Pendekar Pemanah Rajawali

"Pendekar Pemanah Rajawali"
~ Sia Tiauw Eng Hiong ~ Oleh : JIN YONG Pengantar Di luar gunung ada lagi gunung hijau, di luar lauwteng ada pula lauwteng lainnya, Nyanyian-nyanyian dan tari-tarian di Telaga Barat, hingga kapankah itu akan berhenti? Penghidupan mewah di Selatan telah membuat mabuk kepada pelancong-pelancong tetamu, Hingga kota Hangciu dianggapnya sebagai kota Pianciu! Syair di atas adalah lukisan dari peristiwa pada delapan ratus tahun yang lampau. Ketika itu kerajaan Song telah menjadi sedemikian lemahnya hingga kedua kaisar Hwie Cong dan Kim Cong sudah kena ditawan bangsa Kim (Kin), karena mana itu pangeran Kong Ong lalu menyeberang ke Selatan, menerima tahta kerajaan di kota Liman, menjadi Kaisar Kho Cong. Dalam waktu sesulit itu, selagi musuh mengancam di tapal batas, setelah separuh dari negara berada di dalam tangan musuh itu, sudah selayaknya satu kaisar bangkit bangun untuk membuat perlawanan, akan tetapi tidak demikian dengan Kaisar kho cong ini. Dia justru jeri terhadap bangsa Kim itu yang dipandangnya sebagai harimau saja, berbareng dengan itu dia pun khawatir kalau kedua Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong nanti kembali dari tawanan hingga dia tak dapat terus bercokol di atas singasana naga. Maka dengan itu menurut perkataannya dorna Cin Kwee4, dia titahkan membunuh Jenderal Gak Hui, pendekar yang menentang musuh Kim itu, sesudah mana itu dengan merendahkan martabat sendiri ia mengajukan permohonan damai dengan bangsa Kim. Inilah pengharapan bangsa Kim yang disaat itu tengah gelisah sebab telah berulangkali mereka memperoleh labrakan dari Jenderal Gak Hui, hingga semangatnya terpukul hebat, sementara di wilayah Utara mereka terancam pemberontakan tentera rakyat sukarela. Begitu di dalam bulan pertama tahun kerajaan Ciauw-hin ke12 (1138 masehi) perdamaian telah ditandatangani dengan syarat tapal batas kedua negara Song dan Kim adalah aliran tengah dari sungai Hoay-sui. Perdamaian itu namanya saja perdamaian, kenyataannya adalah penaklukan dari Kaisar Kho Cong itu (yang bernama Tio Kouw adalah putra ke-9 dari Kaisar Hwie Cong). Sebab di dalam suratnya, Kho Cong menyatakan dan mengaku sudah terima budi kebaikan dari raja Kim, karena mana turun temurun ia akan menjadi ―menteri yang setia‖ serta berjanji setiap hari lahirnya, ―Kaisar‖ demikian ia menyebut raja Kim itu – begitu juga setiap tahun, ia akan kirim utusan guna memberi selamat sambil menghanturkan upeti uang perak duapuluh lima laksa tail dan cita duapuluh lima laksa balok. Demikian macam martabatnya seorang Kaisar, ia sungguh memalukan, maka ketika tentera dan rakyat negeri mengetahui hal itu, semuanya menjadi murka dan berbareng berduka. Lebih bersedih adalah rakyat di wilayah utara sungai Hoay-sui itu, karena mereka menjadi tidak mempunyai harapan lagi akan bangunnya negara. Dipihak lain, Kho Cong menganggap itu adalah jasa besar dari dorna Cin Kwee, maka juga dorna yang sudah tinggi pangkatnya, yaitu Siaupo Copoksia merangkap Kie-bit-su gelar Pangeran Louw-kokong, dinaiki pula menjadi Taysu, hingga kedudukannya telah mencapai puncaknya kebesaran suatu menteri! Semenjak itu bangsa Kim menduduki separuh dari wilayah Tiongkok. Walaupun demikian pemerintahan di Hangciu malah bertambah buruk, raja dan menteri-menterinya, setiap hari berpelesiran saja, berpesta pora, tidak memikirkan lagi kepentingan negara, sedang beberapa menteri atau perwira yang setia, umumnya kalah pengaruh dan tidak berdaya, hingga mereka pada menutup mata karena mereras. Demikan syair di atas, gambaran dari kaisar yang lemah dan buruk tapi pecandu pelisir! ------------------------------1) Telaga Barat – See Ouw (Si Hu) 2) Piancu – Kaifeng (Kayhong), ibukota propinsi Honan. Bekas kotaraja. 3) Lim-an – Hangciu (Hangchow), ibukota Chekiang, inilah yang dimaksud dengan Selatan (Kanglam) 4) Dorna Cin Kwee – Di Hangciu telah dibuat patungnya sebagai tanda peringatan dari khianatnya terhadap negara dan ada satu waktu yang patungnya itu telah diperhina dengan ludah maupun kotoran manusia. Bab 1. Pertempuran di Tanah Bersalju

Irawan D Soedradjat

Page

Beberapa tahun telah berselang, Kaisar Kho Cong itu digantikan oleh Kaisar Hauw Cong. Kaisar Hauw Cong digantikan Kaisar Kong Cong, lalu Kaisar Leng Cong. Pada tahun Keng-goan ke-5 dari Kaisar ini, selagi musim

1

Pendekar Pemanah Rajawali

dingin, telah turun hujan salju lebat selama dua hari berturut-turut, hingga Hangciu, ibukota Kerajaan Song itu seperti bermandikan air perak, bercahaya berkilau, indah dipandang. Dan diwaktu begitu, Kaisar dan menterimenterinya dengan duduk mengelilingi perapian, bersenang-senang menenggak air kata-kata...... *** Di luar kota Hangciu, di sebelah timurnya, di dusun Gu-kee-cun, dua orang gagah pun tengah minum arak putih sambil duduk berhadapan, oleh karena mereka adalah bagaikan saudara sejati. Dari mereka itu, yang satu bernama Kwee Siauw Thian, yang lainnya Yo Tiat Sim, kedua-duanya adalah turunan orang-orang kenamaan. Siauw Thian itu adalah turunan dari Say-Jin-Kui Kwee Seng, itu adalah salah satu jago dari seratus delapan orang kosen dari gunung Liang San yang kesohor dengan ilmu silat tombaknya, hanya setelah tiba pada dia ini, tombak yang panjang itu diganti dengan sepasang tombak pendek dan bergaetan (siangkek). Sementara Yo Tiat Sim itu adalah turunan dari Panglima Yo Cay Hin, salah seorang bawahan Jenderal Gak Hui dan ilmu tombaknya adalah warisan leluhurnya. Mulanya kedua orang ini bertemu dalam pengembaraan, setelah merasa cocok, maka mereka mengangkat saudara, kemudian bersama-sama mereka pindah dan tinggal di dusun ini. Kebiasaan mereka adalah duduk berkumpul, pasang omong dan menyakinkan ilmu silat. Demikian juga pada hari itu, selagi salju turun, mereka duduk minum arak dan berbicara dengan asyiknya, tempo mereka omong hal nasibnya negera, keduanya menjadi berduka dan berdongkol, tiba-tiba saja Tiat Sim mengeprak meja dengan kerasnya. Justru saat itu ada seorang keluar dari ruang dalam, apabila gorden tersingkap, terlihatlah seorang wanita yang cantik sekali, tangannya memegang nenampan di atas mana ada terdapat masakan daging sapi serta ayam. ―Hai, urusan apa lagi yang membuat kamu berdua saudara marah?‖ tanya wanita itu sambil tertawa. ―Kami tengah membicarakan urusan yang gila-gila dari negara!‖ sahut Siauw Thian. ―Enso, mari kau pun minum satu cawan!‖ Wanita itu adalah Pauw-sie, istri dari Yo Tiat Sim. Di Lam-an ini, dia adalah merupakan wanita tercantik dan halus budi pekertinya, hingga ia tepat dengan romannya. Siapa yang melihat dia, pasti kagumlah hatinya. Dengan Tiat Sim, belum lama ia menikah, tetapi dia itu orangnya luwes dan dapat dengan gampang bergaul dengan kaum pria-dalam halnya dengan Siauw Thian, iparnya itu. Begitulah, setelah ia meletakkan barang makanan-nya, ia mengambil cawan dan mengisinya, sesudah itu mengambil kursi dan meminum araknya itu. ―Kemarin selagi aku berada di dalam warung teh di Tong Lam di ujung jembatan Cong An Kio, aku mendengar orang membicarakan halnya Han To Cu si perdana menteri keparat itu!‖ Tiat Sim menyahuti pertanyaan istrinya tadi. ―Rapi pembicaraan itu, hingga aku percaya itu bukanlah omong kosong belaka. Orang itu bilang, pembesar siapa juga, jikalau dia hendak mengajukan laporan, apabila di ujung sampulnya tidak disertai keterangan dia menghadiahkan sesuatu, pasti perdana keparat itu tidak akan memeriksanya!‖ Siauw Thian menghela napas. ―Ada rajanya, ada menterinya‖ katanya masgul. ―Ada menterinya, ada pembesarpembesar bawahannya.Lihat saja Tio Tayjin, residen dari kota Lim-an kita ini. Hari itu Han To Cu pesiar di luar kota dengan diiringi banyak pembesar. Kebetulan aku lagi mencari kayu di dekat situ. Tentu saja aku tidak ambil mumat padanya itu. Lalu aku mendengar dia menghela napas dan berkata seorang diri: ‗Di sini rumahrumah berpagar bambu dan beratap, sungguh suatu desa yang indah menarik hati, hanya sayang sekali, disini tidak terdengar suara ayam berkokok dan anjing menggonggong…‘ Belum lagi dia menutup mulutnya lalu terdengar gongongan anjing dari dalam semak-semak!‖ Pauw-sie bertepuk tangan sambil tertawa. ―Sungguh anjing yang tahu diri!‖ katanya. ―Memang anjing yang sangat tahu diri!‖ sahut Siauw Thian. ―Setelah menggonggong, dia muncul dari semaksemak itu! Enso tahu, anjing apakah itu? Dialah Tio Tayjin, residen kita!‖ Pauw-sie menjadi tertawa terpingkal-pingkal. Tiat Sim dan Siauw Thian pun tertawa. Mereka minum terus hingga terlihat salju turun makin lebat. ―Nanti aku undang enso minum bersama,!‖ kata Pauw-sie kemudian. ―Tidak usah,‖ Siauw Thian mencegah. ―Selama beberapa hari ini, dia merasa kurang sehat….‖

Irawan D Soedradjat

Page

Pauw-sie terkejut, ―Ah, mengapa aku tidak tahu!‖ katanya. ―Nanti aku tengok!‖

2

Pendekar Pemanah Rajawali

Siauw Thian tidak bilang apa-apa lagi, dia malah tersenyum. Menampak hal itu, legalah hati Tiat Sim. Itu artinya nyonya Kwee tidak berat sakitnya. Tak lama, nyonya Yo kembali sambil tersenyum-senyum. Ia isikan satu cawan, lalu mengansurkan cawan itu kepada suaminya. ―Lekas minum sampai habis!‖ katanya. ―Inilah tanda hormat kepada Toako!‖ ―Eh, apakah artinya ini?‖ tanya Tiat Sim tidak mengerti. ―Minum, lekas minum!‖ desak Pauw-sie. ―Habis minum nanti baru aku beri keterangan!‖ katanya kemudian. Tiat Sim lalu meminum kering cawan itu. ―Nah, Toako, kau biacaralah sendiri!‖ kata Pauw-sie sambil tertawa kepada Siauw Thian. Orang she Kwee itu tersenyum dan berkata, ―Selama sebulan ini dia senantiasa mengeluh pinggangnya pegal dan sakit. Baru kemarin dia pergi ke Thio Ie-seng di dalam kota, kata tabib itu dia sudah mengandung selama tiga bulan….‖ Tiat Sim menjadi girang sekali. ―Kiong hie, Toako!‖ katanya sambil memberi selamat. Lalu ketiganya meneguk arak mereka, masing-masing tiga cawan. Tentu saja dengan meminum sebanyaknya itu, sedikitnya arak itu telah mempengaruhi mereka. Pada saat itu di arah timur kelihatan satu tosu atau imam sedang mendatangi. Dia memakai tudung bambu dan tubuhnya di tutupi dengan baju rumput, yang seluruhnya penuh dengan salju. Ia bertindak dengan tegap dan cepat. Segera tertampak di punggungnya ada tergantung sebatang pedang, yang roncenya kuning dan memain di antara tiupan angin yang keras. ―Adik, imam ini pasti mengerti ilmu silat,‖ Siauw Thian bilang. ―Entah dari mana dia datang. Coba kita dapat berkenalan dengannya. Sayang kita belum tahu namanya………..‖ ―Benar,‖ sahut Tiat Sim. ―Baik kita undang dia minum untuk ikat persahabatan……‖ Keduanya segera berbangkit dan pergi keluar. Ketika itu karena cepat jalannya, si imam sudah lewat beberapa puluh tombak. Siauw Thian dan Tiat Sim saling melihat dengan herannya. ―Totiang, tunggu sebentar!‖ Tiat Sim segera memanggil. Cepat sekali si imam memutar tubuh dan mengangguk. ―Salju turun dengan lebatnya dan hawa pun sangat dingin,‖ kata Tiat Sim pula, ―Sudilah Totiang mampir untuk minum beberapa cawan guna melawan hawa dingin.‖ Iman itu menyahuti dengan tertawa dingin, lalu ia bertindak menghampir – cepat sekali tindakannya. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua sangat terperanjat dan heran guna menyaksikan muka orang yang berwajah sangat dingin sekali. ―Kamu pandai bergaul, eh!‖ katanya tawar Tiat Sim masih muda dan dia tidak senang dengan sikap orang. ―Dengan baik hati aku mengundang kau minum, kenapa kau begini tidak tahu aturan?‖ pikirnya. Maka ia menjadi diam saja. Siauw Thian sebaliknya lantas memberi hormat. ―Totiang, harap anda tidak marah dengan sikap saudaraku ini. ―Kami sedang minum arak, melihat Totiang melawan salju, dia besarkan nyali untuk mengundang Totiang minum bersama….‖ Imam itu memutar matanya. ―Baik,baik!‖ katanya. ―Minum arak ya minum arak!‖ Dan dengan tindakan lebar ia menuju ke dalam.

Irawan D Soedradjat

Page

3

Pendekar Pemanah Rajawali

Tiat Sim merasa dongkol, ia ulurkan tangannya hendak mencekal tangan kiri si imam untuk ditarik ke samping. ―Aku belum belajar kenal dengan Totiang!‖ katanya. Tapi tiba-tiba ia merasa kaget. Ia merasai tangan orang sangat licin. Ketika ia berniat menarik pulang tangannya, tahu-tahu tangan itu bagaikan terjepit dengan keras, rasanya sakit dan panas. Ia kerahkan tenaganya untuk melawan. Justru dengan berbuat demikian ia merasakan tangannya hilang tenaga dan sakit sekali, rasa sakitnya sampai ke ulu hati. Siauw Thian tampak wajah saudaranya merah dan pucat, ia tahu saudaranya ini tentu telah ―ketemu batunya‖. Ia mengerti gelagat yang kurang baik itu dan sangsi turun tangan untuk membantu. ―Totiang, mari silakan duduk di sini!‖ ia mengundang. Dua kali si imam kasih dengar tertawanya yang dingin itu, baru ia lepaskan cekalannya atas tangan Tiat Sim. Hal ini membuat orang she Yo itu mendongkol dan heran, ia terus masuk ke dalam, akan diberitahukannya istrinya tentang imam itu. ―Dia sangat aneh, pergi temani dulu,‖ kata Pauw-sie. ―Jangan turun tangan, perlahan-lahan saja kita cari tahu tentang dirinya…‖ Tiat Sim menuruti perkataan istrinya itu. Pauw-sie segera menyiapkan arak dan barang hidangan dan menyuruh Tiat Sim membawa keluar. ―Tunggu sebentar!‖ memanggil sang istri. Tiat Sim pun memutar kembali. Pauw-sie menurunkan sebuah pisau belati yang tajam mengkilap, yang tergantung pada tembok, ia memasukkan belati itu ke dalam saku suaminya. Tiat Sim pun kemudian keluar membawa barang hidangan itu dan mengaturnya di meja. Ia menuangkan tiga cawan, terus ia mengundang tamunya untuk minum. Ia juga meneguk satu cawan, habis minum ia berdiam saja. Imam itu memandang keluar jendela dan mengawasi salju. Ia tidak meminum araknya dan ia pun tidak membuka mulutnya melainkan hanya tertawa dingin saja. Siauw Thian menduga si imam tentu curigai araknya, ia mengambil cawan arak di hadapan imam itu, terus ia cegluk di hadapan imam itu. Ia menyambuti, terus diminumnya. ―Arakmu telah dingin Totiang, nanti aku tukar dengan yang baru,‖ katanya. Dan ia mengisikan pula. Si imam dapat mencium bau harum dari arak itu, ia menyambuti dan terus diminumnya. ―Walaupun arak ini di campuri dengan obat pulas, tidak nanti aku kena diracuni!‖ katanya. Tiat Sim menjadi hilang sabar. ―Kita undang kau minum dengan maksud baik, mustahil kami hendak mencelakai kau!‖ tegurnya. ―Totiang, kau omong tidak karuan, silakan lekas keluar! Arak kita tidak bakalan menjadi rusak dan sayur kita tak nanti tak ada yang memakannya!‖ ―Hm!‖ bersuara si imam itu. Tak lebih. Ia jemput poci arak dan menuang arak itu sendiri, lalu ia tenggak habis tiga cawan. Habis itu dia buka baju luarnya dan letaki tudungnya. Sekarang baru Tiat Sim dan Siauw Thian dapat melihat dengan tegas wajah orang. Mereka menduga si imam baru berumur tiga puluh tahun lebih, sepasang alisnya panjang lancip, kulit mukanya merah segar, mukanya lebar dan kupingnya besar. Ia bukan sembarang imam. Ketika ia kasih turun kantung di punggungnya, ia terus lempar barang itu ke atas meja hingga terbitlah suatu suara yang keras, hingga kedua tuan rumah itu menjadi kaget sekali. Sebab yang menerbitkan suara nyaring itu yang menggelinding keluar dari dalam kantung itu adalah kepala manusia yang masih berlumuran darah, hingga tak nampak jelas raut mukanya. Tiat Sim meraba pisau belati dalam kantungnya. Si imam menukik pula kantungnya, kali ini dikeluarkannya dua potong daging yang penuh darah juga, karena itu adalah hati dan jantung manusia. ―Jahanam!‖ teriak Tiat Sim yang sudah tak tahan sabar lagi, sedang tangannya melayang ke dada si imam.

Irawan D Soedradjat

Page

4

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kebetulan, aku memang menghendaki barang ini!‖ seru si imam sambil tertawa. Ia tidak menghiraukan tikaman itu, hanya ketika si orang she Yo itu datang mendekat, ia menggempur dengan tangan kirinya, hingga seketika juga Tiat Sim merasa bahunya tergetar, lalu tiba-tiba saja pisau belatinya kena dirampas orang! Siauw Thian kaget bukan kepalang. Ia tahu lihaynya adik angkatnya itu, yang cuma kalah sedikit dengannya. Tidak disangka, demikian gampang imam ini merampas senjata orang. Itulah ilmu silat ―Khong-ciu toat pek-jin‖ atau ―Tangan kosong merampas senjata tajam‖ yang lihay, yang baru pernah ia saksikan. Meskipun ia kaget, ia toh segera bersiap dengan memegang bangku, guna membela diri umpama kata si imam terus menyerang. Akan tetapi dugaannya ini salah adanya. Imam itu tidak menyerang siapa juga, ia hanya lantas gunai pisau itu untuk memotong-motong hati dan jantung manusia itu, lalu dengan tangan kiri mencekal poci arak, dengan tangan kanan ia jumputi potongan daging satu demi satu, untuk dimasukkan ke dalam mulutnya, buat dikuyah dan ditelan, saban-saban dia selang itu dengan tenggakan arak pada pocinya. Cepat daharnya, sebentar lagi habis sudah makanan yang rupanya sangat lezat itu! Siauw Thian dan Tiat Sim berdua saling mengawasi dengan tercengang. Sungguh aneh imam ini. Akan tetapi itu masih belum semua. Habis dahar, imam itu berdongak, lalu ia bersiul nyaring sekali, umpama kata genting sampai bergetar, kemudian tangan kanannya menyerang ke meja, hingga piring dan cawan berlompat! Yang hebat adalah sasaran serangan itu, ialah kepala manusia itu, yang remuk seketika! Sedang ujung meja turut sempal sedikit…….. Selagi dua saudara angkat itu berdiam, wajah si imam yang tadinya bermuram durja dan bengis, tiba-tiba berubah menjadi penuh dengan air mata, dengan air mata bercucuran ia lalu menangis dengan meraung-raung! ―Kiranya dia seorang yang edan…!‖ bisik Siauw Thian kepada adik angkatnya, yang ujung bajunya ia tarik. ―Dia lihay sekali, jangan kita ladeni dia….‖ Tiat Sim mengangguk, ia awasi imam itu. Sekarang tidak lagi ia gusur, sebaliknya ia merasa kasihan. Sedih tangisnya si imam ini, ilmu silat siapa sebaliknya ia kagumi. Maka kemudian ia lari ke dalam untuk mengambil semangkok kuwah yang masih panas. ―Totiang, mari minum kuwah ini!‖ katanya. Ia letaki mangkok itu di atas meja. Si imam bukan menerima kuwah iru, ia sebaliknya menggebrak meja hingga mangkok itu terbang berikut mejanya. Ia pun berseru :‖Kawanan tikus, hari ini toyamu membuka pantangan membunuh!‖ Menampak itu, meluaplah amarah Tiat Sim, maka ia melompat ke ujung ruang untuk menyambar tombaknya, lalu ia terus lari keluar, ke depan pintu dimana salju terhampar luas. ―Mari, mari!‖ ia menantang. ―Mari belajar kenal dengan tombak keluarga Yo!‖ Imam itu tersenyum. ―Tikus, pantaskah kau menggunai ilmu silat tombak keluarga Yo?‖ tanyanya. Ia bersuara sambil tubuhnya melompat keluar. Melihat keadaan mengancam itu, Siauw Thian lari untuk mengambil sepasang gaetannya, dengan lekas ia berbalik kembali. Imam berdiri tanpa menghunus pedangnya, Cuma sang angin menyampok-nyampok ujung bajunya. ―Hunus pedangmu!‖ seru Tiat Sim. ―Ah, dua tikus, kamu berdua majulah berbareng!‖ sahut si imam. ―Toya kamu akan layani kamu dengan tangan kosong!‖ Takabur bukan main orang pertapaan ini, hingga Tiat Sim tidak berayal sejenak juga untuk segera menikam dengan tombaknya yang beronce merah itu. Ia gunai tipu silatnya ―Tok liong cut tong‖ atau ―Naga berbisa keluar dari gua‖ ―Bagus!‖ seru si imam kagm menampak serangan itu yang menuju ke dadanya. Ia berkelit ke samping, tangan kirinya bergerak, untuk sambar kepala tombak itu. Lihay ilmu silat tombak keluarga Yo itu – Yo-kee Chio-hoat. Ketika Yo Cay Hin bersama tigaratus serdadunya – tentara kerajaan Song menghadapi empat laksa serdadu Kim, seorang diri ia telah membinasakan dua ribu lebih serdadu musuh berikut banyak perwiranya, sebelum akhirnya ia roboh karena terkena banyak panah, waktu ia binasa dan bangsa Kim membakar tubuhnya, dari dalam tubuhnya itu kedapatan banyak ujung panah,
Irawan D Soedradjat

Page

5

Pendekar Pemanah Rajawali

sebab selagi ia terpanah, gagang panah ia patahkan. Karena ini bangsa Kim menjadi jeri dan mengaguminya. Tiat Sim tidak segagah leluhurnya itu tetapi ilmu silatnya cukup sempurna, begitulah ia mencoba mendesak si imam tidak di kenal itu yang senantiasa lolos dari tikaman, tempo habis sudah dijalankan semua tujuh puluh dua jurus ilmu tombak itu, dia tidak kurang sesuatu apa. Baru sekarang si anak muda menjadi gentar, terpaksa ia seret tombaknya untuk keluar dari kalangan. Imam itu mengejar apabila ia dapatkan lawannya itu lari. Sekonyong-konyong Tiat Sim berseru keras, tubuhnya berputar balik, berbareng dengan itu, dengan kedua tangannya memegangi gagang tombak, ia menikam dengan hebat sekali. Itulah tipu silat ―Cwie-pek po-kian‖ atau ―menggempur tembok‖. Dengan tipu itu, musuh dibikin tidak menyangka dan menjadi kaget. Dengan tipu ini juga dulu Yo Cay Hin membikin rubuh Gak Hoan, adiknya Gak Hui. ―Bagus!‖ seru si imam buat kedua kalinya. Ia tidak menjadi gugup, justru ketika ujung tombak sampai, ia menyambutnya dengan kedua telapak tangan dirangkap, ditempel menjadi satu dengan keras, hingga ujung tombak itu kena terjepit. Tiat Sim kaget bukan kepalang. Ia mendorong dengan keras, tombaknya itu tak dapat maju melewati telapak tangan lawan. Ketika ia menarik dengan sekuat tenaga, betotannya pun sia-sia belaka, tombaknya tak terlepas dari cekalan lawannya itu, kuda-kuda si imam juga nancap bagaikan terpaku. Tiga kali ia mencoba menarik tanpa hasil, mukanya menjadi merah. Tiba-tiba saja si imam tertawa, lalu jepitan tangannya terlepas. Tapi ia tidak Cuma melepas, tempo tombak tertarik pulang, ia membacok dengan tangan kanannya kepada tombak, hingga dengan bersuara nyaring, tombak besi itu patah menjadi dua potong! Imam itu segera tertawa pula, lalu ia berkata. Kali ini dengan suara manis. ―Tuan, benar lihay ilmu silat tombakmu!‖ katanya. ―Maaf untuk perbuatanku ini! Mohon ku tanya she tuan‖ ―Aku yang rendah she Yo bernama Tiat Sim,‖ sahut Tiat Sim, selagi ia belum dapat tenangkan diri. Ia kesakitan pada kedua tangannya, ia pun heran sekali. ―Pernah apakah Tuan dengan Ciangkun Yo Cay Hin?‖ tanya si imam. ―Ia adalah leluhur saya,‖ jawab Tiat Sim pula. Mandadak si imam itu menjura kepada saudara angkat itu, sikapnya hormat sekali. ―Maaf, barusan aku menyangka Tuan-tuan adalah orang jahat,‖ ia berkata dengan pengakuannya. ―Aku tidak sangka Tuan-tuan adalah turunan orang-orang setia. Boleh kutanya she Tuan?‖ ia lanjuti kepada Siauw Thian. Dengan cara hormat Siauw Thian perkenalkan dirinya. ―Tuan ini kakak angkatku, dia adalah keturunan dari Say Jin Kui Kwee Seng dari gunung Liang San,‖ Tiat Sim menambahkan. ―Bagus!‖ berkata si imam, ia pun minta maaf pada pemuda she Kwee itu. Kembali ia menjura. Tiat Sim berdua membalas hormatnya. ―Silahkan Totiang minum arak pula,‖ ia mengundang pula kemudian. ―Memang kuingin minum dengan puas bersama jiwi!‖ kata si imam denagn tertawa. Tiat Sim dan Siauw Thian undang orang masuk pula ke dalam. Pauw-sie menyaksikan pertempuran dari muka pintu, girang ia mengetahui kesudahannya orang menjadi sahabat, ia terus lari ke dalam, untuk menyiapkan pula arak dan barang hidangan. Kali ini Tiat Sim dan Siauw Thian tanya gelaran si imam.

Siauw Thian terperanjat mendengar nama itu. ―Oh, apa bukannya Tiang Cun Cinjin?‖ ia menyela.
Irawan D Soedradjat

Page

6

―Pinto she Khu bernama Cie Kee,‖ sahut imam itu.

Pendekar Pemanah Rajawali

―Itulah nama pemberian rekan-rekanku, pinto malu menerimanya,‖ kata Cie Kee sambil tertawa. Siauw Thian segera berkata kepada adik angkatnya: ―Adik, totiang ini adalah orang gagah nomor satu di ini jaman! Sungguh beruntung kita dapat berjumpa dengannya!‖ ―Oh!‖ Tiat Sim berseru kaget. Lalu berdua, mereka berlutut di depan imam itu. Khu Cie Kee tertawa, ia memimpin bangun orang. ―Hari ini pinto telah membunuh seorang jahat, karenanya para pembesar negeri sedang mencari aku,‖ ia berkata. ―Barusan pinto lewat di sini, pinto lihat kamu berdua lagi minum arak. Di sini adalah kota raja dan kamu kelihatannya bukan sembarang orang, dari itu pinto menjadi curiga sendiri….‖ ―Keliru adalah saudaraku ini, yang tabiatnya keras,‖ Siauw Thian bilang. ―Totiang lihat sendiri, dia suruh lantas turun tangan, pantas kalau Totiang jadi curiga karenanya.‖ Siauw Thian dan Tiat Sim tertawa. Begitulah mereka lalu minum dan dahar dengan gembiranya. ―Sebenarnya pinto adalah orang utara,‖ kemudian Tian Cun Cinjin berkata pula. ―Rumah tanggaku hancur lebur karena kejahatan bangsa Kim, sedang pemerintah selalu mencari muka daripadanya, dari itu pinto telah sucikan diri.‖ Ia terus tuding kepala manusia yang remuk dan yang tergeletak di lantai itu. ―Dia itu adalah Ong To Kian, si pengkhianat besar. Pada tahun yang lalu kaisar mengutus dia kepada raja Kim, buat memberi selamat ulang tahun raja itu. Ketika itu digunai ia untuk bersekongkol, supaya bangsa Kim bisa menyerbu ke Kanglam. Pinto susul dia selama sepuluh hari, baru ia dapat dicandak, lalu pinto membunuhnya. Pikiranku sedang kacau maka juga tadi pinto berlaku tidak selayaknya.‖ Siauw Thian dan Tiat Sim membilang tidak apa. Mereka memang kagumi imam ini yang kesohor lihay ilmu silatnya. Sekarang ternyata orangpun menyinta negara, mereka lebih-lebih lagi menghormatinya. Lalu mereka mohon pengajaran silat. Khu Cie Kee tidak keberatan, lalu ia memberi beberapa petunjuk. ―Totiang, sunggguh beruntung kami dapat bertemu dengan Totiang,‖ kemudian Tiat Sim utarakan isi hatinya, ―Maka itu sudilah Totiang berdiam untuk beberapa hari di gubuk kami ini.‖ Imam itu hendak menjawab tuan rumah itu, ketika mendadak air mukanya berubah. ―Ada orang datang mencari aku,‖ ia bilang, ―Ingat, tidak peduli bagaimana denganku, sebentar kamu tidak boleh munculkan diri! Mengerti?!‖ Siauw Thian dan Tiat Sim heran akan tetapi mereka lantas mengangguk. Cie Kee lantas sambar kepalanya Ong To Kian, dengan cepat ia bertindak keluar, lalu gesit bagaikan burung terbang ia loncat naik ke atas sebuah pohon besar di dalam pekarangan, di situ ia umpatkan dirinya. Siauw Thian berdua heran bukan buatan. Kecuali deruan angin, mereka tidak dengar suara lainnya, mereka pun tidak nampak apa-apa. Baharu kemudian, sesudah memasang kuping dan angin pun lewat, mereka dengar tindakan kaki kuda. ―Sungguh jeli kuping cinjin!‖ puji Tiat Sim Suara kuda itu datang semakin mendekat, dan kemudian tampaklah belasan penunggang kuda, setiap penunggangnya mengenakan pakaian hitam dan kopiah hitam. Mereka itu menghampiri pintu, setelah tiba, orang yang pertama pecahkan kesunyian: ―Sampai di sini bekas-bekas kakinya, lalu lenyap!‖ Beberapa orang lompat turun dari kudanya, mereka periksa tapak kakinya Khu Cie Kee. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua sembunyi di dalam rumah, dari mana mereka mengintai di antara sela-sela jendela. Mereka dapat kenyataan orang semuanya gesit, suatu tanda dia orang mengerti ilmu silat dengan baik. ―Masuki rumah itu dan geledah!‖ terdengar memerintah orang yang maju di muka itu. Dua orang segera lompat turun dari kuda mereka, untuk itu lantas hampiri rumahnya Tiat Sim untuk menggedornya. Justru itu dari atas pohon menyambar sebuah benda, yang jitu sekali mengenai batok kepalanya satu di antara dua orang itu, hingga dia ini rubuh dengan kepalanya pecah hancur. Hingga kawannya menjadi kaget dan berteriak, hingga yang lain-lainnya turut berteriak pula, lebih-lebih setelah diketahui, benda yang
Irawan D Soedradjat

Page

7

Pendekar Pemanah Rajawali

dipakai menimpuk itu adalah kepalanya ―Ong Tayjin‖. Dengan lantas itu mereka mengurung pohon dari mana serangan itu datang. Orang yang menjadi pemimpin menghunus goloknya yang panjang, untuk memegang pimpinan, atas perintahnya lima orang menggunai panah untuk menyerang ke arah atas pohon! Yo Tiat Sim sambar sebatang golok dari pojok rumahnya, hendak dia menerjang keluar untuk membantu si imam, akan tetapi Siauw Thian menariknya. ―Jangan!‖ katanya. ―Totiang telah pesan kita jangan keluar! Kalau ternyata dia tidak sanggup melawan, baru kita turun tangan…….‖ Selagi orang she Kwee ini berbicara, Khu Cie Kee sudah beraksi. Dia sambut empat batang anak panah itu lalu ia pakai itu untuk menimpuk ke bawah, tubuhnya sendiri turut lompat turun, hingga akibatnya dua musuh menjerit dan rubuh binasa kena tikaman pedang. ―Imam bangsat, kiranya kau!‖ berseru si pemimpin, yang bajunya hitam. Dia perdengarkan suaranya seraya tangkis anak panah yang ditimpukkan ke arahnya, kemudian ia keprak kudanya maju untuk menyerang untuk mana tiga batang panah di tangannya telah mendahului majunya itu. Belum Cie Kee menyerang ini pemimpin, dia telah rubuhkan lagi dua musuh, hingga sebentar saja ia telah minta lima korban. Tiat Sim kagum hingga ia tergugu. Dia telah belajar silat belasan tahun, tetapi sedikit juga ia tidak dapat tandingi imam itu, yang gesit dan lihay sekali. Maka ia merasa ngeri waktu ia ingat tadi ia telah berani lawan imam yang lihay itu. Sekarang Cie Kee tengah layani si pemimpin, yang bengis sekali, meski demikian selang sesaat, Siauw Thian dan Tiat Sim segera mengerti bahwa sang imam tengah mempermainkan orang, sebab di lain pihak, saban-saban imam ini gunai ketika akan rubuhkan lain orang – ialah orang-orang yang mengepungnya. Terang si imam lagi gunai siasat, guna menumpas semua penyerangnya itu. Kalau dia lekas-lekas rubuhkan si pemimpin, mungkin bawahannya nanti lari kabur semua. Selang tak lama, imam itu dikepung hanya tujuh orang, yang ilmu silatnya paling baik. Menampak ini, si pemimpin menjadi kecil hatinya, dari itu, dengan tiba-tiba ia keprak kudanya, buat dikasih berbalik untuk lari pergi. Sang imam ada sangat jeli matanya dan cepat gerakannya, selagi kuda berputar, ia menyambar dengan tangan kirinya, akan cekal ekornya kuda itu, untuk ditarik. Sembari menarik ia enjot tubuhnya, untuk melompat naik, tetapi belum lagi ia bercokol di atas kuda itu, pedangnya sudah menikam tembus punggung si pemimpin, tembus dari belakang ke depan, hingga tubuh orang itu rubuh ke depan. Demikian dengan menunggang kuda, sekarang si imam ini bisa serang lain-lain musuhnya. Ia tidak membutuhkan banyak waktu untuk membikin setiap kuda tanpa penumpangnya, sebaliknya mayat-mayat bergelimpangan di tanah bersalju itu, yang menjadi merah karena berlumuran darah mereka itu…. Seorang diri si imam tertawa. ―Puas aku dengan pertempuran ini!‖ katanya kepada Siauw Thian dan Tiat Sim, yang telah lantas muncul. Hanya hati mereka masih kebat-kebit. ―Totiang, siapakah mereka ini?‖ tanya Siauw Thian. ―Kau geledah saja tubuh mereka!‖ sahut si imam. Siauw Thian menghampiri mayatnya si pemimpin, untuk memeriksa sakunya. Ia dapatkan sepotong surat titah, dari Tio Tayjin si residen Lim-an yang bisa ―menggonggong‖ sebagai anjing itu. Itu juga adalah titah rahasia untuk membekuk pembunuhnya Ong To Kian, untuk mana si residen bekerja sama dengan pihak bangsa Kim, sebab ia telah di desak oleh utusan negara Kim. Mengetahui itu, orang she Kwee ini menjadi sangat mendingkol. Sedang begitu, Tiat Sim telah perdengarkan seruan seraya tangannya menyekal beberapa potong yauw-pay, yang dia dapatkan dari beberapa mayat. Yauwpay itu adalah tanda kedudukan atau pangkat beberapa mayat itu, karena huruf-huruf yang kedapatan adalah huruf bahasa Kim, menjadi nyata, di antara orang-orangnya residen Lim-an itu adalah orang bangsa Kim.

Irawan D Soedradjat

Page

―Celaka betul!‖ teriak Siauw Thian dalam murkanya. ―Tentara Kim main bunuh orang di wilayah kita, sekarang pembesar kita boleh disuruh-suruh dan diperintah olehnya. Negara kita ini menjadi negara apa?!‖

8

Pendekar Pemanah Rajawali

Khu Cie Kee sebaliknya tertawa. ―Sebenarnya orang suci sebagai aku mestinya berlaku murah hati dan berbelas kasihan,‖ katanya, ―Akan tetapi menyaksikan kebusukan segala pembesar dan orang-orang jahat, tak dapat aku memberi ampun pula!‖ ―Memang, memang mesti begitu!‖ seru dua saudara angkat she Kwee dan she Yo itu. ―Begini barulah puas!‖ Kemudian Tiat Sim ambil pacul dan sekop, untuk menggali laing, guna pendam belasan mayat itu. Didalam hal ini ia tidak kuatir ada orang yang melihat kejadian ini, sebab desa itu sedikit penduduknya dan itu waktu lagi turun salju dengan lebatnya, tak ada orang yang sudi berkeliaran di luaran. Habis itu nyonya rumah sapui sisa darah di atas salju. Nyonya ini rupanya tak dapat menahan bau bacin dari darah, ia rupanya bekerja keras, tiba-tiba saja ia rasai kepalanya pusing, matanya kabur, lalu ia rubuh. Tiat Sim terkejut, ia tubruk istrinya, untuk diangkat bangun. ―Kau kenapa?‖ tanya suaminya ini beberapa kali. Pauw-sie berdiam, kedua matanya tertutup rapat, mukanya pucat pias, kaki tangannya dingin seperti es. Tentu saja suaminya itu menjadi kaget dan berkhawatir. Cie Kee pegang nadi si nyonyi, lantas ia tertawa. ―Kionghie! Kionghie!‖ ia memberi selamat. ―Apa, Totiang?‖ tanya Tiat Sim heran. Justru itu Pauw-sie mennjerit, ia sadarkan diri. Mulanya ia heran di kerumuni tiga orang, habis itu ia likat, ia lari ke dalam. ―Istrimu lagi hamil!‖ kata Cie Kee kemudian. ―Benarkah itu, Totiang?‖ Tiat Sim tegaskan. ―Tidak salah!‖ si imam pastikan. ―Banyak ilmu yang pinto yakinkan, tiga yang memuaskan hatiku, ialah pertama ilmu tabib, kedua syair, dan ketiga ialah ilmu silat kucing kaki tiga ……‖ Dengan kata-kata ―kucing tiga kaki‖ atau tidak ada artinya, imam ini merendahkan diri. ―Totiang begini lihay tetapi totiang menyebutkan kepandaianmu sendiri sebagai kucing kaki tiga, kalau begitu kepandaian kami berdua pastilah kepastiannya si tikus berkaki tunggal!‖ katanya. Cie Kee tersenyum, begitu pula dengan Tiat Sim. Kemudian mereka bertiga masuk pula ke dalam untuk lanjuti minum arak. Dua saudara angkat itu sangat kagumi tetamu mereka, yang bertempur hebat tetapi tubuhnya tak berkeciprukan darah. Tiat Sim minum dengan gembira sekali. Ia ingat akan hamilnya istrinya. ―Kwee Toako,‖ katanya kemudian. ―Enso pun lagi berisi, maka aku pikir baiklah kita minta totiang yang memberi nama kepada anak-anak kita nanti!‖ Siauw Thian berikan kesetujuannya atas saran itu. Cie Kee pun tidak menampik, ia berpikir sebentar lantas ia bilang: ―Anak Kwee Toako baik diberi nama Ceng, yaitu Kwee Ceng, dan anak Yo Toako diberinama Kong, yaitu Yo Kong. Nama-nama ini dapat juga diberikan sekalianpun untuk anak perempuan.‖ ―Bagus!‖ seru Siauw Thian. ―Aku mengerti, totiang tentu tidak melupai peristiwa Ceng-kong yang memalukan, untuk memperingati ditawannya kedua raja kita.‖ ―Benar begitu!‖ sang imam mengakui. Terus ia merogoh sakunya, untuk kasih keluar dua potong pedang pendek, yang ia letaki di atas meja. Pedang itu sama panjang pendeknya dan besar kecilnya, sarungnya dari kulit hijau, gagangnya dari kayu hitam. Kemudian ia ambil pisaunya Tiat Sim, untuk dipakai mengukir gagang kedua pedang pendek itu. Ia mengukir masing-masing dua huruf ―Kwee Ceng‖ dan ―Yo Kong‖. Dua-duanya Siauw Thian dan Tiat Sim kagum menyaksikan kepandaiannya si imam mengukir huruf-huruf itu, cepat dan indah hurufnya.

Irawan D Soedradjat

Page

9

Pendekar Pemanah Rajawali

―Diwaktu berkelana seperti ini aku tidak punya barang apa-apa, pedang pendek ini saja aku berikan sebagai tanda mata untuk anak-anak kedua toako nanti!‖ kata si imam. Dua saudara angkat itu terima bingkisan itu, keduanya mengucapkan terima kasih. Tiat Sim mencoba menghunus pedangnya, ia menjadi kagum. Pedang itu berkilau dan memberikan hawa dingin. Demikian pun pedangnya Siauw Thian. Jadinya kedua pedang itu bukan sembarang pedang, meskipun badan pedang ada tipis sekali. Cie Kee pegang pedang yang satu, ia adu itu dengan pisau belatinya, dengan memberikan satu suara, ujungnya pisau belati itu putus menjadi dua potong. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua menjadi terkejut. ―Totiang, tak berani kami menerima hadiah ini!‖ kata mereka. Sebab kedua pedang itu adalah semacam pedang mustika. Tiang Cun Cinjin tertawa. ―Dua pedang ini pinto dapatkan secara kebetulan saja, walaupun benar untuk itu pinto mesti keluarkan sedikit tenaga,‖ ia berkata. ―Untukku, senjata ini tidak ada perlunya, sebaliknya adalah besar faedahnya apabila dibelakang hari anak-anak itu pakai untuk membela negeri, guna melabrak musuh!‖ Dua saudara angkat itu masih mencoba menampik hingga mereka membangkitkan amarahnya si imam itu. ―Aku anggap kamu adalah turunan orang-orang kenamaan, maka itu aku hargakan kamu, kenapa sekarang kamu begini tidak bersemangat?‖ ia menegur. Baharu sekarang Siauw Thian dan Tiat Sim tidak menolak lagi, mereka lantas menghanturkan terima kasih. Cie Kee berkata pula, dengan sungguh-sungguh: ―Kedua pedang ini adalah benda usia beberapa ratus tahun tua, setahu sudah berapa banyak orang terbunuh dan berapa banyak darah telah dihirupnya, maka mengertilah kamu, siapa saja yang mengerti ilmu silat melihat ini lantas matanya menjadi merah! Kamu pun mesti menginsafinya, seorang bocah yang ilmu silatnya tidak sempurna dengan menggunai pedang ini, dia Cuma dapat memperbahayakan dirinya sendiri, dari itu kamu mesti berhati-hati! Kamu ingatlah baik-baik!‖ Siauw Thian dan Tiat Sim berdua saling mengawasi, hati mereka tidak tentram. Khu Cie Kee tertawa panjang. ―Sepuluh tahun sejak ini, apabila pinto masih ada di dalam dunia ini, mesti pinto datang pula ke mari untuk ajarkan anak-anak itu ilmu silat,‖ ia berkata, ―Setujukah kamu?‖ Dua saudara angkat itu menjadi girang sekali. ―Terima kasih totiang, terima kasih!‖ mereka mengucap. ―Sekarang ini bangsa Kim sedang mengincar negara kita, terhadap rakyat dia sangat telengas,‖ berkata pula si imam, ―Karena mestinya tidak lama lagi bangsa itu turun tangan, dari itu pinto harap jiwi jaga diri baik-baik….‖ Dia angkat cawannya, untuk tenggat habis isinya, setelah itu dia buka pinti, untuk bertindak keluar. Siauw Thian berdua berniat meminta si imam berdiam lebih lama, siapa tahu tindakan orang cepat sekali, tahu-tahu imam itu sudah pergi jauh. ―Begitulah kelakuan orang berilmu, ia datang dan pergi tak ketentuannya,‖ kata Siauw Thian sambil menghela napas. ―Kita dapat bertemu dia tetapi sayang, kita tidak dapat meminta pengajaran daripadanya……..‖ Tiat Sim sebaliknya tertawa. ―Toako, hebat cara bertempurnya totiang hari ini!‖ ia bilang. ―Dengan menonton saja, sedikitnya terumbar juga hati pepat kit!‖ ia lantas buat main pedang yang satu, sampai ia lihat ukiran dua huruf Yo Kong. Lantas ia berkata ―Toako ada satu pikiran cepat dari aku, entah kau setuju atau tidak?‖ ―Apakah itu, Saudaraku?‖ Siauw Thian balik bertanya. ―Inilah mengenai anak-anak kita nanti,‖ Tiat Sim beri keterangan. ―Umpama anak kita laki-laki semua, biarlah mereka menjadi saudara satu dengan yang lain, apabila mereka adalah perempuan, biarlah mereka menjadi enci dan adik……….‖ ―Jikalau mereka adalah laki-laki dan perempuan, biarlah mereka menjadi suami-istri!‖ Siauw Thian menyela. Keduanya lantas menjabat tangan, mereka tertawa terbahak. Itulah janji mereka. Justru pada saat itu Pauw-sie muncul. ―Eh, kenapa kamu menjadi girang begini?‖ tanya si nyonya.
Irawan D Soedradjat

Page

10

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kami baru saja membuat janji,‖ sahut Tiat Sim, yang lantas tuturkan kecocokan mereka berdua. ―Cis!‖ si nyonya meludah. Tetapi di dalam hati, ia pun girang. ―Sekarang marilah kita saling tukar pedang dahulu,‖ Tiat Sim berkata pula. ―Ini adalah semacam tanda mata. Kalau mereka ada laki-laki atau perempuan, biarlah mereka jadi saudara satu dengan yang lain, kalau……..‖ ―Kalau begitu, kedua pedang ini akan berkumpul di rumah kakak!‖ Siauw Thian bilang. ―Mungkin akan berkumpul di rumahmu, Saudara!‖ kata Pauw-sie. Lantas mereka tukar kedua pedang itu. Sampai disitu, Siauw Thian pulang dengan membawa pedang itu, untuk memberitahukan kepada istrinya, Lie-sie. Tiat Sim ada gembira sekali, masih ia minum seorang diri, hingga ia mabuk. Pauw-sie pimpin suaminya ke kamar tidur, lalu ia benahkan piring mangkok dan cawan, habis mana melihat hari sudah mendekati sore, ia pergi ke belakang untuk kurungi ayamnya. Setibanya ia di pintu belakang, ia menjadi terkejut. Di situ, di atas salju, ia tampak tanda-tanda darah, yang melintas di luar pintu belakang itu. ―Kiranya di sini masih ada tanda darah yang belum dilenyapkan,‖ pikirnya heran. ―Kalau pembesar negeri melihat ini, inilah bahaya….‖ Maka ia cari sapu, lantas ia menyapu pula. Tanda darah itu menuju ke belakang rumah dimana ada pepohonan lebat. Di sini ia lihat tanda darah dari orang yang rupanya jalan merayap. Ia jadi bertambah heran, saking curiga, ia ikuti terus tanda darah itu, yang sampai di belakang sebuah kuburan tua. Di situ ia lihat suatu benda hitam yang tergeletak di tanah. Kapan ia sudah datang mendekat, ia kembali jadi terkejut. Itu adalah tubuhnya satu orang dengan pakaian serba hitam, ialh salah satu orang yang tadi mengepung Khu Cie Kee. Rupanya habis terluka, ia tidak terbinasa, ia lari ke belakang rumah. Selagi berpikir, Pauw-sie ingat untuk panggil suaminya, buat kubur orang itu. Ia belum bertindak tempo ia ingat, adalah berbahaya kalau ia tinggal pergi, sebab mungkin nanti diketemui lain orang yang kebetulan lewat di situ. Ia jadi beranikan diri, ia menghampiri orang itu dengan niat menyeret, guna dipindahkan ke dalam rujuk, setelah mana baru ia baru hendak panggil suaminya. Benar disaat ia cekal tubuh orang untuk ditarik, mendadakan tubuh itu bergerak, lau terdengar suara merintihnya. Ia menjadi sangat kaget, ia jadi berdiri bagaikan terpaku, sedang sebenarnya ingin ia lari pulang. Lewat sesaat, tubuh itu terdiam pula. Dengan beranikan hati, Pauw-sie pakai sesapu, untuk bentur tubuh orang. Maka sekali lagi ia dengar suara rintihan perlahan.

Bab 2. Berlalunya Dua Sahabat Kekal

Sekarang Pauw-sie dapat kenyataan orang belum mati dan pundaknya dia itu tertancapkan sebatang anak panah. Batang patah juga berbelepotan darah. Nyonya ini bernama Sek Yok, nama ini tepat sama sifatnya, yang selalu berhati murah. Nama itu pun berarti ―menyayangi yang lemah‖. Begitulah diwaktu masih kecil, kalau ia lihat burung gereja atau ayam terluka, atapun kutu seperti semut, tentu ia mengobatinya, sampai binatang itu sembuh, kalau tidak, ia buatnya berduka. Karena ini, dikamarnya ia rawat banyak kutu. Sifat ini tidak berubah sampai ia menikah, dari itu kebetulan untuknya Yo Tiat Sim, suaminya tidak menentangi padanya, maka juga di belakang rumahnya ia ada pelihara banyak burung dan binatang peliharaan lainnya. Suatu sifat lagi ialah Pauw-sie tidak tega menyembelih binatang piaraannya untuk suaminya dahar ayam, ia sengaja beli di pasar, ayamnya sendiri ia pelihara hingga matinya ayam itu. Demikian kali ini, menampak orang terluka parah timbul rasa kasihannya, walaupun ia tahu orang bukannya orang baik-baik. Cuma bersangsi sejenak, lantas ia lari pulang, niatnya untuk mengasih bangun suaminya. Tiat Sim lagi tidur nyenyak, mungkin disebabkan mabuk arak, ia tak mendusin kendati istrinya sudah gonyanggonyang tubuhnya.
Irawan D Soedradjat

Page

11

Pendekar Pemanah Rajawali

Pauw-sie menjadi sibuk. Ia tahu orang perlu lekas ditolongi. Akhirnya dengan terpaksa ia ambil obat-obatan suaminya, dengan bawa pisau kecil dan sepotong cita, juga arak yang hangat, ia kembali pada si luka. Biasa merawat binatang, ia jadi juga bisa merawat orang luka. Begitu setelah belek sedikit daging di dekat panah nancap, dengan sekeras tenaga, ia cabut anak panah itu. Si luka menjerit, lalu pingsan. Panahnya tercabut, darahnya muncrat mengenai bajunya si nyonya. Dengan hati memukul sendirinya, Pauw-sie lantas obati luka itu, ia bungkus dengan rapi. Selang sekian lama, si luka sadar pula, tapi ia sangat lemah, rintihannya pun sangat perlahan. Pauw-sie tidak kuat angkat tubuh orang, tetapi ia dapat akal, ia pulang untuk ambil sehelai papan pintu, ia letaki itu diatas salju, lalu ia tarik orang ke atas papan itu, lantas ia tarik sekuat-kuatnya. Ia tempatkan si luka di gudang kayu. Sampai ia telah salin pakaian, hati Pauw-sie masih belum tentram betul. Ia masak daging kuwah semangkok, lalu ia bawa ke belakang. Hari sudah gelap, ia bawa lilin. Sejak di depan pintu gudang, ia sudah dengar suara bernapas perlahan. Jadi orang itu tidak mati. Ia masuk ke dalam, ia berikan daging kuwah itu. Si luka makan sekira setengah mangkok, lalu ia batuk-batuk keras. Dengan bantuan api lilin, pauw-sie awasi muka orang. Ia dapatkan satu pemuda yang tampan, hidungnya mancung. Karena tangannya gemetar, tanpa ia merasa ia kena bikin tetesan lilin jatuh ke muka orang itu, yang lantas buka kedua matanya. Kaget ia akan lihat si nyonya cantik, sinar matanya jernih, kulitnya merah dadu. ―Apa yang kau rasakan baikan?‖ Pauw-sie toh menanya. ―Mari makan habis daging kuwah ini…..‖ Orang itu ulur tangannya, akan sambuti mangkok, tetapi ia lemah, hampir ia bikin mangkok itu terlepas. Maka terpaksa Pauw-sie bawa mangkok itu kemulutnya. Habis makan kuwah, nampaknya orang itu segaran. Dengan mata bersinar, ia awasi si nyonya, agaknya ia berterima kasih. Pauw-sie likat diawasi orang itu, maka lekas-lekas ia ambil rumput, akan tutupi tubuh orang itu, lalu dengan membawa lilinnya, ia balik ke kamarnya. Ia tidak dapat tidur tenang, diwaktu pulas, ia mimpi yang hebat-hebat, umpamanya suaminya tombak mati orang itu atau dua ekor harimau kejar padanya sampai ia tak tahu mesti lari ke mana. Beberapa kali ia mimpi, beberapa kali ia sadar, dengan hati tergoncang. Ketika akhirnya ia mendusin diwaktu pagi, ia dapatkan suaminya lagi gosok tombaknya. Ia ingat kejadian semalam, ia jadi kaget sendirinya. Diam-diam tapi dengan lekas, ia pergi ke belakang, ke gudang kayu. Selekasnya ia membuka pintu gudang, ia jadi terlebih kaget lagi. Di sana tak ada si luka, rumputnya teruwar kalang kabutan! Ia lantas pergi ke pintu belakang, ia lihat pintu cuma dirapatkan, di atas salju terlihat bekas orang merayap pergi, tujuannya ke arah barat. Ia mengawasi ke arah itu, pikirannya tidak karuan. Sampai sekian lama, setelah mukanya ditiup angin dingin, baru ia sadar. Itu waktu ia pun merasai pinggangnya ngilu dan lemas, ia jadi lelah sekali, maka itu, ia lantas kembali ke dalam. Tiat Sim masak bubur putih, yang diletaki di atas meja. ―Kau lihat!‖ kata suaminya dengan tertawa. ―Bubur masakanku tak ada celaannya, bukan?‖ Istri itu tertawa, ia tahu karena ia sedang hamil, suaminya itu yang sangat menyayangi ia telah masaki ia bubur. Ia lantas dahar bubur itu. Itu waktu ia telah ambil keputusan akan tutup mulut tentang si terluka yang ia tolongi itu, sebab ia tahu kebencian suaminya terhadap orang jahat, apabila suaminya diberitahukan, pasti ia bakal binasakan orang itu. Sejak itu beberapa bulan telah berlalu; dengan lewatnya sang waktu, Pauw-sie juga telah lupai itu peristiwa yang ia sudah tolongi orang yang luka. Pada suatu hari, Tiat Sim dan istrinya pergi ke rumah Siauw Thian, untuk bersantap dan minum arak, sorenya mereka pulang, akan terus masuk tidur. Tepat tengah malam, tiba-tiba Pauw-sie mendusin dan melihat suaminya telah bangun juga dan sedang duduk di atas pembaringan. Ada sesuatu yang mengejutkan suaminya itu hingga ia jadi terjaga dari tidurnya. Dan istri ini masih lungu-lungu ketika kupingnya dapat tangkap suara samar-samar dari tindakan kaki kuda di atas es, makin lama makin nyata, datangnya dari barat ke timur, kemudian itu disusul sama suara serupa yang datangnya dari arah timur. Ia menjadi kaget pula apabila ia dengar pula suara dari selatan dan utara. ―Toako!‖ katanya pada suaminya sambil bangun untuk berduduk, ―Kenapa ada suara kuda dari empat penjuru?‖
Irawan D Soedradjat

Page

12

Pendekar Pemanah Rajawali

Tiat Sim tidak menyahuti, ia hanya segera turun dari pembaringan untuk rapikan pakaiannya. Tindakan kuda dari empat penjuru datang semakin dekat, lalu disusul sama gongongan anjing kampung yang menyahutnya. ―Kita kena dikurung‖ kata Tiat Sim kemudian. Pauw-sie terkejut. ―Untuk apakah?‖ tanyanya ―Entahlah!‖ jawab suaminya itu. Ia terus serahkan pedang pengasihan dari Khu Cie Kee seraya memesan: ―Kau pegang ini untuk jaga dirimu!‖ Tiat Sim buka jendela, untuk melihat keluar, karena itu suara kuda sudah datang mendekat sekali. Ia lihat tegas kampungnya telah dikurung oleh sejumlah tentera, kurungannya berlapis. Ia dapat melihat karena tentera itu ada membawa obor yang diangkat tinggi-tinggi. Perwira yang memegang pemimpin ada tujuh atau delapan orang. ―Tangkap pengkhianat! Jangan kasih dia lolos!‖ demikian tentara itu mulai berseru-seru. ―Apakah ada pengkhianat yang lolos kemari?‖ Tiat Sim menduga-duga. Ia cekal tombaknya untuk melihat gelagat. Tiba-tiba satu perwira berseru: ―Kwee Siauw Thian! Yo Tiat Sim! Kamu berdua pemberontak, lekas muncul untk terima diringkus!‖ Tiat Sim menjadi kaget, sedang Pauw-sie menjadi pucat mukanya. ―Entah kenapa pembesar negeri menfitnah rakyat,‖ kata Tiat Sim kemudian, ―Tidak ada jalan lain, kita mesti menerobos keluar! Kau jangan takut, walaupun musuh berjumalh puluhan ribu, akan aku lindungi padamu!‖ Dasar turunan orang peperangan. Tiat Sim tidak menjadi kacau pikirannya. dengan tenang tetapi sebat, ia siapkan panahnya, terus ia pegangi tangan kanan istrinya. ―Nanti aku berbenah dulu…‖ kata Pauw-sie. ―Apa lagi yang hendak dibenahkan?‖ kata suaminya itu. ―Apa juga tak dapat. Lemah hatinya istri itu, lalu tiba-tiba ia menangis. ―Dan rumah ini?‖ katannya. ―Asal kita dapat lolos, nanti di lain tempat kita membangun pula rumah kita!‖ sahut sang suami. ―Dan itu anak-anak ayam dan anak-anak kucing?‖ istri itu menanya pula. Tiat Sim menghela napas. ―Ah, orang tolol, kamu masih memikirkan segala binatang itu! Mana dapat?‖ Baru Tiat Sim mengucap demikian, di luar kembali terdengar seruan berisik dan api terlihat berkobar. Dua ruang di depan telah dibakar, lalu dua orang serdadu Song mulai menyulut payon rumah. Bukan main mendelunya Tiat Sim. Ia buka pintu dan muncul. ―Aku Yo Tiat Sim!‖ ia perkenalkan diri. ―Kamu hendak bikin apa?‖ Dua serdadu itu kaget, mereka memutar tubuh, sembari melemparkan obornya, mereka lari balik. Di antara cahya api, satu perwira maju dengan kudanya. ―Kamu Yo Tiat Sim? Bagus!‖ ia berkata. ―Mari ikut kami menghadap pembesar kami! Tangkap!‖ Lima serdadu lantas merangsak. Tiat Sim geraki tombaknya, dalam jurus ―Ouw liong pa bwee‖, atau ― Naga hitam menggoyang ekor,‖ lalu tiga serdadu roboh terguling, kemudian dengan susulannya ―Cun lui cin nouw‖ atau ―Geledak musim semi murka,‖ ia rubuhkan satu yang lain, yang tubuhnya ia lempar balik ke dalam barisannya. ―Untuk menangkap orang, kamu mesti lebih dahulu beritahukan kedosaannya!‖ ia membentak. ―Pemberontak bernyali besar!‖ teriak si perwira. ―Kanu berani melawan?!‖
Irawan D Soedradjat

Page

13

Pendekar Pemanah Rajawali

Mesti begitu ia gentar hari, tak berani ia maju mendekati. Adalah satu perwira lain yang berada dibelakangnya, mewakilkan ia maju. Berkatalah perwira ini: ―Baik-baik saja ikut kami ke kantor, kau akan bebas dari kedosaan berat. Di sini ada surat titah!‖ ―Kasih aku lihat!‖ bentak Tiat Sim. ―Masih ada satu pemberontak lainnya, yang she Kwee?!‖ kata perwira itu. ―Kwee Siauw Thian ada di sini!‖ sahut Siauw Thian yang tiba-tiba muncul di muka jendela, panahnya telah siap sedia. Perwira itu terkejut, hatinya ciut. ―Letkai panahmu,‖ katanya. ―Nanti aku bacakan surat titah ini….‖ ―Lekas baca!‖ bentak Siauw Thian, yang justru tarik semakin melengkung gandewanya itu. Terpaksa dengan ketakutan, perwira itu membaca. Itulah surat titah untuk menawan Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim dua penduduk Gu-kee-cun, yang dituduh berontak melawan negara, sudah bersekongkol sama penjahat besar. ―Surat titah ini datang dari kantor mana?‖ Siauw Thian tanya. ―Inilah surat titah tulisannya Han Sinsiang sendiri!‖ jawab perwira itu. Dua-dua Siauw Thian dan Tiat Sim terkejut. ―Hebat urusan, sampai Han Sinsiang sendiri yang turun tangan menulis surat titah?‖ mereka berpikir. ―Mungkin ini disebabkan terbukanya rahasia Khu Cinjin telah membinasakan banyak hamba negara?‖ ―Siapakah yang mendakwa? Apa ada buktinya?‖ tanya Siauw Thian pula. ―Kita cuma mesti menawan orang!‖ kata si perwira. ―Nanti di muka pembesar kamu boleh bicara!‖ ―Han Sinsiang gemar menfitnah orang baik-baik, siapa tidak tahu itu?‖ kata Tiat Sim. ―Kami tak sudi kena jebak!‖ Dengan perlahan Tiat Sim kata pada istrinya: ―Pergi lapis bajumu, akan aku rampas kuda dia itu untukmu! Akan aku panah perwira itu, tenteranya bakal jadi kacau!‖ Dan terus ia tarik panahnya, maka setelah satu suara ―Ser!‖ si perwira berkoak keras, tubuhnya terjungkal dari kudanya. Semua serdadu lantas berteriak-teriak. ―Maju! Tangkap!‖ berseru perwira yang satunya. Sejumlah serdadu taati titah itu, akan tetapi selagi maju, mereka disambut busur-busurnya Siauw Thian dan Tiat Sim berdua, hingga enam atau tujuh diantaranya rubuh seketika. Akan tetapi jumlah mereka ini besar, dibawah anjuran pembesarnya, mereka maju terus. Tiat Sim menjdai mendongkol, ia tukar panah dengan tombaknya, setelah ia lompat keluar pintu, ia sambut penyerang-penyerangnya. Rombongan serdadu itu kena terpukul mundur. Atas itu, Tiat Sim melompat kepada satu perwira yang menunggang seekor kuda putih, ia menyerangnya. Perwira itu menangkis dengan tombaknya. Ia tapinya tak kenal ilmu tombak keluarga Yo, pahanya kena ditikam, maka dengan satu gentakan, tubuhnya terpelanting ke tanah. Dengan menekan tombaknya ke tanah, Tiat Sim lompat ke atas kuda putih, maka sesaat saja, ia sudah menerjang ke muka pintu rumahnya. Ia tikam rubuh satu serdadu Song, yang menghalangi dia, kemudian dengan satu jembretan, ia angkat tubuh istrinya naik ke kudanya. Itu waktu Pauw-sie sudah siap menanti padanya. ―Kwee Toako, mari turut aku!‖ orang she So itu teriaki saudara angkatnya. Siauw Thian tengah menyerang seru dengan sepasang tombak pendeknya yang bercagak. Ia membuka jalan untuk istrinya Lie-sie yang bernama Peng.

Irawan D Soedradjat

Page

14

Pendekar Pemanah Rajawali

Beberapa perwira tidak dapat mencegah kedua orang gagah itu, terpaksa mereka menitahkan menggunai anak panah. ―Enso, lekas naik!‖ seru Tiat Sim, yang hampiri Lie-sie. Ia pun lantas lompat turun dari kudanya. ―Tidak bisa….‖ berkata Lie-sie. Diwaktu demikian, tidak ada lagi aturan sungkan, maka tanpa bilang suatu apa, Tiat Sim cekal tubuh iparnya, untuk segera diangkat naik ke punggung kuda, kemudian ia bersama Siauw Thian mengikuti dari belakang, untuk melindungi. Lolos belum jauh, di sebelah depan mereka dicegat oleh satu pasukan lain. Riuh suara tentera itu, hebat serbuannya. Tiat Sim dan Siauw Thian mengeluh di dalam hati. Karena terpaksa, mereka jadi memikir untuk cari jalan lolos. Sekonyong-konyong terdengar suara panah sar-ser, lalu Pauw-sie menjerit keras. Kuda putih terpanah, kaki depannya tertekuk, lalu tubuhnya ngusruk. Pauw-sie rubuh bersama Lie-sie, yang pun ikut berteriak. Tiat Sim kaget tetapi ia tabah. ―Toako, lindungi mereka, akan aku rampas kuda pula!‖ serunya. Lalu dengan memutar tombaknya, ia menerjang musuh. Kwee Siauw Thian berpikir lain daripada saudara angkatnya itu. ―Terang kita berdua tidak bakal dapat menerobos kurungan musuh ini, atau istri kita sukar ditolongi. Karena kita tidak bersalah dosa, daripada antarkan jiwa disini, baiklah kita menemui pembesar negeri untuk berbicara dengannya.‖ Maka itu, ia teriaki adik angkatnya itu: ―Adik, mari kita ikuti mereka ke kantor!‖ Tiat Sim heran, akan tetapi ia hampiri saudaranya itu. Perwira pemimpin tentera itu menitahkan menunda penyerangan, tetapi mereka mengurung rapat-rapat. ―Letaki senjatamu, kami akan beri ampun jiwa kamu!‖ ia berteriak. ―Toako, jangan kena diperdayakan!‖ Tiat Sim memberi ingat. Siauw Thian menggeleng kepala, ia lemparkan sepasang tombaknya. Tiat Sim lihat istrinya ketakutan, hatinyapun menjadi lemah, maka seraya menghela napas, ia lemparkan panah dan tombaknya. Atas itu belasan tombak tajam dipakai mengurung empat orang itu, kemudian delapan serdadu maju mendekati, untuk membelenggu mereka berempat. Tiat Sim berdiri tegak, dia tertawa dingin. Sikap ini tidak menyenangi si pemimpin tentara, ia ayun cambuknya seraya mendamprat: ―Pemberontak bernyali besar, benarkah kamu tidak takut mampus?!‖ ―Bagus!‖ kata jago she Yo itu. ―Siapakah namamu?!‖ Perwira itu menjadi semakin gusur, cambuknya disabetkan berulang-ulang. ―Tuan besarmu tak pernah ubah she dan namanya!‖ katanya dengan jumawa. ―Tuan besarmu she Toan namanya Thian Tek. Thian Tek itu berarti kebijaksanaan Tuhan, kau mengerti? Ingatkah kau? Supaya kapan nanti kau bertemu Giam Kun, kau boleh ajukan dakwaanmu!‖ Tiat Sim tidak takut, ia malah mengawasi dengan bengis. ―Ingat olehmu, tuanmu ada cacat luka di jidatnya dan tanda biru di pipinya!‖ Thian Tek membentak pula. Ia angkat pula cambuknya. Pauw-sie menangis. ―Dia orang baik, ia belum pernah berbuat jahat, kenapa kau aniaya dia sampai begini?‖ tanya istri ini yang tidak tega melihat suaminya dicambuki. Tiat Sim meludah tepat mengenai mukanya perwira she Toan itu. Dia menjadi sangat murka, ia lalu cabut golok di pinggangnya.
Irawan D Soedradjat

Page

15

Pendekar Pemanah Rajawali

―Aku akan bunuh dulu padamu, pemberontak!‖ teriaknya. Tiat Sim tidak sudi mandat dibacok, ia berkelit ke samping. Tapi segera ia merasa ada tombak-tombak yang menahan tubuhnya. Thian Tek membacok pula. Tiat Sim tidak melihat lain jalan, ia berkelit mundur dengan mengkeratkan tubuhnya. Melihat bacokkannya kembali gagal, Thian Tek terus menikam. Kali ini goloknya yang tajam bagaikan gergaji dapat melukakan pundaknya orang she Yo itu. Dia tapinya belum puas, kembali ia ulangi bacokannya. Siauw Thian lihat adik angkatnya terancam bahaya, ia lompat maju seraya mendupak. Thian Tek terkejut, ia batal menyerang, terus dia menangkis. Siauw Thian lihay, ia tarik kakinya untuk ayun kakinya yang lain. Itulah tendangan saling susl dari ilmu tendangan Wan-yo-twie, maka tak ampun lagi, perwira itu terjejak pinggangnya. ―Hajar mampus dia!‖ dia berseru. Beberapa serdadu segera menyerang. Siauw Thian melawan, ia dapat menendang terguling dua serdadu, tetapi karena ia terbelenggu tangannya, akhirnya ia kena dibokong Thian Tek yang sambar ia dari belakang, hingga tangan kanannya terbacok kutung! Bukan main panasnya hati Tiat Sim menampak kakaknya itu menjadi korban keganasan si perwira, entah darimana datangnya tenaganya ketika ia berteriak keras sekali, belengguan pada tangannya terputus terlepas, maka sambil melompat maju, ia hajar rubuh satu serdadu, untuk rampas tombaknya yang panjang dengan apa ia terus mengamuk. Thian Tek menginsyafi bahaya, ia sudah mendahului mundur. Yo Tiat Sim menyerang bagaikan kalap, matanya menjdi merah. Semua serdadu mejadi kalah hati, dengan ketakutan mereka lari bubaran.. Tiat Sim tidak mengejar musuh, hanya ia menubruk kakak angkatnya yang telah mandi darah. Tanpa merasa ia kucurkan airmata. ―Adik sudah kau jangan pedulikan aku,‖ kata Siauw Thian lemah. ―Lekas, lekas kau singkirkan diri…‖ ―Akan aku merampas kuda, mari kita pergi bersama!‖ kata Tiat Sim. Siauw Thian tidak menyahut, ia hanya pingsan. Tiat Sim buka bajunya, hendak ia membalut luka kakak itu, tetapi lukanya lebar sekali, dari pundaknya merembet ke dada, sulit untuk membalutnya. Siauw Thian sadar pula. ― Adik, kau pergilah…‖ ia kata dengan suara yang sangat lemah. ―Pergi kau tolong teehu serta ensomu…aku, aku sudah habis…‖ Dan ia meramkan matanya untuk selamanya. Hampir Tiat Sim menyemburkan darah, sangking berduka dan mendongkol. Ia lantas berpaling ke arah di mana istrinya dan ensonya, istri Siauw Thian. Untuk kagetnya ia tidak dapat melihat mereka itu. ―Toako, aku akan balaskan sakit hatimu!‖ ia berteriak. Lalu dengan membawa tombaknya, ia lari kepada barisan serdadu, yang sekarang sudah berkumpul pula. Toan Thian Tek memberi perintahnya, maka barisannya itu menyambut dengan hujan anak panah. Tiat Sim maju terus seraya putar tombaknya, akan halau setiap busur. Ketika satu perwira dekati dia dan membacok, ia berkelit sambil mendak, akan nelusup ke bawahan perut kuda. Si perwira membacok sasaran kosong, hendak ia putar kudanya, tetapi tombaknya Tiat Sim tahu-tahu sudah menikam tepat kepadanya, maka
Irawan D Soedradjat

Page

16

Pendekar Pemanah Rajawali

ketika tubuhnya rubuh, orang she Yo itu gantikan ia lompat naik ke atas kudanya itu hingga dengan apa punya binatang tunggangan, Tiat Sim bisa menyerang dengan terlebih hebat. Sekali lagi barisan serdadu itu lari buyar. Tiat Sim mengejar, hingga ia lihat satu perwira lagi kabur sambil peluki seorang perempuan. Ia tidak mengejar, hanya ia lompat turun dari kudanya, akan rampas gendawanya satu serdadu Song lalu diantara terangnya api obor, ia panah perwira itu. Tepat panahnya ini, si perwira rubuh dari kudanya yang jatuh ngusruk. Dia rubuh bersama si wanita dalam pelukannya, hingga orang jadi terlepas. Lagi sekali Tiat Sim memanah. Selagi orang merayap bnagun. Kali ini perwira itu rubuh pula untuk tidak dapat bangun lagi. Tiat Sim lari kepada wanita itu untuk kegirangannya ia dapatkan pada istrinya. Sek Yok kaget dan girang, ia lompat ke dalam rangkulan suaminya itu. ―Mana enso?‖ Tiat Sim tanya. Dia lantas ingat istrinya Siauw Thian. ―Ia ada di sebelah depan, ia pun dibawa lari serdadu jahanam itu!‖ sahut Pauw-sie. Kapan Tiat Sim menoleh, ia tampak mendatanginya satu barisan lain. ―Toako telah menemui ajalnya, biar bagaimana aku mesti tolongi enso!‖ ini adik angkat ambil keputusan, ia bicara sama istrinya. ―Turunan toako mesti dilindungi. Kalau Thian mengasihi kita, kita berdua dapat bertemu pula…‖ Sek Yok rangkul keras leher suaminya itu, ia menangis menggerung-gerung. ―Tak dapat kita berpisah!‖ ia kata. ―Kau yang bilang sendiri, kalau kita mesti binasa, kita mesti binasa bersama! Bukankah benar kau pernah mengatakan demikian?‖ Tiat Sim peluki istrinya, hatinya karam. Tapi ia tiba-tiba keraskan hati, ia menolak dengan keras, ia sambar pula tombaknya, untuk lari. Ketika sudah lari beberapa puluh tindak, ia lihat istrinya menangis bergulingan di tanah, dan barisan serdadu yang mendatangi sudah mendekati istrinya itu. Ia usap mukanya, peluhnya bercampur sama darah muncratan. Ia lari pula. Telah bulat tekadnya untuk menolongi Lie-sie. Di sebelah depan, ia dapat rampas seekor kuda, maka itu ia jadi tambah semangat. Kebetulan ia dapat bekuk satu serdadu, atas pertanyaannya, serdadu itu bilang Lie-sie berada di sebelah depan. Maka ia kaburkan kudanya. Tiba-tiba dari samping jalanan mana ada perpohonan lebat, terdengar cacian seorang wanita. Ia lekas tahan kudanya, yang ia putar untuk hampirkan tempat lebat itu. Dengan tombaknya ia menyingkap cabang-cabang pohon.Maka di hadapannya terlihat dua serdadu sedang menyeret-nyeret Lie-sie. Tidak ampun lagi, Tiat Sim tikam mampus mereka satu demi satu. Lie-sie berbangkit dengan rambut kusut dan pakaian penuh tanah tidak karuan. Diwaktu begitu, tidak ada ketika untuk omong banyak, maka Tiat Sim angkat tubuh iparnya itu, dikasih naik ke atas kudanya, untuk mereka menunggang bersama. Ia lari balik untuk cari istrinya di tempat dimana tadi mereka berpisah. Untuk kedukaannya ia tak dapatkan Pauw-sie, tempat itu sunyi senyap dari segala apa. Ia turun dari kudanya untuk memeriksa tanah. Ketika itu sudah fajar. Ia lihat tapak-tapak kaki dan tanda bekas orang diseret, maka sakitlah hatinya. Ia percaya istrinya telah jatuh pula ke dalam tangan musuh…. ―Mari!‖ katanya seraya melompat naik ke atas kudanya yang ia terus kasih lari, perut kudanya pun dijepit hingga binatang itu kesakitan dan lari kabur. Sedang kuda lari keras mendadak dari samping jalanan muncul belasan orang yang hitam semua pakaiannya, orang yang terdengar segera menyerang dengan toyanya. Tiat Sim sempat menangkis, dapat ia menikam. Orang itu sebat dan gesit, ketika ia membuat perlawanan, nyata permainan toyanya pun lihay. Hal ini membuat heran kepada orang she Yo itu.

Irawan D Soedradjat

Page

17

Pendekar Pemanah Rajawali

Pernah Tiat Sim dan Siauw Thian berbicara tentang ilmu silat, bahwa dijamannya kawanan Liang San, Pek-lekhwee Cin Beng adalah yang terlihay ilmu toyanya, tetapi dijaman itu orang Kim-lah yang terkenal. Maka itu sekarang ia curigai lawannya itu ada satu perwira Kim. Ia hanya heran, kenapa perwira Kim bisa muncul di situ. Tapi ia tidak bisa berpikir lama-lama, ia lantas menyerang dengan hebat. Kali ini ia berhasil membuat lawan itu terjungkal, karena mana barisan serdadunya lantas kabur. Segera Tiat Sim menoleh, hatinya lega akan dapatkan iparnya tak kurang satu apapun. Ia masih mengawasi iparnya itu ketika ―Ser!‖ sebatang gendewa menyambar kepadanya, menyambar dari arah pepohonan yang lebat, hingga ia tidak sempat menagkis atau berkelit, busur itu tembus di punggungnya. ―Encek, kau kenapa?‖ tanya Lie-sie kaget. Tiat Sim tidak menyahuti, hanya di dalam hatinya ia kata: ―Aku tidak sangka bahwa aku bakal habis disini… Sebelum aku terbinasa, aku mesti labrak dulu musuh, supaya enso dapat lolos!‖ Ketika ia geraki tombaknya, ia menjadi kaget. Ia merasa sakit hingga ke peparunya. ―Cabut panah ini!‖ ia kata. Lie-sie tapi hatinya lemah, tenaganya tidak ada, tak dapat ia menolong. Tiat Sim lantas mendekam di atas kudanya, tangan kirinya diapakai mencekal gagang panah, dengan satu kali sentak, ia cabut busur itu terus ia pandangi. Anak panah itu nancap dalam kira tiga dim, gagangnya memakai bulu burung rajawali, batangnya terbuat dari perunggu. Itu bukanlah sembarang busur. tempo ia memeriksa lebih jauh, pada gagang itu ada terukir tiga huruf ―Wanyen Lieh‖ Ia terkejut. ―Wan-yen‖ itu adalah she, yaitu nama keluarga dari bangsa Kim, dari golongan keluarga raja. Biasanya dari raja hingga jenderalnya, bangsa itu memakai nama keluarga tersebut. ―Bagus!‖ serunya. ―Benar-benar si pembesar jahanam itu telah bersekongkol sama bangsa asing, bersama-sama mereka mencelakai rakyat negeri!‖ Ia serahkan busur itu kepada Lie-sie. ―Enso ingat baik-baik nama ini!‖ ia pesan. ―Pesanlah anakmu untuk menuntut balas….!‖ Habis berkata, ia putar tombaknya, ia menerjang ke antara musuh, tetapi darah di punggungnya membanjir keluar, tiba-tiba matanya menjadi gelap, tak dapat ia menahan diri lagi, ia rubuh dari kudanya. *** Hatinya Pauw-sie sakit bagai disayat-sayat karena tolakan suaminya, tempo ia mengawasi suaminya itu, sang suami sudah lantas lenyap, di pihak lain, rombongan serdadau telah mendatangi ke arahnya. Ia mencoba lari, tetapi sudah kasep, ia kena kecandak dan ditawan, tubuhnya segara dikasih naik ke atas seekor kuda. ―Aku tidak sangka dua orang itu demikian kosen hingga mereka dapat mencelakai tak sedikit saudara-saudara kita!‖ berkata satu perwira sambil tertawa. ―Tapi sekarang kita toh peroleh hasil!‖ kata satu perwira lain. ―Eh, sahabatku Ciong, untuk cape kita ini kita bakal dapat persen tiga atau empat puluh tail perak!‖ ―Hm!‖ menyahut si Ciong itu. ―Aku harap asal saja potongannya dikurangi sedikit…!‖ Terus ia menoleh kepada barisannya, akan beri titahnya: ―Kumpulkan barisan!‖ Serdadu tukang terompet sudah lantas kasih dengar suara alat tiupnya Pauw-sie menangis tersedu-sedu, ia lebih memikirkan suaminya yang ia tidak tahu bagaimana jadinya. Ketika itu sang fajar telah tiba, dijalanan sudah ada beberapa orang yang berlalu lintas, akan tetapi mereka nampak serdadu, mereka lalu menyingkir jauh-jauh. Mulanya Pauw-sie berkhawatir sangat kawanan serdadu itu nanti perlakukan kasar atau kurang ajar terhadapnya, kemudian ia merasa sedikit lega. Ia tidak saja tidak diganggu, ia malah diperlakukan dengan manis dan hormat.
Irawan D Soedradjat

Page

18

Pendekar Pemanah Rajawali

Barisan ini baru berjalan beberapa lie, tiba-tiba mereka dicegat oleh belasan orang yang mengenakan pakaian serba hitam, yang semua berbekal senjata. Mereka itu muncul dengan tiba-tiba dari pinggir jalanan. Seorang yang berada di paling depan sudah lantas kasih dengar suaranya yang bengis: ―Kawanan serdadu tak tahu malu dan kejam, tukang ganggu rakyat, kamu semua turun dari kuda kamu dan serahkan diri!‖ Perwira yang pimpin barisan itu menjadi gusur. ―Kawanan berandal dari mana ynag berani mengacau di wilayah kota raja?!‖ dia balas membentak. ―Lekas menggelinding pergi!‖ Pihak baju hitam itu tidak menggbris bentakan itu, sebaliknya mereka buktikan ancaman mereka, ialah tanpa bilang suatu apa lagi, mereka maju menerjang, dengan begitu pihak jadi bertempur kalut. Kawanan baju hitam itu berjumlah lebih kecil akan tetapi mereka mengerti ilmu silat denag baik, dengan begitu pertempuran menjadi berimbang. Menyaksikan pertempuran itu, diam-diam Pauw-sie bergirang. ―Bukankah mereka ini dalah kawan-kawannya suamiku, yang mendengar kabar dan telah datang menolong?‖ demikian ia menduga-duga. Selagi pertempuran berjalan terus, tiba-tiba satu busur nyasar menyambar punggung kudanya Pauw Sek Yok. Binatang itu kaget dan kesakitan, ia berlompat dan lari kabur. Sek Yok kaget dan ketakutan, ia mendekam di kudanya itu yang lehernya ia peluki keras-keras. Ia takut jatuh. Kuda itu kabur terus hingga beberapa lie, sampai di sebelah belakangnya, terdengar datangnya kuda lain, lalu tertampak satu penunggang kuda datang memburu. Cepat sekali larinya kuda pengejar ini segera ia menyandak dan lewat di samping Pauw-sie, si penunggangnya sendiri sambil melarikan kudanya itu memutar sehelai dadung panjang di atasan kepalanya, apabila ia melepaskan sebelah tangannya, dadung itu ialah lasso, lantas menyambar ke kudanya Sek Yok. Sekarang kedua kuda jadi lari berendeng, si penunggang kuda menahan dengan perlahan-lahan, dari itu sesaat kemudian kedua kuda itu larinya perlahan, akan akhirnya selang beberapa puluh lie, kuda si penunggang berhenti dengan tiba-tiba, sebab mulutnya penunggang itu perdengarkan tanda. Dengan begitu kuda Sek Yok pun berhenti seketika. Kuda itu meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya. Pauw-sie kaget dan ketakutan, ia pun ngantuk dan lelah, karena kuda itu berlompat berdiri habislah tenaganya, tak dapat ia memeluki lagi leher kuda lantas saja ia rubub ke tanah dan pingsan. Ia mendusin setahu beberapa lama kemudian, ia hanya dapatkan tubuhnya rebah di atas sebuah pembaringan yang empuk kasurnya dan tubuhnya pun dikerebongi selimut kapas yang membuat ia merasa hangat. Ia buka matanya perlahan-lahan. Yang pertama ia lihat ialah langit kelambu kembang. Maka sadarlah ia yang ia telah tidur di atas pembaringan. Ia menoleh ke samping, ia dapatkan sebuah meja dan satu pelitanya. Di tepi pembaringan berduduk satu orang laki-laki dengan pakaian serba hitam. Kapan pria itu melihat orang mendusin dan tubuhnya bergerak, lekas-lekas ia bangun berdiri, untuk singkap kelambu dan menggantungnya. ―Oh, kau sudah mendusin?‖ pria itu tanya, perlahan suaranya. Biar bagaimana, Sek Yok belum sadar sepenuhnya. Samar-samar ia seperti kenal pria itu, maka ia mengawasi. Si pria ulur tangannya, untuk meraba jidat si nyonya. ―Oh, panas sekali!‖ katanya. ―Tabib akan segera datang…‖ Sek Yok meramkan pula matanya, terus ia tidur pula. Ia baru sadar tempo dengan samar-samar ia merasa orang pegang nadinya, disusul mana orang memberi ia makan obat. Ia masih tak sadar benar, malah ia bagaikan bermimpi dan mengigau ketika ia berteriak: ― Engko Tiat! Engko Tiat!‖ Lalu ia merasa ada tangan pria yang dengan perlahan-lahan mengusap-usap pundaknya, yang menghiburi ia dengan lemah lembut. Kapan kemudian Sek Yok mendusin pula, hari sudah terang. Ia merintih sebentar, lantas ia bangkit untuk berduduk. Seorang menghampiri dia. ―Minum bubur?‖ tanya ia itu dari luar kelambu. Pauw-sie kasih dengar suara perlahan, atas mana pria itu singkap kelambunya. Sekarang dua muka saling berhadapan, mata mereka saling mengawasi. Sekarang Sek Yok dapat melihat denagn tegas, maka ia menjadi terkejut. Ia tampak satu wajah yang tampan, yang tersungging senyuman manis.
Irawan D Soedradjat

Page

19

Pemuda itu mengangguk. Irawan D Soedradjat Page 20 .‖ ―Aku tengah melawan tiga musuh ketika satu musuh jalan mengitar ke belakangnya suamimu itu yang dia tombak punggungnya. ―Menyaksikan rombongan serdadu itu berbuat sewenang-wenang. ―Mana suamiku?‖ Pemuda itu menggoyang tangan. ia menangis sesambatan. yang kemudian menghilang tidak keruan paran dari gudang kayu.‖ si anak muda menghibur pula. ―Bagaimana caranya ia meninggal dunia?‖ Pauw-sie tanya. Si pria kelihatan halus budi pekertinya. Ketika kemudian ia sadar. Ia menjadi tak enak hati untuk bersikap tawar terus.‖ ia menyahut akhirnya Merah mukanya Sek Yok akan dengar itu perkataan ―jodoh‖. Nyonya. Lagi-lagi Sek Yok pingsan. ―Sekarang kau letih dan lemah sekali.‖ si anak muda beritahu. ―Mana suamiku?‖ ia tanya. Tetapi hatinya bukan tidak bekerja. ―Aku ada orang she Yen dan namaku Lieh. lalu ia melanjuti: ―Sekarang ini rombongan serdadu sedang mencari Nyonya.maka itu jangan Nyonya sembarang munculkan diri. kita sekarang bearad dirumahnya seorang petani. tubuhnya tinggi dan lebar. Ia berkeputusan nekad untuk binasa bersama suaminya itu. ―Ya. kemudian barulah ia bisa omong juga. Harap Ynonya maafkan aku.‖ Sek Yok terperanjat. ia telah dibinasakan oleh rombongan serdadu itu…‖ ia beri pebyahutan. Dari caranya orang berbicara. ―Kenapa kau ketahui kita terancam bahaya dan kau dapat menolongi?‖ Pria itu bersangsi agaknya. tangannya mencekal keras-keras pada ujung kasur. Besar sangat cintanya kepada suaminya. ―Dia…dia kenapa. Maka itu hari ia tidak dahar nasi atau minum. ia lantas pingsan. Rupanya karena jodoh kita telah dapat bertemu satu dengan lain. ―Apa she dan nama Tuan?‖ kemudian Sek Yok menanya. dengan lancang aku telah mengaku bahwa akulah suami Nyonya…‖ Mukanya Sek Yok menjadi merah.‖ orang itu menhibur. maka aku telah tolongi kau. ―Nanti saja setelah kesehatanmu pulih. akan tetapi ia mengangguk. Maka tiba-tiba saja timbul kecurigaannya.‖ kata pula si anak muda. ia balik kepalanya ke sebelah dalam pembaringan. Sek Yok kaget. Sekarang baiklah kau beristirahat dulu. ―Sebenarnya aku bersama beberapa kawan kebetulan lewat di sini. ia hanya dengan manis budi menghibur dan membujuki untuk nyonya legakan hati. mungkin suaminya telah menampak sesuatu kecelakaan. ―Benar dia. jangan bergelisah tidak karuan. aku tidak puas. nyonya.‖ ia berkata dengan perlahan. aku berukan keteranganku. ia telah buka mulutnya tetapi ia batal bicara. ―Nyonya. ―Sudahlah. Rupanya roh suci atau malaikat yang telah menunjuki aku justru tolongi penolongku…‖ Ia berhenti sebentar. ―Tempat ini tempat apa?‖ nyonya ini kemudian tanya.Pendekar Pemanah Rajawali Itulah si anak muda yang beberapa bulan yang lalu ia tolongi selagi orang terluka dan rebah tak berdaya di atas salju. ia tidak memaksa. suamiku itu?‖ ia tanya. melarang orang berbicara. ―Untukmu paling baik adalah merawat diri…‖ ―Apakah dia…dia telah meninggal dunia?‖ Sek Yok menanya. yang bersenjatakan sebatang tombak panjang?‖ si anak muda tegaskan. ―Bukankah suami Nyonya berumur duapuluh kurang lebih.

Pauw-sie tuturkan halnya Khu Cie Kee hendak ditawan tentera negeri.‖ sahutnya kemudian. Pauw-sie anggap perkataan itu benar. Kapan ia mengawasi kaca. ia tunggu sampai orang sudah sedikit reda. lalu ia turut keluar dari rumah itu. pastilah aku terbinasa kecewa. ia tampak romannya yang cantik bagikan bunga akan tetapi npemiliknya telah tak ada – yang satu tetap menjadi seorang manusia. agaknya ia kesengsem. ―Biarnya aku bodoh. ―Suamimu telah dibinasakan hamba negeri. ―Eh. ―Tidak ingin aku yang kita nanti kena di bekuk mereka…‖ Sek Yok menangis. cara bagaimana kau bisa menuntut balas?‖ katanya perlahan setelah ia bawakan bubur dan telu asin itu kepada si nyonya. romannya heran. Yen Lieh terkejut. ―Aku seorang perempuan. ia berkata: ―Tentera di luar sudah berlalu. untuk apa aku memikirkan hidup lebih lama…?‖ katanya. Yen Lieh kelihatannya murka. Nyonya. ―Suamiku telah terbinasa. namanya Toan Thian Tek. untuk sendok semangkok bubur serta satu biji telur asin. akan aku coba membalas dendam untukmu.‖ Sampai di situ. Irawan D Soedradjat Page 21 . ―Apakah nyonya tahu. gampang untuk mencari dia. Besok paginya. Pauw-sie turun dari pembaringannya. karena mana imam itu telah membuatnya perlawanan dahsyat. kiranya kau kebenaran lewat saja dan bukannya dari satu rombongan dengan mereka itu?‖ berkata Sek Yok. bagaimana dapat aku membalas dendam?‖ tanyanya. ―Bukankah baru ini kau dapat luka karena kau bersama tentera negeri hendak mencoba menawan Khu Totiang?‖ Sek Yok tanya pula tanpa pedulikan pertanyaan pemuda itu. ―Dia mempunyakan tanda biru di mukanya. yang berada di tanah baka. tak tahu sebab musababnya. Yen Lieh bertindak masuk selagi si nyonya menangis. bagaimana kau Cuma ingat kematian saja? Nanti suamimu.‖ ia menjawab.‖ berkata si anak muda. selagi aku lewat di kampungmu itu. ―Dia itu yang menjadi perwira yang mengepalai barisannya. ia gunting itu merupakan setangkai bunga. setelah rapikan pakaiannya ia hadapi kaca untuk sisiri rambutnya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kau dan tentera negeri itu datang dari satu jurusan?‖ ia tanya ―Ke…kenapa?‖ Yen Lieh tanya. tetapi ia lemah hatinya. Sek Yok dapat lihat kelakuan orang itu. Coba tidak kau tolongi aku. matanya tak meram…‖ Nyonya itu terkejut. ―Ya. ―Kejadian hari itu sungguh membuat aku penasaran!‖ bsahut Yen Lieh. tiba-tiba sebatang busur nyasar telah menyambar pundakku. siapa musuh nyonya suamimu itu?‖ Nyonya Yo Tiat Sim berpikir sejenak. Itulah tanda ia berkabung untuk suaminya. ―Aku tadinya menyangka kau juga hendak bantu menawan Khu Totiang. Ia cari sepotong kain putih. Nyonya!‖ katanya keras. Ia menjadi sedih sekali. ―Baik kau pergi sendiri saja…‖ ―Tetapi Nyonya!‖ peringatkan Yen Lieh. lalu ia selipkan di kondenya. ―Aku datang dari utara. Ia terus pergi ke dapur. maka ia menangis dengan mendekan di meja. ―Jikalau kita tidak pelihara kesehatanmu. hingga pada mulanya tak ingin aku menolongi kau. ia berhenti menangis. kau hendak dengari ceritaku atau tidak?‖ ia menegur. yang lain telah menjadi setan…. ia sambuti bubur itu lalu ia dahar dengan perlahan-lahan. sakit hatimu belum terbalas. mari kita berangkat. ya aku tengah memikirkan cara bagaimana kita dapat meloloskan diri dari rombongna serdadu itu. Yen Lieh mengawasi orang berbicara. Sebenarnya imam siapa yang hendak mereka tawan itu?‖ ―Oh.‖ Sek Yok susut air matanya. hendak aku pergi ke Lim-an.‖ ―Dia telah diketahui she dan namanya. lalu ia tertawa.

satu diantaranya adalah kudanya Sek Yok. ―Jiwaku ini adalah nyonya yang tolongi. ―Nyonya silakan tidur!‖ ia berkata. hatinya Pauw-sie kurang tenang. Barang hidangan itu terdiri dari masakan ayam. lemah lembut sikapnya. ikan dan bubur yang semuanya harum. jongos datang menyerahkan satu bungkusan. akan tetapi hatinya tidak tentram. ―Tuan pesan supaya nyonya suka salin pakaian. Sek Yok tidak bilang suatu apa. ―Kau hendak bawa aku kemana?‖ akhirnya Sek Yok menanya pula. ialah pakaian baru. hatinya menjadi sangat berduka. ―Inilah barang yang tadi pagi tuan belikan untuk Nyonya. ―Kita tunggu sampai suasana sudah mulai reda. laki-laki sejati. untuk setengah jam ia masih duduk bercokol. Diam-diam nyonya ini jadi sangat bersyukur. sesudah mana terus ia meramkan matanya. pedang pendeknya tergenggam di tangannya. ―Kita menuju kemana?‖ tanya Pauw-sie. yang sekarang telah diobati lukanya. kemudian ia membantui nyonya itu naik ke atas kuda. Sekarang mendengar omongan yang beralasan dari pemuda ini. ―Apakah itu?‖ tanya si nyonya. ia bungkam. maka di lain saat. karenanya ia meminta satu kamar. baru di hari raya atau tahun baru ia dapat hidangan istimewa. Oleh karena itu semakin kurang penjagaan dirinya. akan aku bunuh diriku!‖ Yen Lieh menitahkan jongos ambil dua ikat rumput kering. walaupun badanku hancur dan tulang-tulangku remuk. untuk dikubur dengan baik. habis padamkan api lilin. yang terkena panah. Hatinya Nyonya Yo berdebar-debar. Yen Lieh sudah tidak ada di kamarnya. baru kita pergi cari jenazah suamimu. Tujuh Orang Luar Biasa Kapan besok paginya Pauw-sie bangun dari tidurnya.‖ sahut Yen Liah. daging asin. bagaimana kau harus membalas budimu ini?‖ katanya.Pendekar Pemanah Rajawali Yen Lieh serahkan sepotong perak kepada tuan rumah. Akan tetapi mendahar ini.‖ Dua hari mereka berjalan. ia memang tak dapat berpikir apa-apa. malah ia bersyukur sekali. Ia tidak lantas rebahkan diri. ia tunggu sampai si jongos itu sudah keluar. yang siapkan dua ekor kuda. yang didatangi. Di akhirnya ia menghela napas panjang. ia menemui orang satu kuncu. Yen Lieh kedipi mata. Yen Siangkong. diam-diam ia meraba pedang peninggalan Khu Cie Kee. baru ia tidur tanpa buka pakaian luar lagi. Tak lama sehabisnya dahar. untuk cegah si nyonya sembarang bicara di depan orang lain. meskipun mesti menyerbu api berkobar-kobar. karena itu diwaktu bersantap. di situ ia rebahkan dirinya terus ia tutupi dengan gudri. didalam hatinya ia bilang: ―Asal dia berlaku kurang ajar sedikit saja. ―Maka itu tubuhku ini aku serahkan kepada nyonya untuk nyonya suruh-suruh. Ia jadi ingat suaminya. sedap dan lezat. sore itu mereka singgah di dusun Tiang-an-tin. Ia ada dari satu keluarga sederhana. ―Sekarang kita cari dahulu tempat sepi untuk tinggal sementara waktu. ia lantas kunci pintu. keduanya sudah jalankan kuda mereka berendeng menuju ke utara.‖ Sek Yok lemah hatinya. itu sudah selayaknya saja.‖ jawab jongos itu. Bab 3. Yen Lieh mengaku bahwa mereka berdua adalah suami-istri. pemuda itu telah pergi siapkan kuda mereka dan sudah pesan jongos menyediakan barang makanan. Belasan lie telah mereka lalui. dan biasanya. rumput kering itu ia delar di lantai. dedaharannya setiap hari adalah sayur dan ikan asin.‖ Irawan D Soedradjat Page 22 . matanya memandang ke satu arah. ia bukan saja suka menerima. kemudian baru kita pergi cari si Toan Thian tek si jahanam itu guna menuntut balas. Itu waktu. Kepada pengurus hotel. Yen Lieh sudah keluar dari kamar. ―Yen.‖ Yen Lieh jawab.

ujung panah tembus ke tenggorokannya. ia hampiri lima serdadu itu. dari samping kiri muncul dengan tiba-tiba sepasukan serdadu dengan suara mereka yang berisik. Tiga serdadu lainnya tengah mengurung si nona yang mereka perlakukan dengan ceriwis. akan aku panah batang lehernya!‖ Selagi pemuda ini berkata. maka pakaiannya jadi kotor dan pecah disana sini. ia putar balik kudanya untuk lari. sambil tertawa. cara bagaimana ia dapat memikir begini sempurna?‖ katanya dalam hati. dengan begitu dapat ia menentramkan sedikit hati si nyonya kawan seperjalanannya itu. Yen Lieh tertawa enteng. sebaliknya dari angkat kaki. ―Kamu bikin apa?‖ Yen Lieh benar-benar tidak takut. ia berpaling kepada si nyonya. Sek Yok takut bukan main. Yen Lieh lompat turun dari kudanya. ia mengeluh dalam hatinya. Ia tampak seperangkat pakaian baru warna putih. ―Mari kita lekas menyingkir…‖ Yen Lieh sebaliknya tersenyum simpul. ―Hebat!‖ memuji Sek Yok tanpa terasa. Memang ketika ia keluar dari rumah. Ia tertawa girang sekali. Menyaksikan orang lari ngiprit. ia berkata. busur meleset mengejar dengan cepat sekali. Perjalanan sudah lantas dilanjuti. si serdadu lari terus. untuk cabuti anak panahnya dari tubuh mereka. baju pendek. ia berubah seperti seorang baru. yang uangnya dan lainnya barang mereka pindahkan ke saku mereka sendiri. Si nona menangis. Sore itu selagi mendekati dusun Kiap-sek-tin. tentu mereka kalah dan lari. ―Lagi-lagi serdadu mengganggu rakyat jelata.‖ kata Sek Yok ketakutan. dadanya tertumblaskan sebatang busur. ―Diam!‖ dia membentak. kupingnya mendengar suara menyambar ―Serr!‖ lalu satu serdadu menjerit dan rubuh. ―Dia seorang pria. Ia lantas siapkan pula busurnya. lalu ia maju mendekati. Dua serdadu lagi memeriksa mengaduk-aduk buntalannya si orang tua. yang sangat bersyukur. Irawan D Soedradjat Page 23 . Pauw-sie kaget sekali. ―Kamu ada bawahan siapa?‖ ia tanya. Di situ terlihat lima serdadu. ―Celaka!‖ Sek Yok menjerit karena kaget dan takut. dia lalu putar tubuhnya untuk lari merat. pakaiannya tidak karuan. ―Lekas pergi!‖ Pada waktu itu tentera Song. Tinggal serdadu yang kelima. sesudah itu untuk satu malaman ia mesti larilarian. membentak. Serdadu itu lantas berseru. Segera si nyonya lihat di tangan kawannya ada gendewa yang bersinar kuning emas. Maka itu melihat Yen Lieh cuma berdua dengan satu nyonya manis. mereka galak bukan kepalang. akan tetapi terhadap rakyat jelata. maka gendewa ditarik. tidak ada ampun lagi serdadu itu terpanah batang lehernya. lagi pegat seorang lelaki tua yang ada bersama satu anak muda serta satu nona. ―Mari kita liat!‖ Pemuda ini berlaku tenang. Bukankah ia baru saja lolos dari bahaya yang menakuti? ―Jangan takut!‖ kata Lien Yeh sambil tertawa. Dialah ynag tadi menjerit. ia ketakutan. anak panah mana dikasih masuk ke dalam kantungnya. mereka anggap inilah untung mereka. hingga lagi tiga serdadu rubuh seperti rekannya yang pertama. ia justru maju mendekati. hingga di sebuah tikungan. yang lainnya ada pakaiaan dalam. tiba-tiba mereka mendengar jeritan hebat dari sebelah depan. Justru ia hendak ajak Pauw-sie melanjuti perjalanan. ―Tunggu sampai ia lari lagi tiga tindak. Mereka maju terus. malah mereka main merampas dan paksa. kalau menghadapi musuh bangsa Kim. habis itu ia melompat naik pula ke atas kudanya. Yen Lieh cambuk punggung kuda si nyonya selagi ia pun kasih lari kudanya dengan begitu kedua ekor kuda segera lari keras.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok buka bungkusan itu yang membuat dia melengak. dengan mencekal golok panjang. dituruti empat kawannya. Tapi justru itu. sapu tangan dan handuk. berikut sepatu dan kaos kaki putih juga. Tepat orang lari kira enampuluh tindak. malah gendewa itu dipakai memanah pula beruntunruntun. Sekarang setelah tukar pakaian. Satu serdadu segera hampiri dua orang ini yang mereka dapat lihat.

Kerananya ia jadi ketinggalan Yen Lieh. maju tidak. akan keluarkan sepucuk surat. ia pondong Pauw-sie untuk dipindahkan ke kuda yang baru. Ia bicara terhadap Pauw-sie. dari itu aku tak dapat pamitan lagi. lalu dengan tiba-tiba. Kapan perwira itu sudah membaca. Satu perwira yang bersenjatakan sebatang golok besar. tiba-tiba Yen Lieh tahan kudanya. Pauw-sie menoleh ke belakang. tayjin. ―Apakah kau tidak kenali aku?‖ dia bertanya. ―Silahkan hujin pakai kudaku ini. mukanya menjadi pucat. Yen Lieh tertawa pula. lantas ia menjadi kaget sekali dan ketakutan. selaku tanda hormat.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tangkap!‖ berteriak tentera yang di belakang itu apabila mereka melihat mayat-mayat rekannya. Perwira itu menjura dalam. suaranya dan sikapnya sangat merendah.‖ Tidak saja perwira itu membasakan dirinya ―pie-cit‖ yang artinya ―bawahan yang rendah‖. Sek Yok heran yang ia dipanggil ―hujin‖ atau nyonyanya si anak muda.‖Kau hendak tunggu apalagi?‖ Sebaliknya daripada serahkan diri atau ketakutan. setelah mana ia kaburkan kudanya itu. mukanya menjadi merah. terutama oleh pengejar yang motong jalan dari samping. Heran perwira itu. larinya pun menjadi tambah perlahan. Dia tertawa pula.‖ ia berkata. ia dapatkan sejumlah tentara pengejar lebih dari seribu jiwa. hingga ia tercengang. Pauw-sie takut bukan main. Yen Lieh rogoh sakunya. pie-cit mengerti. kau lihatlah surat ini!‖ Perwira itu melirik kepada satu serdadu di sampingnya. Setelah lari serintasan. ―Bilang aku ada punya urusan penting dan mesti pulang lantas.‖ ―Baik. nyampingpun tidak. Karena lari terlalu keras. ―Pergi kau sampaikan kepada Han Sinsiang. Seorang diri. Irawan D Soedradjat Page 24 . Yen Lieh tidak pedulikan lagi pemimpin pasukan itu. mukanya pucat pasi. akan tunggu kudanya Pauw-sie rendengi ia. ―Apakah kamu adalah pengawal pribadi dari Han Sinsiang?‖ ia tanya. baik. Serdadu itu lantas sambuti surat itu untuk dihanturkan kepada pemimpinnya. dengan tergesa-gesa ia lompat turun dari kudanya untuk memberi hormat.‖ katanya. Yen Lieh manggut perlahan ia lantas sambuti kudanya si perwiara. Yen Lieh sambuti kembali surat itu. lalu sambil terus berteriak-teriak. dan wajahnya terus menunjuki ia bergelisah.‖ pintanya. maju menghampiri. kopiahnya kopiah besi dan bajunya lapis besi juga. surat itu pun segera ia ancungkan ke atas kepalanya. Segera ia tidak punya jalan lagi. lalu bersama-sama mereka lanjuti perjalanan mereka ke utara. dosaku berlaksa kali mati. Lagi selintasan. Yen Lieh sebaliknya tenang. selagi tentera pengejar mendatangi semakin dekat.‖ katanya.‖ kata perwira itu tetap dengan sangat hormat. ―Nanti pie-cit melakukan pemeriksaan untuk memberi hukuman. tidak kenali tayjin. mereka mengejar. Yen Lieh tertawa gembira.‖ katanya. Yen Lieh kena dicandak pengejarnya. lukanya yang belum sembuh telah pecah pula dan mengeluarkan darah. ―Kau tidak hendak turun dari kudamu untuk manda dibelenggu?‖ perwira itu menegur. Ia mengedipi mata. tanpa mengucap sepatah kata. ―Kami masih kekurangan seekor kuda. ―Nampaknya tentera mu kurang kenal tata tertib ketenteraan!‖ katanya sambil tertawa. Pauw-sie mengawasi kejadian denga hatinya heran bukan main. Sementara itu. Karena tadi ia menunda kudanya. Akan tetapi ketika itu sudah terlambat. Karena itu terpaksa ia tahan kudanya. ―Pie-cit mohon diberi ampun…. ―Nah. ia sambar si nyonya untuk ditarik dan dipindahkan ke kudanya. mana bisa Yen Lieh melawan mereka itu walaupun pemuda ini lihay ilmu panahnya? Celaka adalah kudanya si nyonya Yo ini. ―Kau siapa!‖ ia membentak. ―Pie-cit. ―Perwira itu tuntun kudanya sendiri.

sebenarnya kita masih dapat melanjutkan perjalanan. ―Sekarang ini kita telah ketahuan siapa adanya. Untuk herannya ia lihat si perwira dan barisannya masih belum pergi. Sek Yok heran dan kagum untuk si anak muda.‖ Lantas keduanya larikan pula kuda mereka.‖ Sek Yok bingung tidak berdaya. dia jerih tiga bagian. ―Baik. Untuk melegakan hati si nyonya. ―Kita tunggu sampai suasana reda.‖ Yen Lieh berkata. Ia berpaling kepada si anak muda. ―Jikalau nyonya anggap saranku kurang sempurna. Ia tidak mengerti. Nyonya…. sekarang ia terletak dekat dengan kota raja. Percaya saja ia ragu-ragu. Bukankah ia sudah rudin dan tak bersanak kandung juga? Kemana ia mesti pergi untuk pernahkan diri? Bukankah lebih baik ia turut pemuda ini? Tapi dia ada satu janda.‖ ―Jikalau begitu. Sek Yok menoleh ke belakang.‖ Sek Yok melengak. tentang sakit hati suamimu itu serahkan kepada tanggungjawabku seorang. ―Nyonya….‖ ―Harap kau tidak sebut-sebut tentang budi…‖ kata Sek Yok. mereka tiba di Kee-hin.‖ ―Habis bagaimana?‖ si nyonya tanya pula. ―Hari masih siang.‖ dia bilang. ingin ia menanya.. tapi anak muda itu. dapatkah kau mempercayai aku?‖ bia tanya. ―Nyonya .‖ katanya. Luas pengetahuannya si anak muda. baik.‖ sahut si anak muda. tak nanti aku lupakan. Yen Lieh sering membuka pembicaraan. Memangnya kota sudah ramai pada asalnya. ―Mari kita cari hotel untuk singgah dan beristirahat dulu.‖ Sek Yok mengutarakan pikirannya. ―Sekarang ini mari kita balik dahulu ke utara. Hawa udara ada nyaman karena itu waktu pun ada di musim pertama yang indah. tidak melainkan kita bakal gagal. keramaiannya menjadi bertambah sendirinya. cara bagaimana ia bisa terus ikuti pemuda itu? Dia jadi menjublak karena kesangsiannya itu. Sek Yok menjadi tak enak sendirinya. Pada tengah hari di hari ketiga. Ia dapati orang halus sikapnya dan menarik kata-katanya. ―Bukankah ini baru dibeli?‖ tanyanya.Pendekar Pemanah Rajawali Sesudah jalan beberapa puluh tindak. atau setempo dengan berendang. apapula segala perwira itu……. Di sepanjang jalan ada kedapatan pohon-pohon yangliu dan bunga. ―Disini ada banyak toko.‖ kata Pauw-sie. Pauw-sie mengangguk. Nyonya. ―Soal itu ada lain. kadang-kadang yang satu di depan yang lain di belakang. ―Maka itu. Yen Lieh berdiam sejenak. ―Pakaianmu sudah terpakai lama.‖ Yen Lieh mengajak. apabila kita pergi menuntut balas sekarang juga. sesukamu…‖ katanya perlahan. pandai ia memilih bahan pembicaraan.‖ Yen Lieh bilang. Nyonya legakan hati.‖ Menampak sikap orang itu. kota dari sutera dan beras. sebuah kota besar di Ciat-kang barat. ini kawan seperjalanannya yang sebenarnya asing untuknya. Orang pun tampan dan menyenangkan untuk dipandang. silahkan kau beri petunjukmu. ―Walaupun Han To Cu sendiri yang melihat aku. sambil tunduk. Yen Lieh menjadi girang sekali. baru kita berangkat pula ke selatan ini untuk maksud menuntut balas itu. nanti aku belikan yang baru. pihak tentera tentu telah membuatnya persediaan. Nyonya. pastilah gampang untuk kau membalaskan sakit hatiku. orang pun bukan sahabat bukan sanak. ―Budimu yang besar. kita pun bisa mendapat celaka. ―Akan aku turut segala titahmu. ―Apanya yang dibilang lama?‖ Irawan D Soedradjat Page 25 .‖ kata Yen Lieh melihat orang berdiam saja. agaknya mereka itu masih mengasih selamat jalan……. ―Baiklah. sambil tertawa mendahulukan dia.

tindakan kakinya terus berbunyi ketrakketruk. Mungkin sudah belasan hari ia tidak pernah mandi. Dengan lekas ia menghampiri.‖ kata Yen Lieh.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kita jalan jauh dan ditengah jalan banyak debu. si jorok itu ulur tangannya. dia ada membekal uang empat atau lima puluh tail perak akan tetapi sekarang kantungnya kosong. dengan pakaiannya yang mentereng. maka itu sambil mengerutkan kening. tetapi karena orang demikian jorok. Yen Lieh terus tanya-tanya orang. berminyak. tak tahu ia di mana lenyapnya uangnya itu. jongos. hendak aku balik ke kamarku untuk mengambil. Ia menjadi berani. hendak aku pergi berbelanja. Sekarang ia tak sungkan-sungkan lagi.‖ Yen Lieh bilang. mana boleh kau tidak memakai pakaian dari bahan yang terbaik?‖ Diam-diam senang hatinya Sek Yok karena orang puji kecantikannya. Setibanya di dalam kamar. Orang mirip dengan satu sastrawan tetapi ia jalan sambil menyeret sepatu kulit. ―Apa?! Kau tidak membawa uang?‖ katanya.‖ kemudian kata si pemuda. laginya dengan wajah ini.‖ terangkan si anak muda. kau jangan pandang tak mata kepada baju tuanmu yang rubat-rabit ini! Kau tahu. ―Dengan dipakai baru satu dua hari. Nyonya. Anak muda ini gagah. bagaikan siulannya burung malam. ―Eh. Ia tahu. ia menjadi tercengang pula. sepatu itu berbunyi ketrak-ketruk walaupun ia jalannya perlahan. dengan kipas bututnya dia tepuk pundaknya Yen Lieh. mau tidak mau timbul kecurigaannya. ―Kau tunggu sebentar. Yen Lieh ada apik. bukannya aku kurang ajar…‖ katanya sambil memberi hormat. Ia dapatkan buntalannya tidak ada uangnya. ada bocah yang tersesat. buat anglap makanan dan hotel! Terhadap bocah begitu macam. pakaianmu sudah tak mentereng lagi. dia ngeloyor terus. Yen Lieh bisa duga hati orang. Nyonya. ―Apakah wanita ini benar istrimu?‖ dia tanya. Di tangannya ia mencekal satu kipas kertas minyak warna hitam yang sudah buntut. atas tepukan itu tak keburu ia berkelit. ia lihat seorang mendatangi. ―Binatang!‖ katanya dalam hatinya. untuk mengakali kaum wanita. Ia menjadi tidak senang. Pauw-sie mengangguk. Jongos itu lihat air muka orang. Jongos mengikuti ke kamar. suaranya kering. ―Apakah kau tengah menipu dia? Janganlah kau nanti rembet-rembet kami!‖ Irawan D Soedradjat Page 26 . lalu duduk bersantap. akan tetapi. Ketika ia tiba di ujung hotel. ia gancangi tindakannya. Tiba-tiba orang jorok itu tertawa. sepatunya terus berbunyi: ―Truk! Truk! Truk…!‖ Panas hatinya Yen Lieh. ia menoleh kepada jongos hotel seraya berkata dengan keras: ―Eh. akhirnya ia ajak nyonya itu ke hotel Siu sui yang paling besar untuk kota Kee-hin. Nyonya itu lantas membungkam. ―Tuan. Orang itu perdengarkan pula tertawanya yang kering itu. walaupun orang mirip sastrawan. ia jadi menduga terlebih keras. orang mana menyolok perhatiannya. ia tangal-tongol di muka pintu dengan begitu ia jadi dapat lihat orang tidak punya uang. tertawanya itu tajam menusuk telinga. ialah pakaiannya kotor. ―Bukankah dia maksudkan aku?‖ Jongos itu melirik kepada pemuda ini. Dia pun tidak karuan dandannya. ia jalan terus. baru ia sampai di muka hotel. Dia tertawa terus beberapa kali. Yen Lieh lantas pergi keluar. ―Kau tunggu . kau bikin apa`?‖ ia menegur. harap kau tidak kecil hati. sembari jalan dia mengipasipas tak hentinya. kau mesti awas mata! Paling baik kau minta dia membayar uang sewa di muka!‖ Lalu dengan tak menantikan jawaban. Sementara itu tangannya meragoh ke sakunya. tetapi segera ia melongo. Ia heran. Di sini mereka paling dulu bersihkan tubuh. ―Aku tengah berkabung…‖ katanya perlahan. tak mau ia jalan di dekatnya. ―Terang itu aku tahu. ―Kau pegang uang ini!‖ katanya menyela. tuan besarmu ada punya uang perak! Di pihak lain. Ia mau menyangka tadi karena terburu-buru ia lupa bawa uangnya. dia pentang aksi untuk bikin orang silau guna menipu. Tepat ketika keduanya impas-impasan. kotor juga mukanya yang penuh debu. khawatir tubuhnya nanti kena terlanggar.

Tentu ia menjadi gusur. kasihkan pada Khay Oen Cong. ―Apakah kau edan?‖ si kepala polisi tanya. ―Eh. tidak ada yang berani banyak mulut lagi. Yen Lieh tetap tertawa. ―Mau apa kau datang ke Kee-hin ini?‖ Yen Lieh tetap tidak bergerak. Dengan tiba-tiba Yen Lieh mencelat ke pintu dan tangannya menyambar. ―Apakah kamu hendak berkelahi?‖ tanya Yen Lieh sambil tertawa. kau she apa?‖ menegur yang menjadi kepala. Menampak demikian. ia berkata: ―Kau bawa suratku ini. Pihak hotel atau tetamu. lalu ia terus pergi. ia datang ke mari atau tidak!‖ Orang polisi itu jumput surat itu. hingga orang itu jungkir balik. di luar terdengar suara berisik lalu muncul belasan orang polisi. Di situ ia lantas bercokol. ―Pergi kau panggil Khay Oen Cong kemari!‖ ia bilang. ya bagus betul! Kau sewa kamar tidak mau bayar. rombongan oppas itu tidak berani lantang maju. yang romannya seperti buaya darat. Kata-kata itu disusul sama mencelatnya tubuhnya. sikap mereka garang. Hamba negeri itu terkejut. Untuk kira setengah jam.‖Bagaimana kau berani sembarang sebut namanya Khay Toaya kami?‖ Yen Lieh rogoh sakunya. jangan kasih dia buron…‖ pesannya pada orang-orangnya. yang bersenjatakan golok dan thie-cio. sambil pegangi pipinya dia menjerit: ―Bagus. Kali ini ia tertawa. kemudian sambil matanya memandang mega. Irawan D Soedradjat Page 27 . urusan menjadi hebat. Jongos tadi yang telah kabur keluar segera kembali bersama belasan orang. ―Itulah yang aku kehendaki!‖ sahutnya. Tak tahu ia maksudnya pemuda ini. akan kemudian diturut oleh kawan-kawan yang telah terima hajarab. ―Plok!‖ demikian suara di mukanya si jongos yang pipinya menjadi bengap dan giginya rontok beberapa biji. lalu tahu-tahu ia telah rampas toyanya satu orang denagn apa terus ia menghantam kalang kabutan. ―Ah. kau juga berani pukul orang!‖ Dengan murkanya Yen Lieh mendupak. ―Kita tidak punya uang tetapi kita boleh suruh mereka mengadakannya!‖ Ia lantas sembat sebuah kursi yang ia letaki di ambang pintu. Baharu kemudian. ―Mana dia si penjahat!‖ Yen Lieh bercokol tidak bergeming.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok tidak tahu apa yang sudah terjadi tetapi ia dapat menduga. mereka sipat kuping. ―Mari kita lekas pergi!‖ Sek Yok mengajak. mukanya menjadi merah. ialah ruyung pendek yang bercagar atau gagangnya bergaetan. tiehu atau residen dari Keehin. ―Kamu jaga dia. setelah membaca sampulnya ia terkejut. suaranya keren. Khay Oen Cong itu adalah namanya pembesar mereka. sisa yang lainnya lantas lemparkan senjata mereka dengan memutar tubuh. untuk mengeluarkan sepucuk surat yang mana ia lemparkan ke atas meja. ―Jangan kita nginap disini!‖ ―Jangan takut!‖ kata Yen Lieh. yang repot merayap bangun. Kemudian mereka menjdi gusur. aturan dari mana?‖ demikian di antarannya pentang bacot. Sekejap saja empat lima orang telah terguling rubuh. Ia malu dan bergelisah. Nyonya Yo bungkam. Menyaksikan sikap orang itu.‖ kata SekYok dengan berkhawatir. Hendak aku lihat. akan tetapi agaknya ia masih sangsi. mungkin nanti datang pembesar negeri. masih berani galak. hotel menjadi sunyii. Mereka pun bekal borgol yang rantainya berkontrangan. ―Sudah menipu wanita. tangan mereka membawa toya dan ruyung.

