia bertindak untuk sambut tetamunya. Di sana Thian Tek langsung mencari istananya pangeran itu. sang adik. setelah berjalan jauh dan melewatkan banyak hari. guna menghargai jasanya itu. sang putra pergi menganugerahkan Temuchin sebagai Pak Kiang Ciauw-touw-su. ―Mereka juga bertabiat kasar. Tanpa ragu-ragu lagi. bekalan uangnya mulai habis. gemar mereka menghina yang lemah tetapi jerih terhadap yang kuat. Di antara saudara-saudaranya. Thian Tek mengucap terima kasih. ia bernagkat menuju ke Yan-khia. aku masih belum dapat mempernahkannya. Ibukota Yan-khia itu disebut juga Tiong-touw atau Chungtu. adik itu berkata kepadanya: ―Hari ini ada datang padaku satu mata-mata dari kerajaan Selatan.‖ katanya dengan manis. yang tak kejam bukannya satu laki-laki?‖ Karena ini ia lantas tersenyum. sang angin sejuk telah mulai menghembus. Wanyen Lieh bangkit dari kursinya. Ia lantas mengerutkan kening. mulut hidup? Bukankah ada peribahasa kuno yang mengatakannya. semacam kommissaris tinggi. akan tetapi ia tetap dibayangi pengejar-pengejarnya. untuk pergi ke sana. ―Yang cupat pikirannya kuncu. kalau ia membocorkannya. ia mengucapkan terima kasih. ia lantas ijinkan orang menemui dia. bagaimana aku bisa menerima Thian Tek? Ia tahu rahasiaku. Celaka untuknya. ia malah membantui negara Kim memusnahkan bnagsa Tartar. Ia terkejut akan ketahui. pergilah beristirahat dulu. ia bergaul paling erat dengan Wanyen Lieh. ialah Tio Ong atau Chao Wang (Pangeran Tio atau Chao) Kapan Wanyen Lieh dengar tentang kedatangannya satu perwira dari selatan. selanjutnya mereka tidak akan berani berontak. ―Bangsa Monglia itu tak tetap tempat tinggalnya. supaya melihat keangkeran kita. Karena tugasnya ini. Denagn begitu.‖ Wanyen Yung Chi terima baik nasehat itu. pangeran Wei atau Wee. supaya tentang perjalanan mereka – ke mana saja mereka menuju – ada menimbulkan bekas.Pendekar Pemanah Rajawali sengaja menarik perhatian orang. ―Kenapa aku tidak pergi kepada Liok-taycu?‖ Liok-taycu itu adalah putra keenam dari raja Kim. Sekarang ini ialah kota Pakkhia (Peking). dapat ku bersenang-senang dengan wanita-wanita cantik. Ia bergelar Wei Wang atau Wee Ong. mendadak ia dapat ingat suatu apa.‖ berkata Wanyen Lieh. maka itu. kepergian putra ini sebenarnya guna melihat sendiri keadaan bangsa Monglia itu. Temuchin sudah mulai kuat kedudukannya.‖ ―Begitu?‖ tanya sang kakak. Ia jadi semkin hati-hati. saking uring-uringan. Udara begini tidak terlalu mengganggu orang-orang yang membuat perjalanan. ―Pergilah kau beristirahat!‖ katanya sambil ia mengibaskan tangannya. Ia sebenarnya hendak beritahu juga bahwa ia datang bersama Lie Peng. dalam segala hal. Ketika itu hawa udara telah mulai berubah. Di samping itu. Setiap hari aku bisa dahar dan minum enak. ibukota kerjaan Kim itu. itu pangeran Kim yang ia maksudkan. bagaimana senangnya aku. Didalam hatinya. untuk memohon pikiran. Pada suatu. ia ngoceh seorang diri: ―Selama aku pangku pangku di Hangciu. Wee Ong telah datang menemui Tio Ong. Pada masa itu pemimpin bangsa Mongolia. oleh karena mana. heran. mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tak nyata. Sam-ongya itu adalah Wanyen Yung Chi. hatinya menjadi ciut. tetapi dasar pangeran Kim yang keenam itu yang kemaruk sama istri orang. ia suka dengari adiknya yang cerdik dan tangkas. Ia marah tetapi ia tidak bisa berlaku keras kepada nyonya itu kecuali ia mengancam agar si nyonya terus ikut padanya. dia telah celakai aku hingga begini…‖ Justru ia ngoceh ini. malah menyenangkan. Hawa panas mulai lenyap. raja Kim. artinya ―Kota Tengah‖. ―Kau baru sampai dari satu perjalanan jauh.

Ouw See Houw ada satu panglima yang berpengalaman yang diandalkan negeranya.. dia kuatkan hati dan tubuhnya untuk lawan penderitaan ini. Wanyen Yung Chi lantas kirim belasan serdadunya untuk memberi warta terlebih dahulu tentang tibanya itu sekalian menitahkan Temuchin datang menyambut utusan Kim. Mereka itu terpencar si segala penjuru. di padang gurun. dia tertawa riang. dia terus menderita. Wanyen Yung chi berangkat bersama seribu serdadu pilihan yang semua kelihatan gagah dan mentereng. dengan cari satu alasan kakak boleh hukum mati padanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia datang untuk tumpangkan diri padaku. Dialah Ouw See Houw. sangat meletihkan dia. Sementara itu perutnya Lie Peng makin menjadi besar. Irawan D Soedradjat Page 67 . sebenarnya ia hendak mencari tahu keadaan kita bangsa Kim.‖ ―Bagus!‖ Yung Chi bertepuk tangan. ―Sam-ongya. ―Baik!‖ katanya. Dia sengaja menunjuki pengaruh menurut nasihat Wanyen Lieh. ―Itulah alasannya belaka. memenuhi bukit dan tegalan di hadapan angaktan perang Kim itu. salju beterbangan turun bagaikan lembaran-lembaran unga. bunuh saja padanya!‖ kata sang kakak.‖ ―Bawa ia ke Utara?‖ Yung Chi tanya. Ia mempengaruhinya hingga si nyonya diam saja. maka itu kepala perang ini telah melancangi pangeran itu untuk mengatur persiapan. Demikian untuk beberapa puluh hari. Hampir itu waktu. ia tetap ajak nyonya itu. Mungkin mata-mata yang datang bukan dia satu orang. di mana tidak ada lain orang. Sore itu Wanyen Lieh tidak panggil Toan Thian Tek menghadap lagi padanya.‖ Wanyen Lieh bilang. Yung Chi menjadi kaget. ―Mana aku tahu?!‖ sahut si perwira yang lantas saja mengatur barisannya. Ia keprak kudanya untuk maju ke depan. lekas kasih perintah untuk bersiap untuk berperang!‖ demikian kata perwiranya yang pimpin pasukan kecil itu setibanya dia di depan pangeran Kim itu.‖ ―Kalau begitu. Aku pikir hendak mohon kakak bawa ia pergi ke utara. katanya. Sedang si nyonya ini masih mengharapkan datangnya pertolongan padanya……. ―Sebentar kau kirim dia padaku. dia tak dapat berpikir. ―Ya‖ sahut Wanyen Lieh. Pada suatu hari tibalah barisan ini di satu tempat dekat dengan perkemahan Temuchin. Selagi Wanyen Yung Chi terheran-heran. Selagi pasukan ini berjalan terus. kalau dia ini dibunuh. Wanyen Yung Chi berangkat ke Monglia. ia menurut saja. Berselang beberapa hari. ―Kakak tahu sendiri kecerdikan bangsa Selatan itu. yang lainnya pasti bakal jadi waspada. Di lain pihak ia jaga diri baik-baik agar tentara Kim tidak tahu siapa dia. bilang saja dia hendak dijadikan pengiringku. ia lantas tampak lari mendatangi satu pasukan kecil serdadu. suara seperti satu pertempuran. berjalan di padang pasir yang seperti tak ada ujung pangkalnya. perjalanan jauh denagn menunggang kuda. dia suruh Thian Tek pergi ke istana Wei Wang untuk bantu pangeran itu.‖ sahut adik itu. ―Di sana. hanya sambil dibekali uang perak dua potong. ―Pasukan musuh manakah itu?‖ dia bertanya.‖ Sang adik menjadi girang. Tapi ia telah bertekad untuk membalas sakit hatinya. ―Tindakan itu tidak sempurna. Di sini aku nanti layani lain-lainnya mata-mata. barisan dari seribu serdadu pilihan dari bangsa Kim berjalan berlerot bagaikan seekor ular panjang. Diwaktu begini. kapan sang malam tiba. dia ajak Thian Tek bersama. sebaliknya Wanyen Yung Chi lemah. sekonyong-konyong orang mendapat dengar suara berisik yang datangnya dari arah utara. Thian Tek tidak tahu rencana orang. apa yang disebutkan tentara musuh itu. Ia khawatir Lie Peng nanti buka rahasianya. hawa ada dingin luar biasa. Tatkala itu bulan kedelapan untuk di Utara. sudah datang dekat sekali.

Kapan Ouw See Houw sudah mengawasi sekian lama. ia sadar sendirinya dengan perlahan-lahan. Cuma pemandangannya yang sangat menggiriskan hati. Dari situ ia bisa dengar rintihan serdadu-serdadu yang terluka parah atau hendak mati dan ringkikannya banyak kuda perang. terpaksa nyonya Kwee lari sendirian. Air ada air salju tapi barang daharan. mereka menerobos terus. sakit sekali. samar-samar ia dengar tangisan bayi. Tiba-tiba dari arah kiri terdengar ramai suara terompet tanduk. mereka pun lagi ketakutan. yang telah membuang panah dan tombak mereka. Ouw See Houw kewalahan. dengan itu ia pun dapat bakar daging kuda. Nyatalah dalam keadaan seperti itu. ia beri perintah akan tenteranya mengurung pangerang mereka. ia merasakan perutnya mulas. Mereka bersiap tanpa bersuara. Di sekitarnya tidak ada seorang juga kecuali mayat-mayat serdadu dan kuda-kuda. ia dapatkan satu bayi laki-laki. Ia dapatkan sejumlah sisa. Lie Peng mendekam di liangnya itu. Entah dari mana datangnya tenaganya. tidak ada sama sekali. Untuk kagetnya. yang berjumlah lebih sedikit. Ia pingsan. mau tidak mau. Ketika itu masih malam. Ia mengeluarkan air mata kegirangan yang berlimmpah-limpah. sekarang timbullah harapannya. mereka lari tanpa berani datang mendekati.Pendekar Pemanah Rajawali Segera juga terlihat suatu keanehan. Entah sudah lewat berapa lama. di situ muncvul satu pasukan serdadu. ―Lepaskan panah‖ Ouw See Houw memberi titah. musuh dan kawan bercampur menjadi satu. Terpaksa ia merayap keluar. setelah mana ia peluki anaknya. hanya mereka kabur keempat penjuru. ia tidak mendapat gangguan. tak tahu ia dirinya berada di dunia baka atau masih hidup. Roman anak ini telah membantu menguatkan semangatnya. ia dapat kenyataan. setelah ia melihat dengan tegas. Lalu ia coba menyalakan api. Irawan D Soedradjat Page 68 . Karena hawa dingin. maka bersama sejumlah serdadu ia lindungi Wanyen Yung Chi mundur ke arah selatan. suaranya pun nyaring. Ia belum sadar betul. tanpa merasa ia menangis menggerung-gerung. Di bawah terangnya sang rembulan. Adu Panah Lie Peng ada bersama Toan Thian Tek. Tentera musuh yang kabur itu melihat pasukan Kim. bergumul. akan tetapi jumlah mereka banyak. Cepat nyonya itu berduduk. roman mereka ketakutan. tentara sisa ini meluruk ke arah pasukan Kim. yang terus menerjang tentera sisa. Tentara sisa itu segera diserang. untuk membuat sebuah liang yang besar dimana bersama bayinya ia bisa menyingkir dari angin dan salju. Lie-sie mesti kuatkan hati. lalu dihari ketiga. untuk melindungi. Dengan gigitan ia bikin putus tali pusar. Syukur untuknya. mereka masing-masing menunggang satu kuda. karena sisa tentera itu main saling selamatan diri sendiri. semua mayat serdadu dan bangkai itu belum busuk. tapi ia merasa ada benda yang membanduli perutnya. tetapi serbuan sisa tentera ―musuh‖ itu demikian hebat. semua tidak menunggang kuda. Lie-sie coba geledah tubuhnya myat-mayat itu untk cari rangsum kering. Sekarang baru Lie Peng sadar betul. mereka kabur jauh-jauh. Bab 7. untuk kegirangannya. Dengan sendirinya mereka jadi bertempur sama tentara Kim. ia rubuh dari kudanya. Hebat akibatnya untuk tentara Kim itu. bayi itu nampak cakap. Ouw See Houw berlaku tabah. sejumlah diantaranya lantas rubuh. kalau tadinya ia telah berputus asa. mereka ke dibikin terpencar. Tentara ‗musuh‘ itu bukan terus menerjang pasukan Kim. Ia dapatkan golok dengan gampang karena di situ bergeletakan banyak alat senjata. Lie-sie mencoba menggunai kedua tangannya. Tentera sisa ini berjumlah lebih besar tapi mereka tidak berdaya terhadap pasukan berkuda ynag jauh lebih kecil itu. ia telah melahirkan anak……. Hanya sesudah lari serintasan. hingga tanpa dapat ditahan lagi. hingga banyak serdadu yang kena terinjak-injak. ia angkat bayinya itu. Ia geraki tubuhnya. tak tahan ia akan rasa laparnya. potongan wajahnya mirip dengan suaminya Kwee Siauw Thian. akan menggali pasir. muncul di antara sang awan. Terpaksa untuk menyingkir. Disamping itu di belakang mereka menerjang sejumlah pasukan berkuda. sang rembulan mengencang di atas langit. Ia hanya dengar tangisan itu makin lama makin keras. Buat dua malam satu hari. itulah pasukan sisa yang habis kalah perang. Kekalutan sudah lantas terjadi.

Pendekar Pemanah Rajawali Buat tujuh atau delapan hari. Sekitar tujuh lie. dari sana muncul beberapa barisan lain yang dikepalai oelh satu perwira muda jangkkung dan kkurus. untuk dikasih tempat meneduh dan barang makanan. ia Cuma kata ia lagi lewat di situ tempo ia terhalang oleh pertempuran tentera. hingga keras sekali ia rangkul bayinya. tubuhnya ditutupi dengan mantel merah.sie. setelah ia mulai dapat pulang kesegarannya. untuk kelegaan hatinya. dibantu sama suara tambur. lalu muncullah pasukan tentera. anak itu bertubuh kuat dan cerdik. ia keluarkan kepalanya untuk mengintai. baru ia dapat tangkap anak kambing itu. ia dengar suara seperti tambur berikut meringkiknya kuda serta suara orang banyak. Segera terlihat dua penunggang kuda. Ia mengintai terus. dari itu di situ sudah lantas terjadi suatu pertempuran. untuk bersembunyi didalam rujuk. tapi selagi ia hendak menuntun pulang. tiba-tiba kwee Ceng lihat seekkor burung elang yang besar sekali menyambar kepada rombongan kambingnya. Maka mulailah Lie Peng mesti bercape lelah. mereka jaka si nyonya ke tendanya. lantas ia pimpin tentaranya menyerbu. Selama tempo bertahun-tahun hidupnya Lie Peng ada lumayan. mereka menyerang pula. Oleh karena kebiasaan. timur dan barat. ia beri nama Ceng kepada putranya. Tidak ayal lagi. yang menjadi kepala perang telah memberikan belbagai titahnya. Ia sekarang memelihara anjing sebagi pembantunya. Pada suatu hari dari bulan tiga. Ia memanggil dengan berteriak-teriak. apa katanya Lie. Kwee Ceng tuntun kambingnya buat diajak mendaki suatu tanjakan. hingga ia mesti melahirkan anak seorang diri. mendatangi dari arah depan. Akan tetapi dua orang itu tidak menolong kepalang tanggung. sebab bayinya masih belum mengerti suatu apa pun. walaupun mereka tidak tahu jelas. untuk kemudian ibu dan bayinya itu tidur guna melepaskan lelah dan kantuknya. Sampai tiba-tiba ia mendengar anak panah mengaung di atasan kepalanya. Bisalah dibayangi. hati Kwee ceng menjadi tertarik. Sekoyong-konyong terdengar suara terompet riuh. sebaliknya daripada takut. Lie-sie dapat berdiam disitu bersama bayinya. mereka itu berbaik hati. Maka ia naiki kudanya untuk mengejar. mendengar itu tentera penyerang lantas berseru-seru kegirangan: ―Kha Khan Temuchin telah datang! Kha Khan telah datang!‖ Irawan D Soedradjat Page 69 . ia bisa membantu ibunya menggembala kambing. sebagai rumah adalah tenda yang bertenung daripada bulu binatang. Dua penunggang kuda itu adalah orang Monglia. hingga ia terperanjat. belum pernah ia dengar suara semacam itu. mereka meninggalkan tiga ekor kambing. anak kambing itu lari terus. segera terdengar suara terompet dari sebelah belakang. Demikian telah terjadi dengan Lie-sie. malah tanpa terasa enam tahun telah lewat. untuk hidup sendiri. yang ia tidak tahu berapa jumlahnya. sampai setelah memasang kuping sekian lama. Sekarang. bagaimana hebat penderitaannya itu. selagi ia menjagai kambing-kambingnya. mereka biasa pergi ke timur atau ke barat untuk mencari makanan binatang. dengan mengiring binatang piarannya. Malah yang seekor – anak kambing – kabur ke timur. ―Siapa kau?‖ tanya salah satu diantara dua penunggang kuda itu. terpaksa ia ditinggal pergi. Ia menjadi takut. Pihak penyerang ini berjumlah lebih sedikit. Kwee ceng giring kambingnya untuk diangon. Meski begitu. selagi uadra hangat. walaupun tampaknya mereka kosen. Ia mulanya menyangka kepada guntur. ia gendong bayinya untuk di bawa pergi ke araha timur. Tidak lama setelah barisan teraur rapi. guna melindungi diri dari gangguan angin dan hujan. Hidup sendiri. mendadak ia dengar susra keras dan nyaring. Ia tidak hendak melupakan peasn suaminya. Kaget ia. Ia mesti terus berjalan di tempat yang sepi dimana ada terdapat pepohonan dan tegalan rumput. Untuk hidupnya. guna mencari air. ketika kedua penolongnya hendak berpindah tempat. ia cuma dapatkan. maka tentera itu lantas memecah diri dalam dua barisan. Tapi di belakang mereka lantas tiba bala bantuan. ia mulai bertenun yang hasilnya ia dengan barang makanan. tidak lama mereka mesti mundur sendirinya. ada yang ditancapkan bulu burung warna lima. Ia memegang sebatang golok panjang. agaknya mereka ini tidak dapat bertahan lama. Tapi ia ingin mengetahui sesuatu. diwaktu hendak berangkat. Lie Peng tidak buka rahasia. Tepat tengah hari. Semua binatang itu kaget. Orang Monglia itu tidak berumah tangga. ia menunggang kuda kecilnya. dan untuk menempuh perjalanan jauh. Ia mesti membangun satu gubuk dengan beratap daun. Ada serdadu yang kepalanya digabut pelangi putih. sebagai pengembala tak tentu tempat tinggalnya. Jauh di sebelah depan nampak debu mengepul naik. ia pun dapat hidup sebagai orang Mongolia.

habis itu semua bawa barisannya menyingkir ke arah yang telah disebutkan tadi. ia tetap mengawasi medan perang. yang larikan kudanya itu naik ke tanjakan. ―Ayah. kau Borchu. Di sana pun dikerek batang bendera besar. seribu lebih telah terbinasa. Temuchin. bersama Subotai serta selaksa serdadu. kau mesti kembali untuk melakukan penyerangan membalas!‖ Semua perwira itu menyahuti tanda mereka menerima titah. Setelah bertempur sekitar satu jam lebih. tentera penyerang jadi dapat semangat. Tidak antara lama panglima muda yang bermantel merah larikan kudanya naik ke tanjakan. banyak yang telah rubuh. melakukan pembelaan si sekitar bukit itu. ia dikitari belasan pengiringnya yang dengan memasang tameng mereka itu. yaitu Sigi Kutuku. dari mana datangnya suara terompet dan tambur tadi. Juga Kwee Ceng turut beralih pandangannya. tak sudi mereka mundur dari serangan musuh. sudah melihat tegas keadaan pertempuran itu. Tentara musuh bersorak-sorai menampak lawannya lari tumpang siur. Ia tampak satu pasukan besar. Kubilai. Dari sana pun datang seruan-seruan kegirangan. Temuchin mengawasi ke bawah kepada tentara musuh. ia Cuma berdiam sebentar. mari kita mundur dulu!‖ berseru ia kepada orang di bawah tiang bendera itu. Di tengah pasukan di panjar sebuah tiang yang tinggi di mana ada tergantung beberapa lapis bulu putih. demikian panglima yang dipanggil ayah itu. dari atas kudanya ia memandang ke medan pertempuran. hanya karena jumlah mereka jauh lebih besar. apa pula penyerang di pojok timur utara tampak lebih garang. mereka menyerang pula dengan seru. akan tetapi juga serdadu musuh. Itu ada tanda bahwa di sana ada tiga kepala perang yang memegang pimpinan. ia gembira berbareng negri. mereka pun segera melihat bendera putih besar dari Temuchin di atas bukit. Dengan matanya yang tajam bagai mata burung elang. ia menyahuti: ―Musuh masih belum lelah. menjadi cemas hatinya. Sambil berbuat begitu. Dilain pihak adik angkat Temuchin. Disamping dia ada beberapa pengiringnya. Lalu ia memberi perintah pula: ―Mukhali. mengawasi ke arah tiang itu. bersama Chilaun serta selaksa serdadumu mundur ke utara! Dan kau. musuh berjumlah lebih banyak berlipat ganda. orang terpaksa main mundur. bersama Jelmi panglima yang kosen. mereka tidak ambil peduli lagi kepada musuh yang lari tunggang-langgang. Jelmi lari naik ke atas bukit. tentera Mongolia itu nampaknya lati serabutan keempat penjuru arah. dari tempat sembunyinya. Irawan D Soedradjat Page 70 . Tiang yang tinggi itu bergerak ke arah tanjakan bukit. Kwee Ceng dengan matanya yang jeli. melindungiini pemimpin dari sambarannya berbagai anak panah. jumlahnya bebearap ribu jiwa. Di pihak Mongolia. Dengan begitu ia dapat lihat satu perwira yang menunggang kuda. lekas mundur ke selatan! Kapan kau lihat bendera besar di kerak tinggi dan dengar terompet dibunyikan. Temuchin tetap berdiam tegak di tempatnya. apa boleh kita kerek bendera dan membunyikan terompet?‖ dia bertanya. lalu dengan suara dalam. hingga mereka dapat mengacaukan lawannya. Musuh telah mendesak hingga hampir sukar untuk dicegah lagi. berlomba mendaki bukit. Kwee Ceng saksikan itu semua. kau bersama pangeran kedua serta selaksa serdadu mundur ke barat. Dia ada memakai kopiah perang dari besi. lantas ia berikan titahnya: ―Kau bawa selaksa serdadu mundur ke timur!‖ demikian titahnya itu.Pendekar Pemanah Rajawali Atas itu orang-orang yang lagi bertempur lantas menoleh ke arah timur selatan. Putra ketiga dari Temuchin. dengan lima ribu jiwa serdadu mereka. ―Ayah. yang mendatangi dengan cepat. dari lima ribu serdadunya Temuchin itu. janggutnya merah. Atas ini. mereka tidak menghiraukan anak panah dan golok. yaitu Ogatai yang berada di samping ayahnya. mereka lantas saja berkoak-koak: ―Tangkap hidup Temuchin! Tangkap hidup Temuchin!‖ Lalu tentara itu dengan rapat sekali.‖ Ketika itu penyerangan musuh di timur laut bertambah hebat. maka sebentar saja. mereka menang di atas angin.

―Bagus ilmu panahnya!‖ Temuchin puji musuh itu. Justru itu. Irawan D Soedradjat Page 71 . ―Aku kehabisan anak panah!‖ Temuchin yang rebah di tanah telah tarik keluar anak panahnya dari kantong panahnya yang tersulam. ―Siapa lari ngiprit?‖ katanya. ―Musuh masih belum lelah. Musuh gunai ketika baik ini untuk menerjang naik dengan hebat. ―Bagaimana dapat kau banggakan diri sebagai satu pendekar gagah perkasa?!‖ Air mukanya Jelmi menjadi berubah. ia lemparkan itu kepada adik angkatnya itu. suaranya perlahan. ia menerjang barisan musuh. di pojok barat selatan. Kutuku di arah barat telah pimpin tentaranya melawan musuh. anak-anak tak sanggup bertahan!‖ dia teriaki junjungannya. ia membuka jalan hingga di depan satu bendera hitam. ia tidak menjadi gugup. terpaksa ia balik mundur. Biar bagaimana juga. ia membuat kudanya berjingkrak berdiri dengan dua kaki belakangnya. sesudah mana. Kutuku segera beraksi. akan kemudian ia lari pula naik ke atas. ia kehabisan anak panah dan tobaknya pun telah patah.‖ sahutnya. sebentar saja ia telah rubuhkan belasan tentera Mongolia. hebat kau!‖ Temuchin puji adik angkatnya itu. Dua perwira Mongolia maju hendak menerjang tetapi mereka disambut oleh anak panah dan rubuh karenanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kha Khan. Kutuku tidak gusar. kemudian dengan lemparkan goloknya. Berselang lagi satu jam. anak panah tidak lagi menyambar ke perut orang. sebatang busur membuat musuh itu rubuh. Maka tidak ampun lagi. ―Tak sanggup bertahan?!‖ berseru Temuchin dengan gusar. ―Kutuku. Mendapatkan anak panah. ia rangkul ketiga bendera besar itu untuk dibawa lari mendaki bukit. Dengan begitu. darah molos keluar dari sela-sela jari tangannya itu. ―Ser!‖ sebatang anak panah menyambar sebelum pimpinan Mongol ini dapat berdaya. ―Saudaraku yang baik. sebaliknya ia tertawa. ―Kita tunggu sebentar lagi. ia tancap tiga batang bendera itu di tanah! Kaget nusuh menyaksikan lawannya demikian kosen. hebat ilmu panahnya. ia memburu ke bawah bukit. rubuhlah binatang tunggangannya itu berikut penunggangnya. dipihak musuh. Semua serdadu Mongol kaget. hanya nancap di dadanya kuda. Temuchin adalah satu orang peperangan yang ulung. ―Apakah sekarang sudah boleh kita menaikkan bendera dan membunyikan terompet?‖ ia tanya. nacap sampai di batas bulu. walaupun lehernya terluka dan sakit sekali rasanya. Kutuku mandi keringat. setibanya di atas. tentara Mongolia bertempik sorak. semua lantas meluruh untuk tolongi kepala perang mereka. Sejumlah serdadu mush mundur melihat orang demikian bengis. apakah kau ngiprit sebagai kelinci?‖ ia menegur dengan ejekannya. ia binasakan satu demi satu. Dilain pihak. yang berbareng menjadi pemimpinnya. Merah matanya Jelmi melihat kawannya itu mundur. untuk rampas kuda musuh. ia memandang ke arah musuh. tampak satu panglima dengan pakaian perang hitam. mereka lantas tutup pula kebocoran di timur utara itu.‖ Kutuku lantas berlutut di depan kakak angkatnya itu. dengan bawa itu sambil serukan seruan-seruan peperangan bangsanya. dalam keadaan terluka. Jelmi maju menyerang tiga serdadu musuh yang bertubuh besar. lehernya telah terkena anak panah itu. sedang satu anak panah lainnya menyambar ke arah perutnya. dengan kedut lesnya. Temuchin tutup lukanya dengan telapakn tangannya. Beruntun tiga kali ia memanah kepada musuh yang berada dibawahnya sebuah bendera hitam. lantas ia rampas sebatang golok besar dari tangannya satu serdadu.

ia anggap peperangan itu dapat dibuat permainan. runtuhlah pasukan perang yang besar itu. Begitu datang dekat. Serempak dengan itu. Maka sejak itu. maka itu belasan serdadu lantas saja terjungkal dari kuda mereka. Senang Lie Peng akan saksikan anaknya bercerita dengan cara sangat gembira. Maka diam-diam ia pun bergirang. melihat sikap orang. Kwee Ceng ditinggal di rumah untuk menjagai binatang piaraan mereka. Ketika ia tiba dirumahnya. sendirinya mereka mundur. Irawan D Soedradjat Page 72 . Penunggang kuda itu yang mendekat. Tentara Mongolia bertempik sorak. Dengan goloknya yang panjang. ia jadi gembira sekali. . Anak ini ingat akan peperangan yang ia saksikan. Temuchin lihat keadaan itu. apabila ia menoleh. akan tetapi sia-sia saja percobaannya itu. ―Tapi Kha Khan. disusul sama bunyi terompet ynag riuh. Temuchin lantas berlompat untuk naik ke atas seekor kuda. kuda itu kendorkan larinya. justru ibunya sedang berdebar-debar hatinya memikirkan anaknya yang dikhawatirkan menghadapi ancaman bahaya. ia bunuh tiga musuh yang menerjang ke arahnya. tentaranya tak dapat dikendalikan lagi. ―Semuanya membela mati bukit ini!‖ ia berseru. Mereka itu mendekati saling susul. ia berteriak-teriak untuk mencegah kekacauan. hingga ia keluarkan teriakan tertahan. Tiga hari kemudian. ―Tangkap musuh itu!‖ Temuchin memberi titah. hingga yang lainnya menjadi terhalang. kaget melihat kepala perang lawannya dapat naik kuda pula. Dengan kegirangan. ia gunai ketikanya yang baik. Ia mau anggap dirinya adalah satu panglima perang! Tengah anak ini main jenderal-jenderalan itu. ―Dasar turunan orang peperangan. tentera Mongolia dengan bersemangat menyerang dari segala penjuru. mereka menjadi bertambah kacau.‖ katanya. Kwee Ceng tunggu sampai orang sudah pergi semua. akan kejar panglima berbaju hitam itu. Temuchin tidak usah khawatirkan lagi ancaman dari pihak musuhnya itu. waktu sudah tengah malam. tiba-tiba ia dengar tindakan kaki kuda di arah timur. siapa lantas menjadi kaget sekali. pagi-pagi sekali. Panglima dengan seragam hitam itu nampak keadaan jelek. Dengan begitu pula pada akhirnya. Kwee Ceng segera terangkan kepada ibunya kenapa ia pulang lambat sekali. ia mirip dengan ayahnya…‖ pikir ibu ini. di bebokong kuda ada satu tubuh manusia yang mendekam. anak ini tidak sedikit juga menunjukkan hati jeri. telah musnah lebih daripada separuhnya.dua helai permadani – dengan barang-barang makanan. maka itu ia menjadi teringat kepada suaminya. barisan mereka tengah kacau. panglima itu dapat meloloskan diri. Dengan pertempuran ini Temuchin. sambil ia duduk di atas kudanya. Maka itu tidak usah berselang dua jam. ―Naikkan bendera! Tiup terompet!‖ dia berteriak dengan titahnya. ―Hadiahnya sepuluh kati emas!‖ Beberapa puluh serdadu Mongol sudah lantas kaburkan kuda mereka. hingga penyerangan mereka menjadi reda. Kwee Ceng dari tempat sembunyinya sangat mengagumi panglima berbaju hitam itu. ialah pihak Mongolia. Musuh yang tengah merangsak naik. treus angkat kepalanya. termusnahkan pasukan Mongolia yang jumlahnya lebih sedikit tetapi yang semangatnya berapi-api. tak kecuali mereka yang mengurus korban-korban. tubuhmu penting sekali!‖ Mendengar itu. lalu bendera putih yang besar dikerek naik. Akan tetapi lihay panah si panglima. baharu ia keluar dari tempat sembunyinya. Lie Peng berangkat ke pasar yang terpisahnya kira-kira tigapuluh lie lebih dari rumahnya untuk menukar tenunannya. memandang kepada si bocah itu. maka dengan mainkan cambuknya. ia tampak seekor kuda lari mendatangi. maka itu diserang demikian mendadak. dimana mereka berada. sambil bersorak-sorak. tak pernah gagal. Sisa tentara lantas lari serabutan. tentara Mongolia iringi kepala perangnya berangkat pulang. si panglima seragam hitam sendiri terpaksa kaburkan kudanya. telah peroleh kemenangan besar dan musuhnya ialah bangsa Taijiut. Musuh berjumlah besar.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kami semua rela berkorban untuk kau. ia mencoba menggiring kambingnya pulang pergi.

hanya habis itu wajahnya berjengit. tiba-tiba ia tertawa. Tak tahu ia mesti berbuat apa. ―Ada!‖ sahut Kwee Ceng yang terus lari ke dalam untuk ambil panahnya. Selang sekian lama. Di pipi kanannya ada sebuah luka besar dan masih mengucurkan darah. ―Yang besar tidak ada…. air itu sudah bercampur dengan darah yang mengalir dari lukanya. ―Hm. sedang panahnya tidak kedapatan padanya. Ketika itu pasukan yang mendatangi telah tampak semakin tegas. ―Ibu telah pesan.‖ sahut Kwee Ceng. ―Mari lagi satu mangkok!‖ dia meminta pula. golok yang mana pun ada darah yang sudah mengental. ia menjerit. Kwee Ceng lekas-lekas mengambilkan beberapa potong daging kambing. lalu ia tertawa terbahak-bahak. Itu waktu samar-samar terdengar suara larinya banyak kuda di arah timur. aku ingin panah yang besar…. Kwee Ceng telah bawa gendewa dan anak panahnya yang kecil. dia tak hendak melepaskan aku!‖ serunya sengit.‖ katanya panglim aitu kemudian. suaranya parau. darahnya masih mengalir. Irawan D Soedradjat Page 73 . kami harus membantu tetamu tetapi tidak boleh menginginkan barang tetamu. Panglima itu baharu minum setengah mangkok. Tapi lekas sekali ia tertawa berkakakkan. Demikian dia bisa geraki tubuhnya untuk berduduk.‖ ia bilang. ditangan kirinya ia mencekal goloknya yang telah buntung. Paha kudanya pun terluka. untuk dipakai membalut lukanya. benderanya pun berkibar-kibar. orang itu memakannya dengan sangat bernafsu. Mungkin ia yang tengah melarikan diri telah bertemu pula dengan musuh. tetapi ia rupanya telah puas telah dapat air. Ia pun lantas memandang ke arah timur itu. Orang itu tercengang. Tubuh panglim aitu bergoyang-goyang. ―Aku hendak bertempur. yang mana si panglima lantas saja sambar untuk digelogoki. Kwee ceng lantas lari mengambil air dingin dari jambangannya. ―Anak yang baik. ―Lapar! Lapar!‖ kali ini ia bersuara. banyak-banyak terima kasih kepadamu!‖ dia mengucap. setelah itu ia dapat pulang tenaganya. ―Anak yang baik! Anak yang baik!‖ ia memuji. tubuhnya terus rubuh dari atas kudanya itu. hanya tempo si bocah itu kembali. mendengar itu tetamunya Kwee Ceng ini menjadi gusar sekali. Sekarang di sebelah suara berisik itu terlihat debu mengepul. Ia lantas sobek ujung bajunya. Dari lengannya ia tarik sebuah gelang emas yang kasar dan berat. Kwee Ceng pun lantas ikut memandang juga. ―Adik yang baik. apakah kau ada punya panah?‖ tanya si tetamu. matanya bersinar merah. Kwee Ceng menggeleng-gelengkan kepala. Ia pun balut luka kudanya.Pendekar Pemanah Rajawali Penunggang kuda itu mukanya penuh debu bercampur darah. Kwee Ceng kaget dan bingung. ―Air…air…lekas bagi air…‖ katanya. Orang itu perlihatkan roman girang. ―Untukmu!‖ dia tambhakan seraya dia angsurkan barang permata itu kepada bocah itu. yang Kwee Ceng saksikan dan mengaguminya. adalah si panglima perang berbaju hitam yang gagah. ia menjadi lesu. Rupanya banyak sekali serdadu barisan berkuda temgah mendatangi. alisnya lantas menjadi ciut. orang itu sadar dengan sendirinya. Dia jatuh pingsan.

Ia tidak dengar pembicaraan di antara dua orangnya dengan si bocah. ―Aku tidak akan mengasih tahu kepada mereka. ―Hm! Bukankah itu kudanya Jebe?‖ putra itu tanya. Kwee Ceng menunjuk ke barat. Irawan D Soedradjat Page 74 . Orang itu mengambil putusan denagn segera. ―Sembunyi di mana?‖ orang itu tanya.‖ kata Kwee Ceng kemudian. Kwee Ceng naik ke atas kudanya.‖ Kwee ceng menjawab. ia laikan kuda itu bolak balik. Ia insyaf. Dia adalah putra sulung dari Temuchin. Kwee Ceng menunjuki tumpukan rumput kering di belakang rumahnya. ―Benar!‖ sahut banyak serdadu. dua serdadu lantas menghampirinya. dengan kudanya yang terluka. ―Mari ketemu pangeran!‖ berkata dua serdadu itu. ―Coba bawa kuda itu kemari!‖ Begitu keluar perintah itu. tak dapat ia lari lebih jauh. putra sulung itu memandang ke sekitarnya. Dengan gampang ia kena ditangkap dan dituntun. ―Di mana?‖ tanya serdadu yang kedua. bocah. Dua serdadu itu sampaikan jawabannya Kwee Ceng. lebih baik kau sembunyi. yang tubuhnya ditutupi denagn mantel merah.‖ ia menerangkan ―Bawa dia kemari‖ berseru perwira yang mengepalai pasukan itu. aku serahkan jiwaku kepadamu!‖ katanya. Kwee Ceng mencambuk kuda itu. ―Apakah katanya bocah ini?‖ tanya ia membentak. seperti tak pernah terjadi sesuatu. ―Dia sudah pergi lama sekali. Ia bisa berlaku tenang. suaranya kasar. ―Baik. bahar ia berhenti untuk makan rumput. aku dapat lihat.‖ ia berjanji tanpa diminta. yang lantas terus tarik les kuda orang untuk dibawa kepada sang pangeran. Ia lihat banyak serdadu sedang mengiringi satu anak muda yang kurus dan jangkung. Lain jalan tidak ada. dua kali atas mana kuda yang hitam bulunya itu segera lompat kabur. kau lihat tidak satu orang yang menunggang kuda hitam?‖ Itulah teguran dari satu diantara dua serdadu itu. jalannya sudah tertutup. Ia lantas kenali itu adalah panglima yang pimpin tentera.Pendekar Pemanah Rajawali ―Seorang diri tak dapat kau lawan mereka. ia pun lari ke tumpukan kering itu dan menyelusup kedalamnya. Dengan matanya mengandung kecurigaan. sepuluh serdadu lanats bergerak dengan mereka memecah diri dalam lima rombongan. ―Ya. ―Bukankah itu kudanya?‖ ia tanya. Si pangeran telah sampai di depan rumah ―Aku tidak akan bicara!‖ Kwee Ceng telah mabil keputusan dalam hatinya. ―Pergi kau usir kudaku!‖ setelah berkata demikian. Ia lantas dapat lihat itu kuda hitam yang lagi makan rumput di kejauhan. sesudah lari cukup jauh. suaranya dalam. Tidak lama tibalah barisan berkuda itu. suara mereka riuh. untuk hampirkan itu kuda denagn dikurung. ―Eh. Mereka rupanya lihat bocah yang menunggang kuda itu. walaupun ia sudah dapat pulang tenaganya. hingga walaupun binatang itu berniat lari. Jadi ada lebih selamat untuk sembunyikan diri.

sedang dua yang lain menusuk-nusuk ke dalam tumpukan rumput kering itu. kuda hitamnya bangsat itu telah dapat ditemukan!‖ ia memberitahukan. Dia angkat kepalanya dan menanya dengan berani: ―Kenapa kau pukul aku? Mana aku ketahui dia bersembunyi di mana!‖ ―Kau membandel?!‖ bentak Juji. setan cilik. aku terpaksa mesti keluar untuk adu jiwaku…. itu panglima berseragam hitam yang sembunyi di dalam tumpukan rumput. 75 ―Aku tidak menghendaki kuda tetapi orangnya!‖ ayahnya itu menjawab. ―Pasti kita akan mendapatkannya!‖ Ia balik kepada Kwee Ceng .‖ Kwee Ceng kesakitan bukan main. ―Ayah. sepasukan serdadu berhasil menemukan Jebe. Dia mengancam pula Kwee Ceng dengan cambuknya diayun tiga kali beruntun. dia lolos dari ancaman bahaya maut. ―Kudanya ada disini. ia bolang-balingkan itu ke udara. Kali ini Kwee Ceng tak dapat tak menangkis. Tuli. kau hendak bicara atau tidak?!‖. Ia kenal si putra sulung – putra Temuchin itu – ialah Juji yang tabiatnya keras dan kejam. tentera Mongolia dikirim ke empat penjuru untuk cari Jebe. setan cilik?!‖ tanya dengan bengis. tiba-tiba tangannya menunjuk ke tumpukan rumput yang jauh sambil ia berteriak: ―Lihat di sana. Inilah sebabnya kenapa ia datang belakangan. adalah sehabisnya pertempuran. mau ia menangis akan tetapi ia menahan sakit. Dihari kedua pada wkatu sore. hingga ia perlu ditolongi dengan Jelmi panglimanya serta Ogotai putranya yang ketiga. hai. Irawan D Soedradjat Page ―Ya!‖ sahut putra itu. ―Jangan kau harap dapat mendustai aku!‖ Jebe. yang hendak ditawan. lebih dahulu ia kirim putra sulungnya. ia cegah keluarnya air matanya. ―Ayah!‖ demikian ia menyambut. dia mestinya tidak lari jauh!‖ Juji berkata pula. Tidak ada jalan lain. Baharu keesokan harinya. putranya yang ketiga. ia coba sebisanya akan menahan sakit. Oleh karena itu. Ogotai dan putra sulungnya. benda apakah itu yang bergerak-gerak?‖ Semua serdadu lantas berpaling mengawasi. ia pingsan beberapa kali. untuk hukum dia dengan dibeset empat kuda dan dicincang tubuhnya guna membalaskan sakit hatinya Khan yang terbesar itu. ―Kha Khan datang!‖ sejumlah serdadu berteriak. Jagati. . Satu malam dia gadangi semua panglimanya serta keempat putranya. Hampir di itu waktu dari kejauhan terdengar suara terompet. Juji. Berat lukanya Temuchin bekas terpanah Jebe. hatinya menjdai memukul keras. cepat menyusul. Kha Khan – Khan yang terbesar. Lagi sekali ia mencambuk. Temuchin. mereka tidak lihat suatu apa yang bergerak. pergi menyusul dan mengejar. Musuh itu dikepung tetapi ia dapat meloloskan diri sambil membinasakan beberapa jiwa serdadu Mongol. Ia lihat penganiayaan itu yang menyebabkan jidatnya Kwee ceng memebri tanda baret merah. Tapinya ia lantas berteriak : ―Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!‖ Ketika itu sejumlah serdadu sudah geledah rumahnya Kwee ceng. kemudian ia sendiri mengajak putranya yang kedua. Kapan Temuchin dengar kabar itu. bersembunyi sambil memasang mata. Kedua serdadu tadi pun sampai lupa untuk menusuk-nusuk terlebih jauh. mesti isap darah – hingga darahnya itu ada yang kena ketelan dan dimuntahkan. di hari kedua. tetapi di medan perang.Pendekar Pemanah Rajawali Putra sulung itu ayunkan cambuknya ke arah kepalanya Kwee Ceng. ―Eh. ―Dia sembunyi di mana. ia putar kudanya untuk menyambut ayahnya. Juji lantas berhenti mencambuk. Kali ini ia hunus goloknya. Kwee Ceng lihat orang hendak tusuk bagian dimana panglima nelusup. tangannya mencekal keras goloknya yang panjang. Ayahnya itu dirubungi banyak pengiringnya. Ia memikir: ―Pasti bocah itu tak tahan sakit dan ektakutan. Ia sendiri pun telah terluka.

habis itu baru semuanya dilepaskan dari rantainya. Dari kopiah perangnya ia pun cabut dua batang bulu merak yang berkilauan. untuk mencegah ia lantas bersiul memanggil anjingnya sendiri. ia perdengarkan suaranya berulang-ulang menganjuri anjingnya melawan terus. tetapi ia pensaran dan marah. ―Aku tidak mau bicara! Aku tidak mau bicara!‖ ia berteriak berulang-ulang. begitupun burung elang besar. Disaat batang lehernya bocah yang bernyali besar itu bakal menjadi putus. ia jadi terlebih berani. Nyaring bentroknya kedua senjata itu. dia berkata: ―Menghina anak kecil. Hati Kwee Ceng menjadi kecil. timbul kemarahannya. banyak lukanya. tempo ia berguling sampai di kaki si putra sulung. ia hampiri Kwee Ceng. Kapan ia lihat orang melepas anjing. ia mendahului menghalang di depan tumpukan rumput kering itu dan melarang enam ekor anjing itu menghampirinya. antaranya ada yang berseru kaget. Temuchin berpikir. Irawan D Soedradjat Page 76 . ia ayunkan goloknya ke lehernya si Kwee Ceng. kapan anjing Kwee Ceng dengar panggilan majikannya. maka itu setiap keluarga bangsawan atau panglima perang mesti memelihara anjing-anjing peranti berburu. Lantas pengiringnya muncul dengan enam ekor anjing yang besar. tahu ia panglima itu terancam akan ketahuan tempat persembunyiannya. hanya kegagahan panglima berseragam hitam itu sangat mengesankan kepadanya. hingga dengan lantas ia suka memberikan pertolongannya. Sayang anjing penggembala itu jauh lebih kecil dan ia pun bersendirian. Semua orang terkejut.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kau hendak berbicara atau tidak!‖ ia mengancam. Kwee Ceng telah mandi darah pada mukanya. Juji terperanjat. sebab goloknya hampir terlepas dari cekalannya. bangkit keangkuhannya dan tidak sudi ia menyerah. Jagatai adalah putra paling gemar berburu. tahu ia akan tugasnya. ia ayunkan pula cambuknya berulangkali hingga Kwee Ceng merasakan sakit ke ulu hatinya. dia tak mau mundur. terus dengan tertawa dingin. yang bersenjatakan golok dan tombak. mengenai tepat goloknya Juji itu. Menampak sang kakak kelabakan. Juji berontak tetapi ia tak dapat lepaskan pelukannya anak itu yang memegang ia dengan keras sekali. anjing pembantu penggembala. maka sekejap saja terjadilah pertarungan yang sengit sekali. Sekarang anjing itu diperintah dibawa mengitari kuda hitam. Tapi ia gagah. dia tentu bawa enam ekor anjingnya itu. Menyusuli goloknya itu.‖ Putra ketiga itu menurut sambil tertawa. Enam ekor anjingnya Jagati sudah mulai mencium-cium ke tumpukan rumput kering. ―Kau bicaralah. akan aku berikan ini padamu…‖ ia kata seraya angsurkan bulu merak itu. tiba-tiba sebuah golok buntung menyambar. hingga ia rubuh bergulingan. Jagati menjadi tidak senang. gonggongan mereka sangat berisik. tak malukah?!‖ Lantas saja Jebe dikurung oleh serdadu Mongol. mendadak ia angkat tubuhnya untuk sambar pahanya si Juji yang terus ia gigit. untuk diberi bercium bau. Hati Juji menjadi sangat dongkol. Sekarang setelah ia dianiaya Juji. Putra kedua dari Temuchin menjadi habis sabar. muka ramai dengan senyuman. ―Lepas anjing!‖ ia menitahkan. Bangsa Mongol paling gemar berburu. kenapa bocah itu mengatakan: ―Tidak mau bicara‖ dan bukannya ―Aku tidak tahu?‖ Maka ia lantas berbisik kepada Ogotai: ―Pergi kau bujuki ia hingga ia suka berbicara. ia lanats digigit di sana sini. kapan ia pergi berburu. Ia sambar Kwee Ceng. Kwee Ceng dengan Jebe tidak saling mengenal. ―Aku tidak mau bicara!‖ Kwee Ceng ulangi jawabannya. Ia lemparkan goloknya. Mendengar itu. ia perintah anjingnya maju. Jebe lompat keluar dari tempatnya bersembunyi. Ogotai dan Tuli menjadi tertawa bergelak-gelak. yang ia tarik tubuhnya dengan tangan kiri untuk disingkirkan ke belakangnya. Mukanya Juji menjadi merah. Jagatai.

Ia ketemu satu anak muda yang lagi peras susu kuda. sengsara hidupnya Temuchin. Ia tanya kalau-kalau pemuda itu lihat pencuri kudanya. Temuchin berhasil menghajar penjaganya dengan kalung kayunya itu. ekornya diselipkan ke selangkangannya. Ia dinaiki ke atas sebuah kereta besar yang muat bulu kambing. supaya kau puas!‖ katanya nyaring. Jebe berkata: ―Kau adalah sahabatnya Khan yang terbesar. Pemuda itu ialah Borchu. Dia berkata: ―Penderitaannya bangsa pria sama saja. Disampingnya Temuchin muncul satu orang. Atas itu Jebe tidak membalas menyerang.‖ berkata Temuchin. Enam anjingnya Jagatai yang lagi gigiti anjingnya Kwee Ceng menjadi kaget. Alasan itu kuat. ia pergi mencari pencuri kuda itu. Borchu itu kosen dan belum pernah ada tandingannya. setiap orang seperti bermandikan keringat. mereka berdua pergi mencari bersama. dengan suara mendalam. Jebe awasi orang itu. dia berkata: ―Hari begini panas mengendus. Hampir Temuchin kepergok tapi ayahnya Chila‘un pintar. Ketika musuh Taijiut datang mencari dan rumah Chila‘un digeledah. aku akan mati dengan puas. Jebe berpikir: ―Memang pernah aku dengar Borchu adalah orang kosen bangsa Mongolia. terbuka lebar matanya ini panglima. Mendengar orang adalah ―sahabatnya‖ Temuchin. dia berseru dengan keras. lehernya dipakaikan kalung kayu. Tiga hari mereka menyusul. sembari minum koumiss. Satu anak muda yang bernama Chila‘un tidak takut bahaya. dia mati digerumuti semut!‖ Habis mengucap begitu. Sudah itu pada suatu hari. ―Hm!‖ ―Kau andalkan ilmumu memanah. Bersama ibu dan adik-adiknya ia mesti hidup dari daging tikus hutan. ia meninju dada orang. kiranya dia inilah orangnya…‖ Ia tidak menjawab. pergi kau layani dia!‖ ia menganjurkan. ―Seorang diri akan aku bunuh kau. Setelah pesta bubaran. yang mereka hinakan sesudah mana mereka berniat membunuhnya. delapan ekor kudanya yang putih pun kena orang curi. dia pernah ditawan bangsa Taijiut. yang tubuhnya besar dan suaranya nyaring. Maka kemudian. ―Maka sekarang. jangan kasih bocah ini pentang mulut besar!‖ dia berseru. pergilah kau bertanding dengan sahabatku ini!‖ ―Jebe‖ itu memang berarti ―Ahli memanah‖. Borchu maju beberapa tindak. digeledah juga kereta itu.‖ Temuchin sambut itu ajakan. ―Sekarang ini burung elang jatuh di tanah. ―Jikalau aku dibinasakan di medan perang oleh orang yang dapat menangi aku. Ia penasaran. Jebe ada punya namanya sendiri tetapi nama itu kalah dengan gelarannya.‖ sahut Jebe. kereta itu batal digeledah. ―Kha Khan. Ia girang sekali. ―Siapa kau?!‖ ia tanya. mari kita ikat persahabatan. dia tolongi Temuchin. ia menambahkan: ―Sayang aku tak dapat terbinasa di tangannya satu orang gagah perkasa…!‖ ―Apakah kau bilang?‖ tanya Temuchin. kalung kayunya dirusaki dan dibakar. Borchu. Sebaliknya ia berseu: ―Lekas bunuh aku!‖ Kemudian. Ketika dahulu Temuchin belum menjadi kepala bangsa Mongol. sia-sia bangsa Taijiut mencari dia. baharu mareka dapat menyandak si pencuri kuda. aku akan lebih dahulu binasakan padamu!‖ Tertawa Mongol tertawa riuh. ia lari ke dalam rimba. orang sampai menyebut kau Jebe. ―Nanti aku layani dia!‖ Temuchin lihat orang itu adalah panglimanya. Temuchin Irawan D Soedradjat Page 77 .Pendekar Pemanah Rajawali Juji menjadi sangat gusar. semuanya lompat mundur dengan ketakutan. Dengan panah mereka yang lihay. Mereka anggap orang ini tidak tahu diri. musuhnya. ―Aku Borchu!‖ panglima itu membentak. ―Baik. Setelah lolos ini. mereka bubarkan rombongan pencuri kuda itu dan berhasil merampas pulang ke delapan kuda yang dicuri itu. mereka saban-saban mencaci Temuchin. mustahil orang dapat sembunyi di dalam bulu kambing‖ Memang hawa ada sangat panas. ia cuma perdengarkan suara dingin. Bangsa Taijiut itu membikin pesta di tepinya sungai Onan. hingga orang tidak mengetahuinya lagi.

tak usah anak panahnya!‖ ―Kau tak pakai anak panah?!‖ tanya Borchu gusar. Borchu memanah pula. ia cenderungkan tubuh ke bawah untuk jemput tiga anak panah yang tergeletak di tanah. Borchu menjawab: ―Aku keluarkan tenaga untuk sahabatku. ia serahkan panahnya sendiri. sambil berkelit ia memanah pula. dengan enjot diri. sekarang kau beri ketika untuk aku adu panah dengannya.‖ katanya. ia menyambok dengan gendewanya. Irawan D Soedradjat Page 78 . Tidak lagi ia mendekam. ―Dengan sebuah gendewa saja. tubuhnya meroyot hampir mengenao tanah. terus ia main berkelit. ia pun larikan kudanya ke lain arah. Dilain pihak. Binatang itu yang telah berpengalaman. ―Itu sama saja dengan aku sendiri yang memanah dia!‖ ―Baik!‖ Borchu menyahuti. Ia tanya sahabatnya itu menghendaki berapa ekor. setelah itu ia memanah betul-betul. tak dapat aku layani dia cara seimbang. Dengan tangan kiri mencekal gendewa dan tangan kanan memegang naka panah. Ia jepit perut kudanya akan bikin kuda itu lari. kau pakai panahku. Ia terus memanah. lalu dengan sebelah kakinya ia sampok anak panah yang menyambar kepadanya itu. ia berdiri di atas kudanya. Ketika ia diserang pula. Borchu perlihatkan kepandaiannya. dia berkata pada Temuchin: ―Aku telah terkurung olehmu. ―Tidak salah!‖ sahut Jebe. Aku menghendaki hanya sebuah gendewa. ia mendekam akan aksih lewat anak panah itu. sampai Temuchin berhasil mengangkat dirinya. Ia mengincar ke sebelah kanan. putranya yang ketiga. hingga bersama Chila‘un ia menjadi empat di antara menteri besar dan berjasa dari Jenghiz Khan (nama Temuchin setelah ia menaklukan bangsa-bangsa yang lain). Borchu tahu Jebe memang lihay. Jebe lihat kuda lawan gesit. untuk papaki anak panah lawan. Borchu terkejut. habis mana ia angkat tubuhnya. Jebe naik ke bebokong kuda. Jebe berkelit. lalu ―Ser!‖ maka sebuah anak panah menyambar ke arah Jebe. ―Sungguh dia beruntung!‖ kata Ogotai. Jebe berkelit dan sambil berkelit tangannya menyambar. ―Kau kasihkan kudamu pada Jebe!‖ Temuchin berkata pada Ogotai. Borchu tetap menjadi sahabatnya dengan berbareng menjadi panglimanya. jatuh nancap di tanah. ―Binatang ini sangat sombong!‖ seru mereka. Tapi Borchu tidak berhenti sampai disitu. lagi dua kali ia memanah dengan saling susul. hingga anak panah itu jatuh ke tanah. Jebe lihat anak panah datang. Cepat sekali ia membalas memanah. Ia selamat. Mulanya ia cuma mengancam. Jebe tidak sempat menangkap pula. ia memanah lagi pula. Ia pun lompat turun dari kudanya. beruntun tiga kali. dia lompat ke atas kudanya Temuchin. dia tidak berani memandang enteng. ia berbareng membalas memanah. Maka kedua anak panah itu saling bentrok lalu mental. seekor juga aku tidak menginginkannya!‖ Sejak itu keduanya bekerjasama. selagi kuda itu lari. kesempatan ini dipakai untuk membalas menyerang. menangkap anak panah itu. hingga anak panah itu terpanah dua. mengarah perut Borchu. ―Kau naik atas kudaku. yang suruh orang serahkan kudanya. Tapi ia panah anak panahnya Borchu. Temuchin dan semua orangnya bersorak memuji. aku bukannya seorang yang tak tahu diri. ia hanya bawa tubuhnya turun dari bebokong kuda. Kemudian ia larikan kudanya. Temuchin tahu kegagahannya Borchu. Inilah ia tidak sangka. Kali ini Jebe kaget. kaki kanannya nyangkel pada sanggurdi. aku pun dapat membunuh kau!‖ Tentara Mongol menjadi berisik. tahu akan tugasnya. satu kali. Borchu lantas bersiap.Pendekar Pemanah Rajawali hendak membalas budi dengan membagi kudanya. Ia tidak cuma menolong diri. untuk duduk pula atas kudanya! ―Bagus!‖ Borchu memuji lawannya itu.

ia lindungi diri di perut kudanya. Tanpa merasa. hingga akhirnya pundaknya yang kiri kena juga terpanah. ia pungut anak panah itu. ia mendahului membalas menyerang. Kapan ia dengar perkataan Jebe itu. ―Baiklah!‖ kata Borchu. Tapi Jebe lihay. Jebe hendak mengasih ampun padanya. anak panahnya justru mengenai batok kepalanya kuda. Dalam kagetnya ia putar kudanya untuk balik. ―Apa!‖ Temuchin menegaskan. Jadi terang. ―Aku telah panah kepada Khan yang mulia. ia membalas menyerang. yang berdiri di depan pintu. ia talangi Borchu menyahut: ―Baik! Sudah. ―Siapa menghendaki kamu jual kebaikanmu!‖ teriak Borchu. Sementara itu serdadunya Borchu sudah hanturkan beberapa puluh batang anak panah kepala kepala perangnya itu. Tentara Mongol bertempik sorak. kemudian mendapatkan orang tidak terbinasa atau terluka parah. ia pungut anak panah di tanah. dia tidak. ―Aku hendak menukarnya dengan jiwa anak ini!‖ katanya. Irawan D Soedradjat Page 79 . ia menjadi girang. itu cuma menyebabkan Borchu merasa sakit pada bebokongnya. aku harus mendapatkan hukumanku!‖ Ia cabut anak panah di pundaknya. walaupun sambaran anak panah itu keras sekali. hingga ia merasakan sangat sakit. ―Jikalau kau benar ada punya kepandaian. anak panah yang diberikan oleh Temuchin kepadanya. Semua penonton bersorak. ―Bukannya untuk ditukar dengan jiwaku!‖ Jebe berseru. Jebe telah lihat tegas musuhnya itu. tanpa tanda dari penunggangnya. melihat serangan datang. rubuhlah binatang itu! Borchu turut rubuh. Kehilangan senjatanya. incarannya luar biasa. ―Aku minta Khan yang mulia jangan ganggu itu anak. Kali ini ia kena hajar gendewanya Jebe. Anak panah itu tidak ada ujungnya yang tajam! Jebe telah singkirkan itu. Jebe menunjuk kepada Kwee Ceng. Jebe lihat serangan berbahaya. ia lompat berkelit ke kiri. Lantas ia memanah pula beruntun beberapa kali.‖ sepasang alisnya bangkit bangun. jiwanya ditukar dengan jiwamu!‖ ia mengatakannya pada Borchu. tiba-tiba ia menjadi terkejut. Borchu menjadi girang sekali. kamu jangan adu panah pula! Biar. ―Mari kita mengadu pula!‖ Ia lantas memanah pula. ia telah gunai habis semua anak panahnya. ia gunai ketikanya. kau panah mati padaku!‖ Jebe menjawab: ―Biasanya Jebe tidak pernah mengasih ampun pada musuhnya! Panahku barusan berarti. hingga gendewa itu panah menjadi dua potong. satu jiwa tukar dengan satu jiwa!‖ Temuchin kaget dan berkhawatir menampak Borchu kena terpanah. Selagi mata orang banyak seperti di bikin kabur. ujung panah tidak menancap. mereka menjerit. Jebe kasih kudanya lari berputaran. Ia khawatir ia nanti dipanah terus. terguling ke tanah. kali ini ia pakai kantong panah Temuchin. sambil turunkan tubuhnya. sambil bersembunyi.Pendekar Pemanah Rajawali Borchu menjadi berpikir: ―Aku ada punya anak panah. Ia panah bebokong musuh itu. maka tidak ampun lagi. untuk memberi semangat kepada Borchu. terus-menerus. anak panah itu jatuh ke tanah! Dengan keheranan. Maka ia lantas merogoh ke kantung panahnya.. Kudanya Borchu sangat lihay. dan tepat mengenai. Jebe pun berkelit tak hentinya. Semua penonton kaget. Tapi ia belum puas.. Segera ia ketahui sebabnya ia tidak terluka. anak panah yang berdarah itu ia pasang di gendewanya. Tapi anak panah datang demikian cepat. dengan begini mana bisa aku membalaskan sakit hatinya Khan yang terbesar?‖ Ia menjadi bergelisah. Sebenarnya ia biasa berbekal banyak anak panah. hendak ia memanah lebih jauh. Tentang aku sendiri.. yang anak panahnya ada batasnya. Hanya aneh. untuk rampas jiwa orang. dengan saling susul. sekarang kita seri.

akan tuturkan kejadian barusan. kesana aku pergi! Temuchin menjadi sangat girang. ia menggeser sedikit. Bocah itu menggoyangi kepala. hendak aku berikan emas ini kepada itu bocah. Ia lolos dari kematian dan mendapati tuan yang bijaksana. Dengan hidup terus sebagai penggembala. ia ajak putranya ikut Jebe kepada Temuchin. untuk ambil hatinya! Ke mana aku diperintah pergi. Jebe gagal mengelakkan diri. darahnya lantas mengucur dengan keluar. mengikuti di sebelah belakang. Akan aku memotong Sungai hitam menggempur batu gunung. Maka ketika ia memanah. ―Sebentar kau bawalah bocah ini kepadaku!‖ katanya kepada Jebe. Maka kesudahannya. Temuchin telah sukai bocah ini. jangan kita termahai uangnya. walaupun ia incar tenggorokkan. akan aku tunjang Khan yang maha besar! Aku akan menghajar musuh. ―Ibu bilang. ia berkata: ―Kha Khan. aku boleh kasihkan itu kepada siapa aku suka!‖ katanya. Ia menjadi si orang gagah yang menyayangi sesama orang gagah. untuk dibawa bersama. yang sepotong ia berikan kepada Borchu. ―Selanjutnya kau ikutlah aku!‖ Orang Mongol polos dan sangat gemar bernyanyi. ia lantas perdengarkan nyanyiannya: Khan yang terbesar mengampunkan selembar jiwaku. ibunya bocah itu. mungkin ketikanya akan lebih baik. Jebe menjadi girang sekali. Ia ambil dua potong emas. ―Kalau emas itu adalah emasku. Sambil rebahkan diri di atas rumput. ―Khan yang mulia. Borchu siapkan pula anak panahnya. aku rela. Lantas ia ajak pasukan perangnya balik ke arah darimana tadi ia datang. Jebe menghanturkan terima kasih. demikian Jebe. kalau ia turut Temuchin. rasa sukanya menjadi bertambah-tambah. Ia percaya. Irawan D Soedradjat Page 80 . Ia tunggu pulangnya Lie Peng. Ia merasa sakit dan kaget. sambil mendekam. yang sepotongnya pula kepada Jebe. apakah kau masih tetap tidak mau menyerah?!‖ ia tanya panglima musuh itu. ia menjadi kagum sekali. Temuchin tertawa berbahak-bahak. tak ingin ia mengambil jiwa orang. Kwee Ceng pun dapat berlatih ilmu perang. tak mau ia menerimanya. anak panah lewat menyempret di pinggiran tenggorokkannya.‖ ia mengeluh dalam hatinya. sekarang mendengar perkataan orang. berilah ampun kepadanya!‖ Temuchin pun menyayangi Jebe. Beberapa serdadu angkat naik bangkai kuda putihnya ke bebokong dua kuda lainnya. tidak tahu sampai kapan Kwee Ceng dapat membalas dendamnya. kalau kita membnatu tetamu kita. ―Habislah aku hari ini…. maka ia lompat turun dari kudanya untuk terus bertekuk lutut. Di dalam pasukan perang. ia beristirahat. bolehkah?‖ Temuchin tertawa. tetapi ketika ia menoleh kepada Temuchin. Lie Peng lantas berpikir. ―Eh. kau boleh berikan kepada siapa kau suka!‖ Jebe angsurkan emas itu kepada Kwee Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia satu laki-laki sejati!‖ Borchu sebaliknya berpikir.‖ katanya. Tapi ia terus menambahkan. ―Bagus! Bagus!‖ katanya. ―Emas adalah kepunyaanmu. di belakang hari walaupun mesti menyerbu api berkobar-kobar. Jebe lihat Temuchin demikian angker.

kudanya tinggi dan besar. Beberapa tahun yang lalu Wanyen Yung Chi telag diutus menganugrahkan pangkat kepada Wang Khan dan Temuchin. Setelah menemui tiga putra Temuchin. Temuchin muncul dari dalam kemah. semua serdadu sudah siap dengan senjata mereka dan naik kuda. tentara musuh yang dikalahkan sudah menyerbu dan membikin bubarnya pasukan pengiringnya Wanyen Yung Chi. Dengan satu titah dari ayahnya. tentara Mongol bersorak. Borchu menyambut dengan baik. maka sekarang dia utus putranya itu dengan dibantu Wanyen Lieh. Kedua saudara itu membawa selaksa serdadu pilihan. karena keduanya saling menghormati dan menghargai. tandanya Juji telah dapat memapak dan menyambut utusan bangsa Kim itu.Pendekar Pemanah Rajawali Bab 8. Tatkala itu bangsa Kim telah menduduki Tiongkok Utara. ―Kita telah kalahkan banyak musuh. Jebe mencari Borchu untuk menghanturkan terima kasih. maka itu Temuchin anggap adalah suatu kehormatan yang ia dianugrahkan pangkat oleh kerajaan Kim itu. Dengan diiringi putra-putranya. ia khawatir Temuchin itu menjadi bahaya untuknya di bagian utara. yang berseragam lapis baja. ―Begitulah negeri Kim itu sudah utus putranya yang ketiga bersama putranya yang keenam datang kemari untuk menganugrahkan pangkat kepada Kha Khan kamu!‖ Dengan angkat tinggi golok mereka. Yang pertama ialah sepuluh jiwa serdadu menjadi satu barisan kecil. setelah terompet yang kedua. dari itu hebat penyerangan mereka. Tidak lama sejak masuknya dua orang itu ke dalam markas.‖ berkata ini pemimpin besar. Keras disiplin tentaranya Temuchin yang mengatir barisannya dalam empat rombongan. kepala komponi yang memimpin sepuluh serdadu. yang nampak adalah satu angkatan perang besar yang terdiri dari lima pasukan dari setiap sepuluh ribu jiwa. ia dapat lihat mendatanginya dari kejauhan dua penunggang kuda yang larikan binatangnya tunggangannya dengan kencang sekali. atau satu devisi. Ia telah pikir. tinggal lihat gelagat saja untuk mewujudkan politik itu. Ia menempatkan orang gagah itu dibawah Ogotai. pengaruhnya tersiar luas dan jauh. Mereka lihat. mereka menjadi bersatu. terdiri dari seratus jiwa dipimpin oleh satu pekhu-thio. dipimpin oleh satu banhu-thio. komponi yang dikepalai oleh datu opsir disebut siphu-thio. sampai mereka nampak debu mengepul naik. Kwee ceng bersama kawan-kawannya berdiri menonton. sunyi senyap semuanya. Yangkhia. lebih dulu sudah terdengar suara beradunya pakaian baja mereka. merupakan sebagai satu badan. dan sepuluh resimen. yang ia tahu cerdik. lalu terdengar ramai suara terompet. Pedang Mustika Girang Temuchin melihat kedatangan Jebe. atau satu resimen. kebetulan Temuchin lagi berperang. Belum lagi pasukan perang itu datang dekat. negeri Kim pun telah tahu itu. kaki kuda mereka berbunyi tak hentinya. dikepalai satu cianhu-thio. Lewat beberapa tahun setelah itu. kemudian lagi sepuluh eskadron. Jebe ingat budinya Kwee Ceng. setelah Kwee Ceng tambah umurnya akan ia wariskan ilmu panah dan ilmu silat kepadanya. kalau ada titah dari Temuchin. lantas saja mereka menjdia sahabat kental. sedang empat laksa serdadu lainnya mengatur diri dengan rapi untuk menanti. lalu sepuluh komponi. setelah terompet yang pertama. putranya yang ketiga yang menjadi satu siphu-thio. Ia menduga kepada berita penting yang mesti disampaikan kepada Khan yang terbesar itu. raja Kim dengar Temuchin jadi semakin kuat. yaitu wanyen Yung Chi dan Wanyen Lieh. atau satu eskadron. Irawan D Soedradjat Page 81 . Kwee Ceng dan kawan-kawannya terus tinggal menonton. senjatanya tombak panjang. menyusul mana dari pelbagai tangsi terlihat munculnya orang-orang peperangan. *** Pada suatu hari selagi Kwee Ceng memain timpuk-timpukan batu bersama beberapa kawannya anak-anak Mongol di depan markas Temuchin. Mereka itu terlatih sempurna. tubuh setiap serdadu bergoyang-goyang. putranya yang keenam. kecuali napasnya kuda. hingga tampaknya jadi angker sekali. ia perlakukan itu bocah dan ibunya dengan baik. Juji si putra pertama maju bersama selaksa serdadunya untuk sambut utusan Kim. hingga Yung Chi mesti lari pulang ke Chungtu. Ia ingin Temuchin dapat dipengaruhi dengan keangkerannya atau dengan cara halus. sebaliknya bangsa Mongol adalah suatu suku kecil di tanah datar atau padang pasir. Begitu terdengar terompet yang ketiga kali.

tetamunya tentu disambut dan dilayani dengan baik. bersama putra-putranya ia sambut kedua tetamu itu dengan menyuguhkan koumiss dan daging kambing dan kuda. adat kebiasaan mereka masih ―kasar‖. ―Bocah haram jadah!‖ ia mencaci dengan perlahan. Kwee Ceng bukan orang Mongol. akan tetapi memandang Kwee Ceng. dan terhadap musuh. Anak-anak Mongol itu juga terdidik menghormati tetamu mereka. terutama terhadap tetapi. Wanyen Yung Chi lihat Kwee Ceng beramai. ia lantas pungut beberapa potong emas. mereka suka merampas dan memperkosa wanita. tidak pernah mereka mengutuk atau mencaci. Sebaliknya pihak tetamu tidak selayaknya berlaku tidak hormat atau memandang enteng. ―Shako. perbuatan itu dipandang sebagai kejahatan paling besar. untuk meraup sejumlah uang emas. Temuchin bersama putra-putranya ambil tempat di samping untuk menyambut. dengan ketakutan ia mengangkat kaki. tombak itu kena terserang tepat sekali dan jatuh bersama anak panah itu. shako!‖ Wanyen Lieh mencegah. ia tetap panas hatinya. Ia lihat gelagat jelek. atau tengah bergurau. Ia mendongkol bukan main. mereka sangat menghormati. sering ia dengar ibunya itu bercerita tentang kajahatan bangsa Kim yang di Tiongkok. Ia merogoh pula sakunya untuk mengambil uang emas lainnya. Ia mengharap anak-anak itu nanti berebut memungutinya. Biasanya di Tiongkok. dengan itu ia hendak menimpuk kepada bocah she Kwee itu. demikian menampak perbuatan Yung Chi itu. mereka dapat menghargai diri sendiri. ia toh malu bukan main. dari mulut mereka tidak pernah keluar kata-kata kotor. Yung Chi jeri akan saksikan keangkeran tentara Mongolia itu. bagaimana bangsa Kim itu telah bersekongkol dengan pengkhianat-pengkhianat Han untuk membinasakan Gak Hui dan lainnya. ia main bunuh orang. yang mana terus ia lemparkan ke arah anak-anak itu. meski ia tidak merasakan terlalu sakit. Sambil tertawa terus. Kwee Ceng ketolongan tetapi ia telah bermandikan keringat dingin. Temuchin bersikap tenang. itu anak-anak Mongol yang dengan membuka matanya lebar-lebar mengawasi kepadanya tanpa berkedip. ia lantas tertawa dan merogoh ke dalam sakunya. menganiaya dan membunuh rakyat jelata. kenal atau tidak. dari Temuchin sampai pada semua bawahannya pada merasa puas ―Setan cilik. tiba-tiba sebatang anak panah menyambar dari pasukan Mongol yang kiri. Bangsa Mongol paling mengutamakan menghormati tetamu. sedikit saja ia merasa tidak puas. dan kedua itulah sebagai pelesiran. ia berkata: ―Itulah persenan untuk kalian!‖ Yung Chin tidak tinggi ilmu silatnya akan tetapi uang emas hancur itu dapat ia lempar cukup jauh. ―Tahan.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Yung Chi datang berendeng bersama adiknya. Disaat Kwee Ceng menghadapi saat ajalnya. Irawan D Soedradjat Page 82 . Ia lantas rampas sebatang tombak panjang dari satu pengiringnya. kau cari mampus?‖ Yung Chi membentak. Bukankah ia telah diperhina di depan orang banyak? Adalah orang Mongol sendiri. ramai-ramai kamu merebutnya! Hayo rebut. akan tetapi mereka biasa menaati adat istiadat. maka itu semua serdadu Mongol saling memandang satu dengan lainnya. setan-setan cilik!‖ Mendengar itu semua orang Mongol berubah air mukanya. Akan tetapi kesudahannya ia menjadi kecewa. ia melemparkannya kembali sekalian ia beseru: ―Hayo anak-anak. selama berada bersama ibunya. Dengan berbuat begitu. maka sekarang melihat orang Kim itu demikian kurang ajar. maka ia mendelik kepada bocah itu. tidak menghargai tuan rumah. ia lari mendekati Yung Chi kepada muka siapa ia menimpuk sambil ia berseru: ―Siapa sudi mengambil emasmu yang bau!‖ Yung Chi berkelit tapi ada juga uang yang mengenai pipinya. mereka tidak memperdulikannya. Dimasa itu bangsa Mongol belum kenal mata surat. walaupun masih kecil. Sebaliknya tentara Mongol perdengarkan gemuruh seruan memuji penyerangan panah itu. Belum pernah ada yang berani menghina dia. tetapi tombak sudah melayang. jangan layani dia!‖ Wanyen Lieh berkata kepada kakaknya. pertama ia hendak unjuk keagungannya. dan berteriakan. Yung Chi menjadi penasaran. Kalau tetamu berbuat tidak mengindahkan kehormatan diantara tuan rumah dan tetamu. Umpama ada tetamu mendatangi tenda mereka. mereka polos dan pegang derajat. perbuatan Yung Chi ini justru perbuatan yang memandang enteng.

Girang Temuchin akan ketahui ayah angkatnya pun dianugerahkan pangkat. Ketika itu Jamukha memberikan Temuchin biji pie-sek yang terbuat dari tulang binatang. serahkan saja pangkatku kepadanya!‖ ia bilang. apakah Ciauwtouwsu suka turut pergi bersama?‖ Temuchin senang dengan ajakan itu. diawaktu angkat saudara mereka saling mengasih barang tanda mata. Adalah kebiasaan bangsa Mongolia. Wang Khan itu adalah pemimpin dari pelbagai suku di tanah datar. tempo istrinya Temuchin dirampas orang.‖ Erat sekali pergaulannya Temuchin dengan Jamukha. ―Tidak ada lagi. Maka setelah angkat saudara. liok-ongya mungkin belum pernah mendengarnya. Demikian ingat saudara angkatnya itu. putranya masih belum lahir. orang lain tidak ada yang dapat disamakannya. tanpa pikir ia langsung menjawab: ―Bangsa Mongolia berjumlah banyak. Pie-sek itu adalah biji yang orang Mongol biasa pakai untuk menimpuk kelinci. ―Kalau begitu tidak apa. ―Apakah benar?‖ Wanyen Lieh berkata dengan cepat.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Yung Chi membacakan firman dengan apa Temuchin diangkat menjadi Pak-kiang Ciauwtouwsu dari negeri Kim. Temuchin baru berumur sebelas tahun. musuhnya. Inilah untuk ketiga kalinya mereka angkat saudara. Ia membasakan ―liok-ongya‖. untuk dia selamanya menjadi seperti alingan di utara dari negeri Kim itu. Selagi minum. ayahnya Temuchin. Kemudian tempo istrinya Temuchin dirampas bangsa Merkit. Adalah kemudian karena masing-masing mencari air dan rumput sendiri dan memimpin barisan sendiri-sendiri.‖ ―Kami disini masih ada punya seorang gagah yang lain. ―Siapakah dia?‖ ―Dialah adik angkatku. Temuchin terima pengangkatannya sambil berlutut. Maka tidak heran. ia pun disebut Togrul Khan.: ―Besok kami hendak pergi menganugrahkan Wang Khan. Jamukha hadiahkan kepada Temuchin kepala panah yang terbuat dari tulang mata kerbau dan Temuchin sebaliknya menghadiahkan kepala panah yang terbuat dari kau pek. Wang Khan dan Jamukha bekerja sama membantu merampasnya pulang. keduanya bermain timpuk-timpukan di sungai Onon. setipa pagi mereka berlomba bangun pagi. Temuchin terlunta-lunta dan ia kemudian pergi ke Wang Khan untuk menumpang. Malam itu bangsa Mongol jamu tetamu-tetamunya yang dilayani dengan hormat dan telaten. malam tidur berkerubung sehelai selimut. sang kakak tetapi tidak memperdulikannya. tetapi anak-anak gunakan itu untuk main timpuk-timpukan. Ditahun kedua. Itu waktu Temuchin menikah belum lama dan Juji. Kemudian setelah keduanya dewasa. tetapi hubungan mereka masih tetap kekal. Aku mohon sukalah sam-ongya dan liok-ongya juga menganugerahkan dia sesuatu pangkat. Sekarang saling mereka minum arak dari satu cawan. Ia berasal dari suku Kerait. Ia adalah saudara angkat dari Yesukai. mana kami negeri Kim yang besar dapat punyakan demikian banyak pembesar?‖ Wanyen Lieh mengedipkan mata kepada kakaknya. Lalu Wang Khan angkat ia jadi anak pungut. siapa yang menang. Khan sendiri serta Wang Khan adalah orang-orang gagah perkasa. dia pandai memimpin angkatan perang. selalu mereka saling menyayangi.‖ jawab Wanyen Yung Chi Wanyen Lieh segera menambahkan:‖ Untuk di utara ini. yang airnya telah membeku menjadi es. yaitu Jamukha. berdua mereka tinggal bersama-sama dengan Wang Khan. ia diberi minum susu dari gelas kumala dari Wang Khan. Temuchin tidak senang dengan jawaban itu. ia menyambuti firman dan pelat emas itu. Jamukha. ―Siapakah lagi yang dianugerahkan negara Kim yang besar?‖ ia tanya. Kali ini Temuchin dan Jamukha saling menghadiahkan ban emas dan kuda. pangkat turun temurun. dan Temuchin membalas dengan biji pie-sek yang terbuat dari tembaga. ia dapat rampas pulang istrinya itu adalah dengan bantuan Wang Khan dan adik angkatnya.‖ jawab Temuchin. Lagi sekali mereka mengangkat suadara. Irawan D Soedradjat Page 83 . Ketika dahulu hari Yesukai mati diracuni musuhnya. Wanyen Yung Chi telah minum hingga separuh mabuk. ia menyatakan suka turut. angkatan perangnya besar dan kuat. Wanyen Yung Chi berkata. Temuchin timbulkan usul ini. kalau semuanya diberi pangkat.‖ berkata Temuchin. ―Dia jujur dan berbudi tinggi. selagi main panah-panahan dengan panah kecil yang terbuat dari kayu. tempo mereka angkat saudara. mereka jadi berpencaran. pangeran keenam kepada Wanyen Lieh.

di sana kelihatan dua bocah berlari-lari mendatangi sambil berpegangan tangan. Akan tetapi itu waktu. Temuchin girang sekali dengan jawaban itu.‖ ia bilang. Tapi baru ia hendak putar kudanya. Di hari kedua. tentara Kim masih tidur nyenyak di kemahnya. Orang mesti lagi menanti setangah jam barulah Wanyen Yung Chi dan saudaranya selesai dandan dan keluar dari kemahnya. besar-besar kuda tunggangannya. tempo masih sangat muda mereka juga telah mengangkat saudara. Temuchin lihat kalung emas yang biasa dipakai oleh putra itu. pagi Temuchin berangkat dengan ajak keempat putranya serta lima ribu serdadunya.‖ katanya. ―Anda‖ itu kata-kata Mongol. untuk simpangkan soal. mentereng seragam dan alat senjatanya. Tuli itu putra yang keempat. ia menajdi tenang. ―Pandanganmu sering cocok dengan pandanganku.Pendekar Pemanah Rajawali Yung Chi tepuk pahanya. hatinya menjadi tergerak. yang khawatir pemimpin itu gusari putranya. Mereka ialah Tuli bersama Kwee Ceng. ―Ini!‖ Kwee Ceng mendahulukan menyahut seraya ia tunjuk lehernya. akan tetapi dalam hal mendidik anak atau melatih tentara. ―Katanya negeri Kim ada punya dua juta serdadu.‖ berkata Boroul. masih kecil. maka itu tak senang ia tidak melihat anaknya itu. Tadinya Temchin gentar menyaksikan roman gagah tentara Kim itu. ―Baik. yang menjadi gurunya Tuli. ia tampak kudanya Tuli. ―Kau sendiri.‖ sahut Tuli. ―Dan dia menghadiahkan ini padaku. nanti aku tengok. Pada Mukhali ia tanya: ―Bagaimana pandanganmu terhadap tentara Kim itu?‖ ―Seribu serdau kita dapat lawan lima ribu serdadu mereka!‖ sahut Mukhali. Temuchin pakai aturan keras. tetapi sekarang menyaksikan doyannya tidur mereka. kau menghadiahkan apa padanya?‖ ia tanya denagn sabar. ―Barusan aku membuat anda bersama saudar Kwee di tepi sungai. Semua orang menjadi cemas hatinya. untuk mengantari Wangyen Yung Chi dan Wanyen Lieh pergi menganugrahkan pangkat kepada Wang Khan. ―Mana Tuli?!‖ ia tanya dengan gusar. ―Sekarang semua naik kuda!‖ Temuchin lalu memerintah.‖ Ketika itu ia menoleh. ia berseru: ―Apakah kau pandang enteng pangkat yang diberikan kerajaan Kim yang besar?!‖ Temuchin tahu diri. Tuli ulapkan tangannya yang mencekal sepotong handuk merah yang tersulam bunga-bungaan indah. ―Dia biasanya tidak berani bangun sampai siang. ialah handuk buatan Lie Peng untuk putranya. Ia tersenyum. Temuchin segera ingat halnya sendiri bersama Jamukha.‖ Membuat ―anda‖ itu berarti mengangkat sudara. berulang kali ia kasih dengar suara di hidung. ―Ayah!‖ panggil Tuli kapan ia tiba di depan ayahnya itu. Wanyen Lieh pun lantas menyelak dengan ia berbicara sambil tertawa. ia tutup mulutnya. kau juga turut kami!‖ Tuli dan Kwee Ceng girang sekali. ―Kema kau pergi?!‖ tanya Temuchin. kita hanya lima puluh laksa. ―Selanjutnya kamu berdua mesti saling mencintai dan saling menyayangi serta saling membantu!‖ Tuli bersama Kwee Ceng menyahuti menerima pesan itu. Irawan D Soedradjat Page 84 . tetapi Tuli sendiri tidak kelihatan orangnya. ―Kwee Ceng. Matahari telah memancarkan cahaya ketika Temuchin telah berada di atas kudanya dan lima ribu serdadunya telah siap dengan rapi. Sambil mengatakan demikian. sama-sama mereka naiki kuda mereka.

sesudah jalan enam hari. Mendengar itu barulah Yung Chi sadar dan manggut-manggut. Sangum adalah berkulit putih. ―Lekas suruh tentara kita maju! Ini orang-orang Mongol tidak ada gunanya!‖ ―Biarlah mereka yang bertempur lebih dulu. ia telah lantas dapat memikirkannya. lari balik dengan laporannya bahwa di sebelah depan ada menghalang tentaranya bangsa Naiman yang berjumlah tiga puluh ribu jiwa. Dua saudara Wanyen tidak menyangka mendengar itu dan dan menyaksikan sikap orang. ―Saudara. tanda dari hidup senang dan dimanjakan. maka keduanya lantas berpelukan. ―Bangsa Naiman itu sering merampas binatang piaraan kita. dia tidak mirip dengan seorang yang dibesarkan di gurun pasir. Berselang tidak lama. Maka itu. pasukan ini jadi tertunda keberangkatannya. tetapi ia mencoba mengendalikan diri. mereka sangat suka mengganggu. kumis kuningnya jarang. wajahnya berubah. barulah mereka dipapak oleh wakilnya Wang Khan. Wanyen Yung Chi terkejut. Justru itu dua serdadunya Temuchin yang bertugas jalan dimuka sekali. mereka juga menghendaki anugerah itu. Sangum bersama Jamukha. Wanyen Lieh lihat Jamukha bertubuh jangkung kurus. Wanyen Yung Chi sebaliknya tunjuki tingkah polahnya satu putra raja. menandakan ketangkasannya. Segera terlihat debu mengepul di sebelah depan. Mereka bilang. Wanyen Lieh sebaliknya segera mengatur pasukan perangnya. yang mengutus putranya. denagn ayal-ayalan ia minum araknya dan dahar kue. atas mana tentara Mongolia menyambut dengan seruan perang mereka berulangkali. akan temui saudara angkatnya itu. untuk bersiap sedia. ―Pergilah kau tanya mereka!‖ ia perintahkan Mukhali.‖ Wanyen Lieh membisiki kakaknya.‖ sahut di juru warta. Kapan Temuchin dengar Jamukha ada bersama Sangum. Mukhali telah kembali dengan laporannya: ―Bangsa Naiman mendengar putra raja kerajaan Kim datang menganugrahkan Khan kami yang terbesar. Karena hal ini. Tentara terdepan dari pihak Mongol sebaliknya telah mundur kepada barisan mereka.‖ berkata Mukhali kepada Temuchin. mereka terperanjat. ia lantas maju ke depan. Temuchin tidak beri kesempatan untuk orang bicara lebih banyak. ―Kakak. ia lantas perintahkan tentaranya lekas siap.‖ Wanyen Yung Chi teriaki saudaranya.‖ katanya. hatinya goncang.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Lieh lihat tentaranya Mongolia demikian rapi. Pasukan perang itu menuju ke utara. Hbais itu semua putra Temuchin menemui dan mengasih hormat kepada paman angkatnya itu. ―Jumlahnya mereka agaknya lebih banyak dari jumlah kita…‖ kata Yung Chi tidak lancar. akan tetapi sepasang matanya sangat tajam dan berpengaruh. mereka hendak tangkap dan tahan kedua putra raja Kim. habis mana dengan perlahan-lahan juga ia naik ke atas kudanya. Irawan D Soedradjat Page 85 . Dengan membawa sepuluh pengiring. tubuhnya gemuk. lagi kira setengah jam barulah tentara Kim itu siap berangkat. Dilain pihak. ―Adik. Jalan lagi satu hari. disusul sama dua kali cambukan ke udara dari cambuknya. dan musuh segera mulai tampak. rombongan ini sudah mendekati tempat kediaman Wang Khan. ―Kelihatannya mereka hendak menyerang.‖ Wanyen Yung Chi menjadi kaget. apabila mereka tidak diberi anugerah. ―Hendak apakah mereka itu?‖ dia tanya. ―Biarlah kedua putra raja Kim yang besar ini melihat sepak terjang kita!‖ Ia pun lantas bersiul nyaring satu kali. Mukhali larikan kudanya ke depan. apakah hari ini kita mesti lepaskan saja pada mereka?‖ Temuchin melihat sekitarnya.

masing-masing dipimpin Temuchin sendiri berdua dengan Jamukha. tentara musuh sudah datang dekat beberapa ratus tindak. walaupun demikian. ―Lepas panah!‖ ia mengasih titah. Siasatnya ini memberi hasil. Hanya sementara itu. mereka turun dari kuda mereka dan menyerah. Siwaktu itu. barisan belakang Naiman menjadi kalu. merka menggunai anak panah. ―Taruh kata kamu berterika-teriak hingga langit bergerak bumi bergoyang. Wanyen Lieh menjadi heran. dari tempat yang lebih tinggi. yang membuat musuh kacau. ia ingin membuat jasa. untuk kembali ke jalan darimana tadi mereka datang. suaranya nyaring. Jelmi tidak merintangi musuh lari terus. Jarak di antara kedua pihak masih cukup jauh. ia berkata kepada Tuli: ―Pangeran kecil. ia telad tentaranya ialah berkoak-koak dengan seruan peperangan. Sekali ini serempak berhentilah seruan-seruan peperangan tentara Mongol itu. mereka tetap berteriak-teriak saja. Mau tidak mau. Itu waktu Boroul berada di samping kiri. Bersama-sama Kwee Ceng. Kau lihat bagaimana kami nanti menghajar musuh!‖ Tuli mengangguk. hanya sesudah musuh tinggal kira-kira dua ribu jiwa lebih. apakah dengan begitu dapat tentara musuh dibikin mundur?‖ berkata Yung Chi. ia memimpin untuk mencoba merampas kedudukan itu. Ia khawatir tentara Naiman nanti keburu mendahulukan menyerbu kepada mareka. Dalam tempo yang cepat sekali. Kepala perang Naiman rupanya melihat kedudukannya tak selayaknya. jumlah mereka dua ribu lebih dipecah empat yang sebagian diserahkan kepada dua saudara Wanyen. semuanya jatuh di hadapan mereka itu. Tentara Kim menurut titah. Ia mendekam di bebokong kudanya. benda tebal itu dipasang di depan mereka dengan diri mereka teraling. dengan membawa goloknya yang besar. musuh terbinasa dan luka seribu lebih. lantas ia berikan titahnya: ―Jelmi. kau turut aku. Wanyen Yung Chi dapat lihat wajah tentara Naiman itu sangat bengis. yang sebagian untuk Wang Khan. mereka lantas menyerang tentara Naiman. Sebagai orang baru. baru ia memegat. Yung berkhawatir pula. tentara mereka mengikuti untuk turut ambil kedudukan bagus itu. Ia ambil jalan memotong. Jamukha bersama Sangum menyerang dari kiri dan kanan. yang sebaliknya lalu membagi diri dalam dua sayap. karena orang datang semakin dekat. Sebagi kesudahan pertempuran. ia pergi dengan seribu serdadunya. sambil mengertak gigi. guna menduduki tempat yang bagus.Pendekar Pemanah Rajawali Tentara Mongol masih perdengarkan suara mereka yang nyaring tetapi mereka tidak bergeming. Jebe dengan tombak panjang di tangan. tertawan dua ribu lebih. Selagi kepala perang Naiman bersangsi. ia biarkan mereka dihajar oleh kawan-kawannya. pergi kau serbu bagian belakangnya!‖ Jelmi menerima titah itu. Kejadian ini membingungkan pasukan yang berada di sebelah depan. musuh lantas lari serabutan. Di pihak Mongolia. Sesudah itu. Atas ini. penyerangan panah dilanjuti. kematian dan luka Cuma seratus lebih. Dalam tempo yang pendek. Karena ini adalah penyerangan dari jauh. jangan kau ketinggalan. Tentara Mongol membuat tembok bentengan yang terdiri dari semacam permadani. Hampir semua panah mereka yang gagal. Temuchin titahkan loloskan seragam tentara Naiman itu. cambuknya Temuchin mengalun pula di tengah udara. maju di paling muka. yang sebagian untuk Irawan D Soedradjat Page 86 . mereka kepraki kuda mereka untuk menerjang. Temuchin dari tempat yang tinggi menyaksikan penyerangan pihaknya itu. mereka lantas menghujani anak panah. tentara Mongol tetap tidak bergerak. anak panahnya tentara Kim ini tidak sampai kepada musuh. Musuh menjadi kecil nyalinya. keduanya ini lantas lari ke tanah tinggi di samping mereka.

―Dengan orang Mongol saling bunuh. Wanyen Lieh memasang mata kepada Wang Khan. malam itu Wang Khan jamu tetamunya. Dia mengenakan jubah hitam dari kulit binatang tiauw dengan pinggang dilibat ikat pinggang emas. Ia menginsyafi ancaman bahaya dari pihak ini.. Wanyen Lieh awas matanya. terus ia tuntun Temuchin dan Jamukha di tangan kiri dan kanannya.‖ berkata Wang Khan sambil tertawa seraya menunjuk ke arah Temuchin dan Jamukha. ―Jikalau aku telah menutup mata nanti. Itulah tanda dari datangnya lagi satu pasukan perang. ia menjalankan kehormatan. Ia menyuguhkan nyanyian dan tari-tarian oleh budak-budak wanitanya. Syukur ketiga anak-anakku telah dapat membinasakan mereka!‖ Lantas dengan hormat sekali. dan tentaranya kuat. ―Oleh karena khawatir kedua pangeran kaget maka hamba datang bersama tentaraku ini. yang tubuhnya gemuk. Nampaknya ia keren sekali.‖ berkata Wang Khan. kepada Khan itu. Wang Khan undung kedua utusan Kim itu datang ke tendanya. ―Kalau Temuchin dan Jamukha bisa persatukan pelbagai suku bangsa Mongol itu. dengan gembira ia rundingkan itu. Itu waktu terlihat pula debu mengepul jauh di sebelah depan. pendekar tua. ―Putramu terlebih gagah lagi. untuk mengendalikan diri. sudah sewajarnya dialah yang nanti menggantikan aku memimpin suku kita. yang Cuma rangkap kedua tangannya dari atas kuda. Ramai sekali pesta itu. Wang Khan tiba untuk lantas lompatb turun dari kudanya. untuk berjalan kaki menemui dua saudara Wanyen. Segera Wanyen Lieh turun dari kudanya. banyak suka lainnya yang takluk padanya. Untuk serdadu-serdadunya yang terbinasa. Sangum tidak puas mendengar perkataan ayahnya itu. ―Hamba dengar bangsa Naiman hendak berbuat kurang ajar.‖ berkata Wang Khan sambil tertawa. ―Hajar pula padanya!‖ Akan tetapi juru warta Mongol datang dengan wartanya: ―Wang Khan sendiri datang dengan pasukan perangnya!‖ Mendengar itu Temuchin bersama Jamukha dan Sangum lantas pergi menyambut.‖ ―Dua anak angkatku ini adalah orang-orang gagah perkasa bangsa Mongol. ―Kenapa loo-enghiong tidak menyebut-nyebut dia?‖ Sengaja pangeran Kim ini memanggil loo-enghiong. saban-saban ia cegluk arakanya dari cawannya yang besar.‖ ia puji putra Khan itu.‖ ia berpikir. Tengah berpesta. ―Bagus!‖ berseru Wanyen Yung Chi. ia menjadi berpikir keras. Wanyen Lieh berkata: ―Aku ingin menyaksikan orang-orang gagah perkasa bangsa Mongolia. ia lihat ketidakpuasaan orang. Wanyen Lieh berpikir apabila ia dapatkan di dalam segala hal Wang Khan ada lebih unggul dari Temuchin. Tidak heran kalau Khan ini menjagoi di Utara. Tidak demikian dengan Wanyen Yung Chi. maka kami bangsa Kim di Utara dapat merasai aman sentosa. Setelah selesai upacara penganugerahan. Wanyen Lieh sebaliknya gentar hatinya. itu artinya negaraku tak aman lagi…‖ Oleh karena ini. Dengan jumlah yang lebih kecil. ―Dia mana dapat dibandingkan dengan kedua anak angkatku? Irawan D Soedradjat Page 87 . Temuchin dan Jamukha telah kalahkan musuhnya yang lebih besar jumlahnya. di depan kuda dua saudara ini. ia memberi keluarganya lima ekor kuda serta empat tawanan Naiman sebagai budak. kumis dan jenggotnya telah putih bagaikan perak. Baru sekarang Wanyen Yung Chi sadar atas caranya bangsa Mongol itu berperang.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha san yang sisanya untuk dirinya sendiri. guna membalas menghormat.

tiba-tiba Sangum berseru: ―Kau cuma kepala komponi yang rendah pangkatnya. Yang pertama adalah satu orang yang romannya lemah lembut. ―Kau kembali!‖ Sangum memanggil dengan membentak. Dan yang keempat ada seorang yang dengan seluruh lengannya bercacat bekas bacokan golok. Merekalah orang-orang peperangan yang berjasa membangun negara Mongolia yang Temuchin sendiri menyebutnya empat panglima gagah.‖ katanya kemudian. Dengan mata bengis Jebe awasi Sangum. ―Syukur Temuchin kirim empat panglimanya untuk membantu aku. Jebe sudah lantas muncul. ia lantas tenggak isinya. Temuchin meluluskan. terus ia bertindak keluar. cara bagaimana kau beri minum dari cawan emasku?!‖ Jebe kaget berbareng murka. Irawan D Soedradjat Page 88 . ia menghanturkan terima kasih. ―Mana mereka itu? Aku ingin melihatnya. Habis orang minum. ia adalah Boroul. Dialah Chi‘laun yang dulu hari pernah tolongi Temuchin dari ancaman malapetaka.‖ Wanyen Lieh minta. Ia lantas berhati-hati sendirinya.‖ ―Mari cawan itu! Aku berdahaga. Yang kedua ada bertubuh kekar dan sepasang matanya tajam seperti burung elang. ―Coba suruh dia masuk kemari untuk minum satu cangkir. Yang ketiga ada berpotongan kecil dan kate tetapi gesit gerakkannya. den Temuchin gagah tak tertandingkan.‖ Wanyen Lieh puji mereka itu satu persatu. Orang gagah yang mana yang tidak bakal menjual jiwanya untuk Temuchin?‖ ―Apakah sebawahan loo-engjiong tak dapat melawan dia?‖ Wanyen Lieh tanya. segera setelah itu empat perwira masuk ke dalam tenda. Wanyen Lieh mengawasi. Menurut kebiasaan bangsa Mongol. Temuchin lirik putra raja Kim ini. Wang Khan urut kumisnya.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha pandai dan cerdik. untuk itu adalah ayah angkatku dan saudara angkatku yang membantu aku merampas pulang. Dengan tangan kosong Temuchin bakal membangun negara. yang mukanya merah bagai darah. biar aku kasih dia ampun. ia beri titah untuk memanggil Jebe. ―Pernah bangsa Naiman rampas beberapa laksa binatang ternakku. apapula dilakukan di muka orang banyak. Siapakah dia?‖ ―Dia adalah Jebe. ia bertindak terus seraya angkat kepalanya. Jebe tidak ambil peduli. ―Istriku dirampas orang.‖ Mendengar itu. yaitu Borchu. dia menerjang musuh bukan main gagahnya. ia lantas mengawasi Temuchin.‖ Temuchin menjawab. ―Apakah kegunaanku?‖ Temuchin lekas berkata. Kata-kata orang ada mengandung pancingan atau unsur merenggangkan. ia letaki cangkir araknya dengan separuh dibanting. ia haturkan secawan arak pada masing-masingnya. Diberikan arak. dengan begitu semua binatang itu dapat dirampas pulang. Denga perlahan-lahan Temuchin tepuk-tepuk tangannya. ada satu panglima dengan seragam hitam. ia berkata pula: ―Tadi di medan perang.‖ ―Suruhlah mereka masuk kemari!‖ Wang Khan berkata pula pada Temuchin. mencegah orang minum arak adalah satu penghinaan besar.‖ ―Bagaimana dengan empat panglimamu yang kesohor gagah itu?‖ Wanyen Lieh tanya. Maka itu Temuchin berpikir: ―Dengan memandang ayah angkat. ia tidak menjawab. Ketika ia hendak hirup araknya itu. pemimpin komponiku yang baru. Ia hanya menghirup araknya. Batal ia minum. air mukanya Sangum berubah. Dialah Mukhali yang pandai mengatur tentara. kasih aku yang minum!‖ Ia ambil cawan itu dari tangannya punggawanya itu. ialah sahabatnya Temuchin. yang kulitnya putih sekali. Anakku? Ah….

mereka tengah berminum. semuanya lantas bangkit berdiri. ―Ambil arak!‖ ia menitah. mereka lantas bertempik sorak. ―Mari kita pergi keluar untuk melihatnya. tentu empat-empatnya mereka dapat dimakan habis dengan sekali telan!‖ ia pun tertawa dingin. kopiah itu ia sadurkan kepada Jebe. Pekhu-thio itu menjadi sangat bersyukur. Temuchin telah naiki pangkatnya Jebe menjadi pemimpin eskadron. ia ulurkan tangannya untuk menyambuti. sejenak itu juga. Ia lantas menghirup satu ceglukan. Ia angkat poci itu.‖ Temuchin berkata pula: ―Beruntun tiga kali dia menyerbu bolak-balik! Siapakah dia?!‖ ―Itulah Siphu-thio Jebe!‖ sahut banyak serdadu.‖ Sangum mengajak. Temuchin tersenyum. Di luar tenda. kapan mereka tampak Khan mereka muncul. Terpaksa orang banyak turut keluar pula. akan tetapi menyaksikan sikapnya pemimpin mereka itu. Temuchin lihat wajahnya Jebe merah. terus ia angkat kopiahnya itu tinggi-tinggi. kau hendak mengacau apa lagi!‖ Wang Khan menegur putranya. Untuk sejenak. Jelmi menurut dan menyerahkan kopiah itu dengan kedua tangannya. sambil tekuk sebelah kakinya. Ia mengerti bawahannya itu penasaran dan gusar. ―Makhluk apakah itu?‖ Wanyen Yung Chi bertanya. yang aku pakai untuk membasmi musuh!‖ dia berkata dengan suara nyaring. dengan begitu kamu semua telah bercape lelah…!‖ Tentara itu berteriak: ―Adalah Wang Khan. maka dengan kegirangan mereka berseru: ―Jebe gagah berani. terus ia mencegluk beberapa kali. dengan sendirinya. Ia sambuti pulang kopiahnya itu. Wanyen Yung Chi hendak melihat keramaian. ―Sungguh satu manusia yang luar biasa!‖ pikir Wanyen Lieh. ―Kalau sekarang dia suruh Jebe mati. mari kita melihat yang lainnya!‖ Ia pun lantas berbangkit dan bertindak keluar. tidaklah itu dapat melawan kopiah besi dari Kha Khan ini!‖ katanya perlahan. Temuchin menyambuti. bangsa Mongol telah menumpuk beberapa ratus api unggun. dia pantas menjadi pekhu-thio!‖ ―Ambil kopiah perangku!‖ kata Temuchin kepada Jelmi. orang melengak. Di terangnya api unggun. untuk dipakai di kepalanya. ―Kita lagi gembira minum arak di sini.Pendekar Pemanah Rajawali Sangum kecele. habis itu. Jebe tentulah rela!‖ Irawan D Soedradjat Page 89 . Semua punggawa dan serdadu Mongol itu tahu Jebe telah menerima penghinaan. ―Dia-lah pekhu-thio!‖ Dengan begitu. ia berkata: ―Minum arak saja pun kurang gembira. ―Biarpun cawan emas yang paling berharga di kolong langit ini. tetapi segera mereka mengerti. terus ia berkata dengan nyaring: ―Hari ini kita hajar bangsa Naiman hingga mereka dapatkan kekalahan besar. Dia lantas dibawakan satu poci besar. isinya ia tuang ke dalam kopiah besi itu. tetapi ia kata kepada Temuchin: ―Saudara Temuchin ada punya empat pendekar tetapi asal aku keluarkan satu makhluk. ―Apa siphu-thio!‖ berkata Temuchin. Ia tahu juga bagaimana mesti perlakukan orang polos demikian. ―Sekarang hendak aku pakai ini sebagai gantinya cawan arak!‖ Ia buka tutp poci arak. ―Inilah kopiahku. Temuchin Kha Khan dan Jamukha Khan yang memimpin kita menghajar mereka!‖ ―Hari ini aku telah lihat seseorang yang luar biasa beraninya yang sudah menyerbu ke belakang barisan musuh.

dari itu kalau bukannya pangeran atau bangsawan. ia lempari itu ke tanah. Sangum tersenyum. Dia berkata: ―Kita menggentarkan padang pasir. Adalah umum orang Mongol memelihara macam tutul. Mukhali tarik kawannya itu. yang bulunya belang bertotolan. ―Apakah emapt pahlawan saudara angkatnya Temuchin?‖ ia mengulangi. ia tapinya diam saja. setelah mana kedua macam tutul itu sudah datang sekat api unggun. ia tertawa besar dan lama. jikalau mereka dapat dengan tangan kosong membinasakan dua ekor macanku ini. barulah aku sangat takluk kepadamu!‖ Mendengar ini. ―Tidak apa orang tertawakan kami. ia pertontonkan ke empat penjuru. Sebab mereka itu adalah si pemelihara binatang buas itu. ―Asal kau menang. ia hanya bertindak lagi. Ia suruh pengiringnya ambil kursi kulit harimau. tak dapat kau hilang muka! Nanti aku lawan macan tutul itu!‖ Wanyen Yung Chi menjadi sangat girang. Mereka dalam hati kecilnya berkata: ―Sudah kau hinakan Jebe. Sangum masuki cincin itu ke jari tangannya. Adakah kami babi hutan atau serigala maka kami hendak diadu sama macan tutulmu?‖ Juga Temuchin menjadi sangat tidak senang. ―Kakak. tak sudi ia minum arak lebih jauh. tetapi macan tutul? bisakah binatang itu memimpin tentara? Bisakah binatang itu mengatur tentara bersembunyi dan mengurung musuh?‖ Temuchin pun segera berkata: ― Saudara Sangum. sekarang kau hinakan kami juga. Wanyen Yung Chi kaget hingga ia raba goloknya. Ia angkat jari tangannya itu. Macam tutul baik tenaga maupun kegalakannya melebihi anjing pemburu. empat pahlawannya itu mengundurkan diri. Sangum berpaling. orang tak dapat memeliharanya. ―Empat pahlawanmu adalah orang-orang gagah. Chi‘laun tidak pandang cincin itu. cara bagaimana aku bisa biarkan mereka berkelahi sama macan tutul?‖ Sangum tertawa terbahak. cincin itu menjadi kepunyaanmu!‖ katanya. kita telah membunuh cukup banyak. Pengiring itu menyahuti. Jamukha mengerutkan alis. jalannya ayal-ayalan tetapi sikapnya sangat bengis. Wanyen Yung Chi justru pikirkan saja kata-katanya Sangum tentang empat pahlawannya Temuchin. ia lants pulang ke tendanya untuk tidur. dua pasang matanya bersinar mencorot. Ia lantas loloskan sebuah cincinnya yang bermata berlian. baru hatinya lega. yaitu dua ekor macam tutul yang besar. ―Begitu?‖ ia mengejek.‖ katanya.‖ kata Sangum kepada Temuchin. ―Kau ada punya makhluk apa yang demikian hebat. Tapi binatang ini sangat kuat makannya. ―Buat apakah mengepul menjadi orang gagah kalau dua ekor macanku saja takut dilawan?‖ Diantara empat pahlawan itu.Pendekar Pemanah Rajawali Beda dari saudaranya. mereka itu masing-masing mencekal sebatang galah. ―Mana dia empat pahlawan yang menggetarkan padang pasir itu?‖ Mukhali berempat lantas menghampirinya dan memberi hormat sambil menjura. ―Khan yang maha besar. keempat pahlawan menjadi sangat dongkol. hingga ia dapat menelan keempat pahlawan?‖ dia tanya Sangum. Irawan D Soedradjat Page 90 . tetapi kau. untuk diletaki di tangannya saudara angkat itu. Lenyap kegembiraannya Yung Chi karena gagal menyaksikan pertandingan antara manusia lawan binatang liar itu. disusul mana munculnya binatang itu sendiri. membunuh musuh. Ia lantas bertindak maju ke depan. Chi‘laun yang paling keras tabiatnya. untuk bicara perlahan sekali dengan satu pengiringnya. di atas itu ia duduk bercokol. Temuchin juga bersikap tenang dan agung. Binatang itu dikalungi dengan kalung kulit dan setiap ekornya dituntun dua orang yang tubuhnya besar. Sampai di situ. terus ia mundurkan diri. Maka ia berkata: ―Aku menyayangi keempat pahlawanku sebagai jiwaku sendiri. yang dipakai untuk berburu. Tentaranya Wang Khan lantas saja bersorak-sorai. Tidak selang lama lantas orang mendengar suara mengaumnya seekor binatang liar. kau menang!‖ Dan ia bertindak menjemputi cincin tadi.

apapula putranya itu masih kecil. dia lari bersama bangkai kelinci itu! Tuli lantas berteriak: „Eh. satu yang berumur kira-kira sepuluh tahun. ―Akan aku beritahu ayahku!‖ katanya. habis bagaimana?!‖ ―Ayahku Temuchin!‖ kata Tuli dengan sama jumbawanya. ―Ayahku tidak takuti siapa juga!‖ ―Ibumu telah orang rampas. mereka lompat maju untuk menubruk. apapula segala macan tutul!‖ serunya sengit. Tuli bersama Kwee Ceng lantas mengejar dengan berteriak-teriak. adalah ayahku dan kakekku yang pergi menolongi merampas pulang!‖ sahut Tusaga. Di antara empat pahlawan. ―Ayahmu adalah hantu cilik yang nyalinya kecil. Temuchin telah berpisah lama dengan Wang Khan dan Sangum. yang merupakan rimba. barulah ia dapatkan putranya ini. empat pahlawan dari ayahmu lantas tak berni bergiming!‖ Tuli bertambah gusar. Tapi tenaganya Tuli sangat terbatas. anak-anak mereka tidak kenal satu sama lain. putra tunggal dari Sangum atau cucunya Wang Khan. Boroul adalah gurunya. Karena itu. Tuli gusar sekali. lalu ia tidak punya anak lain lagi. Bocah itu yang telah berhenti berlari berdiri sepasang alisnya. ―Kau tidak takuti aku?‖ Tuli melengak. Girang Tuli berdua. Meski begitu. Sangum ingat baik-baik peristiwa itu dan menceritakan kepada orang lain hingga Tusaga yang masih kecil mendapat tahu juga. Sebaliknya Tuli tidak tahu suatu apa. dia juga takuti ayahku!‖ Bocah itu adalah Tusaga. Mulainya Sangum dapat satu putri. Tiba-tiba ada seekor kelinci putih lari lewat di samping mereka. muncul serombongan anak-anak. Kelinci itu lari serintasan. matanya pun melotot. ―Ayahmu takuti ayahku. Tuli keluarkan panah kecilnya dan memanah. ―Terang ini adalah kelinci liar!‖ Bocah itu galak. ―Fui!‖ bocah itu menghina. putranya ini sangat disayangi dan dimanjakan. ―Guruku tak takut harimau. ―Kau berani membantah?!‖ dia membentak.Pendekar Pemanah Rajawali Besok paginya Tuli dan Kwee Ceng dengan bergandengan tangan pergi bermain. ―Kelinci ini adalah piaraanku!‖ dia kata. hingga Tusaga menjadi kepala besar. dia tertawa. ―Siapa yang bilang. kelinci itu masih dapat lari terus dengan bawa anak panah yang nancap diperutnya itu. sebab Temuchin anggap hal itu memalukan dan tidak pernah memberitahukan putranya. ―Siapa yang bilang?!‖ ia tanya dengan bengis. ―Sudah bagus aku tidak minta ganti rugi!‖ ―Tidak tahu malu!‖ bentak Tuli. Tuli gusar sekali yang ayahnya diperhina orang. ―Hanya guruku tidak hendak melayani!‖ Tiba-tiba Tusaga maju dan tangannya melayang ke kuping orang. dia takuti kakekku. lantas ia roboh dengan sendirinya. kau yang memanah?‖ tanyanya. ―Tadi malam ayahku keluarkan dua macan tutulnya. Tusaga tertawa terbahak. ―Apakah kau sangka aku tidak ketahui hal itu? Maka apa artinya kalau aku naru ambil ini kelinci kecil?‖ Memang dahulu hari Wang Khan telah bantu anak angkatnya itu. ―Kau maki siapa?!‖ tegurnya. ia menghampiri Tuli dan mendorong pundak orang. Ia putar tubuhnya untuk berlalu. kau mengadu juga bisa apa?‖ katanya. dia cabut anak panahnya dan lalu ia buang ke tanah. Justru itu dari samping mereka. Irawan D Soedradjat Page 91 . selang lama. dengan sangat sebat. Ia tidak sangka orang berani pukul padanya. ―Kakekku ialah Wang Khan! Ayahku ialah Sangum! kau tahu tidak?! Taruh kata benar kelinci kaulah kau yang panahm kalau aku hendak ambil. karenanya. tanpa terasa mereka bertindak semakin jauh dari tenda mereka. Tepat kelinci itu terpanah perutnya. telah mendahului menyambar binatang itu. kelinci itu akulah yang memanahnya! Kenapa kau bawa lari?!― Bocah itu menoleh. kemudian setelah ia mengawasi Tuli berdua. ―Panah ini toh kepunyaanku!‖ jawab Tuli.

dia ini berkata: ―Kau menyerah. ―Lepas tanganmu!‖ Ketika itu telah tiba beberapa yang lainnya. Tuli lompat bangun begitu lekas ia merasai tubuhnya enteng. Untuk enam tahun lamanya mereka mondar-mandir. sebentar saja Kwee Ceng dan Tuli kena dipukul jatuh. Dalam saat tegang dari bocah-bocah ini. Tuli tertawa seraya tepuk-tepuk tangan. dia merayap bangun. ―Kita jangan bikin pasar keburu bubar. sia-sia saja. lalu bersama kawannya ia angkat kaki! ―Kejar!‖ teriak Tusaga gusar. Pihaknya kebanyakan terlebih tua usianya. sembari memukul bebokong orang. Maka itu ia menjadi besar kepala. dan merekapun berjumlah lebih banyak orang. mereka menyusul hingga ke gurun pasir. tidak ampun lagi dia roboh terjengkang. Tubuh Kwee Ceng diduduki Tusaga. mereka lantas jadi berkelahi bergumul. ―Bagus! Kamu lagi berkelahi!‖ katanya. mereka itu kembali kena dikurung. ditindih oleh dua lawan.‖ ―Kau lihat sendiri. kau lihat sendiri!‖ kata orang yang dipanggil shako itu – shako – kakak nomor tiga. jangan usilan. Tusaga murka sekali. tertawa apabila ia lihat bocah-bocah itu sedang berkelahi. lalu satu nona berkata: ―Shako. amri kita melanjutkan perjalanan. ia lompat turun dari kudanya. dia termanjakan. ―Bagus!‖ dia bersorak. Kanglam Cit Koay pada tersenyum. Dia adalah putranya satu jago di Utara. ―Kejar!‖ Ia ajak kawan-kawannya mengubar. ia tak dapat bergerak. selama itu tidak pernah mereka dengar halnya si orang she Toan itu. dia pun turut menyerbu. Tuli dengan mata bersinar hawa amarah. lalu ditindihkan. maka itu. ―Hajar lagi padanya!‖ Tusaga memberi komando. Kwee Ceng berontak dan loloskan dirinya seraya lompat bangun juga. Anak-anak itu pun lantas maju. Han Siauw Eng adalah si nona. Irawan D Soedradjat Page 92 . tak malukah kamu?!‖ tegurnya. nanti kita tak dapat menanyai orang!‖ Itu waktu Tusaga beramai telah dapat candak Tuli berdua. ―Hayolah jalan!‖ berkata Kwa Tin Ok. Mereka ingat masa kecilnya mereka. Mereka semua mengerti bahasa Mongol. yang pun bengal dan gemar berkelahi. Dia maju dan seruduk perutnya Tusaga! Putranya Sangum juga tidak menyangka-nyangka. menggelengkan kepala.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee ceng panas hati semenjak tadi. apabila ia telah melihat denagn tegas. dari kejauhan ada terdengar kelenengan unta. ia heran. kau galak sekali!‖ kata penunggang kuda itu. ia kata nyaring: ―Tidak malukah kamu?! Lekas lepaskan mereka!‖ ―Minggir! Jangan banyak omong disini!‖ bentak Tusaga. Kemudian dengan tarik tangannya Kwee ceng. ―Dua mengepung satu. Kawan-kawannya Tusaga tidak tinggal diam dan mengejar. Tapi kapan ia telah datang dekat dan lihat dua anak dikepung beramai. Justru ia melengek. ia tarik dua bocah yang mengerubuti Tuli. Mereka dengar Toan Thian Tek kabur ke utara. ia menyempar hingga orang berguling. lalu ditepi sungai tertampak rombongan pedagang dari gurun pasir. Tuli pun tak dapat bergeming. itu tujuh Manusia Aneh dari Kanglam. kepalan dan kaki digunakan semua. ―Menyerah atau tidak?‖Tusaga tanya. dua bocah itu telah babak-belur dan matang biru mukanya. sekarang ia tidak dapat mengatasi pula dirinya. ―Hai anak. Rombongan kalifah itu terdiri antaranya dari Kanglam Cit Koay. aku kasih ampun!‖ Kwee Ceng berontak. Tusaga menyaksikan kejadian itu. siapapun tidak berani lawan padanya. ia lari. Salah satu diantaranya yang menunggang kuda putih.

kecuali Kwee Ceng yang dilehernya pun berkalung gelang emas yang indah. walaupun kangzusi. Ia dapatkan ukiran dua huruf ― Yo kang‖. Si Mayat Perunggu dan Si Mayat Besi Untuk sesaat. dari itu. Cu Cong lompat turun dari kudanya. Yo Kang itu adalah nama yang Khu Cie Kee berikan untuk anak yang masih ada dalam kandungannya Pauw Sek Yok. takukah kau siapa Yo Kang?‖ ―Yo Kang? Tak pernah aku dengar nama itu…‖ jawab Tin Ok. Biauw Ciu Si-seng Cu Cong. maka itu matanya tak pernah salah. ―Eh.. Kim Hoat pun merasa memegang benda yang rasanya dingin. Kenapa sebuah mustika berada di tangan satu bocah? Ia jadi awasi Kwee Ceng begitu pun semua bocah lainnya. ia susul kawan-kawannya. atau sekejap saja belati di tangan Kwee Ceng telah pindah ke dalam cekalannya. ―Kenapa belati ini terjatuh ke dalam tangan orang Mongol? Yo Kang? Yo Kang? Tidak pernah aku dengar orang gagah dengan nama ini….Siapa tak gagah tak pantas ia mempunyai belati ini…. lihat sinar berkelebat berkilau itu. ia manjadi heran. Ia lompat pula untuk naik ke atas kudanya. Semua mereka mengenakan kulit binatang yang mahal. ―Jangan berkelahi. tentu saja Kanglam Cit Koay tidak kenal nama Yo Kang itu. melemparkan. pasti dapat senjatanya dirampasnya. Ia mengharap pisau belati itu. ―Toako. Bersinar berkilau belati itu diantara sinar matahari. Cu Cong ayun tangannya. tak dapat kau ubah tabiatmu yang suka mencopet itu!‖ kata Siauw Bie To Thio A Seng. ―Mustika apakah itu? Mari kasih aku lihat. batu mana terus terbabat kutung.‖ ia berpikir. ―Dia tentu curi itu untuk dibuat main. bagaikan sinar bianglala.‖ minta Lauw-sie In Hiap Coan Kim Hoat. Kemudian ia lihat gagangnya pisau. Jangan kata baharu Kwee Ceng. Jadi mereka mestinya adalah anak-anak bangsawan Mongolia. hingga semua Kanglam Cit Koay heran dan memuji. ―Hayolah kamu baik-baik bermain…!‖ Ia menyelip di antara bocah-bocah itu. ―Siapa berani maju!‖ ia berseru. Kemudian dia bertanya pula pada kakaknya yang tertua.‖ si setan tangan ulung berpikir pula.Pendekar Pemanah Rajawali Tiba-tiba sebuah benda berkelebat di tangannya Kwee Ceng. istrinya Yo Tiat Sim. Irawan D Soedradjat Page 93 . sikapnya gagah sekali. ia jadi terperanjat. ―Mestinya bocah ini telah curi senjata ayahnya. Kim Hoat berdiam. sambil tertawa berkakakan. yang telah larikan kudanya. ia menjadi heran. ―Perlu aku lihat. sebagai mustika dapat mengusir pengaruh-pengaruh jahat. benda apakah itu…‖ Maka itu ia larikan kudanya ke arah anak-anak itu hingga ia menampak Kwee Ceng dengan belati di tangan. Menampak orang bersenjata. satu anak kecil. Lie Peng menyayangi putranya. ―Jieko. ―Benda itu pasti mustika adanya. ini namanya orang Han!‖ katanya. untuk sang putra yang simpan. Banyak sudah ia mencuri barang-barang berharga kepunyaan pembesar rakus atau hartawan jahat. Bukannya tak halal kalau aku ambil barangnya orang bansawan…‖ Dengan timbul keinginannya akan punyai belati itu. ―Bagus!‖ ia segera memuji. Nyata ia mencekal sebatang pisau belati. jangan berkelahi!‖ katanya. Tusaga semua tidak berani maju. Tiat Sim dan Siauw Thian telah saling mengasih tanda mata belati yang terukir nama Yo Kang dan Kwee Ceng. aku dapat mustika!‖ kata ia. ―Tak jelek untungku hari ini. dia dekati semua bocah itu sambil ia tertawa haha-hihi.‖ Bab 9. lalu tangannya menyambar ke batu di dekatnya.com orang kosen lainnya. senjata peninggalan suaminya itu ia serahkan kepada sang putra.

