Pendekar Pemanah Rajawali

"Pendekar Pemanah Rajawali"
~ Sia Tiauw Eng Hiong ~ Oleh : JIN YONG Pengantar Di luar gunung ada lagi gunung hijau, di luar lauwteng ada pula lauwteng lainnya, Nyanyian-nyanyian dan tari-tarian di Telaga Barat, hingga kapankah itu akan berhenti? Penghidupan mewah di Selatan telah membuat mabuk kepada pelancong-pelancong tetamu, Hingga kota Hangciu dianggapnya sebagai kota Pianciu! Syair di atas adalah lukisan dari peristiwa pada delapan ratus tahun yang lampau. Ketika itu kerajaan Song telah menjadi sedemikian lemahnya hingga kedua kaisar Hwie Cong dan Kim Cong sudah kena ditawan bangsa Kim (Kin), karena mana itu pangeran Kong Ong lalu menyeberang ke Selatan, menerima tahta kerajaan di kota Liman, menjadi Kaisar Kho Cong. Dalam waktu sesulit itu, selagi musuh mengancam di tapal batas, setelah separuh dari negara berada di dalam tangan musuh itu, sudah selayaknya satu kaisar bangkit bangun untuk membuat perlawanan, akan tetapi tidak demikian dengan Kaisar kho cong ini. Dia justru jeri terhadap bangsa Kim itu yang dipandangnya sebagai harimau saja, berbareng dengan itu dia pun khawatir kalau kedua Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong nanti kembali dari tawanan hingga dia tak dapat terus bercokol di atas singasana naga. Maka dengan itu menurut perkataannya dorna Cin Kwee4, dia titahkan membunuh Jenderal Gak Hui, pendekar yang menentang musuh Kim itu, sesudah mana itu dengan merendahkan martabat sendiri ia mengajukan permohonan damai dengan bangsa Kim. Inilah pengharapan bangsa Kim yang disaat itu tengah gelisah sebab telah berulangkali mereka memperoleh labrakan dari Jenderal Gak Hui, hingga semangatnya terpukul hebat, sementara di wilayah Utara mereka terancam pemberontakan tentera rakyat sukarela. Begitu di dalam bulan pertama tahun kerajaan Ciauw-hin ke12 (1138 masehi) perdamaian telah ditandatangani dengan syarat tapal batas kedua negara Song dan Kim adalah aliran tengah dari sungai Hoay-sui. Perdamaian itu namanya saja perdamaian, kenyataannya adalah penaklukan dari Kaisar Kho Cong itu (yang bernama Tio Kouw adalah putra ke-9 dari Kaisar Hwie Cong). Sebab di dalam suratnya, Kho Cong menyatakan dan mengaku sudah terima budi kebaikan dari raja Kim, karena mana turun temurun ia akan menjadi ―menteri yang setia‖ serta berjanji setiap hari lahirnya, ―Kaisar‖ demikian ia menyebut raja Kim itu – begitu juga setiap tahun, ia akan kirim utusan guna memberi selamat sambil menghanturkan upeti uang perak duapuluh lima laksa tail dan cita duapuluh lima laksa balok. Demikian macam martabatnya seorang Kaisar, ia sungguh memalukan, maka ketika tentera dan rakyat negeri mengetahui hal itu, semuanya menjadi murka dan berbareng berduka. Lebih bersedih adalah rakyat di wilayah utara sungai Hoay-sui itu, karena mereka menjadi tidak mempunyai harapan lagi akan bangunnya negara. Dipihak lain, Kho Cong menganggap itu adalah jasa besar dari dorna Cin Kwee, maka juga dorna yang sudah tinggi pangkatnya, yaitu Siaupo Copoksia merangkap Kie-bit-su gelar Pangeran Louw-kokong, dinaiki pula menjadi Taysu, hingga kedudukannya telah mencapai puncaknya kebesaran suatu menteri! Semenjak itu bangsa Kim menduduki separuh dari wilayah Tiongkok. Walaupun demikian pemerintahan di Hangciu malah bertambah buruk, raja dan menteri-menterinya, setiap hari berpelesiran saja, berpesta pora, tidak memikirkan lagi kepentingan negara, sedang beberapa menteri atau perwira yang setia, umumnya kalah pengaruh dan tidak berdaya, hingga mereka pada menutup mata karena mereras. Demikan syair di atas, gambaran dari kaisar yang lemah dan buruk tapi pecandu pelisir! ------------------------------1) Telaga Barat – See Ouw (Si Hu) 2) Piancu – Kaifeng (Kayhong), ibukota propinsi Honan. Bekas kotaraja. 3) Lim-an – Hangciu (Hangchow), ibukota Chekiang, inilah yang dimaksud dengan Selatan (Kanglam) 4) Dorna Cin Kwee – Di Hangciu telah dibuat patungnya sebagai tanda peringatan dari khianatnya terhadap negara dan ada satu waktu yang patungnya itu telah diperhina dengan ludah maupun kotoran manusia. Bab 1. Pertempuran di Tanah Bersalju

Irawan D Soedradjat

Page

Beberapa tahun telah berselang, Kaisar Kho Cong itu digantikan oleh Kaisar Hauw Cong. Kaisar Hauw Cong digantikan Kaisar Kong Cong, lalu Kaisar Leng Cong. Pada tahun Keng-goan ke-5 dari Kaisar ini, selagi musim

1

Pendekar Pemanah Rajawali

dingin, telah turun hujan salju lebat selama dua hari berturut-turut, hingga Hangciu, ibukota Kerajaan Song itu seperti bermandikan air perak, bercahaya berkilau, indah dipandang. Dan diwaktu begitu, Kaisar dan menterimenterinya dengan duduk mengelilingi perapian, bersenang-senang menenggak air kata-kata...... *** Di luar kota Hangciu, di sebelah timurnya, di dusun Gu-kee-cun, dua orang gagah pun tengah minum arak putih sambil duduk berhadapan, oleh karena mereka adalah bagaikan saudara sejati. Dari mereka itu, yang satu bernama Kwee Siauw Thian, yang lainnya Yo Tiat Sim, kedua-duanya adalah turunan orang-orang kenamaan. Siauw Thian itu adalah turunan dari Say-Jin-Kui Kwee Seng, itu adalah salah satu jago dari seratus delapan orang kosen dari gunung Liang San yang kesohor dengan ilmu silat tombaknya, hanya setelah tiba pada dia ini, tombak yang panjang itu diganti dengan sepasang tombak pendek dan bergaetan (siangkek). Sementara Yo Tiat Sim itu adalah turunan dari Panglima Yo Cay Hin, salah seorang bawahan Jenderal Gak Hui dan ilmu tombaknya adalah warisan leluhurnya. Mulanya kedua orang ini bertemu dalam pengembaraan, setelah merasa cocok, maka mereka mengangkat saudara, kemudian bersama-sama mereka pindah dan tinggal di dusun ini. Kebiasaan mereka adalah duduk berkumpul, pasang omong dan menyakinkan ilmu silat. Demikian juga pada hari itu, selagi salju turun, mereka duduk minum arak dan berbicara dengan asyiknya, tempo mereka omong hal nasibnya negera, keduanya menjadi berduka dan berdongkol, tiba-tiba saja Tiat Sim mengeprak meja dengan kerasnya. Justru saat itu ada seorang keluar dari ruang dalam, apabila gorden tersingkap, terlihatlah seorang wanita yang cantik sekali, tangannya memegang nenampan di atas mana ada terdapat masakan daging sapi serta ayam. ―Hai, urusan apa lagi yang membuat kamu berdua saudara marah?‖ tanya wanita itu sambil tertawa. ―Kami tengah membicarakan urusan yang gila-gila dari negara!‖ sahut Siauw Thian. ―Enso, mari kau pun minum satu cawan!‖ Wanita itu adalah Pauw-sie, istri dari Yo Tiat Sim. Di Lam-an ini, dia adalah merupakan wanita tercantik dan halus budi pekertinya, hingga ia tepat dengan romannya. Siapa yang melihat dia, pasti kagumlah hatinya. Dengan Tiat Sim, belum lama ia menikah, tetapi dia itu orangnya luwes dan dapat dengan gampang bergaul dengan kaum pria-dalam halnya dengan Siauw Thian, iparnya itu. Begitulah, setelah ia meletakkan barang makanan-nya, ia mengambil cawan dan mengisinya, sesudah itu mengambil kursi dan meminum araknya itu. ―Kemarin selagi aku berada di dalam warung teh di Tong Lam di ujung jembatan Cong An Kio, aku mendengar orang membicarakan halnya Han To Cu si perdana menteri keparat itu!‖ Tiat Sim menyahuti pertanyaan istrinya tadi. ―Rapi pembicaraan itu, hingga aku percaya itu bukanlah omong kosong belaka. Orang itu bilang, pembesar siapa juga, jikalau dia hendak mengajukan laporan, apabila di ujung sampulnya tidak disertai keterangan dia menghadiahkan sesuatu, pasti perdana keparat itu tidak akan memeriksanya!‖ Siauw Thian menghela napas. ―Ada rajanya, ada menterinya‖ katanya masgul. ―Ada menterinya, ada pembesarpembesar bawahannya.Lihat saja Tio Tayjin, residen dari kota Lim-an kita ini. Hari itu Han To Cu pesiar di luar kota dengan diiringi banyak pembesar. Kebetulan aku lagi mencari kayu di dekat situ. Tentu saja aku tidak ambil mumat padanya itu. Lalu aku mendengar dia menghela napas dan berkata seorang diri: ‗Di sini rumahrumah berpagar bambu dan beratap, sungguh suatu desa yang indah menarik hati, hanya sayang sekali, disini tidak terdengar suara ayam berkokok dan anjing menggonggong…‘ Belum lagi dia menutup mulutnya lalu terdengar gongongan anjing dari dalam semak-semak!‖ Pauw-sie bertepuk tangan sambil tertawa. ―Sungguh anjing yang tahu diri!‖ katanya. ―Memang anjing yang sangat tahu diri!‖ sahut Siauw Thian. ―Setelah menggonggong, dia muncul dari semaksemak itu! Enso tahu, anjing apakah itu? Dialah Tio Tayjin, residen kita!‖ Pauw-sie menjadi tertawa terpingkal-pingkal. Tiat Sim dan Siauw Thian pun tertawa. Mereka minum terus hingga terlihat salju turun makin lebat. ―Nanti aku undang enso minum bersama,!‖ kata Pauw-sie kemudian. ―Tidak usah,‖ Siauw Thian mencegah. ―Selama beberapa hari ini, dia merasa kurang sehat….‖

Irawan D Soedradjat

Page

Pauw-sie terkejut, ―Ah, mengapa aku tidak tahu!‖ katanya. ―Nanti aku tengok!‖

2

Pendekar Pemanah Rajawali

Siauw Thian tidak bilang apa-apa lagi, dia malah tersenyum. Menampak hal itu, legalah hati Tiat Sim. Itu artinya nyonya Kwee tidak berat sakitnya. Tak lama, nyonya Yo kembali sambil tersenyum-senyum. Ia isikan satu cawan, lalu mengansurkan cawan itu kepada suaminya. ―Lekas minum sampai habis!‖ katanya. ―Inilah tanda hormat kepada Toako!‖ ―Eh, apakah artinya ini?‖ tanya Tiat Sim tidak mengerti. ―Minum, lekas minum!‖ desak Pauw-sie. ―Habis minum nanti baru aku beri keterangan!‖ katanya kemudian. Tiat Sim lalu meminum kering cawan itu. ―Nah, Toako, kau biacaralah sendiri!‖ kata Pauw-sie sambil tertawa kepada Siauw Thian. Orang she Kwee itu tersenyum dan berkata, ―Selama sebulan ini dia senantiasa mengeluh pinggangnya pegal dan sakit. Baru kemarin dia pergi ke Thio Ie-seng di dalam kota, kata tabib itu dia sudah mengandung selama tiga bulan….‖ Tiat Sim menjadi girang sekali. ―Kiong hie, Toako!‖ katanya sambil memberi selamat. Lalu ketiganya meneguk arak mereka, masing-masing tiga cawan. Tentu saja dengan meminum sebanyaknya itu, sedikitnya arak itu telah mempengaruhi mereka. Pada saat itu di arah timur kelihatan satu tosu atau imam sedang mendatangi. Dia memakai tudung bambu dan tubuhnya di tutupi dengan baju rumput, yang seluruhnya penuh dengan salju. Ia bertindak dengan tegap dan cepat. Segera tertampak di punggungnya ada tergantung sebatang pedang, yang roncenya kuning dan memain di antara tiupan angin yang keras. ―Adik, imam ini pasti mengerti ilmu silat,‖ Siauw Thian bilang. ―Entah dari mana dia datang. Coba kita dapat berkenalan dengannya. Sayang kita belum tahu namanya………..‖ ―Benar,‖ sahut Tiat Sim. ―Baik kita undang dia minum untuk ikat persahabatan……‖ Keduanya segera berbangkit dan pergi keluar. Ketika itu karena cepat jalannya, si imam sudah lewat beberapa puluh tombak. Siauw Thian dan Tiat Sim saling melihat dengan herannya. ―Totiang, tunggu sebentar!‖ Tiat Sim segera memanggil. Cepat sekali si imam memutar tubuh dan mengangguk. ―Salju turun dengan lebatnya dan hawa pun sangat dingin,‖ kata Tiat Sim pula, ―Sudilah Totiang mampir untuk minum beberapa cawan guna melawan hawa dingin.‖ Iman itu menyahuti dengan tertawa dingin, lalu ia bertindak menghampir – cepat sekali tindakannya. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua sangat terperanjat dan heran guna menyaksikan muka orang yang berwajah sangat dingin sekali. ―Kamu pandai bergaul, eh!‖ katanya tawar Tiat Sim masih muda dan dia tidak senang dengan sikap orang. ―Dengan baik hati aku mengundang kau minum, kenapa kau begini tidak tahu aturan?‖ pikirnya. Maka ia menjadi diam saja. Siauw Thian sebaliknya lantas memberi hormat. ―Totiang, harap anda tidak marah dengan sikap saudaraku ini. ―Kami sedang minum arak, melihat Totiang melawan salju, dia besarkan nyali untuk mengundang Totiang minum bersama….‖ Imam itu memutar matanya. ―Baik,baik!‖ katanya. ―Minum arak ya minum arak!‖ Dan dengan tindakan lebar ia menuju ke dalam.

Irawan D Soedradjat

Page

3

Pendekar Pemanah Rajawali

Tiat Sim merasa dongkol, ia ulurkan tangannya hendak mencekal tangan kiri si imam untuk ditarik ke samping. ―Aku belum belajar kenal dengan Totiang!‖ katanya. Tapi tiba-tiba ia merasa kaget. Ia merasai tangan orang sangat licin. Ketika ia berniat menarik pulang tangannya, tahu-tahu tangan itu bagaikan terjepit dengan keras, rasanya sakit dan panas. Ia kerahkan tenaganya untuk melawan. Justru dengan berbuat demikian ia merasakan tangannya hilang tenaga dan sakit sekali, rasa sakitnya sampai ke ulu hati. Siauw Thian tampak wajah saudaranya merah dan pucat, ia tahu saudaranya ini tentu telah ―ketemu batunya‖. Ia mengerti gelagat yang kurang baik itu dan sangsi turun tangan untuk membantu. ―Totiang, mari silakan duduk di sini!‖ ia mengundang. Dua kali si imam kasih dengar tertawanya yang dingin itu, baru ia lepaskan cekalannya atas tangan Tiat Sim. Hal ini membuat orang she Yo itu mendongkol dan heran, ia terus masuk ke dalam, akan diberitahukannya istrinya tentang imam itu. ―Dia sangat aneh, pergi temani dulu,‖ kata Pauw-sie. ―Jangan turun tangan, perlahan-lahan saja kita cari tahu tentang dirinya…‖ Tiat Sim menuruti perkataan istrinya itu. Pauw-sie segera menyiapkan arak dan barang hidangan dan menyuruh Tiat Sim membawa keluar. ―Tunggu sebentar!‖ memanggil sang istri. Tiat Sim pun memutar kembali. Pauw-sie menurunkan sebuah pisau belati yang tajam mengkilap, yang tergantung pada tembok, ia memasukkan belati itu ke dalam saku suaminya. Tiat Sim pun kemudian keluar membawa barang hidangan itu dan mengaturnya di meja. Ia menuangkan tiga cawan, terus ia mengundang tamunya untuk minum. Ia juga meneguk satu cawan, habis minum ia berdiam saja. Imam itu memandang keluar jendela dan mengawasi salju. Ia tidak meminum araknya dan ia pun tidak membuka mulutnya melainkan hanya tertawa dingin saja. Siauw Thian menduga si imam tentu curigai araknya, ia mengambil cawan arak di hadapan imam itu, terus ia cegluk di hadapan imam itu. Ia menyambuti, terus diminumnya. ―Arakmu telah dingin Totiang, nanti aku tukar dengan yang baru,‖ katanya. Dan ia mengisikan pula. Si imam dapat mencium bau harum dari arak itu, ia menyambuti dan terus diminumnya. ―Walaupun arak ini di campuri dengan obat pulas, tidak nanti aku kena diracuni!‖ katanya. Tiat Sim menjadi hilang sabar. ―Kita undang kau minum dengan maksud baik, mustahil kami hendak mencelakai kau!‖ tegurnya. ―Totiang, kau omong tidak karuan, silakan lekas keluar! Arak kita tidak bakalan menjadi rusak dan sayur kita tak nanti tak ada yang memakannya!‖ ―Hm!‖ bersuara si imam itu. Tak lebih. Ia jemput poci arak dan menuang arak itu sendiri, lalu ia tenggak habis tiga cawan. Habis itu dia buka baju luarnya dan letaki tudungnya. Sekarang baru Tiat Sim dan Siauw Thian dapat melihat dengan tegas wajah orang. Mereka menduga si imam baru berumur tiga puluh tahun lebih, sepasang alisnya panjang lancip, kulit mukanya merah segar, mukanya lebar dan kupingnya besar. Ia bukan sembarang imam. Ketika ia kasih turun kantung di punggungnya, ia terus lempar barang itu ke atas meja hingga terbitlah suatu suara yang keras, hingga kedua tuan rumah itu menjadi kaget sekali. Sebab yang menerbitkan suara nyaring itu yang menggelinding keluar dari dalam kantung itu adalah kepala manusia yang masih berlumuran darah, hingga tak nampak jelas raut mukanya. Tiat Sim meraba pisau belati dalam kantungnya. Si imam menukik pula kantungnya, kali ini dikeluarkannya dua potong daging yang penuh darah juga, karena itu adalah hati dan jantung manusia. ―Jahanam!‖ teriak Tiat Sim yang sudah tak tahan sabar lagi, sedang tangannya melayang ke dada si imam.

Irawan D Soedradjat

Page

4

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kebetulan, aku memang menghendaki barang ini!‖ seru si imam sambil tertawa. Ia tidak menghiraukan tikaman itu, hanya ketika si orang she Yo itu datang mendekat, ia menggempur dengan tangan kirinya, hingga seketika juga Tiat Sim merasa bahunya tergetar, lalu tiba-tiba saja pisau belatinya kena dirampas orang! Siauw Thian kaget bukan kepalang. Ia tahu lihaynya adik angkatnya itu, yang cuma kalah sedikit dengannya. Tidak disangka, demikian gampang imam ini merampas senjata orang. Itulah ilmu silat ―Khong-ciu toat pek-jin‖ atau ―Tangan kosong merampas senjata tajam‖ yang lihay, yang baru pernah ia saksikan. Meskipun ia kaget, ia toh segera bersiap dengan memegang bangku, guna membela diri umpama kata si imam terus menyerang. Akan tetapi dugaannya ini salah adanya. Imam itu tidak menyerang siapa juga, ia hanya lantas gunai pisau itu untuk memotong-motong hati dan jantung manusia itu, lalu dengan tangan kiri mencekal poci arak, dengan tangan kanan ia jumputi potongan daging satu demi satu, untuk dimasukkan ke dalam mulutnya, buat dikuyah dan ditelan, saban-saban dia selang itu dengan tenggakan arak pada pocinya. Cepat daharnya, sebentar lagi habis sudah makanan yang rupanya sangat lezat itu! Siauw Thian dan Tiat Sim berdua saling mengawasi dengan tercengang. Sungguh aneh imam ini. Akan tetapi itu masih belum semua. Habis dahar, imam itu berdongak, lalu ia bersiul nyaring sekali, umpama kata genting sampai bergetar, kemudian tangan kanannya menyerang ke meja, hingga piring dan cawan berlompat! Yang hebat adalah sasaran serangan itu, ialah kepala manusia itu, yang remuk seketika! Sedang ujung meja turut sempal sedikit…….. Selagi dua saudara angkat itu berdiam, wajah si imam yang tadinya bermuram durja dan bengis, tiba-tiba berubah menjadi penuh dengan air mata, dengan air mata bercucuran ia lalu menangis dengan meraung-raung! ―Kiranya dia seorang yang edan…!‖ bisik Siauw Thian kepada adik angkatnya, yang ujung bajunya ia tarik. ―Dia lihay sekali, jangan kita ladeni dia….‖ Tiat Sim mengangguk, ia awasi imam itu. Sekarang tidak lagi ia gusur, sebaliknya ia merasa kasihan. Sedih tangisnya si imam ini, ilmu silat siapa sebaliknya ia kagumi. Maka kemudian ia lari ke dalam untuk mengambil semangkok kuwah yang masih panas. ―Totiang, mari minum kuwah ini!‖ katanya. Ia letaki mangkok itu di atas meja. Si imam bukan menerima kuwah iru, ia sebaliknya menggebrak meja hingga mangkok itu terbang berikut mejanya. Ia pun berseru :‖Kawanan tikus, hari ini toyamu membuka pantangan membunuh!‖ Menampak itu, meluaplah amarah Tiat Sim, maka ia melompat ke ujung ruang untuk menyambar tombaknya, lalu ia terus lari keluar, ke depan pintu dimana salju terhampar luas. ―Mari, mari!‖ ia menantang. ―Mari belajar kenal dengan tombak keluarga Yo!‖ Imam itu tersenyum. ―Tikus, pantaskah kau menggunai ilmu silat tombak keluarga Yo?‖ tanyanya. Ia bersuara sambil tubuhnya melompat keluar. Melihat keadaan mengancam itu, Siauw Thian lari untuk mengambil sepasang gaetannya, dengan lekas ia berbalik kembali. Imam berdiri tanpa menghunus pedangnya, Cuma sang angin menyampok-nyampok ujung bajunya. ―Hunus pedangmu!‖ seru Tiat Sim. ―Ah, dua tikus, kamu berdua majulah berbareng!‖ sahut si imam. ―Toya kamu akan layani kamu dengan tangan kosong!‖ Takabur bukan main orang pertapaan ini, hingga Tiat Sim tidak berayal sejenak juga untuk segera menikam dengan tombaknya yang beronce merah itu. Ia gunai tipu silatnya ―Tok liong cut tong‖ atau ―Naga berbisa keluar dari gua‖ ―Bagus!‖ seru si imam kagm menampak serangan itu yang menuju ke dadanya. Ia berkelit ke samping, tangan kirinya bergerak, untuk sambar kepala tombak itu. Lihay ilmu silat tombak keluarga Yo itu – Yo-kee Chio-hoat. Ketika Yo Cay Hin bersama tigaratus serdadunya – tentara kerajaan Song menghadapi empat laksa serdadu Kim, seorang diri ia telah membinasakan dua ribu lebih serdadu musuh berikut banyak perwiranya, sebelum akhirnya ia roboh karena terkena banyak panah, waktu ia binasa dan bangsa Kim membakar tubuhnya, dari dalam tubuhnya itu kedapatan banyak ujung panah,
Irawan D Soedradjat

Page

5

Pendekar Pemanah Rajawali

sebab selagi ia terpanah, gagang panah ia patahkan. Karena ini bangsa Kim menjadi jeri dan mengaguminya. Tiat Sim tidak segagah leluhurnya itu tetapi ilmu silatnya cukup sempurna, begitulah ia mencoba mendesak si imam tidak di kenal itu yang senantiasa lolos dari tikaman, tempo habis sudah dijalankan semua tujuh puluh dua jurus ilmu tombak itu, dia tidak kurang sesuatu apa. Baru sekarang si anak muda menjadi gentar, terpaksa ia seret tombaknya untuk keluar dari kalangan. Imam itu mengejar apabila ia dapatkan lawannya itu lari. Sekonyong-konyong Tiat Sim berseru keras, tubuhnya berputar balik, berbareng dengan itu, dengan kedua tangannya memegangi gagang tombak, ia menikam dengan hebat sekali. Itulah tipu silat ―Cwie-pek po-kian‖ atau ―menggempur tembok‖. Dengan tipu itu, musuh dibikin tidak menyangka dan menjadi kaget. Dengan tipu ini juga dulu Yo Cay Hin membikin rubuh Gak Hoan, adiknya Gak Hui. ―Bagus!‖ seru si imam buat kedua kalinya. Ia tidak menjadi gugup, justru ketika ujung tombak sampai, ia menyambutnya dengan kedua telapak tangan dirangkap, ditempel menjadi satu dengan keras, hingga ujung tombak itu kena terjepit. Tiat Sim kaget bukan kepalang. Ia mendorong dengan keras, tombaknya itu tak dapat maju melewati telapak tangan lawan. Ketika ia menarik dengan sekuat tenaga, betotannya pun sia-sia belaka, tombaknya tak terlepas dari cekalan lawannya itu, kuda-kuda si imam juga nancap bagaikan terpaku. Tiga kali ia mencoba menarik tanpa hasil, mukanya menjadi merah. Tiba-tiba saja si imam tertawa, lalu jepitan tangannya terlepas. Tapi ia tidak Cuma melepas, tempo tombak tertarik pulang, ia membacok dengan tangan kanannya kepada tombak, hingga dengan bersuara nyaring, tombak besi itu patah menjadi dua potong! Imam itu segera tertawa pula, lalu ia berkata. Kali ini dengan suara manis. ―Tuan, benar lihay ilmu silat tombakmu!‖ katanya. ―Maaf untuk perbuatanku ini! Mohon ku tanya she tuan‖ ―Aku yang rendah she Yo bernama Tiat Sim,‖ sahut Tiat Sim, selagi ia belum dapat tenangkan diri. Ia kesakitan pada kedua tangannya, ia pun heran sekali. ―Pernah apakah Tuan dengan Ciangkun Yo Cay Hin?‖ tanya si imam. ―Ia adalah leluhur saya,‖ jawab Tiat Sim pula. Mandadak si imam itu menjura kepada saudara angkat itu, sikapnya hormat sekali. ―Maaf, barusan aku menyangka Tuan-tuan adalah orang jahat,‖ ia berkata dengan pengakuannya. ―Aku tidak sangka Tuan-tuan adalah turunan orang-orang setia. Boleh kutanya she Tuan?‖ ia lanjuti kepada Siauw Thian. Dengan cara hormat Siauw Thian perkenalkan dirinya. ―Tuan ini kakak angkatku, dia adalah keturunan dari Say Jin Kui Kwee Seng dari gunung Liang San,‖ Tiat Sim menambahkan. ―Bagus!‖ berkata si imam, ia pun minta maaf pada pemuda she Kwee itu. Kembali ia menjura. Tiat Sim berdua membalas hormatnya. ―Silahkan Totiang minum arak pula,‖ ia mengundang pula kemudian. ―Memang kuingin minum dengan puas bersama jiwi!‖ kata si imam denagn tertawa. Tiat Sim dan Siauw Thian undang orang masuk pula ke dalam. Pauw-sie menyaksikan pertempuran dari muka pintu, girang ia mengetahui kesudahannya orang menjadi sahabat, ia terus lari ke dalam, untuk menyiapkan pula arak dan barang hidangan. Kali ini Tiat Sim dan Siauw Thian tanya gelaran si imam.

Siauw Thian terperanjat mendengar nama itu. ―Oh, apa bukannya Tiang Cun Cinjin?‖ ia menyela.
Irawan D Soedradjat

Page

6

―Pinto she Khu bernama Cie Kee,‖ sahut imam itu.

Pendekar Pemanah Rajawali

―Itulah nama pemberian rekan-rekanku, pinto malu menerimanya,‖ kata Cie Kee sambil tertawa. Siauw Thian segera berkata kepada adik angkatnya: ―Adik, totiang ini adalah orang gagah nomor satu di ini jaman! Sungguh beruntung kita dapat berjumpa dengannya!‖ ―Oh!‖ Tiat Sim berseru kaget. Lalu berdua, mereka berlutut di depan imam itu. Khu Cie Kee tertawa, ia memimpin bangun orang. ―Hari ini pinto telah membunuh seorang jahat, karenanya para pembesar negeri sedang mencari aku,‖ ia berkata. ―Barusan pinto lewat di sini, pinto lihat kamu berdua lagi minum arak. Di sini adalah kota raja dan kamu kelihatannya bukan sembarang orang, dari itu pinto menjadi curiga sendiri….‖ ―Keliru adalah saudaraku ini, yang tabiatnya keras,‖ Siauw Thian bilang. ―Totiang lihat sendiri, dia suruh lantas turun tangan, pantas kalau Totiang jadi curiga karenanya.‖ Siauw Thian dan Tiat Sim tertawa. Begitulah mereka lalu minum dan dahar dengan gembiranya. ―Sebenarnya pinto adalah orang utara,‖ kemudian Tian Cun Cinjin berkata pula. ―Rumah tanggaku hancur lebur karena kejahatan bangsa Kim, sedang pemerintah selalu mencari muka daripadanya, dari itu pinto telah sucikan diri.‖ Ia terus tuding kepala manusia yang remuk dan yang tergeletak di lantai itu. ―Dia itu adalah Ong To Kian, si pengkhianat besar. Pada tahun yang lalu kaisar mengutus dia kepada raja Kim, buat memberi selamat ulang tahun raja itu. Ketika itu digunai ia untuk bersekongkol, supaya bangsa Kim bisa menyerbu ke Kanglam. Pinto susul dia selama sepuluh hari, baru ia dapat dicandak, lalu pinto membunuhnya. Pikiranku sedang kacau maka juga tadi pinto berlaku tidak selayaknya.‖ Siauw Thian dan Tiat Sim membilang tidak apa. Mereka memang kagumi imam ini yang kesohor lihay ilmu silatnya. Sekarang ternyata orangpun menyinta negara, mereka lebih-lebih lagi menghormatinya. Lalu mereka mohon pengajaran silat. Khu Cie Kee tidak keberatan, lalu ia memberi beberapa petunjuk. ―Totiang, sunggguh beruntung kami dapat bertemu dengan Totiang,‖ kemudian Tiat Sim utarakan isi hatinya, ―Maka itu sudilah Totiang berdiam untuk beberapa hari di gubuk kami ini.‖ Imam itu hendak menjawab tuan rumah itu, ketika mendadak air mukanya berubah. ―Ada orang datang mencari aku,‖ ia bilang, ―Ingat, tidak peduli bagaimana denganku, sebentar kamu tidak boleh munculkan diri! Mengerti?!‖ Siauw Thian dan Tiat Sim heran akan tetapi mereka lantas mengangguk. Cie Kee lantas sambar kepalanya Ong To Kian, dengan cepat ia bertindak keluar, lalu gesit bagaikan burung terbang ia loncat naik ke atas sebuah pohon besar di dalam pekarangan, di situ ia umpatkan dirinya. Siauw Thian berdua heran bukan buatan. Kecuali deruan angin, mereka tidak dengar suara lainnya, mereka pun tidak nampak apa-apa. Baharu kemudian, sesudah memasang kuping dan angin pun lewat, mereka dengar tindakan kaki kuda. ―Sungguh jeli kuping cinjin!‖ puji Tiat Sim Suara kuda itu datang semakin mendekat, dan kemudian tampaklah belasan penunggang kuda, setiap penunggangnya mengenakan pakaian hitam dan kopiah hitam. Mereka itu menghampiri pintu, setelah tiba, orang yang pertama pecahkan kesunyian: ―Sampai di sini bekas-bekas kakinya, lalu lenyap!‖ Beberapa orang lompat turun dari kudanya, mereka periksa tapak kakinya Khu Cie Kee. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua sembunyi di dalam rumah, dari mana mereka mengintai di antara sela-sela jendela. Mereka dapat kenyataan orang semuanya gesit, suatu tanda dia orang mengerti ilmu silat dengan baik. ―Masuki rumah itu dan geledah!‖ terdengar memerintah orang yang maju di muka itu. Dua orang segera lompat turun dari kuda mereka, untuk itu lantas hampiri rumahnya Tiat Sim untuk menggedornya. Justru itu dari atas pohon menyambar sebuah benda, yang jitu sekali mengenai batok kepalanya satu di antara dua orang itu, hingga dia ini rubuh dengan kepalanya pecah hancur. Hingga kawannya menjadi kaget dan berteriak, hingga yang lain-lainnya turut berteriak pula, lebih-lebih setelah diketahui, benda yang
Irawan D Soedradjat

Page

7

Pendekar Pemanah Rajawali

dipakai menimpuk itu adalah kepalanya ―Ong Tayjin‖. Dengan lantas itu mereka mengurung pohon dari mana serangan itu datang. Orang yang menjadi pemimpin menghunus goloknya yang panjang, untuk memegang pimpinan, atas perintahnya lima orang menggunai panah untuk menyerang ke arah atas pohon! Yo Tiat Sim sambar sebatang golok dari pojok rumahnya, hendak dia menerjang keluar untuk membantu si imam, akan tetapi Siauw Thian menariknya. ―Jangan!‖ katanya. ―Totiang telah pesan kita jangan keluar! Kalau ternyata dia tidak sanggup melawan, baru kita turun tangan…….‖ Selagi orang she Kwee ini berbicara, Khu Cie Kee sudah beraksi. Dia sambut empat batang anak panah itu lalu ia pakai itu untuk menimpuk ke bawah, tubuhnya sendiri turut lompat turun, hingga akibatnya dua musuh menjerit dan rubuh binasa kena tikaman pedang. ―Imam bangsat, kiranya kau!‖ berseru si pemimpin, yang bajunya hitam. Dia perdengarkan suaranya seraya tangkis anak panah yang ditimpukkan ke arahnya, kemudian ia keprak kudanya maju untuk menyerang untuk mana tiga batang panah di tangannya telah mendahului majunya itu. Belum Cie Kee menyerang ini pemimpin, dia telah rubuhkan lagi dua musuh, hingga sebentar saja ia telah minta lima korban. Tiat Sim kagum hingga ia tergugu. Dia telah belajar silat belasan tahun, tetapi sedikit juga ia tidak dapat tandingi imam itu, yang gesit dan lihay sekali. Maka ia merasa ngeri waktu ia ingat tadi ia telah berani lawan imam yang lihay itu. Sekarang Cie Kee tengah layani si pemimpin, yang bengis sekali, meski demikian selang sesaat, Siauw Thian dan Tiat Sim segera mengerti bahwa sang imam tengah mempermainkan orang, sebab di lain pihak, saban-saban imam ini gunai ketika akan rubuhkan lain orang – ialah orang-orang yang mengepungnya. Terang si imam lagi gunai siasat, guna menumpas semua penyerangnya itu. Kalau dia lekas-lekas rubuhkan si pemimpin, mungkin bawahannya nanti lari kabur semua. Selang tak lama, imam itu dikepung hanya tujuh orang, yang ilmu silatnya paling baik. Menampak ini, si pemimpin menjadi kecil hatinya, dari itu, dengan tiba-tiba ia keprak kudanya, buat dikasih berbalik untuk lari pergi. Sang imam ada sangat jeli matanya dan cepat gerakannya, selagi kuda berputar, ia menyambar dengan tangan kirinya, akan cekal ekornya kuda itu, untuk ditarik. Sembari menarik ia enjot tubuhnya, untuk melompat naik, tetapi belum lagi ia bercokol di atas kuda itu, pedangnya sudah menikam tembus punggung si pemimpin, tembus dari belakang ke depan, hingga tubuh orang itu rubuh ke depan. Demikian dengan menunggang kuda, sekarang si imam ini bisa serang lain-lain musuhnya. Ia tidak membutuhkan banyak waktu untuk membikin setiap kuda tanpa penumpangnya, sebaliknya mayat-mayat bergelimpangan di tanah bersalju itu, yang menjadi merah karena berlumuran darah mereka itu…. Seorang diri si imam tertawa. ―Puas aku dengan pertempuran ini!‖ katanya kepada Siauw Thian dan Tiat Sim, yang telah lantas muncul. Hanya hati mereka masih kebat-kebit. ―Totiang, siapakah mereka ini?‖ tanya Siauw Thian. ―Kau geledah saja tubuh mereka!‖ sahut si imam. Siauw Thian menghampiri mayatnya si pemimpin, untuk memeriksa sakunya. Ia dapatkan sepotong surat titah, dari Tio Tayjin si residen Lim-an yang bisa ―menggonggong‖ sebagai anjing itu. Itu juga adalah titah rahasia untuk membekuk pembunuhnya Ong To Kian, untuk mana si residen bekerja sama dengan pihak bangsa Kim, sebab ia telah di desak oleh utusan negara Kim. Mengetahui itu, orang she Kwee ini menjadi sangat mendingkol. Sedang begitu, Tiat Sim telah perdengarkan seruan seraya tangannya menyekal beberapa potong yauw-pay, yang dia dapatkan dari beberapa mayat. Yauwpay itu adalah tanda kedudukan atau pangkat beberapa mayat itu, karena huruf-huruf yang kedapatan adalah huruf bahasa Kim, menjadi nyata, di antara orang-orangnya residen Lim-an itu adalah orang bangsa Kim.

Irawan D Soedradjat

Page

―Celaka betul!‖ teriak Siauw Thian dalam murkanya. ―Tentara Kim main bunuh orang di wilayah kita, sekarang pembesar kita boleh disuruh-suruh dan diperintah olehnya. Negara kita ini menjadi negara apa?!‖

8

Pendekar Pemanah Rajawali

Khu Cie Kee sebaliknya tertawa. ―Sebenarnya orang suci sebagai aku mestinya berlaku murah hati dan berbelas kasihan,‖ katanya, ―Akan tetapi menyaksikan kebusukan segala pembesar dan orang-orang jahat, tak dapat aku memberi ampun pula!‖ ―Memang, memang mesti begitu!‖ seru dua saudara angkat she Kwee dan she Yo itu. ―Begini barulah puas!‖ Kemudian Tiat Sim ambil pacul dan sekop, untuk menggali laing, guna pendam belasan mayat itu. Didalam hal ini ia tidak kuatir ada orang yang melihat kejadian ini, sebab desa itu sedikit penduduknya dan itu waktu lagi turun salju dengan lebatnya, tak ada orang yang sudi berkeliaran di luaran. Habis itu nyonya rumah sapui sisa darah di atas salju. Nyonya ini rupanya tak dapat menahan bau bacin dari darah, ia rupanya bekerja keras, tiba-tiba saja ia rasai kepalanya pusing, matanya kabur, lalu ia rubuh. Tiat Sim terkejut, ia tubruk istrinya, untuk diangkat bangun. ―Kau kenapa?‖ tanya suaminya ini beberapa kali. Pauw-sie berdiam, kedua matanya tertutup rapat, mukanya pucat pias, kaki tangannya dingin seperti es. Tentu saja suaminya itu menjadi kaget dan berkhawatir. Cie Kee pegang nadi si nyonyi, lantas ia tertawa. ―Kionghie! Kionghie!‖ ia memberi selamat. ―Apa, Totiang?‖ tanya Tiat Sim heran. Justru itu Pauw-sie mennjerit, ia sadarkan diri. Mulanya ia heran di kerumuni tiga orang, habis itu ia likat, ia lari ke dalam. ―Istrimu lagi hamil!‖ kata Cie Kee kemudian. ―Benarkah itu, Totiang?‖ Tiat Sim tegaskan. ―Tidak salah!‖ si imam pastikan. ―Banyak ilmu yang pinto yakinkan, tiga yang memuaskan hatiku, ialah pertama ilmu tabib, kedua syair, dan ketiga ialah ilmu silat kucing kaki tiga ……‖ Dengan kata-kata ―kucing tiga kaki‖ atau tidak ada artinya, imam ini merendahkan diri. ―Totiang begini lihay tetapi totiang menyebutkan kepandaianmu sendiri sebagai kucing kaki tiga, kalau begitu kepandaian kami berdua pastilah kepastiannya si tikus berkaki tunggal!‖ katanya. Cie Kee tersenyum, begitu pula dengan Tiat Sim. Kemudian mereka bertiga masuk pula ke dalam untuk lanjuti minum arak. Dua saudara angkat itu sangat kagumi tetamu mereka, yang bertempur hebat tetapi tubuhnya tak berkeciprukan darah. Tiat Sim minum dengan gembira sekali. Ia ingat akan hamilnya istrinya. ―Kwee Toako,‖ katanya kemudian. ―Enso pun lagi berisi, maka aku pikir baiklah kita minta totiang yang memberi nama kepada anak-anak kita nanti!‖ Siauw Thian berikan kesetujuannya atas saran itu. Cie Kee pun tidak menampik, ia berpikir sebentar lantas ia bilang: ―Anak Kwee Toako baik diberi nama Ceng, yaitu Kwee Ceng, dan anak Yo Toako diberinama Kong, yaitu Yo Kong. Nama-nama ini dapat juga diberikan sekalianpun untuk anak perempuan.‖ ―Bagus!‖ seru Siauw Thian. ―Aku mengerti, totiang tentu tidak melupai peristiwa Ceng-kong yang memalukan, untuk memperingati ditawannya kedua raja kita.‖ ―Benar begitu!‖ sang imam mengakui. Terus ia merogoh sakunya, untuk kasih keluar dua potong pedang pendek, yang ia letaki di atas meja. Pedang itu sama panjang pendeknya dan besar kecilnya, sarungnya dari kulit hijau, gagangnya dari kayu hitam. Kemudian ia ambil pisaunya Tiat Sim, untuk dipakai mengukir gagang kedua pedang pendek itu. Ia mengukir masing-masing dua huruf ―Kwee Ceng‖ dan ―Yo Kong‖. Dua-duanya Siauw Thian dan Tiat Sim kagum menyaksikan kepandaiannya si imam mengukir huruf-huruf itu, cepat dan indah hurufnya.

Irawan D Soedradjat

Page

9

Pendekar Pemanah Rajawali

―Diwaktu berkelana seperti ini aku tidak punya barang apa-apa, pedang pendek ini saja aku berikan sebagai tanda mata untuk anak-anak kedua toako nanti!‖ kata si imam. Dua saudara angkat itu terima bingkisan itu, keduanya mengucapkan terima kasih. Tiat Sim mencoba menghunus pedangnya, ia menjadi kagum. Pedang itu berkilau dan memberikan hawa dingin. Demikian pun pedangnya Siauw Thian. Jadinya kedua pedang itu bukan sembarang pedang, meskipun badan pedang ada tipis sekali. Cie Kee pegang pedang yang satu, ia adu itu dengan pisau belatinya, dengan memberikan satu suara, ujungnya pisau belati itu putus menjadi dua potong. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua menjadi terkejut. ―Totiang, tak berani kami menerima hadiah ini!‖ kata mereka. Sebab kedua pedang itu adalah semacam pedang mustika. Tiang Cun Cinjin tertawa. ―Dua pedang ini pinto dapatkan secara kebetulan saja, walaupun benar untuk itu pinto mesti keluarkan sedikit tenaga,‖ ia berkata. ―Untukku, senjata ini tidak ada perlunya, sebaliknya adalah besar faedahnya apabila dibelakang hari anak-anak itu pakai untuk membela negeri, guna melabrak musuh!‖ Dua saudara angkat itu masih mencoba menampik hingga mereka membangkitkan amarahnya si imam itu. ―Aku anggap kamu adalah turunan orang-orang kenamaan, maka itu aku hargakan kamu, kenapa sekarang kamu begini tidak bersemangat?‖ ia menegur. Baharu sekarang Siauw Thian dan Tiat Sim tidak menolak lagi, mereka lantas menghanturkan terima kasih. Cie Kee berkata pula, dengan sungguh-sungguh: ―Kedua pedang ini adalah benda usia beberapa ratus tahun tua, setahu sudah berapa banyak orang terbunuh dan berapa banyak darah telah dihirupnya, maka mengertilah kamu, siapa saja yang mengerti ilmu silat melihat ini lantas matanya menjadi merah! Kamu pun mesti menginsafinya, seorang bocah yang ilmu silatnya tidak sempurna dengan menggunai pedang ini, dia Cuma dapat memperbahayakan dirinya sendiri, dari itu kamu mesti berhati-hati! Kamu ingatlah baik-baik!‖ Siauw Thian dan Tiat Sim berdua saling mengawasi, hati mereka tidak tentram. Khu Cie Kee tertawa panjang. ―Sepuluh tahun sejak ini, apabila pinto masih ada di dalam dunia ini, mesti pinto datang pula ke mari untuk ajarkan anak-anak itu ilmu silat,‖ ia berkata, ―Setujukah kamu?‖ Dua saudara angkat itu menjadi girang sekali. ―Terima kasih totiang, terima kasih!‖ mereka mengucap. ―Sekarang ini bangsa Kim sedang mengincar negara kita, terhadap rakyat dia sangat telengas,‖ berkata pula si imam, ―Karena mestinya tidak lama lagi bangsa itu turun tangan, dari itu pinto harap jiwi jaga diri baik-baik….‖ Dia angkat cawannya, untuk tenggat habis isinya, setelah itu dia buka pinti, untuk bertindak keluar. Siauw Thian berdua berniat meminta si imam berdiam lebih lama, siapa tahu tindakan orang cepat sekali, tahu-tahu imam itu sudah pergi jauh. ―Begitulah kelakuan orang berilmu, ia datang dan pergi tak ketentuannya,‖ kata Siauw Thian sambil menghela napas. ―Kita dapat bertemu dia tetapi sayang, kita tidak dapat meminta pengajaran daripadanya……..‖ Tiat Sim sebaliknya tertawa. ―Toako, hebat cara bertempurnya totiang hari ini!‖ ia bilang. ―Dengan menonton saja, sedikitnya terumbar juga hati pepat kit!‖ ia lantas buat main pedang yang satu, sampai ia lihat ukiran dua huruf Yo Kong. Lantas ia berkata ―Toako ada satu pikiran cepat dari aku, entah kau setuju atau tidak?‖ ―Apakah itu, Saudaraku?‖ Siauw Thian balik bertanya. ―Inilah mengenai anak-anak kita nanti,‖ Tiat Sim beri keterangan. ―Umpama anak kita laki-laki semua, biarlah mereka menjadi saudara satu dengan yang lain, apabila mereka adalah perempuan, biarlah mereka menjadi enci dan adik……….‖ ―Jikalau mereka adalah laki-laki dan perempuan, biarlah mereka menjadi suami-istri!‖ Siauw Thian menyela. Keduanya lantas menjabat tangan, mereka tertawa terbahak. Itulah janji mereka. Justru pada saat itu Pauw-sie muncul. ―Eh, kenapa kamu menjadi girang begini?‖ tanya si nyonya.
Irawan D Soedradjat

Page

10

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kami baru saja membuat janji,‖ sahut Tiat Sim, yang lantas tuturkan kecocokan mereka berdua. ―Cis!‖ si nyonya meludah. Tetapi di dalam hati, ia pun girang. ―Sekarang marilah kita saling tukar pedang dahulu,‖ Tiat Sim berkata pula. ―Ini adalah semacam tanda mata. Kalau mereka ada laki-laki atau perempuan, biarlah mereka jadi saudara satu dengan yang lain, kalau……..‖ ―Kalau begitu, kedua pedang ini akan berkumpul di rumah kakak!‖ Siauw Thian bilang. ―Mungkin akan berkumpul di rumahmu, Saudara!‖ kata Pauw-sie. Lantas mereka tukar kedua pedang itu. Sampai disitu, Siauw Thian pulang dengan membawa pedang itu, untuk memberitahukan kepada istrinya, Lie-sie. Tiat Sim ada gembira sekali, masih ia minum seorang diri, hingga ia mabuk. Pauw-sie pimpin suaminya ke kamar tidur, lalu ia benahkan piring mangkok dan cawan, habis mana melihat hari sudah mendekati sore, ia pergi ke belakang untuk kurungi ayamnya. Setibanya ia di pintu belakang, ia menjadi terkejut. Di situ, di atas salju, ia tampak tanda-tanda darah, yang melintas di luar pintu belakang itu. ―Kiranya di sini masih ada tanda darah yang belum dilenyapkan,‖ pikirnya heran. ―Kalau pembesar negeri melihat ini, inilah bahaya….‖ Maka ia cari sapu, lantas ia menyapu pula. Tanda darah itu menuju ke belakang rumah dimana ada pepohonan lebat. Di sini ia lihat tanda darah dari orang yang rupanya jalan merayap. Ia jadi bertambah heran, saking curiga, ia ikuti terus tanda darah itu, yang sampai di belakang sebuah kuburan tua. Di situ ia lihat suatu benda hitam yang tergeletak di tanah. Kapan ia sudah datang mendekat, ia kembali jadi terkejut. Itu adalah tubuhnya satu orang dengan pakaian serba hitam, ialh salah satu orang yang tadi mengepung Khu Cie Kee. Rupanya habis terluka, ia tidak terbinasa, ia lari ke belakang rumah. Selagi berpikir, Pauw-sie ingat untuk panggil suaminya, buat kubur orang itu. Ia belum bertindak tempo ia ingat, adalah berbahaya kalau ia tinggal pergi, sebab mungkin nanti diketemui lain orang yang kebetulan lewat di situ. Ia jadi beranikan diri, ia menghampiri orang itu dengan niat menyeret, guna dipindahkan ke dalam rujuk, setelah mana baru ia baru hendak panggil suaminya. Benar disaat ia cekal tubuh orang untuk ditarik, mendadakan tubuh itu bergerak, lau terdengar suara merintihnya. Ia menjadi sangat kaget, ia jadi berdiri bagaikan terpaku, sedang sebenarnya ingin ia lari pulang. Lewat sesaat, tubuh itu terdiam pula. Dengan beranikan hati, Pauw-sie pakai sesapu, untuk bentur tubuh orang. Maka sekali lagi ia dengar suara rintihan perlahan.

Bab 2. Berlalunya Dua Sahabat Kekal

Sekarang Pauw-sie dapat kenyataan orang belum mati dan pundaknya dia itu tertancapkan sebatang anak panah. Batang patah juga berbelepotan darah. Nyonya ini bernama Sek Yok, nama ini tepat sama sifatnya, yang selalu berhati murah. Nama itu pun berarti ―menyayangi yang lemah‖. Begitulah diwaktu masih kecil, kalau ia lihat burung gereja atau ayam terluka, atapun kutu seperti semut, tentu ia mengobatinya, sampai binatang itu sembuh, kalau tidak, ia buatnya berduka. Karena ini, dikamarnya ia rawat banyak kutu. Sifat ini tidak berubah sampai ia menikah, dari itu kebetulan untuknya Yo Tiat Sim, suaminya tidak menentangi padanya, maka juga di belakang rumahnya ia ada pelihara banyak burung dan binatang peliharaan lainnya. Suatu sifat lagi ialah Pauw-sie tidak tega menyembelih binatang piaraannya untuk suaminya dahar ayam, ia sengaja beli di pasar, ayamnya sendiri ia pelihara hingga matinya ayam itu. Demikian kali ini, menampak orang terluka parah timbul rasa kasihannya, walaupun ia tahu orang bukannya orang baik-baik. Cuma bersangsi sejenak, lantas ia lari pulang, niatnya untuk mengasih bangun suaminya. Tiat Sim lagi tidur nyenyak, mungkin disebabkan mabuk arak, ia tak mendusin kendati istrinya sudah gonyanggonyang tubuhnya.
Irawan D Soedradjat

Page

11

Pendekar Pemanah Rajawali

Pauw-sie menjadi sibuk. Ia tahu orang perlu lekas ditolongi. Akhirnya dengan terpaksa ia ambil obat-obatan suaminya, dengan bawa pisau kecil dan sepotong cita, juga arak yang hangat, ia kembali pada si luka. Biasa merawat binatang, ia jadi juga bisa merawat orang luka. Begitu setelah belek sedikit daging di dekat panah nancap, dengan sekeras tenaga, ia cabut anak panah itu. Si luka menjerit, lalu pingsan. Panahnya tercabut, darahnya muncrat mengenai bajunya si nyonya. Dengan hati memukul sendirinya, Pauw-sie lantas obati luka itu, ia bungkus dengan rapi. Selang sekian lama, si luka sadar pula, tapi ia sangat lemah, rintihannya pun sangat perlahan. Pauw-sie tidak kuat angkat tubuh orang, tetapi ia dapat akal, ia pulang untuk ambil sehelai papan pintu, ia letaki itu diatas salju, lalu ia tarik orang ke atas papan itu, lantas ia tarik sekuat-kuatnya. Ia tempatkan si luka di gudang kayu. Sampai ia telah salin pakaian, hati Pauw-sie masih belum tentram betul. Ia masak daging kuwah semangkok, lalu ia bawa ke belakang. Hari sudah gelap, ia bawa lilin. Sejak di depan pintu gudang, ia sudah dengar suara bernapas perlahan. Jadi orang itu tidak mati. Ia masuk ke dalam, ia berikan daging kuwah itu. Si luka makan sekira setengah mangkok, lalu ia batuk-batuk keras. Dengan bantuan api lilin, pauw-sie awasi muka orang. Ia dapatkan satu pemuda yang tampan, hidungnya mancung. Karena tangannya gemetar, tanpa ia merasa ia kena bikin tetesan lilin jatuh ke muka orang itu, yang lantas buka kedua matanya. Kaget ia akan lihat si nyonya cantik, sinar matanya jernih, kulitnya merah dadu. ―Apa yang kau rasakan baikan?‖ Pauw-sie toh menanya. ―Mari makan habis daging kuwah ini…..‖ Orang itu ulur tangannya, akan sambuti mangkok, tetapi ia lemah, hampir ia bikin mangkok itu terlepas. Maka terpaksa Pauw-sie bawa mangkok itu kemulutnya. Habis makan kuwah, nampaknya orang itu segaran. Dengan mata bersinar, ia awasi si nyonya, agaknya ia berterima kasih. Pauw-sie likat diawasi orang itu, maka lekas-lekas ia ambil rumput, akan tutupi tubuh orang itu, lalu dengan membawa lilinnya, ia balik ke kamarnya. Ia tidak dapat tidur tenang, diwaktu pulas, ia mimpi yang hebat-hebat, umpamanya suaminya tombak mati orang itu atau dua ekor harimau kejar padanya sampai ia tak tahu mesti lari ke mana. Beberapa kali ia mimpi, beberapa kali ia sadar, dengan hati tergoncang. Ketika akhirnya ia mendusin diwaktu pagi, ia dapatkan suaminya lagi gosok tombaknya. Ia ingat kejadian semalam, ia jadi kaget sendirinya. Diam-diam tapi dengan lekas, ia pergi ke belakang, ke gudang kayu. Selekasnya ia membuka pintu gudang, ia jadi terlebih kaget lagi. Di sana tak ada si luka, rumputnya teruwar kalang kabutan! Ia lantas pergi ke pintu belakang, ia lihat pintu cuma dirapatkan, di atas salju terlihat bekas orang merayap pergi, tujuannya ke arah barat. Ia mengawasi ke arah itu, pikirannya tidak karuan. Sampai sekian lama, setelah mukanya ditiup angin dingin, baru ia sadar. Itu waktu ia pun merasai pinggangnya ngilu dan lemas, ia jadi lelah sekali, maka itu, ia lantas kembali ke dalam. Tiat Sim masak bubur putih, yang diletaki di atas meja. ―Kau lihat!‖ kata suaminya dengan tertawa. ―Bubur masakanku tak ada celaannya, bukan?‖ Istri itu tertawa, ia tahu karena ia sedang hamil, suaminya itu yang sangat menyayangi ia telah masaki ia bubur. Ia lantas dahar bubur itu. Itu waktu ia telah ambil keputusan akan tutup mulut tentang si terluka yang ia tolongi itu, sebab ia tahu kebencian suaminya terhadap orang jahat, apabila suaminya diberitahukan, pasti ia bakal binasakan orang itu. Sejak itu beberapa bulan telah berlalu; dengan lewatnya sang waktu, Pauw-sie juga telah lupai itu peristiwa yang ia sudah tolongi orang yang luka. Pada suatu hari, Tiat Sim dan istrinya pergi ke rumah Siauw Thian, untuk bersantap dan minum arak, sorenya mereka pulang, akan terus masuk tidur. Tepat tengah malam, tiba-tiba Pauw-sie mendusin dan melihat suaminya telah bangun juga dan sedang duduk di atas pembaringan. Ada sesuatu yang mengejutkan suaminya itu hingga ia jadi terjaga dari tidurnya. Dan istri ini masih lungu-lungu ketika kupingnya dapat tangkap suara samar-samar dari tindakan kaki kuda di atas es, makin lama makin nyata, datangnya dari barat ke timur, kemudian itu disusul sama suara serupa yang datangnya dari arah timur. Ia menjadi kaget pula apabila ia dengar pula suara dari selatan dan utara. ―Toako!‖ katanya pada suaminya sambil bangun untuk berduduk, ―Kenapa ada suara kuda dari empat penjuru?‖
Irawan D Soedradjat

Page

12

Pendekar Pemanah Rajawali

Tiat Sim tidak menyahuti, ia hanya segera turun dari pembaringan untuk rapikan pakaiannya. Tindakan kuda dari empat penjuru datang semakin dekat, lalu disusul sama gongongan anjing kampung yang menyahutnya. ―Kita kena dikurung‖ kata Tiat Sim kemudian. Pauw-sie terkejut. ―Untuk apakah?‖ tanyanya ―Entahlah!‖ jawab suaminya itu. Ia terus serahkan pedang pengasihan dari Khu Cie Kee seraya memesan: ―Kau pegang ini untuk jaga dirimu!‖ Tiat Sim buka jendela, untuk melihat keluar, karena itu suara kuda sudah datang mendekat sekali. Ia lihat tegas kampungnya telah dikurung oleh sejumlah tentera, kurungannya berlapis. Ia dapat melihat karena tentera itu ada membawa obor yang diangkat tinggi-tinggi. Perwira yang memegang pemimpin ada tujuh atau delapan orang. ―Tangkap pengkhianat! Jangan kasih dia lolos!‖ demikian tentara itu mulai berseru-seru. ―Apakah ada pengkhianat yang lolos kemari?‖ Tiat Sim menduga-duga. Ia cekal tombaknya untuk melihat gelagat. Tiba-tiba satu perwira berseru: ―Kwee Siauw Thian! Yo Tiat Sim! Kamu berdua pemberontak, lekas muncul untk terima diringkus!‖ Tiat Sim menjadi kaget, sedang Pauw-sie menjadi pucat mukanya. ―Entah kenapa pembesar negeri menfitnah rakyat,‖ kata Tiat Sim kemudian, ―Tidak ada jalan lain, kita mesti menerobos keluar! Kau jangan takut, walaupun musuh berjumalh puluhan ribu, akan aku lindungi padamu!‖ Dasar turunan orang peperangan. Tiat Sim tidak menjadi kacau pikirannya. dengan tenang tetapi sebat, ia siapkan panahnya, terus ia pegangi tangan kanan istrinya. ―Nanti aku berbenah dulu…‖ kata Pauw-sie. ―Apa lagi yang hendak dibenahkan?‖ kata suaminya itu. ―Apa juga tak dapat. Lemah hatinya istri itu, lalu tiba-tiba ia menangis. ―Dan rumah ini?‖ katannya. ―Asal kita dapat lolos, nanti di lain tempat kita membangun pula rumah kita!‖ sahut sang suami. ―Dan itu anak-anak ayam dan anak-anak kucing?‖ istri itu menanya pula. Tiat Sim menghela napas. ―Ah, orang tolol, kamu masih memikirkan segala binatang itu! Mana dapat?‖ Baru Tiat Sim mengucap demikian, di luar kembali terdengar seruan berisik dan api terlihat berkobar. Dua ruang di depan telah dibakar, lalu dua orang serdadu Song mulai menyulut payon rumah. Bukan main mendelunya Tiat Sim. Ia buka pintu dan muncul. ―Aku Yo Tiat Sim!‖ ia perkenalkan diri. ―Kamu hendak bikin apa?‖ Dua serdadu itu kaget, mereka memutar tubuh, sembari melemparkan obornya, mereka lari balik. Di antara cahya api, satu perwira maju dengan kudanya. ―Kamu Yo Tiat Sim? Bagus!‖ ia berkata. ―Mari ikut kami menghadap pembesar kami! Tangkap!‖ Lima serdadu lantas merangsak. Tiat Sim geraki tombaknya, dalam jurus ―Ouw liong pa bwee‖, atau ― Naga hitam menggoyang ekor,‖ lalu tiga serdadu roboh terguling, kemudian dengan susulannya ―Cun lui cin nouw‖ atau ―Geledak musim semi murka,‖ ia rubuhkan satu yang lain, yang tubuhnya ia lempar balik ke dalam barisannya. ―Untuk menangkap orang, kamu mesti lebih dahulu beritahukan kedosaannya!‖ ia membentak. ―Pemberontak bernyali besar!‖ teriak si perwira. ―Kanu berani melawan?!‖
Irawan D Soedradjat

Page

13

Pendekar Pemanah Rajawali

Mesti begitu ia gentar hari, tak berani ia maju mendekati. Adalah satu perwira lain yang berada dibelakangnya, mewakilkan ia maju. Berkatalah perwira ini: ―Baik-baik saja ikut kami ke kantor, kau akan bebas dari kedosaan berat. Di sini ada surat titah!‖ ―Kasih aku lihat!‖ bentak Tiat Sim. ―Masih ada satu pemberontak lainnya, yang she Kwee?!‖ kata perwira itu. ―Kwee Siauw Thian ada di sini!‖ sahut Siauw Thian yang tiba-tiba muncul di muka jendela, panahnya telah siap sedia. Perwira itu terkejut, hatinya ciut. ―Letkai panahmu,‖ katanya. ―Nanti aku bacakan surat titah ini….‖ ―Lekas baca!‖ bentak Siauw Thian, yang justru tarik semakin melengkung gandewanya itu. Terpaksa dengan ketakutan, perwira itu membaca. Itulah surat titah untuk menawan Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim dua penduduk Gu-kee-cun, yang dituduh berontak melawan negara, sudah bersekongkol sama penjahat besar. ―Surat titah ini datang dari kantor mana?‖ Siauw Thian tanya. ―Inilah surat titah tulisannya Han Sinsiang sendiri!‖ jawab perwira itu. Dua-dua Siauw Thian dan Tiat Sim terkejut. ―Hebat urusan, sampai Han Sinsiang sendiri yang turun tangan menulis surat titah?‖ mereka berpikir. ―Mungkin ini disebabkan terbukanya rahasia Khu Cinjin telah membinasakan banyak hamba negara?‖ ―Siapakah yang mendakwa? Apa ada buktinya?‖ tanya Siauw Thian pula. ―Kita cuma mesti menawan orang!‖ kata si perwira. ―Nanti di muka pembesar kamu boleh bicara!‖ ―Han Sinsiang gemar menfitnah orang baik-baik, siapa tidak tahu itu?‖ kata Tiat Sim. ―Kami tak sudi kena jebak!‖ Dengan perlahan Tiat Sim kata pada istrinya: ―Pergi lapis bajumu, akan aku rampas kuda dia itu untukmu! Akan aku panah perwira itu, tenteranya bakal jadi kacau!‖ Dan terus ia tarik panahnya, maka setelah satu suara ―Ser!‖ si perwira berkoak keras, tubuhnya terjungkal dari kudanya. Semua serdadu lantas berteriak-teriak. ―Maju! Tangkap!‖ berseru perwira yang satunya. Sejumlah serdadu taati titah itu, akan tetapi selagi maju, mereka disambut busur-busurnya Siauw Thian dan Tiat Sim berdua, hingga enam atau tujuh diantaranya rubuh seketika. Akan tetapi jumlah mereka ini besar, dibawah anjuran pembesarnya, mereka maju terus. Tiat Sim menjdai mendongkol, ia tukar panah dengan tombaknya, setelah ia lompat keluar pintu, ia sambut penyerang-penyerangnya. Rombongan serdadu itu kena terpukul mundur. Atas itu, Tiat Sim melompat kepada satu perwira yang menunggang seekor kuda putih, ia menyerangnya. Perwira itu menangkis dengan tombaknya. Ia tapinya tak kenal ilmu tombak keluarga Yo, pahanya kena ditikam, maka dengan satu gentakan, tubuhnya terpelanting ke tanah. Dengan menekan tombaknya ke tanah, Tiat Sim lompat ke atas kuda putih, maka sesaat saja, ia sudah menerjang ke muka pintu rumahnya. Ia tikam rubuh satu serdadu Song, yang menghalangi dia, kemudian dengan satu jembretan, ia angkat tubuh istrinya naik ke kudanya. Itu waktu Pauw-sie sudah siap menanti padanya. ―Kwee Toako, mari turut aku!‖ orang she So itu teriaki saudara angkatnya. Siauw Thian tengah menyerang seru dengan sepasang tombak pendeknya yang bercagak. Ia membuka jalan untuk istrinya Lie-sie yang bernama Peng.

Irawan D Soedradjat

Page

14

Pendekar Pemanah Rajawali

Beberapa perwira tidak dapat mencegah kedua orang gagah itu, terpaksa mereka menitahkan menggunai anak panah. ―Enso, lekas naik!‖ seru Tiat Sim, yang hampiri Lie-sie. Ia pun lantas lompat turun dari kudanya. ―Tidak bisa….‖ berkata Lie-sie. Diwaktu demikian, tidak ada lagi aturan sungkan, maka tanpa bilang suatu apa, Tiat Sim cekal tubuh iparnya, untuk segera diangkat naik ke punggung kuda, kemudian ia bersama Siauw Thian mengikuti dari belakang, untuk melindungi. Lolos belum jauh, di sebelah depan mereka dicegat oleh satu pasukan lain. Riuh suara tentera itu, hebat serbuannya. Tiat Sim dan Siauw Thian mengeluh di dalam hati. Karena terpaksa, mereka jadi memikir untuk cari jalan lolos. Sekonyong-konyong terdengar suara panah sar-ser, lalu Pauw-sie menjerit keras. Kuda putih terpanah, kaki depannya tertekuk, lalu tubuhnya ngusruk. Pauw-sie rubuh bersama Lie-sie, yang pun ikut berteriak. Tiat Sim kaget tetapi ia tabah. ―Toako, lindungi mereka, akan aku rampas kuda pula!‖ serunya. Lalu dengan memutar tombaknya, ia menerjang musuh. Kwee Siauw Thian berpikir lain daripada saudara angkatnya itu. ―Terang kita berdua tidak bakal dapat menerobos kurungan musuh ini, atau istri kita sukar ditolongi. Karena kita tidak bersalah dosa, daripada antarkan jiwa disini, baiklah kita menemui pembesar negeri untuk berbicara dengannya.‖ Maka itu, ia teriaki adik angkatnya itu: ―Adik, mari kita ikuti mereka ke kantor!‖ Tiat Sim heran, akan tetapi ia hampiri saudaranya itu. Perwira pemimpin tentera itu menitahkan menunda penyerangan, tetapi mereka mengurung rapat-rapat. ―Letaki senjatamu, kami akan beri ampun jiwa kamu!‖ ia berteriak. ―Toako, jangan kena diperdayakan!‖ Tiat Sim memberi ingat. Siauw Thian menggeleng kepala, ia lemparkan sepasang tombaknya. Tiat Sim lihat istrinya ketakutan, hatinyapun menjadi lemah, maka seraya menghela napas, ia lemparkan panah dan tombaknya. Atas itu belasan tombak tajam dipakai mengurung empat orang itu, kemudian delapan serdadu maju mendekati, untuk membelenggu mereka berempat. Tiat Sim berdiri tegak, dia tertawa dingin. Sikap ini tidak menyenangi si pemimpin tentara, ia ayun cambuknya seraya mendamprat: ―Pemberontak bernyali besar, benarkah kamu tidak takut mampus?!‖ ―Bagus!‖ kata jago she Yo itu. ―Siapakah namamu?!‖ Perwira itu menjadi semakin gusur, cambuknya disabetkan berulang-ulang. ―Tuan besarmu tak pernah ubah she dan namanya!‖ katanya dengan jumawa. ―Tuan besarmu she Toan namanya Thian Tek. Thian Tek itu berarti kebijaksanaan Tuhan, kau mengerti? Ingatkah kau? Supaya kapan nanti kau bertemu Giam Kun, kau boleh ajukan dakwaanmu!‖ Tiat Sim tidak takut, ia malah mengawasi dengan bengis. ―Ingat olehmu, tuanmu ada cacat luka di jidatnya dan tanda biru di pipinya!‖ Thian Tek membentak pula. Ia angkat pula cambuknya. Pauw-sie menangis. ―Dia orang baik, ia belum pernah berbuat jahat, kenapa kau aniaya dia sampai begini?‖ tanya istri ini yang tidak tega melihat suaminya dicambuki. Tiat Sim meludah tepat mengenai mukanya perwira she Toan itu. Dia menjadi sangat murka, ia lalu cabut golok di pinggangnya.
Irawan D Soedradjat

Page

15

Pendekar Pemanah Rajawali

―Aku akan bunuh dulu padamu, pemberontak!‖ teriaknya. Tiat Sim tidak sudi mandat dibacok, ia berkelit ke samping. Tapi segera ia merasa ada tombak-tombak yang menahan tubuhnya. Thian Tek membacok pula. Tiat Sim tidak melihat lain jalan, ia berkelit mundur dengan mengkeratkan tubuhnya. Melihat bacokkannya kembali gagal, Thian Tek terus menikam. Kali ini goloknya yang tajam bagaikan gergaji dapat melukakan pundaknya orang she Yo itu. Dia tapinya belum puas, kembali ia ulangi bacokannya. Siauw Thian lihat adik angkatnya terancam bahaya, ia lompat maju seraya mendupak. Thian Tek terkejut, ia batal menyerang, terus dia menangkis. Siauw Thian lihay, ia tarik kakinya untuk ayun kakinya yang lain. Itulah tendangan saling susl dari ilmu tendangan Wan-yo-twie, maka tak ampun lagi, perwira itu terjejak pinggangnya. ―Hajar mampus dia!‖ dia berseru. Beberapa serdadu segera menyerang. Siauw Thian melawan, ia dapat menendang terguling dua serdadu, tetapi karena ia terbelenggu tangannya, akhirnya ia kena dibokong Thian Tek yang sambar ia dari belakang, hingga tangan kanannya terbacok kutung! Bukan main panasnya hati Tiat Sim menampak kakaknya itu menjadi korban keganasan si perwira, entah darimana datangnya tenaganya ketika ia berteriak keras sekali, belengguan pada tangannya terputus terlepas, maka sambil melompat maju, ia hajar rubuh satu serdadu, untuk rampas tombaknya yang panjang dengan apa ia terus mengamuk. Thian Tek menginsyafi bahaya, ia sudah mendahului mundur. Yo Tiat Sim menyerang bagaikan kalap, matanya menjdi merah. Semua serdadu mejadi kalah hati, dengan ketakutan mereka lari bubaran.. Tiat Sim tidak mengejar musuh, hanya ia menubruk kakak angkatnya yang telah mandi darah. Tanpa merasa ia kucurkan airmata. ―Adik sudah kau jangan pedulikan aku,‖ kata Siauw Thian lemah. ―Lekas, lekas kau singkirkan diri…‖ ―Akan aku merampas kuda, mari kita pergi bersama!‖ kata Tiat Sim. Siauw Thian tidak menyahut, ia hanya pingsan. Tiat Sim buka bajunya, hendak ia membalut luka kakak itu, tetapi lukanya lebar sekali, dari pundaknya merembet ke dada, sulit untuk membalutnya. Siauw Thian sadar pula. ― Adik, kau pergilah…‖ ia kata dengan suara yang sangat lemah. ―Pergi kau tolong teehu serta ensomu…aku, aku sudah habis…‖ Dan ia meramkan matanya untuk selamanya. Hampir Tiat Sim menyemburkan darah, sangking berduka dan mendongkol. Ia lantas berpaling ke arah di mana istrinya dan ensonya, istri Siauw Thian. Untuk kagetnya ia tidak dapat melihat mereka itu. ―Toako, aku akan balaskan sakit hatimu!‖ ia berteriak. Lalu dengan membawa tombaknya, ia lari kepada barisan serdadu, yang sekarang sudah berkumpul pula. Toan Thian Tek memberi perintahnya, maka barisannya itu menyambut dengan hujan anak panah. Tiat Sim maju terus seraya putar tombaknya, akan halau setiap busur. Ketika satu perwira dekati dia dan membacok, ia berkelit sambil mendak, akan nelusup ke bawahan perut kuda. Si perwira membacok sasaran kosong, hendak ia putar kudanya, tetapi tombaknya Tiat Sim tahu-tahu sudah menikam tepat kepadanya, maka
Irawan D Soedradjat

Page

16

Pendekar Pemanah Rajawali

ketika tubuhnya rubuh, orang she Yo itu gantikan ia lompat naik ke atas kudanya itu hingga dengan apa punya binatang tunggangan, Tiat Sim bisa menyerang dengan terlebih hebat. Sekali lagi barisan serdadu itu lari buyar. Tiat Sim mengejar, hingga ia lihat satu perwira lagi kabur sambil peluki seorang perempuan. Ia tidak mengejar, hanya ia lompat turun dari kudanya, akan rampas gendawanya satu serdadu Song lalu diantara terangnya api obor, ia panah perwira itu. Tepat panahnya ini, si perwira rubuh dari kudanya yang jatuh ngusruk. Dia rubuh bersama si wanita dalam pelukannya, hingga orang jadi terlepas. Lagi sekali Tiat Sim memanah. Selagi orang merayap bnagun. Kali ini perwira itu rubuh pula untuk tidak dapat bangun lagi. Tiat Sim lari kepada wanita itu untuk kegirangannya ia dapatkan pada istrinya. Sek Yok kaget dan girang, ia lompat ke dalam rangkulan suaminya itu. ―Mana enso?‖ Tiat Sim tanya. Dia lantas ingat istrinya Siauw Thian. ―Ia ada di sebelah depan, ia pun dibawa lari serdadu jahanam itu!‖ sahut Pauw-sie. Kapan Tiat Sim menoleh, ia tampak mendatanginya satu barisan lain. ―Toako telah menemui ajalnya, biar bagaimana aku mesti tolongi enso!‖ ini adik angkat ambil keputusan, ia bicara sama istrinya. ―Turunan toako mesti dilindungi. Kalau Thian mengasihi kita, kita berdua dapat bertemu pula…‖ Sek Yok rangkul keras leher suaminya itu, ia menangis menggerung-gerung. ―Tak dapat kita berpisah!‖ ia kata. ―Kau yang bilang sendiri, kalau kita mesti binasa, kita mesti binasa bersama! Bukankah benar kau pernah mengatakan demikian?‖ Tiat Sim peluki istrinya, hatinya karam. Tapi ia tiba-tiba keraskan hati, ia menolak dengan keras, ia sambar pula tombaknya, untuk lari. Ketika sudah lari beberapa puluh tindak, ia lihat istrinya menangis bergulingan di tanah, dan barisan serdadu yang mendatangi sudah mendekati istrinya itu. Ia usap mukanya, peluhnya bercampur sama darah muncratan. Ia lari pula. Telah bulat tekadnya untuk menolongi Lie-sie. Di sebelah depan, ia dapat rampas seekor kuda, maka itu ia jadi tambah semangat. Kebetulan ia dapat bekuk satu serdadu, atas pertanyaannya, serdadu itu bilang Lie-sie berada di sebelah depan. Maka ia kaburkan kudanya. Tiba-tiba dari samping jalanan mana ada perpohonan lebat, terdengar cacian seorang wanita. Ia lekas tahan kudanya, yang ia putar untuk hampirkan tempat lebat itu. Dengan tombaknya ia menyingkap cabang-cabang pohon.Maka di hadapannya terlihat dua serdadu sedang menyeret-nyeret Lie-sie. Tidak ampun lagi, Tiat Sim tikam mampus mereka satu demi satu. Lie-sie berbangkit dengan rambut kusut dan pakaian penuh tanah tidak karuan. Diwaktu begitu, tidak ada ketika untuk omong banyak, maka Tiat Sim angkat tubuh iparnya itu, dikasih naik ke atas kudanya, untuk mereka menunggang bersama. Ia lari balik untuk cari istrinya di tempat dimana tadi mereka berpisah. Untuk kedukaannya ia tak dapatkan Pauw-sie, tempat itu sunyi senyap dari segala apa. Ia turun dari kudanya untuk memeriksa tanah. Ketika itu sudah fajar. Ia lihat tapak-tapak kaki dan tanda bekas orang diseret, maka sakitlah hatinya. Ia percaya istrinya telah jatuh pula ke dalam tangan musuh…. ―Mari!‖ katanya seraya melompat naik ke atas kudanya yang ia terus kasih lari, perut kudanya pun dijepit hingga binatang itu kesakitan dan lari kabur. Sedang kuda lari keras mendadak dari samping jalanan muncul belasan orang yang hitam semua pakaiannya, orang yang terdengar segera menyerang dengan toyanya. Tiat Sim sempat menangkis, dapat ia menikam. Orang itu sebat dan gesit, ketika ia membuat perlawanan, nyata permainan toyanya pun lihay. Hal ini membuat heran kepada orang she Yo itu.

Irawan D Soedradjat

Page

17

Pendekar Pemanah Rajawali

Pernah Tiat Sim dan Siauw Thian berbicara tentang ilmu silat, bahwa dijamannya kawanan Liang San, Pek-lekhwee Cin Beng adalah yang terlihay ilmu toyanya, tetapi dijaman itu orang Kim-lah yang terkenal. Maka itu sekarang ia curigai lawannya itu ada satu perwira Kim. Ia hanya heran, kenapa perwira Kim bisa muncul di situ. Tapi ia tidak bisa berpikir lama-lama, ia lantas menyerang dengan hebat. Kali ini ia berhasil membuat lawan itu terjungkal, karena mana barisan serdadunya lantas kabur. Segera Tiat Sim menoleh, hatinya lega akan dapatkan iparnya tak kurang satu apapun. Ia masih mengawasi iparnya itu ketika ―Ser!‖ sebatang gendewa menyambar kepadanya, menyambar dari arah pepohonan yang lebat, hingga ia tidak sempat menagkis atau berkelit, busur itu tembus di punggungnya. ―Encek, kau kenapa?‖ tanya Lie-sie kaget. Tiat Sim tidak menyahuti, hanya di dalam hatinya ia kata: ―Aku tidak sangka bahwa aku bakal habis disini… Sebelum aku terbinasa, aku mesti labrak dulu musuh, supaya enso dapat lolos!‖ Ketika ia geraki tombaknya, ia menjadi kaget. Ia merasa sakit hingga ke peparunya. ―Cabut panah ini!‖ ia kata. Lie-sie tapi hatinya lemah, tenaganya tidak ada, tak dapat ia menolong. Tiat Sim lantas mendekam di atas kudanya, tangan kirinya diapakai mencekal gagang panah, dengan satu kali sentak, ia cabut busur itu terus ia pandangi. Anak panah itu nancap dalam kira tiga dim, gagangnya memakai bulu burung rajawali, batangnya terbuat dari perunggu. Itu bukanlah sembarang busur. tempo ia memeriksa lebih jauh, pada gagang itu ada terukir tiga huruf ―Wanyen Lieh‖ Ia terkejut. ―Wan-yen‖ itu adalah she, yaitu nama keluarga dari bangsa Kim, dari golongan keluarga raja. Biasanya dari raja hingga jenderalnya, bangsa itu memakai nama keluarga tersebut. ―Bagus!‖ serunya. ―Benar-benar si pembesar jahanam itu telah bersekongkol sama bangsa asing, bersama-sama mereka mencelakai rakyat negeri!‖ Ia serahkan busur itu kepada Lie-sie. ―Enso ingat baik-baik nama ini!‖ ia pesan. ―Pesanlah anakmu untuk menuntut balas….!‖ Habis berkata, ia putar tombaknya, ia menerjang ke antara musuh, tetapi darah di punggungnya membanjir keluar, tiba-tiba matanya menjadi gelap, tak dapat ia menahan diri lagi, ia rubuh dari kudanya. *** Hatinya Pauw-sie sakit bagai disayat-sayat karena tolakan suaminya, tempo ia mengawasi suaminya itu, sang suami sudah lantas lenyap, di pihak lain, rombongan serdadau telah mendatangi ke arahnya. Ia mencoba lari, tetapi sudah kasep, ia kena kecandak dan ditawan, tubuhnya segara dikasih naik ke atas seekor kuda. ―Aku tidak sangka dua orang itu demikian kosen hingga mereka dapat mencelakai tak sedikit saudara-saudara kita!‖ berkata satu perwira sambil tertawa. ―Tapi sekarang kita toh peroleh hasil!‖ kata satu perwira lain. ―Eh, sahabatku Ciong, untuk cape kita ini kita bakal dapat persen tiga atau empat puluh tail perak!‖ ―Hm!‖ menyahut si Ciong itu. ―Aku harap asal saja potongannya dikurangi sedikit…!‖ Terus ia menoleh kepada barisannya, akan beri titahnya: ―Kumpulkan barisan!‖ Serdadu tukang terompet sudah lantas kasih dengar suara alat tiupnya Pauw-sie menangis tersedu-sedu, ia lebih memikirkan suaminya yang ia tidak tahu bagaimana jadinya. Ketika itu sang fajar telah tiba, dijalanan sudah ada beberapa orang yang berlalu lintas, akan tetapi mereka nampak serdadu, mereka lalu menyingkir jauh-jauh. Mulanya Pauw-sie berkhawatir sangat kawanan serdadu itu nanti perlakukan kasar atau kurang ajar terhadapnya, kemudian ia merasa sedikit lega. Ia tidak saja tidak diganggu, ia malah diperlakukan dengan manis dan hormat.
Irawan D Soedradjat

Page

18

Pendekar Pemanah Rajawali

Barisan ini baru berjalan beberapa lie, tiba-tiba mereka dicegat oleh belasan orang yang mengenakan pakaian serba hitam, yang semua berbekal senjata. Mereka itu muncul dengan tiba-tiba dari pinggir jalanan. Seorang yang berada di paling depan sudah lantas kasih dengar suaranya yang bengis: ―Kawanan serdadu tak tahu malu dan kejam, tukang ganggu rakyat, kamu semua turun dari kuda kamu dan serahkan diri!‖ Perwira yang pimpin barisan itu menjadi gusur. ―Kawanan berandal dari mana ynag berani mengacau di wilayah kota raja?!‖ dia balas membentak. ―Lekas menggelinding pergi!‖ Pihak baju hitam itu tidak menggbris bentakan itu, sebaliknya mereka buktikan ancaman mereka, ialah tanpa bilang suatu apa lagi, mereka maju menerjang, dengan begitu pihak jadi bertempur kalut. Kawanan baju hitam itu berjumlah lebih kecil akan tetapi mereka mengerti ilmu silat denag baik, dengan begitu pertempuran menjadi berimbang. Menyaksikan pertempuran itu, diam-diam Pauw-sie bergirang. ―Bukankah mereka ini dalah kawan-kawannya suamiku, yang mendengar kabar dan telah datang menolong?‖ demikian ia menduga-duga. Selagi pertempuran berjalan terus, tiba-tiba satu busur nyasar menyambar punggung kudanya Pauw Sek Yok. Binatang itu kaget dan kesakitan, ia berlompat dan lari kabur. Sek Yok kaget dan ketakutan, ia mendekam di kudanya itu yang lehernya ia peluki keras-keras. Ia takut jatuh. Kuda itu kabur terus hingga beberapa lie, sampai di sebelah belakangnya, terdengar datangnya kuda lain, lalu tertampak satu penunggang kuda datang memburu. Cepat sekali larinya kuda pengejar ini segera ia menyandak dan lewat di samping Pauw-sie, si penunggangnya sendiri sambil melarikan kudanya itu memutar sehelai dadung panjang di atasan kepalanya, apabila ia melepaskan sebelah tangannya, dadung itu ialah lasso, lantas menyambar ke kudanya Sek Yok. Sekarang kedua kuda jadi lari berendeng, si penunggang kuda menahan dengan perlahan-lahan, dari itu sesaat kemudian kedua kuda itu larinya perlahan, akan akhirnya selang beberapa puluh lie, kuda si penunggang berhenti dengan tiba-tiba, sebab mulutnya penunggang itu perdengarkan tanda. Dengan begitu kuda Sek Yok pun berhenti seketika. Kuda itu meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya. Pauw-sie kaget dan ketakutan, ia pun ngantuk dan lelah, karena kuda itu berlompat berdiri habislah tenaganya, tak dapat ia memeluki lagi leher kuda lantas saja ia rubub ke tanah dan pingsan. Ia mendusin setahu beberapa lama kemudian, ia hanya dapatkan tubuhnya rebah di atas sebuah pembaringan yang empuk kasurnya dan tubuhnya pun dikerebongi selimut kapas yang membuat ia merasa hangat. Ia buka matanya perlahan-lahan. Yang pertama ia lihat ialah langit kelambu kembang. Maka sadarlah ia yang ia telah tidur di atas pembaringan. Ia menoleh ke samping, ia dapatkan sebuah meja dan satu pelitanya. Di tepi pembaringan berduduk satu orang laki-laki dengan pakaian serba hitam. Kapan pria itu melihat orang mendusin dan tubuhnya bergerak, lekas-lekas ia bangun berdiri, untuk singkap kelambu dan menggantungnya. ―Oh, kau sudah mendusin?‖ pria itu tanya, perlahan suaranya. Biar bagaimana, Sek Yok belum sadar sepenuhnya. Samar-samar ia seperti kenal pria itu, maka ia mengawasi. Si pria ulur tangannya, untuk meraba jidat si nyonya. ―Oh, panas sekali!‖ katanya. ―Tabib akan segera datang…‖ Sek Yok meramkan pula matanya, terus ia tidur pula. Ia baru sadar tempo dengan samar-samar ia merasa orang pegang nadinya, disusul mana orang memberi ia makan obat. Ia masih tak sadar benar, malah ia bagaikan bermimpi dan mengigau ketika ia berteriak: ― Engko Tiat! Engko Tiat!‖ Lalu ia merasa ada tangan pria yang dengan perlahan-lahan mengusap-usap pundaknya, yang menghiburi ia dengan lemah lembut. Kapan kemudian Sek Yok mendusin pula, hari sudah terang. Ia merintih sebentar, lantas ia bangkit untuk berduduk. Seorang menghampiri dia. ―Minum bubur?‖ tanya ia itu dari luar kelambu. Pauw-sie kasih dengar suara perlahan, atas mana pria itu singkap kelambunya. Sekarang dua muka saling berhadapan, mata mereka saling mengawasi. Sekarang Sek Yok dapat melihat denagn tegas, maka ia menjadi terkejut. Ia tampak satu wajah yang tampan, yang tersungging senyuman manis.
Irawan D Soedradjat

Page

19

―Sebenarnya aku bersama beberapa kawan kebetulan lewat di sini. Tetapi hatinya bukan tidak bekerja. Harap Ynonya maafkan aku. ―Bagaimana caranya ia meninggal dunia?‖ Pauw-sie tanya. ―Ya. Sekarang baiklah kau beristirahat dulu. Maka tiba-tiba saja timbul kecurigaannya.Pendekar Pemanah Rajawali Itulah si anak muda yang beberapa bulan yang lalu ia tolongi selagi orang terluka dan rebah tak berdaya di atas salju. ia menangis sesambatan. ―Apa she dan nama Tuan?‖ kemudian Sek Yok menanya. ―Aku ada orang she Yen dan namaku Lieh. ia lantas pingsan. yang bersenjatakan sebatang tombak panjang?‖ si anak muda tegaskan. tangannya mencekal keras-keras pada ujung kasur. yang kemudian menghilang tidak keruan paran dari gudang kayu.‖ ia berkata dengan perlahan. ―Nyonya. nyonya.‖ Sek Yok terperanjat. Pemuda itu mengangguk. ―Bukankah suami Nyonya berumur duapuluh kurang lebih. ―Menyaksikan rombongan serdadu itu berbuat sewenang-wenang. ―Kenapa kau ketahui kita terancam bahaya dan kau dapat menolongi?‖ Pria itu bersangsi agaknya. Maka itu hari ia tidak dahar nasi atau minum. ―Untukmu paling baik adalah merawat diri…‖ ―Apakah dia…dia telah meninggal dunia?‖ Sek Yok menanya.‖ si anak muda beritahu. ia telah buka mulutnya tetapi ia batal bicara. ―Tempat ini tempat apa?‖ nyonya ini kemudian tanya.‖ orang itu menhibur.‖ ia menyahut akhirnya Merah mukanya Sek Yok akan dengar itu perkataan ―jodoh‖. ―Mana suamiku?‖ ia tanya. Ia berkeputusan nekad untuk binasa bersama suaminya itu. ia balik kepalanya ke sebelah dalam pembaringan. ia telah dibinasakan oleh rombongan serdadu itu…‖ ia beri pebyahutan. Irawan D Soedradjat Page 20 . Ketika kemudian ia sadar. Sek Yok kaget. maka aku telah tolongi kau. tubuhnya tinggi dan lebar. Besar sangat cintanya kepada suaminya. ―Mana suamiku?‖ Pemuda itu menggoyang tangan.maka itu jangan Nyonya sembarang munculkan diri. ―Dia…dia kenapa. suamiku itu?‖ ia tanya. dengan lancang aku telah mengaku bahwa akulah suami Nyonya…‖ Mukanya Sek Yok menjadi merah.‖ kata pula si anak muda. Si pria kelihatan halus budi pekertinya.‖ si anak muda menghibur pula. ―Nanti saja setelah kesehatanmu pulih. Dari caranya orang berbicara. Ia menjadi tak enak hati untuk bersikap tawar terus. Nyonya. ―Sudahlah. Rupanya karena jodoh kita telah dapat bertemu satu dengan lain. kemudian barulah ia bisa omong juga. lalu ia melanjuti: ―Sekarang ini rombongan serdadu sedang mencari Nyonya. ―Sekarang kau letih dan lemah sekali. ia hanya dengan manis budi menghibur dan membujuki untuk nyonya legakan hati.‖ ―Aku tengah melawan tiga musuh ketika satu musuh jalan mengitar ke belakangnya suamimu itu yang dia tombak punggungnya. aku berukan keteranganku. kita sekarang bearad dirumahnya seorang petani. ―Benar dia. Rupanya roh suci atau malaikat yang telah menunjuki aku justru tolongi penolongku…‖ Ia berhenti sebentar. akan tetapi ia mengangguk. melarang orang berbicara. aku tidak puas. ia tidak memaksa. Lagi-lagi Sek Yok pingsan. jangan bergelisah tidak karuan. mungkin suaminya telah menampak sesuatu kecelakaan.

hendak aku pergi ke Lim-an. ia berhenti menangis. Kapan ia mengawasi kaca. lalu ia tertawa. Pauw-sie tuturkan halnya Khu Cie Kee hendak ditawan tentera negeri. ia berkata: ―Tentera di luar sudah berlalu. ia tunggu sampai orang sudah sedikit reda. Irawan D Soedradjat Page 21 . ia sambuti bubur itu lalu ia dahar dengan perlahan-lahan. bagaimana kau Cuma ingat kematian saja? Nanti suamimu.‖ ia menjawab. tetapi ia lemah hatinya. Yen Lieh terkejut. ia tampak romannya yang cantik bagikan bunga akan tetapi npemiliknya telah tak ada – yang satu tetap menjadi seorang manusia.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kau dan tentera negeri itu datang dari satu jurusan?‖ ia tanya ―Ke…kenapa?‖ Yen Lieh tanya. lalu ia turut keluar dari rumah itu. matanya tak meram…‖ Nyonya itu terkejut.‖ Sampai di situ. tiba-tiba sebatang busur nyasar telah menyambar pundakku. sakit hatimu belum terbalas. lalu ia selipkan di kondenya. agaknya ia kesengsem.‖ berkata si anak muda. ―Tidak ingin aku yang kita nanti kena di bekuk mereka…‖ Sek Yok menangis. Pauw-sie turun dari pembaringannya. ―Aku tadinya menyangka kau juga hendak bantu menawan Khu Totiang. ia gunting itu merupakan setangkai bunga. Ia menjadi sedih sekali. maka ia menangis dengan mendekan di meja. ―Suamiku telah terbinasa. pastilah aku terbinasa kecewa. selagi aku lewat di kampungmu itu. ―Kejadian hari itu sungguh membuat aku penasaran!‖ bsahut Yen Lieh. tak tahu sebab musababnya. yang lain telah menjadi setan…. bagaimana dapat aku membalas dendam?‖ tanyanya. karena mana imam itu telah membuatnya perlawanan dahsyat. Sek Yok dapat lihat kelakuan orang itu.‖ Sek Yok susut air matanya. Ia terus pergi ke dapur. kau hendak dengari ceritaku atau tidak?‖ ia menegur. ―Suamimu telah dibinasakan hamba negeri. ―Dia itu yang menjadi perwira yang mengepalai barisannya. ―Biarnya aku bodoh. Yen Lieh bertindak masuk selagi si nyonya menangis. Yen Lieh mengawasi orang berbicara. Yen Lieh kelihatannya murka. hingga pada mulanya tak ingin aku menolongi kau. ―Ya. ―Aku seorang perempuan. untuk sendok semangkok bubur serta satu biji telur asin. Besok paginya. cara bagaimana kau bisa menuntut balas?‖ katanya perlahan setelah ia bawakan bubur dan telu asin itu kepada si nyonya. mari kita berangkat. yang berada di tanah baka. Nyonya. ―Jikalau kita tidak pelihara kesehatanmu. ya aku tengah memikirkan cara bagaimana kita dapat meloloskan diri dari rombongna serdadu itu. ―Bukankah baru ini kau dapat luka karena kau bersama tentera negeri hendak mencoba menawan Khu Totiang?‖ Sek Yok tanya pula tanpa pedulikan pertanyaan pemuda itu. ―Aku datang dari utara. Sebenarnya imam siapa yang hendak mereka tawan itu?‖ ―Oh. ―Eh.‖ sahutnya kemudian. ―Baik kau pergi sendiri saja…‖ ―Tetapi Nyonya!‖ peringatkan Yen Lieh. siapa musuh nyonya suamimu itu?‖ Nyonya Yo Tiat Sim berpikir sejenak. Itulah tanda ia berkabung untuk suaminya. romannya heran. namanya Toan Thian Tek. Pauw-sie anggap perkataan itu benar. Coba tidak kau tolongi aku. untuk apa aku memikirkan hidup lebih lama…?‖ katanya. Ia cari sepotong kain putih. kiranya kau kebenaran lewat saja dan bukannya dari satu rombongan dengan mereka itu?‖ berkata Sek Yok. ―Dia mempunyakan tanda biru di mukanya. ―Apakah nyonya tahu. akan aku coba membalas dendam untukmu. Nyonya!‖ katanya keras.‖ ―Dia telah diketahui she dan namanya. setelah rapikan pakaiannya ia hadapi kaca untuk sisiri rambutnya. gampang untuk mencari dia.

Diam-diam nyonya ini jadi sangat bersyukur. akan tetapi hatinya tidak tentram. Kepada pengurus hotel. lemah lembut sikapnya. dan biasanya.‖ Sek Yok lemah hatinya. ikan dan bubur yang semuanya harum.‖ Yen Lieh jawab. habis padamkan api lilin. karenanya ia meminta satu kamar.‖ jawab jongos itu. sesudah mana terus ia meramkan matanya. Sek Yok tidak bilang suatu apa. daging asin. Yen Lieh kedipi mata. untuk dikubur dengan baik. sore itu mereka singgah di dusun Tiang-an-tin. ialah pakaian baru.‖ Dua hari mereka berjalan. itu sudah selayaknya saja. yang siapkan dua ekor kuda. yang sekarang telah diobati lukanya. Ia tidak lantas rebahkan diri. ia lantas kunci pintu.‖ sahut Yen Liah. untuk setengah jam ia masih duduk bercokol. sedap dan lezat. ia bungkam. laki-laki sejati. pedang pendeknya tergenggam di tangannya. maka di lain saat. karena itu diwaktu bersantap. bagaimana kau harus membalas budimu ini?‖ katanya. Yen Lieh sudah tidak ada di kamarnya. ia tunggu sampai si jongos itu sudah keluar. meskipun mesti menyerbu api berkobar-kobar. ia menemui orang satu kuncu. hatinya Pauw-sie kurang tenang. rumput kering itu ia delar di lantai. Yen Lieh sudah keluar dari kamar. untuk cegah si nyonya sembarang bicara di depan orang lain. kemudian baru kita pergi cari si Toan Thian tek si jahanam itu guna menuntut balas. walaupun badanku hancur dan tulang-tulangku remuk. Oleh karena itu semakin kurang penjagaan dirinya. Ia ada dari satu keluarga sederhana. yang didatangi. yang terkena panah. Sekarang mendengar omongan yang beralasan dari pemuda ini.Pendekar Pemanah Rajawali Yen Lieh serahkan sepotong perak kepada tuan rumah. ―Kita menuju kemana?‖ tanya Pauw-sie. malah ia bersyukur sekali. Yen Lieh mengaku bahwa mereka berdua adalah suami-istri. Hatinya Nyonya Yo berdebar-debar. ―Apakah itu?‖ tanya si nyonya. pemuda itu telah pergi siapkan kuda mereka dan sudah pesan jongos menyediakan barang makanan. ―Tuan pesan supaya nyonya suka salin pakaian. ―Jiwaku ini adalah nyonya yang tolongi. diam-diam ia meraba pedang peninggalan Khu Cie Kee. ―Inilah barang yang tadi pagi tuan belikan untuk Nyonya. dedaharannya setiap hari adalah sayur dan ikan asin. keduanya sudah jalankan kuda mereka berendeng menuju ke utara. akan aku bunuh diriku!‖ Yen Lieh menitahkan jongos ambil dua ikat rumput kering. matanya memandang ke satu arah. baru kita pergi cari jenazah suamimu. Itu waktu. ―Sekarang kita cari dahulu tempat sepi untuk tinggal sementara waktu. Belasan lie telah mereka lalui. ia bukan saja suka menerima. ―Kau hendak bawa aku kemana?‖ akhirnya Sek Yok menanya pula. Akan tetapi mendahar ini. Yen Siangkong. baru di hari raya atau tahun baru ia dapat hidangan istimewa. kemudian ia membantui nyonya itu naik ke atas kuda. ―Yen. Ia jadi ingat suaminya. di situ ia rebahkan dirinya terus ia tutupi dengan gudri. Di akhirnya ia menghela napas panjang. hatinya menjadi sangat berduka. ―Kita tunggu sampai suasana sudah mulai reda. Bab 3. jongos datang menyerahkan satu bungkusan.‖ Irawan D Soedradjat Page 22 . ―Maka itu tubuhku ini aku serahkan kepada nyonya untuk nyonya suruh-suruh. baru ia tidur tanpa buka pakaian luar lagi. satu diantaranya adalah kudanya Sek Yok. didalam hatinya ia bilang: ―Asal dia berlaku kurang ajar sedikit saja. ia memang tak dapat berpikir apa-apa. Tujuh Orang Luar Biasa Kapan besok paginya Pauw-sie bangun dari tidurnya. ―Nyonya silakan tidur!‖ ia berkata. Barang hidangan itu terdiri dari masakan ayam. Tak lama sehabisnya dahar.

sebaliknya dari angkat kaki. Si nona menangis. akan tetapi terhadap rakyat jelata. ia berkata. Tepat orang lari kira enampuluh tindak. ―Diam!‖ dia membentak. ia berpaling kepada si nyonya. mereka galak bukan kepalang. malah mereka main merampas dan paksa. malah gendewa itu dipakai memanah pula beruntunruntun. ―Mari kita liat!‖ Pemuda ini berlaku tenang. akan aku panah batang lehernya!‖ Selagi pemuda ini berkata. tidak ada ampun lagi serdadu itu terpanah batang lehernya. ―Celaka!‖ Sek Yok menjerit karena kaget dan takut. ―Kamu ada bawahan siapa?‖ ia tanya. ―Lekas pergi!‖ Pada waktu itu tentera Song. Irawan D Soedradjat Page 23 . Ia tampak seperangkat pakaian baru warna putih. ia ketakutan. Mereka maju terus. Tiga serdadu lainnya tengah mengurung si nona yang mereka perlakukan dengan ceriwis. Segera si nyonya lihat di tangan kawannya ada gendewa yang bersinar kuning emas. yang sangat bersyukur. Satu serdadu segera hampiri dua orang ini yang mereka dapat lihat. Yen Lieh lompat turun dari kudanya. baju pendek. Sek Yok takut bukan main. si serdadu lari terus. Justru ia hendak ajak Pauw-sie melanjuti perjalanan. Dua serdadu lagi memeriksa mengaduk-aduk buntalannya si orang tua. ―Tunggu sampai ia lari lagi tiga tindak. ―Lagi-lagi serdadu mengganggu rakyat jelata. yang uangnya dan lainnya barang mereka pindahkan ke saku mereka sendiri. Serdadu itu lantas berseru. Menyaksikan orang lari ngiprit. maka gendewa ditarik. pakaiannya tidak karuan. Tinggal serdadu yang kelima. ―Hebat!‖ memuji Sek Yok tanpa terasa. sesudah itu untuk satu malaman ia mesti larilarian. Sore itu selagi mendekati dusun Kiap-sek-tin. dituruti empat kawannya. Ia lantas siapkan pula busurnya. tentu mereka kalah dan lari. ujung panah tembus ke tenggorokannya.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok buka bungkusan itu yang membuat dia melengak. ia justru maju mendekati. Ia tertawa girang sekali. tiba-tiba mereka mendengar jeritan hebat dari sebelah depan. yang lainnya ada pakaiaan dalam. Tapi justru itu. ―Mari kita lekas menyingkir…‖ Yen Lieh sebaliknya tersenyum simpul. Yen Lieh tertawa enteng. busur meleset mengejar dengan cepat sekali. dadanya tertumblaskan sebatang busur. sapu tangan dan handuk. hingga lagi tiga serdadu rubuh seperti rekannya yang pertama. ―Kamu bikin apa?‖ Yen Lieh benar-benar tidak takut. mereka anggap inilah untung mereka. anak panah mana dikasih masuk ke dalam kantungnya. dia lalu putar tubuhnya untuk lari merat. kalau menghadapi musuh bangsa Kim. ia mengeluh dalam hatinya. Yen Lieh cambuk punggung kuda si nyonya selagi ia pun kasih lari kudanya dengan begitu kedua ekor kuda segera lari keras. Di situ terlihat lima serdadu. Dialah ynag tadi menjerit. berikut sepatu dan kaos kaki putih juga. ia hampiri lima serdadu itu. ―Dia seorang pria. dengan mencekal golok panjang. dari samping kiri muncul dengan tiba-tiba sepasukan serdadu dengan suara mereka yang berisik. dengan begitu dapat ia menentramkan sedikit hati si nyonya kawan seperjalanannya itu. Sekarang setelah tukar pakaian. hingga di sebuah tikungan. lalu ia maju mendekati. sambil tertawa. kupingnya mendengar suara menyambar ―Serr!‖ lalu satu serdadu menjerit dan rubuh.‖ kata Sek Yok ketakutan. lagi pegat seorang lelaki tua yang ada bersama satu anak muda serta satu nona. untuk cabuti anak panahnya dari tubuh mereka. cara bagaimana ia dapat memikir begini sempurna?‖ katanya dalam hati. ia putar balik kudanya untuk lari. Maka itu melihat Yen Lieh cuma berdua dengan satu nyonya manis. Perjalanan sudah lantas dilanjuti. ia berubah seperti seorang baru. Memang ketika ia keluar dari rumah. Pauw-sie kaget sekali. maka pakaiannya jadi kotor dan pecah disana sini. membentak. Bukankah ia baru saja lolos dari bahaya yang menakuti? ―Jangan takut!‖ kata Lien Yeh sambil tertawa. habis itu ia melompat naik pula ke atas kudanya.

tanpa mengucap sepatah kata.‖ kata perwira itu tetap dengan sangat hormat. Karena itu terpaksa ia tahan kudanya. akan tunggu kudanya Pauw-sie rendengi ia. dosaku berlaksa kali mati. kau lihatlah surat ini!‖ Perwira itu melirik kepada satu serdadu di sampingnya. hingga ia tercengang.‖ ia berkata. lalu dengan tiba-tiba. mukanya menjadi merah. ia pondong Pauw-sie untuk dipindahkan ke kuda yang baru. mereka mengejar. dan wajahnya terus menunjuki ia bergelisah. Seorang diri. ―Nanti pie-cit melakukan pemeriksaan untuk memberi hukuman. Pauw-sie takut bukan main. Ia mengedipi mata. akan keluarkan sepucuk surat. surat itu pun segera ia ancungkan ke atas kepalanya. setelah mana ia kaburkan kudanya itu. Sementara itu. larinya pun menjadi tambah perlahan. ―Kami masih kekurangan seekor kuda.‖ pintanya. Pauw-sie menoleh ke belakang. maju tidak. Serdadu itu lantas sambuti surat itu untuk dihanturkan kepada pemimpinnya. selaku tanda hormat. terutama oleh pengejar yang motong jalan dari samping. ia sambar si nyonya untuk ditarik dan dipindahkan ke kudanya. ―Bilang aku ada punya urusan penting dan mesti pulang lantas. ―Nampaknya tentera mu kurang kenal tata tertib ketenteraan!‖ katanya sambil tertawa. Satu perwira yang bersenjatakan sebatang golok besar. Kerananya ia jadi ketinggalan Yen Lieh. selagi tentera pengejar mendatangi semakin dekat.‖Kau hendak tunggu apalagi?‖ Sebaliknya daripada serahkan diri atau ketakutan. lukanya yang belum sembuh telah pecah pula dan mengeluarkan darah. lantas ia menjadi kaget sekali dan ketakutan.‖ katanya. ―Kau siapa!‖ ia membentak. Yen Lieh sambuti kembali surat itu. ―Perwira itu tuntun kudanya sendiri. Yen Lieh manggut perlahan ia lantas sambuti kudanya si perwiara. Yen Lieh kena dicandak pengejarnya. dengan tergesa-gesa ia lompat turun dari kudanya untuk memberi hormat. Segera ia tidak punya jalan lagi. Akan tetapi ketika itu sudah terlambat. tiba-tiba Yen Lieh tahan kudanya. ―Kau tidak hendak turun dari kudamu untuk manda dibelenggu?‖ perwira itu menegur.‖ ―Baik. Yen Lieh sebaliknya tenang. Yen Lieh tertawa pula. ―Apakah kamu adalah pengawal pribadi dari Han Sinsiang?‖ ia tanya. Karena tadi ia menunda kudanya. tidak kenali tayjin. lalu bersama-sama mereka lanjuti perjalanan mereka ke utara. ia dapatkan sejumlah tentara pengejar lebih dari seribu jiwa. dari itu aku tak dapat pamitan lagi. Irawan D Soedradjat Page 24 . nyampingpun tidak. ―Pie-cit.‖ katanya. Perwira itu menjura dalam.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tangkap!‖ berteriak tentera yang di belakang itu apabila mereka melihat mayat-mayat rekannya. mukanya pucat pasi. ―Pergi kau sampaikan kepada Han Sinsiang. Yen Lieh rogoh sakunya. pie-cit mengerti. Setelah lari serintasan. lalu sambil terus berteriak-teriak. ―Apakah kau tidak kenali aku?‖ dia bertanya. Karena lari terlalu keras. tayjin. Sek Yok heran yang ia dipanggil ―hujin‖ atau nyonyanya si anak muda. suaranya dan sikapnya sangat merendah. mana bisa Yen Lieh melawan mereka itu walaupun pemuda ini lihay ilmu panahnya? Celaka adalah kudanya si nyonya Yo ini. ―Pie-cit mohon diberi ampun…. mukanya menjadi pucat.‖ Tidak saja perwira itu membasakan dirinya ―pie-cit‖ yang artinya ―bawahan yang rendah‖. Pauw-sie mengawasi kejadian denga hatinya heran bukan main. kopiahnya kopiah besi dan bajunya lapis besi juga. ―Silahkan hujin pakai kudaku ini. Heran perwira itu. baik.‖ katanya. Lagi selintasan. ―Nah. maju menghampiri. Dia tertawa pula. Kapan perwira itu sudah membaca. Yen Lieh tertawa gembira. Ia bicara terhadap Pauw-sie. Yen Lieh tidak pedulikan lagi pemimpin pasukan itu.

Ia tidak mengerti. kadang-kadang yang satu di depan yang lain di belakang. apapula segala perwira itu……. tapi anak muda itu. ―Budimu yang besar.‖ ―Harap kau tidak sebut-sebut tentang budi…‖ kata Sek Yok. tentang sakit hati suamimu itu serahkan kepada tanggungjawabku seorang. atau setempo dengan berendang. ―Jikalau nyonya anggap saranku kurang sempurna. nanti aku belikan yang baru. ―Pakaianmu sudah terpakai lama.‖ kata Pauw-sie.‖ dia bilang. mereka tiba di Kee-hin. ―Hari masih siang. orang pun bukan sahabat bukan sanak. ―Kita tunggu sampai suasana reda. ―Akan aku turut segala titahmu. Nyonya legakan hati.‖ Lantas keduanya larikan pula kuda mereka. Nyonya. baru kita berangkat pula ke selatan ini untuk maksud menuntut balas itu. Bukankah ia sudah rudin dan tak bersanak kandung juga? Kemana ia mesti pergi untuk pernahkan diri? Bukankah lebih baik ia turut pemuda ini? Tapi dia ada satu janda. Untuk melegakan hati si nyonya.‖ katanya. Ia berpaling kepada si anak muda. Di sepanjang jalan ada kedapatan pohon-pohon yangliu dan bunga.‖ Menampak sikap orang itu. pihak tentera tentu telah membuatnya persediaan. sambil tunduk. ―Mari kita cari hotel untuk singgah dan beristirahat dulu. Hawa udara ada nyaman karena itu waktu pun ada di musim pertama yang indah. pandai ia memilih bahan pembicaraan.Pendekar Pemanah Rajawali Sesudah jalan beberapa puluh tindak. ―Nyonya…. kita pun bisa mendapat celaka. Luas pengetahuannya si anak muda. agaknya mereka itu masih mengasih selamat jalan…….‖ Sek Yok melengak. ingin ia menanya. baik. ―Baik.‖ Yen Lieh bilang. Sek Yok menjadi tak enak sendirinya. Untuk herannya ia lihat si perwira dan barisannya masih belum pergi. ―Walaupun Han To Cu sendiri yang melihat aku. dapatkah kau mempercayai aku?‖ bia tanya. Nyonya…. Yen Lieh menjadi girang sekali. ―Nyonya . sambil tertawa mendahulukan dia. ―Maka itu. sebenarnya kita masih dapat melanjutkan perjalanan. ―Sekarang ini kita telah ketahuan siapa adanya. sebuah kota besar di Ciat-kang barat. kota dari sutera dan beras.‖ ―Jikalau begitu. Yen Lieh berdiam sejenak. ―Sekarang ini mari kita balik dahulu ke utara. silahkan kau beri petunjukmu.‖ Sek Yok bingung tidak berdaya. dia jerih tiga bagian. sekarang ia terletak dekat dengan kota raja. Pada tengah hari di hari ketiga. Sek Yok heran dan kagum untuk si anak muda. ini kawan seperjalanannya yang sebenarnya asing untuknya. ―Apanya yang dibilang lama?‖ Irawan D Soedradjat Page 25 .‖ kata Yen Lieh melihat orang berdiam saja. Yen Lieh sering membuka pembicaraan. sesukamu…‖ katanya perlahan.‖ Yen Lieh mengajak. Pauw-sie mengangguk. keramaiannya menjadi bertambah sendirinya. pastilah gampang untuk kau membalaskan sakit hatiku. cara bagaimana ia bisa terus ikuti pemuda itu? Dia jadi menjublak karena kesangsiannya itu. ―Baiklah.‖ Sek Yok mengutarakan pikirannya. Nyonya.‖ ―Habis bagaimana?‖ si nyonya tanya pula. apabila kita pergi menuntut balas sekarang juga.. Memangnya kota sudah ramai pada asalnya. tak nanti aku lupakan. tidak melainkan kita bakal gagal.‖ sahut si anak muda.‖ Yen Lieh berkata. Ia dapati orang halus sikapnya dan menarik kata-katanya. Percaya saja ia ragu-ragu. Orang pun tampan dan menyenangkan untuk dipandang. ―Disini ada banyak toko. ―Bukankah ini baru dibeli?‖ tanyanya. Sek Yok menoleh ke belakang. ―Soal itu ada lain.

sepatu itu berbunyi ketrak-ketruk walaupun ia jalannya perlahan. Ia menjadi berani. jongos. ia jadi menduga terlebih keras. kotor juga mukanya yang penuh debu.‖ kemudian kata si pemuda. ―Apa?! Kau tidak membawa uang?‖ katanya. Tiba-tiba orang jorok itu tertawa. ―Aku tengah berkabung…‖ katanya perlahan. ―Apakah kau tengah menipu dia? Janganlah kau nanti rembet-rembet kami!‖ Irawan D Soedradjat Page 26 . ia tangal-tongol di muka pintu dengan begitu ia jadi dapat lihat orang tidak punya uang. Ia mau menyangka tadi karena terburu-buru ia lupa bawa uangnya. Nyonya. Dengan lekas ia menghampiri. Jongos mengikuti ke kamar. Orang itu perdengarkan pula tertawanya yang kering itu. Sementara itu tangannya meragoh ke sakunya. dia ada membekal uang empat atau lima puluh tail perak akan tetapi sekarang kantungnya kosong.‖ terangkan si anak muda. ―Kau tunggu sebentar. Jongos itu lihat air muka orang.‖ Yen Lieh bilang. hendak aku balik ke kamarku untuk mengambil. Yen Lieh terus tanya-tanya orang. untuk mengakali kaum wanita. laginya dengan wajah ini. ―Terang itu aku tahu. harap kau tidak kecil hati. kau bikin apa`?‖ ia menegur. ia menoleh kepada jongos hotel seraya berkata dengan keras: ―Eh. orang mana menyolok perhatiannya. ia menjadi tercengang pula. bagaikan siulannya burung malam. Di tangannya ia mencekal satu kipas kertas minyak warna hitam yang sudah buntut. lalu duduk bersantap. Ia dapatkan buntalannya tidak ada uangnya. khawatir tubuhnya nanti kena terlanggar. maka itu sambil mengerutkan kening. bukannya aku kurang ajar…‖ katanya sambil memberi hormat. Nyonya. ia gancangi tindakannya. sepatunya terus berbunyi: ―Truk! Truk! Truk…!‖ Panas hatinya Yen Lieh.‖ kata Yen Lieh. ―Dengan dipakai baru satu dua hari. suaranya kering. atas tepukan itu tak keburu ia berkelit. ialah pakaiannya kotor. akhirnya ia ajak nyonya itu ke hotel Siu sui yang paling besar untuk kota Kee-hin. Setibanya di dalam kamar. buat anglap makanan dan hotel! Terhadap bocah begitu macam. mana boleh kau tidak memakai pakaian dari bahan yang terbaik?‖ Diam-diam senang hatinya Sek Yok karena orang puji kecantikannya. Mungkin sudah belasan hari ia tidak pernah mandi. tindakan kakinya terus berbunyi ketrakketruk. Ketika ia tiba di ujung hotel. si jorok itu ulur tangannya. berminyak. mau tidak mau timbul kecurigaannya. Yen Lieh lantas pergi keluar. Nyonya itu lantas membungkam. tetapi karena orang demikian jorok. tak mau ia jalan di dekatnya. tertawanya itu tajam menusuk telinga. ―Kau pegang uang ini!‖ katanya menyela. tak tahu ia di mana lenyapnya uangnya itu. Sekarang ia tak sungkan-sungkan lagi.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kita jalan jauh dan ditengah jalan banyak debu. Yen Lieh bisa duga hati orang. ―Kau tunggu . dia pentang aksi untuk bikin orang silau guna menipu. dengan kipas bututnya dia tepuk pundaknya Yen Lieh. Orang mirip dengan satu sastrawan tetapi ia jalan sambil menyeret sepatu kulit. dia ngeloyor terus. pakaianmu sudah tak mentereng lagi. kau mesti awas mata! Paling baik kau minta dia membayar uang sewa di muka!‖ Lalu dengan tak menantikan jawaban. Pauw-sie mengangguk. ―Eh. ―Bukankah dia maksudkan aku?‖ Jongos itu melirik kepada pemuda ini. dengan pakaiannya yang mentereng. ―Binatang!‖ katanya dalam hatinya. ia jalan terus. baru ia sampai di muka hotel. Dia tertawa terus beberapa kali. akan tetapi. tuan besarmu ada punya uang perak! Di pihak lain. ―Apakah wanita ini benar istrimu?‖ dia tanya. Dia pun tidak karuan dandannya. Anak muda ini gagah. Tepat ketika keduanya impas-impasan. hendak aku pergi berbelanja. Yen Lieh ada apik. ―Tuan. walaupun orang mirip sastrawan. Di sini mereka paling dulu bersihkan tubuh. tetapi segera ia melongo. sembari jalan dia mengipasipas tak hentinya. Ia menjadi tidak senang. ada bocah yang tersesat. ia lihat seorang mendatangi. kau jangan pandang tak mata kepada baju tuanmu yang rubat-rabit ini! Kau tahu. Ia heran. Ia tahu.

―Apakah kamu hendak berkelahi?‖ tanya Yen Lieh sambil tertawa. lalu ia terus pergi. yang romannya seperti buaya darat.‖Bagaimana kau berani sembarang sebut namanya Khay Toaya kami?‖ Yen Lieh rogoh sakunya. Kali ini ia tertawa. Hendak aku lihat. ―Itulah yang aku kehendaki!‖ sahutnya. Tak tahu ia maksudnya pemuda ini. kau she apa?‖ menegur yang menjadi kepala. akan kemudian diturut oleh kawan-kawan yang telah terima hajarab. ia berkata: ―Kau bawa suratku ini. mereka sipat kuping. tiehu atau residen dari Keehin. urusan menjadi hebat. ―Ah. Di situ ia lantas bercokol. ―Kita tidak punya uang tetapi kita boleh suruh mereka mengadakannya!‖ Ia lantas sembat sebuah kursi yang ia letaki di ambang pintu. Kemudian mereka menjdi gusur. jangan kasih dia buron…‖ pesannya pada orang-orangnya. kemudian sambil matanya memandang mega. ―Pergi kau panggil Khay Oen Cong kemari!‖ ia bilang. untuk mengeluarkan sepucuk surat yang mana ia lemparkan ke atas meja. Dengan tiba-tiba Yen Lieh mencelat ke pintu dan tangannya menyambar.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok tidak tahu apa yang sudah terjadi tetapi ia dapat menduga. ―Apakah kau edan?‖ si kepala polisi tanya. sisa yang lainnya lantas lemparkan senjata mereka dengan memutar tubuh. Irawan D Soedradjat Page 27 . hingga orang itu jungkir balik. ialah ruyung pendek yang bercagar atau gagangnya bergaetan. Hamba negeri itu terkejut. ―Jangan kita nginap disini!‖ ―Jangan takut!‖ kata Yen Lieh. ―Sudah menipu wanita. Yen Lieh tetap tertawa. ya bagus betul! Kau sewa kamar tidak mau bayar. tangan mereka membawa toya dan ruyung. Tentu ia menjadi gusur. Khay Oen Cong itu adalah namanya pembesar mereka. mukanya menjadi merah.‖ kata SekYok dengan berkhawatir. di luar terdengar suara berisik lalu muncul belasan orang polisi. mungkin nanti datang pembesar negeri. ia datang ke mari atau tidak!‖ Orang polisi itu jumput surat itu. Mereka pun bekal borgol yang rantainya berkontrangan. kasihkan pada Khay Oen Cong. hotel menjadi sunyii. Pihak hotel atau tetamu. tidak ada yang berani banyak mulut lagi. masih berani galak. ―Kamu jaga dia. sikap mereka garang. Nyonya Yo bungkam. ―Mana dia si penjahat!‖ Yen Lieh bercokol tidak bergeming. Menyaksikan sikap orang itu. Sekejap saja empat lima orang telah terguling rubuh. ―Plok!‖ demikian suara di mukanya si jongos yang pipinya menjadi bengap dan giginya rontok beberapa biji. kau juga berani pukul orang!‖ Dengan murkanya Yen Lieh mendupak. lalu tahu-tahu ia telah rampas toyanya satu orang denagn apa terus ia menghantam kalang kabutan. yang bersenjatakan golok dan thie-cio. Jongos tadi yang telah kabur keluar segera kembali bersama belasan orang. ―Mari kita lekas pergi!‖ Sek Yok mengajak. suaranya keren. sambil pegangi pipinya dia menjerit: ―Bagus. Menampak demikian. Kata-kata itu disusul sama mencelatnya tubuhnya. aturan dari mana?‖ demikian di antarannya pentang bacot. akan tetapi agaknya ia masih sangsi. Baharu kemudian. yang repot merayap bangun. ―Mau apa kau datang ke Kee-hin ini?‖ Yen Lieh tetap tidak bergerak. rombongan oppas itu tidak berani lantang maju. Ia malu dan bergelisah. Untuk kira setengah jam. setelah membaca sampulnya ia terkejut. ―Eh.

lenyap darahnya. dia berlutut seraya memohon ampun. benar-benar tidak pantas!‖ Sek Yok heran. Nyonya Yo Tiat Sim menjadi terperanjat. keduanya lantas saja memberi hormat sambil tekuk lutut. Itulah suara beberapa puluh orang polisi. aku menyangka dialah sanaknya kaisar.. ia membungkuk sedikit. ―Sebenarnya suratmu itu wasiat apa?‖ ia tanya. kami tidak datang menyambut. yang satu bermuatkan emas berkilau kuning dan yang satunya lagi bersis perak yang berkeredep putih. ia tidak menyahuti. kalau negara mereka tidak lenyap. ―Ya. orang-orang sebawahannya Tio Kong semua bangsa kantong nasi.‖ dia berpikir. ia bersangsi. tolong sebutkan. ―Pembesar itu sendirinya tak punya guna. lalu dengan cepat ia seret si jongos pergi. ―Piecit telah siapkan tempat beristirahat. hatinya terus goncang. nanti piecit siapkan. ia lemparkan itu ke atas tanah. ―Di tempat kami ada penjahat yang main gila. hingga ia bisa tertawa. Cuma tangannya diulapkan. ―Baik.‖ Dengan tiba-tiba wajah si anak muda menjadi keren. ―Atau setidaknya dia pembesar berpangkat sangat tinggi….‖Piecit tidak ketahui tayjin tiba disini. ―Satu pembesar sampai ketakutan demikian rupa!‖ Yen Lieh tertawa. tiehu dari Kee-hin dan Kiang Bun Kay tiekoan dari Siu-sui-koan.‖ Yen Lieh dongak. Jongos saksikan itu semua. ia berlutut dan manggut-manggut. ―Tio Kong ialah Kaisar Leng Cong yang sekarang!‖ sahut Yen Lieh. lekas-lekas ia pungut uang itu. ya. habis mana. ―Sekarang ini sudilah kiranya Tayjin menerima dahulu ini jumlah yang tidak berarti. ―Lekas pergi!‖ Jongos itu melengak. ―Tempat di sini lebih meyenangkan. ―Aku telah kehilangan uang di dalam kecamatan ini. Tak tahu ia urusan bakal jadi bagaimana hebatnya. Karena ini. ―Tayjin masih membutuhkan apalagi. Kamu jangan ganggu aku.‖ berkata mereka.‖ Yen Lieh tertawa. Khay Oen Cong menyahuti dengan cepat. Yen Lieh mengambil sepotong perak dari atas nenapam. harap tayjin suka memaafkannya. ―Aku lebih suka tempat yang tenang. itulah kealpaan kami. aku mohon Tuan-tuan suka tolong periksa dan mencarinya.‖ Yen Lieh ulapkan tangannya. semua pembesar sipil dan militer hormati dan takuti dia.‖ berkata Khay Oen Cong. ―Sebenarnya tidak ku niat pedulikan mereka. ia mengangguk.‖ tiehu itu memohon kemudian. tetapi kapan kuasa hotel lihat wajah si tetamu tenang dan ramah.‖ ia menyahut. silahkan Tayin dan hujin singgah di sana. terutama terhadap Kiang Bun Kay si camat. Kenapa dia sekarang berani terang-terangan menyebut nama kaisar? Irawan D Soedradjat Page 28 . Oen Cong dan Bun Kay mengundurkan diri dengan hormat dan tanpa berisik semua polisi mengikuti mereka. Dengan tidak bilang apa-apa lagi. baiklah. hebat ia menunggu kira setengah jam. ―Piecit adalah Khay Oen Cong. mukanya menjadi pucat. Bukankah residen dan camat pun mesti berlutut terhadap tetamunya itu? Tidak ayal lagi dengan dipimpin kuasa hotel. ―Dia mengaku sebagai sahabatnya Han Sinsiang. yang mengiringi dua pembesar dengan pakaian dinasnya.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok saksikan itu semua. hatinya pun lega. sesudah mana di luar hotel terdengar pula suara berisik dari orang banyak. Kapan mereka berdua sampai di depan Yen Lieh. Dengan cara hormat.‖ kata Oen Cong dan Bun Kay dengan cepat. atas mana muncul dua orang polisi yang membawa dua menampan-menampan. Sampai disitu Pauw Sek Yok menjadi heran.‖ berkata Yen Lieh. khawatir orang gusar.‖ ia berkata. Khay Tiehu lantas angsurkan suratnya pemuda itu. ―Siapa itu Tio Kong?‖ tanyanya. ia menoleh ke belakang seraya geraki tangannya. ―Aku persen ini kepadamu!‖ katanya sambil tertawa.‖ katanya.

Pendekar Pemanah Rajawali Kalau hal ini di dengar orang.‖ dia menyahuti. ―Akhir-akhirnya kamu dapat cari aku!‖ kata Yen Lieh sambil tertawa Sek Yok dengar orang dipanggil ―ong-ya‖ – ―sri paduka‖. ia tidak terlalu heran. namaku mesti ditambah satu huruf ―Wan‖ di atasnya. ―Sekarang baiklah aku omong terang padamu!‖ katanya. Yen Lieh mengangguk. Ia baharu mau menyahuti. apa ini didengar orang. Irawan D Soedradjat Page 29 . Sek Yok sebaliknya terkejut.?‖ Maka lekaslekas ia berkata ― Bicara hati-hati! Nama raja mana boleh sembarangan disebut-sebut?‖ Senang Yen Lieh akan mengetahui nyonya ini menyayangi dia.‖ sahut putra raja Kim itu. ―Apakah mereka bukannya tentara Song?‖ si nyonya membaliki. Wanyen Lieh lihat air muka orang berubah. Di samping itu kebetulan kaisar Song belum membayar upeti tahunannya yang berjumlah beberapa puluh laksa tail perak. semua menunjuki wajah sangat girang. Ia hanya heran menyaksikan rombongan serdadu itu. Ia lantas saja mengerutka kening.. ―Ya.‖ ―Upeti tahunan?‖ Sek Yok heran. yang menjadi musuh Tionggoan. dibawa pulang ke negeri Kim itu. ―Sebenarnya aku yang rendah ini adalah Wanyen Lieh. Tentu saja oleh karena ini ia menjadi tidak dapat membuka mulutnya. Yen Lieh tertawa. tapi di luar hotel terdengar tindakan dari beberapa puluh kuda yang terhenti tepat di muka hotel. Ia lantas berkata. ―Semua serdadu itu adalah tentara pilihan dari negara Kim yang besar!‖ Dan dia tertawa pula. tetapi dengan alasan penghasilan negaranya tidak mencukupi. apa itu bukan artinya sangat kurang ajar. hampir berbareng mereka menyerukan: ―Ongya!‖ Dan lantas semuanya memberi hormat sambil berlutut. ―Bagaimana kau lihat semua orangku dibandingkan dengan tentara Song?‖ ia tanya. ―Kalau begitu kau jadinya. ―Bicara terus terang nyonya. ―Setibanya kita di utara. karenanya pada tahun baru yang baru lalu telah aku mohon Ayahanda raja mengirim aku ke Lim-an sebagai utusan yang datang untuk memberi selamat tahun Baru kepada kaisar Song. dia janji saban tahu mengirim upeti uang dan cita.‖ ia menyahut sambil tertawa. aku sendiri bakal mengepalai angkatan perang untuk mengambilnya dan dia tak usah capekkan hati lagi mengurusnya!‖ ―Apa katanya Han Sinsiang?‖ Sek Yok tanya. Pangeran Tio Ong adalah aku yang rendah…. Pernah dahulu ia dengar ayahnya bercerita bagaimana bangsa Kim telah menggilas-gilas wilayah Tionggoan.‖ Mau atau tidak Sek Yok terperanjat. ―Tidak ada halangannya untuk aku menyebeutkan namanya. ―Ke Utara?‖ dia bertanya. Mereka semua bertubuh besar dan kekar. Segera terdengar tindakan banyak kaki yang bersepatu kulit memasuki ruang hotel. Peragamannya rapi. riang gembira. Kemudian. ―Semua keluar!‖ kemudian Yen Lieh berkata. apabila dalam tempo satu bulan upeti tidak dibayar penuh. setelah ia menikah dengan Yo Tiat Sim. Begitu mereka melihat Yen Lieh. Yen Lieh kembali tertawa. bahwa rakyat di utara telah diperlakukan dengan kejam oleh bangsa Kim itu. putra keenam dari Raja Kim. yang terus berbangkit untuk berdiri dengan tegak. dari itu Ayahanda raja menitah aku menagihnya sekalian. tangannya diulapkan. maka kali ini aku tidak sungkan-sungkan lagi menghadapi Perdana Menteri Han To Cu. orang dengan siapa siang dan malam ia berada bersama selama beberapa hari. adalah putranya raja Kim itu. Sekarang diluar tahunya. lenyap senyumnya si nyonya. aku tandaskan kepadanya. ― Telah lama aku kagumi keindahan wilayah selatan. bagimana dua kaisar Tionggoan telah ditawan. jikalau kita tidak panggil dia Tio Kong. terus ke muka kamarnya si anak muda. Itulah beberapa puluh serdadu denag pakaiannya yang tersulam. kau…‖ katanya Sek Yok dengan suara yang gemetar. habis kita mesti memanggil apa?‖ Lagi sek Yok terkejut. ia tercengang. ia juga ketahui bagimana hebat suaminya itu membenci bangsa Kim itu. sering-sering kaisar Song tidak menepati janjinya. nampaknya ia sangat tidak puas. Dengan berbareng menyahuti semua serdadu itu mundur teratur. ―Kerajaan Song mohon negaraku tidak menyerang dia. Mereka beda daripada tentera Tionggoan. panjang dan puas sekali.

‖ kata Wanyen Lieh kemudian. Sekarang ia insyaf bahwa manusai tidak dapat di lihat dari romannya saja. yang kelihatan cuma kepalanya yang gede. tetapi sekarang tanpa merasa ia berseru. nampak beda juga. ia akan mohon ayahnya angkat ia menjadi Gouw Ong. maka itu diam-diam ia mengaguminya. cukup dengan utus satu menteri. Kuda itu kaget. sesudah itu. tegap tubuhnya dan pesat gerakkannya.‖ Pauw Sek Yok tetap bungkam. terang itu adalah kuda asal luar tapal batas. kapan ia mengepalai angkatan perang mendatangi wilayah ini. bercokol lagi di bebokong kuda seperti tadi. ia hanya heran sekali. dan pinggiran jalanan pun ditempati pedagang-pedagang gelar dan pikulan. Wanyen Lieh memuji akan tetapi.‖ berkata pula Wanyen Lieh. ―Menagih upeti ada urusan yang remeh. yangmuncul mengkeret di atasan pundaknya. Tepat di itu saat. kate terokmok angkat lesnya. Di sebelah keanehan si penunggang kuda. Ia lantas memikir untuk nanti. sungguh aku sangat beruntung. Kapan ia ingat suaminya. numprah dengan aman! Wanyen Lieh kagum hingga ia menjublak.‖ pikirnya. orang-orang yang berlalu lintas kebetulan banyak. Sebentar saja kuda itu telah tiba. tak habis kau pakai itu selama seribu tahun. kapan ia saksikan penunggangnya. aneh juga cara kudanya berlari-lari. maka adalah diluar dugaanku. ―Kuda itu jempol. aku bertemu dengan Nyonya. dengan bercokol di atas kuda yang tinggi besar. Dengan membekal uang. ―Nah. Jalan besar di situ tidak lebar. kenapa ada orang yang larikan kudanya di situ. jikalau aku pakai itu untuk membeli pakaian. Hampir di itu waktu. ia jadi tertawa sendirinya. ―Bagus!‖ Si kate terokmok dengar orang memuji dia. Ia lihat penduduk kota ada halus gerak-geriknya. ia mirip setumpuk daging belaka. Dengan perasaan puas. Wanyen Lieh merasa ia adalah satu ahli penunggang kuda. ―Uang pribadi Han Sinsiang sendiri yang dibekali padaku.‖ kata Sek Yok tunduk. Itulah perlakuan istimewa. ―Tidak usah. Hahaha!!‖ Sek Yok berdiam. di empat penjuru sini telah berjaga-jaga pasukan pribadiku. sekarang hendak aku pergi beli pakaian. dengan hitung besar dan bulat seperti buah prim merah ditempel di muka. karena hotel itu telah dijaga rapat. di negaranya sendiri – negera Kim tidak ada penunggang kuda sepandai dia walaupun ia ada punya banyak ahli penunggang kuda. Sudah ia pendek tangan dan pendek kaki. apa maksudnya putra raja Kim itu yang ia seorang wanita dari rakyat jelata. tubuh si kate turun pula.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apa lagi dia bisa bilang? Belum lagi aku meninggalkan Lim-an. seperti kelit sana dan kelit sini. kakinya bergerak. pangeran wilayah selatan ini. Irawan D Soedradjat Page 30 . tidak nanti orang jahat yang berani ganggu padamu!‖ Mendengar itu Sek Yok mau menduga bahwa ia telah diancam dengan samar-samar bahwa tak dapat ia melarikan diri apabila ia memikir demikian. Lihay luar biasa si cebol itu. Kuda itu tidak pernah menerjang barang atau menyentil orang. walaupun kuli. ia lantas mendekam di pembaringannya dan menangis sedih sekali. Alisnya kuncup. Penunggang kuda itu adalah seorang yang tubuhnya kate dan terokmok dan romannya jelek. supaya dapat ia tinggal tetap di Kanglam…. Nyonya! Kau jangan takut. Itulah seekor kuda kuning yang tinggi dan besar. Itulah satu muka yang merah seperti ampas arak. karena ingin aku menyaksikan kepermaian wilayah selatan ini. Wanyen Lieh pergi ke kota di bagaian yang ramai. ―Aku tetapi datang sendiri. lehernya pun seperti tidak ada. kuda mana terus lompat melewati atas kepalanya dua bocah itu. matanya memandangi sekitarnya hingga mendadak ia dengar larinya kuda derap. maka dengan itu Wanyen Lieh dapat lihat tegas muka orang. Ia lantas menyingkir ke pinggiran. atau melompati pukulan pedagang-pedagang. di jalan itu muncul dua bocah berlari-lari main kejar-kejaran melintas di depan kuda. yang sangat mencintainya. diperhatikan demikian macam. Menampak kuda itu. baik aku beli denagn harga istimewa. ia dapat bergerak merdeka. dia berpaling. uang dan cita sudah diseberangkan sungai. tubuhnya pun terangkat dari bebokong kuda. orang bangsawan ini bertindak dengan perlahan-lahan. Putra raja Kim itu tertawa ketika ia berkata pula.

Karenanya ia lantas ambil ketetapan untuk undang kate terokmok itu. Tak biasanya kuda larat dapat berhenti secara demikian tiba-tiba.‖ dia negelamun terlebih jauh. Wanyen Lieh segera dapat mencium baunya arak yang melulahkan terbawa angin. biasanya kuda itu mesti berlari-kari perlahan dahulu. ―Kebetulan hari ini kami dapat empat ekor ikan saylouw. yang hurufnya kekar dan bagus. Selagi Wanyen Lieh terheran-heran. Maka inginWanyen Lieh menyaksikan orang punya sepak terjang lebih jauh. Si kate tidak lompat naik ke atas kudanya. Jadi itu sebuah ciulauw. Tanpa Iweekang. ia telah memasuki sebuah restoran di pinggiran mana kudanya dihentikan secara istimewa itu. Malah ia ingat juga namanamanya setiap pembesar setiap tempat serta kepandaiannya setiap pembesar itu. Riasannya ciulauw pun ada istimewa. atau sebuah restoran. untuk berdongak. Putra raja Kim ini ingin menontoni kelakuan. Ia kenali arak itu adalah arak Siauwhin yang kesohor. Ia sangat menyayangi arak jempolan itu. kuda kuning itu angkat naik kaki depannya. dan teliti sepak terjangnya. mulutnya dibuka untuk perdengarkan ringkikkan. Kembali ia menjadi heran. di samping aman ada pula empat huruf kecil bunyinya: ―Tong Po Kie-su‖. Di atas loteng ada lagi sebuah papan merek dengan tiga huruf ―Cui Sian Lauw‖. yang satu sayuran saja. itu penyair yang terkenal. hanya ia berdiri di depan binatang tunggangannya itu. habis mana dengan sebelah tangannya. akan tetapi di sini. ia berberang sudah perhatikan keletakan daerah. ―Pemerintah di selatan ini justru buruk. maka dilain saat sudah terdengar tindakannya yang cepat di undakan tangga loteng. Malah ia lantas lari untuk menyusul penunggang kuda itu. Memang putra raja Kim ini adalah seorang denagn cita-cita luhur. Dewa Mabuk. Nyata itu adalah sepotong emas yang berkilau kuning. ibukotanya. hingga ia tahu baik sekali tempat-tempat dimana ia dapat pernahkan tentaranya atau dimana dia dapat seberangi sungai. Jadi itu ada ciulauw yang pakai nama Souw Tong Po. ia saksikan seekor kuda tunggangan diberikan arak itu! Si kate tinggalkan kudanya minum. Tingginya tak ada tiga kaki. Selagi ia khawatir nanti tak dapat menyandak. atau tenaga dalam yang sempurna. tak hendak ia sering-sering meminumnya. ―Yang delapan meja makanan dengan daging. Berdiri di tanah si kate nampaknya semakin tak mengasih. Begitu lekas guci telah terbuka. ―Ah. yang tak ada lawannya yang lainnya untuk teman arak! Tentang emas ini. mulutnya dikasih masuk ke dalam guci. Putra raja Kim itu angkat kepalanya. mendadak kuda orang itu berhenti berlari. aku minta sudi apakah kiranya samya simpan dahulu. Pernah selama di Yankhia. ia kembali ke restoran. Han Samya!‖ berkata si kuasa ciulauw sambil tertawa. Dengan berdiri berdekatan. si kate terokmok sudah lompat turun dari kudanya dengan cepat luar biasa. arak simpanan tiga atau empat puluh tahun.‖ pikir Wanyen Lieh.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau dia bisa diundang ke kota rajaku. maka matanya lantas melihat sepotong papan merek dengan bunyi empat huruf ―Tay Pek Ie Hong‖. Dengan mendatangi Kanglam. Ia percaya ia dapat melakukan itu hanya tidak sedemikian sempurna. sayang kalau orang pandai ini tak dapat digunai olehku. untuk jadi guru. ia babat guci sebatas pundaknya guci itu hingga tempat arak itu menjadi terbuka bagaikan jambangan. untuk sedot arak itu berulang-ulang! Dalam keheranan. setelah turunkan kedua kakinya ia terus tunduki kepalanya. ―Lekas kamu sajikan sembilan meja barang hidangan kelas satu!‖ kata si kate. di situ ia letak guci araknya. dengan tidak pecah seluruhnya. Mengenai nperhitungannya nanti perlahan-lahan kita mengurusnya…‖ Irawan D Soedradjat Page 31 . sebaliknya lebar tubuhnya ada tiga kaki penuh. Di depan ia adalah kudanya. ia mengenal ilmu tenaga dalam yang lihay. tidak nanti guci arak dapat ditebas kutung dengan tangan. ia pun lantas berdiri di pinggiran. Tadinya Wanyen Lieh ingin memasuki ciulauw itu atau segera ia tampak si kate sudah keluar pula sambil tangannya membawa satu guci arak yang terus dibawa ke depan kudanya. berapa besar faedahnya apabila ia berhasil membeli kuda istimewa itu. ayahnya dikirimkan arak serupa oleh utusan kaisar Song dan oleh ayahnya ia dibagi beberapa guci.‖ ―Baik. sedangnya ia berniat mengoaki si kate itu. Dia pun melamun. yang istimewa tinggidan besarnya. si kate tidak cukup tinggi untuk kepalanya menyundul sanggurdi. yang aliasnya Thay-pek dan julukannya Cui Sian. ia lemparkan sepotong uang ke atas meja kuasa restoran itu. bukankah pasukan kudaku bakal menjagoi di kolong langit ini?‖ dia berpikir. sambil kasih dengar bentakan.

Wanyen Lieh lihat di tengah perahu ada berduduk satu orang. Mulanya ia tidak menaruh perhatian. Setelah perahu kecil itu datang semakin mendekat. ―Shako!‖ memanggil si nona tukang perahu setibanya di atas loteng. nampaknya ia mengayuh denagn perlahan. Wanyen Liaeh memandangi keindahan telaga. ―Jikalau jumlahnya banyak. minumnya ayal-ayalan. yang duduk di belakang ada seseoarng yang memakai baju rumput. kenderaan air itu segera mendekati restoran. panjang bulu matanya. Wanyen Lieh menjadi heran sekali. sebagaimana kawannya juga duduk dikursi lainnya. kepalanya terangkat naik. tak ada bandingannya untuk Kanglam. Si wanita tampak perahunya dipelatok di samping tangga batu di bawah loteng restiran. sama kesohornya dengan araknya. Sambil hirup araknya perlahan-lahan. kepada si kate terokmok. Seorang wanita bertenaga demikian besar inilah aneh: maka aneh juga pengayuhnya itu yang dapat dipakai mengower air demikian kuat. ―Menenggak arak tanpa uangnya ? Apakah kau sangka Han Samya kamu ini tukang anglap?‖ Kuasa ciulauw itu tertawa haha-hihi. ia berpaling ke dalam dan berseru: ―kawankawan. untuk apa meja sembilan ini?‖ ia menerka-nerka. lompat mendarat juga setelah ia samber sepotong kayu pikulan yang kasar.Pendekar Pemanah Rajawali Mendengar itu. citmoay. Ia minta satu poci arak serta barang makanan sekedarnya. Itu waktu tengah telaga nampak kabut tipis. Dia masuki pengayuh ke dalam air. sedang yang mengayuh yang berbareng menjadi pengemudi.? Ia memikir tetapi tidak dapat jawabannya. Lagi beberapa gayuan. Orang yang menumpang perahu itu satu pria. tentu sulit rasanya untuk undang ia menjadi guru…Baiklah. habis itu ia lompat ke darat. hendak aku saksikan orang-orang macam bagaimana yang ia undang berjamu. atau lengkak yang tidak ada ―tanduknya‖ yang rasanya empuk dan manis. Di sini ada sinar matahari yang menyoroti pengayuh itu. Kouw Cian telah labrak Raja Gouw. ―Dan di sini orang sangat menghormatinya. sampai sejenak saja perahu itu dapat melewati sebuah perahu kecil yang terpisah jauh darinya. ―Si kate ini berpakaian tidak karuan tetapi ia sangat royal. tubuh perahu seperti melompat di atasan air. ia dapatkan beberapa jongos mulai mengatur sembilan buah meja. Dia pun lantas sambil sebuah meja. Si cebol sudah lantas duduk minum arak di sebuah meja. lekas sajikan arak dan makanan untuk Han Samya!‖ Seruan itu sudah lantas sapat sambutan berulang-ulang. lalu tertampak suatu cahaya berkilau mengkeredep. Kee-hin dipanggil Cui Lie atau Lie Mabuk. Tiba-tiba ia dengar suara beradunya sumpit da cawan-cawan arak. akan tetapi perahu itu lahu melesat. Mungkinkah ia ada okpa di kota Kee-hin ini? Kalau benar. Hap Lu.‖ Karena ini ia hampiri ciulauw itu untuk naik ke loteng dimana ia pilih satu meja di pinggir jendela. Dia beramta besar. Itu pun sebabnya di dalam telaga tumbuh banyak pohon lengkak itu. Kali ini ia tampak sebuah perahu nelayan yang kecil. Wanyen Lieh diam-diam perhatikan dua pendatang baru ini. Di jaman dahulu. Di pinggiran perahu berdiri dua baris burung-burung air peranti menangkap ikan. Di jaman Cun Ciu. Perahu itu kecil tatapi panjang. Restoran Cui Sian Lauw ini letaknya di pinggir Lam Ouw. Itulah kulitnya Irawan D Soedradjat Page 32 . Kee-hin adalah sebuah kota negara Wat. Telaga Selatan. Si wanita berusia tujuh atau delapanbelas tahun. Dengan begitu ia pun menantikan tetamu-tetamunya si cebol.‖ pikirnya. di muka air ada beberapa buah perahu kecil lagi mundar-mandir. yang laju pesat sekali. buah lie keluaran sini kesohor manis. apabila ia menoleh. ―Kalau yang datang cuma sembilan orang. Kembali Wanyen Lieh memandang ke telaga. Lega hati untuk memandang permukaan telaga itu. Disini dahulu Raja Wat. tanpa layani si cebol itu. Hanya herannya untuk setiap meja ditaruhkan Cuma sepasang sumpit dan satu cawan arak. ―Sietee. aku tunggu dulu. Nyata pengayuh itu terbuat dari kuningan. matanya si kate terbelalak. tengah remajanya. kamu datang siang-siang?‖ kata si cebol. Di situ pun kedapatan banyak pohon lengkak yang daunnya hijau-hijau. ―Apa?!‖ serunya aneh. Tenaga mengayuh itu mungkin ada tenaga dari dua ratus kati. mengapa Cuma disediakan sembilan cawan saja? Apa mungkin ini ada adat kebiasaan di selatan ini…. Segera ternyata ia adalah seorang wanita. kulitnya putih bagaikan salju. Keduanya terus mendaki tangga loteng. Telaga itu pun ada mengeluarkan hasil yang kesohor yaitu bu-kak-leng.

Mereka ini ambil masing-masing sebuah meja. ―Heran!‖ kata Wanyen Lieh dalam hati kecilnya. ngoko. hingga ia mirip seorang pedagang kecil. pasti pikulan itu bukan terbuat dari besi entah dari bahan apa. Maka teranglah ia seorang buta. tangannya mencekal dacin. serta sebuah keranjang bambu. Ketika dia sanderkan pikulannya di samping meja. Wanyen Lieh menjadi bertambah-tambah heran. ialah pesawat timbangan.! Sedang seorang yang lain bilang. tertampak pula dadanya berbulu gompiok. tampak dua orang tengah mengoser sambil merintih. ―Tiga orang yang pertama adalah orang-orang yang mungkin berkepandaian tinggi. Melihat potongannya.. kembali ada orang hendak curi kuda twie-hong-ma‘mu!‖ katanya. dipundak kanannya ia ada menggendol semacam senjata peranti memburu. dia toh menggairahkan dengan sifatnya sendiri. kedua ujungnya muncul sedikit. hingga ia awasi pikulan itu. Meja itu menggeser sedikit. Sekarang ia lirik si pria yang membawa-bawa kayu pikulan. pinggangnya dilibat tali rumput. sama denagn kampak biasa. Wanyen Lieh segera melongok ke bawah loteng. Karena ia menggulung tangan bajunya tinggi-tinggi. malah ia dapat membinasakan seekor harimau…‖ pikirnya. Pengurus dari Cui Sian lauw tertawa. di tangga loteng sudah terdengar lagi tindakan kaki berisik dua orang lagi. liokko. baju dan celananya berbahan kain kasar. selagi bercacat di bawah. Dia pun mempunyai rambut yang hitam mengkilap. kata dia pada dua orang yang bercelaka itu: ―Kamu bangsat-bangsat luar kota. ―Itu namanya berbuat sendiri. Karena beratnya itu. satu antaranya mengatakan: ―Kuda Han Samya lihay melebihkan manusia. kenapa kedua orang ini yang mirip orang-orang kalangan rendah. Irawan D Soedradjat Page 33 . Kedua pencuri kuda itu mencoba merayap bangun.mulut mereka masih berkoak-koak beraduh-aduh. dibahasakan saudara?‖ Tengah si putra raja Kim berpikir demikian. yang warnanya hitam mengkilap. Cuma ditangannya kurang sebatang golok lancip. Si pengkor merangkap buta ini rupanya telah dengar pembicaraan orang banyak itu.Pendekar Pemanah Rajawali orang Kanglam sejati. ―Walaupun dia tidak dapat melawan kecantikannya Pauw-sieku. pun terlihat lengannya berbulu hitam seperti dadanya itu. kenapa kamu tidak dengar-dengar dulu namanya Han Samya? Bagus. rupanya peranti menjaga pikulan tidak merosot terlepas. terdengarlah suara beberapa kali. makan sendiri hasilnya!‖ dia bilang. yang ujungnya dibanduli seekor macan tutul. Orang yang berjalan di belakangnya berpotongan sedang. tubuhnya terlibat semacam kain. Ia bertangan kasar dan kaki gede. Ia mendatangi dengan tindakan dangklak-dingkluk. Ia mencekal pengayuh kuningannya dengan tangan kanan dan menenteng baju rumputnya dengan tangan kiri. ia mirip satu pembantai atau penyembelih hewan. Di tikungan jalan besar terlihat munculnya satu orang pengkor yang pakaiannya rombeng dan tangan kirinya memegang sepotong tongkat besi dengan apa dia saban-saban memukul batu-batu yang menggelari jalan besar itu. romannya jujur polos. ―Mereka datang ke Kee-hin untuk mencuri.‖ berpikir putra raja Kim itu. Si cebol tertawa. dua jentilan kakinya cukup untuk dua pencuri ini. dia pun bercacat di atas. Si pedagang kecil lantas saja tertawa. kepalanya ditutup kopiah kecil. Sendirinya Wanyen Lieh terperanjat. yang jalan di depan berdedakan tinggi dan kekar. Sudah begitu. karena bajunya tidak dikancing. Segare suara mereka itu bercampuran sama satu suara baru. di bawah loteng terdengar ringkikan kuda yang disusul sama jeritan kesakitan hebat dari dua orang. ialah tingtong-tingtong seperti besi mengadu dengan batu hinga orang pada memandang ke jurusan dari mana suara itu datang. mirip orang desa tulen. sedang sepatunya ada cauw-ee. Baharu dua orang itu duduk. ini namanya benturkan kepala dato…! Hayo lekas naik ke loteng untuk minta ampun!‖ Di bawah loteng itu ada lagi orang-orang yang berbicara. sepatu rumput. Di pinggangnya orang itupun ada terselip sebuah kampak pendek. suaranya parau. Dari dua orang ini. usianya kurang lebih tiga puluh tahun. yang dari romannya dari kepala sampai di kaki. ―Bagian anggotanya yang mana yang kena didupak kuda?‖ dia tanya. kamu datang berbareng!‖ menyambut si nona nelayan. hingga ia mesti gunai tongkat besinya untuk mencari jalanan untuk sekalian menunjang diri. yang sudah sedikit gompal. tubuh itu meminyak. bentrok sama meja itu. Sungguh celaka. sungguh mereka sudah bosan hidup!‖ ―Rupanya mereka hendak mencuri kuda lalu kena kuda jentil‖ pikir Wanyen Lieh. ―Belum pernah aku dengar orang picak lagi pengkor pandai berburu binatang hutan. ―Shako. kulit mukanya putih. ―Bagus.