‖ katanya.‖ kata Oen Cong dan Bun Kay dengan cepat.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok saksikan itu semua. kami tidak datang menyambut. Itulah suara beberapa puluh orang polisi. tolong sebutkan. ―Tempat di sini lebih meyenangkan. nanti piecit siapkan. ia menoleh ke belakang seraya geraki tangannya. Cuma tangannya diulapkan. lenyap darahnya. mukanya menjadi pucat. ―Sebenarnya suratmu itu wasiat apa?‖ ia tanya. yang satu bermuatkan emas berkilau kuning dan yang satunya lagi bersis perak yang berkeredep putih. lalu dengan cepat ia seret si jongos pergi. Kamu jangan ganggu aku. ―Aku lebih suka tempat yang tenang. Oen Cong dan Bun Kay mengundurkan diri dengan hormat dan tanpa berisik semua polisi mengikuti mereka.‖ berkata mereka. hingga ia bisa tertawa. ia lemparkan itu ke atas tanah. ―Piecit adalah Khay Oen Cong. ―Atau setidaknya dia pembesar berpangkat sangat tinggi…. itulah kealpaan kami. ―Ya.‖ Yen Lieh ulapkan tangannya. semua pembesar sipil dan militer hormati dan takuti dia. keduanya lantas saja memberi hormat sambil tekuk lutut. ―Dia mengaku sebagai sahabatnya Han Sinsiang. ―Aku telah kehilangan uang di dalam kecamatan ini. Sampai disitu Pauw Sek Yok menjadi heran. orang-orang sebawahannya Tio Kong semua bangsa kantong nasi. lekas-lekas ia pungut uang itu. ia membungkuk sedikit. ―Baik. yang mengiringi dua pembesar dengan pakaian dinasnya. Kenapa dia sekarang berani terang-terangan menyebut nama kaisar? Irawan D Soedradjat Page 28 . hatinya pun lega. benar-benar tidak pantas!‖ Sek Yok heran.‖ ia menyahut. ―Piecit telah siapkan tempat beristirahat. ―Tayjin masih membutuhkan apalagi. ―Aku persen ini kepadamu!‖ katanya sambil tertawa. aku mohon Tuan-tuan suka tolong periksa dan mencarinya.‖ berkata Khay Oen Cong. sesudah mana di luar hotel terdengar pula suara berisik dari orang banyak. baiklah. terutama terhadap Kiang Bun Kay si camat. Bukankah residen dan camat pun mesti berlutut terhadap tetamunya itu? Tidak ayal lagi dengan dipimpin kuasa hotel. ―Satu pembesar sampai ketakutan demikian rupa!‖ Yen Lieh tertawa. ―Sebenarnya tidak ku niat pedulikan mereka.‖ Yen Lieh dongak. Nyonya Yo Tiat Sim menjadi terperanjat. Dengan tidak bilang apa-apa lagi. ia berlutut dan manggut-manggut. kalau negara mereka tidak lenyap. ia bersangsi. ―Pembesar itu sendirinya tak punya guna. atas mana muncul dua orang polisi yang membawa dua menampan-menampan.‖ dia berpikir. Khay Tiehu lantas angsurkan suratnya pemuda itu. silahkan Tayin dan hujin singgah di sana. tiehu dari Kee-hin dan Kiang Bun Kay tiekoan dari Siu-sui-koan. Dengan cara hormat. hebat ia menunggu kira setengah jam.‖ Yen Lieh tertawa. Karena ini. ―Siapa itu Tio Kong?‖ tanyanya. Jongos saksikan itu semua. ―Sekarang ini sudilah kiranya Tayjin menerima dahulu ini jumlah yang tidak berarti. ―Di tempat kami ada penjahat yang main gila. dia berlutut seraya memohon ampun.‖ ia berkata. ya. ―Lekas pergi!‖ Jongos itu melengak.. habis mana. ia tidak menyahuti. tetapi kapan kuasa hotel lihat wajah si tetamu tenang dan ramah. aku menyangka dialah sanaknya kaisar.‖ berkata Yen Lieh. Tak tahu ia urusan bakal jadi bagaimana hebatnya. hatinya terus goncang. ia mengangguk. harap tayjin suka memaafkannya. ―Tio Kong ialah Kaisar Leng Cong yang sekarang!‖ sahut Yen Lieh.‖ tiehu itu memohon kemudian. Kapan mereka berdua sampai di depan Yen Lieh.‖Piecit tidak ketahui tayjin tiba disini. khawatir orang gusar. Yen Lieh mengambil sepotong perak dari atas nenapam.‖ Dengan tiba-tiba wajah si anak muda menjadi keren. Khay Oen Cong menyahuti dengan cepat.

apa itu bukan artinya sangat kurang ajar. ―Sebenarnya aku yang rendah ini adalah Wanyen Lieh. hampir berbareng mereka menyerukan: ―Ongya!‖ Dan lantas semuanya memberi hormat sambil berlutut. kau…‖ katanya Sek Yok dengan suara yang gemetar. Itulah beberapa puluh serdadu denag pakaiannya yang tersulam.‖ Mau atau tidak Sek Yok terperanjat. lenyap senyumnya si nyonya. Pernah dahulu ia dengar ayahnya bercerita bagaimana bangsa Kim telah menggilas-gilas wilayah Tionggoan. ―Setibanya kita di utara. ―Ke Utara?‖ dia bertanya. tetapi dengan alasan penghasilan negaranya tidak mencukupi.‖ dia menyahuti. Ia baharu mau menyahuti. Ia lantas berkata. ―Tidak ada halangannya untuk aku menyebeutkan namanya. Wanyen Lieh lihat air muka orang berubah. ―Bagaimana kau lihat semua orangku dibandingkan dengan tentara Song?‖ ia tanya. ia tidak terlalu heran. bahwa rakyat di utara telah diperlakukan dengan kejam oleh bangsa Kim itu. karenanya pada tahun baru yang baru lalu telah aku mohon Ayahanda raja mengirim aku ke Lim-an sebagai utusan yang datang untuk memberi selamat tahun Baru kepada kaisar Song. maka kali ini aku tidak sungkan-sungkan lagi menghadapi Perdana Menteri Han To Cu. ―Bicara terus terang nyonya. nampaknya ia sangat tidak puas. putra keenam dari Raja Kim. ia juga ketahui bagimana hebat suaminya itu membenci bangsa Kim itu. Yen Lieh mengangguk. Segera terdengar tindakan banyak kaki yang bersepatu kulit memasuki ruang hotel. Irawan D Soedradjat Page 29 . Pangeran Tio Ong adalah aku yang rendah….‖ sahut putra raja Kim itu. ― Telah lama aku kagumi keindahan wilayah selatan. Mereka semua bertubuh besar dan kekar. ―Semua keluar!‖ kemudian Yen Lieh berkata.Pendekar Pemanah Rajawali Kalau hal ini di dengar orang. ―Ya. Ia hanya heran menyaksikan rombongan serdadu itu. ―Akhir-akhirnya kamu dapat cari aku!‖ kata Yen Lieh sambil tertawa Sek Yok dengar orang dipanggil ―ong-ya‖ – ―sri paduka‖. tangannya diulapkan. bagimana dua kaisar Tionggoan telah ditawan. adalah putranya raja Kim itu.‖ ―Upeti tahunan?‖ Sek Yok heran. Tentu saja oleh karena ini ia menjadi tidak dapat membuka mulutnya. Begitu mereka melihat Yen Lieh. ―Apakah mereka bukannya tentara Song?‖ si nyonya membaliki. dari itu Ayahanda raja menitah aku menagihnya sekalian.‖ ia menyahut sambil tertawa. sering-sering kaisar Song tidak menepati janjinya. habis kita mesti memanggil apa?‖ Lagi sek Yok terkejut. Sekarang diluar tahunya. Ia lantas saja mengerutka kening. yang terus berbangkit untuk berdiri dengan tegak. riang gembira. dia janji saban tahu mengirim upeti uang dan cita. Yen Lieh kembali tertawa.. tapi di luar hotel terdengar tindakan dari beberapa puluh kuda yang terhenti tepat di muka hotel. ―Kalau begitu kau jadinya. Yen Lieh tertawa. yang menjadi musuh Tionggoan. semua menunjuki wajah sangat girang. Sek Yok sebaliknya terkejut. ―Kerajaan Song mohon negaraku tidak menyerang dia. terus ke muka kamarnya si anak muda. orang dengan siapa siang dan malam ia berada bersama selama beberapa hari. ―Semua serdadu itu adalah tentara pilihan dari negara Kim yang besar!‖ Dan dia tertawa pula. Di samping itu kebetulan kaisar Song belum membayar upeti tahunannya yang berjumlah beberapa puluh laksa tail perak. panjang dan puas sekali. Mereka beda daripada tentera Tionggoan. setelah ia menikah dengan Yo Tiat Sim. Dengan berbareng menyahuti semua serdadu itu mundur teratur. aku sendiri bakal mengepalai angkatan perang untuk mengambilnya dan dia tak usah capekkan hati lagi mengurusnya!‖ ―Apa katanya Han Sinsiang?‖ Sek Yok tanya. ―Sekarang baiklah aku omong terang padamu!‖ katanya. ia tercengang. namaku mesti ditambah satu huruf ―Wan‖ di atasnya. apabila dalam tempo satu bulan upeti tidak dibayar penuh. Kemudian. Peragamannya rapi.?‖ Maka lekaslekas ia berkata ― Bicara hati-hati! Nama raja mana boleh sembarangan disebut-sebut?‖ Senang Yen Lieh akan mengetahui nyonya ini menyayangi dia. apa ini didengar orang. jikalau kita tidak panggil dia Tio Kong. aku tandaskan kepadanya. dibawa pulang ke negeri Kim itu.

Jalan besar di situ tidak lebar. kakinya bergerak. orang-orang yang berlalu lintas kebetulan banyak. ―Nah. nampak beda juga. uang dan cita sudah diseberangkan sungai. matanya memandangi sekitarnya hingga mendadak ia dengar larinya kuda derap. seperti kelit sana dan kelit sini. numprah dengan aman! Wanyen Lieh kagum hingga ia menjublak. ―Bagus!‖ Si kate terokmok dengar orang memuji dia. Ia lantas memikir untuk nanti. Dengan perasaan puas. sesudah itu. kuda mana terus lompat melewati atas kepalanya dua bocah itu. Di sebelah keanehan si penunggang kuda. sungguh aku sangat beruntung. Irawan D Soedradjat Page 30 . Ia lantas menyingkir ke pinggiran. ―Menagih upeti ada urusan yang remeh. ia jadi tertawa sendirinya. Wanyen Lieh memuji akan tetapi. kapan ia saksikan penunggangnya. tegap tubuhnya dan pesat gerakkannya. maka itu diam-diam ia mengaguminya. tak habis kau pakai itu selama seribu tahun. apa maksudnya putra raja Kim itu yang ia seorang wanita dari rakyat jelata. Wanyen Lieh pergi ke kota di bagaian yang ramai. dengan bercokol di atas kuda yang tinggi besar. Itulah seekor kuda kuning yang tinggi dan besar. dan pinggiran jalanan pun ditempati pedagang-pedagang gelar dan pikulan. ―Uang pribadi Han Sinsiang sendiri yang dibekali padaku. jikalau aku pakai itu untuk membeli pakaian. Itulah perlakuan istimewa. Itulah satu muka yang merah seperti ampas arak. Sudah ia pendek tangan dan pendek kaki. kate terokmok angkat lesnya. supaya dapat ia tinggal tetap di Kanglam…. yang kelihatan cuma kepalanya yang gede. Hahaha!!‖ Sek Yok berdiam. cukup dengan utus satu menteri.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apa lagi dia bisa bilang? Belum lagi aku meninggalkan Lim-an. yangmuncul mengkeret di atasan pundaknya.‖ berkata pula Wanyen Lieh. Tepat di itu saat.‖ Pauw Sek Yok tetap bungkam. ―Aku tetapi datang sendiri. terang itu adalah kuda asal luar tapal batas. kenapa ada orang yang larikan kudanya di situ. dia berpaling. lehernya pun seperti tidak ada. Hampir di itu waktu. Kuda itu kaget. walaupun kuli. ―Kuda itu jempol. ia lantas mendekam di pembaringannya dan menangis sedih sekali. karena ingin aku menyaksikan kepermaian wilayah selatan ini. Menampak kuda itu. tetapi sekarang tanpa merasa ia berseru. Sebentar saja kuda itu telah tiba. Putra raja Kim itu tertawa ketika ia berkata pula. ia dapat bergerak merdeka. baik aku beli denagn harga istimewa. Ia lihat penduduk kota ada halus gerak-geriknya.‖ kata Sek Yok tunduk. maka dengan itu Wanyen Lieh dapat lihat tegas muka orang. ia hanya heran sekali. dengan hitung besar dan bulat seperti buah prim merah ditempel di muka. Alisnya kuncup. Sekarang ia insyaf bahwa manusai tidak dapat di lihat dari romannya saja. Nyonya! Kau jangan takut. aku bertemu dengan Nyonya. sekarang hendak aku pergi beli pakaian.‖ pikirnya. aneh juga cara kudanya berlari-lari. orang bangsawan ini bertindak dengan perlahan-lahan. Penunggang kuda itu adalah seorang yang tubuhnya kate dan terokmok dan romannya jelek. bercokol lagi di bebokong kuda seperti tadi. ia mirip setumpuk daging belaka. di jalan itu muncul dua bocah berlari-lari main kejar-kejaran melintas di depan kuda. ia akan mohon ayahnya angkat ia menjadi Gouw Ong. Dengan membekal uang. Kapan ia ingat suaminya. Kuda itu tidak pernah menerjang barang atau menyentil orang.‖ kata Wanyen Lieh kemudian. yang sangat mencintainya. kapan ia mengepalai angkatan perang mendatangi wilayah ini. ―Tidak usah. pangeran wilayah selatan ini. di negaranya sendiri – negera Kim tidak ada penunggang kuda sepandai dia walaupun ia ada punya banyak ahli penunggang kuda. karena hotel itu telah dijaga rapat. tidak nanti orang jahat yang berani ganggu padamu!‖ Mendengar itu Sek Yok mau menduga bahwa ia telah diancam dengan samar-samar bahwa tak dapat ia melarikan diri apabila ia memikir demikian. Lihay luar biasa si cebol itu. Wanyen Lieh merasa ia adalah satu ahli penunggang kuda. tubuh si kate turun pula. diperhatikan demikian macam. atau melompati pukulan pedagang-pedagang. maka adalah diluar dugaanku. di empat penjuru sini telah berjaga-jaga pasukan pribadiku. tubuhnya pun terangkat dari bebokong kuda.

ia lemparkan sepotong uang ke atas meja kuasa restoran itu. ayahnya dikirimkan arak serupa oleh utusan kaisar Song dan oleh ayahnya ia dibagi beberapa guci. Han Samya!‖ berkata si kuasa ciulauw sambil tertawa. ia berberang sudah perhatikan keletakan daerah. untuk sedot arak itu berulang-ulang! Dalam keheranan. maka dilain saat sudah terdengar tindakannya yang cepat di undakan tangga loteng. sayang kalau orang pandai ini tak dapat digunai olehku. sambil kasih dengar bentakan. Malah ia lantas lari untuk menyusul penunggang kuda itu. Malah ia ingat juga namanamanya setiap pembesar setiap tempat serta kepandaiannya setiap pembesar itu. Dewa Mabuk. Si kate tidak lompat naik ke atas kudanya. ―Pemerintah di selatan ini justru buruk. ia saksikan seekor kuda tunggangan diberikan arak itu! Si kate tinggalkan kudanya minum. ―Kebetulan hari ini kami dapat empat ekor ikan saylouw. Selagi ia khawatir nanti tak dapat menyandak. sedangnya ia berniat mengoaki si kate itu.‖ dia negelamun terlebih jauh. mulutnya dibuka untuk perdengarkan ringkikkan. si kate tidak cukup tinggi untuk kepalanya menyundul sanggurdi. Dengan mendatangi Kanglam. di samping aman ada pula empat huruf kecil bunyinya: ―Tong Po Kie-su‖. sebaliknya lebar tubuhnya ada tiga kaki penuh. Ia sangat menyayangi arak jempolan itu. mulutnya dikasih masuk ke dalam guci. Pernah selama di Yankhia. bukankah pasukan kudaku bakal menjagoi di kolong langit ini?‖ dia berpikir. Berdiri di tanah si kate nampaknya semakin tak mengasih. ―Yang delapan meja makanan dengan daging. Selagi Wanyen Lieh terheran-heran. si kate terokmok sudah lompat turun dari kudanya dengan cepat luar biasa. Ia percaya ia dapat melakukan itu hanya tidak sedemikian sempurna. ia kembali ke restoran. mendadak kuda orang itu berhenti berlari. hanya ia berdiri di depan binatang tunggangannya itu. di situ ia letak guci araknya. Dia pun melamun. Maka inginWanyen Lieh menyaksikan orang punya sepak terjang lebih jauh. dengan tidak pecah seluruhnya. Tadinya Wanyen Lieh ingin memasuki ciulauw itu atau segera ia tampak si kate sudah keluar pula sambil tangannya membawa satu guci arak yang terus dibawa ke depan kudanya. yang satu sayuran saja. Dengan berdiri berdekatan. ―Lekas kamu sajikan sembilan meja barang hidangan kelas satu!‖ kata si kate. ia telah memasuki sebuah restoran di pinggiran mana kudanya dihentikan secara istimewa itu. yang tak ada lawannya yang lainnya untuk teman arak! Tentang emas ini. setelah turunkan kedua kakinya ia terus tunduki kepalanya. yang aliasnya Thay-pek dan julukannya Cui Sian. atau tenaga dalam yang sempurna. Karenanya ia lantas ambil ketetapan untuk undang kate terokmok itu. kuda kuning itu angkat naik kaki depannya. Putra raja Kim itu angkat kepalanya. Tak biasanya kuda larat dapat berhenti secara demikian tiba-tiba. Tanpa Iweekang. Mengenai nperhitungannya nanti perlahan-lahan kita mengurusnya…‖ Irawan D Soedradjat Page 31 . maka matanya lantas melihat sepotong papan merek dengan bunyi empat huruf ―Tay Pek Ie Hong‖.‖ pikir Wanyen Lieh. itu penyair yang terkenal.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau dia bisa diundang ke kota rajaku. ia babat guci sebatas pundaknya guci itu hingga tempat arak itu menjadi terbuka bagaikan jambangan. Ia kenali arak itu adalah arak Siauwhin yang kesohor. Di depan ia adalah kudanya. Riasannya ciulauw pun ada istimewa. aku minta sudi apakah kiranya samya simpan dahulu. dan teliti sepak terjangnya. arak simpanan tiga atau empat puluh tahun. untuk berdongak.‖ ―Baik. Kembali ia menjadi heran. tak hendak ia sering-sering meminumnya. Jadi itu sebuah ciulauw. untuk jadi guru. habis mana dengan sebelah tangannya. ―Ah. Begitu lekas guci telah terbuka. hingga ia tahu baik sekali tempat-tempat dimana ia dapat pernahkan tentaranya atau dimana dia dapat seberangi sungai. Wanyen Lieh segera dapat mencium baunya arak yang melulahkan terbawa angin. ia mengenal ilmu tenaga dalam yang lihay. Jadi itu ada ciulauw yang pakai nama Souw Tong Po. ibukotanya. Memang putra raja Kim ini adalah seorang denagn cita-cita luhur. Di atas loteng ada lagi sebuah papan merek dengan tiga huruf ―Cui Sian Lauw‖. akan tetapi di sini. Nyata itu adalah sepotong emas yang berkilau kuning. biasanya kuda itu mesti berlari-kari perlahan dahulu. yang hurufnya kekar dan bagus. tidak nanti guci arak dapat ditebas kutung dengan tangan. Tingginya tak ada tiga kaki. ia pun lantas berdiri di pinggiran. atau sebuah restoran. berapa besar faedahnya apabila ia berhasil membeli kuda istimewa itu. yang istimewa tinggidan besarnya. Putra raja Kim ini ingin menontoni kelakuan.

Wanyen Lieh lihat di tengah perahu ada berduduk satu orang. Di sini ada sinar matahari yang menyoroti pengayuh itu. Lagi beberapa gayuan. apabila ia menoleh. Telaga itu pun ada mengeluarkan hasil yang kesohor yaitu bu-kak-leng. Wanyen Lieh diam-diam perhatikan dua pendatang baru ini. ―Menenggak arak tanpa uangnya ? Apakah kau sangka Han Samya kamu ini tukang anglap?‖ Kuasa ciulauw itu tertawa haha-hihi. untuk apa meja sembilan ini?‖ ia menerka-nerka. Kali ini ia tampak sebuah perahu nelayan yang kecil. aku tunggu dulu. panjang bulu matanya. ―Apa?!‖ serunya aneh. Di jaman dahulu. Orang yang menumpang perahu itu satu pria. kenderaan air itu segera mendekati restoran. tak ada bandingannya untuk Kanglam. Hanya herannya untuk setiap meja ditaruhkan Cuma sepasang sumpit dan satu cawan arak. tanpa layani si cebol itu. yang laju pesat sekali. ―Kalau yang datang cuma sembilan orang. Perahu itu kecil tatapi panjang. ―Dan di sini orang sangat menghormatinya. Setelah perahu kecil itu datang semakin mendekat. ia berpaling ke dalam dan berseru: ―kawankawan. sama kesohornya dengan araknya. Mulanya ia tidak menaruh perhatian. Itulah kulitnya Irawan D Soedradjat Page 32 . ―Sietee. tubuh perahu seperti melompat di atasan air. kamu datang siang-siang?‖ kata si cebol. Ia minta satu poci arak serta barang makanan sekedarnya. Telaga Selatan. kepalanya terangkat naik. Si wanita tampak perahunya dipelatok di samping tangga batu di bawah loteng restiran. buah lie keluaran sini kesohor manis. sebagaimana kawannya juga duduk dikursi lainnya. kulitnya putih bagaikan salju. sedang yang mengayuh yang berbareng menjadi pengemudi. Kee-hin dipanggil Cui Lie atau Lie Mabuk. tengah remajanya.Pendekar Pemanah Rajawali Mendengar itu. ―Jikalau jumlahnya banyak. yang duduk di belakang ada seseoarng yang memakai baju rumput. Seorang wanita bertenaga demikian besar inilah aneh: maka aneh juga pengayuhnya itu yang dapat dipakai mengower air demikian kuat.‖ pikirnya. kepada si kate terokmok. atau lengkak yang tidak ada ―tanduknya‖ yang rasanya empuk dan manis. Dia beramta besar. Wanyen Liaeh memandangi keindahan telaga. Kee-hin adalah sebuah kota negara Wat. Itu waktu tengah telaga nampak kabut tipis. Di situ pun kedapatan banyak pohon lengkak yang daunnya hijau-hijau. matanya si kate terbelalak. akan tetapi perahu itu lahu melesat.? Ia memikir tetapi tidak dapat jawabannya. Keduanya terus mendaki tangga loteng. habis itu ia lompat ke darat. Restoran Cui Sian Lauw ini letaknya di pinggir Lam Ouw. mengapa Cuma disediakan sembilan cawan saja? Apa mungkin ini ada adat kebiasaan di selatan ini…. Kembali Wanyen Lieh memandang ke telaga. sampai sejenak saja perahu itu dapat melewati sebuah perahu kecil yang terpisah jauh darinya. hendak aku saksikan orang-orang macam bagaimana yang ia undang berjamu. Dengan begitu ia pun menantikan tetamu-tetamunya si cebol. Mungkinkah ia ada okpa di kota Kee-hin ini? Kalau benar. Hap Lu. Kouw Cian telah labrak Raja Gouw. Di jaman Cun Ciu. Dia masuki pengayuh ke dalam air. Si cebol sudah lantas duduk minum arak di sebuah meja. Sambil hirup araknya perlahan-lahan. Di pinggiran perahu berdiri dua baris burung-burung air peranti menangkap ikan. Disini dahulu Raja Wat. lompat mendarat juga setelah ia samber sepotong kayu pikulan yang kasar. lalu tertampak suatu cahaya berkilau mengkeredep. nampaknya ia mengayuh denagn perlahan. lekas sajikan arak dan makanan untuk Han Samya!‖ Seruan itu sudah lantas sapat sambutan berulang-ulang. di muka air ada beberapa buah perahu kecil lagi mundar-mandir. Nyata pengayuh itu terbuat dari kuningan. Tenaga mengayuh itu mungkin ada tenaga dari dua ratus kati. tentu sulit rasanya untuk undang ia menjadi guru…Baiklah. Segera ternyata ia adalah seorang wanita. minumnya ayal-ayalan.‖ Karena ini ia hampiri ciulauw itu untuk naik ke loteng dimana ia pilih satu meja di pinggir jendela. ―Shako!‖ memanggil si nona tukang perahu setibanya di atas loteng. Tiba-tiba ia dengar suara beradunya sumpit da cawan-cawan arak. ia dapatkan beberapa jongos mulai mengatur sembilan buah meja. ―Si kate ini berpakaian tidak karuan tetapi ia sangat royal. Wanyen Lieh menjadi heran sekali. citmoay. Itu pun sebabnya di dalam telaga tumbuh banyak pohon lengkak itu. Si wanita berusia tujuh atau delapanbelas tahun. Lega hati untuk memandang permukaan telaga itu. Dia pun lantas sambil sebuah meja.

di bawah loteng terdengar ringkikan kuda yang disusul sama jeritan kesakitan hebat dari dua orang. Pengurus dari Cui Sian lauw tertawa. tubuhnya terlibat semacam kain. Sungguh celaka. Si pengkor merangkap buta ini rupanya telah dengar pembicaraan orang banyak itu. kedua ujungnya muncul sedikit. suaranya parau. sungguh mereka sudah bosan hidup!‖ ―Rupanya mereka hendak mencuri kuda lalu kena kuda jentil‖ pikir Wanyen Lieh. ialah pesawat timbangan. sepatu rumput.! Sedang seorang yang lain bilang. Wanyen Lieh segera melongok ke bawah loteng.‖ berpikir putra raja Kim itu. kenapa kamu tidak dengar-dengar dulu namanya Han Samya? Bagus. ―Itu namanya berbuat sendiri. Sudah begitu. bentrok sama meja itu. Mereka ini ambil masing-masing sebuah meja. Dari dua orang ini. hingga ia mirip seorang pedagang kecil. ia mirip satu pembantai atau penyembelih hewan. ―Belum pernah aku dengar orang picak lagi pengkor pandai berburu binatang hutan. ialah tingtong-tingtong seperti besi mengadu dengan batu hinga orang pada memandang ke jurusan dari mana suara itu datang. terdengarlah suara beberapa kali. tangannya mencekal dacin. yang jalan di depan berdedakan tinggi dan kekar. Di pinggangnya orang itupun ada terselip sebuah kampak pendek.Pendekar Pemanah Rajawali orang Kanglam sejati. Ia bertangan kasar dan kaki gede. dua jentilan kakinya cukup untuk dua pencuri ini. dipundak kanannya ia ada menggendol semacam senjata peranti memburu. ―Bagus. Melihat potongannya. dia toh menggairahkan dengan sifatnya sendiri. tampak dua orang tengah mengoser sambil merintih. Sendirinya Wanyen Lieh terperanjat. baju dan celananya berbahan kain kasar. karena bajunya tidak dikancing. Orang yang berjalan di belakangnya berpotongan sedang. Segare suara mereka itu bercampuran sama satu suara baru. malah ia dapat membinasakan seekor harimau…‖ pikirnya. ―Walaupun dia tidak dapat melawan kecantikannya Pauw-sieku. Wanyen Lieh menjadi bertambah-tambah heran. Irawan D Soedradjat Page 33 . pun terlihat lengannya berbulu hitam seperti dadanya itu. Sekarang ia lirik si pria yang membawa-bawa kayu pikulan. Ia mendatangi dengan tindakan dangklak-dingkluk. Kedua pencuri kuda itu mencoba merayap bangun. kepalanya ditutup kopiah kecil. tertampak pula dadanya berbulu gompiok. romannya jujur polos. ngoko. Baharu dua orang itu duduk. liokko. kamu datang berbareng!‖ menyambut si nona nelayan.. Si cebol tertawa. pinggangnya dilibat tali rumput. yang sudah sedikit gompal. ini namanya benturkan kepala dato…! Hayo lekas naik ke loteng untuk minta ampun!‖ Di bawah loteng itu ada lagi orang-orang yang berbicara. dia pun bercacat di atas. ―Tiga orang yang pertama adalah orang-orang yang mungkin berkepandaian tinggi. hingga ia awasi pikulan itu. ―Mereka datang ke Kee-hin untuk mencuri. pasti pikulan itu bukan terbuat dari besi entah dari bahan apa. hingga ia mesti gunai tongkat besinya untuk mencari jalanan untuk sekalian menunjang diri. kenapa kedua orang ini yang mirip orang-orang kalangan rendah. selagi bercacat di bawah. usianya kurang lebih tiga puluh tahun. ―Heran!‖ kata Wanyen Lieh dalam hati kecilnya. serta sebuah keranjang bambu. ―Bagian anggotanya yang mana yang kena didupak kuda?‖ dia tanya. Si pedagang kecil lantas saja tertawa. yang ujungnya dibanduli seekor macan tutul. tubuh itu meminyak. Dia pun mempunyai rambut yang hitam mengkilap. Cuma ditangannya kurang sebatang golok lancip. yang dari romannya dari kepala sampai di kaki. Ia mencekal pengayuh kuningannya dengan tangan kanan dan menenteng baju rumputnya dengan tangan kiri. ―Shako. dibahasakan saudara?‖ Tengah si putra raja Kim berpikir demikian. sedang sepatunya ada cauw-ee. Di tikungan jalan besar terlihat munculnya satu orang pengkor yang pakaiannya rombeng dan tangan kirinya memegang sepotong tongkat besi dengan apa dia saban-saban memukul batu-batu yang menggelari jalan besar itu. kembali ada orang hendak curi kuda twie-hong-ma‘mu!‖ katanya. yang warnanya hitam mengkilap. satu antaranya mengatakan: ―Kuda Han Samya lihay melebihkan manusia. kata dia pada dua orang yang bercelaka itu: ―Kamu bangsat-bangsat luar kota. Meja itu menggeser sedikit. di tangga loteng sudah terdengar lagi tindakan kaki berisik dua orang lagi. Karena beratnya itu.mulut mereka masih berkoak-koak beraduh-aduh. rupanya peranti menjaga pikulan tidak merosot terlepas. kulit mukanya putih. makan sendiri hasilnya!‖ dia bilang. sama denagn kampak biasa. mirip orang desa tulen. Maka teranglah ia seorang buta. Karena ia menggulung tangan bajunya tinggi-tinggi. Ketika dia sanderkan pikulannya di samping meja.

ia hanya bertindak memasuki restoran itu. tapi ia pandai berpikir. lalu mendadak ia kitik ketiak orang. kau suguhkan itu tuan untuk dia mencicipi rasanya…‖ ―Ya…ya…‖ sahut si jongos itu. dia menjadi pentang mulutnya lebar-lebar. Pencuri itu kegelian. Tapi si buta menunjuk kepada Wanyen Lieh seraya ia berkata pada si jongos: ―Kau mesti potongi dagingnya barang dua kati. terus mendaki tangga loteng. kau juga hendak main gila sama aku!‖ Dan ia memburu sambil ulur tangannya untuk meninju. ―Aku bodoh. Menyaksikan perbuatan si nona. maka tangannya yang telah diangkat tinggi segera dikasih turun pula. maka setelah datang dekat si buta ia jadi berdiri menjublak.‖ Si buta tidak menggubris pencuri itu. Wanyen Lieh sendiri menjadi sangat terkejut. Irawan D Soedradjat Page 34 . ―Jongos. ―Sungguh hari ini aku sangat beruntung!‖ kata Wanyen Lieh dalam hatinya. ia tepuk-tepuk kursi itu seraya berkata: ―Toako. Rupanya ia membutuhkan suara apa-apa untuk ketahui ke mana ia mesti pergi. ―Hei pengemis bangsat. Kalau tadi ini pencuri sakit kakinya sampai tak dapat digeraki.‖ sahut salah satu pencuri kuda itu. sungguh…. ia mencoba menahan karena mana ia jadi tertawa cekikikan. berbareng dengan mana dengan tiba-tiba ia totok pinggangnya si pencuri. dengan suara susah. ―Kenapa ia dapat melihat aku? Apakah dia bukan buta benarbenar?‖ dia berakta di dalam hatinya. aku dapat menemui orang-orang berilmu…‖ Sampai di atas loteng. lalu bersama dua kawannya. Maka lekas-lekas ia jatuhkan diri untuk berkutut untuk manggut-manggut hingga jidatnya berbunyi mengenai batu. sekarang denagn tiba-tiba sakitnya itu lenyap. si buta lemparkan macan tutulnya ke lantai.‖ katanya. lenyap rasa sakit di dadanya itu. hingga dia ini berteriak kesakitan.‖ Segera ia berpaling kepada kawannya dan berkata: ―Saudara mari lekas. di mana ia duduk di kursi yang ditepuk-tepuk oleh si nona nelayan. Lalu si nelayan wanita bertindak ke meja nomor satu di sebelah timur. Karena kesakitan. Hampir berbareng denagn itu. mengeluarkan ludah lender. Tuan orang pandai. lantas ia muntah beberapa kali. Tiba-tiba ia merasa enak perutnya. ―Toaya binatang itu dupak dadaku…‖ katanya. lalu lantas ia memberi hormat samil menjura. si buta bertindak ke mejanya. dengan tangan kirinya ia usapi dadanya pencuri itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tekukan dengkul kiri. mulutnya pun mengecoh: ―Oh yaya yang sakti. Si buta pindahkan tongkatnya ke tangan kanan. ―Terima kasih. ―Tulang-tulangnya kau godok menjadi kuwah yang kental! Hati-hati supaya kulitnya tidak sampai kena terpotong rusak!‖ Satu jongos menyahuti. cepat kau urus macan ini!‖ ia perintahkan. untuk kekasaranku barusan. ―Hm!‖ si buta pendengarkan suaranya. Sembari berbicara. mana dia berkelit tetapi sudah kasep. yang tengah duduk lantas bangkit bangun. sekarang sudah waktunya ia sampai disini‖ sahut orang yang potongannya seperti pembantai itu. ia gotong pergi macan tutul itu. ―Diluar dugaanku. mengertilah Wanyen Lieh bahwa si buta benar-benar tak dapat melihat. kau mohon toaya ini tolong obati padamu…‖ Dengan meringis-ringis. ―Apakah jietee masih belum sampai?‖ ―Jieko sudah tiba di Kee-hin. aku mohon diberi maaf. berdiri di samping kursi. di sini kursimu!‖ ―Baik!‖ menyahuti si buta itu. Ketika itu semua orang yang telah datang terlebih dahulu. pencuri itu bertindak denagn susah payah mendekati si buta dan pengkor itu. ―Toako!‖ mereka berseru.

Mendengar itu semua kawannya itu tertawa terbahak-bahak. ia berpura-pura tidak mendengar pertanyaan itu. lalu ia mengangguk-angguk. ―Dan kau bawa dulu kepada kuasamu. Ia pun segera berbangkit dari kursinya. si mahasiswa itu mengawasi ke arahnya. untuk daging yang dibagikan kepadanya – yang mana ada alasan bagus sekali untuk berkenalan – tiba-tiba ia dengar tindakan kaki yang bersepatu kulit di undakan tangga loteng. maka dengan itu lantas ia serukan kepada sudara-saudaranya. guna hanturkan terima kasihnya. habis itu menyusul munculnnya satu kepala orang yang digoyang-goyang. dan Wanyen Lieh segera kenali orang yang tadi ia ketemui di waktu lenyap uangnya. Ia menjadi heran pula. ―Uang orang bangsa asing ada sedikit berbau tetapi uang itu masih dapat digunai!‖ katanya. ―Sungguh kepandaian yang lihay……. bibirnya tersungging senyum. ―Semua mereka lihay. Wanyen Lieh heran bukan kepalang. maka kamu dahar dan minumlah dengan puas!‖ Si mahasiswa menoleh kepada Wanyen Lieh. Lantas dia gapekan pelayan untuk bisiki padanya: ―Semua tuan-tuan ini akulah yang undang berjamu…‖ Dia pun lantas keluarkan dua potong emas. lepaskan dia…. ―Citmoay. ―Jiko. dari itu masih lebih dua meja yang masih kosong. untuk dititipkan!‖ katanya pula. tidak peduli orang berbisik. dan jarak mereka jauh pula. yang ia letaki di atas meja. ia lantas berpaling ke lain jurusan. ―Kembali mengenai negeri Kim. hari ini kau beruntung!‖ serunya. akan tetapi sembari tertawa. berulang-ulang.‖ Si mahasiswa melarat itu pun tertawa..Thian yang maha kuasa…umbar adatnya!‖ Bab 4. ia bertanya pula: ―Mana si wanita baik-baik yang kau perdayakan?‖ Wanyen Lieh sudah putuskan untuk tidak menimbulkan kerewelan. ―Saudarasaudara ada orang yang mentraktir kita. kipas itu dikipaskan beberapa kali. Yang pertama muncul di mulut tangga loteng adalah sehelai kipas kertas minyak yang gagangnya dekil. aku tahu!‖ sahut si nona.Pendekar Pemanah Rajawali Segera putra raja Kim itu ambil keputusannya untuk ikat perkenalan dan persahabatan dengan orang-orang kangkouw yang aneh ini. guna hampiri si buta.. akan tetapi ia mencoba sebisa-bisanya untuk mengatasi dirinya. ―Dia cuma tepuk pundakku dengan kipasnya. Hatinya lantas menjadi panas. ―Baiklah aku lihat gelagat dulu…‖ Maka ia berdiam terus. ―Mungkin dia inilah yang curi uangku…‖ ia menerka-nerka. bentrok dengan mereka tiada untungnya. maka ia lantas berbalik dan memandang. lalu menggoyang-goyang pula kepalanya. bukankah?‖ Mahasiswa itu mengipasi uang di depannya dengan tak hentinya. Di situ ada sembilan buah meja. Si mahasiswa sudah lantas tenggak araknya. dari mulutnya keluar suara yang bersenandung: ―Uang tidak halal…. jeriji-jeriji tangannya tentu ada menjepit potongan-potongan uang perak sampai jumlahnya semua belasan potong. Tindakan itu ada seperti separuh diseret. matanya menyapu. Justru begitu. dan setiap kali ia menarik keluar tangannya. setelah mana ia menegur semua orang yang telah hadir di situ. mukanya bertekukan menggoda. Siapa lagi dua tetamu itu? Bukankah tujuh orang yang bakal jadi tuan rumah? Irawan D Soedradjat Page 35 .‖ Wanyen Lieh berpikir. ―Aku menyamar sebagai orang Han.‖ Si nona nelayan tertawa bergelak melihat uang sebanyak itu. Si buta tidak awas matanya akan tetapi kupingnya jeli luar biasa. Walaupun demikian hatinya tetapi berkerja. sekarang baharu datang tujuh orang. mengapa ia bisa curi uangku?‖ demikian ia berpikir tak habis herannya. mirip sekali. aku ada punya semacam tabiat buruk yang kau telah ketahui!‖ katanya. baharu berhentilah ia merogoh sakunya. cara bagaimana ia masih mengenali aku?‖ dia tanya dirinya sendiri. ia dapat mendengarnya. ialah kepalanya satu mahasiswa melarat. saudara yang kedua. ―Oh. ―Tidak tahu siapa yang apes malang…. Mengadu Kepandaian Sembari bernyanyi si mahasiswa melarat ini meragoh sakunya. Meluap hawa amarahnya Wanyen Lieh akan melihat uang perak itu yang ia kenali adalah kepunyaannya yang hilang lenyap itu. ia heran tidak kepalang. Hanya tepat ia hendak bertindak. Dia benar-benar yang dimaksudkan si jietee atau jieko. sebab berbareng dengan itu.

baharu arak saja yang dikeluarkan. satu imam yang tangannya menyangga sebuah jambangan perunggu yang besar sekali. taysu. mana dia pandang mata lagi kaum Rimba Persilatan di Kanglam ini? Karena kejumawaannya itu. Kalau Han To Cu anggap paling baik mengirim orang untuk membunuh menteri itu. adalah Wanyen Lieh menghendaki menawan terlebih dulu pembunuhnya Ong To Kian. Utusan Song yang datang dari Yankhia menemani dia sepanjangn jalan. Ciauw Bok Taysu. kalau mendapat tahu siapa yang menitahkan dia melakukan pembunuhan yang hebat itu. meskipun dia tidak musuhkan kau. lekas cegah dia. Han To Cu juga kaget dan ketakutan karenanya. Dengan perbuatannya itu. dari itu ia Irawan D Soedradjat Page 36 . dia sangat mengharap dapat membangun pula kerjaan Song hingga menjadi jaya seperti semula. yang mana dibawa naik ke loteng sambil imam itu berlompat. Hanya kemudian ia menjadi sangat kaget akan mendapatkan Ong To Kian mati terbunuh secara gelap. jangan kasih dia naik!‖ Suara berat itu tapinya terdengar terus. habis itu si mahasiswa melarat pun pimpin tetamunya ke sebuah meja yang kosong untuk silahkan ia duduk. Tak tahu ia apa faedahnya puntung kayu itu. Tentang orang itu. Sebenarnya menteri ini tidak berkuasa atas pemerintahan. tidak dapat ia mengandal saja kepada pihak Song. utusannya ini telah rela akan menakluk dan menjadi hambanya kerajaan Kim. Wanyen Lieh segera melihat munculnya satu tojin. dia mencari gara-gara terhadap taysu. siauwceng merasa bahwa siauwceng bukanlah tandingannya. ―Kami tujuh bersaudara pun berterima kasih kepadamu yang biasa melimpahkan kebaikan terhadap kami.‖ Pendeta itu ialah Ciauw Bok Taysu. ia dengar datangnya suara memuji dari bawah loteng: ―Amitabha Buddha!‖ Suara itu sangat jernih dan tedas. Yang pertama ia ingin singkirkan adalah Sien Kee Ci. Dan untuk kagetnya putra raja Kim ini. dan sekarang itu disusul sama munculnya satu tubuh kurus kering bagaikan pohon mampus. barang hidangan masih belum disajikan. ―Harap kau tidak sungkan. tak dapat siauwceng membalasnya. yang berkerebong jubah kasee merah dengan lapis dalamnya jubah kuning. perbuatan mana diikuti oleh enam kawannya: Dengan sikap menghormati mereka berdiri untuk menyambut orang yang baharu tiba itu. tanpa sebab tanpa alasan. kita bersaudara pasti tak mau sudah saja…‖ Belum lagi habis suaranya si buta ini. Wanyen Lieh melihat satu pendeta usia empat puluh lebih. guna mengompes dia. disusul mana patahnya sehelai papan undakan tangga. hingga dengan begitu – rupanya – tak usah dia bertindak lagi di undakan tangga. untuk menjaga diri turun tangan terlebih dahulu. Girang sekali ini putra raja Kim menampak ikhtiarnya telah berjalan baik sekali. yang ujungnya telah hitam bekas terbakar. nyata terdengar hingga ke atas loteng. Budi yang besar ini. Oleh karena ini. ia hanya pandai silat dan surat berbareng dan kesetiaannya terhadap negara adalah luar biasa. Wanyen Lieh tahu. Si hweshio menjura. di tangga loteng telah terdengar suara yang sangat berat dan nyaring. Pendeta itu dan tujuh saudara tersebut saling memberi hormat dan saling menegur. mungkin itu bukan suara gajah tetapi sedikitnya kerbau…. kepada kerajaan Song. seperti ada sesuatu yang mendaki. ingin ia merubuhkan menteri atau panglima yang paling keras kepala hendak melawan negara Kim. karena keserakahannya sudah terima sogokan besar dan berjanji suka bekerja sama. sedang tangannya memegang sepotong kayu.‖ berkata si buta. Menyusul itu pun lantas terdengar suara kaget dari kuasa ciulauw serta jongosnya: ―Benda begitu berat mana dapat dibawa naik ke atas…! Eh. Dia pun bercita-cita besar sekali. kepalanya hilang berikut hati dan jantungnya. tetapi yang tindakannya cepat pesat seperti ia tidak menginjak lantai. lantai loteng nanti kena bikin dobol…! Lekas. merendahkan diri. yang baharu suaranya terdengar. Bagaikan orang yang matanya kabur. maka tujuh orang itu Cuma tenggak air kata-kata. dia berkata: ― Orang itu telah datang menyatroni. walaupun tubuhku hancur lebur. sedang rakyat umumnya mengandal padanya. ―Ambithaba Buddha!‖ kembali terdengar pujian. Ong To Kian. dia khawatir sekali rahasianya nanti bocor. Dan menteri yang bekerjasama dengan Wanyen Lieh adalah Perdana Menteri Han To Cu. maka itu dia sudah lantas berhubungan sama menterinya kerajaan Song untuk dijadikan si menteri serta konco-konconya sebagai alat untuk menyambut dari dalam bila sudah waktunya ia turun tangan. ―Nah.Pendekar Pemanah Rajawali Sampai itu waktu. Ia menyebutkan dirinya ―siauwceng‖ si pendeta yang kecil rendah. akan kemudian disusul sama mengerekeknya dua helai papan undakan lainnya. dia memang sangat aguli kepandaiannya. Ciauw Bok Taysu tiba!‖ seru si buta yang terus berbangkit. ia kenali si imam adalah Tiang Cun Chu Khu Cie Kee atau Tiang Cun Cinjin! Wanyen Lieh ini mendapat tugas dari ayahnya menjadi utusan bangsa Kim ke Tionggoan. maka itu siauwceng bersyukur yang liat-wie telah sudi membantu. Kepala dari Cip-eng-thian dan pengurus Ciong-yu-koan. Tengah putra raja ini berpikir.

ialah yang termuda dari Kanglam Cit Koay. sungguh pinto merasa sangat beruntung! Nayatalah pengharapanku seumur hidup telah kesampaian. Dengan lantas pinto meikir-mikir. Kwa Tin Ok mendahulukan bertujuh saudaranya untuk berbicara. ia terkejut bukan main apabila ia sudah kenali jambangan perunggu yang dibawa-bawa si imam itu. yang sekarang diisikan penuh dengan arak. Akan tetapi. atau si Ahli Pedang Gadis Wat. pikirnya orang itu telah tidak kenali dia. hanya berpaling kepada tujuh kawannya yang ia sebutkan Kanglam Cit Koay itu – Tujuh Manusia aneh dari kanglam – dan menunjuk kepada si imam. Yang keenam adalah orang yang mirip pedagang. katanya taysu undang pinto datang ke Cui Sian Lauw ini untuk membuat pertemuan. Mahasiswa Tangan Lihay. baik ilmu silat tangan kosong maupun bersenjatakan pedang. Selagi orang diajar kenal. Selain Kwa Tin Ok yang berjuluk Hui Thian Pian-hok. hampir ia tak dapat lolos seperti orangorangnya. ―Sekarang mari siauwceng perkenalkan dahulu kau dengan Kanglam Cit Koay!‖ Khu Cie Kee menjura membungkuk tubuh. maka di luar tahunya sendiri. ia telah melihat banyak wanita elok. selama ia menyebutkan setiap nama Khu Cie Kee menjura kepada orang-orang yang diperkenalkan itu. ia perintahkan orang untuk selidiki tentang Pauw-sie itu. Hanya dilain pihak. setiap kali si imam bertindak. melainkan di tangan si imam. sedang ia sendiri menyamar sebagi orang baik-baik sebagai penolong nyonya yang ia gilai itu. Si nona nelayan adalah Wat Lie Kiam Han Siauw Eng. Demikian Wanyen Lieh. tanpa merasa ia membuatnya terlepas dan jatuh sepasang sumpit yang ia lagi pegang. Sudah lama pinto dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay. Setelah sembuh dari lukanya. hingga kami sangat mengaguminya. orang ribut ketakutan dan pada lari keluar. tidak ada tandingannya.‖ ia berkata . syukur ia ditolong oleh Pauw Sek Yok. Sementara itu. gelarannya Lauw-sie In Hiap atau Pendekar Sembunyi di Kota.‖ Ciauw Bok Taysu tidak menjawab si imam. Ia lari ke istananya Han To Cu. ia lantas tak dapat melupai Pauw-sie. bukan main kagetnya ia akan tengok Khu Cie Kee. sedang beberapa orang yang melihat tak terjadi kecelakaan sesuatu. imam ini seperti tidak menggunai tenaga. Wanyen Lieh sendiri belum sampai turun tangan atau pundaknya telah terkena panah. Dan ini ialah…. sampai ia tak dapat menguasai dirinya lagi. meskipun sebagai putra raja. tentu lantai loteng perdengarkan suara meletek nyaring. ia minta Han To Cu mengirim orang untuk menawan Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. Sementara itu. dan sekarang. ialah Lam San Ciauwcu Lam Hie Jin atau si Tukang Kayu dari Lam San (Gunung Selatan). ia menyangka pemuda itu bermaksud baik.Pendekar Pemanah Rajawali tugaskan enam atau tujuh pengawal pribadinya dari Lim-an. ia memperkenalkan: ― Ini dia Totiang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee yang tuan-tuang telah lama kagumi nama besarnya!‖ Kemudian tanpa tunggu sesuatu dari Kanglam Cit Koay itu seraya menunjuki si buta melanjuti: ―Inilah tertua dari Cit Koay. Katanya: ―Kami menonton‖ Habis perkenalan itu. Dia inilah yang tiga. selama mana. sama sekali ia ia tak nampak lelah. sebab tempo ia diserang dengan panah. yang ia anggap cantik dan manis. Syukur untuknya Khu Cie Kee tidak kenali padanya.‖ Lalu dengan terus-terusan ia perkenalkan enam orang lainnya. ini Ciauw Bok Taysu juga adalah satu sahabat Irawan D Soedradjat Page 37 . adalah Ma Ong Sin Han Po Kie atau si Malaikat Raja Kuda. Selama Ciauw Bok Taysu memperkenalkan. ―Benar-benar toheng telah dapat mencari siauwceng hingga ke mari!‖ terdengar suaranya Ciauw Bok Taysu keras tetapi dingin. Itu bukan jambangan biasa hanya tempat pembakaran kertas emas dalam kuil. hanya apa lacur mereka menghadapi musuh yang terlalu tangguh untuk mereka. Yang kelima yang tubuhnya kekar tegap mirip sebagai pembantai adalah Siauw Mie To Thio A Seng atau si Buddha Tertawa. Rombongan ini dapat menyandak Khu Cie Kee di Gu-kee-cun. untuk sembunyikan diri sambil berobat. sesudah itu. nampaknya enteng sekali. imam itu lagi menghadapi Ciauw Bok Taysu serta tujuh orang luar biasa itu. ―Barusan pinto berkunjung ke kuil taysu. yaitu Hui Thian Pian-hok Kwa Tin Ok. Wanyen Lieh memasang kuping dan matanya. ke jalan besar. Khu Cie Kee tetap pegangi tempat araknya yang istimewa itu. yang beratnya tiga atau empat ratus kati. dia telah jatuh ke dalam genggaman putra raja Kim itu. dia-diam mendaki loteng untuk bicara. ―Disana ada pesan untukku. namanya Coan Kim Hoat. Orang yang datang paling dulu ke restoran yaitu si kate terokmok yang menunggang kuda jempolan. buktinya benarlah dugaan pinto itu. Pauw-sie tidak tahu akal muslihat orang. sekarang kita dapat bertemu. ia kerjakan otaknya akan mengingat baik-baik nama Kanglam Cit Koay itu. ia tidak perhatikan putra raja itu. Lega juga hatinya Wanyen Lieh apabila selang sekian lama ia dapatkan itu imam tidak perhatikan padanya. ―Sudah lama kami mendengar Totiang lihay ilmu silatnya. ia belum terlihat nyata. Semua mereka itu khawatir loteng ambruk dan mereka nanti ketimpa. jongos-jongos dan koki-koki. sedang dibawah loteng. si Kelelawar Terbangkan Langit. yang kedua ialah si mahasiswa melarat yang mencuri atau mencopet uangnya adalah Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong. suka ia mengikuti. hingga beratnya bertambah. Si orang tani yang membawa-bawa pikulan adalah orang yang keempat. tak terkecuali si kuasa restoran. dia sudah lantas jatuh terguling. mungkin taysu mengundang sahabat-sahabat. suatu bukti dari beratnya jambangan itu.

sedang lantai loteng tak demikian kuat. bagaimana kau berani melakukan kejahatan semacam ini?‖ ia menegur dengan bengis. supaya perselisihan dapat disingkirkan.‖ sahut Tiang Cun Cu.‖ menyahut Khu Cie Kee. akan aku patah-patahkan hingga menjadi abu semua tulang-tulangmu dan akan bakar musnah hingga menjadi tanah putih kau punya kuil Hoat Hoa Sian Sien itu!‖ Cu Cong tidak lantas dapat mempercayai kata-kata imam itu.‖ ―Siapakah orang yang harus diserahkan?‖ tanya Kwa Tin OK. Untuk itu kami tak bakal menampik lagi. tetap kedua-duanya adalah orang-orang Rimba Persilatan. ―Cara bagaimana dia dapat melakukan perbuatan sekeji itu? Totiang. ―Kau juga orang Rimba Persilatan yang kenamaan. pendeta jahanam. ―Mustahilkah dia bukannya menyebutkan istri-istrinya Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian atau wanita yang lain?‖ berpikir putra raja asing ini. jikalau kau ganggu selembar saja rambut mereka itu. Kwa Tayhiap. segera wajahnya menjadi bermuram pula. menerangkan. ―Mereka telah difitnah dan dicelakai oleh pembesar negeri yang bekerjasama dengan tentera bangsa Kim. ―Sekarang ini pinto menghendaki Ciauw Bok taysu menyerahkan itu dua orang wanita yang bersengsara dan harus dikasihani itu!‖ Mendengar itu bukan hanya Kanglam Cit Koay yang heran melainkan juga Wanyen Lieh si putra raja Kim itu. Khu Cie Kee ulur tangan kanannya. lekas-lekas Thio A Seng kerahkan tenaganya. hingga orang-orang di bawah loteng menjadi kaget dan semuanya menjerit. maka walaupun totiang berdua ada dari dua golongan yang berbedaan. ―Kau…kau…ngaco belo!‖ serunya kemudian. pasti tak dapat dipercaya!‖ Khu Cie Kee menjadi mendongkol. ―Pinto menyaksikan itu dengan mataku sendiri. ―Dua sahabatku. pastilah lain hari akan pinto pergi berkunjung ke Hoat Sian Sie untuk menghanturkan maaf. ―Walaupun mereka adalah orangorang yang tidak dikenal. Lihat.‖ katanya sambil tangannya mengipas-ngipas dan kepalanya di geleng-geleng. dalam hal apakah Taysu telah berbuat salah terhadap Totiang? Umpama kata Totiang sudi memandang muda kami bertujuh saudara. pantas atau tidak permintaan pinto ini?‖ ―Jangan kata mereka adalah jandanya sahabat-sahabat totiang. hingga tempat pembakaran kertas perunggu itu yang beratnya ratusan kati terbang menyambar ke kepalanya si pendeta. Oleh karena itu. Mukanya Ciauw Bok taysu menjadi kuning pucat.‖ ―Jelas!‖ seru si imam. untuk ayun balik jambangan itu ke arah Tiang Cun Cu. Di antara Kanglam Cit Koay adalah Tio A Seng yang tenaganya paling besar. Lantas ia ayun tangan kanannya. ―Kanglam Cit Koay bukan bernama kosong saja!‖ ia memuji sambil tertawa. ia lantas lompat ke depannya Ciauw Bok Taysu. Itulah gerakan ―Twie chong bong goat‖ – ―Menolak daun jendela untuk memandangi si putri malam‖. untuk kita minum arak bersama. mereka telah mendapatkan kebinasaannya hingga mereka mesti meninggalkan janda mereka yang tidak ada lagi sanderannya.Pendekar Pemanah Rajawali sejati. Irawan D Soedradjat Page 38 . kami tidak tahu. hingga mereka mesti hidup sengsara sebatang kara. untuk mendahului jambangan itu yang terus ia sambuti dengan kedua tangannya sambil berbuat mana ia berseru: ―Bagus!‖ Akan tetapi dia mesti pasang kudakuda teguh sekali. asal kami ketahui perkaranya itu. satu Hud-kauw yang lain Tokauw. bagaimana bisa jadi dusta?!‖ dia berkata. mestinya kau telah keliru dengar omongannya segala manusia rendah! Itu ngaco belo. Semua orang menjadi kaget. percaya ia sanggup menanggapi jambangan itu. ―Oleh karena itu asal Taysu sudi menyerahkan dua orang kepada pinto. Ia tapinya tertawa sebentar. Sudikah kau Totiang?‖ ―Sebenarnya pinto dengan Ciauw Bok Taysu tidak kenal satu dengan lain dan kita juga tidak punya dendaman dan tidak punya permusuhan. tidak beruntung untuk mereka. Di dalam saat yang berbahaya itu karena kakinya bisa kejeblos terus. ingin sekali kami menjadi juru pendamai.‖ sahut si buta. pasti kami akan bekerja sekuat tenaga untuk menolongi mereka. mereka yang tadinya datang menonton dengan diam-diam pada lari mundur hingga mereka saling tabrak dan terguling jatuh ke tangga loteng. Kembali ia pandang si pendeta dan membentak dengan pertanyaan: ―Bagaimana denagn dua wanita yang bercelaka itu? Hai. dengan tenang ia menyambuti. tak dapat ia membuka mulut. maka dengan menerbitkan suara kaki kirinya melesak mendam. Khu Cie Kee menjadi gusar. ―Ciauw Bok Taysu adalah satu pendeta beribadat.

―Bagus! Kamu permainkan aku!‖ dia berseru. ―Kami tidak punya kepandaian sesuatu apa juga akan tetapi untuk Kanglam ini nama kami terkenal juga sedikit. jikalau mereka bukannya menghilang tentunya mereka sudah menyingkir dengan ilmu pinjam tanah!‖ Mendengar ini mau tidak mau. tetapi walaupun pinto melihatnya dengan mataku sendiri kedua nyonya itu masuk ke situ. Dengan sikapnya yang wajar. ―Perkaraku dengan si pendeta. hingga pinto habis daya! Tidak ada jalan lain daripada si pendeta serahkan mereka itu!‖ ―Jadinya dua wanita itu bukannya manusia!‖ berkata Cu Cong. Ciauw Bok Taysu. kau memikir menggunai jumlah yang banyak untuk mendapatkan kemenangan! Tidak. itulah sudah pasti!‖ dia berkata. ―Maafkan pinto.‘ Kamu tidak berani menghina orang lain tetapi kami juga tak dapat mengijinkan orang lain perhina kami!‖ Khu Cie Kee tidak ingin layani tujuh orang aneh dari Kanglam itu. sampai beberapa kali. Taysu sebaliknya menyangkal. pasti tidak!― kata Cit Koay yang ketiga itu. ―Bagus betul yah!‖ katanya dingin. siapa yang salah! Mataku menang tidak dapat melihat akan tetapi orangorang di sini tidak buta semuanya― Cu Cong berenam memberikan persetujuan mereka. untuk melihat sendiri guna buktikan siapa sebenarnya yang benar. Irawan D Soedradjat Page 39 . ―Apa? Menggeledah kuil?‖ kata Khu Cie Kee dengan tawar. Ma Ong Sin Ho Po Kie bertabiat aseran.Pendekar Pemanah Rajawali Kanglam Cit Koay melengak semuanya. hari ini tidak nanti aku beri kau lolos!‖ ―Sabar Totiang!‖ Kwa Tin Ok memotong. ―Seorang laki-laki sejati kangouw. ―Kenapa untuk itu kau mesti menodai nama baikku? Kau…kau…kau pergilah ke seluruh kota Kee-hin untuk menyelidiki! Mana bisa aku. mana ia dapat bicara dusta?!‖ Cie Kee nampaknya habis sabarnya. ―Tuan-tuan bertujuh hendak campur tangan urusan ini. begitu ia kasih turun lengannya. melakukan perbuatan semacam itu?!‖ Cie Kee tertawa mengejek. ―Kanglam Cit Koay pasti membantu pihak si pendeta. Ciauw Bok Taysu paham ilmu dalam Hoat Hoa Lam Cong. inilah sulit. ia lolos dari cekalan si pendeta.‖ akhirnya Ciauw Bok Taysu dapat buka mulutnya. tak senang ia menampak orang mulai gunai kekerasan. Mari kita bersama pergi ke Hoat Hoa Sian Sie. Han Samya?‖ imam itu membalik bertanya. ―Kami percaya habis Ciauw Bok Taysu. dengan niatan menarik si pengikut Buddha itu. mari pergi!‖ Ia pun ulur sebelah tangannya. Imam itu menjadi gusur. bukankah?‖ Kwa Tin Ok jawab imam itu. pendeta. semua orang tersenyum. ―Pinto cari pendeta ini. mereka bukannya manusia-manusia yang takut mampus. ―Totiang menuduh Taysu menyembunyikan kedua nyonya itu. satu kali dia bilang tidak. ―Kau telah undang banyak kawan. ―Pinto sudah menggeledahnya di luar dan di dalam. ―Sebenarnya kau hendak gunai aturan atau tidak?‖ dia tegur si imam. ―Habis bagaimana. Cu Cong menyahuti: ―Mereka itu ada bangsa dewi. telah pastikah itu?‖ ―Tidak salah!‖ sahut Cit Koay serempak. ―Apa‖ katanya. Khu Cie Kee melengak. buktinya mereka tidak kedapatan. Mereka ynag kenal kami semua dapat mengatakan sepatah kata: ‗Walaupun Kanglam Cit Koay sedan-edanan lagak lagunya. biarlah aku yang bereskan sendiri!‖ katanya kemudian. ―Taruh kata benar kau sengaja datang ke Kanglam ini buat untuk angkat namamu. tidak dapat pinto temani kau lebih lama! Eh.

tapi juga keras keinginan tahunya. imam ini kasih turun tangannya yang memegang jambangan arak itu. Tepat ketika jambangan sampai. Sembari bicara. Sembari berbuat begitu. tiba-tiba ia angkat naik tongkatnya dengan kaget. adalah araknya yang lantas meluncur keluar seperti pancuran.Pendekar Pemanah Rajawali ―Baik!‖ seru si imam. atas mana Kwa Tin Ok buka mulutnya akan menanggapi. Lam San Ciauw-cu si Tukang kayu dari Gunung Selatang ada pendiam tak doyan berbicara. Meski begitu ia sudah lantas mundur dua tindak. cara bagaimanaaku dapat meminumnya?‖ demikian katanya dalam hati kecilnya. ia pentang kedua tangannya itu. Tiang Cun Cu tunjuki jempolnya. mulutnya dikasih masuk ke dalam jambangan. sampai jambangan seperti mumbul. Khu Cie Kee dengan tenang sambuti pulang jambangannya itu dan ia menghirup pula. ―Sudah buta ia pun pincang…. pasti ada punya kepandaian yang istimewa. hanya sekarang ia tidak lagi menunda seperti tadi. Kwa Tin Ok sambut itu dengan tongkat besinya. yang ia pakai menanggapi dasarnya jambangan itu. berbareng dengan mana jambanganarak itu dilemparkan ke arah si buta. Hebat kalau jembangan jatuh dan menimpah batok kepalanya si buta ini. ―Sekarang hendak aku menyuguhkan Lam Sieko sejambangan arak!‖ Ia lantas menghirup pula satu segluk. Wanyen Lieh heran dan berkhawatir pula. kapan jambangan itu tiba Irawan D Soedradjat Page 40 . Sesudah ini ia geraki pula tongkatnya. ia dapat dengar suara sambarannya dan tahu tepat arahnya. ―Sekarang aku hormati Kwa Toako dengan satu jambangan!‖ ia berkata pula. Diwaktu jambangan dilemparkan kepadanya. dadanya itu penuh dengan daging yang lembek. pada wajahnya tak tertera rasa girang atau murka. Ia bertubuh terokmok.‖ Kwa Tin Ok ada tertua Kanglam Cit Koay. ―Tentang seorang gagah tidak ditanya asal usulnya. ―Sekarang aku hendak memberi selamat kepada Tuan bertujuh dengan seorang satu cawan arak. ―Silahkan!‖ katanya habis menengak. ―Jikalau aku sambuti jambangan seperti tadi. arak yang harum!‖ dia memuji. duduk sambil berputaran seperti tukang dangsu tengah mengasi pertunjukan. Wanyen Lieh berkhawatir sehingga hampir ia berseru sendirinya. tetapi tempo jambangan itu sampai. Maka dengangitulah ia menengak arak. Siauwtee melarat. ia pindahkan kedua tangannya ke bawah jambangan untuk dipakai menampa. dipakai menolak tubuh jambangan. ―Cara bagaimana dia dapat menyambutnya?‖ ia berpikir. sesudah mana berbareng dia menolak dengan dadanya. jambangannya turut miring juga. ―Sia ciang ie san‖ atau ―Sepasang tangan memindahkan bukit‖. Adalah disaat ini dengan sebat ia tunduk. ahli luar yang lihay sekali. menyusul mana tongkat itu diputar.‖ sahut Tin Ok dingin. berbareng dengan mana jambangan itu bertolak balik kepada Khu Cie Kee. ―Diwaktu kecil. hingga jambangan jadi duduk di ujung tongkat. Sekalipun senjata rahasia. dengan mulutnya sendiri. Tenaga yang dikerahkan itu bukan kepalang besarnya. Wanyen Lieh menyaksikam itu dengan kekaguman dan terkejut juga. semikian juga kali nini. ia kerahkan tenata dalamnya. dengan dipegang dan diangkat di atasan kepalaku. ia sambut jambangan araknya itu. Ia telah menyaksikan suatu gerakan tenaga dalam dari Gwa-kee. Satu kali tongkat itu miring.‖ berkata si imam. Selagi melayang jambangan itu masih mengasi dengar suara menguwang. ―Diwaktu mudanya pasti Kwa Toako gemar main putaran nenempan!‖ kata ia. untuk sambut jambangan dengan kedua dadanya itu. sampai belasan cegluk. Maka melesatlah jambangan itu ke arah Khu Cie Kee. kedua tangannya menolak juga dengan gerakannya. ia ayun tangannya kepada Siauw Mie To Thio A Seng. ia tertawa. Tepat ketika jambangan menyambar ke dadanya. maka kepandaian ini dipakai modal mengemis nasi. Si Buddha tertawa sudah lantas berpikir. membuat jambangan itu berdiri tetap lagi. menghirup arak di dalamnya! ―Oh. Tapi jambangan tetap tinggal miring. ia hirup arak satu ceglukan. setelah mana jambangan itu ia lemparkan ke arah Lam Hie Jin. sampai terdengar satu suara nyaring. apapula sebuah jambangan yang besar yang anginnya seperti menderu-deru. sikapnya tenang dan wajar. berbareng dengan mana kedua tangannya bergerak untuk memeluk jambangan. ia tetap duduk tetap dan tenang seperti juga ia tidak mengetahuinya. habis minum barulah Tuan-tuan geraki tanganmu!‖ Habis berkata. Dengan cepat ia lepaskan pelukannya. kedua tangannyaditaruh di depan dadanya.

Kalau jambangan itu jatuh ke bawah loteng. karenanya mejadi berat dan kuat luar biasa. kepalanya ditunduki ke dalam jambangan itu. yang telah kasih turun jambangan di tangannya. untuk korbankan diri. ia kerahkan tenaganya. Kapan kayu pikulan dan jambangan beradu. kipasnya tapinya ia pakai untuk mencelup ke dalam jambangan. yang dia barengi tolak pergi. terus melayang turun ke luar. guna menolong siapa yang dapat ditolong dari bencana ketimpa jambangan itu. Dengan cepat ia pasang kuda-kudanya. pasti ada orang yang bakal tertimpa dan menjadi korban. Untuk itu ia perlu mendahului jambangan. yang terus berkata: ―Aku si pedagang kecil suka sekali mendapat keuntungan oleh karenanya ingin aku tanpa menggunai banyak tenaga untuk turut minum arak!‖ Ia segera menghampiri Lam Hie Jin. Jambangan itu tertahan pikulan dan terduduk di dengkulnya orang aneh yang keempat ini. Cuma Lauw-sie In Hiap menambahkan itu dengan memulangkan jambangan kepada Khu Cie Kee. Berbareng kaget. jambangan sudah lantas terbang melayang kearahnya. ketika ia berada di atas jambangan. hampir tiba dimulut jendela. perutku tak dapat memuat segantang arak. umpama kata aku tidak mampus ketindihan. Nona ini dengan tiba-tiba menjejak dengan kaki kanannya. ―Jangan! Aku si mahasiswa cilik tak punya tenaga kekuatan untuk kata meringkus ayam. Tiang Cun Cu sambuti jambangannya itu. emas hitam dan baja pilihan. Ahli pedang Gadis Wat lihay ilmu pedangnya. untuk sendok araknya untuk bawa itu arak ke dalam mulutnya. dia segera menahan turunnya jambangan itu. ―Bagus! Bagus!‖ ia pun turut memuji. maka jikalau aku disuguhkan. ke bawah loteng. yang terbuat dari campuran hancuran tungsten. kalau jambangan berat itu ditimpuki kepadanya – gilirannya memang bakal tiba – tidak nanti ia sanggup menganggapnya. dengan dibantu tangan kanan. Tiang Cun Cu berniat lompat. si Pendekar Sembunyai di kota sudah turut mencicipi arak itu. cacat itu ditambal dengan kelincahan dan kecerdikannya. kembali ia mencegluk araknya. tapi kupingnya sudah dengar seruan keras tapi halus nadanya: ―Sian-cay!‖ Itu adalah suatu pujinya seorang penganut Buddha. Lincah gerakannya itu. karena untuk mencegahnya dengan menahan. terdengarlah tertawanya Lauw-sie In Hiap Coan Kim Hoat. Ia insaf. Cu Cong sudah berjingkrak bangun. sekarang ia gunai hasil latihannya beberapa puluh tahun. ―Tolong! Tolong!‖ dia berteriak-teriak selagi jambangan itu mengancam padanya. maka itu dengan sekali sendok saja. dan lantai papan pecah bolong. Wan Lie Kiam Han Siauw Eng telah lompat menyusul. enteng tubuhnya tetapi ia kurang tenaga. maka dilain saat jambangan itu sudah terangkat naik dan terlempar terapung kearah Khu Cie Kee. lalu turun ke bawah akan tetapi belum lagi tempat arak istimewa itu jatuh ke lantai. guna mundurkan semua orang untuk mencegah kecelakaan yang tak dikehendaki itu. si imam sendiri tak terkecuali. jambangan itu diangkat. mungkin aku bakal mati karena mabuk…‖ Akan tetapi sia-sia saja ia unjuk roman ketakutan seperti kalap itu. ia angkat kayu pikulannya untuk menahan itu sebelum jambangan turun. Habis itu. keduanya menerbitkan suara yang keras dan nyaring. Hie Jin sudah sambar araknya dengan tangannya untuk disendok dan dihirup. ―Bagus! Bagus!‖ Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong memuji seraja ia goyang-goyang kipasnya. Pendeta ini sangat beribadat dan murah hatinya. Semua orang terkejut. Berbareng dengan itu kakinya sudah lantas menginjak palang jendela. kemudian dengan gagang kipas. mulutnya lantas menyedot arak. Jambangan itu tidak ada yang tahan. tak sanggup ia melakukannya.Justru ia baru memikir. maka itu ia gunai ketika yang baik ini untuk menengak arak tanpa tunggu Khu Cie Kee menyuguhkan kepadanya. maka itu. ―Brak!‖ demikian satu suara nyaring. yang sudah lantas tekuk sebelah lututnya yang kiri. tubuhnya lantas mencelat ke arah jendela. jambangan berhenti menyambar. siap untuk dilemparkan pulang! Belum lagi jambangan dikasih melayang pergi. Berbareng dengan puji itu tubuhnya Ciauw Bok Taysu lompat melecat menyusuli jambangan itu. manis dipandangnya. ―Sekarang pinto hendak menyuguhkan kepada Cu Jieko!‖ Belum lagi jambangan itu dilemparkan. maka ia melintasi jendela. Akal cerdik semacam ini tadi pun telah digunai oleh Coan Kim Hoat. Tapi ia tidak berlaku ayal.Pendekar Pemanah Rajawali kepadanya. ―Orang bakal mampus ketindihan! Tolong!‖ Di mulut ia mengoceh tidak karuan. Kayu pikulan itu ternyata bukannya kayu melainkan sebangsa logam. ―Ayo! Tak dapat!‖ dia berseru. Begitu terbentur pikulan logam itu. membuatnya satu lobang besar ke dalam mana tubuh si mahasiswa terjeblos masuk di waktu mana terdengar jeritannya berulang-ulang: ―Tolong! Tolong!‖ Selagi jambangan mental balik. gerakkannya bagaikan burung walet menyambar air. Irawan D Soedradjat Page 41 . akan mendahului jambangan itu.

Sesuatunya lihay sekali. Mendengar siulan itu. lain orang telah dalui ia. kedua tangannya dibantu kaki kanannya menahan jambangan. Pinto pikir baik diatur demikian saja…‖ Lantas ia teriaki si jongos untuk siapkan empatbelas cawan arak yang besar. Han Po Kie geraki tubuhnya untuk naik sedikit. Khu Cie Kee tertawa. Tepat sekali keduanya jatuh di bebokong kuda yang lalu lari beberapa tindak. untuk isikan penuh semuanya. Ciauw Bok Taysu juga sudah lantas menyusul naik kembali ke loteng. ―Habis itu apakah yang totiang kehendaki?‖ Po Kie tanya pula. Han Po Kie menjadi gusar. Cie Kee berdiam sebentar. hingga tenaga turunnya menjadi berkurang. Itulah seorang dengan baju kuning yang sembari melompat. terpaksa pinto mesti mencoba denganmu untuk menetapkan siapa yang tinggi dan siapa yang rendah.‖ dia bilang kemudian. ia berkata: ―Benar-benar Kanglam Cit tersohor bukan nama belaka. ialah segumpal daging yang tadi telah melayang menyambar jambangan sudah pernahkan dirinya dibawah perut kuda itu. atas mana binatang itu sudah lantas lompat lewati jendela untuk turun ke bawah. Habis itu. tetapi karena tidak ada jalan lain. sedangnya binatang itu mendaki loteng. dengan sekali sebat dan cerdik. dengan begitu teranglah Tuan-tuan terlalu andali kepandaiannya orang-orang lain! Tuan-tuan pinto tolol.‖ sahut Cie Kee. Kemudian. terserah saja kepadaTuan-tuan. dan kuil Hoat Hoa Sin Sie juga adalah berhala kenamaan dalam kota Kee-hin ini. lalu satu persatu cawan dia keroboki ke dalam arak itu. Cie Kee letaki jambangan arak di lantai. begitu dipanggil. lantas satu diantaranya muncul dengan belasan cangkir yang diminta itu. pinto tidak hendak mempersulit pula kepada si pendeta. yang harus dikasihani…‖ ―Tiang Cun Cu Totiang. ―Urusan sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan Tuan-tuan bertujuh. cukup asal dia suka menyerahkan itu dua orang perempuan yang malang. Semua mata segera diarahkan ke mulut loteng. lalu keduanya jatuh miring dengan berbareng. kuda kuning di bawah loteng lantas saja lari ke jalan besar di betulan mulut jendela loteng itu. guna diletaki di lantai loteng. Ia sendiri masih bercokol terus di bebokong kuda. dengan bergandengan tangan bersama Cu Cong. telah perdengarkan satu suara bersiul. ―Kita berdua sebenarnya tak saling dendam. Maka selang sesaat. ―Akan tetapi Tuantuan tampaknya memaksa hendak mencampuri tahu. maka itu bagaimana bisa jadi taysu dapat menyembunyikan wanita baik-baik dalam kuil itu?‖ ―Di kolong langit yang luas itu mesti ada manusia palsu yang menipu duni!‖ berkata si imam dengan nyaring. ―Ciauw Bok Taysu ini adalah seorang yang beribadat dari beberpa puluh tahun. dengan memandang Tuan-tuan bertujuh. Umpama kata pinto tak dapat melawan. lalu kembali untuk terus lari masuk ke dalam ciaulauw dan mendaki loteng! Selagi kuda itu beraksi. hingga jambangan itu dapat duduk tetap di atas kuda. Ia lakukan itu sembari tertawa. ia ulur keluar lidahnya. ia pondong jambangan untuk dikasih turun dari bebokong kuda. kau jadinya tidak percaya pada kami?!‖ tanyanya. ia perdengarkan suara perlahan.Pendekar Pemanah Rajawali Baru pendeta itu melewati jendela. Maka itu mereka dapat lihat benda bagai segumpal daging yang seperti bentrok dengan jambangan. ―Pinto juga telah dengar lama yang Tuan-tuan adalah orang-orang yang gagah mulia untuk wilayah Kanglam. tangannya yang sebelah mengedut les kudanya. Sejak tadi jongos-jongos umpatkan diri di bawah loteng. apa saja yang kamu hendak perbuat!‖ ―Jikalau sudah pasti totiang menghendaki demikian. itu pasti bakal merusak kerukunan. mereka sudah mendaki loteng untuk kembali ke atas loteng! Wanyen Lieh menyaksikan semua semua itu. Totiang. inilah bagianmu yang tidak benar!‖ Kwa Tin Ok memotong. kaki kirinya menyantel pada sanggurdi. silakan totiang tunjuki caramu!‖ bilang Kwa Tin Ok. sesudah itu. pinto takluk! Sekarang. oleh karenanya jikalau kita gunai senjata. ―Aku hanya lebih mempercayai mataku sendiri!‖ sahut sang imam. ―Dengan kata-katamu ini. dengan begitu ia jadi bisa berbareng mencicipi juga arak itu. Irawan D Soedradjat Page 42 . guna ulur kepalanya ke mulut jambangan. empatbelas cawan terisi arak itu diatur dalam dua baris di lantai itu. Ma Ong Sin Han Po Kie. sang kakak yang kedua dengan keduanya sambil tertawa.

Banyak cara untuk adu pibu. ―Dengan dibantu tenaga dalamnya.‖ katanya kemudian. ―Kelihatannya untuk mereka minum lagi tiga atau empat cawan. atas perjanjiannya si imam. mereka tentu masih sanggup. Perjanjian kita ialah sampai habisnya isi jambangan ini.‖ ia berpikir. siapa yang tidak sinting. ―Hebat!‖ ia inipun berbisik. Tidakkah cara ini bagus?‖ Han Po Kie dan Thi A Seng adalah tukang tenggak susu macan. ia tidak menawar lagi. Sebagai satu jantan. ―Jieko. ialah yang menang. dia tidak bakal rubuh…. ia pun polos dan bersikap jantan. ―Baiklah!‖ demikian katanya. mereka mendahului menyatakan akur. ―Khu Totiang. Taruh kata si imam kuat minum tetapi berapakah besar perutnya? Dapatkah satu perutnya melawan perut tujuh orang? Han Siauw Eng adalah yang termuda diantara Kanglam Cit Koay. Kim Hoat percaya pihaknya bakal menang. ia tampak lantai dimana si imam berdiri menjadi basah. baiklah kau sebutkan lain cara!‖ ―Cara bagaimana tuan dapat merasa demikian pasti akan memperoleh kemenangan?‖ Tiang Cun Cu tegaskan. coba lihat kakinya si imam!‖ Cu Cong memandang ke tempat yang ditunjuki. ―Citmoay. ―Nona Han adalah jantannya wanita!‖ Khu Cie Kee puji nona itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto hendak adu kekuatan minum arak dengan tuan-tuanbertujuh. ―Tuan-tuan bertujuh minum satu cawan. ia jemput satu cawan dan jegluk isinya. pinto sendiri akan minum tujuh cawan. Dengan si imam. ―Begini lihay tenaga dalamnya. umpama kami menang. Akan tetapi Kwa Tin Ok berkata: ― Kami bertujuh melawan satu. Kebetulan ia melihat ke lantai. Tetapi tiba-tiba saja ia terperanjat. ―Akur!‖ jawab Khu Cie Kee. kita tinggalberlima.‖ katanya. ―Mari kita adu minum arak dulu! Belum pernah aku mendapati orang yang begitu memandang enteng kepada kami bertujuh. Tuan. ―Dengan jebolnya aku dan citmoay. lagi seratus cawan dia minum. Ia memang bukan tukang minum. ―Nah. Wanyen Lieh pun heran sekali. Duapuluh cawan telah ditenggak kering. ―Siapa juga yang meminumnya sama aja!‖ Maka itu. apakah ia masih bisa menghabisi lagi duapuluh cawan?‖ Oleh karena ia pikir begini. Ia lantas ingat sesuatu. mari kau wakilkan kau!‖ berkata Thio A Seng kepada adik angkatnya yang ketujuh itu. sedang si imam pun tanpa banyak omong lagi. tenggak kering satu demi satu tujuh cawan bagiannya. A Seng lantas wakilkan adiknya. Khu Cie Kee sebaliknya. Maka heranlah Kim Hoat yang cerdik itu. ia menanyakan dulu pikirannya si imam itu. habis bagaimana?‖ Cu Cong jadi berpikir. ia segera bisiki Cu Cong. Silakan!‖ Hampir berbareng enam manusia aneh lainnya dari Kanglam itu angkat cawannya masing-masing dan mengiringnya seperti saudara angkat mereka yang bungsu. itu tidaklah cara laki-laki! Totiang. air mukanya takberubah. Nona Han Siauw Eng segera merasakan bahwa ia bakal tak sanggup minum terlebih jauh. ia masih segar seperti biasa. Irawan D Soedradjat Page 43 . boleh tidak aku diwakilkan?‖ tanya si nona kepada si imam.adu kepandaian – belum pernah ia dengar cara seperti itu. lantas semua itu di cegluk habis! Setelah cawan yang ketiga. yang ia lihat sudah lelah. Lalu semua cawan diisi pula. Si imam juga tenggak habis tujuh cawannya. Kapan hendak dilanjuti giliran yang lain. . dan inilah yang pertama kali!‖ Dan tanpa bersangsi lagi.‖ Kim Hoat berbisik pula. ―Ia gunai tenaga dalamnya memaksa arak turun ke kakinya…‖ ―Benar. Coan Kim Hoat tampaknya sudah kewalahan.

ia tidak angot. akan tetapi dengan kami berlima melayani kamu. Tentu saja. akan tetapi Cu Cong seperti tidak pedulikan itu. itu rasanya tidak terlalu adil…‖ Cie Kee melengak.Hanya rada aneh. terus ia sambungi dengan nyaring: ―Mari minum! Lekas. Han Po Kie letaki cawannya di meja. Ia tertawa ketika ia berkata: ―Sebenarnya aku tidak kuat minum akan tetapi tempo tahun lalu aku pesiar ke daerah Selatan. Mari keringkan!‖ Ia goyang-goyang kipasnya di tangan kanan. begitu juga dengan pihak Kanglam Cit Koay. bisa dibuat main?‖ ia berpikir. ―Apakah itu mahkluk yang lihay?‖ ia tanya. Cu Cong lihat perbuatan adiknya itu. ―Sembilan jambangan!‖ katanya. Ia tahu orang bicara ngaco. ―Mustahilkah perutnya bisa kempas dan bisa kembang. dengan itu dia dicaci sebagai kerbau. Dimana orang berpura-pura edan-edanan. ―Khu Totiang. isi itu masih banyak. kaki dan tangannya digerak-geraki. meskipun mereka tahu ini saudara yang kedua sangat cerdik dan licin. Kesudahannya akulah yang menang!‖ ―Cis!‖ Cie Kee kasih dengar suaranya.Pendekar Pemanah Rajawali Mereka itu sudah keringi pula cawan mereka yang lainnya. Cu Cong si Mahasiswa Tangan Lihay tertawa. ―Hebat tenaga dalammu. tak dapat ia bergusur. bagaimana dia ini hendak melawan sendirian? Keenam Manusia aneh menjadi heran. ia tidak sinting. berapa jambangan aku tenggak habis?‖ Tiang Cun Cutahu orang bergurau. dikatak gila. Sekarang lantai di kakinya Khu Cie Kee tertampak barang cair mengembang dan mengalir. akan pinto menyerah kalah. kami semua sangat mengaguminya. tangannya sendiri menyambar satu cawan yang besar. ujung bajunya yang kiri pun dikibaskan. satu lawan satu!‖ sahutnya. lekas!‖ Lantas setelah itu.‖ ia berkata. hendak ia menyerah kalah. ―Sekarang begini saja.‖ sahut Cu Cong. selama itu Khu Cie Kee mesti layani orang minum. di sini lebih hebat lagi! Raja Siam telah suruh keluarkan seekor gajah putih yang besar. orang bukannya mengerahkan tenaga dalam. saban-saban ia tenggak araknya. Dengan tiba-tiba saja wajah Cu Cong menjadi sungguh-sungguh. ―Pada tahun dulu aku telah pergi ke negeri Siam. ―Di sana putra raja India seret keluar seekor lembu. perlahan tetapi mengesankan. hingga akhirnya jambangan arak itu nampak dasarnya! Imam itu segera tunjuki jempolnya. tetapi mereka duga saudara ini tentu ada akal muslihatnya. ―Aku menyerah!‖ Irawan D Soedradjat Page 44 . perut si Manusia aneh rada melendung. ―Saudara Cu. kau benar satu manusia aneh!‖ serunya. ia dengar orang berkata-kata pula. cawan demi cawan. Lam Hie Jin dan kawan-kawannya dapat lihat itu. Ia telah perhatikan. sikapnya menarik hati. Mereka berdiam. ―Satu kali aku telah pergi ke India. Selagi ia tetap belum mengerti. ia lantas mengedipi mata. ―Kanglam Cit Koay sungguh hebat. Ia heran juga menyaksikan orang kuat minum dan sikapnya tenang. Cu Jieko. Mereka tahu sebabnya itu. Tidakkah ini bagus?‖ Arak di dalam jambangan perunggu itu tinggal separuh. ia ngoceh pula. ―Habis Cu Jieko memikir bagaimana?‖ dia tanya. meski begitu. Ia tidak tunggu sampai orang membilang atau menunjukkan sesuatu apa. Lima orang sudahke teter. Begitulah ia menantang. ―Berapa jambangan?‖ dia tanya sekenanya.‖ kata Cie Kee kemudian. setelah kandasnya ini jambangan . kau temani aku minum terus. ―Baiklah aku sendiri yang layani kau. hanya orang bicara secara wajar sekali. mereka kagumi si imam untuk tenaga dalamnya yang sempurna itu. dia menghendaki aku lawan kerbau itu minum arak yang keras. untuk di pakai itu menyendok arak. Cie Kee turut minum juga. Dikatakan mabuk. ia minum araknya. di sana aku pernah menangkan beberapa makhluk yang lihay. ―Ah. Cie Kee heran. tidak ada arak yang merembas keluar. aku disuruh lawan gajah itu minum arak! Binatang dogol itu telah sedot habis tujuh jambangan! Totiang tahu. dengan sikap wajar itu.‖ kata Cu Cong itu.

!‖ ―Bagus!‖ seru Cie Kee yang mengerti bahwa benar-benar ia telah dipermainkan orang.‖ katanya. ia jadi kena dipermainkan. mulutnya perdengarkan suara: ―Syair yang bagus. Tak ada syair itu didalam sakunya itu! Cu Cong seperti tidak ambil mumat orang terheran-heran. Tentu saja si imam tidak menyangka orang bergurau secara demikian. mengapa sekarang ia dapat mengetahuinya…. ia membeber kertas di atas meja. sebab semua arak pindah ke dalam tahang air ini. Setelah dapat berdiri pula. Disitu ia berhadapan dengan orang lihay akan tetapi tidak ada seorang juga yang lihat darimana ia sembatnya tahang air itu! perutnya tinggal kempes. air mana dapat ditambah menjadi banyak. di situ ia terpeleset. untuk cari syairnya itu. tidak kusangka.mentereng seperti siluman air………‖ Panjang nada syairnya. ―Ah!‖ seru si imam kemudian. selagi si imam pegangi dia. Irawan D Soedradjat Page 45 . sebelah tangan si imam melayang. tapi ia melengak pula. Totiang.‖ katanya di dalam hatinya. Kepandaiannya itu menyembunyikan tahang air adalah kepandaian umum di kalangan tukang sulap Tiongkok. ―Totiang lihay ilmu silatnya.Di Waktu tibanya angin yang sejuk…malam yang jernih terang……. bau arak tersiar menyampok hidung! Orang kedua dari Kanglam Cit Koay sudah perlihatkan kelihayannya. Mungkin pembaca pernah menyaksikan pertunjukkan sulap semacam itu... maka itu ia digelar sebagai Biauw Ciu Sie-seng.udara membuatnya.rembulan gilang gemilang…. ―Itulah syairku yang kutulis di harian Tiong Ciu tahun yang lalu. yang sekian lama disembunyikan di bawah jubahnya yang gerombongan. dua kali ia jungkir balik di atas pentes tambah semangkok air tawar. Khu Cie Kee segera menyambaruntuk pegangi tubuhnya orang itu. Dengan‖Tangan Lihay‖ itu diartikan lihay mencopetnya. si Mahasiswa Tangan Lihay. ―Sungguh aku kagum…. Tidak tempo lagi. ia tertawa. Khu Cie Kee heran hingga ia melengak. ―Syair itu aku simpan.Ikan dan naga diempat penjuru lautan……. ―Kepandaianmu ini toh tak dapatdibilang orang minum arak?!‖ ―Kau sendiri. Tentu saja ia sangat penasaran yang orang telah copet syairnya itu tanpa ia merasa. ―Aku? Lihatlah!‖ Ia tertawa pula. arakmu kumpul dilantai! Ada apakah perbedaannya?‖ ia lantas jalan mundarmandir sampai ia kena injak lantai yang basah dengan araknya Khu Cie Kee.. Itulah kertas bermuatkan syair yang baru ia bacakan. ditangannya ada sepelas ikan emas.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong awasi imam itu. belum pernah aku perlihatkan orang syairku itu. ―Arakku kumpul di dalam tahang. sembari berputaran. tubuhnya rubuh membentur tubuhnya si imam. ―Kau benar-benar lihay! Sekarang pinto ingin mohon pengajaran…!‖ Rupanya barusan selagi ia pura-pura terpeleset. terus ia putar tubuhnya. syair yang bagus! Sejak jaman purbakala di pertengahan musim rontok…. Satu kali ia jungkir balik. Cu Cong pandai mencuri dan mencopet. Jalan susu bagaikan tenggelam…. suatu ilmu kepandaian turun temurun yang hingga kini telah membuat kagum orang di Eropa dan kepulauan selatan.tangannya mencekal sebuah tahang air.Suatu hari……. kapan tahang air itu ia balingkan. yang masih belum selesai. Biauw Ciu Sie-seng gunai ketikanya untuk rogoh kantung si imam. CuCong lompat mundur. apakah kau juga minum arak?‖si Manusia aneh membaliki. kau juga pandai ilmu surat!‖ katanya memuji.?‖ Lantas ia merogoh ke sakunya. ―Totiang minum dengan andalkan tenaga dalam. bergelak-gelak lalu dengan sekonyong-konyongia lompat jumpalitan ketika ia telah berdiri pula. Dan Cu Cong sekarang mengacau matanya Tiang Cun Cu dengan ilmu kepandaiannya itu. Wajahnya Khu Cie Kee menjadi berubah. niatku adalah untuk nanti meyambunginya.

―Siapakan senjata!‖ Thio A Seng semua segera lari balik ke tempat duduknya masing-masing. lalu beberapa puluh orang tertampak merubul naik. Tapi justru itu sekonyong-konyong wajahnya berubah. di tangga loteng terdengar riuh tindakan kaki yang keras. Hebat tangkisannya ini. Mereka menanti sekian lama putra raja mereka masih belum kembali. ―Benar!‖ sahut si imam memberikan kepastian. ―Kamu majulah berdelapan!‖ menentang Tiang Cun Cu menyaksikan orang pada turun tangan. harap kau tak katakan kami tak tahu aturan!‖ ia berkata sambil ia menggapekan kepada Lam Hie Jin dan Han Siauw Eng. benarkahkau berniat mencari keputusan dengan kepalan dan kaki?‖ ia menegasi. ―Ciauw Bok Hweshio! Kanglam Cit Koay!‖ ia berseru.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong berkelit ke samping. mereka lantas pergi mencari. ia lantas menangkis. ―Kita ada tujuh bersaudara!‖ ia bilang. ―Siapakah yang kasih datang tentera Kim?!‖ ia menegur. Bab 5. Ia hargakan Kanglam Cit Koay. naik darahnya Khu Cie Kee. Ia telah mendengar puluhan orang berlari-lari mendatangi ke restoran itu. suara mana tercampur suara bentrokkannya senjata-senjata tajam. Khu Cie Kee dapat lihat serangan itu. ―Jangan mengepul!‖ Kwa Tin Ok kata dengan dingin. atas mana Lam San Ciauw-cu menangkis dengan kedua tangannya. timbuk kekhawatiran mereka itu. ―Untuk apa menjanjikan bantuan lagi?!‖ Kwa Tin Ok tidak berpikir seperti saudaranya yang kelima itu. Thio A Seng lihat saudaranya sangat terdesak. mereka datangi rumah makan itu. Ia pun segera berseru dengan ejekan: ―Bagus betul.anginnya mendesir.. kebetulan mereka dengar di Cui SianLauw ada orang berkelahi. ―Totiang. seraya ia melompat maju untuk menyerang. kali ini tiga kali beruntun serangannya itu. yang dibawa ke depan dadanya. toya kamu masih tidak jerih!‖ Han Po Kie gusar mendengar ejekan itu. Ia cacat mata akan tetapi kupingnya awas bukan main. kamu masih menjanjikan bantuan! Biar di sana ada ribuan tentera dan tidak pandang itu di matanya!― Thio A Seng merasa pihaknya diejek. Inilah lawan tangguh yang pertama kali iapernah ketemukan. untuk ambil senjata mereka masingmasing. maka itu sampai sebegitu jauh. ―Semua mundur!‖ ia berseru. Lega hati mereka akan saksikan putra Irawan D Soedradjat Page 46 . Dan menyerang pula. Sangking murkanya. ―Totiang. ―Walaupun kasih datang tambahan tigaribu lagi serdadu berandal Kim. Tangkisan si imam itu membuat tangannya sakit dan gemetaran. ia menyerang ke dadanya si imam. akan tetapi sekarang tak dapat ia atasi diri lagi. ia layani mereka separuh main-main. rasanya baal. Khu Cie Kee tidak gubris sindiran itu. ―Lam Sieya sungguh lihay!‖ si imam memuji mendapatkan tangkisan itu. Pertarungan Mati Hidup Segera terlihat orang banyak yang naik ke loteng itu adalah serdadu-serdadu bangsa Kim. sampai saudara itu sulit membela dirinya. Hampir di waktu itu. ia lompat untuk menghalang. Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan dan Wan Lie Kiam si Gadis Watsudah lantas taati ajakannya saudaranya itu. sebagaimana mereka gampang dikenali dengan seragam mereka. Maka ia lompat berdiri.ia tertawa terbahak-bahak. Bukan main kagetnya Siauw Mie To si Buddha tertawa. Manusia Aneh yang keempat. Melihat mereka itu. sambil berlompat. ia menyangka mereka itu diperdayakan oleh Ciauw Bok Hweshio. ia menyerang Lam Hie Jin dengan sebelah tangan kirinya. Coan Kim Hoat bisa duga perasaan saudaranya itu. Tentera Kim itu adalah tentera pengiringnya Wanyen Lieh.

Serdadu-serdadu Kim lainnya menjadi gaduh karena kebinasaan tidak karuan dari rekannya mereka itu. tidak kenal Tuhan. ―Apa!‖ tanyanya. Seperti bebokongnya ada matanya. tepat mengenai batok kepalanya satu serdadu Kim. tidak peduli orang baru saja berhenti bertempur dan disitu ada banyak serdadu bangsa Kim. maaf. Hidangan untuk Wanyen Lieh pun disiapkan sekalian. suara itu rubuh dengan kepalanya remuk. ―Khu Totiang. Sambil manangkis tangannya menyambar. pinto tak dapat menemani lebih lama pula!‖ Lantas ia angkat jambangan araknya. Lalu tanpa tunggu jawaban lagi. ―Jangan!‖ Wanyen Lieh segera mencegah. si hweshio. iabertindak ke tangga. ia tak sudi melayani bicara. ―Hm!‖ Khu Cie Kee perdengarkan suara di hidung selagi Hui Thian Pian-hok belum sahuti orang asing itu. pendeta yang pantang makan daging. sebaliknya ia layangkan tangannya yang kiri. jangan kau keliru mengerti!‖ kata tertua darikanglam Cit Koay ini. ―Toako kami menitah kau pergi!‖ Han Po Kie wakilkan kakaknya menyahuti. Beberapa serdadu lagi hendak maju untuk mengulangi penyerangan. Tiang Cun Cu tidak ladeni si buta itu. maka tadi ia berlaku manis budi dengan suruh jongos membagi daging macamnya. dia tidak usah dilayani! Tuan-tuan mari kita minum dulu. ―Inilah contohnya!‖ kata si imam kemudian. Ketika itu pihak rumah makan baru siap dengan hidangan mereka yang terdiri dari daging macam tutul. ―Adakah aku keliru mengerti?‖ jawab si imam sambil jalan terus. mereka kaget dan gusar. ―Kamu adalah bangsa Enghiong.Pendekar Pemanah Rajawali rajamereka tidak kurang suatu apa pun. sembari minum kita bicarakan daya untuk menghadapi dia!‖ Kwa Tin Ok tidak tahu orang adalah orang bangsa Kim. Mereka lantas menghampiri untuk memberi hormat. putra itu lagi duduk tenang di mejanya. habis perlu apa kamu undang tentera bangsa Kim untuk bantu kamu?‖ Dengan sengit si imam menjengeki orang adalahEnghiong dan hohan – orang-orang gagah. ―Bagus! Bagus!‖ ia menambahkan. Khu Cie Kee tangkis serang itu tanpa membalik tubuhnya. hingga Wanyen Lieh lantas saja mundur beberapa tindak. sambil membawa itu. ia lompat maju. maka itu sambil gerakin tongkat besinya. bangsa hohan. sembari berkata ia gerakan pundak kanannya. ―Terima kasih Kwa Toako!‖ ia mengucap. maka itu beberapa batang tombak kena tercekal dan terampas. Dengan berani ia lantas memanggil ―toako‖ atau kakak. ―Kalau picak bagimana?!‖ tanyanya. WanyenLieh heran. untuk mengatakan: ―Imam jahat itu tidak kenal undang-undang. ia ngeloyor ke tangga. Dengan lantas ia berpaling kepada Kwa Tin Ok beramai. walaupun orang tak dapat melihat kepadanya.ia paling benci orang mengatakan ia picak. Tin Ok buta. mengenai kempolansi putra raja Kim itu. mereka bawa naik barang hidangan itu untuk disajikan disembilan meja dikecualikan mejanya Ciauw Bok Taysu. hingga tanpa suara apapun. ―Minggir!‖ ia membentak. sekarang setelah mengetahui orang bangsa apa. Kwa Tin Ok lantas sudah bangkit berdiri. beberapa diantaranya segera menikam bebokongnya si imam dengan tombak mereka yang panjang. Atas itu putra raja Kim itu lantas berbangkit dari kursinya. ―Cukup sudah. ―Aku juga bukanya si picak!‖ sahutKhu Cie Kee mengejek. ―Kami tidak undang atau janjikan mereka itu. di depan siapa ia memberi hormat. jiwanya terbang pergi.‖ Kwa Tin Ok menyangkal. Irawan D Soedradjat Page 47 . guna menghampiriKwa Tin Ok.

Nyatalah barisan itu adalah barisan yang telah pergi ke Gu-kee-cun untuk menawan Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. selagi lewat di samping Wanyen Lieh. ia lekas-lekas balik ke hotel.‖ sahut hweshio itu. dalam mana ia bilang ada orang jahat hendak mengganggu mereka itu dan karenanya dia minta supaya aku beri tempat berlindung kepada merek itu.‖ Tin Ok juga menyatakan. seragamnya tidak karuan. Ia bekuk satu serdadu yang sedang tidur pulas.‖ ia berpikir. tombak dan gendewanya pada patah. turun di tangga loteng. Bersama dia turut juga semua pengiringnya. apapula ia adalah kakak seperguruanku. baru satu dua har I orang itu tiba. Mereka tidak dapat mengerti sikapnya Khu Cie Kee. ia tahu tidak ada peperangan dengan bangsa Kim. Khu CieKee pergi ke Gu-kee-cun kepada Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. paling dulu ia ragoh sakunya. Ia heran. pulang ke Yankhia. ―Pauw-sie ada padaku. untuk pesiar ke telaga See Ouw dan tempat sekitarnya yang indah. Sampai disitu mereka berunding.‖ Oleh karena kekhawatirannya ini. tentu saja aku mesti terima permintaannya itu. inlah berbahaya………. siapakah mereka itu? Bagaimana sebenarnya duduk perkaranya?‖ ―Nanti aku beri keterangan. bukan?‖ Tin Ok memotong. Maka sebelum layani godaan orang itu. ia tampak lewatnya beberapa puluh serdadu dalam keadaan rudin.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin OK semua lantas berlalu. Diluar dugaanku. ia ikuti rombongan serdadu sampai di tangsinya tentera itu. seperti bekas kalah perang. aku serta semua serdaduku bukan tandingan mereka. Kejadian itu membuat ia sangat gembira.‖ sahut Ciauw Bok. kita tak dapat tidak bersiaga.‖ tanya Han Siauw Eng. Ia ingat pada pengalamannya yang pertama. Kapan ia sudah dengar jawabannya. lalu dengan diam-diam ia menyatroni. Dari Gu-kee-cun. Sementara itu Kwa Tin Ok beramai telah ikuti Ciauw Bok Hweshio pergi ke kuil Hoat Hoa Sian Sie yang letaknya di bagian barat dari luar kota Kee-hin. lantas Tiang Cun Cu datang menyatroni sambil dia menuduh ada dua orang wanita dari Hangciu. tidak ada huru-hara penjahat di dekat-dekat Hangciu.‖ menyatakan Coan Kim Hoat. ―Taysu. akan tetapi ia jerih pula. Ia tahu. Tentu saja aku menjadi tidak mengerti. Wanyen Lieh terkejut. ―Beberapa orang ini lihay sekali. hingga kesudahannya ia labrak rombongan serdadu bangsa Kim serta orang-orang polisi yang mencari padanya. Ciauw Bok Taysu bingung. juga mereka itu tidak tahu suatu apa. itulah akibatnya ia sudah mengikat persahabatan sama dua orang she Yo dan Kwee itu. ―Benar. Kami orang beribadat mesti berlaku murah hati. Kacung hweshio lantas menyuguhkan air the. untuk korek keterangan dari mulutnya. datang menyembunyikan diri di kuilku. yang ia bawa ke ujung jalan besar. dari kuil Kong Hauw Sie. Untuk kagetnya ia dapatkan beberapa potong emas dalam sakunya terbang pula! Ia mendongkol. ―Aku ada punya Suheng yang menjadi pendeta di kepala di kuil Kong Hauw Sie di Hangciu…‖ ―Itulah Kouw Bok Siansu. akan menghirup permainannya sang salju. ia tidak lagi berpikir untuk beli pakaian buat si nyonya. Irawan D Soedradjat Page 48 . ia menitahkan dua orang yang menyampaikan surat itu. Ia berduka berbareng murka akan dengar Siauw Thian terbinasa dalam pertempuran itu dan Tiat Sim terluka parah. Tempo ia lewat di muka Ceng ho-hong. ibukotanya kerajaan Kim. ―Keliru mengerti ini jadi makin hebat…‖ Ciauw Bok Taysu mulai berkata smabil ia menghela napas. habis mana ia lantas mengundurkan diri. ―Kemarin dulu ia menulis surat padaku. untuk membuat perkenalan dengan caranya yang luar biasa itu. dengan tinggalkan restoran itu.‖ ―Itu benar. terus ia ajak si nyonya untuk berangkat ke Utara. Pasti tak dapat ia umbar hawa amarahnya terhadap serdadu itu.‖ ―Melihat dari sikapnya tadi. merundingkan daya penjagaan. (Yankhia = Peking sekarang). ia tepuk pundaknya putra raja Kim itu dengan kipasnya seraya bilang: ―Apakah kau telah jual itu orang perempuan yang kau tipu? Bagaimana kalau kau jual dia padaku? Hahaha!‖ Dan terus ia ngeloyor turun. ia lantas pergi ke Hangciu. Habis kenapakah barisan serdadu itu? Ia tanyakan keterangan beberapa penduduk. Biauw Ciu Sieseng jalan paling belakang. lebih bingung pula Kanglam Cit Koay. Ciauw Bok Hweshio turut mereka. ia menjadi mengeluh. ―Maka aku pikir. Ia tunggu sampai malam. ―Dia menyebutkan dua orang wanita. di dalam kuil itu mereka berkumpul di kamar bersemedhi. Itu hari sehabisnya membinasakan Ong Tian Kian si pengkhianat. Saking penasaran. entah kemana lolosnya tetapi ada kemungkinan dia pun tak kan hidup lama. jikalau mereka dapat tahu. Imam ini sangat menyesal. mesti dia bakal datang lagi menerbitkan onar.

Thian Tek segera berkata kepada dua serdadu yang ia kedipi mata: ―Pergi kamu antar toya ini ke telaga untuk cari Toan Tayjin!‖ Irawan D Soedradjat Page 49 . Habis itu dia hendak mencari istrinya dua sahabat itu guna menempatkan mereka ke tenpat yang aman. agar supaya anak-anak mereka dapat ia didik menjadi orang-orang sempurna seperti yang ia janjikan.‖ Segera Khu Cie Kee atur rencananya. supaya mereka dapat turunan. ―Toya mencari Toan Tayjin?‖ dia balik menanya. lagi bertarung dengan robongan serdadu. Lengannya Thian tek lantas saja kena dicekal. yang ia bawa ke tepinya telaga See ouw. oh. terus ia pergi cari Thian Tek di tangsi. tubuhnya hampir tak dapat bergerak. ialah khu Cie Kee. Ia gunai tangannya yang kiri. Thian Tek ada di dalam tangsinya.‖ sahut serdadu itu yang menyebutkan komandonnya. Imam itu. dengan membawa goloknya. untuk mencari kesenangan.dia sekarang ada di telaga See Ouw. hingga ia mau menduga. mungkin Thian Tek adalah satu komandan yang tak berdisiplin dan doyan pelesiran. Tiang Cun Cu menampak hal yang membuat darahnya mendidih. lagi pelesiran minum arak di atas perahu. ―Kau hendak memberontak?!‖ ia menegur sambil ia lantas menerjang. di atas tiang bendera yang tinggi. yang nampaknya gagah sekali. Thian Tek gusur menyaksikan perkelahian semacam itu. Kemudian ia akan mohon belas kasihannya Thian. tentung sudah terjadi pertempuran dengan orang yang mencari dia. Dia pergi ke muka tangsi. istrinya Siauw Thian. ―Dia…. tidak ada muka pinto menemui kalian di dunia baka. tetapi ia tidak peroleh hasil.‖ Cie Kee kena diakali. ―Khu Cie Kee. Khu Cie Kee!‖ katanya seorang diri. ia lompat keluar dari tangsi. ―Dengar baik-baik. ia lagi periksa Lie Peng. Segera ia melongok di jendela. Dia belum kenal perwira ini. namanya Thian Tek. Ia kaget akan dengar laporan ada orang cari padanya. Oleh karena sudah habis sabar di hari yang ketiga setelah dua malam itu. Thian Tek kesakitan. Ia dapat terka maksudnya si imam. masih dapatkah kau disebut satu laki-laki?!‖ Saking mendongkol. rombongan serdadu lagi dilabrak oleh imam itu yang bersenjatakan dua serdadu yang ia cekal kakinya dengan masing-masing mereka mengeluh. Kemudian malamnya. dia ambil cara singkat saja. ia hajar dengan tangannya tembok dimana tiang itu dipasang. kedua sahabat itu jamu padamu. Pertama-tama Toan Thian Tek mesti dicari. kau sebaliknya rembet-rembet mereka hingga mereka bercelaka. Besok paginya. untuk dikubur. Ia ingin Lie Peng sebutkan sahabat atau sahabat-sahabatnya Siauw Thian yang dirasa bernyali besar berani mencuri kepalanya Siauw Thien itu. rumah tangga mereka tercerai berai dan musnah! Jikalau kau tidak menuntut balas untuk mereka. Satu imam. Sebentar lohor ia baru pulang. Atau lebih benar.. ada di gantung kepalanya Kwee Siauw Thian untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai. hingga batu dan pasir kapurnya hancur.Pendekar Pemanah Rajawali ―Siapakah itu perwira atasanmu?‖ ia tanya. tidak berhasil ia mencari Toan Thian Tek. ia lepas cekalannya. airmatanya turun mengucur. Beruntun dua malam Cie Kee telah satroni tangsi Wielok nomor enam. diam-diam ia memuji dan berjanji: ―Itu hari pinto sudah berjanji akan ajarkan ilmu silat kepada anak-anakmu. supaya kelak mereka menjadi orang-orang kosen. si imam membela diri dengan dua serdadu korbannya itu. ciehui itu mesti dibinasakan guna membalaskan sakit hatinya Tiat Sim dan Siauw Thian. Dia paykui di depan kuburan. ―Ciehui tayjin kami. lalu laporan itu disusul dengan laporan lainnya. telah sambut serangan sesudah ia lemparkan satu serdadu. tapi ia licik sekali. Hampir dadanya meledak. Sejumlah serdadu lain menyerang dengan anak panah tetapi serangan itu tak ada hasilnya. tidak tahu dimana tidurnya ciehui itu malam itu. Cie Kee bebaskan serdadu itu. kalau tidak. untuk menegur: ―Mana dia Toan Thian Tek?! Suruh dia keluar!‖ Justru itu hari. ―Dia she Toan. Di muka tangsi. ―Mana itu bajingan jahanam Toan Thian Tek?!‖ Cie menegur. mungkin Thian tek tidur di luar tangsi. dia panjat tiang itu untuk turunkan kepalanya Siauw Thian. Pemeriksaan dilakukan sebab lenyapnya kepala Siauw Thian itu.‖ Cukup segitu.

Kalau perlu nyonya Kwee itu dapat di pakai sebagai tanggungan untuk jiwanya. ―Mari kita bekuk dia!‖ berkata si si komandan. Sikapnya dingin. dia pasti dapat susah di tangan pamannya itu. Malam itu dia bermalam di tangsi itu. kau memangku pankat. sehingga mereka terpaksa mesti mebuka rahasia. Bukan saja pemerintah tidak membuat perlawanan. Maka kaget ia akan dapatkan tengah malam itu sang keponakan muncul dengan tiba-tiba. dengan rajin ia berlatih terus. ―Lekas! lekas pergi!‖ Thian Tek membentak. sebab ialah dia tidak setujui kelakukan sang keponakan. Cie Kee ikuti kedua serdadu itu. yang adalah pamannya. ―Aku diperhina satu imam. dia melebihi kebanyakan orang. ―Peehu. yang bekas di cekal si imam. siapa berani perhina padamu?‖ paman itu tanya pula. serdadu-serdadu membikin banyak berisik. Terang Khu Cie Kee balik kembali setelah ia tidak berhasil mencari Thian Tek. Tentu saja ia menjadi sangat ketakutan. Dia malah menjadi ciang-bun-jin. mereka bingung. Karena ini. rupanya ia telah kompes kedua serdadu pengantarnya.‖ dia menyahut dengan cerita karangannya. ―Mau apa kau datang kemari?‖ sang paman tegur keponakannya. Ia menjadi kepala di kuil Kong Hauw Sie itu. Ia pernah memangku pangkat dalam ketenteraan. Tapi ia mesti menderita pada tangannya. sebaliknya menteri dan panglima setia dibikin celaka. Terus Thian Tek kasih lihat roman sangat berduka. Kemana ia mesti menyingkir. Thian Tek berkepandaian tidak seberapa. dia takut pulang. Sebenarnya sudah lama dia tidak berhubungan dengan keponakannya itu. tapi mendadak terdengar suara ribut-ribut di luar tangsi. dengan memandang kepada muka ayah. hingga tulang itu mesti disambung. Lengan itu bengkak. Kouw Bok Hwehio pandai ilmu silat. aku mohon pertolonganmu…‖ ―Kau tinggal di tangsi tentera.‖ dia ambil keputusan. Dia tahu sebabnya kenapa pamannya itu masuk menjadi paderi. Baharu sekarang ia bisa bernapas sedikit lega. yang terus hendak kumpulkan tenteranya. Thian Tek segera tekuk lutut di depan pamannya itu. dia paksa Lie Peng dandan sebagai serdadu. Mereka keluar secara diam-diam dari belakang tangsi. Untuk memastikan keselamatannya terus ia bawa-bawa Lie-sie. ke tangsi Coan-ciat nomor dua. Dalam ilmu silat. Malah segera ia bekerja. Dia cari tabib tentera untuk obati tangannya itu. Sejak sucikan. Umpama kata dia bercerita terus terang bahwa ia telah bekerja sama dengan bangsa Kim untuk menawan Kwee Siau Thian dan Yo Tiat Sim. Dari itu. aku minta kau suka tolongi keponakanmu ini….‖ katanya dengan suara susah dan mesgul. yang sama martabatnya. mereka terbirit-birit menuju ke Kong Hauw Sie. Tepat tengah malam. tanpa pedulikan malam buta rata. Di luar tangsi. ia tidak abaikan ilmu silatnya itu. Pamannya Thian Tek ini sudah lama sucikan diri. Thian Tek takut bukan main. hingga ia lantas menyusul ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan itu. ―Keponakanmu telah orang perhina. tanpa pamitan dari rekannya.Pendekar Pemanah Rajawali Dua serdadu itu belum mengerti. Thian Tek mendusin dengan kaget. Dia pergi ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan yang komandannya adalah sahabat eratnya.‖ Irawan D Soedradjat Page 50 . ―Imam itu kepung-kepung aku hingga tak tahu kemana aku mesti singkirkan diri. ―Jangan kamu bikin toya gusar!‖ Baharu sekarang dua serdadu itu mendusin. Di sini ia selamat. Peehu. rasanya sakit sekali. dalam hal kecerdikan. Dan untuk mencegah kecurigaan orang luar. Kepada sahabat itu ia tuturkan halnya si imam jahat. ―Baik aku pergi ke paman. dia ajak barisannya meninggalkan tangsi Wie-ko itu. dia ajak Lie Peng dan barisannya kabur dari belakang tangsi. Thian Tek tidak berani berayal pula. ialah si paman sangat benci bangsa Kim dan sangat sesali pemerintah Song. Kali ini ia lari keluar kota. Nyata tulang lengannya patah. nama sucinya ialah Kouw Bok. Tangsi ini terpernah di tempat sepi. Sebabnya ialah satu serdadu jaga ketahuan lenyap tidak keruan paran. si imam tidak berhasil menavri dia terlebih jauh. siang-siang dia telah karang sebuah alasan. jeri Thian Tek terhadap pamannya. Dia bawa Lie Peng bersama dia. ia manggut-manggut. Seberlalunya si imam. disusul sama masuknya laporan halnya satu imam datang mengacau. supaya selamat? Akhirnya dia ingat pendeta dari Kong Hauw Sie. mereka lantas ngeloyor pergi. tak suka ia bergaul dengannya. ahli waris dari partai Hoat Hoa Cong golongan Selatan.

―baik. ―Tolong untuk kali ini saja. setelah pemerintahan dipindah ke selatang. keponakanmu celaka.‖ Thian Tek pura-pura merengek. ―Untuk beberapa hari kau boleh berdiam di sini. Itulah tempat pelesiran serdadu. ―Kemarin dulu aku pergi ke barat jembatan Ceng Leng Kio. maka itu dia dipanggil tiang-khoa. Mulanya itu mereka jadi barang permainan tentera.‖ Dasar orang suci dan mengingat juga kepada almarhum saudaranya.‖ ―Hm…!‖ sang paman perdengarkan suara di hidung. lari masuk dengan tegesa-gesa.‖ Kouw Bok mengeluh. Tiba-tiba muncul imam itu. Aku larang kau main gila pula!‖ Thian Tek menghanturkan terima kasih berulang-ulang.Pendekar Pemanah Rajawali Melihat roman orang.‖ ―Apa maksudnya dengan kata-katanya kepala terpisah dari badan?‖ tanya Kouw Bok lagi. dasar tabiatku jelek. benar dia…‖ kata Thian Tek. aku suruh dia pergi. hari itu aku minum arak bersamanya. lekas-lekas dia berlutut pula.‖ kata dia akhirnya. Aku turur beberapa kawan. dan dia minta Toan Tiangkhoa keluar menemui padanya…. ―Aku adalah seorang suci. yaitu paderi tukang layani tetamu. hati Kouw Bok tergerak. Penghuni wan-sia adalah wanita-wanita melarat yang tidak punya sanak kandung. gampang bubar‖. ―Kenapa itu imam kepung-kepung padamu?‖ ia tanya. ―Tapi kejadiannya benar demikian. ―Satu pembesar tentera begini tidak punya guna. hingga tak perlu aku main gila. Tapi maksudnya nag paling jelas ialah: Di jaman Song itu. tak dapat aku urus perkara main perempuan kamu ini. Lewat lhor itu hari. dia memaksa si nona melayani padanya…‖ ―Mustahil seorang suci pergi ke tempat semacam itu!‖ Kouw Bok menyela. ―Dia menjelaskan. . ―Tolong.‖ Kouw Bok menitah. dan wa-sia berarti ―rumah genting‖. ―Panggil Thian Tek. genting utuh.‖ Thian Tek merintih. semunculnya dia. Lam-wa-cu itu diambil dari kata-kata wa-sia. Irawan D Soedradjat Page ―Imam itu sangat galak. Lebih tegas lagi bermaksud. Aku lari. ―Diwaktu datang. aku tegur dia dan jadi berkelahi karenanya.― berkata paderi itu. Ia menghela napas panjang. Lebih jauh. dia mengejar. untuk mengikat hati tentera. dia adalah paderi dari partai mana?‖ tanya sang paman.‖ Thian Tek adalah satu perwira. tie-kek-cung. Nyata dia sangat galak. Lie Peng sudah diancam oleh Thian Tek. ah…. karena habis jalan. tak lama lagi tentera bangsa Kim akan datang menyeberang ke sini. Dia damprat aku. ―gampang berkumpul. 51 ―Dia. belakangan orang berpangkat atau sembarang hartawan pun dapat permainkan mereka. ia tutup mulut. dia katakan aku bakal terpisah kepala dari badanku. Maka itu aku telah singkirkan dia. Kouw Bok merasa berkasihan juga. ―Dia berani mengatakan demikian?!‖ ―Benar. terpaksa aku lari ke mari. Ia omong terus: ―Aku ada punya satu nona kenalan. Disana kami bermain-main di Lam-wa-cu di bawah rangon Hie Cun Lauw…. Thian Tek pura-pura tuli untuk ejekan pamannya itu. mengejar terus-terusan. wa-sie itu diambil sebagai arti ringkas dari sebutan. tentera itu bakal membunuh habis semua pembesar dan tentera kita…‖ Kouw Bok lantas saja menjadi gusar. peehu. Aku minta peehu suka tolongi aku…. walaupun ia tahu orang sudah mendusta. Aku tak berani main gila lagi…. diwajtu pergi genting pecah‖. Sayang aku bukan tandingan dia itu. ia menemui Kouw Bok dan melaporkannya dengan gugup: ―Di luar ada satu imam. galak dia. pemerintah mengadakan apa yang dinamakan wa-sia itu di dalam dan di luar kota Hangciu.‖ dia menjawab. ―Celaka. Thian Tek sudah bangun berdiri.

‖ Kouw Bok pakai jubahnya. yang usianya tetelah beberapa ratus tahun…‖ Dan tangannya melayang ke muka Thian Tek.‖ kata tie-kek-ceng. Kouw Bok insyaf bahwa ia bukan tandingan ini imam. celaka. dia sendarkan diri di dua singa-singaan batu. ia tak mau mengganggu kesujudan banyak orang itu. ia berlaku sabar. habis itu dia angkat kaki sambil tertawa haha-hihi. diluar kendalinya. ―Dia membuang napas.‖ Thian Tek mendusta tak kepalang tanggung. kenapa totiang berpandangan sama dengan seorang biasa saja?‖ ia tanya. ―Dia lihay sekali. Cie Kee tidak menjawab pertanyaan itu. separuh patung pun gempur! Dalam kagetnya yang tak terkira. ia telah terlambat. Ia maju mendekati. Kouw Bok Hweshio berdiri bengong mengawasi sepasang cio-say.‖ jawab muridnya itu. ―Seorang pertapa perpokok kepada belas kasihan dan murah hati. Di pintu pekarangan. ia tak berani membuka mulut. ―Singa-singaan itu musnah di tanganmu!‖ katanya. ―Apakah ada sikapnya yang aneh selagi dia hendak berlalu?‖ tanya lagi. jiwaku pasti sudah melayang!‖ Thian Tek membungkam. yang disebutkan tadi.‖ lanjut muridnya lagi. ―Tidak. selagi imam itu hendak memaksa memasuki pendopo walaupun paderi penjaga pendopo mencegah padanya. Cie Kee juga tidak berani menggeledah. ia kaget sekali. Keduanya turut lari keluar. Celakanya. sudah tentu benturan itu menimbulkan suara yang keras. dia Cuma bertenaga besar. yang muncul di depan gurunya. ―Apakah dia mengucapkan sesuatu?‖ tanya Kouw Bok setelah berdiam sesaat. ia hanya bertimdak masuk. ialah Khu Cie Kee. kecuali setibanya ia di mulut pintu pekarangan. terpaksa ia berlalu. Kouw Bok lirik tie-kek-ceng untuk suruh muridnya itu antar tetamu tak diundang itu. celaka…. Ia nampaknya menggeraki tangan dengan perlahan tetapi ia menggunai tenaga dalam.Pendekar Pemanah Rajawali ―Entahlah dia imam dari desa mana.‖ mengatakan Kouw Bok. Irawan D Soedradjat Page 52 . Lebar tindakannya itu. ―Dia tak bilang suatu apa. hingga ia mesti bekapi mukanya itu.‖ Kouw Bok lantas mengeluh. penduduk pria dan wanita. Thian Tek dan tie-kek-ceng menjadi heran. akan susul Kouw Bok. dengan seret Lie Peng. nanti aku temui dia. terus ia pergi keluar. aku tak sangggup lawan dia…‖ ―Baiklah. tubuhnya tertolak mundur keras sekali. Setelah mengetahui orang sudah pergi. Ketika itu. ―Celakalah singa-singaan kita itu. ia bukan Cuma besar tenaganya…‖ Lekas-lekas ia rangkap kedua tangannya untuk memberi hormat seraya menanya: ―Ada pengajaran apakah maka totiang datang berkunjung ke kuil kami ini?‖ ―Aku datang mencari satu bangsat busuk she Toan!‖ Cie Kee menjawab ringkas. agaknya ia sangat letih.‖ sahut tie-kek-ceng. Sebagai seorang yang beribadat. Ia kena langgar daging yang empuk bagaikan kapas. ―Sebenarnya tak seberapa ilmu silatnya. Thian Tek keluar dari persembunyiannya. ―Mana dia hanya satu imam dusun!‖ kata Kouw Bok dengan mendongkol. tidak ampun lagi ia terlempar membentur patung Wie Hok di pendopo itu. tapi begitu ia kena langgar bahu si imam. karenanya tentu saja ia tak dapat dicari. di hari-hari dari musim semi itu Kong Hauw Sie kedatangan banyak penduduk yang bersujud. Kouw Bok berpikir. Ia lantas bertemu sama si imam. habis mana ia lari keluar. ―coba kalau dia tidak berlaku murah. Nampak romannya yang sangat berduka dan menyayangi singa-singaan itu. dasar aku yang tidak punya guna. lebih-lebih Thian Tek yang mukanya menjadi bengap dan merah. waktu ia hendak tarik pulang tangannya. ia terus tolak bahu si imam itu. sebab ia dapatkan kenyataan. Dengan tertawa dingin. ―Dia sudah pergi jauh. ―Inilah aneh. singa-singaan batu. ―Ah. Thian Tek sudah umpatkan diri ke dalam sebuah kamar. Ia ingin mendorong imam itu keluar pendopo.

maka sekarang. ia dekati singa-singaan batu itu. Oleh karena penasaran. Keras adalah hatinya Khu Cie Kee. dia tidak bakal berlaku murah hati lagi. ia berkeras. ―Aku keliru sudah menyalahkan kau…. Pastilah dia menyangka kita telah bekerja sama dengan pihak Kim. Demikianlah mereka berkumpul di restoran Cui Sian Lauw. ―Inilah takdir…‖ sahut si paderi dengan masgul. Habis menutur Ciauw Bok Taysu menambahkan: ―Telah lama aku dengar Tiang Cun Cu lihay. kepada suteeku itu. Paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak menduga apa-apa. lalu dengan menyewa perahu. Kouw Bok menghela napas pula. ―Pergilah kau kesana. ia tidak mau percaya sangkalannya paderi itu. Seperti tanpa merasa. bertumpuk bagaikan puing. yang tidak kurang suatu apa. sampai setiba Tiang Cun Cu dengan jambangan araknya yang istimewa itu. aku pandang Cio-sang itu sebagai mustikanya Kong Hauw Sie. Ia mau percaya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kenapa peehu?‖ sang keponakan tanya. Sampai sebegitu jauh. dia seperzi bukan hendak mengacau. Ingat Lie Peng. maka kalau kita bertempur pula. ―Eh…kenapa jadi beini…? katanya.‖ ―Kwa Toako betul. lebih pandai sepuluh lipat daripada aku. pada ini mesti terselip salah mengerti. Karena ia telah lihat Lie-sie dengan matanya sendiri. Kau tahu. ―Adikku seperguruan. Tentu saja ia kaget hingga mukanya pucat. tidak berani dia membuka mulutnya. Sayang ia terlambat. Thian Tek tahu tidak selamat ia berdiam terus di Kong Hauw Sie ini. ia tidak sangka yang kawannya Thian Tek adalah satu wanita dalam penyamaran. Ia awasi cio-say itu.‖ Paderi ini hendak suruh panggil Thian Tek tempo Tin Ok peringatkan: ―Ciauw Bok Suheng. ia terima mereka itu menumpang.ah!‖ Ia menghela napas panjang. begitu kena diraba. untuk pergi menumpang pada Ciauw Bok Taysu. Karena ia telah lihat Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya. apa mungkin ia sudi layani kau yang begini hina memperebuti segala bunga berjiwa?‖ Thian Tek kaget. Tiba-tiba saja ia menjadi kaget. Irawan D Soedradjat Page 53 . singa batu itu gempur dan rubuh. Ketika kemudian ia lompat masuk ke dalam pekarangan. mungkin dia sanggup melayani imam itu. Ia mengawasi. ―Yang dikhawatirkan justru salah mengerti ini sukar dijelaskan…‖ kata Tin Ok pula. ―Aku memang bekum pernah tanyakan sesuatu kepada mereka. suaranya perlahan dan penuh rasa sangat menyesal. ―Cio-say. kecurigaannya timbul. Maka itu ia ketemukan Ciauw Bok Taysu. sepasang cio-say ini adalah barang peninggalan jaman Lam Pak Tiauw. Thian Tek masih tidak mengerti.‖ ―Aku pikir baiklah minta datang dua orang yang kakakmu itu perkenalkan. Lie Peng sudah disembunyikan Thian Tek dalam ruang bawah tanah. ia pergi minta bantuannya tujuh Manusia Aneh dari kanglam itu. Pauw-sie pun disembunyikan di dalam kuil Hoat Hoa Sian Sie itu. ―Luar biasa sempurnya tenaga dalam dari imam itu. Ia berkata pula: ―Dia demikian lihay.‖ kata Kouw Bok kemudian.‖ Ciauw Bok Taysu menyatakan akur. ia minta supaya Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya. matanya mengawasi pamannya. Turut penglihatanku.‖ kata Kouw Bok. malam itu ia ajak Lie Peng berlayar ke Kee-hin. ia cuma minta surat perantara. dari itu ia tidak bantah pamannya itu. mestinya jalannya tak sama dengan yang di rumah makan.― Meyaksikan lihaynya Khu Cie Kee. Tie-kek-ceng heran. ia berhasil menyusul Thian Tek.‖ ―Benar. ia raba kepalanya.‖ Kim Hoat menyarankan. Ia segera tarik pulang tangannya itu. Ciauw Bok Taysu merasa tidak ungkulan melawan imam itu. sekarang kita dapat buktikan itu. ―Cio-say ini telah dirusak si imam dengan menggunai tenaga dalamnya…‖ katanya. Khu Cie Kee ingat Pauw-sie.‖ berkata si pederi. begitu ia ingat pada Kanglam Cit Koay. maka aku mau percaya. Sekarang…. pergilah kamu dengan baik-baik…‖ Kemudian dia berpaling kepada Toan Thian Tek. ia pergi tolak tubuh cio-say yang satunya lagi. Kebetulan ia lihat Lie Peng di dalam tamannya kuil. untuk beberapa ratus tahun kamu bercape lelah menjaga pintu kuil ini. ―Coba kita tanyakan keterangannya. Tiba-tiba saja. cio-say. ketika itu Kaisar Liang Bu Tee telah memanggil tukang yang pandai untuk membuatnya. kuping dan hidungnya cio-say itu runtuh jatuh. maka itu mesti kita cari jalan untuk mengerti satu pada lain. Ciauw Bok Taysu. mungkin imam itu menyusul kita.

yang sekarang dipunyai Han Siauw Eng. dengan satu gerakan tangan kanannya. Sikap kedua saudara ini sangat berbeda satu sama lain. Ia dan adiknya itu memang yang paling aseran diantara Cit Koay. yang satu geraki pikulannya yang istimewa. mereka telah dikagetkan suara keras yang datangnya dari toan-thian. Penambahan ini penting untuk si nona. Karena ini ia membuat si nona Han menjadi repot. Dia menyerang beberapa kali.cambuk Naga Emas. dengan jambangan arak di tangannya. yang pandai sekali mengatur tentera. yang tajam mengkilap. Kali ini ia berhasil. Belum putus pembicaraan mereka. dia mencoba melilit lengan si imam yang memegang jambangan. ia mesti menghadapi Ngow Cu Sih. beruntun beberapa kali. Ilmu silat itu asalnya tigapuluh enam jurus. panglima sangat tangguh dari negeri Gouw itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kalau terpaksa kita maju berdelapan…‖ Cu Cong turut berbicara. Diserang dari depan dan belakang. Mendapatkan adik angkatnya terancam bahaya. Pada suatu hari ia kedatangan satu gadis yang cantik. mengalun. Oleh karenanya. sampai jambangan perunggu itu retak. Segera si imam serang tukang pentang bacot itu. di tangan nona Han. Suara itu seperti suaranya dua genta beradu keras. itulah tidak benar…‖ menyangsikan Han Po Kie. melainkan kita menghendaki dia sabar mendengarkan penjelasan Ciauw Bok Taysu. hendak ia merampas pedang si nona. ―Kita tidak berniat binasakan dia. kakinya Cie Kee melayang. A Seng berkelit seraya melengak. orang kang-ouw juluki si nona Wat Lie Kiam – Akhli pednag Gadis Wat – Begitu lekas mengenali ilmu silatnya si nona. melatih keuletan diri dengan tidur sambil mencicipi nyali yang pahit. hanya menghajar jambangan perunggu itu. Khu Cie Kee tidak menjadi gugup. Di pihak lain Han Siauw Eng sudah hunus pedangnya. sambil di lain pihak melayani Han Po Kie. dengan itu ia lompat menikam bebokong imam itu. sampai ia terdsak mundur ke tepinya patung Buddha. yang pandai ilmu silat pedang. ―Citmoay. Ia menjadi sangat girang. di situ kedua negara biasa berperang. karena ia berkecimpung di dunia kang-ouw -Sungai Telaga – sedang raja Wat pakai ilmu itu dalam peperangan. Berbareng dengan itu. Cepat sekali Khu Cie Kee ketahui ilmu silat pedang si nona. mari kita maju lebih dahulu!‖ Ho Po Kie teiaki adiknya. dengan satu egosan tubuh. Sayang untuknya. Berdelapan mereka memburu ke depan. Ia menjadi sangat tidak puas dan berduka. ―Delapan orang lawan satu orang.‖ ―Apakah nama kita tidak bercacat seumpama tersiar diluaran Ciauw Bok Taysu bersama Kanglam Cit Koay mengepung satu orang?‖ Han Siauw Eng pun bersangsi. ia perbaiki. ia tidak menyangka orang akali padanya. Raja Wat. Lam Han Jin dan Thio A Seng maju dengan berbareng. dari pinggangnya. si imam juga bebaskan diri dari ujung pedangnya si nona. Ia kembali gagal. ―Aku pikir tak apa. Lincah sekali caranya ia berkelit. ia minta si gadis ajari ia ilmu silat itu. negeri Gouw dapat dimusnahkan.‖ kata Coan Kim Hoat. hingga Khu Cie Kee tak ketahui apa yang diucapkannya. ditambah hingga menjadi empatpuluh sembilan jurus. Tiang Cun Cu mendesak Siauw Eng. ia membuat terbitnya suatu suara nyaring. sambil ia melompat. yang bernama Kouw Cian. ―Nah. Cambuk Naga Emas bukannya melilit tangan. Kota Kee-hin adalah tapal batas kedua negeri Gouw dan Wat itu. pendopo besar. tepat Irawan D Soedradjat Page 54 . Ia pun lantas tarik Kim-liong-pian. Lagi sekali mereka dengar suara nyaring seperti tadi. tangan kirinya yang menyambar. sedang menggempur genta di toa-thian itu. Siauw Mie To si Buddha tertawa terus-terusan mengoceh tidak karuan juntrungannya. Kalau Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan bungkam mulutnya. si imam datang!‖ seru Kwa Tin Ok. beberapa kali Han Siauw Eng menghindari nacaman bahaya. Oleh karena disitulah tersiar luas perihal ilmu pedangnya si gadis Wat itu. untuk membinasakan panglima dan merubuhkan kuda perang. Siauw Eng menjadi penasaran. Seperti terlihat Khu Cie Kee. Di jaman dahulu. Justru ia melengak itu. dengan sabetan ―Naga hitam menggoyang ekor‖. Untuk dapat menelan negeri Gouw itu. hanya kali ini disusul sama campuran suara rengatnya barang logam. suara itu lalu mengaung. negeri Gouw bermusuh dengan negeri Wat. yang lain mainkan ―golok jagalnya‖ yang ujungnya lancip. ia ulangi serangannya.

lengannya itu terhajar patah tangannya Khu Cie Kee. ia lompat menerjang. Walaupun begitu. Totokan ini bukan untuk menolongi Thio A Seng. menampak ancaman bahaya. lihat!‖ Dan lantas ia mendesak dengan serangan tangan kirinya. akan tetapi untuk dua serangan yang belakangan. Mana ia mau mengerti dikatakan menakluk pada musuh. yang telah menjadi korban. dalam hal ini. ia mengatakannya: ―Sayang! Sayang!‖ ―Eh. ia pakai tangan kirinya yang bebas yang tidak bersenjatakan apa juga. gaetan dan gembolan. jangan turunkan tangan kejam!‖ Ciauw Bok Taysu berseru dalam kegelisahannya yang hebat. tidak ada orang yang sudi dengar cegahannya itu. dengan tangan kanan! Sebab sebat sekali. Di antara satu suara keras. sebagai jago ia tidak menghiraukan pedangnya yang terbang malah membarengi itu. sebab Siauw Mie To tengan terdesak.Pendekar Pemanah Rajawali mengenai lengannya. Ia merasa A Seng tidak akan luput dari bahaya. ―Bagus!‖ Tiang Cun Cu puji lawannya ini. yang pandai ilmu menotok. ―Biarlah!‖ dia berseru. ia tetap mainkan jambangannya sebagai senjata. Ia khwatir juga. Tidak ampun lagi. Untuk membalas menyerang. dengan kipasnya senantiasa mencari jalan darah lawannya. ―Tahan! Tahan!‖ ia berseru-seru. ia berlompat menotok jalan darah soan-kie-hiat dari Tiang Cu Cu. Ia berkelit untuk serangan membalas sambil berkelit. Irawan D Soedradjat Page 55 . dan ia sambuti serangannya si imam untuk keras lawan keras. ia menyerang lawannya. lama-lama nanti ia kalah ulet. dengan jari-jari tangan terbuka. ia menangkis dengan jambangannya. Kekebalannya itu ditambah sama tenaganya yang besar. Thio A Seng ada punya ilmu kedot. Tendangan itu mendatangkan rasa sakit dan akget. musuh bangsa Kim. diturut oleh kakak angkatnya itu. Tapi ia salah menaksir ketangguhannya sendiri. sedang Biauw Ciu Sie-seng si Mahasiswa Tangan Lihay. kau ngaco belo!‖ mendamprat A Seng sangking murkanya. Maka itu. yaitu alat peranti menimbangan barang. ―Totiang. hendak aku bicara!‖ Dalam waktu pertempuran yang hebat itu. Cie Kee melawan sambil berkelit. Disana masih ada dua musuh segar Kwa Tin OK dan Ciauw Bok Taysu – inilah berbahaya untuknya. goloknya terlepas dan melayang. ia merasa bahwa ia telah mesti menggunai tenaga banyak. Ia lihat ia dikepung berenam. Malah Khu Cie Kee perdengarkan seruannya: ―Kawanan pengkhianat tidak tahu malu. hanya guna mencegah si imam ulangi serangannya yang lihay itu. ia manjadi nekat. sayang! Sayang apanya?!‖ tegaskan Siauw Mie To ―Sayang ilmu silatmu yang sempurna ini!‖ sahut Cie Kee sambil ia layani terus musuh-musuhnya. maka dua kali kepalannya A seng membuatanya jambangan itu bersuara nyaring. Cu Cong kaget bukan kepalang. karena dengan itu ia lebih banyak membela dirinya. maka itu senjata bisa dipakai berbareng sebagai toya. ―Tuan-tuan tahan! Dengar. Khu Cie Kee tidak peduli ia dikepung berenam. ingin ia lekas-lekas menyudahi pertempuran itu. Biauw Ciu Sie-seng merasa tidak enak karena berempat mereka mengepung. ialah tubuhnya tidak mempan senjata tajam. nyatanya mereka berada di bawah angin. Cie Kee memang menyerang dengan hebat sekali. imam bangsat. Beruntun tiga kali. dengan memberi tanda kepada kakaknya yang kedua. karena ia biasa berlatih mengadu tenaga dengan kerbau – sudah dagingnya keras dan kulitnya pun tebal. Atau lebih benar. Jikalau mereka ini meluruk juga? Dari itu. Ciauw Bok Taysu menjadi bergelisah menyaksikan jalannya pertempuran itu yang makin lama jadi makin hebat. setelah ia menganca. Menampak demikian Coan Kim Hoat tapinya menjadi penasaran. Satu serangannya yang mengancam Thio A Seng hebat sekali. Keduanya maju dari samping. juga dengan kepalan. Dia akhirnya tidak dapat bersabar lagi. ia membalas menyerang dengan tangan kirinya. ia sudah lantas pernahkan diri. Genggamannya Lauw-sie In Hiap adalah sebatang bacin. ―Kau begini lihay tetapi kau rendahkan dirimu dengan jalan menakluk kepada musuh negara!‖ ―Hai. sebagai tameng. ia pasang jambangan itu sebagai sasaran.