Kwee Ceng menjublak mengawasi orang pergi. kalau sebentar ia pulang. Ia penasaran. Ia percaya Ogagati akan suka membantu padanya. Ia berteriak-teriak menyuruh mereka berhenti berkelahi. sedang kakaknya itupun kuat. ia tak berani berkelahi terus. ―Pergilah kau pulang. tetapi ia tidak dipedulikan. Han Po Kie mempunyai kuda yang paling gesit. apakah kau bernama Kwee Ceng?‖ ia tanya dengan sabar. sekarang mereka dapati ada titik terang. mereka pegang satu kepercayaan sekalipun terhadap satu bocah. . seraya tangannya mencekal belati orang. tanpa bersangsi pula.‖ katanya dengan halus dan ramah. Tapi ia tuding Tuli dan menantang: ―Dua ekor anjing cilik. darimana kau peroleh belati ini?‖ Dengan tangan bajunya Kwee ceng susuti darah yang masih mengalir dari hidungnya. mengulurkan tangannya pada Cu Cong. mereka jadi bersemangat. Lantas ia ingat akan sesuatu. Bukan kepalang girangnya Tin Ok. anak. besok kita bertempur pula disini!‖ ―Baik. ―Ibuku yang berikan padaku.Pendekar Pemanah Rajawali Coan Kim Hoat sabar dan teliti. Kemudian ia menggeleng kepalanya. ―Apakah she ayahmu?‖ Cu Cong tanya pula. besok kita bertempur pula disini!‖ Tuli terima tantangan itu. Cit Koay lihat orang rada tolol. mereka menjadi putus asa. Kwee menggeleng-gelengkan kepalanya pula. Cit Koay belum jalan jauh. ―Mari antar aku kepada ibumu. dan kemudian ia langsung tarik beberapa bocah dan balingkan mereka ke pinggiran. maka itu Cu Cong lantas serahkan belati itu kembali kepada Kwee Ceng. Tapi kau mesti omong dulu biar terang. Entah Yo Kang ini ada hubungannya sama Yo Tiat Sim atau tidak…‖ Enam tahun sudah tujuh saudara ini merantau di gurun apsir tanpa ada hasilnya. Irawan D Soedradjat Page Tin Ok menggaruk-garuk kepalanya. untuk susuti orang punya darah di hidung. ia putar kudanya akan kembali kepada si bocah. dengan siapa ia paling erat hubungannya. ia mendahului berlari kepada kawanan bocah itu yang telah kembali bergumul berkelahi. mereka tak hendak melepaskannya dengan begitu saja. ―Mari kasih pulang!‖ katanya. Bocah itu melengak. Ia tak punya ayah. Ia sudah lantas memikir.‖ Kwee Ceng menjawab. sedang Han Siauw Eng keluarkan sapu tangannya. ―Gampang untuk pulangi padamu!‖ kata Cu Cong sambil tertawa. Tusaga lihat orang kuat. ―Marilah kita tanya bocah itu!‖ Siauw Eng mengusulkan. tak dapat ia menjawab. maka ia turun dari kudanya. ―Kwee Ceng. ―Siapakah nama ibumu?‖ tanya pula. mendadak ia rasai tubuhnya menggetar. Tin Ok mempunyai kupingnya paling lihay pendengarannya dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Maukah kau?‖ ia tanya lagi. Ia berkata kemudian: ―Orang yang khu Totiang cari adalah istrinya Yo Tiat Sim. jikalau kau berani. ia berpikir terus. Kwee Ceng menberikan penyahutan yang membenarkan. hendak ia meminta bantuan Ogatai. ia dengar panggilan ―Kwee Ceng‖ dari Tuli. mari pulang!‖ Tuli lantas mengajak.‖ Lantas Cit Koay berangkat.. Dengan berani ia minta belatinya kembali. ―Lain kali jangan kau berkelahi pula.‖ sahutnya. kakaknya yang nomor tiga. akan susul rombongan kalifah yang mereka ikuti. Kanglam Cit Koay paling menjunjung kehormatan. ―Eh. 94 ―Ibu ialah ibu…. ―Apakah kau she Yo?‖ Coan Kim Hoat kemudian menanya. Kwee ceng dengan muka berlumuran darah. cepat.

kaulah ynag tanya dia. hendak aku cari musuh itu untuk membalaskan sakit hati ayahku!‖ ―Apakah namanya ayahmu itu?‖ Siauw Eng tanya pula. ―Kau tak dapat pergi! Biarkan sahabatmu pulang lebih dulu. Cu Cong genggam ketiga batu itu di telapak tangan kanannya. malah roman mukanya dan potongan tubuhnya. ―Nanti kalau aku sudah besar. ―Aku mau pulang. ―Adik kecil. Kwee Ceng jawab: ―Dia bernama Toan Thian Tek!‖ Memang Lie Peng telah memberitahukan kepada anaknya itu she dan namanya Thian Tek. jiwanya terancam bayaha sembarang waktu. ―Eh. si nona Han sampai berseru. suaranya tetap ramah. batu itu telah lenyap.. ―Mari pulang!‖ mengajak Tuli. sementara si cebol Han Po Kie jumpalitan si atas kudanya. Irawan D Soedradjat Page 95 . Cu Cong lari untuk susul kedua bocah itu. mereka mendelong. sedang Kwa Tin Ok memuji kepada Thian. ―Cit moay.‖ Siauw Eng lompat turun dari kudanya dan ia menghampiri bocah itu. Nyonya Kwee tahu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ibuku tidak ada disini.!‖ Melihat sikap orang yang luar biasa. maka itu ia telah berikan penjelasan kepada anaknya. hingga Kwee Ceng ingat semua itu. Po Kie heran. ―Siapakah namanya itu orang yang membunuh ayahmu?!‖ Tin Ok turt tanya. tunggu dulu. ia lantas jemput tiga butir batu kecil. Tuli dan Kwee Ceng mengawasi. Cit Koay girang bukan kepalang. untuk halangi tangan adiknya. Kemudian dia berkata kepada adiknya paling kecil.‖ bocah itu menjawab. ―Menghilanglah!‖ ia berseru. yang tepuk kopiahnya. mari kita bicara perlahan-lahan…‖ nona Han berkata dengan suaranya ynag tetap ramah. Ia tarik tangannya Tuli dan ia putari tubuhnya. Tuli dan Kwee Ceng berhenti berlari. ―Nelusup masuk!‖ seru Cu Cong. Tin Ok dengar suara yang tak simpatik. Kapan ia membuka kepalan tangannya. mari duduk. Ia pun telah memberitahukannya berulangkali. mereka lantas lari. mereka berdiam mengawasi. untuk sambar pundaknya Kwee Ceng. Terus ia buka kopiahnya itu. suaranya dingin. Ia bernafsu. ―Shatee. Kedua bocah itu heran. yang sudah rangkul Lam Hie Jin. sikapnya manis. Po Kie berlompat. hingga suaranya sedikit menggetar. ia batal membekuk bocah itu.‖ Po Kie memanggil.‖ Kwee ceng berkata kepada Han Siauw Eng. Ia pun bergerak. ―Aku akan main sulap untuk kamu!‖ katanya sembari tertawa. mereka merasa lucu dan heran. di dalam situ ada tiga butir batu itu. jangan semberono!‖ Cu Cong cegah adiknya yang nomor tiga itu. putranya itu sudah tahu segala sesuatunya.‖ sahut bocah itu. Lucunya adalah Thio A Seng. Sambil kertak gigi. untuk ajaki saudarany itu besok membantui ia melawan Tusaga. dua bocah itu menjadi takut. untuk berjalan pergi. eh. Ia hendak cari kakaknya yang ketiga. ―Orang telah celakai ayahku hingga terbinasa. supaya apabila ada terjadi sesautu atas dirinya. Kwee Ceng menggoyang kepala. ―Mana ayahmu?‖ dia tanya.

Tanpa merasa. ―Bukan. yang dapat pikiran baru. kenapa tadi kamu berkelahi?‖ Cu Cong tanya lagi. ia dapat panah burung belibis itu. dia masih dapat dibunuh musuhnya.‖ kata Tuli. Ia lantas rogoh keluar sepotong sapu tangan. aku akan minta bantuan kakakku. membuat burung-burung itu menjadi kaget. jatuh ke tanah. Irawan D Soedradjat Page 96 . Aku akan ajari kau sedikit kepandaian. yang mana ia kasihkan kepada Tuli. ibu tnetu tidak senang. Kedua matanya Kwee Ceng bersinar. ―Aku tidak percaya. ―Akan aku bunuh dia. burung itu terpanah batang lehernya dan bersama anak panahnya. itulah tidak ada faedahnya.‖ Tuli menurut. mereka menjadi tertarik. sambil menunjuk kepada Kwa Tin Ok. Mereka sangat kagum. bocah bernyali kecil!‖ kata Po Kie perlahan. ia kata: ―Kau tutup matanya. yang berdiri diam saja.Pendekar Pemanah Rajawali ―Bagus!‖ seru Tuli dan Kwee Ceng.‖ berkata Cu Cong.‖ ―Hm.‖ kata Tuli. ―Ya!‖ Cu Cong beri kepastian. ―Ibuku bilang. tidak boleh aku berkelahi. ―Hm. panahnya Tin Ok sudah meleset.‖ sahut Cu Cong. ―Akan aku suruh toako main sulap. hendak diserahkan pada Kwa Tin Ok. suaranya tetap dingin: ―Kalau kau bertemu dengan sama Toan Thian Tek.‖ Ton Ok kata pula. ―Habis. jitu sekali. Itu waktu kedua rombongan belibis sudah terbang mendekat.‖ Kwee Ceng menjawab. ―Coba kamu ada punya kepandaian. Tin Ok campur bicara. dia agaknya tidak tertarik. ―Ayahmu pandai silat.‖ ―Kami berdua dapat kalahkan mereka berdelapan?‖ tegaskan Tuli. habis bagaimana?!‖ ia tanya. kau ajarkanlah aku!‖ Cu Cong awasi Kwee Ceng. Mereka pun lari untuk pungut burung itu. yang jadi pemimpinnya berbunyi. Justru karena burung itu berbunyi dan hendak merubah tujuan. aku tanggung besok kamu bakal dapat kalahkan mereka.‖ jawab Kwee Ceng lagi. kamu tidak usah takut lagi kepada mereka.‖ Ia terus serahkan gendewa dan anak panah kepada kakaknya. ―Apakah kau tidak ingin belajar?‖ ia tanya bocah itu. Itu waktu terdengar suara belibis mendatangi. ―Minta bantuan kakakmu?‖ kata Cu Cong. ―Tanpa mata. Kemudian air matanya mengalir keluar. ―Kalau aku belajar kepandaian untuk memukul orang.‖ ―Besok kita bakal berkelahi pula. ―Bagus! Bagus!‖ Tuli dan Kwee Ceng berseru dengan gembira. musuhmu itu. Cu Cong menimpuk dengan tiga butir batunya. ―Kau tidak belajar ilmu kepandaian. bagaimana kau dapat membalas dendam?‖ Kwee Ceng tercengang. ―Mereka itu yang serang kami duluan. ia ikat matanya orang she Kwa itu. Tuli girang sekali. untuk balaskan dendaman ayahku!‖ sahutnya. datangnya dari utara.‖ kata ia. lalu tertampak burungnya terbang mendatangi dalam dua rombongan. ―Baik! Nah. ―Mau main petak umpat?‖ tanyanya tertawa. ―Tadi mereka bertujuh atau berdelapan mengerubuti kamu berdua.

kau tidak boleh beritahukan kepada orang lain. apa katamu?‖ Tin Ok tegur adiknya yang keempat itu. ajari aku pula!‖ seru Tuli. Tapi di sini ia dipapaki tangan kiri si penyerang. ―Sudah. Cu Cong menyambar dengan kepalannya. Cit Koay hilang kegembiraannya melihat Tuli demikian cerdas tapi bocah she Kwee ini begitu tolol.‖ sahut Lam Hie Jin.‖ katanya.‖ Cu Cong tertawa. Lam San Ciauw-cu memang pendiam. Ia merayap bangun dengan murka. ―Di waktu kecil. untuk di kasih tetap berdiri . ―Kalau kau hendak belajar kepandaian guna menuntut balas untuk ayahmu.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong menunjuk ke gunung di sebelah kiri. Tuli berkelit ke kiri. kita serahkan mereka kepada Khu Totiang. Gunung Selatan yang berdiam saja. tak hendak ia mengatakannya lebih sepatah kata!‖ Hie Jin tertawa. tak sabaran. orang dewasa juga nanti tidak gampang-gampang kalahkan kau. ―Paman. lalu ia seruduk pinggang orang. ia snediri sangat kegirangan. ―Kalau kau sudah bisa. tapi Cuma hidung nempel. Cit Koay berdamai. aku tolol sekali. ―Baik. ia menggeleng kepala. ―Sekarang kau pelajari dulu tiga jurus ini. Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin si Tukang Kayu dari Lam San. untuk mengeluarkan sepatah kata. ―Ya. segera ia mengerti. Tampa ampun Tuli berguling. Cuma kamu sendiri yang dapat datang. Irawan D Soedradjat Page 97 . Selama mereka itu berbicara.‖ ia minta. Bukan kepalang girangnya putra Temuchin itu. Ia girang luar biasa. ―Kau ajarakan aku saja!‖ Tuli bilang.‖ bilang Cu Cong. Kau berani tidak? Apakah kau takut setan?‖ Kwee Ceng masih berdiri menjublak. sietee. Tuli rubuh seketika. ―Apa yang baik?‖ menegaskan Cu Cong. ia memikirkan dahulu. ―Susah sekali untuk sieko membuka mulut emasnya. ―Paling benar kita sambut ibu dan anak ini pulang ke Kanglam.‖ ia bilang. kata-katanya tentu tepat. kita jangan terlalu capekan hati sekarang. Ia ulurkan tangan kepada kedua bocah itu.‖ kata Po Kie. ―Bagus! bagus!‖ ia berseru. ―Beginilah biasanya sieko!‖ kata Siauw Eng. atas mana Tuli tarik tangan Kwee Ceng untuk diajak pergi. Tiba-tiba Cu Cong tarik tangannya bocah itu. pergilah kamu!‖ kata Siauw Eng akhirnya. ―Mengertikah kau?‖ Nyata Tuli sangat cerdas. dia tak berbakatbelajar silat.‖Kenapa kau serang aku?‖ tegurnya. ―Ia bakal gagal…‖ Dalam dialek orang Kanglam. Cukup sudah!‖ Ia lantas berpaling kepada Kwee Ceng.‖ kata Kim Hoat kemudian. ―Coba ajarakan aku pula. kita menyerah kalah saja…‖ ―Anak ini miskin bakatnya.‖ jawab adik keempatnya itu. tapi belum sempat ia terbanting ke tanah. ―Eh. untuk mendongko.‖ kata Cu Cong sambil tertawa. Ia manggut-manggut. akan tanya. ―Apakah kau pun sudah mengerti?‖ Kwee Ceng lagi menjublak. ―Sebentar tengah malam kau pergi ke sana untuk cari kami. ―Nach. Coan Kim Hoat sudah sambar tubuhnya. kakinya mengaggaet. kepalan kiri itu segera ditarik pulang. tepat kena hidungnya. ―Ini dia yang dibilang ilmu kepandaian. Dalam hal janji pibu. aku lihat dia tidak punya kekerasan hati. maka itu asal ia membuka mulut. ―Kau ajari aku lagi!‖ Cu Cong mendak. Siauw Eng sampai menghela napas dan air matanya berlinang. ―Anak itu baik.

Saudara ini bersangsi. ―Kita lihat dia berani taua tidak datang seorang diri. Hanya segera I berkata: ―Lekas jalan seratus tindak. Selagi tujuh saudara itu berduka. yang sodorkan sebuah tengkorak kepada Cu Cong. Mereka menanti sampai tengah malam. tingkat tengah tiga dan tingkat atas satu buah?‖ ―Eh.Pendekar Pemanah Rajawali Karena itu juga. ―Benarkah itu terbagi pula dalam tiga tingkat?‖ Tin Ok tanya. ―Eh…apakah ini? Jieko. Malam itu Cit Koay berkumpul di atas bukit. ―Bagaimana itu diatur rapinya?‖ tanya ia. Ketika itu sang rembulan yang terang sudah sampai di tengah-tengah langit. kita tunggu sampai nanti malam. tiba-tiba Po Kie berseru tertahan: ―Eh. Ia tak berani utarakan kesangsiannya ini.. Irawan D Soedradjat Page 98 ―Disini pun ada tumpukan tengkorak!‖ begitu suaranya Han Siauw Eng di timur utara dan Thi A Seng di barat utara. enam adik angkat itu lekas bekerja. ―Baik aku cari tahu dulu tempat tinggalnya. enam saudaranya biasa hargakan pikirannya. maka kecuali Kwa Tin Ok. Cu Cong lantas saja menghela napas.‖ kata Kim Hoat. yang lima saudara lainnya lantas menghampiri saudara she Coan itu. ―Kenapa toako ketahui itu?‖ Tin Ok perlihatkan roman cemas. toako!‖ seru Kim Hoat heran. Ia tidak menjawab. ―Mustahil benar ada orang membuat liang ini dengan jeriji tangannya?‖ ia kata dalam hatinya.‖ kata Cu Cong kemudian. sinarnya sampai kepada rumput tabal di mana ada tiga tumpuk benda putih yang nampaknya aneh. ―Apa itu?‖ katanya. tepat lima jarinya masuk ke dalam semua laing itu. ke arah timur utara dan barat utara! Lihat ada apakah di sana!‖ Menampak sikap luar biasa dari saudara tua itu. sampai bintang-bintang mulai menggeser. Jadi itu bukanlah perkerjaannya satu bocah cilik. mari!‖ Suaranya sangat kedengarannya sangat terkejut. dari jauh-jauh ia mengikuti Kwee Ceng dan Tuli. kali ini mereka rubuh di tangannya satu imam…!‖ katanya masgul.‖ Dan ia lompat turun dari kudanya. Cu Cong dapatkan lima liang di embun-embunan tengkorak itu. Ia pungut dua tengkorak lainnya. ―Tingkat ynag bawah lima. romannya seperti bekas jari tangan. itulah siluman. yang bertumpuk rapi dalam tiga tumpukan. ―Tetapi kenapa tengkorak-tengkorak ini diatur begini rapi?‖ Kim Hoat tanya. Sekarang mendengar keterangannya itu. teraur sebagai segi tiga. ―Semuanya terdiri dari tiga tumpuk.‖ Po Kie membenarkan adiknya itu. . tak ada bayangan Kwee Ceng si bocah itu. Kwa Tin Ok dengar saudara-saudaranya itu berbicara. di situpun kedapatan masing-masing lima jari tangan yang sama. Ia ulur tangannya. ―Kanglam Cit Koay sudah malang melintang seumur hidupnya. Tiba-tina ia lompat mendekati mereka itu.!‖ dan tangannya pun menunjuk ke depan di mana ada gombolan pohon. ―Lihat!‖ katanya lagi kemudian.‖ ―Kebanyakan ia tidak berani. yang tiga lagi ke barat utara. ―Mungkinkah disini ada hantu gunung?‖ tanya Siauw Eng. Ia lihat mereka masuk ke dalam tenda. ―Kalau begitu. ―Hantu tukang geregas manusia…‖ ―Benar. ―Entah bocah nakal siapa sudah bermain di sini.‖ Coan Kim Hoat kasih keterangan pada kakaknya yang tak dapat melihat itu. Ia jadi heran dan bersangsi. mereka bagaikan mendapat sinar terang. dan saban tumpukannya sembilan tengkorak. yang tiga pergi ke timur utara. maka ia kenali itu sekumpulan tengkorak. tengkorak orang diatur begini…‖ katanya. Coan Kim Hoat lompat menghampiri benda itu. yang biasanya sangat tabah.

‖ sahut Siauw Eng. Nona Han menghitung. mereka semuanya jadi heran. semua itu adalah hadiah mereka…‖ sahut kakak tertua ini. ―Dan setiap tumpukannya terdiri dari sembilan tengkorak?‖ sekali ini Tin Ok menanya perlahan sekali. itulah sebabnya perbuatan musuh. jikalau sepuluh hari aku tidak datang menyusul kamu. suaranya perlahan tetapi nadanya tegas. A Seng bertiga lari berkumpul sama kakak mereka itu.‖ kata ia.‖ jawabnya kemudian. tunggu aku selama sepuluh hari. ―Merekalah Tong Sie dan Tiat Sie. ―Siluman atau musuh?‖ tanya Cu Cong. Thio A Seng bertiga terkejut. kiranya mereka sembuniy disini dan secara diam-diam tengah menyakinkan ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw. ―Lambat sedikit atau sudah tidak keburu lagi!‖ Han Po Kie menjadi gusar. apakah katamu?‖ tanya Siauw Eng gelisah. sekali-kali jangan kamu kembali! Sesudah kabur seribu lie. ―Mataku buta. ―Inilah saat mati hidup kita. sambil membungkuk ia menghitung. ―Apakah tumpukan disini pun tiga?‖ tanya Tin Ok. lekas!‖ kata Tin Ok mendesak sekali. ―Apakah kau sangka kita orang-orang yang tidak berbudi?!‖ dia tanya membentak. maka itu kenapa kau anjurkan kita lari menyingkir?‖ Tin Ok goyangi tangannya berulang-ulang. Tin Ok angkat saudara sama enam orang itu. Semua saudaranya sangka. kembali dengan suara perlahan. kita pasti bukan tandingan mereka. kamu tidak usah menunggui lebih lama lagi…!‖ ―Toako.‖ Tin Ok bilang.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin Ok lari ke arah barat utara itu.‖ kata Tin Ok. ―Bukankah Tong Sie dan Tat Sie sudah lama mati?‖ dia tanya. segera kabur ke selatan. lalu dengan lekas pula ia lari balik. mereka akan segera kembali!‖ kata Tin Ok. ia paling benci orang menyebut-nyebut cacadnya itu. mereka toh sudah paham delapan atau sembilan bagian. Tin Ok Demikian lihay. mereka dengar perkataan si kakak. ―Lekas pergi.‖ Tin Ok bilang. ―Kalau begitu. lekas pergi!‖ katanya mendesak. dengan lekas. ―Mereka sekarang lagi menyakinkan ilmu Kiu im Pek-kut Jiauw itu. tidak ada yang berani menanyakan. dari itu sekalipun kita bertujuh. ia pun cegah mereka bertiga omong keras-keras. kita sudah bersumpah untuk hidup atau mati bersama. walaupun mereka belum dapat merampunginya. Cu Cong terkejut hingga ia berjingkrak. ―Benar. ―Kenapa mereka masih ada di dalam dunia ini?‖ ―Aku juga menyangka mereka sudah mati. cinta mereka bagaikan cintanya saudara-saudara kandung. ―Yang satu sembilan. ―Yang di sana setiap tumpukannya tujuh tengkorak. ―Mereka berdua lihay luar biasa. jangan bersuara keras. kakiku pincang. Kenapa kita mesti antaran jiwa secara sia-sia?‖ Irawan D Soedradjat Page 99 . ―Saudara-saudara lekas naik ke kudamu masingmasing. ia toh kalah. Enam saudara itu mengawasi dengan melengak. meski begitu.‖ ia beritahu. ―Yang satunya delapan…‖ ―Coba hitung yang sebelah sana. Siauw Eng lari ke barat utara. mereka menantikan penjelasan. ―Kita sudah minum arak bercampur darah. cacadnya itu disebabkan kecelekan semenjak kecil. sekarang barulah mereka itu ketahui. dari situ bisa diduga betapa lihaynya musuh itu. Tin Ok lantas lari ke arah timur utara ke Han Siauw Eng.

Mereka itu segera saja menghampirinya. setelah ia diberitahukan adanya kedua mayat itu. Tong Sie dan Tiat Sie itu makhluk macam apa?‖ ―Merekalah yang di dalam dunia kang-ouw kesohor sebagai Hek Hong Siang Sat. ―Di masanya mereka itu malang-melintang di utara. Kemudian. Cara membokong ini bukanlah cara yang benar akan tetapi musuh terlalu tangguh dan telangas. jaga supaya mereka tidak dapat ketahui. ―Musuhku itu bakal lekas datang kemari untuk melatih ilmu silatnya itu. sekali pula Khu Cie Kee yang lihay. Cuma hendak aku pesan masing-masing jaga lah diri dengan hati-hati dari cengkraman mereka. Dua orang itu snagat kejam. tetapi sekarang ia jeri terhadap dua orang itu.‖ katanya kemudian. ―Baiklah kalau begitu. Bukan sedikit orang gagah yang roboh di tangan mereka itu.‖ ―Kenapakah mereka itu tak hendak dikepung beramai-ramai?‖ Siauw Eng tanya pula. ilmu silat mereka lihay sekali. Ia tarik batu itu tetapi tidak bergeming. tanpa cara ini jiwa kita bertujuh bakalan tidak dapat ditolongi lagi!‖ Tin Ok omong dengan perlahan-lahan. Saudara-saudara pergi kau ambil tempat berlindung di empat penjuru. ―Maka itu sekarang hendak aku sembunyi di sini. mereka berdua itu adalah suami-istri.‖ Coan Kim Hoat. Tentu saja. hatinya ciut. itu waktu jangan kamu main kasihan-kasihan lagi. baru kamu keluar untuk mengepung mereka. siapa dengar mereka. Semua saudaranya itu menyahuti dengan janji akan menaati. ―Sedikit saja ada kelisikan. Thio A Seng.‖ sahut sang kakak denagn perlahan. bantui saudaranya untuk mencabut. ―Nusuh itu sangat cerdik dan getap. Sadarlah ia bahwa saudara-saudaranya itu sudah berkeputusan bulat. Di situ ada banyak pepohonan dan rumput tebal. dengan dingin ia berkata: ―Mereka sudah celakai aku seumur hidup. denagn siapakn masing-masing senjatanya.‖ berkata ia. mereka bakal dapat tahu. ia tidak lihat peti mati yang disebutukan kakaknya itu. Sekarang ini tak ada tempo untuk menjelaskan tentang mereka itu. Ia bersembunyi di samping Cu Cong. sudah lantas lompat turun ke dalam peti mati yang besar itu. ia panggil saudara-saudaranya yeng mengawasi ke arahnya. Perlahan-lahan mereka letaki tutup peti mayat yang istimewa itu. marilah kita pergi bersama-sama. Di bawah sinar rembulan. Sekarang barulah papan batu itu dapat disingkirkan. mereka pencar diri ke empat penjuru untuk sembunyi sambil memasang mata. ―Kalau begitu. ada kesusahan kita derita bersama juga!‖ katanya. batu itu kotor dengan tanah dan ketutupan rumput hijau. ia Cuma nampak unjungnya sebuah batu lempangan muncul dari dalam tanah. belum pernah ia puji kepandaian lain orang. Tin Ok tidak setuju. baik di Jalan Hitam. Dia akhirnya menghela napas. mereka lantas bekerja. dia berani lawan. segera lari ke arah selatan. Ia omong singkat tetapi kata-katanya sangat tepat yang tak dapat diubah lagi. lihat benar atau tidak di sana ada sebuah peti mati.‖ Tin Ok berkata pula dengan pesannya. tapi kata-katanya ditandaskan setiap patah.‖ Enam saudara itu menurut. Han Siauw Eng adalah orang yang hatinya paling berkhawatir dan paling heran pula. adik yang nomor enam. ―Aku cuma minta kalian semua suka berlaku hati-hati. Liok-tee. Tin Ok menjadi diam dan berpikir. coba jalan seratus tindak ke selatan. Lam Hie Jin dan Han Po Kie. Kwa Tin Ok. maupun di Jalan Putih.Pendekar Pemanah Rajawali Enam saudara itu ketahui kakak mereka ini beradat tinggi. ―Ada rejeki kita mencicipi bersama.‖ Kim Hoat mengajak. karenanya mereka menjadi ragu-ragu. Tong Sie si Mayat Perunggu dan Tiat Sie si mayat Besi. kau masih kecil sekali citmoay. maka itu sambil berbisik ia tanya ini kakak nomor dua: ―Jieko. Cuma tinggali sedikit liang kecil untuk aku bernapas. Setelah seratus tindak. mereka mau percaya sang kakak tidaklah tengah berdusta. Irawan D Soedradjat Page 100 . inilah pertama kalinya ia dapatkan sikap yang tegang sekali dari kakaknya itu. di bawah batu itu tertampak sebuat peti mati bercorak kotak atau peti batu dan di dalam situ rebah dua mayat. maka itu kau tidak ketahui tentang mereka. saki hati ini tak dapat tidak dibalas!‖ Lam Hie Jin segera campur bicara. Kamu mesti menunggu sampai aku telah tidak dapat bertahan. Tong Sie itu ialah pria dan Tat Sie itu wanita. untuk bokong pada mereka. sebagai alatnya ialah kedua mayat ini. Dengan menggape. Semenjak ia kenal kakaknya yang tertua itu. Sekarang tutuplah papan batu ini. setelah melihat batu itu.

karena dosa kejahatannya sudah meluap.‖ Cu Cong menerangkan pula. Setahu bagaimana. saban-saban terdengar suara mereteknya. mestinya berkulit hitam legam?‖ ―Tidak salah! Dia she Bwee. Kapan sebentar kemudian tindakan kaki tak menerbitkan suara pula. guna cegah sinarnya berkilauan. Begitu lihat banyak orang. Dilihat dari kepalanya.‖ sahut kakak keduanya itu. ilmu apakah itu?‖ tanya adiknya lagi. ―Tenaga dalamnya begitu hebat.‖ ―Kalau begitu yang wanita. Siauw Eng diam sejenak. mereka itu telah menemui ajalnya. yang berjalan rapat satu dengan lain. yang satu mirip orang Mongol. hingga mereka merupakan sebagai satu bayangan yang besar. yang disebut Tong Sie itu. ―Sstt!‖ berbisik sang kakak itu seraya tangannya menunjuk ke bawah bukit. ―Yang pria. mengikuti jalannya.‖ pikir mereka. pada wajahnya itu tak pernah tampak tanda kemurkaan atau tertawa. kita menemui mereka itu. Tidak disangka-sangka sekarang. namanya Tiauw Hong. dia beroman seperti mayat saja. berdiri diam. mereka itu dapat lolos. pantas toako memuji mereka. ia tampak seuatu benda hitam lagi bergerak-gerak cepat di atas tanah berpasir. bertahan terhadap serangan itu?‖ tanya mereka di dalam hati. adalah seorang wanita. di tempat belukar seperti ini. Siauw Eng tancap pedangnya ke tanah. ―Dapatkah si pria. Siauw Eng segera memasang matanya ke arah tempat ynag ditunjuk itu. ia terus pasang matanya. Maka sekarang tampaklah dengan nyata: Itulah dua orang.‖ Sebentar saja benda itu sudah datang semakin dekat. belakangan orang tidak lihat lagi bekas-bekas tapak mereka. Siauw Eng bernyali besar tetapi ia toh menggigil pula. sambil memberi keterangan padaku. Wanita itu gerak-geraki kedua tangannya. degan darah dagingnya manusia. Rambutnya pun mengikuti bergerak-gerak juga. Lalu ia menyambung lagi.‖ ―Apakah nama mereka itu?‖ Siauw Eng masih menanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Menurut katanya mendiang guru. mereka muncul pula. maka beberapa tahun kemudian orang anggap. yang memakai kopiah kulit. nyata terdengar buku tulang-tulangnya bersuara meretek.‖ ―Toako menyebut ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw. di tara ini. dari lambat menjadi cepat.‖ pikir Siauw Eng. bernama Tan Hian Hong. ―Orang-orang gagah dari Selatan dan Utara Sungai Besar pernah tiga kali mengadakan perhimpunan besar di gunung Heng San. si Mayat Perunggu. disusul sama tangan kirinya menyerang dada si pria. di atas bukit itu tertampak dua orang bagai bayangan. Tiat Sie itu. setelah orang bubaran. Di bawah terangnya sinar rembulan. semuanya bersipa sedia. Enam saudara itu menjadi heran. suaranya semakin keras. ―Tentang ilmu itu belum pernah aku mendengarnya. suara itu menyebabkan ketegangan di hati ke enam bersaudara itu. ―Mestinya dia Tong Sie dan Tiat Sie. sebab Cu Cong mendekap mulutnya yang kecil mungil itu. Heran enam saudara itu. Cu Cong cekal kipasnya peranti menotok jalan darah. ―Sungguh memalukan. ―Sekarang ingin aku saksikan bagaimana mereka melatih diri…. Ynag kedua yang rambutnya panjang dan memain atas tiupan angin. ―Dia berparas muka semu kuning hangus seperti perunggu. Enam saudara dari Kanglam itu menahan napas.‖ jawab sang kakak.‖ Si wanita sudah lantas berjalan mengitari si pria. Irawan D Soedradjat Page 101 . mereka lantas sembunyikan diri. ―Kiranya jieko waspada sekali.‖ ia mengeluh di dalam hatinya. lalu beruntun tiga tahun mereka mencoba mengepung Hek Hong Siang Sat. Sekarang terdengar suara pasir disebabkan tindakan kaki. ―Kenapa toako tak pernah sebut-sebut itu? Mustahilkah…‖ Nona ini berhenti berbicara dengan tiba-tiba. diulur dan ditarik. maka itu orang juluki dia Tong Sie. Tiba-tiba si wanita itu angkat tangan kanannya.

Tegang hatinya. Tiba-tiba saja ia menoleh ke arah Siauw Eng. jadi lebih gampang untuk melayani Tong Sie. dengan rangkap kedua tangannya. gampang saja si wanita ini menelanjangi pria itu. akibatnya mesti hebat sekali……………‖ Karena ini. ia turun di sisi mayat. baiklah kita taai pesannya. ―Hanya kalau aku gagal. Irawan D Soedradjat Page Itulah Ma Ong Sin Han Po Kie yang sembunyi di pohon itu. Diwaktu melompat. tubuh siapa lalu ia letaki di tanah. Hampir Siauw Eng menjerit karena kagetnya. Bwee Tiauw Hong bangkit berdiri. wanita itu lompat mencelat. dimana hawa udara adalah sangat dingin. tetapi sekarang. Cengkeraman Tulang Putih.Pendekar Pemanah Rajawali Selagi begitu. Ia lantas seret mayat korbannya. aku dapat tublas tembus bebokongnya!2 pikir si nona Han.. Tanpa merasa. lempang jegar. dibawa ke peti mayat di mana Kwa Tin Ok umpatkan diri. untuk merobek membuka pakaiannya pria korbannya itu. Sekarang enam saudara itu ketahui. Ia hendak berlompat turun ketika tubuhnya bergerak bangun. dan ia memeriksa itu. Tiat Sie nampaknya puas. karena ragu-ragu. kita pasti dapat melawan. lalau ia membuangnya setiap isi perut itu. ia lantas duduk numprah di tanah. bertambah hebat. habis melatih napasnya. yang rupanya ditangkap untuk dijadikan bahan atau korabn latihan Kiu Im Pek-kut Jiauw. setiap serangan bertambah cepat. lima jarinya berlumuran darah pula. seperti desairnya angin. habis itu. Hanya aneh. untuk angkat tutup peti mati istimewa itu. wanita itu adalah Tiat Sie Bwee Tiauw Hong. yang semuanya telah tak utuh lagi. Ia membungkuk. si pria bukan Tong Sie. ia tak bakal dapat dilihat. dengan lima jari. Seberhentinyatertawa. Tiauw Hong geraki kedua tangannya. ke perut. dia tidak tekuk dengkulnya. Ia bertubuh kate. Ia duduk dengan membelakangi Cu Cong dan Siauw Eng. Nyatalah. Bukan kepalang gusarnya Siauw Eng. hendak ia menerjang wanita itu. mukanya tidak tersenyum. kalau dikepung bertujuh. Biar toako yang mendahului…‖ Habis memeriksa isi perut mayat. si wanita itu berjinjit. kepala di bawah. si Mayat Besi. Cu Cong pun sama tegangnya sampai ia menahan napasnya. berbareng dengan pekiknya. Si wanita sebaliknya tertawa besar dan panjang. biar dia lihay. hingga si nona dapat nampak wajah orang – satu wajah hitam manis. Saudara yang kedua ini telah berpikir: Tiat Sie bersendirian. tubuhnya tidaj bergeming. untuk membokong kita? Toako telah memikir jauh. ia masih tertawa. kapan tangan kanannya di tarik. ia tarik napasnya keluar masuk. ―Kalau sekarang aku tikam dia. tumpukan tengkorak itu terang adalah korbankorbannya wanita kejam ini. jumpalitan. paru-paru dan jantung. ia lompat ke arah pohon itu. Tapat sampai pukulan yang ke sembilan. ia bergemetar sendiri. tidak membungkuk tubuhnya. si wanita sudah menyerang pula. tangan kirinya menyambar kopiah si pria. orang memakai baju dalam kulit. Kalau mereka ada berdua. untuk membuktikan sampai di mana hasil latihannya itu. berlompatan mengitari korbannya itu. Kalau dia terbunuh lebih dahulu. dua tangannya dipakai menjambak dada dan perut mayat itu. walaupun ia tertawa. ia cabut pedangnya. si suami. siapa tahu Tong Sie bersembunyi di mana? siapa tahu kalau dia muncul mendadak. enam saudara itu merasa kagum. Sembari mengawasi tangannya itu. dengan sendirinya mereka menjadi membenci kekejaman wanita itu. Wanita itu berhenti berlompatan dan berputaran sesudah ia berpekik keras dan panjang sambil ia lompat tinggi berjumpalitan dua kali. mencengkeram ke ubun-ubun si pria. Disamping heran dan gusar.Tapi. sang sistri. hendak mereka menerjang berbareng. ia tak bersuara. Si pria tapinya mirip mayat. ia dapat lihat seperti bayangannya satu kepala orang di atas pohon. Dengan menghadapi rembulan. ia toh berpaling dengan segera. beruntun hingga tujuh kali. dengan sembilan kali serangannya – Kiu im – wanita ini membikin rusak isi perut pria itu. Disaat berbahaya itu. ia dapat menduga. untuk melatih tenaga dalamnya. nampak nyata bebokongnya bergerak-gerak. tak dapat mereka layani…. . ia tidak 102 Tiba-tiba Bwee Tiauw Hong mendengar berkelisiknya daun pohon di sebelah belakangnya. usianya ditaksir kira-kira empatpuluh tahun. Enam saudara itu bersiap. untuk menarik keluar isi perut orang. di Utara ini. Begitu tutup dibuka. Maka terang sudah. hanya seorang yang lain. Di bawah sinar rembulan. Dia lompat tingginya beberapa kaki. tangan kanannya. wanita itu memeriksa. Perlahan sekali suara itu. Cu Cong tarik si nona dan menggoyangi tangannya. sembilan puluh sembilan persen. ia percaya dengan sembunyi di atas pohon. kaki di atas. Tak ayal lagi.

Tapi Tiat Sie si Myata Besi benar-benar lihay. kaki itu terseleo tekukannya. dan Coan Kim Hoat dengan sepasang panah tangannya. mengepung musuh yang lihay itu. Menyaksikan itu.Pendekar Pemanah Rajawali sangka. ―Mungkin ia tidak mempunyai jalan darah?‖ pikirnya. Ia mengarah ke lengan. Siauw Eng menjadi terkejut. Semua penyerang itu tidak dikenalnya dan mereka agaknya lihay. yang cepat bagaikan angin. dengan satu kali meleset. Tiauw Hong snagat lihay. ia dapat dipergoki wanita lihay itu yang segera menerjang ke arahnya. lagi sekali ia enjot tubuhnya. Bwee Tiauw Hong tidak berkelit atau menangkis. Han Po Kie sudah jemput cambuknya. dia teruskan sambarannya kepada nona Han itu. Justru is bergirang itu. hanya di saat itu. masih dia lompat. guna mencengkeram daging. Disaat itu. menyambar ke arah musuh itu. Po Kie merasakan angin dingin di pundaknya. Tendangan seperti mengenai papan batu. untuk membebaskan diri dari sambaran itu. sedang di lain pihak. lima jari tangannya menyambar ke arah bebokong si cebol itu. ia menjadi heran dan gentar pula. ialah jalan darah kiok-tie-hiat. dia segera mengerti bahwa dia telah berada dalam kepungan. anginnya pun tiba lebih dahulu. Lam Hie Jin dengan Touw-kut-cui. siapa terkena totokan itu. enam Manusia Aneh itu menjadi ingat semua tengkorak Irawan D Soedradjat Page 103 . ai lompat melesat. Dengan satu gerakan ―Pek louw heng kang‖ atau ― Embun putih melintangi sungai‖. Bwee Tiauw Hong main sambar musuh. untuk terus disambar. Bor Menembuskan Tulang. untuk meleset ke depan. di bawah pohon. Po Kie meninsyafi bahaya. atas mana. ia menyambar ke mukanya Siauw Eng! Cu Cong melihat ancaman bahaya untuk adiknya itu. akan sambut wnaita itu dengan cambuknya Kim-liong-pian. sementara penyerang dengan kayu pikulan itu adalah seorang desa. hingga bahna sakitnya. untuk menendang bebokong musuh gelapny aitu. dia masih bisa menggulingkan diri. dan gesit sekali. dia angkat kakinya. cepat-cepat ia melompat mundur. Tanpa sangsi ia kerahkan tenaganya. Mengikuti tarikan orang. dengan bekersama dengan kelima saudaranya. ia terus melawan denagn sepasang tangannya yang berdarah daging! Dengan kuku-kukunya yang seperti gaetan besi. menyambar ke kepalanya! Bukan main kagetnya Manusia Aneh yang kedua ini. ia enjot tubuhnya. maka juga pedang dan golok semua seperti merabu Bwee Tiauw Hong. akan menyingkirkan jauh. Dia agaknya tidak takuti senjata tajam itu. kaget dan gusar. malah aneh juga. sebuah kayu pikulan yang hitam menyambar dia dari samping. tangan kanannya telah merobek baju Po Kie di bagian bebokongnya! Po Kie menekan tanah denagn kaki kiri. untuk dicekal dan dibarengi ditarik dengan keras! Po Kie merasakan satu tenaga keras menarik ia. Dengan perlihatkan kegesitannya. hatinya girang sekali. menendang ke arah perut. Tiauw Hong tidak hendak memberi lolos. Batal menyerang. ai maju pula. Maka ia lantas berpikir: ―Mereka banyak. dia seperti tidak menghiraukan enam rupa senjata musuh itu. ia roboh hampir pingsan. akan lomcat pula. ia menyerang jalan darah kiok-tie-hiat dari musuh lihay itu. Satu mahasiswa yang memegang kipas totokan dan satu nona yang bersenjatakan pedang. Hanya kali ini. yang sampai ke ulu hati. Bwee Tiauw Hong menyambar dengan tangannya ynag kiri. Hebat kesudahan tendangan ini. herannya bukan buatan. di antara suara keras. untuk merampas senjata. Dia menjadi kesakitan.‖ Demikian. sebab sepuluh kukunya telah nancap di dagingnya. hingga kedua senjata rahasia itu jatuh ke tanah. ia papaki cambuk itu. sedang di kirinya datang serangan golok dari seseorang yang bertubuh jangkung gemuk serta seorang kurus denagn senjatanya yanga neh. atau lebih benar mengikuti cambuk Naga Emas. tetapi ia juga bertenaga besar. sudah lompat hingga di depannya dan sambil menaya: ―Kau siapa?! Perlu apa kau datang kemari?!‖ sepasang tangannya sudah mampir di pundak orang. Ia lolos tetapi kegetnya tak kepalang. Biasanya. menyerang ia dari kanannya. kipas Cu Cong telah mengenai tepat sasarannya. aku sendirian. denagn perdengarkan suara membeletak. ia menyambok dengan tangannya yang kiri. dengan putar ugal-ugalan tangannya. dia lompat mundur satu tindak. terus ia lompat berjumpalitan. tahu-tahu tangan musuh berkelebat. yang sangat gesit. sebab ia tidak pedulikan totokan itu. segera tangannya kaku dan mati. baiklah aku robohkan dulu beberapa diantaranya. Tiauw Hong ketahui itu. Cu Cong tahu ia telah dapat menghajar sasarannya. Di saat itu. Akan tetapi si Mayat Besi tak jeri. hanya dasar jago. Ketika itu. Siauw Eng membabat tangan musuh. Bwee Tiauw Hong dengan berani berbalik menyambar pedang. hingga PO Kie mersakan sakit sekali. Tetapi Tiauw Hong. seperti juga sebuah kipas besi. dengan lihaynya matanya dan jelinya kupingnya. ia lepaskan cambuknya. ia juga balik menarik. mengarah kakinya. sebaliknya.

ia jadi ingat sesuatu. Lam Hie Jin bersama Coan Kim Boat dan Han Siauw Eng mencoba merintangi musuh ini. dengan sendirinya hati mereka menjadi gentar. Di sana terpeta tapak lima jari tangan. ia tak tampak manusia seorang juga. dan Tiat-pou-san – Baju Besi. ia dapat menyambar kayu pikulan dari Lam Hie Jin. ―Sekarang sudah terlambat untuk kamu melarikan diri…!‖ segera ia merangsak. ―Dari mana munculnya segala orang hutan yang hendak mencurangi nyonya besarmu!‖ kata Tiauw Hong dengan ejekannya. Bwee Tiauw Hong dapat menerka maksud orang. tidak juga ada hasilnya. baiknya ia gesit dan cerdik. sudah lanats kerahkan tenaga mereka. Lima Manusia aneh lainnya kaget. Tiba-tiba ia bergidik. ia sambar sepasang mata lawannya itu. Hebat Bwee Tiauw Hong. yang diangkat tinggi. siapa punya ilmu kedot. Han Po Kie dan Coan Kim Hoat sudah lantas mulai tersengal-sengal napasnya. Ia menggunai tangan kirinya. kalau tidak. Karena ini ia berlompatan. berani Tiat Sie sambut dengan tubuhnya yang tangguh itu. dengan tangan kirinya. sedang seharusnya dia mesti patah atau remuk tulang-tulangnya. Di batok kepala ia totok jalan darah pek-hoay. ia mendahului menotok telapak tangan orang. Kecuali golok lancipnya dari Thio A Seng dan pedang tajam dari Han Siauw Eng. semua anggota tubuhnya telah terlatih sempurna!‖ Dan tangannya menyambar lengan si mahasiswa itu! Cu Cong terkejut. ia dapat lihat cahaya putih dari tengkoraktengkorak itu. Manusia Aneh ynag kedua itu menyingkir beberapa tindak. tidakkah mereka bertujuh saudara bakal roboh semuanya? Thio A Seng. Ia tahu betul.Pendekar Pemanah Rajawali yang berliangkan bkeas jari tangan itu. supaya kawan itu segera turun tangan. Tinggal Lam Hie Jin yang masih dapat bertahan demikian juga dengan Lam Siauw Eng – Hie Jin karena tenaga dalamnya sempurna. Ia menjadi bersangsi. kedua matanya mengawasi ke langit. ia menjadi terkesiap hatinya. memandang ke atas. tidak ampun lagi bahu kirinya kena dicengkeram Bwee Tiauw Hong. Cu Cong berteriak keras: ―Lekas turun menyerang!‖ Dengan tangan kanan ia menunjuk ke atas. mereka menyerang dengan berbareng guna menolongi saudara mereka itu. Syukur ia keburu membela dirinya. sembari berlari. maka itu dengan tangan kanannya. sedang di perut jalan darah cee-cun dan di bebokong jalan darah bwee-liong. di mana Kwa Tin Ok lagi sembunyikan diri. tak tunggu tibanya cengkeraman. Tiauw Hong kena cekal barang keras. Dipihak sana. Satu kali Cu Cong kebetulan menoleh ke arah tumpukan tengkorak. Lagi sesaat. Dia berseru: ―Siucay rudin. selagi begitu Cu Cong bersama Thio A Seng dan Han Po Kie. Ia sudah menontok belasan kali. tak saja bajunya Kim Hoat robek. ketahui olehmu. di tenggorokan jalan darah hoan-kiat. Karena ini. mereka lantas berkelahi sambil mundur. Coan Kim Hoat berlaku rada ayal. ia menduga-duga dimana kelemahan musuh lihay itu. melihat mana. Itulah teriakan dan tanda untuk kawannya yang sembunyi di dalam peti mati. semua senjata lainnya. dua macam ilmu kedot. pada nyonya besarmu tidak ada bagiannya yang lemah. Coba Tong Sie si Mayat Perunggu muncul. teranglah orang telah punyakan pelajaran Kim-ciongtiauw – Kurungan Loncang Emas. untuk lari ke arah peti mati. untuk angkat papan batu tutup dari peti mati itu. Siauw Eng lantaran kegesitan tubuhnya. ia berteriak: ―Semua lekas menyingkir!‖ Lima saudara itu mengerti teriakan itu. Tapi si Mayat Besi sudah berhasil. menyerang sambil mencari-cari. Segera ia melompat. jidat mereka bermandikan peluh. . 104 Disaat itu. untuk lihat lengannya. Tiauw Hong malah bertambah gagah nampaknya. Ia melainkan hanya lihat rembulan. hingga ia menjadi berpikir keras. ia heran. Irawan D Soedradjat Page Bwee Tiauw Hong heran. yang sudah lantas lari ke peti mati. Mereka menggesernya ke samping. ia mesti mempunyai suatu anggota kelemahannya. sepotong dagingnya pun kena tercukil dan dia berdarah-darah. tanpa merasa ia angkat kepalanya. justru itu Cu Cong bebaskan diri. tetapi Bwee Tiauw Hong agaknya tidak terluka. Cu Cong jadi berpikir. ia menggapai-gapai. Merka juga mendapatkan tubuh orang seperti besi kuatnya Dua kali bandulan timbangan Coan Kim Hoat mengenai bebokongnya Tiat Sie dan satu kali kayu pikulannya Kanglam Liok Koay menyambar paha. tetapi tiba-tiba juga. Dipihaknya. demikian pun jalan darah lainnya. sudah ada tiga yang kena tangan lihay si Mayat Besi. celakalah ia.

Bwee Tiauw Hong sendiri sudah lantas perdengarkan jeritan hebat dan menggiriskan. Tin Ok sudah merasakan sambaran angin ke arah dadanya. ia akan mati dengan puas!‖ Cu Cong menggoyangi tangan kepada kakak tertuanya. Irawan D Soedradjat Page 105 . ia sudah lantas bekerja sama dengan enam saudaranya itu. untuk kakak itu jangan membuka suara. Untuk sesaat mereka tidak menyerang pula. ―Hai. ―Kamu siapa?!‖ ia berteriak dengan pertanyaannya. bagus!‖ Tiauw Hong menghela napas. dengan begitu enam buah senjata rahasianya sudah lantas menyerang ke tempat tujuh tindak. ―Celaka. empat-empatnya jatuh menggeletak di tanah. ―Toako awas!‖ sekonyong-konyong Cu Cong dan Coan Kim Hoat berseru. Tiauw Hong merasa matanya keras. tidak memberi hasil. Bwee Tiauw Hong telah kehilangan penglihatan kedua matanya. ―Lekas kasih tahu! Kalau nyonya besarmu mati. tanpa hiraukan sakitnya itu. dari itu. Dalam murkanya. senjata rahasianya Tin Ok itu. tubuhnya lalu meleset naik ke atas pohon. mana dapat ia melihat tandanya itu? Benar saja. papan batu itu terpatah menjadi dua tanpa ampun lagi! Kanglam Cit Koay menyaksikan itu. dari jauh-jauh. Bwee Tiauw Hong tubruk sasaran kosong. Ketika itu angin dingin meniup membuat orang mengkirik. batu telah kena terhajar hancur. karenanya tubuhnya maju terus. Ia ingin si Mayat Besi mati sendirinya karena bekerjanya racun senjata rahasia itu. Maka itu. Selang sekian lama. sambil berseru keras. menampak mana. dengan tangannya ia memberi tanda kepada saudara-saudaranya menjauhkan diri dari orang kalap itu. akan tetapi Tin Ok telah segara berkelit ke samping. Bwee Tiauw Hong merasakan sangat sakit dan juga menjadi sangat gusar. batang pohon besar itu tercengkeram sepuluh jarinya. ia membuatnya pohon-pohon rubuh dan batu hancur tertendang. Baharu dua kali ia menggoyangkan tangannya. dia lagi memanggil Tong Sie. masihkah ia mempunyakan nyawanya? Gagal serangan itu. Tiauw Hong terus menendang papan batu yang menghalangi di depannya. segera kedua tangannya diayunkan. ia turut lompat keluar dari dalam peti mati. Ia menepuk keras. suaminya…‖ kata Cu Cong dalam hatinya. ia berdiam. Ia rupanya menginsyafi yang ia telah terkena senjata rahasia yang ada racunnya. Kwa Tin Ok di dalam peti mati telah siap sedia. Kakak itu buta. Dengan menerbitkan suara keras. dengan menukikkan tongkat besinya ke tanah. Coba Tin Ok yang terkena rangkul. maka itu sekarang ia berkelahi secara kalap. Nyata kedua matanya telah menjadi korbannya tok-leng. Belum habis peringatan kedua saudara itu. ia bersilat ke empat penjuru. mereka menyaksikan lebih jauh bagaimana Mayat Besi menyambar pepohonan dan batu yang melintang di depannya. Tin Ok sudah perdengarkan suaranya yang dingin itu. sasarannya adalah tiga bagian atas. hati mereka menggetar. ia menggempur terus dengan kedua tangannya kepada Kwa Tin Ok. ia jadi terperanjat sendirinya. kedua tangannya menyambar berulang-ulang. Empat yang lain. Pun. ia serang bebokongnya si Mayat Besi. tengah dan bawah. Bwee Tiauw Hong melengak dan lalu tertawa panjang. ―Kau juga belum mampus. Tujuh saudara itu mengawasi. merangkul pohon besar di belakang Tin Ok tadi. Lalu ia meneruskan dengan seruannya:‖ Lekas bereskan dia!‖ Ia pun mendahulukan. suaranya tajam dan terdengar jauh. dengan kerahkan tenaga di tangannya. mereka berdiam tetapi siap sedia. Bwee Tiauw Hong berpekik keras. yang mengenai dada dan paha. Cu Cong tidak buka suara.Pendekar Pemanah Rajawali ― DI depan tujuh tindak!‖ Cu Cong teriak pula. enam Manusia Aneh itu bergidik sendirinya. ―Apakah kau masih ingat Hui-thian Sin Liong Kwa Pek Shia atau Hui-thian Pian-hok Kwa Tin Ok?‖ demikian tanyanya. ―Jadinya kau datang untuk menuntut balas untuk Hui-thian Sin Liong?‖ ―Tidak salah!‖ jawab Tin Ok. bocah kiranya kau belum mampus?‖ tanya dia.

tapi mana dapat aku tidak menolong bocah itu?‖ Maka terpaksa ia cepatkan tindakannya. untuk menolongi Siauw Eng dan A Seng. Cu Cong tidak berhenti sampai di situ. Rupanya Tiauw Hong telah dapat menduga. mereka bersedia dengan senjata rahasia masing-masing. Ia percaya Tong Sie terlebih lihay daripada Tiat Sie. Itu waktu Siauw Eng telah kasih dengar suara kaget. Dengan beruntun ia mainkan Irawan D Soedradjat Page 106 . ia dengar angin itu. bayangan itu masih berpekik-pekik. di depan bayangan yang berpekikan tak hentinya itu. untuk memapaki. Kanglam Cit Koay terkejut. Ia menjadi kaget apabila ia merasakan bebokongnya sakit sampai jauh di ulu hatinya. habis menolongi orang. Ia khawatirkan keselamatannya bocah itu. Han Siauw Eng lompat ke samping. untuk suaminya itu tolongi dia sambil membasmi musuh…. lalu menyusul pekik yang kedua. Hampir berbareng dengan itu. ia berdiri diam dengan sikapnya yang siap sedia. terpaksa ia berteriak: ―Bocah. yang kecil dan kate. di belakangnya dia tangan maut lagi menghampiri. Tong Sie si Mayat Perunggu pun telah mendatangi semakin dekat kepada Kwee ceng. ―Hebat larinya orang itu!‖ kata beberapa diantaranya. ia tidak tahu. lekas lari. Dan ia kemudia berlari.Pendekar Pemanah Rajawali Thio A Seng menyerang dengan salah satu potong papan batu yang tdai ditendang patah Bwee Tiauw Hong. maka itu. ia segera berkelit ke samping. tanpa bilang suatu apa. Tiat Sie buta sekarang. sampai sebegitu jauh belum pernah ia berani mengutarakan rasa hatinya itu. untuk memberi tahu supaya. mendaki bukit. napasnya diempos. ada satu bayangan lain. bayangan ini tadi tidak kelihatan. tentu saja Manusia Aneh yang kedua ini tidak sudi menjadi korban. Kwee Ceng pun menjerit kaget! Bocah itu telah dirampas Tan Hian Hong. lalu berdua mereka lompat ke gombolan rumput. Ia berkhawatir berbareng girang. Setelah hasilnya yang pertama ini. Ia pilih batok kepala musuh sebagai sasarannya. Segera juga Siauw Eng sampai kepada Kwee Ceng. si nona terus menyingkir. Tidak peduli ia kebal tetapi serangan Biauw Ciu Sieseng hebat bukan main. Ia dapat menghindar dari batu tetepi tidak serangannya Cu Cong. sebab ia segera menduga kepada Kwee Ceng. dari kejauhan terdengar pekikan nyaring seperti pekikan Tiauw Hong barusan. Ia tampak satu bayangan hitam lari mendatangi dengan cepat sekali. Dengan kegesitannya. sekarang ia lihat si nona Han terancam bahaya. Segera menyusul serangannya yang kedua. Ia lantas lari turun ke arah orang orang bertubuh kecil dan kate itu. Siauw Eng lompat ke samping. niatnya mendahului nona itu. ―Inilah hebat…‖ pikir Siauw Eng. ia menjadi kegirangan hingga ie berseru. ia tergempur di bagian dalam. sambaran angin papan batu itu pun keras. Lam Hie Jin semua memasang mata ke bawah bukit. Dengan sikapnya ini ia menantikan suaminya. tanda bahwa orang yang memperdengarkan itu telah datang lebih dekat. ia mendahulukan menyambar. Ketika itu Bwee Tiauw Hong sudah tidak mengamuk seorang diri lagi. terus ia memutar tubuh. ia lihat si nona. ia lari turun. akan tetapi kupingnya terang. guna menyambut bocah itu. berbareng dengan itu. Bab 10. dari itu. tetapi ia gagal. Karena tubuhnya kecil. Malam Yang Hebat Cu Cong ambil sikapnya ini untuk bersedia membokong musuh. ia terpaksa menggunai akal ini. ia pun belum pernah menyakinkan ilmu mendengar suara seprti Kwa Tin Ok. guna lari balik. dengan melupakan bahaya. untuk memandang ke bawah bukit. ia malah mesti lompat menyingkir. lekas lari!‖ Kwee Ceng dengar suara itu. Siauw Mie To Thio A Seng telah menaruh hati kepada Han Siauw Eng sejak beberapa tahun. ia girang yang orang telah menepati janji. Pekikan itu membuat hati orang terkesiap. Sembari mendatangi. Kali ini ia gagal. Ia tanmpak sekarang. maka ia susuli dengan tikaman ke arah mata. Ia dapat berlari dengan cepat luar biasa. guna mencegah racun di matanya dapat menjalar. Tiba-tiba ia rasai tangannya enteng. dari situ ia menyerang dengan pedangnya ke iga kiri si Mayat Perunggu. demikian bayangan yang mengejar itu. yang terlebih nyaring lagi. Cu Cong segera geraki tangannya ke arah Coan Kim Hoat. ia sambar bocah itu. ―Aku bukan tandingannya Tong Sie…. Selagi dua orang ini mendatangi dekat satu dengan lain. ia kaget dan berkhawatir.

legakan hatimu!‖ sahut Tan Hian Hong. Ia menjerit keras tetapi pedangnya dikerjakan untuk dipakai menikam ke dadanya lawan! Hanya. ia serang Han Siauw Eng dengan dua-dua tangannya. Cu Cong bersama Coan Kim Hoat.ilmu pedangnya gadis Wat. hingga lima jarinya si Mayat Perunggu masuk ke dalam dagingnya. bangsat anjing. bebokongnya mewakilkan Siauw Eng kena dijambret. perempuan bangsat. ia menyerang musuhnya. dan ―Wat Lie Kiam-hoat‖. ia melihat ancaman bahaya terhadap si nona yang ia sayangi. ia berputaran. ia tak mau berkelahi secara rapat. untuk diteruskan dipakai membabat. Lantas ia mendamprat: ―Bagus betul. ia jatuh pingsan. hingga ia bebas dari bahaya. setelah pedang itu berpindah arah. ia menahan sakit. ia jauhkan diri. si Mayat Perunggu lemparkan tubuh musuhnya. ―Satu juga tidak bakal lolos!‖ sambil mengucap begitu. Siauw Eng lepas dari marabahaya. ia menyahut dengan keras: ―Lelaki bangsat. dengan begitu ia bisa menyingkir beberapa tindak. Thio A Seng sudah maju tinggal beberapa tindak lagi. Siauw Eng buang diri dengan bergulingan.Pendekar Pemanah Rajawali jurus ―Hong Hong tiam tauw‖ – Burung Hong menggoyang kepala. Ia bergerak dalam jurus Kiu Im Pek-kut Jiauw yang lihay yang untuk meremukkan batok kepala orang. ia kerahkan semua tenaganya. ―Kau masih memikir untuk menyingkir?‖ tanya Hian Hong. menampak nona Han dalam bahaya. ia menyampok. lima jarinya masuk ke dalam daging betis.sepasang mataku dirusak oleh mereka itu! ikalau kau kasih lolos satu saja diantara tiga ekor anjing itu. Akhirnya ia berteriak: ―Eh. Di waktu itu. Berbareng dengan itu. tak dapat Siauw Mie To bertahan lagi. malah Cu Cong bersama Coan Kim Hoat mendahulukan menyerang denagn senjata rahasia mereka. maka itu. lalu dengan sikut kanannya. ia menduga-duga siapa mereka dan kenapa mereka itu muncul di gurun pasir ini. Dengan gerakannya ―Lay louw ta Kun‖ atau ―Keledai malas bergulingan‖. Tapi sekarang ia menginsyafi lihaynya musuh. makhluk-makhluk ini orang-orang macam apakah?!‖ Bwe Tiauw Hong sahuti suaminya itu: ―Mereka itu adalah saudaranya Hui-thian Sin Liong dan konconya Hui Thian Phian-hok!‖ ―Oh!‖ berseru Hian Hong. Sia-sia Siauw Eng tarik pedangnya. hingga seketika ia roboh ke tanah. ia memburu dan ulur tangannya yang terbuka ke ubun-ubunnya nona Han. Hian Hong lihay sekali. bagaimana dengan lukamu? Apakah luka itu menghendaki jiwa kecilmu yang busuk itu?!‖ Irawan D Soedradjat Page 107 . sambil lompat bangun. ia meneruskan menyambar si nona dengan jurusnya ―Sun swi twi couw‖ – Menolak Perahu Mengikuti Air. ia lompat kepada si nona itu. perempuan bangsat. Tiauw Hong tengah memegangi pohon besar. untuk mengahalangi serangan. pedang itu meleset di dadanya itu. ia papaki kakinya Thio A Seng itu. tanganya Hian Hong mendahulukan menepuk pundaknya. Tan Hian Hong kaget dan heran akan menyaksikan semua musuhnya demikian lihay. setelah satu jeritan keras. sebentar akan aku adu jiwa denganmu!‖ ―Bangsat perempuan. tetapi justru karena ini. Thio A Seng rebah di tanah dengan terluka parah. kapan Hian Hong mengempos semangatnya. ia menerjang kepada musuh itu. Lam Hie Jin dan yang lainnya telah tiba. Lam Hie Jin dan Han Po Kie lantas lari menyusul tubuh saudaranya itu. bagaimana kau?!‖ terdengar teriakannya Hian Hong. Justru itu. Tan Hian Hong tidak berhenti sampai disitu. ia lalu menanya: ―Eh. kiranya kau belum mampus! Jadinya kamu datang kemari untuk mengantarkan nyawa kamu!‖ Tapi ia juga khawatirkan keselamatan istrinya. ia kasih lewat ujung pedang. batal meneruskan serangannya kepada Siauw Eng. ―Hai. saban kali si Mayat Perunggu hendak menjambak. Tan Hian Hong mengempit Kwee Ceng di dengan lengan kirinya. perempuan bangsat.

berbareng dengan itu juga da tercium bau bacin. Kiu Im Pek-kut Jiauw. Dengan caranya ini. Hian Hong kagum hingga ia memuji di dalam hatinya. ―Citmoay. meneruskan gerakan tangan kirinya itu. Gerakannya itu ialah yang dinamakan ―Leng miauw pok cie‖ atau ―Kucing gesit menerkam tikus‖. tidak nanti ia pegang pohon saja dan tiak datang membantu. dengan sendirinya dadanya menjadi terbuka. Hie Jin kaget sekali. . Ia menyerang dengan Teetong Pian-hoat. untuk diputar ke kiri. tangan kanannya yang keras seperti besi. mega hitam menutup sang putri malam.Pendekar Pemanah Rajawali Bwee Tiauw Hong menyahuti suaminya dengan mendongkol: ―Lekas bunuh mereka! Nyonya besarmu tidak bakalan mampus!‖ Hian Hong tahu luka istrinya itu berat. sedang sikutnya yang kiri menghajar dadanya Cu Cong. untuk menolongi diri berbareng menolongi orang. sebab tubuhnya terpental rubuh saking kerasnya serangan sikut itu. sudah selesai delapan atau sembilan bagian. dengan lompat berjumpalit. berdiri diam sambil menanti ketikanya. buku-buku tulangnya memperdengarkan suara berkeretekan. Han Po Kie tunujk keberaniannya. Karena itu. lalu dengan tiba-tiba juga. Ia lantas lepaskan Kwee Ceng. makin keras niatnya untuk membinasakan mereka. tak sudi mereka merapatkan diri. satu kali ia kena dihajar kayu pikulan Lam Hie Jin. setelah bebas. tanda tenaga diadu. berbareng dengan itu. si adik yang ketujuh itu. atau sekarang tangan itu – atau lebih benar lima jarinya – sudah mendekati ubun-ubunnya! Dalam keadaan sangat berbahya itu. Tiba-tiba ia berpekik. guna menggempur kaki lawan. Karena tangan kanannya itu terangkat. Setelah berselang begitu lama. karenanya mereka berkelahi dengan waspada. Belum lagi Hie Jin menarik pulang senjatanya. kalau tidak. ia lompat ke samping. orang dengar suara merekek dua kali dan suara ―Duk!‖ satu kali. guna mencekik leher musuh itu. Kim Hoat kaget melihat Kwee Ceng dilempar. Karena ini. yang ia lempar ke tanah. Rasa sakit tiba-tiba membuat Cu Cong meringis dan tangannya yang dipakai mencekik leher musuh terlepas sendirinya. yaitu ilmu bergulingan di tanah. tangannya menyambar penyerangnya itu. Dan ia lari ke samping beberapa tindak. tapinya ia tidak terluka. diulur. Kelima Manusia Aneh dari Kanglam itu menginsyafi bahaya. terpaksa ia melenggakkan tubuhnya. Selagi ia dapat mencium bau itu. meninju dan menyambar. lalu tangannya itu seperti terulur menjadi lebih panjang dari biasanya. Itulah Tan Hian Hong. sambaran itu sudah sampai kepadanya. Hian Hong sendiri bukannya tidak menderita karenanya. Ia berkhawatir tetapi ia dapat menghampiri istrinya itu. tangan musuh yang berwarna biru sudah mendekati alisnya. sebab tadi hampir-hampir ia tak dapat bernapas. tapi ia telengas. dia hanya terteriak menjerit-jerit. tubuh siapa ia sambar. Berbareng dengan itu. sedang yang satunya lagi. apalagi sekarang ini latihannya ilmu yang baru. guna membnagkol lengan musuh itu. ia serang Coan Kim Hoat. kau bagaimana…‖ ―Jangan bersuara!‖ menjawab Siauw Eng. yang telah pertunjuki tenaganya yang menyebabkan Hie in patah bahu kirinya. hingga bebokongnya berbunyi bergedebuk. Sekonyong-konyong saja guntur berbunyi sangat nyaring. Maka itu kurungan mereka menjadi semakin lebar. ilmu menangkap tangan. untuk lekas-lekas menjalankan napasnya. hingga semua orang tidak dapat melihat sekalipun lima jari tangannya di depan matanya! Di dalam gelap gulita itu. makin lihay musuh. Istri itu sengaja pentang mulut besar. Bocah itu dalam bahaya. ia gunai Kim-na-hoat. Diwaktu dipakai menyambar. Lihay tangannya Hian Hong itu. ia membikin perhatiannya tan Hian Hong menjadi terbagi. yaitu Kwa Tin Ok. Cu Cong pun merangsak ke belakang Tong Sie. ai terus lompat kepada Kwee Ceng. Walaupun merasakan sakit. Ia tidak menghiraukan lagi hal ini karena adiknya terancam dan adiknya itu perlu ditolongi. si Mayat Perunggu itu. kedua tangannya bekerja. ia menyingkir setombak lebih. Cu Cong berlima telah kurung padanya. Irawan D Soedradjat Page 108 ―Semua renggang!‖ teriak Han Po Kie dalam gelap gulita itu. sambil berkelit.

ia lanjuti serangannya. tubuh Tin Ok terhuyung. musuhnya itu. ia segera menunduk. Justru itu. ―Jitee. dengan mengepal lima jari tangannya. selagi Kim Hoat bersuara. Syukur dalam kagetnya itu. sang guntur menyebabkan langit menjadi gelap gulita. samar-samar ia masih mendengar suara napas orang. Ia tidak kasih dengar suara apa-apa. ia menghajar dengan tongkatnya. Karena serangan tok-leng ini. Tin Ok kaget tidak kepalang. Pertempuran Hian Hong dengan Tin Ok hebat dengan cepat telah berlalu dua sampai tigapuluh jurus. untuk mendesak Kwa Tin Ok. Untuk Han Po Kie beramai. di tempat gelap gulita itu. Ia merasa pasti. yang kembali mampir di tubuhnya yang kebal itu. kedua tangannya dipakai untuk menyambar. suara terhajarnya terdengar nyata.com bergerak pula. tidak ada satu pun yang berani mendahului www. Po Kie semua bergirang. mereka melainkan mendengari suara sambarannya angin. Diantara tujuh Manusia Aneh. tapi ia belum bebas bahaya. Gerakannya itu terhalang. tetapi ia kebal seperti istrinya. ia melihat bagaimana tongkat kakaknya itu. ia lantas berkelit. diarahkan ke tiga penjuru. Tin ok dengar suara angin. Dengan begitu. akan terbangkan enam batang tok-leng. yang digunai Hian Hong. rasanya pertempuran itu berjalan sudah lama. Dengan waspada ia pasang terus kupingnya. mendadak kilat menyambar. Coan Kim Hoat terkejut. Hui Thian Pian-hok si Kelelawar Terbangkan Langit itu menjadi girang luar biasa. Hian Hong lanjuti serangannya tanpa berlengah sedetikpun. Si Mayat Perunggu lihay sekali. Tongkat itu ia papaki denagn pundaknya yang kiri. tubuhnya sudah mencelat maju. guna mencegah dan melibat tongkat itu. Ia dengar suara napas di sebelah kiri ia. ―Thian membantu aku!‖ ia memuji dalam hatinya.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin Ok dengari segala gerak-gerik. Tan Hian Hong adalah orang yang diserang. ―Sekarang ini langit gelap sekali. Selagi orang kegirangan. sang hujan pun turun menyusul. Dua batang tok-leng lewat di atas kepalanya. Ia lompat ke arah musuh itu. siapa pun tidak dapat melihat siapa. yang tubuhnya terhuyung. guna mencoba mengacaukan pikiran musuh. tengah menyambar ke kakaknya itu. ia melompat mundur. ia berseru: ―Toako. ia berpekik secara aneh.kangzusi. Mendengar itu. Karena ini. Kwa Tin Ok berdiam. tangan kanannya menjambak ke depan. Han Po Kie bersama Han Siauw Eng dan Coan Kim Hoat. ia menjadi tahu di mana adanya si penyerang. walaupun ada suara hujan. Semua orang berhenti bertempur karenanya. yang ketahui kakaknya tengah bertenpur. ia melainkan merasa sangat sakit. maka juga Han Po Kie menjadi kaget sekali. Satu dengan yang lain tidak dapat melihat. mereka pun menolongi tiga saudara mereka yang tealh terluka. habis mana. awas!‖ Hian Hong sangat lihay dan gesit. Irawan D Soedradjat Page 109 . Ingin mereka membantui saudara mereka itu tetapi mereka tidak dapat melihat. Disamping itu dengan meraba-raba.‖ Coan Kim Hoat memberitahu. ia menjadi heran sekali. untuk menganjurkan kakak itu. tiga sudah terluka parah. terpisahnya delapan atau sembilan tindak daripadanya. Telak serangan itu. maka syukur untuknya. oleh Hian Hong dipakai menyerang ia dalam rupa timpukan! Bukan main girangnya si Mayat Perunggu. ia tertawa sambil berlenggak. Dua kali ia terhajar tongkat. Berbareng dengan gerakan tangan kiri ini. lengannya itu terulur panjang. dua orang ini bertempur. disebabkan ketegangan dan kecemasan hati mereka. tangannya sendiri diputar ke atas. kilat berkelebat pula. Sinar kilat sudah lenyap tetapi sambaran itu telah mengenai sasarannya. dengan lihaynya pendengarannya itu. Tongkatnya yang terampas Hian Hong. memperlihatkan sinar terang. guna menangkap tongkat musuh itu. mereka dari itu Cuma andalkan kuping mereka. Ia dengar sambaran angin. Ia tidak hiraukan tongkat lawan. ia masih ingat untuk segera menyerang denagn cambuknya. kau bagaimana?‖ ia terpaksa bertanya. itu artinya Kanglam Cit Koay telah kalah besar. sambil berkelit. ia tidak terluka. dengan lantas ia ayunkan kedua tangannya. Tiba-tiba Hian Hong menjerit aneh. karena bajunya kena terjambak dan robek karenanya. Mendengar itu. Itulah tandanya kakak mereka mulai berhasil. itu bukan napas saudara angkatnya. Empat yang lain tepat mengenai tubuhnya. sudah lantas kasih dengar seruan mereka berulang-ulang.

Maka juga. ia bersembunyi di pinggiran. Dua saudara seperguruan itu terlibat api asmara sebelum mereka lulus. Kapan Oey Yok Su ketahui perbuatannya kedua murid itu. mereka bakal dihukum mati dengan disiksa. tubuhnya terus roboh terjengkang. Orang itu bertubuh kecil. ―Rahasianya…di dadaku…‖ Ia tak dapat bernapas terus. maka juga ia kalah terkenal dari kaum Coan Cin Kauw yang kenamaan di Kwantong dan Kwansee dan Toan Sie yang kesohor di Selatan (Thian Lam). Sang istri kertak giginya. dari atas bukit ia lari untuk menghampirkan. ialah kitab Kiu Im Cin Keng bagian rahasianya. ―Hm!‖ Hian Hong ksaih dengar suaranya yang seram. ia tidak terluka. Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong ini asalnya adalah saudara satu perguruan. Ia terkena justru bagian tubuhnya yang terpenting. kalau rahasia mereka ketahuan. Tapi kakiknya terserimpat. ia murka bukan main. ―Akan aku balaskan sakit hatimu!‖ ia berseru. ia curi sekalian kitab Kiu Im Cin Keng dari gurunya. Ia menduga tak keliru. ―Lepaskan aku!‖ menjerit Kwee Ceng. di tanah rata kereta rubuh ringsak‖. Diwaktu bertempur ia selalu melindungi perutnya. Ini dia yang dibilang ―Orang yang pandai berenang mati kelelap. ialah kelemahannya. ilmu silatnya cukup untuk membela diri tetapi tak dapat digunai untuk menjagoi. sekalian buron. Maka sejenak itu. Mereka insyaf. habislah nyawa jago itu. Karena ini. ―Lelaki bangsat. ―Lekas kau lari…!‖ Kwee Ceng dengar pembicaraan itu. Tan Hian Hong tahu. Tak pernah ia lupai kebiasaannya membawa-bawa ―bangsat‖. tulang-tulangnya lantas meretak berulang-ulang. tetapi sekarang selagi mencekuk satu bocah. Istri ini lantas meraba ke dada orang. Tetapi tiba-tiba Tan Hian Hong perdengarkan jeritan yang hebat sekali. kau kenapa?‖ ia tanya. Setelah menikam dan terlepas dari cekukan. untuk di daratan Tionggoan. Tapi ia telah bersumpah tidak akan meninggalkan Thoa Hoa To. mereka naik sebuah perahu kecil. untuk mana ia nyelusup masuk ke kamar gurunya itu. Maka itu pada suatu malam gelap buta. ia tak dapat mengawasi suaminya itu tersiksa begitu rupa. perempuan bangsat…. guna hampirkan si cebol.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sekarang hendak aku mengambil nyawa anjingmu. suaranya terputus-putus. sedikit orang yang ketahui kelihayannya. Sebagai jago is terbinasa di tangannya satu bocah yang tidak mengerti ilmu silat. hanya saking murkanya. Ia melatih diri dengan sempurnya. kecuali pusarnya itu. Segera ia tiba di samping suaminya. ―Celaka. maka ia tak berbuat kepalang tanggung. Itulah siksaan hebat. ia terkena pisaunya Khu Cie Kee. dari mana mereka menyingkir lebih jauh ke Lengpo di propinsi Ciatkang. untuk sambar bocah itu. yang lihat aksinya si orang she Han. Tiauw Hong tahu.‖ sahut Hian Hong lemah. ia menjadi tidak mempan barang tajam. lain-lain muridnya Irawan D Soedradjat Page 110 . pemilik dari pulau Tho Hoa To di Tang Hay. Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi dapat dengar jeritan suaminya itu. suaminya itu telah membuyarkan tenaga dalamnya. ia kuatkan hatinya lalu dengan tiba-tiba. yang menolongi kakanya itu. orang itu ialah Kwee Ceng! Segera ia menunduk. ia terjeblos dan roboh terguling-guling. mereka adalah muridmuridnya Tocu Oey Yok Su. Oey Yok Su adalah pendiri dari suatu kaum persilatan sendiri. Tetapi ia bertubuh kuat. Laut Timur. kepandaiannya itu ia ciptakan dan yakinkan di pulau Tho Hoa To itu. terpaksa ia membiarkan saja. ia lupa. manusia cebol terokmok!‖ berseru Hian Hong. Satu kali ia kena injak tempat kosong. ia hajar batok kepala suaminya. tidak pernah ia pergi meninggalkan pulaunya itu. berurat tembaga bertulang besi. seperti ada tangan yang menyambar merangkul. Sejak ia berhasil menyempurnakan ilmu kepandaiannya. Ia lantas berlompat. ―Kitab itu telah aku bakar…‖ kata Hian Hong. untuk mengambil kitab yang dikatakan suaminya itu. disaat hendak menghembuskan napas terakhir. Lebih celaka lagi. sebagaimana juga kebiasaan suaminya. Ia takut bukan main. yang tajamnya bahkan sanggup mengutungi emas dan batu kemala. kabur ke pulau Heng To di sebelah selatan.

jiwanya terancam. angin tidak mengganas terlalu lama. Ia tahu ada orang serang padanya. disaat dia hendak menutup mata. Tapi bukan kitabnya sendiri yang dia telah bakar. Dibantu oleh Siauw Eng dan Po Kie. Belum pernah ada orang yang sanggup robohkan mereka. Adalah berbahaya menyakinkan bagian bawah tanpa bagian atas. lukanya berbahaya. Semua muridnya itu ia putuskan urat-uratnya. Pada waktu suami istri kejam ini dikeroyok orang-orang gagah dari pelbagai partai persilatan di utara Sungai Besar. Han Po Kie yang paling dulu lompat bangun. Setelah itu mendadak ia menyerang hebat kepada bebokong lawannya. bukan saja mereka tidak dapat mendesak. Bisa celaka mereka dirabu pasir dan batu itu. untuk terus mendekam. ia menjadi penasaran. dengan terbangnya sang mega. Tentu saja. Bwee Tiauw Hong lenyap. Coan Kim Hoat lantas tolongi saudara-saudaranya yang terluka itu. Cu Cong. Maka itu.‖ Tiauw Hong percaya pada suaminya. Sekonyong-konyong datang angin besar.Pendekar Pemanah Rajawali menjadi korbannya. tidak ada kabar ceritanya. hingga mereka kabur untuk sembunyikan diri. Ia heran hingga ia diam menjublak. Saking hebatnya. lenyap juga mayatnya Tan Hian Hong. empat saudaranya itu. ia tidak dapatkan apa-apa. Ia ambil kedudukan di belakang musuhnya itu. Justru di bagian atas adalah pelajaran pokok dasarnya. Adalah sekarangm. hingga mereka bisa melihat musuh. Tidak tahunya. walaupun mereka terhajar Tong Sie. Tiauw Hong lantas raba dada suaminya. Po Kie berkata: ―Celaka betul! Bertiga kita lawan satu wanita buta. Kwee Ceng mulai muncul dari belakang batu dimana ia tadi bersembunyi. ia tidak sempat mewujudkan niatnya itu. Ia sekarang hanya mengandal pada kejelian kupingnya. mereka telah minta bnayak korban. Di dalam hatinya. atau kalau kau termaha. Ia membikin enam saudaranya Irawan D Soedradjat Page 111 . Hebat pengepungan ini. hingga orang percaya mereka sudah mati karena luka-lukanya. ia tidak hendak beri lihat kitab Kiu Im Cin Keng itu. Medan pertempuran ada di atas gunung Heng San. ilmu Menyambar dan Menangkap. apapula makin lama mereka jadi makin telangas. baru ketiga kalinya. mereka terus menyakinkan Kiu Im Cin Keng bagian ―Kiu Im Pek Kut Jiauw‖ atau ―Cengkeraman Tulang Putih‖ dan ―Cui Sim Ciang‖ atau ― Tangan Peremuk Hati‖. Saking tergesa-gesa. Ketika istrinya desak. runtuhlah nama nama Kanglam Cit Koay…‖ Maka itu. Repot juga Tiauw Hong. walaupun pada istrinya. Sebab Han Po kie bersama Siauw Eng dan Coan Kim Hoat. mereka sendiri saban-saban menghadapi ancaman. ia berpikir keras. Kalau tidak. maka ia hendak memeriksa. pasir dan batu pada beterbangan. Aneh tabiat Hian Hong. aku mesti memilih dengan teliti. si putri malam pun mulai mengintai pula dan muncul lagi. kau bisa celaka. Hian Hong menjawab: ―Sebenarnya kitab ini terdiri dari dua bagian. Mereka sembunyikan diri sampai belasan tahun. mereka kena dilukakan. Malah dilain saat. luka mereka tidak parah. si Mayat Perunggu. syukur ia tidak terluka dalam. Syukur. untuk mencari terlebih jauh. Kekalahan ini disebabkan terlalu banyak pengepungnya. Hian Hong suka serahkan kitabnya itu pada istrinya. membarengi berkelebatnya kilat. ia tidak memaksa lebih jauh. adalah setelah ia sendiri berhasil mempelajarinya. Kau tahu. Semua orang basah kuyup pakaiannya. sudah lantas maju menyerang. Kim Hoat bertiga terpaksa lompat mundur. ia tidak ambil peduli. Sayang untuknya. Dua kali mereka mendapat kemenangan. Hian Hong dan Tiauw Hong menyembunyikan diri untuk menyakinkan Kiu Im Cin Keng itu. yang tercengkeram Kiu Im Pek-kut Jiauw. Lam Hie Jin patah lengannya. hingga mereka menjadi manusia-manusia bercacad seumur hidupnya. aku dapat curi cuma sebagian. Ketika ini digunai Siauw Eng akan menikam dengan pedangnya dan Kim Hoat dengan dacinnya. lam Hie Jin dan Thio A Seng. baru ia turunkan kepandaian itu kepadanya istrinya. Sebaliknya. membawa mega hitam dan tebal. Adalah Thio A Seng. yang kedua matanya sudah buta. Masih rebah tengkurap adalah Kwa Tin Ok. lalu ia usir mereka dari pulaunya. kepada gerak-gerik angin. biar aku yakinkan sendiri dulu. kepandaian yang kita sudah dapati dari suhu masih belum cukup untuk pelajari bagian bawah ini. membuat langit menjadi gelap-gulita pula. dari itu. Ketiga Manusia Aneh ini menjadi cemas. ai melawan dengan mainkan tipu-tipu Kim-na-hoat. Hujan pun turut berhenti perlahan-lahan. Syukur Tin Ok dan Cu Cong telah lihay ilmu dalamnya. hanya singkatannya atau rahasia pokoknya. sebagian bawah. Terdesak juga Tiauw Hong diserang hebat dari belakang. kita tidak berhasil. Adalah keinginannya ilmu ini agar musuh berkelahi rapat. tetapi segera ia menjerit heran. biar bagaimana Tiauw Hong memohonnya. Dengan begini mereka bikin diri mereka menjadi jago.

jaga supaya ia jangan kalah dengan itu…imam…‖ ―Jangan khawatir. tapi masih meneruskan kata-katanya: ―Bakatmu tidak bagus. Mereka mencari denagn sia-sia.‖ katanya. mereka mendirikan satu batu besar. Sebagai nisan. aku pun malas kecuali tenagaku yang besar…. aku tidak nanti menikah dengan lain orang…. lebih-lebih Han Siauw Eng. untuk mengusap-usap rambut adik angkatnya itu. tapi lukanya sangat mendatangkan rasa sakit. ia menarik napas.‖ Meski masih kecil. tenaganya sudah habis. Bocah itu menyahuti. legakan hatimu. ia jatuhkan diri di depan tubuh A Seng. kau tentu hendak berguru pada kami?‖ Cu Cong tanya Kwee Ceng.. inilah aku ketahui. aku akan selalu bersama kamu…‖ A Seng masih dengar suara tu. Entah kemana perginya Tiauw Hong beserta mayat suaminya itu. ―Ini gurumu yang kelima bakal pulang ke langit. baik sekali. ―Citmoay.‖ Siauw Eng menjawab. Ia lantas peluki A Seng dengan ia menangis tersedu sedan. ―Ya!‖ ―Kalau begitu. aku baik-baik aja…‖ ia menghibur. Enam saudara itu memangis menggerung-gerung. Thio A Seng adalah Siauw Mie To. jikalau kau alpa dan malas. ―Kau justru perlakukan aku baik. A Seng tertawa. tidak nanti aku antarkan jiwa disini…. mereka menggali liang. si Buddha Tertawa. kau lihat contohnya gurumu ini…. sedang ia pun ada menaruh hati. ―Jangan menangis. ―Anak yang baik. ―Cukup…‖ katanya. yang tahu kakak angkatnya yang kelima ini ada menaruh cinta kepadanya. begitupun dengan yang lainnya. Thio A Seng tersenyum meringis. Merek aitu pada melinangkan air mata. mari kau hunjuk hormatmu padanya. hampir ia tak sadarkan diri. kau pergilah dengan tenang…Kita Kanglam Cit Koay. cuaca sudah menjadi terang. Kwee Ceng sudah mengerti banyak. ―Ngoko. terus ia berjengit. karena sangat eratnya pergaulan mereka. di mulutnya kakak angkatnya itu. Sebenarnya sia-sia saja kau berguru padaku. untuk bersujud sambil mengangguk berulangkali. Ia menahan sakit. kesedihan mereka bukan main. ―Ngoko. Masih dapat ia mengatakan demikian. Aku sangat bodoh. perlahan sekali. perlu kau belajar rajin dan ulet.Pendekar Pemanah Rajawali sangat berduka. walaupun lagi menghadapi bahaya maut. mereka juga saling menyinta. selanjutnya kau mesti dengar perkataan kami. ia tersenyum pula. Dengan masih menangis. Siauw Eng menangis. jangan menangis. habis itu berhentilah ia bernapas…. tidak nanti kita kalah…!‖ A Seng tertawa. Coba dulu aku rajin belajar. ―Legakan hatimu. Irawan D Soedradjat Page 112 .‖ kata Cu Cong pula. maka Coan Kim Hoat dan Han PO Kie lantas turun gunung untuk cari mayatnya si MayatPerunggu serta Bwee Tiauw Hong. Itu waktu. Kwee Ceng mengangguk. seumurku. ―Aku telah jadi orangnya keluarga Thio. sayang aku tidak dapat memberi pelajaran kepadmu…. bukan?‖ kata nona Han itu tanpa malu-malu. Ia ulur tangannya. biasanya aku perlakukan kau tidak manis…‖ katanya. Tin Ok terharu sekali. Walaupun semuanya bertabiat aneh. hingga dua kali.‖ kata Cu Cong. maka itu. untuk mengubur jenazah saudaranya itu ditempat itu. si Mayat Besi. ―Kau datang kemari. untuk menjadi istrimu! Kau setuju. ia masih dapat tersenyum..‖ Masih A Seng hendak berkata pula. maka Siauw Eng pasang kupingnya.kalau nanti aku mati. ynag telah hampirkan mereka. mereka tetap manusia biasa.‖ Tiba-tiba kedua matanya berbalik. Si nona masih dengar: ―Ajarilah ini anak dengan baik-baik. Habis hujan lebat. di tanah berpasir mesti ada tapak kaki tetapi ini tidak.‖ kata pula si nona. ―Kami tujuh saudara adalah gurumu semua. akan aku menikah denganmu.

Po Kie lompat turun dari kudanya. lioktee dan citmoay.‖ ia kata kepada Siauw Eng. putranya Sangum. mereka pun turun dari gunung. kemudian kau. Dua ekor macan tutul itu telah dapat mengorek satu mayat. kau pun bakal digegaren macanku!‖ ia mengancam tetapi ia tak berani dekati musuhnya. kenapa mayatnya ada di sini? Siapakah orang-orang itu? Apakah maksudnya maka itu mayat diganggu?‖ Itu waktu Coan Kim Hoat semua telah datang menyusul. yang menjadi tukang pelihara macan tutul itu. maka mereka pun saksikan myatnya Hian Hong itu. Tidak ayal lagi. yang agaknya kaget.‖ Pikiran ini disetujui. yang terus terdengar berulang-ulang. ia berkata. ―Mana Tuli?!‖ ia tanya.‖ kata Cu Cng sekembalinya kedua saudara itu. setahu bagaimana jadinya dengan mereka. Dengan mendongkol ia berkata: ―Biarlah! Mari kita hajar Tuli dulu! Hendak aku lihat. ―Kau lekas menyerah! Kalau tidak. tentulah Kwee Ceng telah dihajarnya. maka itu kuda berlompat ke depan. Irawan D Soedradjat Page 113 Kwee ceng jeri kepada macan tutul tetapi ia ingat keselamatannya Tuli. coba kau pergi mencari pula. menhajar kepalanya orang itu. dia hendak suruh macan itu makan kakak angkatku. Ia lantas ajak pemelihara macan tutul itu untuk berlalu. Kwee ceng terkejut. seperti ada dagingnya yang orang telah potong. yang berada di antara rombongan orang tadi. Kalau tidak. Ia menitahkan orangnya. hendak aku menyuruh kakak angkatku lari. Tempo ia lihat Kwee Ceng. malah jago Kanglam ini kenali itu mayatnya Tan Hian Hong. dialah putranya Khan besar Temuchin!‖ berkata itu tukang rawat macan tutul. Tusaga ayun cambuknya. apa nanti paman Temuchin bisa bikin!‖ ―Jikalau kau pergi. . Ia berpikir: ―Dia mati di atas gunung. Itulah sebabnya kenapa kuda si kate tidak berani maju terus. Diam-diam mereka bergedik menyaksikan itu musuh tangguh. seluruhnya berlumuran darah. Coba tidak ada Kwee Ceng. binatang itu berhenti dengan tibatiba. tukang rawat macan tutul itu turut perintah. ―Macan tutulku telah gegares Tuli!‖ sahut Tusaga berteriak. ―Akan aku laporkan kepada Khan besar!‖ Tusaga hendak mencegah tapi sudah kasep. kamu mengepung pula Tuli?‖ tanya Kwee Ceng. ―Tarik macan itu!‖ kata satu anak kecil yang menunggang kuda. Di sana tertampak serombongan orang serta dua ekor macam tutul menoker-noker pada tanah. maka habis mengucurkan airmata di depan kuburan A Seng.‖ kata itu guru. ―Tuan muda. kau sendiri bakalan digegares macan itu. ―Kenapa tadi ia serang aku! Lekas!‖ Dengan terpaksa. ―Tak takutkah kau?‖ ―Aku takut…‖ sahut murid ini. jerih ia menampak Kanglam Cit Koay. ―Sekarang mari kita antar anak ini dan kita pun merawat diri. ―Di mana dia?‖ Tusaga perlihatkan roman tembereng dan puas. Heran Po Kie. yang terluka dari leher sampai di perutnya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Di tempat begini. ia maju ke arah mereka. kau sembunyi di sini! Kenapa kau tidak berani membantui Tuli bertarung? Makhluk tidak punya guna!‖ Bocah itu ialah Tusaga. Kedua macan tutul itu sudah mulai gerogoti mayatnya Hian Hong. ―Takut apa!‖ teriaknya. Mereka menjadi heran sekali. Po Kie keprak kudanya. Lari serintasan. tidak nanti wanita itu kabur jauh. ―Aku tuntun macan tutulku menyuruhnya geharesi dia!‖ sahutnya. Satu tukang rawat macan tutul yang lainnya ketakutan. ―Eh. tak mau ia maju walaupun dipaksa majikannya. maksudnya memberitahu. ia memasang mata ke depan. Mereka jalan belum jauh tempo mereka dengar menderunya binatang liar. shatee. dengan cekal Kim-kiong-pian. ―Suhu. Po Kie menjadi heran. dia membentak: ―Hai. Segera ia dapat tahu perbuatannya itu macan tutul.

‖ kata Siauw Eng. Kwee Ceng bersangsi sebentar. Wanyen Yung Chi kecewa gagal menyaksikan orang diadu dengan binatang. tapi ia lagi dikurung. tanpa minta bantuan Ogotai. ―Mari kita lihat!― katanya. Dia orang ini turut perintahnya Tusaga. ilmu silat tangan kosong. hendak ia lari. jurusnya itu adalah jurus pojok dari ―Khong Khong Kun‖. ―Tusaga bawa-bawa macan tutul!‖ Tuli kaget. pertempuran sudah lantas dimulai. cegah cucuku main gila!― Pengiring itu segera kabur dengan kudanya. jieko. kedua mereka bakal jadi bentrok. ia ulur tangannya. ketika besoknya pagi ia tidak dapat cari Kwee Ceng. negara Kim yang besar!‖ Ia terus kisiki pengiringnya. Kanglam Cit Koay dapat lantas mencegah Tusaga apabila mereka kehendaki itu. ―Mari kita bantu dia!‖ Coan Kim Hoat lantas memesan: ―Bocah galak itu memelihara macan tutul. ia seperti lagi menunggang kuda. ia bikin musuh-musuhnya rubuh satu demi satu. untuk terus dipanggul! Tetap tubuh Kwee Ceng di atas pundak orang. salah satu penunggangnya berteriak-teriak. dan Sangum tengah menemani dua saudara Wanyen di tenda mereka. Irawan D Soedradjat Page Wang Khan semua iringi kedua saudara Wanyen itu. tetapi mereka tidak mau menerbitkan onar. Itu wkatu Temuchin bersama Wang Khan. . mereka terkejut mendengar laporan si tukang pelihara macan. Sebenarnya Tuli rajin melatih diri menuruti ajarannya Cu Cong. Ia tentu tidak tahu. Ia berkata kepada saudarasaudaranya: ―Bocah ini bebal tetapi dialah orang segolongan dengan kita!‖ ―Matamutajam. Wang Khan mendahului perintah satu pengiringnya: ―Lekas sampaikan titahku. kegembiraannya terbangun secara tiba-tiba. kakaknya. heran dia melihat Tuli sendirian. sekalian mereka ingin saksikan sepak terjangnya Tuli dan Kwee Ceng. dimana tampak Tuli sedang dikurung oleh belasan orang. ia lantas lari pulang untuk menagmbil macan tutul ayahnya. ia menyahuti: ―Aku mau pergi!‖ Benar-benar ia lantas lari. Hebat Tuli itu. Mereka jalan baharu satu lie lebih. ia masgul. dan inilah untungnya negaraku. semua lantas lari keluar tenda untuk naiki kuda mereka. Sementara itu Han Po Kie dapat candak Tusaga dan melombainya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jadi kau batal pergi?‖ tanya gurunya lagi. tidak lantas dikeroyok. Sebabnya 114 Wanyen Lieh pun gembira tetapi ia tidak perlihatkan itu pada wajahnya. ingat. yang larinya sangat pesat. ia lantas saja lari menyusul Kwee Ceng. Tapi ia tidak peduli suatu apa. Ia pikir: ―Jikalau anaknya Sangum membinasakan anaknya Temuchin. setelah menyandak. yang pun lantas berlalu dengan cepat. Itu waktu ada beberapa kuda dilarikan keras ke arah mereka. sebab dua kali ia rubuh mencium tanah dan hidungnya kena diberi bogem mentah dua kali juga. sekarang ia dengar berita ini. Cu Cong rebah di bebokongnya unta karena lukanya. ia pun sangat berani. mereka lantas datang menyusul. saking murkanya. Kita tak boleh terbitkan onar. Tusaga datang dalam jumlah belasan. sebentar kemudian tibalah di satu tempat. Tusaga penasaran. kita harus berhati-hati. ―Tuli! Tuli! Lekas lari. tanpa perkenanan dari Temuchin lagi. akan cekuk bocah itu. seorang diri ia pergi memenuhi janji kepada Tusaga untuk bertempur. Jamukha. tiga dari kita terluka…‖ Po Kie manggut. di depan mereka tertampak beberapa serdadu Kim tengah berkelahi sama pengiring Khan ini yang tadi diberikan titah. ―Jangan lepaskan macan tutul! Jangan lepaskan macan tutul!‖ Segera terlihat ternyata mereka itu adalah Mukhali berempat. ia gunai jurus ajarannya Cu Cong. ia kagumi bocah itu. ia mungkin putranya satu pangeran atau raja muda. dari ini putranya Temuchin Cuma dikurung. lekas!‖ Kwee Ceng berteriak-teriak sebelum ia datang mendekat. Tuli yang sedang kegirangan tidak menyangka musuhnya itu bakalan minta bantuan binatang liar. yang dengan laporannya si tukang pelihara macan tutul.

ia belum tahu bahaya. melihat orang datang dekat. Ia menjadi heran. Keempat pahlawannya lempar panah mereka dan menghunus golok untuk maju menyerang. Ia lantas menduga kepada mereka itu. kuku macan telah mampir dipundaknya. menyusul mana kedua macan itu rubuh berbareng.Pendekar Pemanah Rajawali adalah serdadu-serdadu Kim itu menghalang-halangi orang menjalankan tugas. ia tertawa haha-hihi. Penunggangnya seorang wanita usia pertengahan yang memakai mantel kulit indah dan mengempo satu anak perempuan yang elok romannya. meski demikian. ia khawatirkan keselamatan putranya itu. Kapan ia berpaling ke arah darimana suara angin itu datang menyambar. orang ini tidak ada matanya. Kwee Ceng berlompat. ―Lepas panah!‖ Yulun Eke segera memerintah. Temuchin dan keempat pahlawannya segera siapkan panah mereka. tetapi justru ia maju. Yulun Eke lantas saja peluki putrinya. apapula ia dapatkan. maka ia dihiburi ibunya. segera ia berlompat menubruk. tidak ada seorang jua yang ketahui siapa si penyerang gelap itu. sedang Temuchin tidak berani melepaskan anak panahnya. rubuh celentang lalu tidak berkutik lagi. yang pun terus tarik Tuli. ―Siapa yang membunuh macanku?!‖ ia tanya dengan bengis. tempo ia dengar perkara putranya. Ia pun tidak karu-karuan dipegat dan dikeroyok. Ia baharu berusia empat tahun. karena ia jadi waspada. ialah yang maju di muka sekali. Boroul sendiri tutup mulut. Nyonya Temuchin tengah pasang omong dengan istrinya Sangum di tenda mereka. diarahkan kepada dua binatang liar itu. Anak itu menangis karena kagetnya. Gochin Baki. Sebentar saja kuda itu. yang ia peluk. Anak perempuan yang ia bawabawa itu adalah putrinya. ―Berangkat!‖ mereka menitah. yang ditangkap sedari masih kecil dan dipelihara dan dididik dengan banyak sukar hingga jadi b esar dan dapat mengerti. Ia lantas lomat turun dari kudanya. Dua saudara Wanyen itu lantas memerintah serdadu-serdadunya berhenti berkelahi. Macan itu lagi bersiap-siap. Kemudian ia ulurkan tangannya. yang ia ambil dari rangkulannya Kwee ceng. Terang itu adalah kerjaan orang yang lihay. Irawan D Soedradjat Page Semua orang berdiam. dia terjang kami!‖ Pengiringnya Wang Khan itu mendongkol dan tidak mau mengerti. Semua orang kaget. maka ia lantas menyusul. Dalam saat mengancam itu. keempat kakinya tengah menoker-noker dan mulutnya meraung-raung tidak hentinya. Dua ekor macan tutul sudah lepas dari ikatan pada lehernya. Di depan mereka berdiri dua bocah ialah Tuli dan Kwee Ceng. Temuchin ketahui baik. sedang si petugas tidak berani abaikan kewajibannya. ia tubruk Gochin. Jamukha lihat itu semua. disaat ia hendak mencegah. Tusaga lihat datangnya banyak orang dan kakek beserta ayahnya juga berada bersama. kedua binatang itu berlubang masing-masing di kedua pelipisnya. lalu terdengar suara kuda berlarilari mendatangi di arah belakang mereka. untuk dirangkul dengan tangannya yang lain. Boroul yang bertubuh kate dan kecil adalah yang paling gesit. kupingnya mendengar beberapa kali suara angin menyambar. romannya cantik dan manis. berulang-ulang ia anjuri macannya lekas menyerang. berniat mengusap-usap kepalanya seekor macan tutul. . binatang adalah binatang kesayangan Sangum. Gochin sebaliknya segera hampirkan kakaknya. 115 Sangum sangat murka. tiba diantara mereka. adalah istrinya Temuchin atau ibunya Tuli. Ia kata dengan sengit: ―Aku toh ada di sebelah depan kamu dan kamu di belakang aku…!‖ Dua saudara Wanyen itu tidak inginkan mereka adu mulut. lagi mengawasi dengan sikapnya yang tenang sekali. Mereka ini bilang: ―Kami tengah berdiam disini. khawatir kena putrinya. ia jadi semakin temberang. Ia sangat khawatir melihat putranya terancam macan tutul itu. pria dan wanita. ia menduga peristiwa itu terjadi karena bisanya dua Wanyen ini. tampak enam orang Han. dari itu asal putranya tidakterancam tidak mau ia memanah macan itu. Tidak lama tibalah mereka di depan rombongannya Tusaga beramai. Wang Khan murka melihat kelakuan cucunya itu. Walaupun kejadian berlaku di depan mata mereka. untuk menjatuhkan diri. yang darimana darah mengucur keluar. seekor kuda merah. Di antara empat pahlawan.

ia terus menangis sambil bergulingan di tanah. Di dalam hatinya. keluarlah alemannya. Berapa kamu menghendaki gaji kamu?‖ Coan Kim Hoat senang dengan tawaran itu. Ia menginsyafi peranan kedua saudara Wanyen itu.‖ . kita selalu terancam bahaya. Ia terperanjat dan heran sekali. Selagi ia berpaling. Irawan D Soedradjat Page 116 ―Itulah aneh. Sambil tertawa. ia sangat bangga untuk keturunannya. Gochin sudah cantik. untuk dikasih bangun dengan dipeluk. itulah kebetulan bagi pangeran ini yang lantas ngeloyor pergi duluan. Kanglam Liok Koay jalan perlahan-lahan. Temuchin hampiri Wang Khan dan kata: ―Ayah inilah permainan anak-anak. ―Nanti aku gantikan kau empat macan tutul yang paling jempolan ditambah sama delapan pasang burung elang. ―Eh. akan tetapi disitu ada putusannya ayahnya. tak senang ia berbesan dengannya. Mereka tidak lihat Wanyen Lieh. bagaimana pikirmu?‖ Wang Khan girang. Temuchin kata sama Sangum. Cucuku yang perempuan hendak aku jodohkan dengan Juji. itu pun sudah bagus. terpaksa ia menyambut dengan sambil tertawa.‖ Temuchin girang. terus ia kata pada Coan Kim Hoat. yang ia usap-usap kepalanya. untuk merundingkan urusan mereka. ia suruh Boroul layani enam orang itu. sekarang kita menjadi besan!‖ Sangum itu angkuh. entah itu perbuatan kawan atau lawan…‖ kata Han Po Kie. ia puji untuk keberaniannya. dan Cu Cong rebah di atas unta. Diam-diam Jamukha kisiki Temuchin apa yang tadi terjadi di tengah jalan antara pengiringnya Wang Khan dan serdadu-serdadu Kim. Ia lantas menyahuti: ―Khan yang besar sudi terima kami. ia pun bicara hal Kanglam Cit Koay ( yang sekarang menjadi Kanglam Liok Koay sebab jumlah mereka telah berkurang satu). ia suruh Boroul memberi hadiah bulu dan emas. kenapa ini beberapa Manusia Aneh berada disini?‖ katanya dalam hatinya. Wang Khan gusar. untuk susul kedua saudara Wanyen. tak senang ia berbesan. Gagallah tipu dayanya. terhadap Temuchin ia berdengki dan memandang enteng. Anak itu mencoba meronta tetapi tidak berhasil. meskipun masih kecil. Aku lihat anak ini berbakat baik. Temuchin lantas dapat tahu enam itu ialah yang tolongi putranya.‖ Sangum masih mendongkol. ia kata: ―Kamu hendak bikin kita bercedera. ―Baik kamu berdiam di sini mengajari ilmu silat kepada putraku. setelah dewasa. habis itu ia larikan kudanya. ―Saudara. mereka berdiri jauh-jauh. ia lihat. tak usah ditarik panjang. Panas hatinya Temuchin. ia lihat rombongannya Kwa Tin Ok. ia mendamprat Tusaga. Temuchin berpikir sebentar. mana kami berani minta gaji besar? Terserah kepada Khan sendiri berapa sudi membayarnya. mesti dia jadi elok sekali.‖ menyatakan Cu Cong. ia tutur kepada ayahnya sebabnya ia berkelahi sama Tusaga. Ia tertawa dan menyahuti: ―Mustahil aku tidak setuju? Marilah kita tambah erat persaudaraan kita. sedang Kwee Ceng. ia penasaran. Mereka memang lagi pikirkan tenpat untuk bisa mendidik Kwee Ceng. untuk diberi tempat. ―Memang selama ia belum disingkirkan.‖ bilan Tin Ok. Wanyen Lieh menjadi sangat tidak puas. kita justru hendak berserikat untuk menghadapi kamu!‖ Maka ia hampiri Tusaga. ―Mayatnya Tan Hian Hong dipotong dada dan perutnya. ia membungkam. ―Yang paling perlu ialah mencari tahu dimana beradanya Tiat Sie. aku tak dapat menerkanya. putramu yang sulung. Tin Ok beramai tidak mau menarik perhatian orang. ia tidak pedulikan walaupun kakeknya menitahkan ia berhenti menangis. ―Sakit hatinya ngoko memang mesti dibalas!‖ kata Siauw Eng. Kau akurkah?‖ Dengan girang. Cucu ini didamprat di depan orang banyak.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sudahlah saudara Sangum!‖ berkata Temuchin sambil tertawa. guna mengadakan perjamuan perpisahan untuk mereka itu. aku berniat menjodohkan dia dengan anakku. Tuli tunggu sampai Wang Khan semuanya sudah berlalu.

apa mau ia kena injak sebuah batu kecil. belasan tahu kami didik anak ini. Lagi dua tahun akan tiba saatnya janji pibu itu. Kwee Ceng bebal. yang sia-sia saja dicari. ia dapat imbangi tubuhnya. ia terpeleset. dan siang dan malam terus ia belajar silat tangan kosong dan pedang. ia tampak kemajuan Kwee Ceng. Hanya kalau malam. di sebelah itu ada sifatnya yang baik. tapi Tin Ok tetap berkhawatir. Sejak itu Kanglam Liok Koay menetap di gurun pasir. maka itu untuk pergi ke kuburan. hanya ketika ia geraki tangannya itu. salju yang turun secara besar-besaran baru berhenti. pada harian Ceng Beng. Ia ingat. baru mereka tiba. dia tidak sampai memalukan nam akita Kanglam Cit Koay!‖ Sepuluh tahun enam saudara itu tinggal di utara. Kwee Ceng dipanggil belajar sendirian untuk diajari ilmu pedang. ia mengerti dengan cepat. Kali ini. ia baharu merasa hatinya tentram kalau sudah dengan tangannya sendiri ia bisa raba mayatnya Tiat Sie si Mayat Besi itu. dengan tangan kanan ia sampok pundak muridnya itu. kepandaiannya Liok Koay juga turut bertambah. Malah Siauw Eng berkata dalam hatinya: ―Ngo-ko. rambu dan kumis jenggot mereka sudah mulai berwarna abu-abu. maka itu aku mohon bantuan kau. ia khawatir saudara-saudaranya bersusah hati. walaupun demikian untuk daerah di gurun pasir utara. Dugaan ini masuk di akal. Tempat kediaman bangsa Mongol tidak berketentuan. maka mungkin ia mampus di dalam selat!‖ kata Po Kie kemudian sepulangnya mereka. dalam pertandingan di Kee-hin. tapi ajarannya Han Po Kie dan Lam Hie Jin tentang pokok dasar silat. Dalam iklim demikian. yang pun melihatnya. Kalau tidak mati. Ia ingat pada Bwee Tiauw Hong. mereka tidak peroleh hasil. Untuk itu ia dapatlah disebut. sayang di bebal. untuk sembahyangi saudara yang sudah beristirahat untuk selamanya di alam baka itu. si bebal tapi rajin. ia tetpa menarik hati. lekas ia kasih turun pula! 117 ―Mari!‖ katanya seraya ia lompat dengan tangan kiri melindungi diri. mayatnya juga tidak kedapat. hingga untuk sementara muridnya dilarang belajar naik kuda dan memanah. masih ada sisa keelokannya. Memanah Burung Rajawali Angin mulai reda. si Mayat Besi mestinya tak bisa bersembunyi terus-menerus. Dan Jebe bersama boroul turut memberi petunujk juga. mereka pasang hio. untuk itu ilmu silat penting. Kwee Ceng juga diajak bersama. Di situ ada tulang-tulang yang berserakan. untuk lindungi padanya.Pendekar Pemanah Rajawali Karena ini kemudian Po Kie bersama Siauw Eng dan Kim Hota lantas pergi mencari. biarlah tahun lusa. dia tak jadi jatuh. main panah dan ilmu tombak. Cu Cong bersama Coan Kim Hoat dan Han Siauw Eng mengajarakan ilmu kegesitan. Cu Cong jadi seperti melamun. mestinya racunnya senjata itu bekerja. Umpamnya Tin Ok. senjata rahasia dan entengi tubuh. dia tidak dapat teriam semua pengajaran kita. tapi cepat sekali. Sekarang Kwee Ceng telah menjadi satu anak tanggung berumur enam belas tahun. Mereka itu atur barang sembahyangan. orangnya tidak ketemu. kemajuannya sedikit. Tentang perasaannya ini ia tidak utarakan. Kemana perginya wanita seperti siluman itu? Dalam sepuluh tahun itu. Lam Hie Jin paling menyanyangi Kwee Ceng. pisau tumpul kalau digosok terus bisa menjadi tajam. ia utamakan ―Hok Mo Thung-hoat‖. Sang tempo berjalan dengan pesat. . ―Tongkat Menakluk Iblis‖. ia belajar dengan rajin sekali. Maka Kanglam Liok Koay perhebat pengajarannya. adu kepandaian. malah diteruskan hingga beberapa hari. Ia tersenyum kepada Kim Hoat. yang mebuat ia girang. Bab 11. Mereka mencari bukan hanya disekitar tempat itu. lalu pai-kui. Sebab diwaktu siang mereka diajari menunggang kuda. akan ajari ilmu silat kepada Kwee Ceng dan Tuli yang juga diajari ilmu perang. dulu ia pun ulet seprti bocah ini. rombongan ini mesti melarikan kuda mereka setengah harian. walaupun ia tidak secantik dulu. tapi Siauw Eng. Kanglam Liok Koay membawa barang-barang sembahyangan ke kuburannya thio A Seng. sepuluh tahun sudah lewat. malah ia segera dapatkan maknanya itu. ilmu tongkatnya. Ia menginsyafi lihaynya Bwee Tiauw ong. Ia bersiap sedia menyambut Tiauw Hong. Ia tahu ia mesti membalas sakit hati ayahnya. hawa udara masih dingin. Habis pai-kui. Kwee Ceng berbangkit. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng terkejut tapi ia dapat menangkis. ―Wanita itu rusak matanya terkena tok-leng toako. dari itu.