‖ Si buta tidak menggubris pencuri itu. lenyap rasa sakit di dadanya itu. lalu mendadak ia kitik ketiak orang. terus mendaki tangga loteng. Karena kesakitan. dengan suara susah. maka tangannya yang telah diangkat tinggi segera dikasih turun pula. tapi ia pandai berpikir. Tuan orang pandai. cepat kau urus macan ini!‖ ia perintahkan. Rupanya ia membutuhkan suara apa-apa untuk ketahui ke mana ia mesti pergi. Wanyen Lieh sendiri menjadi sangat terkejut. ―Kenapa ia dapat melihat aku? Apakah dia bukan buta benarbenar?‖ dia berakta di dalam hatinya. Si buta pindahkan tongkatnya ke tangan kanan. di sini kursimu!‖ ―Baik!‖ menyahuti si buta itu. lalu bersama dua kawannya. ―Diluar dugaanku.‖ sahut salah satu pencuri kuda itu. mana dia berkelit tetapi sudah kasep.‖ Segera ia berpaling kepada kawannya dan berkata: ―Saudara mari lekas. Kalau tadi ini pencuri sakit kakinya sampai tak dapat digeraki. ―Hei pengemis bangsat. berdiri di samping kursi. sekarang denagn tiba-tiba sakitnya itu lenyap. Lalu si nelayan wanita bertindak ke meja nomor satu di sebelah timur. Irawan D Soedradjat Page 34 . Pencuri itu kegelian. ia mencoba menahan karena mana ia jadi tertawa cekikikan. di mana ia duduk di kursi yang ditepuk-tepuk oleh si nona nelayan. maka setelah datang dekat si buta ia jadi berdiri menjublak. Tapi si buta menunjuk kepada Wanyen Lieh seraya ia berkata pada si jongos: ―Kau mesti potongi dagingnya barang dua kati. ia gotong pergi macan tutul itu. ia tepuk-tepuk kursi itu seraya berkata: ―Toako. mengeluarkan ludah lender. ia hanya bertindak memasuki restoran itu. ―Sungguh hari ini aku sangat beruntung!‖ kata Wanyen Lieh dalam hatinya. hingga dia ini berteriak kesakitan. mengertilah Wanyen Lieh bahwa si buta benar-benar tak dapat melihat. aku mohon diberi maaf. yang tengah duduk lantas bangkit bangun. lantas ia muntah beberapa kali. ―Toako!‖ mereka berseru. sungguh…. kau juga hendak main gila sama aku!‖ Dan ia memburu sambil ulur tangannya untuk meninju.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tekukan dengkul kiri. Tiba-tiba ia merasa enak perutnya. ―Hm!‖ si buta pendengarkan suaranya. dia menjadi pentang mulutnya lebar-lebar. ―Tulang-tulangnya kau godok menjadi kuwah yang kental! Hati-hati supaya kulitnya tidak sampai kena terpotong rusak!‖ Satu jongos menyahuti. pencuri itu bertindak denagn susah payah mendekati si buta dan pengkor itu. berbareng dengan mana dengan tiba-tiba ia totok pinggangnya si pencuri. Maka lekas-lekas ia jatuhkan diri untuk berkutut untuk manggut-manggut hingga jidatnya berbunyi mengenai batu. aku dapat menemui orang-orang berilmu…‖ Sampai di atas loteng. kau mohon toaya ini tolong obati padamu…‖ Dengan meringis-ringis. ―Apakah jietee masih belum sampai?‖ ―Jieko sudah tiba di Kee-hin. sekarang sudah waktunya ia sampai disini‖ sahut orang yang potongannya seperti pembantai itu. Sembari berbicara. Ketika itu semua orang yang telah datang terlebih dahulu. untuk kekasaranku barusan. Menyaksikan perbuatan si nona. lalu lantas ia memberi hormat samil menjura.‖ katanya. ―Jongos. dengan tangan kirinya ia usapi dadanya pencuri itu. si buta bertindak ke mejanya. ―Aku bodoh. kau suguhkan itu tuan untuk dia mencicipi rasanya…‖ ―Ya…ya…‖ sahut si jongos itu. ―Terima kasih. ―Toaya binatang itu dupak dadaku…‖ katanya. Hampir berbareng denagn itu. si buta lemparkan macan tutulnya ke lantai. mulutnya pun mengecoh: ―Oh yaya yang sakti.

mukanya bertekukan menggoda. yang ia letaki di atas meja. Si buta tidak awas matanya akan tetapi kupingnya jeli luar biasa. Walaupun demikian hatinya tetapi berkerja. Ia pun segera berbangkit dari kursinya. sebab berbareng dengan itu. Hanya tepat ia hendak bertindak. Meluap hawa amarahnya Wanyen Lieh akan melihat uang perak itu yang ia kenali adalah kepunyaannya yang hilang lenyap itu. ―Kembali mengenai negeri Kim.Pendekar Pemanah Rajawali Segera putra raja Kim itu ambil keputusannya untuk ikat perkenalan dan persahabatan dengan orang-orang kangkouw yang aneh ini. ―Saudarasaudara ada orang yang mentraktir kita. ―Tidak tahu siapa yang apes malang…. Wanyen Lieh heran bukan kepalang. akan tetapi sembari tertawa. baharu berhentilah ia merogoh sakunya. aku tahu!‖ sahut si nona.Thian yang maha kuasa…umbar adatnya!‖ Bab 4. ―Uang orang bangsa asing ada sedikit berbau tetapi uang itu masih dapat digunai!‖ katanya. si mahasiswa itu mengawasi ke arahnya. berulang-ulang.‖ Si nona nelayan tertawa bergelak melihat uang sebanyak itu. dan setiap kali ia menarik keluar tangannya. ia dapat mendengarnya.. dari mulutnya keluar suara yang bersenandung: ―Uang tidak halal…. maka ia lantas berbalik dan memandang. ―Mungkin dia inilah yang curi uangku…‖ ia menerka-nerka. guna hampiri si buta. dan jarak mereka jauh pula. saudara yang kedua. untuk daging yang dibagikan kepadanya – yang mana ada alasan bagus sekali untuk berkenalan – tiba-tiba ia dengar tindakan kaki yang bersepatu kulit di undakan tangga loteng. kipas itu dikipaskan beberapa kali. Dia benar-benar yang dimaksudkan si jietee atau jieko. Tindakan itu ada seperti separuh diseret. mengapa ia bisa curi uangku?‖ demikian ia berpikir tak habis herannya. untuk dititipkan!‖ katanya pula. ―Baiklah aku lihat gelagat dulu…‖ Maka ia berdiam terus. lepaskan dia…. ia heran tidak kepalang.‖ Wanyen Lieh berpikir. matanya menyapu. ―Citmoay. dan Wanyen Lieh segera kenali orang yang tadi ia ketemui di waktu lenyap uangnya. Yang pertama muncul di mulut tangga loteng adalah sehelai kipas kertas minyak yang gagangnya dekil. ―Semua mereka lihay. habis itu menyusul munculnnya satu kepala orang yang digoyang-goyang. bibirnya tersungging senyum. ―Sungguh kepandaian yang lihay……. lalu menggoyang-goyang pula kepalanya. Hatinya lantas menjadi panas. ―Oh. Mengadu Kepandaian Sembari bernyanyi si mahasiswa melarat ini meragoh sakunya. bukankah?‖ Mahasiswa itu mengipasi uang di depannya dengan tak hentinya.‖ Si mahasiswa melarat itu pun tertawa. Si mahasiswa sudah lantas tenggak araknya. Di situ ada sembilan buah meja. ―Dia cuma tepuk pundakku dengan kipasnya. ―Aku menyamar sebagai orang Han. Siapa lagi dua tetamu itu? Bukankah tujuh orang yang bakal jadi tuan rumah? Irawan D Soedradjat Page 35 . ―Jiko. jeriji-jeriji tangannya tentu ada menjepit potongan-potongan uang perak sampai jumlahnya semua belasan potong. ia berpura-pura tidak mendengar pertanyaan itu. cara bagaimana ia masih mengenali aku?‖ dia tanya dirinya sendiri. hari ini kau beruntung!‖ serunya. Justru begitu. guna hanturkan terima kasihnya. Mendengar itu semua kawannya itu tertawa terbahak-bahak. Lantas dia gapekan pelayan untuk bisiki padanya: ―Semua tuan-tuan ini akulah yang undang berjamu…‖ Dia pun lantas keluarkan dua potong emas. dari itu masih lebih dua meja yang masih kosong. lalu ia mengangguk-angguk. ialah kepalanya satu mahasiswa melarat. akan tetapi ia mencoba sebisa-bisanya untuk mengatasi dirinya. maka dengan itu lantas ia serukan kepada sudara-saudaranya. setelah mana ia menegur semua orang yang telah hadir di situ. ia bertanya pula: ―Mana si wanita baik-baik yang kau perdayakan?‖ Wanyen Lieh sudah putuskan untuk tidak menimbulkan kerewelan. Ia menjadi heran pula. sekarang baharu datang tujuh orang. ―Dan kau bawa dulu kepada kuasamu.. maka kamu dahar dan minumlah dengan puas!‖ Si mahasiswa menoleh kepada Wanyen Lieh. bentrok dengan mereka tiada untungnya. aku ada punya semacam tabiat buruk yang kau telah ketahui!‖ katanya. tidak peduli orang berbisik. ia lantas berpaling ke lain jurusan. mirip sekali.

mana dia pandang mata lagi kaum Rimba Persilatan di Kanglam ini? Karena kejumawaannya itu. Menyusul itu pun lantas terdengar suara kaget dari kuasa ciulauw serta jongosnya: ―Benda begitu berat mana dapat dibawa naik ke atas…! Eh. di tangga loteng telah terdengar suara yang sangat berat dan nyaring. guna mengompes dia. ―Harap kau tidak sungkan. Kalau Han To Cu anggap paling baik mengirim orang untuk membunuh menteri itu. sedang rakyat umumnya mengandal padanya. jangan kasih dia naik!‖ Suara berat itu tapinya terdengar terus. kepada kerajaan Song. perbuatan mana diikuti oleh enam kawannya: Dengan sikap menghormati mereka berdiri untuk menyambut orang yang baharu tiba itu. maka tujuh orang itu Cuma tenggak air kata-kata. walaupun tubuhku hancur lebur. untuk menjaga diri turun tangan terlebih dahulu. tanpa sebab tanpa alasan. Wanyen Lieh segera melihat munculnya satu tojin. meskipun dia tidak musuhkan kau. Ciauw Bok Taysu tiba!‖ seru si buta yang terus berbangkit. satu imam yang tangannya menyangga sebuah jambangan perunggu yang besar sekali. Ciauw Bok Taysu. Dia pun bercita-cita besar sekali. Pendeta itu dan tujuh saudara tersebut saling memberi hormat dan saling menegur. kepalanya hilang berikut hati dan jantungnya. Han To Cu juga kaget dan ketakutan karenanya. Bagaikan orang yang matanya kabur. hingga dengan begitu – rupanya – tak usah dia bertindak lagi di undakan tangga. Sebenarnya menteri ini tidak berkuasa atas pemerintahan.‖ Pendeta itu ialah Ciauw Bok Taysu. Tak tahu ia apa faedahnya puntung kayu itu. yang ujungnya telah hitam bekas terbakar. kalau mendapat tahu siapa yang menitahkan dia melakukan pembunuhan yang hebat itu. Wanyen Lieh melihat satu pendeta usia empat puluh lebih.‖ berkata si buta. Si hweshio menjura. maka itu siauwceng bersyukur yang liat-wie telah sudi membantu. Kepala dari Cip-eng-thian dan pengurus Ciong-yu-koan. yang berkerebong jubah kasee merah dengan lapis dalamnya jubah kuning. kita bersaudara pasti tak mau sudah saja…‖ Belum lagi habis suaranya si buta ini. Tengah putra raja ini berpikir. sedang tangannya memegang sepotong kayu. dan sekarang itu disusul sama munculnya satu tubuh kurus kering bagaikan pohon mampus. ia kenali si imam adalah Tiang Cun Chu Khu Cie Kee atau Tiang Cun Cinjin! Wanyen Lieh ini mendapat tugas dari ayahnya menjadi utusan bangsa Kim ke Tionggoan. karena keserakahannya sudah terima sogokan besar dan berjanji suka bekerja sama. dia khawatir sekali rahasianya nanti bocor. Budi yang besar ini. lekas cegah dia. adalah Wanyen Lieh menghendaki menawan terlebih dulu pembunuhnya Ong To Kian. tidak dapat ia mengandal saja kepada pihak Song. yang baharu suaranya terdengar. tak dapat siauwceng membalasnya. ingin ia merubuhkan menteri atau panglima yang paling keras kepala hendak melawan negara Kim. ia dengar datangnya suara memuji dari bawah loteng: ―Amitabha Buddha!‖ Suara itu sangat jernih dan tedas.Pendekar Pemanah Rajawali Sampai itu waktu. ―Ambithaba Buddha!‖ kembali terdengar pujian. Dengan perbuatannya itu. siauwceng merasa bahwa siauwceng bukanlah tandingannya. Oleh karena ini. nyata terdengar hingga ke atas loteng. ia hanya pandai silat dan surat berbareng dan kesetiaannya terhadap negara adalah luar biasa. Yang pertama ia ingin singkirkan adalah Sien Kee Ci. lantai loteng nanti kena bikin dobol…! Lekas. taysu. utusannya ini telah rela akan menakluk dan menjadi hambanya kerajaan Kim. Utusan Song yang datang dari Yankhia menemani dia sepanjangn jalan. habis itu si mahasiswa melarat pun pimpin tetamunya ke sebuah meja yang kosong untuk silahkan ia duduk. dia memang sangat aguli kepandaiannya. Hanya kemudian ia menjadi sangat kaget akan mendapatkan Ong To Kian mati terbunuh secara gelap. Tentang orang itu. Dan menteri yang bekerjasama dengan Wanyen Lieh adalah Perdana Menteri Han To Cu. ―Nah. disusul mana patahnya sehelai papan undakan tangga. mungkin itu bukan suara gajah tetapi sedikitnya kerbau…. merendahkan diri. ―Kami tujuh bersaudara pun berterima kasih kepadamu yang biasa melimpahkan kebaikan terhadap kami. Dan untuk kagetnya putra raja Kim ini. tetapi yang tindakannya cepat pesat seperti ia tidak menginjak lantai. dia mencari gara-gara terhadap taysu. Ong To Kian. yang mana dibawa naik ke loteng sambil imam itu berlompat. Wanyen Lieh tahu. Ia menyebutkan dirinya ―siauwceng‖ si pendeta yang kecil rendah. baharu arak saja yang dikeluarkan. dari itu ia Irawan D Soedradjat Page 36 . Girang sekali ini putra raja Kim menampak ikhtiarnya telah berjalan baik sekali. barang hidangan masih belum disajikan. dia berkata: ― Orang itu telah datang menyatroni. akan kemudian disusul sama mengerekeknya dua helai papan undakan lainnya. dia sangat mengharap dapat membangun pula kerjaan Song hingga menjadi jaya seperti semula. maka itu dia sudah lantas berhubungan sama menterinya kerajaan Song untuk dijadikan si menteri serta konco-konconya sebagai alat untuk menyambut dari dalam bila sudah waktunya ia turun tangan. seperti ada sesuatu yang mendaki.

atau si Ahli Pedang Gadis Wat. Khu Cie Kee tetap pegangi tempat araknya yang istimewa itu. imam itu lagi menghadapi Ciauw Bok Taysu serta tujuh orang luar biasa itu. melainkan di tangan si imam. tidak ada tandingannya. Semua mereka itu khawatir loteng ambruk dan mereka nanti ketimpa. buktinya benarlah dugaan pinto itu. sedang beberapa orang yang melihat tak terjadi kecelakaan sesuatu.‖ Lalu dengan terus-terusan ia perkenalkan enam orang lainnya. Kwa Tin Ok mendahulukan bertujuh saudaranya untuk berbicara. Selagi orang diajar kenal. Wanyen Lieh sendiri belum sampai turun tangan atau pundaknya telah terkena panah. ialah Lam San Ciauwcu Lam Hie Jin atau si Tukang Kayu dari Lam San (Gunung Selatan). Si nona nelayan adalah Wat Lie Kiam Han Siauw Eng. Selama Ciauw Bok Taysu memperkenalkan. tanpa merasa ia membuatnya terlepas dan jatuh sepasang sumpit yang ia lagi pegang. Dengan lantas pinto meikir-mikir. Katanya: ―Kami menonton‖ Habis perkenalan itu. dia-diam mendaki loteng untuk bicara. hampir ia tak dapat lolos seperti orangorangnya. yang sekarang diisikan penuh dengan arak. yaitu Hui Thian Pian-hok Kwa Tin Ok. ―Benar-benar toheng telah dapat mencari siauwceng hingga ke mari!‖ terdengar suaranya Ciauw Bok Taysu keras tetapi dingin. Hanya dilain pihak. Setelah sembuh dari lukanya. ―Disana ada pesan untukku. ke jalan besar. sekarang kita dapat bertemu. ialah yang termuda dari Kanglam Cit Koay. selama mana. yang beratnya tiga atau empat ratus kati. bukan main kagetnya ia akan tengok Khu Cie Kee. Yang kelima yang tubuhnya kekar tegap mirip sebagai pembantai adalah Siauw Mie To Thio A Seng atau si Buddha Tertawa. Wanyen Lieh memasang kuping dan matanya.‖ Ciauw Bok Taysu tidak menjawab si imam.Pendekar Pemanah Rajawali tugaskan enam atau tujuh pengawal pribadinya dari Lim-an. si Kelelawar Terbangkan Langit. suatu bukti dari beratnya jambangan itu. sungguh pinto merasa sangat beruntung! Nayatalah pengharapanku seumur hidup telah kesampaian. Mahasiswa Tangan Lihay. hanya berpaling kepada tujuh kawannya yang ia sebutkan Kanglam Cit Koay itu – Tujuh Manusia aneh dari kanglam – dan menunjuk kepada si imam. Itu bukan jambangan biasa hanya tempat pembakaran kertas emas dalam kuil. ini Ciauw Bok Taysu juga adalah satu sahabat Irawan D Soedradjat Page 37 . hingga kami sangat mengaguminya. ia memperkenalkan: ― Ini dia Totiang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee yang tuan-tuang telah lama kagumi nama besarnya!‖ Kemudian tanpa tunggu sesuatu dari Kanglam Cit Koay itu seraya menunjuki si buta melanjuti: ―Inilah tertua dari Cit Koay. ia belum terlihat nyata. Sudah lama pinto dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay. sedang dibawah loteng. ―Sudah lama kami mendengar Totiang lihay ilmu silatnya. maka di luar tahunya sendiri. gelarannya Lauw-sie In Hiap atau Pendekar Sembunyi di Kota. mungkin taysu mengundang sahabat-sahabat. Dan ini ialah…. orang ribut ketakutan dan pada lari keluar. yang kedua ialah si mahasiswa melarat yang mencuri atau mencopet uangnya adalah Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong. selama ia menyebutkan setiap nama Khu Cie Kee menjura kepada orang-orang yang diperkenalkan itu.‖ ia berkata . hanya apa lacur mereka menghadapi musuh yang terlalu tangguh untuk mereka. ia perintahkan orang untuk selidiki tentang Pauw-sie itu. Si orang tani yang membawa-bawa pikulan adalah orang yang keempat. namanya Coan Kim Hoat. Yang keenam adalah orang yang mirip pedagang. tentu lantai loteng perdengarkan suara meletek nyaring. sesudah itu. jongos-jongos dan koki-koki. Sementara itu. Dia inilah yang tiga. ia minta Han To Cu mengirim orang untuk menawan Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. tak terkecuali si kuasa restoran. Pauw-sie tidak tahu akal muslihat orang. ―Barusan pinto berkunjung ke kuil taysu. sedang ia sendiri menyamar sebagi orang baik-baik sebagai penolong nyonya yang ia gilai itu. katanya taysu undang pinto datang ke Cui Sian Lauw ini untuk membuat pertemuan. Rombongan ini dapat menyandak Khu Cie Kee di Gu-kee-cun. ―Sekarang mari siauwceng perkenalkan dahulu kau dengan Kanglam Cit Koay!‖ Khu Cie Kee menjura membungkuk tubuh. ia kerjakan otaknya akan mengingat baik-baik nama Kanglam Cit Koay itu. hingga beratnya bertambah. setiap kali si imam bertindak. suka ia mengikuti. nampaknya enteng sekali. ia tidak perhatikan putra raja itu. Orang yang datang paling dulu ke restoran yaitu si kate terokmok yang menunggang kuda jempolan. Syukur untuknya Khu Cie Kee tidak kenali padanya. dan sekarang. sampai ia tak dapat menguasai dirinya lagi. sama sekali ia ia tak nampak lelah. ia lantas tak dapat melupai Pauw-sie. adalah Ma Ong Sin Han Po Kie atau si Malaikat Raja Kuda. Selain Kwa Tin Ok yang berjuluk Hui Thian Pian-hok. meskipun sebagai putra raja. ia terkejut bukan main apabila ia sudah kenali jambangan perunggu yang dibawa-bawa si imam itu. Ia lari ke istananya Han To Cu. Demikian Wanyen Lieh. imam ini seperti tidak menggunai tenaga. ia telah melihat banyak wanita elok. pikirnya orang itu telah tidak kenali dia. ia menyangka pemuda itu bermaksud baik. Akan tetapi. dia telah jatuh ke dalam genggaman putra raja Kim itu. dia sudah lantas jatuh terguling. yang ia anggap cantik dan manis. Sementara itu. untuk sembunyikan diri sambil berobat. sebab tempo ia diserang dengan panah. syukur ia ditolong oleh Pauw Sek Yok. baik ilmu silat tangan kosong maupun bersenjatakan pedang. Lega juga hatinya Wanyen Lieh apabila selang sekian lama ia dapatkan itu imam tidak perhatikan padanya.

mestinya kau telah keliru dengar omongannya segala manusia rendah! Itu ngaco belo. ―Sekarang ini pinto menghendaki Ciauw Bok taysu menyerahkan itu dua orang wanita yang bersengsara dan harus dikasihani itu!‖ Mendengar itu bukan hanya Kanglam Cit Koay yang heran melainkan juga Wanyen Lieh si putra raja Kim itu. dengan tenang ia menyambuti. bagaimana bisa jadi dusta?!‖ dia berkata. Untuk itu kami tak bakal menampik lagi. untuk ayun balik jambangan itu ke arah Tiang Cun Cu. akan aku patah-patahkan hingga menjadi abu semua tulang-tulangmu dan akan bakar musnah hingga menjadi tanah putih kau punya kuil Hoat Hoa Sian Sien itu!‖ Cu Cong tidak lantas dapat mempercayai kata-kata imam itu. segera wajahnya menjadi bermuram pula. hingga tempat pembakaran kertas perunggu itu yang beratnya ratusan kati terbang menyambar ke kepalanya si pendeta. ―Cara bagaimana dia dapat melakukan perbuatan sekeji itu? Totiang.‖ katanya sambil tangannya mengipas-ngipas dan kepalanya di geleng-geleng. ingin sekali kami menjadi juru pendamai. hingga orang-orang di bawah loteng menjadi kaget dan semuanya menjerit. kami tidak tahu. ―Mereka telah difitnah dan dicelakai oleh pembesar negeri yang bekerjasama dengan tentera bangsa Kim. pasti kami akan bekerja sekuat tenaga untuk menolongi mereka. ―Walaupun mereka adalah orangorang yang tidak dikenal. Ia tapinya tertawa sebentar. ―Kau juga orang Rimba Persilatan yang kenamaan. pasti tak dapat dipercaya!‖ Khu Cie Kee menjadi mendongkol. bagaimana kau berani melakukan kejahatan semacam ini?‖ ia menegur dengan bengis. tidak beruntung untuk mereka. menerangkan. ―Kanglam Cit Koay bukan bernama kosong saja!‖ ia memuji sambil tertawa. ―Mustahilkah dia bukannya menyebutkan istri-istrinya Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian atau wanita yang lain?‖ berpikir putra raja asing ini. Kwa Tayhiap. Lantas ia ayun tangan kanannya. pendeta jahanam. Khu Cie Kee ulur tangan kanannya. supaya perselisihan dapat disingkirkan. ―Oleh karena itu asal Taysu sudi menyerahkan dua orang kepada pinto. ia lantas lompat ke depannya Ciauw Bok Taysu. Khu Cie Kee menjadi gusar.Pendekar Pemanah Rajawali sejati. ―Ciauw Bok Taysu adalah satu pendeta beribadat. Kembali ia pandang si pendeta dan membentak dengan pertanyaan: ―Bagaimana denagn dua wanita yang bercelaka itu? Hai. Di dalam saat yang berbahaya itu karena kakinya bisa kejeblos terus. Lihat. ―Dua sahabatku. jikalau kau ganggu selembar saja rambut mereka itu.‖ ―Siapakah orang yang harus diserahkan?‖ tanya Kwa Tin OK. Oleh karena itu. Mukanya Ciauw Bok taysu menjadi kuning pucat. maka dengan menerbitkan suara kaki kirinya melesak mendam. ―Kau…kau…ngaco belo!‖ serunya kemudian. tetap kedua-duanya adalah orang-orang Rimba Persilatan. percaya ia sanggup menanggapi jambangan itu. lekas-lekas Thio A Seng kerahkan tenaganya. pastilah lain hari akan pinto pergi berkunjung ke Hoat Sian Sie untuk menghanturkan maaf. sedang lantai loteng tak demikian kuat. mereka yang tadinya datang menonton dengan diam-diam pada lari mundur hingga mereka saling tabrak dan terguling jatuh ke tangga loteng. Sudikah kau Totiang?‖ ―Sebenarnya pinto dengan Ciauw Bok Taysu tidak kenal satu dengan lain dan kita juga tidak punya dendaman dan tidak punya permusuhan. asal kami ketahui perkaranya itu. tak dapat ia membuka mulut.‖ sahut si buta. Semua orang menjadi kaget. Irawan D Soedradjat Page 38 .‖ ―Jelas!‖ seru si imam. maka walaupun totiang berdua ada dari dua golongan yang berbedaan. satu Hud-kauw yang lain Tokauw. untuk kita minum arak bersama. Itulah gerakan ―Twie chong bong goat‖ – ―Menolak daun jendela untuk memandangi si putri malam‖. dalam hal apakah Taysu telah berbuat salah terhadap Totiang? Umpama kata Totiang sudi memandang muda kami bertujuh saudara. Di antara Kanglam Cit Koay adalah Tio A Seng yang tenaganya paling besar.‖ menyahut Khu Cie Kee. pantas atau tidak permintaan pinto ini?‖ ―Jangan kata mereka adalah jandanya sahabat-sahabat totiang. mereka telah mendapatkan kebinasaannya hingga mereka mesti meninggalkan janda mereka yang tidak ada lagi sanderannya. ―Pinto menyaksikan itu dengan mataku sendiri. untuk mendahului jambangan itu yang terus ia sambuti dengan kedua tangannya sambil berbuat mana ia berseru: ―Bagus!‖ Akan tetapi dia mesti pasang kudakuda teguh sekali. hingga mereka mesti hidup sengsara sebatang kara.‖ sahut Tiang Cun Cu.

jikalau mereka bukannya menghilang tentunya mereka sudah menyingkir dengan ilmu pinjam tanah!‖ Mendengar ini mau tidak mau. ―Pinto cari pendeta ini. Cu Cong menyahuti: ―Mereka itu ada bangsa dewi. inilah sulit. ―Kenapa untuk itu kau mesti menodai nama baikku? Kau…kau…kau pergilah ke seluruh kota Kee-hin untuk menyelidiki! Mana bisa aku.Pendekar Pemanah Rajawali Kanglam Cit Koay melengak semuanya. ―Kami tidak punya kepandaian sesuatu apa juga akan tetapi untuk Kanglam ini nama kami terkenal juga sedikit. ―Kau telah undang banyak kawan. Ciauw Bok Taysu paham ilmu dalam Hoat Hoa Lam Cong. mereka bukannya manusia-manusia yang takut mampus. hari ini tidak nanti aku beri kau lolos!‖ ―Sabar Totiang!‖ Kwa Tin Ok memotong. dengan niatan menarik si pengikut Buddha itu. ―Bagus! Kamu permainkan aku!‖ dia berseru.‘ Kamu tidak berani menghina orang lain tetapi kami juga tak dapat mengijinkan orang lain perhina kami!‖ Khu Cie Kee tidak ingin layani tujuh orang aneh dari Kanglam itu. ―Apa‖ katanya. Dengan sikapnya yang wajar. ―Maafkan pinto. buktinya mereka tidak kedapatan. untuk melihat sendiri guna buktikan siapa sebenarnya yang benar. ―Sebenarnya kau hendak gunai aturan atau tidak?‖ dia tegur si imam. itulah sudah pasti!‖ dia berkata. mana ia dapat bicara dusta?!‖ Cie Kee nampaknya habis sabarnya. ―Taruh kata benar kau sengaja datang ke Kanglam ini buat untuk angkat namamu. ―Seorang laki-laki sejati kangouw. tak senang ia menampak orang mulai gunai kekerasan. semua orang tersenyum. tidak dapat pinto temani kau lebih lama! Eh. Khu Cie Kee melengak. pasti tidak!― kata Cit Koay yang ketiga itu. Ma Ong Sin Ho Po Kie bertabiat aseran. ―Bagus betul yah!‖ katanya dingin. Imam itu menjadi gusur. Mereka ynag kenal kami semua dapat mengatakan sepatah kata: ‗Walaupun Kanglam Cit Koay sedan-edanan lagak lagunya. tetapi walaupun pinto melihatnya dengan mataku sendiri kedua nyonya itu masuk ke situ. melakukan perbuatan semacam itu?!‖ Cie Kee tertawa mengejek. mari pergi!‖ Ia pun ulur sebelah tangannya. hingga pinto habis daya! Tidak ada jalan lain daripada si pendeta serahkan mereka itu!‖ ―Jadinya dua wanita itu bukannya manusia!‖ berkata Cu Cong. ―Habis bagaimana. ―Kanglam Cit Koay pasti membantu pihak si pendeta. siapa yang salah! Mataku menang tidak dapat melihat akan tetapi orangorang di sini tidak buta semuanya― Cu Cong berenam memberikan persetujuan mereka. Irawan D Soedradjat Page 39 . telah pastikah itu?‖ ―Tidak salah!‖ sahut Cit Koay serempak. Ciauw Bok Taysu. ―Totiang menuduh Taysu menyembunyikan kedua nyonya itu. bukankah?‖ Kwa Tin Ok jawab imam itu. Mari kita bersama pergi ke Hoat Hoa Sian Sie. ia lolos dari cekalan si pendeta. ―Perkaraku dengan si pendeta. ―Pinto sudah menggeledahnya di luar dan di dalam.‖ akhirnya Ciauw Bok Taysu dapat buka mulutnya. satu kali dia bilang tidak. biarlah aku yang bereskan sendiri!‖ katanya kemudian. pendeta. Han Samya?‖ imam itu membalik bertanya. ―Apa? Menggeledah kuil?‖ kata Khu Cie Kee dengan tawar. Taysu sebaliknya menyangkal. begitu ia kasih turun lengannya. ―Kami percaya habis Ciauw Bok Taysu. kau memikir menggunai jumlah yang banyak untuk mendapatkan kemenangan! Tidak. sampai beberapa kali. ―Tuan-tuan bertujuh hendak campur tangan urusan ini.

hanya sekarang ia tidak lagi menunda seperti tadi. dengan mulutnya sendiri. kedua tangannya menolak juga dengan gerakannya. dipakai menolak tubuh jambangan. Diwaktu jambangan dilemparkan kepadanya. berbareng dengan mana jambangan itu bertolak balik kepada Khu Cie Kee. Satu kali tongkat itu miring.Pendekar Pemanah Rajawali ―Baik!‖ seru si imam. ia ayun tangannya kepada Siauw Mie To Thio A Seng. Ia telah menyaksikan suatu gerakan tenaga dalam dari Gwa-kee. Maka dengangitulah ia menengak arak. membuat jambangan itu berdiri tetap lagi. sampai belasan cegluk. ia pentang kedua tangannya itu. ―Diwaktu kecil. ―Sekarang hendak aku menyuguhkan Lam Sieko sejambangan arak!‖ Ia lantas menghirup pula satu segluk. arak yang harum!‖ dia memuji. tiba-tiba ia angkat naik tongkatnya dengan kaget. ―Jikalau aku sambuti jambangan seperti tadi. yang ia pakai menanggapi dasarnya jambangan itu. Tapi jambangan tetap tinggal miring. Hebat kalau jembangan jatuh dan menimpah batok kepalanya si buta ini. Dengan cepat ia lepaskan pelukannya. Tepat ketika jambangan menyambar ke dadanya. setelah mana jambangan itu ia lemparkan ke arah Lam Hie Jin. kedua tangannyaditaruh di depan dadanya. Selagi melayang jambangan itu masih mengasi dengar suara menguwang. ia pindahkan kedua tangannya ke bawah jambangan untuk dipakai menampa. habis minum barulah Tuan-tuan geraki tanganmu!‖ Habis berkata. pasti ada punya kepandaian yang istimewa. pada wajahnya tak tertera rasa girang atau murka. ―Sekarang aku hendak memberi selamat kepada Tuan bertujuh dengan seorang satu cawan arak. sikapnya tenang dan wajar. Wanyen Lieh menyaksikam itu dengan kekaguman dan terkejut juga. jambangannya turut miring juga. Lam San Ciauw-cu si Tukang kayu dari Gunung Selatang ada pendiam tak doyan berbicara. ―Silahkan!‖ katanya habis menengak.‖ sahut Tin Ok dingin. ia kerahkan tenata dalamnya. untuk sambut jambangan dengan kedua dadanya itu. Khu Cie Kee dengan tenang sambuti pulang jambangannya itu dan ia menghirup pula. semikian juga kali nini. sampai terdengar satu suara nyaring. tetapi tempo jambangan itu sampai. ―Cara bagaimana dia dapat menyambutnya?‖ ia berpikir. ia sambut jambangan araknya itu. ia dapat dengar suara sambarannya dan tahu tepat arahnya. ia hirup arak satu ceglukan. berbareng dengan mana kedua tangannya bergerak untuk memeluk jambangan. Ia bertubuh terokmok. ia tertawa. berbareng dengan mana jambanganarak itu dilemparkan ke arah si buta. Maka melesatlah jambangan itu ke arah Khu Cie Kee. ―Diwaktu mudanya pasti Kwa Toako gemar main putaran nenempan!‖ kata ia. sampai jambangan seperti mumbul. ahli luar yang lihay sekali. hingga jambangan jadi duduk di ujung tongkat. cara bagaimanaaku dapat meminumnya?‖ demikian katanya dalam hati kecilnya. adalah araknya yang lantas meluncur keluar seperti pancuran. sesudah mana berbareng dia menolak dengan dadanya. menyusul mana tongkat itu diputar. tapi juga keras keinginan tahunya. ―Tentang seorang gagah tidak ditanya asal usulnya. ―Sekarang aku hormati Kwa Toako dengan satu jambangan!‖ ia berkata pula. Si Buddha tertawa sudah lantas berpikir. Tiang Cun Cu tunjuki jempolnya.‖ berkata si imam. Tepat ketika jambangan sampai. ―Sudah buta ia pun pincang…. ia tetap duduk tetap dan tenang seperti juga ia tidak mengetahuinya. atas mana Kwa Tin Ok buka mulutnya akan menanggapi. Siauwtee melarat. Tenaga yang dikerahkan itu bukan kepalang besarnya. kapan jambangan itu tiba Irawan D Soedradjat Page 40 . Sekalipun senjata rahasia.‖ Kwa Tin Ok ada tertua Kanglam Cit Koay. ―Sia ciang ie san‖ atau ―Sepasang tangan memindahkan bukit‖. Meski begitu ia sudah lantas mundur dua tindak. mulutnya dikasih masuk ke dalam jambangan. dengan dipegang dan diangkat di atasan kepalaku. Wanyen Lieh berkhawatir sehingga hampir ia berseru sendirinya. Wanyen Lieh heran dan berkhawatir pula. duduk sambil berputaran seperti tukang dangsu tengah mengasi pertunjukan. menghirup arak di dalamnya! ―Oh. Sembari bicara. Kwa Tin Ok sambut itu dengan tongkat besinya. Adalah disaat ini dengan sebat ia tunduk. imam ini kasih turun tangannya yang memegang jambangan arak itu. apapula sebuah jambangan yang besar yang anginnya seperti menderu-deru. maka kepandaian ini dipakai modal mengemis nasi. Sembari berbuat begitu. dadanya itu penuh dengan daging yang lembek. Sesudah ini ia geraki pula tongkatnya.

kalau jambangan berat itu ditimpuki kepadanya – gilirannya memang bakal tiba – tidak nanti ia sanggup menganggapnya. ia kerahkan tenaganya. dia segera menahan turunnya jambangan itu. cacat itu ditambal dengan kelincahan dan kecerdikannya. Berbareng kaget. terus melayang turun ke luar. Pendeta ini sangat beribadat dan murah hatinya. membuatnya satu lobang besar ke dalam mana tubuh si mahasiswa terjeblos masuk di waktu mana terdengar jeritannya berulang-ulang: ―Tolong! Tolong!‖ Selagi jambangan mental balik. kepalanya ditunduki ke dalam jambangan itu. tubuhnya lantas mencelat ke arah jendela. Tiang Cun Cu sambuti jambangannya itu. Ahli pedang Gadis Wat lihay ilmu pedangnya. karena untuk mencegahnya dengan menahan. untuk korbankan diri. ―Bagus! Bagus!‖ Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong memuji seraja ia goyang-goyang kipasnya. Tapi ia tidak berlaku ayal. gerakkannya bagaikan burung walet menyambar air. kembali ia mencegluk araknya. Tiang Cun Cu berniat lompat. perutku tak dapat memuat segantang arak. maka itu. Lincah gerakannya itu. untuk sendok araknya untuk bawa itu arak ke dalam mulutnya. tapi kupingnya sudah dengar seruan keras tapi halus nadanya: ―Sian-cay!‖ Itu adalah suatu pujinya seorang penganut Buddha. Jambangan itu tertahan pikulan dan terduduk di dengkulnya orang aneh yang keempat ini. Kalau jambangan itu jatuh ke bawah loteng. Kayu pikulan itu ternyata bukannya kayu melainkan sebangsa logam. guna menolong siapa yang dapat ditolong dari bencana ketimpa jambangan itu. yang telah kasih turun jambangan di tangannya.Pendekar Pemanah Rajawali kepadanya. Cuma Lauw-sie In Hiap menambahkan itu dengan memulangkan jambangan kepada Khu Cie Kee. Kapan kayu pikulan dan jambangan beradu. Hie Jin sudah sambar araknya dengan tangannya untuk disendok dan dihirup. siap untuk dilemparkan pulang! Belum lagi jambangan dikasih melayang pergi. kemudian dengan gagang kipas. maka itu dengan sekali sendok saja. si imam sendiri tak terkecuali. Berbareng dengan puji itu tubuhnya Ciauw Bok Taysu lompat melecat menyusuli jambangan itu. maka dilain saat jambangan itu sudah terangkat naik dan terlempar terapung kearah Khu Cie Kee. Habis itu. tak sanggup ia melakukannya. Jambangan itu tidak ada yang tahan. umpama kata aku tidak mampus ketindihan. ―Orang bakal mampus ketindihan! Tolong!‖ Di mulut ia mengoceh tidak karuan. Dengan cepat ia pasang kuda-kudanya. Wan Lie Kiam Han Siauw Eng telah lompat menyusul. jambangan itu diangkat. maka itu ia gunai ketika yang baik ini untuk menengak arak tanpa tunggu Khu Cie Kee menyuguhkan kepadanya. si Pendekar Sembunyai di kota sudah turut mencicipi arak itu. emas hitam dan baja pilihan. jambangan berhenti menyambar. Ia insaf. karenanya mejadi berat dan kuat luar biasa. terdengarlah tertawanya Lauw-sie In Hiap Coan Kim Hoat. ―Bagus! Bagus!‖ ia pun turut memuji. enteng tubuhnya tetapi ia kurang tenaga. hampir tiba dimulut jendela. Irawan D Soedradjat Page 41 . lalu turun ke bawah akan tetapi belum lagi tempat arak istimewa itu jatuh ke lantai. ―Sekarang pinto hendak menyuguhkan kepada Cu Jieko!‖ Belum lagi jambangan itu dilemparkan. Nona ini dengan tiba-tiba menjejak dengan kaki kanannya. yang terbuat dari campuran hancuran tungsten. ia angkat kayu pikulannya untuk menahan itu sebelum jambangan turun. akan mendahului jambangan itu. ―Ayo! Tak dapat!‖ dia berseru. Semua orang terkejut. Akal cerdik semacam ini tadi pun telah digunai oleh Coan Kim Hoat. maka ia melintasi jendela. dan lantai papan pecah bolong. sekarang ia gunai hasil latihannya beberapa puluh tahun. ketika ia berada di atas jambangan. Berbareng dengan itu kakinya sudah lantas menginjak palang jendela. maka jikalau aku disuguhkan. yang sudah lantas tekuk sebelah lututnya yang kiri. manis dipandangnya.Justru ia baru memikir. kipasnya tapinya ia pakai untuk mencelup ke dalam jambangan. dengan dibantu tangan kanan. pasti ada orang yang bakal tertimpa dan menjadi korban. Cu Cong sudah berjingkrak bangun. mungkin aku bakal mati karena mabuk…‖ Akan tetapi sia-sia saja ia unjuk roman ketakutan seperti kalap itu. guna mundurkan semua orang untuk mencegah kecelakaan yang tak dikehendaki itu. Untuk itu ia perlu mendahului jambangan. mulutnya lantas menyedot arak. ―Tolong! Tolong!‖ dia berteriak-teriak selagi jambangan itu mengancam padanya. keduanya menerbitkan suara yang keras dan nyaring. yang dia barengi tolak pergi. ―Jangan! Aku si mahasiswa cilik tak punya tenaga kekuatan untuk kata meringkus ayam. ―Brak!‖ demikian satu suara nyaring. jambangan sudah lantas terbang melayang kearahnya. Begitu terbentur pikulan logam itu. yang terus berkata: ―Aku si pedagang kecil suka sekali mendapat keuntungan oleh karenanya ingin aku tanpa menggunai banyak tenaga untuk turut minum arak!‖ Ia segera menghampiri Lam Hie Jin. ke bawah loteng.

itu pasti bakal merusak kerukunan. Maka itu mereka dapat lihat benda bagai segumpal daging yang seperti bentrok dengan jambangan.‖ dia bilang kemudian. lalu keduanya jatuh miring dengan berbareng. Ia sendiri masih bercokol terus di bebokong kuda. Cie Kee letaki jambangan arak di lantai. sedangnya binatang itu mendaki loteng. ia pondong jambangan untuk dikasih turun dari bebokong kuda. Ia lakukan itu sembari tertawa. Han Po Kie geraki tubuhnya untuk naik sedikit. Totiang. mereka sudah mendaki loteng untuk kembali ke atas loteng! Wanyen Lieh menyaksikan semua semua itu.‖ sahut Cie Kee. maka itu bagaimana bisa jadi taysu dapat menyembunyikan wanita baik-baik dalam kuil itu?‖ ―Di kolong langit yang luas itu mesti ada manusia palsu yang menipu duni!‖ berkata si imam dengan nyaring. ―Kita berdua sebenarnya tak saling dendam. tetapi karena tidak ada jalan lain. ―Akan tetapi Tuantuan tampaknya memaksa hendak mencampuri tahu. Ma Ong Sin Han Po Kie. ―Urusan sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan Tuan-tuan bertujuh. Irawan D Soedradjat Page 42 . atas mana binatang itu sudah lantas lompat lewati jendela untuk turun ke bawah. guna diletaki di lantai loteng. Cie Kee berdiam sebentar. Tepat sekali keduanya jatuh di bebokong kuda yang lalu lari beberapa tindak. kuda kuning di bawah loteng lantas saja lari ke jalan besar di betulan mulut jendela loteng itu. ―Pinto juga telah dengar lama yang Tuan-tuan adalah orang-orang yang gagah mulia untuk wilayah Kanglam. Maka selang sesaat. ―Ciauw Bok Taysu ini adalah seorang yang beribadat dari beberpa puluh tahun. yang harus dikasihani…‖ ―Tiang Cun Cu Totiang. inilah bagianmu yang tidak benar!‖ Kwa Tin Ok memotong. Sejak tadi jongos-jongos umpatkan diri di bawah loteng. guna ulur kepalanya ke mulut jambangan. untuk isikan penuh semuanya. lalu kembali untuk terus lari masuk ke dalam ciaulauw dan mendaki loteng! Selagi kuda itu beraksi. ―Dengan kata-katamu ini. dan kuil Hoat Hoa Sin Sie juga adalah berhala kenamaan dalam kota Kee-hin ini. Umpama kata pinto tak dapat melawan. telah perdengarkan satu suara bersiul. ia perdengarkan suara perlahan. ia berkata: ―Benar-benar Kanglam Cit tersohor bukan nama belaka. dengan sekali sebat dan cerdik. hingga jambangan itu dapat duduk tetap di atas kuda. lantas satu diantaranya muncul dengan belasan cangkir yang diminta itu.Pendekar Pemanah Rajawali Baru pendeta itu melewati jendela. ―Aku hanya lebih mempercayai mataku sendiri!‖ sahut sang imam. dengan bergandengan tangan bersama Cu Cong. cukup asal dia suka menyerahkan itu dua orang perempuan yang malang. tangannya yang sebelah mengedut les kudanya. Ciauw Bok Taysu juga sudah lantas menyusul naik kembali ke loteng. oleh karenanya jikalau kita gunai senjata. Pinto pikir baik diatur demikian saja…‖ Lantas ia teriaki si jongos untuk siapkan empatbelas cawan arak yang besar. terpaksa pinto mesti mencoba denganmu untuk menetapkan siapa yang tinggi dan siapa yang rendah. Han Po Kie menjadi gusar. pinto takluk! Sekarang. silakan totiang tunjuki caramu!‖ bilang Kwa Tin Ok. dengan memandang Tuan-tuan bertujuh. pinto tidak hendak mempersulit pula kepada si pendeta. kaki kirinya menyantel pada sanggurdi. kedua tangannya dibantu kaki kanannya menahan jambangan. sesudah itu. Sesuatunya lihay sekali. lain orang telah dalui ia. Habis itu. sang kakak yang kedua dengan keduanya sambil tertawa. Semua mata segera diarahkan ke mulut loteng. Khu Cie Kee tertawa. Kemudian. empatbelas cawan terisi arak itu diatur dalam dua baris di lantai itu. lalu satu persatu cawan dia keroboki ke dalam arak itu. kau jadinya tidak percaya pada kami?!‖ tanyanya. terserah saja kepadaTuan-tuan. ia ulur keluar lidahnya. apa saja yang kamu hendak perbuat!‖ ―Jikalau sudah pasti totiang menghendaki demikian. ―Habis itu apakah yang totiang kehendaki?‖ Po Kie tanya pula. Mendengar siulan itu. dengan begitu teranglah Tuan-tuan terlalu andali kepandaiannya orang-orang lain! Tuan-tuan pinto tolol. ialah segumpal daging yang tadi telah melayang menyambar jambangan sudah pernahkan dirinya dibawah perut kuda itu. Itulah seorang dengan baju kuning yang sembari melompat. begitu dipanggil. hingga tenaga turunnya menjadi berkurang. dengan begitu ia jadi bisa berbareng mencicipi juga arak itu.

Wanyen Lieh pun heran sekali. Ia memang bukan tukang minum. ―Dengan jebolnya aku dan citmoay. mereka mendahului menyatakan akur. Tidakkah cara ini bagus?‖ Han Po Kie dan Thi A Seng adalah tukang tenggak susu macan. ia pun polos dan bersikap jantan. Dengan si imam. ialah yang menang. tenggak kering satu demi satu tujuh cawan bagiannya. A Seng lantas wakilkan adiknya. ―Hebat!‖ ia inipun berbisik. ―Akur!‖ jawab Khu Cie Kee. Tuan. umpama kami menang. Ia lantas ingat sesuatu. mereka tentu masih sanggup. ―Ia gunai tenaga dalamnya memaksa arak turun ke kakinya…‖ ―Benar. Tetapi tiba-tiba saja ia terperanjat. Maka heranlah Kim Hoat yang cerdik itu. dan inilah yang pertama kali!‖ Dan tanpa bersangsi lagi. ia segera bisiki Cu Cong. lagi seratus cawan dia minum. ―Tuan-tuan bertujuh minum satu cawan. ia menanyakan dulu pikirannya si imam itu. dia tidak bakal rubuh…. Kebetulan ia melihat ke lantai. Khu Cie Kee sebaliknya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto hendak adu kekuatan minum arak dengan tuan-tuanbertujuh. Silakan!‖ Hampir berbareng enam manusia aneh lainnya dari Kanglam itu angkat cawannya masing-masing dan mengiringnya seperti saudara angkat mereka yang bungsu. ia tampak lantai dimana si imam berdiri menjadi basah. Sebagai satu jantan. coba lihat kakinya si imam!‖ Cu Cong memandang ke tempat yang ditunjuki. ia masih segar seperti biasa. Akan tetapi Kwa Tin Ok berkata: ― Kami bertujuh melawan satu. ―Dengan dibantu tenaga dalamnya. kita tinggalberlima. Nona Han Siauw Eng segera merasakan bahwa ia bakal tak sanggup minum terlebih jauh. Duapuluh cawan telah ditenggak kering. air mukanya takberubah. atas perjanjiannya si imam. ―Citmoay. Si imam juga tenggak habis tujuh cawannya.‖ katanya. sedang si imam pun tanpa banyak omong lagi. mari kau wakilkan kau!‖ berkata Thio A Seng kepada adik angkatnya yang ketujuh itu.‖ Kim Hoat berbisik pula. Banyak cara untuk adu pibu. ―Nah. ―Baiklah!‖ demikian katanya. ―Mari kita adu minum arak dulu! Belum pernah aku mendapati orang yang begitu memandang enteng kepada kami bertujuh. ia jemput satu cawan dan jegluk isinya. pinto sendiri akan minum tujuh cawan. ―Jieko. baiklah kau sebutkan lain cara!‖ ―Cara bagaimana tuan dapat merasa demikian pasti akan memperoleh kemenangan?‖ Tiang Cun Cu tegaskan. Irawan D Soedradjat Page 43 . siapa yang tidak sinting. ia tidak menawar lagi. Kapan hendak dilanjuti giliran yang lain.adu kepandaian – belum pernah ia dengar cara seperti itu. ―Kelihatannya untuk mereka minum lagi tiga atau empat cawan. ―Nona Han adalah jantannya wanita!‖ Khu Cie Kee puji nona itu. itu tidaklah cara laki-laki! Totiang. lantas semua itu di cegluk habis! Setelah cawan yang ketiga. ―Siapa juga yang meminumnya sama aja!‖ Maka itu. Perjanjian kita ialah sampai habisnya isi jambangan ini. Taruh kata si imam kuat minum tetapi berapakah besar perutnya? Dapatkah satu perutnya melawan perut tujuh orang? Han Siauw Eng adalah yang termuda diantara Kanglam Cit Koay. Kim Hoat percaya pihaknya bakal menang. apakah ia masih bisa menghabisi lagi duapuluh cawan?‖ Oleh karena ia pikir begini. ―Khu Totiang. yang ia lihat sudah lelah. boleh tidak aku diwakilkan?‖ tanya si nona kepada si imam. Lalu semua cawan diisi pula. habis bagaimana?‖ Cu Cong jadi berpikir.‖ ia berpikir. ―Begini lihay tenaga dalamnya. .‖ katanya kemudian. Coan Kim Hoat tampaknya sudah kewalahan.

hanya orang bicara secara wajar sekali.‖ sahut Cu Cong. di sini lebih hebat lagi! Raja Siam telah suruh keluarkan seekor gajah putih yang besar.‖ ia berkata. ―Berapa jambangan?‖ dia tanya sekenanya. Ia telah perhatikan. ―Saudara Cu. Cie Kee turut minum juga. ―Pada tahun dulu aku telah pergi ke negeri Siam. Ia tahu orang bicara ngaco. ―Sembilan jambangan!‖ katanya. Sekarang lantai di kakinya Khu Cie Kee tertampak barang cair mengembang dan mengalir. tangannya sendiri menyambar satu cawan yang besar. bisa dibuat main?‖ ia berpikir. kami semua sangat mengaguminya. Ia heran juga menyaksikan orang kuat minum dan sikapnya tenang. ―Hebat tenaga dalammu. ―Habis Cu Jieko memikir bagaimana?‖ dia tanya. ―Khu Totiang. tetapi mereka duga saudara ini tentu ada akal muslihatnya. orang bukannya mengerahkan tenaga dalam. tak dapat ia bergusur. bagaimana dia ini hendak melawan sendirian? Keenam Manusia aneh menjadi heran. ujung bajunya yang kiri pun dikibaskan. Cie Kee heran.Hanya rada aneh. berapa jambangan aku tenggak habis?‖ Tiang Cun Cutahu orang bergurau. aku disuruh lawan gajah itu minum arak! Binatang dogol itu telah sedot habis tujuh jambangan! Totiang tahu. begitu juga dengan pihak Kanglam Cit Koay. setelah kandasnya ini jambangan .Pendekar Pemanah Rajawali Mereka itu sudah keringi pula cawan mereka yang lainnya. dikatak gila. Cu Cong lihat perbuatan adiknya itu. ia minum araknya. hendak ia menyerah kalah. Lima orang sudahke teter. selama itu Khu Cie Kee mesti layani orang minum. Tentu saja. akan pinto menyerah kalah. akan tetapi Cu Cong seperti tidak pedulikan itu. Mereka berdiam. Cu Cong si Mahasiswa Tangan Lihay tertawa. Han Po Kie letaki cawannya di meja. Cu Jieko. cawan demi cawan. ―Mustahilkah perutnya bisa kempas dan bisa kembang. Selagi ia tetap belum mengerti. ―Apakah itu mahkluk yang lihay?‖ ia tanya. ia tidak angot. ―Di sana putra raja India seret keluar seekor lembu. Mereka tahu sebabnya itu. Dikatakan mabuk. dengan itu dia dicaci sebagai kerbau. satu lawan satu!‖ sahutnya. ia lantas mengedipi mata. Lam Hie Jin dan kawan-kawannya dapat lihat itu. ―Baiklah aku sendiri yang layani kau. dia menghendaki aku lawan kerbau itu minum arak yang keras.‖ kata Cu Cong itu. Kesudahannya akulah yang menang!‖ ―Cis!‖ Cie Kee kasih dengar suaranya. ―Satu kali aku telah pergi ke India. perlahan tetapi mengesankan. di sana aku pernah menangkan beberapa makhluk yang lihay. ―Aku menyerah!‖ Irawan D Soedradjat Page 44 . dengan sikap wajar itu. untuk di pakai itu menyendok arak. hingga akhirnya jambangan arak itu nampak dasarnya! Imam itu segera tunjuki jempolnya. Ia tertawa ketika ia berkata: ―Sebenarnya aku tidak kuat minum akan tetapi tempo tahun lalu aku pesiar ke daerah Selatan. meski begitu. saban-saban ia tenggak araknya. kau benar satu manusia aneh!‖ serunya. perut si Manusia aneh rada melendung. kau temani aku minum terus. ia dengar orang berkata-kata pula. ―Sekarang begini saja. ―Ah. kaki dan tangannya digerak-geraki. lekas!‖ Lantas setelah itu. sikapnya menarik hati. itu rasanya tidak terlalu adil…‖ Cie Kee melengak. Tidakkah ini bagus?‖ Arak di dalam jambangan perunggu itu tinggal separuh. Dimana orang berpura-pura edan-edanan. isi itu masih banyak. Ia tidak tunggu sampai orang membilang atau menunjukkan sesuatu apa. ia ngoceh pula. akan tetapi dengan kami berlima melayani kamu. tidak ada arak yang merembas keluar. mereka kagumi si imam untuk tenaga dalamnya yang sempurna itu.‖ kata Cie Kee kemudian. Dengan tiba-tiba saja wajah Cu Cong menjadi sungguh-sungguh. meskipun mereka tahu ini saudara yang kedua sangat cerdik dan licin. Begitulah ia menantang. terus ia sambungi dengan nyaring: ―Mari minum! Lekas. ia tidak sinting. Mari keringkan!‖ Ia goyang-goyang kipasnya di tangan kanan. ―Kanglam Cit Koay sungguh hebat.

Mungkin pembaca pernah menyaksikan pertunjukkan sulap semacam itu. bau arak tersiar menyampok hidung! Orang kedua dari Kanglam Cit Koay sudah perlihatkan kelihayannya..rembulan gilang gemilang…. Itulah kertas bermuatkan syair yang baru ia bacakan. yang sekian lama disembunyikan di bawah jubahnya yang gerombongan. Tentu saja si imam tidak menyangka orang bergurau secara demikian.‖ katanya di dalam hatinya. kapan tahang air itu ia balingkan. air mana dapat ditambah menjadi banyak. Disitu ia berhadapan dengan orang lihay akan tetapi tidak ada seorang juga yang lihat darimana ia sembatnya tahang air itu! perutnya tinggal kempes. Khu Cie Kee segera menyambaruntuk pegangi tubuhnya orang itu. Totiang. Wajahnya Khu Cie Kee menjadi berubah. dua kali ia jungkir balik di atas pentes tambah semangkok air tawar. ditangannya ada sepelas ikan emas. Jalan susu bagaikan tenggelam…. ―Arakku kumpul di dalam tahang. CuCong lompat mundur.udara membuatnya. Tak ada syair itu didalam sakunya itu! Cu Cong seperti tidak ambil mumat orang terheran-heran. terus ia putar tubuhnya. tapi ia melengak pula. Irawan D Soedradjat Page 45 . Cu Cong pandai mencuri dan mencopet. ―Totiang minum dengan andalkan tenaga dalam. apakah kau juga minum arak?‖si Manusia aneh membaliki. selagi si imam pegangi dia. Setelah dapat berdiri pula. mulutnya perdengarkan suara: ―Syair yang bagus. niatku adalah untuk nanti meyambunginya. ―Kau benar-benar lihay! Sekarang pinto ingin mohon pengajaran…!‖ Rupanya barusan selagi ia pura-pura terpeleset. sebab semua arak pindah ke dalam tahang air ini. belum pernah aku perlihatkan orang syairku itu. Dan Cu Cong sekarang mengacau matanya Tiang Cun Cu dengan ilmu kepandaiannya itu.!‖ ―Bagus!‖ seru Cie Kee yang mengerti bahwa benar-benar ia telah dipermainkan orang..‖ katanya. si Mahasiswa Tangan Lihay. bergelak-gelak lalu dengan sekonyong-konyongia lompat jumpalitan ketika ia telah berdiri pula. tubuhnya rubuh membentur tubuhnya si imam. ―Totiang lihay ilmu silatnya.Di Waktu tibanya angin yang sejuk…malam yang jernih terang……. ―Kepandaianmu ini toh tak dapatdibilang orang minum arak?!‖ ―Kau sendiri. di situ ia terpeleset.tangannya mencekal sebuah tahang air. sembari berputaran.Suatu hari…….mentereng seperti siluman air………‖ Panjang nada syairnya. Biauw Ciu Sie-seng gunai ketikanya untuk rogoh kantung si imam. ―Itulah syairku yang kutulis di harian Tiong Ciu tahun yang lalu.Ikan dan naga diempat penjuru lautan…….?‖ Lantas ia merogoh ke sakunya. Khu Cie Kee heran hingga ia melengak. kau juga pandai ilmu surat!‖ katanya memuji. Satu kali ia jungkir balik. suatu ilmu kepandaian turun temurun yang hingga kini telah membuat kagum orang di Eropa dan kepulauan selatan. ―Ah!‖ seru si imam kemudian. ―Sungguh aku kagum…. Dengan‖Tangan Lihay‖ itu diartikan lihay mencopetnya. sebelah tangan si imam melayang.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong awasi imam itu. mengapa sekarang ia dapat mengetahuinya…. yang masih belum selesai. maka itu ia digelar sebagai Biauw Ciu Sie-seng. Tentu saja ia sangat penasaran yang orang telah copet syairnya itu tanpa ia merasa. arakmu kumpul dilantai! Ada apakah perbedaannya?‖ ia lantas jalan mundarmandir sampai ia kena injak lantai yang basah dengan araknya Khu Cie Kee. untuk cari syairnya itu. Tidak tempo lagi. ―Aku? Lihatlah!‖ Ia tertawa pula. ia membeber kertas di atas meja. ―Syair itu aku simpan. tidak kusangka.. ia tertawa. ia jadi kena dipermainkan. Kepandaiannya itu menyembunyikan tahang air adalah kepandaian umum di kalangan tukang sulap Tiongkok. syair yang bagus! Sejak jaman purbakala di pertengahan musim rontok….

Thio A Seng lihat saudaranya sangat terdesak. ―Ciauw Bok Hweshio! Kanglam Cit Koay!‖ ia berseru. Dan menyerang pula. Bukan main kagetnya Siauw Mie To si Buddha tertawa. ―Jangan mengepul!‖ Kwa Tin Ok kata dengan dingin. ia menyerang ke dadanya si imam.ia tertawa terbahak-bahak. ―Semua mundur!‖ ia berseru. Sangking murkanya. Tangkisan si imam itu membuat tangannya sakit dan gemetaran. Tentera Kim itu adalah tentera pengiringnya Wanyen Lieh. ―Walaupun kasih datang tambahan tigaribu lagi serdadu berandal Kim. seraya ia melompat maju untuk menyerang. akan tetapi sekarang tak dapat ia atasi diri lagi. ―Lam Sieya sungguh lihay!‖ si imam memuji mendapatkan tangkisan itu. ―Kamu majulah berdelapan!‖ menentang Tiang Cun Cu menyaksikan orang pada turun tangan. ―Siapakah yang kasih datang tentera Kim?!‖ ia menegur. kali ini tiga kali beruntun serangannya itu. kebetulan mereka dengar di Cui SianLauw ada orang berkelahi. Manusia Aneh yang keempat. Ia pun segera berseru dengan ejekan: ―Bagus betul.. benarkahkau berniat mencari keputusan dengan kepalan dan kaki?‖ ia menegasi. sampai saudara itu sulit membela dirinya. maka itu sampai sebegitu jauh. Maka ia lompat berdiri. rasanya baal. di tangga loteng terdengar riuh tindakan kaki yang keras.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong berkelit ke samping. mereka lantas pergi mencari. toya kamu masih tidak jerih!‖ Han Po Kie gusar mendengar ejekan itu. lalu beberapa puluh orang tertampak merubul naik. Ia cacat mata akan tetapi kupingnya awas bukan main. timbuk kekhawatiran mereka itu. naik darahnya Khu Cie Kee. ia menyerang Lam Hie Jin dengan sebelah tangan kirinya. sambil berlompat. untuk ambil senjata mereka masingmasing. ―Kita ada tujuh bersaudara!‖ ia bilang. Khu Cie Kee tidak gubris sindiran itu. Lega hati mereka akan saksikan putra Irawan D Soedradjat Page 46 . Pertarungan Mati Hidup Segera terlihat orang banyak yang naik ke loteng itu adalah serdadu-serdadu bangsa Kim. kamu masih menjanjikan bantuan! Biar di sana ada ribuan tentera dan tidak pandang itu di matanya!― Thio A Seng merasa pihaknya diejek. Hampir di waktu itu. Melihat mereka itu. harap kau tak katakan kami tak tahu aturan!‖ ia berkata sambil ia menggapekan kepada Lam Hie Jin dan Han Siauw Eng. Ia telah mendengar puluhan orang berlari-lari mendatangi ke restoran itu. Ia hargakan Kanglam Cit Koay. ―Untuk apa menjanjikan bantuan lagi?!‖ Kwa Tin Ok tidak berpikir seperti saudaranya yang kelima itu. ―Siapakan senjata!‖ Thio A Seng semua segera lari balik ke tempat duduknya masing-masing. ia menyangka mereka itu diperdayakan oleh Ciauw Bok Hweshio. Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan dan Wan Lie Kiam si Gadis Watsudah lantas taati ajakannya saudaranya itu. Hebat tangkisannya ini. ia layani mereka separuh main-main. ―Totiang. Khu Cie Kee dapat lihat serangan itu. ia lompat untuk menghalang. mereka datangi rumah makan itu. Mereka menanti sekian lama putra raja mereka masih belum kembali. ―Benar!‖ sahut si imam memberikan kepastian. Bab 5. Inilah lawan tangguh yang pertama kali iapernah ketemukan. Tapi justru itu sekonyong-konyong wajahnya berubah. yang dibawa ke depan dadanya. Coan Kim Hoat bisa duga perasaan saudaranya itu. suara mana tercampur suara bentrokkannya senjata-senjata tajam. sebagaimana mereka gampang dikenali dengan seragam mereka. ia lantas menangkis. atas mana Lam San Ciauw-cu menangkis dengan kedua tangannya.anginnya mendesir. ―Totiang.

mereka kaget dan gusar. ia ngeloyor ke tangga. tidak peduli orang baru saja berhenti bertempur dan disitu ada banyak serdadu bangsa Kim. tidak kenal Tuhan. Serdadu-serdadu Kim lainnya menjadi gaduh karena kebinasaan tidak karuan dari rekannya mereka itu. Kwa Tin Ok lantas sudah bangkit berdiri. ―Terima kasih Kwa Toako!‖ ia mengucap. tepat mengenai batok kepalanya satu serdadu Kim. ―Cukup sudah. Beberapa serdadu lagi hendak maju untuk mengulangi penyerangan. dia tidak usah dilayani! Tuan-tuan mari kita minum dulu. Khu Cie Kee tangkis serang itu tanpa membalik tubuhnya. pendeta yang pantang makan daging. pinto tak dapat menemani lebih lama pula!‖ Lantas ia angkat jambangan araknya. iabertindak ke tangga. ―Kamu adalah bangsa Enghiong. Tin Ok buta. maka itu beberapa batang tombak kena tercekal dan terampas. Atas itu putra raja Kim itu lantas berbangkit dari kursinya.ia paling benci orang mengatakan ia picak. ―Minggir!‖ ia membentak. Dengan berani ia lantas memanggil ―toako‖ atau kakak. maaf. Mereka lantas menghampiri untuk memberi hormat. Irawan D Soedradjat Page 47 . Tiang Cun Cu tidak ladeni si buta itu. sembari minum kita bicarakan daya untuk menghadapi dia!‖ Kwa Tin Ok tidak tahu orang adalah orang bangsa Kim. ―Khu Totiang. bangsa hohan. Sambil manangkis tangannya menyambar. WanyenLieh heran. maka itu sambil gerakin tongkat besinya. ―Kalau picak bagimana?!‖ tanyanya. guna menghampiriKwa Tin Ok. ―Aku juga bukanya si picak!‖ sahutKhu Cie Kee mengejek. sekarang setelah mengetahui orang bangsa apa. ―Apa!‖ tanyanya. hingga tanpa suara apapun. Dengan lantas ia berpaling kepada Kwa Tin Ok beramai. ―Adakah aku keliru mengerti?‖ jawab si imam sambil jalan terus. walaupun orang tak dapat melihat kepadanya. hingga Wanyen Lieh lantas saja mundur beberapa tindak. sembari berkata ia gerakan pundak kanannya. putra itu lagi duduk tenang di mejanya. habis perlu apa kamu undang tentera bangsa Kim untuk bantu kamu?‖ Dengan sengit si imam menjengeki orang adalahEnghiong dan hohan – orang-orang gagah. Hidangan untuk Wanyen Lieh pun disiapkan sekalian. jiwanya terbang pergi. ―Bagus! Bagus!‖ ia menambahkan. sambil membawa itu. ia lompat maju. ―Kami tidak undang atau janjikan mereka itu. mereka bawa naik barang hidangan itu untuk disajikan disembilan meja dikecualikan mejanya Ciauw Bok Taysu. si hweshio. Ketika itu pihak rumah makan baru siap dengan hidangan mereka yang terdiri dari daging macam tutul. Seperti bebokongnya ada matanya. mengenai kempolansi putra raja Kim itu. ―Toako kami menitah kau pergi!‖ Han Po Kie wakilkan kakaknya menyahuti. ―Jangan!‖ Wanyen Lieh segera mencegah. sebaliknya ia layangkan tangannya yang kiri. jangan kau keliru mengerti!‖ kata tertua darikanglam Cit Koay ini. untuk mengatakan: ―Imam jahat itu tidak kenal undang-undang. maka tadi ia berlaku manis budi dengan suruh jongos membagi daging macamnya. ia tak sudi melayani bicara. ―Inilah contohnya!‖ kata si imam kemudian. beberapa diantaranya segera menikam bebokongnya si imam dengan tombak mereka yang panjang.‖ Kwa Tin Ok menyangkal. suara itu rubuh dengan kepalanya remuk. Lalu tanpa tunggu jawaban lagi. di depan siapa ia memberi hormat.Pendekar Pemanah Rajawali rajamereka tidak kurang suatu apa pun. ―Hm!‖ Khu Cie Kee perdengarkan suara di hidung selagi Hui Thian Pian-hok belum sahuti orang asing itu.

Tentu saja aku menjadi tidak mengerti. akan menghirup permainannya sang salju. Bersama dia turut juga semua pengiringnya.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin OK semua lantas berlalu. Tempo ia lewat di muka Ceng ho-hong. Ia tahu. (Yankhia = Peking sekarang). lantas Tiang Cun Cu datang menyatroni sambil dia menuduh ada dua orang wanita dari Hangciu. Kapan ia sudah dengar jawabannya. Pasti tak dapat ia umbar hawa amarahnya terhadap serdadu itu. lebih bingung pula Kanglam Cit Koay. Nyatalah barisan itu adalah barisan yang telah pergi ke Gu-kee-cun untuk menawan Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian.‖ sahut Ciauw Bok. Irawan D Soedradjat Page 48 . inlah berbahaya………. ia lekas-lekas balik ke hotel.‖ menyatakan Coan Kim Hoat. Itu hari sehabisnya membinasakan Ong Tian Kian si pengkhianat. Habis kenapakah barisan serdadu itu? Ia tanyakan keterangan beberapa penduduk. Khu CieKee pergi ke Gu-kee-cun kepada Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian.‖ sahut hweshio itu. ―Taysu. hingga kesudahannya ia labrak rombongan serdadu bangsa Kim serta orang-orang polisi yang mencari padanya. tombak dan gendewanya pada patah. Sementara itu Kwa Tin Ok beramai telah ikuti Ciauw Bok Hweshio pergi ke kuil Hoat Hoa Sian Sie yang letaknya di bagian barat dari luar kota Kee-hin. Ia ingat pada pengalamannya yang pertama. ―Keliru mengerti ini jadi makin hebat…‖ Ciauw Bok Taysu mulai berkata smabil ia menghela napas. Ia heran. Ia bekuk satu serdadu yang sedang tidur pulas. ―Aku ada punya Suheng yang menjadi pendeta di kepala di kuil Kong Hauw Sie di Hangciu…‖ ―Itulah Kouw Bok Siansu. baru satu dua har I orang itu tiba. ia lantas pergi ke Hangciu.‖ Tin Ok juga menyatakan. merundingkan daya penjagaan.‖ ―Itu benar. dari kuil Kong Hauw Sie. Diluar dugaanku. mesti dia bakal datang lagi menerbitkan onar. ia tidak lagi berpikir untuk beli pakaian buat si nyonya. Mereka tidak dapat mengerti sikapnya Khu Cie Kee. yang ia bawa ke ujung jalan besar. ―Dia menyebutkan dua orang wanita. datang menyembunyikan diri di kuilku. ia ikuti rombongan serdadu sampai di tangsinya tentera itu. seperti bekas kalah perang. tidak ada huru-hara penjahat di dekat-dekat Hangciu. untuk pesiar ke telaga See Ouw dan tempat sekitarnya yang indah. ia tampak lewatnya beberapa puluh serdadu dalam keadaan rudin. pulang ke Yankhia. Dari Gu-kee-cun. ibukotanya kerajaan Kim. Ia berduka berbareng murka akan dengar Siauw Thian terbinasa dalam pertempuran itu dan Tiat Sim terluka parah. dalam mana ia bilang ada orang jahat hendak mengganggu mereka itu dan karenanya dia minta supaya aku beri tempat berlindung kepada merek itu. akan tetapi ia jerih pula. Sampai disitu mereka berunding. Kacung hweshio lantas menyuguhkan air the. Kejadian itu membuat ia sangat gembira. seragamnya tidak karuan. itulah akibatnya ia sudah mengikat persahabatan sama dua orang she Yo dan Kwee itu. kita tak dapat tidak bersiaga. Biauw Ciu Sieseng jalan paling belakang. ―Pauw-sie ada padaku. Imam ini sangat menyesal. Ciauw Bok Taysu bingung. ia tepuk pundaknya putra raja Kim itu dengan kipasnya seraya bilang: ―Apakah kau telah jual itu orang perempuan yang kau tipu? Bagaimana kalau kau jual dia padaku? Hahaha!‖ Dan terus ia ngeloyor turun. ia menjadi mengeluh.‖ ia berpikir. selagi lewat di samping Wanyen Lieh. turun di tangga loteng.‖ Oleh karena kekhawatirannya ini. ia tahu tidak ada peperangan dengan bangsa Kim.‖ tanya Han Siauw Eng. ―Kemarin dulu ia menulis surat padaku. ―Benar. Ia tunggu sampai malam. untuk membuat perkenalan dengan caranya yang luar biasa itu. apapula ia adalah kakak seperguruanku. habis mana ia lantas mengundurkan diri. Untuk kagetnya ia dapatkan beberapa potong emas dalam sakunya terbang pula! Ia mendongkol. aku serta semua serdaduku bukan tandingan mereka. Kami orang beribadat mesti berlaku murah hati. juga mereka itu tidak tahu suatu apa. Ciauw Bok Hweshio turut mereka. dengan tinggalkan restoran itu. tentu saja aku mesti terima permintaannya itu. di dalam kuil itu mereka berkumpul di kamar bersemedhi. paling dulu ia ragoh sakunya. ia menitahkan dua orang yang menyampaikan surat itu. untuk korek keterangan dari mulutnya. Saking penasaran. lalu dengan diam-diam ia menyatroni.‖ ―Melihat dari sikapnya tadi. Wanyen Lieh terkejut. jikalau mereka dapat tahu. siapakah mereka itu? Bagaimana sebenarnya duduk perkaranya?‖ ―Nanti aku beri keterangan. terus ia ajak si nyonya untuk berangkat ke Utara. ―Maka aku pikir. Maka sebelum layani godaan orang itu. ―Beberapa orang ini lihay sekali. bukan?‖ Tin Ok memotong. entah kemana lolosnya tetapi ada kemungkinan dia pun tak kan hidup lama.

terus ia pergi cari Thian Tek di tangsi. Thian Tek segera berkata kepada dua serdadu yang ia kedipi mata: ―Pergi kamu antar toya ini ke telaga untuk cari Toan Tayjin!‖ Irawan D Soedradjat Page 49 . Satu imam. Lengannya Thian tek lantas saja kena dicekal. si imam membela diri dengan dua serdadu korbannya itu. untuk menegur: ―Mana dia Toan Thian Tek?! Suruh dia keluar!‖ Justru itu hari. ia lompat keluar dari tangsi. untuk mencari kesenangan.‖ sahut serdadu itu yang menyebutkan komandonnya. Thian Tek kesakitan. Segera ia melongok di jendela. ―Dia she Toan. ―Dia…. Dia pergi ke muka tangsi. tapi ia licik sekali. telah sambut serangan sesudah ia lemparkan satu serdadu. airmatanya turun mengucur. ia lepas cekalannya. Khu Cie Kee!‖ katanya seorang diri. ia lagi periksa Lie Peng. Kemudian malamnya. tubuhnya hampir tak dapat bergerak. hingga batu dan pasir kapurnya hancur. Thian Tek ada di dalam tangsinya. Hampir dadanya meledak.‖ Cie Kee kena diakali. ialah khu Cie Kee. Atau lebih benar. Pertama-tama Toan Thian Tek mesti dicari. rombongan serdadu lagi dilabrak oleh imam itu yang bersenjatakan dua serdadu yang ia cekal kakinya dengan masing-masing mereka mengeluh. Besok paginya. Dia belum kenal perwira ini. Sebentar lohor ia baru pulang. kedua sahabat itu jamu padamu. dia panjat tiang itu untuk turunkan kepalanya Siauw Thian. agar supaya anak-anak mereka dapat ia didik menjadi orang-orang sempurna seperti yang ia janjikan. ia hajar dengan tangannya tembok dimana tiang itu dipasang. ―Dengar baik-baik. rumah tangga mereka tercerai berai dan musnah! Jikalau kau tidak menuntut balas untuk mereka. tidak berhasil ia mencari Toan Thian Tek. Ia kaget akan dengar laporan ada orang cari padanya. tidak tahu dimana tidurnya ciehui itu malam itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Siapakah itu perwira atasanmu?‖ ia tanya. yang ia bawa ke tepinya telaga See ouw. Dia paykui di depan kuburan.. ciehui itu mesti dibinasakan guna membalaskan sakit hatinya Tiat Sim dan Siauw Thian. ―Toya mencari Toan Tayjin?‖ dia balik menanya. lagi bertarung dengan robongan serdadu. tetapi ia tidak peroleh hasil. kalau tidak. untuk dikubur. Imam itu. mungkin Thian Tek adalah satu komandan yang tak berdisiplin dan doyan pelesiran. kau sebaliknya rembet-rembet mereka hingga mereka bercelaka. dengan membawa goloknya. istrinya Siauw Thian. Thian Tek gusur menyaksikan perkelahian semacam itu. Habis itu dia hendak mencari istrinya dua sahabat itu guna menempatkan mereka ke tenpat yang aman.‖ Cukup segitu. Ia gunai tangannya yang kiri. Ia dapat terka maksudnya si imam. oh. Tiang Cun Cu menampak hal yang membuat darahnya mendidih. supaya mereka dapat turunan. dia ambil cara singkat saja. Oleh karena sudah habis sabar di hari yang ketiga setelah dua malam itu. Di muka tangsi. diam-diam ia memuji dan berjanji: ―Itu hari pinto sudah berjanji akan ajarkan ilmu silat kepada anak-anakmu. supaya kelak mereka menjadi orang-orang kosen. yang nampaknya gagah sekali. ―Khu Cie Kee. Kemudian ia akan mohon belas kasihannya Thian. Ia ingin Lie Peng sebutkan sahabat atau sahabat-sahabatnya Siauw Thian yang dirasa bernyali besar berani mencuri kepalanya Siauw Thien itu. namanya Thian Tek. ―Ciehui tayjin kami.dia sekarang ada di telaga See Ouw. Cie Kee bebaskan serdadu itu. ada di gantung kepalanya Kwee Siauw Thian untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai. Sejumlah serdadu lain menyerang dengan anak panah tetapi serangan itu tak ada hasilnya. lagi pelesiran minum arak di atas perahu. Beruntun dua malam Cie Kee telah satroni tangsi Wielok nomor enam. mungkin Thian tek tidur di luar tangsi. di atas tiang bendera yang tinggi. lalu laporan itu disusul dengan laporan lainnya. ―Mana itu bajingan jahanam Toan Thian Tek?!‖ Cie menegur. masih dapatkah kau disebut satu laki-laki?!‖ Saking mendongkol. ―Kau hendak memberontak?!‖ ia menegur sambil ia lantas menerjang. Pemeriksaan dilakukan sebab lenyapnya kepala Siauw Thian itu. tentung sudah terjadi pertempuran dengan orang yang mencari dia. tidak ada muka pinto menemui kalian di dunia baka. hingga ia mau menduga.‖ Segera Khu Cie Kee atur rencananya.

Kali ini ia lari keluar kota. Bukan saja pemerintah tidak membuat perlawanan. Ia pernah memangku pangkat dalam ketenteraan. ―Mau apa kau datang kemari?‖ sang paman tegur keponakannya. Dia malah menjadi ciang-bun-jin. Kemana ia mesti menyingkir. dia melebihi kebanyakan orang. Tentu saja ia menjadi sangat ketakutan.‖ dia menyahut dengan cerita karangannya. Sebenarnya sudah lama dia tidak berhubungan dengan keponakannya itu. Mereka keluar secara diam-diam dari belakang tangsi. Malah segera ia bekerja. Peehu. disusul sama masuknya laporan halnya satu imam datang mengacau. yang terus hendak kumpulkan tenteranya. siapa berani perhina padamu?‖ paman itu tanya pula. dia ajak barisannya meninggalkan tangsi Wie-ko itu. ahli waris dari partai Hoat Hoa Cong golongan Selatan. Seberlalunya si imam. aku minta kau suka tolongi keponakanmu ini…. yang bekas di cekal si imam. ―Mari kita bekuk dia!‖ berkata si si komandan. tanpa pedulikan malam buta rata. rasanya sakit sekali. Dia pergi ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan yang komandannya adalah sahabat eratnya. sehingga mereka terpaksa mesti mebuka rahasia. Pamannya Thian Tek ini sudah lama sucikan diri. serdadu-serdadu membikin banyak berisik. sebaliknya menteri dan panglima setia dibikin celaka. tanpa pamitan dari rekannya. Terus Thian Tek kasih lihat roman sangat berduka. dia ajak Lie Peng dan barisannya kabur dari belakang tangsi. ―Keponakanmu telah orang perhina. ―Imam itu kepung-kepung aku hingga tak tahu kemana aku mesti singkirkan diri. si imam tidak berhasil menavri dia terlebih jauh. Dari itu.‖ dia ambil keputusan. Malam itu dia bermalam di tangsi itu. Cie Kee ikuti kedua serdadu itu. Kalau perlu nyonya Kwee itu dapat di pakai sebagai tanggungan untuk jiwanya. jeri Thian Tek terhadap pamannya. Dia bawa Lie Peng bersama dia. Tepat tengah malam. Thian Tek takut bukan main. Dan untuk mencegah kecurigaan orang luar. Umpama kata dia bercerita terus terang bahwa ia telah bekerja sama dengan bangsa Kim untuk menawan Kwee Siau Thian dan Yo Tiat Sim. hingga ia lantas menyusul ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan itu. Sejak sucikan. Dia cari tabib tentera untuk obati tangannya itu. Maka kaget ia akan dapatkan tengah malam itu sang keponakan muncul dengan tiba-tiba. ialah si paman sangat benci bangsa Kim dan sangat sesali pemerintah Song.Pendekar Pemanah Rajawali Dua serdadu itu belum mengerti. nama sucinya ialah Kouw Bok. dalam hal kecerdikan. ―Jangan kamu bikin toya gusar!‖ Baharu sekarang dua serdadu itu mendusin. Nyata tulang lengannya patah. Sikapnya dingin. Thian Tek tidak berani berayal pula. Untuk memastikan keselamatannya terus ia bawa-bawa Lie-sie. mereka bingung. Thian Tek berkepandaian tidak seberapa. ―Peehu. Dia tahu sebabnya kenapa pamannya itu masuk menjadi paderi.‖ katanya dengan suara susah dan mesgul. dengan rajin ia berlatih terus. Terang Khu Cie Kee balik kembali setelah ia tidak berhasil mencari Thian Tek. Dalam ilmu silat.‖ Irawan D Soedradjat Page 50 . Di luar tangsi. tak suka ia bergaul dengannya. ―Aku diperhina satu imam. ke tangsi Coan-ciat nomor dua. kau memangku pankat. Karena ini. Thian Tek mendusin dengan kaget. Lengan itu bengkak. yang sama martabatnya. sebab ialah dia tidak setujui kelakukan sang keponakan. Kouw Bok Hwehio pandai ilmu silat. Sebabnya ialah satu serdadu jaga ketahuan lenyap tidak keruan paran. yang adalah pamannya. Thian Tek segera tekuk lutut di depan pamannya itu. dia paksa Lie Peng dandan sebagai serdadu. rupanya ia telah kompes kedua serdadu pengantarnya. mereka lantas ngeloyor pergi. ia manggut-manggut. Di sini ia selamat. aku mohon pertolonganmu…‖ ―Kau tinggal di tangsi tentera. Ia menjadi kepala di kuil Kong Hauw Sie itu. ia tidak abaikan ilmu silatnya itu. Tapi ia mesti menderita pada tangannya. siang-siang dia telah karang sebuah alasan. mereka terbirit-birit menuju ke Kong Hauw Sie. hingga tulang itu mesti disambung. tapi mendadak terdengar suara ribut-ribut di luar tangsi. Tangsi ini terpernah di tempat sepi. ―Lekas! lekas pergi!‖ Thian Tek membentak. dia takut pulang. Baharu sekarang ia bisa bernapas sedikit lega. ―Baik aku pergi ke paman. supaya selamat? Akhirnya dia ingat pendeta dari Kong Hauw Sie. Kepada sahabat itu ia tuturkan halnya si imam jahat. dengan memandang kepada muka ayah. dia pasti dapat susah di tangan pamannya itu.

genting utuh. Aku tak berani main gila lagi…. dan dia minta Toan Tiangkhoa keluar menemui padanya…. ―Dia berani mengatakan demikian?!‖ ―Benar. Aku larang kau main gila pula!‖ Thian Tek menghanturkan terima kasih berulang-ulang. peehu. Mulanya itu mereka jadi barang permainan tentera. dia mengejar. dan wa-sia berarti ―rumah genting‖. Aku lari. hingga tak perlu aku main gila. lekas-lekas dia berlutut pula. Tapi maksudnya nag paling jelas ialah: Di jaman Song itu. Tiba-tiba muncul imam itu. diwajtu pergi genting pecah‖. tentera itu bakal membunuh habis semua pembesar dan tentera kita…‖ Kouw Bok lantas saja menjadi gusar. hari itu aku minum arak bersamanya. Thian Tek pura-pura tuli untuk ejekan pamannya itu. belakangan orang berpangkat atau sembarang hartawan pun dapat permainkan mereka. untuk mengikat hati tentera. ―Tolong untuk kali ini saja. Lam-wa-cu itu diambil dari kata-kata wa-sia. Ia omong terus: ―Aku ada punya satu nona kenalan. walaupun ia tahu orang sudah mendusta. Kouw Bok merasa berkasihan juga.― berkata paderi itu. Lewat lhor itu hari. maka itu dia dipanggil tiang-khoa. dia memaksa si nona melayani padanya…‖ ―Mustahil seorang suci pergi ke tempat semacam itu!‖ Kouw Bok menyela.‖ dia menjawab. ―Celaka. ―baik. Sayang aku bukan tandingan dia itu. Lebih tegas lagi bermaksud. ―Panggil Thian Tek. ―Satu pembesar tentera begini tidak punya guna. aku tegur dia dan jadi berkelahi karenanya. dia katakan aku bakal terpisah kepala dari badanku. Itulah tempat pelesiran serdadu. keponakanmu celaka.‖ Thian Tek adalah satu perwira. dasar tabiatku jelek. Lebih jauh. tak lama lagi tentera bangsa Kim akan datang menyeberang ke sini.‖ Kouw Bok menitah.Pendekar Pemanah Rajawali Melihat roman orang. wa-sie itu diambil sebagai arti ringkas dari sebutan. Penghuni wan-sia adalah wanita-wanita melarat yang tidak punya sanak kandung.‖ Dasar orang suci dan mengingat juga kepada almarhum saudaranya. aku suruh dia pergi. Ia menghela napas panjang.‖ ―Hm…!‖ sang paman perdengarkan suara di hidung. karena habis jalan. ―gampang berkumpul. ia tutup mulut. gampang bubar‖. ―Aku adalah seorang suci. .‖ ―Apa maksudnya dengan kata-katanya kepala terpisah dari badan?‖ tanya Kouw Bok lagi. pemerintah mengadakan apa yang dinamakan wa-sia itu di dalam dan di luar kota Hangciu. Aku turur beberapa kawan. yaitu paderi tukang layani tetamu. benar dia…‖ kata Thian Tek. ―Diwaktu datang. Dia damprat aku. semunculnya dia.‖ Kouw Bok mengeluh. ia menemui Kouw Bok dan melaporkannya dengan gugup: ―Di luar ada satu imam. Nyata dia sangat galak. 51 ―Dia. mengejar terus-terusan. Irawan D Soedradjat Page ―Imam itu sangat galak. ah…. hati Kouw Bok tergerak. Disana kami bermain-main di Lam-wa-cu di bawah rangon Hie Cun Lauw…. Maka itu aku telah singkirkan dia. ―Kenapa itu imam kepung-kepung padamu?‖ ia tanya. tak dapat aku urus perkara main perempuan kamu ini.‖ Thian Tek pura-pura merengek.‖ kata dia akhirnya. terpaksa aku lari ke mari. ―Kemarin dulu aku pergi ke barat jembatan Ceng Leng Kio. ―Tolong. Lie Peng sudah diancam oleh Thian Tek. Thian Tek sudah bangun berdiri. dia adalah paderi dari partai mana?‖ tanya sang paman. tie-kek-cung. ―Dia menjelaskan. lari masuk dengan tegesa-gesa. ―Untuk beberapa hari kau boleh berdiam di sini. Aku minta peehu suka tolongi aku…. galak dia. setelah pemerintahan dipindah ke selatang.‖ Thian Tek merintih. ―Tapi kejadiannya benar demikian.

waktu ia hendak tarik pulang tangannya. Di pintu pekarangan. sudah tentu benturan itu menimbulkan suara yang keras. Kouw Bok berpikir. Ia ingin mendorong imam itu keluar pendopo. Ia kena langgar daging yang empuk bagaikan kapas. ialah Khu Cie Kee. terpaksa ia berlalu.‖ Kouw Bok lantas mengeluh. terus ia pergi keluar. nanti aku temui dia. Lebar tindakannya itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Entahlah dia imam dari desa mana. separuh patung pun gempur! Dalam kagetnya yang tak terkira. tapi begitu ia kena langgar bahu si imam. selagi imam itu hendak memaksa memasuki pendopo walaupun paderi penjaga pendopo mencegah padanya.‖ jawab muridnya itu. tubuhnya tertolak mundur keras sekali.‖ lanjut muridnya lagi. Ia lantas bertemu sama si imam. habis mana ia lari keluar. ―Ah. dia sendarkan diri di dua singa-singaan batu. ―Dia sudah pergi jauh. ia terus tolak bahu si imam itu. yang usianya tetelah beberapa ratus tahun…‖ Dan tangannya melayang ke muka Thian Tek. Kouw Bok Hweshio berdiri bengong mengawasi sepasang cio-say. hingga ia mesti bekapi mukanya itu. Thian Tek dan tie-kek-ceng menjadi heran. jiwaku pasti sudah melayang!‖ Thian Tek membungkam. ia berlaku sabar. ―Apakah ada sikapnya yang aneh selagi dia hendak berlalu?‖ tanya lagi. yang disebutkan tadi. habis itu dia angkat kaki sambil tertawa haha-hihi.‖ mengatakan Kouw Bok. di hari-hari dari musim semi itu Kong Hauw Sie kedatangan banyak penduduk yang bersujud. ia telah terlambat. Ia nampaknya menggeraki tangan dengan perlahan tetapi ia menggunai tenaga dalam. kenapa totiang berpandangan sama dengan seorang biasa saja?‖ ia tanya. Irawan D Soedradjat Page 52 . yang muncul di depan gurunya. ia kaget sekali. akan susul Kouw Bok. Ia maju mendekati. Thian Tek sudah umpatkan diri ke dalam sebuah kamar. dengan seret Lie Peng. Dengan tertawa dingin. ―Dia tak bilang suatu apa. ia bukan Cuma besar tenaganya…‖ Lekas-lekas ia rangkap kedua tangannya untuk memberi hormat seraya menanya: ―Ada pengajaran apakah maka totiang datang berkunjung ke kuil kami ini?‖ ―Aku datang mencari satu bangsat busuk she Toan!‖ Cie Kee menjawab ringkas. ―Sebenarnya tak seberapa ilmu silatnya. celaka. ―Singa-singaan itu musnah di tanganmu!‖ katanya. Kouw Bok insyaf bahwa ia bukan tandingan ini imam. ―Seorang pertapa perpokok kepada belas kasihan dan murah hati. ia hanya bertimdak masuk. aku tak sangggup lawan dia…‖ ―Baiklah. ―Dia lihay sekali. penduduk pria dan wanita. Celakanya.‖ Thian Tek mendusta tak kepalang tanggung. dasar aku yang tidak punya guna. ―coba kalau dia tidak berlaku murah. ―Tidak. ―Dia membuang napas. ―Apakah dia mengucapkan sesuatu?‖ tanya Kouw Bok setelah berdiam sesaat. Setelah mengetahui orang sudah pergi. dia Cuma bertenaga besar. agaknya ia sangat letih. ia tak mau mengganggu kesujudan banyak orang itu. ia tak berani membuka mulut. Sebagai seorang yang beribadat. celaka….‖ Kouw Bok pakai jubahnya. ―Mana dia hanya satu imam dusun!‖ kata Kouw Bok dengan mendongkol. Cie Kee tidak menjawab pertanyaan itu. tidak ampun lagi ia terlempar membentur patung Wie Hok di pendopo itu. Keduanya turut lari keluar. ―Inilah aneh. sebab ia dapatkan kenyataan. Nampak romannya yang sangat berduka dan menyayangi singa-singaan itu.‖ sahut tie-kek-ceng. Ketika itu. lebih-lebih Thian Tek yang mukanya menjadi bengap dan merah. singa-singaan batu. karenanya tentu saja ia tak dapat dicari.‖ kata tie-kek-ceng. ―Celakalah singa-singaan kita itu. diluar kendalinya. kecuali setibanya ia di mulut pintu pekarangan. Kouw Bok lirik tie-kek-ceng untuk suruh muridnya itu antar tetamu tak diundang itu. Thian Tek keluar dari persembunyiannya. Cie Kee juga tidak berani menggeledah.

Ia segera tarik pulang tangannya itu. Thian Tek tahu tidak selamat ia berdiam terus di Kong Hauw Sie ini. untuk beberapa ratus tahun kamu bercape lelah menjaga pintu kuil ini. Tiba-tiba saja ia menjadi kaget. Tentu saja ia kaget hingga mukanya pucat. malam itu ia ajak Lie Peng berlayar ke Kee-hin. Keras adalah hatinya Khu Cie Kee. kecurigaannya timbul. begitu kena diraba. ketika itu Kaisar Liang Bu Tee telah memanggil tukang yang pandai untuk membuatnya.― Meyaksikan lihaynya Khu Cie Kee. Sayang ia terlambat. sekarang kita dapat buktikan itu. Thian Tek masih tidak mengerti.‖ kata Kouw Bok. ia pergi minta bantuannya tujuh Manusia Aneh dari kanglam itu. pergilah kamu dengan baik-baik…‖ Kemudian dia berpaling kepada Toan Thian Tek. Ketika kemudian ia lompat masuk ke dalam pekarangan. sepasang cio-say ini adalah barang peninggalan jaman Lam Pak Tiauw.‖ ―Aku pikir baiklah minta datang dua orang yang kakakmu itu perkenalkan. ―Adikku seperguruan. Kouw Bok menghela napas pula. matanya mengawasi pamannya. Ia mau percaya. Tiba-tiba saja.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kenapa peehu?‖ sang keponakan tanya. Ciauw Bok Taysu merasa tidak ungkulan melawan imam itu. Demikianlah mereka berkumpul di restoran Cui Sian Lauw. ia tidak mau percaya sangkalannya paderi itu.‖ Paderi ini hendak suruh panggil Thian Tek tempo Tin Ok peringatkan: ―Ciauw Bok Suheng. ―Pergilah kau kesana. Seperti tanpa merasa. Sampai sebegitu jauh. Ingat Lie Peng.‖ Ciauw Bok Taysu menyatakan akur. ―Yang dikhawatirkan justru salah mengerti ini sukar dijelaskan…‖ kata Tin Ok pula. ia berkeras. ―Aku memang bekum pernah tanyakan sesuatu kepada mereka. Paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak menduga apa-apa. Maka itu ia ketemukan Ciauw Bok Taysu. maka itu mesti kita cari jalan untuk mengerti satu pada lain. lalu dengan menyewa perahu. Oleh karena penasaran. aku pandang Cio-sang itu sebagai mustikanya Kong Hauw Sie. ia dekati singa-singaan batu itu. mungkin imam itu menyusul kita. Ciauw Bok Taysu. Ia berkata pula: ―Dia demikian lihay. maka sekarang. maka aku mau percaya.ah!‖ Ia menghela napas panjang. sampai setiba Tiang Cun Cu dengan jambangan araknya yang istimewa itu. untuk pergi menumpang pada Ciauw Bok Taysu. yang tidak kurang suatu apa. Ia awasi cio-say itu. mestinya jalannya tak sama dengan yang di rumah makan. ―Cio-say. Habis menutur Ciauw Bok Taysu menambahkan: ―Telah lama aku dengar Tiang Cun Cu lihay.‖ Kim Hoat menyarankan. ia minta supaya Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya. ia tidak sangka yang kawannya Thian Tek adalah satu wanita dalam penyamaran. Lie Peng sudah disembunyikan Thian Tek dalam ruang bawah tanah. apa mungkin ia sudi layani kau yang begini hina memperebuti segala bunga berjiwa?‖ Thian Tek kaget. ―Coba kita tanyakan keterangannya. lebih pandai sepuluh lipat daripada aku.‖ ―Kwa Toako betul. dari itu ia tidak bantah pamannya itu. kepada suteeku itu.‖ kata Kouw Bok kemudian. ―Luar biasa sempurnya tenaga dalam dari imam itu. dia seperzi bukan hendak mengacau. Irawan D Soedradjat Page 53 . Turut penglihatanku. ia berhasil menyusul Thian Tek. Karena ia telah lihat Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya. ―Inilah takdir…‖ sahut si paderi dengan masgul. cio-say. singa batu itu gempur dan rubuh. ―Eh…kenapa jadi beini…? katanya. ia pergi tolak tubuh cio-say yang satunya lagi. Pauw-sie pun disembunyikan di dalam kuil Hoat Hoa Sian Sie itu. maka kalau kita bertempur pula. mungkin dia sanggup melayani imam itu. pada ini mesti terselip salah mengerti. ―Aku keliru sudah menyalahkan kau…. ia raba kepalanya. Ia mengawasi. Kau tahu.‖ ―Benar. dia tidak bakal berlaku murah hati lagi. Sekarang…. Kebetulan ia lihat Lie Peng di dalam tamannya kuil. ia terima mereka itu menumpang. suaranya perlahan dan penuh rasa sangat menyesal.‖ berkata si pederi. begitu ia ingat pada Kanglam Cit Koay. kuping dan hidungnya cio-say itu runtuh jatuh. bertumpuk bagaikan puing. Khu Cie Kee ingat Pauw-sie. ia cuma minta surat perantara. Tie-kek-ceng heran. Pastilah dia menyangka kita telah bekerja sama dengan pihak Kim. tidak berani dia membuka mulutnya. ―Cio-say ini telah dirusak si imam dengan menggunai tenaga dalamnya…‖ katanya. Karena ia telah lihat Lie-sie dengan matanya sendiri.

sampai jambangan perunggu itu retak. Pada suatu hari ia kedatangan satu gadis yang cantik. beberapa kali Han Siauw Eng menghindari nacaman bahaya. Penambahan ini penting untuk si nona. dengan jambangan arak di tangannya. Sikap kedua saudara ini sangat berbeda satu sama lain. hingga Khu Cie Kee tak ketahui apa yang diucapkannya. Karena ini ia membuat si nona Han menjadi repot. mari kita maju lebih dahulu!‖ Ho Po Kie teiaki adiknya. yang pandai ilmu silat pedang. ia tidak menyangka orang akali padanya. dengan satu gerakan tangan kanannya. di tangan nona Han. kakinya Cie Kee melayang. Berdelapan mereka memburu ke depan. Sayang untuknya. dengan sabetan ―Naga hitam menggoyang ekor‖. untuk membinasakan panglima dan merubuhkan kuda perang. ―Kita tidak berniat binasakan dia. ―Delapan orang lawan satu orang. Kota Kee-hin adalah tapal batas kedua negeri Gouw dan Wat itu. Di jaman dahulu. yang lain mainkan ―golok jagalnya‖ yang ujungnya lancip. Oleh karena disitulah tersiar luas perihal ilmu pedangnya si gadis Wat itu. Siauw Eng menjadi penasaran. yang bernama Kouw Cian. Justru ia melengak itu. ia minta si gadis ajari ia ilmu silat itu. Untuk dapat menelan negeri Gouw itu. sambil ia melompat. sampai ia terdsak mundur ke tepinya patung Buddha. ditambah hingga menjadi empatpuluh sembilan jurus. hanya kali ini disusul sama campuran suara rengatnya barang logam. beruntun beberapa kali. dengan satu egosan tubuh. Kali ini ia berhasil. Seperti terlihat Khu Cie Kee. suara itu lalu mengaung. melainkan kita menghendaki dia sabar mendengarkan penjelasan Ciauw Bok Taysu. ia perbaiki. yang satu geraki pikulannya yang istimewa. Ia menjadi sangat girang. ia mesti menghadapi Ngow Cu Sih. Ia dan adiknya itu memang yang paling aseran diantara Cit Koay. Berbareng dengan itu. melatih keuletan diri dengan tidur sambil mencicipi nyali yang pahit. dengan itu ia lompat menikam bebokong imam itu. Lam Han Jin dan Thio A Seng maju dengan berbareng. tangan kirinya yang menyambar. panglima sangat tangguh dari negeri Gouw itu. mengalun. ―Nah. hanya menghajar jambangan perunggu itu. ―Aku pikir tak apa. Lincah sekali caranya ia berkelit. Oleh karenanya. si imam juga bebaskan diri dari ujung pedangnya si nona.‖ ―Apakah nama kita tidak bercacat seumpama tersiar diluaran Ciauw Bok Taysu bersama Kanglam Cit Koay mengepung satu orang?‖ Han Siauw Eng pun bersangsi. Di pihak lain Han Siauw Eng sudah hunus pedangnya.‖ kata Coan Kim Hoat. Ia menjadi sangat tidak puas dan berduka. hendak ia merampas pedang si nona. ―Citmoay. ia membuat terbitnya suatu suara nyaring. si imam datang!‖ seru Kwa Tin Ok. Mendapatkan adik angkatnya terancam bahaya. ia ulangi serangannya. Ilmu silat itu asalnya tigapuluh enam jurus. yang sekarang dipunyai Han Siauw Eng. Dia menyerang beberapa kali.cambuk Naga Emas. sedang menggempur genta di toa-thian itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kalau terpaksa kita maju berdelapan…‖ Cu Cong turut berbicara. sambil di lain pihak melayani Han Po Kie. karena ia berkecimpung di dunia kang-ouw -Sungai Telaga – sedang raja Wat pakai ilmu itu dalam peperangan. pendopo besar. Diserang dari depan dan belakang. Kalau Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan bungkam mulutnya. di situ kedua negara biasa berperang. Suara itu seperti suaranya dua genta beradu keras. itulah tidak benar…‖ menyangsikan Han Po Kie. negeri Gouw bermusuh dengan negeri Wat. Cambuk Naga Emas bukannya melilit tangan. dia mencoba melilit lengan si imam yang memegang jambangan. Siauw Mie To si Buddha tertawa terus-terusan mengoceh tidak karuan juntrungannya. mereka telah dikagetkan suara keras yang datangnya dari toan-thian. tepat Irawan D Soedradjat Page 54 . orang kang-ouw juluki si nona Wat Lie Kiam – Akhli pednag Gadis Wat – Begitu lekas mengenali ilmu silatnya si nona. dari pinggangnya. Ia pun lantas tarik Kim-liong-pian. A Seng berkelit seraya melengak. Lagi sekali mereka dengar suara nyaring seperti tadi. Khu Cie Kee tidak menjadi gugup. yang pandai sekali mengatur tentera. yang tajam mengkilap. Belum putus pembicaraan mereka. Segera si imam serang tukang pentang bacot itu. Tiang Cun Cu mendesak Siauw Eng. Ia kembali gagal. negeri Gouw dapat dimusnahkan. Cepat sekali Khu Cie Kee ketahui ilmu silat pedang si nona. Raja Wat.

dengan tangan kanan! Sebab sebat sekali. ia menyerang lawannya. Ia khwatir juga. hanya guna mencegah si imam ulangi serangannya yang lihay itu. ia pakai tangan kirinya yang bebas yang tidak bersenjatakan apa juga. karena dengan itu ia lebih banyak membela dirinya. ia manjadi nekat. Mana ia mau mengerti dikatakan menakluk pada musuh. Tapi ia salah menaksir ketangguhannya sendiri. Cie Kee memang menyerang dengan hebat sekali. gaetan dan gembolan. ―Kau begini lihay tetapi kau rendahkan dirimu dengan jalan menakluk kepada musuh negara!‖ ―Hai. ia membalas menyerang dengan tangan kirinya. sedang Biauw Ciu Sie-seng si Mahasiswa Tangan Lihay. lama-lama nanti ia kalah ulet. ia berlompat menotok jalan darah soan-kie-hiat dari Tiang Cu Cu. ia pasang jambangan itu sebagai sasaran. sebagai jago ia tidak menghiraukan pedangnya yang terbang malah membarengi itu. dengan memberi tanda kepada kakaknya yang kedua. Khu Cie Kee tidak peduli ia dikepung berenam. sebagai tameng. akan tetapi untuk dua serangan yang belakangan. ia menangkis dengan jambangannya. Cu Cong kaget bukan kepalang. kau ngaco belo!‖ mendamprat A Seng sangking murkanya. Thio A Seng ada punya ilmu kedot. yaitu alat peranti menimbangan barang. Di antara satu suara keras. Genggamannya Lauw-sie In Hiap adalah sebatang bacin. menampak ancaman bahaya. musuh bangsa Kim. ia sudah lantas pernahkan diri. ia lompat menerjang. tidak ada orang yang sudi dengar cegahannya itu. Ciauw Bok Taysu menjadi bergelisah menyaksikan jalannya pertempuran itu yang makin lama jadi makin hebat. juga dengan kepalan. maka dua kali kepalannya A seng membuatanya jambangan itu bersuara nyaring. sebab Siauw Mie To tengan terdesak. Dia akhirnya tidak dapat bersabar lagi. nyatanya mereka berada di bawah angin. karena ia biasa berlatih mengadu tenaga dengan kerbau – sudah dagingnya keras dan kulitnya pun tebal. Maka itu. yang telah menjadi korban. Tidak ampun lagi. ia merasa bahwa ia telah mesti menggunai tenaga banyak. Tendangan itu mendatangkan rasa sakit dan akget. Malah Khu Cie Kee perdengarkan seruannya: ―Kawanan pengkhianat tidak tahu malu. Satu serangannya yang mengancam Thio A Seng hebat sekali. Ia merasa A Seng tidak akan luput dari bahaya. Untuk membalas menyerang. Totokan ini bukan untuk menolongi Thio A Seng. ―Tahan! Tahan!‖ ia berseru-seru. hendak aku bicara!‖ Dalam waktu pertempuran yang hebat itu. lihat!‖ Dan lantas ia mendesak dengan serangan tangan kirinya. ingin ia lekas-lekas menyudahi pertempuran itu. setelah ia menganca. ―Tuan-tuan tahan! Dengar. Ia berkelit untuk serangan membalas sambil berkelit. Jikalau mereka ini meluruk juga? Dari itu. diturut oleh kakak angkatnya itu. goloknya terlepas dan melayang. imam bangsat. dalam hal ini.Pendekar Pemanah Rajawali mengenai lengannya. dengan kipasnya senantiasa mencari jalan darah lawannya. ―Totiang. Menampak demikian Coan Kim Hoat tapinya menjadi penasaran. Biauw Ciu Sie-seng merasa tidak enak karena berempat mereka mengepung. maka itu senjata bisa dipakai berbareng sebagai toya. yang pandai ilmu menotok. Ia lihat ia dikepung berenam. Irawan D Soedradjat Page 55 . Cie Kee melawan sambil berkelit. jangan turunkan tangan kejam!‖ Ciauw Bok Taysu berseru dalam kegelisahannya yang hebat. dengan jari-jari tangan terbuka. dan ia sambuti serangannya si imam untuk keras lawan keras. sayang! Sayang apanya?!‖ tegaskan Siauw Mie To ―Sayang ilmu silatmu yang sempurna ini!‖ sahut Cie Kee sambil ia layani terus musuh-musuhnya. Atau lebih benar. lengannya itu terhajar patah tangannya Khu Cie Kee. Disana masih ada dua musuh segar Kwa Tin OK dan Ciauw Bok Taysu – inilah berbahaya untuknya. Keduanya maju dari samping. Walaupun begitu. ―Biarlah!‖ dia berseru. ia tetap mainkan jambangannya sebagai senjata. ialah tubuhnya tidak mempan senjata tajam. ―Bagus!‖ Tiang Cun Cu puji lawannya ini. ia mengatakannya: ―Sayang! Sayang!‖ ―Eh. Beruntun tiga kali. Kekebalannya itu ditambah sama tenaganya yang besar.

meskipun sebenarnya ia tidak menghendaki pertempuran. Di kanan ialah bagian ciat dan sun. hingga orang tidak tahu dia masih hidup atau sudah mati… ―Serang! Serang!‖ Coan Kim Hoat masih bersuara lagi. Mau tidak mau. kakinya si imam kena sambar pinggangnya. Menyusul tarikannya itu. mirip lengkak tetapi ujung tajamnya ada empat. Di saat ia hendak gerakkan tongkat besinya. ―Dia ahli menotok. ―Hajar tongjin…!‖ Yang terakhir ini Kwa Tin Ok tidak turuti tetap sasarannya Kim Hoat itu. Begitulah ia maju denagn sepotong kayunya yang mirip ruyung. Berbareng dengan itu. dia toh tidak kalah. guna menhajar batok kepala lawannya itu. Coan Kim Hoat sudah berseru-seru pula: ―Hajar tionghu. dua rupa senjata rahasia menyambar sar! ser! kearah si imam. ―Dia hebat sekali!‖ pikirnya. Kim Hoat itu adalah saudara angkat mereka. ia sungkan turun tangan. Cie Kee pun berkelit dari anggota tongjin sebagaimana diteriaki Kim Hoat. yang satu mengenai pundak kanannya. makin perlahan. Khu Cie Kee ayun terus tangan kirinya. Coan Kim Hoat lompat melejit. ia kena tertipu si buta. suara beradunya setiap senjata. hingga ia lantas saja rubuh terguling.‖ pikir Khu Cie Kee. Keduanya apungi tubuh mereka. dia lihay. Mesti begitu. Imam ini lihay. Irawan D Soedradjat Page 56 . Khu Cie Kee mesti berkelit. Rupanya ia anggap belum cukup dengan korban Thio A Seng itu. tidak dapat lantas bangun. ia melainkan tidak sempat membalas menyerang. tubuhnya terbetot. Coan Kim Hoat teriaki dia: ―Toako. tidak terdengar suaranya sama sekali. Lauw-sie In Hiap sendiri terancam lukanya. yang berada paling dekat. ia dapat menunjuki sasaran kepada toakonya. Ia perhatikan suara anginnya. dan beda dengan dia adalah Thio A Seng. ia mandi keringat. maka setelah suara ting-tong. yang berkelit. yang menyerang ke lain jurusan. Jeritan itu menandakan adanya dua korban! Jitu serangan Tin Ok kali ini. Tidak dapat Kim Hoat pertahankan diri. ia dapat bersedia setiap kali Kom Hoat perdengarkan petunjuknya. Han Po Kie dan Han Siauw Eng kaget tidak terkira. Maka sebentar saja belasan lengkak telah membuatnya Cie Kee terpaksa main mundur saja. Atas itu. hajar lie! Bagus. Ia juga tidak gunai satu-satu biji lengkak sebagaimana bermula tadi. Thie-leng adalah senkata rahasianya Hui Thian Pian-hok. hingga ia menjadi kaget dan menjerit karenanya. kau gunai thieleng! Hajar dulu kedudukan cin. Kwa Tin Ok tidak dapat berdiam terlebih lama lagi. bagian hong dan lie. pada itu tercampur rintihan juga. Ciauw Bok Taysu dan Han Siauw Eng menyerang dari kanan. Ciauw Bok Taysu lihat keadaan hebat. ia tolak jambangannya ke arah mereka itu. lalu kedudukan siauw-ko!‖ Menyusul anjuran itu.Pendekar Pemanah Rajawali Khu Cie Kee memang tidak berhenti sampai disitu. Sebenarnya ada sulit walaupun ada orang luar yang memberi petunjuk menurut garis-garus patkwa…‖ Ia lihat datangnya dua serangan itu. Cie Kee terkejut. Selagi melejit. untuk hampiri si imam. yang mereka terjang dengan berbareng. ia tidak lolos seluruhnya. Sebagai seorang yang cerdik dan gesit. ia ulangi serangan-serangannya yang dikhawatirkan Biauw Ciu Sieseng. atau lengkak besi – jatuh ke lantai. biar ia tidak terluka. tetapi semakin lama. Batu dacinnya Lauw-sie In Hiap telah kena disambar oleh si imam. Yang mereka sayangi sebagai saudara betul. Ia lolos dari gempuran kepada batok kepalanya. hanya kedua bagian kiri dan kanan dari tongjin itu. ia tidak dapat tinggal peluk tanagn terlebih lama pula. Ia buta tetapi ia tahu dua saudaranya telah rubuh. Yang satu menuju ke alis dan yang lain ke paha kanan sebelah dalam. Sekarang ia menimpuk berbareng dengan empat buah senjata rahasianya itu. setiap kali juga lengkak besi dari Kwa Tin Ok menyambar. Ia menotok ke bawah ketiak. kedua senjata rahasia itu – thie-leng. yang ujungnya hitam hangus. dan di kiri. bagus! Sekarang serang beng-ie!‖ Setiap kali ia berseru. Segera juga terdengar jeritannya Coan Kim Hoat. Setelah turun tangannya paderi itu. Karena itu dengan berbareng dua orang perdengaran jeritan kaget. Ia tidak lolos dari semua empat lengkak. setelah mana. Untuk cegah Lam Hie Jin dan Cu Cong. kuda-kudanya gempur. ―Dia buta tetapi dia bisa mengincar dengan tepat. Cie Kee terlalu perhatikan tongjin. ia juga layani paderi itu. Dengan tidak kurang bengisnya. Bukan anggota tongjin yang ia incar. dacin itu terus ditarik dengan keras. Cuma ini jalan untuk tolongi saudara angkat mereka itu. semua sebab hampir berbareng. suaranya makin lemah. ia menangkis dengan jambangannya. Kalut kedudukan mereka. adiknya yang kelima dan yang keenam.

ia tidak batalkan serangannya. ―Jangan lari. Kau mesti tunggu sampai aku datang untuk mengobati!‖ Sebenarnya Siauw Eng keras kepala. ia pengkeratkan tubuhnya. Ia tahu. Si cebol lari berkelit. menyerah!‖ Kwa Tin Ok teriaki lawan itu. ia hunus pedangnya. berbareng tangan kirinya menolak tubuh genta itu yang beratnya mungkin ratusan seribu kati. dengan lantas ia jejalkan itu ke mulut adiknya. Ia jadi berkhawatir. mulutnya manis. tanpa sangsi lagi. hingga tubuhnya si Tukang Kayu dari Gunung Selatan menjadi tergetar dan kedua tangannya dirasakan sangat sakit. racun bisa mengikuti jalan darah segera menyerang ke ulu hati. Ketika mulut jambangan tiba di lantai. Inilah yang membikin ia kaget. untuk keluar dari kurungan. ―Citmoay. sekalian diputar. yang dilarang lari. begitu jeras. tetapi ia dengar kata. ia tidak perhatikan itu. muka siapa ia hajar. Niscaya sekali ia menginsyafi bahaya yang mengancam dirinya. begitu rantai putus. Hie Jin lantas merasa tubuhnya enteng. si cebol kena ketutup! Setelah itu Cie Kee lepaskan tangannya dari jambangan itu. ia keluarkan sebutir pil kuning. ia lantas damprat dirinya sendiri. jangan lari!‖ Tin Ok teriaki. dia tidak boleh keluarkan tenaga. Ia girang sebab ia dengar suaranya si imam. Tidak begitu saja. Berayal sedikit saja. ia baru sadar kapan ia dengar teriakannya Tin Ok kepada Siauw Eng. Han Siauw Eng tahu senjata rahasia kakaknya ada racunnya. akibat lainnya menyusul. Untuk tolong diri.Pendekar Pemanah Rajawali Jeritan yang lain dikeluarkan oleh Han Siauw Eng. ―Lekas lemparkan pedangmu. Dengan senjatanya itu hendak ia sambut pukulan musuh. ia menyapu kepada Han Po Kie yang maju untuk serang padanya. Sekarang ia merasakan bahwa jambangan di tangannya itu menjadi berat. jiwamu bakal tidak tertolong!‖ Si buta ini merasa pasti mengenai lawannya itu. sebaliknya. Han Po Kie tidak sempat berdaya untuk membalikkan jambangan itu. lama-lama sang racun akan bekerja mencelakai ia. ia lintangi pikulannya di depan mukanya. kerena mana meski ia bertenaga besar. Siapa terkena senjata rahasia yang beracun itu. Maka sambil membentak keras. jambangannya jadi menungkrap dari atas. ia sendiri pun rasai pundaknya semakin kebas dan kaku. Cie Kee terkena senjata rahasia. jalan perlahan-lahan saja!‖ Siauw Eng mendusin. untuk membabat rantai gantungannya. ia dengar teriakannya kakak itu. dikasih turun. Kwa Tin Ok kaget berbareng girang. sambil pasang kuda-kudanya. ia tidak mau singkirkan diri. ―Lekas kau rebahkan diri di taman belakang. justru ia lagi ketakutan. Justru itu. Dengan begitu. genta jatuh menimpa jambangan. menyambar si cebol itu. ia melangsungkannya. kalau sampai itu terjadi. kedua matanya kabur. lekas kemari!‖ ia memanggil. Lam San Ciauw-cu lihat bahaya datang. Sementara itu pucat mukanya Khu Cie Kee. Itulah gerak ―Tiat so heng kang‖ atau ― Rantai besi dilintagi di sungai‖. Maka pikulannya Hie Jin kena terhajar. benar sementara itu ia cuma merasai sakit sedikit. selagi dia ini belum tiba di lantai. peluhnya lantas turun menetes. Ia lantas lompat mencelat ke arah genta. Lantas ia menduga bahwa senajata rahasia itu ada racunnya. terus ia muntahkan darah hidup! Cie Kee telah dapat melukakan lawan yang menghalangi ia. Karena ini ia lantas tak berani melanjuti pertempuran itu. ia terus lari ke belakang. lengkaknya sudah nyasar di tubuh adik bungsunya itu. Tin Ok lantas rogoh sakunya. Selagi nona ini maju menyerang. Sebab telapakan tangannya pecah dan mengeluarkan darah. hingga genggamannya terlepas dan jatuh ke lantai. Irawan D Soedradjat Page 57 . lengkak yang mengarah bagian sun tepat mengenai pundaknya tanpa ia ketahui atau dapat berdaya mengelakkannya. Khu Cie Kee tahu maksudnya lawan itu. ia merasakan pundaknya sedikit kebas. ―Tenangi hati. maka tidak ada obat lagi untuk menolong. ―Kau tidak boleh bergerak sedikit juga. Dengan tiba-tiba ia rangsak Lam Hie Jin. ―Ke mana kau hendak lari?!‖ bentak Tiang Cun Cu yang terus tolak tangan kanannya. ―Toako!‖ ia memanggil. Maka ia lantas berjalan dengan berpalahn tetapi tetap. ia lari kepada itu kakak. sehingga ia tidak bisa berkelit. di tanah!‖ kakak ini beri petunjuk.

Baharu belasan jurus paha Tin Ok telah tertikam pedang. Mereka jadi ketakutan. ―Kwa Toako. akan tetapi ketika kakinya menyentuh tanah. ia berhenti mengejar. Cu Cong tidak melayani. mendelik sepasang matanya. ia bersilat dengan ilmu silatnya ―Kie Siang Kim-hoat‖ atau ―Melukai Semua‖. Nyatanya luka di pundaknya itu menyebabkan tenaganya jadi berkurang hingga separuhnya. dengan berlaku nekat ia tetap berbahaya. mereka lantas pergi mencari Toan Thian Tek. ia melompat ke depan. Cie Kee terjang musuhnya. Sampai keadaan sunyi. Inilah ilmu silat yang sejak ia yakinkan belum pernah ia pakai untuk melawan musuh. cukup keras timpukannya itu.Pendekar Pemanah Rajawali Cie Kee tidak mau serahkan diri. dengan ―melukai semua‖ hendak diartikan ―mati bersama‖. Paderi ini lihat ancaman bahaya. tanpa bilang suatu apa. Dia hampir membikin terlepas pedangnya. Cie Kee belum pernah menemui lawan setimpal. kedua kakinya itu lemas. yang rebah diam saja. lekas-lekas ia pusatkan semangatnya. Pengejaran Tidak ada jalan lain. Keras kedua senjata beradu. ia mau membuka jalan. darah pun berhamburan. Cu Jieko. ―Sudah. belum lagi tubuh itu tiba di tanah. Dengan tangan kiri ini. maka lagi sekali. Orang she Toan itu terus sembunyi di dalam ruang dalam tanah. batok kepalanya telah terpukul keras. Mendadak bebokongnya mengasi dengar suara keras! Ia merasa sakit sekali. itu tambur teroktok peranti mambaca doa. Dengan menggunai ini ia telah menjadi nekat. hari ini Tiang Cun Cu mesti terbinasa di tangannya bangsat-bangsat licik…‖ ia mengeluh. ―Imam bangsat! Racun ditubuhmu telah menyerang hatimu! Kau tikamlah pula tiga kali!‖ Bangkit kumisnya si imam. Maka repotlah mereka membuat perlawanan. Maka sambil menghela napas. Tapi Tin Ok dan Cu Cong merintangi padanya.. Tempo ia diberitahu orang telah pada rubuh semua. ia menangkis. Kali ini Cu Cong menimpuk dengan bok-hie. Ia geraki kipasnya untuk menotok jalan darah di dada si imam. Tiba-tiba ia rasai matanya kabur. ia lantas pindahkan pedangnya ke tangan kiri. ia kaget. ia hanya berlari-lari berputaran di pendopo kuil. sudah. Sekarang ia baru ingat untuk angkat kaki saja. ―Lihay tenaga dalam si buta ini! Mungkinkah ia melebihi aku?― pikirnya. tubuhnya rubuh seketika! ―Imam anjing!‖ Cu Cong mencaci. baru kita bicara!‖ berseru Cu Cong. tubuhnya pun terhuyung! Cu Cong yang cerdik itu telah timpuk imam itu dengan sepatunya. Ia dekati imam itu. Cie Kee insyaf bahwa tak dapat ia menyandak lawan itu. ia menikam. tubuhnya terpental ke belakang. akan saksikan segala apa kacau dan orang rebah di sana sini. Ia penasaran. ia masih khawatirkan tidak ada Khu Cie Kee di antara korban-korban itu. Dengan ini. Ia menginsyafi bahaya. mereka semua pada sembunyikan diri. dengan cepat ia menangkis dengan tangan kanannya. Tin Ok dengar anginnya senjata. Tidak urung. lalu Cie Kee menjadi kaget sekali. Segera juga Kwa Tin Ok. tubuhnya terus terguling! ―Bekuk dia dulu. ia memikir untuk mengalah tetapi justru ia serukan kawannya. dari itu selama pertempuran mengambil tempat. biarkan si imam berlalu!‖ berseru Ciauw Bok Taysu. di sebelah musuh ia sendiri pun bisa celaka. Oleh karena ini. ujung pedang Cie Kee mengenai iga kanannya hingga ia kaget dan menjerit. Paderi-paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak mengerti ilmu silat. Tidak peduli tenaganya kurang. Justru itu. Sembari berlari. ia sudah muntahkan darah hidup! Cie Kee telah gunai tenaganya yang terakhir untuk serang lawannya itu. baru mereka keluar dari tempat persembunyian mereka. Kali ini. tetapi terlambat. ia merasakan dorongan suatu tenaga keras sekali. ia melompat kepada Manusia Aneh yang kedua itu. Sejak turun gunung. ujung pedangnya menikam ke arah muka. takutnya bukan main. Ia Irawan D Soedradjat Page 58 . Bab 6. Ia percaya. mereka juga tidak tahu bahwa guru mereka mengerti ilmu itu. Ia pun mulai terhuyung. ia insyaf kenapa ia kalah kuat. Ia menahan sakit. menyerah berarti celaka. Cu Cong dan Ciauw Bok terarah semua bagian tubuhnya yang berbahaya. Maka ia putar pedangnya. si buta itu. Cie Kee merasai pikirannya kacau tetapi kembali ia memusatkannya. Tiba-tiba ia lihat tangan kiri Cie Kee bergerak. inilah pertama kalinya.

dari itu dengan sambar tangannya Lie Peng. manusia jahat. Thian Tek pergi cepat-cepat ke pendopo. ―Imam bangsat. Imam itu masih belum putus jiwanya. Tubuh paderi itu lewat terus. Toan Thian Tek kaget. Cuma Tin Ok. Hampir ia pingsan saking kerasnya ia melawan kemendongkolannya. tubuh itu tidak berkutik lagi. dengan cepat. Satu kacung langsung tubruk Thian Tek untuk tarik lengannya. dengan kejam. Thian Tek gusar bukan kepalang.jangan bunuh dia…!‖ berseru Ciauw Bok Taysu. Di situ ada beberapa kacung paderi. sekarang hendak aku kirim kau pulang ke Langit Barat!‖ ia kata. Irawan D Soedradjat Page 59 . kami semua telah kau aniaya! Benar saja di dalam kuilmu ini kau ada sembunyikan orang perempuan…. maka tubuhnya rubuh dengan kepala pecah. Tiang Cun Cun. ia arahkan ke kepalanya si imam. ―Kau…kau hendak lagi membunuh orang!‖ tanyanya. mereka ini kaget. yang lainnya mengigit. Ciauw Bok dan Kanglam Cit Koay adalah orang-orang yang lihay. mendengar suara orang. justru jiwa mereka sendiri terancam bahaya. dia hanya menyingkir sambil egos tubuhnya.!‖ Ciauw Bok terkejut. ―Kenapa?‖ Thian Tek tanya. akan tetapi di saat seperti ini. mukanya kena terhajar hingga rontok ziga buah giginya. kemudian barulah ia keluar. walaupun suaranya nyaring. ia lantas menyerang. Thian Tek berkelit tetapi ia terlambat. ia lari keluar kuil. ―Kau tidak mau dengar perkataanku?!‖ dia membentak. ia bernapas berlahan sekali. tepat mengenai tiang pendopo. Ciauw Bok Taysu juga gusar bukan main. dengan dua bacokan ia bikin kedua kacung itu rubuh. dia berkata: ― Ciauw Bok Hweshio. Ia lantas hampirkan Cie Kee. ―Binatang ini telah jual aku. segera ia pun sadar. kau kejar aku hingga aku bersengsara.Pendekar Pemanah Rajawali suruh dulu sat kacung paderi untuk melihatnya. Orang she Toan itu tidak menangkis. tanpa ingat budinya Ciauw Bok. tubuh siapa dia dupak.‖ katanya dalam hati. dengan sisa tenaganya ia timpuk Thian Tek dengan sepotong kayu di tangannya. Lie Peng berteriak-teriak pula: ―Hai. ―Kau ingin aku meletaki golokku? Hahaha!‖ ia tertawa mengejek. Ia ayunkan pula goloknya. dia tahu pasti orang adalah seorang wanita. dia membikin aku mencelakai sahabat-sahabatku. tahan!‖ Tidak ada orang yang kenali Lie Peng. Maka itu sembari menghela napas. tapi suaranya sangat lemah. Maka itu bukan main menyesalnya ia untuk kealpaannya itu. ia lompat kepada Thian Tek. walaupun ia buta. Ini nyonya tetap mengenakan seragam. Dengan tarik tangan Lie Peng. ―Dia perlu dibunuh dulu…!‖ Ciauw Bok menjadi gusar. hatinya mencekat. Thian Tek cabut goloknya. Dengan mendadak Lie Peng berteriak. lalu ia ayunkan goloknya. ―Jangan…. orang sangka ia adalah serdadu sebawahannya Thian Tek. ―Dia adalah satu imam yang baik…‖ sahut Ciauw Bok. ―Letaki golokmu…!‖ Thian Tek tertawa tergelak. Ia kerahkan tenaganya dengan kedua tangannya menekan lantai. hatinya menjadi ciut. ―Dia Cuma berhati keras… Di sini telah terbit salah mengerti…‖ ―Orang baik apa!‖ kata Thian Tek. Ia telah diberitahu si imam lagi rebah diam dengan kedua mata tertutup. Ia bukannya seorang tolol. ia jadi kalap. mereka Cuma bisa membuka mata menyaksikan kejadian hebat itu. Ia rebah dengan terluka parah tapi ia dapat lihat perbuatan si keponakan murid. hatinya lega. Ia merasakan sangat sakit.

Selang beberapa hari. semuanya telah dapat bangun dari pembaringan. tentang Toan Thian Tek dan si wanita yang menyamar sebagai serdadu. Ia sendiri pun bukan main masgul. untuk sabarkan padanya. Ia heran dan kaget saksikan pendopo itu. Ia memangnya polos. hingga ia tak mampu keluar dari jambangan dan genta itu. sekarang kau perlu rawat dulu saudara-saudaramu yang terluka. Ia pun keluarkan obatnya untuk suruh satu paderi pergi obat Khu Cie Kee dan Han Siauw Eng. di lain pihak ia kirim kabar pada Kouw Bok Taysu di Kong Hauw Sie. ia sadar. aku mohon maaf.‖ Po Kie dapat dibikin sadar. Mereka kaget. Mereka pun menjadi repot. ―Tidak. ia lantas obati Tin Ok semua. ―Nanti ada ketikanya untuk menghukum dia. Selagi mereka bekerja. ia tidak terancam bahaya. semua orang duduk berkumpul dengan dirundung kemasgulan hingga mereka pada berdiam saja.‖ dia bilang. hingga selang beberapa hari. Cu Cong dan Lam Hie Jin adalah yang terluka paling parah. Ia bukan lain daripada Ma Ong Sin Han Po Kie yang tadi kena ditungkrap Khu Cie Kee. Cuma Tin Ok yang diam saja. Kemudian belasan paderi itu menggunai dadung. ―Totiang berkenamaan dan kami pun bukannya orang-orang yang masih hijau.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tolong! Tolong!‖ Lie Peng berteriak-teriak. Tin Ok tertawa dingin. Ia memang aneh tabiatnya. ia lantas bangkit berbnagkit untuk menjura kepada tujuh saudara itu. hingga mereka kaget. Pada suatu hari. ― Tentang ini untuk apa kau menanya pula kami…‖ Cie Kee tahu orang masih mendongkol. Tubuh bergelumbuk itu sudah lantas lompat bangun. ―Jangan!‖ Tin Ok mencegah. ―Totiang. ia pun uruti mereka. Cie Kee dan Siauw Eng telah dapat ditolong dari racun. Cu Cong semua membalas hormat. Paderi pengurus dari Hoat Hoa Sian Sie telah bekerja. mana kau melihat mata kepada kami!‖ katanya tawar. bagaimana sekarang?‖ Siauw Eng tanya Khu Cie Kee. Hangciu. akan tarik genta itu untuk dibikin terbalik. setelah pingsan. yang kena ditikam kakinya hingga tak dapat dia berjalan dengan leluasa. tiba-tiba mereka dengar suara apa-apa dari arah genta. Ia merasakan kesembronoannya. menyesal dan mendongkolnya. Irawan D Soedradjat Page 60 . kita sekarang rubuh di tangannya satu kurcaci. ―Pinto sangat menyesal. Jenazahnya Ciauw Bok Taysu pun lantas diurus. Ia malu sekali yang ia bertujuh saudara kena dikalahi Cie Kee. setelah mana mereka dapatkan satu tubuh tergelumuk menggelinding keluar. ―Totiang biasa malang melintang. Mereka menyesal sekali sudah jadi korbannya Toan Thian Tek. ia panggil Po Kie. hingga Ciauw Bok Taysu menjadi korban.!‖ Tapi ia ditarik terus. aku tidak mau pergi…. mereka lari serabutan. Po Kie lantaa rawat semua saudaranya itu. Kuil itu menjadi berisik. akan tolongi orang-orang yang terluka. ia berpura-pura tidak tahu.‖ kata Cie Kee menyahuti si nona. semua paderi menangis karena kebinasaan guru mereka. Thio A Seng patah lengannya. ―Nanti aku susul dia!‖ teriak Po Kie sangkin gusarnya. peristiwa celaka itu pasti dapat dicegah. hingga ia berkoak-koak. kau saja yang bicara. ia mengeluarkan napas lega.‖ ―Kwa Toako. disatu pihak ia ajukan pengaduan kepada pembesar negeri. Cie Kee mengerti ilmu obatobatan. terutama dirinya sendiri. Kwa Tin Ok masih sadar walaupun ia terluka. apa kata kaum kang-ouw bila peristiwa disini sampai tersiar? Tidakkah itu sangat memalukan? Tolong Totiang tunjuki kami bagaimana kami harus berbuat. ia sendiri memberi keterangan pada Po Kie perihal jalannya pertempuran. guna pindahkan mayat. Coba ia tidak turuti hawa amarahnya dan berbicara dengan tenang sama Ciauw Bok. hingga suaranya tidak terdengar lagi.

di dalam hati ia berkata: ―Aku telah beri muka kepada kamu. orang malui mereka. Mereka sendiri belum pernah nampak kegagalan. Kalau tidak. Imam itu memutar tubuhnya. Ia bersendirian dan mereka bertujuh. Tetap ia sadar. ―Tanpa pertolonganmu. kami akan melewati sisa hidup kami…‖ Mukanya Cie Kee menjadi merah. aku telah menghanturkan maaf dan mengaku kalah. tetap tenang.‖ ―Tak sanggup aku menelan peristiwa ini. sulit untuk kita bertempur lagi. ―Kwa Toako hendak menitah apa?‖ ia tanya. Mereka semua lihay.‖ Tin Ok bilang. Ia sangat masgul. Mungkin sekali. Ia tahu Cit Koay bukan orang busuk. Bagaimana ia bisa loloskan diri dari mereka itu? Pula ada sulit untuk melayani mereka bertempur pada lain tahun. sepak terjang mereka biasanya luar biasa. ―Apa saja yang tenagaku dapat kerjakan. maka itu pinto menyerah kalah…‖ ―Kalau begitu. suka aku menuruti titahmu. tak dapat ia layani mereka.‖ kata ia. Ia terus berpikir.‖ ia berkata. ―Habis Kwa Toako memikir bagaimana?‖ menegaskan Cie Kee.‖ kata ini ketua Kanglam Cit Koay. kenyataannya adalah pinto telah rubuh. Hampir berbareng mereka itu kata: ―Kalau Kanglam Cit Koay bertaruh selamanya adalah pihak sana yang memilih tempat dan waktunya!‖ Cie Kee tersenyum dapatkan orang demikian gemar menang sendiri. lantas ia ngeloyor keluar. dan CU Cong dan lainnya yang terluka mengangkat kepalanya dari pembaringan. ―Dengan meninggalkan pedangmu. syaratnya haruslah pinto yang menetapkannya. selama tempo satu tahun. pasti sekarang aku telah berada di Negara Setan. ―Aku masih ingin menerima pengajaran dari Totiang!‖ Kanglam Cit Koay gemar melakukan amal akan tetapi mereka berkepala besar. kenapa kamu masih merasa belum cukup?‖ Ia lantas menjawab: ―Pedang ini adalah alat pembela diriku. bagaimana mereka tidak menjadi penasaran? Cie Kee terkejut. ―Tahan!‖ Tin Ok berseru. nama mereka jadi menggemparkan dunia Kang-ouw. Sekarang mereka kalah di tangan Khu Cie Kee satu orang. ―Kau telah lukakan parah saudara-saudaraku ini. mereka itu akan tambah kepandaiannya. jumlah mereka pun banyak – bertujuh – dari itu. kami tidak ada muka untuk mencampuri tahu lagi. Dalam murkanya. Irawan D Soedradjat Page 61 . Ia pun bisa berlatih diri tapi barangkali sukar untuk beroleh kemajuan. untuk menangkap ikan atau mencari kayu.‖ sahut si imam itu. Selang sesaat baru ia dapat bicara. tidak ada halangannya. lain kali tak nanti aku datang kemari untuk membuat onar pula. ―Tentang sakit hatinya Ciauw Bok Taysu serahkan itu padaku. Asal Totiang tidak mengganggu kami. akan aku bunuh jahanaman itu! Sekarang aku mohon diri…‖ Ia menjura pula. Kwa Toako.‖ Han Po Kie bersama Siauw Aeng dan A Seng bnagkit berdiri. Di dalam urusan kita ini. ―Aku telah menerbitkan malapetaka. ―Tuan-tuan. dengan tanganku sendiri. ―Pinto tidak berani. ―Selanjutnya kami akan berdiam di sini. Tin Ok bilang: ―sekarang kita sama-sama terluka. sampai ia dapat satu pikiran. pinto suka menyerah kalah saja. ―Kau pandang entang kakiku pengkor?!‖ ia membentak. malah dengan pernah mengalahkan seratus lebih jago Hoay Yang Pang. aku minta totiang membuat pertemuan pula di Cui Siang Lauw!‖ Cie Kee mengerutkan keningnya. tidak nanti mereka disebut ―Cit Koay‖ – tujuh Manusia Aneh. walaupun benar pinto telah lukai kamu. maka itu baiklah lain tahun pada hari ini. sama saja dengan tongkat Kwa Toako…‖ Tin Ok tapi tetap murka. apakah itu cukup dengan hanya kata-katamu barusan?‖ tanya Tin Ok.‖ katanya seraya berbangkit. ―Pinto telah terkena senjata rahasiamu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Segala urusan kaum kang-ouw. suka aku melepas kau pergi!‖ Bukan main mendongkolnya Cie Kee. kamu hendak adu kepandaian yang memutuskan denganku. ia jengah hingga tak dapat ia membuka mulutnya. letaki pedang di bebokongmu itu!‖ bentak Tin Ok. ―Hanya untuk itu. kalau tidak.

Ialah umpama kata tuan-tuan anggap tidak sempurna. Aku akan menghadapi kalian bertujuh.‖ kata Tiang Cun Cu dengan tenang. Kwa Tin Ok masih sedang memikir ketika Khu Cie Kee berkata pula: ―Mengenai syaratku ini. ―Semakin sulit adanya syarat. kita mesti melakukan suatu pertempuran yang memutuskan. Cie Kee berkata pula. siapakah yang paling gagah – satu enghiong sajati!‖ Kata-kata ini membuat darahnya Kanglam Cit Koay mengalir deras. Selagi memasang kuping. Aku sendiri tidak menghendaki cara mengandali kekosenan saja. Bukankah kita. beberapa kali Kanglam Cit Koay mengutuk bangsa Kim serta pemerintah Song yang sewenang-wenang dan kejam. ―Tapi apa yang kita akan adu adalah kepandaian sejati. oleh karena itu. ―Sama cepatnya dengan satu cambukan kuda!‖ sahut Siauw Eng lantas. ―Biangnya gara-gara hingga kita bertempur dan saling melukai adalah urusan menolongi turunannya orang-orang gagah. Ia juga tuturkan bagaimana caranya ia kejar Thian Tek itu. Ia tahu benar Cit Koay adalah sangat besar kepala. imam itu memancing hawa amarah ke tujuh Manusia Aneh itu. maka kami bukanlah tandingan kamu bangsa imam!‖ Khu Cie Kee pun tertawa. tuan-tuan! Kita bukan Cuma mengadu kepandaian. dengan sikapnya yang agung. lekas!‖ ia mendesak pula. habis apakah syaratmu itu?‖ Maka mereka menanti penjelasan. dengan menggunai alat senjata atau kepalan dan tendangan.‖ ia menyahut dengan sabar. kaum Rimba Persilatan yang kenamaan tak dapat berlaku demikian cupat sebagai anak-anak muda yang terlahir belakangan?‖ Kanglam Cit Koay saling mengawasi. kita memakai akal budi. ―Jikalau kita mencari pokok sebabnya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kamu suka terima syarat apapun?‖ dia tanya. tangan dan kaki. ―Lekas bicara. juga mengadu kesabaran. karena itu ia telah ubar-ubar Toan Thian Tek. Thian Tek saban-saban dapat meloloskan diri. mereka tidak jeri. ―Jangan kau coba pancing hawa amarah kami!‖ Tin Ok memotong. tetapi sangkin licinnya. baiklah kita kembali kepada sebab musabab itu. Mendengar itu Siauw Eng pun tertawa. pinto tetap suka menyerah kalah!‖ Dengan ini. ―Biar bagaimana. lekas!‖ Han Siauw Eng. ―Syaratku ini ada meminta tempo yang lama. Lalu ia menjelaskan tentang persahabatannya sama Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim – yang ia maksudkan si orang-orang gagah itu – yang mengalami nasib celaka. ―Lekas kau bicara!‖ Cie Kee lantas berduduk. ―Lekas bilang. Cu Cong dan Coan Kim Hoat adalah yang tercerdik di antara saudara-saudaranya. ―Kau sebutkan saja syaratmu!‖ kata mereka. Ia berkata: ―Kalau syaratmu itu adalah untuk mengadu bertapa atau membikin obat mujarab atau membikin surat jimat guna menangkap roh-roh jahat. masih tetap berlaku kata-kataku tadi. mustahil kami nanti kalah…‖ ―Kata-katanya satu kuncu?‖ berkata imam itu. ―Pinto juga tidak berpikir untuk adu kepandaian sama Cu Jieko dalam hal mencuri ayam atau meraba-raba anjing atau mengulur tangan menuntun kambing!‖ Ia maksudkan ilmu mencopet. Marilah kita lihat. Irawan D Soedradjat Page 62 . Di dalam hatinya mereka berkata: ―Tidak peduli kau pakai akal licin apa juga. semakin baik!‖ Cu Cong tapinya tertawa. Kepandaian semacam itu.‖ Dengan ―orang gagah‖ imam itu maksudkan ―ho-kiat‖ atau ―enghiong‖. siapa menyakinkan ilmu silat tentunya semua mengerti. hati mereka masing-masing menduga: ―Kau tidak hendak menggunai senjata.

lalu kita ajak mereka ke Kee-hin. ―Tuan-tuan berkenan menolongi abak yatim piatu dari keluarga Kwee itu. lalu anak-anak mereka itu kita rawat dan didik dalam ilmu silat. kita undang sejumlah orang gagah lainnya untuk menjadi saksi. ―Aku masih belum tahu dia ada dimana. tidak nanti aku dapat melupakannya. Heran untuk kata-kata si imam. ―Bukankah tuan-tuan menang karena jumlah yang banyak lawan jumlah yang sedikit? Kemenangan itu bukan kemenangan yang mentereng! Dengan syarat kita ini aku nanti turunkan kepandaianku kepada satu orang. Bukankah syarat itu ada sangat luar biasa? ―Jikalau tuan-tuan bertujuh yang bertempur sama aku. akan tetapi selain itu. umpama kami tak dapat lawan kamu. murid pinto yang berhasil atau muridnya tuan-tuan bertujuh!‖ Tjuh bersaudara itu saling memandang. Kecuali Kwa Toako bersama saudara Han. yang meminta banyak waktu. kau pergi tolong Pauw-sie! Siapa yang lebih dulu berhasil. itu memang benar bukannya kerjaan terlalu gampang. ―Cuma dengan beberapa kata-katamu ini. tidak ada satu jua yang segara menjawab imam itu. sampai itu waktu. ―Dua-duanya Pauw-sie dan Lie-sie itu sama-sama lagi mengandung. bukankah?‖ Khu Cie Kee tersenyum.Pendekar Pemanah Rajawali Habis menutur. dia yang menang. untuk ini sekarang pinto wakilkan saudara Kwee menghanturkan terima kasih terlebih dahulu!‖ Dan ia lantas menjura dalam. ―Itu waktu.‖ Cie Kee tonjolkan jempolnya. Tapi Coan Kim Hoat campur bicara. ―Umpama berselang lagi tiga puluh tahun. bukankah tuan-tuan akan merasa puas?‖ Akhirnya Tin Ok ketruki tongkat besinya ke lantai. itu tidak ada artinya. Kita tunggu sampai mereka telah melahirkan anak. tenaga dan pikiran.‖ menerangkan Tiang Cun Cu. setelah itu mereka bertanding satu lawan satu. Di situ nanti kita lihat. masih ada hal yang terlebih sukar lagi. yaitu Pauw-sie. untuk membuat pertemuan di Cui Sian Lauw. ―Han Samya benar!‖ pujinya. ―Cuma menolongi saja?‖ ia ulangi. empat saudara lainnya telah pernah lihat mereka itu‖ ―Aku ingat suaranya Lie-sie itu.‖ kata Kwa Tin Ok. secara demikian kita bertaruh! katanya. tuan-tuan pun mewariskan kepandaian kamu kepada satu orang juga. ―Bagaimana sebenarnya?‖ Han Po Kie tanya ―Kita menanti sampai lagi delapan belas tahun. Pernah pinto melihat romanya Pauw-sie. Ia tanya: ―Bagaimana kalau pertolongan kami terlambat. kami toh telah lakukan juga satu perbuatan yang baik. Berbareng dengan itu. ―Baiklah.‖ Cie Kee menambahkan.‖ ―Apakah adanya itu?‖ Kwa Tin Ok bertanya.. sesudah puas makan minum. Inilah yang pinto hendak gunai sebagai syarat pertaruhan kita…‖ Siauw Eng segera menyela: ―Kami pergi tolongi Lie-sie. kau hendak membikin kamu bercapek lelah selama delapan belas tahun!‖ Irawan D Soedradjat Page 63 . andaikata muridku yang menang. dan Lie-sie keburu dibikin binasa oleh Toan Thian Tek?‖ ―Biarlah kita sekalian adu keberuntungan juga!‖ sahut Cie Kee. baru kita suruh kedua anak itu adu kepandaian. Cie Kee tambahkan: ―Orang yang Toan Thian Tek bawa lari itu adalah Lie-sie. ―Untuk pergi mencari dan menolongi. anak-naka itu telah berumur delapan belas tahun. ―Jikalau Thian menghendaki aku yang menang. ―Cara pertaruhan ini adalah terlalu licin. Kita membuatnya pesta. apa hendak dibilang?‖ ―Baik!‖ Han Po Kie juga turut bicara. tidak dengan demikian tuan-tuan. ―Akan aku jelaskan. Pinto ingin setelah dapat cari dan tolong mereka. Pinto akan didik anak Yo Tiat Sim dan tuan-tuan bertujuh merawat anaknya Kwee Siauw Thian…‖ Tujuh bersaudara itu membuka mulut mereka.‖ Cie Kee berkata pula. istrinya Kwee Siauw Thian. umpama kata kamu yang menang. kita mesti pernahkan mereka itu. ―Memang menolong anak piatu dan janda juga adalah perbuatan yang mulia.‖ ―Tentang istri Yo Tiat Sim.‖ jawab si imam.‖ berkata Cu Cong kemudian.

kita akan bertemun pula di rumah makan Cui Siang Lauw. ―Apakah yang lucu?‖ tanya Han Siauw Eng. kita bertujuh akan terima tanggung jawab kita ini!‖ Khu Cie Kee lantas berbangkit. ―Orang umumnya bilang mereka itu gemar sekali menolong sesamanya. apapula ia kenali roman orang itu. ―Hari ini adalah tanggal dua puluh empat bulan tiga. ia bertindak pergi. ―Kau tidak kenal mereka itu!‖. begitu muncul kata-kata: ―Orang Utara naik kuda. Thian Tek lantas asah otaknya: ―Aku telah terbitkan onar besar. Thian Tek telah angkat kaki dengan naik perahu. Kanglam adalah daerah air. disana ada banyak sungai atau kali. ―Kalau satu orang gagah sejati bersahabt. untuk orang-orang gagah di kolong langit ini menyaksikan siapa sebenarnya laki-laki sejati!‖ Habis berkata. Thian Tek tunjuki terus kelicinannya. akan tetapi ia berdongak dan tertawa besar. mereka gagah perkasa dan mulia. Tetapi Po Kie si tak sabaran telah pergi jauh. ia menukar perahu beberapa kali. Dengan mereka. untuk terus menaiki kudanya. Pengorbanan itu tidak ada artinya! Bukankah kita belum pernah dengar bahwa di jaman dahulu ada Keng Ko dan Liap Ceng berhitungan?‖ Wajahnya Cu Cong menjadi pucat. Baiklah aku pergi ke Utara untuk menyingkir dulu dari ancaman bahaya. ―Aku mengaku keliru! Baiklah. ―Dia tak dapat dibiarkan menghilang. orang she Cu ini menyebutkannya Thian Tek dan Lie Peng. supaya aku dapat kembali ke Liman. ia lompat naik ke sebuah perahu. ia buka tambatan perahunya. ―Tidak salah apa yang totiang bilang!‖ katanya sambil goyang kipasnya. ia lantas lari keluar. tak dapat aku pulang untuk pangku pula jabatanku. ia ajak Lie Peng bersama. Setelah berkata begitu. ―Nanti aku susul Toan Thian Tek!‖ kata Han Po Kie. Berselang belasan hari. malah tanpa memilih kenderaan air lagi. orang Selatan naik perahu.Pendekar Pemanah Rajawali Wajahnya Khu Cie Kee berubah. guna susul Thian Tek. ―Sejak zaman dahulu hingga sekarang ini.‖ ia berkata pula. ia tak tampak ada orang yang kejar atau susul padanya. dia bersahabat untuk menjual jiwanya..‖ Kudanya Po Kie lari pesat. kendaraan air adalah alat penghubung atau pengangkut yang paling umum. dari itu. ―Sha-tee! Sha-tee! Cu Cong memanggil-manggil. maka itu segera ia menuju ke sungai. Ketika ia tarik Lie Peng keluar dari tempat berbahaya itu. sama saja dengan kuda atau keledai di Utara. Ia telah memikir untuk cari suatu tempat untuk bertinggal Irawan D Soedradjat Page 64 . tetapi hari ini bertemu dengan kamu – hahaha!‖ Kanglam Cit Koay menjadi panas hatinya. ―Maka itu lagi delapan belas tahun. Dengan lekas ia keluar dari daerah kota.‖ Tukang perahu itu ketakutan lihat orang demikian galak. Ia cerdik. Ia tanya-tanya orang akan tetapi pertanyaannya tidak jelas. ialah denagn segala urusan ia bersedia untuk mengorbankan dirinya.‖ kata Cie Kee. hingga pastilah sulit kita mencari padanya!‖ Di antara Cit Koay. ia lantas mengayuh. seraya kibaskan tangannya. Han Po Kie segera menghajar bangku dengan tangannya. Paling dulu ia mencari rumah penginapan. tibalah ia di Yangciu. lega hatinya apabila ia menoleh ke belakang. tentu sekali ia tak dapat cari Thian Tek. ―Selama dalam dunia kang-ouw telah aku dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay. tetapi ia hanya mondar-mandir di darat. Semoga itu imam bangsat dan tujuh siluman dari Kanglam itu bertempur hingga mampus semuanya. Ia hendak bicara tetapi si imam dului dia.‖ sahut si imam yang ditanya. dialah yang tidak terluka. ―Lekas berangkat!‖ ia membentak tukang perahu sambil ia cabut goloknya. tak ada sinarnya.

ia siapkan pisau belati atau badik yang Cie Kee hadiahkan kepadanya. Ia peroleh kenyataan. Itu hari selagi berada di dalam kamar. tidak mendengar apa-apa.Pendekar Pemanah Rajawali buat sementara waktu. Kelakuan si nyonya itu gampang menimbulkan kecurigaan orang. ia terus membawa Lie Peng. maka itu sebaliknya dari ketakutan. ia dekati Lie-sie. ―Aku tak akan membunuh padamu!‖ Lie Peng sendiri telah lemas kaki dan tangan dan tubuhnya. Thian Tek tetap jerih untuk Han Po Kie beramai. aku mohon kepadamu. Kembali ia menyewa sebuah perahu. Adalah pikirannya Thian Tek. dadanya kena tergurat. Maka terpaksa ia gunai goloknya untuk menangkis. maupun di tengah perjalanan. Akan tetapi ia adalah satu wanita lemah. memasang mata. Ini yang menyebabkan ia selamanya dapat lolos. Thian Tek tersenyum aneh. ia tidak takut. tiga orang itu tidak kenali dia. Inilah ia tidak sangka. hingga darahnya lantas mengucur keluar. untuk Irawan D Soedradjat Page 65 . menanyakan tentang dia dan Lie Peng. maka itu. walaupun kedua pihak bertemu muka. ada kalanya ia robek bajunya atau bikin kusut rambutnya. baik selama di penginapan. Untuk kagetnya manusia busuk ini. Belum sampai setengah bulan ia berdiam di tepi telaga itu. ia telah keluarkan tenaga terlalu besar. ada lagi seorang lain yang cari padanya. ―Trang!‖ demikian satu suara nyaring. bajunya kena terobek. Coba Lie-sie bertenaga cukup. ia justru diam-diam memuji kepada roh suaminya: ―Engko Siauw. Han Po Kie dapat susul ia. Dalam kagetnya ia buang diri ke belakang. hingga bayi di dalam perutnya itu meronta-ronta. Nyonya Kwee telah tawar hatinya sejak kebinasaan suaminya. akan tetapi Lie Peng. kau lindungi kepadaku. ia hanya berpura-pura edan. sudah kepalang tanggung. hingga mereka sampai di perhentian Lie-kok-ek. napasnya memburu. ia tarik tangannya Lie Peng untuk diajak segera menyingkir dari pintu belakang. tak sudi ia berjalan sedikit juga. Ia kaget tetapi ia berlaku tenang. tetapi tak urung. Setiap ia mendarat. Ia pun telah dipukuli. Dengan letih ia jatuhkan diri ke kursi. Ia telah hunus pedangnya. Malah Po Kie ada bersama denagn satu nona. ia juga tak dapat lari seorang diri. Dari dalam kamarnya ia mengintai. ―Simpan senjatamu!‖ ia membentak. tetapi telah bulat tekadnya. Kali ini ia kembali naik perahu. Tapi ia masih ingat akan pisau belatinya yang ia pegangi keras-keras. Syukur ia waspada dan cerdik. di tepi telaga Bie San Ouw di wilayah propinsi Shoatang. adiknya. Sebab bukanlah soal yang sempurna untuk terus-terusan berkelana dengan hati tidak tentram. ingin aku supaya sebelum datang saatnya. Setiap kali ia berlepas tangan atau mulutnya. Thian Tek sambar sebuah kursi. agar dapat aku membinasakan manusia jahat ini!‖ Lalu dengan diam-diam. hingga mereka jadi menarik perhatian orang. ialah seorang pincang dan bermata buta yang membawa-bawa sebatang tongkat besi. ia angkat tangannya untuk dikasih turun denagn bacokannya. ujung goloknya putus dan jatuh ke tanah dan ujung pisau belati menyambar terus ke dadanya. Tidak lama kemudian. ia diringkus Thian Tek. ia dengar suara Han Po Kie tengah berbicara sama pemilik penginapan. dadanya itu pasti telah tertancap pisau belati itu. Lie Peng tidak mengerti silat. Selama itu rasa takutnya tak jadi berkurang. aku bertemu pula denganmu. Ia melalui Lim-ceng dan Tek-ciu dan tiba di propinsi Hoopak. Po Kie bersama kawannya yaitu Siuaw Eng. Ia menjadi masgul dan bingung sekali. ia sebenarnya sudah memikir untuk bunuh diri. Dengan tiba-tiba otaknya Lie Peng terganggu. untuk keram diri di dalam kamarnya . selama tinggal di penginapan. nyonya Kwee suka ngoceh tidak karuan. dibekap mulutnya dengan selimut. Setelah merasa pasti bahwa orang adalah salah satu Cit Koay. Ia dapat kenyataan si nyonya si nyonya bukan gila benar-benar. ia justru mendahului sambil menubruk. tetap ia menuju ke Utara. ia sudah umbar hebat hawa amarahnya tanpa merasa ia membuat kandungannya tergerak. lebih baik bia ia bisa binasa bersama musuhnya itu. Syukur untuknya. Dalam sengitnya. selalu dapat ia menjauhkan diri dari mereka itu. Ia lihat tegas seorang kate dampak yang romannya jelek sekali yang berbicara dengan lidah Kee-hin. saban-saban ada orang mencari dia. engko Siauw. kecuali si kate terokmok dan si nona. yang merasa ada bintang penolongnya. saking khawatirnya. ia menikam! Thian Tek kaget dan heran. Kemudian ia menjadi mendongkol. mereka itu tidak kenali padanya. sudah lantas menjerit-jerit. menampak sikapnya Thian Tek itu. Untuk bela diri terlebih jauh. Thian Tek dapat godaan lain. Syukur untuk Thian Tek. Thian Tek berniat membunuh Nyonya Kwee itu. Ia berlayar terus ke Utara. ia terus berontak dan berteriak-teriak.