Tidak dapat Kim Hoat pertahankan diri. Bukan anggota tongjin yang ia incar.‖ pikir Khu Cie Kee. ia melainkan tidak sempat membalas menyerang. dan di kiri. Berbareng dengan itu. Di saat ia hendak gerakkan tongkat besinya. Ia buta tetapi ia tahu dua saudaranya telah rubuh. Han Po Kie dan Han Siauw Eng kaget tidak terkira. Kwa Tin Ok tidak dapat berdiam terlebih lama lagi. Segera juga terdengar jeritannya Coan Kim Hoat. Yang satu menuju ke alis dan yang lain ke paha kanan sebelah dalam. Ia juga tidak gunai satu-satu biji lengkak sebagaimana bermula tadi. kedua senjata rahasia itu – thie-leng. Irawan D Soedradjat Page 56 . Rupanya ia anggap belum cukup dengan korban Thio A Seng itu. Di kanan ialah bagian ciat dan sun. Karena itu dengan berbareng dua orang perdengaran jeritan kaget. yang berada paling dekat. tidak terdengar suaranya sama sekali. Menyusul tarikannya itu. bagian hong dan lie. Kim Hoat itu adalah saudara angkat mereka. ―Dia ahli menotok.Pendekar Pemanah Rajawali Khu Cie Kee memang tidak berhenti sampai disitu. tetapi semakin lama. dua rupa senjata rahasia menyambar sar! ser! kearah si imam. kakinya si imam kena sambar pinggangnya. lalu kedudukan siauw-ko!‖ Menyusul anjuran itu. biar ia tidak terluka. ia ulangi serangan-serangannya yang dikhawatirkan Biauw Ciu Sieseng. suaranya makin lemah. Ia lolos dari gempuran kepada batok kepalanya. yang mereka terjang dengan berbareng. Ia tidak lolos dari semua empat lengkak. guna menhajar batok kepala lawannya itu. Mesti begitu. ia tolak jambangannya ke arah mereka itu. hingga ia menjadi kaget dan menjerit karenanya. Coan Kim Hoat sudah berseru-seru pula: ―Hajar tionghu. Batu dacinnya Lauw-sie In Hiap telah kena disambar oleh si imam. Ia perhatikan suara anginnya. yang menyerang ke lain jurusan. yang berkelit. untuk hampiri si imam. Khu Cie Kee mesti berkelit. atau lengkak besi – jatuh ke lantai. yang ujungnya hitam hangus. hanya kedua bagian kiri dan kanan dari tongjin itu. Cuma ini jalan untuk tolongi saudara angkat mereka itu. ―Hajar tongjin…!‖ Yang terakhir ini Kwa Tin Ok tidak turuti tetap sasarannya Kim Hoat itu. Kalut kedudukan mereka. Sebenarnya ada sulit walaupun ada orang luar yang memberi petunjuk menurut garis-garus patkwa…‖ Ia lihat datangnya dua serangan itu. ia tidak dapat tinggal peluk tanagn terlebih lama pula. dia lihay. meskipun sebenarnya ia tidak menghendaki pertempuran. hingga orang tidak tahu dia masih hidup atau sudah mati… ―Serang! Serang!‖ Coan Kim Hoat masih bersuara lagi. Selagi melejit. Ia menotok ke bawah ketiak. tubuhnya terbetot. Coan Kim Hoat teriaki dia: ―Toako. Begitulah ia maju denagn sepotong kayunya yang mirip ruyung. Thie-leng adalah senkata rahasianya Hui Thian Pian-hok. Dengan tidak kurang bengisnya. suara beradunya setiap senjata. Ciauw Bok Taysu lihat keadaan hebat. kau gunai thieleng! Hajar dulu kedudukan cin. dia toh tidak kalah. Cie Kee terlalu perhatikan tongjin. Cie Kee pun berkelit dari anggota tongjin sebagaimana diteriaki Kim Hoat. Keduanya apungi tubuh mereka. ia menangkis dengan jambangannya. setiap kali juga lengkak besi dari Kwa Tin Ok menyambar. dacin itu terus ditarik dengan keras. ia kena tertipu si buta. mirip lengkak tetapi ujung tajamnya ada empat. ―Dia hebat sekali!‖ pikirnya. setelah mana. Setelah turun tangannya paderi itu. Mau tidak mau. Sekarang ia menimpuk berbareng dengan empat buah senjata rahasianya itu. maka setelah suara ting-tong. ia tidak lolos seluruhnya. tidak dapat lantas bangun. Maka sebentar saja belasan lengkak telah membuatnya Cie Kee terpaksa main mundur saja. ia dapat bersedia setiap kali Kom Hoat perdengarkan petunjuknya. hajar lie! Bagus. ia sungkan turun tangan. Cie Kee terkejut. ia mandi keringat. adiknya yang kelima dan yang keenam. makin perlahan. Khu Cie Kee ayun terus tangan kirinya. bagus! Sekarang serang beng-ie!‖ Setiap kali ia berseru. Coan Kim Hoat lompat melejit. Untuk cegah Lam Hie Jin dan Cu Cong. hingga ia lantas saja rubuh terguling. ―Dia buta tetapi dia bisa mengincar dengan tepat. ia juga layani paderi itu. semua sebab hampir berbareng. Jeritan itu menandakan adanya dua korban! Jitu serangan Tin Ok kali ini. Ciauw Bok Taysu dan Han Siauw Eng menyerang dari kanan. Sebagai seorang yang cerdik dan gesit. ia dapat menunjuki sasaran kepada toakonya. pada itu tercampur rintihan juga. Atas itu. Imam ini lihay. Yang mereka sayangi sebagai saudara betul. yang satu mengenai pundak kanannya. dan beda dengan dia adalah Thio A Seng. Lauw-sie In Hiap sendiri terancam lukanya. kuda-kudanya gempur.

maka tidak ada obat lagi untuk menolong. Kau mesti tunggu sampai aku datang untuk mengobati!‖ Sebenarnya Siauw Eng keras kepala. ia dengar teriakannya kakak itu. Ia girang sebab ia dengar suaranya si imam. mulutnya manis. Sekarang ia merasakan bahwa jambangan di tangannya itu menjadi berat. ―Toako!‖ ia memanggil. Si cebol lari berkelit.Pendekar Pemanah Rajawali Jeritan yang lain dikeluarkan oleh Han Siauw Eng. hingga tubuhnya si Tukang Kayu dari Gunung Selatan menjadi tergetar dan kedua tangannya dirasakan sangat sakit. ia menyapu kepada Han Po Kie yang maju untuk serang padanya. Dengan senjatanya itu hendak ia sambut pukulan musuh. untuk membabat rantai gantungannya. kerena mana meski ia bertenaga besar. ia sendiri pun rasai pundaknya semakin kebas dan kaku. Selagi nona ini maju menyerang. Kwa Tin Ok kaget berbareng girang. jambangannya jadi menungkrap dari atas. Maka pikulannya Hie Jin kena terhajar. ia hunus pedangnya. ―Kau tidak boleh bergerak sedikit juga. Han Po Kie tidak sempat berdaya untuk membalikkan jambangan itu. untuk keluar dari kurungan. sehingga ia tidak bisa berkelit. lengkak yang mengarah bagian sun tepat mengenai pundaknya tanpa ia ketahui atau dapat berdaya mengelakkannya. di tanah!‖ kakak ini beri petunjuk. berbareng tangan kirinya menolak tubuh genta itu yang beratnya mungkin ratusan seribu kati. Niscaya sekali ia menginsyafi bahaya yang mengancam dirinya. Sebab telapakan tangannya pecah dan mengeluarkan darah. ia pengkeratkan tubuhnya. muka siapa ia hajar. Ia lantas lompat mencelat ke arah genta. ia keluarkan sebutir pil kuning. begitu rantai putus. ia lintangi pikulannya di depan mukanya. ―Lekas kau rebahkan diri di taman belakang. Ia jadi berkhawatir. ia melangsungkannya. ia lantas damprat dirinya sendiri. ia baru sadar kapan ia dengar teriakannya Tin Ok kepada Siauw Eng. benar sementara itu ia cuma merasai sakit sedikit. Untuk tolong diri. ―Ke mana kau hendak lari?!‖ bentak Tiang Cun Cu yang terus tolak tangan kanannya. ia tidak batalkan serangannya. yang dilarang lari. lekas kemari!‖ ia memanggil. Hie Jin lantas merasa tubuhnya enteng. jiwamu bakal tidak tertolong!‖ Si buta ini merasa pasti mengenai lawannya itu. Cie Kee terkena senjata rahasia. kedua matanya kabur. ―Jangan lari. ia lari kepada itu kakak. Karena ini ia lantas tak berani melanjuti pertempuran itu. sekalian diputar. Han Siauw Eng tahu senjata rahasia kakaknya ada racunnya. Dengan begitu. dia tidak boleh keluarkan tenaga. Khu Cie Kee tahu maksudnya lawan itu. ―Tenangi hati. tanpa sangsi lagi. menyerah!‖ Kwa Tin Ok teriaki lawan itu. lengkaknya sudah nyasar di tubuh adik bungsunya itu. Tidak begitu saja. sebaliknya. selagi dia ini belum tiba di lantai. Siapa terkena senjata rahasia yang beracun itu. terus ia muntahkan darah hidup! Cie Kee telah dapat melukakan lawan yang menghalangi ia. Justru itu. akibat lainnya menyusul. genta jatuh menimpa jambangan. peluhnya lantas turun menetes. ia tidak mau singkirkan diri. Lantas ia menduga bahwa senajata rahasia itu ada racunnya. Dengan tiba-tiba ia rangsak Lam Hie Jin. ia merasakan pundaknya sedikit kebas. Tin Ok lantas rogoh sakunya. jangan lari!‖ Tin Ok teriaki. lama-lama sang racun akan bekerja mencelakai ia. ia tidak perhatikan itu. Ketika mulut jambangan tiba di lantai. Irawan D Soedradjat Page 57 . ―Citmoay. Sementara itu pucat mukanya Khu Cie Kee. dikasih turun. begitu jeras. sambil pasang kuda-kudanya. dengan lantas ia jejalkan itu ke mulut adiknya. Maka ia lantas berjalan dengan berpalahn tetapi tetap. ia terus lari ke belakang. Inilah yang membikin ia kaget. racun bisa mengikuti jalan darah segera menyerang ke ulu hati. hingga genggamannya terlepas dan jatuh ke lantai. jalan perlahan-lahan saja!‖ Siauw Eng mendusin. menyambar si cebol itu. Ia tahu. justru ia lagi ketakutan. Itulah gerak ―Tiat so heng kang‖ atau ― Rantai besi dilintagi di sungai‖. Berayal sedikit saja. Lam San Ciauw-cu lihat bahaya datang. ―Lekas lemparkan pedangmu. tetapi ia dengar kata. Maka sambil membentak keras. si cebol kena ketutup! Setelah itu Cie Kee lepaskan tangannya dari jambangan itu. kalau sampai itu terjadi.

Cie Kee terjang musuhnya. ia menikam.. ia bersilat dengan ilmu silatnya ―Kie Siang Kim-hoat‖ atau ―Melukai Semua‖. Tiba-tiba ia rasai matanya kabur. ia masih khawatirkan tidak ada Khu Cie Kee di antara korban-korban itu. Kali ini. maka lagi sekali. Cu Cong tidak melayani. Ia penasaran. ia melompat kepada Manusia Aneh yang kedua itu. akan saksikan segala apa kacau dan orang rebah di sana sini. ujung pedang Cie Kee mengenai iga kanannya hingga ia kaget dan menjerit. si buta itu. batok kepalanya telah terpukul keras. Tapi Tin Ok dan Cu Cong merintangi padanya. Dia hampir membikin terlepas pedangnya. ia hanya berlari-lari berputaran di pendopo kuil. Bab 6. ―Imam bangsat! Racun ditubuhmu telah menyerang hatimu! Kau tikamlah pula tiga kali!‖ Bangkit kumisnya si imam. Cie Kee insyaf bahwa tak dapat ia menyandak lawan itu. Paderi-paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak mengerti ilmu silat. mereka semua pada sembunyikan diri. sudah. akan tetapi ketika kakinya menyentuh tanah. ia kaget. ia merasakan dorongan suatu tenaga keras sekali. Maka sambil menghela napas. ia melompat ke depan. ia insyaf kenapa ia kalah kuat.Pendekar Pemanah Rajawali Cie Kee tidak mau serahkan diri. Tidak urung. Cie Kee belum pernah menemui lawan setimpal. mereka juga tidak tahu bahwa guru mereka mengerti ilmu itu. Cie Kee merasai pikirannya kacau tetapi kembali ia memusatkannya. baru mereka keluar dari tempat persembunyian mereka. Tempo ia diberitahu orang telah pada rubuh semua. lekas-lekas ia pusatkan semangatnya. Maka ia putar pedangnya. Keras kedua senjata beradu. lalu Cie Kee menjadi kaget sekali. belum lagi tubuh itu tiba di tanah. Inilah ilmu silat yang sejak ia yakinkan belum pernah ia pakai untuk melawan musuh. ia lantas pindahkan pedangnya ke tangan kiri. ia mau membuka jalan. takutnya bukan main. dengan berlaku nekat ia tetap berbahaya. Segera juga Kwa Tin Ok. Cu Jieko. Orang she Toan itu terus sembunyi di dalam ruang dalam tanah. Ia Irawan D Soedradjat Page 58 . Kali ini Cu Cong menimpuk dengan bok-hie. cukup keras timpukannya itu. Dengan menggunai ini ia telah menjadi nekat. Dengan tangan kiri ini. hari ini Tiang Cun Cu mesti terbinasa di tangannya bangsat-bangsat licik…‖ ia mengeluh. Ia menginsyafi bahaya. Sekarang ia baru ingat untuk angkat kaki saja. dari itu selama pertempuran mengambil tempat. ―Kwa Toako. menyerah berarti celaka. Mendadak bebokongnya mengasi dengar suara keras! Ia merasa sakit sekali. mendelik sepasang matanya. tubuhnya rubuh seketika! ―Imam anjing!‖ Cu Cong mencaci. ―Sudah. Dengan ini. ia menangkis. Ia geraki kipasnya untuk menotok jalan darah di dada si imam. dengan ―melukai semua‖ hendak diartikan ―mati bersama‖. kedua kakinya itu lemas. Sejak turun gunung. Ia percaya. Pengejaran Tidak ada jalan lain. Maka repotlah mereka membuat perlawanan. Nyatanya luka di pundaknya itu menyebabkan tenaganya jadi berkurang hingga separuhnya. tanpa bilang suatu apa. darah pun berhamburan. Mereka jadi ketakutan. Cu Cong dan Ciauw Bok terarah semua bagian tubuhnya yang berbahaya. Sembari berlari. dengan cepat ia menangkis dengan tangan kanannya. tubuhnya terpental ke belakang. Justru itu. Baharu belasan jurus paha Tin Ok telah tertikam pedang. Tin Ok dengar anginnya senjata. Ia menahan sakit. Paderi ini lihat ancaman bahaya. Oleh karena ini. inilah pertama kalinya. tubuhnya pun terhuyung! Cu Cong yang cerdik itu telah timpuk imam itu dengan sepatunya. ―Lihay tenaga dalam si buta ini! Mungkinkah ia melebihi aku?― pikirnya. baru kita bicara!‖ berseru Cu Cong. biarkan si imam berlalu!‖ berseru Ciauw Bok Taysu. yang rebah diam saja. Tidak peduli tenaganya kurang. tubuhnya terus terguling! ―Bekuk dia dulu. ujung pedangnya menikam ke arah muka. ia sudah muntahkan darah hidup! Cie Kee telah gunai tenaganya yang terakhir untuk serang lawannya itu. di sebelah musuh ia sendiri pun bisa celaka. Ia pun mulai terhuyung. itu tambur teroktok peranti mambaca doa. Tiba-tiba ia lihat tangan kiri Cie Kee bergerak. mereka lantas pergi mencari Toan Thian Tek. ia berhenti mengejar. ia memikir untuk mengalah tetapi justru ia serukan kawannya. tetapi terlambat. Sampai keadaan sunyi. Ia dekati imam itu.

dia membikin aku mencelakai sahabat-sahabatku. ―Dia perlu dibunuh dulu…!‖ Ciauw Bok menjadi gusar. segera ia pun sadar. Hampir ia pingsan saking kerasnya ia melawan kemendongkolannya. ―Kenapa?‖ Thian Tek tanya. maka tubuhnya rubuh dengan kepala pecah. Dengan tarik tangan Lie Peng. dengan sisa tenaganya ia timpuk Thian Tek dengan sepotong kayu di tangannya. walaupun ia buta. lalu ia ayunkan goloknya. sekarang hendak aku kirim kau pulang ke Langit Barat!‖ ia kata. Cuma Tin Ok. Ia bukannya seorang tolol. Thian Tek gusar bukan kepalang. tubuh itu tidak berkutik lagi. ―Kau ingin aku meletaki golokku? Hahaha!‖ ia tertawa mengejek. Imam itu masih belum putus jiwanya. mereka Cuma bisa membuka mata menyaksikan kejadian hebat itu. dia berkata: ― Ciauw Bok Hweshio. Ia rebah dengan terluka parah tapi ia dapat lihat perbuatan si keponakan murid. tepat mengenai tiang pendopo. Ini nyonya tetap mengenakan seragam.Pendekar Pemanah Rajawali suruh dulu sat kacung paderi untuk melihatnya. Ia merasakan sangat sakit. ―Dia Cuma berhati keras… Di sini telah terbit salah mengerti…‖ ―Orang baik apa!‖ kata Thian Tek. dengan kejam. Tubuh paderi itu lewat terus. tapi suaranya sangat lemah. ia lari keluar kuil. tahan!‖ Tidak ada orang yang kenali Lie Peng. dengan dua bacokan ia bikin kedua kacung itu rubuh. Thian Tek berkelit tetapi ia terlambat. Satu kacung langsung tubruk Thian Tek untuk tarik lengannya. akan tetapi di saat seperti ini. mukanya kena terhajar hingga rontok ziga buah giginya. tubuh siapa dia dupak. Lie Peng berteriak-teriak pula: ―Hai.jangan bunuh dia…!‖ berseru Ciauw Bok Taysu. ia lantas menyerang. Di situ ada beberapa kacung paderi. manusia jahat. Thian Tek pergi cepat-cepat ke pendopo. ia jadi kalap. hatinya mencekat. dia hanya menyingkir sambil egos tubuhnya. Maka itu bukan main menyesalnya ia untuk kealpaannya itu. ia arahkan ke kepalanya si imam. mereka ini kaget. Orang she Toan itu tidak menangkis. Maka itu sembari menghela napas. dengan cepat. Irawan D Soedradjat Page 59 . Ia kerahkan tenaganya dengan kedua tangannya menekan lantai. justru jiwa mereka sendiri terancam bahaya. ―Kau…kau hendak lagi membunuh orang!‖ tanyanya. Ia ayunkan pula goloknya. kau kejar aku hingga aku bersengsara. tanpa ingat budinya Ciauw Bok. Ciauw Bok dan Kanglam Cit Koay adalah orang-orang yang lihay. ―Binatang ini telah jual aku. walaupun suaranya nyaring. ―Letaki golokmu…!‖ Thian Tek tertawa tergelak. ―Imam bangsat.!‖ Ciauw Bok terkejut. dari itu dengan sambar tangannya Lie Peng. hatinya lega. Toan Thian Tek kaget. ia lompat kepada Thian Tek. ―Dia adalah satu imam yang baik…‖ sahut Ciauw Bok. Ciauw Bok Taysu juga gusar bukan main. Ia telah diberitahu si imam lagi rebah diam dengan kedua mata tertutup.‖ katanya dalam hati. Tiang Cun Cun. kami semua telah kau aniaya! Benar saja di dalam kuilmu ini kau ada sembunyikan orang perempuan…. kemudian barulah ia keluar. ―Jangan…. Thian Tek cabut goloknya. orang sangka ia adalah serdadu sebawahannya Thian Tek. ―Kau tidak mau dengar perkataanku?!‖ dia membentak. yang lainnya mengigit. Ia lantas hampirkan Cie Kee. dia tahu pasti orang adalah seorang wanita. Dengan mendadak Lie Peng berteriak. ia bernapas berlahan sekali. hatinya menjadi ciut. mendengar suara orang.

Tin Ok tertawa dingin. Selagi mereka bekerja. Cu Cong semua membalas hormat. Tubuh bergelumbuk itu sudah lantas lompat bangun. Mereka pun menjadi repot. Thio A Seng patah lengannya. Jenazahnya Ciauw Bok Taysu pun lantas diurus. akan tarik genta itu untuk dibikin terbalik. Hangciu. tiba-tiba mereka dengar suara apa-apa dari arah genta. ―Tidak. yang kena ditikam kakinya hingga tak dapat dia berjalan dengan leluasa. Pada suatu hari. semua orang duduk berkumpul dengan dirundung kemasgulan hingga mereka pada berdiam saja. Mereka menyesal sekali sudah jadi korbannya Toan Thian Tek. aku mohon maaf. hingga ia berkoak-koak. Irawan D Soedradjat Page 60 . Ia heran dan kaget saksikan pendopo itu. semua paderi menangis karena kebinasaan guru mereka. ―Pinto sangat menyesal. ia sendiri memberi keterangan pada Po Kie perihal jalannya pertempuran. tentang Toan Thian Tek dan si wanita yang menyamar sebagai serdadu. Paderi pengurus dari Hoat Hoa Sian Sie telah bekerja. Ia memangnya polos. hingga Ciauw Bok Taysu menjadi korban. Cuma Tin Ok yang diam saja. Ia memang aneh tabiatnya. aku tidak mau pergi…. ia lantas bangkit berbnagkit untuk menjura kepada tujuh saudara itu. Coba ia tidak turuti hawa amarahnya dan berbicara dengan tenang sama Ciauw Bok. akan tolongi orang-orang yang terluka. ia lantas obati Tin Ok semua. peristiwa celaka itu pasti dapat dicegah. ia mengeluarkan napas lega. Cie Kee mengerti ilmu obatobatan.‖ kata Cie Kee menyahuti si nona. mana kau melihat mata kepada kami!‖ katanya tawar. Kuil itu menjadi berisik. Cie Kee dan Siauw Eng telah dapat ditolong dari racun. mereka lari serabutan.!‖ Tapi ia ditarik terus. terutama dirinya sendiri. Mereka kaget. ia sadar. hingga mereka kaget. hingga suaranya tidak terdengar lagi. kau saja yang bicara. disatu pihak ia ajukan pengaduan kepada pembesar negeri. setelah mana mereka dapatkan satu tubuh tergelumuk menggelinding keluar. Ia sendiri pun bukan main masgul. ―Nanti ada ketikanya untuk menghukum dia. ia pun uruti mereka. Ia merasakan kesembronoannya. ―Totiang berkenamaan dan kami pun bukannya orang-orang yang masih hijau. Kwa Tin Ok masih sadar walaupun ia terluka.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tolong! Tolong!‖ Lie Peng berteriak-teriak. Ia malu sekali yang ia bertujuh saudara kena dikalahi Cie Kee.‖ ―Kwa Toako. Selang beberapa hari. apa kata kaum kang-ouw bila peristiwa disini sampai tersiar? Tidakkah itu sangat memalukan? Tolong Totiang tunjuki kami bagaimana kami harus berbuat. kita sekarang rubuh di tangannya satu kurcaci.‖ Po Kie dapat dibikin sadar. hingga selang beberapa hari. ia panggil Po Kie. Ia pun keluarkan obatnya untuk suruh satu paderi pergi obat Khu Cie Kee dan Han Siauw Eng. menyesal dan mendongkolnya.‖ dia bilang. setelah pingsan. ―Totiang biasa malang melintang. ―Jangan!‖ Tin Ok mencegah. Kemudian belasan paderi itu menggunai dadung. ia berpura-pura tidak tahu. di lain pihak ia kirim kabar pada Kouw Bok Taysu di Kong Hauw Sie. ―Nanti aku susul dia!‖ teriak Po Kie sangkin gusarnya. Ia bukan lain daripada Ma Ong Sin Han Po Kie yang tadi kena ditungkrap Khu Cie Kee. ia tidak terancam bahaya. Po Kie lantaa rawat semua saudaranya itu. sekarang kau perlu rawat dulu saudara-saudaramu yang terluka. semuanya telah dapat bangun dari pembaringan. ― Tentang ini untuk apa kau menanya pula kami…‖ Cie Kee tahu orang masih mendongkol. untuk sabarkan padanya. guna pindahkan mayat. ―Totiang. hingga ia tak mampu keluar dari jambangan dan genta itu. Cu Cong dan Lam Hie Jin adalah yang terluka paling parah. bagaimana sekarang?‖ Siauw Eng tanya Khu Cie Kee.

jumlah mereka pun banyak – bertujuh – dari itu. tidak nanti mereka disebut ―Cit Koay‖ – tujuh Manusia Aneh. ―Pinto tidak berani. ―Kau pandang entang kakiku pengkor?!‖ ia membentak. ―Tahan!‖ Tin Ok berseru.‖ katanya seraya berbangkit. orang malui mereka. Bagaimana ia bisa loloskan diri dari mereka itu? Pula ada sulit untuk melayani mereka bertempur pada lain tahun. akan aku bunuh jahanaman itu! Sekarang aku mohon diri…‖ Ia menjura pula. kamu hendak adu kepandaian yang memutuskan denganku. sampai ia dapat satu pikiran. ―Aku masih ingin menerima pengajaran dari Totiang!‖ Kanglam Cit Koay gemar melakukan amal akan tetapi mereka berkepala besar. mereka itu akan tambah kepandaiannya. ―Pinto telah terkena senjata rahasiamu. suka aku melepas kau pergi!‖ Bukan main mendongkolnya Cie Kee. Dalam murkanya. ―Tuan-tuan. selama tempo satu tahun. suka aku menuruti titahmu. tidak ada halangannya. sepak terjang mereka biasanya luar biasa. Mereka semua lihay. Ia sangat masgul. bagaimana mereka tidak menjadi penasaran? Cie Kee terkejut. Imam itu memutar tubuhnya.‖ ia berkata. ―Kwa Toako hendak menitah apa?‖ ia tanya. kami tidak ada muka untuk mencampuri tahu lagi. lain kali tak nanti aku datang kemari untuk membuat onar pula. Tetap ia sadar. aku telah menghanturkan maaf dan mengaku kalah. Ia pun bisa berlatih diri tapi barangkali sukar untuk beroleh kemajuan. ―Kau telah lukakan parah saudara-saudaraku ini. ―Hanya untuk itu. ―Habis Kwa Toako memikir bagaimana?‖ menegaskan Cie Kee. ―Selanjutnya kami akan berdiam di sini. apakah itu cukup dengan hanya kata-katamu barusan?‖ tanya Tin Ok. aku minta totiang membuat pertemuan pula di Cui Siang Lauw!‖ Cie Kee mengerutkan keningnya. Mungkin sekali. lantas ia ngeloyor keluar. di dalam hati ia berkata: ―Aku telah beri muka kepada kamu. ―Aku telah menerbitkan malapetaka. walaupun benar pinto telah lukai kamu. untuk menangkap ikan atau mencari kayu. Tin Ok bilang: ―sekarang kita sama-sama terluka. Ia terus berpikir. kalau tidak. Irawan D Soedradjat Page 61 .Pendekar Pemanah Rajawali ―Segala urusan kaum kang-ouw. letaki pedang di bebokongmu itu!‖ bentak Tin Ok. ―Tentang sakit hatinya Ciauw Bok Taysu serahkan itu padaku. ―Apa saja yang tenagaku dapat kerjakan. kenyataannya adalah pinto telah rubuh. syaratnya haruslah pinto yang menetapkannya. maka itu baiklah lain tahun pada hari ini. Selang sesaat baru ia dapat bicara. nama mereka jadi menggemparkan dunia Kang-ouw.‖ kata ini ketua Kanglam Cit Koay. sama saja dengan tongkat Kwa Toako…‖ Tin Ok tapi tetap murka. malah dengan pernah mengalahkan seratus lebih jago Hoay Yang Pang. Kalau tidak. Kwa Toako. pinto suka menyerah kalah saja.‖ sahut si imam itu. dan CU Cong dan lainnya yang terluka mengangkat kepalanya dari pembaringan. tetap tenang. kami akan melewati sisa hidup kami…‖ Mukanya Cie Kee menjadi merah. ―Tanpa pertolonganmu.‖ Han Po Kie bersama Siauw Aeng dan A Seng bnagkit berdiri. Ia bersendirian dan mereka bertujuh. sulit untuk kita bertempur lagi. tak dapat ia layani mereka. pasti sekarang aku telah berada di Negara Setan. Hampir berbareng mereka itu kata: ―Kalau Kanglam Cit Koay bertaruh selamanya adalah pihak sana yang memilih tempat dan waktunya!‖ Cie Kee tersenyum dapatkan orang demikian gemar menang sendiri. dengan tanganku sendiri. Di dalam urusan kita ini. Asal Totiang tidak mengganggu kami. Ia tahu Cit Koay bukan orang busuk. Sekarang mereka kalah di tangan Khu Cie Kee satu orang. Mereka sendiri belum pernah nampak kegagalan. kenapa kamu masih merasa belum cukup?‖ Ia lantas menjawab: ―Pedang ini adalah alat pembela diriku.‖ ―Tak sanggup aku menelan peristiwa ini. ia jengah hingga tak dapat ia membuka mulutnya.‖ Tin Ok bilang. maka itu pinto menyerah kalah…‖ ―Kalau begitu. ―Dengan meninggalkan pedangmu.‖ kata ia.

karena itu ia telah ubar-ubar Toan Thian Tek. juga mengadu kesabaran. Bukankah kita. Cie Kee berkata pula. tangan dan kaki. Ia juga tuturkan bagaimana caranya ia kejar Thian Tek itu.‖ kata Tiang Cun Cu dengan tenang. dengan sikapnya yang agung. mereka tidak jeri. maka kami bukanlah tandingan kamu bangsa imam!‖ Khu Cie Kee pun tertawa. baiklah kita kembali kepada sebab musabab itu. lekas!‖ Han Siauw Eng. ―Jangan kau coba pancing hawa amarah kami!‖ Tin Ok memotong. Mendengar itu Siauw Eng pun tertawa. mustahil kami nanti kalah…‖ ―Kata-katanya satu kuncu?‖ berkata imam itu. Cu Cong dan Coan Kim Hoat adalah yang tercerdik di antara saudara-saudaranya. ―Biangnya gara-gara hingga kita bertempur dan saling melukai adalah urusan menolongi turunannya orang-orang gagah. ―Syaratku ini ada meminta tempo yang lama. semakin baik!‖ Cu Cong tapinya tertawa. habis apakah syaratmu itu?‖ Maka mereka menanti penjelasan. oleh karena itu.‖ ia menyahut dengan sabar. kita memakai akal budi. ―Biar bagaimana. Di dalam hatinya mereka berkata: ―Tidak peduli kau pakai akal licin apa juga. Ialah umpama kata tuan-tuan anggap tidak sempurna. Aku sendiri tidak menghendaki cara mengandali kekosenan saja. ―Sama cepatnya dengan satu cambukan kuda!‖ sahut Siauw Eng lantas. Selagi memasang kuping. ―Lekas kau bicara!‖ Cie Kee lantas berduduk. ―Lekas bicara. ―Pinto juga tidak berpikir untuk adu kepandaian sama Cu Jieko dalam hal mencuri ayam atau meraba-raba anjing atau mengulur tangan menuntun kambing!‖ Ia maksudkan ilmu mencopet. Lalu ia menjelaskan tentang persahabatannya sama Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim – yang ia maksudkan si orang-orang gagah itu – yang mengalami nasib celaka. ―Jikalau kita mencari pokok sebabnya. ―Lekas bilang. kaum Rimba Persilatan yang kenamaan tak dapat berlaku demikian cupat sebagai anak-anak muda yang terlahir belakangan?‖ Kanglam Cit Koay saling mengawasi. imam itu memancing hawa amarah ke tujuh Manusia Aneh itu. Kwa Tin Ok masih sedang memikir ketika Khu Cie Kee berkata pula: ―Mengenai syaratku ini. Thian Tek saban-saban dapat meloloskan diri. Ia berkata: ―Kalau syaratmu itu adalah untuk mengadu bertapa atau membikin obat mujarab atau membikin surat jimat guna menangkap roh-roh jahat. siapa menyakinkan ilmu silat tentunya semua mengerti. kita mesti melakukan suatu pertempuran yang memutuskan. Ia tahu benar Cit Koay adalah sangat besar kepala.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kamu suka terima syarat apapun?‖ dia tanya. beberapa kali Kanglam Cit Koay mengutuk bangsa Kim serta pemerintah Song yang sewenang-wenang dan kejam. masih tetap berlaku kata-kataku tadi. tuan-tuan! Kita bukan Cuma mengadu kepandaian. dengan menggunai alat senjata atau kepalan dan tendangan. ―Semakin sulit adanya syarat. lekas!‖ ia mendesak pula. ―Tapi apa yang kita akan adu adalah kepandaian sejati. Aku akan menghadapi kalian bertujuh. hati mereka masing-masing menduga: ―Kau tidak hendak menggunai senjata. tetapi sangkin licinnya. ―Kau sebutkan saja syaratmu!‖ kata mereka. siapakah yang paling gagah – satu enghiong sajati!‖ Kata-kata ini membuat darahnya Kanglam Cit Koay mengalir deras.‖ Dengan ―orang gagah‖ imam itu maksudkan ―ho-kiat‖ atau ―enghiong‖. Irawan D Soedradjat Page 62 . Marilah kita lihat. Kepandaian semacam itu. pinto tetap suka menyerah kalah!‖ Dengan ini.

―Itu waktu.‖ kata Kwa Tin Ok. andaikata muridku yang menang.‖ ―Apakah adanya itu?‖ Kwa Tin Ok bertanya. Kita tunggu sampai mereka telah melahirkan anak. ―Han Samya benar!‖ pujinya. Pernah pinto melihat romanya Pauw-sie. ―Dua-duanya Pauw-sie dan Lie-sie itu sama-sama lagi mengandung.‖ jawab si imam. apa hendak dibilang?‖ ―Baik!‖ Han Po Kie juga turut bicara. kau pergi tolong Pauw-sie! Siapa yang lebih dulu berhasil. untuk ini sekarang pinto wakilkan saudara Kwee menghanturkan terima kasih terlebih dahulu!‖ Dan ia lantas menjura dalam. Cie Kee tambahkan: ―Orang yang Toan Thian Tek bawa lari itu adalah Lie-sie. tidak nanti aku dapat melupakannya. ―Jikalau Thian menghendaki aku yang menang. dia yang menang.‖ Cie Kee tonjolkan jempolnya. itu tidak ada artinya. lalu anak-anak mereka itu kita rawat dan didik dalam ilmu silat. yang meminta banyak waktu. ―Memang menolong anak piatu dan janda juga adalah perbuatan yang mulia.‖ Cie Kee menambahkan. kami toh telah lakukan juga satu perbuatan yang baik. ―Cuma dengan beberapa kata-katamu ini. tidak dengan demikian tuan-tuan. Tapi Coan Kim Hoat campur bicara. ―Cuma menolongi saja?‖ ia ulangi. itu memang benar bukannya kerjaan terlalu gampang. tuan-tuan pun mewariskan kepandaian kamu kepada satu orang juga. Bukankah syarat itu ada sangat luar biasa? ―Jikalau tuan-tuan bertujuh yang bertempur sama aku. Heran untuk kata-kata si imam. ―Cara pertaruhan ini adalah terlalu licin. sesudah puas makan minum. ―Akan aku jelaskan. Ia tanya: ―Bagaimana kalau pertolongan kami terlambat.‖ berkata Cu Cong kemudian. ―Untuk pergi mencari dan menolongi. sampai itu waktu. umpama kata kamu yang menang. Berbareng dengan itu. setelah itu mereka bertanding satu lawan satu.‖ ―Tentang istri Yo Tiat Sim.. Pinto ingin setelah dapat cari dan tolong mereka.‖ Cie Kee berkata pula. akan tetapi selain itu. Kecuali Kwa Toako bersama saudara Han. anak-naka itu telah berumur delapan belas tahun. kita mesti pernahkan mereka itu. lalu kita ajak mereka ke Kee-hin. empat saudara lainnya telah pernah lihat mereka itu‖ ―Aku ingat suaranya Lie-sie itu. dan Lie-sie keburu dibikin binasa oleh Toan Thian Tek?‖ ―Biarlah kita sekalian adu keberuntungan juga!‖ sahut Cie Kee. ―Umpama berselang lagi tiga puluh tahun. baru kita suruh kedua anak itu adu kepandaian. secara demikian kita bertaruh! katanya. tenaga dan pikiran. kau hendak membikin kamu bercapek lelah selama delapan belas tahun!‖ Irawan D Soedradjat Page 63 . masih ada hal yang terlebih sukar lagi. murid pinto yang berhasil atau muridnya tuan-tuan bertujuh!‖ Tjuh bersaudara itu saling memandang. Pinto akan didik anak Yo Tiat Sim dan tuan-tuan bertujuh merawat anaknya Kwee Siauw Thian…‖ Tujuh bersaudara itu membuka mulut mereka. ―Aku masih belum tahu dia ada dimana. untuk membuat pertemuan di Cui Sian Lauw. tidak ada satu jua yang segara menjawab imam itu. Di situ nanti kita lihat. Kita membuatnya pesta. istrinya Kwee Siauw Thian. bukankah tuan-tuan akan merasa puas?‖ Akhirnya Tin Ok ketruki tongkat besinya ke lantai. ―Baiklah.‖ menerangkan Tiang Cun Cu. kita undang sejumlah orang gagah lainnya untuk menjadi saksi. bukankah?‖ Khu Cie Kee tersenyum. ―Bukankah tuan-tuan menang karena jumlah yang banyak lawan jumlah yang sedikit? Kemenangan itu bukan kemenangan yang mentereng! Dengan syarat kita ini aku nanti turunkan kepandaianku kepada satu orang. ―Bagaimana sebenarnya?‖ Han Po Kie tanya ―Kita menanti sampai lagi delapan belas tahun. yaitu Pauw-sie.Pendekar Pemanah Rajawali Habis menutur. umpama kami tak dapat lawan kamu. Inilah yang pinto hendak gunai sebagai syarat pertaruhan kita…‖ Siauw Eng segera menyela: ―Kami pergi tolongi Lie-sie. ―Tuan-tuan berkenan menolongi abak yatim piatu dari keluarga Kwee itu.

―Aku mengaku keliru! Baiklah. Tetapi Po Kie si tak sabaran telah pergi jauh. tetapi ia hanya mondar-mandir di darat. Ia cerdik. ia bertindak pergi. ―Sha-tee! Sha-tee! Cu Cong memanggil-manggil. Berselang belasan hari. kendaraan air adalah alat penghubung atau pengangkut yang paling umum. malah tanpa memilih kenderaan air lagi. Han Po Kie segera menghajar bangku dengan tangannya. guna susul Thian Tek. akan tetapi ia berdongak dan tertawa besar.‖ kata Cie Kee. tak dapat aku pulang untuk pangku pula jabatanku. seraya kibaskan tangannya. disana ada banyak sungai atau kali.‖ Kudanya Po Kie lari pesat.‖ ia berkata pula. dialah yang tidak terluka. Ia tanya-tanya orang akan tetapi pertanyaannya tidak jelas. Pengorbanan itu tidak ada artinya! Bukankah kita belum pernah dengar bahwa di jaman dahulu ada Keng Ko dan Liap Ceng berhitungan?‖ Wajahnya Cu Cong menjadi pucat. ia tak tampak ada orang yang kejar atau susul padanya. ―Maka itu lagi delapan belas tahun. ―Selama dalam dunia kang-ouw telah aku dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay. Setelah berkata begitu. Ia telah memikir untuk cari suatu tempat untuk bertinggal Irawan D Soedradjat Page 64 . ―Hari ini adalah tanggal dua puluh empat bulan tiga. ―Orang umumnya bilang mereka itu gemar sekali menolong sesamanya.. Dengan lekas ia keluar dari daerah kota. orang she Cu ini menyebutkannya Thian Tek dan Lie Peng. ―Sejak zaman dahulu hingga sekarang ini. hingga pastilah sulit kita mencari padanya!‖ Di antara Cit Koay. untuk terus menaiki kudanya. Kanglam adalah daerah air. orang Selatan naik perahu.‖ sahut si imam yang ditanya. sama saja dengan kuda atau keledai di Utara. ia buka tambatan perahunya. tetapi hari ini bertemu dengan kamu – hahaha!‖ Kanglam Cit Koay menjadi panas hatinya. ―Kau tidak kenal mereka itu!‖.Pendekar Pemanah Rajawali Wajahnya Khu Cie Kee berubah. Baiklah aku pergi ke Utara untuk menyingkir dulu dari ancaman bahaya. tak ada sinarnya. untuk orang-orang gagah di kolong langit ini menyaksikan siapa sebenarnya laki-laki sejati!‖ Habis berkata. ia menukar perahu beberapa kali. ia lantas mengayuh. ―Lekas berangkat!‖ ia membentak tukang perahu sambil ia cabut goloknya. mereka gagah perkasa dan mulia. Thian Tek tunjuki terus kelicinannya. tibalah ia di Yangciu. ―Nanti aku susul Toan Thian Tek!‖ kata Han Po Kie. ―Tidak salah apa yang totiang bilang!‖ katanya sambil goyang kipasnya. Semoga itu imam bangsat dan tujuh siluman dari Kanglam itu bertempur hingga mampus semuanya. ialah denagn segala urusan ia bersedia untuk mengorbankan dirinya. lega hatinya apabila ia menoleh ke belakang. kita akan bertemun pula di rumah makan Cui Siang Lauw. Thian Tek lantas asah otaknya: ―Aku telah terbitkan onar besar. ia lantas lari keluar. ia lompat naik ke sebuah perahu. supaya aku dapat kembali ke Liman. Paling dulu ia mencari rumah penginapan. Thian Tek telah angkat kaki dengan naik perahu.‖ Tukang perahu itu ketakutan lihat orang demikian galak. begitu muncul kata-kata: ―Orang Utara naik kuda. dia bersahabat untuk menjual jiwanya. Ketika ia tarik Lie Peng keluar dari tempat berbahaya itu. maka itu segera ia menuju ke sungai. Dengan mereka. tentu sekali ia tak dapat cari Thian Tek. Ia hendak bicara tetapi si imam dului dia. kita bertujuh akan terima tanggung jawab kita ini!‖ Khu Cie Kee lantas berbangkit. ―Kalau satu orang gagah sejati bersahabt. apapula ia kenali roman orang itu. ―Dia tak dapat dibiarkan menghilang. ia ajak Lie Peng bersama. dari itu. ―Apakah yang lucu?‖ tanya Han Siauw Eng.

ujung goloknya putus dan jatuh ke tanah dan ujung pisau belati menyambar terus ke dadanya. tetap ia menuju ke Utara. aku bertemu pula denganmu. Syukur untuk Thian Tek. akan tetapi Lie Peng. ia sudah umbar hebat hawa amarahnya tanpa merasa ia membuat kandungannya tergerak. Kembali ia menyewa sebuah perahu. Inilah ia tidak sangka. Adalah pikirannya Thian Tek. Dalam kagetnya ia buang diri ke belakang. Setiap ia mendarat. Belum sampai setengah bulan ia berdiam di tepi telaga itu. Itu hari selagi berada di dalam kamar. Setelah merasa pasti bahwa orang adalah salah satu Cit Koay. untuk Irawan D Soedradjat Page 65 . Untuk bela diri terlebih jauh. ia diringkus Thian Tek. Tidak lama kemudian. napasnya memburu. ―Aku tak akan membunuh padamu!‖ Lie Peng sendiri telah lemas kaki dan tangan dan tubuhnya. Kali ini ia kembali naik perahu. Han Po Kie dapat susul ia. ia menikam! Thian Tek kaget dan heran. Dengan tiba-tiba otaknya Lie Peng terganggu. di tepi telaga Bie San Ouw di wilayah propinsi Shoatang. tak sudi ia berjalan sedikit juga. ia tidak takut. ada lagi seorang lain yang cari padanya. saking khawatirnya. ―Trang!‖ demikian satu suara nyaring. tetapi tak urung. sudah lantas menjerit-jerit. Dalam sengitnya. mereka itu tidak kenali padanya. ia justru diam-diam memuji kepada roh suaminya: ―Engko Siauw. ia juga tak dapat lari seorang diri. Kemudian ia menjadi mendongkol. Syukur ia waspada dan cerdik. untuk keram diri di dalam kamarnya . walaupun kedua pihak bertemu muka. sudah kepalang tanggung. menanyakan tentang dia dan Lie Peng. maka itu. memasang mata. Lie Peng tidak mengerti silat. ia telah keluarkan tenaga terlalu besar. Kelakuan si nyonya itu gampang menimbulkan kecurigaan orang. ―Simpan senjatamu!‖ ia membentak. hingga bayi di dalam perutnya itu meronta-ronta. ia sebenarnya sudah memikir untuk bunuh diri. Untuk kagetnya manusia busuk ini. Dengan letih ia jatuhkan diri ke kursi. engko Siauw. agar dapat aku membinasakan manusia jahat ini!‖ Lalu dengan diam-diam. Akan tetapi ia adalah satu wanita lemah. lebih baik bia ia bisa binasa bersama musuhnya itu. ia terus berontak dan berteriak-teriak. ia hanya berpura-pura edan. kau lindungi kepadaku. Thian Tek sambar sebuah kursi. Tapi ia masih ingat akan pisau belatinya yang ia pegangi keras-keras. Ia telah hunus pedangnya. dadanya kena tergurat. ia angkat tangannya untuk dikasih turun denagn bacokannya. dadanya itu pasti telah tertancap pisau belati itu. Ia melalui Lim-ceng dan Tek-ciu dan tiba di propinsi Hoopak. tidak mendengar apa-apa. Coba Lie-sie bertenaga cukup. Ia dapat kenyataan si nyonya si nyonya bukan gila benar-benar. selalu dapat ia menjauhkan diri dari mereka itu. nyonya Kwee suka ngoceh tidak karuan. Ia berlayar terus ke Utara. Dari dalam kamarnya ia mengintai. selama tinggal di penginapan. maka itu sebaliknya dari ketakutan. aku mohon kepadamu. hingga mereka sampai di perhentian Lie-kok-ek. Nyonya Kwee telah tawar hatinya sejak kebinasaan suaminya. adiknya. ingin aku supaya sebelum datang saatnya. Ia pun telah dipukuli. Sebab bukanlah soal yang sempurna untuk terus-terusan berkelana dengan hati tidak tentram. tiga orang itu tidak kenali dia. Syukur untuknya. ialah seorang pincang dan bermata buta yang membawa-bawa sebatang tongkat besi. Ia lihat tegas seorang kate dampak yang romannya jelek sekali yang berbicara dengan lidah Kee-hin. Ia kaget tetapi ia berlaku tenang. hingga darahnya lantas mengucur keluar. Ia peroleh kenyataan. tetapi telah bulat tekadnya. ia dengar suara Han Po Kie tengah berbicara sama pemilik penginapan. Ini yang menyebabkan ia selamanya dapat lolos. ia terus membawa Lie Peng. menampak sikapnya Thian Tek itu. Malah Po Kie ada bersama denagn satu nona. Setiap kali ia berlepas tangan atau mulutnya. ia justru mendahului sambil menubruk. yang merasa ada bintang penolongnya. Ia menjadi masgul dan bingung sekali. ia siapkan pisau belati atau badik yang Cie Kee hadiahkan kepadanya. ada kalanya ia robek bajunya atau bikin kusut rambutnya. hingga mereka jadi menarik perhatian orang. ia dekati Lie-sie. Thian Tek tersenyum aneh. baik selama di penginapan. dibekap mulutnya dengan selimut. Thian Tek berniat membunuh Nyonya Kwee itu. kecuali si kate terokmok dan si nona. ia tarik tangannya Lie Peng untuk diajak segera menyingkir dari pintu belakang. Selama itu rasa takutnya tak jadi berkurang. Thian Tek dapat godaan lain. Maka terpaksa ia gunai goloknya untuk menangkis. Po Kie bersama kawannya yaitu Siuaw Eng. Thian Tek tetap jerih untuk Han Po Kie beramai. saban-saban ada orang mencari dia. maupun di tengah perjalanan. bajunya kena terobek.Pendekar Pemanah Rajawali buat sementara waktu.

Ia bergelar Wei Wang atau Wee Ong. supaya tentang perjalanan mereka – ke mana saja mereka menuju – ada menimbulkan bekas. ia suka dengari adiknya yang cerdik dan tangkas. Hawa panas mulai lenyap. gemar mereka menghina yang lemah tetapi jerih terhadap yang kuat.‖ ―Begitu?‖ tanya sang kakak. oleh karena mana. ia lantas ijinkan orang menemui dia. bekalan uangnya mulai habis. Celaka untuknya. ―Mereka juga bertabiat kasar. ia bergaul paling erat dengan Wanyen Lieh. tetapi satu hambanya pangeran itu muncul dengan tiba-tiba mengabarkan ‗kunjungannya Sam-ongya‘ – pangeran yang ketiga. ―Bangsa Monglia itu tak tetap tempat tinggalnya. ia berpikir: ―Tentang Pauw-sie. tetapi ia takluk kepada bangsa Kim.‖ Wanyen Yung Chi terima baik nasehat itu. Ketika itu hawa udara telah mulai berubah. kakak harus membawa satu pasukan tentera yang terpilih. sang putra pergi menganugerahkan Temuchin sebagai Pak Kiang Ciauw-touw-su. dia telah celakai aku hingga begini…‖ Justru ia ngoceh ini. Tanpa ragu-ragu lagi. Ia jadi semkin hati-hati. akan tetapi ia tetap dibayangi pengejar-pengejarnya. kau tentunya letih. ―Kau baru sampai dari satu perjalanan jauh. mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tak nyata. pangeran Wei atau Wee. Kenapa aku mesti meninggalkan satu . Ia lantas mengerutkan kening. itu pangeran Kim yang ia maksudkan. pergilah beristirahat dulu. setelah berjalan jauh dan melewatkan banyak hari. untuk pergi ke sana. Pada masa itu pemimpin bangsa Mongolia. Thian Tek mengucap terima kasih. heran. tetamunya adalah Toan Thian Tek dan orang ingin numpangi diri kepadanya. supaya melihat keangkeran kita. Ketika ia hendak berbnagkit. Denagn begitu. sang adik. ialah Tio Ong atau Chao Wang (Pangeran Tio atau Chao) Kapan Wanyen Lieh dengar tentang kedatangannya satu perwira dari selatan. selanjutnya mereka tidak akan berani berontak. ia mengucapkan terima kasih. kalau ia membocorkannya. mendadak ia dapat ingat suatu apa. kepergian putra ini sebenarnya guna melihat sendiri keadaan bangsa Monglia itu. aku masih belum dapat mempernahkannya. untuk memohon pikiran.‖ katanya dengan manis. hatinya menjadi ciut. malah menyenangkan. maka itu. Wee Ong telah datang menemui Tio Ong. sang angin sejuk telah mulai menghembus. setelah omong-omong lagi sebentar ia pamitan. putra yang ketiga dari Wanyen Ching. ―Pergilah kau beristirahat!‖ katanya sambil ia mengibaskan tangannya. ―Kenapa aku tidak pergi kepada Liok-taycu?‖ Liok-taycu itu adalah putra keenam dari raja Kim. Ia ada lemah. Wanyen Lieh bangkit dari kursinya.Pendekar Pemanah Rajawali sengaja menarik perhatian orang. Setiap hari aku bisa dahar dan minum enak. ia ngoceh seorang diri: ―Selama aku pangku pangku di Hangciu. ibukota kerjaan Kim itu. saking uring-uringan. Sekarang ini ialah kota Pakkhia (Peking). Ia sebenarnya hendak beritahu juga bahwa ia datang bersama Lie Peng. Udara begini tidak terlalu mengganggu orang-orang yang membuat perjalanan. Ia marah tetapi ia tidak bisa berlaku keras kepada nyonya itu kecuali ia mengancam agar si nyonya terus ikut padanya. Ia terkejut akan ketahui. ―Habis?‖ Irawan D Soedradjat Page 66 . ―Yang cupat pikirannya kuncu. Pada suatu. ia malah membantui negara Kim memusnahkan bnagsa Tartar. raja Kim. setelah mana ia bertindak untuk sambut tetamunya. Thian Tek telah menyingkir jauh ke utara. dalam segala hal. guna menghargai jasanya itu. mulut hidup? Bukankah ada peribahasa kuno yang mengatakannya. Di samping itu. artinya ―Kota Tengah‖. bagaimana senangnya aku. Di antara saudara-saudaranya. Ibukota Yan-khia itu disebut juga Tiong-touw atau Chungtu. Didalam hatinya. adik itu berkata kepadanya: ―Hari ini ada datang padaku satu mata-mata dari kerajaan Selatan. Sam-ongya itu adalah Wanyen Yung Chi. semacam kommissaris tinggi.‖ berkata Wanyen Lieh. ―Bukankah aku telah tidak jauh dari Yan-khia?‖ demikian ia ingat. tetapi dasar pangeran Kim yang keenam itu yang kemaruk sama istri orang. Karena tugasnya ini. bagaimana aku bisa menerima Thian Tek? Ia tahu rahasiaku. raja Kim utus Wanyen Yung Chi. yang tak kejam bukannya satu laki-laki?‖ Karena ini ia lantas tersenyum. dapat ku bersenang-senang dengan wanita-wanita cantik. urusan bisa menjadi rewel. Temuchin sudah mulai kuat kedudukannya. ia bernagkat menuju ke Yan-khia. Di sana Thian Tek langsung mencari istananya pangeran itu.

di mana tidak ada lain orang. dia tak dapat berpikir. Berselang beberapa hari. Mereka itu terpencar si segala penjuru. ―Kakak tahu sendiri kecerdikan bangsa Selatan itu. Ia mempengaruhinya hingga si nyonya diam saja. Wanyen Yung Chi berangkat ke Monglia. barisan dari seribu serdadu pilihan dari bangsa Kim berjalan berlerot bagaikan seekor ular panjang. Di sini aku nanti layani lain-lainnya mata-mata. Sore itu Wanyen Lieh tidak panggil Toan Thian Tek menghadap lagi padanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia datang untuk tumpangkan diri padaku. perjalanan jauh denagn menunggang kuda. Di lain pihak ia jaga diri baik-baik agar tentara Kim tidak tahu siapa dia. maka itu kepala perang ini telah melancangi pangeran itu untuk mengatur persiapan. hawa ada dingin luar biasa. dia tertawa riang.‖ ―Bagus!‖ Yung Chi bertepuk tangan. Ia khawatir Lie Peng nanti buka rahasianya. sebenarnya ia hendak mencari tahu keadaan kita bangsa Kim. kalau dia ini dibunuh. Pada suatu hari tibalah barisan ini di satu tempat dekat dengan perkemahan Temuchin. Aku pikir hendak mohon kakak bawa ia pergi ke utara. Ia keprak kudanya untuk maju ke depan. hanya sambil dibekali uang perak dua potong. Sementara itu perutnya Lie Peng makin menjadi besar. Dialah Ouw See Houw. ―Di sana. memenuhi bukit dan tegalan di hadapan angaktan perang Kim itu. Selagi Wanyen Yung Chi terheran-heran. ia lantas tampak lari mendatangi satu pasukan kecil serdadu. Mungkin mata-mata yang datang bukan dia satu orang. Thian Tek tidak tahu rencana orang. Yung Chi menjadi kaget. bunuh saja padanya!‖ kata sang kakak. ―Ya‖ sahut Wanyen Lieh. dia terus menderita. Tatkala itu bulan kedelapan untuk di Utara. sudah datang dekat sekali.‖ ―Kalau begitu. Diwaktu begini. ―Sam-ongya. yang lainnya pasti bakal jadi waspada. katanya. Sedang si nyonya ini masih mengharapkan datangnya pertolongan padanya……. apa yang disebutkan tentara musuh itu. Irawan D Soedradjat Page 67 . lekas kasih perintah untuk bersiap untuk berperang!‖ demikian kata perwiranya yang pimpin pasukan kecil itu setibanya dia di depan pangeran Kim itu. suara seperti satu pertempuran. sebaliknya Wanyen Yung Chi lemah. sekonyong-konyong orang mendapat dengar suara berisik yang datangnya dari arah utara. Dia sengaja menunjuki pengaruh menurut nasihat Wanyen Lieh.‖ ―Bawa ia ke Utara?‖ Yung Chi tanya.‖ Sang adik menjadi girang. Hampir itu waktu. dia suruh Thian Tek pergi ke istana Wei Wang untuk bantu pangeran itu. Ouw See Houw ada satu panglima yang berpengalaman yang diandalkan negeranya. dengan cari satu alasan kakak boleh hukum mati padanya. ―Pasukan musuh manakah itu?‖ dia bertanya. ―Itulah alasannya belaka. dia ajak Thian Tek bersama.. Wanyen Yung Chi lantas kirim belasan serdadunya untuk memberi warta terlebih dahulu tentang tibanya itu sekalian menitahkan Temuchin datang menyambut utusan Kim.‖ sahut adik itu. berjalan di padang pasir yang seperti tak ada ujung pangkalnya. Wanyen Yung chi berangkat bersama seribu serdadu pilihan yang semua kelihatan gagah dan mentereng. dia kuatkan hati dan tubuhnya untuk lawan penderitaan ini. bilang saja dia hendak dijadikan pengiringku. ―Sebentar kau kirim dia padaku. Tapi ia telah bertekad untuk membalas sakit hatinya. Demikian untuk beberapa puluh hari. ia tetap ajak nyonya itu. Selagi pasukan ini berjalan terus. ―Baik!‖ katanya. sangat meletihkan dia. ―Tindakan itu tidak sempurna. salju beterbangan turun bagaikan lembaran-lembaran unga. di padang gurun. ia menurut saja. ―Mana aku tahu?!‖ sahut si perwira yang lantas saja mengatur barisannya. kapan sang malam tiba.‖ Wanyen Lieh bilang.

Cepat nyonya itu berduduk. tetapi serbuan sisa tentera ―musuh‖ itu demikian hebat. untuk kegirangannya. Ouw See Houw berlaku tabah. karena sisa tentera itu main saling selamatan diri sendiri. Ouw See Houw kewalahan. kalau tadinya ia telah berputus asa. setelah ia melihat dengan tegas. Lie-sie coba geledah tubuhnya myat-mayat itu untk cari rangsum kering. Ia geraki tubuhnya. Tiba-tiba dari arah kiri terdengar ramai suara terompet tanduk. mereka kabur jauh-jauh. setelah mana ia peluki anaknya. mau tidak mau. tapi ia merasa ada benda yang membanduli perutnya. ―Lepaskan panah‖ Ouw See Houw memberi titah. ia sadar sendirinya dengan perlahan-lahan. untuk melindungi. itulah pasukan sisa yang habis kalah perang. untuk membuat sebuah liang yang besar dimana bersama bayinya ia bisa menyingkir dari angin dan salju. Cuma pemandangannya yang sangat menggiriskan hati. hingga banyak serdadu yang kena terinjak-injak. Lie-sie mencoba menggunai kedua tangannya. mereka ke dibikin terpencar. Dengan sendirinya mereka jadi bertempur sama tentara Kim. Tentara sisa itu segera diserang. Tentera sisa ini berjumlah lebih besar tapi mereka tidak berdaya terhadap pasukan berkuda ynag jauh lebih kecil itu. Ia dapatkan golok dengan gampang karena di situ bergeletakan banyak alat senjata. Lie-sie mesti kuatkan hati. ia telah melahirkan anak……. hanya mereka kabur keempat penjuru. tak tahu ia dirinya berada di dunia baka atau masih hidup. Tentara ‗musuh‘ itu bukan terus menerjang pasukan Kim. sakit sekali. Tentera musuh yang kabur itu melihat pasukan Kim. akan menggali pasir. Air ada air salju tapi barang daharan. roman mereka ketakutan. Ia hanya dengar tangisan itu makin lama makin keras. sang rembulan mengencang di atas langit. sejumlah diantaranya lantas rubuh. Dengan gigitan ia bikin putus tali pusar. ia rubuh dari kudanya. Terpaksa untuk menyingkir. Di bawah terangnya sang rembulan. mereka menerobos terus. Bab 7. tak tahan ia akan rasa laparnya.Pendekar Pemanah Rajawali Segera juga terlihat suatu keanehan. Sekarang baru Lie Peng sadar betul. Lalu ia coba menyalakan api. muncul di antara sang awan. tanpa merasa ia menangis menggerung-gerung. Adu Panah Lie Peng ada bersama Toan Thian Tek. hingga tanpa dapat ditahan lagi. ia angkat bayinya itu. tidak ada sama sekali. ia merasakan perutnya mulas. Irawan D Soedradjat Page 68 . ia beri perintah akan tenteranya mengurung pangerang mereka. Lie Peng mendekam di liangnya itu. yang terus menerjang tentera sisa. ia dapat kenyataan. Hanya sesudah lari serintasan. Ia dapatkan sejumlah sisa. yang berjumlah lebih sedikit. potongan wajahnya mirip dengan suaminya Kwee Siauw Thian. ia dapatkan satu bayi laki-laki. semua mayat serdadu dan bangkai itu belum busuk. Buat dua malam satu hari. dengan itu ia pun dapat bakar daging kuda. Kekalutan sudah lantas terjadi. Di sekitarnya tidak ada seorang juga kecuali mayat-mayat serdadu dan kuda-kuda. mereka masing-masing menunggang satu kuda. Disamping itu di belakang mereka menerjang sejumlah pasukan berkuda. Nyatalah dalam keadaan seperti itu. sekarang timbullah harapannya. lalu dihari ketiga. Ia pingsan. tentara sisa ini meluruk ke arah pasukan Kim. Mereka bersiap tanpa bersuara. yang telah membuang panah dan tombak mereka. semua tidak menunggang kuda. terpaksa nyonya Kwee lari sendirian. Ketika itu masih malam. Entah dari mana datangnya tenaganya. Roman anak ini telah membantu menguatkan semangatnya. akan tetapi jumlah mereka banyak. maka bersama sejumlah serdadu ia lindungi Wanyen Yung Chi mundur ke arah selatan. Entah sudah lewat berapa lama. mereka lari tanpa berani datang mendekati. musuh dan kawan bercampur menjadi satu. bayi itu nampak cakap. suaranya pun nyaring. Karena hawa dingin. samar-samar ia dengar tangisan bayi. Ia belum sadar betul. Kapan Ouw See Houw sudah mengawasi sekian lama. Terpaksa ia merayap keluar. ia tidak mendapat gangguan. di situ muncvul satu pasukan serdadu. Untuk kagetnya. Dari situ ia bisa dengar rintihan serdadu-serdadu yang terluka parah atau hendak mati dan ringkikannya banyak kuda perang. Syukur untuknya. Hebat akibatnya untuk tentara Kim itu. mereka pun lagi ketakutan. Ia mengeluarkan air mata kegirangan yang berlimmpah-limpah. bergumul.

Tapi di belakang mereka lantas tiba bala bantuan. tapi selagi ia hendak menuntun pulang. mereka menyerang pula. ―Siapa kau?‖ tanya salah satu diantara dua penunggang kuda itu. Ia memegang sebatang golok panjang. ada yang ditancapkan bulu burung warna lima. Maka ia naiki kudanya untuk mengejar. mendadak ia dengar susra keras dan nyaring. dari sana muncul beberapa barisan lain yang dikepalai oelh satu perwira muda jangkkung dan kkurus. ia gendong bayinya untuk di bawa pergi ke araha timur. maka tentera itu lantas memecah diri dalam dua barisan. tubuhnya ditutupi dengan mantel merah. anak kambing itu lari terus. terpaksa ia ditinggal pergi. Semua binatang itu kaget. Lie Peng tidak buka rahasia. Dua penunggang kuda itu adalah orang Monglia. ia cuma dapatkan. dan untuk menempuh perjalanan jauh. mendatangi dari arah depan. Maka mulailah Lie Peng mesti bercape lelah. Pada suatu hari dari bulan tiga. untuk hidup sendiri. Oleh karena kebiasaan. Ia menjadi takut. baru ia dapat tangkap anak kambing itu. tiba-tiba kwee Ceng lihat seekkor burung elang yang besar sekali menyambar kepada rombongan kambingnya. diwaktu hendak berangkat. lalu muncullah pasukan tentera. mereka itu berbaik hati. mendengar itu tentera penyerang lantas berseru-seru kegirangan: ―Kha Khan Temuchin telah datang! Kha Khan telah datang!‖ Irawan D Soedradjat Page 69 . Hidup sendiri. malah tanpa terasa enam tahun telah lewat. dari itu di situ sudah lantas terjadi suatu pertempuran. belum pernah ia dengar suara semacam itu. Ia mesti terus berjalan di tempat yang sepi dimana ada terdapat pepohonan dan tegalan rumput. guna mencari air. hati Kwee ceng menjadi tertarik. Ia tidak hendak melupakan peasn suaminya. Ia mulanya menyangka kepada guntur. Kaget ia. mereka jaka si nyonya ke tendanya. Orang Monglia itu tidak berumah tangga. walaupun tampaknya mereka kosen. dengan mengiring binatang piarannya. Tapi ia ingin mengetahui sesuatu. yang menjadi kepala perang telah memberikan belbagai titahnya. Malah yang seekor – anak kambing – kabur ke timur. Selama tempo bertahun-tahun hidupnya Lie Peng ada lumayan. sampai setelah memasang kuping sekian lama. guna melindungi diri dari gangguan angin dan hujan. ketika kedua penolongnya hendak berpindah tempat. ia Cuma kata ia lagi lewat di situ tempo ia terhalang oleh pertempuran tentera. ia pun dapat hidup sebagai orang Mongolia. anak itu bertubuh kuat dan cerdik. Ia mengintai terus. lantas ia pimpin tentaranya menyerbu. Ia mesti membangun satu gubuk dengan beratap daun. Meski begitu.Pendekar Pemanah Rajawali Buat tujuh atau delapan hari. ia mulai bertenun yang hasilnya ia dengan barang makanan. Tepat tengah hari. Bisalah dibayangi. setelah ia mulai dapat pulang kesegarannya. Untuk hidupnya. Lie-sie dapat berdiam disitu bersama bayinya. Ia memanggil dengan berteriak-teriak. bagaimana hebat penderitaannya itu.sie. untuk bersembunyi didalam rujuk. Kwee ceng giring kambingnya untuk diangon. yang ia tidak tahu berapa jumlahnya. mereka biasa pergi ke timur atau ke barat untuk mencari makanan binatang. ia bisa membantu ibunya menggembala kambing. untuk dikasih tempat meneduh dan barang makanan. Pihak penyerang ini berjumlah lebih sedikit. agaknya mereka ini tidak dapat bertahan lama. walaupun mereka tidak tahu jelas. segera terdengar suara terompet dari sebelah belakang. selagi uadra hangat. sebaliknya daripada takut. hingga keras sekali ia rangkul bayinya. Sekarang. Demikian telah terjadi dengan Lie-sie. untuk kelegaan hatinya. ia keluarkan kepalanya untuk mengintai. selagi ia menjagai kambing-kambingnya. Tidak ayal lagi. mereka meninggalkan tiga ekor kambing. ia dengar suara seperti tambur berikut meringkiknya kuda serta suara orang banyak. hingga ia terperanjat. untuk kemudian ibu dan bayinya itu tidur guna melepaskan lelah dan kantuknya. Akan tetapi dua orang itu tidak menolong kepalang tanggung. apa katanya Lie. Sampai tiba-tiba ia mendengar anak panah mengaung di atasan kepalanya. Ada serdadu yang kepalanya digabut pelangi putih. Sekitar tujuh lie. hingga ia mesti melahirkan anak seorang diri. timur dan barat. sebab bayinya masih belum mengerti suatu apa pun. ia menunggang kuda kecilnya. sebagai pengembala tak tentu tempat tinggalnya. sebagai rumah adalah tenda yang bertenung daripada bulu binatang. Tidak lama setelah barisan teraur rapi. Sekoyong-konyong terdengar suara terompet riuh. Kwee Ceng tuntun kambingnya buat diajak mendaki suatu tanjakan. Ia sekarang memelihara anjing sebagi pembantunya. tidak lama mereka mesti mundur sendirinya. Jauh di sebelah depan nampak debu mengepul naik. ia beri nama Ceng kepada putranya. Segera terlihat dua penunggang kuda. dibantu sama suara tambur.

Musuh telah mendesak hingga hampir sukar untuk dicegah lagi. sudah melihat tegas keadaan pertempuran itu.Pendekar Pemanah Rajawali Atas itu orang-orang yang lagi bertempur lantas menoleh ke arah timur selatan. ia Cuma berdiam sebentar. dari tempat sembunyinya. lalu dengan suara dalam. mereka tidak ambil peduli lagi kepada musuh yang lari tunggang-langgang. banyak yang telah rubuh. kau Borchu. mereka menang di atas angin. tentera Mongolia itu nampaknya lati serabutan keempat penjuru arah. Dia ada memakai kopiah perang dari besi. melindungiini pemimpin dari sambarannya berbagai anak panah. mereka tidak menghiraukan anak panah dan golok. Kubilai. mereka menyerang pula dengan seru. Di tengah pasukan di panjar sebuah tiang yang tinggi di mana ada tergantung beberapa lapis bulu putih. ia gembira berbareng negri. Dilain pihak adik angkat Temuchin. hingga mereka dapat mengacaukan lawannya. Irawan D Soedradjat Page 70 . demikian panglima yang dipanggil ayah itu. Di pihak Mongolia. ia tetap mengawasi medan perang. Lalu ia memberi perintah pula: ―Mukhali. Disamping dia ada beberapa pengiringnya. lekas mundur ke selatan! Kapan kau lihat bendera besar di kerak tinggi dan dengar terompet dibunyikan. orang terpaksa main mundur. bersama Jelmi panglima yang kosen. Ia tampak satu pasukan besar. Kwee Ceng saksikan itu semua. Kwee Ceng dengan matanya yang jeli. Tentara musuh bersorak-sorai menampak lawannya lari tumpang siur. mengawasi ke arah tiang itu. apa boleh kita kerek bendera dan membunyikan terompet?‖ dia bertanya. Dari sana pun datang seruan-seruan kegirangan. Dengan begitu ia dapat lihat satu perwira yang menunggang kuda. Sambil berbuat begitu. menjadi cemas hatinya. musuh berjumlah lebih banyak berlipat ganda. Itu ada tanda bahwa di sana ada tiga kepala perang yang memegang pimpinan. mereka pun segera melihat bendera putih besar dari Temuchin di atas bukit. Setelah bertempur sekitar satu jam lebih. dari atas kudanya ia memandang ke medan pertempuran. yang mendatangi dengan cepat. melakukan pembelaan si sekitar bukit itu. apa pula penyerang di pojok timur utara tampak lebih garang. ―Ayah. tak sudi mereka mundur dari serangan musuh. mari kita mundur dulu!‖ berseru ia kepada orang di bawah tiang bendera itu. Di sana pun dikerek batang bendera besar. Jelmi lari naik ke atas bukit. Tiang yang tinggi itu bergerak ke arah tanjakan bukit. Juga Kwee Ceng turut beralih pandangannya. hanya karena jumlah mereka jauh lebih besar. akan tetapi juga serdadu musuh. yaitu Sigi Kutuku. ia dikitari belasan pengiringnya yang dengan memasang tameng mereka itu. Temuchin. Dengan matanya yang tajam bagai mata burung elang.‖ Ketika itu penyerangan musuh di timur laut bertambah hebat. maka sebentar saja. jumlahnya bebearap ribu jiwa. dari mana datangnya suara terompet dan tambur tadi. yang larikan kudanya itu naik ke tanjakan. ia menyahuti: ―Musuh masih belum lelah. kau bersama pangeran kedua serta selaksa serdadu mundur ke barat. janggutnya merah. bersama Chilaun serta selaksa serdadumu mundur ke utara! Dan kau. Temuchin mengawasi ke bawah kepada tentara musuh. seribu lebih telah terbinasa. Temuchin tetap berdiam tegak di tempatnya. habis itu semua bawa barisannya menyingkir ke arah yang telah disebutkan tadi. dengan lima ribu jiwa serdadu mereka. tentera penyerang jadi dapat semangat. yaitu Ogatai yang berada di samping ayahnya. mereka lantas saja berkoak-koak: ―Tangkap hidup Temuchin! Tangkap hidup Temuchin!‖ Lalu tentara itu dengan rapat sekali. Atas ini. dari lima ribu serdadunya Temuchin itu. lantas ia berikan titahnya: ―Kau bawa selaksa serdadu mundur ke timur!‖ demikian titahnya itu. Tidak antara lama panglima muda yang bermantel merah larikan kudanya naik ke tanjakan. Putra ketiga dari Temuchin. bersama Subotai serta selaksa serdadu. berlomba mendaki bukit. ―Ayah. kau mesti kembali untuk melakukan penyerangan membalas!‖ Semua perwira itu menyahuti tanda mereka menerima titah.

terpaksa ia balik mundur. hebat ilmu panahnya. ―Siapa lari ngiprit?‖ katanya. ia lemparkan itu kepada adik angkatnya itu. ia memandang ke arah musuh. dipihak musuh. lantas ia rampas sebatang golok besar dari tangannya satu serdadu. Beruntun tiga kali ia memanah kepada musuh yang berada dibawahnya sebuah bendera hitam. ―Bagaimana dapat kau banggakan diri sebagai satu pendekar gagah perkasa?!‖ Air mukanya Jelmi menjadi berubah. ia membuat kudanya berjingkrak berdiri dengan dua kaki belakangnya. sesudah mana. ―Bagus ilmu panahnya!‖ Temuchin puji musuh itu. ―Aku kehabisan anak panah!‖ Temuchin yang rebah di tanah telah tarik keluar anak panahnya dari kantong panahnya yang tersulam. ia tidak menjadi gugup. Sejumlah serdadu mush mundur melihat orang demikian bengis. Dengan begitu. semua lantas meluruh untuk tolongi kepala perang mereka. sebentar saja ia telah rubuhkan belasan tentera Mongolia. Kutuku tidak gusar. hanya nancap di dadanya kuda. Berselang lagi satu jam. Mendapatkan anak panah. anak-anak tak sanggup bertahan!‖ dia teriaki junjungannya. Merah matanya Jelmi melihat kawannya itu mundur. Irawan D Soedradjat Page 71 . kemudian dengan lemparkan goloknya. suaranya perlahan. setibanya di atas. apakah kau ngiprit sebagai kelinci?‖ ia menegur dengan ejekannya. Maka tidak ampun lagi. ia rangkul ketiga bendera besar itu untuk dibawa lari mendaki bukit. ia memburu ke bawah bukit. ―Saudaraku yang baik. Temuchin adalah satu orang peperangan yang ulung. Dua perwira Mongolia maju hendak menerjang tetapi mereka disambut oleh anak panah dan rubuh karenanya. sebatang busur membuat musuh itu rubuh. ia binasakan satu demi satu. Temuchin tutup lukanya dengan telapakn tangannya. tentara Mongolia bertempik sorak. anak panah tidak lagi menyambar ke perut orang. Dilain pihak. lehernya telah terkena anak panah itu. Kutuku mandi keringat.‖ sahutnya. hebat kau!‖ Temuchin puji adik angkatnya itu. sedang satu anak panah lainnya menyambar ke arah perutnya. dengan bawa itu sambil serukan seruan-seruan peperangan bangsanya. di pojok barat selatan. Semua serdadu Mongol kaget.‖ Kutuku lantas berlutut di depan kakak angkatnya itu. rubuhlah binatang tunggangannya itu berikut penunggangnya. ―Kutuku. ia kehabisan anak panah dan tobaknya pun telah patah. ia tancap tiga batang bendera itu di tanah! Kaget nusuh menyaksikan lawannya demikian kosen. ―Kita tunggu sebentar lagi. Jelmi maju menyerang tiga serdadu musuh yang bertubuh besar. akan kemudian ia lari pula naik ke atas. dengan kedut lesnya. Justru itu. Musuh gunai ketika baik ini untuk menerjang naik dengan hebat. sebaliknya ia tertawa. Kutuku segera beraksi. tampak satu panglima dengan pakaian perang hitam. ia menerjang barisan musuh. nacap sampai di batas bulu. ―Musuh masih belum lelah. Kutuku di arah barat telah pimpin tentaranya melawan musuh. untuk rampas kuda musuh. yang berbareng menjadi pemimpinnya. mereka lantas tutup pula kebocoran di timur utara itu. dalam keadaan terluka. walaupun lehernya terluka dan sakit sekali rasanya. ―Apakah sekarang sudah boleh kita menaikkan bendera dan membunyikan terompet?‖ ia tanya. Biar bagaimana juga. ia membuka jalan hingga di depan satu bendera hitam. darah molos keluar dari sela-sela jari tangannya itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kha Khan. ―Ser!‖ sebatang anak panah menyambar sebelum pimpinan Mongol ini dapat berdaya. ―Tak sanggup bertahan?!‖ berseru Temuchin dengan gusar.

hingga yang lainnya menjadi terhalang. Penunggang kuda itu yang mendekat. lalu bendera putih yang besar dikerek naik. Anak ini ingat akan peperangan yang ia saksikan. Mereka itu mendekati saling susul. ia bunuh tiga musuh yang menerjang ke arahnya. tentera Mongolia dengan bersemangat menyerang dari segala penjuru. disusul sama bunyi terompet ynag riuh. Lie Peng berangkat ke pasar yang terpisahnya kira-kira tigapuluh lie lebih dari rumahnya untuk menukar tenunannya. ―Tapi Kha Khan. Sisa tentara lantas lari serabutan. ia gunai ketikanya yang baik. treus angkat kepalanya. ―Hadiahnya sepuluh kati emas!‖ Beberapa puluh serdadu Mongol sudah lantas kaburkan kuda mereka. Irawan D Soedradjat Page 72 . tiba-tiba ia dengar tindakan kaki kuda di arah timur. Kwee Ceng tunggu sampai orang sudah pergi semua. kaget melihat kepala perang lawannya dapat naik kuda pula. Dengan pertempuran ini Temuchin. Musuh yang tengah merangsak naik. sambil bersorak-sorak. tak pernah gagal. si panglima seragam hitam sendiri terpaksa kaburkan kudanya. ia berteriak-teriak untuk mencegah kekacauan. telah musnah lebih daripada separuhnya. pagi-pagi sekali. maka itu belasan serdadu lantas saja terjungkal dari kuda mereka. Akan tetapi lihay panah si panglima. Dengan kegirangan. ia mirip dengan ayahnya…‖ pikir ibu ini. melihat sikap orang. mereka menjadi bertambah kacau. hingga ia keluarkan teriakan tertahan. telah peroleh kemenangan besar dan musuhnya ialah bangsa Taijiut. di bebokong kuda ada satu tubuh manusia yang mendekam. akan kejar panglima berbaju hitam itu. memandang kepada si bocah itu. tubuhmu penting sekali!‖ Mendengar itu. Senang Lie Peng akan saksikan anaknya bercerita dengan cara sangat gembira. tentara Mongolia iringi kepala perangnya berangkat pulang. maka itu ia menjadi teringat kepada suaminya. Temuchin lantas berlompat untuk naik ke atas seekor kuda. termusnahkan pasukan Mongolia yang jumlahnya lebih sedikit tetapi yang semangatnya berapi-api. Dengan goloknya yang panjang. tak kecuali mereka yang mengurus korban-korban. ia anggap peperangan itu dapat dibuat permainan. Maka sejak itu. Ia mau anggap dirinya adalah satu panglima perang! Tengah anak ini main jenderal-jenderalan itu. panglima itu dapat meloloskan diri. ia tampak seekor kuda lari mendatangi. ia mencoba menggiring kambingnya pulang pergi.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kami semua rela berkorban untuk kau. Tentara Mongolia bertempik sorak. Maka itu tidak usah berselang dua jam. sambil ia duduk di atas kudanya. apabila ia menoleh. barisan mereka tengah kacau. ―Semuanya membela mati bukit ini!‖ ia berseru. Kwee Ceng dari tempat sembunyinya sangat mengagumi panglima berbaju hitam itu. sendirinya mereka mundur. Musuh berjumlah besar. Dengan begitu pula pada akhirnya. Tiga hari kemudian.‖ katanya. akan tetapi sia-sia saja percobaannya itu. siapa lantas menjadi kaget sekali.dua helai permadani – dengan barang-barang makanan. maka itu diserang demikian mendadak. ―Tangkap musuh itu!‖ Temuchin memberi titah. Temuchin lihat keadaan itu. Ketika ia tiba dirumahnya. Kwee Ceng segera terangkan kepada ibunya kenapa ia pulang lambat sekali. Temuchin tidak usah khawatirkan lagi ancaman dari pihak musuhnya itu. ialah pihak Mongolia. tentaranya tak dapat dikendalikan lagi. runtuhlah pasukan perang yang besar itu. Serempak dengan itu. justru ibunya sedang berdebar-debar hatinya memikirkan anaknya yang dikhawatirkan menghadapi ancaman bahaya. Kwee Ceng ditinggal di rumah untuk menjagai binatang piaraan mereka. anak ini tidak sedikit juga menunjukkan hati jeri. ―Naikkan bendera! Tiup terompet!‖ dia berteriak dengan titahnya. ia jadi gembira sekali. waktu sudah tengah malam. maka dengan mainkan cambuknya. hingga penyerangan mereka menjadi reda. Panglima dengan seragam hitam itu nampak keadaan jelek. . ―Dasar turunan orang peperangan. baharu ia keluar dari tempat sembunyinya. Maka diam-diam ia pun bergirang. dimana mereka berada. Begitu datang dekat. kuda itu kendorkan larinya.

Dari lengannya ia tarik sebuah gelang emas yang kasar dan berat. tetapi ia rupanya telah puas telah dapat air. Kwee ceng lantas lari mengambil air dingin dari jambangannya. Mungkin ia yang tengah melarikan diri telah bertemu pula dengan musuh. Dia jatuh pingsan. ―Adik yang baik. ―Lapar! Lapar!‖ kali ini ia bersuara.‖ sahut Kwee Ceng. alisnya lantas menjadi ciut. untuk dipakai membalut lukanya. yang Kwee Ceng saksikan dan mengaguminya. ia menjerit. aku ingin panah yang besar…. Ketika itu pasukan yang mendatangi telah tampak semakin tegas. Rupanya banyak sekali serdadu barisan berkuda temgah mendatangi. ―Aku hendak bertempur. Sekarang di sebelah suara berisik itu terlihat debu mengepul. ditangan kirinya ia mencekal goloknya yang telah buntung. darahnya masih mengalir. Demikian dia bisa geraki tubuhnya untuk berduduk. orang itu sadar dengan sendirinya. Kwee Ceng lekas-lekas mengambilkan beberapa potong daging kambing. tubuhnya terus rubuh dari atas kudanya itu. Paha kudanya pun terluka. adalah si panglima perang berbaju hitam yang gagah. setelah itu ia dapat pulang tenaganya. Kwee Ceng telah bawa gendewa dan anak panahnya yang kecil. ―Ada!‖ sahut Kwee Ceng yang terus lari ke dalam untuk ambil panahnya. tiba-tiba ia tertawa. ―Anak yang baik! Anak yang baik!‖ ia memuji. suaranya parau. Kwee Ceng pun lantas ikut memandang juga. ―Ibu telah pesan. Panglima itu baharu minum setengah mangkok. ―Air…air…lekas bagi air…‖ katanya. Tak tahu ia mesti berbuat apa. Ia pun lantas memandang ke arah timur itu. matanya bersinar merah. mendengar itu tetamunya Kwee Ceng ini menjadi gusar sekali. ―Mari lagi satu mangkok!‖ dia meminta pula. lalu ia tertawa terbahak-bahak. Ia pun balut luka kudanya. apakah kau ada punya panah?‖ tanya si tetamu.‖ katanya panglim aitu kemudian. Kwee Ceng menggeleng-gelengkan kepala. Orang itu perlihatkan roman girang. sedang panahnya tidak kedapatan padanya. dia tak hendak melepaskan aku!‖ serunya sengit. air itu sudah bercampur dengan darah yang mengalir dari lukanya. Tubuh panglim aitu bergoyang-goyang. ―Yang besar tidak ada…. ―Untukmu!‖ dia tambhakan seraya dia angsurkan barang permata itu kepada bocah itu. benderanya pun berkibar-kibar. Irawan D Soedradjat Page 73 . ia menjadi lesu. yang mana si panglima lantas saja sambar untuk digelogoki. orang itu memakannya dengan sangat bernafsu.Pendekar Pemanah Rajawali Penunggang kuda itu mukanya penuh debu bercampur darah. Selang sekian lama. Ia lantas sobek ujung bajunya. banyak-banyak terima kasih kepadamu!‖ dia mengucap. hanya habis itu wajahnya berjengit. golok yang mana pun ada darah yang sudah mengental. Tapi lekas sekali ia tertawa berkakakkan. Kwee Ceng kaget dan bingung. ―Anak yang baik.‖ ia bilang. kami harus membantu tetamu tetapi tidak boleh menginginkan barang tetamu. Itu waktu samar-samar terdengar suara larinya banyak kuda di arah timur. Di pipi kanannya ada sebuah luka besar dan masih mengucurkan darah. Orang itu tercengang. hanya tempo si bocah itu kembali. ―Hm.

ia laikan kuda itu bolak balik. Ia lihat banyak serdadu sedang mengiringi satu anak muda yang kurus dan jangkung. ―Coba bawa kuda itu kemari!‖ Begitu keluar perintah itu. dua serdadu lantas menghampirinya. yang lantas terus tarik les kuda orang untuk dibawa kepada sang pangeran. ―Baik. Mereka rupanya lihat bocah yang menunggang kuda itu.‖ ia berjanji tanpa diminta. dua kali atas mana kuda yang hitam bulunya itu segera lompat kabur. yang tubuhnya ditutupi denagn mantel merah.‖ kata Kwee Ceng kemudian. ―Ya. walaupun ia sudah dapat pulang tenaganya. Jadi ada lebih selamat untuk sembunyikan diri. jalannya sudah tertutup. Ia bisa berlaku tenang. Si pangeran telah sampai di depan rumah ―Aku tidak akan bicara!‖ Kwee Ceng telah mabil keputusan dalam hatinya. sesudah lari cukup jauh. ―Bukankah itu kudanya?‖ ia tanya. ―Pergi kau usir kudaku!‖ setelah berkata demikian. aku serahkan jiwaku kepadamu!‖ katanya.‖ ia menerangkan ―Bawa dia kemari‖ berseru perwira yang mengepalai pasukan itu. ―Di mana?‖ tanya serdadu yang kedua. ―Dia sudah pergi lama sekali. ―Benar!‖ sahut banyak serdadu. ―Apakah katanya bocah ini?‖ tanya ia membentak. Ia lantas dapat lihat itu kuda hitam yang lagi makan rumput di kejauhan. Dua serdadu itu sampaikan jawabannya Kwee Ceng. bocah. Lain jalan tidak ada. Kwee Ceng mencambuk kuda itu. lebih baik kau sembunyi. kau lihat tidak satu orang yang menunggang kuda hitam?‖ Itulah teguran dari satu diantara dua serdadu itu. Kwee Ceng naik ke atas kudanya. Ia lantas kenali itu adalah panglima yang pimpin tentera. aku dapat lihat. dengan kudanya yang terluka. Orang itu mengambil putusan denagn segera. Tidak lama tibalah barisan berkuda itu. Dengan matanya mengandung kecurigaan. seperti tak pernah terjadi sesuatu. Ia insyaf. ―Mari ketemu pangeran!‖ berkata dua serdadu itu. Irawan D Soedradjat Page 74 .Pendekar Pemanah Rajawali ―Seorang diri tak dapat kau lawan mereka. suaranya dalam.‖ Kwee ceng menjawab. Dia adalah putra sulung dari Temuchin. tak dapat ia lari lebih jauh. bahar ia berhenti untuk makan rumput. sepuluh serdadu lanats bergerak dengan mereka memecah diri dalam lima rombongan. Dengan gampang ia kena ditangkap dan dituntun. hingga walaupun binatang itu berniat lari. Ia tidak dengar pembicaraan di antara dua orangnya dengan si bocah. suaranya kasar. putra sulung itu memandang ke sekitarnya. ―Eh. Kwee Ceng menunjuki tumpukan rumput kering di belakang rumahnya. Kwee Ceng menunjuk ke barat. ―Aku tidak akan mengasih tahu kepada mereka. ia pun lari ke tumpukan kering itu dan menyelusup kedalamnya. untuk hampirkan itu kuda denagn dikurung. ―Sembunyi di mana?‖ orang itu tanya. ―Hm! Bukankah itu kudanya Jebe?‖ putra itu tanya. suara mereka riuh.

―Ayah!‖ demikian ia menyambut. hatinya menjdai memukul keras. pergi menyusul dan mengejar. sedang dua yang lain menusuk-nusuk ke dalam tumpukan rumput kering itu. itu panglima berseragam hitam yang sembunyi di dalam tumpukan rumput. ―Eh. ―Kudanya ada disini. Kwee Ceng lihat orang hendak tusuk bagian dimana panglima nelusup. Tuli. kemudian ia sendiri mengajak putranya yang kedua. 75 ―Aku tidak menghendaki kuda tetapi orangnya!‖ ayahnya itu menjawab. Ia lihat penganiayaan itu yang menyebabkan jidatnya Kwee ceng memebri tanda baret merah.‖ Kwee Ceng kesakitan bukan main. Tidak ada jalan lain. Inilah sebabnya kenapa ia datang belakangan. dia mestinya tidak lari jauh!‖ Juji berkata pula. mesti isap darah – hingga darahnya itu ada yang kena ketelan dan dimuntahkan. putranya yang ketiga. Dihari kedua pada wkatu sore. Ogotai dan putra sulungnya. ia bolang-balingkan itu ke udara. Hampir di itu waktu dari kejauhan terdengar suara terompet. Berat lukanya Temuchin bekas terpanah Jebe. ia pingsan beberapa kali. Juji. Temuchin. ―Ayah. Oleh karena itu. mau ia menangis akan tetapi ia menahan sakit. Kali ini Kwee Ceng tak dapat tak menangkis. Ayahnya itu dirubungi banyak pengiringnya. ia coba sebisanya akan menahan sakit. Kedua serdadu tadi pun sampai lupa untuk menusuk-nusuk terlebih jauh. Jagati. cepat menyusul.Pendekar Pemanah Rajawali Putra sulung itu ayunkan cambuknya ke arah kepalanya Kwee Ceng. hingga ia perlu ditolongi dengan Jelmi panglimanya serta Ogotai putranya yang ketiga. ia putar kudanya untuk menyambut ayahnya. kau hendak bicara atau tidak?!‖. aku terpaksa mesti keluar untuk adu jiwaku…. adalah sehabisnya pertempuran. tentera Mongolia dikirim ke empat penjuru untuk cari Jebe. kuda hitamnya bangsat itu telah dapat ditemukan!‖ ia memberitahukan. sepasukan serdadu berhasil menemukan Jebe. ―Pasti kita akan mendapatkannya!‖ Ia balik kepada Kwee Ceng . Ia sendiri pun telah terluka. hai. setan cilik?!‖ tanya dengan bengis. Musuh itu dikepung tetapi ia dapat meloloskan diri sambil membinasakan beberapa jiwa serdadu Mongol. Ia memikir: ―Pasti bocah itu tak tahan sakit dan ektakutan. . ―Kha Khan datang!‖ sejumlah serdadu berteriak. ―Jangan kau harap dapat mendustai aku!‖ Jebe. Satu malam dia gadangi semua panglimanya serta keempat putranya. Kapan Temuchin dengar kabar itu. Juji lantas berhenti mencambuk. tiba-tiba tangannya menunjuk ke tumpukan rumput yang jauh sambil ia berteriak: ―Lihat di sana. dia lolos dari ancaman bahaya maut. Ia kenal si putra sulung – putra Temuchin itu – ialah Juji yang tabiatnya keras dan kejam. benda apakah itu yang bergerak-gerak?‖ Semua serdadu lantas berpaling mengawasi. di hari kedua. ia cegah keluarnya air matanya. setan cilik. Tapinya ia lantas berteriak : ―Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!‖ Ketika itu sejumlah serdadu sudah geledah rumahnya Kwee ceng. ―Dia sembunyi di mana. Kali ini ia hunus goloknya. Baharu keesokan harinya. mereka tidak lihat suatu apa yang bergerak. tetapi di medan perang. Kha Khan – Khan yang terbesar. yang hendak ditawan. untuk hukum dia dengan dibeset empat kuda dan dicincang tubuhnya guna membalaskan sakit hatinya Khan yang terbesar itu. Dia angkat kepalanya dan menanya dengan berani: ―Kenapa kau pukul aku? Mana aku ketahui dia bersembunyi di mana!‖ ―Kau membandel?!‖ bentak Juji. lebih dahulu ia kirim putra sulungnya. Irawan D Soedradjat Page ―Ya!‖ sahut putra itu. Lagi sekali ia mencambuk. tangannya mencekal keras goloknya yang panjang. bersembunyi sambil memasang mata. Dia mengancam pula Kwee Ceng dengan cambuknya diayun tiga kali beruntun.

Mukanya Juji menjadi merah. ia perdengarkan suaranya berulang-ulang menganjuri anjingnya melawan terus. Irawan D Soedradjat Page 76 . Lantas pengiringnya muncul dengan enam ekor anjing yang besar. ia hampiri Kwee Ceng. Jagatai. ia jadi terlebih berani.‖ Putra ketiga itu menurut sambil tertawa. hingga dengan lantas ia suka memberikan pertolongannya. Jagati menjadi tidak senang. begitupun burung elang besar. dia tak mau mundur. maka sekejap saja terjadilah pertarungan yang sengit sekali. sebab goloknya hampir terlepas dari cekalannya. ―Lepas anjing!‖ ia menitahkan. Juji terperanjat. Putra kedua dari Temuchin menjadi habis sabar. untuk diberi bercium bau. maka itu setiap keluarga bangsawan atau panglima perang mesti memelihara anjing-anjing peranti berburu. ia ayunkan goloknya ke lehernya si Kwee Ceng. untuk mencegah ia lantas bersiul memanggil anjingnya sendiri. Enam ekor anjingnya Jagati sudah mulai mencium-cium ke tumpukan rumput kering. muka ramai dengan senyuman. Juji berontak tetapi ia tak dapat lepaskan pelukannya anak itu yang memegang ia dengan keras sekali. ia perintah anjingnya maju. tahu ia panglima itu terancam akan ketahuan tempat persembunyiannya. Sekarang setelah ia dianiaya Juji. tahu ia akan tugasnya. Ia lemparkan goloknya. Ia sambar Kwee Ceng. dia tentu bawa enam ekor anjingnya itu. Menyusuli goloknya itu. mengenai tepat goloknya Juji itu. Temuchin berpikir. akan aku berikan ini padamu…‖ ia kata seraya angsurkan bulu merak itu. mendadak ia angkat tubuhnya untuk sambar pahanya si Juji yang terus ia gigit. Jagatai adalah putra paling gemar berburu. bangkit keangkuhannya dan tidak sudi ia menyerah. Sayang anjing penggembala itu jauh lebih kecil dan ia pun bersendirian. tak malukah?!‖ Lantas saja Jebe dikurung oleh serdadu Mongol. dia berkata: ―Menghina anak kecil. anjing pembantu penggembala. Kwee Ceng dengan Jebe tidak saling mengenal. Dari kopiah perangnya ia pun cabut dua batang bulu merak yang berkilauan. tetapi ia pensaran dan marah. kapan anjing Kwee Ceng dengar panggilan majikannya. Mendengar itu. habis itu baru semuanya dilepaskan dari rantainya. yang ia tarik tubuhnya dengan tangan kiri untuk disingkirkan ke belakangnya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kau hendak berbicara atau tidak!‖ ia mengancam. tiba-tiba sebuah golok buntung menyambar. Kwee Ceng telah mandi darah pada mukanya. Sekarang anjing itu diperintah dibawa mengitari kuda hitam. Disaat batang lehernya bocah yang bernyali besar itu bakal menjadi putus. hanya kegagahan panglima berseragam hitam itu sangat mengesankan kepadanya. kapan ia pergi berburu. ia lanats digigit di sana sini. antaranya ada yang berseru kaget. hingga ia rubuh bergulingan. gonggongan mereka sangat berisik. Hati Kwee Ceng menjadi kecil. ―Aku tidak mau bicara! Aku tidak mau bicara!‖ ia berteriak berulang-ulang. ia mendahului menghalang di depan tumpukan rumput kering itu dan melarang enam ekor anjing itu menghampirinya. Nyaring bentroknya kedua senjata itu. yang bersenjatakan golok dan tombak. Semua orang terkejut. timbul kemarahannya. ia ayunkan pula cambuknya berulangkali hingga Kwee Ceng merasakan sakit ke ulu hatinya. ―Kau bicaralah. Tapi ia gagah. ―Aku tidak mau bicara!‖ Kwee Ceng ulangi jawabannya. Jebe lompat keluar dari tempatnya bersembunyi. terus dengan tertawa dingin. kenapa bocah itu mengatakan: ―Tidak mau bicara‖ dan bukannya ―Aku tidak tahu?‖ Maka ia lantas berbisik kepada Ogotai: ―Pergi kau bujuki ia hingga ia suka berbicara. tempo ia berguling sampai di kaki si putra sulung. Kapan ia lihat orang melepas anjing. Hati Juji menjadi sangat dongkol. Ogotai dan Tuli menjadi tertawa bergelak-gelak. Bangsa Mongol paling gemar berburu. Menampak sang kakak kelabakan. banyak lukanya.

jangan kasih bocah ini pentang mulut besar!‖ dia berseru. Ketika dahulu Temuchin belum menjadi kepala bangsa Mongol. ―Siapa kau?!‖ ia tanya. ―Baik. kalung kayunya dirusaki dan dibakar. ―Seorang diri akan aku bunuh kau. Hampir Temuchin kepergok tapi ayahnya Chila‘un pintar. Setelah lolos ini. Ia girang sekali. pergi kau layani dia!‖ ia menganjurkan. Dengan panah mereka yang lihay. ―Maka sekarang. Temuchin berhasil menghajar penjaganya dengan kalung kayunya itu. Tiga hari mereka menyusul. ekornya diselipkan ke selangkangannya. ia meninju dada orang. Borchu maju beberapa tindak. dia berseru dengan keras. Borchu. ―Kha Khan. Ketika musuh Taijiut datang mencari dan rumah Chila‘un digeledah. mustahil orang dapat sembunyi di dalam bulu kambing‖ Memang hawa ada sangat panas. kiranya dia inilah orangnya…‖ Ia tidak menjawab. Bangsa Taijiut itu membikin pesta di tepinya sungai Onan. Setelah pesta bubaran. Mereka anggap orang ini tidak tahu diri. ia menambahkan: ―Sayang aku tak dapat terbinasa di tangannya satu orang gagah perkasa…!‖ ―Apakah kau bilang?‖ tanya Temuchin. mari kita ikat persahabatan. yang mereka hinakan sesudah mana mereka berniat membunuhnya. mereka saban-saban mencaci Temuchin. Borchu itu kosen dan belum pernah ada tandingannya. Temuchin Irawan D Soedradjat Page 77 . dia mati digerumuti semut!‖ Habis mengucap begitu.Pendekar Pemanah Rajawali Juji menjadi sangat gusar. sengsara hidupnya Temuchin. aku akan mati dengan puas. Sudah itu pada suatu hari. Jebe berpikir: ―Memang pernah aku dengar Borchu adalah orang kosen bangsa Mongolia. orang sampai menyebut kau Jebe. Jebe awasi orang itu. Jebe ada punya namanya sendiri tetapi nama itu kalah dengan gelarannya. supaya kau puas!‖ katanya nyaring. semuanya lompat mundur dengan ketakutan. mereka bubarkan rombongan pencuri kuda itu dan berhasil merampas pulang ke delapan kuda yang dicuri itu. ―Nanti aku layani dia!‖ Temuchin lihat orang itu adalah panglimanya. aku akan lebih dahulu binasakan padamu!‖ Tertawa Mongol tertawa riuh. ia lari ke dalam rimba. ia cuma perdengarkan suara dingin. Sebaliknya ia berseu: ―Lekas bunuh aku!‖ Kemudian. sembari minum koumiss. digeledah juga kereta itu. ―Jikalau aku dibinasakan di medan perang oleh orang yang dapat menangi aku. Bersama ibu dan adik-adiknya ia mesti hidup dari daging tikus hutan. Jebe berkata: ―Kau adalah sahabatnya Khan yang terbesar. setiap orang seperti bermandikan keringat. Ia tanya kalau-kalau pemuda itu lihat pencuri kudanya.‖ sahut Jebe. Satu anak muda yang bernama Chila‘un tidak takut bahaya. lehernya dipakaikan kalung kayu. sia-sia bangsa Taijiut mencari dia. mereka berdua pergi mencari bersama. Ia ketemu satu anak muda yang lagi peras susu kuda. Ia penasaran. Ia dinaiki ke atas sebuah kereta besar yang muat bulu kambing. Alasan itu kuat. Pemuda itu ialah Borchu. dia tolongi Temuchin. baharu mareka dapat menyandak si pencuri kuda. delapan ekor kudanya yang putih pun kena orang curi. ―Aku Borchu!‖ panglima itu membentak. pergilah kau bertanding dengan sahabatku ini!‖ ―Jebe‖ itu memang berarti ―Ahli memanah‖.‖ berkata Temuchin. ―Hm!‖ ―Kau andalkan ilmumu memanah. dengan suara mendalam. terbuka lebar matanya ini panglima. dia pernah ditawan bangsa Taijiut. ―Sekarang ini burung elang jatuh di tanah. musuhnya. Disampingnya Temuchin muncul satu orang. dia berkata: ―Hari begini panas mengendus. kereta itu batal digeledah. Enam anjingnya Jagatai yang lagi gigiti anjingnya Kwee Ceng menjadi kaget. ia pergi mencari pencuri kuda itu.‖ Temuchin sambut itu ajakan. Dia berkata: ―Penderitaannya bangsa pria sama saja. hingga orang tidak mengetahuinya lagi. Mendengar orang adalah ―sahabatnya‖ Temuchin. yang tubuhnya besar dan suaranya nyaring. Maka kemudian. Atas itu Jebe tidak membalas menyerang.

tubuhnya meroyot hampir mengenao tanah. ia serahkan panahnya sendiri. Dengan tangan kiri mencekal gendewa dan tangan kanan memegang naka panah. Ia tidak cuma menolong diri. ia berbareng membalas memanah. Kemudian ia larikan kudanya. Dilain pihak. menangkap anak panah itu. ia mendekam akan aksih lewat anak panah itu. hingga anak panah itu jatuh ke tanah. Tapi Borchu tidak berhenti sampai disitu. jatuh nancap di tanah. sambil berkelit ia memanah pula.Pendekar Pemanah Rajawali hendak membalas budi dengan membagi kudanya. ia memanah lagi pula. Ia selamat. hingga anak panah itu terpanah dua. sampai Temuchin berhasil mengangkat dirinya. Borchu terkejut. sekarang kau beri ketika untuk aku adu panah dengannya. Borchu menjawab: ―Aku keluarkan tenaga untuk sahabatku. Ia mengincar ke sebelah kanan. ―Sungguh dia beruntung!‖ kata Ogotai. dia tidak berani memandang enteng. Tidak lagi ia mendekam. ―Binatang ini sangat sombong!‖ seru mereka. ―Dengan sebuah gendewa saja. Jebe lihat anak panah datang. hingga bersama Chila‘un ia menjadi empat di antara menteri besar dan berjasa dari Jenghiz Khan (nama Temuchin setelah ia menaklukan bangsa-bangsa yang lain). Ketika ia diserang pula. yang suruh orang serahkan kudanya. kau pakai panahku. aku bukannya seorang yang tak tahu diri. habis mana ia angkat tubuhnya. Ia terus memanah. kesempatan ini dipakai untuk membalas menyerang. Aku menghendaki hanya sebuah gendewa. untuk duduk pula atas kudanya! ―Bagus!‖ Borchu memuji lawannya itu. Inilah ia tidak sangka. ia menyambok dengan gendewanya. Jebe lihat kuda lawan gesit. untuk papaki anak panah lawan. Temuchin tahu kegagahannya Borchu. Binatang itu yang telah berpengalaman. ―Itu sama saja dengan aku sendiri yang memanah dia!‖ ―Baik!‖ Borchu menyahuti. ia pun larikan kudanya ke lain arah. Borchu memanah pula. Ia tanya sahabatnya itu menghendaki berapa ekor. seekor juga aku tidak menginginkannya!‖ Sejak itu keduanya bekerjasama. ia hanya bawa tubuhnya turun dari bebokong kuda. lalu dengan sebelah kakinya ia sampok anak panah yang menyambar kepadanya itu. beruntun tiga kali. Jebe tidak sempat menangkap pula.‖ katanya. tak usah anak panahnya!‖ ―Kau tak pakai anak panah?!‖ tanya Borchu gusar. lalu ―Ser!‖ maka sebuah anak panah menyambar ke arah Jebe. Temuchin dan semua orangnya bersorak memuji. Borchu lantas bersiap. setelah itu ia memanah betul-betul. Maka kedua anak panah itu saling bentrok lalu mental. Tapi ia panah anak panahnya Borchu. tak dapat aku layani dia cara seimbang. selagi kuda itu lari. terus ia main berkelit. Jebe berkelit dan sambil berkelit tangannya menyambar. Mulanya ia cuma mengancam. dia berkata pada Temuchin: ―Aku telah terkurung olehmu. lagi dua kali ia memanah dengan saling susul. kaki kanannya nyangkel pada sanggurdi. ―Tidak salah!‖ sahut Jebe. Jebe berkelit. dengan enjot diri. Borchu tahu Jebe memang lihay. Jebe naik ke bebokong kuda. Irawan D Soedradjat Page 78 . dia lompat ke atas kudanya Temuchin. ia berdiri di atas kudanya. Ia jepit perut kudanya akan bikin kuda itu lari. ―Kau kasihkan kudamu pada Jebe!‖ Temuchin berkata pada Ogotai. mengarah perut Borchu. satu kali. Borchu perlihatkan kepandaiannya. aku pun dapat membunuh kau!‖ Tentara Mongol menjadi berisik. ―Kau naik atas kudaku. Kali ini Jebe kaget. putranya yang ketiga. Borchu tetap menjadi sahabatnya dengan berbareng menjadi panglimanya. Cepat sekali ia membalas memanah. ia cenderungkan tubuh ke bawah untuk jemput tiga anak panah yang tergeletak di tanah. Ia pun lompat turun dari kudanya. tahu akan tugasnya.

anak panah yang diberikan oleh Temuchin kepadanya. ia gunai ketikanya. sekarang kita seri. Sementara itu serdadunya Borchu sudah hanturkan beberapa puluh batang anak panah kepala kepala perangnya itu. untuk memberi semangat kepada Borchu. ―Mari kita mengadu pula!‖ Ia lantas memanah pula. Dalam kagetnya ia putar kudanya untuk balik. sambil bersembunyi.‖ sepasang alisnya bangkit bangun. anak panah yang berdarah itu ia pasang di gendewanya. yang berdiri di depan pintu. Ia khawatir ia nanti dipanah terus. maka tidak ampun lagi. dengan saling susul. hingga ia merasakan sangat sakit. hingga gendewa itu panah menjadi dua potong. aku harus mendapatkan hukumanku!‖ Ia cabut anak panah di pundaknya. Hanya aneh. ia membalas menyerang. Jebe menunjuk kepada Kwee Ceng. Jadi terang. Tapi ia belum puas. tanpa tanda dari penunggangnya. ―Aku minta Khan yang mulia jangan ganggu itu anak. yang anak panahnya ada batasnya. melihat serangan datang. rubuhlah binatang itu! Borchu turut rubuh. ―Siapa menghendaki kamu jual kebaikanmu!‖ teriak Borchu. Irawan D Soedradjat Page 79 . mereka menjerit. Jebe pun berkelit tak hentinya. ia lindungi diri di perut kudanya. Tapi Jebe lihay. Sebenarnya ia biasa berbekal banyak anak panah. Ia panah bebokong musuh itu. terus-menerus. Kudanya Borchu sangat lihay. hendak ia memanah lebih jauh. dan tepat mengenai. Jebe hendak mengasih ampun padanya. hingga akhirnya pundaknya yang kiri kena juga terpanah. ―Bukannya untuk ditukar dengan jiwaku!‖ Jebe berseru. Tentara Mongol bertempik sorak. jiwanya ditukar dengan jiwamu!‖ ia mengatakannya pada Borchu. ia lompat berkelit ke kiri. anak panahnya justru mengenai batok kepalanya kuda. kamu jangan adu panah pula! Biar. dia tidak. ujung panah tidak menancap. kau panah mati padaku!‖ Jebe menjawab: ―Biasanya Jebe tidak pernah mengasih ampun pada musuhnya! Panahku barusan berarti. Segera ia ketahui sebabnya ia tidak terluka. ia pungut anak panah itu. ia pungut anak panah di tanah.. tiba-tiba ia menjadi terkejut. sambil turunkan tubuhnya. ―Aku hendak menukarnya dengan jiwa anak ini!‖ katanya. Kali ini ia kena hajar gendewanya Jebe. untuk rampas jiwa orang. Borchu menjadi girang sekali. Tapi anak panah datang demikian cepat..Pendekar Pemanah Rajawali Borchu menjadi berpikir: ―Aku ada punya anak panah. Maka ia lantas merogoh ke kantung panahnya. ―Jikalau kau benar ada punya kepandaian. Kehilangan senjatanya. ―Aku telah panah kepada Khan yang mulia. kemudian mendapatkan orang tidak terbinasa atau terluka parah. ia talangi Borchu menyahut: ―Baik! Sudah. Semua penonton bersorak. Jebe telah lihat tegas musuhnya itu. ―Apa!‖ Temuchin menegaskan. ia menjadi girang. walaupun sambaran anak panah itu keras sekali. kali ini ia pakai kantong panah Temuchin. itu cuma menyebabkan Borchu merasa sakit pada bebokongnya. Lantas ia memanah pula beruntun beberapa kali. Anak panah itu tidak ada ujungnya yang tajam! Jebe telah singkirkan itu. Jebe lihat serangan berbahaya. incarannya luar biasa. anak panah itu jatuh ke tanah! Dengan keheranan. Tentang aku sendiri.. ―Baiklah!‖ kata Borchu. Kapan ia dengar perkataan Jebe itu. Tanpa merasa. terguling ke tanah. satu jiwa tukar dengan satu jiwa!‖ Temuchin kaget dan berkhawatir menampak Borchu kena terpanah. ia mendahului membalas menyerang. Semua penonton kaget. dengan begini mana bisa aku membalaskan sakit hatinya Khan yang terbesar?‖ Ia menjadi bergelisah. Jebe kasih kudanya lari berputaran. ia telah gunai habis semua anak panahnya. Selagi mata orang banyak seperti di bikin kabur.

Ia menjadi si orang gagah yang menyayangi sesama orang gagah. Maka ketika ia memanah.‖ ia mengeluh dalam hatinya. untuk ambil hatinya! Ke mana aku diperintah pergi. Borchu siapkan pula anak panahnya. apakah kau masih tetap tidak mau menyerah?!‖ ia tanya panglima musuh itu. Ia tunggu pulangnya Lie Peng. Jebe menghanturkan terima kasih. ―Habislah aku hari ini…. ―Bagus! Bagus!‖ katanya. Temuchin tertawa berbahak-bahak. Ia lolos dari kematian dan mendapati tuan yang bijaksana. anak panah lewat menyempret di pinggiran tenggorokkannya. ia beristirahat. ―Khan yang mulia. walaupun ia incar tenggorokkan. Ia merasa sakit dan kaget. Sambil rebahkan diri di atas rumput. tak ingin ia mengambil jiwa orang. Ia ambil dua potong emas. Tapi ia terus menambahkan. Jebe gagal mengelakkan diri. Beberapa serdadu angkat naik bangkai kuda putihnya ke bebokong dua kuda lainnya. kalau ia turut Temuchin. akan aku tunjang Khan yang maha besar! Aku akan menghajar musuh. untuk dibawa bersama. yang sepotong ia berikan kepada Borchu. rasa sukanya menjadi bertambah-tambah.‖ katanya. Lie Peng lantas berpikir. Bocah itu menggoyangi kepala. ia berkata: ―Kha Khan. ia ajak putranya ikut Jebe kepada Temuchin. Jebe lihat Temuchin demikian angker. darahnya lantas mengucur dengan keluar. tak mau ia menerimanya. ia lantas perdengarkan nyanyiannya: Khan yang terbesar mengampunkan selembar jiwaku. Akan aku memotong Sungai hitam menggempur batu gunung. mengikuti di sebelah belakang. hendak aku berikan emas ini kepada itu bocah. tidak tahu sampai kapan Kwee Ceng dapat membalas dendamnya. tetapi ketika ia menoleh kepada Temuchin. ―Emas adalah kepunyaanmu. akan tuturkan kejadian barusan. kalau kita membnatu tetamu kita. Jebe menjadi girang sekali. aku boleh kasihkan itu kepada siapa aku suka!‖ katanya. mungkin ketikanya akan lebih baik. ―Selanjutnya kau ikutlah aku!‖ Orang Mongol polos dan sangat gemar bernyanyi. Irawan D Soedradjat Page 80 . yang sepotongnya pula kepada Jebe.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia satu laki-laki sejati!‖ Borchu sebaliknya berpikir. kesana aku pergi! Temuchin menjadi sangat girang. ia menggeser sedikit. kau boleh berikan kepada siapa kau suka!‖ Jebe angsurkan emas itu kepada Kwee Ceng. Kwee Ceng pun dapat berlatih ilmu perang. bolehkah?‖ Temuchin tertawa. ia menjadi kagum sekali. di belakang hari walaupun mesti menyerbu api berkobar-kobar. Lantas ia ajak pasukan perangnya balik ke arah darimana tadi ia datang. Maka kesudahannya. berilah ampun kepadanya!‖ Temuchin pun menyayangi Jebe. sekarang mendengar perkataan orang. maka ia lompat turun dari kudanya untuk terus bertekuk lutut. ―Sebentar kau bawalah bocah ini kepadaku!‖ katanya kepada Jebe. ―Kalau emas itu adalah emasku. Ia percaya. Temuchin telah sukai bocah ini. aku rela. jangan kita termahai uangnya. sambil mendekam. demikian Jebe. Dengan hidup terus sebagai penggembala. ―Eh. ibunya bocah itu. Di dalam pasukan perang. ―Ibu bilang.

karena keduanya saling menghormati dan menghargai. dipimpin oleh satu banhu-thio. Kwee ceng bersama kawan-kawannya berdiri menonton. tubuh setiap serdadu bergoyang-goyang. terdiri dari seratus jiwa dipimpin oleh satu pekhu-thio. Kwee Ceng dan kawan-kawannya terus tinggal menonton. kaki kuda mereka berbunyi tak hentinya. ia perlakukan itu bocah dan ibunya dengan baik. tentara musuh yang dikalahkan sudah menyerbu dan membikin bubarnya pasukan pengiringnya Wanyen Yung Chi. ia dapat lihat mendatanginya dari kejauhan dua penunggang kuda yang larikan binatangnya tunggangannya dengan kencang sekali. menyusul mana dari pelbagai tangsi terlihat munculnya orang-orang peperangan. Tatkala itu bangsa Kim telah menduduki Tiongkok Utara. ―Kita telah kalahkan banyak musuh. mereka menjadi bersatu. sampai mereka nampak debu mengepul naik. komponi yang dikepalai oleh datu opsir disebut siphu-thio. lantas saja mereka menjdia sahabat kental. Jebe ingat budinya Kwee Ceng. pengaruhnya tersiar luas dan jauh. Setelah menemui tiga putra Temuchin. Temuchin muncul dari dalam kemah. Ia telah pikir. negeri Kim pun telah tahu itu. raja Kim dengar Temuchin jadi semakin kuat. Dengan satu titah dari ayahnya. setelah Kwee Ceng tambah umurnya akan ia wariskan ilmu panah dan ilmu silat kepadanya. atau satu resimen. maka itu Temuchin anggap adalah suatu kehormatan yang ia dianugrahkan pangkat oleh kerajaan Kim itu. putranya yang ketiga yang menjadi satu siphu-thio. Irawan D Soedradjat Page 81 . putranya yang keenam. hingga Yung Chi mesti lari pulang ke Chungtu. *** Pada suatu hari selagi Kwee Ceng memain timpuk-timpukan batu bersama beberapa kawannya anak-anak Mongol di depan markas Temuchin. ―Begitulah negeri Kim itu sudah utus putranya yang ketiga bersama putranya yang keenam datang kemari untuk menganugrahkan pangkat kepada Kha Khan kamu!‖ Dengan angkat tinggi golok mereka. tentara Mongol bersorak. kepala komponi yang memimpin sepuluh serdadu. sedang empat laksa serdadu lainnya mengatur diri dengan rapi untuk menanti. lalu sepuluh komponi. Juji si putra pertama maju bersama selaksa serdadunya untuk sambut utusan Kim. dan sepuluh resimen. Yangkhia. kemudian lagi sepuluh eskadron. Kedua saudara itu membawa selaksa serdadu pilihan. setelah terompet yang pertama. tinggal lihat gelagat saja untuk mewujudkan politik itu. Begitu terdengar terompet yang ketiga kali. atau satu devisi. Keras disiplin tentaranya Temuchin yang mengatir barisannya dalam empat rombongan. kecuali napasnya kuda. yang ia tahu cerdik. yaitu wanyen Yung Chi dan Wanyen Lieh. dikepalai satu cianhu-thio. merupakan sebagai satu badan. Ia ingin Temuchin dapat dipengaruhi dengan keangkerannya atau dengan cara halus. tandanya Juji telah dapat memapak dan menyambut utusan bangsa Kim itu. Ia menduga kepada berita penting yang mesti disampaikan kepada Khan yang terbesar itu. ia khawatir Temuchin itu menjadi bahaya untuknya di bagian utara. Mereka lihat. Tidak lama sejak masuknya dua orang itu ke dalam markas. senjatanya tombak panjang. Lewat beberapa tahun setelah itu. Ia menempatkan orang gagah itu dibawah Ogotai. semua serdadu sudah siap dengan senjata mereka dan naik kuda. Borchu menyambut dengan baik. Beberapa tahun yang lalu Wanyen Yung Chi telag diutus menganugrahkan pangkat kepada Wang Khan dan Temuchin. sebaliknya bangsa Mongol adalah suatu suku kecil di tanah datar atau padang pasir. yang berseragam lapis baja. kudanya tinggi dan besar. hingga tampaknya jadi angker sekali. sunyi senyap semuanya. kalau ada titah dari Temuchin. atau satu eskadron. maka sekarang dia utus putranya itu dengan dibantu Wanyen Lieh. Belum lagi pasukan perang itu datang dekat. kebetulan Temuchin lagi berperang. Pedang Mustika Girang Temuchin melihat kedatangan Jebe. yang nampak adalah satu angkatan perang besar yang terdiri dari lima pasukan dari setiap sepuluh ribu jiwa. setelah terompet yang kedua. lebih dulu sudah terdengar suara beradunya pakaian baja mereka. Dengan diiringi putra-putranya. Mereka itu terlatih sempurna. dari itu hebat penyerangan mereka.Pendekar Pemanah Rajawali Bab 8. lalu terdengar ramai suara terompet. Jebe mencari Borchu untuk menghanturkan terima kasih.‖ berkata ini pemimpin besar. Yang pertama ialah sepuluh jiwa serdadu menjadi satu barisan kecil.