Kwee Ceng luputkan dirinya. Kwee Ceng membalas. tapi begitu jatuh. si nona polos dan jenaka. anak tolo!‖ Po Kie berseru. ilmu silat ―Tangan Arhat‖ dari guru she Han itu. kau layani sie-suhu berlatih. selamanya si nona mengaku yang salah dan rela minta maaf. baru ia muncul untuk menggodai anak muda itu. Selagi guru itu berbicara.‖ Gochin tertawa. pergaualan kedua anak muda itu juga tidak dilarang. ―Oh. Gochin melengak. Mereka pun lompat untuk cegah jalanan orang buat lari turun. ―Siapa?!‖ mereka tanya. dengan satu enjotan tubuh. dia dan ibunya sering diantarkan pakaian dan binatang ternak. Baru sekarang Kwee Ceng mengerti. . tapi Hie Jin lebih cepat pula. Membuka Gunung. Masih ia tersenyum. tidak. tapi tak lama mereka akur pula. ―Aku datang sendirian. ―Siapa suruh kau datang ke mari?‖ ia menegur. tidak!‖ kata Kwee Ceng lekas. main bersamasama. yang bersama Tuli dan pemuda she Kwee ini. nanti aku pulang…!‖ Ia bicara dengan merdeka. yang ingat budi Kwee Ceng telah menolongi putrinya. Mukanya Kwee Ceng menjadi merah. Kwee Ceng malu. ia pergi dulu dengan menunggang kuda. Demikian mereka hidup rukun seperti saudara saja. untuk bergurau?‖ Irawan D Soedradjat Page 118 ―Mana orang yang ikut padamu?‖ kemudian tiba-tiba Tin Ok tanya si putri. Hie Jin segera kasih mengerti bagian kelemahannya. putrinya Temuchin. Ia sangat disayangi ayah ibunya. ―Engko Ceng. ―Kau kaih ngosuhu lihat padamu!‖ ―Sie-suhu‖ yaitu guru keempat dan ―ngo-suhu‖ guru ke lima.‖ Saiuw Eng menganjurkan. ia justru muncul dari tempatnya bersembunyi. hingga ia saksikan segalanya. setelah itu. tiba-tiba terdengar dua kali suara tertawa. ia rada manja. perlakukan ia dengan baik. guru yang keempat ini sudah menyusul dan tangan kanannya kembali menjambak pundak. Hie Jin tersenyum. ―Coba kau kasih lihat kebiasaanmu. dia dibelakangmu. Hari itu Gochin tahu Kwee Ceng hendak pergi pai-bong (sembahyang kuburan). dengan satu tolakan. dengan mendak. ―Siapa?‖ ia tanya. meskipun disana ada enam orang lainnya. Kwee Ceng dibikin terpental dan jatuh. sedang ibunya Gochin. kurang senang dan berbareng girang. ―Baiklah. ia pun bukan lain daripada Gochin Baki. Orang yang tertawa itu tidak lari. ―Kita pulang bersama sebentar. Ia berlaku cepat. usianya tak berjauhan serta biasa mereka bergaul. ―Kenapa manda diserang selalu?‖ Anjuran ini diturut.Pendekar Pemanah Rajawali Menampak itu. Sering Kwee Ceng digoda. Ia gunai ajaran Lo Han Kun. kali ini si murid melompat mundur. Ia pun dapat menempur dengan seru. untuk tukar itu dengan sambaran tangan kiri ke pinggang. tak jadi ia pergi. apakah kau kena dihajar suhu?‖ ia tanya. sedang Kwee Ceng jujur dan rada tolol. ―Balas menyerang. ―Apakah kau tidak senang aku datang?‖ tanya si nona dengan tertawa. mereka tersenyum. sedang serangannya Hie Jin pun dibatalkan ditengah jalan. cuma mukanya yang merah. ―Aku senang melihat kau dihajar!‖ sahutnya. ynag datangnya dari pepohonan lebat disamping mereka. hingga tampak nyata ialah satu nona elok dengan muka putih potongan telur dan kedua pipinya bersemu merah. Cu Cong dan Kim Hoat terperanjat. Senang Cu Cong semua menyaksikan eratnya hubungan anak-anak ini. ia sembunyi di antara pepohonan lebat. Nona itu tertawa. ia lompat bangun pula. yaitu bagian Kay San Ciang-hoat. sampai mereka bentrok. Sengaja sampai Kwee Ceng rubuh.― ―Bukannkah kakakmu pun datang. Sekarang ia meninju ke dada. Kalau Kwee Ceng likat. Selang beberapa jurus.

Ia lantas menghibur: ―Tuan putri benar baik sama kau. dia itu lompat turun dari kudanya. ia tidak perhatikan. ―Tuan putri. ―Aku tak mau pulang!‖ katanya sengit. Kha Khan titahkan aku menyambut. Melihat tuan putrinya. itulah tanda penyambutan pada utusan Wang Khan. ia larikan kudanya pergi menyusul saudara-saudaranya. Maka saudarasaudara yang lain pun pada mengejar ke arah selatan itu. Kembali orang heran.‖ sahut perwira itu. yang sombong dan galak itu. Kha Khan bakal hukum hambamu ini…‖ Gochin dijodohkan dengan Tusaga. keningnya mengerut. Dengan tongkatnya ia menunjuk ke pepohonan lebat di belakang kuburan. Ia lantas berpikir. coba lihat!‖ Tin Ok minta. ia lantas menjadi gusar. meski tidak ada soal asmara.‖ katanya. Baru sekarang Lie Peng dapat mendugai hal putranya ini. maka ia duudk diam saja. ia tetap membungkam. tak senang ia menikah sama Tusaga. Wang Khan itu mengantar panjar. tetapi kita tetap orang Han. bertanya. ia menjadi heran. yang dikepalai oleh satu pekhu-thio. ―Cegat di empat penjuru!‖ seru toako ini. ―Ini bukan urusanmu. pemimpin satu eskadron. Sebaliknya. kakak tertua. Sekarang benar tidak ada orang disitu. Kim Hoat menjelaskan semuanya kepada Tin Ok. Ia berduka. tapi ia erat bergaul dengan Kwee Ceng.‖ Tanpa tunggu jawaban. Kwee Ceng tidak mengantar terus sampai di tenda Temuchin. Memang telah lenyap sebuah tengkorak. Tak mau ia menentangi ayahnya. untuk memberi hormat.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kakak tidak datang! Benar aku datang sendirian. akhirnya ia pulang juga. Ia lihat itu semua. Gochin masih bersangsi sesaat. saudarasaudaranya menyusul. ―Disini tidak ada orang. semua orang hampirkan saudara she Coan itu. tengkorak hilang satu!‖ tiba-tiba Kim Hoat berseru. Ia memberi hormat pula dan katanya: ‖Kalau tuan putri tidak pulang. tongkatnya menuju ke selatan.‖ ―Liok-tee. Mesti baru saja orang curi itu.‖sahut Kwee Ceng. Tidak senang si nona mendengar itu. ia terus balik ke tendanya sendiri. semuanya orang Mongolia. di mana ia tinggal bersama ibunya. lekas susul!‖ toako ini menitah. Si nona ulur lidahnya. maka itu tepat kalau ia dijodohkan sama cucunya Wang Khan…‖ Irawan D Soedradjat Page 119 . ia apsang kupingnya. perlahan bicaranya. Siauw Eng tidak turut saudara-saudaranya pergi. Ketika Lie Peng. Tadi dengar tertawanya Gochin. ―Ada datang utusannya Wang Khan. ia toh berat nanti akan berpisah sama ini anak muda. masih ada bekasnya di salju. Maka tak mau ia pulang. Ia kata pada Kwee Ceng: ―Anak Ceng. ibunya. ―Terang sekali aku dengar suaranya dua orang!‖ Tin Ok berkukuh. Ia sangka orang itu adalah kawannya si nona. menyusul suaranya seorang lain. ―Apakah aku yang salah?‖ tanya Gochin pada si anak muda. cucu Wang Khan. ―Rupanya telah datang musuh yang lihay‖. kaget dan curiga. ―Untuk apakah?‖ tanya si putri. Itu waktu terdengar suara tetabuan. pergi kau temani tuan putri pulang. Temuchin ingin putrinya temui si utusan. Tidak lama dari itu muncul beberapa puluh penunggnag kuda. Pekhu-thio itu menjadi serba salah. ―He. Ia sendiri mendahului lari turun gunung. Coan Kim Hoat pergi memeriksa. ―Disana ada tindakan kaki kuda.‖ katanya. Dengan berlari-lari. sembari lari.

Ia lantas bangun.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ibu. dan sekarang Kwee Ceng menggunai itu untuk melawan musuhnya. Itu bukan dandanan orang Mongolia. ia tidur terus sampai pulas. bajunya gerombongan. habis berlatih. tangan bajunya lebar. ―Membagi urat memisah Tulang‖. tanpa ampun lagi. ―Habis kau mau apa?!‖ tanya Kwee Ceng. Kim Hoat lantas ajari muridnya jurus-jurus dari Tiang Kun. Ia lebih dulu ambil goloknya. Setelah itu. untuk naik pembaringan tanpa salin pakaian lagi. Setelah itu Kwee Ceng lihat orang adalah satu imam muda yang mukanya bersih dan tampan. yang usianya delapan atau sembilanbelas tahun. Sebat gerakan orang itu. kakinya menendang jatuh golok orang. ia mendusin dengan terperanjat. ―Siapa kau?‖ tanya Kwee Ceng. cuma dengan ilmu ini ia nanti sanggup layani Kiu Im Pek-kut Ciauw dari Bwee Tiauw Hong yang setiap waktu lambat atau cepat. untuk membebaskan diri. tuan putri bakal bersengsara…‖ Lie Peng tahu baik hati anakanya itu. Maka kagetlah Kwee Ceng. aku bukan pikiran itu. sampai Kwee Ceng tidak bisa lindungi goloknya. Adalah kira-kira tengah malam. Ia pun dengar si imam atau tosu. lalu ia sinngkap tenda dengan tiba-tiba. si Mahasiswa Tangan Lihay. tangan kirinya menyerang sikut. Kalau ia 120 ―Mari kita berlatih pula!‖ kata si imam. ―Hanya Tusaga itu kasar dan kejam. ―Habis apa daya kita sekarang?‖ katanya. tidak sia-sia pengajarannya Kanglam Liok Koay selama sepuluh tahun…‖ ―Kau siapa?!‖ tegur Kwee Ceng. dengan sipa sedia. yang lain hendak membikin patah lengan musuh. Orang itu terperanjat. Kwee Ceng berdiam terus sampai habis bersantap malam. Mereka itu sia-sia belaka menyusul penunggang kuda atau pencuri tengkorak itu. dia masih merasa sakit terkena sambaran anginnya serangan lawan itu. yang tidak gubris perkataan orang. mengatakannya dengan perlahan: ―Tak kecewa pelajarannya. ia memandang ke sekitarnya. mari turut aku?!‖. yang masih berjaga-jaga. Ilmu ini pun baru ia ciptakan sendiri. sebab tadinya ia tidak pikirkan untuk pelajarai itu. menyusul mana sebelah tangannya menekan ke dada orang. Inilah jurus ―Orang-orang patah bahunya‖ salah satu dari jurus ilmu silat. Ia bukannya meloloskan diri hanya menyerang. Ia pun dapat lihat tegas lima liang pada tengkorak itu. terlepas sambungan sikutnya. ia menghela napas. ―Suhu tidak ada di sini. seorang diri mana aku sanggup melawan? Bagaimana kalau musuh menerjang ke dalam tenda untuk melukai ibuku?‖ Ia ambil keputusan dengan cepat. Di sebelah kiri di bawah pohon ia tampak seorang berdiri diam. Kalau orang itu kena diserang. Ilmu silat ini Kwee Ceng dapatkan dari Cu Cong dan Cu Cong mengutamakan ini karena ia pikir. Ia dengar tanda tiga kali tepuk tangan. Ia pun terus menyerang tanpa tunda kata-katanya itu. ―Mau apa kau cari aku?‖ ―Kau toh Kwee Ceng?!‖ orang itu tegasi. ia putar goloknya. yang semuanya sudah pulang. Meski begitu. ia tampak satu tengkorak tepat di jalanan di muka kemahnya. ―Musuh datang cari musuh…‖ pikirnya. ia lekas serang mukanya Kwee Ceng.‖ Kwee Ceng akhirnya mau juga buka mulutnya. kapan tangan imam itu sudah hampir sampai pada dadanya. tangan kanannya menyambar lengan orang itu. terpaksa ia lepaskan kedua tangannya dan mencelat mundur. bakal cari padanya. ia bisa asah otaknya menciptakan ilmu silat itu. Sebagai Biauw Ciu Si-seng. ia bertindak ke tendanya akan menyingkap dengan hati-hati. Untuk kagetnya. Untuk lindungi diri. Dia bicara dalam bahasa Tionghoa. ―Mana pisau belatimu yang tajam mempan besi? Mari kasih aku lihat!‖ Tiba-tiba ia melompat mencelat. bahu kanannya mesti patah. tangan kirinya menyambar lengan si imam dan tangan kanannya menyambar ke batang leher. sampai di sisi anak si muda. Ia melatih bersama Coan Kim Hoat. setelah mana ia pergi ke tenda gurunya. Tapi ia sempat berkelit. muridnya pulang. ia mengegos ke kiri. ―Untuk apakah kau mencari aku?‖ Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng menanti tidak bergeming. mukanya tidak kelihatan. Lapat-lapat Kwee Ceng dengar tetabuan. denagn menikah sama dia. untuk lompat keluar. Dia cuma kata: ―Kalau kau berani. di antara sinar rembulan. untuk segera dupak tengkorak itu hingga mental jauh beberapa tembok. .

atas titah guruku Tiang Cun Cu Khu Totiang.‖ kata Kwa Tin Ok. tidak terluka. Tanpa sangsi. karena Siauw Eng tidur di kemahnya seorang wanita Mongolia. maka itu tak ampun lagi. maka itu Po Kie sadarkan muridnya. ―Awas!‖ teriak po Kie dan Siauw Eng yang terkejut. Ia kata: ―Teecu In Cie Peng. kaki kanannya kena dicekal lawan. Ia hendak maju pula tetapi ke enam gurunya sudah mulai kurung si imam muda. tiba-tiba ia dengar seruan dari belakangnya: ―Serang bagian bawahannya!‖ Dengan tiba-tiba bangkitlah semangatnya Kwee Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali berhasil. ia sampai tidak ketahui munculnya keenam gurunya itu. ia cuma terhuyung. maka itu si imam bangkit snediri untuk terus merogoh ke dalam sakunya guna menarik keluar sesampul surat. teecu datang untuk memujikan suhu semua sehat-sehat!‖ Lantas ia berlutut untuk mengangguk-angguk. Tosu itu tidak bersiap untuk memberikan perlawanan. hingga ia menjadi terdesak. membuat hatinya gentar. lantas saja si imam berbalik terdesak. Di situ Cu Cong tinggal berlima. tempo kakinya lawan melayang. Ia memberitahu bahwa pada sembilan tahun yang lalu ia telah berhasil mencari turunan Yo Tiat Sim. sudah terlambat. Kwee Ceng segera mengerti bahwa imam ini ada terlebih pandai daripadanya. Imam itu kenali serangan berbahaya itu. mengapa kau robohkan anak Ceng? Bukankah kau sengaja datang untuk pertunjuki pengaruh sebelum tiba saatnya bertanding?‖ Irawan D Soedradjat Page 121 Itu waktu Cu Cong telah membuka sampul dan membaca suratny. Ia sampai tidak menyangka bahwa musuhnya bakal menggunai akal. menuruti petunjuknya Po Kie. Coan Kim Hoat menyulut lilin. ia tampak keenam suhunya itu telah hadir semua. . ia dapat lantas berlompat bangun dengan gerakannya ―Ikan Tambra Meletik‖. tubuhnya melayang. ditambah sama kekhawatirannya akan munculnya Bwee Tiauw Hong. dia titahkan teecu datang kemari untuk menghanturkan banyak-banyak terima kasih‖. dan ini terlihat tegas oleh Kanglam Liok Koay. meskipun ia telah diperingatkan. Ia lantas menggeser ke kanan untuk terus menoleh. Khu Cie Kee memperingatkan bahwa sepuluh tahun sudah berlalu sejak perpisahan mereka di Kanglam dan dia turut berduka cita atas meninggalnya Thio A Seng. Cie Peng mengerti orang hidup bukan main sederhananya. yang dengar suara tindakan kaki mendatangi. Disaat kewalahan. Kwee Ceng kurang pengalaman. Setelah belasan jurus. tetapi lemah bagian bawahnya. Untuk kegirangannya. ia juga tidak menunjukkan tanda hendak menerobos keluar dari kurungan. akan copotlah batang leher si imam itu. ia lantas kurung diri dengan rapat. ―Mari kita bicara di dalam. Tenda itu berperabot buruk. sampai ia lihat lawannya terhuyung. melihat keringan tubuh orang. tubuhnya itu jatuh celentang. hingga ia menduga kepada serdadu peronda bangsa Monglia. yang mana dengan kedua tangannya. ia angsurkan kepada enam manusia aneh itu – tegasnya kepada Cu Cong. Saking gesitnya. kempolan kanannya kena didupak. hingga ia merasakan sakit sekali. ia menjura ketika ia mulai berkata: ―Suhu berlima banyak cape! Guruku sangat bersyukur. Syukur kuda-kudanya kuat dan tendangan tak hebat. ia memberi hormat kepada Kanglam Liok Koay. Imam itu licah gerakannya. terus disempar. Melihat itu. ia mulai menyerang di bawah. gurunya yang ketiga yaitu Han Po Kie. yang dapat bergerak-gerak dengan pesat sekali. Keinsyafan ini. mereka tidak mengulurkan tangan untuk mengasih bangun. Jurus ini oleh Cu Cong dengan lucu dinamakan ―Sembari tertawa dan berbicara melepaskan rahang‖. karena ia pikir: ―Kalau kau datang dengan maksud baik. ia bebaskan diri pula. Karena ini. kedua kakinya saling sambar dengan tipunya Lian-hoan Wan-yoh-twie – kaki Burung Wanyoh Berantai. Saking memusatkan perhatian pada lawan. Segera. maka juga. In Cie Peng turut masuk. Kwee Ceng merangsak maju. Cu Cong berenam bersangsi. hingga terpaksa ia main mundur. ―Hm!‖ Tin Ok perdengarkan suara tawar. sebaliknya dengan rangkap kedua tangannya. tidak tempo lagi. Karena ini. Ia kenali suaranya sam-suhu. dengan suara keras.

kakakku itu mendahului dua tahun.‖ Cie Peng likat. sang suheng? Pula heran. untuk dengan terpincang-pincang ngeloyor pergi…. bebokongnya sakit. ―Atau kau tertawakan Kanglam Cit Koay yang satu diantaranya terbinasa di bawah cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw?‖ Baharu Cie Peng menjawab: ―Teecu ambil tengkorak itu untuk dibuat main. tetapi muridnya ini menyeleweng sedikit. mereka sendiri tidak tahu suatu apa perihal imam itu! Inilah tanda mereka sudah berada di bawah angin. yang berkhawatir oleh sikap orang. Mendadak orang she Kwa ini berseru: ―Kau pun jumpalitan!‖ dan tangan kirinya menyambar ujung baju orang di betulan dada. Tentang Hek Hong Siang Sat dan Kiu Im Pek-ku Jiauw. hanya ia mencuri lihat Kwee Ceng berlatih. disaat bunga-bunga mekar. Cie Peng memberi hormat lagi sekali. ―Dialah kakak seperguruanku. tepat toako ajaradat padanya. yang tersebar luas di seluruh negara. mereka berdua pihak bakal bertemu pula di Cui Sian lauw di Kee-hin. ―Apakah kau ada punya hubungan sama Hek Hong Siang Sat?‖ tanya Tin Ok sebab orang diam saja. Ia diperintah gurunya pergi ke utara untuk menyampaikan surat. hingga ia berdiam saja.‖ katanya kemudian.‖ Dingin hatinya Kanglam Cit Koay mendengar keterangan itu. satu sutee.‖ sahut Cie Peng.Pendekar Pemanah Rajawali Mengetahui ini. ia bermaksud baik. tidak nanti ia menerbitkan kecurigaan. Cie Kee begitu cepat menemui nyonya itu serta anaknya. dan hal sekarang mereka berdiam di padang gurun ini…. Kali ini ia membangkitkan amarahnya tetuanya Liok Koay. yang ia lihat aneh. Coba ia lari tanpa sebat tengkorak. suaranya dingin. Cie Peng geraki kedua tangannya. Tin Ok antar orang sampai di muka tenda. Surat itu diakhir dengan pemberitahuan bahwa lagi dua tahun. Tak sangka ia bakal ditanyakan tentang tengkorak itu. dia Cuma akan jungkir balik. Cie Peng jadi jengah. bagaimana pula ia dapat melayani Yo Kang. tak ada maksud lainnya. Irawan D Soedradjat Page 122 . Tidak diayana. ia dipesan untuk sekalian selidiki Kwee Ceng. ―Walaupun usiaku lebih tua. perjanjian di Cui Sian Lauw tidak bakal digagalkan.‖ sahut pula tosu she In itu. Inilah hebatnya. ―Teecu memohon diri. benar-benar sulit. tetapi buat cari satu nyonya yang lenyap. Setibanya di Mongolia. Cie Peng berdiam. coba dia diam saja. sampai sekian lama.‖ kata Cu Cong akhirnya. Cie Peng tidak segera menemui Kanglam Liok Koay. Mereka sendiri menemui Kwee Ceng secara kebetulan. apa perlunya kau ambil itu tengkorak manusia!‖ Tin Ok tanya pula. ―Dia toh adik seperguruanmu?‖ Tin Ok menegaskan. hal kematiannya Thio A Seng.. Coan Cin Kauw banyak pengikutnya. tentang sifatnya dan ilmu silatnya. Kwee Ceng kalah oleh In Cie Peng. tetapi ia diperogoki oleh Tin Ok dan kabur. Tin Ok angkat tubuh orang dan membanting. ―Anak turunan she Yo itu bernama Yo Kang?‖ Tin Ok bertanya. jadi dia tidak usah khawatir suatu apa pun. untuk membebaskan diri.‖ bilang Tin Ok. ―Memang ini tulisannya Khu Totiang. hal mereka dapatkan Kwee Ceng.‖ kata Po Kie. Tin Ok semua terperanjat. Saking kaget. ―Imam cilik itu tak tahu adat. ―Teecu tidak berani. Khu Cie Kee ketahui jelas tentang mereka. di tepi sungai Onon. ―Sekarang kau sampaikanlah kepada gurumu itu. Khu Cie Kee memperhatikan putra sahabatnya. Sebaliknya. ―Benar. maka jatuhlah ia dengan hebat. teecu tidak tahu-menahu…‖ ―Hm!‖ bersuara Tin Ok yang terus berdiam. ―Apakah barusan kau layani dia untuk mencoba-coba?‖ Tin Ok tanya pula. Bilang bahwa kami tidak usah membalas dengan surat. diwaktu memasuki perguruan. baharu ia bisa merayap bangun. ―Ach ya. ―Walaupun Kanglam Liok Koay tidak punya guna. walaupun ia tidak bermaksud jahat. malah ia menguntit juga orang pay-bong terhadap Thio A Seng hingga ia saksikan semuanya.‖ jawab Cie Peng.

aku juga tidak mau pergi…‖ bilangnya sambil cemberut. ―Mari lekas lihat!‖ sahut putri Temuchin itu. Tin Ok menghela napas pula perlahan. Ia menjadi masgul sekali. ―Ada apa?‖ ia tanya. selang sesaat ia menghela napas.Pendekar Pemanah Rajawali Tin Ok berdiam. Kwee Ceng jujur. Ia ingat perlakuannya Siauw Eng barusan. baik pun yang berbahaya. ―Kalau tetap kau tidak hendak pergi melihat.‖ Siauw Eng ajari muridnya itu. mari lekas!‖ Kapan ini bocah menoleh. ia tinggalkan muridnya. sieko. lekas menghanturkan terima kasih kepada toa-suhu. karena aku datang untuk mengajak kau!‖ katanya. ia mengangguk.‖ katanya pada Kwee Ceng. pula tak pernah diwariskan kepada lain orang. Kwee Ceng mengucap terima kasih sambil berlutut dan mengangguk. selama tujuh atau delapan kali.‖ Kwee Ceng bilang. ―Benar. ia tampak putri itu yang duduk di atas seekor kuda. ia mejadi sangat menyesal. selanjutnya kau jangan pedulikan aku lagi!‖ Irawan D Soedradjat Page Gochin lompat turun dari kudanya. Senjata itu adalah senjata rahasia istimewa penjaga diri sejak si kakak tak dapat melihat matahari. ia dengar teriakannya putri Gochin: ―Engko Ceng. Akan tetapi sulit bagi mereka untuk mewujudkan kehendak itu. Semua saudaranya mengerti kedukaan toako ini. mari lekas. Adalah kehendak mereka agar si murid maju cepat. dengan lemparkan pedangnya. Ia sangsi apa Kwee Ceng dapat wariskan kepandaiannya itu dengan sempurna. Siauw Eng menjadi sangat berduka. ―Aku tidak mau. Untuk itu perlu orang berlompat tinggi dan jumpalitan. Semenjak itu. ―Sudahlah. tapi gurunya berjalan terus. hingga ia berlinang air mata. ―Bukankah sama kalau sebentar kau menceritakannya kepadaku?‖ . malah makin didesak. ia menjadi gelisah menampak guru-gurunya mulai perlihat roman tidak puas. ―Apakah kau tidak dapat melatih dengan baik dan kembali dimarahin gurumu?‖ dia tanya. rajawalai yang hitam yang menang atau yang putih…‖ 123 ―Pergi kau kembali dan melihatnya sendiri. Akhirnya si putri menjadi tidak sabaran. apa boleh buat…. ―Besok akan aku ajarkan kau senjata rahasia.‖ Cu Cong semua gegutan. ―Kita bertujuh saudara sudah puas berkelana. ia menyusul. mereka turut masgul pula. habis itu baharu ia mengundurkan diri.‖ Siauw Eng bilang. Mereka khawatir kalah berlomba dengan Khu Cie Kee menampak kemajuannya In Cie Peng itu. mengasih lihat roma cemas bernareng gembira. apa pula Kwee Ceng yang bebal itu. ―Anak Ceng. tak pernah dipakai kecuali disaat genting. Kwee Ceng terperanjat. ia membuatnya semakin banyak kesalahan. Putri itu tertawa. tapi sekarang hendak siturunkan kepada murid ini. Sekalipun seorang yang berotak cemerlang ada sulit untuk dibikin maju dalam tempo yang pendek. ―Sekarang pergilah kau pulang dan tidur.‖ Kwee Ceng beritahu.‖ kata Hie Jin kemudian. ―Ya. semakin rajin guru ini mengajari muridnya. ia lenyap kegembiraannya. yang lambat kesadarannya. ia masih berdiam tatkala dari belakang. maka itu. ia berduka sekali. ―Aku sendiri sampai tidak melihat. ia gagal senantiasa. hingga ia berdiri menjublak. Murid ini mencoba berlompat. kita belum pernah mengkerat atau mundur!‖ Tin Ok mengangguk. ia memanggil-manggil. ―Mari lekas lihat!‖.‖ sahut Kwee Ceng. Ia tahu semua gurunya ingin ia maju. ―Aku todak tahu. ia kasih moyong mulutnya. Putri itu masih tertawa. Hebat senjata rahasia tok-leng dari kakaknya ini. banyak pengalaman kita. kau tidak mau pergi. ―Hebat pertarungan itu!‖ ia kata pula mendesak. Itu pagi Siauw Eng ajari Kwee Ceng ilmu pedang Wat Lie Kiam dijurus keempat yang bernama ―Di cabang pohong menyerang lutung putih‖. percuma gurunya ajari ia mesti begini mesti begitu. ―Banyak burung rajawali lagi bertarung!‖ ―Aku lagi berlatih.

dai liang itu tertampak munculnya dua kepala anak rajawali putih yang mencoba membuat perlawanan. Irawan D Soedradjat Page 124 . lalu tertampak belasan si hitam terbang kembali. Temuchin tertawa. Kwee Ceng bertiga. maka ingatlah kamu!‖ Dua putra itu mengangguk Habis membunuh si putih. malah Gochin lantas menangis. ―Ayah. Panglima-panglima Teuchin lantas turut memanah.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah itu sepasang rajawali putih yang besar yang berkelahi?‖ Kwee Ceng tanya. hebat setiap patukan dan cengkeramannya. Gochin dan Tuli main-main bersama di lembah itu. ―Coba kau memanah!‖ kata Temuchin seraya menyerahkan panahnya kepada Ogotai. sudah enam atau tujuh ekor si hitam yang mampus…‖ Mendengar itu. Tuli dan Gochin menjadi kaget dan cemas. kawanan si hitam terbang ke arah sebelah liang di atas jurang. guna kabur ke kaki lembah di mana terlihat belasan ekor rajawali hitam tengah mengurung dan menyerang rajawali putih. Seekor rajawali hitam yang tubuhnya lebih besar daripada yang lainnya. Rajawali putih lebih besar dan patuknya terlebih kuat. lekas berbalik! Bagus! Bagus! Kejar padanya! Kejar!‖ Lagi dua ekor rajawali hitam jatuh mati. di udara terdengar riuh suara burung tadi. Temuchin sebaliknya berkata kepada Ogotai dan Tuli: ―Si rajawali hitam menang perang. ―Benar! Kawanan si hitam banyak tapi si putih lihay. lalu bangkainya jatuh di depan Gochin. mereka itu menggunai siasat. lalu kira-kira sepuluh kawannya terbang pergi. Kata mereka itu saling ganti: ―Hayo putih. tiga ekor si hitam lantas kabur. yang rubuh terbinasa dengan segera. ke jurang. semua sisa burung rajawali hitam itu terbang kabur. hati Kwee Ceng tertarik juga. kena disambarnya. Riuh tempik sorak memuji Khan yang besar itu. orang banyak hendak bubaran. ―Ayah. ―Mari!‖ katanya. lantas berbunyi berulang-ulang. justru itu. Putra itu menurut. Sering Kwee Ceng. dia melawan sebisanya. dia matikan satu musuhnya. lalu anak panahnya nancap di badannya seekor rajawali hitam itu. menerjang si putih yang lagi berdiri sambil merapikan bulunya. Sudah begitu. yang menyaksikan siasat perang si hitam. bulunya yang putih ternodai dengan darahnya yang merah. Habis itu. tinggal lagi tiga. hingga sayap mereka pada rontok berhamburan. tetapi sepasang rajawali putih juga telah mendapat luka. buat diajak naik bersama ke atas kudanya itu. maka itu tidak heran kalau sekrang mereka mengharapi kemenangannya si putih hingga mereka berteriak-teriak menganjuri si putih itu. hampir setiap hari mereka tampak sepasang burung rajawali putih itu. Demikian seekor musuhnya yang terlambat berkelit. Setelah itu. segera ia siapkan panahnya. ―Siapa yang dapat memanah burung itu. semua penonton bersorak-sorai. yang masih bertempur dengan seru. Tuli pun mencoba. lekas panah!‖ ia teriaki ayahnya. satu si putih mengejar. Sebentar saja sudah bnayak penduduk yang datang melihat pertempuran rajawali itu. tetapi akhirnya ia jatuh karena luka-lukanya. terhadap burung itu mereka mendapat kesan yang baik. patuk padanya! Awas di kiri. Ia datang dengan mengajak Ogotai dan Tuli. sulit untuk mengenai mereka. masih kau tidak mau memanah?‖ tanya Gochin sambil menangis. ia merubuhkan seekor rajawali hitam itu. terus ia menarik. Pun burung itu dapat menyampok anak panah. malah Temuchin yang mendengar kabar itu juga turut muncul. ia akan mendapat hadiah!‖ Temuchin berseru. kira-kira sepuluh ekor musuhnya itu masih menyerbu terus. dan ia tarik tangan si tuan putri. Hebat si putih. Menampak itu. Habis pertarungan itu. ada musuh. ―Bagus!‖ berseru Temuchin. ia memanah. tetapi burung-burung hitam itu sudah terbang tinggi. dan ia juga berhasil merubuhkan seekor.

ia memungut dua bangkai burung itu. gurunya itu. Menampak itu. ia turunkan panahnya. sisa burung yang lainnya terbang kabur. dengan tangan kiri memegang busur dan tangan kanan mencekal anak panah berikut talinya. karena itu tidak usahlah aku diberikan apa-apa lagi. Temuchin tertawa lebar. ―Kau sendiri. ia mengincar. untuk persembahkan burung itu. ―Anak yang baik. kau hebat!‖ ia kata pada si bocah. tidak lagi berputaran di atas jurang. dia bakal dihadiahkan sesuatu. ―Serahkan burung itu kepada ayahku!‖ Gochin berbisik di kupingnya Kwee Ceng. itulah hebat! Temuchin suruh pengiringnya ambil burung itu. yang terus tanya Kwee Ceng. sekarang ia saksikan Kwee Ceng serta sikapnya itu. ―Jebe‖ itu berarti ―ahli panah yang lihay atau dewa panah‖ Tuli hendak bantu adik angkatnya itu. burung rajawali ada besar luar biasa. dan seekor rajawali rubuh.Pendekar Pemanah Rajawali Jebe si Jago Panah berdiri di samping Temuchin. Kwee Ceng menarik tangan kanannya. kedua tangannya diangkat tinggi. datangnya dari arah kiri. semabri menarik. dengan kedua kakinya ia berlutut di depan kudanya khan yang besar itu. karena setelah sepuluh tahun berguru kepada Kanglam Liok Koay. ―Kau berlutut! Kau panah lehernya burung itu!‖ ia menyuruh dengan suara perlahan. Semua orang mengawasi Kwee Ceng. Ia berkata: ―Aku sendiri tidak menghendaki apa-apa. Tidak tempo lagi. apakah yang kau kehendaki? Kau sebutkan saja. Dan karena ini. ia lari kepada Temuchin. siapa yang berhasil memanah. ―Apakah aku dapat mendustai anak-anak?‖ ayahnya itu tertawa. sekarang saudaraku ini memanah sekaligus dua ekor. bulu sayapnya pun kuat seumpama besi. Seumurnya Temuchin paling menyukai panglima yang gagah perkasa dan orang kosen. Itulah yang dibilang. ―Kau menghendaki apa?‖ Tuli girang sekali. untuk di utara ini. ia dapat cekuk seekor kuda kecil atau kambing besar. ibuku pun telah punyakan segala apa. Temuchin tertawa pula. Di dalam bahasa Mongol. ia dekati Kwee Ceng untuk menyerahkan panahnya itu.― sahut Kwee Ceng yang tidak hendak mensia-siakan Jebe. sekali memanah dua ekor burung. Tapi anak panah itu tembus. Justru itu dua ekor burung rajawali hitam terbang beredeng. orang banyak bersorak dengan pujiannya. ia kata kepada ayahnya. yang jadi rubuh bersama di sampingnya si tukang panah. Sekarang bocah ini bisa memanah sekaligus dua ekor. sebab heran mereka atas sikapnya Khan mereka itu. jangan takut!‖ Kwee Ceng perdengarkan suara perlahan. ―Ayah tadi bilang. ayah hendak menghadiahkan dia apakah?‖ ―Apa pun boleh!‖ sahut ayahnya itu. ―Ser!‖ demikian anak panah menyambar. ―Inilah guruku yang mengajari. dalam segala hal kau lebih dulu ingat ibumu!‖ katanya. Harus diketahui. kapan ia menyambar ke bawah. Si anak muda menurut. ―Kau anak yang berbakti. Kwee Ceng sambuti panah itu. di depan siapa ia etkuk sebuah lututnya. ia berniat pertontonkan ilmu panahnya Kwee Ceng. ―Khan yang agung telah perlakukan aku begini baik. Ingin mereka mengetahui apa yang si bocah bakal minta. menarik habis hingga busur itu melengkung sepenuhnya. ―Gurunya Jebe. kalau sepasang sayapnya direntangkan. lebar panjangnya sampai setombak lebih. aku hendak mewakilkan seseorang mohon suatu hal…‖ Irawan D Soedradjat Page 125 . ―Benarkah barang apa pun boleh?‖ ia tegaskan ayahnya. terus menyambar perutnya rajawali yang kedua. atau tangannya menjadi melengkung. malah adakalanya harimau atau macan tutul pun mesti lari dari burung ini. ia tekuk sebelah kakinya. Tepat ia terpanah batang lehernya. tenaganya menjadi besar sekali.‖ berkata Kwee Ceng dengan jawabannya. sia-sia ia mencoba berkelit. ia lantas menarik hingga busur itu. muridnya juga Jebe!‖ pujinya. Busur itu beratnya dua ratus kati tapi ia dapat menariknya. ia menjadi girang sekali.

―Kau sustlah peluhmu!‖ katanya. Kwee Ceng menhanturkan terima kasih. ia timpuki itu kepada si anak muda.‖ ia berkata. yang kedua ujungnya ia gumpal masing-masing sesudah mana.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah itu?‖ tanya Temuchin. kau anak kecil. yang rupanya baharu kembali. yangs seperti mendatangkan hawa dingin adem. ―Sungguh ucapan kanak-kanak!‖ katanya. Melengak Temuchin mendengar permintaan itu. kaulah yang mewakilkan aku membunuh mereka!‖ Belum lagi Kwee Ceng sahuti si khan itu. yang mengejar kawanan burung hitam itu. Kemudian ia cabut pedangnya sendiri. Temuchin berkata. ―Mana dapat. lalu ia mengeluarkan sapu tangannya. ia hunus golok pendek itu dan melihat sinarnya yang tajam. Ia menanti sekian lama. bunyinya: ―Membunuh musuh dan memusnahkan musuh bagai menyembelih harimau dan kambing‖. yang lagi berlatih. engko Ceng. menyusul mana segera terdengar suara yang keras tetapi agak hebat dari si rajawali putih besar yang terbang datnag. ia mengawasi burung itu. golok mustika yang pernah dipakai membinasakan bnayak musuh. ―Tusaga. ia sambuti golok itu. Gochin terus mengawasi. untuk pulang ke kemahnya. ia sudah lantas ketahui kebinasaan pasangannya. ia sodorkan itu pada si bocah. Baiklah. untuk melatih Wat Lie Kiam-hoat. Hanya ketika ia saksikan kawan itu sangat mengeluarkan tenaga. Coba tidak khan itu telah melepas kata. ―Musuh-musuhku tak usahlah aku sendiri yang membunuhnya. Kwee Ceng bersuara perlahan. suaranya sedih. Ia menahan sabar. Dia rupanya bermata tajam. agaknya ia terkejut. tetapi ia antap sapu tangan jatuh di sampingnya. hingga ia bermandikan keringat. Pada golok itu berpeta tanda darah. terus ia lompat naik atas kudanya yang lantsa kasih kabur! Temuchin keras bagaikan berhati besi akan tetapi menyaksikan putrinya yang paling ia sayangi itu begitu bersusah hati.‖ kata Kwee Ceng. hatinya menjadi lemah. Terus ia putar kudanya. aku tidak punya waktu untuk temani kau berbicara. ia dengar suara berkelengannya kuda. Irawan D Soedradjat Page 126 . ia berkata: ―Sudah. Semua panglima menjadi kagum dan memuji. Semua panglima dan pangeran mengikuti dari jauh-jauh. ia malah makin gagal. maka juga ie menghela napas. Golok pendek itu adalah goloknya khan mereka sendiri. lihat bagaimana harus dikasihani burung itu…‖ berkata Gochin. Ia lantas terbang berputaran. mari beristirahat!‖ ―Kau jangan ganggu aku. Kalau ia tidak melompat terlalu rendah ia tentu tak keburu menggerakkan pedangnya. mendadak Gochin menangis. lalu ia tertawa mengawasi kawannya itu. Kwee Ceng tunggu sampai orang sudah pergi semua. Gochin berdiam. hendak aku menghadiahkan kau serupa mustika!‖ Ia loloskan golok pendek di pinggangnya. dimana ada terukir pula katakata: ―Golok pribadi dari Khan Temuchin‖. Ia masih tidak berhasil menyempurnakan jurus ―Di cabang pohon menyerang lutung putih‖. Tengah ia berlatih. maka itu aku mohon denagn sangat supaya janganlah tuan putri dijodohkan dengan dia itu‖ sambungnya kemudian. cucunya Wang Khan itu busuk dan jahat. habis membuat main itu golok. yang menyatakan entah berapa banyak korban yang telah dimakan. lalu akhirnya ia tertawa terbahak. jangan berlatih terus. Putri itu tiba untuk terus lompat turun dari kudanya. Kwee Ceng berhenti berlatih. sebelah tangannya dipakai untuk menunjang kepalanya. hanya ia menontoni. buat terus rebahkan diri di atas rumput. agaknya mereka sangat ketarik hati. lalu ia tampak Gochin lari mendatangi dengan kudanya. yang sarungnya terbuat dari emas dan gagang golok berukirkan emas berkepala harimau. Di sebelah itu masih ada ukiran dua baris kata-kata. ia sendiri terus berlatih. ia dengar suara berisik dari kedua anak burung rajawali putih di atas tebing. ditabur sepotong batu kumala hitam. sampai satu kali ia angkat kepalanya. Dialah burung tadi. Ia tidak ganggu Kwee Ceng. ia masuki ke dalam sarungnya. tidak nanti ia serahkan goloknya itu. ―Kalau Putri Gochin dinikahkan dengannya. ai mencoba pula. ―Engko Ceng. dibelakang hari mestinya tuan putri menderita.

sebab ia telah mebuat tiga konde kecil di atas kepalanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pasti ia sangat berduka. baru ia buka suara. ―Sungguh harus dihormati! Sungguh harus dihormati!‖ tiba-tiba mereka dengar satu suara nyaring di belakang mereka. tidak biasanya untuk orang yang berada di gurun pasir. lekas-lekas keduanya berpaling. mulutnya terbuka lebar. . ia hunus golok hadiahnya Temuchin. Mana bisa ia membela diri atau berkelit? Berbareng dengan itu. Jurang itu tinggi. Mereka melihat satu tosu atau imam. maka di detik lain. ia tidak menyahuti. sedang jubahnya bersih sekali. ia sudah mencapai hingga di atas jurang. Si imam tersenyum. belum bisa terbang. lagi seratus tahun juga tidak bakal berhasil!‖ Kwee Ceng berhenti bersilat. kagum ia untuk lihaynya ini imam. Ia pegang pula pedangnya dan mulai lagi denagn latihannya. ―Liaht biar tegas!‖ bersuara si imam itu. di dekat liang yang merupakan sarang burung rajawali putih itu.‖ sahut si engko Ceng itu. sangat cepat. sedang turunnya si imam adalah sangat cepat tetapi tenang. tujuannya ke jurang. yang tidak pedulikan sikpa orang. ―Mau apa ia terbang ke atas?‖ tanya tuan putri itu. pedangnya telah pindah tangan kepada si imam itu. memandang ke atas tebing. Mereka menjerit dan sama-sama mencelat. burung itu sudah terbang turun pula. ―Kecuali orang bersayap dan dapat terbang naik ke atas sana. ―Dengan belajar secara demikian. belum ia menginsyafi gayanya. yang berkumis abu-abu tetapi mukanya merah dadu. ia berkhawatir untuk Gochin.? Bab 12. ia menoleh. sebentar kemudian. Pernah Kwee Ceng diajari gurunya yang kedua. Ia berlari dengan kaki. Si imam lempar pedangnya ke tanah. lalu Kwee Ceng merasai bahunya kaku. ia lompat untuk lari ke jurang. cara bagaimana mereka bisa mencari makan? Bukankah mereka itu bakal mati kelaparan…. keduanya kadi terdiam. lalu dengan satu kelebatan. ilmu dengna tangan kosong merampas senjata musuh. gerakannya bagai lutung atau kera. setelah mana. Hancur-luluhlah kalau orang jatuh dari atasnya. maka itu. ia sudah roboh dengan tidak bernyawa lagi! Dua-dua Kwee Ceng dan Gochin terkejut sekali. Belum berhenti suaranya Gochin. tebing dan semua batunya licin. Ia awasi imam berkonde tiga itu. Dan ia pun berbicara dalam bahasa Tionghoa. ia tertawa. Ia masih saja tidak berhasil melatih jurus keempat yang bau diajari gurunya itu. akan tetapi ia belum dapat menyakinkan itu dengan sempurnya. Untuk sejenak itu. hingga tahu-tahu ia sudah jalankan jurus yang Kwee Ceng tak sanggup pelajari itu. tidak ada abunya sedikit juga. Bocah ini berdiri melengak. Irawan D Soedradjat Page ―Bagaimana?‖ tanya Gochin yang memeramkan matanya. atau tahu-tahu ia telah serbu batu gunung yang besar. Tiba-tiba terdengar suara dingin di belakangnya. Ia menjadi tidak senang. ―Apa katamu?‖ ia tanya. Imam Berkonde Tiga Kwee Ceng menjublak sekian lama. Ia pun sudah lantas menoleh pula. gerakan siapa ia sepertinya tidak melihatnya. beroman sebagai huruf ―pin‖. untuk bersiap melindungi putri ini. turunannya pun tak boleh tak ditolongi!‖ ia berkata. untuk mendaki dengan cepat. baru anak-anak burung itu dapat di tolongi…‖ katanya. kedua burung itu masih kecil. hanya ia mencelat ke atas. menjambret dan merembet dengan tangan. ―Burung rajawali putih itu harus dihormati. Maka segera ia melompat ke depan tuan putri itu. 127 Hati Kwee Ceng dan Gochin berdenyut keras tak hentinya. heran dan berkhawatir untuk keselamatan si imam. Di atas tebing itu si imam tampak menjadi kecil tubuhnya. Gochin tidak mengerti bahasa itu. yang aneh dandannya. yang tangannya mencekal hudtim atau kebutan pertapa. Mereka kagum. hingga mereka menjadi heran. dan segera ia berkata: ―Bagaimana dengan kedua anak burung itu? Bapak dan ibunya telah mati…‖ Sarang di liang di atas tebing itu sukar dipanjat orang. Lagi sekali burung besar itu perdengarkan suara nyaring. Cu Cong. hanya mendadak ia maju mendekati. terus ia terbang ke atas seprti memasuki mega.

―Eh. ia sudah mulai turun pula. ―Bagus! Bagus. Bocah ini menggaruk-garuk kepalanya. hingga susah ia membuka mulutnya. Akur?‖ Kwee Ceng mengangguk. Ia menjadi seperti kehilangan semangatnya. hingga ia menjerit kaget. lalu di lain pihak ia kagumi si imam ini yang demikian lihay. ―Hal itu sebenarnya sulit juga. Kwee Ceng bengong mengawasiu tuan putri itu. ―Apakah kau ingin petunjukku?‖ imam itu tanya lagi. justru ia melihat si imam lompat ke liang. karena mana. ―Bisakah kamu merawat anak-anak burung ini?‖ ―Bisa. Akan tetapi si imam tiba dengan selamat. tapi biarlah aku tidak menyebutkannya. dengan itu ia ikat kakinya kedua burung itu. yang pun pandai mainkan jurusnya yang sulit itu. ―Burung ini kecil akan tetapi patokannya sakit sekali. Irawan D Soedradjat Page 128 . ―To…totiang. tetap tertawa. Si imam konde tiga itu pungut pedangnya untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Kwee Ceng dan Gochin lari menghampirkan pertapa itu. Ia tertawa pula.‖ sahut si nona. rupanya sulit ia berbicara. baru suka aku serahkan burung ini padamu!‖ ―Apakah itu?‖ si putri tanya.‖ ―Aku tahu. tapi Cuma sejenak. jangan sampai tanganmu kena dipatuk!‖ memperingati si imam. jangan pergi dulu…!‖ Kwee Ceng berkata. dan dengan ulur kedua tangannya. untuk kemudian dimasukkan ke dalam sakunya. tubuhnya seperti terpelanting jatuh. burung ini kita punyakan seorang seekor. ―Aku nanti ambilkan daging untuk memelihara padanya!‖ ―Eh. entah sampai berapa puluh kali.Pendekar Pemanah Rajawali ―Hampir tiba!‖ sahut Kwee Ceng. untuk apa kau pay-kui terhadapku?‖ si imam tanya. Ia kata klepada Kwee Ceng: ―Engko Ceng. ―Siang dan malam aku berlatih. mereka bakal menjadi sangat kuat dan galak. yang girangnya bukan main. ―Hati-hati. ia mulai menangkap dua anak rajawali itu. ―Kenapa?‖ si imam tanya. aku ada sangat bebal…‖ ia kata kemudian.‖ sahut Gochin. tetap aku gagal…‖ Kwee Ceng kata pula. akan tetapi sekarang akulah yang bawa dulu. yang merogoh keluar kedua anak burung itu. ia berkata: ―Kalau nanti sepasang anak burung ini menjadi besar. Gochin lantas lompat naik ke atas kudanya dan kabur pergi. untuk berlalu.‖ Gochin loloskan benang ikatan rambutnya. bisa.‖ Si imam ini tertawa. agaknya ia baru sadar.. ―Aku belajar rajin dan ulet akan tetapi tetap aku tidak dapat belajar dengan sempurna hingga karenanya aku membuat keenam guruku menjadi tidak senang…‖ ―Habis. apakah yang kau kehendaki?‖ tanya si imam. Ia girang bukan main.!― Gochin kasih turun kedua tangannya. seraya ia tanya Gochin. bisa!‖ sahut si putri dengan cepat seraya menyambuti. Dia Tiba di bawah dengan tak kalah cepatnya sewaktu ia mendaki. lantas ia jatuhkan diri berlutut di depan si imam dan manggut-manggut. ―Totiang.‖ kata si imam. habis itu ia memutar tubuhnya sembari tertawa. ―Aku ingin kau tidak beritahu siapa juga yang aku telah mendaki jurang itu dan mengambil anak burung ini. maka itu diwaktu mengasih makannya kau mesti hati-hati. dilain saat. tunggu dulu!‖ kata si imam. ―Kau mesti berjanji padaku satu hal. Mendadak Kwee Ceng mengucurkan air mata. Ia lihat si imam demikian sabar dan ramah. untuk aku memeliharanya. ―Baik. ia seperti menghadapi satu sanaknya yang terdekat. untuk mengangsurkan. tertawa.

maka terus ia berlatih lagi. dengan merasa sakit dan letih. hingga ia menjadi babak-belur. Ia jambret setiap oyot rotan. Saban salah menarik. Dan ia mencoba. ia sekarang dapat akal. buat dijadikan tempat injakan. Ia merasakan sakit pada tubuhnya. tiba-tiba ada sehelai dadung meroyot turun. Tiga hari telah lewat. dia sendiri yang bisa bercelaka. atau mendadak ia dengar suara orang tertawa diatasnya. baru manjat dua tombak. ia merasa ngeri bukan main. ―Kalau begini. turun pun sukar! Kwee Ceng menghela napas bahna sukarnya. sebaliknya. seperti tembok yang licin. ia belajar terus. Irawan D Soedradjat Page 129 . ―Lagi tiga hari ada bulan pertengahan. Ia bisa naik setinggi enam atau tujuh belas tombak. Ia kenali suaranya si imam konde tiga. Ia cari lubang atau sela batu. ia sentil kupingnya si murid itu. Tapi matanya masih mengawasi ke pundak. begini saja. ia pun tidak berani dongak. nanti aku tarik kau naik!‖ begitu suara terdengar. sengaja totiang hendak menyulitkan aku. Ia baru pulang sesudah matahari turun dari gunung dan ia rasai perutnya lapar. Jalan naik lebih jauh batu melulu. hampir ia terjatuh! Kapan ia memandang ke bawah. ujung cambuk mengenai diri sendiri. Kwee Ceng tidak memperdulikannya. ―Terang dia tidak ingin mengajari aku…‖ Cuma sesaat ia berpikir pula: ―Aku toh bukannya tidak punyakan guru yang pandai? Di depan mataku toh ada enam guru yang bersungguh-sungguh mengajari aku? Dasar aku yang tolol! Apa daya sekarang? Meski totiang lihay sekali. ―Aku lihat kau jujur dan bersungguh hati. Melihat orang bersungguh hati. Benar-benar sukar ilmu cambuk itu. ialah ia pakai golok pendeknya.‖ kata si imam. kakinya tangannya lemas. kepalanya sudah pusing. Tiba-tiba ia menjadi girang sekali. Ia heran. mengangguk-angguk lagi. Tapi kau tidak boleh beritahukan hal ini kepada siapa juga!‖ Ia menunjuk ke puncak yang ia sebutkan. Maka itu akhirnya. untuk mencokel batu. hingga semangatnya terbangun pula. lengan dan kakinya matang biru. yang kepalanya telah menjelut! Kwee Ceng tutup mulut. ―Aku…aku…tidak dapat mendaki…!‖ katanya. Demikian sudah terjadi. Ia telah mesti menggunai tenaga terlalu besar. mengikat keras. lenyap rasa dongkolnya Po Kie. hampir cekalannya terlepas. ia jalan terus. Po Kie mengajari lima jurus.‖ pikir Kwee Ceng. mustahil aku tidak!‖ akhirnya ia kata dengan penasaran. tapi ia memandang ke atas bukit. ia naik seperti merayap. ia tidak memperdulikannya lagi. Ia mendusin sesudah rembulan muncul. Ia membiarkan saja walaupun si murid lagi-lagi membuat beberapa kesalahan. sangat ayal. untuk ia menindak.Pendekar Pemanah Rajawali ―Benar!‖ Dan Kwee Ceng mendekam pula. lalu ia berdiam. Hari itu Han Po Kie ajarkan muridnya ilmu cambuk Kim-liong-pian. aku nantikan kau di atas puncak. Lalu ia ingat pula pelajarannya. ―Dia bisa mendaki. Setelah cukup beristirahat. Kwee Ceng menjadi korban. setelah pesan si murid belajar terus dengan sungguh-sungguh. Senjata lemas itu beda darpada golok atau lainnya senjata tajam. untuk melihatnya. Dan ia lari ke kaki jurang. dengan tangan kanannya ia libat pinggangnya. nanti selagi rembulan terang menderang. Sekarang. guna menancap itu untuk dipakai sabagai alat pegangan. untuk dipegang. Satu kali ia terpeleset. ia bernapas denagn perlahan-lahan. Tiba-tiba ia ingat perkataan gurunya yang keempat: ―Di kolong langit ini tidak ada urusan yang sukar. sambil sebelah tangan terus pegangi liang batu. mana dapat aku mewariskan kapandaiannya itu? Percuma aku belajar dengannya…‖ Bocah ini menjadi tawar hatinya. Maka ia kertak gigi. ia rebahkan diri di rumput dan kepulasan. untuk mulai mendaki. ia mulai pula mencongkel batu. Ia ingat janjinya si imam. naik tak dapat. Untuk heranya. kalau tenaga latihannya kurang orang tak akan terlukai kerenanya. Setahu berapa banyak liang lagi harus dibikin untuk dapat naik ke atas. Kepalanya dan jidatnya benjut. Si imam sudah lantas berjalan. Baru ia mulai. ia merayap tetapi ia dapat maju setindak dengan setindak. Tanpa banyak pikir. ujungnya berdiam tepat di depannya! ―Ikat pinggangmu. Maka ia diam mendekam. ia meninggalkan pergi dengan menunggang kudanya. ―Mesti dapat!‖ ia keraskan hatinya. ia simpan goloknya. Kwee Ceng menjadi bingung. satu kali Kwee Ceng salah menggeraki tangannya dan cambuknya mengenai kepalanya sendiri! Po Kie menjadi mendongkol. asal hati orang kuat!‖.

duduk. karena itu. ―Kau juga bukan muridku. ―Itulah tidak benar seluruhnya!‖ jawab si imam dengan tertawa. ini pun satu pukulan untukmu. tarik tiga kali!‖ Kwee Ceng menurut. hingga terlepaslah pegangannya pada batu dan injakan kakinya juga. sudah cukup.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kau telah selesai mengikat?‖ tanya si imam dari atas. Akan aku ajarkan kau ilmu mengendalikan napas. Nanti dua tahun lagi.‖ Kwee Ceng bilang. untuk pay-kui. Mereka adalah orang-orang terhormat. dari itu tidak dapat aku ajarkan kau ilmu silat!‖ Kwee Ceng heran berbareng putus asa. aku tidak bisa peroleh kemajuan. yang penuh dengan salju. tetapi sebab tahu ia lagi diangkat naik. Disamping itu kepandaian keenam gurumu tak ada dibawahan aku. sambil tertawa. ―Sudah atau belum?‖ tanya lagi suara di atas.‖ kembali si imam berkata. di situ ada sebuah batu besar yang rata. ―Sudah!‖ sahut si bocah. Kenapa imam ini ketahui urusan kekelahannya itu? ―Imam itu memang daripada kau. Untuk kau. sudah cukup! Bagus. ―Keenam gurumu itu semua orang-orang Rimba Persilatan kenamaan.‖ berkata si imam. Habis itu mendadakan ikatan pada pinggangnya menjadi keras. Tiba-tiba ia tertawa. ―Kau baru belajar silat. ―Rupanya gurumu belum memberi keterangan padamu. kau lantas merasa pelajaranmu tak ada faedahnya. kau sudah bisa tonjolkan diri di muka umum. mereka akan memberitahukannya padamu. sekarang baiklah kau tidak usah menanyakan. Kau bukannya tidak rajin belajar. mereka pasti menjadi tidak senang. akan tetapi si imam cekal tangannya. sudi mengajarinya. Kesungguhan hatimu rupanya membuatnya kita berjodoh. ia membetot tiga kali. segera tubuhnya terangkat. ―Inilah dia yang dibilang.‖ Kwee Ceng menjawab. asal kau dapat pelajarakn kepandaian satu saja dari enam gurumu itu. kau tariklah dadung ini. belum tentu ia dapat menangkan kau. ―Bicaranya tentang umumnya ilmu silat. ―Duduklah di sana!‖ kata si imam. jalan dan tidur…‖ Irawan D Soedradjat Page 130 . lantas kau dijatuhkan si imam muda. ―Kalau aku ajarkan kau ilmu silat dan kemudian gurumu memdapat tahu.‖ Kwee Ceng memohon. Kwee Ceng berduduk. ―Walaupun kita tidak kenal satu sama lain akan tetapi kita saling menghormati. Hanya untuk herannya. Rupanya ia tidak dengar jawabannya si bocah. aku bukannya gurumu. Kau duduklah!‖ Dengan hati bingung. tak tempo lagi ia tekuk lututnya. imam itu berkata: ―Kemarin kau telah pay-kui padaku seratus kali. kau ternyata keliru!‖ Kwee Ceng heran. ―Ketujuh gurumu telah bertaruh sama orang. mana mereka mau berlaku curang?‖ ―Pertaruhan apakah itu totiang?‖ tanya Kwee Ceng. anak bagus. Sekarang begini saja. aku lupa! Suaramu tidak cukup keras. biar suhu semua bersungguh-sungguh mengajarainya. Hahaha. tak sampai ke atas sini. ―Biar teecu nerdiri saja menemani suhu. lalu menambahkan: ―Ah. kenaapa selama sepuluh tahun ini kemajuanmu tidak banyak? Tahukah kau sebabnya?‖ ―Itulah karena dasarku yang bebal. Ia terkejut juga. berdiri tepat di depannya si imam! Bukan main ia girang dan bersyukur. untuk ditarik. kau ada punya semangat!‖ Puncak gunung itu boleh dibilang datar. ia sebenarnya telah menggunai akal.‖ menerangkan si imam pula. tiba-tiba ia sudah sampai di atas. dalam hal pertaruhan. ia tidak terlalu berkhawatir. guna menghanturkan terima kasihnya. sebenarnya sudah jarang orang Rimba Persilatan yang sepandai kau. yang mengajar tak jelas caranya dan yang belajar tak menginsyafi jalannya…‖ ―Kalau begitu.‖ kata si imam. ―Coba kamu bertempur secara biasa. aku mohon su…su…eh totiang. ―Kau bukannya orang kaumku. Kalau kau sudah mengikat rapi.‖ kata si imam. baru ia terangkat naik.

Sim soe cek cin hoat. Maka itu. baru di bagian yang licin. ―Kau tidur di situ. Mereka percaya muridnya bakal menang. untuk ia belajar napas. Pada suatu pagi. lalu berdiri diam di tempat jauh seraya perdengarkan meringkiknya berulang-ulang. Kanglam Liok Koay lihat itu kemajuan. orang mesti kosongkan otaknya. Yang seng cek im siauw. jangan pikir suatu apa juga. selama ini kau belajar mainkan senjata saja. hati mati. ―Sekarang duduklah dan mulai!‖ katanya pula. Si imam mengawasi. Hie in sedang hendak mulai berlatih sama muridnya itu tempo kelihatan debu mengepul jauh di sebelah depan dan terdengar berisik suara kuda dan orang. Kawanan penggembala itu menjadi dongkol. Hie Jin kata pada muridnya: ―Anak Ceng. tempo akhirnya ia sadar. ada saja yang ia ingat. Kwee Ceng menurut. mendadak dari arah barat datang seekor kuda kecil merah marong. repot mengendalikan. dari itu mari kau coba-coba.‖ kata si imam. menerangkan: ―Sebelumnya tidur. menggigit dan menyentil. Imam itu berkata pula. toh kapan di waktu siang ia berlatih silat.‖ kata si imam. tetapi ia lawan itu. maka lagi beberapa bulan akan tibalah saat pibu. ia coba lupai segala apa. kuda itu menyerbu ke rombongan kuda banyak itu. habis itu ia terus rebahkan dirinya di atasnya. Si imam bersila di depan orang. fajar sudah menyingsing. hingga kuda ini menjadi kacau pula. Lain keanehan yang nyata. rupanya ia puas sudah mengacau itu…. ―Kau singkirkan salju di atas batu itu. pikirannya goncang. setiap hari mereka omongkan hal pibu dan bakal pulang itu. ia rasai kaki dan tangannya kaku dan kesmutan. Mereka menyangka kemajuan muridnya ini berkat kerajinan dan keuletannya. Selang setengah tahun. ia rasai tubuhnya jadi ringan sekali dan gesit. Mereka hendak tangkap kuda merah itu. semangat hidup. semangat jangan goncang. mereka girang sekali. da ia kerek turun tubuh bocah itu. selang satu jam. Kwee Ceng menjadi semakin heran. begini. sebentar malam datang pula. duduk. ia singkirkan salju itu. Mereka juga girang akan lekas kembali ke Kanglam. Ia melainkan tahu itu berarti: ―Pikiran tenang.?‖ pikirnya. tubuh kosong. Tapi dia tidak pergi lama. ―Untuk tidur caramu ini.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng heran bukan main.. ia ingat itu dan mengulanginya sampai beberapa kali. kau mesti bernapas.‖ Kwee Ceng menurut. maka seterusnya setiap malam ia datang pada si imam. ia lantas dapat lakukan apa-apa yang tadinya ia tidak sanggup lakukan. yang bangun. Ia lantas turut pergi ke tempat berlatih. yang kerek ia naik. aku hampir bisa semua itu sendirinya.‖ Lantas si imam mengajari caranya napas disedot masuk dan keluar sambil bersemadhi. Ia rebah hingga ia tidur kepulasan tanpa merasa. kembali ia mengacau rombongan kuda tadi. ―Sekarang kau pulang. tetapi ia menurut. tetapi tak dapat karena kuda itu lari kabur. Setelah itu. denagn kedua tangannya. orang-orang Mongol. Kwee Ceng menurutm ia mencoba. ―Aku ada punya empat perkataan. mungkin kau kurang leluasa dengan tangan kosongmu. Lekas ia merasakan suatu keanehan. si imam kerek padanya. Kwee Ceng menurut pula. Lama-lama ia menjadi tenang juga. Si imam tidak ajari ia ilmu lainnya. im hapus.‖ katanya. tidur dan jalan. perasaan terlupa. tapi mereka tidak bisa suatu apa. barulah naik pembaringan dan rebah miring. jalan dan tidur. yang lari larat. dan si penggembala. buka matanya. kuda itu lari pula ke utara dan lenyap. kembali terlihat ia mendatangi. Perlu apa kau mengajarinya pula…?‖ Ia tapinya tutup mulut. Kanglam Liok Koay merasa gembira.‖ Kwee Ceng mengangguk. Inilah dia: Sue teng cek ceng bong. napas kasih jalan perlahan-lahan. Irawan D Soedradjat Page 131 . Itulah segerombolan kuda. buat apa akukah mengajarinya?‖ katanya. Kwee Ceng rasai ia dapat mendaki jurang lebih tinggi dan lebih gampang. Ia ingati terus. duduk. tetapi ia tak tahu apa artinya yang sebenarnya. Tee hie cek kie oen. ―Ilmu bernapas.‖ lantjutnya kemudian. Baru semua kuda dapat dibikin tenang dan berkumpul. Hanya. kau ingat baik-baik. Satu tahun telah berlalu dengan cepat. Mulanya. Nah. jangan ngawur. ―Sekarang kau rebahlah. hawa berjalan. ―Begitu aku terlahir.

Malah Han Po Kie segera hampirkan rombongan penggembala itu. tidak pernah aku lihat kuda semacam ini!‖ Ia belum tutup mulutnya. ―Selama satu tahun ini. belum ia sempat mendudukinya. dia tidak dapat diganggu!‖ jawab penggembala itu kemudian. ―Siapa bilang naga bisa menjdai kuda?‖ katanya. sebaliknya ialah yang melompat ke bebokong kuda itu. Hebat larinya kuda itu. ia jatuh sambil berdiri. Ia kate tapi ia dapat melompat tinggi. ―Habis apakah itu?‖ tanya Po Kie.‖ ―Itulah bukannya kuda. Disamping itu mereka heran kapannya bocah ini pelajarkan sifatnya hewan. Dia ada sangat cerdik dan gesit. Semua penggembala menjadi terkejut. ―Inalah kuda turunan naga dari langit. Ia kate. tiba-tiba dari smaping ada satu orang yang lompat menyambar kepadanya. kanglam Liok Koay pun terkejut. yang terus angkat kedua kaki depannya. tahu ia sifat atau kebiasaannya hewan itu. Setiap malam ia naik turun jurang. dia berdiri diam! . kami mencoba menangkap padanya tetapi gagal. Begitulah ia lari ke tempat dimana kuda itu bakal mundur. Kuda itu lari ke arahnya. dan kapannya ia mempelajari keng-sin-sut. kapan kuda merah itu sudah datang menyerbu pula. ―Mungkinkah ia dipayungi ayahnya almarhum? Mungkinkah ngo-ko…? Nona ini tidak tahu. Seorang penggembala lain tertawa. ia percaya bakal berhasil. tetapi Kwee Ceng terus memegangi erat-erat. Ia menjadi dongkol. malah kemudian. ilmu enteng tubuh. Ia sudah pandai. tetapi masih kalah jauh dengan kuda merah itu. akan tanya kuda itu kepunyaan siapa. Kwee Ceng tidak rubuh karenanya. kepandaian Kwee Ceng itu adalah hasilnya ajaran si imam konde tiga. karena ketekunan Kwee Ceng sendiri yang bebal tapi rajin dan ulet. Masih saja kuda itu berjingkrakan. yaitu ―Kim-gan-kang‖ atau ilmu ―Burung Welilis Emas. Segera ia berada di atas punggung kuda. ―Kalau digantikan. ia memang seorang ahli kuda. Ia penggemar kuda. ―Dia berhasil‖ 132 Kuda itu masih berjingkrakan. kudanya sendiri jempolan. karena itulah Kwee Ceng yang menyambar kuda itu. kuda itu sudah lewati dia. sebab orang itu tidak mau melepas cekalannya. dia tak tercandak. yang percaya kuda itu adalah turunan naga. pesat majunya anak Ceng. anak kecil? Sudah puluhan tahun aku menggembvala kuda. lantas ia lari mengejar. Orang Mongol sendiri kagum padanya. bocah ini memeluk ke leher. ―Anak Ceng. ―Ngaco belo!‖ ―Kau tahu apa. Tepat dugaannya. kemudian ia meyentil dengan kedua kaki belakangnya. lekas turun.‖ kata Siauw Eng.‖ sahut seorang penggembala. ia seperti berada di bawahnya perut hewan itu. makin lama makin keras pelukan itu. cuma tak sampai terguling. Mereka pun kagumi kuda merah itu. sudah lantas berlutut dan memuji supaya janganlah Tuhanbergusar karena kudanya itu dipermainkan… Siauw Eng pun lantas berteriak. kuda itu sukar bernapas. kuda itu bakal tunduk untuk selama-lamanya kepada penakluk itu. hanya disaat ia lari lewat. tahu-tahu si murid sudah kembali bersama kuda merah itu. ―Baharu beberapa hari yang lalu kami lihat dia. dia bakal gagal!‖ Ia tahu. lau terusterusan ia mengacau.Pendekar Pemanah Rajawali Liok Koay dan Kwee Ceng heran. ia memegangi dengan keras. ―Setahu darimana keluarganya kuda kecil ini. Si penggembala. Po Kie pun segera ajar dia bagaimana harus membikin jinak kuda. ia tengah menyakinkan ilmu ringan tubuh yang sangat lihay. tapi ia tak kasih dirinya dilompati. rupanya ingin dia membikin penunggangnya jungkir balik.‖ Dia cuma tahu si imam konde tiga itu sangat baik hati suka memberi pengajaran kepadanya hingga ia dapat bersemadhi… Selagi Liok Koay bicarakan hal murid ini.‖ kata satu penggembala. untuk berdiri. hingga ia jatuh ke tanah. kalau seorang dapat menakluki kuda binal. mereka berteriak. Han Po Kie segera bertindak. yang mencegah. Dia kaget. Kasih sam-suhu gantikan kau!‖ ―Jangan!‖ teriak Po Kie. dia kena bawa orang yang menyambarnya itu. memegang surinya. dia menjadi penasaran terhadap kami. Irawan D Soedradjat Page ―Bagus! Bagus!‖ seru Po Kie. siapa tahu. dai seperti ingin menjungkirkan penunggangnya. Diakhirnya. karena mana. kedua kakinya menjepit. tanpa ia merasa. lalu ia berhenti meronta-ronta. dia lompat dan lari. tenaganya dikerahkan.

semua mereka menunjuk roman bengis. Kwee Ceng mennagkis dan berkelit.‖ Kata-kata itu disusul sama ancaman tangan kiri dan tinjuan kepalan kanan. ia mesti pingsan. Siapa terkena itu.‖ ia menyerah. Tentu saja. ―Kau turun! Dia sudah tunduk kepadamu. dia jilati belakang telapakan tangan si bocah. malah ia terus gunai jurusnya ―Masuk ke dalam guna harimau‖. guna menyingkirkan dua tangan gurunya itu. Cuma tempo ia menggenai dada muridnya. air matanya mengucur keluar. kau tentu tetap hendak menyembunyikannya. ―Suhu semua memperlakukan teecu sebagai anak. bukan?!‖ ―Cuma guru Jebe mengajarakan teecu main panah dan tombak. mana berabi teecu berdusta?‖ sahutnya. tak tahu ia bersalah apa maka gurunya serang ia secara demikian telengas. hingga bebokongnya nempel sama tenda. hendak ia membela diri. Ia putar tangan kirinya.‖ Teecu salah. ―Ya. ―Disini?‖ sang murid tegaskan. Ia omong dengan sebenarnya. orang menjadi tertawa! Satu penggembala dekati kuda itu. Kwee Ceng menangis. Liok Koay tidak suruh muridnya itu berlatih lebih jauh. ―Apakah kau hendak andalakn gurumu yang lihay itu maka kau jadi tidak pandang lagi kami berenam?! Hm!‖ ―Tenaga dalam?‖ Kwee Ceng melengak. Si imam konde tiga tidak ajarkan ia ilmu silat. dengan masing-masing mereka merasa heran.‖ Irawan D Soedradjat Page 133 ―Fui!‖ seru Cu Cong sambil ia ulurkan tangannya ke jalan darah hian-kee-hiat di bawahan tulang iga. ia dipersen jentilan hingga ia terjungkal! Kwee Ceng lantas tuntun kuda itu ke sisi instal. . maka orang mesti siap akan bertempur di kamar yang kecil.‖ berkata Coan Kim Hoat pada muridnya itu. Ia kaget seklai. sebaliknya. untuk gosoki keringatnya. ―Coba tidak liok-suhu mencoba padamu. Ia takut sekali. ―Habis darimana kau dapat kepandaianmu tenaga dalam?!‖ Cu Cong masih bertanya. dia jadi jinak sekali. setelah diserang untuk keempat kalinya. mereka masuk ke kemah mereka. ingin aku lihat seberapa jauh kau punya ilmu Kay-san-ciang. Tin Ok semua berbangkit. Di mana saja orang bisa menghadapi musuh. ―Cukup sudah!‖ Po Kie bilang pada muridnya. untuk membersihkan badannya. sedang ilmu enteng tubuh. Kwee Ceng pergi ke kemah gurunya. walaupun kau usir. Kuda itu benar tidak lari. dia tidak nanti lari!‖ Mendengar itu barulah Kwee Ceng lompat turun. malah terus sampai tiga kali.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng khawatir kuda itu bakal lari atau kabur. ―Secara diam-diam kau turut orang lain belajar silat. ―Anak Ceng. ia diajarkan diluar tahunya.‖ Kwee Ceng menjawab. Tengah hari. Kim Hoat menyerang dengan hebat. tapi serangan benar-benar yang berbahaya. cuma ilmu semadhi. habis bersantap. silakan lioksuhu menghukum. Akan tetapi hebat serangan si guru. ―Masih kau berdusta?!‖ Cu Cong bentak pula. tapi segera ia berlutut di depan gurunya itu. dari kaget dan heran. Ia mengarah ke dada. ia rasai dada muridnya itu lembek seperti kapuk. ―Sedikit pun teecu tidak mengerti itu. Kwee Ceng mundur. Ini bukan jurus latihan. ia tidak mau lantas turun. kenapa kau tidak beritahu itu pada kita?!‖ tehur Cu Cong. ia membalas. lalu tangannya kena dihalau! Untuk sejenak Kwee Ceng tercengang. Menampak itu.

tidak boleh teecu pikirkan apa juga. selama itu. ―Di mana dia mengajarkannya?‖ ―Dia tidak mau beritahu she dan nama atau gelarannya pada teecu. ―Kami tidak persalahkan padamu. ―Tidak apa-apa. telah setengah harian aku menunggui kau!‖ kata putri itu. ―Dia suruh teecu duduk. teecu juga tidak mensia-siakan pelajaranku. ―Apakah kau tidak tahu. Ia girang gurunya tidak marah. asal kau tidak beritahukan dia bahwa kami telah ketahui urusan ini. Seekor rajawali angkat kakinya dan pentang sayapnya. Lalu ia mengasih keterangan: ―Selama dua tahun ini. Liok Koay berbicara. dan ini menarik hati…‖ Liok Koay heran berbareng girang di dalam hati. berdiri di tanah. dari itu. Kwee Ceng jujur. ―Siapa yang ajarkan kau ilmu itu?‖ Cu Cong tanya. ―Adakah ini hasil latihannya totiang?‖ ia tanya pada dirinya sendiri. dua kawan ini lari ke tegalan. terus ia terbang mencablok di pundaknya Kwee Ceng. teecu ikuti ia belajar terus. Sama sekali ia tidak ajarakan ilmu silat pada teecu. membikin totokan itu kena dikemsampingkan. pelajaranmu itu bukan tenaga dalam?‖ tanya Siauw Eng yang menegaskan. ia dapat menyakinkan Iweekang lebih cepat dari siapa juga. ―Selanjutnya teecu tidak berani pergi bermain-main pula dengan dia itu. tetapi kemudian teecu merasakan hawa panas keluar masuk.‖ kata Kwee Ceng. ia tak kurang suatu apa. Tenaga dalam itu adalah Iweekang (laykang). Kwee Ceng terkejut. Terang murid ini tidak berdusta. ―Benar-benar teecu tidak tahu kalau itu adalah pelajaran tenaga dalam. kau boleh pergi memain seperti biasa. Dengan berpegangan tangan. apakah ini bukannya tenaga dalam!‖ serunya. yang terus undurkan diri. ―Hanya kenapa dia tidak menghendaki kita mendapat tahu?‖ tanya Kim Hoat. Mulanya sulit. dari itu teecu tidak memberitahukan kepada suhu semua. Sebab apakah itu? ―Nah. Cu Cong tidak menggunai tenaganya sepenuhnya.‖ kata Kwee Ceng. ―Lekas.‖ Cu Cong bilang. mereka menjadi curiga. muridnya ini telah dapatkan Iweekang sedemikian rupa. di sana Gochin sudah menantikan dia. teecu anggap ajaran itu menarik hati. dia tentu tidak bermaksud buruk. ada orang yang setiap malam mengajari teecu bagaimana harus menyedot napas.‖ Kwee Ceng jawab. Cuma ia pesan supaya teecu jangan memberitahukan hal itu pada siapa pun.‖ kata Cu Cong. tapi kalau begini. ―Nah. di sampingnya ada dua ekor rajawali putih.‖ Kwee Ceng menyahuti. Si bocah Cuma merasakan sakit. suhu. dia juga larang teecu memanggil suhu padanya. pergilah kau!‖ kata Cu Cong kemudian. ―Dia ajarkan ilmu kepada anak Ceng.‖ Siauw Eng mengutarakan pikirannya. ―Malah dia suruh teecu bersumpah untuk tidak menjelaskan roman tubuh dan wajahnya. Kedua burung itu telah membesar denagn cepat. untuk bermain dengan burung mereka.‖ Liok Koay semakin heran. Mulanya mereka menyangka Kwee Ceng cuma bertemu orang pandai.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng tidak berkelit atau menangkis. dagingnya bergerak sendirinya. untuk menarik dan mengeluarkan napas dengan perlahan-lahan. duduk bersila dan tidur.‖ ―Baik. tapi ia terkejut dan heran. Setibanya di kemah. Tidak mereka sangka. keduanya melebihkan tingginya tuan putri itu. Teecu anggap hal ini bukan perbuatan busuk. ketika totokannya Cu Cong mengenai. Irawan D Soedradjat Page 134 . hatinya bersih. ―Kenapa pada anak Ceng juga ia tidak menjelaskan hal Iweekang itu?‖ ―Mungkin dia adalah kenalan kita. lain kali teecu tidak berani pergi bermain pula…‖ Enam guru itu saling pandang. mesti ada sebab lainnya lagi.‖ Ia lantas mengangguk-angguk dan menambahkan: ―Teecu tahu teecu bersalah. Di dalam kemah.

lalu ia lari keluar. Di pinggiran lubang itu ada tanda hitam. di situ tak ada orang. Ia menjadi sangat berduka. rasanya tak ada yang berkepandaian seperti dia…. yang larinya benar pesat sekali. tepat dengan pengaturannya Hek Hong Siang Sat dahulu hari. tentulah ia itu musuh…‖ Kim Hoat berpikir. Irawan D Soedradjat Page 135 .‖ Tin Ok mengatur. ―Ibu. Sampai di lembah. Setelah bermandikan keringat. hati mereka tegang dan cemas. Cu Cong dan Kim Hoat heran bukan main. Semua saudara itu terkejut. di tengah tiga di atas satu. kita coba saja. Empat saudara itu terperanjat. masih tegang hatinya. malah Kwee Ceng tak tampak turun. ―Bwee Tiauw Hong!‖ sahut Cu Cong. maka itu. ―Kalau begitu. Tin Ok berlima mengangguk. Keduanya kebat-kebit hatinya. Segera juga mereka berserua karena kagetnya. Tanpa terasa. Po Kie semua heran. seperti terkorak pisau tajam. ia lihat mega hitam.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kenalan?‖ ulangi Siauw Eng. Yang aneh.‖ sahut kakak yang kedua itu. ―Di antara kenalan kita. Mereka ini berbekal senjata. ―Belum tentu. entah kemana perginya Kwee Ceng serta orang yang dikatakan gurunya itu. di atas jurang tidak terdengar gerak apa juga. Malam itu Cu Cong dan Kim Hoat menanti di luar kemah ibunya Kwee Ceng. masih si murid lari terus. dua buah kampak serta beberapa puluh potong paku besar. puncak jurang tetap sunyi senyp. tentu saja. Tempo mereka mulai menanjak. mereka saling menarik. Suasana malam ini mengingati ia malam itu tempo mereka mengepung Hek Hong Siang Sat dengan kesudahannya Thio A Seng menutup mata untuk selamanya. di bawah lima. ia gegetun. ―Kalau dia bukan sahabat. baiklah sebentar malam aku dan liok-tee pergi ikuti anak Ceng untuk lihat orang itu. aku hendak pergi!‖ begitu terdengar suaranya sang murid. Mereka lantas ambil tempatnya masing-masing. Di samping batu besar ada teratur sembilan buah tengkorak putih. ―Mari kita sembunyi disini. Ketika itu. Cu Cong ceritakan halnya Kwee Ceng naik ke atas jurang. mereka gunai paku itu. sang fajar telah menyingsing. mereka lantas tanya ada apa dan kenapa dengan kedua saudara itu. Kwee Ceng dapat mendaki jurang tanpa bantuan lagi.‖ katanya. akhirnya Cu Cong mengusulkan naik ke atas guna melihat. Mereka menantikan. mereka dapat terus memasang mata. cepat larinya. dengan ilmunya maju pesat. Mereka sendiri tidak khawatir nanti terlihat si murid. yang mana dikhawatirkan ada sisa racun. Lagi satu jam mereka menanti dengan sia-sia. Semua tengkorak itu pun ada lubangnya. sampai Tin Ok berempat datang menyusul. nah untuk apakah ia mengajari anak Ceng?‖ Siauw Eng tanya pula. ―Siapa tahu kalau dia tidak tengah mengatur daya upaya busuk?‖ kata Tin Ok dingin. ―Kalau dia musuh. Maka lekas-lekas mereka turun pula. Sang waktu lewat detik demi detik. Siauw Eng berpikir keras.‖ kata Cu Cong kemudian. keduanya tiba juga di atas. Syukur di tanah datar itu tak ada sesuatu rintangan. Kedua guru itu segera menguntit dari kejauhan. Cu Cong terus lari pulang ke kemah untuk ambil dadung. Tak tampak juga orang yang dikatan gurunya itu. sang matahari sudah keluar. bekas totokan jari tangan. tunggu sampai mereka turun. Siauw Eng dongak. ―Bisakah kita naik?‖ Kim Hoat tanya. khawatir nanti ketemu musuh lihay.

―Aku setuju sama sie-ko. yang akur sama kakaknya. ―Anak Ceng hendak dibikin bercacat?!‖ serunya.‖ sahut Cu Cong. mereka menggigil snedirinya. ―Samtee.‖ ―Tapi urusan ada sangat penting. ―Belasan tahun cape lelah kita. ―Lebih dulu kita mesti mencari kepastian. ―Mungkin mereka turun dari sebelah…‖ Ia lalu menjelaskan apa yang mereka lihat di atas sana. ―Tubuhnya anak Ceng sudah cukup enteng. ―Dia tak dapat dibikin bercacat!‖ jawab Hie Jin. ― Cu Cong peringati. ―Tidak dapat?‖ Po Kie tegaskan pula. ia lantas tetapkan hatinya. mustahil kita berenam kalah padanya…‖ Siauw Eng kaget. ―Bukankah suaminya terbinasa di tangannya si Ceng?‖ Semua orang berdiam. akan tetapi kapan ia saksikan air mata adiknya. Hie Jin mengangguk. ―Tidak bisa apa?‖ tanya Po Kie.‖ bilang Siauw Eng. ―Perempuan siluman itu hendak pakai tangannya si Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng?‖ tanya Siauw Eng. ―Apakah toako mau artikan si perempuan siluman buta itu hendak pinjam tangan anak ceng untuk celakai kita?‖ tanya Po Kie. ―Mestinya begitu. tidak nanti dia dapat berpura-rupa sedemikian rupa. ia pun heran. ―Anak Ceng jujur dan polos. ―Kalau kita salah tindak karena kita merasa kasihan terhadapnya.‖ kata Tin Ok masgul. ―Aku di pihak sietee. baru kita pikir pula. kita memelihara harimau untuk meninggalkan bahaya untuk di kemudian hari. Po Kie bersangsi. ―Kita berpura-pura tidak tahu.‖ kata Siauw Eng. ―Habis kenapa ia ikuti si siluman itu selama dua tahun dan ia menutup mulut terus?‖ tanya Tin Ok. Biar pun ia lihay. ―Sekarang mari kita pulang!‖ ia mengajak. Si nona berdiam begitupun yang lainnya.‖ sahut Kim Hoat. ―Tidak bisa!‖ seru Hie Jin kemudian. sangsi. Iweekangnya sudah punya dasar.‖ Siauw Eng tetap bersangsi. dia bukannya satu manusia yang tak berbudi. Irawan D Soedradjat Page 136 . kenapa si perempuan siluman itu tidak ajarkan dia ilmu silat?‖ tanya Po Kie. kita tunggu si Ceng datang pada kita.‖ jawabnya. ―Habis bagaimana dengan janji pibu?‖ ―Lebih penting nyawa kita atau pibu itu?‖ tanya Tin Ok. siapa tahu. Bagaimana kalau tindakan kita bocor?‖ ―Memang inilah berbahaya. Tin Ok menghajar tanah dengan tongkatnya. tak dapat diduga bagaimana hebatnya bencana yang bakalan terjadi. ―Taruh kata anak Ceng mengandung maksud tidak baik. bagaimana kau?‖ tanya Tin Ok. ―Entahlah. ―Mungkin siluman perempuan itu anggap waktunya belum tiba dan dia belum menjelaskan sesuatu kenapa anak ceng…‖ Kim Hoat pun mengutarakan dugaannya. mana dia begitu baik hati hendak menurunkan kepandaiannya?‖ kata Tin Ok. tetapi ilmu silatnya masih kalah jauh denagn kita.‖ kata Kim Hoat. Hebat ancaman bahaya yang mereka khawatirkan itu. lalu tiba-tiba kita hajar dia hingga bercacat.

‖ katanya kemudian.‖ ―Sebelum kau datang. Tin Ok bersama Cu Cong dan Coan Kim hoat bukan bangsa sembrono akan tetapi menyaksikan keanehan Kwee Ceng dan di atas jurang kedapatan itu sembilan tengkorak dari Bwee Tiauw Hong. Cu Cong menghela napas. Ia kata: ―Sakit hati ngoko mana dapat tidak dibalaskan! Toako. tentulah si Mayat Besi datang untuk mencari guru-gurumu itu. kau pun kenal Hek Hong Siang Sat?‖ si imam tanya. siapa tahu. Nyatanya. masih belum tentu kita menang. mereka masih tetap ragu-ragu. ―Sebenarnya mau apa dia menyusun tengkorak-tengkorak di sini?‖ Kwee Ceng tanya. maka sekarang kita harus mengerti. salah satu pihak tentulah lebih satu suara. ―Orang ini hebat ilmu silatnya. ―Eh. kita pasti akan memperoleh putusan. ia pun kasih tahu bagaimana dengan cara kebetulan ia dapat menikam mati pada Tan Hian Hong. kita justru biasa datang kemari hingga kita mempergokinya. ―Adakah ini diatur oleh Hek Hong Saing Sat?‖ ia tanya. Kalau begitu.‖ berkata si imam. hati mereka tidak tenang. si imam sudah menantikan dia. dia rupanya menyangka orang tak bakal datang ke tempat ini. dia mestinya ada punya andalannya‖. tumpukan ini sudah ada. Kwee Ceng lihat sembialn tengkorak. setelah toh dia datang untuk mencari. jietee sama lioktee. Kwee Ceng kaget dan heran. heran. kamu halangi mereka. Si imam itu tertawa.‖ . maka akhirnya. apakah itu?‖ Di bawah sinar rembulan guram. Tanghay. ―Apakah bukan sengaja dia hendak membikin kita mendapat tahu dan bersiap sedia?‖ Irawan D Soedradjat Page 137 ―Aku pikir tidak demikian. Maka Tin Ok bilang: ―Kalau benar. kami dengar titahmu!‖ ―Baiklah!‖ kata toako itu.‖ Si imam bicara dengan sungguh-sungguh. ―Dan sekarang kita ada berdelapan…. ia datang.‖ Mendengar disebut-sebutnya A Seng.‖ ―Dia telah buta kedua matanya kena dihajar toasuhu. adakah si Mayat Besi itu datang? Apakah totiang dapat lihat padanya?‖ tanya Kwee Ceng. ―Coba ngotee ada di sini. maka itu aku percaya. nanti aku yang turun tangan!‖ Demikian mereka bersiap sedia. ―Tidak dapat aku menduga sampai dimana lihaynya jeriji-jeriji tangannya itu. Kapan tadi malam Kwee Ceng tiba di atas jurang. lalu ia menggeleng-geleng kepala. Ia tuturkan hal pertempuran gurunya semua dengan Hek Hong Siang Sat itu dengan kesudahan gurunya yang kelima terbinasa.‖ sahut si imam. kami tidak takut.‖ ia bilang. ―Mari kita pulang dulu!‖ Di dalam kemah mereka. ―Tempo aku sampai. dia masih tidak dapat lawan tujuh guruku. Kwee Ceng mengangguk. Tadinya aku menyangka ini permainan gila dari muridnya Oey Yok Su dari Tho Hoa To. ―Aku khawatir gurumu itu bukan tandingannya. Tentu saja ia menjadi kaget. ―Aku belum lama sampai disini.‖ kata Kwee ceng.Pendekar Pemanah Rajawali Dari enam bersaudara itu. berhneti mengucur air mata Siauw Eng. aku pun telah memikirkannya. ia periksa itu. ―Pada belasan tahun dulu dia masih belum buta. kaut kepercayaan mereka bahwa Bwee Tiauw Hong adalah orang yang mengajari Iweekang kepada murid mereka. Umpama kata aku pun membantu pihakmu. tiga setuju Kwee Ceng dibikin cacad dan tiga tidak. Si imam jumput satu tengkorak. hanya si imam ini segera menunjuk seraya berkata: ―Kau lihat. ―Kiranya si Mayat Perunggu yang lihay itu terbinasa di tanganmu!‖ katanya. Tengkorak ini ada hubungannya sama Kiu Im Pek-ku iauw. tidaklah demikian duduknya hal. ―Tetapi totiang.

yang dibawah sinar rembulan tampak nyata. karenanya ia jadi sangat bersyukur kepada si imam konde tiga ini yang tidak dikenal.‖ sahut si imam. lalu tangannya meraba-raba. Sekarang ia keluarkan suatu apa dari sakunya. Cuma suara yang terdengar. Beberapa kali ia berbuat begitu. ―Kalau totiang tidak tolong aku. mulanya perlahan. untuk bela diri. Irawan D Soedradjat Page 138 . Dengan ketakutan. sedikit saja suara berkelisik. cambuk ini berlipat sepuluh kali. Ia berdiam. ―Jangan bersuara. ―Sekalian kau bilangi bahwa ada satu sahabatnya memesan dengan perantaraan kau bahwa lebih baik mereka menyingkir dari dia itu. Setahu bagaimana dia naiknya. Ia berbangkit. berlalu dari belakang jurang darimana ia datang tadi. Dalam jarak enam tombak. Tiauw Hong simpan cambuknya itu. Sekejap saja. Ia lihat tegas. buat segera diajak berlompat ke belakang batu besar. atau mulutnya didului dibekap. ujung cambuk lewat di atasan kepalanya! Anak tanggung ini mengeluarkan peluh dingin. Setelah matanya buta. matanya memandang ke tempat sembunyi mereka. ia dapat dengar.‖ katanya. sukar orang lolos dari cambuknya yang panjang itu. Di situ ia lantas menyakinkan ilmu dalamnya. cepatnya luar biasa. Kupingnya menjadi terang sekali. sambil tertawa. yang ia telah latih dengan sempurna. buat diajak mendekam. Dalam herannya. Orang tidak usah menanti terlalu lama akan lantas terlihat berkelebatnya satu bayangan. ―Kalau begitu baiklah aku nlekas pulang untuk memberitahukan guruguruku. ia bikin gerakan seperti berlatih silat. hendak ia menanyakan sebabnya. Tak dapat dia dilawan keras. suara mereteknya Tiauw Hong menjadi kendor. Kwee Ceng heran walaupun ia tidak mengerti latihan orang yang luar biasa itu.Pendekar Pemanah Rajawali Hati Kwee ceng menjadi tidak tenang. Kwee Ceng terkejut ketika Bwee Tiauw Hong memutar tubuh. ia rasakan lengannya sakit sekali. Habis itu. ujungnya yang lain menghajar batu besar! Habis itu Kwee Ceng dibikin kaget sama ujung cambuk yang emnyambar ke arahnya. Sekarang ia melihat nyata itulah joan pian.‖ berbisik si imam itu yang terus mengintai. tubuhnya Bwee Tiauw Hong kasih dengar suara meretek. lengan itu orang kasih paksa turun sedang bebokongnya ditekan supaya ia mendekam pula. Ia tidak takut. lalu berhenti. tangan kirinya menarik sesuatu dari pinggangnya. seperti lagi memikirkan sesuatu. dari itu dia terus dududk bersila di atas batu di mana biasa si anak muda bersemadhi. Belum lagi kedua senjatanya beradu. lantas ia hendak berlalu. habis hancur kepalaku…‖ pikirnya. Cambuk ini terus dicekal di tengahnya kedua tangan. baru ia simpan pula barangnya itu. Diakhirnya ia ankat kaki. Bab 13.‖ Kwee ceng terima pesan itu. tubuhnya sendiri tidak bergerak. Ia kembali meraba barangnya itu . Tipu Lawan Tipu Berselang sesaat. Kwee Ceng hanya lihat berkelebatnya sinar putih perak dari suatu benda seperti ular panjang. sedang disebelah belakang jurang itu ada terlebih terjal tebingnya daripada bagian depan. Hebat bergeraknya cambuk lemas itu. Yang hebat adalah tempo cambuk dipegang ujungnya dengan sebelah tangan kanan. Kwee Ceng mendekam. Kwee Ceng menghela napas lega. kaget ini bocah. Menampak ini insyaflah Kwee Ceng akan pentingnya ilmu yang si imam ajari padanya. Bwee Tiauw Hong sengaja menyakinkan cambuk lemas. Ia bergerak tanpa ia merasa. disusul sama munculnya satu tubuh. untuk dipondong. Tiauw Hong lantas bersilat. atau tiba-tiba si imam sambar pinggangnya. dari keras dan nyaring. ia letaki itu ditanah. napasnya ia tahan. ia cabut pisaunya yang tajam. Kwee Ceng berdiam dan turut mengintai juga. ujung itu ada punya belasan gaetan yang tajam. ―Baiklah. Mungkin enam tombak. lagi ia berpikir. lalu menjadi nyaring seperti meletusnya suara kacang goreng yang digoreng terlalu matang. Ketika ia berbangkit. Ia terkejut pula. cambuk lemas putih yang mengkilap. untuk keduanya berjongkok. Tapi si Mayat Besi tidak lihat siapa juga. Kim-liong-pian dari Han Po Kie panjang Cuma enam kaki.. Tak lama. untuk mereka memikirkan daya perlawanannya. untuk dipakai menangkis. dia bangkit berdiri. Habis berlatih. Itulah Tiat-sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi denagn rambutnya yang panjang dan riap-riapan.

yang pun lantas bangun. untuk melihat tegas si pembunuh. Jamukha bakal diangkat menjadi Tin Pak Ciauw-touw-su. orang perempuan dan hartanya Temuchin terjatuh kepada Sangum. bukan?‖ berkata Sangum itu. rubuhnya ke dekat tenda di mana dua orang itu tengah mengintai. akan kata dalam hatinya: ―Ah. Kwee Ceng dapat kenyataan. Justru itu terlihat satu orang. yaitu Jamukha. Pikirnya: ―Mustahilkah mereka bersekutu untuk mencelakai Khan yang agung? Bagaimana ini bisa terjadi?‖ Lalu terdengar seorang lain: ―Setelah kita berhasil. jika Tuan Pangeran mengajak kita bersaudara pergi ke sana. ia lari menyeusul. Orang ada memakai jubah bulu ynag mahal.Pendekar Pemanah Rajawali ―Mari kita ikuti dia. maka ia lantas kenali sebagai Sangum. karena orang itu berdiri membelakangi dia. dia kata: ―Jikalau kau menyayangi kakak angkatmu. nah. ―Sekarang tolong kedua tuan bilangi aku. Di situ ada satu orang lain.‖ Sangum tertawa dingin. mereka mesti menyingkir dari serdadu-serdadu penjaga. ialah pangeran keenam dari negara Kim!‖ Jamukha tertarik dengan janji itu. untzk bawa ia turun dari belakang jurang itu. belum tentu kau akan berhasil. Cara ini telah digunai oleh si Mayat Besi. maka semua ternak. ia seperti mengenalinya. si putra Raja Kim yang keenam itu.‖ Pangkat itu adalah pangkat tertinggi untuk wilayah utara dengan tugas memanggil menakluk dan menghukum pemberontak. sudah tentu aku tidak bakal sia-siakan padamu!‖ Kwee Ceng kenali orang itu adalah saudara angkat sehidup semati dari Temuchin. itu waktu kamu berdua masing-masing boleh memimpin duapuluh ribu serdadu untuk membantu. ia ini kata. maka ia menggeser. Dia itu sudah lantas susuti goloknya pada sepatu.‖ berkata si imam. tendanya berwarna kuning. dandannya mewah. putranya Wang Khan. setelah usahanya berhasil. sungguh bagus sekali!‖ Wanyen Lieh tersenyum. Lama mereka berlari-lari. Ia singkap lebih tinggi tenda. di waktu langit mulai terang. Si imam kempit Kwee Ceng. di sana ia menghilang. Dan Kwee Ceng merasakan dirinya seperti dibawa terbang. ayahmu juga perlakukan aku baik sekali. aku tentu menurut. cara bagaimana kamu hendak menghadapi Temuchin?‖ dia tanya. dibagian belakang ini. tidak nanti ia tidak memberikannya!‖ Wanyen Lieh. semua sebawahannya untuk Jamukha. di seluruh tanahnya penuh denagn emas dan orang-orang perempuannya ada bagaikan bunga-bunga. Kwee Ceng tidak melihat tegas muka orang itu. entah ia bakal kasih pertunjukkan apalagi. pergilah kau melaporkannya!‖ Orang itu menyahuti: ―Kau adalah adik angkatku. untuk melihat ke dalam. ―Sekarang kau tidak akan sangsi pula. ia berkata: ―Kabarnya negara di Selatan itu adalah negara yang indah permai. ia menjadi heran sekali. dan dari pihak kami negara Kim yang besar. kamu bakal dapat hadiah lainnya lagi!‖ Sangum girang sekali. Si imam mengcoba mengikuti terus. yang ekbetulan menoleh. berkata: ―Negeriku yang besar bakal lantas berangkat ke Selatan untuk menumpas kerajaan Song. Di belakang ini si imam mendekam. orang pun bisa naik dengan melapati di oyot rotan. yang rubuh dengan segera dan terbinasa.‖ Saudara angkatku Temuchin pintar dan gagah. untuk ini. Tiauw Hong tiba di satu tempat di mana ada banyak kemah. terlihat Tiauw Hong berada jauh di arah utara. ia menjadi heran. dengan goloknya membacok satu orang lain. ia berkata: ―Asal saja ayah angkatku Wang Khan memberikan titahnya. Kwee Ceng kenali. Di tengah-tengah ada sebuah kemah terbesar. Irawan D Soedradjat Page 139 . Setibanya mereka di bawah. Ia tak usah mengingat-ingat lama. Malah ia sambar pinggang bocah itu.‖ Sangum menjadi girang sekali. ia bilang: ―Berapa susahnya untuk ayahku memberi titahnya? Sebentar akan aku minta titahnya itu. lalu ia dan Kwee Ceng menyingkap tenda. si terbunuh itu adalah pengiringnya Temuchin. ketika ia melihat dari samping.

tahan!‖. Segera itu menyusul terdengar suara senjata bentrok. ia masih hendak mendengari lebih jauh etika ia rasakan si imam sambar ia untuk ditekan. Kwee Ceng segera kenali gurunya yang ketujuh. Irawan D Soedradjat Page Cu Cong lepaskan tangan Kwee Ceng. habis mana satu orang lompat kepada anak tanggung itu.‖ Maka itu ia mendekam terus seraya memasang kupingnya. tangannya itu kena orang sambar. akan tetapi urusan ada begini penting. ―Biar apa dia lakukan. baru sekarang ia ketahui nama orang. di tangannya ada orang yang dikempitnya. Ia menjadi sangat bingung. Aku percaya ia bakal datang dan tentunya tanpa membawa banyak pengiring. Terdengar Sangum berkata: ―Temuchin itu telah jodohkan putrinya kepada putraku. maka itu baiklah kita sembunyikan orang disepanjang jalan. Maka ia lihat Bwee Tiauw Hong sedang membekuk satu orang.Pendekar Pemanah Rajawali Selagi Kwee Ceng memasang kuping. tanpa ayal. Ia lantas berbalik. . baru saja ia kirim utusan untuk membicarakan hari pernikahan. Cuma ia tetap belum tahu.‖ dia berkata. maka bersama-sama mereka lari pesat. ia lari ke dalam kemah. rupanya ditanyakan sesuatu. ―Mana itu siluman perempuan‖ Cu Cong bentak muridnya. bahaya tengah mengancam. menyusul mana Tiauw Hong berkelebat lewat. mendadak ia merasakan dua tangannya sakit. yang hendak membinasakan saudara angkatnya sendiri. lalu ia berbisik: ―Tiauw Hong lagi cari orang untuk menanyakan tempat kediaman gurumu. sungguh pinto merasa sangat beruntung. untuk menantikan kebinasaannya. Ia pun lantas berkata: ―Tidak berani memohon tanya gelaran totiang. akan setelah itu. si Mayat Besi sudah lewat jauh. mereka berenam menjadi ragu-ragu. buat sesaat ini guru-guruku tidak bakal menghadapi bahaya. Si imam tarik tangan si bocah.‖ sahut Kwee Ceng. bilang pada gurumu bahwaTan-yang-cu Ma Goik mohon bertemu sama Kanglam Liok Koay. di sana mereka tampak seorang imam tua. Ia membalas hormat. menuju kemahnya Kanglam Liok Koay. Ketika itu hari telah siang. gurunya yang nomor satu. penyerangnya itu adalah Kwa Tin Ok. tidak dapat aku berkukuh lebih lama lagi. sebatang tongkat melayang ke kepalanya! Bukan main kagetnya ia. dia mohon bertemu sama suhu semua.‖ 140 Imam itu bertindak mau. ialah Han Siauw Eng. Ia lantas meramkan mata. Tin Ok menghela napas.‖ Dia menunjuk orangnya Temuchin yang telah ia binasakan itu. Dan melanjuti kemudian: ―Aku sudah lantas kirim orang untuk memberi balasan. Sekarang Kwee Ceng melihat. ia tancap tongkapnya. sekarang kita dapat bertemu. ―Dia ada di luar.‖ sahut itu murid. ―Mana dia gurumu yang mengajarkan kau ilmu dalam?!‖ tanya Tin Ok kemudian dengan dingin. Pergilah kau masuk ke dalam. kalau terlambat bisa gagal!‖ Kwee Ceng terpaksa menurut. aku minta ia besok datang sendiri untuk berembuk bersama ayahku. siapa imam ini yang semestinya lihay. Ia mengangguk. disusul mana sakit di kakinya yang kena ditendang. Baharu saja ia memanggil itu. hatimu lemah sekali!‖ katanya perlahan. ―Citmoay. ―Sudah lama pinto mengagumi tuan-tuan. akan pergi meninggalkan kemah beberapa puluh tindak. Tapi di bawah terangnya sinar matahari. Ia tidak sangka ada orang sedemikian jahat. ia rasai si imam menarik ujung bajunya. Sekejap saja. lalu mereka mengawasi Ma Giok. Bwee Tiauw Hong sendiri tidak ada bayangannya sekalipun. Pedang guru itu telah terpental. siapa terus berseru: ―Toako. tidak nanti ia lolos dari jaring perangkapku ini! Ha-ha-haha!‖ Kwee Ceng kaget dengan berang gusar.‖ Kwee Ceng berpikir. yang ia masih pegangi. orang yang menyambar tangannya adalah Cu Cong dan Coan Kim Hoat.‖ Dua tahun Kwee Ceng ikuti imam ini. maka terus ia rubuh. ―Suhu!‖ ia berseru begitu ia menyingkap tenda. Kanglam Liok Koay berdiam. ia dapatkan imam itu menunjuk ke belakang. Bukan main kagetnya Tin Ok berenam! Bagaimana mungkin Bwee Tiauw Hong datang diwaktu siang hari bolong? Maka bersama-sama mereka lompat keluar tenda. ia menjura. Temuchin boleh mepunyai tiga kepala dan enam tangan. apapula kapan ia kenali. mungkin sebentar dia bakal datang kemari. Mari lekas. kapan ia menoleh. ―Teecu telah lihat dia tadi. Di sini si imam berkata: ―Sebenarnya tidak hendak aku perlihatkan diriku. ―Biar aku dengari persekutuannya mereka ini yang hendak mencelakai Khan yang agung.

‖ Liok Koay heran. ia lantas berkata: ―Inilah Tan-yang-cu Ma Goik Ma Totiang. ―Itulah sebabnya walaupun pinto berada dekat dengan tuan-tuan tetapi pinto tidak membuat kunjungan. lalu tertampak beberapa penunggang kuda tengah mendatangi ke arah kemahnya Temuchin. pinto tidak ingin memcampurinya. Mereka tahu Ma Giok itu adalah murid kepala dari Ong Tiong Yang. tidak ada orang yang mengetahuinya. sedang tentang ilmu silatnya. ia hanya menggapai. yang menjadi kauwcu atau kepala agama dari Coan Cin Kauw. maka sekarang pinto mohon tuan-tuan tidak berkecil hati. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng tidak sahuti putri itu. Mereka lihat orang alim sekali. ―Adakah totiang ini yang ajarkan kamu ilmu?‖ ia tanya muridnya. Kwee Ceng menjadi sangat bingung. Ia masih bicara sama guru itu tapi si guru sudah lantas bicara sama Ma Giok tentang pertempuran mereka melawan Hek Hong Siang Sat. Kedatanganku ini adalah untuk lain urusana. Tentang ini pinto pun memohon maaf. kapan Kwee Ceng menoleh. . ia menjadi sangat menyayangi muridnya ini. Setelah wafatnya Ong Tiong Yang. ―Mengenai tabiatnya itu.Pendekar Pemanah Rajawali Sekarang Kwee Ceng ingat. kelihatan kedua matanya merah dan bendul. Dia biasanya berdiam di dalam kelentengnya.‖ Tin Ok mencegah karena ia menyesal atas perbuatannya yang semberono tadi. ―Toasuhu. ―Maafkan kami! Entah ada pengajaran apa dari ciang-kauw maka telah datang ke gurun Utara ini? Adakah kiranya berhubungan sama janji suteemu mengenai pibu di Kee-hin nanti?‖ ―Suteeku itu adalah seorang pertapa. terdengar pula congklangnya kuda. Putri itu menghentikan kudanya sejarak belasan tindak. Kwee Ceng takut pada gurunya. ruapanya ia baru habis menangis. Siauw Eng menjadi girang sekali. jangan pergi!‖ mencegah Tin Ok. dalam hal nama ia kalah terkenal dengan Khu Cie Kee.‖ Kwee Ceng jawab gurunya ini. Bagaimana kalau si Mayat Besi datang dengan tiba-tiba? Kwee Ceng jadi semakin bingung. ia tampak datangnya Gochin. yang hendak memancing Temuchin. ―Totiang larang aku bicara. karena mana. tidak suka pinto orang ketahui tentang diriku. sebentar aku akan kembali!‖ kata ini anak muda dalam bingung dan khawatirnya. hatinya berdenyutan. tetapi ia masih gemar seklai dalam urusan pertaruhan. bilang Sangum bersama Jamukha lagi mengatur tipu daya untuk membinasakan kepada Khan!‖ 141 Gochin menghampiri. belum lagi ia menolongi si imam menyampaikan berita. denagn lancang pinto ajari dia cara untuk membantu panjang umurnya. ―Jangan. hendak aku pergi sebentar. Pinto bertemu dengannya pada dua tahun yang lalu. dari itu. Tiang Cun Cu Khu Cie Kee adalah adik seperguruan dari Ma Giok ini. ―Pinto biasa berkelana. yang bertentangan dengan agama kami. Mengenai pertaruhan itu sendiri.‖ Ma Giok berkata. nampaknya ia sangat menyayanginya. justru itu terdengar suara tindakannya banyak kuda. ia hanya kata: ―Lekas kau pergi kepada Khan yang agung. Disaat enam saudara ini hendak tanyakan hal Bwee Tiauw Hong. tahulah ia. pinto lihat dia polos dan jujur. kesan mereka lantas berubah. beda daripada saudara-saudaranya. Setelah datang dekat. dengan sendirinya dia menjadi pengganti kepala agama itu. ia berkata dengan suara seperti mendumal: ―Ayahku…. minta si tuan putri datang lebih dekat. ―Kau berdiam bersama kami.‖ Liok Koay heran tetapi tidak dapat mereka tidak mempercayainya. jarang sekali ia membuat perjalanan.ayahku ingin aku menikah sama Tusaga…‖ Lalu air matanya turun pula. lantas ia mengapai berulang-ulang. mereka terperanjat. ―Kiranya ciang-kauw dari Coan Cin Kauw!‖ berkata Tin Ok. Pertama-tama pinto ingin bicara tentang anak ini.‖ Ia lantas menjura pula. Tentang itu pinto belum dapat perkenanan tuan-tuan. Segera setelah itu. Coan Kim Hoat lantas saja lepaskan cekalannya kepada muridnya itu. hingga kami menjadi keliru menyangka terhadapmu?‖ Ia mengusap-usap rambut muridnya itu. Kanglam Liok Koay membalas hormat. sudah beberapa kali pinto menegurnya. ―Kenapa kau tidak hendak memberitahukannya dari siang-siang. itu adalah orang-orangnya Sangum. ia tidak berani pergi menghampirkan.‖ berkata Ma Giok. ia jadi berkhawatir untuk ancaman bahaya dari pihaknya Bwee Tiauw Hong. Terpaksa ia berdiam.