Ia sebenarnya hendak beritahu juga bahwa ia datang bersama Lie Peng. ia lantas ijinkan orang menemui dia. selanjutnya mereka tidak akan berani berontak. pangeran Wei atau Wee. adik itu berkata kepadanya: ―Hari ini ada datang padaku satu mata-mata dari kerajaan Selatan. Pada masa itu pemimpin bangsa Mongolia. bekalan uangnya mulai habis. ia suka dengari adiknya yang cerdik dan tangkas. Pada suatu. Tanpa ragu-ragu lagi.Pendekar Pemanah Rajawali sengaja menarik perhatian orang. akan tetapi ia tetap dibayangi pengejar-pengejarnya. dalam segala hal.‖ berkata Wanyen Lieh. Temuchin sudah mulai kuat kedudukannya. Denagn begitu. Di sana Thian Tek langsung mencari istananya pangeran itu. Setiap hari aku bisa dahar dan minum enak. ―Bukankah aku telah tidak jauh dari Yan-khia?‖ demikian ia ingat. gemar mereka menghina yang lemah tetapi jerih terhadap yang kuat. Di samping itu. ia bergaul paling erat dengan Wanyen Lieh. ia berpikir: ―Tentang Pauw-sie. Ia terkejut akan ketahui. Hawa panas mulai lenyap. sang angin sejuk telah mulai menghembus. pergilah beristirahat dulu.‖ Wanyen Yung Chi terima baik nasehat itu. Ia jadi semkin hati-hati.‖ katanya dengan manis. kau tentunya letih. putra yang ketiga dari Wanyen Ching. hatinya menjadi ciut. ia malah membantui negara Kim memusnahkan bnagsa Tartar. untuk pergi ke sana. Ibukota Yan-khia itu disebut juga Tiong-touw atau Chungtu. mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tak nyata. tetapi dasar pangeran Kim yang keenam itu yang kemaruk sama istri orang. ialah Tio Ong atau Chao Wang (Pangeran Tio atau Chao) Kapan Wanyen Lieh dengar tentang kedatangannya satu perwira dari selatan. ―Mereka juga bertabiat kasar. kakak harus membawa satu pasukan tentera yang terpilih. artinya ―Kota Tengah‖. Kenapa aku mesti meninggalkan satu . Sekarang ini ialah kota Pakkhia (Peking). Karena tugasnya ini. bagaimana aku bisa menerima Thian Tek? Ia tahu rahasiaku. tetamunya adalah Toan Thian Tek dan orang ingin numpangi diri kepadanya. Ketika ia hendak berbnagkit. Ia lantas mengerutkan kening. itu pangeran Kim yang ia maksudkan. guna menghargai jasanya itu. Thian Tek mengucap terima kasih. ia ngoceh seorang diri: ―Selama aku pangku pangku di Hangciu. setelah omong-omong lagi sebentar ia pamitan. dia telah celakai aku hingga begini…‖ Justru ia ngoceh ini. ―Pergilah kau beristirahat!‖ katanya sambil ia mengibaskan tangannya. kepergian putra ini sebenarnya guna melihat sendiri keadaan bangsa Monglia itu. ―Kenapa aku tidak pergi kepada Liok-taycu?‖ Liok-taycu itu adalah putra keenam dari raja Kim. setelah berjalan jauh dan melewatkan banyak hari. urusan bisa menjadi rewel. dapat ku bersenang-senang dengan wanita-wanita cantik.‖ ―Begitu?‖ tanya sang kakak. Thian Tek telah menyingkir jauh ke utara. ―Yang cupat pikirannya kuncu. Wanyen Lieh bangkit dari kursinya. Didalam hatinya. heran. Di antara saudara-saudaranya. ―Habis?‖ Irawan D Soedradjat Page 66 . Celaka untuknya. saking uring-uringan. supaya melihat keangkeran kita. Ia marah tetapi ia tidak bisa berlaku keras kepada nyonya itu kecuali ia mengancam agar si nyonya terus ikut padanya. Ia ada lemah. untuk memohon pikiran. mendadak ia dapat ingat suatu apa. Sam-ongya itu adalah Wanyen Yung Chi. raja Kim utus Wanyen Yung Chi. Ia bergelar Wei Wang atau Wee Ong. Wee Ong telah datang menemui Tio Ong. sang adik. aku masih belum dapat mempernahkannya. semacam kommissaris tinggi. Udara begini tidak terlalu mengganggu orang-orang yang membuat perjalanan. bagaimana senangnya aku. ia mengucapkan terima kasih. ―Kau baru sampai dari satu perjalanan jauh. maka itu. Ketika itu hawa udara telah mulai berubah. raja Kim. yang tak kejam bukannya satu laki-laki?‖ Karena ini ia lantas tersenyum. tetapi satu hambanya pangeran itu muncul dengan tiba-tiba mengabarkan ‗kunjungannya Sam-ongya‘ – pangeran yang ketiga. tetapi ia takluk kepada bangsa Kim. supaya tentang perjalanan mereka – ke mana saja mereka menuju – ada menimbulkan bekas. ibukota kerjaan Kim itu. sang putra pergi menganugerahkan Temuchin sebagai Pak Kiang Ciauw-touw-su. mulut hidup? Bukankah ada peribahasa kuno yang mengatakannya. setelah mana ia bertindak untuk sambut tetamunya. oleh karena mana. malah menyenangkan. kalau ia membocorkannya. ia bernagkat menuju ke Yan-khia. ―Bangsa Monglia itu tak tetap tempat tinggalnya.

ia menurut saja. ―Sam-ongya. ―Tindakan itu tidak sempurna. berjalan di padang pasir yang seperti tak ada ujung pangkalnya. di padang gurun. ―Kakak tahu sendiri kecerdikan bangsa Selatan itu. bunuh saja padanya!‖ kata sang kakak.‖ ―Bagus!‖ Yung Chi bertepuk tangan. Aku pikir hendak mohon kakak bawa ia pergi ke utara.‖ ―Bawa ia ke Utara?‖ Yung Chi tanya. ia lantas tampak lari mendatangi satu pasukan kecil serdadu. Hampir itu waktu. di mana tidak ada lain orang. Sedang si nyonya ini masih mengharapkan datangnya pertolongan padanya……. dengan cari satu alasan kakak boleh hukum mati padanya. Sore itu Wanyen Lieh tidak panggil Toan Thian Tek menghadap lagi padanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia datang untuk tumpangkan diri padaku. ―Itulah alasannya belaka. Tapi ia telah bertekad untuk membalas sakit hatinya. ―Di sana. kalau dia ini dibunuh. Sementara itu perutnya Lie Peng makin menjadi besar. Ia mempengaruhinya hingga si nyonya diam saja. sebenarnya ia hendak mencari tahu keadaan kita bangsa Kim. maka itu kepala perang ini telah melancangi pangeran itu untuk mengatur persiapan. hawa ada dingin luar biasa. dia tertawa riang. Wanyen Yung Chi berangkat ke Monglia. perjalanan jauh denagn menunggang kuda.. dia kuatkan hati dan tubuhnya untuk lawan penderitaan ini. Berselang beberapa hari. barisan dari seribu serdadu pilihan dari bangsa Kim berjalan berlerot bagaikan seekor ular panjang. kapan sang malam tiba. Pada suatu hari tibalah barisan ini di satu tempat dekat dengan perkemahan Temuchin. apa yang disebutkan tentara musuh itu. Thian Tek tidak tahu rencana orang. dia suruh Thian Tek pergi ke istana Wei Wang untuk bantu pangeran itu. ―Baik!‖ katanya. Wanyen Yung Chi lantas kirim belasan serdadunya untuk memberi warta terlebih dahulu tentang tibanya itu sekalian menitahkan Temuchin datang menyambut utusan Kim. ia tetap ajak nyonya itu. Demikian untuk beberapa puluh hari. Selagi Wanyen Yung Chi terheran-heran.‖ Sang adik menjadi girang. Mereka itu terpencar si segala penjuru. memenuhi bukit dan tegalan di hadapan angaktan perang Kim itu. Yung Chi menjadi kaget. Di lain pihak ia jaga diri baik-baik agar tentara Kim tidak tahu siapa dia.‖ Wanyen Lieh bilang. hanya sambil dibekali uang perak dua potong. dia ajak Thian Tek bersama. Di sini aku nanti layani lain-lainnya mata-mata. Ia khawatir Lie Peng nanti buka rahasianya. bilang saja dia hendak dijadikan pengiringku.‖ ―Kalau begitu. dia tak dapat berpikir. Selagi pasukan ini berjalan terus. ―Mana aku tahu?!‖ sahut si perwira yang lantas saja mengatur barisannya.‖ sahut adik itu. dia terus menderita. Ia keprak kudanya untuk maju ke depan. sudah datang dekat sekali. ―Ya‖ sahut Wanyen Lieh. Tatkala itu bulan kedelapan untuk di Utara. sekonyong-konyong orang mendapat dengar suara berisik yang datangnya dari arah utara. ―Pasukan musuh manakah itu?‖ dia bertanya. Wanyen Yung chi berangkat bersama seribu serdadu pilihan yang semua kelihatan gagah dan mentereng. Diwaktu begini. Mungkin mata-mata yang datang bukan dia satu orang. sangat meletihkan dia. suara seperti satu pertempuran. ―Sebentar kau kirim dia padaku. Dialah Ouw See Houw. Dia sengaja menunjuki pengaruh menurut nasihat Wanyen Lieh. sebaliknya Wanyen Yung Chi lemah. Irawan D Soedradjat Page 67 . katanya. lekas kasih perintah untuk bersiap untuk berperang!‖ demikian kata perwiranya yang pimpin pasukan kecil itu setibanya dia di depan pangeran Kim itu. salju beterbangan turun bagaikan lembaran-lembaran unga. yang lainnya pasti bakal jadi waspada. Ouw See Houw ada satu panglima yang berpengalaman yang diandalkan negeranya.

Lie-sie coba geledah tubuhnya myat-mayat itu untk cari rangsum kering. Ouw See Houw kewalahan. Ia hanya dengar tangisan itu makin lama makin keras. lalu dihari ketiga. di situ muncvul satu pasukan serdadu. Ia geraki tubuhnya. ia angkat bayinya itu. hingga banyak serdadu yang kena terinjak-injak. semua mayat serdadu dan bangkai itu belum busuk. Dengan sendirinya mereka jadi bertempur sama tentara Kim. Tentera musuh yang kabur itu melihat pasukan Kim. yang telah membuang panah dan tombak mereka. bayi itu nampak cakap. untuk melindungi. Adu Panah Lie Peng ada bersama Toan Thian Tek. Karena hawa dingin. sakit sekali. sejumlah diantaranya lantas rubuh. maka bersama sejumlah serdadu ia lindungi Wanyen Yung Chi mundur ke arah selatan. Cuma pemandangannya yang sangat menggiriskan hati. Nyatalah dalam keadaan seperti itu. samar-samar ia dengar tangisan bayi. suaranya pun nyaring. Lalu ia coba menyalakan api. karena sisa tentera itu main saling selamatan diri sendiri. yang berjumlah lebih sedikit. akan tetapi jumlah mereka banyak. dengan itu ia pun dapat bakar daging kuda. tidak ada sama sekali. Lie Peng mendekam di liangnya itu. Tiba-tiba dari arah kiri terdengar ramai suara terompet tanduk. Lie-sie mesti kuatkan hati. Lie-sie mencoba menggunai kedua tangannya. mereka menerobos terus. muncul di antara sang awan. Kapan Ouw See Houw sudah mengawasi sekian lama. setelah mana ia peluki anaknya. semua tidak menunggang kuda. Ouw See Houw berlaku tabah. Disamping itu di belakang mereka menerjang sejumlah pasukan berkuda. Sekarang baru Lie Peng sadar betul. ia dapat kenyataan. Ia dapatkan sejumlah sisa. Tentera sisa ini berjumlah lebih besar tapi mereka tidak berdaya terhadap pasukan berkuda ynag jauh lebih kecil itu. sekarang timbullah harapannya. musuh dan kawan bercampur menjadi satu. tetapi serbuan sisa tentera ―musuh‖ itu demikian hebat. Ia mengeluarkan air mata kegirangan yang berlimmpah-limpah. potongan wajahnya mirip dengan suaminya Kwee Siauw Thian. hingga tanpa dapat ditahan lagi. Ia dapatkan golok dengan gampang karena di situ bergeletakan banyak alat senjata. ia rubuh dari kudanya. Cepat nyonya itu berduduk. ia sadar sendirinya dengan perlahan-lahan. untuk membuat sebuah liang yang besar dimana bersama bayinya ia bisa menyingkir dari angin dan salju. ―Lepaskan panah‖ Ouw See Houw memberi titah. Kekalutan sudah lantas terjadi. Terpaksa ia merayap keluar. ia merasakan perutnya mulas. yang terus menerjang tentera sisa. mereka masing-masing menunggang satu kuda. tanpa merasa ia menangis menggerung-gerung. Tentara sisa itu segera diserang. Roman anak ini telah membantu menguatkan semangatnya. ia tidak mendapat gangguan. tak tahan ia akan rasa laparnya. Entah sudah lewat berapa lama. untuk kegirangannya. kalau tadinya ia telah berputus asa. Syukur untuknya. sang rembulan mengencang di atas langit. ia beri perintah akan tenteranya mengurung pangerang mereka. Dari situ ia bisa dengar rintihan serdadu-serdadu yang terluka parah atau hendak mati dan ringkikannya banyak kuda perang. tapi ia merasa ada benda yang membanduli perutnya. terpaksa nyonya Kwee lari sendirian. Tentara ‗musuh‘ itu bukan terus menerjang pasukan Kim. ia telah melahirkan anak……. Dengan gigitan ia bikin putus tali pusar. Ketika itu masih malam. Terpaksa untuk menyingkir. Hanya sesudah lari serintasan. Di bawah terangnya sang rembulan. itulah pasukan sisa yang habis kalah perang. Buat dua malam satu hari. mereka pun lagi ketakutan. Entah dari mana datangnya tenaganya.Pendekar Pemanah Rajawali Segera juga terlihat suatu keanehan. Air ada air salju tapi barang daharan. roman mereka ketakutan. Hebat akibatnya untuk tentara Kim itu. ia dapatkan satu bayi laki-laki. Mereka bersiap tanpa bersuara. akan menggali pasir. tak tahu ia dirinya berada di dunia baka atau masih hidup. bergumul. Untuk kagetnya. Ia pingsan. setelah ia melihat dengan tegas. mereka ke dibikin terpencar. Irawan D Soedradjat Page 68 . mereka kabur jauh-jauh. Ia belum sadar betul. tentara sisa ini meluruk ke arah pasukan Kim. Di sekitarnya tidak ada seorang juga kecuali mayat-mayat serdadu dan kuda-kuda. mereka lari tanpa berani datang mendekati. mau tidak mau. hanya mereka kabur keempat penjuru. Bab 7.

malah tanpa terasa enam tahun telah lewat. ada yang ditancapkan bulu burung warna lima. Lie-sie dapat berdiam disitu bersama bayinya. ia gendong bayinya untuk di bawa pergi ke araha timur. Ia mengintai terus. tiba-tiba kwee Ceng lihat seekkor burung elang yang besar sekali menyambar kepada rombongan kambingnya. Ia mesti terus berjalan di tempat yang sepi dimana ada terdapat pepohonan dan tegalan rumput. guna melindungi diri dari gangguan angin dan hujan. Malah yang seekor – anak kambing – kabur ke timur. Pihak penyerang ini berjumlah lebih sedikit. baru ia dapat tangkap anak kambing itu. dibantu sama suara tambur. ketika kedua penolongnya hendak berpindah tempat. selagi ia menjagai kambing-kambingnya. mendatangi dari arah depan. Maka ia naiki kudanya untuk mengejar. untuk hidup sendiri. Tidak ayal lagi. sebab bayinya masih belum mengerti suatu apa pun. Oleh karena kebiasaan. segera terdengar suara terompet dari sebelah belakang. ia mulai bertenun yang hasilnya ia dengan barang makanan. ia Cuma kata ia lagi lewat di situ tempo ia terhalang oleh pertempuran tentera. maka tentera itu lantas memecah diri dalam dua barisan. Sekarang. Jauh di sebelah depan nampak debu mengepul naik. Demikian telah terjadi dengan Lie-sie. ia menunggang kuda kecilnya. Kwee Ceng tuntun kambingnya buat diajak mendaki suatu tanjakan. dan untuk menempuh perjalanan jauh. tapi selagi ia hendak menuntun pulang. Tapi ia ingin mengetahui sesuatu. walaupun mereka tidak tahu jelas. Lie Peng tidak buka rahasia. ia beri nama Ceng kepada putranya. yang ia tidak tahu berapa jumlahnya. belum pernah ia dengar suara semacam itu. Untuk hidupnya. dari sana muncul beberapa barisan lain yang dikepalai oelh satu perwira muda jangkkung dan kkurus. Tapi di belakang mereka lantas tiba bala bantuan. Ia memanggil dengan berteriak-teriak. Dua penunggang kuda itu adalah orang Monglia. sebagai pengembala tak tentu tempat tinggalnya. dari itu di situ sudah lantas terjadi suatu pertempuran. Ada serdadu yang kepalanya digabut pelangi putih. Pada suatu hari dari bulan tiga. bagaimana hebat penderitaannya itu. mendadak ia dengar susra keras dan nyaring. ia bisa membantu ibunya menggembala kambing. Ia tidak hendak melupakan peasn suaminya. Kaget ia. untuk kelegaan hatinya. Meski begitu. setelah ia mulai dapat pulang kesegarannya. ia pun dapat hidup sebagai orang Mongolia. diwaktu hendak berangkat. hati Kwee ceng menjadi tertarik. Tidak lama setelah barisan teraur rapi. untuk kemudian ibu dan bayinya itu tidur guna melepaskan lelah dan kantuknya.Pendekar Pemanah Rajawali Buat tujuh atau delapan hari. ia keluarkan kepalanya untuk mengintai. mereka menyerang pula. hingga ia mesti melahirkan anak seorang diri. timur dan barat. Ia memegang sebatang golok panjang. Tepat tengah hari. Akan tetapi dua orang itu tidak menolong kepalang tanggung. Ia menjadi takut. Maka mulailah Lie Peng mesti bercape lelah. sebagai rumah adalah tenda yang bertenung daripada bulu binatang. walaupun tampaknya mereka kosen. lantas ia pimpin tentaranya menyerbu. anak kambing itu lari terus. Ia mesti membangun satu gubuk dengan beratap daun. ia dengar suara seperti tambur berikut meringkiknya kuda serta suara orang banyak. Orang Monglia itu tidak berumah tangga. guna mencari air. agaknya mereka ini tidak dapat bertahan lama. ―Siapa kau?‖ tanya salah satu diantara dua penunggang kuda itu. untuk dikasih tempat meneduh dan barang makanan. Segera terlihat dua penunggang kuda. ia cuma dapatkan. sebaliknya daripada takut. selagi uadra hangat. Sekitar tujuh lie. Hidup sendiri. sampai setelah memasang kuping sekian lama. Ia mulanya menyangka kepada guntur. mereka jaka si nyonya ke tendanya. apa katanya Lie. Selama tempo bertahun-tahun hidupnya Lie Peng ada lumayan. hingga ia terperanjat. dengan mengiring binatang piarannya. tubuhnya ditutupi dengan mantel merah. terpaksa ia ditinggal pergi. yang menjadi kepala perang telah memberikan belbagai titahnya. mereka meninggalkan tiga ekor kambing. tidak lama mereka mesti mundur sendirinya. untuk bersembunyi didalam rujuk. mereka itu berbaik hati. Bisalah dibayangi. lalu muncullah pasukan tentera. anak itu bertubuh kuat dan cerdik. Kwee ceng giring kambingnya untuk diangon. Semua binatang itu kaget. Sekoyong-konyong terdengar suara terompet riuh. Ia sekarang memelihara anjing sebagi pembantunya.sie. Sampai tiba-tiba ia mendengar anak panah mengaung di atasan kepalanya. mereka biasa pergi ke timur atau ke barat untuk mencari makanan binatang. hingga keras sekali ia rangkul bayinya. mendengar itu tentera penyerang lantas berseru-seru kegirangan: ―Kha Khan Temuchin telah datang! Kha Khan telah datang!‖ Irawan D Soedradjat Page 69 .

Kwee Ceng dengan matanya yang jeli. ―Ayah. melindungiini pemimpin dari sambarannya berbagai anak panah. mereka pun segera melihat bendera putih besar dari Temuchin di atas bukit. orang terpaksa main mundur. Kwee Ceng saksikan itu semua. apa pula penyerang di pojok timur utara tampak lebih garang. Dari sana pun datang seruan-seruan kegirangan. apa boleh kita kerek bendera dan membunyikan terompet?‖ dia bertanya. mari kita mundur dulu!‖ berseru ia kepada orang di bawah tiang bendera itu. dari tempat sembunyinya. Dengan begitu ia dapat lihat satu perwira yang menunggang kuda. hingga mereka dapat mengacaukan lawannya. ia menyahuti: ―Musuh masih belum lelah. lalu dengan suara dalam. ia Cuma berdiam sebentar. tentera penyerang jadi dapat semangat. Di pihak Mongolia. yaitu Sigi Kutuku. jumlahnya bebearap ribu jiwa. yaitu Ogatai yang berada di samping ayahnya. Jelmi lari naik ke atas bukit. Dilain pihak adik angkat Temuchin. akan tetapi juga serdadu musuh. Temuchin mengawasi ke bawah kepada tentara musuh. Dia ada memakai kopiah perang dari besi. berlomba mendaki bukit. yang larikan kudanya itu naik ke tanjakan. seribu lebih telah terbinasa.Pendekar Pemanah Rajawali Atas itu orang-orang yang lagi bertempur lantas menoleh ke arah timur selatan. Irawan D Soedradjat Page 70 . menjadi cemas hatinya. Setelah bertempur sekitar satu jam lebih. Sambil berbuat begitu. mengawasi ke arah tiang itu. dari lima ribu serdadunya Temuchin itu. melakukan pembelaan si sekitar bukit itu. demikian panglima yang dipanggil ayah itu. Di sana pun dikerek batang bendera besar. Temuchin tetap berdiam tegak di tempatnya.‖ Ketika itu penyerangan musuh di timur laut bertambah hebat. sudah melihat tegas keadaan pertempuran itu. kau mesti kembali untuk melakukan penyerangan membalas!‖ Semua perwira itu menyahuti tanda mereka menerima titah. Disamping dia ada beberapa pengiringnya. kau Borchu. Putra ketiga dari Temuchin. bersama Jelmi panglima yang kosen. ia gembira berbareng negri. ia tetap mengawasi medan perang. habis itu semua bawa barisannya menyingkir ke arah yang telah disebutkan tadi. ―Ayah. banyak yang telah rubuh. maka sebentar saja. Ia tampak satu pasukan besar. bersama Subotai serta selaksa serdadu. dengan lima ribu jiwa serdadu mereka. mereka menang di atas angin. tak sudi mereka mundur dari serangan musuh. Tentara musuh bersorak-sorai menampak lawannya lari tumpang siur. mereka tidak ambil peduli lagi kepada musuh yang lari tunggang-langgang. tentera Mongolia itu nampaknya lati serabutan keempat penjuru arah. bersama Chilaun serta selaksa serdadumu mundur ke utara! Dan kau. Tidak antara lama panglima muda yang bermantel merah larikan kudanya naik ke tanjakan. Di tengah pasukan di panjar sebuah tiang yang tinggi di mana ada tergantung beberapa lapis bulu putih. Juga Kwee Ceng turut beralih pandangannya. Dengan matanya yang tajam bagai mata burung elang. Temuchin. hanya karena jumlah mereka jauh lebih besar. dari atas kudanya ia memandang ke medan pertempuran. ia dikitari belasan pengiringnya yang dengan memasang tameng mereka itu. Lalu ia memberi perintah pula: ―Mukhali. mereka lantas saja berkoak-koak: ―Tangkap hidup Temuchin! Tangkap hidup Temuchin!‖ Lalu tentara itu dengan rapat sekali. lekas mundur ke selatan! Kapan kau lihat bendera besar di kerak tinggi dan dengar terompet dibunyikan. musuh berjumlah lebih banyak berlipat ganda. mereka tidak menghiraukan anak panah dan golok. Itu ada tanda bahwa di sana ada tiga kepala perang yang memegang pimpinan. kau bersama pangeran kedua serta selaksa serdadu mundur ke barat. lantas ia berikan titahnya: ―Kau bawa selaksa serdadu mundur ke timur!‖ demikian titahnya itu. Tiang yang tinggi itu bergerak ke arah tanjakan bukit. Musuh telah mendesak hingga hampir sukar untuk dicegah lagi. yang mendatangi dengan cepat. Kubilai. dari mana datangnya suara terompet dan tambur tadi. janggutnya merah. Atas ini. mereka menyerang pula dengan seru.

Beruntun tiga kali ia memanah kepada musuh yang berada dibawahnya sebuah bendera hitam. hebat ilmu panahnya. tentara Mongolia bertempik sorak. Irawan D Soedradjat Page 71 .‖ sahutnya. Merah matanya Jelmi melihat kawannya itu mundur. hanya nancap di dadanya kuda. hebat kau!‖ Temuchin puji adik angkatnya itu. anak-anak tak sanggup bertahan!‖ dia teriaki junjungannya. Temuchin tutup lukanya dengan telapakn tangannya. dipihak musuh. kemudian dengan lemparkan goloknya. dalam keadaan terluka. ia membuka jalan hingga di depan satu bendera hitam. ―Ser!‖ sebatang anak panah menyambar sebelum pimpinan Mongol ini dapat berdaya. sebaliknya ia tertawa. ―Bagaimana dapat kau banggakan diri sebagai satu pendekar gagah perkasa?!‖ Air mukanya Jelmi menjadi berubah. sebentar saja ia telah rubuhkan belasan tentera Mongolia. ―Musuh masih belum lelah. untuk rampas kuda musuh.‖ Kutuku lantas berlutut di depan kakak angkatnya itu. Sejumlah serdadu mush mundur melihat orang demikian bengis. tampak satu panglima dengan pakaian perang hitam. ia memandang ke arah musuh. Dengan begitu. ―Apakah sekarang sudah boleh kita menaikkan bendera dan membunyikan terompet?‖ ia tanya. anak panah tidak lagi menyambar ke perut orang. ia kehabisan anak panah dan tobaknya pun telah patah. sebatang busur membuat musuh itu rubuh. yang berbareng menjadi pemimpinnya. ia tancap tiga batang bendera itu di tanah! Kaget nusuh menyaksikan lawannya demikian kosen. Jelmi maju menyerang tiga serdadu musuh yang bertubuh besar. Biar bagaimana juga. ―Aku kehabisan anak panah!‖ Temuchin yang rebah di tanah telah tarik keluar anak panahnya dari kantong panahnya yang tersulam. ia tidak menjadi gugup. mereka lantas tutup pula kebocoran di timur utara itu. Dilain pihak. lehernya telah terkena anak panah itu. Temuchin adalah satu orang peperangan yang ulung. semua lantas meluruh untuk tolongi kepala perang mereka. Kutuku tidak gusar. Kutuku segera beraksi. walaupun lehernya terluka dan sakit sekali rasanya. Semua serdadu Mongol kaget. Kutuku di arah barat telah pimpin tentaranya melawan musuh. dengan kedut lesnya. ia menerjang barisan musuh. ―Tak sanggup bertahan?!‖ berseru Temuchin dengan gusar. lantas ia rampas sebatang golok besar dari tangannya satu serdadu. apakah kau ngiprit sebagai kelinci?‖ ia menegur dengan ejekannya. terpaksa ia balik mundur. ia binasakan satu demi satu. setibanya di atas. ia rangkul ketiga bendera besar itu untuk dibawa lari mendaki bukit. akan kemudian ia lari pula naik ke atas. ―Kita tunggu sebentar lagi. ―Bagus ilmu panahnya!‖ Temuchin puji musuh itu. Maka tidak ampun lagi. sedang satu anak panah lainnya menyambar ke arah perutnya. ia memburu ke bawah bukit. Mendapatkan anak panah. sesudah mana. suaranya perlahan. ia membuat kudanya berjingkrak berdiri dengan dua kaki belakangnya. dengan bawa itu sambil serukan seruan-seruan peperangan bangsanya. Berselang lagi satu jam. darah molos keluar dari sela-sela jari tangannya itu. ia lemparkan itu kepada adik angkatnya itu. ―Siapa lari ngiprit?‖ katanya. di pojok barat selatan. Dua perwira Mongolia maju hendak menerjang tetapi mereka disambut oleh anak panah dan rubuh karenanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kha Khan. ―Saudaraku yang baik. rubuhlah binatang tunggangannya itu berikut penunggangnya. nacap sampai di batas bulu. Musuh gunai ketika baik ini untuk menerjang naik dengan hebat. ―Kutuku. Justru itu. Kutuku mandi keringat.

apabila ia menoleh. treus angkat kepalanya. Kwee Ceng tunggu sampai orang sudah pergi semua. Anak ini ingat akan peperangan yang ia saksikan. mereka menjadi bertambah kacau. . di bebokong kuda ada satu tubuh manusia yang mendekam. si panglima seragam hitam sendiri terpaksa kaburkan kudanya. Musuh berjumlah besar.‖ katanya. ia berteriak-teriak untuk mencegah kekacauan. kuda itu kendorkan larinya. ia bunuh tiga musuh yang menerjang ke arahnya. tentera Mongolia dengan bersemangat menyerang dari segala penjuru. Begitu datang dekat. kaget melihat kepala perang lawannya dapat naik kuda pula. maka itu diserang demikian mendadak. ialah pihak Mongolia. Dengan goloknya yang panjang. telah peroleh kemenangan besar dan musuhnya ialah bangsa Taijiut. Maka sejak itu. barisan mereka tengah kacau. sambil ia duduk di atas kudanya. siapa lantas menjadi kaget sekali. baharu ia keluar dari tempat sembunyinya. Serempak dengan itu. ―Naikkan bendera! Tiup terompet!‖ dia berteriak dengan titahnya. Irawan D Soedradjat Page 72 . ia anggap peperangan itu dapat dibuat permainan. Dengan begitu pula pada akhirnya. ―Semuanya membela mati bukit ini!‖ ia berseru. Tentara Mongolia bertempik sorak. akan tetapi sia-sia saja percobaannya itu. Temuchin lantas berlompat untuk naik ke atas seekor kuda. Temuchin tidak usah khawatirkan lagi ancaman dari pihak musuhnya itu. ia mirip dengan ayahnya…‖ pikir ibu ini. Akan tetapi lihay panah si panglima. hingga penyerangan mereka menjadi reda. pagi-pagi sekali. sambil bersorak-sorak. tiba-tiba ia dengar tindakan kaki kuda di arah timur. Senang Lie Peng akan saksikan anaknya bercerita dengan cara sangat gembira.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kami semua rela berkorban untuk kau. akan kejar panglima berbaju hitam itu. ―Hadiahnya sepuluh kati emas!‖ Beberapa puluh serdadu Mongol sudah lantas kaburkan kuda mereka.dua helai permadani – dengan barang-barang makanan. hingga ia keluarkan teriakan tertahan. Panglima dengan seragam hitam itu nampak keadaan jelek. telah musnah lebih daripada separuhnya. Tiga hari kemudian. sendirinya mereka mundur. Musuh yang tengah merangsak naik. runtuhlah pasukan perang yang besar itu. dimana mereka berada. Temuchin lihat keadaan itu. Kwee Ceng ditinggal di rumah untuk menjagai binatang piaraan mereka. maka dengan mainkan cambuknya. ia mencoba menggiring kambingnya pulang pergi. Dengan pertempuran ini Temuchin. ―Tangkap musuh itu!‖ Temuchin memberi titah. Dengan kegirangan. disusul sama bunyi terompet ynag riuh. memandang kepada si bocah itu. melihat sikap orang. Ia mau anggap dirinya adalah satu panglima perang! Tengah anak ini main jenderal-jenderalan itu. Penunggang kuda itu yang mendekat. tak kecuali mereka yang mengurus korban-korban. lalu bendera putih yang besar dikerek naik. Lie Peng berangkat ke pasar yang terpisahnya kira-kira tigapuluh lie lebih dari rumahnya untuk menukar tenunannya. anak ini tidak sedikit juga menunjukkan hati jeri. Sisa tentara lantas lari serabutan. tak pernah gagal. waktu sudah tengah malam. Kwee Ceng dari tempat sembunyinya sangat mengagumi panglima berbaju hitam itu. justru ibunya sedang berdebar-debar hatinya memikirkan anaknya yang dikhawatirkan menghadapi ancaman bahaya. Maka diam-diam ia pun bergirang. Maka itu tidak usah berselang dua jam. tubuhmu penting sekali!‖ Mendengar itu. maka itu belasan serdadu lantas saja terjungkal dari kuda mereka. ia jadi gembira sekali. maka itu ia menjadi teringat kepada suaminya. Kwee Ceng segera terangkan kepada ibunya kenapa ia pulang lambat sekali. Mereka itu mendekati saling susul. ia tampak seekor kuda lari mendatangi. ―Tapi Kha Khan. Ketika ia tiba dirumahnya. tentaranya tak dapat dikendalikan lagi. termusnahkan pasukan Mongolia yang jumlahnya lebih sedikit tetapi yang semangatnya berapi-api. ―Dasar turunan orang peperangan. hingga yang lainnya menjadi terhalang. ia gunai ketikanya yang baik. panglima itu dapat meloloskan diri. tentara Mongolia iringi kepala perangnya berangkat pulang.

air itu sudah bercampur dengan darah yang mengalir dari lukanya.‖ sahut Kwee Ceng. Kwee ceng lantas lari mengambil air dingin dari jambangannya. kami harus membantu tetamu tetapi tidak boleh menginginkan barang tetamu. lalu ia tertawa terbahak-bahak. mendengar itu tetamunya Kwee Ceng ini menjadi gusar sekali. Ia pun lantas memandang ke arah timur itu. setelah itu ia dapat pulang tenaganya. Selang sekian lama. benderanya pun berkibar-kibar. orang itu memakannya dengan sangat bernafsu. apakah kau ada punya panah?‖ tanya si tetamu. Kwee Ceng lekas-lekas mengambilkan beberapa potong daging kambing. orang itu sadar dengan sendirinya. aku ingin panah yang besar…. tiba-tiba ia tertawa. Irawan D Soedradjat Page 73 . ia menjadi lesu. ―Mari lagi satu mangkok!‖ dia meminta pula. Orang itu tercengang. Kwee Ceng telah bawa gendewa dan anak panahnya yang kecil. ―Aku hendak bertempur. adalah si panglima perang berbaju hitam yang gagah. Orang itu perlihatkan roman girang. banyak-banyak terima kasih kepadamu!‖ dia mengucap. Ia lantas sobek ujung bajunya. Sekarang di sebelah suara berisik itu terlihat debu mengepul. yang Kwee Ceng saksikan dan mengaguminya.‖ ia bilang. dia tak hendak melepaskan aku!‖ serunya sengit. ―Hm. hanya tempo si bocah itu kembali. Paha kudanya pun terluka. Dari lengannya ia tarik sebuah gelang emas yang kasar dan berat. Kwee Ceng menggeleng-gelengkan kepala. tubuhnya terus rubuh dari atas kudanya itu. Tubuh panglim aitu bergoyang-goyang. ―Air…air…lekas bagi air…‖ katanya. Dia jatuh pingsan. Mungkin ia yang tengah melarikan diri telah bertemu pula dengan musuh. Ia pun balut luka kudanya. ia menjerit. Tak tahu ia mesti berbuat apa. ―Adik yang baik. matanya bersinar merah. ―Yang besar tidak ada…. ―Untukmu!‖ dia tambhakan seraya dia angsurkan barang permata itu kepada bocah itu. sedang panahnya tidak kedapatan padanya. suaranya parau. ditangan kirinya ia mencekal goloknya yang telah buntung. Rupanya banyak sekali serdadu barisan berkuda temgah mendatangi.‖ katanya panglim aitu kemudian.Pendekar Pemanah Rajawali Penunggang kuda itu mukanya penuh debu bercampur darah. Ketika itu pasukan yang mendatangi telah tampak semakin tegas. hanya habis itu wajahnya berjengit. Di pipi kanannya ada sebuah luka besar dan masih mengucurkan darah. Kwee Ceng pun lantas ikut memandang juga. yang mana si panglima lantas saja sambar untuk digelogoki. ―Lapar! Lapar!‖ kali ini ia bersuara. Tapi lekas sekali ia tertawa berkakakkan. alisnya lantas menjadi ciut. golok yang mana pun ada darah yang sudah mengental. Panglima itu baharu minum setengah mangkok. tetapi ia rupanya telah puas telah dapat air. Kwee Ceng kaget dan bingung. Demikian dia bisa geraki tubuhnya untuk berduduk. ―Anak yang baik. ―Anak yang baik! Anak yang baik!‖ ia memuji. Itu waktu samar-samar terdengar suara larinya banyak kuda di arah timur. ―Ada!‖ sahut Kwee Ceng yang terus lari ke dalam untuk ambil panahnya. darahnya masih mengalir. ―Ibu telah pesan. untuk dipakai membalut lukanya.

walaupun ia sudah dapat pulang tenaganya. sesudah lari cukup jauh. yang lantas terus tarik les kuda orang untuk dibawa kepada sang pangeran. Dia adalah putra sulung dari Temuchin. ia pun lari ke tumpukan kering itu dan menyelusup kedalamnya. Lain jalan tidak ada.‖ ia menerangkan ―Bawa dia kemari‖ berseru perwira yang mengepalai pasukan itu. Ia lantas dapat lihat itu kuda hitam yang lagi makan rumput di kejauhan. Ia lihat banyak serdadu sedang mengiringi satu anak muda yang kurus dan jangkung. ―Mari ketemu pangeran!‖ berkata dua serdadu itu. ―Apakah katanya bocah ini?‖ tanya ia membentak. aku serahkan jiwaku kepadamu!‖ katanya.‖ kata Kwee Ceng kemudian. yang tubuhnya ditutupi denagn mantel merah. ―Di mana?‖ tanya serdadu yang kedua. ―Baik. dengan kudanya yang terluka. Si pangeran telah sampai di depan rumah ―Aku tidak akan bicara!‖ Kwee Ceng telah mabil keputusan dalam hatinya. sepuluh serdadu lanats bergerak dengan mereka memecah diri dalam lima rombongan. Ia insyaf.‖ Kwee ceng menjawab. Dua serdadu itu sampaikan jawabannya Kwee Ceng. bocah. ―Benar!‖ sahut banyak serdadu. lebih baik kau sembunyi. Mereka rupanya lihat bocah yang menunggang kuda itu. Ia lantas kenali itu adalah panglima yang pimpin tentera. Dengan gampang ia kena ditangkap dan dituntun. Jadi ada lebih selamat untuk sembunyikan diri. Dengan matanya mengandung kecurigaan. ―Sembunyi di mana?‖ orang itu tanya. Ia tidak dengar pembicaraan di antara dua orangnya dengan si bocah. dua serdadu lantas menghampirinya. tak dapat ia lari lebih jauh. untuk hampirkan itu kuda denagn dikurung. hingga walaupun binatang itu berniat lari. ―Eh. Kwee Ceng mencambuk kuda itu. suara mereka riuh. Irawan D Soedradjat Page 74 . kau lihat tidak satu orang yang menunggang kuda hitam?‖ Itulah teguran dari satu diantara dua serdadu itu. Kwee Ceng menunjuki tumpukan rumput kering di belakang rumahnya. suaranya dalam. putra sulung itu memandang ke sekitarnya. ―Ya. Tidak lama tibalah barisan berkuda itu. seperti tak pernah terjadi sesuatu. ―Coba bawa kuda itu kemari!‖ Begitu keluar perintah itu. ―Hm! Bukankah itu kudanya Jebe?‖ putra itu tanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Seorang diri tak dapat kau lawan mereka. bahar ia berhenti untuk makan rumput. ia laikan kuda itu bolak balik. ―Dia sudah pergi lama sekali. ―Bukankah itu kudanya?‖ ia tanya. dua kali atas mana kuda yang hitam bulunya itu segera lompat kabur. Kwee Ceng menunjuk ke barat. suaranya kasar.‖ ia berjanji tanpa diminta. jalannya sudah tertutup. ―Aku tidak akan mengasih tahu kepada mereka. aku dapat lihat. Ia bisa berlaku tenang. Kwee Ceng naik ke atas kudanya. ―Pergi kau usir kudaku!‖ setelah berkata demikian. Orang itu mengambil putusan denagn segera.

bersembunyi sambil memasang mata. ―Eh. pergi menyusul dan mengejar. tentera Mongolia dikirim ke empat penjuru untuk cari Jebe. ―Pasti kita akan mendapatkannya!‖ Ia balik kepada Kwee Ceng . ia pingsan beberapa kali. tiba-tiba tangannya menunjuk ke tumpukan rumput yang jauh sambil ia berteriak: ―Lihat di sana. itu panglima berseragam hitam yang sembunyi di dalam tumpukan rumput. lebih dahulu ia kirim putra sulungnya. hatinya menjdai memukul keras. kau hendak bicara atau tidak?!‖. Berat lukanya Temuchin bekas terpanah Jebe. hingga ia perlu ditolongi dengan Jelmi panglimanya serta Ogotai putranya yang ketiga. Hampir di itu waktu dari kejauhan terdengar suara terompet. Inilah sebabnya kenapa ia datang belakangan. mereka tidak lihat suatu apa yang bergerak. sepasukan serdadu berhasil menemukan Jebe. Dihari kedua pada wkatu sore. mau ia menangis akan tetapi ia menahan sakit. dia mestinya tidak lari jauh!‖ Juji berkata pula. ia bolang-balingkan itu ke udara. setan cilik. Lagi sekali ia mencambuk. Kapan Temuchin dengar kabar itu. Kali ini Kwee Ceng tak dapat tak menangkis. ―Jangan kau harap dapat mendustai aku!‖ Jebe. Baharu keesokan harinya. yang hendak ditawan. benda apakah itu yang bergerak-gerak?‖ Semua serdadu lantas berpaling mengawasi. ia putar kudanya untuk menyambut ayahnya. Ia kenal si putra sulung – putra Temuchin itu – ialah Juji yang tabiatnya keras dan kejam. . Tuli. kemudian ia sendiri mengajak putranya yang kedua. Ogotai dan putra sulungnya. Dia mengancam pula Kwee Ceng dengan cambuknya diayun tiga kali beruntun. Tapinya ia lantas berteriak : ―Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!‖ Ketika itu sejumlah serdadu sudah geledah rumahnya Kwee ceng. mesti isap darah – hingga darahnya itu ada yang kena ketelan dan dimuntahkan. Kwee Ceng lihat orang hendak tusuk bagian dimana panglima nelusup. adalah sehabisnya pertempuran. Temuchin. Ia sendiri pun telah terluka. Kali ini ia hunus goloknya. untuk hukum dia dengan dibeset empat kuda dan dicincang tubuhnya guna membalaskan sakit hatinya Khan yang terbesar itu. aku terpaksa mesti keluar untuk adu jiwaku…. Musuh itu dikepung tetapi ia dapat meloloskan diri sambil membinasakan beberapa jiwa serdadu Mongol. Ayahnya itu dirubungi banyak pengiringnya.‖ Kwee Ceng kesakitan bukan main. Oleh karena itu. ia cegah keluarnya air matanya. Juji lantas berhenti mencambuk. 75 ―Aku tidak menghendaki kuda tetapi orangnya!‖ ayahnya itu menjawab. Ia lihat penganiayaan itu yang menyebabkan jidatnya Kwee ceng memebri tanda baret merah. Dia angkat kepalanya dan menanya dengan berani: ―Kenapa kau pukul aku? Mana aku ketahui dia bersembunyi di mana!‖ ―Kau membandel?!‖ bentak Juji. Tidak ada jalan lain. kuda hitamnya bangsat itu telah dapat ditemukan!‖ ia memberitahukan. dia lolos dari ancaman bahaya maut. ―Dia sembunyi di mana. ―Ayah. Jagati. ―Kha Khan datang!‖ sejumlah serdadu berteriak. ―Ayah!‖ demikian ia menyambut. setan cilik?!‖ tanya dengan bengis. ―Kudanya ada disini. tangannya mencekal keras goloknya yang panjang. Irawan D Soedradjat Page ―Ya!‖ sahut putra itu. tetapi di medan perang. di hari kedua. Ia memikir: ―Pasti bocah itu tak tahan sakit dan ektakutan.Pendekar Pemanah Rajawali Putra sulung itu ayunkan cambuknya ke arah kepalanya Kwee Ceng. hai. Satu malam dia gadangi semua panglimanya serta keempat putranya. ia coba sebisanya akan menahan sakit. cepat menyusul. Juji. Kha Khan – Khan yang terbesar. putranya yang ketiga. sedang dua yang lain menusuk-nusuk ke dalam tumpukan rumput kering itu. Kedua serdadu tadi pun sampai lupa untuk menusuk-nusuk terlebih jauh.

tempo ia berguling sampai di kaki si putra sulung. Hati Juji menjadi sangat dongkol. kenapa bocah itu mengatakan: ―Tidak mau bicara‖ dan bukannya ―Aku tidak tahu?‖ Maka ia lantas berbisik kepada Ogotai: ―Pergi kau bujuki ia hingga ia suka berbicara. ia ayunkan goloknya ke lehernya si Kwee Ceng. Kwee Ceng telah mandi darah pada mukanya. dia berkata: ―Menghina anak kecil. Juji terperanjat. Ia sambar Kwee Ceng. ia lanats digigit di sana sini. ―Aku tidak mau bicara!‖ Kwee Ceng ulangi jawabannya. Sayang anjing penggembala itu jauh lebih kecil dan ia pun bersendirian. terus dengan tertawa dingin. hanya kegagahan panglima berseragam hitam itu sangat mengesankan kepadanya. Bangsa Mongol paling gemar berburu. tahu ia akan tugasnya.‖ Putra ketiga itu menurut sambil tertawa.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kau hendak berbicara atau tidak!‖ ia mengancam. yang ia tarik tubuhnya dengan tangan kiri untuk disingkirkan ke belakangnya. Nyaring bentroknya kedua senjata itu. tetapi ia pensaran dan marah. ―Kau bicaralah. mengenai tepat goloknya Juji itu. ia hampiri Kwee Ceng. Menampak sang kakak kelabakan. untuk mencegah ia lantas bersiul memanggil anjingnya sendiri. timbul kemarahannya. ―Aku tidak mau bicara! Aku tidak mau bicara!‖ ia berteriak berulang-ulang. Semua orang terkejut. Tapi ia gagah. Juji berontak tetapi ia tak dapat lepaskan pelukannya anak itu yang memegang ia dengan keras sekali. yang bersenjatakan golok dan tombak. Jagati menjadi tidak senang. maka sekejap saja terjadilah pertarungan yang sengit sekali. Dari kopiah perangnya ia pun cabut dua batang bulu merak yang berkilauan. kapan anjing Kwee Ceng dengar panggilan majikannya. Kapan ia lihat orang melepas anjing. dia tak mau mundur. Jebe lompat keluar dari tempatnya bersembunyi. Kwee Ceng dengan Jebe tidak saling mengenal. mendadak ia angkat tubuhnya untuk sambar pahanya si Juji yang terus ia gigit. Sekarang setelah ia dianiaya Juji. tahu ia panglima itu terancam akan ketahuan tempat persembunyiannya. Irawan D Soedradjat Page 76 . dia tentu bawa enam ekor anjingnya itu. Ia lemparkan goloknya. banyak lukanya. Jagatai. ia mendahului menghalang di depan tumpukan rumput kering itu dan melarang enam ekor anjing itu menghampirinya. tak malukah?!‖ Lantas saja Jebe dikurung oleh serdadu Mongol. untuk diberi bercium bau. hingga dengan lantas ia suka memberikan pertolongannya. muka ramai dengan senyuman. Jagatai adalah putra paling gemar berburu. gonggongan mereka sangat berisik. Sekarang anjing itu diperintah dibawa mengitari kuda hitam. Mendengar itu. sebab goloknya hampir terlepas dari cekalannya. Menyusuli goloknya itu. Hati Kwee Ceng menjadi kecil. ia perdengarkan suaranya berulang-ulang menganjuri anjingnya melawan terus. ia ayunkan pula cambuknya berulangkali hingga Kwee Ceng merasakan sakit ke ulu hatinya. Putra kedua dari Temuchin menjadi habis sabar. bangkit keangkuhannya dan tidak sudi ia menyerah. Lantas pengiringnya muncul dengan enam ekor anjing yang besar. akan aku berikan ini padamu…‖ ia kata seraya angsurkan bulu merak itu. antaranya ada yang berseru kaget. anjing pembantu penggembala. Ogotai dan Tuli menjadi tertawa bergelak-gelak. Temuchin berpikir. maka itu setiap keluarga bangsawan atau panglima perang mesti memelihara anjing-anjing peranti berburu. Mukanya Juji menjadi merah. Disaat batang lehernya bocah yang bernyali besar itu bakal menjadi putus. ia jadi terlebih berani. habis itu baru semuanya dilepaskan dari rantainya. Enam ekor anjingnya Jagati sudah mulai mencium-cium ke tumpukan rumput kering. hingga ia rubuh bergulingan. kapan ia pergi berburu. begitupun burung elang besar. tiba-tiba sebuah golok buntung menyambar. ―Lepas anjing!‖ ia menitahkan. ia perintah anjingnya maju.

dia berkata: ―Hari begini panas mengendus. mustahil orang dapat sembunyi di dalam bulu kambing‖ Memang hawa ada sangat panas. Setelah lolos ini. semuanya lompat mundur dengan ketakutan.‖ Temuchin sambut itu ajakan. Dia berkata: ―Penderitaannya bangsa pria sama saja. Disampingnya Temuchin muncul satu orang. Pemuda itu ialah Borchu. mereka berdua pergi mencari bersama. Ia ketemu satu anak muda yang lagi peras susu kuda. sembari minum koumiss. Ia penasaran. Jebe ada punya namanya sendiri tetapi nama itu kalah dengan gelarannya. dia mati digerumuti semut!‖ Habis mengucap begitu. Maka kemudian. dia berseru dengan keras. mari kita ikat persahabatan. pergilah kau bertanding dengan sahabatku ini!‖ ―Jebe‖ itu memang berarti ―Ahli memanah‖. mereka bubarkan rombongan pencuri kuda itu dan berhasil merampas pulang ke delapan kuda yang dicuri itu. kiranya dia inilah orangnya…‖ Ia tidak menjawab. ―Aku Borchu!‖ panglima itu membentak. Alasan itu kuat. ―Kha Khan. ―Baik. dia pernah ditawan bangsa Taijiut. ―Sekarang ini burung elang jatuh di tanah. Borchu. ―Nanti aku layani dia!‖ Temuchin lihat orang itu adalah panglimanya. yang tubuhnya besar dan suaranya nyaring. Ia tanya kalau-kalau pemuda itu lihat pencuri kudanya. Jebe awasi orang itu. Bersama ibu dan adik-adiknya ia mesti hidup dari daging tikus hutan. Sudah itu pada suatu hari. ―Seorang diri akan aku bunuh kau. ia lari ke dalam rimba. orang sampai menyebut kau Jebe. ―Siapa kau?!‖ ia tanya. aku akan mati dengan puas. lehernya dipakaikan kalung kayu. Hampir Temuchin kepergok tapi ayahnya Chila‘un pintar. yang mereka hinakan sesudah mana mereka berniat membunuhnya. Ketika dahulu Temuchin belum menjadi kepala bangsa Mongol. Ia girang sekali. kalung kayunya dirusaki dan dibakar. ia pergi mencari pencuri kuda itu. terbuka lebar matanya ini panglima. ekornya diselipkan ke selangkangannya. ia cuma perdengarkan suara dingin. sengsara hidupnya Temuchin. ―Jikalau aku dibinasakan di medan perang oleh orang yang dapat menangi aku. Dengan panah mereka yang lihay. Setelah pesta bubaran. ia meninju dada orang. jangan kasih bocah ini pentang mulut besar!‖ dia berseru. musuhnya. baharu mareka dapat menyandak si pencuri kuda. Tiga hari mereka menyusul. Satu anak muda yang bernama Chila‘un tidak takut bahaya. kereta itu batal digeledah. sia-sia bangsa Taijiut mencari dia. ia menambahkan: ―Sayang aku tak dapat terbinasa di tangannya satu orang gagah perkasa…!‖ ―Apakah kau bilang?‖ tanya Temuchin. supaya kau puas!‖ katanya nyaring. mereka saban-saban mencaci Temuchin. ―Hm!‖ ―Kau andalkan ilmumu memanah. Temuchin Irawan D Soedradjat Page 77 .‖ berkata Temuchin. aku akan lebih dahulu binasakan padamu!‖ Tertawa Mongol tertawa riuh. Enam anjingnya Jagatai yang lagi gigiti anjingnya Kwee Ceng menjadi kaget. Atas itu Jebe tidak membalas menyerang. ―Maka sekarang. Mereka anggap orang ini tidak tahu diri. Ketika musuh Taijiut datang mencari dan rumah Chila‘un digeledah. Mendengar orang adalah ―sahabatnya‖ Temuchin. Temuchin berhasil menghajar penjaganya dengan kalung kayunya itu. hingga orang tidak mengetahuinya lagi. Borchu maju beberapa tindak. dia tolongi Temuchin. Ia dinaiki ke atas sebuah kereta besar yang muat bulu kambing. Bangsa Taijiut itu membikin pesta di tepinya sungai Onan. Borchu itu kosen dan belum pernah ada tandingannya.Pendekar Pemanah Rajawali Juji menjadi sangat gusar. delapan ekor kudanya yang putih pun kena orang curi. setiap orang seperti bermandikan keringat. pergi kau layani dia!‖ ia menganjurkan. digeledah juga kereta itu. Jebe berkata: ―Kau adalah sahabatnya Khan yang terbesar. Jebe berpikir: ―Memang pernah aku dengar Borchu adalah orang kosen bangsa Mongolia. Sebaliknya ia berseu: ―Lekas bunuh aku!‖ Kemudian.‖ sahut Jebe. dengan suara mendalam.

tak dapat aku layani dia cara seimbang. sambil berkelit ia memanah pula. kaki kanannya nyangkel pada sanggurdi. hingga anak panah itu jatuh ke tanah. aku bukannya seorang yang tak tahu diri. Temuchin tahu kegagahannya Borchu. untuk papaki anak panah lawan. ia memanah lagi pula. Borchu tetap menjadi sahabatnya dengan berbareng menjadi panglimanya. Ketika ia diserang pula. setelah itu ia memanah betul-betul. Tidak lagi ia mendekam. ia hanya bawa tubuhnya turun dari bebokong kuda. Jebe lihat kuda lawan gesit. Ia jepit perut kudanya akan bikin kuda itu lari. ―Tidak salah!‖ sahut Jebe. Jebe naik ke bebokong kuda. ―Binatang ini sangat sombong!‖ seru mereka. ―Dengan sebuah gendewa saja. Maka kedua anak panah itu saling bentrok lalu mental. Binatang itu yang telah berpengalaman. Jebe lihat anak panah datang.Pendekar Pemanah Rajawali hendak membalas budi dengan membagi kudanya. yang suruh orang serahkan kudanya. kau pakai panahku. ia berbareng membalas memanah. Ia terus memanah. Inilah ia tidak sangka. Ia pun lompat turun dari kudanya. untuk duduk pula atas kudanya! ―Bagus!‖ Borchu memuji lawannya itu. jatuh nancap di tanah. Irawan D Soedradjat Page 78 . Mulanya ia cuma mengancam. satu kali. hingga anak panah itu terpanah dua. Borchu menjawab: ―Aku keluarkan tenaga untuk sahabatku. Tapi ia panah anak panahnya Borchu.‖ katanya. tubuhnya meroyot hampir mengenao tanah. beruntun tiga kali. Ia mengincar ke sebelah kanan. ia berdiri di atas kudanya. Aku menghendaki hanya sebuah gendewa. Temuchin dan semua orangnya bersorak memuji. habis mana ia angkat tubuhnya. kesempatan ini dipakai untuk membalas menyerang. hingga bersama Chila‘un ia menjadi empat di antara menteri besar dan berjasa dari Jenghiz Khan (nama Temuchin setelah ia menaklukan bangsa-bangsa yang lain). dia tidak berani memandang enteng. tahu akan tugasnya. Ia tidak cuma menolong diri. Borchu lantas bersiap. tak usah anak panahnya!‖ ―Kau tak pakai anak panah?!‖ tanya Borchu gusar. ―Kau kasihkan kudamu pada Jebe!‖ Temuchin berkata pada Ogotai. sekarang kau beri ketika untuk aku adu panah dengannya. seekor juga aku tidak menginginkannya!‖ Sejak itu keduanya bekerjasama. Jebe tidak sempat menangkap pula. ia mendekam akan aksih lewat anak panah itu. mengarah perut Borchu. aku pun dapat membunuh kau!‖ Tentara Mongol menjadi berisik. Cepat sekali ia membalas memanah. ia menyambok dengan gendewanya. Dengan tangan kiri mencekal gendewa dan tangan kanan memegang naka panah. Borchu perlihatkan kepandaiannya. Dilain pihak. Borchu tahu Jebe memang lihay. lalu dengan sebelah kakinya ia sampok anak panah yang menyambar kepadanya itu. lagi dua kali ia memanah dengan saling susul. Borchu terkejut. Ia selamat. ―Itu sama saja dengan aku sendiri yang memanah dia!‖ ―Baik!‖ Borchu menyahuti. Jebe berkelit dan sambil berkelit tangannya menyambar. ia pun larikan kudanya ke lain arah. Ia tanya sahabatnya itu menghendaki berapa ekor. dia lompat ke atas kudanya Temuchin. Tapi Borchu tidak berhenti sampai disitu. sampai Temuchin berhasil mengangkat dirinya. Borchu memanah pula. ia serahkan panahnya sendiri. dia berkata pada Temuchin: ―Aku telah terkurung olehmu. terus ia main berkelit. ―Kau naik atas kudaku. Kali ini Jebe kaget. lalu ―Ser!‖ maka sebuah anak panah menyambar ke arah Jebe. ―Sungguh dia beruntung!‖ kata Ogotai. menangkap anak panah itu. putranya yang ketiga. selagi kuda itu lari. Jebe berkelit. Kemudian ia larikan kudanya. dengan enjot diri. ia cenderungkan tubuh ke bawah untuk jemput tiga anak panah yang tergeletak di tanah.

Irawan D Soedradjat Page 79 . hingga gendewa itu panah menjadi dua potong. Jebe pun berkelit tak hentinya. ia pungut anak panah itu. untuk rampas jiwa orang. Semua penonton kaget. melihat serangan datang. ―Aku hendak menukarnya dengan jiwa anak ini!‖ katanya.‖ sepasang alisnya bangkit bangun. Jebe lihat serangan berbahaya. itu cuma menyebabkan Borchu merasa sakit pada bebokongnya. jiwanya ditukar dengan jiwamu!‖ ia mengatakannya pada Borchu. ―Baiklah!‖ kata Borchu. kamu jangan adu panah pula! Biar. Segera ia ketahui sebabnya ia tidak terluka. sambil bersembunyi. ia pungut anak panah di tanah. Tanpa merasa. maka tidak ampun lagi. dengan saling susul. aku harus mendapatkan hukumanku!‖ Ia cabut anak panah di pundaknya.. yang berdiri di depan pintu. ia gunai ketikanya. anak panah itu jatuh ke tanah! Dengan keheranan. ―Jikalau kau benar ada punya kepandaian. Selagi mata orang banyak seperti di bikin kabur. Jadi terang. ―Bukannya untuk ditukar dengan jiwaku!‖ Jebe berseru. Tentang aku sendiri. hingga akhirnya pundaknya yang kiri kena juga terpanah. tiba-tiba ia menjadi terkejut. Anak panah itu tidak ada ujungnya yang tajam! Jebe telah singkirkan itu. Jebe telah lihat tegas musuhnya itu. anak panahnya justru mengenai batok kepalanya kuda. hendak ia memanah lebih jauh. rubuhlah binatang itu! Borchu turut rubuh. Kudanya Borchu sangat lihay. ia mendahului membalas menyerang. Ia khawatir ia nanti dipanah terus. ia lompat berkelit ke kiri. kali ini ia pakai kantong panah Temuchin. incarannya luar biasa. terus-menerus. ―Apa!‖ Temuchin menegaskan. Tentara Mongol bertempik sorak. Dalam kagetnya ia putar kudanya untuk balik. ia telah gunai habis semua anak panahnya. ―Siapa menghendaki kamu jual kebaikanmu!‖ teriak Borchu. Sebenarnya ia biasa berbekal banyak anak panah. sekarang kita seri. Kali ini ia kena hajar gendewanya Jebe. ia talangi Borchu menyahut: ―Baik! Sudah. ―Aku minta Khan yang mulia jangan ganggu itu anak. anak panah yang berdarah itu ia pasang di gendewanya. Tapi anak panah datang demikian cepat. walaupun sambaran anak panah itu keras sekali. mereka menjerit. Tapi Jebe lihay. terguling ke tanah. Ia panah bebokong musuh itu. hingga ia merasakan sangat sakit. dia tidak. ia menjadi girang. kau panah mati padaku!‖ Jebe menjawab: ―Biasanya Jebe tidak pernah mengasih ampun pada musuhnya! Panahku barusan berarti. Borchu menjadi girang sekali. ia lindungi diri di perut kudanya.. satu jiwa tukar dengan satu jiwa!‖ Temuchin kaget dan berkhawatir menampak Borchu kena terpanah. ―Mari kita mengadu pula!‖ Ia lantas memanah pula. Jebe menunjuk kepada Kwee Ceng. Kapan ia dengar perkataan Jebe itu. ujung panah tidak menancap. Tapi ia belum puas.. dan tepat mengenai. yang anak panahnya ada batasnya. Sementara itu serdadunya Borchu sudah hanturkan beberapa puluh batang anak panah kepala kepala perangnya itu.Pendekar Pemanah Rajawali Borchu menjadi berpikir: ―Aku ada punya anak panah. Kehilangan senjatanya. Hanya aneh. sambil turunkan tubuhnya. Lantas ia memanah pula beruntun beberapa kali. ―Aku telah panah kepada Khan yang mulia. ia membalas menyerang. tanpa tanda dari penunggangnya. Maka ia lantas merogoh ke kantung panahnya. dengan begini mana bisa aku membalaskan sakit hatinya Khan yang terbesar?‖ Ia menjadi bergelisah. Jebe hendak mengasih ampun padanya. untuk memberi semangat kepada Borchu. Jebe kasih kudanya lari berputaran. Semua penonton bersorak. kemudian mendapatkan orang tidak terbinasa atau terluka parah. anak panah yang diberikan oleh Temuchin kepadanya.

Ia percaya. ―Habislah aku hari ini…. Jebe lihat Temuchin demikian angker. Dengan hidup terus sebagai penggembala. ―Ibu bilang. jangan kita termahai uangnya. kau boleh berikan kepada siapa kau suka!‖ Jebe angsurkan emas itu kepada Kwee Ceng. ibunya bocah itu. walaupun ia incar tenggorokkan. akan tuturkan kejadian barusan. Beberapa serdadu angkat naik bangkai kuda putihnya ke bebokong dua kuda lainnya. Borchu siapkan pula anak panahnya. kalau kita membnatu tetamu kita.‖ ia mengeluh dalam hatinya. anak panah lewat menyempret di pinggiran tenggorokkannya. Lie Peng lantas berpikir. mungkin ketikanya akan lebih baik. ia menggeser sedikit. Jebe menghanturkan terima kasih. ―Kalau emas itu adalah emasku. ia menjadi kagum sekali. ia lantas perdengarkan nyanyiannya: Khan yang terbesar mengampunkan selembar jiwaku. Irawan D Soedradjat Page 80 . aku rela. Ia tunggu pulangnya Lie Peng. ia berkata: ―Kha Khan. ia ajak putranya ikut Jebe kepada Temuchin. Lantas ia ajak pasukan perangnya balik ke arah darimana tadi ia datang. Temuchin telah sukai bocah ini. yang sepotong ia berikan kepada Borchu. berilah ampun kepadanya!‖ Temuchin pun menyayangi Jebe. darahnya lantas mengucur dengan keluar. tidak tahu sampai kapan Kwee Ceng dapat membalas dendamnya. Bocah itu menggoyangi kepala. hendak aku berikan emas ini kepada itu bocah. mengikuti di sebelah belakang. Jebe menjadi girang sekali. sambil mendekam. Akan aku memotong Sungai hitam menggempur batu gunung. ia beristirahat. ―Sebentar kau bawalah bocah ini kepadaku!‖ katanya kepada Jebe. Tapi ia terus menambahkan. Kwee Ceng pun dapat berlatih ilmu perang. Sambil rebahkan diri di atas rumput. sekarang mendengar perkataan orang. Ia lolos dari kematian dan mendapati tuan yang bijaksana. ―Eh. Ia ambil dua potong emas. kalau ia turut Temuchin.‖ katanya. ―Emas adalah kepunyaanmu. Maka ketika ia memanah. Temuchin tertawa berbahak-bahak. rasa sukanya menjadi bertambah-tambah.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia satu laki-laki sejati!‖ Borchu sebaliknya berpikir. ―Selanjutnya kau ikutlah aku!‖ Orang Mongol polos dan sangat gemar bernyanyi. Di dalam pasukan perang. akan aku tunjang Khan yang maha besar! Aku akan menghajar musuh. bolehkah?‖ Temuchin tertawa. Ia merasa sakit dan kaget. Jebe gagal mengelakkan diri. tak mau ia menerimanya. tetapi ketika ia menoleh kepada Temuchin. tak ingin ia mengambil jiwa orang. untuk dibawa bersama. ―Bagus! Bagus!‖ katanya. di belakang hari walaupun mesti menyerbu api berkobar-kobar. Ia menjadi si orang gagah yang menyayangi sesama orang gagah. kesana aku pergi! Temuchin menjadi sangat girang. maka ia lompat turun dari kudanya untuk terus bertekuk lutut. ―Khan yang mulia. aku boleh kasihkan itu kepada siapa aku suka!‖ katanya. apakah kau masih tetap tidak mau menyerah?!‖ ia tanya panglima musuh itu. untuk ambil hatinya! Ke mana aku diperintah pergi. demikian Jebe. Maka kesudahannya. yang sepotongnya pula kepada Jebe.

atau satu resimen. Tidak lama sejak masuknya dua orang itu ke dalam markas. maka itu Temuchin anggap adalah suatu kehormatan yang ia dianugrahkan pangkat oleh kerajaan Kim itu.Pendekar Pemanah Rajawali Bab 8. Temuchin muncul dari dalam kemah. dikepalai satu cianhu-thio. maka sekarang dia utus putranya itu dengan dibantu Wanyen Lieh. hingga Yung Chi mesti lari pulang ke Chungtu. ia perlakukan itu bocah dan ibunya dengan baik. menyusul mana dari pelbagai tangsi terlihat munculnya orang-orang peperangan. tubuh setiap serdadu bergoyang-goyang. dan sepuluh resimen. semua serdadu sudah siap dengan senjata mereka dan naik kuda. putranya yang ketiga yang menjadi satu siphu-thio. setelah Kwee Ceng tambah umurnya akan ia wariskan ilmu panah dan ilmu silat kepadanya. Begitu terdengar terompet yang ketiga kali. Jebe ingat budinya Kwee Ceng. Ia telah pikir. Ia menduga kepada berita penting yang mesti disampaikan kepada Khan yang terbesar itu. atau satu devisi. kecuali napasnya kuda. Dengan diiringi putra-putranya. Belum lagi pasukan perang itu datang dekat. ―Kita telah kalahkan banyak musuh. *** Pada suatu hari selagi Kwee Ceng memain timpuk-timpukan batu bersama beberapa kawannya anak-anak Mongol di depan markas Temuchin.‖ berkata ini pemimpin besar. komponi yang dikepalai oleh datu opsir disebut siphu-thio. Juji si putra pertama maju bersama selaksa serdadunya untuk sambut utusan Kim. hingga tampaknya jadi angker sekali. senjatanya tombak panjang. tentara Mongol bersorak. Dengan satu titah dari ayahnya. lebih dulu sudah terdengar suara beradunya pakaian baja mereka. yang nampak adalah satu angkatan perang besar yang terdiri dari lima pasukan dari setiap sepuluh ribu jiwa. Kwee ceng bersama kawan-kawannya berdiri menonton. Keras disiplin tentaranya Temuchin yang mengatir barisannya dalam empat rombongan. kalau ada titah dari Temuchin. ia dapat lihat mendatanginya dari kejauhan dua penunggang kuda yang larikan binatangnya tunggangannya dengan kencang sekali. Beberapa tahun yang lalu Wanyen Yung Chi telag diutus menganugrahkan pangkat kepada Wang Khan dan Temuchin. Setelah menemui tiga putra Temuchin. dipimpin oleh satu banhu-thio. ia khawatir Temuchin itu menjadi bahaya untuknya di bagian utara. yang ia tahu cerdik. Yangkhia. lalu terdengar ramai suara terompet. Borchu menyambut dengan baik. kebetulan Temuchin lagi berperang. pengaruhnya tersiar luas dan jauh. mereka menjadi bersatu. Kedua saudara itu membawa selaksa serdadu pilihan. Ia menempatkan orang gagah itu dibawah Ogotai. raja Kim dengar Temuchin jadi semakin kuat. kepala komponi yang memimpin sepuluh serdadu. lalu sepuluh komponi. kudanya tinggi dan besar. sedang empat laksa serdadu lainnya mengatur diri dengan rapi untuk menanti. Mereka itu terlatih sempurna. sampai mereka nampak debu mengepul naik. lantas saja mereka menjdia sahabat kental. Pedang Mustika Girang Temuchin melihat kedatangan Jebe. yang berseragam lapis baja. karena keduanya saling menghormati dan menghargai. kaki kuda mereka berbunyi tak hentinya. yaitu wanyen Yung Chi dan Wanyen Lieh. Lewat beberapa tahun setelah itu. Kwee Ceng dan kawan-kawannya terus tinggal menonton. merupakan sebagai satu badan. putranya yang keenam. atau satu eskadron. Irawan D Soedradjat Page 81 . Tatkala itu bangsa Kim telah menduduki Tiongkok Utara. Ia ingin Temuchin dapat dipengaruhi dengan keangkerannya atau dengan cara halus. kemudian lagi sepuluh eskadron. dari itu hebat penyerangan mereka. Yang pertama ialah sepuluh jiwa serdadu menjadi satu barisan kecil. sunyi senyap semuanya. Jebe mencari Borchu untuk menghanturkan terima kasih. sebaliknya bangsa Mongol adalah suatu suku kecil di tanah datar atau padang pasir. tandanya Juji telah dapat memapak dan menyambut utusan bangsa Kim itu. ―Begitulah negeri Kim itu sudah utus putranya yang ketiga bersama putranya yang keenam datang kemari untuk menganugrahkan pangkat kepada Kha Khan kamu!‖ Dengan angkat tinggi golok mereka. terdiri dari seratus jiwa dipimpin oleh satu pekhu-thio. tinggal lihat gelagat saja untuk mewujudkan politik itu. tentara musuh yang dikalahkan sudah menyerbu dan membikin bubarnya pasukan pengiringnya Wanyen Yung Chi. negeri Kim pun telah tahu itu. Mereka lihat. setelah terompet yang pertama. setelah terompet yang kedua.

ramai-ramai kamu merebutnya! Hayo rebut. mereka tidak memperdulikannya. tetamunya tentu disambut dan dilayani dengan baik. dan kedua itulah sebagai pelesiran. setan-setan cilik!‖ Mendengar itu semua orang Mongol berubah air mukanya. itu anak-anak Mongol yang dengan membuka matanya lebar-lebar mengawasi kepadanya tanpa berkedip. Disaat Kwee Ceng menghadapi saat ajalnya. Yung Chi jeri akan saksikan keangkeran tentara Mongolia itu. Ia lantas rampas sebatang tombak panjang dari satu pengiringnya. Kalau tetamu berbuat tidak mengindahkan kehormatan diantara tuan rumah dan tetamu. atau tengah bergurau. mereka dapat menghargai diri sendiri. akan tetapi mereka biasa menaati adat istiadat. Biasanya di Tiongkok. Umpama ada tetamu mendatangi tenda mereka. Temuchin bersama putra-putranya ambil tempat di samping untuk menyambut. ia main bunuh orang. Bangsa Mongol paling mengutamakan menghormati tetamu. shako!‖ Wanyen Lieh mencegah. dan berteriakan. maka sekarang melihat orang Kim itu demikian kurang ajar. Ia lihat gelagat jelek. perbuatan itu dipandang sebagai kejahatan paling besar. Belum pernah ada yang berani menghina dia. Kwee Ceng bukan orang Mongol. perbuatan Yung Chi ini justru perbuatan yang memandang enteng. Sebaliknya pihak tetamu tidak selayaknya berlaku tidak hormat atau memandang enteng. menganiaya dan membunuh rakyat jelata. kenal atau tidak. ia melemparkannya kembali sekalian ia beseru: ―Hayo anak-anak. ia lari mendekati Yung Chi kepada muka siapa ia menimpuk sambil ia berseru: ―Siapa sudi mengambil emasmu yang bau!‖ Yung Chi berkelit tapi ada juga uang yang mengenai pipinya. Ia mengharap anak-anak itu nanti berebut memungutinya. meski ia tidak merasakan terlalu sakit. adat kebiasaan mereka masih ―kasar‖. ―Tahan. maka ia mendelik kepada bocah itu. Dimasa itu bangsa Mongol belum kenal mata surat. demikian menampak perbuatan Yung Chi itu. tidak menghargai tuan rumah. sering ia dengar ibunya itu bercerita tentang kajahatan bangsa Kim yang di Tiongkok. Temuchin bersikap tenang. Yung Chi menjadi penasaran. ia tetap panas hatinya. sedikit saja ia merasa tidak puas. Wanyen Yung Chi lihat Kwee Ceng beramai. Sambil tertawa terus. dengan itu ia hendak menimpuk kepada bocah she Kwee itu. ia toh malu bukan main. bersama putra-putranya ia sambut kedua tetamu itu dengan menyuguhkan koumiss dan daging kambing dan kuda. selama berada bersama ibunya. pertama ia hendak unjuk keagungannya. Anak-anak Mongol itu juga terdidik menghormati tetamu mereka. jangan layani dia!‖ Wanyen Lieh berkata kepada kakaknya. bagaimana bangsa Kim itu telah bersekongkol dengan pengkhianat-pengkhianat Han untuk membinasakan Gak Hui dan lainnya. Ia merogoh pula sakunya untuk mengambil uang emas lainnya. mereka suka merampas dan memperkosa wanita. mereka sangat menghormati. tidak pernah mereka mengutuk atau mencaci. Bukankah ia telah diperhina di depan orang banyak? Adalah orang Mongol sendiri. Sebaliknya tentara Mongol perdengarkan gemuruh seruan memuji penyerangan panah itu. ia lantas pungut beberapa potong emas. walaupun masih kecil. akan tetapi memandang Kwee Ceng. ia berkata: ―Itulah persenan untuk kalian!‖ Yung Chin tidak tinggi ilmu silatnya akan tetapi uang emas hancur itu dapat ia lempar cukup jauh. maka itu semua serdadu Mongol saling memandang satu dengan lainnya. yang mana terus ia lemparkan ke arah anak-anak itu.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Yung Chi datang berendeng bersama adiknya. Dengan berbuat begitu. dengan ketakutan ia mengangkat kaki. tiba-tiba sebatang anak panah menyambar dari pasukan Mongol yang kiri. terutama terhadap tetapi. ia lantas tertawa dan merogoh ke dalam sakunya. dari Temuchin sampai pada semua bawahannya pada merasa puas ―Setan cilik. ―Bocah haram jadah!‖ ia mencaci dengan perlahan. Ia mendongkol bukan main. mereka polos dan pegang derajat. kau cari mampus?‖ Yung Chi membentak. dari mulut mereka tidak pernah keluar kata-kata kotor. tetapi tombak sudah melayang. untuk meraup sejumlah uang emas. dan terhadap musuh. Irawan D Soedradjat Page 82 . Kwee Ceng ketolongan tetapi ia telah bermandikan keringat dingin. ―Shako. Akan tetapi kesudahannya ia menjadi kecewa. tombak itu kena terserang tepat sekali dan jatuh bersama anak panah itu.

malam tidur berkerubung sehelai selimut. kalau semuanya diberi pangkat. selagi main panah-panahan dengan panah kecil yang terbuat dari kayu. berdua mereka tinggal bersama-sama dengan Wang Khan. Malam itu bangsa Mongol jamu tetamu-tetamunya yang dilayani dengan hormat dan telaten. Itu waktu Temuchin menikah belum lama dan Juji. Temuchin terlunta-lunta dan ia kemudian pergi ke Wang Khan untuk menumpang. Irawan D Soedradjat Page 83 . Khan sendiri serta Wang Khan adalah orang-orang gagah perkasa. ayahnya Temuchin. Ketika dahulu hari Yesukai mati diracuni musuhnya.‖ jawab Temuchin. Maka setelah angkat saudara.‖ berkata Temuchin. Pie-sek itu adalah biji yang orang Mongol biasa pakai untuk menimpuk kelinci. Ditahun kedua. liok-ongya mungkin belum pernah mendengarnya. yang airnya telah membeku menjadi es. Lalu Wang Khan angkat ia jadi anak pungut. Ia adalah saudara angkat dari Yesukai. mana kami negeri Kim yang besar dapat punyakan demikian banyak pembesar?‖ Wanyen Lieh mengedipkan mata kepada kakaknya. ―Siapakah dia?‖ ―Dialah adik angkatku. ia diberi minum susu dari gelas kumala dari Wang Khan. Jamukha hadiahkan kepada Temuchin kepala panah yang terbuat dari tulang mata kerbau dan Temuchin sebaliknya menghadiahkan kepala panah yang terbuat dari kau pek. dia pandai memimpin angkatan perang. keduanya bermain timpuk-timpukan di sungai Onon. Aku mohon sukalah sam-ongya dan liok-ongya juga menganugerahkan dia sesuatu pangkat. Temuchin tidak senang dengan jawaban itu. Temuchin terima pengangkatannya sambil berlutut. ―Tidak ada lagi. Selagi minum. ―Siapakah lagi yang dianugerahkan negara Kim yang besar?‖ ia tanya. Demikian ingat saudara angkatnya itu. pangeran keenam kepada Wanyen Lieh. serahkan saja pangkatku kepadanya!‖ ia bilang. ia dapat rampas pulang istrinya itu adalah dengan bantuan Wang Khan dan adik angkatnya. pangkat turun temurun. untuk dia selamanya menjadi seperti alingan di utara dari negeri Kim itu. Sekarang saling mereka minum arak dari satu cawan. tanpa pikir ia langsung menjawab: ―Bangsa Mongolia berjumlah banyak. ―Dia jujur dan berbudi tinggi.: ―Besok kami hendak pergi menganugrahkan Wang Khan. Ketika itu Jamukha memberikan Temuchin biji pie-sek yang terbuat dari tulang binatang. Maka tidak heran. Adalah kemudian karena masing-masing mencari air dan rumput sendiri dan memimpin barisan sendiri-sendiri. Adalah kebiasaan bangsa Mongolia. setipa pagi mereka berlomba bangun pagi. ia menyatakan suka turut. tetapi hubungan mereka masih tetap kekal. Lagi sekali mereka mengangkat suadara. tetapi anak-anak gunakan itu untuk main timpuk-timpukan. angkatan perangnya besar dan kuat.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Yung Chi membacakan firman dengan apa Temuchin diangkat menjadi Pak-kiang Ciauwtouwsu dari negeri Kim. Wang Khan dan Jamukha bekerja sama membantu merampasnya pulang. Temuchin baru berumur sebelas tahun. Girang Temuchin akan ketahui ayah angkatnya pun dianugerahkan pangkat. orang lain tidak ada yang dapat disamakannya. musuhnya. sang kakak tetapi tidak memperdulikannya. Wanyen Yung Chi telah minum hingga separuh mabuk. tempo istrinya Temuchin dirampas orang. yaitu Jamukha. dan Temuchin membalas dengan biji pie-sek yang terbuat dari tembaga. ia menyambuti firman dan pelat emas itu.‖ ―Kami disini masih ada punya seorang gagah yang lain. putranya masih belum lahir. ia pun disebut Togrul Khan. Kali ini Temuchin dan Jamukha saling menghadiahkan ban emas dan kuda. ―Apakah benar?‖ Wanyen Lieh berkata dengan cepat. apakah Ciauwtouwsu suka turut pergi bersama?‖ Temuchin senang dengan ajakan itu. tempo mereka angkat saudara. ―Kalau begitu tidak apa. siapa yang menang. Temuchin timbulkan usul ini.‖ Erat sekali pergaulannya Temuchin dengan Jamukha. mereka jadi berpencaran. Jamukha. Inilah untuk ketiga kalinya mereka angkat saudara. Ia berasal dari suku Kerait. Kemudian setelah keduanya dewasa. Wanyen Yung Chi berkata.‖ jawab Wanyen Yung Chi Wanyen Lieh segera menambahkan:‖ Untuk di utara ini. Wang Khan itu adalah pemimpin dari pelbagai suku di tanah datar. selalu mereka saling menyayangi. diawaktu angkat saudara mereka saling mengasih barang tanda mata. Ia membasakan ―liok-ongya‖. Kemudian tempo istrinya Temuchin dirampas bangsa Merkit.

Temuchin segera ingat halnya sendiri bersama Jamukha. Irawan D Soedradjat Page 84 . ―Ini!‖ Kwee Ceng mendahulukan menyahut seraya ia tunjuk lehernya. tetapi Tuli sendiri tidak kelihatan orangnya. Tuli itu putra yang keempat. yang menjadi gurunya Tuli. Sambil mengatakan demikian. ―Pandanganmu sering cocok dengan pandanganku. ―Dia biasanya tidak berani bangun sampai siang. ―Kema kau pergi?!‖ tanya Temuchin. ―Katanya negeri Kim ada punya dua juta serdadu. ialah handuk buatan Lie Peng untuk putranya. Matahari telah memancarkan cahaya ketika Temuchin telah berada di atas kudanya dan lima ribu serdadunya telah siap dengan rapi. Temuchin pakai aturan keras. yang khawatir pemimpin itu gusari putranya. Di hari kedua. ia tutup mulutnya. Ia tersenyum. Mereka ialah Tuli bersama Kwee Ceng.‖ Ketika itu ia menoleh. ―Anda‖ itu kata-kata Mongol. besar-besar kuda tunggangannya.‖ berkata Boroul. sama-sama mereka naiki kuda mereka. untuk simpangkan soal. ―Mana Tuli?!‖ ia tanya dengan gusar. ―Sekarang semua naik kuda!‖ Temuchin lalu memerintah. Tapi baru ia hendak putar kudanya. hatinya menjadi tergerak. ―Kau sendiri. pagi Temuchin berangkat dengan ajak keempat putranya serta lima ribu serdadunya. kau juga turut kami!‖ Tuli dan Kwee Ceng girang sekali. Akan tetapi itu waktu. masih kecil. mentereng seragam dan alat senjatanya. maka itu tak senang ia tidak melihat anaknya itu. berulang kali ia kasih dengar suara di hidung.‖ katanya. kau menghadiahkan apa padanya?‖ ia tanya denagn sabar.‖ ia bilang. ―Baik. Orang mesti lagi menanti setangah jam barulah Wanyen Yung Chi dan saudaranya selesai dandan dan keluar dari kemahnya.‖ Membuat ―anda‖ itu berarti mengangkat sudara. kita hanya lima puluh laksa. tentara Kim masih tidur nyenyak di kemahnya. ―Selanjutnya kamu berdua mesti saling mencintai dan saling menyayangi serta saling membantu!‖ Tuli bersama Kwee Ceng menyahuti menerima pesan itu. Tadinya Temchin gentar menyaksikan roman gagah tentara Kim itu. Pada Mukhali ia tanya: ―Bagaimana pandanganmu terhadap tentara Kim itu?‖ ―Seribu serdau kita dapat lawan lima ribu serdadu mereka!‖ sahut Mukhali. ia tampak kudanya Tuli. nanti aku tengok. ―Barusan aku membuat anda bersama saudar Kwee di tepi sungai. Tuli ulapkan tangannya yang mencekal sepotong handuk merah yang tersulam bunga-bungaan indah. Semua orang menjadi cemas hatinya. ―Kwee Ceng. Wanyen Lieh pun lantas menyelak dengan ia berbicara sambil tertawa.Pendekar Pemanah Rajawali Yung Chi tepuk pahanya. untuk mengantari Wangyen Yung Chi dan Wanyen Lieh pergi menganugrahkan pangkat kepada Wang Khan. akan tetapi dalam hal mendidik anak atau melatih tentara. di sana kelihatan dua bocah berlari-lari mendatangi sambil berpegangan tangan. tempo masih sangat muda mereka juga telah mengangkat saudara. tetapi sekarang menyaksikan doyannya tidur mereka. ―Dan dia menghadiahkan ini padaku. ia berseru: ―Apakah kau pandang enteng pangkat yang diberikan kerajaan Kim yang besar?!‖ Temuchin tahu diri.‖ sahut Tuli. ia menajdi tenang. ―Ayah!‖ panggil Tuli kapan ia tiba di depan ayahnya itu. Temuchin lihat kalung emas yang biasa dipakai oleh putra itu. Temuchin girang sekali dengan jawaban itu.

untuk bersiap sedia. Sangum adalah berkulit putih.‖ sahut di juru warta.‖ berkata Mukhali kepada Temuchin. apakah hari ini kita mesti lepaskan saja pada mereka?‖ Temuchin melihat sekitarnya. ―Adik. barulah mereka dipapak oleh wakilnya Wang Khan. disusul sama dua kali cambukan ke udara dari cambuknya. ―Bangsa Naiman itu sering merampas binatang piaraan kita. mereka juga menghendaki anugerah itu. Sangum bersama Jamukha. ―Biarlah kedua putra raja Kim yang besar ini melihat sepak terjang kita!‖ Ia pun lantas bersiul nyaring satu kali. Justru itu dua serdadunya Temuchin yang bertugas jalan dimuka sekali. Dilain pihak. Hbais itu semua putra Temuchin menemui dan mengasih hormat kepada paman angkatnya itu. hatinya goncang.‖ Wanyen Yung Chi teriaki saudaranya. atas mana tentara Mongolia menyambut dengan seruan perang mereka berulangkali. ia lantas maju ke depan. Mereka bilang. Wanyen Yung Chi terkejut. apabila mereka tidak diberi anugerah. Mukhali larikan kudanya ke depan. akan tetapi sepasang matanya sangat tajam dan berpengaruh. ―Saudara. dia tidak mirip dengan seorang yang dibesarkan di gurun pasir. lari balik dengan laporannya bahwa di sebelah depan ada menghalang tentaranya bangsa Naiman yang berjumlah tiga puluh ribu jiwa. wajahnya berubah. Berselang tidak lama. Mukhali telah kembali dengan laporannya: ―Bangsa Naiman mendengar putra raja kerajaan Kim datang menganugrahkan Khan kami yang terbesar. Kapan Temuchin dengar Jamukha ada bersama Sangum. yang mengutus putranya. dan musuh segera mulai tampak. Dengan membawa sepuluh pengiring. Maka itu. ―Pergilah kau tanya mereka!‖ ia perintahkan Mukhali. maka keduanya lantas berpelukan. ―Hendak apakah mereka itu?‖ dia tanya. Segera terlihat debu mengepul di sebelah depan. Karena hal ini. akan temui saudara angkatnya itu. mereka terperanjat. Irawan D Soedradjat Page 85 . ia lantas perintahkan tentaranya lekas siap. Mendengar itu barulah Yung Chi sadar dan manggut-manggut. sesudah jalan enam hari. menandakan ketangkasannya. lagi kira setengah jam barulah tentara Kim itu siap berangkat. rombongan ini sudah mendekati tempat kediaman Wang Khan. Wanyen Lieh sebaliknya segera mengatur pasukan perangnya. tetapi ia mencoba mengendalikan diri. ―Lekas suruh tentara kita maju! Ini orang-orang Mongol tidak ada gunanya!‖ ―Biarlah mereka yang bertempur lebih dulu. Wanyen Lieh lihat Jamukha bertubuh jangkung kurus. Temuchin tidak beri kesempatan untuk orang bicara lebih banyak. ia telah lantas dapat memikirkannya. tubuhnya gemuk. ―Jumlahnya mereka agaknya lebih banyak dari jumlah kita…‖ kata Yung Chi tidak lancar. mereka sangat suka mengganggu.‖ Wanyen Yung Chi menjadi kaget. Jalan lagi satu hari. Wanyen Yung Chi sebaliknya tunjuki tingkah polahnya satu putra raja. mereka hendak tangkap dan tahan kedua putra raja Kim.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Lieh lihat tentaranya Mongolia demikian rapi. Tentara terdepan dari pihak Mongol sebaliknya telah mundur kepada barisan mereka. Dua saudara Wanyen tidak menyangka mendengar itu dan dan menyaksikan sikap orang. habis mana dengan perlahan-lahan juga ia naik ke atas kudanya. ―Kakak. ―Kelihatannya mereka hendak menyerang.‖ katanya.‖ Wanyen Lieh membisiki kakaknya. tanda dari hidup senang dan dimanjakan. Pasukan perang itu menuju ke utara. pasukan ini jadi tertunda keberangkatannya. denagn ayal-ayalan ia minum araknya dan dahar kue. kumis kuningnya jarang.

apakah dengan begitu dapat tentara musuh dibikin mundur?‖ berkata Yung Chi. benda tebal itu dipasang di depan mereka dengan diri mereka teraling. Sesudah itu. Atas ini. Jamukha bersama Sangum menyerang dari kiri dan kanan. musuh lantas lari serabutan. sambil mengertak gigi. Wanyen Yung Chi dapat lihat wajah tentara Naiman itu sangat bengis. dari tempat yang lebih tinggi. Sekali ini serempak berhentilah seruan-seruan peperangan tentara Mongol itu. Bersama-sama Kwee Ceng. maju di paling muka. Kepala perang Naiman rupanya melihat kedudukannya tak selayaknya. mereka lantas menghujani anak panah. merka menggunai anak panah. suaranya nyaring. Dalam tempo yang cepat sekali. baru ia memegat. mereka tetap berteriak-teriak saja. Kau lihat bagaimana kami nanti menghajar musuh!‖ Tuli mengangguk. musuh terbinasa dan luka seribu lebih. Musuh menjadi kecil nyalinya. Sebagai orang baru. tertawan dua ribu lebih. jumlah mereka dua ribu lebih dipecah empat yang sebagian diserahkan kepada dua saudara Wanyen.Pendekar Pemanah Rajawali Tentara Mongol masih perdengarkan suara mereka yang nyaring tetapi mereka tidak bergeming. Tentara Kim menurut titah. semuanya jatuh di hadapan mereka itu. mereka turun dari kuda mereka dan menyerah. Itu waktu Boroul berada di samping kiri. Temuchin titahkan loloskan seragam tentara Naiman itu. Di pihak Mongolia. ia memimpin untuk mencoba merampas kedudukan itu. walaupun demikian. Ia khawatir tentara Naiman nanti keburu mendahulukan menyerbu kepada mareka. Hanya sementara itu. Dalam tempo yang pendek. guna menduduki tempat yang bagus. barisan belakang Naiman menjadi kalu. jangan kau ketinggalan. ia berkata kepada Tuli: ―Pangeran kecil. pergi kau serbu bagian belakangnya!‖ Jelmi menerima titah itu. tentara Mongol tetap tidak bergerak. Selagi kepala perang Naiman bersangsi. Siwaktu itu. Karena ini adalah penyerangan dari jauh. Ia ambil jalan memotong. karena orang datang semakin dekat. hanya sesudah musuh tinggal kira-kira dua ribu jiwa lebih. ―Lepas panah!‖ ia mengasih titah. Jebe dengan tombak panjang di tangan. Jarak di antara kedua pihak masih cukup jauh. ia biarkan mereka dihajar oleh kawan-kawannya. penyerangan panah dilanjuti. tentara mereka mengikuti untuk turut ambil kedudukan bagus itu. Hampir semua panah mereka yang gagal. Ia mendekam di bebokong kudanya. ia pergi dengan seribu serdadunya. yang sebaliknya lalu membagi diri dalam dua sayap. mereka kepraki kuda mereka untuk menerjang. Yung berkhawatir pula. Mau tidak mau. Wanyen Lieh menjadi heran. cambuknya Temuchin mengalun pula di tengah udara. dengan membawa goloknya yang besar. kematian dan luka Cuma seratus lebih. Sebagi kesudahan pertempuran. yang membuat musuh kacau. ―Taruh kata kamu berterika-teriak hingga langit bergerak bumi bergoyang. Jelmi tidak merintangi musuh lari terus. ia telad tentaranya ialah berkoak-koak dengan seruan peperangan. tentara musuh sudah datang dekat beberapa ratus tindak. untuk kembali ke jalan darimana tadi mereka datang. Temuchin dari tempat yang tinggi menyaksikan penyerangan pihaknya itu. yang sebagian untuk Wang Khan. anak panahnya tentara Kim ini tidak sampai kepada musuh. yang sebagian untuk Irawan D Soedradjat Page 86 . lantas ia berikan titahnya: ―Jelmi. keduanya ini lantas lari ke tanah tinggi di samping mereka. masing-masing dipimpin Temuchin sendiri berdua dengan Jamukha. Tentara Mongol membuat tembok bentengan yang terdiri dari semacam permadani. Kejadian ini membingungkan pasukan yang berada di sebelah depan. Siasatnya ini memberi hasil. kau turut aku. mereka lantas menyerang tentara Naiman. ia ingin membuat jasa.

―Hajar pula padanya!‖ Akan tetapi juru warta Mongol datang dengan wartanya: ―Wang Khan sendiri datang dengan pasukan perangnya!‖ Mendengar itu Temuchin bersama Jamukha dan Sangum lantas pergi menyambut. guna membalas menghormat. Ramai sekali pesta itu. Wanyen Lieh berpikir apabila ia dapatkan di dalam segala hal Wang Khan ada lebih unggul dari Temuchin. Setelah selesai upacara penganugerahan. ―Kalau Temuchin dan Jamukha bisa persatukan pelbagai suku bangsa Mongol itu. pendekar tua. ―Dia mana dapat dibandingkan dengan kedua anak angkatku? Irawan D Soedradjat Page 87 . yang Cuma rangkap kedua tangannya dari atas kuda.. itu artinya negaraku tak aman lagi…‖ Oleh karena ini. Dia mengenakan jubah hitam dari kulit binatang tiauw dengan pinggang dilibat ikat pinggang emas. sudah sewajarnya dialah yang nanti menggantikan aku memimpin suku kita. Dengan jumlah yang lebih kecil. saban-saban ia cegluk arakanya dari cawannya yang besar. di depan kuda dua saudara ini. maka kami bangsa Kim di Utara dapat merasai aman sentosa. Untuk serdadu-serdadunya yang terbinasa. ia lihat ketidakpuasaan orang.‖ ia berpikir. Ia menginsyafi ancaman bahaya dari pihak ini. ―Jikalau aku telah menutup mata nanti. Wanyen Lieh sebaliknya gentar hatinya. Wanyen Lieh memasang mata kepada Wang Khan. ―Oleh karena khawatir kedua pangeran kaget maka hamba datang bersama tentaraku ini. Itulah tanda dari datangnya lagi satu pasukan perang. ―Dengan orang Mongol saling bunuh. ―Kenapa loo-enghiong tidak menyebut-nyebut dia?‖ Sengaja pangeran Kim ini memanggil loo-enghiong. Wang Khan tiba untuk lantas lompatb turun dari kudanya. ―Putramu terlebih gagah lagi. dan tentaranya kuat. Wanyen Lieh berkata: ―Aku ingin menyaksikan orang-orang gagah perkasa bangsa Mongolia. Wang Khan undung kedua utusan Kim itu datang ke tendanya. dengan gembira ia rundingkan itu. Nampaknya ia keren sekali. Tengah berpesta.‖ berkata Wang Khan sambil tertawa. Tidak heran kalau Khan ini menjagoi di Utara. Syukur ketiga anak-anakku telah dapat membinasakan mereka!‖ Lantas dengan hormat sekali. yang tubuhnya gemuk.‖ ia puji putra Khan itu. Wanyen Lieh awas matanya. kumis dan jenggotnya telah putih bagaikan perak. Temuchin dan Jamukha telah kalahkan musuhnya yang lebih besar jumlahnya.‖ ―Dua anak angkatku ini adalah orang-orang gagah perkasa bangsa Mongol.‖ berkata Wang Khan sambil tertawa seraya menunjuk ke arah Temuchin dan Jamukha. Itu waktu terlihat pula debu mengepul jauh di sebelah depan. untuk berjalan kaki menemui dua saudara Wanyen. Sangum tidak puas mendengar perkataan ayahnya itu.‖ berkata Wang Khan.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha san yang sisanya untuk dirinya sendiri. untuk mengendalikan diri. malam itu Wang Khan jamu tetamunya. ―Hamba dengar bangsa Naiman hendak berbuat kurang ajar. kepada Khan itu. Segera Wanyen Lieh turun dari kudanya. ia menjadi berpikir keras. Baru sekarang Wanyen Yung Chi sadar atas caranya bangsa Mongol itu berperang. ―Bagus!‖ berseru Wanyen Yung Chi. banyak suka lainnya yang takluk padanya. ia menjalankan kehormatan. Ia menyuguhkan nyanyian dan tari-tarian oleh budak-budak wanitanya. terus ia tuntun Temuchin dan Jamukha di tangan kiri dan kanannya. Tidak demikian dengan Wanyen Yung Chi. ia memberi keluarganya lima ekor kuda serta empat tawanan Naiman sebagai budak.

tiba-tiba Sangum berseru: ―Kau cuma kepala komponi yang rendah pangkatnya. mencegah orang minum arak adalah satu penghinaan besar. Yang pertama adalah satu orang yang romannya lemah lembut.‖ ―Suruhlah mereka masuk kemari!‖ Wang Khan berkata pula pada Temuchin. Dialah Mukhali yang pandai mengatur tentara. Jebe sudah lantas muncul. Dengan mata bengis Jebe awasi Sangum. ia tidak menjawab. Diberikan arak. ia berkata pula: ―Tadi di medan perang. dia menerjang musuh bukan main gagahnya. untuk itu adalah ayah angkatku dan saudara angkatku yang membantu aku merampas pulang. Maka itu Temuchin berpikir: ―Dengan memandang ayah angkat. den Temuchin gagah tak tertandingkan. Dan yang keempat ada seorang yang dengan seluruh lengannya bercacat bekas bacokan golok. ia haturkan secawan arak pada masing-masingnya. ia adalah Boroul.‖ katanya kemudian. Jebe tidak ambil peduli. ―Coba suruh dia masuk kemari untuk minum satu cangkir.‖ Wanyen Lieh minta. Yang ketiga ada berpotongan kecil dan kate tetapi gesit gerakkannya.‖ Temuchin menjawab. Denga perlahan-lahan Temuchin tepuk-tepuk tangannya. ―Pernah bangsa Naiman rampas beberapa laksa binatang ternakku. ―Apakah kegunaanku?‖ Temuchin lekas berkata. Merekalah orang-orang peperangan yang berjasa membangun negara Mongolia yang Temuchin sendiri menyebutnya empat panglima gagah. ―Kau kembali!‖ Sangum memanggil dengan membentak. ―Mana mereka itu? Aku ingin melihatnya. yaitu Borchu. segera setelah itu empat perwira masuk ke dalam tenda. apapula dilakukan di muka orang banyak. kasih aku yang minum!‖ Ia ambil cawan itu dari tangannya punggawanya itu. Ketika ia hendak hirup araknya itu. dengan begitu semua binatang itu dapat dirampas pulang. ia lantas mengawasi Temuchin. biar aku kasih dia ampun. pemimpin komponiku yang baru. ―Syukur Temuchin kirim empat panglimanya untuk membantu aku. Dengan tangan kosong Temuchin bakal membangun negara. Batal ia minum.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha pandai dan cerdik. Orang gagah yang mana yang tidak bakal menjual jiwanya untuk Temuchin?‖ ―Apakah sebawahan loo-engjiong tak dapat melawan dia?‖ Wanyen Lieh tanya. Wang Khan urut kumisnya. ia lantas tenggak isinya. ia beri titah untuk memanggil Jebe. Temuchin lirik putra raja Kim ini. ―Istriku dirampas orang.‖ ―Bagaimana dengan empat panglimamu yang kesohor gagah itu?‖ Wanyen Lieh tanya. ia bertindak terus seraya angkat kepalanya. Yang kedua ada bertubuh kekar dan sepasang matanya tajam seperti burung elang. yang mukanya merah bagai darah. air mukanya Sangum berubah. cara bagaimana kau beri minum dari cawan emasku?!‖ Jebe kaget berbareng murka. Menurut kebiasaan bangsa Mongol.‖ Mendengar itu. Temuchin meluluskan. yang kulitnya putih sekali. Dialah Chi‘laun yang dulu hari pernah tolongi Temuchin dari ancaman malapetaka. Siapakah dia?‖ ―Dia adalah Jebe. Ia lantas berhati-hati sendirinya. ia menghanturkan terima kasih. Irawan D Soedradjat Page 88 . Ia hanya menghirup araknya. Anakku? Ah…. ada satu panglima dengan seragam hitam. Habis orang minum.‖ ―Mari cawan itu! Aku berdahaga. ia letaki cangkir araknya dengan separuh dibanting.‖ Wanyen Lieh puji mereka itu satu persatu. terus ia bertindak keluar. Kata-kata orang ada mengandung pancingan atau unsur merenggangkan. Wanyen Lieh mengawasi. ialah sahabatnya Temuchin.

orang melengak. tetapi ia kata kepada Temuchin: ―Saudara Temuchin ada punya empat pendekar tetapi asal aku keluarkan satu makhluk. kopiah itu ia sadurkan kepada Jebe. Di terangnya api unggun. ia berkata: ―Minum arak saja pun kurang gembira. Ia lantas menghirup satu ceglukan. Jebe tentulah rela!‖ Irawan D Soedradjat Page 89 . ―Ambil arak!‖ ia menitah. Jelmi menurut dan menyerahkan kopiah itu dengan kedua tangannya. terus ia berkata dengan nyaring: ―Hari ini kita hajar bangsa Naiman hingga mereka dapatkan kekalahan besar. ―Apa siphu-thio!‖ berkata Temuchin. Ia mengerti bawahannya itu penasaran dan gusar. mereka tengah berminum. Temuchin Kha Khan dan Jamukha Khan yang memimpin kita menghajar mereka!‖ ―Hari ini aku telah lihat seseorang yang luar biasa beraninya yang sudah menyerbu ke belakang barisan musuh. ―Kita lagi gembira minum arak di sini. Ia angkat poci itu. semuanya lantas bangkit berdiri. isinya ia tuang ke dalam kopiah besi itu. Temuchin tersenyum. terus ia mencegluk beberapa kali. tetapi segera mereka mengerti. terus ia angkat kopiahnya itu tinggi-tinggi. ―Inilah kopiahku. maka dengan kegirangan mereka berseru: ―Jebe gagah berani. dengan sendirinya. mereka lantas bertempik sorak. habis itu. ―Sungguh satu manusia yang luar biasa!‖ pikir Wanyen Lieh. dengan begitu kamu semua telah bercape lelah…!‖ Tentara itu berteriak: ―Adalah Wang Khan. kau hendak mengacau apa lagi!‖ Wang Khan menegur putranya. bangsa Mongol telah menumpuk beberapa ratus api unggun. sejenak itu juga.Pendekar Pemanah Rajawali Sangum kecele. ―Biarpun cawan emas yang paling berharga di kolong langit ini. ―Sekarang hendak aku pakai ini sebagai gantinya cawan arak!‖ Ia buka tutp poci arak. Semua punggawa dan serdadu Mongol itu tahu Jebe telah menerima penghinaan. Temuchin menyambuti. sambil tekuk sebelah kakinya. Untuk sejenak. Dia lantas dibawakan satu poci besar. Terpaksa orang banyak turut keluar pula. ia ulurkan tangannya untuk menyambuti. untuk dipakai di kepalanya. akan tetapi menyaksikan sikapnya pemimpin mereka itu. ―Makhluk apakah itu?‖ Wanyen Yung Chi bertanya.‖ Temuchin berkata pula: ―Beruntun tiga kali dia menyerbu bolak-balik! Siapakah dia?!‖ ―Itulah Siphu-thio Jebe!‖ sahut banyak serdadu. tentu empat-empatnya mereka dapat dimakan habis dengan sekali telan!‖ ia pun tertawa dingin. Pekhu-thio itu menjadi sangat bersyukur. kapan mereka tampak Khan mereka muncul. Temuchin telah naiki pangkatnya Jebe menjadi pemimpin eskadron. Wanyen Yung Chi hendak melihat keramaian. ―Dia-lah pekhu-thio!‖ Dengan begitu. ―Kalau sekarang dia suruh Jebe mati.‖ Sangum mengajak. Di luar tenda. tidaklah itu dapat melawan kopiah besi dari Kha Khan ini!‖ katanya perlahan. Temuchin lihat wajahnya Jebe merah. yang aku pakai untuk membasmi musuh!‖ dia berkata dengan suara nyaring. mari kita melihat yang lainnya!‖ Ia pun lantas berbangkit dan bertindak keluar. Ia sambuti pulang kopiahnya itu. Ia tahu juga bagaimana mesti perlakukan orang polos demikian. ―Mari kita pergi keluar untuk melihatnya. dia pantas menjadi pekhu-thio!‖ ―Ambil kopiah perangku!‖ kata Temuchin kepada Jelmi.

Macam tutul baik tenaga maupun kegalakannya melebihi anjing pemburu. Dia berkata: ―Kita menggentarkan padang pasir. ―Kakak.‖ katanya. Tapi binatang ini sangat kuat makannya. Wanyen Yung Chi justru pikirkan saja kata-katanya Sangum tentang empat pahlawannya Temuchin. ―Empat pahlawanmu adalah orang-orang gagah. untuk diletaki di tangannya saudara angkat itu. ia lempari itu ke tanah. Adalah umum orang Mongol memelihara macam tutul. Sebab mereka itu adalah si pemelihara binatang buas itu. Lenyap kegembiraannya Yung Chi karena gagal menyaksikan pertandingan antara manusia lawan binatang liar itu. ia lants pulang ke tendanya untuk tidur. baru hatinya lega. jikalau mereka dapat dengan tangan kosong membinasakan dua ekor macanku ini. Mukhali tarik kawannya itu. tak dapat kau hilang muka! Nanti aku lawan macan tutul itu!‖ Wanyen Yung Chi menjadi sangat girang. keempat pahlawan menjadi sangat dongkol.Pendekar Pemanah Rajawali Beda dari saudaranya. kita telah membunuh cukup banyak. orang tak dapat memeliharanya. barulah aku sangat takluk kepadamu!‖ Mendengar ini. Sampai di situ. Chi‘laun yang paling keras tabiatnya. ―Asal kau menang. ―Tidak apa orang tertawakan kami. Chi‘laun tidak pandang cincin itu. tak sudi ia minum arak lebih jauh. ia tapinya diam saja. Pengiring itu menyahuti. Binatang itu dikalungi dengan kalung kulit dan setiap ekornya dituntun dua orang yang tubuhnya besar. ―Buat apakah mengepul menjadi orang gagah kalau dua ekor macanku saja takut dilawan?‖ Diantara empat pahlawan itu. Tentaranya Wang Khan lantas saja bersorak-sorai. ―Apakah emapt pahlawan saudara angkatnya Temuchin?‖ ia mengulangi. Ia suruh pengiringnya ambil kursi kulit harimau. kau menang!‖ Dan ia bertindak menjemputi cincin tadi. jalannya ayal-ayalan tetapi sikapnya sangat bengis. Sangum berpaling. Jamukha mengerutkan alis. Maka ia berkata: ―Aku menyayangi keempat pahlawanku sebagai jiwaku sendiri. cincin itu menjadi kepunyaanmu!‖ katanya. ―Khan yang maha besar. ia tertawa besar dan lama. ―Begitu?‖ ia mengejek. Temuchin juga bersikap tenang dan agung. cara bagaimana aku bisa biarkan mereka berkelahi sama macan tutul?‖ Sangum tertawa terbahak. untuk bicara perlahan sekali dengan satu pengiringnya. yang bulunya belang bertotolan. setelah mana kedua macam tutul itu sudah datang sekat api unggun. tetapi kau. Sangum masuki cincin itu ke jari tangannya. Sangum tersenyum. dua pasang matanya bersinar mencorot. Tidak selang lama lantas orang mendengar suara mengaumnya seekor binatang liar. Ia lantas bertindak maju ke depan. yang dipakai untuk berburu. Mereka dalam hati kecilnya berkata: ―Sudah kau hinakan Jebe. ia pertontonkan ke empat penjuru. empat pahlawannya itu mengundurkan diri. disusul mana munculnya binatang itu sendiri. yaitu dua ekor macam tutul yang besar. hingga ia dapat menelan keempat pahlawan?‖ dia tanya Sangum. ―Kau ada punya makhluk apa yang demikian hebat. ia hanya bertindak lagi. Irawan D Soedradjat Page 90 . dari itu kalau bukannya pangeran atau bangsawan.‖ kata Sangum kepada Temuchin. mereka itu masing-masing mencekal sebatang galah. terus ia mundurkan diri. sekarang kau hinakan kami juga. Ia angkat jari tangannya itu. Adakah kami babi hutan atau serigala maka kami hendak diadu sama macan tutulmu?‖ Juga Temuchin menjadi sangat tidak senang. Ia lantas loloskan sebuah cincinnya yang bermata berlian. Wanyen Yung Chi kaget hingga ia raba goloknya. tetapi macan tutul? bisakah binatang itu memimpin tentara? Bisakah binatang itu mengatur tentara bersembunyi dan mengurung musuh?‖ Temuchin pun segera berkata: ― Saudara Sangum. ―Mana dia empat pahlawan yang menggetarkan padang pasir itu?‖ Mukhali berempat lantas menghampirinya dan memberi hormat sambil menjura. membunuh musuh. di atas itu ia duduk bercokol.

Tepat kelinci itu terpanah perutnya. muncul serombongan anak-anak. ―Kau tidak takuti aku?‖ Tuli melengak. ―Hanya guruku tidak hendak melayani!‖ Tiba-tiba Tusaga maju dan tangannya melayang ke kuping orang. ―Ayahmu adalah hantu cilik yang nyalinya kecil. ―Kau berani membantah?!‖ dia membentak. ―Ayahku tidak takuti siapa juga!‖ ―Ibumu telah orang rampas. Sebaliknya Tuli tidak tahu suatu apa. ―Guruku tak takut harimau. yang merupakan rimba. ―Tadi malam ayahku keluarkan dua macan tutulnya. Bocah itu yang telah berhenti berlari berdiri sepasang alisnya. ―Kau maki siapa?!‖ tegurnya. Girang Tuli berdua. Mulainya Sangum dapat satu putri. matanya pun melotot. ―Akan aku beritahu ayahku!‖ katanya. anak-anak mereka tidak kenal satu sama lain. ―Fui!‖ bocah itu menghina. Tusaga tertawa terbahak. ―Apakah kau sangka aku tidak ketahui hal itu? Maka apa artinya kalau aku naru ambil ini kelinci kecil?‖ Memang dahulu hari Wang Khan telah bantu anak angkatnya itu. telah mendahului menyambar binatang itu. kau mengadu juga bisa apa?‖ katanya. apapula putranya itu masih kecil. Tuli bersama Kwee Ceng lantas mengejar dengan berteriak-teriak. Boroul adalah gurunya. ―Terang ini adalah kelinci liar!‖ Bocah itu galak. adalah ayahku dan kakekku yang pergi menolongi merampas pulang!‖ sahut Tusaga. satu yang berumur kira-kira sepuluh tahun. dia cabut anak panahnya dan lalu ia buang ke tanah. ―Panah ini toh kepunyaanku!‖ jawab Tuli. Meski begitu. Di antara empat pahlawan. hingga Tusaga menjadi kepala besar. ―Siapa yang bilang?!‖ ia tanya dengan bengis. Tuli gusar sekali. Kelinci itu lari serintasan. kelinci itu akulah yang memanahnya! Kenapa kau bawa lari?!― Bocah itu menoleh. tanpa terasa mereka bertindak semakin jauh dari tenda mereka. Sangum ingat baik-baik peristiwa itu dan menceritakan kepada orang lain hingga Tusaga yang masih kecil mendapat tahu juga. ―Ayahmu takuti ayahku. dia juga takuti ayahku!‖ Bocah itu adalah Tusaga. barulah ia dapatkan putranya ini. dengan sangat sebat. sebab Temuchin anggap hal itu memalukan dan tidak pernah memberitahukan putranya. dia lari bersama bangkai kelinci itu! Tuli lantas berteriak: „Eh. Tapi tenaganya Tuli sangat terbatas. Justru itu dari samping mereka. karenanya. ―Siapa yang bilang. ―Kelinci ini adalah piaraanku!‖ dia kata. Ia tidak sangka orang berani pukul padanya. ―Sudah bagus aku tidak minta ganti rugi!‖ ―Tidak tahu malu!‖ bentak Tuli. Tiba-tiba ada seekor kelinci putih lari lewat di samping mereka. Irawan D Soedradjat Page 91 .Pendekar Pemanah Rajawali Besok paginya Tuli dan Kwee Ceng dengan bergandengan tangan pergi bermain. empat pahlawan dari ayahmu lantas tak berni bergiming!‖ Tuli bertambah gusar. selang lama. putranya ini sangat disayangi dan dimanjakan. ―Kakekku ialah Wang Khan! Ayahku ialah Sangum! kau tahu tidak?! Taruh kata benar kelinci kaulah kau yang panahm kalau aku hendak ambil. lantas ia roboh dengan sendirinya. lalu ia tidak punya anak lain lagi. Ia putar tubuhnya untuk berlalu. habis bagaimana?!‖ ―Ayahku Temuchin!‖ kata Tuli dengan sama jumbawanya. Temuchin telah berpisah lama dengan Wang Khan dan Sangum. dia tertawa. kemudian setelah ia mengawasi Tuli berdua. Karena itu. ia menghampiri Tuli dan mendorong pundak orang. putra tunggal dari Sangum atau cucunya Wang Khan. kelinci itu masih dapat lari terus dengan bawa anak panah yang nancap diperutnya itu. kau yang memanah?‖ tanyanya. apapula segala macan tutul!‖ serunya sengit. mereka lompat maju untuk menubruk. Tuli gusar sekali yang ayahnya diperhina orang. Tuli keluarkan panah kecilnya dan memanah. dia takuti kakekku.

ia kata nyaring: ―Tidak malukah kamu?! Lekas lepaskan mereka!‖ ―Minggir! Jangan banyak omong disini!‖ bentak Tusaga. Anak-anak itu pun lantas maju. maka itu. tidak ampun lagi dia roboh terjengkang. aku kasih ampun!‖ Kwee Ceng berontak. ―Kejar!‖ Ia ajak kawan-kawannya mengubar. Tubuh Kwee Ceng diduduki Tusaga. dari kejauhan ada terdengar kelenengan unta. kepalan dan kaki digunakan semua. tertawa apabila ia lihat bocah-bocah itu sedang berkelahi. ia menyempar hingga orang berguling.‖ ―Kau lihat sendiri. Salah satu diantaranya yang menunggang kuda putih. Han Siauw Eng adalah si nona. dia termanjakan. dan merekapun berjumlah lebih banyak orang. ―Hajar lagi padanya!‖ Tusaga memberi komando. Pihaknya kebanyakan terlebih tua usianya. ia lari. kau lihat sendiri!‖ kata orang yang dipanggil shako itu – shako – kakak nomor tiga. dia pun turut menyerbu. Kemudian dengan tarik tangannya Kwee ceng. ia lompat turun dari kudanya. ―Lepas tanganmu!‖ Ketika itu telah tiba beberapa yang lainnya. sebentar saja Kwee Ceng dan Tuli kena dipukul jatuh. Tusaga murka sekali. apabila ia telah melihat denagn tegas. ia tak dapat bergerak. dua bocah itu telah babak-belur dan matang biru mukanya. mereka itu kembali kena dikurung. ia heran. Justru ia melengek. ―Bagus!‖ dia bersorak. nanti kita tak dapat menanyai orang!‖ Itu waktu Tusaga beramai telah dapat candak Tuli berdua. Tuli dengan mata bersinar hawa amarah. kau galak sekali!‖ kata penunggang kuda itu. yang pun bengal dan gemar berkelahi. sia-sia saja. selama itu tidak pernah mereka dengar halnya si orang she Toan itu. lalu ditepi sungai tertampak rombongan pedagang dari gurun pasir. Maka itu ia menjadi besar kepala. ditindih oleh dua lawan. siapapun tidak berani lawan padanya. amri kita melanjutkan perjalanan. Kwee Ceng berontak dan loloskan dirinya seraya lompat bangun juga. ―Bagus! Kamu lagi berkelahi!‖ katanya. Rombongan kalifah itu terdiri antaranya dari Kanglam Cit Koay. mereka menyusul hingga ke gurun pasir. lalu ditindihkan. Mereka ingat masa kecilnya mereka. Kawan-kawannya Tusaga tidak tinggal diam dan mengejar. Mereka semua mengerti bahasa Mongol. lalu satu nona berkata: ―Shako. Mereka dengar Toan Thian Tek kabur ke utara. Untuk enam tahun lamanya mereka mondar-mandir. dia merayap bangun. lalu bersama kawannya ia angkat kaki! ―Kejar!‖ teriak Tusaga gusar. menggelengkan kepala. mereka lantas jadi berkelahi bergumul. sembari memukul bebokong orang. itu tujuh Manusia Aneh dari Kanglam. Dia maju dan seruduk perutnya Tusaga! Putranya Sangum juga tidak menyangka-nyangka. dia ini berkata: ―Kau menyerah. tak malukah kamu?!‖ tegurnya. Tapi kapan ia telah datang dekat dan lihat dua anak dikepung beramai. Kanglam Cit Koay pada tersenyum. ―Kita jangan bikin pasar keburu bubar. ia tarik dua bocah yang mengerubuti Tuli. Dalam saat tegang dari bocah-bocah ini.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee ceng panas hati semenjak tadi. Dia adalah putranya satu jago di Utara. ―Menyerah atau tidak?‖Tusaga tanya. Tuli lompat bangun begitu lekas ia merasai tubuhnya enteng. ―Dua mengepung satu. Tusaga menyaksikan kejadian itu. sekarang ia tidak dapat mengatasi pula dirinya. Tuli tertawa seraya tepuk-tepuk tangan. ―Hai anak. Tuli pun tak dapat bergeming. ―Hayolah jalan!‖ berkata Kwa Tin Ok. jangan usilan. Irawan D Soedradjat Page 92 .

kecuali Kwee Ceng yang dilehernya pun berkalung gelang emas yang indah.‖ Bab 9. Kim Hoat berdiam.‖ ia berpikir. Irawan D Soedradjat Page 93 . ―Bagus!‖ ia segera memuji. Kemudian dia bertanya pula pada kakaknya yang tertua. ―Dia tentu curi itu untuk dibuat main. ia susul kawan-kawannya. ―Mestinya bocah ini telah curi senjata ayahnya. untuk sang putra yang simpan. ini namanya orang Han!‖ katanya.Pendekar Pemanah Rajawali Tiba-tiba sebuah benda berkelebat di tangannya Kwee Ceng. maka itu matanya tak pernah salah. satu anak kecil. sambil tertawa berkakakan. Bukannya tak halal kalau aku ambil barangnya orang bansawan…‖ Dengan timbul keinginannya akan punyai belati itu. dari itu. ―Benda itu pasti mustika adanya. bagaikan sinar bianglala. Kenapa sebuah mustika berada di tangan satu bocah? Ia jadi awasi Kwee Ceng begitu pun semua bocah lainnya. jangan berkelahi!‖ katanya. istrinya Yo Tiat Sim. Semua mereka mengenakan kulit binatang yang mahal. Jadi mereka mestinya adalah anak-anak bangsawan Mongolia. tak dapat kau ubah tabiatmu yang suka mencopet itu!‖ kata Siauw Bie To Thio A Seng. Nyata ia mencekal sebatang pisau belati. walaupun kangzusi. tentu saja Kanglam Cit Koay tidak kenal nama Yo Kang itu. senjata peninggalan suaminya itu ia serahkan kepada sang putra. melemparkan. yang telah larikan kudanya. hingga semua Kanglam Cit Koay heran dan memuji. Cu Cong ayun tangannya. Si Mayat Perunggu dan Si Mayat Besi Untuk sesaat. Kemudian ia lihat gagangnya pisau. benda apakah itu…‖ Maka itu ia larikan kudanya ke arah anak-anak itu hingga ia menampak Kwee Ceng dengan belati di tangan.‖ si setan tangan ulung berpikir pula.. Yo Kang itu adalah nama yang Khu Cie Kee berikan untuk anak yang masih ada dalam kandungannya Pauw Sek Yok. pasti dapat senjatanya dirampasnya. ia menjadi heran. ―Perlu aku lihat. Banyak sudah ia mencuri barang-barang berharga kepunyaan pembesar rakus atau hartawan jahat. Tusaga semua tidak berani maju. Kim Hoat pun merasa memegang benda yang rasanya dingin. Menampak orang bersenjata. Biauw Ciu Si-seng Cu Cong. atau sekejap saja belati di tangan Kwee Ceng telah pindah ke dalam cekalannya. ―Jieko. Ia mengharap pisau belati itu. Tiat Sim dan Siauw Thian telah saling mengasih tanda mata belati yang terukir nama Yo Kang dan Kwee Ceng. ―Eh. ―Tak jelek untungku hari ini. ia jadi terperanjat.‖ minta Lauw-sie In Hiap Coan Kim Hoat. Jangan kata baharu Kwee Ceng. Ia lompat pula untuk naik ke atas kudanya. ―Toako. ―Siapa berani maju!‖ ia berseru.com orang kosen lainnya. Cu Cong lompat turun dari kudanya. ―Jangan berkelahi. Bersinar berkilau belati itu diantara sinar matahari.Siapa tak gagah tak pantas ia mempunyai belati ini…. batu mana terus terbabat kutung. Ia dapatkan ukiran dua huruf ― Yo kang‖. aku dapat mustika!‖ kata ia. ―Kenapa belati ini terjatuh ke dalam tangan orang Mongol? Yo Kang? Yo Kang? Tidak pernah aku dengar orang gagah dengan nama ini…. lihat sinar berkelebat berkilau itu. ―Hayolah kamu baik-baik bermain…!‖ Ia menyelip di antara bocah-bocah itu. Lie Peng menyayangi putranya. ―Mustika apakah itu? Mari kasih aku lihat. sikapnya gagah sekali. lalu tangannya menyambar ke batu di dekatnya. dia dekati semua bocah itu sambil ia tertawa haha-hihi. takukah kau siapa Yo Kang?‖ ―Yo Kang? Tak pernah aku dengar nama itu…‖ jawab Tin Ok. ia manjadi heran. sebagai mustika dapat mengusir pengaruh-pengaruh jahat.

mendadak ia rasai tubuhnya menggetar. ―Mari antar aku kepada ibumu. tak dapat ia menjawab. ―Gampang untuk pulangi padamu!‖ kata Cu Cong sambil tertawa. Tin Ok mempunyai kupingnya paling lihay pendengarannya dibandingkan dengan saudara-saudaranya. ia tak berani berkelahi terus. ―Kwee Ceng. Bukan kepalang girangnya Tin Ok. kakaknya yang nomor tiga. Maukah kau?‖ ia tanya lagi.‖ sahutnya. dengan siapa ia paling erat hubungannya. dan kemudian ia langsung tarik beberapa bocah dan balingkan mereka ke pinggiran. cepat. Kwee ceng dengan muka berlumuran darah. tanpa bersangsi pula. ―Mari kasih pulang!‖ katanya. Kwee menggeleng-gelengkan kepalanya pula. akan susul rombongan kalifah yang mereka ikuti. mengulurkan tangannya pada Cu Cong. kalau sebentar ia pulang. seraya tangannya mencekal belati orang. maka itu Cu Cong lantas serahkan belati itu kembali kepada Kwee Ceng. ―Apakah she ayahmu?‖ Cu Cong tanya pula. mereka pegang satu kepercayaan sekalipun terhadap satu bocah. ―Pergilah kau pulang. ―Eh. apakah kau bernama Kwee Ceng?‖ ia tanya dengan sabar.‖ Lantas Cit Koay berangkat. Han Po Kie mempunyai kuda yang paling gesit. Cit Koay belum jalan jauh.Pendekar Pemanah Rajawali Coan Kim Hoat sabar dan teliti. mereka menjadi putus asa. hendak ia meminta bantuan Ogatai. ia putar kudanya akan kembali kepada si bocah. mereka jadi bersemangat. sedang Han Siauw Eng keluarkan sapu tangannya. Bocah itu melengak. Ia sudah lantas memikir. ia berpikir terus. untuk susuti orang punya darah di hidung. Tusaga lihat orang kuat.‖ Kwee Ceng menjawab. Kwee Ceng menjublak mengawasi orang pergi. mereka tak hendak melepaskannya dengan begitu saja. Tapi ia tuding Tuli dan menantang: ―Dua ekor anjing cilik. sekarang mereka dapati ada titik terang. Entah Yo Kang ini ada hubungannya sama Yo Tiat Sim atau tidak…‖ Enam tahun sudah tujuh saudara ini merantau di gurun apsir tanpa ada hasilnya. ia dengar panggilan ―Kwee Ceng‖ dari Tuli. ―Siapakah nama ibumu?‖ tanya pula. ―Ibuku yang berikan padaku. ―Marilah kita tanya bocah itu!‖ Siauw Eng mengusulkan. Kwee Ceng menberikan penyahutan yang membenarkan. sedang kakaknya itupun kuat. Kanglam Cit Koay paling menjunjung kehormatan. jikalau kau berani. Ia berkata kemudian: ―Orang yang khu Totiang cari adalah istrinya Yo Tiat Sim. besok kita bertempur pula disini!‖ ―Baik. Irawan D Soedradjat Page Tin Ok menggaruk-garuk kepalanya. Ia tak punya ayah. Ia penasaran. ia mendahului berlari kepada kawanan bocah itu yang telah kembali bergumul berkelahi. Cit Koay lihat orang rada tolol. Ia percaya Ogagati akan suka membantu padanya. Tapi kau mesti omong dulu biar terang. besok kita bertempur pula disini!‖ Tuli terima tantangan itu. . Dengan berani ia minta belatinya kembali. Ia berteriak-teriak menyuruh mereka berhenti berkelahi.‖ katanya dengan halus dan ramah. mari pulang!‖ Tuli lantas mengajak. anak. Kemudian ia menggeleng kepalanya. ―Apakah kau she Yo?‖ Coan Kim Hoat kemudian menanya. tetapi ia tidak dipedulikan.. ―Lain kali jangan kau berkelahi pula. Lantas ia ingat akan sesuatu. maka ia turun dari kudanya. darimana kau peroleh belati ini?‖ Dengan tangan bajunya Kwee ceng susuti darah yang masih mengalir dari hidungnya. 94 ―Ibu ialah ibu….

‖ Siauw Eng lompat turun dari kudanya dan ia menghampiri bocah itu. untuk halangi tangan adiknya. malah roman mukanya dan potongan tubuhnya. mereka mendelong. mereka merasa lucu dan heran. tunggu dulu. yang sudah rangkul Lam Hie Jin. Ia bernafsu. ―Adik kecil. Tuli dan Kwee Ceng berhenti berlari. ―Aku mau pulang. ―Aku akan main sulap untuk kamu!‖ katanya sembari tertawa. Kedua bocah itu heran. eh. ―Cit moay. mereka berdiam mengawasi. sedang Kwa Tin Ok memuji kepada Thian. Ia pun telah memberitahukannya berulangkali. Ia hendak cari kakaknya yang ketiga.‖ Kwee ceng berkata kepada Han Siauw Eng.!‖ Melihat sikap orang yang luar biasa. sementara si cebol Han Po Kie jumpalitan si atas kudanya. ―Siapakah namanya itu orang yang membunuh ayahmu?!‖ Tin Ok turt tanya. kaulah ynag tanya dia. Cu Cong lari untuk susul kedua bocah itu.. si nona Han sampai berseru. Tin Ok dengar suara yang tak simpatik. di dalam situ ada tiga butir batu itu. Tuli dan Kwee Ceng mengawasi. ―Mari pulang!‖ mengajak Tuli. yang tepuk kopiahnya. batu itu telah lenyap. mereka lantas lari. ―Shatee. Ia tarik tangannya Tuli dan ia putari tubuhnya. ―Kau tak dapat pergi! Biarkan sahabatmu pulang lebih dulu. untuk berjalan pergi. ―Mana ayahmu?‖ dia tanya. putranya itu sudah tahu segala sesuatunya. ia batal membekuk bocah itu. ―Orang telah celakai ayahku hingga terbinasa. untuk sambar pundaknya Kwee Ceng. jiwanya terancam bayaha sembarang waktu. suaranya dingin. sikapnya manis.‖ sahut bocah itu.‖ bocah itu menjawab. Terus ia buka kopiahnya itu. hingga suaranya sedikit menggetar. hingga Kwee Ceng ingat semua itu. Po Kie berlompat. Kemudian dia berkata kepada adiknya paling kecil. Kapan ia membuka kepalan tangannya. ia lantas jemput tiga butir batu kecil. suaranya tetap ramah. Nyonya Kwee tahu. Cit Koay girang bukan kepalang. untuk ajaki saudarany itu besok membantui ia melawan Tusaga.‖ Po Kie memanggil.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ibuku tidak ada disini. mari duduk. ―Eh. Kwee Ceng jawab: ―Dia bernama Toan Thian Tek!‖ Memang Lie Peng telah memberitahukan kepada anaknya itu she dan namanya Thian Tek. Sambil kertak gigi. hendak aku cari musuh itu untuk membalaskan sakit hati ayahku!‖ ―Apakah namanya ayahmu itu?‖ Siauw Eng tanya pula. Lucunya adalah Thio A Seng. ―Nelusup masuk!‖ seru Cu Cong. Irawan D Soedradjat Page 95 . Cu Cong genggam ketiga batu itu di telapak tangan kanannya. dua bocah itu menjadi takut. supaya apabila ada terjadi sesautu atas dirinya. maka itu ia telah berikan penjelasan kepada anaknya. Po Kie heran. ―Nanti kalau aku sudah besar. Kwee Ceng menggoyang kepala. Ia pun bergerak. mari kita bicara perlahan-lahan…‖ nona Han berkata dengan suaranya ynag tetap ramah. jangan semberono!‖ Cu Cong cegah adiknya yang nomor tiga itu. ―Menghilanglah!‖ ia berseru.

panahnya Tin Ok sudah meleset.‖ ―Besok kita bakal berkelahi pula. Itu waktu terdengar suara belibis mendatangi. hendak diserahkan pada Kwa Tin Ok. suaranya tetap dingin: ―Kalau kau bertemu dengan sama Toan Thian Tek. itulah tidak ada faedahnya. ―Kau tidak belajar ilmu kepandaian.‖ kata Tuli. untuk balaskan dendaman ayahku!‖ sahutnya. ―Mereka itu yang serang kami duluan. ―Ibuku bilang. ―Hm. kau ajarkanlah aku!‖ Cu Cong awasi Kwee Ceng. burung itu terpanah batang lehernya dan bersama anak panahnya. ―Minta bantuan kakakmu?‖ kata Cu Cong. Kedua matanya Kwee Ceng bersinar. ―Kalau aku belajar kepandaian untuk memukul orang. ―Aku tidak percaya. aku tanggung besok kamu bakal dapat kalahkan mereka.‖ ―Kami berdua dapat kalahkan mereka berdelapan?‖ tegaskan Tuli. ―Mau main petak umpat?‖ tanyanya tertawa. dia agaknya tidak tertarik. Tuli girang sekali. ―Akan aku bunuh dia. membuat burung-burung itu menjadi kaget. ia ikat matanya orang she Kwa itu. ―Apakah kau tidak ingin belajar?‖ ia tanya bocah itu. yang dapat pikiran baru. ―Ayahmu pandai silat. ia dapat panah burung belibis itu. mereka menjadi tertarik. kenapa tadi kamu berkelahi?‖ Cu Cong tanya lagi. ―Tadi mereka bertujuh atau berdelapan mengerubuti kamu berdua. aku akan minta bantuan kakakku.‖ Ia terus serahkan gendewa dan anak panah kepada kakaknya. lalu tertampak burungnya terbang mendatangi dalam dua rombongan. ―Coba kamu ada punya kepandaian. ―Akan aku suruh toako main sulap.‖ kata Tuli.‖ Tuli menurut. ―Tanpa mata. ia kata: ―Kau tutup matanya.‖ ―Hm. ―Baik! Nah. kamu tidak usah takut lagi kepada mereka. bagaimana kau dapat membalas dendam?‖ Kwee Ceng tercengang. sambil menunjuk kepada Kwa Tin Ok. Tanpa merasa. Mereka pun lari untuk pungut burung itu. ―Bagus! Bagus!‖ Tuli dan Kwee Ceng berseru dengan gembira.‖ berkata Cu Cong. ―Habis. Ia lantas rogoh keluar sepotong sapu tangan. Itu waktu kedua rombongan belibis sudah terbang mendekat. yang jadi pemimpinnya berbunyi. Tin Ok campur bicara. Aku akan ajari kau sedikit kepandaian. Irawan D Soedradjat Page 96 .‖ sahut Cu Cong.‖ jawab Kwee Ceng lagi. musuhmu itu. jatuh ke tanah.Pendekar Pemanah Rajawali ―Bagus!‖ seru Tuli dan Kwee Ceng. Cu Cong menimpuk dengan tiga butir batunya.‖ kata ia. ibu tnetu tidak senang. tidak boleh aku berkelahi. ―Bukan. yang mana ia kasihkan kepada Tuli. ―Ya!‖ Cu Cong beri kepastian.‖ Kwee Ceng menjawab. Justru karena burung itu berbunyi dan hendak merubah tujuan. dia masih dapat dibunuh musuhnya. bocah bernyali kecil!‖ kata Po Kie perlahan. datangnya dari utara. yang berdiri diam saja.‖ Ton Ok kata pula. jitu sekali. Kemudian air matanya mengalir keluar. habis bagaimana?!‖ ia tanya. Mereka sangat kagum.

―Ia bakal gagal…‖ Dalam dialek orang Kanglam. pergilah kamu!‖ kata Siauw Eng akhirnya. tak hendak ia mengatakannya lebih sepatah kata!‖ Hie Jin tertawa. ―Baik. Kau berani tidak? Apakah kau takut setan?‖ Kwee Ceng masih berdiri menjublak. ―Susah sekali untuk sieko membuka mulut emasnya.‖ bilang Cu Cong.‖Kenapa kau serang aku?‖ tegurnya. Ia girang luar biasa. ―Coba ajarakan aku pula. Cit Koay berdamai. kau tidak boleh beritahukan kepada orang lain.‖ kata Po Kie. ―Paling benar kita sambut ibu dan anak ini pulang ke Kanglam. untuk mengeluarkan sepatah kata. akan tanya. Dalam hal janji pibu.‖ jawab adik keempatnya itu. ia menggeleng kepala. ia memikirkan dahulu. Lam San Ciauw-cu memang pendiam. ―Ya. kita jangan terlalu capekan hati sekarang. Ia merayap bangun dengan murka. ―Eh. kakinya mengaggaet. ―Kalau kau hendak belajar kepandaian guna menuntut balas untuk ayahmu. Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin si Tukang Kayu dari Lam San. Gunung Selatan yang berdiam saja. Cit Koay hilang kegembiraannya melihat Tuli demikian cerdas tapi bocah she Kwee ini begitu tolol. Cukup sudah!‖ Ia lantas berpaling kepada Kwee Ceng.‖ kata Kim Hoat kemudian. ―Mengertikah kau?‖ Nyata Tuli sangat cerdas. kepalan kiri itu segera ditarik pulang. ―Apakah kau pun sudah mengerti?‖ Kwee Ceng lagi menjublak. ―Sebentar tengah malam kau pergi ke sana untuk cari kami. Tapi di sini ia dipapaki tangan kiri si penyerang. ―Sekarang kau pelajari dulu tiga jurus ini. Cuma kamu sendiri yang dapat datang. ―Bagus! bagus!‖ ia berseru. orang dewasa juga nanti tidak gampang-gampang kalahkan kau. ―Anak itu baik. segera ia mengerti. ―Beginilah biasanya sieko!‖ kata Siauw Eng. ―Kau ajarakan aku saja!‖ Tuli bilang. Tiba-tiba Cu Cong tarik tangannya bocah itu.‖ sahut Lam Hie Jin. Tampa ampun Tuli berguling. ―Sudah. tapi Cuma hidung nempel. kita menyerah kalah saja…‖ ―Anak ini miskin bakatnya. Tuli berkelit ke kiri. ―Apa yang baik?‖ menegaskan Cu Cong. untuk di kasih tetap berdiri . sietee.‖ ia bilang.‖ katanya. tak sabaran.‖ kata Cu Cong sambil tertawa. Coan Kim Hoat sudah sambar tubuhnya. untuk mendongko. Ia manggut-manggut. Siauw Eng sampai menghela napas dan air matanya berlinang. Bukan kepalang girangnya putra Temuchin itu. Cu Cong menyambar dengan kepalannya. ia snediri sangat kegirangan.‖ Cu Cong tertawa. atas mana Tuli tarik tangan Kwee Ceng untuk diajak pergi.‖ ia minta. ―Kau ajari aku lagi!‖ Cu Cong mendak. ajari aku pula!‖ seru Tuli. Selama mereka itu berbicara. tapi belum sempat ia terbanting ke tanah. ―Nach. Ia ulurkan tangan kepada kedua bocah itu. maka itu asal ia membuka mulut. apa katamu?‖ Tin Ok tegur adiknya yang keempat itu. kata-katanya tentu tepat. Irawan D Soedradjat Page 97 . ―Kalau kau sudah bisa. Tuli rubuh seketika. dia tak berbakatbelajar silat. ―Di waktu kecil. ―Paman. lalu ia seruduk pinggang orang. aku tolol sekali.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong menunjuk ke gunung di sebelah kiri. kita serahkan mereka kepada Khu Totiang. tepat kena hidungnya. ―Ini dia yang dibilang ilmu kepandaian. aku lihat dia tidak punya kekerasan hati.

dari jauh-jauh ia mengikuti Kwee Ceng dan Tuli. Malam itu Cit Koay berkumpul di atas bukit.‖ ―Kebanyakan ia tidak berani. romannya seperti bekas jari tangan. ―Entah bocah nakal siapa sudah bermain di sini. Tiba-tina ia lompat mendekati mereka itu. Mereka menanti sampai tengah malam. ―Bagaimana itu diatur rapinya?‖ tanya ia. yang tiga pergi ke timur utara. ―Kita lihat dia berani taua tidak datang seorang diri. sinarnya sampai kepada rumput tabal di mana ada tiga tumpuk benda putih yang nampaknya aneh. Hanya segera I berkata: ―Lekas jalan seratus tindak. yang biasanya sangat tabah. toako!‖ seru Kim Hoat heran. Jadi itu bukanlah perkerjaannya satu bocah cilik. ―Hantu tukang geregas manusia…‖ ―Benar. Ketika itu sang rembulan yang terang sudah sampai di tengah-tengah langit. yang lima saudara lainnya lantas menghampiri saudara she Coan itu. Ia ulur tangannya. ―Lihat!‖ katanya lagi kemudian. Cu Cong dapatkan lima liang di embun-embunan tengkorak itu. . tengkorak orang diatur begini…‖ katanya. Ia lihat mereka masuk ke dalam tenda. teraur sebagai segi tiga. Irawan D Soedradjat Page 98 ―Disini pun ada tumpukan tengkorak!‖ begitu suaranya Han Siauw Eng di timur utara dan Thi A Seng di barat utara. enam saudaranya biasa hargakan pikirannya. yang sodorkan sebuah tengkorak kepada Cu Cong.Pendekar Pemanah Rajawali Karena itu juga. kali ini mereka rubuh di tangannya satu imam…!‖ katanya masgul. yang tiga lagi ke barat utara. Cu Cong lantas saja menghela napas. Sekarang mendengar keterangannya itu.‖ kata Cu Cong kemudian. ―Mungkinkah disini ada hantu gunung?‖ tanya Siauw Eng. Coan Kim Hoat lompat menghampiri benda itu. Saudara ini bersangsi. ―Tingkat ynag bawah lima. Ia tak berani utarakan kesangsiannya ini. yang bertumpuk rapi dalam tiga tumpukan. ―Tetapi kenapa tengkorak-tengkorak ini diatur begini rapi?‖ Kim Hoat tanya. kita tunggu sampai nanti malam.‖ Po Kie membenarkan adiknya itu. ―Kanglam Cit Koay sudah malang melintang seumur hidupnya. tiba-tiba Po Kie berseru tertahan: ―Eh. ―Kenapa toako ketahui itu?‖ Tin Ok perlihatkan roman cemas. Ia tidak menjawab. dan saban tumpukannya sembilan tengkorak. Selagi tujuh saudara itu berduka. tepat lima jarinya masuk ke dalam semua laing itu. ke arah timur utara dan barat utara! Lihat ada apakah di sana!‖ Menampak sikap luar biasa dari saudara tua itu. Kwa Tin Ok dengar saudara-saudaranya itu berbicara. ―Eh…apakah ini? Jieko.. mereka bagaikan mendapat sinar terang. ―Apa itu?‖ katanya. ―Baik aku cari tahu dulu tempat tinggalnya. mari!‖ Suaranya sangat kedengarannya sangat terkejut. itulah siluman. sampai bintang-bintang mulai menggeser. enam adik angkat itu lekas bekerja. ―Semuanya terdiri dari tiga tumpuk. ―Mustahil benar ada orang membuat liang ini dengan jeriji tangannya?‖ ia kata dalam hatinya. tak ada bayangan Kwee Ceng si bocah itu. maka kecuali Kwa Tin Ok.‖ Coan Kim Hoat kasih keterangan pada kakaknya yang tak dapat melihat itu. Ia jadi heran dan bersangsi.‖ kata Kim Hoat.‖ Dan ia lompat turun dari kudanya. ―Kalau begitu. Ia pungut dua tengkorak lainnya.!‖ dan tangannya pun menunjuk ke depan di mana ada gombolan pohon. di situpun kedapatan masing-masing lima jari tangan yang sama. tingkat tengah tiga dan tingkat atas satu buah?‖ ―Eh. maka ia kenali itu sekumpulan tengkorak. ―Benarkah itu terbagi pula dalam tiga tingkat?‖ Tin Ok tanya.

―Siluman atau musuh?‖ tanya Cu Cong. Tin Ok lantas lari ke arah timur utara ke Han Siauw Eng. Thio A Seng bertiga terkejut. tidak ada yang berani menanyakan. ―Mereka sekarang lagi menyakinkan ilmu Kiu im Pek-kut Jiauw itu. dari situ bisa diduga betapa lihaynya musuh itu.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin Ok lari ke arah barat utara itu. Enam saudara itu mengawasi dengan melengak. ―Saudara-saudara lekas naik ke kudamu masingmasing. Nona Han menghitung. sekarang barulah mereka itu ketahui. mereka toh sudah paham delapan atau sembilan bagian. jangan bersuara keras. ―Dan setiap tumpukannya terdiri dari sembilan tengkorak?‖ sekali ini Tin Ok menanya perlahan sekali. Tin Ok angkat saudara sama enam orang itu. ―Mereka berdua lihay luar biasa. tunggu aku selama sepuluh hari. ―Kalau begitu. ―Merekalah Tong Sie dan Tiat Sie. ―Yang di sana setiap tumpukannya tujuh tengkorak. ia paling benci orang menyebut-nyebut cacadnya itu. segera kabur ke selatan. ia pun cegah mereka bertiga omong keras-keras. sekali-kali jangan kamu kembali! Sesudah kabur seribu lie. kembali dengan suara perlahan. lekas!‖ kata Tin Ok mendesak sekali. ―Bukankah Tong Sie dan Tat Sie sudah lama mati?‖ dia tanya. ―Mataku buta. dari itu sekalipun kita bertujuh. Semua saudaranya sangka. Tin Ok Demikian lihay. Cu Cong terkejut hingga ia berjingkrak.‖ ia beritahu. ―Benar. ―Inilah saat mati hidup kita. kita sudah bersumpah untuk hidup atau mati bersama. ia toh kalah.‖ jawabnya kemudian. itulah sebabnya perbuatan musuh.‖ sahut Siauw Eng. lalu dengan lekas pula ia lari balik. suaranya perlahan tetapi nadanya tegas.‖ Tin Ok bilang. ―Lekas pergi.‖ kata Tin Ok. ―Yang satu sembilan. lekas pergi!‖ katanya mendesak. kamu tidak usah menunggui lebih lama lagi…!‖ ―Toako. kakiku pincang. A Seng bertiga lari berkumpul sama kakak mereka itu. kiranya mereka sembuniy disini dan secara diam-diam tengah menyakinkan ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw. sambil membungkuk ia menghitung. jikalau sepuluh hari aku tidak datang menyusul kamu. kita pasti bukan tandingan mereka. meski begitu. ―Lambat sedikit atau sudah tidak keburu lagi!‖ Han Po Kie menjadi gusar. mereka menantikan penjelasan. apakah katamu?‖ tanya Siauw Eng gelisah. mereka dengar perkataan si kakak. ―Apakah kau sangka kita orang-orang yang tidak berbudi?!‖ dia tanya membentak. semua itu adalah hadiah mereka…‖ sahut kakak tertua ini. ―Apakah tumpukan disini pun tiga?‖ tanya Tin Ok. ―Kenapa mereka masih ada di dalam dunia ini?‖ ―Aku juga menyangka mereka sudah mati.‖ Tin Ok bilang. walaupun mereka belum dapat merampunginya. cinta mereka bagaikan cintanya saudara-saudara kandung. ―Kita sudah minum arak bercampur darah. maka itu kenapa kau anjurkan kita lari menyingkir?‖ Tin Ok goyangi tangannya berulang-ulang.‖ kata ia. Kenapa kita mesti antaran jiwa secara sia-sia?‖ Irawan D Soedradjat Page 99 . dengan lekas. ―Yang satunya delapan…‖ ―Coba hitung yang sebelah sana. cacadnya itu disebabkan kecelekan semenjak kecil. mereka semuanya jadi heran. mereka akan segera kembali!‖ kata Tin Ok. Siauw Eng lari ke barat utara.

Han Siauw Eng adalah orang yang hatinya paling berkhawatir dan paling heran pula. Dengan menggape. sudah lantas lompat turun ke dalam peti mati yang besar itu. sebagai alatnya ialah kedua mayat ini. maupun di Jalan Putih. Tong Sie dan Tiat Sie itu makhluk macam apa?‖ ―Merekalah yang di dalam dunia kang-ouw kesohor sebagai Hek Hong Siang Sat. Liok-tee. Kwa Tin Ok. ―Aku cuma minta kalian semua suka berlaku hati-hati. Kemudian. segera lari ke arah selatan. baru kamu keluar untuk mengepung mereka. batu itu kotor dengan tanah dan ketutupan rumput hijau. hatinya ciut. belum pernah ia puji kepandaian lain orang. ―Baiklah kalau begitu. tanpa cara ini jiwa kita bertujuh bakalan tidak dapat ditolongi lagi!‖ Tin Ok omong dengan perlahan-lahan. ―Di masanya mereka itu malang-melintang di utara. Bukan sedikit orang gagah yang roboh di tangan mereka itu. karenanya mereka menjadi ragu-ragu.‖ Tin Ok berkata pula dengan pesannya. Cuma tinggali sedikit liang kecil untuk aku bernapas. ―Maka itu sekarang hendak aku sembunyi di sini. Tentu saja. Sekarang barulah papan batu itu dapat disingkirkan. Semenjak ia kenal kakaknya yang tertua itu. Mereka itu segera saja menghampirinya.‖ Kim Hoat mengajak. ―Kalau begitu. Sadarlah ia bahwa saudara-saudaranya itu sudah berkeputusan bulat.‖ katanya kemudian. Ia bersembunyi di samping Cu Cong. Di situ ada banyak pepohonan dan rumput tebal.Pendekar Pemanah Rajawali Enam saudara itu ketahui kakak mereka ini beradat tinggi. Saudara-saudara pergi kau ambil tempat berlindung di empat penjuru. coba jalan seratus tindak ke selatan.‖ Coan Kim Hoat. ―Musuhku itu bakal lekas datang kemari untuk melatih ilmu silatnya itu. di bawah batu itu tertampak sebuat peti mati bercorak kotak atau peti batu dan di dalam situ rebah dua mayat. Perlahan-lahan mereka letaki tutup peti mayat yang istimewa itu. siapa dengar mereka. Kamu mesti menunggu sampai aku telah tidak dapat bertahan. jaga supaya mereka tidak dapat ketahui. Tong Sie si Mayat Perunggu dan Tiat Sie si mayat Besi. dengan dingin ia berkata: ―Mereka sudah celakai aku seumur hidup. Setelah seratus tindak. ―Nusuh itu sangat cerdik dan getap. Tin Ok menjadi diam dan berpikir. Tin Ok tidak setuju. saki hati ini tak dapat tidak dibalas!‖ Lam Hie Jin segera campur bicara. Irawan D Soedradjat Page 100 . Cuma hendak aku pesan masing-masing jaga lah diri dengan hati-hati dari cengkraman mereka. sekali pula Khu Cie Kee yang lihay. ―Sedikit saja ada kelisikan. Tong Sie itu ialah pria dan Tat Sie itu wanita. mereka bakal dapat tahu.‖ berkata ia. tapi kata-katanya ditandaskan setiap patah. Cara membokong ini bukanlah cara yang benar akan tetapi musuh terlalu tangguh dan telangas. Di bawah sinar rembulan. Ia tarik batu itu tetapi tidak bergeming. Ia omong singkat tetapi kata-katanya sangat tepat yang tak dapat diubah lagi. Dua orang itu snagat kejam. marilah kita pergi bersama-sama. Sekarang ini tak ada tempo untuk menjelaskan tentang mereka itu.‖ Enam saudara itu menurut. inilah pertama kalinya ia dapatkan sikap yang tegang sekali dari kakaknya itu. untuk bokong pada mereka. bantui saudaranya untuk mencabut. baik di Jalan Hitam.‖ ―Kenapakah mereka itu tak hendak dikepung beramai-ramai?‖ Siauw Eng tanya pula. setelah melihat batu itu. ―Ada rejeki kita mencicipi bersama. Semua saudaranya itu menyahuti dengan janji akan menaati.‖ sahut sang kakak denagn perlahan. Thio A Seng. Dia akhirnya menghela napas. mereka pencar diri ke empat penjuru untuk sembunyi sambil memasang mata. ia Cuma nampak unjungnya sebuah batu lempangan muncul dari dalam tanah. adik yang nomor enam. Lam Hie Jin dan Han Po Kie. mereka berdua itu adalah suami-istri. ada kesusahan kita derita bersama juga!‖ katanya. kau masih kecil sekali citmoay. maka itu kau tidak ketahui tentang mereka. maka itu sambil berbisik ia tanya ini kakak nomor dua: ―Jieko. denagn siapakn masing-masing senjatanya. mereka lantas bekerja. Sekarang tutuplah papan batu ini. ilmu silat mereka lihay sekali. ia tidak lihat peti mati yang disebutukan kakaknya itu. dia berani lawan. ia panggil saudara-saudaranya yeng mengawasi ke arahnya. lihat benar atau tidak di sana ada sebuah peti mati. mereka mau percaya sang kakak tidaklah tengah berdusta. tetapi sekarang ia jeri terhadap dua orang itu. setelah ia diberitahukan adanya kedua mayat itu. itu waktu jangan kamu main kasihan-kasihan lagi.