―Shako. mereka suka merampas dan memperkosa wanita. Ia lantas rampas sebatang tombak panjang dari satu pengiringnya. ia berkata: ―Itulah persenan untuk kalian!‖ Yung Chin tidak tinggi ilmu silatnya akan tetapi uang emas hancur itu dapat ia lempar cukup jauh. selama berada bersama ibunya. maka sekarang melihat orang Kim itu demikian kurang ajar. adat kebiasaan mereka masih ―kasar‖. meski ia tidak merasakan terlalu sakit. maka ia mendelik kepada bocah itu. ―Bocah haram jadah!‖ ia mencaci dengan perlahan. ia lantas pungut beberapa potong emas. jangan layani dia!‖ Wanyen Lieh berkata kepada kakaknya. Ia mengharap anak-anak itu nanti berebut memungutinya. Bukankah ia telah diperhina di depan orang banyak? Adalah orang Mongol sendiri. dari mulut mereka tidak pernah keluar kata-kata kotor. walaupun masih kecil. Akan tetapi kesudahannya ia menjadi kecewa. Disaat Kwee Ceng menghadapi saat ajalnya. Biasanya di Tiongkok. yang mana terus ia lemparkan ke arah anak-anak itu. tidak menghargai tuan rumah. kau cari mampus?‖ Yung Chi membentak. kenal atau tidak. ia tetap panas hatinya. Wanyen Yung Chi lihat Kwee Ceng beramai. itu anak-anak Mongol yang dengan membuka matanya lebar-lebar mengawasi kepadanya tanpa berkedip. Sebaliknya pihak tetamu tidak selayaknya berlaku tidak hormat atau memandang enteng. pertama ia hendak unjuk keagungannya. terutama terhadap tetapi. Ia lihat gelagat jelek. Yung Chi jeri akan saksikan keangkeran tentara Mongolia itu. Bangsa Mongol paling mengutamakan menghormati tetamu. maka itu semua serdadu Mongol saling memandang satu dengan lainnya. ia lari mendekati Yung Chi kepada muka siapa ia menimpuk sambil ia berseru: ―Siapa sudi mengambil emasmu yang bau!‖ Yung Chi berkelit tapi ada juga uang yang mengenai pipinya. Kwee Ceng ketolongan tetapi ia telah bermandikan keringat dingin. Yung Chi menjadi penasaran. dan berteriakan. untuk meraup sejumlah uang emas. dan terhadap musuh. perbuatan itu dipandang sebagai kejahatan paling besar. Kwee Ceng bukan orang Mongol. ia lantas tertawa dan merogoh ke dalam sakunya. Belum pernah ada yang berani menghina dia. tetamunya tentu disambut dan dilayani dengan baik. dari Temuchin sampai pada semua bawahannya pada merasa puas ―Setan cilik.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Yung Chi datang berendeng bersama adiknya. Temuchin bersikap tenang. dengan itu ia hendak menimpuk kepada bocah she Kwee itu. perbuatan Yung Chi ini justru perbuatan yang memandang enteng. atau tengah bergurau. mereka sangat menghormati. Ia mendongkol bukan main. ramai-ramai kamu merebutnya! Hayo rebut. Ia merogoh pula sakunya untuk mengambil uang emas lainnya. mereka tidak memperdulikannya. bersama putra-putranya ia sambut kedua tetamu itu dengan menyuguhkan koumiss dan daging kambing dan kuda. sedikit saja ia merasa tidak puas. ia toh malu bukan main. mereka dapat menghargai diri sendiri. Umpama ada tetamu mendatangi tenda mereka. sering ia dengar ibunya itu bercerita tentang kajahatan bangsa Kim yang di Tiongkok. setan-setan cilik!‖ Mendengar itu semua orang Mongol berubah air mukanya. Dimasa itu bangsa Mongol belum kenal mata surat. bagaimana bangsa Kim itu telah bersekongkol dengan pengkhianat-pengkhianat Han untuk membinasakan Gak Hui dan lainnya. akan tetapi mereka biasa menaati adat istiadat. menganiaya dan membunuh rakyat jelata. Anak-anak Mongol itu juga terdidik menghormati tetamu mereka. shako!‖ Wanyen Lieh mencegah. tetapi tombak sudah melayang. Kalau tetamu berbuat tidak mengindahkan kehormatan diantara tuan rumah dan tetamu. demikian menampak perbuatan Yung Chi itu. tombak itu kena terserang tepat sekali dan jatuh bersama anak panah itu. Irawan D Soedradjat Page 82 . ―Tahan. akan tetapi memandang Kwee Ceng. dan kedua itulah sebagai pelesiran. mereka polos dan pegang derajat. Temuchin bersama putra-putranya ambil tempat di samping untuk menyambut. ia melemparkannya kembali sekalian ia beseru: ―Hayo anak-anak. dengan ketakutan ia mengangkat kaki. Dengan berbuat begitu. tiba-tiba sebatang anak panah menyambar dari pasukan Mongol yang kiri. Sambil tertawa terus. Sebaliknya tentara Mongol perdengarkan gemuruh seruan memuji penyerangan panah itu. tidak pernah mereka mengutuk atau mencaci. ia main bunuh orang.

selagi main panah-panahan dengan panah kecil yang terbuat dari kayu. yang airnya telah membeku menjadi es. Maka setelah angkat saudara.‖ ―Kami disini masih ada punya seorang gagah yang lain.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Yung Chi membacakan firman dengan apa Temuchin diangkat menjadi Pak-kiang Ciauwtouwsu dari negeri Kim. ia menyatakan suka turut. putranya masih belum lahir. ia diberi minum susu dari gelas kumala dari Wang Khan. Kali ini Temuchin dan Jamukha saling menghadiahkan ban emas dan kuda. Temuchin terlunta-lunta dan ia kemudian pergi ke Wang Khan untuk menumpang. Ia berasal dari suku Kerait. Temuchin tidak senang dengan jawaban itu. ia menyambuti firman dan pelat emas itu. setipa pagi mereka berlomba bangun pagi.: ―Besok kami hendak pergi menganugrahkan Wang Khan. mereka jadi berpencaran. Pie-sek itu adalah biji yang orang Mongol biasa pakai untuk menimpuk kelinci. Irawan D Soedradjat Page 83 . sang kakak tetapi tidak memperdulikannya. Temuchin timbulkan usul ini. Girang Temuchin akan ketahui ayah angkatnya pun dianugerahkan pangkat. Temuchin baru berumur sebelas tahun. untuk dia selamanya menjadi seperti alingan di utara dari negeri Kim itu. ia dapat rampas pulang istrinya itu adalah dengan bantuan Wang Khan dan adik angkatnya. Demikian ingat saudara angkatnya itu. tanpa pikir ia langsung menjawab: ―Bangsa Mongolia berjumlah banyak. Jamukha hadiahkan kepada Temuchin kepala panah yang terbuat dari tulang mata kerbau dan Temuchin sebaliknya menghadiahkan kepala panah yang terbuat dari kau pek. Adalah kebiasaan bangsa Mongolia. Wanyen Yung Chi berkata. liok-ongya mungkin belum pernah mendengarnya. Maka tidak heran. Ia membasakan ―liok-ongya‖. berdua mereka tinggal bersama-sama dengan Wang Khan. Kemudian tempo istrinya Temuchin dirampas bangsa Merkit. dan Temuchin membalas dengan biji pie-sek yang terbuat dari tembaga. yaitu Jamukha. tempo istrinya Temuchin dirampas orang. selalu mereka saling menyayangi. Aku mohon sukalah sam-ongya dan liok-ongya juga menganugerahkan dia sesuatu pangkat.‖ Erat sekali pergaulannya Temuchin dengan Jamukha. Ia adalah saudara angkat dari Yesukai. ―Siapakah lagi yang dianugerahkan negara Kim yang besar?‖ ia tanya. Wang Khan dan Jamukha bekerja sama membantu merampasnya pulang. serahkan saja pangkatku kepadanya!‖ ia bilang. ia pun disebut Togrul Khan. siapa yang menang. Inilah untuk ketiga kalinya mereka angkat saudara. orang lain tidak ada yang dapat disamakannya. ―Kalau begitu tidak apa. malam tidur berkerubung sehelai selimut. musuhnya. Itu waktu Temuchin menikah belum lama dan Juji. ―Dia jujur dan berbudi tinggi. Ketika dahulu hari Yesukai mati diracuni musuhnya. ―Siapakah dia?‖ ―Dialah adik angkatku.‖ jawab Wanyen Yung Chi Wanyen Lieh segera menambahkan:‖ Untuk di utara ini. Ditahun kedua. Adalah kemudian karena masing-masing mencari air dan rumput sendiri dan memimpin barisan sendiri-sendiri. kalau semuanya diberi pangkat.‖ berkata Temuchin. tetapi hubungan mereka masih tetap kekal. Malam itu bangsa Mongol jamu tetamu-tetamunya yang dilayani dengan hormat dan telaten. ―Apakah benar?‖ Wanyen Lieh berkata dengan cepat. pangkat turun temurun. Jamukha. mana kami negeri Kim yang besar dapat punyakan demikian banyak pembesar?‖ Wanyen Lieh mengedipkan mata kepada kakaknya. Selagi minum. apakah Ciauwtouwsu suka turut pergi bersama?‖ Temuchin senang dengan ajakan itu. keduanya bermain timpuk-timpukan di sungai Onon. Wang Khan itu adalah pemimpin dari pelbagai suku di tanah datar. Temuchin terima pengangkatannya sambil berlutut. ―Tidak ada lagi. Lalu Wang Khan angkat ia jadi anak pungut. Wanyen Yung Chi telah minum hingga separuh mabuk. ayahnya Temuchin. angkatan perangnya besar dan kuat. dia pandai memimpin angkatan perang. pangeran keenam kepada Wanyen Lieh. tetapi anak-anak gunakan itu untuk main timpuk-timpukan. Kemudian setelah keduanya dewasa.‖ jawab Temuchin. diawaktu angkat saudara mereka saling mengasih barang tanda mata. tempo mereka angkat saudara. Lagi sekali mereka mengangkat suadara. Ketika itu Jamukha memberikan Temuchin biji pie-sek yang terbuat dari tulang binatang. Khan sendiri serta Wang Khan adalah orang-orang gagah perkasa. Sekarang saling mereka minum arak dari satu cawan.

Matahari telah memancarkan cahaya ketika Temuchin telah berada di atas kudanya dan lima ribu serdadunya telah siap dengan rapi. ―Ini!‖ Kwee Ceng mendahulukan menyahut seraya ia tunjuk lehernya. kau juga turut kami!‖ Tuli dan Kwee Ceng girang sekali. Akan tetapi itu waktu. Temuchin lihat kalung emas yang biasa dipakai oleh putra itu. Irawan D Soedradjat Page 84 .‖ Ketika itu ia menoleh. Di hari kedua. ―Dan dia menghadiahkan ini padaku. ―Barusan aku membuat anda bersama saudar Kwee di tepi sungai. akan tetapi dalam hal mendidik anak atau melatih tentara. sama-sama mereka naiki kuda mereka.‖ berkata Boroul. ―Katanya negeri Kim ada punya dua juta serdadu. ia menajdi tenang. Orang mesti lagi menanti setangah jam barulah Wanyen Yung Chi dan saudaranya selesai dandan dan keluar dari kemahnya. Tuli itu putra yang keempat. ia tampak kudanya Tuli. ―Baik. ia tutup mulutnya. Ia tersenyum. untuk simpangkan soal. Tapi baru ia hendak putar kudanya.Pendekar Pemanah Rajawali Yung Chi tepuk pahanya.‖ ia bilang. untuk mengantari Wangyen Yung Chi dan Wanyen Lieh pergi menganugrahkan pangkat kepada Wang Khan. Pada Mukhali ia tanya: ―Bagaimana pandanganmu terhadap tentara Kim itu?‖ ―Seribu serdau kita dapat lawan lima ribu serdadu mereka!‖ sahut Mukhali. berulang kali ia kasih dengar suara di hidung. Semua orang menjadi cemas hatinya.‖ katanya. tempo masih sangat muda mereka juga telah mengangkat saudara. ia berseru: ―Apakah kau pandang enteng pangkat yang diberikan kerajaan Kim yang besar?!‖ Temuchin tahu diri. Temuchin girang sekali dengan jawaban itu. ―Kau sendiri.‖ Membuat ―anda‖ itu berarti mengangkat sudara. tetapi sekarang menyaksikan doyannya tidur mereka.‖ sahut Tuli. ―Pandanganmu sering cocok dengan pandanganku. Mereka ialah Tuli bersama Kwee Ceng. hatinya menjadi tergerak. nanti aku tengok. ―Anda‖ itu kata-kata Mongol. Tadinya Temchin gentar menyaksikan roman gagah tentara Kim itu. ―Ayah!‖ panggil Tuli kapan ia tiba di depan ayahnya itu. Wanyen Lieh pun lantas menyelak dengan ia berbicara sambil tertawa. di sana kelihatan dua bocah berlari-lari mendatangi sambil berpegangan tangan. ―Selanjutnya kamu berdua mesti saling mencintai dan saling menyayangi serta saling membantu!‖ Tuli bersama Kwee Ceng menyahuti menerima pesan itu. Tuli ulapkan tangannya yang mencekal sepotong handuk merah yang tersulam bunga-bungaan indah. yang menjadi gurunya Tuli. ―Mana Tuli?!‖ ia tanya dengan gusar. Temuchin segera ingat halnya sendiri bersama Jamukha. ―Kema kau pergi?!‖ tanya Temuchin. ―Dia biasanya tidak berani bangun sampai siang. ialah handuk buatan Lie Peng untuk putranya. kau menghadiahkan apa padanya?‖ ia tanya denagn sabar. mentereng seragam dan alat senjatanya. maka itu tak senang ia tidak melihat anaknya itu. Sambil mengatakan demikian. pagi Temuchin berangkat dengan ajak keempat putranya serta lima ribu serdadunya. yang khawatir pemimpin itu gusari putranya. tetapi Tuli sendiri tidak kelihatan orangnya. masih kecil. ―Kwee Ceng. ―Sekarang semua naik kuda!‖ Temuchin lalu memerintah. Temuchin pakai aturan keras. kita hanya lima puluh laksa. besar-besar kuda tunggangannya. tentara Kim masih tidur nyenyak di kemahnya.

habis mana dengan perlahan-lahan juga ia naik ke atas kudanya. Dengan membawa sepuluh pengiring. kumis kuningnya jarang. ―Biarlah kedua putra raja Kim yang besar ini melihat sepak terjang kita!‖ Ia pun lantas bersiul nyaring satu kali. lari balik dengan laporannya bahwa di sebelah depan ada menghalang tentaranya bangsa Naiman yang berjumlah tiga puluh ribu jiwa. yang mengutus putranya. mereka hendak tangkap dan tahan kedua putra raja Kim. hatinya goncang. Mukhali larikan kudanya ke depan. ―Lekas suruh tentara kita maju! Ini orang-orang Mongol tidak ada gunanya!‖ ―Biarlah mereka yang bertempur lebih dulu. ―Kelihatannya mereka hendak menyerang.‖ Wanyen Yung Chi menjadi kaget. Jalan lagi satu hari. maka keduanya lantas berpelukan. Temuchin tidak beri kesempatan untuk orang bicara lebih banyak. apabila mereka tidak diberi anugerah. Dilain pihak.‖ berkata Mukhali kepada Temuchin. Karena hal ini. Wanyen Lieh lihat Jamukha bertubuh jangkung kurus. mereka sangat suka mengganggu. tanda dari hidup senang dan dimanjakan. menandakan ketangkasannya.‖ sahut di juru warta. tetapi ia mencoba mengendalikan diri. Mendengar itu barulah Yung Chi sadar dan manggut-manggut. ―Pergilah kau tanya mereka!‖ ia perintahkan Mukhali. Pasukan perang itu menuju ke utara. Sangum bersama Jamukha. ia telah lantas dapat memikirkannya. Sangum adalah berkulit putih. untuk bersiap sedia. dan musuh segera mulai tampak. akan tetapi sepasang matanya sangat tajam dan berpengaruh. ia lantas maju ke depan. Berselang tidak lama. Dua saudara Wanyen tidak menyangka mendengar itu dan dan menyaksikan sikap orang. Mukhali telah kembali dengan laporannya: ―Bangsa Naiman mendengar putra raja kerajaan Kim datang menganugrahkan Khan kami yang terbesar. Segera terlihat debu mengepul di sebelah depan. atas mana tentara Mongolia menyambut dengan seruan perang mereka berulangkali. Kapan Temuchin dengar Jamukha ada bersama Sangum. sesudah jalan enam hari. ia lantas perintahkan tentaranya lekas siap. lagi kira setengah jam barulah tentara Kim itu siap berangkat. apakah hari ini kita mesti lepaskan saja pada mereka?‖ Temuchin melihat sekitarnya. barulah mereka dipapak oleh wakilnya Wang Khan. Justru itu dua serdadunya Temuchin yang bertugas jalan dimuka sekali. denagn ayal-ayalan ia minum araknya dan dahar kue.‖ katanya. ―Saudara. Mereka bilang. Tentara terdepan dari pihak Mongol sebaliknya telah mundur kepada barisan mereka. wajahnya berubah. Hbais itu semua putra Temuchin menemui dan mengasih hormat kepada paman angkatnya itu. ―Jumlahnya mereka agaknya lebih banyak dari jumlah kita…‖ kata Yung Chi tidak lancar. ―Adik. Wanyen Yung Chi terkejut. ―Hendak apakah mereka itu?‖ dia tanya. dia tidak mirip dengan seorang yang dibesarkan di gurun pasir. akan temui saudara angkatnya itu. pasukan ini jadi tertunda keberangkatannya. Irawan D Soedradjat Page 85 .‖ Wanyen Yung Chi teriaki saudaranya. Wanyen Lieh sebaliknya segera mengatur pasukan perangnya. tubuhnya gemuk. disusul sama dua kali cambukan ke udara dari cambuknya. Wanyen Yung Chi sebaliknya tunjuki tingkah polahnya satu putra raja. mereka juga menghendaki anugerah itu. ―Kakak. rombongan ini sudah mendekati tempat kediaman Wang Khan. Maka itu.‖ Wanyen Lieh membisiki kakaknya.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Lieh lihat tentaranya Mongolia demikian rapi. ―Bangsa Naiman itu sering merampas binatang piaraan kita. mereka terperanjat.

untuk kembali ke jalan darimana tadi mereka datang. Jarak di antara kedua pihak masih cukup jauh. Mau tidak mau. mereka lantas menghujani anak panah. mereka lantas menyerang tentara Naiman. Temuchin dari tempat yang tinggi menyaksikan penyerangan pihaknya itu. ia telad tentaranya ialah berkoak-koak dengan seruan peperangan. semuanya jatuh di hadapan mereka itu. Dalam tempo yang cepat sekali. ia memimpin untuk mencoba merampas kedudukan itu. Bersama-sama Kwee Ceng. Itu waktu Boroul berada di samping kiri. dengan membawa goloknya yang besar. Kejadian ini membingungkan pasukan yang berada di sebelah depan. Sebagi kesudahan pertempuran. Jebe dengan tombak panjang di tangan. mereka turun dari kuda mereka dan menyerah. yang membuat musuh kacau. masing-masing dipimpin Temuchin sendiri berdua dengan Jamukha. musuh terbinasa dan luka seribu lebih. merka menggunai anak panah. kematian dan luka Cuma seratus lebih. Tentara Kim menurut titah. Hanya sementara itu. jangan kau ketinggalan. tentara musuh sudah datang dekat beberapa ratus tindak. ―Taruh kata kamu berterika-teriak hingga langit bergerak bumi bergoyang. Temuchin titahkan loloskan seragam tentara Naiman itu. Kepala perang Naiman rupanya melihat kedudukannya tak selayaknya. musuh lantas lari serabutan. hanya sesudah musuh tinggal kira-kira dua ribu jiwa lebih. Hampir semua panah mereka yang gagal. maju di paling muka. apakah dengan begitu dapat tentara musuh dibikin mundur?‖ berkata Yung Chi. Yung berkhawatir pula. ―Lepas panah!‖ ia mengasih titah. Selagi kepala perang Naiman bersangsi. kau turut aku. karena orang datang semakin dekat. Wanyen Lieh menjadi heran.Pendekar Pemanah Rajawali Tentara Mongol masih perdengarkan suara mereka yang nyaring tetapi mereka tidak bergeming. jumlah mereka dua ribu lebih dipecah empat yang sebagian diserahkan kepada dua saudara Wanyen. tertawan dua ribu lebih. mereka tetap berteriak-teriak saja. Sesudah itu. yang sebagian untuk Irawan D Soedradjat Page 86 . Siwaktu itu. Tentara Mongol membuat tembok bentengan yang terdiri dari semacam permadani. pergi kau serbu bagian belakangnya!‖ Jelmi menerima titah itu. sambil mengertak gigi. Sekali ini serempak berhentilah seruan-seruan peperangan tentara Mongol itu. Siasatnya ini memberi hasil. mereka kepraki kuda mereka untuk menerjang. penyerangan panah dilanjuti. suaranya nyaring. ia biarkan mereka dihajar oleh kawan-kawannya. Ia khawatir tentara Naiman nanti keburu mendahulukan menyerbu kepada mareka. Atas ini. ia ingin membuat jasa. keduanya ini lantas lari ke tanah tinggi di samping mereka. yang sebaliknya lalu membagi diri dalam dua sayap. Karena ini adalah penyerangan dari jauh. anak panahnya tentara Kim ini tidak sampai kepada musuh. ia pergi dengan seribu serdadunya. Dalam tempo yang pendek. baru ia memegat. Wanyen Yung Chi dapat lihat wajah tentara Naiman itu sangat bengis. cambuknya Temuchin mengalun pula di tengah udara. Sebagai orang baru. tentara Mongol tetap tidak bergerak. barisan belakang Naiman menjadi kalu. tentara mereka mengikuti untuk turut ambil kedudukan bagus itu. Jelmi tidak merintangi musuh lari terus. benda tebal itu dipasang di depan mereka dengan diri mereka teraling. ia berkata kepada Tuli: ―Pangeran kecil. Ia mendekam di bebokong kudanya. Kau lihat bagaimana kami nanti menghajar musuh!‖ Tuli mengangguk. Musuh menjadi kecil nyalinya. Di pihak Mongolia. Jamukha bersama Sangum menyerang dari kiri dan kanan. walaupun demikian. yang sebagian untuk Wang Khan. lantas ia berikan titahnya: ―Jelmi. dari tempat yang lebih tinggi. guna menduduki tempat yang bagus. Ia ambil jalan memotong.

malam itu Wang Khan jamu tetamunya. ―Dia mana dapat dibandingkan dengan kedua anak angkatku? Irawan D Soedradjat Page 87 . pendekar tua. Ia menginsyafi ancaman bahaya dari pihak ini. ―Jikalau aku telah menutup mata nanti. Wang Khan undung kedua utusan Kim itu datang ke tendanya. Syukur ketiga anak-anakku telah dapat membinasakan mereka!‖ Lantas dengan hormat sekali. Ia menyuguhkan nyanyian dan tari-tarian oleh budak-budak wanitanya.‖ ia berpikir. Temuchin dan Jamukha telah kalahkan musuhnya yang lebih besar jumlahnya. ―Bagus!‖ berseru Wanyen Yung Chi. saban-saban ia cegluk arakanya dari cawannya yang besar. ―Hamba dengar bangsa Naiman hendak berbuat kurang ajar. terus ia tuntun Temuchin dan Jamukha di tangan kiri dan kanannya. ia memberi keluarganya lima ekor kuda serta empat tawanan Naiman sebagai budak. ―Kalau Temuchin dan Jamukha bisa persatukan pelbagai suku bangsa Mongol itu.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha san yang sisanya untuk dirinya sendiri. Tidak heran kalau Khan ini menjagoi di Utara. maka kami bangsa Kim di Utara dapat merasai aman sentosa. Wanyen Lieh sebaliknya gentar hatinya.‖ ―Dua anak angkatku ini adalah orang-orang gagah perkasa bangsa Mongol. ―Kenapa loo-enghiong tidak menyebut-nyebut dia?‖ Sengaja pangeran Kim ini memanggil loo-enghiong. Wang Khan tiba untuk lantas lompatb turun dari kudanya. yang Cuma rangkap kedua tangannya dari atas kuda. Baru sekarang Wanyen Yung Chi sadar atas caranya bangsa Mongol itu berperang. Itulah tanda dari datangnya lagi satu pasukan perang. Itu waktu terlihat pula debu mengepul jauh di sebelah depan.. Tengah berpesta. Wanyen Lieh berpikir apabila ia dapatkan di dalam segala hal Wang Khan ada lebih unggul dari Temuchin. banyak suka lainnya yang takluk padanya. Wanyen Lieh awas matanya. untuk mengendalikan diri. ―Oleh karena khawatir kedua pangeran kaget maka hamba datang bersama tentaraku ini. dengan gembira ia rundingkan itu. Dia mengenakan jubah hitam dari kulit binatang tiauw dengan pinggang dilibat ikat pinggang emas.‖ berkata Wang Khan sambil tertawa seraya menunjuk ke arah Temuchin dan Jamukha. Dengan jumlah yang lebih kecil. ―Putramu terlebih gagah lagi. Wanyen Lieh memasang mata kepada Wang Khan.‖ berkata Wang Khan. Ramai sekali pesta itu. ia menjalankan kehormatan. ia lihat ketidakpuasaan orang. Segera Wanyen Lieh turun dari kudanya. Sangum tidak puas mendengar perkataan ayahnya itu. sudah sewajarnya dialah yang nanti menggantikan aku memimpin suku kita. kumis dan jenggotnya telah putih bagaikan perak.‖ ia puji putra Khan itu. yang tubuhnya gemuk. Tidak demikian dengan Wanyen Yung Chi. untuk berjalan kaki menemui dua saudara Wanyen.‖ berkata Wang Khan sambil tertawa. Setelah selesai upacara penganugerahan. Wanyen Lieh berkata: ―Aku ingin menyaksikan orang-orang gagah perkasa bangsa Mongolia. dan tentaranya kuat. itu artinya negaraku tak aman lagi…‖ Oleh karena ini. guna membalas menghormat. Untuk serdadu-serdadunya yang terbinasa. Nampaknya ia keren sekali. di depan kuda dua saudara ini. ―Hajar pula padanya!‖ Akan tetapi juru warta Mongol datang dengan wartanya: ―Wang Khan sendiri datang dengan pasukan perangnya!‖ Mendengar itu Temuchin bersama Jamukha dan Sangum lantas pergi menyambut. ia menjadi berpikir keras. ―Dengan orang Mongol saling bunuh. kepada Khan itu.

Ia lantas berhati-hati sendirinya. ia lantas tenggak isinya.‖ Mendengar itu. Dengan mata bengis Jebe awasi Sangum. Kata-kata orang ada mengandung pancingan atau unsur merenggangkan. ialah sahabatnya Temuchin. Orang gagah yang mana yang tidak bakal menjual jiwanya untuk Temuchin?‖ ―Apakah sebawahan loo-engjiong tak dapat melawan dia?‖ Wanyen Lieh tanya. Wang Khan urut kumisnya. Merekalah orang-orang peperangan yang berjasa membangun negara Mongolia yang Temuchin sendiri menyebutnya empat panglima gagah. ―Istriku dirampas orang. ia bertindak terus seraya angkat kepalanya. Yang kedua ada bertubuh kekar dan sepasang matanya tajam seperti burung elang. ia haturkan secawan arak pada masing-masingnya. Dan yang keempat ada seorang yang dengan seluruh lengannya bercacat bekas bacokan golok. ―Mana mereka itu? Aku ingin melihatnya. untuk itu adalah ayah angkatku dan saudara angkatku yang membantu aku merampas pulang. kasih aku yang minum!‖ Ia ambil cawan itu dari tangannya punggawanya itu. biar aku kasih dia ampun. mencegah orang minum arak adalah satu penghinaan besar. ia berkata pula: ―Tadi di medan perang.‖ ―Bagaimana dengan empat panglimamu yang kesohor gagah itu?‖ Wanyen Lieh tanya. tiba-tiba Sangum berseru: ―Kau cuma kepala komponi yang rendah pangkatnya.‖ ―Mari cawan itu! Aku berdahaga. Temuchin meluluskan. Wanyen Lieh mengawasi. yaitu Borchu. ―Syukur Temuchin kirim empat panglimanya untuk membantu aku. Habis orang minum. Menurut kebiasaan bangsa Mongol. ia adalah Boroul. cara bagaimana kau beri minum dari cawan emasku?!‖ Jebe kaget berbareng murka. yang kulitnya putih sekali. segera setelah itu empat perwira masuk ke dalam tenda. Maka itu Temuchin berpikir: ―Dengan memandang ayah angkat. terus ia bertindak keluar. ia beri titah untuk memanggil Jebe. ―Kau kembali!‖ Sangum memanggil dengan membentak. apapula dilakukan di muka orang banyak. air mukanya Sangum berubah.‖ katanya kemudian. Ketika ia hendak hirup araknya itu. Yang pertama adalah satu orang yang romannya lemah lembut. Irawan D Soedradjat Page 88 . ―Pernah bangsa Naiman rampas beberapa laksa binatang ternakku. Dialah Mukhali yang pandai mengatur tentara. Dengan tangan kosong Temuchin bakal membangun negara. Siapakah dia?‖ ―Dia adalah Jebe. den Temuchin gagah tak tertandingkan. Jebe tidak ambil peduli.‖ Wanyen Lieh minta. pemimpin komponiku yang baru.‖ Temuchin menjawab. Dialah Chi‘laun yang dulu hari pernah tolongi Temuchin dari ancaman malapetaka. ia letaki cangkir araknya dengan separuh dibanting.‖ ―Suruhlah mereka masuk kemari!‖ Wang Khan berkata pula pada Temuchin. dia menerjang musuh bukan main gagahnya.‖ Wanyen Lieh puji mereka itu satu persatu. ia lantas mengawasi Temuchin. Ia hanya menghirup araknya. dengan begitu semua binatang itu dapat dirampas pulang. yang mukanya merah bagai darah. ia menghanturkan terima kasih.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha pandai dan cerdik. ia tidak menjawab. Jebe sudah lantas muncul. ―Coba suruh dia masuk kemari untuk minum satu cangkir. Yang ketiga ada berpotongan kecil dan kate tetapi gesit gerakkannya. Batal ia minum. Temuchin lirik putra raja Kim ini. Anakku? Ah…. Diberikan arak. Denga perlahan-lahan Temuchin tepuk-tepuk tangannya. ada satu panglima dengan seragam hitam. ―Apakah kegunaanku?‖ Temuchin lekas berkata.

Dia lantas dibawakan satu poci besar. dengan sendirinya. dengan begitu kamu semua telah bercape lelah…!‖ Tentara itu berteriak: ―Adalah Wang Khan.‖ Sangum mengajak. terus ia angkat kopiahnya itu tinggi-tinggi. Wanyen Yung Chi hendak melihat keramaian. Semua punggawa dan serdadu Mongol itu tahu Jebe telah menerima penghinaan. sambil tekuk sebelah kakinya. kapan mereka tampak Khan mereka muncul. maka dengan kegirangan mereka berseru: ―Jebe gagah berani. mari kita melihat yang lainnya!‖ Ia pun lantas berbangkit dan bertindak keluar. bangsa Mongol telah menumpuk beberapa ratus api unggun. Temuchin Kha Khan dan Jamukha Khan yang memimpin kita menghajar mereka!‖ ―Hari ini aku telah lihat seseorang yang luar biasa beraninya yang sudah menyerbu ke belakang barisan musuh. habis itu. ―Ambil arak!‖ ia menitah. terus ia berkata dengan nyaring: ―Hari ini kita hajar bangsa Naiman hingga mereka dapatkan kekalahan besar. ―Sekarang hendak aku pakai ini sebagai gantinya cawan arak!‖ Ia buka tutp poci arak. ―Apa siphu-thio!‖ berkata Temuchin. ―Sungguh satu manusia yang luar biasa!‖ pikir Wanyen Lieh. ―Inilah kopiahku.‖ Temuchin berkata pula: ―Beruntun tiga kali dia menyerbu bolak-balik! Siapakah dia?!‖ ―Itulah Siphu-thio Jebe!‖ sahut banyak serdadu. tetapi ia kata kepada Temuchin: ―Saudara Temuchin ada punya empat pendekar tetapi asal aku keluarkan satu makhluk. ―Mari kita pergi keluar untuk melihatnya. Untuk sejenak. Pekhu-thio itu menjadi sangat bersyukur. Jelmi menurut dan menyerahkan kopiah itu dengan kedua tangannya. ia ulurkan tangannya untuk menyambuti. Ia tahu juga bagaimana mesti perlakukan orang polos demikian. terus ia mencegluk beberapa kali. tentu empat-empatnya mereka dapat dimakan habis dengan sekali telan!‖ ia pun tertawa dingin. ―Biarpun cawan emas yang paling berharga di kolong langit ini. tetapi segera mereka mengerti. Temuchin lihat wajahnya Jebe merah. Temuchin telah naiki pangkatnya Jebe menjadi pemimpin eskadron. ia berkata: ―Minum arak saja pun kurang gembira. Ia angkat poci itu.Pendekar Pemanah Rajawali Sangum kecele. dia pantas menjadi pekhu-thio!‖ ―Ambil kopiah perangku!‖ kata Temuchin kepada Jelmi. akan tetapi menyaksikan sikapnya pemimpin mereka itu. Temuchin tersenyum. mereka tengah berminum. tidaklah itu dapat melawan kopiah besi dari Kha Khan ini!‖ katanya perlahan. ―Kita lagi gembira minum arak di sini. kau hendak mengacau apa lagi!‖ Wang Khan menegur putranya. Ia sambuti pulang kopiahnya itu. Ia lantas menghirup satu ceglukan. ―Makhluk apakah itu?‖ Wanyen Yung Chi bertanya. yang aku pakai untuk membasmi musuh!‖ dia berkata dengan suara nyaring. Temuchin menyambuti. kopiah itu ia sadurkan kepada Jebe. orang melengak. Terpaksa orang banyak turut keluar pula. untuk dipakai di kepalanya. isinya ia tuang ke dalam kopiah besi itu. sejenak itu juga. ―Kalau sekarang dia suruh Jebe mati. Ia mengerti bawahannya itu penasaran dan gusar. Jebe tentulah rela!‖ Irawan D Soedradjat Page 89 . semuanya lantas bangkit berdiri. mereka lantas bertempik sorak. ―Dia-lah pekhu-thio!‖ Dengan begitu. Di luar tenda. Di terangnya api unggun.

sekarang kau hinakan kami juga. Sampai di situ. Mereka dalam hati kecilnya berkata: ―Sudah kau hinakan Jebe. ―Kau ada punya makhluk apa yang demikian hebat. Tapi binatang ini sangat kuat makannya. ia lants pulang ke tendanya untuk tidur. Pengiring itu menyahuti. hingga ia dapat menelan keempat pahlawan?‖ dia tanya Sangum. Irawan D Soedradjat Page 90 . Ia angkat jari tangannya itu. Wanyen Yung Chi justru pikirkan saja kata-katanya Sangum tentang empat pahlawannya Temuchin. ―Empat pahlawanmu adalah orang-orang gagah.‖ katanya. di atas itu ia duduk bercokol. Ia suruh pengiringnya ambil kursi kulit harimau. ia hanya bertindak lagi. orang tak dapat memeliharanya. dua pasang matanya bersinar mencorot. Ia lantas loloskan sebuah cincinnya yang bermata berlian. baru hatinya lega. barulah aku sangat takluk kepadamu!‖ Mendengar ini. Tidak selang lama lantas orang mendengar suara mengaumnya seekor binatang liar. ―Apakah emapt pahlawan saudara angkatnya Temuchin?‖ ia mengulangi. Sebab mereka itu adalah si pemelihara binatang buas itu. untuk bicara perlahan sekali dengan satu pengiringnya. tak dapat kau hilang muka! Nanti aku lawan macan tutul itu!‖ Wanyen Yung Chi menjadi sangat girang. ―Buat apakah mengepul menjadi orang gagah kalau dua ekor macanku saja takut dilawan?‖ Diantara empat pahlawan itu. Lenyap kegembiraannya Yung Chi karena gagal menyaksikan pertandingan antara manusia lawan binatang liar itu. ―Khan yang maha besar. Ia lantas bertindak maju ke depan. Dia berkata: ―Kita menggentarkan padang pasir. Jamukha mengerutkan alis. cincin itu menjadi kepunyaanmu!‖ katanya. Maka ia berkata: ―Aku menyayangi keempat pahlawanku sebagai jiwaku sendiri.‖ kata Sangum kepada Temuchin. ia lempari itu ke tanah. Temuchin juga bersikap tenang dan agung. Sangum tersenyum. ―Mana dia empat pahlawan yang menggetarkan padang pasir itu?‖ Mukhali berempat lantas menghampirinya dan memberi hormat sambil menjura. Chi‘laun yang paling keras tabiatnya. Sangum berpaling. Adalah umum orang Mongol memelihara macam tutul. ―Tidak apa orang tertawakan kami. yang bulunya belang bertotolan. ―Kakak. membunuh musuh. disusul mana munculnya binatang itu sendiri. Sangum masuki cincin itu ke jari tangannya. kita telah membunuh cukup banyak. yang dipakai untuk berburu. ia pertontonkan ke empat penjuru. terus ia mundurkan diri. ia tertawa besar dan lama. ia tapinya diam saja. ―Asal kau menang. tetapi macan tutul? bisakah binatang itu memimpin tentara? Bisakah binatang itu mengatur tentara bersembunyi dan mengurung musuh?‖ Temuchin pun segera berkata: ― Saudara Sangum. empat pahlawannya itu mengundurkan diri.Pendekar Pemanah Rajawali Beda dari saudaranya. Adakah kami babi hutan atau serigala maka kami hendak diadu sama macan tutulmu?‖ Juga Temuchin menjadi sangat tidak senang. kau menang!‖ Dan ia bertindak menjemputi cincin tadi. jikalau mereka dapat dengan tangan kosong membinasakan dua ekor macanku ini. setelah mana kedua macam tutul itu sudah datang sekat api unggun. Tentaranya Wang Khan lantas saja bersorak-sorai. tetapi kau. mereka itu masing-masing mencekal sebatang galah. cara bagaimana aku bisa biarkan mereka berkelahi sama macan tutul?‖ Sangum tertawa terbahak. Binatang itu dikalungi dengan kalung kulit dan setiap ekornya dituntun dua orang yang tubuhnya besar. untuk diletaki di tangannya saudara angkat itu. Chi‘laun tidak pandang cincin itu. keempat pahlawan menjadi sangat dongkol. Wanyen Yung Chi kaget hingga ia raba goloknya. yaitu dua ekor macam tutul yang besar. dari itu kalau bukannya pangeran atau bangsawan. Mukhali tarik kawannya itu. tak sudi ia minum arak lebih jauh. jalannya ayal-ayalan tetapi sikapnya sangat bengis. ―Begitu?‖ ia mengejek. Macam tutul baik tenaga maupun kegalakannya melebihi anjing pemburu.

lantas ia roboh dengan sendirinya. Tuli gusar sekali yang ayahnya diperhina orang. satu yang berumur kira-kira sepuluh tahun. Irawan D Soedradjat Page 91 . ―Ayahku tidak takuti siapa juga!‖ ―Ibumu telah orang rampas. dia takuti kakekku. ―Kau berani membantah?!‖ dia membentak. hingga Tusaga menjadi kepala besar. telah mendahului menyambar binatang itu. Tiba-tiba ada seekor kelinci putih lari lewat di samping mereka. empat pahlawan dari ayahmu lantas tak berni bergiming!‖ Tuli bertambah gusar. selang lama. matanya pun melotot. sebab Temuchin anggap hal itu memalukan dan tidak pernah memberitahukan putranya. ―Guruku tak takut harimau. Boroul adalah gurunya. dia juga takuti ayahku!‖ Bocah itu adalah Tusaga. kelinci itu akulah yang memanahnya! Kenapa kau bawa lari?!― Bocah itu menoleh. yang merupakan rimba. Tuli bersama Kwee Ceng lantas mengejar dengan berteriak-teriak. kelinci itu masih dapat lari terus dengan bawa anak panah yang nancap diperutnya itu. habis bagaimana?!‖ ―Ayahku Temuchin!‖ kata Tuli dengan sama jumbawanya. putra tunggal dari Sangum atau cucunya Wang Khan. muncul serombongan anak-anak. Sebaliknya Tuli tidak tahu suatu apa. barulah ia dapatkan putranya ini. ―Fui!‖ bocah itu menghina. kau mengadu juga bisa apa?‖ katanya. ―Sudah bagus aku tidak minta ganti rugi!‖ ―Tidak tahu malu!‖ bentak Tuli. Karena itu. ―Ayahmu adalah hantu cilik yang nyalinya kecil. lalu ia tidak punya anak lain lagi. ―Kelinci ini adalah piaraanku!‖ dia kata. Justru itu dari samping mereka. anak-anak mereka tidak kenal satu sama lain. apapula putranya itu masih kecil. Tusaga tertawa terbahak. ia menghampiri Tuli dan mendorong pundak orang. Tapi tenaganya Tuli sangat terbatas. kemudian setelah ia mengawasi Tuli berdua. ―Panah ini toh kepunyaanku!‖ jawab Tuli. Tuli gusar sekali. ―Siapa yang bilang?!‖ ia tanya dengan bengis. ―Ayahmu takuti ayahku. Sangum ingat baik-baik peristiwa itu dan menceritakan kepada orang lain hingga Tusaga yang masih kecil mendapat tahu juga. ―Akan aku beritahu ayahku!‖ katanya. ―Terang ini adalah kelinci liar!‖ Bocah itu galak. Ia tidak sangka orang berani pukul padanya. dia cabut anak panahnya dan lalu ia buang ke tanah. ―Hanya guruku tidak hendak melayani!‖ Tiba-tiba Tusaga maju dan tangannya melayang ke kuping orang. tanpa terasa mereka bertindak semakin jauh dari tenda mereka. dia tertawa. Meski begitu. Ia putar tubuhnya untuk berlalu. Tuli keluarkan panah kecilnya dan memanah. Girang Tuli berdua. putranya ini sangat disayangi dan dimanjakan. adalah ayahku dan kakekku yang pergi menolongi merampas pulang!‖ sahut Tusaga. Temuchin telah berpisah lama dengan Wang Khan dan Sangum. Mulainya Sangum dapat satu putri. dia lari bersama bangkai kelinci itu! Tuli lantas berteriak: „Eh. Bocah itu yang telah berhenti berlari berdiri sepasang alisnya. Kelinci itu lari serintasan.Pendekar Pemanah Rajawali Besok paginya Tuli dan Kwee Ceng dengan bergandengan tangan pergi bermain. karenanya. ―Kau tidak takuti aku?‖ Tuli melengak. Di antara empat pahlawan. ―Kau maki siapa?!‖ tegurnya. mereka lompat maju untuk menubruk. ―Siapa yang bilang. apapula segala macan tutul!‖ serunya sengit. Tepat kelinci itu terpanah perutnya. kau yang memanah?‖ tanyanya. dengan sangat sebat. ―Kakekku ialah Wang Khan! Ayahku ialah Sangum! kau tahu tidak?! Taruh kata benar kelinci kaulah kau yang panahm kalau aku hendak ambil. ―Apakah kau sangka aku tidak ketahui hal itu? Maka apa artinya kalau aku naru ambil ini kelinci kecil?‖ Memang dahulu hari Wang Khan telah bantu anak angkatnya itu. ―Tadi malam ayahku keluarkan dua macan tutulnya.

amri kita melanjutkan perjalanan. lalu satu nona berkata: ―Shako.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee ceng panas hati semenjak tadi. lalu ditepi sungai tertampak rombongan pedagang dari gurun pasir.‖ ―Kau lihat sendiri. kepalan dan kaki digunakan semua. dua bocah itu telah babak-belur dan matang biru mukanya. mereka menyusul hingga ke gurun pasir. dari kejauhan ada terdengar kelenengan unta. mereka lantas jadi berkelahi bergumul. itu tujuh Manusia Aneh dari Kanglam. apabila ia telah melihat denagn tegas. Rombongan kalifah itu terdiri antaranya dari Kanglam Cit Koay. Tuli dengan mata bersinar hawa amarah. Mereka ingat masa kecilnya mereka. maka itu. nanti kita tak dapat menanyai orang!‖ Itu waktu Tusaga beramai telah dapat candak Tuli berdua. tidak ampun lagi dia roboh terjengkang. Tuli lompat bangun begitu lekas ia merasai tubuhnya enteng. Anak-anak itu pun lantas maju. Untuk enam tahun lamanya mereka mondar-mandir. menggelengkan kepala. tak malukah kamu?!‖ tegurnya. lalu bersama kawannya ia angkat kaki! ―Kejar!‖ teriak Tusaga gusar. Dia maju dan seruduk perutnya Tusaga! Putranya Sangum juga tidak menyangka-nyangka. Irawan D Soedradjat Page 92 . dia pun turut menyerbu. sekarang ia tidak dapat mengatasi pula dirinya. sebentar saja Kwee Ceng dan Tuli kena dipukul jatuh. lalu ditindihkan. Dalam saat tegang dari bocah-bocah ini. yang pun bengal dan gemar berkelahi. Tusaga menyaksikan kejadian itu. ―Kita jangan bikin pasar keburu bubar. ditindih oleh dua lawan. kau lihat sendiri!‖ kata orang yang dipanggil shako itu – shako – kakak nomor tiga. ―Dua mengepung satu. tertawa apabila ia lihat bocah-bocah itu sedang berkelahi. dia merayap bangun. Han Siauw Eng adalah si nona. ―Hajar lagi padanya!‖ Tusaga memberi komando. Tubuh Kwee Ceng diduduki Tusaga. Tuli tertawa seraya tepuk-tepuk tangan. ―Kejar!‖ Ia ajak kawan-kawannya mengubar. Dia adalah putranya satu jago di Utara. mereka itu kembali kena dikurung. sembari memukul bebokong orang. Kanglam Cit Koay pada tersenyum. ia tarik dua bocah yang mengerubuti Tuli. Mereka dengar Toan Thian Tek kabur ke utara. dia termanjakan. jangan usilan. Kemudian dengan tarik tangannya Kwee ceng. ia tak dapat bergerak. Maka itu ia menjadi besar kepala. siapapun tidak berani lawan padanya. aku kasih ampun!‖ Kwee Ceng berontak. selama itu tidak pernah mereka dengar halnya si orang she Toan itu. ia lari. ia lompat turun dari kudanya. dia ini berkata: ―Kau menyerah. Mereka semua mengerti bahasa Mongol. Salah satu diantaranya yang menunggang kuda putih. ―Menyerah atau tidak?‖Tusaga tanya. Justru ia melengek. ia menyempar hingga orang berguling. ―Bagus! Kamu lagi berkelahi!‖ katanya. dan merekapun berjumlah lebih banyak orang. kau galak sekali!‖ kata penunggang kuda itu. Tapi kapan ia telah datang dekat dan lihat dua anak dikepung beramai. ―Hai anak. Pihaknya kebanyakan terlebih tua usianya. ia kata nyaring: ―Tidak malukah kamu?! Lekas lepaskan mereka!‖ ―Minggir! Jangan banyak omong disini!‖ bentak Tusaga. Kwee Ceng berontak dan loloskan dirinya seraya lompat bangun juga. Tuli pun tak dapat bergeming. ia heran. sia-sia saja. ―Bagus!‖ dia bersorak. ―Lepas tanganmu!‖ Ketika itu telah tiba beberapa yang lainnya. Kawan-kawannya Tusaga tidak tinggal diam dan mengejar. Tusaga murka sekali. ―Hayolah jalan!‖ berkata Kwa Tin Ok.

Jadi mereka mestinya adalah anak-anak bangsawan Mongolia. senjata peninggalan suaminya itu ia serahkan kepada sang putra. Irawan D Soedradjat Page 93 . ―Mestinya bocah ini telah curi senjata ayahnya. Tusaga semua tidak berani maju. Yo Kang itu adalah nama yang Khu Cie Kee berikan untuk anak yang masih ada dalam kandungannya Pauw Sek Yok. ―Dia tentu curi itu untuk dibuat main. Bersinar berkilau belati itu diantara sinar matahari. Ia dapatkan ukiran dua huruf ― Yo kang‖. Kenapa sebuah mustika berada di tangan satu bocah? Ia jadi awasi Kwee Ceng begitu pun semua bocah lainnya.‖ minta Lauw-sie In Hiap Coan Kim Hoat. ia manjadi heran. ―Siapa berani maju!‖ ia berseru. ―Jieko. ―Bagus!‖ ia segera memuji.‖ Bab 9. satu anak kecil.‖ ia berpikir. takukah kau siapa Yo Kang?‖ ―Yo Kang? Tak pernah aku dengar nama itu…‖ jawab Tin Ok. Kemudian ia lihat gagangnya pisau. benda apakah itu…‖ Maka itu ia larikan kudanya ke arah anak-anak itu hingga ia menampak Kwee Ceng dengan belati di tangan. sambil tertawa berkakakan. batu mana terus terbabat kutung.Siapa tak gagah tak pantas ia mempunyai belati ini…. ia menjadi heran. ―Toako. Semua mereka mengenakan kulit binatang yang mahal. Kemudian dia bertanya pula pada kakaknya yang tertua. jangan berkelahi!‖ katanya. bagaikan sinar bianglala. maka itu matanya tak pernah salah. Biauw Ciu Si-seng Cu Cong. Jangan kata baharu Kwee Ceng. pasti dapat senjatanya dirampasnya.. ini namanya orang Han!‖ katanya. Kim Hoat berdiam. melemparkan. walaupun kangzusi. Nyata ia mencekal sebatang pisau belati.‖ si setan tangan ulung berpikir pula. dari itu. lihat sinar berkelebat berkilau itu. Banyak sudah ia mencuri barang-barang berharga kepunyaan pembesar rakus atau hartawan jahat. Tiat Sim dan Siauw Thian telah saling mengasih tanda mata belati yang terukir nama Yo Kang dan Kwee Ceng. lalu tangannya menyambar ke batu di dekatnya. ―Mustika apakah itu? Mari kasih aku lihat. ―Jangan berkelahi. ia jadi terperanjat. ―Tak jelek untungku hari ini. Bukannya tak halal kalau aku ambil barangnya orang bansawan…‖ Dengan timbul keinginannya akan punyai belati itu. Cu Cong ayun tangannya. sikapnya gagah sekali. istrinya Yo Tiat Sim. Ia lompat pula untuk naik ke atas kudanya. tentu saja Kanglam Cit Koay tidak kenal nama Yo Kang itu. ―Hayolah kamu baik-baik bermain…!‖ Ia menyelip di antara bocah-bocah itu.com orang kosen lainnya. Menampak orang bersenjata. hingga semua Kanglam Cit Koay heran dan memuji. dia dekati semua bocah itu sambil ia tertawa haha-hihi. untuk sang putra yang simpan. ―Perlu aku lihat. Cu Cong lompat turun dari kudanya. ―Kenapa belati ini terjatuh ke dalam tangan orang Mongol? Yo Kang? Yo Kang? Tidak pernah aku dengar orang gagah dengan nama ini….Pendekar Pemanah Rajawali Tiba-tiba sebuah benda berkelebat di tangannya Kwee Ceng. aku dapat mustika!‖ kata ia. Si Mayat Perunggu dan Si Mayat Besi Untuk sesaat. sebagai mustika dapat mengusir pengaruh-pengaruh jahat. atau sekejap saja belati di tangan Kwee Ceng telah pindah ke dalam cekalannya. Lie Peng menyayangi putranya. Kim Hoat pun merasa memegang benda yang rasanya dingin. Ia mengharap pisau belati itu. yang telah larikan kudanya. tak dapat kau ubah tabiatmu yang suka mencopet itu!‖ kata Siauw Bie To Thio A Seng. ia susul kawan-kawannya. ―Eh. kecuali Kwee Ceng yang dilehernya pun berkalung gelang emas yang indah. ―Benda itu pasti mustika adanya.

―Gampang untuk pulangi padamu!‖ kata Cu Cong sambil tertawa. Cit Koay belum jalan jauh. ―Mari kasih pulang!‖ katanya. Tin Ok mempunyai kupingnya paling lihay pendengarannya dibandingkan dengan saudara-saudaranya. sedang Han Siauw Eng keluarkan sapu tangannya.‖ sahutnya. Tapi kau mesti omong dulu biar terang. sedang kakaknya itupun kuat. mereka pegang satu kepercayaan sekalipun terhadap satu bocah. ia dengar panggilan ―Kwee Ceng‖ dari Tuli. kalau sebentar ia pulang. mereka tak hendak melepaskannya dengan begitu saja. Kwee menggeleng-gelengkan kepalanya pula. Bukan kepalang girangnya Tin Ok.‖ Lantas Cit Koay berangkat. ia mendahului berlari kepada kawanan bocah itu yang telah kembali bergumul berkelahi. Bocah itu melengak.Pendekar Pemanah Rajawali Coan Kim Hoat sabar dan teliti. Dengan berani ia minta belatinya kembali. dan kemudian ia langsung tarik beberapa bocah dan balingkan mereka ke pinggiran. 94 ―Ibu ialah ibu…. apakah kau bernama Kwee Ceng?‖ ia tanya dengan sabar. ―Siapakah nama ibumu?‖ tanya pula. dengan siapa ia paling erat hubungannya. Kwee ceng dengan muka berlumuran darah. jikalau kau berani. mereka jadi bersemangat. Entah Yo Kang ini ada hubungannya sama Yo Tiat Sim atau tidak…‖ Enam tahun sudah tujuh saudara ini merantau di gurun apsir tanpa ada hasilnya. ia berpikir terus. Ia sudah lantas memikir. Lantas ia ingat akan sesuatu. Ia berkata kemudian: ―Orang yang khu Totiang cari adalah istrinya Yo Tiat Sim. ―Pergilah kau pulang. untuk susuti orang punya darah di hidung. Tusaga lihat orang kuat. Maukah kau?‖ ia tanya lagi. hendak ia meminta bantuan Ogatai. Kwee Ceng menjublak mengawasi orang pergi.‖ Kwee Ceng menjawab. ―Mari antar aku kepada ibumu. ―Eh. ―Marilah kita tanya bocah itu!‖ Siauw Eng mengusulkan.‖ katanya dengan halus dan ramah. Tapi ia tuding Tuli dan menantang: ―Dua ekor anjing cilik. Kwee Ceng menberikan penyahutan yang membenarkan. Han Po Kie mempunyai kuda yang paling gesit. mari pulang!‖ Tuli lantas mengajak. maka ia turun dari kudanya. ―Kwee Ceng. besok kita bertempur pula disini!‖ Tuli terima tantangan itu. seraya tangannya mencekal belati orang. ―Lain kali jangan kau berkelahi pula. Ia tak punya ayah. cepat. . tak dapat ia menjawab. akan susul rombongan kalifah yang mereka ikuti. mengulurkan tangannya pada Cu Cong. ia tak berani berkelahi terus. darimana kau peroleh belati ini?‖ Dengan tangan bajunya Kwee ceng susuti darah yang masih mengalir dari hidungnya.. maka itu Cu Cong lantas serahkan belati itu kembali kepada Kwee Ceng. kakaknya yang nomor tiga. Cit Koay lihat orang rada tolol. Ia berteriak-teriak menyuruh mereka berhenti berkelahi. ―Apakah she ayahmu?‖ Cu Cong tanya pula. ia putar kudanya akan kembali kepada si bocah. Irawan D Soedradjat Page Tin Ok menggaruk-garuk kepalanya. Ia penasaran. Kanglam Cit Koay paling menjunjung kehormatan. ―Ibuku yang berikan padaku. anak. mereka menjadi putus asa. ―Apakah kau she Yo?‖ Coan Kim Hoat kemudian menanya. mendadak ia rasai tubuhnya menggetar. Kemudian ia menggeleng kepalanya. tanpa bersangsi pula. tetapi ia tidak dipedulikan. sekarang mereka dapati ada titik terang. besok kita bertempur pula disini!‖ ―Baik. Ia percaya Ogagati akan suka membantu padanya.

tunggu dulu.. maka itu ia telah berikan penjelasan kepada anaknya. ―Shatee. mari duduk. mereka merasa lucu dan heran. sedang Kwa Tin Ok memuji kepada Thian. ―Cit moay. ―Siapakah namanya itu orang yang membunuh ayahmu?!‖ Tin Ok turt tanya. hendak aku cari musuh itu untuk membalaskan sakit hati ayahku!‖ ―Apakah namanya ayahmu itu?‖ Siauw Eng tanya pula.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ibuku tidak ada disini. Terus ia buka kopiahnya itu. mereka mendelong.!‖ Melihat sikap orang yang luar biasa. ia lantas jemput tiga butir batu kecil. mereka berdiam mengawasi. Kedua bocah itu heran. di dalam situ ada tiga butir batu itu. sementara si cebol Han Po Kie jumpalitan si atas kudanya.‖ Po Kie memanggil. ia batal membekuk bocah itu. Ia tarik tangannya Tuli dan ia putari tubuhnya. suaranya dingin. Irawan D Soedradjat Page 95 . Kwee Ceng jawab: ―Dia bernama Toan Thian Tek!‖ Memang Lie Peng telah memberitahukan kepada anaknya itu she dan namanya Thian Tek. Tuli dan Kwee Ceng berhenti berlari. ―Kau tak dapat pergi! Biarkan sahabatmu pulang lebih dulu. sikapnya manis. ―Eh. Ia pun telah memberitahukannya berulangkali. hingga Kwee Ceng ingat semua itu. yang sudah rangkul Lam Hie Jin. yang tepuk kopiahnya. ―Nanti kalau aku sudah besar. ―Menghilanglah!‖ ia berseru. Ia bernafsu.‖ sahut bocah itu. batu itu telah lenyap. dua bocah itu menjadi takut. ―Aku akan main sulap untuk kamu!‖ katanya sembari tertawa. supaya apabila ada terjadi sesautu atas dirinya. Tin Ok dengar suara yang tak simpatik. ―Orang telah celakai ayahku hingga terbinasa. untuk ajaki saudarany itu besok membantui ia melawan Tusaga. Ia hendak cari kakaknya yang ketiga. Cit Koay girang bukan kepalang. Po Kie heran. ―Aku mau pulang. mari kita bicara perlahan-lahan…‖ nona Han berkata dengan suaranya ynag tetap ramah.‖ Kwee ceng berkata kepada Han Siauw Eng. hingga suaranya sedikit menggetar. Po Kie berlompat. Lucunya adalah Thio A Seng. untuk halangi tangan adiknya. Cu Cong lari untuk susul kedua bocah itu. Cu Cong genggam ketiga batu itu di telapak tangan kanannya. Kapan ia membuka kepalan tangannya. Ia pun bergerak.‖ Siauw Eng lompat turun dari kudanya dan ia menghampiri bocah itu. Kemudian dia berkata kepada adiknya paling kecil. Tuli dan Kwee Ceng mengawasi. untuk sambar pundaknya Kwee Ceng. eh. malah roman mukanya dan potongan tubuhnya. Nyonya Kwee tahu. Sambil kertak gigi. mereka lantas lari. ―Mari pulang!‖ mengajak Tuli.‖ bocah itu menjawab. kaulah ynag tanya dia. si nona Han sampai berseru. ―Nelusup masuk!‖ seru Cu Cong. putranya itu sudah tahu segala sesuatunya. jiwanya terancam bayaha sembarang waktu. ―Adik kecil. ―Mana ayahmu?‖ dia tanya. jangan semberono!‖ Cu Cong cegah adiknya yang nomor tiga itu. untuk berjalan pergi. Kwee Ceng menggoyang kepala. suaranya tetap ramah.

bocah bernyali kecil!‖ kata Po Kie perlahan. ibu tnetu tidak senang. burung itu terpanah batang lehernya dan bersama anak panahnya. dia agaknya tidak tertarik. Tuli girang sekali. ia ikat matanya orang she Kwa itu. suaranya tetap dingin: ―Kalau kau bertemu dengan sama Toan Thian Tek. habis bagaimana?!‖ ia tanya. ia kata: ―Kau tutup matanya. datangnya dari utara. ―Tadi mereka bertujuh atau berdelapan mengerubuti kamu berdua. ―Kalau aku belajar kepandaian untuk memukul orang. membuat burung-burung itu menjadi kaget. ―Mau main petak umpat?‖ tanyanya tertawa. Aku akan ajari kau sedikit kepandaian. sambil menunjuk kepada Kwa Tin Ok. ―Coba kamu ada punya kepandaian.‖ berkata Cu Cong. bagaimana kau dapat membalas dendam?‖ Kwee Ceng tercengang.‖ sahut Cu Cong. aku tanggung besok kamu bakal dapat kalahkan mereka. Irawan D Soedradjat Page 96 .‖ Tuli menurut. lalu tertampak burungnya terbang mendatangi dalam dua rombongan. Kedua matanya Kwee Ceng bersinar. ―Tanpa mata. dia masih dapat dibunuh musuhnya. Itu waktu terdengar suara belibis mendatangi. ―Baik! Nah. ―Mereka itu yang serang kami duluan. ―Minta bantuan kakakmu?‖ kata Cu Cong. Justru karena burung itu berbunyi dan hendak merubah tujuan.‖ jawab Kwee Ceng lagi. Tanpa merasa. Itu waktu kedua rombongan belibis sudah terbang mendekat. ―Ya!‖ Cu Cong beri kepastian.‖ kata ia. yang dapat pikiran baru. tidak boleh aku berkelahi.‖ ―Kami berdua dapat kalahkan mereka berdelapan?‖ tegaskan Tuli. itulah tidak ada faedahnya. Tin Ok campur bicara.‖ ―Hm. Cu Cong menimpuk dengan tiga butir batunya. Mereka sangat kagum. musuhmu itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Bagus!‖ seru Tuli dan Kwee Ceng. yang berdiri diam saja. ―Bagus! Bagus!‖ Tuli dan Kwee Ceng berseru dengan gembira. mereka menjadi tertarik.‖ Kwee Ceng menjawab. kenapa tadi kamu berkelahi?‖ Cu Cong tanya lagi. kamu tidak usah takut lagi kepada mereka. kau ajarkanlah aku!‖ Cu Cong awasi Kwee Ceng. Kemudian air matanya mengalir keluar. yang jadi pemimpinnya berbunyi. Ia lantas rogoh keluar sepotong sapu tangan. ―Aku tidak percaya. ―Ayahmu pandai silat. hendak diserahkan pada Kwa Tin Ok. ―Bukan.‖ kata Tuli. ―Ibuku bilang. ia dapat panah burung belibis itu. jatuh ke tanah. ―Akan aku bunuh dia. Mereka pun lari untuk pungut burung itu. ―Habis.‖ Ia terus serahkan gendewa dan anak panah kepada kakaknya.‖ ―Besok kita bakal berkelahi pula. ―Akan aku suruh toako main sulap. panahnya Tin Ok sudah meleset. ―Hm.‖ kata Tuli. ―Apakah kau tidak ingin belajar?‖ ia tanya bocah itu. jitu sekali. untuk balaskan dendaman ayahku!‖ sahutnya. aku akan minta bantuan kakakku.‖ Ton Ok kata pula. ―Kau tidak belajar ilmu kepandaian. yang mana ia kasihkan kepada Tuli.

apa katamu?‖ Tin Ok tegur adiknya yang keempat itu. ―Sudah. Cuma kamu sendiri yang dapat datang. untuk mengeluarkan sepatah kata. Ia girang luar biasa. ―Susah sekali untuk sieko membuka mulut emasnya. ―Di waktu kecil. Tampa ampun Tuli berguling. dia tak berbakatbelajar silat. ―Baik. ―Paling benar kita sambut ibu dan anak ini pulang ke Kanglam.‖ sahut Lam Hie Jin. Selama mereka itu berbicara. ―Ya. Siauw Eng sampai menghela napas dan air matanya berlinang. Tapi di sini ia dipapaki tangan kiri si penyerang. ―Anak itu baik. Ia ulurkan tangan kepada kedua bocah itu. segera ia mengerti.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong menunjuk ke gunung di sebelah kiri.‖Kenapa kau serang aku?‖ tegurnya. ―Apa yang baik?‖ menegaskan Cu Cong. ajari aku pula!‖ seru Tuli. kita menyerah kalah saja…‖ ―Anak ini miskin bakatnya. orang dewasa juga nanti tidak gampang-gampang kalahkan kau. ―Ia bakal gagal…‖ Dalam dialek orang Kanglam. Bukan kepalang girangnya putra Temuchin itu. Dalam hal janji pibu. Irawan D Soedradjat Page 97 .‖ jawab adik keempatnya itu. ia memikirkan dahulu.‖ kata Cu Cong sambil tertawa. Ia manggut-manggut. tapi belum sempat ia terbanting ke tanah.‖ kata Po Kie. ―Kau ajarakan aku saja!‖ Tuli bilang. Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin si Tukang Kayu dari Lam San. pergilah kamu!‖ kata Siauw Eng akhirnya. Cit Koay hilang kegembiraannya melihat Tuli demikian cerdas tapi bocah she Kwee ini begitu tolol. kau tidak boleh beritahukan kepada orang lain.‖ Cu Cong tertawa. ―Kalau kau hendak belajar kepandaian guna menuntut balas untuk ayahmu. tapi Cuma hidung nempel. ―Sekarang kau pelajari dulu tiga jurus ini. ―Sebentar tengah malam kau pergi ke sana untuk cari kami. atas mana Tuli tarik tangan Kwee Ceng untuk diajak pergi. ia menggeleng kepala. sietee. akan tanya. aku lihat dia tidak punya kekerasan hati. Cukup sudah!‖ Ia lantas berpaling kepada Kwee Ceng.‖ katanya. Gunung Selatan yang berdiam saja. ―Mengertikah kau?‖ Nyata Tuli sangat cerdas. tak hendak ia mengatakannya lebih sepatah kata!‖ Hie Jin tertawa. ia snediri sangat kegirangan. ―Ini dia yang dibilang ilmu kepandaian. maka itu asal ia membuka mulut. ―Bagus! bagus!‖ ia berseru. kepalan kiri itu segera ditarik pulang. Cu Cong menyambar dengan kepalannya. tak sabaran.‖ bilang Cu Cong. ―Eh. kata-katanya tentu tepat. Tiba-tiba Cu Cong tarik tangannya bocah itu. Lam San Ciauw-cu memang pendiam. untuk di kasih tetap berdiri . lalu ia seruduk pinggang orang. ―Beginilah biasanya sieko!‖ kata Siauw Eng. ―Paman. kakinya mengaggaet. Coan Kim Hoat sudah sambar tubuhnya.‖ kata Kim Hoat kemudian. Ia merayap bangun dengan murka.‖ ia bilang. kita serahkan mereka kepada Khu Totiang. kita jangan terlalu capekan hati sekarang. ―Kau ajari aku lagi!‖ Cu Cong mendak. Cit Koay berdamai. tepat kena hidungnya. ―Kalau kau sudah bisa. aku tolol sekali. untuk mendongko. Tuli berkelit ke kiri. ―Nach. ―Apakah kau pun sudah mengerti?‖ Kwee Ceng lagi menjublak.‖ ia minta. Tuli rubuh seketika. Kau berani tidak? Apakah kau takut setan?‖ Kwee Ceng masih berdiri menjublak. ―Coba ajarakan aku pula.

Ia ulur tangannya. ―Eh…apakah ini? Jieko. ―Tetapi kenapa tengkorak-tengkorak ini diatur begini rapi?‖ Kim Hoat tanya. Coan Kim Hoat lompat menghampiri benda itu. ―Kanglam Cit Koay sudah malang melintang seumur hidupnya.!‖ dan tangannya pun menunjuk ke depan di mana ada gombolan pohon. itulah siluman. ―Entah bocah nakal siapa sudah bermain di sini. Jadi itu bukanlah perkerjaannya satu bocah cilik. yang biasanya sangat tabah. teraur sebagai segi tiga. Hanya segera I berkata: ―Lekas jalan seratus tindak. Ketika itu sang rembulan yang terang sudah sampai di tengah-tengah langit. sinarnya sampai kepada rumput tabal di mana ada tiga tumpuk benda putih yang nampaknya aneh. Ia jadi heran dan bersangsi. sampai bintang-bintang mulai menggeser. ―Hantu tukang geregas manusia…‖ ―Benar. ―Tingkat ynag bawah lima.‖ Po Kie membenarkan adiknya itu. dan saban tumpukannya sembilan tengkorak.‖ Coan Kim Hoat kasih keterangan pada kakaknya yang tak dapat melihat itu. Kwa Tin Ok dengar saudara-saudaranya itu berbicara. yang lima saudara lainnya lantas menghampiri saudara she Coan itu.‖ kata Cu Cong kemudian. yang tiga pergi ke timur utara.Pendekar Pemanah Rajawali Karena itu juga. ―Baik aku cari tahu dulu tempat tinggalnya. ke arah timur utara dan barat utara! Lihat ada apakah di sana!‖ Menampak sikap luar biasa dari saudara tua itu. ―Bagaimana itu diatur rapinya?‖ tanya ia. mereka bagaikan mendapat sinar terang.‖ ―Kebanyakan ia tidak berani. Ia pungut dua tengkorak lainnya. tepat lima jarinya masuk ke dalam semua laing itu. ―Apa itu?‖ katanya. Malam itu Cit Koay berkumpul di atas bukit. ―Mungkinkah disini ada hantu gunung?‖ tanya Siauw Eng. Saudara ini bersangsi. yang sodorkan sebuah tengkorak kepada Cu Cong. toako!‖ seru Kim Hoat heran. Tiba-tina ia lompat mendekati mereka itu. tingkat tengah tiga dan tingkat atas satu buah?‖ ―Eh. tak ada bayangan Kwee Ceng si bocah itu. enam adik angkat itu lekas bekerja. yang tiga lagi ke barat utara. ―Kenapa toako ketahui itu?‖ Tin Ok perlihatkan roman cemas. ―Kita lihat dia berani taua tidak datang seorang diri. Cu Cong dapatkan lima liang di embun-embunan tengkorak itu. maka kecuali Kwa Tin Ok. tengkorak orang diatur begini…‖ katanya. Ia lihat mereka masuk ke dalam tenda. Selagi tujuh saudara itu berduka. enam saudaranya biasa hargakan pikirannya. Sekarang mendengar keterangannya itu. Ia tak berani utarakan kesangsiannya ini. yang bertumpuk rapi dalam tiga tumpukan.. Mereka menanti sampai tengah malam. ―Kalau begitu. di situpun kedapatan masing-masing lima jari tangan yang sama. ―Lihat!‖ katanya lagi kemudian. mari!‖ Suaranya sangat kedengarannya sangat terkejut. ―Semuanya terdiri dari tiga tumpuk. romannya seperti bekas jari tangan. dari jauh-jauh ia mengikuti Kwee Ceng dan Tuli. . kali ini mereka rubuh di tangannya satu imam…!‖ katanya masgul. Cu Cong lantas saja menghela napas. maka ia kenali itu sekumpulan tengkorak. Irawan D Soedradjat Page 98 ―Disini pun ada tumpukan tengkorak!‖ begitu suaranya Han Siauw Eng di timur utara dan Thi A Seng di barat utara. tiba-tiba Po Kie berseru tertahan: ―Eh.‖ kata Kim Hoat. kita tunggu sampai nanti malam. Ia tidak menjawab. ―Benarkah itu terbagi pula dalam tiga tingkat?‖ Tin Ok tanya. ―Mustahil benar ada orang membuat liang ini dengan jeriji tangannya?‖ ia kata dalam hatinya.‖ Dan ia lompat turun dari kudanya.

jikalau sepuluh hari aku tidak datang menyusul kamu. ―Yang satunya delapan…‖ ―Coba hitung yang sebelah sana. Enam saudara itu mengawasi dengan melengak. walaupun mereka belum dapat merampunginya. ―Mereka sekarang lagi menyakinkan ilmu Kiu im Pek-kut Jiauw itu.‖ ia beritahu. mereka dengar perkataan si kakak. dengan lekas. jangan bersuara keras. ―Inilah saat mati hidup kita. ―Siluman atau musuh?‖ tanya Cu Cong. mereka menantikan penjelasan. kita sudah bersumpah untuk hidup atau mati bersama. apakah katamu?‖ tanya Siauw Eng gelisah. sekali-kali jangan kamu kembali! Sesudah kabur seribu lie. kiranya mereka sembuniy disini dan secara diam-diam tengah menyakinkan ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw. kembali dengan suara perlahan. ―Kenapa mereka masih ada di dalam dunia ini?‖ ―Aku juga menyangka mereka sudah mati. ―Mereka berdua lihay luar biasa. maka itu kenapa kau anjurkan kita lari menyingkir?‖ Tin Ok goyangi tangannya berulang-ulang. ―Dan setiap tumpukannya terdiri dari sembilan tengkorak?‖ sekali ini Tin Ok menanya perlahan sekali. ―Kalau begitu. ―Kita sudah minum arak bercampur darah. A Seng bertiga lari berkumpul sama kakak mereka itu. cinta mereka bagaikan cintanya saudara-saudara kandung. ia toh kalah. dari itu sekalipun kita bertujuh. suaranya perlahan tetapi nadanya tegas. Nona Han menghitung. mereka akan segera kembali!‖ kata Tin Ok. ―Benar. kamu tidak usah menunggui lebih lama lagi…!‖ ―Toako. lekas!‖ kata Tin Ok mendesak sekali. cacadnya itu disebabkan kecelekan semenjak kecil.‖ jawabnya kemudian. ―Mataku buta.‖ kata ia. lekas pergi!‖ katanya mendesak. Kenapa kita mesti antaran jiwa secara sia-sia?‖ Irawan D Soedradjat Page 99 . mereka semuanya jadi heran.‖ kata Tin Ok. kakiku pincang. tidak ada yang berani menanyakan.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin Ok lari ke arah barat utara itu. Siauw Eng lari ke barat utara. kita pasti bukan tandingan mereka. Tin Ok lantas lari ke arah timur utara ke Han Siauw Eng. itulah sebabnya perbuatan musuh. ―Bukankah Tong Sie dan Tat Sie sudah lama mati?‖ dia tanya. mereka toh sudah paham delapan atau sembilan bagian. ia paling benci orang menyebut-nyebut cacadnya itu. ―Apakah kau sangka kita orang-orang yang tidak berbudi?!‖ dia tanya membentak. ―Yang satu sembilan. Tin Ok angkat saudara sama enam orang itu.‖ Tin Ok bilang. ―Saudara-saudara lekas naik ke kudamu masingmasing.‖ Tin Ok bilang. ―Yang di sana setiap tumpukannya tujuh tengkorak. sambil membungkuk ia menghitung. ―Apakah tumpukan disini pun tiga?‖ tanya Tin Ok. ―Lambat sedikit atau sudah tidak keburu lagi!‖ Han Po Kie menjadi gusar. segera kabur ke selatan. tunggu aku selama sepuluh hari. ―Merekalah Tong Sie dan Tiat Sie. ia pun cegah mereka bertiga omong keras-keras. Thio A Seng bertiga terkejut. Tin Ok Demikian lihay. Semua saudaranya sangka. ―Lekas pergi. Cu Cong terkejut hingga ia berjingkrak. lalu dengan lekas pula ia lari balik. dari situ bisa diduga betapa lihaynya musuh itu. sekarang barulah mereka itu ketahui. meski begitu. semua itu adalah hadiah mereka…‖ sahut kakak tertua ini.‖ sahut Siauw Eng.

―Baiklah kalau begitu. sekali pula Khu Cie Kee yang lihay. Tin Ok tidak setuju.‖ katanya kemudian. Cuma hendak aku pesan masing-masing jaga lah diri dengan hati-hati dari cengkraman mereka. Tong Sie si Mayat Perunggu dan Tiat Sie si mayat Besi. Kemudian. tanpa cara ini jiwa kita bertujuh bakalan tidak dapat ditolongi lagi!‖ Tin Ok omong dengan perlahan-lahan. jaga supaya mereka tidak dapat ketahui. ―Di masanya mereka itu malang-melintang di utara. untuk bokong pada mereka. Dia akhirnya menghela napas. ―Kalau begitu. mereka mau percaya sang kakak tidaklah tengah berdusta. Irawan D Soedradjat Page 100 . Sadarlah ia bahwa saudara-saudaranya itu sudah berkeputusan bulat. saki hati ini tak dapat tidak dibalas!‖ Lam Hie Jin segera campur bicara. Sekarang ini tak ada tempo untuk menjelaskan tentang mereka itu. siapa dengar mereka. Di bawah sinar rembulan. Bukan sedikit orang gagah yang roboh di tangan mereka itu. Kwa Tin Ok. maka itu kau tidak ketahui tentang mereka. adik yang nomor enam. maupun di Jalan Putih. mereka pencar diri ke empat penjuru untuk sembunyi sambil memasang mata. Dua orang itu snagat kejam. bantui saudaranya untuk mencabut. hatinya ciut. itu waktu jangan kamu main kasihan-kasihan lagi. Ia omong singkat tetapi kata-katanya sangat tepat yang tak dapat diubah lagi. Tong Sie itu ialah pria dan Tat Sie itu wanita. segera lari ke arah selatan. Semua saudaranya itu menyahuti dengan janji akan menaati.Pendekar Pemanah Rajawali Enam saudara itu ketahui kakak mereka ini beradat tinggi. sudah lantas lompat turun ke dalam peti mati yang besar itu. ―Ada rejeki kita mencicipi bersama. coba jalan seratus tindak ke selatan. ada kesusahan kita derita bersama juga!‖ katanya. maka itu sambil berbisik ia tanya ini kakak nomor dua: ―Jieko.‖ Enam saudara itu menurut. mereka lantas bekerja. Tong Sie dan Tiat Sie itu makhluk macam apa?‖ ―Merekalah yang di dalam dunia kang-ouw kesohor sebagai Hek Hong Siang Sat. mereka berdua itu adalah suami-istri. Lam Hie Jin dan Han Po Kie. Tin Ok menjadi diam dan berpikir. Cara membokong ini bukanlah cara yang benar akan tetapi musuh terlalu tangguh dan telangas. Perlahan-lahan mereka letaki tutup peti mayat yang istimewa itu. inilah pertama kalinya ia dapatkan sikap yang tegang sekali dari kakaknya itu. ―Musuhku itu bakal lekas datang kemari untuk melatih ilmu silatnya itu. Semenjak ia kenal kakaknya yang tertua itu. batu itu kotor dengan tanah dan ketutupan rumput hijau. mereka bakal dapat tahu. ―Aku cuma minta kalian semua suka berlaku hati-hati. Kamu mesti menunggu sampai aku telah tidak dapat bertahan. ―Maka itu sekarang hendak aku sembunyi di sini.‖ Kim Hoat mengajak. ia panggil saudara-saudaranya yeng mengawasi ke arahnya. dengan dingin ia berkata: ―Mereka sudah celakai aku seumur hidup. Cuma tinggali sedikit liang kecil untuk aku bernapas.‖ berkata ia.‖ ―Kenapakah mereka itu tak hendak dikepung beramai-ramai?‖ Siauw Eng tanya pula. Liok-tee. sebagai alatnya ialah kedua mayat ini. Ia bersembunyi di samping Cu Cong. ia Cuma nampak unjungnya sebuah batu lempangan muncul dari dalam tanah. Saudara-saudara pergi kau ambil tempat berlindung di empat penjuru. setelah ia diberitahukan adanya kedua mayat itu. dia berani lawan. ―Sedikit saja ada kelisikan. ―Nusuh itu sangat cerdik dan getap. Tentu saja. Dengan menggape.‖ Coan Kim Hoat. Han Siauw Eng adalah orang yang hatinya paling berkhawatir dan paling heran pula.‖ Tin Ok berkata pula dengan pesannya. Mereka itu segera saja menghampirinya. belum pernah ia puji kepandaian lain orang. kau masih kecil sekali citmoay. ia tidak lihat peti mati yang disebutukan kakaknya itu. tetapi sekarang ia jeri terhadap dua orang itu. baik di Jalan Hitam. setelah melihat batu itu. di bawah batu itu tertampak sebuat peti mati bercorak kotak atau peti batu dan di dalam situ rebah dua mayat. tapi kata-katanya ditandaskan setiap patah. Di situ ada banyak pepohonan dan rumput tebal. karenanya mereka menjadi ragu-ragu. Thio A Seng. denagn siapakn masing-masing senjatanya.‖ sahut sang kakak denagn perlahan. baru kamu keluar untuk mengepung mereka. ilmu silat mereka lihay sekali. Sekarang barulah papan batu itu dapat disingkirkan. marilah kita pergi bersama-sama. Ia tarik batu itu tetapi tidak bergeming. Setelah seratus tindak. lihat benar atau tidak di sana ada sebuah peti mati. Sekarang tutuplah papan batu ini.

bernama Tan Hian Hong. Ynag kedua yang rambutnya panjang dan memain atas tiupan angin. ―Tenaga dalamnya begitu hebat. disusul sama tangan kirinya menyerang dada si pria. Tidak disangka-sangka sekarang. yang disebut Tong Sie itu. lalu beruntun tiga tahun mereka mencoba mengepung Hek Hong Siang Sat. di tara ini. karena dosa kejahatannya sudah meluap. ilmu apakah itu?‖ tanya adiknya lagi. ―Tentang ilmu itu belum pernah aku mendengarnya. hingga mereka merupakan sebagai satu bayangan yang besar. mengikuti jalannya. ―Yang pria.‖ ―Toako menyebut ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw. yang memakai kopiah kulit. pantas toako memuji mereka.‖ ia mengeluh di dalam hatinya. dia beroman seperti mayat saja. Irawan D Soedradjat Page 101 .‖ sahut kakak keduanya itu. sambil memberi keterangan padaku. suara itu menyebabkan ketegangan di hati ke enam bersaudara itu. namanya Tiauw Hong. ―Orang-orang gagah dari Selatan dan Utara Sungai Besar pernah tiga kali mengadakan perhimpunan besar di gunung Heng San. Heran enam saudara itu. Siauw Eng diam sejenak.‖ pikir mereka.Pendekar Pemanah Rajawali ―Menurut katanya mendiang guru.‖ Sebentar saja benda itu sudah datang semakin dekat. ia terus pasang matanya. di atas bukit itu tertampak dua orang bagai bayangan. nyata terdengar buku tulang-tulangnya bersuara meretek. belakangan orang tidak lihat lagi bekas-bekas tapak mereka. yang satu mirip orang Mongol. maka beberapa tahun kemudian orang anggap. mestinya berkulit hitam legam?‖ ―Tidak salah! Dia she Bwee. setelah orang bubaran. sebab Cu Cong mendekap mulutnya yang kecil mungil itu. diulur dan ditarik. Tiat Sie itu. pada wajahnya itu tak pernah tampak tanda kemurkaan atau tertawa. di tempat belukar seperti ini. Maka sekarang tampaklah dengan nyata: Itulah dua orang.‖ jawab sang kakak. yang berjalan rapat satu dengan lain. Cu Cong cekal kipasnya peranti menotok jalan darah. si Mayat Perunggu. semuanya bersipa sedia.‖ ―Apakah nama mereka itu?‖ Siauw Eng masih menanya. suaranya semakin keras. ―Sstt!‖ berbisik sang kakak itu seraya tangannya menunjuk ke bawah bukit. ―Dapatkah si pria. Siauw Eng tancap pedangnya ke tanah. dari lambat menjadi cepat. adalah seorang wanita. ―Sekarang ingin aku saksikan bagaimana mereka melatih diri…. Enam saudara itu menjadi heran. Wanita itu gerak-geraki kedua tangannya. degan darah dagingnya manusia.‖ Cu Cong menerangkan pula. kita menemui mereka itu. Di bawah terangnya sinar rembulan. guna cegah sinarnya berkilauan. mereka itu dapat lolos. mereka muncul pula. Dilihat dari kepalanya. maka itu orang juluki dia Tong Sie. Sekarang terdengar suara pasir disebabkan tindakan kaki. Begitu lihat banyak orang. bertahan terhadap serangan itu?‖ tanya mereka di dalam hati. berdiri diam. saban-saban terdengar suara mereteknya. ―Kenapa toako tak pernah sebut-sebut itu? Mustahilkah…‖ Nona ini berhenti berbicara dengan tiba-tiba.‖ ―Kalau begitu yang wanita. Kapan sebentar kemudian tindakan kaki tak menerbitkan suara pula. ―Mestinya dia Tong Sie dan Tiat Sie. mereka lantas sembunyikan diri. ―Kiranya jieko waspada sekali. Tiba-tiba si wanita itu angkat tangan kanannya. Siauw Eng bernyali besar tetapi ia toh menggigil pula. Enam saudara dari Kanglam itu menahan napas. ia tampak seuatu benda hitam lagi bergerak-gerak cepat di atas tanah berpasir. Lalu ia menyambung lagi. ―Dia berparas muka semu kuning hangus seperti perunggu. ―Sungguh memalukan. mereka itu telah menemui ajalnya. Siauw Eng segera memasang matanya ke arah tempat ynag ditunjuk itu. Rambutnya pun mengikuti bergerak-gerak juga. Setahu bagaimana.‖ pikir Siauw Eng.‖ Si wanita sudah lantas berjalan mengitari si pria.

tubuhnya tidaj bergeming. ―Kalau sekarang aku tikam dia. Disamping heran dan gusar. Ia membungkuk. dua tangannya dipakai menjambak dada dan perut mayat itu. ia turun di sisi mayat. Kalau dia terbunuh lebih dahulu. Tanpa merasa. Disaat berbahaya itu. dengan sembilan kali serangannya – Kiu im – wanita ini membikin rusak isi perut pria itu. yang semuanya telah tak utuh lagi. kalau dikepung bertujuh. untuk angkat tutup peti mati istimewa itu. berbareng dengan pekiknya. lempang jegar. Si pria tapinya mirip mayat.Tapi. lima jarinya berlumuran darah pula. tubuh siapa lalu ia letaki di tanah. ia bergemetar sendiri. Wanita itu berhenti berlompatan dan berputaran sesudah ia berpekik keras dan panjang sambil ia lompat tinggi berjumpalitan dua kali. Nyatalah. ke perut. Tapat sampai pukulan yang ke sembilan. mukanya tidak tersenyum. walaupun ia tertawa. Ia bertubuh kate. si wanita sudah menyerang pula. tak dapat mereka layani…. ia tak bersuara. seperti desairnya angin. Dia lompat tingginya beberapa kaki. akibatnya mesti hebat sekali……………‖ Karena ini. Hampir Siauw Eng menjerit karena kagetnya. mencengkeram ke ubun-ubun si pria. Perlahan sekali suara itu. hanya seorang yang lain. Ia duduk dengan membelakangi Cu Cong dan Siauw Eng. ia cabut pedangnya. hingga si nona dapat nampak wajah orang – satu wajah hitam manis. ia lompat ke arah pohon itu. dengan sendirinya mereka menjadi membenci kekejaman wanita itu. tangan kirinya menyambar kopiah si pria. ia dapat menduga. dia tidak tekuk dengkulnya. . si pria bukan Tong Sie. hendak ia menerjang wanita itu. beruntun hingga tujuh kali. tidak membungkuk tubuhnya. yang rupanya ditangkap untuk dijadikan bahan atau korabn latihan Kiu Im Pek-kut Jiauw. ia masih tertawa. Ia lantas seret mayat korbannya. untuk merobek membuka pakaiannya pria korbannya itu. kita pasti dapat melawan. bertambah hebat. orang memakai baju dalam kulit. gampang saja si wanita ini menelanjangi pria itu. dengan rangkap kedua tangannya. kepala di bawah. Di bawah sinar rembulan. dibawa ke peti mayat di mana Kwa Tin Ok umpatkan diri. ia dapat lihat seperti bayangannya satu kepala orang di atas pohon. Enam saudara itu bersiap. nampak nyata bebokongnya bergerak-gerak. si suami. Cengkeraman Tulang Putih.Pendekar Pemanah Rajawali Selagi begitu. kaki di atas. jumpalitan. habis itu. Tiauw Hong geraki kedua tangannya. siapa tahu Tong Sie bersembunyi di mana? siapa tahu kalau dia muncul mendadak. Sembari mengawasi tangannya itu. ia tak bakal dapat dilihat. karena ragu-ragu. si wanita itu berjinjit. wanita itu lompat mencelat. tumpukan tengkorak itu terang adalah korbankorbannya wanita kejam ini. Saudara yang kedua ini telah berpikir: Tiat Sie bersendirian. ia lantas duduk numprah di tanah. baiklah kita taai pesannya. berlompatan mengitari korbannya itu. Biar toako yang mendahului…‖ Habis memeriksa isi perut mayat. ―Hanya kalau aku gagal. tetapi sekarang. Ia hendak berlompat turun ketika tubuhnya bergerak bangun. Tiat Sie nampaknya puas. Maka terang sudah. ia tidak 102 Tiba-tiba Bwee Tiauw Hong mendengar berkelisiknya daun pohon di sebelah belakangnya. Seberhentinyatertawa. hendak mereka menerjang berbareng. dengan lima jari. aku dapat tublas tembus bebokongnya!2 pikir si nona Han. Si wanita sebaliknya tertawa besar dan panjang. Tak ayal lagi.. Sekarang enam saudara itu ketahui. Kalau mereka ada berdua. ia percaya dengan sembunyi di atas pohon. Bukan kepalang gusarnya Siauw Eng. paru-paru dan jantung. dimana hawa udara adalah sangat dingin. Diwaktu melompat. Hanya aneh. dan ia memeriksa itu. sang sistri. tangan kanannya. wanita itu memeriksa. biar dia lihay. usianya ditaksir kira-kira empatpuluh tahun. jadi lebih gampang untuk melayani Tong Sie. Bwee Tiauw Hong bangkit berdiri. Tiba-tiba saja ia menoleh ke arah Siauw Eng. Tegang hatinya. ia tarik napasnya keluar masuk. enam saudara itu merasa kagum. Irawan D Soedradjat Page Itulah Ma Ong Sin Han Po Kie yang sembunyi di pohon itu. kapan tangan kanannya di tarik. untuk menarik keluar isi perut orang. setiap serangan bertambah cepat. untuk membokong kita? Toako telah memikir jauh. wanita itu adalah Tiat Sie Bwee Tiauw Hong. ia toh berpaling dengan segera. Cu Cong tarik si nona dan menggoyangi tangannya. di Utara ini. lalau ia membuangnya setiap isi perut itu. sembilan puluh sembilan persen. Cu Cong pun sama tegangnya sampai ia menahan napasnya. si Mayat Besi. Begitu tutup dibuka. Dengan menghadapi rembulan. untuk melatih tenaga dalamnya. habis melatih napasnya. untuk membuktikan sampai di mana hasil latihannya itu.

aku sendirian. guna mencengkeram daging. ia lepaskan cambuknya. yang sangat gesit. hatinya girang sekali. sebab sepuluh kukunya telah nancap di dagingnya. tetapi ia juga bertenaga besar. ia dapat dipergoki wanita lihay itu yang segera menerjang ke arahnya. Lam Hie Jin dengan Touw-kut-cui. menyambar ke kepalanya! Bukan main kagetnya Manusia Aneh yang kedua ini. Po Kie merasakan angin dingin di pundaknya. herannya bukan buatan. Satu mahasiswa yang memegang kipas totokan dan satu nona yang bersenjatakan pedang. kipas Cu Cong telah mengenai tepat sasarannya. Ia lolos tetapi kegetnya tak kepalang. Akan tetapi si Mayat Besi tak jeri. di bawah pohon. ia papaki cambuk itu. lagi sekali ia enjot tubuhnya. hanya di saat itu. sebaliknya. baiklah aku robohkan dulu beberapa diantaranya. dia teruskan sambarannya kepada nona Han itu. atas mana. hingga PO Kie mersakan sakit sekali. di antara suara keras. Disaat itu. Justru is bergirang itu. ia juga balik menarik. Han Po Kie sudah jemput cambuknya. cepat-cepat ia melompat mundur. Hanya kali ini. dengan satu kali meleset. Dia agaknya tidak takuti senjata tajam itu. Bwee Tiauw Hong menyambar dengan tangannya ynag kiri. menyambar ke arah musuh itu. Cu Cong tahu ia telah dapat menghajar sasarannya. Bwee Tiauw Hong dengan berani berbalik menyambar pedang. Tiauw Hong tidak hendak memberi lolos. Dengan perlihatkan kegesitannya. hingga kedua senjata rahasia itu jatuh ke tanah. dia lompat mundur satu tindak. denagn perdengarkan suara membeletak. Tendangan seperti mengenai papan batu. kaget dan gusar. ia enjot tubuhnya. yang sampai ke ulu hati. untuk dicekal dan dibarengi ditarik dengan keras! Po Kie merasakan satu tenaga keras menarik ia. Mengikuti tarikan orang. tangan kanannya telah merobek baju Po Kie di bagian bebokongnya! Po Kie menekan tanah denagn kaki kiri. sedang di lain pihak. Tapi Tiat Sie si Myata Besi benar-benar lihay. ia menyerang jalan darah kiok-tie-hiat dari musuh lihay itu.‖ Demikian. ialah jalan darah kiok-tie-hiat. menendang ke arah perut. mengepung musuh yang lihay itu. ia menjadi heran dan gentar pula. Ia mengarah ke lengan. akan menyingkirkan jauh. Siauw Eng membabat tangan musuh. untuk meleset ke depan. untuk membebaskan diri dari sambaran itu. Hebat kesudahan tendangan ini. Tanpa sangsi ia kerahkan tenaganya. maka juga pedang dan golok semua seperti merabu Bwee Tiauw Hong. Batal menyerang. dia segera mengerti bahwa dia telah berada dalam kepungan. sudah lompat hingga di depannya dan sambil menaya: ―Kau siapa?! Perlu apa kau datang kemari?!‖ sepasang tangannya sudah mampir di pundak orang. malah aneh juga. dia seperti tidak menghiraukan enam rupa senjata musuh itu. Tiauw Hong ketahui itu. seperti juga sebuah kipas besi. sedang di kirinya datang serangan golok dari seseorang yang bertubuh jangkung gemuk serta seorang kurus denagn senjatanya yanga neh. sebuah kayu pikulan yang hitam menyambar dia dari samping. tahu-tahu tangan musuh berkelebat. untuk merampas senjata. Bwee Tiauw Hong main sambar musuh. dengan lihaynya matanya dan jelinya kupingnya. dan Coan Kim Hoat dengan sepasang panah tangannya. Di saat itu. ia terus melawan denagn sepasang tangannya yang berdarah daging! Dengan kuku-kukunya yang seperti gaetan besi. untuk menendang bebokong musuh gelapny aitu. hanya dasar jago. Dengan satu gerakan ―Pek louw heng kang‖ atau ― Embun putih melintangi sungai‖. ―Mungkin ia tidak mempunyai jalan darah?‖ pikirnya. segera tangannya kaku dan mati. untuk terus disambar. lima jari tangannya menyambar ke arah bebokong si cebol itu. masih dia lompat. akan lomcat pula. enam Manusia Aneh itu menjadi ingat semua tengkorak Irawan D Soedradjat Page 103 . Bor Menembuskan Tulang. ai maju pula. Tetapi Tiauw Hong. sebab ia tidak pedulikan totokan itu. terus ia lompat berjumpalitan. mengarah kakinya. Biasanya. menyerang ia dari kanannya. Bwee Tiauw Hong tidak berkelit atau menangkis. hingga bahna sakitnya. dan gesit sekali. Tiauw Hong snagat lihay. dengan putar ugal-ugalan tangannya. Ketika itu. Siauw Eng menjadi terkejut. Semua penyerang itu tidak dikenalnya dan mereka agaknya lihay. kaki itu terseleo tekukannya.Pendekar Pemanah Rajawali sangka. atau lebih benar mengikuti cambuk Naga Emas. Po Kie meninsyafi bahaya. dia angkat kakinya. yang cepat bagaikan angin. ia menyambar ke mukanya Siauw Eng! Cu Cong melihat ancaman bahaya untuk adiknya itu. akan sambut wnaita itu dengan cambuknya Kim-liong-pian. Dia menjadi kesakitan. ai lompat melesat. sementara penyerang dengan kayu pikulan itu adalah seorang desa. ia roboh hampir pingsan. siapa terkena totokan itu. Menyaksikan itu. ia menyambok dengan tangannya yang kiri. anginnya pun tiba lebih dahulu. dengan bekersama dengan kelima saudaranya. dia masih bisa menggulingkan diri. Maka ia lantas berpikir: ―Mereka banyak.

yang diangkat tinggi. tetapi Bwee Tiauw Hong agaknya tidak terluka. ia heran. dua macam ilmu kedot. Ia tahu betul. Syukur ia keburu membela dirinya. sedang seharusnya dia mesti patah atau remuk tulang-tulangnya. ia mesti mempunyai suatu anggota kelemahannya. Dipihaknya. Mereka menggesernya ke samping. 104 Disaat itu. Coan Kim Hoat berlaku rada ayal. teranglah orang telah punyakan pelajaran Kim-ciongtiauw – Kurungan Loncang Emas. tanpa merasa ia angkat kepalanya. untuk angkat papan batu tutup dari peti mati itu. ia menggapai-gapai. Bwee Tiauw Hong dapat menerka maksud orang. ia menjadi terkesiap hatinya. tidak juga ada hasilnya. sudah ada tiga yang kena tangan lihay si Mayat Besi. Cu Cong berteriak keras: ―Lekas turun menyerang!‖ Dengan tangan kanan ia menunjuk ke atas. Manusia Aneh ynag kedua itu menyingkir beberapa tindak. Ia menggunai tangan kirinya. dengan sendirinya hati mereka menjadi gentar. Tiauw Hong kena cekal barang keras. Ia sudah menontok belasan kali. Lima Manusia aneh lainnya kaget. di mana Kwa Tin Ok lagi sembunyikan diri. tak saja bajunya Kim Hoat robek. tidak ampun lagi bahu kirinya kena dicengkeram Bwee Tiauw Hong. sepotong dagingnya pun kena tercukil dan dia berdarah-darah. Coba Tong Sie si Mayat Perunggu muncul. justru itu Cu Cong bebaskan diri. siapa punya ilmu kedot. untuk lihat lengannya. memandang ke atas. Karena ini. Kecuali golok lancipnya dari Thio A Seng dan pedang tajam dari Han Siauw Eng. Itulah teriakan dan tanda untuk kawannya yang sembunyi di dalam peti mati. ia tak tampak manusia seorang juga. dengan tangan kirinya. Tiauw Hong malah bertambah gagah nampaknya. ―Sekarang sudah terlambat untuk kamu melarikan diri…!‖ segera ia merangsak. tetapi tiba-tiba juga. semua senjata lainnya. Di sana terpeta tapak lima jari tangan. sudah lanats kerahkan tenaga mereka. Tapi si Mayat Besi sudah berhasil. berani Tiat Sie sambut dengan tubuhnya yang tangguh itu. ia dapat menyambar kayu pikulan dari Lam Hie Jin. mereka menyerang dengan berbareng guna menolongi saudara mereka itu. melihat mana. Siauw Eng lantaran kegesitan tubuhnya. ia mendahului menotok telapak tangan orang. Karena ini ia berlompatan. Dipihak sana. kedua matanya mengawasi ke langit. Ia melainkan hanya lihat rembulan. semua anggota tubuhnya telah terlatih sempurna!‖ Dan tangannya menyambar lengan si mahasiswa itu! Cu Cong terkejut. Hebat Bwee Tiauw Hong. supaya kawan itu segera turun tangan. Merka juga mendapatkan tubuh orang seperti besi kuatnya Dua kali bandulan timbangan Coan Kim Hoat mengenai bebokongnya Tiat Sie dan satu kali kayu pikulannya Kanglam Liok Koay menyambar paha. di tenggorokan jalan darah hoan-kiat. tak tunggu tibanya cengkeraman. Ia menjadi bersangsi. menyerang sambil mencari-cari. Cu Cong jadi berpikir. Han Po Kie dan Coan Kim Hoat sudah lantas mulai tersengal-sengal napasnya. Lagi sesaat. sedang di perut jalan darah cee-cun dan di bebokong jalan darah bwee-liong. Dia berseru: ―Siucay rudin. Segera ia melompat. Lam Hie Jin bersama Coan Kim Boat dan Han Siauw Eng mencoba merintangi musuh ini. pada nyonya besarmu tidak ada bagiannya yang lemah. hingga ia menjadi berpikir keras. Tinggal Lam Hie Jin yang masih dapat bertahan demikian juga dengan Lam Siauw Eng – Hie Jin karena tenaga dalamnya sempurna. ia menduga-duga dimana kelemahan musuh lihay itu. Tiba-tiba ia bergidik. ―Dari mana munculnya segala orang hutan yang hendak mencurangi nyonya besarmu!‖ kata Tiauw Hong dengan ejekannya. ia dapat lihat cahaya putih dari tengkoraktengkorak itu. sembari berlari. ia sambar sepasang mata lawannya itu. selagi begitu Cu Cong bersama Thio A Seng dan Han Po Kie. Satu kali Cu Cong kebetulan menoleh ke arah tumpukan tengkorak. Di batok kepala ia totok jalan darah pek-hoay. demikian pun jalan darah lainnya. baiknya ia gesit dan cerdik. jidat mereka bermandikan peluh. tidakkah mereka bertujuh saudara bakal roboh semuanya? Thio A Seng. dan Tiat-pou-san – Baju Besi. untuk lari ke arah peti mati. . yang sudah lantas lari ke peti mati. celakalah ia. ia jadi ingat sesuatu. maka itu dengan tangan kanannya. ketahui olehmu. Irawan D Soedradjat Page Bwee Tiauw Hong heran.Pendekar Pemanah Rajawali yang berliangkan bkeas jari tangan itu. ia berteriak: ―Semua lekas menyingkir!‖ Lima saudara itu mengerti teriakan itu. mereka lantas berkelahi sambil mundur. kalau tidak.

ia serang bebokongnya si Mayat Besi. Kwa Tin Ok di dalam peti mati telah siap sedia. dia lagi memanggil Tong Sie. merangkul pohon besar di belakang Tin Ok tadi. ―Celaka. ―Kau juga belum mampus. ―Lekas kasih tahu! Kalau nyonya besarmu mati. Bwee Tiauw Hong telah kehilangan penglihatan kedua matanya. sambil berseru keras. Lalu ia meneruskan dengan seruannya:‖ Lekas bereskan dia!‖ Ia pun mendahulukan. bagus!‖ Tiauw Hong menghela napas. karenanya tubuhnya maju terus. Coba Tin Ok yang terkena rangkul. ―Kamu siapa?!‖ ia berteriak dengan pertanyaannya. senjata rahasianya Tin Ok itu. batu telah kena terhajar hancur. mana dapat ia melihat tandanya itu? Benar saja. Tiauw Hong terus menendang papan batu yang menghalangi di depannya. hati mereka menggetar. empat-empatnya jatuh menggeletak di tanah. Cu Cong tidak buka suara. dengan tangannya ia memberi tanda kepada saudara-saudaranya menjauhkan diri dari orang kalap itu. menampak mana. ia akan mati dengan puas!‖ Cu Cong menggoyangi tangan kepada kakak tertuanya. bocah kiranya kau belum mampus?‖ tanya dia. tubuhnya lalu meleset naik ke atas pohon. maka itu sekarang ia berkelahi secara kalap. sasarannya adalah tiga bagian atas. ia berdiam. ―Jadinya kau datang untuk menuntut balas untuk Hui-thian Sin Liong?‖ ―Tidak salah!‖ jawab Tin Ok. ia sudah lantas bekerja sama dengan enam saudaranya itu. ―Hai. mereka menyaksikan lebih jauh bagaimana Mayat Besi menyambar pepohonan dan batu yang melintang di depannya. dengan begitu enam buah senjata rahasianya sudah lantas menyerang ke tempat tujuh tindak. Tin Ok sudah perdengarkan suaranya yang dingin itu. tengah dan bawah. Dengan menerbitkan suara keras. Ia menepuk keras. ia jadi terperanjat sendirinya. Ia ingin si Mayat Besi mati sendirinya karena bekerjanya racun senjata rahasia itu. dari jauh-jauh. batang pohon besar itu tercengkeram sepuluh jarinya. tidak memberi hasil. Nyata kedua matanya telah menjadi korbannya tok-leng. dengan kerahkan tenaga di tangannya. Ia rupanya menginsyafi yang ia telah terkena senjata rahasia yang ada racunnya. Irawan D Soedradjat Page 105 . tanpa hiraukan sakitnya itu. Ketika itu angin dingin meniup membuat orang mengkirik. Bwee Tiauw Hong merasakan sangat sakit dan juga menjadi sangat gusar. papan batu itu terpatah menjadi dua tanpa ampun lagi! Kanglam Cit Koay menyaksikan itu. Baharu dua kali ia menggoyangkan tangannya. untuk kakak itu jangan membuka suara. enam Manusia Aneh itu bergidik sendirinya. Pun. Kakak itu buta. Tiauw Hong merasa matanya keras.Pendekar Pemanah Rajawali ― DI depan tujuh tindak!‖ Cu Cong teriak pula. Bwee Tiauw Hong tubruk sasaran kosong. Empat yang lain. Tujuh saudara itu mengawasi. Untuk sesaat mereka tidak menyerang pula. ia membuatnya pohon-pohon rubuh dan batu hancur tertendang. Tin Ok sudah merasakan sambaran angin ke arah dadanya. ia menggempur terus dengan kedua tangannya kepada Kwa Tin Ok. Dalam murkanya. Belum habis peringatan kedua saudara itu. Bwee Tiauw Hong melengak dan lalu tertawa panjang. Maka itu. yang mengenai dada dan paha. mereka berdiam tetapi siap sedia. dengan menukikkan tongkat besinya ke tanah. ―Apakah kau masih ingat Hui-thian Sin Liong Kwa Pek Shia atau Hui-thian Pian-hok Kwa Tin Ok?‖ demikian tanyanya. Selang sekian lama. dari itu. suaranya tajam dan terdengar jauh. Bwee Tiauw Hong sendiri sudah lantas perdengarkan jeritan hebat dan menggiriskan. kedua tangannya menyambar berulang-ulang. suaminya…‖ kata Cu Cong dalam hatinya. segera kedua tangannya diayunkan. akan tetapi Tin Ok telah segara berkelit ke samping. Bwee Tiauw Hong berpekik keras. ia turut lompat keluar dari dalam peti mati. masihkah ia mempunyakan nyawanya? Gagal serangan itu. ―Toako awas!‖ sekonyong-konyong Cu Cong dan Coan Kim Hoat berseru. ia bersilat ke empat penjuru.

Ia berkhawatir berbareng girang. ia menjadi kegirangan hingga ie berseru. ia terpaksa menggunai akal ini. mendaki bukit. Siauw Mie To Thio A Seng telah menaruh hati kepada Han Siauw Eng sejak beberapa tahun. maka itu. Han Siauw Eng lompat ke samping. ―Hebat larinya orang itu!‖ kata beberapa diantaranya. Itu waktu Siauw Eng telah kasih dengar suara kaget. Segera juga Siauw Eng sampai kepada Kwee Ceng. tetapi ia gagal. ia tergempur di bagian dalam. ia pun belum pernah menyakinkan ilmu mendengar suara seprti Kwa Tin Ok. Rupanya Tiauw Hong telah dapat menduga. ―Aku bukan tandingannya Tong Sie…. Malam Yang Hebat Cu Cong ambil sikapnya ini untuk bersedia membokong musuh. ia kaget dan berkhawatir. Cu Cong tidak berhenti sampai di situ. ia dengar angin itu. Setelah hasilnya yang pertama ini. Dan ia kemudia berlari. Cu Cong segera geraki tangannya ke arah Coan Kim Hoat. ia girang yang orang telah menepati janji. Ia pilih batok kepala musuh sebagai sasarannya. tanpa bilang suatu apa. Bab 10. Karena tubuhnya kecil. berbareng dengan itu. bayangan itu masih berpekik-pekik. lalu menyusul pekik yang kedua. habis menolongi orang. di belakangnya dia tangan maut lagi menghampiri. Ia khawatirkan keselamatannya bocah itu. Ia menjadi kaget apabila ia merasakan bebokongnya sakit sampai jauh di ulu hatinya. akan tetapi kupingnya terang. demikian bayangan yang mengejar itu.tapi mana dapat aku tidak menolong bocah itu?‖ Maka terpaksa ia cepatkan tindakannya. Segera menyusul serangannya yang kedua.Pendekar Pemanah Rajawali Thio A Seng menyerang dengan salah satu potong papan batu yang tdai ditendang patah Bwee Tiauw Hong. niatnya mendahului nona itu. untuk suaminya itu tolongi dia sambil membasmi musuh…. untuk menolongi Siauw Eng dan A Seng. Pekikan itu membuat hati orang terkesiap. yang kecil dan kate. si nona terus menyingkir. dengan melupakan bahaya. guna mencegah racun di matanya dapat menjalar. terpaksa ia berteriak: ―Bocah. mereka bersedia dengan senjata rahasia masing-masing. Siauw Eng lompat ke samping. ia malah mesti lompat menyingkir. Dengan kegesitannya. Kali ini ia gagal. sampai sebegitu jauh belum pernah ia berani mengutarakan rasa hatinya itu. Dengan beruntun ia mainkan Irawan D Soedradjat Page 106 . Ia lantas lari turun ke arah orang orang bertubuh kecil dan kate itu. Ketika itu Bwee Tiauw Hong sudah tidak mengamuk seorang diri lagi. dari situ ia menyerang dengan pedangnya ke iga kiri si Mayat Perunggu. tanda bahwa orang yang memperdengarkan itu telah datang lebih dekat. Selagi dua orang ini mendatangi dekat satu dengan lain. ia tidak tahu. Kanglam Cit Koay terkejut. Kwee Ceng pun menjerit kaget! Bocah itu telah dirampas Tan Hian Hong. Ia tampak satu bayangan hitam lari mendatangi dengan cepat sekali. Tong Sie si Mayat Perunggu pun telah mendatangi semakin dekat kepada Kwee ceng. Lam Hie Jin semua memasang mata ke bawah bukit. lekas lari. lalu berdua mereka lompat ke gombolan rumput. ia lari turun. tentu saja Manusia Aneh yang kedua ini tidak sudi menjadi korban. Ia percaya Tong Sie terlebih lihay daripada Tiat Sie. sekarang ia lihat si nona Han terancam bahaya. ada satu bayangan lain. maka ia susuli dengan tikaman ke arah mata. Tiba-tiba ia rasai tangannya enteng. Ia dapat menghindar dari batu tetepi tidak serangannya Cu Cong. ia segera berkelit ke samping. napasnya diempos. sambaran angin papan batu itu pun keras. dari itu. lekas lari!‖ Kwee Ceng dengar suara itu. untuk memandang ke bawah bukit. ia berdiri diam dengan sikapnya yang siap sedia. Dengan sikapnya ini ia menantikan suaminya. untuk memberi tahu supaya. yang terlebih nyaring lagi. sebab ia segera menduga kepada Kwee Ceng. untuk memapaki. Ia dapat berlari dengan cepat luar biasa. terus ia memutar tubuh. ia mendahulukan menyambar. guna menyambut bocah itu. guna lari balik. Tiat Sie buta sekarang. ia sambar bocah itu. bayangan ini tadi tidak kelihatan. di depan bayangan yang berpekikan tak hentinya itu. Sembari mendatangi. ia lihat si nona. Ia tanmpak sekarang. Tidak peduli ia kebal tetapi serangan Biauw Ciu Sieseng hebat bukan main. ―Inilah hebat…‖ pikir Siauw Eng. Hampir berbareng dengan itu. dari kejauhan terdengar pekikan nyaring seperti pekikan Tiauw Hong barusan.

Akhirnya ia berteriak: ―Eh. Di waktu itu. sambil lompat bangun. ia berputaran. Tapi sekarang ia menginsyafi lihaynya musuh. si Mayat Perunggu lemparkan tubuh musuhnya. bebokongnya mewakilkan Siauw Eng kena dijambret. ―Satu juga tidak bakal lolos!‖ sambil mengucap begitu. ia memburu dan ulur tangannya yang terbuka ke ubun-ubunnya nona Han. ia menahan sakit. Ia bergerak dalam jurus Kiu Im Pek-kut Jiauw yang lihay yang untuk meremukkan batok kepala orang. kapan Hian Hong mengempos semangatnya. Berbareng dengan itu.Pendekar Pemanah Rajawali jurus ―Hong Hong tiam tauw‖ – Burung Hong menggoyang kepala. ―Hai. Lam Hie Jin dan yang lainnya telah tiba. ia menerjang kepada musuh itu. ia lompat kepada si nona itu. setelah satu jeritan keras. Lantas ia mendamprat: ―Bagus betul. sebentar akan aku adu jiwa denganmu!‖ ―Bangsat perempuan. ia kerahkan semua tenaganya. untuk diteruskan dipakai membabat.ilmu pedangnya gadis Wat. menampak nona Han dalam bahaya. ia serang Han Siauw Eng dengan dua-dua tangannya. Cu Cong bersama Coan Kim Hoat. Dengan gerakannya ―Lay louw ta Kun‖ atau ―Keledai malas bergulingan‖. ia lalu menanya: ―Eh. perempuan bangsat. bagaimana dengan lukamu? Apakah luka itu menghendaki jiwa kecilmu yang busuk itu?!‖ Irawan D Soedradjat Page 107 . lalu dengan sikut kanannya. Siauw Eng buang diri dengan bergulingan. hingga ia bebas dari bahaya. Hian Hong lihay sekali. bangsat anjing. ia kasih lewat ujung pedang. Ia menjerit keras tetapi pedangnya dikerjakan untuk dipakai menikam ke dadanya lawan! Hanya. Justru itu. tak dapat Siauw Mie To bertahan lagi. Sia-sia Siauw Eng tarik pedangnya. makhluk-makhluk ini orang-orang macam apakah?!‖ Bwe Tiauw Hong sahuti suaminya itu: ―Mereka itu adalah saudaranya Hui-thian Sin Liong dan konconya Hui Thian Phian-hok!‖ ―Oh!‖ berseru Hian Hong. Tan Hian Hong mengempit Kwee Ceng di dengan lengan kirinya. ia melihat ancaman bahaya terhadap si nona yang ia sayangi. tanganya Hian Hong mendahulukan menepuk pundaknya. ―Kau masih memikir untuk menyingkir?‖ tanya Hian Hong. ia jatuh pingsan. Tiauw Hong tengah memegangi pohon besar. Thio A Seng rebah di tanah dengan terluka parah. ia tak mau berkelahi secara rapat. ia menduga-duga siapa mereka dan kenapa mereka itu muncul di gurun pasir ini. ia menyampok. ia jauhkan diri. pedang itu meleset di dadanya itu. perempuan bangsat. Thio A Seng sudah maju tinggal beberapa tindak lagi. dengan begitu ia bisa menyingkir beberapa tindak. kiranya kau belum mampus! Jadinya kamu datang kemari untuk mengantarkan nyawa kamu!‖ Tapi ia juga khawatirkan keselamatan istrinya. hingga seketika ia roboh ke tanah. saban kali si Mayat Perunggu hendak menjambak. bagaimana kau?!‖ terdengar teriakannya Hian Hong. dan ―Wat Lie Kiam-hoat‖. untuk mengahalangi serangan. ia meneruskan menyambar si nona dengan jurusnya ―Sun swi twi couw‖ – Menolak Perahu Mengikuti Air. ia menyahut dengan keras: ―Lelaki bangsat. Tan Hian Hong tidak berhenti sampai disitu. ia menyerang musuhnya. Siauw Eng lepas dari marabahaya. maka itu. legakan hatimu!‖ sahut Tan Hian Hong. Lam Hie Jin dan Han Po Kie lantas lari menyusul tubuh saudaranya itu. Tan Hian Hong kaget dan heran akan menyaksikan semua musuhnya demikian lihay. perempuan bangsat. hingga lima jarinya si Mayat Perunggu masuk ke dalam dagingnya. lima jarinya masuk ke dalam daging betis. batal meneruskan serangannya kepada Siauw Eng. setelah pedang itu berpindah arah.sepasang mataku dirusak oleh mereka itu! ikalau kau kasih lolos satu saja diantara tiga ekor anjing itu. malah Cu Cong bersama Coan Kim Hoat mendahulukan menyerang denagn senjata rahasia mereka. ia papaki kakinya Thio A Seng itu. tetapi justru karena ini.

Diwaktu dipakai menyambar. ia gunai Kim-na-hoat. orang dengar suara merekek dua kali dan suara ―Duk!‖ satu kali. Bocah itu dalam bahaya. Berbareng dengan itu. lalu dengan tiba-tiba juga. setelah bebas. mega hitam menutup sang putri malam. sedang sikutnya yang kiri menghajar dadanya Cu Cong. ia membikin perhatiannya tan Hian Hong menjadi terbagi. dengan lompat berjumpalit. apalagi sekarang ini latihannya ilmu yang baru. guna mencekik leher musuh itu. tapi ia telengas. atau sekarang tangan itu – atau lebih benar lima jarinya – sudah mendekati ubun-ubunnya! Dalam keadaan sangat berbahya itu. buku-buku tulangnya memperdengarkan suara berkeretekan. . Ia tidak menghiraukan lagi hal ini karena adiknya terancam dan adiknya itu perlu ditolongi. Kelima Manusia Aneh dari Kanglam itu menginsyafi bahaya. Itulah Tan Hian Hong. makin lihay musuh. tak sudi mereka merapatkan diri. ia lompat ke samping. ilmu menangkap tangan. Karena tangan kanannya itu terangkat. hingga bebokongnya berbunyi bergedebuk. ia menyingkir setombak lebih. karenanya mereka berkelahi dengan waspada. Cu Cong pun merangsak ke belakang Tong Sie. dia hanya terteriak menjerit-jerit. Ia lantas lepaskan Kwee Ceng. Han Po Kie tunujk keberaniannya. Karena itu. Belum lagi Hie Jin menarik pulang senjatanya. Hian Hong kagum hingga ia memuji di dalam hatinya. si Mayat Perunggu itu. kau bagaimana…‖ ―Jangan bersuara!‖ menjawab Siauw Eng. kedua tangannya bekerja. Ia berkhawatir tetapi ia dapat menghampiri istrinya itu. Dengan caranya ini. Cu Cong berlima telah kurung padanya. ai terus lompat kepada Kwee Ceng. Tiba-tiba ia berpekik. lalu tangannya itu seperti terulur menjadi lebih panjang dari biasanya. Ia menyerang dengan Teetong Pian-hoat. tapinya ia tidak terluka. satu kali ia kena dihajar kayu pikulan Lam Hie Jin. Karena ini. tangannya menyambar penyerangnya itu. Gerakannya itu ialah yang dinamakan ―Leng miauw pok cie‖ atau ―Kucing gesit menerkam tikus‖. Maka itu kurungan mereka menjadi semakin lebar. tanda tenaga diadu. Rasa sakit tiba-tiba membuat Cu Cong meringis dan tangannya yang dipakai mencekik leher musuh terlepas sendirinya. meneruskan gerakan tangan kirinya itu. Kim Hoat kaget melihat Kwee Ceng dilempar. sudah selesai delapan atau sembilan bagian. berdiri diam sambil menanti ketikanya. Walaupun merasakan sakit. Setelah berselang begitu lama. ―Citmoay. yaitu Kwa Tin Ok. berbareng dengan itu. untuk menolongi diri berbareng menolongi orang. berbareng dengan itu juga da tercium bau bacin. sebab tadi hampir-hampir ia tak dapat bernapas. yang ia lempar ke tanah. Selagi ia dapat mencium bau itu. Sekonyong-konyong saja guntur berbunyi sangat nyaring.Pendekar Pemanah Rajawali Bwee Tiauw Hong menyahuti suaminya dengan mendongkol: ―Lekas bunuh mereka! Nyonya besarmu tidak bakalan mampus!‖ Hian Hong tahu luka istrinya itu berat. sebab tubuhnya terpental rubuh saking kerasnya serangan sikut itu. terpaksa ia melenggakkan tubuhnya. tangan kanannya yang keras seperti besi. sambil berkelit. guna membnagkol lengan musuh itu. kalau tidak. untuk diputar ke kiri. Kiu Im Pek-kut Jiauw. Hie Jin kaget sekali. tangan musuh yang berwarna biru sudah mendekati alisnya. sedang yang satunya lagi. makin keras niatnya untuk membinasakan mereka. ia serang Coan Kim Hoat. sambaran itu sudah sampai kepadanya. diulur. Istri itu sengaja pentang mulut besar. meninju dan menyambar. tubuh siapa ia sambar. Hian Hong sendiri bukannya tidak menderita karenanya. tidak nanti ia pegang pohon saja dan tiak datang membantu. si adik yang ketujuh itu. dengan sendirinya dadanya menjadi terbuka. untuk lekas-lekas menjalankan napasnya. Irawan D Soedradjat Page 108 ―Semua renggang!‖ teriak Han Po Kie dalam gelap gulita itu. yaitu ilmu bergulingan di tanah. guna menggempur kaki lawan. Dan ia lari ke samping beberapa tindak. Lihay tangannya Hian Hong itu. yang telah pertunjuki tenaganya yang menyebabkan Hie in patah bahu kirinya. hingga semua orang tidak dapat melihat sekalipun lima jari tangannya di depan matanya! Di dalam gelap gulita itu.