―Kwa tayhiap berhati mulia. permusuhan harus dilenyapkan. kami pasti akan bersyukur. tidak nanti ia dapat peroleh itu. Mereka mau menyangka orang bicara secara dilebih-lebihkan. mereka awasi kakak mereka. ―Hek Hong Siang Sat adalah murid-murid murtad dari Oey Yok Yu. ―Maka itu totiang.‖ berkata Ma Giok.‖ kata Po Kie kemudian. bukankah berarti sakit hati itu telah terbalas? Dia sebatang kara.‖ kata Tin Ok emudian.‖ Cu Cong semua berdiam. ―Ayahnya hendak dibikin celaka orang. ―Hanya setelah mendengar Kwa tayhiap berusan perihal pertempuran pada belasan tahun yang sudah lalu itu. mungkin sekali Bwee Tiauw Hong telah dapat pengajaran baru dari Oey Yok Su…. asal tuan-. tetapi jangan diperhebat. ilmunya Kiu Im Pek-kut Jiauw sudah terlatih sempurnya. ―Jalan ini ada sempurna.‖ Tin Ok mengerti. Turut pikiranku. kemudian Oey Yok Su mendapat tahu. ―Pinto bukan hendak menangi lain orang dengan merendahkan diri sendiri. sedang cambuknya ada luar biasa. ―Taruh sekarang kita menyingkir dari dia. Suara kakaknya ini membikin heran saudara-saudaranya yang lain. mereka masih kurang percaya sepenuhnya. kami Cuma gemar berkelahi. Kalau kita bekerjasama berdelapan. ―Benarkah itu?‖ tanyanya.‖ berkata Ma Giok. kita tidak bakal kalah. Inilah sulit!‖ ―Untuk itu pinto telah dapat pikir suatu jalan untuk menghindarkannya. Ia putar kudanya. selama sepuluh tahun ini.‖ Coan Kim Hoat menyambungi. Cu Cong semua terkejut. cara bagaimana dia dapat ajarakan pula ilmu?‖ ia tanya. Kwee Ceng heran. ―Sejak dahulu kala ada dibilang. bagaimana nanti…?‖ Tin Ok semua berdiam.‖ Irawan D Soedradjat Page 142 . untuk selanjutnya tak dapat kita tidak berjaga-jaga.Pendekar Pemanah Rajawali Gochin terkejut. tapi aneh kenapa Ma Giok ini nampaknya jeri kepada pemilik pulau Tho Hoa To itu? ―Totiang benar.‖ Liok Koay berdiam. tetapi untuk singkirkan dia. ―Satu hal hendak pinto memberitahukannya. Ia memang sayangi Gochin sebagai adik kandungnya! Itu wkatu terdengar suaranya Ma Giok. ―Baik!‖ katanya. setiap tahun ia telah bunuh berapa banyak orang yang tidak bersalah dosa. dengan sebenarnya Bwee Tiauw Hong itu telah jadi sangat lihay. tanpa dapat penunjuk dari guru yang lihay.tuan suka berlaku murah dan suka mengasihani dia untul membuka satu jalan baru untuknya. untuk segera dikasih lari. ―Tentu saja benar!‖ sahut Kwee Ceng. pinto dapat menyatakan kepandaiannya Bwee Tiauw Hong telah maju pesat seklai.‖ CU Cong berkata pula. Silahkan totiang bicara.‖ Ma Giok bilang. entah bagaimana kemajuannya si Mayat Besi. Selama sepuluh tahun ini. dia harus dikasihani. untuk dengar putusan si kakak. dengan belajar sendiri. dia pun buta matanya. ―Kami Kanglam Cit Koay biasa sembrono. ―Ah! dengan begini bukankah ia jadi tidak bakal menikah sama Tusaga?‖ Maka ia pun bergirang. Lalu ia ingat suatu apa. ―Kalau benar dia hendak menuntut balas. Thian tentu akan memberkahi. ―Silakan totiang beri petunjuk kepada kami.‖ kata Ma Giok seraya mengangguk. Dia sekarang telah dapat mewariskan kepandaiannya Tocu Oey Yok Su dari Tho Hoa To. kenapa dia girang?‖ ia tanya dirinya sendiri. dapatkah kau membiarkannya saja?‖ ―Laginya sekarang ini dia yang mencari kami. Tanghay.‖ Cu Cong berkata kemudian. hanya orang lagi melindungi juga mereka sendiri. ―Itulah memang benar. imam ini bukan melulu memintakan ampun untuk Bwee Tiauw Hong. bukan kami yang emncari dia. jangan harap malah mungkin bakal rugi sendiri…‖ ―Habis apa sakit hatinya ngoko dan toako mesti dibiarkan tak terbalas?‖ kata Siauw Eng yang selalu ingat Thio A Seng. Mereka pernah mendengar perihal kepandaian Oey Yok Su itu. ―Tuan-tuan telah binasakan suaminya. Umpama kata sekarang kita dapat singkirkan Bwee Tiauw Hong. ―Aku dengar sendiri persekutuan mereka itu! Lekas kau pergi kepada ayahmu!‖ Gochin menjadi tegang hatinya tetapi ia tertawa. ―Kalau totiang sudi menunjuki suatu jalan terang. ―Dia melatih diri secara demikian hebat.

si wanita siluman itu terjatuh ke dalam tanganku. ―Ada siapakah yang tidak menghormati Cit Cu?‖ Dengan ―Cit Cu‖ dimaksudkan tujuh persaudaraan Tiang Cun Cu. Dia terlihat nyata di bawah sinar rembulan. Segera juga Tiauw Hong tiba di atas. Ia seperti tidak menggunai kakinya. mejadi kagum. dia tampak wajah orang tegang. Kesunyian telah memerintah di atas jurang itu. sambil beristirahat. sekarang ia dengar suara orang bicara dan menyebut-nyebut Khu Cie Kee dan namanya juga. Cuma tabiatnya itu dua saudara seperguruan saja yang berbeda. di dalam hati mereka tertawa. ―Pinto percaya. Sebenarnya Tin Ok tidak sudi mengalah. Lantas semua orang duduk bersamedhi. ―St! Dia datang…!‖ kata Tin Ok. ia lantas mulai mendaki.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto harap tuan-tuan tidak menertawainya. guna bnatu menggerek naik kepada Kanglam Liok Koay. 143 ―Bwee Tiauw Hong atur tulang-tulangnya di sini. tapi disaat itu juga. Tak dapat dicegah lagi. Ia tidak tahu ada berapa orang lihay yang bersembunyi di situ. Sesempai di atas. yang lemas. kawan kesayangannya.‖ berkata Han Po Kie. sebentar dia bakal datang. Sebenarnya Tiauw Hong masih jauh tetapi kuping lihay dari Tin Ok sudah mendengarnya. lalu perlahan-lahan menjadi gelap. putrinya Temuchin.‖ . mulai habis sabarnya. suaranya terdengar. ―Harap totiang tidak terlalu merendah. tetapi untuk membari muka kepada Ma Giok. enam saudara itu segera dapat lihat tumpukan tengokraknya Bwee Tiauw Hong. . pinto hendak menggunai suatu akal untuk membikin ia kabur…‖ Lantas imam itu tuturkan tipunya. Kwee Ceng terkejut kapan ia sudah lihat pakaian orang itu. Masih mereka menantikan. mereka lantas kasih turun dadung mereka. hingga tibanya tengah malam. terpaksa mereka menurut. mereka sama-sama mandaki jurang. ia menjadi terlebih kaget. Sekarang ini baharu mereka percaya habis imam itu. mereka menantikan sang sore. Tin Ok berenam jalan di belakang Kwee Ceng. Ia lantas saja bersembunyi di samping batu untuk memasang telinga. ia heran. ―Kita baik tunggui saja padanya. mungkin Bwee Tiauw Hong tidak berani lancang turun tangan. Dengan lewatnya sang waktu. Setibanya di kaki jurang. wajahnya sendiri tentu begitu juga. ―Bersyukur kepada guru kami. Karena ini juga. Sungguh gesit si Mayat Besi ini. Maka itu. seraya guru yang kedua ini berkata terus: ―Kalau Bwee Tiauw Hong. karena ia pikirkan keselamatannya Gochin. Irawan D Soedradjat Page Tiauw Hong sembunyi tanpa berani berkutik. yang adalah dari kulit burung tiauw yang putih. Cuma Kwee Ceng yang hatinya goncang. mengapa dia masih belum datang?‖ tanya Po Kie. habis bersantap.aku Khu Cie Kee – pasti aku tidak akan mau sudah saja!‖ Tiauw Hong dengar seruan kaget dan suaranya Kwee Ceng itu. Ia percaya. Kapan Cu Cong berpaling pada Coan kim Hoat dan Han Siauw Eng. mulutnya bergerak. Cuma kedua tangannya. Cu Cong semua yang mengawasi. ―Eh. Mereka percaya. memang Cit Cu ini ada juga nama kosongnya di dalam dunia kangouw. terhadap kami dari Coan Cin Kauw. Ma Giok semua telah dapat lihat tingkah laku si Mayat Besi ini. entah mayat atau orang hidup. murid mereka itu. Dia muncul dalam rupa seperti segumpal asap hitam. Di bebokongnya ia menggendol satu orang. Mereka dapat lihat cara naiknya ma Giok. hati mereka berdenyut.‖ Ma Giok minta. Ma Giok dan Kwee Ceng yang jalan di muka. Semua orang berdiam. imam ini tidak ada di sebawahannya Khu Cie Kee. Setibanya Ma Giok dan Kwee Ceng di atas.‖ kata Ma Giok. Itulah Gochin Baki. cuaca mulai menjadi guram. Dia seperti naik di tangga saja.‖ kata Cu Cong. Cu Cong bekap mulutnya.

Yang kedua adalah Tiang-cin-cu Tam Cie Toan. itu tandanya si nona tidak dalam bahaya jiwa. yang kelima Giok-yang-cu Ong Cie It. Cuma Tin Ok yang bungkam. Yang keempat ialah Tang Cun Cu Khu Cie Kee. Tapi dia toh bicara dengan suara keras! Kagetnya Tiauw Hong tidak kalah dengan kagetnya si anak muda.‖ katanya dalam hati. Pembicaraan itu membikin gentar hatinya si Mayat Besi.‖ Cu Cong tertawa. Berterima kasih kepada Langit dan Bumi yang sang rembulan tidak muncul!‖ Kwee ceng sendiri mengawasi Gochin. Yang keenam Kong-leng-cu Cek Tay Thong. Ia tanya Hie Jin. Siauw Eng bicara sebagai juga ia adalah Ceng Ceng San-jin. Khu Cie Kee yang namanya paling tersohor. kalau sebentar si siluman perempuan datang. supaya kami yang menjadi saudara-saudaramu dapat membuka mata kami. tentang mereka itu. Dipihak Liok Koay juga mungkin bakal ada yang bercelaka. Si nona tapinya tidak mengerti. Irawan D Soedradjat Page 144 .Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia memang banyak kejahatannya. untuk mencegah si nona itu berbicara. bagaimana pikiranmu?‖ tanya Siauw Eng. Demikian mereka ini berbicara. hingga ia berpikir: ―Coan Cin Cit Cu telah berkumpul semua.‖ ia menyahut. Kau akur?‖ Hie in sengaja menyahut: ―Lebih baik minta Ong Sutee yang gunai kaki besinya untuk dupak dia. pantas suhu pernah bilang kau gampang untuk mencapai kesempurnaan!‖ katanya. Ia menjadi berkhawatir. ―Barusan teecu seperti dengar suara wanita. Dan yang terakhir adalah Ceng Ceng San-jin Sun Put Jie. Cie Kee sendiri puji padanya. ―Coan Cin Cit Cu ada disini semua? Benarkah ada begini kebetulan? Bukankah orang lagi menghina aku karena aku buta dan sengaja mereka mengatur sandiwara?‖ ia mulai geraki tubuhnya. Ma Giok kasih lihat gerakan si Mayat Besi itu. Kwee Ceng tahu peranannya. Tiba-tiba Tiauw Hong ingat apa-apa. ―Jangan bicara!‖ katanya. istrinya Ma Giok pada sebelum Ma Giok sucikan diri. Kwee Ceng menjadi sangat bingung. Kita mesti mencegah si siluman perempuan itu dapat meloloskan diri!‖ Girang Tiauw Hong mendengar itu. mereka tentulah telah dapat lihat aku. ―Engko Ceng lekas tolongi aku!‖ ia berteriak. untuk antarkan dia pergi ke sorga di Barat…‖ Dalam Coan Cin Cit Cu. perlahan-lahan si nona membuka matanya. ialah Tan-yang-cu Ma Giok. Kauwcu Ong Tiong Yang ada punya tujuh murid yang mendapat nama baik. yang kedua adalah Ong Cie It. ―Ceng Ceng San-jin sangat murah hati. Murid kepala. yang mendapat julukan Thie Kak Sian si Dewa Kaki Besi. karena lihaynya tendangannya dan pernah ia bertaruh mendaki jurang yang tinggi hingga ia dapat menakluki beberapa puluh orang gagah di Utara. kepandaian mereka juga maju pesat. ―Kalau tidak. tidak seorang juga kaum kangouw yang tidak mengetahuinya. seperti sandiwara. ―Dia berdosa tak terampunkan!‖ sahut Hie Jin sebagai Cie Toan. ―Tapi karena Coan Cit Kauw mengutamakan wales asih. untuk menyakinkan kekuatan kakinya itu. ―Tam Suko. Ia menjadi lega hatinya. Sembilan tahun ia mengeram di dalam gua. pihaknya tak usah takut. yang disini menyamar sebagai Tam Cie Toan. ―Syukur langit gelap. kalau sebentar kita turun tangan. silahkan kau yang turun tangan. baik semua berlaku hati-hati. Ia lalu menjadi heran dan curiga. Segera ia totok urat gagu si tuan putri itu. mana bisa aku hidup lebih lama?‖ Cu Cong berkata pula: ―Malam ini gelap sekali sampai lima jeriji tangan sukar terlihat. karena ia khawatir suaranya dikenali Bwee Tiauw Hong. ―Cie Peng. yang ketiga Tiang-sen-cu Lauw Cie Hian. si toa-suheng. ―Selama ini telah maju pesat sekali kau punya ilmu Cie-pit-kang. dengan mata mereka yang lihay. kalau aku terlihat mereka. apakah kau yang barusan berbicara?‖ tanya Coan Kim kepada muridnya. ia lantas menggoyangi tangan. Kalau terjadi pertempuran. mengertilah ia bahwa orang mungkin mulai curiga.‖ ia dengar suaranya Han Siauw Eng. baiklah ia diberi jalan baru…. yang disamarkan sebagai In Cie Peng.‖ berkata Cu Cong. ―Tam Suko. Cuma dikhawatirkan keselamatan Kwee Ceng dan Gochin.

berkumandang di dalam lembah.‖ Tiba-tiba terdengar suara dingin dari belakang batu: ―Terima kasih untuk kebaikannya Coan Cin Cit Cu! Aku. Itu bukanlah pertanyaan biasa. atas mana Kwee Ceng segera memberikan penyahutan: ―Teecu adalah In Cie Peng. ia dapat meloloskan diri dari tanganku.‖ Ma Giok tahu Cu Cong ingin dia perlihatkan kepandaiannya guna menakluki Bwe Tiauw Hong. mungkin tangannya itu sudah tidak dapat ditolong lagi…. tidak tahunya dia benar bernyali besar. Tahu-tahu tangan kirinya si Mayat Besi sudah lantas menyambar dan mencekal tangan kirinya. Khu Sutee. tanpa pedulikan lihaynya Bwee Tiauw Hong. Apa yang aku dapati dari guru kita. ia menyambar pula. segera ia berkata dengan nyaring: ―Toa suko. ia harus dikasihani juga. ia berkata pula: ―Kabarnya Bwee Tiauw Hong telah buta kedua matanya. ―Penyelesaiannya berada di pihak Bwee Tiauw Hong sendiri. ingin aku memohon pengajaran daripadanya…‖ Habis berkata. saudara-saudaraku. baiklah kita beri ampun kepadanya. untuk mohon mereka jangan membuat perhitungan pula dengan dia. Bwee Tiauw Hong mengkerat mendengar suara orang itu. kedua pihak baiklah menyudahi urusan mereka. ―Hm!‖ ia lepaskan cekalannya. Ma Giok llihat kelakuan orang. Coba si Mayat Besi tidak jeri. Memang persahabatannya erat sekali dengan itu putri serta Tuli. Kwee Ceng lihat Gochin rebah di tanah. tidak berani aku memohon pengajaran dari totiang beramai. Coba kau pertunjuki untuk kami lihat. ia lihat bahaya mengancam.‖ ―Itulah perkara gampang. dalam sepuluh tahun tidak ada dua…. untuk mengasih bangun padanya. di situ ada petahan lima jari tangan. dagingnya melesak ke dalam. dia malah menghampiri mereka. ia berkhawatir. diumpamakan dengan rasa hati. Imam ini bicara secara merendah akan tetapi ia telah gunai tenaga dalamnya.‖ Irawan D Soedradjat Page Pertanyaan itu membuat Ma Giok terkejut. ia lompat kepada kawannya itu. kau bersahabat serat dengan Kanglam Liok Koay. ia berdiri. Maka ia lantas membentak: ―Silumanm. ia lantas menjawab: ―Sebenarnya walaupun aku menjadi saudara yang tertua. siap sedia dengan cambuknya yang panjang itu. asal dia suka mengubah perbuatannya…. apakah artinya itu?‖ . Tentu sekali. Itu artinya. yaitu Kimkwan Giok-cauw ie-sie Koat? Pastilah kau telah peroleh kemajuan. Tapi Tiauw Hong benar-benar lihay. Maka sekarang.‖ sahut Cu Cong. murid dari Tiang Cun Cin-jin. apabila ia lihat tangannya. Ia dapat lolos. Mereka duga Tiauw Hong jeri dan bakal menyingkirkan diri secara diam-diam. tidak dapat ia berdiam saja. dengan berdiam. Aku pikir. Perlahan-lahan ia kembali ke tempat sembunyinya. Kata-kata itu ialah istilah dalam kalangan agama To Kauw. kau hendak mendapatkan pelajaran sejati? Lekas pergi!‖ 145 Tiauw Hong tanya pula: ―Nona muda dan anak muda. dilain pihak ia geraki tangan kirinya itu. bagaimana dengan penyakinan pelajaran yang suhu ajarakan beberapa tahun ini.‖ Tiauw Hong segera berpikir: ―Muridnya begini muda tetapi tenaga dalamnya sudah bagus sekali. tak dapat aku lawan kau. maka ia tanya Ma Giok: ―Ma totiang. maka anak muda itu menjadi mati daya. Baiklah aku menyingkir dari mereka…‖ Dengan perdengarkan suara.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong mengawasi gerak-geriknya Bwee Tiauw Hong. ―Siapa kau?‖ tanya si buta. timah dan air perak disimpan denagn hati-hati. peryakinan berhasil. tetapi telah lama aku dengar ilmu silatnya Ceng Ceng San-jin. pergi kau menemui mereka itu. umpama kata ia menyesal dan suka mengubah kesalahannya yang dulu-dulu dan tidak tidak lagi mencelakai orang-orang yang tidak bersalah dosa serta tidak akan mengganggu pula kepada Kanglam Liok Koay. Bwee Tiauw Hong ada di sini!‖ Semua orang terperanjat sangking herannya. Tapi ia ingat suatu apa. lantaran aku bebal. untuk berkelit. Kwee Ceng lantas lari menjauhkan diri. Cu Cong memberi tanda dengan tangan kepada muridnya itu. terdengar tedas sampai jauh. Tiauw Hong berkata pula: ―Aku adalah seorang wanita. kalau benar. kali ini ia memegang nadi orang. Oleh karena ini. rasa hati harus dikendali. apakah artinya itu?‖ Ma Giok menyahuti: ―Timah itu sifatnya berat. maka itu suaranya nyaring luar biasa. tubuhnya diam saja. Tiauw Hong pun tidak berani mengulangi tantangannya untuk mencoba menempur Sun Put Jie. Di satu pihak ia lemparkan tubuh Gochin kepada Siauw Eng.

Sangum dan Jamukha bakal celakai ayahku itu. Terus ia berlompat. Karena itu aku segera berangkat untuk cari kau. Tadi ia menanyakan jalan itu kepada pinto.‖ berkata imam itu setelah menghela napas panjang. Hanya dalam Iweekang. tetapi di tengah jalan aku dibekuk perempuan buta itu. Ayah pergi dengan mengajak ketiga kakakku serta belasan pengiring. maka itu Cu Cong dan yang lainnya kata dalam hati mereka: ―Coba tidak ada kita disini. sudah tentu kami sukar lolos dari nasib celaka. sejenak barusan pinto telah kena tertipu wanita yang sangat licin itu. pinto telah jawab dia. apabila kau memerlukan sesuatu. Terus ia angkat tubuhnya. Mestinya itu adalah jalan yang ia belum dapat tangkap artinya. Tidak lama lagi tentulah mereka akan sudah sampai di tempatnya Wang Khan.!‖ Selagi Ma Giok mengatakan demikian. aku jadi hendak memperdayainya. . Ia lihat imam itu berduka. akan tetapi itu satu juga bisa membantu banyak padanya untuk ia peroleh kemajuan…‖ ―Harap saja ia insyaf dan tidak nanti melakukan pula kejahatan. suatu tanda bahwa ia ada mendukakan apa-apa.‖ sahut imam itu. ayah malah jadi semakin tidak percaya. Cu Cong semua terkejut. Ia rupanya sadar seluruhnya. mereka tidak mengerti. ―Umpama kata Khu Sutee dan Ong Sutee berada di sini.‖ sahut si imam kemudian. Aku telah jelaskan bahwa hal itu kau dengar dengan kupingmu sendiri. Kwee Ceng menjadi bingung. ―Coba tidak totiang membantu kami. orang berlega hati melihat perginya wanita bagaikan siluman itu. walupun kami tidak punya guna. ―Sepuluh tahun ia tak tertampak. ia hendak hukum padamu. ―Ilmunya si Mayat Besi ini. gerakannya sangat enteng dan pesat. yang keningnya berkerut. dia rupanya telah dapat cari jalan itu. dia belum berhasil menyakinkannya. ―Kenapa Khan tidak percaya kepada kau?‖ ia tanya. lalu ia sadar.‖ kata Siauw Eng separuh menghibur.‖ ―Jangan mengucap begitu. hanya karena tidak ada orang yang tunjuki. dia belum menemui jalannya yang benar. ayah sudah ajak orang pergi kepada Wang Khan…‖ Kwee Ceng kaget. Pinto khawatir jawaban itu nanti menjadi bahaya di belakang hari…‖ Cu Cong semua mengawasi. Gochin perdengarkan suara. dasar aku yang semberono. ayah tertawa terbahak-bahak. ―Adakah totiang dilukai senjata rahasia?‖ mereka tanya. kami bersedia untuk menerima titah-titahmu. Adakah dia yang membawa aku menemui kamu?‖ Putri ini tak sadar akan bahaya yang mengancam padanya tadinya. Setahu darimana.‖ sahut Gochin.Pendekar Pemanah Rajawali Tiauw Hong tertawa lebar. masih belum tentu kita dapat menangkan dia. Ah. untuk berduduk di atas batu. tanpa berpikir lagi. ―Tempo aku beritahukan bahwa kedua paman Sangum dan Jamukha hendak membikin ayah celaka. sepulangnya nanti. Ayah bilang. ―Totiang. ayahku tidak percaya keteranganku. lantaran aku tidak sudi menikah denagn Tusaga. Benar pinto telah baharu menjawab sekali. bagaimana sekarang?‖ Lantas saja ia menangis. karena ia lantas berkata kepada Kwee Ceng: ―Engko Ceng. ―Harap totiang jangan segan-segan menitah kami. Irawan D Soedradjat Page 146 ―Sudah sekian lama. tentulah batok kepalamu sudah berlobang lima jari tanga…‖ ―Sudah berapa lama Khan pergi?‖ tanya Kwee Ceng yang hatinya cemas.‖ berkata Ma Giok. aku tidak bercuriga….‖ berkata Cu Cong. ―Hanya tadi ketika ia menanya padaku. telah berada di atasan pinto dan saudara-saudara. Inilah yang pertama kali ia menghadapi soal sulit itu. Engko Ceng. totiang!‖ katanya. ―Terima kasih atas petunjukmu. Ma Giok segera totok sadar kepada Gochin yang diletaki di atas batu untuk beristirahat. hingga orang semua kagum. yaitu yang disebut Gwa-mui atau ilmu luar. atau ilmu dalam. apabila ia menarik dan tubuhnya mencelat. tidak disangka si Mayat Besi telah jadi begini lihay. ―Mereka menunggang kuda pilihan. dia jadi terlebih sukar untuk ditakluki.‖ Cu Cong tawarkan diri.‖ ―Oleh karena kurang pikir. ―Harap saja begitu. Di lain pihak. ―Itulah bukan. Kalau dia tambah lihay dan tetap ia berbuat jahat. Ayah bilang. ia lompat ke arah jurang. cambuknya digeraki melilit batu.

Tak lama dari selatan terlihat debu mengepul naik. itulah pasukan Wang Khan.‖ sahut Kwee Ceng. Maka itu kemudian ia sudah mulai dapat melihat bendera yang besar dari Temuchin. Temuchin adalah seorang yang teliti. ia khawatir hewan itu terlalu letih. ia keprak kudanya. yang siap sedia denagn panah dan golok terhunus. yang terus tuturkan persekutuannya Wanyen Lieh. Di dalam hati Kwee Ceng mengeluh. ―Ada apa?‖ ia menanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng lekas kau pergi!‖ berkata Cu Cong. tanpa ayal lagi. Segera terlihat pula. untuk menaikinya. Ia pun berpendirian. ―Ada bahaya. Terang Temuchin telah lewat di situ. Setibanya di lembah. habis mana. ia kabur pula. lekas kembali!‖ ia berteriak. ―Lebih baik terpedaya satu kali tetapi jangan mati konyol!‖ Maka ia terus berpaling pada Ogotai. baru kuda itu mau juga diistirahatkan sebentar. guna dikasih lari sekeras-kerasnya. kita sehidup semati. ―Benar-benar pasukannya Wang Khan!‖ ia berseru. Dengan roman bersangsi. Ia khawatir Temuchin keburu sampai di tempat Wang Khan dan itu artinya bahaya untuk Khan yang maha agung itu. ia mendahului turun dari atas jurang. lekas kau pergi kepada kakakmu Tuli. ia sudah lewat jauh! Di tengah jalan Kwee Ceng tidak berani berlambat. tuan putri. Ia pun beritahukan perihal tentera pencegat di belakang mereka. ia tampak tentara itu tengah mengejar. mereka ambil sikap mengurung. siapa sudah lari terus. ―Jangan pergi lebih jauh!‖ Temuchin heran. Temuchin awasi bocah tanggung ini. tetapi ayah angkatku. ia kata pula: ―Kha Khan. Ia pun ada bersama orang-orangnya ynag gagah. telah turunkan tuan putri itu. Temuchin memandang ke sekelilingnya. untuk mengatakan: ―Lekas kamu pergi menyelediki!‖ Dua orang itu sudah lantas lari balik. panglimanya. khan ini tidak jeri. Ketika si opsir dapat ketahui dan berseru. cambuknya dipecut berulang-ulang. ―Kha Khan. dia harus mengirim orang untuk mencari keterangan terlebih dahulu. tubuhnya mendekam di punggung kuda. ―Naik ke bukit itu!‖ Ia kasih perintah. pasukan pengejar itu memecah diri dalam diri dalam jumlah ratusan jiwa. jalan pulang dari Khan agung itu telah terpegat. nampaknya ia tidak takut capek. ia keprak kudanya untuk dikasih lari lewat di sini tentara itu. Selang dua jam. tengah mengandali tenagaku. dan itu berarti. Sesudah lari lagi satu jam. apa mungkin nia hendak mencelaki aku?‖ Kwee Ceng tahu khan itu bersangsi. Karena ini. guna memegat Ogotai dan Chilaun. Irawan D Soedradjat Page 147 . malah tiga jagaan telah ia lewatkan terus. ia tahan kudanya. apapula di tanah rata. begitu naik ke atas bukit. ia puas benar dengan kudanya yang larinya sangat pesat. putranya yang kedua itu dan Chilaun. Dan kau. Setelah ia mendatangi lebih dekat. terus ia lari. tetapi si kuda tidak mau berhenti. malah mereka ini tahu tugasnya. untuk mencegah. untuk tiba di samping khan itu. buat berjagajaga diiri dari serangan anak panah. sedang Ma Giok denagn mengikat tubuh Gochin. Dipaling depan pasukan itu terlihat Ogotai dan Chilaun lari kabur mendatangi. tibalah Kwee Ceng di tempat datar dimana kedapatan tiga baris tentera yang jumlahnya mungkin tiga ribu jiwa. Kwee Ceng kabur ke kemah di mana ia ambil kudanya. mereka lantas menggali lobang dan memindahkan batu. untuk berjalan perlahan-lahan. Saudaraku Jamukha ada sangat baik denganku. Pernah ia mencoba menahan. Di lain pihak ia menjadi girang sekali. Wang Khan. ―Kau pakai kuda merahmu itu untuk susul Khan yang agung! Umpama kata ia tidak mempercayaimu. disusul sama munculnya satu pasukan tentara terdiri dari beberapa ribu jiwa. cobalah kirim orang untuk periksa benar atau tidak ada tentara pencegat jalan!‖ Biar bagaimana. ia tampak rombongan dari belasan orang yang tengah maju terus. Dari benderanya ketahuan. Jebe ada sangat awas. ―Siap sedia!‖ Dalam keadaan seperti itu. untuk minta ia lekas siapkan tentara guna segera pergi menyusul dan menolongi ayahmu!‖ Kwee Ceng menginsyafi keadaan. Ia pun berpikir: ―Memang Sangum tidak akur dengan aku.

jangan kau memikir untuk hidup lebih lama pula!‖ Kwee Ceng menjadi cemas sekali. Kemudian pada sebuah pasukan ia tampak seorang yang menunggang seekor kuda yang besar. mereka maju bagaikan gelombang! Ogotai dan Chilaun telah tahan kuda mereka dan berbalik. kenapa kita mesti takuti bangsa Kim itu?‖ Kata-kata ini tajam. ―Asal aku menuding dengan cambukku ini. dengan siapa ia Irawan D Soedradjat Page 148 . lekas menyerah!‖ demikian ia berteriak. Panah mereka tidak pernah gagal. Di sini khan itu bersama Borchu. putranya Wang Khan. mereka sekarang turut menyerang denagn panah mereka. Temuchin lanjtui perkataannya: ―Bangsa Mongolia bangsa orang-orang peperangan yang pandai. tetapi kau kenapa. Sangum mendekati bukit. Ia lantas saja berpikir. ―Jikalau kau tidak mau menyerah!‖ ia membentak. Ia berlaku jumawa. Sendirian saja. ada juga yang malas dan cuma doyan gegares! Kenapa mereka yang rajin mengasih makan mereka yang malas itu? Kenapa kita tidak hendak memberikan lebih banyak kerbau dan kambing kepada yang rajin? Kenapa kita tidak mau membiarkan si malas itu mati kelaparan?‖ Dijaman dahulu bangsa Mongolia hidup dalam suatu keluarga atau suku. sukar buat ia menoblos kurungan. yang ditawungi bendera kuning yang besar juga. ―Adik Sangum. Tusaga adanya. Temuchin naik ke tempat yang lebih tinggi. Dan ia keprak kudanya. Temuchin sengaja singgung sifat itu. Akan tetapi musuh berjumlah besar. kapan tiga anak panahnya melesat. Mereka setujui perkataan itu. Hebat lari kudanya kwee Ceng. hati mereka goncang. ia turut memanah. ia menyusuli dengan anak panahnya yang keempat. negara itu menghendaki kita setiap tahun membayar upeti beberapa laksa ekor kerbau. akan memandang jauh ke empat penjuru. siap sedia tameng besi mereka guna menangkis panah gelap. Cepat luar biasa. Di tangannya panglima itu ada sebatang golok besar.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng. Juji dan lainnya. karena ada kemungkinan tentaranya tak mau dengar putra yang masih muda itu. diturut oleh muridnya. Ketika ia buka mulutnya. ia membuatnya tentaranya Sangum menyetujuinya. kenapakah kita tidak hendak pergi mengambil emas dan perak dan permatanya bangsa Kim itu? Kenapa kita mesti tiap tahun membayar upeti terhadap mereka? Kita bangsa Mongolia ada diantaranya yang rajin memelihara kerbau dan kambing. ―Temuchin. berlaksanaan anak panah bakal dilepaskan terhadap dirimu! Jikalau itu sampai terjadi. ia pun nyata sekali kepuasannya. sembari menyerang mereka mundur ke bukit dimana Temuchin menanti. sudah lantas memanah juga. aku minta sukalah kau datang ke mari untuk bicara!‖ ia lanats teriaki itu saudara angkat. ia hanya menanya: ―Apakah salahku terhadap ayahku Wang Khan. Temuchin tidak menyahuti. Tuli sendiri belum tentu tepat datangnya. Penunggang kuda itu dandan sebagai satu panglima perang. Orang itu ialah Sangum. Kwee Ceng kenali panglima yang masih muda itu. Bagaimana bahaya dapat dihindarkan? Selagi ia berpikir. ia lihat satu penunggang kuda di kaki bukit itu. Sangum mengerti orang lagi menghasut tentaranya. tiga pengejar terdepan rubuh dari kuda mereka. adakah itu selayaknya?‖ Temuchin balik tanya. terus ia gunai panahnya. ―Asal saja kuta bangsa Mongolia tidak saling menyerang. kambing dan kuda. Dengan aksi ia larikan kudanya mondarmandir. maka kau bawa pasukanmu untuk menyerang aku?‖ Sangum pun menjawab dengan pertanyaannya: ―Adakah sejak jaman dahulu kala bangsa Mongol tinggal pada masing-masing sukunya. di sebelahnya baju lapis. mari kita sambut mereka!‖ Jebe berteriak. Beberapa puluh tentara lain pun melindungi dia dengan mereka. ternaknya kambing dan kerbau adalah kepunyaan beramai satu suku. ia mengenakan juga mantel bulu kulit binatang tiauw yang mahal. perlahan-lahan sifat itu berubah. Jebe lebih lihay daripada muridnya ini. ia tiba lebih dahulu kepada Ogotai dan Chilaun. kau langgar aturan leluhur kita? Kenapa kau hendak persatukan semua suku?‖ ―Bangsa Mongolia telah diperhina oleh negara Kim. denagn begitu pihak pengejar dapat tertahan majunya. mendahulukan gurunya. Keadaan ada sangat mendesak dan sulit. putra Sangum. Ia telah menyaksikan tentaranya Wang Khan tengah mendatangi di empat jurusan itu. Ia anggap ia mesti menang tempo. kapan orang-orangnya Sangum mendengarnya. ialah kebanyakan bangsa penggembala itu memakai cara memiliki sendirisendiri. diam-diam mereka itu pada mengangguk. maka denagn berulang-ulang sejumlah serdadu musuh rubuh terguling. dengan berulang-ulang. Dengan diiringi pasukan pengawalnya. dengan memperlambat segala apa. kemudian karena tenaga pertumbuhan mereka bertambah dan adanya pemakaian alat-alat dari besi. ternaknya adalah kepunyaan suku bersama.

meminta putranya dimerdekaan. katanya. tidak dapat ia berontak. Celaka untuk Tusaga. Dia dapat lari tak kalah pesatnya seperti waktu turun tadi. Mereka Cuma mundur. maka ia jepit kudanya. Dengan gampang mereka itu melakukannya. ―Kenapa kau bercita-cita mempersatukan bangsa Mongolia?‖ ―Kau sebenarnya menghendaki apa?‖ Temuchin tanya. untuk menghampiri pemuda itu. tangan kirinya menangkis. untuk ringkus Tusaga. ia suruh mereka masing-masing mematahkannya. untuk dipakai menjadi tameng. Bergantian mereka berlima mencoba mematahkan anak panah itu. Dengan tidak kurang suatu apa pun Kwee Ceng tiba di samping Temuchin. Kwee Ceng tidak takut. Ingatkah apa pesan leluhur kita itu?‖ Irawan D Soedradjat Page 149 . ingin ia memeluk. Menampak itu. kembali ia menitahkan mereka untuk mematahkannya. Ia lantas ingat suatu apa. maka tempo Kwee Ceng menarik. ia masaki daging kambing kepada mereka.Pendekar Pemanah Rajawali pernah berkelahi waktu kecil. ia mati kutu. Ia lantas duduk bersila. ―Apakah kau masih ingat cerita tentang leluhur kita Maral Goa?‖ Temuchin tanya. nanti jiwanya Temuchin akan diberi ampun. Temuchin hunus goloknya. ia tidak bisa berbuat lain daripada keluarkan titahnya untuk pasukannya itu mundur seratus tombak. begitu kena di cekal. tapi tiga-tiga kalinya. mereka khawatir nanti kena memanah pemimpin mereka yang muda itu. ia pegang tubuhnya Tusaga. Ia maju mendekati. Ujian Yang Pertama Sangum murka berbareng bingung. ia lantas lari ke arah bukit untuk mendaki. ―Lepas panah!‖ orang-orangnya Sangum berteriak. Segera ia bentur perut kudanya denagn dengkulnya yang kanan. ―Adakah kau masih anggap aku sebagai kakak angkatmu?‖ ia menegur. malah kereta besar dikitarkan diseputar bukit itu. ia kasih lari turun gunung. sepasang tombak kena dibikin terpental ke udara. ia kasih perintah orangorangnya terus memasang mata. mereka gagal. ―Pelbagai kepala suku pada membilangnya bahwa leluhur kita sudah turun temurun beberapa ratus tahun hidup secara begini. seorang denagn pakaian putih muncul di kaki bukit. Temuchin khawatir Sangum menyerbu. mereka juga masing-masing diberikan seorang sebatang anak panah. Lalu ia berikan mereka lima batang anak panah yang digabung menjadi satu. sambil berpaling. ia berpaling lekas. ―Kakak kau telah menjadi Khan yang agung. tidak ada satu serdadu pun yang berani memanah. langit telah menjadi gelap. ia teriaki Sangum: ―Lekas kau suruh semua orangmu mundur seratus tombak!‖ Bab 14. Kuda itu pun lantas mengerti. Selagi Kwee ceng hendak geser pemuda itu. Tepat tangkisan itu. tubuhnya kena diangkat dari kudanya.‖ katanya Jamukha lagi. Jamukha menghela napas. ke dekatnya khan yang agung itu. Bukan main girangnya Temuchin. dalam tujuh dan delapan lapis! Temuchin puji Kwee Ceng. Tiga kali Sangum mengirim utusan. Adalah adat istiadat bangsa Mongolia akan saudara muda memeluk dan merangkul saudara tuanya. Ia segera menuding dada Tusaga dengan ujung tombaknya sembari berbuat begitu. Temuchin usir utusan itu. yang diperintah gunai dadung. ia dengar suara anginnya senjata mengaung di arah belakangnya. kenapa kau masih berambekan besar sekali?‖ ia tanya. Kira-kira tengah malam. ia lantas berteriak: ―Di sini Jamukha! Aku ingin bicara dengan saudara Temuchin!‖ ―Kau naiklah kemari!‖ Temuchin menjawab Jamukha mendaki dengan perlahan-lahan. Tanpa terasa. supaya Temuchin menyerah. tapi pengurungan tidak dibubarkan. Ia tampak Temuchin berdiri menantikan dengan romannya yang angker. ―Lima putra mereka tidak hidup rukun. Ia lempar tubuh Tusaga ke tanah. Ia kaget dan tidak menyangka putranya dapat ditawan musuh selagi putra itu berada dalam lindungan tentaranya yang berjumlah besar itu. maka itu kenapa khan yang agung Temuchin hendak mengubahnya? Tuhan juga tidak memperkenankan itu.

‖ kata Jamukha. bukannya milik suku beramai. hingga membaliki belakang kepadanya. ―Berontak? Hm! Berontak!‖ seru Temuchin menghina.Pendekar Pemanah Rajawali Dengan perlahan Jamukha mengatakan: ―Jikalau kamu masing-masing bercerai-berai. akan tuang keluar isinya. ―Benar begitu!‖ kata Temuchin. kamu menjadi seperti lima batang anak panah yang digabung menjadi satu ini. Ia ada sangat berduka. Jamukha bangkit berdiri. kalau satu putranya terbinasa. kau bakal tak dapat melihat lagi matahari besok!‖ Temuchin membacok ke udara. tanpa membilang apa-apa. ialah kepala panah dan biji piesek yang diwaktu muda mereka sering membuat main. kenapa kita tidak hendak mempersatukan bangsa Monglia kita? Kita harus saling kepruk. bagus!‖ seru Temuchin. ―Mulanya akun juga menyangka raja Kim itu baik hati. kau mengatakannya itu milik mereka pribadi. semua pelbagai kepala suku mengatakannya kau berlaku buruk. ―Yang dibunuh itu adalah musuh. tak tepat itu dengan pengajaran leluhur kita!‖ Temuchin berseru: ―Akan tetapi semau orang peperangan yang muda-muda senang dengan caraku itu!‖ ―Baiklah saudara Temuchin. dan sekarang dia menghendaki orang-orang peperangan kita membantu ia berperang!‖ ―Wang Khan dan Sangum tidak ingin memberontak terhadap negara Kim itu. yang gampang sekali orang siapapun dapat mematahkannya. bukannya kakak angkatmu!‖ Jamukha jemput bungkusan kecil itu. Temuchin mengawasi belakang orang. ―Kita juga adalah orang-orang gagah. Ia pun keluarkan satu kantung kulit kecil dari sakunya. kamu menjadi seperti anak panah ini. Aku tanggung Sangum nanti melepaskan kau pulang dengan selamat!‖ ―Aku tidak percaya Sangum! Aku juga tidak percaya kau!‖ ―Sangum bilang. ia letaki itu di samping kakinya Temuchin. ia lemparkan ke depan Jamukha. kita bersatu hati bekerja sama untuk memusnahkan bangsa Kim itu!‖ Jamukha terkejut.‖ katanya. sekian lama ia diam asaj. dia minta kuda. ―Harap kau tidak mengatakannya aku tidak berbudi!‖ Temuchin lantas keluarkan satu bungkusan kecil dari dalam sakunya.‖ kata Jamukha. Segera terbayang di hadapan Irawan D Soedradjat Page 150 . ia geraki tangannya seperti hendak membacok batang lehernya. ―Dan bagaimana dengan kau sendiri?‖ ―Aku datang untuk meminta kau jangan gusar. kakak. Mengenai itu. Ia tambahkan. untuk selamanya tidak bakal ada Temuchin lagi! Jikalau kau tidak merdekakan Tusaga. ―Siapa tahu permintaannya kepada kita makin lama jadi makin hebat! Sudah minta kerbau dan kambing. Ia bilang: ―Inilah tanda mata ketika angkat saudara untuk ketiga kalinya. jikalau kamu berpadu hati bersatu tenaga. yang tak dapat dipatahkan siapa juga!‖ ―Kau masih ingat itu. mereka menjadi leluhur kita bangsa Mongolia!‖ sahut Jamukha. ―Kemudian bagaimana?‖ ―Kemudian mereka berlima bersatu padu bekerja sama. dia bakal melahirkan dua putra lagi! Kalau satu Temuchin terbinasa. ―Raja Kim itu telah anugerahkan pangkat Ciauwtouwusu padamu. Kata ia: ―Negeri Kim itu banyak tentaranya dan banyak panglima perangnya. sekarang kau terimalah kembali! Besok kau membawa golokmu untuk berperang di sini!‖ Sembari berkata begitu. rangsumnya bertumpuk bagaikan gunung. lalu ia memutar tubuhnya untuk turun dari bukit itu. cara bagaimana bangsa Mongolia bisa main gila terhadapnya?‖ ―Hm!‖ Temuchin perdengarkan ejekannya.‖ Temuchin menjadi mendongkol. tak nanti aku menyerah!‖ serunya. ―Kita membagi-bagikan kerbau dan kambing rampasan kepada tentara. ―Jadinya kau suka yang kita semua diperhina dan ditindih bangsa Kim itu?‖ ―Mereka pun tidak menghina dan menindih kita. Lalu dengan perlahan-lahan ia buka kantung kulit itu. ―Aku lebih suka terbinasa dalam perang. Aku minta supaya kau kasih pulang Tusaga kepada Sangum. emasnya tersebar di seluruh negaranya.!‖ kata Jamukha pula. saudara angkat itu yang bagaikan saudara kandungnya bisa berubah demikian rupa. Sungguh tidak ia sangka.

kita bukannya tandingan jago-jago Rimba Persilatan itu…‖ pikirnya. Dengan goloknya ia mencongkel sebuah liang di tanah. Juji. ―Temuchin. Habis menguruk tanah dengan kedua tangannya. tetapi dengan tamengnya. disusul sama bacokan goloknya. Pangeran Kim ini memakai kopiah dan jubah perang bersalut emas.kita pasti dapat membuat seluruh dunia. Kwee Ceng terperanjat menyaksikan kegesitan empat orang itu. Dia dirintangi oleh Ogotai yang bersenjatakan sebatang golok besar. Irawan D Soedradjat Page Satu di antara empat orang itu. jalanan yang bisa diambil musuh untuk menerjang naik. Temuchin bersama ketiga putranya dan semua panglimanya mendekam di belakang tumpukan tanah. bukannya orang peperangan yang biasa. membuat seluruh dua menjadi ladang tempat kita menggembala ternak kita!‖ Kagum Kwee Ceng akan dengar itu cita-cita dari Khan yang agung ini. satu pemuda dengan pakaian hitam sudah lantas sampai di atas gunung. ―Kau ada seorang gagah. lantas sebatang panah tangan menyambar ke batang lehernya putra Temuchin itu. Setibanya empat orang itu di tengah jalan. ―Bala bantuan tidak datang. ―Bagaimana sekarang?‖ . Ia berdiam sekian lama. mereka dipapaki hujan panah oleh Jebe dan Borchu beramai. ia melanjutkan: ―Mereka itu juga orang-orang gagah! Kami bangsa Mongolia ada punya begini banyak orang gagah. kita bisa menang perang. Jadi mereka adalah orang-orang Rimba Persilatan. putra sulung Temuchin. anak panah mereka diarahkan ke setiap jalanan di gunung itu. Ia memandag ke depan. sayang kami saling bunuh satu sama lain! Coba semua dapat berserikat menjadi satu…‖ Ia memandang ke ujung langit. Mereka itu menggunai ilmu enteng tubuh. Di bawah bendera itu ada tiga orang. Dia sangat gesit dan gapa. tujukan panahnya dan memanah pangeran itu. apa yang Temuchin pendam itu adalah persahabatan yang ia paling hargakan…. mereka halau setiap anak panah itu. rupanya mereka hendak memulai penyerbuan mereka.Pendekar Pemanah Rajawali matanya saat dahulu hari ketika mereka sama-sama bermain-main di es. Mereka itu adalah. kemudaian berpaling.‖ Temuchin memuji. yang menerangi tanah datar seperti juga banyak bintang di langit. Di belakang pangeran ini segera muncul satu orang. empat orang berlompat maju.‖ Kwee Ceng menyahuti. ―Benar!‖ sambutnya. ―Mari kita ingat pembicaraan kita malam ini! Selanjutnya akan aku pandang kau sebagai anak kandungku!‖ Dan ia rangkul si anak muda! Sementara itu. adakah kau hendak memberontak terhadap negara Kim yang agung?!‖ tanya itu pangeran. Ia nampak api yang dinyalakan tentaranya Sangum dan Jamukha. cuaca sudah mulai terang. tangan kirinya mencekal tameng untuk pencegah panah. ―Apakah kau takut?‖ ia tanya. ―Kita di sini adalah orang-orang peperangan semua. ―…. Tidak antara lama. Wanyen Lieh lantas saja berseru dengan titahnya: ―Tolongi Tusaga! Bekuk Temuchin!‖ Atas titah itu. untuk lari mendaki ke atas gunung. Temuchin bangun berdiri. di situ ia pendam itu barang tanda mata dari adik angkatnya itu. Hari ini kita akan mati perang di gunung ini!‖ kata Temuchin. sebuah bendera kuning muncul dari dalam pasukannya Sangum. yang menuju ke sisi gunung. yang menyambuti anak panah itu dengan tangannya. Dia ayun tangannya. Berbareng dengan 151 Kwee Ceng jadi berkhawatir. Di dalam pasukannya Sangum dan Jamukha segera terdengar suara terompet. putra keenam dari raja Kim. di kanan Jamukha. orang gagah yang baik sekali. Ia menghela napas. Ia menunjuk kepada api di kejauhan itu. tidak nanti kita dapat dikalahkan Sangum yang berhati kecil dan hina dina itu!‖ Temuchin pun menjadi bersemangat. di kiri Sangum. lalu menambahkan pula. Ini waktu terlihat tentara musuh sudah mulai bergerak. dan di tengahtengah adalah Chao Wang Wanyen Lieh. hingga ia dapatkan Kwee Ceng berdiri diam di sampingnya. Ia mengerti. ―Aku tengah memikirkan ibuku. Kwee Ceng di samping mengawasi dengan perasaan berat. Ia lantas kata: ―Khan yang agung.

ia layani musuh yang bersenjatakan golok itu. menikam dari samping kepada lengan penyerang itu. ialah yang membuat lawannya repot. ―Akan aku lantas memenggal!‖ Sangum menjadi khawatir dan bingung. Kwee ceng gunai ketika orang bicara. supaya anakku jangan terbinasa…!‖ ―Tetapkan hatimu. Mereka mau percaya musuh tidak bakal lolos lagi. ―Toasuko. sikap garang mereka membuat dua musuh lainnya yang memegang ruyung besi dan dan sepasang kampak pendek. sedang dari enam gurunya pernah ia dengar pelbagai macam ilmu silat. Maka ia lihat di depannya ada satu anak muda dengan alis gompiak dan mata besar. masing-masing tidak sudi mengalah. yang goloknya tebal. benar-benar musuh ini bukan sembarang orang. membalas menikam lempang. untuk berdiri berendeng bertiga. tiga kawannya musuh itu sudah berhasil merubuhkan empat atau lima lawannya. sedang empat orangnya Wanyen Lieh itu melanjuti pertempurannya. Dia terkejut. tiba-tiba ancamannya itu berubah di tengah jalan. ia tidak mundur lagi. tidak berani sembarang merangsak. mari aku bantu kau!‖ dia berteriak. Musuh kaget dan berlompat berkelit. ―Aku Kwee Ceng!‖ sahut anak muda itu. ―Lihat kepandaiannya toasuko!‖ berseru saudaranya yang memegang tombka itu sambil tertawa. ia ulangi serangannya dengan beruntun. tidak urung tangan bajunya yang kiri telah kena tersontek robek. ia lompat mundur. Dia heran dalam rombongannya Temuchin ada orang yang pandai ilmu pedang. Terus ia bersilat dengan Wat Lie Kiam-hoat. Orang-orangnya Sangum tidak berani naik. ia malu mengaku kalah terhadap adik seperguruannya itu. Sekarang aku main menangkis aja. kapan satu di antaranya melihat ia terdesak. kapan musuh berkelit. ―Kau lihat saja dari samping. ialah pedangnya. menjadi bacokan ke kiri……… Mau tidak mau. Mereka hampirkan jiesuko itu. Memangnya di antara empat saudara seperguruan ini ada perbedaan tabiat atau sikap. Itulah gerakan ―Kie hong teng kauw‖ atau ―Burung hong bangkit dan ular naga mencelat‖. sedang hari ini adalah yang pertama kalinya ia muncul di medan pertempuran. ―Tidak pernah aku dengar namamu! Lekas kau menyerah!‖ kata orang itu sombong. ―Tuan pangeran. Boroul dan lainnya. dia lompat menghampirkan. tiga kawannya orang ini sudah tiba di atas gunung dan tengah bertempur sama Chilaun. yang mencekal pedang. Keras sekali. terkejut juga musuh menyaksikan orang seperti nekat. apakah itu ukan berarti aku kena didesak?‖ karena ini. Dipihak lain. berat tangannya lawan itu. Dia ini menganggap dirinya adalah tertua kaum Rimba Persilatan. dengan bawa tombaknya. berkelebatlah sebatang golok putih mengkilap. anakmu tak bakal terbinasa!‖ kata Wanyen Lieh sambil tertawa. Kwee Ceng sementara itu telah melihat. yang untuk itu telah mengeluarkan banyak uang. ―Siapa berani maju!‖ ia berteriak. Ia ini menghalang di depannya Ogotai. Irawan D Soedradjat Page 152 . Segera juga ia ingat pengajaran gurunya yang kesatu: ―Di waktu bertempur mesti mempengaruhi orang tetapi jangan kasih diri kena dipengaruhi. waktu datang pula bacokan. ―Mari kita memikir daya lainnya. Mereka ini pun telah dengar suaranya jiesuko mereka. maka mereka anggap baiklah mereka menonton kakak mereka yang kesatu. Itu waktu Temuchin telah dilindungi dengan dikurung oleh Jebe dan lainnya yang belum terluka. ia lantas tarik pulang goloknya. ―Kau siapa?‖ dia menegur. ialah ia menikam pula. Segera ia dapat kenyataan. Dilain pihak orang-orangnya Sangum hendak bergerak pula. sambil kelit lengannya. Mukhali lantas saja tandalkan goloknya di lehernya Tusaga. Tentu saja di hadapan ribuan serdadu. Kwee Ceng main mundur. saudara yang kedua. Orang ini mengancam ke kanan. akan menonton pertempuran sang kakak tertua.Pendekar Pemanah Rajawali itu. bersedia akan celaka bersama. ―Beritahukanlah she dan namamu!‖ Dia bicara dalam bahasa Tionghoa. kau lihat kepandaiannya toasukomu!‖ berseru orang yang bergenggaman golok itu. yang dipanggil toasuko atau kakak seperguruan yang tertua. Kali ini. Ia pun tidak mengerti cara bersilatnya orang. Kwee Ceng lihat ini ia gunai ketikanya. ia tekuk kaki kirinya dan menikam dari bawah ke atas. sebab ia adalah orang undangannya Wanyen Lieh. Kwee Ceng telah gunai ilmu pedang Wat Lie Kiam pengajaran Han Siauw Eng. tangan kanannya. titahkanlah mereka itu turun!‖ ia mohon kepada Wanyen Lieh. sebaliknya ia menyambut seraya tekuk kaki kanan dan tangan kiri bersiap sedia.

Ia ini cemas juga setelah banyak jurus. ―Teecu mohon tanya suwie empunya she dan nama yang besar?‖ ia terus berbalik menanya empat orang itu. ―Bagus!‖ seru lawan yang bersenjatakan tombak itu. telah banyak pengetahuannya. Setelah berkelit dari bacokan. sedang sebenarnya. yang membokong. sedang tangan kanannya menikam terus ke dada lawannya itu! Bukan main kagetnya si toasuko. Ia tertolong jiwanya tetapi pedangnya toh mampir juga di tangannya. bukan ia mundur. ialah sambil melayangkan kaki kanannya ke bahu musuh. dan ilmun pedangnya pun sudah dapat mendesak musuh ini. Sambil berteriak. ia menikam ke dada pula. berdiam menyaksikan pertempuran itu. Lihat golokku!‖ Ia lantas menyerang. Kwee Ceng dengar pemberian peringatan itu. maka tangan itu bercucuran darahnya! ―Sayang!‖ kata Kwee Ceng di dalam hati. si pemegang golok itu lompat keluar kalangan. ―Teecu adalah muridnya Kanglam Cit Koay. ―Kenapa kau datang kemari untuk antarkan jiwamu?!‖ Kwee Ceng lintangi pedangnya. Di dalam hatinya ia berkata: ―Belum lagi pedangmu tiba. hingga ia melayani musuh muda ini. Diakhirnya. Ia tunggu sampai ujung golok hampir mampir di pedangnya. jeli matanya. Selagi musuh lompat undur. Kwee Ceng sudah tempur orang. taruh kami mengatakannya. terus ia maju pula. ia lepas dan lemparkan pedangnya. Hampir pada itu waktu ada angin menyambar di belakangnya. Ia penasaran sebab ia tahu. Puluhan ribu serdadu musuh. sambil memutar tubuh. dengan tangan kosong ia sampok pedang si anak muda.‖ ia menebas terus tanpa membuat perubahan. Tepat dupakannya ini. ia mendahulukan menikam ke arah lengannya musuhnya. tigapuluh jurus telah dikasih lewat. ia membokong. ia membuatnya tombaknya musuh terpental. ia tahu musuh ingin menerbangkan goloknya. Penyerang bertombak ini menggunai ketikanya yang baik. tanpa membalik tubuh lagi. tikamannya itu dapat dihalau dan ia ditendang. Demikian satu kali. Kembali Kwee Ceng bebaskan diri dengan kelitan ―Dalam mabuk meloloskan sepatu‖. ia mencoba mendesak terus. ia menjadi seperti nekat. ia membacok ke arah lengannya musuh.‖ ia menjawab dengan terus terang. ―Kau muridnya siapa?!‖ ia tegur Kwee Ceng. kau satu anak kecil tentulah tak dapat mengetahuinya. Tenang adanya sikap Kwee Ceng. Ia tidak sangka si anak muda luas pengetahuannya dan gesit. Tidak terkecuali adik seperguruannya si toasuko. terpaksa ia menarik pulang serangannya. katanya: ―Tentang nama kami berempat. ia bersikap tenang. Musuh itu menjadi girang melihat lawan tidak berkelit hanya membalas menyerang. mendadak ia mengegos sedikit. Tapi ia penasaran. ia masih belum bisaberbuat suatu apa. sebat tangannya. dengan sedikit lebih sebat saja. Irawan D Soedradjat Page 153 . Cuma karena kurang pengalaman. juga Temuchin semua. ia mendupak ke belakang.Pendekar Pemanah Rajawali Sebelum berkelahi terus. ia akan dapat tancapkam pedangnya di dada lawannya itu. golokku sudah mengenai tubuhmu. akan tetapi ia adalah muridnya tujuh guru. ―Suwie‖ ialah ―keempat tuan‖. Keras sampokan ini. sebagai gantinya. ia jumput golok musuh yang jatuh di dekatnya. Orang itu menoleh kepada ketiga saudaranya. habis mana. dengan tombaknya itu ia sudah punyakan pengalaman dua puluh tahun………… Kwee Ceng berkelahi sambil matanya melitah dan otaknya bekerja. Kali ini ia gunai bacokan ajarannya Lam Hie Jin. ia gagal. maka itu ia melawan dengan berani. bahwa musuh itu ingin memperlekas kemenangannya. ―Awas!‖ Jebe teriaki muridnya. setelah pedang orang terlepas. sambil mendak sedikit. dengan bengis ia membacok melintang. yaitu jurus ―Burung walet masuk ke sarangnya‖ dari tipu silat ―Lam Sam Too-hoat‖ – ilmu pedang Lam San. Lalu ia berpaling pula. pedang Kwee Ceng terlepas dan jatuh ke tanah. Kwee Ceng lihat pinggangnya terancam tebasan. Ia lihat Kwee Ceng lihay dengan ilmu pedangnya. ia merasa orang ada terlebih terlatih daripadanya. untuk membarengi membalas menyerang. Sebentar saja.

Karena ini ia tampaknya jadi semakin lihay. Kwee Ceng tidak punya senjata. maka di antara satu suara nyaring. mulutnya berteriakan tak henti-hentinya. yang paling muda. Musuh tidak menduga jelek. Karena majunya mereka berdua. Lekas juga senjata mereka dirampas musuh. Kebetulan sekali. tentara Mongolia di kaki gunung menjadi tidak senang. seperti tadi melawan si toasuko. tangan kirinya terbalik. sekarang ini Kwee Ceng ada kesempatan akan pakai ilmu goloknya yang istimewa itu dan ia berhasil. ia mesti berkelahi rapat. Siapa menggunai senjata pendek. Menghadapi lawan yang menggunai tombak ini. demikian ia ini. Sampai disitu. Kwee Ceng angkat tombaknya untuk menangkis. sepasang kampaknya turun dengan berbareng. baru ia kerahkan tenaganya. untuk menghajar punggungnya. Apa yang tidak disangka. Celaka kalau musuh itu tidak lepaskan cekalannya. Orang itu rupanya bersatu pikiran. tiba-tiba perutnya dirasainya sakit. Tapi ini bukan berarti ia berlaku kendor. Si toasuko ini tadinya menyangka orang hanya lihay dengan pedangnya. akan hajar kampak di tangan kiri itu. Segera ia dikepung oleh musuhnya yang ketiga. mulutnya pun perdengarkan seruan. gagang tombak kalah dan kena terkampak patah hingga menjadi tiga potong. tidak tahan sabaran. mereka lantas meluruk kepada anak muda she Kwee ini. yang bersenjatakan ruyung besi itu. ia segera tarik pulang tangannya itu untuk terus dipakai menyikut si jiesuheng. tidak dapat ia rubuhkan atau lukai musuhnya ini. maka itu.Pendekar Pemanah Rajawali Maka ia melawannya dengan sabar dan hati-hati. tak tahunya. Sesudah lewat beberapa jurus. ia lompat kepada toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang. Berbareng ia mental. Ia berhasil. ia batal membacok. mereka tidak menghiraukan lagi Jebe berdua. ia lompat menubruk. hingga dengan begitu ia pun dapat menolongi Jebe. membuatnya orang kewalahan. dia mencoba merapatkan Kwee Ceng. Dengan cara biasa. baru ia bisa mengenai musuh. Ia lantas berdiri diam mengawasi keempat musuhnya itu. maka itu tidak puas mereka menyaksikan empat orang mengepung bergantian kepada satu musuh. karena Tiat Sim adalah keturunan kaum keluarga Yo yang terkenal untuk ilmu tombaknya keluarga Yo. Musuh itu terkejut. dengan putar kampaknya. ia maju menyerang. sebelah kaki Kwee Ceng telah melayang ke perutnya. Diluar dugaannya. ia lompat bangun untuk merangsak pula. mereka adalah orang-orang peperangan biasa. Syukur untuknya. Tapi ia bertabiat keras. Bangsa Mongolia adalah bangsa yang polos dan memuju orang gagah. maka Lam Hie Jin sengaja ajarkan muridnya ini tipu golok melawan tombak. ke arah jari tangan musuh itu. ia agaknya penasaran yang mereka kalah dari satu bocah. kampak itu terlepas dan terpental. Kwee Ceng dapatkan musuh mulai ayal gerakannya. Setelah dapat merampas tombak musuh. malah ia terdumpak mental. mengampak ke arah kepalanya sendiri. dengan tombaknya. ia terus memapas ke sepanjang batang tombak. Lagi beberapa lama. ia gusar dan penasaran. ketika si orang Hwee menebas tangannya. ia lantas menantikan satu tikaman. Berat untuk Jebe berdua. Ia tetap berlaku cepta dan keras. si saudara yang ketiga melompat dengan ruyung besinya. dua musuh lainnya turut maju juga. sia-sia saja dia itu mencoba berulang-ulang. Melihat bahaya itu. ia tertolong dari bahaya maut. ia lantas mendahului lompat mundur. sehingga ia membuatnya si toasuko heran. Tiba-tiba ia merasa tenaga musuh berkurang. repot mereka menghadapi musuh-musuhnya yang lihay itu. Disaat kemenangannya itu. ilmu ini bukan digunai di Kee-hi hanya di sini. guna mempengaruhi musuh. yaitu Yo Kee Chio-hoat. Musuh yang keempat. si pemiliknya sendiri jatuh numprah. Kwee Ceng ada punya satu keuntungan. musuh hendak mengulangi kampakannya. goloknya sama aja. Kwee Ceng lempar goloknya ke bawah gunung. Tanpa ia ketahui. Turut kebiasaan. apapula satu musuh itu bertangan kosong. Kwee Ceng lihat Boroul terancam bahaya. mereka bukan orang kaum Rimba Persilatan. ia mestinya menyampok tombak seraya membarengi membacok. Tapi pemuda kita. Melihat orang main keroyok. Hebat kampaknya itu. Boroul dan Jebe maju untuk membantu Kwee Ceng. ia mencoba mendesak. ia mendesak. sambil membentak. mereka membaut ribut dengan mencaci maki dua pengeroyok itu. ia telah dipertaruhkan akan bertempur sama anaknya Yo Tiat Sim. ia melawan dengan ilmu silat tangan kosong melawan senjata. Irawan D Soedradjat Page 154 . Kwee Ceng menggunai tipu.

Dlam keadaan sangat berbahaya itu. ia diserang oleh musuhnya yang menggenggam ruyung besi hingga goloknya Borchu kena disampok mental. ―Kwee Ceng. kapan ia dengar itu teriakan. ia lantas kena ditubruk musuh yang bersenjatakan kampak. semangatnya terbangun. Kwee Ceng kaget. ―Kamu pegat mereka . Cu Cong dan Coan Kim Hoat lari di paling depan. denagn tangan yang lainnya. Empat musuh itu sudah lantas lompat mundur. mereka pun dibantu oleh dua saudara yang lain. Musuhnya yang ia cekik. ia lompat bangun. Kwee Ceng berkelit dengan berlompat. Irawan D Soedradjat Page 155 . Kwee Ceng tetap bertahan secara demikian. ia roboh bersama-sama musuh itu. kedua matanya pun sudah mulai kabur. ia merasakan sangat sakit. telah rebah diam karena pingsan. pergi kamu!‖ Kim Hoat mengusir. yang telah melepaskan kampaknya itu. yang tak sudi melepaskan pelukannya. ia angkat tubuh orang ke atasan tubuhnya snediri. habis mana ia terus bekerja. untuk membantu saudaranya. Dia ini bersakit hati bekas kena didupak tadi. Tak lama. atau sebatang golok melayang ke arahnya. pasukan tentara kacau sendirinya. ―Bandit-bandit tidak tahu malu. Ia tidak pedulikan orang menendangi pundak atau kakinya. ia dibarengi musuh yang mencekal ruyung besri tadi. dengan dacinnya ia rabu empat batang senjata musuh. ia ingin membalas sakit hatinya. akan kasih muridnya bangun. Kwee Ceng sudah letih betul. habis mana ia lompat bangun.nanti aku bunuh ini bocah haram!‖ kata si suheng yang memegang golok sebatang kepada dua saudaranya. tetapi gerakannya menjadi lambat. kemudian selanjutnya. hanya sekarang ia ubah caranya mencekal. ―Tidak tahu malu!‖ ia membentak. lalu semangatnya bangun. Kwee Ceng insyaf ia berada dalam bahaya. Tin Ok bersama yang lain pun telah tiba. gurumu datang!‖. Syukur untuknya. maka ia jambak dada musuh. terus ia melawan dengan hebat. Tuli dan Gochin. lalu tertampak enam orang bergerak dengan lincah mengacau barisan itu. Cu Cong lompat maju. ia merasakan sakit pada pundaknya. mereka kalah jauh. paha kanannya kena dihajar. yang telah berhasil memukul mundur Jebe berdua. Musuh sudah lantas tiba. untuk membikin dia itu tak dapat bergerak. tangan mereka kesemutan bekas rabuhan senjata aneh dari orang yang baru datang ini. Karena ini. ia menangkis. matanya pun kabur. sedang musuh yang memegang sepasang kampak memberangi mengampak juga. ia mencekik tenggorokan. di bawah bukit. Matanya Jebe sangat tajam. Selagi Kwee Ceng terancam bahaya. terpaksa ia melawan dengan menunjuki kelincahannya. denagn kerahkan semua tenaganya. maju pula untuk membantu kawannya. tujuh gurunya.Pendekar Pemanah Rajawali Segera juga Kwee Ceng terancam bahaya. denagn begitu ia pakai musuh sebagai tameng. Itu waktu. ia berseru. hampir ia rubuh pingsan. denagn sebelah tangan ia memencat nadi musuh. Baharu ia berdiri dengan berniat melawan musuh. ialah main berkelit dengan mengegos tubuh atau berlompatan. ―Ini golok!‖ teriak Borchu seraya ia melemparkan goloknya. Mereka merasa bahwa dalam tenaga dalam. ia lantas kenali enam orang itu. maka tidak ampun lagi. asal aku pun telah membunuh seorang musuh!‖ Jebe berdua yang tadi telah terpukul mundur. ia melakukan perlawanan dengan terus main bergulingan dengan ilmu silatnya ―Kim Liong Pian-hoat‖ atau ―Ilmu cambuk lemas naga emas‖ Musuh yang pingsan telah lantas sadar. Benar saja ketiga musuh lainnya berhenti menyerang karena mereka khawatir nanti mencelakai kawan sendiri. tulang pahanya itu tidak patah. Disaat Kwee Ceng hendak sambuti golok itu. terpaksa ia menggulingkan tubuh sekitar dua tombak. Kim Hoat lompat maju. terus mereka berenam lari naik ke atas gunung. karena tidak mempunya senjata. Ia masih sempat berkelit pula seraya ia angkat kakinya yang kiri untuk menendang musuh yang memegang kampak yang berada paling dekat dengannya. sekali lagi ia roboh. lekas-lekas ia lepaskan itu dari pinggangnya. atau kaki kanannya dirasakan sangat sakit. untuk berdiri. denagn begini Kwee Ceng kembali kena dikepung berempat. sekejab itu ia ingat ibunya. mereka segera tampak murid mereka dalam bahaya. lalu dengan menggulingkan tubuh. Kwee Ceng ingat ia ada punya joan-pian atau cambuk lemas pembela dirinya. Hanya ketika itu. ia telah pikir: ―Biar aku mati.

mereka malu bertemu sama pangeran yang keenam. emapt orang bersaudara mengepung satu musuh. atau ia lantas tampak putranya berada di bawah ancama maut. malah sebaliknya. Irawan D Soedradjat Page 156 . dengan mengincar Sangum. Juji dan Jagatai sudah lantas mendahulukan menerjang ke bawah. ia rubuh terjungkal dari kudanya. ―Liok-wie. punggung Ceng Kong kena dijambak. tanda dari datangnya beberapa ribu serdadu. ―Siapakah tuan berempat?‖ ―Kami adalah empat muridnya Kwie-bun Liong Ong. cepat luar biasa. tetapi Kwa Tin Ok dapat mendengarnya. kenapa kamu merendahkan diri begini rupa. ―Pasti kamu berdusta!‖ bentak Tin Ok. Kwa Tin OK dan Cu Cong mulanya menyangka orang adalah orang-orang yang tak bernama. sebab mereka itu main keroyok. merayap bangun dengan muka penuh debu dan seluruh badan dan pinggangnya sakit bekas jatuh terbanting dan bergeluntungan. ―Inilah toasuheng kami. tubuhnya terus mencelat. ia memanah. malah Jebe sudah lantas saja turun tangan. tidak urung pipi kanannya kena tertancap anak panah. Sementara itu rombongannya Temuchin sudah sampai di bawah bukit. satu demi satu. batang leher siapa ia tandalkan goloknya. Tentu saja. putra itu tak dapat berkutik. tentaranya menjadi kaget dan kalut sendirinya. ―Tidak salah!‖ sahut Cu Cong tertawa. ia menunjuk ke kiri ke pasukannya Sangum itu seraya berseru: ―Mari menerjang ke sini!‖ Jebe berempat dengan Borchu. maka terkejutlah mereka mengetahui empat orang itu adalah murid-. Tibatiba ia menekan denagn tongkatnya. Temuchin menampak datangnya bala bantuan. Toan-hun-to Sim Ceng Kong! Ini jiesuheng Tiwi-beng-chiop Gouw Ceng Liat! Ini samsuheng Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong! Dan aku sendiri. mereka maju untuk menolongi. tetapi mereka tidak berdaya.‖ sahut si toasuheng.Pendekar Pemanah Rajawali Si toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang menebali muka. yaitu Hong Ho Su Koay. Itu waktu terlihat debu mengulah naik. Ia tahu pihaknya tak berdaya tetapi mereka malu untuk lari turun gunung. ia menjadi tergugu. yang masih merasakan sakit pada tenggorokannya. mengetahui Jamukha lihay dan Sangum hanya mengandal kepintaran ayahnya. maka itu. ―Siapa bilang kami berempat mengepung satu orang?!‖ katanya. ―Bukankah di sini ada banyak orang Mongolia yang membantu padanya?‖ Cian Ceng Kong pun tanya Ma Ceng Hiong: ―Samsuheng.muridnya Kwie-bun Liong Ong. ia berkelit ke kiri. ―Benarlah kau adalah Hong Ho Su Koay! Kamu cukup ternama. aku Song-bun-hu Cian Ceng Kian!‖ ―Kedengarannya kamu tidak berdusta. ia berteriak-teriak: ―Lekas buka jalan! Lekas buka jalan!‖ Sangum menyaksikan musuh menerobos turun. hendak ia memegat.‖ berkata Tin Ok pula. ―Kwie-bun Liong Ong bernama besar. hingga tak tahu ia harus mengambil tindakan apa. maka tak ampun lagi. mana bisa murid-muridnya ada bangsa tak berguna seperti kamu!‖ ―Siapa berdusta!‖ berseru orang ynag dicekik Kwee Ceng tadi. tentaranya Sangum menjadi kecil hatinya. adakah kamu Kanglam Liok Koay?‖ ia tanya enam orang itu. ini buta dan pengkor sangat berlagak. maka tidak ampun lagi. karenanya. siapakah dia?‖ Ceng Kong menanya perlahan sekali. seorang bocah! Dialah muridku!‖ Gouw Ceng Liat membelar. sebelah tangannya menyambar. terus dilemparkan ke bawah gunung! Tiga pengepung lainnya menjadi kaget. Mukhali kaburkan kudanya denan ia peluki Tusaga. menampak demikian. Syukur mereka tidak patah tangan dan kaki atau singkal batang lehernya. ia menjadi mendongkol. darimana pun terdengar seruannya bala bantuan. sembari turut menerjang. mereka juga kena dilempar-lemparkan si Kelelawar Terbangkan Langit! Tentara Mongolia di atas bukit bersorak-sorai menyaksikan keempat saudara itu. Sangum terperanjat.

Malam itu Temuchin membuat pesta dengan semua panglima dan tentaranya diberi hadiah. putra keempat Temuchin. tak dapat kita melawan dia dengan terang. yang aku minta supaya tidak menjadi berkecil hati. Tusaga terbinasa terinjak-injak kuda tentara. Aku pun akan mengantar bingkisan kepada ayah dan saudara angkatku itu. Empat Siluman dari sungai Hong Ho. Tuli masih muda.Pendekar Pemanah Rajawali Temuchin ajak rombongannya kabur terus. Temuchin hanturkan tiga cawan arak kepada putra Sangum itu. akan tetapi mereka dirintangi panahnya Jebe dan Borchu beramai. dari itu debu menjadi mengulak besar dan musuh menyangkanya bala bantuan lawan ada berjumlah besar sekali. rombongan ini bertemu sama bala bantuan. itulah untuk membuatnya tidak bersiaga. tetapi terpaksa mereka berdiam saja. Bukankah ia telah tidak dibunuh? Maka ia berjanji akan meyampaikan permohonan maaf dari Temuchin itu. Adalah tengah mereka berpesta malam ketika mendadak datang serangannya Temuchin. ―Wang Khan banyak tentaranya. yang sembari menyingkir telah menoleh ke belekang dan sabansaban menyerang denagn panah mereka. serdadu kita sedikit. Di sana mereka kemudian terbinasa di tangan bangsa Naiman dan Liauw Barat.‖ menjelaskan Temuchin. Irawan D Soedradjat Page 157 .‖ Baharu semua panglima itu sadar. yang hatinya mendongkol. ia tahu jumlah musuh terlebih besar. Temuchin kumpulkan orang-orang peperangannya. Hong Ho Su Koay.‖ Tusaga girang bukan main. Semua orang menjadi bertambah heran dan mendongkol menyaksikan Khan mereka yang besar menjadi demikian lemah dan jeri terhadap Wang Khan. dari itu. Wang Khan bersama Sangum kabur ke barat. maka itu mereka lantas menggabungkan diri. mereka jadi sangat mengagumi Khan mereka itu. mereka itu lihat Tusaga diundang duduk bersama di meja pesta. kepala-kepala suku dan panglima-panglima Temuchin tidak suka dengar titahnya. ―Kita mesti membokong padanya! Aku merdekana Tusaga dan mengirim bingkisan. Wang Khan dan Sangum dilain pihak girang melihat Tusaga pulang dengan selamat dan Temuchin pun mengirim bingkisan. mereka jamu Wanyen Lieh dan Jamukha. berbareng dengan itu ia mengirimkan dua buah kereta yang berisikan emas dan kulit tiauw. Heran semua panglima itu. yang pun datang bersama sejumlah serdadu. Temuchin bertemu bersama Gochin. ialah barisannya Tuli. ―Maka itu aku persilahkan kau pulang untuk menyampaikan maafku. Dengan mendadak ia perintahkan mereka itu kumpulkan tentara mereka. Sesudah melalui beberapa lie. tanpa berdaya mereka pada melarikan diri. ia datang dengan cuma bersama itu beberapa ribu serdadu anak-anak muda. Di tengah jalan pulang. Ada beberapa ratus musuh yang mengejar. yang bisa menerobos kepunganm telah lindungi Wanyen Lieh kabur pulang ke Tiongtouw (Pakkhia). Tiga hari sepulangnya Tusaga itu. Besok harinya Temuchin kirim sepuluh serdadunya mengiringi Tusaga pulang. yang mereka layani dengan hormat. ―Sekarang juga kita menyerang Wang Khan!‖ demikian titahnya.‖ ia berkata kepada putranya Sangum itu. Mereka menjadi kaxau. Hanya untuk herannya semua orang. ―Aku tidak bermusuh dengan ayah Wang Khan dan saudaraku Sangum. ia perintahkan semua serdadu mengikat cabang pohon diekor masing-masing kuda mereka. mereka tidak bercuriga.terangan. maka di dalam tendanya. mereka melongo. Segera mereka bertindak maju dalam tiga pasukan. Kanglam Liok Koay turut mundur dengan Lam Hie Jin yang memondong Kwee Ceng. mereka menyangka Temuchin jeri. hanya ia telah didulukan Kanglam Liok Koay. Putri ini girang bukan main melihat ayahnya semua tidak kurang satu apa pun. walaupun ia adalah satu pangeran. dan diperlakukan sebagai tamu agung. Tapi ia cerdik.

semacam kapten dari seribu serdadu. ―Meskipun saudara suka memberi ampun padaku. yang ia awasi. ―Baiklah. ―Aku serahkan Putri Gochin kepadamu!‖ berkata Jenghiz Khan. semuanya menyunjungnya. mulutnya bungkam. Liep Peng terdiam. Maka anehlah satu bocah umur belasan tahun. ―Kenapa enso menjalankan kehormatan besar ini? Harap enso lekas bangun!‖ . dia lari ke gunung Tannu. Maka keget iamendengar hadiah Khan yang maha besar itu. Kanglam Liok Koay lantas datang. aku minta sudilah kau memberi kematian tak mengucurkan darah padaku. mereka girang. tetapi ia gusar. ―Mulai besaok kau adalah Kim-to Hu-ma!‖. habis itu ia putar tubuhnya untuk bertindak keluar kemah. tak ia pikirkan lainnya soal apa pula soal jodoh. dijadikan cian-hu-thio juga. aku sendiri tidak mempunyai muka akan hidup lebih lama pula di dalam dunia ini. ―Saudara. artinya Khan yang besar dan gagah bagaikan pengaruhnya lautan besar. di sana selagi ia dahar daging kambing. dalam keadaan seperti itu. ia kata: ―Apakah tetap kita menjadi sahabt-sahabat kekal?‖ Jemukha mengucurkan air mata. lalu mereka memberi selamat kepada Kwee Ceng. Empat pahlawannya yakni Mukhali. ia perintahkan hukum mati pada kelima pengiring itu. atau Khan terbesar dari Mongolia. Ia lagi mengutamakan ilmu silat. Mereka juga berseru-seru: ―Kimto Hu-ma! Kim-to Hu-ma! Bagus! Bagus!‖ ―Kim-to Hu-ma‖ itu berarti menantu raja golok emas. akan tuturkan hadiah dari Jenghiz Khan itu. Hanya sekarang ada satu hal sulit untuk mana aku mohon pertimbangan dan keputusan suhu beramai. ia kata kepada Kwee Ceng: ―Anak yang baik. ia berseru: ―Serdadu pengiring pemberontak dan berkhianat kepada majikan! Apakah gunanya akan mengasih hidup kepada orang-orang tak berbudi begini?‖ Di depan Jamukha sendiri. Setelah pesta bubar. mereka lantas memberi selamat kepada nyonya Kwee itu. semua orang tertawa padanya. supaya rohku tidak mengikuti darahku dan meninggalkan tubuh ragaku…. Kwee Ceng lantas cari ibunya. Semua panglima bersorak. menggodainya. soal asmara.‖ berkata nyonya ini. Besoknya Temuchin mengadakan rapat besar di datar sungai Onon. Kwee Ceng yang dianggap jasanya paling istimewa. Bukankah murid mereka sangat dihargai oleh Khan dan peruntungannya bagus sekali? Lie Peng berdiam sebentar. nanti aku kubur kau di tempat di mana dahulu hari. terus ia dibawa kepad Temuchin. ―Coba undung gurumu semua!‖ titahnya kemudian. Ketika itu namanya telah naik tinggi sekali. tak mau ia lekas-lekas melepaskannya. Dalam pesta itu Jenghiz Khan minum banyak arak hadiah dari pelbagai panglimanya. Tuli sangat kegirangan sehingga ia merangkul Kwee Ceng erat-erat. aku akan menghadiahkan pula kepadamu sesuatu yang aku paling hargakan!‖ Kwee Ceng sudah lantas berlutut untuk menghanturkan terima kasihnya. ia pun bingung. Si anak muda sebaliknya berdiam diam. ―Budi ini tak dapat aku balas walaupun tubuhku hancur lebur.‖ ia menyahuti. Maka di dalam rapat besar itu ia telah diangkat menjadi Kha Khan. tetapi sebagai adik. semasa kecil. kita bermain bersama…‖ emukha memberi hormat sambil berlutut. tubuhnya terpaku. Selagi ia tercengang. sehingga mereka itu menjadi heran. Apabila mereka mendengar hal pertunangan itu. lalu tiba-tiba ia berlutut di depan enam manusia aneh itu.‖ Temuchin berdiam sekian lama.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha kehilangan tentaranya. Jelmi dan Subotai. ―Akan aku menghadiahkan kau kematian tak mengalirkan darah. Borchu. diangkat menjadi cian-hu-thio.‖ 158 ―Ada apa. Boroul dan Chiluan serta Jebe. maka rakyat dan orang peperangan dari pelbagai suku tak ada yang tak tunduk kepadanya.‖ berkata ia kemudian. pangkatnya sama dengan satu pahlawan panglima yang berjasa. bukan sebagai kekasih. Temuchin terima orang tawanan itu. Irawan D Soedradjat Page ―Aku ada sangat bersyukur yang suhu beramai sudah didik anakku ini sehingga ia menjadi seorang yang berharga. dia ditawan oleh tentara pengiringnya. enso?‖ mereka tanya. Ia menyukai Gochin. Kepada Jamukha. dengan gelaran Jenghiz Khan. Di sini Jenghiz Khan membagi hadiah besar.

―Seoarng sahabat di Tionggoan mengabarkan kami dengan sepucuk surat. di atasan kepala mereka terlihat dua ekor burung rajawali kepala putih terbang berputaran. Irawan D Soedradjat Page 159 . ―Maka itu. Ia harap. Jenhiz Khan menerima baik.‖ Mendengar itu. ia pesan pula: ―Sekarang ini kuda kita belum terpelihara gemuk dan tentara kita belum terlatih sempurna. Baharu mereka jalan sepuluh lie lebih. ―Kalau aku menyangkal janji ini. yang tidak mengerti ilmu enteng tubuh. kendati kedudukan anakku mulia sekali. Di hari ketiga. Oey Yong ―Anak akan pergi bersama keenam guruku. cuma kulit mukanya menjadi bersmu merah. ia tentu bakal berhasil. ―Bagaimana suhu ketahui itu?‖ menanya Lie Peng kaget. untuk memberitahukan tentang niat perjalanannya itu. Ia setuju anaknya itu diajak pergi. ―Bagus. lalu terlihat Tuli datang bersama Gochin dengan dua saudara itu merendengi kuda mereka. berepa banyak pengiring yang kau butuhkan?‖ Bab 15. tak usah anak membawa pengiring.‖ Cu Cong kasih keterangan. Kwee Ceng berangkat bersama guru-gurunya. ia mengawasi mereka itu. yang pun adalah barang rampasan dari Wang Khan. putra keenam raja Kim! Untuk melakukan pekerjaan besar itu. aku malu sekali. Lalu tujuan mereka adalah selatan. Lie Peng heran. untuk ongkos di jalan. Bagaimana nanti suamiku dan aku menemui paman Yo dan istrinya itu di dunia baka?‖ Mengdengar keterangan. Lie Peng sangat girang. Lebih dahulu mereka sambangi kuburannya Thio A Seng. Setelah mendapat keputusan.‖ menerangkan Cu Cong lebih jauh. sedang membawa pengiring-pengiring. guna menuntut balas. Gochin datang menemui bakal suaminya itu. melainkan menambah berabe saja. mana dapat ia menjadi hu-ma?‖ kata si nyonya kemudian. ―Sekalian kau pulang nanti bawalah juga kepalanya Wanyen Lieh. untuk ambil selamat berpisah dari rohnya guru almarhum itu. baharu Kwee Ceng nanti menikah dengan Gochin. yang sangat membenci bangsa Kimn itu. sekalian anaknya itu mencari Toan Thian Thek. yang tunangkan anak-anak mereka sebelum anak-anak itu lahir. Kwee Ceng menghadap Jenghiz Khan. Jenghis Khan lantas hadiahkan baba mantu itu uang emas tigapuluh tael. untuk membinasakan Wanyen Lieh. melainkan pria. sedang Kanglam Liok Koay dipersen barang-barang emas dan berharga bekas rampasan dari Wang Khan. Memang semenjak kecil ia telah diempos ibunya. setelah pamitan dati ibunya dengan keduanya mengucurkan air mata. Sepulangnya dari perjalanan itu. untuk mereka menguji kepandaian silat mereka. Tuli memberi bingkisan sepotong baju bulu tiauw yang mahal. Ia senang sekali dengan easn Khan ini. Ia anggap dengan pergi bersama guru-gurunya. Kanglam Liok Koay tertawa. akan tetapi ia tidak dapat berbicara.‖ sahut Kwee Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali Lie Peng tuturkan keputusan suaminya almarhum dengan Yo Tiat Sim. kau pergilah!‖ Khan itu setuju. maka itu kau harus bekerja baik-baik supaya kau tidak meninggalkan bekas-bekas!‖ Kwee Ceng memberikan janjinya. kita belum dapat menandingi negara Kim. ―Orang she Yo itu benar telah memperoleh keturunan tetapi bukannya perempuan. ―Sahabat itu pun mengharap kami mengajak anak Ceng ke sana untuk menemui putranya orang she Yo itu.

. terus mereka bertindak ke dalam rumah makan itu. untuk terus beritahukan hal kudanya mengeluarkan keringat darah. ―Ada pesan lagi?‖ ia menanya. Pada suatu hari hampir tiba di Hek Sui Ho. setelah mana. terang mereka itu mengerti silmu silat. ia pondong tubuhnya. Kwee Ceng lantas merasakan suasana bertukar. Syukur unttuknya. ia bawa tangannya yang berlepotan darah itu ke arah matahari. kupingnya bocah ini mendengar mengalunnya kelenengan unta. Kwee Ceng dekati itu putri. Selang beberapa lama. ―Eh. Masih enam guru itu tak nampak. Ia lantas dengar mereka itu berbicara satu pada lain. bukan sebagai satu tunangan. tak jauh lagi dari Kalgan. Ia dekati kuda Kwee Ceng. Tanpa merasa. ia ambil sabuk dengan apa ia menyusuti. siang jalan. wajahnya pun bersemua dadu. Tidakkah kuda itu bercelaka diluar keinginannya? Maka ia rangkul leher kuda itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Adikku. terus ia larikan kudanya. ia raba punduknya kuda itu. Dari gerak-geriknya mereka itu. Kwee Ceng menoleh. inilah keringat!‖ serunya. sekarang ia mulai tiba di Tionggoan. Kwee Ceng merasa kasihan melihat kudanya yang kecil itu lari demikian keras hingga bermandikan keringat. akan mengawasi ke jalan besar darimana tadi ia datang. barulah ia pesan: ―Kau mesti lekasan pulang…. membikin kudanya itu lari pesat. ―Ada keringat merah?‖ Irawan D Soedradjat Page 160 . Adalah satu kawannya menjadi tidak senang. ia menjadi likat. Ia malu sendirinya. Kwee Ceng tercengang. maka berulangkali ia menoleh dan menoleh pula. ia menjadi mengawasi. Han Po Kie. ia dapatkan tibanya Han Po Kie. Ia pun menjadi tertarik dan heran akan mendapatkan keempat penunggangnya semua masih muda-muda. Tiba-tiba saja ia menjadi kaget. Ia sempat berpikir untuk menukar tempat singgahnya. Disamping pakaian mereka yang putih. lekaslekas ia tunduk. Kwee Ceng terperanjat. yang sudah berjalan jauh juga. mungkin baru berumur duapuluh dua atau duapuluh tiga tahun. tentu orang tengah menertawainya. ia dapatkan pemandangan mata yang lain. ia lihat mendatanginya empat ekor unta bulu putih. Lalu ia pun saling rangkul dengan Tuli itu. ia gencet perut kudanya. ―Keringat?‖ ia menanya. di leher mereka itu terlihat bulu rase. Sabuk itu menjadi merah seluruhnya. lekas-lekas ia melengos. aku tak akan mendengarinya!‖ berkata Tuli sambil tertawa. Ia tidak melihat guru-gurunya. keempat penunggang unta itu lompat turun dari punggung masing-masing untanya. tidak ada tanda-tandanya terluka. untuk menjauhkan diri. Gochin menggelengkan kepalanya. ―Ini bukannya darah. Hampir ia mengucurkan air mata saking menyesal sudah menyiksa kudanya itu. Ia mengawasi sekian lama. untuk menghibur. entah apa yang mereka bicarakan itu. Gochin menoleh. keenam gurunya ajak dia menuju ke timur selatan. kau bicaralah dengannya. Belum pernah ia melintas dari gurun.‖ Kwee Ceng mengangguk. Kwee Ceng sendiri berjalan terus. Ia lari kepada gurunya itu. sebaliknya. ia hajar kudanya hingga binatang itu lari berjimpratan. ―Begitu?‖ tanya guru itu heran. yang penunggangnya pun berpakaian serba putih putih . Setibanya di depan restauran. penuh dengan darah. Saking masgul. Segera juga mereka melintasi tanah datar gurun pasir. Gochin melongo. habis itu mereka tertawa riuh. terus ia bawa kepada Tuli. Mereka itu pria semua. supaya guru itu suka tolong mengobati kudanya itu. yang ketinggalan jauh. Kuda itu sebaliknya nampak segar bugar. tangannya itu juga menjadi merah. bocah kau awasi apa?‖ ia menegur. Belum pernah Kwee ceng melihat unta-unta yang begitu bagus. Ia mengharap-harap segera tibanya gurunya yang ketiga. Apabila ia mengawasi. ia masih belum dapat bicara. Ia dapatkan sikap Kwee Ceng sama seperti biasa. habis mana ia larikan kudanya guna menyusul keenam gurunya. dan semuanya pun beroman tampan. Satu pemuda melihat Kwee Ceng mengawasi padanya. lalu tiba-tiba ia tertawa lebar. Tempo ia meraba kudanya dengan tangannya. disebuah rumah makan di tepi jalanan. Maka lekas sekali tibalah ia di Hek Sui o. malam singgah. hatinya menjadi tawar.

ke Barat itu. keempat pemuda serba putih itu juga memperhatikan cerita itu. sekembalinya ke negerinya. Dipihak lain. di tanah barat. terus dibunuh.Pendekar Pemanah Rajawali Po Kie tidak sahuti muridnya itu. darisana ia meminta rajanya mengirim pula bala bantuan. yang tertarik denagn cerita kakak angkatnya itu. untuk menjaga. ―Anak Ceng. Tentu itu baru cerita saja.‖ tanya Cu Cong sehabis ia minum pula tehnya. ―Dulu pernah aku dengar keterangannya guruku. Lie Kong kalah oerang. ―Mana mau dia sudah begitu saja. Tapi Ferghana adalah negera gurun pasir. sebesar kuda biasa. emas dan kuda emas itu dirampas. ia kirim utusan membawa pedang.‘ Utusan Han itu menjadi gusar. terpaksa ia menunda di Tun-hong itu. sebelum mencapai tempat tujuan. ―Turut katanya guruku itu. ketika kemudian kuda biang itu mendapat anak. Kuda liar itu kena terpincuk. kau telah dapatkan han-hiat po-ma. ―Benar!‖ berkata Cu Cong. Kaisar menjadi kagum. Utusan itu diberi tugas dan kekuasaan: Panglima atau serdadu mana saja yang pergi berperang benani memasuki kota Gak-bun-kwan itu. Tapi orang Ferghana telah mendapat satu akal bagus. ―Shatee.‖ sahut Po Kie. ialah kuda istimewa dengan keringat seperti darah. belum pernah ada yang melihat buktinya. dia mengatakannya: ‗Kuda itu adalah kuda pusaka negara Ferghana. Mereka lantas beritahukan tentang kuda berkeringat merah itu. lalu tertampak datangnya lagi empat penunggang unta seperti empat yang pertama itu. ia terpaksa mundur ke Tun-hong. terus ia pulang. Kaisar Han Bu Tee.‖ kata Cu Cong. ―Ketika dahulu hari itu bangsawan Pok-bong-houw Thio Kian diutus ke Tanah Barat. dia mesti dihukum mati! Lie Kong menjadi serba salah. Melihat mereka itu. tak ada rangsum dan air disana. ingin ia mempunyai kuda itu. rombongannya Tin Ok tiba. po-ma terlahir dari perkawinan kuda rumahan dengan kuda liar!‖ sahut Po Kie. di negara Ferghana itu ada sebuah gunung di dalam mana kedapatan sebangsa kuda liar. satu hari dapat menempuh jarak seribu lie. yang dapat lari seperti terbang. Dan mereka dua rombongan lantas duduk bersama-sama. yang disebut kuda langit. di Ferghana dia telah melihat seekor kuda hanhiat po-ma itu. untuk dipakai menukar dengan kuda istimewa itu. Mereka itu muda dan tampan dan pakaiannya serba putih seprti rombongan yang pertama. hingga orang liar tidak dapat mengejarnya. ke kota Gak-bun-kwan. dia perintah menawan utusan itu. dia kawin dengan kuda pancingan itu. apa dia mau sudah saja?‖ menanya Han Siauw Eng. ia memberitahukannya kepada rajanya. anak kuda itu ialah po-ma tersebut. ia hajar rusak kuda emas itu. almarhum. Anak Ceng. Raja Ferghana menolak permintaan itu. Ia bergirang sebab kudanya tidak terluka. hanya dengan bersemangat ia kata. ―Menurut kitab. takukha kau darimana asalnya po-ma?‖ ―Menurut keterangan guruku.‖ Ketika itu terdengar pula kelenengan unta. punduk kuda itu mengeluarkan keringat merah seperti darah. Raja gusar. ―Tentang itu ada ditulis jelas dalam Kitab Hikayat dan Kitab Jaman Han. ia luas pengetahuannya. bahwa kuda itu keras larinya. mungkin sekali kudamu itu adalah keturunan dari kuda Ferghana itu. ―Bagaimana dengan Kaisar Han Bu Tee itu. yaitu di daerah Ferghana.Pada suatu malam hari musim semi.‖ berkata Cu Cong. kenapa dia mengeluarkan keringat bagaikan darah?‖ ia menegasi. Ia heran akan mendengar halnya hanhiat po-ma. terus ia kirim utusan membawa emas seribu kati serta seekor kuda-kudaan emas. ada kedapatan sebangsa kuda liar biasa. jadi kuda itu tidak dapat dihadiahkan kepada bangsa Han. Untuk itu. mengumbar tabiatnya. ―Dia lantas perintah Jenderal Lie Kong mengepalai beberapa laksa serdadu pergi ke Ferghana untk mendapatkan kuda itu.‖ Kwee Ceng berseru heran. Cu Cong adalah seorang sastrawan. Kwee Ceng heran. yang masuk ke dalam restauran. mereka lepas satu ekor kuda betina yang berwarna lima di kaki gunung. ―Suhu. Lie Kong diangkat menjadi jenderal istimewa. Cu Cong menghirup air tehnya. ―Kau ahli pemelihara kuda. yang untuk seribu tahun sukar didapatkan!‖ Kwee Ceng heran dan girang. ―Kemudian bagaimana?‖ tanya murid itu. selama perjalanan banyak tentara terbinasa. Raja Ferghan pun gusar. pasukan tentara itu tinggal hanya tiga bahagian. Irawan D Soedradjat Page 161 .‖ Selagi guru dan murid ini berbicara.

mengapa mereka jadi begini galak dann telengas?‖ tanya ia dalam hatinya. mereka kasak-kusuk tetapi kupingnya Kwa Tin Ok lihay. Pula dua ahli kuda diberi pangkat tinggi. Mereka pun serahkan kuda yang diperebuti itu. ia khawatir bangsa lain memendang enteng bangsa Han. mereka berontak. siapa dapat mengubarnya?‖ ―Tapi disini ada banyak orang lain dan ia pun ada kawan-kawannya…‖ kata seorang yang lain. mereka melanjuti memasang omong sambil dahar mie. ―Setelah mendapatkan kuda jempolan ini.‖ berakta satu pemuda. Ia berdiam saja. Maka ia mengerahkan pula lebih daripada duapuluh laksa serdadu. baba-baba mantu dan kaum pedagang. ―Kali ini Lie Kong memimpin angkatan perang yang besar itu. ―Kalau kita hendak rampas kuda itu. dengan begitu delapan pemuda itu menjdai tidak bercuriga. maka selang beberapa turunan. Delapan pemuda itu duduk jauh-jauh. maka kalau mereka dapat lihat kuda ini. hingga negera menjadi gempar. siapa kesudian dipungut mantu?‖ Cu Cong menjawab. tetapi tak tahu ia perihal Som Sian Lao Koay.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong melanjuti ceritanya: ―Kaisar Han Bu Tee tidak puas.tentunya dia menjadi semakin terang mukanya! Pasti seklai Som Sian lao Koay dari Tiang Pek San dan Leng Tie Sianjin jago Bit Cong Pay dari Tibet tak dapat menangkan keagungannya…!‖ Tin Ok berpikir. kepala raja diserahkan. Cu Cong berkata pula: ―Kuda langit menjadi kuda jempolan sebab perkawinannya dengan kuda liar.‖ berkata seorang pula. raja sangat girang. Lie Kong pulang dengan kemenangan besar.‖ Mendengar cerita itu. kalau kau hidup di jaman Kaisar Han Bu Tee. Masih ia khawatir tentaranya itu belum cukup. sebaliknya dengan shatee. agaknya mereka sangat tertarik. Kaisar Bu Han Tee sudah kerahkan kekuatan seluruh negeri untuk mendapatkan beberapa ekor kuda itu tapi kemudian ia tidak mendapatkan kuda liar. yang dianggap melainkan naga yang pantas menjadi kawannya…. kita menghadiahkannya kepada San-cu. mereka hendak bikin apa di sana? Delapan wanita ini. delapan pemuda itu mengawasi kudanya Kwee Ceng. ―Orang lihay itu pergi ke kota raja. Hu Thian Pian-hk Kwa Tin Ok menjadi heran sekali. ―Katanya mereka adalah bawahannya Cian-ciu jin-touw Peng Lian Houw. kuda dan rangsum tak terhingga banyaknya. cukup dengan satu kali turun tangan. entah berapa banyak jiwa sudha melayang.‖ berkata seorang muda yang lainnya lagi. yang pun sangat kejam. ia merasa malu. Ia pernah dengar namanya Leng Tie siangkin. apeslah kau. tugasnya ialah nanti sesudah Ferghana dipukul pecah mereka mesti memilih kuda jempolan. untuk seekor kuda po-ma itu. mana kita dapat kebagian?‖ Irawan D Soedradjat Page 162 Tentang Peng Lian Houw ini Tin Ok ketahui dengan baik. kerajaan Han itu mengutamakan tani dan sebaliknya memandang enteng bangsa saudagar. Dengan kalah perang. ―Pembunuh Ribuan Jiwa‖. Kaisar mengadakan satu pesta besart. kita bunuh saja semua!‖ kata seorang lagi. seorang paderi kenamaan dari Tibet itu. ―Dengan menungggang kuda ini. ia dapat mendengar jelas pembicaraan mereka. ―Siapa miskin dan tak punya sanderan. maka juga dia dapat gelarannya itu. Orang-orang peperangan yang lainnya pun turut kenaikan pangkat. ia perintah mengarang syair untuk memuji kuda langit itu. Akhirnya kaum ningrat Ferghana menjadi ketakutkan. dia bisa memangku pangkat! Ha ha ha!‖ ―Dan baba-baba mantu itu. Untuk lebih daripada empatpuluh hari. rajanya dibunuh. ―Satu kali kita sudah naik atas punggung kuda itu. pamong praja rendah. Banyak panglima musuh terbinasa. semua kuda itu tak lagi menjadi po-ma dan keringatnya pun tidak merah…‖ Habis Cu Cong bercerita. ia sengaja berpaling ke luar rumah makan. Lioktee. dia di anugrahkan menjadi bangsawan Hay-see-houw. San-cu pergi ke kota raja. Mereka mohon menakluk. ia kurung dan serang kota musuh. ia menambah dengan semua orang hukuman. yang lainnya menjadi Cit-ma Kauw-oet. setahu berapa banyak uang sudah dikorbankan. Merek aitu tentu hendak berkumpul juga di kota raja. yang dijadikan serdadu. apakah salahnya mereka?‖ Siauw Eng menanya. ialah satu menjadi Kie-ma Kawm-oet. Dialah kepala penjahat paling berpengaruh untuk wilayah Hopak dan Shoasay. ―Dalam beberapa hari ini di tengah jalan kita menemui tak sedikit sahabat dari Jalan Hitam. ―Mereka berdelapan wanita semuanya. ―Jikalau kawannya berani membantui. Ia terus memasang kupingnya. Maka ia berpikir. ia siapkan serbau. siapakah mereka?‖ .

Orang itu tertawa.‖ kata satu orang. ―Dia juga cnatik sekali. Mendengar pembicaraan itu. baharulah heran anadikata San-cu melihat dia dan tidak menjadi kerindu-rinduan…‖ Tin Ok tahu Siauw Eng yang menjadi bulan-bulanan. Tin Ok mendongkol berbareng merasa lucu. ia percaya orang yang dipanggil ―San-cu‖ itu atau ―majikan gunung‖ mestilah bukan orang baik-baik. supaya orang-orang kosen di kolong langit ini ketahui kegagahan kita dari Pek To San. maka itu haruslah kita waspada. Seorang berkata pula: ―Menurut katanya San-cu. jangan seperti Hong Ho Su Koay yang sial dankalan itu. ia tanya adiknya yang kedua: ―Jietee. maka itu adalah sangat aneh yang mereka kabarnya roboh ditangannya satu bocah umur belasan tahun…‖ Satu kawannya menyahuti: ―Ada orang bilang bocah itu pandai ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw.‖ berkata pula seorang yang lain.Pendekar Pemanah Rajawali Mendengar terlebih jauh. jangan kau mencari muka dari San-cu dan hendak mati-matian mencarikan nona manis untuknya…!‖ memperingati satu kawan. Ada yang kata ―San-cu paling sukai kamu!‖ Ada yang membilang. ―Kira-kira. guna menakluki orang kosen. untuk di Liongsee dan Tiong-ciu. San-vu bakal menghadiahkan apa kepada kita?‖ berkata satu orang. mereka pun bergurau. ia tidak menyahuti. Habis dahar mie. yang berarti Gunung Unta Putih. ―Kali ini kita datang ke Tionggoan untuk mengangkat nama. delapan pemuda itu. Tin Ok tunggu sampai orang sudah pergi jauh. yang Tin Ok mengatakannya pemudi-pemudi. ―Kalau kita menghadiahkan kuda ini kepada San-cu. Ilmu itu mana dapat dikuasai tanpa penyakinan belasan tahun? Anak umur belasan tahun mana mempunyakan semacam ilmu silat itu?‖ Diam-diam Tin Ok puas yang murid mereka dapat mengalahkan Hong Ho Su Koay. karena tubuhnya Hong Ho Su Koay itu masing-masing meninggalkan beberapa bekas cengkeraman…‖ ―Maka hati-hatilah kau!‖ tertawa satu kawannya. mereka itu tertawa. Tin Ok mendapat kepastian mereka itu hendak merampas kudanya Kwee Ceng. ada dari partai mana. Hong Ho Su Koay adalah murid-murid paling disayangi oleh Kwie-bun Liong Ong. ―Jangan kita membocorkan rahasia sendiri…!‖ ―Wanita itu membawa pedang. Habis mengambil keputusan. delapan pemuda itu berlalu dengan cepat bersama untanya. maka tidaklah kecewa didikan mereka selama sepuluh tahun lebih ini. yang kembali ke urusan kuda. ia menajdi sebal…. coba dia lebih muda sepuluh tahun. ―Kita harus berhati-hati. dia tentu mengerti ilmu silat. namanya sangat kesohor. Yang seorang tertawa dan berkata: ― Pasti San-cu menghendaki kau menemani ia tidur untuk beberapa malam…! ―Kurang ajar!‖ membentak kawan yang digoda itu dan hendak mencubit. ―Diwaktu begini tentulah San-cu lagi menantikanmu!‖ maka ia menjadi mengerutkan keningnya. ―Hanyalah tidak tepat untuk menyiarkan berita anak ceng mengerti Kiu-im Pek-kut Jiauw. coba kau terka. ―Awas. yang menyebabkan orang tertawa hingga giginya copot!‖ Tin Ok tidak tahu Pek To San itu. ia mendongkol. Merek ahendak pergi lebih dulu. Yang lain-lain lantas tertawa geli. guna memegat di tengah jalan. hati-hatilah!‖ seorang memperingati. ―Sungguh pesat sekali tersiarnya kabaran dalam dunia kangouw!‖ katanya. akan tetapi mendengar disebutnya Hong Ho Su Koay – Empat Siluman dari sungai Hong Ho. bagaimana kau lihat kepandaiannya delapan wanita itu?‖ Irawan D Soedradjat Page 163 . lalu berkasakkusuk tentang asmara. ia teringat kepada mereka yang mengeroyok Kwee Ceng. ―Supaya kau jangan sampai kena dijambak bocah itu!‖ ―Cis!‖ sang kawan berludah. Maka lagi sekali.

‖ berkata Coan Kim Hoat. ―Nampaknya mereka luar biasa. jagalah supaya kau jangan terganggu urusan sampingan. ―Biar anak Ceng berjalan seorang diri. Kanglam Cit Koay tidak nanti lepaskan mereka!‖ berkata Han Po Kie. Mungkin ada gerakan rahasia apa-apa.‖ Tin Ok pesan. ―Delapan wanita itu hendak merampas kudamu. Ia utarakan perasaannya itu. ―Oh.‖ Dengan terpaksa Kwee Ceng memberikan persetujuannya. Kwee Ceng lantas memberi hormat kepada keenam gurunya.‖ Mendengar itu Kwee Ceng merasa puas. ―Memang. rupanya seperi tidak mengerti…‖ ―Apakah pernah kau dengar tentang Pek To San?‖ Tin Ok tanya pula. paling belakang pesan Hie Jin singkat saja: ―Jikalau tidak ungkulan.‖ sahut Cu Cong setelah berpikir sejenak. ―Kalau begitu.‖ Cu Cong menyatakan setuju. Mereka itu berdiam. mereka itu merasa sulit juga.Pendekar Pemanah Rajawali ―Wanita?‖ Cu Cong mengulangi dengan heran sebelum ia menjawab. satu atau dua tentulah dapat tiba untuk mengurus kamu. Umpama di harian pibu kita tidak dapat kumpul semua berenam. ―Perkara kecil niat mereka merampas kuda ana Ceng. melayani Empat Siluman dari Hong Ho. Tak sampai satu bulan. Dia tetap menyebut diri Cit Koay meskipun sudah belasan tahun semenjak meninggalnya Thio A Seng. ―Pergi kau ambil jalan kecil. ―Ilmu silat tidak ada batasnya. di sebelah orang ada lagi lain orang yang terlebih pandai. mereka menyamar demikian sempurna!‖ berkata Cu Cong. ―Habis?‖ sang kakak membalasi. ―Apakah sieko maksudkan biar anak Ceng pergi seorang diri ke Kee-hin? Kita menyusul dia sesudah kita menyelidiki warta perihal orang-orang gagah yang berkumpul di kota raja?‖ Siauw Eng menegaskan. untuk mengucapak selamat jalan. Habis bersantap. tidak nanti dapat mereka menyusul. Lam Hie Jin mengangguk. ―Yang penting ialah pembilangan bahwa ada banyak orang gagah hendak berkumpul di kota raja. ―Orang begini besar masih bersifat kebocahan!‖ Tin Ok menegur. hingga sekarang mereka tinggal berenam (Liok Koay).‖ ―Umpama benar mereka main gila. biarlah anak Ceng berangkat lebih dahulu!‖ Lam Hie Jin menyarankan. Itulah tandanya ia tidak bisa melupakan saudara angkatnya itu. Kudamu keras larinya. Mereka itu pada memesan. muridnya ini ngotot hingga ia membahayakan diri sendiri. mirip mengerti ilmu silat. itu mesti diperoleh sendiri. ―Tidak. Liok Koay berlega melepaskan muridnya ini. Aku pikir tak dapat kita membiarkannya saja. tidak dapat kita main ayal-ayalan. untuk mencari pengalaman. tidak dapat kau menjagoi sendiri di kolong langit. perlu kita mencari tahu. ―Benar.‖ Tin Ok berkata pula. Kau mempunyai urusan penting. Memang perlu murid ini membuat perjalanan sendiri. menyingkir!‖ Pesan ini diberikan sebab ia melihat. Besar nyali mereka berani berniat menggempur gunung Tay San…. di luar gunung ada gunung lainnya lebih tinggi. Jangan kau khawatir. Siauw Eng lantas membujuki: ―Kau pergi lebih dahulu di sana menunggui kita. Cu Cong semua tertawa. kami akan menyusul. yang kelihatan sudah dapat diandalkan menyaksikan perlawanannya terhadap Hong Ho Su Koay. untuk mendahului mareka.‖ Coan Kim Hoat memperingati. Maka ingatlah pesa gurumu yang keempat ini. sebab pengalaman tak dapat diajari. biarpun kau sangat lihay.‖ ―Tetapi janji pibu di Kee-hin bakal tiba harinya.‖ Irawan D Soedradjat Page 164 . Tin Ok lantas tuturkan apa yang ia dengar barusan. Tidak menggembirakan untuk ia berjalan seorang diri.