―Dapatkah si pria. Heran enam saudara itu. yang berjalan rapat satu dengan lain. Enam saudara dari Kanglam itu menahan napas.‖ ―Kalau begitu yang wanita. Dilihat dari kepalanya. di tara ini. Siauw Eng bernyali besar tetapi ia toh menggigil pula. pantas toako memuji mereka. Setahu bagaimana.‖ Sebentar saja benda itu sudah datang semakin dekat. Tiat Sie itu. ia tampak seuatu benda hitam lagi bergerak-gerak cepat di atas tanah berpasir. saban-saban terdengar suara mereteknya.‖ Cu Cong menerangkan pula. diulur dan ditarik. Tiba-tiba si wanita itu angkat tangan kanannya.‖ jawab sang kakak. Tidak disangka-sangka sekarang. Maka sekarang tampaklah dengan nyata: Itulah dua orang. di atas bukit itu tertampak dua orang bagai bayangan. mereka muncul pula. setelah orang bubaran. sebab Cu Cong mendekap mulutnya yang kecil mungil itu. Lalu ia menyambung lagi. kita menemui mereka itu. ―Sstt!‖ berbisik sang kakak itu seraya tangannya menunjuk ke bawah bukit. mereka itu dapat lolos. ―Orang-orang gagah dari Selatan dan Utara Sungai Besar pernah tiga kali mengadakan perhimpunan besar di gunung Heng San. Di bawah terangnya sinar rembulan. sambil memberi keterangan padaku. si Mayat Perunggu. di tempat belukar seperti ini. ―Dia berparas muka semu kuning hangus seperti perunggu. adalah seorang wanita. belakangan orang tidak lihat lagi bekas-bekas tapak mereka. ―Tentang ilmu itu belum pernah aku mendengarnya. suara itu menyebabkan ketegangan di hati ke enam bersaudara itu. Siauw Eng diam sejenak.‖ ia mengeluh di dalam hatinya. Siauw Eng segera memasang matanya ke arah tempat ynag ditunjuk itu. bernama Tan Hian Hong. degan darah dagingnya manusia. Rambutnya pun mengikuti bergerak-gerak juga. ―Sungguh memalukan.‖ pikir Siauw Eng. disusul sama tangan kirinya menyerang dada si pria. berdiri diam. pada wajahnya itu tak pernah tampak tanda kemurkaan atau tertawa. ―Mestinya dia Tong Sie dan Tiat Sie. maka beberapa tahun kemudian orang anggap.‖ sahut kakak keduanya itu. lalu beruntun tiga tahun mereka mencoba mengepung Hek Hong Siang Sat. karena dosa kejahatannya sudah meluap.‖ pikir mereka. Irawan D Soedradjat Page 101 . Siauw Eng tancap pedangnya ke tanah. ―Sekarang ingin aku saksikan bagaimana mereka melatih diri…. mestinya berkulit hitam legam?‖ ―Tidak salah! Dia she Bwee. ia terus pasang matanya. dari lambat menjadi cepat. hingga mereka merupakan sebagai satu bayangan yang besar. Kapan sebentar kemudian tindakan kaki tak menerbitkan suara pula.‖ Si wanita sudah lantas berjalan mengitari si pria. Begitu lihat banyak orang. bertahan terhadap serangan itu?‖ tanya mereka di dalam hati. maka itu orang juluki dia Tong Sie. dia beroman seperti mayat saja.‖ ―Apakah nama mereka itu?‖ Siauw Eng masih menanya. ilmu apakah itu?‖ tanya adiknya lagi. suaranya semakin keras. namanya Tiauw Hong. ―Kiranya jieko waspada sekali. mereka lantas sembunyikan diri. ―Tenaga dalamnya begitu hebat. ―Kenapa toako tak pernah sebut-sebut itu? Mustahilkah…‖ Nona ini berhenti berbicara dengan tiba-tiba. mengikuti jalannya. Enam saudara itu menjadi heran. Sekarang terdengar suara pasir disebabkan tindakan kaki. Cu Cong cekal kipasnya peranti menotok jalan darah. mereka itu telah menemui ajalnya. yang disebut Tong Sie itu. guna cegah sinarnya berkilauan. ―Yang pria.Pendekar Pemanah Rajawali ―Menurut katanya mendiang guru. yang memakai kopiah kulit. semuanya bersipa sedia. yang satu mirip orang Mongol. nyata terdengar buku tulang-tulangnya bersuara meretek. Ynag kedua yang rambutnya panjang dan memain atas tiupan angin. Wanita itu gerak-geraki kedua tangannya.‖ ―Toako menyebut ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw.

tidak membungkuk tubuhnya. seperti desairnya angin. mukanya tidak tersenyum. kalau dikepung bertujuh. dengan rangkap kedua tangannya. wanita itu lompat mencelat. kita pasti dapat melawan. Di bawah sinar rembulan. Dia lompat tingginya beberapa kaki. si Mayat Besi. ia dapat lihat seperti bayangannya satu kepala orang di atas pohon. orang memakai baju dalam kulit. Maka terang sudah. Begitu tutup dibuka. ia lantas duduk numprah di tanah. Diwaktu melompat. Hampir Siauw Eng menjerit karena kagetnya. Saudara yang kedua ini telah berpikir: Tiat Sie bersendirian. Ia membungkuk. jadi lebih gampang untuk melayani Tong Sie. kapan tangan kanannya di tarik. yang rupanya ditangkap untuk dijadikan bahan atau korabn latihan Kiu Im Pek-kut Jiauw. sembilan puluh sembilan persen. untuk merobek membuka pakaiannya pria korbannya itu. dengan lima jari. Tak ayal lagi. Ia duduk dengan membelakangi Cu Cong dan Siauw Eng. Ia hendak berlompat turun ketika tubuhnya bergerak bangun. ia tidak 102 Tiba-tiba Bwee Tiauw Hong mendengar berkelisiknya daun pohon di sebelah belakangnya. ia tarik napasnya keluar masuk. lima jarinya berlumuran darah pula. Cu Cong pun sama tegangnya sampai ia menahan napasnya. karena ragu-ragu. bertambah hebat. hendak mereka menerjang berbareng. berlompatan mengitari korbannya itu. Ia bertubuh kate. lalau ia membuangnya setiap isi perut itu. untuk angkat tutup peti mati istimewa itu. gampang saja si wanita ini menelanjangi pria itu. hanya seorang yang lain. dan ia memeriksa itu. setiap serangan bertambah cepat. si suami. di Utara ini. Si pria tapinya mirip mayat. habis itu. Nyatalah. Sembari mengawasi tangannya itu. yang semuanya telah tak utuh lagi. Disamping heran dan gusar. Cengkeraman Tulang Putih. Tegang hatinya. Kalau dia terbunuh lebih dahulu. tubuh siapa lalu ia letaki di tanah. beruntun hingga tujuh kali. untuk membokong kita? Toako telah memikir jauh. wanita itu adalah Tiat Sie Bwee Tiauw Hong. akibatnya mesti hebat sekali……………‖ Karena ini. paru-paru dan jantung. ia turun di sisi mayat. Bukan kepalang gusarnya Siauw Eng. dibawa ke peti mayat di mana Kwa Tin Ok umpatkan diri. tumpukan tengkorak itu terang adalah korbankorbannya wanita kejam ini. Perlahan sekali suara itu. ia lompat ke arah pohon itu. Biar toako yang mendahului…‖ Habis memeriksa isi perut mayat. si wanita itu berjinjit. Disaat berbahaya itu. . mencengkeram ke ubun-ubun si pria. Tiauw Hong geraki kedua tangannya. untuk membuktikan sampai di mana hasil latihannya itu. Irawan D Soedradjat Page Itulah Ma Ong Sin Han Po Kie yang sembunyi di pohon itu. aku dapat tublas tembus bebokongnya!2 pikir si nona Han. tetapi sekarang.Tapi. dia tidak tekuk dengkulnya. ia toh berpaling dengan segera. sang sistri. ―Kalau sekarang aku tikam dia. baiklah kita taai pesannya. Tiba-tiba saja ia menoleh ke arah Siauw Eng. jumpalitan. ―Hanya kalau aku gagal. habis melatih napasnya. Sekarang enam saudara itu ketahui. ia tak bersuara. dua tangannya dipakai menjambak dada dan perut mayat itu. hendak ia menerjang wanita itu. kepala di bawah. biar dia lihay. lempang jegar. Enam saudara itu bersiap. kaki di atas. enam saudara itu merasa kagum. Wanita itu berhenti berlompatan dan berputaran sesudah ia berpekik keras dan panjang sambil ia lompat tinggi berjumpalitan dua kali. Hanya aneh. Seberhentinyatertawa. walaupun ia tertawa. Tanpa merasa. untuk menarik keluar isi perut orang. tangan kirinya menyambar kopiah si pria. tak dapat mereka layani….Pendekar Pemanah Rajawali Selagi begitu. dengan sendirinya mereka menjadi membenci kekejaman wanita itu. siapa tahu Tong Sie bersembunyi di mana? siapa tahu kalau dia muncul mendadak. ia bergemetar sendiri. tubuhnya tidaj bergeming. Si wanita sebaliknya tertawa besar dan panjang. si pria bukan Tong Sie. Tiat Sie nampaknya puas. Dengan menghadapi rembulan. ia percaya dengan sembunyi di atas pohon. si wanita sudah menyerang pula. Tapat sampai pukulan yang ke sembilan. hingga si nona dapat nampak wajah orang – satu wajah hitam manis. ia cabut pedangnya. nampak nyata bebokongnya bergerak-gerak. Kalau mereka ada berdua. Bwee Tiauw Hong bangkit berdiri. usianya ditaksir kira-kira empatpuluh tahun. ia tak bakal dapat dilihat. Ia lantas seret mayat korbannya. wanita itu memeriksa. ke perut. Cu Cong tarik si nona dan menggoyangi tangannya.. ia dapat menduga. dengan sembilan kali serangannya – Kiu im – wanita ini membikin rusak isi perut pria itu. untuk melatih tenaga dalamnya. ia masih tertawa. berbareng dengan pekiknya. tangan kanannya. dimana hawa udara adalah sangat dingin.

cepat-cepat ia melompat mundur. sebaliknya. aku sendirian. Tiauw Hong snagat lihay. sudah lompat hingga di depannya dan sambil menaya: ―Kau siapa?! Perlu apa kau datang kemari?!‖ sepasang tangannya sudah mampir di pundak orang. ia menyambar ke mukanya Siauw Eng! Cu Cong melihat ancaman bahaya untuk adiknya itu. akan sambut wnaita itu dengan cambuknya Kim-liong-pian. Hebat kesudahan tendangan ini. ai lompat melesat. Maka ia lantas berpikir: ―Mereka banyak.‖ Demikian. anginnya pun tiba lebih dahulu. ia roboh hampir pingsan. malah aneh juga. Dia agaknya tidak takuti senjata tajam itu. menendang ke arah perut. seperti juga sebuah kipas besi. dan gesit sekali. mengarah kakinya. Satu mahasiswa yang memegang kipas totokan dan satu nona yang bersenjatakan pedang. Biasanya. yang sampai ke ulu hati. hingga kedua senjata rahasia itu jatuh ke tanah. masih dia lompat. di antara suara keras. Bwee Tiauw Hong menyambar dengan tangannya ynag kiri. dia segera mengerti bahwa dia telah berada dalam kepungan. Hanya kali ini. hingga bahna sakitnya. ia menyerang jalan darah kiok-tie-hiat dari musuh lihay itu. Tiauw Hong ketahui itu. Siauw Eng menjadi terkejut. mengepung musuh yang lihay itu. tahu-tahu tangan musuh berkelebat. Bwee Tiauw Hong main sambar musuh. Di saat itu. ia enjot tubuhnya. untuk menendang bebokong musuh gelapny aitu. Ketika itu. Ia mengarah ke lengan. untuk membebaskan diri dari sambaran itu. sementara penyerang dengan kayu pikulan itu adalah seorang desa. dia seperti tidak menghiraukan enam rupa senjata musuh itu. Bwee Tiauw Hong tidak berkelit atau menangkis. dia lompat mundur satu tindak. hanya dasar jago. Lam Hie Jin dengan Touw-kut-cui. herannya bukan buatan. ia lepaskan cambuknya. yang sangat gesit. baiklah aku robohkan dulu beberapa diantaranya. Bwee Tiauw Hong dengan berani berbalik menyambar pedang. Semua penyerang itu tidak dikenalnya dan mereka agaknya lihay. Tetapi Tiauw Hong. Tanpa sangsi ia kerahkan tenaganya. Disaat itu. siapa terkena totokan itu. ―Mungkin ia tidak mempunyai jalan darah?‖ pikirnya. Justru is bergirang itu. lagi sekali ia enjot tubuhnya. Tapi Tiat Sie si Myata Besi benar-benar lihay. Han Po Kie sudah jemput cambuknya. Po Kie merasakan angin dingin di pundaknya. Cu Cong tahu ia telah dapat menghajar sasarannya. dengan bekersama dengan kelima saudaranya. maka juga pedang dan golok semua seperti merabu Bwee Tiauw Hong. kipas Cu Cong telah mengenai tepat sasarannya. dia teruskan sambarannya kepada nona Han itu. Tiauw Hong tidak hendak memberi lolos. kaget dan gusar. akan menyingkirkan jauh. Bor Menembuskan Tulang. untuk dicekal dan dibarengi ditarik dengan keras! Po Kie merasakan satu tenaga keras menarik ia. dan Coan Kim Hoat dengan sepasang panah tangannya. untuk merampas senjata. ia menjadi heran dan gentar pula. atas mana. terus ia lompat berjumpalitan. Mengikuti tarikan orang. denagn perdengarkan suara membeletak. ia juga balik menarik. sebab sepuluh kukunya telah nancap di dagingnya. menyerang ia dari kanannya. Akan tetapi si Mayat Besi tak jeri. untuk terus disambar. ia menyambok dengan tangannya yang kiri. kaki itu terseleo tekukannya. dengan satu kali meleset. menyambar ke arah musuh itu. tangan kanannya telah merobek baju Po Kie di bagian bebokongnya! Po Kie menekan tanah denagn kaki kiri. hatinya girang sekali. ai maju pula. dia masih bisa menggulingkan diri. guna mencengkeram daging. tetapi ia juga bertenaga besar. menyambar ke kepalanya! Bukan main kagetnya Manusia Aneh yang kedua ini. ia terus melawan denagn sepasang tangannya yang berdarah daging! Dengan kuku-kukunya yang seperti gaetan besi. ia papaki cambuk itu. untuk meleset ke depan. hanya di saat itu. sebuah kayu pikulan yang hitam menyambar dia dari samping. ia dapat dipergoki wanita lihay itu yang segera menerjang ke arahnya. atau lebih benar mengikuti cambuk Naga Emas. Dengan perlihatkan kegesitannya. Dia menjadi kesakitan. Batal menyerang. hingga PO Kie mersakan sakit sekali. segera tangannya kaku dan mati. Ia lolos tetapi kegetnya tak kepalang. Po Kie meninsyafi bahaya. Siauw Eng membabat tangan musuh. Menyaksikan itu. dia angkat kakinya. Dengan satu gerakan ―Pek louw heng kang‖ atau ― Embun putih melintangi sungai‖. sedang di kirinya datang serangan golok dari seseorang yang bertubuh jangkung gemuk serta seorang kurus denagn senjatanya yanga neh. lima jari tangannya menyambar ke arah bebokong si cebol itu. Tendangan seperti mengenai papan batu. yang cepat bagaikan angin. sedang di lain pihak. ialah jalan darah kiok-tie-hiat. enam Manusia Aneh itu menjadi ingat semua tengkorak Irawan D Soedradjat Page 103 . di bawah pohon. dengan putar ugal-ugalan tangannya. sebab ia tidak pedulikan totokan itu.Pendekar Pemanah Rajawali sangka. dengan lihaynya matanya dan jelinya kupingnya. akan lomcat pula.

Dipihaknya. semua anggota tubuhnya telah terlatih sempurna!‖ Dan tangannya menyambar lengan si mahasiswa itu! Cu Cong terkejut. Cu Cong berteriak keras: ―Lekas turun menyerang!‖ Dengan tangan kanan ia menunjuk ke atas. ketahui olehmu. Tapi si Mayat Besi sudah berhasil. tidak juga ada hasilnya. kedua matanya mengawasi ke langit. Lima Manusia aneh lainnya kaget. ―Sekarang sudah terlambat untuk kamu melarikan diri…!‖ segera ia merangsak. sudah lanats kerahkan tenaga mereka. sedang di perut jalan darah cee-cun dan di bebokong jalan darah bwee-liong. Mereka menggesernya ke samping.Pendekar Pemanah Rajawali yang berliangkan bkeas jari tangan itu. Lam Hie Jin bersama Coan Kim Boat dan Han Siauw Eng mencoba merintangi musuh ini. di mana Kwa Tin Ok lagi sembunyikan diri. berani Tiat Sie sambut dengan tubuhnya yang tangguh itu. dengan sendirinya hati mereka menjadi gentar. dua macam ilmu kedot. baiknya ia gesit dan cerdik. tak tunggu tibanya cengkeraman. Dia berseru: ―Siucay rudin. Bwee Tiauw Hong dapat menerka maksud orang. ia mendahului menotok telapak tangan orang. Karena ini ia berlompatan. ia mesti mempunyai suatu anggota kelemahannya. Siauw Eng lantaran kegesitan tubuhnya. ia tak tampak manusia seorang juga. . selagi begitu Cu Cong bersama Thio A Seng dan Han Po Kie. memandang ke atas. ia heran. Ia melainkan hanya lihat rembulan. Coan Kim Hoat berlaku rada ayal. ia jadi ingat sesuatu. untuk angkat papan batu tutup dari peti mati itu. sepotong dagingnya pun kena tercukil dan dia berdarah-darah. sedang seharusnya dia mesti patah atau remuk tulang-tulangnya. Karena ini. kalau tidak. ia menjadi terkesiap hatinya. Tiba-tiba ia bergidik. Cu Cong jadi berpikir. siapa punya ilmu kedot. Dipihak sana. hingga ia menjadi berpikir keras. melihat mana. maka itu dengan tangan kanannya. Tiauw Hong kena cekal barang keras. Di batok kepala ia totok jalan darah pek-hoay. Coba Tong Sie si Mayat Perunggu muncul. mereka menyerang dengan berbareng guna menolongi saudara mereka itu. Lagi sesaat. ―Dari mana munculnya segala orang hutan yang hendak mencurangi nyonya besarmu!‖ kata Tiauw Hong dengan ejekannya. 104 Disaat itu. dengan tangan kirinya. yang diangkat tinggi. ia berteriak: ―Semua lekas menyingkir!‖ Lima saudara itu mengerti teriakan itu. dan Tiat-pou-san – Baju Besi. Kecuali golok lancipnya dari Thio A Seng dan pedang tajam dari Han Siauw Eng. yang sudah lantas lari ke peti mati. Itulah teriakan dan tanda untuk kawannya yang sembunyi di dalam peti mati. Tiauw Hong malah bertambah gagah nampaknya. untuk lari ke arah peti mati. tidak ampun lagi bahu kirinya kena dicengkeram Bwee Tiauw Hong. tidakkah mereka bertujuh saudara bakal roboh semuanya? Thio A Seng. Segera ia melompat. Irawan D Soedradjat Page Bwee Tiauw Hong heran. Tinggal Lam Hie Jin yang masih dapat bertahan demikian juga dengan Lam Siauw Eng – Hie Jin karena tenaga dalamnya sempurna. mereka lantas berkelahi sambil mundur. jidat mereka bermandikan peluh. tetapi tiba-tiba juga. Ia menggunai tangan kirinya. sudah ada tiga yang kena tangan lihay si Mayat Besi. ia menggapai-gapai. ia sambar sepasang mata lawannya itu. di tenggorokan jalan darah hoan-kiat. tak saja bajunya Kim Hoat robek. Merka juga mendapatkan tubuh orang seperti besi kuatnya Dua kali bandulan timbangan Coan Kim Hoat mengenai bebokongnya Tiat Sie dan satu kali kayu pikulannya Kanglam Liok Koay menyambar paha. sembari berlari. ia dapat lihat cahaya putih dari tengkoraktengkorak itu. Han Po Kie dan Coan Kim Hoat sudah lantas mulai tersengal-sengal napasnya. justru itu Cu Cong bebaskan diri. demikian pun jalan darah lainnya. Di sana terpeta tapak lima jari tangan. ia menduga-duga dimana kelemahan musuh lihay itu. teranglah orang telah punyakan pelajaran Kim-ciongtiauw – Kurungan Loncang Emas. Satu kali Cu Cong kebetulan menoleh ke arah tumpukan tengkorak. Syukur ia keburu membela dirinya. Ia menjadi bersangsi. menyerang sambil mencari-cari. semua senjata lainnya. celakalah ia. pada nyonya besarmu tidak ada bagiannya yang lemah. Ia sudah menontok belasan kali. supaya kawan itu segera turun tangan. ia dapat menyambar kayu pikulan dari Lam Hie Jin. Ia tahu betul. Hebat Bwee Tiauw Hong. Manusia Aneh ynag kedua itu menyingkir beberapa tindak. tetapi Bwee Tiauw Hong agaknya tidak terluka. tanpa merasa ia angkat kepalanya. untuk lihat lengannya.

ia berdiam. Lalu ia meneruskan dengan seruannya:‖ Lekas bereskan dia!‖ Ia pun mendahulukan. ―Kau juga belum mampus. Ia ingin si Mayat Besi mati sendirinya karena bekerjanya racun senjata rahasia itu. Dengan menerbitkan suara keras. bagus!‖ Tiauw Hong menghela napas. bocah kiranya kau belum mampus?‖ tanya dia. Baharu dua kali ia menggoyangkan tangannya. ia jadi terperanjat sendirinya. ―Hai. senjata rahasianya Tin Ok itu. tidak memberi hasil. batu telah kena terhajar hancur. Bwee Tiauw Hong merasakan sangat sakit dan juga menjadi sangat gusar. empat-empatnya jatuh menggeletak di tanah. enam Manusia Aneh itu bergidik sendirinya. Kakak itu buta. ia menggempur terus dengan kedua tangannya kepada Kwa Tin Ok. ―Jadinya kau datang untuk menuntut balas untuk Hui-thian Sin Liong?‖ ―Tidak salah!‖ jawab Tin Ok. dari jauh-jauh. sasarannya adalah tiga bagian atas. Tiauw Hong merasa matanya keras. ia bersilat ke empat penjuru. Irawan D Soedradjat Page 105 . Bwee Tiauw Hong sendiri sudah lantas perdengarkan jeritan hebat dan menggiriskan. Bwee Tiauw Hong berpekik keras. ia turut lompat keluar dari dalam peti mati. Bwee Tiauw Hong tubruk sasaran kosong. Maka itu. papan batu itu terpatah menjadi dua tanpa ampun lagi! Kanglam Cit Koay menyaksikan itu. Coba Tin Ok yang terkena rangkul. akan tetapi Tin Ok telah segara berkelit ke samping. ―Celaka. karenanya tubuhnya maju terus. Empat yang lain. Belum habis peringatan kedua saudara itu. yang mengenai dada dan paha. menampak mana. ia sudah lantas bekerja sama dengan enam saudaranya itu. mereka menyaksikan lebih jauh bagaimana Mayat Besi menyambar pepohonan dan batu yang melintang di depannya. Untuk sesaat mereka tidak menyerang pula. ia serang bebokongnya si Mayat Besi. Ketika itu angin dingin meniup membuat orang mengkirik. Ia rupanya menginsyafi yang ia telah terkena senjata rahasia yang ada racunnya. suaminya…‖ kata Cu Cong dalam hatinya. Selang sekian lama. untuk kakak itu jangan membuka suara. tubuhnya lalu meleset naik ke atas pohon. Pun. tengah dan bawah. sambil berseru keras. dengan kerahkan tenaga di tangannya. ―Lekas kasih tahu! Kalau nyonya besarmu mati. ia akan mati dengan puas!‖ Cu Cong menggoyangi tangan kepada kakak tertuanya. mereka berdiam tetapi siap sedia. ―Apakah kau masih ingat Hui-thian Sin Liong Kwa Pek Shia atau Hui-thian Pian-hok Kwa Tin Ok?‖ demikian tanyanya. maka itu sekarang ia berkelahi secara kalap. segera kedua tangannya diayunkan. suaranya tajam dan terdengar jauh. tanpa hiraukan sakitnya itu. Tin Ok sudah merasakan sambaran angin ke arah dadanya. dengan tangannya ia memberi tanda kepada saudara-saudaranya menjauhkan diri dari orang kalap itu. kedua tangannya menyambar berulang-ulang. ―Toako awas!‖ sekonyong-konyong Cu Cong dan Coan Kim Hoat berseru. batang pohon besar itu tercengkeram sepuluh jarinya.Pendekar Pemanah Rajawali ― DI depan tujuh tindak!‖ Cu Cong teriak pula. ―Kamu siapa?!‖ ia berteriak dengan pertanyaannya. Dalam murkanya. Nyata kedua matanya telah menjadi korbannya tok-leng. mana dapat ia melihat tandanya itu? Benar saja. Tiauw Hong terus menendang papan batu yang menghalangi di depannya. dengan menukikkan tongkat besinya ke tanah. dengan begitu enam buah senjata rahasianya sudah lantas menyerang ke tempat tujuh tindak. masihkah ia mempunyakan nyawanya? Gagal serangan itu. Bwee Tiauw Hong melengak dan lalu tertawa panjang. Bwee Tiauw Hong telah kehilangan penglihatan kedua matanya. Cu Cong tidak buka suara. dia lagi memanggil Tong Sie. Ia menepuk keras. Tin Ok sudah perdengarkan suaranya yang dingin itu. Kwa Tin Ok di dalam peti mati telah siap sedia. ia membuatnya pohon-pohon rubuh dan batu hancur tertendang. dari itu. Tujuh saudara itu mengawasi. hati mereka menggetar. merangkul pohon besar di belakang Tin Ok tadi.

ia menjadi kegirangan hingga ie berseru. Tiba-tiba ia rasai tangannya enteng. guna lari balik. terpaksa ia berteriak: ―Bocah. maka itu. ia pun belum pernah menyakinkan ilmu mendengar suara seprti Kwa Tin Ok. ia segera berkelit ke samping. guna menyambut bocah itu. Ketika itu Bwee Tiauw Hong sudah tidak mengamuk seorang diri lagi. napasnya diempos. Setelah hasilnya yang pertama ini. ia malah mesti lompat menyingkir. dengan melupakan bahaya. yang terlebih nyaring lagi. yang kecil dan kate. lekas lari!‖ Kwee Ceng dengar suara itu. ia terpaksa menggunai akal ini. sebab ia segera menduga kepada Kwee Ceng. untuk suaminya itu tolongi dia sambil membasmi musuh…. Ia dapat berlari dengan cepat luar biasa. di depan bayangan yang berpekikan tak hentinya itu. Selagi dua orang ini mendatangi dekat satu dengan lain. ia girang yang orang telah menepati janji. Ia tampak satu bayangan hitam lari mendatangi dengan cepat sekali. ia kaget dan berkhawatir. dari itu. di belakangnya dia tangan maut lagi menghampiri. akan tetapi kupingnya terang. Cu Cong segera geraki tangannya ke arah Coan Kim Hoat. habis menolongi orang. Segera menyusul serangannya yang kedua. Ia khawatirkan keselamatannya bocah itu. ―Hebat larinya orang itu!‖ kata beberapa diantaranya. niatnya mendahului nona itu. Ia dapat menghindar dari batu tetepi tidak serangannya Cu Cong. Han Siauw Eng lompat ke samping. Tidak peduli ia kebal tetapi serangan Biauw Ciu Sieseng hebat bukan main. sambaran angin papan batu itu pun keras. berbareng dengan itu. guna mencegah racun di matanya dapat menjalar. si nona terus menyingkir. Dengan beruntun ia mainkan Irawan D Soedradjat Page 106 . Pekikan itu membuat hati orang terkesiap. Ia berkhawatir berbareng girang.tapi mana dapat aku tidak menolong bocah itu?‖ Maka terpaksa ia cepatkan tindakannya. Hampir berbareng dengan itu. Dan ia kemudia berlari. ―Inilah hebat…‖ pikir Siauw Eng. ia sambar bocah itu. Rupanya Tiauw Hong telah dapat menduga. sekarang ia lihat si nona Han terancam bahaya. bayangan itu masih berpekik-pekik. tanda bahwa orang yang memperdengarkan itu telah datang lebih dekat. ―Aku bukan tandingannya Tong Sie…. ia dengar angin itu. Dengan kegesitannya. Ia pilih batok kepala musuh sebagai sasarannya. Karena tubuhnya kecil. ia tergempur di bagian dalam. sampai sebegitu jauh belum pernah ia berani mengutarakan rasa hatinya itu. Siauw Mie To Thio A Seng telah menaruh hati kepada Han Siauw Eng sejak beberapa tahun. lekas lari. lalu menyusul pekik yang kedua. Ia menjadi kaget apabila ia merasakan bebokongnya sakit sampai jauh di ulu hatinya. Ia percaya Tong Sie terlebih lihay daripada Tiat Sie. Lam Hie Jin semua memasang mata ke bawah bukit. untuk memapaki. Sembari mendatangi. Kwee Ceng pun menjerit kaget! Bocah itu telah dirampas Tan Hian Hong. Siauw Eng lompat ke samping. ia lihat si nona. untuk memberi tahu supaya. dari situ ia menyerang dengan pedangnya ke iga kiri si Mayat Perunggu. untuk memandang ke bawah bukit. ada satu bayangan lain. mendaki bukit. lalu berdua mereka lompat ke gombolan rumput. ia tidak tahu. Cu Cong tidak berhenti sampai di situ. Itu waktu Siauw Eng telah kasih dengar suara kaget. Segera juga Siauw Eng sampai kepada Kwee Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali Thio A Seng menyerang dengan salah satu potong papan batu yang tdai ditendang patah Bwee Tiauw Hong. mereka bersedia dengan senjata rahasia masing-masing. ia berdiri diam dengan sikapnya yang siap sedia. tentu saja Manusia Aneh yang kedua ini tidak sudi menjadi korban. dari kejauhan terdengar pekikan nyaring seperti pekikan Tiauw Hong barusan. Ia lantas lari turun ke arah orang orang bertubuh kecil dan kate itu. Dengan sikapnya ini ia menantikan suaminya. Kali ini ia gagal. Tiat Sie buta sekarang. tetapi ia gagal. tanpa bilang suatu apa. ia mendahulukan menyambar. maka ia susuli dengan tikaman ke arah mata. demikian bayangan yang mengejar itu. Kanglam Cit Koay terkejut. Tong Sie si Mayat Perunggu pun telah mendatangi semakin dekat kepada Kwee ceng. terus ia memutar tubuh. Ia tanmpak sekarang. bayangan ini tadi tidak kelihatan. Bab 10. untuk menolongi Siauw Eng dan A Seng. Malam Yang Hebat Cu Cong ambil sikapnya ini untuk bersedia membokong musuh. ia lari turun.

ia menduga-duga siapa mereka dan kenapa mereka itu muncul di gurun pasir ini. ia jatuh pingsan. Sia-sia Siauw Eng tarik pedangnya. menampak nona Han dalam bahaya. saban kali si Mayat Perunggu hendak menjambak. ia menyahut dengan keras: ―Lelaki bangsat. lima jarinya masuk ke dalam daging betis. ia memburu dan ulur tangannya yang terbuka ke ubun-ubunnya nona Han. Lam Hie Jin dan yang lainnya telah tiba. kapan Hian Hong mengempos semangatnya. Tan Hian Hong mengempit Kwee Ceng di dengan lengan kirinya. ia kerahkan semua tenaganya.Pendekar Pemanah Rajawali jurus ―Hong Hong tiam tauw‖ – Burung Hong menggoyang kepala. Justru itu. ia berputaran. makhluk-makhluk ini orang-orang macam apakah?!‖ Bwe Tiauw Hong sahuti suaminya itu: ―Mereka itu adalah saudaranya Hui-thian Sin Liong dan konconya Hui Thian Phian-hok!‖ ―Oh!‖ berseru Hian Hong. legakan hatimu!‖ sahut Tan Hian Hong. tak dapat Siauw Mie To bertahan lagi. perempuan bangsat. ia jauhkan diri. lalu dengan sikut kanannya. Akhirnya ia berteriak: ―Eh. tetapi justru karena ini. ia tak mau berkelahi secara rapat. Ia menjerit keras tetapi pedangnya dikerjakan untuk dipakai menikam ke dadanya lawan! Hanya. Tan Hian Hong tidak berhenti sampai disitu. ―Satu juga tidak bakal lolos!‖ sambil mengucap begitu. Tiauw Hong tengah memegangi pohon besar. ia papaki kakinya Thio A Seng itu. Tapi sekarang ia menginsyafi lihaynya musuh. dengan begitu ia bisa menyingkir beberapa tindak. Di waktu itu. Hian Hong lihay sekali. setelah satu jeritan keras. ia menyerang musuhnya. ia menerjang kepada musuh itu. Ia bergerak dalam jurus Kiu Im Pek-kut Jiauw yang lihay yang untuk meremukkan batok kepala orang. Cu Cong bersama Coan Kim Hoat. bagaimana kau?!‖ terdengar teriakannya Hian Hong. ia melihat ancaman bahaya terhadap si nona yang ia sayangi. si Mayat Perunggu lemparkan tubuh musuhnya. kiranya kau belum mampus! Jadinya kamu datang kemari untuk mengantarkan nyawa kamu!‖ Tapi ia juga khawatirkan keselamatan istrinya. hingga seketika ia roboh ke tanah. Dengan gerakannya ―Lay louw ta Kun‖ atau ―Keledai malas bergulingan‖. bebokongnya mewakilkan Siauw Eng kena dijambret.ilmu pedangnya gadis Wat. Siauw Eng buang diri dengan bergulingan. hingga ia bebas dari bahaya. untuk diteruskan dipakai membabat. ia serang Han Siauw Eng dengan dua-dua tangannya. ―Kau masih memikir untuk menyingkir?‖ tanya Hian Hong. dan ―Wat Lie Kiam-hoat‖. ia meneruskan menyambar si nona dengan jurusnya ―Sun swi twi couw‖ – Menolak Perahu Mengikuti Air. batal meneruskan serangannya kepada Siauw Eng. Berbareng dengan itu. ―Hai. malah Cu Cong bersama Coan Kim Hoat mendahulukan menyerang denagn senjata rahasia mereka. bagaimana dengan lukamu? Apakah luka itu menghendaki jiwa kecilmu yang busuk itu?!‖ Irawan D Soedradjat Page 107 . ia menahan sakit. perempuan bangsat. untuk mengahalangi serangan. Lantas ia mendamprat: ―Bagus betul. sebentar akan aku adu jiwa denganmu!‖ ―Bangsat perempuan. tanganya Hian Hong mendahulukan menepuk pundaknya.sepasang mataku dirusak oleh mereka itu! ikalau kau kasih lolos satu saja diantara tiga ekor anjing itu. Tan Hian Hong kaget dan heran akan menyaksikan semua musuhnya demikian lihay. maka itu. perempuan bangsat. ia lalu menanya: ―Eh. ia menyampok. bangsat anjing. setelah pedang itu berpindah arah. hingga lima jarinya si Mayat Perunggu masuk ke dalam dagingnya. ia lompat kepada si nona itu. Thio A Seng sudah maju tinggal beberapa tindak lagi. Thio A Seng rebah di tanah dengan terluka parah. ia kasih lewat ujung pedang. pedang itu meleset di dadanya itu. sambil lompat bangun. Siauw Eng lepas dari marabahaya. Lam Hie Jin dan Han Po Kie lantas lari menyusul tubuh saudaranya itu.

Walaupun merasakan sakit. Karena ini. Kiu Im Pek-kut Jiauw. sambaran itu sudah sampai kepadanya. diulur. kalau tidak. ilmu menangkap tangan. setelah bebas. Berbareng dengan itu. dengan lompat berjumpalit. buku-buku tulangnya memperdengarkan suara berkeretekan. Kelima Manusia Aneh dari Kanglam itu menginsyafi bahaya. Cu Cong berlima telah kurung padanya. apalagi sekarang ini latihannya ilmu yang baru. Itulah Tan Hian Hong. untuk diputar ke kiri. sebab tadi hampir-hampir ia tak dapat bernapas. ia menyingkir setombak lebih. yaitu ilmu bergulingan di tanah. Bocah itu dalam bahaya. berdiri diam sambil menanti ketikanya. Istri itu sengaja pentang mulut besar. sambil berkelit. ―Citmoay. makin lihay musuh. tangan kanannya yang keras seperti besi. tangan musuh yang berwarna biru sudah mendekati alisnya. tapinya ia tidak terluka. berbareng dengan itu. Rasa sakit tiba-tiba membuat Cu Cong meringis dan tangannya yang dipakai mencekik leher musuh terlepas sendirinya. orang dengar suara merekek dua kali dan suara ―Duk!‖ satu kali. berbareng dengan itu juga da tercium bau bacin. tidak nanti ia pegang pohon saja dan tiak datang membantu. satu kali ia kena dihajar kayu pikulan Lam Hie Jin. Diwaktu dipakai menyambar. meneruskan gerakan tangan kirinya itu. Hian Hong kagum hingga ia memuji di dalam hatinya. ia membikin perhatiannya tan Hian Hong menjadi terbagi. Lihay tangannya Hian Hong itu. yang ia lempar ke tanah. Irawan D Soedradjat Page 108 ―Semua renggang!‖ teriak Han Po Kie dalam gelap gulita itu. . tapi ia telengas. guna membnagkol lengan musuh itu. Han Po Kie tunujk keberaniannya. Cu Cong pun merangsak ke belakang Tong Sie. hingga bebokongnya berbunyi bergedebuk. tanda tenaga diadu. tangannya menyambar penyerangnya itu. Ia berkhawatir tetapi ia dapat menghampiri istrinya itu. Karena tangan kanannya itu terangkat. kau bagaimana…‖ ―Jangan bersuara!‖ menjawab Siauw Eng. Hie Jin kaget sekali. sedang yang satunya lagi.Pendekar Pemanah Rajawali Bwee Tiauw Hong menyahuti suaminya dengan mendongkol: ―Lekas bunuh mereka! Nyonya besarmu tidak bakalan mampus!‖ Hian Hong tahu luka istrinya itu berat. Ia tidak menghiraukan lagi hal ini karena adiknya terancam dan adiknya itu perlu ditolongi. ia serang Coan Kim Hoat. Setelah berselang begitu lama. lalu tangannya itu seperti terulur menjadi lebih panjang dari biasanya. tak sudi mereka merapatkan diri. guna mencekik leher musuh itu. ia lompat ke samping. Belum lagi Hie Jin menarik pulang senjatanya. mega hitam menutup sang putri malam. Dengan caranya ini. Dan ia lari ke samping beberapa tindak. Sekonyong-konyong saja guntur berbunyi sangat nyaring. kedua tangannya bekerja. dengan sendirinya dadanya menjadi terbuka. untuk menolongi diri berbareng menolongi orang. Ia menyerang dengan Teetong Pian-hoat. sudah selesai delapan atau sembilan bagian. Kim Hoat kaget melihat Kwee Ceng dilempar. sebab tubuhnya terpental rubuh saking kerasnya serangan sikut itu. Maka itu kurungan mereka menjadi semakin lebar. Gerakannya itu ialah yang dinamakan ―Leng miauw pok cie‖ atau ―Kucing gesit menerkam tikus‖. Hian Hong sendiri bukannya tidak menderita karenanya. untuk lekas-lekas menjalankan napasnya. si adik yang ketujuh itu. meninju dan menyambar. tubuh siapa ia sambar. Tiba-tiba ia berpekik. terpaksa ia melenggakkan tubuhnya. Ia lantas lepaskan Kwee Ceng. Selagi ia dapat mencium bau itu. lalu dengan tiba-tiba juga. yang telah pertunjuki tenaganya yang menyebabkan Hie in patah bahu kirinya. dia hanya terteriak menjerit-jerit. yaitu Kwa Tin Ok. si Mayat Perunggu itu. atau sekarang tangan itu – atau lebih benar lima jarinya – sudah mendekati ubun-ubunnya! Dalam keadaan sangat berbahya itu. ia gunai Kim-na-hoat. guna menggempur kaki lawan. hingga semua orang tidak dapat melihat sekalipun lima jari tangannya di depan matanya! Di dalam gelap gulita itu. sedang sikutnya yang kiri menghajar dadanya Cu Cong. karenanya mereka berkelahi dengan waspada. ai terus lompat kepada Kwee Ceng. Karena itu. makin keras niatnya untuk membinasakan mereka.

Po Kie semua bergirang.‖ Coan Kim Hoat memberitahu. Ia tidak hiraukan tongkat lawan. diarahkan ke tiga penjuru. kedua tangannya dipakai untuk menyambar. Empat yang lain tepat mengenai tubuhnya. karena bajunya kena terjambak dan robek karenanya. oleh Hian Hong dipakai menyerang ia dalam rupa timpukan! Bukan main girangnya si Mayat Perunggu. rasanya pertempuran itu berjalan sudah lama. mereka dari itu Cuma andalkan kuping mereka. maka syukur untuknya. dengan lihaynya pendengarannya itu. Ia tidak kasih dengar suara apa-apa. itu artinya Kanglam Cit Koay telah kalah besar. mereka melainkan mendengari suara sambarannya angin. mereka pun menolongi tiga saudara mereka yang tealh terluka.com bergerak pula. memperlihatkan sinar terang. kilat berkelebat pula. Berbareng dengan gerakan tangan kiri ini. ia lanjuti serangannya. guna mencegah dan melibat tongkat itu. tetapi ia kebal seperti istrinya. Gerakannya itu terhalang. guna menangkap tongkat musuh itu. akan terbangkan enam batang tok-leng. itu bukan napas saudara angkatnya. ia berseru: ―Toako. tangan kanannya menjambak ke depan. Ia merasa pasti. Karena ini. Tin Ok kaget tidak kepalang. ia menjadi heran sekali. Irawan D Soedradjat Page 109 . Pertempuran Hian Hong dengan Tin Ok hebat dengan cepat telah berlalu dua sampai tigapuluh jurus. Karena serangan tok-leng ini. sang hujan pun turun menyusul. Tongkatnya yang terampas Hian Hong. siapa pun tidak dapat melihat siapa.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin Ok dengari segala gerak-gerik. Disamping itu dengan meraba-raba. sang guntur menyebabkan langit menjadi gelap gulita. Justru itu. Dengan waspada ia pasang terus kupingnya. dengan lantas ia ayunkan kedua tangannya. ia masih ingat untuk segera menyerang denagn cambuknya. ―Sekarang ini langit gelap sekali. Ia dengar sambaran angin. Itulah tandanya kakak mereka mulai berhasil. Dua kali ia terhajar tongkat. Tin ok dengar suara angin. ia melompat mundur. dengan mengepal lima jari tangannya. Kwa Tin Ok berdiam. ia tidak terluka. Hian Hong lanjuti serangannya tanpa berlengah sedetikpun. Dua batang tok-leng lewat di atas kepalanya. ia menjadi tahu di mana adanya si penyerang. Hui Thian Pian-hok si Kelelawar Terbangkan Langit itu menjadi girang luar biasa. terpisahnya delapan atau sembilan tindak daripadanya. kau bagaimana?‖ ia terpaksa bertanya. tidak ada satu pun yang berani mendahului www. mendadak kilat menyambar. yang ketahui kakaknya tengah bertenpur. ia tertawa sambil berlenggak. tubuhnya sudah mencelat maju. ia segera menunduk. ―Thian membantu aku!‖ ia memuji dalam hatinya. untuk menganjurkan kakak itu. sambil berkelit. tangannya sendiri diputar ke atas. dua orang ini bertempur. Ingin mereka membantui saudara mereka itu tetapi mereka tidak dapat melihat. walaupun ada suara hujan. yang kembali mampir di tubuhnya yang kebal itu. ―Jitee. Sinar kilat sudah lenyap tetapi sambaran itu telah mengenai sasarannya. Diantara tujuh Manusia Aneh. Coan Kim Hoat terkejut. sudah lantas kasih dengar seruan mereka berulang-ulang. musuhnya itu. ia melainkan merasa sangat sakit. tubuh Tin Ok terhuyung. ia lantas berkelit. yang digunai Hian Hong. Si Mayat Perunggu lihay sekali. habis mana. samar-samar ia masih mendengar suara napas orang. Ia lompat ke arah musuh itu. Telak serangan itu. Syukur dalam kagetnya itu. yang tubuhnya terhuyung. awas!‖ Hian Hong sangat lihay dan gesit. lengannya itu terulur panjang. Mendengar itu. Tongkat itu ia papaki denagn pundaknya yang kiri. ia melihat bagaimana tongkat kakaknya itu.kangzusi. selagi Kim Hoat bersuara. Ia dengar suara napas di sebelah kiri ia. Tan Hian Hong adalah orang yang diserang. Han Po Kie bersama Han Siauw Eng dan Coan Kim Hoat. disebabkan ketegangan dan kecemasan hati mereka. Selagi orang kegirangan. Dengan begitu. guna mencoba mengacaukan pikiran musuh. tengah menyambar ke kakaknya itu. Semua orang berhenti bertempur karenanya. Tiba-tiba Hian Hong menjerit aneh. Untuk Han Po Kie beramai. untuk mendesak Kwa Tin Ok. maka juga Han Po Kie menjadi kaget sekali. Mendengar itu. tiga sudah terluka parah. di tempat gelap gulita itu. suara terhajarnya terdengar nyata. tapi ia belum bebas bahaya. ia menghajar dengan tongkatnya. Satu dengan yang lain tidak dapat melihat. ia berpekik secara aneh.

Satu kali ia kena injak tempat kosong. sedikit orang yang ketahui kelihayannya. maka ia tak berbuat kepalang tanggung. untuk sambar bocah itu. ia curi sekalian kitab Kiu Im Cin Keng dari gurunya. Tetapi ia bertubuh kuat. maka juga ia kalah terkenal dari kaum Coan Cin Kauw yang kenamaan di Kwantong dan Kwansee dan Toan Sie yang kesohor di Selatan (Thian Lam). tubuhnya terus roboh terjengkang. suaranya terputus-putus. Lebih celaka lagi. Oey Yok Su adalah pendiri dari suatu kaum persilatan sendiri. Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong ini asalnya adalah saudara satu perguruan. ―Lekas kau lari…!‖ Kwee Ceng dengar pembicaraan itu. sekalian buron. manusia cebol terokmok!‖ berseru Hian Hong. Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi dapat dengar jeritan suaminya itu. Sang istri kertak giginya. ia kuatkan hatinya lalu dengan tiba-tiba. ia terkena pisaunya Khu Cie Kee. Sejak ia berhasil menyempurnakan ilmu kepandaiannya. ialah kitab Kiu Im Cin Keng bagian rahasianya. perempuan bangsat…. di tanah rata kereta rubuh ringsak‖. untuk mengambil kitab yang dikatakan suaminya itu. ilmu silatnya cukup untuk membela diri tetapi tak dapat digunai untuk menjagoi. Mereka insyaf. Ia terkena justru bagian tubuhnya yang terpenting. mereka adalah muridmuridnya Tocu Oey Yok Su. sebagaimana juga kebiasaan suaminya. Maka juga. dari mana mereka menyingkir lebih jauh ke Lengpo di propinsi Ciatkang. Tapi ia telah bersumpah tidak akan meninggalkan Thoa Hoa To. Kapan Oey Yok Su ketahui perbuatannya kedua murid itu. ia tidak terluka. Maka itu pada suatu malam gelap buta. orang itu ialah Kwee Ceng! Segera ia menunduk. hanya saking murkanya. berurat tembaga bertulang besi. terpaksa ia membiarkan saja. ia terjeblos dan roboh terguling-guling. Karena ini.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sekarang hendak aku mengambil nyawa anjingmu. pemilik dari pulau Tho Hoa To di Tang Hay. Sebagai jago is terbinasa di tangannya satu bocah yang tidak mengerti ilmu silat. Tan Hian Hong tahu. ialah kelemahannya. lain-lain muridnya Irawan D Soedradjat Page 110 . Tapi kakiknya terserimpat. mereka naik sebuah perahu kecil. seperti ada tangan yang menyambar merangkul. ―Akan aku balaskan sakit hatimu!‖ ia berseru. Maka sejenak itu. kecuali pusarnya itu. Ia takut bukan main. mereka bakal dihukum mati dengan disiksa. tetapi sekarang selagi mencekuk satu bocah. ―Lepaskan aku!‖ menjerit Kwee Ceng. disaat hendak menghembuskan napas terakhir. ―Lelaki bangsat. Istri ini lantas meraba ke dada orang. kau kenapa?‖ ia tanya. Tak pernah ia lupai kebiasaannya membawa-bawa ―bangsat‖. ia bersembunyi di pinggiran. ―Rahasianya…di dadaku…‖ Ia tak dapat bernapas terus. ia menjadi tidak mempan barang tajam. Laut Timur. Ia lantas berlompat. Tetapi tiba-tiba Tan Hian Hong perdengarkan jeritan yang hebat sekali. ia hajar batok kepala suaminya. ia lupa. kepandaiannya itu ia ciptakan dan yakinkan di pulau Tho Hoa To itu. ia murka bukan main. habislah nyawa jago itu. untuk di daratan Tionggoan. yang lihat aksinya si orang she Han. yang menolongi kakanya itu. Ia menduga tak keliru. Diwaktu bertempur ia selalu melindungi perutnya. untuk mana ia nyelusup masuk ke kamar gurunya itu. guna hampirkan si cebol. Ini dia yang dibilang ―Orang yang pandai berenang mati kelelap.‖ sahut Hian Hong lemah. dari atas bukit ia lari untuk menghampirkan. Tiauw Hong tahu. Ia melatih diri dengan sempurnya. ia tak dapat mengawasi suaminya itu tersiksa begitu rupa. Orang itu bertubuh kecil. Itulah siksaan hebat. tidak pernah ia pergi meninggalkan pulaunya itu. kalau rahasia mereka ketahuan. ―Celaka. yang tajamnya bahkan sanggup mengutungi emas dan batu kemala. suaminya itu telah membuyarkan tenaga dalamnya. Setelah menikam dan terlepas dari cekukan. ―Kitab itu telah aku bakar…‖ kata Hian Hong. ―Hm!‖ Hian Hong ksaih dengar suaranya yang seram. kabur ke pulau Heng To di sebelah selatan. tulang-tulangnya lantas meretak berulang-ulang. Segera ia tiba di samping suaminya. Dua saudara seperguruan itu terlibat api asmara sebelum mereka lulus.

hanya singkatannya atau rahasia pokoknya. Kim Hoat bertiga terpaksa lompat mundur. lam Hie Jin dan Thio A Seng. hingga mereka kabur untuk sembunyikan diri. Han Po Kie yang paling dulu lompat bangun. Kwee Ceng mulai muncul dari belakang batu dimana ia tadi bersembunyi. empat saudaranya itu. Mereka sembunyikan diri sampai belasan tahun. tidak ada kabar ceritanya. Hebat pengepungan ini. Tiauw Hong lantas raba dada suaminya. kepada gerak-gerik angin. luka mereka tidak parah. jiwanya terancam. biar bagaimana Tiauw Hong memohonnya. hingga mereka menjadi manusia-manusia bercacad seumur hidupnya. Tentu saja. Saking tergesa-gesa. angin tidak mengganas terlalu lama. lenyap juga mayatnya Tan Hian Hong. Sekonyong-konyong datang angin besar. Syukur. Ia sekarang hanya mengandal pada kejelian kupingnya. Sebab Han Po kie bersama Siauw Eng dan Coan Kim Hoat. Hian Hong dan Tiauw Hong menyembunyikan diri untuk menyakinkan Kiu Im Cin Keng itu. Tidak tahunya. sudah lantas maju menyerang. Adalah keinginannya ilmu ini agar musuh berkelahi rapat. pasir dan batu pada beterbangan. Syukur Tin Ok dan Cu Cong telah lihay ilmu dalamnya. Sebaliknya. kau bisa celaka. Semua muridnya itu ia putuskan urat-uratnya. si Mayat Perunggu. Coan Kim Hoat lantas tolongi saudara-saudaranya yang terluka itu. Hian Hong menjawab: ―Sebenarnya kitab ini terdiri dari dua bagian. ilmu Menyambar dan Menangkap. Dua kali mereka mendapat kemenangan. kepandaian yang kita sudah dapati dari suhu masih belum cukup untuk pelajari bagian bawah ini. dari itu. Malah dilain saat. Ia membikin enam saudaranya Irawan D Soedradjat Page 111 . Masih rebah tengkurap adalah Kwa Tin Ok. membuat langit menjadi gelap-gulita pula. Kekalahan ini disebabkan terlalu banyak pengepungnya. Justru di bagian atas adalah pelajaran pokok dasarnya. Po Kie berkata: ―Celaka betul! Bertiga kita lawan satu wanita buta. Ia tahu ada orang serang padanya. Kau tahu. maka ia hendak memeriksa. untuk terus mendekam. ia menjadi penasaran. Saking hebatnya. Di dalam hatinya. aku mesti memilih dengan teliti. Bwee Tiauw Hong lenyap. sebagian bawah. lalu ia usir mereka dari pulaunya.‖ Tiauw Hong percaya pada suaminya. Adalah berbahaya menyakinkan bagian bawah tanpa bagian atas. Adalah sekarangm. yang kedua matanya sudah buta. Ketika ini digunai Siauw Eng akan menikam dengan pedangnya dan Kim Hoat dengan dacinnya. Ia heran hingga ia diam menjublak. hingga mereka bisa melihat musuh. kita tidak berhasil. Cu Cong. yang tercengkeram Kiu Im Pek-kut Jiauw. atau kalau kau termaha. Lam Hie Jin patah lengannya. ia tidak hendak beri lihat kitab Kiu Im Cin Keng itu. Hujan pun turut berhenti perlahan-lahan. tetapi segera ia menjerit heran. mereka telah minta bnayak korban. Adalah Thio A Seng. baru ketiga kalinya. apapula makin lama mereka jadi makin telangas. Ia ambil kedudukan di belakang musuhnya itu. untuk mencari terlebih jauh. Medan pertempuran ada di atas gunung Heng San. dengan terbangnya sang mega. bukan saja mereka tidak dapat mendesak. mereka terus menyakinkan Kiu Im Cin Keng bagian ―Kiu Im Pek Kut Jiauw‖ atau ―Cengkeraman Tulang Putih‖ dan ―Cui Sim Ciang‖ atau ― Tangan Peremuk Hati‖. Setelah itu mendadak ia menyerang hebat kepada bebokong lawannya. Hian Hong suka serahkan kitabnya itu pada istrinya. ia tidak dapatkan apa-apa. Belum pernah ada orang yang sanggup robohkan mereka. walaupun mereka terhajar Tong Sie. Ketiga Manusia Aneh ini menjadi cemas. biar aku yakinkan sendiri dulu. lukanya berbahaya. Terdesak juga Tiauw Hong diserang hebat dari belakang. ia tidak ambil peduli. Dengan begini mereka bikin diri mereka menjadi jago. Kalau tidak. aku dapat curi cuma sebagian. hingga orang percaya mereka sudah mati karena luka-lukanya. ia tidak sempat mewujudkan niatnya itu. Tapi bukan kitabnya sendiri yang dia telah bakar. Repot juga Tiauw Hong. adalah setelah ia sendiri berhasil mempelajarinya. Pada waktu suami istri kejam ini dikeroyok orang-orang gagah dari pelbagai partai persilatan di utara Sungai Besar. walaupun pada istrinya. syukur ia tidak terluka dalam. baru ia turunkan kepandaian itu kepadanya istrinya. disaat dia hendak menutup mata. mereka kena dilukakan. si putri malam pun mulai mengintai pula dan muncul lagi. Dibantu oleh Siauw Eng dan Po Kie.Pendekar Pemanah Rajawali menjadi korbannya. Ketika istrinya desak. Maka itu. Bisa celaka mereka dirabu pasir dan batu itu. membawa mega hitam dan tebal. Aneh tabiat Hian Hong. ia berpikir keras. Semua orang basah kuyup pakaiannya. ia tidak memaksa lebih jauh. runtuhlah nama nama Kanglam Cit Koay…‖ Maka itu. membarengi berkelebatnya kilat. Sayang untuknya. mereka sendiri saban-saban menghadapi ancaman. ai melawan dengan mainkan tipu-tipu Kim-na-hoat.

aku tidak nanti menikah dengan lain orang…. ia tersenyum pula. tapi masih meneruskan kata-katanya: ―Bakatmu tidak bagus. Habis hujan lebat.‖ Meski masih kecil. selanjutnya kau mesti dengar perkataan kami. Ia menahan sakit. ―Ini gurumu yang kelima bakal pulang ke langit. Irawan D Soedradjat Page 112 . ―Kami tujuh saudara adalah gurumu semua. Kwee Ceng sudah mengerti banyak.‖ katanya. ―Ya!‖ ―Kalau begitu. aku baik-baik aja…‖ ia menghibur.‖ Tiba-tiba kedua matanya berbalik. ia masih dapat tersenyum. terus ia berjengit. hingga dua kali. Sebenarnya sia-sia saja kau berguru padaku. maka Coan Kim Hoat dan Han PO Kie lantas turun gunung untuk cari mayatnya si MayatPerunggu serta Bwee Tiauw Hong. jangan menangis. Coba dulu aku rajin belajar. baik sekali. biasanya aku perlakukan kau tidak manis…‖ katanya. ―Aku telah jadi orangnya keluarga Thio. untuk mengubur jenazah saudaranya itu ditempat itu. Dengan masih menangis. A Seng tertawa. kau pergilah dengan tenang…Kita Kanglam Cit Koay. ―Jangan menangis. jaga supaya ia jangan kalah dengan itu…imam…‖ ―Jangan khawatir.kalau nanti aku mati. Bocah itu menyahuti. tenaganya sudah habis. ia jatuhkan diri di depan tubuh A Seng. karena sangat eratnya pergaulan mereka. seumurku. Mereka mencari denagn sia-sia. Si nona masih dengar: ―Ajarilah ini anak dengan baik-baik. perlahan sekali. mereka juga saling menyinta.. sayang aku tidak dapat memberi pelajaran kepadmu…. di tanah berpasir mesti ada tapak kaki tetapi ini tidak. untuk menjadi istrimu! Kau setuju. si Mayat Besi. yang tahu kakak angkatnya yang kelima ini ada menaruh cinta kepadanya. ―Ngoko. maka Siauw Eng pasang kupingnya.. akan aku menikah denganmu. walaupun lagi menghadapi bahaya maut.‖ Masih A Seng hendak berkata pula. ―Kau justru perlakukan aku baik. Tin Ok terharu sekali. jikalau kau alpa dan malas. Thio A Seng adalah Siauw Mie To. mari kau hunjuk hormatmu padanya. begitupun dengan yang lainnya. legakan hatimu. hampir ia tak sadarkan diri. Itu waktu. sedang ia pun ada menaruh hati. Kwee Ceng mengangguk. mereka mendirikan satu batu besar. tidak nanti aku antarkan jiwa disini…. maka itu. Walaupun semuanya bertabiat aneh. Ia ulur tangannya. kau tentu hendak berguru pada kami?‖ Cu Cong tanya Kwee Ceng. lebih-lebih Han Siauw Eng. ―Cukup…‖ katanya. aku pun malas kecuali tenagaku yang besar…. mereka menggali liang. Enam saudara itu memangis menggerung-gerung. ―Citmoay. mereka tetap manusia biasa. si Buddha Tertawa.‖ kata Cu Cong pula. Sebagai nisan. ―Anak yang baik. Merek aitu pada melinangkan air mata. kesedihan mereka bukan main. untuk bersujud sambil mengangguk berulangkali. cuaca sudah menjadi terang. Ia lantas peluki A Seng dengan ia menangis tersedu sedan. tapi lukanya sangat mendatangkan rasa sakit. ynag telah hampirkan mereka. ―Legakan hatimu. ―Kau datang kemari. kau lihat contohnya gurumu ini…. inilah aku ketahui. ―Ngoko. Masih dapat ia mengatakan demikian. bukan?‖ kata nona Han itu tanpa malu-malu.‖ Siauw Eng menjawab. aku akan selalu bersama kamu…‖ A Seng masih dengar suara tu. Siauw Eng menangis.‖ kata pula si nona. untuk mengusap-usap rambut adik angkatnya itu. Thio A Seng tersenyum meringis. Aku sangat bodoh.‖ kata Cu Cong.Pendekar Pemanah Rajawali sangat berduka. di mulutnya kakak angkatnya itu. ia menarik napas. tidak nanti kita kalah…!‖ A Seng tertawa. Entah kemana perginya Tiauw Hong beserta mayat suaminya itu. habis itu berhentilah ia bernapas…. perlu kau belajar rajin dan ulet.

Itulah sebabnya kenapa kuda si kate tidak berani maju terus. ―Mana Tuli?!‖ ia tanya. Mereka menjadi heran sekali. tukang rawat macan tutul itu turut perintah. maka mereka pun saksikan myatnya Hian Hong itu. seluruhnya berlumuran darah. mereka pun turun dari gunung. kau sendiri bakalan digegares macan itu. Lari serintasan. setahu bagaimana jadinya dengan mereka. Ia lantas ajak pemelihara macan tutul itu untuk berlalu. Kwee ceng terkejut. ―Akan aku laporkan kepada Khan besar!‖ Tusaga hendak mencegah tapi sudah kasep. kau sembunyi di sini! Kenapa kau tidak berani membantui Tuli bertarung? Makhluk tidak punya guna!‖ Bocah itu ialah Tusaga. Ia menitahkan orangnya. yang menjadi tukang pelihara macan tutul itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Di tempat begini. ―Suhu. dia hendak suruh macan itu makan kakak angkatku.‖ kata itu guru. putranya Sangum. binatang itu berhenti dengan tibatiba. dialah putranya Khan besar Temuchin!‖ berkata itu tukang rawat macan tutul. ―Sekarang mari kita antar anak ini dan kita pun merawat diri. yang agaknya kaget. . maka itu kuda berlompat ke depan. menhajar kepalanya orang itu. Tusaga ayun cambuknya. Coba tidak ada Kwee Ceng. yang terus terdengar berulang-ulang. maka habis mengucurkan airmata di depan kuburan A Seng. seperti ada dagingnya yang orang telah potong. Segera ia dapat tahu perbuatannya itu macan tutul. coba kau pergi mencari pula. maksudnya memberitahu. dia membentak: ―Hai. kemudian kau.‖ ia kata kepada Siauw Eng. hendak aku menyuruh kakak angkatku lari. Ia berpikir: ―Dia mati di atas gunung. Mereka jalan belum jauh tempo mereka dengar menderunya binatang liar. Dua ekor macan tutul itu telah dapat mengorek satu mayat. kau pun bakal digegaren macanku!‖ ia mengancam tetapi ia tak berani dekati musuhnya. yang berada di antara rombongan orang tadi. Po Kie keprak kudanya. ―Aku tuntun macan tutulku menyuruhnya geharesi dia!‖ sahutnya. Heran Po Kie. tak mau ia maju walaupun dipaksa majikannya. ―Tarik macan itu!‖ kata satu anak kecil yang menunggang kuda. ―Tak takutkah kau?‖ ―Aku takut…‖ sahut murid ini. ia maju ke arah mereka. ―Kenapa tadi ia serang aku! Lekas!‖ Dengan terpaksa. apa nanti paman Temuchin bisa bikin!‖ ―Jikalau kau pergi. dengan cekal Kim-kiong-pian. lioktee dan citmoay. ia memasang mata ke depan. Tempo ia lihat Kwee Ceng. ―Kau lekas menyerah! Kalau tidak. ―Takut apa!‖ teriaknya. Diam-diam mereka bergedik menyaksikan itu musuh tangguh. yang terluka dari leher sampai di perutnya.‖ Pikiran ini disetujui. Po Kie menjadi heran. Dengan mendongkol ia berkata: ―Biarlah! Mari kita hajar Tuli dulu! Hendak aku lihat. Irawan D Soedradjat Page 113 Kwee ceng jeri kepada macan tutul tetapi ia ingat keselamatannya Tuli. Kedua macan tutul itu sudah mulai gerogoti mayatnya Hian Hong. Tidak ayal lagi. ―Di mana dia?‖ Tusaga perlihatkan roman tembereng dan puas. malah jago Kanglam ini kenali itu mayatnya Tan Hian Hong. jerih ia menampak Kanglam Cit Koay. ―Macan tutulku telah gegares Tuli!‖ sahut Tusaga berteriak. kenapa mayatnya ada di sini? Siapakah orang-orang itu? Apakah maksudnya maka itu mayat diganggu?‖ Itu waktu Coan Kim Hoat semua telah datang menyusul.‖ kata Cu Cng sekembalinya kedua saudara itu. Satu tukang rawat macan tutul yang lainnya ketakutan. Di sana tertampak serombongan orang serta dua ekor macam tutul menoker-noker pada tanah. ia berkata. kamu mengepung pula Tuli?‖ tanya Kwee Ceng. shatee. Po Kie lompat turun dari kudanya. ―Tuan muda. tentulah Kwee Ceng telah dihajarnya. ―Eh. Kalau tidak. tidak nanti wanita itu kabur jauh.

Cu Cong rebah di bebokongnya unta karena lukanya. ia menyahuti: ―Aku mau pergi!‖ Benar-benar ia lantas lari. kakaknya. tanpa minta bantuan Ogotai. setelah menyandak. Jamukha. ia pun sangat berani. sebab dua kali ia rubuh mencium tanah dan hidungnya kena diberi bogem mentah dua kali juga. tanpa perkenanan dari Temuchin lagi. yang pun lantas berlalu dengan cepat. sekarang ia dengar berita ini. Kanglam Cit Koay dapat lantas mencegah Tusaga apabila mereka kehendaki itu. mereka terkejut mendengar laporan si tukang pelihara macan. Irawan D Soedradjat Page Wang Khan semua iringi kedua saudara Wanyen itu.‖ kata Siauw Eng. Ia pikir: ―Jikalau anaknya Sangum membinasakan anaknya Temuchin. ia mungkin putranya satu pangeran atau raja muda. dan inilah untungnya negaraku. untuk terus dipanggul! Tetap tubuh Kwee Ceng di atas pundak orang. Hebat Tuli itu. ia lantas saja lari menyusul Kwee Ceng. tiga dari kita terluka…‖ Po Kie manggut. Tapi ia tidak peduli suatu apa. Kita tak boleh terbitkan onar. ia ulur tangannya. dimana tampak Tuli sedang dikurung oleh belasan orang. Ia berkata kepada saudarasaudaranya: ―Bocah ini bebal tetapi dialah orang segolongan dengan kita!‖ ―Matamutajam. Kwee Ceng bersangsi sebentar. di depan mereka tertampak beberapa serdadu Kim tengah berkelahi sama pengiring Khan ini yang tadi diberikan titah. Sementara itu Han Po Kie dapat candak Tusaga dan melombainya. ia bikin musuh-musuhnya rubuh satu demi satu. ingat. pertempuran sudah lantas dimulai. ia masgul. negara Kim yang besar!‖ Ia terus kisiki pengiringnya. kita harus berhati-hati. Ia tentu tidak tahu. ilmu silat tangan kosong. Sebenarnya Tuli rajin melatih diri menuruti ajarannya Cu Cong. ia seperti lagi menunggang kuda. kegembiraannya terbangun secara tiba-tiba. seorang diri ia pergi memenuhi janji kepada Tusaga untuk bertempur. ―Jangan lepaskan macan tutul! Jangan lepaskan macan tutul!‖ Segera terlihat ternyata mereka itu adalah Mukhali berempat. Itu wkatu Temuchin bersama Wang Khan. Mereka jalan baharu satu lie lebih. ―Mari kita lihat!― katanya. Tusaga penasaran. mereka lantas datang menyusul. Itu waktu ada beberapa kuda dilarikan keras ke arah mereka.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jadi kau batal pergi?‖ tanya gurunya lagi. tetapi mereka tidak mau menerbitkan onar. heran dia melihat Tuli sendirian. hendak ia lari. semua lantas lari keluar tenda untuk naiki kuda mereka. Dia orang ini turut perintahnya Tusaga. Tusaga datang dalam jumlah belasan. ia lantas lari pulang untuk menagmbil macan tutul ayahnya. cegah cucuku main gila!― Pengiring itu segera kabur dengan kudanya. sekalian mereka ingin saksikan sepak terjangnya Tuli dan Kwee Ceng. ―Mari kita bantu dia!‖ Coan Kim Hoat lantas memesan: ―Bocah galak itu memelihara macan tutul. ia gunai jurus ajarannya Cu Cong. sebentar kemudian tibalah di satu tempat. Wang Khan mendahului perintah satu pengiringnya: ―Lekas sampaikan titahku. ―Tusaga bawa-bawa macan tutul!‖ Tuli kaget. saking murkanya. yang larinya sangat pesat. Tuli yang sedang kegirangan tidak menyangka musuhnya itu bakalan minta bantuan binatang liar. jieko. akan cekuk bocah itu. ia kagumi bocah itu. yang dengan laporannya si tukang pelihara macan tutul. tidak lantas dikeroyok. Wanyen Yung Chi kecewa gagal menyaksikan orang diadu dengan binatang. dari ini putranya Temuchin Cuma dikurung. jurusnya itu adalah jurus pojok dari ―Khong Khong Kun‖. Sebabnya 114 Wanyen Lieh pun gembira tetapi ia tidak perlihatkan itu pada wajahnya. lekas!‖ Kwee Ceng berteriak-teriak sebelum ia datang mendekat. salah satu penunggangnya berteriak-teriak. . dan Sangum tengah menemani dua saudara Wanyen di tenda mereka. ketika besoknya pagi ia tidak dapat cari Kwee Ceng. ―Tuli! Tuli! Lekas lari. kedua mereka bakal jadi bentrok. tapi ia lagi dikurung.

lalu terdengar suara kuda berlarilari mendatangi di arah belakang mereka. khawatir kena putrinya. tiba diantara mereka. ―Siapa yang membunuh macanku?!‖ ia tanya dengan bengis. dari itu asal putranya tidakterancam tidak mau ia memanah macan itu. Boroul sendiri tutup mulut. adalah istrinya Temuchin atau ibunya Tuli. Di depan mereka berdiri dua bocah ialah Tuli dan Kwee Ceng. Ia baharu berusia empat tahun. kuku macan telah mampir dipundaknya. rubuh celentang lalu tidak berkutik lagi. Macan itu lagi bersiap-siap. kedua binatang itu berlubang masing-masing di kedua pelipisnya. ―Lepas panah!‖ Yulun Eke segera memerintah. yang ia peluk. keempat kakinya tengah menoker-noker dan mulutnya meraung-raung tidak hentinya. tidak ada seorang jua yang ketahui siapa si penyerang gelap itu. Boroul yang bertubuh kate dan kecil adalah yang paling gesit. Anak perempuan yang ia bawabawa itu adalah putrinya. ―Berangkat!‖ mereka menitah. Kapan ia berpaling ke arah darimana suara angin itu datang menyambar. karena ia jadi waspada.Pendekar Pemanah Rajawali adalah serdadu-serdadu Kim itu menghalang-halangi orang menjalankan tugas. untuk menjatuhkan diri. orang ini tidak ada matanya. apapula ia dapatkan. Tusaga lihat datangnya banyak orang dan kakek beserta ayahnya juga berada bersama. Penunggangnya seorang wanita usia pertengahan yang memakai mantel kulit indah dan mengempo satu anak perempuan yang elok romannya. melihat orang datang dekat. tempo ia dengar perkara putranya. Jamukha lihat itu semua. yang darimana darah mengucur keluar. Ia lantas menduga kepada mereka itu. Kwee Ceng berlompat. berulang-ulang ia anjuri macannya lekas menyerang. Semua orang kaget. ia belum tahu bahaya. kupingnya mendengar beberapa kali suara angin menyambar. binatang adalah binatang kesayangan Sangum. Gochin Baki. Gochin sebaliknya segera hampirkan kakaknya. Ia pun tidak karu-karuan dipegat dan dikeroyok. ia tertawa haha-hihi. ia khawatirkan keselamatan putranya itu. Wang Khan murka melihat kelakuan cucunya itu. sedang Temuchin tidak berani melepaskan anak panahnya. dia terjang kami!‖ Pengiringnya Wang Khan itu mendongkol dan tidak mau mengerti. yang pun terus tarik Tuli. disaat ia hendak mencegah. yang ditangkap sedari masih kecil dan dipelihara dan dididik dengan banyak sukar hingga jadi b esar dan dapat mengerti. romannya cantik dan manis. meski demikian. 115 Sangum sangat murka. Walaupun kejadian berlaku di depan mata mereka. pria dan wanita. Keempat pahlawannya lempar panah mereka dan menghunus golok untuk maju menyerang. Temuchin dan keempat pahlawannya segera siapkan panah mereka. ia tubruk Gochin. tetapi justru ia maju. Nyonya Temuchin tengah pasang omong dengan istrinya Sangum di tenda mereka. Mereka ini bilang: ―Kami tengah berdiam disini. Ia menjadi heran. ia menduga peristiwa itu terjadi karena bisanya dua Wanyen ini. Dalam saat mengancam itu. maka ia lantas menyusul. Ia sangat khawatir melihat putranya terancam macan tutul itu. untuk dirangkul dengan tangannya yang lain. lagi mengawasi dengan sikapnya yang tenang sekali. berniat mengusap-usap kepalanya seekor macan tutul. ialah yang maju di muka sekali. segera ia berlompat menubruk. Ia lantas lomat turun dari kudanya. Dua ekor macan tutul sudah lepas dari ikatan pada lehernya. Temuchin ketahui baik. yang ia ambil dari rangkulannya Kwee ceng. Di antara empat pahlawan. menyusul mana kedua macan itu rubuh berbareng. Yulun Eke lantas saja peluki putrinya. Kemudian ia ulurkan tangannya. tampak enam orang Han. ia jadi semakin temberang. Terang itu adalah kerjaan orang yang lihay. Ia kata dengan sengit: ―Aku toh ada di sebelah depan kamu dan kamu di belakang aku…!‖ Dua saudara Wanyen itu tidak inginkan mereka adu mulut. Anak itu menangis karena kagetnya. Dua saudara Wanyen itu lantas memerintah serdadu-serdadunya berhenti berkelahi. Sebentar saja kuda itu. Tidak lama tibalah mereka di depan rombongannya Tusaga beramai. . seekor kuda merah. diarahkan kepada dua binatang liar itu. sedang si petugas tidak berani abaikan kewajibannya. Irawan D Soedradjat Page Semua orang berdiam. maka ia dihiburi ibunya.

tak senang ia berbesan. Cucuku yang perempuan hendak aku jodohkan dengan Juji. Temuchin berpikir sebentar. ia puji untuk keberaniannya. ―Memang selama ia belum disingkirkan. Irawan D Soedradjat Page 116 ―Itulah aneh. mana kami berani minta gaji besar? Terserah kepada Khan sendiri berapa sudi membayarnya. Ia tertawa dan menyahuti: ―Mustahil aku tidak setuju? Marilah kita tambah erat persaudaraan kita. ia lihat rombongannya Kwa Tin Ok. Tuli tunggu sampai Wang Khan semuanya sudah berlalu. ia pun bicara hal Kanglam Cit Koay ( yang sekarang menjadi Kanglam Liok Koay sebab jumlah mereka telah berkurang satu). Selagi ia berpaling. yang ia usap-usap kepalanya.‖ bilan Tin Ok. ia penasaran. Panas hatinya Temuchin. untuk diberi tempat. Temuchin hampiri Wang Khan dan kata: ―Ayah inilah permainan anak-anak. Anak itu mencoba meronta tetapi tidak berhasil. tak usah ditarik panjang. habis itu ia larikan kudanya. kita selalu terancam bahaya. ―Saudara. ―Nanti aku gantikan kau empat macan tutul yang paling jempolan ditambah sama delapan pasang burung elang.‖ menyatakan Cu Cong. ―Yang paling perlu ialah mencari tahu dimana beradanya Tiat Sie. ia terus menangis sambil bergulingan di tanah. mereka berdiri jauh-jauh. terpaksa ia menyambut dengan sambil tertawa. kenapa ini beberapa Manusia Aneh berada disini?‖ katanya dalam hatinya.‖ Sangum masih mendongkol. untuk dikasih bangun dengan dipeluk.‖ . mesti dia jadi elok sekali. itu pun sudah bagus. putramu yang sulung. kita justru hendak berserikat untuk menghadapi kamu!‖ Maka ia hampiri Tusaga. Diam-diam Jamukha kisiki Temuchin apa yang tadi terjadi di tengah jalan antara pengiringnya Wang Khan dan serdadu-serdadu Kim. Temuchin lantas dapat tahu enam itu ialah yang tolongi putranya. Temuchin kata sama Sangum. Ia lantas menyahuti: ―Khan yang besar sudi terima kami. Ia terperanjat dan heran sekali. Aku lihat anak ini berbakat baik. aku tak dapat menerkanya. ―Sakit hatinya ngoko memang mesti dibalas!‖ kata Siauw Eng. terus ia kata pada Coan Kim Hoat. Sambil tertawa. ia sangat bangga untuk keturunannya. ia kata: ―Kamu hendak bikin kita bercedera. untuk merundingkan urusan mereka. Mereka tidak lihat Wanyen Lieh.‖ Temuchin girang. Mereka memang lagi pikirkan tenpat untuk bisa mendidik Kwee Ceng. Kanglam Liok Koay jalan perlahan-lahan. ia mendamprat Tusaga. ―Baik kamu berdiam di sini mengajari ilmu silat kepada putraku. Tin Ok beramai tidak mau menarik perhatian orang. ia tutur kepada ayahnya sebabnya ia berkelahi sama Tusaga. dan Cu Cong rebah di atas unta. terhadap Temuchin ia berdengki dan memandang enteng. sedang Kwee Ceng. sekarang kita menjadi besan!‖ Sangum itu angkuh. akan tetapi disitu ada putusannya ayahnya. ia suruh Boroul layani enam orang itu. Berapa kamu menghendaki gaji kamu?‖ Coan Kim Hoat senang dengan tawaran itu. ―Eh. setelah dewasa. Gochin sudah cantik. untuk susul kedua saudara Wanyen. ia membungkam. tak senang ia berbesan dengannya. meskipun masih kecil. bagaimana pikirmu?‖ Wang Khan girang. Wanyen Lieh menjadi sangat tidak puas. ia tidak pedulikan walaupun kakeknya menitahkan ia berhenti menangis. ―Mayatnya Tan Hian Hong dipotong dada dan perutnya. aku berniat menjodohkan dia dengan anakku. Cucu ini didamprat di depan orang banyak. Gagallah tipu dayanya. Wang Khan gusar. Kau akurkah?‖ Dengan girang. Ia menginsyafi peranan kedua saudara Wanyen itu. keluarlah alemannya. Di dalam hatinya. itulah kebetulan bagi pangeran ini yang lantas ngeloyor pergi duluan. entah itu perbuatan kawan atau lawan…‖ kata Han Po Kie.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sudahlah saudara Sangum!‖ berkata Temuchin sambil tertawa. guna mengadakan perjamuan perpisahan untuk mereka itu. ia suruh Boroul memberi hadiah bulu dan emas. ia lihat.

Maka Kanglam Liok Koay perhebat pengajarannya. rambu dan kumis jenggot mereka sudah mulai berwarna abu-abu. Malah Siauw Eng berkata dalam hatinya: ―Ngo-ko. yang mebuat ia girang. Kalau tidak mati. ―Tongkat Menakluk Iblis‖. maka mungkin ia mampus di dalam selat!‖ kata Po Kie kemudian sepulangnya mereka. Tentang perasaannya ini ia tidak utarakan. main panah dan ilmu tombak. lekas ia kasih turun pula! 117 ―Mari!‖ katanya seraya ia lompat dengan tangan kiri melindungi diri. Mereka mencari bukan hanya disekitar tempat itu. dulu ia pun ulet seprti bocah ini. Kwee Ceng dipanggil belajar sendirian untuk diajari ilmu pedang. hingga untuk sementara muridnya dilarang belajar naik kuda dan memanah. mestinya racunnya senjata itu bekerja. dia tak jadi jatuh. ia khawatir saudara-saudaranya bersusah hati. Ia ingat pada Bwee Tiauw Hong. tapi cepat sekali. untuk lindungi padanya. tapi Siauw Eng. maka itu untuk pergi ke kuburan. Sejak itu Kanglam Liok Koay menetap di gurun pasir. baru mereka tiba. Kwee Ceng berbangkit. kepandaiannya Liok Koay juga turut bertambah. Kemana perginya wanita seperti siluman itu? Dalam sepuluh tahun itu. tapi ajarannya Han Po Kie dan Lam Hie Jin tentang pokok dasar silat. untuk itu ilmu silat penting. mereka tidak peroleh hasil. senjata rahasia dan entengi tubuh. pisau tumpul kalau digosok terus bisa menjadi tajam. sayang di bebal. ia mengerti dengan cepat. salju yang turun secara besar-besaran baru berhenti. ilmu tongkatnya. Lagi dua tahun akan tiba saatnya janji pibu itu. Kwee Ceng juga diajak bersama. ia tetpa menarik hati. ia tampak kemajuan Kwee Ceng. Sekarang Kwee Ceng telah menjadi satu anak tanggung berumur enam belas tahun. ―Wanita itu rusak matanya terkena tok-leng toako. yang sia-sia saja dicari. Cu Cong jadi seperti melamun. ia baharu merasa hatinya tentram kalau sudah dengan tangannya sendiri ia bisa raba mayatnya Tiat Sie si Mayat Besi itu. dia tidak dapat teriam semua pengajaran kita. kemajuannya sedikit. Di situ ada tulang-tulang yang berserakan. Kwee Ceng bebal. Ia tersenyum kepada Kim Hoat. ia dapat imbangi tubuhnya. mayatnya juga tidak kedapat. ia utamakan ―Hok Mo Thung-hoat‖. dan siang dan malam terus ia belajar silat tangan kosong dan pedang. Ia menginsyafi lihaynya Bwee Tiauw ong. adu kepandaian. Dugaan ini masuk di akal. dalam pertandingan di Kee-hin. sepuluh tahun sudah lewat. Memanah Burung Rajawali Angin mulai reda. pada harian Ceng Beng. mereka pasang hio. Untuk itu ia dapatlah disebut. biarlah tahun lusa. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng terkejut tapi ia dapat menangkis. Ia tahu ia mesti membalas sakit hati ayahnya. Ia ingat. untuk sembahyangi saudara yang sudah beristirahat untuk selamanya di alam baka itu. Hanya kalau malam. si Mayat Besi mestinya tak bisa bersembunyi terus-menerus. Sang tempo berjalan dengan pesat. masih ada sisa keelokannya. malah diteruskan hingga beberapa hari. si bebal tapi rajin. hawa udara masih dingin. lalu pai-kui. rombongan ini mesti melarikan kuda mereka setengah harian. walaupun ia tidak secantik dulu. Habis pai-kui. walaupun demikian untuk daerah di gurun pasir utara. maka itu aku mohon bantuan kau. apa mau ia kena injak sebuah batu kecil. tapi Tin Ok tetap berkhawatir. yang pun melihatnya. Ia bersiap sedia menyambut Tiauw Hong. ia belajar dengan rajin sekali. dia tidak sampai memalukan nam akita Kanglam Cit Koay!‖ Sepuluh tahun enam saudara itu tinggal di utara. Kali ini. Lam Hie Jin paling menyanyangi Kwee Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali Karena ini kemudian Po Kie bersama Siauw Eng dan Kim Hota lantas pergi mencari. orangnya tidak ketemu. Sebab diwaktu siang mereka diajari menunggang kuda. malah ia segera dapatkan maknanya itu. Dalam iklim demikian. Umpamnya Tin Ok. dengan tangan kanan ia sampok pundak muridnya itu. dari itu. . Bab 11. hanya ketika ia geraki tangannya itu. Kanglam Liok Koay membawa barang-barang sembahyangan ke kuburannya thio A Seng. Mereka itu atur barang sembahyangan. ia terpeleset. Tempat kediaman bangsa Mongol tidak berketentuan. Cu Cong bersama Coan Kim Hoat dan Han Siauw Eng mengajarakan ilmu kegesitan. di sebelah itu ada sifatnya yang baik. akan ajari ilmu silat kepada Kwee Ceng dan Tuli yang juga diajari ilmu perang. belasan tahu kami didik anak ini. Dan Jebe bersama boroul turut memberi petunujk juga.

untuk tukar itu dengan sambaran tangan kiri ke pinggang. dengan satu tolakan. yang bersama Tuli dan pemuda she Kwee ini. kurang senang dan berbareng girang. ―Kau kaih ngosuhu lihat padamu!‖ ―Sie-suhu‖ yaitu guru keempat dan ―ngo-suhu‖ guru ke lima. ―Siapa suruh kau datang ke mari?‖ ia menegur. ―Aku senang melihat kau dihajar!‖ sahutnya. yang ingat budi Kwee Ceng telah menolongi putrinya. ia lompat bangun pula. ia rada manja. sedang ibunya Gochin. ―Siapa?‖ ia tanya. ―Engko Ceng. sedang serangannya Hie Jin pun dibatalkan ditengah jalan. mereka tersenyum. usianya tak berjauhan serta biasa mereka bergaul. guru yang keempat ini sudah menyusul dan tangan kanannya kembali menjambak pundak. Membuka Gunung. ―Kenapa manda diserang selalu?‖ Anjuran ini diturut. Ia pun dapat menempur dengan seru. si nona polos dan jenaka. Cu Cong dan Kim Hoat terperanjat. baru ia muncul untuk menggodai anak muda itu. kali ini si murid melompat mundur. Sengaja sampai Kwee Ceng rubuh. Ia sangat disayangi ayah ibunya. Sekarang ia meninju ke dada. tapi tak lama mereka akur pula.‖ Gochin tertawa. dia dan ibunya sering diantarkan pakaian dan binatang ternak. main bersamasama. ilmu silat ―Tangan Arhat‖ dari guru she Han itu. Hie Jin tersenyum. perlakukan ia dengan baik. tidak!‖ kata Kwee Ceng lekas. nanti aku pulang…!‖ Ia bicara dengan merdeka. ―Coba kau kasih lihat kebiasaanmu. dengan mendak. Orang yang tertawa itu tidak lari. Mereka pun lompat untuk cegah jalanan orang buat lari turun. Kwee Ceng luputkan dirinya. ―Siapa?!‖ mereka tanya. sampai mereka bentrok. setelah itu. pergaualan kedua anak muda itu juga tidak dilarang. Kwee Ceng malu. tidak. ―Apakah kau tidak senang aku datang?‖ tanya si nona dengan tertawa. ia justru muncul dari tempatnya bersembunyi. ynag datangnya dari pepohonan lebat disamping mereka. ia sembunyi di antara pepohonan lebat. Baru sekarang Kwee Ceng mengerti. apakah kau kena dihajar suhu?‖ ia tanya. dengan satu enjotan tubuh. tiba-tiba terdengar dua kali suara tertawa. sedang Kwee Ceng jujur dan rada tolol. untuk bergurau?‖ Irawan D Soedradjat Page 118 ―Mana orang yang ikut padamu?‖ kemudian tiba-tiba Tin Ok tanya si putri. Mukanya Kwee Ceng menjadi merah. ―Kita pulang bersama sebentar. Kalau Kwee Ceng likat. dia dibelakangmu. ―Baiklah. Nona itu tertawa. anak tolo!‖ Po Kie berseru. cuma mukanya yang merah. . Hari itu Gochin tahu Kwee Ceng hendak pergi pai-bong (sembahyang kuburan).‖ Saiuw Eng menganjurkan. Gochin melengak. kau layani sie-suhu berlatih. yaitu bagian Kay San Ciang-hoat.Pendekar Pemanah Rajawali Menampak itu. Senang Cu Cong semua menyaksikan eratnya hubungan anak-anak ini. ia pergi dulu dengan menunggang kuda. tapi begitu jatuh. Ia gunai ajaran Lo Han Kun. tapi Hie Jin lebih cepat pula. selamanya si nona mengaku yang salah dan rela minta maaf. hingga ia saksikan segalanya. ia pun bukan lain daripada Gochin Baki. meskipun disana ada enam orang lainnya. ―Aku datang sendirian. Kwee Ceng dibikin terpental dan jatuh. Kwee Ceng membalas. hingga tampak nyata ialah satu nona elok dengan muka putih potongan telur dan kedua pipinya bersemu merah. ―Balas menyerang. Ia berlaku cepat. Hie Jin segera kasih mengerti bagian kelemahannya. ―Oh.― ―Bukannkah kakakmu pun datang. putrinya Temuchin. tak jadi ia pergi. Demikian mereka hidup rukun seperti saudara saja. Sering Kwee Ceng digoda. Selagi guru itu berbicara. Masih ia tersenyum. Selang beberapa jurus.

―Tuan putri. kakak tertua. Kwee Ceng tidak mengantar terus sampai di tenda Temuchin. Sebaliknya.‖ Tanpa tunggu jawaban. lekas susul!‖ toako ini menitah. ia apsang kupingnya. Maka saudarasaudara yang lain pun pada mengejar ke arah selatan itu. ia menjadi heran. Kha Khan bakal hukum hambamu ini…‖ Gochin dijodohkan dengan Tusaga. Kembali orang heran. Tidak lama dari itu muncul beberapa puluh penunggnag kuda. Sekarang benar tidak ada orang disitu. di mana ia tinggal bersama ibunya. Wang Khan itu mengantar panjar. sembari lari.‖ sahut perwira itu. pemimpin satu eskadron. tongkatnya menuju ke selatan. coba lihat!‖ Tin Ok minta. perlahan bicaranya. itulah tanda penyambutan pada utusan Wang Khan. Kha Khan titahkan aku menyambut. Mesti baru saja orang curi itu. Dengan berlari-lari. meski tidak ada soal asmara.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kakak tidak datang! Benar aku datang sendirian. Itu waktu terdengar suara tetabuan. saudarasaudaranya menyusul. masih ada bekasnya di salju. ―Untuk apakah?‖ tanya si putri. Temuchin ingin putrinya temui si utusan. semua orang hampirkan saudara she Coan itu. yang sombong dan galak itu. ia toh berat nanti akan berpisah sama ini anak muda.‖ ―Liok-tee. ―Disana ada tindakan kaki kuda. tak senang ia menikah sama Tusaga. ―Ada datang utusannya Wang Khan. tapi ia erat bergaul dengan Kwee Ceng. Ketika Lie Peng. maka itu tepat kalau ia dijodohkan sama cucunya Wang Khan…‖ Irawan D Soedradjat Page 119 . semuanya orang Mongolia.‖ katanya. ibunya. Tak mau ia menentangi ayahnya. Melihat tuan putrinya. Gochin masih bersangsi sesaat. Tadi dengar tertawanya Gochin. menyusul suaranya seorang lain. akhirnya ia pulang juga. ia lantas menjadi gusar. Maka tak mau ia pulang. Ia lihat itu semua. Coan Kim Hoat pergi memeriksa. Pekhu-thio itu menjadi serba salah. bertanya. ia tetap membungkam. ―Rupanya telah datang musuh yang lihay‖. maka ia duudk diam saja. Memang telah lenyap sebuah tengkorak. tetapi kita tetap orang Han. Si nona ulur lidahnya. ia tidak perhatikan. untuk memberi hormat. ―Apakah aku yang salah?‖ tanya Gochin pada si anak muda. ia larikan kudanya pergi menyusul saudara-saudaranya. Ia memberi hormat pula dan katanya: ‖Kalau tuan putri tidak pulang. tengkorak hilang satu!‖ tiba-tiba Kim Hoat berseru. Baru sekarang Lie Peng dapat mendugai hal putranya ini. pergi kau temani tuan putri pulang. ―Ini bukan urusanmu. Siauw Eng tidak turut saudara-saudaranya pergi. ―He. Dengan tongkatnya ia menunjuk ke pepohonan lebat di belakang kuburan. Kim Hoat menjelaskan semuanya kepada Tin Ok.‖ katanya. Tidak senang si nona mendengar itu. ―Cegat di empat penjuru!‖ seru toako ini. kaget dan curiga. Ia lantas menghibur: ―Tuan putri benar baik sama kau. Ia berduka. Ia sangka orang itu adalah kawannya si nona. ―Terang sekali aku dengar suaranya dua orang!‖ Tin Ok berkukuh. Ia sendiri mendahului lari turun gunung. keningnya mengerut. ―Aku tak mau pulang!‖ katanya sengit. ia terus balik ke tendanya sendiri. Ia kata pada Kwee Ceng: ―Anak Ceng. dia itu lompat turun dari kudanya. yang dikepalai oleh satu pekhu-thio. Ia lantas berpikir. ―Disini tidak ada orang.‖sahut Kwee Ceng. cucu Wang Khan.

bakal cari padanya. ―Habis apa daya kita sekarang?‖ katanya. Ia bukannya meloloskan diri hanya menyerang. yang lain hendak membikin patah lengan musuh. ―Habis kau mau apa?!‖ tanya Kwee Ceng. seorang diri mana aku sanggup melawan? Bagaimana kalau musuh menerjang ke dalam tenda untuk melukai ibuku?‖ Ia ambil keputusan dengan cepat. denagn menikah sama dia. mukanya tidak kelihatan. Orang itu terperanjat. . Adalah kira-kira tengah malam. muridnya pulang. sampai di sisi anak si muda. dengan sipa sedia. ia menghela napas. menyusul mana sebelah tangannya menekan ke dada orang. untuk segera dupak tengkorak itu hingga mental jauh beberapa tembok. ia bisa asah otaknya menciptakan ilmu silat itu. ia memandang ke sekitarnya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ibu. Ia melatih bersama Coan Kim Hoat. yang usianya delapan atau sembilanbelas tahun. Itu bukan dandanan orang Mongolia. Kim Hoat lantas ajari muridnya jurus-jurus dari Tiang Kun. Mereka itu sia-sia belaka menyusul penunggang kuda atau pencuri tengkorak itu. Sebagai Biauw Ciu Si-seng. ia bertindak ke tendanya akan menyingkap dengan hati-hati. ia mengegos ke kiri. untuk naik pembaringan tanpa salin pakaian lagi. lalu ia sinngkap tenda dengan tiba-tiba. Dia cuma kata: ―Kalau kau berani. bajunya gerombongan. tanpa ampun lagi. ia tidur terus sampai pulas. Dia bicara dalam bahasa Tionghoa. Ia lebih dulu ambil goloknya. dia masih merasa sakit terkena sambaran anginnya serangan lawan itu. aku bukan pikiran itu. tuan putri bakal bersengsara…‖ Lie Peng tahu baik hati anakanya itu. Ilmu ini pun baru ia ciptakan sendiri. sebab tadinya ia tidak pikirkan untuk pelajarai itu. mengatakannya dengan perlahan: ―Tak kecewa pelajarannya. ia mendusin dengan terperanjat. ―Untuk apakah kau mencari aku?‖ Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng menanti tidak bergeming. Kalau orang itu kena diserang. Setelah itu. ―Siapa kau?‖ tanya Kwee Ceng. terlepas sambungan sikutnya. untuk lompat keluar. ia tampak satu tengkorak tepat di jalanan di muka kemahnya. tidak sia-sia pengajarannya Kanglam Liok Koay selama sepuluh tahun…‖ ―Kau siapa?!‖ tegur Kwee Ceng. tangan bajunya lebar. setelah mana ia pergi ke tenda gurunya. habis berlatih. Inilah jurus ―Orang-orang patah bahunya‖ salah satu dari jurus ilmu silat. yang tidak gubris perkataan orang. ia putar goloknya. Sebat gerakan orang itu. Setelah itu Kwee Ceng lihat orang adalah satu imam muda yang mukanya bersih dan tampan. ―Mau apa kau cari aku?‖ ―Kau toh Kwee Ceng?!‖ orang itu tegasi. ―Membagi urat memisah Tulang‖. Maka kagetlah Kwee Ceng. Lapat-lapat Kwee Ceng dengar tetabuan. Ia lantas bangun. Di sebelah kiri di bawah pohon ia tampak seorang berdiri diam. ―Hanya Tusaga itu kasar dan kejam. untuk membebaskan diri. Meski begitu. Untuk kagetnya. si Mahasiswa Tangan Lihay. Kwee Ceng berdiam terus sampai habis bersantap malam. Kalau ia 120 ―Mari kita berlatih pula!‖ kata si imam. tangan kirinya menyerang sikut. kapan tangan imam itu sudah hampir sampai pada dadanya. cuma dengan ilmu ini ia nanti sanggup layani Kiu Im Pek-kut Ciauw dari Bwee Tiauw Hong yang setiap waktu lambat atau cepat. bahu kanannya mesti patah. tangan kirinya menyambar lengan si imam dan tangan kanannya menyambar ke batang leher. Tapi ia sempat berkelit. di antara sinar rembulan. terpaksa ia lepaskan kedua tangannya dan mencelat mundur. Untuk lindungi diri. dan sekarang Kwee Ceng menggunai itu untuk melawan musuhnya. sampai Kwee Ceng tidak bisa lindungi goloknya. Ia pun terus menyerang tanpa tunda kata-katanya itu. mari turut aku?!‖.‖ Kwee Ceng akhirnya mau juga buka mulutnya. tangan kanannya menyambar lengan orang itu. Ia pun dengar si imam atau tosu. yang semuanya sudah pulang. Ilmu silat ini Kwee Ceng dapatkan dari Cu Cong dan Cu Cong mengutamakan ini karena ia pikir. ―Mana pisau belatimu yang tajam mempan besi? Mari kasih aku lihat!‖ Tiba-tiba ia melompat mencelat. ia lekas serang mukanya Kwee Ceng. ―Musuh datang cari musuh…‖ pikirnya. ―Suhu tidak ada di sini. yang masih berjaga-jaga. Ia pun dapat lihat tegas lima liang pada tengkorak itu. Ia dengar tanda tiga kali tepuk tangan. kakinya menendang jatuh golok orang.

sudah terlambat. teecu datang untuk memujikan suhu semua sehat-sehat!‖ Lantas ia berlutut untuk mengangguk-angguk. ia dapat lantas berlompat bangun dengan gerakannya ―Ikan Tambra Meletik‖.Pendekar Pemanah Rajawali berhasil. ia juga tidak menunjukkan tanda hendak menerobos keluar dari kurungan. hingga ia menjadi terdesak. karena ia pikir: ―Kalau kau datang dengan maksud baik. tidak terluka. Ia memberitahu bahwa pada sembilan tahun yang lalu ia telah berhasil mencari turunan Yo Tiat Sim. ia cuma terhuyung. Saking memusatkan perhatian pada lawan. melihat keringan tubuh orang. sampai ia lihat lawannya terhuyung. tubuhnya melayang. ―Hm!‖ Tin Ok perdengarkan suara tawar. Ia sampai tidak menyangka bahwa musuhnya bakal menggunai akal. maka juga. Saking gesitnya. yang dengar suara tindakan kaki mendatangi. Cie Peng mengerti orang hidup bukan main sederhananya. dia titahkan teecu datang kemari untuk menghanturkan banyak-banyak terima kasih‖. mengapa kau robohkan anak Ceng? Bukankah kau sengaja datang untuk pertunjuki pengaruh sebelum tiba saatnya bertanding?‖ Irawan D Soedradjat Page 121 Itu waktu Cu Cong telah membuka sampul dan membaca suratny. Untuk kegirangannya. tiba-tiba ia dengar seruan dari belakangnya: ―Serang bagian bawahannya!‖ Dengan tiba-tiba bangkitlah semangatnya Kwee Ceng. tubuhnya itu jatuh celentang. karena Siauw Eng tidur di kemahnya seorang wanita Mongolia. Kwee Ceng merangsak maju. Ia hendak maju pula tetapi ke enam gurunya sudah mulai kurung si imam muda. lantas saja si imam berbalik terdesak. meskipun ia telah diperingatkan. ia sampai tidak ketahui munculnya keenam gurunya itu. menuruti petunjuknya Po Kie. hingga ia merasakan sakit sekali. ―Awas!‖ teriak po Kie dan Siauw Eng yang terkejut. Tosu itu tidak bersiap untuk memberikan perlawanan. Disaat kewalahan. ia angsurkan kepada enam manusia aneh itu – tegasnya kepada Cu Cong. Karena ini. Karena ini. terus disempar. akan copotlah batang leher si imam itu. Jurus ini oleh Cu Cong dengan lucu dinamakan ―Sembari tertawa dan berbicara melepaskan rahang‖. Coan Kim Hoat menyulut lilin. tempo kakinya lawan melayang. dan ini terlihat tegas oleh Kanglam Liok Koay. ditambah sama kekhawatirannya akan munculnya Bwee Tiauw Hong. ―Mari kita bicara di dalam. kempolan kanannya kena didupak. Syukur kuda-kudanya kuat dan tendangan tak hebat. Khu Cie Kee memperingatkan bahwa sepuluh tahun sudah berlalu sejak perpisahan mereka di Kanglam dan dia turut berduka cita atas meninggalnya Thio A Seng. Tenda itu berperabot buruk. ia bebaskan diri pula. In Cie Peng turut masuk. Di situ Cu Cong tinggal berlima. . Kwee Ceng kurang pengalaman. hingga ia menduga kepada serdadu peronda bangsa Monglia. mereka tidak mengulurkan tangan untuk mengasih bangun. Ia lantas menggeser ke kanan untuk terus menoleh. Ia kata: ―Teecu In Cie Peng. Imam itu kenali serangan berbahaya itu. ia tampak keenam suhunya itu telah hadir semua. tidak tempo lagi. Ia kenali suaranya sam-suhu. maka itu tak ampun lagi. hingga terpaksa ia main mundur. Setelah belasan jurus. yang mana dengan kedua tangannya. Keinsyafan ini. Cu Cong berenam bersangsi. tetapi lemah bagian bawahnya. Kwee Ceng segera mengerti bahwa imam ini ada terlebih pandai daripadanya. dengan suara keras. ia memberi hormat kepada Kanglam Liok Koay. Imam itu licah gerakannya. maka itu Po Kie sadarkan muridnya. sebaliknya dengan rangkap kedua tangannya. atas titah guruku Tiang Cun Cu Khu Totiang. ia lantas kurung diri dengan rapat. kaki kanannya kena dicekal lawan. ia menjura ketika ia mulai berkata: ―Suhu berlima banyak cape! Guruku sangat bersyukur. ia mulai menyerang di bawah. Melihat itu.‖ kata Kwa Tin Ok. maka itu si imam bangkit snediri untuk terus merogoh ke dalam sakunya guna menarik keluar sesampul surat. gurunya yang ketiga yaitu Han Po Kie. Tanpa sangsi. Segera. membuat hatinya gentar. yang dapat bergerak-gerak dengan pesat sekali. kedua kakinya saling sambar dengan tipunya Lian-hoan Wan-yoh-twie – kaki Burung Wanyoh Berantai.

Saking kaget. tepat toako ajaradat padanya. Cie Peng tidak segera menemui Kanglam Liok Koay. Mereka sendiri menemui Kwee Ceng secara kebetulan. Kwee Ceng kalah oleh In Cie Peng. ―Ach ya. Cie Peng berdiam. Tidak diayana.‖ kata Cu Cong akhirnya. tetapi ia diperogoki oleh Tin Ok dan kabur. Mendadak orang she Kwa ini berseru: ―Kau pun jumpalitan!‖ dan tangan kirinya menyambar ujung baju orang di betulan dada. Khu Cie Kee memperhatikan putra sahabatnya. satu sutee.‖ katanya kemudian. Tin Ok antar orang sampai di muka tenda. diwaktu memasuki perguruan. teecu tidak tahu-menahu…‖ ―Hm!‖ bersuara Tin Ok yang terus berdiam. ia bermaksud baik. tidak nanti ia menerbitkan kecurigaan. benar-benar sulit. bagaimana pula ia dapat melayani Yo Kang. perjanjian di Cui Sian Lauw tidak bakal digagalkan. Tak sangka ia bakal ditanyakan tentang tengkorak itu. ia dipesan untuk sekalian selidiki Kwee Ceng. Tin Ok semua terperanjat. Surat itu diakhir dengan pemberitahuan bahwa lagi dua tahun. ―Sekarang kau sampaikanlah kepada gurumu itu. ―Walaupun Kanglam Liok Koay tidak punya guna. untuk membebaskan diri. mereka sendiri tidak tahu suatu apa perihal imam itu! Inilah tanda mereka sudah berada di bawah angin. Cie Peng geraki kedua tangannya.‖ sahut pula tosu she In itu. sampai sekian lama. ―Dia toh adik seperguruanmu?‖ Tin Ok menegaskan.Pendekar Pemanah Rajawali Mengetahui ini. Khu Cie Kee ketahui jelas tentang mereka. Kali ini ia membangkitkan amarahnya tetuanya Liok Koay. mereka berdua pihak bakal bertemu pula di Cui Sian lauw di Kee-hin. ―Dialah kakak seperguruanku. dan hal sekarang mereka berdiam di padang gurun ini…. ―Teecu tidak berani. yang tersebar luas di seluruh negara. Cie Kee begitu cepat menemui nyonya itu serta anaknya. Cie Peng memberi hormat lagi sekali. sang suheng? Pula heran. hal kematiannya Thio A Seng. di tepi sungai Onon. hanya ia mencuri lihat Kwee Ceng berlatih. Ia diperintah gurunya pergi ke utara untuk menyampaikan surat. ―Benar. Tin Ok angkat tubuh orang dan membanting. ―Teecu memohon diri. Coan Cin Kauw banyak pengikutnya. Tentang Hek Hong Siang Sat dan Kiu Im Pek-ku Jiauw. Setibanya di Mongolia. coba dia diam saja. ―Walaupun usiaku lebih tua. ―Imam cilik itu tak tahu adat.‖ bilang Tin Ok. ―Apakah kau ada punya hubungan sama Hek Hong Siang Sat?‖ tanya Tin Ok sebab orang diam saja. bebokongnya sakit. dia Cuma akan jungkir balik. tetapi muridnya ini menyeleweng sedikit. Cie Peng jadi jengah. Bilang bahwa kami tidak usah membalas dengan surat. walaupun ia tidak bermaksud jahat. hingga ia berdiam saja. yang berkhawatir oleh sikap orang.‖ Dingin hatinya Kanglam Cit Koay mendengar keterangan itu. maka jatuhlah ia dengan hebat. hal mereka dapatkan Kwee Ceng. disaat bunga-bunga mekar.. jadi dia tidak usah khawatir suatu apa pun. baharu ia bisa merayap bangun. tentang sifatnya dan ilmu silatnya. ―Apakah barusan kau layani dia untuk mencoba-coba?‖ Tin Ok tanya pula. kakakku itu mendahului dua tahun. Inilah hebatnya.‖ sahut Cie Peng.‖ kata Po Kie. yang ia lihat aneh. ―Memang ini tulisannya Khu Totiang. ―Atau kau tertawakan Kanglam Cit Koay yang satu diantaranya terbinasa di bawah cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw?‖ Baharu Cie Peng menjawab: ―Teecu ambil tengkorak itu untuk dibuat main. Sebaliknya. ―Anak turunan she Yo itu bernama Yo Kang?‖ Tin Ok bertanya.‖ jawab Cie Peng. tak ada maksud lainnya. tetapi buat cari satu nyonya yang lenyap. Coba ia lari tanpa sebat tengkorak. suaranya dingin. malah ia menguntit juga orang pay-bong terhadap Thio A Seng hingga ia saksikan semuanya. apa perlunya kau ambil itu tengkorak manusia!‖ Tin Ok tanya pula. untuk dengan terpincang-pincang ngeloyor pergi….‖ Cie Peng likat. Irawan D Soedradjat Page 122 .

―Ya. ia kasih moyong mulutnya. selama tujuh atau delapan kali. Ia menjadi masgul sekali.‖ Kwee Ceng bilang. ―Kita bertujuh saudara sudah puas berkelana. ia lenyap kegembiraannya. Sekalipun seorang yang berotak cemerlang ada sulit untuk dibikin maju dalam tempo yang pendek. ia menyusul. semakin rajin guru ini mengajari muridnya. kau tidak mau pergi. percuma gurunya ajari ia mesti begini mesti begitu. Ia sangsi apa Kwee Ceng dapat wariskan kepandaiannya itu dengan sempurna.‖ katanya pada Kwee Ceng. mari lekas!‖ Kapan ini bocah menoleh. hingga ia berdiri menjublak. ―Mari lekas lihat!‖. ―Mari lekas lihat!‖ sahut putri Temuchin itu. ―Aku sendiri sampai tidak melihat. rajawalai yang hitam yang menang atau yang putih…‖ 123 ―Pergi kau kembali dan melihatnya sendiri. karena aku datang untuk mengajak kau!‖ katanya. sieko. ―Hebat pertarungan itu!‖ ia kata pula mendesak. ia masih berdiam tatkala dari belakang. baik pun yang berbahaya. dengan lemparkan pedangnya. Kwee Ceng jujur.‖ Kwee Ceng beritahu. pula tak pernah diwariskan kepada lain orang. ―Apakah kau tidak dapat melatih dengan baik dan kembali dimarahin gurumu?‖ dia tanya. selanjutnya kau jangan pedulikan aku lagi!‖ Irawan D Soedradjat Page Gochin lompat turun dari kudanya. mari lekas. ―Benar. mengasih lihat roma cemas bernareng gembira. ia mejadi sangat menyesal. ―Kalau tetap kau tidak hendak pergi melihat. Siauw Eng menjadi sangat berduka. Akan tetapi sulit bagi mereka untuk mewujudkan kehendak itu. ―Banyak burung rajawali lagi bertarung!‖ ―Aku lagi berlatih. ―Aku tidak mau. mereka turut masgul pula. ia memanggil-manggil. ia mengangguk.‖ sahut Kwee Ceng. yang lambat kesadarannya. Murid ini mencoba berlompat. tapi sekarang hendak siturunkan kepada murid ini. ―Aku todak tahu.‖ Siauw Eng ajari muridnya itu. tapi gurunya berjalan terus. Hebat senjata rahasia tok-leng dari kakaknya ini. ia tinggalkan muridnya. Semenjak itu. hingga ia berlinang air mata. habis itu baharu ia mengundurkan diri. Kwee Ceng mengucap terima kasih sambil berlutut dan mengangguk. Ia ingat perlakuannya Siauw Eng barusan. Itu pagi Siauw Eng ajari Kwee Ceng ilmu pedang Wat Lie Kiam dijurus keempat yang bernama ―Di cabang pohong menyerang lutung putih‖. Kwee Ceng terperanjat. Untuk itu perlu orang berlompat tinggi dan jumpalitan. Ia tahu semua gurunya ingin ia maju. lekas menghanturkan terima kasih kepada toa-suhu. ia berduka sekali.‖ Siauw Eng bilang. apa boleh buat…. Adalah kehendak mereka agar si murid maju cepat. ―Anak Ceng. aku juga tidak mau pergi…‖ bilangnya sambil cemberut. apa pula Kwee Ceng yang bebal itu.‖ kata Hie Jin kemudian. Putri itu masih tertawa. ―Sekarang pergilah kau pulang dan tidur. Mereka khawatir kalah berlomba dengan Khu Cie Kee menampak kemajuannya In Cie Peng itu. tak pernah dipakai kecuali disaat genting. Semua saudaranya mengerti kedukaan toako ini. ia menjadi gelisah menampak guru-gurunya mulai perlihat roman tidak puas. Akhirnya si putri menjadi tidak sabaran. Tin Ok menghela napas pula perlahan. banyak pengalaman kita. ―Bukankah sama kalau sebentar kau menceritakannya kepadaku?‖ . Senjata itu adalah senjata rahasia istimewa penjaga diri sejak si kakak tak dapat melihat matahari. Putri itu tertawa. selang sesaat ia menghela napas. ―Sudahlah. ia membuatnya semakin banyak kesalahan.‖ Cu Cong semua gegutan. kita belum pernah mengkerat atau mundur!‖ Tin Ok mengangguk.Pendekar Pemanah Rajawali Tin Ok berdiam. ―Ada apa?‖ ia tanya. ia gagal senantiasa. ―Besok akan aku ajarkan kau senjata rahasia. maka itu. ia tampak putri itu yang duduk di atas seekor kuda. malah makin didesak. ia dengar teriakannya putri Gochin: ―Engko Ceng.

lekas panah!‖ ia teriaki ayahnya. ia akan mendapat hadiah!‖ Temuchin berseru. Kata mereka itu saling ganti: ―Hayo putih. kena disambarnya. semua sisa burung rajawali hitam itu terbang kabur. ia memanah. Pun burung itu dapat menyampok anak panah. Habis pertarungan itu. hebat setiap patukan dan cengkeramannya. hingga sayap mereka pada rontok berhamburan. Kwee Ceng bertiga. yang rubuh terbinasa dengan segera. Sebentar saja sudah bnayak penduduk yang datang melihat pertempuran rajawali itu. ke jurang. dia melawan sebisanya. Sering Kwee Ceng. ―Mari!‖ katanya. justru itu. Demikian seekor musuhnya yang terlambat berkelit. Putra itu menurut. maka itu tidak heran kalau sekrang mereka mengharapi kemenangannya si putih hingga mereka berteriak-teriak menganjuri si putih itu. lalu bangkainya jatuh di depan Gochin. masih kau tidak mau memanah?‖ tanya Gochin sambil menangis. sulit untuk mengenai mereka. ia merubuhkan seekor rajawali hitam itu. Temuchin sebaliknya berkata kepada Ogotai dan Tuli: ―Si rajawali hitam menang perang. yang menyaksikan siasat perang si hitam. sudah enam atau tujuh ekor si hitam yang mampus…‖ Mendengar itu. lalu anak panahnya nancap di badannya seekor rajawali hitam itu. malah Temuchin yang mendengar kabar itu juga turut muncul. malah Gochin lantas menangis. terhadap burung itu mereka mendapat kesan yang baik. semua penonton bersorak-sorai. tetapi sepasang rajawali putih juga telah mendapat luka. lekas berbalik! Bagus! Bagus! Kejar padanya! Kejar!‖ Lagi dua ekor rajawali hitam jatuh mati. mereka itu menggunai siasat. kawanan si hitam terbang ke arah sebelah liang di atas jurang. ―Siapa yang dapat memanah burung itu. dai liang itu tertampak munculnya dua kepala anak rajawali putih yang mencoba membuat perlawanan. ―Bagus!‖ berseru Temuchin. Ia datang dengan mengajak Ogotai dan Tuli. tetapi burung-burung hitam itu sudah terbang tinggi. Gochin dan Tuli main-main bersama di lembah itu. Setelah itu. orang banyak hendak bubaran. ―Ayah. hati Kwee Ceng tertarik juga. yang masih bertempur dengan seru. Panglima-panglima Teuchin lantas turut memanah. Tuli pun mencoba. satu si putih mengejar.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah itu sepasang rajawali putih yang besar yang berkelahi?‖ Kwee Ceng tanya. di udara terdengar riuh suara burung tadi. ―Ayah. Tuli dan Gochin menjadi kaget dan cemas. Habis itu. guna kabur ke kaki lembah di mana terlihat belasan ekor rajawali hitam tengah mengurung dan menyerang rajawali putih. ada musuh. bulunya yang putih ternodai dengan darahnya yang merah. dia matikan satu musuhnya. buat diajak naik bersama ke atas kudanya itu. Seekor rajawali hitam yang tubuhnya lebih besar daripada yang lainnya. ―Benar! Kawanan si hitam banyak tapi si putih lihay. Hebat si putih. terus ia menarik. hampir setiap hari mereka tampak sepasang burung rajawali putih itu. menerjang si putih yang lagi berdiri sambil merapikan bulunya. segera ia siapkan panahnya. patuk padanya! Awas di kiri. Irawan D Soedradjat Page 124 . tiga ekor si hitam lantas kabur. Temuchin tertawa. Rajawali putih lebih besar dan patuknya terlebih kuat. tetapi akhirnya ia jatuh karena luka-lukanya. kira-kira sepuluh ekor musuhnya itu masih menyerbu terus. dan ia juga berhasil merubuhkan seekor. maka ingatlah kamu!‖ Dua putra itu mengangguk Habis membunuh si putih. Riuh tempik sorak memuji Khan yang besar itu. tinggal lagi tiga. dan ia tarik tangan si tuan putri. lalu kira-kira sepuluh kawannya terbang pergi. ―Coba kau memanah!‖ kata Temuchin seraya menyerahkan panahnya kepada Ogotai. Menampak itu. lantas berbunyi berulang-ulang. lalu tertampak belasan si hitam terbang kembali. Sudah begitu.

Tapi anak panah itu tembus. ia tekuk sebelah kakinya. untuk di utara ini. ―Apakah aku dapat mendustai anak-anak?‖ ayahnya itu tertawa. ―Ser!‖ demikian anak panah menyambar. dengan tangan kiri memegang busur dan tangan kanan mencekal anak panah berikut talinya. Ia berkata: ―Aku sendiri tidak menghendaki apa-apa. ―Kau anak yang berbakti. sebab heran mereka atas sikapnya Khan mereka itu. Justru itu dua ekor burung rajawali hitam terbang beredeng. ia berniat pertontonkan ilmu panahnya Kwee Ceng. yang jadi rubuh bersama di sampingnya si tukang panah. sekali memanah dua ekor burung. menarik habis hingga busur itu melengkung sepenuhnya. ia menjadi girang sekali. ibuku pun telah punyakan segala apa. ―Benarkah barang apa pun boleh?‖ ia tegaskan ayahnya. ―Serahkan burung itu kepada ayahku!‖ Gochin berbisik di kupingnya Kwee Ceng. Semua orang mengawasi Kwee Ceng. dan seekor rajawali rubuh. ―Kau berlutut! Kau panah lehernya burung itu!‖ ia menyuruh dengan suara perlahan. aku hendak mewakilkan seseorang mohon suatu hal…‖ Irawan D Soedradjat Page 125 . Sekarang bocah ini bisa memanah sekaligus dua ekor. ia lari kepada Temuchin.‖ berkata Kwee Ceng dengan jawabannya.Pendekar Pemanah Rajawali Jebe si Jago Panah berdiri di samping Temuchin. kalau sepasang sayapnya direntangkan. tenaganya menjadi besar sekali. ayah hendak menghadiahkan dia apakah?‖ ―Apa pun boleh!‖ sahut ayahnya itu. ―Inilah guruku yang mengajari. ia lantas menarik hingga busur itu. Kwee Ceng sambuti panah itu. ―Khan yang agung telah perlakukan aku begini baik. ―Jebe‖ itu berarti ―ahli panah yang lihay atau dewa panah‖ Tuli hendak bantu adik angkatnya itu. tidak lagi berputaran di atas jurang. atau tangannya menjadi melengkung. siapa yang berhasil memanah. semabri menarik. Di dalam bahasa Mongol. muridnya juga Jebe!‖ pujinya. dengan kedua kakinya ia berlutut di depan kudanya khan yang besar itu. dia bakal dihadiahkan sesuatu. ―Gurunya Jebe. kapan ia menyambar ke bawah. kau hebat!‖ ia kata pada si bocah. Temuchin tertawa lebar. ―Kau sendiri. Menampak itu. ia turunkan panahnya. apakah yang kau kehendaki? Kau sebutkan saja. Busur itu beratnya dua ratus kati tapi ia dapat menariknya. ia kata kepada ayahnya. jangan takut!‖ Kwee Ceng perdengarkan suara perlahan. Si anak muda menurut. untuk persembahkan burung itu. Harus diketahui. ―Kau menghendaki apa?‖ Tuli girang sekali. Dan karena ini. sekarang saudaraku ini memanah sekaligus dua ekor. Itulah yang dibilang. dalam segala hal kau lebih dulu ingat ibumu!‖ katanya. itulah hebat! Temuchin suruh pengiringnya ambil burung itu.― sahut Kwee Ceng yang tidak hendak mensia-siakan Jebe. ia dapat cekuk seekor kuda kecil atau kambing besar. ia dekati Kwee Ceng untuk menyerahkan panahnya itu. bulu sayapnya pun kuat seumpama besi. lebar panjangnya sampai setombak lebih. di depan siapa ia etkuk sebuah lututnya. malah adakalanya harimau atau macan tutul pun mesti lari dari burung ini. Temuchin tertawa pula. sia-sia ia mencoba berkelit. yang terus tanya Kwee Ceng. Kwee Ceng menarik tangan kanannya. Seumurnya Temuchin paling menyukai panglima yang gagah perkasa dan orang kosen. Tepat ia terpanah batang lehernya. ia mengincar. kedua tangannya diangkat tinggi. sisa burung yang lainnya terbang kabur. ia memungut dua bangkai burung itu. ―Anak yang baik. Ingin mereka mengetahui apa yang si bocah bakal minta. sekarang ia saksikan Kwee Ceng serta sikapnya itu. karena setelah sepuluh tahun berguru kepada Kanglam Liok Koay. ―Ayah tadi bilang. terus menyambar perutnya rajawali yang kedua. orang banyak bersorak dengan pujiannya. Tidak tempo lagi. karena itu tidak usahlah aku diberikan apa-apa lagi. datangnya dari arah kiri. gurunya itu. burung rajawali ada besar luar biasa.

lihat bagaimana harus dikasihani burung itu…‖ berkata Gochin. hingga ia bermandikan keringat. ―Engko Ceng. kaulah yang mewakilkan aku membunuh mereka!‖ Belum lagi Kwee Ceng sahuti si khan itu. ia dengar suara berkelengannya kuda. ai mencoba pula. ia dengar suara berisik dari kedua anak burung rajawali putih di atas tebing. Gochin terus mengawasi. buat terus rebahkan diri di atas rumput. yangs seperti mendatangkan hawa dingin adem. Kwee Ceng tunggu sampai orang sudah pergi semua. kau anak kecil. Ia tidak ganggu Kwee Ceng. lalu akhirnya ia tertawa terbahak. ia timpuki itu kepada si anak muda. sebelah tangannya dipakai untuk menunjang kepalanya. ―Mana dapat. ia hunus golok pendek itu dan melihat sinarnya yang tajam. lalu ia tertawa mengawasi kawannya itu. ia berkata: ―Sudah. hendak aku menghadiahkan kau serupa mustika!‖ Ia loloskan golok pendek di pinggangnya. Semua panglima dan pangeran mengikuti dari jauh-jauh. ia sudah lantas ketahui kebinasaan pasangannya. hatinya menjadi lemah. yang mengejar kawanan burung hitam itu. Ia lantas terbang berputaran.‖ kata Kwee Ceng. bunyinya: ―Membunuh musuh dan memusnahkan musuh bagai menyembelih harimau dan kambing‖. ―Musuh-musuhku tak usahlah aku sendiri yang membunuhnya. ia masuki ke dalam sarungnya. ia sambuti golok itu. maka itu aku mohon denagn sangat supaya janganlah tuan putri dijodohkan dengan dia itu‖ sambungnya kemudian. dibelakang hari mestinya tuan putri menderita. untuk melatih Wat Lie Kiam-hoat. tidak nanti ia serahkan goloknya itu. ―Kalau Putri Gochin dinikahkan dengannya. cucunya Wang Khan itu busuk dan jahat. ia sodorkan itu pada si bocah. Coba tidak khan itu telah melepas kata. Pada golok itu berpeta tanda darah. Gochin berdiam. maka juga ie menghela napas. Dia rupanya bermata tajam. dimana ada terukir pula katakata: ―Golok pribadi dari Khan Temuchin‖. mendadak Gochin menangis. suaranya sedih. Semua panglima menjadi kagum dan memuji. sampai satu kali ia angkat kepalanya. Hanya ketika ia saksikan kawan itu sangat mengeluarkan tenaga. Dialah burung tadi. yang kedua ujungnya ia gumpal masing-masing sesudah mana. Ia menahan sabar.‖ ia berkata.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah itu?‖ tanya Temuchin. habis membuat main itu golok. ―Kau sustlah peluhmu!‖ katanya. Di sebelah itu masih ada ukiran dua baris kata-kata. ia malah makin gagal. Temuchin berkata. hanya ia menontoni. engko Ceng. Kwee Ceng menhanturkan terima kasih. lalu ia mengeluarkan sapu tangannya. agaknya mereka sangat ketarik hati. ―Sungguh ucapan kanak-kanak!‖ katanya. yang sarungnya terbuat dari emas dan gagang golok berukirkan emas berkepala harimau. aku tidak punya waktu untuk temani kau berbicara. Ia menanti sekian lama. Ia masih tidak berhasil menyempurnakan jurus ―Di cabang pohon menyerang lutung putih‖. ia sendiri terus berlatih. jangan berlatih terus. Kalau ia tidak melompat terlalu rendah ia tentu tak keburu menggerakkan pedangnya. menyusul mana segera terdengar suara yang keras tetapi agak hebat dari si rajawali putih besar yang terbang datnag. Irawan D Soedradjat Page 126 . ia mengawasi burung itu. Terus ia putar kudanya. Baiklah. Putri itu tiba untuk terus lompat turun dari kudanya. yang lagi berlatih. agaknya ia terkejut. yang menyatakan entah berapa banyak korban yang telah dimakan. Melengak Temuchin mendengar permintaan itu. tetapi ia antap sapu tangan jatuh di sampingnya. Tengah ia berlatih. yang rupanya baharu kembali. lalu ia tampak Gochin lari mendatangi dengan kudanya. ditabur sepotong batu kumala hitam. ―Tusaga. Golok pendek itu adalah goloknya khan mereka sendiri. golok mustika yang pernah dipakai membinasakan bnayak musuh. Kwee Ceng berhenti berlatih. mari beristirahat!‖ ―Kau jangan ganggu aku. Kemudian ia cabut pedangnya sendiri. terus ia lompat naik atas kudanya yang lantsa kasih kabur! Temuchin keras bagaikan berhati besi akan tetapi menyaksikan putrinya yang paling ia sayangi itu begitu bersusah hati. untuk pulang ke kemahnya. Kwee Ceng bersuara perlahan.

setelah mana. tebing dan semua batunya licin. Irawan D Soedradjat Page ―Bagaimana?‖ tanya Gochin yang memeramkan matanya. lalu Kwee Ceng merasai bahunya kaku. lalu dengan satu kelebatan. tidak ada abunya sedikit juga. ―Kecuali orang bersayap dan dapat terbang naik ke atas sana. kagum ia untuk lihaynya ini imam. Imam Berkonde Tiga Kwee Ceng menjublak sekian lama. 127 Hati Kwee Ceng dan Gochin berdenyut keras tak hentinya. kedua burung itu masih kecil. ―Apa katamu?‖ ia tanya. baru anak-anak burung itu dapat di tolongi…‖ katanya. Ia pun sudah lantas menoleh pula. ia sudah mencapai hingga di atas jurang. Belum berhenti suaranya Gochin. yang aneh dandannya. Jurang itu tinggi. ―Liaht biar tegas!‖ bersuara si imam itu. Maka segera ia melompat ke depan tuan putri itu. Cu Cong. ―Dengan belajar secara demikian. untuk mendaki dengan cepat.? Bab 12. memandang ke atas tebing. yang berkumis abu-abu tetapi mukanya merah dadu. Si imam lempar pedangnya ke tanah. Mereka melihat satu tosu atau imam. atau tahu-tahu ia telah serbu batu gunung yang besar. maka itu. gerakan siapa ia sepertinya tidak melihatnya. keduanya kadi terdiam. tidak biasanya untuk orang yang berada di gurun pasir. Mereka menjerit dan sama-sama mencelat. belum bisa terbang. Ia awasi imam berkonde tiga itu. pedangnya telah pindah tangan kepada si imam itu. heran dan berkhawatir untuk keselamatan si imam. hanya mendadak ia maju mendekati. ia berkhawatir untuk Gochin. cara bagaimana mereka bisa mencari makan? Bukankah mereka itu bakal mati kelaparan…. baru ia buka suara. Si imam tersenyum. ilmu dengna tangan kosong merampas senjata musuh. yang tidak pedulikan sikpa orang. sebab ia telah mebuat tiga konde kecil di atas kepalanya. . maka di detik lain.‖ sahut si engko Ceng itu. lekas-lekas keduanya berpaling. turunannya pun tak boleh tak ditolongi!‖ ia berkata. Hancur-luluhlah kalau orang jatuh dari atasnya. Mana bisa ia membela diri atau berkelit? Berbareng dengan itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pasti ia sangat berduka. Bocah ini berdiri melengak. ia hunus golok hadiahnya Temuchin. sedang turunnya si imam adalah sangat cepat tetapi tenang. Tiba-tiba terdengar suara dingin di belakangnya. beroman sebagai huruf ―pin‖. untuk bersiap melindungi putri ini. dan segera ia berkata: ―Bagaimana dengan kedua anak burung itu? Bapak dan ibunya telah mati…‖ Sarang di liang di atas tebing itu sukar dipanjat orang. di dekat liang yang merupakan sarang burung rajawali putih itu. mulutnya terbuka lebar. Ia masih saja tidak berhasil melatih jurus keempat yang bau diajari gurunya itu. Ia pegang pula pedangnya dan mulai lagi denagn latihannya. ia tertawa. akan tetapi ia belum dapat menyakinkan itu dengan sempurnya. Dan ia pun berbicara dalam bahasa Tionghoa. Ia berlari dengan kaki. hingga tahu-tahu ia sudah jalankan jurus yang Kwee Ceng tak sanggup pelajari itu. ia lompat untuk lari ke jurang. sebentar kemudian. sangat cepat. terus ia terbang ke atas seprti memasuki mega. sedang jubahnya bersih sekali. Pernah Kwee Ceng diajari gurunya yang kedua. hanya ia mencelat ke atas. tujuannya ke jurang. belum ia menginsyafi gayanya. ―Mau apa ia terbang ke atas?‖ tanya tuan putri itu. Ia menjadi tidak senang. ia sudah roboh dengan tidak bernyawa lagi! Dua-dua Kwee Ceng dan Gochin terkejut sekali. ―Sungguh harus dihormati! Sungguh harus dihormati!‖ tiba-tiba mereka dengar satu suara nyaring di belakang mereka. Gochin tidak mengerti bahasa itu. Lagi sekali burung besar itu perdengarkan suara nyaring. Mereka kagum. burung itu sudah terbang turun pula. gerakannya bagai lutung atau kera. yang tangannya mencekal hudtim atau kebutan pertapa. hingga mereka menjadi heran. Untuk sejenak itu. Di atas tebing itu si imam tampak menjadi kecil tubuhnya. menjambret dan merembet dengan tangan. ia menoleh. lagi seratus tahun juga tidak bakal berhasil!‖ Kwee Ceng berhenti bersilat. ia tidak menyahuti. ―Burung rajawali putih itu harus dihormati.

untuk aku memeliharanya. untuk berlalu. untuk mengangsurkan. tertawa. ―Aku ingin kau tidak beritahu siapa juga yang aku telah mendaki jurang itu dan mengambil anak burung ini. agaknya ia baru sadar. aku ada sangat bebal…‖ ia kata kemudian. dilain saat. lalu di lain pihak ia kagumi si imam ini yang demikian lihay. Kwee Ceng bengong mengawasiu tuan putri itu. tapi Cuma sejenak. ―Kau mesti berjanji padaku satu hal. ―Totiang. yang merogoh keluar kedua anak burung itu. mereka bakal menjadi sangat kuat dan galak. Ia kata klepada Kwee Ceng: ―Engko Ceng. Ia menjadi seperti kehilangan semangatnya. entah sampai berapa puluh kali. ―Bisakah kamu merawat anak-anak burung ini?‖ ―Bisa. untuk apa kau pay-kui terhadapku?‖ si imam tanya. Kwee Ceng dan Gochin lari menghampirkan pertapa itu. ―Hati-hati. ―Siang dan malam aku berlatih. ―Eh. Ia lihat si imam demikian sabar dan ramah. ―Kenapa?‖ si imam tanya. hingga susah ia membuka mulutnya. rupanya sulit ia berbicara. Akan tetapi si imam tiba dengan selamat. Dia Tiba di bawah dengan tak kalah cepatnya sewaktu ia mendaki. Akur?‖ Kwee Ceng mengangguk.!― Gochin kasih turun kedua tangannya. ―To…totiang. yang pun pandai mainkan jurusnya yang sulit itu. Gochin lantas lompat naik ke atas kudanya dan kabur pergi. ia berkata: ―Kalau nanti sepasang anak burung ini menjadi besar. dan dengan ulur kedua tangannya. burung ini kita punyakan seorang seekor.‖ sahut Gochin. ―Hal itu sebenarnya sulit juga. tetap tertawa. Ia tertawa pula.. ―Baik. karena mana. ia seperti menghadapi satu sanaknya yang terdekat. jangan pergi dulu…!‖ Kwee Ceng berkata. ―Aku nanti ambilkan daging untuk memelihara padanya!‖ ―Eh. apakah yang kau kehendaki?‖ tanya si imam. ―Bagus! Bagus. Bocah ini menggaruk-garuk kepalanya. bisa!‖ sahut si putri dengan cepat seraya menyambuti. maka itu diwaktu mengasih makannya kau mesti hati-hati.‖ sahut si nona. Mendadak Kwee Ceng mengucurkan air mata. dengan itu ia ikat kakinya kedua burung itu. justru ia melihat si imam lompat ke liang. Irawan D Soedradjat Page 128 . lantas ia jatuhkan diri berlutut di depan si imam dan manggut-manggut. ia mulai menangkap dua anak rajawali itu. Ia girang bukan main. yang girangnya bukan main. ia sudah mulai turun pula. seraya ia tanya Gochin. hingga ia menjerit kaget. baru suka aku serahkan burung ini padamu!‖ ―Apakah itu?‖ si putri tanya.‖ Gochin loloskan benang ikatan rambutnya. bisa.Pendekar Pemanah Rajawali ―Hampir tiba!‖ sahut Kwee Ceng.‖ kata si imam.‖ Si imam ini tertawa. tunggu dulu!‖ kata si imam.‖ ―Aku tahu. habis itu ia memutar tubuhnya sembari tertawa. ―Aku belajar rajin dan ulet akan tetapi tetap aku tidak dapat belajar dengan sempurna hingga karenanya aku membuat keenam guruku menjadi tidak senang…‖ ―Habis. akan tetapi sekarang akulah yang bawa dulu. ―Apakah kau ingin petunjukku?‖ imam itu tanya lagi. ―Burung ini kecil akan tetapi patokannya sakit sekali. tetap aku gagal…‖ Kwee Ceng kata pula. Si imam konde tiga itu pungut pedangnya untuk dikembalikan kepada pemiliknya. tapi biarlah aku tidak menyebutkannya. tubuhnya seperti terpelanting jatuh. untuk kemudian dimasukkan ke dalam sakunya. jangan sampai tanganmu kena dipatuk!‖ memperingati si imam.

Pendekar Pemanah Rajawali ―Benar!‖ Dan Kwee Ceng mendekam pula. Si imam sudah lantas berjalan. Melihat orang bersungguh hati.‖ kata si imam. Dan ia lari ke kaki jurang. Benar-benar sukar ilmu cambuk itu. setelah pesan si murid belajar terus dengan sungguh-sungguh. satu kali Kwee Ceng salah menggeraki tangannya dan cambuknya mengenai kepalanya sendiri! Po Kie menjadi mendongkol. Ia bisa naik setinggi enam atau tujuh belas tombak. sambil sebelah tangan terus pegangi liang batu. lalu ia berdiam. Ia telah mesti menggunai tenaga terlalu besar. kakinya tangannya lemas. Untuk heranya. untuk mulai mendaki. Kwee Ceng menjadi bingung. untuk dipegang. asal hati orang kuat!‖. lenyap rasa dongkolnya Po Kie. atau mendadak ia dengar suara orang tertawa diatasnya. ia tidak memperdulikannya lagi. Maka ia kertak gigi. hampir ia terjatuh! Kapan ia memandang ke bawah. guna menancap itu untuk dipakai sabagai alat pegangan. Tapi matanya masih mengawasi ke pundak. ―Mesti dapat!‖ ia keraskan hatinya. untuk ia menindak. ia bernapas denagn perlahan-lahan. Ia membiarkan saja walaupun si murid lagi-lagi membuat beberapa kesalahan. ia rebahkan diri di rumput dan kepulasan. tapi ia memandang ke atas bukit. ―Terang dia tidak ingin mengajari aku…‖ Cuma sesaat ia berpikir pula: ―Aku toh bukannya tidak punyakan guru yang pandai? Di depan mataku toh ada enam guru yang bersungguh-sungguh mengajari aku? Dasar aku yang tolol! Apa daya sekarang? Meski totiang lihay sekali. Tanpa banyak pikir. Maka ia diam mendekam. Kwee Ceng menjadi korban. dengan tangan kanannya ia libat pinggangnya. Jalan naik lebih jauh batu melulu. Ia merasakan sakit pada tubuhnya. ujung cambuk mengenai diri sendiri. ujungnya berdiam tepat di depannya! ―Ikat pinggangmu. naik tak dapat. Ia mendusin sesudah rembulan muncul. Setahu berapa banyak liang lagi harus dibikin untuk dapat naik ke atas. ia simpan goloknya. tiba-tiba ada sehelai dadung meroyot turun. Ia heran. Ia ingat janjinya si imam. ―Aku…aku…tidak dapat mendaki…!‖ katanya. mengikat keras. Ia baru pulang sesudah matahari turun dari gunung dan ia rasai perutnya lapar. ia sekarang dapat akal. Tiba-tiba ia menjadi girang sekali. hingga ia menjadi babak-belur. Maka itu akhirnya. mana dapat aku mewariskan kapandaiannya itu? Percuma aku belajar dengannya…‖ Bocah ini menjadi tawar hatinya. turun pun sukar! Kwee Ceng menghela napas bahna sukarnya. nanti aku tarik kau naik!‖ begitu suara terdengar. aku nantikan kau di atas puncak. Demikian sudah terjadi. ―Kalau begini. Setelah cukup beristirahat. Ia cari lubang atau sela batu. baru manjat dua tombak. ―Dia bisa mendaki. ia naik seperti merayap. Saban salah menarik. lengan dan kakinya matang biru. ialah ia pakai golok pendeknya. ia sentil kupingnya si murid itu. maka terus ia berlatih lagi. Hari itu Han Po Kie ajarkan muridnya ilmu cambuk Kim-liong-pian.‖ pikir Kwee Ceng. ia mulai pula mencongkel batu. buat dijadikan tempat injakan. Ia jambret setiap oyot rotan. kalau tenaga latihannya kurang orang tak akan terlukai kerenanya. Satu kali ia terpeleset. Tapi kau tidak boleh beritahukan hal ini kepada siapa juga!‖ Ia menunjuk ke puncak yang ia sebutkan. mustahil aku tidak!‖ akhirnya ia kata dengan penasaran. untuk melihatnya. dengan merasa sakit dan letih. Sekarang. mengangguk-angguk lagi. untuk mencokel batu. yang kepalanya telah menjelut! Kwee Ceng tutup mulut. ia merayap tetapi ia dapat maju setindak dengan setindak. Tiga hari telah lewat. begini saja. Kwee Ceng tidak memperdulikannya. Tiba-tiba ia ingat perkataan gurunya yang keempat: ―Di kolong langit ini tidak ada urusan yang sukar. Lalu ia ingat pula pelajarannya. ―Aku lihat kau jujur dan bersungguh hati. sangat ayal. ―Lagi tiga hari ada bulan pertengahan. seperti tembok yang licin. ia pun tidak berani dongak. sengaja totiang hendak menyulitkan aku. Baru ia mulai. ia jalan terus. Irawan D Soedradjat Page 129 . ia merasa ngeri bukan main. Po Kie mengajari lima jurus. hingga semangatnya terbangun pula. Dan ia mencoba. sebaliknya. kepalanya sudah pusing. ia belajar terus. ia meninggalkan pergi dengan menunggang kudanya. dia sendiri yang bisa bercelaka. Kepalanya dan jidatnya benjut. hampir cekalannya terlepas. Senjata lemas itu beda darpada golok atau lainnya senjata tajam. nanti selagi rembulan terang menderang. Ia kenali suaranya si imam konde tiga.

‖ Kwee Ceng menjawab. ―Ketujuh gurumu telah bertaruh sama orang. Hanya untuk herannya. Akan aku ajarkan kau ilmu mengendalikan napas. ―Kau juga bukan muridku. ini pun satu pukulan untukmu. tetapi sebab tahu ia lagi diangkat naik. sudah cukup! Bagus. Kwee Ceng berduduk. Kalau kau sudah mengikat rapi. dari itu tidak dapat aku ajarkan kau ilmu silat!‖ Kwee Ceng heran berbareng putus asa. ―Walaupun kita tidak kenal satu sama lain akan tetapi kita saling menghormati. mana mereka mau berlaku curang?‖ ―Pertaruhan apakah itu totiang?‖ tanya Kwee Ceng.‖ kata si imam. kenaapa selama sepuluh tahun ini kemajuanmu tidak banyak? Tahukah kau sebabnya?‖ ―Itulah karena dasarku yang bebal. sekarang baiklah kau tidak usah menanyakan. segera tubuhnya terangkat. di situ ada sebuah batu besar yang rata. Kau duduklah!‖ Dengan hati bingung. tak sampai ke atas sini. ―Kalau aku ajarkan kau ilmu silat dan kemudian gurumu memdapat tahu. Tiba-tiba ia tertawa. dalam hal pertaruhan. ―Kau baru belajar silat.‖ kata si imam. belum tentu ia dapat menangkan kau. sudah cukup. guna menghanturkan terima kasihnya. akan tetapi si imam cekal tangannya. tarik tiga kali!‖ Kwee Ceng menurut. anak bagus.‖ berkata si imam. baru ia terangkat naik. aku lupa! Suaramu tidak cukup keras. Nanti dua tahun lagi. biar suhu semua bersungguh-sungguh mengajarainya. ―Keenam gurumu itu semua orang-orang Rimba Persilatan kenamaan. ―Biar teecu nerdiri saja menemani suhu. duduk. yang mengajar tak jelas caranya dan yang belajar tak menginsyafi jalannya…‖ ―Kalau begitu. Kenapa imam ini ketahui urusan kekelahannya itu? ―Imam itu memang daripada kau. aku tidak bisa peroleh kemajuan. ia membetot tiga kali. ―Inilah dia yang dibilang. berdiri tepat di depannya si imam! Bukan main ia girang dan bersyukur. Rupanya ia tidak dengar jawabannya si bocah. ia sebenarnya telah menggunai akal. ―Rupanya gurumu belum memberi keterangan padamu. jalan dan tidur…‖ Irawan D Soedradjat Page 130 . Hahaha. ―Itulah tidak benar seluruhnya!‖ jawab si imam dengan tertawa. sudi mengajarinya. yang penuh dengan salju. kau ada punya semangat!‖ Puncak gunung itu boleh dibilang datar. asal kau dapat pelajarakn kepandaian satu saja dari enam gurumu itu.‖ Kwee Ceng bilang. ―Duduklah di sana!‖ kata si imam. Sekarang begini saja. aku bukannya gurumu.‖ menerangkan si imam pula. Kau bukannya tidak rajin belajar. lantas kau dijatuhkan si imam muda. kau lantas merasa pelajaranmu tak ada faedahnya. kau sudah bisa tonjolkan diri di muka umum. untuk pay-kui. hingga terlepaslah pegangannya pada batu dan injakan kakinya juga. aku mohon su…su…eh totiang.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kau telah selesai mengikat?‖ tanya si imam dari atas. lalu menambahkan: ―Ah. ia tidak terlalu berkhawatir. sambil tertawa.‖ kembali si imam berkata. kau tariklah dadung ini. Habis itu mendadakan ikatan pada pinggangnya menjadi keras. ―Coba kamu bertempur secara biasa. kau ternyata keliru!‖ Kwee Ceng heran. ―Sudah atau belum?‖ tanya lagi suara di atas. Untuk kau. imam itu berkata: ―Kemarin kau telah pay-kui padaku seratus kali. Disamping itu kepandaian keenam gurumu tak ada dibawahan aku. Mereka adalah orang-orang terhormat. ―Bicaranya tentang umumnya ilmu silat.‖ Kwee Ceng memohon. Ia terkejut juga. mereka pasti menjadi tidak senang. mereka akan memberitahukannya padamu. ―Sudah!‖ sahut si bocah. ―Kau bukannya orang kaumku. karena itu. untuk ditarik. sebenarnya sudah jarang orang Rimba Persilatan yang sepandai kau. Kesungguhan hatimu rupanya membuatnya kita berjodoh. tiba-tiba ia sudah sampai di atas. tak tempo lagi ia tekuk lututnya.

tetapi ia tak tahu apa artinya yang sebenarnya. ia singkirkan salju itu. ―Untuk tidur caramu ini. Lama-lama ia menjadi tenang juga. orang mesti kosongkan otaknya. menggigit dan menyentil.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng heran bukan main. tetapi tak dapat karena kuda itu lari kabur. Tee hie cek kie oen. buat apa akukah mengajarinya?‖ katanya. tempo akhirnya ia sadar. Setelah itu. Hie Jin kata pada muridnya: ―Anak Ceng. da ia kerek turun tubuh bocah itu. Mereka juga girang akan lekas kembali ke Kanglam. semangat hidup. yang kerek ia naik. Perlu apa kau mengajarinya pula…?‖ Ia tapinya tutup mulut. si imam kerek padanya. ia rasai kaki dan tangannya kaku dan kesmutan. fajar sudah menyingsing. Ia lantas turut pergi ke tempat berlatih. Lain keanehan yang nyata. habis itu ia terus rebahkan dirinya di atasnya. tetapi ia lawan itu. repot mengendalikan. hawa berjalan.. im hapus. duduk. Irawan D Soedradjat Page 131 .?‖ pikirnya. duduk. maka lagi beberapa bulan akan tibalah saat pibu. Pada suatu pagi. jangan pikir suatu apa juga. napas kasih jalan perlahan-lahan. rupanya ia puas sudah mengacau itu…. Mereka percaya muridnya bakal menang. untuk ia belajar napas. mereka girang sekali. Mereka hendak tangkap kuda merah itu. maka seterusnya setiap malam ia datang pada si imam. Si imam mengawasi.‖ Kwee Ceng mengangguk. denagn kedua tangannya. lalu berdiri diam di tempat jauh seraya perdengarkan meringkiknya berulang-ulang. hati mati. Imam itu berkata pula. Baru semua kuda dapat dibikin tenang dan berkumpul. Mereka menyangka kemajuan muridnya ini berkat kerajinan dan keuletannya. Maka itu. mendadak dari arah barat datang seekor kuda kecil merah marong. Si imam bersila di depan orang. Kwee Ceng menurut pula. Inilah dia: Sue teng cek ceng bong. Kanglam Liok Koay merasa gembira. selama ini kau belajar mainkan senjata saja. ada saja yang ia ingat. tetapi ia menurut. tubuh kosong. kau mesti bernapas. Sim soe cek cin hoat. dan si penggembala. kuda itu menyerbu ke rombongan kuda banyak itu. Ia melainkan tahu itu berarti: ―Pikiran tenang.‖ Kwee Ceng menurut. baru di bagian yang licin. Kwee Ceng rasai ia dapat mendaki jurang lebih tinggi dan lebih gampang. aku hampir bisa semua itu sendirinya.‖ lantjutnya kemudian. Si imam tidak ajari ia ilmu lainnya. jalan dan tidur. Kwee Ceng menjadi semakin heran. Hanya. Selang setengah tahun. Lekas ia merasakan suatu keanehan. Yang seng cek im siauw. buka matanya. ―Sekarang kau pulang. setiap hari mereka omongkan hal pibu dan bakal pulang itu. ia coba lupai segala apa. tapi mereka tidak bisa suatu apa. menerangkan: ―Sebelumnya tidur. Itulah segerombolan kuda. jangan ngawur. Tapi dia tidak pergi lama. Ia ingati terus. Hie in sedang hendak mulai berlatih sama muridnya itu tempo kelihatan debu mengepul jauh di sebelah depan dan terdengar berisik suara kuda dan orang. begini. perasaan terlupa. dari itu mari kau coba-coba. kuda itu lari pula ke utara dan lenyap. Ia rebah hingga ia tidur kepulasan tanpa merasa. orang-orang Mongol. semangat jangan goncang. yang lari larat. ―Sekarang duduklah dan mulai!‖ katanya pula. Mulanya. pikirannya goncang. Satu tahun telah berlalu dengan cepat. yang bangun. ia ingat itu dan mengulanginya sampai beberapa kali. sebentar malam datang pula. hingga kuda ini menjadi kacau pula. ―Ilmu bernapas. Nah. Kwee Ceng menurutm ia mencoba. kau ingat baik-baik. ―Kau tidur di situ. kembali terlihat ia mendatangi. ia lantas dapat lakukan apa-apa yang tadinya ia tidak sanggup lakukan. ―Sekarang kau rebahlah. ―Begitu aku terlahir. selang satu jam. ia rasai tubuhnya jadi ringan sekali dan gesit. kembali ia mengacau rombongan kuda tadi. mungkin kau kurang leluasa dengan tangan kosongmu.‖ Lantas si imam mengajari caranya napas disedot masuk dan keluar sambil bersemadhi.‖ kata si imam. ―Kau singkirkan salju di atas batu itu. barulah naik pembaringan dan rebah miring.‖ kata si imam. ―Aku ada punya empat perkataan. Kwee Ceng menurut.‖ katanya. Kanglam Liok Koay lihat itu kemajuan. tidur dan jalan. Kawanan penggembala itu menjadi dongkol. toh kapan di waktu siang ia berlatih silat.

kedua kakinya menjepit. pesat majunya anak Ceng. siapa tahu. Ia kate tapi ia dapat melompat tinggi. Ia menjadi dongkol. Malah Han Po Kie segera hampirkan rombongan penggembala itu. yang terus angkat kedua kaki depannya. dia berdiri diam! . ia seperti berada di bawahnya perut hewan itu. tapi ia tak kasih dirinya dilompati.‖ Dia cuma tahu si imam konde tiga itu sangat baik hati suka memberi pengajaran kepadanya hingga ia dapat bersemadhi… Selagi Liok Koay bicarakan hal murid ini. tenaganya dikerahkan. kudanya sendiri jempolan. Hebat larinya kuda itu. yang mencegah. Irawan D Soedradjat Page ―Bagus! Bagus!‖ seru Po Kie. Masih saja kuda itu berjingkrakan. dia lompat dan lari. kemudian ia meyentil dengan kedua kaki belakangnya. tanpa ia merasa. Kasih sam-suhu gantikan kau!‖ ―Jangan!‖ teriak Po Kie. dia kena bawa orang yang menyambarnya itu. malah kemudian. Orang Mongol sendiri kagum padanya. Semua penggembala menjadi terkejut. kuda itu sudah lewati dia. ―Baharu beberapa hari yang lalu kami lihat dia.‖ sahut seorang penggembala. kalau seorang dapat menakluki kuda binal. Diakhirnya. dia bakal gagal!‖ Ia tahu. ―Siapa bilang naga bisa menjdai kuda?‖ katanya. tetapi masih kalah jauh dengan kuda merah itu. dai seperti ingin menjungkirkan penunggangnya. kepandaian Kwee Ceng itu adalah hasilnya ajaran si imam konde tiga. ―Mungkinkah ia dipayungi ayahnya almarhum? Mungkinkah ngo-ko…? Nona ini tidak tahu. Segera ia berada di atas punggung kuda. Begitulah ia lari ke tempat dimana kuda itu bakal mundur. hanya disaat ia lari lewat. ―Dia berhasil‖ 132 Kuda itu masih berjingkrakan. sebab orang itu tidak mau melepas cekalannya. hingga ia jatuh ke tanah. ―Ngaco belo!‖ ―Kau tahu apa. untuk berdiri. tetapi Kwee Ceng terus memegangi erat-erat. ia tengah menyakinkan ilmu ringan tubuh yang sangat lihay. anak kecil? Sudah puluhan tahun aku menggembvala kuda.‖ ―Itulah bukannya kuda. Disamping itu mereka heran kapannya bocah ini pelajarkan sifatnya hewan. Tepat dugaannya. Kwee Ceng tidak rubuh karenanya. kami mencoba menangkap padanya tetapi gagal.‖ kata satu penggembala. ―Habis apakah itu?‖ tanya Po Kie. karena itulah Kwee Ceng yang menyambar kuda itu. belum ia sempat mendudukinya. lalu ia berhenti meronta-ronta. karena ketekunan Kwee Ceng sendiri yang bebal tapi rajin dan ulet. ―Setahu darimana keluarganya kuda kecil ini. Han Po Kie segera bertindak. memegang surinya. Ia sudah pandai. Dia ada sangat cerdik dan gesit. kuda itu sukar bernapas. kuda itu bakal tunduk untuk selama-lamanya kepada penakluk itu. Setiap malam ia naik turun jurang. karena mana. yaitu ―Kim-gan-kang‖ atau ilmu ―Burung Welilis Emas. sebaliknya ialah yang melompat ke bebokong kuda itu. ia memang seorang ahli kuda. lau terusterusan ia mengacau. Kuda itu lari ke arahnya. cuma tak sampai terguling. ia jatuh sambil berdiri. Mereka pun kagumi kuda merah itu. dan kapannya ia mempelajari keng-sin-sut. dia tidak dapat diganggu!‖ jawab penggembala itu kemudian. tiba-tiba dari smaping ada satu orang yang lompat menyambar kepadanya. bocah ini memeluk ke leher. Dia kaget.Pendekar Pemanah Rajawali Liok Koay dan Kwee Ceng heran.‖ kata Siauw Eng. ―Inalah kuda turunan naga dari langit. yang percaya kuda itu adalah turunan naga. mereka berteriak. Ia penggemar kuda. ―Anak Ceng. Po Kie pun segera ajar dia bagaimana harus membikin jinak kuda. Si penggembala. tahu ia sifat atau kebiasaannya hewan itu. ―Selama satu tahun ini. kapan kuda merah itu sudah datang menyerbu pula. lantas ia lari mengejar. kanglam Liok Koay pun terkejut. tahu-tahu si murid sudah kembali bersama kuda merah itu. ia percaya bakal berhasil. Ia kate. rupanya ingin dia membikin penunggangnya jungkir balik. akan tanya kuda itu kepunyaan siapa. lekas turun. dia tak tercandak. makin lama makin keras pelukan itu. tidak pernah aku lihat kuda semacam ini!‖ Ia belum tutup mulutnya. ilmu enteng tubuh. ―Kalau digantikan. Seorang penggembala lain tertawa. dia menjadi penasaran terhadap kami. sudah lantas berlutut dan memuji supaya janganlah Tuhanbergusar karena kudanya itu dipermainkan… Siauw Eng pun lantas berteriak. ia memegangi dengan keras.