Selagi orang kegirangan. ia melihat bagaimana tongkat kakaknya itu. tengah menyambar ke kakaknya itu. ―Jitee.com bergerak pula. ia segera menunduk. yang kembali mampir di tubuhnya yang kebal itu. tetapi ia kebal seperti istrinya. lengannya itu terulur panjang. Gerakannya itu terhalang. memperlihatkan sinar terang. disebabkan ketegangan dan kecemasan hati mereka. suara terhajarnya terdengar nyata. Justru itu. mereka dari itu Cuma andalkan kuping mereka. Hian Hong lanjuti serangannya tanpa berlengah sedetikpun. mereka pun menolongi tiga saudara mereka yang tealh terluka. yang digunai Hian Hong. Coan Kim Hoat terkejut. ia berseru: ―Toako. yang tubuhnya terhuyung.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin Ok dengari segala gerak-gerik. dengan lihaynya pendengarannya itu. Mendengar itu. maka juga Han Po Kie menjadi kaget sekali.‖ Coan Kim Hoat memberitahu. Disamping itu dengan meraba-raba. ia tertawa sambil berlenggak. Ia lompat ke arah musuh itu. diarahkan ke tiga penjuru. musuhnya itu. tubuh Tin Ok terhuyung. Semua orang berhenti bertempur karenanya. Itulah tandanya kakak mereka mulai berhasil. Berbareng dengan gerakan tangan kiri ini. Po Kie semua bergirang.kangzusi. Si Mayat Perunggu lihay sekali. ia berpekik secara aneh. untuk menganjurkan kakak itu. ia melainkan merasa sangat sakit. habis mana. Kwa Tin Ok berdiam. Dengan waspada ia pasang terus kupingnya. akan terbangkan enam batang tok-leng. ―Sekarang ini langit gelap sekali. Tin Ok kaget tidak kepalang. terpisahnya delapan atau sembilan tindak daripadanya. karena bajunya kena terjambak dan robek karenanya. samar-samar ia masih mendengar suara napas orang. kilat berkelebat pula. Mendengar itu. Sinar kilat sudah lenyap tetapi sambaran itu telah mengenai sasarannya. Tan Hian Hong adalah orang yang diserang. rasanya pertempuran itu berjalan sudah lama. tidak ada satu pun yang berani mendahului www. tiga sudah terluka parah. mendadak kilat menyambar. Ia tidak hiraukan tongkat lawan. untuk mendesak Kwa Tin Ok. Empat yang lain tepat mengenai tubuhnya. Dua batang tok-leng lewat di atas kepalanya. dua orang ini bertempur. dengan lantas ia ayunkan kedua tangannya. Dua kali ia terhajar tongkat. ia menghajar dengan tongkatnya. ia lanjuti serangannya. tubuhnya sudah mencelat maju. ia masih ingat untuk segera menyerang denagn cambuknya. Ingin mereka membantui saudara mereka itu tetapi mereka tidak dapat melihat. itu bukan napas saudara angkatnya. tangan kanannya menjambak ke depan. guna menangkap tongkat musuh itu. Hui Thian Pian-hok si Kelelawar Terbangkan Langit itu menjadi girang luar biasa. sang hujan pun turun menyusul. oleh Hian Hong dipakai menyerang ia dalam rupa timpukan! Bukan main girangnya si Mayat Perunggu. selagi Kim Hoat bersuara. Tin ok dengar suara angin. Ia tidak kasih dengar suara apa-apa. guna mencegah dan melibat tongkat itu. Tongkatnya yang terampas Hian Hong. Diantara tujuh Manusia Aneh. sudah lantas kasih dengar seruan mereka berulang-ulang. ia menjadi heran sekali. ―Thian membantu aku!‖ ia memuji dalam hatinya. itu artinya Kanglam Cit Koay telah kalah besar. guna mencoba mengacaukan pikiran musuh. Syukur dalam kagetnya itu. kau bagaimana?‖ ia terpaksa bertanya. Irawan D Soedradjat Page 109 . siapa pun tidak dapat melihat siapa. Untuk Han Po Kie beramai. Han Po Kie bersama Han Siauw Eng dan Coan Kim Hoat. sang guntur menyebabkan langit menjadi gelap gulita. sambil berkelit. dengan mengepal lima jari tangannya. awas!‖ Hian Hong sangat lihay dan gesit. ia menjadi tahu di mana adanya si penyerang. ia lantas berkelit. Ia merasa pasti. mereka melainkan mendengari suara sambarannya angin. kedua tangannya dipakai untuk menyambar. Ia dengar sambaran angin. yang ketahui kakaknya tengah bertenpur. tapi ia belum bebas bahaya. Satu dengan yang lain tidak dapat melihat. Tongkat itu ia papaki denagn pundaknya yang kiri. di tempat gelap gulita itu. Dengan begitu. Karena serangan tok-leng ini. walaupun ada suara hujan. tangannya sendiri diputar ke atas. Ia dengar suara napas di sebelah kiri ia. maka syukur untuknya. ia tidak terluka. Pertempuran Hian Hong dengan Tin Ok hebat dengan cepat telah berlalu dua sampai tigapuluh jurus. Karena ini. Tiba-tiba Hian Hong menjerit aneh. ia melompat mundur. Telak serangan itu.

ia lupa. Ini dia yang dibilang ―Orang yang pandai berenang mati kelelap. untuk sambar bocah itu. perempuan bangsat…. Dua saudara seperguruan itu terlibat api asmara sebelum mereka lulus. Orang itu bertubuh kecil. tubuhnya terus roboh terjengkang. orang itu ialah Kwee Ceng! Segera ia menunduk. ia terjeblos dan roboh terguling-guling. yang tajamnya bahkan sanggup mengutungi emas dan batu kemala. Sejak ia berhasil menyempurnakan ilmu kepandaiannya. Tiauw Hong tahu. tetapi sekarang selagi mencekuk satu bocah. Sang istri kertak giginya. kalau rahasia mereka ketahuan. ―Lelaki bangsat. lain-lain muridnya Irawan D Soedradjat Page 110 . Segera ia tiba di samping suaminya. Sebagai jago is terbinasa di tangannya satu bocah yang tidak mengerti ilmu silat. hanya saking murkanya. ia murka bukan main. Ia menduga tak keliru. manusia cebol terokmok!‖ berseru Hian Hong. sekalian buron. ―Celaka. suaranya terputus-putus. kepandaiannya itu ia ciptakan dan yakinkan di pulau Tho Hoa To itu. Ia lantas berlompat. yang lihat aksinya si orang she Han. kabur ke pulau Heng To di sebelah selatan. Istri ini lantas meraba ke dada orang. Kapan Oey Yok Su ketahui perbuatannya kedua murid itu. Maka sejenak itu. Oey Yok Su adalah pendiri dari suatu kaum persilatan sendiri. ―Akan aku balaskan sakit hatimu!‖ ia berseru. dari mana mereka menyingkir lebih jauh ke Lengpo di propinsi Ciatkang.‖ sahut Hian Hong lemah. seperti ada tangan yang menyambar merangkul. ia curi sekalian kitab Kiu Im Cin Keng dari gurunya. ia tidak terluka. Mereka insyaf. guna hampirkan si cebol. habislah nyawa jago itu. Tapi ia telah bersumpah tidak akan meninggalkan Thoa Hoa To.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sekarang hendak aku mengambil nyawa anjingmu. Itulah siksaan hebat. ia bersembunyi di pinggiran. berurat tembaga bertulang besi. Tetapi tiba-tiba Tan Hian Hong perdengarkan jeritan yang hebat sekali. ―Hm!‖ Hian Hong ksaih dengar suaranya yang seram. Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi dapat dengar jeritan suaminya itu. Tetapi ia bertubuh kuat. maka juga ia kalah terkenal dari kaum Coan Cin Kauw yang kenamaan di Kwantong dan Kwansee dan Toan Sie yang kesohor di Selatan (Thian Lam). pemilik dari pulau Tho Hoa To di Tang Hay. Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong ini asalnya adalah saudara satu perguruan. kecuali pusarnya itu. tulang-tulangnya lantas meretak berulang-ulang. sebagaimana juga kebiasaan suaminya. Tan Hian Hong tahu. Diwaktu bertempur ia selalu melindungi perutnya. ia kuatkan hatinya lalu dengan tiba-tiba. ia terkena pisaunya Khu Cie Kee. Karena ini. untuk di daratan Tionggoan. ―Kitab itu telah aku bakar…‖ kata Hian Hong. ―Lepaskan aku!‖ menjerit Kwee Ceng. ―Rahasianya…di dadaku…‖ Ia tak dapat bernapas terus. kau kenapa?‖ ia tanya. mereka bakal dihukum mati dengan disiksa. Ia melatih diri dengan sempurnya. untuk mana ia nyelusup masuk ke kamar gurunya itu. Laut Timur. Ia takut bukan main. Ia terkena justru bagian tubuhnya yang terpenting. ia menjadi tidak mempan barang tajam. di tanah rata kereta rubuh ringsak‖. sedikit orang yang ketahui kelihayannya. Tapi kakiknya terserimpat. Satu kali ia kena injak tempat kosong. tidak pernah ia pergi meninggalkan pulaunya itu. ia tak dapat mengawasi suaminya itu tersiksa begitu rupa. ialah kitab Kiu Im Cin Keng bagian rahasianya. ilmu silatnya cukup untuk membela diri tetapi tak dapat digunai untuk menjagoi. mereka adalah muridmuridnya Tocu Oey Yok Su. Maka juga. untuk mengambil kitab yang dikatakan suaminya itu. Maka itu pada suatu malam gelap buta. disaat hendak menghembuskan napas terakhir. dari atas bukit ia lari untuk menghampirkan. suaminya itu telah membuyarkan tenaga dalamnya. Tak pernah ia lupai kebiasaannya membawa-bawa ―bangsat‖. ia hajar batok kepala suaminya. maka ia tak berbuat kepalang tanggung. Lebih celaka lagi. ―Lekas kau lari…!‖ Kwee Ceng dengar pembicaraan itu. mereka naik sebuah perahu kecil. Setelah menikam dan terlepas dari cekukan. terpaksa ia membiarkan saja. ialah kelemahannya. yang menolongi kakanya itu.

Syukur Tin Ok dan Cu Cong telah lihay ilmu dalamnya. Hujan pun turut berhenti perlahan-lahan. Belum pernah ada orang yang sanggup robohkan mereka. kepandaian yang kita sudah dapati dari suhu masih belum cukup untuk pelajari bagian bawah ini. Dua kali mereka mendapat kemenangan. Syukur. untuk mencari terlebih jauh. kau bisa celaka. Sebab Han Po kie bersama Siauw Eng dan Coan Kim Hoat. Kau tahu. hingga mereka menjadi manusia-manusia bercacad seumur hidupnya. tidak ada kabar ceritanya. Bisa celaka mereka dirabu pasir dan batu itu. Maka itu. kita tidak berhasil. Hian Hong dan Tiauw Hong menyembunyikan diri untuk menyakinkan Kiu Im Cin Keng itu. Terdesak juga Tiauw Hong diserang hebat dari belakang. ia tidak sempat mewujudkan niatnya itu. kepada gerak-gerik angin. Hian Hong menjawab: ―Sebenarnya kitab ini terdiri dari dua bagian. Saking tergesa-gesa. baru ketiga kalinya. adalah setelah ia sendiri berhasil mempelajarinya. Malah dilain saat. Ketiga Manusia Aneh ini menjadi cemas. Semua muridnya itu ia putuskan urat-uratnya. empat saudaranya itu. biar bagaimana Tiauw Hong memohonnya. Di dalam hatinya. Coan Kim Hoat lantas tolongi saudara-saudaranya yang terluka itu. Dengan begini mereka bikin diri mereka menjadi jago. dari itu. hingga mereka bisa melihat musuh. walaupun mereka terhajar Tong Sie. hingga orang percaya mereka sudah mati karena luka-lukanya. Hian Hong suka serahkan kitabnya itu pada istrinya. si putri malam pun mulai mengintai pula dan muncul lagi. mereka kena dilukakan. Ia membikin enam saudaranya Irawan D Soedradjat Page 111 . hingga mereka kabur untuk sembunyikan diri. biar aku yakinkan sendiri dulu. Hebat pengepungan ini. Ia tahu ada orang serang padanya. Kalau tidak. Kekalahan ini disebabkan terlalu banyak pengepungnya. Kwee Ceng mulai muncul dari belakang batu dimana ia tadi bersembunyi.Pendekar Pemanah Rajawali menjadi korbannya. Pada waktu suami istri kejam ini dikeroyok orang-orang gagah dari pelbagai partai persilatan di utara Sungai Besar. syukur ia tidak terluka dalam.‖ Tiauw Hong percaya pada suaminya. apapula makin lama mereka jadi makin telangas. disaat dia hendak menutup mata. Kim Hoat bertiga terpaksa lompat mundur. jiwanya terancam. Sebaliknya. Tapi bukan kitabnya sendiri yang dia telah bakar. ia tidak hendak beri lihat kitab Kiu Im Cin Keng itu. atau kalau kau termaha. ilmu Menyambar dan Menangkap. Sekonyong-konyong datang angin besar. mereka terus menyakinkan Kiu Im Cin Keng bagian ―Kiu Im Pek Kut Jiauw‖ atau ―Cengkeraman Tulang Putih‖ dan ―Cui Sim Ciang‖ atau ― Tangan Peremuk Hati‖. Sayang untuknya. walaupun pada istrinya. membuat langit menjadi gelap-gulita pula. lenyap juga mayatnya Tan Hian Hong. sebagian bawah. Aneh tabiat Hian Hong. untuk terus mendekam. dengan terbangnya sang mega. Adalah keinginannya ilmu ini agar musuh berkelahi rapat. Ia heran hingga ia diam menjublak. ia tidak dapatkan apa-apa. Adalah berbahaya menyakinkan bagian bawah tanpa bagian atas. Setelah itu mendadak ia menyerang hebat kepada bebokong lawannya. yang kedua matanya sudah buta. bukan saja mereka tidak dapat mendesak. ia tidak ambil peduli. Ia sekarang hanya mengandal pada kejelian kupingnya. baru ia turunkan kepandaian itu kepadanya istrinya. yang tercengkeram Kiu Im Pek-kut Jiauw. lalu ia usir mereka dari pulaunya. sudah lantas maju menyerang. Medan pertempuran ada di atas gunung Heng San. Justru di bagian atas adalah pelajaran pokok dasarnya. ai melawan dengan mainkan tipu-tipu Kim-na-hoat. Tentu saja. Tidak tahunya. aku dapat curi cuma sebagian. aku mesti memilih dengan teliti. si Mayat Perunggu. Semua orang basah kuyup pakaiannya. ia tidak memaksa lebih jauh. maka ia hendak memeriksa. Cu Cong. mereka telah minta bnayak korban. Saking hebatnya. lukanya berbahaya. Lam Hie Jin patah lengannya. Han Po Kie yang paling dulu lompat bangun. Tiauw Hong lantas raba dada suaminya. runtuhlah nama nama Kanglam Cit Koay…‖ Maka itu. hanya singkatannya atau rahasia pokoknya. lam Hie Jin dan Thio A Seng. mereka sendiri saban-saban menghadapi ancaman. pasir dan batu pada beterbangan. Ketika ini digunai Siauw Eng akan menikam dengan pedangnya dan Kim Hoat dengan dacinnya. Po Kie berkata: ―Celaka betul! Bertiga kita lawan satu wanita buta. membawa mega hitam dan tebal. Mereka sembunyikan diri sampai belasan tahun. Masih rebah tengkurap adalah Kwa Tin Ok. ia menjadi penasaran. luka mereka tidak parah. Ia ambil kedudukan di belakang musuhnya itu. ia berpikir keras. membarengi berkelebatnya kilat. Adalah Thio A Seng. Dibantu oleh Siauw Eng dan Po Kie. angin tidak mengganas terlalu lama. tetapi segera ia menjerit heran. Adalah sekarangm. Ketika istrinya desak. Bwee Tiauw Hong lenyap. Repot juga Tiauw Hong.

perlahan sekali. akan aku menikah denganmu. kau lihat contohnya gurumu ini…. aku pun malas kecuali tenagaku yang besar…. cuaca sudah menjadi terang. terus ia berjengit. ―Kau datang kemari. Coba dulu aku rajin belajar. ―Ngoko. yang tahu kakak angkatnya yang kelima ini ada menaruh cinta kepadanya. biasanya aku perlakukan kau tidak manis…‖ katanya. jangan menangis. kau tentu hendak berguru pada kami?‖ Cu Cong tanya Kwee Ceng. Ia ulur tangannya.kalau nanti aku mati. Bocah itu menyahuti. si Mayat Besi. perlu kau belajar rajin dan ulet. Habis hujan lebat. mereka tetap manusia biasa. ia menarik napas. Si nona masih dengar: ―Ajarilah ini anak dengan baik-baik. tidak nanti kita kalah…!‖ A Seng tertawa.‖ kata Cu Cong pula. jikalau kau alpa dan malas. untuk mengubur jenazah saudaranya itu ditempat itu. ―Aku telah jadi orangnya keluarga Thio. maka Siauw Eng pasang kupingnya. ia tersenyum pula. tapi lukanya sangat mendatangkan rasa sakit.‖ kata Cu Cong. Masih dapat ia mengatakan demikian. selanjutnya kau mesti dengar perkataan kami. seumurku. habis itu berhentilah ia bernapas…. Walaupun semuanya bertabiat aneh. bukan?‖ kata nona Han itu tanpa malu-malu. baik sekali.‖ Meski masih kecil. inilah aku ketahui.. mari kau hunjuk hormatmu padanya.‖ Masih A Seng hendak berkata pula. Sebagai nisan. ia masih dapat tersenyum. maka itu. si Buddha Tertawa. tenaganya sudah habis. Entah kemana perginya Tiauw Hong beserta mayat suaminya itu. ynag telah hampirkan mereka. ―Legakan hatimu. Mereka mencari denagn sia-sia. tidak nanti aku antarkan jiwa disini…. Itu waktu. Aku sangat bodoh. ―Kau justru perlakukan aku baik. ―Ini gurumu yang kelima bakal pulang ke langit. sayang aku tidak dapat memberi pelajaran kepadmu….‖ Tiba-tiba kedua matanya berbalik. mereka menggali liang. untuk mengusap-usap rambut adik angkatnya itu. ia jatuhkan diri di depan tubuh A Seng.‖ katanya. aku baik-baik aja…‖ ia menghibur. Merek aitu pada melinangkan air mata. Enam saudara itu memangis menggerung-gerung. karena sangat eratnya pergaulan mereka. mereka juga saling menyinta. ―Cukup…‖ katanya. kau pergilah dengan tenang…Kita Kanglam Cit Koay. kesedihan mereka bukan main. ―Kami tujuh saudara adalah gurumu semua. Kwee Ceng mengangguk. Thio A Seng tersenyum meringis. Tin Ok terharu sekali. Sebenarnya sia-sia saja kau berguru padaku. legakan hatimu. Kwee Ceng sudah mengerti banyak. ―Anak yang baik. tapi masih meneruskan kata-katanya: ―Bakatmu tidak bagus. maka Coan Kim Hoat dan Han PO Kie lantas turun gunung untuk cari mayatnya si MayatPerunggu serta Bwee Tiauw Hong. di mulutnya kakak angkatnya itu. hampir ia tak sadarkan diri.‖ kata pula si nona. di tanah berpasir mesti ada tapak kaki tetapi ini tidak. sedang ia pun ada menaruh hati. aku tidak nanti menikah dengan lain orang…. Siauw Eng menangis. begitupun dengan yang lainnya. ―Ya!‖ ―Kalau begitu. ―Citmoay. mereka mendirikan satu batu besar. untuk menjadi istrimu! Kau setuju. lebih-lebih Han Siauw Eng. Irawan D Soedradjat Page 112 . A Seng tertawa. aku akan selalu bersama kamu…‖ A Seng masih dengar suara tu. Thio A Seng adalah Siauw Mie To.‖ Siauw Eng menjawab. Ia lantas peluki A Seng dengan ia menangis tersedu sedan.Pendekar Pemanah Rajawali sangat berduka. ―Jangan menangis. Dengan masih menangis. walaupun lagi menghadapi bahaya maut. jaga supaya ia jangan kalah dengan itu…imam…‖ ―Jangan khawatir.. untuk bersujud sambil mengangguk berulangkali. ―Ngoko. Ia menahan sakit. hingga dua kali.

Coba tidak ada Kwee Ceng. kau sendiri bakalan digegares macan itu. putranya Sangum. dengan cekal Kim-kiong-pian. Dengan mendongkol ia berkata: ―Biarlah! Mari kita hajar Tuli dulu! Hendak aku lihat. Satu tukang rawat macan tutul yang lainnya ketakutan. ―Suhu. tentulah Kwee Ceng telah dihajarnya. lioktee dan citmoay. hendak aku menyuruh kakak angkatku lari. . Mereka jalan belum jauh tempo mereka dengar menderunya binatang liar. Ia berpikir: ―Dia mati di atas gunung. Kwee ceng terkejut. dialah putranya Khan besar Temuchin!‖ berkata itu tukang rawat macan tutul. kenapa mayatnya ada di sini? Siapakah orang-orang itu? Apakah maksudnya maka itu mayat diganggu?‖ Itu waktu Coan Kim Hoat semua telah datang menyusul.Pendekar Pemanah Rajawali ―Di tempat begini. ―Kau lekas menyerah! Kalau tidak. malah jago Kanglam ini kenali itu mayatnya Tan Hian Hong. yang agaknya kaget. Tempo ia lihat Kwee Ceng. Tidak ayal lagi. Ia menitahkan orangnya. dia hendak suruh macan itu makan kakak angkatku. kemudian kau. ―Kenapa tadi ia serang aku! Lekas!‖ Dengan terpaksa. apa nanti paman Temuchin bisa bikin!‖ ―Jikalau kau pergi. ―Macan tutulku telah gegares Tuli!‖ sahut Tusaga berteriak. Heran Po Kie. tidak nanti wanita itu kabur jauh. kau sembunyi di sini! Kenapa kau tidak berani membantui Tuli bertarung? Makhluk tidak punya guna!‖ Bocah itu ialah Tusaga. ―Eh. yang berada di antara rombongan orang tadi. Lari serintasan. jerih ia menampak Kanglam Cit Koay. ia berkata. ―Akan aku laporkan kepada Khan besar!‖ Tusaga hendak mencegah tapi sudah kasep. Tusaga ayun cambuknya. Kedua macan tutul itu sudah mulai gerogoti mayatnya Hian Hong. ―Aku tuntun macan tutulku menyuruhnya geharesi dia!‖ sahutnya. ―Tuan muda. tak mau ia maju walaupun dipaksa majikannya. maka itu kuda berlompat ke depan. yang menjadi tukang pelihara macan tutul itu. menhajar kepalanya orang itu. shatee. Dua ekor macan tutul itu telah dapat mengorek satu mayat. Kalau tidak.‖ Pikiran ini disetujui. tukang rawat macan tutul itu turut perintah. ia memasang mata ke depan. ―Takut apa!‖ teriaknya. Ia lantas ajak pemelihara macan tutul itu untuk berlalu. Di sana tertampak serombongan orang serta dua ekor macam tutul menoker-noker pada tanah. coba kau pergi mencari pula. Diam-diam mereka bergedik menyaksikan itu musuh tangguh. maka habis mengucurkan airmata di depan kuburan A Seng. ―Tarik macan itu!‖ kata satu anak kecil yang menunggang kuda. seluruhnya berlumuran darah. kamu mengepung pula Tuli?‖ tanya Kwee Ceng. ―Di mana dia?‖ Tusaga perlihatkan roman tembereng dan puas. Po Kie keprak kudanya.‖ kata Cu Cng sekembalinya kedua saudara itu. Po Kie menjadi heran. setahu bagaimana jadinya dengan mereka. Irawan D Soedradjat Page 113 Kwee ceng jeri kepada macan tutul tetapi ia ingat keselamatannya Tuli. Itulah sebabnya kenapa kuda si kate tidak berani maju terus. yang terluka dari leher sampai di perutnya. ―Sekarang mari kita antar anak ini dan kita pun merawat diri. ia maju ke arah mereka. ―Mana Tuli?!‖ ia tanya.‖ ia kata kepada Siauw Eng.‖ kata itu guru. maka mereka pun saksikan myatnya Hian Hong itu. mereka pun turun dari gunung. kau pun bakal digegaren macanku!‖ ia mengancam tetapi ia tak berani dekati musuhnya. binatang itu berhenti dengan tibatiba. yang terus terdengar berulang-ulang. dia membentak: ―Hai. maksudnya memberitahu. Segera ia dapat tahu perbuatannya itu macan tutul. seperti ada dagingnya yang orang telah potong. ―Tak takutkah kau?‖ ―Aku takut…‖ sahut murid ini. Po Kie lompat turun dari kudanya. Mereka menjadi heran sekali.

Irawan D Soedradjat Page Wang Khan semua iringi kedua saudara Wanyen itu. mereka terkejut mendengar laporan si tukang pelihara macan. . ―Jangan lepaskan macan tutul! Jangan lepaskan macan tutul!‖ Segera terlihat ternyata mereka itu adalah Mukhali berempat. ia ulur tangannya. ia kagumi bocah itu. Itu wkatu Temuchin bersama Wang Khan. dimana tampak Tuli sedang dikurung oleh belasan orang. ilmu silat tangan kosong. Cu Cong rebah di bebokongnya unta karena lukanya. Mereka jalan baharu satu lie lebih. mereka lantas datang menyusul. Hebat Tuli itu. ia lantas lari pulang untuk menagmbil macan tutul ayahnya. Kwee Ceng bersangsi sebentar. Wang Khan mendahului perintah satu pengiringnya: ―Lekas sampaikan titahku. kedua mereka bakal jadi bentrok. dari ini putranya Temuchin Cuma dikurung. yang dengan laporannya si tukang pelihara macan tutul. tidak lantas dikeroyok. Kita tak boleh terbitkan onar. ia pun sangat berani. yang larinya sangat pesat. ingat. Kanglam Cit Koay dapat lantas mencegah Tusaga apabila mereka kehendaki itu. tanpa minta bantuan Ogotai. Sebabnya 114 Wanyen Lieh pun gembira tetapi ia tidak perlihatkan itu pada wajahnya. tapi ia lagi dikurung. Tusaga penasaran. ia lantas saja lari menyusul Kwee Ceng. Ia berkata kepada saudarasaudaranya: ―Bocah ini bebal tetapi dialah orang segolongan dengan kita!‖ ―Matamutajam. kegembiraannya terbangun secara tiba-tiba. Wanyen Yung Chi kecewa gagal menyaksikan orang diadu dengan binatang. jieko. heran dia melihat Tuli sendirian. akan cekuk bocah itu. kita harus berhati-hati.‖ kata Siauw Eng. ―Tusaga bawa-bawa macan tutul!‖ Tuli kaget. negara Kim yang besar!‖ Ia terus kisiki pengiringnya. pertempuran sudah lantas dimulai. ia menyahuti: ―Aku mau pergi!‖ Benar-benar ia lantas lari. sekalian mereka ingin saksikan sepak terjangnya Tuli dan Kwee Ceng. seorang diri ia pergi memenuhi janji kepada Tusaga untuk bertempur. yang pun lantas berlalu dengan cepat. hendak ia lari. lekas!‖ Kwee Ceng berteriak-teriak sebelum ia datang mendekat. Tusaga datang dalam jumlah belasan. saking murkanya. ia gunai jurus ajarannya Cu Cong. Tapi ia tidak peduli suatu apa. kakaknya. dan Sangum tengah menemani dua saudara Wanyen di tenda mereka. ―Tuli! Tuli! Lekas lari. tanpa perkenanan dari Temuchin lagi. setelah menyandak. sebab dua kali ia rubuh mencium tanah dan hidungnya kena diberi bogem mentah dua kali juga. untuk terus dipanggul! Tetap tubuh Kwee Ceng di atas pundak orang. Ia tentu tidak tahu. ia mungkin putranya satu pangeran atau raja muda. sebentar kemudian tibalah di satu tempat. Ia pikir: ―Jikalau anaknya Sangum membinasakan anaknya Temuchin. salah satu penunggangnya berteriak-teriak. ia seperti lagi menunggang kuda. di depan mereka tertampak beberapa serdadu Kim tengah berkelahi sama pengiring Khan ini yang tadi diberikan titah. Sementara itu Han Po Kie dapat candak Tusaga dan melombainya. ketika besoknya pagi ia tidak dapat cari Kwee Ceng. Jamukha. Sebenarnya Tuli rajin melatih diri menuruti ajarannya Cu Cong. jurusnya itu adalah jurus pojok dari ―Khong Khong Kun‖. ―Mari kita bantu dia!‖ Coan Kim Hoat lantas memesan: ―Bocah galak itu memelihara macan tutul. semua lantas lari keluar tenda untuk naiki kuda mereka. Itu waktu ada beberapa kuda dilarikan keras ke arah mereka. ia masgul. tiga dari kita terluka…‖ Po Kie manggut. ia bikin musuh-musuhnya rubuh satu demi satu. Tuli yang sedang kegirangan tidak menyangka musuhnya itu bakalan minta bantuan binatang liar.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jadi kau batal pergi?‖ tanya gurunya lagi. dan inilah untungnya negaraku. tetapi mereka tidak mau menerbitkan onar. Dia orang ini turut perintahnya Tusaga. ―Mari kita lihat!― katanya. sekarang ia dengar berita ini. cegah cucuku main gila!― Pengiring itu segera kabur dengan kudanya.

maka ia dihiburi ibunya. Ia sangat khawatir melihat putranya terancam macan tutul itu. Anak itu menangis karena kagetnya. ―Siapa yang membunuh macanku?!‖ ia tanya dengan bengis. lalu terdengar suara kuda berlarilari mendatangi di arah belakang mereka. seekor kuda merah. yang pun terus tarik Tuli. Keempat pahlawannya lempar panah mereka dan menghunus golok untuk maju menyerang. Yulun Eke lantas saja peluki putrinya. yang darimana darah mengucur keluar. segera ia berlompat menubruk. Kwee Ceng berlompat. Nyonya Temuchin tengah pasang omong dengan istrinya Sangum di tenda mereka. 115 Sangum sangat murka. Di antara empat pahlawan. Penunggangnya seorang wanita usia pertengahan yang memakai mantel kulit indah dan mengempo satu anak perempuan yang elok romannya. dari itu asal putranya tidakterancam tidak mau ia memanah macan itu. Gochin sebaliknya segera hampirkan kakaknya. ialah yang maju di muka sekali. Ia pun tidak karu-karuan dipegat dan dikeroyok. ia tertawa haha-hihi. tempo ia dengar perkara putranya. adalah istrinya Temuchin atau ibunya Tuli. Kapan ia berpaling ke arah darimana suara angin itu datang menyambar. sedang Temuchin tidak berani melepaskan anak panahnya. Jamukha lihat itu semua. tampak enam orang Han. dia terjang kami!‖ Pengiringnya Wang Khan itu mendongkol dan tidak mau mengerti. Ia kata dengan sengit: ―Aku toh ada di sebelah depan kamu dan kamu di belakang aku…!‖ Dua saudara Wanyen itu tidak inginkan mereka adu mulut. apapula ia dapatkan. Dua saudara Wanyen itu lantas memerintah serdadu-serdadunya berhenti berkelahi. Tusaga lihat datangnya banyak orang dan kakek beserta ayahnya juga berada bersama. ia khawatirkan keselamatan putranya itu. Terang itu adalah kerjaan orang yang lihay. Semua orang kaget. kupingnya mendengar beberapa kali suara angin menyambar. rubuh celentang lalu tidak berkutik lagi. pria dan wanita. Tidak lama tibalah mereka di depan rombongannya Tusaga beramai. diarahkan kepada dua binatang liar itu. ia menduga peristiwa itu terjadi karena bisanya dua Wanyen ini. yang ia peluk. Boroul sendiri tutup mulut. Ia lantas lomat turun dari kudanya. kedua binatang itu berlubang masing-masing di kedua pelipisnya. Boroul yang bertubuh kate dan kecil adalah yang paling gesit. yang ditangkap sedari masih kecil dan dipelihara dan dididik dengan banyak sukar hingga jadi b esar dan dapat mengerti. sedang si petugas tidak berani abaikan kewajibannya. keempat kakinya tengah menoker-noker dan mulutnya meraung-raung tidak hentinya. Mereka ini bilang: ―Kami tengah berdiam disini. Temuchin ketahui baik. Di depan mereka berdiri dua bocah ialah Tuli dan Kwee Ceng. ia tubruk Gochin. orang ini tidak ada matanya. Ia menjadi heran. romannya cantik dan manis. Ia baharu berusia empat tahun. Ia lantas menduga kepada mereka itu. ia belum tahu bahaya. binatang adalah binatang kesayangan Sangum.Pendekar Pemanah Rajawali adalah serdadu-serdadu Kim itu menghalang-halangi orang menjalankan tugas. tiba diantara mereka. Dua ekor macan tutul sudah lepas dari ikatan pada lehernya. Kemudian ia ulurkan tangannya. Gochin Baki. berulang-ulang ia anjuri macannya lekas menyerang. melihat orang datang dekat. ia jadi semakin temberang. menyusul mana kedua macan itu rubuh berbareng. ―Lepas panah!‖ Yulun Eke segera memerintah. Dalam saat mengancam itu. Macan itu lagi bersiap-siap. Irawan D Soedradjat Page Semua orang berdiam. yang ia ambil dari rangkulannya Kwee ceng. khawatir kena putrinya. tetapi justru ia maju. . untuk menjatuhkan diri. kuku macan telah mampir dipundaknya. disaat ia hendak mencegah. ―Berangkat!‖ mereka menitah. maka ia lantas menyusul. berniat mengusap-usap kepalanya seekor macan tutul. Anak perempuan yang ia bawabawa itu adalah putrinya. karena ia jadi waspada. untuk dirangkul dengan tangannya yang lain. meski demikian. Walaupun kejadian berlaku di depan mata mereka. Wang Khan murka melihat kelakuan cucunya itu. Sebentar saja kuda itu. tidak ada seorang jua yang ketahui siapa si penyerang gelap itu. lagi mengawasi dengan sikapnya yang tenang sekali. Temuchin dan keempat pahlawannya segera siapkan panah mereka.

Cucu ini didamprat di depan orang banyak. ia suruh Boroul layani enam orang itu. kita justru hendak berserikat untuk menghadapi kamu!‖ Maka ia hampiri Tusaga. Anak itu mencoba meronta tetapi tidak berhasil. ―Eh.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sudahlah saudara Sangum!‖ berkata Temuchin sambil tertawa. ia pun bicara hal Kanglam Cit Koay ( yang sekarang menjadi Kanglam Liok Koay sebab jumlah mereka telah berkurang satu). kita selalu terancam bahaya. untuk diberi tempat. ia sangat bangga untuk keturunannya. ia puji untuk keberaniannya. Mereka memang lagi pikirkan tenpat untuk bisa mendidik Kwee Ceng.‖ menyatakan Cu Cong. Di dalam hatinya. ia penasaran. ―Nanti aku gantikan kau empat macan tutul yang paling jempolan ditambah sama delapan pasang burung elang. Temuchin kata sama Sangum. Tuli tunggu sampai Wang Khan semuanya sudah berlalu. Temuchin hampiri Wang Khan dan kata: ―Ayah inilah permainan anak-anak. Cucuku yang perempuan hendak aku jodohkan dengan Juji. Panas hatinya Temuchin. meskipun masih kecil. ia tidak pedulikan walaupun kakeknya menitahkan ia berhenti menangis. Sambil tertawa. ia suruh Boroul memberi hadiah bulu dan emas. Kanglam Liok Koay jalan perlahan-lahan. ―Yang paling perlu ialah mencari tahu dimana beradanya Tiat Sie. ia mendamprat Tusaga. ia tutur kepada ayahnya sebabnya ia berkelahi sama Tusaga. Diam-diam Jamukha kisiki Temuchin apa yang tadi terjadi di tengah jalan antara pengiringnya Wang Khan dan serdadu-serdadu Kim. mana kami berani minta gaji besar? Terserah kepada Khan sendiri berapa sudi membayarnya. Tin Ok beramai tidak mau menarik perhatian orang.‖ Sangum masih mendongkol. ia membungkam. tak usah ditarik panjang. bagaimana pikirmu?‖ Wang Khan girang.‖ Temuchin girang. akan tetapi disitu ada putusannya ayahnya. Kau akurkah?‖ Dengan girang. tak senang ia berbesan dengannya. aku berniat menjodohkan dia dengan anakku. dan Cu Cong rebah di atas unta. terhadap Temuchin ia berdengki dan memandang enteng. itulah kebetulan bagi pangeran ini yang lantas ngeloyor pergi duluan. itu pun sudah bagus. ―Saudara. Temuchin lantas dapat tahu enam itu ialah yang tolongi putranya.‖ . Gagallah tipu dayanya. mereka berdiri jauh-jauh. Temuchin berpikir sebentar. ia lihat rombongannya Kwa Tin Ok. habis itu ia larikan kudanya. ia lihat. putramu yang sulung. tak senang ia berbesan. untuk dikasih bangun dengan dipeluk. setelah dewasa. Wanyen Lieh menjadi sangat tidak puas. Berapa kamu menghendaki gaji kamu?‖ Coan Kim Hoat senang dengan tawaran itu. sedang Kwee Ceng. Selagi ia berpaling. ia terus menangis sambil bergulingan di tanah. terpaksa ia menyambut dengan sambil tertawa. entah itu perbuatan kawan atau lawan…‖ kata Han Po Kie. aku tak dapat menerkanya. Ia tertawa dan menyahuti: ―Mustahil aku tidak setuju? Marilah kita tambah erat persaudaraan kita. terus ia kata pada Coan Kim Hoat. yang ia usap-usap kepalanya. ―Sakit hatinya ngoko memang mesti dibalas!‖ kata Siauw Eng. untuk susul kedua saudara Wanyen. Ia terperanjat dan heran sekali. Wang Khan gusar. kenapa ini beberapa Manusia Aneh berada disini?‖ katanya dalam hatinya. Ia menginsyafi peranan kedua saudara Wanyen itu. Ia lantas menyahuti: ―Khan yang besar sudi terima kami.‖ bilan Tin Ok. untuk merundingkan urusan mereka. Aku lihat anak ini berbakat baik. Mereka tidak lihat Wanyen Lieh. ―Memang selama ia belum disingkirkan. mesti dia jadi elok sekali. guna mengadakan perjamuan perpisahan untuk mereka itu. ―Baik kamu berdiam di sini mengajari ilmu silat kepada putraku. Gochin sudah cantik. sekarang kita menjadi besan!‖ Sangum itu angkuh. ia kata: ―Kamu hendak bikin kita bercedera. ―Mayatnya Tan Hian Hong dipotong dada dan perutnya. keluarlah alemannya. Irawan D Soedradjat Page 116 ―Itulah aneh.

dulu ia pun ulet seprti bocah ini. kemajuannya sedikit. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng terkejut tapi ia dapat menangkis. tapi cepat sekali. senjata rahasia dan entengi tubuh. ia mengerti dengan cepat. walaupun ia tidak secantik dulu. Cu Cong jadi seperti melamun. Ia bersiap sedia menyambut Tiauw Hong. Kalau tidak mati. hanya ketika ia geraki tangannya itu. Sebab diwaktu siang mereka diajari menunggang kuda. Dalam iklim demikian. . Lam Hie Jin paling menyanyangi Kwee Ceng. Untuk itu ia dapatlah disebut. main panah dan ilmu tombak. sepuluh tahun sudah lewat. akan ajari ilmu silat kepada Kwee Ceng dan Tuli yang juga diajari ilmu perang. belasan tahu kami didik anak ini. lekas ia kasih turun pula! 117 ―Mari!‖ katanya seraya ia lompat dengan tangan kiri melindungi diri. walaupun demikian untuk daerah di gurun pasir utara. hingga untuk sementara muridnya dilarang belajar naik kuda dan memanah. untuk sembahyangi saudara yang sudah beristirahat untuk selamanya di alam baka itu. Sejak itu Kanglam Liok Koay menetap di gurun pasir. maka mungkin ia mampus di dalam selat!‖ kata Po Kie kemudian sepulangnya mereka. dia tak jadi jatuh. Ia ingat. si bebal tapi rajin. kepandaiannya Liok Koay juga turut bertambah. Malah Siauw Eng berkata dalam hatinya: ―Ngo-ko. Kanglam Liok Koay membawa barang-barang sembahyangan ke kuburannya thio A Seng. Bab 11. Sekarang Kwee Ceng telah menjadi satu anak tanggung berumur enam belas tahun. dari itu. malah diteruskan hingga beberapa hari. Umpamnya Tin Ok. Cu Cong bersama Coan Kim Hoat dan Han Siauw Eng mengajarakan ilmu kegesitan. mestinya racunnya senjata itu bekerja. Kwee Ceng bebal. Di situ ada tulang-tulang yang berserakan. Hanya kalau malam. tapi ajarannya Han Po Kie dan Lam Hie Jin tentang pokok dasar silat. ilmu tongkatnya. ia baharu merasa hatinya tentram kalau sudah dengan tangannya sendiri ia bisa raba mayatnya Tiat Sie si Mayat Besi itu. Kwee Ceng berbangkit. orangnya tidak ketemu. ia khawatir saudara-saudaranya bersusah hati. si Mayat Besi mestinya tak bisa bersembunyi terus-menerus. ia utamakan ―Hok Mo Thung-hoat‖. dalam pertandingan di Kee-hin. Tentang perasaannya ini ia tidak utarakan. ia dapat imbangi tubuhnya. Ia menginsyafi lihaynya Bwee Tiauw ong. Mereka mencari bukan hanya disekitar tempat itu. rambu dan kumis jenggot mereka sudah mulai berwarna abu-abu. salju yang turun secara besar-besaran baru berhenti. untuk itu ilmu silat penting. Dan Jebe bersama boroul turut memberi petunujk juga. apa mau ia kena injak sebuah batu kecil. dia tidak sampai memalukan nam akita Kanglam Cit Koay!‖ Sepuluh tahun enam saudara itu tinggal di utara. adu kepandaian. Ia tahu ia mesti membalas sakit hati ayahnya. yang sia-sia saja dicari. maka itu untuk pergi ke kuburan. ―Tongkat Menakluk Iblis‖. maka itu aku mohon bantuan kau. pisau tumpul kalau digosok terus bisa menjadi tajam. tapi Siauw Eng. di sebelah itu ada sifatnya yang baik. tapi Tin Ok tetap berkhawatir. ia belajar dengan rajin sekali. sayang di bebal. Kwee Ceng juga diajak bersama.Pendekar Pemanah Rajawali Karena ini kemudian Po Kie bersama Siauw Eng dan Kim Hota lantas pergi mencari. lalu pai-kui. ia tetpa menarik hati. yang pun melihatnya. untuk lindungi padanya. ia tampak kemajuan Kwee Ceng. rombongan ini mesti melarikan kuda mereka setengah harian. hawa udara masih dingin. Kali ini. Memanah Burung Rajawali Angin mulai reda. Ia ingat pada Bwee Tiauw Hong. ―Wanita itu rusak matanya terkena tok-leng toako. mereka tidak peroleh hasil. Mereka itu atur barang sembahyangan. malah ia segera dapatkan maknanya itu. Maka Kanglam Liok Koay perhebat pengajarannya. ia terpeleset. biarlah tahun lusa. pada harian Ceng Beng. mereka pasang hio. masih ada sisa keelokannya. dia tidak dapat teriam semua pengajaran kita. yang mebuat ia girang. Dugaan ini masuk di akal. Ia tersenyum kepada Kim Hoat. Habis pai-kui. Kwee Ceng dipanggil belajar sendirian untuk diajari ilmu pedang. dan siang dan malam terus ia belajar silat tangan kosong dan pedang. baru mereka tiba. mayatnya juga tidak kedapat. Lagi dua tahun akan tiba saatnya janji pibu itu. Kemana perginya wanita seperti siluman itu? Dalam sepuluh tahun itu. Tempat kediaman bangsa Mongol tidak berketentuan. Sang tempo berjalan dengan pesat. dengan tangan kanan ia sampok pundak muridnya itu.

Selagi guru itu berbicara. dia dan ibunya sering diantarkan pakaian dan binatang ternak. Masih ia tersenyum. selamanya si nona mengaku yang salah dan rela minta maaf. setelah itu. putrinya Temuchin. Sering Kwee Ceng digoda. Nona itu tertawa. sedang ibunya Gochin. ―Aku senang melihat kau dihajar!‖ sahutnya. ―Aku datang sendirian. ―Kau kaih ngosuhu lihat padamu!‖ ―Sie-suhu‖ yaitu guru keempat dan ―ngo-suhu‖ guru ke lima. baru ia muncul untuk menggodai anak muda itu. ―Coba kau kasih lihat kebiasaanmu. usianya tak berjauhan serta biasa mereka bergaul. tidak. Mukanya Kwee Ceng menjadi merah. Sengaja sampai Kwee Ceng rubuh. perlakukan ia dengan baik. ―Oh. ―Kenapa manda diserang selalu?‖ Anjuran ini diturut. ia justru muncul dari tempatnya bersembunyi. hingga ia saksikan segalanya. yang ingat budi Kwee Ceng telah menolongi putrinya. Demikian mereka hidup rukun seperti saudara saja. Sekarang ia meninju ke dada. Kwee Ceng membalas. sedang Kwee Ceng jujur dan rada tolol. apakah kau kena dihajar suhu?‖ ia tanya. . Selang beberapa jurus. ―Balas menyerang. meskipun disana ada enam orang lainnya. Ia sangat disayangi ayah ibunya. ia rada manja. Hari itu Gochin tahu Kwee Ceng hendak pergi pai-bong (sembahyang kuburan). Hie Jin segera kasih mengerti bagian kelemahannya. Orang yang tertawa itu tidak lari. untuk bergurau?‖ Irawan D Soedradjat Page 118 ―Mana orang yang ikut padamu?‖ kemudian tiba-tiba Tin Ok tanya si putri.― ―Bukannkah kakakmu pun datang. Membuka Gunung. guru yang keempat ini sudah menyusul dan tangan kanannya kembali menjambak pundak. ilmu silat ―Tangan Arhat‖ dari guru she Han itu. Kalau Kwee Ceng likat. dengan satu enjotan tubuh. tiba-tiba terdengar dua kali suara tertawa. Mereka pun lompat untuk cegah jalanan orang buat lari turun. Senang Cu Cong semua menyaksikan eratnya hubungan anak-anak ini. tapi begitu jatuh. si nona polos dan jenaka. Baru sekarang Kwee Ceng mengerti. ia sembunyi di antara pepohonan lebat.‖ Saiuw Eng menganjurkan. ia lompat bangun pula. ia pun bukan lain daripada Gochin Baki. Kwee Ceng dibikin terpental dan jatuh. ―Kita pulang bersama sebentar. ―Siapa?!‖ mereka tanya. Ia gunai ajaran Lo Han Kun. kali ini si murid melompat mundur. sedang serangannya Hie Jin pun dibatalkan ditengah jalan. Ia pun dapat menempur dengan seru. tapi Hie Jin lebih cepat pula. dia dibelakangmu. yaitu bagian Kay San Ciang-hoat. ―Engko Ceng. yang bersama Tuli dan pemuda she Kwee ini. kau layani sie-suhu berlatih. kurang senang dan berbareng girang. ―Siapa suruh kau datang ke mari?‖ ia menegur. tapi tak lama mereka akur pula. Kwee Ceng malu. dengan satu tolakan.‖ Gochin tertawa. main bersamasama. ―Baiklah. ―Siapa?‖ ia tanya. ynag datangnya dari pepohonan lebat disamping mereka. hingga tampak nyata ialah satu nona elok dengan muka putih potongan telur dan kedua pipinya bersemu merah. Cu Cong dan Kim Hoat terperanjat. mereka tersenyum. Gochin melengak.Pendekar Pemanah Rajawali Menampak itu. anak tolo!‖ Po Kie berseru. tidak!‖ kata Kwee Ceng lekas. sampai mereka bentrok. Kwee Ceng luputkan dirinya. cuma mukanya yang merah. nanti aku pulang…!‖ Ia bicara dengan merdeka. Hie Jin tersenyum. Ia berlaku cepat. pergaualan kedua anak muda itu juga tidak dilarang. untuk tukar itu dengan sambaran tangan kiri ke pinggang. ia pergi dulu dengan menunggang kuda. dengan mendak. ―Apakah kau tidak senang aku datang?‖ tanya si nona dengan tertawa. tak jadi ia pergi.

sembari lari. lekas susul!‖ toako ini menitah. tak senang ia menikah sama Tusaga. meski tidak ada soal asmara. keningnya mengerut. ―He. ―Ini bukan urusanmu.‖ ―Liok-tee. tongkatnya menuju ke selatan. Kwee Ceng tidak mengantar terus sampai di tenda Temuchin. Pekhu-thio itu menjadi serba salah. maka ia duudk diam saja. ia apsang kupingnya. semua orang hampirkan saudara she Coan itu. ―Tuan putri. pergi kau temani tuan putri pulang. ―Disini tidak ada orang. Ia lantas menghibur: ―Tuan putri benar baik sama kau. Tidak lama dari itu muncul beberapa puluh penunggnag kuda. Coan Kim Hoat pergi memeriksa. maka itu tepat kalau ia dijodohkan sama cucunya Wang Khan…‖ Irawan D Soedradjat Page 119 . coba lihat!‖ Tin Ok minta. ―Aku tak mau pulang!‖ katanya sengit. Itu waktu terdengar suara tetabuan. kaget dan curiga. Sekarang benar tidak ada orang disitu. ibunya. yang sombong dan galak itu. Si nona ulur lidahnya. tengkorak hilang satu!‖ tiba-tiba Kim Hoat berseru. ―Ada datang utusannya Wang Khan. di mana ia tinggal bersama ibunya.‖ sahut perwira itu. Ketika Lie Peng. Ia sendiri mendahului lari turun gunung. ia lantas menjadi gusar. dia itu lompat turun dari kudanya. Tidak senang si nona mendengar itu. Dengan berlari-lari. ―Cegat di empat penjuru!‖ seru toako ini. ―Disana ada tindakan kaki kuda. perlahan bicaranya. Kha Khan titahkan aku menyambut. Dengan tongkatnya ia menunjuk ke pepohonan lebat di belakang kuburan.‖sahut Kwee Ceng.‖ katanya. ia toh berat nanti akan berpisah sama ini anak muda. yang dikepalai oleh satu pekhu-thio. ―Untuk apakah?‖ tanya si putri.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kakak tidak datang! Benar aku datang sendirian. pemimpin satu eskadron. semuanya orang Mongolia. Memang telah lenyap sebuah tengkorak. tapi ia erat bergaul dengan Kwee Ceng. Gochin masih bersangsi sesaat. Ia lantas berpikir. saudarasaudaranya menyusul. Kim Hoat menjelaskan semuanya kepada Tin Ok. Temuchin ingin putrinya temui si utusan. Siauw Eng tidak turut saudara-saudaranya pergi. ―Apakah aku yang salah?‖ tanya Gochin pada si anak muda. Ia berduka. untuk memberi hormat. Tak mau ia menentangi ayahnya. Baru sekarang Lie Peng dapat mendugai hal putranya ini. Sebaliknya. Maka saudarasaudara yang lain pun pada mengejar ke arah selatan itu. akhirnya ia pulang juga. Ia sangka orang itu adalah kawannya si nona. Kembali orang heran. ia terus balik ke tendanya sendiri. Kha Khan bakal hukum hambamu ini…‖ Gochin dijodohkan dengan Tusaga. bertanya.‖ katanya. ia larikan kudanya pergi menyusul saudara-saudaranya.‖ Tanpa tunggu jawaban. tetapi kita tetap orang Han. Ia kata pada Kwee Ceng: ―Anak Ceng. cucu Wang Khan. itulah tanda penyambutan pada utusan Wang Khan. masih ada bekasnya di salju. Melihat tuan putrinya. Maka tak mau ia pulang. ―Terang sekali aku dengar suaranya dua orang!‖ Tin Ok berkukuh. Ia memberi hormat pula dan katanya: ‖Kalau tuan putri tidak pulang. ia tidak perhatikan. Ia lihat itu semua. Tadi dengar tertawanya Gochin. kakak tertua. ―Rupanya telah datang musuh yang lihay‖. Wang Khan itu mengantar panjar. menyusul suaranya seorang lain. ia menjadi heran. ia tetap membungkam. Mesti baru saja orang curi itu.

cuma dengan ilmu ini ia nanti sanggup layani Kiu Im Pek-kut Ciauw dari Bwee Tiauw Hong yang setiap waktu lambat atau cepat. Sebagai Biauw Ciu Si-seng. Lapat-lapat Kwee Ceng dengar tetabuan. tidak sia-sia pengajarannya Kanglam Liok Koay selama sepuluh tahun…‖ ―Kau siapa?!‖ tegur Kwee Ceng. yang semuanya sudah pulang. tangan kirinya menyambar lengan si imam dan tangan kanannya menyambar ke batang leher. Dia cuma kata: ―Kalau kau berani. . bajunya gerombongan. untuk membebaskan diri. Ia dengar tanda tiga kali tepuk tangan. Di sebelah kiri di bawah pohon ia tampak seorang berdiri diam. ia tampak satu tengkorak tepat di jalanan di muka kemahnya. ―Mana pisau belatimu yang tajam mempan besi? Mari kasih aku lihat!‖ Tiba-tiba ia melompat mencelat. ―Mau apa kau cari aku?‖ ―Kau toh Kwee Ceng?!‖ orang itu tegasi. ia bisa asah otaknya menciptakan ilmu silat itu. ia memandang ke sekitarnya. tangan kirinya menyerang sikut. ia mendusin dengan terperanjat. ―Untuk apakah kau mencari aku?‖ Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng menanti tidak bergeming. sampai di sisi anak si muda. Setelah itu. yang lain hendak membikin patah lengan musuh. ia menghela napas. Maka kagetlah Kwee Ceng. sampai Kwee Ceng tidak bisa lindungi goloknya. yang tidak gubris perkataan orang. ia tidur terus sampai pulas. mengatakannya dengan perlahan: ―Tak kecewa pelajarannya. Setelah itu Kwee Ceng lihat orang adalah satu imam muda yang mukanya bersih dan tampan. Ilmu ini pun baru ia ciptakan sendiri. seorang diri mana aku sanggup melawan? Bagaimana kalau musuh menerjang ke dalam tenda untuk melukai ibuku?‖ Ia ambil keputusan dengan cepat. menyusul mana sebelah tangannya menekan ke dada orang. untuk lompat keluar. terpaksa ia lepaskan kedua tangannya dan mencelat mundur. bahu kanannya mesti patah. Orang itu terperanjat. Untuk lindungi diri. Kwee Ceng berdiam terus sampai habis bersantap malam. tuan putri bakal bersengsara…‖ Lie Peng tahu baik hati anakanya itu. Adalah kira-kira tengah malam. ia bertindak ke tendanya akan menyingkap dengan hati-hati. Dia bicara dalam bahasa Tionghoa. Kalau ia 120 ―Mari kita berlatih pula!‖ kata si imam. ―Habis kau mau apa?!‖ tanya Kwee Ceng. lalu ia sinngkap tenda dengan tiba-tiba. Ia melatih bersama Coan Kim Hoat. Inilah jurus ―Orang-orang patah bahunya‖ salah satu dari jurus ilmu silat. tangan bajunya lebar. Ilmu silat ini Kwee Ceng dapatkan dari Cu Cong dan Cu Cong mengutamakan ini karena ia pikir. dengan sipa sedia. Ia pun dapat lihat tegas lima liang pada tengkorak itu. Ia lebih dulu ambil goloknya. ―Siapa kau?‖ tanya Kwee Ceng. Mereka itu sia-sia belaka menyusul penunggang kuda atau pencuri tengkorak itu. kakinya menendang jatuh golok orang. si Mahasiswa Tangan Lihay. tanpa ampun lagi. Ia bukannya meloloskan diri hanya menyerang. setelah mana ia pergi ke tenda gurunya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ibu. ia lekas serang mukanya Kwee Ceng. mukanya tidak kelihatan. Ia lantas bangun. Untuk kagetnya. untuk naik pembaringan tanpa salin pakaian lagi. di antara sinar rembulan.‖ Kwee Ceng akhirnya mau juga buka mulutnya. Ia pun terus menyerang tanpa tunda kata-katanya itu. yang usianya delapan atau sembilanbelas tahun. ia mengegos ke kiri. tangan kanannya menyambar lengan orang itu. Itu bukan dandanan orang Mongolia. mari turut aku?!‖. Sebat gerakan orang itu. Ia pun dengar si imam atau tosu. yang masih berjaga-jaga. bakal cari padanya. Kim Hoat lantas ajari muridnya jurus-jurus dari Tiang Kun. ―Musuh datang cari musuh…‖ pikirnya. ―Habis apa daya kita sekarang?‖ katanya. aku bukan pikiran itu. Meski begitu. ―Membagi urat memisah Tulang‖. dan sekarang Kwee Ceng menggunai itu untuk melawan musuhnya. dia masih merasa sakit terkena sambaran anginnya serangan lawan itu. sebab tadinya ia tidak pikirkan untuk pelajarai itu. terlepas sambungan sikutnya. ia putar goloknya. muridnya pulang. Tapi ia sempat berkelit. ―Hanya Tusaga itu kasar dan kejam. habis berlatih. denagn menikah sama dia. ―Suhu tidak ada di sini. Kalau orang itu kena diserang. untuk segera dupak tengkorak itu hingga mental jauh beberapa tembok. kapan tangan imam itu sudah hampir sampai pada dadanya.

kaki kanannya kena dicekal lawan. tidak terluka. ia memberi hormat kepada Kanglam Liok Koay. ia dapat lantas berlompat bangun dengan gerakannya ―Ikan Tambra Meletik‖. yang dengar suara tindakan kaki mendatangi. yang mana dengan kedua tangannya. kedua kakinya saling sambar dengan tipunya Lian-hoan Wan-yoh-twie – kaki Burung Wanyoh Berantai. Di situ Cu Cong tinggal berlima. Keinsyafan ini. ia lantas kurung diri dengan rapat. gurunya yang ketiga yaitu Han Po Kie.‖ kata Kwa Tin Ok. Jurus ini oleh Cu Cong dengan lucu dinamakan ―Sembari tertawa dan berbicara melepaskan rahang‖. akan copotlah batang leher si imam itu. tidak tempo lagi. Melihat itu. Ia kata: ―Teecu In Cie Peng. ―Mari kita bicara di dalam. Cu Cong berenam bersangsi. Setelah belasan jurus. teecu datang untuk memujikan suhu semua sehat-sehat!‖ Lantas ia berlutut untuk mengangguk-angguk. karena Siauw Eng tidur di kemahnya seorang wanita Mongolia. ia tampak keenam suhunya itu telah hadir semua. Saking memusatkan perhatian pada lawan. tetapi lemah bagian bawahnya. Kwee Ceng segera mengerti bahwa imam ini ada terlebih pandai daripadanya. Ia hendak maju pula tetapi ke enam gurunya sudah mulai kurung si imam muda. mengapa kau robohkan anak Ceng? Bukankah kau sengaja datang untuk pertunjuki pengaruh sebelum tiba saatnya bertanding?‖ Irawan D Soedradjat Page 121 Itu waktu Cu Cong telah membuka sampul dan membaca suratny. karena ia pikir: ―Kalau kau datang dengan maksud baik. maka juga. ―Awas!‖ teriak po Kie dan Siauw Eng yang terkejut. In Cie Peng turut masuk. tubuhnya itu jatuh celentang. Karena ini. yang dapat bergerak-gerak dengan pesat sekali. dia titahkan teecu datang kemari untuk menghanturkan banyak-banyak terima kasih‖. meskipun ia telah diperingatkan. Imam itu kenali serangan berbahaya itu. Disaat kewalahan. ia mulai menyerang di bawah. Untuk kegirangannya. hingga ia menduga kepada serdadu peronda bangsa Monglia. atas titah guruku Tiang Cun Cu Khu Totiang. dan ini terlihat tegas oleh Kanglam Liok Koay. melihat keringan tubuh orang. hingga ia merasakan sakit sekali. Ia kenali suaranya sam-suhu. ia cuma terhuyung. membuat hatinya gentar. Tenda itu berperabot buruk. ditambah sama kekhawatirannya akan munculnya Bwee Tiauw Hong. . maka itu tak ampun lagi. ia menjura ketika ia mulai berkata: ―Suhu berlima banyak cape! Guruku sangat bersyukur. Cie Peng mengerti orang hidup bukan main sederhananya. hingga ia menjadi terdesak. tempo kakinya lawan melayang. sudah terlambat. Ia sampai tidak menyangka bahwa musuhnya bakal menggunai akal. dengan suara keras. Syukur kuda-kudanya kuat dan tendangan tak hebat. ―Hm!‖ Tin Ok perdengarkan suara tawar. hingga terpaksa ia main mundur. sampai ia lihat lawannya terhuyung. Khu Cie Kee memperingatkan bahwa sepuluh tahun sudah berlalu sejak perpisahan mereka di Kanglam dan dia turut berduka cita atas meninggalnya Thio A Seng. sebaliknya dengan rangkap kedua tangannya. mereka tidak mengulurkan tangan untuk mengasih bangun. maka itu Po Kie sadarkan muridnya. ia sampai tidak ketahui munculnya keenam gurunya itu. Tanpa sangsi. Karena ini. ia juga tidak menunjukkan tanda hendak menerobos keluar dari kurungan. Kwee Ceng merangsak maju. Ia lantas menggeser ke kanan untuk terus menoleh. Kwee Ceng kurang pengalaman. tiba-tiba ia dengar seruan dari belakangnya: ―Serang bagian bawahannya!‖ Dengan tiba-tiba bangkitlah semangatnya Kwee Ceng. Tosu itu tidak bersiap untuk memberikan perlawanan. ia angsurkan kepada enam manusia aneh itu – tegasnya kepada Cu Cong. Ia memberitahu bahwa pada sembilan tahun yang lalu ia telah berhasil mencari turunan Yo Tiat Sim. Coan Kim Hoat menyulut lilin. menuruti petunjuknya Po Kie. Segera. Imam itu licah gerakannya. tubuhnya melayang. lantas saja si imam berbalik terdesak. terus disempar.Pendekar Pemanah Rajawali berhasil. ia bebaskan diri pula. Saking gesitnya. kempolan kanannya kena didupak. maka itu si imam bangkit snediri untuk terus merogoh ke dalam sakunya guna menarik keluar sesampul surat.

tak ada maksud lainnya. Cie Peng jadi jengah. Tin Ok antar orang sampai di muka tenda. baharu ia bisa merayap bangun.‖ Cie Peng likat. Bilang bahwa kami tidak usah membalas dengan surat. disaat bunga-bunga mekar. bagaimana pula ia dapat melayani Yo Kang. Cie Peng tidak segera menemui Kanglam Liok Koay. ―Teecu tidak berani. ―Apakah kau ada punya hubungan sama Hek Hong Siang Sat?‖ tanya Tin Ok sebab orang diam saja. ―Walaupun Kanglam Liok Koay tidak punya guna. sampai sekian lama. Cie Kee begitu cepat menemui nyonya itu serta anaknya. teecu tidak tahu-menahu…‖ ―Hm!‖ bersuara Tin Ok yang terus berdiam.‖ sahut Cie Peng. yang ia lihat aneh. Tidak diayana. ―Apakah barusan kau layani dia untuk mencoba-coba?‖ Tin Ok tanya pula. Mendadak orang she Kwa ini berseru: ―Kau pun jumpalitan!‖ dan tangan kirinya menyambar ujung baju orang di betulan dada.‖ jawab Cie Peng. satu sutee. ―Teecu memohon diri. yang tersebar luas di seluruh negara.‖ sahut pula tosu she In itu. ―Sekarang kau sampaikanlah kepada gurumu itu. tetapi muridnya ini menyeleweng sedikit. Tin Ok angkat tubuh orang dan membanting. Kwee Ceng kalah oleh In Cie Peng. perjanjian di Cui Sian Lauw tidak bakal digagalkan. apa perlunya kau ambil itu tengkorak manusia!‖ Tin Ok tanya pula. Khu Cie Kee ketahui jelas tentang mereka. bebokongnya sakit. Cie Peng geraki kedua tangannya. ia bermaksud baik. malah ia menguntit juga orang pay-bong terhadap Thio A Seng hingga ia saksikan semuanya. Coan Cin Kauw banyak pengikutnya. Sebaliknya. walaupun ia tidak bermaksud jahat. ―Ach ya. ―Dialah kakak seperguruanku. tetapi ia diperogoki oleh Tin Ok dan kabur. ―Memang ini tulisannya Khu Totiang. ia dipesan untuk sekalian selidiki Kwee Ceng. ―Anak turunan she Yo itu bernama Yo Kang?‖ Tin Ok bertanya. mereka sendiri tidak tahu suatu apa perihal imam itu! Inilah tanda mereka sudah berada di bawah angin. Inilah hebatnya. untuk dengan terpincang-pincang ngeloyor pergi…. hanya ia mencuri lihat Kwee Ceng berlatih. yang berkhawatir oleh sikap orang.Pendekar Pemanah Rajawali Mengetahui ini. Irawan D Soedradjat Page 122 . maka jatuhlah ia dengan hebat. hal kematiannya Thio A Seng. Cie Peng memberi hormat lagi sekali. hal mereka dapatkan Kwee Ceng. Kali ini ia membangkitkan amarahnya tetuanya Liok Koay. tetapi buat cari satu nyonya yang lenyap. tidak nanti ia menerbitkan kecurigaan.‖ bilang Tin Ok. suaranya dingin. Ia diperintah gurunya pergi ke utara untuk menyampaikan surat. ―Walaupun usiaku lebih tua.‖ kata Po Kie. Saking kaget. di tepi sungai Onon. ―Atau kau tertawakan Kanglam Cit Koay yang satu diantaranya terbinasa di bawah cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw?‖ Baharu Cie Peng menjawab: ―Teecu ambil tengkorak itu untuk dibuat main. tepat toako ajaradat padanya. Setibanya di Mongolia.. Tak sangka ia bakal ditanyakan tentang tengkorak itu.‖ kata Cu Cong akhirnya. dan hal sekarang mereka berdiam di padang gurun ini…. tentang sifatnya dan ilmu silatnya.‖ Dingin hatinya Kanglam Cit Koay mendengar keterangan itu. ―Imam cilik itu tak tahu adat. Tin Ok semua terperanjat. dia Cuma akan jungkir balik. mereka berdua pihak bakal bertemu pula di Cui Sian lauw di Kee-hin. jadi dia tidak usah khawatir suatu apa pun. Mereka sendiri menemui Kwee Ceng secara kebetulan. coba dia diam saja. benar-benar sulit. diwaktu memasuki perguruan. sang suheng? Pula heran. Khu Cie Kee memperhatikan putra sahabatnya. Surat itu diakhir dengan pemberitahuan bahwa lagi dua tahun. Coba ia lari tanpa sebat tengkorak. hingga ia berdiam saja. ―Benar. ―Dia toh adik seperguruanmu?‖ Tin Ok menegaskan.‖ katanya kemudian. kakakku itu mendahului dua tahun. Tentang Hek Hong Siang Sat dan Kiu Im Pek-ku Jiauw. untuk membebaskan diri. Cie Peng berdiam.

―Ada apa?‖ ia tanya. Itu pagi Siauw Eng ajari Kwee Ceng ilmu pedang Wat Lie Kiam dijurus keempat yang bernama ―Di cabang pohong menyerang lutung putih‖.‖ katanya pada Kwee Ceng. ―Banyak burung rajawali lagi bertarung!‖ ―Aku lagi berlatih. ia menjadi gelisah menampak guru-gurunya mulai perlihat roman tidak puas. ―Mari lekas lihat!‖. tapi gurunya berjalan terus. Mereka khawatir kalah berlomba dengan Khu Cie Kee menampak kemajuannya In Cie Peng itu.‖ kata Hie Jin kemudian. Hebat senjata rahasia tok-leng dari kakaknya ini. ―Aku sendiri sampai tidak melihat. apa pula Kwee Ceng yang bebal itu. kita belum pernah mengkerat atau mundur!‖ Tin Ok mengangguk. Akan tetapi sulit bagi mereka untuk mewujudkan kehendak itu. rajawalai yang hitam yang menang atau yang putih…‖ 123 ―Pergi kau kembali dan melihatnya sendiri. ―Kalau tetap kau tidak hendak pergi melihat. Akhirnya si putri menjadi tidak sabaran. lekas menghanturkan terima kasih kepada toa-suhu. ia memanggil-manggil. Kwee Ceng jujur. Ia menjadi masgul sekali. percuma gurunya ajari ia mesti begini mesti begitu. selama tujuh atau delapan kali. baik pun yang berbahaya. ―Hebat pertarungan itu!‖ ia kata pula mendesak. ―Apakah kau tidak dapat melatih dengan baik dan kembali dimarahin gurumu?‖ dia tanya. sieko. Semenjak itu. mari lekas!‖ Kapan ini bocah menoleh. Kwee Ceng mengucap terima kasih sambil berlutut dan mengangguk. ―Sekarang pergilah kau pulang dan tidur. ia dengar teriakannya putri Gochin: ―Engko Ceng. malah makin didesak. ia mejadi sangat menyesal.Pendekar Pemanah Rajawali Tin Ok berdiam. ―Aku todak tahu. ia menyusul. ―Benar. hingga ia berlinang air mata. mereka turut masgul pula. ―Aku tidak mau. ia tinggalkan muridnya. ia masih berdiam tatkala dari belakang. tapi sekarang hendak siturunkan kepada murid ini. dengan lemparkan pedangnya. maka itu. Ia ingat perlakuannya Siauw Eng barusan. Ia tahu semua gurunya ingin ia maju. ia gagal senantiasa. Untuk itu perlu orang berlompat tinggi dan jumpalitan. ―Anak Ceng. tak pernah dipakai kecuali disaat genting.‖ Cu Cong semua gegutan. ia berduka sekali. ―Besok akan aku ajarkan kau senjata rahasia. ―Bukankah sama kalau sebentar kau menceritakannya kepadaku?‖ . ia lenyap kegembiraannya. ―Mari lekas lihat!‖ sahut putri Temuchin itu.‖ Kwee Ceng beritahu.‖ Kwee Ceng bilang. Sekalipun seorang yang berotak cemerlang ada sulit untuk dibikin maju dalam tempo yang pendek. hingga ia berdiri menjublak. ia kasih moyong mulutnya.‖ Siauw Eng bilang. ia mengangguk. ia membuatnya semakin banyak kesalahan. semakin rajin guru ini mengajari muridnya. apa boleh buat…. Senjata itu adalah senjata rahasia istimewa penjaga diri sejak si kakak tak dapat melihat matahari. selanjutnya kau jangan pedulikan aku lagi!‖ Irawan D Soedradjat Page Gochin lompat turun dari kudanya. yang lambat kesadarannya.‖ sahut Kwee Ceng. ―Ya. Kwee Ceng terperanjat. pula tak pernah diwariskan kepada lain orang. Adalah kehendak mereka agar si murid maju cepat. mari lekas. habis itu baharu ia mengundurkan diri.‖ Siauw Eng ajari muridnya itu. Tin Ok menghela napas pula perlahan. ―Sudahlah. ―Kita bertujuh saudara sudah puas berkelana. ia tampak putri itu yang duduk di atas seekor kuda. Murid ini mencoba berlompat. kau tidak mau pergi. banyak pengalaman kita. mengasih lihat roma cemas bernareng gembira. Siauw Eng menjadi sangat berduka. aku juga tidak mau pergi…‖ bilangnya sambil cemberut. karena aku datang untuk mengajak kau!‖ katanya. Ia sangsi apa Kwee Ceng dapat wariskan kepandaiannya itu dengan sempurna. Putri itu masih tertawa. Semua saudaranya mengerti kedukaan toako ini. selang sesaat ia menghela napas. Putri itu tertawa.

ia merubuhkan seekor rajawali hitam itu. ia akan mendapat hadiah!‖ Temuchin berseru. yang rubuh terbinasa dengan segera. lekas berbalik! Bagus! Bagus! Kejar padanya! Kejar!‖ Lagi dua ekor rajawali hitam jatuh mati. hebat setiap patukan dan cengkeramannya. yang menyaksikan siasat perang si hitam. maka ingatlah kamu!‖ Dua putra itu mengangguk Habis membunuh si putih. menerjang si putih yang lagi berdiri sambil merapikan bulunya. tetapi akhirnya ia jatuh karena luka-lukanya. terus ia menarik. hampir setiap hari mereka tampak sepasang burung rajawali putih itu. lalu bangkainya jatuh di depan Gochin. ―Ayah. dai liang itu tertampak munculnya dua kepala anak rajawali putih yang mencoba membuat perlawanan. kira-kira sepuluh ekor musuhnya itu masih menyerbu terus. Irawan D Soedradjat Page 124 . Pun burung itu dapat menyampok anak panah. Habis pertarungan itu. Rajawali putih lebih besar dan patuknya terlebih kuat. dan ia juga berhasil merubuhkan seekor. segera ia siapkan panahnya. ―Benar! Kawanan si hitam banyak tapi si putih lihay. satu si putih mengejar. di udara terdengar riuh suara burung tadi.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah itu sepasang rajawali putih yang besar yang berkelahi?‖ Kwee Ceng tanya. Panglima-panglima Teuchin lantas turut memanah. Tuli dan Gochin menjadi kaget dan cemas. semua sisa burung rajawali hitam itu terbang kabur. orang banyak hendak bubaran. ke jurang. Sudah begitu. lekas panah!‖ ia teriaki ayahnya. ―Coba kau memanah!‖ kata Temuchin seraya menyerahkan panahnya kepada Ogotai. Seekor rajawali hitam yang tubuhnya lebih besar daripada yang lainnya. Habis itu. lalu tertampak belasan si hitam terbang kembali. tetapi sepasang rajawali putih juga telah mendapat luka. Hebat si putih. lalu anak panahnya nancap di badannya seekor rajawali hitam itu. masih kau tidak mau memanah?‖ tanya Gochin sambil menangis. maka itu tidak heran kalau sekrang mereka mengharapi kemenangannya si putih hingga mereka berteriak-teriak menganjuri si putih itu. ―Siapa yang dapat memanah burung itu. hingga sayap mereka pada rontok berhamburan. terhadap burung itu mereka mendapat kesan yang baik. ―Bagus!‖ berseru Temuchin. yang masih bertempur dengan seru. ia memanah. ―Ayah. dia melawan sebisanya. Sebentar saja sudah bnayak penduduk yang datang melihat pertempuran rajawali itu. malah Temuchin yang mendengar kabar itu juga turut muncul. mereka itu menggunai siasat. Setelah itu. tinggal lagi tiga. guna kabur ke kaki lembah di mana terlihat belasan ekor rajawali hitam tengah mengurung dan menyerang rajawali putih. Sering Kwee Ceng. Gochin dan Tuli main-main bersama di lembah itu. dia matikan satu musuhnya. malah Gochin lantas menangis. lantas berbunyi berulang-ulang. justru itu. semua penonton bersorak-sorai. Ia datang dengan mengajak Ogotai dan Tuli. Demikian seekor musuhnya yang terlambat berkelit. Kata mereka itu saling ganti: ―Hayo putih. tetapi burung-burung hitam itu sudah terbang tinggi. Riuh tempik sorak memuji Khan yang besar itu. Tuli pun mencoba. kena disambarnya. hati Kwee Ceng tertarik juga. Putra itu menurut. sulit untuk mengenai mereka. dan ia tarik tangan si tuan putri. buat diajak naik bersama ke atas kudanya itu. tiga ekor si hitam lantas kabur. bulunya yang putih ternodai dengan darahnya yang merah. sudah enam atau tujuh ekor si hitam yang mampus…‖ Mendengar itu. ada musuh. Temuchin tertawa. Kwee Ceng bertiga. kawanan si hitam terbang ke arah sebelah liang di atas jurang. Temuchin sebaliknya berkata kepada Ogotai dan Tuli: ―Si rajawali hitam menang perang. patuk padanya! Awas di kiri. lalu kira-kira sepuluh kawannya terbang pergi. ―Mari!‖ katanya. Menampak itu.

kapan ia menyambar ke bawah. Tapi anak panah itu tembus. karena itu tidak usahlah aku diberikan apa-apa lagi. ―Apakah aku dapat mendustai anak-anak?‖ ayahnya itu tertawa. sekarang ia saksikan Kwee Ceng serta sikapnya itu. sisa burung yang lainnya terbang kabur. sekali memanah dua ekor burung. Itulah yang dibilang. ―Gurunya Jebe. muridnya juga Jebe!‖ pujinya. terus menyambar perutnya rajawali yang kedua. ia mengincar.‖ berkata Kwee Ceng dengan jawabannya.Pendekar Pemanah Rajawali Jebe si Jago Panah berdiri di samping Temuchin. semabri menarik. ia lari kepada Temuchin. Tepat ia terpanah batang lehernya. Temuchin tertawa lebar. ―Kau menghendaki apa?‖ Tuli girang sekali. Dan karena ini. ―Kau berlutut! Kau panah lehernya burung itu!‖ ia menyuruh dengan suara perlahan. dengan tangan kiri memegang busur dan tangan kanan mencekal anak panah berikut talinya. ―Kau anak yang berbakti. Si anak muda menurut. kau hebat!‖ ia kata pada si bocah. Ingin mereka mengetahui apa yang si bocah bakal minta. dia bakal dihadiahkan sesuatu. Menampak itu. bulu sayapnya pun kuat seumpama besi. ia tekuk sebelah kakinya. ―Inilah guruku yang mengajari. siapa yang berhasil memanah. menarik habis hingga busur itu melengkung sepenuhnya. sekarang saudaraku ini memanah sekaligus dua ekor. ―Serahkan burung itu kepada ayahku!‖ Gochin berbisik di kupingnya Kwee Ceng. sia-sia ia mencoba berkelit. burung rajawali ada besar luar biasa. ―Khan yang agung telah perlakukan aku begini baik. ―Jebe‖ itu berarti ―ahli panah yang lihay atau dewa panah‖ Tuli hendak bantu adik angkatnya itu. ia berniat pertontonkan ilmu panahnya Kwee Ceng. ―Ayah tadi bilang. di depan siapa ia etkuk sebuah lututnya. Busur itu beratnya dua ratus kati tapi ia dapat menariknya. kedua tangannya diangkat tinggi. Justru itu dua ekor burung rajawali hitam terbang beredeng. Ia berkata: ―Aku sendiri tidak menghendaki apa-apa. jangan takut!‖ Kwee Ceng perdengarkan suara perlahan. ia menjadi girang sekali. ―Benarkah barang apa pun boleh?‖ ia tegaskan ayahnya. ―Ser!‖ demikian anak panah menyambar. ―Anak yang baik. dengan kedua kakinya ia berlutut di depan kudanya khan yang besar itu. ia memungut dua bangkai burung itu. lebar panjangnya sampai setombak lebih. itulah hebat! Temuchin suruh pengiringnya ambil burung itu. karena setelah sepuluh tahun berguru kepada Kanglam Liok Koay. sebab heran mereka atas sikapnya Khan mereka itu. ia dapat cekuk seekor kuda kecil atau kambing besar. Seumurnya Temuchin paling menyukai panglima yang gagah perkasa dan orang kosen. orang banyak bersorak dengan pujiannya. apakah yang kau kehendaki? Kau sebutkan saja. ia turunkan panahnya. ia dekati Kwee Ceng untuk menyerahkan panahnya itu. yang jadi rubuh bersama di sampingnya si tukang panah. aku hendak mewakilkan seseorang mohon suatu hal…‖ Irawan D Soedradjat Page 125 . atau tangannya menjadi melengkung. ―Kau sendiri. ia kata kepada ayahnya. tenaganya menjadi besar sekali. ayah hendak menghadiahkan dia apakah?‖ ―Apa pun boleh!‖ sahut ayahnya itu. dalam segala hal kau lebih dulu ingat ibumu!‖ katanya. Kwee Ceng sambuti panah itu. Tidak tempo lagi. ia lantas menarik hingga busur itu. dan seekor rajawali rubuh. untuk di utara ini. ibuku pun telah punyakan segala apa. yang terus tanya Kwee Ceng. tidak lagi berputaran di atas jurang. Semua orang mengawasi Kwee Ceng. Temuchin tertawa pula. gurunya itu. malah adakalanya harimau atau macan tutul pun mesti lari dari burung ini.― sahut Kwee Ceng yang tidak hendak mensia-siakan Jebe. Sekarang bocah ini bisa memanah sekaligus dua ekor. Kwee Ceng menarik tangan kanannya. datangnya dari arah kiri. Di dalam bahasa Mongol. Harus diketahui. untuk persembahkan burung itu. kalau sepasang sayapnya direntangkan.

Melengak Temuchin mendengar permintaan itu. ia dengar suara berkelengannya kuda. ia sambuti golok itu. Pada golok itu berpeta tanda darah.‖ ia berkata. Coba tidak khan itu telah melepas kata. yang sarungnya terbuat dari emas dan gagang golok berukirkan emas berkepala harimau. ditabur sepotong batu kumala hitam. untuk pulang ke kemahnya. lalu ia mengeluarkan sapu tangannya. Ia menahan sabar. dimana ada terukir pula katakata: ―Golok pribadi dari Khan Temuchin‖. ia mengawasi burung itu. mari beristirahat!‖ ―Kau jangan ganggu aku. yang lagi berlatih. ia malah makin gagal. ia sodorkan itu pada si bocah. yang rupanya baharu kembali. Ia lantas terbang berputaran. dibelakang hari mestinya tuan putri menderita. Ia masih tidak berhasil menyempurnakan jurus ―Di cabang pohon menyerang lutung putih‖. lalu akhirnya ia tertawa terbahak. Kwee Ceng tunggu sampai orang sudah pergi semua. Kemudian ia cabut pedangnya sendiri. Terus ia putar kudanya. Semua panglima menjadi kagum dan memuji. terus ia lompat naik atas kudanya yang lantsa kasih kabur! Temuchin keras bagaikan berhati besi akan tetapi menyaksikan putrinya yang paling ia sayangi itu begitu bersusah hati. suaranya sedih. sampai satu kali ia angkat kepalanya. ―Sungguh ucapan kanak-kanak!‖ katanya. ―Musuh-musuhku tak usahlah aku sendiri yang membunuhnya. Kwee Ceng berhenti berlatih. kaulah yang mewakilkan aku membunuh mereka!‖ Belum lagi Kwee Ceng sahuti si khan itu. yang menyatakan entah berapa banyak korban yang telah dimakan. Temuchin berkata. jangan berlatih terus. Kwee Ceng bersuara perlahan. ―Mana dapat. golok mustika yang pernah dipakai membinasakan bnayak musuh. Di sebelah itu masih ada ukiran dua baris kata-kata. Hanya ketika ia saksikan kawan itu sangat mengeluarkan tenaga. menyusul mana segera terdengar suara yang keras tetapi agak hebat dari si rajawali putih besar yang terbang datnag. ai mencoba pula. lalu ia tertawa mengawasi kawannya itu. mendadak Gochin menangis. ―Kau sustlah peluhmu!‖ katanya. ―Kalau Putri Gochin dinikahkan dengannya. habis membuat main itu golok. Baiklah. ia berkata: ―Sudah. Dialah burung tadi. bunyinya: ―Membunuh musuh dan memusnahkan musuh bagai menyembelih harimau dan kambing‖. aku tidak punya waktu untuk temani kau berbicara.‖ kata Kwee Ceng. cucunya Wang Khan itu busuk dan jahat. lalu ia tampak Gochin lari mendatangi dengan kudanya. hatinya menjadi lemah. ia hunus golok pendek itu dan melihat sinarnya yang tajam. kau anak kecil. buat terus rebahkan diri di atas rumput. Ia tidak ganggu Kwee Ceng. untuk melatih Wat Lie Kiam-hoat.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah itu?‖ tanya Temuchin. hingga ia bermandikan keringat. yang mengejar kawanan burung hitam itu. Dia rupanya bermata tajam. Tengah ia berlatih. engko Ceng. Kalau ia tidak melompat terlalu rendah ia tentu tak keburu menggerakkan pedangnya. Semua panglima dan pangeran mengikuti dari jauh-jauh. maka itu aku mohon denagn sangat supaya janganlah tuan putri dijodohkan dengan dia itu‖ sambungnya kemudian. tidak nanti ia serahkan goloknya itu. tetapi ia antap sapu tangan jatuh di sampingnya. Putri itu tiba untuk terus lompat turun dari kudanya. hendak aku menghadiahkan kau serupa mustika!‖ Ia loloskan golok pendek di pinggangnya. agaknya ia terkejut. ―Tusaga. agaknya mereka sangat ketarik hati. sebelah tangannya dipakai untuk menunjang kepalanya. hanya ia menontoni. ia dengar suara berisik dari kedua anak burung rajawali putih di atas tebing. Ia menanti sekian lama. Irawan D Soedradjat Page 126 . Gochin terus mengawasi. Gochin berdiam. maka juga ie menghela napas. lihat bagaimana harus dikasihani burung itu…‖ berkata Gochin. Kwee Ceng menhanturkan terima kasih. yang kedua ujungnya ia gumpal masing-masing sesudah mana. Golok pendek itu adalah goloknya khan mereka sendiri. ia timpuki itu kepada si anak muda. ―Engko Ceng. ia masuki ke dalam sarungnya. ia sendiri terus berlatih. yangs seperti mendatangkan hawa dingin adem. ia sudah lantas ketahui kebinasaan pasangannya.

gerakan siapa ia sepertinya tidak melihatnya. yang tidak pedulikan sikpa orang. terus ia terbang ke atas seprti memasuki mega. Si imam lempar pedangnya ke tanah. tidak ada abunya sedikit juga. ia hunus golok hadiahnya Temuchin. yang berkumis abu-abu tetapi mukanya merah dadu. sebab ia telah mebuat tiga konde kecil di atas kepalanya. ―Mau apa ia terbang ke atas?‖ tanya tuan putri itu. Hancur-luluhlah kalau orang jatuh dari atasnya. kedua burung itu masih kecil. pedangnya telah pindah tangan kepada si imam itu. ia lompat untuk lari ke jurang. ia sudah mencapai hingga di atas jurang. ―Kecuali orang bersayap dan dapat terbang naik ke atas sana. ia sudah roboh dengan tidak bernyawa lagi! Dua-dua Kwee Ceng dan Gochin terkejut sekali. setelah mana. hingga tahu-tahu ia sudah jalankan jurus yang Kwee Ceng tak sanggup pelajari itu. Belum berhenti suaranya Gochin. Di atas tebing itu si imam tampak menjadi kecil tubuhnya. baru anak-anak burung itu dapat di tolongi…‖ katanya. sedang jubahnya bersih sekali. hanya ia mencelat ke atas. ia berkhawatir untuk Gochin. beroman sebagai huruf ―pin‖. Irawan D Soedradjat Page ―Bagaimana?‖ tanya Gochin yang memeramkan matanya. Si imam tersenyum. tebing dan semua batunya licin. Bocah ini berdiri melengak. tidak biasanya untuk orang yang berada di gurun pasir. sangat cepat. Tiba-tiba terdengar suara dingin di belakangnya. Ia awasi imam berkonde tiga itu. Ia pun sudah lantas menoleh pula. ia menoleh. Ia berlari dengan kaki. lalu dengan satu kelebatan. Ia menjadi tidak senang. Lagi sekali burung besar itu perdengarkan suara nyaring. baru ia buka suara. ―Liaht biar tegas!‖ bersuara si imam itu. keduanya kadi terdiam. lagi seratus tahun juga tidak bakal berhasil!‖ Kwee Ceng berhenti bersilat. Mana bisa ia membela diri atau berkelit? Berbareng dengan itu. Pernah Kwee Ceng diajari gurunya yang kedua. dan segera ia berkata: ―Bagaimana dengan kedua anak burung itu? Bapak dan ibunya telah mati…‖ Sarang di liang di atas tebing itu sukar dipanjat orang. Jurang itu tinggi. maka di detik lain. sedang turunnya si imam adalah sangat cepat tetapi tenang. hingga mereka menjadi heran. Dan ia pun berbicara dalam bahasa Tionghoa. ―Sungguh harus dihormati! Sungguh harus dihormati!‖ tiba-tiba mereka dengar satu suara nyaring di belakang mereka. lekas-lekas keduanya berpaling. untuk mendaki dengan cepat. ilmu dengna tangan kosong merampas senjata musuh. ―Burung rajawali putih itu harus dihormati. Gochin tidak mengerti bahasa itu. yang tangannya mencekal hudtim atau kebutan pertapa. Untuk sejenak itu. 127 Hati Kwee Ceng dan Gochin berdenyut keras tak hentinya. yang aneh dandannya. cara bagaimana mereka bisa mencari makan? Bukankah mereka itu bakal mati kelaparan…. di dekat liang yang merupakan sarang burung rajawali putih itu. burung itu sudah terbang turun pula. Ia pegang pula pedangnya dan mulai lagi denagn latihannya. Mereka melihat satu tosu atau imam. atau tahu-tahu ia telah serbu batu gunung yang besar. Ia masih saja tidak berhasil melatih jurus keempat yang bau diajari gurunya itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pasti ia sangat berduka. maka itu.‖ sahut si engko Ceng itu. . heran dan berkhawatir untuk keselamatan si imam. ―Apa katamu?‖ ia tanya. gerakannya bagai lutung atau kera. lalu Kwee Ceng merasai bahunya kaku. kagum ia untuk lihaynya ini imam. belum ia menginsyafi gayanya. akan tetapi ia belum dapat menyakinkan itu dengan sempurnya. turunannya pun tak boleh tak ditolongi!‖ ia berkata. tujuannya ke jurang. ―Dengan belajar secara demikian. hanya mendadak ia maju mendekati.? Bab 12. memandang ke atas tebing. sebentar kemudian. Maka segera ia melompat ke depan tuan putri itu. Mereka menjerit dan sama-sama mencelat. ia tidak menyahuti. mulutnya terbuka lebar. menjambret dan merembet dengan tangan. ia tertawa. Mereka kagum. Cu Cong. Imam Berkonde Tiga Kwee Ceng menjublak sekian lama. belum bisa terbang. untuk bersiap melindungi putri ini.

untuk kemudian dimasukkan ke dalam sakunya. ―Bagus! Bagus.. karena mana. ia berkata: ―Kalau nanti sepasang anak burung ini menjadi besar. lalu di lain pihak ia kagumi si imam ini yang demikian lihay. ia seperti menghadapi satu sanaknya yang terdekat. mereka bakal menjadi sangat kuat dan galak. tetap tertawa. seraya ia tanya Gochin. habis itu ia memutar tubuhnya sembari tertawa. Gochin lantas lompat naik ke atas kudanya dan kabur pergi. tetap aku gagal…‖ Kwee Ceng kata pula.‖ Si imam ini tertawa. dan dengan ulur kedua tangannya. Dia Tiba di bawah dengan tak kalah cepatnya sewaktu ia mendaki. tapi biarlah aku tidak menyebutkannya. baru suka aku serahkan burung ini padamu!‖ ―Apakah itu?‖ si putri tanya. Ia girang bukan main. jangan sampai tanganmu kena dipatuk!‖ memperingati si imam. lantas ia jatuhkan diri berlutut di depan si imam dan manggut-manggut. ia mulai menangkap dua anak rajawali itu. ―Aku ingin kau tidak beritahu siapa juga yang aku telah mendaki jurang itu dan mengambil anak burung ini.‖ ―Aku tahu. entah sampai berapa puluh kali. tubuhnya seperti terpelanting jatuh. ―Bisakah kamu merawat anak-anak burung ini?‖ ―Bisa. ―Hati-hati. Akan tetapi si imam tiba dengan selamat. agaknya ia baru sadar. ―Burung ini kecil akan tetapi patokannya sakit sekali. maka itu diwaktu mengasih makannya kau mesti hati-hati. hingga ia menjerit kaget.‖ kata si imam. hingga susah ia membuka mulutnya. Si imam konde tiga itu pungut pedangnya untuk dikembalikan kepada pemiliknya. ―Siang dan malam aku berlatih.‖ sahut si nona. Ia lihat si imam demikian sabar dan ramah.Pendekar Pemanah Rajawali ―Hampir tiba!‖ sahut Kwee Ceng. untuk aku memeliharanya. ―Baik. apakah yang kau kehendaki?‖ tanya si imam. untuk apa kau pay-kui terhadapku?‖ si imam tanya. burung ini kita punyakan seorang seekor. Kwee Ceng bengong mengawasiu tuan putri itu. tertawa. yang girangnya bukan main. ―Hal itu sebenarnya sulit juga. untuk mengangsurkan.‖ sahut Gochin. untuk berlalu. Ia kata klepada Kwee Ceng: ―Engko Ceng. dilain saat. Ia menjadi seperti kehilangan semangatnya. ―Eh.!― Gochin kasih turun kedua tangannya. ―Totiang. Bocah ini menggaruk-garuk kepalanya. aku ada sangat bebal…‖ ia kata kemudian. jangan pergi dulu…!‖ Kwee Ceng berkata. rupanya sulit ia berbicara. ―Kenapa?‖ si imam tanya. ia sudah mulai turun pula. Akur?‖ Kwee Ceng mengangguk. ―Kau mesti berjanji padaku satu hal. bisa!‖ sahut si putri dengan cepat seraya menyambuti. tunggu dulu!‖ kata si imam. ―Aku nanti ambilkan daging untuk memelihara padanya!‖ ―Eh. akan tetapi sekarang akulah yang bawa dulu. ―Apakah kau ingin petunjukku?‖ imam itu tanya lagi. ―Aku belajar rajin dan ulet akan tetapi tetap aku tidak dapat belajar dengan sempurna hingga karenanya aku membuat keenam guruku menjadi tidak senang…‖ ―Habis. tapi Cuma sejenak. ―To…totiang. yang merogoh keluar kedua anak burung itu. yang pun pandai mainkan jurusnya yang sulit itu. Ia tertawa pula. Irawan D Soedradjat Page 128 . dengan itu ia ikat kakinya kedua burung itu. Mendadak Kwee Ceng mengucurkan air mata.‖ Gochin loloskan benang ikatan rambutnya. justru ia melihat si imam lompat ke liang. bisa. Kwee Ceng dan Gochin lari menghampirkan pertapa itu.

ia mulai pula mencongkel batu. ialah ia pakai golok pendeknya. Ia mendusin sesudah rembulan muncul. untuk mulai mendaki. maka terus ia berlatih lagi. untuk ia menindak. Tiba-tiba ia ingat perkataan gurunya yang keempat: ―Di kolong langit ini tidak ada urusan yang sukar. untuk mencokel batu. hampir ia terjatuh! Kapan ia memandang ke bawah. Jalan naik lebih jauh batu melulu. hampir cekalannya terlepas. ia merasa ngeri bukan main. Setelah cukup beristirahat. Ia telah mesti menggunai tenaga terlalu besar. Ia jambret setiap oyot rotan. Kepalanya dan jidatnya benjut. Tapi kau tidak boleh beritahukan hal ini kepada siapa juga!‖ Ia menunjuk ke puncak yang ia sebutkan. ujungnya berdiam tepat di depannya! ―Ikat pinggangmu. tiba-tiba ada sehelai dadung meroyot turun. Po Kie mengajari lima jurus. Maka itu akhirnya. ―Aku…aku…tidak dapat mendaki…!‖ katanya. satu kali Kwee Ceng salah menggeraki tangannya dan cambuknya mengenai kepalanya sendiri! Po Kie menjadi mendongkol. ia sekarang dapat akal.‖ kata si imam. hingga semangatnya terbangun pula. Setahu berapa banyak liang lagi harus dibikin untuk dapat naik ke atas. mengikat keras. ―Lagi tiga hari ada bulan pertengahan. setelah pesan si murid belajar terus dengan sungguh-sungguh. asal hati orang kuat!‖. Irawan D Soedradjat Page 129 . Ia kenali suaranya si imam konde tiga. Melihat orang bersungguh hati. Tanpa banyak pikir. ―Kalau begini.‖ pikir Kwee Ceng. Hari itu Han Po Kie ajarkan muridnya ilmu cambuk Kim-liong-pian. lenyap rasa dongkolnya Po Kie. Maka ia kertak gigi. turun pun sukar! Kwee Ceng menghela napas bahna sukarnya. ia merayap tetapi ia dapat maju setindak dengan setindak. Maka ia diam mendekam. dengan merasa sakit dan letih. Tiba-tiba ia menjadi girang sekali. untuk dipegang. Sekarang. lalu ia berdiam. ia belajar terus. naik tak dapat. Satu kali ia terpeleset. sengaja totiang hendak menyulitkan aku. kakinya tangannya lemas. Saban salah menarik. guna menancap itu untuk dipakai sabagai alat pegangan. ia tidak memperdulikannya lagi. Tapi matanya masih mengawasi ke pundak. begini saja. Ia merasakan sakit pada tubuhnya. sambil sebelah tangan terus pegangi liang batu. nanti aku tarik kau naik!‖ begitu suara terdengar. ia meninggalkan pergi dengan menunggang kudanya. atau mendadak ia dengar suara orang tertawa diatasnya. Tiga hari telah lewat. ―Terang dia tidak ingin mengajari aku…‖ Cuma sesaat ia berpikir pula: ―Aku toh bukannya tidak punyakan guru yang pandai? Di depan mataku toh ada enam guru yang bersungguh-sungguh mengajari aku? Dasar aku yang tolol! Apa daya sekarang? Meski totiang lihay sekali. ―Mesti dapat!‖ ia keraskan hatinya. Untuk heranya. ia jalan terus. baru manjat dua tombak. buat dijadikan tempat injakan. Kwee Ceng menjadi korban. dia sendiri yang bisa bercelaka. Ia heran. dengan tangan kanannya ia libat pinggangnya. yang kepalanya telah menjelut! Kwee Ceng tutup mulut. Si imam sudah lantas berjalan. Senjata lemas itu beda darpada golok atau lainnya senjata tajam. Ia baru pulang sesudah matahari turun dari gunung dan ia rasai perutnya lapar. sangat ayal. ia rebahkan diri di rumput dan kepulasan. ia simpan goloknya. seperti tembok yang licin. Baru ia mulai. ia sentil kupingnya si murid itu. ia pun tidak berani dongak. mustahil aku tidak!‖ akhirnya ia kata dengan penasaran. Dan ia mencoba. Demikian sudah terjadi. Kwee Ceng menjadi bingung. Kwee Ceng tidak memperdulikannya. kepalanya sudah pusing. ia bernapas denagn perlahan-lahan. Lalu ia ingat pula pelajarannya. lengan dan kakinya matang biru. tapi ia memandang ke atas bukit. untuk melihatnya. Ia ingat janjinya si imam. Benar-benar sukar ilmu cambuk itu. Ia bisa naik setinggi enam atau tujuh belas tombak.Pendekar Pemanah Rajawali ―Benar!‖ Dan Kwee Ceng mendekam pula. ia naik seperti merayap. ―Dia bisa mendaki. ujung cambuk mengenai diri sendiri. mengangguk-angguk lagi. sebaliknya. ―Aku lihat kau jujur dan bersungguh hati. hingga ia menjadi babak-belur. nanti selagi rembulan terang menderang. Ia cari lubang atau sela batu. kalau tenaga latihannya kurang orang tak akan terlukai kerenanya. Dan ia lari ke kaki jurang. mana dapat aku mewariskan kapandaiannya itu? Percuma aku belajar dengannya…‖ Bocah ini menjadi tawar hatinya. aku nantikan kau di atas puncak. Ia membiarkan saja walaupun si murid lagi-lagi membuat beberapa kesalahan.

Sekarang begini saja. lantas kau dijatuhkan si imam muda. duduk. kau tariklah dadung ini. sekarang baiklah kau tidak usah menanyakan. ―Ketujuh gurumu telah bertaruh sama orang. ―Keenam gurumu itu semua orang-orang Rimba Persilatan kenamaan. dari itu tidak dapat aku ajarkan kau ilmu silat!‖ Kwee Ceng heran berbareng putus asa. sudah cukup. segera tubuhnya terangkat. Kau duduklah!‖ Dengan hati bingung. tak sampai ke atas sini. akan tetapi si imam cekal tangannya. kau lantas merasa pelajaranmu tak ada faedahnya. tak tempo lagi ia tekuk lututnya. ―Coba kamu bertempur secara biasa. ia sebenarnya telah menggunai akal. Mereka adalah orang-orang terhormat. untuk ditarik. Nanti dua tahun lagi. ―Inilah dia yang dibilang. Kwee Ceng berduduk. aku lupa! Suaramu tidak cukup keras. ia membetot tiga kali. aku bukannya gurumu. sudi mengajarinya. Disamping itu kepandaian keenam gurumu tak ada dibawahan aku. mana mereka mau berlaku curang?‖ ―Pertaruhan apakah itu totiang?‖ tanya Kwee Ceng. yang mengajar tak jelas caranya dan yang belajar tak menginsyafi jalannya…‖ ―Kalau begitu. aku tidak bisa peroleh kemajuan.‖ kembali si imam berkata. Akan aku ajarkan kau ilmu mengendalikan napas.‖ kata si imam. tetapi sebab tahu ia lagi diangkat naik. ―Biar teecu nerdiri saja menemani suhu. ―Duduklah di sana!‖ kata si imam. tarik tiga kali!‖ Kwee Ceng menurut. ―Rupanya gurumu belum memberi keterangan padamu. untuk pay-kui. imam itu berkata: ―Kemarin kau telah pay-kui padaku seratus kali. yang penuh dengan salju. dalam hal pertaruhan. ia tidak terlalu berkhawatir. ―Sudah atau belum?‖ tanya lagi suara di atas. Hahaha. Untuk kau. Hanya untuk herannya.‖ Kwee Ceng menjawab. baru ia terangkat naik. ―Kalau aku ajarkan kau ilmu silat dan kemudian gurumu memdapat tahu. Kau bukannya tidak rajin belajar. di situ ada sebuah batu besar yang rata. ―Kau bukannya orang kaumku. kau ada punya semangat!‖ Puncak gunung itu boleh dibilang datar. Kenapa imam ini ketahui urusan kekelahannya itu? ―Imam itu memang daripada kau. anak bagus. Tiba-tiba ia tertawa.‖ Kwee Ceng memohon. ―Kau juga bukan muridku. Kalau kau sudah mengikat rapi. ini pun satu pukulan untukmu. asal kau dapat pelajarakn kepandaian satu saja dari enam gurumu itu. biar suhu semua bersungguh-sungguh mengajarainya. Kesungguhan hatimu rupanya membuatnya kita berjodoh. kenaapa selama sepuluh tahun ini kemajuanmu tidak banyak? Tahukah kau sebabnya?‖ ―Itulah karena dasarku yang bebal. guna menghanturkan terima kasihnya. Rupanya ia tidak dengar jawabannya si bocah. hingga terlepaslah pegangannya pada batu dan injakan kakinya juga.‖ berkata si imam.‖ Kwee Ceng bilang.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kau telah selesai mengikat?‖ tanya si imam dari atas. berdiri tepat di depannya si imam! Bukan main ia girang dan bersyukur. aku mohon su…su…eh totiang. tiba-tiba ia sudah sampai di atas. kau ternyata keliru!‖ Kwee Ceng heran. Habis itu mendadakan ikatan pada pinggangnya menjadi keras. Ia terkejut juga. jalan dan tidur…‖ Irawan D Soedradjat Page 130 . lalu menambahkan: ―Ah. kau sudah bisa tonjolkan diri di muka umum. mereka akan memberitahukannya padamu. sambil tertawa. ―Sudah!‖ sahut si bocah.‖ kata si imam. sudah cukup! Bagus. ―Itulah tidak benar seluruhnya!‖ jawab si imam dengan tertawa. ―Bicaranya tentang umumnya ilmu silat. sebenarnya sudah jarang orang Rimba Persilatan yang sepandai kau.‖ menerangkan si imam pula. karena itu. ―Walaupun kita tidak kenal satu sama lain akan tetapi kita saling menghormati. ―Kau baru belajar silat. belum tentu ia dapat menangkan kau. mereka pasti menjadi tidak senang.

im hapus. kau mesti bernapas. repot mengendalikan. ia lantas dapat lakukan apa-apa yang tadinya ia tidak sanggup lakukan.‖ Kwee Ceng mengangguk. Lama-lama ia menjadi tenang juga. ia singkirkan salju itu. menggigit dan menyentil. Baru semua kuda dapat dibikin tenang dan berkumpul. Lain keanehan yang nyata. barulah naik pembaringan dan rebah miring. Setelah itu. tetapi ia tak tahu apa artinya yang sebenarnya. fajar sudah menyingsing. Perlu apa kau mengajarinya pula…?‖ Ia tapinya tutup mulut. ―Sekarang kau rebahlah. ia rasai kaki dan tangannya kaku dan kesmutan. orang mesti kosongkan otaknya. orang-orang Mongol. Imam itu berkata pula. ada saja yang ia ingat. semangat hidup. ―Kau singkirkan salju di atas batu itu. Ia melainkan tahu itu berarti: ―Pikiran tenang. Mereka percaya muridnya bakal menang. Irawan D Soedradjat Page 131 . ―Sekarang kau pulang. tapi mereka tidak bisa suatu apa. ―Kau tidur di situ. Kwee Ceng menurutm ia mencoba.‖ lantjutnya kemudian. Mereka juga girang akan lekas kembali ke Kanglam. Si imam mengawasi. tetapi ia lawan itu. ia ingat itu dan mengulanginya sampai beberapa kali.‖ Kwee Ceng menurut. Ia rebah hingga ia tidur kepulasan tanpa merasa. Kwee Ceng rasai ia dapat mendaki jurang lebih tinggi dan lebih gampang. untuk ia belajar napas. Si imam bersila di depan orang. ia coba lupai segala apa. selama ini kau belajar mainkan senjata saja.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng heran bukan main. kembali terlihat ia mendatangi. baru di bagian yang licin.‖ kata si imam. si imam kerek padanya. Kwee Ceng menurut pula.‖ Lantas si imam mengajari caranya napas disedot masuk dan keluar sambil bersemadhi. dan si penggembala. jangan pikir suatu apa juga. yang bangun. tetapi ia menurut. duduk. Inilah dia: Sue teng cek ceng bong. Satu tahun telah berlalu dengan cepat. Hie Jin kata pada muridnya: ―Anak Ceng. ―Aku ada punya empat perkataan. tetapi tak dapat karena kuda itu lari kabur.?‖ pikirnya. ―Ilmu bernapas. Mereka menyangka kemajuan muridnya ini berkat kerajinan dan keuletannya. begini. kuda itu lari pula ke utara dan lenyap. perasaan terlupa. buka matanya. ia rasai tubuhnya jadi ringan sekali dan gesit. Maka itu. hawa berjalan. Selang setengah tahun. aku hampir bisa semua itu sendirinya. hati mati. maka seterusnya setiap malam ia datang pada si imam. Pada suatu pagi. jalan dan tidur.. maka lagi beberapa bulan akan tibalah saat pibu. Hie in sedang hendak mulai berlatih sama muridnya itu tempo kelihatan debu mengepul jauh di sebelah depan dan terdengar berisik suara kuda dan orang. Nah. Lekas ia merasakan suatu keanehan. setiap hari mereka omongkan hal pibu dan bakal pulang itu. denagn kedua tangannya. mungkin kau kurang leluasa dengan tangan kosongmu. dari itu mari kau coba-coba. habis itu ia terus rebahkan dirinya di atasnya. Ia lantas turut pergi ke tempat berlatih. sebentar malam datang pula. Mulanya. Kawanan penggembala itu menjadi dongkol. Tee hie cek kie oen. Hanya. tempo akhirnya ia sadar. kau ingat baik-baik. da ia kerek turun tubuh bocah itu. ―Untuk tidur caramu ini. tidur dan jalan. Si imam tidak ajari ia ilmu lainnya. Itulah segerombolan kuda. Mereka hendak tangkap kuda merah itu. hingga kuda ini menjadi kacau pula. Yang seng cek im siauw. buat apa akukah mengajarinya?‖ katanya. yang kerek ia naik. menerangkan: ―Sebelumnya tidur. pikirannya goncang. kembali ia mengacau rombongan kuda tadi.‖ katanya. mendadak dari arah barat datang seekor kuda kecil merah marong. tubuh kosong. Ia ingati terus. napas kasih jalan perlahan-lahan. mereka girang sekali. Kanglam Liok Koay lihat itu kemajuan. rupanya ia puas sudah mengacau itu…. ―Begitu aku terlahir. Sim soe cek cin hoat. jangan ngawur. ―Sekarang duduklah dan mulai!‖ katanya pula.‖ kata si imam. selang satu jam. lalu berdiri diam di tempat jauh seraya perdengarkan meringkiknya berulang-ulang. kuda itu menyerbu ke rombongan kuda banyak itu. Kwee Ceng menurut. toh kapan di waktu siang ia berlatih silat. semangat jangan goncang. Tapi dia tidak pergi lama. Kwee Ceng menjadi semakin heran. yang lari larat. Kanglam Liok Koay merasa gembira. duduk.

tenaganya dikerahkan. lekas turun. siapa tahu. dia lompat dan lari. ―Baharu beberapa hari yang lalu kami lihat dia.‖ Dia cuma tahu si imam konde tiga itu sangat baik hati suka memberi pengajaran kepadanya hingga ia dapat bersemadhi… Selagi Liok Koay bicarakan hal murid ini. lantas ia lari mengejar. Kasih sam-suhu gantikan kau!‖ ―Jangan!‖ teriak Po Kie. sudah lantas berlutut dan memuji supaya janganlah Tuhanbergusar karena kudanya itu dipermainkan… Siauw Eng pun lantas berteriak. kedua kakinya menjepit. dan kapannya ia mempelajari keng-sin-sut.‖ kata Siauw Eng. Kwee Ceng tidak rubuh karenanya. Setiap malam ia naik turun jurang. akan tanya kuda itu kepunyaan siapa. tetapi masih kalah jauh dengan kuda merah itu. ia percaya bakal berhasil. kepandaian Kwee Ceng itu adalah hasilnya ajaran si imam konde tiga. Orang Mongol sendiri kagum padanya. lau terusterusan ia mengacau. Seorang penggembala lain tertawa. untuk berdiri. Si penggembala. dai seperti ingin menjungkirkan penunggangnya. anak kecil? Sudah puluhan tahun aku menggembvala kuda. tiba-tiba dari smaping ada satu orang yang lompat menyambar kepadanya. memegang surinya. ―Selama satu tahun ini. Ia menjadi dongkol. karena ketekunan Kwee Ceng sendiri yang bebal tapi rajin dan ulet. hanya disaat ia lari lewat. Ia sudah pandai. ―Dia berhasil‖ 132 Kuda itu masih berjingkrakan. dia menjadi penasaran terhadap kami. yang percaya kuda itu adalah turunan naga. tapi ia tak kasih dirinya dilompati. malah kemudian. sebaliknya ialah yang melompat ke bebokong kuda itu. bocah ini memeluk ke leher. yang mencegah. rupanya ingin dia membikin penunggangnya jungkir balik. Diakhirnya. dia tidak dapat diganggu!‖ jawab penggembala itu kemudian. kanglam Liok Koay pun terkejut. Masih saja kuda itu berjingkrakan. tanpa ia merasa. tidak pernah aku lihat kuda semacam ini!‖ Ia belum tutup mulutnya. Mereka pun kagumi kuda merah itu. dia bakal gagal!‖ Ia tahu. kuda itu bakal tunduk untuk selama-lamanya kepada penakluk itu. tetapi Kwee Ceng terus memegangi erat-erat. mereka berteriak. cuma tak sampai terguling. Ia kate. tahu-tahu si murid sudah kembali bersama kuda merah itu. ilmu enteng tubuh. kapan kuda merah itu sudah datang menyerbu pula. ia jatuh sambil berdiri.‖ sahut seorang penggembala. tahu ia sifat atau kebiasaannya hewan itu. Tepat dugaannya. ia tengah menyakinkan ilmu ringan tubuh yang sangat lihay. ―Kalau digantikan. ―Anak Ceng. lalu ia berhenti meronta-ronta. kudanya sendiri jempolan. Dia kaget. Ia kate tapi ia dapat melompat tinggi. Hebat larinya kuda itu. dia tak tercandak. pesat majunya anak Ceng. ―Ngaco belo!‖ ―Kau tahu apa. yaitu ―Kim-gan-kang‖ atau ilmu ―Burung Welilis Emas. Kuda itu lari ke arahnya. kalau seorang dapat menakluki kuda binal. ―Inalah kuda turunan naga dari langit. yang terus angkat kedua kaki depannya. Po Kie pun segera ajar dia bagaimana harus membikin jinak kuda. kuda itu sukar bernapas. ―Setahu darimana keluarganya kuda kecil ini. Segera ia berada di atas punggung kuda. belum ia sempat mendudukinya. Disamping itu mereka heran kapannya bocah ini pelajarkan sifatnya hewan. ―Mungkinkah ia dipayungi ayahnya almarhum? Mungkinkah ngo-ko…? Nona ini tidak tahu. ia seperti berada di bawahnya perut hewan itu.‖ ―Itulah bukannya kuda. ―Siapa bilang naga bisa menjdai kuda?‖ katanya. karena itulah Kwee Ceng yang menyambar kuda itu. sebab orang itu tidak mau melepas cekalannya. ia memegangi dengan keras. dia berdiri diam! . hingga ia jatuh ke tanah.Pendekar Pemanah Rajawali Liok Koay dan Kwee Ceng heran. kuda itu sudah lewati dia. Ia penggemar kuda. kemudian ia meyentil dengan kedua kaki belakangnya. ia memang seorang ahli kuda. dia kena bawa orang yang menyambarnya itu.‖ kata satu penggembala. makin lama makin keras pelukan itu. Irawan D Soedradjat Page ―Bagus! Bagus!‖ seru Po Kie. kami mencoba menangkap padanya tetapi gagal. Han Po Kie segera bertindak. ―Habis apakah itu?‖ tanya Po Kie. Malah Han Po Kie segera hampirkan rombongan penggembala itu. Dia ada sangat cerdik dan gesit. karena mana. Begitulah ia lari ke tempat dimana kuda itu bakal mundur. Semua penggembala menjadi terkejut.

―Sedikit pun teecu tidak mengerti itu. ―Habis darimana kau dapat kepandaianmu tenaga dalam?!‖ Cu Cong masih bertanya. maka orang mesti siap akan bertempur di kamar yang kecil. dengan masing-masing mereka merasa heran. Si imam konde tiga tidak ajarkan ia ilmu silat. Kim Hoat menyerang dengan hebat. air matanya mengucur keluar. Tentu saja.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng khawatir kuda itu bakal lari atau kabur. untuk membersihkan badannya. semua mereka menunjuk roman bengis. habis bersantap. Ia mengarah ke dada. ia membalas. . untuk gosoki keringatnya. Di mana saja orang bisa menghadapi musuh. Menampak itu. ―Suhu semua memperlakukan teecu sebagai anak. malah terus sampai tiga kali. Ini bukan jurus latihan. Tin Ok semua berbangkit. hingga bebokongnya nempel sama tenda. ―Apakah kau hendak andalakn gurumu yang lihay itu maka kau jadi tidak pandang lagi kami berenam?! Hm!‖ ―Tenaga dalam?‖ Kwee Ceng melengak. dari kaget dan heran. ―Secara diam-diam kau turut orang lain belajar silat. bukan?!‖ ―Cuma guru Jebe mengajarakan teecu main panah dan tombak. dia jilati belakang telapakan tangan si bocah.‖ Kata-kata itu disusul sama ancaman tangan kiri dan tinjuan kepalan kanan. ―Anak Ceng. Ia kaget seklai. dia jadi jinak sekali. Siapa terkena itu. orang menjadi tertawa! Satu penggembala dekati kuda itu. ia diajarkan diluar tahunya. ―Disini?‖ sang murid tegaskan. walaupun kau usir. Ia putar tangan kirinya. tak tahu ia bersalah apa maka gurunya serang ia secara demikian telengas. ia mesti pingsan. tapi segera ia berlutut di depan gurunya itu. Kuda itu benar tidak lari. Cuma tempo ia menggenai dada muridnya. ia tidak mau lantas turun. Ia omong dengan sebenarnya. sebaliknya. ―Ya. Kwee Ceng mennagkis dan berkelit.‖ Teecu salah. cuma ilmu semadhi. sedang ilmu enteng tubuh. ―Kau turun! Dia sudah tunduk kepadamu. Kwee Ceng mundur. malah ia terus gunai jurusnya ―Masuk ke dalam guna harimau‖. kau tentu tetap hendak menyembunyikannya.‖ berkata Coan Kim Hoat pada muridnya itu. tapi serangan benar-benar yang berbahaya. Ia takut sekali. dia tidak nanti lari!‖ Mendengar itu barulah Kwee Ceng lompat turun. ingin aku lihat seberapa jauh kau punya ilmu Kay-san-ciang. ia dipersen jentilan hingga ia terjungkal! Kwee Ceng lantas tuntun kuda itu ke sisi instal. Kwee Ceng pergi ke kemah gurunya. ia rasai dada muridnya itu lembek seperti kapuk.‖ ia menyerah.‖ Kwee Ceng menjawab. ―Coba tidak liok-suhu mencoba padamu. silakan lioksuhu menghukum.‖ Irawan D Soedradjat Page 133 ―Fui!‖ seru Cu Cong sambil ia ulurkan tangannya ke jalan darah hian-kee-hiat di bawahan tulang iga. kenapa kau tidak beritahu itu pada kita?!‖ tehur Cu Cong. lalu tangannya kena dihalau! Untuk sejenak Kwee Ceng tercengang. ―Masih kau berdusta?!‖ Cu Cong bentak pula. mereka masuk ke kemah mereka. mana berabi teecu berdusta?‖ sahutnya. hendak ia membela diri. Liok Koay tidak suruh muridnya itu berlatih lebih jauh. Akan tetapi hebat serangan si guru. Kwee Ceng menangis. ―Cukup sudah!‖ Po Kie bilang pada muridnya. Tengah hari. guna menyingkirkan dua tangan gurunya itu. setelah diserang untuk keempat kalinya.