Untungnya untuk dia. mau tidak mau. dia pasti akan damprat aku…‖ pikirnya. untuk lari dengan tiba-tiba. Belum pernah ia melihat kota seramai ini. sebentar saja ia sudah datang dekat. banyak kolar dan pasirnya. ―Adik kecil. Kwee Ceng terkejut. ia tahan kudanya. Kwee Ceng tiba di jalanan pegunungan yang sulit dan berbahaya. ia lantas ambil jalan kecil. jalanan sempit dan banyakl batu besarnya. saking heran atas lihaynya kuda itu. ia berjalan seraya menuntun binatang ini. Dari jauh-jauh. takut apa?‖ kata satu diantaranya. Satu nona lompat turun dari untanya. lantas ia menuju ke selatan. ia percaya ketiga nona tadi tidak bakal dapat candak dia. ia lihat menyambarnya dua rupa barang berkilauan. tak sudi iamelayani. Ia mengasih dengar nada lagi bicara sama anak kecil. Sampai disitu. Kebetulan tiba di depan restoran. Selagi jalan terus. Ia hanya khawatir nanti ada yang memegat pula. ia khawatir senjata rahasia itu ada racunnya. Ia turuti pesan Tin Ok. Kwee Ceng periksa kopiahnya. Ia hanya dapat lihat. mukanya dirasai panas. Tapi Kwee Ceng membentak. yang ia lekas cabut. ―Bagus!‖ memuji dua nona. tajam juga kedua pinggirannya. ia sudah tiba di Kalgan. I apun meraba ganggang pedangnya. Ketiga nona itu tertawa tergelak. ―Kalau sam-suhu melihat sikapku nini. tak dapat ia tempur mereka itu. gin-so bertabur emas yang merupakan unta-unta kecil.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng mengangguk. Irawan D Soedradjat Page 165 . belum sore. Pesat lari kudanya. pemuda ini larikan pula kudanya. ketiganya bercokol di atas punggung unta. Ia tidak menaruh perhatian ketika ia dengar dua ekor burung dara terbang lewat di atas kepalanya. Ia mau berlaku hati-hati. Di depan ada tiga nona dengan pakaian serba putih. ―Bukankah kita tidak kenal satu sama lain dan tidak bermusuhan?‖ Tapi ia tidak mau membalas. ia sudah menghadapi jalan cabang dua. Belum sempat ia menoleh ke belakang. suaranya nyaring. mari kasih aku lihat!‖ kata satu nona lain. terus ia jalan pula. Di situ terutama terdapat banyak kulit dan bulu binatang. untuk pengalamannya ini yang luar biasa. hatinya pun tercekat. akan pilih tempat duduk. Nyata dua senjata rahasia itu adalah gin-so atau torak terbuat dari perak yang indah. Bicara dulu atau menerjang saja? ―Kudamu bagus. Ia payku kepada enam gurunya itu. lompat lewati tiga nona itu! Ketiga nona itu terkejut. Maka ia lantas ambil keputusan. ia masuk ke dalam. ia menyambuti dengan kopiahnya. untuk tahan kuda itu. penduduknya padat. kedua kakinya menjepit. Ia minta sepring daging kerbau dan dua kati mie. Ia singgah sebentar. perdagangannya ramai. ia kasih kudanya kaget. ―Kamu telengas hendak mengambil jiwaku. ujungnya tajam. Seorang diri ia dahar dengan bernafsu. Ia tarik les kudanya. Jalanan ini lebih jauh. matanya menoleh ke kiri dan ke kanan. iamaju seraya ulur tangannya. Sekira tujuh atau delapan lie. ada pepehonan kecil yang liar. di sebuah tikungan. ia merasa lapar. memakai tangannya. Mereka itu melintag di tengah jalan. gin-so itu ia masuki dalam sakunya. Jalanan pun sukar. ia berlaku hati-hati. tepat waktu ia menoleh. Ia mengawasi jalanan yang sempit itu. Di sini Kwee Ceng turun dari kudanya. kudanya berbenger. ia turut kebiasaan orang Mongolia. ―Awas! Buka jalan!‖ ia berseru seraya ia hunus pedangnya.‖ pikir si anak muda denagn mendongkol. Ia bersangsi. sebab kecil dan berliku-liku. Tentu saja tak puas Kwee Ceng diperlakukan demikian. terus berlompat tinggi. Belum ada dua lie. di sini sangat sedikit orang berlalu lintas. ia sudah dengar bentakan ketiga nona itu. dari utara ke selatan. sebab ia duga jarak mereka kedua pihak ada jarak seperjalanan tiga hari……. maka ia tambat kudanya di luar. ―Lewat saja! Kami pun tidak nanti gegares padamu!‖ Kwee Ceng jengah. Di tempat begitu. maksudnya hendak menyambar les kuda. Tidak sampai satu jam. ―Numpag jalan!‖ ia lantas berkata. Ia hanya tidak pakai sumpit. ia seperti hendak menerjang ketiga orang itu. yang datangnya dari tempat lain tempat. Dengan ini cara. ia sudah melalui seratus lie lebih. Kwee Ceng sendiri tidak tak terkecuali. Kalgan adalah kota hidup untuk perhubungan antara selatan dan utara. ia menunggang kuda dan kudanya pun dapat lari pesat.

Pemuda itu mengikuti ke dalam. Ia lantas ingat kepada kudanya. Dan ia lemparkan itu kepada seekor anjing buduk di depan pintu. ―Eh. ia sodorkan kepada si pemuda. kau tidak punya uang untuk membayarnya!‖ Dengan sengaja ia menyebut ―lojinkee‖ atau orang tua yang dihormati. Pemuda itu menyambuti. hitam dan kotor. menubruk dengan kegirangan. dua yang asam manis. baik kita makan bebuahan dulu!‖ menyahuti si anak muda. Bukankah ibunya berasal dari Lim-an. ―Makhluk yang harus dikasihani. yang ia lihat lagak lagunya. mukanya pun hitam mehongan. ―Bakpauw yang lezat dikasihi ke anjing…. untuk duduk bersama. Anjing itu. Di utara. Kwee Ceng mengerti omongan orang. Ser! kepalannya melayang. lepas bakpauw itu!‖ menitah jongos yang satunya. makanan yang paling lezat di kolong langit ini adalah daging kerbau dan kambing. akan memerintahkan: ―Potongi aku sekati daging kerbau serta setengah kati hati daging kambing!‖ Ia telah hidup terlalu lama di Mongolia hingga tahunya. seekor anjing kecil. pasti kami dapat membuatnya! Hanya aku khawatir. pemuda itu mendak. ini aku bagi kau!‖ berkata ia. ―Mau apa lagi?!‖ menegur satu jongos. meminta tambahan makanan. untuk menyindir. ―Kita jangan repoti mendahar daging. ―Jangan!‖ ia cegah si jongos. Cit-kang.‖ lanjutnya lagi. Jongos itu menjadi gusar.‖ Ia jumput bakpauw itu.‖ Irawan D Soedradjat Page 166 . lebih dulu kau sediakan empat rupa buah kering dan empat rupa buah segar. ―Tidak peduli aku dahar berapa banyak. hingga gigi bagus itu tak sembabat sama dandannya yang compang-camping itu. ―Pasti!‖ sahut Kwee Ceng tanpa berpikir lagi. kepalanya ditutup dengan kopiah kulit yang sudah pecah dan hitam dekil. Di tangannya ia mencekal sepotong bakpauw. ia lompat bangun. untuk melongok keluar. Pemuda itu menghampiri. dan ia biasa dengar ibunya bicara? Ia malah girang mendengar lagu suara orang sekampung. Kwee Ceng menjadi kasihan. sekalipun di musim semi.‖ Kwee Ceng pun heran. Jongos itu melayani dengan ogah-ogahan. kepalan lewat diatasan kepalanya. Ia dapatkan kudanya sedang makan rumput dengan tenang. pergi ya pergi…‖ kata pemuda itu seraya ia putar tubuhnya. Pemuda itu mengawasi Kwee Ceng. aku memang lagi mencari kawan. ia tahu orang tentu sudah lapar. Ia menoleh kepada si jongos. Pemuda itu letaki bakpauw itu yang tapinya sekarang tertanda tapak tangan. ―Aku khawatir. ―Kenapa kau tidak mau lantas pergi?!‖ ―Baiklah. hingga tidak terlihat tegas wajahnya. maukah kau yang mentraktir?‖ tanyanya. Yang membikin banyak berisik adalah dua jongos terhadap satu pemuda ynag tubuhnya kurus dan pakaiannya butut. ―Coba lojinkee menyebutkannya. dua yang manis bermadu. meski kau menyuguhkan makananmu yang paing jempol. terus ia gegares bakpauw itu. ―Aku yang membayar uangnya. dan pemuda ini tidak memakai sepatu. ―Mari dahar bersama!‖ ia mengundang. habis kau dahar. Ia lantas kata pada jongos: ―Eh. ia mengawasi ana muda kita Kwee Ceng lihat kelakuan orang. rata. ―Apa?!‖ sahut jongos itu tawar. Ia menoleh pula kepada si anak muda: ―Kita minum arak atau tidak?‖ ia tanya. ―Aku sendirian tidak gembira. hawa udara dingin. Teranglah ia seorang melarat. sebab ia lihat pakaian orang yang butut dan kotor itu. ―Baik!‖ tertawa pula pemuda itu. kawan. ia dengar suara kerisik di luar rumah makan. Tentu saja kue itu tak laku dijual.Pendekar Pemanah Rajawali Tengha bersantap. Ia mengawasi kedua jongos dengan tertawa. tetapi ia diam saja. Kwee ceng teriaki jongos. ―Apakah kau sangka aku melarat dan jadinya tak pantas aku dahar barang makananmu?‖ si pemuda tegur jongos itu. Pemuda itu berumur lima atau enambelas tahun.‖ Ia bicara dengan lidah Selatan. hingga terlihat dua baris giginya yang putih. ―Sayang…sayang…‖ kata satu jongos. ia balik ke mejanya untuk melanjuti bersantap. bagiku itu rasanya masih kurang cocok. ia menjadi malu hati.

ia pun Cuma dahar beberapa sumpitan. ceker bebek goreng. Si anak muda menunjuki Kwee Ceng. yang asam aku ingin uah ento harum.‖ katanya dalam hatinya.‖ berkata pula si anak muda. Sembari dahar bebuahan. Ia sampai mau percaya. ―Aku menyangka ia cuma miskin. Sekarang ia tak berani lagi memandang enteng kepada anak muda ini. Kwee ceng tertarik hatinya. tidak dijelaskan. ―Tuan ini yang mentraktir. apa boleh ia menyediakan dulu dua poci? ―Baiklah!‖ sahut si anak muda yang mengenai arak tak banyak cerewet. Tidak terlalu lama. Buah yang segar yaitu kau cari yang baharu dipetik. ―Rumah makanmu ini rumah makan kecil dan tempatmu ini tempat melarat. datanglah barang hidangan. menunggang kuda dan menggembala kambing. Setelah pesan koki. anggur hiangyoh. ―Untuk teman arak. Kwee ceng cobai itu semua. baharu ia keluar pula. yang mengaku datang dari padang pasir. ia jadi Cuma bicara tentang memburu binatang liar. ―Delapan rupa masakan itu ialah puyuh asap. soto burung wanyoh. anak muda itu ada lebih pintar daripada gurunya yang kedua. Selang kira setengah jam.‖ sahutnya kemudian.‖ kata kemudian. Sekarang ia tanya tetamunya. Nah. suaranya tawar. bakso kelinci. lidah ayam cah. ia duga bukan sembarang orang. dan kiang-sie-bwee.‖ Mendengari itu mulutnya si jongos ternganga. lengkeng. sebegitu dulu!‖ Jongos itu berlalu dengan cepat. si anak muda bercerita banyak. ―Sekarang begini saja! Empat rupa buah kering itu ialah leeci. Sembari berdahar. ―Apakah sudah cukup semua ini?‖ ―Habis itu. pasti tidak dapat kamu menyediakan barang bagus. Kwee Ceng ingat pesan gurunya. maka kau sajikan saja delapan rupa barang hidangan yang biasa!‖ Jongos itu mengawasi. paha mencak dan kaki babi hong. Jongos mengawasi pemuda kita. apakah kau kira dia tidak kuat membayaranya?‖ tanya ia. ―Delapan masakan itu mahal harganya. Rupanya orang luas pengetahuannya. Entah disini ada yang jual atau tidak? Yang manis bermadu? Ialah jeruk tiauwhoa-kim-kie. Ia kata. Ia tidak menyangka orang omong demikian takabur. soto manjangan keekangyauw.‖ Mendengar itu. hendak minum arak apa.‖ berkata si anak muda. ―Sebenarnya tuan-tuan ingin dahar masakan apa?‖ ia tanya. Barang hidangan. ―Ah. hingga ia tertawa dan bertepuk tangan. yang mesti disajikan atas dua meja disambung menjadi satu. dan ia merasakan kelezatan yang dulu-dulunya ia belum pernah cicipi. ia sekarang banyak bertanya kepada Kwee Ceng. ―Lainnya ialah delapan rupa tiamsim. tentang segala apa di Kanglam. tak tahunya dia terpelajar tinggi. memanah burung rajawali. tapi si anak muda sangat tertarik hatinya. tidak beres!‖ berkata si anak muda itu. ia ada punya arak Pek-hun-ciu simpanan sepuluh tahun.Pendekar Pemanah Rajawali Jongos itu heran hingga ia terperanjat. jongos itu menjadi melongo. Orang bicara rapi. satu demi satu. Anak muda itu minum sedikit sekali. enak didengarinya. ―Toaya menghendaki buah apa yang segar bermadu?‖ tanyanya. kau sajikan lagi duabelas rupa untuk teman nasi. semua buah yang diminta telah disajikan saling susul-menyusul. yang ia pilih. ia khawatir orang nanti minta pula makanan lainnya. Si anak muda berkata pula. ―Untuk ceker bebek dan lidah ayam saja kita membutuhkan beberapapuluh ekor ayam…. buah tho-tong-songtiauw dan buah lay-hauwlongkun…. ia tidak berani bicara terlalu banyak. di sini tidak ada ikan dan udang segar. yang dandannya indah dan malah mengenakan bulu tiauw. co dan ginheng. Irawan D Soedradjat Page 167 . ―Baiklah.

ia pun suka omong lebih banyak. ia baru menoleh ke belakang. ―Saudaraku. ―Aku masih belum belajar kenal she dan nama kakak yang mulia. Hanya aneh. Di gurun pasir ia bergaul erat sekali dengan Tuli dan Gochin. tangan itu ia rasai halus sekali.‖ sahut Kwee ceng. Satu kali. ―Baik suruh panasi lagi…‖ ―Tidak usahlah. Ia sebenarnya memanggil adik (hiantee). ia cekal tangan si anak muda. Adalah setelah jalan beberapa tindak. sadar. ―Benar. tetapi tentang ini. Kwee Ceng pun berdiam saja. ijinkan aku pamitan. Kau sendiri hiantee?‖ ―Aku she Oey. baru kalin ini mereka mendapatkan tetamu seaneh ini. tujuh chie empat hun. aku merasa lapar pula…‖ ia menambahkan.‖ kata si anak muda seraya tarik tangannya. si jongos katakan Kwee ceng dalam hatinya: ―Dasar kau. bicara lebih jauh. Di luar salju memenuhi jalan besar. barang hidangan keburu dingin. lalu ia mengatakannya sudah cukup.‖ jawab anak muda itu. untuk ditukar dengan limaratus tael perak. Yong. Seumurnya.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sendiri sangat gembira berkumpul bersama ini kawan baru. kita baharu ketemu tetapi kita sudah seperti sahabatsahabat kekal. Sehabis membayar. menyuruh menukar hidangan yang terlalu dingin dengan yang baru! Jongos dan kuasa brumah menjadi heran. dengan kelakuan sangat menghormat. Kwee ceng pun kasih persen sepuluh tael hingga kuasa restoran dan jongos itu menjadi girang. bocah tolol! Bocah hina ini permainkan padamu!‖ Kapan kuasa restoran sudah berhitungan. bagaimana apabila kita berjalan bersama?‖ . Maka itu. Sesudah barang makanan siap semua. Si anak muda tidak mengucap terima kasih. Ia masih punya sisa empat potong emas. ia pakai baju itu. toh masih ada perbedaannya. ia tidak memperhatikannya. ―Nasi pun sudah dingin…‖ ―Benar. terus ia negeloyor pergi. saking gembira. ialah Tuli sering mendampingi ayahnya. anak muda itu dahar lagi sedikit saja. Untuk membayar itu. maka aku minta sukalah kau pakai baju ini!‖ Tidak Cuma baju. ia loloskan baju kulit tiauwnya. Kwee Ceng berhati mulia. ―Sudah terlalu lama kita bicara. Kwee ceng pun tertawa. ia lantas saja angkat tangannya. untuk menggapaikan. Irawan D Soedradjat Page Oey Yong menggeleng kepala. ia pun memberikan uang. ia tidak pikirkan harganya barang makanan itu. untuk dipegang keras-keras. mereka mengantar keluar kedua tetamunya itu. seperti juga pemuda itu kehilangan sesuatu. Si anak muda pun tersenyum dan menunduk. walaupun mehongan. ―Aku telah mengganggu kamu.‖ si anak muda meminta diri seraya memberi hormat. ―Aku tidak niat pulang ke Selatan. apakah kau masih kekurangan apa-apa?‖ ia menanya. ―Tapi toako. ia menghampirkan dengan cepat. hingga ia tampak Kwee Ceng lagi berdiri bengong dengan tangan memegangi les kuda merahnya. terlalu panas pun tidak dapat didahar. Kwee Ceng mengeluarkan dua potong emas. yang tiga ia sisipkan ke dalam saku baju tiauw itu.‖ berkata si anak muda. kult muka itu agakanya halus dan bersemu putih. Pernah Kwee Ceng menatap muka si anak muda.‖ ia menyahuti. namaku Ceng. Menyaksikan itu. ―aku pun sampai lupa! Aku she Kwee.‖ sahutnya. Kwee Ceng lihat itu panggilan. kecuali hal ia mengerti silat dan mempunyai hubungan erat dengan Temuchin. harganya semua buah dan makanan itu berjumlah tigaratus sembilan tail. Tapi mereka iringi kehendak itu. ia kerobongi itu di tubuh si anak muda. ―Umpama kata hiantee hendak kembali ke Kanglam. Anak muda itu tersenyum. melihat pakaian orang yang tipis dan pecah. yang tapinya memanggil jongos. benar!‖ katanya. namaku pun satu. maka sering mereka bertengkar. 168 ―Sekarang hiantee hendak pergi kemana?‖ Kwee ceng tanya. Ia kata: ―Saudara. Gochin benar baik tetapi putri itu kadang-kadang manja sekali dan ia tidak sudi mengalah.

―Kenapa begitu?‖ Kwee Ceng tanya. Karena itu malam-malam aku minggat…. Melihat pakaian orang yang kotor. Kapan Oey Yong dengar Kwee ceng omong perihal dua ekor burung rajawali putih. terutama sebab ia lantas kenali. rumahmu di mana?‖ ia tanya. habis pesiar aku pulang!‖ katanya. Ia dapatkan beberapa orang dengan pakaian serba putih tengah mengurung kudanya itu. ―Justru sekarang tidak tahu aku mesti pergi ke mana.‖ Kwee ceng berkata pula. ia pun menemuinya burung itu secara kebetulan. pemuda itu tampan sekali. lalu tertampak munculnya tiga orang. Kali ini Oey Yong yang mengajak kawannya itu. di tangga lauwteng terdengar suara tindakan kaki. habis pesiar. tetapi kuda itu berjinkrakan. yang bangunannya juga mencontoh model restoran besar dari Pian Liang. ia menjadi tertarik hatinya. Ia hanya heran kenapa orang dapat menyusul ia demikian lekas. Ia memandang Kwee Ceng dan Oey Yong. ―Cuma aku mesti dapati dulu dua ekor anak rajawali putih…‖ Selagi kedua pemuda ini bicara dengan asyik.‖ sahut Oey Yong. hiantee. lantas ia menunjuk meja yang terpisah jauh. ibukota dahulu. yang ia bawa dari rumah. Di sini kembali mereka pasang omong. ―Ayah damprat aku. Kwee Ceng tidak dapat menjawab. ―Ayahku tidak menginginkan aku lagi…‖ katanya.‖ Kwee Ceng bilang. hingga ia tak dapat didekatkan. aku justru mau pergi. ―Ah. lantas ia tidak pedulikan lagi tetamu itu. Jongos juga segera repot melayani tetamu baru ini. wajahnya terang.‖ kata Kwee ceng lagi. Ia menjadi gusar sekali. kenapa ayah tidak cari aku?‖ kata si anak muda lagi. baik besok aku pergi saja ke Mongolia. Cuma tidak ketmu…‖ Kwee ceng mencoba menghibur. ―Dan ibumu?‖ ―Ibuku sudah meninggal dunia. kau mesti pulang. Oey Yong tertawa. Lantas ia berseru: ―Di siang bolong kamu berani merampas kudaku?‖ Irawan D Soedradjat Page 169 .‖ jawab Kwee ceng. Kwee Ceng mengawasi sebentar. Ia pilih rumah makan yang paling besar dan kenamaan untuk kota Kalgan. Ia kembali mengobrol bersama sahabat barunya itu.‖ ―Sekarang pasti ayahmu tengah memikirkan kau. untuk mengatur mangkok dan sepasang sumpit. yaitu Restoran Tiang Keng Lauw. Oey Yong menangis. ―Kenapa kau tidak mau pulang saja?‖ Tiba-tiba saja mata Oey Yong menjadi merah. ―Ayahku larang aku pergi pesiar. Mangkok dan sumpit yang mana disimpan dalam sebuah kotak. Aku tidak punya ibu sejak masih kecil…‖ ―Kalau begitu. Belum lama. di bawah lauwteng terdengar suara kuda meringkik. Hanya kali nini ia tidak meminta banyak macam makanan. Atas itu kedua kacung menghampirkan meja yang ditunjuk itu. ialah dua kacung yang mengiringi satu pemuda denagn baju sulam yang indah. ―Tapi kau toh dapat menemuinya. cuma empat rupa serta sepoci the Liong-ceng. Ia ingat akan kudanya. ―Kalau begitu. usianya barangkali baru delapan atau sembilanbelas tahun. tak bisa jadi.‖ Kwee ceng beritahu. disusul mana beberapa kali bentakan dari beberapa orang. ―Mungkin ia mencari.‖ ia kata. yang tidak merasa aneh atau mendongkol. ―Ayahku tidak menginginkan aku…‖ ia menyahut. ia mengerutkan kening. maka ia lari ke jendela untuk melongok ke bawah. ―Di sana aku cari dan tangkap dua anak burung itu untuk aku buat main. ―Eh. ―Jikalau begitu.‖ ―Hanya sukar untuk mencari anaknya. baiklah. yang hendak ditangkap.‖ berkata si anak muda.mari aku temani lagi kau bersantap.Pendekar Pemanah Rajawali ―Baiklah. orangorang itu adalah delapan penunggang unta yang memang berniat merampas kudanya itu.

di waktu mana ia merasakan sambaran angin. Oey Yong tarik tangannya Kwee ceng. hingga terbit satu suara nyaring dan ia merasakan sakit ngilu pada pundaknya itu.Pendekar Pemanah Rajawali Lantas ia lari turun dari lauwteng. diwaktu ia sudah taruh kakinya. ―Jangan pedulikan dengan mereka. Tiba-tiba saja ia ayun tangannya yang kanan. ―Kau…kau…. ia melayangkan dua batang senjata rahasia yang bersinar emas berkilauan. sehingga ie berdiri menjublak. ―Toako. dengan menyentil dua kali. guna terus lompat berjumpalitan. Cepat-cepat Kwee Ceng cabuti kopiahnya. malah ia sudah lantas membungkuk kana melihat delapan pemudi yang menyamar sebagai pemuda-pemuda itu. Kwee ceng cepat-cepat membalas hormat. Inilah Kwee ceng tidak sangka. Kwee ceng menurut. ―Setahu kenapa. Kwee Ceng hendak sahuti sahabatnya ketika ini tatkala ia dengar ramai suara kelengan unta di depan rumah makan itu. mari kita naik pula ke lauwteng!‖ berkata ini sahabat baru. ia kaget dan gusar dengan berbareng. Karena ini. dengan lantas ia lihat Oey Yong. sampai nanti kita bertemu pula!‖ Lalu ia menjura dalam sekali.‖ ia minta. Habis itu. Barusan kongcu membnatu aku. aku sangat berterima kasih. di sana ia dapatkan delapan orang berpakaian putih itu sedang rebah tanpa berkutik. yang setahu kapan telah turun dari lauwteng. ―Siauwtw she Kwee. ada urusan apakah saudara datang ke mari?‖ Ditanya begitu. Setibanya ia di depan rumah makan. ―Belum pernah siauwtee pergi ke pulau Tho Hoa To itu. Kwee melengak. si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu juga telah berada di depan. ―Apakah saudara Kwee datang dari pulau Tho Hoa To dari Tang-hay? pemuda itu menaya. ginso itu jatuh sendirinya. ―Mereka ini hendak merampas kudaku.‖ ia menyahuti. diserahkan kepada si pemuda. Demikian juga si anak muda itu. Akan tetapi si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu telah dului ia. di depan siapa ia berhenti. mereka pada rubuh sendirinya…. sepasang alisnya pun terbangun. ―Aku mohon tanya she dan nama mulia dari toako. kemudian ia mengawasi kedua anak muda itu. Ia menjadi heran sekali. Justru mereka memutar tubuh. sinar matanya menandakan ia sangat heran. maka Kwee Ceng dapat melihat sinar matanya yang tajam.‖ kata Kwee Ceng. ―Aku mohon tanya. apabila mereka melongok ke bawah. lalu di antara dua kali suara tintong. bernama ceng. untuk naik di tangga.‖ Kongcu itu berkata: ―Saudara Kwee tak hendak mengenalkan diri. ia lantasbertindak naik di tangga lauwteng. ia pergi ke jendela diikuti Oey Yong. Celaka kalau ia kena tersampok. ia memutar tubuhnya. Maka dengan ia lantas tunduk. untuk terus segera memberi hormat sambil berjura. dengan niat menyambuti torak perak itu. pundaknya kena tersambar juga. ia memandang Kwee Ceng. Ketika ia menoleh. ujung tangan bajunya menjurus ke matanya. Bab 16. ia tuangi air the di cawannya pemuda itu. ―Siauwtee datang dari gurun pasir utara. kudamu itu bagus sekali!‖ katanya memuji. atas mana dua potong ginso menyambar ke loteng. Sembari memberi hormat orang menyerang ia secara hebat sekali.‖ ia menyahut. kemudian sembari tertawa manis. tanda dari kemurkaan. ke arah pemuda ini. salah satu nona menoleh ke belakang. kedua kacung lantas pungut empat senjata rahasia itu. yang menyambuti seraya terus dikasih masuk ke dalam sakunya. Gara-Gara Sepatu Sulam Dan Jubah Salut Emas Tiba-tiba Kwee Ceng sadar. Ia merasakan ada tangan yang lemas yang memegang tangannya. nah di sini saja kita berpisahan. jatuh bareng bersama senjata penyerangnya. untuk masuki kepalanya ke selangkangannya.‖ Irawan D Soedradjat Page 170 .‖ Meski ia mengucap demikian. Kwee ceng lekas-lekas membalasi. dia terus menghampirkan Kwee Ceng. ―Kongcu ada pengajaran apakah?‖ lanjutnya. Meski begitu. Kongcu itu telah mengibaskan tangannya. mereka lihat delapan nona serba putih itu berlalu dengan unta mereka.

lantas aku jumput!‖ sahut Oey Yong masih tertawa. ―Kenapa barang itu berada di tanganmu?‖ ia menanya.Pendekar Pemanah Rajawali Tapi si kongcu pegat ia. ia tidak menduga orang mendusta. Entah kapan sahabat ini mengambilnya. Kapan Kwee Ceng kembali ke kursinya. Setelah menatap. Ia sambuti tusuk konde emas dan ginso itu. Kongcu itu menghentikan tindakannya. Menampak barangnya itu. Oey Yong pun telah dapat menjumput sumpitnya itu. disaat kongcu itu mengangkat tubuhnya habis menjura. tangannya menjatuhkan sebatang sumpit ke kaki kongcu. ia memutar tubuhnya untuk terus turun di tangga lauwteng. ia dapatkan Oey Yong mengawasi ia sambil sahabat itu tertawa geli. Tidak berani ia menangkis atau menyambuti cengkeraman itu. ilmu silatmu tangan kosong tapi biasa saja. yang terus tuturkan perihal kuda itu sampai ia bertemu rombongan si wanita itu. terus ia putar tubuhnya untuk bertindak ke tangga lauwteng. ia mengerti. Di tangan kawan ini terlihat dua potong tusuk konde emas serta dua potong ginso. entah kenapa. kau lupakan barangmu ini!‖ ia panggil si pemuda yang seperti anak bangsawan itu. Ia dapatkan. Dari gerakannya saja. aku ingat sekarang!‖ ia kata pula separuh berseru.‖ kata Oey Yong. ia sudah dapat menduga orang bergerak dengan ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw seperti keenam gurunya sering menuturkan kepadanya. Kwee Ceng kaget tidak terkira. Ilmu totok kau lihay sekali. Rupanya tiga wanita itu melepaskan burung Irawan D Soedradjat Page 171 . cuma ia dapat membedakannya. lima jarinya yang kuat seperti kuku garuda menyambar ke tangan Kwee Ceng itu. ―Sungguh memusingkan kepala. ―Kudaku itu lari cepat sekali. Si kongcu rupanya jijik untuk pakaian kotor anak muda ini. saudara Kwee.‖ ―Aku lihat di antara mereka ada satu yang mencekal sepasang burung dara. Kwee ceng khawatir orang nanti bokong pula padanya. yang bergemerlapan kuning dan putih. cepat luar biasa tangannya menyambar ke arah Kwee ceng. tubuhnya bergeser. sebenarnya aku telah lombai mereka seperjalanan tiga hari. kongcu terkejut sehingga air mukanya berubah. Dengan terpaksa ia sambuti empat potong benda itu. sambaran kongcu ini kalah jauhnya sebatnya dengan sambarannya si Mayat Besi. Ia tercengang sebentar lantas ia ingat. Kwee Ceng jujur. ―Sebab kudaku adalah han-hiat-po-ma. ia juga dapat lihat anak muda itu berdiri tegar ditempatnya. sebab masih ada bekas cengkeramannya Bwee Tiauw Hong dulu hari pada lengannya. Oey Yong agaknya kaget. Kwee Ceng melihat telapak tangan anak muda ini. adakah kongcu ini sekaum dengan Tiat Sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi? Ia menginsyafi hebatnya cengkeraman Tulang Putih itu. Itulah ginso yang tadi si kongcu simpan dalam sakunya. tangannya disodorkan. ia kata: Aku cuma mencoba ilmu kepandaianmu. Tiba-tiba Kwee ceng menepuk meja.‖ jawab Kwee Ceng. ―Toako. Kongcu itu terkejut. belum ia terjambak. belum lagi serangannya mengenai. ―Dia membikinnya jatuh selagi dia menjura kepadamu. ―Ini untuk kau…‖ kata Oey Yong dengan perlahan. mereka dapat menyusul padaku…‖ Kwee Ceng kemudian mengutarakan keheranannya. Kwee Ceng angsurkan kedua barang emas dan perak itu. heran. cepat luar biasa ia telah kerahkan tenaganya. Kemudian ia melanjuti: ―Setahu siapa yang membnatu aku secara diam-diam dengan merobohkan mereka itu. kenapa rombongan wanita itu mencoba merampas kudamu?‖ kemudian Oey Yong menanya. yang menyamar sebagai pemuda-pemuda dan menunggang unta. empat senjata itu sudah mendahulukan menyambar ke arahnya. ia mundur setindak. ―Itu waktu memang aku lihat terbangnya dua ekor burung di atasan kepalaku. ia tercengang. Maaf…!‖ Kembali ia menjura. empat senjata di tangannya sudah lantas mencelat. Kalau tidak tentulah mesti terjadi pertempuran hebat…‖ Oey Yong masih tersenyum. sembari tertawa. ―Ya. Maka ia menduga. kepada Kwee Ceng ia tersenyum. ia berpaling. ia mundur satu tindak.. ―Kongcu.

Pendekar Pemanah Rajawali itu untuk memberi kabar kepada lima kawannya. ―Toako. akan terus mencokol di atas pembaringan. menyebabkan mehongan luntur. Tapi sekarang ia tidak menangis. ia tampak lima orang berdiri di depannya. Karena ini. Oey Yong terperanjat. Kwee Ceng pun mengawasi. Di antara cahaya lilin. hingga tampak dua baris kulitnya yang putih mulus. ia mepersilakan: ―Hiantee.‖ Setelah itu.‖katanya. Kwee Ceng turun dari pembaringan. kau naiklah!‖ Sebenarnya kuda itu tak dapat ditunggangi orang lain. apapula mereka dibantu oleh paman gurunya itu. tubuhnya kurus. ―Satu sahabat. Sebenarnya ia main-main saja. Empat di antaranya ada membawa golok dan ruyung. Ia keringkan secawan teh. Ia pesan kepada kudanya: ―Aku haurkan kau kepada sahabatku yang baik. ia lantas pergi mencari rumah penginapan. yang julukannya pun berarti si Ular Naga Kepala Tiga. Si kurus sudah lantas tertawa tawar. Pemuda itu menanti sampai orang tidak terlihat lagi. romannya sangat tidak mengasih untuk diawasi. Ia lantas mendekam di meja. Dengan lantas kuda itu berlari pergi. tanpa bilang suatu apa. Dua orang yang ke lima. hingga ia melihat tegas. dari itu. Sekarang adalah giliran Kwee Ceng yang menjadi heran. ―Apakah kau kurang sehat?‖ Oey Yong angkat kepalanya. Kwee Ceng menurut. hingga dia itutak dapat melihat lepas ke depan. Setelah ia mengenali orang. Oey Yong tanya tentang tenaga larinya kuda merah itu dan Kwee ceng menuturkannya dengan jelas. lalu ia tertawa. Ia kelihatannya menjadi kagum sekali. apa kau sudi mengabulkannya?‖ dia bertanya. ia membuka tindakan lebar akan memasuki kamar orang. mukanya lonjong. Kwee Ceng menyerahkan les kuda itu. Air matanya itu yang mengalir di kedua belah pipinya itu.‖ Kemudian sembari menoleh kepada si anak muda. Ia mendapatkan sang malam bakal lekas tiba. ia terus tepuk kempolan kudanya itu. Mukanya penuh air mata. Lebih dulu ia membayar uang makan. aku hadiahkan itu padamu!‖ kata Kwee Ceng tanpa bersangsi. mereka gampang saja mencari padaku. akan tetapi ia sekarang tidak membangkang. lantas berkata: ―Inilah paman guru kami. terus terdengar tangisannya sesegukan. sambil melirik. baru ia tuntun kudanya. Bersama-sama mereka turun dari lauwteng. untuk mereka memegat atau mengawasi aku. sebaliknya ia tertawa. ―Hendak aku meminta sesuatu yang berharga darimu. hiantee. kau kenapakah?‖ ia menanya cpat. maka baik-baiklah kau mendengar katanya. dengan dingin. ―Siapa?‖ ia tanya heran.‖ menerangkan Oey Yong. suaranya parau. ―Hiantee. jangan kau bawa adatmu. ia terkejut bukan main. Mereka itulah Hong Ho Su Koay. di jidatnya ada tiga kutil besar. Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay yang sangat ternama besar! Lekas kau berlutut dan mengangguk-angguk kepalanya!‖ . ―Kenapa tidak?‖ Kwee Ceng menjawab. tiba-tiba ia dengar ketokan pada pintu. ia mengawasi si pemuda. untuk rebahkan diri.‖ sahut suara di luar. yang usianya kurang lebih lima puluh tahun. ia membuka pintu. baru ia melihat langit. 172 Toan-hu-to Sim Ceng Kong si Golok Memutus Roh. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng mengerti bahwa ia telah terkurung. bahwa Hong Ho Su Koay saja sudah bukan tandingannya. muka orang ada tanda bekas luka-luka senjata tajam. ia awasi tuan rumah. Oey Yong naik kuda itu. marilah kita pergi!‖ ia mengajak. Ketika disaat ia hendak memadamkan api. ―Baik. ―Sebenarnya aku suka sekali dengan kudamu itu. Bukankah mereka baru pertama bertemu? Ia malah mengharap jawaban si pemuda adalah penolakan. ―Toako.

jongos muncul dengan air cuci muka dan tiamsim. Kwee Ceng heran bukan kepalang. akan tetapi ia tertawa. tanpa menanti penyahutannya Kwee Ceng. Satu lie sudah ia berjalan. berubah pikirannya. ―Sudah terang aku tidak bakal dapat lolos. ia dapat dengar apa-apa di atas genting. Lantas ia berdiri menjublak! Di atas empat pohon di dekatnya itu. Mereka jalan berendeng. Di belakang jongos itu terlihat Cian Ceng Kian dengan sepasang kampaknya. jangan kau memikir untuk kabur. Selang tidak lama. ialah pesan gurunya yang keempat: ―Jikalau tidak ungkulan. Dia lantas rebahkan dirinya. ―Apakah kau tengah main ayunan di sini?‖ dia bertanya. disusul sama bentakan: ―Bocah. ia suruh Twie-beng-chio Gouw Ceng Liat si Tombak Mengejar Jiwa menutup pintu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tuan-tuan ada punya urusan apa?‖ ia tanya sambil menjura. Kapan ia memandang ke jendela. kaki dan tangan mereka terbelenggu. Mereka malu untuk minta tolong.‖ Kwee Ceng berpikir. kami menyerah kalah!‖ dia berteriak. ia tidak bertemu dengan musuhnya. Ia bersemadhi hingga tengah hari. niatnya untuk tidur tanpa menghiraukan segala apa. Ia berlaku tenang. rimba pun lebat. Rupanya orang telah menjaga ia di luar kamar. ―Guruku tidak ada di sini. Selagi Kwee ceng bertindak. tidak dapat aku menemani kalian lama-lama…!‖ ―Kwee Enghiong. ―Aku mohon sukalah kau memerdekakan kami!‖ Irawan D Soedradjat Page 173 Sim Ceng Kong berempat mencaci maki pula. Tiba-tiba ia dapat ingatan. Tapi tiba-tiba. ―Mana guru-guru kamu?‖ Hauw Thong hay menanya. Di sini Ceng Kian tinggalkan si pemuda. tidak lekas kembali. untuk sarapan. ―Mari kita pergi!‖ ia kata kepada Cian Ceng Kian. sia-sia saja mereka mencoba meronta-ronta. Ia lantas saja bercokol di atas pembaringan. ia angkat kepalanya. Akan tetapi tidak ada serangan terhadapnya. ia maju. kenapa aku tidak hendak sembunyikan diri?‖ Maka hendak ia segera mewujudkan pikirannya ini. tiba-tiba Toat-pek-pian. agar orang tidak nanti mengatakan Sam-tauw-kauw menghina anak kecil. untuk bersemadhi menuruti ajarannya Ma Giok. kau datang ke sana dengan minta gurumu semua temani padamu!‖ Habis berkata. Kwee Ceng memadamkan api. Mereka mencaci kalang-kabutan begitu lekas mereka tampak si pemuda musuhnya itu. Besok pagi. ―Sekarang hendak kau memberi pengajaran kepadamu. Kwee Ceng putar cambuknya. ia tampak bayangan orang mondar-mandir. baiklah aku mati bertempur!‖ Oleh karena berpikir begini. ia mesti gulak-galik saja. Kwee ceng loloskan joan-pian. semakin hebat. ―Ah! Kalau begitu hendak aku memberi ketika padamu untuk hidup lagi setengah harian!‖ kata Ular Naga Kepala Tiga itu. Ma Ceng Hiong si Cambuk Perampas Roh. Seram suasana di situ. Di samping itu mereka heran sekali kenapa paman guru mereka itu yaitu Hauw Thong Hay. engkongmu menunggui kau disini!‖ Jadi terang dia telah dikurung keras. tidak nanti mereka dapat menolongi aku. Besok tengah hari aku menantikan di rimba Hek-siong-lim di luar kota. yang menutupi matahari. sampai sepuluh lie lebih. ―Bocah haram! Anak campuran! Anak jadah!‖ demikian ia dengar makian hebat. . baru ia berbangkit turun. untuk dengan cepat bertindak ke sebelah dalam rimba. maka ia lupa akan malunya. bukan?‖ Nah sampai bertemu pula! Sampai bertemu pula! Maaf. Tapi ia tidak dapat pulas. Ia menjaga diri dari bokongan di kiri atau kanannya. menuju ke arah barat. terus ia duduk numprah di atas pembaringannya. lari!‖ Maka ia berpikir: ―Sekarang tidak ada orang mengawasi aku. ia sudah ngeloyor keluar. melainkan mulut mereka yang dapat di pentang lebar-lebar.‖ sahut Kwee Ceng. Sesampai di luar. Sambil berdiri diam. memandang ke arah dari mana cacian itu datang. Di sana ada sebuah rimba besar. untuk melindungi diri. ―Suhu semua berada di tempat jauh. setindak demi setindak. ia berbangkit. ―Sungguh menggembirkan. Ia masih berdiam saja. hingga terdengar suara membeletok. Sambil berlompat. tubuh mereka bergelantungan. hatinya menjadi mantap. Itulah suara ketokan beberapa kali. ia tampak Hong Ho Su Koay tergantung masing-masing di sebuah cabang besar. Ia takut mati. hampir ia lenyap dari pandangan mata. cambuk lemasnya.

kapan tangan kirinya diayunkan. Ia pun mengutanginya itu dengan golok emasnya. maka sekarang si nona tidaj menghajar hebat kepadanya. setelah memegang tanah. Keanehan itu tak dapat ia melupainya. Untuk bersantap. di sana ada berkumpul sejumlah orang. Nona itu singkap naik rambut yang turun ke dahinya. yang cantik sekali. Di pelbagai rumah minum ia pun dengar suara tertawa. habis berdahar. kota raja yang baru. Kwee Ceng pandang nona itu. ―Hong Ho Su Koay lihay tetapi mereka dapat digantung. ia khawatir paman guru mereka itu nanti keburu kembali. ia sampai tidak berani memilih erstoran yang mentereng.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sudah lantas berpikir: ―Sebenarnya aku tidak bermusuh dengan mereka. Pada suatu hari. ia berjalan-jalan. ―Buk!‖ punggung si pria kena terhajar. belum pernah ia menyaksikan suasana kota besar itu. Ia mendekati. siapa Irawan D Soedradjat Page 174 . ia kasih turun mereka itu satu per satu. kota raja yang lama dari kerajaan Song. Yang hebat mereka sampai tidak melihat padanya. akan meninggalkan mereka itu. terus ia kembali dengan berlompatan. kenapa dia munculkan diri di tempat umum seperti ini?‖ Selang lagi beberapa jurus. Heran Kwee Ceng apabila ia saksikan ilmu silat si nona itu. dia dapat menahan diri dan mengerahkan tenaga. yang indah lauwteng dan rangonnya. ia baru berhenti ketika di sebelah depannya ia dengar sorak-sorai yang ramai. mesti ia lekas menyingkir. untuk berlompat bangun. Di bawah bendera itu ada satu nona dengan baju merah tengah bertempur sama seorang pria. ia tadi berkasihan terhadap si nona. merdunya bunyi tetabuan. umurnya mungkin baru tujuh atau delapanbelas tahun. atau Lim-an. nona itu menggunai akal. Sambil tertawa. Luar biasa gesitnya nona itu. membawa tubuhnya melejit ke samping ke belakang penyerangnya itu. ia berkata: ―Lagi dua belas jam baru kamu dapat pulang tenaga dalam dan merdeka. ke mana perginya Hauw Thong Hay si Ular Naga itu? dia tidak tertampak sekalipun bayangannya?‖ Kwee Ceng terus melakukan perjalannya itu. ke arah dada. kedua kakinya bergerak saling susul-menyusul. ia ingat: ―Baharu saat ini kau tiba di Tionggoan. yang tubuhnya jangkung dan besar. ia batal meninju. pemuda itu totok mereka bergantian. sampai terjerunuk ke depan. siapakah yang menggantung kamu di sini?‖ ―Kau masih berpura-pura!‖ membentak Cian Ceng Kian mendongkol. teranglah lawannya itu mesti jauh terlebih lihay daripada mereka. ―Siapakah itu orang secara diam-diam menolongi aku?‖ ia berpikir di sepanjang jalan. Sesudah empat Siluman itu direbahkan di tanah. nona-nona serba putih dan menunggang unta itu sudah elok semua. Para penonton lantas saja bertampik sorak. Sebetulnya. Ia berpikir: ―Dia lihay. dengan kemalu-maluan ia menyelinap di antara orang banyak. sikapnya pun berpengaruh. siapa lagi?‖ Kwee Ceng heran. roboh ke tanah. maka ia pikir. ia cari sebuah restoran yang kecil. aku pikir kenapa ada demikian banyak wanita cantik. atau berkelit. maka itu apa perlunya aku membiarkan mereka mati bersengsara di sini?‖ Dengan cepat ia mengambil keputusan. malah di sini ia segera membeli seekor kuda untuk dengan itu ia lantas melanjuti perjalannya ke selatan. tetapi ia mengerti. Artinya: mencari jodoh denagn jalan pibu atau mengadu kepandaian. ia menolak ke arah pundak. sampai tidak dapat dilawan oleh Pian-liang. tibalah ia di Tiongtouw. bertempur dengan seru sekali. Nona itu tidak mengambil sikap menangkis. hanya mengubah kepalannya menjadi tangan terbuka. Di mana di situ tidak ada Hauw Thong Hay. Ia lantas saja mengangkat kaki. mesti ada orang yang sudah tolongi ianya. di situ ada dipancar bendera suram. sedang kereta-kereta bagus dengan semua kuda pilihannya mondar-mandir di jalan-jalan besar. Orang banyak itu mengurung sebuah tanah lapang. kota raja Tay Kim Kok. ia lantas menyerang dengan kedua tangannya. maka mereka itu lantas saja tidak dapat geraki kaki dan tangan mereka. ia menjadi kegirangan. negara Kim (Kin) yang besar. Pria itu tidak sampai hati. hingga ia berpikir: ―Kenapa aku seperti kenal dia? seperti aku pernah bertemu dengannya. Si pria dapat melihat lowongan. yang paling ramai dan indah. Ia menjadi besar di gurun pasir. hanya syukur. habis mana barulah ia putuskan belengguan mereka itu. Mendadak ia ingat apa-apa. Pantas Hong Ho Su Koay tidak sanggup berontak melepaskan diri. yang permai sero-seronya. Mukanya pemuda itu menjadi merah. ―Kalau bukannya kau. lalu iamundur ke bawah bendera. kapan aku pernah bertemu orang lain? Aku tadinya menyangka. dasarnya putih. ia berkelit dengan mendak. Ia heran orang menuduh padanya. alat menggantungnya itu adalah tambang kulit yang kuat. terus ia balik ke kota. hingga mereka menyangka aku. adalah mereka yang memusuhi aku. entah dimana…?‖ kemudian ia tersenyum sendiri. Ia lari keluar rimba. Semua itu ia saksikan diwaktu siang berderang. Herannya. ada sulaman empat huruf besar: ―Pi Bu Ciauw Cin‖. Ia menyelak di antara banyak orang itu. Syukur untuknya. untuk melihat ke sebelah dalam.

mereka yang gagah sudah pada menikah atau mereka yang muda sungkan hatinya?‖ Ia berhenti sebentar. hanya guna anakku ini. ―Bukankah dia mau adu kepandaian untuk mencari suami? Nah. Orang bnayak lantas mengawasi.‖ Habis mengucap. Mendengar itu. Si nona lantas bicara perlahan sama seorang yang berdiri di dekatnya. baharu ia menambahkan: ―Kota Pakhia ini adalah tempat rebahnya harimau atau tempat sembunyi naga. Disamping mereka. apakah kau mau dengan datang kemari?‖ ia menegur. ―Oh. perkenankanlah kami undurkan diri. Dasar aku kurang berpengalaman! Rupanya di Tionggoan ini dimanamana wanitanya cantik semuanya. para penonton juga tak henti-hentinya tertawa. matanya bersorot tajam. yang ia awasi. Paderi itu tersenyum. kembali riuhlah tertawa orang banyak. Bok Ek tarik tangan gadisnya.‖ ia membujuk. maka itu.Pendekar Pemanah Rajawali tahu nona ini melebihkan mereka itu…. aku mancarikan jadohnya dengan jalan pibu ini. Si nona menjadi mendongkol. ia tertawa. hatinya tidaj tergiur. lalu ia cabut benderanya. dan umurnya juga sudah lewat lebih dari setengah abad. Siapa yang usianya di bawah tiga puluh tahun dan belum menikah. kakek-kakek!‖ katanya. ―Setelah aku mendapatkan istri begini cantik. Tiba-tiba saja. disini mesti banyak orang berilmu dan gagah. lagi sekali orang itu mengangguk. untuk pulang ke rumah penginapan guna beristirahat. lagi ia menjura kepada orang banyak. apakah kau tidak kasihan terhadap si nona yang masih demikan remaja bagaikan sekuntum bunga? Apakah setelah kau menikah kau hendak membuatnya ia menjadi janda?‖ Orang tua itu menjadi gusar. ―Tunggu dulu!‖ Itulah suara berbareng. aku lewat di tempat tuan-tuan tidak dengan maksud mencari nama atau mencari uang. Ia lantas loloskan mantelnya. aku akan segera pulang asal menjadi orang biasa lagi!‖ sahutnya. walaupun ia telah melihat wajah-wajah yang cantik manis. ―Habis kau. akan tetapi kami masih belum menemui jodoh yang dicari itu. ―Tenang. nanti besok kami datang pula ke mari untuk melayani tuan-tuan. Si empe dan paderi masih adu omong terus. ―Nanti. maka tak usahlah aku menjadi heran…‖ Pemuda ini polos. sebabnya rupanya. Karena ini dengan beranikan diri. maka juga. Maka itu ia lantas memandang ke kiri dan kanannya. Adalah keinginanku. ―Aki-aki. cukup asal ia satu pria sejati yang mengerti ilmu silat. yang datangnya dari sebelah kiri dan kanan. berniat ia menghajar kedua manusia ceriwis itu. Yang datang dari barat itu lebih lucu pula. Yang muncul dari sebelah timur itu adalah seorang tua dengan tubuh terokmok. yang agaknya tidak menghiraukan ejekan orang banyak itu. Tuan-tuan. sepasang alisnya terbangun. ia yang maju melawan si nonan manis!‖ . oleh karena itu. nanti aku yang melayani mereka. sudah membuat perjalanan dari selatan hingga di utara. siapa yang menang. dari mana lantas terlihat dua orang berlompat ke dalam kalangan. ia masih belum ketemu jodohnya. mereka jadi sengit sekali. mari kita berdua main-main…!‖ 175 ―Saudara-saudara. Tidakkah pemandangan itu sangat lucu? Irawan D Soedradjat Page ―Bagus!‖ berseru si paderi. maka itu sekarang aku lagi mencarikan jodohnya itu. kamu tertawakan apa?‖ tanya si tua itu kepada orang banyak. asal ia bisa menyerang anakku dengan satu kepalannya atau kakinya. Anakku sudah dewasa usianya. aku harap tuan-tuan memaafkannya kalau ada kata-kataku yang tidak tepat. hatinya masih terbuka. ―Taruh kata kau menang. aku masih belum menikah! Mustahilkah aku tidak cocok?‖ Si paderi itu awasi si tua. Kami berdua. nah kamu pibulah terlebih dulu!‖ satu penonton yang membuka mulut. mukanya penuh berewokan. sudah melintas tiga belas propinsi. kumisnya sudah ubanan separuh lebih. Ia merasa bagaimana orang hendak mempermainkan padanya. wajahnya menjadi merah. Dialah satu paderi yang kepalanya licin lanang! ―Eh. pasangan anakku tidak usah berharta. akhirnya mereka semua tertawa geli. terus ia mengangguk keempat penjuru seraya terus berkata: ―Aku yang rendah bernama Bok Ek. ayah dan anak. itu bendera Pi Bu Ciauw Cin. akan aku rangkap jodoh anakku ini dengan jodohnya. pria itu mengangguk.

Dia pun menghela napas. Bukankah pibu telah berakhir? Tapi justru itu. maka ruyung itu menjadi bengkok melengkung. tetapi. Sampai disitu. Kwee Ceng menonton. Suara kelenengan itu datang dari rombongan itu. ia hajar itu dengan ruyung sehingga golok itu patah dua! Para penonton kagum. mereka pada mengundurkan diri setindak demi setindak. ia lantas awasi si nona baju merah. . dengan itu ia membabat kakinya si tua! ―Celaka!‖ berteriak orang banyak. wajahnya guram. Kiranya mereka sama-sama membekal senjata. penonton hendak bubaran. bagaikan martil. Dengan satu dupakan. ―Ya.‖ menyahut si nona. ia masuk ke dalam kalangan. untuk mengasih keluar sepotong thiephie atau ruyung besi. tenaganya sebenarnya masih besar. kemudian selagi golok turun. belum lagi ia peroleh jawaban. terus ia loncat dari kudanya. Si empek sebaliknya tenang tegar. berbareng dengan mana. Kwee Ceng pun tak terkecuali. segera ia balas menyerang. tapi berbareng dengan itu. yang diajak bicara.Pendekar Pemanah Rajawali Paderi ini menantang. Maka dengan itu. kepalannya menghajar tiga kali beruntun. Kapan Kwee Ceng telah melihat si koncu. sebelah tangannya sudah melayang. tiba-tiba Bok Ek menyerbu. mereka tidak memperdulikan seruan itu. ―Bagus! Bagus!‖ teriak orang banyak berulangkali. mendadak ia tarik keluar sebatang golok kayto dari dalam jubahnya. Cuma rambut dekat kedua samping kupingnyas udah berwarna kelabu dan kulit mukanya berkerenyut dan itu waktu. keduanya nyelusup antara orang banyak. yang tubuhnya sedikit bongkok tetapi badannya lebar dan kekar. ―Tuan-tuan. tangannya meraba ke pinggangnya. Maka itu sekarang mereka melansungkan pertandingan itu dengan golok dan ruyungnya masingmasing. tanda dari tenaganya yang besar. hingga sudah tentu saja selanjutnya tak dapat digunai lagi! Si tua dan si paderi tercengang. jangan pandang usianya yang tua. mereka dengar suara kelenengan kuda. Bok Ek cekal kedua ujung ruyung. Si paderi dapat berlompat danmendekam dengan cepat. segera ia jatuh duduk. Satu kali si paderi dapat meraptakan diri. ilmu Bagian Luar. Tapi itu belum semua. dalam sengitnya. sembari tersenyum. takut mereka nanti kena terserempet…. mereka bersorak. Si tua dapat menolong diri dengan berlompat berkelit. Jadi keduanya ada dari golongan Gawkang. mereka menjadi kuncup hatinya. hingga mereka pada menoleh. Ia kenali si kongcu yang ia telah ketemukan di rumah makan di Kalgan. ke arah pinggang lawannya. untuk angkat kaki! Kwee Ceng mengawasi Bok Ek. Tak tahan paderi itu. Ia berdiam tidak lama. lincah gerakannya. ia mungkin telah berusia enam puluh hampir. ia terima serangan tanpa berkelit atau menangkis. tanpa membilang suatu apa lagi. ―Apakah nona ynag mengadakan pibu untuk mencari jodoh?‖ ia menanya sambil ia memberi hormat. sedang si empe menggunai ilmu silat Ngo Heng Kun. lekas-lekas ia sembunyikan diri di antara orang banyak itu. kepalannya menumbuk kepala licin mengkilap dari si paderi. Hebat menyambar-nyambarnya golok kayto dan ruyung besi. tidak dapat kita sembarang menggunai senjata tajam!‖ Dua orang itu lagi bertempur seru sekali. numprah di tanah. ia angkat tinggi tangan kanannya. ―Besok kita pulang ke selatan…‖ berkata dia dengan masgul. Si empe-empe berkelit. Dilihat dari roman. untuk dikasih turun ke arah kepala lawannya. keduanya menjadi bertempur. ―Di sini adalah kota raja. Irawan D Soedradjat Page 176 Kongcu itu melihat bendera Pi Bu Ciauw Cin. Si empek kuat sekali. ia lantas menekuk. tahan!‖ Bok Ek berseru seraya ia menghampirkan. Melihat ia tidak dihiraukan. Ke situ datang satu kongcu atau pemuda sambil diiringi beberapa puluh pengikut. ia membuat golok kayto terpental tinggi dan dengan sambaran tangan ia rampas ruyungnya si empek-empek. Hanya sambil berseru-seru. Ia dapatkan si paderi bersilat dengan jurus-jurus Lo Han Kun dari ilmu silat Siauw Lim Pay.

turut bergerak. ―Kalau begitu. masa mereka berani bikin malu satu kongcu? Tentu si kongcu bakal dibikin mundur teratur. hingga bajunya yang panjang dan tangan bajunya juga. nona!‖ ia kata. Pemuda itu tampaknya heran. Nona itu bukan melainkan berlompat mundur.‖ kata si pemuda. ia hanya berjumpalitan. melengos. kongcu!‖ berkata si nona. ia nyelusup di bawah ujung bajunya pemuda itu. ―Ah.‖ Pemuda itu mengawasi si nona. ―Kalau begitu. Di luar dugaannya. Irawan D Soedradjat Page 177 . Ia bertindak ke tengah kalangan. orang yang pandai silat itu sudah menikah atau ia sungkan beradu tangan dengan anakku. ―Silakan kongcu membuka dulu bajumu. menantang. kongcu itu lompat ke kanan.‖ menyahuti si kongcu. ―Si nona lihay sekali. orang ada sangat gesit.Pendekar Pemanah Rajawali Nona itu dengan wajah bersemu merah. ―Sebabnya mungkin. yang menghampirkan pemuda itu. Sukar untuk menyingkir dari serangan susulan itu. ―Laginya ini bukannya cuma soal menang atau kalah. Maka itu ia loloskan mantelnya. ―Sampai sebegitu jauh sudah satu tahun lebih dan kami telah menjelajahi tiga belas propinsi. hendak aku mencoba-coba. di dalam tiga belas propinsi. maka si nona menjejak tanah untuk mencelat mundur. ia mengebut pula. Ia lantas merangsak. lalu tangan kirinya menyambar ke pundak si nona. Sekarang ujung baju dari tangan kanan si pemuda yang menyusul menyambar. Bok Ek tersenyum. ia hampirkan si pemuda untuk memberi hormat. ―Tidak usah. Terkejut si nona itu apabila ia menyaksikan gerakn orang yang luar biasa itu. supaya ia tidak hilang mukanya…‖ ―Silahkan. Kongcu ada keperluan apa apakah?‖ ia menanya. ia tidak menyahuti. Ia dapatkan orang. aku tidak percaya!‖ Ia tunjuki si nona. muda dan tampan. sebentar kau nanti merasai…‖ Tapi ada juga yang berpikir: ―Bok Ek ayah dan anak adalah orang kangouw. kongcu bergurau!‖ berkata Bok Ek tertawa. ―Ah. ―Kenapa begitu?‖ si pemuda menegaskan. Aku minta kongcu sudi memaafkan aku. maka barenglah mereka diwaktu mereka menurunkan tubuh. ―Aku yang rendah she Bok. sebelah kakinya menjejak ke arah hidung si kongcu. Pemuda itu membalas hormat. Untuk membebaskan diri.‖ menjawab Bok Ek dengan sebenarnya. Diam-diam girang hatinya Bok Ek. Ia tahu. Lagi-lagi ia memberi hormat. ―Bagaimana aturan atau syarat-syaratnya pibu perjodohan ini?‖ menanya si pemuda. ia tersenyum. Kali ini kongcu itu sudah tidak sungkan lagi. ini mengenai hari kemudian dari anakku. Bok Ek memberikan keterangannya. ―Kami adalah orang kangouw. belum pernah ia bertemu pemuda semacam ini. Para penonton pada berkata dalam hatinya. Si nona agaknya kagumi pemuda itu. tidak menunggu kedua kaki si nona keburu menginjak tanah. ―Silakan mulai. Sambil mendak. ―Bagus!‖ berseru si kongcu. ―Sudah berapa lama sejak kamu mengadakan pibu ini?‖ ia tanya pula. Tiba-tiba ia memutar ke kanan. mari!‖ berkata si pemuda. mari. untuk memberi hormat.‖ berkata nona itu. mana berani kami beradu tangan sama kongcu?‖ menyahut Bok Ek. ―Apakah mungkin belum pernah ada orang yang dapat menangkan dia?‖ ia menegaskan. maka itu ketika si kongcu datang dekat.‖ ia menerangkan. Adalah Bok Ek.

Sekarang si koncu yang main berkelit. hingga si nona manis lantas berada di dalam pelukannya. si nona menjejak. Apakah boleh jadi mereka berasal dari satu perguruan?‖ Sekarang si kongcu tidak mau mengalah lagi. malah ia lantas berseru: ―Anak Liam. Ia bukan membuka dengan baik. kancing-kancingnya jatuh di tanah. . kongcu menang jauh daripadamu…!‖ Tapi orang lagi bertempur hebat sekali. Melihat itu si nona. ia sekalian menolak seraya cekalannya itu dilepaskan. Sekarang terlihat kongcu ini dengan pakaian dalamnya dari sutera hijau muda yang indah. ―Lekas lepaskan aku!‖ ia minta. mereka tampan dan elok. sungguh cocok apabila mereka menjadi pasangan hidup. Bok Ek lantas maju. Tanpa berkata apa-apa. kedua tangannya bergerak. Si nona dengan wajah merah. Ia lantas berontak. ia malah terpeluk semakin keras. tolong kau lepaskan anakku. Ia menggunai tangan kirinya. mereka pun pandai silat. Irawan D Soedradjat Page 178 Nona itu mendongkol. Ia tahu si nona bakal mengibas keluar. gampang sekali. ia hanya menyobeknya! Satu pengiring lari menghampirkan guna membantui meloloskan baju itu. mulai membalas menyerang. nona itu rubuh terjengkang. sebab si kongcu juga membetot. Setelah menyaksikan lagi sekian lama. Mereka itu sama-sama lincah. si imam muda. Tapi sia-sia saja.: ―Kalau sekarang aku hendak robohkan kau. Kwee Ceng pun kagum. si nona bukan tandingannya. ―Kongcu ini lebih lihay daripada In Cie Peng. sampai tiba-tiba orang dengar suara ―bret!‖ robek. Dalam sengitnya. ―Kongcu sudah menang. Ia nampak semakin tampan. belum lagi tubuh orang mengnai tanah. suaranya perlahan.‖ berpikir Kwee Ceng setelah ia menyaksikan terlebih jauh. yang pinggangnya dilibat dengan sabuk hijau. Maka tidak ampun lagi. satu kongcu demikian lihay. dan baju si nona seperti mega bermain. Pertandingan itu berjalan terus dengan seru. yang itu malam menempur aku. Kwee Ceng jadi berpikir: ―Ilmu silatnya dia ini mirip betul sama ilmu silatnya In Cie Peng. sekarang ia mengharap-harap akan kemenangan si kongcu. nanti aku lepas kau!‖ sahutnya. tapi ada juga yang menggerutu. ujung baju itu putus dengan menerbitkan suara nyaring itu. ―Kongcu. kongcu ini mulai menyerang. ―Kau panggil engko padaku. Orang banyak bertempik bersorak. tangannya mengibaskan baju rampasannya itu! ―Tunggu dulu!‖ Bok Ek segera kasih dengar suaranya. ia masih belum mau melepaskan pelukannya. Karena ini tidak lagi ia benci si kongcu untuk kelakuannya di rumah makan baru-baru ini. merangkul. Pemuda itu tertawa lebar. malah untuk merapatkan saja sulit. Cuma aku tidak tega…‖ Benar saja. anginnya menyambar keras. selagi si nona mengerahkan tenaganya. untuk kamu menentukan kemenangan terakhir!‖ Kongcu itu bermuram wajahnya.Pendekar Pemanah Rajawali Penonton semua kagum. Itulah permintaann ceriwis. Si nona lantas lompat mundur jauh-jauh. Hanya. sudah tak usah kau melawan lebih lama lagi. sedang si kongcu kata di dalam hatinya. untuk lihaynya si kongcu dan untuk kelincahan si nona. ketika tangan kirinya menyambar. Bercahaya wajahnya yang putih dan bibirnya yang merah. tangan kiri si nona kena dicekal. karena itu sukar untuk si nona membalas mendesak. maka robeklah bajunya. tangan kanan si kongcu sudah menyambar. ―Pasti jodoh mereka bakal terangkap…‖ Bok Ek pun girang melihat jalannya pertempuran ini. Si kongcu tertawa.‖ ia minta. Mereka tidak sangka. silakan kau loloskan bajumu. Si nona menjadi sangat malu. menjadi suami-istri. Bok Ek dan Kwee Ceng terperanjat. Nyata si nona dapat menjambret ujung baju si kongcu dan ia menariknya. Pemuda-pemudi itu berimbang usianya. Maka ada menarik akan menyaksikan baju indah si kongcu bagaikan bercahaya.

Pengiringnya si kongcu tertawa dingin dan menyela. sepatu siapa ia masuki ke dalam sakunya. air mukanya sampai berubah. Nona ini penasaran.‖ Kongcu ini berkelit sambil menjajak sanggurdinya. ia sampai berdiam saja. ia sendiri menghampirkan kudanya. untuk menaikinya. ―Anakku pun tidak nanti nikah dengan kau. tangannya melayang. ―Kau kira kongcu kami ini bangsa apa? Kongcu kami bersanak dengan kamu orang kangouw tukang jual silat dari kelas tiga rendah empat bawah? Hm! Pergilah kau tidur dengan mimpimu di siang bolong!‖ Bukan main gusarnya Bok Ek. Irawan D Soedradjat Page 179 . ia tertawa besar. beberapa penonton bangsa bergajul. ―Aku telah melepas kata. dengan begitu. Kongcu itu tetap tidak mengambil mumat. ―Mari kita pergi sama-sama ke sana untuk berbicara. kedua tangannya digeraki berbareng. Ia tertawa. ―Harum! Harum!‖ ―Kau she apa kongcu?‖ Bok Ek menanya. ia jatuh terduduk di tanah.‖ ia menyahuti. Itulah jurus ―Ciong kouw cie beng‖ atau ―Gembreng dan tambur ditabuh berbareng. maka itu tentu saja aku hendak jodohkan anakku ini denganmu. ia tertawa. lantas saja berseru-seru. ―Kau toh telah mengalahkan anakku!‖ ia kata. Kongcu itu berdiri sambil tertawa haha-hihi. dengan tangan kirinya ia cekal lengan kiri pemuda itu. mana bisa kita memandangnya enteng?‖ Kongcu itu melengak. tangannya mencekali sepatu orang. ―Akan aku adu jiwa!‖ berteriak ayah yang dipermainkan itu seraya ia lompat berjingkrak. Ini ada urusan seumur hidupnya manusia. ia tidak menghiraukan sikap ceriwis si pemuda. seketika ia roboh di tanah. manusia hina dina! Bayar pulang sepatu anakku itu!‖ Kongcu itu mengawasi. maka itu tubuhnya lantas mencelat ke tengah kalangan. tetap ia memegang tubuh di nona.‖ berkata Bok Ek. Bok Ek heran. tempo akhirnya ia bebas. ia injak sanggurdi denagn sebelah kakinya. ia berontak sekuat tenaganya. yang ia bawa ke hidungnya! Melihat itu. tangan itu dipakai menangkis dan menangkap kaki orang. Sebab sepatunya telah terlepas. maka pengiring itu berkoak kesakitan. ―Baik!‖ serunya. ―Tidakkah itu sangat menarik hati? Tentang perjodohan.‖ berkata si anak muda. tapi ia menoleh kepada si nona yang ia awasi.‖ ―Aku tidak sempat. sembari tunduk. ―Ada apa sangkut pautnya denganmu?‖ Ia terus geraki tangan kirinya itu dan terlepaslah cekalannya Bok Ek. terus pingsan! Kongcu itu tidak ambil peduli kejadian itu. ―Jadi kau sengaja mengganggu kami?!‖ berteriak Bok Ek. ―Tidak usah bicara lagi!‖ katanya. terima kasih banyak!‖ Mukanya Bok Ek menjadi pucat. Ia menjadi malu sekali. ia tunduk. untuk menyerang kedua pelipis orang. Bok Ek habis sabar. ia suruh lain pengiringnya tolongi pengiring yang terluka itu. ―Sepatu ini toh anakmu yang dengan suka sendiri menghanturkannya kepadaku. Kongcu itu pun tertawa. ―Kau…! Kau…!‖ katanya kemudian seraya menuding. ia raba kaos kakinya yang putih. ―Kami tinggal di Hotel Ko Seng di jalan utama kota barat. seraya ia putar tubuhnya untuk minta jubah sulamnya dari pengiringnya. beberapa giginya rontok.Pendekar Pemanah Rajawali Kongcu itu melepaskan tangannya yang kanan. mulutnya mengeluarkan darah. ―Apakah yang hendak dibicarakan?‖ tanya kemudian. ―Bukankah kita main-main dengan ilmu silat?‖ katanya.

Kecuali bangsa bergajul. ia tertawa haha-hihi. pada bagian belakang telapakan tangan. maka dengan sebat ia berkelit. Para penonton menjadi mendongkol berberang berduka. tidak kelihatan ia menarik pulang tangan kirinya atau tangan kanannya sudah melakukan penyerangan pembalasan. sikap dan lagu suara itu telah diajoki kongcu mereka. Itulah salah satu jurus ―Eng Jiauw Kun‖ atau ―Kuku Garuda‖ dari ilmu silat Utara. untuk mengejek. ―Halo. Sebab belakang telapakan tangan dari Bok Ek telah berlumuran darah! Si nona menjadi kaget berbareng gusar. lagi ia menyerang. ke arah kedua belah pipi. menyusul itu. mencelat mundur. Ia tidak lantas menginsyafi orang lagi permainkan padanya. Mereka lihat roman orang yang ketolol-tololan. Para penonton berseru kaget. guna melindungi mukanya. ―Jikalau aku tidak sudi nikahi dia?‖ dia tanya. orang tua. Bok Ek tarik lengan kirinya. Kongcu ini terang selain ceriwis pun kurang ajar dan keterlaluan. agaknya dengan gampang saja ia mendak sedikit. untuk menolongi. dalam sikap ―Touw in hoat jit‖ atau ―Nyelusup ke mega menukar matahari‖. kapan ia lihat anak muda kita. Bok Ek tolak mundur anaknya. Kongcu itu lihay. maka ia tidak mau main acuh tak acuh lagi. ia membalas dengan sama hebatnya. bukan?‖ kata ia sambil tertawa. sepuluh jarinya berubah menjadi merah semuanya. atau aku tidak hendak berhenti!‖ Wajahnya si nona guram. Inilah mereka tidak sangka. tangan kirinya membalas menyerang perut dengan jurusnya ―Tok coa sim hiat‖ yaitu ―Ular berbisa mencari lubang. ia tercengang. dilain pihak. guna robekannya dipakai membalut lukanya. ―Kau harus menikah dengan baik-baik dengan nona ini!‖ ia menjawab kongcu itu. Ketika lawan itu berkelit. terus ia tertawa. Kongcu itu mengetahui orang seperti kalap. Bok Ek sudah lantas lompat untuk menerjang pemuda itu. Tangan kirinya itu telah diangkat ke depan mukanya. Irawan D Soedradjat Page 180 . ―Habis kau mau apa!‖ ia menantang. dari berkesan baik mereka menjadi jemu dan membenci. Bok Ek kaget bukan main. lupa kepada tangannya yang sakit. akan mengasih keluar sebuah pisau belati dengan apa ia terus tublas dadanya sendiri. ia menyerang dengan tangan kanannya. Si kongcu miringkan kepalanya. Inilah pukulan ―Wie Hok Hong cu‖ atau ―Malaikat Wie Hok mempersembahkan toya‖. sesudah mana dari samping. menyusul mana ia menarik tubuhnya. Mereka pun tidak berani mencampur tangan.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau aku telag hajar roboh padamu. dengan tidak kalah sebatnya. mendadak saja kedua tangannya bergerak. Adalah Kwee Ceng yang tidak dapat melihat terlebih jauh.‖ Bok Ek berkelit ke kanan. ai memburu kepada ayahnya itu. Tapi cuma sebentar saja. Ia robek ujung baju si ayah. Selagi si kongcu hendak menaiki pula kudanya. Kwee Ceng melongo sebentar. dari situ ia menyerang pula. Kongcu itu tidak memandang enteng kepada musuh ini. tidak ada yang berani membuka mulut. ―Kau minggir!‖ katanya sengit. lalu ia lolos dari bahaya. ―Hari ini saku mesti mengadu jiwa dengannya. sebab si nona tidak keburu membatalkan tikamannya. kau tentunya tidak bakal memaksa aku nikahi anakmu. dan lagu suaranya pun beda dari lagu suara mereka. Cumalah mereka bisa mendelu saja. maka sekarang ia terlukai anaknya itu. ia memandang tajam kepada si pemuda. Tiba-tiba tangannya merogoh ke sakunya. ia bertindak ke dalam kalangan. dua jari tangannya mencari pundak bagian yang kosong. Untuk membalas serangan dengan serangan. Tentu saja mereka menganggap itu lucu. semua penonton menjadi panas hatinya. bahwa serangannya itu sangat berbahaya. ia tangkis tublasan itu. ia mendesak. kali ini dengan kedua tangannya. menyambar kedua tangannya Bok Ek itu. ―Bagaimana baru tepat?‖ Semua pengiring si kongcu tertawa ramai. sahabat! Perbuatanmu ini tidak tepat!‖ Kongcu itu berpaling. ia hanya tidak menyangka semua serangan lawan sedemikian berbahayanya. ia berseru.

Kwee ceng tidak menjawab. ―Sebenarnya kau hendak membayar pulang sepatu itu atau tidak?‖ Dengan mendadak saja anak muda ini menggeraki kedua tangannya. ―Kau mau mampus?!‖ tanyanya. sakit hati ini tidak dapat tidak dilampiaskan!‖ Terus ia kata dengan suara nyaring: ―Anak muda. Sampai di situ. ―Kau sebenarnya murid siapa? Kau memanggil apa kepada Oey Yok Su dari pulau Tho Hoa To?‖ Kwee Ceng menggoyangi kepalanya. masa bodoh!‖ berkata itu pemuda yang lantas memutar tubuhnya. ―Saudara kecil. Ia berontak tetapi tidak berdaya. kau tidak mengerti urusan. ―Nona ini cantik dan ilmu silatnya pun sempurna. ―Ilmu menotok jalan darahku itu adalah guruku yang kedua yang mengajarkannya. ia lompat kepada pemuda itu. ―Siapa itu gurumu yang kedua?‖ tanya kongcu itu kemudian. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng tidak menangkis atau berkelit. hanya ia pun balik menanya. dengan begitu. disamping ia mendongkol terhadap si kongcu.‖ menjawab Kwee Ceng. Ia Cuma merasa orang masih terlalu muda dan belum mengenal dunia. ―Aku tidak tahu Oey Yok Su itu orang macam apa. maka kenapa kau begini melit hendak mengetahui she dan namaku?‖ ia bertanya. ―Siapa guruku. ―Apakah kau tidak lihat itu merek bendera yang menjelaskan pibu untuk pernikahan?‖ Kongcu itu tidak menjawab. mencekal kedua nadi si kongcu. ―Baiklah. ia hanya mengawasi dengan tajam. ―Bukankah aku telah beri nasehat kepadamu untuk kau nikahi nona ini?‖ kata Kwee Ceng. Bok Ek hampairkan ini anak muda. ―Bukankah kau menaruh hati kepada nona itu?‖ ―Bukan!‖ jawab Kwee Ceng. kenapa kau tidak sudi menikah dengannya? Jikalau kau tidak hendak menikah sama nona macam vegini. Sajak tadi ia mendengari orang pasang omong. ―Kau gemar campur urusan bukan urusanmu!‖ ia berkata. apa perlunya kau maju dalam pertandingan?‖ Kwee Ceng tanya. Kwee Ceng ulur tangannya untuk mencegah. kau tinggalkan she dan namamu!‖ Kongcu itu berpaling. dia buka tindakannya yang lebar. di belakang hari ke mana lagi kau hendak mencarinya?‖ ―Eh. ―Kalau begitu.‖ ―Habis. Ia telah gunai salah satu tipu dari ilmu silat Kim-na-ciu. Ilmu silat itu adalah untuk menangkap tangan lawan. kau bayar pulang sepatunya si nona!‖ ia membentak. Kwee Ceng menjadi habis sabar. ―Aku tidak mau memberitahu‖ jawab Kwee Ceng pula. ―Aku sudah bilang. Kongcu itu menatap.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau kau tidak sudi menikah dengannya. tak dapat aku beritahu padamu!‖ ia jawab. kenapa kau hendak pergi pula?‖ ia menanya. hingga orang terlempar tubuhnya. tidak dapat aku memanggil mertua kepadamu. untuk berjalan pergi. dengan sebat ia tarik tangannya kongcu itu. jangan kau ladeni dia!‖ dia berkata. ―Sebenarnya kau hendak main gila denganku atau bagaimana? dia tanya tegas kemudian. ―Asal nyawaku masih ada. ia bebsa dari tendangan orang itu. . tahu ia bahwa anak muda ini baik hatinya dan berpihak padanya. sebelah kakinya menendang ke bawahan perut si anak muda. ―Habis kenapa?‖ kata si kongcu lagi. yang semuanya terdiri dari tujuh puluh dua jurus. Kongcu itu tertawa dingin. ―Eh. bicara denganmu sia-sia saja!‖ kata si kongcu. 181 Kongcu itu terkejut berbareng gusar. siapa yang ajarkan kau ilmu menotok istimewa dari pulau Tho Hoa To it?‖ si kongcu masih menanya. ia tertawa. yang menggeleng kepalanya.

ia tak sampai tertendang roboh. maka tempo kakinya disambar. Ia berkelit. ia dapat menendang terus-terusan sembilan kali. Mereka yang gemar menonton menjadi kecele. ―Kau tidak mau nikahi dia. maka dia segera maju seraya tangan kirinya dipakai menyerang ke pundaknya si pemuda. Syukur untuknya. itu cocok dengan keinginannya. Kongcu itu kena tertendang. jubahnya itu dilayangkan sekali.Pendekar Pemanah Rajawali Kongcu itu enteng sekali tubuhnya. Kwee Ceng lantas aja singkirkan jubah sulam yang menungkrup kepalanya itu. Si kongcu lantas menggunai ketikanya. bahwa orang tidak ingin berkelahi. ia berklit dan berlompatan tiada hentinya. ―Dengan kepandaian begini kau hendak mencari balas untuk orang lain?‖ ia mengejek. ―Hm. Hanya dengan begitu. . tidak patah tulang-tulang rusuknya. Kwee Ceng gelagapan. ia hanya menjalankan napasnya. Tiba-tiba saja ia merasakan sakit pada dadanya. Justru itu dua kali iganya kena dihajar. selama dua tahun ia telah peroleh latihan tenaga dalam dari Tang Yang Cu Ma Giok. walaupun ia telah terlempar. semuanya cepat dan hebat. dengan tendangan beruntun Wanyoh Lian-hoan-twie. walaupun ia terhajar hebat. sudah saja. ia sadar akan dirinya. Kwee Ceng mengawasi. Kwee Ceng belum mendapatkan kesempurnaannya. mulutnya mengasih dengar tertawa dingin. hingga ia merasakan sakit di dadanya itu berkurang. Bab 17. ia menjadi gusar sekali. Ia menjadi kaget dan mendongkol. telah mengenakan kempolannya kiri dan kanan. Kongcu ini jeri juga terhadap Kwee Ceng. Ia berlompat bangun kapan ia lihat orang kembali hendak ngeloyor pergi. Inilah pelajaran yang ia wariskan dari Ma Ong Sin Han Po Kie di Malaikat Raja Kuda. pemuda kita merasa kegelapan mata. ia telah kalah satu babak. baik kau pulang dulu untuk belajar lagi sama gurumu sedikitnya buat duapuluh tahun!‖ ―Lihat kepalan!‖ ia berseru sambil menyerang. Dalam pada itu. tetapi yang kedelapan dan kesembilan. mana dapat ia mengalah: Tidakkah ia berada di hadapan orang banyak? Maka itu seraya menyingkap jubahnya. kau bayar pulang sepatunya itu!‖ Orang banyak menyangka pemuda ini hendak membelai keadilan. Hanya sampai sebegitu jauh. Pangeran Wanyen Kang Kena dihajar secara demikian. ia Cuma terpelanting. Kongcu itu menjadi repot. bocah?‖ ia berseru. ―Buat apakah aku bertempur denganmu?‖ ia berkata. lalu perlahan-lahan ia melihat perubahan. maka tidak membuat tempo lagi. ia tidak terluka. Irawan D Soedradjat Page 182 Kwee Ceng tidak menyahuti. ia memutar tubuh. Bagus untuknya. Ia menjadi gusar sekali. maka dalam sekejap saja. ―Apakah kau hendak pergi?‖ menegur Kwee Ceng seraya menyambar jubah orang itu. atau ia menjadi kaget. dipakai menungkrap kepala orang. ia melakukan pembalasan. mereka tidak ayana. Ia merasa asing untuk kelakuan curang. Tidak sempat ia mengempos semangatnya. ia cuma merasakan sangat sakit. ―Kau sudah bosan hidup. dengan ilmu mana Han Po Kie pernah robohkan beberapa jago dari Selatan dan Utara. Kongcu itu tepuki kempolannya yang penuh debu. Mulanya di Mongolia ia menghadapi orang-orang jujur. ia tertawa tawar. Kwee Ceng menangkis. sebab si kongcu sudah tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu. ia kewalahan. Pertempuran itu merupakan satu pengalaman luar biasa untuknya. akhirnya cuma sebegitu saja sikapnya. ia cuma terjerunuk. ia menggeleng kepala. tidak sampai ia mencium tanah. Karena ini ketika ia didesak. akan tetapi ia dipaksa menyerahkan sepatu si nona. dengan mengasih dengar suara ―Bruk!‖ ia roboh memegang tanah! Semua pengiringnya si kongcu lantas bertepuk tangan dan tertawa. Tujuh tendangan ia bisa kasih lolos. karena berberang ia berkelit. Karena ini keduanya menjadi terpisah.

Kongcu itu dapat berkelit. dalam keadaan sulit itu. sudah membarengi menyerang dengan tangan kanan kanan ke arah pinggang. Ia tahu sekarang. Si kongcu sendiri merasa lucu berbareng mendeluh. Menampak demikian si kongcu menggunai akal. yang menang seurat. untuk mencari kemenangan. ―Kenapa kau seperti hendak mengadu jiwa memaksa aku menjadi toakomu!‖ ―Kurang ajar!‖ mencaci Kwee Ceng. pemuda itu bukan lawan si kongcu. ―Kau pergi!‖ berseru si kongcu. Ia pun kata: ―Lao-tee. ―Kau pulangi sepatu orang!‖ bentak Kwee Ceng. Tiba-tiba ia ingat bahwa ia tidak bermusuhan sama si kongcu. tetapi ia tidak tahu. tangan kirinya menyambar ke muka orang. ia ditertawai sekalian pengikut si kongcu. Itulah cacian di antara orang Pakhia. awas!‖ ia berseru seraya menyerang. Maka tidak ampun lagi. mereka berimbang dengan ketangguhannya.Pendekar Pemanah Rajawali Dengan mendak. kalau datang polisi. Pertempuran seru itu ditonton semakin banyak orang. Si kongcu menangkis. Maka itu mereka menjadi berimbang. Ketika ini digunai si kongcu. dari belakangnya datang serangan. ipar. Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu. yang tangannya menolak keras. selagi begitu ia masih tetap menolak. ia didesak oleh si pemuda yang bersilat dengan ―Hun-kin Co-kut Ciu‖ yaitu ilmu silat untuk memisah otot-otot dan tulang. ia hendak mengerahkan tenaganya. ―Eh. Kedua tangan lantas bentrok. hanya setelah itu. mereka saling menolak. Kwee Ceng menyedot napas. keduanya bertempur terus. tetapi sikutnya mengenai tanah. maka itu. Ia sudah terjerunuk melewati lawannya. ia lepaskan diri dari tangan Bok Ek. ―Jikalau kau tetap ganggu aku. yang menangkis dengan tangan kiri. Kwee Ceng tidak menyahuti. dari itu. untuk memegang tangan orang yang kanan itu. romannya ketolol-tololan. tubuhnya sekalian diputar. ia lantas geser incarannya ke sisi sasanan semula. Ia berlaku sangat sebat. jangan kita layani segala manusia hina!‖ Kwee Ceng roboh dengan mata kabur dan kepala pusing. kau masih belum takluk?‖ berkata si kongcu. Lukanya telah dibalut rapi oleh putrinya. Ia juga berkhawatir untuk Irawan D Soedradjat Page 183 . Ia tahu. Bok Ek jadi merasa tidak enak hati. dengan menggeser pinggangnya. pemuda itu terguling jatuh. ia menangkis dari belakang. jangan salahkan aku berlaku kejam!‖ kongcu itu mengancam. Karena dicaci begitu. untuk menyerang. Kwee Ceng melawan. Kali ini pemuda ini berlaku waspada. Kwee Ceng tidak tahu lawannya lagi memancing. Ia hendak menotok jalan darah hian-kiehiat. dengan cepat ia mencelat bangun. ia lantas maju. kongcu itu berkelit. buat terus ditarik dengan kaget sambil berbareng kakinya dipakai menjejak paha si pemuda. ia lantas menyerang. tak sempat ia menahan dirinya. Kelihatan nyata. sedikitnya ia bakal diseret ke kantor pembesar setempat. ―Bukankah nona itu bukan adikmu?‖ ia bertanya. ia rubuh ngusruk. ia kalah pandai tapi ia bersemangat. maka setelah dikasih bangun. Habis itu. Tiba-tiba ia rasai tenaga lawan lenyap. mati kita pergi. mereka menjadi bergumul pula. Kwee Ceng berkelit. malah tinjuan itu dilakukan saling susul hingga tiga kali. ia membela diri dengan berlaku hati-hati. Kongcu ini pernah juga menyakinkan Hun-kin Co-ku Ciu hanya pelajarannya beda daripada pelajaran Kwee Ceng yang didapat dari Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong. aku tidak mau mengerti!‖ Kongcu itu tertawa melihat orang berkukuh. maka kewalahan juga si kongcu. ia menjadi gusar sekali. Selama tujuhpuluh jurus. ―Tolol. ia maju pula. lalu ia membalas. ―Kalau tidak. untuk mengasih bangun. Ketika ia bisa menahan dirinya. seraya mundur. ia ingin membalas. Bok Ek menonton dari bawah benderanya. siapa bilang dia adikku!‖ Ia gusar sebab kongcu itu ejek dia sebagai toaku. mendapatkan tiga kali Kwee Ceng roboh. Tidak dapat Kwee Ceng bertahan. tenaga dalam Kwee Ceng terlatih besar tetapi si kongcu menang latihan ilmu silatnya. ―Aku tidak kenal dia. ia bisa dapat susah. tubuhnya terhuyung ke depan. kakinya dibarengi dipakai menendang dada lawannya. hanya ia merangsak. tidak lagi ia kena dipancing. ia cuma mendongkol. Maka adalah diluar dugaannya ketika si kongcu.

kopiahnya disalut emas. nampaknya sangat gesit. sia-sia saja beberapa kali siauw-ongya menyerang padanya. ―Umpama kau sendiri. yang matanya bersinar. hilanglah jiwa kami semua…‖ Itulah se pendeta Tibet yang ditegur.‖ Bok Ek pandang ornag itu. ―Kelihatannya kepandaiannya itu kacau. mengawasi mereka. tukang jual silat ini terkejut hatinya. i antara siapa ia tampak beberapa yang matanya tajam dan air mukanya luar biasa. Yang satu adalah satu pendeta bangsa Tibet. hingga beberapa orang disampingnya menjadi terkejut. bukan?‖ ia berkata. kenapa kau juga berada di istana ongya?‖ Si kate kecil itu mengangguk. Karena romannya yang luar biasa itu. segera ia lihat. ―Baik kau maju dan hajar bocah itu. ada yang bertaruh untuk siapa yang bakal menang. hanya mukanya bercahaya segar. Orang yang kedua sudah lanjut usianya. Dengan perlahan-lahan Bok Ek menggeser ke tempat pengiring-pengiringnya si kongcu. mungkinkah si kate kecil ini adalah kepala berandal? Nama Kanglam Cit Koay sudah lama tidak terdengar. Irawan D Soedradjat Page 184 . coba bilang. Dia tentu tidak senang ada orang yang membantu padanya…‖ ―Eh. ―Ilmu silat siauw-ongya itu ada dari partai mana?‖ Kali ini ia berbicara dengan perlahan. Si rambut putih tertawa.‖ berkata seorang di pinggiran. Si rambut putih tertawa.Pendekar Pemanah Rajawali banyaknya orang. siapa saja tak dapat ia undang?‖ kata pula si rambut ubanan itu. ialah gerakannya jadi ayal tapi tubuhnya terjaga rapat. Maka juga. dia tidak menjawab. ada juga yang membekal senjata. ―Haouw Laotee. Orang disebutnya siauw-ongya dan ongya. di jidatnya ada tiga tahi lalatnya. tubuhnya besar. si muka biru dan kurus itu sudah berlompat maju ke tengah kalangan seraya ia berseru: ―Hai bocah. ―Bukankah kaum Coan Cin Kauw itu bangsa aneh? Kenapa mereka justru mewariskan kepandaiannya pada siauw-ongya…?‖ ―Ongya pandai bergaul. ―Kalau mataku tidak salah. kecewa kalau itu tidak dipertontonkan di muka orang banyak. Kau biasa menjagoi di dua propinsi Shoatang dan Shoasay. ―Pheng Ceecu benar. kalau mereka bertempur terus dan siauw-ongya salah tangan hingga ia terluka. ―Leng Tie Siangjin. Di sebelah mereka. Ia dapatkan Kwee Ceng berubah silatnya. dan tidak keriputan. dia pun berkata: ―Siauw-ongya telah belajar ilmu silat belasan tahun. ―Haouw Laotee.‖ berkata satu pengiring. Dia pun bermata tajam. Dia tersenyum. Adalah si rambut ubanan yang berkata sambil tertawa: ―Paling juga kakimu dikemplang patah! Mustahil ongya hendak mengehndaki jiwamu?‖ Bok Ek terperanjat. mukanya pun bersinar merah. dari partai mana asalnya ilmu silat si bocah itu?‖ ia tanya.‖ sahut si kate kecil itu kemudian. benar juga.‖ berkata si kate kecil. coba lihat. kau ke sini!‖ Dia pun menarik keluar sebatang kongce atau cagak dari dalam sakunya. Si ubanan sudah lantas mengawasi kedua anak muda yang lagi bertempur itu. matanya mencorong tajam. semua pada berpaling memandang dia. Orang yang ketiga bertubuh kate dan kecil. ―Siauw-ongya lebih lihay daripada lawannya itu!‖ Orang ini kate dan kecil akan tetapi suaranya mengejutkan. ―Bocah ini adalah muridnya Kanglam Cit Koay. apa benar mereka masih hidup?‖ Selagi Bok Ek berpikir. sungguh aneh!‖ kata si kate kecil itu. dia tentu bukan satu gurunya. Tidakkah di antara pengiringpengiringnya si siauw-ongya adalah orang-orang yag gagah dan lihay?‖ ―Jangan takut!‖ berkata si orang kate dan kecil. itulah ilmu silatnya kaum agama Coan Cin Kauw. yang mukanya kurus dan sinarnya biru. Suara itu nyaring. diantara mereka itu ada tiga orang yang menarik perhatiannya. Dia berdiri tegar hingga ia melebihkan tingginya semua orang. pangeran muda dan pangeran. bencana akan datang kalau sampai siauw-ongya itu terluka. kau lagi uji mataku. tak bisa diduga usianya yang tepat. yang bicarakan silat kedua anak muda itu.‖ ―Sungguh begitu. jubahnya merah dan gerombongan. sebab rambutnya sudah putih semua. Kalau begitu. Ia kata di dalam hatinya: ―Dia memanggil Pheng Ceecu. Haouw Laotee. tubuhnya sedang saja. hingga mereka lekas-lekas melengos. saudara Nio.

com dan utara Sungai Besar. Dan orang ynag matanya tajam bagaikan kilat itu adalah orang ynag sangat terkenal di Tionggoan. aku Sam-tauw-kauw tidak sudi menjadi manusia!‖ Thong Hay sesumbar. hingga ia dijuluki Som Sian Lao Koay. kapan ia lihat siapa yang dikejar Thong Hay. Julukan ini harus dipecah dua: Siapa yang menghormati dia.‖ ia pikir. Ia tetap awet muda sebab sejak masih kecil ia doyan makan jinsom serta lainnya pohon obat. dia menjerit ―Ayo!‖ seraya terus memutar tubuh. Merekalah tiga Siluman dari Hong Ho. untuk membantu Kwee Ceng. Mukanya Hauw Thong Hay. namanya Pheng Lian Houw. yang dipermainkan Oey Yong. Dalam saat itu. berulang-ulang ia tikam bebokong orang yang ia kejar itu! Oey Yong sangat lincah. tidak tampak. dan siapa bukan orang-orang partainya. Terang sudah dia telah kena ditampar oleh lawannya yang licin itu. Oey Yong menanti sampai orang sudah datang dekat. menoleh dan mengejek. kapan anak itu dapat lihat dia. setelah datang dekat. kalu ditakut-takuti. si Siluman Tua. julukannya Cian-ciu Jin Touw. ―Mari! Mari!‖ Oey Yong menantang. Di selatan www. kawannya yang ubanan tapi mukanya tampak segar bagai muka anak kecil. membuatnya orang banyak saban-saban tertawa riuh. setiap kali ia dapat pisahkan diri jauh-jauh dari lawannya. Song-bun-hu Cian Ceng Kian. kembali ia lari. sinarnya berkilauan.Pendekar Pemanah Rajawali Orang banyak terkejut. Itu waktu barulah Kwee Ceng menginsyafi bahwa sebenarnya Oey Yong itu lihay ilmu silatnya. ditimpali sama kalapnya Thong Hay. bahwa ialah yang selama di hutan cemara Hek-siong-lim di Kalgan sudah menggantung Hong Ho Su Koay di atas pohon dan memancing kepada Hauw Thong Hay. ai terkejut. ia khawatirkan keselamatannya Oey Yong. memanggilnya Som Sian. Siluman yang keempat. keistimewaannya ialah ilmu Tay-ciu-in. Dia pun terus tertawa. ia sudah lantas kena ditendang si kongcu. paman gurunya Hong Ho Su Koay. Kelakuan Hauw Thong Hay itu. Tentu saja ia tidak kenal si orang ini. ―Jikalau aku tidak berhasil menggeset kulitmu dan mematahkan tulang-tulangmu. ―Bagus perbuatannya. Ia nyelusup sana dan nyelusup sini di antara orang banyak. ―Aku hendak pergi sebentar. Hauw Thong Hay bukan menyerang Kwee Ceng. segera aku kembali!‖ ―Lebih baik kau mengaku kalah!‖ mengejek si kongcu. tanda arang hitam. tiba-tiba ia tampak sahabatnya itu lari mendatangi. tetapi justru ia hendak melompat lari.kangzusi. Kwee Ceng tidak berniat berkelahi terus. selalu dapat ia kelit tubuhnya. dibelakangnya. ia diikuti empat orang lainnya yang bukan lain daripada Hong Ho Su Koay. untuk angkat langkah panjang. ialah Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. tapi ia segera bersiap. terlihatlah datang memburunya tiga orang yang napasnya tersengal-sengal. tangannya menggapai berulang-ulang. Kelakuannya ini. ―Tahan dulu!‖ ia berseru seraya lompat keluar kalangan. Tapak Tangan yang lihay. mulutnya mencaci kalang kabutan. dari partai Cong Gee. ada yang berteriak. sahabat barunya. ketua dari partai Tiang Pek Pay dari Gunung Tiang Pek San. tambah tanda tapak lima jari tangan. dan anak-anak yang lagi nangis. Bok Ek pun tidak kurang kagetnya. menyebabkan rombongannya Leng Tie Siangjin memperbincangkannya. ia mengejar. Ia berteriakan. yang ia tinggalkan lalu ia berdiri diam. di bawah cahaya matahari. Kwee Ceng sedang bertempur. tapi senjata itu tidak dihiraukan Oey Yong. yang pakaiannya compang-camping. Pembunuh Sribu Tangan. dia hanya maju ke antara orang banyak. Di belakangnya tampak Thong Hay tengah mengajar tengah mengejar. Thong Hay mengejar terus. Leng Tie itu adalah paderi dari Tibet. ―Peng Lian Houw datang!‖ tentulah berhenti tangisnya. di antara siapa ada satu anak muda yang tubuhnya kurus lemah. pikirannya lagi kusut. adalah Nio Cu Ong. ia heran atas itu suara bentakan. Segera juga orang banyak tertawa riuh. Kongce itu ada cagak tiga. Karena ini. sepatu kulitnya diseret hingga berisik kedengarannya. Dewa Jinsom-Siluman Tua. sekalipun wanita umumnya kenal namanya itu. semuanya tajam. menyebut ia Lao Koay. Pemuda dengan pakaian tidak karuan itu adalah Oey Yong. sinar itu ditimpali tiga gelangnya yang bergerak dan berbunyi nyaring setiap kali digeraki. Irawan D Soedradjat Page 185 . pada pipinya yang kiri dan kanan. Dewa Jinsom.

untuk singkirkan peluh dan debunya. pangeran muda. semua pengikut maju untuk memberi hormat. dengan sapu tangannya. Dia bersahabat erat dengan Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian si Raja Naga Pintu Iblis. untuk mendekati joli indah itu. kepada orang banyak. Suara itu seperti mengaung di kupingnya. yang terus berdebaran. mereka sudah dengar ramainya tindakan kaki serta berisiknya gelang konce. Tiba-tiba ia tertawa sendirinya. belum kebeuru mereka berangkat. yang tertutup rapat. telah aku dengar nama besar dari Kwie Bun Liong Ong. Justru itu. yang memegang sapu tangan putih. aku senang bermain-main. Siauw-ongya telah robohkan Kwee Ceng lima-enam kali. pakiaannya menjadi tidak karuan macam: Baju di dadanya robek putus. Semua orang banyak. ―Rewel!‖ ia menggerutu. dia pun berdahaga dan lapar. ―Kenapa suara ini sama suaranya orangku ini?‖ katanya di dalam hatinya. maka ia bertindak. lari mendatangi dengan napas memburu. orang banyak itu lantas saja mundur ke kedua pinggir jalan. ―Ong-hui datang! Ong-hui datang!‖ pengikut-pengikutnya si siauw-ongya berseru berulang-ulang setelag mereka melihat joli itu.Pendekar Pemanah Rajawali Berkatalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong: ―Selama aku di Kwan-gwa. terlihatlah enam orang menggotong sebuah joli besar yang indah. dia sangat letih. si wanita masih mengucapkan beberapa kata-kata. mari kita pulang bersama!‖ kata si onghui kembali. lagi menyerang kalang-kabutan ke kira dan ke kanan. dan ia tahu baik Houw Thong Hay lihay. dari dalam joli diulur keluar sebelah tangan yang putih dan halus. sembari berbuat begitu. yang satu bersenjatakan tombak. ia menjadi diam sambil berpikir keras. Jauh di belakang mereka terlihat Gouw Ceng Liat serta Ma Ceng Hiong. Ketika mereka ini datang dekat. untuk beristirahat.‖ terdengar suaranya pangeran muda itu. dengan apa mukanya si siauw-ongya disusuti. tangan dan kakinya dirasakan ngilu. ―Tidak apa-apa…‖ ―Lekas pakai bajumu. Segara juga joli telah sampai di lapangan pibu. telah berhenti. hingga kelihatan baju dalamnya yang putih. Tangannya Oey Yong sambil mengibar-ibarkan dua potong kain. untuk diajak pulang ke penginapannya. hingga si penjual silat ini tak dapat mendengarnya dengan tegas. pertempuran di antara Kwee Ceng dan si siauw-ongya. ―Ibu. Maka itu. lantas terdengar suaranya seorang wanita. dia bungkam. dengan cambuk di tangan. hatinya tercekat. mereka lantas dengar bentakan-bentakan riuh yang datang dari arah barat. yang halus dan perlahan. Dari dalam joli. suara yang halus: ―Kenapa berkelahi? Baju luar pun tidak dipakai! Nanti masuk angin!‖ Bok Ek dapat mendengar tegas sekali suara itu. Hauw Thong Hay sebaliknya. maka kenapa hari ini orang she Hauw itu jadi demikian tidak berdaya? Selagi Oey Yong permainkan Hauw Thong Hay. Mungkin si saiuw-ongya ditegur dan dihiburi oleh onghui ini. Ia berpikir pula: ―Orang ini adalah onghui dari negeri Kim. Bok Ek telah kasih turun bendera Pie-bu Ciauw-cin. sering mereka ―bekerja tanpa modal‖. lalu terlihat Oey Yong berlari-lari kembali dengan tetap dikejar oleh Hauw Thong Hay. yang lainnya ruyung. Menyausul rombongan hamba-hamba galak itu. onghui ialah selir seorang pangeran atau raja. Siauw-ongya lantas mengerutkan keningnya. Kembali si Bok Ek terperanjat. aku memikir kepada istriku. apakah aku sudah pikun? Sungguh gila untuk memikir yang tidak-tidak…‖ Tidak dapat ia lantas melenyapkan pikirannya itu. heran berberang merasa lucu. Dipihak lain. ia hampirkan Kwee Ceng untuk dihiburkan. ia susuti peluhnya. Oey Yong dan Hauw Thong Hay saudh lenyap pula. Tapi. kenapa adik seperguruannya ini begini tidak punya guna. yang menjadi penonton. sampai satu bocah pun dia tidak sanggup layani?‖ Pheng Lian Houw mengkerutkan keningnya. lalu mereka tampak belasan orang polisi serta pengiring. Irawan D Soedradjat Page 186 . ―Benarkah di kolong langit ini ada dua orang yang suaranya sangat mirip satu dengan lainnya?‖ ia menanya dalam hatinya. Kebetulan itu waktu. bahwa ia lihay sekali. yang mereka usir pergi. ―Siapakah telah pergi membawa berita kepada ong-hui!?‖ Tidak ada berani ynag menjawab. mereka menjadi tertarik untuk menonton terus.

Makin lama Kwee Ceng makin gagah. lalu dilemparkan saling susul. Thong Hay hendak menjual kepalanya itu! Ia hanya tidak tahu bahwa ia telah dipermainkan oleh Oey Yong. lalu ia membalas memukul paha siauw-ongya. ia dapat melayani pukulan berulang-ulang kepada tubuhnya itu. Belasan serdadu maju. ini hari aku mesti labrak dia ini!‖ Setelah belasan jurus. mungkin mereka telah kena dirobohkan pemuda itu. Atas itu. hingga mereka menduga-duga.Pendekar Pemanah Rajawali Satu pengiring menjumput jubah sulam dari siauw-ongya. siauw-ongya itu berkelahi dengan hebat sekali. sebaliknya mereka merasa. Ia berkelahi terus. untuk menolongi kawannya itu. parasnya pun pucat. sinar mata itu ayu sekali. Karena ini Leng Tie Siangjin dan Nio Cu Ong lantas menyiapkan senjata rahasia mereka. keduanya jadi bertempur lagi. Oey Yong dan Thong Hay telah berlari-lari balik. Putrinya Bok Ek. Orang senang melihat kejadian itu. lalu tangan kanannya diteruskan untuk memegang leher lawan. Ia bertubuh kuat. ilmu menangkap yang terdiri ari tujuh puluh dua jurus. dengan begitu berarti. ia tidak dapat dirobohkan pula. lengan Kwee Ceng kena dihajar satu kali. ―Jangan! Jangan berkelahi!‖ onghui berseru mencegah. yang tangannya mencekal cambuk. ia pandang Kwee Ceng dengan bengis dan memdamprat: ―Binatang cilik! Lihat. siauw-ongya sebaliknya dengan Kim-na-ciu. guna dipakai menyabet hingga tiga kali. sebelah tangannya diangkat. rupanya ia hendak banggakan kegagahannya di depan ibunya. ia menjadi ulet sekali. maka ia lantas terdesak. berlompat bangun. Kwee Ceng berkelit. ia rampas cambuk orang itu. kapan perlu. Selagi bertempur. ―Kau masih berani main gila?!‖ tegurnya. satu kakinya menyapu. mengawasi kedua anak muda yang lagi bertarung itu. ―Siapa suruh kau menganiaya rakyat jelata!‖ ia menegur. Tidak ampun lagi. siauw-ongya itu agaknya tidak takut. sepasang matanya terus diarahkan kepada joli indah itu. dia bukan menyerah kalah. Ia pun menang ‗kang-lat‘ atau tenaga latihan. sekarang di rambutnya Sam-tauw-kauw. pengiring itu roboh terguling. ia termanja. ibu . untuk menangkap lengan orang. tangan kirinya membangkol tangan lawan itu. dua kali ia kena dibikin memegang tanah. Mengawasi mata orang itu. maka kali ini. kau telah bikin kotor jubah ini!‖ Satu pengiring lain. Maka keduanya menjadi berkutat. Bok Ek tidak pedulikan segala apa disekitarnya. kedua-duanya saling terancam hilang jiwa atau terluka parah. berbareng dengan mana. berbareng dengan itu. mereka ditangkap si anak muda. ia menjadi lebih kosen. Mereka jadi semakin sengit berkelahinya. habis mana. Ia terus lompat. lawannya yang lincah dan licik itu. Mereka adalah orang-orang tua yang kosen. untuk tolongi dua serdadu yang dilemparkan paling belakang. bisa mereka mencegah Kwee Ceng menurunkan tangan jahat terhadap si pangeran muda. ia membalas membangkol dan memegang leher lawannya itu. Bok Ek berdiri menjublak bagaikan patung. Terhadap ibunya. Ular Naga Kepala Tiga itu. ada ditancapkan cauw-piauw atau tanda barang hendak dijual. Kwee Ceng berkelahi dengan ilmu silat Hun-kin Co-ku-hoat. Inilah tidak heran sebab ia hidup di tanah gurun. terus ia membalas meninju. Siauw-ongya berkelit. onghui sampai berparas pucat. Irawan D Soedradjat Page Semua orang kaget. Maka tempo tenda tersingkap. Kwee Ceng lantas terdesak lagi. Kwee Ceng berkelit. ia maju. untuk menolong apabila siauw-ongya benar-benar terancam jiwanya. sembari berkelahi. ia membentur sikut kanan si pemuda agung. ia tendang itu anka muda. Oey Yong itu sebenarnya orang macam apa. Sebaliknya siauw-ongya biasa hidup di istana. Satu kali Kwee Ceng menyambar ke muka siauw-ongya itu. Tapi Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu. Nio Cu Ong bertiga menjadi heran. Dengan begitu. separuh mukanya keluar dari tenda. ia menyahuti: ―Tidak. sembari berbuat begitu. Kwee Ceng dirobohkan dua kali. tetapi tempo mereka mulai menyerang Kwee Ceng. Selama itu. malah ia seperti termanjakan. Kwee Ceng mendahulukan. ia dapat melihat satu wajah dengan sepasang mata jeli dan rambut yang bagus. untuk merabu otot dan tulang musuh. Di belakang mereka tidak tertampak dua Siluman. ynag tadinya numprah di tanah. sungkan mereka mengepung Kwee Ceng. satu demi satu. yang lain hendak mencekik. Siauw-ongya terkejut. Siauw-ongya menjadi gusar. tidak dapat tidak. lalu ia menyerang. Maka itu. dengan tangan kanannya. yang satu hendak mematahkan tangan. 187 . Itu waktu. terus saja menghajar ke arah kepala si anak muda. atas mana. ia kalah ulet.

tetapi lekas juga ia sambar Kwee Ceng. akan tetapi. Tiang bendera itu terlalu panjang. Pheng Lian Houw berpaling kepada si pangeran muda dan berkata sambil tertawa: ―Siauw-ongya. ia menyambar kedua kaki lawannya itu. Atas itu. ia dikam terus. ilmu mana diturunkan hanya kepada anak laki-laki. sepotong yang lain masih melibat ditangannya Lian Houw. sebab siauw-ongya merubah siasat. ia segera menarik pulang tanagnnya. Diakhirnya terdengar teriakannya onghui: ―Berhenti! Berhenti! Jangan berkelahi lagi!‖ Karena nyonya agung itu mendapatkan putranya telah bermandikan keringat. ia lompat mundur. terus ia kerahkan tenaganya. tapi sebelum tubuhnya dilepas. Tidak ampun lagi. yang ia peroleh dari Jebe. ia maju ke Kwee Ceng. ia memaksa menangkis juga. Siauw-ongya dilemparkannya. Di sini ia gunai kesempatannya. sambil berseru. ia angkat tubuh siauw-ongya. jubahnya warna abu-abu. hingga senjata yang melibatnya ia terputus. ia menarik keras. Untuk tolongi dirinya. Disaat anak muda ini terancam bahaya maut. dengan cepat ia ayun tubuhnya itu. ynag bersilat denagn tipu Hang Mo Thunghoat. Kwee Ceng merasakan matanya berkunang-kunang dan kepalanya pusing. tidak dapat ia mencegah mengucurnya air matanya. ia sambar tiang itu. hingga sukar untuk ia melompat bangun. untuk menyampok tiang bendera. ia dapat mainkan itu dengan baik. ia ulur tangan kanannya ke arah kepala orang. Yang menegrti ilmu itu. tangannya mencekal sebatang hudtim atau kebutan. atau satu pukulan telah menjurus ke mukanya. ia berguling hingga ke dekat tiang bendera Pibu Tiauw-cin. Ia terus mengawasi pada Lian Houw. maka heran kenapa di negara Kim ada yang dapat memainkannya itu? Ia terus mengawasi. tetapi tidak urung. Sekarang orang bisa lihat. untuk melakukan penyerangan membalas. hingga benderanya berkibar-kibar bagus. ia terguling roboh. sekonyong-konyong datang teriakan dari antara orang banyak: ―Perlahan!‖ Lalu terlihat melesetnya satu bayangan abu-abu perak disusul serangan semacam senjata. Peng Lian Houw bertindak ke dalam kalangan. Bok Ek tetap perhatikan ilmu silat tombak dari siauw-ongya. mental ke udara. begitu keras. dengan begitu. Anak muda itu terkejut. Kedua tangannya menyambar tanah. lebih-lebih ia tahu. pengajaran dari gurunya yang pertama. yang kemudian berkata: ―Tuan. hanya kebutan itu tinggal sepotong. dia lompat. terpaksa ia kembali bergulingan. tapi ia didesak. Kwee Ceng menghindarkan diri.Pendekar Pemanah Rajawali Disaat itu terdengar suara menggelepok. hingga ia tercengang. Nyata muka Kwee Ceng kena digaplok. Setelah merobohkan bocah itu. kedua tangannya sakit. untuk dilemparkan. ia segera geraki tangan kirinya. Hek Pian-hok Kwa Tin Ok si Kelelawar Hitam. ia lantas saja kena didesak hingga ia mesti selalu membela diri. terpaksa sambil bergulingan. adakah kau Irawan D Soedradjat Page 188 . tidak kepada anak perempuan. makin lama ia menjadi makin heran. untuk bagian Selatan Tionggoan saja sudah jarang. ia sudah berdaya. Itulah terang Yo Kee Ciang-hoat. Tapi ia masih sadar. yang terus saja melibat tangannya si orang she Pheng itu. Siauw-ongya tidak kenal permainan silat lawannya itu. ia layani tombak musuhnya itu. tiang bendera lantas terlepas dari cekalannya. hanya siauw-ongya berada disebelah atas. supaya dia jangan mengganggu terlebih jauh…‖ Sembari berkata. setelah mana. Ia nyata telah menggunai ilmu silat bangsa Mongolia. Mendengar suaranya onghui. Keras pukulan itu. lagi dua kali. Maka sekarang mereka bertempur dengan bersenjata. ia juga agaknya berpikir keras. terus ia pakai menangkis. kurang tepat untuk Kwee Ceng. Dengan menggulingkan tubuh. yaitu ilmu tombak Keluarga Yo. Kwee Ceng kaget. meskipun Kwee Ceng hanya bergenggaman tiang bendera. belum pernah ia menemui tandingan selihay ini. Belum sempat ia memandang orang. dengan tombak itu. ia tidak terbanting. segera ia menikam Kwee Ceng. Karena didesak tak hentinya. Ia berkelit dengan cepat. Habis itu sama sebatnya. sampai akhirnya ia merasa sedih sendirinya. Nona Bok pun memperhatikan jalannya pertempuran. justru si anak muda lagi merayap bangun. Kwee Ceng merasakan telapak tangannya sakit. Dia ini sebat. maka Kwee Ceng kena ditarik roboh hingga saling tindih. Orang yang baru datang itu agaknya terperanjat. dia adalah satu tojin atau imam usia pertengahan. yang pinggangnya ia peluk. Tetapi Lian Houw tidak diam saja. tangannya menyambar tombak di tangan seorang serdadu yang berada dekat dengannya. Seumurnya kecuali Bwee Tiauw Hong. ia sambar bajunya siuaw-ongya. lengannya kena terhajar. akan aku bereskan dia ini. sesudah mana ia berlompat bangun. hingga serangan itu batal.