―Habis darimana kau dapat kepandaianmu tenaga dalam?!‖ Cu Cong masih bertanya. Ini bukan jurus latihan. ―Apakah kau hendak andalakn gurumu yang lihay itu maka kau jadi tidak pandang lagi kami berenam?! Hm!‖ ―Tenaga dalam?‖ Kwee Ceng melengak. . ia tidak mau lantas turun. Liok Koay tidak suruh muridnya itu berlatih lebih jauh. ia rasai dada muridnya itu lembek seperti kapuk. ia mesti pingsan. silakan lioksuhu menghukum. walaupun kau usir. Ia mengarah ke dada. tapi serangan benar-benar yang berbahaya. kenapa kau tidak beritahu itu pada kita?!‖ tehur Cu Cong. hingga bebokongnya nempel sama tenda. ―Masih kau berdusta?!‖ Cu Cong bentak pula. cuma ilmu semadhi. dia tidak nanti lari!‖ Mendengar itu barulah Kwee Ceng lompat turun. Tentu saja. Kwee Ceng menangis. malah terus sampai tiga kali. ―Anak Ceng. sebaliknya. Menampak itu. untuk membersihkan badannya. mereka masuk ke kemah mereka. Kwee Ceng mundur. Kim Hoat menyerang dengan hebat.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng khawatir kuda itu bakal lari atau kabur. Tengah hari. dia jadi jinak sekali.‖ Teecu salah. ―Kau turun! Dia sudah tunduk kepadamu. ―Ya. habis bersantap. guna menyingkirkan dua tangan gurunya itu. kau tentu tetap hendak menyembunyikannya. untuk gosoki keringatnya. dengan masing-masing mereka merasa heran.‖ Kwee Ceng menjawab. Kwee Ceng pergi ke kemah gurunya. ―Cukup sudah!‖ Po Kie bilang pada muridnya. Di mana saja orang bisa menghadapi musuh. ―Coba tidak liok-suhu mencoba padamu. ―Secara diam-diam kau turut orang lain belajar silat. lalu tangannya kena dihalau! Untuk sejenak Kwee Ceng tercengang. Tin Ok semua berbangkit. ia membalas. Akan tetapi hebat serangan si guru. ―Disini?‖ sang murid tegaskan. Ia takut sekali. ―Suhu semua memperlakukan teecu sebagai anak. sedang ilmu enteng tubuh. tak tahu ia bersalah apa maka gurunya serang ia secara demikian telengas. air matanya mengucur keluar. tapi segera ia berlutut di depan gurunya itu. Si imam konde tiga tidak ajarkan ia ilmu silat. Ia omong dengan sebenarnya. hendak ia membela diri. semua mereka menunjuk roman bengis.‖ Kata-kata itu disusul sama ancaman tangan kiri dan tinjuan kepalan kanan. Cuma tempo ia menggenai dada muridnya. Ia putar tangan kirinya. ia dipersen jentilan hingga ia terjungkal! Kwee Ceng lantas tuntun kuda itu ke sisi instal. ia diajarkan diluar tahunya. ―Sedikit pun teecu tidak mengerti itu. maka orang mesti siap akan bertempur di kamar yang kecil. Kwee Ceng mennagkis dan berkelit. mana berabi teecu berdusta?‖ sahutnya. ingin aku lihat seberapa jauh kau punya ilmu Kay-san-ciang. dari kaget dan heran. Siapa terkena itu. malah ia terus gunai jurusnya ―Masuk ke dalam guna harimau‖. orang menjadi tertawa! Satu penggembala dekati kuda itu.‖ berkata Coan Kim Hoat pada muridnya itu.‖ ia menyerah. setelah diserang untuk keempat kalinya. Kuda itu benar tidak lari.‖ Irawan D Soedradjat Page 133 ―Fui!‖ seru Cu Cong sambil ia ulurkan tangannya ke jalan darah hian-kee-hiat di bawahan tulang iga. bukan?!‖ ―Cuma guru Jebe mengajarakan teecu main panah dan tombak. Ia kaget seklai. dia jilati belakang telapakan tangan si bocah.

tapi ia terkejut dan heran. lain kali teecu tidak berani pergi bermain pula…‖ Enam guru itu saling pandang. ia dapat menyakinkan Iweekang lebih cepat dari siapa juga. ―Di mana dia mengajarkannya?‖ ―Dia tidak mau beritahu she dan nama atau gelarannya pada teecu. ―Malah dia suruh teecu bersumpah untuk tidak menjelaskan roman tubuh dan wajahnya. dia juga larang teecu memanggil suhu padanya. dagingnya bergerak sendirinya. Irawan D Soedradjat Page 134 . mereka menjadi curiga. suhu. ketika totokannya Cu Cong mengenai.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng tidak berkelit atau menangkis. Sama sekali ia tidak ajarakan ilmu silat pada teecu. pergilah kau!‖ kata Cu Cong kemudian. Di dalam kemah.‖ Kwee Ceng jawab.‖ kata Kwee Ceng. Ia girang gurunya tidak marah. Cu Cong tidak menggunai tenaganya sepenuhnya.‖ ―Baik. asal kau tidak beritahukan dia bahwa kami telah ketahui urusan ini. Lalu ia mengasih keterangan: ―Selama dua tahun ini. ―Selanjutnya teecu tidak berani pergi bermain-main pula dengan dia itu. Teecu anggap hal ini bukan perbuatan busuk. ―Kami tidak persalahkan padamu. tidak boleh teecu pikirkan apa juga. ―Tidak apa-apa. Liok Koay berbicara. ―Lekas. Dengan berpegangan tangan. muridnya ini telah dapatkan Iweekang sedemikian rupa. Si bocah Cuma merasakan sakit. duduk bersila dan tidur.‖ kata Cu Cong. teecu ikuti ia belajar terus. dari itu. teecu anggap ajaran itu menarik hati. untuk bermain dengan burung mereka. Setibanya di kemah. ada orang yang setiap malam mengajari teecu bagaimana harus menyedot napas. teecu juga tidak mensia-siakan pelajaranku. tetapi kemudian teecu merasakan hawa panas keluar masuk. di sana Gochin sudah menantikan dia. Kwee Ceng terkejut.‖ Kwee Ceng menyahuti. ia tak kurang suatu apa.‖ Siauw Eng mengutarakan pikirannya. ―Benar-benar teecu tidak tahu kalau itu adalah pelajaran tenaga dalam. berdiri di tanah. Kedua burung itu telah membesar denagn cepat. terus ia terbang mencablok di pundaknya Kwee Ceng. Terang murid ini tidak berdusta. Seekor rajawali angkat kakinya dan pentang sayapnya. keduanya melebihkan tingginya tuan putri itu. dan ini menarik hati…‖ Liok Koay heran berbareng girang di dalam hati. kau boleh pergi memain seperti biasa. mesti ada sebab lainnya lagi. dari itu teecu tidak memberitahukan kepada suhu semua. Tidak mereka sangka. dia tentu tidak bermaksud buruk. ―Apakah kau tidak tahu. tapi kalau begini. ―Adakah ini hasil latihannya totiang?‖ ia tanya pada dirinya sendiri.‖ kata Kwee Ceng.‖ Ia lantas mengangguk-angguk dan menambahkan: ―Teecu tahu teecu bersalah. yang terus undurkan diri. ―Kenapa pada anak Ceng juga ia tidak menjelaskan hal Iweekang itu?‖ ―Mungkin dia adalah kenalan kita. membikin totokan itu kena dikemsampingkan. hatinya bersih. untuk menarik dan mengeluarkan napas dengan perlahan-lahan. pelajaranmu itu bukan tenaga dalam?‖ tanya Siauw Eng yang menegaskan.‖ Cu Cong bilang. dua kawan ini lari ke tegalan.‖ Liok Koay semakin heran. apakah ini bukannya tenaga dalam!‖ serunya. telah setengah harian aku menunggui kau!‖ kata putri itu. ―Siapa yang ajarkan kau ilmu itu?‖ Cu Cong tanya. ―Dia ajarkan ilmu kepada anak Ceng. Mulanya sulit. Cuma ia pesan supaya teecu jangan memberitahukan hal itu pada siapa pun. Mulanya mereka menyangka Kwee Ceng cuma bertemu orang pandai. ―Nah. Sebab apakah itu? ―Nah. ―Hanya kenapa dia tidak menghendaki kita mendapat tahu?‖ tanya Kim Hoat. di sampingnya ada dua ekor rajawali putih. ―Dia suruh teecu duduk. selama itu. Kwee Ceng jujur. Tenaga dalam itu adalah Iweekang (laykang).

Tanpa terasa. Empat saudara itu terperanjat. Ketika itu. keduanya tiba juga di atas. ―Bisakah kita naik?‖ Kim Hoat tanya. Malam itu Cu Cong dan Kim Hoat menanti di luar kemah ibunya Kwee Ceng. dua buah kampak serta beberapa puluh potong paku besar. Semua saudara itu terkejut. Mereka ini berbekal senjata. Irawan D Soedradjat Page 135 . Mereka sendiri tidak khawatir nanti terlihat si murid. tentu saja. Di samping batu besar ada teratur sembilan buah tengkorak putih. Suasana malam ini mengingati ia malam itu tempo mereka mengepung Hek Hong Siang Sat dengan kesudahannya Thio A Seng menutup mata untuk selamanya. di situ tak ada orang. nah untuk apakah ia mengajari anak Ceng?‖ Siauw Eng tanya pula. Keduanya kebat-kebit hatinya. Kedua guru itu segera menguntit dari kejauhan. khawatir nanti ketemu musuh lihay. malah Kwee Ceng tak tampak turun. ―Mari kita sembunyi disini. Lagi satu jam mereka menanti dengan sia-sia. Cu Cong dan Kim Hoat heran bukan main. Tempo mereka mulai menanjak. Sampai di lembah. Mereka menantikan. Ia menjadi sangat berduka. tentulah ia itu musuh…‖ Kim Hoat berpikir. mereka gunai paku itu. aku hendak pergi!‖ begitu terdengar suaranya sang murid. lalu ia lari keluar. tunggu sampai mereka turun. ia lihat mega hitam. puncak jurang tetap sunyi senyp. Di pinggiran lubang itu ada tanda hitam. Semua tengkorak itu pun ada lubangnya. Kwee Ceng dapat mendaki jurang tanpa bantuan lagi. dengan ilmunya maju pesat. Po Kie semua heran. seperti terkorak pisau tajam. kita coba saja. di tengah tiga di atas satu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kenalan?‖ ulangi Siauw Eng. ia gegetun. cepat larinya. sang fajar telah menyingsing. tepat dengan pengaturannya Hek Hong Siang Sat dahulu hari. Sang waktu lewat detik demi detik. Yang aneh. entah kemana perginya Kwee Ceng serta orang yang dikatakan gurunya itu. ―Di antara kenalan kita. Mereka lantas ambil tempatnya masing-masing. Setelah bermandikan keringat.‖ sahut kakak yang kedua itu. akhirnya Cu Cong mengusulkan naik ke atas guna melihat. mereka saling menarik. sang matahari sudah keluar.‖ katanya. Tak tampak juga orang yang dikatan gurunya itu.‖ Tin Ok mengatur. Cu Cong terus lari pulang ke kemah untuk ambil dadung. Cu Cong ceritakan halnya Kwee Ceng naik ke atas jurang. yang larinya benar pesat sekali. Syukur di tanah datar itu tak ada sesuatu rintangan. mereka lantas tanya ada apa dan kenapa dengan kedua saudara itu. Tin Ok berlima mengangguk. di atas jurang tidak terdengar gerak apa juga. rasanya tak ada yang berkepandaian seperti dia…. ―Bwee Tiauw Hong!‖ sahut Cu Cong. ―Siapa tahu kalau dia tidak tengah mengatur daya upaya busuk?‖ kata Tin Ok dingin. baiklah sebentar malam aku dan liok-tee pergi ikuti anak Ceng untuk lihat orang itu. mereka dapat terus memasang mata.‖ kata Cu Cong kemudian. Siauw Eng dongak. sampai Tin Ok berempat datang menyusul. yang mana dikhawatirkan ada sisa racun. ―Kalau dia musuh. masih si murid lari terus. masih tegang hatinya. ―Ibu. ―Kalau dia bukan sahabat. Siauw Eng berpikir keras. bekas totokan jari tangan. Maka lekas-lekas mereka turun pula. ―Belum tentu. di bawah lima. ―Kalau begitu. Segera juga mereka berserua karena kagetnya. maka itu. hati mereka tegang dan cemas.

‖ ―Tapi urusan ada sangat penting.‖ kata Tin Ok masgul.‖ sahut Cu Cong. kita memelihara harimau untuk meninggalkan bahaya untuk di kemudian hari. Si nona berdiam begitupun yang lainnya. tidak nanti dia dapat berpura-rupa sedemikian rupa. ―Kalau kita salah tindak karena kita merasa kasihan terhadapnya. baru kita pikir pula. ―Samtee. ―Entahlah.‖ bilang Siauw Eng. ―Tubuhnya anak Ceng sudah cukup enteng. sangsi. Iweekangnya sudah punya dasar. ―Lebih dulu kita mesti mencari kepastian. ―Aku setuju sama sie-ko. ―Mungkin mereka turun dari sebelah…‖ Ia lalu menjelaskan apa yang mereka lihat di atas sana. yang akur sama kakaknya. ―Perempuan siluman itu hendak pakai tangannya si Ceng. ―Habis kenapa ia ikuti si siluman itu selama dua tahun dan ia menutup mulut terus?‖ tanya Tin Ok. bagaimana kau?‖ tanya Tin Ok. Tin Ok menghajar tanah dengan tongkatnya. ―Kita berpura-pura tidak tahu. mana dia begitu baik hati hendak menurunkan kepandaiannya?‖ kata Tin Ok. ia pun heran. ―Mungkin siluman perempuan itu anggap waktunya belum tiba dan dia belum menjelaskan sesuatu kenapa anak ceng…‖ Kim Hoat pun mengutarakan dugaannya.‖ sahut Kim Hoat. ―Habis bagaimana dengan janji pibu?‖ ―Lebih penting nyawa kita atau pibu itu?‖ tanya Tin Ok. kenapa si perempuan siluman itu tidak ajarkan dia ilmu silat?‖ tanya Po Kie. siapa tahu. Hie Jin mengangguk. lalu tiba-tiba kita hajar dia hingga bercacat. kita tunggu si Ceng datang pada kita.‖ kata Kim Hoat. ia lantas tetapkan hatinya. Po Kie bersangsi. Irawan D Soedradjat Page 136 . akan tetapi kapan ia saksikan air mata adiknya.‖ kata Siauw Eng. ―Belasan tahun cape lelah kita. ―Anak Ceng hendak dibikin bercacat?!‖ serunya. ―Tidak dapat?‖ Po Kie tegaskan pula. ―Tidak bisa apa?‖ tanya Po Kie. mustahil kita berenam kalah padanya…‖ Siauw Eng kaget. ―Anak Ceng jujur dan polos. ―Bukankah suaminya terbinasa di tangannya si Ceng?‖ Semua orang berdiam. ―Dia tak dapat dibikin bercacat!‖ jawab Hie Jin. ― Cu Cong peringati. ―Sekarang mari kita pulang!‖ ia mengajak. mereka menggigil snedirinya. ―Mestinya begitu. Bagaimana kalau tindakan kita bocor?‖ ―Memang inilah berbahaya.‖ Siauw Eng tetap bersangsi. ―Apakah toako mau artikan si perempuan siluman buta itu hendak pinjam tangan anak ceng untuk celakai kita?‖ tanya Po Kie.‖ jawabnya. Biar pun ia lihay. ―Tidak bisa!‖ seru Hie Jin kemudian. tak dapat diduga bagaimana hebatnya bencana yang bakalan terjadi.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng?‖ tanya Siauw Eng. tetapi ilmu silatnya masih kalah jauh denagn kita. ―Aku di pihak sietee. Hebat ancaman bahaya yang mereka khawatirkan itu. dia bukannya satu manusia yang tak berbudi. ―Taruh kata anak Ceng mengandung maksud tidak baik.

―Tempo aku sampai. Si imam itu tertawa. kamu halangi mereka. kita pasti akan memperoleh putusan. maka itu aku percaya. Kwee Ceng mengangguk. Tentu saja ia menjadi kaget. aku pun telah memikirkannya. ―Dan sekarang kita ada berdelapan….‖ sahut si imam. si imam sudah menantikan dia. Si imam jumput satu tengkorak. kita justru biasa datang kemari hingga kita mempergokinya. ia pun kasih tahu bagaimana dengan cara kebetulan ia dapat menikam mati pada Tan Hian Hong. tiga setuju Kwee Ceng dibikin cacad dan tiga tidak. salah satu pihak tentulah lebih satu suara.‖ kata Kwee ceng. kaut kepercayaan mereka bahwa Bwee Tiauw Hong adalah orang yang mengajari Iweekang kepada murid mereka. tentulah si Mayat Besi datang untuk mencari guru-gurumu itu. ia periksa itu. Maka Tin Ok bilang: ―Kalau benar. Umpama kata aku pun membantu pihakmu. ―Sebenarnya mau apa dia menyusun tengkorak-tengkorak di sini?‖ Kwee Ceng tanya. Kwee Ceng kaget dan heran. ―Coba ngotee ada di sini. jietee sama lioktee.‖ ―Sebelum kau datang. Tadinya aku menyangka ini permainan gila dari muridnya Oey Yok Su dari Tho Hoa To. Tengkorak ini ada hubungannya sama Kiu Im Pek-ku iauw. setelah toh dia datang untuk mencari. ―Mari kita pulang dulu!‖ Di dalam kemah mereka. ―Kiranya si Mayat Perunggu yang lihay itu terbinasa di tanganmu!‖ katanya. Ia kata: ―Sakit hati ngoko mana dapat tidak dibalaskan! Toako.‖ . apakah itu?‖ Di bawah sinar rembulan guram.‖ Mendengar disebut-sebutnya A Seng. dia mestinya ada punya andalannya‖. ―Apakah bukan sengaja dia hendak membikin kita mendapat tahu dan bersiap sedia?‖ Irawan D Soedradjat Page 137 ―Aku pikir tidak demikian. Tin Ok bersama Cu Cong dan Coan Kim hoat bukan bangsa sembrono akan tetapi menyaksikan keanehan Kwee Ceng dan di atas jurang kedapatan itu sembilan tengkorak dari Bwee Tiauw Hong. heran.‖ ―Dia telah buta kedua matanya kena dihajar toasuhu. kami dengar titahmu!‖ ―Baiklah!‖ kata toako itu. ―Tidak dapat aku menduga sampai dimana lihaynya jeriji-jeriji tangannya itu. hati mereka tidak tenang. kami tidak takut. ―Aku khawatir gurumu itu bukan tandingannya. dia rupanya menyangka orang tak bakal datang ke tempat ini. maka sekarang kita harus mengerti. tidaklah demikian duduknya hal. ia datang. dia masih tidak dapat lawan tujuh guruku. tumpukan ini sudah ada.‖ katanya kemudian. Kalau begitu. Tanghay. Kwee Ceng lihat sembialn tengkorak. ―Tetapi totiang. mereka masih tetap ragu-ragu.‖ Si imam bicara dengan sungguh-sungguh. Ia tuturkan hal pertempuran gurunya semua dengan Hek Hong Siang Sat itu dengan kesudahan gurunya yang kelima terbinasa. hanya si imam ini segera menunjuk seraya berkata: ―Kau lihat. nanti aku yang turun tangan!‖ Demikian mereka bersiap sedia. masih belum tentu kita menang. berhneti mengucur air mata Siauw Eng. siapa tahu. ―Pada belasan tahun dulu dia masih belum buta. Kapan tadi malam Kwee Ceng tiba di atas jurang. ―Orang ini hebat ilmu silatnya. ―Aku belum lama sampai disini.‖ ia bilang. adakah si Mayat Besi itu datang? Apakah totiang dapat lihat padanya?‖ tanya Kwee Ceng. lalu ia menggeleng-geleng kepala.Pendekar Pemanah Rajawali Dari enam bersaudara itu. ―Eh. Nyatanya. ―Adakah ini diatur oleh Hek Hong Saing Sat?‖ ia tanya. kau pun kenal Hek Hong Siang Sat?‖ si imam tanya. Cu Cong menghela napas. maka akhirnya.‖ berkata si imam.

seperti lagi memikirkan sesuatu. Sekarang ia melihat nyata itulah joan pian. dari keras dan nyaring. Cambuk ini terus dicekal di tengahnya kedua tangan. lengan itu orang kasih paksa turun sedang bebokongnya ditekan supaya ia mendekam pula. atau tiba-tiba si imam sambar pinggangnya. Kwee Ceng terkejut ketika Bwee Tiauw Hong memutar tubuh. lagi ia berpikir. lantas ia hendak berlalu. buat segera diajak berlompat ke belakang batu besar. ia bikin gerakan seperti berlatih silat. suara mereteknya Tiauw Hong menjadi kendor. Tiauw Hong lantas bersilat. untuk keduanya berjongkok. yang ia telah latih dengan sempurna. Bwee Tiauw Hong sengaja menyakinkan cambuk lemas. Kwee Ceng berdiam dan turut mengintai juga. ia dapat dengar. yang dibawah sinar rembulan tampak nyata. Kim-liong-pian dari Han Po Kie panjang Cuma enam kaki. ―Kalau begitu baiklah aku nlekas pulang untuk memberitahukan guruguruku. dia bangkit berdiri. Yang hebat adalah tempo cambuk dipegang ujungnya dengan sebelah tangan kanan. baru ia simpan pula barangnya itu. ia letaki itu ditanah. Ia berdiam. untuk mereka memikirkan daya perlawanannya. cambuk lemas putih yang mengkilap. Sekarang ia keluarkan suatu apa dari sakunya. Kwee Ceng mendekam. Irawan D Soedradjat Page 138 . Cuma suara yang terdengar. mulanya perlahan. Ia tidak takut. cepatnya luar biasa. Habis berlatih.‖ berbisik si imam itu yang terus mengintai. Dalam herannya. buat diajak mendekam.Pendekar Pemanah Rajawali Hati Kwee ceng menjadi tidak tenang. Tak dapat dia dilawan keras.‖ sahut si imam. Tiauw Hong simpan cambuknya itu. Ia berbangkit. ―Jangan bersuara. ia rasakan lengannya sakit sekali. berlalu dari belakang jurang darimana ia datang tadi.‖ Kwee ceng terima pesan itu.‖ katanya. tubuhnya Bwee Tiauw Hong kasih dengar suara meretek. Setahu bagaimana dia naiknya. ―Sekalian kau bilangi bahwa ada satu sahabatnya memesan dengan perantaraan kau bahwa lebih baik mereka menyingkir dari dia itu. tubuhnya sendiri tidak bergerak. Itulah Tiat-sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi denagn rambutnya yang panjang dan riap-riapan. Mungkin enam tombak. napasnya ia tahan. Kupingnya menjadi terang sekali. Tak lama. karenanya ia jadi sangat bersyukur kepada si imam konde tiga ini yang tidak dikenal. sambil tertawa. Hebat bergeraknya cambuk lemas itu. sedang disebelah belakang jurang itu ada terlebih terjal tebingnya daripada bagian depan. ―Kalau totiang tidak tolong aku. Orang tidak usah menanti terlalu lama akan lantas terlihat berkelebatnya satu bayangan. sukar orang lolos dari cambuknya yang panjang itu. disusul sama munculnya satu tubuh. Menampak ini insyaflah Kwee Ceng akan pentingnya ilmu yang si imam ajari padanya. Ia terkejut pula. Tipu Lawan Tipu Berselang sesaat. Dengan ketakutan. Ia kembali meraba barangnya itu . ujung cambuk lewat di atasan kepalanya! Anak tanggung ini mengeluarkan peluh dingin. untuk dipondong. Kwee Ceng hanya lihat berkelebatnya sinar putih perak dari suatu benda seperti ular panjang. kaget ini bocah. Diakhirnya ia ankat kaki. hendak ia menanyakan sebabnya. dari itu dia terus dududk bersila di atas batu di mana biasa si anak muda bersemadhi.. Habis itu. Setelah matanya buta. ujung itu ada punya belasan gaetan yang tajam. lalu tangannya meraba-raba. Sekejap saja. Kwee Ceng menghela napas lega. Belum lagi kedua senjatanya beradu. ―Baiklah. Ia bergerak tanpa ia merasa. sedikit saja suara berkelisik. Beberapa kali ia berbuat begitu. Di situ ia lantas menyakinkan ilmu dalamnya. lalu menjadi nyaring seperti meletusnya suara kacang goreng yang digoreng terlalu matang. matanya memandang ke tempat sembunyi mereka. untuk dipakai menangkis. untuk bela diri. Ketika ia berbangkit. Kwee Ceng heran walaupun ia tidak mengerti latihan orang yang luar biasa itu. lalu berhenti. Tapi si Mayat Besi tidak lihat siapa juga. Ia lihat tegas. cambuk ini berlipat sepuluh kali. Dalam jarak enam tombak. tangan kirinya menarik sesuatu dari pinggangnya. ujungnya yang lain menghajar batu besar! Habis itu Kwee Ceng dibikin kaget sama ujung cambuk yang emnyambar ke arahnya. Bab 13. atau mulutnya didului dibekap. ia cabut pisaunya yang tajam. habis hancur kepalaku…‖ pikirnya.

entah ia bakal kasih pertunjukkan apalagi. Tiauw Hong tiba di satu tempat di mana ada banyak kemah. dibagian belakang ini. Malah ia sambar pinggang bocah itu. pergilah kau melaporkannya!‖ Orang itu menyahuti: ―Kau adalah adik angkatku. untzk bawa ia turun dari belakang jurang itu. karena orang itu berdiri membelakangi dia. dia kata: ―Jikalau kau menyayangi kakak angkatmu. Jamukha bakal diangkat menjadi Tin Pak Ciauw-touw-su. Kwee Ceng dapat kenyataan.‖ Sangum menjadi girang sekali. Pikirnya: ―Mustahilkah mereka bersekutu untuk mencelakai Khan yang agung? Bagaimana ini bisa terjadi?‖ Lalu terdengar seorang lain: ―Setelah kita berhasil. terlihat Tiauw Hong berada jauh di arah utara. Cara ini telah digunai oleh si Mayat Besi. tidak nanti ia tidak memberikannya!‖ Wanyen Lieh. ketika ia melihat dari samping. ia bilang: ―Berapa susahnya untuk ayahku memberi titahnya? Sebentar akan aku minta titahnya itu. di seluruh tanahnya penuh denagn emas dan orang-orang perempuannya ada bagaikan bunga-bunga. bukan?‖ berkata Sangum itu. Si imam kempit Kwee Ceng. belum tentu kau akan berhasil. sudah tentu aku tidak bakal sia-siakan padamu!‖ Kwee Ceng kenali orang itu adalah saudara angkat sehidup semati dari Temuchin. Orang ada memakai jubah bulu ynag mahal. dengan goloknya membacok satu orang lain. lalu ia dan Kwee Ceng menyingkap tenda. Si imam mengcoba mengikuti terus. Dan Kwee Ceng merasakan dirinya seperti dibawa terbang.‖ Sangum tertawa dingin. Di tengah-tengah ada sebuah kemah terbesar. berkata: ―Negeriku yang besar bakal lantas berangkat ke Selatan untuk menumpas kerajaan Song. ia seperti mengenalinya. ia ini kata. rubuhnya ke dekat tenda di mana dua orang itu tengah mengintai.‖ berkata si imam. Dia itu sudah lantas susuti goloknya pada sepatu. ia berkata: ―Asal saja ayah angkatku Wang Khan memberikan titahnya. untuk melihat ke dalam. putranya Wang Khan. untuk melihat tegas si pembunuh. ―Sekarang tolong kedua tuan bilangi aku. untuk ini.‖ Saudara angkatku Temuchin pintar dan gagah. Irawan D Soedradjat Page 139 . jika Tuan Pangeran mengajak kita bersaudara pergi ke sana. ia menjadi heran sekali. dandannya mewah.‖ Pangkat itu adalah pangkat tertinggi untuk wilayah utara dengan tugas memanggil menakluk dan menghukum pemberontak. nah. setelah usahanya berhasil. kamu bakal dapat hadiah lainnya lagi!‖ Sangum girang sekali. Justru itu terlihat satu orang. ―Sekarang kau tidak akan sangsi pula. ialah pangeran keenam dari negara Kim!‖ Jamukha tertarik dengan janji itu. ia berkata: ―Kabarnya negara di Selatan itu adalah negara yang indah permai. aku tentu menurut. maka ia lantas kenali sebagai Sangum. Kwee Ceng tidak melihat tegas muka orang itu. orang pun bisa naik dengan melapati di oyot rotan. ayahmu juga perlakukan aku baik sekali. yang ekbetulan menoleh.Pendekar Pemanah Rajawali ―Mari kita ikuti dia. tendanya berwarna kuning. yang pun lantas bangun. si putra Raja Kim yang keenam itu. cara bagaimana kamu hendak menghadapi Temuchin?‖ dia tanya. Di belakang ini si imam mendekam. yang rubuh dengan segera dan terbinasa. ia menjadi heran. ia lari menyeusul. semua sebawahannya untuk Jamukha. maka ia menggeser. itu waktu kamu berdua masing-masing boleh memimpin duapuluh ribu serdadu untuk membantu. maka semua ternak. Lama mereka berlari-lari. Di situ ada satu orang lain. di sana ia menghilang. sungguh bagus sekali!‖ Wanyen Lieh tersenyum. si terbunuh itu adalah pengiringnya Temuchin. Setibanya mereka di bawah. Kwee Ceng kenali. orang perempuan dan hartanya Temuchin terjatuh kepada Sangum. yaitu Jamukha. dan dari pihak kami negara Kim yang besar. akan kata dalam hatinya: ―Ah. di waktu langit mulai terang. mereka mesti menyingkir dari serdadu-serdadu penjaga. Ia tak usah mengingat-ingat lama. Ia singkap lebih tinggi tenda.

apapula kapan ia kenali. Si imam tarik tangan si bocah. baru saja ia kirim utusan untuk membicarakan hari pernikahan. si Mayat Besi sudah lewat jauh. yang hendak membinasakan saudara angkatnya sendiri.‖ sahut itu murid. Ia tidak sangka ada orang sedemikian jahat. Kwee Ceng segera kenali gurunya yang ketujuh.‖ Dua tahun Kwee Ceng ikuti imam ini. gurunya yang nomor satu. di sana mereka tampak seorang imam tua. maka terus ia rubuh. Irawan D Soedradjat Page Cu Cong lepaskan tangan Kwee Ceng. ―Biar apa dia lakukan. hatimu lemah sekali!‖ katanya perlahan. menuju kemahnya Kanglam Liok Koay. yang ia masih pegangi. sungguh pinto merasa sangat beruntung. maka itu baiklah kita sembunyikan orang disepanjang jalan. mereka berenam menjadi ragu-ragu. ―Citmoay. Aku percaya ia bakal datang dan tentunya tanpa membawa banyak pengiring.‖ dia berkata. ia masih hendak mendengari lebih jauh etika ia rasakan si imam sambar ia untuk ditekan.Pendekar Pemanah Rajawali Selagi Kwee Ceng memasang kuping. Ia lantas berbalik. Sekejap saja. ―Dia ada di luar. disusul mana sakit di kakinya yang kena ditendang. Baharu saja ia memanggil itu. buat sesaat ini guru-guruku tidak bakal menghadapi bahaya. ialah Han Siauw Eng.‖ 140 Imam itu bertindak mau. bilang pada gurumu bahwaTan-yang-cu Ma Goik mohon bertemu sama Kanglam Liok Koay.‖ Maka itu ia mendekam terus seraya memasang kupingnya. ―Biar aku dengari persekutuannya mereka ini yang hendak mencelakai Khan yang agung. kalau terlambat bisa gagal!‖ Kwee Ceng terpaksa menurut. tidak dapat aku berkukuh lebih lama lagi. penyerangnya itu adalah Kwa Tin Ok. bahaya tengah mengancam. Mari lekas. menyusul mana Tiauw Hong berkelebat lewat. ―Sudah lama pinto mengagumi tuan-tuan. tidak nanti ia lolos dari jaring perangkapku ini! Ha-ha-haha!‖ Kwee Ceng kaget dengan berang gusar. Kanglam Liok Koay berdiam. Sekarang Kwee Ceng melihat. Ketika itu hari telah siang. siapa imam ini yang semestinya lihay. Bukan main kagetnya Tin Ok berenam! Bagaimana mungkin Bwee Tiauw Hong datang diwaktu siang hari bolong? Maka bersama-sama mereka lompat keluar tenda. Terdengar Sangum berkata: ―Temuchin itu telah jodohkan putrinya kepada putraku. akan setelah itu. Pergilah kau masuk ke dalam. Tin Ok menghela napas. akan pergi meninggalkan kemah beberapa puluh tindak. habis mana satu orang lompat kepada anak tanggung itu. Di sini si imam berkata: ―Sebenarnya tidak hendak aku perlihatkan diriku. Ia menjadi sangat bingung. ia menjura.‖ sahut Kwee Ceng. Temuchin boleh mepunyai tiga kepala dan enam tangan. Bwee Tiauw Hong sendiri tidak ada bayangannya sekalipun. Segera itu menyusul terdengar suara senjata bentrok. Cuma ia tetap belum tahu. ―Mana itu siluman perempuan‖ Cu Cong bentak muridnya. ia dapatkan imam itu menunjuk ke belakang. tahan!‖. orang yang menyambar tangannya adalah Cu Cong dan Coan Kim Hoat. Ia pun lantas berkata: ―Tidak berani memohon tanya gelaran totiang. rupanya ditanyakan sesuatu. maka bersama-sama mereka lari pesat. mendadak ia merasakan dua tangannya sakit. dia mohon bertemu sama suhu semua. tangannya itu kena orang sambar. baru sekarang ia ketahui nama orang. Tapi di bawah terangnya sinar matahari. Ia mengangguk. sebatang tongkat melayang ke kepalanya! Bukan main kagetnya ia. di tangannya ada orang yang dikempitnya. siapa terus berseru: ―Toako. kapan ia menoleh. ―Mana dia gurumu yang mengajarkan kau ilmu dalam?!‖ tanya Tin Ok kemudian dengan dingin. ia rasai si imam menarik ujung bajunya. ia lari ke dalam kemah. aku minta ia besok datang sendiri untuk berembuk bersama ayahku. lalu ia berbisik: ―Tiauw Hong lagi cari orang untuk menanyakan tempat kediaman gurumu. sekarang kita dapat bertemu. lalu mereka mengawasi Ma Giok.‖ Kwee Ceng berpikir. tanpa ayal. Ia lantas meramkan mata. untuk menantikan kebinasaannya.‖ Dia menunjuk orangnya Temuchin yang telah ia binasakan itu. ia tancap tongkapnya. akan tetapi urusan ada begini penting. Dan melanjuti kemudian: ―Aku sudah lantas kirim orang untuk memberi balasan. mungkin sebentar dia bakal datang kemari. Maka ia lihat Bwee Tiauw Hong sedang membekuk satu orang. . Ia membalas hormat. ―Suhu!‖ ia berseru begitu ia menyingkap tenda. ―Teecu telah lihat dia tadi. Pedang guru itu telah terpental.

Kanglam Liok Koay membalas hormat. kelihatan kedua matanya merah dan bendul. Pinto bertemu dengannya pada dua tahun yang lalu. yang menjadi kauwcu atau kepala agama dari Coan Cin Kauw. kapan Kwee Ceng menoleh. Setelah datang dekat. lalu tertampak beberapa penunggang kuda tengah mendatangi ke arah kemahnya Temuchin. bilang Sangum bersama Jamukha lagi mengatur tipu daya untuk membinasakan kepada Khan!‖ 141 Gochin menghampiri. pinto tidak ingin memcampurinya. jangan pergi!‖ mencegah Tin Ok. ―Adakah totiang ini yang ajarkan kamu ilmu?‖ ia tanya muridnya. kesan mereka lantas berubah. Kedatanganku ini adalah untuk lain urusana. dalam hal nama ia kalah terkenal dengan Khu Cie Kee. yang bertentangan dengan agama kami. tahulah ia. belum lagi ia menolongi si imam menyampaikan berita. maka sekarang pinto mohon tuan-tuan tidak berkecil hati.‖ Liok Koay heran tetapi tidak dapat mereka tidak mempercayainya. Mereka lihat orang alim sekali. Dia biasanya berdiam di dalam kelentengnya. ia tidak berani pergi menghampirkan. Coan Kim Hoat lantas saja lepaskan cekalannya kepada muridnya itu. tidak suka pinto orang ketahui tentang diriku. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng tidak sahuti putri itu. ―Maafkan kami! Entah ada pengajaran apa dari ciang-kauw maka telah datang ke gurun Utara ini? Adakah kiranya berhubungan sama janji suteemu mengenai pibu di Kee-hin nanti?‖ ―Suteeku itu adalah seorang pertapa. minta si tuan putri datang lebih dekat. hatinya berdenyutan. Kwee Ceng takut pada gurunya. tetapi ia masih gemar seklai dalam urusan pertaruhan.‖ Ma Giok berkata. Kwee Ceng menjadi sangat bingung.‖ Ia lantas menjura pula. ―Totiang larang aku bicara. ―Toasuhu. Tentang ini pinto pun memohon maaf. Mereka tahu Ma Giok itu adalah murid kepala dari Ong Tiong Yang. jarang sekali ia membuat perjalanan. Bagaimana kalau si Mayat Besi datang dengan tiba-tiba? Kwee Ceng jadi semakin bingung. Mengenai pertaruhan itu sendiri. ia hanya menggapai. .‖ Kwee Ceng jawab gurunya ini. karena mana. ia hanya kata: ―Lekas kau pergi kepada Khan yang agung. ―Kau berdiam bersama kami. tidak ada orang yang mengetahuinya.‖ Tin Ok mencegah karena ia menyesal atas perbuatannya yang semberono tadi. dari itu. justru itu terdengar suara tindakannya banyak kuda.‖ Liok Koay heran. lantas ia mengapai berulang-ulang. sebentar aku akan kembali!‖ kata ini anak muda dalam bingung dan khawatirnya. denagn lancang pinto ajari dia cara untuk membantu panjang umurnya. Setelah wafatnya Ong Tiong Yang. ―Jangan. ―Mengenai tabiatnya itu.Pendekar Pemanah Rajawali Sekarang Kwee Ceng ingat. mereka terperanjat.ayahku ingin aku menikah sama Tusaga…‖ Lalu air matanya turun pula. sedang tentang ilmu silatnya. ia tampak datangnya Gochin. sudah beberapa kali pinto menegurnya. ―Kenapa kau tidak hendak memberitahukannya dari siang-siang. dengan sendirinya dia menjadi pengganti kepala agama itu. ruapanya ia baru habis menangis. ―Itulah sebabnya walaupun pinto berada dekat dengan tuan-tuan tetapi pinto tidak membuat kunjungan. hendak aku pergi sebentar. nampaknya ia sangat menyayanginya. ia berkata dengan suara seperti mendumal: ―Ayahku…. Disaat enam saudara ini hendak tanyakan hal Bwee Tiauw Hong. Siauw Eng menjadi girang sekali. ia menjadi sangat menyayangi muridnya ini. ia jadi berkhawatir untuk ancaman bahaya dari pihaknya Bwee Tiauw Hong. yang hendak memancing Temuchin. Pertama-tama pinto ingin bicara tentang anak ini. Segera setelah itu. Tiang Cun Cu Khu Cie Kee adalah adik seperguruan dari Ma Giok ini. hingga kami menjadi keliru menyangka terhadapmu?‖ Ia mengusap-usap rambut muridnya itu. Ia masih bicara sama guru itu tapi si guru sudah lantas bicara sama Ma Giok tentang pertempuran mereka melawan Hek Hong Siang Sat. ―Kiranya ciang-kauw dari Coan Cin Kauw!‖ berkata Tin Ok. terdengar pula congklangnya kuda. ―Pinto biasa berkelana. Terpaksa ia berdiam. ia lantas berkata: ―Inilah Tan-yang-cu Ma Goik Ma Totiang. Putri itu menghentikan kudanya sejarak belasan tindak. Tentang itu pinto belum dapat perkenanan tuan-tuan. itu adalah orang-orangnya Sangum. beda daripada saudara-saudaranya.‖ berkata Ma Giok. pinto lihat dia polos dan jujur.

bagaimana nanti…?‖ Tin Ok semua berdiam.‖ Coan Kim Hoat menyambungi. untuk selanjutnya tak dapat kita tidak berjaga-jaga. Silahkan totiang bicara. pinto dapat menyatakan kepandaiannya Bwee Tiauw Hong telah maju pesat seklai. Mereka mau menyangka orang bicara secara dilebih-lebihkan.‖ kata Ma Giok seraya mengangguk. selama sepuluh tahun ini. ―Benarkah itu?‖ tanyanya. ―Tuan-tuan telah binasakan suaminya. Inilah sulit!‖ ―Untuk itu pinto telah dapat pikir suatu jalan untuk menghindarkannya. Kalau kita bekerjasama berdelapan. ―Jalan ini ada sempurna. tetapi untuk singkirkan dia. hanya orang lagi melindungi juga mereka sendiri. ―Dia melatih diri secara demikian hebat.‖ kata Po Kie kemudian.‖ berkata Ma Giok. Lalu ia ingat suatu apa. jangan harap malah mungkin bakal rugi sendiri…‖ ―Habis apa sakit hatinya ngoko dan toako mesti dibiarkan tak terbalas?‖ kata Siauw Eng yang selalu ingat Thio A Seng. Umpama kata sekarang kita dapat singkirkan Bwee Tiauw Hong. permusuhan harus dilenyapkan. ―Aku dengar sendiri persekutuan mereka itu! Lekas kau pergi kepada ayahmu!‖ Gochin menjadi tegang hatinya tetapi ia tertawa. Cu Cong semua terkejut. tanpa dapat penunjuk dari guru yang lihay. dengan sebenarnya Bwee Tiauw Hong itu telah jadi sangat lihay. Ia putar kudanya.‖ Tin Ok mengerti. untuk dengar putusan si kakak. ―Tentu saja benar!‖ sahut Kwee Ceng. Kwee Ceng heran.tuan suka berlaku murah dan suka mengasihani dia untul membuka satu jalan baru untuknya. ―Taruh sekarang kita menyingkir dari dia. ―Hanya setelah mendengar Kwa tayhiap berusan perihal pertempuran pada belasan tahun yang sudah lalu itu. Mereka pernah mendengar perihal kepandaian Oey Yok Su itu. ilmunya Kiu Im Pek-kut Jiauw sudah terlatih sempurnya. kenapa dia girang?‖ ia tanya dirinya sendiri. setiap tahun ia telah bunuh berapa banyak orang yang tidak bersalah dosa.Pendekar Pemanah Rajawali Gochin terkejut. ―Ah! dengan begini bukankah ia jadi tidak bakal menikah sama Tusaga?‖ Maka ia pun bergirang. ―Kwa tayhiap berhati mulia.‖ Cu Cong semua berdiam. bukankah berarti sakit hati itu telah terbalas? Dia sebatang kara.‖ Irawan D Soedradjat Page 142 . Suara kakaknya ini membikin heran saudara-saudaranya yang lain. ―Sejak dahulu kala ada dibilang. bukan kami yang emncari dia. Turut pikiranku.‖ kata Tin Ok emudian. ―Pinto bukan hendak menangi lain orang dengan merendahkan diri sendiri. Dia sekarang telah dapat mewariskan kepandaiannya Tocu Oey Yok Su dari Tho Hoa To. cara bagaimana dia dapat ajarakan pula ilmu?‖ ia tanya. ―Kami Kanglam Cit Koay biasa sembrono.‖ Ma Giok bilang. ―Ayahnya hendak dibikin celaka orang. Tanghay. imam ini bukan melulu memintakan ampun untuk Bwee Tiauw Hong. ―Baik!‖ katanya. dengan belajar sendiri. kita tidak bakal kalah. Thian tentu akan memberkahi. tetapi jangan diperhebat. kemudian Oey Yok Su mendapat tahu.‖ CU Cong berkata pula. dia harus dikasihani. asal tuan-. dia pun buta matanya.‖ Cu Cong berkata kemudian. tapi aneh kenapa Ma Giok ini nampaknya jeri kepada pemilik pulau Tho Hoa To itu? ―Totiang benar. ―Maka itu totiang. entah bagaimana kemajuannya si Mayat Besi. ―Itulah memang benar. mereka awasi kakak mereka. dapatkah kau membiarkannya saja?‖ ―Laginya sekarang ini dia yang mencari kami. kami Cuma gemar berkelahi. Selama sepuluh tahun ini. kami pasti akan bersyukur. mungkin sekali Bwee Tiauw Hong telah dapat pengajaran baru dari Oey Yok Su….‖ berkata Ma Giok. mereka masih kurang percaya sepenuhnya. Ia memang sayangi Gochin sebagai adik kandungnya! Itu wkatu terdengar suaranya Ma Giok.‖ Liok Koay berdiam. ―Kalau totiang sudi menunjuki suatu jalan terang. ―Hek Hong Siang Sat adalah murid-murid murtad dari Oey Yok Yu. ―Kalau benar dia hendak menuntut balas. tidak nanti ia dapat peroleh itu. sedang cambuknya ada luar biasa. ―Silakan totiang beri petunjuk kepada kami. ―Satu hal hendak pinto memberitahukannya. untuk segera dikasih lari.

aku Khu Cie Kee – pasti aku tidak akan mau sudah saja!‖ Tiauw Hong dengar seruan kaget dan suaranya Kwee Ceng itu. putrinya Temuchin. memang Cit Cu ini ada juga nama kosongnya di dalam dunia kangouw. Ma Giok dan Kwee Ceng yang jalan di muka. Ma Giok semua telah dapat lihat tingkah laku si Mayat Besi ini. suaranya terdengar. Dia seperti naik di tangga saja. Sekarang ini baharu mereka percaya habis imam itu. sebentar dia bakal datang. mejadi kagum. Maka itu. seraya guru yang kedua ini berkata terus: ―Kalau Bwee Tiauw Hong. ia heran. entah mayat atau orang hidup. ―Bersyukur kepada guru kami. Di bebokongnya ia menggendol satu orang. yang adalah dari kulit burung tiauw yang putih. Cuma kedua tangannya. Itulah Gochin Baki. ―Eh. si wanita siluman itu terjatuh ke dalam tanganku. terpaksa mereka menurut. imam ini tidak ada di sebawahannya Khu Cie Kee. lalu perlahan-lahan menjadi gelap. karena ia pikirkan keselamatannya Gochin. Cu Cong bekap mulutnya. Kesunyian telah memerintah di atas jurang itu. Sungguh gesit si Mayat Besi ini.‖ . tapi disaat itu juga. guna bnatu menggerek naik kepada Kanglam Liok Koay. sekarang ia dengar suara orang bicara dan menyebut-nyebut Khu Cie Kee dan namanya juga. mungkin Bwee Tiauw Hong tidak berani lancang turun tangan. hingga tibanya tengah malam. tetapi untuk membari muka kepada Ma Giok. Karena ini juga. . Cuma Kwee Ceng yang hatinya goncang. mulai habis sabarnya. mulutnya bergerak. 143 ―Bwee Tiauw Hong atur tulang-tulangnya di sini. Ia tidak tahu ada berapa orang lihay yang bersembunyi di situ. murid mereka itu. ―Harap totiang tidak terlalu merendah. Irawan D Soedradjat Page Tiauw Hong sembunyi tanpa berani berkutik. Cu Cong semua yang mengawasi. Kapan Cu Cong berpaling pada Coan kim Hoat dan Han Siauw Eng. Dengan lewatnya sang waktu. Mereka dapat lihat cara naiknya ma Giok. habis bersantap. Kwee Ceng terkejut kapan ia sudah lihat pakaian orang itu. mereka lantas kasih turun dadung mereka. Setibanya Ma Giok dan Kwee Ceng di atas. ―Kita baik tunggui saja padanya. dia tampak wajah orang tegang. Mereka percaya. Tin Ok berenam jalan di belakang Kwee Ceng. ia lantas mulai mendaki. Semua orang berdiam. Sebenarnya Tin Ok tidak sudi mengalah. Ia lantas saja bersembunyi di samping batu untuk memasang telinga. mereka menantikan sang sore. ―St! Dia datang…!‖ kata Tin Ok. Setibanya di kaki jurang. ―Ada siapakah yang tidak menghormati Cit Cu?‖ Dengan ―Cit Cu‖ dimaksudkan tujuh persaudaraan Tiang Cun Cu. wajahnya sendiri tentu begitu juga. Segera juga Tiauw Hong tiba di atas. ―Pinto percaya.‖ kata Cu Cong. mengapa dia masih belum datang?‖ tanya Po Kie. ia menjadi terlebih kaget. enam saudara itu segera dapat lihat tumpukan tengokraknya Bwee Tiauw Hong. kawan kesayangannya. Lantas semua orang duduk bersamedhi.‖ berkata Han Po Kie. Ia percaya. Dia terlihat nyata di bawah sinar rembulan.‖ Ma Giok minta. yang lemas. mereka sama-sama mandaki jurang. Ia seperti tidak menggunai kakinya. Sesempai di atas. sambil beristirahat. Masih mereka menantikan. terhadap kami dari Coan Cin Kauw. di dalam hati mereka tertawa. pinto hendak menggunai suatu akal untuk membikin ia kabur…‖ Lantas imam itu tuturkan tipunya. Sebenarnya Tiauw Hong masih jauh tetapi kuping lihay dari Tin Ok sudah mendengarnya. Tak dapat dicegah lagi. cuaca mulai menjadi guram. Dia muncul dalam rupa seperti segumpal asap hitam. Cuma tabiatnya itu dua saudara seperguruan saja yang berbeda. hati mereka berdenyut.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto harap tuan-tuan tidak menertawainya.‖ kata Ma Giok.

mana bisa aku hidup lebih lama?‖ Cu Cong berkata pula: ―Malam ini gelap sekali sampai lima jeriji tangan sukar terlihat. si toa-suheng. Tapi dia toh bicara dengan suara keras! Kagetnya Tiauw Hong tidak kalah dengan kagetnya si anak muda. ―Barusan teecu seperti dengar suara wanita. yang kelima Giok-yang-cu Ong Cie It. apakah kau yang barusan berbicara?‖ tanya Coan Kim kepada muridnya. Dipihak Liok Koay juga mungkin bakal ada yang bercelaka. untuk mencegah si nona itu berbicara. Kau akur?‖ Hie in sengaja menyahut: ―Lebih baik minta Ong Sutee yang gunai kaki besinya untuk dupak dia.‖ katanya dalam hati. Yang kedua adalah Tiang-cin-cu Tam Cie Toan. ialah Tan-yang-cu Ma Giok. silahkan kau yang turun tangan. mengertilah ia bahwa orang mungkin mulai curiga. karena ia khawatir suaranya dikenali Bwee Tiauw Hong. Demikian mereka ini berbicara. tentang mereka itu. Irawan D Soedradjat Page 144 . untuk menyakinkan kekuatan kakinya itu. ―Tam Suko. Kita mesti mencegah si siluman perempuan itu dapat meloloskan diri!‖ Girang Tiauw Hong mendengar itu. karena lihaynya tendangannya dan pernah ia bertaruh mendaki jurang yang tinggi hingga ia dapat menakluki beberapa puluh orang gagah di Utara. kalau aku terlihat mereka. Ma Giok kasih lihat gerakan si Mayat Besi itu. Sembilan tahun ia mengeram di dalam gua.‖ ia menyahut. dengan mata mereka yang lihay. ―Syukur langit gelap. yang kedua adalah Ong Cie It. pihaknya tak usah takut. seperti sandiwara. ―Selama ini telah maju pesat sekali kau punya ilmu Cie-pit-kang. perlahan-lahan si nona membuka matanya. untuk antarkan dia pergi ke sorga di Barat…‖ Dalam Coan Cin Cit Cu. ―Tam Suko.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia memang banyak kejahatannya. Dan yang terakhir adalah Ceng Ceng San-jin Sun Put Jie. Kwee Ceng tahu peranannya. mereka tentulah telah dapat lihat aku. Tiba-tiba Tiauw Hong ingat apa-apa. Kwee Ceng menjadi sangat bingung. ―Cie Peng. kepandaian mereka juga maju pesat. hingga ia berpikir: ―Coan Cin Cit Cu telah berkumpul semua. Ia menjadi lega hatinya. tidak seorang juga kaum kangouw yang tidak mengetahuinya. Berterima kasih kepada Langit dan Bumi yang sang rembulan tidak muncul!‖ Kwee ceng sendiri mengawasi Gochin. Kalau terjadi pertempuran. Cuma dikhawatirkan keselamatan Kwee Ceng dan Gochin. yang mendapat julukan Thie Kak Sian si Dewa Kaki Besi. supaya kami yang menjadi saudara-saudaramu dapat membuka mata kami. baiklah ia diberi jalan baru…. yang disini menyamar sebagai Tam Cie Toan. Yang keenam Kong-leng-cu Cek Tay Thong. Siauw Eng bicara sebagai juga ia adalah Ceng Ceng San-jin. kalau sebentar si siluman perempuan datang. baik semua berlaku hati-hati. ―Kalau tidak. Si nona tapinya tidak mengerti. Segera ia totok urat gagu si tuan putri itu. ―Engko Ceng lekas tolongi aku!‖ ia berteriak. Kauwcu Ong Tiong Yang ada punya tujuh murid yang mendapat nama baik. Ia menjadi berkhawatir. ―Tapi karena Coan Cit Kauw mengutamakan wales asih. itu tandanya si nona tidak dalam bahaya jiwa. ―Ceng Ceng San-jin sangat murah hati. pantas suhu pernah bilang kau gampang untuk mencapai kesempurnaan!‖ katanya. ia lantas menggoyangi tangan. ―Dia berdosa tak terampunkan!‖ sahut Hie Jin sebagai Cie Toan. Yang keempat ialah Tang Cun Cu Khu Cie Kee. istrinya Ma Giok pada sebelum Ma Giok sucikan diri.‖ Cu Cong tertawa.‖ berkata Cu Cong. bagaimana pikiranmu?‖ tanya Siauw Eng. yang disamarkan sebagai In Cie Peng. Ia tanya Hie Jin. yang ketiga Tiang-sen-cu Lauw Cie Hian. Cie Kee sendiri puji padanya. ―Jangan bicara!‖ katanya. Ia lalu menjadi heran dan curiga. Pembicaraan itu membikin gentar hatinya si Mayat Besi. Murid kepala.‖ ia dengar suaranya Han Siauw Eng. ―Coan Cin Cit Cu ada disini semua? Benarkah ada begini kebetulan? Bukankah orang lagi menghina aku karena aku buta dan sengaja mereka mengatur sandiwara?‖ ia mulai geraki tubuhnya. Khu Cie Kee yang namanya paling tersohor. kalau sebentar kita turun tangan. Cuma Tin Ok yang bungkam.

ia menyambar pula. Mereka duga Tiauw Hong jeri dan bakal menyingkirkan diri secara diam-diam. ia dapat meloloskan diri dari tanganku. diumpamakan dengan rasa hati. dalam sepuluh tahun tidak ada dua…. dia malah menghampiri mereka. ―Hm!‖ ia lepaskan cekalannya. tidak tahunya dia benar bernyali besar. maka ia tanya Ma Giok: ―Ma totiang. Coba kau pertunjuki untuk kami lihat. lantaran aku bebal. siap sedia dengan cambuknya yang panjang itu. tidak berani aku memohon pengajaran dari totiang beramai. umpama kata ia menyesal dan suka mengubah kesalahannya yang dulu-dulu dan tidak tidak lagi mencelakai orang-orang yang tidak bersalah dosa serta tidak akan mengganggu pula kepada Kanglam Liok Koay. pergi kau menemui mereka itu. kau bersahabat serat dengan Kanglam Liok Koay. Baiklah aku menyingkir dari mereka…‖ Dengan perdengarkan suara. dengan berdiam. ―Penyelesaiannya berada di pihak Bwee Tiauw Hong sendiri. dagingnya melesak ke dalam. Tiauw Hong pun tidak berani mengulangi tantangannya untuk mencoba menempur Sun Put Jie. Maka ia lantas membentak: ―Silumanm. ia lihat bahaya mengancam. mungkin tangannya itu sudah tidak dapat ditolong lagi…. baiklah kita beri ampun kepadanya. ia harus dikasihani juga.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong mengawasi gerak-geriknya Bwee Tiauw Hong. ―Siapa kau?‖ tanya si buta.‖ sahut Cu Cong. dilain pihak ia geraki tangan kirinya itu. apakah artinya itu?‖ . tetapi telah lama aku dengar ilmu silatnya Ceng Ceng San-jin. maka anak muda itu menjadi mati daya. untuk mohon mereka jangan membuat perhitungan pula dengan dia. kalau benar. asal dia suka mengubah perbuatannya…. ia berdiri. Cu Cong memberi tanda dengan tangan kepada muridnya itu. Itu artinya. bagaimana dengan penyakinan pelajaran yang suhu ajarakan beberapa tahun ini. Bwee Tiauw Hong ada di sini!‖ Semua orang terperanjat sangking herannya. kali ini ia memegang nadi orang. apabila ia lihat tangannya. kedua pihak baiklah menyudahi urusan mereka. tanpa pedulikan lihaynya Bwee Tiauw Hong. Kwee Ceng lihat Gochin rebah di tanah. yaitu Kimkwan Giok-cauw ie-sie Koat? Pastilah kau telah peroleh kemajuan. ia berkata pula: ―Kabarnya Bwee Tiauw Hong telah buta kedua matanya. maka itu suaranya nyaring luar biasa.‖ Ma Giok tahu Cu Cong ingin dia perlihatkan kepandaiannya guna menakluki Bwe Tiauw Hong. Tentu sekali. ia berkhawatir. Tapi ia ingat suatu apa. timah dan air perak disimpan denagn hati-hati. Oleh karena ini. murid dari Tiang Cun Cin-jin. segera ia berkata dengan nyaring: ―Toa suko. Ia dapat lolos. Itu bukanlah pertanyaan biasa. peryakinan berhasil. Tiauw Hong berkata pula: ―Aku adalah seorang wanita. Maka sekarang. Perlahan-lahan ia kembali ke tempat sembunyinya. ia lompat kepada kawannya itu. Aku pikir. Bwee Tiauw Hong mengkerat mendengar suara orang itu. apakah artinya itu?‖ Ma Giok menyahuti: ―Timah itu sifatnya berat. tak dapat aku lawan kau. Coba si Mayat Besi tidak jeri. Ma Giok llihat kelakuan orang. Tapi Tiauw Hong benar-benar lihay. kau hendak mendapatkan pelajaran sejati? Lekas pergi!‖ 145 Tiauw Hong tanya pula: ―Nona muda dan anak muda.‖ Tiba-tiba terdengar suara dingin dari belakang batu: ―Terima kasih untuk kebaikannya Coan Cin Cit Cu! Aku.‖ Irawan D Soedradjat Page Pertanyaan itu membuat Ma Giok terkejut. berkumandang di dalam lembah. tubuhnya diam saja. Apa yang aku dapati dari guru kita. Tahu-tahu tangan kirinya si Mayat Besi sudah lantas menyambar dan mencekal tangan kirinya. ingin aku memohon pengajaran daripadanya…‖ Habis berkata. tidak dapat ia berdiam saja. rasa hati harus dikendali. Kwee Ceng lantas lari menjauhkan diri.‖ ―Itulah perkara gampang. terdengar tedas sampai jauh. Khu Sutee. Di satu pihak ia lemparkan tubuh Gochin kepada Siauw Eng. untuk mengasih bangun padanya.‖ Tiauw Hong segera berpikir: ―Muridnya begini muda tetapi tenaga dalamnya sudah bagus sekali. di situ ada petahan lima jari tangan. ia lantas menjawab: ―Sebenarnya walaupun aku menjadi saudara yang tertua. Kata-kata itu ialah istilah dalam kalangan agama To Kauw. Imam ini bicara secara merendah akan tetapi ia telah gunai tenaga dalamnya. atas mana Kwee Ceng segera memberikan penyahutan: ―Teecu adalah In Cie Peng. saudara-saudaraku. untuk berkelit. Memang persahabatannya erat sekali dengan itu putri serta Tuli.

Ah. tidak disangka si Mayat Besi telah jadi begini lihay. suatu tanda bahwa ia ada mendukakan apa-apa. Hanya dalam Iweekang.‖ kata Siauw Eng separuh menghibur. ―Umpama kata Khu Sutee dan Ong Sutee berada di sini. dia rupanya telah dapat cari jalan itu. orang berlega hati melihat perginya wanita bagaikan siluman itu. ayah malah jadi semakin tidak percaya. Inilah yang pertama kali ia menghadapi soal sulit itu. cambuknya digeraki melilit batu. dia belum menemui jalannya yang benar. ―Itulah bukan. ―Totiang.‖ berkata Cu Cong. ―Harap totiang jangan segan-segan menitah kami.!‖ Selagi Ma Giok mengatakan demikian. Gochin perdengarkan suara. ―Adakah totiang dilukai senjata rahasia?‖ mereka tanya. ia lompat ke arah jurang. ―Ilmunya si Mayat Besi ini. telah berada di atasan pinto dan saudara-saudara.‖ ―Oleh karena kurang pikir. Ia rupanya sadar seluruhnya. lantaran aku tidak sudi menikah denagn Tusaga. Benar pinto telah baharu menjawab sekali. tanpa berpikir lagi. Engko Ceng.‖ Cu Cong tawarkan diri. Kwee Ceng menjadi bingung. Kalau dia tambah lihay dan tetap ia berbuat jahat. mereka tidak mengerti. Cu Cong semua terkejut. dia belum berhasil menyakinkannya. Di lain pihak. . hingga orang semua kagum.‖ berkata imam itu setelah menghela napas panjang. yang keningnya berkerut. apabila kau memerlukan sesuatu. Ayah pergi dengan mengajak ketiga kakakku serta belasan pengiring. sudah tentu kami sukar lolos dari nasib celaka. sejenak barusan pinto telah kena tertipu wanita yang sangat licin itu.‖ sahut imam itu. ―Coba tidak totiang membantu kami. Irawan D Soedradjat Page 146 ―Sudah sekian lama. Terus ia berlompat.‖ ―Jangan mengucap begitu. apabila ia menarik dan tubuhnya mencelat. dia jadi terlebih sukar untuk ditakluki. Adakah dia yang membawa aku menemui kamu?‖ Putri ini tak sadar akan bahaya yang mengancam padanya tadinya. ―Harap saja begitu. Mestinya itu adalah jalan yang ia belum dapat tangkap artinya. ayah tertawa terbahak-bahak. karena ia lantas berkata kepada Kwee Ceng: ―Engko Ceng. ―Hanya tadi ketika ia menanya padaku. ayahku tidak percaya keteranganku. aku jadi hendak memperdayainya. tetapi di tengah jalan aku dibekuk perempuan buta itu. totiang!‖ katanya. Aku telah jelaskan bahwa hal itu kau dengar dengan kupingmu sendiri. Setahu darimana. untuk berduduk di atas batu.‖ berkata Ma Giok. akan tetapi itu satu juga bisa membantu banyak padanya untuk ia peroleh kemajuan…‖ ―Harap saja ia insyaf dan tidak nanti melakukan pula kejahatan. ―Sepuluh tahun ia tak tertampak. ―Mereka menunggang kuda pilihan. Ayah bilang. Pinto khawatir jawaban itu nanti menjadi bahaya di belakang hari…‖ Cu Cong semua mengawasi.Pendekar Pemanah Rajawali Tiauw Hong tertawa lebar. Ma Giok segera totok sadar kepada Gochin yang diletaki di atas batu untuk beristirahat. Sangum dan Jamukha bakal celakai ayahku itu. walupun kami tidak punya guna. ayah sudah ajak orang pergi kepada Wang Khan…‖ Kwee Ceng kaget. maka itu Cu Cong dan yang lainnya kata dalam hati mereka: ―Coba tidak ada kita disini. aku tidak bercuriga…. tentulah batok kepalamu sudah berlobang lima jari tanga…‖ ―Sudah berapa lama Khan pergi?‖ tanya Kwee Ceng yang hatinya cemas. ia hendak hukum padamu. Ayah bilang. hanya karena tidak ada orang yang tunjuki. yaitu yang disebut Gwa-mui atau ilmu luar.‖ sahut si imam kemudian. lalu ia sadar. masih belum tentu kita dapat menangkan dia. bagaimana sekarang?‖ Lantas saja ia menangis. kami bersedia untuk menerima titah-titahmu. gerakannya sangat enteng dan pesat. sepulangnya nanti. ―Kenapa Khan tidak percaya kepada kau?‖ ia tanya. pinto telah jawab dia. Ia lihat imam itu berduka. Karena itu aku segera berangkat untuk cari kau. Tidak lama lagi tentulah mereka akan sudah sampai di tempatnya Wang Khan. atau ilmu dalam.‖ sahut Gochin. Terus ia angkat tubuhnya. ―Terima kasih atas petunjukmu. Tadi ia menanyakan jalan itu kepada pinto. dasar aku yang semberono. ―Tempo aku beritahukan bahwa kedua paman Sangum dan Jamukha hendak membikin ayah celaka.

telah turunkan tuan putri itu. ia tahan kudanya. Jebe ada sangat awas. untuk mencegah. Ia pun berpendirian. Dan kau. ia keprak kudanya. Wang Khan. Selang dua jam. jalan pulang dari Khan agung itu telah terpegat. ia kata pula: ―Kha Khan. Di dalam hati Kwee Ceng mengeluh. ia tampak tentara itu tengah mengejar. untuk berjalan perlahan-lahan. Dari benderanya ketahuan. Temuchin awasi bocah tanggung ini. malah mereka ini tahu tugasnya. Setelah ia mendatangi lebih dekat. ―Siap sedia!‖ Dalam keadaan seperti itu. yang terus tuturkan persekutuannya Wanyen Lieh. Maka itu kemudian ia sudah mulai dapat melihat bendera yang besar dari Temuchin. disusul sama munculnya satu pasukan tentara terdiri dari beberapa ribu jiwa. ia puas benar dengan kudanya yang larinya sangat pesat. lekas kau pergi kepada kakakmu Tuli. Dengan roman bersangsi. Ketika si opsir dapat ketahui dan berseru. khan ini tidak jeri. terus ia lari. ia sudah lewat jauh! Di tengah jalan Kwee Ceng tidak berani berlambat. Ia khawatir Temuchin keburu sampai di tempat Wang Khan dan itu artinya bahaya untuk Khan yang maha agung itu. Saudaraku Jamukha ada sangat baik denganku. mereka lantas menggali lobang dan memindahkan batu. guna memegat Ogotai dan Chilaun. cobalah kirim orang untuk periksa benar atau tidak ada tentara pencegat jalan!‖ Biar bagaimana. Irawan D Soedradjat Page 147 . dan itu berarti. Setibanya di lembah. untuk mengatakan: ―Lekas kamu pergi menyelediki!‖ Dua orang itu sudah lantas lari balik. tubuhnya mendekam di punggung kuda. apapula di tanah rata. tibalah Kwee Ceng di tempat datar dimana kedapatan tiga baris tentera yang jumlahnya mungkin tiga ribu jiwa. putranya yang kedua itu dan Chilaun. tuan putri. tengah mengandali tenagaku.‖ sahut Kwee Ceng. ia kabur pula. ia tampak rombongan dari belasan orang yang tengah maju terus. yang siap sedia denagn panah dan golok terhunus. mereka ambil sikap mengurung. ―Benar-benar pasukannya Wang Khan!‖ ia berseru.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng lekas kau pergi!‖ berkata Cu Cong. Ia pun ada bersama orang-orangnya ynag gagah. cambuknya dipecut berulang-ulang. ―Lebih baik terpedaya satu kali tetapi jangan mati konyol!‖ Maka ia terus berpaling pada Ogotai. Segera terlihat pula. Kwee Ceng kabur ke kemah di mana ia ambil kudanya. ―Kha Khan. Ia pun beritahukan perihal tentera pencegat di belakang mereka. Temuchin adalah seorang yang teliti. Sesudah lari lagi satu jam. siapa sudah lari terus. guna dikasih lari sekeras-kerasnya. ia mendahului turun dari atas jurang. baru kuda itu mau juga diistirahatkan sebentar. habis mana. ―Ada bahaya. buat berjagajaga diiri dari serangan anak panah. tanpa ayal lagi. Pernah ia mencoba menahan. tetapi si kuda tidak mau berhenti. dia harus mengirim orang untuk mencari keterangan terlebih dahulu. Temuchin memandang ke sekelilingnya. itulah pasukan Wang Khan. untuk tiba di samping khan itu. malah tiga jagaan telah ia lewatkan terus. ―Naik ke bukit itu!‖ Ia kasih perintah. tetapi ayah angkatku. ia keprak kudanya untuk dikasih lari lewat di sini tentara itu. kita sehidup semati. lekas kembali!‖ ia berteriak. Dipaling depan pasukan itu terlihat Ogotai dan Chilaun lari kabur mendatangi. Terang Temuchin telah lewat di situ. ia khawatir hewan itu terlalu letih. sedang Ma Giok denagn mengikat tubuh Gochin. nampaknya ia tidak takut capek. ―Kau pakai kuda merahmu itu untuk susul Khan yang agung! Umpama kata ia tidak mempercayaimu. ―Jangan pergi lebih jauh!‖ Temuchin heran. begitu naik ke atas bukit. panglimanya. pasukan pengejar itu memecah diri dalam diri dalam jumlah ratusan jiwa. Di lain pihak ia menjadi girang sekali. Ia pun berpikir: ―Memang Sangum tidak akur dengan aku. ―Ada apa?‖ ia menanya. Tak lama dari selatan terlihat debu mengepul naik. Karena ini. apa mungkin nia hendak mencelaki aku?‖ Kwee Ceng tahu khan itu bersangsi. untuk menaikinya. untuk minta ia lekas siapkan tentara guna segera pergi menyusul dan menolongi ayahmu!‖ Kwee Ceng menginsyafi keadaan.

di sebelahnya baju lapis. terus ia gunai panahnya. mereka sekarang turut menyerang denagn panah mereka. aku minta sukalah kau datang ke mari untuk bicara!‖ ia lanats teriaki itu saudara angkat. sembari menyerang mereka mundur ke bukit dimana Temuchin menanti. ―Asal saja kuta bangsa Mongolia tidak saling menyerang. Temuchin sengaja singgung sifat itu. hati mereka goncang. kapan orang-orangnya Sangum mendengarnya. ada juga yang malas dan cuma doyan gegares! Kenapa mereka yang rajin mengasih makan mereka yang malas itu? Kenapa kita tidak hendak memberikan lebih banyak kerbau dan kambing kepada yang rajin? Kenapa kita tidak mau membiarkan si malas itu mati kelaparan?‖ Dijaman dahulu bangsa Mongolia hidup dalam suatu keluarga atau suku. dengan berulang-ulang. maka denagn berulang-ulang sejumlah serdadu musuh rubuh terguling. ia lihat satu penunggang kuda di kaki bukit itu. berlaksanaan anak panah bakal dilepaskan terhadap dirimu! Jikalau itu sampai terjadi. ―Adik Sangum. jangan kau memikir untuk hidup lebih lama pula!‖ Kwee Ceng menjadi cemas sekali. ialah kebanyakan bangsa penggembala itu memakai cara memiliki sendirisendiri. Penunggang kuda itu dandan sebagai satu panglima perang. diam-diam mereka itu pada mengangguk. ternaknya kambing dan kerbau adalah kepunyaan beramai satu suku. tiga pengejar terdepan rubuh dari kuda mereka. ia hanya menanya: ―Apakah salahku terhadap ayahku Wang Khan. ia pun nyata sekali kepuasannya. ia tiba lebih dahulu kepada Ogotai dan Chilaun. ―Temuchin. Temuchin lanjtui perkataannya: ―Bangsa Mongolia bangsa orang-orang peperangan yang pandai. Ia anggap ia mesti menang tempo. sukar buat ia menoblos kurungan. tetapi kau kenapa. kenapakah kita tidak hendak pergi mengambil emas dan perak dan permatanya bangsa Kim itu? Kenapa kita mesti tiap tahun membayar upeti terhadap mereka? Kita bangsa Mongolia ada diantaranya yang rajin memelihara kerbau dan kambing. kemudian karena tenaga pertumbuhan mereka bertambah dan adanya pemakaian alat-alat dari besi. yang ditawungi bendera kuning yang besar juga. mendahulukan gurunya. mari kita sambut mereka!‖ Jebe berteriak. ia turut memanah. Temuchin tidak menyahuti. Mereka setujui perkataan itu. Sendirian saja. diturut oleh muridnya. putranya Wang Khan. Ia berlaku jumawa. Ia lantas saja berpikir. akan memandang jauh ke empat penjuru. lekas menyerah!‖ demikian ia berteriak. Tusaga adanya. Sangum mendekati bukit. negara itu menghendaki kita setiap tahun membayar upeti beberapa laksa ekor kerbau.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng. Tuli sendiri belum tentu tepat datangnya. dengan memperlambat segala apa. Akan tetapi musuh berjumlah besar. Di tangannya panglima itu ada sebatang golok besar. Ketika ia buka mulutnya. ia menyusuli dengan anak panahnya yang keempat. maka kau bawa pasukanmu untuk menyerang aku?‖ Sangum pun menjawab dengan pertanyaannya: ―Adakah sejak jaman dahulu kala bangsa Mongol tinggal pada masing-masing sukunya. Ia telah menyaksikan tentaranya Wang Khan tengah mendatangi di empat jurusan itu. karena ada kemungkinan tentaranya tak mau dengar putra yang masih muda itu. Orang itu ialah Sangum. ―Jikalau kau tidak mau menyerah!‖ ia membentak. dengan siapa ia Irawan D Soedradjat Page 148 . Kwee Ceng kenali panglima yang masih muda itu. kau langgar aturan leluhur kita? Kenapa kau hendak persatukan semua suku?‖ ―Bangsa Mongolia telah diperhina oleh negara Kim. Beberapa puluh tentara lain pun melindungi dia dengan mereka. Temuchin naik ke tempat yang lebih tinggi. Panah mereka tidak pernah gagal. Jebe lebih lihay daripada muridnya ini. kapan tiga anak panahnya melesat. ia mengenakan juga mantel bulu kulit binatang tiauw yang mahal. putra Sangum. denagn begitu pihak pengejar dapat tertahan majunya. perlahan-lahan sifat itu berubah. Juji dan lainnya. Keadaan ada sangat mendesak dan sulit. Dengan diiringi pasukan pengawalnya. Bagaimana bahaya dapat dihindarkan? Selagi ia berpikir. siap sedia tameng besi mereka guna menangkis panah gelap. sudah lantas memanah juga. ternaknya adalah kepunyaan suku bersama. Sangum mengerti orang lagi menghasut tentaranya. Cepat luar biasa. Dan ia keprak kudanya. kenapa kita mesti takuti bangsa Kim itu?‖ Kata-kata ini tajam. adakah itu selayaknya?‖ Temuchin balik tanya. Hebat lari kudanya kwee Ceng. mereka maju bagaikan gelombang! Ogotai dan Chilaun telah tahan kuda mereka dan berbalik. Di sini khan itu bersama Borchu. ia membuatnya tentaranya Sangum menyetujuinya. Dengan aksi ia larikan kudanya mondarmandir. kambing dan kuda. ―Asal aku menuding dengan cambukku ini. Kemudian pada sebuah pasukan ia tampak seorang yang menunggang seekor kuda yang besar.

Ia lempar tubuh Tusaga ke tanah. tidak dapat ia berontak. Mereka Cuma mundur. Celaka untuk Tusaga. ia berpaling lekas. Segera ia bentur perut kudanya denagn dengkulnya yang kanan. ia tidak bisa berbuat lain daripada keluarkan titahnya untuk pasukannya itu mundur seratus tombak. Bukan main girangnya Temuchin. tapi tiga-tiga kalinya. Tepat tangkisan itu. Dia dapat lari tak kalah pesatnya seperti waktu turun tadi. Dengan tidak kurang suatu apa pun Kwee Ceng tiba di samping Temuchin. tapi pengurungan tidak dibubarkan. untuk ringkus Tusaga. meminta putranya dimerdekaan. tubuhnya kena diangkat dari kudanya. maka itu kenapa khan yang agung Temuchin hendak mengubahnya? Tuhan juga tidak memperkenankan itu. ia kasih perintah orangorangnya terus memasang mata. seorang denagn pakaian putih muncul di kaki bukit. Lalu ia berikan mereka lima batang anak panah yang digabung menjadi satu. Menampak itu. katanya. nanti jiwanya Temuchin akan diberi ampun. ke dekatnya khan yang agung itu. dalam tujuh dan delapan lapis! Temuchin puji Kwee Ceng. untuk dipakai menjadi tameng. yang diperintah gunai dadung. Ia segera menuding dada Tusaga dengan ujung tombaknya sembari berbuat begitu. Kuda itu pun lantas mengerti. Temuchin usir utusan itu. ia mati kutu. Adalah adat istiadat bangsa Mongolia akan saudara muda memeluk dan merangkul saudara tuanya. Bergantian mereka berlima mencoba mematahkan anak panah itu. ia lantas lari ke arah bukit untuk mendaki. Selagi Kwee ceng hendak geser pemuda itu. tangan kirinya menangkis. ―Adakah kau masih anggap aku sebagai kakak angkatmu?‖ ia menegur. ia suruh mereka masing-masing mematahkannya. ia dengar suara anginnya senjata mengaung di arah belakangnya. mereka gagal. ia lantas berteriak: ―Di sini Jamukha! Aku ingin bicara dengan saudara Temuchin!‖ ―Kau naiklah kemari!‖ Temuchin menjawab Jamukha mendaki dengan perlahan-lahan. untuk menghampiri pemuda itu. Tanpa terasa. ingin ia memeluk. ia pegang tubuhnya Tusaga. maka ia jepit kudanya. begitu kena di cekal.‖ katanya Jamukha lagi. ia kasih lari turun gunung. Ia kaget dan tidak menyangka putranya dapat ditawan musuh selagi putra itu berada dalam lindungan tentaranya yang berjumlah besar itu. mereka khawatir nanti kena memanah pemimpin mereka yang muda itu. Ia lantas duduk bersila. Ujian Yang Pertama Sangum murka berbareng bingung. kembali ia menitahkan mereka untuk mematahkannya. Ia lantas ingat suatu apa. maka tempo Kwee Ceng menarik. sambil berpaling. Ingatkah apa pesan leluhur kita itu?‖ Irawan D Soedradjat Page 149 .Pendekar Pemanah Rajawali pernah berkelahi waktu kecil. ―Lima putra mereka tidak hidup rukun. Dengan gampang mereka itu melakukannya. Jamukha menghela napas. malah kereta besar dikitarkan diseputar bukit itu. ―Kakak kau telah menjadi Khan yang agung. Kira-kira tengah malam. sepasang tombak kena dibikin terpental ke udara. supaya Temuchin menyerah. ―Lepas panah!‖ orang-orangnya Sangum berteriak. ―Pelbagai kepala suku pada membilangnya bahwa leluhur kita sudah turun temurun beberapa ratus tahun hidup secara begini. Ia maju mendekati. kenapa kau masih berambekan besar sekali?‖ ia tanya. Tiga kali Sangum mengirim utusan. ia masaki daging kambing kepada mereka. ―Apakah kau masih ingat cerita tentang leluhur kita Maral Goa?‖ Temuchin tanya. ―Kenapa kau bercita-cita mempersatukan bangsa Mongolia?‖ ―Kau sebenarnya menghendaki apa?‖ Temuchin tanya. ia teriaki Sangum: ―Lekas kau suruh semua orangmu mundur seratus tombak!‖ Bab 14. langit telah menjadi gelap. Temuchin hunus goloknya. Kwee Ceng tidak takut. Temuchin khawatir Sangum menyerbu. tidak ada satu serdadu pun yang berani memanah. Ia tampak Temuchin berdiri menantikan dengan romannya yang angker. mereka juga masing-masing diberikan seorang sebatang anak panah.

lalu ia memutar tubuhnya untuk turun dari bukit itu. kau mengatakannya itu milik mereka pribadi. untuk selamanya tidak bakal ada Temuchin lagi! Jikalau kau tidak merdekakan Tusaga. Ia pun keluarkan satu kantung kulit kecil dari sakunya. dan sekarang dia menghendaki orang-orang peperangan kita membantu ia berperang!‖ ―Wang Khan dan Sangum tidak ingin memberontak terhadap negara Kim itu. Sungguh tidak ia sangka. mereka menjadi leluhur kita bangsa Mongolia!‖ sahut Jamukha. ―Siapa tahu permintaannya kepada kita makin lama jadi makin hebat! Sudah minta kerbau dan kambing. Ia tambahkan.‖ kata Jamukha. bukannya kakak angkatmu!‖ Jamukha jemput bungkusan kecil itu. sekian lama ia diam asaj. ―Dan bagaimana dengan kau sendiri?‖ ―Aku datang untuk meminta kau jangan gusar. ―Harap kau tidak mengatakannya aku tidak berbudi!‖ Temuchin lantas keluarkan satu bungkusan kecil dari dalam sakunya. ―Kemudian bagaimana?‖ ―Kemudian mereka berlima bersatu padu bekerja sama. saudara angkat itu yang bagaikan saudara kandungnya bisa berubah demikian rupa. kalau satu putranya terbinasa. Aku tanggung Sangum nanti melepaskan kau pulang dengan selamat!‖ ―Aku tidak percaya Sangum! Aku juga tidak percaya kau!‖ ―Sangum bilang. dia minta kuda.Pendekar Pemanah Rajawali Dengan perlahan Jamukha mengatakan: ―Jikalau kamu masing-masing bercerai-berai. ―Yang dibunuh itu adalah musuh. ia geraki tangannya seperti hendak membacok batang lehernya. ―Berontak? Hm! Berontak!‖ seru Temuchin menghina. tak tepat itu dengan pengajaran leluhur kita!‖ Temuchin berseru: ―Akan tetapi semau orang peperangan yang muda-muda senang dengan caraku itu!‖ ―Baiklah saudara Temuchin.!‖ kata Jamukha pula.‖ Temuchin menjadi mendongkol. sekarang kau terimalah kembali! Besok kau membawa golokmu untuk berperang di sini!‖ Sembari berkata begitu. akan tuang keluar isinya. Segera terbayang di hadapan Irawan D Soedradjat Page 150 . bukannya milik suku beramai. Kata ia: ―Negeri Kim itu banyak tentaranya dan banyak panglima perangnya. kau bakal tak dapat melihat lagi matahari besok!‖ Temuchin membacok ke udara. Aku minta supaya kau kasih pulang Tusaga kepada Sangum. cara bagaimana bangsa Mongolia bisa main gila terhadapnya?‖ ―Hm!‖ Temuchin perdengarkan ejekannya. kakak. ―Mulanya akun juga menyangka raja Kim itu baik hati. Jamukha bangkit berdiri. Ia bilang: ―Inilah tanda mata ketika angkat saudara untuk ketiga kalinya. hingga membaliki belakang kepadanya. bagus!‖ seru Temuchin. ia lemparkan ke depan Jamukha. dia bakal melahirkan dua putra lagi! Kalau satu Temuchin terbinasa. ―Kita juga adalah orang-orang gagah. ―Jadinya kau suka yang kita semua diperhina dan ditindih bangsa Kim itu?‖ ―Mereka pun tidak menghina dan menindih kita. yang gampang sekali orang siapapun dapat mematahkannya. rangsumnya bertumpuk bagaikan gunung. emasnya tersebar di seluruh negaranya. ―Raja Kim itu telah anugerahkan pangkat Ciauwtouwusu padamu. kamu menjadi seperti lima batang anak panah yang digabung menjadi satu ini. tak nanti aku menyerah!‖ serunya. ―Kita membagi-bagikan kerbau dan kambing rampasan kepada tentara. Lalu dengan perlahan-lahan ia buka kantung kulit itu. Temuchin mengawasi belakang orang.‖ katanya.‖ kata Jamukha. kita bersatu hati bekerja sama untuk memusnahkan bangsa Kim itu!‖ Jamukha terkejut. semua pelbagai kepala suku mengatakannya kau berlaku buruk. kamu menjadi seperti anak panah ini. ―Benar begitu!‖ kata Temuchin. tanpa membilang apa-apa. kenapa kita tidak hendak mempersatukan bangsa Monglia kita? Kita harus saling kepruk. ialah kepala panah dan biji piesek yang diwaktu muda mereka sering membuat main. Ia ada sangat berduka. Mengenai itu. ia letaki itu di samping kakinya Temuchin. yang tak dapat dipatahkan siapa juga!‖ ―Kau masih ingat itu. jikalau kamu berpadu hati bersatu tenaga. ―Aku lebih suka terbinasa dalam perang.

ia melanjutkan: ―Mereka itu juga orang-orang gagah! Kami bangsa Mongolia ada punya begini banyak orang gagah. Ini waktu terlihat tentara musuh sudah mulai bergerak. kita bisa menang perang. Di bawah bendera itu ada tiga orang. Dia sangat gesit dan gapa. kemudaian berpaling. yang menerangi tanah datar seperti juga banyak bintang di langit. di kanan Jamukha. Di dalam pasukannya Sangum dan Jamukha segera terdengar suara terompet. Dia ayun tangannya. jalanan yang bisa diambil musuh untuk menerjang naik. Ia lantas kata: ―Khan yang agung. hingga ia dapatkan Kwee Ceng berdiri diam di sampingnya. disusul sama bacokan goloknya. ―Temuchin.‖ Temuchin memuji. Dengan goloknya ia mencongkel sebuah liang di tanah.kita pasti dapat membuat seluruh dunia. Ia nampak api yang dinyalakan tentaranya Sangum dan Jamukha. Di belakang pangeran ini segera muncul satu orang. sayang kami saling bunuh satu sama lain! Coba semua dapat berserikat menjadi satu…‖ Ia memandang ke ujung langit. Kwee Ceng di samping mengawasi dengan perasaan berat. mereka halau setiap anak panah itu. lalu menambahkan pula. apa yang Temuchin pendam itu adalah persahabatan yang ia paling hargakan…. membuat seluruh dua menjadi ladang tempat kita menggembala ternak kita!‖ Kagum Kwee Ceng akan dengar itu cita-cita dari Khan yang agung ini. bukannya orang peperangan yang biasa. untuk lari mendaki ke atas gunung. putra sulung Temuchin. Temuchin bangun berdiri. Kwee Ceng terperanjat menyaksikan kegesitan empat orang itu. Irawan D Soedradjat Page Satu di antara empat orang itu. tetapi dengan tamengnya. putra keenam dari raja Kim. tujukan panahnya dan memanah pangeran itu. tidak nanti kita dapat dikalahkan Sangum yang berhati kecil dan hina dina itu!‖ Temuchin pun menjadi bersemangat. Ia memandag ke depan. adakah kau hendak memberontak terhadap negara Kim yang agung?!‖ tanya itu pangeran. empat orang berlompat maju. di kiri Sangum. Pangeran Kim ini memakai kopiah dan jubah perang bersalut emas. rupanya mereka hendak memulai penyerbuan mereka. Juji. Jadi mereka adalah orang-orang Rimba Persilatan. satu pemuda dengan pakaian hitam sudah lantas sampai di atas gunung. Ia mengerti.‖ Kwee Ceng menyahuti. lantas sebatang panah tangan menyambar ke batang lehernya putra Temuchin itu. Ia menunjuk kepada api di kejauhan itu. Habis menguruk tanah dengan kedua tangannya. yang menuju ke sisi gunung. ―Bagaimana sekarang?‖ . orang gagah yang baik sekali. Temuchin bersama ketiga putranya dan semua panglimanya mendekam di belakang tumpukan tanah. yang menyambuti anak panah itu dengan tangannya. anak panah mereka diarahkan ke setiap jalanan di gunung itu. Setibanya empat orang itu di tengah jalan. mereka dipapaki hujan panah oleh Jebe dan Borchu beramai. dan di tengahtengah adalah Chao Wang Wanyen Lieh. di situ ia pendam itu barang tanda mata dari adik angkatnya itu. ―Aku tengah memikirkan ibuku. cuaca sudah mulai terang. kita bukannya tandingan jago-jago Rimba Persilatan itu…‖ pikirnya. ―Apakah kau takut?‖ ia tanya. sebuah bendera kuning muncul dari dalam pasukannya Sangum. ―Kita di sini adalah orang-orang peperangan semua. ―Mari kita ingat pembicaraan kita malam ini! Selanjutnya akan aku pandang kau sebagai anak kandungku!‖ Dan ia rangkul si anak muda! Sementara itu. ―Benar!‖ sambutnya. tangan kirinya mencekal tameng untuk pencegah panah. ―…. Mereka itu menggunai ilmu enteng tubuh. ―Kau ada seorang gagah. Dia dirintangi oleh Ogotai yang bersenjatakan sebatang golok besar.Pendekar Pemanah Rajawali matanya saat dahulu hari ketika mereka sama-sama bermain-main di es. Hari ini kita akan mati perang di gunung ini!‖ kata Temuchin. Ia menghela napas. ―Bala bantuan tidak datang. Berbareng dengan 151 Kwee Ceng jadi berkhawatir. Wanyen Lieh lantas saja berseru dengan titahnya: ―Tolongi Tusaga! Bekuk Temuchin!‖ Atas titah itu. Ia berdiam sekian lama. Tidak antara lama. Mereka itu adalah.

Keras sekali. benar-benar musuh ini bukan sembarang orang. bersedia akan celaka bersama. Kwee Ceng sementara itu telah melihat. ialah pedangnya. akan menonton pertempuran sang kakak tertua. ―Siapa berani maju!‖ ia berteriak. membalas menikam lempang. Ia ini menghalang di depannya Ogotai. tidak urung tangan bajunya yang kiri telah kena tersontek robek. ia layani musuh yang bersenjatakan golok itu. Memangnya di antara empat saudara seperguruan ini ada perbedaan tabiat atau sikap. Maka ia lihat di depannya ada satu anak muda dengan alis gompiak dan mata besar. kau lihat kepandaiannya toasukomu!‖ berseru orang yang bergenggaman golok itu. Dia terkejut. ia tekuk kaki kirinya dan menikam dari bawah ke atas. tiga kawannya musuh itu sudah berhasil merubuhkan empat atau lima lawannya. masing-masing tidak sudi mengalah. Dipihak lain. ―Kau lihat saja dari samping. Ia pun tidak mengerti cara bersilatnya orang. Tentu saja di hadapan ribuan serdadu. Segera juga ia ingat pengajaran gurunya yang kesatu: ―Di waktu bertempur mesti mempengaruhi orang tetapi jangan kasih diri kena dipengaruhi. ―Mari kita memikir daya lainnya. Itulah gerakan ―Kie hong teng kauw‖ atau ―Burung hong bangkit dan ular naga mencelat‖. Kali ini. ―Toasuko. ―Tuan pangeran. titahkanlah mereka itu turun!‖ ia mohon kepada Wanyen Lieh. Itu waktu Temuchin telah dilindungi dengan dikurung oleh Jebe dan lainnya yang belum terluka. Orang-orangnya Sangum tidak berani naik. mari aku bantu kau!‖ dia berteriak. Kwee Ceng lihat ini ia gunai ketikanya. ―Beritahukanlah she dan namamu!‖ Dia bicara dalam bahasa Tionghoa. maka mereka anggap baiklah mereka menonton kakak mereka yang kesatu. Dilain pihak orang-orangnya Sangum hendak bergerak pula. yang untuk itu telah mengeluarkan banyak uang. yang goloknya tebal. Dia heran dalam rombongannya Temuchin ada orang yang pandai ilmu pedang. ia ulangi serangannya dengan beruntun. saudara yang kedua. Mereka ini pun telah dengar suaranya jiesuko mereka. ia tidak mundur lagi. yang mencekal pedang. sebab ia adalah orang undangannya Wanyen Lieh. dengan bawa tombaknya. kapan musuh berkelit. sikap garang mereka membuat dua musuh lainnya yang memegang ruyung besi dan dan sepasang kampak pendek. Sekarang aku main menangkis aja. Kwee Ceng main mundur. ―Aku Kwee Ceng!‖ sahut anak muda itu. tidak berani sembarang merangsak. menjadi bacokan ke kiri……… Mau tidak mau. ialah yang membuat lawannya repot. anakmu tak bakal terbinasa!‖ kata Wanyen Lieh sambil tertawa. sambil kelit lengannya. Mereka hampirkan jiesuko itu. tiga kawannya orang ini sudah tiba di atas gunung dan tengah bertempur sama Chilaun. waktu datang pula bacokan. terkejut juga musuh menyaksikan orang seperti nekat. ―Lihat kepandaiannya toasuko!‖ berseru saudaranya yang memegang tombka itu sambil tertawa. kapan satu di antaranya melihat ia terdesak. supaya anakku jangan terbinasa…!‖ ―Tetapkan hatimu. Kwee Ceng telah gunai ilmu pedang Wat Lie Kiam pengajaran Han Siauw Eng. ialah ia menikam pula. sedang dari enam gurunya pernah ia dengar pelbagai macam ilmu silat. yang dipanggil toasuko atau kakak seperguruan yang tertua. Segera ia dapat kenyataan.Pendekar Pemanah Rajawali itu. Orang ini mengancam ke kanan. ―Akan aku lantas memenggal!‖ Sangum menjadi khawatir dan bingung. ―Kau siapa?‖ dia menegur. apakah itu ukan berarti aku kena didesak?‖ karena ini. ―Tidak pernah aku dengar namamu! Lekas kau menyerah!‖ kata orang itu sombong. Terus ia bersilat dengan Wat Lie Kiam-hoat. ia malu mengaku kalah terhadap adik seperguruannya itu. tiba-tiba ancamannya itu berubah di tengah jalan. Boroul dan lainnya. Kwee ceng gunai ketika orang bicara. Mukhali lantas saja tandalkan goloknya di lehernya Tusaga. untuk berdiri berendeng bertiga. sebaliknya ia menyambut seraya tekuk kaki kanan dan tangan kiri bersiap sedia. Dia ini menganggap dirinya adalah tertua kaum Rimba Persilatan. ia lompat mundur. sedang hari ini adalah yang pertama kalinya ia muncul di medan pertempuran. berkelebatlah sebatang golok putih mengkilap. tangan kanannya. menikam dari samping kepada lengan penyerang itu. Irawan D Soedradjat Page 152 . ia lantas tarik pulang goloknya. Mereka mau percaya musuh tidak bakal lolos lagi. Musuh kaget dan berlompat berkelit. berat tangannya lawan itu. dia lompat menghampirkan. sedang empat orangnya Wanyen Lieh itu melanjuti pertempurannya.

katanya: ―Tentang nama kami berempat. untuk membarengi membalas menyerang. Sebentar saja. setelah pedang orang terlepas. kau satu anak kecil tentulah tak dapat mengetahuinya. Tidak terkecuali adik seperguruannya si toasuko. juga Temuchin semua. ia jumput golok musuh yang jatuh di dekatnya. Kwee Ceng dengar pemberian peringatan itu. ia mencoba mendesak terus. Hampir pada itu waktu ada angin menyambar di belakangnya. ―Suwie‖ ialah ―keempat tuan‖. Ia tunggu sampai ujung golok hampir mampir di pedangnya. tanpa membalik tubuh lagi. Kali ini ia gunai bacokan ajarannya Lam Hie Jin. hingga ia melayani musuh muda ini. ia membuatnya tombaknya musuh terpental. tigapuluh jurus telah dikasih lewat. ―Awas!‖ Jebe teriaki muridnya. Ia ini cemas juga setelah banyak jurus. Tenang adanya sikap Kwee Ceng. dengan tombaknya itu ia sudah punyakan pengalaman dua puluh tahun………… Kwee Ceng berkelahi sambil matanya melitah dan otaknya bekerja. ia menikam ke dada pula.‖ ia menebas terus tanpa membuat perubahan. Ia penasaran sebab ia tahu. Lihat golokku!‖ Ia lantas menyerang. Keras sampokan ini. Sambil berteriak. ―Teecu adalah muridnya Kanglam Cit Koay. Kwee Ceng sudah tempur orang. ia tahu musuh ingin menerbangkan goloknya. ia membokong. ia membacok ke arah lengannya musuh. ―Kenapa kau datang kemari untuk antarkan jiwamu?!‖ Kwee Ceng lintangi pedangnya. sebat tangannya. Ia tertolong jiwanya tetapi pedangnya toh mampir juga di tangannya. Musuh itu menjadi girang melihat lawan tidak berkelit hanya membalas menyerang. ia masih belum bisaberbuat suatu apa. yang membokong. ia lepas dan lemparkan pedangnya. mendadak ia mengegos sedikit. ialah sambil melayangkan kaki kanannya ke bahu musuh. ia merasa orang ada terlebih terlatih daripadanya. Penyerang bertombak ini menggunai ketikanya yang baik. sambil mendak sedikit. Setelah berkelit dari bacokan. ia gagal. Demikian satu kali.‖ ia menjawab dengan terus terang. sambil memutar tubuh. yaitu jurus ―Burung walet masuk ke sarangnya‖ dari tipu silat ―Lam Sam Too-hoat‖ – ilmu pedang Lam San. ia menjadi seperti nekat. golokku sudah mengenai tubuhmu. bahwa musuh itu ingin memperlekas kemenangannya. Diakhirnya. dengan tangan kosong ia sampok pedang si anak muda. ia mendupak ke belakang. Puluhan ribu serdadu musuh. jeli matanya. telah banyak pengetahuannya. dengan sedikit lebih sebat saja. Lalu ia berpaling pula. sedang tangan kanannya menikam terus ke dada lawannya itu! Bukan main kagetnya si toasuko. Di dalam hatinya ia berkata: ―Belum lagi pedangmu tiba. dan ilmun pedangnya pun sudah dapat mendesak musuh ini. taruh kami mengatakannya. maka tangan itu bercucuran darahnya! ―Sayang!‖ kata Kwee Ceng di dalam hati. berdiam menyaksikan pertempuran itu. Ia lihat Kwee Ceng lihay dengan ilmu pedangnya. terus ia maju pula. dengan bengis ia membacok melintang. bukan ia mundur. ia mendahulukan menikam ke arah lengannya musuhnya. ―Teecu mohon tanya suwie empunya she dan nama yang besar?‖ ia terus berbalik menanya empat orang itu. pedang Kwee Ceng terlepas dan jatuh ke tanah. ―Bagus!‖ seru lawan yang bersenjatakan tombak itu. Tapi ia penasaran. si pemegang golok itu lompat keluar kalangan. Tepat dupakannya ini. sebagai gantinya.Pendekar Pemanah Rajawali Sebelum berkelahi terus. ia akan dapat tancapkam pedangnya di dada lawannya itu. Kwee Ceng lihat pinggangnya terancam tebasan. Ia tidak sangka si anak muda luas pengetahuannya dan gesit. habis mana. Irawan D Soedradjat Page 153 . ia bersikap tenang. sedang sebenarnya. ―Kau muridnya siapa?!‖ ia tegur Kwee Ceng. Orang itu menoleh kepada ketiga saudaranya. maka itu ia melawan dengan berani. Kembali Kwee Ceng bebaskan diri dengan kelitan ―Dalam mabuk meloloskan sepatu‖. Selagi musuh lompat undur. akan tetapi ia adalah muridnya tujuh guru. tikamannya itu dapat dihalau dan ia ditendang. terpaksa ia menarik pulang serangannya. Cuma karena kurang pengalaman.

sekarang ini Kwee Ceng ada kesempatan akan pakai ilmu goloknya yang istimewa itu dan ia berhasil. sambil membentak. karena Tiat Sim adalah keturunan kaum keluarga Yo yang terkenal untuk ilmu tombaknya keluarga Yo. Apa yang tidak disangka. Musuh itu terkejut. sia-sia saja dia itu mencoba berulang-ulang. Irawan D Soedradjat Page 154 . mengampak ke arah kepalanya sendiri. dua musuh lainnya turut maju juga. Orang itu rupanya bersatu pikiran. ia melawan dengan ilmu silat tangan kosong melawan senjata. ia segera tarik pulang tangannya itu untuk terus dipakai menyikut si jiesuheng. Segera ia dikepung oleh musuhnya yang ketiga. ia lompat bangun untuk merangsak pula. Kebetulan sekali. ia mesti berkelahi rapat. kampak itu terlepas dan terpental. mereka lantas meluruk kepada anak muda she Kwee ini. goloknya sama aja. Kwee Ceng angkat tombaknya untuk menangkis. mereka membaut ribut dengan mencaci maki dua pengeroyok itu. ia telah dipertaruhkan akan bertempur sama anaknya Yo Tiat Sim. Sesudah lewat beberapa jurus. Ia berhasil. seperti tadi melawan si toasuko. tidak dapat ia rubuhkan atau lukai musuhnya ini. ia lantas menantikan satu tikaman. tak tahunya.Pendekar Pemanah Rajawali Maka ia melawannya dengan sabar dan hati-hati. ia batal membacok. sepasang kampaknya turun dengan berbareng. Hebat kampaknya itu. gagang tombak kalah dan kena terkampak patah hingga menjadi tiga potong. Lagi beberapa lama. mulutnya berteriakan tak henti-hentinya. Berat untuk Jebe berdua. Boroul dan Jebe maju untuk membantu Kwee Ceng. Musuh tidak menduga jelek. guna mempengaruhi musuh. baru ia kerahkan tenaganya. tiba-tiba perutnya dirasainya sakit. mereka tidak menghiraukan lagi Jebe berdua. yaitu Yo Kee Chio-hoat. tangan kirinya terbalik. akan hajar kampak di tangan kiri itu. hingga dengan begitu ia pun dapat menolongi Jebe. Musuh yang keempat. membuatnya orang kewalahan. Siapa menggunai senjata pendek. Setelah dapat merampas tombak musuh. Celaka kalau musuh itu tidak lepaskan cekalannya. apapula satu musuh itu bertangan kosong. Kwee Ceng dapatkan musuh mulai ayal gerakannya. ilmu ini bukan digunai di Kee-hi hanya di sini. Ia lantas berdiri diam mengawasi keempat musuhnya itu. ia mendesak. Turut kebiasaan. Dengan cara biasa. ketika si orang Hwee menebas tangannya. demikian ia ini. maka di antara satu suara nyaring. ia terus memapas ke sepanjang batang tombak. Kwee Ceng lempar goloknya ke bawah gunung. Berbareng ia mental. Diluar dugaannya. si pemiliknya sendiri jatuh numprah. Tanpa ia ketahui. ia gusar dan penasaran. Melihat bahaya itu. Kwee Ceng lihat Boroul terancam bahaya. sebelah kaki Kwee Ceng telah melayang ke perutnya. ia agaknya penasaran yang mereka kalah dari satu bocah. Tapi ia bertabiat keras. untuk menghajar punggungnya. Si toasuko ini tadinya menyangka orang hanya lihay dengan pedangnya. Lekas juga senjata mereka dirampas musuh. Bangsa Mongolia adalah bangsa yang polos dan memuju orang gagah. Menghadapi lawan yang menggunai tombak ini. sehingga ia membuatnya si toasuko heran. yang paling muda. tidak tahan sabaran. ia mencoba mendesak. dengan tombaknya. Kwee Ceng ada punya satu keuntungan. ia mestinya menyampok tombak seraya membarengi membacok. malah ia terdumpak mental. Kwee Ceng menggunai tipu. musuh hendak mengulangi kampakannya. Karena majunya mereka berdua. Karena ini ia tampaknya jadi semakin lihay. maka Lam Hie Jin sengaja ajarkan muridnya ini tipu golok melawan tombak. ia maju menyerang. maka itu tidak puas mereka menyaksikan empat orang mengepung bergantian kepada satu musuh. ke arah jari tangan musuh itu. yang bersenjatakan ruyung besi itu. Syukur untuknya. maka itu. mulutnya pun perdengarkan seruan. Disaat kemenangannya itu. Kwee Ceng tidak punya senjata. dia mencoba merapatkan Kwee Ceng. ia lompat kepada toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang. ia tertolong dari bahaya maut. Tapi pemuda kita. Melihat orang main keroyok. tentara Mongolia di kaki gunung menjadi tidak senang. Tapi ini bukan berarti ia berlaku kendor. mereka adalah orang-orang peperangan biasa. Sampai disitu. mereka bukan orang kaum Rimba Persilatan. Ia tetap berlaku cepta dan keras. baru ia bisa mengenai musuh. Tiba-tiba ia merasa tenaga musuh berkurang. repot mereka menghadapi musuh-musuhnya yang lihay itu. dengan putar kampaknya. ia lompat menubruk. si saudara yang ketiga melompat dengan ruyung besinya. ia lantas mendahului lompat mundur.

tulang pahanya itu tidak patah.nanti aku bunuh ini bocah haram!‖ kata si suheng yang memegang golok sebatang kepada dua saudaranya. Irawan D Soedradjat Page 155 . Tuli dan Gochin. atau kaki kanannya dirasakan sangat sakit. Dia ini bersakit hati bekas kena didupak tadi. mereka segera tampak murid mereka dalam bahaya. ia mencekik tenggorokan. ia merasakan sakit pada pundaknya. Benar saja ketiga musuh lainnya berhenti menyerang karena mereka khawatir nanti mencelakai kawan sendiri. matanya pun kabur. ―Kwee Ceng. Dlam keadaan sangat berbahaya itu. Kwee Ceng berkelit dengan berlompat. ialah main berkelit dengan mengegos tubuh atau berlompatan. mereka kalah jauh. gurumu datang!‖. terpaksa ia menggulingkan tubuh sekitar dua tombak. ―Ini golok!‖ teriak Borchu seraya ia melemparkan goloknya. sekejab itu ia ingat ibunya. lalu semangatnya bangun. terus ia melawan dengan hebat. yang tak sudi melepaskan pelukannya. habis mana ia terus bekerja. yang telah berhasil memukul mundur Jebe berdua. terus mereka berenam lari naik ke atas gunung. terpaksa ia melawan dengan menunjuki kelincahannya. Hanya ketika itu. ia diserang oleh musuhnya yang menggenggam ruyung besi hingga goloknya Borchu kena disampok mental. akan kasih muridnya bangun. ia roboh bersama-sama musuh itu. ―Tidak tahu malu!‖ ia membentak. kapan ia dengar itu teriakan. ia angkat tubuh orang ke atasan tubuhnya snediri. Kwee Ceng tetap bertahan secara demikian. tujuh gurunya. Mereka merasa bahwa dalam tenaga dalam. pasukan tentara kacau sendirinya. ia ingin membalas sakit hatinya. ia telah pikir: ―Biar aku mati. ―Bandit-bandit tidak tahu malu. asal aku pun telah membunuh seorang musuh!‖ Jebe berdua yang tadi telah terpukul mundur. yang telah melepaskan kampaknya itu. maju pula untuk membantu kawannya. ia berseru. karena tidak mempunya senjata. Tin Ok bersama yang lain pun telah tiba. Musuh sudah lantas tiba. ia merasakan sangat sakit. ia lantas kenali enam orang itu. di bawah bukit. Tak lama. untuk membantu saudaranya. Baharu ia berdiri dengan berniat melawan musuh. Kwee Ceng ingat ia ada punya joan-pian atau cambuk lemas pembela dirinya. ia dibarengi musuh yang mencekal ruyung besri tadi. Karena ini. Ia tidak pedulikan orang menendangi pundak atau kakinya. maka tidak ampun lagi. lekas-lekas ia lepaskan itu dari pinggangnya. hanya sekarang ia ubah caranya mencekal. ia menangkis. Syukur untuknya. sedang musuh yang memegang sepasang kampak memberangi mengampak juga. untuk membikin dia itu tak dapat bergerak. lalu tertampak enam orang bergerak dengan lincah mengacau barisan itu. denagn kerahkan semua tenaganya. Disaat Kwee Ceng hendak sambuti golok itu. atau sebatang golok melayang ke arahnya. denagn begini Kwee Ceng kembali kena dikepung berempat. Kwee Ceng insyaf ia berada dalam bahaya. Empat musuh itu sudah lantas lompat mundur. kemudian selanjutnya. Kwee Ceng kaget.Pendekar Pemanah Rajawali Segera juga Kwee Ceng terancam bahaya. kedua matanya pun sudah mulai kabur. tetapi gerakannya menjadi lambat. Selagi Kwee Ceng terancam bahaya. untuk berdiri. sekali lagi ia roboh. semangatnya terbangun. ia lompat bangun. dengan dacinnya ia rabu empat batang senjata musuh. Cu Cong dan Coan Kim Hoat lari di paling depan. paha kanannya kena dihajar. pergi kamu!‖ Kim Hoat mengusir. habis mana ia lompat bangun. hampir ia rubuh pingsan. Itu waktu. ―Kamu pegat mereka . maka ia jambak dada musuh. ia melakukan perlawanan dengan terus main bergulingan dengan ilmu silatnya ―Kim Liong Pian-hoat‖ atau ―Ilmu cambuk lemas naga emas‖ Musuh yang pingsan telah lantas sadar. Matanya Jebe sangat tajam. denagn begitu ia pakai musuh sebagai tameng. mereka pun dibantu oleh dua saudara yang lain. Kwee Ceng sudah letih betul. Cu Cong lompat maju. Ia masih sempat berkelit pula seraya ia angkat kakinya yang kiri untuk menendang musuh yang memegang kampak yang berada paling dekat dengannya. denagn tangan yang lainnya. ia lantas kena ditubruk musuh yang bersenjatakan kampak. lalu dengan menggulingkan tubuh. denagn sebelah tangan ia memencat nadi musuh. Kim Hoat lompat maju. tangan mereka kesemutan bekas rabuhan senjata aneh dari orang yang baru datang ini. telah rebah diam karena pingsan. Musuhnya yang ia cekik.

Syukur mereka tidak patah tangan dan kaki atau singkal batang lehernya. ―Siapakah tuan berempat?‖ ―Kami adalah empat muridnya Kwie-bun Liong Ong. ia berkelit ke kiri. ―Pasti kamu berdusta!‖ bentak Tin Ok.Pendekar Pemanah Rajawali Si toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang menebali muka. mengetahui Jamukha lihay dan Sangum hanya mengandal kepintaran ayahnya. batang leher siapa ia tandalkan goloknya. ―Tidak salah!‖ sahut Cu Cong tertawa.muridnya Kwie-bun Liong Ong. ―Inilah toasuheng kami. maka terkejutlah mereka mengetahui empat orang itu adalah murid-. tentaranya Sangum menjadi kecil hatinya. ia memanah. kenapa kamu merendahkan diri begini rupa. hendak ia memegat. yaitu Hong Ho Su Koay. Tentu saja. mereka malu bertemu sama pangeran yang keenam. dengan mengincar Sangum. Tibatiba ia menekan denagn tongkatnya. punggung Ceng Kong kena dijambak.‖ berkata Tin Ok pula. ―Liok-wie. ini buta dan pengkor sangat berlagak. tidak urung pipi kanannya kena tertancap anak panah. sebelah tangannya menyambar. hingga tak tahu ia harus mengambil tindakan apa. Kwa Tin OK dan Cu Cong mulanya menyangka orang adalah orang-orang yang tak bernama. ia menjadi mendongkol. tetapi mereka tidak berdaya. terus dilemparkan ke bawah gunung! Tiga pengepung lainnya menjadi kaget. tubuhnya terus mencelat. ―Siapa bilang kami berempat mengepung satu orang?!‖ katanya. siapakah dia?‖ Ceng Kong menanya perlahan sekali. Itu waktu terlihat debu mengulah naik. maka itu. sebab mereka itu main keroyok. ia menjadi tergugu. cepat luar biasa. ―Benarlah kau adalah Hong Ho Su Koay! Kamu cukup ternama. darimana pun terdengar seruannya bala bantuan. menampak demikian. seorang bocah! Dialah muridku!‖ Gouw Ceng Liat membelar. Irawan D Soedradjat Page 156 . Mukhali kaburkan kudanya denan ia peluki Tusaga. adakah kamu Kanglam Liok Koay?‖ ia tanya enam orang itu. ia berteriak-teriak: ―Lekas buka jalan! Lekas buka jalan!‖ Sangum menyaksikan musuh menerobos turun. malah Jebe sudah lantas saja turun tangan. ia menunjuk ke kiri ke pasukannya Sangum itu seraya berseru: ―Mari menerjang ke sini!‖ Jebe berempat dengan Borchu. mereka maju untuk menolongi. ia rubuh terjungkal dari kudanya.‖ sahut si toasuheng. ―Kwie-bun Liong Ong bernama besar. putra itu tak dapat berkutik. mereka juga kena dilempar-lemparkan si Kelelawar Terbangkan Langit! Tentara Mongolia di atas bukit bersorak-sorai menyaksikan keempat saudara itu. Toan-hun-to Sim Ceng Kong! Ini jiesuheng Tiwi-beng-chiop Gouw Ceng Liat! Ini samsuheng Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong! Dan aku sendiri. Sangum terperanjat. Temuchin menampak datangnya bala bantuan. Juji dan Jagatai sudah lantas mendahulukan menerjang ke bawah. tetapi Kwa Tin Ok dapat mendengarnya. aku Song-bun-hu Cian Ceng Kian!‖ ―Kedengarannya kamu tidak berdusta. ―Bukankah di sini ada banyak orang Mongolia yang membantu padanya?‖ Cian Ceng Kong pun tanya Ma Ceng Hiong: ―Samsuheng. satu demi satu. emapt orang bersaudara mengepung satu musuh. maka tak ampun lagi. sembari turut menerjang. maka tidak ampun lagi. Sementara itu rombongannya Temuchin sudah sampai di bawah bukit. yang masih merasakan sakit pada tenggorokannya. tentaranya menjadi kaget dan kalut sendirinya. mana bisa murid-muridnya ada bangsa tak berguna seperti kamu!‖ ―Siapa berdusta!‖ berseru orang ynag dicekik Kwee Ceng tadi. atau ia lantas tampak putranya berada di bawah ancama maut. malah sebaliknya. merayap bangun dengan muka penuh debu dan seluruh badan dan pinggangnya sakit bekas jatuh terbanting dan bergeluntungan. tanda dari datangnya beberapa ribu serdadu. Ia tahu pihaknya tak berdaya tetapi mereka malu untuk lari turun gunung. karenanya.

―Wang Khan banyak tentaranya. Irawan D Soedradjat Page 157 . dari itu debu menjadi mengulak besar dan musuh menyangkanya bala bantuan lawan ada berjumlah besar sekali.‖ Tusaga girang bukan main. itulah untuk membuatnya tidak bersiaga. ialah barisannya Tuli.terangan. Sesudah melalui beberapa lie. dari itu. Tusaga terbinasa terinjak-injak kuda tentara. Hong Ho Su Koay. Besok harinya Temuchin kirim sepuluh serdadunya mengiringi Tusaga pulang. Putri ini girang bukan main melihat ayahnya semua tidak kurang satu apa pun. yang sembari menyingkir telah menoleh ke belekang dan sabansaban menyerang denagn panah mereka. tanpa berdaya mereka pada melarikan diri. Di tengah jalan pulang. Tapi ia cerdik. Wang Khan dan Sangum dilain pihak girang melihat Tusaga pulang dengan selamat dan Temuchin pun mengirim bingkisan. ia datang dengan cuma bersama itu beberapa ribu serdadu anak-anak muda. Tiga hari sepulangnya Tusaga itu. walaupun ia adalah satu pangeran. Temuchin hanturkan tiga cawan arak kepada putra Sangum itu. Segera mereka bertindak maju dalam tiga pasukan. rombongan ini bertemu sama bala bantuan. yang mereka layani dengan hormat. hanya ia telah didulukan Kanglam Liok Koay. mereka menyangka Temuchin jeri. Di sana mereka kemudian terbinasa di tangan bangsa Naiman dan Liauw Barat. yang hatinya mendongkol. Malam itu Temuchin membuat pesta dengan semua panglima dan tentaranya diberi hadiah.‖ Baharu semua panglima itu sadar. Tuli masih muda. Bukankah ia telah tidak dibunuh? Maka ia berjanji akan meyampaikan permohonan maaf dari Temuchin itu.‖ menjelaskan Temuchin. berbareng dengan itu ia mengirimkan dua buah kereta yang berisikan emas dan kulit tiauw.‖ ia berkata kepada putranya Sangum itu. ―Sekarang juga kita menyerang Wang Khan!‖ demikian titahnya. Aku pun akan mengantar bingkisan kepada ayah dan saudara angkatku itu. mereka tidak bercuriga. Hanya untuk herannya semua orang. Adalah tengah mereka berpesta malam ketika mendadak datang serangannya Temuchin. tetapi terpaksa mereka berdiam saja. Temuchin kumpulkan orang-orang peperangannya. yang pun datang bersama sejumlah serdadu. mereka jamu Wanyen Lieh dan Jamukha.Pendekar Pemanah Rajawali Temuchin ajak rombongannya kabur terus. maka di dalam tendanya. Semua orang menjadi bertambah heran dan mendongkol menyaksikan Khan mereka yang besar menjadi demikian lemah dan jeri terhadap Wang Khan. Wang Khan bersama Sangum kabur ke barat. Empat Siluman dari sungai Hong Ho. kepala-kepala suku dan panglima-panglima Temuchin tidak suka dengar titahnya. putra keempat Temuchin. Kanglam Liok Koay turut mundur dengan Lam Hie Jin yang memondong Kwee Ceng. maka itu mereka lantas menggabungkan diri. ia tahu jumlah musuh terlebih besar. Heran semua panglima itu. Ada beberapa ratus musuh yang mengejar. akan tetapi mereka dirintangi panahnya Jebe dan Borchu beramai. Dengan mendadak ia perintahkan mereka itu kumpulkan tentara mereka. mereka melongo. ―Aku tidak bermusuh dengan ayah Wang Khan dan saudaraku Sangum. tak dapat kita melawan dia dengan terang. dan diperlakukan sebagai tamu agung. ―Maka itu aku persilahkan kau pulang untuk menyampaikan maafku. serdadu kita sedikit. Temuchin bertemu bersama Gochin. ―Kita mesti membokong padanya! Aku merdekana Tusaga dan mengirim bingkisan. ia perintahkan semua serdadu mengikat cabang pohon diekor masing-masing kuda mereka. mereka itu lihat Tusaga diundang duduk bersama di meja pesta. yang bisa menerobos kepunganm telah lindungi Wanyen Lieh kabur pulang ke Tiongtouw (Pakkhia). mereka jadi sangat mengagumi Khan mereka itu. Mereka menjadi kaxau. yang aku minta supaya tidak menjadi berkecil hati.

tubuhnya terpaku. Ketika itu namanya telah naik tinggi sekali. Ia lagi mengutamakan ilmu silat.‖ Temuchin berdiam sekian lama. tetapi ia gusar. Borchu. semacam kapten dari seribu serdadu. Tuli sangat kegirangan sehingga ia merangkul Kwee Ceng erat-erat. ia kata kepada Kwee Ceng: ―Anak yang baik. nanti aku kubur kau di tempat di mana dahulu hari. ―Akan aku menghadiahkan kau kematian tak mengalirkan darah. aku minta sudilah kau memberi kematian tak mengucurkan darah padaku. ―Baiklah. artinya Khan yang besar dan gagah bagaikan pengaruhnya lautan besar. ―Mulai besaok kau adalah Kim-to Hu-ma!‖. Irawan D Soedradjat Page ―Aku ada sangat bersyukur yang suhu beramai sudah didik anakku ini sehingga ia menjadi seorang yang berharga. dengan gelaran Jenghiz Khan. Ia menyukai Gochin. ―Saudara. Kwee Ceng lantas cari ibunya. yang ia awasi. Besoknya Temuchin mengadakan rapat besar di datar sungai Onon. Temuchin terima orang tawanan itu. terus ia dibawa kepad Temuchin. Mereka juga berseru-seru: ―Kimto Hu-ma! Kim-to Hu-ma! Bagus! Bagus!‖ ―Kim-to Hu-ma‖ itu berarti menantu raja golok emas. semasa kecil. kita bermain bersama…‖ emukha memberi hormat sambil berlutut. enso?‖ mereka tanya.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha kehilangan tentaranya. ―Meskipun saudara suka memberi ampun padaku. mulutnya bungkam. Selagi ia tercengang. ia kata: ―Apakah tetap kita menjadi sahabt-sahabat kekal?‖ Jemukha mengucurkan air mata. pangkatnya sama dengan satu pahlawan panglima yang berjasa. Si anak muda sebaliknya berdiam diam. bukan sebagai kekasih. Hanya sekarang ada satu hal sulit untuk mana aku mohon pertimbangan dan keputusan suhu beramai. ia berseru: ―Serdadu pengiring pemberontak dan berkhianat kepada majikan! Apakah gunanya akan mengasih hidup kepada orang-orang tak berbudi begini?‖ Di depan Jamukha sendiri. lalu mereka memberi selamat kepada Kwee Ceng. Kepada Jamukha. menggodainya. ―Coba undung gurumu semua!‖ titahnya kemudian. dia lari ke gunung Tannu. ia pun bingung. ―Aku serahkan Putri Gochin kepadamu!‖ berkata Jenghiz Khan. atau Khan terbesar dari Mongolia. aku akan menghadiahkan pula kepadamu sesuatu yang aku paling hargakan!‖ Kwee Ceng sudah lantas berlutut untuk menghanturkan terima kasihnya.‖ berkata nyonya ini.‖ 158 ―Ada apa. semua orang tertawa padanya. Empat pahlawannya yakni Mukhali. Boroul dan Chiluan serta Jebe. Bukankah murid mereka sangat dihargai oleh Khan dan peruntungannya bagus sekali? Lie Peng berdiam sebentar. diangkat menjadi cian-hu-thio. Maka keget iamendengar hadiah Khan yang maha besar itu. semuanya menyunjungnya. Maka anehlah satu bocah umur belasan tahun. Maka di dalam rapat besar itu ia telah diangkat menjadi Kha Khan. di sana selagi ia dahar daging kambing. tetapi sebagai adik. habis itu ia putar tubuhnya untuk bertindak keluar kemah. Kanglam Liok Koay lantas datang. dijadikan cian-hu-thio juga. Liep Peng terdiam.‖ berkata ia kemudian. Apabila mereka mendengar hal pertunangan itu. Setelah pesta bubar. lalu tiba-tiba ia berlutut di depan enam manusia aneh itu. soal asmara. sehingga mereka itu menjadi heran. mereka lantas memberi selamat kepada nyonya Kwee itu. supaya rohku tidak mengikuti darahku dan meninggalkan tubuh ragaku…. tak ia pikirkan lainnya soal apa pula soal jodoh. dia ditawan oleh tentara pengiringnya. ―Kenapa enso menjalankan kehormatan besar ini? Harap enso lekas bangun!‖ . maka rakyat dan orang peperangan dari pelbagai suku tak ada yang tak tunduk kepadanya.‖ ia menyahuti. akan tuturkan hadiah dari Jenghiz Khan itu. Semua panglima bersorak. tak mau ia lekas-lekas melepaskannya. ―Budi ini tak dapat aku balas walaupun tubuhku hancur lebur. Dalam pesta itu Jenghiz Khan minum banyak arak hadiah dari pelbagai panglimanya. dalam keadaan seperti itu. Jelmi dan Subotai. ia perintahkan hukum mati pada kelima pengiring itu. mereka girang. aku sendiri tidak mempunyai muka akan hidup lebih lama pula di dalam dunia ini. Kwee Ceng yang dianggap jasanya paling istimewa. Di sini Jenghiz Khan membagi hadiah besar.

Ia anggap dengan pergi bersama guru-gurunya. putra keenam raja Kim! Untuk melakukan pekerjaan besar itu. yang tidak mengerti ilmu enteng tubuh. ―Bagaimana suhu ketahui itu?‖ menanya Lie Peng kaget. Oey Yong ―Anak akan pergi bersama keenam guruku.Pendekar Pemanah Rajawali Lie Peng tuturkan keputusan suaminya almarhum dengan Yo Tiat Sim. Kwee Ceng menghadap Jenghiz Khan. Lie Peng sangat girang.‖ menerangkan Cu Cong lebih jauh. Ia harap. Jenghis Khan lantas hadiahkan baba mantu itu uang emas tigapuluh tael. untuk membinasakan Wanyen Lieh. ia pesan pula: ―Sekarang ini kuda kita belum terpelihara gemuk dan tentara kita belum terlatih sempurna. sedang Kanglam Liok Koay dipersen barang-barang emas dan berharga bekas rampasan dari Wang Khan. untuk mereka menguji kepandaian silat mereka. Jenhiz Khan menerima baik. cuma kulit mukanya menjadi bersmu merah. yang tunangkan anak-anak mereka sebelum anak-anak itu lahir. ―Sahabat itu pun mengharap kami mengajak anak Ceng ke sana untuk menemui putranya orang she Yo itu.‖ Mendengar itu. di atasan kepala mereka terlihat dua ekor burung rajawali kepala putih terbang berputaran. berepa banyak pengiring yang kau butuhkan?‖ Bab 15. ―Seoarng sahabat di Tionggoan mengabarkan kami dengan sepucuk surat. guna menuntut balas. sedang membawa pengiring-pengiring. Ia senang sekali dengan easn Khan ini. akan tetapi ia tidak dapat berbicara. kita belum dapat menandingi negara Kim. Di hari ketiga. maka itu kau harus bekerja baik-baik supaya kau tidak meninggalkan bekas-bekas!‖ Kwee Ceng memberikan janjinya. untuk ambil selamat berpisah dari rohnya guru almarhum itu. sekalian anaknya itu mencari Toan Thian Thek. ―Maka itu. baharu Kwee Ceng nanti menikah dengan Gochin. Bagaimana nanti suamiku dan aku menemui paman Yo dan istrinya itu di dunia baka?‖ Mengdengar keterangan. Lebih dahulu mereka sambangi kuburannya Thio A Seng.‖ Cu Cong kasih keterangan. ―Orang she Yo itu benar telah memperoleh keturunan tetapi bukannya perempuan. mana dapat ia menjadi hu-ma?‖ kata si nyonya kemudian. untuk ongkos di jalan. aku malu sekali. Setelah mendapat keputusan. ―Kalau aku menyangkal janji ini. ―Sekalian kau pulang nanti bawalah juga kepalanya Wanyen Lieh. Baharu mereka jalan sepuluh lie lebih. untuk memberitahukan tentang niat perjalanannya itu. setelah pamitan dati ibunya dengan keduanya mengucurkan air mata. Sepulangnya dari perjalanan itu. Kwee Ceng berangkat bersama guru-gurunya. yang pun adalah barang rampasan dari Wang Khan. Irawan D Soedradjat Page 159 . ia tentu bakal berhasil. Lalu tujuan mereka adalah selatan. Gochin datang menemui bakal suaminya itu. Memang semenjak kecil ia telah diempos ibunya. melainkan menambah berabe saja. lalu terlihat Tuli datang bersama Gochin dengan dua saudara itu merendengi kuda mereka. kau pergilah!‖ Khan itu setuju. Kanglam Liok Koay tertawa. Tuli memberi bingkisan sepotong baju bulu tiauw yang mahal. ―Bagus. melainkan pria. yang sangat membenci bangsa Kimn itu. Ia setuju anaknya itu diajak pergi.‖ sahut Kwee Ceng. kendati kedudukan anakku mulia sekali. tak usah anak membawa pengiring. ia mengawasi mereka itu. Lie Peng heran.

tak jauh lagi dari Kalgan. ia menjadi likat. habis itu mereka tertawa riuh. Tempo ia meraba kudanya dengan tangannya. Kwee Ceng tercengang. Tidakkah kuda itu bercelaka diluar keinginannya? Maka ia rangkul leher kuda itu. wajahnya pun bersemua dadu. Ia malu sendirinya. ia pondong tubuhnya. Masih enam guru itu tak nampak. Kwee Ceng dekati itu putri. penuh dengan darah. dan semuanya pun beroman tampan. hatinya menjadi tawar. Satu pemuda melihat Kwee Ceng mengawasi padanya. Setibanya di depan restauran. Kwee Ceng terperanjat. setelah mana. Tanpa merasa. sebaliknya. ia dapatkan tibanya Han Po Kie. ―Ada keringat merah?‖ Irawan D Soedradjat Page 160 . terus mereka bertindak ke dalam rumah makan itu. Kwee Ceng merasa kasihan melihat kudanya yang kecil itu lari demikian keras hingga bermandikan keringat. kupingnya bocah ini mendengar mengalunnya kelenengan unta. Maka lekas sekali tibalah ia di Hek Sui o. yang penunggangnya pun berpakaian serba putih putih . lekaslekas ia tunduk. ―Ada pesan lagi?‖ ia menanya. membikin kudanya itu lari pesat. ―Keringat?‖ ia menanya. ia masih belum dapat bicara. Saking masgul. maka berulangkali ia menoleh dan menoleh pula. Kwee Ceng lantas merasakan suasana bertukar. tidak ada tanda-tandanya terluka.. akan mengawasi ke jalan besar darimana tadi ia datang. Gochin menoleh. aku tak akan mendengarinya!‖ berkata Tuli sambil tertawa. Mereka itu pria semua. Ia sempat berpikir untuk menukar tempat singgahnya. mungkin baru berumur duapuluh dua atau duapuluh tiga tahun. ―Eh. habis mana ia larikan kudanya guna menyusul keenam gurunya. ia lihat mendatanginya empat ekor unta bulu putih. ia raba punduknya kuda itu. inilah keringat!‖ serunya. Kuda itu sebaliknya nampak segar bugar. Disamping pakaian mereka yang putih. terang mereka itu mengerti silmu silat. ia dapatkan pemandangan mata yang lain. Ia lari kepada gurunya itu. Belum pernah ia melintas dari gurun. ―Begitu?‖ tanya guru itu heran. Apabila ia mengawasi. Ia mengharap-harap segera tibanya gurunya yang ketiga. Selang beberapa lama. Ia lantas dengar mereka itu berbicara satu pada lain.‖ Kwee Ceng mengangguk. malam singgah. untuk menghibur. Lalu ia pun saling rangkul dengan Tuli itu. siang jalan. Tiba-tiba saja ia menjadi kaget. Sabuk itu menjadi merah seluruhnya. untuk menjauhkan diri. Belum pernah Kwee ceng melihat unta-unta yang begitu bagus. ia menjadi mengawasi. Ia mengawasi sekian lama. lekas-lekas ia melengos. yang ketinggalan jauh. yang sudah berjalan jauh juga. Pada suatu hari hampir tiba di Hek Sui Ho. supaya guru itu suka tolong mengobati kudanya itu. Kwee Ceng sendiri berjalan terus. tangannya itu juga menjadi merah. keenam gurunya ajak dia menuju ke timur selatan. barulah ia pesan: ―Kau mesti lekasan pulang…. Gochin menggelengkan kepalanya. terus ia larikan kudanya. bukan sebagai satu tunangan. Dari gerak-geriknya mereka itu. ia hajar kudanya hingga binatang itu lari berjimpratan. Kwee Ceng menoleh. lalu tiba-tiba ia tertawa lebar. Syukur unttuknya. terus ia bawa kepada Tuli. bocah kau awasi apa?‖ ia menegur. ia ambil sabuk dengan apa ia menyusuti. Ia pun menjadi tertarik dan heran akan mendapatkan keempat penunggangnya semua masih muda-muda. ia gencet perut kudanya. Adalah satu kawannya menjadi tidak senang. tentu orang tengah menertawainya. untuk terus beritahukan hal kudanya mengeluarkan keringat darah. Segera juga mereka melintasi tanah datar gurun pasir. ia bawa tangannya yang berlepotan darah itu ke arah matahari. Han Po Kie. di leher mereka itu terlihat bulu rase. Ia dapatkan sikap Kwee Ceng sama seperti biasa. entah apa yang mereka bicarakan itu. sekarang ia mulai tiba di Tionggoan. keempat penunggang unta itu lompat turun dari punggung masing-masing untanya. kau bicaralah dengannya. Hampir ia mengucurkan air mata saking menyesal sudah menyiksa kudanya itu. Gochin melongo. ―Ini bukannya darah. Ia tidak melihat guru-gurunya. Ia dekati kuda Kwee Ceng. disebuah rumah makan di tepi jalanan.Pendekar Pemanah Rajawali ―Adikku.

Untuk itu. mungkin sekali kudamu itu adalah keturunan dari kuda Ferghana itu. Mereka lantas beritahukan tentang kuda berkeringat merah itu. ia hajar rusak kuda emas itu. ―Ketika dahulu hari itu bangsawan Pok-bong-houw Thio Kian diutus ke Tanah Barat. ke Barat itu. belum pernah ada yang melihat buktinya. Utusan itu diberi tugas dan kekuasaan: Panglima atau serdadu mana saja yang pergi berperang benani memasuki kota Gak-bun-kwan itu. yang disebut kuda langit. terus ia pulang. po-ma terlahir dari perkawinan kuda rumahan dengan kuda liar!‖ sahut Po Kie. Lie Kong kalah oerang. di negara Ferghana itu ada sebuah gunung di dalam mana kedapatan sebangsa kuda liar. takukha kau darimana asalnya po-ma?‖ ―Menurut keterangan guruku. ia luas pengetahuannya. lalu tertampak datangnya lagi empat penunggang unta seperti empat yang pertama itu. sebesar kuda biasa. hanya dengan bersemangat ia kata. anak kuda itu ialah po-ma tersebut. sekembalinya ke negerinya. mengumbar tabiatnya. ―Dia lantas perintah Jenderal Lie Kong mengepalai beberapa laksa serdadu pergi ke Ferghana untk mendapatkan kuda itu.‖ berkata Cu Cong. ingin ia mempunyai kuda itu. Kwee Ceng heran. Ia heran akan mendengar halnya hanhiat po-ma. mereka lepas satu ekor kuda betina yang berwarna lima di kaki gunung. yang untuk seribu tahun sukar didapatkan!‖ Kwee Ceng heran dan girang. Anak Ceng. yaitu di daerah Ferghana. Dipihak lain. terus dibunuh. punduk kuda itu mengeluarkan keringat merah seperti darah. terpaksa ia menunda di Tun-hong itu. kau telah dapatkan han-hiat po-ma. satu hari dapat menempuh jarak seribu lie. ―Dulu pernah aku dengar keterangannya guruku. ―Kau ahli pemelihara kuda.‖ Ketika itu terdengar pula kelenengan unta. jadi kuda itu tidak dapat dihadiahkan kepada bangsa Han. ―Kemudian bagaimana?‖ tanya murid itu. darisana ia meminta rajanya mengirim pula bala bantuan. ―Benar!‖ berkata Cu Cong. terus ia kirim utusan membawa emas seribu kati serta seekor kuda-kudaan emas. ―Anak Ceng.‖ Kwee Ceng berseru heran.‖ sahut Po Kie. Kuda liar itu kena terpincuk. dia mesti dihukum mati! Lie Kong menjadi serba salah. sebelum mencapai tempat tujuan. ―Menurut kitab. yang dapat lari seperti terbang. Mereka itu muda dan tampan dan pakaiannya serba putih seprti rombongan yang pertama. rombongannya Tin Ok tiba. Ia bergirang sebab kudanya tidak terluka. hingga orang liar tidak dapat mengejarnya.‖ tanya Cu Cong sehabis ia minum pula tehnya. di tanah barat. Tentu itu baru cerita saja. ―Suhu.‖ Selagi guru dan murid ini berbicara. Cu Cong adalah seorang sastrawan. ia terpaksa mundur ke Tun-hong. Irawan D Soedradjat Page 161 . Melihat mereka itu. emas dan kuda emas itu dirampas. tak ada rangsum dan air disana. di Ferghana dia telah melihat seekor kuda hanhiat po-ma itu. Lie Kong diangkat menjadi jenderal istimewa. dia kawin dengan kuda pancingan itu. ke kota Gak-bun-kwan. almarhum. Kaisar menjadi kagum. untuk dipakai menukar dengan kuda istimewa itu. Cu Cong menghirup air tehnya. dia mengatakannya: ‗Kuda itu adalah kuda pusaka negara Ferghana. ―Bagaimana dengan Kaisar Han Bu Tee itu. yang tertarik denagn cerita kakak angkatnya itu. Tapi Ferghana adalah negera gurun pasir. kenapa dia mengeluarkan keringat bagaikan darah?‖ ia menegasi. bahwa kuda itu keras larinya. ―Mana mau dia sudah begitu saja. ketika kemudian kuda biang itu mendapat anak. keempat pemuda serba putih itu juga memperhatikan cerita itu. ia memberitahukannya kepada rajanya. dia perintah menawan utusan itu. ―Tentang itu ada ditulis jelas dalam Kitab Hikayat dan Kitab Jaman Han. ia kirim utusan membawa pedang. pasukan tentara itu tinggal hanya tiga bahagian. selama perjalanan banyak tentara terbinasa. Tapi orang Ferghana telah mendapat satu akal bagus. untuk menjaga. Raja Ferghan pun gusar. Dan mereka dua rombongan lantas duduk bersama-sama. Kaisar Han Bu Tee. ada kedapatan sebangsa kuda liar biasa. ―Shatee. ―Turut katanya guruku itu.Pendekar Pemanah Rajawali Po Kie tidak sahuti muridnya itu. Raja Ferghana menolak permintaan itu. ialah kuda istimewa dengan keringat seperti darah.‖ kata Cu Cong. Raja gusar. apa dia mau sudah saja?‖ menanya Han Siauw Eng.‘ Utusan Han itu menjadi gusar.Pada suatu malam hari musim semi. yang masuk ke dalam restauran.

Kaisar mengadakan satu pesta besart. semua kuda itu tak lagi menjadi po-ma dan keringatnya pun tidak merah…‖ Habis Cu Cong bercerita. siapakah mereka?‖ . Pula dua ahli kuda diberi pangkat tinggi. dia di anugrahkan menjadi bangsawan Hay-see-houw. ―Setelah mendapatkan kuda jempolan ini. Cu Cong berkata pula: ―Kuda langit menjadi kuda jempolan sebab perkawinannya dengan kuda liar. pamong praja rendah. Dialah kepala penjahat paling berpengaruh untuk wilayah Hopak dan Shoasay. setahu berapa banyak uang sudah dikorbankan. mereka kasak-kusuk tetapi kupingnya Kwa Tin Ok lihay. agaknya mereka sangat tertarik. Mereka pun serahkan kuda yang diperebuti itu. kuda dan rangsum tak terhingga banyaknya. siapa kesudian dipungut mantu?‖ Cu Cong menjawab. mereka berontak. Ia berdiam saja. ―Kalau kita hendak rampas kuda itu. Lie Kong pulang dengan kemenangan besar. ―Siapa miskin dan tak punya sanderan. Banyak panglima musuh terbinasa. kalau kau hidup di jaman Kaisar Han Bu Tee. ia merasa malu. apeslah kau. ―Mereka berdelapan wanita semuanya. Mereka mohon menakluk. cukup dengan satu kali turun tangan. maka kalau mereka dapat lihat kuda ini. ia siapkan serbau. apakah salahnya mereka?‖ Siauw Eng menanya. seorang paderi kenamaan dari Tibet itu. delapan pemuda itu mengawasi kudanya Kwee Ceng. dia bisa memangku pangkat! Ha ha ha!‖ ―Dan baba-baba mantu itu. mengapa mereka jadi begini galak dann telengas?‖ tanya ia dalam hatinya. kerajaan Han itu mengutamakan tani dan sebaliknya memandang enteng bangsa saudagar. ―Orang lihay itu pergi ke kota raja. yang lainnya menjadi Cit-ma Kauw-oet. Kaisar Bu Han Tee sudah kerahkan kekuatan seluruh negeri untuk mendapatkan beberapa ekor kuda itu tapi kemudian ia tidak mendapatkan kuda liar. tetapi tak tahu ia perihal Som Sian Lao Koay. ia khawatir bangsa lain memendang enteng bangsa Han. Delapan pemuda itu duduk jauh-jauh. entah berapa banyak jiwa sudha melayang. ia kurung dan serang kota musuh. ―Dengan menungggang kuda ini. Ia pernah dengar namanya Leng Tie siangkin. yang dijadikan serdadu.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong melanjuti ceritanya: ―Kaisar Han Bu Tee tidak puas. ia menambah dengan semua orang hukuman. mereka melanjuti memasang omong sambil dahar mie. Masih ia khawatir tentaranya itu belum cukup. ialah satu menjadi Kie-ma Kawm-oet.‖ berkata seorang muda yang lainnya lagi. ―Kali ini Lie Kong memimpin angkatan perang yang besar itu. mana kita dapat kebagian?‖ Irawan D Soedradjat Page 162 Tentang Peng Lian Houw ini Tin Ok ketahui dengan baik. raja sangat girang. dengan begitu delapan pemuda itu menjdai tidak bercuriga. kepala raja diserahkan. San-cu pergi ke kota raja. ―Dalam beberapa hari ini di tengah jalan kita menemui tak sedikit sahabat dari Jalan Hitam. Akhirnya kaum ningrat Ferghana menjadi ketakutkan. ia sengaja berpaling ke luar rumah makan. sebaliknya dengan shatee. Maka ia berpikir. ―Katanya mereka adalah bawahannya Cian-ciu jin-touw Peng Lian Houw. maka selang beberapa turunan.‖ berkata seorang pula.tentunya dia menjadi semakin terang mukanya! Pasti seklai Som Sian lao Koay dari Tiang Pek San dan Leng Tie Sianjin jago Bit Cong Pay dari Tibet tak dapat menangkan keagungannya…!‖ Tin Ok berpikir. kita bunuh saja semua!‖ kata seorang lagi. hingga negera menjadi gempar.‖ Mendengar cerita itu. Ia terus memasang kupingnya. ―Jikalau kawannya berani membantui. mereka hendak bikin apa di sana? Delapan wanita ini. baba-baba mantu dan kaum pedagang. rajanya dibunuh. ―Pembunuh Ribuan Jiwa‖. Maka ia mengerahkan pula lebih daripada duapuluh laksa serdadu. ia dapat mendengar jelas pembicaraan mereka.‖ berakta satu pemuda. maka juga dia dapat gelarannya itu. Merek aitu tentu hendak berkumpul juga di kota raja. untuk seekor kuda po-ma itu. Untuk lebih daripada empatpuluh hari. siapa dapat mengubarnya?‖ ―Tapi disini ada banyak orang lain dan ia pun ada kawan-kawannya…‖ kata seorang yang lain. Lioktee. ―Satu kali kita sudah naik atas punggung kuda itu. yang pun sangat kejam. tugasnya ialah nanti sesudah Ferghana dipukul pecah mereka mesti memilih kuda jempolan. kita menghadiahkannya kepada San-cu. Hu Thian Pian-hk Kwa Tin Ok menjadi heran sekali. Dengan kalah perang. yang dianggap melainkan naga yang pantas menjadi kawannya…. Orang-orang peperangan yang lainnya pun turut kenaikan pangkat. ia perintah mengarang syair untuk memuji kuda langit itu.

guna memegat di tengah jalan.Pendekar Pemanah Rajawali Mendengar terlebih jauh. Seorang berkata pula: ―Menurut katanya San-cu.‖ berkata pula seorang yang lain. yang menyebabkan orang tertawa hingga giginya copot!‖ Tin Ok tidak tahu Pek To San itu. supaya orang-orang kosen di kolong langit ini ketahui kegagahan kita dari Pek To San. ―Supaya kau jangan sampai kena dijambak bocah itu!‖ ―Cis!‖ sang kawan berludah. Orang itu tertawa. ia percaya orang yang dipanggil ―San-cu‖ itu atau ―majikan gunung‖ mestilah bukan orang baik-baik. akan tetapi mendengar disebutnya Hong Ho Su Koay – Empat Siluman dari sungai Hong Ho. untuk di Liongsee dan Tiong-ciu. Hong Ho Su Koay adalah murid-murid paling disayangi oleh Kwie-bun Liong Ong. maka itu haruslah kita waspada. ―Awas. jangan kau mencari muka dari San-cu dan hendak mati-matian mencarikan nona manis untuknya…!‖ memperingati satu kawan. coba dia lebih muda sepuluh tahun. ―Kita harus berhati-hati. Ilmu itu mana dapat dikuasai tanpa penyakinan belasan tahun? Anak umur belasan tahun mana mempunyakan semacam ilmu silat itu?‖ Diam-diam Tin Ok puas yang murid mereka dapat mengalahkan Hong Ho Su Koay. hati-hatilah!‖ seorang memperingati. San-vu bakal menghadiahkan apa kepada kita?‖ berkata satu orang. yang Tin Ok mengatakannya pemudi-pemudi. delapan pemuda itu. ―Jangan kita membocorkan rahasia sendiri…!‖ ―Wanita itu membawa pedang.‖ kata satu orang. Maka lagi sekali. bagaimana kau lihat kepandaiannya delapan wanita itu?‖ Irawan D Soedradjat Page 163 . namanya sangat kesohor. Habis dahar mie. baharulah heran anadikata San-cu melihat dia dan tidak menjadi kerindu-rinduan…‖ Tin Ok tahu Siauw Eng yang menjadi bulan-bulanan. dia tentu mengerti ilmu silat. ―Kalau kita menghadiahkan kuda ini kepada San-cu. guna menakluki orang kosen. Tin Ok tunggu sampai orang sudah pergi jauh. yang berarti Gunung Unta Putih. Ada yang kata ―San-cu paling sukai kamu!‖ Ada yang membilang. lalu berkasakkusuk tentang asmara. ―Hanyalah tidak tepat untuk menyiarkan berita anak ceng mengerti Kiu-im Pek-kut Jiauw. ia teringat kepada mereka yang mengeroyok Kwee Ceng. ia tidak menyahuti. karena tubuhnya Hong Ho Su Koay itu masing-masing meninggalkan beberapa bekas cengkeraman…‖ ―Maka hati-hatilah kau!‖ tertawa satu kawannya. maka itu adalah sangat aneh yang mereka kabarnya roboh ditangannya satu bocah umur belasan tahun…‖ Satu kawannya menyahuti: ―Ada orang bilang bocah itu pandai ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw. Tin Ok mendongkol berbareng merasa lucu. ―Kali ini kita datang ke Tionggoan untuk mengangkat nama. ia mendongkol. Yang lain-lain lantas tertawa geli. Merek ahendak pergi lebih dulu. Tin Ok mendapat kepastian mereka itu hendak merampas kudanya Kwee Ceng. Yang seorang tertawa dan berkata: ― Pasti San-cu menghendaki kau menemani ia tidur untuk beberapa malam…! ―Kurang ajar!‖ membentak kawan yang digoda itu dan hendak mencubit. Mendengar pembicaraan itu. ―Diwaktu begini tentulah San-cu lagi menantikanmu!‖ maka ia menjadi mengerutkan keningnya. ―Dia juga cnatik sekali. ia menajdi sebal…. coba kau terka. ia tanya adiknya yang kedua: ―Jietee. jangan seperti Hong Ho Su Koay yang sial dankalan itu. maka tidaklah kecewa didikan mereka selama sepuluh tahun lebih ini. mereka pun bergurau. yang kembali ke urusan kuda. ―Sungguh pesat sekali tersiarnya kabaran dalam dunia kangouw!‖ katanya. Habis mengambil keputusan. mereka itu tertawa. ―Kira-kira. delapan pemuda itu berlalu dengan cepat bersama untanya. ada dari partai mana.