‖ ―Baik.‖ Kwee Ceng jawab. ia dapat menyakinkan Iweekang lebih cepat dari siapa juga. kau boleh pergi memain seperti biasa. ―Selanjutnya teecu tidak berani pergi bermain-main pula dengan dia itu. Di dalam kemah. teecu juga tidak mensia-siakan pelajaranku. di sampingnya ada dua ekor rajawali putih. tapi kalau begini. ―Hanya kenapa dia tidak menghendaki kita mendapat tahu?‖ tanya Kim Hoat.‖ Ia lantas mengangguk-angguk dan menambahkan: ―Teecu tahu teecu bersalah. ―Dia suruh teecu duduk. Sebab apakah itu? ―Nah. Irawan D Soedradjat Page 134 . Cuma ia pesan supaya teecu jangan memberitahukan hal itu pada siapa pun. keduanya melebihkan tingginya tuan putri itu. duduk bersila dan tidur. ketika totokannya Cu Cong mengenai. dua kawan ini lari ke tegalan. ―Tidak apa-apa. ―Malah dia suruh teecu bersumpah untuk tidak menjelaskan roman tubuh dan wajahnya. terus ia terbang mencablok di pundaknya Kwee Ceng.‖ Siauw Eng mengutarakan pikirannya. ―Di mana dia mengajarkannya?‖ ―Dia tidak mau beritahu she dan nama atau gelarannya pada teecu. Dengan berpegangan tangan. apakah ini bukannya tenaga dalam!‖ serunya. teecu anggap ajaran itu menarik hati. yang terus undurkan diri.‖ Kwee Ceng menyahuti. tetapi kemudian teecu merasakan hawa panas keluar masuk. ia tak kurang suatu apa. Kwee Ceng terkejut. pelajaranmu itu bukan tenaga dalam?‖ tanya Siauw Eng yang menegaskan. Kedua burung itu telah membesar denagn cepat. ―Kenapa pada anak Ceng juga ia tidak menjelaskan hal Iweekang itu?‖ ―Mungkin dia adalah kenalan kita. Mulanya mereka menyangka Kwee Ceng cuma bertemu orang pandai. Ia girang gurunya tidak marah. ―Apakah kau tidak tahu.‖ kata Kwee Ceng. suhu. mereka menjadi curiga. ―Dia ajarkan ilmu kepada anak Ceng. Tenaga dalam itu adalah Iweekang (laykang). untuk menarik dan mengeluarkan napas dengan perlahan-lahan. asal kau tidak beritahukan dia bahwa kami telah ketahui urusan ini. tapi ia terkejut dan heran. tidak boleh teecu pikirkan apa juga. Sama sekali ia tidak ajarakan ilmu silat pada teecu.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng tidak berkelit atau menangkis. telah setengah harian aku menunggui kau!‖ kata putri itu. Liok Koay berbicara. Lalu ia mengasih keterangan: ―Selama dua tahun ini.‖ kata Cu Cong. ―Adakah ini hasil latihannya totiang?‖ ia tanya pada dirinya sendiri. ―Lekas. ―Siapa yang ajarkan kau ilmu itu?‖ Cu Cong tanya. membikin totokan itu kena dikemsampingkan. muridnya ini telah dapatkan Iweekang sedemikian rupa. ―Benar-benar teecu tidak tahu kalau itu adalah pelajaran tenaga dalam. lain kali teecu tidak berani pergi bermain pula…‖ Enam guru itu saling pandang. selama itu. ―Nah. dari itu. di sana Gochin sudah menantikan dia. ada orang yang setiap malam mengajari teecu bagaimana harus menyedot napas. mesti ada sebab lainnya lagi.‖ Liok Koay semakin heran. teecu ikuti ia belajar terus. pergilah kau!‖ kata Cu Cong kemudian.‖ Cu Cong bilang. Kwee Ceng jujur. Tidak mereka sangka. Si bocah Cuma merasakan sakit. dagingnya bergerak sendirinya. dia juga larang teecu memanggil suhu padanya. Cu Cong tidak menggunai tenaganya sepenuhnya.‖ kata Kwee Ceng. Teecu anggap hal ini bukan perbuatan busuk. Mulanya sulit. dan ini menarik hati…‖ Liok Koay heran berbareng girang di dalam hati. Seekor rajawali angkat kakinya dan pentang sayapnya. dari itu teecu tidak memberitahukan kepada suhu semua. berdiri di tanah. untuk bermain dengan burung mereka. hatinya bersih. Setibanya di kemah. Terang murid ini tidak berdusta. ―Kami tidak persalahkan padamu. dia tentu tidak bermaksud buruk.

entah kemana perginya Kwee Ceng serta orang yang dikatakan gurunya itu. Yang aneh. ia gegetun. Cu Cong terus lari pulang ke kemah untuk ambil dadung. Empat saudara itu terperanjat. mereka saling menarik. Semua saudara itu terkejut. tunggu sampai mereka turun. Semua tengkorak itu pun ada lubangnya. seperti terkorak pisau tajam. ―Kalau dia musuh. masih tegang hatinya. akhirnya Cu Cong mengusulkan naik ke atas guna melihat. di atas jurang tidak terdengar gerak apa juga. kita coba saja. Cu Cong dan Kim Hoat heran bukan main. Sampai di lembah. Tin Ok berlima mengangguk. yang mana dikhawatirkan ada sisa racun. Maka lekas-lekas mereka turun pula. Ia menjadi sangat berduka. aku hendak pergi!‖ begitu terdengar suaranya sang murid. Po Kie semua heran. Malam itu Cu Cong dan Kim Hoat menanti di luar kemah ibunya Kwee Ceng. Di samping batu besar ada teratur sembilan buah tengkorak putih. sang fajar telah menyingsing. Mereka ini berbekal senjata.‖ katanya. Tanpa terasa. Kwee Ceng dapat mendaki jurang tanpa bantuan lagi. sampai Tin Ok berempat datang menyusul. yang larinya benar pesat sekali. tentulah ia itu musuh…‖ Kim Hoat berpikir. ―Ibu. Setelah bermandikan keringat. khawatir nanti ketemu musuh lihay.‖ kata Cu Cong kemudian. Mereka lantas ambil tempatnya masing-masing. mereka lantas tanya ada apa dan kenapa dengan kedua saudara itu. Siauw Eng dongak. mereka dapat terus memasang mata. Ketika itu. Segera juga mereka berserua karena kagetnya. Lagi satu jam mereka menanti dengan sia-sia. ―Kalau begitu. ―Bisakah kita naik?‖ Kim Hoat tanya. Siauw Eng berpikir keras. nah untuk apakah ia mengajari anak Ceng?‖ Siauw Eng tanya pula. Tak tampak juga orang yang dikatan gurunya itu. baiklah sebentar malam aku dan liok-tee pergi ikuti anak Ceng untuk lihat orang itu. ia lihat mega hitam. sang matahari sudah keluar. Sang waktu lewat detik demi detik. di bawah lima. ―Kalau dia bukan sahabat. Mereka menantikan. tentu saja. Keduanya kebat-kebit hatinya. puncak jurang tetap sunyi senyp. keduanya tiba juga di atas. cepat larinya. Mereka sendiri tidak khawatir nanti terlihat si murid. dengan ilmunya maju pesat.‖ Tin Ok mengatur.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kenalan?‖ ulangi Siauw Eng. Irawan D Soedradjat Page 135 . maka itu. Tempo mereka mulai menanjak. ―Di antara kenalan kita. di situ tak ada orang. Syukur di tanah datar itu tak ada sesuatu rintangan. ―Mari kita sembunyi disini. Cu Cong ceritakan halnya Kwee Ceng naik ke atas jurang. malah Kwee Ceng tak tampak turun. masih si murid lari terus. Kedua guru itu segera menguntit dari kejauhan.‖ sahut kakak yang kedua itu. Suasana malam ini mengingati ia malam itu tempo mereka mengepung Hek Hong Siang Sat dengan kesudahannya Thio A Seng menutup mata untuk selamanya. dua buah kampak serta beberapa puluh potong paku besar. di tengah tiga di atas satu. mereka gunai paku itu. rasanya tak ada yang berkepandaian seperti dia…. ―Bwee Tiauw Hong!‖ sahut Cu Cong. Di pinggiran lubang itu ada tanda hitam. tepat dengan pengaturannya Hek Hong Siang Sat dahulu hari. hati mereka tegang dan cemas. bekas totokan jari tangan. ―Siapa tahu kalau dia tidak tengah mengatur daya upaya busuk?‖ kata Tin Ok dingin. lalu ia lari keluar. ―Belum tentu.

tak dapat diduga bagaimana hebatnya bencana yang bakalan terjadi. Bagaimana kalau tindakan kita bocor?‖ ―Memang inilah berbahaya. ―Anak Ceng hendak dibikin bercacat?!‖ serunya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng?‖ tanya Siauw Eng. kita tunggu si Ceng datang pada kita. ―Tidak dapat?‖ Po Kie tegaskan pula. ―Mungkin mereka turun dari sebelah…‖ Ia lalu menjelaskan apa yang mereka lihat di atas sana. Si nona berdiam begitupun yang lainnya. lalu tiba-tiba kita hajar dia hingga bercacat. akan tetapi kapan ia saksikan air mata adiknya. kita memelihara harimau untuk meninggalkan bahaya untuk di kemudian hari. Hie Jin mengangguk. ―Sekarang mari kita pulang!‖ ia mengajak. ―Tidak bisa apa?‖ tanya Po Kie. sangsi.‖ kata Tin Ok masgul. ―Aku setuju sama sie-ko. ―Apakah toako mau artikan si perempuan siluman buta itu hendak pinjam tangan anak ceng untuk celakai kita?‖ tanya Po Kie.‖ sahut Cu Cong. ―Dia tak dapat dibikin bercacat!‖ jawab Hie Jin. ―Mestinya begitu. ―Bukankah suaminya terbinasa di tangannya si Ceng?‖ Semua orang berdiam. mana dia begitu baik hati hendak menurunkan kepandaiannya?‖ kata Tin Ok. yang akur sama kakaknya. tidak nanti dia dapat berpura-rupa sedemikian rupa. ―Mungkin siluman perempuan itu anggap waktunya belum tiba dan dia belum menjelaskan sesuatu kenapa anak ceng…‖ Kim Hoat pun mengutarakan dugaannya.‖ kata Siauw Eng.‖ ―Tapi urusan ada sangat penting. ―Habis kenapa ia ikuti si siluman itu selama dua tahun dan ia menutup mulut terus?‖ tanya Tin Ok.‖ jawabnya. Biar pun ia lihay. ia pun heran. Hebat ancaman bahaya yang mereka khawatirkan itu. kenapa si perempuan siluman itu tidak ajarkan dia ilmu silat?‖ tanya Po Kie. ―Kalau kita salah tindak karena kita merasa kasihan terhadapnya. ― Cu Cong peringati. Tin Ok menghajar tanah dengan tongkatnya. Po Kie bersangsi. baru kita pikir pula.‖ kata Kim Hoat. ―Taruh kata anak Ceng mengandung maksud tidak baik. ―Entahlah. mereka menggigil snedirinya. siapa tahu. ―Anak Ceng jujur dan polos. bagaimana kau?‖ tanya Tin Ok. ―Habis bagaimana dengan janji pibu?‖ ―Lebih penting nyawa kita atau pibu itu?‖ tanya Tin Ok. Irawan D Soedradjat Page 136 . ―Lebih dulu kita mesti mencari kepastian.‖ sahut Kim Hoat. ―Kita berpura-pura tidak tahu. ―Tubuhnya anak Ceng sudah cukup enteng. ―Perempuan siluman itu hendak pakai tangannya si Ceng. dia bukannya satu manusia yang tak berbudi. mustahil kita berenam kalah padanya…‖ Siauw Eng kaget.‖ Siauw Eng tetap bersangsi. ―Aku di pihak sietee. Iweekangnya sudah punya dasar. ―Samtee. ia lantas tetapkan hatinya. ―Tidak bisa!‖ seru Hie Jin kemudian. tetapi ilmu silatnya masih kalah jauh denagn kita. ―Belasan tahun cape lelah kita.‖ bilang Siauw Eng.

kita justru biasa datang kemari hingga kita mempergokinya. ―Eh. Tentu saja ia menjadi kaget.‖ ia bilang. kami dengar titahmu!‖ ―Baiklah!‖ kata toako itu. tumpukan ini sudah ada. masih belum tentu kita menang. ―Aku khawatir gurumu itu bukan tandingannya.‖ berkata si imam. dia rupanya menyangka orang tak bakal datang ke tempat ini. Tin Ok bersama Cu Cong dan Coan Kim hoat bukan bangsa sembrono akan tetapi menyaksikan keanehan Kwee Ceng dan di atas jurang kedapatan itu sembilan tengkorak dari Bwee Tiauw Hong.‖ Mendengar disebut-sebutnya A Seng. ―Aku belum lama sampai disini. kaut kepercayaan mereka bahwa Bwee Tiauw Hong adalah orang yang mengajari Iweekang kepada murid mereka. apakah itu?‖ Di bawah sinar rembulan guram. maka itu aku percaya. hanya si imam ini segera menunjuk seraya berkata: ―Kau lihat.‖ ―Sebelum kau datang. Kwee Ceng lihat sembialn tengkorak.Pendekar Pemanah Rajawali Dari enam bersaudara itu. lalu ia menggeleng-geleng kepala. Kwee Ceng kaget dan heran. jietee sama lioktee. Cu Cong menghela napas. Si imam itu tertawa. ―Tidak dapat aku menduga sampai dimana lihaynya jeriji-jeriji tangannya itu. adakah si Mayat Besi itu datang? Apakah totiang dapat lihat padanya?‖ tanya Kwee Ceng. ―Dan sekarang kita ada berdelapan…. ―Sebenarnya mau apa dia menyusun tengkorak-tengkorak di sini?‖ Kwee Ceng tanya. Umpama kata aku pun membantu pihakmu. dia masih tidak dapat lawan tujuh guruku. Si imam jumput satu tengkorak. Maka Tin Ok bilang: ―Kalau benar. si imam sudah menantikan dia.‖ . kamu halangi mereka. maka sekarang kita harus mengerti. Nyatanya. ia datang. ―Coba ngotee ada di sini. Tanghay. ―Apakah bukan sengaja dia hendak membikin kita mendapat tahu dan bersiap sedia?‖ Irawan D Soedradjat Page 137 ―Aku pikir tidak demikian. Kapan tadi malam Kwee Ceng tiba di atas jurang. nanti aku yang turun tangan!‖ Demikian mereka bersiap sedia. salah satu pihak tentulah lebih satu suara. ―Tempo aku sampai. ―Pada belasan tahun dulu dia masih belum buta.‖ kata Kwee ceng.‖ sahut si imam. maka akhirnya. dia mestinya ada punya andalannya‖. Tadinya aku menyangka ini permainan gila dari muridnya Oey Yok Su dari Tho Hoa To. mereka masih tetap ragu-ragu. Ia tuturkan hal pertempuran gurunya semua dengan Hek Hong Siang Sat itu dengan kesudahan gurunya yang kelima terbinasa. ia periksa itu. Kalau begitu. setelah toh dia datang untuk mencari. Kwee Ceng mengangguk. hati mereka tidak tenang. tiga setuju Kwee Ceng dibikin cacad dan tiga tidak. Ia kata: ―Sakit hati ngoko mana dapat tidak dibalaskan! Toako. tidaklah demikian duduknya hal. berhneti mengucur air mata Siauw Eng. tentulah si Mayat Besi datang untuk mencari guru-gurumu itu. kita pasti akan memperoleh putusan. ―Orang ini hebat ilmu silatnya. Tengkorak ini ada hubungannya sama Kiu Im Pek-ku iauw.‖ Si imam bicara dengan sungguh-sungguh. aku pun telah memikirkannya. siapa tahu. ―Tetapi totiang. ―Mari kita pulang dulu!‖ Di dalam kemah mereka. kami tidak takut. ia pun kasih tahu bagaimana dengan cara kebetulan ia dapat menikam mati pada Tan Hian Hong.‖ katanya kemudian. ―Kiranya si Mayat Perunggu yang lihay itu terbinasa di tanganmu!‖ katanya. ―Adakah ini diatur oleh Hek Hong Saing Sat?‖ ia tanya.‖ ―Dia telah buta kedua matanya kena dihajar toasuhu. heran. kau pun kenal Hek Hong Siang Sat?‖ si imam tanya.

cambuk lemas putih yang mengkilap. lantas ia hendak berlalu. tubuhnya Bwee Tiauw Hong kasih dengar suara meretek. ia cabut pisaunya yang tajam. Tak lama. atau mulutnya didului dibekap. lalu berhenti. berlalu dari belakang jurang darimana ia datang tadi. ―Kalau totiang tidak tolong aku. cambuk ini berlipat sepuluh kali. Menampak ini insyaflah Kwee Ceng akan pentingnya ilmu yang si imam ajari padanya. seperti lagi memikirkan sesuatu. karenanya ia jadi sangat bersyukur kepada si imam konde tiga ini yang tidak dikenal. Beberapa kali ia berbuat begitu. Kwee Ceng mendekam. Tapi si Mayat Besi tidak lihat siapa juga. atau tiba-tiba si imam sambar pinggangnya. Cuma suara yang terdengar. Habis berlatih. Kwee Ceng menghela napas lega. napasnya ia tahan. lagi ia berpikir.‖ katanya. Tak dapat dia dilawan keras. Itulah Tiat-sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi denagn rambutnya yang panjang dan riap-riapan. Dengan ketakutan. Ia kembali meraba barangnya itu . Setelah matanya buta.‖ sahut si imam. buat diajak mendekam.. ―Kalau begitu baiklah aku nlekas pulang untuk memberitahukan guruguruku. yang ia telah latih dengan sempurna. Dalam jarak enam tombak. ia rasakan lengannya sakit sekali. Bwee Tiauw Hong sengaja menyakinkan cambuk lemas. baru ia simpan pula barangnya itu. untuk keduanya berjongkok. suara mereteknya Tiauw Hong menjadi kendor. dari keras dan nyaring. tangan kirinya menarik sesuatu dari pinggangnya. Sekarang ia melihat nyata itulah joan pian. Yang hebat adalah tempo cambuk dipegang ujungnya dengan sebelah tangan kanan. mulanya perlahan. Cambuk ini terus dicekal di tengahnya kedua tangan. sambil tertawa. Diakhirnya ia ankat kaki. cepatnya luar biasa. Tiauw Hong lantas bersilat. Di situ ia lantas menyakinkan ilmu dalamnya. sukar orang lolos dari cambuknya yang panjang itu. lengan itu orang kasih paksa turun sedang bebokongnya ditekan supaya ia mendekam pula. Kwee Ceng terkejut ketika Bwee Tiauw Hong memutar tubuh. Ia tidak takut. habis hancur kepalaku…‖ pikirnya. Tipu Lawan Tipu Berselang sesaat. Belum lagi kedua senjatanya beradu. Tiauw Hong simpan cambuknya itu. Irawan D Soedradjat Page 138 . Kwee Ceng berdiam dan turut mengintai juga. Setahu bagaimana dia naiknya. matanya memandang ke tempat sembunyi mereka. ―Sekalian kau bilangi bahwa ada satu sahabatnya memesan dengan perantaraan kau bahwa lebih baik mereka menyingkir dari dia itu. tubuhnya sendiri tidak bergerak. Habis itu. ―Jangan bersuara. Bab 13. untuk dipakai menangkis. lalu tangannya meraba-raba. Hebat bergeraknya cambuk lemas itu. Ia berdiam. sedikit saja suara berkelisik. kaget ini bocah. Ketika ia berbangkit. Mungkin enam tombak. Kupingnya menjadi terang sekali. Ia bergerak tanpa ia merasa. dia bangkit berdiri. ―Baiklah. untuk dipondong. Orang tidak usah menanti terlalu lama akan lantas terlihat berkelebatnya satu bayangan. sedang disebelah belakang jurang itu ada terlebih terjal tebingnya daripada bagian depan. Ia lihat tegas. dari itu dia terus dududk bersila di atas batu di mana biasa si anak muda bersemadhi. Kim-liong-pian dari Han Po Kie panjang Cuma enam kaki. lalu menjadi nyaring seperti meletusnya suara kacang goreng yang digoreng terlalu matang. Kwee Ceng heran walaupun ia tidak mengerti latihan orang yang luar biasa itu. Dalam herannya. Ia terkejut pula. ujung itu ada punya belasan gaetan yang tajam. Sekejap saja. ujung cambuk lewat di atasan kepalanya! Anak tanggung ini mengeluarkan peluh dingin. ia bikin gerakan seperti berlatih silat. ia dapat dengar. hendak ia menanyakan sebabnya.Pendekar Pemanah Rajawali Hati Kwee ceng menjadi tidak tenang.‖ Kwee ceng terima pesan itu. buat segera diajak berlompat ke belakang batu besar. ujungnya yang lain menghajar batu besar! Habis itu Kwee Ceng dibikin kaget sama ujung cambuk yang emnyambar ke arahnya. ia letaki itu ditanah. Kwee Ceng hanya lihat berkelebatnya sinar putih perak dari suatu benda seperti ular panjang. disusul sama munculnya satu tubuh. yang dibawah sinar rembulan tampak nyata. Ia berbangkit. untuk mereka memikirkan daya perlawanannya.‖ berbisik si imam itu yang terus mengintai. Sekarang ia keluarkan suatu apa dari sakunya. untuk bela diri.

ayahmu juga perlakukan aku baik sekali. Tiauw Hong tiba di satu tempat di mana ada banyak kemah. berkata: ―Negeriku yang besar bakal lantas berangkat ke Selatan untuk menumpas kerajaan Song. yang ekbetulan menoleh. si terbunuh itu adalah pengiringnya Temuchin.‖ berkata si imam.‖ Sangum tertawa dingin. ia berkata: ―Kabarnya negara di Selatan itu adalah negara yang indah permai. ialah pangeran keenam dari negara Kim!‖ Jamukha tertarik dengan janji itu. dan dari pihak kami negara Kim yang besar. itu waktu kamu berdua masing-masing boleh memimpin duapuluh ribu serdadu untuk membantu. dia kata: ―Jikalau kau menyayangi kakak angkatmu. mereka mesti menyingkir dari serdadu-serdadu penjaga. Di belakang ini si imam mendekam. Ia singkap lebih tinggi tenda. lalu ia dan Kwee Ceng menyingkap tenda. belum tentu kau akan berhasil. Kwee Ceng dapat kenyataan. di waktu langit mulai terang. Dan Kwee Ceng merasakan dirinya seperti dibawa terbang. maka semua ternak. jika Tuan Pangeran mengajak kita bersaudara pergi ke sana. Cara ini telah digunai oleh si Mayat Besi.Pendekar Pemanah Rajawali ―Mari kita ikuti dia.‖ Pangkat itu adalah pangkat tertinggi untuk wilayah utara dengan tugas memanggil menakluk dan menghukum pemberontak. nah.‖ Saudara angkatku Temuchin pintar dan gagah. Irawan D Soedradjat Page 139 . putranya Wang Khan. maka ia lantas kenali sebagai Sangum. Malah ia sambar pinggang bocah itu. dandannya mewah. ia menjadi heran sekali. Si imam kempit Kwee Ceng. Di tengah-tengah ada sebuah kemah terbesar. pergilah kau melaporkannya!‖ Orang itu menyahuti: ―Kau adalah adik angkatku. setelah usahanya berhasil. kamu bakal dapat hadiah lainnya lagi!‖ Sangum girang sekali. ia seperti mengenalinya. Justru itu terlihat satu orang. cara bagaimana kamu hendak menghadapi Temuchin?‖ dia tanya. Lama mereka berlari-lari. Kwee Ceng tidak melihat tegas muka orang itu. ia berkata: ―Asal saja ayah angkatku Wang Khan memberikan titahnya. di seluruh tanahnya penuh denagn emas dan orang-orang perempuannya ada bagaikan bunga-bunga. untuk melihat tegas si pembunuh. sudah tentu aku tidak bakal sia-siakan padamu!‖ Kwee Ceng kenali orang itu adalah saudara angkat sehidup semati dari Temuchin. semua sebawahannya untuk Jamukha. Si imam mengcoba mengikuti terus. ―Sekarang tolong kedua tuan bilangi aku. Jamukha bakal diangkat menjadi Tin Pak Ciauw-touw-su. yang pun lantas bangun. ia lari menyeusul. ia menjadi heran. tendanya berwarna kuning. akan kata dalam hatinya: ―Ah. karena orang itu berdiri membelakangi dia. yaitu Jamukha. di sana ia menghilang. bukan?‖ berkata Sangum itu. orang perempuan dan hartanya Temuchin terjatuh kepada Sangum. Di situ ada satu orang lain. Orang ada memakai jubah bulu ynag mahal. terlihat Tiauw Hong berada jauh di arah utara. untuk melihat ke dalam. Pikirnya: ―Mustahilkah mereka bersekutu untuk mencelakai Khan yang agung? Bagaimana ini bisa terjadi?‖ Lalu terdengar seorang lain: ―Setelah kita berhasil. Ia tak usah mengingat-ingat lama. sungguh bagus sekali!‖ Wanyen Lieh tersenyum. yang rubuh dengan segera dan terbinasa. rubuhnya ke dekat tenda di mana dua orang itu tengah mengintai. ketika ia melihat dari samping. dengan goloknya membacok satu orang lain. tidak nanti ia tidak memberikannya!‖ Wanyen Lieh. ―Sekarang kau tidak akan sangsi pula. ia ini kata. ia bilang: ―Berapa susahnya untuk ayahku memberi titahnya? Sebentar akan aku minta titahnya itu. untzk bawa ia turun dari belakang jurang itu. Kwee Ceng kenali. si putra Raja Kim yang keenam itu.‖ Sangum menjadi girang sekali. entah ia bakal kasih pertunjukkan apalagi. orang pun bisa naik dengan melapati di oyot rotan. Setibanya mereka di bawah. untuk ini. dibagian belakang ini. aku tentu menurut. maka ia menggeser. Dia itu sudah lantas susuti goloknya pada sepatu.

apapula kapan ia kenali. tangannya itu kena orang sambar. Irawan D Soedradjat Page Cu Cong lepaskan tangan Kwee Ceng. akan tetapi urusan ada begini penting. . akan pergi meninggalkan kemah beberapa puluh tindak. Terdengar Sangum berkata: ―Temuchin itu telah jodohkan putrinya kepada putraku. tidak nanti ia lolos dari jaring perangkapku ini! Ha-ha-haha!‖ Kwee Ceng kaget dengan berang gusar. mungkin sebentar dia bakal datang kemari. Maka ia lihat Bwee Tiauw Hong sedang membekuk satu orang. sungguh pinto merasa sangat beruntung. ia lari ke dalam kemah. ―Biar apa dia lakukan. akan setelah itu. Ia lantas meramkan mata. tidak dapat aku berkukuh lebih lama lagi. mereka berenam menjadi ragu-ragu. tanpa ayal. baru saja ia kirim utusan untuk membicarakan hari pernikahan. menuju kemahnya Kanglam Liok Koay. ia dapatkan imam itu menunjuk ke belakang. ialah Han Siauw Eng. Di sini si imam berkata: ―Sebenarnya tidak hendak aku perlihatkan diriku. Si imam tarik tangan si bocah. aku minta ia besok datang sendiri untuk berembuk bersama ayahku. ia menjura. lalu mereka mengawasi Ma Giok. Kanglam Liok Koay berdiam. penyerangnya itu adalah Kwa Tin Ok. lalu ia berbisik: ―Tiauw Hong lagi cari orang untuk menanyakan tempat kediaman gurumu. ―Citmoay. kapan ia menoleh. dia mohon bertemu sama suhu semua. ia rasai si imam menarik ujung bajunya.‖ sahut Kwee Ceng. Segera itu menyusul terdengar suara senjata bentrok. gurunya yang nomor satu. Cuma ia tetap belum tahu. maka itu baiklah kita sembunyikan orang disepanjang jalan. untuk menantikan kebinasaannya. Ia pun lantas berkata: ―Tidak berani memohon tanya gelaran totiang.‖ 140 Imam itu bertindak mau.‖ Maka itu ia mendekam terus seraya memasang kupingnya. menyusul mana Tiauw Hong berkelebat lewat. ―Suhu!‖ ia berseru begitu ia menyingkap tenda. Pergilah kau masuk ke dalam. Ia mengangguk. di sana mereka tampak seorang imam tua. Ia lantas berbalik. Tapi di bawah terangnya sinar matahari. Bukan main kagetnya Tin Ok berenam! Bagaimana mungkin Bwee Tiauw Hong datang diwaktu siang hari bolong? Maka bersama-sama mereka lompat keluar tenda. orang yang menyambar tangannya adalah Cu Cong dan Coan Kim Hoat.‖ Dua tahun Kwee Ceng ikuti imam ini. maka terus ia rubuh. bilang pada gurumu bahwaTan-yang-cu Ma Goik mohon bertemu sama Kanglam Liok Koay. disusul mana sakit di kakinya yang kena ditendang.‖ Dia menunjuk orangnya Temuchin yang telah ia binasakan itu. yang ia masih pegangi. kalau terlambat bisa gagal!‖ Kwee Ceng terpaksa menurut. maka bersama-sama mereka lari pesat. Baharu saja ia memanggil itu. buat sesaat ini guru-guruku tidak bakal menghadapi bahaya. hatimu lemah sekali!‖ katanya perlahan. siapa terus berseru: ―Toako. Temuchin boleh mepunyai tiga kepala dan enam tangan. sekarang kita dapat bertemu. Aku percaya ia bakal datang dan tentunya tanpa membawa banyak pengiring. Ia menjadi sangat bingung. di tangannya ada orang yang dikempitnya. Kwee Ceng segera kenali gurunya yang ketujuh. Ketika itu hari telah siang. habis mana satu orang lompat kepada anak tanggung itu. Bwee Tiauw Hong sendiri tidak ada bayangannya sekalipun. si Mayat Besi sudah lewat jauh.‖ sahut itu murid. ―Teecu telah lihat dia tadi. sebatang tongkat melayang ke kepalanya! Bukan main kagetnya ia. ―Mana itu siluman perempuan‖ Cu Cong bentak muridnya. rupanya ditanyakan sesuatu. Ia tidak sangka ada orang sedemikian jahat.Pendekar Pemanah Rajawali Selagi Kwee Ceng memasang kuping. Tin Ok menghela napas.‖ Kwee Ceng berpikir.‖ dia berkata. ―Mana dia gurumu yang mengajarkan kau ilmu dalam?!‖ tanya Tin Ok kemudian dengan dingin. Sekarang Kwee Ceng melihat. ia tancap tongkapnya. baru sekarang ia ketahui nama orang. tahan!‖. ―Biar aku dengari persekutuannya mereka ini yang hendak mencelakai Khan yang agung. ―Dia ada di luar. mendadak ia merasakan dua tangannya sakit. bahaya tengah mengancam. siapa imam ini yang semestinya lihay. yang hendak membinasakan saudara angkatnya sendiri. ia masih hendak mendengari lebih jauh etika ia rasakan si imam sambar ia untuk ditekan. ―Sudah lama pinto mengagumi tuan-tuan. Mari lekas. Sekejap saja. Ia membalas hormat. Pedang guru itu telah terpental. Dan melanjuti kemudian: ―Aku sudah lantas kirim orang untuk memberi balasan.

tidak suka pinto orang ketahui tentang diriku. Kanglam Liok Koay membalas hormat. Kwee Ceng takut pada gurunya. ruapanya ia baru habis menangis. justru itu terdengar suara tindakannya banyak kuda. Bagaimana kalau si Mayat Besi datang dengan tiba-tiba? Kwee Ceng jadi semakin bingung. bilang Sangum bersama Jamukha lagi mengatur tipu daya untuk membinasakan kepada Khan!‖ 141 Gochin menghampiri. ―Kiranya ciang-kauw dari Coan Cin Kauw!‖ berkata Tin Ok. ―Toasuhu. ―Kau berdiam bersama kami. terdengar pula congklangnya kuda.‖ Kwee Ceng jawab gurunya ini. Siauw Eng menjadi girang sekali. lalu tertampak beberapa penunggang kuda tengah mendatangi ke arah kemahnya Temuchin. ia tidak berani pergi menghampirkan. minta si tuan putri datang lebih dekat. maka sekarang pinto mohon tuan-tuan tidak berkecil hati.‖ berkata Ma Giok. kelihatan kedua matanya merah dan bendul. . nampaknya ia sangat menyayanginya. jarang sekali ia membuat perjalanan. yang bertentangan dengan agama kami. Mereka tahu Ma Giok itu adalah murid kepala dari Ong Tiong Yang. dengan sendirinya dia menjadi pengganti kepala agama itu. ―Mengenai tabiatnya itu. Setelah datang dekat. ia berkata dengan suara seperti mendumal: ―Ayahku…. ―Kenapa kau tidak hendak memberitahukannya dari siang-siang. Dia biasanya berdiam di dalam kelentengnya. ia hanya kata: ―Lekas kau pergi kepada Khan yang agung. sebentar aku akan kembali!‖ kata ini anak muda dalam bingung dan khawatirnya. yang menjadi kauwcu atau kepala agama dari Coan Cin Kauw. tidak ada orang yang mengetahuinya. Ia masih bicara sama guru itu tapi si guru sudah lantas bicara sama Ma Giok tentang pertempuran mereka melawan Hek Hong Siang Sat.Pendekar Pemanah Rajawali Sekarang Kwee Ceng ingat. itu adalah orang-orangnya Sangum.‖ Tin Ok mencegah karena ia menyesal atas perbuatannya yang semberono tadi. tetapi ia masih gemar seklai dalam urusan pertaruhan. beda daripada saudara-saudaranya.‖ Liok Koay heran. yang hendak memancing Temuchin. ia menjadi sangat menyayangi muridnya ini. hatinya berdenyutan. ia hanya menggapai. denagn lancang pinto ajari dia cara untuk membantu panjang umurnya. ―Itulah sebabnya walaupun pinto berada dekat dengan tuan-tuan tetapi pinto tidak membuat kunjungan. ―Maafkan kami! Entah ada pengajaran apa dari ciang-kauw maka telah datang ke gurun Utara ini? Adakah kiranya berhubungan sama janji suteemu mengenai pibu di Kee-hin nanti?‖ ―Suteeku itu adalah seorang pertapa. Kwee Ceng menjadi sangat bingung. ―Adakah totiang ini yang ajarkan kamu ilmu?‖ ia tanya muridnya. Terpaksa ia berdiam. dalam hal nama ia kalah terkenal dengan Khu Cie Kee. Putri itu menghentikan kudanya sejarak belasan tindak. karena mana.‖ Ia lantas menjura pula. hendak aku pergi sebentar. Mereka lihat orang alim sekali. dari itu. Tentang itu pinto belum dapat perkenanan tuan-tuan. sedang tentang ilmu silatnya.‖ Ma Giok berkata. lantas ia mengapai berulang-ulang. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng tidak sahuti putri itu. sudah beberapa kali pinto menegurnya. Tiang Cun Cu Khu Cie Kee adalah adik seperguruan dari Ma Giok ini.‖ Liok Koay heran tetapi tidak dapat mereka tidak mempercayainya. tahulah ia. Tentang ini pinto pun memohon maaf. ―Jangan. belum lagi ia menolongi si imam menyampaikan berita. Kedatanganku ini adalah untuk lain urusana. Coan Kim Hoat lantas saja lepaskan cekalannya kepada muridnya itu.ayahku ingin aku menikah sama Tusaga…‖ Lalu air matanya turun pula. kesan mereka lantas berubah. Mengenai pertaruhan itu sendiri. jangan pergi!‖ mencegah Tin Ok. kapan Kwee Ceng menoleh. ia jadi berkhawatir untuk ancaman bahaya dari pihaknya Bwee Tiauw Hong. ―Totiang larang aku bicara. mereka terperanjat. Pertama-tama pinto ingin bicara tentang anak ini. ia lantas berkata: ―Inilah Tan-yang-cu Ma Goik Ma Totiang. Pinto bertemu dengannya pada dua tahun yang lalu. hingga kami menjadi keliru menyangka terhadapmu?‖ Ia mengusap-usap rambut muridnya itu. pinto lihat dia polos dan jujur. pinto tidak ingin memcampurinya. Setelah wafatnya Ong Tiong Yang. Disaat enam saudara ini hendak tanyakan hal Bwee Tiauw Hong. ―Pinto biasa berkelana. Segera setelah itu. ia tampak datangnya Gochin.

‖ kata Ma Giok seraya mengangguk.‖ kata Tin Ok emudian. Kalau kita bekerjasama berdelapan. ―Satu hal hendak pinto memberitahukannya. Umpama kata sekarang kita dapat singkirkan Bwee Tiauw Hong. jangan harap malah mungkin bakal rugi sendiri…‖ ―Habis apa sakit hatinya ngoko dan toako mesti dibiarkan tak terbalas?‖ kata Siauw Eng yang selalu ingat Thio A Seng. tidak nanti ia dapat peroleh itu. dia pun buta matanya. tetapi jangan diperhebat. ―Silakan totiang beri petunjuk kepada kami. ―Kwa tayhiap berhati mulia. ―Tentu saja benar!‖ sahut Kwee Ceng. ―Kalau totiang sudi menunjuki suatu jalan terang. untuk segera dikasih lari. tapi aneh kenapa Ma Giok ini nampaknya jeri kepada pemilik pulau Tho Hoa To itu? ―Totiang benar. selama sepuluh tahun ini. untuk selanjutnya tak dapat kita tidak berjaga-jaga. Suara kakaknya ini membikin heran saudara-saudaranya yang lain. ―Benarkah itu?‖ tanyanya.‖ CU Cong berkata pula. setiap tahun ia telah bunuh berapa banyak orang yang tidak bersalah dosa. pinto dapat menyatakan kepandaiannya Bwee Tiauw Hong telah maju pesat seklai. sedang cambuknya ada luar biasa. ―Pinto bukan hendak menangi lain orang dengan merendahkan diri sendiri.Pendekar Pemanah Rajawali Gochin terkejut.‖ Tin Ok mengerti. ―Itulah memang benar. ―Hanya setelah mendengar Kwa tayhiap berusan perihal pertempuran pada belasan tahun yang sudah lalu itu.‖ Liok Koay berdiam. ―Jalan ini ada sempurna. Mereka mau menyangka orang bicara secara dilebih-lebihkan. Silahkan totiang bicara. Dia sekarang telah dapat mewariskan kepandaiannya Tocu Oey Yok Su dari Tho Hoa To.‖ Cu Cong berkata kemudian.‖ Irawan D Soedradjat Page 142 . Lalu ia ingat suatu apa. entah bagaimana kemajuannya si Mayat Besi. dengan sebenarnya Bwee Tiauw Hong itu telah jadi sangat lihay. kenapa dia girang?‖ ia tanya dirinya sendiri.‖ kata Po Kie kemudian. bagaimana nanti…?‖ Tin Ok semua berdiam. bukankah berarti sakit hati itu telah terbalas? Dia sebatang kara. kami Cuma gemar berkelahi. Kwee Ceng heran. Ia memang sayangi Gochin sebagai adik kandungnya! Itu wkatu terdengar suaranya Ma Giok. ―Kalau benar dia hendak menuntut balas. ―Tuan-tuan telah binasakan suaminya. ―Hek Hong Siang Sat adalah murid-murid murtad dari Oey Yok Yu. ―Taruh sekarang kita menyingkir dari dia.‖ berkata Ma Giok. ―Aku dengar sendiri persekutuan mereka itu! Lekas kau pergi kepada ayahmu!‖ Gochin menjadi tegang hatinya tetapi ia tertawa. ―Dia melatih diri secara demikian hebat. ―Maka itu totiang. bukan kami yang emncari dia. ―Ah! dengan begini bukankah ia jadi tidak bakal menikah sama Tusaga?‖ Maka ia pun bergirang. dia harus dikasihani. kemudian Oey Yok Su mendapat tahu.tuan suka berlaku murah dan suka mengasihani dia untul membuka satu jalan baru untuknya.‖ Coan Kim Hoat menyambungi. imam ini bukan melulu memintakan ampun untuk Bwee Tiauw Hong. mereka masih kurang percaya sepenuhnya.‖ Cu Cong semua berdiam. asal tuan-. ―Baik!‖ katanya. mungkin sekali Bwee Tiauw Hong telah dapat pengajaran baru dari Oey Yok Su….‖ Ma Giok bilang. tetapi untuk singkirkan dia. Turut pikiranku. dengan belajar sendiri. mereka awasi kakak mereka. Cu Cong semua terkejut. Tanghay. ilmunya Kiu Im Pek-kut Jiauw sudah terlatih sempurnya. Mereka pernah mendengar perihal kepandaian Oey Yok Su itu. ―Ayahnya hendak dibikin celaka orang. dapatkah kau membiarkannya saja?‖ ―Laginya sekarang ini dia yang mencari kami. kami pasti akan bersyukur. Ia putar kudanya.‖ berkata Ma Giok. permusuhan harus dilenyapkan. kita tidak bakal kalah. tanpa dapat penunjuk dari guru yang lihay. hanya orang lagi melindungi juga mereka sendiri. untuk dengar putusan si kakak. Inilah sulit!‖ ―Untuk itu pinto telah dapat pikir suatu jalan untuk menghindarkannya. ―Sejak dahulu kala ada dibilang. Thian tentu akan memberkahi. cara bagaimana dia dapat ajarakan pula ilmu?‖ ia tanya. ―Kami Kanglam Cit Koay biasa sembrono. Selama sepuluh tahun ini.

―Pinto percaya. Cu Cong bekap mulutnya. lalu perlahan-lahan menjadi gelap. mulutnya bergerak. Mereka percaya. Setibanya di kaki jurang. Ma Giok dan Kwee Ceng yang jalan di muka.‖ Ma Giok minta. Irawan D Soedradjat Page Tiauw Hong sembunyi tanpa berani berkutik. Ma Giok semua telah dapat lihat tingkah laku si Mayat Besi ini. Cuma tabiatnya itu dua saudara seperguruan saja yang berbeda. Dia terlihat nyata di bawah sinar rembulan. Sebenarnya Tin Ok tidak sudi mengalah. Sebenarnya Tiauw Hong masih jauh tetapi kuping lihay dari Tin Ok sudah mendengarnya. tetapi untuk membari muka kepada Ma Giok. Sekarang ini baharu mereka percaya habis imam itu. murid mereka itu. Dia muncul dalam rupa seperti segumpal asap hitam. yang adalah dari kulit burung tiauw yang putih. Setibanya Ma Giok dan Kwee Ceng di atas. ―Ada siapakah yang tidak menghormati Cit Cu?‖ Dengan ―Cit Cu‖ dimaksudkan tujuh persaudaraan Tiang Cun Cu. Cuma kedua tangannya. mereka sama-sama mandaki jurang. hingga tibanya tengah malam. Ia seperti tidak menggunai kakinya. 143 ―Bwee Tiauw Hong atur tulang-tulangnya di sini. Masih mereka menantikan. terpaksa mereka menurut.‖ kata Ma Giok. ―Harap totiang tidak terlalu merendah. Ia tidak tahu ada berapa orang lihay yang bersembunyi di situ. imam ini tidak ada di sebawahannya Khu Cie Kee. ―Bersyukur kepada guru kami.aku Khu Cie Kee – pasti aku tidak akan mau sudah saja!‖ Tiauw Hong dengar seruan kaget dan suaranya Kwee Ceng itu. putrinya Temuchin. enam saudara itu segera dapat lihat tumpukan tengokraknya Bwee Tiauw Hong. karena ia pikirkan keselamatannya Gochin. pinto hendak menggunai suatu akal untuk membikin ia kabur…‖ Lantas imam itu tuturkan tipunya. yang lemas. wajahnya sendiri tentu begitu juga. Kesunyian telah memerintah di atas jurang itu. Segera juga Tiauw Hong tiba di atas. Dengan lewatnya sang waktu. terhadap kami dari Coan Cin Kauw. ia menjadi terlebih kaget. mereka lantas kasih turun dadung mereka. hati mereka berdenyut. sambil beristirahat. mereka menantikan sang sore. Sungguh gesit si Mayat Besi ini. Maka itu. Ia lantas saja bersembunyi di samping batu untuk memasang telinga. ia lantas mulai mendaki. guna bnatu menggerek naik kepada Kanglam Liok Koay. Sesempai di atas. mengapa dia masih belum datang?‖ tanya Po Kie.‖ .Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto harap tuan-tuan tidak menertawainya. Mereka dapat lihat cara naiknya ma Giok. mejadi kagum. Cuma Kwee Ceng yang hatinya goncang. . dia tampak wajah orang tegang. Cu Cong semua yang mengawasi. ―Kita baik tunggui saja padanya. ia heran. sebentar dia bakal datang. Tin Ok berenam jalan di belakang Kwee Ceng. Di bebokongnya ia menggendol satu orang. habis bersantap. cuaca mulai menjadi guram. ―Eh. sekarang ia dengar suara orang bicara dan menyebut-nyebut Khu Cie Kee dan namanya juga. Ia percaya. tapi disaat itu juga. si wanita siluman itu terjatuh ke dalam tanganku. mulai habis sabarnya. ―St! Dia datang…!‖ kata Tin Ok.‖ berkata Han Po Kie. Dia seperti naik di tangga saja. suaranya terdengar. Semua orang berdiam. Kapan Cu Cong berpaling pada Coan kim Hoat dan Han Siauw Eng. seraya guru yang kedua ini berkata terus: ―Kalau Bwee Tiauw Hong. Lantas semua orang duduk bersamedhi. Kwee Ceng terkejut kapan ia sudah lihat pakaian orang itu. Tak dapat dicegah lagi. kawan kesayangannya. entah mayat atau orang hidup. memang Cit Cu ini ada juga nama kosongnya di dalam dunia kangouw. di dalam hati mereka tertawa.‖ kata Cu Cong. Karena ini juga. mungkin Bwee Tiauw Hong tidak berani lancang turun tangan. Itulah Gochin Baki.

supaya kami yang menjadi saudara-saudaramu dapat membuka mata kami. yang kedua adalah Ong Cie It.‖ ia dengar suaranya Han Siauw Eng. kalau aku terlihat mereka. mengertilah ia bahwa orang mungkin mulai curiga.‖ berkata Cu Cong. yang mendapat julukan Thie Kak Sian si Dewa Kaki Besi. ―Jangan bicara!‖ katanya. kepandaian mereka juga maju pesat. untuk mencegah si nona itu berbicara. mereka tentulah telah dapat lihat aku. Kau akur?‖ Hie in sengaja menyahut: ―Lebih baik minta Ong Sutee yang gunai kaki besinya untuk dupak dia. kalau sebentar si siluman perempuan datang. Cie Kee sendiri puji padanya. ia lantas menggoyangi tangan. silahkan kau yang turun tangan. ―Tapi karena Coan Cit Kauw mengutamakan wales asih.‖ Cu Cong tertawa. untuk antarkan dia pergi ke sorga di Barat…‖ Dalam Coan Cin Cit Cu. Segera ia totok urat gagu si tuan putri itu. Dan yang terakhir adalah Ceng Ceng San-jin Sun Put Jie. dengan mata mereka yang lihay. kalau sebentar kita turun tangan. perlahan-lahan si nona membuka matanya. Cuma Tin Ok yang bungkam.‖ katanya dalam hati. Kita mesti mencegah si siluman perempuan itu dapat meloloskan diri!‖ Girang Tiauw Hong mendengar itu. Berterima kasih kepada Langit dan Bumi yang sang rembulan tidak muncul!‖ Kwee ceng sendiri mengawasi Gochin. Yang keenam Kong-leng-cu Cek Tay Thong. Cuma dikhawatirkan keselamatan Kwee Ceng dan Gochin. yang disini menyamar sebagai Tam Cie Toan. Ma Giok kasih lihat gerakan si Mayat Besi itu. pantas suhu pernah bilang kau gampang untuk mencapai kesempurnaan!‖ katanya. ―Barusan teecu seperti dengar suara wanita. istrinya Ma Giok pada sebelum Ma Giok sucikan diri. Sembilan tahun ia mengeram di dalam gua. Murid kepala. Yang keempat ialah Tang Cun Cu Khu Cie Kee. baiklah ia diberi jalan baru…. yang kelima Giok-yang-cu Ong Cie It. bagaimana pikiranmu?‖ tanya Siauw Eng. tidak seorang juga kaum kangouw yang tidak mengetahuinya. Kwee Ceng menjadi sangat bingung. ―Coan Cin Cit Cu ada disini semua? Benarkah ada begini kebetulan? Bukankah orang lagi menghina aku karena aku buta dan sengaja mereka mengatur sandiwara?‖ ia mulai geraki tubuhnya. Tapi dia toh bicara dengan suara keras! Kagetnya Tiauw Hong tidak kalah dengan kagetnya si anak muda. Ia menjadi berkhawatir.‖ ia menyahut. mana bisa aku hidup lebih lama?‖ Cu Cong berkata pula: ―Malam ini gelap sekali sampai lima jeriji tangan sukar terlihat. itu tandanya si nona tidak dalam bahaya jiwa. ―Ceng Ceng San-jin sangat murah hati.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia memang banyak kejahatannya. Khu Cie Kee yang namanya paling tersohor. apakah kau yang barusan berbicara?‖ tanya Coan Kim kepada muridnya. Pembicaraan itu membikin gentar hatinya si Mayat Besi. Dipihak Liok Koay juga mungkin bakal ada yang bercelaka. Siauw Eng bicara sebagai juga ia adalah Ceng Ceng San-jin. Ia tanya Hie Jin. yang ketiga Tiang-sen-cu Lauw Cie Hian. karena ia khawatir suaranya dikenali Bwee Tiauw Hong. Kalau terjadi pertempuran. Kwee Ceng tahu peranannya. ―Tam Suko. Kauwcu Ong Tiong Yang ada punya tujuh murid yang mendapat nama baik. Ia lalu menjadi heran dan curiga. Demikian mereka ini berbicara. Tiba-tiba Tiauw Hong ingat apa-apa. baik semua berlaku hati-hati. Ia menjadi lega hatinya. ―Engko Ceng lekas tolongi aku!‖ ia berteriak. Irawan D Soedradjat Page 144 . pihaknya tak usah takut. Si nona tapinya tidak mengerti. yang disamarkan sebagai In Cie Peng. ―Dia berdosa tak terampunkan!‖ sahut Hie Jin sebagai Cie Toan. hingga ia berpikir: ―Coan Cin Cit Cu telah berkumpul semua. ialah Tan-yang-cu Ma Giok. ―Tam Suko. si toa-suheng. ―Syukur langit gelap. ―Kalau tidak. tentang mereka itu. Yang kedua adalah Tiang-cin-cu Tam Cie Toan. untuk menyakinkan kekuatan kakinya itu. ―Cie Peng. karena lihaynya tendangannya dan pernah ia bertaruh mendaki jurang yang tinggi hingga ia dapat menakluki beberapa puluh orang gagah di Utara. seperti sandiwara. ―Selama ini telah maju pesat sekali kau punya ilmu Cie-pit-kang.

ia lompat kepada kawannya itu. Di satu pihak ia lemparkan tubuh Gochin kepada Siauw Eng. Maka ia lantas membentak: ―Silumanm. Ia dapat lolos. ingin aku memohon pengajaran daripadanya…‖ Habis berkata. dalam sepuluh tahun tidak ada dua…. mungkin tangannya itu sudah tidak dapat ditolong lagi…. Kata-kata itu ialah istilah dalam kalangan agama To Kauw. tidak dapat ia berdiam saja. Itu artinya. Coba si Mayat Besi tidak jeri. siap sedia dengan cambuknya yang panjang itu. tidak tahunya dia benar bernyali besar. ia harus dikasihani juga.‖ ―Itulah perkara gampang. diumpamakan dengan rasa hati. peryakinan berhasil. untuk mohon mereka jangan membuat perhitungan pula dengan dia. Oleh karena ini. saudara-saudaraku. ia berdiri. Memang persahabatannya erat sekali dengan itu putri serta Tuli. yaitu Kimkwan Giok-cauw ie-sie Koat? Pastilah kau telah peroleh kemajuan.‖ Tiba-tiba terdengar suara dingin dari belakang batu: ―Terima kasih untuk kebaikannya Coan Cin Cit Cu! Aku. dagingnya melesak ke dalam.‖ Irawan D Soedradjat Page Pertanyaan itu membuat Ma Giok terkejut. kedua pihak baiklah menyudahi urusan mereka. bagaimana dengan penyakinan pelajaran yang suhu ajarakan beberapa tahun ini. tetapi telah lama aku dengar ilmu silatnya Ceng Ceng San-jin. ia lantas menjawab: ―Sebenarnya walaupun aku menjadi saudara yang tertua. apakah artinya itu?‖ Ma Giok menyahuti: ―Timah itu sifatnya berat. tubuhnya diam saja. tidak berani aku memohon pengajaran dari totiang beramai. atas mana Kwee Ceng segera memberikan penyahutan: ―Teecu adalah In Cie Peng. Coba kau pertunjuki untuk kami lihat. Perlahan-lahan ia kembali ke tempat sembunyinya. baiklah kita beri ampun kepadanya. tak dapat aku lawan kau.‖ sahut Cu Cong. Tahu-tahu tangan kirinya si Mayat Besi sudah lantas menyambar dan mencekal tangan kirinya. Tapi Tiauw Hong benar-benar lihay. maka anak muda itu menjadi mati daya. Maka sekarang. rasa hati harus dikendali. kau bersahabat serat dengan Kanglam Liok Koay. Tentu sekali. untuk berkelit. Imam ini bicara secara merendah akan tetapi ia telah gunai tenaga dalamnya.‖ Tiauw Hong segera berpikir: ―Muridnya begini muda tetapi tenaga dalamnya sudah bagus sekali. umpama kata ia menyesal dan suka mengubah kesalahannya yang dulu-dulu dan tidak tidak lagi mencelakai orang-orang yang tidak bersalah dosa serta tidak akan mengganggu pula kepada Kanglam Liok Koay. ―Siapa kau?‖ tanya si buta. kali ini ia memegang nadi orang. ―Penyelesaiannya berada di pihak Bwee Tiauw Hong sendiri. ia dapat meloloskan diri dari tanganku. Mereka duga Tiauw Hong jeri dan bakal menyingkirkan diri secara diam-diam. Kwee Ceng lantas lari menjauhkan diri. asal dia suka mengubah perbuatannya…. ―Hm!‖ ia lepaskan cekalannya. Baiklah aku menyingkir dari mereka…‖ Dengan perdengarkan suara. murid dari Tiang Cun Cin-jin. ia menyambar pula. ia berkata pula: ―Kabarnya Bwee Tiauw Hong telah buta kedua matanya. ia berkhawatir.‖ Ma Giok tahu Cu Cong ingin dia perlihatkan kepandaiannya guna menakluki Bwe Tiauw Hong. Apa yang aku dapati dari guru kita. untuk mengasih bangun padanya. tanpa pedulikan lihaynya Bwee Tiauw Hong. Kwee Ceng lihat Gochin rebah di tanah. kau hendak mendapatkan pelajaran sejati? Lekas pergi!‖ 145 Tiauw Hong tanya pula: ―Nona muda dan anak muda. pergi kau menemui mereka itu. dengan berdiam. Ma Giok llihat kelakuan orang. di situ ada petahan lima jari tangan. Aku pikir. segera ia berkata dengan nyaring: ―Toa suko. dilain pihak ia geraki tangan kirinya itu. Tapi ia ingat suatu apa. Bwee Tiauw Hong ada di sini!‖ Semua orang terperanjat sangking herannya. terdengar tedas sampai jauh. Bwee Tiauw Hong mengkerat mendengar suara orang itu. maka ia tanya Ma Giok: ―Ma totiang.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong mengawasi gerak-geriknya Bwee Tiauw Hong. Tiauw Hong pun tidak berani mengulangi tantangannya untuk mencoba menempur Sun Put Jie. ia lihat bahaya mengancam. Khu Sutee. apakah artinya itu?‖ . apabila ia lihat tangannya. dia malah menghampiri mereka. lantaran aku bebal. maka itu suaranya nyaring luar biasa. timah dan air perak disimpan denagn hati-hati. Cu Cong memberi tanda dengan tangan kepada muridnya itu. Itu bukanlah pertanyaan biasa. kalau benar. berkumandang di dalam lembah. Tiauw Hong berkata pula: ―Aku adalah seorang wanita.

apabila ia menarik dan tubuhnya mencelat. Adakah dia yang membawa aku menemui kamu?‖ Putri ini tak sadar akan bahaya yang mengancam padanya tadinya. Karena itu aku segera berangkat untuk cari kau. orang berlega hati melihat perginya wanita bagaikan siluman itu. ayah malah jadi semakin tidak percaya. dia belum menemui jalannya yang benar. dia belum berhasil menyakinkannya.‖ berkata Cu Cong. ―Umpama kata Khu Sutee dan Ong Sutee berada di sini. Setahu darimana. untuk berduduk di atas batu. masih belum tentu kita dapat menangkan dia. tidak disangka si Mayat Besi telah jadi begini lihay. Terus ia angkat tubuhnya.‖ sahut imam itu. ―Ilmunya si Mayat Besi ini. Ma Giok segera totok sadar kepada Gochin yang diletaki di atas batu untuk beristirahat. Tidak lama lagi tentulah mereka akan sudah sampai di tempatnya Wang Khan. sudah tentu kami sukar lolos dari nasib celaka. tanpa berpikir lagi. lantaran aku tidak sudi menikah denagn Tusaga. ―Hanya tadi ketika ia menanya padaku. Tadi ia menanyakan jalan itu kepada pinto.‖ ―Oleh karena kurang pikir. Irawan D Soedradjat Page 146 ―Sudah sekian lama. Gochin perdengarkan suara. ―Itulah bukan.‖ ―Jangan mengucap begitu. totiang!‖ katanya.‖ berkata imam itu setelah menghela napas panjang. sepulangnya nanti. ―Harap saja begitu. Ah. karena ia lantas berkata kepada Kwee Ceng: ―Engko Ceng. Pinto khawatir jawaban itu nanti menjadi bahaya di belakang hari…‖ Cu Cong semua mengawasi. dia jadi terlebih sukar untuk ditakluki. Di lain pihak. tentulah batok kepalamu sudah berlobang lima jari tanga…‖ ―Sudah berapa lama Khan pergi?‖ tanya Kwee Ceng yang hatinya cemas. Terus ia berlompat. ―Adakah totiang dilukai senjata rahasia?‖ mereka tanya. mereka tidak mengerti. ―Kenapa Khan tidak percaya kepada kau?‖ ia tanya. sejenak barusan pinto telah kena tertipu wanita yang sangat licin itu. ayah tertawa terbahak-bahak. Ia rupanya sadar seluruhnya. Sangum dan Jamukha bakal celakai ayahku itu.Pendekar Pemanah Rajawali Tiauw Hong tertawa lebar. ―Sepuluh tahun ia tak tertampak. suatu tanda bahwa ia ada mendukakan apa-apa. yaitu yang disebut Gwa-mui atau ilmu luar. ―Terima kasih atas petunjukmu. Benar pinto telah baharu menjawab sekali. maka itu Cu Cong dan yang lainnya kata dalam hati mereka: ―Coba tidak ada kita disini. ―Totiang. Engko Ceng. Mestinya itu adalah jalan yang ia belum dapat tangkap artinya. aku jadi hendak memperdayainya. Kalau dia tambah lihay dan tetap ia berbuat jahat.‖ berkata Ma Giok. Aku telah jelaskan bahwa hal itu kau dengar dengan kupingmu sendiri.‖ sahut Gochin. yang keningnya berkerut. hingga orang semua kagum. hanya karena tidak ada orang yang tunjuki. Ia lihat imam itu berduka. cambuknya digeraki melilit batu. dasar aku yang semberono. apabila kau memerlukan sesuatu. kami bersedia untuk menerima titah-titahmu. Ayah pergi dengan mengajak ketiga kakakku serta belasan pengiring. akan tetapi itu satu juga bisa membantu banyak padanya untuk ia peroleh kemajuan…‖ ―Harap saja ia insyaf dan tidak nanti melakukan pula kejahatan. dia rupanya telah dapat cari jalan itu. ayah sudah ajak orang pergi kepada Wang Khan…‖ Kwee Ceng kaget. gerakannya sangat enteng dan pesat. ―Mereka menunggang kuda pilihan. Inilah yang pertama kali ia menghadapi soal sulit itu.‖ kata Siauw Eng separuh menghibur. Hanya dalam Iweekang. ia hendak hukum padamu. ―Harap totiang jangan segan-segan menitah kami. Ayah bilang. ia lompat ke arah jurang. tetapi di tengah jalan aku dibekuk perempuan buta itu. Ayah bilang. pinto telah jawab dia. lalu ia sadar. Cu Cong semua terkejut. atau ilmu dalam. telah berada di atasan pinto dan saudara-saudara. walupun kami tidak punya guna. ―Tempo aku beritahukan bahwa kedua paman Sangum dan Jamukha hendak membikin ayah celaka. bagaimana sekarang?‖ Lantas saja ia menangis. . ―Coba tidak totiang membantu kami.!‖ Selagi Ma Giok mengatakan demikian.‖ Cu Cong tawarkan diri. aku tidak bercuriga…. Kwee Ceng menjadi bingung.‖ sahut si imam kemudian. ayahku tidak percaya keteranganku.

ia sudah lewat jauh! Di tengah jalan Kwee Ceng tidak berani berlambat. kita sehidup semati.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng lekas kau pergi!‖ berkata Cu Cong. Temuchin memandang ke sekelilingnya. Tak lama dari selatan terlihat debu mengepul naik. Saudaraku Jamukha ada sangat baik denganku. disusul sama munculnya satu pasukan tentara terdiri dari beberapa ribu jiwa. untuk tiba di samping khan itu. ia keprak kudanya. apapula di tanah rata. mereka lantas menggali lobang dan memindahkan batu. cobalah kirim orang untuk periksa benar atau tidak ada tentara pencegat jalan!‖ Biar bagaimana. Maka itu kemudian ia sudah mulai dapat melihat bendera yang besar dari Temuchin. lekas kembali!‖ ia berteriak. ia puas benar dengan kudanya yang larinya sangat pesat. Setelah ia mendatangi lebih dekat. untuk minta ia lekas siapkan tentara guna segera pergi menyusul dan menolongi ayahmu!‖ Kwee Ceng menginsyafi keadaan. Wang Khan. ―Kau pakai kuda merahmu itu untuk susul Khan yang agung! Umpama kata ia tidak mempercayaimu. Dengan roman bersangsi. telah turunkan tuan putri itu. Ia pun beritahukan perihal tentera pencegat di belakang mereka. untuk mengatakan: ―Lekas kamu pergi menyelediki!‖ Dua orang itu sudah lantas lari balik. Setibanya di lembah. Ketika si opsir dapat ketahui dan berseru. ―Siap sedia!‖ Dalam keadaan seperti itu. ia kata pula: ―Kha Khan. siapa sudah lari terus. ia keprak kudanya untuk dikasih lari lewat di sini tentara itu. ―Lebih baik terpedaya satu kali tetapi jangan mati konyol!‖ Maka ia terus berpaling pada Ogotai. tubuhnya mendekam di punggung kuda. Ia pun berpendirian. untuk mencegah. Pernah ia mencoba menahan. dan itu berarti. Sesudah lari lagi satu jam. Ia pun berpikir: ―Memang Sangum tidak akur dengan aku. ―Ada apa?‖ ia menanya. Ia khawatir Temuchin keburu sampai di tempat Wang Khan dan itu artinya bahaya untuk Khan yang maha agung itu. tuan putri. Kwee Ceng kabur ke kemah di mana ia ambil kudanya. lekas kau pergi kepada kakakmu Tuli. ―Naik ke bukit itu!‖ Ia kasih perintah. begitu naik ke atas bukit. ia khawatir hewan itu terlalu letih. Terang Temuchin telah lewat di situ. cambuknya dipecut berulang-ulang. untuk menaikinya. yang terus tuturkan persekutuannya Wanyen Lieh. Segera terlihat pula. tanpa ayal lagi. nampaknya ia tidak takut capek. Dari benderanya ketahuan. putranya yang kedua itu dan Chilaun. Di dalam hati Kwee Ceng mengeluh. jalan pulang dari Khan agung itu telah terpegat. ―Kha Khan. mereka ambil sikap mengurung. Temuchin awasi bocah tanggung ini. Jebe ada sangat awas. untuk berjalan perlahan-lahan. Di lain pihak ia menjadi girang sekali. ia tampak tentara itu tengah mengejar. tetapi ayah angkatku. panglimanya. guna memegat Ogotai dan Chilaun.‖ sahut Kwee Ceng. ―Benar-benar pasukannya Wang Khan!‖ ia berseru. malah tiga jagaan telah ia lewatkan terus. terus ia lari. ―Ada bahaya. Selang dua jam. itulah pasukan Wang Khan. sedang Ma Giok denagn mengikat tubuh Gochin. Karena ini. tibalah Kwee Ceng di tempat datar dimana kedapatan tiga baris tentera yang jumlahnya mungkin tiga ribu jiwa. buat berjagajaga diiri dari serangan anak panah. ia kabur pula. malah mereka ini tahu tugasnya. tetapi si kuda tidak mau berhenti. yang siap sedia denagn panah dan golok terhunus. Irawan D Soedradjat Page 147 . dia harus mengirim orang untuk mencari keterangan terlebih dahulu. ia mendahului turun dari atas jurang. ia tahan kudanya. Ia pun ada bersama orang-orangnya ynag gagah. pasukan pengejar itu memecah diri dalam diri dalam jumlah ratusan jiwa. ―Jangan pergi lebih jauh!‖ Temuchin heran. Dipaling depan pasukan itu terlihat Ogotai dan Chilaun lari kabur mendatangi. guna dikasih lari sekeras-kerasnya. khan ini tidak jeri. Temuchin adalah seorang yang teliti. apa mungkin nia hendak mencelaki aku?‖ Kwee Ceng tahu khan itu bersangsi. Dan kau. tengah mengandali tenagaku. ia tampak rombongan dari belasan orang yang tengah maju terus. habis mana. baru kuda itu mau juga diistirahatkan sebentar.

Mereka setujui perkataan itu. Kemudian pada sebuah pasukan ia tampak seorang yang menunggang seekor kuda yang besar. Penunggang kuda itu dandan sebagai satu panglima perang. Jebe lebih lihay daripada muridnya ini. Bagaimana bahaya dapat dihindarkan? Selagi ia berpikir. Sendirian saja. sukar buat ia menoblos kurungan. hati mereka goncang. dengan memperlambat segala apa. putranya Wang Khan. negara itu menghendaki kita setiap tahun membayar upeti beberapa laksa ekor kerbau. Hebat lari kudanya kwee Ceng. tiga pengejar terdepan rubuh dari kuda mereka. ialah kebanyakan bangsa penggembala itu memakai cara memiliki sendirisendiri. dengan berulang-ulang. Ia lantas saja berpikir. Di tangannya panglima itu ada sebatang golok besar. ―Jikalau kau tidak mau menyerah!‖ ia membentak. kenapa kita mesti takuti bangsa Kim itu?‖ Kata-kata ini tajam. kambing dan kuda. Temuchin lanjtui perkataannya: ―Bangsa Mongolia bangsa orang-orang peperangan yang pandai. Dengan diiringi pasukan pengawalnya. Di sini khan itu bersama Borchu. sembari menyerang mereka mundur ke bukit dimana Temuchin menanti. ia tiba lebih dahulu kepada Ogotai dan Chilaun. Tuli sendiri belum tentu tepat datangnya. Ia telah menyaksikan tentaranya Wang Khan tengah mendatangi di empat jurusan itu. karena ada kemungkinan tentaranya tak mau dengar putra yang masih muda itu. Panah mereka tidak pernah gagal. Sangum mengerti orang lagi menghasut tentaranya. ia menyusuli dengan anak panahnya yang keempat. Cepat luar biasa. kau langgar aturan leluhur kita? Kenapa kau hendak persatukan semua suku?‖ ―Bangsa Mongolia telah diperhina oleh negara Kim. ia pun nyata sekali kepuasannya. kemudian karena tenaga pertumbuhan mereka bertambah dan adanya pemakaian alat-alat dari besi. ―Asal aku menuding dengan cambukku ini. di sebelahnya baju lapis. Akan tetapi musuh berjumlah besar. lekas menyerah!‖ demikian ia berteriak. ia turut memanah. jangan kau memikir untuk hidup lebih lama pula!‖ Kwee Ceng menjadi cemas sekali. tetapi kau kenapa. Ketika ia buka mulutnya. Beberapa puluh tentara lain pun melindungi dia dengan mereka. akan memandang jauh ke empat penjuru. Keadaan ada sangat mendesak dan sulit. putra Sangum. Temuchin tidak menyahuti. berlaksanaan anak panah bakal dilepaskan terhadap dirimu! Jikalau itu sampai terjadi. Temuchin sengaja singgung sifat itu. ―Temuchin.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng. ―Adik Sangum. terus ia gunai panahnya. dengan siapa ia Irawan D Soedradjat Page 148 . ia hanya menanya: ―Apakah salahku terhadap ayahku Wang Khan. Ia berlaku jumawa. kapan orang-orangnya Sangum mendengarnya. mereka maju bagaikan gelombang! Ogotai dan Chilaun telah tahan kuda mereka dan berbalik. aku minta sukalah kau datang ke mari untuk bicara!‖ ia lanats teriaki itu saudara angkat. Tusaga adanya. yang ditawungi bendera kuning yang besar juga. ia lihat satu penunggang kuda di kaki bukit itu. mari kita sambut mereka!‖ Jebe berteriak. Orang itu ialah Sangum. Dengan aksi ia larikan kudanya mondarmandir. siap sedia tameng besi mereka guna menangkis panah gelap. perlahan-lahan sifat itu berubah. Sangum mendekati bukit. ternaknya adalah kepunyaan suku bersama. kapan tiga anak panahnya melesat. ―Asal saja kuta bangsa Mongolia tidak saling menyerang. ia mengenakan juga mantel bulu kulit binatang tiauw yang mahal. mendahulukan gurunya. sudah lantas memanah juga. adakah itu selayaknya?‖ Temuchin balik tanya. maka kau bawa pasukanmu untuk menyerang aku?‖ Sangum pun menjawab dengan pertanyaannya: ―Adakah sejak jaman dahulu kala bangsa Mongol tinggal pada masing-masing sukunya. ternaknya kambing dan kerbau adalah kepunyaan beramai satu suku. ia membuatnya tentaranya Sangum menyetujuinya. Dan ia keprak kudanya. mereka sekarang turut menyerang denagn panah mereka. Juji dan lainnya. diturut oleh muridnya. Kwee Ceng kenali panglima yang masih muda itu. Ia anggap ia mesti menang tempo. denagn begitu pihak pengejar dapat tertahan majunya. Temuchin naik ke tempat yang lebih tinggi. ada juga yang malas dan cuma doyan gegares! Kenapa mereka yang rajin mengasih makan mereka yang malas itu? Kenapa kita tidak hendak memberikan lebih banyak kerbau dan kambing kepada yang rajin? Kenapa kita tidak mau membiarkan si malas itu mati kelaparan?‖ Dijaman dahulu bangsa Mongolia hidup dalam suatu keluarga atau suku. maka denagn berulang-ulang sejumlah serdadu musuh rubuh terguling. kenapakah kita tidak hendak pergi mengambil emas dan perak dan permatanya bangsa Kim itu? Kenapa kita mesti tiap tahun membayar upeti terhadap mereka? Kita bangsa Mongolia ada diantaranya yang rajin memelihara kerbau dan kambing. diam-diam mereka itu pada mengangguk.

Mereka Cuma mundur. maka tempo Kwee Ceng menarik. tidak dapat ia berontak. Ujian Yang Pertama Sangum murka berbareng bingung. tangan kirinya menangkis. ―Apakah kau masih ingat cerita tentang leluhur kita Maral Goa?‖ Temuchin tanya. ia kasih perintah orangorangnya terus memasang mata. Ia lempar tubuh Tusaga ke tanah. yang diperintah gunai dadung. untuk dipakai menjadi tameng. Ia segera menuding dada Tusaga dengan ujung tombaknya sembari berbuat begitu. tapi tiga-tiga kalinya. seorang denagn pakaian putih muncul di kaki bukit. supaya Temuchin menyerah. ia suruh mereka masing-masing mematahkannya. ―Adakah kau masih anggap aku sebagai kakak angkatmu?‖ ia menegur. Bukan main girangnya Temuchin. ia dengar suara anginnya senjata mengaung di arah belakangnya. Bergantian mereka berlima mencoba mematahkan anak panah itu. ―Lima putra mereka tidak hidup rukun. ingin ia memeluk. Dengan tidak kurang suatu apa pun Kwee Ceng tiba di samping Temuchin. Dia dapat lari tak kalah pesatnya seperti waktu turun tadi. ―Pelbagai kepala suku pada membilangnya bahwa leluhur kita sudah turun temurun beberapa ratus tahun hidup secara begini. sambil berpaling. kenapa kau masih berambekan besar sekali?‖ ia tanya. Jamukha menghela napas. ―Kakak kau telah menjadi Khan yang agung. nanti jiwanya Temuchin akan diberi ampun. ia berpaling lekas. Temuchin khawatir Sangum menyerbu. ia pegang tubuhnya Tusaga. Tepat tangkisan itu. Menampak itu. Ia kaget dan tidak menyangka putranya dapat ditawan musuh selagi putra itu berada dalam lindungan tentaranya yang berjumlah besar itu. ia lantas lari ke arah bukit untuk mendaki. ia mati kutu. Temuchin usir utusan itu. Ia lantas ingat suatu apa. tapi pengurungan tidak dibubarkan. Celaka untuk Tusaga. sepasang tombak kena dibikin terpental ke udara. Tiga kali Sangum mengirim utusan. mereka khawatir nanti kena memanah pemimpin mereka yang muda itu. ―Kenapa kau bercita-cita mempersatukan bangsa Mongolia?‖ ―Kau sebenarnya menghendaki apa?‖ Temuchin tanya. tubuhnya kena diangkat dari kudanya. ia lantas berteriak: ―Di sini Jamukha! Aku ingin bicara dengan saudara Temuchin!‖ ―Kau naiklah kemari!‖ Temuchin menjawab Jamukha mendaki dengan perlahan-lahan. maka ia jepit kudanya. Temuchin hunus goloknya. Tanpa terasa. meminta putranya dimerdekaan. Ingatkah apa pesan leluhur kita itu?‖ Irawan D Soedradjat Page 149 . maka itu kenapa khan yang agung Temuchin hendak mengubahnya? Tuhan juga tidak memperkenankan itu. Lalu ia berikan mereka lima batang anak panah yang digabung menjadi satu. Segera ia bentur perut kudanya denagn dengkulnya yang kanan. malah kereta besar dikitarkan diseputar bukit itu. Adalah adat istiadat bangsa Mongolia akan saudara muda memeluk dan merangkul saudara tuanya. ia teriaki Sangum: ―Lekas kau suruh semua orangmu mundur seratus tombak!‖ Bab 14.Pendekar Pemanah Rajawali pernah berkelahi waktu kecil. tidak ada satu serdadu pun yang berani memanah. ia masaki daging kambing kepada mereka. untuk menghampiri pemuda itu. Ia maju mendekati. Dengan gampang mereka itu melakukannya. ia tidak bisa berbuat lain daripada keluarkan titahnya untuk pasukannya itu mundur seratus tombak.‖ katanya Jamukha lagi. Kira-kira tengah malam. katanya. untuk ringkus Tusaga. Selagi Kwee ceng hendak geser pemuda itu. Kwee Ceng tidak takut. ia kasih lari turun gunung. begitu kena di cekal. mereka gagal. Kuda itu pun lantas mengerti. ke dekatnya khan yang agung itu. Ia lantas duduk bersila. langit telah menjadi gelap. dalam tujuh dan delapan lapis! Temuchin puji Kwee Ceng. mereka juga masing-masing diberikan seorang sebatang anak panah. ―Lepas panah!‖ orang-orangnya Sangum berteriak. kembali ia menitahkan mereka untuk mematahkannya. Ia tampak Temuchin berdiri menantikan dengan romannya yang angker.

!‖ kata Jamukha pula. kau bakal tak dapat melihat lagi matahari besok!‖ Temuchin membacok ke udara. ―Berontak? Hm! Berontak!‖ seru Temuchin menghina. Jamukha bangkit berdiri. Ia pun keluarkan satu kantung kulit kecil dari sakunya. kalau satu putranya terbinasa. Kata ia: ―Negeri Kim itu banyak tentaranya dan banyak panglima perangnya. bagus!‖ seru Temuchin. ―Yang dibunuh itu adalah musuh.‖ Temuchin menjadi mendongkol. jikalau kamu berpadu hati bersatu tenaga.Pendekar Pemanah Rajawali Dengan perlahan Jamukha mengatakan: ―Jikalau kamu masing-masing bercerai-berai. Aku tanggung Sangum nanti melepaskan kau pulang dengan selamat!‖ ―Aku tidak percaya Sangum! Aku juga tidak percaya kau!‖ ―Sangum bilang. tanpa membilang apa-apa. untuk selamanya tidak bakal ada Temuchin lagi! Jikalau kau tidak merdekakan Tusaga. kakak. ―Mulanya akun juga menyangka raja Kim itu baik hati. Sungguh tidak ia sangka. kau mengatakannya itu milik mereka pribadi. ―Aku lebih suka terbinasa dalam perang. dia bakal melahirkan dua putra lagi! Kalau satu Temuchin terbinasa. ―Siapa tahu permintaannya kepada kita makin lama jadi makin hebat! Sudah minta kerbau dan kambing.‖ kata Jamukha.‖ kata Jamukha. Temuchin mengawasi belakang orang. ―Benar begitu!‖ kata Temuchin. ―Kita juga adalah orang-orang gagah. semua pelbagai kepala suku mengatakannya kau berlaku buruk. ―Kemudian bagaimana?‖ ―Kemudian mereka berlima bersatu padu bekerja sama. Mengenai itu. ia geraki tangannya seperti hendak membacok batang lehernya. ―Raja Kim itu telah anugerahkan pangkat Ciauwtouwusu padamu. Ia bilang: ―Inilah tanda mata ketika angkat saudara untuk ketiga kalinya. Ia tambahkan. bukannya kakak angkatmu!‖ Jamukha jemput bungkusan kecil itu. Aku minta supaya kau kasih pulang Tusaga kepada Sangum. rangsumnya bertumpuk bagaikan gunung. kamu menjadi seperti lima batang anak panah yang digabung menjadi satu ini. emasnya tersebar di seluruh negaranya. ―Dan bagaimana dengan kau sendiri?‖ ―Aku datang untuk meminta kau jangan gusar. dan sekarang dia menghendaki orang-orang peperangan kita membantu ia berperang!‖ ―Wang Khan dan Sangum tidak ingin memberontak terhadap negara Kim itu. sekarang kau terimalah kembali! Besok kau membawa golokmu untuk berperang di sini!‖ Sembari berkata begitu. tak nanti aku menyerah!‖ serunya. cara bagaimana bangsa Mongolia bisa main gila terhadapnya?‖ ―Hm!‖ Temuchin perdengarkan ejekannya. yang tak dapat dipatahkan siapa juga!‖ ―Kau masih ingat itu. dia minta kuda. ―Harap kau tidak mengatakannya aku tidak berbudi!‖ Temuchin lantas keluarkan satu bungkusan kecil dari dalam sakunya. kenapa kita tidak hendak mempersatukan bangsa Monglia kita? Kita harus saling kepruk. yang gampang sekali orang siapapun dapat mematahkannya. lalu ia memutar tubuhnya untuk turun dari bukit itu.‖ katanya. Ia ada sangat berduka. ia letaki itu di samping kakinya Temuchin. saudara angkat itu yang bagaikan saudara kandungnya bisa berubah demikian rupa. hingga membaliki belakang kepadanya. Segera terbayang di hadapan Irawan D Soedradjat Page 150 . ialah kepala panah dan biji piesek yang diwaktu muda mereka sering membuat main. ―Kita membagi-bagikan kerbau dan kambing rampasan kepada tentara. kita bersatu hati bekerja sama untuk memusnahkan bangsa Kim itu!‖ Jamukha terkejut. ia lemparkan ke depan Jamukha. mereka menjadi leluhur kita bangsa Mongolia!‖ sahut Jamukha. tak tepat itu dengan pengajaran leluhur kita!‖ Temuchin berseru: ―Akan tetapi semau orang peperangan yang muda-muda senang dengan caraku itu!‖ ―Baiklah saudara Temuchin. akan tuang keluar isinya. ―Jadinya kau suka yang kita semua diperhina dan ditindih bangsa Kim itu?‖ ―Mereka pun tidak menghina dan menindih kita. Lalu dengan perlahan-lahan ia buka kantung kulit itu. kamu menjadi seperti anak panah ini. bukannya milik suku beramai. sekian lama ia diam asaj.

satu pemuda dengan pakaian hitam sudah lantas sampai di atas gunung. mereka dipapaki hujan panah oleh Jebe dan Borchu beramai. ―Apakah kau takut?‖ ia tanya. Ia menghela napas. Setibanya empat orang itu di tengah jalan. Juji. ―Benar!‖ sambutnya. jalanan yang bisa diambil musuh untuk menerjang naik. tujukan panahnya dan memanah pangeran itu. Ini waktu terlihat tentara musuh sudah mulai bergerak. ―…. Irawan D Soedradjat Page Satu di antara empat orang itu. Mereka itu adalah. ―Mari kita ingat pembicaraan kita malam ini! Selanjutnya akan aku pandang kau sebagai anak kandungku!‖ Dan ia rangkul si anak muda! Sementara itu. Temuchin bersama ketiga putranya dan semua panglimanya mendekam di belakang tumpukan tanah. anak panah mereka diarahkan ke setiap jalanan di gunung itu. Kwee Ceng terperanjat menyaksikan kegesitan empat orang itu. ―Bagaimana sekarang?‖ . Dia ayun tangannya. lalu menambahkan pula. disusul sama bacokan goloknya. Dia dirintangi oleh Ogotai yang bersenjatakan sebatang golok besar. ―Kita di sini adalah orang-orang peperangan semua. Ia mengerti. Kwee Ceng di samping mengawasi dengan perasaan berat. putra keenam dari raja Kim. ―Kau ada seorang gagah. putra sulung Temuchin. cuaca sudah mulai terang. Di dalam pasukannya Sangum dan Jamukha segera terdengar suara terompet. Ia berdiam sekian lama. ―Temuchin.kita pasti dapat membuat seluruh dunia. Hari ini kita akan mati perang di gunung ini!‖ kata Temuchin. hingga ia dapatkan Kwee Ceng berdiri diam di sampingnya.‖ Kwee Ceng menyahuti. mereka halau setiap anak panah itu. Dia sangat gesit dan gapa. di kanan Jamukha. tidak nanti kita dapat dikalahkan Sangum yang berhati kecil dan hina dina itu!‖ Temuchin pun menjadi bersemangat. yang menyambuti anak panah itu dengan tangannya. Ia memandag ke depan. ia melanjutkan: ―Mereka itu juga orang-orang gagah! Kami bangsa Mongolia ada punya begini banyak orang gagah. ―Bala bantuan tidak datang. Jadi mereka adalah orang-orang Rimba Persilatan. Di bawah bendera itu ada tiga orang. adakah kau hendak memberontak terhadap negara Kim yang agung?!‖ tanya itu pangeran. sayang kami saling bunuh satu sama lain! Coba semua dapat berserikat menjadi satu…‖ Ia memandang ke ujung langit. ―Aku tengah memikirkan ibuku. Ia menunjuk kepada api di kejauhan itu. yang menuju ke sisi gunung. Tidak antara lama. Pangeran Kim ini memakai kopiah dan jubah perang bersalut emas. yang menerangi tanah datar seperti juga banyak bintang di langit. empat orang berlompat maju. membuat seluruh dua menjadi ladang tempat kita menggembala ternak kita!‖ Kagum Kwee Ceng akan dengar itu cita-cita dari Khan yang agung ini.Pendekar Pemanah Rajawali matanya saat dahulu hari ketika mereka sama-sama bermain-main di es. sebuah bendera kuning muncul dari dalam pasukannya Sangum. tangan kirinya mencekal tameng untuk pencegah panah. bukannya orang peperangan yang biasa. Habis menguruk tanah dengan kedua tangannya. di situ ia pendam itu barang tanda mata dari adik angkatnya itu. apa yang Temuchin pendam itu adalah persahabatan yang ia paling hargakan…. lantas sebatang panah tangan menyambar ke batang lehernya putra Temuchin itu. kita bukannya tandingan jago-jago Rimba Persilatan itu…‖ pikirnya. Ia nampak api yang dinyalakan tentaranya Sangum dan Jamukha. tetapi dengan tamengnya. orang gagah yang baik sekali. Dengan goloknya ia mencongkel sebuah liang di tanah. Wanyen Lieh lantas saja berseru dengan titahnya: ―Tolongi Tusaga! Bekuk Temuchin!‖ Atas titah itu. Ia lantas kata: ―Khan yang agung. Mereka itu menggunai ilmu enteng tubuh. Di belakang pangeran ini segera muncul satu orang. kita bisa menang perang. untuk lari mendaki ke atas gunung. di kiri Sangum. Temuchin bangun berdiri. dan di tengahtengah adalah Chao Wang Wanyen Lieh. Berbareng dengan 151 Kwee Ceng jadi berkhawatir.‖ Temuchin memuji. kemudaian berpaling. rupanya mereka hendak memulai penyerbuan mereka.

Kwee Ceng sementara itu telah melihat. Segera juga ia ingat pengajaran gurunya yang kesatu: ―Di waktu bertempur mesti mempengaruhi orang tetapi jangan kasih diri kena dipengaruhi. yang dipanggil toasuko atau kakak seperguruan yang tertua. ―Lihat kepandaiannya toasuko!‖ berseru saudaranya yang memegang tombka itu sambil tertawa. Kwee Ceng main mundur. waktu datang pula bacokan. ―Kau lihat saja dari samping. Mereka ini pun telah dengar suaranya jiesuko mereka. masing-masing tidak sudi mengalah. Orang ini mengancam ke kanan. berkelebatlah sebatang golok putih mengkilap. Kwee ceng gunai ketika orang bicara. untuk berdiri berendeng bertiga. ialah yang membuat lawannya repot. Ia ini menghalang di depannya Ogotai. Kwee Ceng lihat ini ia gunai ketikanya. Dia terkejut. Maka ia lihat di depannya ada satu anak muda dengan alis gompiak dan mata besar. titahkanlah mereka itu turun!‖ ia mohon kepada Wanyen Lieh. Itulah gerakan ―Kie hong teng kauw‖ atau ―Burung hong bangkit dan ular naga mencelat‖. akan menonton pertempuran sang kakak tertua. ―Toasuko. ia malu mengaku kalah terhadap adik seperguruannya itu. Terus ia bersilat dengan Wat Lie Kiam-hoat. bersedia akan celaka bersama. tidak urung tangan bajunya yang kiri telah kena tersontek robek. tiba-tiba ancamannya itu berubah di tengah jalan. Kwee Ceng telah gunai ilmu pedang Wat Lie Kiam pengajaran Han Siauw Eng. sebab ia adalah orang undangannya Wanyen Lieh. ―Kau siapa?‖ dia menegur. ―Mari kita memikir daya lainnya. saudara yang kedua. berat tangannya lawan itu. ia lantas tarik pulang goloknya. ―Siapa berani maju!‖ ia berteriak. ia ulangi serangannya dengan beruntun. yang goloknya tebal. Sekarang aku main menangkis aja. anakmu tak bakal terbinasa!‖ kata Wanyen Lieh sambil tertawa. Boroul dan lainnya. Dilain pihak orang-orangnya Sangum hendak bergerak pula. terkejut juga musuh menyaksikan orang seperti nekat. tiga kawannya orang ini sudah tiba di atas gunung dan tengah bertempur sama Chilaun. ―Tuan pangeran. mari aku bantu kau!‖ dia berteriak. maka mereka anggap baiklah mereka menonton kakak mereka yang kesatu. ia tekuk kaki kirinya dan menikam dari bawah ke atas. Dia ini menganggap dirinya adalah tertua kaum Rimba Persilatan. ―Akan aku lantas memenggal!‖ Sangum menjadi khawatir dan bingung. apakah itu ukan berarti aku kena didesak?‖ karena ini. dia lompat menghampirkan. Dia heran dalam rombongannya Temuchin ada orang yang pandai ilmu pedang. Mukhali lantas saja tandalkan goloknya di lehernya Tusaga. tidak berani sembarang merangsak. menikam dari samping kepada lengan penyerang itu. yang untuk itu telah mengeluarkan banyak uang. Musuh kaget dan berlompat berkelit. Keras sekali. ―Beritahukanlah she dan namamu!‖ Dia bicara dalam bahasa Tionghoa. ialah pedangnya. ―Tidak pernah aku dengar namamu! Lekas kau menyerah!‖ kata orang itu sombong. Tentu saja di hadapan ribuan serdadu. Mereka hampirkan jiesuko itu. sebaliknya ia menyambut seraya tekuk kaki kanan dan tangan kiri bersiap sedia. sambil kelit lengannya. sikap garang mereka membuat dua musuh lainnya yang memegang ruyung besi dan dan sepasang kampak pendek. Ia pun tidak mengerti cara bersilatnya orang. ―Aku Kwee Ceng!‖ sahut anak muda itu. tiga kawannya musuh itu sudah berhasil merubuhkan empat atau lima lawannya. yang mencekal pedang. Dipihak lain. ia layani musuh yang bersenjatakan golok itu. tangan kanannya. Segera ia dapat kenyataan. sedang empat orangnya Wanyen Lieh itu melanjuti pertempurannya. dengan bawa tombaknya. Mereka mau percaya musuh tidak bakal lolos lagi. Irawan D Soedradjat Page 152 . sedang dari enam gurunya pernah ia dengar pelbagai macam ilmu silat. Memangnya di antara empat saudara seperguruan ini ada perbedaan tabiat atau sikap. ialah ia menikam pula. kapan satu di antaranya melihat ia terdesak. ia lompat mundur. kau lihat kepandaiannya toasukomu!‖ berseru orang yang bergenggaman golok itu. Orang-orangnya Sangum tidak berani naik. Kali ini.Pendekar Pemanah Rajawali itu. benar-benar musuh ini bukan sembarang orang. menjadi bacokan ke kiri……… Mau tidak mau. sedang hari ini adalah yang pertama kalinya ia muncul di medan pertempuran. kapan musuh berkelit. membalas menikam lempang. supaya anakku jangan terbinasa…!‖ ―Tetapkan hatimu. Itu waktu Temuchin telah dilindungi dengan dikurung oleh Jebe dan lainnya yang belum terluka. ia tidak mundur lagi.

terpaksa ia menarik pulang serangannya. Demikian satu kali. ―Teecu adalah muridnya Kanglam Cit Koay. ia membokong. ia menikam ke dada pula. Puluhan ribu serdadu musuh. ia lepas dan lemparkan pedangnya. ia tahu musuh ingin menerbangkan goloknya. Kwee Ceng sudah tempur orang. ―Kenapa kau datang kemari untuk antarkan jiwamu?!‖ Kwee Ceng lintangi pedangnya.‖ ia menebas terus tanpa membuat perubahan. telah banyak pengetahuannya. Keras sampokan ini.‖ ia menjawab dengan terus terang. Ia lihat Kwee Ceng lihay dengan ilmu pedangnya.Pendekar Pemanah Rajawali Sebelum berkelahi terus. Tepat dupakannya ini. sambil memutar tubuh. Sambil berteriak. ia merasa orang ada terlebih terlatih daripadanya. Ia penasaran sebab ia tahu. dengan tombaknya itu ia sudah punyakan pengalaman dua puluh tahun………… Kwee Ceng berkelahi sambil matanya melitah dan otaknya bekerja. Penyerang bertombak ini menggunai ketikanya yang baik. katanya: ―Tentang nama kami berempat. Tenang adanya sikap Kwee Ceng. terus ia maju pula. ia jumput golok musuh yang jatuh di dekatnya. setelah pedang orang terlepas. yang membokong. Kwee Ceng dengar pemberian peringatan itu. dan ilmun pedangnya pun sudah dapat mendesak musuh ini. ia membacok ke arah lengannya musuh. bahwa musuh itu ingin memperlekas kemenangannya. yaitu jurus ―Burung walet masuk ke sarangnya‖ dari tipu silat ―Lam Sam Too-hoat‖ – ilmu pedang Lam San. mendadak ia mengegos sedikit. dengan bengis ia membacok melintang. Tapi ia penasaran. Irawan D Soedradjat Page 153 . sebat tangannya. ―Teecu mohon tanya suwie empunya she dan nama yang besar?‖ ia terus berbalik menanya empat orang itu. dengan tangan kosong ia sampok pedang si anak muda. tikamannya itu dapat dihalau dan ia ditendang. ia mendahulukan menikam ke arah lengannya musuhnya. Kali ini ia gunai bacokan ajarannya Lam Hie Jin. Ia ini cemas juga setelah banyak jurus. Ia tidak sangka si anak muda luas pengetahuannya dan gesit. Ia tunggu sampai ujung golok hampir mampir di pedangnya. Lihat golokku!‖ Ia lantas menyerang. Setelah berkelit dari bacokan. taruh kami mengatakannya. tigapuluh jurus telah dikasih lewat. Orang itu menoleh kepada ketiga saudaranya. jeli matanya. dengan sedikit lebih sebat saja. sedang tangan kanannya menikam terus ke dada lawannya itu! Bukan main kagetnya si toasuko. ia bersikap tenang. Cuma karena kurang pengalaman. Di dalam hatinya ia berkata: ―Belum lagi pedangmu tiba. Kwee Ceng lihat pinggangnya terancam tebasan. ―Awas!‖ Jebe teriaki muridnya. pedang Kwee Ceng terlepas dan jatuh ke tanah. Hampir pada itu waktu ada angin menyambar di belakangnya. Selagi musuh lompat undur. ia masih belum bisaberbuat suatu apa. maka tangan itu bercucuran darahnya! ―Sayang!‖ kata Kwee Ceng di dalam hati. ―Kau muridnya siapa?!‖ ia tegur Kwee Ceng. Musuh itu menjadi girang melihat lawan tidak berkelit hanya membalas menyerang. Kembali Kwee Ceng bebaskan diri dengan kelitan ―Dalam mabuk meloloskan sepatu‖. Tidak terkecuali adik seperguruannya si toasuko. Diakhirnya. berdiam menyaksikan pertempuran itu. Ia tertolong jiwanya tetapi pedangnya toh mampir juga di tangannya. sebagai gantinya. untuk membarengi membalas menyerang. Sebentar saja. si pemegang golok itu lompat keluar kalangan. ia menjadi seperti nekat. Lalu ia berpaling pula. golokku sudah mengenai tubuhmu. ―Bagus!‖ seru lawan yang bersenjatakan tombak itu. habis mana. ia akan dapat tancapkam pedangnya di dada lawannya itu. ia mencoba mendesak terus. bukan ia mundur. ia mendupak ke belakang. ―Suwie‖ ialah ―keempat tuan‖. ia gagal. kau satu anak kecil tentulah tak dapat mengetahuinya. hingga ia melayani musuh muda ini. ia membuatnya tombaknya musuh terpental. sedang sebenarnya. tanpa membalik tubuh lagi. akan tetapi ia adalah muridnya tujuh guru. sambil mendak sedikit. juga Temuchin semua. maka itu ia melawan dengan berani. ialah sambil melayangkan kaki kanannya ke bahu musuh.

ia gusar dan penasaran. ke arah jari tangan musuh itu. mereka lantas meluruk kepada anak muda she Kwee ini. ilmu ini bukan digunai di Kee-hi hanya di sini. mulutnya pun perdengarkan seruan. ia segera tarik pulang tangannya itu untuk terus dipakai menyikut si jiesuheng. Dengan cara biasa. Ia lantas berdiri diam mengawasi keempat musuhnya itu. Lagi beberapa lama. Menghadapi lawan yang menggunai tombak ini. ia tertolong dari bahaya maut. tangan kirinya terbalik. Kwee Ceng ada punya satu keuntungan. ia telah dipertaruhkan akan bertempur sama anaknya Yo Tiat Sim. Ia tetap berlaku cepta dan keras. kampak itu terlepas dan terpental. mereka tidak menghiraukan lagi Jebe berdua. dua musuh lainnya turut maju juga. yaitu Yo Kee Chio-hoat. Sampai disitu. Syukur untuknya. demikian ia ini. Kwee Ceng lihat Boroul terancam bahaya. sehingga ia membuatnya si toasuko heran. maka Lam Hie Jin sengaja ajarkan muridnya ini tipu golok melawan tombak. Karena ini ia tampaknya jadi semakin lihay. ia lompat bangun untuk merangsak pula. Orang itu rupanya bersatu pikiran. Setelah dapat merampas tombak musuh. ia melawan dengan ilmu silat tangan kosong melawan senjata. Melihat orang main keroyok. dia mencoba merapatkan Kwee Ceng. Tapi ini bukan berarti ia berlaku kendor. untuk menghajar punggungnya. Irawan D Soedradjat Page 154 . ia mesti berkelahi rapat. Turut kebiasaan. ia terus memapas ke sepanjang batang tombak. Musuh yang keempat. maka itu. Apa yang tidak disangka. repot mereka menghadapi musuh-musuhnya yang lihay itu. Disaat kemenangannya itu. karena Tiat Sim adalah keturunan kaum keluarga Yo yang terkenal untuk ilmu tombaknya keluarga Yo. ia lompat kepada toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang. Musuh itu terkejut. Tapi ia bertabiat keras. malah ia terdumpak mental. ketika si orang Hwee menebas tangannya. si pemiliknya sendiri jatuh numprah. sia-sia saja dia itu mencoba berulang-ulang. Kebetulan sekali. ia lompat menubruk. apapula satu musuh itu bertangan kosong. akan hajar kampak di tangan kiri itu. sambil membentak. Tiba-tiba ia merasa tenaga musuh berkurang. Kwee Ceng tidak punya senjata. yang paling muda. dengan tombaknya. Tapi pemuda kita. Lekas juga senjata mereka dirampas musuh. ia mestinya menyampok tombak seraya membarengi membacok.Pendekar Pemanah Rajawali Maka ia melawannya dengan sabar dan hati-hati. Melihat bahaya itu. seperti tadi melawan si toasuko. ia maju menyerang. Karena majunya mereka berdua. Kwee Ceng menggunai tipu. ia mencoba mendesak. Berbareng ia mental. mereka adalah orang-orang peperangan biasa. Kwee Ceng dapatkan musuh mulai ayal gerakannya. ia agaknya penasaran yang mereka kalah dari satu bocah. Sesudah lewat beberapa jurus. maka di antara satu suara nyaring. sebelah kaki Kwee Ceng telah melayang ke perutnya. mengampak ke arah kepalanya sendiri. hingga dengan begitu ia pun dapat menolongi Jebe. Musuh tidak menduga jelek. maka itu tidak puas mereka menyaksikan empat orang mengepung bergantian kepada satu musuh. Tanpa ia ketahui. Ia berhasil. Kwee Ceng lempar goloknya ke bawah gunung. Boroul dan Jebe maju untuk membantu Kwee Ceng. baru ia kerahkan tenaganya. mereka bukan orang kaum Rimba Persilatan. Kwee Ceng angkat tombaknya untuk menangkis. si saudara yang ketiga melompat dengan ruyung besinya. tidak tahan sabaran. Berat untuk Jebe berdua. Si toasuko ini tadinya menyangka orang hanya lihay dengan pedangnya. guna mempengaruhi musuh. Siapa menggunai senjata pendek. tak tahunya. sepasang kampaknya turun dengan berbareng. mulutnya berteriakan tak henti-hentinya. Segera ia dikepung oleh musuhnya yang ketiga. dengan putar kampaknya. sekarang ini Kwee Ceng ada kesempatan akan pakai ilmu goloknya yang istimewa itu dan ia berhasil. Celaka kalau musuh itu tidak lepaskan cekalannya. tentara Mongolia di kaki gunung menjadi tidak senang. ia mendesak. tidak dapat ia rubuhkan atau lukai musuhnya ini. musuh hendak mengulangi kampakannya. Hebat kampaknya itu. yang bersenjatakan ruyung besi itu. membuatnya orang kewalahan. ia lantas mendahului lompat mundur. ia batal membacok. baru ia bisa mengenai musuh. Bangsa Mongolia adalah bangsa yang polos dan memuju orang gagah. ia lantas menantikan satu tikaman. Diluar dugaannya. goloknya sama aja. tiba-tiba perutnya dirasainya sakit. mereka membaut ribut dengan mencaci maki dua pengeroyok itu. gagang tombak kalah dan kena terkampak patah hingga menjadi tiga potong.

dengan dacinnya ia rabu empat batang senjata musuh. Irawan D Soedradjat Page 155 . yang telah berhasil memukul mundur Jebe berdua. Matanya Jebe sangat tajam. Karena ini. Dia ini bersakit hati bekas kena didupak tadi. telah rebah diam karena pingsan. Dlam keadaan sangat berbahaya itu. Baharu ia berdiri dengan berniat melawan musuh. hampir ia rubuh pingsan. ia lompat bangun. ―Bandit-bandit tidak tahu malu. Empat musuh itu sudah lantas lompat mundur. sedang musuh yang memegang sepasang kampak memberangi mengampak juga. untuk membikin dia itu tak dapat bergerak. maka ia jambak dada musuh. Disaat Kwee Ceng hendak sambuti golok itu. ia menangkis. ia dibarengi musuh yang mencekal ruyung besri tadi. lalu semangatnya bangun. Musuh sudah lantas tiba. semangatnya terbangun. ia lantas kena ditubruk musuh yang bersenjatakan kampak. Ia masih sempat berkelit pula seraya ia angkat kakinya yang kiri untuk menendang musuh yang memegang kampak yang berada paling dekat dengannya. terpaksa ia menggulingkan tubuh sekitar dua tombak. mereka segera tampak murid mereka dalam bahaya. Tak lama. terpaksa ia melawan dengan menunjuki kelincahannya. matanya pun kabur. tetapi gerakannya menjadi lambat. pergi kamu!‖ Kim Hoat mengusir. ―Kwee Ceng. tangan mereka kesemutan bekas rabuhan senjata aneh dari orang yang baru datang ini. maka tidak ampun lagi. Benar saja ketiga musuh lainnya berhenti menyerang karena mereka khawatir nanti mencelakai kawan sendiri. Syukur untuknya. Kwee Ceng insyaf ia berada dalam bahaya. ia berseru. sekejab itu ia ingat ibunya. Cu Cong lompat maju. tulang pahanya itu tidak patah. habis mana ia lompat bangun. Cu Cong dan Coan Kim Hoat lari di paling depan. maju pula untuk membantu kawannya. ia telah pikir: ―Biar aku mati. terus ia melawan dengan hebat. kapan ia dengar itu teriakan. gurumu datang!‖. lekas-lekas ia lepaskan itu dari pinggangnya. Kwee Ceng kaget. ―Ini golok!‖ teriak Borchu seraya ia melemparkan goloknya. Hanya ketika itu. terus mereka berenam lari naik ke atas gunung.nanti aku bunuh ini bocah haram!‖ kata si suheng yang memegang golok sebatang kepada dua saudaranya. yang telah melepaskan kampaknya itu. ia ingin membalas sakit hatinya. untuk berdiri. Selagi Kwee Ceng terancam bahaya. Ia tidak pedulikan orang menendangi pundak atau kakinya. tujuh gurunya. mereka pun dibantu oleh dua saudara yang lain. sekali lagi ia roboh. Tin Ok bersama yang lain pun telah tiba. pasukan tentara kacau sendirinya. ialah main berkelit dengan mengegos tubuh atau berlompatan. Itu waktu. ia lantas kenali enam orang itu. Mereka merasa bahwa dalam tenaga dalam. Musuhnya yang ia cekik. ia mencekik tenggorokan. denagn sebelah tangan ia memencat nadi musuh. ia roboh bersama-sama musuh itu. kedua matanya pun sudah mulai kabur. ia merasakan sakit pada pundaknya. Kwee Ceng berkelit dengan berlompat. Tuli dan Gochin. habis mana ia terus bekerja. Kwee Ceng sudah letih betul. Kwee Ceng tetap bertahan secara demikian. yang tak sudi melepaskan pelukannya. hanya sekarang ia ubah caranya mencekal. denagn kerahkan semua tenaganya. akan kasih muridnya bangun. ia melakukan perlawanan dengan terus main bergulingan dengan ilmu silatnya ―Kim Liong Pian-hoat‖ atau ―Ilmu cambuk lemas naga emas‖ Musuh yang pingsan telah lantas sadar. kemudian selanjutnya. mereka kalah jauh. ia merasakan sangat sakit. ―Kamu pegat mereka . atau kaki kanannya dirasakan sangat sakit. atau sebatang golok melayang ke arahnya.Pendekar Pemanah Rajawali Segera juga Kwee Ceng terancam bahaya. ia diserang oleh musuhnya yang menggenggam ruyung besi hingga goloknya Borchu kena disampok mental. denagn begitu ia pakai musuh sebagai tameng. asal aku pun telah membunuh seorang musuh!‖ Jebe berdua yang tadi telah terpukul mundur. lalu tertampak enam orang bergerak dengan lincah mengacau barisan itu. karena tidak mempunya senjata. lalu dengan menggulingkan tubuh. ia angkat tubuh orang ke atasan tubuhnya snediri. denagn begini Kwee Ceng kembali kena dikepung berempat. ―Tidak tahu malu!‖ ia membentak. di bawah bukit. Kim Hoat lompat maju. paha kanannya kena dihajar. denagn tangan yang lainnya. untuk membantu saudaranya. Kwee Ceng ingat ia ada punya joan-pian atau cambuk lemas pembela dirinya.

tubuhnya terus mencelat. ia menjadi tergugu. tetapi mereka tidak berdaya. cepat luar biasa. mengetahui Jamukha lihay dan Sangum hanya mengandal kepintaran ayahnya. ―Inilah toasuheng kami. punggung Ceng Kong kena dijambak. tetapi Kwa Tin Ok dapat mendengarnya. ―Siapakah tuan berempat?‖ ―Kami adalah empat muridnya Kwie-bun Liong Ong. darimana pun terdengar seruannya bala bantuan.muridnya Kwie-bun Liong Ong. Sementara itu rombongannya Temuchin sudah sampai di bawah bukit. Tentu saja. Itu waktu terlihat debu mengulah naik. ia rubuh terjungkal dari kudanya. ―Tidak salah!‖ sahut Cu Cong tertawa. ia berkelit ke kiri. seorang bocah! Dialah muridku!‖ Gouw Ceng Liat membelar. terus dilemparkan ke bawah gunung! Tiga pengepung lainnya menjadi kaget. ―Bukankah di sini ada banyak orang Mongolia yang membantu padanya?‖ Cian Ceng Kong pun tanya Ma Ceng Hiong: ―Samsuheng. batang leher siapa ia tandalkan goloknya. ia menjadi mendongkol. maka tak ampun lagi. malah sebaliknya. ini buta dan pengkor sangat berlagak. maka terkejutlah mereka mengetahui empat orang itu adalah murid-. hingga tak tahu ia harus mengambil tindakan apa. ―Siapa bilang kami berempat mengepung satu orang?!‖ katanya. maka itu. karenanya. ia menunjuk ke kiri ke pasukannya Sangum itu seraya berseru: ―Mari menerjang ke sini!‖ Jebe berempat dengan Borchu. ―Benarlah kau adalah Hong Ho Su Koay! Kamu cukup ternama. kenapa kamu merendahkan diri begini rupa. Irawan D Soedradjat Page 156 . Syukur mereka tidak patah tangan dan kaki atau singkal batang lehernya. tentaranya menjadi kaget dan kalut sendirinya. mereka juga kena dilempar-lemparkan si Kelelawar Terbangkan Langit! Tentara Mongolia di atas bukit bersorak-sorai menyaksikan keempat saudara itu. dengan mengincar Sangum.‖ sahut si toasuheng. maka tidak ampun lagi. mereka maju untuk menolongi. Mukhali kaburkan kudanya denan ia peluki Tusaga.‖ berkata Tin Ok pula. satu demi satu. putra itu tak dapat berkutik. ―Pasti kamu berdusta!‖ bentak Tin Ok. siapakah dia?‖ Ceng Kong menanya perlahan sekali. hendak ia memegat. Juji dan Jagatai sudah lantas mendahulukan menerjang ke bawah. yang masih merasakan sakit pada tenggorokannya. Tibatiba ia menekan denagn tongkatnya. emapt orang bersaudara mengepung satu musuh. yaitu Hong Ho Su Koay. ia berteriak-teriak: ―Lekas buka jalan! Lekas buka jalan!‖ Sangum menyaksikan musuh menerobos turun. tidak urung pipi kanannya kena tertancap anak panah. tentaranya Sangum menjadi kecil hatinya. ia memanah. Sangum terperanjat. adakah kamu Kanglam Liok Koay?‖ ia tanya enam orang itu. aku Song-bun-hu Cian Ceng Kian!‖ ―Kedengarannya kamu tidak berdusta. ―Kwie-bun Liong Ong bernama besar. tanda dari datangnya beberapa ribu serdadu. menampak demikian. merayap bangun dengan muka penuh debu dan seluruh badan dan pinggangnya sakit bekas jatuh terbanting dan bergeluntungan. ―Liok-wie. sembari turut menerjang.Pendekar Pemanah Rajawali Si toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang menebali muka. malah Jebe sudah lantas saja turun tangan. Kwa Tin OK dan Cu Cong mulanya menyangka orang adalah orang-orang yang tak bernama. Toan-hun-to Sim Ceng Kong! Ini jiesuheng Tiwi-beng-chiop Gouw Ceng Liat! Ini samsuheng Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong! Dan aku sendiri. mana bisa murid-muridnya ada bangsa tak berguna seperti kamu!‖ ―Siapa berdusta!‖ berseru orang ynag dicekik Kwee Ceng tadi. Temuchin menampak datangnya bala bantuan. sebelah tangannya menyambar. mereka malu bertemu sama pangeran yang keenam. sebab mereka itu main keroyok. Ia tahu pihaknya tak berdaya tetapi mereka malu untuk lari turun gunung. atau ia lantas tampak putranya berada di bawah ancama maut.

Empat Siluman dari sungai Hong Ho. mereka melongo. serdadu kita sedikit. mereka jamu Wanyen Lieh dan Jamukha. ialah barisannya Tuli. yang mereka layani dengan hormat. tetapi terpaksa mereka berdiam saja. mereka tidak bercuriga.‖ menjelaskan Temuchin.Pendekar Pemanah Rajawali Temuchin ajak rombongannya kabur terus. akan tetapi mereka dirintangi panahnya Jebe dan Borchu beramai. Bukankah ia telah tidak dibunuh? Maka ia berjanji akan meyampaikan permohonan maaf dari Temuchin itu. ia tahu jumlah musuh terlebih besar. Kanglam Liok Koay turut mundur dengan Lam Hie Jin yang memondong Kwee Ceng. Malam itu Temuchin membuat pesta dengan semua panglima dan tentaranya diberi hadiah. Dengan mendadak ia perintahkan mereka itu kumpulkan tentara mereka. Di tengah jalan pulang.terangan. hanya ia telah didulukan Kanglam Liok Koay. Hong Ho Su Koay. Segera mereka bertindak maju dalam tiga pasukan. maka itu mereka lantas menggabungkan diri. rombongan ini bertemu sama bala bantuan. Tusaga terbinasa terinjak-injak kuda tentara. yang sembari menyingkir telah menoleh ke belekang dan sabansaban menyerang denagn panah mereka. Temuchin bertemu bersama Gochin. mereka itu lihat Tusaga diundang duduk bersama di meja pesta. mereka menyangka Temuchin jeri. itulah untuk membuatnya tidak bersiaga. Ada beberapa ratus musuh yang mengejar. dari itu debu menjadi mengulak besar dan musuh menyangkanya bala bantuan lawan ada berjumlah besar sekali. yang pun datang bersama sejumlah serdadu. tak dapat kita melawan dia dengan terang. Irawan D Soedradjat Page 157 . ―Kita mesti membokong padanya! Aku merdekana Tusaga dan mengirim bingkisan. Temuchin hanturkan tiga cawan arak kepada putra Sangum itu. Adalah tengah mereka berpesta malam ketika mendadak datang serangannya Temuchin. dan diperlakukan sebagai tamu agung. maka di dalam tendanya. dari itu. putra keempat Temuchin. Mereka menjadi kaxau. yang bisa menerobos kepunganm telah lindungi Wanyen Lieh kabur pulang ke Tiongtouw (Pakkhia). ―Aku tidak bermusuh dengan ayah Wang Khan dan saudaraku Sangum. Di sana mereka kemudian terbinasa di tangan bangsa Naiman dan Liauw Barat. ―Wang Khan banyak tentaranya. berbareng dengan itu ia mengirimkan dua buah kereta yang berisikan emas dan kulit tiauw. Hanya untuk herannya semua orang. Heran semua panglima itu. ―Sekarang juga kita menyerang Wang Khan!‖ demikian titahnya. Semua orang menjadi bertambah heran dan mendongkol menyaksikan Khan mereka yang besar menjadi demikian lemah dan jeri terhadap Wang Khan. Sesudah melalui beberapa lie. ia perintahkan semua serdadu mengikat cabang pohon diekor masing-masing kuda mereka. ―Maka itu aku persilahkan kau pulang untuk menyampaikan maafku. walaupun ia adalah satu pangeran.‖ Baharu semua panglima itu sadar.‖ ia berkata kepada putranya Sangum itu. Tiga hari sepulangnya Tusaga itu. Putri ini girang bukan main melihat ayahnya semua tidak kurang satu apa pun. ia datang dengan cuma bersama itu beberapa ribu serdadu anak-anak muda. kepala-kepala suku dan panglima-panglima Temuchin tidak suka dengar titahnya. Aku pun akan mengantar bingkisan kepada ayah dan saudara angkatku itu. Temuchin kumpulkan orang-orang peperangannya.‖ Tusaga girang bukan main. yang aku minta supaya tidak menjadi berkecil hati. Wang Khan dan Sangum dilain pihak girang melihat Tusaga pulang dengan selamat dan Temuchin pun mengirim bingkisan. Tapi ia cerdik. Wang Khan bersama Sangum kabur ke barat. Besok harinya Temuchin kirim sepuluh serdadunya mengiringi Tusaga pulang. yang hatinya mendongkol. tanpa berdaya mereka pada melarikan diri. Tuli masih muda. mereka jadi sangat mengagumi Khan mereka itu.

ia berseru: ―Serdadu pengiring pemberontak dan berkhianat kepada majikan! Apakah gunanya akan mengasih hidup kepada orang-orang tak berbudi begini?‖ Di depan Jamukha sendiri.‖ 158 ―Ada apa. mereka lantas memberi selamat kepada nyonya Kwee itu. Apabila mereka mendengar hal pertunangan itu. Boroul dan Chiluan serta Jebe. Empat pahlawannya yakni Mukhali. tetapi sebagai adik.‖ berkata ia kemudian. ia kata kepada Kwee Ceng: ―Anak yang baik. artinya Khan yang besar dan gagah bagaikan pengaruhnya lautan besar. dijadikan cian-hu-thio juga. mulutnya bungkam. Maka keget iamendengar hadiah Khan yang maha besar itu. ia perintahkan hukum mati pada kelima pengiring itu. Bukankah murid mereka sangat dihargai oleh Khan dan peruntungannya bagus sekali? Lie Peng berdiam sebentar. sehingga mereka itu menjadi heran. Di sini Jenghiz Khan membagi hadiah besar. Semua panglima bersorak. tak mau ia lekas-lekas melepaskannya. semasa kecil. tak ia pikirkan lainnya soal apa pula soal jodoh. tubuhnya terpaku. dia lari ke gunung Tannu. ―Kenapa enso menjalankan kehormatan besar ini? Harap enso lekas bangun!‖ . Kanglam Liok Koay lantas datang. bukan sebagai kekasih. ―Baiklah. ―Akan aku menghadiahkan kau kematian tak mengalirkan darah. Ketika itu namanya telah naik tinggi sekali. lalu tiba-tiba ia berlutut di depan enam manusia aneh itu. di sana selagi ia dahar daging kambing. atau Khan terbesar dari Mongolia. aku minta sudilah kau memberi kematian tak mengucurkan darah padaku. nanti aku kubur kau di tempat di mana dahulu hari. menggodainya. tetapi ia gusar. Si anak muda sebaliknya berdiam diam. diangkat menjadi cian-hu-thio.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha kehilangan tentaranya. dengan gelaran Jenghiz Khan. Tuli sangat kegirangan sehingga ia merangkul Kwee Ceng erat-erat. Kepada Jamukha. Ia menyukai Gochin. terus ia dibawa kepad Temuchin.‖ ia menyahuti. ia pun bingung. Hanya sekarang ada satu hal sulit untuk mana aku mohon pertimbangan dan keputusan suhu beramai. kita bermain bersama…‖ emukha memberi hormat sambil berlutut. maka rakyat dan orang peperangan dari pelbagai suku tak ada yang tak tunduk kepadanya. ―Meskipun saudara suka memberi ampun padaku. semua orang tertawa padanya. ia kata: ―Apakah tetap kita menjadi sahabt-sahabat kekal?‖ Jemukha mengucurkan air mata. Besoknya Temuchin mengadakan rapat besar di datar sungai Onon. Dalam pesta itu Jenghiz Khan minum banyak arak hadiah dari pelbagai panglimanya. ―Budi ini tak dapat aku balas walaupun tubuhku hancur lebur. Maka di dalam rapat besar itu ia telah diangkat menjadi Kha Khan. Jelmi dan Subotai. Borchu. Maka anehlah satu bocah umur belasan tahun. dia ditawan oleh tentara pengiringnya. Ia lagi mengutamakan ilmu silat. mereka girang. habis itu ia putar tubuhnya untuk bertindak keluar kemah. Temuchin terima orang tawanan itu. ―Aku serahkan Putri Gochin kepadamu!‖ berkata Jenghiz Khan. Liep Peng terdiam. semuanya menyunjungnya.‖ berkata nyonya ini. supaya rohku tidak mengikuti darahku dan meninggalkan tubuh ragaku…. akan tuturkan hadiah dari Jenghiz Khan itu. Mereka juga berseru-seru: ―Kimto Hu-ma! Kim-to Hu-ma! Bagus! Bagus!‖ ―Kim-to Hu-ma‖ itu berarti menantu raja golok emas. Irawan D Soedradjat Page ―Aku ada sangat bersyukur yang suhu beramai sudah didik anakku ini sehingga ia menjadi seorang yang berharga. aku sendiri tidak mempunyai muka akan hidup lebih lama pula di dalam dunia ini. yang ia awasi. ―Mulai besaok kau adalah Kim-to Hu-ma!‖. pangkatnya sama dengan satu pahlawan panglima yang berjasa. Kwee Ceng lantas cari ibunya. ―Saudara. Selagi ia tercengang. ―Coba undung gurumu semua!‖ titahnya kemudian.‖ Temuchin berdiam sekian lama. enso?‖ mereka tanya. aku akan menghadiahkan pula kepadamu sesuatu yang aku paling hargakan!‖ Kwee Ceng sudah lantas berlutut untuk menghanturkan terima kasihnya. soal asmara. semacam kapten dari seribu serdadu. Kwee Ceng yang dianggap jasanya paling istimewa. Setelah pesta bubar. lalu mereka memberi selamat kepada Kwee Ceng. dalam keadaan seperti itu.

‖ Cu Cong kasih keterangan. Kwee Ceng berangkat bersama guru-gurunya. kau pergilah!‖ Khan itu setuju. yang tidak mengerti ilmu enteng tubuh. ―Sekalian kau pulang nanti bawalah juga kepalanya Wanyen Lieh. Bagaimana nanti suamiku dan aku menemui paman Yo dan istrinya itu di dunia baka?‖ Mengdengar keterangan. melainkan pria. untuk membinasakan Wanyen Lieh. melainkan menambah berabe saja. untuk ambil selamat berpisah dari rohnya guru almarhum itu. sedang membawa pengiring-pengiring. ia pesan pula: ―Sekarang ini kuda kita belum terpelihara gemuk dan tentara kita belum terlatih sempurna. lalu terlihat Tuli datang bersama Gochin dengan dua saudara itu merendengi kuda mereka. setelah pamitan dati ibunya dengan keduanya mengucurkan air mata. Jenghis Khan lantas hadiahkan baba mantu itu uang emas tigapuluh tael. Tuli memberi bingkisan sepotong baju bulu tiauw yang mahal. Baharu mereka jalan sepuluh lie lebih. untuk mereka menguji kepandaian silat mereka. Lie Peng heran. di atasan kepala mereka terlihat dua ekor burung rajawali kepala putih terbang berputaran. sedang Kanglam Liok Koay dipersen barang-barang emas dan berharga bekas rampasan dari Wang Khan. berepa banyak pengiring yang kau butuhkan?‖ Bab 15. mana dapat ia menjadi hu-ma?‖ kata si nyonya kemudian. aku malu sekali. baharu Kwee Ceng nanti menikah dengan Gochin.‖ sahut Kwee Ceng. tak usah anak membawa pengiring. cuma kulit mukanya menjadi bersmu merah. Oey Yong ―Anak akan pergi bersama keenam guruku. Sepulangnya dari perjalanan itu. Kanglam Liok Koay tertawa. untuk memberitahukan tentang niat perjalanannya itu. Gochin datang menemui bakal suaminya itu. ―Bagus. Ia harap. Di hari ketiga. ―Sahabat itu pun mengharap kami mengajak anak Ceng ke sana untuk menemui putranya orang she Yo itu. kita belum dapat menandingi negara Kim. akan tetapi ia tidak dapat berbicara. Kwee Ceng menghadap Jenghiz Khan. Ia senang sekali dengan easn Khan ini. kendati kedudukan anakku mulia sekali. ―Bagaimana suhu ketahui itu?‖ menanya Lie Peng kaget. Irawan D Soedradjat Page 159 . yang sangat membenci bangsa Kimn itu. yang tunangkan anak-anak mereka sebelum anak-anak itu lahir. Lalu tujuan mereka adalah selatan. ―Maka itu.Pendekar Pemanah Rajawali Lie Peng tuturkan keputusan suaminya almarhum dengan Yo Tiat Sim. Ia setuju anaknya itu diajak pergi. guna menuntut balas. ia mengawasi mereka itu. maka itu kau harus bekerja baik-baik supaya kau tidak meninggalkan bekas-bekas!‖ Kwee Ceng memberikan janjinya. Memang semenjak kecil ia telah diempos ibunya. Jenhiz Khan menerima baik. sekalian anaknya itu mencari Toan Thian Thek.‖ Mendengar itu. Lie Peng sangat girang. untuk ongkos di jalan. ―Kalau aku menyangkal janji ini. Lebih dahulu mereka sambangi kuburannya Thio A Seng.‖ menerangkan Cu Cong lebih jauh. ―Seoarng sahabat di Tionggoan mengabarkan kami dengan sepucuk surat. Ia anggap dengan pergi bersama guru-gurunya. Setelah mendapat keputusan. putra keenam raja Kim! Untuk melakukan pekerjaan besar itu. yang pun adalah barang rampasan dari Wang Khan. ―Orang she Yo itu benar telah memperoleh keturunan tetapi bukannya perempuan. ia tentu bakal berhasil.

terang mereka itu mengerti silmu silat.Pendekar Pemanah Rajawali ―Adikku. inilah keringat!‖ serunya. ―Ada keringat merah?‖ Irawan D Soedradjat Page 160 . Adalah satu kawannya menjadi tidak senang. terus mereka bertindak ke dalam rumah makan itu. Sabuk itu menjadi merah seluruhnya. Saking masgul. Setibanya di depan restauran. sekarang ia mulai tiba di Tionggoan. Selang beberapa lama. kupingnya bocah ini mendengar mengalunnya kelenengan unta. dan semuanya pun beroman tampan. tak jauh lagi dari Kalgan. keempat penunggang unta itu lompat turun dari punggung masing-masing untanya.. kau bicaralah dengannya. Syukur unttuknya. ―Ini bukannya darah. penuh dengan darah. maka berulangkali ia menoleh dan menoleh pula. ia menjadi mengawasi. Kwee Ceng menoleh. akan mengawasi ke jalan besar darimana tadi ia datang. lekas-lekas ia melengos. Hampir ia mengucurkan air mata saking menyesal sudah menyiksa kudanya itu. Satu pemuda melihat Kwee Ceng mengawasi padanya. habis itu mereka tertawa riuh. Ia lantas dengar mereka itu berbicara satu pada lain. Kwee Ceng lantas merasakan suasana bertukar. sebaliknya. tentu orang tengah menertawainya. Ia pun menjadi tertarik dan heran akan mendapatkan keempat penunggangnya semua masih muda-muda. malam singgah. Belum pernah ia melintas dari gurun. tidak ada tanda-tandanya terluka. ia gencet perut kudanya. Kwee Ceng merasa kasihan melihat kudanya yang kecil itu lari demikian keras hingga bermandikan keringat. Pada suatu hari hampir tiba di Hek Sui Ho. di leher mereka itu terlihat bulu rase. Han Po Kie. setelah mana. Segera juga mereka melintasi tanah datar gurun pasir. Tidakkah kuda itu bercelaka diluar keinginannya? Maka ia rangkul leher kuda itu. barulah ia pesan: ―Kau mesti lekasan pulang…. Ia dekati kuda Kwee Ceng. bukan sebagai satu tunangan. membikin kudanya itu lari pesat. keenam gurunya ajak dia menuju ke timur selatan. lalu tiba-tiba ia tertawa lebar. Ia malu sendirinya. Lalu ia pun saling rangkul dengan Tuli itu. Gochin melongo. tangannya itu juga menjadi merah. untuk terus beritahukan hal kudanya mengeluarkan keringat darah. ia raba punduknya kuda itu. ia ambil sabuk dengan apa ia menyusuti. aku tak akan mendengarinya!‖ berkata Tuli sambil tertawa. mungkin baru berumur duapuluh dua atau duapuluh tiga tahun. Dari gerak-geriknya mereka itu. ia lihat mendatanginya empat ekor unta bulu putih. lekaslekas ia tunduk. Tempo ia meraba kudanya dengan tangannya. ia dapatkan pemandangan mata yang lain. Disamping pakaian mereka yang putih. Tanpa merasa. wajahnya pun bersemua dadu. Kwee Ceng terperanjat. yang penunggangnya pun berpakaian serba putih putih . hatinya menjadi tawar. Ia lari kepada gurunya itu. ―Ada pesan lagi?‖ ia menanya. ia masih belum dapat bicara. Gochin menoleh. Kwee Ceng sendiri berjalan terus. supaya guru itu suka tolong mengobati kudanya itu. Ia mengawasi sekian lama. Belum pernah Kwee ceng melihat unta-unta yang begitu bagus. Masih enam guru itu tak nampak. yang sudah berjalan jauh juga. habis mana ia larikan kudanya guna menyusul keenam gurunya. Tiba-tiba saja ia menjadi kaget. Apabila ia mengawasi. Mereka itu pria semua. entah apa yang mereka bicarakan itu. ia hajar kudanya hingga binatang itu lari berjimpratan. Ia sempat berpikir untuk menukar tempat singgahnya. Kwee Ceng dekati itu putri. untuk menghibur. terus ia bawa kepada Tuli. untuk menjauhkan diri. Kwee Ceng tercengang. Ia dapatkan sikap Kwee Ceng sama seperti biasa. Kuda itu sebaliknya nampak segar bugar. ia bawa tangannya yang berlepotan darah itu ke arah matahari. ―Eh. disebuah rumah makan di tepi jalanan. terus ia larikan kudanya. ia pondong tubuhnya. Maka lekas sekali tibalah ia di Hek Sui o. Ia mengharap-harap segera tibanya gurunya yang ketiga.‖ Kwee Ceng mengangguk. ia menjadi likat. ―Begitu?‖ tanya guru itu heran. yang ketinggalan jauh. ―Keringat?‖ ia menanya. bocah kau awasi apa?‖ ia menegur. ia dapatkan tibanya Han Po Kie. Ia tidak melihat guru-gurunya. siang jalan. Gochin menggelengkan kepalanya.

‘ Utusan Han itu menjadi gusar. Dan mereka dua rombongan lantas duduk bersama-sama. Lie Kong kalah oerang. keempat pemuda serba putih itu juga memperhatikan cerita itu.‖ Kwee Ceng berseru heran. terus ia pulang. almarhum.‖ kata Cu Cong. dia mesti dihukum mati! Lie Kong menjadi serba salah. Tentu itu baru cerita saja. bahwa kuda itu keras larinya. takukha kau darimana asalnya po-ma?‖ ―Menurut keterangan guruku. Untuk itu.Pada suatu malam hari musim semi. sebesar kuda biasa. Kaisar Han Bu Tee.‖ tanya Cu Cong sehabis ia minum pula tehnya. Kaisar menjadi kagum. darisana ia meminta rajanya mengirim pula bala bantuan. terus ia kirim utusan membawa emas seribu kati serta seekor kuda-kudaan emas. mereka lepas satu ekor kuda betina yang berwarna lima di kaki gunung. ―Kemudian bagaimana?‖ tanya murid itu. Tapi orang Ferghana telah mendapat satu akal bagus. Cu Cong menghirup air tehnya. hanya dengan bersemangat ia kata. kenapa dia mengeluarkan keringat bagaikan darah?‖ ia menegasi. ―Dulu pernah aku dengar keterangannya guruku. ―Menurut kitab. hingga orang liar tidak dapat mengejarnya. jadi kuda itu tidak dapat dihadiahkan kepada bangsa Han. ketika kemudian kuda biang itu mendapat anak. ―Kau ahli pemelihara kuda. Utusan itu diberi tugas dan kekuasaan: Panglima atau serdadu mana saja yang pergi berperang benani memasuki kota Gak-bun-kwan itu. ke Barat itu. ―Shatee. anak kuda itu ialah po-ma tersebut. pasukan tentara itu tinggal hanya tiga bahagian.‖ sahut Po Kie. Ia bergirang sebab kudanya tidak terluka. Mereka itu muda dan tampan dan pakaiannya serba putih seprti rombongan yang pertama. ―Mana mau dia sudah begitu saja. ―Turut katanya guruku itu. Cu Cong adalah seorang sastrawan. dia kawin dengan kuda pancingan itu. ia terpaksa mundur ke Tun-hong. po-ma terlahir dari perkawinan kuda rumahan dengan kuda liar!‖ sahut Po Kie. lalu tertampak datangnya lagi empat penunggang unta seperti empat yang pertama itu. Tapi Ferghana adalah negera gurun pasir. ia luas pengetahuannya. Ia heran akan mendengar halnya hanhiat po-ma. terus dibunuh. apa dia mau sudah saja?‖ menanya Han Siauw Eng. dia perintah menawan utusan itu. ia hajar rusak kuda emas itu. Kwee Ceng heran. rombongannya Tin Ok tiba. mengumbar tabiatnya. yaitu di daerah Ferghana. Melihat mereka itu. yang dapat lari seperti terbang. selama perjalanan banyak tentara terbinasa. punduk kuda itu mengeluarkan keringat merah seperti darah. ia memberitahukannya kepada rajanya. tak ada rangsum dan air disana. ialah kuda istimewa dengan keringat seperti darah. ia kirim utusan membawa pedang.‖ Ketika itu terdengar pula kelenengan unta. Kuda liar itu kena terpincuk. belum pernah ada yang melihat buktinya. ―Suhu.‖ Selagi guru dan murid ini berbicara. untuk dipakai menukar dengan kuda istimewa itu. yang masuk ke dalam restauran. ―Anak Ceng. di tanah barat. kau telah dapatkan han-hiat po-ma. ingin ia mempunyai kuda itu. Raja Ferghana menolak permintaan itu. Dipihak lain. Lie Kong diangkat menjadi jenderal istimewa. ―Benar!‖ berkata Cu Cong. mungkin sekali kudamu itu adalah keturunan dari kuda Ferghana itu. Irawan D Soedradjat Page 161 . Raja Ferghan pun gusar. satu hari dapat menempuh jarak seribu lie. ―Tentang itu ada ditulis jelas dalam Kitab Hikayat dan Kitab Jaman Han. Raja gusar. terpaksa ia menunda di Tun-hong itu. ada kedapatan sebangsa kuda liar biasa.Pendekar Pemanah Rajawali Po Kie tidak sahuti muridnya itu. yang untuk seribu tahun sukar didapatkan!‖ Kwee Ceng heran dan girang. ―Ketika dahulu hari itu bangsawan Pok-bong-houw Thio Kian diutus ke Tanah Barat. yang tertarik denagn cerita kakak angkatnya itu. sebelum mencapai tempat tujuan. ―Dia lantas perintah Jenderal Lie Kong mengepalai beberapa laksa serdadu pergi ke Ferghana untk mendapatkan kuda itu. di Ferghana dia telah melihat seekor kuda hanhiat po-ma itu. ―Bagaimana dengan Kaisar Han Bu Tee itu. sekembalinya ke negerinya. Mereka lantas beritahukan tentang kuda berkeringat merah itu. emas dan kuda emas itu dirampas. yang disebut kuda langit. untuk menjaga.‖ berkata Cu Cong. Anak Ceng. ke kota Gak-bun-kwan. dia mengatakannya: ‗Kuda itu adalah kuda pusaka negara Ferghana. di negara Ferghana itu ada sebuah gunung di dalam mana kedapatan sebangsa kuda liar.