―Memang telah aku duga. ia sudah lantas menjura kepada Kwee Ceng. sungguh aku merasa sangat girang!‖ ―Tidak berani aku menerima yang namaku yang rendah dijunjung sedemikian tinggi olehmu. tanah kering dan keras. ―Siapakah gurumu?!‖ Siauw-ongya itu telah merasa kurang enak hati. inilah hebat. batal ia untuk main gila. Mereka dapatkan orang sungguh alim dan agung. ia menghadapi si siauwongya dengan wajahnya keren sekali. Imam itu menjura. ia berkata: ―Saudara Kwee. oleh karena itu boanpwe mohon sukalah totiang datang ke rumahku.‖ Melihat sikap orang yang demikian hormat. Peng Lian Houw suka berbuat baik. pasti kita tidak kenal satu Irawan D Soedradjat Page 189 . terang totiang adalah satu cianpwee. tetapi ia terlambat. Wanyen Kang benar-benar cerdik. pinto adalah Ong Cie It. tetapi karena injakan atau tindakannya itu. ―Memang benar. sedang orang pun dari Coan Cin Kauw. Wanyen Kang tertawa hihi-hihi.‖ berkata Ong Cinjin. ―Hm!‖ Ong Cie It perdengarkan suaranya. ―Aku mohon ketahui gelaran suci dari totiang. Ia berdiri diam dan menyahuti: ―Namaku Wanyen Kang. Coba tadi mereka tidak telah menyaksikan gerakan yang gesit dan melihat itu tapak kaki. ia mendapat satu pikiran. Sudah lama mereka ketahui hal imam ini. kalau gurunya ketahui perbuatannya. justru berbareng dengan itu. untuk dimajukan satu tindak. ketika ia memutar tubuh. baru sekarang mereka menemui sendiri orangnya. hatiku menjadi sangat tertarik. ―Jadinya totiang adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu Ong Cinjin?‖ ia menanya. di tanah lalu tertapak dalam. sembari tersenyum. apakah ia telah bilang padamu? Apakah pesannya?‖ Wanyen Kang perlihatkan roman cemas. kau adalah muridnya Khu Suhengku itu. maka itu dengan besarkan nyali. ―Anak.‖ ―Bukankah gurumu ada tanda tahi lalat merah pada pipinya yang kiri? Ong Cit It tanya pula. hanya Ia ulur kakinya. tanpa tunggu orang buka mulut lagi. Maka itu. kalau kita tidak bertempur. Nama guruku tidak dapat aku beritahukan padamu. ia berkata: ―Totiang kenal guruku itu. bagus benar perbuatanmu ya? Pada mula kali gurumu hendak mengajarkan silat padamu. terus ia menunjuk pada Kwee Ceng dan berkata: ―Pinto tidak kenal anak ini. lalu ia menarik pulang. ―Teecu terlalu memuji kepadaku. hanya karena kemuliaan hatinya dan kegagahannya berusan. tidak nanti mereka mau percaya dia adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu si Dewa Kaki Besi yang pernah menakluki jago-jago di Utara. Ia lantas mengangguk. karena ia tahu ia lagi berhadapan dengan satu cianpwee. ia memberikan persetujuannya. Melihat tapak sepatu itu. Anak ini dapat dengar panggilan itu. Kaos kakinya yang putih serta sepatunya yang abu-abu bersih sekali. Ia tidak menjawab. Ong Cie It menjura pula seraya menghanturkan terima kasih.‖ Peng Lian Houw. pinto mohon Pheng Ceecu memberi ampun kepada jiwanya. lekas ia ubah sikapnya. begitu juga Som Sian Lao Koay. hendak ia menjawab secara jenaka. Sebenarnya ia sudah memikir untuk berlalu. ―Hm. orang yang tingkat derajatnya terlebih tua.‖ Semua orang lantas mengawasi kepada imam itu. atau mendadak matanya si imam bersinar tajam bagaikan kilat. untuk boanpwe anti mendengar segala pengajaranmu. Dengan sabar. Peng Lian Houw terperanjat. Tidak berani pinto menerima itu sebutan cinjin. maka itu sambil membalas hormat.‖ Dengan lantas siauw-ongya ini membahasakan diri ―boanpwe‖. orang dari tingkat lebih rendah. ―Siapakah namamu?‖ ia menanya bengis. Ong Cie It tersenyum.Pendekar Pemanah Rajawali Pheng Cecu yang namanya sangat tersohor? Hari ini aku dapat bertemu denganmu. Sedang di tanah utara ini. yang kumis dan janggutnya terbelah tiga. Ia dapat lihat suasana buruk. maka hatinya terkesiap.‖ ia menyahut. Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin mengawasi imam itu.‖ sahut Lian Houw. yang mereka tahu namanya tidak kalah daripada Tiang Cun Cu Khu Cie Kee. yang romannya toapan. Ia insyaf. lekas pulang!‖ demikain terdengar suara ibunya dari dalam joli.

Irawan D Soedradjat Page 190 . ―Sekarang aku tidak usah mengkhawatirkan apa-apa lagi!‖ Kwee Ceng heran. sebentar saja mereka sudah berada diluar kota. Ong Cie It tidak bilang suatu apa. tidak mau ia mendusta. kau turut aku. Melihat si Ular Naga Kepala Tiga ini. Kwee Ceng dapat mengikuti denagn baik kepada si imam itu. bownpwe menantikan segala kehormatan atas kedatangan totiang ke rumahku. Ilmu silat kau saudara. Di sini si imam berjalan semakin cepat. Kwee Ceng tertawa di dalam hati. ia bisa berlari-lari tanpa napasnya memburu atau hatinya berdenyutan. Sampai sebegitu jauh. Tapi ia pun cerdik. ―Engko Kwee kecil. bagus!‖ katanya. kau tahu atau tidak? bertanya si imam. tubuhnya enteng. ―Toasuko telah ajarkan kau ilmu silat. dan dibawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok. Mendengar itu. ia sambar les dari seekor kuda pilihan yang satu pengiringnya bawa kepadanya. ia hanya menunjuk kepada Bok Ek dan gadisnya serta bertanya: ―Bagaimana urusan jodohmu dengan nona itu?‖ Wanyen Kang menjadi likat. ―Buat apa kau layani pula manusia hina dina ini?‖ Wanyen Kang dengar suara orang menghina itu. hingga mereka itu berlari-lari untuk menyingkir dari bahaya kena diterjang kuda. maka itu. Tapinya ia berkata kepada Kwee ceng.‖ ia berkata. terus ia lompat naik ke atas kuda itu. ia cuma tertawa saja. Oey Yong muncul dari antara orang banyak. ia lari terus-terusan. dari itu. tiba-tiba ia melepaskannya. yang dipanggil setahu apa siauw-ongya Wanyen Kang itu adalah muridnya suhengku Tiang Cun Cu. ―Hal itu kita perlahan-lahan saja kita bicarakan pula. Di lain pihak. ia dapat manjat puncak. tibalah mereka di belakang sebuah puncak buklit. Totiang tanyakan saja istananya Chao Wang. ia tidak menjadi gusar. Ia menyebutkan Kanglam Cit Koay dan Ma Giok. Ia memang bertubuh kecil dan lincah. untuk diajak pergi.‖ katanya.‖ ―Aku hendak menantikan dulu sahabatku…‖ Kwee ceng menjawab. Memang ia hendak menguji enteng tubuhnya si bocah.‖ Habis berkata begitu. Cepat tindakannya si imam. Bok Ek tarik tangannya Kwee Ceng. ia cekal tangan si bocah. lantas terlihat Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay lari mendatangi. yang pun ia kasih lari ke antara orang banyak. aku pun minta suka kau bersama totiang berkunjung ke rumahku. ialah ini imam. Mendengar itu Ong Cie It menjadi girang sekali. ia mengawasi imam itu. mari kita pulang!‖ berkata ia. Kwee Cneg tahu di antara adik seperguruan dari ma Giok ada yang bernama Ong Cie It. Ong Cie It mendongkol untuk sikap keagung-agungan itu. ia hanya menjura pula kepada Ong Cie It seraya berkata: ―Totiang. Selang lagi beberapa lie. lantas saja ia berkata sambil tertawa: ―Aku tidak kenapa-kenapa! Sebentar aku pergi mencari padamu…!‖ Baru ia mengucap. Ia terperanjat dan mengawasi bocah itu. ―Siapakah gurumu?‖ Ong Cinjin menanya lagi. ―Totiang. ―Kenapa kau tidak dapat mengalahkan dia itu?‖ Kwee Ceng tidak tahu bagaimana harus menjawab. ―Orang dengan siapa tadi kau bertempur. ia lantas menjatuhkan diri di depan Ong Cinjin. Belum berhenti suaranya bocah ini. Sukalah kau kalau kita mengikat persahabatan?‖ Kwee Ceng tidak menjawab. ―Dasarmu tidak jelek!‖ ia berkata dalam herannya itu. Ia sudah belajar lari keras. banyak-banyak terima kasih.Pendekar Pemanah Rajawali sama lain. Ong Cie It cekala tangan orang. hingga dilain saat mereka sudah tinggalkan orang banyak itu dan tengah menuju keluar kota. aku sangat mengaguminya. ―Engko kecil. kemudian ia menyelinap di antara orang banyak itu. Maka itu.

gurunya tidak memberikan keterangan apa-apa. dia dapat dihukum berat.‖ Irawan D Soedradjat Page 191 . Kwee Ceng itu nanti berkelahi tidak dengan sungguh-sungguh dan karenanya menjadi tidak memperoleh kemenangan. ―Apa?‖ dia menanya. sekarang setelah mendengar pertanyaannya Ong Cie It. bocah ini menjadi tidak tahu tentang ilmu silat kaum Coan Cin Kauw. bahwa dalam pibu. dalam beberapa hari ini tentulah ia bakal tiba. Ong Cie It dapat menduga. maksudnya pasti untuk mencegah Kwee Ceng menjadi bersusah hati hingga pernyakinan ilmu silatnya menjadi terganggu. maka itu tidak heran Tujuh Manusia Aneh dari Kanglam itu tidak mau menjelaskan sesuatu kepada Kwee Ceng. Ciat-kang untuk apa ia dimestikan pergi ke Kee. di dalam hatinya tapinya ia suka bocah ini yang jujur dan hatinya pemurah.Pendekar Pemanah Rajawali Bocah itu tercengang. ―Dimana totiang dan Tuan Kwee tinggal? Nanti kami pergi mengantarkan ke sana. dari dalam hotel sudah muncul beberapa pengiring dengan pakaian seragam bersulamnya. maka itu ia heran atas kata-katanya imam ini. Ong Cie It ketahui maksudnya Kanglam Cit Koay. tak baik aku mewakilkan mereka memberi keterangan. ia tidak bilang suatu apa. kalau ada murid yang bersalah.‖ berkata pula si pengiring. Ia lantas menunduki kepala. semua lantas memberi hormat kepada Ong Cinjin seraya berkata: ―Kami diperintahkan siauw-ongya mengundang totiang serta Tuan Kwee menghadiri pesat di gedung kami. teecu mohon totiang suka memberi maaf. Kemudian ia meneruskan dengan sikapnya sungguh-sungguh : ―Kami kaum Coan Cin Kauw ada punya aturan yang keras. maka itu kenapa dia bolehnya mengajari silat kepada satu pangeran Kim? Sungguh membikin pusing kepala…‖ Terus ia mengawasi Kwee Ceng dan berkata pula: ―Khu Toasuko telah menjanjikan aku bertemu di Yan-khia. ―Dan ini kue-kue dan bebuahan. baiklah totiang memberi ampun padanya. ―Gurumu belum membilang suatu apa kepadamu. Kwee Ceng juga tidak berani menanya apa-apa lagi. Entah bagaimana kepandaiannya murdi she Yo itu.‖ ―Sebentar kita datang. yang tidak mendendam. Di sini ada aku. Kanglam Cit Koay pasti menghendaki kemenangan.‖ berkata Ong Cie It. ia menjadi ingat kepada pertempurannya sama In Cie Peng hingga ia ingat juga. siauw-ongya minta totiang dan Tuan Kwee sudi menerimanya.‖ berkata Ong Cie It kemudian. ia berkata-kata seorang diri: ―Toasuko biasanya benci kejahatan sebagai musuh besarnya.‖ ia memohon. tidak nanti aku bikin kau memdapat susah…. Dia telah mendengar lelakonnya kedua keluarga Yo dan Kwee itu. aku khawatir dia nanti menerbitkan bencana jiwa…‖ Kwee Ceng terkejut. ―Sekarang masri kita lihat itu orang she Bok dan gadisnya. Baharu mereka sampai di depan pintu. dia lebih-lebih membenci bangsa Kim.‖ berkata Kwee Ceng. Toasuka telah menerima satu murid she Yo. hatinya masih ingin merekoki jodohnya nona Bok.‖ Mereka lantas menyerahkan sehelai kartu nama di atas mana ada tertera: ―Hormat dari teecu Wanyen Kang. pibu apakah itu?‖ ia bertanya. ―Totiang. kemudian setelah berpikir. ―Aku tidak tahu…‖ Ma Giok mengajarkan Kwee Ceng tanpa penjelasan. Ong Cie It tertawa bergelak. terus ke rumah penginapan Kho Seng di jalan besar utama. Atau mungkin disebabkan musuh adalah turunan sahabat ayahnya.‖ Kwee Ceng telah terima titah gurunya untuk sebelum tanggal duapuluh empat bulan tiga sampai di Kee-hin. ilmu silat Wanyen Kang sama dengan ilmu silatnya In Cie Peng itu. tetapi tidak nanti dilindungi atau dieloni. aku akan menanya jelas segala apa. Maka keduanya lantas berjalan dengan cepat ke kota barat. ―Hatimu mulia. maka setelah bertemu dengannya. nanti aku suka minta toasuko menghukum padanya!‖ ―Asal ia suka menikah dengan nona Bok.hin itu. Ong Cie It menggeleng kepala. dia kata hendak ajak muridnya itu pergi ke Kee-hin untuk dicoba pibu denganmu. ―Nonan itu bertabiat keras. ―Teecu tidak tahu siauw-ongya itu adalah muridnya Khu Totiang. nanti kau jangan khawatir. dia cuma manggut-manggut. ia menghela napas. ia menjadi ingat kepada nona itu.‖ ia menjawab. aku suka sekali! Mustahil aku nanti persalahkan kau!‖ ia berkata. teecu telah berlaku kurang ajar. Siauw-ongya itu sombong dan ceriwis.

Ia pilih empat rupa kue. yang rupanya diperdengarkan untuk menyambut ia dan Ong Cie It. Mengadu Kepandaian Habis menerima antaran itu. yang rimannya bengis. hatinya tercekat. baik aku tinggalkan untuk dia. gadisnya duduk smabil menangis. ―Wanyen Lieh mengenali aku. ia turut dipimpin ke dalam thia. Ia tersenyum. sedang kepalanya ditutupi kopiah emas. lantas ia dengar ramainya suara tetabuhan.‖ Kwee Ceng berpikir.Pendekar Pemanah Rajawali Beberapa pengiring lainnya lantas maju untuk mengsih lihat barang antaran mereka. tetapi mungkin dikhawatir menjadi nowa. akan tetapi kapan ia melihat sikap Kwee Ceng. yang mana ia letaki di atas meja. Kwee Ceng tahu. Ia polos. siapakah namamu?‖ Nona itu menunduki kepalanya. inilah cade…. putra keenam dari raja Kim. lalu ia terus masuk ke dalam kamar orang.‖ kata Cie It. Ong Cie It tak berkesan baik terhadap Wanyen Kang. mereka dipapaki empat pengiring. ia tarik tangan Kwee Ceng buat meninggalkan hotel itu. Bok Ek sendiri berbangkit untuk berduduk di atas pembaringan. ia bungkus itu dengan sapu tangan. Ong Cie It mengkerutkan keningnya. pakaiannya jubah merah dengan gioktay atau ikat pinggang kumala. ia lari pula ke luar. di kiri dan di kanan pintu ada nongkrong masing-masing seekor cio-say. yang terus lari masuk pula ke dalam hotel. Kwee Ceng paling dulu lihat dua lembar bendera berkibar di tiang yang tinggi. atau lebih tepat istana.‖ berkata Kwee Ceng. ―Oey Yong suka dahar makanan semacam ini. yang setiap belakang telapakan tangannya bertanda lima lobang jari tangan. Luka itu telah ditorehkan obat. setelah mereka itu memberi hormat. ia lantas terima itu. ―Totiang. atau singa batu. Ong Cinjin periksa lukanya Bok Ek. menyusul mana ia tampak si siauw-ongya keluar menyambut. yang terdiri dari duabelas. Ong Cie It mengangguk. yang satunya memberitahukan bahwa siauw-ongya mereka lagi menentikan di gedung dan imam serta bocah itu diundang ke sana. Di pintu besar ada dituliskan tiga huruf besar air emas. seraya menambahkan: ―Besok aku akan datang untuk menjenguk pula padamu. sesudah masuki itu ke dalam sakunya. Melihat dandanan pangeran itu. ―Luka ayahmu ini tak enteng. ―Aneh.‖ ia menyahut perlahan. ia diam saja. Irawan D Soedradjat Page 192 . kau tunggu sebentar. hingga nampak tulang-tulangnya dan kedua lengannya bengkak besar. di dalam hatinya ia berkata: ―Dasar bocah! Dia tidak harus dipersalahkan. Di luar hotel. Kapan mereka lihat tetamu. sudah tidak dibalut.‖ pikir Ong Cie It. ke dalam kamar di mana ada bingkisan kue dan buah dari Wanyen Kang. hingga ia dapatkan orang she Bok itu sedang rebah dengan muka pucat dan di tepi pembaringan. bunyinya: ―Chao Wang Hu‖ atau istana pangeran Chao Wang. hendak ia menampik.‖ Selagi si bocah terbenam dalam keragu-raguan. Undakan tangga dari batu putih semua.‖ Lalu menanti jawaban si nona. batu mana dipasang terus sampai di thia depan. si nona berbangkit berdiri. untuk mengeluarkan uang perak dua potong. ―Ilmu silat Wanyen Kang terang adalah ajarannya toasuko. ia bersedia menerima antaran itu. isinya semua adalah makanan dan bebuahan yang istimewa. Chao Wang itu adalah Wanyen Lieh. ―Mungkinkah si pangeran muda itu adalah putranya Wanyen Lieh?‖ ia kata di dalam hatinya. Tiba di muka gedung. maka darimana dia dapatkan ilmu pukulan jahat ini? Pada ini mesti ada rahasianya…?‖ Lantas ia pandang si nona dan menanya: ―Nona. dimana ia lantas dipersilakan duduk di kursi atas.‖ Bab 18. untuk bersama si imam pergi mengikuti keempat pengiring itu pergi ke onghu. gedungnya Wanyen Kang. yang terus merogoh sakunya. dia perlu dirawat baik-baik. Ong Cie It menanyakan keterangan kamarnya Bok Ek. kalau di sini aku bertemu dengannya. ―Namaku Bok Liam Cu. Maka itu tanpa merasa.

Dengan melihat roman orang saja. Wanyen Kang menepuk tangan dua kali. kedua pihak sudah saling mengenal. ―Totiang. yang tubuhnya jangkung dan kate tidak rata. Setibanya di hoa-thia. sungguh aku merasa sangat beruntung!‖ berkata tuan rumah yang muda ini. di sana sudah menantikan enam-tujuh orang. hingga mereka mesti jalan sekian lama. suaranya menandakan kemarahannya. maka tidaklah kecewa yang lohu sudah datang ke Tionggoan ini.‖ Dan lantas ia perkenalkan paderi di sampingnya. bahkan ia mendongkol. ―Ada di mana ia sekarang?‖ ia tanya. Kami berdua.Pendekar Pemanah Rajawali ―Totiang bersama saudara Kwee sudi datang kemari. ahli Tay-ciu-in dari partai Bit Cong dari Tibet. selama itu aku main-main kucing kaki tiga hingga aku membikinnya totiang dan saudara Kwee menertawai aku. ―Benar!‖ sahut orang itu. Ong Cie It menjadi heran sekali. di antara siapa yang kepalanya benjut tiga. Kwee Ceng terkejut juga hingga ia pernahkan dirinya dekat sekali dengan si imam. Kwee Ceng dapak menyaksikan keindahannya istana. dari empat ribu lie. . locianpwe dari Tiang Pek San. katanya: ―Ini adalah Leng Tie Siangjin. Hatinya pun tidak tentram. maka juga mereka menjadi begini malang melintang. matanya merah. sampai ia merasakan matanya berkunang-kunang. ―Walaupun ilmu silat Coan Cin kauw tidak tinggi tetapi ilmu itu bukannya ilmu kucing kaki tiga! Gurumu bakal tiba di sini.‖ Ong Cie It awasi orang yang pentang bacot itu. Selama itu. Wanyen Kang bergirang ketika ia kata pada Ong Cie It.‖ ―Hm!‖ Ong Cie It kasih dengar suaranya. ia sudah lantas mengenalinya.‖ Wanyen Kang memperkenalkan pula orang yang rambutnya putih tapi mukanya segar sebagai muka seorang bocah. Pangeran itu tidak berlutut didepannya dan tidak juga memanggil susiok atau paman guru kepadanya. Ong Cie It heran hingga ia berpikir: ―Kenapa Siluman Tua ada disini juga?‖ io Cu Ong sudah lantas memberi hormat dan berkata: ―Di sini lohu dapat bertemu sama Thie Kak Sian Ong Cinjin. kau tahu tidak?‖ ―Guruku ada di sini. Wanyen Kang sudah lantas ajak kedua tetamunya pergi ke hoa-thia. tidak ada selembar rambutnya. untuk mana mereka melintasi sebuah lorong. ―Dan ini adalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong. yaitu Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. ―Kiranya kau masih kenal aku!‖ Irawan D Soedradjat Page 193 ―Bukankah tuan adalah Kwie-bun Liong Ong See Locianpwee?‖ ia bertanya. ―Aku ikuti suhu buat dua tahun lamanya. Dia itu mengawasi anak muda kita ini dengan sorot mata bengis! Biar bagaimana. Ong Cie It tidak puas. ―Siapakan meja santapan!‖ ia memberi perintah kepada pengiringnya. ―Mana boanpwe mengerti ilmu silat?‖ sahut Wanyen Kang sambil tertawa.‖ Kedua orang itu saling memberi hormat. Justru itu seorang yang suaranya serak terdengar berkata nyaring: ―Kiranya Kanglam Cit Koay didukung dari belakang oleh Coan Cin Pay. biji matanya menonjol keluar. maka pertemuan ini benar-benar satu jodoh!‖ Ong Cie It memberi hormat kepada paderi dari Tibet itu dengan menjura dan si paderi membalasnya seraya menakopi kedua tangannya. mengitari lauwteng yang indah. ―Sudah berapa lama kau ikuti gurumu belajar silat?‖ ia tanya. kepala siapa lanang. Pengiring itu berlalu untuk menyampaikan titah lebih jauh. satu dari timur utara. satu lagi dari barat selatan. beberapa tuan ini sudah lama mengagumi kau dan semuanya merasa sangat ingin bertemu denganmu!‖ Ia lantas menunjuk Peng Lian Houw dan kata: ―Inilah Pheng Cecu. apakah totiang ingin bertemu dengannya?‖ Wanyen Kang balas menanya. tidak tahu ia mesti bersikap bagaimana andaikata ia bertemu dengan Wanyen Lieh.

sayang di tengah jalan aku mendapatkan satu urusan penting dan karenanya menjadi terlambat beberapa hari. hingga adik seperguruan ini juga gagal. Melihat orang demikian galak. tak peduli ia bahwa perbuatannya melanggar adat sopan santun. seumumnya. alisnya panjang hingga ujungnya mengenai rambut di pelipisnya. untuk menangkis.‖ Orang she See ini tidak ambil mumat sikap orang yang halus itu. tak dapat ia mengatasi diri. Irawan D Soedradjat Page Tidak lama lantas terdengar tindakan sepatu. percuma kalau ia melayani mereka itu. Lantas ia berpaling kepada pengiringnya dan memrintah dengan singkat: ―Undang suhu!‖ Pengiring itu sudah lantas mengundurkan diri. masih dapat kami membela diri…‖ . semua hadirin di situ itu ada bangsa lihay. siucay. maka itu ini adalah pertama kalinya ia bertemu sama tuan-tuan!‖ Bukan melainkan Ong Cie It dan Kwee Ceng yang belum pernah melihat sancu. Thong Thian gusar bukan main waktu ia dengar kekalahan empat muridnya itu. maka juga.Pendekar Pemanah Rajawali Cie It heran. terus ia berkata: ―Sebenarnya aku telah mesti siangsiang tiba di kota Yankhia ini. kapan dan di dalam hal apa aku pernah berbuat salah terhadapnya?‖ Ia menunjuki sikap sabar. suatu tanda ia adalah seorang opsir. ia tetap berangasan dan galak. Untuk itu aku mohon tuan-tuan suka memaafkannya. Bocah itu mundur. ia tidak hunjuk kemurkaan. maka ia pun angkat tangannya. Ong Cie It tidak dapat mundur.‖ sahut Wanyen Kang denagn sederhana. Segera juga Wanyen Kang menghampirkan. juga Nio Cu Ong dan Peng Lian Houw serta lainnya hadiran di situ. terus ia mengibas keluar.pemilik bukit – dari Pek To San itu. Dan semua mereka kagum akan caranya sancu ini datang menengah. hingga ia mirip dengan satu sastrawan. tak terkira gusarnya Thong Thian. dua orang itu dapat dipisahkan. Sebab tabiatnya itu. sikapnya tenang sekali. Disaat kedua tangan hampir bentrok. akan jambak Kwee Ceng. ―Mana gurumu?‖ ia tanya. seperti dandanan seorang bangsawan. Memangnya dia bertabiat keras.‖ Kwee Ceng tidak kenal sancu ini. sembari tertawa ia berkata: ―Tuan ini adalah Auwyang Kongcu. Ia telah berpikir: ―Dengan adanya Khu Suheng disini. romannya sangat keren. ia kata: ―Nama besar dari See Locianpwee memang telah lama aku pangeni. Mereka belum pernah mendengar nama Pek To San – Bukit Unta Putih itu. tetapi mendengar nama bukit Pek To San itu. lalu di depan pintu thia terlihat seseorang bertubuh gemuk yang mengenakan seragam baju sulam. untuk menghalang di depannya. Demikian ia ulur sebelah tangannya. Inilah sebabnya kenapa murid-muridnya tidak dapat wariskan tiga bagian saja dari sepuluh ilmu kepandaiannya. usianya empat puluh lebih. Ia mengerti. Tanpa merasa keduanya lantas mengawasi si pemisah itu. Dandanannya. ―Kenapa tidak kau minta ia keluar?‖ ―Ya. 194 Cie It merasakan hatinya lega. sedang Ong Cie It segera maju. Mereka bukan sembarang orang. di waktu mengajari silat. ia hajar mereka. dia mendamprat habis-habisan. Dia belum pernah datang ke Tionggoan. tidak heran kalau Hong Ho Su Koay gagal mengepung Kwee Ceng. ialah seoarng dengan jubah putih. Dia berjanggut lebat. Sesudah itu ia kirim Hauw Thong Hay untuk menuntu balas. Auwyang Kongcu ini sudah lantas rankap kedua tangannya. romannya tampan. musuh boleh tambah lagi. Maka ia lantas pandang tuan rumah. adik seperguruannya. sekalipun di depan orang banyak. Dia bernama Thong Thian dan gelarannya. ia tengah diliputi kemarahan besar. maka mereka heran ada seorang yang dapat pisahkan mereka secara demikian gampang. Dia banyak lebih lihay daripada Hauw Thong Hay. dari samping mereka tiba-tiba muncul satu orang. sancu dari Pek To San dari pegunungan Kun Lun San di Tibet. diundurkan satu dari yang lain. Celakanya Thong Hay telah kena dipermainkan oleh Oey Yong. Karena ini. tangan kanannya menyambar lengan Ong Cinjin. tangannya terus menyambar si imam. tangan kirinya menyambar lengan See Thong Thian. ia lantas ingat kepada si nonannona serba putih yang di tengah jalan sudah mencoba merampas kudanya. ―Bagus! benar-benar kau melindungi binatang cilik ini!‖ ia berseru. Dua-dua See Thong Thian dan Ong Cie It terperanjat. Kwie-bun Liong Ong ialah Raja Naga dari Pintu Iblis. supaya Kwee Ceng dibekuk. maka dengan berbareng. umurnya ditaksir tigapuluh lima atau tipuluh enam tahun. hingga kata dalam hati kecilnya: ―Kita ada bagaikan air kali dan air sungai yang tidak saling menerjang. Ia menjadi menduga-duga: ―Mungkinkah enam guruku sudah bertempur dengan dia ini?‖ Ong Cie It pandai berpikir.

―Untuk urusan apakah kau hendak bertemu sama aku. uang sewa kamar pun sudah dibayar lunas. ia menjadi heran. ia berkata: ―Sekarang ini telah hadir banyak cianpwee kaum Rimba Persilatan. sikapnya jumawa. kau permainkan aku. dari kaki ke kepala. sebentar kau antarkan ke hotelnya totiang. Maka terpaksa pemuda ini pulang ke onghu dengan tangan hampa. aku menyesal…‖ berkata Wanyen Kang cepat.‖ ―Bagus begitu. semua mata diarahkan kepada Wanyen Kang. siapa itu yang mengundang. Wanyen Kang sambut tetamunya.‖ sahut Kwee Ceng. tuan Kwee!‖ katanya. Ia bernama Thung Couw Tek. imam atau paderi perempuan!‖ Dengan paksakan diri. urusan toh akan ketahuan akhirnya!‖ ―Totiang benar. ―Oh. ―Banyak cape. kepala barisan pengiring dari Wanyen Lieh di masa Wanyen Kang masih muda sekali.. ―Totiang baharu pertama ini tiba disini. Terus ia menoleh pada pengiringnya.‖ Ong Cie It merendahkan diri tetapi ia didesak terus. aku paling tidak senang terhadap segala paderi. yang treus tuturkan kepergiannya Bok Ek serta anaknya itu. karenanya ia dipanggil guru. bagaimana juga hendak diaturnya. imam ini orang macam apa.‖ berkata Wanyen Kang sembari tertawa.‖ Thung Couw Tek celangap. ―Tuan-tuan. terus ia undurkan diri. ―Totiang ini hendak bertemu sama suhu. Setelah tiga edaran arak.‖ berkata Wanyen Kang. ia mengawasi imam itu. Ia berkata kemudian: ―Bagus! Sekarang baik si orang she Bok itu diundang kemari. pernah ia ajarkan ilmu silat kepada pangeran itu. Sambil tertawa. Ia lantas kata pada pengiringnya: ―Lekas kau siapkan uang itu. untuk pergi ke hotel dimana Bok Ek dan gadisnya menumpang. Jongos itu tidak dapat memberikan keterangan.‖ Ong Cie It menagngguk dan Kwee Ceng segera berbangkit. ―Mana tuan Bok itu?‖ ―Ia telah pergi. Irawan D Soedradjat Page 195 . yang mendahului gurunya itu. Ong Cie It menjadi membungkam. bagaimana urusannya itu harus diatur?‖ Mendengar pertanyaan itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Suhu!‖ Wanyen Kang lantas memanggil. Ia telah berpikir: ―Bocah binatang ini. untuk kita membicarakan urusannya. malah ia sudah menanyakan beberapa kali…‖ Melihat orang itu dan mendengar perkataan si pangeran. boanpwe selalu bersedia untuk menuruti.!‖ Tapi ia mencoba untuk mengendalikan diri. Tiba di sana. untuk memerintah: ―Kau lekas ajak orang pergi mencari tuan Bok dan putrinya itu. dari kepala ke kaki. maka bolehlah kita bicara dari hal keadilan. Ayah dan anak dara itu tidak ada di kamarnya. Tentang si orang she Bok yah dan anak itu. Akhirnya. tetapi ia bercuriga. silakan duduk di kursi kepala. ―Adalah sudah biasa bagi aku. dia mesti dapat diundang datang kemari!‖ Pengiring itu menyahuti. hatinya Ong Cie It menjadi panas sekali. ia berbangkit untuk bawa itu kepada Ong Cie It seraya terus berkata: ―Silahkan totiang keringkan dahulu cawan ini. Ong Cinjin tertawa. barang-barangnya pun telah dibawa pergi. Pangeran itu mengisikan sebuah cangkir. jawabannya adalah Bok Ek dan gadisnya itu ada yang undang sudah pergi entah ke mana. Ia lantas hirup arak itu. ―Tayjin hendak memohon derma.‖ ia berkata. ia tidak sangka pangeran ini dapat bersikap demikian. Tentang itu. imam?‖ si opsir menanya. ―Itulah selayaknya. Yang lain-lain pun turut memanggil guru padanya.‖ menyahut Wanyen Kang. akhirnya ia duduk juga di kursi pertama itu. Ia tanya jongos. Kwee Ceng heran. Ketika jongos ditanya. ―Aku minta saudara Kwee saja yang pergi mengundang tuan Bok itu.‖ Cie It heran hingga ia tercengang. ―Ingin aku minta buat banyaknya seribu tail perak!‖ Heran opsir itu atas permintaan derma tersebut. silakan duduk!‖ Wanyen Kang mengundang. Tidak dapat ia menduga. ia berkata: ―Tidak peduli orang bermain sandiwara apa. entah kemana.

akan ulur sebelah tangannya. Ia malu bukan main. Maka itu sama sekali tidak ada soal pihakku membantu Kanglam Cit Koay menghadapi Hong Ho Su Koay. hingga tubuhnya Kwee Ceng tertolak mental. sedikitnya ia tentu terluka enteng. yang berada di sampingnya. walaupun di depannya ada Nio Cu Ong dan Auwyang Kongcu.‖ ia berkata.‖ ―Bagus. ia sudah bekerja matimatian untuk negara Kim. ia sangat mendongkol. ia penasaran sekali. ―Silakan locianpwe mengatakannya. ―Baiklah ciangkun duduk dan keringkan arakmu!‖ Ia ulur tangannya. Thie Kak Sian Giok Yang Cu tahu. tidak satu pun yang pinto kenal. terus ia lari ke dalam. tubuhnya jatuh terduduk di kursinya akibat tekanannya Nio Cu Ong. kau menggunai ilmumu!‖ ia membentak. tak dapat ia meneruskan meninju.‖ berkata Nio Cu Ong. maka selagi orang menekan pundak si jenderal itu. kalau begitu!‖ berseru See Thong Thian. hebatnya tak sama dengan Kiu-im Pek-ku Jiauw dari Hek Hong Siang Sat akan tetapi toh tidak kalah. ciangkun. ―Jangan gusar. yang segera dibawa masuk ke dalam mulutnya orang she Thung itu. Menyaksikan kejadian itu. lengan kirinya berbareng dipakai membentur bocah itu. untuk menghalang. tetapi dengan mereka itu. si imam bersikap seperti tidak tahu aturan. ―Sekarang kau serahkan ini bocah kepadaku!‖ ia lantas berbangkit. akan tekan pundak si jenderal. Ia anggap dirinya gagah. Dia terus menarik pulang tangannya itu. ―Maka perlu apa kau bergusar dan menggunakan kekerasan?‖ Ia angkat sumpitnya untuk menjempit kepalan orang. Maka juga perkataannya Ong Cie It membikin ia merasa tersinggung. tetapi dia tidak berhasil. guna menjambak batang lehernya Kwee Ceng. kaget dan gusar menjadi satu. pada ini terang ada salah mengerti. sudikah totiang meluluskannya?‖ ―Tidak berani aku menerima pujianmu. semua hadirin tertawa.Pendekar Pemanah Rajawali Sementara itu Thung Couw Tek heran dan mendongkol. hingga kursi itu tercengkeram rusak seraya menerbitkan suara keras. Ong Cie It mengerti. Ia memang tidak puas dengan kedudukannya. selagi si pangeran berlaku manis. ia ulur tangannya meninju mukanya Ong Cinjin! Cie It tertawa. Bukankha ia orang Han yang bekerja pada bangsa Kim? Kenapa ia mesti ditanya lagi kalau bukan orang hendak menghina padanya? Ia justru paling tidak senang orang menyebut-nyebut kebangsaannya. Kepalan Couw Tek kena tertahan. pangkatnya bukan kecil tetapi ia tetap ditempatkan di onghu.‖ berkata Giok Yang Cu. Akhirnya ia menegur: ―Eh. See Locianpwe. bocah itu tidak bakal lolos dari jambakan itu. sumpitnya itu terus ia pakai menyambar sepotong paha ayam. tosu. maka itu. hanya salah satu suhengku ada punya sangkutan dengan mereka. ia hanya balik bertanya: ―Jenderal.‖ berkata Giok Yang Cu. sumpitnya dapat mempengaruhi Couw Tek tetapi tidak si orang she Nio ini. ―Maka itu aku mohon keterangan. kenapa pihakmu berdiri sepenuhnya dibelakang Kanglam Cit Koay dan dengan begitu menyusahkan pihakku? Walaupun Coan Cin Pay banyak anggotanya dan sangat berpengaruh.‖ ―Pihak kami tidak ada sangkutannya sama Coan Cin Pay. kau ada asal negara mana? Kau mengandal apa maka kau datang kemari dan menjadi pembesar negeri?‖ Couw Tek gusar sekali.‖ berkata Kwie-bun Liong Ong. ―Imam siluman. Tidak karu-karuan cukongnya kehilangan uang seribu tail perak. tetapi pemerintah Kim tidak pernah mengijinkan ia memimpin pasukan tentara sendiri. selagi mulutnya tersumpel. ―Coan Cin Pay berpengaruh di Selatan dan Utara. Menyusul itu jambakannya si orang she See itu mengenai kursi yang diduduki Kwee Ceng. Lantas ia lompat bangun. ia lekas berbangkit. ilmu Bahagian Luar. ciangkun. ia melepaskan jepitannya. ―Pinto tahu tentang Kanglam Cit Koay. Irawan D Soedradjat Page 196 . cepat luar biasa. dia jengah sekali. Maka mukanya menjadi merah. maka ketika ia berbangkit pula. aku yang bodoh tidak merasa takut. kau asal kuil mana? Kenapa kau datang kemari untuk main gila?!‖ Ong Cie It tidak menyahuti. untuk disuapi dengan paksa! Couw Tel menjadi gelagapan. Sudah duapuluh tahun ia bekerja. ―Aku hendak memohon sesuatu kepada totiang.‖ ―See Locianpwe. sungguh namanya bukan kosong belaka!‖ berkata See Thong Thian. Jambakan itu adalah jambakan dari Gwa-kang. ―Kau tidak hendak memberitahu pun tidak apa.

Ia lihat. tiba-tiba mereka diganggu oleh bocah ini. ia mundur tiga tindak. pinto minta tuan-tuan mempertunjuki dulu ilmu kepandaian kamu. ―Coba jelaskan duduknya hal. Kecuali Cie It dan Kwee Ceng.‖ berkata Cie It tenang. Tentang bocah ini.‖ Cie It membilang keras. ―Biarlah aku yang belajar kenal lebih dulu denganmu. untuk singsatkan bajunya. kepala itu nuncap melesak ke dalam tumpukan salju itu. menentang si imam. pinto tidak dapat bilang suatu apa. dengan membesarkan nyali.Pendekar Pemanah Rajawali ―Hau. supaya bocah ini dapat melihatnya. Tuan-tuan berniat menahan dia. ―Anak ini pinto yang bawa datang ke istana ini. Dengan lantas mereka itu memikir untuk menahan si bocah. ia mendahului berbangkit. di atas orang pandai ada pula yang terlebih pandai lagi. Cuma lebih dulu daripada itu. memang lebih baik tidak usah bertempur dengannya. tidak dapatkah kau mencari ia dilain hari?‖ Auwyang Kongcu lantas campur bicara. bocah ini pasti tidak bisa dibiarkan tinggal tetap di sini. untuk minta Ong Cinjin memberi pengajaran padamu!‖ ―Itulah aku tidak berani. sekalian untuk memberi pengajaran kepada bocah ini. supaya ia insyaf bahwa di luar langit ada langit lainnya. ―Kebiasaanku tidak berarti. aku mesti dapat satu pembantu yang lihay…‖ Maka itu. ―Ia muda dan tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. kalau satu bocah begini tidak dapat dibereskan. supaya selanjutnya dibelakang hari. Sejak turun gunung. ―Hari ini pinto berjodoh bertemu sama tuan-tuan. ia menginjak-injak. ia pernah menghadapi pelbagai pertempuran tetapi tidak seperti ini kali. kepala di bawah kaki di atas. coba kau perlihatkan Soat-lie May Jin. ―Nama besar dari tuan-tuan telah lama pinto buat pangenan. See Thong Thian juga berpikir: ―Imam-imam dari Coan Cin Pay tidak dapat dibuat permainan. . See Thong Thian telah berpikir: ―Imam ini lihay tak ada di bawahanku. maka itu sudah selayaknya kalau nanti pinto membawanya keluar secara baik-baik. untuk membikin padat. Ia tahu orang mengejek padanya tetapi tidak tahu ia bagaimana harus memberikan jawaban. ia mendapat salah dari Yang Mulia Chao Wang. habis itu. itulah hal yang sangat menggembirakan pinto. mereka dalah orang-orang undangan Wanyen Lieh. Perkataan orang diatur dengan halus. seraya menunjuk Kwee Ceng.‖ Ong Cie It berkata pula. sedang sebenarnya pinto tidak sanggup berbuat demikian…. Kalau benar saudara tidak sudi melepaskan padanya. yang diundang dengan kehormatan dan bingkisan berarti. Kemudian ia berkata: ―Sebenarnya aku tidak bermusuh langsung dengan anak she Kwee ini. ia lantas duduk pula. jalan yang terbuka ialah memperlambat tempo sambil mencoba mencari tahu sikap sebenarnya dari para hadirin masing-masing. supaya nanti ia jangan mengatakan pinto todak sudi melindungi padanya. Diam-diam Cie It bingung juga mendapatkan semua mata diarahkan kepada Kwee Ceng. Irawan D Soedradjat Page 197 Ketika itu hujan salju masih belum berhenti. Ia bingung sebab musuh tangguh semuanya. supaya kita dapat menimbangnya. aku minta sukalah kau mempertunjuki sesuatu agar pinto dapat pentang mataku. ―Maka itu saudara Hauw.‖ Sebelum menjawab. Aku ada punya empat murid tolol.‖ ia menambahkan. mana berani pinto mengadu kepandaian dengan tuan-tuan. mendengar perkatannya Giok Yang Cu. kau lindungi bocah ini?‖ menegur Thong Thian karena kegagalannya itu. selagi mereka berkerja dan nampaknya bakal berhasil. cara bagaimana kami bisa lakukan usaha yang besar?‖ Kata-kata itu berpengaruh untuk para hadirin itu. guna diserahkan pada Chao Wang. cawannya ia hirup kering. Hauw Thong Hay sudah lantas pergi ke lataran dimana dengan kedua tangannya ia menumpuk salju sampai tingginya tiga kaki.‖ ia berkata. lalu mendadak ia lompat maju. mereka turut Yang Mulia Chao Wang pergi ke Mongolia untuk suatu urusan. bahkan ia berbareng mesti melindungi satu bocah.‖ ia berkata. locianpwe. Yang Mulia Chao Wang menjadi sangat gusar karenanya. ini juga pinto tidak dapat menentangi. ―Bagaimana caranya bocah ini mendapat salah dari saudara See?‖ dia tanya. Ia lantas memikirkan daya untuk meloloskan diri bocah itu. Untuk melayani dia. ―Sabar.‖ Maka ia lantas awasi Thong Hay dan berkata kepadanya: ―Sutee. Coba tuantuan pikir.‖ Hauw Thong Hay sudah menahan sabar sekian lama. kalau ia mengotot. sampai sebatas dada. dia jangan berani pula banyak tingkah!‖ Hauw Thong Hay mendongkol sekali.

―Kasar kepandaiannya suteeku ini. lalu ia kembali ke kursinya. Selang sekian lama. lantas semua sumpit – dua puluh pasang – terlempar ke salju dan nancap. barulah dua tangan Thong Hay bergerak. tubuhnya ikut. Orang semua heran dan akgum.‖ Di tembok sekarang terlihat lagi dua huruf. mulutnya itu sudah lantas kermakkermik. aku pun dengan meminjam pengaruhmu. ia hanya mendatangkan tertawaan…‖ berkata See Thong Thian. maka biji kwaci itu meluncur ke tembok putih di hoa-thia itu. Kwee Ceng yang polos memuji sambil bertepuk tangan. lalu sejenak saja. tetapi biji kwaci itu dapat disentilkan demikian rupa. Apa yang luar biasa. akan tetapi baru huruf selesai separuhnya. Ia berkata. aku tidak sanggup memakan lebih jauh!‖ berseru Peng Lian Houw. Jarak ke tembok ada kira-kira tiga tembok. ingin mempertunjuki sesuatu…‖ Ia lantas saja lompat ke tengah ruangan itu. kepandaianmu ini membuatnya aku takluk sekali! Kita biasa berkerjasama. Gangguannya Peng Lian Houw itu tidak membuat Thong Thian kecil hati. kwaci itu ia makan isinya dan kulitnya dilepehkan! ―Bagus!‖ orang banyak berseru memuji. mulanya ia merintangi . dia berdiam saja. untuk mengatakan: ―Auwyang Kongcu hendak mempertunjukan apa untuk kami dapat membuka mata kami?‖ Kongcu itu dengar suara orang ada mengandung nada menyindir. ia ayun tangannya. Ia tunggu sampai pelayan membawa datang tambahan barang makanan dan semua sumpit bekas ditukar dengan yang baru. ―See toako. lalu semua biji beruntun dikasih masuk ke dalam mulutnya. Peng Lian Houw sudah memegat meluncurnya biji-biji kwaci itu. Thong Hay melirik pada bocah itu. maka setelah totiang ini hendak menguji kepandaian kita. ia tidak tahu ilmu silat apa itu. Menyaksikan itu Peng Lian Houw manjadi bertangan gatal. Setelah itu barulah See Thong Thian rampungkan huruf ―Wie‖ itu. ―Ah. yang sembari bicara mengulurkan tangannya ke piring kwaci. meski ia tahu namanya seperti telah disebutkan See Thong Thian. seperti burung menyisit. Malah Ong Cie It segera Irawan D Soedradjat Page 198 . dia malah tersenyum. yaitu ―Soat-lie May Jin‖ atau ―Mengubur orang di dalam salju‖ See Thong Thian lantas berkata pada pengiring-pengiringnya Wanyen Kang: ―Tolong tuan-tuan membikin padat dan keras salju disekitarnya Tuan Huaw!‖ Kawanan pengiring itu girang sekali. ―Bu‖ dan ―Yang‖. mereka pandai berenang dan tahan selulup lama. nancap di tembok merupakan satu huruf ―Yauw‖. kemudian Thong Thian menoleh kepada Auwyang Kongcu. setelah mana jari tangannya yang tengah disentilkan tak hentinya. untuk menjumput. See Thong Thian dan lainnya yang lihay. karena ini Thong Hay dapat nyelusup ke dalam salju. Persahabatan mereka adalah dari persahabatan dua tigapuluh tahun. Kata Ong Cie It dalam hatinya: ―Tidak heran Kwie-bun Liong Ong menjagoi sungai Hong Ho. yang terus aja lompat balik ke kursinya. biji kwaci enteng. Saking kagum. Sebenarnya See Thong Thian bersama-sama Hauw Thong Hay telah menjagoi di sungai Hong Ho. mereka telah mengenal baik satu dengan lain. dia memang lihya sekali. maka itu dapat diduga See Thong Thian hendak menuliskan empat huruf ―yauw bu yang wie‖ yang artinya menentang pengaruh atau menjagoi. maka mereka ini diam-diam terkejut sendirinya. atas mana. Ketika itu See Thong Thian benar-benar telah membuat huruf ―Wie‖ yang terakhir. tidak demikian dengan Ong Cie It. semua sumpit nancap rapi merupakan empat tangkai bunga bwee! Kwee ceng dan Wanyen Kang kurang mengerti ilmu kepandaian itu. tetapi mereka terus minum arak mereka. ia sudah keluar dari salju dan berdiri tegak. untuk mana ia mesti menahan napas. Segera setalah memegang. dengan bergembira mereka luluskan permintaan itu. sumpit bekas itu ia ambil dari tangannya si pelayan.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng heran. itulah bukti dari tenaga dalam yang terlatih sempurna.

Pelayan-pelayan telah datang dengan baskom yang terisi air hangat. hanya yang istimewa.‖ Ia tidak berbangkit tapi ia dapat menuangi arak ke dalam cawannya semua orang. Ia mengasih lihat senyuman. ―Aku tidak boleh berlambat lagi. Ong Cie It terperanjat. maka itu. mereka heran. Habis itu ia berbicara. Kelihatannya pesta bakal ditutup sampai disitu. mengisi hingga penuh. terlepas dari tangan dan mencelat naik dua tombak tingginya. akan kemudian terdengar suara perlahan dari air bergolak. melewati dua orang. Ong Cie It cenderungkan tubuhnya. tidak ada arak yang berceceran. mereka lihat pangeran itu ditotok hingga ia menjadi tak berdaya lagi. tidak ada tanda bahwa ia merasa letih. Dan ketika batu yang pertama turun. mereka menjadi heran. ia memuji tak henti-hentinya. Asal tangannya digeraki. ketiganya menjadi saling susul. mirip asap. ia masih merendam kedua tangannya di dalam baskom. memainkan ilmu silat ―Yan Ceng Kun. Baskomnya si paderi lantas saja menghembuskan hawa napas sebagai uap. ia menangkap nadinya siauw-ongya itu. Leng Tie Siangjin beramai menginsyafi tenaga dalam yang terlatih baik dari imam ini. kemudian ia letaki poci arak. Orang lantas melihat kejadian ini. untuk ulur tangannya yang kanan ke pinggangnya batu. Hal ini dapat dilihat semua orang. turun ke dalam cawan. Batu itu segera diapungkan. ia lompat turun dari pelatok sumpit. berdiri di atas itu ia lantas bersilat. aku mesti mendahului turun tangan terhadap dia…‖ Tengah semua mata diarahkan kepada Leng Tie Siangjin. ia tiba diatasnya pelatok-pelatok sumpit Auwyang Kongcu tadi. Ong Cie It dan Auwyang Kongcu adalah yang paling dulu menampak perubahan. untuk digeser ke depannya. yang duduk berselang daripadanya. ―Mungkin sehabis dia. sedang beratnya batu ada tujuh atau delapan puluh kati. Kemudian lagi si imam taruh tangan kirinya di punggung pangeran itu. ini dimainkan di atas pelatok sumpit dan sumpitnya tidak ada yang patah atau miring karena ketindihan tubuh dan batu yang berat itu. Selang lagi sesaat. haha-hihi. Ong Cinjin berbuat begini tentulah disebabkan dia bersendirian saja. Ong Cinjin angkat poci arak.‖ Ia menjunjung tiga buah batu yang beratnya rua ratus kati lebih. maka dengan ini aku hendak menghormati kamu dengan secawan arak. Kwee Ceng kagum bukan main. dan setiap tindakan kakinya tidak pernah meleset dari ujung sumpit. mereka ini bakal turun tangan…‖ Maka itu si imam segera melirik paderi dari Tibetb itu. memberi hormat kepada orang banyak. Leng Tie Siangjin mencuci tangan seperti yang lain-lain. Yang lain-lain baru dapat melihat setelah uap itu nampak semakin nyata. Irawan D Soedradjat Page 199 . ia pergi ke samping tambur batu di depan hoa-thia itu. untuk menemui satu saja sudah sukar! Apakah tak boleh jadi bahwa mereka ada mengandung sesuatu maksud?‖ Selagi si imam berpikir. Selagi semua orang heran dan kagum. Dengan tangan kanannya. Paling akhir Ong Cie It isikan cawannya Kwee Ceng serta cawannya sendiri. ―Cuma Leng Siangjin yang belum mengasih lihat kepandaiannya. hanya selagi yang lain-lain sudah selesai. ―Hebat tenaga dalamnya paderi ini.‖ katanya dalam hati.‖ Cie It berpikir. begitu ia kerahkan tenaganya. sikapnya wajar saja. See Thong Thian semua kaget berbareng gusar tetapi mereka tak segera dapat berdaya. terus ia berkata: ―Barusan aku saksikan kepandaian mengagumkan dari tuan-tuan. asal tangan kirinya digeraki. Adalah biasa untuk tukang-tukang dangsu mempertunjukan permainan batu seperti Nio Cu Ong ini. Lalu menyusul batu yang kedua dan yang ketiga. maka batu itu lantas diam di dahinya itu. untuk semua tetamu membersihkan tangan mereka. tapi barang berat itu tidak mengurangi kegesitannya. untuk angkat cawannya yang ia hirup kering. tubuh siapa ia terus angkat. arak meluncur keluar dari mulut poci. batu itu kena terangkat. Dengan rangkapi kedua tangannya. Cu Ong jalan perlahan-lahan ke tengah latar. Mereka insyaf juga. ia kembali ke kursinya. Mereka justru menantikan tanda dari paderi itu untuk bergerak. celakalah Wanyen Kang. Sebelum batu itu turun. dan setelah turunkan ketiga batu itu.Pendekar Pemanah Rajawali berpikir: ―Kenapa orang-orang lihay ini dapat berkumpul di sini? Biasanya. lagi dua batu diangkat dan diapungi seperti yang pertama itu. tangannya menyambar kepada Wanyen Kang. Kemudian. Dengan satu lompatan. untuk kagetnya mereka. Baru setelah habis semua jurus itu. ia tanggapi dengan dahi. Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong berbangkit sambil tertawa.

Sesudah belasan tombak keluar dari pintu istana. Ong Cie It segera tarik tangan Kwee Ceng. Cuma hanya sekali bentrok. dengan perlahan Giok Yang Cu berkata kepada bocah yang ia tuntun itu: ―Kau gendong aku sampai di rumah penginapan…‖ Irawan D Soedradjat Page 200 . tidakkah siauw-ongya rugi? Bagaimana?‖ ―Ong Totiang. kedua tangan sama-sama ditarik pulang. Mereka berdiam sejak Wanyen Kang dicekuk. ia tidak dapat mengendalikan diri. ia pun berbalik menyambar lengan lawan. dari itu jikalau mereka ditukar guling. See Thong Thian beramai tidak berani mencegah. beginilah kita mengambil keputusan. siuran angin hebat menyambar ke arah si imam! ―Celaka!‖ Ong Cie It berseru di dalam hatinya dengan ia lekas-lekas angkat kedua tangannya untuk membalas hormat. bukan saja memang mereka seudah berjanji.‖ Ia lantas berbangkit. apabila ada tempo yang luang. ini anak sebaliknya adalah satu anak rakyat jelata. Ia merangkapkan kedua tangannya. yang menanti jawaban. Sambil tersenyum. Ia percaya semua jago itu. kau baik sekali!‖ berkata Nio Cu Ong tertawa. Ia kerahkan tenaga latihannya dari beberapa puluh tahun untuk memcahkan serangan hebat itu. ia bersemangat.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto tidak berselisih. ―Totiang sangat lihay. tetapi ia diejek si imam. ia mengantarkan keluar. darahnya itu tidak nanti menyemprot keluar. Imam ini benar-benar tidak dapat dibuat permainan. Masih ia mengucapkannya: ―Ijinkanlah kami mengundurkan diri. Sebab bentrokan itu membuat ia terluka. tangan kanannya diulur. tidak berani mereka merintangi. Sampai bertemu pula!‖ Semua orang mengawasi denagn air muka guram. Sebat luar biasa. ia menyambuti dengan sama kerasnya. Siauw-ongya adalah seumpama cabang emas daun kumala. ―Hm!‖ bersuara si imam. terus ia dikembalikan ke kursinya. ia kata kepada Ong Cinjin: ―Totiang. dengan sikapnya yang menghormat. Coba ia berlaku tenang dan mainkan napasnya. lantas saja ia muntah darah. Ong Cie It tersenyum. supaya aku yang lebih muda dapat banyak pengajaran. dengan sikutnya Ong Cie It bentur pinggangnya Wanyen Kang.‖ Tanpa bersangsi sedikit juga. untuk memberi hormat. aku takluk!‖ berkata Leng Tie Siangjin yang air mukanya berubah. cuma pinto merasa suka kepadanya karena dia berhati polos dan pemurah. Habis itu ia mengangguk kepada semua orang. ―Sungguh aku takluk. ―Aku bukan hendak menahan ini bocah she Kwee. akan tetapi ketika ia buka kedua tangannya itu. tiba-tiba Leng Tie Siangjin berbicara. tidak bermusuhan dengan tuan-tuan. ―Maka pinto juga akan bebaskan ini siauw-ongya. seraya melompat mundur. maka pangeran itu bebas dari totokan.‖ berkata pula Ong Cie It. lalu ia tarik tangannya Kwee Ceng untuk diajak pergi. buat diajak berlalu dengan cepat-cepat dari istana itu. yang terus bilang: ―Urusan kita telah selesai. pinto minta sukalah tuan-tuan melepaskan dia hari ini. silakan sembarang waktu datang untuk pasang omong di sini. mengapa kata-katanya tidak masuk hitungan?‖ Leng Tie menjadi gusar.‖ katanya. Bukankah ikan telah masuk ke dalam jala tetapi dapat lolos pula? Tidakkah itu sayang? Wanyen Kang telah lantas dapat menenangkan hatinya. tapi belum dapat ia meneruskan. yang kau membuatnya orang sangat kagum!‖ demikian katanya. ia bertanya: ―Nama Taysu bersemarak dalam dunia kangouw. ―Pinto juga tidak bersanak tidak bersahabat dengan anak ini. untuk menyambar lengannya Ong Cie It. ―Baiklah. karena ia telah lantas dapat melihat sambaran itu. ―Jikalau tuan-tuan memberi ampun kepada anak ini. aku hanya hendak menahan kau…‖ katanya. maka itu mesti ada harinya yang kita nanti bertemu pula!‖ Setibanya mereka di pintu hoa-thia. setelah melintasi sebuah tikungan dan melihat di belakangnya tidak ada orang yang menyusul mereka. contoh dalam dirinya Leng Tie Siangjin juga membikin hati mereka gentar. Leng Tie Siangjin mengubah tenaga dalamnya menjadi tenaga luar.‖ Semua orang berdiam. Maka itu denagn memandang kepada mukaku. tidak peduli mereka licin atau licik. tetapi si imam pun tidak diam saja.

―Lekas…lekas cari sebuah jambangan besar…‖ berkata Ong Cie It. tetapi tanpa pedulikan itu. terus diisikan air dingin. sambil berlari-lari. ―Adakah totiang terluka?‖ ia tanya heran. ia segera turunkan imam itu di atas pembaringan. Kwee Ceng lari ke dalam kamar untuk memberi kabar. untuk dibawa pergi denagn cepat. Kwee Ceng mengerti. Sekarang barulah Kwee Ceng ketahui orang tengah mengerahkan tenaga dalamnya. ia dapat merayap keluar. ia letaki sepotong perak di atas meja seraya minta lekas disediakan jambangan. Kwee Ceng menurut. kulit muka si imam dari pucat pasi berubah menjadi bersemu dadu. Ia juga lantas dapat melihat roman pucat dari si imam. lalu tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung.‖ Kwee Ceng tanya kemudian. Setibanya di dalam. Tapi ia menghela napas ketika ia berkata pula: ―Paderi dari Tibet itu sangat berbahaya!‖ Kwee Ceng berlega hati. Di pihak lain.‖ ia minta kepada Kwee Ceng. yang diletaki di cimche. atas mana Giok Yang Cu lantas saja tertawa dan berkata: ―Sudah tidak ada bahaya lagi!‖ Dengan pegangi pinggiran jambangan. maka sebentar kemudian. untuk menyembuhkan diri dari luka di dalam akibat pertempuran dahsyat dengan Leng Tie Siangjin.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng kaget sekali. kau letaki aku di dalam jambangan itu. Kira semakanan nasi lamanya. Ong Cie It merendam di dalam jambangan seraya memeramkan kedua matanya. ―Coba bantui aku bangun. Ia cari orang hotel. ―Kau isikan penuh air bersih…‖ ―Untuk apakah itu. dengan tenang ia mainkan napasnya. ia maju terus. air ini tukar dengan yang bersih. ia hanya memberi tanda dengan tangannya. Tangn Pasir Merah sering aku menemukan tetapi tidak ada yang lihay seperti ini. Cie It sudah berendam pula di dalam air yang baru. Sementara itu ia merasai napasnya si imam semakin mendesak. sedang jongos ia pesan untuk melarang siapa saja masuk ke cimche itu. yang ia terluka dan ia sendiri tidak punya guna. Ong Cie It mengangguk. ―Apakah tangannya paderi Tibet itu ada racunnya?‖ ia tanya. Ia tidak tahu jalanan. baru air itu tak lagi berubah hitam. seperti ynag kehabisan napas. Syukur ia lantas dapat cari sebuah hotel yang kecil dan jorok. untuk menggendong dia. Ia dengar suara orang sangat lemah. ia pilih yang sepi saja. Cie It tidak menyahuti. Permintaan itu diturut.‖ sahut Cie It. Imam ini umpama kata cuma menang seurat. mereka bisa terancam bahaya. ia girang sekali. Kwee Ceng melayani terus sampai ia tukar air tujuh kali. ―Bagus. Irawan D Soedradjat Page 201 . Maka itu jongos kegirangan. supaya bocah itu lekas pergi. air jambangan yang bersih bening itu berubah menjadi hitam. ―Sekarang pondong aku. Ilmu semacam itu. anak yang baik!‖ berkata Ong Cie It. totiang?‖ Kwee Ceng tanya. ―Itulah racun dari Cu-see-ciang. ia masuki tubuh orang ke dalam jambangan hingga sebatas leher. ia memasukinya. Hari ini hampir aku kehilangan jiwa…‖ ―Totiang ingin dahar apa? Nanti aku pergi belikan. Ia mau mampir di sebuah hotel yang pertama diketemukan. ―Benar. Ia tahu imam ini khawatir nanti disusul musuh. maka lantas saja ia membungkuk di depan si imam itu. cepat-cepat ia sediakan barang yang diminta itu. tetapi Cie It bilang dengan perlahan: ―Cari…cari tempat yang sepi dan hotel kecil…‖ Kwee Ceng menurut. Ia juga memberi persen kepada si jongos. Kau larang orang lain datang dekat padaku…‖ Kwee Ceng tidak mengerti tetapi ia pondong si imam itu.

yang tersenyum berseri-seri. ia ingin mencoba. Sungguh jahat!‖ Dengan masgul. ―Kebetulan saja obat hiat-kat.Pendekar Pemanah Rajawali Cie It pinjam perabot tulis pada tuan rumah. Surat itu berbunyi singkat saja: ―Aku menunggu kau di telaga di luar kota barat.‖ Kwee Ceng mengerti. Malah didua tiga rumah obat yang terbesar. ―Akun mengerti sekarang. tujuh atau delapan rumah obat semua kehabisan empat rupa bahan obat itu. terus ia duduk bersemadhi di atas pembaringan. Justru ia mau cari jongos. ia menulis sehelai surat obat.‖ ia berkata. mungkin ia dapat berunding dengan temannya itu.‖ berkata si imam itu. di dekat-dekat dimana ada toko obat. ―Di sana belum tentu obat itu telah orang beli juga…‖ Ingat begini.‖ kata pelayan setelah ia membaca surat obat itu. ―Kita dapat pikir ini. ia lihat imam itu lagi melatih kaki dan tangannya. diam-diam ia keluar dari kamar.‖ sahut jongos itu. obat-obatan itu masih tidak kedapatan. Kwee Ceng heran. Cit It tertawa pula. ―Cara bagaimana kau kenal anak itu?‖ ia tanya. hatinya lega. Imam itu menghela napas. Ong Cie It tertawa. Ia girang berbareng heran. kenapa mereka tidak?‖ berkata si imam. ―Sayang tuan. jauhnya kira-kira sepuluh lie. Ia ingat Oey Yong cerdik sekali. Irawan D Soedradjat Page 202 . Ong Cie It berpikir. Ia menjadi bingung dan mendongkol. Bocah ini tidak berani mengganggu. sebab mereka ketahui Ong Cinjin pasti membutuhkannya. ia pergi sambil terus berlari. Lekas datang!‖ Surat itu tidak memakai tanda-tanda hanya lukisan gambar dari satu pengemis bocah. Sekarang kau tolongi aku lekas membeli obat. Ada urusan penting yang hendak aku damaikan.‖ Tanpa minta penjelasan. bocah ini lari pulang ke hotel. Ia lantas kasih tahu bahwa ia mau pergi beli obat ditempat lain. wajahnya menjadi guram. ―Aku telah bebas dari bahaya jiwa. katanya baru saja ada orang yang borong. Ia putus asa. hingga mereka menjadi sahabat. Makanya ia mesti pergi ke lain toko obat lagi. akibatnya akan menyebabkan cacad seumur hidup. Di jalan perapatan ia lihat rumah obat yang pertama. ―Tetapi hawa racun di dalam tubuh belum bersih betul.‖ Kwee Ceng tidak menjadi putus asa. Ia pun beri lihat suratnya Oey Yong itu. ia lantas taruh kepalanya di atas meja dan menangis megerunggerung. Untuk kegirangannya Kwee Ceng kenali romannya Oey Yong. bek-yo dan hitam baru habis.‖ pikirnya kemudian. Di sini ia diberi tahu. ―Kematian pun tidak harus disayangkan. ―Kenapa aku tidak mau pergi ke tempat yang berdekatan. ―Siapa yang mengirim surat ini?‖ ia menanya dalam hatinya. empat rupa obat itu tidak ada. ―Seorang gelandangan di jalan besar. Surat itu bagus tulisannya dan kertanya berbau harum. jikalau dalam duabelas jam itu tak disingkirkan. kepada Ong Cie It ia tuturkan kegagalannya.‖ kata bocah ini kemudian. ―Siapa bawa surat ini?‖ ia tanya jongos. ―Tidak usahlah kau pergi. Laginya belum tentu aku bakal mati. untuk dibaca isinya. ―Tentulah orang dari istana Chao Wang yang memborong semua obat itu. Kwee Ceng samber resepnya. untuk lari ke rumah obat yang lain. ia mengawasi. Kwee Ceng sangat jujur dan hatinya lemah. gu-cit. ―Jiwa manusia sudah ditakdirkan. Ia terus robek sambpul surat. Maka itu ia beritahu bahwa ia ingin menemui sahabatnya itu. Maka ia mau tanya jongos. Surat itu dialamatkan kepadanya. Untuk herannya. Kwee ceng tuturkan pertemuannya sama Oey Yong. menyerahkan sepucuk surat kepadanya. Ia heran. Kwee Ceng masuk ke dalam kamar Cie It. ia segera mampir dan serahkan resepnya itu. jongos datang dengan cepat. maka itu kenapa kau menangis?‖ Lalu dengan suara halus ia bernyanyi.

Kau harus berhati-hati. kemudian ia kucak-kucak matanya dengan kedua tangannya. ia masuki resep ke dalam sakunya. ia tampak segala apa putih meletak. jikalau ia hendak mencelakai padamu. engko Kwee. Ong Cinjin menghela napas. Si nona mengayuh perahunya sampai ke pinggir telaga. Disekitarnya yang luas. sahabat eratnya. Begitu ia menoleh. Tanpa mengalami sesuatu. Ia lari keluar kota barat tanpa menghiraukan salju berterbangan menyampok mukanya. tanda ia sangat percaya pada Oey Yong. akan perdengarkan suara nyaring: ―Oey Hiantee! Oey Hiantee!‖ Tidak ada jawaban. yang rambutnya panjang meroyot melewati pundak. lantas lumer. Ia dipanggil selagi ia menoleh ke lain jurusan. ―Mana itu dapat disebut persahataban sehidup semati? Jangan kau pandang enteng dia sebagai bocah! Kau tahu. disana tidak ada tapak-tapak manusia. Tapi ia buka mulutnya.‖ berkata pula si nona. romannya cantik sekali dan manis. ―Baru berapa lama kamu bersahabat?‖ katanya. bajunya putih mulus. Itulah suaranya Oey Yong. Karena hawa udara tidak sangat dingin. Itulah sebuah perahu kecil dengan penumpangnya. mukanya dadu segar. Lantas ia tuturkan perihal kebaikannya sahabatnya itu. Ia dapatkan si nona bagaikan bidadari. Belum terlalu lama atau dari tengah telaga terdengar suara tertawa halus. Aku lihat padanya seperti ada terselip sifat-sifat kesesatan. Ia berdiri menjublak bagaikan orang yang tengah bermimpi. Tidak ada bayangan orang sekalipun. yang duduk di belakang perahu. ―Semua anak muda berkelakuan seperti kamu. kau pergilah lekas!‖ katanya.‖ ia pesan. tidak berani ia mengawasi terus-terusan. sahabat sehidup semiati……. ―Kwee Koko. Kwee Ceng mengawasi dengan menjublak. Memandang ke sekitarnya. ―Dia luar biasa gerak tubuhnya. yang percaya betul sahabatnya itu. Ong Cinjin tertawa. kulitnya putih halus. Adalah di tepian. dia jauh terlebih lihay daripada kau. eh. tidak nanti ia celakai kau. Kwee Ceng terkejut. Ia pun bertindak dari tepian. Sesudah hampir sepuluh lie. Kenapa sekarang tercipta menjadi satu bidadari? Irawan D Soedradjat Page 203 . Orang berumur belum lima atau enambelas tahun. ―Apakah kau tidak kenal aku?‖ Kwee Ceng perhatikan suara orang.. telaga itu tidak membeku.‖ Di dalam hatinya. ada satu nona. maka baiklah aku menunggu ia disini…‖ Maka ia lantas menantikan sambil ia pandangi keindahan telaga di musim salju itu. cuma dua ekor burung air yang terbang gelapakan di telaga. kau tentu tidak dapat layani dia…. ―Baik. salju melulu yang tampak. Ia lantas berpaling ke lain jurusan. rambutnya di bagian atas ada pitanya dari emas. tidak tambah kecerdikan kamu…‖ Imam ini tetap percaya Oey Yong bukan orang dari golongan yang sadar.Pendekar Pemanah Rajawali ―Aku telah saksikan caranya ia mempermainkan Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. Bab 19. bocah ini menjadi heran. ―Oey Hiantee! Oey Hiantee!‖ ia memanggil pula.‖ berkata Ong Cinjin. dengan hatinya masgul. sehidup semati. sedang tangan baju orang memain di antara sampokan angin. ―Bagaimana. salju jatuh ke air. lanats ia berlalu dari hotel. di pepohonan. ia lihat sinar terang dari air telaga. Kwee Ceng berpikir: ―Totiang membeilang begini sebab ia belum tahu sifatnya Oey Hiantee…‖ Ia menyebutnya ―Oey Hiantee‖ = ―adik she Oey‖. ―Mungkin ia belum datang. ―Apa mungkin dia sia-sia menanti aku dan dia lantas pergi duluan?‖ ia berpikir. begitu ia tampak satu wajah yang manis sekali.‖ menyatakan Kwee Ceng. Ada Kuping Di Balik Tembok Kwee Ceng tiada bilang apa-apa lagi. ! Tapi sahabatnya itu adalah satu pemuda dengan muka kotor dan pakaian compang-camping…. hingga emas itu bercahaya di antara sinar putih dari salju. kapan Kwee Ceng menoleh. hanya aku tidak tahu pasti apa itu…‖ ―Kita bersahabat sangat erat. ia lihat sebuah perahu muncul dari bagian telaga yang lebat dengan pepohonan. mari naik ke perahu!‖ tiba-tiba dia memanggil. Tapi ia masih dapat berpikir. Dia menyebutnya ―Kwee Koko‖ = ―Engko Kwee‖. ―Di dalam ilmu kepandaian.

Pendekar Pemanah Rajawali

Dalam kesangsiannya, bocah ini mengawasi dengan mendelong. Nona itu tertawa. ―Aku adalah Oey Hianteemu!‖ ia berkata. ―Benarkah kau telah tidak kenali aku?‖ Oleh karena ia menatap, Kwee Ceng kenali roman mukanya Oey Yong yang alisnya lentik dan mulutnya mungil, cuma dandannya lain. ―Kau…kau….‖ katanya perlahan. Oey Yong tertawa pula. ―Sebenarnya aku adalah seorang wanita,‖ ia berkata pula. ―Siapa suruh kau panggil aku Oey Hiantee dan Oey Hiantee tak sudahnya? Ayolah lekas naik ke perahu ini!‖ Kwee Ceng sadar, lalu ia enjoti tubuhnya, lompat ke perahu itu. ―Oey Hiantee…!‖ katanya. Oey Yong tidak menyahuti, ia hanya kayuh perahunya ke telaga. Ia lantas sajikan bekalannya, barang makanan dan arak. ―Kita duduk disini, dahar dan minum arak sambil memandangi sang salju, bagus bukan?‖ katanya merdu. Kwee Ceng mencoba akan menenangi diri. ―Ah…aku tolol sekali!‖ katanya kemudian. ―Sampai sebegitu jauh, aku sangka kau adalah seorang pria! Selanjutnya tidak dapat aku panggil lagi kau Oey Hiantee….‖ Oey Yong tertawa. ―Kau juga jangan panggil aku Oey Hian-moay,‖ ia berkata. ―Aku dipanggil Yong-jie. Ayahpun selalu memanggil aku begitu.‖ Dengan sendirinya nona ini tidak menghendaki di panggil ―Oey Hian-moay‖ = ―adik Oey‖ dan menghendaki di sebut namanya saja. ―Yong-jie‖ berarti ―anak Yong‖. Tiba-tiba Kwee Ceng ingat sesuatu. ―Aku membekali kau tiamsim!‖ katanya seraya terus kasih keluar tiamsim yang ia bawa dari istananya Wanyen Kang. Cuma sekarang tiamsim itu sudah pusak-pesok tiada karuan. Oey Yong mengawasi macamnya tiamsim yang tidak karuan itu, ia tertawa. Merah mukanya Kwee Ceng, ia jengah. ―Tiamsim ini tak dapat dimakan…‖ katanya. Ia ambil itu, untuk dilemparkan ke air. Oey Yong sambar tiamsim itu. ―Aku bisa makan!‖ katanya. ―Aku doyan!‖ Selagi si bocah tercengang, Oey Yong sudah menggayem tiamsim itu. Kwee Ceng mengawasi, sampai ia mendadak menjadi heran sekali. Oey Yong dahar tiamsim itu, lantas perlahan-lahan matanya menjadi merah, lalu air matanya perlahan-lahan mengalir turun… ―Begitu aku dilahirkan, aku sudah tidak punya ibu,‖ berkata Oey Yong yang dapat membade pikirannya sahabatnya. ―Seumurku, belum pernah ada orang yang ingat aku seperti kau ini…‖ Air matanya mengalir deras, ia keluarkan sapu tangannya ang putih bersih. Kwee Ceng menyangka orang hendak menyusuti air matanya, tak tahunya dengan cara hati-hati nona itu bungkus sisa tiamsim yang kemudian ia masuki ke dalam sakunya. ―Aku akan dahar ini perlahan-lahan…‖ katanya, dan kali ini ia tertawa. Benar-benar aneh kelakuan bocah wanita ini, Kwee Ceng asing betul dengan tingkah lakunya ini ―Oey Hiantee‖. ―Bilangnya ada urusan penting yang kau hendak bicarakan dengan aku, urusan apakah itu?‖ kemudian ia tanya. Ia sudah lantas ingat surat si nona dan untuk apa ia datang ke telaga ini. Oey Yong tertawa ketika ia menyahuti: ―Aku panggil kau datang kemari untuk memberitahukan padamu bahwa aku bukannya Oey Hianteemu, hanya Yong-jie. Apa ini bukannya urusan penting?‖

Oey Yong melengos ke samping. ―Kau bilang aku manis dipandang?‖ ia tanya. ―Manis sekali!‖ sahut si anak muda. ―Kau mirip dengan bidadari dari puncak gunung salju!‖ Ia menghela napas.
Irawan D Soedradjat

Page

204

Kwee Ceng tersenyum. Orang benar-benar jenaka. ―Kau begitu manis untuk dipandang, kenapa mulanya kau menyamar sebagai penemis?‖ ia tanya.

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong tertawa pula. ―Pernahkah kau melihat bidadari?‖ tanyanya. ―Aku belum pernah lihat. Kalau aku dapat menemui, mana aku masih hidup lagi…?‖ Oey Yong heran. ―Eh, kenapa begitu?‖ ia menegaskan. ―Sebab pernah aku dengar pembilangannya orang-orang tua, siapa dapat melihat bidadari, dia tidak bakal kembali ke tanah datar, untuk selamanya ia akan duduk bengong saja di gunung salju, lalu lewat beberapa hari, dia akan mati beku….‖ Oey Yong tertawa pula. ―Sekarang kau melihat aku, kau bakal bengong saja atau tidak?‖ tanyanya kemudian. Mukanya Kwee Ceng menjadi merah. ―Kita toh sahabat-sahabat kekal, kita lain…‖ Oey Yong menganggguk. Lalu ia berkata dengan sungguh-sungguh: ―Aku tahu kau baik hati dengan sesungguhnya, terhadap aku, tidak peduli aku pria ataupun wanita, biarpun aku bagus atau jelek.‖ Ia berhenti sebentar. ―Dengan dandananku ini, kalau orang bersikap baik terhadap aku, apakah anehnya? Diwaktu aku menjadi pengemis, kau baik sekali dengan aku, nah itu barulah sahabat sejati.‖ Ia rupanya sangat girang, semabri tertawa ia kata pula: ―Aku ingin bernyanyi untukmu, sukakah kau mendengarnya?‖ ―Apakah tidak boleh besok saja kau bernyanyi?‖ Kwee Ceng minta. ―Sekarang ini aku mesti pergi beli obat untuk Ong Totiang.‖ Kwee Ceng lantas tuturkan tentang adu kepandaian di istana Chao Wang, sampai Ong Cie It, yang melindungi ia, mendapat luka parah, bahwa sia-sia belaka ia mencari obat. Oey Yong mengawasi, ia tertawa. ―Aku pun heran sekali menyaksikan kau lari mondar-mandir di jalan besar dan memasuki rumah obat dari yang satu kepada yang lain, entah kau bikin apa, tidak tahunya kau hendak membeli obat,‖ katanya. Kwee Ceng menduga, selagi ia lari mondar-mandir, Oey Yong tentu telah mengintai padanya tetapi ia tidak tahu, kalau tidak, niscaya nona itu tidak ketahui ia tinggal di hotel mana. ―Oey Hiantee,‖ katanya kemudian, ―Apakah boleh pinjam kuda merahmu yang kecil untuk aku pergi membeli obat?‖ Oey Yong menatap. ―Ketahuilah!‖ katanya. ―Kesatu, aku bukannya si Oey Hiantee! Kedua, kuda merah yang kecil itu adalah kepunyaanmu! Apakah kau sangka benar-benar aku menghendaki kudamu itu? Aku melainkan lagi menguji hatimu. Ketiga, di tempat sekitar ini, belum tentu kau dapat mencari obat itu…!‖ Kwee Ceng berdiam, hatinya pepat. Ia bingung sekali. Dugaan si nona nyata cocok betul dengan dugaannya Ong Cie It. Oey Yong tertawa. ―Sekarang aku nyanyai, kau dengari!‖ dia kata. Lalu kedua bibirnya yang merah tergerak terbuka, segera lidahnya bergerak, memperdengarkan nyanyiannya yang halus dan merdu. Kwee Ceng mendengari dengan hati kesengsem walaupun tidak mengerti jelas artinya nyanyian itu, hatinya menjadi goncang. Seumurnya belum pernah ia peroleh pengalaman ini. ―Inilah nyanyian Sui Ho Sian dari Sin Tayjin,‖ kata Oey Yong perlahan habis ia nyanyi. ―Bagaimana kau bilang, bagus atau tidak?‖ ―Aku kurang mengerti tetapi didengarnya menarik hati,‖ Kwee Ceng menjawab. ―Siapa itu Sin Tayjin?‖ ―Dialah Sin Kee Cie,‖ sahut Oey Yong. ―Menurut ayahku dialah satu pembesar jempolan yang menyinta negara dan rakyat. Ketika dulu hari utara Tionggoan terjatuh ke dalam tangan bangsa Kim dan Gak Bu Bok terbinasa di tangan dorna, tinggal Sin Tayjin sendiri yang masih berdaya untuk merampas pulang daerah-daerah yang terhilang itu.‖ Kwee Ceng tahu kekejaman bangsa Kim dari penuturan ibunya, karena ia hidup di Mongolia, ia kurang tahu. Ia kata: ―Belum pernah aku pergi ke Tionggoan, maka hal ini baik nanti saja perlahan-lahan kau tuturkan padaku. Sekarang kita mesti pikirkan daya menacri obat untuk Ong Totiang.‖
Irawan D Soedradjat

Page

205

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kau dengar aku,‖ berakta Oey Yong. ―Kita pesiar dulu disini, tak usah kau cemas tidak karuan.‖ ―Ong Totiang bilang, kalau dalam tempo dua belas jam ia tidak dapat obat, ia bisa celaka,‖ Kwee Ceng jelaskan. ―Aku tanggung, kau akan dapatkan obat itu,‖ si nona bilang. Mendengar si nona bicara dengan sungguh-sungguh dan juga percaya orang memang ada terlebih pandai dan cerdik daripadanya, Kwee Ceng dapat juga melegakan hatinya. ―Mungkin ia tidak akan membikin gagal,‖ pikirnya. Maka ia lantas layani si cantik itu minum arak dan dahar makanan sambil mereka pasang omong. Dengan gembira, dan secara menarik hati, Oey Yong tuturkan bagaimana caranya ia menggangtung Hong Ho Su Koay, bagaimana ia ganggu Hauw Thong Hay sampai si Ular Naga Kepala Tiga itu mendongkol bukan main. ―Bagus!‖ seru Kwee Ceng saking gembira. ―Memang bagus!‖ kata si nona. Dan keduanya bertepuk tangan. Tanpa merasa sang tempo telah berlalu, Oey Yong lihat bagaimana secara perlaha-lahan sang mega atau kabut mulai menutupi air telaga yang putih. Dengan perlahan sekali ia ulur tangannya, terus ia genggam tangannya si Kwee Ceng, sembari berbuat begitu ia kata dengan perlahan: ―Sekarang aku tidak takut apa juga…!‖ ―Kenapa?‖ menanya si anak muda dengan heran. ―Taruh kata ayah tidak menginginkan aku, kau tentunya sudi aku ikuti kau, bukankah?‖ si nona tanya tanpa ia menyahuti pertanyaan orang. ―Pasti!‖ jawab Kwee Ceng sungguh-sungguh. ―Aku sendiri, belum pernah aku bergembira seperti sekarang ini!‖ Oey Yong membawa tubuhnya mendekati dada si pemuda dan menempelkannya, maka Kwee Ceng lantas saja merasakan ia bagai terkurung bau harum, bau yang meliputi juga antero telaga, seluruh langit dan bumi…… Tanpa mengucap sepatah kata, keduanya saling berpegang tangan….. Lagi sekian lama, tiba-tiba Oey Yong menghela napas. ―Tempat ini sungguh indah, sayang kita bakal meninggalkannya…‖ katanya. ―Kenapa begitu?‖ Kwee Ceng tanya. Ia heran. ―Bukankah kita harus mencari obat untuk menolongi Ong Totiang?‖ sahut si nona. Kwee Ceng sadar, ia menjadi girang sekali. ―Ah, ke mana kita mencarinya?‖ ―Ke manakah perginya itu beberapa rupa obat yang dibutuhkan, yang tidak berada di rumah-rumah obat?‖ Oey Yong menanya. ―Tentulah semua itu dibeli oleh orangnya Chao Wang,‖ menyahut Kwee Ceng. ―Benar!‖ berkata si nona. ―Tetapi tidak dapat kita pergi ke sana!‖ Kwee Ceng bilang. ―Pergi ke sana artinya kita mengantari jiwa kita…‖ ―Habis apakah kau tega membiarkan Ong Totiang menjadi bercacad seumur hidupnya?‖ Oey Yong tanya. ―Jangan-jangan, karena lukanya itu berubah menjadi berbahaya, ia pun bisa hilang jiwanya….‖ Darahnya Kwee Ceng bergolak. ―Baik, aku akna pergi!‖ ia bilang. ―Tapi kau jangan turut…‖

Kwee Ceng berdiam. Ia tidak punyakan alasan untuk kata-katanya itu.

Irawan D Soedradjat

Page

206

―Jangan turut? Kenapakah?‖ tanya si nona.

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong mengawasi. ―Engko yang baik,‖ katanya perlahan. ―Kau kasihanilah aku. Umpama kata kau menemui bencana, apakah kau sangka aku dapat hidup seorang diri saja?‖ Kwee Ceng menjadi sangat bersyukur dan bergirang. ―Baiklah!‖ katanya kemudian. ―Mari kita pergi bersama!‖ Keduanya lantas mengayuh, membuatnya perahu mereka ke pinggir, setelah mendarat, mereka menuju langsung ke istana Chao Wang, ke arah belakang. Mereka memasuki pekarangan dengan melompati tembok. ―Engko Ceng, sempurna sekali ilmu ringan tubuhmu!‖ Oey Yong memuji selagi si anak muda mendekam di kaki tembok untuk memasang kuping dan mata. Mendengar pujian itu, Kwee Ceng gembira bukan main. Merdu sekali suara si nona. Tak lama, mereka mendapat dengar tindakan kaki dibarengi sama suara bicara sambil tertawa. Mereka menutup mulut. ―Siauw-ongya mengurung si nona di sini, kau tahu untuk apa?‖ terdengar seorang menanya. ―Siauw-ongya‖ itu ialah pangeran muda. ―Buat apa lagi!‖ tertawa orang yang kedua. ―Si nona ada demikian cantik! Sejak kau dilahirkan, pernahkah kau melihat nona secantik itu?‖ ―Kau hati-hati, sahabat!‖ kata yang pertama, ―Melihat macammu ini, hati-hatilah, nanti siauw-ongya kutungi batang lehermu…‖ Kwee Ceng lantas berpikir: ―Kiranya Wanyen Kang sudah punya pacar maka juga ia tidak sudi nikahi nona Bok. Dalam hal ini, dia tidak dapat disesalkan. Cuma mengapa ia mengurung nona itu? Mustahilkah si nona menolak dan ia hendak gunai kekerasan untuk memaksa?‖ Dua orang itu sudah lantas datang dekat sekali, yang satu membawa tengloleng, yang lainnya menenteng barang makanan. Yang membawa makanan itu berkata pula sambil tertawa: ―Siauw-ongya aneh! Dia mengurung orang, dia juga khawatir orang kelaparan! Lihat, sudah malam begini dia masih suruh mengantarkan barang makanan….‖ ―Jikalau tidak berlaku manis budi, mana dia dapat merampas hati si nona?‖ berkata yang membawa lentera. Lantas mereka lewat, suara tertawa mereka masih terdengar. ―Mari kita lihat!‖ berbisik Oey Yong, yang hatinya menjadi tertarik. ―Sebenarnya bagaimana sih cantiknya orang itu…‖ ―Lebih perlu kita mencari obat,‖ Kwee Ceng bilang. ―Aku ingin lihat dulu si cantik!‖ kata Oey Yong, yang tertawa. Kwee Ceng heran sekali. ―Apa sih bagusnya orang perempuan untuk di lihat?‖ katanya dalam hati. Ia tidak menginsyafi sifat wanita. Kalau satu nona mendengar ada nona cantik lainnya, sebelum melihatnya, hatinya tidak nanti puas, kalau dia sendiri cantik, lebih keras lagi keinginannya melihatnya itu. ―Ah, dasar anak kecil….!‖ Luas pekarangan dalam dari gedung Chao wang itu. Mereka berdua berjalan berliku-liku menguntit dua hamba tadi. Mereka tiba di depan sebuah gedung besar yang gelap, tapi ada yang jaga. Mereka lantas umpatkan diri, untuk mendenagri kedua kacung itu bicara sama penjaga rumah itu, yang ialah seoarng serdadu. Dia ini lantas membuka pintu, untuk mengijinkan orang masuk. Oey Yong cerdik. Ia menjumput sebutir batu, dengan itu ia menimpuk lentera orang, hingga apinya lentera itu padam seketika, membarengi mana ia tarik tangan si anak muda, untuk diajak berlompat masuk ke pintu. Kedua kacung dan serdadu itu tidak menduga jelek, mereka cuma menyangka batu jatuh dari atas. Sembari mengutuk, mereka nyalakan pula lenteranya. Setelah membuka sebuah pintu dalam, yang kecil, berdua mereka masuk lebih jauh.

Irawan D Soedradjat

Page

207

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong dan Kwee Ceng menempatkan diri di sebelah belakang, dengan hati-hati mereka menguntit pula, sampai mereka berada di depan sebuah ruang seperti kerangkeng binatang liar, jerujinya semua besi kasar. Di dalam situ ada dua orang, terlihat samar-samar seperti pria dan wanita. Satu bujang lantas memasang lilin, yang mana ia masuki ke dalam kerengkeng. Maka sekarang terlihat tegaslah dua orang yang terkurung itu. Mengenali mereka, Kwee Ceng terkejut. Mereka adalah Bok Ek serta gadisnya, yang tadi siang mengadakan pibu mencari jodoh. Bok Ek nampaknya tengah bergusar. Liam Cu duduk di samping ayahnya dengan kepala tunduk. ―Bagaimana dengan Wanyen Kang? Sebenarnya dia sukai nona ini atau tidak?‖ Kwee Ceng beragu-ragu. Kedua bujang itu memasuki barang makanan berikut araknya. Bok Ek sembat sebuah mangkok, terus ia lemparkan. Ia berseru: ―Aku telah terjatuh ke dalam tipumu yang busuk, kalau kau hendak membinasakan, binasakanlah! Buat apa kamu berpura-pura menaruh belas kasihan?!‖ Belum sampai si bujang membilang apa-apa, di sebelah luar terdengar suaranya serdadu penjaga pintu yang tadi: ―Siauw-ongya baik?‖ Mendengar itu, Kwee Ceng dan Oey Yong berpaling, lalu lekas-lekas mereka mencari tempat sembunyi. Segera juga terdengar suara membentak sari Wanyen kang, yang datang dengan tindakan lebar: ―Siapa yang membikin Bok Loenghiong gusar? Awas, sebentar aku hajar patah kaki anjingmu!‖ Kedua hamba itu lantas bertekuk lutut. ―Hambamu tidak berani…‖ berakat mereka. ―Lekas berlalu!‖ membentak pula si pangeran. ―Ya, ya…‖ menyahuti kedua hamba itu, yang berlalu dengan cepat. Hanya setibanya mereka di pintu luar, mereka saling mengawasi dengan mengulurkan lidahnya masing-masing….. Wanyen Kang tunggu sampai orang telah merapatkan daun pintu, ia hampiri Bok Ek dan gadisnya. ―Jiwi silahkan kemari!‖ ia berkata, suaranya sabar sekali. ―Aku hendak membilangi sesuatu kepada kamu, harap kamu jangan salah mengerti.‖ ―Kau telah kurung kami sebagai pesakitan, apakah artinya undanganmu ini?!‖ Bok Ek menegur. Ia gusar sekali. ―Maafkan aku, menyesal sekali,‖ berkata Wanyen kang. ―Untuk sementara aku minta jiwi harap bersabar. Aku pun merasa tak enak hati.‖ ―Kau boleh akali bocah umur tiga tahun!‖ Bok Ek membentak pula. ―Aku tahu baik sifatnya kamu orang besar! Hm!‖ Wanyen Kang hendak bicara pula, saban-saban ia terhalang oleh bentakan orang tua itu, tetapi ia sabar luar biasa, sebaliknya dari bergusar, ia tertawa. ―Ayah, coba dengar dulu apa ia hendak bilang,‖ akhirnya Liam Cu berkata dengan perlahan. ―Hm!‖ orang tua itu perdengarkan suara di hidungnya. ―Nona seperti putrimu, mustahil aku tidak sukai dia‖ berkata Wanyen Kang. Mendengar itu, wajahnya Liam Cu menjadi merah, ia tunduk lebih rendah. ―Hanyalah aku adalah satu pangeran dan aturan rumah tanggaku keras sekali,‖ Wanyen Kang berkata pula. ―Umpama kata orang mendapat tahu aku mempunyai mertua seorang kangouw, bukan cuma ayahku bisa memarahinya, malah ada kemungkinan sri baginda juga nanti menegur ayahku itu…‖ ―Habis kau mau apa?‖ menanya Bok Ek. Ia anggap orang bicara beralasan juga. ―Sekarang ini aku mau minta jiwi berdiam dulu beberapa hari di sini, untuk sekalian merawat lukamu,‖ sahut pangeran itu. ―Setelah itu barulah kamu pulang ke kampung halamanmu. Nanti, selang satu atau setengah tahun, setelah suasana sudah reda, akan aku nikahi putrimu ini, baik dengan jalan aku pergi menjemput ke rumahmu atau dengan minta locianpwee datang ke mari. Tidakkah itu lebih bagus?‖ kata pangeran ini lebih lanjut.
Irawan D Soedradjat

Page

208

Pendekar Pemanah Rajawali

Bok Ek berdiam. Ia tengah memikir satu hal lain. ―Peristiwa ini bisa merembet ayahku,‖ Wanyen Kang berkata pula, sambil tertawa. ―Oleh karena kenakalanku, beberapa kali ayah pernah ditegur sri baginda raja, maka kalau urusan ini sampai didengar oleh sri baginda, pastilah pernikahan ini gagal. Maka itu aku minta sukalah locianpwee menyimpan rahasia.‖ Bok Ek gusar. ―Menurut caramu ini!‖ katanya sengit, ―Kalau nanti anakku menikah sama kamu, untuk seumur hidupnya ia mesti main sembunyi-sembunyi! Dia jadinya bukan satu istri yang terang di muka umum!‖ ―Dalam hal ini pastilah aku akan mengatur lainnya,‖ Wanyen Kang memberi keterangan. ―Sekarang pun aku sudah pikir nanti minta perantaraannya beberapa menteri sebagai orang pertengahan, supaya kita nanti menikah secara terhormat….‖ Wajahnya Bok Ek berubah. ―Kalau begitu, pergi kau panggil ibumu datang ke mari,‖ katanya. ―Aku ingin kita omong depan berdepan dan secara terus terang!‖ Wanyen Kang tersenyum. ―Mana dapat ibuku menemui locianpwee?‖ katanya. ―Jikalau aku tidak dapat bicara dengan ibumu, biar bagaimana, tidak sudi aku melayani kamu!‖ kata Bok Ek kaku, tangannya menyambar sepoci arak, yang dia timpukkan di antara jeruji besi. Bok Liam Cu kaget dan berduka menyaksikan sikap ayahnya ini. Sebenarnya, semenjak memulai bertanding sama pangeran itu, ia telah menaruh hati, maka juga ia senang mendengar pembicaraannya si anak muda yang ia anggap beralasan. Ia tidak sangka, ayahnya telah ambil sikapnya yang tegas itu. Wanynn Kang geraki tangannya menyambar poci arak itu, terus ia letaki itu ditempatnya, di atas meja. ―Menyesal tidak dapat aku menemani lebih lama,‖ katanya. Ia tertawa dan memutar tubuhnya untuk berlalu. Kwee Ceng anggap omongannya Wanyen Kang beralasan. Bukankah si pangeran ada kesulitannya sendiri? Maka itu, menyaksikan kemurkaannya Bok Ek, ia lantas berpikir; ―Baiklah aku bujuki ia…‖ Ia lantas geraki tubuhnya, untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi ia tidak dapat wujudkan apa yang ia pikirkan itu. Oey Yong telah tarik tangan bajunya, untuk ajak ia keluar. ―Apakah sudah diambil?‖ mereka lantas dengar suaranya Wanyen Kang, yang bicara sama satu hambanya. ―Sudah,‖ sahut si hamba, yang terus angkat sebelah tangannya. Nyata ia mencekal seekor kelinci. Wanyen Kang menyambuti dengan kedua tangannya, tiba-tiba saja ia patahkan kedua kakinya kelinci itu, yang ia terus masuki ke dalam sakunya, setelah mana ia bertindak dengan cepat. Binatang itu berpekik satu kali, lalu kelengar. Dua-duanya Oey Yong dan Kwee Ceng heran sekali. Merak lantas kuntiti pangeran itu, yang jalan memutari sebuah pagar bambu, setelah mana terlihatlah sebuah rumah tembik putih yang kecil. Itulah rumah bermodel rumah rakyat di Kanglam. Maka heran di dalam pekarangan istana mentereng itu ada sebuah rumah yang begini sederhana. Maka mereka jadi bertambah heran. Wanyen Kang menolak pintu rumah itu dan masuk ke dalamnya. Dengan lekas Kwee Ceng berdua lari ke jendela untuk memasang kuping sambil mengintai di sela-sela jendela itu. Mereka percaya mesti ada perbuatan yang aneh dari si pangeran itu. ―Ma!‖ mereka lantas dengar suara si pangeran. ―Ya..!‖ demikian suara penyahutan perlahan, suaranya seorang wanita. Wanyen Kang lantas masuk ke dalam kamar.

―Mama, apakah hari ini kau kurang sehat?‖ tanya Wanyen Kang seraya pegangi tangan si nyonya.
Irawan D Soedradjat

Page

209

Untuk bisa melihat, Kwee Ceng berdua menghampirkan sebuah jendela lain. Maka mereka lantas tampak satu nyonya tengah berduduk di pinggiran meja, sebelah tangannya menunjang dagu, matanya mendelong. Dia belum berumur empatpuluh tahun dan mukanya cantik sekali. Di rambut dekat kupingnya dia memakai setangkai bunga putih. Pakaiannya semua terdiri dari kain kasar.

Pendekar Pemanah Rajawali

Nyonya itu menghela napas. ―Bukankah aku tak berlega hati untukmu?‖ sahutnya. Wanyen Kang sanderkan diri di tubuh nyonya itu, yang ia panggil ibu, agaknya ia manja sekali. ―Ma, bukankah anakmu berada di sini?‖ katanya, aleman. ―Toh aku tidak kekurangan walaupun sebelah kakiku…?‖ ―Kau mengacau, kalau ayahmu dengar itu, masih tidak apa,‖ berkata si ibu itu, ―Tetapi gurumu? Bagaimana kalau ia mendengar kabar? Tidakkah hebat?‖ ―Ma,‖ berkata si pangeran, tertawa, ―Tahukah kau siapa imam itu yang datang menyela untuk menolongi orang?‖ ―Siapakah imam itu?‖ ―Dialah adik seperguruan dari guruku…‖ ―Celaka!‖ berseru si nyonya kaget. ―Pernah aku melihatnya gurumu disaat ia tengah murka! Dia dapat membunuh orang! Sungguh menakutkan…!‖ Wanyen Kang agaknya heran. ―Pernah mama melihat suhu membunuh orang?‖ dia tanya. ―Di manakah itu? Kenapa suhu membunuh orang?‖ Nyonya itu angkat kepalanya, memandang lilin. Ia agaknya tengah memikir jauh. ―Itulah sudah lama, sudah lama,‖ katanya kemudian dengan perlahan. ―Ah, kejadian daulu hari itu hampir aku lupa….‖ Wanyen Kang tidak menanyakan lebih jauh, sebaliknya dengan gembira, ia kata; ―Ong Susiok itu telah mendesak aku, menanyakan bagaimana urusan pibu hendak diselsaikan. Aku telah menjanjikan untuk menerima baik. Asal si orang she Bok itu datang, apa yang diatur, aku terima baik.‖ ―Apakah kau sudah bicara dengan ayahmu?‖ tanya si nyonya itu. ―Bersediakah dia akan memberikan perkenanannya?‖ Wanyen Kang tertawa. ―Ma, kau memang baik sekali!‖ katanya. ―Dari siang-siang telah aku perdayakan orang she Bok itu dan gadisnya datang ke mari, sekarang mereka ditahan di kerangkeng di belakang sini. Mana Ong Susiok dapat mencari mereka?‖ Selagi si pangeran ini demikian gembira, Kwee Ceng sebaliknya bertambah kemendongkolannya dan kemurkaannya. Kata pemuda ini dalam hatinya; ―Aku menyangka dia bermaksud baik, siapa tahu ia sebenarnya sangat licik!‖ Si wanita pun tidak setujui putranya itu. ―Kau telah permainkan anak dara orang,‖ katanya kurang senang, ―Kau juga kurung mereka di sini. Apakah artinya itu? pergi lekas kau merdekakan mereka! Kau berikan mereka uang, kau menghanturkan maaf, lantas kau persilahkan mereka pulang ke kampung halaman mereka.‖ Kwee Ceng mengangguk-angguk. Ia setujui sikap nyonya itu. ―Begitu baru benar,‖ pikirnya. Wanyen kang tetap tertawa. ―Ma, kau belum tahu,‖ katanya. ―Orang kangouw seperti mereka tidak memandang uang! Jikalau mereka dilepaskan, setelah merdeka, tentu mereka akan buka suara lebar-lebar. Kalau itu sampai terjadi, bagaimana suhu bisa tak ketahui urusan ini?‖ ―Habis, apakah kau hendak kurung mereka seumur hidup mereka?‖ tanya si nyonya. Putra itu tetap tertawa. ―Akan aku bicara baik-baik dengan mereka, nanti aku perdayakan hingga mereka suka pulang ke kampung halaman mereka,‖ ia bilang. ―Biarlah di sana mereka menanti-nanti hingga mereka putus asa…‖. Lantas ia tertawa terbahak.

Irawan D Soedradjat

Page

―Jangan turuti adat…!‖ demikian ia dengar bisikan di kupingnya, berbareng denagn mana sebuah tangan yang halus menutup mulutnya dan tangan yang lain menarik tangannya. Merdu bisikan itu……

210

Kembali bangki hawa amarahnya Kwee Ceng, hingga ia ayun sebelah tangannya ke daun jendela dan mulutnya pun hendak dibuka.

Pendekar Pemanah Rajawali

Cuma sejenak itu, pemuda ini insyaf akan kekeliruannya, maka ia menoleh kepada si nona manis di sisinya dan bersenyum. Karena itulah Oey Yong yang mencegah padanya. Kemudian ia mengintai pula ke dalam kamar. ―Tua bangka she Bok itu sangat licin,‖ terdengar pula suaranya Wanyen Kang. ―Telah aku bujuki dia, dia tak mau makan umpan. Maka biarlah dia ditahan lagi beberapa hari, untuk lihat akhirnya dia suka menurut atau tidak.‖ ―Aku lihat nona itu bagus romannya dan gerak-gerakinya, aku suka dia,‖ berkata si nyonya. ―Aku pikir hendak bicara dengan ayahmu, supaya kau diijinkan menikah dengannya. Bukankah dengan begitu selesai sudah semuanya?‖ ―Ah, mama, ada-ada saja!‖ berkata sang putra sambil tertawa. ― Kita dari keluarga apa? Cara bagaimana aku bisa menikah dengan satu nona kangouw? Ayah sering bilang padaku bahwa dia hendak mencarikan satu jodoh dari keluarga agung. Sayangnya ialah ayah bersaudara dengan raja yang sekarang…‖ ―Apakah yang dibuat sayang?‖ nyonya itu bertanya. ―Sebab,‖ menyahut sang putra, ―Kalau tidak, pasti aku kana mendapatkan putri raja dan aku bakal menjadi menantu raja!‖ Nyonya itu menghela napas, ia tak bicara lagi. ―Ma, ada satu lagi hal yang lucu,‖ Wanyen Kang berkata pula, tak ketinggalan tertawanya. ―Tua bangka she Bok itu bilang ingin bertemu sama kau, ingin dia bicara sendiri, untuk mendapat kepastian, setelah itu barulah dia mau mempercayai aku.‖ ―Tidak nanti aku bantui kau memperdayakan orang, itulah perbuatan yang tidak baik!‖ berkata pula si ibu. Wanyen Kang tertawa geli, ia jalan mondar-mandir di dalam kamar. Oey Yong dan Kwee Ceng dapat kesempatan memperhatikan kamar itu. Semua meja dan kursi terbuat dari kayu kasar. Pembaringan serta perlengkapannya mirip dengan kepunyaan kebanyakan petani di Kanglam, semua kasar dan jelek. Di tembok ada tergantung tombak serta sebuah pacul. Di pojokan ada sebuah mesin tenun. Maka, menyaksikan semua itu, mereka menjadi heran. ―Wanita ini mulia sebagai selir, mengapa ia tinggal dalam kamar dengan perlengkapan semacam ini?‖ mereka itu berpikir. Justru itu Wanyen Kang menekan ke dadanya, ke sakunya, lalu terdengar dua kali pekikan perlahan. ―Eh, apakah itu?‖ sang ibu tanya. ―Oh, hampir aku lupa!‖ sahut putranya itu, agaknya ia terperanjat. ―Tadi di tengah perjalanan pulang aku melihat seekor kelinci yang terluka, aku bawa dia pulang. Mama, coba kau tolong obati dia…‖ Ia lantas keluarkan kelinci putih itu, diletaki di atas meja. Dengan kakinya patah, binatang itu tidak dapat jalan. ―Anak yang baik!‖ berkata si nyonya. Ia lantas mencari obat, untuk mengobati kelinci itu. Lagi-lagi darahnya Kwee Ceng bergolak. Ia sungguh membenci orang punya kelicinan dan kekejaman itu, terutama untuk memperdayakan seorang ibu yang hatinya demikian mulia. Tidakkah binatang yang harus dikasihani itu sengaja disakiti? Bukankah ibu telah didustai, untuk mengobati binatang yang sengaja disiksa? Kalau terhadap ibu sendiri saja ia mendusta demikian, maka bisalah diketahui buruknya sifat anak itu. Oey Yong yang tubuhnya menempel sama tubuh si anak muda merasakan tubuh orang bergemetar. Ia menginsyafi bahwa orang ada sangat gusar. Tentu saja ia khawatir kawan ini perluap hawa amarahnya itu hingga Wanyen kang bisa pergoki mereka. Ia lantas pegang tangannya si pemuda itu, yang ia tarik untuk diajak mengundurkan diri.

―Tahukah kamu obat itu disimpan di mana?‖ Kwee Ceng tanya. Nona itu menggeleng kepala. ―Aku tidak tahu,‖ sahutnya. ―Mari kita cari…‖
Irawan D Soedradjat

Page

211

―Jangan pedulikan dia, mari kita pergi cari obat,‖ bisiknya.

Pendekar Pemanah Rajawali

Kwee Ceng bersangsi. Dimana mesti mencari obat di istana demikan besar? Bukankah berbahaya kalau mereka kepergok See Thong Thian atau lainnya? Ia tidak sempat berpikir lama-lama. Pikirannya itu berhenti secara tiba-tiba. Sebab kupingnya segera mendengar orang mengoceh seorang diri dan di depan matanya berkelebat sinar api. ―Anak yang manis, kalau kau tidak mencintai aku, kau mencintai siapa lagi? Maka, kau kasihanilah aku…‖ Sembari perdengarkan suaranya yang berlagu, terlihatlah seorang bertindak dengan perlahan-lahan. Dia mencekal sebuah tenglong. Selagi Kwee ceng hendak menyembunyikan diri di belakang sebuah pohon, Oey Yong justru maju memapak orang itu, hingga ia menjadi tercengang, lalu lantas saja ia diam bagai patung, hatinya goncang keras. Oey Yong telah ancam dia dengan sebatang pisau belati. ―Siapa kau?‖ si nona menanya, membentak tapi perlahan. Orang itu kaget dan ketakutan, selang berepa detik baru ia dapat menyahuti, suaranya tidak lancar. Ia adalah pengurus surat-surat di istana itu. ―Kau menjadi pengurus, bagus!‖ kata si nona. ―Di mana disimpannya obat-obatan yang hari ini pangeranmu yang muda menitahkan orang membeli?!‖ ―Semua itu siauw-ongya yang simpan sendiri, aku…aku tidak tahu…‖ Oey Yong cekal tangan orang dengan tangan kirinya untuk memencet, sedang ujung pisaunya ditempel kepada kulit leher. Orang itu kesakitan akan tetapi ia tidak berani berteriak. ―Kau hendak bilang atau tidak?!‖ si nona mengancam. ―Benar-benar aku tidak tahu….‖ jawab orang itu dengan gugup. Oey Yong kerahkan tenaga di tangan kirinya itu, lalu dengan menerbitkan suara membeletak, patahlah tangan kanan si pengurus itu. Ia buka mulutnya, untuk berteriak tetapi dengan cepat si nona sambar kopiah orang, untuk dipakai menyumbat mulutnya. Maka hanya sekali saja dia itu mengasih dengar suara keras tertahan, lalu ia roboh dengan pingsan. Kwee Ceng tidak menyangka satu nona demikian cantik dan halus gerak-geriknya dapat berbuat demikian telengas, ia menjadi tercengang, tak dapat ia membilang apa-apa. Oey Yong menotok dua kali kepada iganya pengurus istana itu, lantas ia sadar. Ia tarik kopiah orang, untuk dibelesaki ke kepelanya. ―Apakah kau ingin tangan kirimu pun dipatahkan?‖ ia tanya. Pengurus itu lantas saja menangis, ia menjatuhkan diri berlutut. ―Dengan sebenarnya aku tidak tahu, percuma umpama nona membunuh aku,‖ katanya. Sekarang Oey Yong mempercayainya, tetapi ia kata: ―Sekarang pergi kau kepada pengeranmu itu, bilang bahwa kau jatuh dan patah tanganmu. Kau kasih tahu bahwa tabib membilang kau perlu obat hiat-kat, gu-cit, thim-tha dan bu-yok. Obat itu semua tak dapat dibeli di kota raja ini, maka kau mintalah kepada pangeran itu.‖ Pengurus itu sudah membuktikan si nona tidak pernah main gila, ia suka menurut. ―Siauw-ongya ada pada ibunya, lekas-lekas kau pergi padanya!‖ Oey Yong bilang. ―Aku akan ikuti padamu. Jikalau kau tidak dengar aku dan sengaja kau membuka rahasia, akan aku patahkan batang lehermu, akan aku kerek matamu!‖

Irawan D Soedradjat

Page

Wanyen Kang masih ada pada ibunya, mereka masih pasang omong. Ia heran ketika ia lihat datangnya pengurus itu, yang bermandikan peluh dan air mata, dengan separuh mewek dia mohon diberi obat. Dia mengaku seperti ajarannya Oey Yong.

212

Tubuhnya orang itu bergemetar, ia merayap bangun, lalu dengan menggertak gigi, menahan sakit, ia lari ke arah kamarnya onghui, si selir.

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kasihlah dia obat!‖ berkata onghui, yang hatinya lemah. Ia lihat muka orang berpucat-pasi dan ia merasa kasihan. Wanyen Kang mengkerutkan alisnya. ―Semua obat itu ada apa Nio Losianseng,‖ katanya. ―Pergi kau mengambil sendiri!‖ ―Tolong ongya memberikan sehelai surat,‖ si pengurus meminta. Onghui itu sudah lantas sediakan perabot tulisnya. Wanyen Kang menulis beberapa kata-kata, untuk si Nio Losianseng, ialah io Cu Ong. Pengurus itu mengangguk-angguk mengucapkan terima kasihnya. ―Lekas kau pergi!‖ menitah onghui. ―Sebentar sesudah sembuh baru kau haturkan terima kasihmu!‖ Pengurus itu lantas saja bertindak keluar. Ia baru jalan beberapa tindak, atau pisau belati telah tertanda di pundaknya. ―Pergi kepada Nio Losianseng!‖ menitah Oey Yong separuh berbisik. Orang itu berjalan, baru beberapa puluh tindak, ia sudah terhuyung, rupanya tak sanggup ia menahan rasa sakitnya. ―Sebelum kau dapatkan obat itu, jangan harap jiwamu selamat!‖ si nona mengancam pula. Kaget hamba itu, ia mengeluarkan keringat dingin, entah dari mana, datanglah tenaga kekuatannya, maka dapat ia berjalan terus. Sekarang ia jalan dengan menemui beberapa hamba lainnya, mereka itu lihat ia diikuti si nona dan pemuda, mereka itu heran tetapi tidak ada di antara mereka yang menanya apa-apa. Tiba di kamarnya Nio Cu Ong, pintu kamar tertutup terkunci. Pengurus itu tanya satu hamba, ia dapat jawaban bahwa Nio Losianseng lagi menghadari perjamuannya pengeran di ruang Hoa Cui Kok. Kwee ceng lantas merasa kasihan menampak orang seperti tidak kuat jalan, ia lantas mencekal tubuh orang, untuk dipepayang. Bersama-sama mereka menuju ke tempat pesta itu. ―Berhenti! Siapa kamu!‖ Itulah teguran oleh dua orang, yang memapaki sekira beberapa tindak dari Hoa Cui Kok. Mereka itu masing-masing memegang golok dan cambuk. ―Aku hendak menemui Nio Losianseng,‖ sahut si pengurus, yang perlihatkan suratnya siauw-ongya. Dia lantas dikasih lewat. Ketika Kwee Ceng dan si nona ditanya, pengurus itu mendahului menerangkan: ―Mereka kawan kita.‖ Oey Yong berlaku tenang. Ia kenali dua orang itu, ialah dua dari keempat Hong Ho Su Koay, yaitu Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong. Mereka ini sebaliknya tidak mengenali orang, yang telah dandan sebagai asalnya, seorang nona. Hanya melihat Kwee Ceng, mereka tercengang, lantas mereka mau seraya angkat tangan mereka. Tapi sejenak itu, tidak dapat mereka menyerang dengan golok dan cambuk mereka. Tiba-tiba saja iga mereka kaku. Karena dengan kesebatannya yang luar biasa, Oey Yong sudah totok mereka. Kwee Ceng kagum vukan main. Ia berada di samping si nona tetapi ia tak sempat melihat gerakan tangan orang. Mendadak ia mengingat kejadian di rumah makan di Kalgan, tempo kawanan nona-nona serba putih hendak rampas kudanya, tahu-tahu mereka itu roboh tanpa berkutik. ―Pastilah mereka telah terkena tangan lihay dari si Yong ini,‖ pikirnya lebih jauh. ―Eh, kau pikirkan apa?‖ menegur si nona sambil tertawa menampak orang termenung. Ia lantas saja tarik Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong ke belakang pot-pot kembang, untuk disembunyikan, kemudian ia tarik tangan si pemuda, untuk menyusul si pengurus. Di depan Hoa Cui Kok, Oey Yong tolak tubuh si pengurus, untuk ia masuk, ia sendiri bersama Kwee Ceng lantas lompat naik ke payon, guna mengintai dari jendela, hinngga mereka dapat melihat jelas ke dalam. Terang sekali ruang dalam itu di mana ada sebuah meja penuh dengan pelbagai barang hidangan dan arak, tetapi yang membuat Kwee ceng terperanjat adalah kapan matanya bentrok sama hadirin yang duduk mengitari meja
Irawan D Soedradjat

Page

213

Pendekar Pemanah Rajawali

itu, sampai hatinya berdenyutan. Ia lihat dan mengenali Auwyang Kongcu dari pek To San, Kwie-bun Liongong See Thong Thian, Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay, Som Sian Lao-koay Nio Cu Ong dan Cian-ciu Jintouw Pheng Lian Houw. Menemani mereka itu, duduk di sebelah bawah adalah Chao Wang Wanyen Lieh, yaitu Liok-hong-cu atau pangeran keenam dari negara Kim. Duduk di samping, di atas kursi tay-su-ie yang besar dan tebal amparnya, adalah Tay-cu-in Leng Tie Siangjin, kedua mata siapa terbuka sedikit dan mukanya bagaikan kertas kuning, suatu tanda lukanya tak enteng. Diam-diam Kwee Ceng girang sekali, maka ia kata di dalam hatinya: ―Kau hendak mencelakai Ong Totiang, kau juga dapat merasakan enak….‖ Si pengurus bertindak masuk untuk terus berlutut di depan Nio Cu Ong, kedua tangannya mempersembahkan suratnya siauw-ongya. Nio Cu Ong menyambuti, ia baca surat itu, terus ia awasi si pembawa surat, kemudian ia angsurkan surat itu kepada Wanyen Lieh. ―Ongya, benarkah ini tulisannya siauw-ongya?‖ ia tanya. Chao Wang membaca surat itu, ia mengangguk. ―Benar,‖ katanya. ―Berikanlah dia obat itu.‖ Nio Cu Ong menoleh kepada kacung di sisinya. ―Tadi siauw-ongya ada mengirimkan empar macam rupa obat,‖ katanya. ―Kau ambilkan masing-masing itu satu tail, berikan kepada koankee ini.‖ Bocah itu menyahuti, lalu ia ajak si koankee atau pengurus itu mengundurkan diri. Kwee Ceng berbisik di kupingnya Oey Yong: ―Mari kita pergi, lekas! Semua mereka itu sangat lihay!‖ Oey Yong tertawa perlahan, ia menggeleng kepala. Oleh karena ia menggoyang kepalanya,rambutnya si nona mengenai mukanya si pemuda, hingga Kwee Ceng merasa gatal dari muka terus ke hatinya. Pemuda ini tidak hendak berbantahan, ia hanya lantas geraki tubuhnya untuk melompat turun. ia baru bergerak, atau si nona telah sambar tangannya, untuk ditahan. Untuk itu, nona itu mesti menyantel keras kedua kakinya pada payon, habis mana perlahan-lahan ia kasih turun tubuh si pemuda. Kwee Ceng terkejut, di dalam hatinya ia kata, ―Ah, aku semberono sekali. Tidakkah ini berbahaya? Bukankah orang-orang di dalam itu lihay semua? Jikalau aku berlompat mundur, bagaimana mereka tidak dapat memergokinya?‖ ia insyaf, dasar baru masuk dalam dunia kangouw, ia jadi kurang berpengalaman. Dengan lantas ia ikuti si pengurus dan kacung itu. Satu kali ia menoleh ke belakang, ia dapatkan Oey Yong masih belum turun, dengan masih bergelantungan nona itu mengawasi ke dalam ruangan. Oey Yong tidak segera berangkat. Untuk mencari tahu orang di dalam ketahui tentang dirinya atau tidak, ia mengintai terus. Ia lakukan itu setelah itu setelah ia lihat Kwee Ceng sudah pergi belasan tembok jauhnya. Katika ia mengawasi ke dalam, sinar matanya bentrok sama sinar mata tajam dari Pheng Lian Houw, ynag kebetulan berpaling. Ia tidak berani mengawasi terus, ia hanya memasang kuping. Seorang yang suaranya serak, berkata; ―Saudara-saudara, bagaimana pandangan kamu mengenai Ong Cie It? Adakah ia datang dengan maksud sengaja atau itu cuma kebetulan saja?‖ ―Peduli ia datang dengan sengaja atau bukan!‖ berkata seseorang, yang suaranya nyaring dan keras sekali. ―Dia telah merasai tangannya Leng Tie Siangjin, jikalau ia tidak mampus, sedikitnya ia mesti bercacad seumur hidupnya!‖ Oey Yong lantas mengawasi pula. Ia dapatkan orang itu adalaha Pheng Lian Houw yang matanya tajam, yang tubuhnya kate dan kecil. Seorang, yang suaranya tedas sekali, berkata smabil tertawa; ―Selama aku berada di wilayah Barat, aku pernah dengar namanya Coan Cin Cit Cu yang kesohor itu, sekarang terbukti mereka benar-benar lihay, coba Leng Tie Siangjin tidak menghadiahkan dia pukulan Tay-ciu-in, pastilah hari ini kita roboh di tangan mereka itu.‖ Seorang yang suaranya keras tetapi dalam berkata; ―Auwyang Kongcu, janganlah kau menempeli emas di mukamu….. Kita berdua pihak sama-sama nampak kerugian, siapa juga tidak ada yang menang…‖

Irawan D Soedradjat

Page

Sampai di situ, tuan rumah mempersilahkan tetamunya mengeringi arak mereka.