―Kalau begitu. ―Oh. Tin Ok lantas tuturkan apa yang ia dengar barusan. Ia utarakan perasaannya itu. Tidak menggembirakan untuk ia berjalan seorang diri. hingga sekarang mereka tinggal berenam (Liok Koay). ―Perkara kecil niat mereka merampas kuda ana Ceng. yang kelihatan sudah dapat diandalkan menyaksikan perlawanannya terhadap Hong Ho Su Koay. ―Nampaknya mereka luar biasa. Umpama di harian pibu kita tidak dapat kumpul semua berenam. melayani Empat Siluman dari Hong Ho. Kudamu keras larinya. Cu Cong semua tertawa. untuk mencari pengalaman. ―Memang. Maka ingatlah pesa gurumu yang keempat ini. Kanglam Cit Koay tidak nanti lepaskan mereka!‖ berkata Han Po Kie. mereka itu merasa sulit juga. tidak nanti dapat mereka menyusul.‖ Coan Kim Hoat memperingati. Mereka itu pada memesan.‖ Dengan terpaksa Kwee Ceng memberikan persetujuannya. mereka menyamar demikian sempurna!‖ berkata Cu Cong.Pendekar Pemanah Rajawali ―Wanita?‖ Cu Cong mengulangi dengan heran sebelum ia menjawab. Liok Koay berlega melepaskan muridnya ini. menyingkir!‖ Pesan ini diberikan sebab ia melihat. perlu kita mencari tahu. Jangan kau khawatir. itu mesti diperoleh sendiri.‖ Irawan D Soedradjat Page 164 .‖ berkata Coan Kim Hoat. ―Yang penting ialah pembilangan bahwa ada banyak orang gagah hendak berkumpul di kota raja. biarlah anak Ceng berangkat lebih dahulu!‖ Lam Hie Jin menyarankan. mirip mengerti ilmu silat. untuk mendahului mareka. Tak sampai satu bulan.‖ Cu Cong menyatakan setuju. di sebelah orang ada lagi lain orang yang terlebih pandai. tidak dapat kau menjagoi sendiri di kolong langit. Aku pikir tak dapat kita membiarkannya saja. paling belakang pesan Hie Jin singkat saja: ―Jikalau tidak ungkulan. Mungkin ada gerakan rahasia apa-apa.‖ Tin Ok pesan. Besar nyali mereka berani berniat menggempur gunung Tay San…. ―Apakah sieko maksudkan biar anak Ceng pergi seorang diri ke Kee-hin? Kita menyusul dia sesudah kita menyelidiki warta perihal orang-orang gagah yang berkumpul di kota raja?‖ Siauw Eng menegaskan. biarpun kau sangat lihay.‖ Mendengar itu Kwee Ceng merasa puas. Kau mempunyai urusan penting. sebab pengalaman tak dapat diajari. Itulah tandanya ia tidak bisa melupakan saudara angkatnya itu. ―Benar. ―Ilmu silat tidak ada batasnya. Mereka itu berdiam. ―Delapan wanita itu hendak merampas kudamu.‖ Tin Ok berkata pula. Lam Hie Jin mengangguk.‖ ―Tetapi janji pibu di Kee-hin bakal tiba harinya.‖ ―Umpama benar mereka main gila. Kwee Ceng lantas memberi hormat kepada keenam gurunya. ―Pergi kau ambil jalan kecil. ―Tidak. ―Habis?‖ sang kakak membalasi. Dia tetap menyebut diri Cit Koay meskipun sudah belasan tahun semenjak meninggalnya Thio A Seng. satu atau dua tentulah dapat tiba untuk mengurus kamu. tidak dapat kita main ayal-ayalan. ―Orang begini besar masih bersifat kebocahan!‖ Tin Ok menegur. Memang perlu murid ini membuat perjalanan sendiri. kami akan menyusul. rupanya seperi tidak mengerti…‖ ―Apakah pernah kau dengar tentang Pek To San?‖ Tin Ok tanya pula. di luar gunung ada gunung lainnya lebih tinggi. ―Biar anak Ceng berjalan seorang diri.‖ sahut Cu Cong setelah berpikir sejenak. jagalah supaya kau jangan terganggu urusan sampingan. untuk mengucapak selamat jalan. Siauw Eng lantas membujuki: ―Kau pergi lebih dahulu di sana menunggui kita. Habis bersantap. muridnya ini ngotot hingga ia membahayakan diri sendiri.

lantas ia menuju ke selatan. suaranya nyaring. Ia bersangsi. untuk tahan kuda itu. kedua kakinya menjepit. Dengan ini cara. di sebuah tikungan. Ia singgah sebentar. ia merasa lapar. tak dapat ia tempur mereka itu. Sekira tujuh atau delapan lie. Di depan ada tiga nona dengan pakaian serba putih. ia lihat menyambarnya dua rupa barang berkilauan. ia sudah menghadapi jalan cabang dua. Tentu saja tak puas Kwee Ceng diperlakukan demikian. maksudnya hendak menyambar les kuda.‖ pikir si anak muda denagn mendongkol. ia menunggang kuda dan kudanya pun dapat lari pesat. gin-so bertabur emas yang merupakan unta-unta kecil. pemuda ini larikan pula kudanya. iamaju seraya ulur tangannya. yang datangnya dari tempat lain tempat. dari utara ke selatan. hatinya pun tercekat. perdagangannya ramai. terus ia jalan pula. sebentar saja ia sudah datang dekat. Pesat lari kudanya. memakai tangannya. maka ia tambat kudanya di luar. ia khawatir senjata rahasia itu ada racunnya. Jalanan pun sukar. Ia mengasih dengar nada lagi bicara sama anak kecil. Belum pernah ia melihat kota seramai ini. ia sudah tiba di Kalgan. mukanya dirasai panas. Di tempat begitu. ―Awas! Buka jalan!‖ ia berseru seraya ia hunus pedangnya. ia masuk ke dalam. ―Lewat saja! Kami pun tidak nanti gegares padamu!‖ Kwee Ceng jengah. Ia hanya tidak pakai sumpit. tepat waktu ia menoleh. sebab kecil dan berliku-liku. Selagi jalan terus. Ia tarik les kudanya. Belum ada dua lie. Tidak sampai satu jam. tak sudi iamelayani. gin-so itu ia masuki dalam sakunya. ia kasih kudanya kaget. ujungnya tajam. ia tahan kudanya. ia lantas ambil jalan kecil. Di situ terutama terdapat banyak kulit dan bulu binatang. Untungnya untuk dia. ―Bagus!‖ memuji dua nona. Belum sempat ia menoleh ke belakang. penduduknya padat. matanya menoleh ke kiri dan ke kanan. Irawan D Soedradjat Page 165 . Seorang diri ia dahar dengan bernafsu. ―Numpag jalan!‖ ia lantas berkata. dia pasti akan damprat aku…‖ pikirnya. ia percaya ketiga nona tadi tidak bakal dapat candak dia. I apun meraba ganggang pedangnya. tajam juga kedua pinggirannya. mari kasih aku lihat!‖ kata satu nona lain. Ia mengawasi jalanan yang sempit itu. Jalanan ini lebih jauh. Ia payku kepada enam gurunya itu. ―Bukankah kita tidak kenal satu sama lain dan tidak bermusuhan?‖ Tapi ia tidak mau membalas. ia sudah melalui seratus lie lebih. mau tidak mau. sebab ia duga jarak mereka kedua pihak ada jarak seperjalanan tiga hari……. ia berlaku hati-hati. Bicara dulu atau menerjang saja? ―Kudamu bagus. kudanya berbenger. ketiganya bercokol di atas punggung unta. Kwee Ceng tiba di jalanan pegunungan yang sulit dan berbahaya. Maka ia lantas ambil keputusan. untuk pengalamannya ini yang luar biasa. Kwee Ceng periksa kopiahnya. ―Kalau sam-suhu melihat sikapku nini. ia menyambuti dengan kopiahnya. yang ia lekas cabut. Kalgan adalah kota hidup untuk perhubungan antara selatan dan utara. ia sudah dengar bentakan ketiga nona itu. Sampai disitu. ia berjalan seraya menuntun binatang ini. Mereka itu melintag di tengah jalan. Ia mau berlaku hati-hati. Ia minta sepring daging kerbau dan dua kati mie. Dari jauh-jauh. ia seperti hendak menerjang ketiga orang itu. di sini sangat sedikit orang berlalu lintas. Kwee Ceng sendiri tidak tak terkecuali. takut apa?‖ kata satu diantaranya. banyak kolar dan pasirnya. Ia hanya khawatir nanti ada yang memegat pula. Ia turuti pesan Tin Ok. Tapi Kwee Ceng membentak. terus berlompat tinggi. akan pilih tempat duduk. Ia tidak menaruh perhatian ketika ia dengar dua ekor burung dara terbang lewat di atas kepalanya. ia turut kebiasaan orang Mongolia. Di sini Kwee Ceng turun dari kudanya. belum sore. jalanan sempit dan banyakl batu besarnya. Nyata dua senjata rahasia itu adalah gin-so atau torak terbuat dari perak yang indah. Kwee Ceng terkejut. Ia hanya dapat lihat. ada pepehonan kecil yang liar.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng mengangguk. Kebetulan tiba di depan restoran. ―Kamu telengas hendak mengambil jiwaku. saking heran atas lihaynya kuda itu. untuk lari dengan tiba-tiba. lompat lewati tiga nona itu! Ketiga nona itu terkejut. ―Adik kecil. Satu nona lompat turun dari untanya. Ketiga nona itu tertawa tergelak.

terus ia gegares bakpauw itu. untuk menyindir. Ia menoleh pula kepada si anak muda: ―Kita minum arak atau tidak?‖ ia tanya. bagiku itu rasanya masih kurang cocok. hingga tidak terlihat tegas wajahnya. Ia dapatkan kudanya sedang makan rumput dengan tenang. Ia lantas kata pada jongos: ―Eh. ―Aku yang membayar uangnya. ―Kenapa kau tidak mau lantas pergi?!‖ ―Baiklah. baik kita makan bebuahan dulu!‖ menyahuti si anak muda. ia balik ke mejanya untuk melanjuti bersantap.‖ lanjutnya lagi. Yang membikin banyak berisik adalah dua jongos terhadap satu pemuda ynag tubuhnya kurus dan pakaiannya butut. hawa udara dingin. meski kau menyuguhkan makananmu yang paing jempol. Bukankah ibunya berasal dari Lim-an. ―Makhluk yang harus dikasihani. sebab ia lihat pakaian orang yang butut dan kotor itu. maukah kau yang mentraktir?‖ tanyanya. Pemuda itu mengawasi Kwee Ceng. Jongos itu menjadi gusar. untuk duduk bersama. Kwee Ceng mengerti omongan orang. hitam dan kotor. ―Pasti!‖ sahut Kwee Ceng tanpa berpikir lagi.‖ Ia bicara dengan lidah Selatan. ―Apakah kau sangka aku melarat dan jadinya tak pantas aku dahar barang makananmu?‖ si pemuda tegur jongos itu. Ser! kepalannya melayang. pasti kami dapat membuatnya! Hanya aku khawatir. ―Coba lojinkee menyebutkannya. lepas bakpauw itu!‖ menitah jongos yang satunya. Anjing itu. ia dengar suara kerisik di luar rumah makan. ia sodorkan kepada si pemuda. habis kau dahar. Pemuda itu menghampiri. mukanya pun hitam mehongan. Pemuda itu menyambuti. Pemuda itu mengikuti ke dalam. Di utara. Cit-kang. kepalanya ditutup dengan kopiah kulit yang sudah pecah dan hitam dekil. tetapi ia diam saja. ini aku bagi kau!‖ berkata ia. dua yang asam manis. Ia menoleh kepada si jongos.‖ Ia jumput bakpauw itu. ―Baik!‖ tertawa pula pemuda itu. hingga terlihat dua baris giginya yang putih.‖ Kwee Ceng pun heran. Pemuda itu berumur lima atau enambelas tahun. sekalipun di musim semi. Di tangannya ia mencekal sepotong bakpauw. Teranglah ia seorang melarat. ―Tidak peduli aku dahar berapa banyak. ia tahu orang tentu sudah lapar. rata. pergi ya pergi…‖ kata pemuda itu seraya ia putar tubuhnya. Jongos itu melayani dengan ogah-ogahan. dan pemuda ini tidak memakai sepatu. Pemuda itu letaki bakpauw itu yang tapinya sekarang tertanda tapak tangan. seekor anjing kecil. makanan yang paling lezat di kolong langit ini adalah daging kerbau dan kambing. ―Aku khawatir. Kwee Ceng menjadi kasihan. pemuda itu mendak. dan ia biasa dengar ibunya bicara? Ia malah girang mendengar lagu suara orang sekampung. ―Eh. akan memerintahkan: ―Potongi aku sekati daging kerbau serta setengah kati hati daging kambing!‖ Ia telah hidup terlalu lama di Mongolia hingga tahunya. Ia lantas ingat kepada kudanya. Tentu saja kue itu tak laku dijual. Kwee ceng teriaki jongos.‖ Irawan D Soedradjat Page 166 . untuk melongok keluar. ―Apa?!‖ sahut jongos itu tawar. ―Aku sendirian tidak gembira. meminta tambahan makanan. ia mengawasi ana muda kita Kwee Ceng lihat kelakuan orang. lebih dulu kau sediakan empat rupa buah kering dan empat rupa buah segar. kau tidak punya uang untuk membayarnya!‖ Dengan sengaja ia menyebut ―lojinkee‖ atau orang tua yang dihormati.Pendekar Pemanah Rajawali Tengha bersantap. ia lompat bangun. hingga gigi bagus itu tak sembabat sama dandannya yang compang-camping itu. aku memang lagi mencari kawan. ―Mari dahar bersama!‖ ia mengundang. ―Mau apa lagi?!‖ menegur satu jongos. ia menjadi malu hati. dua yang manis bermadu. ―Jangan!‖ ia cegah si jongos. menubruk dengan kegirangan. ―Bakpauw yang lezat dikasihi ke anjing…. ―Kita jangan repoti mendahar daging. kawan. yang ia lihat lagak lagunya. ―Sayang…sayang…‖ kata satu jongos. Ia mengawasi kedua jongos dengan tertawa. kepalan lewat diatasan kepalanya. Dan ia lemparkan itu kepada seekor anjing buduk di depan pintu.

―Tuan ini yang mentraktir. ia ada punya arak Pek-hun-ciu simpanan sepuluh tahun. ia pun Cuma dahar beberapa sumpitan. Sembari berdahar. tak tahunya dia terpelajar tinggi. tidak beres!‖ berkata si anak muda itu. Nah. ―Rumah makanmu ini rumah makan kecil dan tempatmu ini tempat melarat. ―Toaya menghendaki buah apa yang segar bermadu?‖ tanyanya.‖ Mendengar itu. jongos itu menjadi melongo.‖ berkata pula si anak muda. semua buah yang diminta telah disajikan saling susul-menyusul.‖ katanya dalam hatinya. dan ia merasakan kelezatan yang dulu-dulunya ia belum pernah cicipi. Tidak terlalu lama. anggur hiangyoh. anak muda itu ada lebih pintar daripada gurunya yang kedua. tapi si anak muda sangat tertarik hatinya. Sekarang ia tak berani lagi memandang enteng kepada anak muda ini. Si anak muda berkata pula. tentang segala apa di Kanglam. Rupanya orang luas pengetahuannya. kau sajikan lagi duabelas rupa untuk teman nasi. ―Lainnya ialah delapan rupa tiamsim. ia tidak berani bicara terlalu banyak. co dan ginheng. ia khawatir orang nanti minta pula makanan lainnya. menunggang kuda dan menggembala kambing. Kwee Ceng ingat pesan gurunya. ―Sebenarnya tuan-tuan ingin dahar masakan apa?‖ ia tanya. Jongos mengawasi pemuda kita. Si anak muda menunjuki Kwee Ceng. dan kiang-sie-bwee. yang mesti disajikan atas dua meja disambung menjadi satu. soto burung wanyoh. tidak dijelaskan. Anak muda itu minum sedikit sekali. di sini tidak ada ikan dan udang segar. Setelah pesan koki. Selang kira setengah jam. ―Untuk ceker bebek dan lidah ayam saja kita membutuhkan beberapapuluh ekor ayam…. Ia tidak menyangka orang omong demikian takabur. memanah burung rajawali. bakso kelinci. baharu ia keluar pula. Buah yang segar yaitu kau cari yang baharu dipetik. sebegitu dulu!‖ Jongos itu berlalu dengan cepat. satu demi satu. ―Ah. si anak muda bercerita banyak. Sembari dahar bebuahan. hingga ia tertawa dan bertepuk tangan.‖ Mendengari itu mulutnya si jongos ternganga. apa boleh ia menyediakan dulu dua poci? ―Baiklah!‖ sahut si anak muda yang mengenai arak tak banyak cerewet. lidah ayam cah. ―Apakah sudah cukup semua ini?‖ ―Habis itu. ―Sekarang begini saja! Empat rupa buah kering itu ialah leeci. ―Aku menyangka ia cuma miskin. Ia sampai mau percaya. yang ia pilih. ―Untuk teman arak. hendak minum arak apa. Orang bicara rapi. ia sekarang banyak bertanya kepada Kwee Ceng. Barang hidangan. lengkeng. Ia kata. Kwee ceng tertarik hatinya. ia duga bukan sembarang orang. soto manjangan keekangyauw. ia jadi Cuma bicara tentang memburu binatang liar. apakah kau kira dia tidak kuat membayaranya?‖ tanya ia. pasti tidak dapat kamu menyediakan barang bagus.Pendekar Pemanah Rajawali Jongos itu heran hingga ia terperanjat. Entah disini ada yang jual atau tidak? Yang manis bermadu? Ialah jeruk tiauwhoa-kim-kie. enak didengarinya. ceker bebek goreng. ―Delapan rupa masakan itu ialah puyuh asap. ―Delapan masakan itu mahal harganya.‖ sahutnya kemudian. Kwee ceng cobai itu semua. suaranya tawar. maka kau sajikan saja delapan rupa barang hidangan yang biasa!‖ Jongos itu mengawasi. yang mengaku datang dari padang pasir. yang dandannya indah dan malah mengenakan bulu tiauw.‖ kata kemudian.‖ berkata si anak muda. ―Baiklah. Sekarang ia tanya tetamunya. datanglah barang hidangan. buah tho-tong-songtiauw dan buah lay-hauwlongkun…. yang asam aku ingin uah ento harum. Irawan D Soedradjat Page 167 . paha mencak dan kaki babi hong.

Gochin benar baik tetapi putri itu kadang-kadang manja sekali dan ia tidak sudi mengalah. maka aku minta sukalah kau pakai baju ini!‖ Tidak Cuma baju. Yong. ia loloskan baju kulit tiauwnya. terlalu panas pun tidak dapat didahar. Ia masih punya sisa empat potong emas. Anak muda itu tersenyum. Kwee Ceng pun berdiam saja. dengan kelakuan sangat menghormat. Irawan D Soedradjat Page Oey Yong menggeleng kepala. ialah Tuli sering mendampingi ayahnya. 168 ―Sekarang hiantee hendak pergi kemana?‖ Kwee ceng tanya. Adalah setelah jalan beberapa tindak. ―Aku telah mengganggu kamu. aku merasa lapar pula…‖ ia menambahkan. ―Benar. ia pakai baju itu. ―Aku masih belum belajar kenal she dan nama kakak yang mulia. Si anak muda tidak mengucap terima kasih. kita baharu ketemu tetapi kita sudah seperti sahabatsahabat kekal. toh masih ada perbedaannya. apakah kau masih kekurangan apa-apa?‖ ia menanya. Ia sebenarnya memanggil adik (hiantee). ―Tapi toako. Kwee ceng pun tertawa. namaku Ceng. ―Nasi pun sudah dingin…‖ ―Benar. Hanya aneh. ia lantas saja angkat tangannya. menyuruh menukar hidangan yang terlalu dingin dengan yang baru! Jongos dan kuasa brumah menjadi heran. Kwee Ceng lihat itu panggilan.‖ kata si anak muda seraya tarik tangannya. harganya semua buah dan makanan itu berjumlah tigaratus sembilan tail. untuk ditukar dengan limaratus tael perak. untuk dipegang keras-keras. ―Sudah terlalu lama kita bicara. Maka itu. ia pun memberikan uang. seperti juga pemuda itu kehilangan sesuatu. Satu kali. Kau sendiri hiantee?‖ ―Aku she Oey.‖ sahut Kwee ceng.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sendiri sangat gembira berkumpul bersama ini kawan baru.‖ ia menyahuti. ia cekal tangan si anak muda. Pernah Kwee Ceng menatap muka si anak muda. yang tiga ia sisipkan ke dalam saku baju tiauw itu. ―aku pun sampai lupa! Aku she Kwee. benar!‖ katanya. ia tidak pikirkan harganya barang makanan itu. melihat pakaian orang yang tipis dan pecah. Di gurun pasir ia bergaul erat sekali dengan Tuli dan Gochin. lalu ia mengatakannya sudah cukup. Kwee Ceng berhati mulia. ia menghampirkan dengan cepat. Tapi mereka iringi kehendak itu. maka sering mereka bertengkar. bagaimana apabila kita berjalan bersama?‖ . ijinkan aku pamitan. hingga ia tampak Kwee Ceng lagi berdiri bengong dengan tangan memegangi les kuda merahnya. namaku pun satu. si jongos katakan Kwee ceng dalam hatinya: ―Dasar kau. tujuh chie empat hun. walaupun mehongan. bicara lebih jauh. Ia kata: ―Saudara. ―Umpama kata hiantee hendak kembali ke Kanglam. ia tidak memperhatikannya. yang tapinya memanggil jongos.‖ si anak muda meminta diri seraya memberi hormat. ―Saudaraku. ―Aku tidak niat pulang ke Selatan. anak muda itu dahar lagi sedikit saja. ia kerobongi itu di tubuh si anak muda. baru kalin ini mereka mendapatkan tetamu seaneh ini. Kwee Ceng mengeluarkan dua potong emas. kecuali hal ia mengerti silat dan mempunyai hubungan erat dengan Temuchin. Sehabis membayar. ―Baik suruh panasi lagi…‖ ―Tidak usahlah. Di luar salju memenuhi jalan besar. sadar. Seumurnya. untuk menggapaikan. Kwee ceng pun kasih persen sepuluh tael hingga kuasa restoran dan jongos itu menjadi girang.‖ jawab anak muda itu. barang hidangan keburu dingin. saking gembira. Si anak muda pun tersenyum dan menunduk. Menyaksikan itu. Sesudah barang makanan siap semua.‖ berkata si anak muda.‖ sahutnya. bocah tolol! Bocah hina ini permainkan padamu!‖ Kapan kuasa restoran sudah berhitungan. mereka mengantar keluar kedua tetamunya itu. Untuk membayar itu. tetapi tentang ini. ia baru menoleh ke belakang. tangan itu ia rasai halus sekali. ia pun suka omong lebih banyak. kult muka itu agakanya halus dan bersemu putih. terus ia negeloyor pergi.

orangorang itu adalah delapan penunggang unta yang memang berniat merampas kudanya itu. kenapa ayah tidak cari aku?‖ kata si anak muda lagi. kau mesti pulang. di tangga lauwteng terdengar suara tindakan kaki. terutama sebab ia lantas kenali. Karena itu malam-malam aku minggat…. Di sini kembali mereka pasang omong. ―Ayahku tidak menginginkan aku…‖ ia menyahut.‖ kata Kwee ceng lagi. Kali ini Oey Yong yang mengajak kawannya itu. ―Ah.‖ Kwee ceng berkata pula. Mangkok dan sumpit yang mana disimpan dalam sebuah kotak.‖ sahut Oey Yong. Ia dapatkan beberapa orang dengan pakaian serba putih tengah mengurung kudanya itu. habis pesiar. Lantas ia berseru: ―Di siang bolong kamu berani merampas kudaku?‖ Irawan D Soedradjat Page 169 . maka ia lari ke jendela untuk melongok ke bawah. Aku tidak punya ibu sejak masih kecil…‖ ―Kalau begitu. lantas ia tidak pedulikan lagi tetamu itu. baiklah. hiantee. Cuma tidak ketmu…‖ Kwee ceng mencoba menghibur. untuk mengatur mangkok dan sepasang sumpit. Ia hanya heran kenapa orang dapat menyusul ia demikian lekas. ―Kenapa begitu?‖ Kwee Ceng tanya. ia mengerutkan kening.‖ berkata si anak muda. Hanya kali nini ia tidak meminta banyak macam makanan. lantas ia menunjuk meja yang terpisah jauh. Kwee Ceng mengawasi sebentar. ia menjadi tertarik hatinya. hingga ia tak dapat didekatkan. Ia memandang Kwee Ceng dan Oey Yong. cuma empat rupa serta sepoci the Liong-ceng. ―Tapi kau toh dapat menemuinya. ―Kalau begitu. ―Kenapa kau tidak mau pulang saja?‖ Tiba-tiba saja mata Oey Yong menjadi merah.‖ ia kata. ―Cuma aku mesti dapati dulu dua ekor anak rajawali putih…‖ Selagi kedua pemuda ini bicara dengan asyik. Atas itu kedua kacung menghampirkan meja yang ditunjuk itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Baiklah. Oey Yong tertawa. ―Ayahku tidak menginginkan aku lagi…‖ katanya. lalu tertampak munculnya tiga orang. di bawah lauwteng terdengar suara kuda meringkik. ―Jikalau begitu. ialah dua kacung yang mengiringi satu pemuda denagn baju sulam yang indah. tetapi kuda itu berjinkrakan. habis pesiar aku pulang!‖ katanya. disusul mana beberapa kali bentakan dari beberapa orang. rumahmu di mana?‖ ia tanya.‖ jawab Kwee ceng. ―Justru sekarang tidak tahu aku mesti pergi ke mana. Jongos juga segera repot melayani tetamu baru ini. Ia ingat akan kudanya. Kapan Oey Yong dengar Kwee ceng omong perihal dua ekor burung rajawali putih. Ia pilih rumah makan yang paling besar dan kenamaan untuk kota Kalgan. ―Mungkin ia mencari. ―Dan ibumu?‖ ―Ibuku sudah meninggal dunia. Belum lama.‖ Kwee ceng beritahu. baik besok aku pergi saja ke Mongolia. yang ia bawa dari rumah. yang tidak merasa aneh atau mendongkol. Oey Yong menangis. yang hendak ditangkap.‖ ―Hanya sukar untuk mencari anaknya. ia pun menemuinya burung itu secara kebetulan. ―Eh. Ia kembali mengobrol bersama sahabat barunya itu. Kwee Ceng tidak dapat menjawab. usianya barangkali baru delapan atau sembilanbelas tahun.‖ ―Sekarang pasti ayahmu tengah memikirkan kau. wajahnya terang. aku justru mau pergi. tak bisa jadi.mari aku temani lagi kau bersantap. pemuda itu tampan sekali. yang bangunannya juga mencontoh model restoran besar dari Pian Liang. ibukota dahulu. ―Ayahku larang aku pergi pesiar. yaitu Restoran Tiang Keng Lauw. Ia menjadi gusar sekali. ―Di sana aku cari dan tangkap dua anak burung itu untuk aku buat main.‖ Kwee Ceng bilang. Melihat pakaian orang yang kotor. ―Ayah damprat aku.

―Mereka ini hendak merampas kudaku. ke arah pemuda ini. Karena ini. Ia menjadi heran sekali. diwaktu ia sudah taruh kakinya. ginso itu jatuh sendirinya. bernama ceng. dia terus menghampirkan Kwee Ceng.‖ Kongcu itu berkata: ―Saudara Kwee tak hendak mengenalkan diri. ―Siauwtw she Kwee. Oey Yong tarik tangannya Kwee ceng. Bab 16. mereka pada rubuh sendirinya…. untuk naik di tangga. ia memandang Kwee Ceng. ia memutar tubuhnya. ―Kau…kau…. Cepat-cepat Kwee Ceng cabuti kopiahnya. dengan niat menyambuti torak perak itu. ―Setahu kenapa. ia kaget dan gusar dengan berbareng. Kwee ceng menurut. apabila mereka melongok ke bawah.‖ Meski ia mengucap demikian. kudamu itu bagus sekali!‖ katanya memuji. Setibanya ia di depan rumah makan. salah satu nona menoleh ke belakang. Ia merasakan ada tangan yang lemas yang memegang tangannya. ―Kongcu ada pengajaran apakah?‖ lanjutnya. di waktu mana ia merasakan sambaran angin. yang menyambuti seraya terus dikasih masuk ke dalam sakunya. maka Kwee Ceng dapat melihat sinar matanya yang tajam. Kwee Ceng hendak sahuti sahabatnya ketika ini tatkala ia dengar ramai suara kelengan unta di depan rumah makan itu. untuk terus segera memberi hormat sambil berjura. ―Jangan pedulikan dengan mereka. ―Aku mohon tanya she dan nama mulia dari toako. diserahkan kepada si pemuda. si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu juga telah berada di depan. ia pergi ke jendela diikuti Oey Yong. sehingga ie berdiri menjublak. aku sangat berterima kasih. Meski begitu. dengan lantas ia lihat Oey Yong. Akan tetapi si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu telah dului ia. jatuh bareng bersama senjata penyerangnya. Kongcu itu telah mengibaskan tangannya. tanda dari kemurkaan. kemudian ia mengawasi kedua anak muda itu. ―Toako. di sana ia dapatkan delapan orang berpakaian putih itu sedang rebah tanpa berkutik. yang setahu kapan telah turun dari lauwteng.‖ ia minta. atas mana dua potong ginso menyambar ke loteng.‖ kata Kwee Ceng. ―Apakah saudara Kwee datang dari pulau Tho Hoa To dari Tang-hay? pemuda itu menaya. dengan menyentil dua kali. guna terus lompat berjumpalitan. sampai nanti kita bertemu pula!‖ Lalu ia menjura dalam sekali. untuk masuki kepalanya ke selangkangannya. kedua kacung lantas pungut empat senjata rahasia itu. Celaka kalau ia kena tersampok. hingga terbit satu suara nyaring dan ia merasakan sakit ngilu pada pundaknya itu. Barusan kongcu membnatu aku. Inilah Kwee ceng tidak sangka. pundaknya kena tersambar juga.‖ ia menyahut. Kwee melengak. Kwee ceng lekas-lekas membalasi. Justru mereka memutar tubuh.‖ Irawan D Soedradjat Page 170 . Tiba-tiba saja ia ayun tangannya yang kanan. Habis itu. mereka lihat delapan nona serba putih itu berlalu dengan unta mereka. nah di sini saja kita berpisahan. sinar matanya menandakan ia sangat heran. ia tuangi air the di cawannya pemuda itu. ada urusan apakah saudara datang ke mari?‖ Ditanya begitu. ia melayangkan dua batang senjata rahasia yang bersinar emas berkilauan.Pendekar Pemanah Rajawali Lantas ia lari turun dari lauwteng. Kwee ceng cepat-cepat membalas hormat. ujung tangan bajunya menjurus ke matanya.‖ ia menyahuti. ia lantasbertindak naik di tangga lauwteng. Sembari memberi hormat orang menyerang ia secara hebat sekali. Maka dengan ia lantas tunduk. Ketika ia menoleh. ―Aku mohon tanya. kemudian sembari tertawa manis. malah ia sudah lantas membungkuk kana melihat delapan pemudi yang menyamar sebagai pemuda-pemuda itu. mari kita naik pula ke lauwteng!‖ berkata ini sahabat baru. sepasang alisnya pun terbangun. di depan siapa ia berhenti. ―Siauwtee datang dari gurun pasir utara. Demikian juga si anak muda itu. Gara-Gara Sepatu Sulam Dan Jubah Salut Emas Tiba-tiba Kwee Ceng sadar. lalu di antara dua kali suara tintong. ―Belum pernah siauwtee pergi ke pulau Tho Hoa To itu.

Itulah ginso yang tadi si kongcu simpan dalam sakunya. yang menyamar sebagai pemuda-pemuda dan menunggang unta.. ―Itu waktu memang aku lihat terbangnya dua ekor burung di atasan kepalaku. Rupanya tiga wanita itu melepaskan burung Irawan D Soedradjat Page 171 . ia juga dapat lihat anak muda itu berdiri tegar ditempatnya. ―Ini untuk kau…‖ kata Oey Yong dengan perlahan. Dengan terpaksa ia sambuti empat potong benda itu.Pendekar Pemanah Rajawali Tapi si kongcu pegat ia. ―Sebab kudaku adalah han-hiat-po-ma. Tidak berani ia menangkis atau menyambuti cengkeraman itu. aku ingat sekarang!‖ ia kata pula separuh berseru. saudara Kwee.‖ jawab Kwee Ceng. ―Sungguh memusingkan kepala. lantas aku jumput!‖ sahut Oey Yong masih tertawa. tangannya menjatuhkan sebatang sumpit ke kaki kongcu. terus ia putar tubuhnya untuk bertindak ke tangga lauwteng. ia kata: Aku cuma mencoba ilmu kepandaianmu. ―Ya. ―Toako. Maaf…!‖ Kembali ia menjura. Oey Yong agaknya kaget. tubuhnya bergeser. Kwee ceng khawatir orang nanti bokong pula padanya. sembari tertawa. heran. ia mengerti. ia mundur satu tindak.‖ kata Oey Yong. sebab masih ada bekas cengkeramannya Bwee Tiauw Hong dulu hari pada lengannya. Kalau tidak tentulah mesti terjadi pertempuran hebat…‖ Oey Yong masih tersenyum. ia tercengang. kau lupakan barangmu ini!‖ ia panggil si pemuda yang seperti anak bangsawan itu. Di tangan kawan ini terlihat dua potong tusuk konde emas serta dua potong ginso. mereka dapat menyusul padaku…‖ Kwee Ceng kemudian mengutarakan keheranannya. Maka ia menduga. kepada Kwee Ceng ia tersenyum. entah kenapa. lima jarinya yang kuat seperti kuku garuda menyambar ke tangan Kwee Ceng itu. Entah kapan sahabat ini mengambilnya. ia tidak menduga orang mendusta. ia sudah dapat menduga orang bergerak dengan ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw seperti keenam gurunya sering menuturkan kepadanya. Menampak barangnya itu. Ia dapatkan. ―Kenapa barang itu berada di tanganmu?‖ ia menanya. ilmu silatmu tangan kosong tapi biasa saja. Kwee Ceng angsurkan kedua barang emas dan perak itu. disaat kongcu itu mengangkat tubuhnya habis menjura. Ilmu totok kau lihay sekali. ia berpaling.‖ ―Aku lihat di antara mereka ada satu yang mencekal sepasang burung dara. ia dapatkan Oey Yong mengawasi ia sambil sahabat itu tertawa geli. Kwee Ceng melihat telapak tangan anak muda ini. Tiba-tiba Kwee ceng menepuk meja. Ia sambuti tusuk konde emas dan ginso itu. empat senjata di tangannya sudah lantas mencelat. kenapa rombongan wanita itu mencoba merampas kudamu?‖ kemudian Oey Yong menanya. cuma ia dapat membedakannya. tangannya disodorkan. belum ia terjambak. Kwee Ceng jujur. ―Kongcu. ―Kudaku itu lari cepat sekali. Setelah menatap. Oey Yong pun telah dapat menjumput sumpitnya itu. ―Dia membikinnya jatuh selagi dia menjura kepadamu. Kwee Ceng kaget tidak terkira. empat senjata itu sudah mendahulukan menyambar ke arahnya. belum lagi serangannya mengenai. sebenarnya aku telah lombai mereka seperjalanan tiga hari. cepat luar biasa tangannya menyambar ke arah Kwee ceng. yang terus tuturkan perihal kuda itu sampai ia bertemu rombongan si wanita itu. cepat luar biasa ia telah kerahkan tenaganya. adakah kongcu ini sekaum dengan Tiat Sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi? Ia menginsyafi hebatnya cengkeraman Tulang Putih itu. Si kongcu rupanya jijik untuk pakaian kotor anak muda ini. kongcu terkejut sehingga air mukanya berubah. Kongcu itu menghentikan tindakannya. yang bergemerlapan kuning dan putih. ia memutar tubuhnya untuk terus turun di tangga lauwteng. sambaran kongcu ini kalah jauhnya sebatnya dengan sambarannya si Mayat Besi. Ia tercengang sebentar lantas ia ingat. Kapan Kwee Ceng kembali ke kursinya. Dari gerakannya saja. Kemudian ia melanjuti: ―Setahu siapa yang membnatu aku secara diam-diam dengan merobohkan mereka itu. ia mundur setindak. Kongcu itu terkejut.

Di antara cahaya lilin. lantas berkata: ―Inilah paman guru kami. Dengan lantas kuda itu berlari pergi. apa kau sudi mengabulkannya?‖ dia bertanya.‖ sahut suara di luar. ia membuka pintu. Ia keringkan secawan teh. apapula mereka dibantu oleh paman gurunya itu.‖ menerangkan Oey Yong. untuk mereka memegat atau mengawasi aku. ia tampak lima orang berdiri di depannya. ia awasi tuan rumah. Kwee Ceng turun dari pembaringan. Air matanya itu yang mengalir di kedua belah pipinya itu. tanpa bilang suatu apa. ia lantas pergi mencari rumah penginapan. kau kenapakah?‖ ia menanya cpat. tiba-tiba ia dengar ketokan pada pintu. Bersama-sama mereka turun dari lauwteng. Bukankah mereka baru pertama bertemu? Ia malah mengharap jawaban si pemuda adalah penolakan. ―Siapa?‖ ia tanya heran. maka baik-baiklah kau mendengar katanya. ―Sebenarnya aku suka sekali dengan kudamu itu. Mukanya penuh air mata. untuk rebahkan diri. dari itu. sambil melirik. Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay yang sangat ternama besar! Lekas kau berlutut dan mengangguk-angguk kepalanya!‖ . Ia mendapatkan sang malam bakal lekas tiba. ia terkejut bukan main. hingga dia itutak dapat melihat lepas ke depan. menyebabkan mehongan luntur. ia mepersilakan: ―Hiantee. bahwa Hong Ho Su Koay saja sudah bukan tandingannya. muka orang ada tanda bekas luka-luka senjata tajam. hingga tampak dua baris kulitnya yang putih mulus. baru ia melihat langit. Mereka itulah Hong Ho Su Koay. Si kurus sudah lantas tertawa tawar. Sekarang adalah giliran Kwee Ceng yang menjadi heran. yang usianya kurang lebih lima puluh tahun. ia membuka tindakan lebar akan memasuki kamar orang.‖ Kemudian sembari menoleh kepada si anak muda. tubuhnya kurus. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng mengerti bahwa ia telah terkurung. Ketika disaat ia hendak memadamkan api. hingga ia melihat tegas. marilah kita pergi!‖ ia mengajak. ―Hendak aku meminta sesuatu yang berharga darimu. kau naiklah!‖ Sebenarnya kuda itu tak dapat ditunggangi orang lain. ―Hiantee. hiantee. ―Toako. Dua orang yang ke lima. Empat di antaranya ada membawa golok dan ruyung. akan terus mencokol di atas pembaringan. Tapi sekarang ia tidak menangis. baru ia tuntun kudanya. Sebenarnya ia main-main saja. Kwee Ceng menyerahkan les kuda itu.‖ Setelah itu. terus terdengar tangisannya sesegukan. Kwee Ceng pun mengawasi.Pendekar Pemanah Rajawali itu untuk memberi kabar kepada lima kawannya. dengan dingin. Lebih dulu ia membayar uang makan. jangan kau bawa adatmu. Ia lantas mendekam di meja. di jidatnya ada tiga kutil besar. ia mengawasi si pemuda. Setelah ia mengenali orang. ―Apakah kau kurang sehat?‖ Oey Yong angkat kepalanya. ―Toako. romannya sangat tidak mengasih untuk diawasi. 172 Toan-hu-to Sim Ceng Kong si Golok Memutus Roh. Pemuda itu menanti sampai orang tidak terlihat lagi. ―Kenapa tidak?‖ Kwee Ceng menjawab. ―Baik. Kwee Ceng menurut. Oey Yong tanya tentang tenaga larinya kuda merah itu dan Kwee ceng menuturkannya dengan jelas. Karena ini.‖katanya. sebaliknya ia tertawa. mereka gampang saja mencari padaku. ia terus tepuk kempolan kudanya itu. lalu ia tertawa. Oey Yong naik kuda itu. yang julukannya pun berarti si Ular Naga Kepala Tiga. akan tetapi ia sekarang tidak membangkang. aku hadiahkan itu padamu!‖ kata Kwee Ceng tanpa bersangsi. mukanya lonjong. ―Satu sahabat. Ia kelihatannya menjadi kagum sekali. Ia pesan kepada kudanya: ―Aku haurkan kau kepada sahabatku yang baik. Oey Yong terperanjat. suaranya parau.

Ia berlaku tenang. ia tampak bayangan orang mondar-mandir. Kapan ia memandang ke jendela. agar orang tidak nanti mengatakan Sam-tauw-kauw menghina anak kecil. Sambil berlompat. bukan?‖ Nah sampai bertemu pula! Sampai bertemu pula! Maaf. Rupanya orang telah menjaga ia di luar kamar. kami menyerah kalah!‖ dia berteriak. ia tidak bertemu dengan musuhnya. kau datang ke sana dengan minta gurumu semua temani padamu!‖ Habis berkata. cambuk lemasnya. Mereka malu untuk minta tolong. ―Apakah kau tengah main ayunan di sini?‖ dia bertanya. ―Guruku tidak ada di sini. hingga terdengar suara membeletok. baru ia berbangkit turun. Besok pagi. engkongmu menunggui kau disini!‖ Jadi terang dia telah dikurung keras. disusul sama bentakan: ―Bocah. berubah pikirannya. ia tampak Hong Ho Su Koay tergantung masing-masing di sebuah cabang besar. terus ia duduk numprah di atas pembaringannya. ia mesti gulak-galik saja.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tuan-tuan ada punya urusan apa?‖ ia tanya sambil menjura. Ia bersemadhi hingga tengah hari. semakin hebat. niatnya untuk tidur tanpa menghiraukan segala apa. ―Ah! Kalau begitu hendak aku memberi ketika padamu untuk hidup lagi setengah harian!‖ kata Ular Naga Kepala Tiga itu. ia maju. yang menutupi matahari. Di sana ada sebuah rimba besar. ―Sudah terang aku tidak bakal dapat lolos. Ma Ceng Hiong si Cambuk Perampas Roh. menuju ke arah barat. sampai sepuluh lie lebih. Di belakang jongos itu terlihat Cian Ceng Kian dengan sepasang kampaknya. Besok tengah hari aku menantikan di rimba Hek-siong-lim di luar kota. ia dapat dengar apa-apa di atas genting. untuk sarapan. lari!‖ Maka ia berpikir: ―Sekarang tidak ada orang mengawasi aku. Sambil berdiri diam. . baiklah aku mati bertempur!‖ Oleh karena berpikir begini. kaki dan tangan mereka terbelenggu. Kwee ceng loloskan joan-pian. Di samping itu mereka heran sekali kenapa paman guru mereka itu yaitu Hauw Thong Hay. ia sudah ngeloyor keluar. Selang tidak lama. jongos muncul dengan air cuci muka dan tiamsim. ialah pesan gurunya yang keempat: ―Jikalau tidak ungkulan. ―Suhu semua berada di tempat jauh. tubuh mereka bergelantungan. Tapi tiba-tiba. Satu lie sudah ia berjalan. Sesampai di luar. memandang ke arah dari mana cacian itu datang. Kwee Ceng heran bukan kepalang. Tapi ia tidak dapat pulas. rimba pun lebat. Mereka mencaci kalang-kabutan begitu lekas mereka tampak si pemuda musuhnya itu. ―Aku mohon sukalah kau memerdekakan kami!‖ Irawan D Soedradjat Page 173 Sim Ceng Kong berempat mencaci maki pula. tiba-tiba Toat-pek-pian. ―Mana guru-guru kamu?‖ Hauw Thong hay menanya. ―Bocah haram! Anak campuran! Anak jadah!‖ demikian ia dengar makian hebat. tanpa menanti penyahutannya Kwee Ceng. jangan kau memikir untuk kabur. ia angkat kepalanya. Seram suasana di situ. tidak nanti mereka dapat menolongi aku. maka ia lupa akan malunya. kenapa aku tidak hendak sembunyikan diri?‖ Maka hendak ia segera mewujudkan pikirannya ini. ―Sungguh menggembirkan.‖ sahut Kwee Ceng. untuk dengan cepat bertindak ke sebelah dalam rimba. Lantas ia berdiri menjublak! Di atas empat pohon di dekatnya itu. Mereka jalan berendeng. Ia takut mati. Ia lantas saja bercokol di atas pembaringan. melainkan mulut mereka yang dapat di pentang lebar-lebar. tidak dapat aku menemani kalian lama-lama…!‖ ―Kwee Enghiong. hampir ia lenyap dari pandangan mata. ―Sekarang hendak kau memberi pengajaran kepadamu. ia suruh Twie-beng-chio Gouw Ceng Liat si Tombak Mengejar Jiwa menutup pintu. untuk bersemadhi menuruti ajarannya Ma Giok. akan tetapi ia tertawa.‖ Kwee Ceng berpikir. Kwee Ceng putar cambuknya. Dia lantas rebahkan dirinya. ia berbangkit. ―Mari kita pergi!‖ ia kata kepada Cian Ceng Kian. Selagi Kwee ceng bertindak. setindak demi setindak. untuk melindungi diri. tidak lekas kembali. hatinya menjadi mantap. sia-sia saja mereka mencoba meronta-ronta. Tiba-tiba ia dapat ingatan. Di sini Ceng Kian tinggalkan si pemuda. Ia menjaga diri dari bokongan di kiri atau kanannya. Akan tetapi tidak ada serangan terhadapnya. Ia masih berdiam saja. Kwee Ceng memadamkan api. Itulah suara ketokan beberapa kali.

Mukanya pemuda itu menjadi merah. ada sulaman empat huruf besar: ―Pi Bu Ciauw Cin‖. atau Lim-an. mesti ada orang yang sudah tolongi ianya. Sambil tertawa.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sudah lantas berpikir: ―Sebenarnya aku tidak bermusuh dengan mereka. pemuda itu totok mereka bergantian. ia baru berhenti ketika di sebelah depannya ia dengar sorak-sorai yang ramai. tetapi ia mengerti. Ia lantas saja mengangkat kaki. membawa tubuhnya melejit ke samping ke belakang penyerangnya itu. hingga mereka menyangka aku. Si pria dapat melihat lowongan. di sana ada berkumpul sejumlah orang. Di bawah bendera itu ada satu nona dengan baju merah tengah bertempur sama seorang pria. yang paling ramai dan indah. sedang kereta-kereta bagus dengan semua kuda pilihannya mondar-mandir di jalan-jalan besar. Pria itu tidak sampai hati. nona-nona serba putih dan menunggang unta itu sudah elok semua. yang permai sero-seronya. merdunya bunyi tetabuan. entah dimana…?‖ kemudian ia tersenyum sendiri. Luar biasa gesitnya nona itu. bertempur dengan seru sekali. maka sekarang si nona tidaj menghajar hebat kepadanya. kedua kakinya bergerak saling susul-menyusul. Orang banyak itu mengurung sebuah tanah lapang. siapakah yang menggantung kamu di sini?‖ ―Kau masih berpura-pura!‖ membentak Cian Ceng Kian mendongkol. Yang hebat mereka sampai tidak melihat padanya. hanya mengubah kepalannya menjadi tangan terbuka. Pantas Hong Ho Su Koay tidak sanggup berontak melepaskan diri. ia berkelit dengan mendak. ia berjalan-jalan. Herannya. terus ia kembali dengan berlompatan. Heran Kwee Ceng apabila ia saksikan ilmu silat si nona itu. ia menjadi kegirangan. Mendadak ia ingat apa-apa. Keanehan itu tak dapat ia melupainya. belum pernah ia menyaksikan suasana kota besar itu. setelah memegang tanah. di situ ada dipancar bendera suram. mesti ia lekas menyingkir. dengan kemalu-maluan ia menyelinap di antara orang banyak. akan meninggalkan mereka itu. ke arah dada. dia dapat menahan diri dan mengerahkan tenaga. Di pelbagai rumah minum ia pun dengar suara tertawa. Syukur untuknya. maka mereka itu lantas saja tidak dapat geraki kaki dan tangan mereka. siapa Irawan D Soedradjat Page 174 . ia lantas menyerang dengan kedua tangannya. Sesudah empat Siluman itu direbahkan di tanah. Ia berpikir: ―Dia lihay. kapan aku pernah bertemu orang lain? Aku tadinya menyangka. lalu iamundur ke bawah bendera. maka itu apa perlunya aku membiarkan mereka mati bersengsara di sini?‖ Dengan cepat ia mengambil keputusan. yang indah lauwteng dan rangonnya. nona itu menggunai akal. kota raja Tay Kim Kok. ia tadi berkasihan terhadap si nona. ia sampai tidak berani memilih erstoran yang mentereng. Ia heran orang menuduh padanya. dasarnya putih. Para penonton lantas saja bertampik sorak. atau berkelit. ia khawatir paman guru mereka itu nanti keburu kembali. sampai terjerunuk ke depan. Kwee Ceng pandang nona itu. kenapa dia munculkan diri di tempat umum seperti ini?‖ Selang lagi beberapa jurus. maka ia pikir. sampai tidak dapat dilawan oleh Pian-liang. Sebetulnya. ia menolak ke arah pundak. kota raja yang baru. habis mana barulah ia putuskan belengguan mereka itu. kapan tangan kirinya diayunkan. Di mana di situ tidak ada Hauw Thong Hay. Semua itu ia saksikan diwaktu siang berderang. Ia mendekati. sikapnya pun berpengaruh. Nona itu singkap naik rambut yang turun ke dahinya. ia cari sebuah restoran yang kecil. ―Siapakah itu orang secara diam-diam menolongi aku?‖ ia berpikir di sepanjang jalan. tibalah ia di Tiongtouw. hanya syukur. habis berdahar. Ia lari keluar rimba. negara Kim (Kin) yang besar. umurnya mungkin baru tujuh atau delapanbelas tahun. Untuk bersantap. ―Kalau bukannya kau. untuk melihat ke sebelah dalam. ke mana perginya Hauw Thong Hay si Ular Naga itu? dia tidak tertampak sekalipun bayangannya?‖ Kwee Ceng terus melakukan perjalannya itu. teranglah lawannya itu mesti jauh terlebih lihay daripada mereka. yang cantik sekali. ―Buk!‖ punggung si pria kena terhajar. alat menggantungnya itu adalah tambang kulit yang kuat. ia ingat: ―Baharu saat ini kau tiba di Tionggoan. siapa lagi?‖ Kwee Ceng heran. kota raja yang lama dari kerajaan Song. Nona itu tidak mengambil sikap menangkis. untuk berlompat bangun. ia berkata: ―Lagi dua belas jam baru kamu dapat pulang tenaga dalam dan merdeka. hingga ia berpikir: ―Kenapa aku seperti kenal dia? seperti aku pernah bertemu dengannya. Pada suatu hari. malah di sini ia segera membeli seekor kuda untuk dengan itu ia lantas melanjuti perjalannya ke selatan. Ia pun mengutanginya itu dengan golok emasnya. adalah mereka yang memusuhi aku. Ia menyelak di antara banyak orang itu. Artinya: mencari jodoh denagn jalan pibu atau mengadu kepandaian. Ia menjadi besar di gurun pasir. aku pikir kenapa ada demikian banyak wanita cantik. ―Hong Ho Su Koay lihay tetapi mereka dapat digantung. yang tubuhnya jangkung dan besar. ia batal meninju. terus ia balik ke kota. roboh ke tanah. ia kasih turun mereka itu satu per satu.

siapa yang menang. aku lewat di tempat tuan-tuan tidak dengan maksud mencari nama atau mencari uang. ―Oh. disini mesti banyak orang berilmu dan gagah. sudah melintas tiga belas propinsi. mukanya penuh berewokan. yang ia awasi. Si nona lantas bicara perlahan sama seorang yang berdiri di dekatnya. akan aku rangkap jodoh anakku ini dengan jodohnya. akhirnya mereka semua tertawa geli. Ia merasa bagaimana orang hendak mempermainkan padanya. kamu tertawakan apa?‖ tanya si tua itu kepada orang banyak. terus ia mengangguk keempat penjuru seraya terus berkata: ―Aku yang rendah bernama Bok Ek. Si empe dan paderi masih adu omong terus. maka itu. ―Aki-aki. aku akan segera pulang asal menjadi orang biasa lagi!‖ sahutnya. apakah kau tidak kasihan terhadap si nona yang masih demikan remaja bagaikan sekuntum bunga? Apakah setelah kau menikah kau hendak membuatnya ia menjadi janda?‖ Orang tua itu menjadi gusar. maka tak usahlah aku menjadi heran…‖ Pemuda ini polos. sebabnya rupanya. ia yang maju melawan si nonan manis!‖ . yang datangnya dari sebelah kiri dan kanan. ayah dan anak. lagi ia menjura kepada orang banyak. ―Habis kau. hatinya tidaj tergiur. Si nona menjadi mendongkol. kakek-kakek!‖ katanya. Kami berdua. asal ia bisa menyerang anakku dengan satu kepalannya atau kakinya. maka itu sekarang aku lagi mencarikan jodohnya itu. Dialah satu paderi yang kepalanya licin lanang! ―Eh. Maka itu ia lantas memandang ke kiri dan kanannya. aku masih belum menikah! Mustahilkah aku tidak cocok?‖ Si paderi itu awasi si tua. ―Tunggu dulu!‖ Itulah suara berbareng. Dasar aku kurang berpengalaman! Rupanya di Tionggoan ini dimanamana wanitanya cantik semuanya. mereka yang gagah sudah pada menikah atau mereka yang muda sungkan hatinya?‖ Ia berhenti sebentar. nanti aku yang melayani mereka. ―Tenang. apakah kau mau dengan datang kemari?‖ ia menegur. pasangan anakku tidak usah berharta. dan umurnya juga sudah lewat lebih dari setengah abad. para penonton juga tak henti-hentinya tertawa. ―Setelah aku mendapatkan istri begini cantik. nanti besok kami datang pula ke mari untuk melayani tuan-tuan. Bok Ek tarik tangan gadisnya. Karena ini dengan beranikan diri. pria itu mengangguk. itu bendera Pi Bu Ciauw Cin. ―Bukankah dia mau adu kepandaian untuk mencari suami? Nah. dari mana lantas terlihat dua orang berlompat ke dalam kalangan. matanya bersorot tajam. sepasang alisnya terbangun. mari kita berdua main-main…!‖ 175 ―Saudara-saudara. oleh karena itu. Disamping mereka. Paderi itu tersenyum. Mendengar itu. nah kamu pibulah terlebih dulu!‖ satu penonton yang membuka mulut.‖ ia membujuk. ia tertawa. Yang datang dari barat itu lebih lucu pula. mereka jadi sengit sekali. aku mancarikan jadohnya dengan jalan pibu ini. Adalah keinginanku. lagi sekali orang itu mengangguk. Tidakkah pemandangan itu sangat lucu? Irawan D Soedradjat Page ―Bagus!‖ berseru si paderi. untuk pulang ke rumah penginapan guna beristirahat. Orang bnayak lantas mengawasi. ―Nanti. Ia lantas loloskan mantelnya. Tuan-tuan. akan tetapi kami masih belum menemui jodoh yang dicari itu.‖ Habis mengucap. cukup asal ia satu pria sejati yang mengerti ilmu silat. ia masih belum ketemu jodohnya. aku harap tuan-tuan memaafkannya kalau ada kata-kataku yang tidak tepat. walaupun ia telah melihat wajah-wajah yang cantik manis. Tiba-tiba saja. yang agaknya tidak menghiraukan ejekan orang banyak itu.Pendekar Pemanah Rajawali tahu nona ini melebihkan mereka itu…. berniat ia menghajar kedua manusia ceriwis itu. baharu ia menambahkan: ―Kota Pakhia ini adalah tempat rebahnya harimau atau tempat sembunyi naga. Siapa yang usianya di bawah tiga puluh tahun dan belum menikah. lalu ia cabut benderanya. maka juga. hanya guna anakku ini. kumisnya sudah ubanan separuh lebih. kembali riuhlah tertawa orang banyak. wajahnya menjadi merah. hatinya masih terbuka. perkenankanlah kami undurkan diri. Anakku sudah dewasa usianya. Yang muncul dari sebelah timur itu adalah seorang tua dengan tubuh terokmok. ―Taruh kata kau menang. sudah membuat perjalanan dari selatan hingga di utara.

hingga sudah tentu saja selanjutnya tak dapat digunai lagi! Si tua dan si paderi tercengang. segera ia jatuh duduk. Cuma rambut dekat kedua samping kupingnyas udah berwarna kelabu dan kulit mukanya berkerenyut dan itu waktu. ke arah pinggang lawannya. tahan!‖ Bok Ek berseru seraya ia menghampirkan. mereka bersorak. lekas-lekas ia sembunyikan diri di antara orang banyak itu. Ke situ datang satu kongcu atau pemuda sambil diiringi beberapa puluh pengikut. ia hajar itu dengan ruyung sehingga golok itu patah dua! Para penonton kagum. takut mereka nanti kena terserempet…. maka ruyung itu menjadi bengkok melengkung. . tidak dapat kita sembarang menggunai senjata tajam!‖ Dua orang itu lagi bertempur seru sekali. hingga mereka pada menoleh. Tak tahan paderi itu. Bok Ek cekal kedua ujung ruyung. sembari tersenyum. tangannya meraba ke pinggangnya. tanpa membilang suatu apa lagi. sedang si empe menggunai ilmu silat Ngo Heng Kun. numprah di tanah. belum lagi ia peroleh jawaban. Dia pun menghela napas. Maka itu sekarang mereka melansungkan pertandingan itu dengan golok dan ruyungnya masingmasing. ―Ya. Ia kenali si kongcu yang ia telah ketemukan di rumah makan di Kalgan. yang tubuhnya sedikit bongkok tetapi badannya lebar dan kekar. Si paderi dapat berlompat danmendekam dengan cepat. Hanya sambil berseru-seru. keduanya nyelusup antara orang banyak. sebelah tangannya sudah melayang. ia angkat tinggi tangan kanannya. kemudian selagi golok turun. tanda dari tenaganya yang besar. Bukankah pibu telah berakhir? Tapi justru itu. Jadi keduanya ada dari golongan Gawkang. bagaikan martil. dengan itu ia membabat kakinya si tua! ―Celaka!‖ berteriak orang banyak. mereka tidak memperdulikan seruan itu. Sampai disitu. Tapi itu belum semua. Kiranya mereka sama-sama membekal senjata. Satu kali si paderi dapat meraptakan diri. Si empe-empe berkelit. ia lantas menekuk. Maka dengan itu. untuk mengasih keluar sepotong thiephie atau ruyung besi. wajahnya guram. lincah gerakannya. dalam sengitnya. Melihat ia tidak dihiraukan. ia lantas awasi si nona baju merah. Dilihat dari roman. untuk angkat kaki! Kwee Ceng mengawasi Bok Ek. kepalannya menumbuk kepala licin mengkilap dari si paderi. ―Bagus! Bagus!‖ teriak orang banyak berulangkali. ―Apakah nona ynag mengadakan pibu untuk mencari jodoh?‖ ia menanya sambil ia memberi hormat. mendadak ia tarik keluar sebatang golok kayto dari dalam jubahnya. ―Tuan-tuan. ilmu Bagian Luar. ―Di sini adalah kota raja. Kwee Ceng pun tak terkecuali. ia mungkin telah berusia enam puluh hampir. berbareng dengan mana. tetapi. tapi berbareng dengan itu. Suara kelenengan itu datang dari rombongan itu. Ia berdiam tidak lama.‖ menyahut si nona. Si empek sebaliknya tenang tegar. Irawan D Soedradjat Page 176 Kongcu itu melihat bendera Pi Bu Ciauw Cin. segera ia balas menyerang. mereka dengar suara kelenengan kuda. untuk dikasih turun ke arah kepala lawannya. terus ia loncat dari kudanya. ia membuat golok kayto terpental tinggi dan dengan sambaran tangan ia rampas ruyungnya si empek-empek. jangan pandang usianya yang tua. Ia dapatkan si paderi bersilat dengan jurus-jurus Lo Han Kun dari ilmu silat Siauw Lim Pay. mereka pada mengundurkan diri setindak demi setindak. Hebat menyambar-nyambarnya golok kayto dan ruyung besi. yang diajak bicara.Pendekar Pemanah Rajawali Paderi ini menantang. ―Besok kita pulang ke selatan…‖ berkata dia dengan masgul. ia masuk ke dalam kalangan. keduanya menjadi bertempur. Si tua dapat menolong diri dengan berlompat berkelit. Dengan satu dupakan. Kapan Kwee Ceng telah melihat si koncu. tenaganya sebenarnya masih besar. kepalannya menghajar tiga kali beruntun. mereka menjadi kuncup hatinya. Si empek kuat sekali. tiba-tiba Bok Ek menyerbu. ia terima serangan tanpa berkelit atau menangkis. Kwee Ceng menonton. penonton hendak bubaran.

mari!‖ berkata si pemuda. ―Kami adalah orang kangouw. Sambil mendak.‖ ia menerangkan. ―Sampai sebegitu jauh sudah satu tahun lebih dan kami telah menjelajahi tiga belas propinsi. Si nona agaknya kagumi pemuda itu. ―Laginya ini bukannya cuma soal menang atau kalah. Untuk membebaskan diri. ―Apakah mungkin belum pernah ada orang yang dapat menangkan dia?‖ ia menegaskan. Bok Ek memberikan keterangannya. ia mengebut pula. ia tersenyum. maka itu ketika si kongcu datang dekat. Pemuda itu membalas hormat. Maka itu ia loloskan mantelnya. ―Tidak usah. ―Ah. untuk memberi hormat. kongcu bergurau!‖ berkata Bok Ek tertawa. Ia lantas merangsak. kongcu!‖ berkata si nona. mari. sebelah kakinya menjejak ke arah hidung si kongcu. supaya ia tidak hilang mukanya…‖ ―Silahkan. Adalah Bok Ek.‖ Pemuda itu mengawasi si nona.‖ menyahuti si kongcu. masa mereka berani bikin malu satu kongcu? Tentu si kongcu bakal dibikin mundur teratur. Sekarang ujung baju dari tangan kanan si pemuda yang menyusul menyambar. ―Sudah berapa lama sejak kamu mengadakan pibu ini?‖ ia tanya pula. ―Bagus!‖ berseru si kongcu. ia hanya berjumpalitan. ―Kalau begitu. ia hampirkan si pemuda untuk memberi hormat. Diam-diam girang hatinya Bok Ek. Para penonton pada berkata dalam hatinya.‖ berkata nona itu. Tiba-tiba ia memutar ke kanan. ―Aku yang rendah she Bok. ―Ah. ―Si nona lihay sekali. ia nyelusup di bawah ujung bajunya pemuda itu. turut bergerak. orang yang pandai silat itu sudah menikah atau ia sungkan beradu tangan dengan anakku. melengos. ―Kalau begitu. ―Silakan kongcu membuka dulu bajumu.‖ menjawab Bok Ek dengan sebenarnya. aku tidak percaya!‖ Ia tunjuki si nona. Aku minta kongcu sudi memaafkan aku. nona!‖ ia kata. orang ada sangat gesit. ini mengenai hari kemudian dari anakku. Pemuda itu tampaknya heran. ―Kenapa begitu?‖ si pemuda menegaskan. Di luar dugaannya. hendak aku mencoba-coba. ―Silakan mulai. mana berani kami beradu tangan sama kongcu?‖ menyahut Bok Ek. Kali ini kongcu itu sudah tidak sungkan lagi. Lagi-lagi ia memberi hormat. di dalam tiga belas propinsi. maka barenglah mereka diwaktu mereka menurunkan tubuh. maka si nona menjejak tanah untuk mencelat mundur. ―Sebabnya mungkin.‖ kata si pemuda. lalu tangan kirinya menyambar ke pundak si nona. menantang.Pendekar Pemanah Rajawali Nona itu dengan wajah bersemu merah. Ia tahu. belum pernah ia bertemu pemuda semacam ini. ―Bagaimana aturan atau syarat-syaratnya pibu perjodohan ini?‖ menanya si pemuda. Ia dapatkan orang. Ia bertindak ke tengah kalangan. muda dan tampan. Nona itu bukan melainkan berlompat mundur. hingga bajunya yang panjang dan tangan bajunya juga. tidak menunggu kedua kaki si nona keburu menginjak tanah. Irawan D Soedradjat Page 177 . yang menghampirkan pemuda itu. Sukar untuk menyingkir dari serangan susulan itu. Bok Ek tersenyum. ia tidak menyahuti. sebentar kau nanti merasai…‖ Tapi ada juga yang berpikir: ―Bok Ek ayah dan anak adalah orang kangouw. Terkejut si nona itu apabila ia menyaksikan gerakn orang yang luar biasa itu. Kongcu ada keperluan apa apakah?‖ ia menanya. kongcu itu lompat ke kanan.

Maka ada menarik akan menyaksikan baju indah si kongcu bagaikan bercahaya. untuk kamu menentukan kemenangan terakhir!‖ Kongcu itu bermuram wajahnya. hingga si nona manis lantas berada di dalam pelukannya. ―Kongcu sudah menang. ujung baju itu putus dengan menerbitkan suara nyaring itu. si nona bukan tandingannya. tolong kau lepaskan anakku. kongcu ini mulai menyerang. tapi ada juga yang menggerutu. nona itu rubuh terjengkang. . ia sekalian menolak seraya cekalannya itu dilepaskan. Setelah menyaksikan lagi sekian lama. sedang si kongcu kata di dalam hatinya. sungguh cocok apabila mereka menjadi pasangan hidup. si imam muda. Sekarang si koncu yang main berkelit. kongcu menang jauh daripadamu…!‖ Tapi orang lagi bertempur hebat sekali. Kwee Ceng pun kagum. mulai membalas menyerang. Tanpa berkata apa-apa. sudah tak usah kau melawan lebih lama lagi.‖ berpikir Kwee Ceng setelah ia menyaksikan terlebih jauh. Tapi sia-sia saja. Ia lantas berontak. Irawan D Soedradjat Page 178 Nona itu mendongkol. Bok Ek dan Kwee Ceng terperanjat. Ia bukan membuka dengan baik. ia malah terpeluk semakin keras. satu kongcu demikian lihay. Mereka itu sama-sama lincah. nanti aku lepas kau!‖ sahutnya. ―Kongcu. ketika tangan kirinya menyambar. Pemuda-pemudi itu berimbang usianya. Ia nampak semakin tampan. Ia tahu si nona bakal mengibas keluar. Cuma aku tidak tega…‖ Benar saja. Bercahaya wajahnya yang putih dan bibirnya yang merah.‖ ia minta. dan baju si nona seperti mega bermain. sebab si kongcu juga membetot. mereka tampan dan elok. ―Pasti jodoh mereka bakal terangkap…‖ Bok Ek pun girang melihat jalannya pertempuran ini. Si nona menjadi sangat malu. Karena ini tidak lagi ia benci si kongcu untuk kelakuannya di rumah makan baru-baru ini. malah ia lantas berseru: ―Anak Liam. Maka tidak ampun lagi. ―Lekas lepaskan aku!‖ ia minta. Dalam sengitnya. ia masih belum mau melepaskan pelukannya. Pemuda itu tertawa lebar. yang itu malam menempur aku. Melihat itu si nona. Ia menggunai tangan kirinya. Mereka tidak sangka. Itulah permintaann ceriwis. gampang sekali. sekarang ia mengharap-harap akan kemenangan si kongcu. maka robeklah bajunya. suaranya perlahan. ia hanya menyobeknya! Satu pengiring lari menghampirkan guna membantui meloloskan baju itu. si nona menjejak. Hanya. mereka pun pandai silat. silakan kau loloskan bajumu. tangan kiri si nona kena dicekal. tangannya mengibaskan baju rampasannya itu! ―Tunggu dulu!‖ Bok Ek segera kasih dengar suaranya. belum lagi tubuh orang mengnai tanah. ―Kau panggil engko padaku.Pendekar Pemanah Rajawali Penonton semua kagum. anginnya menyambar keras. Si nona dengan wajah merah. kedua tangannya bergerak. Bok Ek lantas maju. Sekarang terlihat kongcu ini dengan pakaian dalamnya dari sutera hijau muda yang indah. selagi si nona mengerahkan tenaganya. sampai tiba-tiba orang dengar suara ―bret!‖ robek. merangkul. malah untuk merapatkan saja sulit. ―Kongcu ini lebih lihay daripada In Cie Peng. Nyata si nona dapat menjambret ujung baju si kongcu dan ia menariknya. Kwee Ceng jadi berpikir: ―Ilmu silatnya dia ini mirip betul sama ilmu silatnya In Cie Peng. Si nona lantas lompat mundur jauh-jauh. untuk lihaynya si kongcu dan untuk kelincahan si nona. Pertandingan itu berjalan terus dengan seru. Apakah boleh jadi mereka berasal dari satu perguruan?‖ Sekarang si kongcu tidak mau mengalah lagi. tangan kanan si kongcu sudah menyambar. Orang banyak bertempik bersorak. Si kongcu tertawa. kancing-kancingnya jatuh di tanah.: ―Kalau sekarang aku hendak robohkan kau. menjadi suami-istri. yang pinggangnya dilibat dengan sabuk hijau. karena itu sukar untuk si nona membalas mendesak.

―Kau toh telah mengalahkan anakku!‖ ia kata. ia sendiri menghampirkan kudanya. seketika ia roboh di tanah. Sebab sepatunya telah terlepas. ia berontak sekuat tenaganya.Pendekar Pemanah Rajawali Kongcu itu melepaskan tangannya yang kanan. Kongcu itu pun tertawa. seraya ia putar tubuhnya untuk minta jubah sulamnya dari pengiringnya. Ini ada urusan seumur hidupnya manusia. ―Aku telah melepas kata. sepatu siapa ia masuki ke dalam sakunya. lantas saja berseru-seru. tapi ia menoleh kepada si nona yang ia awasi. ―Sepatu ini toh anakmu yang dengan suka sendiri menghanturkannya kepadaku. ia tunduk. mana bisa kita memandangnya enteng?‖ Kongcu itu melengak. ia tidak menghiraukan sikap ceriwis si pemuda. maka itu tubuhnya lantas mencelat ke tengah kalangan. maka pengiring itu berkoak kesakitan. Irawan D Soedradjat Page 179 .‖ ―Aku tidak sempat. tangannya mencekali sepatu orang. ia jatuh terduduk di tanah. manusia hina dina! Bayar pulang sepatu anakku itu!‖ Kongcu itu mengawasi. ia tertawa besar. dengan tangan kirinya ia cekal lengan kiri pemuda itu. tempo akhirnya ia bebas. ia raba kaos kakinya yang putih. tangannya melayang. ―Kami tinggal di Hotel Ko Seng di jalan utama kota barat. ―Anakku pun tidak nanti nikah dengan kau. yang ia bawa ke hidungnya! Melihat itu. ―Kau…! Kau…!‖ katanya kemudian seraya menuding. air mukanya sampai berubah. kedua tangannya digeraki berbareng. Bok Ek habis sabar. dengan begitu. beberapa penonton bangsa bergajul. Itulah jurus ―Ciong kouw cie beng‖ atau ―Gembreng dan tambur ditabuh berbareng. ―Kau kira kongcu kami ini bangsa apa? Kongcu kami bersanak dengan kamu orang kangouw tukang jual silat dari kelas tiga rendah empat bawah? Hm! Pergilah kau tidur dengan mimpimu di siang bolong!‖ Bukan main gusarnya Bok Ek. ―Ada apa sangkut pautnya denganmu?‖ Ia terus geraki tangan kirinya itu dan terlepaslah cekalannya Bok Ek. terus pingsan! Kongcu itu tidak ambil peduli kejadian itu. Ia tertawa. ―Baik!‖ serunya.‖ ia menyahuti. ―Mari kita pergi sama-sama ke sana untuk berbicara. maka itu tentu saja aku hendak jodohkan anakku ini denganmu. ia tertawa. ―Harum! Harum!‖ ―Kau she apa kongcu?‖ Bok Ek menanya. Bok Ek heran. ―Apakah yang hendak dibicarakan?‖ tanya kemudian.‖ berkata Bok Ek. ia injak sanggurdi denagn sebelah kakinya. tetap ia memegang tubuh di nona.‖ Kongcu ini berkelit sambil menjajak sanggurdinya. beberapa giginya rontok. ―Bukankah kita main-main dengan ilmu silat?‖ katanya. ―Akan aku adu jiwa!‖ berteriak ayah yang dipermainkan itu seraya ia lompat berjingkrak. untuk menaikinya. mulutnya mengeluarkan darah. terima kasih banyak!‖ Mukanya Bok Ek menjadi pucat. ia suruh lain pengiringnya tolongi pengiring yang terluka itu. Kongcu itu berdiri sambil tertawa haha-hihi. Nona ini penasaran. ―Jadi kau sengaja mengganggu kami?!‖ berteriak Bok Ek. tangan itu dipakai menangkis dan menangkap kaki orang. Pengiringnya si kongcu tertawa dingin dan menyela. ―Tidakkah itu sangat menarik hati? Tentang perjodohan. ―Tidak usah bicara lagi!‖ katanya.‖ berkata si anak muda. ia sampai berdiam saja. sembari tunduk. Kongcu itu tetap tidak mengambil mumat. Ia menjadi malu sekali. untuk menyerang kedua pelipis orang.

lalu ia lolos dari bahaya.‖ Bok Ek berkelit ke kanan. dua jari tangannya mencari pundak bagian yang kosong. dengan tidak kalah sebatnya. ―Kau minggir!‖ katanya sengit. terus ia tertawa.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau aku telag hajar roboh padamu. Para penonton berseru kaget. menyusul itu. ia hanya tidak menyangka semua serangan lawan sedemikian berbahayanya. lupa kepada tangannya yang sakit. akan mengasih keluar sebuah pisau belati dengan apa ia terus tublas dadanya sendiri. ―Habis kau mau apa!‖ ia menantang. ―Hari ini saku mesti mengadu jiwa dengannya. ―Bagaimana baru tepat?‖ Semua pengiring si kongcu tertawa ramai. lagi ia menyerang. ia tangkis tublasan itu. Kongcu itu lihay. Mereka pun tidak berani mencampur tangan. ia mendesak. ia membalas dengan sama hebatnya. agaknya dengan gampang saja ia mendak sedikit. kapan ia lihat anak muda kita. pada bagian belakang telapakan tangan. menyusul mana ia menarik tubuhnya. ia berseru. Tentu saja mereka menganggap itu lucu. Kongcu itu mengetahui orang seperti kalap. Bok Ek tarik lengan kirinya. sesudah mana dari samping. sahabat! Perbuatanmu ini tidak tepat!‖ Kongcu itu berpaling. sikap dan lagu suara itu telah diajoki kongcu mereka. Ketika lawan itu berkelit. Ia tidak lantas menginsyafi orang lagi permainkan padanya. Kwee Ceng melongo sebentar. atau aku tidak hendak berhenti!‖ Wajahnya si nona guram. ia tercengang. dilain pihak. maka sekarang ia terlukai anaknya itu. guna robekannya dipakai membalut lukanya. ia menyerang dengan tangan kanannya. Inilah pukulan ―Wie Hok Hong cu‖ atau ―Malaikat Wie Hok mempersembahkan toya‖. mencelat mundur. tidak kelihatan ia menarik pulang tangan kirinya atau tangan kanannya sudah melakukan penyerangan pembalasan. ―Halo. ia bertindak ke dalam kalangan. Irawan D Soedradjat Page 180 . Si kongcu miringkan kepalanya. Ia robek ujung baju si ayah. Mereka lihat roman orang yang ketolol-tololan. dan lagu suaranya pun beda dari lagu suara mereka. Cumalah mereka bisa mendelu saja. Bok Ek sudah lantas lompat untuk menerjang pemuda itu. semua penonton menjadi panas hatinya. ia memandang tajam kepada si pemuda. tidak ada yang berani membuka mulut. ―Jikalau aku tidak sudi nikahi dia?‖ dia tanya. Tiba-tiba tangannya merogoh ke sakunya. Adalah Kwee Ceng yang tidak dapat melihat terlebih jauh. menyambar kedua tangannya Bok Ek itu. sepuluh jarinya berubah menjadi merah semuanya. Para penonton menjadi mendongkol berberang berduka. maka ia tidak mau main acuh tak acuh lagi. dari situ ia menyerang pula. untuk mengejek. kau tentunya tidak bakal memaksa aku nikahi anakmu. bukan?‖ kata ia sambil tertawa. Bok Ek tolak mundur anaknya. mendadak saja kedua tangannya bergerak. untuk menolongi. Untuk membalas serangan dengan serangan. kali ini dengan kedua tangannya. guna melindungi mukanya. dalam sikap ―Touw in hoat jit‖ atau ―Nyelusup ke mega menukar matahari‖. Tangan kirinya itu telah diangkat ke depan mukanya. Kongcu ini terang selain ceriwis pun kurang ajar dan keterlaluan. dari berkesan baik mereka menjadi jemu dan membenci. ai memburu kepada ayahnya itu. tangan kirinya membalas menyerang perut dengan jurusnya ―Tok coa sim hiat‖ yaitu ―Ular berbisa mencari lubang. Bok Ek kaget bukan main. Tapi cuma sebentar saja. ―Kau harus menikah dengan baik-baik dengan nona ini!‖ ia menjawab kongcu itu. orang tua. ke arah kedua belah pipi. Kecuali bangsa bergajul. Sebab belakang telapakan tangan dari Bok Ek telah berlumuran darah! Si nona menjadi kaget berbareng gusar. ia tertawa haha-hihi. bahwa serangannya itu sangat berbahaya. Itulah salah satu jurus ―Eng Jiauw Kun‖ atau ―Kuku Garuda‖ dari ilmu silat Utara. sebab si nona tidak keburu membatalkan tikamannya. Selagi si kongcu hendak menaiki pula kudanya. maka dengan sebat ia berkelit. Inilah mereka tidak sangka. Kongcu itu tidak memandang enteng kepada musuh ini.

Kwee ceng tidak menjawab. Kwee Ceng ulur tangannya untuk mencegah. dia buka tindakannya yang lebar. hanya ia pun balik menanya. ―Siapa itu gurumu yang kedua?‖ tanya kongcu itu kemudian. hingga orang terlempar tubuhnya.‖ ―Habis. ia lompat kepada pemuda itu. sebelah kakinya menendang ke bawahan perut si anak muda. ―Kau sebenarnya murid siapa? Kau memanggil apa kepada Oey Yok Su dari pulau Tho Hoa To?‖ Kwee Ceng menggoyangi kepalanya. masa bodoh!‖ berkata itu pemuda yang lantas memutar tubuhnya. bicara denganmu sia-sia saja!‖ kata si kongcu. mencekal kedua nadi si kongcu. . ―Sebenarnya kau hendak main gila denganku atau bagaimana? dia tanya tegas kemudian. maka kenapa kau begini melit hendak mengetahui she dan namaku?‖ ia bertanya. dengan begitu. tahu ia bahwa anak muda ini baik hatinya dan berpihak padanya. untuk berjalan pergi. Ia berontak tetapi tidak berdaya. kau bayar pulang sepatunya si nona!‖ ia membentak. jangan kau ladeni dia!‖ dia berkata. Ilmu silat itu adalah untuk menangkap tangan lawan. dengan sebat ia tarik tangannya kongcu itu. ―Saudara kecil. tidak dapat aku memanggil mertua kepadamu. ―Aku sudah bilang. disamping ia mendongkol terhadap si kongcu. ―Ilmu menotok jalan darahku itu adalah guruku yang kedua yang mengajarkannya. siapa yang ajarkan kau ilmu menotok istimewa dari pulau Tho Hoa To it?‖ si kongcu masih menanya. ―Kalau begitu. Kwee Ceng menjadi habis sabar. ―Bukankah aku telah beri nasehat kepadamu untuk kau nikahi nona ini?‖ kata Kwee Ceng. di belakang hari ke mana lagi kau hendak mencarinya?‖ ―Eh. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng tidak menangkis atau berkelit. ―Eh. ia hanya mengawasi dengan tajam. ―Kau mau mampus?!‖ tanyanya. ―Kau gemar campur urusan bukan urusanmu!‖ ia berkata. Sajak tadi ia mendengari orang pasang omong.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau kau tidak sudi menikah dengannya. Sampai di situ. kenapa kau hendak pergi pula?‖ ia menanya. kau tinggalkan she dan namamu!‖ Kongcu itu berpaling. 181 Kongcu itu terkejut berbareng gusar. ―Apakah kau tidak lihat itu merek bendera yang menjelaskan pibu untuk pernikahan?‖ Kongcu itu tidak menjawab. ia tertawa. ―Habis kenapa?‖ kata si kongcu lagi. kenapa kau tidak sudi menikah dengannya? Jikalau kau tidak hendak menikah sama nona macam vegini.‖ menjawab Kwee Ceng. Ia telah gunai salah satu tipu dari ilmu silat Kim-na-ciu. yang semuanya terdiri dari tujuh puluh dua jurus. ―Bukankah kau menaruh hati kepada nona itu?‖ ―Bukan!‖ jawab Kwee Ceng. ―Nona ini cantik dan ilmu silatnya pun sempurna. apa perlunya kau maju dalam pertandingan?‖ Kwee Ceng tanya. ―Asal nyawaku masih ada. yang menggeleng kepalanya. ―Sebenarnya kau hendak membayar pulang sepatu itu atau tidak?‖ Dengan mendadak saja anak muda ini menggeraki kedua tangannya. ―Aku tidak tahu Oey Yok Su itu orang macam apa. ―Siapa guruku. sakit hati ini tidak dapat tidak dilampiaskan!‖ Terus ia kata dengan suara nyaring: ―Anak muda. Ia Cuma merasa orang masih terlalu muda dan belum mengenal dunia. ―Baiklah. Kongcu itu tertawa dingin. Bok Ek hampairkan ini anak muda. kau tidak mengerti urusan. ―Aku tidak mau memberitahu‖ jawab Kwee Ceng pula. Kongcu itu menatap. ia bebsa dari tendangan orang itu. tak dapat aku beritahu padamu!‖ ia jawab.

ia menjadi gusar sekali. baik kau pulang dulu untuk belajar lagi sama gurumu sedikitnya buat duapuluh tahun!‖ ―Lihat kepalan!‖ ia berseru sambil menyerang. walaupun ia terhajar hebat. tidak sampai ia mencium tanah. bocah?‖ ia berseru. akan tetapi ia dipaksa menyerahkan sepatu si nona. jubahnya itu dilayangkan sekali. ia melakukan pembalasan. Justru itu dua kali iganya kena dihajar. ―Dengan kepandaian begini kau hendak mencari balas untuk orang lain?‖ ia mengejek. ―Kau sudah bosan hidup. semuanya cepat dan hebat. ia menggeleng kepala. Bagus untuknya. pemuda kita merasa kegelapan mata. Ia menjadi gusar sekali. Kwee Ceng mengawasi. akhirnya cuma sebegitu saja sikapnya. Pangeran Wanyen Kang Kena dihajar secara demikian. ―Hm. Karena ini keduanya menjadi terpisah. Kwee Ceng menangkis. ia sadar akan dirinya. Kongcu itu tepuki kempolannya yang penuh debu. dipakai menungkrap kepala orang. ―Apakah kau hendak pergi?‖ menegur Kwee Ceng seraya menyambar jubah orang itu. Kongcu itu menjadi repot. Ia menjadi kaget dan mendongkol. ―Kau tidak mau nikahi dia. kau bayar pulang sepatunya itu!‖ Orang banyak menyangka pemuda ini hendak membelai keadilan. itu cocok dengan keinginannya.Pendekar Pemanah Rajawali Kongcu itu enteng sekali tubuhnya. atau ia menjadi kaget. ia dapat menendang terus-terusan sembilan kali. Kongcu itu kena tertendang. Inilah pelajaran yang ia wariskan dari Ma Ong Sin Han Po Kie di Malaikat Raja Kuda. Kwee Ceng lantas aja singkirkan jubah sulam yang menungkrup kepalanya itu. Mereka yang gemar menonton menjadi kecele. karena berberang ia berkelit. maka tidak membuat tempo lagi. ia tak sampai tertendang roboh. ia Cuma terpelanting. bahwa orang tidak ingin berkelahi. ia tidak terluka. lalu perlahan-lahan ia melihat perubahan. Tidak sempat ia mengempos semangatnya. maka dia segera maju seraya tangan kirinya dipakai menyerang ke pundaknya si pemuda. Tujuh tendangan ia bisa kasih lolos. Dalam pada itu. Tiba-tiba saja ia merasakan sakit pada dadanya. dengan tendangan beruntun Wanyoh Lian-hoan-twie. Hanya sampai sebegitu jauh. telah mengenakan kempolannya kiri dan kanan. ia telah kalah satu babak. ia memutar tubuh. sudah saja. tidak patah tulang-tulang rusuknya. Karena ini ketika ia didesak. Hanya dengan begitu. walaupun ia telah terlempar. ―Buat apakah aku bertempur denganmu?‖ ia berkata. Irawan D Soedradjat Page 182 Kwee Ceng tidak menyahuti. Kwee Ceng gelagapan. Pertempuran itu merupakan satu pengalaman luar biasa untuknya. Ia merasa asing untuk kelakuan curang. selama dua tahun ia telah peroleh latihan tenaga dalam dari Tang Yang Cu Ma Giok. mereka tidak ayana. mulutnya mengasih dengar tertawa dingin. Si kongcu lantas menggunai ketikanya. dengan mengasih dengar suara ―Bruk!‖ ia roboh memegang tanah! Semua pengiringnya si kongcu lantas bertepuk tangan dan tertawa. ia hanya menjalankan napasnya. ia tertawa tawar. tetapi yang kedelapan dan kesembilan. Syukur untuknya. ia cuma merasakan sangat sakit. . sebab si kongcu sudah tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu. Kongcu ini jeri juga terhadap Kwee Ceng. ia berklit dan berlompatan tiada hentinya. dengan ilmu mana Han Po Kie pernah robohkan beberapa jago dari Selatan dan Utara. ia kewalahan. Mulanya di Mongolia ia menghadapi orang-orang jujur. Bab 17. maka dalam sekejap saja. maka tempo kakinya disambar. Kwee Ceng belum mendapatkan kesempurnaannya. Ia berkelit. ia cuma terjerunuk. mana dapat ia mengalah: Tidakkah ia berada di hadapan orang banyak? Maka itu seraya menyingkap jubahnya. hingga ia merasakan sakit di dadanya itu berkurang. Ia berlompat bangun kapan ia lihat orang kembali hendak ngeloyor pergi.

Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu. Tiba-tiba ia ingat bahwa ia tidak bermusuhan sama si kongcu. ia hendak mengerahkan tenaganya. yang tangannya menolak keras. Ia tahu. Selama tujuhpuluh jurus. Menampak demikian si kongcu menggunai akal. ia bisa dapat susah. ia menjadi gusar sekali. awas!‖ ia berseru seraya menyerang. Ketika ini digunai si kongcu. maka itu. Tidak dapat Kwee Ceng bertahan. untuk memegang tangan orang yang kanan itu. ia lantas menyerang. malah tinjuan itu dilakukan saling susul hingga tiga kali. ia ditertawai sekalian pengikut si kongcu. jangan kita layani segala manusia hina!‖ Kwee Ceng roboh dengan mata kabur dan kepala pusing. Maka itu mereka menjadi berimbang. Bok Ek jadi merasa tidak enak hati. Ia pun kata: ―Lao-tee. ia rubuh ngusruk. ia membela diri dengan berlaku hati-hati. hanya setelah itu. ipar. Habis itu. Ia sudah terjerunuk melewati lawannya. kongcu itu berkelit. ―Tolol.Pendekar Pemanah Rajawali Dengan mendak. dengan menggeser pinggangnya. buat terus ditarik dengan kaget sambil berbareng kakinya dipakai menjejak paha si pemuda. Si kongcu sendiri merasa lucu berbareng mendeluh. kau masih belum takluk?‖ berkata si kongcu. Kwee Ceng tidak tahu lawannya lagi memancing. jangan salahkan aku berlaku kejam!‖ kongcu itu mengancam. tangan kirinya menyambar ke muka orang. Kwee Ceng menyedot napas. Maka tidak ampun lagi. mati kita pergi. ia cuma mendongkol. Kali ini pemuda ini berlaku waspada. romannya ketolol-tololan. dalam keadaan sulit itu. untuk mencari kemenangan. ―Eh. lalu ia membalas. ―Bukankah nona itu bukan adikmu?‖ ia bertanya. ia ingin membalas. dengan cepat ia mencelat bangun. tenaga dalam Kwee Ceng terlatih besar tetapi si kongcu menang latihan ilmu silatnya. Kwee Ceng melawan. Pertempuran seru itu ditonton semakin banyak orang. Ia juga berkhawatir untuk Irawan D Soedradjat Page 183 . pemuda itu bukan lawan si kongcu. Itulah cacian di antara orang Pakhia. dari itu. mendapatkan tiga kali Kwee Ceng roboh. ―Aku tidak kenal dia. ia lantas geser incarannya ke sisi sasanan semula. ia lepaskan diri dari tangan Bok Ek. mereka menjadi bergumul pula. yang menangkis dengan tangan kiri. tubuhnya sekalian diputar. ―Kau pulangi sepatu orang!‖ bentak Kwee Ceng. Kongcu ini pernah juga menyakinkan Hun-kin Co-ku Ciu hanya pelajarannya beda daripada pelajaran Kwee Ceng yang didapat dari Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong. keduanya bertempur terus. ―Kalau tidak. ia didesak oleh si pemuda yang bersilat dengan ―Hun-kin Co-kut Ciu‖ yaitu ilmu silat untuk memisah otot-otot dan tulang. sudah membarengi menyerang dengan tangan kanan kanan ke arah pinggang. kakinya dibarengi dipakai menendang dada lawannya. ―Kau pergi!‖ berseru si kongcu. Kwee Ceng tidak menyahuti. sedikitnya ia bakal diseret ke kantor pembesar setempat. tetapi ia tidak tahu. maka setelah dikasih bangun. untuk mengasih bangun. ia maju pula. Ia tahu sekarang. ia lantas maju. mereka berimbang dengan ketangguhannya. Si kongcu menangkis. ia kalah pandai tapi ia bersemangat. tubuhnya terhuyung ke depan. aku tidak mau mengerti!‖ Kongcu itu tertawa melihat orang berkukuh. kalau datang polisi. maka kewalahan juga si kongcu. siapa bilang dia adikku!‖ Ia gusar sebab kongcu itu ejek dia sebagai toaku. ia menangkis dari belakang. Kedua tangan lantas bentrok. Ketika ia bisa menahan dirinya. Tiba-tiba ia rasai tenaga lawan lenyap. hanya ia merangsak. untuk menyerang. Kongcu itu dapat berkelit. tidak lagi ia kena dipancing. Karena dicaci begitu. Lukanya telah dibalut rapi oleh putrinya. Bok Ek menonton dari bawah benderanya. ―Jikalau kau tetap ganggu aku. dari belakangnya datang serangan. tetapi sikutnya mengenai tanah. mereka saling menolak. seraya mundur. Ia berlaku sangat sebat. ―Kenapa kau seperti hendak mengadu jiwa memaksa aku menjadi toakomu!‖ ―Kurang ajar!‖ mencaci Kwee Ceng. Kelihatan nyata. Maka adalah diluar dugaannya ketika si kongcu. yang menang seurat. Ia hendak menotok jalan darah hian-kiehiat. selagi begitu ia masih tetap menolak. pemuda itu terguling jatuh. tak sempat ia menahan dirinya. Kwee Ceng berkelit.

Dia berdiri tegar hingga ia melebihkan tingginya semua orang. Suara itu nyaring. i antara siapa ia tampak beberapa yang matanya tajam dan air mukanya luar biasa. ―Bocah ini adalah muridnya Kanglam Cit Koay.‖ Bok Ek pandang ornag itu. pangeran muda dan pangeran. tubuhnya sedang saja. Si rambut putih tertawa. jubahnya merah dan gerombongan. Si rambut putih tertawa. ―Pheng Ceecu benar. dia tentu bukan satu gurunya. Orang yang ketiga bertubuh kate dan kecil. Dia pun bermata tajam. hingga beberapa orang disampingnya menjadi terkejut. benar juga. ―Leng Tie Siangjin.‖ sahut si kate kecil itu kemudian. kecewa kalau itu tidak dipertontonkan di muka orang banyak. bencana akan datang kalau sampai siauw-ongya itu terluka. yang matanya bersinar. sia-sia saja beberapa kali siauw-ongya menyerang padanya. saudara Nio. ada yang bertaruh untuk siapa yang bakal menang. Si ubanan sudah lantas mengawasi kedua anak muda yang lagi bertempur itu. Maka juga. ―Kelihatannya kepandaiannya itu kacau. apa benar mereka masih hidup?‖ Selagi Bok Ek berpikir. ―Umpama kau sendiri. coba bilang. kenapa kau juga berada di istana ongya?‖ Si kate kecil itu mengangguk. diantara mereka itu ada tiga orang yang menarik perhatiannya. Yang satu adalah satu pendeta bangsa Tibet. ―Haouw Laotee. kau lagi uji mataku. Dia tersenyum. kopiahnya disalut emas.‖ ―Sungguh begitu.‖ berkata satu pengiring. coba lihat. ―Siauw-ongya lebih lihay daripada lawannya itu!‖ Orang ini kate dan kecil akan tetapi suaranya mengejutkan. hanya mukanya bercahaya segar. Orang yang kedua sudah lanjut usianya. Dia tentu tidak senang ada orang yang membantu padanya…‖ ―Eh. Ia dapatkan Kwee Ceng berubah silatnya.Pendekar Pemanah Rajawali banyaknya orang. segera ia lihat. matanya mencorong tajam. kau ke sini!‖ Dia pun menarik keluar sebatang kongce atau cagak dari dalam sakunya. Haouw Laotee. di jidatnya ada tiga tahi lalatnya. Kalau begitu. hingga mereka lekas-lekas melengos. Ia kata di dalam hatinya: ―Dia memanggil Pheng Ceecu. ―Baik kau maju dan hajar bocah itu.‖ berkata seorang di pinggiran. yang bicarakan silat kedua anak muda itu. Karena romannya yang luar biasa itu. tukang jual silat ini terkejut hatinya. bukan?‖ ia berkata.‖ berkata si kate kecil. Dengan perlahan-lahan Bok Ek menggeser ke tempat pengiring-pengiringnya si kongcu. itulah ilmu silatnya kaum agama Coan Cin Kauw. semua pada berpaling memandang dia. Kau biasa menjagoi di dua propinsi Shoatang dan Shoasay. tubuhnya besar. ―Ilmu silat siauw-ongya itu ada dari partai mana?‖ Kali ini ia berbicara dengan perlahan. ada juga yang membekal senjata. tak bisa diduga usianya yang tepat. Irawan D Soedradjat Page 184 . dan tidak keriputan. Adalah si rambut ubanan yang berkata sambil tertawa: ―Paling juga kakimu dikemplang patah! Mustahil ongya hendak mengehndaki jiwamu?‖ Bok Ek terperanjat. dari partai mana asalnya ilmu silat si bocah itu?‖ ia tanya. dia tidak menjawab. dia pun berkata: ―Siauw-ongya telah belajar ilmu silat belasan tahun. sungguh aneh!‖ kata si kate kecil itu. mukanya pun bersinar merah. Tidakkah di antara pengiringpengiringnya si siauw-ongya adalah orang-orang yag gagah dan lihay?‖ ―Jangan takut!‖ berkata si orang kate dan kecil. Di sebelah mereka. ―Haouw Laotee. ―Kalau mataku tidak salah. ialah gerakannya jadi ayal tapi tubuhnya terjaga rapat. yang mukanya kurus dan sinarnya biru. sebab rambutnya sudah putih semua. mungkinkah si kate kecil ini adalah kepala berandal? Nama Kanglam Cit Koay sudah lama tidak terdengar. Orang disebutnya siauw-ongya dan ongya. mengawasi mereka. hilanglah jiwa kami semua…‖ Itulah se pendeta Tibet yang ditegur. si muka biru dan kurus itu sudah berlompat maju ke tengah kalangan seraya ia berseru: ―Hai bocah. kalau mereka bertempur terus dan siauw-ongya salah tangan hingga ia terluka. ―Bukankah kaum Coan Cin Kauw itu bangsa aneh? Kenapa mereka justru mewariskan kepandaiannya pada siauw-ongya…?‖ ―Ongya pandai bergaul. siapa saja tak dapat ia undang?‖ kata pula si rambut ubanan itu. nampaknya sangat gesit.

ia heran atas itu suara bentakan. Mukanya Hauw Thong Hay. ―Bagus perbuatannya. membuatnya orang banyak saban-saban tertawa riuh. menoleh dan mengejek. terlihatlah datang memburunya tiga orang yang napasnya tersengal-sengal. ia khawatirkan keselamatannya Oey Yong. untuk membantu Kwee Ceng. ia sudah lantas kena ditendang si kongcu. pada pipinya yang kiri dan kanan. tapi ia segera bersiap. tanda arang hitam. memanggilnya Som Sian. tiba-tiba ia tampak sahabatnya itu lari mendatangi. sepatu kulitnya diseret hingga berisik kedengarannya. dan anak-anak yang lagi nangis. tidak tampak. Kelakuan Hauw Thong Hay itu. dari partai Cong Gee. ketua dari partai Tiang Pek Pay dari Gunung Tiang Pek San. Ia nyelusup sana dan nyelusup sini di antara orang banyak. ia mengejar. aku Sam-tauw-kauw tidak sudi menjadi manusia!‖ Thong Hay sesumbar. kapan ia lihat siapa yang dikejar Thong Hay.kangzusi. di antara siapa ada satu anak muda yang tubuhnya kurus lemah. kalu ditakut-takuti. Dewa Jinsom-Siluman Tua. Segera juga orang banyak tertawa riuh. ai terkejut. ―Tahan dulu!‖ ia berseru seraya lompat keluar kalangan. segera aku kembali!‖ ―Lebih baik kau mengaku kalah!‖ mengejek si kongcu. semuanya tajam. ―Mari! Mari!‖ Oey Yong menantang. Irawan D Soedradjat Page 185 . Dalam saat itu. yang dipermainkan Oey Yong. keistimewaannya ialah ilmu Tay-ciu-in. Pemuda dengan pakaian tidak karuan itu adalah Oey Yong. paman gurunya Hong Ho Su Koay. sahabat barunya. ―Jikalau aku tidak berhasil menggeset kulitmu dan mematahkan tulang-tulangmu. sekalipun wanita umumnya kenal namanya itu. Thong Hay mengejar terus. Julukan ini harus dipecah dua: Siapa yang menghormati dia.‖ ia pikir. Di belakangnya tampak Thong Hay tengah mengajar tengah mengejar. sinarnya berkilauan. Di selatan www. sinar itu ditimpali tiga gelangnya yang bergerak dan berbunyi nyaring setiap kali digeraki. Kwee Ceng sedang bertempur. Song-bun-hu Cian Ceng Kian. yang ia tinggalkan lalu ia berdiri diam.com dan utara Sungai Besar. dia hanya maju ke antara orang banyak. menyebabkan rombongannya Leng Tie Siangjin memperbincangkannya. Dan orang ynag matanya tajam bagaikan kilat itu adalah orang ynag sangat terkenal di Tionggoan. dan siapa bukan orang-orang partainya. ia diikuti empat orang lainnya yang bukan lain daripada Hong Ho Su Koay. setelah datang dekat. yang pakaiannya compang-camping. Merekalah tiga Siluman dari Hong Ho. Kelakuannya ini. Terang sudah dia telah kena ditampar oleh lawannya yang licin itu. ―Aku hendak pergi sebentar. hingga ia dijuluki Som Sian Lao Koay. tetapi justru ia hendak melompat lari. Itu waktu barulah Kwee Ceng menginsyafi bahwa sebenarnya Oey Yong itu lihay ilmu silatnya. ada yang berteriak. Kongce itu ada cagak tiga. kapan anak itu dapat lihat dia. bahwa ialah yang selama di hutan cemara Hek-siong-lim di Kalgan sudah menggantung Hong Ho Su Koay di atas pohon dan memancing kepada Hauw Thong Hay. selalu dapat ia kelit tubuhnya.Pendekar Pemanah Rajawali Orang banyak terkejut. berulang-ulang ia tikam bebokong orang yang ia kejar itu! Oey Yong sangat lincah. ialah Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. Dewa Jinsom. menyebut ia Lao Koay. Oey Yong menanti sampai orang sudah datang dekat. kawannya yang ubanan tapi mukanya tampak segar bagai muka anak kecil. si Siluman Tua. Bok Ek pun tidak kurang kagetnya. pikirannya lagi kusut. Tapak Tangan yang lihay. Siluman yang keempat. Pembunuh Sribu Tangan. mulutnya mencaci kalang kabutan. Hauw Thong Hay bukan menyerang Kwee Ceng. ditimpali sama kalapnya Thong Hay. di bawah cahaya matahari. Ia tetap awet muda sebab sejak masih kecil ia doyan makan jinsom serta lainnya pohon obat. Tentu saja ia tidak kenal si orang ini. julukannya Cian-ciu Jin Touw. Karena ini. Leng Tie itu adalah paderi dari Tibet. dibelakangnya. tapi senjata itu tidak dihiraukan Oey Yong. ―Peng Lian Houw datang!‖ tentulah berhenti tangisnya. setiap kali ia dapat pisahkan diri jauh-jauh dari lawannya. namanya Pheng Lian Houw. Kwee Ceng tidak berniat berkelahi terus. kembali ia lari. Dia pun terus tertawa. tangannya menggapai berulang-ulang. Ia berteriakan. tambah tanda tapak lima jari tangan. untuk angkat langkah panjang. dia menjerit ―Ayo!‖ seraya terus memutar tubuh. adalah Nio Cu Ong.

yang tertutup rapat. aku senang bermain-main. Dari dalam joli. apakah aku sudah pikun? Sungguh gila untuk memikir yang tidak-tidak…‖ Tidak dapat ia lantas melenyapkan pikirannya itu. Hauw Thong Hay sebaliknya. belum kebeuru mereka berangkat. suara yang halus: ―Kenapa berkelahi? Baju luar pun tidak dipakai! Nanti masuk angin!‖ Bok Ek dapat mendengar tegas sekali suara itu. yang menjadi penonton. Tiba-tiba ia tertawa sendirinya. Kembali si Bok Ek terperanjat. Semua orang banyak. Segara juga joli telah sampai di lapangan pibu. aku memikir kepada istriku. hingga si penjual silat ini tak dapat mendengarnya dengan tegas. yang satu bersenjatakan tombak. lari mendatangi dengan napas memburu. ―Rewel!‖ ia menggerutu. si wanita masih mengucapkan beberapa kata-kata. ia hampirkan Kwee Ceng untuk dihiburkan. ―Ibu. hatinya tercekat. dengan apa mukanya si siauw-ongya disusuti. ia menjadi diam sambil berpikir keras. Ia berpikir pula: ―Orang ini adalah onghui dari negeri Kim. mereka sudah dengar ramainya tindakan kaki serta berisiknya gelang konce. Tangannya Oey Yong sambil mengibar-ibarkan dua potong kain. ―Tidak apa-apa…‖ ―Lekas pakai bajumu. untuk singkirkan peluh dan debunya. lalu terlihat Oey Yong berlari-lari kembali dengan tetap dikejar oleh Hauw Thong Hay. Dipihak lain. yang lainnya ruyung. telah aku dengar nama besar dari Kwie Bun Liong Ong. telah berhenti. Oey Yong dan Hauw Thong Hay saudh lenyap pula. ―Ong-hui datang! Ong-hui datang!‖ pengikut-pengikutnya si siauw-ongya berseru berulang-ulang setelag mereka melihat joli itu. Siauw-ongya telah robohkan Kwee Ceng lima-enam kali. Menyausul rombongan hamba-hamba galak itu. mereka menjadi tertarik untuk menonton terus. ―Kenapa suara ini sama suaranya orangku ini?‖ katanya di dalam hatinya. sering mereka ―bekerja tanpa modal‖.Pendekar Pemanah Rajawali Berkatalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong: ―Selama aku di Kwan-gwa. Ketika mereka ini datang dekat. mereka lantas dengar bentakan-bentakan riuh yang datang dari arah barat. orang banyak itu lantas saja mundur ke kedua pinggir jalan. yang terus berdebaran. yang halus dan perlahan. dari dalam joli diulur keluar sebelah tangan yang putih dan halus. untuk beristirahat. sampai satu bocah pun dia tidak sanggup layani?‖ Pheng Lian Houw mengkerutkan keningnya. Dia bersahabat erat dengan Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian si Raja Naga Pintu Iblis. maka ia bertindak. onghui ialah selir seorang pangeran atau raja. bahwa ia lihay sekali. Siauw-ongya lantas mengerutkan keningnya. hingga kelihatan baju dalamnya yang putih. ―Siapakah telah pergi membawa berita kepada ong-hui!?‖ Tidak ada berani ynag menjawab. Bok Ek telah kasih turun bendera Pie-bu Ciauw-cin. pangeran muda. lantas terdengar suaranya seorang wanita. kenapa adik seperguruannya ini begini tidak punya guna. Maka itu. dengan sapu tangannya. pertempuran di antara Kwee Ceng dan si siauw-ongya. Irawan D Soedradjat Page 186 . maka kenapa hari ini orang she Hauw itu jadi demikian tidak berdaya? Selagi Oey Yong permainkan Hauw Thong Hay. Suara itu seperti mengaung di kupingnya. yang mereka usir pergi. mari kita pulang bersama!‖ kata si onghui kembali. Tapi. dia sangat letih. Mungkin si saiuw-ongya ditegur dan dihiburi oleh onghui ini. Kebetulan itu waktu. Justru itu. Jauh di belakang mereka terlihat Gouw Ceng Liat serta Ma Ceng Hiong. ia susuti peluhnya. untuk mendekati joli indah itu. tangan dan kakinya dirasakan ngilu. sembari berbuat begitu. dia bungkam. yang memegang sapu tangan putih. dengan cambuk di tangan. heran berberang merasa lucu. terlihatlah enam orang menggotong sebuah joli besar yang indah. dia pun berdahaga dan lapar. semua pengikut maju untuk memberi hormat. pakiaannya menjadi tidak karuan macam: Baju di dadanya robek putus. ―Benarkah di kolong langit ini ada dua orang yang suaranya sangat mirip satu dengan lainnya?‖ ia menanya dalam hatinya. dan ia tahu baik Houw Thong Hay lihay.‖ terdengar suaranya pangeran muda itu. kepada orang banyak. lagi menyerang kalang-kabutan ke kira dan ke kanan. lalu mereka tampak belasan orang polisi serta pengiring. untuk diajak pulang ke penginapannya.

―Jangan! Jangan berkelahi!‖ onghui berseru mencegah. habis mana. lawannya yang lincah dan licik itu. sinar mata itu ayu sekali. Selagi bertempur. lalu dilemparkan saling susul. maka kali ini. Ia bertubuh kuat. ilmu menangkap yang terdiri ari tujuh puluh dua jurus. ibu . Mereka jadi semakin sengit berkelahinya. ia menjadi ulet sekali. Maka itu. ini hari aku mesti labrak dia ini!‖ Setelah belasan jurus. Siauw-ongya menjadi gusar. tangan kirinya membangkol tangan lawan itu. satu kakinya menyapu. untuk menangkap lengan orang. Kwee Ceng lantas terdesak lagi. Kwee Ceng dirobohkan dua kali. lengan Kwee Ceng kena dihajar satu kali. Mengawasi mata orang itu. parasnya pun pucat.Pendekar Pemanah Rajawali Satu pengiring menjumput jubah sulam dari siauw-ongya. ia dapat melihat satu wajah dengan sepasang mata jeli dan rambut yang bagus. rupanya ia hendak banggakan kegagahannya di depan ibunya. ia rampas cambuk orang itu. Karena ini Leng Tie Siangjin dan Nio Cu Ong lantas menyiapkan senjata rahasia mereka. tetapi tempo mereka mulai menyerang Kwee Ceng. 187 . Oey Yong dan Thong Hay telah berlari-lari balik. satu demi satu. ―Kau masih berani main gila?!‖ tegurnya. dengan begitu berarti. onghui sampai berparas pucat. terus ia membalas meninju. Orang senang melihat kejadian itu. maka ia lantas terdesak. Kwee Ceng berkelit. Thong Hay hendak menjual kepalanya itu! Ia hanya tidak tahu bahwa ia telah dipermainkan oleh Oey Yong. Terhadap ibunya. Itu waktu. lalu tangan kanannya diteruskan untuk memegang leher lawan. Atas itu. ia dapat melayani pukulan berulang-ulang kepada tubuhnya itu. untuk menolong apabila siauw-ongya benar-benar terancam jiwanya. sebelah tangannya diangkat. Belasan serdadu maju. mungkin mereka telah kena dirobohkan pemuda itu. separuh mukanya keluar dari tenda. yang tangannya mencekal cambuk. sebaliknya mereka merasa. Satu kali Kwee Ceng menyambar ke muka siauw-ongya itu. sembari berkelahi. Bok Ek tidak pedulikan segala apa disekitarnya. Nio Cu Ong bertiga menjadi heran. dia bukan menyerah kalah. untuk menolongi kawannya itu. ia membalas membangkol dan memegang leher lawannya itu. ada ditancapkan cauw-piauw atau tanda barang hendak dijual. Siauw-ongya berkelit. sepasang matanya terus diarahkan kepada joli indah itu. dengan tangan kanannya. Inilah tidak heran sebab ia hidup di tanah gurun. lalu ia membalas memukul paha siauw-ongya. ia tidak dapat dirobohkan pula. kau telah bikin kotor jubah ini!‖ Satu pengiring lain. ia tendang itu anka muda. Dengan begitu. ynag tadinya numprah di tanah. ia pandang Kwee Ceng dengan bengis dan memdamprat: ―Binatang cilik! Lihat. Di belakang mereka tidak tertampak dua Siluman. malah ia seperti termanjakan. untuk merabu otot dan tulang musuh. mengawasi kedua anak muda yang lagi bertarung itu. berbareng dengan mana. Bok Ek berdiri menjublak bagaikan patung. terus saja menghajar ke arah kepala si anak muda. Siauw-ongya terkejut. Selama itu. Oey Yong itu sebenarnya orang macam apa. ia maju. ia termanja. Ia pun menang ‗kang-lat‘ atau tenaga latihan. mereka ditangkap si anak muda. Tapi Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu. berlompat bangun. tidak dapat tidak. sekarang di rambutnya Sam-tauw-kauw. Maka tempo tenda tersingkap. Sebaliknya siauw-ongya biasa hidup di istana. pengiring itu roboh terguling. ia menyahuti: ―Tidak. ia menjadi lebih kosen. Makin lama Kwee Ceng makin gagah. sungkan mereka mengepung Kwee Ceng. ―Siapa suruh kau menganiaya rakyat jelata!‖ ia menegur. bisa mereka mencegah Kwee Ceng menurunkan tangan jahat terhadap si pangeran muda. yang satu hendak mematahkan tangan. Ia terus lompat. lalu ia menyerang. Kwee Ceng mendahulukan. atas mana. Maka keduanya menjadi berkutat. berbareng dengan itu. Kwee Ceng berkelahi dengan ilmu silat Hun-kin Co-ku-hoat. Ia berkelahi terus. dua kali ia kena dibikin memegang tanah. Mereka adalah orang-orang tua yang kosen. Putrinya Bok Ek. Irawan D Soedradjat Page Semua orang kaget. sembari berbuat begitu. Kwee Ceng berkelit. ia membentur sikut kanan si pemuda agung. kedua-duanya saling terancam hilang jiwa atau terluka parah. hingga mereka menduga-duga. ia kalah ulet. untuk tolongi dua serdadu yang dilemparkan paling belakang. Ular Naga Kepala Tiga itu. kapan perlu. yang lain hendak mencekik. siauw-ongya itu berkelahi dengan hebat sekali. keduanya jadi bertempur lagi. siauw-ongya itu agaknya tidak takut. siauw-ongya sebaliknya dengan Kim-na-ciu. guna dipakai menyabet hingga tiga kali. Tidak ampun lagi.

Kedua tangannya menyambar tanah. ia dapat mainkan itu dengan baik. Keras pukulan itu. kurang tepat untuk Kwee Ceng. lebih-lebih ia tahu. Kwee Ceng merasakan telapak tangannya sakit. ia tidak terbanting. tapi ia didesak. meskipun Kwee Ceng hanya bergenggaman tiang bendera. yaitu ilmu tombak Keluarga Yo. hanya kebutan itu tinggal sepotong. Tetapi Lian Houw tidak diam saja. sepotong yang lain masih melibat ditangannya Lian Houw. Nona Bok pun memperhatikan jalannya pertempuran. Ia nyata telah menggunai ilmu silat bangsa Mongolia. Belum sempat ia memandang orang. hingga serangan itu batal. mental ke udara. ia lompat mundur. Ia berkelit dengan cepat. Diakhirnya terdengar teriakannya onghui: ―Berhenti! Berhenti! Jangan berkelahi lagi!‖ Karena nyonya agung itu mendapatkan putranya telah bermandikan keringat. lagi dua kali. begitu keras. Pheng Lian Houw berpaling kepada si pangeran muda dan berkata sambil tertawa: ―Siauw-ongya. dia lompat. Siauw-ongya dilemparkannya. setelah mana. ynag bersilat denagn tipu Hang Mo Thunghoat. Hek Pian-hok Kwa Tin Ok si Kelelawar Hitam. sesudah mana ia berlompat bangun. ia menyambar kedua kaki lawannya itu. ia lantas saja kena didesak hingga ia mesti selalu membela diri. dengan cepat ia ayun tubuhnya itu. ia sudah berdaya. segera ia menikam Kwee Ceng. akan aku bereskan dia ini. Nyata muka Kwee Ceng kena digaplok. ia berguling hingga ke dekat tiang bendera Pibu Tiauw-cin. lengannya kena terhajar. jubahnya warna abu-abu. terpaksa ia kembali bergulingan. yang terus saja melibat tangannya si orang she Pheng itu. ia sambar tiang itu. Ia terus mengawasi pada Lian Houw.Pendekar Pemanah Rajawali Disaat itu terdengar suara menggelepok. sampai akhirnya ia merasa sedih sendirinya. ia maju ke Kwee Ceng. Anak muda itu terkejut. Disaat anak muda ini terancam bahaya maut. Setelah merobohkan bocah itu. Seumurnya kecuali Bwee Tiauw Hong. kedua tangannya sakit. sambil berseru. dia adalah satu tojin atau imam usia pertengahan. sebab siauw-ongya merubah siasat. makin lama ia menjadi makin heran. hingga sukar untuk ia melompat bangun. Kwee Ceng menghindarkan diri. ia juga agaknya berpikir keras. dengan begitu. tapi sebelum tubuhnya dilepas. Peng Lian Houw bertindak ke dalam kalangan. pengajaran dari gurunya yang pertama. Di sini ia gunai kesempatannya. untuk bagian Selatan Tionggoan saja sudah jarang. tidak kepada anak perempuan. Karena didesak tak hentinya. ia menarik keras. belum pernah ia menemui tandingan selihay ini. Mendengar suaranya onghui. ia memaksa menangkis juga. adakah kau Irawan D Soedradjat Page 188 . terus ia kerahkan tenaganya. Untuk tolongi dirinya. tetapi lekas juga ia sambar Kwee Ceng. hanya siauw-ongya berada disebelah atas. terpaksa sambil bergulingan. Orang yang baru datang itu agaknya terperanjat. Habis itu sama sebatnya. tiang bendera lantas terlepas dari cekalannya. Itulah terang Yo Kee Ciang-hoat. ia ulur tangan kanannya ke arah kepala orang. ia segera menarik pulang tanagnnya. Atas itu. Dia ini sebat. Tiang bendera itu terlalu panjang. Sekarang orang bisa lihat. atau satu pukulan telah menjurus ke mukanya. Tapi ia masih sadar. ia segera geraki tangan kirinya. Yang menegrti ilmu itu. Tidak ampun lagi. hingga senjata yang melibatnya ia terputus. untuk dilemparkan. ia sambar bajunya siuaw-ongya. ia layani tombak musuhnya itu. yang ia peroleh dari Jebe. yang kemudian berkata: ―Tuan. maka Kwee Ceng kena ditarik roboh hingga saling tindih. Maka sekarang mereka bertempur dengan bersenjata. Bok Ek tetap perhatikan ilmu silat tombak dari siauw-ongya. untuk menyampok tiang bendera. tidak dapat ia mencegah mengucurnya air matanya. Kwee Ceng kaget. Kwee Ceng merasakan matanya berkunang-kunang dan kepalanya pusing. supaya dia jangan mengganggu terlebih jauh…‖ Sembari berkata. tangannya menyambar tombak di tangan seorang serdadu yang berada dekat dengannya. Dengan menggulingkan tubuh. ia angkat tubuh siauw-ongya. Siauw-ongya tidak kenal permainan silat lawannya itu. tetapi tidak urung. yang pinggangnya ia peluk. akan tetapi. hingga benderanya berkibar-kibar bagus. justru si anak muda lagi merayap bangun. ia terguling roboh. hingga ia tercengang. tangannya mencekal sebatang hudtim atau kebutan. sekonyong-konyong datang teriakan dari antara orang banyak: ―Perlahan!‖ Lalu terlihat melesetnya satu bayangan abu-abu perak disusul serangan semacam senjata. terus ia pakai menangkis. untuk melakukan penyerangan membalas. ia dikam terus. dengan tombak itu. maka heran kenapa di negara Kim ada yang dapat memainkannya itu? Ia terus mengawasi. ilmu mana diturunkan hanya kepada anak laki-laki.

―Hm!‖ Ong Cie It perdengarkan suaranya. inilah hebat. orang yang tingkat derajatnya terlebih tua.‖ Peng Lian Houw. ia berkata: ―Saudara Kwee. di tanah lalu tertapak dalam. hanya Ia ulur kakinya. ia menghadapi si siauwongya dengan wajahnya keren sekali. Ia lantas mengangguk. baru sekarang mereka menemui sendiri orangnya. batal ia untuk main gila. Ong Cie It menjura pula seraya menghanturkan terima kasih. justru berbareng dengan itu. ―Siapakah gurumu?!‖ Siauw-ongya itu telah merasa kurang enak hati. Imam itu menjura. ia sudah lantas menjura kepada Kwee Ceng. maka hatinya terkesiap. Ia dapat lihat suasana buruk. Coba tadi mereka tidak telah menyaksikan gerakan yang gesit dan melihat itu tapak kaki. yang kumis dan janggutnya terbelah tiga. atau mendadak matanya si imam bersinar tajam bagaikan kilat. pasti kita tidak kenal satu Irawan D Soedradjat Page 189 . Ia tidak menjawab. Mereka dapatkan orang sungguh alim dan agung. ―Teecu terlalu memuji kepadaku. tanah kering dan keras. Sebenarnya ia sudah memikir untuk berlalu. begitu juga Som Sian Lao Koay. kalau gurunya ketahui perbuatannya. ―Siapakah namamu?‖ ia menanya bengis. ―Aku mohon ketahui gelaran suci dari totiang. tanpa tunggu orang buka mulut lagi. Sedang di tanah utara ini. orang dari tingkat lebih rendah.‖ Dengan lantas siauw-ongya ini membahasakan diri ―boanpwe‖. maka itu dengan besarkan nyali. terus ia menunjuk pada Kwee Ceng dan berkata: ―Pinto tidak kenal anak ini. kalau kita tidak bertempur. ―Memang benar. Maka itu. ia memberikan persetujuannya. Wanyen Kang tertawa hihi-hihi. Anak ini dapat dengar panggilan itu. sembari tersenyum. lekas ia ubah sikapnya. tidak nanti mereka mau percaya dia adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu si Dewa Kaki Besi yang pernah menakluki jago-jago di Utara. yang mereka tahu namanya tidak kalah daripada Tiang Cun Cu Khu Cie Kee. Peng Lian Houw terperanjat. apakah ia telah bilang padamu? Apakah pesannya?‖ Wanyen Kang perlihatkan roman cemas. ia mendapat satu pikiran. Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin mengawasi imam itu. yang romannya toapan. untuk dimajukan satu tindak. hendak ia menjawab secara jenaka. Tidak berani pinto menerima itu sebutan cinjin. pinto adalah Ong Cie It. Ong Cie It tersenyum. maka itu sambil membalas hormat. tetapi karena injakan atau tindakannya itu. sungguh aku merasa sangat girang!‖ ―Tidak berani aku menerima yang namaku yang rendah dijunjung sedemikian tinggi olehmu.‖ Semua orang lantas mengawasi kepada imam itu. Ia berdiri diam dan menyahuti: ―Namaku Wanyen Kang. karena ia tahu ia lagi berhadapan dengan satu cianpwee.‖ ia menyahut. hatiku menjadi sangat tertarik. Kaos kakinya yang putih serta sepatunya yang abu-abu bersih sekali. ia berkata: ―Totiang kenal guruku itu. Ia insyaf. Melihat tapak sepatu itu.‖ ―Bukankah gurumu ada tanda tahi lalat merah pada pipinya yang kiri? Ong Cit It tanya pula.‖ Melihat sikap orang yang demikian hormat.‖ berkata Ong Cinjin. Nama guruku tidak dapat aku beritahukan padamu. oleh karena itu boanpwe mohon sukalah totiang datang ke rumahku. ―Anak. ketika ia memutar tubuh. lalu ia menarik pulang. pinto mohon Pheng Ceecu memberi ampun kepada jiwanya. sedang orang pun dari Coan Cin Kauw. Dengan sabar. ―Jadinya totiang adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu Ong Cinjin?‖ ia menanya. hanya karena kemuliaan hatinya dan kegagahannya berusan. terang totiang adalah satu cianpwee. ―Hm. tetapi ia terlambat. ―Memang telah aku duga. Peng Lian Houw suka berbuat baik. untuk boanpwe anti mendengar segala pengajaranmu.Pendekar Pemanah Rajawali Pheng Cecu yang namanya sangat tersohor? Hari ini aku dapat bertemu denganmu. bagus benar perbuatanmu ya? Pada mula kali gurumu hendak mengajarkan silat padamu. lekas pulang!‖ demikain terdengar suara ibunya dari dalam joli. kau adalah muridnya Khu Suhengku itu. Wanyen Kang benar-benar cerdik.‖ sahut Lian Houw. Sudah lama mereka ketahui hal imam ini.

ia hanya menunjuk kepada Bok Ek dan gadisnya serta bertanya: ―Bagaimana urusan jodohmu dengan nona itu?‖ Wanyen Kang menjadi likat. Ilmu silat kau saudara.‖ katanya. ―Orang dengan siapa tadi kau bertempur. ―Sekarang aku tidak usah mengkhawatirkan apa-apa lagi!‖ Kwee Ceng heran. Selang lagi beberapa lie.‖ ia berkata. ia bisa berlari-lari tanpa napasnya memburu atau hatinya berdenyutan. ia sambar les dari seekor kuda pilihan yang satu pengiringnya bawa kepadanya. Ong Cie It mendongkol untuk sikap keagung-agungan itu. kau tahu atau tidak? bertanya si imam. lantas terlihat Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay lari mendatangi. terus ia lompat naik ke atas kuda itu. tibalah mereka di belakang sebuah puncak buklit. Ia memang bertubuh kecil dan lincah.‖ Habis berkata begitu. hingga dilain saat mereka sudah tinggalkan orang banyak itu dan tengah menuju keluar kota. Kwee Ceng dapat mengikuti denagn baik kepada si imam itu. ―Engko kecil. ―Dasarmu tidak jelek!‖ ia berkata dalam herannya itu. bownpwe menantikan segala kehormatan atas kedatangan totiang ke rumahku.Pendekar Pemanah Rajawali sama lain. untuk diajak pergi. bagus!‖ katanya. ia cekal tangan si bocah. tiba-tiba ia melepaskannya. Cepat tindakannya si imam. lantas saja ia berkata sambil tertawa: ―Aku tidak kenapa-kenapa! Sebentar aku pergi mencari padamu…!‖ Baru ia mengucap. Ong Cie It cekala tangan orang. ia lantas menjatuhkan diri di depan Ong Cinjin. ia cuma tertawa saja. Bok Ek tarik tangannya Kwee Ceng. Sampai sebegitu jauh. Ia sudah belajar lari keras. Tapinya ia berkata kepada Kwee ceng. tidak mau ia mendusta. ia hanya menjura pula kepada Ong Cie It seraya berkata: ―Totiang. ia mengawasi imam itu. ia tidak menjadi gusar. Di sini si imam berjalan semakin cepat. ―Buat apa kau layani pula manusia hina dina ini?‖ Wanyen Kang dengar suara orang menghina itu. ―Hal itu kita perlahan-lahan saja kita bicarakan pula. Kwee Ceng tertawa di dalam hati. aku pun minta suka kau bersama totiang berkunjung ke rumahku. tubuhnya enteng. ia dapat manjat puncak. Ia menyebutkan Kanglam Cit Koay dan Ma Giok. ―Toasuko telah ajarkan kau ilmu silat. ia lari terus-terusan. Memang ia hendak menguji enteng tubuhnya si bocah. aku sangat mengaguminya. Kwee Cneg tahu di antara adik seperguruan dari ma Giok ada yang bernama Ong Cie It. Oey Yong muncul dari antara orang banyak. Sukalah kau kalau kita mengikat persahabatan?‖ Kwee Ceng tidak menjawab. kemudian ia menyelinap di antara orang banyak itu.‖ ―Aku hendak menantikan dulu sahabatku…‖ Kwee ceng menjawab. banyak-banyak terima kasih. yang pun ia kasih lari ke antara orang banyak. Ia terperanjat dan mengawasi bocah itu. hingga mereka itu berlari-lari untuk menyingkir dari bahaya kena diterjang kuda. dari itu. Totiang tanyakan saja istananya Chao Wang. Di lain pihak. ―Siapakah gurumu?‖ Ong Cinjin menanya lagi. Belum berhenti suaranya bocah ini. Maka itu. ―Kenapa kau tidak dapat mengalahkan dia itu?‖ Kwee Ceng tidak tahu bagaimana harus menjawab. Mendengar itu. ―Totiang. yang dipanggil setahu apa siauw-ongya Wanyen Kang itu adalah muridnya suhengku Tiang Cun Cu. Tapi ia pun cerdik. maka itu. dan dibawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok. Irawan D Soedradjat Page 190 . ―Engko Kwee kecil. Mendengar itu Ong Cie It menjadi girang sekali. Melihat si Ular Naga Kepala Tiga ini. Ong Cie It tidak bilang suatu apa. kau turut aku. mari kita pulang!‖ berkata ia. ialah ini imam. sebentar saja mereka sudah berada diluar kota.

Toasuka telah menerima satu murid she Yo.‖ Mereka lantas menyerahkan sehelai kartu nama di atas mana ada tertera: ―Hormat dari teecu Wanyen Kang. Kwee Ceng juga tidak berani menanya apa-apa lagi. ―Aku tidak tahu…‖ Ma Giok mengajarkan Kwee Ceng tanpa penjelasan. Entah bagaimana kepandaiannya murdi she Yo itu. ia menjadi ingat kepada nona itu.Pendekar Pemanah Rajawali Bocah itu tercengang. Ong Cie It tertawa bergelak. pibu apakah itu?‖ ia bertanya. teecu telah berlaku kurang ajar. terus ke rumah penginapan Kho Seng di jalan besar utama. dia kata hendak ajak muridnya itu pergi ke Kee-hin untuk dicoba pibu denganmu. Kanglam Cit Koay pasti menghendaki kemenangan.‖ berkata Ong Cie It kemudian. Maka keduanya lantas berjalan dengan cepat ke kota barat. Di sini ada aku.‖ ―Sebentar kita datang. Kwee Ceng itu nanti berkelahi tidak dengan sungguh-sungguh dan karenanya menjadi tidak memperoleh kemenangan. gurunya tidak memberikan keterangan apa-apa. Ia lantas menunduki kepala. dia dapat dihukum berat.‖ ia menjawab. ―Apa?‖ dia menanya.‖ berkata Kwee Ceng. baiklah totiang memberi ampun padanya.‖ ia memohon.‖ berkata Ong Cie It. semua lantas memberi hormat kepada Ong Cinjin seraya berkata: ―Kami diperintahkan siauw-ongya mengundang totiang serta Tuan Kwee menghadiri pesat di gedung kami. ―Dan ini kue-kue dan bebuahan. Siauw-ongya itu sombong dan ceriwis. aku suka sekali! Mustahil aku nanti persalahkan kau!‖ ia berkata. maksudnya pasti untuk mencegah Kwee Ceng menjadi bersusah hati hingga pernyakinan ilmu silatnya menjadi terganggu. sekarang setelah mendengar pertanyaannya Ong Cie It. teecu mohon totiang suka memberi maaf.hin itu. bahwa dalam pibu. bocah ini menjadi tidak tahu tentang ilmu silat kaum Coan Cin Kauw. ia tidak bilang suatu apa. Baharu mereka sampai di depan pintu. Atau mungkin disebabkan musuh adalah turunan sahabat ayahnya. Ong Cie It ketahui maksudnya Kanglam Cit Koay. maka itu ia heran atas kata-katanya imam ini. kemudian setelah berpikir. tetapi tidak nanti dilindungi atau dieloni. dari dalam hotel sudah muncul beberapa pengiring dengan pakaian seragam bersulamnya. ―Hatimu mulia. yang tidak mendendam. Kemudian ia meneruskan dengan sikapnya sungguh-sungguh : ―Kami kaum Coan Cin Kauw ada punya aturan yang keras. maka itu tidak heran Tujuh Manusia Aneh dari Kanglam itu tidak mau menjelaskan sesuatu kepada Kwee Ceng. tidak nanti aku bikin kau memdapat susah…. hatinya masih ingin merekoki jodohnya nona Bok. maka itu kenapa dia bolehnya mengajari silat kepada satu pangeran Kim? Sungguh membikin pusing kepala…‖ Terus ia mengawasi Kwee Ceng dan berkata pula: ―Khu Toasuko telah menjanjikan aku bertemu di Yan-khia. dalam beberapa hari ini tentulah ia bakal tiba. tak baik aku mewakilkan mereka memberi keterangan. dia lebih-lebih membenci bangsa Kim. ―Nonan itu bertabiat keras. nanti aku suka minta toasuko menghukum padanya!‖ ―Asal ia suka menikah dengan nona Bok. ilmu silat Wanyen Kang sama dengan ilmu silatnya In Cie Peng itu. nanti kau jangan khawatir. ―Dimana totiang dan Tuan Kwee tinggal? Nanti kami pergi mengantarkan ke sana. ia berkata-kata seorang diri: ―Toasuko biasanya benci kejahatan sebagai musuh besarnya. Ong Cie It dapat menduga. ia menjadi ingat kepada pertempurannya sama In Cie Peng hingga ia ingat juga. ―Teecu tidak tahu siauw-ongya itu adalah muridnya Khu Totiang. Ong Cie It menggeleng kepala. aku khawatir dia nanti menerbitkan bencana jiwa…‖ Kwee Ceng terkejut. Dia telah mendengar lelakonnya kedua keluarga Yo dan Kwee itu. maka setelah bertemu dengannya.‖ berkata pula si pengiring. ia menghela napas. di dalam hatinya tapinya ia suka bocah ini yang jujur dan hatinya pemurah. Ciat-kang untuk apa ia dimestikan pergi ke Kee. ―Sekarang masri kita lihat itu orang she Bok dan gadisnya. kalau ada murid yang bersalah. ―Totiang. aku akan menanya jelas segala apa. dia cuma manggut-manggut.‖ Kwee Ceng telah terima titah gurunya untuk sebelum tanggal duapuluh empat bulan tiga sampai di Kee-hin. ―Gurumu belum membilang suatu apa kepadamu.‖ Irawan D Soedradjat Page 191 . siauw-ongya minta totiang dan Tuan Kwee sudi menerimanya.

inilah cade…. hingga nampak tulang-tulangnya dan kedua lengannya bengkak besar. Ong Cinjin periksa lukanya Bok Ek. putra keenam dari raja Kim. kau tunggu sebentar. maka darimana dia dapatkan ilmu pukulan jahat ini? Pada ini mesti ada rahasianya…?‖ Lantas ia pandang si nona dan menanya: ―Nona. seraya menambahkan: ―Besok aku akan datang untuk menjenguk pula padamu. dimana ia lantas dipersilakan duduk di kursi atas. baik aku tinggalkan untuk dia. Mengadu Kepandaian Habis menerima antaran itu. Irawan D Soedradjat Page 192 . ia turut dipimpin ke dalam thia. Luka itu telah ditorehkan obat. Di pintu besar ada dituliskan tiga huruf besar air emas. si nona berbangkit berdiri.‖ pikir Ong Cie It. gedungnya Wanyen Kang. yang terdiri dari duabelas.‖ Bab 18. ia lantas terima itu. ―Ilmu silat Wanyen Kang terang adalah ajarannya toasuko. yang terus merogoh sakunya. hingga ia dapatkan orang she Bok itu sedang rebah dengan muka pucat dan di tepi pembaringan. hendak ia menampik. ―Mungkinkah si pangeran muda itu adalah putranya Wanyen Lieh?‖ ia kata di dalam hatinya. menyusul mana ia tampak si siauw-ongya keluar menyambut. ―Totiang. untuk mengeluarkan uang perak dua potong. mereka dipapaki empat pengiring. sedang kepalanya ditutupi kopiah emas. ia diam saja. yang terus lari masuk pula ke dalam hotel. bunyinya: ―Chao Wang Hu‖ atau istana pangeran Chao Wang.‖ berkata Kwee Ceng. ke dalam kamar di mana ada bingkisan kue dan buah dari Wanyen Kang. ia bungkus itu dengan sapu tangan. sudah tidak dibalut. ―Aneh. ―Namaku Bok Liam Cu. Ia polos. Kwee Ceng paling dulu lihat dua lembar bendera berkibar di tiang yang tinggi. pakaiannya jubah merah dengan gioktay atau ikat pinggang kumala. isinya semua adalah makanan dan bebuahan yang istimewa. Di luar hotel. lantas ia dengar ramainya suara tetabuhan. Kwee Ceng tahu. di dalam hatinya ia berkata: ―Dasar bocah! Dia tidak harus dipersalahkan. Bok Ek sendiri berbangkit untuk berduduk di atas pembaringan. atau singa batu. Melihat dandanan pangeran itu. yang mana ia letaki di atas meja. Tiba di muka gedung. di kiri dan di kanan pintu ada nongkrong masing-masing seekor cio-say. sesudah masuki itu ke dalam sakunya. ia tarik tangan Kwee Ceng buat meninggalkan hotel itu.‖ kata Cie It. Ong Cie It mengangguk.‖ Kwee Ceng berpikir. gadisnya duduk smabil menangis. Ia pilih empat rupa kue. Undakan tangga dari batu putih semua. tetapi mungkin dikhawatir menjadi nowa. setelah mereka itu memberi hormat.‖ Lalu menanti jawaban si nona. akan tetapi kapan ia melihat sikap Kwee Ceng. lalu ia terus masuk ke dalam kamar orang. Ong Cie It menanyakan keterangan kamarnya Bok Ek.‖ Selagi si bocah terbenam dalam keragu-raguan. ia bersedia menerima antaran itu. untuk bersama si imam pergi mengikuti keempat pengiring itu pergi ke onghu. siapakah namamu?‖ Nona itu menunduki kepalanya. yang rupanya diperdengarkan untuk menyambut ia dan Ong Cie It. ―Oey Yong suka dahar makanan semacam ini. Kapan mereka lihat tetamu.‖ ia menyahut perlahan. atau lebih tepat istana. Chao Wang itu adalah Wanyen Lieh. ―Luka ayahmu ini tak enteng.Pendekar Pemanah Rajawali Beberapa pengiring lainnya lantas maju untuk mengsih lihat barang antaran mereka. yang satunya memberitahukan bahwa siauw-ongya mereka lagi menentikan di gedung dan imam serta bocah itu diundang ke sana. kalau di sini aku bertemu dengannya. Ia tersenyum. yang rimannya bengis. ia lari pula ke luar. Ong Cie It tak berkesan baik terhadap Wanyen Kang. Ong Cie It mengkerutkan keningnya. hatinya tercekat. dia perlu dirawat baik-baik. batu mana dipasang terus sampai di thia depan. Maka itu tanpa merasa. ―Wanyen Lieh mengenali aku. yang setiap belakang telapakan tangannya bertanda lima lobang jari tangan.

kau tahu tidak?‖ ―Guruku ada di sini. locianpwe dari Tiang Pek San. mengitari lauwteng yang indah. untuk mana mereka melintasi sebuah lorong. matanya merah. Setibanya di hoa-thia. Pangeran itu tidak berlutut didepannya dan tidak juga memanggil susiok atau paman guru kepadanya. Wanyen Kang menepuk tangan dua kali. . di sana sudah menantikan enam-tujuh orang. sungguh aku merasa sangat beruntung!‖ berkata tuan rumah yang muda ini. Hatinya pun tidak tentram. satu dari timur utara. Kwee Ceng dapak menyaksikan keindahannya istana. katanya: ―Ini adalah Leng Tie Siangjin. ―Dan ini adalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong. Selama itu.‖ Ong Cie It awasi orang yang pentang bacot itu. ahli Tay-ciu-in dari partai Bit Cong dari Tibet.Pendekar Pemanah Rajawali ―Totiang bersama saudara Kwee sudi datang kemari. Pengiring itu berlalu untuk menyampaikan titah lebih jauh. Dia itu mengawasi anak muda kita ini dengan sorot mata bengis! Biar bagaimana. tidak ada selembar rambutnya. ―Mana boanpwe mengerti ilmu silat?‖ sahut Wanyen Kang sambil tertawa. ―Walaupun ilmu silat Coan Cin kauw tidak tinggi tetapi ilmu itu bukannya ilmu kucing kaki tiga! Gurumu bakal tiba di sini. maka tidaklah kecewa yang lohu sudah datang ke Tionggoan ini. tidak tahu ia mesti bersikap bagaimana andaikata ia bertemu dengan Wanyen Lieh. ―Sudah berapa lama kau ikuti gurumu belajar silat?‖ ia tanya. selama itu aku main-main kucing kaki tiga hingga aku membikinnya totiang dan saudara Kwee menertawai aku.‖ Wanyen Kang memperkenalkan pula orang yang rambutnya putih tapi mukanya segar sebagai muka seorang bocah. hingga mereka mesti jalan sekian lama. sampai ia merasakan matanya berkunang-kunang. Justru itu seorang yang suaranya serak terdengar berkata nyaring: ―Kiranya Kanglam Cit Koay didukung dari belakang oleh Coan Cin Pay. Ong Cie It heran hingga ia berpikir: ―Kenapa Siluman Tua ada disini juga?‖ io Cu Ong sudah lantas memberi hormat dan berkata: ―Di sini lohu dapat bertemu sama Thie Kak Sian Ong Cinjin. satu lagi dari barat selatan. yaitu Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. Dengan melihat roman orang saja. Ong Cie It menjadi heran sekali. di antara siapa yang kepalanya benjut tiga. bahkan ia mendongkol. ―Siapakan meja santapan!‖ ia memberi perintah kepada pengiringnya. kepala siapa lanang. Kwee Ceng terkejut juga hingga ia pernahkan dirinya dekat sekali dengan si imam. dari empat ribu lie. kedua pihak sudah saling mengenal.‖ Dan lantas ia perkenalkan paderi di sampingnya. Wanyen Kang bergirang ketika ia kata pada Ong Cie It. maka juga mereka menjadi begini malang melintang. Ong Cie It tidak puas. biji matanya menonjol keluar.‖ ―Hm!‖ Ong Cie It kasih dengar suaranya. Wanyen Kang sudah lantas ajak kedua tetamunya pergi ke hoa-thia.‖ Kedua orang itu saling memberi hormat. beberapa tuan ini sudah lama mengagumi kau dan semuanya merasa sangat ingin bertemu denganmu!‖ Ia lantas menunjuk Peng Lian Houw dan kata: ―Inilah Pheng Cecu. suaranya menandakan kemarahannya. ia sudah lantas mengenalinya. ―Totiang. ―Kiranya kau masih kenal aku!‖ Irawan D Soedradjat Page 193 ―Bukankah tuan adalah Kwie-bun Liong Ong See Locianpwee?‖ ia bertanya. Kami berdua. yang tubuhnya jangkung dan kate tidak rata. apakah totiang ingin bertemu dengannya?‖ Wanyen Kang balas menanya. ―Ada di mana ia sekarang?‖ ia tanya. ―Aku ikuti suhu buat dua tahun lamanya. maka pertemuan ini benar-benar satu jodoh!‖ Ong Cie It memberi hormat kepada paderi dari Tibet itu dengan menjura dan si paderi membalasnya seraya menakopi kedua tangannya. ―Benar!‖ sahut orang itu.

tangan kirinya menyambar lengan See Thong Thian. Untuk itu aku mohon tuan-tuan suka memaafkannya. Segera juga Wanyen Kang menghampirkan. Irawan D Soedradjat Page Tidak lama lantas terdengar tindakan sepatu. tak peduli ia bahwa perbuatannya melanggar adat sopan santun. maka itu ini adalah pertama kalinya ia bertemu sama tuan-tuan!‖ Bukan melainkan Ong Cie It dan Kwee Ceng yang belum pernah melihat sancu. supaya Kwee Ceng dibekuk. tetapi mendengar nama bukit Pek To San itu. ―Mana gurumu?‖ ia tanya. Thong Thian gusar bukan main waktu ia dengar kekalahan empat muridnya itu. maka dengan berbareng. romannya tampan. Sesudah itu ia kirim Hauw Thong Hay untuk menuntu balas. percuma kalau ia melayani mereka itu. dia mendamprat habis-habisan. Memangnya dia bertabiat keras. ―Kenapa tidak kau minta ia keluar?‖ ―Ya. Mereka belum pernah mendengar nama Pek To San – Bukit Unta Putih itu. kapan dan di dalam hal apa aku pernah berbuat salah terhadapnya?‖ Ia menunjuki sikap sabar. hingga kata dalam hati kecilnya: ―Kita ada bagaikan air kali dan air sungai yang tidak saling menerjang. dua orang itu dapat dipisahkan. terus ia berkata: ―Sebenarnya aku telah mesti siangsiang tiba di kota Yankhia ini. Auwyang Kongcu ini sudah lantas rankap kedua tangannya. Sebab tabiatnya itu. Celakanya Thong Hay telah kena dipermainkan oleh Oey Yong. tangannya terus menyambar si imam. ―Bagus! benar-benar kau melindungi binatang cilik ini!‖ ia berseru. sedang Ong Cie It segera maju. ia lantas ingat kepada si nonannona serba putih yang di tengah jalan sudah mencoba merampas kudanya. Disaat kedua tangan hampir bentrok. alisnya panjang hingga ujungnya mengenai rambut di pelipisnya. Dan semua mereka kagum akan caranya sancu ini datang menengah. Ia mengerti. sikapnya tenang sekali. 194 Cie It merasakan hatinya lega. Ong Cie It tidak dapat mundur. Dua-dua See Thong Thian dan Ong Cie It terperanjat. di waktu mengajari silat.‖ sahut Wanyen Kang denagn sederhana. lalu di depan pintu thia terlihat seseorang bertubuh gemuk yang mengenakan seragam baju sulam. Inilah sebabnya kenapa murid-muridnya tidak dapat wariskan tiga bagian saja dari sepuluh ilmu kepandaiannya. maka mereka heran ada seorang yang dapat pisahkan mereka secara demikian gampang. sayang di tengah jalan aku mendapatkan satu urusan penting dan karenanya menjadi terlambat beberapa hari. Maka ia lantas pandang tuan rumah. akan jambak Kwee Ceng. hingga adik seperguruan ini juga gagal. dari samping mereka tiba-tiba muncul satu orang. Karena ini. untuk menangkis. siucay. sancu dari Pek To San dari pegunungan Kun Lun San di Tibet. ia tengah diliputi kemarahan besar. maka juga. Demikian ia ulur sebelah tangannya. ia kata: ―Nama besar dari See Locianpwee memang telah lama aku pangeni. ia tidak hunjuk kemurkaan. Bocah itu mundur. sembari tertawa ia berkata: ―Tuan ini adalah Auwyang Kongcu. tak dapat ia mengatasi diri. Lantas ia berpaling kepada pengiringnya dan memrintah dengan singkat: ―Undang suhu!‖ Pengiring itu sudah lantas mengundurkan diri. usianya empat puluh lebih. untuk menghalang di depannya. masih dapat kami membela diri…‖ . maka ia pun angkat tangannya.pemilik bukit – dari Pek To San itu. ia hajar mereka. Ia telah berpikir: ―Dengan adanya Khu Suheng disini. suatu tanda ia adalah seorang opsir. semua hadirin di situ itu ada bangsa lihay. Melihat orang demikian galak. ia tetap berangasan dan galak. tidak heran kalau Hong Ho Su Koay gagal mengepung Kwee Ceng. Dia belum pernah datang ke Tionggoan.Pendekar Pemanah Rajawali Cie It heran. juga Nio Cu Ong dan Peng Lian Houw serta lainnya hadiran di situ. seumumnya. musuh boleh tambah lagi.‖ Kwee Ceng tidak kenal sancu ini. hingga ia mirip dengan satu sastrawan. Dandanannya. Ia menjadi menduga-duga: ―Mungkinkah enam guruku sudah bertempur dengan dia ini?‖ Ong Cie It pandai berpikir. ialah seoarng dengan jubah putih. Dia berjanggut lebat. Dia bernama Thong Thian dan gelarannya. tak terkira gusarnya Thong Thian. Dia banyak lebih lihay daripada Hauw Thong Hay. umurnya ditaksir tigapuluh lima atau tipuluh enam tahun. seperti dandanan seorang bangsawan. diundurkan satu dari yang lain. tangan kanannya menyambar lengan Ong Cinjin.‖ Orang she See ini tidak ambil mumat sikap orang yang halus itu. Tanpa merasa keduanya lantas mengawasi si pemisah itu. Mereka bukan sembarang orang. Kwie-bun Liong Ong ialah Raja Naga dari Pintu Iblis. adik seperguruannya. terus ia mengibas keluar. romannya sangat keren. sekalipun di depan orang banyak.

kau permainkan aku. hatinya Ong Cie It menjadi panas sekali. ―Aku minta saudara Kwee saja yang pergi mengundang tuan Bok itu.‖ berkata Wanyen Kang sembari tertawa.‖ ia berkata.‖ ―Bagus begitu. Ia bernama Thung Couw Tek.!‖ Tapi ia mencoba untuk mengendalikan diri. bagaimana urusannya itu harus diatur?‖ Mendengar pertanyaan itu. uang sewa kamar pun sudah dibayar lunas. dari kaki ke kepala. untuk pergi ke hotel dimana Bok Ek dan gadisnya menumpang. barang-barangnya pun telah dibawa pergi. ―Banyak cape. dari kepala ke kaki. malah ia sudah menanyakan beberapa kali…‖ Melihat orang itu dan mendengar perkataan si pangeran. imam atau paderi perempuan!‖ Dengan paksakan diri. Ong Cinjin tertawa.‖ menyahut Wanyen Kang. Ayah dan anak dara itu tidak ada di kamarnya. Yang lain-lain pun turut memanggil guru padanya. Terus ia menoleh pada pengiringnya. terus ia undurkan diri. ―Untuk urusan apakah kau hendak bertemu sama aku. Ia lantas hirup arak itu. ―Tuan-tuan. dia mesti dapat diundang datang kemari!‖ Pengiring itu menyahuti. Pangeran itu mengisikan sebuah cangkir. ―Adalah sudah biasa bagi aku. Wanyen Kang sambut tetamunya. Ia telah berpikir: ―Bocah binatang ini. tuan Kwee!‖ katanya. Akhirnya. silakan duduk di kursi kepala. untuk kita membicarakan urusannya.‖ berkata Wanyen Kang.‖ Ong Cie It merendahkan diri tetapi ia didesak terus. tetapi ia bercuriga.‖ Thung Couw Tek celangap. ia mengawasi imam itu. aku menyesal…‖ berkata Wanyen Kang cepat. Tiba di sana. bagaimana juga hendak diaturnya. ―Ingin aku minta buat banyaknya seribu tail perak!‖ Heran opsir itu atas permintaan derma tersebut.‖ Ong Cie It menagngguk dan Kwee Ceng segera berbangkit. semua mata diarahkan kepada Wanyen Kang. Tentang itu. Ketika jongos ditanya. ―Totiang baharu pertama ini tiba disini. Setelah tiga edaran arak. imam ini orang macam apa.‖ sahut Kwee Ceng. imam?‖ si opsir menanya. ―Tayjin hendak memohon derma. sikapnya jumawa. yang treus tuturkan kepergiannya Bok Ek serta anaknya itu. ia tidak sangka pangeran ini dapat bersikap demikian. aku paling tidak senang terhadap segala paderi.Pendekar Pemanah Rajawali ―Suhu!‖ Wanyen Kang lantas memanggil. ia menjadi heran. siapa itu yang mengundang. Tidak dapat ia menduga. untuk memerintah: ―Kau lekas ajak orang pergi mencari tuan Bok dan putrinya itu. ia berkata: ―Sekarang ini telah hadir banyak cianpwee kaum Rimba Persilatan. silakan duduk!‖ Wanyen Kang mengundang. Kwee Ceng heran. Tentang si orang she Bok yah dan anak itu. boanpwe selalu bersedia untuk menuruti. ia berbangkit untuk bawa itu kepada Ong Cie It seraya terus berkata: ―Silahkan totiang keringkan dahulu cawan ini. maka bolehlah kita bicara dari hal keadilan. Ia lantas kata pada pengiringnya: ―Lekas kau siapkan uang itu. Maka terpaksa pemuda ini pulang ke onghu dengan tangan hampa. akhirnya ia duduk juga di kursi pertama itu. jawabannya adalah Bok Ek dan gadisnya itu ada yang undang sudah pergi entah ke mana. ―Oh. entah kemana. ―Mana tuan Bok itu?‖ ―Ia telah pergi. Ia berkata kemudian: ―Bagus! Sekarang baik si orang she Bok itu diundang kemari. kepala barisan pengiring dari Wanyen Lieh di masa Wanyen Kang masih muda sekali. Irawan D Soedradjat Page 195 . sebentar kau antarkan ke hotelnya totiang. karenanya ia dipanggil guru.. urusan toh akan ketahuan akhirnya!‖ ―Totiang benar. yang mendahului gurunya itu. ―Totiang ini hendak bertemu sama suhu. ―Itulah selayaknya. Sambil tertawa. Jongos itu tidak dapat memberikan keterangan.‖ Cie It heran hingga ia tercengang. ia berkata: ―Tidak peduli orang bermain sandiwara apa. pernah ia ajarkan ilmu silat kepada pangeran itu. Ia tanya jongos. Ong Cie It menjadi membungkam.

ciangkun.‖ berkata Giok Yang Cu.‖ berkata Nio Cu Ong. kau ada asal negara mana? Kau mengandal apa maka kau datang kemari dan menjadi pembesar negeri?‖ Couw Tek gusar sekali.Pendekar Pemanah Rajawali Sementara itu Thung Couw Tek heran dan mendongkol. dia jengah sekali. kenapa pihakmu berdiri sepenuhnya dibelakang Kanglam Cit Koay dan dengan begitu menyusahkan pihakku? Walaupun Coan Cin Pay banyak anggotanya dan sangat berpengaruh. kalau begitu!‖ berseru See Thong Thian. ―Sekarang kau serahkan ini bocah kepadaku!‖ ia lantas berbangkit. si imam bersikap seperti tidak tahu aturan. Maka juga perkataannya Ong Cie It membikin ia merasa tersinggung. untuk menghalang. selagi mulutnya tersumpel. Kepalan Couw Tek kena tertahan. walaupun di depannya ada Nio Cu Ong dan Auwyang Kongcu. ―Aku hendak memohon sesuatu kepada totiang. Jambakan itu adalah jambakan dari Gwa-kang. tubuhnya jatuh terduduk di kursinya akibat tekanannya Nio Cu Ong. hanya salah satu suhengku ada punya sangkutan dengan mereka. selagi si pangeran berlaku manis. ia sangat mendongkol. ―Imam siluman. tidak satu pun yang pinto kenal. Ia anggap dirinya gagah. Maka itu sama sekali tidak ada soal pihakku membantu Kanglam Cit Koay menghadapi Hong Ho Su Koay. terus ia lari ke dalam. ia melepaskan jepitannya. sungguh namanya bukan kosong belaka!‖ berkata See Thong Thian. lengan kirinya berbareng dipakai membentur bocah itu. Menyusul itu jambakannya si orang she See itu mengenai kursi yang diduduki Kwee Ceng.‖ berkata Giok Yang Cu. semua hadirin tertawa.‖ ―Pihak kami tidak ada sangkutannya sama Coan Cin Pay. tetapi pemerintah Kim tidak pernah mengijinkan ia memimpin pasukan tentara sendiri. Sudah duapuluh tahun ia bekerja. kau asal kuil mana? Kenapa kau datang kemari untuk main gila?!‖ Ong Cie It tidak menyahuti. ―Baiklah ciangkun duduk dan keringkan arakmu!‖ Ia ulur tangannya. sedikitnya ia tentu terluka enteng. ―Kau tidak hendak memberitahu pun tidak apa. maka itu. guna menjambak batang lehernya Kwee Ceng. Lantas ia lompat bangun. pangkatnya bukan kecil tetapi ia tetap ditempatkan di onghu. yang berada di sampingnya. akan ulur sebelah tangannya. ia hanya balik bertanya: ―Jenderal. Ia malu bukan main. ciangkun.‖ ―Bagus.‖ berkata Kwie-bun Liong Ong. untuk disuapi dengan paksa! Couw Tel menjadi gelagapan. ―Coan Cin Pay berpengaruh di Selatan dan Utara. kau menggunai ilmumu!‖ ia membentak. ia ulur tangannya meninju mukanya Ong Cinjin! Cie It tertawa. bocah itu tidak bakal lolos dari jambakan itu.‖ ―See Locianpwe. ―Pinto tahu tentang Kanglam Cit Koay. ia lekas berbangkit. ia sudah bekerja matimatian untuk negara Kim. sumpitnya itu terus ia pakai menyambar sepotong paha ayam. kaget dan gusar menjadi satu. sudikah totiang meluluskannya?‖ ―Tidak berani aku menerima pujianmu. ―Jangan gusar.‖ ia berkata. Bukankha ia orang Han yang bekerja pada bangsa Kim? Kenapa ia mesti ditanya lagi kalau bukan orang hendak menghina padanya? Ia justru paling tidak senang orang menyebut-nyebut kebangsaannya. Maka mukanya menjadi merah. sumpitnya dapat mempengaruhi Couw Tek tetapi tidak si orang she Nio ini. akan tekan pundak si jenderal. Dia terus menarik pulang tangannya itu. Menyaksikan kejadian itu. ―Maka itu aku mohon keterangan. Ong Cie It mengerti. tak dapat ia meneruskan meninju. tetapi dengan mereka itu. yang segera dibawa masuk ke dalam mulutnya orang she Thung itu. ―Maka perlu apa kau bergusar dan menggunakan kekerasan?‖ Ia angkat sumpitnya untuk menjempit kepalan orang. Akhirnya ia menegur: ―Eh. cepat luar biasa. Ia memang tidak puas dengan kedudukannya. hingga kursi itu tercengkeram rusak seraya menerbitkan suara keras. ilmu Bahagian Luar. Thie Kak Sian Giok Yang Cu tahu. Tidak karu-karuan cukongnya kehilangan uang seribu tail perak. hingga tubuhnya Kwee Ceng tertolak mental. hebatnya tak sama dengan Kiu-im Pek-ku Jiauw dari Hek Hong Siang Sat akan tetapi toh tidak kalah. ia penasaran sekali. aku yang bodoh tidak merasa takut. maka selagi orang menekan pundak si jenderal itu. See Locianpwe. maka ketika ia berbangkit pula. tetapi dia tidak berhasil. tosu. ―Silakan locianpwe mengatakannya. pada ini terang ada salah mengerti. Irawan D Soedradjat Page 196 .

Tentang bocah ini. ―Nama besar dari tuan-tuan telah lama pinto buat pangenan. selagi mereka berkerja dan nampaknya bakal berhasil. pinto minta tuan-tuan mempertunjuki dulu ilmu kepandaian kamu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Hau. ―Coba jelaskan duduknya hal. ―Anak ini pinto yang bawa datang ke istana ini. ia mendapat salah dari Yang Mulia Chao Wang. bahkan ia berbareng mesti melindungi satu bocah. Coba tuantuan pikir. jalan yang terbuka ialah memperlambat tempo sambil mencoba mencari tahu sikap sebenarnya dari para hadirin masing-masing. supaya ia insyaf bahwa di luar langit ada langit lainnya. Cuma lebih dulu daripada itu. sekalian untuk memberi pengajaran kepada bocah ini. lalu mendadak ia lompat maju. supaya kita dapat menimbangnya. Kalau benar saudara tidak sudi melepaskan padanya. cara bagaimana kami bisa lakukan usaha yang besar?‖ Kata-kata itu berpengaruh untuk para hadirin itu. di atas orang pandai ada pula yang terlebih pandai lagi. Ia bingung sebab musuh tangguh semuanya. Kemudian ia berkata: ―Sebenarnya aku tidak bermusuh langsung dengan anak she Kwee ini. ―Bagaimana caranya bocah ini mendapat salah dari saudara See?‖ dia tanya. ia menginjak-injak. Perkataan orang diatur dengan halus. dengan membesarkan nyali. cawannya ia hirup kering. kalau ia mengotot. coba kau perlihatkan Soat-lie May Jin. mendengar perkatannya Giok Yang Cu. Sejak turun gunung. ini juga pinto tidak dapat menentangi.‖ ia berkata. ―Sabar. supaya selanjutnya dibelakang hari. maka itu sudah selayaknya kalau nanti pinto membawanya keluar secara baik-baik. habis itu. kepala di bawah kaki di atas. kalau satu bocah begini tidak dapat dibereskan. See Thong Thian telah berpikir: ―Imam ini lihay tak ada di bawahanku.‖ berkata Cie It tenang. untuk membikin padat. Ia lihat. locianpwe. Aku ada punya empat murid tolol. sampai sebatas dada.‖ ia berkata. ia mendahului berbangkit. Irawan D Soedradjat Page 197 Ketika itu hujan salju masih belum berhenti. . tiba-tiba mereka diganggu oleh bocah ini. ia mundur tiga tindak. sedang sebenarnya pinto tidak sanggup berbuat demikian…. Diam-diam Cie It bingung juga mendapatkan semua mata diarahkan kepada Kwee Ceng. untuk minta Ong Cinjin memberi pengajaran padamu!‖ ―Itulah aku tidak berani. menentang si imam. mereka dalah orang-orang undangan Wanyen Lieh. Ia tahu orang mengejek padanya tetapi tidak tahu ia bagaimana harus memberikan jawaban.‖ ia menambahkan. Yang Mulia Chao Wang menjadi sangat gusar karenanya. seraya menunjuk Kwee Ceng. aku minta sukalah kau mempertunjuki sesuatu agar pinto dapat pentang mataku. ia lantas duduk pula. ―Maka itu saudara Hauw. itulah hal yang sangat menggembirakan pinto. tidak dapatkah kau mencari ia dilain hari?‖ Auwyang Kongcu lantas campur bicara. Untuk melayani dia.‖ Cie It membilang keras. ―Ia muda dan tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. mereka turut Yang Mulia Chao Wang pergi ke Mongolia untuk suatu urusan. ―Kebiasaanku tidak berarti. pinto tidak dapat bilang suatu apa. kepala itu nuncap melesak ke dalam tumpukan salju itu. Hauw Thong Hay sudah lantas pergi ke lataran dimana dengan kedua tangannya ia menumpuk salju sampai tingginya tiga kaki. bocah ini pasti tidak bisa dibiarkan tinggal tetap di sini. Kecuali Cie It dan Kwee Ceng. Ia lantas memikirkan daya untuk meloloskan diri bocah itu. ―Hari ini pinto berjodoh bertemu sama tuan-tuan.‖ Ong Cie It berkata pula. ia pernah menghadapi pelbagai pertempuran tetapi tidak seperti ini kali. Tuan-tuan berniat menahan dia. memang lebih baik tidak usah bertempur dengannya. ―Biarlah aku yang belajar kenal lebih dulu denganmu.‖ Sebelum menjawab.‖ Hauw Thong Hay sudah menahan sabar sekian lama. untuk singsatkan bajunya. supaya nanti ia jangan mengatakan pinto todak sudi melindungi padanya. See Thong Thian juga berpikir: ―Imam-imam dari Coan Cin Pay tidak dapat dibuat permainan. kau lindungi bocah ini?‖ menegur Thong Thian karena kegagalannya itu. mana berani pinto mengadu kepandaian dengan tuan-tuan. guna diserahkan pada Chao Wang. supaya bocah ini dapat melihatnya.‖ Maka ia lantas awasi Thong Hay dan berkata kepadanya: ―Sutee. yang diundang dengan kehormatan dan bingkisan berarti. aku mesti dapat satu pembantu yang lihay…‖ Maka itu. dia jangan berani pula banyak tingkah!‖ Hauw Thong Hay mendongkol sekali. Dengan lantas mereka itu memikir untuk menahan si bocah.