Hu Thian Pian-hk Kwa Tin Ok menjadi heran sekali. delapan pemuda itu mengawasi kudanya Kwee Ceng.‖ berkata seorang pula. Ia pernah dengar namanya Leng Tie siangkin.tentunya dia menjadi semakin terang mukanya! Pasti seklai Som Sian lao Koay dari Tiang Pek San dan Leng Tie Sianjin jago Bit Cong Pay dari Tibet tak dapat menangkan keagungannya…!‖ Tin Ok berpikir. Maka ia berpikir. kalau kau hidup di jaman Kaisar Han Bu Tee. ―Mereka berdelapan wanita semuanya. Untuk lebih daripada empatpuluh hari. kepala raja diserahkan. maka selang beberapa turunan. Dialah kepala penjahat paling berpengaruh untuk wilayah Hopak dan Shoasay. mereka kasak-kusuk tetapi kupingnya Kwa Tin Ok lihay. ia sengaja berpaling ke luar rumah makan. rajanya dibunuh. Mereka mohon menakluk. agaknya mereka sangat tertarik. Lioktee. untuk seekor kuda po-ma itu. ia kurung dan serang kota musuh. dia bisa memangku pangkat! Ha ha ha!‖ ―Dan baba-baba mantu itu. tugasnya ialah nanti sesudah Ferghana dipukul pecah mereka mesti memilih kuda jempolan. mereka berontak. Dengan kalah perang. pamong praja rendah. yang dijadikan serdadu. ―Siapa miskin dan tak punya sanderan. mana kita dapat kebagian?‖ Irawan D Soedradjat Page 162 Tentang Peng Lian Houw ini Tin Ok ketahui dengan baik. ―Pembunuh Ribuan Jiwa‖. Delapan pemuda itu duduk jauh-jauh. maka kalau mereka dapat lihat kuda ini. Lie Kong pulang dengan kemenangan besar. Maka ia mengerahkan pula lebih daripada duapuluh laksa serdadu. kita bunuh saja semua!‖ kata seorang lagi. entah berapa banyak jiwa sudha melayang. Merek aitu tentu hendak berkumpul juga di kota raja. tetapi tak tahu ia perihal Som Sian Lao Koay. Masih ia khawatir tentaranya itu belum cukup. maka juga dia dapat gelarannya itu.‖ Mendengar cerita itu. siapakah mereka?‖ . kita menghadiahkannya kepada San-cu. ―Satu kali kita sudah naik atas punggung kuda itu. siapa kesudian dipungut mantu?‖ Cu Cong menjawab. ―Orang lihay itu pergi ke kota raja. mereka hendak bikin apa di sana? Delapan wanita ini. mengapa mereka jadi begini galak dann telengas?‖ tanya ia dalam hatinya. ―Kali ini Lie Kong memimpin angkatan perang yang besar itu. ―Dengan menungggang kuda ini. ―Setelah mendapatkan kuda jempolan ini. setahu berapa banyak uang sudah dikorbankan. Kaisar Bu Han Tee sudah kerahkan kekuatan seluruh negeri untuk mendapatkan beberapa ekor kuda itu tapi kemudian ia tidak mendapatkan kuda liar. ia khawatir bangsa lain memendang enteng bangsa Han. yang dianggap melainkan naga yang pantas menjadi kawannya…. siapa dapat mengubarnya?‖ ―Tapi disini ada banyak orang lain dan ia pun ada kawan-kawannya…‖ kata seorang yang lain. Cu Cong berkata pula: ―Kuda langit menjadi kuda jempolan sebab perkawinannya dengan kuda liar. Orang-orang peperangan yang lainnya pun turut kenaikan pangkat. kerajaan Han itu mengutamakan tani dan sebaliknya memandang enteng bangsa saudagar. dengan begitu delapan pemuda itu menjdai tidak bercuriga.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong melanjuti ceritanya: ―Kaisar Han Bu Tee tidak puas. ialah satu menjadi Kie-ma Kawm-oet. ―Kalau kita hendak rampas kuda itu. Pula dua ahli kuda diberi pangkat tinggi. sebaliknya dengan shatee. Mereka pun serahkan kuda yang diperebuti itu. apeslah kau. dia di anugrahkan menjadi bangsawan Hay-see-houw. mereka melanjuti memasang omong sambil dahar mie. ―Jikalau kawannya berani membantui. Kaisar mengadakan satu pesta besart. ―Dalam beberapa hari ini di tengah jalan kita menemui tak sedikit sahabat dari Jalan Hitam. cukup dengan satu kali turun tangan. Ia berdiam saja. Banyak panglima musuh terbinasa. yang lainnya menjadi Cit-ma Kauw-oet. ia siapkan serbau.‖ berkata seorang muda yang lainnya lagi. kuda dan rangsum tak terhingga banyaknya. ―Katanya mereka adalah bawahannya Cian-ciu jin-touw Peng Lian Houw. apakah salahnya mereka?‖ Siauw Eng menanya. ia menambah dengan semua orang hukuman. ia merasa malu. semua kuda itu tak lagi menjadi po-ma dan keringatnya pun tidak merah…‖ Habis Cu Cong bercerita. baba-baba mantu dan kaum pedagang. ia dapat mendengar jelas pembicaraan mereka. yang pun sangat kejam. ia perintah mengarang syair untuk memuji kuda langit itu.‖ berakta satu pemuda. raja sangat girang. hingga negera menjadi gempar. Ia terus memasang kupingnya. seorang paderi kenamaan dari Tibet itu. Akhirnya kaum ningrat Ferghana menjadi ketakutkan. San-cu pergi ke kota raja.

jangan seperti Hong Ho Su Koay yang sial dankalan itu. Ada yang kata ―San-cu paling sukai kamu!‖ Ada yang membilang. yang kembali ke urusan kuda. dia tentu mengerti ilmu silat. mereka itu tertawa. maka itu haruslah kita waspada. yang Tin Ok mengatakannya pemudi-pemudi. ―Sungguh pesat sekali tersiarnya kabaran dalam dunia kangouw!‖ katanya. coba kau terka. akan tetapi mendengar disebutnya Hong Ho Su Koay – Empat Siluman dari sungai Hong Ho. hati-hatilah!‖ seorang memperingati. Hong Ho Su Koay adalah murid-murid paling disayangi oleh Kwie-bun Liong Ong. ia percaya orang yang dipanggil ―San-cu‖ itu atau ―majikan gunung‖ mestilah bukan orang baik-baik. ia tanya adiknya yang kedua: ―Jietee. ia mendongkol. Seorang berkata pula: ―Menurut katanya San-cu. yang berarti Gunung Unta Putih. guna menakluki orang kosen. jangan kau mencari muka dari San-cu dan hendak mati-matian mencarikan nona manis untuknya…!‖ memperingati satu kawan. ―Diwaktu begini tentulah San-cu lagi menantikanmu!‖ maka ia menjadi mengerutkan keningnya. lalu berkasakkusuk tentang asmara. Yang lain-lain lantas tertawa geli. karena tubuhnya Hong Ho Su Koay itu masing-masing meninggalkan beberapa bekas cengkeraman…‖ ―Maka hati-hatilah kau!‖ tertawa satu kawannya. Habis dahar mie. ―Kalau kita menghadiahkan kuda ini kepada San-cu. supaya orang-orang kosen di kolong langit ini ketahui kegagahan kita dari Pek To San. ―Hanyalah tidak tepat untuk menyiarkan berita anak ceng mengerti Kiu-im Pek-kut Jiauw. Maka lagi sekali. delapan pemuda itu. San-vu bakal menghadiahkan apa kepada kita?‖ berkata satu orang. ―Kira-kira. bagaimana kau lihat kepandaiannya delapan wanita itu?‖ Irawan D Soedradjat Page 163 . ―Dia juga cnatik sekali. maka tidaklah kecewa didikan mereka selama sepuluh tahun lebih ini. ―Supaya kau jangan sampai kena dijambak bocah itu!‖ ―Cis!‖ sang kawan berludah. Habis mengambil keputusan. ada dari partai mana.‖ berkata pula seorang yang lain. untuk di Liongsee dan Tiong-ciu.Pendekar Pemanah Rajawali Mendengar terlebih jauh. yang menyebabkan orang tertawa hingga giginya copot!‖ Tin Ok tidak tahu Pek To San itu. Yang seorang tertawa dan berkata: ― Pasti San-cu menghendaki kau menemani ia tidur untuk beberapa malam…! ―Kurang ajar!‖ membentak kawan yang digoda itu dan hendak mencubit. guna memegat di tengah jalan. Merek ahendak pergi lebih dulu. ia tidak menyahuti. ia menajdi sebal…. delapan pemuda itu berlalu dengan cepat bersama untanya. mereka pun bergurau. ―Kita harus berhati-hati. ia teringat kepada mereka yang mengeroyok Kwee Ceng. namanya sangat kesohor. baharulah heran anadikata San-cu melihat dia dan tidak menjadi kerindu-rinduan…‖ Tin Ok tahu Siauw Eng yang menjadi bulan-bulanan. ―Jangan kita membocorkan rahasia sendiri…!‖ ―Wanita itu membawa pedang. Tin Ok mendapat kepastian mereka itu hendak merampas kudanya Kwee Ceng. coba dia lebih muda sepuluh tahun. ―Kali ini kita datang ke Tionggoan untuk mengangkat nama. Mendengar pembicaraan itu. Ilmu itu mana dapat dikuasai tanpa penyakinan belasan tahun? Anak umur belasan tahun mana mempunyakan semacam ilmu silat itu?‖ Diam-diam Tin Ok puas yang murid mereka dapat mengalahkan Hong Ho Su Koay. Orang itu tertawa. Tin Ok mendongkol berbareng merasa lucu. maka itu adalah sangat aneh yang mereka kabarnya roboh ditangannya satu bocah umur belasan tahun…‖ Satu kawannya menyahuti: ―Ada orang bilang bocah itu pandai ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw.‖ kata satu orang. Tin Ok tunggu sampai orang sudah pergi jauh. ―Awas.

Pendekar Pemanah Rajawali ―Wanita?‖ Cu Cong mengulangi dengan heran sebelum ia menjawab. tidak dapat kita main ayal-ayalan. Kau mempunyai urusan penting. Siauw Eng lantas membujuki: ―Kau pergi lebih dahulu di sana menunggui kita.‖ ―Umpama benar mereka main gila. satu atau dua tentulah dapat tiba untuk mengurus kamu. tidak nanti dapat mereka menyusul. muridnya ini ngotot hingga ia membahayakan diri sendiri. Besar nyali mereka berani berniat menggempur gunung Tay San…. untuk mendahului mareka. di luar gunung ada gunung lainnya lebih tinggi. sebab pengalaman tak dapat diajari. ―Orang begini besar masih bersifat kebocahan!‖ Tin Ok menegur. Liok Koay berlega melepaskan muridnya ini. tidak dapat kau menjagoi sendiri di kolong langit. Kudamu keras larinya. untuk mencari pengalaman. Mungkin ada gerakan rahasia apa-apa. ―Yang penting ialah pembilangan bahwa ada banyak orang gagah hendak berkumpul di kota raja. kami akan menyusul. paling belakang pesan Hie Jin singkat saja: ―Jikalau tidak ungkulan. Kwee Ceng lantas memberi hormat kepada keenam gurunya.‖ sahut Cu Cong setelah berpikir sejenak. melayani Empat Siluman dari Hong Ho. itu mesti diperoleh sendiri. ―Oh. mirip mengerti ilmu silat. Ia utarakan perasaannya itu.‖ berkata Coan Kim Hoat. Dia tetap menyebut diri Cit Koay meskipun sudah belasan tahun semenjak meninggalnya Thio A Seng. ―Habis?‖ sang kakak membalasi. Tin Ok lantas tuturkan apa yang ia dengar barusan. mereka itu merasa sulit juga. ―Tidak. Jangan kau khawatir. Tidak menggembirakan untuk ia berjalan seorang diri.‖ Irawan D Soedradjat Page 164 . Lam Hie Jin mengangguk. ―Kalau begitu. ―Delapan wanita itu hendak merampas kudamu. rupanya seperi tidak mengerti…‖ ―Apakah pernah kau dengar tentang Pek To San?‖ Tin Ok tanya pula.‖ Mendengar itu Kwee Ceng merasa puas. biarpun kau sangat lihay. Memang perlu murid ini membuat perjalanan sendiri. ―Benar. hingga sekarang mereka tinggal berenam (Liok Koay). Umpama di harian pibu kita tidak dapat kumpul semua berenam. Maka ingatlah pesa gurumu yang keempat ini. Mereka itu berdiam.‖ Tin Ok pesan. menyingkir!‖ Pesan ini diberikan sebab ia melihat. Habis bersantap. Kanglam Cit Koay tidak nanti lepaskan mereka!‖ berkata Han Po Kie.‖ Dengan terpaksa Kwee Ceng memberikan persetujuannya. Tak sampai satu bulan. ―Pergi kau ambil jalan kecil.‖ Tin Ok berkata pula.‖ Coan Kim Hoat memperingati. jagalah supaya kau jangan terganggu urusan sampingan. Itulah tandanya ia tidak bisa melupakan saudara angkatnya itu. ―Perkara kecil niat mereka merampas kuda ana Ceng. Cu Cong semua tertawa. ―Nampaknya mereka luar biasa. ―Biar anak Ceng berjalan seorang diri. untuk mengucapak selamat jalan.‖ ―Tetapi janji pibu di Kee-hin bakal tiba harinya. biarlah anak Ceng berangkat lebih dahulu!‖ Lam Hie Jin menyarankan. ―Ilmu silat tidak ada batasnya. di sebelah orang ada lagi lain orang yang terlebih pandai. ―Memang. ―Apakah sieko maksudkan biar anak Ceng pergi seorang diri ke Kee-hin? Kita menyusul dia sesudah kita menyelidiki warta perihal orang-orang gagah yang berkumpul di kota raja?‖ Siauw Eng menegaskan.‖ Cu Cong menyatakan setuju. Aku pikir tak dapat kita membiarkannya saja. perlu kita mencari tahu. Mereka itu pada memesan. mereka menyamar demikian sempurna!‖ berkata Cu Cong. yang kelihatan sudah dapat diandalkan menyaksikan perlawanannya terhadap Hong Ho Su Koay.

ia sudah menghadapi jalan cabang dua. Ia tarik les kudanya. di sebuah tikungan. Di situ terutama terdapat banyak kulit dan bulu binatang. Ia mau berlaku hati-hati. Sekira tujuh atau delapan lie. ada pepehonan kecil yang liar. ia lihat menyambarnya dua rupa barang berkilauan. banyak kolar dan pasirnya. ia percaya ketiga nona tadi tidak bakal dapat candak dia. Jalanan ini lebih jauh. Bicara dulu atau menerjang saja? ―Kudamu bagus. ia menyambuti dengan kopiahnya. Ia minta sepring daging kerbau dan dua kati mie. ―Awas! Buka jalan!‖ ia berseru seraya ia hunus pedangnya. Kwee Ceng tiba di jalanan pegunungan yang sulit dan berbahaya. Kebetulan tiba di depan restoran. ia berjalan seraya menuntun binatang ini. kedua kakinya menjepit. Ia hanya dapat lihat.‖ pikir si anak muda denagn mendongkol. yang ia lekas cabut. Seorang diri ia dahar dengan bernafsu. Dengan ini cara. kudanya berbenger. ia khawatir senjata rahasia itu ada racunnya. ia kasih kudanya kaget. Kwee Ceng sendiri tidak tak terkecuali. ia sudah dengar bentakan ketiga nona itu. untuk pengalamannya ini yang luar biasa. akan pilih tempat duduk. ―Numpag jalan!‖ ia lantas berkata. perdagangannya ramai. dia pasti akan damprat aku…‖ pikirnya. memakai tangannya. ia seperti hendak menerjang ketiga orang itu. tak dapat ia tempur mereka itu. suaranya nyaring. pemuda ini larikan pula kudanya. Di tempat begitu. Maka ia lantas ambil keputusan. Belum sempat ia menoleh ke belakang. ―Kalau sam-suhu melihat sikapku nini. Jalanan pun sukar. Mereka itu melintag di tengah jalan. ia masuk ke dalam. maka ia tambat kudanya di luar. ―Adik kecil. Tidak sampai satu jam. Ketiga nona itu tertawa tergelak. ia sudah melalui seratus lie lebih. I apun meraba ganggang pedangnya. terus ia jalan pula. dari utara ke selatan. Satu nona lompat turun dari untanya. Irawan D Soedradjat Page 165 . iamaju seraya ulur tangannya. hatinya pun tercekat. tak sudi iamelayani.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng mengangguk. Kwee Ceng periksa kopiahnya. lompat lewati tiga nona itu! Ketiga nona itu terkejut. yang datangnya dari tempat lain tempat. gin-so bertabur emas yang merupakan unta-unta kecil. ―Bukankah kita tidak kenal satu sama lain dan tidak bermusuhan?‖ Tapi ia tidak mau membalas. Nyata dua senjata rahasia itu adalah gin-so atau torak terbuat dari perak yang indah. ia lantas ambil jalan kecil. ―Kamu telengas hendak mengambil jiwaku. Ia hanya tidak pakai sumpit. lantas ia menuju ke selatan. Ia hanya khawatir nanti ada yang memegat pula. Ia singgah sebentar. Belum ada dua lie. ia turut kebiasaan orang Mongolia. takut apa?‖ kata satu diantaranya. maksudnya hendak menyambar les kuda. Di sini Kwee Ceng turun dari kudanya. belum sore. Ia turuti pesan Tin Ok. Tentu saja tak puas Kwee Ceng diperlakukan demikian. Kwee Ceng terkejut. mau tidak mau. gin-so itu ia masuki dalam sakunya. di sini sangat sedikit orang berlalu lintas. Pesat lari kudanya. ia merasa lapar. sebab ia duga jarak mereka kedua pihak ada jarak seperjalanan tiga hari……. Dari jauh-jauh. Ia mengawasi jalanan yang sempit itu. ―Bagus!‖ memuji dua nona. Ia mengasih dengar nada lagi bicara sama anak kecil. tepat waktu ia menoleh. Sampai disitu. ujungnya tajam. mari kasih aku lihat!‖ kata satu nona lain. ia sudah tiba di Kalgan. Ia bersangsi. sebab kecil dan berliku-liku. Ia payku kepada enam gurunya itu. Selagi jalan terus. Untungnya untuk dia. terus berlompat tinggi. ―Lewat saja! Kami pun tidak nanti gegares padamu!‖ Kwee Ceng jengah. ia berlaku hati-hati. Di depan ada tiga nona dengan pakaian serba putih. sebentar saja ia sudah datang dekat. penduduknya padat. Belum pernah ia melihat kota seramai ini. untuk lari dengan tiba-tiba. Kalgan adalah kota hidup untuk perhubungan antara selatan dan utara. Tapi Kwee Ceng membentak. saking heran atas lihaynya kuda itu. ketiganya bercokol di atas punggung unta. jalanan sempit dan banyakl batu besarnya. ia menunggang kuda dan kudanya pun dapat lari pesat. untuk tahan kuda itu. matanya menoleh ke kiri dan ke kanan. tajam juga kedua pinggirannya. ia tahan kudanya. mukanya dirasai panas. Ia tidak menaruh perhatian ketika ia dengar dua ekor burung dara terbang lewat di atas kepalanya.

―Aku sendirian tidak gembira. Yang membikin banyak berisik adalah dua jongos terhadap satu pemuda ynag tubuhnya kurus dan pakaiannya butut. Jongos itu melayani dengan ogah-ogahan. ―Pasti!‖ sahut Kwee Ceng tanpa berpikir lagi. ini aku bagi kau!‖ berkata ia. dan ia biasa dengar ibunya bicara? Ia malah girang mendengar lagu suara orang sekampung. ―Sayang…sayang…‖ kata satu jongos. Ser! kepalannya melayang. hawa udara dingin. dan pemuda ini tidak memakai sepatu. Pemuda itu menghampiri. Tentu saja kue itu tak laku dijual.‖ lanjutnya lagi. ―Bakpauw yang lezat dikasihi ke anjing…. rata. menubruk dengan kegirangan. ia balik ke mejanya untuk melanjuti bersantap. pergi ya pergi…‖ kata pemuda itu seraya ia putar tubuhnya. aku memang lagi mencari kawan. Di tangannya ia mencekal sepotong bakpauw. tetapi ia diam saja. hingga tidak terlihat tegas wajahnya. hingga gigi bagus itu tak sembabat sama dandannya yang compang-camping itu.‖ Ia bicara dengan lidah Selatan. yang ia lihat lagak lagunya. ia tahu orang tentu sudah lapar. ―Makhluk yang harus dikasihani. Pemuda itu mengawasi Kwee Ceng. meski kau menyuguhkan makananmu yang paing jempol. lebih dulu kau sediakan empat rupa buah kering dan empat rupa buah segar. Pemuda itu menyambuti. ―Tidak peduli aku dahar berapa banyak. Di utara. Ia mengawasi kedua jongos dengan tertawa. ia mengawasi ana muda kita Kwee Ceng lihat kelakuan orang. bagiku itu rasanya masih kurang cocok. Pemuda itu berumur lima atau enambelas tahun. kau tidak punya uang untuk membayarnya!‖ Dengan sengaja ia menyebut ―lojinkee‖ atau orang tua yang dihormati.Pendekar Pemanah Rajawali Tengha bersantap. pasti kami dapat membuatnya! Hanya aku khawatir. Ia dapatkan kudanya sedang makan rumput dengan tenang. habis kau dahar. untuk menyindir. Kwee Ceng menjadi kasihan. meminta tambahan makanan.‖ Ia jumput bakpauw itu. Pemuda itu letaki bakpauw itu yang tapinya sekarang tertanda tapak tangan. hingga terlihat dua baris giginya yang putih. Ia menoleh kepada si jongos. Ia menoleh pula kepada si anak muda: ―Kita minum arak atau tidak?‖ ia tanya. akan memerintahkan: ―Potongi aku sekati daging kerbau serta setengah kati hati daging kambing!‖ Ia telah hidup terlalu lama di Mongolia hingga tahunya. seekor anjing kecil. Jongos itu menjadi gusar. ―Aku khawatir. pemuda itu mendak. ia menjadi malu hati. untuk duduk bersama. Pemuda itu mengikuti ke dalam. ia dengar suara kerisik di luar rumah makan. ―Apakah kau sangka aku melarat dan jadinya tak pantas aku dahar barang makananmu?‖ si pemuda tegur jongos itu. ia sodorkan kepada si pemuda. ―Coba lojinkee menyebutkannya. sebab ia lihat pakaian orang yang butut dan kotor itu. dua yang manis bermadu. ―Kenapa kau tidak mau lantas pergi?!‖ ―Baiklah. Bukankah ibunya berasal dari Lim-an. untuk melongok keluar. hitam dan kotor. ―Baik!‖ tertawa pula pemuda itu. Anjing itu. kepalanya ditutup dengan kopiah kulit yang sudah pecah dan hitam dekil. Kwee Ceng mengerti omongan orang. ―Aku yang membayar uangnya. mukanya pun hitam mehongan. kepalan lewat diatasan kepalanya. ―Jangan!‖ ia cegah si jongos. lepas bakpauw itu!‖ menitah jongos yang satunya. Kwee ceng teriaki jongos. maukah kau yang mentraktir?‖ tanyanya. Ia lantas ingat kepada kudanya.‖ Irawan D Soedradjat Page 166 . ―Mau apa lagi?!‖ menegur satu jongos. Ia lantas kata pada jongos: ―Eh. terus ia gegares bakpauw itu. ―Kita jangan repoti mendahar daging.‖ Kwee Ceng pun heran. ―Eh. Dan ia lemparkan itu kepada seekor anjing buduk di depan pintu. Cit-kang. baik kita makan bebuahan dulu!‖ menyahuti si anak muda. ―Mari dahar bersama!‖ ia mengundang. kawan. sekalipun di musim semi. ―Apa?!‖ sahut jongos itu tawar. ia lompat bangun. makanan yang paling lezat di kolong langit ini adalah daging kerbau dan kambing. dua yang asam manis. Teranglah ia seorang melarat.

baharu ia keluar pula. Orang bicara rapi.‖ kata kemudian. Irawan D Soedradjat Page 167 . jongos itu menjadi melongo. apa boleh ia menyediakan dulu dua poci? ―Baiklah!‖ sahut si anak muda yang mengenai arak tak banyak cerewet. Si anak muda berkata pula. Barang hidangan. Ia sampai mau percaya. ia duga bukan sembarang orang. ―Ah. sebegitu dulu!‖ Jongos itu berlalu dengan cepat. hingga ia tertawa dan bertepuk tangan. menunggang kuda dan menggembala kambing. ―Baiklah. ―Delapan masakan itu mahal harganya. si anak muda bercerita banyak. tak tahunya dia terpelajar tinggi. ia khawatir orang nanti minta pula makanan lainnya.‖ berkata pula si anak muda.‖ Mendengari itu mulutnya si jongos ternganga. tidak beres!‖ berkata si anak muda itu. Sekarang ia tak berani lagi memandang enteng kepada anak muda ini. yang mengaku datang dari padang pasir. ―Untuk teman arak. ―Aku menyangka ia cuma miskin. Ia tidak menyangka orang omong demikian takabur. ia jadi Cuma bicara tentang memburu binatang liar. kau sajikan lagi duabelas rupa untuk teman nasi. semua buah yang diminta telah disajikan saling susul-menyusul. satu demi satu. maka kau sajikan saja delapan rupa barang hidangan yang biasa!‖ Jongos itu mengawasi.Pendekar Pemanah Rajawali Jongos itu heran hingga ia terperanjat. Ia kata. apakah kau kira dia tidak kuat membayaranya?‖ tanya ia. Sembari berdahar. lengkeng. ―Delapan rupa masakan itu ialah puyuh asap. ceker bebek goreng. co dan ginheng. ia sekarang banyak bertanya kepada Kwee Ceng. Buah yang segar yaitu kau cari yang baharu dipetik. hendak minum arak apa. Kwee ceng tertarik hatinya. Nah. Sekarang ia tanya tetamunya. suaranya tawar. ia tidak berani bicara terlalu banyak. ―Rumah makanmu ini rumah makan kecil dan tempatmu ini tempat melarat. Rupanya orang luas pengetahuannya. soto burung wanyoh. dan kiang-sie-bwee. anak muda itu ada lebih pintar daripada gurunya yang kedua. Kwee Ceng ingat pesan gurunya. tentang segala apa di Kanglam. soto manjangan keekangyauw. buah tho-tong-songtiauw dan buah lay-hauwlongkun…. Tidak terlalu lama. ―Untuk ceker bebek dan lidah ayam saja kita membutuhkan beberapapuluh ekor ayam….‖ sahutnya kemudian. Jongos mengawasi pemuda kita. datanglah barang hidangan. yang dandannya indah dan malah mengenakan bulu tiauw. paha mencak dan kaki babi hong. Si anak muda menunjuki Kwee Ceng. Sembari dahar bebuahan. anggur hiangyoh. yang asam aku ingin uah ento harum. ia pun Cuma dahar beberapa sumpitan. memanah burung rajawali.‖ berkata si anak muda.‖ katanya dalam hatinya. yang ia pilih. lidah ayam cah. tapi si anak muda sangat tertarik hatinya. ―Toaya menghendaki buah apa yang segar bermadu?‖ tanyanya. ―Lainnya ialah delapan rupa tiamsim. Setelah pesan koki. enak didengarinya. ―Apakah sudah cukup semua ini?‖ ―Habis itu.‖ Mendengar itu. Kwee ceng cobai itu semua. pasti tidak dapat kamu menyediakan barang bagus. dan ia merasakan kelezatan yang dulu-dulunya ia belum pernah cicipi. Selang kira setengah jam. ―Sekarang begini saja! Empat rupa buah kering itu ialah leeci. ia ada punya arak Pek-hun-ciu simpanan sepuluh tahun. bakso kelinci. tidak dijelaskan. di sini tidak ada ikan dan udang segar. yang mesti disajikan atas dua meja disambung menjadi satu. ―Tuan ini yang mentraktir. ―Sebenarnya tuan-tuan ingin dahar masakan apa?‖ ia tanya. Entah disini ada yang jual atau tidak? Yang manis bermadu? Ialah jeruk tiauwhoa-kim-kie. Anak muda itu minum sedikit sekali.

Si anak muda tidak mengucap terima kasih. Satu kali. ―Saudaraku. ia pun suka omong lebih banyak.‖ jawab anak muda itu. bocah tolol! Bocah hina ini permainkan padamu!‖ Kapan kuasa restoran sudah berhitungan. saking gembira. hingga ia tampak Kwee Ceng lagi berdiri bengong dengan tangan memegangi les kuda merahnya. ―Aku telah mengganggu kamu.‖ berkata si anak muda. Kwee ceng pun kasih persen sepuluh tael hingga kuasa restoran dan jongos itu menjadi girang. tetapi tentang ini. ―aku pun sampai lupa! Aku she Kwee.‖ kata si anak muda seraya tarik tangannya. namaku pun satu. ―Sudah terlalu lama kita bicara. Untuk membayar itu. kita baharu ketemu tetapi kita sudah seperti sahabatsahabat kekal. Sehabis membayar. ia tidak pikirkan harganya barang makanan itu. Kwee ceng pun tertawa. namaku Ceng. ia menghampirkan dengan cepat. Di gurun pasir ia bergaul erat sekali dengan Tuli dan Gochin.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sendiri sangat gembira berkumpul bersama ini kawan baru. Ia masih punya sisa empat potong emas. benar!‖ katanya.‖ sahut Kwee ceng. tujuh chie empat hun.‖ ia menyahuti. Maka itu. Adalah setelah jalan beberapa tindak. ―Tapi toako. ia kerobongi itu di tubuh si anak muda. Menyaksikan itu. ia tidak memperhatikannya. ―Aku tidak niat pulang ke Selatan. ia loloskan baju kulit tiauwnya. menyuruh menukar hidangan yang terlalu dingin dengan yang baru! Jongos dan kuasa brumah menjadi heran. ―Aku masih belum belajar kenal she dan nama kakak yang mulia. untuk menggapaikan. melihat pakaian orang yang tipis dan pecah. anak muda itu dahar lagi sedikit saja. barang hidangan keburu dingin. terlalu panas pun tidak dapat didahar.‖ sahutnya. Kwee Ceng pun berdiam saja. yang tapinya memanggil jongos. ialah Tuli sering mendampingi ayahnya. ia pakai baju itu. ia lantas saja angkat tangannya. kecuali hal ia mengerti silat dan mempunyai hubungan erat dengan Temuchin. ia baru menoleh ke belakang. apakah kau masih kekurangan apa-apa?‖ ia menanya. ―Nasi pun sudah dingin…‖ ―Benar. Ia kata: ―Saudara. Di luar salju memenuhi jalan besar. Sesudah barang makanan siap semua. walaupun mehongan. ia cekal tangan si anak muda. maka sering mereka bertengkar. si jongos katakan Kwee ceng dalam hatinya: ―Dasar kau. toh masih ada perbedaannya. ―Baik suruh panasi lagi…‖ ―Tidak usahlah. aku merasa lapar pula…‖ ia menambahkan. Kwee Ceng berhati mulia. baru kalin ini mereka mendapatkan tetamu seaneh ini. Kwee Ceng mengeluarkan dua potong emas. Kau sendiri hiantee?‖ ―Aku she Oey. untuk dipegang keras-keras. Seumurnya. dengan kelakuan sangat menghormat. bicara lebih jauh. Ia sebenarnya memanggil adik (hiantee). 168 ―Sekarang hiantee hendak pergi kemana?‖ Kwee ceng tanya. mereka mengantar keluar kedua tetamunya itu. untuk ditukar dengan limaratus tael perak. ―Umpama kata hiantee hendak kembali ke Kanglam. Gochin benar baik tetapi putri itu kadang-kadang manja sekali dan ia tidak sudi mengalah. Irawan D Soedradjat Page Oey Yong menggeleng kepala. sadar. yang tiga ia sisipkan ke dalam saku baju tiauw itu. ―Benar. Tapi mereka iringi kehendak itu. maka aku minta sukalah kau pakai baju ini!‖ Tidak Cuma baju. seperti juga pemuda itu kehilangan sesuatu. bagaimana apabila kita berjalan bersama?‖ . Si anak muda pun tersenyum dan menunduk. Kwee Ceng lihat itu panggilan. tangan itu ia rasai halus sekali. Pernah Kwee Ceng menatap muka si anak muda. kult muka itu agakanya halus dan bersemu putih. ijinkan aku pamitan. Yong. terus ia negeloyor pergi. Anak muda itu tersenyum.‖ si anak muda meminta diri seraya memberi hormat. Hanya aneh. harganya semua buah dan makanan itu berjumlah tigaratus sembilan tail. lalu ia mengatakannya sudah cukup. ia pun memberikan uang.

untuk mengatur mangkok dan sepasang sumpit. ―Dan ibumu?‖ ―Ibuku sudah meninggal dunia. terutama sebab ia lantas kenali. yang tidak merasa aneh atau mendongkol.‖ Kwee ceng berkata pula. Di sini kembali mereka pasang omong. Ia hanya heran kenapa orang dapat menyusul ia demikian lekas. maka ia lari ke jendela untuk melongok ke bawah. ia pun menemuinya burung itu secara kebetulan. lantas ia tidak pedulikan lagi tetamu itu. yang hendak ditangkap. ―Kenapa begitu?‖ Kwee Ceng tanya. Karena itu malam-malam aku minggat…. lantas ia menunjuk meja yang terpisah jauh. ia mengerutkan kening. di bawah lauwteng terdengar suara kuda meringkik. orangorang itu adalah delapan penunggang unta yang memang berniat merampas kudanya itu. Atas itu kedua kacung menghampirkan meja yang ditunjuk itu. Oey Yong tertawa. ―Mungkin ia mencari. ―Eh. cuma empat rupa serta sepoci the Liong-ceng.‖ ―Sekarang pasti ayahmu tengah memikirkan kau. ibukota dahulu. Kwee Ceng mengawasi sebentar. baiklah. di tangga lauwteng terdengar suara tindakan kaki. Ia dapatkan beberapa orang dengan pakaian serba putih tengah mengurung kudanya itu. yang ia bawa dari rumah. Lantas ia berseru: ―Di siang bolong kamu berani merampas kudaku?‖ Irawan D Soedradjat Page 169 . Hanya kali nini ia tidak meminta banyak macam makanan. Cuma tidak ketmu…‖ Kwee ceng mencoba menghibur. Kwee Ceng tidak dapat menjawab. habis pesiar aku pulang!‖ katanya. hingga ia tak dapat didekatkan.‖ Kwee ceng beritahu. Kapan Oey Yong dengar Kwee ceng omong perihal dua ekor burung rajawali putih. Ia ingat akan kudanya. yaitu Restoran Tiang Keng Lauw.mari aku temani lagi kau bersantap. Jongos juga segera repot melayani tetamu baru ini.‖ Kwee Ceng bilang. Kali ini Oey Yong yang mengajak kawannya itu. ―Cuma aku mesti dapati dulu dua ekor anak rajawali putih…‖ Selagi kedua pemuda ini bicara dengan asyik. rumahmu di mana?‖ ia tanya. ―Kenapa kau tidak mau pulang saja?‖ Tiba-tiba saja mata Oey Yong menjadi merah. yang bangunannya juga mencontoh model restoran besar dari Pian Liang. Oey Yong menangis. tetapi kuda itu berjinkrakan. ialah dua kacung yang mengiringi satu pemuda denagn baju sulam yang indah.‖ sahut Oey Yong. habis pesiar.‖ jawab Kwee ceng. wajahnya terang. Ia pilih rumah makan yang paling besar dan kenamaan untuk kota Kalgan. Ia memandang Kwee Ceng dan Oey Yong. Belum lama.‖ kata Kwee ceng lagi. Ia menjadi gusar sekali. usianya barangkali baru delapan atau sembilanbelas tahun. Ia kembali mengobrol bersama sahabat barunya itu. aku justru mau pergi. kau mesti pulang. kenapa ayah tidak cari aku?‖ kata si anak muda lagi. hiantee.‖ ―Hanya sukar untuk mencari anaknya. ―Ah. ―Ayahku larang aku pergi pesiar.Pendekar Pemanah Rajawali ―Baiklah. Aku tidak punya ibu sejak masih kecil…‖ ―Kalau begitu. Melihat pakaian orang yang kotor. disusul mana beberapa kali bentakan dari beberapa orang. lalu tertampak munculnya tiga orang. ia menjadi tertarik hatinya. ―Jikalau begitu. ―Ayahku tidak menginginkan aku…‖ ia menyahut. pemuda itu tampan sekali. Mangkok dan sumpit yang mana disimpan dalam sebuah kotak. tak bisa jadi. ―Di sana aku cari dan tangkap dua anak burung itu untuk aku buat main.‖ ia kata. ―Kalau begitu.‖ berkata si anak muda. ―Tapi kau toh dapat menemuinya. baik besok aku pergi saja ke Mongolia. ―Ayahku tidak menginginkan aku lagi…‖ katanya. ―Justru sekarang tidak tahu aku mesti pergi ke mana. ―Ayah damprat aku.

ia kaget dan gusar dengan berbareng. Tiba-tiba saja ia ayun tangannya yang kanan. sampai nanti kita bertemu pula!‖ Lalu ia menjura dalam sekali. ―Toako. di sana ia dapatkan delapan orang berpakaian putih itu sedang rebah tanpa berkutik. Celaka kalau ia kena tersampok. ia memandang Kwee Ceng. ―Belum pernah siauwtee pergi ke pulau Tho Hoa To itu. Demikian juga si anak muda itu. ―Aku mohon tanya she dan nama mulia dari toako. Kongcu itu telah mengibaskan tangannya. ginso itu jatuh sendirinya. ia melayangkan dua batang senjata rahasia yang bersinar emas berkilauan.‖ ia menyahut. Oey Yong tarik tangannya Kwee ceng. kudamu itu bagus sekali!‖ katanya memuji. Kwee ceng cepat-cepat membalas hormat. dia terus menghampirkan Kwee Ceng. untuk naik di tangga. ―Jangan pedulikan dengan mereka. Kwee ceng lekas-lekas membalasi. diserahkan kepada si pemuda. lalu di antara dua kali suara tintong. jatuh bareng bersama senjata penyerangnya.‖ ia menyahuti. sehingga ie berdiri menjublak. ―Aku mohon tanya. ―Siauwtee datang dari gurun pasir utara. Kwee ceng menurut. kemudian sembari tertawa manis. ―Siauwtw she Kwee.‖ ia minta. ―Kau…kau…. Kwee melengak. Akan tetapi si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu telah dului ia. si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu juga telah berada di depan. dengan niat menyambuti torak perak itu. Setibanya ia di depan rumah makan. ―Setahu kenapa. atas mana dua potong ginso menyambar ke loteng. yang menyambuti seraya terus dikasih masuk ke dalam sakunya. yang setahu kapan telah turun dari lauwteng.‖ Kongcu itu berkata: ―Saudara Kwee tak hendak mengenalkan diri. nah di sini saja kita berpisahan. ia memutar tubuhnya. Habis itu. Ia menjadi heran sekali. Inilah Kwee ceng tidak sangka. kemudian ia mengawasi kedua anak muda itu. Bab 16. maka Kwee Ceng dapat melihat sinar matanya yang tajam. Karena ini. dengan lantas ia lihat Oey Yong.Pendekar Pemanah Rajawali Lantas ia lari turun dari lauwteng. mari kita naik pula ke lauwteng!‖ berkata ini sahabat baru. Barusan kongcu membnatu aku. guna terus lompat berjumpalitan. dengan menyentil dua kali. ―Mereka ini hendak merampas kudaku.‖ kata Kwee Ceng. hingga terbit satu suara nyaring dan ia merasakan sakit ngilu pada pundaknya itu. aku sangat berterima kasih. Meski begitu. ―Apakah saudara Kwee datang dari pulau Tho Hoa To dari Tang-hay? pemuda itu menaya. ―Kongcu ada pengajaran apakah?‖ lanjutnya. sepasang alisnya pun terbangun. Sembari memberi hormat orang menyerang ia secara hebat sekali. malah ia sudah lantas membungkuk kana melihat delapan pemudi yang menyamar sebagai pemuda-pemuda itu. di waktu mana ia merasakan sambaran angin. Ketika ia menoleh.‖ Meski ia mengucap demikian. untuk masuki kepalanya ke selangkangannya. pundaknya kena tersambar juga. apabila mereka melongok ke bawah. kedua kacung lantas pungut empat senjata rahasia itu.‖ Irawan D Soedradjat Page 170 . ke arah pemuda ini. tanda dari kemurkaan. mereka lihat delapan nona serba putih itu berlalu dengan unta mereka. salah satu nona menoleh ke belakang. ia pergi ke jendela diikuti Oey Yong. ujung tangan bajunya menjurus ke matanya. diwaktu ia sudah taruh kakinya. sinar matanya menandakan ia sangat heran. Cepat-cepat Kwee Ceng cabuti kopiahnya. bernama ceng. untuk terus segera memberi hormat sambil berjura. Gara-Gara Sepatu Sulam Dan Jubah Salut Emas Tiba-tiba Kwee Ceng sadar. Ia merasakan ada tangan yang lemas yang memegang tangannya. ia lantasbertindak naik di tangga lauwteng. ia tuangi air the di cawannya pemuda itu. Justru mereka memutar tubuh. Kwee Ceng hendak sahuti sahabatnya ketika ini tatkala ia dengar ramai suara kelengan unta di depan rumah makan itu. ada urusan apakah saudara datang ke mari?‖ Ditanya begitu. mereka pada rubuh sendirinya…. di depan siapa ia berhenti. Maka dengan ia lantas tunduk.

Tidak berani ia menangkis atau menyambuti cengkeraman itu. sembari tertawa. ia kata: Aku cuma mencoba ilmu kepandaianmu. Kwee Ceng kaget tidak terkira.Pendekar Pemanah Rajawali Tapi si kongcu pegat ia. Kongcu itu terkejut. Ia tercengang sebentar lantas ia ingat. saudara Kwee. ia tidak menduga orang mendusta. ―Ini untuk kau…‖ kata Oey Yong dengan perlahan. ―Kongcu. adakah kongcu ini sekaum dengan Tiat Sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi? Ia menginsyafi hebatnya cengkeraman Tulang Putih itu. sambaran kongcu ini kalah jauhnya sebatnya dengan sambarannya si Mayat Besi. Ia sambuti tusuk konde emas dan ginso itu. ―Sebab kudaku adalah han-hiat-po-ma. Kongcu itu menghentikan tindakannya. ―Ya. ia memutar tubuhnya untuk terus turun di tangga lauwteng. ―Kudaku itu lari cepat sekali. yang terus tuturkan perihal kuda itu sampai ia bertemu rombongan si wanita itu. Ilmu totok kau lihay sekali. tangannya disodorkan. mereka dapat menyusul padaku…‖ Kwee Ceng kemudian mengutarakan keheranannya. lima jarinya yang kuat seperti kuku garuda menyambar ke tangan Kwee Ceng itu. entah kenapa.‖ kata Oey Yong. ―Sungguh memusingkan kepala. ―Dia membikinnya jatuh selagi dia menjura kepadamu. ilmu silatmu tangan kosong tapi biasa saja. cuma ia dapat membedakannya. cepat luar biasa tangannya menyambar ke arah Kwee ceng. aku ingat sekarang!‖ ia kata pula separuh berseru. lantas aku jumput!‖ sahut Oey Yong masih tertawa. ―Kenapa barang itu berada di tanganmu?‖ ia menanya. Si kongcu rupanya jijik untuk pakaian kotor anak muda ini. Rupanya tiga wanita itu melepaskan burung Irawan D Soedradjat Page 171 . yang menyamar sebagai pemuda-pemuda dan menunggang unta. Dengan terpaksa ia sambuti empat potong benda itu. ia mundur setindak.‖ ―Aku lihat di antara mereka ada satu yang mencekal sepasang burung dara. belum ia terjambak. ―Toako. ia sudah dapat menduga orang bergerak dengan ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw seperti keenam gurunya sering menuturkan kepadanya. Menampak barangnya itu. Dari gerakannya saja. Kwee Ceng melihat telapak tangan anak muda ini. disaat kongcu itu mengangkat tubuhnya habis menjura. ―Itu waktu memang aku lihat terbangnya dua ekor burung di atasan kepalaku.‖ jawab Kwee Ceng. kepada Kwee Ceng ia tersenyum. Di tangan kawan ini terlihat dua potong tusuk konde emas serta dua potong ginso. sebab masih ada bekas cengkeramannya Bwee Tiauw Hong dulu hari pada lengannya. ia tercengang. kongcu terkejut sehingga air mukanya berubah. Kemudian ia melanjuti: ―Setahu siapa yang membnatu aku secara diam-diam dengan merobohkan mereka itu. Tiba-tiba Kwee ceng menepuk meja. ia juga dapat lihat anak muda itu berdiri tegar ditempatnya. yang bergemerlapan kuning dan putih. Kapan Kwee Ceng kembali ke kursinya. empat senjata itu sudah mendahulukan menyambar ke arahnya. ia mundur satu tindak. Maka ia menduga. ia dapatkan Oey Yong mengawasi ia sambil sahabat itu tertawa geli. tangannya menjatuhkan sebatang sumpit ke kaki kongcu. Ia dapatkan. Kalau tidak tentulah mesti terjadi pertempuran hebat…‖ Oey Yong masih tersenyum. sebenarnya aku telah lombai mereka seperjalanan tiga hari. Itulah ginso yang tadi si kongcu simpan dalam sakunya. belum lagi serangannya mengenai. cepat luar biasa ia telah kerahkan tenaganya. Kwee ceng khawatir orang nanti bokong pula padanya. kau lupakan barangmu ini!‖ ia panggil si pemuda yang seperti anak bangsawan itu. Oey Yong pun telah dapat menjumput sumpitnya itu.. Kwee Ceng jujur. kenapa rombongan wanita itu mencoba merampas kudamu?‖ kemudian Oey Yong menanya. Oey Yong agaknya kaget. ia berpaling. terus ia putar tubuhnya untuk bertindak ke tangga lauwteng. heran. empat senjata di tangannya sudah lantas mencelat. tubuhnya bergeser. Entah kapan sahabat ini mengambilnya. Setelah menatap. Kwee Ceng angsurkan kedua barang emas dan perak itu. Maaf…!‖ Kembali ia menjura. ia mengerti.

Pemuda itu menanti sampai orang tidak terlihat lagi. apapula mereka dibantu oleh paman gurunya itu. ―Toako. Tapi sekarang ia tidak menangis.‖ menerangkan Oey Yong. ―Toako. akan terus mencokol di atas pembaringan. hingga dia itutak dapat melihat lepas ke depan.‖katanya. Kwee Ceng menyerahkan les kuda itu. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng mengerti bahwa ia telah terkurung. Mukanya penuh air mata. romannya sangat tidak mengasih untuk diawasi. aku hadiahkan itu padamu!‖ kata Kwee Ceng tanpa bersangsi. Karena ini. ia tampak lima orang berdiri di depannya. Lebih dulu ia membayar uang makan. ―Hiantee. Kwee Ceng turun dari pembaringan. Sekarang adalah giliran Kwee Ceng yang menjadi heran. hingga ia melihat tegas. Kwee Ceng menurut. ―Hendak aku meminta sesuatu yang berharga darimu. ia terkejut bukan main. Dua orang yang ke lima. dengan dingin. Si kurus sudah lantas tertawa tawar. untuk rebahkan diri. Kwee Ceng pun mengawasi. Dengan lantas kuda itu berlari pergi. ―Baik. lalu ia tertawa. jangan kau bawa adatmu. maka baik-baiklah kau mendengar katanya. menyebabkan mehongan luntur.‖ Setelah itu. terus terdengar tangisannya sesegukan. hingga tampak dua baris kulitnya yang putih mulus. yang usianya kurang lebih lima puluh tahun. Ia keringkan secawan teh. baru ia melihat langit. Ia mendapatkan sang malam bakal lekas tiba. ia membuka tindakan lebar akan memasuki kamar orang. hiantee. suaranya parau. ia membuka pintu. marilah kita pergi!‖ ia mengajak. Bukankah mereka baru pertama bertemu? Ia malah mengharap jawaban si pemuda adalah penolakan. ―Kenapa tidak?‖ Kwee Ceng menjawab.‖ sahut suara di luar. kau naiklah!‖ Sebenarnya kuda itu tak dapat ditunggangi orang lain. Mereka itulah Hong Ho Su Koay. ―Apakah kau kurang sehat?‖ Oey Yong angkat kepalanya. tubuhnya kurus. di jidatnya ada tiga kutil besar. mereka gampang saja mencari padaku. apa kau sudi mengabulkannya?‖ dia bertanya. Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay yang sangat ternama besar! Lekas kau berlutut dan mengangguk-angguk kepalanya!‖ . yang julukannya pun berarti si Ular Naga Kepala Tiga. Bersama-sama mereka turun dari lauwteng. 172 Toan-hu-to Sim Ceng Kong si Golok Memutus Roh. Ia pesan kepada kudanya: ―Aku haurkan kau kepada sahabatku yang baik. kau kenapakah?‖ ia menanya cpat. untuk mereka memegat atau mengawasi aku. ia lantas pergi mencari rumah penginapan. Air matanya itu yang mengalir di kedua belah pipinya itu. bahwa Hong Ho Su Koay saja sudah bukan tandingannya. ia awasi tuan rumah. akan tetapi ia sekarang tidak membangkang. Oey Yong naik kuda itu. Ia kelihatannya menjadi kagum sekali. tiba-tiba ia dengar ketokan pada pintu. sambil melirik. baru ia tuntun kudanya. ia mengawasi si pemuda. ―Satu sahabat. ia mepersilakan: ―Hiantee. Ia lantas mendekam di meja. ia terus tepuk kempolan kudanya itu.‖ Kemudian sembari menoleh kepada si anak muda. Oey Yong tanya tentang tenaga larinya kuda merah itu dan Kwee ceng menuturkannya dengan jelas. mukanya lonjong. muka orang ada tanda bekas luka-luka senjata tajam. ―Sebenarnya aku suka sekali dengan kudamu itu. Setelah ia mengenali orang. ―Siapa?‖ ia tanya heran. Ketika disaat ia hendak memadamkan api. Oey Yong terperanjat.Pendekar Pemanah Rajawali itu untuk memberi kabar kepada lima kawannya. Empat di antaranya ada membawa golok dan ruyung. Di antara cahaya lilin. Sebenarnya ia main-main saja. dari itu. lantas berkata: ―Inilah paman guru kami. tanpa bilang suatu apa. sebaliknya ia tertawa.

Rupanya orang telah menjaga ia di luar kamar. setindak demi setindak. Ia masih berdiam saja. engkongmu menunggui kau disini!‖ Jadi terang dia telah dikurung keras. yang menutupi matahari. akan tetapi ia tertawa. tidak lekas kembali. ia suruh Twie-beng-chio Gouw Ceng Liat si Tombak Mengejar Jiwa menutup pintu. Mereka mencaci kalang-kabutan begitu lekas mereka tampak si pemuda musuhnya itu. untuk sarapan.‖ Kwee Ceng berpikir. Kapan ia memandang ke jendela. terus ia duduk numprah di atas pembaringannya. jongos muncul dengan air cuci muka dan tiamsim. tubuh mereka bergelantungan. Tapi ia tidak dapat pulas. baru ia berbangkit turun. tidak dapat aku menemani kalian lama-lama…!‖ ―Kwee Enghiong. Tiba-tiba ia dapat ingatan. . ―Guruku tidak ada di sini. semakin hebat. Ia takut mati. ia angkat kepalanya. Ia bersemadhi hingga tengah hari. sampai sepuluh lie lebih. ―Sekarang hendak kau memberi pengajaran kepadamu. Akan tetapi tidak ada serangan terhadapnya. ―Mari kita pergi!‖ ia kata kepada Cian Ceng Kian. ia mesti gulak-galik saja. cambuk lemasnya. untuk melindungi diri. Sambil berdiri diam. Besok tengah hari aku menantikan di rimba Hek-siong-lim di luar kota. disusul sama bentakan: ―Bocah. Seram suasana di situ. ia tidak bertemu dengan musuhnya. melainkan mulut mereka yang dapat di pentang lebar-lebar. hampir ia lenyap dari pandangan mata. tiba-tiba Toat-pek-pian. jangan kau memikir untuk kabur. kaki dan tangan mereka terbelenggu. Sambil berlompat. ia dapat dengar apa-apa di atas genting. ia maju. baiklah aku mati bertempur!‖ Oleh karena berpikir begini. Mereka malu untuk minta tolong. memandang ke arah dari mana cacian itu datang. untuk dengan cepat bertindak ke sebelah dalam rimba. Di samping itu mereka heran sekali kenapa paman guru mereka itu yaitu Hauw Thong Hay. Tapi tiba-tiba. bukan?‖ Nah sampai bertemu pula! Sampai bertemu pula! Maaf. kami menyerah kalah!‖ dia berteriak. Kwee Ceng heran bukan kepalang. kau datang ke sana dengan minta gurumu semua temani padamu!‖ Habis berkata. niatnya untuk tidur tanpa menghiraukan segala apa. ―Bocah haram! Anak campuran! Anak jadah!‖ demikian ia dengar makian hebat. ―Apakah kau tengah main ayunan di sini?‖ dia bertanya. Kwee Ceng putar cambuknya. Kwee Ceng memadamkan api. menuju ke arah barat. Sesampai di luar. ialah pesan gurunya yang keempat: ―Jikalau tidak ungkulan. lari!‖ Maka ia berpikir: ―Sekarang tidak ada orang mengawasi aku. maka ia lupa akan malunya. ia berbangkit. ―Aku mohon sukalah kau memerdekakan kami!‖ Irawan D Soedradjat Page 173 Sim Ceng Kong berempat mencaci maki pula. Di sana ada sebuah rimba besar. ―Suhu semua berada di tempat jauh. hingga terdengar suara membeletok. tidak nanti mereka dapat menolongi aku. Ia menjaga diri dari bokongan di kiri atau kanannya. berubah pikirannya. Selang tidak lama. Itulah suara ketokan beberapa kali.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tuan-tuan ada punya urusan apa?‖ ia tanya sambil menjura. Ia berlaku tenang. Lantas ia berdiri menjublak! Di atas empat pohon di dekatnya itu. Di belakang jongos itu terlihat Cian Ceng Kian dengan sepasang kampaknya. ―Ah! Kalau begitu hendak aku memberi ketika padamu untuk hidup lagi setengah harian!‖ kata Ular Naga Kepala Tiga itu. Dia lantas rebahkan dirinya. ia sudah ngeloyor keluar. Satu lie sudah ia berjalan. Ma Ceng Hiong si Cambuk Perampas Roh. untuk bersemadhi menuruti ajarannya Ma Giok. kenapa aku tidak hendak sembunyikan diri?‖ Maka hendak ia segera mewujudkan pikirannya ini. tanpa menanti penyahutannya Kwee Ceng. Kwee ceng loloskan joan-pian. ia tampak Hong Ho Su Koay tergantung masing-masing di sebuah cabang besar. Di sini Ceng Kian tinggalkan si pemuda. hatinya menjadi mantap. Ia lantas saja bercokol di atas pembaringan. ―Sungguh menggembirkan. ―Mana guru-guru kamu?‖ Hauw Thong hay menanya. ia tampak bayangan orang mondar-mandir.‖ sahut Kwee Ceng. Mereka jalan berendeng. Selagi Kwee ceng bertindak. Besok pagi. ―Sudah terang aku tidak bakal dapat lolos. sia-sia saja mereka mencoba meronta-ronta. rimba pun lebat. agar orang tidak nanti mengatakan Sam-tauw-kauw menghina anak kecil.

ia kasih turun mereka itu satu per satu. Luar biasa gesitnya nona itu. dasarnya putih. Keanehan itu tak dapat ia melupainya. adalah mereka yang memusuhi aku. untuk berlompat bangun. Herannya. Mendadak ia ingat apa-apa. nona-nona serba putih dan menunggang unta itu sudah elok semua. Di mana di situ tidak ada Hauw Thong Hay. kapan tangan kirinya diayunkan. Di pelbagai rumah minum ia pun dengar suara tertawa. ia baru berhenti ketika di sebelah depannya ia dengar sorak-sorai yang ramai. ia khawatir paman guru mereka itu nanti keburu kembali. sampai terjerunuk ke depan. dia dapat menahan diri dan mengerahkan tenaga. aku pikir kenapa ada demikian banyak wanita cantik. ia berjalan-jalan. Ia heran orang menuduh padanya. dengan kemalu-maluan ia menyelinap di antara orang banyak. ke mana perginya Hauw Thong Hay si Ular Naga itu? dia tidak tertampak sekalipun bayangannya?‖ Kwee Ceng terus melakukan perjalannya itu. Ia berpikir: ―Dia lihay. ―Buk!‖ punggung si pria kena terhajar. Para penonton lantas saja bertampik sorak. di situ ada dipancar bendera suram. di sana ada berkumpul sejumlah orang. hingga ia berpikir: ―Kenapa aku seperti kenal dia? seperti aku pernah bertemu dengannya. ia lantas menyerang dengan kedua tangannya. hanya mengubah kepalannya menjadi tangan terbuka. Untuk bersantap. ia cari sebuah restoran yang kecil. Di bawah bendera itu ada satu nona dengan baju merah tengah bertempur sama seorang pria. mesti ada orang yang sudah tolongi ianya. terus ia balik ke kota. Sebetulnya.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sudah lantas berpikir: ―Sebenarnya aku tidak bermusuh dengan mereka. negara Kim (Kin) yang besar. yang indah lauwteng dan rangonnya. untuk melihat ke sebelah dalam. Semua itu ia saksikan diwaktu siang berderang. Sesudah empat Siluman itu direbahkan di tanah. Ia menyelak di antara banyak orang itu. yang permai sero-seronya. Heran Kwee Ceng apabila ia saksikan ilmu silat si nona itu. Ia lantas saja mengangkat kaki. terus ia kembali dengan berlompatan. ―Hong Ho Su Koay lihay tetapi mereka dapat digantung. sikapnya pun berpengaruh. akan meninggalkan mereka itu. habis mana barulah ia putuskan belengguan mereka itu. habis berdahar. siapa lagi?‖ Kwee Ceng heran. pemuda itu totok mereka bergantian. ia berkelit dengan mendak. Ia menjadi besar di gurun pasir. atau berkelit. merdunya bunyi tetabuan. Pada suatu hari. belum pernah ia menyaksikan suasana kota besar itu. Sambil tertawa. hingga mereka menyangka aku. ia sampai tidak berani memilih erstoran yang mentereng. ia menolak ke arah pundak. Si pria dapat melihat lowongan. bertempur dengan seru sekali. lalu iamundur ke bawah bendera. tibalah ia di Tiongtouw. kapan aku pernah bertemu orang lain? Aku tadinya menyangka. ada sulaman empat huruf besar: ―Pi Bu Ciauw Cin‖. yang paling ramai dan indah. kota raja yang baru. setelah memegang tanah. kedua kakinya bergerak saling susul-menyusul. ia menjadi kegirangan. maka sekarang si nona tidaj menghajar hebat kepadanya. kota raja Tay Kim Kok. umurnya mungkin baru tujuh atau delapanbelas tahun. ia berkata: ―Lagi dua belas jam baru kamu dapat pulang tenaga dalam dan merdeka. malah di sini ia segera membeli seekor kuda untuk dengan itu ia lantas melanjuti perjalannya ke selatan. maka ia pikir. maka itu apa perlunya aku membiarkan mereka mati bersengsara di sini?‖ Dengan cepat ia mengambil keputusan. ―Kalau bukannya kau. ia ingat: ―Baharu saat ini kau tiba di Tionggoan. ia batal meninju. yang cantik sekali. Mukanya pemuda itu menjadi merah. Pantas Hong Ho Su Koay tidak sanggup berontak melepaskan diri. ke arah dada. Orang banyak itu mengurung sebuah tanah lapang. Ia pun mengutanginya itu dengan golok emasnya. hanya syukur. Nona itu tidak mengambil sikap menangkis. sampai tidak dapat dilawan oleh Pian-liang. roboh ke tanah. ia tadi berkasihan terhadap si nona. alat menggantungnya itu adalah tambang kulit yang kuat. Nona itu singkap naik rambut yang turun ke dahinya. Ia mendekati. nona itu menggunai akal. mesti ia lekas menyingkir. Kwee Ceng pandang nona itu. Pria itu tidak sampai hati. Syukur untuknya. kenapa dia munculkan diri di tempat umum seperti ini?‖ Selang lagi beberapa jurus. tetapi ia mengerti. teranglah lawannya itu mesti jauh terlebih lihay daripada mereka. kota raja yang lama dari kerajaan Song. Yang hebat mereka sampai tidak melihat padanya. entah dimana…?‖ kemudian ia tersenyum sendiri. Ia lari keluar rimba. ―Siapakah itu orang secara diam-diam menolongi aku?‖ ia berpikir di sepanjang jalan. yang tubuhnya jangkung dan besar. maka mereka itu lantas saja tidak dapat geraki kaki dan tangan mereka. atau Lim-an. Artinya: mencari jodoh denagn jalan pibu atau mengadu kepandaian. siapakah yang menggantung kamu di sini?‖ ―Kau masih berpura-pura!‖ membentak Cian Ceng Kian mendongkol. membawa tubuhnya melejit ke samping ke belakang penyerangnya itu. siapa Irawan D Soedradjat Page 174 . sedang kereta-kereta bagus dengan semua kuda pilihannya mondar-mandir di jalan-jalan besar.

untuk pulang ke rumah penginapan guna beristirahat. hatinya masih terbuka. Karena ini dengan beranikan diri. ―Nanti. hanya guna anakku ini. apakah kau mau dengan datang kemari?‖ ia menegur.Pendekar Pemanah Rajawali tahu nona ini melebihkan mereka itu…. Dialah satu paderi yang kepalanya licin lanang! ―Eh. ―Tenang. Orang bnayak lantas mengawasi. Ia merasa bagaimana orang hendak mempermainkan padanya. lagi sekali orang itu mengangguk. ―Oh. Paderi itu tersenyum. itu bendera Pi Bu Ciauw Cin. Kami berdua. maka itu sekarang aku lagi mencarikan jodohnya itu. siapa yang menang. wajahnya menjadi merah. Siapa yang usianya di bawah tiga puluh tahun dan belum menikah. yang ia awasi. ayah dan anak. hatinya tidaj tergiur. sepasang alisnya terbangun. ia masih belum ketemu jodohnya. Tuan-tuan.‖ Habis mengucap. oleh karena itu. nah kamu pibulah terlebih dulu!‖ satu penonton yang membuka mulut. mari kita berdua main-main…!‖ 175 ―Saudara-saudara. lagi ia menjura kepada orang banyak. disini mesti banyak orang berilmu dan gagah. ia yang maju melawan si nonan manis!‖ . Mendengar itu. terus ia mengangguk keempat penjuru seraya terus berkata: ―Aku yang rendah bernama Bok Ek. ―Bukankah dia mau adu kepandaian untuk mencari suami? Nah. mukanya penuh berewokan. Yang muncul dari sebelah timur itu adalah seorang tua dengan tubuh terokmok. Anakku sudah dewasa usianya. Ia lantas loloskan mantelnya. aku akan segera pulang asal menjadi orang biasa lagi!‖ sahutnya. asal ia bisa menyerang anakku dengan satu kepalannya atau kakinya. baharu ia menambahkan: ―Kota Pakhia ini adalah tempat rebahnya harimau atau tempat sembunyi naga. nanti besok kami datang pula ke mari untuk melayani tuan-tuan. akan aku rangkap jodoh anakku ini dengan jodohnya. aku masih belum menikah! Mustahilkah aku tidak cocok?‖ Si paderi itu awasi si tua. para penonton juga tak henti-hentinya tertawa. Tiba-tiba saja. ―Aki-aki. Dasar aku kurang berpengalaman! Rupanya di Tionggoan ini dimanamana wanitanya cantik semuanya. yang datangnya dari sebelah kiri dan kanan. ia tertawa. kembali riuhlah tertawa orang banyak. Yang datang dari barat itu lebih lucu pula.‖ ia membujuk. kakek-kakek!‖ katanya. dan umurnya juga sudah lewat lebih dari setengah abad. aku harap tuan-tuan memaafkannya kalau ada kata-kataku yang tidak tepat. Si empe dan paderi masih adu omong terus. cukup asal ia satu pria sejati yang mengerti ilmu silat. Disamping mereka. yang agaknya tidak menghiraukan ejekan orang banyak itu. aku mancarikan jadohnya dengan jalan pibu ini. Bok Ek tarik tangan gadisnya. Si nona menjadi mendongkol. ―Taruh kata kau menang. pria itu mengangguk. mereka jadi sengit sekali. aku lewat di tempat tuan-tuan tidak dengan maksud mencari nama atau mencari uang. sudah membuat perjalanan dari selatan hingga di utara. pasangan anakku tidak usah berharta. perkenankanlah kami undurkan diri. walaupun ia telah melihat wajah-wajah yang cantik manis. ―Habis kau. Tidakkah pemandangan itu sangat lucu? Irawan D Soedradjat Page ―Bagus!‖ berseru si paderi. maka tak usahlah aku menjadi heran…‖ Pemuda ini polos. ―Tunggu dulu!‖ Itulah suara berbareng. akhirnya mereka semua tertawa geli. kumisnya sudah ubanan separuh lebih. ―Setelah aku mendapatkan istri begini cantik. maka itu. mereka yang gagah sudah pada menikah atau mereka yang muda sungkan hatinya?‖ Ia berhenti sebentar. lalu ia cabut benderanya. matanya bersorot tajam. apakah kau tidak kasihan terhadap si nona yang masih demikan remaja bagaikan sekuntum bunga? Apakah setelah kau menikah kau hendak membuatnya ia menjadi janda?‖ Orang tua itu menjadi gusar. berniat ia menghajar kedua manusia ceriwis itu. dari mana lantas terlihat dua orang berlompat ke dalam kalangan. sebabnya rupanya. Adalah keinginanku. akan tetapi kami masih belum menemui jodoh yang dicari itu. Maka itu ia lantas memandang ke kiri dan kanannya. Si nona lantas bicara perlahan sama seorang yang berdiri di dekatnya. maka juga. kamu tertawakan apa?‖ tanya si tua itu kepada orang banyak. nanti aku yang melayani mereka. sudah melintas tiga belas propinsi.

dengan itu ia membabat kakinya si tua! ―Celaka!‖ berteriak orang banyak. untuk mengasih keluar sepotong thiephie atau ruyung besi. mereka pada mengundurkan diri setindak demi setindak. tapi berbareng dengan itu. Satu kali si paderi dapat meraptakan diri. keduanya menjadi bertempur. kepalannya menumbuk kepala licin mengkilap dari si paderi. Cuma rambut dekat kedua samping kupingnyas udah berwarna kelabu dan kulit mukanya berkerenyut dan itu waktu. ia terima serangan tanpa berkelit atau menangkis. ia masuk ke dalam kalangan. ―Besok kita pulang ke selatan…‖ berkata dia dengan masgul.‖ menyahut si nona. untuk dikasih turun ke arah kepala lawannya. Kwee Ceng pun tak terkecuali. maka ruyung itu menjadi bengkok melengkung. ia angkat tinggi tangan kanannya. ia lantas awasi si nona baju merah. Bukankah pibu telah berakhir? Tapi justru itu. numprah di tanah. Ke situ datang satu kongcu atau pemuda sambil diiringi beberapa puluh pengikut. Sampai disitu. sebelah tangannya sudah melayang. belum lagi ia peroleh jawaban. Hebat menyambar-nyambarnya golok kayto dan ruyung besi. jangan pandang usianya yang tua. tiba-tiba Bok Ek menyerbu. Melihat ia tidak dihiraukan. ia hajar itu dengan ruyung sehingga golok itu patah dua! Para penonton kagum. yang diajak bicara. terus ia loncat dari kudanya. ilmu Bagian Luar.Pendekar Pemanah Rajawali Paderi ini menantang. ia mungkin telah berusia enam puluh hampir. tenaganya sebenarnya masih besar. ―Ya. segera ia balas menyerang. Bok Ek cekal kedua ujung ruyung. segera ia jatuh duduk. Maka itu sekarang mereka melansungkan pertandingan itu dengan golok dan ruyungnya masingmasing. dalam sengitnya. berbareng dengan mana. tetapi. Hanya sambil berseru-seru. Kapan Kwee Ceng telah melihat si koncu. Ia berdiam tidak lama. tidak dapat kita sembarang menggunai senjata tajam!‖ Dua orang itu lagi bertempur seru sekali. mereka dengar suara kelenengan kuda. Tapi itu belum semua. ―Di sini adalah kota raja. ―Tuan-tuan. sembari tersenyum. sedang si empe menggunai ilmu silat Ngo Heng Kun. Dilihat dari roman. Si empek kuat sekali. takut mereka nanti kena terserempet…. yang tubuhnya sedikit bongkok tetapi badannya lebar dan kekar. ―Bagus! Bagus!‖ teriak orang banyak berulangkali. Kiranya mereka sama-sama membekal senjata. mereka bersorak. Maka dengan itu. Si paderi dapat berlompat danmendekam dengan cepat. lincah gerakannya. untuk angkat kaki! Kwee Ceng mengawasi Bok Ek. wajahnya guram. Tak tahan paderi itu. . ―Apakah nona ynag mengadakan pibu untuk mencari jodoh?‖ ia menanya sambil ia memberi hormat. Dengan satu dupakan. tangannya meraba ke pinggangnya. Kwee Ceng menonton. keduanya nyelusup antara orang banyak. ia lantas menekuk. hingga sudah tentu saja selanjutnya tak dapat digunai lagi! Si tua dan si paderi tercengang. penonton hendak bubaran. tanda dari tenaganya yang besar. tahan!‖ Bok Ek berseru seraya ia menghampirkan. ia membuat golok kayto terpental tinggi dan dengan sambaran tangan ia rampas ruyungnya si empek-empek. tanpa membilang suatu apa lagi. Suara kelenengan itu datang dari rombongan itu. Jadi keduanya ada dari golongan Gawkang. Irawan D Soedradjat Page 176 Kongcu itu melihat bendera Pi Bu Ciauw Cin. ke arah pinggang lawannya. mereka tidak memperdulikan seruan itu. lekas-lekas ia sembunyikan diri di antara orang banyak itu. mendadak ia tarik keluar sebatang golok kayto dari dalam jubahnya. kepalannya menghajar tiga kali beruntun. hingga mereka pada menoleh. bagaikan martil. Ia kenali si kongcu yang ia telah ketemukan di rumah makan di Kalgan. mereka menjadi kuncup hatinya. Si tua dapat menolong diri dengan berlompat berkelit. Dia pun menghela napas. Si empek sebaliknya tenang tegar. Ia dapatkan si paderi bersilat dengan jurus-jurus Lo Han Kun dari ilmu silat Siauw Lim Pay. Si empe-empe berkelit. kemudian selagi golok turun.

yang menghampirkan pemuda itu. ―Silakan kongcu membuka dulu bajumu.‖ berkata nona itu. Lagi-lagi ia memberi hormat. ―Sebabnya mungkin. Maka itu ia loloskan mantelnya. ―Kami adalah orang kangouw. Para penonton pada berkata dalam hatinya. Si nona agaknya kagumi pemuda itu. untuk memberi hormat. mari!‖ berkata si pemuda.Pendekar Pemanah Rajawali Nona itu dengan wajah bersemu merah. ia nyelusup di bawah ujung bajunya pemuda itu. sebentar kau nanti merasai…‖ Tapi ada juga yang berpikir: ―Bok Ek ayah dan anak adalah orang kangouw. hendak aku mencoba-coba. mari. ―Si nona lihay sekali. ―Ah. muda dan tampan. Tiba-tiba ia memutar ke kanan.‖ ia menerangkan. ia hampirkan si pemuda untuk memberi hormat. Di luar dugaannya. ―Bagaimana aturan atau syarat-syaratnya pibu perjodohan ini?‖ menanya si pemuda. Pemuda itu membalas hormat. melengos. Bok Ek tersenyum. ―Silakan mulai. tidak menunggu kedua kaki si nona keburu menginjak tanah.‖ menyahuti si kongcu. masa mereka berani bikin malu satu kongcu? Tentu si kongcu bakal dibikin mundur teratur.‖ Pemuda itu mengawasi si nona. ―Kalau begitu. nona!‖ ia kata. Kongcu ada keperluan apa apakah?‖ ia menanya. Sambil mendak. Ia tahu. hingga bajunya yang panjang dan tangan bajunya juga. Nona itu bukan melainkan berlompat mundur. ―Apakah mungkin belum pernah ada orang yang dapat menangkan dia?‖ ia menegaskan. Irawan D Soedradjat Page 177 . Aku minta kongcu sudi memaafkan aku. ia mengebut pula. ―Sampai sebegitu jauh sudah satu tahun lebih dan kami telah menjelajahi tiga belas propinsi. aku tidak percaya!‖ Ia tunjuki si nona. kongcu!‖ berkata si nona. Ia lantas merangsak. supaya ia tidak hilang mukanya…‖ ―Silahkan. turut bergerak. orang ada sangat gesit. mana berani kami beradu tangan sama kongcu?‖ menyahut Bok Ek. Sekarang ujung baju dari tangan kanan si pemuda yang menyusul menyambar. ―Laginya ini bukannya cuma soal menang atau kalah.‖ menjawab Bok Ek dengan sebenarnya. ia tersenyum. Diam-diam girang hatinya Bok Ek. Ia dapatkan orang. maka itu ketika si kongcu datang dekat. belum pernah ia bertemu pemuda semacam ini. maka barenglah mereka diwaktu mereka menurunkan tubuh. orang yang pandai silat itu sudah menikah atau ia sungkan beradu tangan dengan anakku. Bok Ek memberikan keterangannya. Ia bertindak ke tengah kalangan. ―Kenapa begitu?‖ si pemuda menegaskan. di dalam tiga belas propinsi. Untuk membebaskan diri. ini mengenai hari kemudian dari anakku. ia tidak menyahuti. kongcu bergurau!‖ berkata Bok Ek tertawa. Adalah Bok Ek. maka si nona menjejak tanah untuk mencelat mundur. lalu tangan kirinya menyambar ke pundak si nona.‖ kata si pemuda. Terkejut si nona itu apabila ia menyaksikan gerakn orang yang luar biasa itu. ―Kalau begitu. ―Aku yang rendah she Bok. Pemuda itu tampaknya heran. ―Bagus!‖ berseru si kongcu. Sukar untuk menyingkir dari serangan susulan itu. ―Tidak usah. ―Ah. menantang. ―Sudah berapa lama sejak kamu mengadakan pibu ini?‖ ia tanya pula. kongcu itu lompat ke kanan. sebelah kakinya menjejak ke arah hidung si kongcu. Kali ini kongcu itu sudah tidak sungkan lagi. ia hanya berjumpalitan.

―Lekas lepaskan aku!‖ ia minta. Sekarang si koncu yang main berkelit. kongcu menang jauh daripadamu…!‖ Tapi orang lagi bertempur hebat sekali. ―Kau panggil engko padaku. Pertandingan itu berjalan terus dengan seru. nanti aku lepas kau!‖ sahutnya. gampang sekali. ia hanya menyobeknya! Satu pengiring lari menghampirkan guna membantui meloloskan baju itu. Cuma aku tidak tega…‖ Benar saja. menjadi suami-istri. Tapi sia-sia saja.: ―Kalau sekarang aku hendak robohkan kau. . Ia nampak semakin tampan. Melihat itu si nona. Si nona dengan wajah merah. ―Kongcu ini lebih lihay daripada In Cie Peng. tangannya mengibaskan baju rampasannya itu! ―Tunggu dulu!‖ Bok Ek segera kasih dengar suaranya. Ia bukan membuka dengan baik. ia malah terpeluk semakin keras. kongcu ini mulai menyerang. Si kongcu tertawa. Bercahaya wajahnya yang putih dan bibirnya yang merah. sudah tak usah kau melawan lebih lama lagi. tolong kau lepaskan anakku. si nona bukan tandingannya. ujung baju itu putus dengan menerbitkan suara nyaring itu. Bok Ek lantas maju. Dalam sengitnya. Apakah boleh jadi mereka berasal dari satu perguruan?‖ Sekarang si kongcu tidak mau mengalah lagi. Irawan D Soedradjat Page 178 Nona itu mendongkol. Pemuda itu tertawa lebar. Itulah permintaann ceriwis. mulai membalas menyerang. Mereka itu sama-sama lincah.‖ ia minta. suaranya perlahan. Sekarang terlihat kongcu ini dengan pakaian dalamnya dari sutera hijau muda yang indah. Pemuda-pemudi itu berimbang usianya. Ia menggunai tangan kirinya. tangan kanan si kongcu sudah menyambar. Orang banyak bertempik bersorak. maka robeklah bajunya. mereka tampan dan elok. Bok Ek dan Kwee Ceng terperanjat. mereka pun pandai silat. karena itu sukar untuk si nona membalas mendesak. sampai tiba-tiba orang dengar suara ―bret!‖ robek. Setelah menyaksikan lagi sekian lama. ia sekalian menolak seraya cekalannya itu dilepaskan. untuk lihaynya si kongcu dan untuk kelincahan si nona.‖ berpikir Kwee Ceng setelah ia menyaksikan terlebih jauh. yang itu malam menempur aku. Maka ada menarik akan menyaksikan baju indah si kongcu bagaikan bercahaya. hingga si nona manis lantas berada di dalam pelukannya. belum lagi tubuh orang mengnai tanah. Ia lantas berontak. si nona menjejak. kedua tangannya bergerak. anginnya menyambar keras. Mereka tidak sangka. tapi ada juga yang menggerutu. Maka tidak ampun lagi. sungguh cocok apabila mereka menjadi pasangan hidup. dan baju si nona seperti mega bermain. Karena ini tidak lagi ia benci si kongcu untuk kelakuannya di rumah makan baru-baru ini. Si nona lantas lompat mundur jauh-jauh. Tanpa berkata apa-apa. yang pinggangnya dilibat dengan sabuk hijau. nona itu rubuh terjengkang. Nyata si nona dapat menjambret ujung baju si kongcu dan ia menariknya. selagi si nona mengerahkan tenaganya. Kwee Ceng jadi berpikir: ―Ilmu silatnya dia ini mirip betul sama ilmu silatnya In Cie Peng. ―Pasti jodoh mereka bakal terangkap…‖ Bok Ek pun girang melihat jalannya pertempuran ini. malah untuk merapatkan saja sulit. sebab si kongcu juga membetot. si imam muda. ia masih belum mau melepaskan pelukannya. Ia tahu si nona bakal mengibas keluar. ―Kongcu. ketika tangan kirinya menyambar. sekarang ia mengharap-harap akan kemenangan si kongcu. Si nona menjadi sangat malu. malah ia lantas berseru: ―Anak Liam. kancing-kancingnya jatuh di tanah. satu kongcu demikian lihay. merangkul. silakan kau loloskan bajumu. Hanya.Pendekar Pemanah Rajawali Penonton semua kagum. ―Kongcu sudah menang. untuk kamu menentukan kemenangan terakhir!‖ Kongcu itu bermuram wajahnya. sedang si kongcu kata di dalam hatinya. tangan kiri si nona kena dicekal. Kwee Ceng pun kagum.

‖ ―Aku tidak sempat. manusia hina dina! Bayar pulang sepatu anakku itu!‖ Kongcu itu mengawasi. Irawan D Soedradjat Page 179 . ―Harum! Harum!‖ ―Kau she apa kongcu?‖ Bok Ek menanya. maka pengiring itu berkoak kesakitan. Bok Ek habis sabar. ―Kau toh telah mengalahkan anakku!‖ ia kata. lantas saja berseru-seru. ia jatuh terduduk di tanah. tempo akhirnya ia bebas. mulutnya mengeluarkan darah. Sebab sepatunya telah terlepas.‖ berkata Bok Ek. ia suruh lain pengiringnya tolongi pengiring yang terluka itu. untuk menaikinya. untuk menyerang kedua pelipis orang. seketika ia roboh di tanah. Nona ini penasaran. maka itu tentu saja aku hendak jodohkan anakku ini denganmu.‖ Kongcu ini berkelit sambil menjajak sanggurdinya. Ia tertawa. ―Tidak usah bicara lagi!‖ katanya. tapi ia menoleh kepada si nona yang ia awasi. tangannya melayang. sepatu siapa ia masuki ke dalam sakunya. sembari tunduk. Kongcu itu pun tertawa. maka itu tubuhnya lantas mencelat ke tengah kalangan. ia tertawa besar. ―Jadi kau sengaja mengganggu kami?!‖ berteriak Bok Ek. Kongcu itu tetap tidak mengambil mumat. tetap ia memegang tubuh di nona. Ia menjadi malu sekali. ―Akan aku adu jiwa!‖ berteriak ayah yang dipermainkan itu seraya ia lompat berjingkrak. Ini ada urusan seumur hidupnya manusia. ―Anakku pun tidak nanti nikah dengan kau. ―Tidakkah itu sangat menarik hati? Tentang perjodohan. beberapa penonton bangsa bergajul. ―Apakah yang hendak dibicarakan?‖ tanya kemudian. dengan begitu. beberapa giginya rontok.Pendekar Pemanah Rajawali Kongcu itu melepaskan tangannya yang kanan. ―Ada apa sangkut pautnya denganmu?‖ Ia terus geraki tangan kirinya itu dan terlepaslah cekalannya Bok Ek. Pengiringnya si kongcu tertawa dingin dan menyela. Kongcu itu berdiri sambil tertawa haha-hihi. terima kasih banyak!‖ Mukanya Bok Ek menjadi pucat. ia berontak sekuat tenaganya. ia tertawa. ia raba kaos kakinya yang putih. ―Mari kita pergi sama-sama ke sana untuk berbicara. air mukanya sampai berubah. ia injak sanggurdi denagn sebelah kakinya. ―Kami tinggal di Hotel Ko Seng di jalan utama kota barat. Itulah jurus ―Ciong kouw cie beng‖ atau ―Gembreng dan tambur ditabuh berbareng.‖ berkata si anak muda. ―Bukankah kita main-main dengan ilmu silat?‖ katanya. tangan itu dipakai menangkis dan menangkap kaki orang. ―Kau kira kongcu kami ini bangsa apa? Kongcu kami bersanak dengan kamu orang kangouw tukang jual silat dari kelas tiga rendah empat bawah? Hm! Pergilah kau tidur dengan mimpimu di siang bolong!‖ Bukan main gusarnya Bok Ek. dengan tangan kirinya ia cekal lengan kiri pemuda itu. ia tidak menghiraukan sikap ceriwis si pemuda. seraya ia putar tubuhnya untuk minta jubah sulamnya dari pengiringnya. ia sendiri menghampirkan kudanya. terus pingsan! Kongcu itu tidak ambil peduli kejadian itu. ―Aku telah melepas kata. ―Kau…! Kau…!‖ katanya kemudian seraya menuding. ia sampai berdiam saja. yang ia bawa ke hidungnya! Melihat itu.‖ ia menyahuti. ia tunduk. mana bisa kita memandangnya enteng?‖ Kongcu itu melengak. Bok Ek heran. ―Sepatu ini toh anakmu yang dengan suka sendiri menghanturkannya kepadaku. kedua tangannya digeraki berbareng. tangannya mencekali sepatu orang. ―Baik!‖ serunya.

orang tua. untuk menolongi. Ia tidak lantas menginsyafi orang lagi permainkan padanya. Bok Ek kaget bukan main. Kongcu ini terang selain ceriwis pun kurang ajar dan keterlaluan. Cumalah mereka bisa mendelu saja. Bok Ek sudah lantas lompat untuk menerjang pemuda itu. ke arah kedua belah pipi. Kwee Ceng melongo sebentar. ia tangkis tublasan itu. lupa kepada tangannya yang sakit. Sebab belakang telapakan tangan dari Bok Ek telah berlumuran darah! Si nona menjadi kaget berbareng gusar. Kongcu itu tidak memandang enteng kepada musuh ini. Bok Ek tarik lengan kirinya. Ketika lawan itu berkelit. untuk mengejek. ―Bagaimana baru tepat?‖ Semua pengiring si kongcu tertawa ramai. Para penonton menjadi mendongkol berberang berduka. sepuluh jarinya berubah menjadi merah semuanya. tangan kirinya membalas menyerang perut dengan jurusnya ―Tok coa sim hiat‖ yaitu ―Ular berbisa mencari lubang. pada bagian belakang telapakan tangan. ―Habis kau mau apa!‖ ia menantang. ―Kau harus menikah dengan baik-baik dengan nona ini!‖ ia menjawab kongcu itu. dari berkesan baik mereka menjadi jemu dan membenci. Tapi cuma sebentar saja. sebab si nona tidak keburu membatalkan tikamannya. Adalah Kwee Ceng yang tidak dapat melihat terlebih jauh. Mereka lihat roman orang yang ketolol-tololan. semua penonton menjadi panas hatinya. Mereka pun tidak berani mencampur tangan. Ia robek ujung baju si ayah. ai memburu kepada ayahnya itu. lalu ia lolos dari bahaya. dengan tidak kalah sebatnya.‖ Bok Ek berkelit ke kanan. Tangan kirinya itu telah diangkat ke depan mukanya. Tentu saja mereka menganggap itu lucu. ia mendesak. maka dengan sebat ia berkelit. maka ia tidak mau main acuh tak acuh lagi. ia membalas dengan sama hebatnya. sesudah mana dari samping. Kongcu itu mengetahui orang seperti kalap. ―Halo. guna melindungi mukanya. Para penonton berseru kaget. terus ia tertawa. lagi ia menyerang. menyusul itu. Untuk membalas serangan dengan serangan. sahabat! Perbuatanmu ini tidak tepat!‖ Kongcu itu berpaling. Tiba-tiba tangannya merogoh ke sakunya. Bok Ek tolak mundur anaknya. maka sekarang ia terlukai anaknya itu. ia tercengang. ia tertawa haha-hihi. dan lagu suaranya pun beda dari lagu suara mereka. dari situ ia menyerang pula. ia hanya tidak menyangka semua serangan lawan sedemikian berbahayanya. Itulah salah satu jurus ―Eng Jiauw Kun‖ atau ―Kuku Garuda‖ dari ilmu silat Utara. bahwa serangannya itu sangat berbahaya. ia memandang tajam kepada si pemuda. atau aku tidak hendak berhenti!‖ Wajahnya si nona guram. menyusul mana ia menarik tubuhnya. Inilah mereka tidak sangka. agaknya dengan gampang saja ia mendak sedikit. Selagi si kongcu hendak menaiki pula kudanya. menyambar kedua tangannya Bok Ek itu. kapan ia lihat anak muda kita. Kongcu itu lihay. Si kongcu miringkan kepalanya. mendadak saja kedua tangannya bergerak. ―Jikalau aku tidak sudi nikahi dia?‖ dia tanya. sikap dan lagu suara itu telah diajoki kongcu mereka. bukan?‖ kata ia sambil tertawa. akan mengasih keluar sebuah pisau belati dengan apa ia terus tublas dadanya sendiri. dua jari tangannya mencari pundak bagian yang kosong. dalam sikap ―Touw in hoat jit‖ atau ―Nyelusup ke mega menukar matahari‖. ia berseru. ia menyerang dengan tangan kanannya. tidak ada yang berani membuka mulut. Irawan D Soedradjat Page 180 . ―Kau minggir!‖ katanya sengit. ―Hari ini saku mesti mengadu jiwa dengannya. kali ini dengan kedua tangannya. Inilah pukulan ―Wie Hok Hong cu‖ atau ―Malaikat Wie Hok mempersembahkan toya‖. ia bertindak ke dalam kalangan. guna robekannya dipakai membalut lukanya. Kecuali bangsa bergajul. mencelat mundur.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau aku telag hajar roboh padamu. dilain pihak. tidak kelihatan ia menarik pulang tangan kirinya atau tangan kanannya sudah melakukan penyerangan pembalasan. kau tentunya tidak bakal memaksa aku nikahi anakmu.

kau tinggalkan she dan namamu!‖ Kongcu itu berpaling. Kwee Ceng menjadi habis sabar. ―Kau gemar campur urusan bukan urusanmu!‖ ia berkata.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau kau tidak sudi menikah dengannya. tidak dapat aku memanggil mertua kepadamu. dia buka tindakannya yang lebar. Ia Cuma merasa orang masih terlalu muda dan belum mengenal dunia. Ia telah gunai salah satu tipu dari ilmu silat Kim-na-ciu. apa perlunya kau maju dalam pertandingan?‖ Kwee Ceng tanya. ―Bukankah kau menaruh hati kepada nona itu?‖ ―Bukan!‖ jawab Kwee Ceng. sakit hati ini tidak dapat tidak dilampiaskan!‖ Terus ia kata dengan suara nyaring: ―Anak muda. ―Aku tidak tahu Oey Yok Su itu orang macam apa. ia bebsa dari tendangan orang itu. ―Ilmu menotok jalan darahku itu adalah guruku yang kedua yang mengajarkannya. ―Eh. jangan kau ladeni dia!‖ dia berkata. kenapa kau hendak pergi pula?‖ ia menanya. . hanya ia pun balik menanya. Kwee Ceng ulur tangannya untuk mencegah. ―Aku tidak mau memberitahu‖ jawab Kwee Ceng pula. kau tidak mengerti urusan. Kongcu itu tertawa dingin. disamping ia mendongkol terhadap si kongcu. untuk berjalan pergi. Bok Ek hampairkan ini anak muda. mencekal kedua nadi si kongcu. kenapa kau tidak sudi menikah dengannya? Jikalau kau tidak hendak menikah sama nona macam vegini. ―Saudara kecil. maka kenapa kau begini melit hendak mengetahui she dan namaku?‖ ia bertanya.‖ menjawab Kwee Ceng. Kwee ceng tidak menjawab. bicara denganmu sia-sia saja!‖ kata si kongcu. ia lompat kepada pemuda itu. 181 Kongcu itu terkejut berbareng gusar. kau bayar pulang sepatunya si nona!‖ ia membentak. ―Nona ini cantik dan ilmu silatnya pun sempurna. Sajak tadi ia mendengari orang pasang omong. sebelah kakinya menendang ke bawahan perut si anak muda. yang semuanya terdiri dari tujuh puluh dua jurus. ―Kau mau mampus?!‖ tanyanya. ―Asal nyawaku masih ada. hingga orang terlempar tubuhnya. ―Siapa guruku. dengan sebat ia tarik tangannya kongcu itu. ―Sebenarnya kau hendak membayar pulang sepatu itu atau tidak?‖ Dengan mendadak saja anak muda ini menggeraki kedua tangannya. Sampai di situ. ―Sebenarnya kau hendak main gila denganku atau bagaimana? dia tanya tegas kemudian. ―Aku sudah bilang. Ilmu silat itu adalah untuk menangkap tangan lawan. siapa yang ajarkan kau ilmu menotok istimewa dari pulau Tho Hoa To it?‖ si kongcu masih menanya. di belakang hari ke mana lagi kau hendak mencarinya?‖ ―Eh. Kongcu itu menatap. ―Kau sebenarnya murid siapa? Kau memanggil apa kepada Oey Yok Su dari pulau Tho Hoa To?‖ Kwee Ceng menggoyangi kepalanya. dengan begitu. ia hanya mengawasi dengan tajam. ―Apakah kau tidak lihat itu merek bendera yang menjelaskan pibu untuk pernikahan?‖ Kongcu itu tidak menjawab. masa bodoh!‖ berkata itu pemuda yang lantas memutar tubuhnya. ―Bukankah aku telah beri nasehat kepadamu untuk kau nikahi nona ini?‖ kata Kwee Ceng. tak dapat aku beritahu padamu!‖ ia jawab. ―Baiklah. ―Habis kenapa?‖ kata si kongcu lagi. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng tidak menangkis atau berkelit. ―Kalau begitu. yang menggeleng kepalanya. ―Siapa itu gurumu yang kedua?‖ tanya kongcu itu kemudian. Ia berontak tetapi tidak berdaya. ia tertawa. tahu ia bahwa anak muda ini baik hatinya dan berpihak padanya.‖ ―Habis.

sudah saja. ia tidak terluka. Si kongcu lantas menggunai ketikanya. akan tetapi ia dipaksa menyerahkan sepatu si nona. Hanya dengan begitu. dipakai menungkrap kepala orang. Kwee Ceng menangkis. tidak patah tulang-tulang rusuknya. karena berberang ia berkelit. Tiba-tiba saja ia merasakan sakit pada dadanya. Irawan D Soedradjat Page 182 Kwee Ceng tidak menyahuti. Ia berkelit. Ia menjadi kaget dan mendongkol. Mereka yang gemar menonton menjadi kecele. Dalam pada itu. Hanya sampai sebegitu jauh. sebab si kongcu sudah tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu. ia dapat menendang terus-terusan sembilan kali. walaupun ia telah terlempar. ia menggeleng kepala. hingga ia merasakan sakit di dadanya itu berkurang.Pendekar Pemanah Rajawali Kongcu itu enteng sekali tubuhnya. Ia merasa asing untuk kelakuan curang. Pangeran Wanyen Kang Kena dihajar secara demikian. ―Hm. Ia menjadi gusar sekali. ia melakukan pembalasan. maka tempo kakinya disambar. Justru itu dua kali iganya kena dihajar. Kwee Ceng mengawasi. Kongcu ini jeri juga terhadap Kwee Ceng. Kwee Ceng belum mendapatkan kesempurnaannya. Karena ini ketika ia didesak. maka dalam sekejap saja. selama dua tahun ia telah peroleh latihan tenaga dalam dari Tang Yang Cu Ma Giok. dengan mengasih dengar suara ―Bruk!‖ ia roboh memegang tanah! Semua pengiringnya si kongcu lantas bertepuk tangan dan tertawa. maka dia segera maju seraya tangan kirinya dipakai menyerang ke pundaknya si pemuda. lalu perlahan-lahan ia melihat perubahan. bahwa orang tidak ingin berkelahi. ia menjadi gusar sekali. jubahnya itu dilayangkan sekali. ia hanya menjalankan napasnya. Ia berlompat bangun kapan ia lihat orang kembali hendak ngeloyor pergi. Kongcu itu menjadi repot. ―Buat apakah aku bertempur denganmu?‖ ia berkata. ―Dengan kepandaian begini kau hendak mencari balas untuk orang lain?‖ ia mengejek. baik kau pulang dulu untuk belajar lagi sama gurumu sedikitnya buat duapuluh tahun!‖ ―Lihat kepalan!‖ ia berseru sambil menyerang. ia Cuma terpelanting. ia berklit dan berlompatan tiada hentinya. bocah?‖ ia berseru. ia telah kalah satu babak. Karena ini keduanya menjadi terpisah. dengan tendangan beruntun Wanyoh Lian-hoan-twie. ―Kau sudah bosan hidup. ia cuma terjerunuk. maka tidak membuat tempo lagi. Kwee Ceng gelagapan. Kwee Ceng lantas aja singkirkan jubah sulam yang menungkrup kepalanya itu. semuanya cepat dan hebat. pemuda kita merasa kegelapan mata. ia tertawa tawar. walaupun ia terhajar hebat. Syukur untuknya. tidak sampai ia mencium tanah. atau ia menjadi kaget. mana dapat ia mengalah: Tidakkah ia berada di hadapan orang banyak? Maka itu seraya menyingkap jubahnya. kau bayar pulang sepatunya itu!‖ Orang banyak menyangka pemuda ini hendak membelai keadilan. itu cocok dengan keinginannya. Mulanya di Mongolia ia menghadapi orang-orang jujur. Bab 17. ―Apakah kau hendak pergi?‖ menegur Kwee Ceng seraya menyambar jubah orang itu. ―Kau tidak mau nikahi dia. Bagus untuknya. Kongcu itu tepuki kempolannya yang penuh debu. mulutnya mengasih dengar tertawa dingin. dengan ilmu mana Han Po Kie pernah robohkan beberapa jago dari Selatan dan Utara. tetapi yang kedelapan dan kesembilan. telah mengenakan kempolannya kiri dan kanan. ia cuma merasakan sangat sakit. Pertempuran itu merupakan satu pengalaman luar biasa untuknya. . akhirnya cuma sebegitu saja sikapnya. ia kewalahan. ia tak sampai tertendang roboh. ia sadar akan dirinya. ia memutar tubuh. Tidak sempat ia mengempos semangatnya. Inilah pelajaran yang ia wariskan dari Ma Ong Sin Han Po Kie di Malaikat Raja Kuda. Kongcu itu kena tertendang. Tujuh tendangan ia bisa kasih lolos. mereka tidak ayana.

aku tidak mau mengerti!‖ Kongcu itu tertawa melihat orang berkukuh. seraya mundur. ia maju pula. Ia juga berkhawatir untuk Irawan D Soedradjat Page 183 . Ia tahu. ―Aku tidak kenal dia. Kedua tangan lantas bentrok. untuk menyerang. ―Jikalau kau tetap ganggu aku. dalam keadaan sulit itu. Kelihatan nyata. sedikitnya ia bakal diseret ke kantor pembesar setempat. ia lepaskan diri dari tangan Bok Ek. jangan salahkan aku berlaku kejam!‖ kongcu itu mengancam. dari itu. jangan kita layani segala manusia hina!‖ Kwee Ceng roboh dengan mata kabur dan kepala pusing.Pendekar Pemanah Rajawali Dengan mendak. ia hendak mengerahkan tenaganya. Tiba-tiba ia ingat bahwa ia tidak bermusuhan sama si kongcu. Lukanya telah dibalut rapi oleh putrinya. hanya setelah itu. Pertempuran seru itu ditonton semakin banyak orang. ia menangkis dari belakang. Kwee Ceng menyedot napas. pemuda itu bukan lawan si kongcu. tak sempat ia menahan dirinya. Si kongcu sendiri merasa lucu berbareng mendeluh. ia lantas maju. dengan cepat ia mencelat bangun. romannya ketolol-tololan. Tidak dapat Kwee Ceng bertahan. malah tinjuan itu dilakukan saling susul hingga tiga kali. ia menjadi gusar sekali. ia ingin membalas. yang menangkis dengan tangan kiri. Maka itu mereka menjadi berimbang. ia membela diri dengan berlaku hati-hati. sudah membarengi menyerang dengan tangan kanan kanan ke arah pinggang. tangan kirinya menyambar ke muka orang. Ia sudah terjerunuk melewati lawannya. maka setelah dikasih bangun. Kongcu itu dapat berkelit. dengan menggeser pinggangnya. yang menang seurat. tetapi sikutnya mengenai tanah. Selama tujuhpuluh jurus. Menampak demikian si kongcu menggunai akal. ia cuma mendongkol. kalau datang polisi. Kwee Ceng berkelit. untuk mengasih bangun. Bok Ek menonton dari bawah benderanya. ipar. hanya ia merangsak. kongcu itu berkelit. untuk memegang tangan orang yang kanan itu. ia lantas geser incarannya ke sisi sasanan semula. awas!‖ ia berseru seraya menyerang. ―Kau pulangi sepatu orang!‖ bentak Kwee Ceng. untuk mencari kemenangan. ia rubuh ngusruk. ia lantas menyerang. lalu ia membalas. Ia berlaku sangat sebat. ia didesak oleh si pemuda yang bersilat dengan ―Hun-kin Co-kut Ciu‖ yaitu ilmu silat untuk memisah otot-otot dan tulang. tidak lagi ia kena dipancing. Ia hendak menotok jalan darah hian-kiehiat. dari belakangnya datang serangan. Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu. Itulah cacian di antara orang Pakhia. tenaga dalam Kwee Ceng terlatih besar tetapi si kongcu menang latihan ilmu silatnya. kau masih belum takluk?‖ berkata si kongcu. maka kewalahan juga si kongcu. mereka menjadi bergumul pula. pemuda itu terguling jatuh. ―Kalau tidak. Kwee Ceng melawan. kakinya dibarengi dipakai menendang dada lawannya. tetapi ia tidak tahu. mereka berimbang dengan ketangguhannya. tubuhnya sekalian diputar. keduanya bertempur terus. mati kita pergi. Si kongcu menangkis. Maka tidak ampun lagi. mendapatkan tiga kali Kwee Ceng roboh. Kali ini pemuda ini berlaku waspada. ia ditertawai sekalian pengikut si kongcu. ―Kau pergi!‖ berseru si kongcu. Kwee Ceng tidak menyahuti. Karena dicaci begitu. selagi begitu ia masih tetap menolak. Maka adalah diluar dugaannya ketika si kongcu. Tiba-tiba ia rasai tenaga lawan lenyap. Ia pun kata: ―Lao-tee. ia bisa dapat susah. ―Bukankah nona itu bukan adikmu?‖ ia bertanya. buat terus ditarik dengan kaget sambil berbareng kakinya dipakai menjejak paha si pemuda. ―Kenapa kau seperti hendak mengadu jiwa memaksa aku menjadi toakomu!‖ ―Kurang ajar!‖ mencaci Kwee Ceng. Kongcu ini pernah juga menyakinkan Hun-kin Co-ku Ciu hanya pelajarannya beda daripada pelajaran Kwee Ceng yang didapat dari Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong. Bok Ek jadi merasa tidak enak hati. yang tangannya menolak keras. Habis itu. maka itu. tubuhnya terhuyung ke depan. ―Tolol. ia kalah pandai tapi ia bersemangat. Kwee Ceng tidak tahu lawannya lagi memancing. mereka saling menolak. ―Eh. Ia tahu sekarang. Ketika ia bisa menahan dirinya. siapa bilang dia adikku!‖ Ia gusar sebab kongcu itu ejek dia sebagai toaku. Ketika ini digunai si kongcu.

Orang disebutnya siauw-ongya dan ongya. sia-sia saja beberapa kali siauw-ongya menyerang padanya. Dia berdiri tegar hingga ia melebihkan tingginya semua orang. hingga beberapa orang disampingnya menjadi terkejut. ―Bocah ini adalah muridnya Kanglam Cit Koay. si muka biru dan kurus itu sudah berlompat maju ke tengah kalangan seraya ia berseru: ―Hai bocah. sebab rambutnya sudah putih semua. tak bisa diduga usianya yang tepat. Ia dapatkan Kwee Ceng berubah silatnya. ada juga yang membekal senjata. Orang yang ketiga bertubuh kate dan kecil.‖ sahut si kate kecil itu kemudian. matanya mencorong tajam. ―Siauw-ongya lebih lihay daripada lawannya itu!‖ Orang ini kate dan kecil akan tetapi suaranya mengejutkan. jubahnya merah dan gerombongan. tubuhnya besar. dia pun berkata: ―Siauw-ongya telah belajar ilmu silat belasan tahun. itulah ilmu silatnya kaum agama Coan Cin Kauw. semua pada berpaling memandang dia. yang bicarakan silat kedua anak muda itu. bencana akan datang kalau sampai siauw-ongya itu terluka. mungkinkah si kate kecil ini adalah kepala berandal? Nama Kanglam Cit Koay sudah lama tidak terdengar. ―Umpama kau sendiri. ―Bukankah kaum Coan Cin Kauw itu bangsa aneh? Kenapa mereka justru mewariskan kepandaiannya pada siauw-ongya…?‖ ―Ongya pandai bergaul. di jidatnya ada tiga tahi lalatnya. Ia kata di dalam hatinya: ―Dia memanggil Pheng Ceecu. ―Pheng Ceecu benar.‖ berkata seorang di pinggiran. dia tentu bukan satu gurunya. ―Kelihatannya kepandaiannya itu kacau. Dia pun bermata tajam. ―Leng Tie Siangjin.‖ ―Sungguh begitu. Irawan D Soedradjat Page 184 . Dia tentu tidak senang ada orang yang membantu padanya…‖ ―Eh. ialah gerakannya jadi ayal tapi tubuhnya terjaga rapat. Dengan perlahan-lahan Bok Ek menggeser ke tempat pengiring-pengiringnya si kongcu. ―Baik kau maju dan hajar bocah itu. tubuhnya sedang saja. apa benar mereka masih hidup?‖ Selagi Bok Ek berpikir. segera ia lihat. sungguh aneh!‖ kata si kate kecil itu. ―Kalau mataku tidak salah. kecewa kalau itu tidak dipertontonkan di muka orang banyak. Si ubanan sudah lantas mengawasi kedua anak muda yang lagi bertempur itu. saudara Nio. Di sebelah mereka. Dia tersenyum. Kau biasa menjagoi di dua propinsi Shoatang dan Shoasay. Si rambut putih tertawa. Adalah si rambut ubanan yang berkata sambil tertawa: ―Paling juga kakimu dikemplang patah! Mustahil ongya hendak mengehndaki jiwamu?‖ Bok Ek terperanjat.‖ berkata satu pengiring. nampaknya sangat gesit.‖ berkata si kate kecil. yang matanya bersinar. ―Haouw Laotee. diantara mereka itu ada tiga orang yang menarik perhatiannya. dari partai mana asalnya ilmu silat si bocah itu?‖ ia tanya. Suara itu nyaring. Yang satu adalah satu pendeta bangsa Tibet. dia tidak menjawab. i antara siapa ia tampak beberapa yang matanya tajam dan air mukanya luar biasa. Haouw Laotee. hilanglah jiwa kami semua…‖ Itulah se pendeta Tibet yang ditegur. ―Ilmu silat siauw-ongya itu ada dari partai mana?‖ Kali ini ia berbicara dengan perlahan. kenapa kau juga berada di istana ongya?‖ Si kate kecil itu mengangguk. Kalau begitu. coba bilang. mengawasi mereka. kalau mereka bertempur terus dan siauw-ongya salah tangan hingga ia terluka. yang mukanya kurus dan sinarnya biru. Si rambut putih tertawa. mukanya pun bersinar merah. benar juga. Tidakkah di antara pengiringpengiringnya si siauw-ongya adalah orang-orang yag gagah dan lihay?‖ ―Jangan takut!‖ berkata si orang kate dan kecil. bukan?‖ ia berkata.‖ Bok Ek pandang ornag itu. coba lihat. ada yang bertaruh untuk siapa yang bakal menang. ―Haouw Laotee. pangeran muda dan pangeran. hanya mukanya bercahaya segar. siapa saja tak dapat ia undang?‖ kata pula si rambut ubanan itu. dan tidak keriputan. Karena romannya yang luar biasa itu. Maka juga. Orang yang kedua sudah lanjut usianya. tukang jual silat ini terkejut hatinya. kau ke sini!‖ Dia pun menarik keluar sebatang kongce atau cagak dari dalam sakunya. hingga mereka lekas-lekas melengos. kopiahnya disalut emas. kau lagi uji mataku.Pendekar Pemanah Rajawali banyaknya orang.

untuk angkat langkah panjang. Kongce itu ada cagak tiga. yang dipermainkan Oey Yong. tambah tanda tapak lima jari tangan. setelah datang dekat. Merekalah tiga Siluman dari Hong Ho. Hauw Thong Hay bukan menyerang Kwee Ceng. Song-bun-hu Cian Ceng Kian. Kelakuan Hauw Thong Hay itu. Pemuda dengan pakaian tidak karuan itu adalah Oey Yong. membuatnya orang banyak saban-saban tertawa riuh. dia hanya maju ke antara orang banyak. terlihatlah datang memburunya tiga orang yang napasnya tersengal-sengal. Dan orang ynag matanya tajam bagaikan kilat itu adalah orang ynag sangat terkenal di Tionggoan. si Siluman Tua. dibelakangnya. Segera juga orang banyak tertawa riuh. kawannya yang ubanan tapi mukanya tampak segar bagai muka anak kecil. yang ia tinggalkan lalu ia berdiri diam. semuanya tajam. sinar itu ditimpali tiga gelangnya yang bergerak dan berbunyi nyaring setiap kali digeraki. berulang-ulang ia tikam bebokong orang yang ia kejar itu! Oey Yong sangat lincah. Dewa Jinsom. Dewa Jinsom-Siluman Tua. keistimewaannya ialah ilmu Tay-ciu-in. segera aku kembali!‖ ―Lebih baik kau mengaku kalah!‖ mengejek si kongcu. Itu waktu barulah Kwee Ceng menginsyafi bahwa sebenarnya Oey Yong itu lihay ilmu silatnya. Irawan D Soedradjat Page 185 . Terang sudah dia telah kena ditampar oleh lawannya yang licin itu. kapan ia lihat siapa yang dikejar Thong Hay. menyebabkan rombongannya Leng Tie Siangjin memperbincangkannya. Kwee Ceng sedang bertempur. mulutnya mencaci kalang kabutan. tapi ia segera bersiap.Pendekar Pemanah Rajawali Orang banyak terkejut. dia menjerit ―Ayo!‖ seraya terus memutar tubuh. ai terkejut. ketua dari partai Tiang Pek Pay dari Gunung Tiang Pek San. Pembunuh Sribu Tangan. tanda arang hitam. Dalam saat itu. tiba-tiba ia tampak sahabatnya itu lari mendatangi. ditimpali sama kalapnya Thong Hay. Oey Yong menanti sampai orang sudah datang dekat. namanya Pheng Lian Houw. Julukan ini harus dipecah dua: Siapa yang menghormati dia. setiap kali ia dapat pisahkan diri jauh-jauh dari lawannya. aku Sam-tauw-kauw tidak sudi menjadi manusia!‖ Thong Hay sesumbar. ia sudah lantas kena ditendang si kongcu. hingga ia dijuluki Som Sian Lao Koay. Ia nyelusup sana dan nyelusup sini di antara orang banyak. Karena ini. Mukanya Hauw Thong Hay. selalu dapat ia kelit tubuhnya. sinarnya berkilauan. memanggilnya Som Sian. tapi senjata itu tidak dihiraukan Oey Yong. Tentu saja ia tidak kenal si orang ini. Kwee Ceng tidak berniat berkelahi terus. adalah Nio Cu Ong. ia heran atas itu suara bentakan. sahabat barunya. tetapi justru ia hendak melompat lari. Ia berteriakan. pada pipinya yang kiri dan kanan. yang pakaiannya compang-camping. ada yang berteriak. dan anak-anak yang lagi nangis.com dan utara Sungai Besar. ia khawatirkan keselamatannya Oey Yong. ―Jikalau aku tidak berhasil menggeset kulitmu dan mematahkan tulang-tulangmu. Thong Hay mengejar terus. sepatu kulitnya diseret hingga berisik kedengarannya. tidak tampak. Siluman yang keempat. ialah Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. Leng Tie itu adalah paderi dari Tibet. kalu ditakut-takuti. ―Tahan dulu!‖ ia berseru seraya lompat keluar kalangan. kapan anak itu dapat lihat dia. ―Peng Lian Houw datang!‖ tentulah berhenti tangisnya. julukannya Cian-ciu Jin Touw.kangzusi. pikirannya lagi kusut. ―Mari! Mari!‖ Oey Yong menantang. Di selatan www. ―Bagus perbuatannya. bahwa ialah yang selama di hutan cemara Hek-siong-lim di Kalgan sudah menggantung Hong Ho Su Koay di atas pohon dan memancing kepada Hauw Thong Hay. Bok Ek pun tidak kurang kagetnya. tangannya menggapai berulang-ulang.‖ ia pikir. Kelakuannya ini. Ia tetap awet muda sebab sejak masih kecil ia doyan makan jinsom serta lainnya pohon obat. ―Aku hendak pergi sebentar. menyebut ia Lao Koay. dari partai Cong Gee. di bawah cahaya matahari. sekalipun wanita umumnya kenal namanya itu. paman gurunya Hong Ho Su Koay. Dia pun terus tertawa. ia diikuti empat orang lainnya yang bukan lain daripada Hong Ho Su Koay. di antara siapa ada satu anak muda yang tubuhnya kurus lemah. Tapak Tangan yang lihay. Di belakangnya tampak Thong Hay tengah mengajar tengah mengejar. dan siapa bukan orang-orang partainya. ia mengejar. kembali ia lari. menoleh dan mengejek. untuk membantu Kwee Ceng.

Dia bersahabat erat dengan Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian si Raja Naga Pintu Iblis. untuk beristirahat. Ketika mereka ini datang dekat. Oey Yong dan Hauw Thong Hay saudh lenyap pula. dia bungkam. Ia berpikir pula: ―Orang ini adalah onghui dari negeri Kim. maka kenapa hari ini orang she Hauw itu jadi demikian tidak berdaya? Selagi Oey Yong permainkan Hauw Thong Hay. sampai satu bocah pun dia tidak sanggup layani?‖ Pheng Lian Houw mengkerutkan keningnya. pangeran muda. Hauw Thong Hay sebaliknya. onghui ialah selir seorang pangeran atau raja. untuk diajak pulang ke penginapannya. lantas terdengar suaranya seorang wanita. ―Ibu. aku senang bermain-main. ―Siapakah telah pergi membawa berita kepada ong-hui!?‖ Tidak ada berani ynag menjawab. Dipihak lain. yang mereka usir pergi. tangan dan kakinya dirasakan ngilu. yang satu bersenjatakan tombak. lari mendatangi dengan napas memburu. Jauh di belakang mereka terlihat Gouw Ceng Liat serta Ma Ceng Hiong. Segara juga joli telah sampai di lapangan pibu. lagi menyerang kalang-kabutan ke kira dan ke kanan. ―Ong-hui datang! Ong-hui datang!‖ pengikut-pengikutnya si siauw-ongya berseru berulang-ulang setelag mereka melihat joli itu. Menyausul rombongan hamba-hamba galak itu. belum kebeuru mereka berangkat. Dari dalam joli. maka ia bertindak. yang tertutup rapat. untuk mendekati joli indah itu. Tangannya Oey Yong sambil mengibar-ibarkan dua potong kain. Semua orang banyak.Pendekar Pemanah Rajawali Berkatalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong: ―Selama aku di Kwan-gwa. hatinya tercekat. dia sangat letih. untuk singkirkan peluh dan debunya. terlihatlah enam orang menggotong sebuah joli besar yang indah. orang banyak itu lantas saja mundur ke kedua pinggir jalan. pertempuran di antara Kwee Ceng dan si siauw-ongya. Siauw-ongya lantas mengerutkan keningnya. kepada orang banyak. Justru itu. kenapa adik seperguruannya ini begini tidak punya guna. mereka sudah dengar ramainya tindakan kaki serta berisiknya gelang konce. telah aku dengar nama besar dari Kwie Bun Liong Ong.‖ terdengar suaranya pangeran muda itu. Bok Ek telah kasih turun bendera Pie-bu Ciauw-cin. dengan cambuk di tangan. mereka menjadi tertarik untuk menonton terus. lalu mereka tampak belasan orang polisi serta pengiring. Maka itu. hingga kelihatan baju dalamnya yang putih. Irawan D Soedradjat Page 186 . pakiaannya menjadi tidak karuan macam: Baju di dadanya robek putus. apakah aku sudah pikun? Sungguh gila untuk memikir yang tidak-tidak…‖ Tidak dapat ia lantas melenyapkan pikirannya itu. ia menjadi diam sambil berpikir keras. aku memikir kepada istriku. bahwa ia lihay sekali. dia pun berdahaga dan lapar. telah berhenti. Kebetulan itu waktu. dengan sapu tangannya. lalu terlihat Oey Yong berlari-lari kembali dengan tetap dikejar oleh Hauw Thong Hay. mari kita pulang bersama!‖ kata si onghui kembali. ―Kenapa suara ini sama suaranya orangku ini?‖ katanya di dalam hatinya. Kembali si Bok Ek terperanjat. yang lainnya ruyung. ia susuti peluhnya. yang halus dan perlahan. yang memegang sapu tangan putih. heran berberang merasa lucu. Suara itu seperti mengaung di kupingnya. suara yang halus: ―Kenapa berkelahi? Baju luar pun tidak dipakai! Nanti masuk angin!‖ Bok Ek dapat mendengar tegas sekali suara itu. dan ia tahu baik Houw Thong Hay lihay. ―Tidak apa-apa…‖ ―Lekas pakai bajumu. dengan apa mukanya si siauw-ongya disusuti. ―Rewel!‖ ia menggerutu. Tapi. yang terus berdebaran. Tiba-tiba ia tertawa sendirinya. si wanita masih mengucapkan beberapa kata-kata. semua pengikut maju untuk memberi hormat. sering mereka ―bekerja tanpa modal‖. ia hampirkan Kwee Ceng untuk dihiburkan. Siauw-ongya telah robohkan Kwee Ceng lima-enam kali. dari dalam joli diulur keluar sebelah tangan yang putih dan halus. yang menjadi penonton. ―Benarkah di kolong langit ini ada dua orang yang suaranya sangat mirip satu dengan lainnya?‖ ia menanya dalam hatinya. Mungkin si saiuw-ongya ditegur dan dihiburi oleh onghui ini. hingga si penjual silat ini tak dapat mendengarnya dengan tegas. sembari berbuat begitu. mereka lantas dengar bentakan-bentakan riuh yang datang dari arah barat.

Ia bertubuh kuat. untuk menangkap lengan orang. ia menjadi lebih kosen. Siauw-ongya menjadi gusar. Ular Naga Kepala Tiga itu. Mengawasi mata orang itu. onghui sampai berparas pucat. Oey Yong itu sebenarnya orang macam apa. Karena ini Leng Tie Siangjin dan Nio Cu Ong lantas menyiapkan senjata rahasia mereka. sepasang matanya terus diarahkan kepada joli indah itu. Sebaliknya siauw-ongya biasa hidup di istana. Kwee Ceng dirobohkan dua kali. Siauw-ongya berkelit. Bok Ek tidak pedulikan segala apa disekitarnya. kapan perlu. ia dapat melihat satu wajah dengan sepasang mata jeli dan rambut yang bagus. separuh mukanya keluar dari tenda. ia kalah ulet. dua kali ia kena dibikin memegang tanah. Bok Ek berdiri menjublak bagaikan patung. sebaliknya mereka merasa. ia pandang Kwee Ceng dengan bengis dan memdamprat: ―Binatang cilik! Lihat. Tapi Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu. ia tendang itu anka muda. terus ia membalas meninju. ia menjadi ulet sekali. sinar mata itu ayu sekali. sekarang di rambutnya Sam-tauw-kauw. berlompat bangun. ia menyahuti: ―Tidak. dia bukan menyerah kalah. Di belakang mereka tidak tertampak dua Siluman. tidak dapat tidak. Mereka jadi semakin sengit berkelahinya. lawannya yang lincah dan licik itu. Kwee Ceng mendahulukan. siauw-ongya itu agaknya tidak takut. lalu ia menyerang. kau telah bikin kotor jubah ini!‖ Satu pengiring lain. ia dapat melayani pukulan berulang-ulang kepada tubuhnya itu. sebelah tangannya diangkat. Irawan D Soedradjat Page Semua orang kaget. Atas itu. pengiring itu roboh terguling. maka ia lantas terdesak. yang satu hendak mematahkan tangan. Kwee Ceng berkelit. Maka tempo tenda tersingkap. tetapi tempo mereka mulai menyerang Kwee Ceng. ibu . mungkin mereka telah kena dirobohkan pemuda itu. ada ditancapkan cauw-piauw atau tanda barang hendak dijual. ini hari aku mesti labrak dia ini!‖ Setelah belasan jurus. ia membalas membangkol dan memegang leher lawannya itu. mereka ditangkap si anak muda. Kwee Ceng lantas terdesak lagi. ―Siapa suruh kau menganiaya rakyat jelata!‖ ia menegur. lalu ia membalas memukul paha siauw-ongya. ia termanja. Orang senang melihat kejadian itu. Maka itu. untuk menolongi kawannya itu. malah ia seperti termanjakan. untuk menolong apabila siauw-ongya benar-benar terancam jiwanya. tangan kirinya membangkol tangan lawan itu. Maka keduanya menjadi berkutat. ia tidak dapat dirobohkan pula. parasnya pun pucat. satu kakinya menyapu. rupanya ia hendak banggakan kegagahannya di depan ibunya. Selama itu. Ia terus lompat. ―Kau masih berani main gila?!‖ tegurnya. Putrinya Bok Ek. Belasan serdadu maju.Pendekar Pemanah Rajawali Satu pengiring menjumput jubah sulam dari siauw-ongya. untuk merabu otot dan tulang musuh. dengan begitu berarti. berbareng dengan mana. Kwee Ceng berkelit. Nio Cu Ong bertiga menjadi heran. Tidak ampun lagi. maka kali ini. yang tangannya mencekal cambuk. sungkan mereka mengepung Kwee Ceng. siauw-ongya itu berkelahi dengan hebat sekali. habis mana. Inilah tidak heran sebab ia hidup di tanah gurun. Terhadap ibunya. Makin lama Kwee Ceng makin gagah. bisa mereka mencegah Kwee Ceng menurunkan tangan jahat terhadap si pangeran muda. guna dipakai menyabet hingga tiga kali. Mereka adalah orang-orang tua yang kosen. lengan Kwee Ceng kena dihajar satu kali. lalu tangan kanannya diteruskan untuk memegang leher lawan. ―Jangan! Jangan berkelahi!‖ onghui berseru mencegah. Siauw-ongya terkejut. sembari berkelahi. ilmu menangkap yang terdiri ari tujuh puluh dua jurus. sembari berbuat begitu. yang lain hendak mencekik. keduanya jadi bertempur lagi. berbareng dengan itu. Satu kali Kwee Ceng menyambar ke muka siauw-ongya itu. Dengan begitu. kedua-duanya saling terancam hilang jiwa atau terluka parah. 187 . Thong Hay hendak menjual kepalanya itu! Ia hanya tidak tahu bahwa ia telah dipermainkan oleh Oey Yong. mengawasi kedua anak muda yang lagi bertarung itu. Ia berkelahi terus. Selagi bertempur. Kwee Ceng berkelahi dengan ilmu silat Hun-kin Co-ku-hoat. ynag tadinya numprah di tanah. lalu dilemparkan saling susul. ia rampas cambuk orang itu. terus saja menghajar ke arah kepala si anak muda. siauw-ongya sebaliknya dengan Kim-na-ciu. Ia pun menang ‗kang-lat‘ atau tenaga latihan. ia membentur sikut kanan si pemuda agung. Itu waktu. untuk tolongi dua serdadu yang dilemparkan paling belakang. atas mana. hingga mereka menduga-duga. dengan tangan kanannya. Oey Yong dan Thong Hay telah berlari-lari balik. ia maju. satu demi satu.

Ia berkelit dengan cepat. kedua tangannya sakit. tiang bendera lantas terlepas dari cekalannya. akan tetapi. lebih-lebih ia tahu. meskipun Kwee Ceng hanya bergenggaman tiang bendera. tangannya menyambar tombak di tangan seorang serdadu yang berada dekat dengannya. segera ia menikam Kwee Ceng. hanya kebutan itu tinggal sepotong. ia segera menarik pulang tanagnnya. untuk dilemparkan. Nyata muka Kwee Ceng kena digaplok. ia layani tombak musuhnya itu. Tidak ampun lagi. Ia nyata telah menggunai ilmu silat bangsa Mongolia. hingga serangan itu batal. Dengan menggulingkan tubuh. dia adalah satu tojin atau imam usia pertengahan. ia maju ke Kwee Ceng. ia lompat mundur. yang terus saja melibat tangannya si orang she Pheng itu. yang kemudian berkata: ―Tuan. untuk menyampok tiang bendera. Peng Lian Houw bertindak ke dalam kalangan. ia sudah berdaya. sesudah mana ia berlompat bangun. terus ia kerahkan tenaganya. Belum sempat ia memandang orang. Mendengar suaranya onghui. Tetapi Lian Houw tidak diam saja. ynag bersilat denagn tipu Hang Mo Thunghoat. Keras pukulan itu. Seumurnya kecuali Bwee Tiauw Hong. sekonyong-konyong datang teriakan dari antara orang banyak: ―Perlahan!‖ Lalu terlihat melesetnya satu bayangan abu-abu perak disusul serangan semacam senjata. Karena didesak tak hentinya. Tiang bendera itu terlalu panjang. makin lama ia menjadi makin heran.Pendekar Pemanah Rajawali Disaat itu terdengar suara menggelepok. setelah mana. Hek Pian-hok Kwa Tin Ok si Kelelawar Hitam. tidak kepada anak perempuan. sebab siauw-ongya merubah siasat. ia sambar bajunya siuaw-ongya. Yang menegrti ilmu itu. hingga ia tercengang. Siauw-ongya dilemparkannya. ia terguling roboh. Pheng Lian Houw berpaling kepada si pangeran muda dan berkata sambil tertawa: ―Siauw-ongya. tidak dapat ia mencegah mengucurnya air matanya. tangannya mencekal sebatang hudtim atau kebutan. Kwee Ceng merasakan matanya berkunang-kunang dan kepalanya pusing. Di sini ia gunai kesempatannya. Kwee Ceng menghindarkan diri. atau satu pukulan telah menjurus ke mukanya. belum pernah ia menemui tandingan selihay ini. Kwee Ceng merasakan telapak tangannya sakit. Dia ini sebat. untuk melakukan penyerangan membalas. Diakhirnya terdengar teriakannya onghui: ―Berhenti! Berhenti! Jangan berkelahi lagi!‖ Karena nyonya agung itu mendapatkan putranya telah bermandikan keringat. ia sambar tiang itu. ia dikam terus. ia menyambar kedua kaki lawannya itu. ia angkat tubuh siauw-ongya. ia tidak terbanting. Itulah terang Yo Kee Ciang-hoat. Sekarang orang bisa lihat. Habis itu sama sebatnya. dengan cepat ia ayun tubuhnya itu. pengajaran dari gurunya yang pertama. Disaat anak muda ini terancam bahaya maut. ia berguling hingga ke dekat tiang bendera Pibu Tiauw-cin. terus ia pakai menangkis. tapi ia didesak. untuk bagian Selatan Tionggoan saja sudah jarang. Bok Ek tetap perhatikan ilmu silat tombak dari siauw-ongya. Siauw-ongya tidak kenal permainan silat lawannya itu. maka Kwee Ceng kena ditarik roboh hingga saling tindih. sambil berseru. hingga benderanya berkibar-kibar bagus. Kwee Ceng kaget. ia dapat mainkan itu dengan baik. ia lantas saja kena didesak hingga ia mesti selalu membela diri. tetapi lekas juga ia sambar Kwee Ceng. adakah kau Irawan D Soedradjat Page 188 . Setelah merobohkan bocah itu. yang pinggangnya ia peluk. ia memaksa menangkis juga. begitu keras. sepotong yang lain masih melibat ditangannya Lian Houw. hingga sukar untuk ia melompat bangun. yang ia peroleh dari Jebe. Tapi ia masih sadar. dengan begitu. Orang yang baru datang itu agaknya terperanjat. Anak muda itu terkejut. ia ulur tangan kanannya ke arah kepala orang. maka heran kenapa di negara Kim ada yang dapat memainkannya itu? Ia terus mengawasi. ilmu mana diturunkan hanya kepada anak laki-laki. hanya siauw-ongya berada disebelah atas. hingga senjata yang melibatnya ia terputus. terpaksa sambil bergulingan. terpaksa ia kembali bergulingan. Nona Bok pun memperhatikan jalannya pertempuran. Untuk tolongi dirinya. lagi dua kali. Atas itu. tetapi tidak urung. tapi sebelum tubuhnya dilepas. ia juga agaknya berpikir keras. kurang tepat untuk Kwee Ceng. sampai akhirnya ia merasa sedih sendirinya. mental ke udara. jubahnya warna abu-abu. yaitu ilmu tombak Keluarga Yo. Maka sekarang mereka bertempur dengan bersenjata. Kedua tangannya menyambar tanah. ia segera geraki tangan kirinya. akan aku bereskan dia ini. lengannya kena terhajar. dengan tombak itu. supaya dia jangan mengganggu terlebih jauh…‖ Sembari berkata. ia menarik keras. Ia terus mengawasi pada Lian Houw. dia lompat. justru si anak muda lagi merayap bangun.