214

Orang yang dipanggil Auwyang Kongcu itu berkata pula: ―Biar bagaimana, kalau ia tidak kehilangan jiwanya, dia bakal bercacad. Siangjin cuma perlu beristirahat sekian waktu.‖

Pendekar Pemanah Rajawali

Habsi itu terdengar seorang berkata: ―Tuan-tuan telah memerlukan datang dari tempat ynag jauh, atas itu siauwong sangat berterima kasih. Sungguh inilah keberuntungan dari Negara Kim yang tuan-tuan telah dapat diundang!‖ ―Dia tentulah Chao Wang Wanyen Lieh,‖ pikir Oey Yong. Atas kata-kata itu, beberapa orang perdengarkan suara yang merendah. Setelah itu, terdengar pula suaranya Chao Wang: ―Leng Tie Siangjin adalah paderi suci mulia dari Tibet, Nio Losianseng adalah guru silat kenamaan Kwan-gwa, Auwyang Kongcu biasa hidup berbahagia di wilayah Barat dan belum pernah datang ke Tionggoan. Pheng Ceecu jago dari Tionggoan dan See Pangcu jago dari sungai Hong Hoo. Dari lima tuan-tuan, satu saja sudi datang membantu, pasti uasaha besar dari Negara Kim bakal berhasil, apapula sekarang lima-limanya telah datang semua. Hahahaha!‖ Agaknya bukan main gembiranya pangeran itu. ―Jikalau ongya ada titah apa-apa, pasti kami akan lakukan itu dengan sepenuh tenaga kami,‖ berkata Nio Cu Ong sambil tertawa. ―Apa yang dikhawatirkan adalah tenagaku tidak cukup nanti dan mensia-siakan kepercayaan ongya yang dilimpahkan kepada kami. Jikalau itu sampai terjadi, pastilah kami akan kehilangan muka kami.‖ Ia pun lantas tertawa. Kelima orang itu adalah bangsa jago dari beberapa puluh tahun, maka itu meskipun mereka bicara secara merendah, masih tetap tak hilang sifat jumawanya. Chao Wang mengangkat pula cawannya, mempersilahkan mereka itu minum. Terus ia kata: ―Siauw-ong telah mengundang tuan-tuan, pasti sekali siauw-ong akan menaruh kepercayaan kepada tuan-tuan, urusan bagaimana besar juga, tidak nanti siauw-ong sembunyikan, dilain pihak, apabila tuan-tuan telah ketahui segala apa, aku percaya tidak nanti tuan-tuan beritahukan itu kepada lain orang siapa juga, untuk mencegah pihak yang bersangkutan nanti mendapat ketahui dan dapat bersiap sedia….‖ Semua orang itu mengerti maksudnya pangeran ini, yang mempercayai mereka tetapi secara tidak langsung masih memesan untuk mereka menyimpan rahasia itu. ―Baik Ongya tetapkan hati, tidak nanti kami membikin rahasia bocor,‖ kata mereka. Dengan sendirinya mereka itu tegang hatinya. Mereka percaya, Chao Wang bakal percayakan mereka satu rahasia besar. ―Di tahun Thian-hwee ketika dari Sri Baginda Thay Cong kami dari Negara Kim,‖ berkata pula Chao Wang kemudian, ―Itulah tahun Soan-hoo ketujuh dari Kaisar Hiw Cong dari Keluarga Tio. Ketika itu dua Panglima besar kami ienmeho dan Kanlipu telah pimpin angkatan perangnya menerjang kerajaan Song, mereka berhasil menawan kedua Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong dari kerajaan musuh itu. Sejaka jaman dahulu, belum pernah negeri kami sekuat itu, walaupun demikian, sampai sekarang ini, Keluarga Tio itu yang tetap duduk sebagai raja di Hangciu. Tahukah tuan-tuan sebab dari pada itu?‖ Semua orang terdiam. Mereka heran raja muda itu membicarakan urusan negera. Cuma Nio Cu Ong yang lantas memohon penjelasan. ―Duni telah ketahui yang kerajaan kami telah berulang-ulang kalah di tangan Gak Hui, tentang ini tak usah disembunyikan lagi,‖ berkata pula Chao Wang. ―Wunchu, panglima kami, pandai mengatur tentara, akan tetapi menghadapi Gak Hui, dia selamanya kena dipecundangi. Benar kemudian Gak Hui dapat dibinasakan Cin Kwee yang dititahkan pemerintah kami, akan tetapi tenaga kami sudah lemah, kami tidak sanggup lagi berperang ke Selatan. Atas ini, aku tidak puas, tanpa mengukur tenaga sendiri, ingin aku mendirikan suatu jasa besar untuk negeraku. Untuk ini, tidak dapat tidak, aku mebutuhkan bantuan tuan-tuan.‖ Orang saling memandang, bagi mereka belum jelas maskudnya raja muda ini. Mereka bukan orang peperangan tukang merobohkan atau merampas kota. Chao Wang tampaknya sangat puas den bernafsu ketika ia berbicara pula, suaranya sedikit menggetar. Katanya: ―Baru beberapa bulan yang lalu, diluar dugaanku, aku telah dapat menemui sebuah surat peninggalan pemerintahku yang dulu. Itulah suratnya Gak Hui yang bunyinya luar biasa. Selang beberapa bulan, barulah aku dapat terka maksudnya surat itu. Gak Hui menulis itu ketika ia dipenjarakan. Rupanya ia mengerti bahwa ia tidak bakal hidup lebih lama lagi, tetapi ia sangat mencintai negaranya, maka ia tinggalkan warisannya itu. Itulah surat yang merupakan rahasia ilmu perang, bagaimana harus mendidik tentara dan berperang. Ia mengharapkan warisannya itu terjatuh di dalam tangan seorang yang nanti bisa pakai itu untuk melawan negara
Irawan D Soedradjat

Page

215

Pendekar Pemanah Rajawali

Kim. Tapi Cin Kwee menjaga keras sekali, sampai hari matinya Gak Hui, surat itu tidak dapat diberiakan kepada orang luar. Para hadiran sangat tertarik hatinya, sampai mereka melupakan arak dan barang hidangan mereka. Oey Yong pun ketarik hatinya. ―Gak Hui dapat mengetahui warisan itu tidak dapat diloloskan, ia terus simpan itu ditubuhnya,‖ Chao Wang melanjuti. ―Sebagai gantinya, ia meninggalkan sepucuk surat warisan, yang bunyinya tidak keruan junterungannya. Cin Kwee mempunyai kepandaian sebagai conggoan, ia masih tidak dapat menangkap artinya surat wasiat itu, maka surat itu ia dikirim ke negriku. Selama beberapa puluh tahun, surat itu disimpan di dalam istana. Dipihak kami juga tidak ada yang bisa mengartikan surat itu, orang hanya menduga, saking berduka dan penasaran, disaat-saat kematiannya, Gak Hui menulis ngaco belo. Tidak tahunya, itu adalah sebuah teka-teki istimewa.‖ Orang heran tetepi sekarang mereka memuji kecerdikan Chao Wang itu. ―Gak Hui begitu pandai, kalau kita bisa dapatkan surat warisan ilmu perangnya itu, bukankah gampang untuk negaraku mempersatukan benua ini?‖ berkata Chao Wang. Mendengar itu barulah semua orang dapat menerka maksudnya pangeran ini. Mereka pada berkata dalam hati masing-masing. ―Kiranya Chao Wang mengundang kita untuk minta kita menjadi pembongkar kuburan…‖ ―Turut dugaanku semula, surat wasiat itu mestinya dibawa Gak Hui ke dalam liang kubur,‖ Chao Wang berkata pula. Ia berdiam sebentar, agaknya ia berpaling. ―Tapi….Tuan-tuan adalah orang-orang yang gagah, mustahillah aku nanti meminta tuan-tuan pergi mencuri dengan membongkar kuburan? Di samping itu, ada satu keberatan lainnya. Gak Hui itu memang musuh negaraku, tetapi ia adalah satu orang gagah dan setia, satu pencinta negara, yang siapa pun menghormatinya, dari itu, cara bagaimana aku berani mengganggu tempat perkuburannya? Karena ini, aku sudah lantas memikirkannya terlebih jauh. Aku pun telah membongkar surat-suratnya kerajaan Song, yang telah dikirim semenjak dulu-dulu. Diakhirnya, aku telah berhasil memperoleh suatu sumber lain. Ketika itu hari Gak Hui menjalankan hukuman mati di paseban Hong Po Teng, dia dikubur di tepinya jembatan Ciong An Kio di dekat paseban itu, baru kemudian kaisar Song Hauw Cong memindahkan kuburannya ke tepi telaga See Ouw, dimana pun didirikan sebuah rumah abu untuknya. Dilain pihak lagi, pakaian dan kopiahnya Gak Hui disimpan di tempat lain, ialah di kota raja Lim-an. Karena itu tidak gampang untuk mencari surat wasiat itu. Pada ini ada satu rahasia yang tidak boleh didengar lain orang, atau orang nanti mendahului kita mengambilnya. Harus diketahui di wilayah Selatan ada banyak sekali orang-orang gagah. Maka itu, setelah memikir lama, tidak ada jalan bagiku kecuali mengundang tuan-tuan, yang terhitung orang-orang Rimba Persilatan kelas satu.‖ Mendengar ini, para hadiran itu pada mengangguk. ―Pernah aku menduga, mungkin surat wasiat itu telah diambil lain orang,‖ Wanyen Lieh berkata lebih jauh. ―Bukankah pakaiannya Gak Hui itu telah dipindahkan? Ada kemungkinan, selama perpindahan itu, suratnya telah diambil orang. Hanya kalau surat itu sampai ada yang ambil, orang itu mesti mengerti kepentingannya itu. Siapa yang menghormati Gak Hui, dia tentu tidak berani menggangu pakaiannya. Aku percaya, belum ada lain orang yang mengetahuinya. Kalau kita sudah sampai di sana, aku percaya, kita bakal dapatkan surat itu. Memang, kalau dikata sukar, sukarnya bukan main, akan tetapi di mata orang lihay, gampangnya bukan buatan. Sebenarnya surat wasiat itu disimpan di…..‖ Baru Chao Wang mengucapkan sampai di situ, tiba-tiba pintu ruang ada yang tabrak hingga terbuka terpentang, lalu satu orang terlihat menebros masuk, matanya bengkat dan mukanya matang biru. Dia lantas lari ke Nio Cu Ong. ―Suhu…!‖ dia berseru, lantas suaranya tertahan. Segera orang kenali, dia adalah si kacung yang tadi Nio Cu Ong titahkan pergi mengambil obat……

Bab 20. Tombak Besi Dan Pakaian Lama

Irawan D Soedradjat

Page

216

Pendekar Pemanah Rajawali

Kwee Ceng telah terus ikut si pengurus bersama si kacung pergi untuk mengambil obat. Jalanan ada berlikuliku. Selama itu ia masih terus mengancam si pengurus, yang khawatir nanti jatuh atau main gila. Akhirnya mereka tiba di tempatnya Nio Cu Ong. Kacung itu membuka pintu, ia masuk ke dalam dan menyulut lilin. Begitu ia berada di dalam kamar, Kwee Ceng lihat obat-obatan memenuhi meja, pembaringan dan lantai. Di situ pun ada banyak botol dan guci, besar dan kecil. Rupanya Nio Cu Ong gemar sekali membuat obat-obatan. Kacung itu rupanya mengerti obat-obatan, ia sudah lantas mengambil kertas, untuk menjumput empat rupa obat yang dibungkus masing-masing. Obat-obatan mana terus ia serahkan pada si koanke. Tapi Kwee Ceng yang, yang tak tahan sabar, sudah lantas mengulur tangannya, akan sambut obat-obatan itu, terus tanpa pedulikan si koanke, ia bertindak untuk pergi lebih dulu. Si koankee itu cerdik, walaupun ia telah terluka, pikirannya berekrja. ia sengaja jalan perlahan. Ia tunggu sampai Kwee Ceng dan si kacung sudah keluar dari kamar, dengan sebat ia tiup padam api lilin, segera ia sambar daun pintu, untuk digabruki dan dikunci, menyusul mana ia berteriak-teriak: ―Ada penjahat! Ada penjahat!― Kwee Ceng terkejut, ia memutar tubuh, ia mencoba membuka pintu tetapi sia-sia belaka, ia sudah ketinggalan. Ia gusar dan terburu nafsunya, selagi begitu si kacung sambar bungkusan obat di tangannya, bungkusan mana terus dilemparkan ke empang di dekat mereka. Kacung itu adalah muridnya Nio Cu Ong, dia masih kecil tetapi cerdik, mendegar teriakannya si koanke, dia menjadi kaget dan heran, kemudian dia menjadi curiga, maka ia rampas obat itu dan dibuang. Dalam gusarnya, kwee Ceng kerahkan tenaganya menghajar pula pintu kamar. Kali ini daun pintu dapat digempur terbuka. Dalam sengitnya, ia serang si koanke yang segera roboh tanpa dapat membuka suara. Tempo Kwee Kwee Ceng menoleh, si kacung sudah lari. Dalam murkanya, ia berlompat untuk mengejar, segera ia berada di balakang kacung itu, pundak siapa ia jambret. Kacung itu dapat dengar suara menyambar, ia berkelit sambil mendak, lalu seraya memutar tubuh, ia membalas menyerang denagn sapuan kakinya. Kwee Ceng jadi tambah penasaran, setelah berkelit, ia menyerang dengan hebat. Dua kali kacung itu kena dihajar mukanya, cuma sebab ia masih keburu membuang mukanya, dia tak sampai roboh. Adalah kemudian, setelah kepalanya ke disampok, dia roboh dengan pingsan. Dengan satu dupakan, Kwee Ceng bikin tubuh si kacung terlempar ke tempat tumbuh rumput didekatnya, habis itu ia lari ke dalam kamar. Ia lantas menyalakan api. Terlihat si koanke masih rebah tanpa berkutik. Ia mengawasi obat, ia menjadi bingung. tadi ketika si kacung mengambil obat, dia tidak perhatikan darimana orang mengambilnya. Pun nama obat yang tertempel di peles obat tidak dapat ia baca, sebab itu ditulis dalam hurufhuruf Nuchen. Tapi ia mesti bekerja cepat, tidak bisa ia memikir lama-lama. ―Tadi kacung ini berdiri di dekat sini, baik aku ambil semua obat ini, sebentar Ong Totiang yang pilih sendiri,‖ pikirnya kemudian. Maka ia lantas ambil kertas, ia membungkus setiap obat. Karena ia bekerja cepat, tanpa sengaja Kwee Ceng kena langgar sebuah keranjang di sampingnya. Ketika itu jatuh ke lantai, tutupnya terbuka. Untuk kagetnya, ia lihat isi keranjang adalah sebuah ular besar yang tubuhnya merah mulus. Malah ular itu segera menyambar! Kwee Ceng kaget, syukur ia masih sempat berlompat. Sekarang ia dapat melihat dengan tegas, tubuh ular ada sebesar cangkir, separuh tubuhnya masih ada di dalam keranjang, jadi belum ketahuan berapa panjangnya tubuh ular itu. Yang aneh adalah itu warna merah mulus. Lidah ular, yang diulur keluar, bercabang dua, lidah itu bergerak-gerak tak hentinya. Selagi mundur, Kwee Ceng membentur meja, lilin di atas meja roboh dan padam, maka ruangannya segera menjadi gelap-gulita. Tapi obat telah didapat, ia lantas lari ke pintu untuk mengangkat kaki. Tiba-tiba ia merasakan kakinya disambar dan dipeluk, atau itu mirip dengan libatan dadung/tali, saking kaget, ia melompat untuk meloloskan diri. Tapi ia dapat berhasil. Sebaliknya ia lantas merasakan barang adem mengenakan lengannya.Kembali ia menjadi kaget. Ia tahu sekarang bahwa ia telah dililit ular. Tapi ia tak hilang akal, dengan tangan kirinya hendak ia cabut golok emas hadiah Jenghiz Khan. Disaat itu, ia merasakan bau obat tercampur bau amis menyambar hidungnya, lalu mukanya terasa dingin. Itulah ular yang telah menjilati mukanya! Lagi sekali ia kaget tak terkira! Tak sempat ia menghunus goloknya, dengan tangan kirinya ia sambar leher ular untuk dipencet.

Irawan D Soedradjat

Page

217

Pendekar Pemanah Rajawali

Ular itu agaknya kaget, dia bertenaga besar, sebelum lehernya tercekik, ia pentang mulutnya, untuk mencoba mengigit muka Kwee Ceng. Dilain pihak, ia melibat dengan mengerahkan tenaganya, hingga Kwee Ceng lantas merasai tubuhnya terlilit keras, sampai napasnya mulai sesak bahkan tenaga tangan kirinya mulai berkurang. Baunya ular itu sangat mengganggu pernapasan si anak muda, hingga ia menjadi mual, hendak ia muntah. Adalah sejenak kemudian, ia kehabisan tenaga, ia seperti hendak pingsan, cekikan tangan kirinya terlepas sendirinya….. Adalah disaat itu dilain pihak si kacung telah sadar dari pingsannya. Dia mendapatkan kamar gelap sekali. Dia tahu, orang jahat itu tentu telah kabur. Maka tidak ayal lagi, ia lari keluar dari kamar, dia kabur kepada gurunya itu. Oey Yong terkejut akan dengar keterangan si kacung, denagn gerakan ―Burung meliwis turun di pasir datar‖, dengan enteng sekali, ia lompat turun. ia menaruh kaki tanpa menerbitkan suara. Meski begitu, tak urung ia telah keperogok. Inilah sebabnya, segera setelah keterangan si kacung, semua orang menjadi curiga. Mereka memang semuanya orang-orang lihay. Sejenak saja tubuh io Cu Ong sudah mencelat keluar, bahkan segera ia menghadang di depan si nona. Dia lantas menegur; ―Siapa kau?‖ Oey Yong menginsyafi bahaya. Ia tahu orang lihay. Disamping dia ini, masih ada yang lainnya. Maka ia hendak menggunakan akal. Untuk ini ia cerdik sekali. Tiba-tiba saja ia tertawa dengan manis. ―Bunga bwee ini indah sekali, maukah kau memetiknya setangkai untuk aku?‖ ia berkata kepada orang she Nio itu, jago dari Kwan-gwa. Nio Cu Ong tercengang. Tidak ia sangka bakal menghadapi satu nona, malah satu nona yang begitu cantik manis, yang suaranya halus dan merdu. Tanpa merasa ia mengulurkan tangannya, akan memetik setangkai bunga, yang untuk terus diangsukan kepada si nona. Oey Yong menyambuti. ―Loya-cu, terim kasih!‖ katanya, kembali tertawa dengan suaranya yang halus merdu itu. Di ambang pintu berkumpul semua orang lainnya, merek aitu berdiri mengawasi kedua orang itu. Ketika Oey Yong lantas memutar tubuhnya, untuk berlalu. ―Ongya,‖ Pheng Lian Houw menanya, ―Adakah nona ini, nona dari istana ini?‖ ―Bukan,‖ menjawab Wanyen Lieh sambil menggelengkan kepala. Hanya dengan menjejak dengan kakinya yang kiri, Lian ouw sudah mencelat ke depan si nona. ―Tunggu nona!‖ katanya, ―Aku pun akan memetik setangkai bunga untukmu…!‖ Terus ia ulur tangannya yang kanan, hendak menangkap lengan orang, tetap sebat luar biasa, ia ubah tujuan, untuk meraba buah dada si nona. Oey Yong kaget bukan main. Ia sebenarnya hendak berpura-pura tidak mengerti ilmu silat. ia gagal. Lian Houw, sebagai jago di antara berandal di Hoopak, adalah sangat tajam matanya dan cerdik. Tidak bisa lain, ia geraki tangan kanannya, jari tangannya menyambuti tangan jago itu. Lian Houw terperanjat waktu ia merasakan getaran di jalan darahnya koik-tie-hiat, lekas-lekas ia menarik pulang tangannya itu, dengan begitu dia dapat lolos dari bahaya. Dia menjadi heran, nona demikian muda tetapi demikian lihay, dia pun tak kenal ilmu silat si nona itu. Tentu saja ia tidak ketahui kepandaian yang Oey Yong dapatkan sebagai warisan, namanya Totokan Bunga Anggrek. Yang lain-lain pun terkejut dan heran. ―Nona, kau she apa?‖ Lian Houw lantas menanya, ―Siapakah gurumu?‖ ―Bukankah bunga bwee ini permai sekali?‖ tanya Oey Yong sambil tertawa. Ia terus berlagak pilon, ia tidak menunjukki kagetnya tadi. ―Bukankah kau menghendaki aku menancapnya di dalam pot?‖ Sikap ini kembali membuatnya orang heran dan menjadi menduga-duga. ―Kau dengar apa tidak, apa yang kami tanya?‖ Lian Houw menegur. Ia tidak sabaran, dia lantas menunjuki kesembronoannya dengan campur bicara.
Irawan D Soedradjat

Page

218

Pendekar Pemanah Rajawali

―Apakah itu yang kau bicarakan?‖ balik tanya Oey Yong, tertawa. Justru itu, Pheng Lian Houw dapat mengenali si nona ini adalah si nona yang diwaktu siangnya sudah mempermainkan Hauw Thong Hay, cuma waktu itu orang menyamar menjadi satu bocah dekil. ―Lao Houw, apakah kau tidak kenal nona ini?‖ ia tanya sahabatnya. Ia tertawa. Thong hay tercengang. Lantas ia awasi si nona, dari atas sampai bawah dan sebaliknya. Cepat sekali, ia mengenalinya. Mendadak saja hawa amarahnya meluap. ―Ha, anak busuk!‖ dia mendamprat. Dia pun terus pentang kedua tangannya untuk menubruk. Dengan berkelit ke samping, Oey Yong bebaskan dirinya. Tapi di sini ia dipapaki See Thong Thian, yang tubuhnya tahu-tahu berkelebat dan tangannya menyambar ke lengan. ―Kau hendak lari ke mana?‖ menegur Kwie-bun Liong Ong. Oey Yong terkejut. Ia tidak menyangka lengannya bisa disambar secara demikian. Tapi ia tidak gugup, ia pun tidak kekurangan akal. Dengan dua jari dari tangan kirinya ia menotok kepada kedua matanya si orang she See itu. Hebat See Thong Thian itu, hampir tak nampak bagaimana ia geraki tangannya, juga tangan kiri si nona sudah lantas kena dia cekal. ―Tidak tahu malu!‖ mendamprat Oey Yong, yang kaget sekali. ―Tidak tahu malu apa?!‖ balik tanya See Thong Thian. ―Tua bangka menghina anak kecil! Laki-laki menghina anak perempuan!‖ Oey Yong menyahuti. See Thong Thian terperanjat. Dia memang seorang tua dan kenamaan juga. Memang, dengan perbuatannya ini, terang dia telah menghina anak kecil, seorang anak perempuan….. ―Masuk ke dalam!‖ katanya seraya kendorkan cekalannya. Oey Yong tahu tidak dapat ia menolak, ia lantas turut masuk. ―Nanti aku bikin dia bercacad dulu baru kita bicara!‖ kata Hauw Thong Hay, yang ada sangat mendongkol. Dia terus maju, untuk menanyakan kata-katanya itu. ―Tanyakan dulu, siapa gurunya dan siapa yang menitah ia itu datang ke mari!‖ berkata Pheng Lian Houw. Hauw Thong Hay tidak pedulikan jago dari Hoopak itu, sebelah tangannya sudah lantas melayang. Oey Yong berkelit. ―Benar-benarkah kau hendak menurunkan tangan?‖ ia menanya. ―Aku hendak cegah kau melarikan diri!‖ jawab Thong Hay. Dia paling takut si nona minggat, karena terang sudah, dia bakalan tidak dapat mengejar…. ―Jikalau kau benar hendak adu kepandaian denagn aku, baiklah!‖ kata Oey Yong yang sikapnya sabar tapi rada mengejek. Ia terus mengisikan enam buah cawan arak di atas meja. Cawan yang satu ia letaki di batok kepalanya dan dua yang lain ia cekal di antara kedua tangannya. Lantas ia menantang: ―Beranikah kau mencontoh aku ini?‖ ―Setan alas!‖ berseru orang she See itu, jago tunggal dari sungai Hong Hoo. Oey Yong tidak mengambil mumat, ia memandang kepada orang banyak. Ia kata, ―Aku tidak bermusuhan dengan tuan ini, bagaimana jadinya apabila aku keliru menggeraki tangan dan kena melukakan dia?‖

Irawan D Soedradjat

Page

Kembali Oey Yong tidak mengambil mumat. Ia kata pula, ―Dengan cara begini hendak aku mengadu kepandaian dengannya! Siapa yang araknya tumpah lebih dahulu, dialah yang kalah? Akurkah kau?‖

219

Thong Hay maju setindak, kedua matanya terbuka lebar. ―Kau dapat melukakan aku? Kau?‖ katanya sengit.

Pendekar Pemanah Rajawali

Nona ini menggunai kecerdikannya. Ia tahu bahwa ia tidak bakal meloloskan diri dari orang-orang lihay ini. Sekalipun terhadap Hauw Thong Hay, ia menang cuma sebab ia andalkan kegesitan dan kelincahannya. Ia percaya, dengan bergurau secara demikian, ia bakal dapat lolos. ―Siapa kesudian main-main denganmu!‖ Thong Hay membentak. Kembali ia menyerang sambarannya bagaikan angin. ―Bagus!‖ Oey Yong tertawa, seraya ia berkelit. ―Pada tubuhku ada tiga buah cawan, kau snediri boleh bertangan kosong! Nah mari kita adu kepandaian!‖ Bukan alang kepalang gusarnya Thong Hay. Dia berusia jauh terlebih tua, meski ia tidak sangat kesohor seperti See Thong Thian, kakak seperguruannya itu, ia toh ternama juga. Sekarang dia dipermainkan secara begini! Tanpa berpikir sejenak juga, ia jumput sebuah cawan arak, untuk diletaki di batok kepalanya, habis mana ia sambar dua yang lain, masing-masing dengan sebelah tangan. Kemudian, dengan sama cepatnya, ia tekuk sedikit kaki kirinya, untuk menyusul melayangkan kaki kanannya mendupak nona itu! ―Bagus! Nah ini barulah namanya enghiong sejati!‖ Oey Yong berseru sambil tertawa, seraya ia berkelit. Belum sempat ia melanjuti perkataannya atau dia sudah ditendang pula, kali ini berulang-ulang. Karena dengan kedua tangan mencekal cangkir dan kepala ditaruhkan cangkir juga, Thong Hay tidak dapat berbuat lain dari menggunai kedua kakinya. Oey Yong akhirnya repot akan tetapi ia selalu dapat lompat berkelit atau mengegos tubuhnya, menyingkir dari tendangan. Untuk ini, ia mesti seperti memutari ruangan itu. Nio Cu Ong memasang mata kepada gerakan kakinya si nona cilik. Itulah gerakan bagaikan ―Mega berjalan atau air mengalir‖. Tubuh tetap tegak, tidak bergerak sedikit juga, dan kedua kaki seperti ketutupan kun tetapi bergeraknya cepat. Dipihak sana, tindakannya Hauw Thong Hay cepat dan lebar. Si nona berkelit bukan cuma main berkelit saja, ia saban-saban mencoba dengan sikutnya akan membentur lengan lawannya, supaya benturannya dapat membuat arak tumpah atau ngeplok. ―Bocah ini begini lihay, sebenarnya sulit untuk melatih diri hingga begini rupa…‖ berpikir jago tua ini. ―Hanya, lama-lama dia toh bakal menjadi bukan tandingannya Lao Hauw…‖ Disaat itu, tiba-tiba Cu Ong ingin obat-obatannya, maka lenyaplah keinginannya menyaksikan pertempuran, ingin ia lari ke pintu, untuk terus ke kamarnya, guna cari si pencuri obat. Tentu saja ia tidak sempat memikir bagaimana halnya dengan si pencuri obat sensiri…… Kwee Ceng belum sampai pingsan tatkala ia merasakan bau ular menjadi semakin hebat. Ia insyaf bahayanya apabila binatang berbisa itu sampai dapat memagut padanya. Maka ia lantas tempel mukanya di tubuh ular itu. Oleh karena ia tidak dapat menggeraki tubuhnya, atau kaki tangannya, sekarang tinggal mulutnya yang masih merdeka. Mendadak saja ia ingat suatu apa. Lantas ia kuatkan hatinya, agar tidak sampai roboh pingsan, terus ia gigit leher ular itu. Binatang itu kaget dan kesakitan, dia bergerak, hingga lilitan kepada anak muda itu menjadi semakin keras. Tanpa pedulikan apa juga, Kwee Ceng menggigit terus, lalu terus menghisap, menyedot darah binatang itu. Ia tidak ambil mumat lagi binatang itu berbisa. Ia juga tidak gubris pula bau darah yang sangat tidak enak. Ia melainkan ketahui, kalau darahnya berkurang, maka tenaga binatang itu juga akan berkurang pula dan dengan begitu, lilitannya akan menjadi kendor. Itu pun artinya ia bakal terlolos dari bahaya maut. Maka ia menghisap terus-terusan, hingga tanpa merasa, perutnya mulai kembung. Dugaannya bocah ini tepat. Setelah darahnya terkuras banyak, tenaganya binatang itu segera menjadi berkurang, lilitannya segera menjadi kendor, atau sesaat kemudian, ia lepaskan lilitannya itu, tubuhnya pun jatuh sendirinya. Sebab itu waktu, dia kehabisan tenaga, napasnya lantas berhenti berjalan! Kwee Ceng terjatuh duduk. Tapi dia masih sadar, lekas-lekas ia empos semangatnya, untuk menjalankan napasnya dengan beraturan. Dengan dapat bersemadhi lekas ia dapat pulang tenaganyanya. Hanya aneh sekarang ia merasakan darahnya bergerak keseluruh tubuhnya. Ia mengerti itulah darahnya si ular yang lagi bekerja. Ia terus bersemadhi sampai ia merasa sangat lega hati dan tubuh. Segera setelah merasa segar betul, ia gunai tenaganya untuk mencelat bangun. Yang pertama diingat bocah ini adalah obat-obatan di dalam sakunya. Ia lantas meraba. Ia menjadi girang sekali. Obat-obatan itu masih ada. Karena ini, ia segera teringat pula kepada Bok Ek.
Irawan D Soedradjat

Page

220

Pendekar Pemanah Rajawali

―Dia dan anak gadisnya dikurung Wanyen Kang, aku telah ketahui halnya itu, bagaimana dapat aku tidak menolongi mereka?‖ demikian ia berpikir. Ia lantas bekerja. Ia tindak ke pintu, dari situ, setelah melihat ke sekitarnya, ia jalan dengan cepat ke arah kurungannya Bok Ek dan gadisnya. Selagi ia mendekati kurungan, ia mendapati penjagaan kuat di situ. Tapi ia mesti bisa masuk ke dalam. Ia memutar ke belakang. Di situ ia tunggu lewatnya serdadu ronda, lalu cepat sekali ia lompat turun ke sebelah dalam. Ia hampirkan kurungan. Sembari memasang kuping, ia melihat ke sekeliling. Tidak ada serdadu jaga di situ. ―Bok Cianpwee, aku datang untuk menolongi,‖ ia lantas berkata dengan perlahan. ―Kau siapa, tuan?‖ ada jawabannya Bok Ek yang menanya. Kwee Ceng perkenalkan dirinya. Bok Ek pernah dengar lapat-lapat namanya Kwee Ceng itu, karena berisik dan ia pun terluka, ia tidak sempat memikirkannya, sekarang di tengah malam, ia mendengarnya dengan nyata. ―Kau…kau she Kwee?‖ tanyanya, menegaskan. Agaknya ia terperanjat. ―Benar,‖ sahut si bocha hormat, ―Aku yang muda adalah orang yang tadi siang melawan si pangeran muda.‖ ―Siapakah ayahmu?‖ Bok Ek tanya pula. ―Ayahku almarhum bernama Siauw Thian,‖ Kwee Ceng menyahut pula. Dengan tiba-tiba saja air matanya Bok Ek mengembang dan berlinang-linang, lalu ia angkat kepalanya, dongak, seraya mengeluh: ―Oh, Thian….Thian….‖ ia pun ulur keluar tangannya dari dalam jeruji, untuk mencekal tangannya si anak muda dengan erat. Kwee Ceng merasakan tangan orang itu bergemetar dan air mata orang itu pun menetes jatuh ke belakang telapakan tangannya itu. Ia kata dalam hati kecilnya: ―Rupanya dia ketahui ada orang bakal menolong dia, dia menjadi girang luar biasa.‖ Maka ia kata dengan perlahan sekali: ―Aku punya golok yang tajam, dengan itu kunci dapat dirusak untuk Cianpwee bisa keluar dari kerangkeng ini…‖ ―Ibumu she Lie, bukankah?‖ Bok Ek menanya pula, ia seperti tidak pedulikan perkataan orang. ―Apakah ibumu itu masih ada atau ia telah menutup mata?‖ Kwee Ceng heran sehingga ia balik menanya: ―Ah, kenapa Cianpwee ketahui ibuku she Lie? Ibu masih ada di Mongolia.‖ Hatinya Bok Ek goncang keras, ia cekal tangan Kwee Ceng semakin keras, ia tidak hendak melepaskannya. ―Tolong, lepaskan cekalanmu, nanti aku bacok kunci ini,‖ Kwee Ceng bilang. Bok Ek tetap memegangi erat-eart. Ia seperti mendapati sesuatu yang berharga dan tak ingin itu lenyap pula. ―Ah, kau telah menjadi begini besar…‖ katanya menghela napas. ―Ah, dengan memeramkan mata sekejapan saja, lantas aku dapat membayangkan wajah ayahmu yang telah almarhum itu…‖ Kwee Ceng menjadi semakin heran. ―Cianpwee kenal ayahku itu?‖ tanyanya. ―Ayahmu adalah kakak angkatku,‖ Bok Ek beritahu. ―Kita telah mengangkat saudara hingga perhubungan kita erat bagaikan saudara kandung….‖ Orang tua ini tidak dapat melanjuti kata-katanya, ia menangis sesegukan. Tanpa merasa, air matanya Kwee Ceng pun berlinang. Ia tidak tahu Bok Ek ini adalah Yo Tiat Sim, yang dulu hari itu, diwaktu bertempur bersama tentera negeri, sudah terluka tusukan tombak pada punggungnya, karena lukanya parah, ia roboh pingsan. Syukur untuknya, disebabkan malam dan gelap, dia tidak kena tertawan. Adalah besok paginya ia sadar sendirinya, dengan merayap dia pergi ke rumah seorang petani di dekat tempat kejadian. Satu tahun lebih ia merawat dirinya, baru dia sembuh. Setelah itu ia merantau mencari Lie Peng, istrinya Kwee Siauw Thian, serta Pauw See Yok, istrinya sendiri. Tentu saja ia tidak berhasil. Karena yang satu berada jauh sekali di gurun pasir, yang lain berada di Utara. Dia tidak pakai terus she dan namanya – Yo Tiat Sim – dia hanya rombak she Yo itu, di ambil bagiannya ynag kiri, yaitu huruf ―Bok‖ yang berarti ―Kayu‖. Tapi juga huruf ―Bok‖ ini diganti lagi dengan huruf ―Bok‖ yang berarti ―Akur‖. Dia cuma ambil suaranya saja. Dan
Irawan D Soedradjat

Page

221

Pendekar Pemanah Rajawali

nama ―Ek‖ dia ambil dari huruf pecahan sebelah kanan dari huruf ―Yo‖ shenya itu. Huruf ―Yo‖ itu terdiri dari dua huruf ―Bok = kayu dan Ek = gampang atau tukar‖. Selama delapan belas tahun ia merantau. Sekarang secara kebetulan ia bertemu sama putra sahabat atau saudara angkatnya itu, cara bagaimana ia tidak menjadi bersedih hati? Selama ayahnya itu berbicara sama si anak muda, Bok Liam Cu berniat memberi ingat serta meminta Kwee Ceng menolongi dulu mereka, tentang pasang omong, itu boleh dilanjuti lain kali, akan tetapi belum lagi ia membuka mulutnya, lalu datang pikiran lain, yang membuatnya berubah. Ia kata dalam hatinya: ―Satu kali kita keluar dari sini, aku khawatir untuk selama-lamanya aku nanti tidak dapat bertemu dengan dia…‖ Dengan ―dia‖ yang dimaksud oleh Liam Cu adalah Wanyen Kang, si pangeran muda. Dengan sendirinya, ia telah jatuh cinta kepada pangeran itu, hingga ia tak ingin pergi jauh, untuk memisahkan diri…. Kwee Ceng pun ingat bahaya yang mengancam mereka, maka ia sudah lantas tarik keluar tangannya dari dalam kerangkeng, hanya di saat ia hendak ayun goloknya, untuk menggempur kunci, mendadak ia tampak sinar terang yang disusul sama suara tindakan kaki. ia terkejut, dengan sebat ia simpan goloknya, dengan gesit ia lompat sembunyi di belakang pintu. Sekejap saja, dengan mengasih suara, daun pinttu dipenntang, lalu terlihat masuknya beberapa orang, di antara siapa yang jalan di muka adalah yang menenteng lentera. Kwee Ceng heran akan melihat orang itu yang bukan lain daripada onghui atau selirnya Chao Wang dan ibunya Wanyen Kang. Ia tidak dapat menerka orang datang dengan maksud apa. Ia memasang kuping dan matanya. ―Adakah mereka ini yang hari ini dikurung siauw-ongya?‖ demikian Kwee Ceng dengan pertanyaannya si nyonya mulia. ―Ya,‖ menyahuti si opsir atau pemimpin dari beberapa pengiring nyonya itu. ―Sekarang juga merdekakan mereka!‖ onghui memberi titah. Opsir itu terkejut, dia ragu-ragu, hingga tak dapat ia segera menjawab. ―Jikalau siauw-ongya menanyakan, bilang aku yang memerdekakan mereka,‖ onghui berkata pula menampak orang sangsi. ―Lekas buka kuncinya!‖ Sampai di situ, opsir itu tidak berani berlambat pula. Setelah ayah dan gadis itu sudah berada di luar kerangkeng, onghui merogoh sakunya untuk mengeluarkan dua potong emas, yang mana ia angsurkan kepada Bok Ek atau Yo Tiat Sim. Ia kata: ―Nah, pergilah kamu baikbaik!‖ Tiat Sim tidak menyambut emas itu, sebaliknya ia mengawasi dengan tajam. Ditatap demikian, onghui heran. ―Putraku berbuat keliru, harap kamu tidak sesalkan dia…‖ dia berkata lagi kemudian. Cuma sedetik atau Tiat Sim telah ubah pikiran. Ia sambuti itu emas, terus ia tuntun tangan putrinya, untuk diajak berlalu dengan tindakan lebar. ―Ha, orang kasar!‖ membentak si opsir. ―Kamu tidak membilang terima kasih kepada onghui yang telah menolong jiwamu!‖ Bagaikan tidak mendengar, Tiat Sim jalan terus. Sampai di situ, onghui pun berlalu bersama sekalian pengiringnya. Kwee Ceng tunggu sampai pintu sudah ditutup dan mendengar tindakan kaki onghui sudah jauh, baru ia keluar dari tempat sembunyinya, untuk keluar juga. Ia melihat ke sekeliling, ia tidak dapatkan Bok Ek dan Liam Cu. ―Pasti mereka sudah keluar dari istana,‖ pikirnya. Maka ia lantas menuju ke Hoa Cui Kok untuk mencari Oey Yong. Ingin ia membujuk nona itu buat jangan mengintai lebih lama, supaya mereka bisa lekas pergi menolongi Ong Cie It.
Irawan D Soedradjat

Page

222

Thong Hay sebaliknya bermuka merah. maka ia datang dengan cepat. Wanyen Kang hendak menawan. saban-saban ia gagal. Kwee Ceng lihat sinar terang dari dua buah lentera serta mendengar suara tindakan kaki yang cepat. hingga tidak memperdulikan urusan besar. ―Budak cilik. Justru itu. mengejek. ―Mari kita bertanding pula!‖ ia menantang. Semua terjadi dengan cepat luar biasa. tangan kanan si nona menyambar pula. Dengan kedua tangan mencekal cawan.Pendekar Pemanah Rajawali Baru ia tiba disebuah tikungan. ia perlihatkan kepandaian yang luar biasa. ia terkejut juga. ―Mau apa kau menghalangi aku?‖ dia bertanya. ia membikin perlawanan. hingga kedua tangannya tidak dapat digeraki lagi. Ia kaget dan kata dalam hatinya: ―Sungguh lemah hati ibu. mengganti kedudukan‖. Yang hebat adalah cawan di batok kepalanya. Orang she Hauw ini menjadi repot. ia merdekakan dua orang itu. Oey Yong telah merasakan tadi bagaimana orang she See ini tanpa ia mengetahui. semacam ilmu yang luhur. Wanyen Kang telah datang dengan cepat karena baru saja ia terima laporan dari opsir yang mengiringi onghui bahwa Bok Ek dan gadisnya telah dimerdekakan. terpaksa ia menangkis! Begitu kedua tangan bentrok. parasnya tidak menunjuki perubahan. Mau atau tidak. cara bagaimana aku dapat menyangkal?‖ Ia berniat memegat Bok Ek dan Liam Cu. mumbul naik ke atas menyusul mana dengan satu lompatan enteng tetapi gesit ia menerjang pada Thong Hay dengan kedua tangannya. mereka lantas saja bertempur seru melebihkan pertandingan mereka tadi siang. Beberapa kali ia mencoba untuk meloloskan diri. Sementara itu dilain pihak. sedang kepalanya menyambut cawan yang ketiga yang tadi ia letaki di batok kepalanya itu. tidak dapat ia menangkis. Hebat si nona. membasahkan lantai. kau licin sekali! Siapa sebenarnya gurumu!‖ ―Besok akan aku mengasih keterangan kepada kau!‖ menjawab si nona tertawa. Tak kurang hebatnya rintangan si siauw-ongya. mereka mesti puji nona ini yang merebut kemenangan dengan kecerdikan dan kelincahannya itu. isinya lantas tumpah. ―Aku ingin ketahui untuk apa kau datang nyelusup ke istana ini?‖ Irawan D Soedradjat Page 223 . yang baru saja turun. berlagak pilon. Ia hanya mengkerutkan kening. begitu juga kedua cawan di tangan orang she Hauw itu tergerak. Thong Hay tidak dapat mengegos pula tubuhnya. ia kenali Wanyen Kang si siauw-ongya atau pangeran muda. untuk menghalangi di situ. Oey Yong bawa jari-jari tangan ke pipinya ―Tak malukah kau?‖ dia bertanya. Nio Cu Ong yang menduga Oey Yong bakal kalah baru saja memutar tubuhnya atau pertandingan telah salin rupa. ―Hm!‖ See Thong Thian mengasih suaranya menyaksikan adik seperguruannya itu dibikin malu secara demikian. Kali ini. maka terpaksa ia berkelit ke kiri. dengan kesebatannya. Oey Yong sudah lantas mencelat mundur. ―Aku ingin ketahui kau murid siapa?‖ menyahut See Thong Thian. ―Siapa?!‖ Bahkan orang itu sudah lantas berlompat maju dan tangannya menyambar. diluar dugaannya. cawan itu jatuh ke lantai. berparas bermuram durja. Kwee Ceng geraki tangannya. Berbareng dengan itu. dia menyerang dengan hebat. Dengan satu gerakan berbareng ia membuat tiga cawan di kepala dan kedua tangannya terlepas. pecah hancur menerbitkan suara berisik dan araknya melulahkan. Kalau guruku ketahui ini. untuk umpatkan diri. yang ada dari tipu ―Menukar wujud. Di antara cahaya api. semua cawan itu tidak miring. Pemuda she Kwee ini hendak meloloskan diri. Maka itu. Tapi ia dapat menenangkan diri. Ia lantas lompat ke samping di mana ada gunung-gunungan dari batu. ia kaget sekali. untuk membebaskan diri. araknya tidak tumpah! ―Bagus!‖ seru orang banyak. ―Sekarang aku mesti pergi dulu!‖ Setahu bagaimana gerakkannya Thong Thian. saking malu dan mendongkolnya. kemudian ia segera dengar teguran dari orang yang jalan di paling depan. tiba-tiba saja tubuhnya sudah mencelat ke ambang pintu. Bukan main masgul dan cemasnya Kwee Ceng. sekarang ia menyaksikan cara mencelat orang. kedua tangannya menyambar kedua cawannya. ia bertemu dengan Kwee Ceng.

See Liong Ong. ―Untuk memegat kau. adalah satu ahli tersebar. kau lihat itu di sana apa?‖ Semabri mengucap. io Cu Ong periksa tubuh ularnya itu. kau mengaku kalah saja!‖ Habis berkata. sebab ia berangan-angan untuk menjagoi dan merobohkan segala jago lainnya. resep untuk membikin sehat dan kuat tubuh. menantang. ―Aku justru tidak sudi menjawab dia!‖ sahutnya. ―Setelah kau berikan jawabanmu. warnanya lantas berubah menjadi merah mulus. ―Celaka!‖ serunya. ―Kau jawablah pertanyaannya See Liong Ong. dia menunjuk ke arah kiri. ―Jikalau aku tidak sudi mengasih keterangan?‖ tanyanya. Suara orang merdu dan bernada minta dikasihani. dan obat-obatannya kacau tidak karuan. kau tidak boleh serang aku!‖ berkata si nona. lewat di samping jago tunggal dari sungai Hong Ho itu. hingga ia menjadi tercengang. Cepat setelah ia tersadar. ―Bagus!‖ seru Oey Yong. Di situ tergeletak bangkai ularnya. Tanpa merasa. untuk mencari bahan-bahan obatnya. dia pegat aku. tertawa. ia tertawa. Justru itu ia dapatkan Bio Cu Ong hendak pergi ke luar. maka kebetulan untuknya pada suatu waktu ia dapat resep yang istimewa. Oey Yong tertawa. Tidak bersangsi lagi. tidak dapat ia memaksa menerobos keluar. dia tidak mau kasih aku pulang?‖ katanya. warna merah itu menjadi marong sesudah sang ular dipiara duapuluh tahun lamanya. untuk memandang sekitarnya. ia lompat naik ke atas pohon besar. Nio Cu Ong menyaksikan itu. terutama lukanya. ―Tapi awas. Ia dapat melihat di dalam taman ada dua orang lagi bergumul. guna mencari si pencuri. ia lantas pergi berkelana. Syukur si nona itu pun lihay. bocah ini bukan sembarang orang. buat apa See Liong Ong sampai menurunkan tangan?‖ katanya. maka tahulah ia. ―Seorang laki-laki. itu telah menjadi kepastian! Eh. Mulanya tubuh ular itu warnanya hitam abu-abu. jago sugai Hong Ho itu senantiasa menghadang di depannya. ia lari keluar. ia lantas hendak pergi. Benar-benar lihay See Thong Thian. malah ia ketahui juga terbinasanya ular itu sebab darahnya telah orang sedot. satu kali ia mengucap. untuk lari ke kamarnya. Baru saja ia tiba di ambang pintu atau hidungnya sudah tercium bau yang membuatnya sangat terkejut. nanti aku pergi denagn cara paksa!‖ See Thong Thian tertawa dingin. Hati Cu Ong tertarik. Lantas dia hadapkan Thong Thian untuk mengancam. ―Pertanyaannya Kwie-bun Liong Ong tidak dapat tidak dijawab!‖ sahut orang she See itu. Ia meundur dengan cepat. ia telah dapatkan ularnya yang besar itu yang sanat berbisa. ―See Liong Ong. musuh belum pergi jauh. Ia pun mau percaya. budak cilik. Oey Yong gunai kesempatan ketika orang menoleh. Sekarang telah buntu jalannya si nona itu. ai menjadi merasa suka kepada si nona. ynag hendak menggunai pula kecerdikannya. ia dapat menahan tubuhnya hingga ia tidak usah melanggar kepala orang itu. untuk menambah kekuatan tubuhnya. ―Lopepe. setelah makan banyak macan obat itu. atau kepalanya sudah menghadang di depan si nona. ―Jikalau kau tidak mengijinkan aku pergi.‖Asal kau mampu!‖ bilangnya. Berbangkit pula hawa Irawan D Soedradjat Page 224 . Lantas ular ini ia kasih makan pelbagai macan obat pilihan. Baru orang berkelebat. See Thong Thian mengawasi. Ia sudah memikir buat lagi beberapa hari akan menghisap darahnya ular itu. Untuk ini. Som Sian Lao Koay bukan melainkan pandai ilmu silat tetapi pun ia paham ilmu tabib. Dua kali lagi ia mencoba. Pula. untuk membikin ia panjang umur. dia nanti mengasih ijin kau berlalu. ―Maka janganlah kau mensia-siakan tenaga.‖ ia kata. Ia sudah lantas nyalakan api. karena habislah usahanya beberapa puluh tahun. Oey Yong melihat ke sekitarnya. ia lantas menegur. Hampir ia menjerit menangis. setelah banyak kesulitan. Pintu ada di belakang Thong Thian. siapa tahu sekarang ularnya itu terbinasa. See Thong berpaling ke arah yang ditunjuk itu. tubuhnya meleset. tetap dengan manis.Pendekar Pemanah Rajawali Sepasang alis yang bagus dari si nona bergerak bangun.‖ katanya.

supaya dengan begitu. Baru ia datang atau hidungnya telah mendapat cium bau obat tercampur bau amis yang datangnya dari arah si pemuda. hingga sengaja ia membuatnya lowongan. yang leuar dari baju atau tubuhnya Kwee Ceng. Sedang Kwee Ceng berpikir: ―Heran. yang sudah dapat memperbaiki dirinya. Dalam halnya ilmu silat. kenapa pukulannya empuk sekali. tubuhnya mesti dipukuli. Siauw-ongya tidak ketahui rahasia itu. hatinya pemuda ini menjadi kecil. hawa darah itu buyar. Ia menanti lain serangan. begitu juga datanglah perubahan atas dirinya. ia lantas menggunai akal. Tatkala Nio Cu Ong tiba. untuk ditarik. dia terhuyung. Ia menjadi heran berbareng girang. Ia pikir: ―Dia telah minum darah ularku. lantas timbul pikirannya yang kejam. Begitulah ketika kakinya kena digaet. ―Tentulah bisa ular lagi bekerja…‖ Ingat kepada bisa ular. akan tetapi. Kwee Ceng roboh Irawan D Soedradjat Page 225 . ―Hai. ―Kenapa sekalipun dengan pukulan yang membahayakan aku tidak dapat melukai dia?‖ pikirnya. lalu ia menangkap pula. yang kalah pandai dan kalah pengalaman. Mendadak ia merasa perutnya sangat panas seperti ada bola api di dalam perutnya itu. Disaat itu tenaganya lantas bertambah sendirinya. Dengan lantas ia dapat menangkap tangannya si anak muda. Tenaganya Kwee Ceng telah bertambah luar biasa. Nio Cu Ong tidak menjadi heran yang ia tidak bisa mencekal terus tangannya bocah itu. Siauw-ongya itu turut menjadi heran. hendak aku mengadu nyawa denganmu!‖ Ia lompat maju untuk menyerang itu jago dari Kwan-gwa. baik aku bunuh dia. Karena ini. begitu lewat beberapa jurus. setelah mana. Tubuhnya panas hingga ia seperti tidak sanggup menahannya. hingga dua kali bebokongnya kena dihajar si pangeran. tidak heran kalau ia menjadi bingung. karena pelbagai pukulannya tidak menyebabkan orang kesakitan atau roboh. Menyaksikan itu. Ia menjadi sangat berbahaya. maka si pangeran menangkis. tetapi sekarang. ia merasa sakit. ai sudah lantas keteter. segera ia gunai kakinya untuk menggaet. bukannya ia merasa sakit hanya gatal. tangan itu segera terlepas dari cekalannya lawan. ia menjadi girang. telah cukup lama Kwee Ceng terhajar. supaya racunnya tidak bekerja lagi. kenapa tenaganya menjadi kuat?‖ tanya si pangeran dalam hatinya. ―Siapa yang anjurkan kau mencuri ularku?!‖ Dia percaya. mungkin kekuatannya obat masih ada atau mungkin kekuatan itu bertambah besar…‖ Karena ini. Satu kali ia serang Wanyen Kang. dan enak sekali rasa gatal itu. kalah cerdik juga. beda daripada biasanya. untuk sedot darah dari tubuhnya itu. Di mana-mana ia merasakan gatal pada tubuhnya. dia seperti meggaruki gatalku?‖ Adalah aturan dari resepnya io Cu Ong itu. ia pun menjadi alpa. ia tentu dapat berbuat sesukanya terhadap anak muda itu. Kwee Ceng memang tidak tahu suatu apa mengenai resep itu atau darah ular yang ia minum. ―Aku sekarang telah terkena bisanya binatang jahat itu. tubuh orang yang bersangkutan menjadi tambah kuat. mestinya si bocah diberi petunjuk oleh seorang berilmu. maka juga kali ini diwaktu mulai bertempur. Sebentar saja ia sudah sampai si taman di mana Kwee Ceng dan Wanyen Kang tengah bertempur. Maka itu kebetulan sekali Kwee Ceng bertempur sama Wanyen Kang. kiranya kau yang piara ular berbisa itu!‖ ia berseru. Tapi juga penyerangan ini mendatangkan perubahan lainnya. sampai Wanyen Kang dapat menyerang sepuasnya. Biasanya kalo ia kena diserang. oleh karena itu ia gusar yang ia telah dicaci. Kali ini ia menunggu sampai orang berontak. Tidak sedikit pun ia merasakan sakit lagi. Cu Ong menjadi menyesal berbareng penasaran dan mendongkol. ―Kali ini habislah jiwaku…‖ pikirnya. lantas ia menyambuti serangan. Kwee Ceng kalah dari Wanyen Kang. bangsat anjing!‖ dia menegu. maka itu tubuhnya menjadi kuat luar biasa. ―Bagus. yang entah siapa. Nio Cu Ong merasakan pula sambaran bau obat dan amis dari ular. maka itu ketika ia mengibaskan tangannya. mendadak hatinya menjadi panas. maka dengan lantas ia lari ke arah taman. pelbagai pukulannya Wanyen Kang menjadi tidak ada artinya. sebagai bocah Kwee Ceng tentunya tidak ketahui rahasia resepnya itu. Kwee Ceng pun pun terus merasakan perubahan. Jago ini lihay berlipat kali dari kwee Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali amarahnya. siapa habis minum darah ular. ―Heran.

ia lihat serangan lewat di atasan kepalanya. terpaksa ia melompat maju pula. menyambar ai di kiri-kanan mengarah batok kepalanya. ―Kau punya ilmu Menukar Wujud Memindahkan Kedudukan ini. maka tidaklah heran kalau ia ada mempunyakan keistimewaannya sendiri. Kau lihat. semua percobaannya sia-sia belaka. dia sengaja permainkan nona itu. beberapa kali aku mencoba. Oey Yong lantas saja meleset keluar. ayahku cuma ajarkan aku menyerang masuk. terus menyerang ke bebokong. dia hendak pertontonkan kepandaiannya. guna mengasih si nona pergi keluar. ―Ketika dulu hari ia ajarkan aku menyerang masuk. Orang she Pheng ini adalah satu ahli. yang ia tekankan kepada tanah. lalu kedua senjata rahasia itu berbalik. Akhirnya ia berhenti mencoba. kau tidak dapat mengganggu pula padaku. Sebenarnya. setelah mana ia majukan mukanya ke arah leher. Oey Yong heran dan kaget. tidak suka ia membiarkan kawannya itu diperdayakan secara demikian. kau telah tertipu olehku!‖ katanya nyaring. dengan mencekal tangannya. Saking menyesalnya. ―Sayang. apabila dibandingkan sama kepandaian ayahku. lalu berbalik sendirinya. kau akan menyerah kalah. ―Baiklah kau boleh coba dari luar!‖ Ia lantas menggeser tubuhnya. akan aku menyerah kalah!‖ Thong Thian jawab. Oey Yong lantas menghela napas. ―Sayang. dia tidak mengajarkan aku ilmu menerjang keluar. ia belum pernah dengar hal ilmu masuk dann keluar itu. ia telah kembali ke ruangan besar! Irawan D Soedradjat Page 226 .‖ katanya. aku gagal.‖ Thong Thian mendongkol sekali. bedanya masih jauh sekali!‖ Thong Thian gusar. kau tidak bakal mengganggu pula aku. ―See Liong Ong. hingga sulit orang lolos dari salah satunya. Ia baru menaruh kaki. ―Itulah ilmu untuk merobohkan kau. Mengenai kepandaianmu ini. Senjata rahasianya itu adalah seperti bumerang. Karena ini tidak ada jalan lain. Adalah umum kalau orang menyerang dengan kim-chie. Ingin ia menyaksikan orang menyerang masuk. asal aku berada di luar. Pheng Lian Houw bersahabat erat sekali sama Kwie-bun Liong. serangannya itu untuk atas dan bawah. ia pun tidak senang orang dapat pergi dengan begitu saja. ayahku itu menjaga di mulut pintu. pasti aku akan dapat molos.. hingga ia peroleh gelarannya yang luar biasa – Cian Ciu Jin-touw.. biarnya ia sangat lincah. Biar bagaimana.Pendekar Pemanah Rajawali dengan segera. guna menyedot darah ularnya. akan tetapi kalau dari luar. Sementara itu Oey Yong di dalam Hoa Cui Kok masih tidak dapat menerobos penjagaannya See Thong Thian. Tidak dapat kim-chie itu ditanggapi. tidak demikian dengan kepalanya. hingga ia memikir. ia ketoki kepalanya sampai tiga kali. ―Kau ngaco-belo. terus ia tertawa geli..‖ ―Apakah itu menyerang masuk dan menerjang keluar?‖ tanya See Thong Thian. sayang…. untuk mengetahui. ia berlompatan. ―See Liong Ong.‖ katanya dengan masgul. tidak peduli si nona telah menggunai akal bulus. ia lompat ke depan. ia dengar suara angin. yang berarti pembunuh manusia seribu tangan. Hebat untuk dia.. tetapi di depan Chao Wang. Maka menyambarlah dua renteng senjata rahasia yang berupa kim-chie atau uang emas. dua renceng kim-chie dari Phen Lian Houw terdiri dari beberapa puluh biji. walaupun sudah tidak dapat dicela. ―Siapakah ayahmu itu?!‖ ―Jikalau aku sebutkan nama ayahku. apa macam ilmu menyerang masuk itu. kalau ia terserang jitu. celakalah ia.‖ sahut si nona. Maka dilain saat. tak usah menggunai tenaga untuk meniup debu. Ia ada punya mustika pelindung tubuh. kenapa kepandaian orang ini begini buruk? Tapi justru ia heran. sampai ketemu pula!‖ See Thong Thian berdiri diam. aku khawatir kau nanti kaget hingga semangatmu terbang!‖ Oey Yong menjawab. untuk menggunai akal pula. bukankah aku sekarang telah berada di luar? Nah. datangnya saling susul. dari itu ia segera ayun kedua kedua tangannya. Oey Yong menjadi cemas. untuk menggigit leher itu. atau kim-chie yang belakangan sudah menyambar pula. budak cilik!‖ bentaknya. tidakkah itu sama saja?‖ dia menanya. Lantas Cu Ong menubruk. Akurkah kau?‖ ―Asal kau dapat molos. ―Dari luar masuk ke dalam sama dari dalam pergi keluar. untuk memegang keras pundak orang. ―Asal aku dapat lolos. memang dari dalam aku tidak sanggup menerjang keluar. Memang telah dibikin perjanjian itu. dengan gampang ia bisa bekuk nona itu. kalau Thong Thian menghendaki. Karena ini. Ia percaya ilmunya sudah dipuncak kemahiran. Kim-chie lewat di atasannya kepala Oey Yong. aku memasukinya dari luar. ia menjadi heran. Ia menjadi kaget sekali. ―Kau telah bilang sendiri.

―Aku telah pelajarkan ini sejak aku dalam kandungan ibuku. Lantas orang she Pheng ini melanjuti serangannya.Pendekar Pemanah Rajawali Tidak ada niatnya Pheng Lian Houw untuk melukai si nona. ―Kau tidak hendak memberitahu. kau biarkanlah aku berlalu dari sini. ia pun tidak berkelit. Inilah pukulan berantai tiga kali yang hebat. ―Jikalau sampai sepuluh jurus kau masih belum dapat mengetahui?‖ tanya Oey Yong. Sebat sekali ia mundur sambil memutar tubuh dengan sebelah kaki. ―Heran bocah ini mempunyai ilmu silat campur aduk seperti ini! Mungkinkah ia sengaja berbuat begini untuk mencegah aku dapat mengenali asal-usulnya? Baik aku gunai pukulan yang telengas. tetapi ilmu silat Oey Yong membuatnya bersangsi. karena juga yang kedua dan ketiga itu dapat dihindarkan si nona. ―Kepandaianmu menggunai senjata rahasia bagus sekali. ―Inilah jurus yang kedua!‖ berseru si nona. tawar. siapa yang ajarkan kamu ilmu silat. dari itu ingin ia menempur selama sepuluh jurus untuk memeproleh kepastian. ia menyerang denagn sennjata rahasianya itu guna menggiring nona itu kembali ke dalam.‖ ia berpikir pula. Keluarag itu memang mengutamakan kelincahan. Lian Houw menjadi bertambah heran. Nona nakal itu tertawa. Irawan D Soedradjat Page 227 . ―Inilah jurus Pak-kek-sie dari ilmu silat Liok Hap dari Kangpak. semua orang bersorak saking gembira. Hendak ia menyangkal terus-menerus. Lian Houw menyampok dengan tangan kiri yang disusul sama tinju kanan. demikian pun dengan yang keempat ini. ynag ketiga dan keempat. Oey Yong menolong diri dengan ilmu silat Keluarga Swee dari Thay-goan. akan tetapi ia tidak menjadi kaget dan gugup. ―Kau kembali ke dalam?‖ Oey Yong membuat main mulutnya untuk mengejek. yaitu ilmu silat ―Cut In Ciu‖ atau ―Keluar dari Mega‖. ―Lekas menangkis!‖ ia berseru. Di dalam hatinya. ―Aku akan merdekakan padamu! Awas!‖ Sambil menjawab demikian. ―kau bilang dulu. Ia tahu tidak dapat ia lawan jago ini.‖ Lalu pikiran ini ia wujuskan denagn cepat sekali. Kenapa dia dapat menyakinkan dalam dan luar dengan berbareng?‖ Gwa-kee ialah ahli luar.‖ jawabnya. Coba aku desak pula dia dengan dua jurus. denagn begitu tidak dapat ia tidak menggunai ilmu silatnya yang sejati guna menolong diri. Oey Yong terkesiap juga melihat datangnya serangan saling susul dan berbareng itu. disaat tangannya hampir mengenai pundak si nona. yang adalah dari pihak gwa-kee. kalau tidak demikian.‖ kata si nona. tinju mana dibarengi sama tendangan kaki kanan. Menampak itu. ―Inilah ilmu silat Jie Long Kun dari Keluarga Luow dari Ceciu. ―Aku toh tidak melukai kamu?‖ ―Kalau begitu. Dengan begitu. ―Lekas! Di dalam sepuluh jurus.‖ Lian Houw bilang. hingga dengan begitu ia perlihatkan sikap ―Si ayam emas berdiri dengan satu kaki‖. ia lantas menarik pulang.‖ katanya dalam hati. ia mencoba berlaku norek. Lian Houw sendiri lantas berdiri di ambang pintu. Ia bersilat dengan ilmu silatnya Iwee-kee si ahli dalam. ―Melainkan sayang kau gunai itu untuk menghina satu anak perempuan! Apakah yang aneh?‖ ―Siapa menghina kau?‖ Lian Houw tanya. Lian Houw lihat orang diam saja. Pheng Lian Houw menjadi heran.‖ bilangnya. Pheng Lian Houw berkata. Shoatong. apakah dengan begitu kau menyangka aku tidak akan mengetahuinya?‖ Lian Houw berkata seraya sebelah tangannya menyemboki pundak orang. pasti Oey Yong tidak sanggup membebaskan diri dari bahaya maut atau entengnya terluka. Oey Yong tidak menangkis. yang menangkis dengan tangan kiri buat memunahkan serangan orang. ―Bagaimana?‖ dia tertawa. ia lolos dari bahaya. aku orang she Pheng pasti akan ketahui asalusulmu!‖ Dia memang luas pengetahuannya dan mengenali ilmu silat pelbagai golongan. ―Ilmu silat ini bertentangan dengan Jie Long Kun.

Auwyang Kongcu tertawa dan mengatakan.‖ salah satu jurus dari ilmu silat ―Soat San Pat To‖ dari See Hek. Irawan D Soedradjat Page 228 . yang hebat sekali. Oey Yong terkejut melihat gerakan lawan ini. budak?!‖ Ia memang telengas. inilah Tepukan tiga kali dan Gunting emas. terus ia berontak sekuat-kuatnya. ketika denagn sekonyong-konyong. ia menjadi penasaran. dari itu pada jurus kesepuluh batal ia dengan maksudnya menghajar si nona. sesudah mana. tidak dapat ia mencoba membalas menyerang. ia cuma mendorong saja denagn keras. Semua orang terkejut melihat kawannya bersikap telengas begitu. Lian Houw segera menyerang dengan jurusnya yang kelima. Untuk menangkis sudah tidak keburu lagi. Oey Yong dapat mempertahankan diri. tangannya dan kakinya telah dicekal keras. kedua tangannya ditekuk. tapi tidak sekejam ini. dengan sendirinya mereka jadi berkhawatir untuk Oey Yong. tak dapat ia berkutik. Karena ini. suara mana bernada kaget dan gusar. yang mana ditambah sama kisikannya san-cu dari Pek To San itu. Terpaksa ia lantas berkelit. tangan kiri di balik ke bawah. lantas berkata: ―Budak ini barusan menggunai jurus Menggantung kumala di gantungan emas. Itulah ilmu silat Lo Cia Sie dari partai Siong Yang Pay. wilayah Barat. maka itu ia dapat melihat perlawanan si nona. usianya pun masih sangat muda. tangan kirinya menggertak.Pendekar Pemanah Rajawali Oleh karena berpikir begini. yang mirip dengan ilmu silatnya saudara Som Sian Lao Koay. Setahu dari mana datangnya. Ah. Oey Yong tahu tangan kiri itu adalah ancaman belaka. malah ia segera kenali suaranya Kwee Ceng. Banyak benar ragam ilmu silatnya. ia berhenti setengah jalan sambil terus berseru: ―Kau muridnya Hek Hong Siang Sat!‖ Dan seruan ini disusul sama gerakan tangan kanan. Sebenarnya hendak ia bicara. mendadak saja ia dapat tenaga pula. Tapi sekarang. hingga Nio Cu Ong tidak dapat menguasai ia terlebih lama. segera ia terjang tangan kiri si orang she Pheng itu denagn jurusnya ―Tibanya air mata es dingin. kepalanya di aksih mendak. Menampak itu. di malam yang tenang itu. ia cuma bisa berkelit dan menangkis. Dengan gampang ia membebaskan dirinya. itu disebabakan si nona cantik dan manis. akan tetapi ia waspada. tangan kanannya meninju. mereka jadinya ragu-ragu. mendadak ia rasakan sakit pada dadanya yang kiri. rata-rata orang jeri. ia dengar perkataan terakhir dari sancu dari Pek To San itu. ia bergerak denagn kedua tangannya. Ia menggunai jurus ―Menolak jendela untuk memandang rembulan‖. atas mana Oey Yong terhuyung ke belakang. Auwyang Kongcu. Kalau yang keempat pertama bengis. tangan kanan ke atas. Ia kata dalam hatinya: ―Mustahil aku tidak mampu hajar mampus padamu. untuk membalas menyikut naik dadanya penyeranganya itu. sampai pada jurus yang kedelapan. Benar terkabar kalau Tong Sie Tan Hian Hong si Mayat Perunggu telah meninggal dunia akan tetapi tidak ada diantara mereka ini yang pernah menyaksikan sendiri.ah. Ia telah ditekan ke tanah. Kwee Ceng telah dibikin tak berdaya oleh Nio Cu Ong. jurus dari Cu-ngo Tay Kok Kiam dari Kanglam. Ia menggunai tipu silat ―Binatang jatuh di tengah udara‖. Ia menduga kawannya itu telah menghadapi ancaman malapetaka. dari penasaran. ia melanjuti dengan jurusnya yang kesepuluh. maka berniat ia berkelit ke kanan. Dengan satu gerakan ―Ikan gabus meletik‖ ia kasih dengar jeritannya itu. Ia menjadi kaget. Sebab mereka semua adalah orang-orang kangouw berpengalaman dan terhadap Hek Hong Siang Sat. san-cu atau pemilik dari Pek To San. hingga habislah tenaganya. Memang juga itu waktu. setelah berdiri tetap. waktu ia rasakan mulutnya orang si she Nio itu mengenai batang lehernya. dia celaka! Kenapa ia tidak berkelit ke kiri?‖ Pheng Lian Houw mendesak terus. Terang si bocah wanita ini telah diberi kisikan berterang. mukanya menjadi pucat. Pheng Lian Houw telah dapat membuktikan ilmu silatnya Oey Yong di jurus kesembilan. Ia tidak lantas menginsyafi bahwa ia dapat tenaga besar berkat darah ular yang dicampur latihan tenaga dalam dari Tan Yang Cu Ma Giok. Dia menyusuli itu dengan jurus Menunggang harimau mengalah tindak dari ilmu silat Tiang Kun dari Kwan-tong. ―Ha. Ah. ia menjadi mendongkol terhadap si nona . Pheng Lian Houw menyerang dengan hebat. Ia kaget bukan main. Tapi ia tidak menyerang habis. sampai ia mengeluh di dalam hatinya. setelah ia dilayani dengan ilmu silatnya delapan partai. ia dengar satu suara keras dari kejauhan. Segera ia menyerang denagn jurusnya yang kesembilan. ia menjadi gusar. Batok kepalanya bakal hancur luluh kalau ia sampai kena di serang. hingga gagallah serangannya itu. dia menggunai ilmu silatnya tetanggaku!‖ Pheng Lian Houw mendelu mendengar suaranya orang she Auwyang itu. terpelanting tujuhdelapan tindak! Semua orang terperanjat dengan perkataan Pheng Lian Houw itu. tiba-tiba ia mendapat pikiran baru. disaat si nona hendak memunahkannya. kalau mulanya ia menaruh ―belas kasihan‖. sedang si nona pun segera menjadi kelabakan. tetapi justru itu. kecuali Chao Wang.

tandanya sudah lama tidak pernah digunakan lagi…. darahnya mengalir keluar. di situ ada terukir empat huruf ―Tiat Sim Yo-sie‖. Kwee Ceng mengintai. untuk bersama Io Cu Ong dan yang lainnya pergi mencari ke lain-lain bagian dari istana itu. ia susuti air matanya itu. ―Ya. Kedatangannya ini pastilah diluar dugaannya Kwee Ceng dan onghui. Orang yang datang itu adalah Yo Tiat Sim yang menyebut dirinya Bok Ek. ―Kau baiklah lekas pergi. Dengan masih mencekal terus goloknya.‖ Hampir di itu waktu. Cuma sebegitu jawabannya. Tepat enam dim dekat tajamnya tombak. di situ ia kasih turun tombak besi yang tergantung. bebokongnya kena terjambret hingga berdarah. onghui kebetulan berada di kamar yang lain. Kwee Ceng terkejut. juga kedua telapakan tangannya pecah dan berdarah. kedua matanya menjadi merah. Kemudian ia disusul oleh Wanyen Kang. baju itu lantas robek sebagian. ―Setelah sebentar ia meniup lilin. Segera ia maju untuk menyerang pemuda itu. Nio Cu Ong tidak dapat mencari. Ia melihat ke seluruh kamar. pukulan ini mendatangkan rasa sangat sakit. ia mengusap-usap. pukulannya Nio Cu Ong bukan seperti pukulannya Wanyen Kang. ia lari ke dalam kamar si nyonya agung. sudahlah. sakitnya bukan main. Kwee Ceng berkelit dengan berlompat ke belakang. ―Apakah tidak ada orang jahat masuk ke mari?‖ Onghui menggeleng kepala. Dengan uujung bajunya. begitu juga onghui.‖ ―Terima kasih untuk kebaikan onghui. untuk menyembunyikan diri. Di sebelah timur ada sebuah lemari besar. Kwee Ceng menyangka orang sudah ajak gadisnya pergi menyingkir. ―Tombak ini sudah karatan. Kwee Ceng lantas lari sekeras-kerasnya. Tidak antara lama. Selama itu Kwee Ceng terus diam saja. air matanya menguncur turun. Lantas ia pegang terus tombak itu.Pendekar Pemanah Rajawali Nio Cu Ong bukan melainkan membikin terlepas cekalannya. Akhir-akhirnya sambil menghela ia berkata.‖ Tiat Sim tidak menyahuti. hingga itu Nio Cu Ong tidak dapat segera menyandak. Satu kali Cu Ong berlompat. malah nyonya itu mengasih dengar jeritan tertahan. Ia meneliti gagang tombak itu. tangannya menjambak. Wanyen Kang bertindak masuk. aku akan lari dari jendela. tangannya tiba di bebokongnya. yang artinya. Putra itu lantas keluar pula. ia menghela napas lega. ia hanya memandang seluruh kamar. Ia dapatkan sebuah kamar yang diterangi lilin tetapi penghuninya tidak ada. lalu ia masuk ke dalamnya. ―Ma. tanpa ia dapat menahan. Ia bertindak ke tembok. ―Jikalau aku tidak datang sendiri untuk menghanurkan terima kasihku.‖ bilangnya kemudian. Di situ ia mendekam. ia mengawasi Bok Ek itu.‖ onghui itu menghela napas. Kebetulan ia tiba di depan rumah petani dari onghui. Segera tedengar tindakan kaki perlahan masuk ke dalam kamar. dia membuatnya kamu ayah dan anak bersusah hati…. Tiba-tiba ia menjadi sangat berduka. matanya bengong mengawasi lilin. tetapi Nio Cu Ong ada sangat gesit. denagn siapa ia berbicara. ia lompat masuk ke dalam rumah itu. bertapak tanda lima jari. disusul sama menjublaknya daun jendela itu dan mana segera lompat masuk satu orang. Maka itu. Sebentar kemudian. ia keluar dari tempat sembunyinya. ―Tidak boleh mereka dapat lihat kita….‖ Suara itu berirama sedih. Ia menjadi kaget berbareng gusar. hingga mereka berlari-larian di taman. ia hampirkan itu.‖ Irawan D Soedradjat Page 229 .‖ sapanya. Hendak ia beristirahat. Dari sela-sela lemari. Saking takut. mungkin ia dapat menolong aku…‖ Karena ini. ―Dalam kejadian itu adalah anakku yang salah. cuma kupingnya mendengar pembicaraan orang itu. ―Aku percaya adik Yong sudah lama pulang…. setelah meminum darah ular. di jendela terdengar satu suara keras. ―Istrinya Yo Tiat Sim‖. bajunya kena terpegang.‖ Kwee Ceng pikir. karena sakitnya dan kaget. Nyonya agung itu duduk di samping meja. Di dalam hatinya ia berpikir: ―Onghui murah hati.‖ berkata Yo Tiat Sim. Kwee Ceng berayal. Kali ini. tenaganya bertambah. Ia lihat yang datang itu onghui sendiri. Onghui dapat menenangkan diri. onghui mengunci pintu. akan buka pintunya. di antara pohon-pohon dan gunung-gunungan. meskipun aku mati tidaklah aku dapat memeramkan mata. Kwee Ceng lari terus. Dia memang ringan tubuhnya.

terus ia gantung tombak itu. Itulah pakaian yang ia pakai pada dulu hari. Di pintu ia berhenti dan mengetok perlahan beberapa kali. Ia ingat betul. ―Aku hendak omong sedikit saja.‖ . ia roboh di kursi. dengan menambah setengah kati besi…‖ Tiba-tiba saja onghui menjadi lemas kedua kakinya. Sekarang ia tidak bersangsi pula. Yo Tiat Sim tidak menjawab. Pauw Sek Yok tidak dapat lantas mengenali suaminya itu.Aku akan turut kau ke lain dunia. kau baik-baiklah beristirahat. tubuh onghui bergemetar. air matanya turun bercucuran. kemudian ia gulung tangan bajunya. apakah aku setan?‖ kata suaminya ini kemudian. Tidak dapat ia menampik bujukannya pangeran itu yang perlakukan ia dengan baik sekali. ―Ah…‖ Tiat Sim bersuara perlahan. ―Aku bilang lanjam ini sudah rusak. Ia lantas berbangkit. kenapakah kau berduka pula? Dengan siapakah kau berbicara?‖ Se Yok kaget tetapi ia lantas menyahuti: ―Aku tidak apa-apa. Rumah tangganya telah runtuh. ―Tidak peduli kau manusia atau setan. ―Ujung lanjam ini sudah rusak. baju dan celana biru. maka lantas saja ia tubruk suaminya itu dan merangkulnya erat-erat seraya ia menangis sedih sekali. ―Sekarang aku letih sekali. ―Kenapakah?‖ Tiat Sim tanya. untuk mati bersama…Aku lebih suka menjadi setan untuk tetap berada bersama denganmu…!‖ Tiat Sim rangkul istrinya itu. Sekarang ia mengawasi lanjam yang berada si pinggiran tombak itu.‖ Wanyen Kang tidak lantas pergi hanya ia jalan mengitari rumah itu. ―Kenapa…kenapa kau ketahui kata-katanya suamiku pada itu malam dari saat kematiannya…?‖ Hancur hatinya onghui ini yang sebenarnya bukan lain daripada Pauw Sek Yok atau nyonya Yo Tiat Sim. siauw-ongya ini menjadi semakin bercuriga. Irawan D Soedradjat Page Mendapatkan ibu itu tidak hendak membuka pintu. famili pun tidak ada. lantas aku pergi.‖ sahut si nyonya agung. di akhirnya ia serahkan dirinya dijadikan onghui atau selir. Di dalam situ ada tersimpan beberapa potong pakaian pria. Tubuhmu lemah. Ia berdiam aja mengawasi Tiat Sim. suaranya menggetar.‖ sahut sang ibu. untuk menarik lacinya meja itu. akan hampirkan Tiat Sim. ―Kau…kau siapa?‖ tanyanya. hendak aku bicara denganmu.‖ katanya perlahan. Hanya sejenak kemudian ia bertanya: ―Mustahilkah kau belum mati? Mustahilkah kau masih hidup?‖ Tiat Sim hendak menyahuti istrinya itu tatkala mereka mendengar suara Wanyen Kang dari luar kamar: ―Mama. Sudah delapan belas tahun ia tinggal di istana. aku hendak tidur…. ia tidak lagi seperti masa mudanya. ―Itulah barang yang aku paling hargai. tak usah kau membikin pakaian lagi untukku…‖ Sek Yok terkejut. biarlah besok besok suruh Thio Bok-jie dari dusun timur memperbaikinya dengan tambah setengah kati besi…‖ katanya peralahan.Pendekar Pemanah Rajawali Agakanya onghui heran atas lagak-lagu orang itu. ia kerebongi itu pada tubuhnya: ―Bajuku telah cukup dipakai. 230 ―Besok saja. kau pun tengah mengandung. baju siapa ia tarik. ―Aku tidak takut!‖ katanya kemudian. maka itu sekalipun mereka berada di dalam sebuah kamar. See Yok memeluk erat-erat. Ia jumput sepotong baju. Sebaliknya To Tiat Sim yang mesti hidup dalam pengembaraan.‖ katanya. ―maka besok baiklah suruh Thio Bok-jie dari dusun timur membetulkannya. mana ia percaya suaminya telah menutup mata. selama itu wajahnya tidak berubah banyak. tidak dapat aku lepaskan kau!‖ katanya. ―Aku minta janganlah kau raba tombak itu. ―Lekas kau bawa aku pergi…. hingga ia dapat lihat di lengan kiri orang satu tanda bekas luka.‖ ia berkata pula. itulah kata-kata suaminya dulu hari tempo ia tengah hamil membuatkan sepotong baju baru. ia hanya bertindak ke samping meja. ―Kau lihat. ―Kau…kau kata apa?‖ tanyanya. Mendengar kata-kata itu. dengan terpaksa ia turut Wanyen Lieh pergi ke Utara. Sampai sekian lama baru ia dapat membuka mulutnya. Ia menjadi curiga sebab tadi terang ia dengar suara orang berbicara.‖ Tiat Sim menyahuti. ―Ma.

― Di dalam lemari itu ada seorang sembunyi. Kwee Ceng tarik Tiat Sim masuk ke dalam lemari. hingga ia lantas roboh pingsan.‖ katanya. ―Aku tempur itu anak tolol dengan andalkan kepandaianku. maka kembali timbul kecurigaannya. Tiat Sim suka menurut. Ia pun menuang the ke dalam cangkir. kau pergilah. ―Sekarang lekas kau pergi tidur. begitu lekas ia mencekal dengan baik – yang mana ia lakukan dengan luar biasa cepat – mendadak saja ia menikam ke arah lemari. Ia menjadi curiga sekali. tangannya diulur kepada tombak. Itulah gerakan ―burung hong terbang. ia lepaskan Sek Yok dan bertindak ke jendela dengan niat lompat keluar. ―Siapakah dia?‖ tanya ibunya. Irawan D Soedradjat Page 231 . tiga orang menjadi terkejut sekali.‖ sahut si ibu. ―Ma.‖ demikian pikirnya.Pendekar Pemanah Rajawali Tiat Sim menduga orang bakal masuk ke dalam. Di dalam kamar itu tapinya tidak ada lain orang. jendela itu keras. Ia batal pergi. ia tetap mengawasi ke lemari. baru ia berbangkit. hingga ia mengeluarkan jeritan tertahan.‖ ―Ma.‖ Putra itu menghampiri ibunya.‖ sang ibu bilang. Dengan pundaknya.‖ Ia telah sampai di tembok. tapi disaat ia hendak mengundurkan diri. melihat siapa onghui menjadi tergugu. ―Aku minta supaya kau jangan bersusah hati. tetapi ketika ia menolak.‖ ―Nah.‖ Wanyen Kang beritahu. untuk mengasih bangun pada ibunya. ―Ma. untuk menjambret pintunya untuk dibuka. ―Tentara pengawal semuanya kantong nasi!‖ katanya. apakah tidak ada orang masuk ke mari?‖ putra itu tanya pula. rupanya ada orang yang menahannya dari sebelah luar. hatinya bekerja. ―Siapa mengandalkan pengaruh. Dasar anakmu yang buruk…. Sebelum orang nerobos masuk. aku tak akan main gila lagi. ia takut ibunya diganggu orang jahat. ―Bagaimana tadi permainan tombakku. Wanyen Kang berkhawatir mendengar jeritan ibunya itu. ―Hatiku tidak tentram. kau tidurlah!‖ Putra ini memberi ucapan selamat malam. ibu tahu di dalam lemari ini ada orang…‖ pikirnya. Ia masih menghirup beberapa kali. Ia pun lihat ibunya itu roboh. Ma?‖ sahut si anak. ular naga melayang‖. hingga daun pintunya mejeblak terbuka. Urusan itu kau jangan campur tahu!‖ Wanyen Kang tertawa. ia dapat melihat ujung baju di sela-sela lemari. ada terjadi apakah?‖ ia menanya. Pauw Sek Yok segera menunjuk ke lemari. entah ibu mengetahuinya atau tidak. ia lantas ambil tempat duduk.‖ katanya. yang pintunya ia segera tutup pula. bertindak perlahan-lahan. bagus atau tidak?‖ ―Lain kali aku larang kau menghina orang karena kau andalkan pengaruhmu.‖ kata ibu itu. yang menenangkak dirinya. Ia lantas bertindak ke lemari yang ditunjuk itu. ―Aku mau tidur. ―Ma. Ia memang tidak rela meninggalkan istrinya itu. Sambil berbuat begitu. baiklah. ia segera tabrak pintu kamar itu. ―Begitu?‖ tanya ibunya. di tubuh siapa ia menyanderkan diri. Ia lantas senderkan tombaknya. untuk di minum dengan perlahan-lahan. ―Ah. Sembari minum. Wanyen Kang dapatkan ibunya bermuka pucat dan mukanya itu bermandikan air mata. ia kaget bukan main. Pauw Sek Yok melihat itu. ―Tidak apa-apa. ―Ma. Begitu pintu lemari terpentang. maksudnya menganjurkan suaminya itu masuk ke dalamnya untuk bersembunyi. batal ia menikam lemari disaat ujung tombak hampir mengenai daun pintu lemari. Di dalam lemari itu tertampak Kwee Ceng. ―Orang jahat telah nyelusup masuk kedalam istana. Tapi Wanyen Kang telah menahan gerakan tangannya. hatinya berdenyut.

hatinya tergoncang keras. hatinya menjadi lega. pedih ia merasa. Wanyen kang tertawa. ―Sekarang aku akan menerangkannya kepadamu. ―Kasihan ayahmu itu. ibukota dari kerajaan Song di Kanglam. ―Ma. ―Kenapa mama menanya begitu?‖ Irawan D Soedradjat Page 232 . Tiat Sim dalam lemari telah dengar nyata pembicaraan di antara ibu dan anak itu. ―Ayahku adalah adiknya sri baginda. ―Sedari aku masih kecil telah aku menanyakannya.‖ ―Kau menyebutkan rumah ini bobrok?‖ tanya sang ibu. maka dalam dunia ini tidak bisa aku hidup pula bersama Tiat Sim.‖ Sang putra heran hingga ia mengawasi dengan matanya dibuka lebar-lebar. kenapa ada apa-apa yang disembunyikan kepadaku?‖ si anak bertanya pula.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok sadar dengan perlahan-lahan. Putra itu menurut. seperti meja. biarlah mereka ayah dan anak bertemu. Hatinya Pauw Sek Yok goncang keras. tidak ada satu yang bukan dibawanya dari Lim-an. ―Apakah kau sudah lihat itu ukiran empat huruf di gagang tombak?‖ Pauw Sek Yok tanya. ia berduduk.‖ Jantungnya Tiat Sim berdenyut. ―Kenapa kau menanya begini?‖ ―Kalau begitu. ―Oleh karena itu mana bisa dia berdiam dengan tenang dan tentram di rumah ini….‖ berkata dia. makin aneh!‖ katanya. ―Aku ini anak kandungmu atau bukan?‖ ―Tentu saja. mana dapat ia mengikuti pula aku seorang rakyat kasar? Dia hendak membuka rahasia. ia heran dan bercuriga.‖ berkata Wanyen Kang. kau tidak punyai untung bagus. bangku. yang segalanya serba dilukis dan diukir dan diperaboti mentereng! Anak. ―Ma. anakmu membawakan kau perabot rumah tangga yang baru tetapi semua itu ibu tolak. Wanyen Kang telah menyaksikan kelakuan ibunya ini. lemari dan pembaringan.‖ sahut ibunya itu. inilah kesalahan besar yang tidak dapat diperbaiki lagi. kapan ia dapatkan lemari tidak kurang satu apa. ―Kau duduklah baik-baik.‖ kata ibu itu. tetapi tombaknya masih dipegangi.‖ menjawab anak itu. apakah katamu?‖ tanyanya saking heran. tubuhnya menjadi lemah sekali. dialah pangeran Chao Wang. ―Mana bisa ayah tinggal di sini?‖ Sek Yok menghela napas. ―Taukah kau siapa ayahmu yang sebenarnya?‖ Sek Yok menanya. ―Aku justru merasa ini jauh terlebih bagus dibandingkan istana yang indah. makin lama kau bicara. Wanyen Kang mengawasi ibunya. selama delapan belas tahun dia berkelana di duni kangouw. kau dengari aku bicara. habis itu barulah aku mencari jalan pendekku…. mungkinkah ia hendak menyuruh anaknya itu mencelakai aku?‖ Ia lantas dengar perkataannya Pauw Sek Yok: ―Tombak ini tadinya berada di dusun Gu-kee-cun di kota Lim-an. air matanya lantas bercucuran deras. kau tidak dapat tinggal di rumah bobrok ini bersama-sama dengan ayah dan ibu kandungmu snediri…. Aku sengaja menitahkan orang melakukan perjalanan jauh ribuan lie untuk mengambilnya.‖ kemudian kata si ibu. Aku telah hilang kehormatan diriku.‖ sahut Wanyen Kang.‖ ―Sampai sebegitu jauh aku tidak mengerti. suaranya keras. Ia pikir: ―Kejadian ini mesti dijelaskan kepada anak ini. Itu lanjam di tembok dan semua perabotan dalam ruangan ini. Hanya karena kagetnya itu. ―Kenapa mama suka sekali tinggal di ini rumah bobrok. ―Ma. ―Tetapi ibu tidak hendak menjelaskan siapa Yo Tiat Sim itu. Ia pun berpikir: ―Sekarang dia telah menjadi satu onghui.‖ Karena memikir ini.‖ katanya keras.

ia peluki tombak besi itu. untuk menangkis seraya mencekal. ―Ma. tempo ia masih kecil. ―Lepaskan!‖ teriak Wanyen Kang. kiranya kau!‖ seru pangeran itu. yang kepalanya mandi darah dan napasnya empasempis. Kwee Ceng lantas lompat maju. Kemudian ia ingat. ia putar tubuhnya. tidak kepada anak perempuan. Bab 21. . angin menyambar lewat di mukanya. Disaat ia hendak melompat tembok. kenapa kau masih tidak berlutut untuk memberi hormat!‖ Wanyen Kang bersangsi. ia membentak: ―Ilmu silatku ini diwariskan cuma kepada anak laki-laki. Tiat Sim tubruk istrinya itu. Ia telah mainkan ilmu silat Keluarga Yo bagian jurus ―Hui ma chio‖ atau ―Membaliki kuda‖. Itulah menandakan lihaynya si 233 Yo Tiat Sim tidak pedulikan pangeran itu. ―Apakah kau sangka kau adalah orang bangsa Kim? Kau adalah orang Han! Kau bukannya bernama Wanyen Kang. ia merasakan sambaran angin ke arah kepalanya. gagang tombak itu patah sendirinya. dari itu tentulah gurumu tidak dapat mengajarakan kepadamu!‖ Memang benar. Tempo keduanya saling membetot. Kemudian lagi piasu itu lenyap entah ke mana. Wanyen Kang kaget. akan tetapi sekarang ia memeluki Pauw Sek Yok dengan tangan kanannya itu. tanpa menanti musuh menarik pulang tombaknya. Wanyen Kang heran bukan kepalang. Maka seraya memutar tubuh. gadisnya itu. Lantas dia bertindak cepat le arah lemari. ia pegang tangannya Yo Tiat Sim. tidak dapat ia menyerang. Meski begitu. ―Kau tidak dapat disesalkan.‖ katanya. ―Kau tidak tahu. yang gagangnya sudah tua. Saking tergugu. tapi ia tidak dapat mengerti sedalam-dalamnya ilmu silat Keluarga Yo itu. Ia hanya lupa. segera ia pun lari keluar. akan lihat ibunya itu. tetapi nama kau ialah Yo Kang!‖ Mendengar di sebutnya nama Yo Kang itu. cepat sekali ia mendak. walaupun Khu Cie Kee lihay. sedang Sek Yok menjerit: ―Inilah ayahmu! Apakah kau masih tidak percaya?‖ Lantas ia benturkan kepalanya ke tembok hingga tubuhnya terus roboh ke lantai. Sebenarnya habis itu. ia telah tiba di luar. maka juga sambil berlompat dengan gerakan ―Seekor belibis keluar dari rombongannya‖. maka bersama-sama mereka melompati tembok untuk menyeingkirkan diri. ―Oh. maka ditegur begitu. Kemudian piasu itu telah dipakai menikam mati pada Tan Hian Hong si Mayat Perunggu. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng juga tidak berani berayal-ayalan. ―Nanti aku minta ayah datang ke mari!‖ katanya. Tapi ia masih sadar. ia menjadi tidak berayal. yang ia terus peluk dan angkat untuk dibawa lari keluar dari rumah bobrok itu.‖ ―Aku was-was kenapa?‖ ibu itu bilang. ia serang bebokongnya Yo Tiat Sim. di sana ada sebuah piasu belati yang gagangnya berukiran dua huruf ―Yo Kang‖ itu. Dengan begitu. mereka mencekal masing-masing satu ujungnya tombak itu. pikiranmu was-was. Ia menjadi kaget sekali. ia merasakan perih bagaikan kebaret pisau. dengan bawa istrinya . anak. ia membentak: ―Kau telah bertemu dengan ayahmu sendiri. lantas air matanya turun dengan deras. Kwee Ceng ingat segera ingat satu nama yang ia rasa kenal baik. Tombak ini…inilah senjatanya ayahmu yang sejati…‖ Ia pun lantas menunjuk pada ukiran empat huruf di gagang tombak: ―Ini barulah namanya ayahmu itu!‖ Tubuhnya sang putra bergemetar. ―Ayahmu ada disini!‖ Sek Yok bilang. Ia sudah lantas disambut Bok Liam Cu. untuk di tarik keluar. Semua Berkumpul Tiat Sim mendengar angin menyambar belakangnya. inilah tidak heran. Inilah hebatnya untuk tombak itu sendiri. ―Nanti aku pergi panggil tabib. jadi kepandaian Wanyen Kang menggunai tombak itu belum sempurna. Tiat Sim berkelit. ialah tipu istimewa yang hanya diketahui keluarganya yang mewariskan ilmu silat itu. di mana ia pernah dengar itu. untuk buka pintunya. tangan kanannya sudah mesti membarengi menyerang.Pendekar Pemanah Rajawali Ibu itu berbangkit. sesudah mana. ia jadi berdiri menjublak. yang kaget sekali. ia putar tangan kirinya ke belakang. pangeran itu menjadi tercengang. Ia lantas memutar tubuhnya. yang mendadak saja menikam Bok Ek.‖ katanya sesegukan. yang di arah tenggorokannya. maka ujung tombak lantas kena terpegang.

hingga tidak dapat ia menggeraki tubuhnya. maka habis berkata. Apakah itu bukannya pengajaran dari Hek Hong Siang Sat?!‖ Oey Yong tertawa pula. apa perlunya gurumu menitah kau datang kemari?‖ Oey Yong tertawa. semua mata ditujukan kepada pemuda she Auwyang ini.‖ sahut si nona. ia dengar bentakan: ―Anak tolol. jikalau dalam sepuluh jurus kau tidak dapat mengenali ilmu silatku. oleh karena Leng Tie Siangjin telah terluka parah. ―Di sini ada beberapa tua bangka yang hendak menyusahkan aku. dari heran mereka jadi mau mempercayai. ia terus putar tubuhnya dan bertindak ke pintu. Pheng Lian Hoauw sudah mengahdang di ambang pintu. aku tidak berniat mengganggu padamu. Pheng Lian Houw menggeser tubuhnya ke samping. ―Apa yang aku tahu tentang mereka ialah mereka pengrusak perikeadilan dan prikemanusiaan. mereka mana tepat menjadi guruku?‖ ―Percuma kau menyangkal!‖ bilang Lian Houw. jadinya mereka adalah orang-orang dari Rimba Persilatan? Kenapa Pheng Cecu samakan aku dengan mereka itu?‖ Mulanya orang menyangka nona ini tidak hendak omong terus terang. karena hatinya cemas bukan main mendengar suaranya Kwee Ceng. Mau tidak mau.‖ katanya.‖ dia kata. ―Hanya kau bilanglah. kelihatannya cuma Auwyang Kongcu yang bisa menghalangi nona ini. Auwyang Kongcu. Semua orang di situ. akan tetapi mendengar ia bicara demikian hebat terhadap Hek Hong Siang Sat.‖ ia berkata. sambil tertawa Oey Yong kata kepada cecu itu: ―Kau kalah!‖ Ia berbicara dengan terpaksa. ―Belum pernah aku melihat Hek Hong Siang Sat. ―Aku yang rendah dan bodoh. yang dikatakan Pheng Lian Houw sebagai gurunya. sambil tersenyum. ―Kecantikan mereka itu tidak ada separuhnya dari kecantikanmu. tatkala mendengar Pheng Lian Houw mengatakan ialah muridnya Hek Homh Siang Sat. maka itu. yang tersenyum. lantas bertindak perlahan. ―Aku si Lao Pheng kagum sekali untukmu! Sekarang aku memikir untuk meminta tanya namamu yang harum. mereka menjadi saling mengawasi. kau akan membiarkannya aku berlalu dari sini. Cuma dengan satu kelebatan. aku si orang tua sudah lama menantikanmu di sini!‖ Itulah suaranya Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong! Pada itu waktu di lain kalangan. ―Mereka itu – ini nona-nona cantik yang menunggang unta putih – adakah mereka orang-orangmu?‖ dia menanya. terutama untuk pakaian orang yang serba putih.‖ Oey Yong tertawa lagi. menegaskan. Ia menyahuti dengan membentak: ―Jurusmu yang terakhir adaöah jurus ―Tindakannya si binatang sakti‖. Selagi ia terkejut. Dia menyenggapi: ―Kau sendiri yang bilang. ―Oleh karena kau adalah muridnya Hek Hong Siang Sat. Orang boleh berdusta hebat tetapi tidak nanti ada murid yang berani mencela dan mencaci guru sendiri di hadapan orang banyak. hingga wajahnya bersemu merah.‖ . ingin aku meminta pengajaran beberapa jurus dari nona. aku dipanggil Yong-jie. 234 Auwyang Kongcu tertawa. mengapa kau tidak membantu aku?‖ dia tanya. kenapa sekarang kau menyangkal?‖ Pheng Lian Houw gusar sekali. ―Nama Hek Hong Siang Sat pernah aku dengar. ―Laginya. ―Maafkan.‖ Oey Yong bilang tanpa pedulikan perkataan orang. ―Nona kecil. telah menjadi pecundangnya nona ini.‖ ia menyahut. ―Apakah shemu?‖ Lian Houw menanya pula.‖ berkata orang she Pheng ini. ―Aku tidak punya she. ―Apakah kau telah bertemu dengan mereka itu?‖ tanyanya. dengan kepandaian semacam itu dari mereka. Irawan D Soedradjat Page Oey Yong agaknya jengah. kecuali Leng Tie Siangjin dan Auwyang Kongcu. Kau adalah satu laki-laki sejati. Mereka pun telah mendurhaka terhadap guru dan kakek guru mereka. tidak ada kejahatan yang mereka tidak lakukan.Pendekar Pemanah Rajawali penyerang. Oey Yong mengawasi. hitunglah kau telah menang.

Dengan lantas mereka berdiri berkumpul di belakangnya anak muda itu. hendak aku pergi!‖ katanya si nona pula.‖ katanya. ―Memang tidak ada yang terlebih baik daripada aku mengangkat kau menjadi guru. Adalah diwaktuwaktu yang senggang. di See Hek.‖ ia bilang. Di luar sangkaan mereka. ia lantas mengasih dengar suaranya.‖ Oey Yong miringkan kepalanya. Ia mengharap. semuanya bakal datang. Tapi ia pun gemar sekali pada paras elok. ia dapat mencari jalan untuk meloloskan diri. Auwyang Kongcu hendak membuktikan perkatannya. ―Walaupun kau pukul aku. Mereka dengar itu Biauw Ciu Sieseng bicara perihal kuda jempolan. wilayah Barat. Sebentar saja di muka pintu terlihat beberapa puluh wanita muda dengan pakaian serba putih yang berseragam. Oleh karena gundik-gundiknya itu banyak. ―Untuk aku membantu kau. Serombongan di antaranya. Demikian hatinya goncang kana mendengar suara orang yang merdu itu. ia menjagoi seorang diri. Ia merasa hatinya gatal dan tulangtulangnya lemas…… Anak muda ini lihay ilmu silatnya. dari itu dengan sendirinya mereka itu menjadi juga murid-muridnya. selagi orang berkumpul banyak. sekarang ia sengaja permainkan Auwyang Kongcu supaya orang mengumpulkan gundik-gundiknya itu. ―Nah. aku tidak akan balas menyerang. ―Aku tidak percaya!‖ ujarnya. Dia sengaja menitahkan mereka menyamar sebagai pria.Pendekar Pemanah Rajawali Auwyang Kongcu tidak bisa lantas menjawab. Dia kelihatannya tenang dan puas. Oey Yong telah robohkan delapan dari nona-nona itu. kau kemarilah! Kau tak usah takut. Mereka ini berkumpul di luar selagi Auwyang Kongcu berpesta. untuk mencari nona-nona cantik dan manis. ―Apakah tanpa membalas menyerang kau dapat mengalahkan aku? Benarkah?‖ Pemuda itu tertawa. dengan perlahanlahan dia mengipasi dirinya. supaya dengan begitu kemudian aku tak usahlah menerima penghinaan orang. baru mereka muncul setelah ada panggilan. dengan tajam ia menatap. mana aku tega membalas memukul?‖ katanya kemudian. adalah mereka yang di tengah jalan bertemu dengan Kanglam Liok Koay dan Kwee Ceng. guna mengambil hatinya suami merangkap guru itu.‖ ―Apakah kau hendak mencobanya?‖ Auwyang Kongcu menegaskan. . Kali ini ia berlalu dari kampung halamannya atas undangan Chao Wang. belum tentu ada tandingannya.‖ Auwyang Kongcu bilang. maukah kau?‖ Auwyang Kongcu tertawa. Mengetahui akalnya gagal. ―Bagaimana?‖ si nona menanya. tak usahlah untuk selama-lamanya aku mengikuti kau!‖ dia bilang. yang keringatnya merah. sedang di bawah sinar merah dari api lilin. ―Semua muridku wanita dan asal sekali saja aku memanggil. tapi Auwyang Kongcu cerdik. hingga ia menjadi tergila-gila sampai umpama kata kepalanya pening. mereka gagal. memandang nona-nona manis itu. ―Asal kau angkat aku menjadi gurumu dan untuk selamanya kau mengikuti aku. Pheng Lian Houw semua seperti bermata kabur. dia datang ke kota raja – Yan-khia – dengan mengajak sekalian gundik-gundiknya yang merangkap murid-muridnya itu. dia rupanya telah dapat menerka. itu pun dapat. ia ketahui kepandaian silat mereka itu biasa saja. ―Benar!‖ jawab si nona. yang ia percaya adalah tercantik di kolong langit ini.ia tidak nyana mereka itu kalah dari Oey Yong. Auwyang Kongcu pun bangga akan gundik-gundiknya itu. ―Umpama kata aku menjadi muridmu. Ketika di Kalgan.‖ Si nona tertawa. yang berjumlah delapan orang.‖ . maka juga ia terus pergi ke ambang pintu. Maka juga sejak beberapa tahun dia sudah kirim orang ke pelbagai tempat. Oey Yong mengasah pula otaknya. dia pecah mereka dalam beberapa rombongan. ―Nah. untuk dia ambil mereka itu sebagai gundik-gundiknya. ―Kalau mereka itu menghalangi aku. tinggi dan kate. mereka jadi kaget sekali dan tergiur hatinya. . ―Jikalau kau benar-benar lihay.sekalipun di dalam keraton raja. kau bantu aku. dia mengerling kepada si nona. dengan semua dimestikan mengenakan pakaian serba putih seraya menunggang unta-unta putih juga. Irawan D Soedradjat Page 235 ―Baiklah!‖ berkata kongcu itu. melainkan tubuh orang ada yang kurus dan montok. mereka jadi ketarik hati dan ingin merampasnya untuk diserahkan kepada Auwyang Kongcu. ia ajarkan mereka itu ilmu silat dan ilmu surat. ―Murid-muridku beda daripada murid-muridnya orang lain.

ia menjadi berpikir keras. kaki kanannya terus menggurat. Lingkarannya sendiri dalam kira setengah dim. yang terbuat dari benang sutra tetapi kuat. di atasnya mana ada bercokol satu paderi dari Tibet yang tubuhnya tinggi dan besar. aku bekerka setindak demi setindak…. begitu kedua tangannya dirapatkan. berbunyilah alat tetabuhan itu Irawan D Soedradjat Page 236 . yang orang benar-benar menyerahkan diri untuk dibelenggu. dengan itu ia terus ikat tangan orang. mana bisa dia mengalahkannya tanpa dia membalas menyerang? Mungkinkah dia hendak menggunai ilmu siluman?‖ ―Aku tidak percaya yang kau benar-benar tidak bakal balas menyerang!‖ bilang Oey Yong pula. ―Baik!‖ kata Oey Yong. Ia bukan cuma bertindak masuk saja. maka kau mesti baik-baik turut aku. ia taruh itu di lantai. yang mengenakan jubah warna merah. maka begitu serangn Oey Yong mengenakan padanya. Dia hanya bisa berdiri menjublak tanpa bisa bicara apa-apa! Si nona tidak menghiraukannya lagi. Mereka pikir: ―Nona ini lihay. yang satu lemah.‖ berkata Auwyang Kongcu. ―Jikalau dua-duanya yang keluar?‖ Oey Yong masih menanya. Kongcu itu lihay tenaga dalamnya. hampir ia melintasi garis lingkaran itu. Anehnya. meski begitu yang terkejut adalah si nona sendiri. Dia duduk di kursi tapi ia lebih tinggi dari si nona. kalau kita berdua sama-sama keluar dari lingkaran. Ia pikir: ―Terang sekali orang ini tidak bermaksud baik. pemuda ini benar-benar ceriwis. Mereka pun dapat anggapan. Ia tentu saja tidak berani menyerang untuk kedua kalinya. ―Siapa yang keluar dari lingkaran ini. bukan?‖ si nona menegaskan. benda itu adalah sebuah kursi thaysu. suatu tanda dari kuatnya kaki kanannya itu. dia buktikan perkataannya itu. begitu masuk lantas kedua tangannya bekerja. karena begitu tangan mengenai sasaran. keluar dari lingkaran. Auwyang Kongcu lonjorkan kaki kanannya. yang lantas bertindak memasuki lingkaran itu. sebenatr saja ia sudah tiba di dekat pintu. yang lain keras. Segera ia dapat kenyataan.‖ jawab Auwyang Kongcu. pada wajahnya ia tidak ketarakan suatu apa. Hanya begitu ia berada di luar. kedua tangan si nona mengenai tepat pundaknya. ia bertindak dengan tenang. yang lain berat. ia berputar dengan kaki kiri itu.Pendekar Pemanah Rajawali Lian Houw semua heran. ia kata: ―Aku hendak pergi sekarang! Kau tidak dapat keluar dari lingkaran untuk menyusul aku! Tadi kau sendiri yang mengatakannya. bersedia untuk dibelenggu. habis mana ia bawa kedua tangannya ke belakangnya. dengan begitu ia membuat lingkaran. dia membilang tidak akan membalas menyerang. Lekas ia mengambil putusan: ―Biarlah. yang satu enteng. maka sungguh hebat jikalau aku sampai kena dibekuk dia…. Oey Yong hendak menegur di pederi itu tetapi ia telah di dahului Leng Siangjin. Sebab ia mengerti sembarang waktu bisa terjadi perubahan. ―Jikalau kau kalah. maka itu. Semua orang tua di sini menjadi saksinya!‖ kongcu itu memberi kepastian. ―Tentu saja! Tapi kalau kau yang kalah. toh kau tidak bakal merintangi aku lagi. ―Bagaimana sekarang – bagaimana kalah menangnya?‖ si nona tanya. hingga ia dapat berlompat bersama-sama kursinya itu. segera ia merasakan pukulannya itu membal balik. Hal ini membuat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw kagum sekali. ia tetap senyum.‖ Karena ini. segera ia percepat tindakannya itu. tiba-tiba terlihat berupa benda besar yang melayang jatuh di depannya. tetapi menerjangnya berbareng. tetapi hatinya terkesiap.‖ Maka ia sambuti ikat pinggang itu. Maka terlihatlah gelang rambutnya yang terbuat dari emas itu berkeliauan dan bajunya yang putih berkibar-kibar. Lingkaran pun seluas enam kaki. tindakannya pun dihentikan. kemudian seraya ia bertindak masuk ke dalam lingkaran itu. Ia sudah lantas berkelit ke samping. dia yang kalah. meminjam tenaga untuk menyerang tenaga. ia menginsyafi keadaan yang tidak wajar. Oey Yong heran. dengan kecerdikannya. ―Begitu pun boleh dianggap aku yang kalah. hingga ia lantas terhuyung sendirinya. walaupun dia lebih pandai sepuluh lipat. Auwyang Kongcu sudah lantas mengegos tubuhnya akan tetapi sia-sia saja ia berkelit.‖ sahut Auwyang Kongcu. yang terus buka ikatan pinggangnya yang ia serahkan kepada si nona. yang dari dalam jubahnya mengasih keluar sepasang cecer tembaga. kau yang kalah!‖ Auwyang Kongcu tercengang karena herannya. Sebaliknya. tangan kiri dengan jurus ―Angin menyambar yanglui‖. dia duduk seperti terpaku di kursinya. ―Hendak aku telingkung tanganmu ke belakang!‖ ―Baik. lalu dengan kaki kiri menahan diri. akan tetapi ia gunai kepandaiannya.