―See toako. lantas semua sumpit – dua puluh pasang – terlempar ke salju dan nancap. dengan bergembira mereka luluskan permintaan itu. tidak demikian dengan Ong Cie It. ia ayun tangannya. tetapi biji kwaci itu dapat disentilkan demikian rupa. seperti burung menyisit. barulah dua tangan Thong Hay bergerak. dia malah tersenyum. Ketika itu See Thong Thian benar-benar telah membuat huruf ―Wie‖ yang terakhir. maka setelah totiang ini hendak menguji kepandaian kita. atas mana. lalu semua biji beruntun dikasih masuk ke dalam mulutnya. mulanya ia merintangi . See Thong Thian dan lainnya yang lihay. kepandaianmu ini membuatnya aku takluk sekali! Kita biasa berkerjasama. ia tidak tahu ilmu silat apa itu. Thong Hay melirik pada bocah itu. yang sembari bicara mengulurkan tangannya ke piring kwaci. Persahabatan mereka adalah dari persahabatan dua tigapuluh tahun. maka biji kwaci itu meluncur ke tembok putih di hoa-thia itu. Kata Ong Cie It dalam hatinya: ―Tidak heran Kwie-bun Liong Ong menjagoi sungai Hong Ho. Malah Ong Cie It segera Irawan D Soedradjat Page 198 . Peng Lian Houw sudah memegat meluncurnya biji-biji kwaci itu. maka mereka ini diam-diam terkejut sendirinya. dia berdiam saja. semua sumpit nancap rapi merupakan empat tangkai bunga bwee! Kwee ceng dan Wanyen Kang kurang mengerti ilmu kepandaian itu. ia sudah keluar dari salju dan berdiri tegak. mulutnya itu sudah lantas kermakkermik. nancap di tembok merupakan satu huruf ―Yauw‖. Kwee Ceng yang polos memuji sambil bertepuk tangan. Segera setalah memegang. maka itu dapat diduga See Thong Thian hendak menuliskan empat huruf ―yauw bu yang wie‖ yang artinya menentang pengaruh atau menjagoi. Apa yang luar biasa. setelah mana jari tangannya yang tengah disentilkan tak hentinya. mereka pandai berenang dan tahan selulup lama. tetapi mereka terus minum arak mereka. Ia tunggu sampai pelayan membawa datang tambahan barang makanan dan semua sumpit bekas ditukar dengan yang baru. untuk menjumput. biji kwaci enteng. ―Kasar kepandaiannya suteeku ini. untuk mengatakan: ―Auwyang Kongcu hendak mempertunjukan apa untuk kami dapat membuka mata kami?‖ Kongcu itu dengar suara orang ada mengandung nada menyindir. Menyaksikan itu Peng Lian Houw manjadi bertangan gatal. kemudian Thong Thian menoleh kepada Auwyang Kongcu. untuk mana ia mesti menahan napas. Ia berkata. Gangguannya Peng Lian Houw itu tidak membuat Thong Thian kecil hati. ―Ah. itulah bukti dari tenaga dalam yang terlatih sempurna. ia hanya mendatangkan tertawaan…‖ berkata See Thong Thian. akan tetapi baru huruf selesai separuhnya. dia memang lihya sekali.‖ Di tembok sekarang terlihat lagi dua huruf.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng heran. Saking kagum. sumpit bekas itu ia ambil dari tangannya si pelayan. yang terus aja lompat balik ke kursinya. lalu sejenak saja. Selang sekian lama. ―Bu‖ dan ―Yang‖. Jarak ke tembok ada kira-kira tiga tembok. karena ini Thong Hay dapat nyelusup ke dalam salju. Sebenarnya See Thong Thian bersama-sama Hauw Thong Hay telah menjagoi di sungai Hong Ho. yaitu ―Soat-lie May Jin‖ atau ―Mengubur orang di dalam salju‖ See Thong Thian lantas berkata pada pengiring-pengiringnya Wanyen Kang: ―Tolong tuan-tuan membikin padat dan keras salju disekitarnya Tuan Huaw!‖ Kawanan pengiring itu girang sekali. lalu ia kembali ke kursinya. aku pun dengan meminjam pengaruhmu. Orang semua heran dan akgum. ingin mempertunjuki sesuatu…‖ Ia lantas saja lompat ke tengah ruangan itu. kwaci itu ia makan isinya dan kulitnya dilepehkan! ―Bagus!‖ orang banyak berseru memuji. tubuhnya ikut. meski ia tahu namanya seperti telah disebutkan See Thong Thian. aku tidak sanggup memakan lebih jauh!‖ berseru Peng Lian Houw. mereka telah mengenal baik satu dengan lain. Setelah itu barulah See Thong Thian rampungkan huruf ―Wie‖ itu.

untuk ulur tangannya yang kanan ke pinggangnya batu. mereka heran. ia lompat turun dari pelatok sumpit. terus ia berkata: ―Barusan aku saksikan kepandaian mengagumkan dari tuan-tuan. Ong Cinjin berbuat begini tentulah disebabkan dia bersendirian saja. ia kembali ke kursinya. mereka ini bakal turun tangan…‖ Maka itu si imam segera melirik paderi dari Tibetb itu. begitu ia kerahkan tenaganya. sedang beratnya batu ada tujuh atau delapan puluh kati. maka batu itu lantas diam di dahinya itu. untuk kagetnya mereka. melewati dua orang. celakalah Wanyen Kang. dan setelah turunkan ketiga batu itu. Mereka justru menantikan tanda dari paderi itu untuk bergerak. Kemudian lagi si imam taruh tangan kirinya di punggung pangeran itu. Sebelum batu itu turun. Irawan D Soedradjat Page 199 . ketiganya menjadi saling susul. asal tangan kirinya digeraki. untuk menemui satu saja sudah sukar! Apakah tak boleh jadi bahwa mereka ada mengandung sesuatu maksud?‖ Selagi si imam berpikir. Paling akhir Ong Cie It isikan cawannya Kwee Ceng serta cawannya sendiri. Lalu menyusul batu yang kedua dan yang ketiga. Batu itu segera diapungkan. See Thong Thian semua kaget berbareng gusar tetapi mereka tak segera dapat berdaya. Asal tangannya digeraki. tangannya menyambar kepada Wanyen Kang. Ia mengasih lihat senyuman. kemudian ia letaki poci arak. Dengan rangkapi kedua tangannya. ia memuji tak henti-hentinya. tapi barang berat itu tidak mengurangi kegesitannya. Dengan satu lompatan. mereka menjadi heran. terlepas dari tangan dan mencelat naik dua tombak tingginya. Hal ini dapat dilihat semua orang. Yang lain-lain baru dapat melihat setelah uap itu nampak semakin nyata. hanya selagi yang lain-lain sudah selesai. mirip asap. Pelayan-pelayan telah datang dengan baskom yang terisi air hangat. ―Aku tidak boleh berlambat lagi. untuk digeser ke depannya. arak meluncur keluar dari mulut poci. Dengan tangan kanannya. tidak ada tanda bahwa ia merasa letih. mereka lihat pangeran itu ditotok hingga ia menjadi tak berdaya lagi. tubuh siapa ia terus angkat. ―Mungkin sehabis dia. hanya yang istimewa. Kemudian. maka dengan ini aku hendak menghormati kamu dengan secawan arak. Leng Tie Siangjin beramai menginsyafi tenaga dalam yang terlatih baik dari imam ini. memberi hormat kepada orang banyak. Kwee Ceng kagum bukan main.‖ Ia menjunjung tiga buah batu yang beratnya rua ratus kati lebih. memainkan ilmu silat ―Yan Ceng Kun. akan kemudian terdengar suara perlahan dari air bergolak. ―Cuma Leng Siangjin yang belum mengasih lihat kepandaiannya. Mereka insyaf juga. mengisi hingga penuh. ia tanggapi dengan dahi. untuk angkat cawannya yang ia hirup kering. berdiri di atas itu ia lantas bersilat. untuk semua tetamu membersihkan tangan mereka. haha-hihi. ia pergi ke samping tambur batu di depan hoa-thia itu. ia menangkap nadinya siauw-ongya itu. Selagi semua orang heran dan kagum. Selang lagi sesaat.‖ katanya dalam hati. sikapnya wajar saja. turun ke dalam cawan. aku mesti mendahului turun tangan terhadap dia…‖ Tengah semua mata diarahkan kepada Leng Tie Siangjin. ia tiba diatasnya pelatok-pelatok sumpit Auwyang Kongcu tadi. yang duduk berselang daripadanya. batu itu kena terangkat. ―Hebat tenaga dalamnya paderi ini. maka itu. Dan ketika batu yang pertama turun. Ong Cie It dan Auwyang Kongcu adalah yang paling dulu menampak perubahan. lagi dua batu diangkat dan diapungi seperti yang pertama itu.‖ Ia tidak berbangkit tapi ia dapat menuangi arak ke dalam cawannya semua orang. ia masih merendam kedua tangannya di dalam baskom. Adalah biasa untuk tukang-tukang dangsu mempertunjukan permainan batu seperti Nio Cu Ong ini.Pendekar Pemanah Rajawali berpikir: ―Kenapa orang-orang lihay ini dapat berkumpul di sini? Biasanya. Ong Cie It cenderungkan tubuhnya. Orang lantas melihat kejadian ini. Ong Cie It terperanjat. Leng Tie Siangjin mencuci tangan seperti yang lain-lain. Ong Cinjin angkat poci arak. dan setiap tindakan kakinya tidak pernah meleset dari ujung sumpit. Habis itu ia berbicara. tidak ada arak yang berceceran. Kelihatannya pesta bakal ditutup sampai disitu. Baskomnya si paderi lantas saja menghembuskan hawa napas sebagai uap. Cu Ong jalan perlahan-lahan ke tengah latar. Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong berbangkit sambil tertawa. ini dimainkan di atas pelatok sumpit dan sumpitnya tidak ada yang patah atau miring karena ketindihan tubuh dan batu yang berat itu.‖ Cie It berpikir. Baru setelah habis semua jurus itu.

tiba-tiba Leng Tie Siangjin berbicara. contoh dalam dirinya Leng Tie Siangjin juga membikin hati mereka gentar. ―Sungguh aku takluk. ―Totiang sangat lihay. Sambil tersenyum. Cuma hanya sekali bentrok. ―Pinto juga tidak bersanak tidak bersahabat dengan anak ini. dengan sikutnya Ong Cie It bentur pinggangnya Wanyen Kang. Ong Cie It segera tarik tangan Kwee Ceng. beginilah kita mengambil keputusan.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto tidak berselisih. akan tetapi ketika ia buka kedua tangannya itu. pinto minta sukalah tuan-tuan melepaskan dia hari ini. tetapi ia diejek si imam. maka pangeran itu bebas dari totokan.‖ Tanpa bersangsi sedikit juga. maka itu mesti ada harinya yang kita nanti bertemu pula!‖ Setibanya mereka di pintu hoa-thia. ia tidak dapat mengendalikan diri. ―Aku bukan hendak menahan ini bocah she Kwee. tangan kanannya diulur. Sebat luar biasa.‖ Semua orang berdiam. dengan sikapnya yang menghormat. buat diajak berlalu dengan cepat-cepat dari istana itu. Coba ia berlaku tenang dan mainkan napasnya. Ia kerahkan tenaga latihannya dari beberapa puluh tahun untuk memcahkan serangan hebat itu. Imam ini benar-benar tidak dapat dibuat permainan. See Thong Thian beramai tidak berani mencegah. bukan saja memang mereka seudah berjanji. yang menanti jawaban. Masih ia mengucapkannya: ―Ijinkanlah kami mengundurkan diri. lalu ia tarik tangannya Kwee Ceng untuk diajak pergi. aku hanya hendak menahan kau…‖ katanya. tetapi si imam pun tidak diam saja. lantas saja ia muntah darah. ia bersemangat. yang kau membuatnya orang sangat kagum!‖ demikian katanya. mengapa kata-katanya tidak masuk hitungan?‖ Leng Tie menjadi gusar. kedua tangan sama-sama ditarik pulang. ―Maka pinto juga akan bebaskan ini siauw-ongya. untuk memberi hormat. dengan perlahan Giok Yang Cu berkata kepada bocah yang ia tuntun itu: ―Kau gendong aku sampai di rumah penginapan…‖ Irawan D Soedradjat Page 200 . ia mengantarkan keluar. Sampai bertemu pula!‖ Semua orang mengawasi denagn air muka guram. apabila ada tempo yang luang. Ia percaya semua jago itu. cuma pinto merasa suka kepadanya karena dia berhati polos dan pemurah. aku takluk!‖ berkata Leng Tie Siangjin yang air mukanya berubah. yang terus bilang: ―Urusan kita telah selesai. Bukankah ikan telah masuk ke dalam jala tetapi dapat lolos pula? Tidakkah itu sayang? Wanyen Kang telah lantas dapat menenangkan hatinya. Habis itu ia mengangguk kepada semua orang. Sesudah belasan tombak keluar dari pintu istana. silakan sembarang waktu datang untuk pasang omong di sini. untuk menyambar lengannya Ong Cie It. tidak peduli mereka licin atau licik. setelah melintasi sebuah tikungan dan melihat di belakangnya tidak ada orang yang menyusul mereka. karena ia telah lantas dapat melihat sambaran itu. tidak berani mereka merintangi.‖ berkata pula Ong Cie It. terus ia dikembalikan ke kursinya. seraya melompat mundur.‖ Ia lantas berbangkit. ia kata kepada Ong Cinjin: ―Totiang. ―Baiklah. ―Hm!‖ bersuara si imam. ia bertanya: ―Nama Taysu bersemarak dalam dunia kangouw.‖ katanya. Siauw-ongya adalah seumpama cabang emas daun kumala. siuran angin hebat menyambar ke arah si imam! ―Celaka!‖ Ong Cie It berseru di dalam hatinya dengan ia lekas-lekas angkat kedua tangannya untuk membalas hormat. kau baik sekali!‖ berkata Nio Cu Ong tertawa. tidak bermusuhan dengan tuan-tuan. darahnya itu tidak nanti menyemprot keluar. ―Jikalau tuan-tuan memberi ampun kepada anak ini. ini anak sebaliknya adalah satu anak rakyat jelata. Ong Cie It tersenyum. tapi belum dapat ia meneruskan. ia menyambuti dengan sama kerasnya. Sebab bentrokan itu membuat ia terluka. supaya aku yang lebih muda dapat banyak pengajaran. Ia merangkapkan kedua tangannya. tidakkah siauw-ongya rugi? Bagaimana?‖ ―Ong Totiang. Leng Tie Siangjin mengubah tenaga dalamnya menjadi tenaga luar. ia pun berbalik menyambar lengan lawan. dari itu jikalau mereka ditukar guling. Maka itu denagn memandang kepada mukaku. Mereka berdiam sejak Wanyen Kang dicekuk.

kau letaki aku di dalam jambangan itu. ia girang sekali. Ia juga lantas dapat melihat roman pucat dari si imam. Ia tidak tahu jalanan. Kwee Ceng lari ke dalam kamar untuk memberi kabar. seperti ynag kehabisan napas. ―Benar. totiang?‖ Kwee Ceng tanya. Tangn Pasir Merah sering aku menemukan tetapi tidak ada yang lihay seperti ini. Kira semakanan nasi lamanya. ia maju terus. ―Coba bantui aku bangun. air ini tukar dengan yang bersih. lalu tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung. ia memasukinya.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng kaget sekali. ―Kau isikan penuh air bersih…‖ ―Untuk apakah itu. Tapi ia menghela napas ketika ia berkata pula: ―Paderi dari Tibet itu sangat berbahaya!‖ Kwee Ceng berlega hati. Cie It sudah berendam pula di dalam air yang baru. Ia tahu imam ini khawatir nanti disusul musuh.‖ sahut Cie It. Kwee Ceng melayani terus sampai ia tukar air tujuh kali. Di pihak lain. tetapi tanpa pedulikan itu. Kwee Ceng menurut. terus diisikan air dingin. Ong Cie It mengangguk. Setibanya di dalam. Cie It tidak menyahuti. Ia cari orang hotel. ia letaki sepotong perak di atas meja seraya minta lekas disediakan jambangan. ia pilih yang sepi saja. Maka itu jongos kegirangan. Syukur ia lantas dapat cari sebuah hotel yang kecil dan jorok. Permintaan itu diturut. Kwee Ceng mengerti. baru air itu tak lagi berubah hitam. kulit muka si imam dari pucat pasi berubah menjadi bersemu dadu. ―Sekarang pondong aku. Ia juga memberi persen kepada si jongos. atas mana Giok Yang Cu lantas saja tertawa dan berkata: ―Sudah tidak ada bahaya lagi!‖ Dengan pegangi pinggiran jambangan. tetapi Cie It bilang dengan perlahan: ―Cari…cari tempat yang sepi dan hotel kecil…‖ Kwee Ceng menurut. Irawan D Soedradjat Page 201 . ―Itulah racun dari Cu-see-ciang. yang ia terluka dan ia sendiri tidak punya guna. supaya bocah itu lekas pergi. dengan tenang ia mainkan napasnya. ―Adakah totiang terluka?‖ ia tanya heran. maka lantas saja ia membungkuk di depan si imam itu. ―Apakah tangannya paderi Tibet itu ada racunnya?‖ ia tanya. air jambangan yang bersih bening itu berubah menjadi hitam. anak yang baik!‖ berkata Ong Cie It. untuk menggendong dia. Ong Cie It merendam di dalam jambangan seraya memeramkan kedua matanya. mereka bisa terancam bahaya. untuk menyembuhkan diri dari luka di dalam akibat pertempuran dahsyat dengan Leng Tie Siangjin. Hari ini hampir aku kehilangan jiwa…‖ ―Totiang ingin dahar apa? Nanti aku pergi belikan. ia masuki tubuh orang ke dalam jambangan hingga sebatas leher. maka sebentar kemudian. Imam ini umpama kata cuma menang seurat. yang diletaki di cimche. ―Bagus.‖ ia minta kepada Kwee Ceng. ―Lekas…lekas cari sebuah jambangan besar…‖ berkata Ong Cie It. Ilmu semacam itu. Ia dengar suara orang sangat lemah. cepat-cepat ia sediakan barang yang diminta itu. ia hanya memberi tanda dengan tangannya. untuk dibawa pergi denagn cepat. Sekarang barulah Kwee Ceng ketahui orang tengah mengerahkan tenaga dalamnya. sedang jongos ia pesan untuk melarang siapa saja masuk ke cimche itu. ia segera turunkan imam itu di atas pembaringan. sambil berlari-lari. ia dapat merayap keluar. Sementara itu ia merasai napasnya si imam semakin mendesak. Ia mau mampir di sebuah hotel yang pertama diketemukan.‖ Kwee Ceng tanya kemudian. Kau larang orang lain datang dekat padaku…‖ Kwee Ceng tidak mengerti tetapi ia pondong si imam itu.

jauhnya kira-kira sepuluh lie. ―Siapa bawa surat ini?‖ ia tanya jongos. ―Akun mengerti sekarang. Laginya belum tentu aku bakal mati. Surat itu berbunyi singkat saja: ―Aku menunggu kau di telaga di luar kota barat. wajahnya menjadi guram. hatinya lega. untuk dibaca isinya. gu-cit. Cit It tertawa pula. kenapa mereka tidak?‖ berkata si imam.‖ Kwee Ceng mengerti. Ia heran. Di jalan perapatan ia lihat rumah obat yang pertama. empat rupa obat itu tidak ada. Imam itu menghela napas. Ada urusan penting yang hendak aku damaikan. mungkin ia dapat berunding dengan temannya itu. diam-diam ia keluar dari kamar. menyerahkan sepucuk surat kepadanya. Ia putus asa. ia lantas taruh kepalanya di atas meja dan menangis megerunggerung. Lekas datang!‖ Surat itu tidak memakai tanda-tanda hanya lukisan gambar dari satu pengemis bocah. Maka itu ia beritahu bahwa ia ingin menemui sahabatnya itu. ―Kenapa aku tidak mau pergi ke tempat yang berdekatan. jikalau dalam duabelas jam itu tak disingkirkan. ―Tentulah orang dari istana Chao Wang yang memborong semua obat itu. Surat itu dialamatkan kepadanya. Kwee Ceng samber resepnya. ia ingin mencoba. Malah didua tiga rumah obat yang terbesar.‖ sahut jongos itu. Justru ia mau cari jongos. Surat itu bagus tulisannya dan kertanya berbau harum. ia mengawasi. Makanya ia mesti pergi ke lain toko obat lagi. akibatnya akan menyebabkan cacad seumur hidup. Bocah ini tidak berani mengganggu. Irawan D Soedradjat Page 202 . sebab mereka ketahui Ong Cinjin pasti membutuhkannya. ―Tetapi hawa racun di dalam tubuh belum bersih betul.‖ Tanpa minta penjelasan. obat-obatan itu masih tidak kedapatan. Kwee Ceng masuk ke dalam kamar Cie It. ―Kematian pun tidak harus disayangkan. hingga mereka menjadi sahabat. ―Di sana belum tentu obat itu telah orang beli juga…‖ Ingat begini. Maka ia mau tanya jongos.‖ kata bocah ini kemudian. ia pergi sambil terus berlari.Pendekar Pemanah Rajawali Cie It pinjam perabot tulis pada tuan rumah. Kwee Ceng heran. Kwee ceng tuturkan pertemuannya sama Oey Yong. ―Tidak usahlah kau pergi. tujuh atau delapan rumah obat semua kehabisan empat rupa bahan obat itu. ―Kita dapat pikir ini. kepada Ong Cie It ia tuturkan kegagalannya. bek-yo dan hitam baru habis. Ong Cie It tertawa. Kwee Ceng sangat jujur dan hatinya lemah. Ia menjadi bingung dan mendongkol. di dekat-dekat dimana ada toko obat. bocah ini lari pulang ke hotel. ia segera mampir dan serahkan resepnya itu. ―Kebetulan saja obat hiat-kat. ―Sayang tuan. maka itu kenapa kau menangis?‖ Lalu dengan suara halus ia bernyanyi. Ia girang berbareng heran.‖ berkata si imam itu. untuk lari ke rumah obat yang lain. Ia pun beri lihat suratnya Oey Yong itu.‖ Kwee Ceng tidak menjadi putus asa. Ia terus robek sambpul surat. ―Jiwa manusia sudah ditakdirkan. yang tersenyum berseri-seri.‖ ia berkata. ―Aku telah bebas dari bahaya jiwa. ―Seorang gelandangan di jalan besar. Di sini ia diberi tahu.‖ kata pelayan setelah ia membaca surat obat itu. Untuk herannya. ―Siapa yang mengirim surat ini?‖ ia menanya dalam hatinya. terus ia duduk bersemadhi di atas pembaringan.‖ pikirnya kemudian. ia lihat imam itu lagi melatih kaki dan tangannya. katanya baru saja ada orang yang borong. ―Cara bagaimana kau kenal anak itu?‖ ia tanya. Ong Cie It berpikir. Sungguh jahat!‖ Dengan masgul. Ia ingat Oey Yong cerdik sekali. Sekarang kau tolongi aku lekas membeli obat. Ia lantas kasih tahu bahwa ia mau pergi beli obat ditempat lain. jongos datang dengan cepat. ia menulis sehelai surat obat. Untuk kegirangannya Kwee Ceng kenali romannya Oey Yong.

Pendekar Pemanah Rajawali ―Aku telah saksikan caranya ia mempermainkan Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. di pepohonan. engko Kwee. salju melulu yang tampak. yang rambutnya panjang meroyot melewati pundak.‖ Di dalam hatinya. Ong Cinjin menghela napas. lantas lumer. Tanpa mengalami sesuatu.‖ berkata Ong Cinjin. ia lihat sinar terang dari air telaga. sahabat sehidup semiati……. ia tampak segala apa putih meletak. Kwee Ceng terkejut. Kwee Ceng berpikir: ―Totiang membeilang begini sebab ia belum tahu sifatnya Oey Hiantee…‖ Ia menyebutnya ―Oey Hiantee‖ = ―adik she Oey‖. dengan hatinya masgul. Memandang ke sekitarnya. ―Di dalam ilmu kepandaian. rambutnya di bagian atas ada pitanya dari emas. jikalau ia hendak mencelakai padamu. hingga emas itu bercahaya di antara sinar putih dari salju. Orang berumur belum lima atau enambelas tahun. ―Apa mungkin dia sia-sia menanti aku dan dia lantas pergi duluan?‖ ia berpikir. kau pergilah lekas!‖ katanya. ―Kwee Koko. ―Apakah kau tidak kenal aku?‖ Kwee Ceng perhatikan suara orang. Itulah suaranya Oey Yong. Ia berdiri menjublak bagaikan orang yang tengah bermimpi. Lantas ia tuturkan perihal kebaikannya sahabatnya itu. Karena hawa udara tidak sangat dingin. Tapi ia masih dapat berpikir. sehidup semati. ia lihat sebuah perahu muncul dari bagian telaga yang lebat dengan pepohonan. Belum terlalu lama atau dari tengah telaga terdengar suara tertawa halus.‖ ia pesan. ―Dia luar biasa gerak tubuhnya. sedang tangan baju orang memain di antara sampokan angin. Ia lari keluar kota barat tanpa menghiraukan salju berterbangan menyampok mukanya. disana tidak ada tapak-tapak manusia. bajunya putih mulus. ! Tapi sahabatnya itu adalah satu pemuda dengan muka kotor dan pakaian compang-camping…. Adalah di tepian. kapan Kwee Ceng menoleh. Tidak ada bayangan orang sekalipun. salju jatuh ke air. ―Mana itu dapat disebut persahataban sehidup semati? Jangan kau pandang enteng dia sebagai bocah! Kau tahu. Aku lihat padanya seperti ada terselip sifat-sifat kesesatan. tanda ia sangat percaya pada Oey Yong. Tapi ia buka mulutnya. tidak tambah kecerdikan kamu…‖ Imam ini tetap percaya Oey Yong bukan orang dari golongan yang sadar. maka baiklah aku menunggu ia disini…‖ Maka ia lantas menantikan sambil ia pandangi keindahan telaga di musim salju itu. begitu ia tampak satu wajah yang manis sekali. kulitnya putih halus. dia jauh terlebih lihay daripada kau. ―Baru berapa lama kamu bersahabat?‖ katanya.‖ menyatakan Kwee Ceng. Sesudah hampir sepuluh lie. lanats ia berlalu dari hotel. ―Oey Hiantee! Oey Hiantee!‖ ia memanggil pula. mukanya dadu segar. ―Mungkin ia belum datang. mari naik ke perahu!‖ tiba-tiba dia memanggil. Itulah sebuah perahu kecil dengan penumpangnya. Ia dipanggil selagi ia menoleh ke lain jurusan. Begitu ia menoleh. yang duduk di belakang perahu. Ia pun bertindak dari tepian. ada satu nona. ―Bagaimana. akan perdengarkan suara nyaring: ―Oey Hiantee! Oey Hiantee!‖ Tidak ada jawaban. sahabat eratnya. eh.‖ berkata pula si nona. ―Baik. Ada Kuping Di Balik Tembok Kwee Ceng tiada bilang apa-apa lagi. kemudian ia kucak-kucak matanya dengan kedua tangannya. Kenapa sekarang tercipta menjadi satu bidadari? Irawan D Soedradjat Page 203 .. Disekitarnya yang luas. hanya aku tidak tahu pasti apa itu…‖ ―Kita bersahabat sangat erat. ia masuki resep ke dalam sakunya. Kwee Ceng mengawasi dengan menjublak. romannya cantik sekali dan manis. Dia menyebutnya ―Kwee Koko‖ = ―Engko Kwee‖. bocah ini menjadi heran. kau tentu tidak dapat layani dia…. Ong Cinjin tertawa. Si nona mengayuh perahunya sampai ke pinggir telaga. tidak nanti ia celakai kau. cuma dua ekor burung air yang terbang gelapakan di telaga. Ia dapatkan si nona bagaikan bidadari. ―Semua anak muda berkelakuan seperti kamu. Bab 19. yang percaya betul sahabatnya itu. tidak berani ia mengawasi terus-terusan. Ia lantas berpaling ke lain jurusan. Kau harus berhati-hati. telaga itu tidak membeku.

Pendekar Pemanah Rajawali

Dalam kesangsiannya, bocah ini mengawasi dengan mendelong. Nona itu tertawa. ―Aku adalah Oey Hianteemu!‖ ia berkata. ―Benarkah kau telah tidak kenali aku?‖ Oleh karena ia menatap, Kwee Ceng kenali roman mukanya Oey Yong yang alisnya lentik dan mulutnya mungil, cuma dandannya lain. ―Kau…kau….‖ katanya perlahan. Oey Yong tertawa pula. ―Sebenarnya aku adalah seorang wanita,‖ ia berkata pula. ―Siapa suruh kau panggil aku Oey Hiantee dan Oey Hiantee tak sudahnya? Ayolah lekas naik ke perahu ini!‖ Kwee Ceng sadar, lalu ia enjoti tubuhnya, lompat ke perahu itu. ―Oey Hiantee…!‖ katanya. Oey Yong tidak menyahuti, ia hanya kayuh perahunya ke telaga. Ia lantas sajikan bekalannya, barang makanan dan arak. ―Kita duduk disini, dahar dan minum arak sambil memandangi sang salju, bagus bukan?‖ katanya merdu. Kwee Ceng mencoba akan menenangi diri. ―Ah…aku tolol sekali!‖ katanya kemudian. ―Sampai sebegitu jauh, aku sangka kau adalah seorang pria! Selanjutnya tidak dapat aku panggil lagi kau Oey Hiantee….‖ Oey Yong tertawa. ―Kau juga jangan panggil aku Oey Hian-moay,‖ ia berkata. ―Aku dipanggil Yong-jie. Ayahpun selalu memanggil aku begitu.‖ Dengan sendirinya nona ini tidak menghendaki di panggil ―Oey Hian-moay‖ = ―adik Oey‖ dan menghendaki di sebut namanya saja. ―Yong-jie‖ berarti ―anak Yong‖. Tiba-tiba Kwee Ceng ingat sesuatu. ―Aku membekali kau tiamsim!‖ katanya seraya terus kasih keluar tiamsim yang ia bawa dari istananya Wanyen Kang. Cuma sekarang tiamsim itu sudah pusak-pesok tiada karuan. Oey Yong mengawasi macamnya tiamsim yang tidak karuan itu, ia tertawa. Merah mukanya Kwee Ceng, ia jengah. ―Tiamsim ini tak dapat dimakan…‖ katanya. Ia ambil itu, untuk dilemparkan ke air. Oey Yong sambar tiamsim itu. ―Aku bisa makan!‖ katanya. ―Aku doyan!‖ Selagi si bocah tercengang, Oey Yong sudah menggayem tiamsim itu. Kwee Ceng mengawasi, sampai ia mendadak menjadi heran sekali. Oey Yong dahar tiamsim itu, lantas perlahan-lahan matanya menjadi merah, lalu air matanya perlahan-lahan mengalir turun… ―Begitu aku dilahirkan, aku sudah tidak punya ibu,‖ berkata Oey Yong yang dapat membade pikirannya sahabatnya. ―Seumurku, belum pernah ada orang yang ingat aku seperti kau ini…‖ Air matanya mengalir deras, ia keluarkan sapu tangannya ang putih bersih. Kwee Ceng menyangka orang hendak menyusuti air matanya, tak tahunya dengan cara hati-hati nona itu bungkus sisa tiamsim yang kemudian ia masuki ke dalam sakunya. ―Aku akan dahar ini perlahan-lahan…‖ katanya, dan kali ini ia tertawa. Benar-benar aneh kelakuan bocah wanita ini, Kwee Ceng asing betul dengan tingkah lakunya ini ―Oey Hiantee‖. ―Bilangnya ada urusan penting yang kau hendak bicarakan dengan aku, urusan apakah itu?‖ kemudian ia tanya. Ia sudah lantas ingat surat si nona dan untuk apa ia datang ke telaga ini. Oey Yong tertawa ketika ia menyahuti: ―Aku panggil kau datang kemari untuk memberitahukan padamu bahwa aku bukannya Oey Hianteemu, hanya Yong-jie. Apa ini bukannya urusan penting?‖

Oey Yong melengos ke samping. ―Kau bilang aku manis dipandang?‖ ia tanya. ―Manis sekali!‖ sahut si anak muda. ―Kau mirip dengan bidadari dari puncak gunung salju!‖ Ia menghela napas.
Irawan D Soedradjat

Page

204

Kwee Ceng tersenyum. Orang benar-benar jenaka. ―Kau begitu manis untuk dipandang, kenapa mulanya kau menyamar sebagai penemis?‖ ia tanya.

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong tertawa pula. ―Pernahkah kau melihat bidadari?‖ tanyanya. ―Aku belum pernah lihat. Kalau aku dapat menemui, mana aku masih hidup lagi…?‖ Oey Yong heran. ―Eh, kenapa begitu?‖ ia menegaskan. ―Sebab pernah aku dengar pembilangannya orang-orang tua, siapa dapat melihat bidadari, dia tidak bakal kembali ke tanah datar, untuk selamanya ia akan duduk bengong saja di gunung salju, lalu lewat beberapa hari, dia akan mati beku….‖ Oey Yong tertawa pula. ―Sekarang kau melihat aku, kau bakal bengong saja atau tidak?‖ tanyanya kemudian. Mukanya Kwee Ceng menjadi merah. ―Kita toh sahabat-sahabat kekal, kita lain…‖ Oey Yong menganggguk. Lalu ia berkata dengan sungguh-sungguh: ―Aku tahu kau baik hati dengan sesungguhnya, terhadap aku, tidak peduli aku pria ataupun wanita, biarpun aku bagus atau jelek.‖ Ia berhenti sebentar. ―Dengan dandananku ini, kalau orang bersikap baik terhadap aku, apakah anehnya? Diwaktu aku menjadi pengemis, kau baik sekali dengan aku, nah itu barulah sahabat sejati.‖ Ia rupanya sangat girang, semabri tertawa ia kata pula: ―Aku ingin bernyanyi untukmu, sukakah kau mendengarnya?‖ ―Apakah tidak boleh besok saja kau bernyanyi?‖ Kwee Ceng minta. ―Sekarang ini aku mesti pergi beli obat untuk Ong Totiang.‖ Kwee Ceng lantas tuturkan tentang adu kepandaian di istana Chao Wang, sampai Ong Cie It, yang melindungi ia, mendapat luka parah, bahwa sia-sia belaka ia mencari obat. Oey Yong mengawasi, ia tertawa. ―Aku pun heran sekali menyaksikan kau lari mondar-mandir di jalan besar dan memasuki rumah obat dari yang satu kepada yang lain, entah kau bikin apa, tidak tahunya kau hendak membeli obat,‖ katanya. Kwee Ceng menduga, selagi ia lari mondar-mandir, Oey Yong tentu telah mengintai padanya tetapi ia tidak tahu, kalau tidak, niscaya nona itu tidak ketahui ia tinggal di hotel mana. ―Oey Hiantee,‖ katanya kemudian, ―Apakah boleh pinjam kuda merahmu yang kecil untuk aku pergi membeli obat?‖ Oey Yong menatap. ―Ketahuilah!‖ katanya. ―Kesatu, aku bukannya si Oey Hiantee! Kedua, kuda merah yang kecil itu adalah kepunyaanmu! Apakah kau sangka benar-benar aku menghendaki kudamu itu? Aku melainkan lagi menguji hatimu. Ketiga, di tempat sekitar ini, belum tentu kau dapat mencari obat itu…!‖ Kwee Ceng berdiam, hatinya pepat. Ia bingung sekali. Dugaan si nona nyata cocok betul dengan dugaannya Ong Cie It. Oey Yong tertawa. ―Sekarang aku nyanyai, kau dengari!‖ dia kata. Lalu kedua bibirnya yang merah tergerak terbuka, segera lidahnya bergerak, memperdengarkan nyanyiannya yang halus dan merdu. Kwee Ceng mendengari dengan hati kesengsem walaupun tidak mengerti jelas artinya nyanyian itu, hatinya menjadi goncang. Seumurnya belum pernah ia peroleh pengalaman ini. ―Inilah nyanyian Sui Ho Sian dari Sin Tayjin,‖ kata Oey Yong perlahan habis ia nyanyi. ―Bagaimana kau bilang, bagus atau tidak?‖ ―Aku kurang mengerti tetapi didengarnya menarik hati,‖ Kwee Ceng menjawab. ―Siapa itu Sin Tayjin?‖ ―Dialah Sin Kee Cie,‖ sahut Oey Yong. ―Menurut ayahku dialah satu pembesar jempolan yang menyinta negara dan rakyat. Ketika dulu hari utara Tionggoan terjatuh ke dalam tangan bangsa Kim dan Gak Bu Bok terbinasa di tangan dorna, tinggal Sin Tayjin sendiri yang masih berdaya untuk merampas pulang daerah-daerah yang terhilang itu.‖ Kwee Ceng tahu kekejaman bangsa Kim dari penuturan ibunya, karena ia hidup di Mongolia, ia kurang tahu. Ia kata: ―Belum pernah aku pergi ke Tionggoan, maka hal ini baik nanti saja perlahan-lahan kau tuturkan padaku. Sekarang kita mesti pikirkan daya menacri obat untuk Ong Totiang.‖
Irawan D Soedradjat

Page

205

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kau dengar aku,‖ berakta Oey Yong. ―Kita pesiar dulu disini, tak usah kau cemas tidak karuan.‖ ―Ong Totiang bilang, kalau dalam tempo dua belas jam ia tidak dapat obat, ia bisa celaka,‖ Kwee Ceng jelaskan. ―Aku tanggung, kau akan dapatkan obat itu,‖ si nona bilang. Mendengar si nona bicara dengan sungguh-sungguh dan juga percaya orang memang ada terlebih pandai dan cerdik daripadanya, Kwee Ceng dapat juga melegakan hatinya. ―Mungkin ia tidak akan membikin gagal,‖ pikirnya. Maka ia lantas layani si cantik itu minum arak dan dahar makanan sambil mereka pasang omong. Dengan gembira, dan secara menarik hati, Oey Yong tuturkan bagaimana caranya ia menggangtung Hong Ho Su Koay, bagaimana ia ganggu Hauw Thong Hay sampai si Ular Naga Kepala Tiga itu mendongkol bukan main. ―Bagus!‖ seru Kwee Ceng saking gembira. ―Memang bagus!‖ kata si nona. Dan keduanya bertepuk tangan. Tanpa merasa sang tempo telah berlalu, Oey Yong lihat bagaimana secara perlaha-lahan sang mega atau kabut mulai menutupi air telaga yang putih. Dengan perlahan sekali ia ulur tangannya, terus ia genggam tangannya si Kwee Ceng, sembari berbuat begitu ia kata dengan perlahan: ―Sekarang aku tidak takut apa juga…!‖ ―Kenapa?‖ menanya si anak muda dengan heran. ―Taruh kata ayah tidak menginginkan aku, kau tentunya sudi aku ikuti kau, bukankah?‖ si nona tanya tanpa ia menyahuti pertanyaan orang. ―Pasti!‖ jawab Kwee Ceng sungguh-sungguh. ―Aku sendiri, belum pernah aku bergembira seperti sekarang ini!‖ Oey Yong membawa tubuhnya mendekati dada si pemuda dan menempelkannya, maka Kwee Ceng lantas saja merasakan ia bagai terkurung bau harum, bau yang meliputi juga antero telaga, seluruh langit dan bumi…… Tanpa mengucap sepatah kata, keduanya saling berpegang tangan….. Lagi sekian lama, tiba-tiba Oey Yong menghela napas. ―Tempat ini sungguh indah, sayang kita bakal meninggalkannya…‖ katanya. ―Kenapa begitu?‖ Kwee Ceng tanya. Ia heran. ―Bukankah kita harus mencari obat untuk menolongi Ong Totiang?‖ sahut si nona. Kwee Ceng sadar, ia menjadi girang sekali. ―Ah, ke mana kita mencarinya?‖ ―Ke manakah perginya itu beberapa rupa obat yang dibutuhkan, yang tidak berada di rumah-rumah obat?‖ Oey Yong menanya. ―Tentulah semua itu dibeli oleh orangnya Chao Wang,‖ menyahut Kwee Ceng. ―Benar!‖ berkata si nona. ―Tetapi tidak dapat kita pergi ke sana!‖ Kwee Ceng bilang. ―Pergi ke sana artinya kita mengantari jiwa kita…‖ ―Habis apakah kau tega membiarkan Ong Totiang menjadi bercacad seumur hidupnya?‖ Oey Yong tanya. ―Jangan-jangan, karena lukanya itu berubah menjadi berbahaya, ia pun bisa hilang jiwanya….‖ Darahnya Kwee Ceng bergolak. ―Baik, aku akna pergi!‖ ia bilang. ―Tapi kau jangan turut…‖

Kwee Ceng berdiam. Ia tidak punyakan alasan untuk kata-katanya itu.

Irawan D Soedradjat

Page

206

―Jangan turut? Kenapakah?‖ tanya si nona.

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong mengawasi. ―Engko yang baik,‖ katanya perlahan. ―Kau kasihanilah aku. Umpama kata kau menemui bencana, apakah kau sangka aku dapat hidup seorang diri saja?‖ Kwee Ceng menjadi sangat bersyukur dan bergirang. ―Baiklah!‖ katanya kemudian. ―Mari kita pergi bersama!‖ Keduanya lantas mengayuh, membuatnya perahu mereka ke pinggir, setelah mendarat, mereka menuju langsung ke istana Chao Wang, ke arah belakang. Mereka memasuki pekarangan dengan melompati tembok. ―Engko Ceng, sempurna sekali ilmu ringan tubuhmu!‖ Oey Yong memuji selagi si anak muda mendekam di kaki tembok untuk memasang kuping dan mata. Mendengar pujian itu, Kwee Ceng gembira bukan main. Merdu sekali suara si nona. Tak lama, mereka mendapat dengar tindakan kaki dibarengi sama suara bicara sambil tertawa. Mereka menutup mulut. ―Siauw-ongya mengurung si nona di sini, kau tahu untuk apa?‖ terdengar seorang menanya. ―Siauw-ongya‖ itu ialah pangeran muda. ―Buat apa lagi!‖ tertawa orang yang kedua. ―Si nona ada demikian cantik! Sejak kau dilahirkan, pernahkah kau melihat nona secantik itu?‖ ―Kau hati-hati, sahabat!‖ kata yang pertama, ―Melihat macammu ini, hati-hatilah, nanti siauw-ongya kutungi batang lehermu…‖ Kwee Ceng lantas berpikir: ―Kiranya Wanyen Kang sudah punya pacar maka juga ia tidak sudi nikahi nona Bok. Dalam hal ini, dia tidak dapat disesalkan. Cuma mengapa ia mengurung nona itu? Mustahilkah si nona menolak dan ia hendak gunai kekerasan untuk memaksa?‖ Dua orang itu sudah lantas datang dekat sekali, yang satu membawa tengloleng, yang lainnya menenteng barang makanan. Yang membawa makanan itu berkata pula sambil tertawa: ―Siauw-ongya aneh! Dia mengurung orang, dia juga khawatir orang kelaparan! Lihat, sudah malam begini dia masih suruh mengantarkan barang makanan….‖ ―Jikalau tidak berlaku manis budi, mana dia dapat merampas hati si nona?‖ berkata yang membawa lentera. Lantas mereka lewat, suara tertawa mereka masih terdengar. ―Mari kita lihat!‖ berbisik Oey Yong, yang hatinya menjadi tertarik. ―Sebenarnya bagaimana sih cantiknya orang itu…‖ ―Lebih perlu kita mencari obat,‖ Kwee Ceng bilang. ―Aku ingin lihat dulu si cantik!‖ kata Oey Yong, yang tertawa. Kwee Ceng heran sekali. ―Apa sih bagusnya orang perempuan untuk di lihat?‖ katanya dalam hati. Ia tidak menginsyafi sifat wanita. Kalau satu nona mendengar ada nona cantik lainnya, sebelum melihatnya, hatinya tidak nanti puas, kalau dia sendiri cantik, lebih keras lagi keinginannya melihatnya itu. ―Ah, dasar anak kecil….!‖ Luas pekarangan dalam dari gedung Chao wang itu. Mereka berdua berjalan berliku-liku menguntit dua hamba tadi. Mereka tiba di depan sebuah gedung besar yang gelap, tapi ada yang jaga. Mereka lantas umpatkan diri, untuk mendenagri kedua kacung itu bicara sama penjaga rumah itu, yang ialah seoarng serdadu. Dia ini lantas membuka pintu, untuk mengijinkan orang masuk. Oey Yong cerdik. Ia menjumput sebutir batu, dengan itu ia menimpuk lentera orang, hingga apinya lentera itu padam seketika, membarengi mana ia tarik tangan si anak muda, untuk diajak berlompat masuk ke pintu. Kedua kacung dan serdadu itu tidak menduga jelek, mereka cuma menyangka batu jatuh dari atas. Sembari mengutuk, mereka nyalakan pula lenteranya. Setelah membuka sebuah pintu dalam, yang kecil, berdua mereka masuk lebih jauh.

Irawan D Soedradjat

Page

207

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong dan Kwee Ceng menempatkan diri di sebelah belakang, dengan hati-hati mereka menguntit pula, sampai mereka berada di depan sebuah ruang seperti kerangkeng binatang liar, jerujinya semua besi kasar. Di dalam situ ada dua orang, terlihat samar-samar seperti pria dan wanita. Satu bujang lantas memasang lilin, yang mana ia masuki ke dalam kerengkeng. Maka sekarang terlihat tegaslah dua orang yang terkurung itu. Mengenali mereka, Kwee Ceng terkejut. Mereka adalah Bok Ek serta gadisnya, yang tadi siang mengadakan pibu mencari jodoh. Bok Ek nampaknya tengah bergusar. Liam Cu duduk di samping ayahnya dengan kepala tunduk. ―Bagaimana dengan Wanyen Kang? Sebenarnya dia sukai nona ini atau tidak?‖ Kwee Ceng beragu-ragu. Kedua bujang itu memasuki barang makanan berikut araknya. Bok Ek sembat sebuah mangkok, terus ia lemparkan. Ia berseru: ―Aku telah terjatuh ke dalam tipumu yang busuk, kalau kau hendak membinasakan, binasakanlah! Buat apa kamu berpura-pura menaruh belas kasihan?!‖ Belum sampai si bujang membilang apa-apa, di sebelah luar terdengar suaranya serdadu penjaga pintu yang tadi: ―Siauw-ongya baik?‖ Mendengar itu, Kwee Ceng dan Oey Yong berpaling, lalu lekas-lekas mereka mencari tempat sembunyi. Segera juga terdengar suara membentak sari Wanyen kang, yang datang dengan tindakan lebar: ―Siapa yang membikin Bok Loenghiong gusar? Awas, sebentar aku hajar patah kaki anjingmu!‖ Kedua hamba itu lantas bertekuk lutut. ―Hambamu tidak berani…‖ berakat mereka. ―Lekas berlalu!‖ membentak pula si pangeran. ―Ya, ya…‖ menyahuti kedua hamba itu, yang berlalu dengan cepat. Hanya setibanya mereka di pintu luar, mereka saling mengawasi dengan mengulurkan lidahnya masing-masing….. Wanyen Kang tunggu sampai orang telah merapatkan daun pintu, ia hampiri Bok Ek dan gadisnya. ―Jiwi silahkan kemari!‖ ia berkata, suaranya sabar sekali. ―Aku hendak membilangi sesuatu kepada kamu, harap kamu jangan salah mengerti.‖ ―Kau telah kurung kami sebagai pesakitan, apakah artinya undanganmu ini?!‖ Bok Ek menegur. Ia gusar sekali. ―Maafkan aku, menyesal sekali,‖ berkata Wanyen kang. ―Untuk sementara aku minta jiwi harap bersabar. Aku pun merasa tak enak hati.‖ ―Kau boleh akali bocah umur tiga tahun!‖ Bok Ek membentak pula. ―Aku tahu baik sifatnya kamu orang besar! Hm!‖ Wanyen Kang hendak bicara pula, saban-saban ia terhalang oleh bentakan orang tua itu, tetapi ia sabar luar biasa, sebaliknya dari bergusar, ia tertawa. ―Ayah, coba dengar dulu apa ia hendak bilang,‖ akhirnya Liam Cu berkata dengan perlahan. ―Hm!‖ orang tua itu perdengarkan suara di hidungnya. ―Nona seperti putrimu, mustahil aku tidak sukai dia‖ berkata Wanyen Kang. Mendengar itu, wajahnya Liam Cu menjadi merah, ia tunduk lebih rendah. ―Hanyalah aku adalah satu pangeran dan aturan rumah tanggaku keras sekali,‖ Wanyen Kang berkata pula. ―Umpama kata orang mendapat tahu aku mempunyai mertua seorang kangouw, bukan cuma ayahku bisa memarahinya, malah ada kemungkinan sri baginda juga nanti menegur ayahku itu…‖ ―Habis kau mau apa?‖ menanya Bok Ek. Ia anggap orang bicara beralasan juga. ―Sekarang ini aku mau minta jiwi berdiam dulu beberapa hari di sini, untuk sekalian merawat lukamu,‖ sahut pangeran itu. ―Setelah itu barulah kamu pulang ke kampung halamanmu. Nanti, selang satu atau setengah tahun, setelah suasana sudah reda, akan aku nikahi putrimu ini, baik dengan jalan aku pergi menjemput ke rumahmu atau dengan minta locianpwee datang ke mari. Tidakkah itu lebih bagus?‖ kata pangeran ini lebih lanjut.
Irawan D Soedradjat

Page

208

Pendekar Pemanah Rajawali

Bok Ek berdiam. Ia tengah memikir satu hal lain. ―Peristiwa ini bisa merembet ayahku,‖ Wanyen Kang berkata pula, sambil tertawa. ―Oleh karena kenakalanku, beberapa kali ayah pernah ditegur sri baginda raja, maka kalau urusan ini sampai didengar oleh sri baginda, pastilah pernikahan ini gagal. Maka itu aku minta sukalah locianpwee menyimpan rahasia.‖ Bok Ek gusar. ―Menurut caramu ini!‖ katanya sengit, ―Kalau nanti anakku menikah sama kamu, untuk seumur hidupnya ia mesti main sembunyi-sembunyi! Dia jadinya bukan satu istri yang terang di muka umum!‖ ―Dalam hal ini pastilah aku akan mengatur lainnya,‖ Wanyen Kang memberi keterangan. ―Sekarang pun aku sudah pikir nanti minta perantaraannya beberapa menteri sebagai orang pertengahan, supaya kita nanti menikah secara terhormat….‖ Wajahnya Bok Ek berubah. ―Kalau begitu, pergi kau panggil ibumu datang ke mari,‖ katanya. ―Aku ingin kita omong depan berdepan dan secara terus terang!‖ Wanyen Kang tersenyum. ―Mana dapat ibuku menemui locianpwee?‖ katanya. ―Jikalau aku tidak dapat bicara dengan ibumu, biar bagaimana, tidak sudi aku melayani kamu!‖ kata Bok Ek kaku, tangannya menyambar sepoci arak, yang dia timpukkan di antara jeruji besi. Bok Liam Cu kaget dan berduka menyaksikan sikap ayahnya ini. Sebenarnya, semenjak memulai bertanding sama pangeran itu, ia telah menaruh hati, maka juga ia senang mendengar pembicaraannya si anak muda yang ia anggap beralasan. Ia tidak sangka, ayahnya telah ambil sikapnya yang tegas itu. Wanynn Kang geraki tangannya menyambar poci arak itu, terus ia letaki itu ditempatnya, di atas meja. ―Menyesal tidak dapat aku menemani lebih lama,‖ katanya. Ia tertawa dan memutar tubuhnya untuk berlalu. Kwee Ceng anggap omongannya Wanyen Kang beralasan. Bukankah si pangeran ada kesulitannya sendiri? Maka itu, menyaksikan kemurkaannya Bok Ek, ia lantas berpikir; ―Baiklah aku bujuki ia…‖ Ia lantas geraki tubuhnya, untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi ia tidak dapat wujudkan apa yang ia pikirkan itu. Oey Yong telah tarik tangan bajunya, untuk ajak ia keluar. ―Apakah sudah diambil?‖ mereka lantas dengar suaranya Wanyen Kang, yang bicara sama satu hambanya. ―Sudah,‖ sahut si hamba, yang terus angkat sebelah tangannya. Nyata ia mencekal seekor kelinci. Wanyen Kang menyambuti dengan kedua tangannya, tiba-tiba saja ia patahkan kedua kakinya kelinci itu, yang ia terus masuki ke dalam sakunya, setelah mana ia bertindak dengan cepat. Binatang itu berpekik satu kali, lalu kelengar. Dua-duanya Oey Yong dan Kwee Ceng heran sekali. Merak lantas kuntiti pangeran itu, yang jalan memutari sebuah pagar bambu, setelah mana terlihatlah sebuah rumah tembik putih yang kecil. Itulah rumah bermodel rumah rakyat di Kanglam. Maka heran di dalam pekarangan istana mentereng itu ada sebuah rumah yang begini sederhana. Maka mereka jadi bertambah heran. Wanyen Kang menolak pintu rumah itu dan masuk ke dalamnya. Dengan lekas Kwee Ceng berdua lari ke jendela untuk memasang kuping sambil mengintai di sela-sela jendela itu. Mereka percaya mesti ada perbuatan yang aneh dari si pangeran itu. ―Ma!‖ mereka lantas dengar suara si pangeran. ―Ya..!‖ demikian suara penyahutan perlahan, suaranya seorang wanita. Wanyen Kang lantas masuk ke dalam kamar.

―Mama, apakah hari ini kau kurang sehat?‖ tanya Wanyen Kang seraya pegangi tangan si nyonya.
Irawan D Soedradjat

Page

209

Untuk bisa melihat, Kwee Ceng berdua menghampirkan sebuah jendela lain. Maka mereka lantas tampak satu nyonya tengah berduduk di pinggiran meja, sebelah tangannya menunjang dagu, matanya mendelong. Dia belum berumur empatpuluh tahun dan mukanya cantik sekali. Di rambut dekat kupingnya dia memakai setangkai bunga putih. Pakaiannya semua terdiri dari kain kasar.

Pendekar Pemanah Rajawali

Nyonya itu menghela napas. ―Bukankah aku tak berlega hati untukmu?‖ sahutnya. Wanyen Kang sanderkan diri di tubuh nyonya itu, yang ia panggil ibu, agaknya ia manja sekali. ―Ma, bukankah anakmu berada di sini?‖ katanya, aleman. ―Toh aku tidak kekurangan walaupun sebelah kakiku…?‖ ―Kau mengacau, kalau ayahmu dengar itu, masih tidak apa,‖ berkata si ibu itu, ―Tetapi gurumu? Bagaimana kalau ia mendengar kabar? Tidakkah hebat?‖ ―Ma,‖ berkata si pangeran, tertawa, ―Tahukah kau siapa imam itu yang datang menyela untuk menolongi orang?‖ ―Siapakah imam itu?‖ ―Dialah adik seperguruan dari guruku…‖ ―Celaka!‖ berseru si nyonya kaget. ―Pernah aku melihatnya gurumu disaat ia tengah murka! Dia dapat membunuh orang! Sungguh menakutkan…!‖ Wanyen Kang agaknya heran. ―Pernah mama melihat suhu membunuh orang?‖ dia tanya. ―Di manakah itu? Kenapa suhu membunuh orang?‖ Nyonya itu angkat kepalanya, memandang lilin. Ia agaknya tengah memikir jauh. ―Itulah sudah lama, sudah lama,‖ katanya kemudian dengan perlahan. ―Ah, kejadian daulu hari itu hampir aku lupa….‖ Wanyen Kang tidak menanyakan lebih jauh, sebaliknya dengan gembira, ia kata; ―Ong Susiok itu telah mendesak aku, menanyakan bagaimana urusan pibu hendak diselsaikan. Aku telah menjanjikan untuk menerima baik. Asal si orang she Bok itu datang, apa yang diatur, aku terima baik.‖ ―Apakah kau sudah bicara dengan ayahmu?‖ tanya si nyonya itu. ―Bersediakah dia akan memberikan perkenanannya?‖ Wanyen Kang tertawa. ―Ma, kau memang baik sekali!‖ katanya. ―Dari siang-siang telah aku perdayakan orang she Bok itu dan gadisnya datang ke mari, sekarang mereka ditahan di kerangkeng di belakang sini. Mana Ong Susiok dapat mencari mereka?‖ Selagi si pangeran ini demikian gembira, Kwee Ceng sebaliknya bertambah kemendongkolannya dan kemurkaannya. Kata pemuda ini dalam hatinya; ―Aku menyangka dia bermaksud baik, siapa tahu ia sebenarnya sangat licik!‖ Si wanita pun tidak setujui putranya itu. ―Kau telah permainkan anak dara orang,‖ katanya kurang senang, ―Kau juga kurung mereka di sini. Apakah artinya itu? pergi lekas kau merdekakan mereka! Kau berikan mereka uang, kau menghanturkan maaf, lantas kau persilahkan mereka pulang ke kampung halaman mereka.‖ Kwee Ceng mengangguk-angguk. Ia setujui sikap nyonya itu. ―Begitu baru benar,‖ pikirnya. Wanyen kang tetap tertawa. ―Ma, kau belum tahu,‖ katanya. ―Orang kangouw seperti mereka tidak memandang uang! Jikalau mereka dilepaskan, setelah merdeka, tentu mereka akan buka suara lebar-lebar. Kalau itu sampai terjadi, bagaimana suhu bisa tak ketahui urusan ini?‖ ―Habis, apakah kau hendak kurung mereka seumur hidup mereka?‖ tanya si nyonya. Putra itu tetap tertawa. ―Akan aku bicara baik-baik dengan mereka, nanti aku perdayakan hingga mereka suka pulang ke kampung halaman mereka,‖ ia bilang. ―Biarlah di sana mereka menanti-nanti hingga mereka putus asa…‖. Lantas ia tertawa terbahak.

Irawan D Soedradjat

Page

―Jangan turuti adat…!‖ demikian ia dengar bisikan di kupingnya, berbareng denagn mana sebuah tangan yang halus menutup mulutnya dan tangan yang lain menarik tangannya. Merdu bisikan itu……

210

Kembali bangki hawa amarahnya Kwee Ceng, hingga ia ayun sebelah tangannya ke daun jendela dan mulutnya pun hendak dibuka.

Pendekar Pemanah Rajawali

Cuma sejenak itu, pemuda ini insyaf akan kekeliruannya, maka ia menoleh kepada si nona manis di sisinya dan bersenyum. Karena itulah Oey Yong yang mencegah padanya. Kemudian ia mengintai pula ke dalam kamar. ―Tua bangka she Bok itu sangat licin,‖ terdengar pula suaranya Wanyen Kang. ―Telah aku bujuki dia, dia tak mau makan umpan. Maka biarlah dia ditahan lagi beberapa hari, untuk lihat akhirnya dia suka menurut atau tidak.‖ ―Aku lihat nona itu bagus romannya dan gerak-gerakinya, aku suka dia,‖ berkata si nyonya. ―Aku pikir hendak bicara dengan ayahmu, supaya kau diijinkan menikah dengannya. Bukankah dengan begitu selesai sudah semuanya?‖ ―Ah, mama, ada-ada saja!‖ berkata sang putra sambil tertawa. ― Kita dari keluarga apa? Cara bagaimana aku bisa menikah dengan satu nona kangouw? Ayah sering bilang padaku bahwa dia hendak mencarikan satu jodoh dari keluarga agung. Sayangnya ialah ayah bersaudara dengan raja yang sekarang…‖ ―Apakah yang dibuat sayang?‖ nyonya itu bertanya. ―Sebab,‖ menyahut sang putra, ―Kalau tidak, pasti aku kana mendapatkan putri raja dan aku bakal menjadi menantu raja!‖ Nyonya itu menghela napas, ia tak bicara lagi. ―Ma, ada satu lagi hal yang lucu,‖ Wanyen Kang berkata pula, tak ketinggalan tertawanya. ―Tua bangka she Bok itu bilang ingin bertemu sama kau, ingin dia bicara sendiri, untuk mendapat kepastian, setelah itu barulah dia mau mempercayai aku.‖ ―Tidak nanti aku bantui kau memperdayakan orang, itulah perbuatan yang tidak baik!‖ berkata pula si ibu. Wanyen Kang tertawa geli, ia jalan mondar-mandir di dalam kamar. Oey Yong dan Kwee Ceng dapat kesempatan memperhatikan kamar itu. Semua meja dan kursi terbuat dari kayu kasar. Pembaringan serta perlengkapannya mirip dengan kepunyaan kebanyakan petani di Kanglam, semua kasar dan jelek. Di tembok ada tergantung tombak serta sebuah pacul. Di pojokan ada sebuah mesin tenun. Maka, menyaksikan semua itu, mereka menjadi heran. ―Wanita ini mulia sebagai selir, mengapa ia tinggal dalam kamar dengan perlengkapan semacam ini?‖ mereka itu berpikir. Justru itu Wanyen Kang menekan ke dadanya, ke sakunya, lalu terdengar dua kali pekikan perlahan. ―Eh, apakah itu?‖ sang ibu tanya. ―Oh, hampir aku lupa!‖ sahut putranya itu, agaknya ia terperanjat. ―Tadi di tengah perjalanan pulang aku melihat seekor kelinci yang terluka, aku bawa dia pulang. Mama, coba kau tolong obati dia…‖ Ia lantas keluarkan kelinci putih itu, diletaki di atas meja. Dengan kakinya patah, binatang itu tidak dapat jalan. ―Anak yang baik!‖ berkata si nyonya. Ia lantas mencari obat, untuk mengobati kelinci itu. Lagi-lagi darahnya Kwee Ceng bergolak. Ia sungguh membenci orang punya kelicinan dan kekejaman itu, terutama untuk memperdayakan seorang ibu yang hatinya demikian mulia. Tidakkah binatang yang harus dikasihani itu sengaja disakiti? Bukankah ibu telah didustai, untuk mengobati binatang yang sengaja disiksa? Kalau terhadap ibu sendiri saja ia mendusta demikian, maka bisalah diketahui buruknya sifat anak itu. Oey Yong yang tubuhnya menempel sama tubuh si anak muda merasakan tubuh orang bergemetar. Ia menginsyafi bahwa orang ada sangat gusar. Tentu saja ia khawatir kawan ini perluap hawa amarahnya itu hingga Wanyen kang bisa pergoki mereka. Ia lantas pegang tangannya si pemuda itu, yang ia tarik untuk diajak mengundurkan diri.

―Tahukah kamu obat itu disimpan di mana?‖ Kwee Ceng tanya. Nona itu menggeleng kepala. ―Aku tidak tahu,‖ sahutnya. ―Mari kita cari…‖
Irawan D Soedradjat

Page

211

―Jangan pedulikan dia, mari kita pergi cari obat,‖ bisiknya.

Pendekar Pemanah Rajawali

Kwee Ceng bersangsi. Dimana mesti mencari obat di istana demikan besar? Bukankah berbahaya kalau mereka kepergok See Thong Thian atau lainnya? Ia tidak sempat berpikir lama-lama. Pikirannya itu berhenti secara tiba-tiba. Sebab kupingnya segera mendengar orang mengoceh seorang diri dan di depan matanya berkelebat sinar api. ―Anak yang manis, kalau kau tidak mencintai aku, kau mencintai siapa lagi? Maka, kau kasihanilah aku…‖ Sembari perdengarkan suaranya yang berlagu, terlihatlah seorang bertindak dengan perlahan-lahan. Dia mencekal sebuah tenglong. Selagi Kwee ceng hendak menyembunyikan diri di belakang sebuah pohon, Oey Yong justru maju memapak orang itu, hingga ia menjadi tercengang, lalu lantas saja ia diam bagai patung, hatinya goncang keras. Oey Yong telah ancam dia dengan sebatang pisau belati. ―Siapa kau?‖ si nona menanya, membentak tapi perlahan. Orang itu kaget dan ketakutan, selang berepa detik baru ia dapat menyahuti, suaranya tidak lancar. Ia adalah pengurus surat-surat di istana itu. ―Kau menjadi pengurus, bagus!‖ kata si nona. ―Di mana disimpannya obat-obatan yang hari ini pangeranmu yang muda menitahkan orang membeli?!‖ ―Semua itu siauw-ongya yang simpan sendiri, aku…aku tidak tahu…‖ Oey Yong cekal tangan orang dengan tangan kirinya untuk memencet, sedang ujung pisaunya ditempel kepada kulit leher. Orang itu kesakitan akan tetapi ia tidak berani berteriak. ―Kau hendak bilang atau tidak?!‖ si nona mengancam. ―Benar-benar aku tidak tahu….‖ jawab orang itu dengan gugup. Oey Yong kerahkan tenaga di tangan kirinya itu, lalu dengan menerbitkan suara membeletak, patahlah tangan kanan si pengurus itu. Ia buka mulutnya, untuk berteriak tetapi dengan cepat si nona sambar kopiah orang, untuk dipakai menyumbat mulutnya. Maka hanya sekali saja dia itu mengasih dengar suara keras tertahan, lalu ia roboh dengan pingsan. Kwee Ceng tidak menyangka satu nona demikian cantik dan halus gerak-geriknya dapat berbuat demikian telengas, ia menjadi tercengang, tak dapat ia membilang apa-apa. Oey Yong menotok dua kali kepada iganya pengurus istana itu, lantas ia sadar. Ia tarik kopiah orang, untuk dibelesaki ke kepelanya. ―Apakah kau ingin tangan kirimu pun dipatahkan?‖ ia tanya. Pengurus itu lantas saja menangis, ia menjatuhkan diri berlutut. ―Dengan sebenarnya aku tidak tahu, percuma umpama nona membunuh aku,‖ katanya. Sekarang Oey Yong mempercayainya, tetapi ia kata: ―Sekarang pergi kau kepada pengeranmu itu, bilang bahwa kau jatuh dan patah tanganmu. Kau kasih tahu bahwa tabib membilang kau perlu obat hiat-kat, gu-cit, thim-tha dan bu-yok. Obat itu semua tak dapat dibeli di kota raja ini, maka kau mintalah kepada pangeran itu.‖ Pengurus itu sudah membuktikan si nona tidak pernah main gila, ia suka menurut. ―Siauw-ongya ada pada ibunya, lekas-lekas kau pergi padanya!‖ Oey Yong bilang. ―Aku akan ikuti padamu. Jikalau kau tidak dengar aku dan sengaja kau membuka rahasia, akan aku patahkan batang lehermu, akan aku kerek matamu!‖

Irawan D Soedradjat

Page

Wanyen Kang masih ada pada ibunya, mereka masih pasang omong. Ia heran ketika ia lihat datangnya pengurus itu, yang bermandikan peluh dan air mata, dengan separuh mewek dia mohon diberi obat. Dia mengaku seperti ajarannya Oey Yong.

212

Tubuhnya orang itu bergemetar, ia merayap bangun, lalu dengan menggertak gigi, menahan sakit, ia lari ke arah kamarnya onghui, si selir.

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kasihlah dia obat!‖ berkata onghui, yang hatinya lemah. Ia lihat muka orang berpucat-pasi dan ia merasa kasihan. Wanyen Kang mengkerutkan alisnya. ―Semua obat itu ada apa Nio Losianseng,‖ katanya. ―Pergi kau mengambil sendiri!‖ ―Tolong ongya memberikan sehelai surat,‖ si pengurus meminta. Onghui itu sudah lantas sediakan perabot tulisnya. Wanyen Kang menulis beberapa kata-kata, untuk si Nio Losianseng, ialah io Cu Ong. Pengurus itu mengangguk-angguk mengucapkan terima kasihnya. ―Lekas kau pergi!‖ menitah onghui. ―Sebentar sesudah sembuh baru kau haturkan terima kasihmu!‖ Pengurus itu lantas saja bertindak keluar. Ia baru jalan beberapa tindak, atau pisau belati telah tertanda di pundaknya. ―Pergi kepada Nio Losianseng!‖ menitah Oey Yong separuh berbisik. Orang itu berjalan, baru beberapa puluh tindak, ia sudah terhuyung, rupanya tak sanggup ia menahan rasa sakitnya. ―Sebelum kau dapatkan obat itu, jangan harap jiwamu selamat!‖ si nona mengancam pula. Kaget hamba itu, ia mengeluarkan keringat dingin, entah dari mana, datanglah tenaga kekuatannya, maka dapat ia berjalan terus. Sekarang ia jalan dengan menemui beberapa hamba lainnya, mereka itu lihat ia diikuti si nona dan pemuda, mereka itu heran tetapi tidak ada di antara mereka yang menanya apa-apa. Tiba di kamarnya Nio Cu Ong, pintu kamar tertutup terkunci. Pengurus itu tanya satu hamba, ia dapat jawaban bahwa Nio Losianseng lagi menghadari perjamuannya pengeran di ruang Hoa Cui Kok. Kwee ceng lantas merasa kasihan menampak orang seperti tidak kuat jalan, ia lantas mencekal tubuh orang, untuk dipepayang. Bersama-sama mereka menuju ke tempat pesta itu. ―Berhenti! Siapa kamu!‖ Itulah teguran oleh dua orang, yang memapaki sekira beberapa tindak dari Hoa Cui Kok. Mereka itu masing-masing memegang golok dan cambuk. ―Aku hendak menemui Nio Losianseng,‖ sahut si pengurus, yang perlihatkan suratnya siauw-ongya. Dia lantas dikasih lewat. Ketika Kwee Ceng dan si nona ditanya, pengurus itu mendahului menerangkan: ―Mereka kawan kita.‖ Oey Yong berlaku tenang. Ia kenali dua orang itu, ialah dua dari keempat Hong Ho Su Koay, yaitu Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong. Mereka ini sebaliknya tidak mengenali orang, yang telah dandan sebagai asalnya, seorang nona. Hanya melihat Kwee Ceng, mereka tercengang, lantas mereka mau seraya angkat tangan mereka. Tapi sejenak itu, tidak dapat mereka menyerang dengan golok dan cambuk mereka. Tiba-tiba saja iga mereka kaku. Karena dengan kesebatannya yang luar biasa, Oey Yong sudah totok mereka. Kwee Ceng kagum vukan main. Ia berada di samping si nona tetapi ia tak sempat melihat gerakan tangan orang. Mendadak ia mengingat kejadian di rumah makan di Kalgan, tempo kawanan nona-nona serba putih hendak rampas kudanya, tahu-tahu mereka itu roboh tanpa berkutik. ―Pastilah mereka telah terkena tangan lihay dari si Yong ini,‖ pikirnya lebih jauh. ―Eh, kau pikirkan apa?‖ menegur si nona sambil tertawa menampak orang termenung. Ia lantas saja tarik Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong ke belakang pot-pot kembang, untuk disembunyikan, kemudian ia tarik tangan si pemuda, untuk menyusul si pengurus. Di depan Hoa Cui Kok, Oey Yong tolak tubuh si pengurus, untuk ia masuk, ia sendiri bersama Kwee Ceng lantas lompat naik ke payon, guna mengintai dari jendela, hinngga mereka dapat melihat jelas ke dalam. Terang sekali ruang dalam itu di mana ada sebuah meja penuh dengan pelbagai barang hidangan dan arak, tetapi yang membuat Kwee ceng terperanjat adalah kapan matanya bentrok sama hadirin yang duduk mengitari meja
Irawan D Soedradjat

Page

213

Pendekar Pemanah Rajawali

itu, sampai hatinya berdenyutan. Ia lihat dan mengenali Auwyang Kongcu dari pek To San, Kwie-bun Liongong See Thong Thian, Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay, Som Sian Lao-koay Nio Cu Ong dan Cian-ciu Jintouw Pheng Lian Houw. Menemani mereka itu, duduk di sebelah bawah adalah Chao Wang Wanyen Lieh, yaitu Liok-hong-cu atau pangeran keenam dari negara Kim. Duduk di samping, di atas kursi tay-su-ie yang besar dan tebal amparnya, adalah Tay-cu-in Leng Tie Siangjin, kedua mata siapa terbuka sedikit dan mukanya bagaikan kertas kuning, suatu tanda lukanya tak enteng. Diam-diam Kwee Ceng girang sekali, maka ia kata di dalam hatinya: ―Kau hendak mencelakai Ong Totiang, kau juga dapat merasakan enak….‖ Si pengurus bertindak masuk untuk terus berlutut di depan Nio Cu Ong, kedua tangannya mempersembahkan suratnya siauw-ongya. Nio Cu Ong menyambuti, ia baca surat itu, terus ia awasi si pembawa surat, kemudian ia angsurkan surat itu kepada Wanyen Lieh. ―Ongya, benarkah ini tulisannya siauw-ongya?‖ ia tanya. Chao Wang membaca surat itu, ia mengangguk. ―Benar,‖ katanya. ―Berikanlah dia obat itu.‖ Nio Cu Ong menoleh kepada kacung di sisinya. ―Tadi siauw-ongya ada mengirimkan empar macam rupa obat,‖ katanya. ―Kau ambilkan masing-masing itu satu tail, berikan kepada koankee ini.‖ Bocah itu menyahuti, lalu ia ajak si koankee atau pengurus itu mengundurkan diri. Kwee Ceng berbisik di kupingnya Oey Yong: ―Mari kita pergi, lekas! Semua mereka itu sangat lihay!‖ Oey Yong tertawa perlahan, ia menggeleng kepala. Oleh karena ia menggoyang kepalanya,rambutnya si nona mengenai mukanya si pemuda, hingga Kwee Ceng merasa gatal dari muka terus ke hatinya. Pemuda ini tidak hendak berbantahan, ia hanya lantas geraki tubuhnya untuk melompat turun. ia baru bergerak, atau si nona telah sambar tangannya, untuk ditahan. Untuk itu, nona itu mesti menyantel keras kedua kakinya pada payon, habis mana perlahan-lahan ia kasih turun tubuh si pemuda. Kwee Ceng terkejut, di dalam hatinya ia kata, ―Ah, aku semberono sekali. Tidakkah ini berbahaya? Bukankah orang-orang di dalam itu lihay semua? Jikalau aku berlompat mundur, bagaimana mereka tidak dapat memergokinya?‖ ia insyaf, dasar baru masuk dalam dunia kangouw, ia jadi kurang berpengalaman. Dengan lantas ia ikuti si pengurus dan kacung itu. Satu kali ia menoleh ke belakang, ia dapatkan Oey Yong masih belum turun, dengan masih bergelantungan nona itu mengawasi ke dalam ruangan. Oey Yong tidak segera berangkat. Untuk mencari tahu orang di dalam ketahui tentang dirinya atau tidak, ia mengintai terus. Ia lakukan itu setelah itu setelah ia lihat Kwee Ceng sudah pergi belasan tembok jauhnya. Katika ia mengawasi ke dalam, sinar matanya bentrok sama sinar mata tajam dari Pheng Lian Houw, ynag kebetulan berpaling. Ia tidak berani mengawasi terus, ia hanya memasang kuping. Seorang yang suaranya serak, berkata; ―Saudara-saudara, bagaimana pandangan kamu mengenai Ong Cie It? Adakah ia datang dengan maksud sengaja atau itu cuma kebetulan saja?‖ ―Peduli ia datang dengan sengaja atau bukan!‖ berkata seseorang, yang suaranya nyaring dan keras sekali. ―Dia telah merasai tangannya Leng Tie Siangjin, jikalau ia tidak mampus, sedikitnya ia mesti bercacad seumur hidupnya!‖ Oey Yong lantas mengawasi pula. Ia dapatkan orang itu adalaha Pheng Lian Houw yang matanya tajam, yang tubuhnya kate dan kecil. Seorang, yang suaranya tedas sekali, berkata smabil tertawa; ―Selama aku berada di wilayah Barat, aku pernah dengar namanya Coan Cin Cit Cu yang kesohor itu, sekarang terbukti mereka benar-benar lihay, coba Leng Tie Siangjin tidak menghadiahkan dia pukulan Tay-ciu-in, pastilah hari ini kita roboh di tangan mereka itu.‖ Seorang yang suaranya keras tetapi dalam berkata; ―Auwyang Kongcu, janganlah kau menempeli emas di mukamu….. Kita berdua pihak sama-sama nampak kerugian, siapa juga tidak ada yang menang…‖

Irawan D Soedradjat

Page

Sampai di situ, tuan rumah mempersilahkan tetamunya mengeringi arak mereka.

214

Orang yang dipanggil Auwyang Kongcu itu berkata pula: ―Biar bagaimana, kalau ia tidak kehilangan jiwanya, dia bakal bercacad. Siangjin cuma perlu beristirahat sekian waktu.‖

Pendekar Pemanah Rajawali

Habsi itu terdengar seorang berkata: ―Tuan-tuan telah memerlukan datang dari tempat ynag jauh, atas itu siauwong sangat berterima kasih. Sungguh inilah keberuntungan dari Negara Kim yang tuan-tuan telah dapat diundang!‖ ―Dia tentulah Chao Wang Wanyen Lieh,‖ pikir Oey Yong. Atas kata-kata itu, beberapa orang perdengarkan suara yang merendah. Setelah itu, terdengar pula suaranya Chao Wang: ―Leng Tie Siangjin adalah paderi suci mulia dari Tibet, Nio Losianseng adalah guru silat kenamaan Kwan-gwa, Auwyang Kongcu biasa hidup berbahagia di wilayah Barat dan belum pernah datang ke Tionggoan. Pheng Ceecu jago dari Tionggoan dan See Pangcu jago dari sungai Hong Hoo. Dari lima tuan-tuan, satu saja sudi datang membantu, pasti uasaha besar dari Negara Kim bakal berhasil, apapula sekarang lima-limanya telah datang semua. Hahahaha!‖ Agaknya bukan main gembiranya pangeran itu. ―Jikalau ongya ada titah apa-apa, pasti kami akan lakukan itu dengan sepenuh tenaga kami,‖ berkata Nio Cu Ong sambil tertawa. ―Apa yang dikhawatirkan adalah tenagaku tidak cukup nanti dan mensia-siakan kepercayaan ongya yang dilimpahkan kepada kami. Jikalau itu sampai terjadi, pastilah kami akan kehilangan muka kami.‖ Ia pun lantas tertawa. Kelima orang itu adalah bangsa jago dari beberapa puluh tahun, maka itu meskipun mereka bicara secara merendah, masih tetap tak hilang sifat jumawanya. Chao Wang mengangkat pula cawannya, mempersilahkan mereka itu minum. Terus ia kata: ―Siauw-ong telah mengundang tuan-tuan, pasti sekali siauw-ong akan menaruh kepercayaan kepada tuan-tuan, urusan bagaimana besar juga, tidak nanti siauw-ong sembunyikan, dilain pihak, apabila tuan-tuan telah ketahui segala apa, aku percaya tidak nanti tuan-tuan beritahukan itu kepada lain orang siapa juga, untuk mencegah pihak yang bersangkutan nanti mendapat ketahui dan dapat bersiap sedia….‖ Semua orang itu mengerti maksudnya pangeran ini, yang mempercayai mereka tetapi secara tidak langsung masih memesan untuk mereka menyimpan rahasia itu. ―Baik Ongya tetapkan hati, tidak nanti kami membikin rahasia bocor,‖ kata mereka. Dengan sendirinya mereka itu tegang hatinya. Mereka percaya, Chao Wang bakal percayakan mereka satu rahasia besar. ―Di tahun Thian-hwee ketika dari Sri Baginda Thay Cong kami dari Negara Kim,‖ berkata pula Chao Wang kemudian, ―Itulah tahun Soan-hoo ketujuh dari Kaisar Hiw Cong dari Keluarga Tio. Ketika itu dua Panglima besar kami ienmeho dan Kanlipu telah pimpin angkatan perangnya menerjang kerajaan Song, mereka berhasil menawan kedua Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong dari kerajaan musuh itu. Sejaka jaman dahulu, belum pernah negeri kami sekuat itu, walaupun demikian, sampai sekarang ini, Keluarga Tio itu yang tetap duduk sebagai raja di Hangciu. Tahukah tuan-tuan sebab dari pada itu?‖ Semua orang terdiam. Mereka heran raja muda itu membicarakan urusan negera. Cuma Nio Cu Ong yang lantas memohon penjelasan. ―Duni telah ketahui yang kerajaan kami telah berulang-ulang kalah di tangan Gak Hui, tentang ini tak usah disembunyikan lagi,‖ berkata pula Chao Wang. ―Wunchu, panglima kami, pandai mengatur tentara, akan tetapi menghadapi Gak Hui, dia selamanya kena dipecundangi. Benar kemudian Gak Hui dapat dibinasakan Cin Kwee yang dititahkan pemerintah kami, akan tetapi tenaga kami sudah lemah, kami tidak sanggup lagi berperang ke Selatan. Atas ini, aku tidak puas, tanpa mengukur tenaga sendiri, ingin aku mendirikan suatu jasa besar untuk negeraku. Untuk ini, tidak dapat tidak, aku mebutuhkan bantuan tuan-tuan.‖ Orang saling memandang, bagi mereka belum jelas maskudnya raja muda ini. Mereka bukan orang peperangan tukang merobohkan atau merampas kota. Chao Wang tampaknya sangat puas den bernafsu ketika ia berbicara pula, suaranya sedikit menggetar. Katanya: ―Baru beberapa bulan yang lalu, diluar dugaanku, aku telah dapat menemui sebuah surat peninggalan pemerintahku yang dulu. Itulah suratnya Gak Hui yang bunyinya luar biasa. Selang beberapa bulan, barulah aku dapat terka maksudnya surat itu. Gak Hui menulis itu ketika ia dipenjarakan. Rupanya ia mengerti bahwa ia tidak bakal hidup lebih lama lagi, tetapi ia sangat mencintai negaranya, maka ia tinggalkan warisannya itu. Itulah surat yang merupakan rahasia ilmu perang, bagaimana harus mendidik tentara dan berperang. Ia mengharapkan warisannya itu terjatuh di dalam tangan seorang yang nanti bisa pakai itu untuk melawan negara
Irawan D Soedradjat

Page

215

Pendekar Pemanah Rajawali

Kim. Tapi Cin Kwee menjaga keras sekali, sampai hari matinya Gak Hui, surat itu tidak dapat diberiakan kepada orang luar. Para hadiran sangat tertarik hatinya, sampai mereka melupakan arak dan barang hidangan mereka. Oey Yong pun ketarik hatinya. ―Gak Hui dapat mengetahui warisan itu tidak dapat diloloskan, ia terus simpan itu ditubuhnya,‖ Chao Wang melanjuti. ―Sebagai gantinya, ia meninggalkan sepucuk surat warisan, yang bunyinya tidak keruan junterungannya. Cin Kwee mempunyai kepandaian sebagai conggoan, ia masih tidak dapat menangkap artinya surat wasiat itu, maka surat itu ia dikirim ke negriku. Selama beberapa puluh tahun, surat itu disimpan di dalam istana. Dipihak kami juga tidak ada yang bisa mengartikan surat itu, orang hanya menduga, saking berduka dan penasaran, disaat-saat kematiannya, Gak Hui menulis ngaco belo. Tidak tahunya, itu adalah sebuah teka-teki istimewa.‖ Orang heran tetepi sekarang mereka memuji kecerdikan Chao Wang itu. ―Gak Hui begitu pandai, kalau kita bisa dapatkan surat warisan ilmu perangnya itu, bukankah gampang untuk negaraku mempersatukan benua ini?‖ berkata Chao Wang. Mendengar itu barulah semua orang dapat menerka maksudnya pangeran ini. Mereka pada berkata dalam hati masing-masing. ―Kiranya Chao Wang mengundang kita untuk minta kita menjadi pembongkar kuburan…‖ ―Turut dugaanku semula, surat wasiat itu mestinya dibawa Gak Hui ke dalam liang kubur,‖ Chao Wang berkata pula. Ia berdiam sebentar, agaknya ia berpaling. ―Tapi….Tuan-tuan adalah orang-orang yang gagah, mustahillah aku nanti meminta tuan-tuan pergi mencuri dengan membongkar kuburan? Di samping itu, ada satu keberatan lainnya. Gak Hui itu memang musuh negaraku, tetapi ia adalah satu orang gagah dan setia, satu pencinta negara, yang siapa pun menghormatinya, dari itu, cara bagaimana aku berani mengganggu tempat perkuburannya? Karena ini, aku sudah lantas memikirkannya terlebih jauh. Aku pun telah membongkar surat-suratnya kerajaan Song, yang telah dikirim semenjak dulu-dulu. Diakhirnya, aku telah berhasil memperoleh suatu sumber lain. Ketika itu hari Gak Hui menjalankan hukuman mati di paseban Hong Po Teng, dia dikubur di tepinya jembatan Ciong An Kio di dekat paseban itu, baru kemudian kaisar Song Hauw Cong memindahkan kuburannya ke tepi telaga See Ouw, dimana pun didirikan sebuah rumah abu untuknya. Dilain pihak lagi, pakaian dan kopiahnya Gak Hui disimpan di tempat lain, ialah di kota raja Lim-an. Karena itu tidak gampang untuk mencari surat wasiat itu. Pada ini ada satu rahasia yang tidak boleh didengar lain orang, atau orang nanti mendahului kita mengambilnya. Harus diketahui di wilayah Selatan ada banyak sekali orang-orang gagah. Maka itu, setelah memikir lama, tidak ada jalan bagiku kecuali mengundang tuan-tuan, yang terhitung orang-orang Rimba Persilatan kelas satu.‖ Mendengar ini, para hadiran itu pada mengangguk. ―Pernah aku menduga, mungkin surat wasiat itu telah diambil lain orang,‖ Wanyen Lieh berkata lebih jauh. ―Bukankah pakaiannya Gak Hui itu telah dipindahkan? Ada kemungkinan, selama perpindahan itu, suratnya telah diambil orang. Hanya kalau surat itu sampai ada yang ambil, orang itu mesti mengerti kepentingannya itu. Siapa yang menghormati Gak Hui, dia tentu tidak berani menggangu pakaiannya. Aku percaya, belum ada lain orang yang mengetahuinya. Kalau kita sudah sampai di sana, aku percaya, kita bakal dapatkan surat itu. Memang, kalau dikata sukar, sukarnya bukan main, akan tetapi di mata orang lihay, gampangnya bukan buatan. Sebenarnya surat wasiat itu disimpan di…..‖ Baru Chao Wang mengucapkan sampai di situ, tiba-tiba pintu ruang ada yang tabrak hingga terbuka terpentang, lalu satu orang terlihat menebros masuk, matanya bengkat dan mukanya matang biru. Dia lantas lari ke Nio Cu Ong. ―Suhu…!‖ dia berseru, lantas suaranya tertahan. Segera orang kenali, dia adalah si kacung yang tadi Nio Cu Ong titahkan pergi mengambil obat……

Bab 20. Tombak Besi Dan Pakaian Lama

Irawan D Soedradjat

Page

216

Pendekar Pemanah Rajawali

Kwee Ceng telah terus ikut si pengurus bersama si kacung pergi untuk mengambil obat. Jalanan ada berlikuliku. Selama itu ia masih terus mengancam si pengurus, yang khawatir nanti jatuh atau main gila. Akhirnya mereka tiba di tempatnya Nio Cu Ong. Kacung itu membuka pintu, ia masuk ke dalam dan menyulut lilin. Begitu ia berada di dalam kamar, Kwee Ceng lihat obat-obatan memenuhi meja, pembaringan dan lantai. Di situ pun ada banyak botol dan guci, besar dan kecil. Rupanya Nio Cu Ong gemar sekali membuat obat-obatan. Kacung itu rupanya mengerti obat-obatan, ia sudah lantas mengambil kertas, untuk menjumput empat rupa obat yang dibungkus masing-masing. Obat-obatan mana terus ia serahkan pada si koanke. Tapi Kwee Ceng yang, yang tak tahan sabar, sudah lantas mengulur tangannya, akan sambut obat-obatan itu, terus tanpa pedulikan si koanke, ia bertindak untuk pergi lebih dulu. Si koankee itu cerdik, walaupun ia telah terluka, pikirannya berekrja. ia sengaja jalan perlahan. Ia tunggu sampai Kwee Ceng dan si kacung sudah keluar dari kamar, dengan sebat ia tiup padam api lilin, segera ia sambar daun pintu, untuk digabruki dan dikunci, menyusul mana ia berteriak-teriak: ―Ada penjahat! Ada penjahat!― Kwee Ceng terkejut, ia memutar tubuh, ia mencoba membuka pintu tetapi sia-sia belaka, ia sudah ketinggalan. Ia gusar dan terburu nafsunya, selagi begitu si kacung sambar bungkusan obat di tangannya, bungkusan mana terus dilemparkan ke empang di dekat mereka. Kacung itu adalah muridnya Nio Cu Ong, dia masih kecil tetapi cerdik, mendegar teriakannya si koanke, dia menjadi kaget dan heran, kemudian dia menjadi curiga, maka ia rampas obat itu dan dibuang. Dalam gusarnya, kwee Ceng kerahkan tenaganya menghajar pula pintu kamar. Kali ini daun pintu dapat digempur terbuka. Dalam sengitnya, ia serang si koanke yang segera roboh tanpa dapat membuka suara. Tempo Kwee Kwee Ceng menoleh, si kacung sudah lari. Dalam murkanya, ia berlompat untuk mengejar, segera ia berada di balakang kacung itu, pundak siapa ia jambret. Kacung itu dapat dengar suara menyambar, ia berkelit sambil mendak, lalu seraya memutar tubuh, ia membalas menyerang denagn sapuan kakinya. Kwee Ceng jadi tambah penasaran, setelah berkelit, ia menyerang dengan hebat. Dua kali kacung itu kena dihajar mukanya, cuma sebab ia masih keburu membuang mukanya, dia tak sampai roboh. Adalah kemudian, setelah kepalanya ke disampok, dia roboh dengan pingsan. Dengan satu dupakan, Kwee Ceng bikin tubuh si kacung terlempar ke tempat tumbuh rumput didekatnya, habis itu ia lari ke dalam kamar. Ia lantas menyalakan api. Terlihat si koanke masih rebah tanpa berkutik. Ia mengawasi obat, ia menjadi bingung. tadi ketika si kacung mengambil obat, dia tidak perhatikan darimana orang mengambilnya. Pun nama obat yang tertempel di peles obat tidak dapat ia baca, sebab itu ditulis dalam hurufhuruf Nuchen. Tapi ia mesti bekerja cepat, tidak bisa ia memikir lama-lama. ―Tadi kacung ini berdiri di dekat sini, baik aku ambil semua obat ini, sebentar Ong Totiang yang pilih sendiri,‖ pikirnya kemudian. Maka ia lantas ambil kertas, ia membungkus setiap obat. Karena ia bekerja cepat, tanpa sengaja Kwee Ceng kena langgar sebuah keranjang di sampingnya. Ketika itu jatuh ke lantai, tutupnya terbuka. Untuk kagetnya, ia lihat isi keranjang adalah sebuah ular besar yang tubuhnya merah mulus. Malah ular itu segera menyambar! Kwee Ceng kaget, syukur ia masih sempat berlompat. Sekarang ia dapat melihat dengan tegas, tubuh ular ada sebesar cangkir, separuh tubuhnya masih ada di dalam keranjang, jadi belum ketahuan berapa panjangnya tubuh ular itu. Yang aneh adalah itu warna merah mulus. Lidah ular, yang diulur keluar, bercabang dua, lidah itu bergerak-gerak tak hentinya. Selagi mundur, Kwee Ceng membentur meja, lilin di atas meja roboh dan padam, maka ruangannya segera menjadi gelap-gulita. Tapi obat telah didapat, ia lantas lari ke pintu untuk mengangkat kaki. Tiba-tiba ia merasakan kakinya disambar dan dipeluk, atau itu mirip dengan libatan dadung/tali, saking kaget, ia melompat untuk meloloskan diri. Tapi ia dapat berhasil. Sebaliknya ia lantas merasakan barang adem mengenakan lengannya.Kembali ia menjadi kaget. Ia tahu sekarang bahwa ia telah dililit ular. Tapi ia tak hilang akal, dengan tangan kirinya hendak ia cabut golok emas hadiah Jenghiz Khan. Disaat itu, ia merasakan bau obat tercampur bau amis menyambar hidungnya, lalu mukanya terasa dingin. Itulah ular yang telah menjilati mukanya! Lagi sekali ia kaget tak terkira! Tak sempat ia menghunus goloknya, dengan tangan kirinya ia sambar leher ular untuk dipencet.

Irawan D Soedradjat

Page

217

Pendekar Pemanah Rajawali

Ular itu agaknya kaget, dia bertenaga besar, sebelum lehernya tercekik, ia pentang mulutnya, untuk mencoba mengigit muka Kwee Ceng. Dilain pihak, ia melibat dengan mengerahkan tenaganya, hingga Kwee Ceng lantas merasai tubuhnya terlilit keras, sampai napasnya mulai sesak bahkan tenaga tangan kirinya mulai berkurang. Baunya ular itu sangat mengganggu pernapasan si anak muda, hingga ia menjadi mual, hendak ia muntah. Adalah sejenak kemudian, ia kehabisan tenaga, ia seperti hendak pingsan, cekikan tangan kirinya terlepas sendirinya….. Adalah disaat itu dilain pihak si kacung telah sadar dari pingsannya. Dia mendapatkan kamar gelap sekali. Dia tahu, orang jahat itu tentu telah kabur. Maka tidak ayal lagi, ia lari keluar dari kamar, dia kabur kepada gurunya itu. Oey Yong terkejut akan dengar keterangan si kacung, denagn gerakan ―Burung meliwis turun di pasir datar‖, dengan enteng sekali, ia lompat turun. ia menaruh kaki tanpa menerbitkan suara. Meski begitu, tak urung ia telah keperogok. Inilah sebabnya, segera setelah keterangan si kacung, semua orang menjadi curiga. Mereka memang semuanya orang-orang lihay. Sejenak saja tubuh io Cu Ong sudah mencelat keluar, bahkan segera ia menghadang di depan si nona. Dia lantas menegur; ―Siapa kau?‖ Oey Yong menginsyafi bahaya. Ia tahu orang lihay. Disamping dia ini, masih ada yang lainnya. Maka ia hendak menggunakan akal. Untuk ini ia cerdik sekali. Tiba-tiba saja ia tertawa dengan manis. ―Bunga bwee ini indah sekali, maukah kau memetiknya setangkai untuk aku?‖ ia berkata kepada orang she Nio itu, jago dari Kwan-gwa. Nio Cu Ong tercengang. Tidak ia sangka bakal menghadapi satu nona, malah satu nona yang begitu cantik manis, yang suaranya halus dan merdu. Tanpa merasa ia mengulurkan tangannya, akan memetik setangkai bunga, yang untuk terus diangsukan kepada si nona. Oey Yong menyambuti. ―Loya-cu, terim kasih!‖ katanya, kembali tertawa dengan suaranya yang halus merdu itu. Di ambang pintu berkumpul semua orang lainnya, merek aitu berdiri mengawasi kedua orang itu. Ketika Oey Yong lantas memutar tubuhnya, untuk berlalu. ―Ongya,‖ Pheng Lian Houw menanya, ―Adakah nona ini, nona dari istana ini?‖ ―Bukan,‖ menjawab Wanyen Lieh sambil menggelengkan kepala. Hanya dengan menjejak dengan kakinya yang kiri, Lian ouw sudah mencelat ke depan si nona. ―Tunggu nona!‖ katanya, ―Aku pun akan memetik setangkai bunga untukmu…!‖ Terus ia ulur tangannya yang kanan, hendak menangkap lengan orang, tetap sebat luar biasa, ia ubah tujuan, untuk meraba buah dada si nona. Oey Yong kaget bukan main. Ia sebenarnya hendak berpura-pura tidak mengerti ilmu silat. ia gagal. Lian Houw, sebagai jago di antara berandal di Hoopak, adalah sangat tajam matanya dan cerdik. Tidak bisa lain, ia geraki tangan kanannya, jari tangannya menyambuti tangan jago itu. Lian Houw terperanjat waktu ia merasakan getaran di jalan darahnya koik-tie-hiat, lekas-lekas ia menarik pulang tangannya itu, dengan begitu dia dapat lolos dari bahaya. Dia menjadi heran, nona demikian muda tetapi demikian lihay, dia pun tak kenal ilmu silat si nona itu. Tentu saja ia tidak ketahui kepandaian yang Oey Yong dapatkan sebagai warisan, namanya Totokan Bunga Anggrek. Yang lain-lain pun terkejut dan heran. ―Nona, kau she apa?‖ Lian Houw lantas menanya, ―Siapakah gurumu?‖ ―Bukankah bunga bwee ini permai sekali?‖ tanya Oey Yong sambil tertawa. Ia terus berlagak pilon, ia tidak menunjukki kagetnya tadi. ―Bukankah kau menghendaki aku menancapnya di dalam pot?‖ Sikap ini kembali membuatnya orang heran dan menjadi menduga-duga. ―Kau dengar apa tidak, apa yang kami tanya?‖ Lian Houw menegur. Ia tidak sabaran, dia lantas menunjuki kesembronoannya dengan campur bicara.
Irawan D Soedradjat

Page

218

Pendekar Pemanah Rajawali

―Apakah itu yang kau bicarakan?‖ balik tanya Oey Yong, tertawa. Justru itu, Pheng Lian Houw dapat mengenali si nona ini adalah si nona yang diwaktu siangnya sudah mempermainkan Hauw Thong Hay, cuma waktu itu orang menyamar menjadi satu bocah dekil. ―Lao Houw, apakah kau tidak kenal nona ini?‖ ia tanya sahabatnya. Ia tertawa. Thong hay tercengang. Lantas ia awasi si nona, dari atas sampai bawah dan sebaliknya. Cepat sekali, ia mengenalinya. Mendadak saja hawa amarahnya meluap. ―Ha, anak busuk!‖ dia mendamprat. Dia pun terus pentang kedua tangannya untuk menubruk. Dengan berkelit ke samping, Oey Yong bebaskan dirinya. Tapi di sini ia dipapaki See Thong Thian, yang tubuhnya tahu-tahu berkelebat dan tangannya menyambar ke lengan. ―Kau hendak lari ke mana?‖ menegur Kwie-bun Liong Ong. Oey Yong terkejut. Ia tidak menyangka lengannya bisa disambar secara demikian. Tapi ia tidak gugup, ia pun tidak kekurangan akal. Dengan dua jari dari tangan kirinya ia menotok kepada kedua matanya si orang she See itu. Hebat See Thong Thian itu, hampir tak nampak bagaimana ia geraki tangannya, juga tangan kiri si nona sudah lantas kena dia cekal. ―Tidak tahu malu!‖ mendamprat Oey Yong, yang kaget sekali. ―Tidak tahu malu apa?!‖ balik tanya See Thong Thian. ―Tua bangka menghina anak kecil! Laki-laki menghina anak perempuan!‖ Oey Yong menyahuti. See Thong Thian terperanjat. Dia memang seorang tua dan kenamaan juga. Memang, dengan perbuatannya ini, terang dia telah menghina anak kecil, seorang anak perempuan….. ―Masuk ke dalam!‖ katanya seraya kendorkan cekalannya. Oey Yong tahu tidak dapat ia menolak, ia lantas turut masuk. ―Nanti aku bikin dia bercacad dulu baru kita bicara!‖ kata Hauw Thong Hay, yang ada sangat mendongkol. Dia terus maju, untuk menanyakan kata-katanya itu. ―Tanyakan dulu, siapa gurunya dan siapa yang menitah ia itu datang ke mari!‖ berkata Pheng Lian Houw. Hauw Thong Hay tidak pedulikan jago dari Hoopak itu, sebelah tangannya sudah lantas melayang. Oey Yong berkelit. ―Benar-benarkah kau hendak menurunkan tangan?‖ ia menanya. ―Aku hendak cegah kau melarikan diri!‖ jawab Thong Hay. Dia paling takut si nona minggat, karena terang sudah, dia bakalan tidak dapat mengejar…. ―Jikalau kau benar hendak adu kepandaian denagn aku, baiklah!‖ kata Oey Yong yang sikapnya sabar tapi rada mengejek. Ia terus mengisikan enam buah cawan arak di atas meja. Cawan yang satu ia letaki di batok kepalanya dan dua yang lain ia cekal di antara kedua tangannya. Lantas ia menantang: ―Beranikah kau mencontoh aku ini?‖ ―Setan alas!‖ berseru orang she See itu, jago tunggal dari sungai Hong Hoo. Oey Yong tidak mengambil mumat, ia memandang kepada orang banyak. Ia kata, ―Aku tidak bermusuhan dengan tuan ini, bagaimana jadinya apabila aku keliru menggeraki tangan dan kena melukakan dia?‖

Irawan D Soedradjat

Page

Kembali Oey Yong tidak mengambil mumat. Ia kata pula, ―Dengan cara begini hendak aku mengadu kepandaian dengannya! Siapa yang araknya tumpah lebih dahulu, dialah yang kalah? Akurkah kau?‖

219

Thong Hay maju setindak, kedua matanya terbuka lebar. ―Kau dapat melukakan aku? Kau?‖ katanya sengit.

Pendekar Pemanah Rajawali

Nona ini menggunai kecerdikannya. Ia tahu bahwa ia tidak bakal meloloskan diri dari orang-orang lihay ini. Sekalipun terhadap Hauw Thong Hay, ia menang cuma sebab ia andalkan kegesitan dan kelincahannya. Ia percaya, dengan bergurau secara demikian, ia bakal dapat lolos. ―Siapa kesudian main-main denganmu!‖ Thong Hay membentak. Kembali ia menyerang sambarannya bagaikan angin. ―Bagus!‖ Oey Yong tertawa, seraya ia berkelit. ―Pada tubuhku ada tiga buah cawan, kau snediri boleh bertangan kosong! Nah mari kita adu kepandaian!‖ Bukan alang kepalang gusarnya Thong Hay. Dia berusia jauh terlebih tua, meski ia tidak sangat kesohor seperti See Thong Thian, kakak seperguruannya itu, ia toh ternama juga. Sekarang dia dipermainkan secara begini! Tanpa berpikir sejenak juga, ia jumput sebuah cawan arak, untuk diletaki di batok kepalanya, habis mana ia sambar dua yang lain, masing-masing dengan sebelah tangan. Kemudian, dengan sama cepatnya, ia tekuk sedikit kaki kirinya, untuk menyusul melayangkan kaki kanannya mendupak nona itu! ―Bagus! Nah ini barulah namanya enghiong sejati!‖ Oey Yong berseru sambil tertawa, seraya ia berkelit. Belum sempat ia melanjuti perkataannya atau dia sudah ditendang pula, kali ini berulang-ulang. Karena dengan kedua tangan mencekal cangkir dan kepala ditaruhkan cangkir juga, Thong Hay tidak dapat berbuat lain dari menggunai kedua kakinya. Oey Yong akhirnya repot akan tetapi ia selalu dapat lompat berkelit atau mengegos tubuhnya, menyingkir dari tendangan. Untuk ini, ia mesti seperti memutari ruangan itu. Nio Cu Ong memasang mata kepada gerakan kakinya si nona cilik. Itulah gerakan bagaikan ―Mega berjalan atau air mengalir‖. Tubuh tetap tegak, tidak bergerak sedikit juga, dan kedua kaki seperti ketutupan kun tetapi bergeraknya cepat. Dipihak sana, tindakannya Hauw Thong Hay cepat dan lebar. Si nona berkelit bukan cuma main berkelit saja, ia saban-saban mencoba dengan sikutnya akan membentur lengan lawannya, supaya benturannya dapat membuat arak tumpah atau ngeplok. ―Bocah ini begini lihay, sebenarnya sulit untuk melatih diri hingga begini rupa…‖ berpikir jago tua ini. ―Hanya, lama-lama dia toh bakal menjadi bukan tandingannya Lao Hauw…‖ Disaat itu, tiba-tiba Cu Ong ingin obat-obatannya, maka lenyaplah keinginannya menyaksikan pertempuran, ingin ia lari ke pintu, untuk terus ke kamarnya, guna cari si pencuri obat. Tentu saja ia tidak sempat memikir bagaimana halnya dengan si pencuri obat sensiri…… Kwee Ceng belum sampai pingsan tatkala ia merasakan bau ular menjadi semakin hebat. Ia insyaf bahayanya apabila binatang berbisa itu sampai dapat memagut padanya. Maka ia lantas tempel mukanya di tubuh ular itu. Oleh karena ia tidak dapat menggeraki tubuhnya, atau kaki tangannya, sekarang tinggal mulutnya yang masih merdeka. Mendadak saja ia ingat suatu apa. Lantas ia kuatkan hatinya, agar tidak sampai roboh pingsan, terus ia gigit leher ular itu. Binatang itu kaget dan kesakitan, dia bergerak, hingga lilitan kepada anak muda itu menjadi semakin keras. Tanpa pedulikan apa juga, Kwee Ceng menggigit terus, lalu terus menghisap, menyedot darah binatang itu. Ia tidak ambil mumat lagi binatang itu berbisa. Ia juga tidak gubris pula bau darah yang sangat tidak enak. Ia melainkan ketahui, kalau darahnya berkurang, maka tenaga binatang itu juga akan berkurang pula dan dengan begitu, lilitannya akan menjadi kendor. Itu pun artinya ia bakal terlolos dari bahaya maut. Maka ia menghisap terus-terusan, hingga tanpa merasa, perutnya mulai kembung. Dugaannya bocah ini tepat. Setelah darahnya terkuras banyak, tenaganya binatang itu segera menjadi berkurang, lilitannya segera menjadi kendor, atau sesaat kemudian, ia lepaskan lilitannya itu, tubuhnya pun jatuh sendirinya. Sebab itu waktu, dia kehabisan tenaga, napasnya lantas berhenti berjalan! Kwee Ceng terjatuh duduk. Tapi dia masih sadar, lekas-lekas ia empos semangatnya, untuk menjalankan napasnya dengan beraturan. Dengan dapat bersemadhi lekas ia dapat pulang tenaganyanya. Hanya aneh sekarang ia merasakan darahnya bergerak keseluruh tubuhnya. Ia mengerti itulah darahnya si ular yang lagi bekerja. Ia terus bersemadhi sampai ia merasa sangat lega hati dan tubuh. Segera setelah merasa segar betul, ia gunai tenaganya untuk mencelat bangun. Yang pertama diingat bocah ini adalah obat-obatan di dalam sakunya. Ia lantas meraba. Ia menjadi girang sekali. Obat-obatan itu masih ada. Karena ini, ia segera teringat pula kepada Bok Ek.
Irawan D Soedradjat

Page

220

Pendekar Pemanah Rajawali

―Dia dan anak gadisnya dikurung Wanyen Kang, aku telah ketahui halnya itu, bagaimana dapat aku tidak menolongi mereka?‖ demikian ia berpikir. Ia lantas bekerja. Ia tindak ke pintu, dari situ, setelah melihat ke sekitarnya, ia jalan dengan cepat ke arah kurungannya Bok Ek dan gadisnya. Selagi ia mendekati kurungan, ia mendapati penjagaan kuat di situ. Tapi ia mesti bisa masuk ke dalam. Ia memutar ke belakang. Di situ ia tunggu lewatnya serdadu ronda, lalu cepat sekali ia lompat turun ke sebelah dalam. Ia hampirkan kurungan. Sembari memasang kuping, ia melihat ke sekeliling. Tidak ada serdadu jaga di situ. ―Bok Cianpwee, aku datang untuk menolongi,‖ ia lantas berkata dengan perlahan. ―Kau siapa, tuan?‖ ada jawabannya Bok Ek yang menanya. Kwee Ceng perkenalkan dirinya. Bok Ek pernah dengar lapat-lapat namanya Kwee Ceng itu, karena berisik dan ia pun terluka, ia tidak sempat memikirkannya, sekarang di tengah malam, ia mendengarnya dengan nyata. ―Kau…kau she Kwee?‖ tanyanya, menegaskan. Agaknya ia terperanjat. ―Benar,‖ sahut si bocha hormat, ―Aku yang muda adalah orang yang tadi siang melawan si pangeran muda.‖ ―Siapakah ayahmu?‖ Bok Ek tanya pula. ―Ayahku almarhum bernama Siauw Thian,‖ Kwee Ceng menyahut pula. Dengan tiba-tiba saja air matanya Bok Ek mengembang dan berlinang-linang, lalu ia angkat kepalanya, dongak, seraya mengeluh: ―Oh, Thian….Thian….‖ ia pun ulur keluar tangannya dari dalam jeruji, untuk mencekal tangannya si anak muda dengan erat. Kwee Ceng merasakan tangan orang itu bergemetar dan air mata orang itu pun menetes jatuh ke belakang telapakan tangannya itu. Ia kata dalam hati kecilnya: ―Rupanya dia ketahui ada orang bakal menolong dia, dia menjadi girang luar biasa.‖ Maka ia kata dengan perlahan sekali: ―Aku punya golok yang tajam, dengan itu kunci dapat dirusak untuk Cianpwee bisa keluar dari kerangkeng ini…‖ ―Ibumu she Lie, bukankah?‖ Bok Ek menanya pula, ia seperti tidak pedulikan perkataan orang. ―Apakah ibumu itu masih ada atau ia telah menutup mata?‖ Kwee Ceng heran sehingga ia balik menanya: ―Ah, kenapa Cianpwee ketahui ibuku she Lie? Ibu masih ada di Mongolia.‖ Hatinya Bok Ek goncang keras, ia cekal tangan Kwee Ceng semakin keras, ia tidak hendak melepaskannya. ―Tolong, lepaskan cekalanmu, nanti aku bacok kunci ini,‖ Kwee Ceng bilang. Bok Ek tetap memegangi erat-eart. Ia seperti mendapati sesuatu yang berharga dan tak ingin itu lenyap pula. ―Ah, kau telah menjadi begini besar…‖ katanya menghela napas. ―Ah, dengan memeramkan mata sekejapan saja, lantas aku dapat membayangkan wajah ayahmu yang telah almarhum itu…‖ Kwee Ceng menjadi semakin heran. ―Cianpwee kenal ayahku itu?‖ tanyanya. ―Ayahmu adalah kakak angkatku,‖ Bok Ek beritahu. ―Kita telah mengangkat saudara hingga perhubungan kita erat bagaikan saudara kandung….‖ Orang tua ini tidak dapat melanjuti kata-katanya, ia menangis sesegukan. Tanpa merasa, air matanya Kwee Ceng pun berlinang. Ia tidak tahu Bok Ek ini adalah Yo Tiat Sim, yang dulu hari itu, diwaktu bertempur bersama tentera negeri, sudah terluka tusukan tombak pada punggungnya, karena lukanya parah, ia roboh pingsan. Syukur untuknya, disebabkan malam dan gelap, dia tidak kena tertawan. Adalah besok paginya ia sadar sendirinya, dengan merayap dia pergi ke rumah seorang petani di dekat tempat kejadian. Satu tahun lebih ia merawat dirinya, baru dia sembuh. Setelah itu ia merantau mencari Lie Peng, istrinya Kwee Siauw Thian, serta Pauw See Yok, istrinya sendiri. Tentu saja ia tidak berhasil. Karena yang satu berada jauh sekali di gurun pasir, yang lain berada di Utara. Dia tidak pakai terus she dan namanya – Yo Tiat Sim – dia hanya rombak she Yo itu, di ambil bagiannya ynag kiri, yaitu huruf ―Bok‖ yang berarti ―Kayu‖. Tapi juga huruf ―Bok‖ ini diganti lagi dengan huruf ―Bok‖ yang berarti ―Akur‖. Dia cuma ambil suaranya saja. Dan
Irawan D Soedradjat

Page

221

Pendekar Pemanah Rajawali

nama ―Ek‖ dia ambil dari huruf pecahan sebelah kanan dari huruf ―Yo‖ shenya itu. Huruf ―Yo‖ itu terdiri dari dua huruf ―Bok = kayu dan Ek = gampang atau tukar‖. Selama delapan belas tahun ia merantau. Sekarang secara kebetulan ia bertemu sama putra sahabat atau saudara angkatnya itu, cara bagaimana ia tidak menjadi bersedih hati? Selama ayahnya itu berbicara sama si anak muda, Bok Liam Cu berniat memberi ingat serta meminta Kwee Ceng menolongi dulu mereka, tentang pasang omong, itu boleh dilanjuti lain kali, akan tetapi belum lagi ia membuka mulutnya, lalu datang pikiran lain, yang membuatnya berubah. Ia kata dalam hatinya: ―Satu kali kita keluar dari sini, aku khawatir untuk selama-lamanya aku nanti tidak dapat bertemu dengan dia…‖ Dengan ―dia‖ yang dimaksud oleh Liam Cu adalah Wanyen Kang, si pangeran muda. Dengan sendirinya, ia telah jatuh cinta kepada pangeran itu, hingga ia tak ingin pergi jauh, untuk memisahkan diri…. Kwee Ceng pun ingat bahaya yang mengancam mereka, maka ia sudah lantas tarik keluar tangannya dari dalam kerangkeng, hanya di saat ia hendak ayun goloknya, untuk menggempur kunci, mendadak ia tampak sinar terang yang disusul sama suara tindakan kaki. ia terkejut, dengan sebat ia simpan goloknya, dengan gesit ia lompat sembunyi di belakang pintu. Sekejap saja, dengan mengasih suara, daun pinttu dipenntang, lalu terlihat masuknya beberapa orang, di antara siapa yang jalan di muka adalah yang menenteng lentera. Kwee Ceng heran akan melihat orang itu yang bukan lain daripada onghui atau selirnya Chao Wang dan ibunya Wanyen Kang. Ia tidak dapat menerka orang datang dengan maksud apa. Ia memasang kuping dan matanya. ―Adakah mereka ini yang hari ini dikurung siauw-ongya?‖ demikian Kwee Ceng dengan pertanyaannya si nyonya mulia. ―Ya,‖ menyahuti si opsir atau pemimpin dari beberapa pengiring nyonya itu. ―Sekarang juga merdekakan mereka!‖ onghui memberi titah. Opsir itu terkejut, dia ragu-ragu, hingga tak dapat ia segera menjawab. ―Jikalau siauw-ongya menanyakan, bilang aku yang memerdekakan mereka,‖ onghui berkata pula menampak orang sangsi. ―Lekas buka kuncinya!‖ Sampai di situ, opsir itu tidak berani berlambat pula. Setelah ayah dan gadis itu sudah berada di luar kerangkeng, onghui merogoh sakunya untuk mengeluarkan dua potong emas, yang mana ia angsurkan kepada Bok Ek atau Yo Tiat Sim. Ia kata: ―Nah, pergilah kamu baikbaik!‖ Tiat Sim tidak menyambut emas itu, sebaliknya ia mengawasi dengan tajam. Ditatap demikian, onghui heran. ―Putraku berbuat keliru, harap kamu tidak sesalkan dia…‖ dia berkata lagi kemudian. Cuma sedetik atau Tiat Sim telah ubah pikiran. Ia sambuti itu emas, terus ia tuntun tangan putrinya, untuk diajak berlalu dengan tindakan lebar. ―Ha, orang kasar!‖ membentak si opsir. ―Kamu tidak membilang terima kasih kepada onghui yang telah menolong jiwamu!‖ Bagaikan tidak mendengar, Tiat Sim jalan terus. Sampai di situ, onghui pun berlalu bersama sekalian pengiringnya. Kwee Ceng tunggu sampai pintu sudah ditutup dan mendengar tindakan kaki onghui sudah jauh, baru ia keluar dari tempat sembunyinya, untuk keluar juga. Ia melihat ke sekeliling, ia tidak dapatkan Bok Ek dan Liam Cu. ―Pasti mereka sudah keluar dari istana,‖ pikirnya. Maka ia lantas menuju ke Hoa Cui Kok untuk mencari Oey Yong. Ingin ia membujuk nona itu buat jangan mengintai lebih lama, supaya mereka bisa lekas pergi menolongi Ong Cie It.
Irawan D Soedradjat

Page

222

Tak kurang hebatnya rintangan si siauw-ongya. maka terpaksa ia berkelit ke kiri. dengan kesebatannya. ―Mau apa kau menghalangi aku?‖ dia bertanya. membasahkan lantai. untuk menghalangi di situ. tidak dapat ia menangkis. Dengan kedua tangan mencekal cawan. dia menyerang dengan hebat. hingga tidak memperdulikan urusan besar. kau licin sekali! Siapa sebenarnya gurumu!‖ ―Besok akan aku mengasih keterangan kepada kau!‖ menjawab si nona tertawa. Orang she Hauw ini menjadi repot. Mau atau tidak. Di antara cahaya api. Wanyen Kang telah datang dengan cepat karena baru saja ia terima laporan dari opsir yang mengiringi onghui bahwa Bok Ek dan gadisnya telah dimerdekakan. Oey Yong sudah lantas mencelat mundur. hingga kedua tangannya tidak dapat digeraki lagi. ―Mari kita bertanding pula!‖ ia menantang. Kwee Ceng geraki tangannya. Ia lantas lompat ke samping di mana ada gunung-gunungan dari batu. cara bagaimana aku dapat menyangkal?‖ Ia berniat memegat Bok Ek dan Liam Cu. pecah hancur menerbitkan suara berisik dan araknya melulahkan. parasnya tidak menunjuki perubahan. untuk membebaskan diri. mumbul naik ke atas menyusul mana dengan satu lompatan enteng tetapi gesit ia menerjang pada Thong Hay dengan kedua tangannya. Beberapa kali ia mencoba untuk meloloskan diri. Kalau guruku ketahui ini. mengejek. Ia kaget dan kata dalam hatinya: ―Sungguh lemah hati ibu. semua cawan itu tidak miring. Kwee Ceng lihat sinar terang dari dua buah lentera serta mendengar suara tindakan kaki yang cepat. ia membikin perlawanan. ia bertemu dengan Kwee Ceng. mereka mesti puji nona ini yang merebut kemenangan dengan kecerdikan dan kelincahannya itu. ia perlihatkan kepandaian yang luar biasa. Maka itu. ―Aku ingin ketahui kau murid siapa?‖ menyahut See Thong Thian. begitu juga kedua cawan di tangan orang she Hauw itu tergerak. tangan kanan si nona menyambar pula. kedua tangannya menyambar kedua cawannya. Thong Hay sebaliknya bermuka merah. isinya lantas tumpah. Thong Hay tidak dapat mengegos pula tubuhnya. kemudian ia segera dengar teguran dari orang yang jalan di paling depan. mereka lantas saja bertempur seru melebihkan pertandingan mereka tadi siang. Semua terjadi dengan cepat luar biasa. araknya tidak tumpah! ―Bagus!‖ seru orang banyak. yang baru saja turun. mengganti kedudukan‖. ―Hm!‖ See Thong Thian mengasih suaranya menyaksikan adik seperguruannya itu dibikin malu secara demikian. cawan itu jatuh ke lantai. Sementara itu dilain pihak. saking malu dan mendongkolnya. diluar dugaannya. Kali ini. Pemuda she Kwee ini hendak meloloskan diri. ―Aku ingin ketahui untuk apa kau datang nyelusup ke istana ini?‖ Irawan D Soedradjat Page 223 . Hebat si nona. yang ada dari tipu ―Menukar wujud. berlagak pilon. sedang kepalanya menyambut cawan yang ketiga yang tadi ia letaki di batok kepalanya itu. ia kenali Wanyen Kang si siauw-ongya atau pangeran muda. Ia hanya mengkerutkan kening. ―Siapa?!‖ Bahkan orang itu sudah lantas berlompat maju dan tangannya menyambar. Justru itu. tiba-tiba saja tubuhnya sudah mencelat ke ambang pintu. Berbareng dengan itu. untuk umpatkan diri. Tapi ia dapat menenangkan diri. semacam ilmu yang luhur. Nio Cu Ong yang menduga Oey Yong bakal kalah baru saja memutar tubuhnya atau pertandingan telah salin rupa. Yang hebat adalah cawan di batok kepalanya. Wanyen Kang hendak menawan. berparas bermuram durja. Dengan satu gerakan berbareng ia membuat tiga cawan di kepala dan kedua tangannya terlepas. saban-saban ia gagal.Pendekar Pemanah Rajawali Baru ia tiba disebuah tikungan. Bukan main masgul dan cemasnya Kwee Ceng. ia terkejut juga. ―Budak cilik. Oey Yong bawa jari-jari tangan ke pipinya ―Tak malukah kau?‖ dia bertanya. maka ia datang dengan cepat. ia kaget sekali. terpaksa ia menangkis! Begitu kedua tangan bentrok. Oey Yong telah merasakan tadi bagaimana orang she See ini tanpa ia mengetahui. ―Sekarang aku mesti pergi dulu!‖ Setahu bagaimana gerakkannya Thong Thian. sekarang ia menyaksikan cara mencelat orang. ia merdekakan dua orang itu.

―Maka janganlah kau mensia-siakan tenaga. jago sugai Hong Ho itu senantiasa menghadang di depannya. kau tidak boleh serang aku!‖ berkata si nona. Hampir ia menjerit menangis. itu telah menjadi kepastian! Eh. tetap dengan manis. Oey Yong melihat ke sekitarnya. ―Lopepe. maka tahulah ia. Baru orang berkelebat. Ia meundur dengan cepat. siapa tahu sekarang ularnya itu terbinasa. Benar-benar lihay See Thong Thian.‖ ia kata. Lantas dia hadapkan Thong Thian untuk mengancam. adalah satu ahli tersebar. atau kepalanya sudah menghadang di depan si nona. Suara orang merdu dan bernada minta dikasihani. ia lari keluar. ―See Liong Ong. Dua kali lagi ia mencoba. Di situ tergeletak bangkai ularnya. nanti aku pergi denagn cara paksa!‖ See Thong Thian tertawa dingin. ―Setelah kau berikan jawabanmu. ai menjadi merasa suka kepada si nona. ia lompat naik ke atas pohon besar. io Cu Ong periksa tubuh ularnya itu. Pula. warna merah itu menjadi marong sesudah sang ular dipiara duapuluh tahun lamanya. Baru saja ia tiba di ambang pintu atau hidungnya sudah tercium bau yang membuatnya sangat terkejut. dia nanti mengasih ijin kau berlalu. karena habislah usahanya beberapa puluh tahun. tubuhnya meleset. ia dapat menahan tubuhnya hingga ia tidak usah melanggar kepala orang itu. dia menunjuk ke arah kiri. ―Untuk memegat kau. Tidak bersangsi lagi. untuk menambah kekuatan tubuhnya. Ia pun mau percaya. dan obat-obatannya kacau tidak karuan.‖ katanya. kau lihat itu di sana apa?‖ Semabri mengucap. untuk memandang sekitarnya. setelah makan banyak macan obat itu. maka kebetulan untuknya pada suatu waktu ia dapat resep yang istimewa. sebab ia berangan-angan untuk menjagoi dan merobohkan segala jago lainnya. tertawa. lewat di samping jago tunggal dari sungai Hong Ho itu. satu kali ia mengucap. budak cilik. Oey Yong gunai kesempatan ketika orang menoleh. guna mencari si pencuri. Oey Yong tertawa. untuk lari ke kamarnya. ia lantas pergi berkelana. kau mengaku kalah saja!‖ Habis berkata. hingga ia menjadi tercengang. Untuk ini. Hati Cu Ong tertarik. See Thong Thian mengawasi. menantang. setelah banyak kesulitan. ―Aku justru tidak sudi menjawab dia!‖ sahutnya. Berbangkit pula hawa Irawan D Soedradjat Page 224 . Mulanya tubuh ular itu warnanya hitam abu-abu. ―Kau jawablah pertanyaannya See Liong Ong. Pintu ada di belakang Thong Thian. Ia sudah memikir buat lagi beberapa hari akan menghisap darahnya ular itu. untuk mencari bahan-bahan obatnya. terutama lukanya. dia pegat aku. Nio Cu Ong menyaksikan itu. buat apa See Liong Ong sampai menurunkan tangan?‖ katanya. Justru itu ia dapatkan Bio Cu Ong hendak pergi ke luar. musuh belum pergi jauh. ―Jikalau aku tidak sudi mengasih keterangan?‖ tanyanya.Pendekar Pemanah Rajawali Sepasang alis yang bagus dari si nona bergerak bangun. ―Seorang laki-laki. ―Jikalau kau tidak mengijinkan aku pergi. Som Sian Lao Koay bukan melainkan pandai ilmu silat tetapi pun ia paham ilmu tabib. warnanya lantas berubah menjadi merah mulus. Ia dapat melihat di dalam taman ada dua orang lagi bergumul. resep untuk membikin sehat dan kuat tubuh. ia lantas menegur. untuk membikin ia panjang umur. See Liong Ong. ―Celaka!‖ serunya. Tanpa merasa. ia telah dapatkan ularnya yang besar itu yang sanat berbisa. ―Pertanyaannya Kwie-bun Liong Ong tidak dapat tidak dijawab!‖ sahut orang she See itu. ia lantas hendak pergi. ynag hendak menggunai pula kecerdikannya. tidak dapat ia memaksa menerobos keluar. ―Bagus!‖ seru Oey Yong. Sekarang telah buntu jalannya si nona itu. Cepat setelah ia tersadar.‖Asal kau mampu!‖ bilangnya. Lantas ular ini ia kasih makan pelbagai macan obat pilihan. bocah ini bukan sembarang orang. dia tidak mau kasih aku pulang?‖ katanya. Ia sudah lantas nyalakan api. See Thong berpaling ke arah yang ditunjuk itu. malah ia ketahui juga terbinasanya ular itu sebab darahnya telah orang sedot. ―Tapi awas. ia tertawa. Syukur si nona itu pun lihay.

kalah cerdik juga. untuk sedot darah dari tubuhnya itu. hatinya pemuda ini menjadi kecil. tidak heran kalau ia menjadi bingung. Maka itu kebetulan sekali Kwee Ceng bertempur sama Wanyen Kang. Nio Cu Ong tidak menjadi heran yang ia tidak bisa mencekal terus tangannya bocah itu. ―Tentulah bisa ular lagi bekerja…‖ Ingat kepada bisa ular. dia terhuyung. Tapi juga penyerangan ini mendatangkan perubahan lainnya. maka itu ketika ia mengibaskan tangannya. ―Kali ini habislah jiwaku…‖ pikirnya. yang leuar dari baju atau tubuhnya Kwee Ceng. begitu lewat beberapa jurus. supaya dengan begitu. ai sudah lantas keteter. baik aku bunuh dia. beda daripada biasanya. lantas timbul pikirannya yang kejam. Satu kali ia serang Wanyen Kang. lantas ia menyambuti serangan. bukannya ia merasa sakit hanya gatal. Begitulah ketika kakinya kena digaet. Dengan lantas ia dapat menangkap tangannya si anak muda. sampai Wanyen Kang dapat menyerang sepuasnya. mestinya si bocah diberi petunjuk oleh seorang berilmu. Ia menjadi heran berbareng girang. Kali ini ia menunggu sampai orang berontak. ia menjadi girang. Tidak sedikit pun ia merasakan sakit lagi. kenapa tenaganya menjadi kuat?‖ tanya si pangeran dalam hatinya. ―Bagus. ia tentu dapat berbuat sesukanya terhadap anak muda itu. supaya racunnya tidak bekerja lagi. dan enak sekali rasa gatal itu. ―Aku sekarang telah terkena bisanya binatang jahat itu. Baru ia datang atau hidungnya telah mendapat cium bau obat tercampur bau amis yang datangnya dari arah si pemuda. mungkin kekuatannya obat masih ada atau mungkin kekuatan itu bertambah besar…‖ Karena ini. Nio Cu Ong merasakan pula sambaran bau obat dan amis dari ular. ia lantas menggunai akal. tubuhnya mesti dipukuli. Mendadak ia merasa perutnya sangat panas seperti ada bola api di dalam perutnya itu. hingga sengaja ia membuatnya lowongan. setelah mana. Karena ini. ―Heran. segera ia gunai kakinya untuk menggaet. tetapi sekarang. Tenaganya Kwee Ceng telah bertambah luar biasa. siapa habis minum darah ular. Tatkala Nio Cu Ong tiba. mendadak hatinya menjadi panas. Dalam halnya ilmu silat. bangsat anjing!‖ dia menegu. ia merasa sakit. hendak aku mengadu nyawa denganmu!‖ Ia lompat maju untuk menyerang itu jago dari Kwan-gwa. Ia menjadi sangat berbahaya. ―Hai. Sebentar saja ia sudah sampai si taman di mana Kwee Ceng dan Wanyen Kang tengah bertempur. maka juga kali ini diwaktu mulai bertempur. ―Siapa yang anjurkan kau mencuri ularku?!‖ Dia percaya. karena pelbagai pukulannya tidak menyebabkan orang kesakitan atau roboh. telah cukup lama Kwee Ceng terhajar. pelbagai pukulannya Wanyen Kang menjadi tidak ada artinya. Siauw-ongya tidak ketahui rahasia itu. Kwee Ceng kalah dari Wanyen Kang. maka itu tubuhnya menjadi kuat luar biasa. tangan itu segera terlepas dari cekalannya lawan. ia pun menjadi alpa. lalu ia menangkap pula. Ia menanti lain serangan.Pendekar Pemanah Rajawali amarahnya. kiranya kau yang piara ular berbisa itu!‖ ia berseru. dia seperti meggaruki gatalku?‖ Adalah aturan dari resepnya io Cu Ong itu. Cu Ong menjadi menyesal berbareng penasaran dan mendongkol. akan tetapi. hawa darah itu buyar. yang kalah pandai dan kalah pengalaman. Tubuhnya panas hingga ia seperti tidak sanggup menahannya. Di mana-mana ia merasakan gatal pada tubuhnya. hingga dua kali bebokongnya kena dihajar si pangeran. sebagai bocah Kwee Ceng tentunya tidak ketahui rahasia resepnya itu. ―Kenapa sekalipun dengan pukulan yang membahayakan aku tidak dapat melukai dia?‖ pikirnya. untuk ditarik. oleh karena itu ia gusar yang ia telah dicaci. maka dengan lantas ia lari ke arah taman. begitu juga datanglah perubahan atas dirinya. Disaat itu tenaganya lantas bertambah sendirinya. yang sudah dapat memperbaiki dirinya. maka si pangeran menangkis. kenapa pukulannya empuk sekali. tubuh orang yang bersangkutan menjadi tambah kuat. Ia pikir: ―Dia telah minum darah ularku. Kwee Ceng roboh Irawan D Soedradjat Page 225 . Sedang Kwee Ceng berpikir: ―Heran. Kwee Ceng pun pun terus merasakan perubahan. yang entah siapa. Menyaksikan itu. Kwee Ceng memang tidak tahu suatu apa mengenai resep itu atau darah ular yang ia minum. Jago ini lihay berlipat kali dari kwee Ceng. Biasanya kalo ia kena diserang. Siauw-ongya itu turut menjadi heran.

hingga ia memikir. terus ia tertawa geli. tak usah menggunai tenaga untuk meniup debu. ia dengar suara angin. terus menyerang ke bebokong. akan aku menyerah kalah!‖ Thong Thian jawab. Mengenai kepandaianmu ini. ―Sayang. hingga ia peroleh gelarannya yang luar biasa – Cian Ciu Jin-touw. dia hendak pertontonkan kepandaiannya. ―Kau punya ilmu Menukar Wujud Memindahkan Kedudukan ini. Ia percaya ilmunya sudah dipuncak kemahiran. ia lompat ke depan. menyambar ai di kiri-kanan mengarah batok kepalanya. Saking menyesalnya.. ―Siapakah ayahmu itu?!‖ ―Jikalau aku sebutkan nama ayahku. Kim-chie lewat di atasannya kepala Oey Yong. serangannya itu untuk atas dan bawah. ia berlompatan. Sementara itu Oey Yong di dalam Hoa Cui Kok masih tidak dapat menerobos penjagaannya See Thong Thian. ―Itulah ilmu untuk merobohkan kau. kau telah tertipu olehku!‖ katanya nyaring. untuk mengetahui. untuk menggigit leher itu. bedanya masih jauh sekali!‖ Thong Thian gusar.. kau tidak dapat mengganggu pula padaku. semua percobaannya sia-sia belaka. walaupun sudah tidak dapat dicela. Adalah umum kalau orang menyerang dengan kim-chie. yang berarti pembunuh manusia seribu tangan. datangnya saling susul. Memang telah dibikin perjanjian itu. kalau ia terserang jitu. pasti aku akan dapat molos.‖ sahut si nona. guna menyedot darah ularnya. yang ia tekankan kepada tanah. Oey Yong menjadi cemas. maka tidaklah heran kalau ia ada mempunyakan keistimewaannya sendiri. Karena ini tidak ada jalan lain. Maka menyambarlah dua renteng senjata rahasia yang berupa kim-chie atau uang emas. tidakkah itu sama saja?‖ dia menanya. ―Asal aku dapat lolos. hingga sulit orang lolos dari salah satunya. ―Kau ngaco-belo. Hebat untuk dia. dengan gampang ia bisa bekuk nona itu.‖ Thong Thian mendongkol sekali. dua renceng kim-chie dari Phen Lian Houw terdiri dari beberapa puluh biji. tetapi di depan Chao Wang. Oey Yong heran dan kaget. lalu kedua senjata rahasia itu berbalik. memang dari dalam aku tidak sanggup menerjang keluar. Kau lihat. Ia baru menaruh kaki. ia telah kembali ke ruangan besar! Irawan D Soedradjat Page 226 . ayahku itu menjaga di mulut pintu. ia lihat serangan lewat di atasan kepalanya. guna mengasih si nona pergi keluar. Sebenarnya. ia belum pernah dengar hal ilmu masuk dann keluar itu. Ia ada punya mustika pelindung tubuh. apabila dibandingkan sama kepandaian ayahku. apa macam ilmu menyerang masuk itu. ia pun tidak senang orang dapat pergi dengan begitu saja.‖ ―Apakah itu menyerang masuk dan menerjang keluar?‖ tanya See Thong Thian. dia sengaja permainkan nona itu. akan tetapi kalau dari luar.Pendekar Pemanah Rajawali dengan segera. Oey Yong lantas menghela napas. beberapa kali aku mencoba. ―See Liong Ong. atau kim-chie yang belakangan sudah menyambar pula. bukankah aku sekarang telah berada di luar? Nah. sampai ketemu pula!‖ See Thong Thian berdiri diam. setelah mana ia majukan mukanya ke arah leher. aku memasukinya dari luar. ―Sayang. Ia menjadi kaget sekali. lalu berbalik sendirinya. celakalah ia. untuk menggunai akal pula. Maka dilain saat. dia tidak mengajarkan aku ilmu menerjang keluar. dari itu ia segera ayun kedua kedua tangannya. kau tidak bakal mengganggu pula aku. aku gagal. Tidak dapat kim-chie itu ditanggapi. tidak suka ia membiarkan kawannya itu diperdayakan secara demikian. dengan mencekal tangannya. kenapa kepandaian orang ini begini buruk? Tapi justru ia heran. ayahku cuma ajarkan aku menyerang masuk. ia menjadi heran. ―Kau telah bilang sendiri. kalau Thong Thian menghendaki.‖ katanya dengan masgul.‖ katanya. Oey Yong lantas saja meleset keluar. asal aku berada di luar. budak cilik!‖ bentaknya. ia ketoki kepalanya sampai tiga kali. aku khawatir kau nanti kaget hingga semangatmu terbang!‖ Oey Yong menjawab. Biar bagaimana. Orang she Pheng ini adalah satu ahli. sayang…. Akhirnya ia berhenti mencoba. Ingin ia menyaksikan orang menyerang masuk. Pheng Lian Houw bersahabat erat sekali sama Kwie-bun Liong.. Karena ini. ―Ketika dulu hari ia ajarkan aku menyerang masuk.. Lantas Cu Ong menubruk. terpaksa ia melompat maju pula. ―See Liong Ong. tidak peduli si nona telah menggunai akal bulus. biarnya ia sangat lincah. tidak demikian dengan kepalanya. untuk memegang keras pundak orang. kau akan menyerah kalah. ―Baiklah kau boleh coba dari luar!‖ Ia lantas menggeser tubuhnya. Senjata rahasianya itu adalah seperti bumerang. ―Dari luar masuk ke dalam sama dari dalam pergi keluar. Akurkah kau?‖ ―Asal kau dapat molos.

kau biarkanlah aku berlalu dari sini. ―kau bilang dulu. ―Aku akan merdekakan padamu! Awas!‖ Sambil menjawab demikian. aku orang she Pheng pasti akan ketahui asalusulmu!‖ Dia memang luas pengetahuannya dan mengenali ilmu silat pelbagai golongan. ―Melainkan sayang kau gunai itu untuk menghina satu anak perempuan! Apakah yang aneh?‖ ―Siapa menghina kau?‖ Lian Houw tanya. ―Inilah ilmu silat Jie Long Kun dari Keluarga Luow dari Ceciu. ―Kau tidak hendak memberitahu. ia menyerang denagn sennjata rahasianya itu guna menggiring nona itu kembali ke dalam. Coba aku desak pula dia dengan dua jurus.‖ kata si nona. pasti Oey Yong tidak sanggup membebaskan diri dari bahaya maut atau entengnya terluka. kalau tidak demikian. ia lantas menarik pulang. akan tetapi ia tidak menjadi kaget dan gugup. Lantas orang she Pheng ini melanjuti serangannya. ―Kau kembali ke dalam?‖ Oey Yong membuat main mulutnya untuk mengejek. denagn begitu tidak dapat ia tidak menggunai ilmu silatnya yang sejati guna menolong diri. ―Bagaimana?‖ dia tertawa. Inilah pukulan berantai tiga kali yang hebat. apakah dengan begitu kau menyangka aku tidak akan mengetahuinya?‖ Lian Houw berkata seraya sebelah tangannya menyemboki pundak orang. siapa yang ajarkan kamu ilmu silat. Lian Houw lihat orang diam saja. ia mencoba berlaku norek. ―Ilmu silat ini bertentangan dengan Jie Long Kun. ―Jikalau sampai sepuluh jurus kau masih belum dapat mengetahui?‖ tanya Oey Yong. yaitu ilmu silat ―Cut In Ciu‖ atau ―Keluar dari Mega‖. ―Lekas menangkis!‖ ia berseru. Di dalam hatinya. Ia bersilat dengan ilmu silatnya Iwee-kee si ahli dalam. Pheng Lian Houw berkata. ynag ketiga dan keempat.‖ bilangnya. Lian Houw sendiri lantas berdiri di ambang pintu. ―Inilah jurus yang kedua!‖ berseru si nona. Shoatong. yang menangkis dengan tangan kiri buat memunahkan serangan orang. Sebat sekali ia mundur sambil memutar tubuh dengan sebelah kaki. Keluarag itu memang mengutamakan kelincahan. demikian pun dengan yang keempat ini. hingga dengan begitu ia perlihatkan sikap ―Si ayam emas berdiri dengan satu kaki‖. ―Heran bocah ini mempunyai ilmu silat campur aduk seperti ini! Mungkinkah ia sengaja berbuat begini untuk mencegah aku dapat mengenali asal-usulnya? Baik aku gunai pukulan yang telengas. disaat tangannya hampir mengenai pundak si nona. Irawan D Soedradjat Page 227 . ―Lekas! Di dalam sepuluh jurus. Kenapa dia dapat menyakinkan dalam dan luar dengan berbareng?‖ Gwa-kee ialah ahli luar. ia lolos dari bahaya. Menampak itu.‖ jawabnya. Lian Houw menyampok dengan tangan kiri yang disusul sama tinju kanan. tinju mana dibarengi sama tendangan kaki kanan. yang adalah dari pihak gwa-kee. Oey Yong tidak menangkis. ―Inilah jurus Pak-kek-sie dari ilmu silat Liok Hap dari Kangpak. ―Aku toh tidak melukai kamu?‖ ―Kalau begitu.Pendekar Pemanah Rajawali Tidak ada niatnya Pheng Lian Houw untuk melukai si nona. Hendak ia menyangkal terus-menerus.‖ Lian Houw bilang.‖ ia berpikir pula. tetapi ilmu silat Oey Yong membuatnya bersangsi. semua orang bersorak saking gembira.‖ katanya dalam hati. dari itu ingin ia menempur selama sepuluh jurus untuk memeproleh kepastian. Oey Yong menolong diri dengan ilmu silat Keluarga Swee dari Thay-goan. ―Kepandaianmu menggunai senjata rahasia bagus sekali. ia pun tidak berkelit. karena juga yang kedua dan ketiga itu dapat dihindarkan si nona. Dengan begitu.‖ Lalu pikiran ini ia wujuskan denagn cepat sekali. tawar. Oey Yong terkesiap juga melihat datangnya serangan saling susul dan berbareng itu. Pheng Lian Houw menjadi heran. Lian Houw menjadi bertambah heran. Ia tahu tidak dapat ia lawan jago ini. Nona nakal itu tertawa. ―Aku telah pelajarkan ini sejak aku dalam kandungan ibuku.

rata-rata orang jeri. Kwee Ceng telah dibikin tak berdaya oleh Nio Cu Ong. ia dengar satu suara keras dari kejauhan. ia cuma mendorong saja denagn keras. Irawan D Soedradjat Page 228 . hingga Nio Cu Ong tidak dapat menguasai ia terlebih lama. Batok kepalanya bakal hancur luluh kalau ia sampai kena di serang. Terang si bocah wanita ini telah diberi kisikan berterang. dari itu pada jurus kesepuluh batal ia dengan maksudnya menghajar si nona.ah. setelah berdiri tetap. Kalau yang keempat pertama bengis. hingga gagallah serangannya itu. setelah ia dilayani dengan ilmu silatnya delapan partai. Ia tidak lantas menginsyafi bahwa ia dapat tenaga besar berkat darah ular yang dicampur latihan tenaga dalam dari Tan Yang Cu Ma Giok. Itulah ilmu silat Lo Cia Sie dari partai Siong Yang Pay. Benar terkabar kalau Tong Sie Tan Hian Hong si Mayat Perunggu telah meninggal dunia akan tetapi tidak ada diantara mereka ini yang pernah menyaksikan sendiri. kecuali Chao Wang. tetapi justru itu. Ia menggunai jurus ―Menolak jendela untuk memandang rembulan‖. sampai pada jurus yang kedelapan. ia cuma bisa berkelit dan menangkis. ―Ha. wilayah Barat. ia menjadi penasaran. Sebab mereka semua adalah orang-orang kangouw berpengalaman dan terhadap Hek Hong Siang Sat. kalau mulanya ia menaruh ―belas kasihan‖. terus ia berontak sekuat-kuatnya. dia menggunai ilmu silatnya tetanggaku!‖ Pheng Lian Houw mendelu mendengar suaranya orang she Auwyang itu. Memang juga itu waktu. sedang si nona pun segera menjadi kelabakan. sesudah mana. Ia telah ditekan ke tanah. tangan kanan ke atas. akan tetapi ia waspada. itu disebabakan si nona cantik dan manis. segera ia terjang tangan kiri si orang she Pheng itu denagn jurusnya ―Tibanya air mata es dingin. Dia menyusuli itu dengan jurus Menunggang harimau mengalah tindak dari ilmu silat Tiang Kun dari Kwan-tong. Auwyang Kongcu tertawa dan mengatakan. Auwyang Kongcu. mendadak saja ia dapat tenaga pula. Ah. jurus dari Cu-ngo Tay Kok Kiam dari Kanglam. waktu ia rasakan mulutnya orang si she Nio itu mengenai batang lehernya. Banyak benar ragam ilmu silatnya. tak dapat ia berkutik. ia dengar perkataan terakhir dari sancu dari Pek To San itu. hingga habislah tenaganya. Karena ini. Dengan gampang ia membebaskan dirinya. lantas berkata: ―Budak ini barusan menggunai jurus Menggantung kumala di gantungan emas. ia berhenti setengah jalan sambil terus berseru: ―Kau muridnya Hek Hong Siang Sat!‖ Dan seruan ini disusul sama gerakan tangan kanan. Oey Yong tahu tangan kiri itu adalah ancaman belaka. tangan kirinya menggertak. dari penasaran. maka itu ia dapat melihat perlawanan si nona. Tapi ia tidak menyerang habis. malah ia segera kenali suaranya Kwee Ceng. Sebenarnya hendak ia bicara. mukanya menjadi pucat. sampai ia mengeluh di dalam hatinya. yang hebat sekali. Oey Yong terkejut melihat gerakan lawan ini. budak?!‖ Ia memang telengas. kepalanya di aksih mendak. ia bergerak denagn kedua tangannya. Ia menduga kawannya itu telah menghadapi ancaman malapetaka. suara mana bernada kaget dan gusar.Pendekar Pemanah Rajawali Oleh karena berpikir begini. tangan kiri di balik ke bawah. Dengan satu gerakan ―Ikan gabus meletik‖ ia kasih dengar jeritannya itu. untuk membalas menyikut naik dadanya penyeranganya itu. disaat si nona hendak memunahkannya. atas mana Oey Yong terhuyung ke belakang. tidak dapat ia mencoba membalas menyerang. Lian Houw segera menyerang dengan jurusnya yang kelima. Ia kata dalam hatinya: ―Mustahil aku tidak mampu hajar mampus padamu. tapi tidak sekejam ini. mendadak ia rasakan sakit pada dadanya yang kiri. usianya pun masih sangat muda. kedua tangannya ditekuk. Untuk menangkis sudah tidak keburu lagi. ia melanjuti dengan jurusnya yang kesepuluh.‖ salah satu jurus dari ilmu silat ―Soat San Pat To‖ dari See Hek. ia menjadi mendongkol terhadap si nona . Terpaksa ia lantas berkelit. tiba-tiba ia mendapat pikiran baru. Ia menggunai tipu silat ―Binatang jatuh di tengah udara‖. Setahu dari mana datangnya. Segera ia menyerang denagn jurusnya yang kesembilan. inilah Tepukan tiga kali dan Gunting emas. ia menjadi gusar. di malam yang tenang itu. Oey Yong dapat mempertahankan diri. Pheng Lian Houw menyerang dengan hebat. Tapi sekarang. Pheng Lian Houw telah dapat membuktikan ilmu silatnya Oey Yong di jurus kesembilan. Menampak itu. dia celaka! Kenapa ia tidak berkelit ke kiri?‖ Pheng Lian Houw mendesak terus. tangan kanannya meninju. san-cu atau pemilik dari Pek To San. ketika denagn sekonyong-konyong. terpelanting tujuhdelapan tindak! Semua orang terperanjat dengan perkataan Pheng Lian Houw itu. yang mirip dengan ilmu silatnya saudara Som Sian Lao Koay. Semua orang terkejut melihat kawannya bersikap telengas begitu. tangannya dan kakinya telah dicekal keras. yang mana ditambah sama kisikannya san-cu dari Pek To San itu. dengan sendirinya mereka jadi berkhawatir untuk Oey Yong. Ia menjadi kaget. mereka jadinya ragu-ragu. Ah. Ia kaget bukan main. maka berniat ia berkelit ke kanan.

Sebentar kemudian. tanpa ia dapat menahan. tangannya menjambak. Kedatangannya ini pastilah diluar dugaannya Kwee Ceng dan onghui. Dengan uujung bajunya. ―Dalam kejadian itu adalah anakku yang salah. ia susuti air matanya itu. Kemudian ia disusul oleh Wanyen Kang. Segera tedengar tindakan kaki perlahan masuk ke dalam kamar.‖ Hampir di itu waktu. kedua matanya menjadi merah. ―Apakah tidak ada orang jahat masuk ke mari?‖ Onghui menggeleng kepala. pukulan ini mendatangkan rasa sangat sakit. Kwee Ceng mengintai. Putra itu lantas keluar pula. Nio Cu Ong tidak dapat mencari. Di dalam hatinya ia berpikir: ―Onghui murah hati. bebokongnya kena terjambret hingga berdarah. ia menghela napas lega. Selama itu Kwee Ceng terus diam saja. karena sakitnya dan kaget. ―Setelah sebentar ia meniup lilin. Ia dapatkan sebuah kamar yang diterangi lilin tetapi penghuninya tidak ada. Kwee Ceng berayal. di antara pohon-pohon dan gunung-gunungan. Akhir-akhirnya sambil menghela ia berkata. bertapak tanda lima jari. untuk menyembunyikan diri. ―Tidak boleh mereka dapat lihat kita…. ―Istrinya Yo Tiat Sim‖. dia membuatnya kamu ayah dan anak bersusah hati…. sakitnya bukan main. Hendak ia beristirahat.‖ Kwee Ceng pikir. Di situ ia mendekam. Kwee Ceng menyangka orang sudah ajak gadisnya pergi menyingkir. lalu ia masuk ke dalamnya. tandanya sudah lama tidak pernah digunakan lagi…. di situ ada terukir empat huruf ―Tiat Sim Yo-sie‖. bajunya kena terpegang. Kwee Ceng lantas lari sekeras-kerasnya. cuma kupingnya mendengar pembicaraan orang itu. onghui kebetulan berada di kamar yang lain.‖ berkata Yo Tiat Sim. Orang yang datang itu adalah Yo Tiat Sim yang menyebut dirinya Bok Ek. Segera ia maju untuk menyerang pemuda itu. Kwee Ceng lari terus. Dengan masih mencekal terus goloknya. Tidak antara lama. denagn siapa ia berbicara. ―Ya. Tepat enam dim dekat tajamnya tombak. malah nyonya itu mengasih dengar jeritan tertahan. Onghui dapat menenangkan diri. Nyonya agung itu duduk di samping meja. Kebetulan ia tiba di depan rumah petani dari onghui. Di sebelah timur ada sebuah lemari besar.‖ onghui itu menghela napas. tetapi Nio Cu Ong ada sangat gesit. ia lari ke dalam kamar si nyonya agung.‖ Irawan D Soedradjat Page 229 . darahnya mengalir keluar. ia hanya memandang seluruh kamar. Ia bertindak ke tembok.‖ bilangnya kemudian. Dia memang ringan tubuhnya. onghui mengunci pintu. ia mengusap-usap. mungkin ia dapat menolong aku…‖ Karena ini. ―Aku percaya adik Yong sudah lama pulang…. ia keluar dari tempat sembunyinya. disusul sama menjublaknya daun jendela itu dan mana segera lompat masuk satu orang. Ia menjadi kaget berbareng gusar. Cuma sebegitu jawabannya. juga kedua telapakan tangannya pecah dan berdarah.‖ sapanya. baju itu lantas robek sebagian. ia hampirkan itu.‖ Tiat Sim tidak menyahuti. Ia melihat ke seluruh kamar. Lantas ia pegang terus tombak itu. tangannya tiba di bebokongnya. ia mengawasi Bok Ek itu. Ia meneliti gagang tombak itu. hingga mereka berlari-larian di taman. air matanya menguncur turun. akan buka pintunya. Maka itu. aku akan lari dari jendela.‖ Suara itu berirama sedih. ia lompat masuk ke dalam rumah itu. ―Kau baiklah lekas pergi. Saking takut. begitu juga onghui. di situ ia kasih turun tombak besi yang tergantung. Kwee Ceng terkejut. pukulannya Nio Cu Ong bukan seperti pukulannya Wanyen Kang. Kali ini. Kwee Ceng berkelit dengan berlompat ke belakang. untuk bersama Io Cu Ong dan yang lainnya pergi mencari ke lain-lain bagian dari istana itu.Pendekar Pemanah Rajawali Nio Cu Ong bukan melainkan membikin terlepas cekalannya.‖ ―Terima kasih untuk kebaikan onghui. ―Ma. ―Tombak ini sudah karatan. di jendela terdengar satu suara keras. ―Jikalau aku tidak datang sendiri untuk menghanurkan terima kasihku. hingga itu Nio Cu Ong tidak dapat segera menyandak. yang artinya. Tiba-tiba ia menjadi sangat berduka. Wanyen Kang bertindak masuk. Satu kali Cu Ong berlompat. setelah meminum darah ular. Ia lihat yang datang itu onghui sendiri. matanya bengong mengawasi lilin. meskipun aku mati tidaklah aku dapat memeramkan mata. Dari sela-sela lemari. sudahlah. tenaganya bertambah.

siauw-ongya ini menjadi semakin bercuriga. ―Sekarang aku letih sekali. selama itu wajahnya tidak berubah banyak. ―Kenapakah?‖ Tiat Sim tanya. Sudah delapan belas tahun ia tinggal di istana. ia kerebongi itu pada tubuhnya: ―Bajuku telah cukup dipakai. untuk mati bersama…Aku lebih suka menjadi setan untuk tetap berada bersama denganmu…!‖ Tiat Sim rangkul istrinya itu. suaranya menggetar. ―Aku bilang lanjam ini sudah rusak. Rumah tangganya telah runtuh. Ia lantas berbangkit. Ia berdiam aja mengawasi Tiat Sim. hendak aku bicara denganmu. Sebaliknya To Tiat Sim yang mesti hidup dalam pengembaraan. Ia jumput sepotong baju. Sekarang ia mengawasi lanjam yang berada si pinggiran tombak itu. Sekarang ia tidak bersangsi pula. ―Aku tidak takut!‖ katanya kemudian. Irawan D Soedradjat Page Mendapatkan ibu itu tidak hendak membuka pintu. kau baik-baiklah beristirahat. akan hampirkan Tiat Sim. ―Kau lihat. biarlah besok besok suruh Thio Bok-jie dari dusun timur memperbaikinya dengan tambah setengah kati besi…‖ katanya peralahan. baju dan celana biru. ia tidak lagi seperti masa mudanya. Di dalam situ ada tersimpan beberapa potong pakaian pria. ―Aku hendak omong sedikit saja. 230 ―Besok saja. ―Lekas kau bawa aku pergi…. maka lantas saja ia tubruk suaminya itu dan merangkulnya erat-erat seraya ia menangis sedih sekali. kenapakah kau berduka pula? Dengan siapakah kau berbicara?‖ Se Yok kaget tetapi ia lantas menyahuti: ―Aku tidak apa-apa. untuk menarik lacinya meja itu.‖ Wanyen Kang tidak lantas pergi hanya ia jalan mengitari rumah itu.‖ katanya. terus ia gantung tombak itu. See Yok memeluk erat-erat. kau pun tengah mengandung. ―Kau…kau kata apa?‖ tanyanya. ―Kau…kau siapa?‖ tanyanya. ―Ujung lanjam ini sudah rusak. ―Tidak peduli kau manusia atau setan. Hanya sejenak kemudian ia bertanya: ―Mustahilkah kau belum mati? Mustahilkah kau masih hidup?‖ Tiat Sim hendak menyahuti istrinya itu tatkala mereka mendengar suara Wanyen Kang dari luar kamar: ―Mama. Mendengar kata-kata itu. tidak dapat aku lepaskan kau!‖ katanya. ―maka besok baiklah suruh Thio Bok-jie dari dusun timur membetulkannya. baju siapa ia tarik. ―Aku minta janganlah kau raba tombak itu. dengan terpaksa ia turut Wanyen Lieh pergi ke Utara. Pauw Sek Yok tidak dapat lantas mengenali suaminya itu.Aku akan turut kau ke lain dunia. mana ia percaya suaminya telah menutup mata.‖ katanya perlahan. ia hanya bertindak ke samping meja. aku hendak tidur…. air matanya turun bercucuran. famili pun tidak ada. Ia ingat betul. ―Ah…‖ Tiat Sim bersuara perlahan.Pendekar Pemanah Rajawali Agakanya onghui heran atas lagak-lagu orang itu. Tubuhmu lemah.‖ Tiat Sim menyahuti. di akhirnya ia serahkan dirinya dijadikan onghui atau selir. tubuh onghui bergemetar. apakah aku setan?‖ kata suaminya ini kemudian.‖ ia berkata pula. Itulah pakaian yang ia pakai pada dulu hari. maka itu sekalipun mereka berada di dalam sebuah kamar. kemudian ia gulung tangan bajunya. hingga ia dapat lihat di lengan kiri orang satu tanda bekas luka. lantas aku pergi. dengan menambah setengah kati besi…‖ Tiba-tiba saja onghui menjadi lemas kedua kakinya. Di pintu ia berhenti dan mengetok perlahan beberapa kali. itulah kata-kata suaminya dulu hari tempo ia tengah hamil membuatkan sepotong baju baru. tak usah kau membikin pakaian lagi untukku…‖ Sek Yok terkejut. ―Ma. Sampai sekian lama baru ia dapat membuka mulutnya.‖ . Ia menjadi curiga sebab tadi terang ia dengar suara orang berbicara.‖ sahut si nyonya agung.‖ sahut sang ibu. Tidak dapat ia menampik bujukannya pangeran itu yang perlakukan ia dengan baik sekali. ―Itulah barang yang aku paling hargai. ia roboh di kursi. Yo Tiat Sim tidak menjawab. ―Kenapa…kenapa kau ketahui kata-katanya suamiku pada itu malam dari saat kematiannya…?‖ Hancur hatinya onghui ini yang sebenarnya bukan lain daripada Pauw Sek Yok atau nyonya Yo Tiat Sim.