Dia menjadi terlebih kaget. Serangannya Leng Tie Siangjin tepat mengenai sasarannya. yang tertusuk duri. Maka siapa memukul atau menendangnya. Lekas-lekas ia merayap bangun. untuk mencari. Cu Ong sebaliknya mengejar dia dengan hebat. ―Dia dapat lolos. di mana ada banyak pohon berduri serta batu muncul di sana-sini. Ketika akhirnya kakinya tiba di dasar liang. ia pun tidak berlompat itu lari menyingkir. dia memukul ke arah tubuhnya si nona. Untuk kagetnya. hingga ia seperti hendak menyerbu ke rangkulannya lawannya itu. ia justru mencelat ke depan.‖ Lian Houw lantas memberi keterangan. Oey Yong seperti juga tidak dapat menahan tubuhnya. Kali ini Leng Tie Siangjin mengangkat tangannya. sekian lama dia tidak dapat dicandak. dia terjatuh ke dalam sebuah liang.sebuah di atas. ia sudah lewat di antara kedua senjata rahasia itu. Oey Yong tidak menjadi gugup. ―Di dalam bajunya ia memakai baju lapis yang lemas. untuk berlari-lari keluar. maka sekejap kemudian. Irawan D Soedradjat Page 237 . juga isi perutnya. asal ke tempat yang gelap. ia lari mencari. Dalam kagetnya. yang dalamnya beberapa tombak. Ia penasaran. dia kena injak bukan batu atau tanah keras. supaya setibanya di bawah. dia takutnya bukan main. Pheng Lian Houw berseru: ―Budak itu memakai Joan-wie-kah! Itulah mustika pemilik pulau dari pulau Tho-hoa di Tang Hay!‖ See Thong Thian pun berseru: ―Dia masih begini muda. lalu sepasang cecer itu menyambar ke arahnya…. ia maju terus. ―Pernahkah kau melihat landak?‖ Pheng Lian Houw mendahului menanya ―Tentu pernah aku melihatnya!‖ sahut orang she Hauw itu. kenapa dia dapat memiliki Joan-wie-kah itu?‖ Sementara itu Auwyang Kongcu sudah berlompat. sebaliknya. Cuma. di antara gelap petang tidak dapat lagi ia melihat bayangannya si nona. Baju itu mempunyai duri yang seperti duri landak. hanya tempo ia sampai di luar. Sebentar kemudian dia sampai di satu tempat. ia menjadi mendekati si orang suci itu. dia lantas siapkan kakinya. Dia heran yang di pekarangannya istana ada tempat yang demikian. Biar bagaimana tidak dapat ia melupakan nona yang manis itu. karena ia berlompat maju. hingga mereka tercengang. hanya serupa benda licin. kaki kirinya ditekankan di atasan cecer yang di bawah tubuhnya dipengkeratkan. Sembari berbicara. Selagi orang kaget. ―Syukur aku tidak sampai kena menghajar budak itu…‖ katanya. dengan ilmu pukulan ―Tay ciu ini‖ atau ―Tapak tangan besar‖. yang bertemu sama Nio Cu Ong. maka maulah dia nanti merangkulnya…. Thong Hay dan Lian Houw sertia Thong Thian turut pergi mengejar. Mungkin ia menerka. dia mesti menderita sebab tertusuk duri-duri landak itu. sampai di luar gedung! Dari kaget. Di dalam hatinya ia menghibur diri. pastilah bakal runtuh di tangan yang kasar dari si paderi. maka sambil serukan sekalian gundiknya. si nona sendiri melayang terus bagaikan layangan putus. Orang menjadi kaget hingga mereka pada berseru. ia terus terpeleset dan terguling. bagaikan rebung muda atau pedang yang ditancap di tanah. ―Baju lapis itu tidak takut kepada senjata tajam seperti golok dan tombak. menanyakan itu kepada kakak seperguruannya. hingga tidak ampun lagi. ketika dia merasakan sakit pada kakinya. sebab telapakan tangannya pecah menjadi sepuluh liang kecil. dia lari tanpa memilih lagi jurusan timur atau barat. Tapi ia masih sadar. Bahaya tidak dapat dicegah lagi. Hingga istana pangeran itu menjdai kacar dan gempar! Di pihaknya Kwee Ceng. Ia masih heran tatkala di depan matanya berkelebat suatu sinar. walaupun itu sudah lolos dari bahaya. Malah Chao Wang juga menitahkan Thung Couw Tek mengepalai barisan pengiringnya pergi mencari. dia pun berlari-lari di tempat yang gelap.‖ Hauw Thong Hay. Dalam keadaan seperti itu. dia dapatkan sebuah tengkorak manusia. satu suara keras segra terdengar. dengan begitu. Mereka lihat tangan kanan dari Leng Tie Siangjin mengucurkan darah. ynag tidak tahu apa itu Joan-wie-kah. bukan saja tulang-tulangnya bakal patah. Mendadak kakinya menjadi lemas. untuk menampa dasarnya cecer.Pendekar Pemanah Rajawali hingga menulikan kuping. tangan kanannya diangsurkan. tangannya terus dipakai merebaraba kepada benda itu. sebuah lagi di bawah. mungkin ia tidak terluka. dengan menjejak dengan kedua kakinya. Nona yang begitu cantik manis. terus tubuhnya terjatuh hingga ia menjerit keras. selatan atau utara. orang menjadi heran sekali. bakalan remuk semua….‖ Hauw Thong Hay mengulur lidahnya. tak usah dia jatuh terbanting. Som Sian Lao Koay ingin membekuk orang untuk dihisap darahnya! Kwee Ceng dapat lari keras. ialah punggung si nona.

Baru Kwee Ceng berhenti bicara. Nio Cu Ong pun tiba dengan segera. dia bahkan tidak dapat melihat jeriji tangan di hadapannya. untuk berjalan dengan kedua tangannya dilonjorkan ke depan. hatinya goncang keras. sembari meraba dia sembari mundur. terus ia mundur. di mana terdapat cahaya terang. ia bahka bergusar. lantas dia tertawa lebar. Ia menjadi semakin takut. anak muda. di sana habislah jiwaku…. ―Ha. dia mesti mati. mari kau sembunyi padaku di sini!‖ Ia rupanya dapat menduga dari suara orang. ―Aku lagi dikejar-kejar orang…. di atas sana. Wanita itu tidak menyahuti. dialah seorang yang sedang sakit. Dia takut Kwee Ceng nanti bokong padanya. akan aku susul padamu!‖ terdengar pula suaranya Nio Cu Ong. tibalah Kwee Ceng di satu tempat yang terbuka. ia hanya kepada Kwee Ceng: ―Eh. ―Aku datang kemari tidak sengaja. Nio Cu Ong mendapatkan tangkapannya gagal. Liang itu merupakan sebuah terowongan. dia bertindak dengan enteng. Itulah sebuah kamar atau ruang bertembok tanah. ―Siapa yang berani datang kemari menangkap orang?!‖ terdengar pula suara wanita tadi. Ia tidak melihat siapa juga tetapi ia merasa pasti Nio Cu Ong sedang menyusul padanya. Dia masih tidak dapat meraba sesuatu apa.‖ ia mengeluh. tahulah ia. dia andalkan kepandaiannya. mungkin sekali. ke mana kau hendak kabur?!‖ dia berseru. Lagi beberapa tombak. Kwee Ceng menyingkir terus dengan hatinya memukul keras.Pendekar Pemanah Rajawali ―Rupanya ini adalah lubang peranti membuang mayatnya orang yang dibunuh di istana…. Itulah ujungnya terowongan itu. Nio Cu Ong telah dapat mengetahuinya. Sekalipun Nio Cu Ong. supaya ia tidak mengasih dengar suara apa-apa.‖ Sebagai seorang polos. ia turut terkejut juga. Ia lantas saja berkelit. hanya ia lantas meraba ke belakangnya. bahkan kali ini tubuhnya terus lompat turun. Dia bernyali besar. Ini pun ada penjagaan untuk lari terus andaikata Nio Cu Ong berlompat turun. dia tidak dapat melihat apa juga. ia melihat ke sekitarnya. dia tidak bakal hidup pula! Apakah kamu sudah bosan hidup?!‖ Terang suara itu adalah suaranya seorang wanita. Hanya karena berada di tempat gelap. lekas naik!‖ ―Aku tidak ada begitu gila mau naik untuk mengantar jiwa…. tidak dapat ia berdiam saja atau mendusta. ―Biarpun kau kabur ke istana Raja Akherat. baru menyusul kira dua tembok. ―Apakah kau hendak menyamar menjadi iblis untuk menakut-nakuti aku?!‖ dia menegur. Irawan D Soedradjat Page 238 . dia menyusul terus. Kwee Ceng bingung. Nio Cu Ong tengah menyerang padanya. Dalam liang gelap yang gelap itu. mungkin untuk ditawan. ia berkelit ke kiri dan kanan.‖ berkata Kwee Ceng perlahan. yang bisa menghalangi mundurnya. Kwee Ceng kaget dan takut. yang kosen dan nyalinya besar. Justru itu. menyahuti orang itu. Kembali terdengar suara seram dingin tadi: ―Siapa ke dalam gua ini. maka ia mundur terus. ―Terowongan ini mesti ada ujungnya. dia dengar teriakannya Nio Cu Ong: ―Bocah. Siapa sangka di temapt demikian boleh ada penghuninya. atau ia telah dengar sambaran angin. ia tidak dapat meraba apa juga. ia menyerang pula.‖ ia menduga-duga. dari pojok kiri terdengar ini suara dingin seram: ―Siapa berbuat kurang ajar di sini?!‖ Kwee Ceng kaget.‖ pikir bocah ini. Kemudian ia putar tubuhnya. Dia pun rtidak sudi memberi penyahutan. Kwee Ceng menjadi cemas dan sibuk. Nio Cu Ong tidak takut. Ia mengucap demikian tetapi ia tidak berkisar dari tempatnya. bocah. Justru hatinya lagi berpikir. hanya kali ini suara itu disusul sama napas yang memburu. Di belakangnya.

tidak dapat tidak. walaupun begitu. ia ayun tubuhnya untuk berjumpalitan. Ia pun menduga orang lagi sakit. lantas ia merasakan tangannya wanita itu bergemetar keras. Begitu kakinya menginjak tanah. Lantas ia ulur kedua tangannya. yang ia duga sedang sakit keras atau terluka parah. Aku minta sukalah nyonya tidak menghalangi aku…‖ ―Oh. biasanya siapa kena tertotok. ia kenamaan duapuluh tahun lebih. besar tenaga orang itu. pastilah itu tidak bakal gagal. tanda bahwa nyonya itu sangat menderita. ―He.aku…. Dengan perlahan ia bertindak menghampirkan wanita itu. tidak dapat lagi ia bersangsi sedikit juga. Apakah kau ada satu jago Rimba Persilatan dari Kwan-gwa?‖ Nio Cu Ong heran bukan buatan. bangsat perempuan. Cu Ong terkejut. untuk bergulingan pergi. tetapi kali ini.‖ sahut si wanita itu. apapula kau Nio Lao Koay. sedang tangannya dipakai menyampok. ―Apakah kau sakit?‖ ia tanya perlahan. yang sebelah tangannya segera mampir di bebokongnya Som Sian Loa Koay. kau ketua sebuah partai! Apakah benar kau tidak kenal aturan kaum Rimba Persilatan?!‖ Som Sian Lao Koay terperanjat. Belum lagi tendangannya itu mengenai sasaran atau jalan darahnya kongsun-hiat. Jalan darah itu ada di batas mata kaki. ada lihay sekali. untuk menyerang! ―Pergi!‖ membentak si wanita. ―Aku…. Di dalam hatinya ia berkata: ―Wanita ini awas sekali matanya! Dia bisa menotok jalan darah. Syukur tangguh ilmu dalamnya. ia menjadi bergusar pula. ia segera kirim tangan kirinya. lancang masuk ke rumahku ini. mungkinkah dia itu siluman?‖ Juga sampokan Cu Ong adalah sampokan istimewa. untuk menerjang. hingga diluarnya dapatlah ia bernapas lega. Wanita itu terdengar napasnya memburu. untuk wilayah Kwan-gwa. Tidak ayal lagi. karena ini. ―Kalau lain orang. yang tidak tahu apa-apa. maka ia lantas berlompat ke arah darimana suara itu datang. tiba-tiba ia mendengar suara angin. kenapa dia sebaliknya segera mengenali asalusulnya ilmu silatku?‖ ia berpikir. lalu perlahan-lahan cekalannya menjadi kendor. Tiba-tiba terdengar urat-urat meretek. bahkan dengan merayap. she Nio. kalu serangannya mengenai sasarannya. tubuhnya tidak bergerak. ―Nyonya yang terhormat. yang berupa tangkapan. ia merasakan tangannya disambar dan dicekal tangan lain orang yang dingin enyam. ia buang dirinya ke tanah. dia kata terhadap Nio Cu Ong: ―Barusan seranganmu. Bocah ini telah curi barangku. ia rasakan tangan lawan dingin sekali. Kali ini kedua tangan bentrok. ia tidak ambil pusing siapa si nyonya itu. Nio Cu Ong dapat mendengar suaranya kwee ceng itu. sambil lompat mencelat. aku mesti tangkap dia. kesudahannya membuat ia kaget tidak terkira. ia lantas menyahuti: ―Aku adalah seoarng saudagar jinsom dari Kwantong. Ia sangat andalkan kegagahannya. Ia menjadi kaget sekali. Ia hanya heran atas kesebatan wanita itu. terus ia keluar dari terowongan itu. tetapi untuk kagetnya. Kwee Ceng baru mendengar sampai disitu. ―Dia lihay sekali! Mungkinkah ia dapat melihat di tempat gelap?‖ Ia menjadi tidak mau berlaku semberono. ia menangkis dengan tangan kirinya. hingga ia terkejut. dia sudah tidak dapat diberi ampun. ujung kukunya menyambar ke pundak. tetapi ia tidak mau kasih dirinya diserang demikian. tenaganya telah dikerahkan sepenuhnya kepada tangannya itu. Irawan D Soedradjat Page 239 . ia tidak sampai mendapat luka di dalam. Wanita itu masih bernapas memburu. tubuhnya segera tertarik hingga ia roboh menubruk sebuah dipan tempat duduk bersemadhi. Ia baru saja melanggar bajunya Kwee Ceng lalu mendadak ia merasakan tangannya terbentur tenaga yang besar. kiranya saudagar Som Sian Nio Cu Ong!‖ berkata wanita itu. untuk membekuk si anak muda. lalu sebuah cambuk panjang menyambar ke kakinya. ia mesti lantas roboh. hingga ia terhuyung tiga tindak.‖ ia meminta. bukan seperti daging. Disaat ia hendak berlompat. kakinya terus menendang ke arah wanita itu! Tendangan orang she Nio ini ada sangat kesohor. aku mohon tanya shemu yang mulia. tiba-tiba kaku sendirinya. lalu tangannya si wanita diulur panjang. di dalam keadaan seperti ini. Dalam kagetnya. bagaikan es. Sekarang Nio Cu Ong percaya pasti orang tidak dapat bergerak. ―Aku tidak dapat melihat dia. mari maju!‖ ia berseru saking murkanya.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sedang bingung. ia menjadi lebih tabah. Ia pun mendengar orang merintih.

Sebaliknya. Tidak lama keluarlah mereka dari gua itu.‖ sahut Kwee Ceng.‖ ―Apakah cianpwee terluka?‖ menanya Kwee Ceng. ialah liang yang tadi. tanpa berdaya ia kena ditarik hingga ke depan wanita itu. terus ia menarik. Kwee Ceng merasa orang sangat berkepala besar. Kwee Ceng kerahkan tenaganya di leher. Ia telah lantas pikir.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sudah beberapa puluh tahun. mungkin ongya ketahui rahasia ini…‖ Maka dengan cepat ia kembali ke Hoa Cui Kok.‖ ―Mana aku terluka!‖ memotong si wanita. ―Tidak dapat aku dijual orang…‖ Mendengar ini. diletaki di pundak Kwee Ceng. yang seperti tidak memperdulikan perkataan orang. him-tha dan bu-yok. ia telah menggunakan tenaga berkelebihan. Ia mengangkat kepalanya. Ia pun batuk-batuk. untuk meninggalkan pergi kepada wanita ini tetapi ia tidak tega hati. Ia berkata: ―Teecu mengucap banyak-banyak terima kasih untuk pertolongan cianpwee. mari boanpwee menggendong buat pergi keluar…‖ ―Siapakah ynag tua?!‖ wanita itu membentak. yang tidak berani banyak omong. Ia ulur tangan kirinya. dengan tindakan perlahan ia menuju ke luar. ―Kenapa Lao Koay hendak membunuh kau?‖ ia tanya selang seaat.‖ Wanita itu bernapas tersengal-sengal. 240 ―Siapa yang ajari kau ilmu ringan tubuh?!‖ si wanita tanya. Kwee Ceng merasakan pundaknya itu sakit sekali. Tiba-tiba ia berhenti. hatinya jadi lega. ―Jadinya kau telah curi obatnya Lao Koay! Aku dengar kabar ia tengah menyakinkan pembuatan obat-obatan…. Ia tanya pula: ―Kau menghendaki barang apa? Nanti aku pergi mengambilkannya…. setelah napasnya tidak terlalu memburu lagi. cara bagaimana kau ketahui aku sudah tua?‖ ―Ya. Ia terus bungkam. Sebab tangan kanan si wanita sudah merangkulnya. Kwee Ceng dapat dengar sauara orang berlari pergi. Yang membikin ia terkejut adalah lehernya terasa dingin dengan mendadak. hiat-kat. ―Benarkah di dalam dunia ini ada iblis? Ah.‖ kata si wanita.‖ pikirnya. Dalam hal kepandaian ini. .ya. tangan si wanita menjadi kendor sendirinya.‖ kata Kwee Ceng dalam hatinya. ―Bocah tolol. keren. Irawan D Soedradjat Page Saking kagetnya. ―Memang aku pun hendak menggendong kau. untuk melawan cekikan. Kalau cianpwee…. Ia jalan terus hingga di mulut terowongan. Liang sumur itu cukup tinggi tetapi Kwee Ceng dapat memanjatnya. Ia tidak tahu orang menguji padanya. dengan kegirangan dan bersyukur. hingga tak tahu ia mesti membilang apa. akan melihat bintang-bintang di langit. ―Siapa yang menghendaki kebaikanmu itu!‖ ―Ya. ya. agaknya ia gusar. ―Ong Totiang mendapat luka. apakah ia bukan orangnya Wanyen Lieh?‖ ―Oh…!‖ berseru si wanita. ―Teecu ada punya empat macam obat yaitu thian-cit. ―Lekas bicara!‖ Ia memegang keras leher orang sampai si anak muda sukar bernapas. lantas ia berlulut di depan wanita itu untuk mengangguk-angguk hingga tiga kali. habis itu ia mencoba menggunai kedua tangannya. yang ketemu batunya. ―Adalah aku yang memaksa kau menggendong aku keluar dari sini. Hanya sesaat kemudian. Ong totiang tentu tidak membutuhkan sebanyak itu.‖ kata wanita itu. Maka ia membelas. karena ia berpikir: ―Wanita ini tinggal di dalam istana. cekikan itu menjadi semakin keras. ia telah berlatih cukup di bawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok. dia membutuhkan obat. hatinya menjadi lemas pula apabila ia dengar suara napas empas-empis dari wanita itu.‖ sahut Kwee Ceng. ―Gendong aku pergi!‖ berseru si wanita itu. belum pernah aku mengalami kejadian seperti ini.‖ ―Ah. akan merayap naik. Ia lantas menggendong. Maka ia kata pula: ―Jikalau cianpwee tidak merdeka untuk jalan. kau benar baik…. rupanya melawan Nio Cu Ong. tetapi ia tertawa dingin. maka itu teecu datang ke istana ini…‖ Kwee Ceng menyahut. orang tidak sudi menerima budi.

agaknya susah ia berbicara. Itulah sebuah hungkusan. ia duduk di tanah.‖ menjawab si anak muda. kuku orang sudah masuk ke dalam dagingnya… Ketika malam itu di atas gunung terjadi pertempuran di antara Kanglam Cit Koay dengan Hek Hong Siang Sat. seram suaranya.‖ seru wanita itu. Itulah sebuah pisau belati.‖ Tiba-tiba wanita itu menggetar. bukan?!‖ dia tanya. ―Kau bilang barusan Ong totiang mendapat luka. ―Kau dipanggil Yo Kang.‖ sahut Kwee Ceng. ―Ong Cie It itu kau punya pernah apa? Kenapa kau memanggil ia totiang. ―Dialah Kwa Tin Ok!‖ katanya kemudian. terus di cekik.‖ Kwee Ceng mengangguk. di dalamnya tertampak barang yang berkilauan.‖ Wanita itu batuk-batuk beberapa kali. Selagi si anak muda mengawasi pisau itu. Kenapa kau berlaku begini kasar?‖ Tapi ia toh menjawab: ―Ong Totiang itu bernama Ong Cie It. melihat mana. ―Teecu bukan murid Coan Cin Kauw. lehernya sudah dicekal si wanita. ―Bukan. Kwee Ceng rasanya kenal. Matanya Kwee Ceng telah berkunang-kunang tetapi ia masih bisa melihat si wanita yang rambutnya yang panjang riap-riapan. Diwaktu malam seperti itu. ―Benar. entah dari cita atau kertas. segala apa kau boleh tanyakan. Ia lantas mengenali Tiat Sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi. mukanya pucat seperti kertas.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ha. Di gagangnya ia dapatkan dua hruf ukiran. Wanita itu perdengarkan suara seperti merintih. Guru yang nomor satu ialah Hui Thian Pian-hok. tangannya telah dicekal keras.‖ ―Habis. salah satu dari Hek Hong Siang Sat. ―Guru teecu semuanya ada tujuh orang. ―Adalah Tan Yan Cu Ma Giok. Ia menjemput untuk dilihat teliti. teecu she Kwee. bukan suhu atau susiok?‖ Suhu dan susiok ialah guru dan paman guru. Dia agaknya mendesak. tetapi ia masih bisa bawa lari mayat suaminya itu. sebelah tangannya menyerangi si wanita. Ia kaget. ia lolos justru ketika itu turun hujan lebat. Tan Hian Hong telah jambak mati kepada Thi A Seng. sebaliknya ia kena ditikam Kwee Ceng pada anggota tubuh kematiannya. Ia kaget tidak kepalang. ia berontak. ia lantas berontak pula tetapi sia-sia saja. siapakah gurumu itu?!‖ si wanita tanya pula. Sekarang denagn tiba-tiba Kwee Ceng mengantarkan Irawan D Soedradjat Page 241 .‖ sahut Kwee Ceng pula. Tapi tangan itu sudah lantas kena ditangkap! Segera si wanita melepaskan tangannya yang kanan. lalu mendadak orang jahat itu lenyap dan pisau ini…. napasnya pun tersengal-sengal. ―Kau lihat. ―Merekalah yang disebut Kanglam Cit Koay. Kapan bungkusan itu telah dibuka. yang ia letaki di tanah. ―Kau kenal pisau belati ini. tidak nanti aku mendusta. bunyinya : ―Yo Kang‖. seorang she Kwa.‖ menjawab Kwee Ceng. benar tidak?!‖ masih wanita itu bertanya. Apakah namanya Ong totiang itu?‖ Sebelum menjawab. ―Benar. aku ini siapa?!‖ ia tanya dengan bentakannya. ―Benar. ―Di masa kecil pernah aku pakai pisau ini membunuh seorang jahat. orang dipanggil Giok Yang Cu.‖ Belum habis ia mengucap. si wanita merampasnya. ―Kenapa wanita ini ketahui aku datang dari Mongolia?‖ ia pikir. Bwee Tiauw Hong sudah buta kedua matanya. ―Jadinya kau adalah muridnya Coan Cin Pay!‖ katanya. yang heran sekali.‖ Kwee Ceng berkata. Itulah pisau yang ia pakai untuk menikam Tong Sie Tan Hian Hong si Mayat Perunggu. ―Apakah kau datang dari Mongolia?‖ tanya wanita itu lagi. Kwee Ceng berpikir: ―Kau telah tolongi padaku. dari sakunya ia tarik keluar serupa barang. kau mengerti ilmu tenaga dalam yang sejati. yaitu Ma Totiang yang pernah ajarkan aku ilmu mengendalikan napas dan bersemadhi.

mereka buron dari Thoa Hoa To. si wanita menghela napas panjang. Pastilah dia anaknya suboku itu. Aku menjadi bersedih. ‗Bukan cuma kepandaian suhu belum dapat kita pelajari sebagian saja. mendadak ia rangkul aku…‖ Wajahnya si Mayat Besi menjadi merah dengan tiba-tiba. Ditepi meja abu aku lihat satu anak perempuan kecil duduk di kursi. sekalipun aku. hatiku memukul terus. aku dikasihi oleh ayah dan ibuku. Bagian atasnya adalah mengutamakan pelajaran tenaga dalam. Ia ingat sebab takut digusari guru mereka. karena buronan kami. ‗Baiklah. Demikian ia berkata terus dalam hatinya: ―Menyaksikan pertempuran dahsyat dari suhu. perempuan busuk!‖ Ia tidak sudi menjadi janda. Bocha ini mirip dengan subo. barulah suamiku itu padam hatinya.‖ Tiauw Hong melamun lebih jauh. dia pentang kedua tangannya dengan apa ia tubruk ayahnya. Ketika kami tiba di pulau. Dengan begitu. lelaki bangsat. suhu telah sangat gusar dan telah umbar kegusarannya itu. Kwee Ceng pun dengar napas orang memburu. Setelah itu. Sudah belasan tahun ia cari pembunuh suaminya denagn siasia. dia mengawasi aku sambil tertawa. hingga selanjutnya dipulaunya itu guru hidup berdua saja dengan istrinya serta beberapa budak pelayan. Hian Hong pun jeri. Aku ingat kepada subo. untuk menyakinkan ilmu seperti pengajaran kitab istimewa itu. setiap hari aku memain saja. kakak seperguruanku. suaminya itu: ―Eh. dia hendak pergi mencurinya juga. Bocha itu menolong kami. perempuan bangsat.‖ demikian ia melamun. tetapi dia penasaran. Oey Yok Su. Ia masih terbenam dalam lamunannya. Habis itu. kami menemukan berbagai peristiwa yang luar biasa. mereka berkelana dan menjagoi dunia kangouw. tentang peristiwa dulu-dulu itu. Maka aku kata kapadanya. mereka masih tidak sanggup lawan dua jari tangan saja dari guru mereka. perempuan bangsat. Aku dengar bocah itu berseru. sampai hati kita coco satu sama lain. ia menjawab dengan balik menanya: ―Apa daya?‖ ―Kita kembali ke Tho Hoa TO. Banyak orang kosen yang mereka robohkan. ―Dulu aku adalah satu nona yang lincah. aku justru berbuat baik terhadapmu! Jikalau kau lihat ini. yang terus ia usir. Air laut telah muncrat memasuki perahu kami. Aku juga tidak tahu dimana ia menyembunyikannya. Biar kepandaian merka sepuluh lipat lebh lihay. ‗Ayah. Lantas si bangsat laki-laki menarik tanganku. burung hantu pun mengasih dengar suaranya yang seram. suhu telah dapat dengar suara kami. aku ditolongi dan dibawa ke pulau Tho Hoa To. mereka sembunyikan diri di gunung. Sekejap kemudian. Segera ia menjadi girang bercampur sedih. mari kita lekas pergi!‖ Tapinya suamiku menampik. Pertandingan itu itu membuatnya kami kaget. budi siapa aku tidak dapat lupakan. dimana aku diajarkan ilmu silat. ―Kami tahu.Pendekar Pemanah Rajawali jiwanya. Bagaimana sekarang?‖ Atas itu. Dia kata. Bwee Tiauw Hong masih ingat baik-baik perkataan Tan Hian Hong. ‗Eh. seorang pemuda yang matanya besar terbayang dihadapanku. lantas ia ingat penghidupannya yang dulu-dulu. mungkinkah subo meninggal sehabis melahirkan yang sulit? Karena ini aku pikir untuk tidak melahirkan anak juga! Selagi aku berpikir begitu. Apa yang aku lihat adalah meja abu. Kami telah menyaksikan suhu telah dapat membekuk musuhnya. Suamiku itu berkhawatir kitabnya nanti ada yang curi. Kiranya musuhnya suhu telah datang ke pulau untuk mengadu kepandaian.s esudah kedua orang tuaku menutup mata. orang perhina aku. Itu waktu Tan Hian Hong telah memberitahukan bahwa ia telah mencuri sebagian kitab ―Kiu Im Cie Keng‖. Aku pikir. kaki siapa dia telah hajar patah. maka kejadianlah mereka berdua berlaku nekad. bagian bawah. Di kejauhan. kita mesti jadi tanpa tandingan di kolonng langit ini. Karena kupingnya jeli.‖ Ketika itu angin bersiur. Tiauw Hong lantas melamun pula. Aku pergi ke jendela. tetapi kau Irawan D Soedradjat Page 242 . kita gagal. kau tentu ingin mempelajarinya. juga kepandaian lawannya itu kita berdua tidak dapat melawannya!‘ Maka itu kami lantas meninggalkan wilayah Tionggoan. tidak dapat aku bergerak. yang merupakan pengalamannya. di bawah pohon tho. seperti mau lompat keluar. untuk mengintai. untuk diajak lari. lantas mereka menikah. hingga oleh guruku. kita curi pula yang sebagian itu!‖ Ia tidak berani pergi. atau kau menjadi janda. aku tak akan lihat kitabmu!‘ Dia jawab aku. kami menyingkir jauh sekali sampai di gurun pasir di Mongolia. bagaimana Tiauw Hong tidak jadi girang. Aku kaget hingga lemas kaki tanganku. dia tidak kasih lihat. Dengan berbisik aku kata kepada suamiku. Kiranya subo telah menutup mata. pelajaran kita jadi kepalang tanggung. kitab Kiu Im Cie Keng itu aku cuma dapat curi sebagian saja. malah Hui Thian Sin-liong Kwa Pek Sia telah mereka binasakan dan Kwa Tin Ok sudah mereka bikin buta matanya. ia menyambuti anak itu. bangsat lelaki. empo!‘ Dia tertawa manis. hingga setelah pandai. Suhu khawatir dia jatuh. sedang tangannya terus memegang keras si anak muda. Dialah Tan Hian Tong. goncang hati kami. ―Baru kemudian. ―Dalam murkanya suhu telah putuskan ototnya semua muridnya. Sama-sama kita belajar ilmu silat. hawanya dingin. Demikian pada suatu malam di musim semi. Dia bilang pada istrinya: ―Aku mesti pergi. Kami kabur dengan naik perahu. ―Eh. ia ingat. Bwee Tiauw Hong dapat dengar itu semua. Suhu muncul di ruang meja abu itu.

akan tetapi tubuh itu ia rasakan panas sekali. Aku lantas meraba-raba. Itulah temapt kematianku. tetapi pertempuran dahsyat di atas gunung itu. Itu dia rahasianya Kiu Im Cie Keng. Itulah aneh! Hujan turun hebat sekali.‖ ―Seumurku aku tidak pernah melakukan kebaikan!‖ Tiauw Hong membilang. Aku penasaran! Aku lalu mencari di rambut kepalanya. hendak aku memberi obat kepada kulit itu. aku tidak mendapatkannya. dia membikin aku merasa sakit sampai di tulang-tulangku. yang ia selalu panggil dengan sebutan ‗lelaki bangsat‘. aku minta kau tolong serahkan itu pada Onng Totiang yang sekarang ini lagi mondok di penginapan Ang Ie. ingin aku membawa-bawanya di tubuhku. di luar kota barat. kitabnya lenyap bersama.‘ Itulah kata-katanya yang terakhir. Hebat suara itu. menyeramkan. ‗Lelaki bangsat. sekarang aku tidak menghendaki hidup pula! Aku hendak minta suatu apa padamu. Dengan kedua tanganku. Ah. Itulah dua huruf ‗Yo Kang‘.‖ Mengingat itu semua. Seluruh tubuhku bergemetar. Dia merasa seperti telah meraba dada suaminya. ―Di tubuhku ada beberapa rupa obat. ‗Baiklah! Jangan kau terus mengaco-belo!‘ Tapi ia mengajarkan aku Kiu Im Pek-ku Jiauw dan Cwie-sim-ciang. Dia tidak ingat lagi berapa banyak kesengsaraan yang dideritanya dan berapa banyak jiwa yang telah dibunuhnya. ia lantas berkata: ―Eh. ―Entah dia bakal gunai cara kejam bagaimana akan siksa aku hingga aku terbinasa…. Ini artinya. selama orangnya masih hidup. tubuhmu bisa rusak. Aku pondong tubuhnya si lelaki bangsat. tetapi mataku buta! Suamiku pun binasa! Itulah pembalasan! Pernah kami membinasakan kakaknya dan mata adiknya dibikin buta. Tiba-tiba aku kena raba huruf-huruf ukiran di gagang pisau belati itu. oh. di situ aku merasakan kulit dagingnya yang rada luar biasa. aku merasa gatal sekali. mana boleh aku mati? Maka itu aku meraba ke dadanya si lelaki bangsat. sebagaimana dia sendiri dipanggil ‗perempuan bangsat‘ oleh suaminya itu. entah berapa banyak orang telah aku bunuh…. tanpa ada orang yang memanggil dia lelaki bangsat. Penyerang itu sempurna ilmu dalamnya. Sebenarnya apakah yang heran? Orang dibunuh. aku pun harus mati bersama si lelaki bangsat. Aku empos semangatku. tetapi mereka juga tidak mengejar. Aku berlalri-lari di dalam hujan. ‗Kau ajarkan aku cengkaraman Kiu Im Pek-ku Jiauw.‖ jawab Kwee Ceng. bagaimana tawar! Lantas aku bawa ujung belati ke mulutku. aku kabur. ia masih ingat jelas sekali. kau mati tidak karuan?‘ aku cabut pisau belati dari pusarnya. Tempo aku meraba pula dadanya. aku khawatir Kanglam Cit Koay dapat Irawan D Soedradjat Page 243 . supaya tidak menjadi nawoh dan rusak.‖ demikian dia ngelamun pula. Lalu Kanglam Cit Koay perhebat serangannya atas diriku. darah lantas muncrat keluar. yaitu cengkeramnan Tulang Putih serta Pukulan Meremukkan Hati. dibawah lidah. hujan besar telah membasahkan seluruh tubuhnya.‖ dia berkata di dalam hatinya lagi. Sia-sia aku mencari. Bwee Tiauw Hong merasa ia telah berada pula di gurun pasir.‖ Bwee Tiauw Hong lantas mengasih dengar suara tertawa kering dari tenggorokannya. Tidak ada bagian anggotanya yang aku bikin kelompatan.‘ Aku jawab. Kanglam Cit Koay telah mengepung aku. kiranya pembunuh si lelaki bangsat itu bernama Yo Kang! Mana dapat aku tidak menuntut balas? Sebelum membinasakan Yo Kang itu. ‗Bagus betul pikiranmu ini. darahnya pasti mengalir keluar. Maka siapa berani tanggung yang kitab kami pun tak ada yang bakal mencurinya? Maka ia kata pada waktu itu.‖ ―Kau hendak minta sesuatu dari aku?‖ Bwee Tiauw Hong tanya. Aku tidak mati. ‗Kau yang begini lihay. apakah benar-benar kau telah mati?‘ Aku bertanya. Lantas aku sembunyikan diri di dalam gua. Hanya. Hian Hong khawatir kitabnya dicuri orang. sekarang dengan kepandaian itu aku menggalikan kau liang kubur. Di situ aku kubur si lelaki bangsat. ia tertawa dingin. Tubuhnya si lelaki bangsat mulanya masih hangat. kitabnya masih kena kita curi. langit mestinya gelap gulita. kitabnya pun ada. aku lawan serangan racun. ―Ya. Aku sendiri. ‗Mataku! Mataku!‘ Ya. hatiku pun turut menjadi dingin karenanya.Pendekar Pemanah Rajawali tidak mengerti ilmu dalam. merupakan huruf-huruf dan peta. aku merasakan sangat sakit pada mataku. dia cacah tubuhnya sendiri. Aku tidak dapat melihat musuh-musuhku itu. ―Suhu yang demikian lihay. ―Matilah aku kali ini…‖ kata Kwee Ceng di dalam hatinya. aku lantas menggali sebuah liang besar. Nyata dada itu dicacah dengan jarum. ia tidak dapat melihat sinar bintang lagi. lalu perlahan-lahan menjadi dingin. Kemudian terjadilah pertempuran di atas gunung itu.‖ Karenanya. ngelamun. terus ke bawah. mendadak hujan turun seperti di tuangtuang. ―‘Aku tidak bakal ketolongan lagi…rahasianya Kiu Im Cie Keng ada di dadaku…. bebokongku telah kena tertinju. Kwee Ceng sampai bergidik. setelah itu ia bakar kitabnya itu. Sudahlah. harap kau suka meluluskannya. setelah orangnya mati. dan mereka itu tidak dapat melihat aku. akan cari rahasianya kitab Kiu Im Cie Keng itu. dinginnya luar biasa. ―Memang.‘ Aku lantas gunai pisau belati mengiris kulit dadanya si lelaki bangsat. dengan sendirinya cekalan Bwee Taiuw Hong menjadi semakin keras dan giginya pun bercatrukan. Sekonyong-konyong matanya menjadi gelap. ‗Aku ingin kau selalu mendampingi aku…‘ Ketika itu aku tidak bersedih lagi sebaliknya aku tertawa terbahak-bahak. ―Suamiku berkata. Ah.

Tangannya itu telah tergetar. Tidak dapat ilmu dalam itu dipeljarakan tanpa petunjuk. Pertempuran Dahsyat Wanita ini tertawa. sampai tiga kali. rupanya dari si lelaki bangsat yang memimpin bocah itu datang padaku. juga seluruh tubuhnya menjadi panas. Ternyatalah ia berotak terang sekali! Aku jadi gembira. Ia tidak ketahui yang pelajaranku telah tersesat. Semua orang menganggap akulah seorang wanita tua yang buta yang harus dikasihani. putra nomor enam dari raja Kim. suaranya dapat terdengar sampai di tempat jauh.Pendekar Pemanah Rajawali mencari aku. Aku bekerja di taman belakang. aku dengar suara pasukan tentara lewat di depan guaku. separuh tubuhku ini tidak dapat digeraki. pangeran cilik itu memberitahukan kepada aku. di situ secara diam-diam aku menyakinkan ilmu kepandaianku. maka tunggulah aku selesai dengan pelajaranku. setiap hati manusia! Aku akan belajar. Dia sangat menyayangi pangeran kecil itu. sedang tangan kanannya mengerahkan tenaganya. Lantas aku hendak mencari Kanglam Cit Koay. supaya ia menolongi aku. bahwa ongya hendak pergi lagi ke Mongolia. Ia telah mendapatkan pelajaran dari Ma Giok. hingga tubuhnya menggetar. Coba kalau bocah ini tidak menerobos masuk ke dalam terowongan. Pangeran yang memimpin pasukan itu mengasihani aku. disana tidak dapat aku mencari tulang-tulangnya si lelaki bangsat. Panas hatinya Tiauw Hong. tidak kecuali kepada ongya dan onghui. Irawan D Soedradjat Page Begitu kedua tangannya beradu. Ia berpikir: ―Aku berlatih tanpa 244 Kwee Ceng kalah pandai. Hm. ia telah dapat belajar dengan baik. maka ia angkat tangannya yang kanan. Perjalananku ke Mongolia itu tidak sia-sia belaka. di mana aku menyakinkan kepandaianku. ia berontak dengan berhasil. ―Tidak jelek kepandaiannya bocah ini!‖ pikirnya. Hm! itu waktu akan aku jambret setiap batok kepala. aku berdiam di dalam terowongan dalam tanah. Ia menjadi heran sekali. . Dia tertawa haha tercampur hmhm. Terpaksa aku ajarkan dia tiga jurus. Kwee Ceng selalu berkelit dengan berhasil. Tapi dia pun nekat. agar aku bisa bersembahyang di kuburan suamiku. Sekali saja. bekerja menyapui rumput. tangan kanannya pun masih dicekal si wanita. Kesudahannya. Maka juga. hingga ia secara sembarangan mengajari aku sepatah kata rahasianya ilmu dalam. asal rahasia bocor. Sekarang ini aku bukannya tandingan mereka. tangannya menyambar ke batok kepala. dia suka menolong. aku lantas keluar dari tempat sembunyiku. aku minta barang makanan. Aku mengancam. Mereka itu bicara dengan bahasa Nuchen dari negara Kim. Ia lantas menggerembengi aku. untuk dipaksa melepaskan cekikannya. pastilah aku akan mati kelaparan di dalam situ.‖ ―Kemudian pada suatu tengah malam…. untuk menangkis. Sungguh aku sangat beruntung. Sepulangnya ke istana. aku mempelajarinya dengan memaksa. Asal ia membuka mulutnya. sedang juga. ia sudah menyakinkannya beberapa tahun. supaya kemudian aku bunuh si bocah untuk menuntu balas untuknya!‖ Saking senang dan gembiranya. malah ia terus ajak aku ke istananya si Tiongtouw. dia memaksa minta aku memberi pelajaran padanya. selagi perutku lapar. Itu dia pukulannya yang berbahaya. walaupun ia tidak berbicara keras. maka aku terus mengajari dia. dia berseru panjang. pangeran itu adalah Pangeran Chao Wang. ia dapat tenaga akibat darah ular yang ia sedot. Aku melarang si pangeran cilik datang padaku. tenaga dalamnya telah cukup kuat. dia telah mempergoki aku lagi menyakinkan cambuk perak. Beberapa tahun telah lewat tanpa ada yang mengetahui perbuatanku itu. tidak peduli aku bisa terluka di dalam atau tidak. tertawa dingin! Bab 22. Oh. cara bagaimana aku bisa melawan mereka? Di antara mereka. untuk mencari telur burung. akan aku cambuk toblos batok kepalanya!‖ ―Lewat beberapa bulan. yang segala keinginannya senantiasa dipenuhi. Lantas aku minta supaya aku diajak. Aku dapat mendesak kepada Ma Giok. ia pegang tangan si wanita. Pengejarannya Nio Cu Ong dan pertempurannya sama Wanyen Kang membuatnya tenaga obat menguatkan tubuhnya. Mataku tidak bisa melihat. Di saat mati atau hidup itu. pukulan Cwi-sim-ciang. Aku hendak mengajari dia segala macam kepandaian asal dia suka bersumpah tidak membuka rahasia kepada siapa juga. Tiauw Hong tertawa berkakakan tak hentinya. Peduli apa! Berselang dua hari. Dia lantas menjambak pula. Bwee Tiauw Hong sudah lantas menarik pulang tangannya. Ongya menerima baik permintaan itu. tidak dapat ia berkelit lagi. yang lihay tenaga dalamnya adalah Tan Yang Cu Ma Giok. di sana aku dapatkan tujuh saudara imam dari Coan Cin Kauw. Bwee Tiauw Hong terperanjat. Kwee ceng merasakan tenggorokannya tercekik keras sekali. Belakangan aku mendapat tahu. Ah! Pangeran cilik yang nakal itu telah datang ke taman belakang.

terserah padamu!‖ katanya keras. aku akan tutup mulutku!‖ ―Masih ada apalagi?!‖ tanya Tiauw Hong yang murka sekali. ―Kau telah membunuh suamiku.‖ Dia lantas berpikir pula. dia hanya berkoak-koak: ―Yong-jie. Kwee Ceng dapat menerka isi hati orang. ―Budak hina. ialah dari Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. ―Baiklah bocah. aku nanti siksa padamu!‖ Kwee Ceng tidak menjawab.‖ bilangnya. ―Cara bagaiman aku bisa mengetahui di mana adanya sahabatmu itu? Sudah. jika tidak. ―Inilah urusan penting.‖ . Kenapa aku tidak mau memaksa dia untuk mengajari aku?‖ Maka kembali ia mencekik leher si bocah itu. malah ia kata: ―Kau memikir untuk mendapatkan kepandaianku? Hm! Baiklah siang-siang kau matikan keinginanmu itu!‖ Tiauw Hong kendorkan pencetannya. sekarang aku mesti menyerah kepada segala kehendakmu!‖ Irawan D Soedradjat Page Baru dua kali Oey Yong dipanggil. ia kata kepada Bwee Tiauw Hong. ―Aku suka bicara atau tidak. ke mari! Yong-jie! Yong-jie…. Ia membandel. Setelah itu. ―Sesudah si bocah she Kwee yang baru mengajari aku ilmu dalam dari Coan Cin Kauw. terserah padaku!‖ Tiauw Hong kewalahan.‖ katanya.. tidak nanti aku membikin harimau tumbuh sayap!‖ Maka ia lantas tutup rapat kedua matanya. aku tersesat. apabila aku si orang she Bwee tidak mengantarkan obat kepada Ong Cie It. tidak ada harapan algi untuk kau hidup lebih lama!‖ ia kata dengan bengis. Kau mesti turun tangan untuk menolongi sahabatku itu!‖ ―Hm!‖ Tiauw Hong kasih dengar ejekannya. ―Budak cilik ini mesti ada di dekat-dekat sini! Jangan khawatir. lekas kau munculkan dirimu untuk terima binasa!‖ Kwee Ceng kenali itu suara bentakan.‖ sahut si anak muda: ―Sahabatku itu lagi dikejar-kejar lawannya. dengan sumpahnya. sejarak belasan tembok. untuk menolongi jiwanya. aku tidak sangka Bwee Tiauw Hong satu jago yang telah malang melintang di kolong langit ini.‖ Tiauw Hong lantas saja menjadi kegirangan.Pendekar Pemanah Rajawali guru. ―Tetapi jikalau kau meu dengar perkataanku. Dia lantas menyahuti: ―Sudah lama aku ada di sini…. ia tidak pedulikan ancamanan orang. Ah. mereka itu jalan pergi. Tetapi ia sudah nekat. Lantas ia dengar pula suara seorang lain. Ia berpikir. ―Aku ada punya satu sahabat. dia tidak bakal lolos!‖ Sembari berbicara. ada orang membentak dengan dampratannya. ―Aku berjanji akan mengantarkan obatmu kepada Ong Cie It. akan kau membikin kau mati dengan puas! Jikalau kau membela. aku menerima baik permintaanmu.‖ pikirnya. nanti aku ajarkan kau ilmu yang Ma Totiang ajarkan aku. ―Bagaimana Tan Yang Cu mengajarkan kau ilmu bersemadhi?!‖ Tiauw Hong tanya. Kwee Ceng berpikir. Kwee Ceng menahan sakit. Lekas ia bilang: ―Baik! Tapi kau mesti bersumpah dulu – sumpah yang berat. ―Orang she Kwee…. tiba-tiba dia telah muncul dari gerombolan pohon kembang mawar di samping mereka. hatinya cemas dan mendongkol.‖ katanya lemah lembut. ―Dan dia telah dipergoki mereka itu…. biarlah tubuhku tidak dapat bergerak seluruhnya. ―Kiranya Yong-jie masih ada disini.‖ katanya dalam hatinya. biarlah aku tersiksa untuk selama-lamanya!‖ Wanita ini baru memberikan sumpahnya itu lalu tiba-tiba di sebelah kiri mereka. hal itu membuat Kwee Ceng merasai lengannya sakit sekali. Bwee Tiauw Hong mengerahkan tenaga di tangan kirinya. Mendengar ini. ―Bocah cilik yang bau. ―Kau mau menolongi atau tidak.!‖ 245 Kwee Ceng tidak menyahuti. kau boleh siksa aku. satu nona kecil. kau ingin aku mengajarkan kau ilmu tenaga dalam! Tidak nanti! Biar aku mati. Kwee Ceng terkejut. Bocah ini sebaliknya sempurna ilmu dalamnya. ―Kau masih harus melakukan baik satu hal lagi. jangan ngoceh terus! Lekas kau jelaskan ilmu itu!‖ Dia pun kembali memencet.

hanya ia lantas kata pada Bwee Tiauw Hong: ―Bwee Jiak Hoa.Aku she Oey…. di waktu tubuhnya turun ke bawah. dimana ia biasa pesiar semasa dia masih belajar silat. ia putar tubuhnya dua kali sebelum tubuhnya turun. ia angkat tangannya untuk menangkis seraya ia berkata: ―Sumoay. Ia cerdas sekali tetepi dalam pelajaran ilmu silat. Laut Timur. gua dan paseban itu adalah tempat. ―Kau…kau…. Oey Yong pernah dengar ayahnya omong tentang Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong. ―Kau pernah apa dengan Oey Suhu. ia menjadi tidak senang. maka itu ia pergi buron dengan menaiki sebuah getek kayu. Ia menyamar sebagai satu pemuda melarat. ia pergi ke mana ia suka. yaitu: ― Di dalam tumpukan cita Irawan D Soedradjat Page 246 . Dalam kedukaannya. ia menaya: ―Kau sudah mencuri kitab Kiu Im Cie Keng. malah keduanya tertarik satu pada yang lain hingga mereka lantas saja menjadi bersahabat erat. Sembari menyerang. yang namanya Yok di atas dan Su di bawah?‖ ia tanya kemudian. ia gusar. sampai ia tiba di gua. Dia adalah anak tunggal dan tersayang. Tapi ia tidak menangis terus. ia memberikan sedikit arak. katanya: ―Di dalam tumpukan cita menyembunyikan pedang mustika. Oey Yong berlompat tinggi setombak lebih. Heran ia akan mendengar disebutnya semua itu. Ia bicara sama musuh itu. Ia menjadi kaget. ia merasakan seperti tubuhnya melayang-layang. Tiba-tiba pula Tiauw Hong ingat: ―Selama ini suhu tidak pernah meninggalkan Tho Hoa To. air matanya turun meleleh di kedua belah pipinya yang halus. marilah kita bicara baik-baik! Mana suhu?‖ Oey Yong tidak segera menjawab. ―Kau bagaimana?!‖ balas tanya Oey Yong. Karena ia sangat disayang. ia lantas ulur tangannya akan sambar Kwee Ceng guna ditarik. ia menyerang ke arah Tiauw Hong. yang begitu perhatikan dan menyayangi kepadanya.‖ Tiauw Hong menjawab terlebih kaget lagi. selagi lompat. dimana ayahnya telah mengurung musuhnya. gua Twie In Tong dan paseban Sie Kiam Teng dari pulau Tho-hoa-to di Tang Hay?‖ Tiauw Hong berdiam. ia kurang bersungguh-sungguh. ―Bagus!‖ seru si nona. sampai di Kalgan ia – diluar dugaannya – bertemu sama Kwee Ceng. Tentang kata-katanya tadi. ia terperanjat. Memang Oey Yong ini adalah putrinya Oey Yok Su. anaknya baru mendapat permulaan saja dari kepandaiannya itu. Itulah jurus ―Burung garuda terbang ke langit‖ dari Cwie-sim-ciang. Semua puncak. Oey Yok Su menghibur diri dengan merawat dan memanjakan putrinya ini dengan dibantu sejumlah pelayan. ―Lekas lepaskan dia!‖ Oey Yong berkata pula. Ia merasa kasihan. Belakangan Oey Yok Su ketahui perbuatan anaknya itu. ia tegur anaknya itu. ―Kau siapa?!‖ ia tanya. seumpama kata semangatnya terbang pergi. begitu pun Bwee Tiauw Hong. Ibunya telah meninggal dunia karena kesulitan bersalin setelah ia dilahirkan. nama itu tidak dikenal kaum kongouw. Dia menjadi terharu dan tertarik hatinya kepada si pria. Pada suatu hati Oey Yong pesiar kelilingan di pulaunya itu. ia tidak dipaksa ayahnya itu yang ingat ia masih berusia terlalu muda. Maka itu. maka itu dia pun telah denar pembicaraan di antara Tiauw Hong dan Kwee Ceng. maka itu ia jadi tahu nama benar dari Tiauw Hong. suaranya bergemetar. Ia menjadi bingung sekali. dalam suara seruling dan tambur ada si bintang tetamu…. nama sebelum ia berguru. Bwee Jiak Hoa itu adalah nama benar dari Tiauw Hong. Sekarang Tiauw Hong dengar nama orang menyebutnya.Pendekar Pemanah Rajawali Memang nona itu sudah sekian lama bersembunyi di situ. kau mengertikan jurus ini?‖ Tiauw Hong merasakan serangan itu dari anginnya saja. lekas kau merdekakan dia!‖ Kwee Ceng heran. ―Masih ingkatkah kau kepada puncak Cek Cui Hong. Tanpa merasa. Tocu pemilik pulau dari pulau Thoa Hoa To di Tang Hay. Oey Yong menjawab. maka cara bagaimana dia bisa datang kemari? Bukankah aku tengah di perdayakan?‖ Menyaksikan keragu-raguan orang. ia menjadi sangat nakal. Belum pernah Oey Yong ditegur.!‖ tanyanya membentak. walaupun Oey Yok Su ada satu jago yang lihay. Nama itu pun sudah beberapa puluh tahun tidak pernah terdengar lagi. ―Kau nyatanya belum melupai ayahku! Tapi juga ayahku belum melupakannya kau! Dia telah datang sendiri menjenguk padamu!‖ Tiauw Hong ingin berbangkit bangun akan tetapi kakinya tidak mau menurut perintah. kedua murid ayahnya itu.

Oey Yong hendak menggunai ketikanya untuk menyingkir. Bwee Tiauw Hong membuat perlawanan dengan Kiu Im Pek-kut Jiauw. maka setiap muridnya kenal itu baik sekali. ia ulur tangannya akan sambar Oey Yong. Mendadak tubuhnya menjadi lemas. kaulah yang mesti hajar dia. Ia buta tetapi ia seperti membayangkan guru itu dengan bajunya warna kuning muda. Itulah Hauw Thong Hay yang telah datang ke situ dan lantas menyerang. untuk memeriksa. Kwee Ceng baru memandang ke tembok tatkala di belakang mereka. Mendadak saja ia merasakan angin menyambar ke arah dadanya. yang kepandaiannya tidak dapat ia tandingi. Nona ini telah pikir. Tiauw Hong masih berpikir: ―Suhu telah datang. lantas ia menghadapi Bwee Tiauw Hong dan berkata: ―Bwee Suci. Kata-katanya ini sumoy. Walaupun begitu. Lekas-lekas ia mengetok denagn kipasnya ke lengan si nyonya. Belum pernah ia mendapat serangan sehebat ini. Itu artinya ia mengajak sahabat itu lari bersama. itulah nyanyiannya Oey Yok Suk yangs ering dinyanyikan. sebentar nanti aku mohonkan ampun kepadanya. tetapi teecu mohon sukalah guru mengampunkan teecu dari hukuman mati mengingat mata teecu telah buta dan separuh tubuhku cacat…‖ Kwee Ceng heran menyaksikan orang demikian ketakutan dan pasrah sedang begitu jauh yang ia ketahui. adik seperguruan. ialah ―Sin To Soat San Ciong‖. ujung bajunya robek sepotong sedang kipasnya patah menjadi dua potong. otak mereka telah dilobangi lima jari tangan. hatinya tentu girang. si Mayat Besi biasanya galak dan telengas. Oey Yog tarik tangannya Kwee Ceng. ―Akan aku berpura-pura tidak sanggup melawan. untuk memernahkan diri di belakangnya Bwee Tiauw Hong. Ia sengaja menyebutkan itu. ke arah muka. ia baru menarik tangan Kwee Ceng atau tiba-tiba ia dengar bentakan di belakangnya. buat menyingkir dari istana itu. nyonya itu berserba hitam dan romannya tidak luar biasa. hingga Auwyang Kongcu tidak berani merapatkan diri. ―Anak yang baik. Ia mengerti yang ia sukar lolos. dengan pundaknya menggendol sebuah pacul kecil peranti menggali obat-obatan. Oey Yong tertawa di dalam hatinya. seperti habis sudah ilmu silatnya. tetapi ia cerdik sekali. dan orang pun hendak membekuk padanya. atau ―Unta Sakti Gunung Salju‖.‖ Tiauw Hong suka memberikan bantuannya. Ia kaget bukan main. Sementara itu Auwyang Kongcu lagi mendatangi bersama keempat murid wanitanya. hanya sekarang kau mesti mendirikan dulu beberapa jasa baik. Begitu dia tiba di depan mereka bertiga. Oey Yong lantas kenali Auwyang Kongcu. entah dengan cara apa dia bakal menghukum aku…‖ Mukanya menjadi pucat kapan ia ingat kebengisannya Oey Yok Su. supaya ayah suka mengampunkannya. ayah paling dengar perkataanku. ia mau ajak sahabatnya itu menyingkirkan diri. untuk menyerang Bwee Tiauw Hong. ia lihat tangan si nyonya menjambak secara hebat. mereka dengar satu suara seruan yang disusul tertawa panjang. nyata mereka sudah putus jiwanya semua. Sebentar ayah datang. apabila ia mendekati mereka. Yang membikin ia terkejut sekali adalah keempat muridnya telah roboh terguling. Ia tarik tangan Kwee Ceng. Auwyang Kongcu melihat Tiauw Hong sedang duduk numprah. kedua tangannya bergerak panjang dan pendek. ―Ada orang busuk lagi menghina aku. lalu di sana muncul seorang yang tangannya menggoyang-goyang kipas. untuk menggertak kepada Tiauw Hong. tubuhnya menggigil sendirinya. Kongcu ini menjadi murka sekali. hingga semangatnya bangun dengan mendadak. sebab dia tahu si nona memakai lapis berduri. tidak banyak omong lagi. membuat ia mendapat harapan. ia masih kurang sebat. musuh bagaimana tangguh juga tidak dapat buat ia jeri. ia terus mendekam ke tanah seraya berkata: ―Teecu ketahui dosaku yang mesti dibunuh berlaksa kali.Pendekar Pemanah Rajawali menyembunyikan pedang mustika. sambungan tulang-tulangnya mengasih dengar suara meretek. Benar-benar Tiauw Hong jeri dan melepaskan Kwee Ceng. yang ia tahu ilmu silatnya lihay. tubuhnya pun dibawa berlompat berkelit.‖ ―Jasa baik apakah itu?‖ Bwee Tiauw Hong tanya. dalam suara seruling dan tambur ada si bintang tetamu‖.‖ Oey Yong terangkan. Ia keluarkan kepandaiannya yang istimewa. terus ia menunjuk ke luar jendela. lagi berdiri di hadapannya. begitu lekas Tiauw Hong dan si kongcu bertempur. dengan menerbitkan suara memberebet. Irawan D Soedradjat Page 247 . Itulah cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw. segera ia dapat akal. kapan ia lihat kau membantui aku. ia lompat maju. disusul sama serangan dua tangan. aku tidak kena kau jual!‖ orang itu berkata sambil tertawa.

mereka berlari-lari bersama barisan pengiring mereka. Maka setelah itu Tiauw Hong manjadi menang diatas angin. ―Hajar dulu ini dua orang!‖ ia kata pada Tiauw Hong. ―Dengan itu dimaksudkan telapakan dua tangan. tangan mereka sama-sama kesemutan. See Thong Thian dan Pheng Lian Houw menanti di pinggiran. untuk maju memburu. ―Bagaimana sih caranya menyakinkan ilmu dalam?‖ dia tanya Kwee Ceng selagi ia melayani musuh. 248 Berbareng dengan itu. Karenanya kedua tangan beradu satu sama lain. SeeThong Thian menyaksikan itu. Maka tidak tempo lagi. ―Dudk numprah. dia membutuhkan bantuanku!‖ Ia terus bekerja. dia hanya memanggulnya. untuk memburu. guna mundur sembari menangkis atau berkelit. maka kagetlah ia tempo bebokongnya kena dijambak. Ia pun lantas ingat bagaimana di dalam gua ia telah dipermainkan nyonya itu. lantas ia putar tubuhnya. ke situ pun datang See Thong Thian bersama Nio Cu Ong dan Pheng Lian Houw. hingga ketika ia menjambret Nio Cu Ong. Kwee Ceng lompat. sampai bajunya robek dan terlihat baju dalamnya.‖ Kwee ceng menjawab. Irawan D Soedradjat Page Tiauw Hong dapat tahu datangnya serangan gelap. untuk diangkat. Ia bertenaga besar. Chao Wang bersama putranya repotnya mencari orang yang menculik onghui. ia menjadi lemas sekujur tubuhnya. lima hati di hadapkan ke langit. Bwee Tiauw Hong merasakan repot melayani dua lawan yang tangguh. Oey Yong main berkelit terhadap pelbagai serangan Hauw Thong Hay. untuk menghalau lengan nyonya itu. atau senjata rahasia yang berupa uang dari Pheng Lian Houw. ia menjadi gemas sekali sambil berseru. Di luar dugaannya tangan si nyonya. ia turut perkataan orang itu. Nio Cu Ong lihat bagaimana Auwyang Kongcu terdesak. Dengan tangan kirinya Tiauw Hong tangkis serangan Auwyang Kongcu. hingga ia mesti melompat menyingkir. Pikirnya: ―Dia tidak dapat menggunai kedua kakinya. segera ia membungkuk memegang kedua pahanya Tiauw Hong. ia maju akan membantui si pemuda mengepung. ia jadi dapat berbegrak dengan leluasa. ―Aduh!‖ karena tepat ia terkena piauw itu. ia menangkis dengan melemparkan tubuhnya Hauw Thong Hay ke arah datangnya piauw itu. Hati mereka tapinya gentar menyaksikan kehilayan si nyonya. ―Apa itu ynag dinamakan lima hati?‖ Tiauw Hong menanya pula.Pendekar Pemanah Rajawali Segera setelah itu. dengan tangan kanannya ia jambak Nio Cu Ong. Tidak lama. ynag kiri ke arah bebokongnya Hauw Thong Hay. dari arah kiri terdengar suara angin menyambar. semabri berbuat demikian. ia kata kepada Kwee Ceng: ―Kau pondong aku. maka Thong Hay lantas saja berkoak. keduanya menjadi kaget. Dia tidak dapat melupakan ilmu itu. enteng tubuhnya. dia dapat mengcengkram pundaknya. Nyonya itu sudah lantas kasih bekerja kedua tangannya. Itulah serangan kim-chie-piauw. hingga tubuhnya segera diangkat. sedang di lain pihak lima jari tangan kanan si nyonya itu menyambar ke abtok kepalanya. tatkala ia melihat Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian maju membantu suteenya untuk menggerubungi Oey Yong. lalu dia bergerak kesana ke mari menuruti setiap petunjuk nyonya itu. ia membuatnya orang she hauw itu kewalahan. Ia berlompat. Tiba-tiba ia tarik sebelah tangannya dan menyambar bebokongnya Kwee Ceng seraya ia berseru: ―Kau podong kedua kakiku!‖ Kwee Ceng kaget. Ia bukan lagi pondong si nyonya. . dan tubuh Tiauw Hong tidak berat. Dia ini mengkeratkan diri.‖ Girang Tiauw Hong hingga ia menjadi bersemangat. ia menjadi kaget. ia tidak mengerti maksud orang. kagetnya bukan main. akan tetapi ia insyaf bahwa mereka bekerjasama menangkis musuh. bersiap untuk membantui. tanpa berdaya lagi. kau kejar si orang she Nioitu!‖ Baru sekarang Kwee Ceng mengerti maksud orang. tak dapat ia bergerak lagi. di dalam dan di laur istana. telapakan kedua kaki dan embun-embunan. pundaknya orang she Nio itu berlumuran darah. untuk berkelit.

‖ ―Tidak salah! Itu yang dinamakan ngo-kie-tiauw-goan – lima hawa dipusatkan kepada asalnya?‖ ―Itulah. akan menyentil balik setiap piauw. Dengan mencelat ke samping. budak cilik! Kau bilang kau bukannya murid Hek Hong. Bwee Tiauw Hong memasang kupingnya. menyerang kepada Auwyang Kongcu. lantas jari-jari tangannya dipakai menyentil. semua itu terjadi dalam sejenak. Itulah nio Cu Ong. hingga ia jatuh dengan wajar. Tiauw Hong menyambar ke rambutnya. api dari Lam Sin. api. darimana kau memancing begini banyak musuh lihay? Mana suhu?‖ Ia menanya demikian. semua piauw itu mental kembali.Pendekar Pemanah Rajawali See Thong Thian kaget. mengebalkan kuping. emas. ―Apakah itu yang disebut mengakurkan su-ciang?‖ ―Itu artinya menyimpan mata. kuping tidak mendengar tetapi pendengarannya ada di geginjal. emas dari See-pek. Sungguh tak ingin ia bertemu sama gurunya. nyata kau mendusta!‖ Irawan D Soedradjat Page 249 . dari itu. Kalau ia terbanting. ia serang Nio Cu Ong. menyusuli itu. Cu Ong menolong dirinya. Nio Cu Ong berseru. mata tidak melihat tetapi semangatnya ada di jantung.‖ Ngo-heng ialah kayu. yang ia tahu telengas. Maka kali ini Thong Hay bisa kerahkan tenaganya. Sudah belasan tahun ia menyakinkan Kiu Im Cie Keng. untuk menanggapi dengan menyambar pinggang si adik seperguruan itu. ia mementang kedua tangannya untuk menangkis. tetapi ia merasakan rambutnya ada yang tarik. sedang tangan kirinya tidak melepaskan rambutnya si Mayat Besi. air dan tanah. supaya ia bisa ajak Kwee Ceng kabur. ―Apakah itu yang dinamakan mengumpulkan ngo-heng?‖ Tiauw Hong menanya lagi. ia repot melayani musuh-musuhnya. ―Dia bakal segera datang!‖ Oey Yong menyahuti. sebenarnya ia berkhawatir. juga kepada Nio Cu Ong. Ia heran atas tidak datangnya bala bantuan. Tiauw Hong segera diserang dari tiga penjuru. menyusul mana. tidak pernah ia mengerti itu. Tiauw Hong merasakan ada serangan di kiri dan kanannya. pundak kirinya dan iga kanannya telah terkena hajar oleh Auwyang Kongcu dan See Thong Thian. pemuda ini mesti membantui orang. maka akhirnya ia teriaki Oey Yong: ―Eh. ia berlompat menerjang. salah satu dari Hek Hong Siang sat. air dari Pak Ceng. lidah tidak berbunyi tetapi pemikirannya ada di hati. dan tanah dari Tiong Ie. Sementara itu Pheng Lian Houw lantas mengetahui wanita itu adalah Bwee Tiauw Hong. belum lagi Kwee Ceng menjawab ia. Dengan begini ia telah memecah perhatiannya. oleh Auwyang Kongcu dan See Thong Thian. meluruskan napas dan menutup lidah. Maka ia menanya. Ia mengharap Tiauw Hong bisa melibat musuh-musuhnya. Ia kaget. siapa tahu. yang turut maju pula. apapula ia dapatkan tubuh sutee itu bakal jatuh ke tanah. maka itu.‖ Girang Tiauw Hong mendapatkan keterangan ini. atas mana Cu Ong menangkis dengan tangan kanannya. Nona ini segera menyerang punggungnya orang she Nio itu. apabila ia dapat kenyataan Oey Yong membnatui si Mayat Hidup. oleh piauwnya Pheng Lian Houw. Segera juga Tiauw Hong terdesak dibawah angin. Tiauw Hong melemparkan tubuh orang dan See Thong Thian menolongi sutee itu. dan hidung tidak mencium bau tetapi rohnya ada di peparu. ―Mereka ini bukannya tandinganmu! Umpama kata kau duduk di tanah. maka bagaikan sitebas. supaya Kwee Ceng dilepaskan. ―Itulah kayu dari Tong-hun. begitu pun Oey Yong. celakalah sutee itu. Untuk membebaskan dirinya. Tetapi Tiauw Hong tengah sulit sekali. dia menegur : ―Eh. sekalian dia hendak membangkol tangannya si nona itu. rambutnya itu kutung putus. Oey Yong pun menjadi cemas. Pheng Lian Houw dan See Thong Thian. yang menyambar rambutnya itu. mereka tidak nanti dapat mengganggu selembar rambutmu!‖ Ia ingin membangkitkan kejumawaannya si Mayat Besi. Ia bertubuh kuat akan tetapi toh hajaran itu membikin ia merasakan sangat sakit. Terpaksa ia melompat maju. ynag terus ia lemparkan.

Sebenarnya cambuk Tong-liong Gin-pian dari Bwee Tiauw Hong lihay sekali. Memang keenam orang itu adalah Kanglam Liok Koay. dalam takutnya. lalu terlihat berkelebatnya satu sinar putih terang. Ia tahu Kwee Ceng masih lemah. Pheng Lian Houw semua tahu. Dua muridnya terhajar binasa masing-masing oleh Lam Hie Jin dan Coan Kim Hoat. maka ia berteriak: ―Semua berhenti! Aku hendak bicara!‖ Pheng Lian Houw. Atas ini tahulah Tiauw Hong atas datangnya musuh-musuh. untuk menyerbu dengan bergulingan. dua diantaranya sudah lantas lompat turun. ―Suhu lekas tolongi teecu!‖ ia berteriak. hingga empat lawannya mesti menjauhkan diri. mengejak. membarengi mendamprat: ―Bangsat tukang petik bunga. Terang mereka berdua sama ilmu silatnya. muka mereka tidak terlihat nyata. mereka lantas mempergoki Auwyang Kongcu beserta sekalian muridnya merampas anak gadisnya suatu keluarga baik-baik. cuma sekarang ia menghadapi Auwyang Kongcu berempat…semua bukan sembarang orang. dia menjatuhkan diri. ia melihat ancaman bahaya untuk si Mayat Besi – artinya untuk ia sendiri berdua sama Kwee Ceng. terpaksa ia lepaskan si nona mangsanya itu dan lari kabur. ―Dia guruku?‖ dia membalik. siapa kena dicambuk. dengan apa ia menyambet ke empat penjuru. begitupun ketiga kawannya. ynag tubuhnya kate. Pheng Lian Houw berpikir: ―Ini perempuan buta mesti lebih dulu dibinasakan. yang menjadi kaget sekali. Diwaktu malam. untuk menyambut kakinya orang she See itu. ia pun bisa susah. ia menjadi girang sekali. kemana kau hendak lari?!‖ Kwee Ceng dengar suara orang. Tiauw Hong tidak tahu orang hendak membokong dia. Justru itu. Rupanya keenam orang di atas tembok itu tidak dapat manahan sabar. aku hendak ada bicara!‖ Suara itu datangnya dari arah tembok. Enam orang. Kenapa si nona menyangkal? Kenapa agaknya si nona tidak menghormati Tiauw Hong itu? Justru itu terdengarlah suaranya See Thong Thian: ―Memanah orang lebih dulu memanah kudanya!‖ Kata-kata itu ditujukan kepada Kwee Ceng. Dilain pihak. tidak mengambil mumat atas teriakan itu. dia masih belum mampu menjadi guruku!‖ Lian Houw heran. dengan tubuhnya si nyonya turun rendah. jikalau suaminya si Mayat Perunggu keburu datang. ada datang orang dari pihak ketiga. dia tetapi melayani ketiga musuhnya. Maka itu. tetapi Liok Koay telah berlatih bersungguh-sungguh di gurun pasir. Auwyang Kongcu membarengi menumbuk bebokongnya. ia lantas ulur tangan kirinya. Tiauw Hong mengasih dengar suara ―Hm!‖ Mendadak saja tangan kanannya terayun. dia mesti terbinasa. yang bisa membebaskan diri. mereka lantas serang Auwyang Kongcu. ia membungkuk. Cambuknya itu bergerak bagaikan naga beracun. hendak ia berteriak pula. ia menjerit. kemudian mereka menguntit delapan murid wanita dari Pek To San. Auwyang Kongcu membuat perlawanan. Oey Yong segera berpaling. Tapi malam ada gelap. Merek ini masing-masing bersenjatakan joan-pian dan pikulan besi. di dalam kalangan enam tombak. Ia lantas dapat akal. Orang yang mencekal joan-pian itu. sungguh sulit!‖ Ia memikir demikian karena ia tidak tahu Tan Hian Hong sudah terbinasa. karena cambuk orang merintangi majunya. atau tiba-tiba ia dengar lain orang mendahulukan padanya: ―Semua berhenti. sambil berseru. telah memperoleh banyak kemajuan. Merasa tidak ungkulan. Ia cuma bisa membikin mereka itu merenggangkan diri. yang tubuhnya tinggi kate tdak rata. dengan senjatanya itu. mereka berkelahi terus. Tiauw Hong kaget. Irawan D Soedradjat Page 250 . Mereka gusar. mereka membikin ia kewalahan.Pendekar Pemanah Rajawali Oey Yong tidak mau mengalah. ―Lagi seratus tahun ia belajar silat. Pheng Lian Houw penasaran. tertampak berdiri di atas tembok. Sejak di Utara mereka terpisah dari Kwee Ceng. merek atidak ambil peduli. Begitulah tubuhnya kena dihajar tongkatnya Kwa Tin Ok dan kakinya tertendang Cu Cong. yang ia lantas rabu kakinya. Adalah Kwee Ceng. mereka terus mengurung. cambuk emas. Nyata ia telah kasih keluar cambuknya. guna menjambret si orang she Pheng itu. Oey Yong tidak dapat membantu Tiauw Hong lagi. mereka lantas menyerang. kalau naka itu roboh. Oey Yong berkhawatir dan penasaran. muridnya mereka itu.

Cambuknya itu terlepas. mereka semua mundur. kenapa mereka itu bertempur?‖ Cu Cong berbisik kepada muridnya. ―Kali ini kau telah berjasa!‖ katanya. ―Kua sendiri. sedang Coan Kim Hoat maju untuk menolongi muridnya. ―Anak Ceng. jikalau aku mesti tambah musuh dalam dirinya Tujuh Manusia Aneh ini. entah yang satunya lagi bersembunyi di mana…?‖ Ia tidak tahu yang Siauw Bie To Thio A Seng telah terbinasa di tangan suaminya. Kemudian ia berteriak: ―Semua berhenti! Aku hendak bicara!‖ Teriakannya nyaring sekali. lebih dahulu ia menampa dengan tangannya.Pendekar Pemanah Rajawali Wat Lie Kiam Han Siauw Eng lantas menolong si nona. akan keluar dari gelangan. maka itu Lam Hie Jin dan Han Po Kie sudah lantas melakukan penyerangan. akan dengari gerak-geriknya Cit Koay itu. Begitulah mereka menguntit hingga di onghu. pasti aku bersyukur sangat kepada Langit dan Bumi. dia menolongi. habis itu ia duduk dengan hati-hati. Empat yang lainnya turut heran juga. agar sahabatnya itu melemparkan tubuh orang. cambuk perak yang bergemerlapan sudah lantas menyambar kepadanya. ―Celaka!‖ teriak Han Po Kie. Nio Cu Ong bersama See Thong Thian mendahulukan mundur. cambuknya.‖ jawab Kwee Ceng. apapula mereka itu lantas menyerang Auwyang Kongcu. ia heran: ―Dari Cit Koay cuma muncul yang enam. kalau bertempur satu lawan satu. ia sendiri segera lompat mundur. kau ingatlah baik-baik!‖ Berbareng dengan itu. Han Siauw Eng maju menyerang si Mayat Besi yang ia sangat benci itu. pastilah aku bakal binasa…. telapakan tangannya sakit. istananya Chao Wang itu. aku hampir tidak dapat bertahan. Inilah tidak sukar. Ia menyerang Kwee Ceng begitu lekas ia dapatkan tubuhnya dilemparkan. Merekanjuga lantas mengawasi. ―Aku minta kau memberitahukan nama kamu?!‖ Nio Cu Ong menegur Kanglam Liok Koay. menulikan telinga. kau lancang masuk ke dalam istana. Ketika ia jatuh ke tanah. Ia kaget. Tanpa ayal lagi ia menyerang dengan Kim-liong-pian. percaya yang orang adalah orang lihay. Sekarang ini aku lagi dikurung oleh musuh. Ia lantas mengambil keputusan: ―Nio Lao Koay beramai tak ada permusuhannya dengan aku. hingga mereka dapat lihat dengan tegas: Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi telah bersilat dengan cambuknya. Biauw Ciu Sie-seng heran. Rupanya bocah itu berada dibawah pengaruh orang. Ia mendongkol berbareng khawatir. Ia tahu orang muncul yang berenam. mereka pun memernahkan diri di jarak tujuh tombak dari wanita kosen itu yang cambuknya sangat lihay. ―Tengah malam buta. yang menyaksikan bahaya mengancam muridnya. Tapi mereka terus melakukan penyeledikan. Liok Koay bersama rombongannya Nio Cu Ong berdiam semua. hari ini mereka mengantarkan diri. ia melemparkan tubuh si nyonya sampai jauhnya setombak lebih. yang dengar teriakan hebat itu.‖ Ia lantas mengertak gigi. Mereka kaget akan dengar teriakannya Kwee Ceng. Maka kedua cambuk itu beradu keras. Ia pikir: ―Aku cari mereka ke mana-mana. maka ia pun teriaki saudara-saudaranya: ―Shatee dan citmoay. untuk simpangi perhatian si Mayat Besi. karena mereka ketahui. Hanya. Kemudian Auwyang Kongcu dikejar. Oey Yong sudha lantas menghampirkan murid ayahnya itu. Cambuk itu ada banyak gaetannya. Tiauw Hong pun sudah berhenti bersilat. Kwa Tin Ok. belum lagi ia menaruh kaki di tanah. Kwee Ceng mengerti. dengan mengerahkan tenaga. Tapi kepada Kwee Ceng ia memberi tanda dengan gerakan tangan. si Naga Emas. menyerang si Mayat Besi juga. mengapa kau bantui perempuan siluman itu?‖ ―Mereka hendak membunuh aku. Akhirnya ia berkata: ―Nah. yang ia gendong pulang ke rumahnya. maka hari ini baiklah aku terbinasa bersama-sama dengan Cit Koay saja!‖ Ia cekal keras cambuknya. ia memasang kuping. sebab rombongannya Auwyang Kongcu gampang dikenali dari dandanan mereka yang serba putih itu. kamu hendak berbuat apa?‖ Irawan D Soedradjat Page 251 . ia memberi keterangan atas pertanyaan orang tadi. Diwaktu gelap. Lian Houw lantas menggulingkan tubuh. pihaknya tidak sanggup. Karena ini tanpa bersangsi lagi. begitupun yang lainnya. Pheng Lian Houw semua heran atas datangnya enam orang itu. terlibat dan tertarik sama cambuknya Bwee Tiauw Hong. tetapi ia licin dan dapat meloloskan diri. ia hanya bernapas memburu. Ia ketahui datangnya Kanglam Liok Koay begitu lekas ia dengar suaranya Kwa Tin Ok. Liok Koay juga tidak mengejar dengan berpisahan. dia sepertinya duduk bersilat di pundaknya Kwee Ceng. Coba hari bukannya hari ini. gampang sekali untuk melihat pakaiannya rombongan Auwyang Kongcu itu. tahan dulu!‖ Dua saudara itu menurut.

Ia pun lantas membentak: ―Kamu usilan. . Han Siauw Eng satu nona yang manis. maka ia lantas mengambil keputusan: ―Baiklah aku binasakan dulu ini beberapa manusia jahat. SeeThong Thian dan Pheng Lian Houw benar lihay. Kali ini pihak Liok Koay yang menang di atas angin. untuk membantui saudara-saudaranya itu. bangsat buta. Ia lihay akan tetapi baru beberapa jurus. yang senjatanya yang luar biasa itu hendak dirampasnya. walaupun mereka dikepung. Pertempuran di antara Oey Yong dan Hauw Thong Hay juga berjalan dengan seru. hanya ia lompat kepada Lam Hie Jin. Han Po Kie kate dampak dan gemuk. babi!‖ Lian Houw murka dikatakan babi. lantas ia menyerang dengan hebat. yang romannya gagah. Karena ini. ia menangkis dengan ujung tongkatnya. untuk menyerang yang lain. See Thong Thian maju sambil mengawasi keenam Manusia Aneh itu. Begitu ia berkelahi. Sebenarnya Thong Hay lebih lihay terapi ia kalha gesit dan ia pun jeri untuk beju lapis si nona. mereka jadi bertempur dalam dua rombongan dengan masing-masing tiga lawan satu. heran. ia menyerang pula dengan jurusnya ―Arhat menunjuk pengaruh‖. Pheng Lian Houw tidak berdiam saja melihat kawannya dikerubuti. ―Sudah lama aku mengagumi nama kamu!‖ See Thong Thian tapinya berteriak: ―Bagus! Cit Koay telah datang sendiri! Aku orang she See hendak belajar kenal. Inilah ketikanya untuk turun tangan. biar bagaimana tidak nanti ia dapat kabur. Kwa Tin Ok mendengar suara angin di kanan. Ia bergerak dengan jurus ―Sekejap seribu lie‖ dari ilmu silatnya Sin To Soat-san-ciang.‖ ―Eh. berbareng dengan mana. yang lainnya membinasakan muridnya atau gundiknya tersayang. kepandaiannya sebenarnya bagaimana!‖ Thong Thian gusar karena ia ingat penghinaan yang diterima empat muridnya. hingga Hie Jin terkejut dan mesti berbalik akan melayani. hingga ia menempur Liok Koay dengan bergantian. Karena itu. tahulah ia bahwa ia bukannya tandingan musuh she See itu. Karena ini. ia menangkis serangan.‖ menyahut Tin Ok. ia serangn musuh ini hingga si musuh kaget dan mesti berkelit dengan lompatan jungkir balik ―Ular naga membalik tubuh. Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin. Han Siauw Eng lantas maju dengan pedangnya dan Coan Kim Hoat dengan dacinnya. dengan begitu. segera ia serang si Tukang Kayu dari gunung Lam San itu. yang ia terus serang. 252 Auwyang Kongcu menyingkir dari serangan itu. Auwyang Kongcu telah memasang mata. Karena ini Oey Yong yang dapat mendesak. ia lantas tinggalkan musuh ini. Ia dapatkan Kwa Tin Ok bercacat mata dan kakinya. maka kau rasailah lihaynya kongcumu!‖ Lalu tangannya kanannya meninju. ―Kami bersaudara bertujuh orang. Tapi Kim Hoat lihay. ―Ini toh barang yang diperantikan menimbang di pasar tetapi kau pakai untuk menyerang orang!‖ Coan Kim Hoat mendongkol dan menyahut: ―Dacin ini untuk menimbang kau. Lam Hie Jin menancap pikulannya. untuk melihat Cit Koay yang namanya demikian besar. Meyaksikan saudara keenamnya itu kewalahan. ia ketahui pihaknya keteter. Kanglam Cit Koay!‖ kata Pheng Lian Houw. ia lompat maju akan rintangi Coan Kim Hoat. sedang Cu Cong lemah lembut bukan seperti orang Rimba Persilatan. sebab serangan datang dalam rupa tangan kiri lawan. Coan Kim Hoat kurus kering. senjata apa senjata kau ini?‖ dia tanya. sesudah berkelit ke kiri dan ke kanan. dari itu tidak berani ia menghajar tubuh orang. Ia lantas lompat ke depannya Pheng Lian Houw. mereka masih menang diatas angin. tetapi ia kebogehan. Si wanita siluman. Auwyang Kongcu berdiam sambil bersiap. Han Po Kie berlompat maju. hingga ia membikin Kim Hoat terdesak. tetapi ia bukannya menyingkir untuk berlari. Ia lantas saja berkelit denagn mendak. hingga lawannya itu main mundur. Maka teranglah. Orang Kangouw menyebut kami Kanglam Cit Koay. Kwa Tin Ok dan Cu Cong lantas maju.Pendekar Pemanah Rajawali ―Aku she Kwa. gerakannya aneh. Ia bermusuh dengan Liok Koay dan Bwee Tiauw Hong.‖ ―Oh. Irawan D Soedradjat Page Melayani Hie Jin pun Auwyang Kongcu pun tidak mau mengulur tempo. Cambuknya kena dirampas Bwee Tiauw Hong tetapi ia punyakan kepalannya. dia boleh dibereskan belakangan…‖ Segera ia lompat ke sampingnya Kwa Tin Ok. yang satu merusak usahanya. tanpa bersuara. sambil berseru keras.

satu kali ia peluk wanita itu. ―Kau peluki aku! Jangan takuti Lao Kaoy!‖ ia menyahuti. baiklah aku habiskan dia dulu!‖ Maka dia terus menarik. yang jeri kepada cambuknya si wanita lihay itu. Suasana kembali terbalik. ia berdiri jauhnya tujuh atau delapan kaki dari Tiauw Hong. sekarang aku lukai budak ini. Dalam saat berbahaya itu. hingga ia dapat cekal tubuh si nona. Cu Ong menjambak ke arah perut. hingga ia memasuki kalangan smabaran cambuknya si wanita kosen. Dia pun berpikir: ―Cambukku banyak gaetannya. maka katanya dalam hatinya: ―Ah. nanti aku pasti mengganti bajumu ini…‖ Oey Yong lantas menggapai pada Kwee Ceng. Ia pun bukannya hendak menangkis. dalam beberapa jurus saja ia sudah terdesak. sudah tidak keburu lagi. beranikah kau melukai aku?!‖ Kaget Tiauw Hong mengenali suaranya Oey Yong. Atas itu Oey Yong lanats berseru: ―Bwee Jiak Hoak. ia waspada terhadap nyonya itu terutama terhadap cambuknya. ia lantas lompat kepada bocah itu sambil ulur tangannya. ia dapat meloloskan diri. Ia percaya tubuh si nona itu sudah tercengkeram pelbagai gaetan cambuknya. ia hanya lari berputaran dekat. setelah mana kembali ia menjambak. aku minta ganti!‖ Tiauw Hong melongo. maka tempo ia menginsyafi aksinya Auwyang Kongcu itu. kecuali ayahnya. Kwee Ceng tertolong dari bahaya tetapi sekarang Oey Yong yang kena kelibat cambuk itu. supaya ia bisa menghisap darah anak muda itu. Kwee Ceng bukan tandingan jago ini. sembari mengejar. ia dapat tahu nona itu tidak kesakitan. Dengan tiba-tiba ia ingat. Liok Koay yang mulai keteter pula. Ia terkejut ketika Kwee Ceng kena dijambret Nio Cu Ong. Ia memang ingin meminta beberapa keterangan pula kepada anak muda itu. hingga ia memandikan peluh dingin. hingga belasan bungkusan obatnya kena disambar musuh. ia tidak bakal lolos pula. Ia memakai lapisan joan-wie-kah. Nio Cu Ong memburu. maka juga mendadak saja ia geraki cambuknya. yang terus ditarik Bwee Tiauw Hong. ia masuki semua bungkusan itu ke dalam sakunya. Irawan D Soedradjat Page 253 . Kwee Ceng tahu. ia menjambret dengan kedua tangannya. Bwee Tiauw Hong sendiri memperhatikan suaranya Kwee Ceng. hanya ia berlompat ke atas cambuk di mana ia menggulingkan tubuhnya. ia dapat menolong. Dengan tangan kanannya. Ia mengkeratkan perutnya. Kwee Ceng membela diri. karena itu. Dari suaranya orang. tubuhnya tidak terluka. ia tidak berani menghampirkan. untuk merabu kakai si anak muda! Oey Yong melayani Hauw Thong Hay dengan selalu memperhatikan Kwee Ceng. untuk diletaki di tanah. Sekarang ia melihat kawannya terancam cambuknya Tiauw Hong. melainkan baju luarnya dan dalamnya pada robek. untuk membikin pecah perut orang. Nio Cu Ong sementara itu terus memasang matanya terhadap Kwee Ceng. di sekitarnya.Pendekar Pemanah Rajawali ia tengah mengganggu musuh-musuhnya itu. hingga terdengar suara robek dari bajunya. tentu saja baju lapis berduri dari suhu telah diberikan padanya!‖ Ia lantas menyahuti: ―Ya. Nio Cu Ong dapat mencium bau obat. malah lekas juga dadanya kena dicengkram. Dengan jenaka ia berkata: ―Kau merusaki pakaianku. gerak-geriknya. terus ia lari ke arah Bwee Tiauw Hong sambil berteriak: ―Tolongi aku!‖ Girang Tiauw Hong mendengar suara orang. hingga Pheng Lian Houw dan See Thong Thian jadi dapat bernapas. Justru itu Oey Yong tertawa geli. Sekarang ia tidak dihampirkan oleh Nio Cu Ong. bagaimana suhu dapat mengampunkan aku? Tapi sudah terlanjur. ia lompat ke arah cambuk! Ia tidak takuti cambuk itu. sukar dicari orag yang bisa mengalahkannya. Kwee Ceng berontak sekuat-kuatnya. Anak muda itu menghampirkan. maka dengan meninggalkan Thong Hay. encimu ini yang salah. untuk menolongi. meskipun ia tahu.

ia pergi dengan perasaan sangta tidak puas. ia menimpuk dengan senjata rahasianya. Tidak nanti kami berani melupakan budi suhu semua!‖ Pangeran ini datang secara kesusu. mereka meninggalkan musuh-musuh mereka. inilah hebat!‖ pikir Lian Houw semua. ―Ini . Kwee ceng lihat gurunya yang nomor tiga itu terancam bahaya. khawatir nanti benteng perlawanannya itu menjadi dobol. dengan kipasnya ia sampok paku itu. cara bagaimana aku tidak pergi membantu dia?‖ Karena ini. apa perlunya kami berdiam di dalam istana?‖ Mereka juga menduga: ―Pasti Liok Koay ini lagi menjalankan siasat memancing harimau turun dari gunung.‖ ―Hm!‖ Pheng Lian Houw mengasih dengar suara si hidung. ia berkelahi terus. Han Po Kie terluka pundaknya. kau pulangi obatku!‖ Dalam sengitnya. Ia pun mendahului lompat ke tembok. ia takut keluar dari kalangan. untuk melibat kami semua. maka lima saudaranya lantas menyusul. Ia berkelahi sambil menggertak gigi. Ia tidak jeri karena ia tahu orang kalah daripadanya. ia lantas membantui kawannya itu. ia lari menghampirkan. untuk dicium. ―Mari kita pulang!‖ mengajak Tin Ok selagi muridnya ragu-ragu. ayahku ada urusan penting untuk mana ia minta bantuan kamu! Lekas!‖ Orang itu mengenakan kopiah emas. Thong Hay ditinggalkan Oey Yong. untuk menolongi. yang numprah di tanah. Justru itu. terus dibawa ke hidungnya. tuan!‖ katanya sembari tertawa. ―Apa?‖ dia menanya seraya ia merandak. keluar dari gelanggang. dia berseru: ―Semua suhu. ―Kalau begitu. mereka keteter juga. ―Membuka mega untuk menolak rembulan. melupakan segala apa. kesudahannya obat tak didapatkan juga. Kwee Ceng teriakin dia: ―Eh. Cu Cong dapat lihat ujung baju orang penuh rumput dan debu. ―Ibuku telah dibawa buron penjahat. belakang dengan belakang. Ia ingat Kwee Ceng darah siapa ia belum sempat hisap. sesudah jatuh ia pungut. Cu Cong lompat maju. denagn begitu mereka dapat melayani See Thong Thian. lantas ia memutar tubuh untuk membalas menyerang. ―Dengan begitu saja kita pulang…‖ katanya menyesal. Ia berkelit. ia tidak dapat melihat Bwee Tiauw Hong. Nio Cu Ong berlari paling belakang. malampun gelap.‖ Wanyen Kang beritahu dengan perlahan. sekarang dia ada punya urusan penting. Pheng Lian Houw semua menjadi bingung. mereka lantas lompat mundur. aku kembalikan pada kau. Irawan D Soedradjat Page 254 . dengan tangan kirinya ia angsurkan paku itu.Pendekar Pemanah Rajawali Kanglam Liok Koay sekarang berkelahi dengan mengumpulkan diri. Cu Ong pun ulur tangannya untuk menyambuti. Meski begini. ―Siapa kesudian kau mengambil hatiku?!‖ Cu Ong membentak. Kwee Ceng menjadi masgul sekali. mereka lari mengikuti Wanyen Kang. paku beracun Cu-ngo Touw-kut-teng! Inilah paku yang asal menemui darah lantas menutup tenggorakan orang hingga orang mati seketika!‖ Nio Cu Ong tercengang mengetahui orang kenal pakunya itu. Hauw Thong Hay dan Auwyang Kongcu berempat. si pangeran muda. Untuk menggunai kekerasan. yaitu paku Cu-ngo Touw-kut-teng. Justru itu terlihat muncul dari gombolan pohon bunga. Dengan begitu. harapannya tidak ada. Cu Cong lari menghampirkan. Masing-masing mereka lantas berpikir: ―Ongya adalah yang mengundang kami semua. Pheng Lian Houw. kopiahnya miring. Ialah siauw-ongya Wanyen Kang. ―Oh. kawannya pergi menculik onghui!‖ Karena ini tanpa sangsi lagi. sebab Pheng Lian Houw yang lihay sudah cecar padanya. ―Ayah minta semua suhu membantu mencari. ―Onghui telah orang bawa lari. dilain pihak. Inilah cara berkelahi yang Liok Koay baru pahamkan dan melatih selama mereka berdiam di gurun pasir. ia gunai tangan bajunya untuk menyapu itu. sambil berlari-lari mendatangi. toako?‖ Han Siauw Eng tanya sambil ia menunjuk Tiauw Hong. terus ia putar tubuhnya untuk berlalu. ―Bagaimana dia. mereka tidak usah repot-repot menjagai punggung mereka. tubuhnya pun diputar. terus ia serang bebokongnya Pheng Lian Houw dengan jurusnya. Satu malaman ia menumpuh bahaya.

Pauw Sek Yok tersadar. malah ia dapat menolongi juga. Tiat Sim girang hingga ia mengucurkan air mata. Ia telah keliru menyakinkannya ilmu silat dala. siapa ini?‖ ia lantas tanya. ia naik ke ujung lainnya. Ia heran hingga ia menyangka ia sedang bermimpi. ―Tentu sekali ayah berada di pulau Thoa Hoa To! Tidak pernah ayah meninggalkan rumah! Ada apa kau menanyakannya?‖ Tiauw Hong menjadi sangat gusar. mengapa aku bisa jalan?‖ tanyanya pada diri sendiri. untuk lari menghilang. ―Perlahan!‖ Tiat Sim mengasih ingat. kedua kakinya lemas dan kaku. ―Adik kecil. Ketik aitu fajar sudah menyingsing. maka itu mereka berlalu dengan terus. habis ia menanya. Ia heran ketika ia lihat ayahnya kembali dengan memondong seorang wanita.‖ sahut kakak tertua itu. ―Ayahku?‖ balik tanya Oey Yong masih tertawa. apakah aku juga sudah mati?‖ ia tanya. akibatnya kedua kakinya mati. anak Ceng. ―Mari lekas kita menyingkir!‖ Liam Cu kaget dan heran. Ia tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa. ―Kita tidak kurang suatu apa…. ―Inlah ibumu!‖ sahut ayah itu. dari itu ia pondong erat-erat istrinya itu ketika ia lari keluar dengan melompati tembok istana. hingga napasnya memburu. lekas ia lompat turun ke lain sebelah. ialah suami yang ia buat pikiran siang dan malam. Gampang sekali kalau Liok Koay hendak merampas jiwa orang akan tetapi untuk menepati janji kepada Ma Giok. Di bawah tembok. Ia tidak sabaran dan cemas juga. Kwee Ceng menjawab guru ini dengan tuturkan semua pengalamannya. ia lupa segalanya. ―Ibuku?‖ ia menegasi. mana kau mau lepaskan dia?‖ Dengan ―dia‖ ia maksudkan Kwee Ceng. ia lihat orang yang memondongnya. mendadak ia roboh pula. Ia berhenti dengna tiba-tiba sebab kupingnya segera dengar suara berisik berupa teriakan-teriakan dan melihat cahaya terang dari banyak obor. dengan kedua tangannya ia menekan tanah. Tapi kali ini. Bisa Lawan Bisa Yo Tiat Sim girang bukan main dapat menemukan istrinya. Tiauw Hong murka bukan kepalang. Ia ulur tangannya. Ia percaya suaminya itu sudah meninggal dunia. mereka tidak mau turun tangan. Oey Yong terkejut. Ketika ia pun lompat ke tembok. Ia pun pingsan. ―Kalau begitu. lalu dengan tindakan terhuyung-huyung. ia menubruk kepada si nona. mari kita tolongi Ong Totiang!‖ Cu Cong mengajak. di antara cahaya pagi remangremang. kenapa kau berada disini?‖ kemudian Han Siauw Eng menanya. ia kata pula: ―Kau toh yang membilangnya kalau suhu datang ke mari!‖ Oey Yong tertawa pula. mana suhu?‖ Tiauw Hong tanya nona itu. Oey Yong tertawa haha-hihi. Justru ia sadar. biar kita mengasih ampun padanya. lantas saja ia bangkit berdiri. Ia dengar nyata: ―Jangan kasih lolos penjahat yang menculik onghui!‖ Irawan D Soedradjat Page 255 . dan makin ia memaksakan diri. sampai ia berikhtiar untuk menolongi Ong Cie It. Mereka ajak Kwee Ceng bersama. Kira-kira serintasan. ―Tanpa aku dustakan kau. Bab 23. ia tidak memberi hormat kepada Liok Koay. Liam Cu menantikan ayahnya dengan pikiran tegang.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kita telah memberikan janji kepada Ma Totiang. ―Eh. ―Eh. makin pendek napasnya. ―Ayah.‖ sahutnya halus. Tiba-tiba Tiauw Hong sadar. akan meraba muka suaminya. ―Toako. ―Sebentar kita bicara.‖ Ia sudah lantas lari. Setelah berhenti sejenak. Satu barisan serdadu sedang lari mendatangi.

Dari itu ia paksa melepaskan rangkulan istrinyaitu yang ia serahkan kepada anak gadisnya. Yo Tiat Sim tercengang. lalu terlihat debu mengepul baik dan mengulak. tatkala selagi kita minum arak kita menumpas musuh?‖ . kau peluklah ibumu…!‖ Sejenak itu terbayanglah di matanya Pauw Sek Yok pengalamannya delapan belas tahun yang lampau. Dalam kegirangan sangat. hari ini kembali aku bertemu denganmu!‖ Imam itu memang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee serta saudara seperguruannya. ―Kau terluka?‖ ia tanya. dibelakangnya tergendol sebatang pedang. ―Semoga totiang tidak kurang suatu apa. ―Aku yang rendah ialah Yo Tiat Sim. baru sekarang ia ingat tadi ia telah dismabar sepuluh jari tangannya Wanyen Kang. hingga ia mengawasi saja. mereka ketakutan. tidak mau ia melepaskannya. cuma rambutnya yang berubah. ―Jadinya tuan…. Opsir yang memimpin pasukan itu bernama Thung Couw Tek. di luar dugaan. Di dalam hatinya ia kata: Thian mengasihani aku hingga hari ini aku dapat bertemu sama istriku kembali. Tanpa pemimpinnya. justru itu. Hampir itu wkatu kembali terdengar suara sangat berisik. ia ajak istri dan anaknya lari terus. hatinya tegang sekali.Pendekar Pemanah Rajawali Tiat Sim menjadi kecil hatinya. Dalam dua tiga gebark saja. peristiwa dahulu bakal terulang pula. Ia angkat kepalany.!‖ menegaskan imam itu. hingga tangannya itu mengeluarkan darah. ia bagaikan harimau tumbuh sayap. Ia menjadi kaget sekali. Lega juga hatinya Tiat Sim yang mengathui pasukan itu tidak dipimpin oleh opsir yang kosen. ―Sudahlah. wajahnya sangat berwales asih. baru saja ia bertemu kembali dengan suaminya. daripada terhina ia rela terbinasa dalam pertempuran. ia lupa pada sakitnya. Sekarang ia pun merasakan kedua lengannya sakit dan sukar digeraki. Menampak tentara pengejar datang semakin dekat. pada peristiwa di dusun Gu-kee-cun di kota Lim-an. Tiat Sim hendak menjadwab istrinya tetapi ia daptakan tentara itu sudah semakin mendekat. dilain jurusan ia melihat datangnya dua imam yang satu berkumis dan rambutnya ubanan. Maka ia rangkul leher suaminya. akan bertemu di kota raja. tak usah dibalut…. Mereka hendak menempati janji dengan Giok Yang Cu Ong Cie It. Karena itu ia tidak lantas mengenal waktu ia dipanggil dan melihat Tiat Sim. ia telah dapat merampas sebatang tobak. Di tanya begitu. ia pun menyesal yang ia tidak sempat merampas kuda musuh. karena repot melarikan diri. Ia menginsyafi bahaya. tak usah aku menyesal…!‖ Lantas ia kata pada anaknya: ―Liam Cu. Pauw Sek Yok lantas balut tangan suaminya itu. atas mana tentaranya lantas kabur serabutan. ia berkata: ―Apakah totiang masih ingat peristiwa delapan belas tahun yang lampau di dusun Gu-kee-cun di Lim-an. Melihat mereka itu. Ia melihat kesekelilingnya. Pauw Sek Yok dapatkan suaminya berdarah di sana sini.‖ Irawan D Soedradjat Page 256 Tiat Sim bisa menduga orang lupa padanya. Sek Yok heran. sikapnya gagah.!‖ kata Tiat Sim sambil menyeringai. maka sekalipun telah bertambah delapan belas tahun umurnya. lantas ia sadar. Tidak ayal lagi.‖ Tiat Sim berkata cepat. Senjata ini membangunkan semangatnya. di sini mereka bertemu dengan Yo Tiat Sim suami-istri. di dalam gelap petang mereka dikejar tentara. Itulah tandanya satu pasukan besar lagi mendatangi. ia tidak rasai itu.‖ Liam Cu tidak menangis. ia berduka dan terhina saking terpaksa. ia berseru menyapa salha satu imam itu: ―Khu Totiang. tapi ia menajadi tenang. ―Biarlah kita bertiga mati bersama!‖ katanya gagah. Setelah terang tanah. Khu Cie Kee telah sempurna Iweekangnya. Tan Yang Cu Ma Giok. dia kena ditusuk pahanya hingga ia terjungkal dari kudanya. anakku. ia tidak dapatkan tempat untuk menyembunyikan diri. Ia lantas menoleh kepada gadisnya dan kata: Anak. Yo Tiat Sim menjadi nekat. Ia lantas lari memapaki tentara pengejarnya. di kampung halamannya itu. berdua mereka datang dengan terburu-buru. yang lain kumisnya abu-abu. ia mengawasi nona itu. wajahnya tetapi seperti dahulu hari itu. guna membicarakan urusan pibu dengan pihak Kanglam Liok Koay. atau sekarang. ―Dia…dia mengapa adalah anak kita?‖ dia tanya. kalau sekarang akan terbinasa. Ia dipondong oleh suaminya dan dibawa lari sekuat-kuatnya. Delapanbelas tahun lamanya mereka telah berpisah. tiba-tiba saja Tiat Sim merasakan sakit pada belakang telapakan tangannya. kau menyingkirlah seorang diri! Ibumu dan aku akan berdiam disini….

hari ini kembali aku mesti membuka pantangan membunuh!‖ katanya. adalah Kwie-bun Liong Ong – demikian si lanang itu – merasakan tangannya sakit. Dengan hanya mementang kedua tangannya. dari belakang ia dengar ini pertanyaan yang nyaring sekali: ―Kau ada totiang mana dari Coan Cin Kauw?‖ Ia lantas berlompat. Setelah hampir duapuluh tahun. kepada saudara seperguruannya. Ia pun berseru: ―Khu Totiang. habis itu keduanya mundur sendirinya masing-masing tiga tindak.Pendekar Pemanah Rajawali Habis berkata. tolongilah aku!‖ Imam itu bisa mengerti keadaan orang. lantas ia meraba pada pinggangnya di mana ia selipkan genggamannya yang berupa pengayuh besi yang berat. Lantas ia tertawa. setelah berkelit. orang she Yo itu lantas menjatuhkan diri berlutut di depan orang suci itu. Yo Laotee!‖ katanya. Maka lagi dua serdadu roboh pingsan. kau telah melupakan aku tetapi kau tentu tidak dapat melupakan ini ilmu tombak dari keluarga Yo!‖ Tiang Cun Cu terkejut tetapi ia mundur. maka lagi-lagi ada delapan serdadu yang terguling. hingga ia ingin tanya she dan namanya lawan ini. Kejadian ini membikin kaget serdadu-serdadu yang lainnya. disebabkan penderitaannya. maka sekali ia maju menyerang. hanya lantas ia kata: ―Totiang. hanya melihat orang demikian lincah. maka sekarang ia ingat ebtul peristiwa delapanbelas tahun dulu ketika ia mencoba ilmu silat orang. Ia tangkis seragan itu. Ia menoleh ke arah tentara pengajar. lantas ia maju ke arah tentara itu. Orang she See ini insyaf. menghajar pundak si imam dengan jurusnya ―Souw Cin menggendol pedang‖. Di lain pihak hatinya tegang melihat tentara pengejar telah mendatangi semakin dekat. yang terus ia serang. tetapi ia tetap ragu-ragu. untuk merampas senjata lawan. yang kepalanya licin mengkilap. Khu Cie Kee tetap bertangan kosong. Tiang Cun Cu heran juga atas kegagahan orang. Orang she Yo ini bisa mengerti kesangsiannya si imam. hingga ia melihat empat orang berdiri berendeng. Tiang Cun Cu tidak menghiraukan itu. Sebaliknya. dia bergerak dengan gesit sekali. Luar biasa sebatnya imam ini. yang sudah lantas sampai. dengan tangan kosong ia tidak bisa berbuat apa-apa. ia lantas menarik roboh dua serdadu berkuda itu. Kali ini Khu Tiang Cun tidak berani bergerak sembarangan. di antara mereka muncul seorang yang tubuhnya besar dan kekar. ia hendak menguji tangan orang. untuk menoleh. Dia membentak: ―Darimana datangnya si bulu campur aduk ini!‖ Lantas tubuhnya mencelat ke depan Tiang Cun Cu. dengan sabar ia melayani. ―Aku harap kau tidak gusari aku!‖ Ma Giok mengerti. Kata-kata ―bulu campur aduk‖ itu adalah hinaan untuk suatu imam. mereka lantas putar kuda mereka. dengan cara itu ia robohkan lagi delapan serdadu. Belum lagi semua serdadu kabur. Tiat Sim berubah roman dan suaranya juga. tubuh siapa terus ia timpuki ke serdadu yang lainnya yang lagi mendatangi. Hanya. Irawan D Soedradjat Page 257 . ia menjawab: ―Kurangilah pembunuhan! Gertak saja meraka itu!‖ Khu Cie Kee tertawa nyaring dan lama. Ia bersedia melayani musuh yang bersenjata itu. Ia tidak sahuti imam itu. untuk lari balik. Tetapi See Thong Thian telah punyakan latihan beberapa puluh tahun. Adalah masksudnya. ―Suheng.!‖ Tiat Sim tarik pulang tombaknya. malah mendapatkan dia menghalang-halangi. ia membalas menyerang. Kedua tangan beradu dengan keras dan bersuara nyaring. Khu Cie Kee heran hingga ia kata di dalam hatinya: ―Kenapa di sini ada orang begini lihay?‖ Selagi si imam ini terheran-heran. Tiang Cun Cu lekas membalas hormat. mereka itu terus menerjang dengan begis. Mendadak saja ia geraki tombaknya dan menikam imam itu dengan tipu tombaknya. Ia lantas mengenali ilmu tombaknya Keluarga Yo itu. Ia menjadi girang bercampur terharu dapat bertemu sama kenalan lama ini. delapan-delapannya ia timpuki bergantian kepada kawan mereka. ―Oh. belum sampai ia membuka mulutnya. ―Kau masih hidup…. tak gampang senjatanya itu dapat dirampas. tangannya menyampok kepala orang hingga di kepalanya See Thong Thian bertapak lima jari berwarna merah. hingga ia kaget berabreng mendongkol. dengan itu ia menyerang pula. sesudah belasan jurus.

Jadi dengan sekali bergerak. yang hendak dirampas. suaranya halus. Nio Cu Ong menyusul untuk mengepung. ―Pinto berasal dari keluarga Ma. Pinto mohon tanya nama mulia dari tuan-tuan. ialah seoarng imam berusia lanjut. ia menotok dengan kipasnya di tangan kanan. hati mereka berkata: ―Pantaslah dia bernama besar. ia meneruskan menikam jalna darah ciang-bun-hiat di iganya Hauw Thong Hay. tetapi di dalam hatinya.Pendekar Pemanah Rajawali Itulah Nio Cu Ong bersama Pheng Lian Houw. yang terus menggeroyok saudaranya. Dengan tangan kiri hanya mengancam. ―Tuan-tuan siap?‖ tanya Ma Giok. ―Kita tidak kenal satu dengan lain. maka itu lantas ia menotok kepada kedua jalan darah kin-jie dan pek-hay-hiat. ia cuma berpikir. ia pun lantas menggunai ketika untuk mengeroyok. Pheng Lian Houw dan See Thong Thian lantas menyerang. tetapi ia berkelit dari serangan orang.‖ menolak Ma Giok. baiklah ia sekalian dibunuh saja! Ini adalah ketika yang paling baik untuk mengangkat nama kita!‖ Karena berpikir begini. akan terus mengawasi orang suci ini. Itulah Ma Giok yang membantu saudaranya. Orang she Nio ini terperanjat untuk kesebatannya si imam. Di situ cuma tertampak Yo Tiat Sim sekeluarga bertiga jiwa. Hampir saja Hauw Thong Hay terkena pedang. baiklah kita berlima mengepung mereka itu untuk membinasakannya. Auwyang Kongcu lihat berkelebatnya satu bayangan. Ia lantas menduga kepada anggota Coan Cin Kauw yang tertua. ubanan rambut dan kumisnya. ia berpikir: ―Kita telah bentrok dengan pihak Coan Cin Kauw. sebutan Cinjin itu tidak berani pinto terima. sedangkan ia tidak mengerti. Khu Cie Kee lantas mengangguk kepada mereka itu seraya memberikan penyahutannya: ―Pinto she Khu. tetapi pada itu ada nada yang mengandung pengaruh.‖ Ma Giok menyahut. mengarah tiga jalan darah hongbwee. ada salah paham apakah di antara kita? Aku minta sukalah tuan-tuan menjelaskannya. suaranya tetap keras. kiranya Tan Yang Cinjin Ma Totiang!‖ berkata Pheng Lian Houw. Auwyang Kongcu pun menyerang secara membokong itu. Imam ini heran mendapatkan munculnya begitu banyak orang pandai. sekarang kita bertemu sama Khu Cie Kee. Ia tahu lawan lihay. Auwyang Kongcu dan Hauw Thong Hay yang telah lantas dapat menyusul See Thong Thian. Ia pun lompat ke belakang. Ia menerjang sambil berlompat.?‖ Ia lantas melihat ke sekitarnya. itu artinya ganjalan dengan Coan Cin Kauw. tetap sabar. sekarang dua anggota utama dari mereka berada disini. Ketika ia telah menarik pulang pedangnya itu. ceng-cok dan pwee-sim di punggung si imam. kempolannya kena didupak si imam. Auwyang Kongcu melihat bagaimana si imam ini dilibat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw dan bagaimana Nio Cu Ong merangsak dari kirinya. di belakang hari pastilah sukar untuk menyelesaikan masalah ini. Khu Cie Kee tidak heran yang orang sudah lantas menerjang kepadanya. Hanya. imam ini telah melayani tiga lawan. Kelihatannya Khu Cie Kee sudah sangat terdesak. syukur ia keburu berkelit. ketiga jalan darahnya itu bakal menjadi sasaran kipas yang istimewa itu. sebaliknya. la lantas berseru: ―Mari maju berbareng!‖ Ia pun lantas mengeluarkan sepasang poan-koan-pitnya. Perkara di belakangada soal lain. maka itu Pheng Lian Houw berempat saling mengawasi. ―Apaha she totiang yang mulia?‖ Auwyang Kongcu bertanya.‖ Imam ini berbicara dengan sabar sekali. tetapi ia kena disusuli. ―Si kate ini galak sekali! Dia pun agaknya lihay!‖ Ia lantas menghunus pedangnya. tidak keras dan mengagetkan seperti suaranya Pheng lian Houw. hingga dengan sendirinya orang-orang yang lagi bertempur itu pada lompat mundur. sambil menarik pulang kipasnya. lalu kipasnya dia ini kena ditahan. ―Oh. ia memandang bayangan itu. dia memang gagah. Maka ia lantas berkata: ―Nama Coan Irawan D Soedradjat Page 258 . Pheng Lian Houw mencoba bersikap halus. atau mendadak satu bayangan berkelebat si samping si kongcu. dengan apa ia terus terjang imam itu.‖ Nama Tiang Cun Cu kesohor sekali di Selatan dan Utara. maka terpaksa ia lompat maju untuk menghalangi. maaf!‖ ―Pengetahuan pinto tentang agamaku masih terlalu sedikit. Inilah cara berkelahi yang langka.‖ Pheng Lian Houw sendiri berpikir lebih jauh: ―Kita sudah melukakan Ong Cie It. apakah di sini masih ada lain-lain saudaranya…. ―Maaf. ia menikam ke pinggangnya See Thong Thian.

Nama itu berarti Tiga Kucing Hitam. Orang toh lihay…. di sini kebetulan kita bertemu sama tuan-tuan. ―Kami bertujuh sudara tinggal di beberapa propinsi. yang untuk beberapa puluh tahun tidak pernah berkelahi. justru kami hendak menjenguk dia. siapa terluka hingga di dagingnya. ―Nama kami kosong belaka. cuma untuk ditertawakan tuan-tuan. Orang cuma berdua dan mereka belum sempat menemui Ong Cie It. Khu Cie Kee kenal baik kakak seperguruannya ini. mereka pikirkan siapa Sam Hek Miauw ini. ialah ilmu pukulan paling lihay dari kaumnya. ia berkata: ―Totiang berdua tidak mencela kami. yang ia sambar ujungnya. Ia tidak tahu. Irawan D Soedradjat Page 259 . ia pun mengulurkan tangannya. yang sangat sabar. untuk menyerang pula. tetapi ia terus menyerang pula dengan dua-dua tangannya. untuk membuat Ma Giok memikirkan.‖ Itulah kata-kata pancingan. baiklah!‖ Ia tersenyum. waktu ia mengerahkan tenaga dan menarik. Pheng Lian Houw sempat mencabut poan-koan-pitnya. untuk menerjang. baru saja kami mendapat tahu alamatnya. dengan itu ia menangkis. si licik sudah lompat mundur. tangan kirinya Tiang Cun Cu lihay seperti tangan kanannya ang memegang pedang. Aku she Sam dan namaku Hek Miauw. ia gunai jarum jahatnya itu.Pendekar Pemanah Rajawali Cin Kauw sangat kesohor. buat menyambuti. karena ia merasakan tangan kanannya kesemutan. ―Kau hendak uji tenagaku. Maka boleh ia mengeroyok. Ketika Ma Giok insyaf ia telah dicurangi dan hendak ia menyerang. ia berpikir. hingga hatinya menjadi gentar. Sama sekali mereka belum pernah mendengarnya. Saking kaget. jarum yang telah dipakaikan racun yang keras seklai. See Thong Thia dan Nio Cu Ong maju memegat Ma Giok. Ma Giok melihat telapakan tangannya. ialah poan-koan-pitnya itu terputus menjadi dua potong! ―Bagus!‖ Khu Cie Kee memuji. beruntun dua tikaman. Pheng Lian Houw girang sekali. Ilmu silat di kolong langit ini banyak perbedaannya tetapi asal mulanya adalah satu. untuk berjabat tangan. Tapi ia masih tertawa. senjatanya tidak terlepas. ada sukar untuk kami datang berkumpul. Ia sengaja memakai nama Sam Hek Miauw.‖ katanya seraya mengangsurkan tangannya. dalam tempo enam jam dia bakal terbinasa. ia lawan keras dengan keras. yang berlompat maju. maka itu bagaimana pula jikalau kita mengikat persahabatan?‖ Imam ini jujur. Kali ini kami datang ke Tiong-touw untuk mencari Ong Sutee. Khu Cie Kee heran melihat saudaranya berjabat tangan tapi sudah lantas menyerang. Pheng Lian Houw selipkan senjatanya di pinggangnya. kami sangat mengaguminya. sedang Auwyang Kongcu dan Hauw Thian Hay segera membantui Pheng Lian Houw. berbareng ia menarik keluar senjata rahasianya. yang tipis seperti benang tetapi disitu ada lima batang jarumnya. dia telah melukai aku dengan racun!‖ menyahut Ma Giok. Tiba-tiba ia merasakan lima jari tangannya sakit. ia lantas menarik pulang tangannya itu. Mana lagi lima saudara totiang? Silahkan minta mereka itu sudi me