‖ Putra itu menghampiri ibunya. ―Aku mau tidur.‖ sahut si ibu. Wanyen Kang dapatkan ibunya bermuka pucat dan mukanya itu bermandikan air mata.Pendekar Pemanah Rajawali Tiat Sim menduga orang bakal masuk ke dalam. Pauw Sek Yok segera menunjuk ke lemari. Pauw Sek Yok melihat itu. Ia pun lihat ibunya itu roboh.‖ katanya. ―Aku minta supaya kau jangan bersusah hati. hingga ia lantas roboh pingsan. baiklah. Ia lantas bertindak ke lemari yang ditunjuk itu. ―Hatiku tidak tentram. Begitu pintu lemari terpentang. ia tetap mengawasi ke lemari. Dengan pundaknya. kau tidurlah!‖ Putra ini memberi ucapan selamat malam. ―Orang jahat telah nyelusup masuk kedalam istana. baru ia berbangkit. ia lepaskan Sek Yok dan bertindak ke jendela dengan niat lompat keluar. ― Di dalam lemari itu ada seorang sembunyi.‖ demikian pikirnya. Kwee Ceng tarik Tiat Sim masuk ke dalam lemari. maksudnya menganjurkan suaminya itu masuk ke dalamnya untuk bersembunyi. melihat siapa onghui menjadi tergugu. ―Bagaimana tadi permainan tombakku. entah ibu mengetahuinya atau tidak. Ia pun menuang the ke dalam cangkir. ia kaget bukan main. untuk menjambret pintunya untuk dibuka. Ia masih menghirup beberapa kali. yang pintunya ia segera tutup pula. ―Tidak apa-apa. Wanyen Kang berkhawatir mendengar jeritan ibunya itu. tapi disaat ia hendak mengundurkan diri. hingga daun pintunya mejeblak terbuka. Ma?‖ sahut si anak. untuk di minum dengan perlahan-lahan. ―Ma. ―Aku tempur itu anak tolol dengan andalkan kepandaianku. hingga ia mengeluarkan jeritan tertahan. jendela itu keras. kau pergilah. ―Begitu?‖ tanya ibunya. ada terjadi apakah?‖ ia menanya. ―Siapakah dia?‖ tanya ibunya. Ia memang tidak rela meninggalkan istrinya itu. ular naga melayang‖. ―Sekarang lekas kau pergi tidur. hatinya bekerja. tangannya diulur kepada tombak. ia dapat melihat ujung baju di sela-sela lemari.‖ ―Ma. Dasar anakmu yang buruk…. bagus atau tidak?‖ ―Lain kali aku larang kau menghina orang karena kau andalkan pengaruhmu. ―Siapa mengandalkan pengaruh. Urusan itu kau jangan campur tahu!‖ Wanyen Kang tertawa. maka kembali timbul kecurigaannya. ―Ma. Sambil berbuat begitu. Ia batal pergi. ―Ah. ―Ma. Tiat Sim suka menurut. ―Tentara pengawal semuanya kantong nasi!‖ katanya. Sebelum orang nerobos masuk.‖ katanya. hatinya berdenyut.‖ kata ibu itu. Itulah gerakan ―burung hong terbang. Sembari minum. ia segera tabrak pintu kamar itu.‖ ―Nah. di tubuh siapa ia menyanderkan diri. tiga orang menjadi terkejut sekali. begitu lekas ia mencekal dengan baik – yang mana ia lakukan dengan luar biasa cepat – mendadak saja ia menikam ke arah lemari.‖ sang ibu bilang. Irawan D Soedradjat Page 231 . Tapi Wanyen Kang telah menahan gerakan tangannya. ―Ma. rupanya ada orang yang menahannya dari sebelah luar. apakah tidak ada orang masuk ke mari?‖ putra itu tanya pula. tetapi ketika ia menolak. ia takut ibunya diganggu orang jahat. yang menenangkak dirinya. Di dalam lemari itu tertampak Kwee Ceng. Di dalam kamar itu tapinya tidak ada lain orang. ibu tahu di dalam lemari ini ada orang…‖ pikirnya. aku tak akan main gila lagi. Ia lantas senderkan tombaknya. bertindak perlahan-lahan. untuk mengasih bangun pada ibunya.‖ Wanyen Kang beritahu. Ia menjadi curiga sekali. ia lantas ambil tempat duduk. batal ia menikam lemari disaat ujung tombak hampir mengenai daun pintu lemari.‖ Ia telah sampai di tembok.

ia berduduk. selama delapan belas tahun dia berkelana di duni kangouw.‖ Jantungnya Tiat Sim berdenyut. bangku. ―Kenapa mama suka sekali tinggal di ini rumah bobrok. pedih ia merasa. Wanyen Kang mengawasi ibunya.‖ ―Sampai sebegitu jauh aku tidak mengerti. yang segalanya serba dilukis dan diukir dan diperaboti mentereng! Anak.‖ sahut ibunya itu. ―Ma.‖ Sang putra heran hingga ia mengawasi dengan matanya dibuka lebar-lebar. kau tidak dapat tinggal di rumah bobrok ini bersama-sama dengan ayah dan ibu kandungmu snediri…. ibukota dari kerajaan Song di Kanglam. tidak ada satu yang bukan dibawanya dari Lim-an. mungkinkah ia hendak menyuruh anaknya itu mencelakai aku?‖ Ia lantas dengar perkataannya Pauw Sek Yok: ―Tombak ini tadinya berada di dusun Gu-kee-cun di kota Lim-an. Hatinya Pauw Sek Yok goncang keras.‖ berkata dia. Itu lanjam di tembok dan semua perabotan dalam ruangan ini. kau dengari aku bicara. Wanyen Kang telah menyaksikan kelakuan ibunya ini. kenapa ada apa-apa yang disembunyikan kepadaku?‖ si anak bertanya pula. ―Ma. maka dalam dunia ini tidak bisa aku hidup pula bersama Tiat Sim. ―Aku ini anak kandungmu atau bukan?‖ ―Tentu saja. makin aneh!‖ katanya. Hanya karena kagetnya itu.‖ sahut Wanyen Kang. kapan ia dapatkan lemari tidak kurang satu apa.‖ berkata Wanyen Kang.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok sadar dengan perlahan-lahan. hatinya menjadi lega.‖ Karena memikir ini. lemari dan pembaringan. ―Taukah kau siapa ayahmu yang sebenarnya?‖ Sek Yok menanya. air matanya lantas bercucuran deras. inilah kesalahan besar yang tidak dapat diperbaiki lagi. habis itu barulah aku mencari jalan pendekku…. Putra itu menurut. Ia pun berpikir: ―Sekarang dia telah menjadi satu onghui. ia heran dan bercuriga. ―Mana bisa ayah tinggal di sini?‖ Sek Yok menghela napas. Ia pikir: ―Kejadian ini mesti dijelaskan kepada anak ini.‖ kemudian kata si ibu. hatinya tergoncang keras. ―Sekarang aku akan menerangkannya kepadamu. ―Ma. ―Aku justru merasa ini jauh terlebih bagus dibandingkan istana yang indah.‖ ―Kau menyebutkan rumah ini bobrok?‖ tanya sang ibu. ―Oleh karena itu mana bisa dia berdiam dengan tenang dan tentram di rumah ini…. ―Sedari aku masih kecil telah aku menanyakannya. kau tidak punyai untung bagus. seperti meja. ―Kau duduklah baik-baik. ―Tetapi ibu tidak hendak menjelaskan siapa Yo Tiat Sim itu. Aku sengaja menitahkan orang melakukan perjalanan jauh ribuan lie untuk mengambilnya. biarlah mereka ayah dan anak bertemu. Tiat Sim dalam lemari telah dengar nyata pembicaraan di antara ibu dan anak itu.‖ katanya keras. suaranya keras. ―Kenapa kau menanya begini?‖ ―Kalau begitu. apakah katamu?‖ tanyanya saking heran. makin lama kau bicara. tubuhnya menjadi lemah sekali. ―Apakah kau sudah lihat itu ukiran empat huruf di gagang tombak?‖ Pauw Sek Yok tanya.‖ menjawab anak itu. dialah pangeran Chao Wang. Aku telah hilang kehormatan diriku. anakmu membawakan kau perabot rumah tangga yang baru tetapi semua itu ibu tolak. mana dapat ia mengikuti pula aku seorang rakyat kasar? Dia hendak membuka rahasia. ―Kasihan ayahmu itu. tetapi tombaknya masih dipegangi. ―Kenapa mama menanya begitu?‖ Irawan D Soedradjat Page 232 .‖ kata ibu itu. ―Ayahku adalah adiknya sri baginda. Wanyen kang tertawa.

ia telah tiba di luar. sedang Sek Yok menjerit: ―Inilah ayahmu! Apakah kau masih tidak percaya?‖ Lantas ia benturkan kepalanya ke tembok hingga tubuhnya terus roboh ke lantai. cepat sekali ia mendak. yang gagangnya sudah tua. untuk di tarik keluar. segera ia pun lari keluar. Kwee Ceng lantas lompat maju. kiranya kau!‖ seru pangeran itu. akan lihat ibunya itu. untuk menangkis seraya mencekal. gadisnya itu. Inilah hebatnya untuk tombak itu sendiri. maka juga sambil berlompat dengan gerakan ―Seekor belibis keluar dari rombongannya‖. ―Kau tidak tahu. Ia menjadi kaget sekali. Sebenarnya habis itu. tetapi nama kau ialah Yo Kang!‖ Mendengar di sebutnya nama Yo Kang itu. ―Nanti aku minta ayah datang ke mari!‖ katanya. . Tempo keduanya saling membetot. akan tetapi sekarang ia memeluki Pauw Sek Yok dengan tangan kanannya itu. ―Ayahmu ada disini!‖ Sek Yok bilang. Semua Berkumpul Tiat Sim mendengar angin menyambar belakangnya. dari itu tentulah gurumu tidak dapat mengajarakan kepadamu!‖ Memang benar. ia merasakan sambaran angin ke arah kepalanya. tidak dapat ia menyerang. pikiranmu was-was. Wanyen Kang kaget. di sana ada sebuah piasu belati yang gagangnya berukiran dua huruf ―Yo Kang‖ itu.‖ katanya. ―Kau tidak dapat disesalkan. sesudah mana. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng juga tidak berani berayal-ayalan.‖ ―Aku was-was kenapa?‖ ibu itu bilang. ia serang bebokongnya Yo Tiat Sim. tanpa menanti musuh menarik pulang tombaknya. kenapa kau masih tidak berlutut untuk memberi hormat!‖ Wanyen Kang bersangsi. di mana ia pernah dengar itu. Itulah menandakan lihaynya si 233 Yo Tiat Sim tidak pedulikan pangeran itu. mereka mencekal masing-masing satu ujungnya tombak itu. maka bersama-sama mereka melompati tembok untuk menyeingkirkan diri. ―Oh. tidak kepada anak perempuan. Saking tergugu. jadi kepandaian Wanyen Kang menggunai tombak itu belum sempurna. Disaat ia hendak melompat tembok. Tombak ini…inilah senjatanya ayahmu yang sejati…‖ Ia pun lantas menunjuk pada ukiran empat huruf di gagang tombak: ―Ini barulah namanya ayahmu itu!‖ Tubuhnya sang putra bergemetar. yang mendadak saja menikam Bok Ek. gagang tombak itu patah sendirinya. Ia lantas memutar tubuhnya. ―Nanti aku pergi panggil tabib. Ia sudah lantas disambut Bok Liam Cu. yang di arah tenggorokannya. yang kaget sekali.Pendekar Pemanah Rajawali Ibu itu berbangkit. tempo ia masih kecil. anak. ialah tipu istimewa yang hanya diketahui keluarganya yang mewariskan ilmu silat itu. Kemudian lagi piasu itu lenyap entah ke mana. Tapi ia masih sadar. inilah tidak heran. Kemudian piasu itu telah dipakai menikam mati pada Tan Hian Hong si Mayat Perunggu. tangan kanannya sudah mesti membarengi menyerang. yang ia terus peluk dan angkat untuk dibawa lari keluar dari rumah bobrok itu. ia merasakan perih bagaikan kebaret pisau. ―Apakah kau sangka kau adalah orang bangsa Kim? Kau adalah orang Han! Kau bukannya bernama Wanyen Kang. Ia hanya lupa. Tiat Sim tubruk istrinya itu. tapi ia tidak dapat mengerti sedalam-dalamnya ilmu silat Keluarga Yo itu. ia membentak: ―Kau telah bertemu dengan ayahmu sendiri. ia pegang tangannya Yo Tiat Sim. ia peluki tombak besi itu. Tiat Sim berkelit. Bab 21. ia putar tubuhnya. Lantas dia bertindak cepat le arah lemari. ―Lepaskan!‖ teriak Wanyen Kang. angin menyambar lewat di mukanya. Wanyen Kang heran bukan kepalang. dengan bawa istrinya . maka ujung tombak lantas kena terpegang. ia menjadi tidak berayal. walaupun Khu Cie Kee lihay. pangeran itu menjadi tercengang. ia putar tangan kirinya ke belakang.‖ katanya sesegukan. Kemudian ia ingat. Maka seraya memutar tubuh. Kwee Ceng ingat segera ingat satu nama yang ia rasa kenal baik. Ia telah mainkan ilmu silat Keluarga Yo bagian jurus ―Hui ma chio‖ atau ―Membaliki kuda‖. ia membentak: ―Ilmu silatku ini diwariskan cuma kepada anak laki-laki. ia jadi berdiri menjublak. Meski begitu. lantas air matanya turun dengan deras. Dengan begitu. untuk buka pintunya. ―Ma. maka ditegur begitu. yang kepalanya mandi darah dan napasnya empasempis.

―Apakah shemu?‖ Lian Houw menanya pula. ―Apakah kau telah bertemu dengan mereka itu?‖ tanyanya.‖ sahut si nona. aku si orang tua sudah lama menantikanmu di sini!‖ Itulah suaranya Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong! Pada itu waktu di lain kalangan. 234 Auwyang Kongcu tertawa. Semua orang di situ. ―Oleh karena kau adalah muridnya Hek Hong Siang Sat. ―Di sini ada beberapa tua bangka yang hendak menyusahkan aku. ―Belum pernah aku melihat Hek Hong Siang Sat. semua mata ditujukan kepada pemuda she Auwyang ini. ―Aku tidak punya she. mereka menjadi saling mengawasi. ia terus putar tubuhnya dan bertindak ke pintu. aku dipanggil Yong-jie.Pendekar Pemanah Rajawali penyerang. kau akan membiarkannya aku berlalu dari sini. Cuma dengan satu kelebatan. Pheng Lian Houw menggeser tubuhnya ke samping. Kau adalah satu laki-laki sejati. telah menjadi pecundangnya nona ini.‖ ia menyahut.‖ dia kata. Apakah itu bukannya pengajaran dari Hek Hong Siang Sat?!‖ Oey Yong tertawa pula. Pheng Lian Hoauw sudah mengahdang di ambang pintu. ―Aku yang rendah dan bodoh. menegaskan. sambil tertawa Oey Yong kata kepada cecu itu: ―Kau kalah!‖ Ia berbicara dengan terpaksa. oleh karena Leng Tie Siangjin telah terluka parah.‖ Oey Yong bilang tanpa pedulikan perkataan orang. terutama untuk pakaian orang yang serba putih. Ia menyahuti dengan membentak: ―Jurusmu yang terakhir adaöah jurus ―Tindakannya si binatang sakti‖.‖ katanya. mereka mana tepat menjadi guruku?‖ ―Percuma kau menyangkal!‖ bilang Lian Houw. yang dikatakan Pheng Lian Houw sebagai gurunya. ―Hanya kau bilanglah. hingga tidak dapat ia menggeraki tubuhnya.‖ ia berkata. hingga wajahnya bersemu merah. yang tersenyum. Mereka pun telah mendurhaka terhadap guru dan kakek guru mereka.‖ berkata orang she Pheng ini. tidak ada kejahatan yang mereka tidak lakukan. ―Apa yang aku tahu tentang mereka ialah mereka pengrusak perikeadilan dan prikemanusiaan. Mau tidak mau. dari heran mereka jadi mau mempercayai. Auwyang Kongcu. ia dengar bentakan: ―Anak tolol. sambil tersenyum. kenapa sekarang kau menyangkal?‖ Pheng Lian Houw gusar sekali.‖ . ―Laginya. Oey Yong mengawasi. ―Nama Hek Hong Siang Sat pernah aku dengar. apa perlunya gurumu menitah kau datang kemari?‖ Oey Yong tertawa. ―Mereka itu – ini nona-nona cantik yang menunggang unta putih – adakah mereka orang-orangmu?‖ dia menanya. mengapa kau tidak membantu aku?‖ dia tanya. akan tetapi mendengar ia bicara demikian hebat terhadap Hek Hong Siang Sat. Orang boleh berdusta hebat tetapi tidak nanti ada murid yang berani mencela dan mencaci guru sendiri di hadapan orang banyak. maka habis berkata. Selagi ia terkejut. ―Aku si Lao Pheng kagum sekali untukmu! Sekarang aku memikir untuk meminta tanya namamu yang harum. lantas bertindak perlahan. ―Maafkan. kecuali Leng Tie Siangjin dan Auwyang Kongcu.‖ Oey Yong tertawa lagi. kelihatannya cuma Auwyang Kongcu yang bisa menghalangi nona ini. maka itu. ―Nona kecil. tatkala mendengar Pheng Lian Houw mengatakan ialah muridnya Hek Homh Siang Sat. aku tidak berniat mengganggu padamu. jadinya mereka adalah orang-orang dari Rimba Persilatan? Kenapa Pheng Cecu samakan aku dengan mereka itu?‖ Mulanya orang menyangka nona ini tidak hendak omong terus terang. Dia menyenggapi: ―Kau sendiri yang bilang. ―Kecantikan mereka itu tidak ada separuhnya dari kecantikanmu. ingin aku meminta pengajaran beberapa jurus dari nona. dengan kepandaian semacam itu dari mereka. hitunglah kau telah menang. Irawan D Soedradjat Page Oey Yong agaknya jengah. karena hatinya cemas bukan main mendengar suaranya Kwee Ceng. jikalau dalam sepuluh jurus kau tidak dapat mengenali ilmu silatku.

kau kemarilah! Kau tak usah takut. itu pun dapat. melainkan tubuh orang ada yang kurus dan montok. hendak aku pergi!‖ katanya si nona pula. dia rupanya telah dapat menerka. Auwyang Kongcu hendak membuktikan perkatannya.‖ Oey Yong miringkan kepalanya. mereka jadi kaget sekali dan tergiur hatinya.ia tidak nyana mereka itu kalah dari Oey Yong. Irawan D Soedradjat Page 235 ―Baiklah!‖ berkata kongcu itu. semuanya bakal datang. maka juga ia terus pergi ke ambang pintu. belum tentu ada tandingannya. ―Bagaimana?‖ si nona menanya. ―Walaupun kau pukul aku. untuk mencari nona-nona cantik dan manis. mereka jadi ketarik hati dan ingin merampasnya untuk diserahkan kepada Auwyang Kongcu. ―Asal kau angkat aku menjadi gurumu dan untuk selamanya kau mengikuti aku. Tapi ia pun gemar sekali pada paras elok. di See Hek. Mereka ini berkumpul di luar selagi Auwyang Kongcu berpesta. ―Jikalau kau benar-benar lihay.‖ Auwyang Kongcu bilang. yang keringatnya merah. untuk dia ambil mereka itu sebagai gundik-gundiknya. dari itu dengan sendirinya mereka itu menjadi juga murid-muridnya. aku tidak akan balas menyerang. sedang di bawah sinar merah dari api lilin. yang berjumlah delapan orang. Adalah diwaktuwaktu yang senggang. wilayah Barat. Mereka dengar itu Biauw Ciu Sieseng bicara perihal kuda jempolan. ―Benar!‖ jawab si nona.‖ . supaya dengan begitu kemudian aku tak usahlah menerima penghinaan orang. ia lantas mengasih dengar suaranya. kau bantu aku. ia dapat mencari jalan untuk meloloskan diri. sekarang ia sengaja permainkan Auwyang Kongcu supaya orang mengumpulkan gundik-gundiknya itu. yang ia percaya adalah tercantik di kolong langit ini. dia datang ke kota raja – Yan-khia – dengan mengajak sekalian gundik-gundiknya yang merangkap murid-muridnya itu. dia mengerling kepada si nona. . Mengetahui akalnya gagal. Ia mengharap. selagi orang berkumpul banyak. ―Nah. dengan perlahanlahan dia mengipasi dirinya. ―Kalau mereka itu menghalangi aku. tapi Auwyang Kongcu cerdik. Kali ini ia berlalu dari kampung halamannya atas undangan Chao Wang. Serombongan di antaranya.sekalipun di dalam keraton raja. ―Apakah tanpa membalas menyerang kau dapat mengalahkan aku? Benarkah?‖ Pemuda itu tertawa. ―Murid-muridku beda daripada murid-muridnya orang lain.‖ ia bilang. mereka gagal. Di luar sangkaan mereka. dengan semua dimestikan mengenakan pakaian serba putih seraya menunggang unta-unta putih juga. Dia kelihatannya tenang dan puas. Oleh karena gundik-gundiknya itu banyak. baru mereka muncul setelah ada panggilan.‖ Si nona tertawa.‖ katanya. ia menjagoi seorang diri. Ia merasa hatinya gatal dan tulangtulangnya lemas…… Anak muda ini lihay ilmu silatnya. Dengan lantas mereka berdiri berkumpul di belakangnya anak muda itu. ―Aku tidak percaya!‖ ujarnya. Oey Yong mengasah pula otaknya. ia ajarkan mereka itu ilmu silat dan ilmu surat. Maka juga sejak beberapa tahun dia sudah kirim orang ke pelbagai tempat. Oey Yong telah robohkan delapan dari nona-nona itu. hingga ia menjadi tergila-gila sampai umpama kata kepalanya pening. dengan tajam ia menatap. maukah kau?‖ Auwyang Kongcu tertawa. ―Nah. mana aku tega membalas memukul?‖ katanya kemudian. . Ketika di Kalgan. Dia sengaja menitahkan mereka menyamar sebagai pria. memandang nona-nona manis itu. Pheng Lian Houw semua seperti bermata kabur. Sebentar saja di muka pintu terlihat beberapa puluh wanita muda dengan pakaian serba putih yang berseragam.‖ ―Apakah kau hendak mencobanya?‖ Auwyang Kongcu menegaskan. tinggi dan kate. ―Memang tidak ada yang terlebih baik daripada aku mengangkat kau menjadi guru.Pendekar Pemanah Rajawali Auwyang Kongcu tidak bisa lantas menjawab. guna mengambil hatinya suami merangkap guru itu. ―Semua muridku wanita dan asal sekali saja aku memanggil. ―Umpama kata aku menjadi muridmu. dia pecah mereka dalam beberapa rombongan. ―Untuk aku membantu kau. adalah mereka yang di tengah jalan bertemu dengan Kanglam Liok Koay dan Kwee Ceng. tak usahlah untuk selama-lamanya aku mengikuti kau!‖ dia bilang. ia ketahui kepandaian silat mereka itu biasa saja. Demikian hatinya goncang kana mendengar suara orang yang merdu itu. Auwyang Kongcu pun bangga akan gundik-gundiknya itu.

dia yang kalah. Lingkarannya sendiri dalam kira setengah dim. ―Jikalau dua-duanya yang keluar?‖ Oey Yong masih menanya. ia berputar dengan kaki kiri itu. Oey Yong heran. akan tetapi ia gunai kepandaiannya. Ia tentu saja tidak berani menyerang untuk kedua kalinya. begitu masuk lantas kedua tangannya bekerja. Auwyang Kongcu sudah lantas mengegos tubuhnya akan tetapi sia-sia saja ia berkelit. lalu dengan kaki kiri menahan diri. ia kata: ―Aku hendak pergi sekarang! Kau tidak dapat keluar dari lingkaran untuk menyusul aku! Tadi kau sendiri yang mengatakannya. ia taruh itu di lantai. kemudian seraya ia bertindak masuk ke dalam lingkaran itu. pada wajahnya ia tidak ketarakan suatu apa. suatu tanda dari kuatnya kaki kanannya itu. bersedia untuk dibelenggu. yang terbuat dari benang sutra tetapi kuat.‖ Karena ini. Lingkaran pun seluas enam kaki. mana bisa dia mengalahkannya tanpa dia membalas menyerang? Mungkinkah dia hendak menggunai ilmu siluman?‖ ―Aku tidak percaya yang kau benar-benar tidak bakal balas menyerang!‖ bilang Oey Yong pula. Lekas ia mengambil putusan: ―Biarlah. meminjam tenaga untuk menyerang tenaga. benda itu adalah sebuah kursi thaysu. Ia bukan cuma bertindak masuk saja. dia duduk seperti terpaku di kursinya. Hanya begitu ia berada di luar. meski begitu yang terkejut adalah si nona sendiri. maka sungguh hebat jikalau aku sampai kena dibekuk dia…. aku bekerka setindak demi setindak….‖ sahut Auwyang Kongcu. hampir ia melintasi garis lingkaran itu. ―Jikalau kau kalah. toh kau tidak bakal merintangi aku lagi. kaki kanannya terus menggurat. ―Tentu saja! Tapi kalau kau yang kalah. tetapi hatinya terkesiap. kedua tangan si nona mengenai tepat pundaknya. di atasnya mana ada bercokol satu paderi dari Tibet yang tubuhnya tinggi dan besar. yang lain berat. tiba-tiba terlihat berupa benda besar yang melayang jatuh di depannya. ―Hendak aku telingkung tanganmu ke belakang!‖ ―Baik. ia tetap senyum. yang mengenakan jubah warna merah. sebenatr saja ia sudah tiba di dekat pintu. Dia hanya bisa berdiri menjublak tanpa bisa bicara apa-apa! Si nona tidak menghiraukannya lagi. ―Baik!‖ kata Oey Yong. Ia pikir: ―Terang sekali orang ini tidak bermaksud baik. Maka terlihatlah gelang rambutnya yang terbuat dari emas itu berkeliauan dan bajunya yang putih berkibar-kibar. segera ia percepat tindakannya itu. dia membilang tidak akan membalas menyerang. hingga ia dapat berlompat bersama-sama kursinya itu. hingga ia lantas terhuyung sendirinya. yang terus buka ikatan pinggangnya yang ia serahkan kepada si nona. habis mana ia bawa kedua tangannya ke belakangnya. yang dari dalam jubahnya mengasih keluar sepasang cecer tembaga. maka kau mesti baik-baik turut aku. ia bertindak dengan tenang. ―Bagaimana sekarang – bagaimana kalah menangnya?‖ si nona tanya. Oey Yong hendak menegur di pederi itu tetapi ia telah di dahului Leng Siangjin. Hal ini membuat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw kagum sekali. ia menginsyafi keadaan yang tidak wajar. segera ia merasakan pukulannya itu membal balik. begitu kedua tangannya dirapatkan. Auwyang Kongcu lonjorkan kaki kanannya. kau yang kalah!‖ Auwyang Kongcu tercengang karena herannya. Segera ia dapat kenyataan. dengan itu ia terus ikat tangan orang. dengan kecerdikannya. tetapi menerjangnya berbareng. tangan kiri dengan jurus ―Angin menyambar yanglui‖. yang lantas bertindak memasuki lingkaran itu. Ia sudah lantas berkelit ke samping. pemuda ini benar-benar ceriwis. karena begitu tangan mengenai sasaran.Pendekar Pemanah Rajawali Lian Houw semua heran. ―Siapa yang keluar dari lingkaran ini. maka begitu serangn Oey Yong mengenakan padanya. Mereka pun dapat anggapan. kalau kita berdua sama-sama keluar dari lingkaran. maka itu. Mereka pikir: ―Nona ini lihay.‖ berkata Auwyang Kongcu.‖ Maka ia sambuti ikat pinggang itu.‖ jawab Auwyang Kongcu. dengan begitu ia membuat lingkaran. berbunyilah alat tetabuhan itu Irawan D Soedradjat Page 236 . dia buktikan perkataannya itu. bukan?‖ si nona menegaskan. Anehnya. Semua orang tua di sini menjadi saksinya!‖ kongcu itu memberi kepastian. walaupun dia lebih pandai sepuluh lipat. ia menjadi berpikir keras. Sebaliknya. yang satu enteng. keluar dari lingkaran. tindakannya pun dihentikan. ―Begitu pun boleh dianggap aku yang kalah. Kongcu itu lihay tenaga dalamnya. yang lain keras. Sebab ia mengerti sembarang waktu bisa terjadi perubahan. yang orang benar-benar menyerahkan diri untuk dibelenggu. yang satu lemah. Dia duduk di kursi tapi ia lebih tinggi dari si nona.

ia pun tidak berlompat itu lari menyingkir. dia terjatuh ke dalam sebuah liang. Oey Yong tidak menjadi gugup. Lekas-lekas ia merayap bangun. selatan atau utara. Dalam keadaan seperti itu. untuk mencari. sekian lama dia tidak dapat dicandak. juga isi perutnya. sebaliknya. Kali ini Leng Tie Siangjin mengangkat tangannya. hingga ia seperti hendak menyerbu ke rangkulannya lawannya itu. Malah Chao Wang juga menitahkan Thung Couw Tek mengepalai barisan pengiringnya pergi mencari. yang tertusuk duri. dengan begitu. Selagi orang kaget. Nona yang begitu cantik manis. Irawan D Soedradjat Page 237 . Hingga istana pangeran itu menjdai kacar dan gempar! Di pihaknya Kwee Ceng. dia kena injak bukan batu atau tanah keras.‖ Hauw Thong Hay mengulur lidahnya. satu suara keras segra terdengar. tangan kanannya diangsurkan. pastilah bakal runtuh di tangan yang kasar dari si paderi. tangannya terus dipakai merebaraba kepada benda itu. dia mesti menderita sebab tertusuk duri-duri landak itu. ia lari mencari. Ketika akhirnya kakinya tiba di dasar liang. Serangannya Leng Tie Siangjin tepat mengenai sasarannya. sebuah lagi di bawah. maka sekejap kemudian. Mungkin ia menerka. walaupun itu sudah lolos dari bahaya. dia lari tanpa memilih lagi jurusan timur atau barat. Mendadak kakinya menjadi lemas.‖ Hauw Thong Hay. kenapa dia dapat memiliki Joan-wie-kah itu?‖ Sementara itu Auwyang Kongcu sudah berlompat. yang dalamnya beberapa tombak. untuk menampa dasarnya cecer. bagaikan rebung muda atau pedang yang ditancap di tanah. Oey Yong seperti juga tidak dapat menahan tubuhnya. kaki kirinya ditekankan di atasan cecer yang di bawah tubuhnya dipengkeratkan.sebuah di atas. hanya serupa benda licin. bukan saja tulang-tulangnya bakal patah. bakalan remuk semua…. orang menjadi heran sekali. dengan menjejak dengan kedua kakinya. dengan ilmu pukulan ―Tay ciu ini‖ atau ―Tapak tangan besar‖. Dalam kagetnya. asal ke tempat yang gelap. maka maulah dia nanti merangkulnya…. ia justru mencelat ke depan. Di dalam hatinya ia menghibur diri. Cuma. Maka siapa memukul atau menendangnya. hanya tempo ia sampai di luar. Biar bagaimana tidak dapat ia melupakan nona yang manis itu. Orang menjadi kaget hingga mereka pada berseru. tak usah dia jatuh terbanting. Sembari berbicara. dia lantas siapkan kakinya. ia maju terus. ―Pernahkah kau melihat landak?‖ Pheng Lian Houw mendahului menanya ―Tentu pernah aku melihatnya!‖ sahut orang she Hauw itu. si nona sendiri melayang terus bagaikan layangan putus. maka sambil serukan sekalian gundiknya. hingga tidak ampun lagi. yang bertemu sama Nio Cu Ong. ia sudah lewat di antara kedua senjata rahasia itu. Som Sian Lao Koay ingin membekuk orang untuk dihisap darahnya! Kwee Ceng dapat lari keras. Dia heran yang di pekarangannya istana ada tempat yang demikian. ―Di dalam bajunya ia memakai baju lapis yang lemas.‖ Lian Houw lantas memberi keterangan. Ia masih heran tatkala di depan matanya berkelebat suatu sinar. lalu sepasang cecer itu menyambar ke arahnya…. di mana ada banyak pohon berduri serta batu muncul di sana-sini.Pendekar Pemanah Rajawali hingga menulikan kuping. dia takutnya bukan main. supaya setibanya di bawah. Ia penasaran. ketika dia merasakan sakit pada kakinya. sebab telapakan tangannya pecah menjadi sepuluh liang kecil. Bahaya tidak dapat dicegah lagi. Thong Hay dan Lian Houw sertia Thong Thian turut pergi mengejar. dia pun berlari-lari di tempat yang gelap. Tapi ia masih sadar. ynag tidak tahu apa itu Joan-wie-kah. Baju itu mempunyai duri yang seperti duri landak. Pheng Lian Houw berseru: ―Budak itu memakai Joan-wie-kah! Itulah mustika pemilik pulau dari pulau Tho-hoa di Tang Hay!‖ See Thong Thian pun berseru: ―Dia masih begini muda. di antara gelap petang tidak dapat lagi ia melihat bayangannya si nona. ―Syukur aku tidak sampai kena menghajar budak itu…‖ katanya. Sebentar kemudian dia sampai di satu tempat. sampai di luar gedung! Dari kaget. dia dapatkan sebuah tengkorak manusia. ia terus terpeleset dan terguling. untuk berlari-lari keluar. hingga mereka tercengang. ialah punggung si nona. mungkin ia tidak terluka. menanyakan itu kepada kakak seperguruannya. Dia menjadi terlebih kaget. Untuk kagetnya. dia memukul ke arah tubuhnya si nona. Cu Ong sebaliknya mengejar dia dengan hebat. Mereka lihat tangan kanan dari Leng Tie Siangjin mengucurkan darah. ―Baju lapis itu tidak takut kepada senjata tajam seperti golok dan tombak. ―Dia dapat lolos. ia menjadi mendekati si orang suci itu. terus tubuhnya terjatuh hingga ia menjerit keras. karena ia berlompat maju.

Kwee Ceng kaget dan takut. Irawan D Soedradjat Page 238 . Liang itu merupakan sebuah terowongan. Ia lantas saja berkelit. ia tidak dapat meraba apa juga. Nio Cu Ong tengah menyerang padanya. bocah. untuk berjalan dengan kedua tangannya dilonjorkan ke depan. Nio Cu Ong mendapatkan tangkapannya gagal. Sekalipun Nio Cu Ong. Kwee Ceng bingung. di mana terdapat cahaya terang.‖ ia menduga-duga. Nio Cu Ong pun tiba dengan segera. Dia takut Kwee Ceng nanti bokong padanya. yang kosen dan nyalinya besar. ke mana kau hendak kabur?!‖ dia berseru. ―Siapa yang berani datang kemari menangkap orang?!‖ terdengar pula suara wanita tadi. menyahuti orang itu.‖ berkata Kwee Ceng perlahan. mungkin untuk ditawan. ia hanya kepada Kwee Ceng: ―Eh. hanya ia lantas meraba ke belakangnya. Ini pun ada penjagaan untuk lari terus andaikata Nio Cu Ong berlompat turun. ―Aku lagi dikejar-kejar orang…. Dalam liang gelap yang gelap itu. bahkan kali ini tubuhnya terus lompat turun. ―Biarpun kau kabur ke istana Raja Akherat. sembari meraba dia sembari mundur. mari kau sembunyi padaku di sini!‖ Ia rupanya dapat menduga dari suara orang. Ia tidak melihat siapa juga tetapi ia merasa pasti Nio Cu Ong sedang menyusul padanya. di sana habislah jiwaku…. Justru itu. ia melihat ke sekitarnya. Itulah ujungnya terowongan itu. Baru Kwee Ceng berhenti bicara. yang bisa menghalangi mundurnya. ―Apakah kau hendak menyamar menjadi iblis untuk menakut-nakuti aku?!‖ dia menegur. di atas sana. dari pojok kiri terdengar ini suara dingin seram: ―Siapa berbuat kurang ajar di sini?!‖ Kwee Ceng kaget. Dia pun rtidak sudi memberi penyahutan. Itulah sebuah kamar atau ruang bertembok tanah. ia bahka bergusar. ―Terowongan ini mesti ada ujungnya. dia tidak dapat melihat apa juga. dia tidak bakal hidup pula! Apakah kamu sudah bosan hidup?!‖ Terang suara itu adalah suaranya seorang wanita.Pendekar Pemanah Rajawali ―Rupanya ini adalah lubang peranti membuang mayatnya orang yang dibunuh di istana….‖ pikir bocah ini. Ia menjadi semakin takut. hatinya goncang keras. Justru hatinya lagi berpikir. dia menyusul terus. dia bertindak dengan enteng. Dia masih tidak dapat meraba sesuatu apa. dia dengar teriakannya Nio Cu Ong: ―Bocah. Lagi beberapa tombak. anak muda. Kwee Ceng menjadi cemas dan sibuk. Kembali terdengar suara seram dingin tadi: ―Siapa ke dalam gua ini. Ia mengucap demikian tetapi ia tidak berkisar dari tempatnya. dia andalkan kepandaiannya. atau ia telah dengar sambaran angin. dialah seorang yang sedang sakit. tidak dapat ia berdiam saja atau mendusta. hanya kali ini suara itu disusul sama napas yang memburu. ―Ha. Dia bernyali besar. dia bahkan tidak dapat melihat jeriji tangan di hadapannya. maka ia mundur terus. Di belakangnya. baru menyusul kira dua tembok. Wanita itu tidak menyahuti. dia mesti mati. terus ia mundur.‖ Sebagai seorang polos. ia turut terkejut juga. ia menyerang pula. Nio Cu Ong tidak takut. akan aku susul padamu!‖ terdengar pula suaranya Nio Cu Ong. Siapa sangka di temapt demikian boleh ada penghuninya. ia berkelit ke kiri dan kanan. Nio Cu Ong telah dapat mengetahuinya. supaya ia tidak mengasih dengar suara apa-apa. ―Aku datang kemari tidak sengaja. tahulah ia. tibalah Kwee Ceng di satu tempat yang terbuka. lekas naik!‖ ―Aku tidak ada begitu gila mau naik untuk mengantar jiwa…. Kemudian ia putar tubuhnya.‖ ia mengeluh. mungkin sekali. Hanya karena berada di tempat gelap. Kwee Ceng menyingkir terus dengan hatinya memukul keras. lantas dia tertawa lebar.

lancang masuk ke rumahku ini. Kwee Ceng baru mendengar sampai disitu. Ia pun menduga orang lagi sakit. Ia baru saja melanggar bajunya Kwee Ceng lalu mendadak ia merasakan tangannya terbentur tenaga yang besar. mari maju!‖ ia berseru saking murkanya. sambil lompat mencelat. ujung kukunya menyambar ke pundak. walaupun begitu. di dalam keadaan seperti ini. ia kenamaan duapuluh tahun lebih. Wanita itu terdengar napasnya memburu. dia sudah tidak dapat diberi ampun. untuk bergulingan pergi. maka ia lantas berlompat ke arah darimana suara itu datang. Tidak ayal lagi. hingga diluarnya dapatlah ia bernapas lega. Dengan perlahan ia bertindak menghampirkan wanita itu. karena ini. mungkinkah dia itu siluman?‖ Juga sampokan Cu Ong adalah sampokan istimewa. Aku minta sukalah nyonya tidak menghalangi aku…‖ ―Oh. Apakah kau ada satu jago Rimba Persilatan dari Kwan-gwa?‖ Nio Cu Ong heran bukan buatan. ia rasakan tangan lawan dingin sekali. hingga ia terkejut. dia kata terhadap Nio Cu Ong: ―Barusan seranganmu. terus ia keluar dari terowongan itu. ia tidak ambil pusing siapa si nyonya itu. yang berupa tangkapan. ―Aku tidak dapat melihat dia. tetapi ia tidak mau kasih dirinya diserang demikian. Ia hanya heran atas kesebatan wanita itu. aku mesti tangkap dia. ―He. tetapi kali ini. Dalam kagetnya.aku…. Jalan darah itu ada di batas mata kaki. ia segera kirim tangan kirinya. ―Dia lihay sekali! Mungkinkah ia dapat melihat di tempat gelap?‖ Ia menjadi tidak mau berlaku semberono. Wanita itu masih bernapas memburu. lalu sebuah cambuk panjang menyambar ke kakinya. hingga ia terhuyung tiga tindak. she Nio. Kali ini kedua tangan bentrok. untuk menerjang. tiba-tiba ia mendengar suara angin.‖ sahut si wanita itu. yang ia duga sedang sakit keras atau terluka parah. tubuhnya segera tertarik hingga ia roboh menubruk sebuah dipan tempat duduk bersemadhi. tidak dapat tidak. tanda bahwa nyonya itu sangat menderita. Begitu kakinya menginjak tanah. kau ketua sebuah partai! Apakah benar kau tidak kenal aturan kaum Rimba Persilatan?!‖ Som Sian Lao Koay terperanjat. Di dalam hatinya ia berkata: ―Wanita ini awas sekali matanya! Dia bisa menotok jalan darah. lantas ia merasakan tangannya wanita itu bergemetar keras. Bocah ini telah curi barangku. Syukur tangguh ilmu dalamnya. sedang tangannya dipakai menyampok. yang sebelah tangannya segera mampir di bebokongnya Som Sian Loa Koay. Sekarang Nio Cu Ong percaya pasti orang tidak dapat bergerak. Ia sangat andalkan kegagahannya. kalu serangannya mengenai sasarannya. Irawan D Soedradjat Page 239 . tiba-tiba kaku sendirinya. lalu tangannya si wanita diulur panjang. yang tidak tahu apa-apa. untuk membekuk si anak muda. ―Apakah kau sakit?‖ ia tanya perlahan. besar tenaga orang itu. ia ayun tubuhnya untuk berjumpalitan. Nio Cu Ong dapat mendengar suaranya kwee ceng itu. aku mohon tanya shemu yang mulia. tubuhnya tidak bergerak. Disaat ia hendak berlompat. bangsat perempuan. ia tidak sampai mendapat luka di dalam. ia menangkis dengan tangan kirinya. kenapa dia sebaliknya segera mengenali asalusulnya ilmu silatku?‖ ia berpikir. Lantas ia ulur kedua tangannya. ia mesti lantas roboh. tetapi untuk kagetnya. Tiba-tiba terdengar urat-urat meretek. ia merasakan tangannya disambar dan dicekal tangan lain orang yang dingin enyam. kakinya terus menendang ke arah wanita itu! Tendangan orang she Nio ini ada sangat kesohor. ia lantas menyahuti: ―Aku adalah seoarng saudagar jinsom dari Kwantong. ―Nyonya yang terhormat. biasanya siapa kena tertotok. Ia menjadi kaget sekali. pastilah itu tidak bakal gagal. ia menjadi lebih tabah. tenaganya telah dikerahkan sepenuhnya kepada tangannya itu. ia buang dirinya ke tanah. Belum lagi tendangannya itu mengenai sasaran atau jalan darahnya kongsun-hiat. lalu perlahan-lahan cekalannya menjadi kendor. Cu Ong terkejut. ―Kalau lain orang. kiranya saudagar Som Sian Nio Cu Ong!‖ berkata wanita itu. bahkan dengan merayap. ada lihay sekali.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sedang bingung. untuk wilayah Kwan-gwa. Ia pun mendengar orang merintih. kesudahannya membuat ia kaget tidak terkira. ―Aku…. bagaikan es. ia menjadi bergusar pula. untuk menyerang! ―Pergi!‖ membentak si wanita. tidak dapat lagi ia bersangsi sedikit juga.‖ ia meminta. apapula kau Nio Lao Koay. bukan seperti daging.

Kwee Ceng merasa orang sangat berkepala besar. terus ia menarik. hingga tak tahu ia mesti membilang apa. dengan kegirangan dan bersyukur. untuk meninggalkan pergi kepada wanita ini tetapi ia tidak tega hati. ―Lekas bicara!‖ Ia memegang keras leher orang sampai si anak muda sukar bernapas. Irawan D Soedradjat Page Saking kagetnya.‖ kata si wanita.‖ ―Apakah cianpwee terluka?‖ menanya Kwee Ceng. tangan si wanita menjadi kendor sendirinya. Yang membikin ia terkejut adalah lehernya terasa dingin dengan mendadak. mungkin ongya ketahui rahasia ini…‖ Maka dengan cepat ia kembali ke Hoa Cui Kok. Tidak lama keluarlah mereka dari gua itu. ialah liang yang tadi. keren.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sudah beberapa puluh tahun.‖ sahut Kwee Ceng. ―Jadinya kau telah curi obatnya Lao Koay! Aku dengar kabar ia tengah menyakinkan pembuatan obat-obatan…. ―Ong Totiang mendapat luka. untuk melawan cekikan. ―Gendong aku pergi!‖ berseru si wanita itu. Liang sumur itu cukup tinggi tetapi Kwee Ceng dapat memanjatnya. Maka ia kata pula: ―Jikalau cianpwee tidak merdeka untuk jalan. Kalau cianpwee…. kau benar baik….‖ pikirnya. ―Bocah tolol. him-tha dan bu-yok. Sebaliknya. Ong totiang tentu tidak membutuhkan sebanyak itu.‖ kata wanita itu. akan melihat bintang-bintang di langit. yang ketemu batunya. Ia mengangkat kepalanya. yang tidak berani banyak omong. Sebab tangan kanan si wanita sudah merangkulnya. ―Teecu ada punya empat macam obat yaitu thian-cit. belum pernah aku mengalami kejadian seperti ini. habis itu ia mencoba menggunai kedua tangannya. ―Adalah aku yang memaksa kau menggendong aku keluar dari sini. maka itu teecu datang ke istana ini…‖ Kwee Ceng menyahut. Maka ia membelas. hiat-kat. lantas ia berlulut di depan wanita itu untuk mengangguk-angguk hingga tiga kali. Ia terus bungkam.ya.‖ sahut Kwee Ceng.‖ ―Mana aku terluka!‖ memotong si wanita.‖ ―Ah. Ia pun batuk-batuk. rupanya melawan Nio Cu Ong. Ia telah lantas pikir. akan merayap naik. dengan tindakan perlahan ia menuju ke luar. ―Benarkah di dalam dunia ini ada iblis? Ah. yang seperti tidak memperdulikan perkataan orang. hatinya jadi lega. Hanya sesaat kemudian. Dalam hal kepandaian ini. ―Kenapa Lao Koay hendak membunuh kau?‖ ia tanya selang seaat. Ia jalan terus hingga di mulut terowongan. ―Tidak dapat aku dijual orang…‖ Mendengar ini.‖ kata Kwee Ceng dalam hatinya. Ia tidak tahu orang menguji padanya. agaknya ia gusar. cekikan itu menjadi semakin keras. Kwee Ceng merasakan pundaknya itu sakit sekali. dia membutuhkan obat. apakah ia bukan orangnya Wanyen Lieh?‖ ―Oh…!‖ berseru si wanita. karena ia berpikir: ―Wanita ini tinggal di dalam istana. ya.‖ Wanita itu bernapas tersengal-sengal. Ia ulur tangan kirinya. ia telah menggunakan tenaga berkelebihan. ia telah berlatih cukup di bawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok. orang tidak sudi menerima budi. diletaki di pundak Kwee Ceng. ―Siapa yang menghendaki kebaikanmu itu!‖ ―Ya. Kwee Ceng kerahkan tenaganya di leher. cara bagaimana kau ketahui aku sudah tua?‖ ―Ya. 240 ―Siapa yang ajari kau ilmu ringan tubuh?!‖ si wanita tanya. Ia lantas menggendong. hatinya menjadi lemas pula apabila ia dengar suara napas empas-empis dari wanita itu. setelah napasnya tidak terlalu memburu lagi. . Kwee Ceng dapat dengar sauara orang berlari pergi. Ia tanya pula: ―Kau menghendaki barang apa? Nanti aku pergi mengambilkannya…. ―Memang aku pun hendak menggendong kau. Ia berkata: ―Teecu mengucap banyak-banyak terima kasih untuk pertolongan cianpwee. tetapi ia tertawa dingin. mari boanpwee menggendong buat pergi keluar…‖ ―Siapakah ynag tua?!‖ wanita itu membentak. Tiba-tiba ia berhenti. tanpa berdaya ia kena ditarik hingga ke depan wanita itu.

Kapan bungkusan itu telah dibuka. salah satu dari Hek Hong Siang Sat. dari sakunya ia tarik keluar serupa barang.‖ Tiba-tiba wanita itu menggetar. seorang she Kwa. ―Apakah kau datang dari Mongolia?‖ tanya wanita itu lagi. ―Kenapa wanita ini ketahui aku datang dari Mongolia?‖ ia pikir. ―Dialah Kwa Tin Ok!‖ katanya kemudian. Ia kaget tidak kepalang. di dalamnya tertampak barang yang berkilauan.‖ Belum habis ia mengucap. sebelah tangannya menyerangi si wanita.‖ Kwee Ceng mengangguk. sebaliknya ia kena ditikam Kwee Ceng pada anggota tubuh kematiannya. tetapi ia masih bisa bawa lari mayat suaminya itu. ia duduk di tanah.‖ menjawab Kwee Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ha. ―Adalah Tan Yan Cu Ma Giok. lalu mendadak orang jahat itu lenyap dan pisau ini…. ―Bukan. Itulah sebuah pisau belati. ia berontak. ―Teecu bukan murid Coan Cin Kauw.‖ ―Habis. mukanya pucat seperti kertas. tangannya telah dicekal keras.‖ Kwee Ceng berkata. Wanita itu perdengarkan suara seperti merintih. lehernya sudah dicekal si wanita. agaknya susah ia berbicara.‖ seru wanita itu. ―Kau lihat. Itulah pisau yang ia pakai untuk menikam Tong Sie Tan Hian Hong si Mayat Perunggu. melihat mana. seram suaranya. ia lolos justru ketika itu turun hujan lebat. ―Kau bilang barusan Ong totiang mendapat luka. ia lantas berontak pula tetapi sia-sia saja. si wanita merampasnya. ―Kau dipanggil Yo Kang. yaitu Ma Totiang yang pernah ajarkan aku ilmu mengendalikan napas dan bersemadhi. Apakah namanya Ong totiang itu?‖ Sebelum menjawab. bukan suhu atau susiok?‖ Suhu dan susiok ialah guru dan paman guru. kuku orang sudah masuk ke dalam dagingnya… Ketika malam itu di atas gunung terjadi pertempuran di antara Kanglam Cit Koay dengan Hek Hong Siang Sat.‖ sahut Kwee Ceng.‖ Wanita itu batuk-batuk beberapa kali. Matanya Kwee Ceng telah berkunang-kunang tetapi ia masih bisa melihat si wanita yang rambutnya yang panjang riap-riapan. Selagi si anak muda mengawasi pisau itu. Diwaktu malam seperti itu. ―Merekalah yang disebut Kanglam Cit Koay. ―Benar. tidak nanti aku mendusta. Di gagangnya ia dapatkan dua hruf ukiran. entah dari cita atau kertas. yang ia letaki di tanah. bukan?!‖ dia tanya. aku ini siapa?!‖ ia tanya dengan bentakannya. teecu she Kwee. kau mengerti ilmu tenaga dalam yang sejati. bunyinya : ―Yo Kang‖.‖ menjawab si anak muda. Kwee Ceng berpikir: ―Kau telah tolongi padaku. Tapi tangan itu sudah lantas kena ditangkap! Segera si wanita melepaskan tangannya yang kanan. benar tidak?!‖ masih wanita itu bertanya. Guru yang nomor satu ialah Hui Thian Pian-hok. Itulah sebuah hungkusan. Ia kaget. orang dipanggil Giok Yang Cu.‖ sahut Kwee Ceng pula. Tan Hian Hong telah jambak mati kepada Thi A Seng. napasnya pun tersengal-sengal. ―Kau kenal pisau belati ini. siapakah gurumu itu?!‖ si wanita tanya pula. segala apa kau boleh tanyakan. Dia agaknya mendesak. Kenapa kau berlaku begini kasar?‖ Tapi ia toh menjawab: ―Ong Totiang itu bernama Ong Cie It. ―Benar. Kwee Ceng rasanya kenal. ―Di masa kecil pernah aku pakai pisau ini membunuh seorang jahat. Ia menjemput untuk dilihat teliti. terus di cekik. ―Guru teecu semuanya ada tujuh orang. yang heran sekali. Sekarang denagn tiba-tiba Kwee Ceng mengantarkan Irawan D Soedradjat Page 241 . ―Ong Cie It itu kau punya pernah apa? Kenapa kau memanggil ia totiang. Ia lantas mengenali Tiat Sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi. ―Benar. ―Jadinya kau adalah muridnya Coan Cin Pay!‖ katanya. Bwee Tiauw Hong sudah buta kedua matanya.

sedang tangannya terus memegang keras si anak muda.‖ Ketika itu angin bersiur. hingga selanjutnya dipulaunya itu guru hidup berdua saja dengan istrinya serta beberapa budak pelayan. Aku pergi ke jendela. Oey Yok Su. lantas ia ingat penghidupannya yang dulu-dulu. aku tak akan lihat kitabmu!‘ Dia jawab aku. lelaki bangsat. aku justru berbuat baik terhadapmu! Jikalau kau lihat ini. dia mengawasi aku sambil tertawa. sekalipun aku. Ketika kami tiba di pulau. hawanya dingin. tetapi dia penasaran. setiap hari aku memain saja. Kiranya subo telah menutup mata. ―Dulu aku adalah satu nona yang lincah. Maka aku kata kapadanya. burung hantu pun mengasih dengar suaranya yang seram. ‗Eh. dimana aku diajarkan ilmu silat. Aku menjadi bersedih. dia tidak kasih lihat. dia pentang kedua tangannya dengan apa ia tubruk ayahnya. Demikian pada suatu malam di musim semi. Bwee Tiauw Hong dapat dengar itu semua. ―Eh.Pendekar Pemanah Rajawali jiwanya. Dengan begitu. Habis itu. mungkinkah subo meninggal sehabis melahirkan yang sulit? Karena ini aku pikir untuk tidak melahirkan anak juga! Selagi aku berpikir begitu. atau kau menjadi janda. tentang peristiwa dulu-dulu itu. barulah suamiku itu padam hatinya. empo!‘ Dia tertawa manis. aku ditolongi dan dibawa ke pulau Tho Hoa To. mari kita lekas pergi!‖ Tapinya suamiku menampik. mereka masih tidak sanggup lawan dua jari tangan saja dari guru mereka. ‗Baiklah. Ia ingat sebab takut digusari guru mereka. karena buronan kami. suhu telah dapat dengar suara kami. juga kepandaian lawannya itu kita berdua tidak dapat melawannya!‘ Maka itu kami lantas meninggalkan wilayah Tionggoan. mereka buron dari Thoa Hoa To. untuk mengintai. bangsat lelaki. maka kejadianlah mereka berdua berlaku nekad. untuk diajak lari. Bocha itu menolong kami. Aku ingat kepada subo. Demikian ia berkata terus dalam hatinya: ―Menyaksikan pertempuran dahsyat dari suhu. mereka sembunyikan diri di gunung. hatiku memukul terus. kami menemukan berbagai peristiwa yang luar biasa. Sama-sama kita belajar ilmu silat. kita curi pula yang sebagian itu!‖ Ia tidak berani pergi. budi siapa aku tidak dapat lupakan. orang perhina aku. Segera ia menjadi girang bercampur sedih. Kiranya musuhnya suhu telah datang ke pulau untuk mengadu kepandaian. Dialah Tan Hian Tong. dia hendak pergi mencurinya juga. Tiauw Hong lantas melamun pula. untuk menyakinkan ilmu seperti pengajaran kitab istimewa itu. malah Hui Thian Sin-liong Kwa Pek Sia telah mereka binasakan dan Kwa Tin Ok sudah mereka bikin buta matanya. Dia kata. mereka berkelana dan menjagoi dunia kangouw. Hian Hong pun jeri. ―Baru kemudian. lantas mereka menikah. Pertandingan itu itu membuatnya kami kaget. Sudah belasan tahun ia cari pembunuh suaminya denagn siasia. mendadak ia rangkul aku…‖ Wajahnya si Mayat Besi menjadi merah dengan tiba-tiba. ia ingat.‖ Tiauw Hong melamun lebih jauh. Suhu muncul di ruang meja abu itu. Kami kabur dengan naik perahu. hingga setelah pandai. ―Dalam murkanya suhu telah putuskan ototnya semua muridnya. kitab Kiu Im Cie Keng itu aku cuma dapat curi sebagian saja. Bwee Tiauw Hong masih ingat baik-baik perkataan Tan Hian Hong. Kami telah menyaksikan suhu telah dapat membekuk musuhnya. Air laut telah muncrat memasuki perahu kami. bagaimana Tiauw Hong tidak jadi girang. pelajaran kita jadi kepalang tanggung. suaminya itu: ―Eh.s esudah kedua orang tuaku menutup mata. Bagian atasnya adalah mengutamakan pelajaran tenaga dalam. Apa yang aku lihat adalah meja abu. Dia bilang pada istrinya: ―Aku mesti pergi. Dengan berbisik aku kata kepada suamiku. Banyak orang kosen yang mereka robohkan. kau tentu ingin mempelajarinya. Suhu khawatir dia jatuh.‖ demikian ia melamun. Suamiku itu berkhawatir kitabnya nanti ada yang curi. Itu waktu Tan Hian Hong telah memberitahukan bahwa ia telah mencuri sebagian kitab ―Kiu Im Cie Keng‖. Bocha ini mirip dengan subo. suhu telah sangat gusar dan telah umbar kegusarannya itu. Aku kaget hingga lemas kaki tanganku. Pastilah dia anaknya suboku itu. Biar kepandaian merka sepuluh lipat lebh lihay. yang terus ia usir. Setelah itu. Sekejap kemudian. kakak seperguruanku. Lantas si bangsat laki-laki menarik tanganku. ‗Bukan cuma kepandaian suhu belum dapat kita pelajari sebagian saja. ia menyambuti anak itu. Aku dengar bocah itu berseru. Bagaimana sekarang?‖ Atas itu. kami menyingkir jauh sekali sampai di gurun pasir di Mongolia. goncang hati kami. perempuan busuk!‖ Ia tidak sudi menjadi janda. bagian bawah. ―Kami tahu. ‗Ayah. ia menjawab dengan balik menanya: ―Apa daya?‖ ―Kita kembali ke Tho Hoa TO. Ia masih terbenam dalam lamunannya. tidak dapat aku bergerak. seorang pemuda yang matanya besar terbayang dihadapanku. Ditepi meja abu aku lihat satu anak perempuan kecil duduk di kursi. perempuan bangsat. kaki siapa dia telah hajar patah. seperti mau lompat keluar. Karena kupingnya jeli. sampai hati kita coco satu sama lain. aku dikasihi oleh ayah dan ibuku. yang merupakan pengalamannya. Aku pikir. hingga oleh guruku. perempuan bangsat. tetapi kau Irawan D Soedradjat Page 242 . Kwee Ceng pun dengar napas orang memburu. kita gagal. Aku juga tidak tahu dimana ia menyembunyikannya. si wanita menghela napas panjang. kita mesti jadi tanpa tandingan di kolonng langit ini. di bawah pohon tho. Di kejauhan.

Aku lantas meraba-raba. Aku penasaran! Aku lalu mencari di rambut kepalanya. ingin aku membawa-bawanya di tubuhku. aku lantas menggali sebuah liang besar.‘ Aku lantas gunai pisau belati mengiris kulit dadanya si lelaki bangsat. kiranya pembunuh si lelaki bangsat itu bernama Yo Kang! Mana dapat aku tidak menuntut balas? Sebelum membinasakan Yo Kang itu. Sudahlah. mendadak hujan turun seperti di tuangtuang. Kemudian terjadilah pertempuran di atas gunung itu. ia tidak dapat melihat sinar bintang lagi. darahnya pasti mengalir keluar. Hanya. ―Matilah aku kali ini…‖ kata Kwee Ceng di dalam hatinya. ‗Lelaki bangsat. tubuhmu bisa rusak.‖ dia berkata di dalam hatinya lagi.‖ Mengingat itu semua. tetapi pertempuran dahsyat di atas gunung itu. dinginnya luar biasa. lalu perlahan-lahan menjadi dingin. Maka siapa berani tanggung yang kitab kami pun tak ada yang bakal mencurinya? Maka ia kata pada waktu itu. aku merasakan sangat sakit pada mataku. Di situ aku kubur si lelaki bangsat.‖ Bwee Tiauw Hong lantas mengasih dengar suara tertawa kering dari tenggorokannya. ―Ya. menyeramkan. tetapi mereka juga tidak mengejar. setelah itu ia bakar kitabnya itu. oh. kitabnya masih kena kita curi. di luar kota barat. aku khawatir Kanglam Cit Koay dapat Irawan D Soedradjat Page 243 . Aku pondong tubuhnya si lelaki bangsat. hendak aku memberi obat kepada kulit itu. Dengan kedua tanganku. ngelamun. Itulah dua huruf ‗Yo Kang‘. Aku sendiri.‖ ―Kau hendak minta sesuatu dari aku?‖ Bwee Tiauw Hong tanya. ―Suhu yang demikian lihay. setelah orangnya mati.‘ Aku jawab. bebokongku telah kena tertinju. merupakan huruf-huruf dan peta. Sia-sia aku mencari. Penyerang itu sempurna ilmu dalamnya. tetapi mataku buta! Suamiku pun binasa! Itulah pembalasan! Pernah kami membinasakan kakaknya dan mata adiknya dibikin buta. Kwee Ceng sampai bergidik. di situ aku merasakan kulit dagingnya yang rada luar biasa. dengan sendirinya cekalan Bwee Taiuw Hong menjadi semakin keras dan giginya pun bercatrukan. kitabnya pun ada. Hian Hong khawatir kitabnya dicuri orang. hatiku pun turut menjadi dingin karenanya. akan tetapi tubuh itu ia rasakan panas sekali. ‗Kau ajarkan aku cengkaraman Kiu Im Pek-ku Jiauw. aku lawan serangan racun. terus ke bawah. dia cacah tubuhnya sendiri. sekarang dengan kepandaian itu aku menggalikan kau liang kubur. harap kau suka meluluskannya. ‗Baiklah! Jangan kau terus mengaco-belo!‘ Tapi ia mengajarkan aku Kiu Im Pek-ku Jiauw dan Cwie-sim-ciang. Ah. sekarang aku tidak menghendaki hidup pula! Aku hendak minta suatu apa padamu. dibawah lidah. Ah.‖ demikian dia ngelamun pula. dan mereka itu tidak dapat melihat aku. aku minta kau tolong serahkan itu pada Onng Totiang yang sekarang ini lagi mondok di penginapan Ang Ie. ―Di tubuhku ada beberapa rupa obat. Seluruh tubuhku bergemetar. aku pun harus mati bersama si lelaki bangsat. aku tidak mendapatkannya. kau mati tidak karuan?‘ aku cabut pisau belati dari pusarnya. dia membikin aku merasa sakit sampai di tulang-tulangku. Ini artinya. Aku berlalri-lari di dalam hujan. Lalu Kanglam Cit Koay perhebat serangannya atas diriku.‖ jawab Kwee Ceng. Aku tidak mati. Itulah aneh! Hujan turun hebat sekali. ‗Mataku! Mataku!‘ Ya. ia lantas berkata: ―Eh. ia tertawa dingin. selama orangnya masih hidup. Tubuhnya si lelaki bangsat mulanya masih hangat. yaitu cengkeramnan Tulang Putih serta Pukulan Meremukkan Hati. ‗Kau yang begini lihay. ―Memang. Bwee Tiauw Hong merasa ia telah berada pula di gurun pasir. kitabnya lenyap bersama. sebagaimana dia sendiri dipanggil ‗perempuan bangsat‘ oleh suaminya itu. Tiba-tiba aku kena raba huruf-huruf ukiran di gagang pisau belati itu. Kanglam Cit Koay telah mengepung aku. Lantas aku sembunyikan diri di dalam gua. aku merasa gatal sekali. langit mestinya gelap gulita. Itu dia rahasianya Kiu Im Cie Keng. Sebenarnya apakah yang heran? Orang dibunuh. tanpa ada orang yang memanggil dia lelaki bangsat. Dia merasa seperti telah meraba dada suaminya.‘ Itulah kata-katanya yang terakhir. Dia tidak ingat lagi berapa banyak kesengsaraan yang dideritanya dan berapa banyak jiwa yang telah dibunuhnya. Hebat suara itu.Pendekar Pemanah Rajawali tidak mengerti ilmu dalam. Nyata dada itu dicacah dengan jarum. mana boleh aku mati? Maka itu aku meraba ke dadanya si lelaki bangsat. hujan besar telah membasahkan seluruh tubuhnya. Tidak ada bagian anggotanya yang aku bikin kelompatan. yang ia selalu panggil dengan sebutan ‗lelaki bangsat‘. aku kabur. ―Suamiku berkata. entah berapa banyak orang telah aku bunuh…. supaya tidak menjadi nawoh dan rusak. ‗Bagus betul pikiranmu ini. apakah benar-benar kau telah mati?‘ Aku bertanya. Aku empos semangatku.‖ ―Seumurku aku tidak pernah melakukan kebaikan!‖ Tiauw Hong membilang. ‗Aku ingin kau selalu mendampingi aku…‘ Ketika itu aku tidak bersedih lagi sebaliknya aku tertawa terbahak-bahak. ―‘Aku tidak bakal ketolongan lagi…rahasianya Kiu Im Cie Keng ada di dadaku…. Itulah temapt kematianku. bagaimana tawar! Lantas aku bawa ujung belati ke mulutku. akan cari rahasianya kitab Kiu Im Cie Keng itu. Sekonyong-konyong matanya menjadi gelap. ―Entah dia bakal gunai cara kejam bagaimana akan siksa aku hingga aku terbinasa…. Aku tidak dapat melihat musuh-musuhku itu. ia masih ingat jelas sekali. darah lantas muncrat keluar.‖ Karenanya. Tempo aku meraba pula dadanya.

setiap hati manusia! Aku akan belajar. aku mempelajarinya dengan memaksa. . Aku hendak mengajari dia segala macam kepandaian asal dia suka bersumpah tidak membuka rahasia kepada siapa juga. walaupun ia tidak berbicara keras. malah ia terus ajak aku ke istananya si Tiongtouw. Asal ia membuka mulutnya. hingga ia secara sembarangan mengajari aku sepatah kata rahasianya ilmu dalam. tidak kecuali kepada ongya dan onghui. disana tidak dapat aku mencari tulang-tulangnya si lelaki bangsat. Beberapa tahun telah lewat tanpa ada yang mengetahui perbuatanku itu. asal rahasia bocor.‖ ―Kemudian pada suatu tengah malam…. Sekarang ini aku bukannya tandingan mereka. akan aku cambuk toblos batok kepalanya!‖ ―Lewat beberapa bulan. Maka juga. Ia lantas menggerembengi aku. sedang tangan kanannya mengerahkan tenaganya. ia pegang tangan si wanita. Terpaksa aku ajarkan dia tiga jurus. hingga tubuhnya menggetar. Bwee Tiauw Hong sudah lantas menarik pulang tangannya. sampai tiga kali. tidak dapat ia berkelit lagi. ia dapat tenaga akibat darah ular yang ia sedot. di situ secara diam-diam aku menyakinkan ilmu kepandaianku. Pertempuran Dahsyat Wanita ini tertawa. tangan kanannya pun masih dicekal si wanita. Hm. Irawan D Soedradjat Page Begitu kedua tangannya beradu. yang lihay tenaga dalamnya adalah Tan Yang Cu Ma Giok. ―Tidak jelek kepandaiannya bocah ini!‖ pikirnya. di sana aku dapatkan tujuh saudara imam dari Coan Cin Kauw. Ia tidak ketahui yang pelajaranku telah tersesat. maka tunggulah aku selesai dengan pelajaranku. rupanya dari si lelaki bangsat yang memimpin bocah itu datang padaku. Bwee Tiauw Hong terperanjat. Mataku tidak bisa melihat. Dia sangat menyayangi pangeran kecil itu. Sekali saja. Kesudahannya. Ia berpikir: ―Aku berlatih tanpa 244 Kwee Ceng kalah pandai. pastilah aku akan mati kelaparan di dalam situ. separuh tubuhku ini tidak dapat digeraki. Aku melarang si pangeran cilik datang padaku. Dia lantas menjambak pula. supaya ia menolongi aku. Itu dia pukulannya yang berbahaya. supaya kemudian aku bunuh si bocah untuk menuntu balas untuknya!‖ Saking senang dan gembiranya. Pangeran yang memimpin pasukan itu mengasihani aku. Ternyatalah ia berotak terang sekali! Aku jadi gembira. aku berdiam di dalam terowongan dalam tanah. aku lantas keluar dari tempat sembunyiku. tenaga dalamnya telah cukup kuat. tangannya menyambar ke batok kepala. Ah! Pangeran cilik yang nakal itu telah datang ke taman belakang. Kwee ceng merasakan tenggorokannya tercekik keras sekali. Aku mengancam. Lantas aku minta supaya aku diajak. putra nomor enam dari raja Kim. untuk mencari telur burung. juga seluruh tubuhnya menjadi panas. sedang juga. Semua orang menganggap akulah seorang wanita tua yang buta yang harus dikasihani. Aku dapat mendesak kepada Ma Giok. di mana aku menyakinkan kepandaianku. ia sudah menyakinkannya beberapa tahun. cara bagaimana aku bisa melawan mereka? Di antara mereka. Sungguh aku sangat beruntung. Tiauw Hong tertawa berkakakan tak hentinya. maka aku terus mengajari dia. Tapi dia pun nekat. maka ia angkat tangannya yang kanan. selagi perutku lapar. untuk dipaksa melepaskan cekikannya. Perjalananku ke Mongolia itu tidak sia-sia belaka. Belakangan aku mendapat tahu. dia telah mempergoki aku lagi menyakinkan cambuk perak. suaranya dapat terdengar sampai di tempat jauh. Pengejarannya Nio Cu Ong dan pertempurannya sama Wanyen Kang membuatnya tenaga obat menguatkan tubuhnya. dia suka menolong. Tangannya itu telah tergetar. Ongya menerima baik permintaan itu. Peduli apa! Berselang dua hari. pangeran cilik itu memberitahukan kepada aku. Mereka itu bicara dengan bahasa Nuchen dari negara Kim.Pendekar Pemanah Rajawali mencari aku. Aku bekerja di taman belakang. Sepulangnya ke istana. tidak peduli aku bisa terluka di dalam atau tidak. tertawa dingin! Bab 22. untuk menangkis. agar aku bisa bersembahyang di kuburan suamiku. Ia telah mendapatkan pelajaran dari Ma Giok. Dia tertawa haha tercampur hmhm. aku minta barang makanan. Panas hatinya Tiauw Hong. Tidak dapat ilmu dalam itu dipeljarakan tanpa petunjuk. Coba kalau bocah ini tidak menerobos masuk ke dalam terowongan. aku dengar suara pasukan tentara lewat di depan guaku. Ia menjadi heran sekali. yang segala keinginannya senantiasa dipenuhi. ia telah dapat belajar dengan baik. Hm! itu waktu akan aku jambret setiap batok kepala. Lantas aku hendak mencari Kanglam Cit Koay. bahwa ongya hendak pergi lagi ke Mongolia. bekerja menyapui rumput. pukulan Cwi-sim-ciang. Oh. ia berontak dengan berhasil. dia memaksa minta aku memberi pelajaran padanya. pangeran itu adalah Pangeran Chao Wang. Di saat mati atau hidup itu. dia berseru panjang. Kwee Ceng selalu berkelit dengan berhasil.

ada orang membentak dengan dampratannya. ―Cara bagaiman aku bisa mengetahui di mana adanya sahabatmu itu? Sudah. ―Budak cilik ini mesti ada di dekat-dekat sini! Jangan khawatir. ―Bagaimana Tan Yang Cu mengajarkan kau ilmu bersemadhi?!‖ Tiauw Hong tanya. kau ingin aku mengajarkan kau ilmu tenaga dalam! Tidak nanti! Biar aku mati. malah ia kata: ―Kau memikir untuk mendapatkan kepandaianku? Hm! Baiklah siang-siang kau matikan keinginanmu itu!‖ Tiauw Hong kendorkan pencetannya. satu nona kecil. ―Budak hina. Mendengar ini. ―Orang she Kwee…. Kwee Ceng menahan sakit.‖ Tiauw Hong lantas saja menjadi kegirangan.!‖ 245 Kwee Ceng tidak menyahuti. ―Tetapi jikalau kau meu dengar perkataanku. biarlah aku tersiksa untuk selama-lamanya!‖ Wanita ini baru memberikan sumpahnya itu lalu tiba-tiba di sebelah kiri mereka.‖ . ―Kau telah membunuh suamiku. ―Aku ada punya satu sahabat. lekas kau munculkan dirimu untuk terima binasa!‖ Kwee Ceng kenali itu suara bentakan. Kwee Ceng dapat menerka isi hati orang.. Tetapi ia sudah nekat.Pendekar Pemanah Rajawali guru. dengan sumpahnya.‖ pikirnya. Ia berpikir. Kwee Ceng berpikir. ―Dan dia telah dipergoki mereka itu…. ―Aku berjanji akan mengantarkan obatmu kepada Ong Cie It. terserah padamu!‖ katanya keras. sejarak belasan tembok. tidak nanti aku membikin harimau tumbuh sayap!‖ Maka ia lantas tutup rapat kedua matanya. jangan ngoceh terus! Lekas kau jelaskan ilmu itu!‖ Dia pun kembali memencet. ―Inilah urusan penting. dia tidak bakal lolos!‖ Sembari berbicara.‖ katanya dalam hatinya.‖ sahut si anak muda: ―Sahabatku itu lagi dikejar-kejar lawannya. ―Baiklah bocah. mereka itu jalan pergi. aku menerima baik permintaanmu. ―Kiranya Yong-jie masih ada disini. kau boleh siksa aku. untuk menolongi jiwanya. ialah dari Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. ―Aku suka bicara atau tidak. aku akan tutup mulutku!‖ ―Masih ada apalagi?!‖ tanya Tiauw Hong yang murka sekali.‖ katanya. tiba-tiba dia telah muncul dari gerombolan pohon kembang mawar di samping mereka. aku tersesat. hal itu membuat Kwee Ceng merasai lengannya sakit sekali. aku tidak sangka Bwee Tiauw Hong satu jago yang telah malang melintang di kolong langit ini. ―Kau mau menolongi atau tidak. Lantas ia dengar pula suara seorang lain. ―Bocah cilik yang bau. Bwee Tiauw Hong mengerahkan tenaga di tangan kirinya. nanti aku ajarkan kau ilmu yang Ma Totiang ajarkan aku. hatinya cemas dan mendongkol. ―Sesudah si bocah she Kwee yang baru mengajari aku ilmu dalam dari Coan Cin Kauw. Kau mesti turun tangan untuk menolongi sahabatku itu!‖ ―Hm!‖ Tiauw Hong kasih dengar ejekannya. Bocah ini sebaliknya sempurna ilmu dalamnya. ―Kau masih harus melakukan baik satu hal lagi. jika tidak. aku nanti siksa padamu!‖ Kwee Ceng tidak menjawab. Dia lantas menyahuti: ―Sudah lama aku ada di sini…. biarlah tubuhku tidak dapat bergerak seluruhnya. Kwee Ceng terkejut.‖ katanya lemah lembut. Lekas ia bilang: ―Baik! Tapi kau mesti bersumpah dulu – sumpah yang berat. Ia membandel. terserah padaku!‖ Tiauw Hong kewalahan. akan kau membikin kau mati dengan puas! Jikalau kau membela. apabila aku si orang she Bwee tidak mengantarkan obat kepada Ong Cie It. sekarang aku mesti menyerah kepada segala kehendakmu!‖ Irawan D Soedradjat Page Baru dua kali Oey Yong dipanggil. ke mari! Yong-jie! Yong-jie…. ia tidak pedulikan ancamanan orang.‖ bilangnya. tidak ada harapan algi untuk kau hidup lebih lama!‖ ia kata dengan bengis.‖ Dia lantas berpikir pula. ia kata kepada Bwee Tiauw Hong. Kenapa aku tidak mau memaksa dia untuk mengajari aku?‖ Maka kembali ia mencekik leher si bocah itu. Setelah itu. Ah. dia hanya berkoak-koak: ―Yong-jie.

air matanya turun meleleh di kedua belah pipinya yang halus. kedua murid ayahnya itu. ―Lekas lepaskan dia!‖ Oey Yong berkata pula. di waktu tubuhnya turun ke bawah. ―Kau pernah apa dengan Oey Suhu. ―Kau nyatanya belum melupai ayahku! Tapi juga ayahku belum melupakannya kau! Dia telah datang sendiri menjenguk padamu!‖ Tiauw Hong ingin berbangkit bangun akan tetapi kakinya tidak mau menurut perintah. Oey Yok Su menghibur diri dengan merawat dan memanjakan putrinya ini dengan dibantu sejumlah pelayan. ia tegur anaknya itu. nama sebelum ia berguru. Tiba-tiba pula Tiauw Hong ingat: ―Selama ini suhu tidak pernah meninggalkan Tho Hoa To. Tanpa merasa. Sembari menyerang. lekas kau merdekakan dia!‖ Kwee Ceng heran. Oey Yong pernah dengar ayahnya omong tentang Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong. Dalam kedukaannya. Ia menjadi kaget. Nama itu pun sudah beberapa puluh tahun tidak pernah terdengar lagi. Tentang kata-katanya tadi. katanya: ―Di dalam tumpukan cita menyembunyikan pedang mustika. ia kurang bersungguh-sungguh. Tocu pemilik pulau dari pulau Thoa Hoa To di Tang Hay. sampai di Kalgan ia – diluar dugaannya – bertemu sama Kwee Ceng. Ia menjadi bingung sekali.‖ Tiauw Hong menjawab terlebih kaget lagi. ia memberikan sedikit arak. ia putar tubuhnya dua kali sebelum tubuhnya turun. Pada suatu hati Oey Yong pesiar kelilingan di pulaunya itu. suaranya bergemetar. walaupun Oey Yok Su ada satu jago yang lihay. selagi lompat. yang begitu perhatikan dan menyayangi kepadanya. Bwee Jiak Hoa itu adalah nama benar dari Tiauw Hong. Maka itu. ia angkat tangannya untuk menangkis seraya ia berkata: ―Sumoay. dalam suara seruling dan tambur ada si bintang tetamu…. maka itu ia jadi tahu nama benar dari Tiauw Hong. hanya ia lantas kata pada Bwee Tiauw Hong: ―Bwee Jiak Hoa.Pendekar Pemanah Rajawali Memang nona itu sudah sekian lama bersembunyi di situ.Aku she Oey…. ―Kau bagaimana?!‖ balas tanya Oey Yong. Itulah jurus ―Burung garuda terbang ke langit‖ dari Cwie-sim-ciang. ia gusar. Karena ia sangat disayang. ―Kau siapa?!‖ ia tanya.!‖ tanyanya membentak. Tapi ia tidak menangis terus. nama itu tidak dikenal kaum kongouw. yaitu: ― Di dalam tumpukan cita Irawan D Soedradjat Page 246 . malah keduanya tertarik satu pada yang lain hingga mereka lantas saja menjadi bersahabat erat. Semua puncak. Heran ia akan mendengar disebutnya semua itu. dimana ia biasa pesiar semasa dia masih belajar silat. ―Kau…kau…. Oey Yong menjawab. Ia merasa kasihan. gua Twie In Tong dan paseban Sie Kiam Teng dari pulau Tho-hoa-to di Tang Hay?‖ Tiauw Hong berdiam. ―Bagus!‖ seru si nona. Belum pernah Oey Yong ditegur. ia menyerang ke arah Tiauw Hong. ia terperanjat. ia tidak dipaksa ayahnya itu yang ingat ia masih berusia terlalu muda. anaknya baru mendapat permulaan saja dari kepandaiannya itu. maka itu dia pun telah denar pembicaraan di antara Tiauw Hong dan Kwee Ceng. maka cara bagaimana dia bisa datang kemari? Bukankah aku tengah di perdayakan?‖ Menyaksikan keragu-raguan orang. ia lantas ulur tangannya akan sambar Kwee Ceng guna ditarik. Belakangan Oey Yok Su ketahui perbuatan anaknya itu. marilah kita bicara baik-baik! Mana suhu?‖ Oey Yong tidak segera menjawab. ia merasakan seperti tubuhnya melayang-layang. Dia menjadi terharu dan tertarik hatinya kepada si pria. ia menjadi tidak senang. gua dan paseban itu adalah tempat. ia menaya: ―Kau sudah mencuri kitab Kiu Im Cie Keng. ―Masih ingkatkah kau kepada puncak Cek Cui Hong. Memang Oey Yong ini adalah putrinya Oey Yok Su. ia pergi ke mana ia suka. seumpama kata semangatnya terbang pergi. Laut Timur. ia menjadi sangat nakal. Sekarang Tiauw Hong dengar nama orang menyebutnya. kau mengertikan jurus ini?‖ Tiauw Hong merasakan serangan itu dari anginnya saja. begitu pun Bwee Tiauw Hong. Dia adalah anak tunggal dan tersayang. Oey Yong berlompat tinggi setombak lebih. maka itu ia pergi buron dengan menaiki sebuah getek kayu. dimana ayahnya telah mengurung musuhnya. Ibunya telah meninggal dunia karena kesulitan bersalin setelah ia dilahirkan. yang namanya Yok di atas dan Su di bawah?‖ ia tanya kemudian. Ia cerdas sekali tetepi dalam pelajaran ilmu silat. Ia menyamar sebagai satu pemuda melarat. sampai ia tiba di gua. Ia bicara sama musuh itu.

Itulah Hauw Thong Hay yang telah datang ke situ dan lantas menyerang. Ia buta tetapi ia seperti membayangkan guru itu dengan bajunya warna kuning muda. Itu artinya ia mengajak sahabat itu lari bersama. ujung bajunya robek sepotong sedang kipasnya patah menjadi dua potong. Nona ini telah pikir. Kata-katanya ini sumoy. otak mereka telah dilobangi lima jari tangan. ―Ada orang busuk lagi menghina aku. ―Anak yang baik. untuk menggertak kepada Tiauw Hong. Ia kaget bukan main. Ia tarik tangan Kwee Ceng. ia baru menarik tangan Kwee Ceng atau tiba-tiba ia dengar bentakan di belakangnya. Itulah cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw. Lekas-lekas ia mengetok denagn kipasnya ke lengan si nyonya. terus ia menunjuk ke luar jendela. tidak banyak omong lagi. untuk memeriksa. kapan ia lihat kau membantui aku. ke arah muka. hingga Auwyang Kongcu tidak berani merapatkan diri. Kongcu ini menjadi murka sekali. sebentar nanti aku mohonkan ampun kepadanya. nyata mereka sudah putus jiwanya semua.‖ ―Jasa baik apakah itu?‖ Bwee Tiauw Hong tanya. Mendadak saja ia merasakan angin menyambar ke arah dadanya. ia mau ajak sahabatnya itu menyingkirkan diri. Oey Yong hendak menggunai ketikanya untuk menyingkir. Walaupun begitu. Irawan D Soedradjat Page 247 . hatinya tentu girang. hingga semangatnya bangun dengan mendadak. disusul sama serangan dua tangan. untuk menyerang Bwee Tiauw Hong. seperti habis sudah ilmu silatnya. dengan menerbitkan suara memberebet. Begitu dia tiba di depan mereka bertiga. aku tidak kena kau jual!‖ orang itu berkata sambil tertawa. yang ia tahu ilmu silatnya lihay. apabila ia mendekati mereka. Auwyang Kongcu melihat Tiauw Hong sedang duduk numprah. nyonya itu berserba hitam dan romannya tidak luar biasa. entah dengan cara apa dia bakal menghukum aku…‖ Mukanya menjadi pucat kapan ia ingat kebengisannya Oey Yok Su. tetapi ia cerdik sekali. itulah nyanyiannya Oey Yok Suk yangs ering dinyanyikan. kaulah yang mesti hajar dia.‖ Tiauw Hong suka memberikan bantuannya. Benar-benar Tiauw Hong jeri dan melepaskan Kwee Ceng. Yang membikin ia terkejut sekali adalah keempat muridnya telah roboh terguling. Belum pernah ia mendapat serangan sehebat ini. Ia mengerti yang ia sukar lolos. lagi berdiri di hadapannya. si Mayat Besi biasanya galak dan telengas. ialah ―Sin To Soat San Ciong‖. Kwee Ceng baru memandang ke tembok tatkala di belakang mereka. yang kepandaiannya tidak dapat ia tandingi. kedua tangannya bergerak panjang dan pendek. dan orang pun hendak membekuk padanya. dengan pundaknya menggendol sebuah pacul kecil peranti menggali obat-obatan. Mendadak tubuhnya menjadi lemas.Pendekar Pemanah Rajawali menyembunyikan pedang mustika. Tiauw Hong masih berpikir: ―Suhu telah datang. Sementara itu Auwyang Kongcu lagi mendatangi bersama keempat murid wanitanya. membuat ia mendapat harapan. Bwee Tiauw Hong membuat perlawanan dengan Kiu Im Pek-kut Jiauw. sambungan tulang-tulangnya mengasih dengar suara meretek. segera ia dapat akal. adik seperguruan. ia terus mendekam ke tanah seraya berkata: ―Teecu ketahui dosaku yang mesti dibunuh berlaksa kali. Ia sengaja menyebutkan itu. sebab dia tahu si nona memakai lapis berduri. musuh bagaimana tangguh juga tidak dapat buat ia jeri. begitu lekas Tiauw Hong dan si kongcu bertempur. untuk memernahkan diri di belakangnya Bwee Tiauw Hong. ia ulur tangannya akan sambar Oey Yong. hanya sekarang kau mesti mendirikan dulu beberapa jasa baik. Oey Yong tertawa di dalam hatinya. ia masih kurang sebat. Ia keluarkan kepandaiannya yang istimewa. ayah paling dengar perkataanku. Oey Yong lantas kenali Auwyang Kongcu. ―Akan aku berpura-pura tidak sanggup melawan. maka setiap muridnya kenal itu baik sekali. ia lompat maju. atau ―Unta Sakti Gunung Salju‖. mereka dengar satu suara seruan yang disusul tertawa panjang. tubuhnya menggigil sendirinya.‖ Oey Yong terangkan. dalam suara seruling dan tambur ada si bintang tetamu‖. Oey Yog tarik tangannya Kwee Ceng. Sebentar ayah datang. lalu di sana muncul seorang yang tangannya menggoyang-goyang kipas. ia lihat tangan si nyonya menjambak secara hebat. supaya ayah suka mengampunkannya. lantas ia menghadapi Bwee Tiauw Hong dan berkata: ―Bwee Suci. buat menyingkir dari istana itu. tetapi teecu mohon sukalah guru mengampunkan teecu dari hukuman mati mengingat mata teecu telah buta dan separuh tubuhku cacat…‖ Kwee Ceng heran menyaksikan orang demikian ketakutan dan pasrah sedang begitu jauh yang ia ketahui. tubuhnya pun dibawa berlompat berkelit.

Nio Cu Ong lihat bagaimana Auwyang Kongcu terdesak. untuk memburu. semabri berbuat demikian. lantas ia putar tubuhnya. maka kagetlah ia tempo bebokongnya kena dijambak. ―Apa itu ynag dinamakan lima hati?‖ Tiauw Hong menanya pula. kau kejar si orang she Nioitu!‖ Baru sekarang Kwee Ceng mengerti maksud orang. ia menjadi gemas sekali sambil berseru. Dengan tangan kirinya Tiauw Hong tangkis serangan Auwyang Kongcu. Ia berlompat. ―Dengan itu dimaksudkan telapakan dua tangan. Ia bertenaga besar. dan tubuh Tiauw Hong tidak berat. untuk menghalau lengan nyonya itu. dengan tangan kanannya ia jambak Nio Cu Ong. Chao Wang bersama putranya repotnya mencari orang yang menculik onghui.‖ Girang Tiauw Hong hingga ia menjadi bersemangat. Maka setelah itu Tiauw Hong manjadi menang diatas angin. See Thong Thian dan Pheng Lian Houw menanti di pinggiran. hingga ia mesti melompat menyingkir. 248 Berbareng dengan itu. bersiap untuk membantui. dia hanya memanggulnya. ―Aduh!‖ karena tepat ia terkena piauw itu. Tidak lama. ia menangkis dengan melemparkan tubuhnya Hauw Thong Hay ke arah datangnya piauw itu. Di luar dugaannya tangan si nyonya. sampai bajunya robek dan terlihat baju dalamnya. lima hati di hadapkan ke langit. dia dapat mengcengkram pundaknya. ia turut perkataan orang itu. ia tidak mengerti maksud orang. kagetnya bukan main. Pikirnya: ―Dia tidak dapat menggunai kedua kakinya. ―Dudk numprah. tatkala ia melihat Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian maju membantu suteenya untuk menggerubungi Oey Yong. ia maju akan membantui si pemuda mengepung. Maka tidak tempo lagi. pundaknya orang she Nio itu berlumuran darah. ia kata kepada Kwee Ceng: ―Kau pondong aku. segera ia membungkuk memegang kedua pahanya Tiauw Hong. Oey Yong main berkelit terhadap pelbagai serangan Hauw Thong Hay. ―Hajar dulu ini dua orang!‖ ia kata pada Tiauw Hong. dari arah kiri terdengar suara angin menyambar. atau senjata rahasia yang berupa uang dari Pheng Lian Houw. ke situ pun datang See Thong Thian bersama Nio Cu Ong dan Pheng Lian Houw. Dia tidak dapat melupakan ilmu itu. mereka berlari-lari bersama barisan pengiring mereka. tak dapat ia bergerak lagi. telapakan kedua kaki dan embun-embunan. tangan mereka sama-sama kesemutan. dia membutuhkan bantuanku!‖ Ia terus bekerja. Ia pun lantas ingat bagaimana di dalam gua ia telah dipermainkan nyonya itu. Dia ini mengkeratkan diri. ynag kiri ke arah bebokongnya Hauw Thong Hay. akan tetapi ia insyaf bahwa mereka bekerjasama menangkis musuh. ia menjadi kaget.Pendekar Pemanah Rajawali Segera setelah itu. SeeThong Thian menyaksikan itu. Tiba-tiba ia tarik sebelah tangannya dan menyambar bebokongnya Kwee Ceng seraya ia berseru: ―Kau podong kedua kakiku!‖ Kwee Ceng kaget. untuk berkelit. untuk diangkat. guna mundur sembari menangkis atau berkelit. tanpa berdaya lagi. ia menjadi lemas sekujur tubuhnya. hingga tubuhnya segera diangkat. maka Thong Hay lantas saja berkoak. Nyonya itu sudah lantas kasih bekerja kedua tangannya. lalu dia bergerak kesana ke mari menuruti setiap petunjuk nyonya itu. ia membuatnya orang she hauw itu kewalahan. Hati mereka tapinya gentar menyaksikan kehilayan si nyonya. . enteng tubuhnya. keduanya menjadi kaget. Bwee Tiauw Hong merasakan repot melayani dua lawan yang tangguh. untuk maju memburu. hingga ketika ia menjambret Nio Cu Ong. Ia bukan lagi pondong si nyonya. Itulah serangan kim-chie-piauw. Irawan D Soedradjat Page Tiauw Hong dapat tahu datangnya serangan gelap. sedang di lain pihak lima jari tangan kanan si nyonya itu menyambar ke abtok kepalanya. ia jadi dapat berbegrak dengan leluasa.‖ Kwee ceng menjawab. Kwee Ceng lompat. ―Bagaimana sih caranya menyakinkan ilmu dalam?‖ dia tanya Kwee Ceng selagi ia melayani musuh. di dalam dan di laur istana. Karenanya kedua tangan beradu satu sama lain.

lidah tidak berbunyi tetapi pemikirannya ada di hati. akan menyentil balik setiap piauw. Ia mengharap Tiauw Hong bisa melibat musuh-musuhnya.Pendekar Pemanah Rajawali See Thong Thian kaget. Kalau ia terbanting. Maka ia menanya. Terpaksa ia melompat maju. yang menyambar rambutnya itu. Tiauw Hong melemparkan tubuh orang dan See Thong Thian menolongi sutee itu. meluruskan napas dan menutup lidah. Sudah belasan tahun ia menyakinkan Kiu Im Cie Keng. belum lagi Kwee Ceng menjawab ia. Tiauw Hong merasakan ada serangan di kiri dan kanannya. Dengan begini ia telah memecah perhatiannya. Tiauw Hong menyambar ke rambutnya. mereka tidak nanti dapat mengganggu selembar rambutmu!‖ Ia ingin membangkitkan kejumawaannya si Mayat Besi. Itulah nio Cu Ong. yang turut maju pula. ―Apakah itu yang disebut mengakurkan su-ciang?‖ ―Itu artinya menyimpan mata. untuk menanggapi dengan menyambar pinggang si adik seperguruan itu. Bwee Tiauw Hong memasang kupingnya. Cu Ong menolong dirinya. Segera juga Tiauw Hong terdesak dibawah angin. Dengan mencelat ke samping. api dari Lam Sin. Sungguh tak ingin ia bertemu sama gurunya. sedang tangan kirinya tidak melepaskan rambutnya si Mayat Besi. budak cilik! Kau bilang kau bukannya murid Hek Hong. Nio Cu Ong berseru. dari itu. siapa tahu.‖ ―Tidak salah! Itu yang dinamakan ngo-kie-tiauw-goan – lima hawa dipusatkan kepada asalnya?‖ ―Itulah. ―Itulah kayu dari Tong-hun. maka itu. pemuda ini mesti membantui orang.‖ Ngo-heng ialah kayu. dia menegur : ―Eh. ynag terus ia lemparkan. dan hidung tidak mencium bau tetapi rohnya ada di peparu. ―Dia bakal segera datang!‖ Oey Yong menyahuti. kuping tidak mendengar tetapi pendengarannya ada di geginjal. menyusul mana. yang ia tahu telengas. emas dari See-pek. hingga ia jatuh dengan wajar. oleh piauwnya Pheng Lian Houw. Tiauw Hong segera diserang dari tiga penjuru. rambutnya itu kutung putus. semua piauw itu mental kembali. emas. Oey Yong pun menjadi cemas. Ia heran atas tidak datangnya bala bantuan. ―Mereka ini bukannya tandinganmu! Umpama kata kau duduk di tanah. tidak pernah ia mengerti itu. sekalian dia hendak membangkol tangannya si nona itu. oleh Auwyang Kongcu dan See Thong Thian. supaya ia bisa ajak Kwee Ceng kabur. maka bagaikan sitebas. darimana kau memancing begini banyak musuh lihay? Mana suhu?‖ Ia menanya demikian. salah satu dari Hek Hong Siang sat. atas mana Cu Ong menangkis dengan tangan kanannya. Sementara itu Pheng Lian Houw lantas mengetahui wanita itu adalah Bwee Tiauw Hong. ―Apakah itu yang dinamakan mengumpulkan ngo-heng?‖ Tiauw Hong menanya lagi. apabila ia dapat kenyataan Oey Yong membnatui si Mayat Hidup. Tetapi Tiauw Hong tengah sulit sekali. sebenarnya ia berkhawatir. begitu pun Oey Yong. pundak kirinya dan iga kanannya telah terkena hajar oleh Auwyang Kongcu dan See Thong Thian. lantas jari-jari tangannya dipakai menyentil. maka akhirnya ia teriaki Oey Yong: ―Eh. api. Pheng Lian Houw dan See Thong Thian.‖ Girang Tiauw Hong mendapatkan keterangan ini. Untuk membebaskan dirinya. Maka kali ini Thong Hay bisa kerahkan tenaganya. Ia bertubuh kuat akan tetapi toh hajaran itu membikin ia merasakan sangat sakit. juga kepada Nio Cu Ong. ia serang Nio Cu Ong. semua itu terjadi dalam sejenak. nyata kau mendusta!‖ Irawan D Soedradjat Page 249 . ia berlompat menerjang. dan tanah dari Tiong Ie. air dari Pak Ceng. menyerang kepada Auwyang Kongcu. ia repot melayani musuh-musuhnya. mata tidak melihat tetapi semangatnya ada di jantung. air dan tanah. apapula ia dapatkan tubuh sutee itu bakal jatuh ke tanah. ia mementang kedua tangannya untuk menangkis. Ia kaget. Nona ini segera menyerang punggungnya orang she Nio itu. celakalah sutee itu. mengebalkan kuping. supaya Kwee Ceng dilepaskan. tetapi ia merasakan rambutnya ada yang tarik. menyusuli itu.

dalam takutnya. Diwaktu malam. mereka lantas menyerang. Merek ini masing-masing bersenjatakan joan-pian dan pikulan besi. Auwyang Kongcu membarengi menumbuk bebokongnya. Orang yang mencekal joan-pian itu. jikalau suaminya si Mayat Perunggu keburu datang. untuk menyerbu dengan bergulingan. ia lantas ulur tangan kirinya. Oey Yong berkhawatir dan penasaran.Pendekar Pemanah Rajawali Oey Yong tidak mau mengalah. Atas ini tahulah Tiauw Hong atas datangnya musuh-musuh. Irawan D Soedradjat Page 250 . kemana kau hendak lari?!‖ Kwee Ceng dengar suara orang. tertampak berdiri di atas tembok. untuk menyambut kakinya orang she See itu. muka mereka tidak terlihat nyata. ia pun bisa susah. Ia tahu Kwee Ceng masih lemah. lalu terlihat berkelebatnya satu sinar putih terang. Justru itu. Ia lantas dapat akal. sungguh sulit!‖ Ia memikir demikian karena ia tidak tahu Tan Hian Hong sudah terbinasa. membarengi mendamprat: ―Bangsat tukang petik bunga. mereka lantas mempergoki Auwyang Kongcu beserta sekalian muridnya merampas anak gadisnya suatu keluarga baik-baik. ia menjadi girang sekali. Begitulah tubuhnya kena dihajar tongkatnya Kwa Tin Ok dan kakinya tertendang Cu Cong. ―Suhu lekas tolongi teecu!‖ ia berteriak. hingga empat lawannya mesti menjauhkan diri. ia melihat ancaman bahaya untuk si Mayat Besi – artinya untuk ia sendiri berdua sama Kwee Ceng. mereka lantas serang Auwyang Kongcu. karena cambuk orang merintangi majunya. ynag tubuhnya kate. mereka berkelahi terus. Adalah Kwee Ceng. yang tubuhnya tinggi kate tdak rata. dengan apa ia menyambet ke empat penjuru. cuma sekarang ia menghadapi Auwyang Kongcu berempat…semua bukan sembarang orang. Oey Yong segera berpaling. ia membungkuk. Terang mereka berdua sama ilmu silatnya. di dalam kalangan enam tombak. Memang keenam orang itu adalah Kanglam Liok Koay. Cambuknya itu bergerak bagaikan naga beracun. ―Dia guruku?‖ dia membalik. sambil berseru. Oey Yong tidak dapat membantu Tiauw Hong lagi. tidak mengambil mumat atas teriakan itu. telah memperoleh banyak kemajuan. siapa kena dicambuk. Auwyang Kongcu membuat perlawanan. Pheng Lian Houw penasaran. aku hendak ada bicara!‖ Suara itu datangnya dari arah tembok. mengejak. Ia cuma bisa membikin mereka itu merenggangkan diri. Pheng Lian Houw semua tahu. Sejak di Utara mereka terpisah dari Kwee Ceng. muridnya mereka itu. Sebenarnya cambuk Tong-liong Gin-pian dari Bwee Tiauw Hong lihay sekali. Tiauw Hong kaget. kemudian mereka menguntit delapan murid wanita dari Pek To San. kalau naka itu roboh. dua diantaranya sudah lantas lompat turun. guna menjambret si orang she Pheng itu. Nyata ia telah kasih keluar cambuknya. dengan tubuhnya si nyonya turun rendah. mereka terus mengurung. Enam orang. Kenapa si nona menyangkal? Kenapa agaknya si nona tidak menghormati Tiauw Hong itu? Justru itu terdengarlah suaranya See Thong Thian: ―Memanah orang lebih dulu memanah kudanya!‖ Kata-kata itu ditujukan kepada Kwee Ceng. Dilain pihak. ―Lagi seratus tahun ia belajar silat. maka ia berteriak: ―Semua berhenti! Aku hendak bicara!‖ Pheng Lian Houw. cambuk emas. begitupun ketiga kawannya. dia tetapi melayani ketiga musuhnya. ada datang orang dari pihak ketiga. dia mesti terbinasa. mereka membikin ia kewalahan. Maka itu. dengan senjatanya itu. hendak ia berteriak pula. dia masih belum mampu menjadi guruku!‖ Lian Houw heran. dia menjatuhkan diri. yang ia lantas rabu kakinya. Merasa tidak ungkulan. yang bisa membebaskan diri. tetapi Liok Koay telah berlatih bersungguh-sungguh di gurun pasir. Tiauw Hong mengasih dengar suara ―Hm!‖ Mendadak saja tangan kanannya terayun. ia menjerit. Rupanya keenam orang di atas tembok itu tidak dapat manahan sabar. atau tiba-tiba ia dengar lain orang mendahulukan padanya: ―Semua berhenti. yang menjadi kaget sekali. terpaksa ia lepaskan si nona mangsanya itu dan lari kabur. merek atidak ambil peduli. Pheng Lian Houw berpikir: ―Ini perempuan buta mesti lebih dulu dibinasakan. Tiauw Hong tidak tahu orang hendak membokong dia. Dua muridnya terhajar binasa masing-masing oleh Lam Hie Jin dan Coan Kim Hoat. Mereka gusar. Tapi malam ada gelap.

Ia ketahui datangnya Kanglam Liok Koay begitu lekas ia dengar suaranya Kwa Tin Ok. mereka pun memernahkan diri di jarak tujuh tombak dari wanita kosen itu yang cambuknya sangat lihay. Ia lantas mengambil keputusan: ―Nio Lao Koay beramai tak ada permusuhannya dengan aku. dia menolongi. ―Kua sendiri. Liok Koay bersama rombongannya Nio Cu Ong berdiam semua. Karena ini tanpa bersangsi lagi. yang ia gendong pulang ke rumahnya. Ia menyerang Kwee Ceng begitu lekas ia dapatkan tubuhnya dilemparkan. ―Anak Ceng. Diwaktu gelap. maka hari ini baiklah aku terbinasa bersama-sama dengan Cit Koay saja!‖ Ia cekal keras cambuknya. ―Celaka!‖ teriak Han Po Kie. percaya yang orang adalah orang lihay. kalau bertempur satu lawan satu. Begitulah mereka menguntit hingga di onghu. Liok Koay juga tidak mengejar dengan berpisahan. Kemudian ia berteriak: ―Semua berhenti! Aku hendak bicara!‖ Teriakannya nyaring sekali. hari ini mereka mengantarkan diri. ia heran: ―Dari Cit Koay cuma muncul yang enam. tetapi ia licin dan dapat meloloskan diri. Kwee Ceng mengerti. habis itu ia duduk dengan hati-hati. kamu hendak berbuat apa?‖ Irawan D Soedradjat Page 251 . Cambuknya itu terlepas. pasti aku bersyukur sangat kepada Langit dan Bumi. Nio Cu Ong bersama See Thong Thian mendahulukan mundur. telapakan tangannya sakit. ia memasang kuping. terlibat dan tertarik sama cambuknya Bwee Tiauw Hong. akan keluar dari gelangan. Hanya. ia memberi keterangan atas pertanyaan orang tadi. menulikan telinga. Sekarang ini aku lagi dikurung oleh musuh. Tapi mereka terus melakukan penyeledikan. agar sahabatnya itu melemparkan tubuh orang. Ketika ia jatuh ke tanah. Tapi kepada Kwee Ceng ia memberi tanda dengan gerakan tangan. si Naga Emas.‖ jawab Kwee Ceng. aku hampir tidak dapat bertahan. Maka kedua cambuk itu beradu keras. Ia pikir: ―Aku cari mereka ke mana-mana. maka ia pun teriaki saudara-saudaranya: ―Shatee dan citmoay. kau ingatlah baik-baik!‖ Berbareng dengan itu. ―Kali ini kau telah berjasa!‖ katanya. begitupun yang lainnya. Kwa Tin Ok. Lian Houw lantas menggulingkan tubuh. gampang sekali untuk melihat pakaiannya rombongan Auwyang Kongcu itu. Empat yang lainnya turut heran juga. jikalau aku mesti tambah musuh dalam dirinya Tujuh Manusia Aneh ini. ia melemparkan tubuh si nyonya sampai jauhnya setombak lebih. Ia kaget. mengapa kau bantui perempuan siluman itu?‖ ―Mereka hendak membunuh aku. entah yang satunya lagi bersembunyi di mana…?‖ Ia tidak tahu yang Siauw Bie To Thio A Seng telah terbinasa di tangan suaminya. ―Tengah malam buta. yang dengar teriakan hebat itu. Oey Yong sudha lantas menghampirkan murid ayahnya itu. Akhirnya ia berkata: ―Nah. Ia tahu orang muncul yang berenam. Merekanjuga lantas mengawasi. Tanpa ayal lagi ia menyerang dengan Kim-liong-pian. cambuknya. ia sendiri segera lompat mundur. Pheng Lian Houw semua heran atas datangnya enam orang itu.‖ Ia lantas mengertak gigi. hingga mereka dapat lihat dengan tegas: Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi telah bersilat dengan cambuknya. istananya Chao Wang itu. yang menyaksikan bahaya mengancam muridnya. untuk simpangi perhatian si Mayat Besi. sebab rombongannya Auwyang Kongcu gampang dikenali dari dandanan mereka yang serba putih itu. tahan dulu!‖ Dua saudara itu menurut. menyerang si Mayat Besi juga. Ia mendongkol berbareng khawatir. ―Aku minta kau memberitahukan nama kamu?!‖ Nio Cu Ong menegur Kanglam Liok Koay. sedang Coan Kim Hoat maju untuk menolongi muridnya. kenapa mereka itu bertempur?‖ Cu Cong berbisik kepada muridnya. cambuk perak yang bergemerlapan sudah lantas menyambar kepadanya. lebih dahulu ia menampa dengan tangannya. mereka semua mundur. Han Siauw Eng maju menyerang si Mayat Besi yang ia sangat benci itu. Tiauw Hong pun sudah berhenti bersilat. Kemudian Auwyang Kongcu dikejar. akan dengari gerak-geriknya Cit Koay itu. Mereka kaget akan dengar teriakannya Kwee Ceng. karena mereka ketahui. pihaknya tidak sanggup. apapula mereka itu lantas menyerang Auwyang Kongcu. pastilah aku bakal binasa…. Inilah tidak sukar. Cambuk itu ada banyak gaetannya. maka itu Lam Hie Jin dan Han Po Kie sudah lantas melakukan penyerangan. Coba hari bukannya hari ini. dia sepertinya duduk bersilat di pundaknya Kwee Ceng. Rupanya bocah itu berada dibawah pengaruh orang. dengan mengerahkan tenaga. ia hanya bernapas memburu.Pendekar Pemanah Rajawali Wat Lie Kiam Han Siauw Eng lantas menolong si nona. Biauw Ciu Sie-seng heran. belum lagi ia menaruh kaki di tanah. kau lancang masuk ke dalam istana.

untuk membantui saudara-saudaranya itu. lantas ia menyerang dengan hebat. ia menyerang pula dengan jurusnya ―Arhat menunjuk pengaruh‖. Inilah ketikanya untuk turun tangan. Han Po Kie kate dampak dan gemuk. hingga lawannya itu main mundur. Pertempuran di antara Oey Yong dan Hauw Thong Hay juga berjalan dengan seru. kepandaiannya sebenarnya bagaimana!‖ Thong Thian gusar karena ia ingat penghinaan yang diterima empat muridnya. berbareng dengan mana. hingga Hie Jin terkejut dan mesti berbalik akan melayani. babi!‖ Lian Houw murka dikatakan babi. hingga ia membikin Kim Hoat terdesak. dia boleh dibereskan belakangan…‖ Segera ia lompat ke sampingnya Kwa Tin Ok. untuk menyerang yang lain. Karena ini. ―Kami bersaudara bertujuh orang. ―Ini toh barang yang diperantikan menimbang di pasar tetapi kau pakai untuk menyerang orang!‖ Coan Kim Hoat mendongkol dan menyahut: ―Dacin ini untuk menimbang kau. Ia bergerak dengan jurus ―Sekejap seribu lie‖ dari ilmu silatnya Sin To Soat-san-ciang. sedang Cu Cong lemah lembut bukan seperti orang Rimba Persilatan. ia menangkis dengan ujung tongkatnya. Si wanita siluman. tanpa bersuara.‖ ―Eh. . Maka teranglah. Tapi Kim Hoat lihay. Ia lihay akan tetapi baru beberapa jurus. Ia lantas saja berkelit denagn mendak. ia ketahui pihaknya keteter. maka ia lantas mengambil keputusan: ―Baiklah aku binasakan dulu ini beberapa manusia jahat. ia menangkis serangan. walaupun mereka dikepung. sebab serangan datang dalam rupa tangan kiri lawan. See Thong Thian maju sambil mengawasi keenam Manusia Aneh itu. heran. ia lantas tinggalkan musuh ini. mereka jadi bertempur dalam dua rombongan dengan masing-masing tiga lawan satu. Irawan D Soedradjat Page Melayani Hie Jin pun Auwyang Kongcu pun tidak mau mengulur tempo. biar bagaimana tidak nanti ia dapat kabur. maka kau rasailah lihaynya kongcumu!‖ Lalu tangannya kanannya meninju. senjata apa senjata kau ini?‖ dia tanya. ―Sudah lama aku mengagumi nama kamu!‖ See Thong Thian tapinya berteriak: ―Bagus! Cit Koay telah datang sendiri! Aku orang she See hendak belajar kenal. hingga ia menempur Liok Koay dengan bergantian. dari itu tidak berani ia menghajar tubuh orang. Kali ini pihak Liok Koay yang menang di atas angin. Cambuknya kena dirampas Bwee Tiauw Hong tetapi ia punyakan kepalannya. Han Siauw Eng satu nona yang manis.Pendekar Pemanah Rajawali ―Aku she Kwa. yang ia terus serang. Kwa Tin Ok dan Cu Cong lantas maju. Auwyang Kongcu berdiam sambil bersiap. hanya ia lompat kepada Lam Hie Jin. Auwyang Kongcu telah memasang mata. Ia lantas lompat ke depannya Pheng Lian Houw. Han Siauw Eng lantas maju dengan pedangnya dan Coan Kim Hoat dengan dacinnya. Karena ini. yang senjatanya yang luar biasa itu hendak dirampasnya. bangsat buta. sambil berseru keras. dengan begitu. yang lainnya membinasakan muridnya atau gundiknya tersayang. gerakannya aneh. 252 Auwyang Kongcu menyingkir dari serangan itu. yang romannya gagah. Lam Hie Jin menancap pikulannya. untuk melihat Cit Koay yang namanya demikian besar. Sebenarnya Thong Hay lebih lihay terapi ia kalha gesit dan ia pun jeri untuk beju lapis si nona. Karena itu.‖ ―Oh. yang satu merusak usahanya. mereka masih menang diatas angin. Kwa Tin Ok mendengar suara angin di kanan. Meyaksikan saudara keenamnya itu kewalahan. tetapi ia kebogehan. Coan Kim Hoat kurus kering. Karena ini Oey Yong yang dapat mendesak. tahulah ia bahwa ia bukannya tandingan musuh she See itu. Orang Kangouw menyebut kami Kanglam Cit Koay. Han Po Kie berlompat maju. ia serangn musuh ini hingga si musuh kaget dan mesti berkelit dengan lompatan jungkir balik ―Ular naga membalik tubuh. Pheng Lian Houw tidak berdiam saja melihat kawannya dikerubuti. Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin. SeeThong Thian dan Pheng Lian Houw benar lihay. Begitu ia berkelahi. Ia pun lantas membentak: ―Kamu usilan.‖ menyahut Tin Ok. sesudah berkelit ke kiri dan ke kanan. segera ia serang si Tukang Kayu dari gunung Lam San itu. Ia bermusuh dengan Liok Koay dan Bwee Tiauw Hong. Ia dapatkan Kwa Tin Ok bercacat mata dan kakinya. ia lompat maju akan rintangi Coan Kim Hoat. Kanglam Cit Koay!‖ kata Pheng Lian Houw. tetapi ia bukannya menyingkir untuk berlari.

Ia mengkeratkan perutnya. Kwee Ceng berontak sekuat-kuatnya. ia dapat menolong. sembari mengejar. ia menjambret dengan kedua tangannya. tentu saja baju lapis berduri dari suhu telah diberikan padanya!‖ Ia lantas menyahuti: ―Ya. encimu ini yang salah. melainkan baju luarnya dan dalamnya pada robek. Atas itu Oey Yong lanats berseru: ―Bwee Jiak Hoak. ia tidak berani menghampirkan. hingga ia dapat cekal tubuh si nona. Dalam saat berbahaya itu. ia dapat tahu nona itu tidak kesakitan. hingga belasan bungkusan obatnya kena disambar musuh. maka juga mendadak saja ia geraki cambuknya. Ia percaya tubuh si nona itu sudah tercengkeram pelbagai gaetan cambuknya. sekarang aku lukai budak ini. Dengan jenaka ia berkata: ―Kau merusaki pakaianku. dalam beberapa jurus saja ia sudah terdesak. supaya ia bisa menghisap darah anak muda itu. ia lompat ke arah cambuk! Ia tidak takuti cambuk itu. ia waspada terhadap nyonya itu terutama terhadap cambuknya. Kwee Ceng tahu. Nio Cu Ong dapat mencium bau obat. aku minta ganti!‖ Tiauw Hong melongo. Nio Cu Ong sementara itu terus memasang matanya terhadap Kwee Ceng. hingga ia memasuki kalangan smabaran cambuknya si wanita kosen. ia masuki semua bungkusan itu ke dalam sakunya. untuk diletaki di tanah. maka tempo ia menginsyafi aksinya Auwyang Kongcu itu. bagaimana suhu dapat mengampunkan aku? Tapi sudah terlanjur. terus ia lari ke arah Bwee Tiauw Hong sambil berteriak: ―Tolongi aku!‖ Girang Tiauw Hong mendengar suara orang. Irawan D Soedradjat Page 253 . karena itu. Anak muda itu menghampirkan. Suasana kembali terbalik. hingga Pheng Lian Houw dan See Thong Thian jadi dapat bernapas. sudah tidak keburu lagi. hingga terdengar suara robek dari bajunya. yang jeri kepada cambuknya si wanita lihay itu. maka dengan meninggalkan Thong Hay. beranikah kau melukai aku?!‖ Kaget Tiauw Hong mengenali suaranya Oey Yong. Dengan tiba-tiba ia ingat. ia dapat meloloskan diri. Nio Cu Ong memburu. Kwee Ceng membela diri. tubuhnya tidak terluka. Kwee Ceng bukan tandingan jago ini. ia lantas lompat kepada bocah itu sambil ulur tangannya. meskipun ia tahu. nanti aku pasti mengganti bajumu ini…‖ Oey Yong lantas menggapai pada Kwee Ceng. di sekitarnya. Kwee Ceng tertolong dari bahaya tetapi sekarang Oey Yong yang kena kelibat cambuk itu.Pendekar Pemanah Rajawali ia tengah mengganggu musuh-musuhnya itu. Dengan tangan kanannya. Sekarang ia tidak dihampirkan oleh Nio Cu Ong. malah lekas juga dadanya kena dicengkram. untuk menolongi. untuk membikin pecah perut orang. gerak-geriknya. hanya ia berlompat ke atas cambuk di mana ia menggulingkan tubuhnya. Sekarang ia melihat kawannya terancam cambuknya Tiauw Hong. Dia pun berpikir: ―Cambukku banyak gaetannya. Ia terkejut ketika Kwee Ceng kena dijambret Nio Cu Ong. yang terus ditarik Bwee Tiauw Hong. baiklah aku habiskan dia dulu!‖ Maka dia terus menarik. ia berdiri jauhnya tujuh atau delapan kaki dari Tiauw Hong. kecuali ayahnya. Cu Ong menjambak ke arah perut. untuk merabu kakai si anak muda! Oey Yong melayani Hauw Thong Hay dengan selalu memperhatikan Kwee Ceng. ―Kau peluki aku! Jangan takuti Lao Kaoy!‖ ia menyahuti. maka katanya dalam hatinya: ―Ah. Ia memang ingin meminta beberapa keterangan pula kepada anak muda itu. Bwee Tiauw Hong sendiri memperhatikan suaranya Kwee Ceng. Liok Koay yang mulai keteter pula. Ia memakai lapisan joan-wie-kah. ia hanya lari berputaran dekat. ia tidak bakal lolos pula. sukar dicari orag yang bisa mengalahkannya. setelah mana kembali ia menjambak. Ia pun bukannya hendak menangkis. Justru itu Oey Yong tertawa geli. Dari suaranya orang. hingga ia memandikan peluh dingin. satu kali ia peluk wanita itu.

―Ini . kesudahannya obat tak didapatkan juga. Justru itu terlihat muncul dari gombolan pohon bunga. untuk menolongi. terus dibawa ke hidungnya. Ia berkelahi sambil menggertak gigi. ―Kalau begitu. Kwee Ceng menjadi masgul sekali. ―Bagaimana dia. mereka meninggalkan musuh-musuh mereka. Cu Cong dapat lihat ujung baju orang penuh rumput dan debu. Ia berkelit. malampun gelap. dilain pihak. paku beracun Cu-ngo Touw-kut-teng! Inilah paku yang asal menemui darah lantas menutup tenggorakan orang hingga orang mati seketika!‖ Nio Cu Ong tercengang mengetahui orang kenal pakunya itu. ia tidak dapat melihat Bwee Tiauw Hong. sesudah jatuh ia pungut. untuk melibat kami semua. terus ia putar tubuhnya untuk berlalu. Untuk menggunai kekerasan. Dengan begitu.Pendekar Pemanah Rajawali Kanglam Liok Koay sekarang berkelahi dengan mengumpulkan diri. cara bagaimana aku tidak pergi membantu dia?‖ Karena ini. inilah hebat!‖ pikir Lian Houw semua. Justru itu. untuk dicium. mereka keteter juga. Irawan D Soedradjat Page 254 . Kwee ceng lihat gurunya yang nomor tiga itu terancam bahaya. ia pergi dengan perasaan sangta tidak puas. ia menimpuk dengan senjata rahasianya. ia lari menghampirkan. Cu Cong lompat maju. sekarang dia ada punya urusan penting. dia berseru: ―Semua suhu. aku kembalikan pada kau. dengan kipasnya ia sampok paku itu. kopiahnya miring. maka lima saudaranya lantas menyusul. ia gunai tangan bajunya untuk menyapu itu. kawannya pergi menculik onghui!‖ Karena ini tanpa sangsi lagi. harapannya tidak ada. si pangeran muda. ―Oh. ―Onghui telah orang bawa lari. ia takut keluar dari kalangan. toako?‖ Han Siauw Eng tanya sambil ia menunjuk Tiauw Hong. Pheng Lian Houw semua menjadi bingung. ―Apa?‖ dia menanya seraya ia merandak. mereka lari mengikuti Wanyen Kang. Ia ingat Kwee Ceng darah siapa ia belum sempat hisap. Masing-masing mereka lantas berpikir: ―Ongya adalah yang mengundang kami semua. ―Mari kita pulang!‖ mengajak Tin Ok selagi muridnya ragu-ragu. yaitu paku Cu-ngo Touw-kut-teng. denagn begitu mereka dapat melayani See Thong Thian. Ia pun mendahului lompat ke tembok. tuan!‖ katanya sembari tertawa. ia berkelahi terus. Nio Cu Ong berlari paling belakang. Cu Ong pun ulur tangannya untuk menyambuti. sambil berlari-lari mendatangi. mereka tidak usah repot-repot menjagai punggung mereka. keluar dari gelanggang. dengan tangan kirinya ia angsurkan paku itu. terus ia serang bebokongnya Pheng Lian Houw dengan jurusnya. ia lantas membantui kawannya itu. Ialah siauw-ongya Wanyen Kang. Satu malaman ia menumpuh bahaya. Ia tidak jeri karena ia tahu orang kalah daripadanya. Thong Hay ditinggalkan Oey Yong. ―Ayah minta semua suhu membantu mencari. melupakan segala apa. Pheng Lian Houw. Tidak nanti kami berani melupakan budi suhu semua!‖ Pangeran ini datang secara kesusu.‖ ―Hm!‖ Pheng Lian Houw mengasih dengar suara si hidung.‖ Wanyen Kang beritahu dengan perlahan. belakang dengan belakang. ayahku ada urusan penting untuk mana ia minta bantuan kamu! Lekas!‖ Orang itu mengenakan kopiah emas. yang numprah di tanah. ―Dengan begitu saja kita pulang…‖ katanya menyesal. tubuhnya pun diputar. lantas ia memutar tubuh untuk membalas menyerang. mereka lantas lompat mundur. ―Membuka mega untuk menolak rembulan. sebab Pheng Lian Houw yang lihay sudah cecar padanya. Meski begini. apa perlunya kami berdiam di dalam istana?‖ Mereka juga menduga: ―Pasti Liok Koay ini lagi menjalankan siasat memancing harimau turun dari gunung. kau pulangi obatku!‖ Dalam sengitnya. Inilah cara berkelahi yang Liok Koay baru pahamkan dan melatih selama mereka berdiam di gurun pasir. Cu Cong lari menghampirkan. khawatir nanti benteng perlawanannya itu menjadi dobol. Han Po Kie terluka pundaknya. ―Siapa kesudian kau mengambil hatiku?!‖ Cu Ong membentak. ―Ibuku telah dibawa buron penjahat. Hauw Thong Hay dan Auwyang Kongcu berempat. Kwee Ceng teriakin dia: ―Eh.

akibatnya kedua kakinya mati. ―Tanpa aku dustakan kau. Tiat Sim girang hingga ia mengucurkan air mata. akan meraba muka suaminya. ia tidak memberi hormat kepada Liok Koay. mendadak ia roboh pula. ―Ayah. Ia percaya suaminya itu sudah meninggal dunia. Justru ia sadar. maka itu mereka berlalu dengan terus. ―Ayahku?‖ balik tanya Oey Yong masih tertawa. Bisa Lawan Bisa Yo Tiat Sim girang bukan main dapat menemukan istrinya. di antara cahaya pagi remangremang.‖ Ia sudah lantas lari. ialah suami yang ia buat pikiran siang dan malam. Oey Yong tertawa haha-hihi. Di bawah tembok. malah ia dapat menolongi juga. ―Sebentar kita bicara. Ia berhenti dengna tiba-tiba sebab kupingnya segera dengar suara berisik berupa teriakan-teriakan dan melihat cahaya terang dari banyak obor. Ketika ia pun lompat ke tembok. mana kau mau lepaskan dia?‖ Dengan ―dia‖ ia maksudkan Kwee Ceng. ―Kita tidak kurang suatu apa…. ―Perlahan!‖ Tiat Sim mengasih ingat. dari itu ia pondong erat-erat istrinya itu ketika ia lari keluar dengan melompati tembok istana. ―Mari lekas kita menyingkir!‖ Liam Cu kaget dan heran.‖ sahutnya halus. Mereka ajak Kwee Ceng bersama. Tiauw Hong murka bukan kepalang. Pauw Sek Yok tersadar. ia lupa segalanya. ia naik ke ujung lainnya. Ia ulur tangannya. Bab 23. Ia heran ketika ia lihat ayahnya kembali dengan memondong seorang wanita.‖ sahut kakak tertua itu. anak Ceng. Liam Cu menantikan ayahnya dengan pikiran tegang. hingga napasnya memburu. Ia tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pun pingsan. lalu dengan tindakan terhuyung-huyung. lekas ia lompat turun ke lain sebelah. kedua kakinya lemas dan kaku. ―Eh. Ia tidak sabaran dan cemas juga. dengan kedua tangannya ia menekan tanah. habis ia menanya. Kwee Ceng menjawab guru ini dengan tuturkan semua pengalamannya. ia lihat orang yang memondongnya. mereka tidak mau turun tangan. Satu barisan serdadu sedang lari mendatangi. ia kata pula: ―Kau toh yang membilangnya kalau suhu datang ke mari!‖ Oey Yong tertawa pula. mana suhu?‖ Tiauw Hong tanya nona itu. ―Inlah ibumu!‖ sahut ayah itu. ―Eh. mengapa aku bisa jalan?‖ tanyanya pada diri sendiri. lantas saja ia bangkit berdiri. ―Tentu sekali ayah berada di pulau Thoa Hoa To! Tidak pernah ayah meninggalkan rumah! Ada apa kau menanyakannya?‖ Tiauw Hong menjadi sangat gusar. Kira-kira serintasan. Tapi kali ini. Tiba-tiba Tiauw Hong sadar. Ia heran hingga ia menyangka ia sedang bermimpi. ―Kalau begitu. Ketik aitu fajar sudah menyingsing. biar kita mengasih ampun padanya. ia menubruk kepada si nona. Oey Yong terkejut. ―Toako. Ia telah keliru menyakinkannya ilmu silat dala. apakah aku juga sudah mati?‖ ia tanya. Gampang sekali kalau Liok Koay hendak merampas jiwa orang akan tetapi untuk menepati janji kepada Ma Giok. Setelah berhenti sejenak. kenapa kau berada disini?‖ kemudian Han Siauw Eng menanya. dan makin ia memaksakan diri. ―Ibuku?‖ ia menegasi. sampai ia berikhtiar untuk menolongi Ong Cie It. mari kita tolongi Ong Totiang!‖ Cu Cong mengajak. siapa ini?‖ ia lantas tanya. Ia dengar nyata: ―Jangan kasih lolos penjahat yang menculik onghui!‖ Irawan D Soedradjat Page 255 . untuk lari menghilang. makin pendek napasnya. ―Adik kecil.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kita telah memberikan janji kepada Ma Totiang.

Tan Yang Cu Ma Giok. maka sekalipun telah bertambah delapan belas tahun umurnya. ―Sudahlah. Di tanya begitu. dibelakangnya tergendol sebatang pedang. atas mana tentaranya lantas kabur serabutan. Khu Cie Kee telah sempurna Iweekangnya. ―Biarlah kita bertiga mati bersama!‖ katanya gagah. tatkala selagi kita minum arak kita menumpas musuh?‖ . pada peristiwa di dusun Gu-kee-cun di kota Lim-an. Menampak tentara pengejar datang semakin dekat. mereka ketakutan. hari ini kembali aku bertemu denganmu!‖ Imam itu memang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee serta saudara seperguruannya. tidak mau ia melepaskannya.‖ Tiat Sim berkata cepat. Dalam kegirangan sangat. tiba-tiba saja Tiat Sim merasakan sakit pada belakang telapakan tangannya. di dalam gelap petang mereka dikejar tentara. Dalam dua tiga gebark saja. ―Jadinya tuan…. dia kena ditusuk pahanya hingga ia terjungkal dari kudanya. Pauw Sek Yok lantas balut tangan suaminya itu. anakku. karena repot melarikan diri. guna membicarakan urusan pibu dengan pihak Kanglam Liok Koay. Ia menginsyafi bahaya. Delapanbelas tahun lamanya mereka telah berpisah.!‖ menegaskan imam itu. kalau sekarang akan terbinasa. ―Dia…dia mengapa adalah anak kita?‖ dia tanya. Melihat mereka itu. Yo Tiat Sim menjadi nekat. dilain jurusan ia melihat datangnya dua imam yang satu berkumis dan rambutnya ubanan. justru itu. Sek Yok heran. ia tidak dapatkan tempat untuk menyembunyikan diri. ia berseru menyapa salha satu imam itu: ―Khu Totiang. kau peluklah ibumu…!‖ Sejenak itu terbayanglah di matanya Pauw Sek Yok pengalamannya delapan belas tahun yang lampau. ia bagaikan harimau tumbuh sayap. wajahnya sangat berwales asih. di luar dugaan. ia ajak istri dan anaknya lari terus. Itulah tandanya satu pasukan besar lagi mendatangi.!‖ kata Tiat Sim sambil menyeringai. Tidak ayal lagi. ia pun menyesal yang ia tidak sempat merampas kuda musuh. tapi ia menajadi tenang. Di dalam hatinya ia kata: Thian mengasihani aku hingga hari ini aku dapat bertemu sama istriku kembali. sikapnya gagah. Setelah terang tanah.Pendekar Pemanah Rajawali Tiat Sim menjadi kecil hatinya. di sini mereka bertemu dengan Yo Tiat Sim suami-istri. Mereka hendak menempati janji dengan Giok Yang Cu Ong Cie It. Yo Tiat Sim tercengang. berdua mereka datang dengan terburu-buru. di kampung halamannya itu. wajahnya tetapi seperti dahulu hari itu. Maka ia rangkul leher suaminya. ia berkata: ―Apakah totiang masih ingat peristiwa delapan belas tahun yang lampau di dusun Gu-kee-cun di Lim-an. ―Kau terluka?‖ ia tanya. Ia melihat kesekelilingnya. ―Aku yang rendah ialah Yo Tiat Sim.‖ Liam Cu tidak menangis. ia mengawasi nona itu. hingga tangannya itu mengeluarkan darah. tak usah dibalut…. Senjata ini membangunkan semangatnya. hingga ia mengawasi saja. Lega juga hatinya Tiat Sim yang mengathui pasukan itu tidak dipimpin oleh opsir yang kosen. ia berduka dan terhina saking terpaksa. ia lupa pada sakitnya. cuma rambutnya yang berubah. Opsir yang memimpin pasukan itu bernama Thung Couw Tek. Ia lantas lari memapaki tentara pengejarnya. Ia lantas menoleh kepada gadisnya dan kata: Anak. hatinya tegang sekali. lalu terlihat debu mengepul baik dan mengulak. tak usah aku menyesal…!‖ Lantas ia kata pada anaknya: ―Liam Cu. atau sekarang. Tiat Sim hendak menjadwab istrinya tetapi ia daptakan tentara itu sudah semakin mendekat. Pauw Sek Yok dapatkan suaminya berdarah di sana sini. akan bertemu di kota raja. Tanpa pemimpinnya. ia telah dapat merampas sebatang tobak. Ia angkat kepalany. ia tidak rasai itu. ―Semoga totiang tidak kurang suatu apa. yang lain kumisnya abu-abu. Dari itu ia paksa melepaskan rangkulan istrinyaitu yang ia serahkan kepada anak gadisnya. Hampir itu wkatu kembali terdengar suara sangat berisik. kau menyingkirlah seorang diri! Ibumu dan aku akan berdiam disini…. lantas ia sadar. Ia menjadi kaget sekali. Ia dipondong oleh suaminya dan dibawa lari sekuat-kuatnya. daripada terhina ia rela terbinasa dalam pertempuran. Karena itu ia tidak lantas mengenal waktu ia dipanggil dan melihat Tiat Sim. Sekarang ia pun merasakan kedua lengannya sakit dan sukar digeraki.‖ Irawan D Soedradjat Page 256 Tiat Sim bisa menduga orang lupa padanya. baru sekarang ia ingat tadi ia telah dismabar sepuluh jari tangannya Wanyen Kang. baru saja ia bertemu kembali dengan suaminya. peristiwa dahulu bakal terulang pula.

maka sekarang ia ingat ebtul peristiwa delapanbelas tahun dulu ketika ia mencoba ilmu silat orang. hingga ia ingin tanya she dan namanya lawan ini. malah mendapatkan dia menghalang-halangi. tak gampang senjatanya itu dapat dirampas. tangannya menyampok kepala orang hingga di kepalanya See Thong Thian bertapak lima jari berwarna merah. dengan cara itu ia robohkan lagi delapan serdadu. delapan-delapannya ia timpuki bergantian kepada kawan mereka. Adalah masksudnya. Dia membentak: ―Darimana datangnya si bulu campur aduk ini!‖ Lantas tubuhnya mencelat ke depan Tiang Cun Cu. Setelah hampir duapuluh tahun. dengan tangan kosong ia tidak bisa berbuat apa-apa. yang terus ia serang. Lantas ia tertawa. Luar biasa sebatnya imam ini. untuk merampas senjata lawan. Di lain pihak hatinya tegang melihat tentara pengejar telah mendatangi semakin dekat. ia lantas menarik roboh dua serdadu berkuda itu. Ia menjadi girang bercampur terharu dapat bertemu sama kenalan lama ini. Ia pun berseru: ―Khu Totiang. Kali ini Khu Tiang Cun tidak berani bergerak sembarangan. ―Suheng. hingga ia kaget berabreng mendongkol. Sebaliknya. Khu Cie Kee heran hingga ia kata di dalam hatinya: ―Kenapa di sini ada orang begini lihay?‖ Selagi si imam ini terheran-heran. Orang she Yo ini bisa mengerti kesangsiannya si imam. maka sekali ia maju menyerang. dari belakang ia dengar ini pertanyaan yang nyaring sekali: ―Kau ada totiang mana dari Coan Cin Kauw?‖ Ia lantas berlompat. maka lagi-lagi ada delapan serdadu yang terguling. hingga ia melihat empat orang berdiri berendeng. Ia lantas mengenali ilmu tombaknya Keluarga Yo itu. dengan itu ia menyerang pula. Tiat Sim berubah roman dan suaranya juga. kau telah melupakan aku tetapi kau tentu tidak dapat melupakan ini ilmu tombak dari keluarga Yo!‖ Tiang Cun Cu terkejut tetapi ia mundur. mereka lantas putar kuda mereka. lantas ia meraba pada pinggangnya di mana ia selipkan genggamannya yang berupa pengayuh besi yang berat. sesudah belasan jurus. ―Kau masih hidup…. Mendadak saja ia geraki tombaknya dan menikam imam itu dengan tipu tombaknya. habis itu keduanya mundur sendirinya masing-masing tiga tindak. Dengan hanya mementang kedua tangannya. hanya melihat orang demikian lincah. ia menjawab: ―Kurangilah pembunuhan! Gertak saja meraka itu!‖ Khu Cie Kee tertawa nyaring dan lama. Kedua tangan beradu dengan keras dan bersuara nyaring. yang kepalanya licin mengkilap. ia membalas menyerang. hanya lantas ia kata: ―Totiang. Maka lagi dua serdadu roboh pingsan. disebabkan penderitaannya. Ia menoleh ke arah tentara pengajar.Pendekar Pemanah Rajawali Habis berkata. Kata-kata ―bulu campur aduk‖ itu adalah hinaan untuk suatu imam. adalah Kwie-bun Liong Ong – demikian si lanang itu – merasakan tangannya sakit. untuk lari balik. Tiang Cun Cu tidak menghiraukan itu. belum sampai ia membuka mulutnya. Irawan D Soedradjat Page 257 . Ia bersedia melayani musuh yang bersenjata itu. Kejadian ini membikin kaget serdadu-serdadu yang lainnya. tolongilah aku!‖ Imam itu bisa mengerti keadaan orang. hari ini kembali aku mesti membuka pantangan membunuh!‖ katanya. lantas ia maju ke arah tentara itu. tetapi ia tetap ragu-ragu. Khu Cie Kee tetap bertangan kosong. Tetapi See Thong Thian telah punyakan latihan beberapa puluh tahun. orang she Yo itu lantas menjatuhkan diri berlutut di depan orang suci itu. Tiang Cun Cu heran juga atas kegagahan orang. ia hendak menguji tangan orang.!‖ Tiat Sim tarik pulang tombaknya. untuk menoleh. di antara mereka muncul seorang yang tubuhnya besar dan kekar. ―Oh. Orang she See ini insyaf. Belum lagi semua serdadu kabur. mereka itu terus menerjang dengan begis. Tiang Cun Cu lekas membalas hormat. Yo Laotee!‖ katanya. setelah berkelit. dengan sabar ia melayani. Hanya. ―Aku harap kau tidak gusari aku!‖ Ma Giok mengerti. kepada saudara seperguruannya. yang sudah lantas sampai. Ia tangkis seragan itu. tubuh siapa terus ia timpuki ke serdadu yang lainnya yang lagi mendatangi. dia bergerak dengan gesit sekali. menghajar pundak si imam dengan jurusnya ―Souw Cin menggendol pedang‖. Ia tidak sahuti imam itu.

Auwyang Kongcu dan Hauw Thong Hay yang telah lantas dapat menyusul See Thong Thian. Auwyang Kongcu pun menyerang secara membokong itu. lalu kipasnya dia ini kena ditahan. Pheng Lian Houw dan See Thong Thian lantas menyerang. ia menikam ke pinggangnya See Thong Thian. ―Pinto berasal dari keluarga Ma. Pinto mohon tanya nama mulia dari tuan-tuan. Ia tahu lawan lihay. Ia menerjang sambil berlompat. baiklah ia sekalian dibunuh saja! Ini adalah ketika yang paling baik untuk mengangkat nama kita!‖ Karena berpikir begini. sebutan Cinjin itu tidak berani pinto terima. kiranya Tan Yang Cinjin Ma Totiang!‖ berkata Pheng Lian Houw. Itulah Ma Giok yang membantu saudaranya. hati mereka berkata: ―Pantaslah dia bernama besar. ia menotok dengan kipasnya di tangan kanan. ia pun lantas menggunai ketika untuk mengeroyok. Di situ cuma tertampak Yo Tiat Sim sekeluarga bertiga jiwa. maka itu lantas ia menotok kepada kedua jalan darah kin-jie dan pek-hay-hiat. yang hendak dirampas. imam ini telah melayani tiga lawan. la lantas berseru: ―Mari maju berbareng!‖ Ia pun lantas mengeluarkan sepasang poan-koan-pitnya. Perkara di belakangada soal lain. dia memang gagah. sedangkan ia tidak mengerti. yang terus menggeroyok saudaranya. Ia lantas menduga kepada anggota Coan Cin Kauw yang tertua. tetap sabar. Kelihatannya Khu Cie Kee sudah sangat terdesak. ialah seoarng imam berusia lanjut. sebaliknya. suaranya tetap keras. apakah di sini masih ada lain-lain saudaranya…. dengan apa ia terus terjang imam itu. sambil menarik pulang kipasnya. ―Maaf.‖ Imam ini berbicara dengan sabar sekali. ―Oh. tidak keras dan mengagetkan seperti suaranya Pheng lian Houw. sekarang dua anggota utama dari mereka berada disini. Khu Cie Kee lantas mengangguk kepada mereka itu seraya memberikan penyahutannya: ―Pinto she Khu. ubanan rambut dan kumisnya. ketiga jalan darahnya itu bakal menjadi sasaran kipas yang istimewa itu. ia berpikir: ―Kita telah bentrok dengan pihak Coan Cin Kauw. Jadi dengan sekali bergerak. ia memandang bayangan itu. Pheng Lian Houw mencoba bersikap halus. Inilah cara berkelahi yang langka. Dengan tangan kiri hanya mengancam. Orang she Nio ini terperanjat untuk kesebatannya si imam. Nio Cu Ong menyusul untuk mengepung. baiklah kita berlima mengepung mereka itu untuk membinasakannya. ia cuma berpikir. ada salah paham apakah di antara kita? Aku minta sukalah tuan-tuan menjelaskannya. akan terus mengawasi orang suci ini. Imam ini heran mendapatkan munculnya begitu banyak orang pandai. ―Si kate ini galak sekali! Dia pun agaknya lihay!‖ Ia lantas menghunus pedangnya. maaf!‖ ―Pengetahuan pinto tentang agamaku masih terlalu sedikit.‖ Ma Giok menyahut. suaranya halus. ceng-cok dan pwee-sim di punggung si imam. ia meneruskan menikam jalna darah ciang-bun-hiat di iganya Hauw Thong Hay. kempolannya kena didupak si imam. Ia pun lompat ke belakang. di belakang hari pastilah sukar untuk menyelesaikan masalah ini. atau mendadak satu bayangan berkelebat si samping si kongcu. tetapi pada itu ada nada yang mengandung pengaruh. Khu Cie Kee tidak heran yang orang sudah lantas menerjang kepadanya. syukur ia keburu berkelit.‖ Nama Tiang Cun Cu kesohor sekali di Selatan dan Utara. Ketika ia telah menarik pulang pedangnya itu. tetapi di dalam hatinya. maka itu Pheng Lian Houw berempat saling mengawasi.‖ Pheng Lian Houw sendiri berpikir lebih jauh: ―Kita sudah melukakan Ong Cie It. Auwyang Kongcu lihat berkelebatnya satu bayangan. tetapi ia berkelit dari serangan orang. ―Tuan-tuan siap?‖ tanya Ma Giok. Auwyang Kongcu melihat bagaimana si imam ini dilibat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw dan bagaimana Nio Cu Ong merangsak dari kirinya. maka terpaksa ia lompat maju untuk menghalangi. sekarang kita bertemu sama Khu Cie Kee. hingga dengan sendirinya orang-orang yang lagi bertempur itu pada lompat mundur. itu artinya ganjalan dengan Coan Cin Kauw.Pendekar Pemanah Rajawali Itulah Nio Cu Ong bersama Pheng Lian Houw. Hampir saja Hauw Thong Hay terkena pedang.‖ menolak Ma Giok. mengarah tiga jalan darah hongbwee.?‖ Ia lantas melihat ke sekitarnya. Maka ia lantas berkata: ―Nama Coan Irawan D Soedradjat Page 258 . Hanya. tetapi ia kena disusuli. ―Apaha she totiang yang mulia?‖ Auwyang Kongcu bertanya. ―Kita tidak kenal satu dengan lain.

ia lompat maju ke depan Pheng Lian Houw. selagi orang tidak bercuriga. seperti tertusuk jarum. ia berpikir. Di lain pihak. Saking kaget. yang ia sambar ujungnya. ―Kau hendak uji tenagaku. Ia merasa orang memegang keras sekali. dalam tempo enam jam dia bakal terbinasa. yang sangat sabar. kami sangat mengaguminya. Maka ia pun menggeraki pedangnya. tapi telapakan tangannya dibalik ke bawah. ialah poan-koan-pitnya itu terputus menjadi dua potong! ―Bagus!‖ Khu Cie Kee memuji. Ma Giok menyangka orang bermaksud baik. mereka pikirkan siapa Sam Hek Miauw ini. Ia sengaja memakai nama Sam Hek Miauw. dia telah melukai aku dengan racun!‖ menyahut Ma Giok. ―Ma Totiang. karena ia merasakan tangan kanannya kesemutan. hebat kesudahannya. ―Jahanam licik. Orang cuma berdua dan mereka belum sempat menemui Ong Cie It. siapa terluka hingga di dagingnya. Mana lagi lima saudara totiang? Silahkan minta mereka itu sudi menemui kami.‖ Itulah kata-kata pancingan. dengan itu ia menangkis. Kali ini kami datang ke Tiong-touw untuk mencari Ong Sutee. waktu ia mengerahkan tenaga dan menarik. baru saja kami mendapat tahu alamatnya. untuk menyerang pula. Ilmu silat di kolong langit ini banyak perbedaannya tetapi asal mulanya adalah satu. lima jarinya berlobang kecil masing-masing dan bergaris hitam. terus ia membalas satu kali. yang tipis seperti benang tetapi disitu ada lima batang jarumnya. justru kami hendak menjenguk dia. ada sukar untuk kami datang berkumpul. Maka boleh ia mengeroyok. Ketika tadi Pheng Lian Houw menyelipkan senjatanya. sedang Auwyang Kongcu dan Hauw Thian Hay segera membantui Pheng Lian Houw. Tiba-tiba ia merasakan lima jari tangannya sakit. Pheng Lian Houw selipkan senjatanya di pinggangnya. Pheng Lian Houw sempat mencabut poan-koan-pitnya. senjatanya tidak terlepas. tetapi ia terus menyerang pula dengan dua-dua tangannya. ―Kami bertujuh sudara tinggal di beberapa propinsi. ia pun mengulurkan tangannya. hingga hatinya menjadi gentar. ia mengerti sebabnya kegusaran itu. Pheng Lian Houw girang sekali.‖ katanya seraya mengangsurkan tangannya. yang untuk beberapa puluh tahun tidak pernah berkelahi. sedang sekarang ia menyerang dengan ―Sam Hoa Cie Teng Ciang-hoat‖. Khu Cie Kee kenal baik kakak seperguruannya ini. tangan kirinya Tiang Cun Cu lihay seperti tangan kanannya ang memegang pedang.‖ menyahut Ma Giok. maka itu bagaimana pula jikalau kita mengikat persahabatan?‖ Imam ini jujur. Irawan D Soedradjat Page 259 . si licik sudah lompat mundur. yang berlompat maju. yang namanya aneh. ia menghampirkan Ma Giok. ia lawan keras dengan keras. Pheng Lian Houw tertawa tetapi ia mencelat mundur setombak lebih. aku merasa beruntung dengan pertemuan kita ini. untuk membuat Ma Giok memikirkan. ―Kenapa?‖ tanyanya. buat menyambuti. ia lantas menarik pulang tangannya itu. Tapi ia masih tertawa. Sama sekali mereka belum pernah mendengarnya. See Thong Thia dan Nio Cu Ong maju memegat Ma Giok. di sini kebetulan kita bertemu sama tuan-tuan. ialah ilmu pukulan paling lihay dari kaumnya. beruntun dua tikaman. ia gunai jarum jahatnya itu. sembari tenaganya dikerahkan. Pheng Lian Houw segera main mundur. itulah bagus sekali. untuk berjabat tangan. yaitu ban Tok-hoan-taya. Ma Giok melihat telapakan tangannya.‖ Ma Giok dan Khu Cie Kee heran. ―Nama kami kosong belaka. terus ia menggentak ke samping seraya berseru: ―Lepas!‖ Pheng Lian Houw pun ada seorang jago. Aku she Sam dan namaku Hek Miauw. ia tidak menduga bahwa orang lagi memancing padanya.Pendekar Pemanah Rajawali Cin Kauw sangat kesohor. Ketika Ma Giok insyaf ia telah dicurangi dan hendak ia menyerang. berbareng ia menarik keluar senjata rahasianya. ia berkata: ―Totiang berdua tidak mencela kami. Imam ini menyambuti poan-koan-pit. jarum yang telah dipakaikan racun yang keras seklai. Nama itu berarti Tiga Kucing Hitam. cuma untuk ditertawakan tuan-tuan. baiklah!‖ Ia tersenyum. Orang toh lihay…. Khu Cie Kee heran melihat saudaranya berjabat tangan tapi sudah lantas menyerang. Ia tidak tahu. untuk menerjang.

Ia mesti melawan musuh di luar dan di dalam tubuhnya. ―Inilah beberapa cianpwee Rimba Persilatan yang diundang ayahku. selang beberapa puluh jurus. sudah delapan tahun belum pernah ia menemui tandingan. yang ia arah punggungnya. yang goloknya lihat. ―Percuma kau mengantarkan jiwa…. Auwyang Kongcu sudah menendang patah tombak orang dengan kaki kirinya dan kaki kanannya mendupak roboh orang she Yo itu. ia maju menyerang Auwyang Kongcu. jalan darahnya makin cepat. Dikepung bertiga. ia girang. yang pun sudah tidak berkelahi lagi. akan aku ikuti dia!‖ 260 Wanyen Kang dan Wanyen Lieh menjadi heran. sedang dengan tangan kirinya melindungi diri. akhirnya kita dapat cari kau!‖ Tapi pauw Sek Yok berkata dengan keras: ―Untuk menghendaki aku kembali ke istana. segera ia menghampirkan. yang menduga kepada racun biasa. semenjak menempur Kanglam Cit Koay.‖ katanya kemudian. Karena hatinya berkhawatir. Justru itu sebatang golok menyambar kepadanya. Khu Cie Kee tidak jatuh di bawah angin. penyerangnya itu satu nona dengan baju merah. untuk memberi hormat. Ma Giok terancam bahaya. Lantas ia berpaling kepada Pheng Lian Houw. Ia terkejut akan melihat tangan kanan kakaknya itu menjadi hitam terus sampai di lengan. segera ia menjatuhkan diri untuk duduk bersemadhi. ―Saudara Yo. yang perlahanlahan mulai turun. rasannya kaku dan gatal.‖ ―Hm!‖ bersuara imam itu. akan perdengarkan suaranya yang keren: ―Keluarkan obat pemunahnya!‖ Pheng Lian Houw bersangsi. meski ia pergi ke ujung langit dan pangkal laut. dari kejauhan terdengar lari mendatanginya beberapa ekor kuda akan kemudian ternyata. Khu Cie Kee heran melihat kelakuan kakaknya itu. Ma Giok sendiri mengempos terus semangatnya. Yo Tiat Sim tahu ilmu silatnya tidak berarti. guna mencegah ransakan racun. ―Ha. ia kena terdesak. ―Apa?!‖ kata mereka. yang seperti dari embun-embuannya terlihat mengepul hawa seperti uap. Itulah tanda bekerjanya racun dahsyat. . Adalah di itu waktu. Nio Cu Ong menyerang terus dengan senjatanya yang merupakan gunting panjang dan See Thong Thian dengan pengagayuh besinya. mari teecu mengajar kenal. Syukur ia keburu berkelit. Makin ia bergerak. Wanyen Kang segera menghampirkan gurunya. Wanyen Kang heran menampak gurunya dikepung. ia berhasil mencegah menjalarnya racun itu. Wanyen Lieh melihat istrinya duduk di tengah. ia melihat orang segera sampai pada ajalnya. ketiga musuhnya mendesak keras padanya. Tangan Ma Giok menjadi bengkak dan hitam. ia kata nyaring: ―Suamiku masih belum mati. yang datang itu adalah Wanyen Lieh bersama Wanyen Kang. barulah Pheng Lian Houw semua berlompat mundur. Karena ini. jangan maju!‖ mencegah Khu Cie Kee. ia lantas berteriak: ―Semua berhenti! Tuan-tuan berhenti!‖ Pangeran ini mesti berteriak beberapa kali. Inilah tidak disangka imam itu. Ia ingat. ia bersilat dengan sungguh-sungguh. akan tetapi melihat kedua imam itu terancam bahaya. Hendak ia menolongi tetapi ia tidak sanggup. Karena menginsyafi bahaya. ia berkata: ―Ma.Pendekar Pemanah Rajawali Khu Cie Kee heran kenapa mendadak berkumpul orang-orang tangguh ini. tidak demikian dengan ka