Tidak berani pinto menerima itu sebutan cinjin. yang kumis dan janggutnya terbelah tiga. hanya Ia ulur kakinya. ia sudah lantas menjura kepada Kwee Ceng. Anak ini dapat dengar panggilan itu. sedang orang pun dari Coan Cin Kauw. maka itu sambil membalas hormat. Sedang di tanah utara ini.Pendekar Pemanah Rajawali Pheng Cecu yang namanya sangat tersohor? Hari ini aku dapat bertemu denganmu. Ia dapat lihat suasana buruk.‖ Semua orang lantas mengawasi kepada imam itu. lekas pulang!‖ demikain terdengar suara ibunya dari dalam joli. yang romannya toapan. orang dari tingkat lebih rendah. Dengan sabar. Ia tidak menjawab. Ong Cie It tersenyum. atau mendadak matanya si imam bersinar tajam bagaikan kilat. ―Hm!‖ Ong Cie It perdengarkan suaranya. Kaos kakinya yang putih serta sepatunya yang abu-abu bersih sekali. pinto adalah Ong Cie It. ia berkata: ―Totiang kenal guruku itu. ketika ia memutar tubuh. oleh karena itu boanpwe mohon sukalah totiang datang ke rumahku. Ia lantas mengangguk. ia mendapat satu pikiran. Sudah lama mereka ketahui hal imam ini. terus ia menunjuk pada Kwee Ceng dan berkata: ―Pinto tidak kenal anak ini.‖ sahut Lian Houw. batal ia untuk main gila.‖ berkata Ong Cinjin. Sebenarnya ia sudah memikir untuk berlalu. pinto mohon Pheng Ceecu memberi ampun kepada jiwanya. kalau gurunya ketahui perbuatannya. sembari tersenyum. ―Hm. untuk boanpwe anti mendengar segala pengajaranmu. sungguh aku merasa sangat girang!‖ ―Tidak berani aku menerima yang namaku yang rendah dijunjung sedemikian tinggi olehmu.‖ Dengan lantas siauw-ongya ini membahasakan diri ―boanpwe‖. ―Teecu terlalu memuji kepadaku. tidak nanti mereka mau percaya dia adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu si Dewa Kaki Besi yang pernah menakluki jago-jago di Utara. di tanah lalu tertapak dalam. kau adalah muridnya Khu Suhengku itu. lalu ia menarik pulang. tanpa tunggu orang buka mulut lagi. ―Aku mohon ketahui gelaran suci dari totiang. Ia berdiri diam dan menyahuti: ―Namaku Wanyen Kang. Wanyen Kang benar-benar cerdik. ―Anak. Peng Lian Houw terperanjat. maka itu dengan besarkan nyali. Coba tadi mereka tidak telah menyaksikan gerakan yang gesit dan melihat itu tapak kaki. kalau kita tidak bertempur. karena ia tahu ia lagi berhadapan dengan satu cianpwee.‖ ―Bukankah gurumu ada tanda tahi lalat merah pada pipinya yang kiri? Ong Cit It tanya pula. maka hatinya terkesiap. yang mereka tahu namanya tidak kalah daripada Tiang Cun Cu Khu Cie Kee.‖ Melihat sikap orang yang demikian hormat. baru sekarang mereka menemui sendiri orangnya. justru berbareng dengan itu. Mereka dapatkan orang sungguh alim dan agung. ―Siapakah namamu?‖ ia menanya bengis. Ia insyaf. tetapi karena injakan atau tindakannya itu. inilah hebat. hatiku menjadi sangat tertarik. Maka itu. orang yang tingkat derajatnya terlebih tua. Nama guruku tidak dapat aku beritahukan padamu. Peng Lian Houw suka berbuat baik. ia berkata: ―Saudara Kwee. tanah kering dan keras. Imam itu menjura. apakah ia telah bilang padamu? Apakah pesannya?‖ Wanyen Kang perlihatkan roman cemas. ―Jadinya totiang adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu Ong Cinjin?‖ ia menanya.‖ ia menyahut. ia memberikan persetujuannya. begitu juga Som Sian Lao Koay.‖ Peng Lian Houw. ―Siapakah gurumu?!‖ Siauw-ongya itu telah merasa kurang enak hati. Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin mengawasi imam itu. ia menghadapi si siauwongya dengan wajahnya keren sekali. Ong Cie It menjura pula seraya menghanturkan terima kasih. hendak ia menjawab secara jenaka. bagus benar perbuatanmu ya? Pada mula kali gurumu hendak mengajarkan silat padamu. Melihat tapak sepatu itu. untuk dimajukan satu tindak. hanya karena kemuliaan hatinya dan kegagahannya berusan. pasti kita tidak kenal satu Irawan D Soedradjat Page 189 . terang totiang adalah satu cianpwee. tetapi ia terlambat. lekas ia ubah sikapnya. ―Memang telah aku duga. ―Memang benar. Wanyen Kang tertawa hihi-hihi.

ia tidak menjadi gusar. Tapinya ia berkata kepada Kwee ceng. ―Buat apa kau layani pula manusia hina dina ini?‖ Wanyen Kang dengar suara orang menghina itu. ia hanya menjura pula kepada Ong Cie It seraya berkata: ―Totiang. Memang ia hendak menguji enteng tubuhnya si bocah. Mendengar itu. Ia terperanjat dan mengawasi bocah itu. Ia memang bertubuh kecil dan lincah. ia lari terus-terusan. banyak-banyak terima kasih. Kwee Ceng tertawa di dalam hati. Maka itu. Sukalah kau kalau kita mengikat persahabatan?‖ Kwee Ceng tidak menjawab. ―Totiang. Cepat tindakannya si imam. ia bisa berlari-lari tanpa napasnya memburu atau hatinya berdenyutan. Selang lagi beberapa lie. Oey Yong muncul dari antara orang banyak. ―Toasuko telah ajarkan kau ilmu silat. ia hanya menunjuk kepada Bok Ek dan gadisnya serta bertanya: ―Bagaimana urusan jodohmu dengan nona itu?‖ Wanyen Kang menjadi likat. ―Siapakah gurumu?‖ Ong Cinjin menanya lagi. Ong Cie It mendongkol untuk sikap keagung-agungan itu. bownpwe menantikan segala kehormatan atas kedatangan totiang ke rumahku. Ia sudah belajar lari keras. hingga dilain saat mereka sudah tinggalkan orang banyak itu dan tengah menuju keluar kota. Ong Cie It tidak bilang suatu apa. Melihat si Ular Naga Kepala Tiga ini. lantas saja ia berkata sambil tertawa: ―Aku tidak kenapa-kenapa! Sebentar aku pergi mencari padamu…!‖ Baru ia mengucap. kau turut aku. tubuhnya enteng. ia lantas menjatuhkan diri di depan Ong Cinjin. Ilmu silat kau saudara. mari kita pulang!‖ berkata ia. Bok Ek tarik tangannya Kwee Ceng. ialah ini imam.‖ ia berkata. ―Engko kecil.Pendekar Pemanah Rajawali sama lain. yang pun ia kasih lari ke antara orang banyak. terus ia lompat naik ke atas kuda itu. Sampai sebegitu jauh. dan dibawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok. Irawan D Soedradjat Page 190 . Ia menyebutkan Kanglam Cit Koay dan Ma Giok. Totiang tanyakan saja istananya Chao Wang. ia cekal tangan si bocah. kemudian ia menyelinap di antara orang banyak itu. Tapi ia pun cerdik. tiba-tiba ia melepaskannya. Di lain pihak. tibalah mereka di belakang sebuah puncak buklit. kau tahu atau tidak? bertanya si imam. Mendengar itu Ong Cie It menjadi girang sekali. ia mengawasi imam itu. ia sambar les dari seekor kuda pilihan yang satu pengiringnya bawa kepadanya. ―Kenapa kau tidak dapat mengalahkan dia itu?‖ Kwee Ceng tidak tahu bagaimana harus menjawab. ―Orang dengan siapa tadi kau bertempur. ―Engko Kwee kecil. sebentar saja mereka sudah berada diluar kota. ―Sekarang aku tidak usah mengkhawatirkan apa-apa lagi!‖ Kwee Ceng heran. Kwee Cneg tahu di antara adik seperguruan dari ma Giok ada yang bernama Ong Cie It. yang dipanggil setahu apa siauw-ongya Wanyen Kang itu adalah muridnya suhengku Tiang Cun Cu. Belum berhenti suaranya bocah ini. Kwee Ceng dapat mengikuti denagn baik kepada si imam itu.‖ ―Aku hendak menantikan dulu sahabatku…‖ Kwee ceng menjawab.‖ Habis berkata begitu. tidak mau ia mendusta. ia cuma tertawa saja. hingga mereka itu berlari-lari untuk menyingkir dari bahaya kena diterjang kuda. Di sini si imam berjalan semakin cepat. aku sangat mengaguminya. bagus!‖ katanya. ia dapat manjat puncak. ―Hal itu kita perlahan-lahan saja kita bicarakan pula. untuk diajak pergi. maka itu. aku pun minta suka kau bersama totiang berkunjung ke rumahku. lantas terlihat Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay lari mendatangi. Ong Cie It cekala tangan orang. ―Dasarmu tidak jelek!‖ ia berkata dalam herannya itu. dari itu.‖ katanya.

ia berkata-kata seorang diri: ―Toasuko biasanya benci kejahatan sebagai musuh besarnya. terus ke rumah penginapan Kho Seng di jalan besar utama.‖ berkata Ong Cie It kemudian. teecu mohon totiang suka memberi maaf. yang tidak mendendam. ia menghela napas. ia tidak bilang suatu apa. Kwee Ceng itu nanti berkelahi tidak dengan sungguh-sungguh dan karenanya menjadi tidak memperoleh kemenangan. kemudian setelah berpikir.‖ berkata Ong Cie It. maka itu tidak heran Tujuh Manusia Aneh dari Kanglam itu tidak mau menjelaskan sesuatu kepada Kwee Ceng. bahwa dalam pibu. gurunya tidak memberikan keterangan apa-apa.‖ berkata pula si pengiring.‖ ―Sebentar kita datang. nanti aku suka minta toasuko menghukum padanya!‖ ―Asal ia suka menikah dengan nona Bok. dia lebih-lebih membenci bangsa Kim. dia cuma manggut-manggut.hin itu. Maka keduanya lantas berjalan dengan cepat ke kota barat. sekarang setelah mendengar pertanyaannya Ong Cie It. ―Totiang. Ong Cie It tertawa bergelak. ―Dan ini kue-kue dan bebuahan. dia kata hendak ajak muridnya itu pergi ke Kee-hin untuk dicoba pibu denganmu.Pendekar Pemanah Rajawali Bocah itu tercengang. bocah ini menjadi tidak tahu tentang ilmu silat kaum Coan Cin Kauw. di dalam hatinya tapinya ia suka bocah ini yang jujur dan hatinya pemurah. dia dapat dihukum berat. Ong Cie It ketahui maksudnya Kanglam Cit Koay. nanti kau jangan khawatir. Atau mungkin disebabkan musuh adalah turunan sahabat ayahnya. Ciat-kang untuk apa ia dimestikan pergi ke Kee. kalau ada murid yang bersalah. maka itu ia heran atas kata-katanya imam ini. ―Aku tidak tahu…‖ Ma Giok mengajarkan Kwee Ceng tanpa penjelasan. Siauw-ongya itu sombong dan ceriwis. semua lantas memberi hormat kepada Ong Cinjin seraya berkata: ―Kami diperintahkan siauw-ongya mengundang totiang serta Tuan Kwee menghadiri pesat di gedung kami. siauw-ongya minta totiang dan Tuan Kwee sudi menerimanya. Kemudian ia meneruskan dengan sikapnya sungguh-sungguh : ―Kami kaum Coan Cin Kauw ada punya aturan yang keras. Ia lantas menunduki kepala.‖ berkata Kwee Ceng. Kwee Ceng juga tidak berani menanya apa-apa lagi. maksudnya pasti untuk mencegah Kwee Ceng menjadi bersusah hati hingga pernyakinan ilmu silatnya menjadi terganggu. tidak nanti aku bikin kau memdapat susah…. ―Gurumu belum membilang suatu apa kepadamu. ia menjadi ingat kepada nona itu. aku suka sekali! Mustahil aku nanti persalahkan kau!‖ ia berkata. Di sini ada aku. Entah bagaimana kepandaiannya murdi she Yo itu. maka itu kenapa dia bolehnya mengajari silat kepada satu pangeran Kim? Sungguh membikin pusing kepala…‖ Terus ia mengawasi Kwee Ceng dan berkata pula: ―Khu Toasuko telah menjanjikan aku bertemu di Yan-khia. hatinya masih ingin merekoki jodohnya nona Bok. pibu apakah itu?‖ ia bertanya.‖ ia menjawab. ―Nonan itu bertabiat keras. aku khawatir dia nanti menerbitkan bencana jiwa…‖ Kwee Ceng terkejut. Ong Cie It dapat menduga. ―Apa?‖ dia menanya. ―Hatimu mulia. dari dalam hotel sudah muncul beberapa pengiring dengan pakaian seragam bersulamnya.‖ Irawan D Soedradjat Page 191 . Toasuka telah menerima satu murid she Yo. ia menjadi ingat kepada pertempurannya sama In Cie Peng hingga ia ingat juga. Dia telah mendengar lelakonnya kedua keluarga Yo dan Kwee itu. aku akan menanya jelas segala apa. ―Sekarang masri kita lihat itu orang she Bok dan gadisnya. Baharu mereka sampai di depan pintu. ilmu silat Wanyen Kang sama dengan ilmu silatnya In Cie Peng itu.‖ Mereka lantas menyerahkan sehelai kartu nama di atas mana ada tertera: ―Hormat dari teecu Wanyen Kang. maka setelah bertemu dengannya.‖ ia memohon. dalam beberapa hari ini tentulah ia bakal tiba. teecu telah berlaku kurang ajar.‖ Kwee Ceng telah terima titah gurunya untuk sebelum tanggal duapuluh empat bulan tiga sampai di Kee-hin. Ong Cie It menggeleng kepala. Kanglam Cit Koay pasti menghendaki kemenangan. ―Teecu tidak tahu siauw-ongya itu adalah muridnya Khu Totiang. tetapi tidak nanti dilindungi atau dieloni. baiklah totiang memberi ampun padanya. ―Dimana totiang dan Tuan Kwee tinggal? Nanti kami pergi mengantarkan ke sana. tak baik aku mewakilkan mereka memberi keterangan.

Luka itu telah ditorehkan obat. atau singa batu. ―Namaku Bok Liam Cu.‖ pikir Ong Cie It. setelah mereka itu memberi hormat. di dalam hatinya ia berkata: ―Dasar bocah! Dia tidak harus dipersalahkan. Irawan D Soedradjat Page 192 . untuk mengeluarkan uang perak dua potong. Di pintu besar ada dituliskan tiga huruf besar air emas. siapakah namamu?‖ Nona itu menunduki kepalanya. hingga nampak tulang-tulangnya dan kedua lengannya bengkak besar. putra keenam dari raja Kim. Ong Cinjin periksa lukanya Bok Ek.‖ Lalu menanti jawaban si nona. ―Oey Yong suka dahar makanan semacam ini. ia diam saja. sesudah masuki itu ke dalam sakunya. ia tarik tangan Kwee Ceng buat meninggalkan hotel itu.‖ berkata Kwee Ceng. hingga ia dapatkan orang she Bok itu sedang rebah dengan muka pucat dan di tepi pembaringan.‖ ia menyahut perlahan. yang terus lari masuk pula ke dalam hotel. yang rimannya bengis. Undakan tangga dari batu putih semua. yang terdiri dari duabelas. akan tetapi kapan ia melihat sikap Kwee Ceng. Ong Cie It mengkerutkan keningnya. ia bungkus itu dengan sapu tangan. ke dalam kamar di mana ada bingkisan kue dan buah dari Wanyen Kang. yang rupanya diperdengarkan untuk menyambut ia dan Ong Cie It. seraya menambahkan: ―Besok aku akan datang untuk menjenguk pula padamu. atau lebih tepat istana. hatinya tercekat. di kiri dan di kanan pintu ada nongkrong masing-masing seekor cio-say. inilah cade…. lalu ia terus masuk ke dalam kamar orang. lantas ia dengar ramainya suara tetabuhan. untuk bersama si imam pergi mengikuti keempat pengiring itu pergi ke onghu. ―Wanyen Lieh mengenali aku. baik aku tinggalkan untuk dia. Bok Ek sendiri berbangkit untuk berduduk di atas pembaringan. dia perlu dirawat baik-baik. ―Ilmu silat Wanyen Kang terang adalah ajarannya toasuko. pakaiannya jubah merah dengan gioktay atau ikat pinggang kumala. gadisnya duduk smabil menangis.‖ kata Cie It. si nona berbangkit berdiri. Tiba di muka gedung. kalau di sini aku bertemu dengannya. Ia pilih empat rupa kue.‖ Bab 18. Maka itu tanpa merasa. kau tunggu sebentar. Di luar hotel. ―Totiang.‖ Kwee Ceng berpikir. Chao Wang itu adalah Wanyen Lieh. bunyinya: ―Chao Wang Hu‖ atau istana pangeran Chao Wang. Kwee Ceng tahu. yang satunya memberitahukan bahwa siauw-ongya mereka lagi menentikan di gedung dan imam serta bocah itu diundang ke sana.Pendekar Pemanah Rajawali Beberapa pengiring lainnya lantas maju untuk mengsih lihat barang antaran mereka. sedang kepalanya ditutupi kopiah emas. Ong Cie It tak berkesan baik terhadap Wanyen Kang. yang terus merogoh sakunya. Ong Cie It menanyakan keterangan kamarnya Bok Ek. ―Luka ayahmu ini tak enteng. Ia polos. ia lari pula ke luar. dimana ia lantas dipersilakan duduk di kursi atas. Melihat dandanan pangeran itu. hendak ia menampik. menyusul mana ia tampak si siauw-ongya keluar menyambut. ―Aneh. yang setiap belakang telapakan tangannya bertanda lima lobang jari tangan. ―Mungkinkah si pangeran muda itu adalah putranya Wanyen Lieh?‖ ia kata di dalam hatinya. maka darimana dia dapatkan ilmu pukulan jahat ini? Pada ini mesti ada rahasianya…?‖ Lantas ia pandang si nona dan menanya: ―Nona. ia lantas terima itu. sudah tidak dibalut. Kapan mereka lihat tetamu. Kwee Ceng paling dulu lihat dua lembar bendera berkibar di tiang yang tinggi. mereka dipapaki empat pengiring. Ia tersenyum. tetapi mungkin dikhawatir menjadi nowa. ia bersedia menerima antaran itu. ia turut dipimpin ke dalam thia. batu mana dipasang terus sampai di thia depan. gedungnya Wanyen Kang.‖ Selagi si bocah terbenam dalam keragu-raguan. yang mana ia letaki di atas meja. Ong Cie It mengangguk. isinya semua adalah makanan dan bebuahan yang istimewa. Mengadu Kepandaian Habis menerima antaran itu.

beberapa tuan ini sudah lama mengagumi kau dan semuanya merasa sangat ingin bertemu denganmu!‖ Ia lantas menunjuk Peng Lian Houw dan kata: ―Inilah Pheng Cecu.‖ Kedua orang itu saling memberi hormat. Pangeran itu tidak berlutut didepannya dan tidak juga memanggil susiok atau paman guru kepadanya. maka tidaklah kecewa yang lohu sudah datang ke Tionggoan ini. tidak tahu ia mesti bersikap bagaimana andaikata ia bertemu dengan Wanyen Lieh. ―Kiranya kau masih kenal aku!‖ Irawan D Soedradjat Page 193 ―Bukankah tuan adalah Kwie-bun Liong Ong See Locianpwee?‖ ia bertanya. maka juga mereka menjadi begini malang melintang. ―Dan ini adalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong. dari empat ribu lie.‖ Ong Cie It awasi orang yang pentang bacot itu. ―Sudah berapa lama kau ikuti gurumu belajar silat?‖ ia tanya. ―Mana boanpwe mengerti ilmu silat?‖ sahut Wanyen Kang sambil tertawa. yang tubuhnya jangkung dan kate tidak rata. Hatinya pun tidak tentram. Wanyen Kang sudah lantas ajak kedua tetamunya pergi ke hoa-thia. Wanyen Kang bergirang ketika ia kata pada Ong Cie It. katanya: ―Ini adalah Leng Tie Siangjin. locianpwe dari Tiang Pek San.‖ Dan lantas ia perkenalkan paderi di sampingnya. apakah totiang ingin bertemu dengannya?‖ Wanyen Kang balas menanya. satu dari timur utara.‖ ―Hm!‖ Ong Cie It kasih dengar suaranya. Ong Cie It menjadi heran sekali. matanya merah. sampai ia merasakan matanya berkunang-kunang. untuk mana mereka melintasi sebuah lorong. ―Walaupun ilmu silat Coan Cin kauw tidak tinggi tetapi ilmu itu bukannya ilmu kucing kaki tiga! Gurumu bakal tiba di sini. di sana sudah menantikan enam-tujuh orang. Dengan melihat roman orang saja. ―Siapakan meja santapan!‖ ia memberi perintah kepada pengiringnya. mengitari lauwteng yang indah. kepala siapa lanang. kau tahu tidak?‖ ―Guruku ada di sini. ―Aku ikuti suhu buat dua tahun lamanya. Ong Cie It heran hingga ia berpikir: ―Kenapa Siluman Tua ada disini juga?‖ io Cu Ong sudah lantas memberi hormat dan berkata: ―Di sini lohu dapat bertemu sama Thie Kak Sian Ong Cinjin. Justru itu seorang yang suaranya serak terdengar berkata nyaring: ―Kiranya Kanglam Cit Koay didukung dari belakang oleh Coan Cin Pay. sungguh aku merasa sangat beruntung!‖ berkata tuan rumah yang muda ini.‖ Wanyen Kang memperkenalkan pula orang yang rambutnya putih tapi mukanya segar sebagai muka seorang bocah. suaranya menandakan kemarahannya. selama itu aku main-main kucing kaki tiga hingga aku membikinnya totiang dan saudara Kwee menertawai aku. tidak ada selembar rambutnya. satu lagi dari barat selatan. Ong Cie It tidak puas. Selama itu. bahkan ia mendongkol. ―Ada di mana ia sekarang?‖ ia tanya. kedua pihak sudah saling mengenal. hingga mereka mesti jalan sekian lama. ahli Tay-ciu-in dari partai Bit Cong dari Tibet. biji matanya menonjol keluar. di antara siapa yang kepalanya benjut tiga.Pendekar Pemanah Rajawali ―Totiang bersama saudara Kwee sudi datang kemari. . maka pertemuan ini benar-benar satu jodoh!‖ Ong Cie It memberi hormat kepada paderi dari Tibet itu dengan menjura dan si paderi membalasnya seraya menakopi kedua tangannya. Setibanya di hoa-thia. Dia itu mengawasi anak muda kita ini dengan sorot mata bengis! Biar bagaimana. ―Benar!‖ sahut orang itu. Kami berdua. Kwee Ceng dapak menyaksikan keindahannya istana. ―Totiang. ia sudah lantas mengenalinya. Pengiring itu berlalu untuk menyampaikan titah lebih jauh. Kwee Ceng terkejut juga hingga ia pernahkan dirinya dekat sekali dengan si imam. Wanyen Kang menepuk tangan dua kali. yaitu Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay.

―Kenapa tidak kau minta ia keluar?‖ ―Ya. tak dapat ia mengatasi diri. hingga ia mirip dengan satu sastrawan. romannya tampan. ―Mana gurumu?‖ ia tanya. suatu tanda ia adalah seorang opsir. Mereka belum pernah mendengar nama Pek To San – Bukit Unta Putih itu. akan jambak Kwee Ceng. usianya empat puluh lebih. masih dapat kami membela diri…‖ . dia mendamprat habis-habisan. di waktu mengajari silat. Dia banyak lebih lihay daripada Hauw Thong Hay. ―Bagus! benar-benar kau melindungi binatang cilik ini!‖ ia berseru. Ia menjadi menduga-duga: ―Mungkinkah enam guruku sudah bertempur dengan dia ini?‖ Ong Cie It pandai berpikir. sancu dari Pek To San dari pegunungan Kun Lun San di Tibet. Dan semua mereka kagum akan caranya sancu ini datang menengah. percuma kalau ia melayani mereka itu.‖ Orang she See ini tidak ambil mumat sikap orang yang halus itu. sikapnya tenang sekali. Celakanya Thong Hay telah kena dipermainkan oleh Oey Yong. sedang Ong Cie It segera maju. Segera juga Wanyen Kang menghampirkan.Pendekar Pemanah Rajawali Cie It heran. lalu di depan pintu thia terlihat seseorang bertubuh gemuk yang mengenakan seragam baju sulam. musuh boleh tambah lagi. Lantas ia berpaling kepada pengiringnya dan memrintah dengan singkat: ―Undang suhu!‖ Pengiring itu sudah lantas mengundurkan diri. kapan dan di dalam hal apa aku pernah berbuat salah terhadapnya?‖ Ia menunjuki sikap sabar. hingga adik seperguruan ini juga gagal. sembari tertawa ia berkata: ―Tuan ini adalah Auwyang Kongcu. siucay. Thong Thian gusar bukan main waktu ia dengar kekalahan empat muridnya itu. semua hadirin di situ itu ada bangsa lihay. adik seperguruannya. Untuk itu aku mohon tuan-tuan suka memaafkannya. ia tetap berangasan dan galak. Mereka bukan sembarang orang. romannya sangat keren. seumumnya. ia tidak hunjuk kemurkaan. Kwie-bun Liong Ong ialah Raja Naga dari Pintu Iblis. Auwyang Kongcu ini sudah lantas rankap kedua tangannya. Sebab tabiatnya itu. tangannya terus menyambar si imam. Dia bernama Thong Thian dan gelarannya. Ong Cie It tidak dapat mundur. ia lantas ingat kepada si nonannona serba putih yang di tengah jalan sudah mencoba merampas kudanya. ia hajar mereka. umurnya ditaksir tigapuluh lima atau tipuluh enam tahun. dari samping mereka tiba-tiba muncul satu orang. Melihat orang demikian galak. Maka ia lantas pandang tuan rumah. 194 Cie It merasakan hatinya lega. Irawan D Soedradjat Page Tidak lama lantas terdengar tindakan sepatu. Disaat kedua tangan hampir bentrok. terus ia berkata: ―Sebenarnya aku telah mesti siangsiang tiba di kota Yankhia ini. Ia mengerti. hingga kata dalam hati kecilnya: ―Kita ada bagaikan air kali dan air sungai yang tidak saling menerjang. Dia belum pernah datang ke Tionggoan. untuk menangkis. seperti dandanan seorang bangsawan. sekalipun di depan orang banyak. tetapi mendengar nama bukit Pek To San itu. tak peduli ia bahwa perbuatannya melanggar adat sopan santun. Bocah itu mundur. Tanpa merasa keduanya lantas mengawasi si pemisah itu. Sesudah itu ia kirim Hauw Thong Hay untuk menuntu balas. Dia berjanggut lebat. Karena ini. sayang di tengah jalan aku mendapatkan satu urusan penting dan karenanya menjadi terlambat beberapa hari.‖ sahut Wanyen Kang denagn sederhana. maka itu ini adalah pertama kalinya ia bertemu sama tuan-tuan!‖ Bukan melainkan Ong Cie It dan Kwee Ceng yang belum pernah melihat sancu. Inilah sebabnya kenapa murid-muridnya tidak dapat wariskan tiga bagian saja dari sepuluh ilmu kepandaiannya. tangan kanannya menyambar lengan Ong Cinjin. ia tengah diliputi kemarahan besar. maka mereka heran ada seorang yang dapat pisahkan mereka secara demikian gampang. juga Nio Cu Ong dan Peng Lian Houw serta lainnya hadiran di situ. tidak heran kalau Hong Ho Su Koay gagal mengepung Kwee Ceng.‖ Kwee Ceng tidak kenal sancu ini. supaya Kwee Ceng dibekuk. dua orang itu dapat dipisahkan. Dua-dua See Thong Thian dan Ong Cie It terperanjat. ialah seoarng dengan jubah putih. diundurkan satu dari yang lain. maka dengan berbareng.pemilik bukit – dari Pek To San itu. Dandanannya. ia kata: ―Nama besar dari See Locianpwee memang telah lama aku pangeni. maka ia pun angkat tangannya. Memangnya dia bertabiat keras. tak terkira gusarnya Thong Thian. maka juga. alisnya panjang hingga ujungnya mengenai rambut di pelipisnya. untuk menghalang di depannya. Demikian ia ulur sebelah tangannya. Ia telah berpikir: ―Dengan adanya Khu Suheng disini. tangan kirinya menyambar lengan See Thong Thian. terus ia mengibas keluar.

‖ Thung Couw Tek celangap. Sambil tertawa. Ia berkata kemudian: ―Bagus! Sekarang baik si orang she Bok itu diundang kemari. Ketika jongos ditanya. Ia lantas hirup arak itu. terus ia undurkan diri.‖ ia berkata.‖ Ong Cie It merendahkan diri tetapi ia didesak terus. dari kepala ke kaki. ia berkata: ―Sekarang ini telah hadir banyak cianpwee kaum Rimba Persilatan. bagaimana juga hendak diaturnya. ia berbangkit untuk bawa itu kepada Ong Cie It seraya terus berkata: ―Silahkan totiang keringkan dahulu cawan ini. boanpwe selalu bersedia untuk menuruti. jawabannya adalah Bok Ek dan gadisnya itu ada yang undang sudah pergi entah ke mana. imam atau paderi perempuan!‖ Dengan paksakan diri. untuk memerintah: ―Kau lekas ajak orang pergi mencari tuan Bok dan putrinya itu. entah kemana. untuk kita membicarakan urusannya. kepala barisan pengiring dari Wanyen Lieh di masa Wanyen Kang masih muda sekali. imam?‖ si opsir menanya. karenanya ia dipanggil guru. aku menyesal…‖ berkata Wanyen Kang cepat. pernah ia ajarkan ilmu silat kepada pangeran itu. siapa itu yang mengundang. Pangeran itu mengisikan sebuah cangkir. Akhirnya. Ia bernama Thung Couw Tek. urusan toh akan ketahuan akhirnya!‖ ―Totiang benar.. Ong Cinjin tertawa. ―Totiang ini hendak bertemu sama suhu. malah ia sudah menanyakan beberapa kali…‖ Melihat orang itu dan mendengar perkataan si pangeran.‖ sahut Kwee Ceng. Irawan D Soedradjat Page 195 . ―Totiang baharu pertama ini tiba disini.‖ Cie It heran hingga ia tercengang.!‖ Tapi ia mencoba untuk mengendalikan diri. ia berkata: ―Tidak peduli orang bermain sandiwara apa. semua mata diarahkan kepada Wanyen Kang. silakan duduk!‖ Wanyen Kang mengundang. barang-barangnya pun telah dibawa pergi. ia tidak sangka pangeran ini dapat bersikap demikian. ―Untuk urusan apakah kau hendak bertemu sama aku. maka bolehlah kita bicara dari hal keadilan. Wanyen Kang sambut tetamunya. ia mengawasi imam itu. akhirnya ia duduk juga di kursi pertama itu. sebentar kau antarkan ke hotelnya totiang. Ia telah berpikir: ―Bocah binatang ini. Ong Cie It menjadi membungkam. yang mendahului gurunya itu. Ia tanya jongos. aku paling tidak senang terhadap segala paderi. Ayah dan anak dara itu tidak ada di kamarnya. Setelah tiga edaran arak. Tentang itu. ia menjadi heran. ―Tayjin hendak memohon derma. Ia lantas kata pada pengiringnya: ―Lekas kau siapkan uang itu. tetapi ia bercuriga. imam ini orang macam apa. dia mesti dapat diundang datang kemari!‖ Pengiring itu menyahuti. hatinya Ong Cie It menjadi panas sekali. Yang lain-lain pun turut memanggil guru padanya. ―Tuan-tuan. dari kaki ke kepala. ―Adalah sudah biasa bagi aku. Maka terpaksa pemuda ini pulang ke onghu dengan tangan hampa. bagaimana urusannya itu harus diatur?‖ Mendengar pertanyaan itu. ―Mana tuan Bok itu?‖ ―Ia telah pergi. ―Ingin aku minta buat banyaknya seribu tail perak!‖ Heran opsir itu atas permintaan derma tersebut.‖ Ong Cie It menagngguk dan Kwee Ceng segera berbangkit.Pendekar Pemanah Rajawali ―Suhu!‖ Wanyen Kang lantas memanggil. Tentang si orang she Bok yah dan anak itu. Tidak dapat ia menduga. ―Aku minta saudara Kwee saja yang pergi mengundang tuan Bok itu. ―Itulah selayaknya. Terus ia menoleh pada pengiringnya. untuk pergi ke hotel dimana Bok Ek dan gadisnya menumpang. ―Banyak cape. uang sewa kamar pun sudah dibayar lunas.‖ ―Bagus begitu. silakan duduk di kursi kepala. tuan Kwee!‖ katanya. ―Oh.‖ menyahut Wanyen Kang. sikapnya jumawa. kau permainkan aku. Tiba di sana. yang treus tuturkan kepergiannya Bok Ek serta anaknya itu. Jongos itu tidak dapat memberikan keterangan.‖ berkata Wanyen Kang sembari tertawa.‖ berkata Wanyen Kang. Kwee Ceng heran.

maka itu. Tidak karu-karuan cukongnya kehilangan uang seribu tail perak. ia penasaran sekali. sungguh namanya bukan kosong belaka!‖ berkata See Thong Thian. Kepalan Couw Tek kena tertahan. tubuhnya jatuh terduduk di kursinya akibat tekanannya Nio Cu Ong. Dia terus menarik pulang tangannya itu. hebatnya tak sama dengan Kiu-im Pek-ku Jiauw dari Hek Hong Siang Sat akan tetapi toh tidak kalah. hingga kursi itu tercengkeram rusak seraya menerbitkan suara keras. ia sangat mendongkol. See Locianpwe.‖ berkata Kwie-bun Liong Ong.‖ ―Bagus. ―Silakan locianpwe mengatakannya. maka selagi orang menekan pundak si jenderal itu. yang segera dibawa masuk ke dalam mulutnya orang she Thung itu. bocah itu tidak bakal lolos dari jambakan itu. Akhirnya ia menegur: ―Eh. hingga tubuhnya Kwee Ceng tertolak mental. lengan kirinya berbareng dipakai membentur bocah itu. kalau begitu!‖ berseru See Thong Thian. untuk menghalang. kau asal kuil mana? Kenapa kau datang kemari untuk main gila?!‖ Ong Cie It tidak menyahuti. kaget dan gusar menjadi satu.‖ berkata Nio Cu Ong. tidak satu pun yang pinto kenal. ia hanya balik bertanya: ―Jenderal. ia lekas berbangkit. kau menggunai ilmumu!‖ ia membentak. ―Maka perlu apa kau bergusar dan menggunakan kekerasan?‖ Ia angkat sumpitnya untuk menjempit kepalan orang. yang berada di sampingnya. pada ini terang ada salah mengerti. walaupun di depannya ada Nio Cu Ong dan Auwyang Kongcu. terus ia lari ke dalam. ia ulur tangannya meninju mukanya Ong Cinjin! Cie It tertawa. Ia memang tidak puas dengan kedudukannya. Menyusul itu jambakannya si orang she See itu mengenai kursi yang diduduki Kwee Ceng. selagi mulutnya tersumpel. ―Coan Cin Pay berpengaruh di Selatan dan Utara. tetapi pemerintah Kim tidak pernah mengijinkan ia memimpin pasukan tentara sendiri. kau ada asal negara mana? Kau mengandal apa maka kau datang kemari dan menjadi pembesar negeri?‖ Couw Tek gusar sekali. Sudah duapuluh tahun ia bekerja. cepat luar biasa.‖ ia berkata. Maka mukanya menjadi merah. semua hadirin tertawa. ia sudah bekerja matimatian untuk negara Kim. sumpitnya dapat mempengaruhi Couw Tek tetapi tidak si orang she Nio ini.Pendekar Pemanah Rajawali Sementara itu Thung Couw Tek heran dan mendongkol. Maka juga perkataannya Ong Cie It membikin ia merasa tersinggung. tak dapat ia meneruskan meninju. maka ketika ia berbangkit pula. Maka itu sama sekali tidak ada soal pihakku membantu Kanglam Cit Koay menghadapi Hong Ho Su Koay. tosu. Menyaksikan kejadian itu. ciangkun. ―Baiklah ciangkun duduk dan keringkan arakmu!‖ Ia ulur tangannya. ―Jangan gusar. akan tekan pundak si jenderal. Ia anggap dirinya gagah.‖ ―Pihak kami tidak ada sangkutannya sama Coan Cin Pay. Irawan D Soedradjat Page 196 . hanya salah satu suhengku ada punya sangkutan dengan mereka. sudikah totiang meluluskannya?‖ ―Tidak berani aku menerima pujianmu. ―Sekarang kau serahkan ini bocah kepadaku!‖ ia lantas berbangkit. dia jengah sekali. Jambakan itu adalah jambakan dari Gwa-kang. ―Imam siluman. sumpitnya itu terus ia pakai menyambar sepotong paha ayam. Ong Cie It mengerti. Bukankha ia orang Han yang bekerja pada bangsa Kim? Kenapa ia mesti ditanya lagi kalau bukan orang hendak menghina padanya? Ia justru paling tidak senang orang menyebut-nyebut kebangsaannya. ilmu Bahagian Luar. kenapa pihakmu berdiri sepenuhnya dibelakang Kanglam Cit Koay dan dengan begitu menyusahkan pihakku? Walaupun Coan Cin Pay banyak anggotanya dan sangat berpengaruh. tetapi dia tidak berhasil. ―Pinto tahu tentang Kanglam Cit Koay. ―Maka itu aku mohon keterangan. sedikitnya ia tentu terluka enteng. aku yang bodoh tidak merasa takut. untuk disuapi dengan paksa! Couw Tel menjadi gelagapan.‖ ―See Locianpwe. tetapi dengan mereka itu. Thie Kak Sian Giok Yang Cu tahu. Lantas ia lompat bangun.‖ berkata Giok Yang Cu. ―Kau tidak hendak memberitahu pun tidak apa. ia melepaskan jepitannya.‖ berkata Giok Yang Cu. pangkatnya bukan kecil tetapi ia tetap ditempatkan di onghu. guna menjambak batang lehernya Kwee Ceng. akan ulur sebelah tangannya. ciangkun. ―Aku hendak memohon sesuatu kepada totiang. Ia malu bukan main. selagi si pangeran berlaku manis. si imam bersikap seperti tidak tahu aturan.

―Nama besar dari tuan-tuan telah lama pinto buat pangenan. ini juga pinto tidak dapat menentangi. dia jangan berani pula banyak tingkah!‖ Hauw Thong Hay mendongkol sekali.‖ Sebelum menjawab. Ia lantas memikirkan daya untuk meloloskan diri bocah itu. ―Hari ini pinto berjodoh bertemu sama tuan-tuan. untuk minta Ong Cinjin memberi pengajaran padamu!‖ ―Itulah aku tidak berani. locianpwe. ―Coba jelaskan duduknya hal. habis itu. supaya kita dapat menimbangnya. guna diserahkan pada Chao Wang. supaya nanti ia jangan mengatakan pinto todak sudi melindungi padanya. ia pernah menghadapi pelbagai pertempuran tetapi tidak seperti ini kali. kalau ia mengotot. bahkan ia berbareng mesti melindungi satu bocah. Hauw Thong Hay sudah lantas pergi ke lataran dimana dengan kedua tangannya ia menumpuk salju sampai tingginya tiga kaki. Kemudian ia berkata: ―Sebenarnya aku tidak bermusuh langsung dengan anak she Kwee ini. ―Biarlah aku yang belajar kenal lebih dulu denganmu. ia menginjak-injak. mereka dalah orang-orang undangan Wanyen Lieh. Coba tuantuan pikir. kalau satu bocah begini tidak dapat dibereskan.‖ ia menambahkan. maka itu sudah selayaknya kalau nanti pinto membawanya keluar secara baik-baik.‖ Maka ia lantas awasi Thong Hay dan berkata kepadanya: ―Sutee. Ia lihat. ―Bagaimana caranya bocah ini mendapat salah dari saudara See?‖ dia tanya. mendengar perkatannya Giok Yang Cu. Diam-diam Cie It bingung juga mendapatkan semua mata diarahkan kepada Kwee Ceng.‖ ia berkata. Tentang bocah ini. Aku ada punya empat murid tolol. See Thong Thian telah berpikir: ―Imam ini lihay tak ada di bawahanku. aku mesti dapat satu pembantu yang lihay…‖ Maka itu.‖ Cie It membilang keras.‖ berkata Cie It tenang. supaya bocah ini dapat melihatnya. Perkataan orang diatur dengan halus.Pendekar Pemanah Rajawali ―Hau. itulah hal yang sangat menggembirakan pinto. ia mundur tiga tindak. menentang si imam. Ia tahu orang mengejek padanya tetapi tidak tahu ia bagaimana harus memberikan jawaban. untuk membikin padat. untuk singsatkan bajunya. See Thong Thian juga berpikir: ―Imam-imam dari Coan Cin Pay tidak dapat dibuat permainan. ―Ia muda dan tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. ia lantas duduk pula. kepala di bawah kaki di atas.‖ ia berkata. Kalau benar saudara tidak sudi melepaskan padanya. selagi mereka berkerja dan nampaknya bakal berhasil. Dengan lantas mereka itu memikir untuk menahan si bocah. kau lindungi bocah ini?‖ menegur Thong Thian karena kegagalannya itu. mana berani pinto mengadu kepandaian dengan tuan-tuan. sedang sebenarnya pinto tidak sanggup berbuat demikian…. cara bagaimana kami bisa lakukan usaha yang besar?‖ Kata-kata itu berpengaruh untuk para hadirin itu. seraya menunjuk Kwee Ceng. aku minta sukalah kau mempertunjuki sesuatu agar pinto dapat pentang mataku. sampai sebatas dada. ―Anak ini pinto yang bawa datang ke istana ini. kepala itu nuncap melesak ke dalam tumpukan salju itu. ―Sabar. bocah ini pasti tidak bisa dibiarkan tinggal tetap di sini. yang diundang dengan kehormatan dan bingkisan berarti. dengan membesarkan nyali. lalu mendadak ia lompat maju.‖ Hauw Thong Hay sudah menahan sabar sekian lama. Cuma lebih dulu daripada itu. ia mendapat salah dari Yang Mulia Chao Wang. memang lebih baik tidak usah bertempur dengannya. Kecuali Cie It dan Kwee Ceng. pinto minta tuan-tuan mempertunjuki dulu ilmu kepandaian kamu. Untuk melayani dia. supaya selanjutnya dibelakang hari.‖ Ong Cie It berkata pula. ia mendahului berbangkit. pinto tidak dapat bilang suatu apa. jalan yang terbuka ialah memperlambat tempo sambil mencoba mencari tahu sikap sebenarnya dari para hadirin masing-masing. tidak dapatkah kau mencari ia dilain hari?‖ Auwyang Kongcu lantas campur bicara. Irawan D Soedradjat Page 197 Ketika itu hujan salju masih belum berhenti. tiba-tiba mereka diganggu oleh bocah ini. Ia bingung sebab musuh tangguh semuanya. ―Kebiasaanku tidak berarti. supaya ia insyaf bahwa di luar langit ada langit lainnya. di atas orang pandai ada pula yang terlebih pandai lagi. ―Maka itu saudara Hauw. Sejak turun gunung. . sekalian untuk memberi pengajaran kepada bocah ini. Yang Mulia Chao Wang menjadi sangat gusar karenanya. Tuan-tuan berniat menahan dia. coba kau perlihatkan Soat-lie May Jin. mereka turut Yang Mulia Chao Wang pergi ke Mongolia untuk suatu urusan. cawannya ia hirup kering.

Orang semua heran dan akgum. karena ini Thong Hay dapat nyelusup ke dalam salju.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng heran. aku pun dengan meminjam pengaruhmu. barulah dua tangan Thong Hay bergerak. Ketika itu See Thong Thian benar-benar telah membuat huruf ―Wie‖ yang terakhir. itulah bukti dari tenaga dalam yang terlatih sempurna. biji kwaci enteng. Malah Ong Cie It segera Irawan D Soedradjat Page 198 . mulanya ia merintangi . Persahabatan mereka adalah dari persahabatan dua tigapuluh tahun. Peng Lian Houw sudah memegat meluncurnya biji-biji kwaci itu. mulutnya itu sudah lantas kermakkermik. ―Bu‖ dan ―Yang‖. aku tidak sanggup memakan lebih jauh!‖ berseru Peng Lian Houw. ia hanya mendatangkan tertawaan…‖ berkata See Thong Thian. Saking kagum. Ia tunggu sampai pelayan membawa datang tambahan barang makanan dan semua sumpit bekas ditukar dengan yang baru. See Thong Thian dan lainnya yang lihay. semua sumpit nancap rapi merupakan empat tangkai bunga bwee! Kwee ceng dan Wanyen Kang kurang mengerti ilmu kepandaian itu. Selang sekian lama. tubuhnya ikut. untuk mana ia mesti menahan napas. maka setelah totiang ini hendak menguji kepandaian kita. tetapi mereka terus minum arak mereka. Kata Ong Cie It dalam hatinya: ―Tidak heran Kwie-bun Liong Ong menjagoi sungai Hong Ho. tetapi biji kwaci itu dapat disentilkan demikian rupa. dia memang lihya sekali. Apa yang luar biasa. lalu semua biji beruntun dikasih masuk ke dalam mulutnya. Ia berkata. maka mereka ini diam-diam terkejut sendirinya. ingin mempertunjuki sesuatu…‖ Ia lantas saja lompat ke tengah ruangan itu. maka itu dapat diduga See Thong Thian hendak menuliskan empat huruf ―yauw bu yang wie‖ yang artinya menentang pengaruh atau menjagoi. ia sudah keluar dari salju dan berdiri tegak. setelah mana jari tangannya yang tengah disentilkan tak hentinya. ia ayun tangannya. Sebenarnya See Thong Thian bersama-sama Hauw Thong Hay telah menjagoi di sungai Hong Ho. mereka pandai berenang dan tahan selulup lama. ia tidak tahu ilmu silat apa itu. Segera setalah memegang. lantas semua sumpit – dua puluh pasang – terlempar ke salju dan nancap. maka biji kwaci itu meluncur ke tembok putih di hoa-thia itu. tidak demikian dengan Ong Cie It. kemudian Thong Thian menoleh kepada Auwyang Kongcu. akan tetapi baru huruf selesai separuhnya. kepandaianmu ini membuatnya aku takluk sekali! Kita biasa berkerjasama. meski ia tahu namanya seperti telah disebutkan See Thong Thian. kwaci itu ia makan isinya dan kulitnya dilepehkan! ―Bagus!‖ orang banyak berseru memuji. lalu ia kembali ke kursinya. mereka telah mengenal baik satu dengan lain. lalu sejenak saja. untuk menjumput. yang sembari bicara mengulurkan tangannya ke piring kwaci. yang terus aja lompat balik ke kursinya. Thong Hay melirik pada bocah itu. Setelah itu barulah See Thong Thian rampungkan huruf ―Wie‖ itu. ―Ah. seperti burung menyisit. ―Kasar kepandaiannya suteeku ini. dia berdiam saja. Gangguannya Peng Lian Houw itu tidak membuat Thong Thian kecil hati. untuk mengatakan: ―Auwyang Kongcu hendak mempertunjukan apa untuk kami dapat membuka mata kami?‖ Kongcu itu dengar suara orang ada mengandung nada menyindir. sumpit bekas itu ia ambil dari tangannya si pelayan. ―See toako. Menyaksikan itu Peng Lian Houw manjadi bertangan gatal.‖ Di tembok sekarang terlihat lagi dua huruf. dengan bergembira mereka luluskan permintaan itu. yaitu ―Soat-lie May Jin‖ atau ―Mengubur orang di dalam salju‖ See Thong Thian lantas berkata pada pengiring-pengiringnya Wanyen Kang: ―Tolong tuan-tuan membikin padat dan keras salju disekitarnya Tuan Huaw!‖ Kawanan pengiring itu girang sekali. dia malah tersenyum. Kwee Ceng yang polos memuji sambil bertepuk tangan. atas mana. nancap di tembok merupakan satu huruf ―Yauw‖. Jarak ke tembok ada kira-kira tiga tembok.

Mereka justru menantikan tanda dari paderi itu untuk bergerak. batu itu kena terangkat. untuk angkat cawannya yang ia hirup kering. Pelayan-pelayan telah datang dengan baskom yang terisi air hangat. ia kembali ke kursinya. Baskomnya si paderi lantas saja menghembuskan hawa napas sebagai uap.‖ Ia menjunjung tiga buah batu yang beratnya rua ratus kati lebih. untuk digeser ke depannya. Selagi semua orang heran dan kagum. Ong Cie It terperanjat. Ong Cinjin angkat poci arak.‖ katanya dalam hati. mereka ini bakal turun tangan…‖ Maka itu si imam segera melirik paderi dari Tibetb itu. mirip asap. maka batu itu lantas diam di dahinya itu. untuk kagetnya mereka. lagi dua batu diangkat dan diapungi seperti yang pertama itu. ketiganya menjadi saling susul. aku mesti mendahului turun tangan terhadap dia…‖ Tengah semua mata diarahkan kepada Leng Tie Siangjin. terus ia berkata: ―Barusan aku saksikan kepandaian mengagumkan dari tuan-tuan. Batu itu segera diapungkan. kemudian ia letaki poci arak. Dengan satu lompatan. maka itu. ia lompat turun dari pelatok sumpit. tidak ada arak yang berceceran. Adalah biasa untuk tukang-tukang dangsu mempertunjukan permainan batu seperti Nio Cu Ong ini. Habis itu ia berbicara. sikapnya wajar saja. melewati dua orang. ―Hebat tenaga dalamnya paderi ini. Dengan rangkapi kedua tangannya. Ong Cie It dan Auwyang Kongcu adalah yang paling dulu menampak perubahan. ia pergi ke samping tambur batu di depan hoa-thia itu. hanya selagi yang lain-lain sudah selesai. mengisi hingga penuh. Irawan D Soedradjat Page 199 . berdiri di atas itu ia lantas bersilat. dan setiap tindakan kakinya tidak pernah meleset dari ujung sumpit. ini dimainkan di atas pelatok sumpit dan sumpitnya tidak ada yang patah atau miring karena ketindihan tubuh dan batu yang berat itu. Ia mengasih lihat senyuman. akan kemudian terdengar suara perlahan dari air bergolak. ia menangkap nadinya siauw-ongya itu. arak meluncur keluar dari mulut poci. Asal tangannya digeraki. mereka menjadi heran. Kelihatannya pesta bakal ditutup sampai disitu. haha-hihi.Pendekar Pemanah Rajawali berpikir: ―Kenapa orang-orang lihay ini dapat berkumpul di sini? Biasanya. untuk menemui satu saja sudah sukar! Apakah tak boleh jadi bahwa mereka ada mengandung sesuatu maksud?‖ Selagi si imam berpikir. Selang lagi sesaat. Ong Cie It cenderungkan tubuhnya. tubuh siapa ia terus angkat. Dan ketika batu yang pertama turun. ―Aku tidak boleh berlambat lagi. Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong berbangkit sambil tertawa. Orang lantas melihat kejadian ini. tidak ada tanda bahwa ia merasa letih. ―Cuma Leng Siangjin yang belum mengasih lihat kepandaiannya. asal tangan kirinya digeraki. Sebelum batu itu turun. Baru setelah habis semua jurus itu. Yang lain-lain baru dapat melihat setelah uap itu nampak semakin nyata. ia tanggapi dengan dahi. Leng Tie Siangjin mencuci tangan seperti yang lain-lain. Hal ini dapat dilihat semua orang. ia memuji tak henti-hentinya. mereka lihat pangeran itu ditotok hingga ia menjadi tak berdaya lagi. Kemudian.‖ Ia tidak berbangkit tapi ia dapat menuangi arak ke dalam cawannya semua orang. Mereka insyaf juga. Lalu menyusul batu yang kedua dan yang ketiga. Dengan tangan kanannya. dan setelah turunkan ketiga batu itu. Kemudian lagi si imam taruh tangan kirinya di punggung pangeran itu. hanya yang istimewa. Kwee Ceng kagum bukan main. memberi hormat kepada orang banyak. maka dengan ini aku hendak menghormati kamu dengan secawan arak. ia tiba diatasnya pelatok-pelatok sumpit Auwyang Kongcu tadi. tapi barang berat itu tidak mengurangi kegesitannya. tangannya menyambar kepada Wanyen Kang. ―Mungkin sehabis dia.‖ Cie It berpikir. begitu ia kerahkan tenaganya. untuk semua tetamu membersihkan tangan mereka. sedang beratnya batu ada tujuh atau delapan puluh kati. ia masih merendam kedua tangannya di dalam baskom. Paling akhir Ong Cie It isikan cawannya Kwee Ceng serta cawannya sendiri. untuk ulur tangannya yang kanan ke pinggangnya batu. Ong Cinjin berbuat begini tentulah disebabkan dia bersendirian saja. memainkan ilmu silat ―Yan Ceng Kun. See Thong Thian semua kaget berbareng gusar tetapi mereka tak segera dapat berdaya. terlepas dari tangan dan mencelat naik dua tombak tingginya. Leng Tie Siangjin beramai menginsyafi tenaga dalam yang terlatih baik dari imam ini. celakalah Wanyen Kang. yang duduk berselang daripadanya. turun ke dalam cawan. mereka heran. Cu Ong jalan perlahan-lahan ke tengah latar.

beginilah kita mengambil keputusan. cuma pinto merasa suka kepadanya karena dia berhati polos dan pemurah. akan tetapi ketika ia buka kedua tangannya itu. yang kau membuatnya orang sangat kagum!‖ demikian katanya.‖ berkata pula Ong Cie It. Cuma hanya sekali bentrok. ia menyambuti dengan sama kerasnya. buat diajak berlalu dengan cepat-cepat dari istana itu. maka pangeran itu bebas dari totokan.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto tidak berselisih. aku takluk!‖ berkata Leng Tie Siangjin yang air mukanya berubah. darahnya itu tidak nanti menyemprot keluar. lalu ia tarik tangannya Kwee Ceng untuk diajak pergi. ia mengantarkan keluar. Sebat luar biasa. ini anak sebaliknya adalah satu anak rakyat jelata. untuk memberi hormat. pinto minta sukalah tuan-tuan melepaskan dia hari ini. ia bertanya: ―Nama Taysu bersemarak dalam dunia kangouw. yang menanti jawaban. Leng Tie Siangjin mengubah tenaga dalamnya menjadi tenaga luar. lantas saja ia muntah darah. Ia merangkapkan kedua tangannya. ―Aku bukan hendak menahan ini bocah she Kwee. contoh dalam dirinya Leng Tie Siangjin juga membikin hati mereka gentar. tangan kanannya diulur. kedua tangan sama-sama ditarik pulang. Ong Cie It segera tarik tangan Kwee Ceng. ―Baiklah. tidakkah siauw-ongya rugi? Bagaimana?‖ ―Ong Totiang. tetapi si imam pun tidak diam saja. aku hanya hendak menahan kau…‖ katanya. maka itu mesti ada harinya yang kita nanti bertemu pula!‖ Setibanya mereka di pintu hoa-thia. dari itu jikalau mereka ditukar guling. ―Maka pinto juga akan bebaskan ini siauw-ongya. terus ia dikembalikan ke kursinya. tetapi ia diejek si imam. See Thong Thian beramai tidak berani mencegah. ―Pinto juga tidak bersanak tidak bersahabat dengan anak ini.‖ Tanpa bersangsi sedikit juga. yang terus bilang: ―Urusan kita telah selesai. Masih ia mengucapkannya: ―Ijinkanlah kami mengundurkan diri. seraya melompat mundur. Sesudah belasan tombak keluar dari pintu istana. kau baik sekali!‖ berkata Nio Cu Ong tertawa. Sampai bertemu pula!‖ Semua orang mengawasi denagn air muka guram. bukan saja memang mereka seudah berjanji. dengan perlahan Giok Yang Cu berkata kepada bocah yang ia tuntun itu: ―Kau gendong aku sampai di rumah penginapan…‖ Irawan D Soedradjat Page 200 . ―Jikalau tuan-tuan memberi ampun kepada anak ini. supaya aku yang lebih muda dapat banyak pengajaran. Imam ini benar-benar tidak dapat dibuat permainan.‖ Ia lantas berbangkit. ia pun berbalik menyambar lengan lawan. siuran angin hebat menyambar ke arah si imam! ―Celaka!‖ Ong Cie It berseru di dalam hatinya dengan ia lekas-lekas angkat kedua tangannya untuk membalas hormat. Bukankah ikan telah masuk ke dalam jala tetapi dapat lolos pula? Tidakkah itu sayang? Wanyen Kang telah lantas dapat menenangkan hatinya. mengapa kata-katanya tidak masuk hitungan?‖ Leng Tie menjadi gusar. untuk menyambar lengannya Ong Cie It. Sambil tersenyum. tapi belum dapat ia meneruskan. Sebab bentrokan itu membuat ia terluka. tidak peduli mereka licin atau licik. apabila ada tempo yang luang. tidak berani mereka merintangi.‖ katanya.‖ Semua orang berdiam. Ong Cie It tersenyum. Habis itu ia mengangguk kepada semua orang. tidak bermusuhan dengan tuan-tuan. Mereka berdiam sejak Wanyen Kang dicekuk. ―Totiang sangat lihay. Coba ia berlaku tenang dan mainkan napasnya. Siauw-ongya adalah seumpama cabang emas daun kumala. ―Hm!‖ bersuara si imam. ―Sungguh aku takluk. Ia percaya semua jago itu. dengan sikutnya Ong Cie It bentur pinggangnya Wanyen Kang. Maka itu denagn memandang kepada mukaku. Ia kerahkan tenaga latihannya dari beberapa puluh tahun untuk memcahkan serangan hebat itu. setelah melintasi sebuah tikungan dan melihat di belakangnya tidak ada orang yang menyusul mereka. ia tidak dapat mengendalikan diri. dengan sikapnya yang menghormat. ia bersemangat. ia kata kepada Ong Cinjin: ―Totiang. silakan sembarang waktu datang untuk pasang omong di sini. karena ia telah lantas dapat melihat sambaran itu. tiba-tiba Leng Tie Siangjin berbicara.

‖ Kwee Ceng tanya kemudian. Ong Cie It merendam di dalam jambangan seraya memeramkan kedua matanya. Imam ini umpama kata cuma menang seurat. cepat-cepat ia sediakan barang yang diminta itu. terus diisikan air dingin. Kwee Ceng lari ke dalam kamar untuk memberi kabar. ―Bagus. ia masuki tubuh orang ke dalam jambangan hingga sebatas leher. Ia tahu imam ini khawatir nanti disusul musuh. ia girang sekali. Ong Cie It mengangguk. ia segera turunkan imam itu di atas pembaringan. ia maju terus. Ia juga memberi persen kepada si jongos. untuk menyembuhkan diri dari luka di dalam akibat pertempuran dahsyat dengan Leng Tie Siangjin. yang ia terluka dan ia sendiri tidak punya guna. Permintaan itu diturut. Syukur ia lantas dapat cari sebuah hotel yang kecil dan jorok. kau letaki aku di dalam jambangan itu. Cie It tidak menyahuti. Ia cari orang hotel. totiang?‖ Kwee Ceng tanya. yang diletaki di cimche. Sekarang barulah Kwee Ceng ketahui orang tengah mengerahkan tenaga dalamnya. sambil berlari-lari. ia hanya memberi tanda dengan tangannya. anak yang baik!‖ berkata Ong Cie It. mereka bisa terancam bahaya. Di pihak lain. ―Kau isikan penuh air bersih…‖ ―Untuk apakah itu. untuk menggendong dia. ―Apakah tangannya paderi Tibet itu ada racunnya?‖ ia tanya. maka lantas saja ia membungkuk di depan si imam itu. Kira semakanan nasi lamanya. lalu tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung. kulit muka si imam dari pucat pasi berubah menjadi bersemu dadu. tetapi Cie It bilang dengan perlahan: ―Cari…cari tempat yang sepi dan hotel kecil…‖ Kwee Ceng menurut. Ia mau mampir di sebuah hotel yang pertama diketemukan. Kwee Ceng melayani terus sampai ia tukar air tujuh kali. air jambangan yang bersih bening itu berubah menjadi hitam. ia dapat merayap keluar. Sementara itu ia merasai napasnya si imam semakin mendesak. ―Coba bantui aku bangun. Ilmu semacam itu.‖ sahut Cie It. untuk dibawa pergi denagn cepat.‖ ia minta kepada Kwee Ceng. ―Itulah racun dari Cu-see-ciang. Ia tidak tahu jalanan.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng kaget sekali. Kwee Ceng mengerti. Ia juga lantas dapat melihat roman pucat dari si imam. ―Lekas…lekas cari sebuah jambangan besar…‖ berkata Ong Cie It. Tangn Pasir Merah sering aku menemukan tetapi tidak ada yang lihay seperti ini. Maka itu jongos kegirangan. sedang jongos ia pesan untuk melarang siapa saja masuk ke cimche itu. ―Adakah totiang terluka?‖ ia tanya heran. Hari ini hampir aku kehilangan jiwa…‖ ―Totiang ingin dahar apa? Nanti aku pergi belikan. ia letaki sepotong perak di atas meja seraya minta lekas disediakan jambangan. maka sebentar kemudian. ia memasukinya. Cie It sudah berendam pula di dalam air yang baru. ―Sekarang pondong aku. tetapi tanpa pedulikan itu. ia pilih yang sepi saja. ―Benar. Kwee Ceng menurut. supaya bocah itu lekas pergi. air ini tukar dengan yang bersih. atas mana Giok Yang Cu lantas saja tertawa dan berkata: ―Sudah tidak ada bahaya lagi!‖ Dengan pegangi pinggiran jambangan. baru air itu tak lagi berubah hitam. dengan tenang ia mainkan napasnya. Irawan D Soedradjat Page 201 . Setibanya di dalam. seperti ynag kehabisan napas. Tapi ia menghela napas ketika ia berkata pula: ―Paderi dari Tibet itu sangat berbahaya!‖ Kwee Ceng berlega hati. Kau larang orang lain datang dekat padaku…‖ Kwee Ceng tidak mengerti tetapi ia pondong si imam itu. Ia dengar suara orang sangat lemah.

mungkin ia dapat berunding dengan temannya itu. tujuh atau delapan rumah obat semua kehabisan empat rupa bahan obat itu. ―Jiwa manusia sudah ditakdirkan.‖ kata pelayan setelah ia membaca surat obat itu. kepada Ong Cie It ia tuturkan kegagalannya. obat-obatan itu masih tidak kedapatan. Cit It tertawa pula. Kwee ceng tuturkan pertemuannya sama Oey Yong. kenapa mereka tidak?‖ berkata si imam. ―Aku telah bebas dari bahaya jiwa. ―Kenapa aku tidak mau pergi ke tempat yang berdekatan. Maka ia mau tanya jongos. ―Siapa yang mengirim surat ini?‖ ia menanya dalam hatinya. hingga mereka menjadi sahabat. bek-yo dan hitam baru habis. Surat itu berbunyi singkat saja: ―Aku menunggu kau di telaga di luar kota barat. sebab mereka ketahui Ong Cinjin pasti membutuhkannya. jauhnya kira-kira sepuluh lie.Pendekar Pemanah Rajawali Cie It pinjam perabot tulis pada tuan rumah. wajahnya menjadi guram. ―Tetapi hawa racun di dalam tubuh belum bersih betul. Imam itu menghela napas. Ia heran. Ong Cie It tertawa. Justru ia mau cari jongos. akibatnya akan menyebabkan cacad seumur hidup. bocah ini lari pulang ke hotel. yang tersenyum berseri-seri. Kwee Ceng masuk ke dalam kamar Cie It. ―Kita dapat pikir ini. ia segera mampir dan serahkan resepnya itu. Kwee Ceng sangat jujur dan hatinya lemah. ―Di sana belum tentu obat itu telah orang beli juga…‖ Ingat begini. Ia menjadi bingung dan mendongkol. Surat itu bagus tulisannya dan kertanya berbau harum. Laginya belum tentu aku bakal mati. maka itu kenapa kau menangis?‖ Lalu dengan suara halus ia bernyanyi. Lekas datang!‖ Surat itu tidak memakai tanda-tanda hanya lukisan gambar dari satu pengemis bocah. jongos datang dengan cepat. Kwee Ceng heran. gu-cit. di dekat-dekat dimana ada toko obat. Surat itu dialamatkan kepadanya. diam-diam ia keluar dari kamar. untuk dibaca isinya.‖ Tanpa minta penjelasan. ―Tentulah orang dari istana Chao Wang yang memborong semua obat itu. terus ia duduk bersemadhi di atas pembaringan. ―Sayang tuan. Bocah ini tidak berani mengganggu. ―Kematian pun tidak harus disayangkan. ia lantas taruh kepalanya di atas meja dan menangis megerunggerung. ia pergi sambil terus berlari. ia mengawasi. Ia girang berbareng heran.‖ ia berkata.‖ berkata si imam itu.‖ Kwee Ceng tidak menjadi putus asa. Untuk kegirangannya Kwee Ceng kenali romannya Oey Yong. Ia pun beri lihat suratnya Oey Yong itu. Ia terus robek sambpul surat.‖ Kwee Ceng mengerti. katanya baru saja ada orang yang borong. ―Cara bagaimana kau kenal anak itu?‖ ia tanya. menyerahkan sepucuk surat kepadanya. Sungguh jahat!‖ Dengan masgul. Sekarang kau tolongi aku lekas membeli obat.‖ kata bocah ini kemudian.‖ pikirnya kemudian. Makanya ia mesti pergi ke lain toko obat lagi. Malah didua tiga rumah obat yang terbesar. Ia ingat Oey Yong cerdik sekali. untuk lari ke rumah obat yang lain. ia menulis sehelai surat obat. ―Tidak usahlah kau pergi. Maka itu ia beritahu bahwa ia ingin menemui sahabatnya itu. Ia lantas kasih tahu bahwa ia mau pergi beli obat ditempat lain. ―Kebetulan saja obat hiat-kat. Ia putus asa.‖ sahut jongos itu. Di sini ia diberi tahu. ia lihat imam itu lagi melatih kaki dan tangannya. Irawan D Soedradjat Page 202 . Ada urusan penting yang hendak aku damaikan. hatinya lega. Di jalan perapatan ia lihat rumah obat yang pertama. jikalau dalam duabelas jam itu tak disingkirkan. ―Seorang gelandangan di jalan besar. Ong Cie It berpikir. empat rupa obat itu tidak ada. Untuk herannya. ―Akun mengerti sekarang. Kwee Ceng samber resepnya. ia ingin mencoba. ―Siapa bawa surat ini?‖ ia tanya jongos.

lantas lumer. bocah ini menjadi heran.‖ Di dalam hatinya. Sesudah hampir sepuluh lie. ―Di dalam ilmu kepandaian. salju melulu yang tampak. disana tidak ada tapak-tapak manusia. Si nona mengayuh perahunya sampai ke pinggir telaga. mukanya dadu segar. ! Tapi sahabatnya itu adalah satu pemuda dengan muka kotor dan pakaian compang-camping…. salju jatuh ke air. ada satu nona. eh. Ia lari keluar kota barat tanpa menghiraukan salju berterbangan menyampok mukanya. Disekitarnya yang luas. ―Mungkin ia belum datang. Tapi ia masih dapat berpikir. telaga itu tidak membeku. Ia berdiri menjublak bagaikan orang yang tengah bermimpi.‖ berkata Ong Cinjin. dia jauh terlebih lihay daripada kau. Ada Kuping Di Balik Tembok Kwee Ceng tiada bilang apa-apa lagi. lanats ia berlalu dari hotel. Tidak ada bayangan orang sekalipun. tidak berani ia mengawasi terus-terusan. Kwee Ceng berpikir: ―Totiang membeilang begini sebab ia belum tahu sifatnya Oey Hiantee…‖ Ia menyebutnya ―Oey Hiantee‖ = ―adik she Oey‖. kulitnya putih halus. Belum terlalu lama atau dari tengah telaga terdengar suara tertawa halus. kau pergilah lekas!‖ katanya. Kau harus berhati-hati. ―Kwee Koko. romannya cantik sekali dan manis. Karena hawa udara tidak sangat dingin. sahabat sehidup semiati……. ia lihat sinar terang dari air telaga. Orang berumur belum lima atau enambelas tahun. maka baiklah aku menunggu ia disini…‖ Maka ia lantas menantikan sambil ia pandangi keindahan telaga di musim salju itu.. ―Baru berapa lama kamu bersahabat?‖ katanya. yang rambutnya panjang meroyot melewati pundak. Ong Cinjin menghela napas. ―Mana itu dapat disebut persahataban sehidup semati? Jangan kau pandang enteng dia sebagai bocah! Kau tahu. Kwee Ceng mengawasi dengan menjublak.‖ berkata pula si nona. Ia lantas berpaling ke lain jurusan. cuma dua ekor burung air yang terbang gelapakan di telaga. ―Bagaimana. Kenapa sekarang tercipta menjadi satu bidadari? Irawan D Soedradjat Page 203 . Ia pun bertindak dari tepian. ―Oey Hiantee! Oey Hiantee!‖ ia memanggil pula. Begitu ia menoleh. tidak nanti ia celakai kau. yang percaya betul sahabatnya itu. ia tampak segala apa putih meletak. yang duduk di belakang perahu. ―Apakah kau tidak kenal aku?‖ Kwee Ceng perhatikan suara orang. sehidup semati. ―Dia luar biasa gerak tubuhnya. Bab 19. bajunya putih mulus. mari naik ke perahu!‖ tiba-tiba dia memanggil. Aku lihat padanya seperti ada terselip sifat-sifat kesesatan. ―Baik. Dia menyebutnya ―Kwee Koko‖ = ―Engko Kwee‖. sedang tangan baju orang memain di antara sampokan angin. kemudian ia kucak-kucak matanya dengan kedua tangannya. Ong Cinjin tertawa. akan perdengarkan suara nyaring: ―Oey Hiantee! Oey Hiantee!‖ Tidak ada jawaban. ―Apa mungkin dia sia-sia menanti aku dan dia lantas pergi duluan?‖ ia berpikir. dengan hatinya masgul. Kwee Ceng terkejut. engko Kwee. Tapi ia buka mulutnya. di pepohonan. hanya aku tidak tahu pasti apa itu…‖ ―Kita bersahabat sangat erat. ia masuki resep ke dalam sakunya. Itulah sebuah perahu kecil dengan penumpangnya.‖ menyatakan Kwee Ceng. Tanpa mengalami sesuatu. begitu ia tampak satu wajah yang manis sekali. Ia dipanggil selagi ia menoleh ke lain jurusan. ―Semua anak muda berkelakuan seperti kamu. kau tentu tidak dapat layani dia…. hingga emas itu bercahaya di antara sinar putih dari salju. ia lihat sebuah perahu muncul dari bagian telaga yang lebat dengan pepohonan. tidak tambah kecerdikan kamu…‖ Imam ini tetap percaya Oey Yong bukan orang dari golongan yang sadar. Memandang ke sekitarnya. jikalau ia hendak mencelakai padamu. kapan Kwee Ceng menoleh. Ia dapatkan si nona bagaikan bidadari. Lantas ia tuturkan perihal kebaikannya sahabatnya itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Aku telah saksikan caranya ia mempermainkan Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. sahabat eratnya. Itulah suaranya Oey Yong. tanda ia sangat percaya pada Oey Yong. Adalah di tepian.‖ ia pesan. rambutnya di bagian atas ada pitanya dari emas.

Pendekar Pemanah Rajawali

Dalam kesangsiannya, bocah ini mengawasi dengan mendelong. Nona itu tertawa. ―Aku adalah Oey Hianteemu!‖ ia berkata. ―Benarkah kau telah tidak kenali aku?‖ Oleh karena ia menatap, Kwee Ceng kenali roman mukanya Oey Yong yang alisnya lentik dan mulutnya mungil, cuma dandannya lain. ―Kau…kau….‖ katanya perlahan. Oey Yong tertawa pula. ―Sebenarnya aku adalah seorang wanita,‖ ia berkata pula. ―Siapa suruh kau panggil aku Oey Hiantee dan Oey Hiantee tak sudahnya? Ayolah lekas naik ke perahu ini!‖ Kwee Ceng sadar, lalu ia enjoti tubuhnya, lompat ke perahu itu. ―Oey Hiantee…!‖ katanya. Oey Yong tidak menyahuti, ia hanya kayuh perahunya ke telaga. Ia lantas sajikan bekalannya, barang makanan dan arak. ―Kita duduk disini, dahar dan minum arak sambil memandangi sang salju, bagus bukan?‖ katanya merdu. Kwee Ceng mencoba akan menenangi diri. ―Ah…aku tolol sekali!‖ katanya kemudian. ―Sampai sebegitu jauh, aku sangka kau adalah seorang pria! Selanjutnya tidak dapat aku panggil lagi kau Oey Hiantee….‖ Oey Yong tertawa. ―Kau juga jangan panggil aku Oey Hian-moay,‖ ia berkata. ―Aku dipanggil Yong-jie. Ayahpun selalu memanggil aku begitu.‖ Dengan sendirinya nona ini tidak menghendaki di panggil ―Oey Hian-moay‖ = ―adik Oey‖ dan menghendaki di sebut namanya saja. ―Yong-jie‖ berarti ―anak Yong‖. Tiba-tiba Kwee Ceng ingat sesuatu. ―Aku membekali kau tiamsim!‖ katanya seraya terus kasih keluar tiamsim yang ia bawa dari istananya Wanyen Kang. Cuma sekarang tiamsim itu sudah pusak-pesok tiada karuan. Oey Yong mengawasi macamnya tiamsim yang tidak karuan itu, ia tertawa. Merah mukanya Kwee Ceng, ia jengah. ―Tiamsim ini tak dapat dimakan…‖ katanya. Ia ambil itu, untuk dilemparkan ke air. Oey Yong sambar tiamsim itu. ―Aku bisa makan!‖ katanya. ―Aku doyan!‖ Selagi si bocah tercengang, Oey Yong sudah menggayem tiamsim itu. Kwee Ceng mengawasi, sampai ia mendadak menjadi heran sekali. Oey Yong dahar tiamsim itu, lantas perlahan-lahan matanya menjadi merah, lalu air matanya perlahan-lahan mengalir turun… ―Begitu aku dilahirkan, aku sudah tidak punya ibu,‖ berkata Oey Yong yang dapat membade pikirannya sahabatnya. ―Seumurku, belum pernah ada orang yang ingat aku seperti kau ini…‖ Air matanya mengalir deras, ia keluarkan sapu tangannya ang putih bersih. Kwee Ceng menyangka orang hendak menyusuti air matanya, tak tahunya dengan cara hati-hati nona itu bungkus sisa tiamsim yang kemudian ia masuki ke dalam sakunya. ―Aku akan dahar ini perlahan-lahan…‖ katanya, dan kali ini ia tertawa. Benar-benar aneh kelakuan bocah wanita ini, Kwee Ceng asing betul dengan tingkah lakunya ini ―Oey Hiantee‖. ―Bilangnya ada urusan penting yang kau hendak bicarakan dengan aku, urusan apakah itu?‖ kemudian ia tanya. Ia sudah lantas ingat surat si nona dan untuk apa ia datang ke telaga ini. Oey Yong tertawa ketika ia menyahuti: ―Aku panggil kau datang kemari untuk memberitahukan padamu bahwa aku bukannya Oey Hianteemu, hanya Yong-jie. Apa ini bukannya urusan penting?‖

Oey Yong melengos ke samping. ―Kau bilang aku manis dipandang?‖ ia tanya. ―Manis sekali!‖ sahut si anak muda. ―Kau mirip dengan bidadari dari puncak gunung salju!‖ Ia menghela napas.
Irawan D Soedradjat

Page

204

Kwee Ceng tersenyum. Orang benar-benar jenaka. ―Kau begitu manis untuk dipandang, kenapa mulanya kau menyamar sebagai penemis?‖ ia tanya.

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong tertawa pula. ―Pernahkah kau melihat bidadari?‖ tanyanya. ―Aku belum pernah lihat. Kalau aku dapat menemui, mana aku masih hidup lagi…?‖ Oey Yong heran. ―Eh, kenapa begitu?‖ ia menegaskan. ―Sebab pernah aku dengar pembilangannya orang-orang tua, siapa dapat melihat bidadari, dia tidak bakal kembali ke tanah datar, untuk selamanya ia akan duduk bengong saja di gunung salju, lalu lewat beberapa hari, dia akan mati beku….‖ Oey Yong tertawa pula. ―Sekarang kau melihat aku, kau bakal bengong saja atau tidak?‖ tanyanya kemudian. Mukanya Kwee Ceng menjadi merah. ―Kita toh sahabat-sahabat kekal, kita lain…‖ Oey Yong menganggguk. Lalu ia berkata dengan sungguh-sungguh: ―Aku tahu kau baik hati dengan sesungguhnya, terhadap aku, tidak peduli aku pria ataupun wanita, biarpun aku bagus atau jelek.‖ Ia berhenti sebentar. ―Dengan dandananku ini, kalau orang bersikap baik terhadap aku, apakah anehnya? Diwaktu aku menjadi pengemis, kau baik sekali dengan aku, nah itu barulah sahabat sejati.‖ Ia rupanya sangat girang, semabri tertawa ia kata pula: ―Aku ingin bernyanyi untukmu, sukakah kau mendengarnya?‖ ―Apakah tidak boleh besok saja kau bernyanyi?‖ Kwee Ceng minta. ―Sekarang ini aku mesti pergi beli obat untuk Ong Totiang.‖ Kwee Ceng lantas tuturkan tentang adu kepandaian di istana Chao Wang, sampai Ong Cie It, yang melindungi ia, mendapat luka parah, bahwa sia-sia belaka ia mencari obat. Oey Yong mengawasi, ia tertawa. ―Aku pun heran sekali menyaksikan kau lari mondar-mandir di jalan besar dan memasuki rumah obat dari yang satu kepada yang lain, entah kau bikin apa, tidak tahunya kau hendak membeli obat,‖ katanya. Kwee Ceng menduga, selagi ia lari mondar-mandir, Oey Yong tentu telah mengintai padanya tetapi ia tidak tahu, kalau tidak, niscaya nona itu tidak ketahui ia tinggal di hotel mana. ―Oey Hiantee,‖ katanya kemudian, ―Apakah boleh pinjam kuda merahmu yang kecil untuk aku pergi membeli obat?‖ Oey Yong menatap. ―Ketahuilah!‖ katanya. ―Kesatu, aku bukannya si Oey Hiantee! Kedua, kuda merah yang kecil itu adalah kepunyaanmu! Apakah kau sangka benar-benar aku menghendaki kudamu itu? Aku melainkan lagi menguji hatimu. Ketiga, di tempat sekitar ini, belum tentu kau dapat mencari obat itu…!‖ Kwee Ceng berdiam, hatinya pepat. Ia bingung sekali. Dugaan si nona nyata cocok betul dengan dugaannya Ong Cie It. Oey Yong tertawa. ―Sekarang aku nyanyai, kau dengari!‖ dia kata. Lalu kedua bibirnya yang merah tergerak terbuka, segera lidahnya bergerak, memperdengarkan nyanyiannya yang halus dan merdu. Kwee Ceng mendengari dengan hati kesengsem walaupun tidak mengerti jelas artinya nyanyian itu, hatinya menjadi goncang. Seumurnya belum pernah ia peroleh pengalaman ini. ―Inilah nyanyian Sui Ho Sian dari Sin Tayjin,‖ kata Oey Yong perlahan habis ia nyanyi. ―Bagaimana kau bilang, bagus atau tidak?‖ ―Aku kurang mengerti tetapi didengarnya menarik hati,‖ Kwee Ceng menjawab. ―Siapa itu Sin Tayjin?‖ ―Dialah Sin Kee Cie,‖ sahut Oey Yong. ―Menurut ayahku dialah satu pembesar jempolan yang menyinta negara dan rakyat. Ketika dulu hari utara Tionggoan terjatuh ke dalam tangan bangsa Kim dan Gak Bu Bok terbinasa di tangan dorna, tinggal Sin Tayjin sendiri yang masih berdaya untuk merampas pulang daerah-daerah yang terhilang itu.‖ Kwee Ceng tahu kekejaman bangsa Kim dari penuturan ibunya, karena ia hidup di Mongolia, ia kurang tahu. Ia kata: ―Belum pernah aku pergi ke Tionggoan, maka hal ini baik nanti saja perlahan-lahan kau tuturkan padaku. Sekarang kita mesti pikirkan daya menacri obat untuk Ong Totiang.‖
Irawan D Soedradjat

Page

205

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kau dengar aku,‖ berakta Oey Yong. ―Kita pesiar dulu disini, tak usah kau cemas tidak karuan.‖ ―Ong Totiang bilang, kalau dalam tempo dua belas jam ia tidak dapat obat, ia bisa celaka,‖ Kwee Ceng jelaskan. ―Aku tanggung, kau akan dapatkan obat itu,‖ si nona bilang. Mendengar si nona bicara dengan sungguh-sungguh dan juga percaya orang memang ada terlebih pandai dan cerdik daripadanya, Kwee Ceng dapat juga melegakan hatinya. ―Mungkin ia tidak akan membikin gagal,‖ pikirnya. Maka ia lantas layani si cantik itu minum arak dan dahar makanan sambil mereka pasang omong. Dengan gembira, dan secara menarik hati, Oey Yong tuturkan bagaimana caranya ia menggangtung Hong Ho Su Koay, bagaimana ia ganggu Hauw Thong Hay sampai si Ular Naga Kepala Tiga itu mendongkol bukan main. ―Bagus!‖ seru Kwee Ceng saking gembira. ―Memang bagus!‖ kata si nona. Dan keduanya bertepuk tangan. Tanpa merasa sang tempo telah berlalu, Oey Yong lihat bagaimana secara perlaha-lahan sang mega atau kabut mulai menutupi air telaga yang putih. Dengan perlahan sekali ia ulur tangannya, terus ia genggam tangannya si Kwee Ceng, sembari berbuat begitu ia kata dengan perlahan: ―Sekarang aku tidak takut apa juga…!‖ ―Kenapa?‖ menanya si anak muda dengan heran. ―Taruh kata ayah tidak menginginkan aku, kau tentunya sudi aku ikuti kau, bukankah?‖ si nona tanya tanpa ia menyahuti pertanyaan orang. ―Pasti!‖ jawab Kwee Ceng sungguh-sungguh. ―Aku sendiri, belum pernah aku bergembira seperti sekarang ini!‖ Oey Yong membawa tubuhnya mendekati dada si pemuda dan menempelkannya, maka Kwee Ceng lantas saja merasakan ia bagai terkurung bau harum, bau yang meliputi juga antero telaga, seluruh langit dan bumi…… Tanpa mengucap sepatah kata, keduanya saling berpegang tangan….. Lagi sekian lama, tiba-tiba Oey Yong menghela napas. ―Tempat ini sungguh indah, sayang kita bakal meninggalkannya…‖ katanya. ―Kenapa begitu?‖ Kwee Ceng tanya. Ia heran. ―Bukankah kita harus mencari obat untuk menolongi Ong Totiang?‖ sahut si nona. Kwee Ceng sadar, ia menjadi girang sekali. ―Ah, ke mana kita mencarinya?‖ ―Ke manakah perginya itu beberapa rupa obat yang dibutuhkan, yang tidak berada di rumah-rumah obat?‖ Oey Yong menanya. ―Tentulah semua itu dibeli oleh orangnya Chao Wang,‖ menyahut Kwee Ceng. ―Benar!‖ berkata si nona. ―Tetapi tidak dapat kita pergi ke sana!‖ Kwee Ceng bilang. ―Pergi ke sana artinya kita mengantari jiwa kita…‖ ―Habis apakah kau tega membiarkan Ong Totiang menjadi bercacad seumur hidupnya?‖ Oey Yong tanya. ―Jangan-jangan, karena lukanya itu berubah menjadi berbahaya, ia pun bisa hilang jiwanya….‖ Darahnya Kwee Ceng bergolak. ―Baik, aku akna pergi!‖ ia bilang. ―Tapi kau jangan turut…‖

Kwee Ceng berdiam. Ia tidak punyakan alasan untuk kata-katanya itu.

Irawan D Soedradjat

Page

206

―Jangan turut? Kenapakah?‖ tanya si nona.

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong mengawasi. ―Engko yang baik,‖ katanya perlahan. ―Kau kasihanilah aku. Umpama kata kau menemui bencana, apakah kau sangka aku dapat hidup seorang diri saja?‖ Kwee Ceng menjadi sangat bersyukur dan bergirang. ―Baiklah!‖ katanya kemudian. ―Mari kita pergi bersama!‖ Keduanya lantas mengayuh, membuatnya perahu mereka ke pinggir, setelah mendarat, mereka menuju langsung ke istana Chao Wang, ke arah belakang. Mereka memasuki pekarangan dengan melompati tembok. ―Engko Ceng, sempurna sekali ilmu ringan tubuhmu!‖ Oey Yong memuji selagi si anak muda mendekam di kaki tembok untuk memasang kuping dan mata. Mendengar pujian itu, Kwee Ceng gembira bukan main. Merdu sekali suara si nona. Tak lama, mereka mendapat dengar tindakan kaki dibarengi sama suara bicara sambil tertawa. Mereka menutup mulut. ―Siauw-ongya mengurung si nona di sini, kau tahu untuk apa?‖ terdengar seorang menanya. ―Siauw-ongya‖ itu ialah pangeran muda. ―Buat apa lagi!‖ tertawa orang yang kedua. ―Si nona ada demikian cantik! Sejak kau dilahirkan, pernahkah kau melihat nona secantik itu?‖ ―Kau hati-hati, sahabat!‖ kata yang pertama, ―Melihat macammu ini, hati-hatilah, nanti siauw-ongya kutungi batang lehermu…‖ Kwee Ceng lantas berpikir: ―Kiranya Wanyen Kang sudah punya pacar maka juga ia tidak sudi nikahi nona Bok. Dalam hal ini, dia tidak dapat disesalkan. Cuma mengapa ia mengurung nona itu? Mustahilkah si nona menolak dan ia hendak gunai kekerasan untuk memaksa?‖ Dua orang itu sudah lantas datang dekat sekali, yang satu membawa tengloleng, yang lainnya menenteng barang makanan. Yang membawa makanan itu berkata pula sambil tertawa: ―Siauw-ongya aneh! Dia mengurung orang, dia juga khawatir orang kelaparan! Lihat, sudah malam begini dia masih suruh mengantarkan barang makanan….‖ ―Jikalau tidak berlaku manis budi, mana dia dapat merampas hati si nona?‖ berkata yang membawa lentera. Lantas mereka lewat, suara tertawa mereka masih terdengar. ―Mari kita lihat!‖ berbisik Oey Yong, yang hatinya menjadi tertarik. ―Sebenarnya bagaimana sih cantiknya orang itu…‖ ―Lebih perlu kita mencari obat,‖ Kwee Ceng bilang. ―Aku ingin lihat dulu si cantik!‖ kata Oey Yong, yang tertawa. Kwee Ceng heran sekali. ―Apa sih bagusnya orang perempuan untuk di lihat?‖ katanya dalam hati. Ia tidak menginsyafi sifat wanita. Kalau satu nona mendengar ada nona cantik lainnya, sebelum melihatnya, hatinya tidak nanti puas, kalau dia sendiri cantik, lebih keras lagi keinginannya melihatnya itu. ―Ah, dasar anak kecil….!‖ Luas pekarangan dalam dari gedung Chao wang itu. Mereka berdua berjalan berliku-liku menguntit dua hamba tadi. Mereka tiba di depan sebuah gedung besar yang gelap, tapi ada yang jaga. Mereka lantas umpatkan diri, untuk mendenagri kedua kacung itu bicara sama penjaga rumah itu, yang ialah seoarng serdadu. Dia ini lantas membuka pintu, untuk mengijinkan orang masuk. Oey Yong cerdik. Ia menjumput sebutir batu, dengan itu ia menimpuk lentera orang, hingga apinya lentera itu padam seketika, membarengi mana ia tarik tangan si anak muda, untuk diajak berlompat masuk ke pintu. Kedua kacung dan serdadu itu tidak menduga jelek, mereka cuma menyangka batu jatuh dari atas. Sembari mengutuk, mereka nyalakan pula lenteranya. Setelah membuka sebuah pintu dalam, yang kecil, berdua mereka masuk lebih jauh.

Irawan D Soedradjat

Page

207

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong dan Kwee Ceng menempatkan diri di sebelah belakang, dengan hati-hati mereka menguntit pula, sampai mereka berada di depan sebuah ruang seperti kerangkeng binatang liar, jerujinya semua besi kasar. Di dalam situ ada dua orang, terlihat samar-samar seperti pria dan wanita. Satu bujang lantas memasang lilin, yang mana ia masuki ke dalam kerengkeng. Maka sekarang terlihat tegaslah dua orang yang terkurung itu. Mengenali mereka, Kwee Ceng terkejut. Mereka adalah Bok Ek serta gadisnya, yang tadi siang mengadakan pibu mencari jodoh. Bok Ek nampaknya tengah bergusar. Liam Cu duduk di samping ayahnya dengan kepala tunduk. ―Bagaimana dengan Wanyen Kang? Sebenarnya dia sukai nona ini atau tidak?‖ Kwee Ceng beragu-ragu. Kedua bujang itu memasuki barang makanan berikut araknya. Bok Ek sembat sebuah mangkok, terus ia lemparkan. Ia berseru: ―Aku telah terjatuh ke dalam tipumu yang busuk, kalau kau hendak membinasakan, binasakanlah! Buat apa kamu berpura-pura menaruh belas kasihan?!‖ Belum sampai si bujang membilang apa-apa, di sebelah luar terdengar suaranya serdadu penjaga pintu yang tadi: ―Siauw-ongya baik?‖ Mendengar itu, Kwee Ceng dan Oey Yong berpaling, lalu lekas-lekas mereka mencari tempat sembunyi. Segera juga terdengar suara membentak sari Wanyen kang, yang datang dengan tindakan lebar: ―Siapa yang membikin Bok Loenghiong gusar? Awas, sebentar aku hajar patah kaki anjingmu!‖ Kedua hamba itu lantas bertekuk lutut. ―Hambamu tidak berani…‖ berakat mereka. ―Lekas berlalu!‖ membentak pula si pangeran. ―Ya, ya…‖ menyahuti kedua hamba itu, yang berlalu dengan cepat. Hanya setibanya mereka di pintu luar, mereka saling mengawasi dengan mengulurkan lidahnya masing-masing….. Wanyen Kang tunggu sampai orang telah merapatkan daun pintu, ia hampiri Bok Ek dan gadisnya. ―Jiwi silahkan kemari!‖ ia berkata, suaranya sabar sekali. ―Aku hendak membilangi sesuatu kepada kamu, harap kamu jangan salah mengerti.‖ ―Kau telah kurung kami sebagai pesakitan, apakah artinya undanganmu ini?!‖ Bok Ek menegur. Ia gusar sekali. ―Maafkan aku, menyesal sekali,‖ berkata Wanyen kang. ―Untuk sementara aku minta jiwi harap bersabar. Aku pun merasa tak enak hati.‖ ―Kau boleh akali bocah umur tiga tahun!‖ Bok Ek membentak pula. ―Aku tahu baik sifatnya kamu orang besar! Hm!‖ Wanyen Kang hendak bicara pula, saban-saban ia terhalang oleh bentakan orang tua itu, tetapi ia sabar luar biasa, sebaliknya dari bergusar, ia tertawa. ―Ayah, coba dengar dulu apa ia hendak bilang,‖ akhirnya Liam Cu berkata dengan perlahan. ―Hm!‖ orang tua itu perdengarkan suara di hidungnya. ―Nona seperti putrimu, mustahil aku tidak sukai dia‖ berkata Wanyen Kang. Mendengar itu, wajahnya Liam Cu menjadi merah, ia tunduk lebih rendah. ―Hanyalah aku adalah satu pangeran dan aturan rumah tanggaku keras sekali,‖ Wanyen Kang berkata pula. ―Umpama kata orang mendapat tahu aku mempunyai mertua seorang kangouw, bukan cuma ayahku bisa memarahinya, malah ada kemungkinan sri baginda juga nanti menegur ayahku itu…‖ ―Habis kau mau apa?‖ menanya Bok Ek. Ia anggap orang bicara beralasan juga. ―Sekarang ini aku mau minta jiwi berdiam dulu beberapa hari di sini, untuk sekalian merawat lukamu,‖ sahut pangeran itu. ―Setelah itu barulah kamu pulang ke kampung halamanmu. Nanti, selang satu atau setengah tahun, setelah suasana sudah reda, akan aku nikahi putrimu ini, baik dengan jalan aku pergi menjemput ke rumahmu atau dengan minta locianpwee datang ke mari. Tidakkah itu lebih bagus?‖ kata pangeran ini lebih lanjut.
Irawan D Soedradjat

Page

208

Pendekar Pemanah Rajawali

Bok Ek berdiam. Ia tengah memikir satu hal lain. ―Peristiwa ini bisa merembet ayahku,‖ Wanyen Kang berkata pula, sambil tertawa. ―Oleh karena kenakalanku, beberapa kali ayah pernah ditegur sri baginda raja, maka kalau urusan ini sampai didengar oleh sri baginda, pastilah pernikahan ini gagal. Maka itu aku minta sukalah locianpwee menyimpan rahasia.‖ Bok Ek gusar. ―Menurut caramu ini!‖ katanya sengit, ―Kalau nanti anakku menikah sama kamu, untuk seumur hidupnya ia mesti main sembunyi-sembunyi! Dia jadinya bukan satu istri yang terang di muka umum!‖ ―Dalam hal ini pastilah aku akan mengatur lainnya,‖ Wanyen Kang memberi keterangan. ―Sekarang pun aku sudah pikir nanti minta perantaraannya beberapa menteri sebagai orang pertengahan, supaya kita nanti menikah secara terhormat….‖ Wajahnya Bok Ek berubah. ―Kalau begitu, pergi kau panggil ibumu datang ke mari,‖ katanya. ―Aku ingin kita omong depan berdepan dan secara terus terang!‖ Wanyen Kang tersenyum. ―Mana dapat ibuku menemui locianpwee?‖ katanya. ―Jikalau aku tidak dapat bicara dengan ibumu, biar bagaimana, tidak sudi aku melayani kamu!‖ kata Bok Ek kaku, tangannya menyambar sepoci arak, yang dia timpukkan di antara jeruji besi. Bok Liam Cu kaget dan berduka menyaksikan sikap ayahnya ini. Sebenarnya, semenjak memulai bertanding sama pangeran itu, ia telah menaruh hati, maka juga ia senang mendengar pembicaraannya si anak muda yang ia anggap beralasan. Ia tidak sangka, ayahnya telah ambil sikapnya yang tegas itu. Wanynn Kang geraki tangannya menyambar poci arak itu, terus ia letaki itu ditempatnya, di atas meja. ―Menyesal tidak dapat aku menemani lebih lama,‖ katanya. Ia tertawa dan memutar tubuhnya untuk berlalu. Kwee Ceng anggap omongannya Wanyen Kang beralasan. Bukankah si pangeran ada kesulitannya sendiri? Maka itu, menyaksikan kemurkaannya Bok Ek, ia lantas berpikir; ―Baiklah aku bujuki ia…‖ Ia lantas geraki tubuhnya, untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi ia tidak dapat wujudkan apa yang ia pikirkan itu. Oey Yong telah tarik tangan bajunya, untuk ajak ia keluar. ―Apakah sudah diambil?‖ mereka lantas dengar suaranya Wanyen Kang, yang bicara sama satu hambanya. ―Sudah,‖ sahut si hamba, yang terus angkat sebelah tangannya. Nyata ia mencekal seekor kelinci. Wanyen Kang menyambuti dengan kedua tangannya, tiba-tiba saja ia patahkan kedua kakinya kelinci itu, yang ia terus masuki ke dalam sakunya, setelah mana ia bertindak dengan cepat. Binatang itu berpekik satu kali, lalu kelengar. Dua-duanya Oey Yong dan Kwee Ceng heran sekali. Merak lantas kuntiti pangeran itu, yang jalan memutari sebuah pagar bambu, setelah mana terlihatlah sebuah rumah tembik putih yang kecil. Itulah rumah bermodel rumah rakyat di Kanglam. Maka heran di dalam pekarangan istana mentereng itu ada sebuah rumah yang begini sederhana. Maka mereka jadi bertambah heran. Wanyen Kang menolak pintu rumah itu dan masuk ke dalamnya. Dengan lekas Kwee Ceng berdua lari ke jendela untuk memasang kuping sambil mengintai di sela-sela jendela itu. Mereka percaya mesti ada perbuatan yang aneh dari si pangeran itu. ―Ma!‖ mereka lantas dengar suara si pangeran. ―Ya..!‖ demikian suara penyahutan perlahan, suaranya seorang wanita. Wanyen Kang lantas masuk ke dalam kamar.

―Mama, apakah hari ini kau kurang sehat?‖ tanya Wanyen Kang seraya pegangi tangan si nyonya.
Irawan D Soedradjat

Page

209

Untuk bisa melihat, Kwee Ceng berdua menghampirkan sebuah jendela lain. Maka mereka lantas tampak satu nyonya tengah berduduk di pinggiran meja, sebelah tangannya menunjang dagu, matanya mendelong. Dia belum berumur empatpuluh tahun dan mukanya cantik sekali. Di rambut dekat kupingnya dia memakai setangkai bunga putih. Pakaiannya semua terdiri dari kain kasar.

Pendekar Pemanah Rajawali

Nyonya itu menghela napas. ―Bukankah aku tak berlega hati untukmu?‖ sahutnya. Wanyen Kang sanderkan diri di tubuh nyonya itu, yang ia panggil ibu, agaknya ia manja sekali. ―Ma, bukankah anakmu berada di sini?‖ katanya, aleman. ―Toh aku tidak kekurangan walaupun sebelah kakiku…?‖ ―Kau mengacau, kalau ayahmu dengar itu, masih tidak apa,‖ berkata si ibu itu, ―Tetapi gurumu? Bagaimana kalau ia mendengar kabar? Tidakkah hebat?‖ ―Ma,‖ berkata si pangeran, tertawa, ―Tahukah kau siapa imam itu yang datang menyela untuk menolongi orang?‖ ―Siapakah imam itu?‖ ―Dialah adik seperguruan dari guruku…‖ ―Celaka!‖ berseru si nyonya kaget. ―Pernah aku melihatnya gurumu disaat ia tengah murka! Dia dapat membunuh orang! Sungguh menakutkan…!‖ Wanyen Kang agaknya heran. ―Pernah mama melihat suhu membunuh orang?‖ dia tanya. ―Di manakah itu? Kenapa suhu membunuh orang?‖ Nyonya itu angkat kepalanya, memandang lilin. Ia agaknya tengah memikir jauh. ―Itulah sudah lama, sudah lama,‖ katanya kemudian dengan perlahan. ―Ah, kejadian daulu hari itu hampir aku lupa….‖ Wanyen Kang tidak menanyakan lebih jauh, sebaliknya dengan gembira, ia kata; ―Ong Susiok itu telah mendesak aku, menanyakan bagaimana urusan pibu hendak diselsaikan. Aku telah menjanjikan untuk menerima baik. Asal si orang she Bok itu datang, apa yang diatur, aku terima baik.‖ ―Apakah kau sudah bicara dengan ayahmu?‖ tanya si nyonya itu. ―Bersediakah dia akan memberikan perkenanannya?‖ Wanyen Kang tertawa. ―Ma, kau memang baik sekali!‖ katanya. ―Dari siang-siang telah aku perdayakan orang she Bok itu dan gadisnya datang ke mari, sekarang mereka ditahan di kerangkeng di belakang sini. Mana Ong Susiok dapat mencari mereka?‖ Selagi si pangeran ini demikian gembira, Kwee Ceng sebaliknya bertambah kemendongkolannya dan kemurkaannya. Kata pemuda ini dalam hatinya; ―Aku menyangka dia bermaksud baik, siapa tahu ia sebenarnya sangat licik!‖ Si wanita pun tidak setujui putranya itu. ―Kau telah permainkan anak dara orang,‖ katanya kurang senang, ―Kau juga kurung mereka di sini. Apakah artinya itu? pergi lekas kau merdekakan mereka! Kau berikan mereka uang, kau menghanturkan maaf, lantas kau persilahkan mereka pulang ke kampung halaman mereka.‖ Kwee Ceng mengangguk-angguk. Ia setujui sikap nyonya itu. ―Begitu baru benar,‖ pikirnya. Wanyen kang tetap tertawa. ―Ma, kau belum tahu,‖ katanya. ―Orang kangouw seperti mereka tidak memandang uang! Jikalau mereka dilepaskan, setelah merdeka, tentu mereka akan buka suara lebar-lebar. Kalau itu sampai terjadi, bagaimana suhu bisa tak ketahui urusan ini?‖ ―Habis, apakah kau hendak kurung mereka seumur hidup mereka?‖ tanya si nyonya. Putra itu tetap tertawa. ―Akan aku bicara baik-baik dengan mereka, nanti aku perdayakan hingga mereka suka pulang ke kampung halaman mereka,‖ ia bilang. ―Biarlah di sana mereka menanti-nanti hingga mereka putus asa…‖. Lantas ia tertawa terbahak.

Irawan D Soedradjat

Page

―Jangan turuti adat…!‖ demikian ia dengar bisikan di kupingnya, berbareng denagn mana sebuah tangan yang halus menutup mulutnya dan tangan yang lain menarik tangannya. Merdu bisikan itu……

210

Kembali bangki hawa amarahnya Kwee Ceng, hingga ia ayun sebelah tangannya ke daun jendela dan mulutnya pun hendak dibuka.

Pendekar Pemanah Rajawali

Cuma sejenak itu, pemuda ini insyaf akan kekeliruannya, maka ia menoleh kepada si nona manis di sisinya dan bersenyum. Karena itulah Oey Yong yang mencegah padanya. Kemudian ia mengintai pula ke dalam kamar. ―Tua bangka she Bok itu sangat licin,‖ terdengar pula suaranya Wanyen Kang. ―Telah aku bujuki dia, dia tak mau makan umpan. Maka biarlah dia ditahan lagi beberapa hari, untuk lihat akhirnya dia suka menurut atau tidak.‖ ―Aku lihat nona itu bagus romannya dan gerak-gerakinya, aku suka dia,‖ berkata si nyonya. ―Aku pikir hendak bicara dengan ayahmu, supaya kau diijinkan menikah dengannya. Bukankah dengan begitu selesai sudah semuanya?‖ ―Ah, mama, ada-ada saja!‖ berkata sang putra sambil tertawa. ― Kita dari keluarga apa? Cara bagaimana aku bisa menikah dengan satu nona kangouw? Ayah sering bilang padaku bahwa dia hendak mencarikan satu jodoh dari keluarga agung. Sayangnya ialah ayah bersaudara dengan raja yang sekarang…‖ ―Apakah yang dibuat sayang?‖ nyonya itu bertanya. ―Sebab,‖ menyahut sang putra, ―Kalau tidak, pasti aku kana mendapatkan putri raja dan aku bakal menjadi menantu raja!‖ Nyonya itu menghela napas, ia tak bicara lagi. ―Ma, ada satu lagi hal yang lucu,‖ Wanyen Kang berkata pula, tak ketinggalan tertawanya. ―Tua bangka she Bok itu bilang ingin bertemu sama kau, ingin dia bicara sendiri, untuk mendapat kepastian, setelah itu barulah dia mau mempercayai aku.‖ ―Tidak nanti aku bantui kau memperdayakan orang, itulah perbuatan yang tidak baik!‖ berkata pula si ibu. Wanyen Kang tertawa geli, ia jalan mondar-mandir di dalam kamar. Oey Yong dan Kwee Ceng dapat kesempatan memperhatikan kamar itu. Semua meja dan kursi terbuat dari kayu kasar. Pembaringan serta perlengkapannya mirip dengan kepunyaan kebanyakan petani di Kanglam, semua kasar dan jelek. Di tembok ada tergantung tombak serta sebuah pacul. Di pojokan ada sebuah mesin tenun. Maka, menyaksikan semua itu, mereka menjadi heran. ―Wanita ini mulia sebagai selir, mengapa ia tinggal dalam kamar dengan perlengkapan semacam ini?‖ mereka itu berpikir. Justru itu Wanyen Kang menekan ke dadanya, ke sakunya, lalu terdengar dua kali pekikan perlahan. ―Eh, apakah itu?‖ sang ibu tanya. ―Oh, hampir aku lupa!‖ sahut putranya itu, agaknya ia terperanjat. ―Tadi di tengah perjalanan pulang aku melihat seekor kelinci yang terluka, aku bawa dia pulang. Mama, coba kau tolong obati dia…‖ Ia lantas keluarkan kelinci putih itu, diletaki di atas meja. Dengan kakinya patah, binatang itu tidak dapat jalan. ―Anak yang baik!‖ berkata si nyonya. Ia lantas mencari obat, untuk mengobati kelinci itu. Lagi-lagi darahnya Kwee Ceng bergolak. Ia sungguh membenci orang punya kelicinan dan kekejaman itu, terutama untuk memperdayakan seorang ibu yang hatinya demikian mulia. Tidakkah binatang yang harus dikasihani itu sengaja disakiti? Bukankah ibu telah didustai, untuk mengobati binatang yang sengaja disiksa? Kalau terhadap ibu sendiri saja ia mendusta demikian, maka bisalah diketahui buruknya sifat anak itu. Oey Yong yang tubuhnya menempel sama tubuh si anak muda merasakan tubuh orang bergemetar. Ia menginsyafi bahwa orang ada sangat gusar. Tentu saja ia khawatir kawan ini perluap hawa amarahnya itu hingga Wanyen kang bisa pergoki mereka. Ia lantas pegang tangannya si pemuda itu, yang ia tarik untuk diajak mengundurkan diri.

―Tahukah kamu obat itu disimpan di mana?‖ Kwee Ceng tanya. Nona itu menggeleng kepala. ―Aku tidak tahu,‖ sahutnya. ―Mari kita cari…‖
Irawan D Soedradjat

Page

211

―Jangan pedulikan dia, mari kita pergi cari obat,‖ bisiknya.

Pendekar Pemanah Rajawali

Kwee Ceng bersangsi. Dimana mesti mencari obat di istana demikan besar? Bukankah berbahaya kalau mereka kepergok See Thong Thian atau lainnya? Ia tidak sempat berpikir lama-lama. Pikirannya itu berhenti secara tiba-tiba. Sebab kupingnya segera mendengar orang mengoceh seorang diri dan di depan matanya berkelebat sinar api. ―Anak yang manis, kalau kau tidak mencintai aku, kau mencintai siapa lagi? Maka, kau kasihanilah aku…‖ Sembari perdengarkan suaranya yang berlagu, terlihatlah seorang bertindak dengan perlahan-lahan. Dia mencekal sebuah tenglong. Selagi Kwee ceng hendak menyembunyikan diri di belakang sebuah pohon, Oey Yong justru maju memapak orang itu, hingga ia menjadi tercengang, lalu lantas saja ia diam bagai patung, hatinya goncang keras. Oey Yong telah ancam dia dengan sebatang pisau belati. ―Siapa kau?‖ si nona menanya, membentak tapi perlahan. Orang itu kaget dan ketakutan, selang berepa detik baru ia dapat menyahuti, suaranya tidak lancar. Ia adalah pengurus surat-surat di istana itu. ―Kau menjadi pengurus, bagus!‖ kata si nona. ―Di mana disimpannya obat-obatan yang hari ini pangeranmu yang muda menitahkan orang membeli?!‖ ―Semua itu siauw-ongya yang simpan sendiri, aku…aku tidak tahu…‖ Oey Yong cekal tangan orang dengan tangan kirinya untuk memencet, sedang ujung pisaunya ditempel kepada kulit leher. Orang itu kesakitan akan tetapi ia tidak berani berteriak. ―Kau hendak bilang atau tidak?!‖ si nona mengancam. ―Benar-benar aku tidak tahu….‖ jawab orang itu dengan gugup. Oey Yong kerahkan tenaga di tangan kirinya itu, lalu dengan menerbitkan suara membeletak, patahlah tangan kanan si pengurus itu. Ia buka mulutnya, untuk berteriak tetapi dengan cepat si nona sambar kopiah orang, untuk dipakai menyumbat mulutnya. Maka hanya sekali saja dia itu mengasih dengar suara keras tertahan, lalu ia roboh dengan pingsan. Kwee Ceng tidak menyangka satu nona demikian cantik dan halus gerak-geriknya dapat berbuat demikian telengas, ia menjadi tercengang, tak dapat ia membilang apa-apa. Oey Yong menotok dua kali kepada iganya pengurus istana itu, lantas ia sadar. Ia tarik kopiah orang, untuk dibelesaki ke kepelanya. ―Apakah kau ingin tangan kirimu pun dipatahkan?‖ ia tanya. Pengurus itu lantas saja menangis, ia menjatuhkan diri berlutut. ―Dengan sebenarnya aku tidak tahu, percuma umpama nona membunuh aku,‖ katanya. Sekarang Oey Yong mempercayainya, tetapi ia kata: ―Sekarang pergi kau kepada pengeranmu itu, bilang bahwa kau jatuh dan patah tanganmu. Kau kasih tahu bahwa tabib membilang kau perlu obat hiat-kat, gu-cit, thim-tha dan bu-yok. Obat itu semua tak dapat dibeli di kota raja ini, maka kau mintalah kepada pangeran itu.‖ Pengurus itu sudah membuktikan si nona tidak pernah main gila, ia suka menurut. ―Siauw-ongya ada pada ibunya, lekas-lekas kau pergi padanya!‖ Oey Yong bilang. ―Aku akan ikuti padamu. Jikalau kau tidak dengar aku dan sengaja kau membuka rahasia, akan aku patahkan batang lehermu, akan aku kerek matamu!‖

Irawan D Soedradjat

Page

Wanyen Kang masih ada pada ibunya, mereka masih pasang omong. Ia heran ketika ia lihat datangnya pengurus itu, yang bermandikan peluh dan air mata, dengan separuh mewek dia mohon diberi obat. Dia mengaku seperti ajarannya Oey Yong.

212

Tubuhnya orang itu bergemetar, ia merayap bangun, lalu dengan menggertak gigi, menahan sakit, ia lari ke arah kamarnya onghui, si selir.

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kasihlah dia obat!‖ berkata onghui, yang hatinya lemah. Ia lihat muka orang berpucat-pasi dan ia merasa kasihan. Wanyen Kang mengkerutkan alisnya. ―Semua obat itu ada apa Nio Losianseng,‖ katanya. ―Pergi kau mengambil sendiri!‖ ―Tolong ongya memberikan sehelai surat,‖ si pengurus meminta. Onghui itu sudah lantas sediakan perabot tulisnya. Wanyen Kang menulis beberapa kata-kata, untuk si Nio Losianseng, ialah io Cu Ong. Pengurus itu mengangguk-angguk mengucapkan terima kasihnya. ―Lekas kau pergi!‖ menitah onghui. ―Sebentar sesudah sembuh baru kau haturkan terima kasihmu!‖ Pengurus itu lantas saja bertindak keluar. Ia baru jalan beberapa tindak, atau pisau belati telah tertanda di pundaknya. ―Pergi kepada Nio Losianseng!‖ menitah Oey Yong separuh berbisik. Orang itu berjalan, baru beberapa puluh tindak, ia sudah terhuyung, rupanya tak sanggup ia menahan rasa sakitnya. ―Sebelum kau dapatkan obat itu, jangan harap jiwamu selamat!‖ si nona mengancam pula. Kaget hamba itu, ia mengeluarkan keringat dingin, entah dari mana, datanglah tenaga kekuatannya, maka dapat ia berjalan terus. Sekarang ia jalan dengan menemui beberapa hamba lainnya, mereka itu lihat ia diikuti si nona dan pemuda, mereka itu heran tetapi tidak ada di antara mereka yang menanya apa-apa. Tiba di kamarnya Nio Cu Ong, pintu kamar tertutup terkunci. Pengurus itu tanya satu hamba, ia dapat jawaban bahwa Nio Losianseng lagi menghadari perjamuannya pengeran di ruang Hoa Cui Kok. Kwee ceng lantas merasa kasihan menampak orang seperti tidak kuat jalan, ia lantas mencekal tubuh orang, untuk dipepayang. Bersama-sama mereka menuju ke tempat pesta itu. ―Berhenti! Siapa kamu!‖ Itulah teguran oleh dua orang, yang memapaki sekira beberapa tindak dari Hoa Cui Kok. Mereka itu masing-masing memegang golok dan cambuk. ―Aku hendak menemui Nio Losianseng,‖ sahut si pengurus, yang perlihatkan suratnya siauw-ongya. Dia lantas dikasih lewat. Ketika Kwee Ceng dan si nona ditanya, pengurus itu mendahului menerangkan: ―Mereka kawan kita.‖ Oey Yong berlaku tenang. Ia kenali dua orang itu, ialah dua dari keempat Hong Ho Su Koay, yaitu Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong. Mereka ini sebaliknya tidak mengenali orang, yang telah dandan sebagai asalnya, seorang nona. Hanya melihat Kwee Ceng, mereka tercengang, lantas mereka mau seraya angkat tangan mereka. Tapi sejenak itu, tidak dapat mereka menyerang dengan golok dan cambuk mereka. Tiba-tiba saja iga mereka kaku. Karena dengan kesebatannya yang luar biasa, Oey Yong sudah totok mereka. Kwee Ceng kagum vukan main. Ia berada di samping si nona tetapi ia tak sempat melihat gerakan tangan orang. Mendadak ia mengingat kejadian di rumah makan di Kalgan, tempo kawanan nona-nona serba putih hendak rampas kudanya, tahu-tahu mereka itu roboh tanpa berkutik. ―Pastilah mereka telah terkena tangan lihay dari si Yong ini,‖ pikirnya lebih jauh. ―Eh, kau pikirkan apa?‖ menegur si nona sambil tertawa menampak orang termenung. Ia lantas saja tarik Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong ke belakang pot-pot kembang, untuk disembunyikan, kemudian ia tarik tangan si pemuda, untuk menyusul si pengurus. Di depan Hoa Cui Kok, Oey Yong tolak tubuh si pengurus, untuk ia masuk, ia sendiri bersama Kwee Ceng lantas lompat naik ke payon, guna mengintai dari jendela, hinngga mereka dapat melihat jelas ke dalam. Terang sekali ruang dalam itu di mana ada sebuah meja penuh dengan pelbagai barang hidangan dan arak, tetapi yang membuat Kwee ceng terperanjat adalah kapan matanya bentrok sama hadirin yang duduk mengitari meja
Irawan D Soedradjat

Page

213

Pendekar Pemanah Rajawali

itu, sampai hatinya berdenyutan. Ia lihat dan mengenali Auwyang Kongcu dari pek To San, Kwie-bun Liongong See Thong Thian, Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay, Som Sian Lao-koay Nio Cu Ong dan Cian-ciu Jintouw Pheng Lian Houw. Menemani mereka itu, duduk di sebelah bawah adalah Chao Wang Wanyen Lieh, yaitu Liok-hong-cu atau pangeran keenam dari negara Kim. Duduk di samping, di atas kursi tay-su-ie yang besar dan tebal amparnya, adalah Tay-cu-in Leng Tie Siangjin, kedua mata siapa terbuka sedikit dan mukanya bagaikan kertas kuning, suatu tanda lukanya tak enteng. Diam-diam Kwee Ceng girang sekali, maka ia kata di dalam hatinya: ―Kau hendak mencelakai Ong Totiang, kau juga dapat merasakan enak….‖ Si pengurus bertindak masuk untuk terus berlutut di depan Nio Cu Ong, kedua tangannya mempersembahkan suratnya siauw-ongya. Nio Cu Ong menyambuti, ia baca surat itu, terus ia awasi si pembawa surat, kemudian ia angsurkan surat itu kepada Wanyen Lieh. ―Ongya, benarkah ini tulisannya siauw-ongya?‖ ia tanya. Chao Wang membaca surat itu, ia mengangguk. ―Benar,‖ katanya. ―Berikanlah dia obat itu.‖ Nio Cu Ong menoleh kepada kacung di sisinya. ―Tadi siauw-ongya ada mengirimkan empar macam rupa obat,‖ katanya. ―Kau ambilkan masing-masing itu satu tail, berikan kepada koankee ini.‖ Bocah itu menyahuti, lalu ia ajak si koankee atau pengurus itu mengundurkan diri. Kwee Ceng berbisik di kupingnya Oey Yong: ―Mari kita pergi, lekas! Semua mereka itu sangat lihay!‖ Oey Yong tertawa perlahan, ia menggeleng kepala. Oleh karena ia menggoyang kepalanya,rambutnya si nona mengenai mukanya si pemuda, hingga Kwee Ceng merasa gatal dari muka terus ke hatinya. Pemuda ini tidak hendak berbantahan, ia hanya lantas geraki tubuhnya untuk melompat turun. ia baru bergerak, atau si nona telah sambar tangannya, untuk ditahan. Untuk itu, nona itu mesti menyantel keras kedua kakinya pada payon, habis mana perlahan-lahan ia kasih turun tubuh si pemuda. Kwee Ceng terkejut, di dalam hatinya ia kata, ―Ah, aku semberono sekali. Tidakkah ini berbahaya? Bukankah orang-orang di dalam itu lihay semua? Jikalau aku berlompat mundur, bagaimana mereka tidak dapat memergokinya?‖ ia insyaf, dasar baru masuk dalam dunia kangouw, ia jadi kurang berpengalaman. Dengan lantas ia ikuti si pengurus dan kacung itu. Satu kali ia menoleh ke belakang, ia dapatkan Oey Yong masih belum turun, dengan masih bergelantungan nona itu mengawasi ke dalam ruangan. Oey Yong tidak segera berangkat. Untuk mencari tahu orang di dalam ketahui tentang dirinya atau tidak, ia mengintai terus. Ia lakukan itu setelah itu setelah ia lihat Kwee Ceng sudah pergi belasan tembok jauhnya. Katika ia mengawasi ke dalam, sinar matanya bentrok sama sinar mata tajam dari Pheng Lian Houw, ynag kebetulan berpaling. Ia tidak berani mengawasi terus, ia hanya memasang kuping. Seorang yang suaranya serak, berkata; ―Saudara-saudara, bagaimana pandangan kamu mengenai Ong Cie It? Adakah ia datang dengan maksud sengaja atau itu cuma kebetulan saja?‖ ―Peduli ia datang dengan sengaja atau bukan!‖ berkata seseorang, yang suaranya nyaring dan keras sekali. ―Dia telah merasai tangannya Leng Tie Siangjin, jikalau ia tidak mampus, sedikitnya ia mesti bercacad seumur hidupnya!‖ Oey Yong lantas mengawasi pula. Ia dapatkan orang itu adalaha Pheng Lian Houw yang matanya tajam, yang tubuhnya kate dan kecil. Seorang, yang suaranya tedas sekali, berkata smabil tertawa; ―Selama aku berada di wilayah Barat, aku pernah dengar namanya Coan Cin Cit Cu yang kesohor itu, sekarang terbukti mereka benar-benar lihay, coba Leng Tie Siangjin tidak menghadiahkan dia pukulan Tay-ciu-in, pastilah hari ini kita roboh di tangan mereka itu.‖ Seorang yang suaranya keras tetapi dalam berkata; ―Auwyang Kongcu, janganlah kau menempeli emas di mukamu….. Kita berdua pihak sama-sama nampak kerugian, siapa juga tidak ada yang menang…‖

Irawan D Soedradjat

Page

Sampai di situ, tuan rumah mempersilahkan tetamunya mengeringi arak mereka.

214

Orang yang dipanggil Auwyang Kongcu itu berkata pula: ―Biar bagaimana, kalau ia tidak kehilangan jiwanya, dia bakal bercacad. Siangjin cuma perlu beristirahat sekian waktu.‖

Pendekar Pemanah Rajawali

Habsi itu terdengar seorang berkata: ―Tuan-tuan telah memerlukan datang dari tempat ynag jauh, atas itu siauwong sangat berterima kasih. Sungguh inilah keberuntungan dari Negara Kim yang tuan-tuan telah dapat diundang!‖ ―Dia tentulah Chao Wang Wanyen Lieh,‖ pikir Oey Yong. Atas kata-kata itu, beberapa orang perdengarkan suara yang merendah. Setelah itu, terdengar pula suaranya Chao Wang: ―Leng Tie Siangjin adalah paderi suci mulia dari Tibet, Nio Losianseng adalah guru silat kenamaan Kwan-gwa, Auwyang Kongcu biasa hidup berbahagia di wilayah Barat dan belum pernah datang ke Tionggoan. Pheng Ceecu jago dari Tionggoan dan See Pangcu jago dari sungai Hong Hoo. Dari lima tuan-tuan, satu saja sudi datang membantu, pasti uasaha besar dari Negara Kim bakal berhasil, apapula sekarang lima-limanya telah datang semua. Hahahaha!‖ Agaknya bukan main gembiranya pangeran itu. ―Jikalau ongya ada titah apa-apa, pasti kami akan lakukan itu dengan sepenuh tenaga kami,‖ berkata Nio Cu Ong sambil tertawa. ―Apa yang dikhawatirkan adalah tenagaku tidak cukup nanti dan mensia-siakan kepercayaan ongya yang dilimpahkan kepada kami. Jikalau itu sampai terjadi, pastilah kami akan kehilangan muka kami.‖ Ia pun lantas tertawa. Kelima orang itu adalah bangsa jago dari beberapa puluh tahun, maka itu meskipun mereka bicara secara merendah, masih tetap tak hilang sifat jumawanya. Chao Wang mengangkat pula cawannya, mempersilahkan mereka itu minum. Terus ia kata: ―Siauw-ong telah mengundang tuan-tuan, pasti sekali siauw-ong akan menaruh kepercayaan kepada tuan-tuan, urusan bagaimana besar juga, tidak nanti siauw-ong sembunyikan, dilain pihak, apabila tuan-tuan telah ketahui segala apa, aku percaya tidak nanti tuan-tuan beritahukan itu kepada lain orang siapa juga, untuk mencegah pihak yang bersangkutan nanti mendapat ketahui dan dapat bersiap sedia….‖ Semua orang itu mengerti maksudnya pangeran ini, yang mempercayai mereka tetapi secara tidak langsung masih memesan untuk mereka menyimpan rahasia itu. ―Baik Ongya tetapkan hati, tidak nanti kami membikin rahasia bocor,‖ kata mereka. Dengan sendirinya mereka itu tegang hatinya. Mereka percaya, Chao Wang bakal percayakan mereka satu rahasia besar. ―Di tahun Thian-hwee ketika dari Sri Baginda Thay Cong kami dari Negara Kim,‖ berkata pula Chao Wang kemudian, ―Itulah tahun Soan-hoo ketujuh dari Kaisar Hiw Cong dari Keluarga Tio. Ketika itu dua Panglima besar kami ienmeho dan Kanlipu telah pimpin angkatan perangnya menerjang kerajaan Song, mereka berhasil menawan kedua Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong dari kerajaan musuh itu. Sejaka jaman dahulu, belum pernah negeri kami sekuat itu, walaupun demikian, sampai sekarang ini, Keluarga Tio itu yang tetap duduk sebagai raja di Hangciu. Tahukah tuan-tuan sebab dari pada itu?‖ Semua orang terdiam. Mereka heran raja muda itu membicarakan urusan negera. Cuma Nio Cu Ong yang lantas memohon penjelasan. ―Duni telah ketahui yang kerajaan kami telah berulang-ulang kalah di tangan Gak Hui, tentang ini tak usah disembunyikan lagi,‖ berkata pula Chao Wang. ―Wunchu, panglima kami, pandai mengatur tentara, akan tetapi menghadapi Gak Hui, dia selamanya kena dipecundangi. Benar kemudian Gak Hui dapat dibinasakan Cin Kwee yang dititahkan pemerintah kami, akan tetapi tenaga kami sudah lemah, kami tidak sanggup lagi berperang ke Selatan. Atas ini, aku tidak puas, tanpa mengukur tenaga sendiri, ingin aku mendirikan suatu jasa besar untuk negeraku. Untuk ini, tidak dapat tidak, aku mebutuhkan bantuan tuan-tuan.‖ Orang saling memandang, bagi mereka belum jelas maskudnya raja muda ini. Mereka bukan orang peperangan tukang merobohkan atau merampas kota. Chao Wang tampaknya sangat puas den bernafsu ketika ia berbicara pula, suaranya sedikit menggetar. Katanya: ―Baru beberapa bulan yang lalu, diluar dugaanku, aku telah dapat menemui sebuah surat peninggalan pemerintahku yang dulu. Itulah suratnya Gak Hui yang bunyinya luar biasa. Selang beberapa bulan, barulah aku dapat terka maksudnya surat itu. Gak Hui menulis itu ketika ia dipenjarakan. Rupanya ia mengerti bahwa ia tidak bakal hidup lebih lama lagi, tetapi ia sangat mencintai negaranya, maka ia tinggalkan warisannya itu. Itulah surat yang merupakan rahasia ilmu perang, bagaimana harus mendidik tentara dan berperang. Ia mengharapkan warisannya itu terjatuh di dalam tangan seorang yang nanti bisa pakai itu untuk melawan negara
Irawan D Soedradjat

Page

215

Pendekar Pemanah Rajawali

Kim. Tapi Cin Kwee menjaga keras sekali, sampai hari matinya Gak Hui, surat itu tidak dapat diberiakan kepada orang luar. Para hadiran sangat tertarik hatinya, sampai mereka melupakan arak dan barang hidangan mereka. Oey Yong pun ketarik hatinya. ―Gak Hui dapat mengetahui warisan itu tidak dapat diloloskan, ia terus simpan itu ditubuhnya,‖ Chao Wang melanjuti. ―Sebagai gantinya, ia meninggalkan sepucuk surat warisan, yang bunyinya tidak keruan junterungannya. Cin Kwee mempunyai kepandaian sebagai conggoan, ia masih tidak dapat menangkap artinya surat wasiat itu, maka surat itu ia dikirim ke negriku. Selama beberapa puluh tahun, surat itu disimpan di dalam istana. Dipihak kami juga tidak ada yang bisa mengartikan surat itu, orang hanya menduga, saking berduka dan penasaran, disaat-saat kematiannya, Gak Hui menulis ngaco belo. Tidak tahunya, itu adalah sebuah teka-teki istimewa.‖ Orang heran tetepi sekarang mereka memuji kecerdikan Chao Wang itu. ―Gak Hui begitu pandai, kalau kita bisa dapatkan surat warisan ilmu perangnya itu, bukankah gampang untuk negaraku mempersatukan benua ini?‖ berkata Chao Wang. Mendengar itu barulah semua orang dapat menerka maksudnya pangeran ini. Mereka pada berkata dalam hati masing-masing. ―Kiranya Chao Wang mengundang kita untuk minta kita menjadi pembongkar kuburan…‖ ―Turut dugaanku semula, surat wasiat itu mestinya dibawa Gak Hui ke dalam liang kubur,‖ Chao Wang berkata pula. Ia berdiam sebentar, agaknya ia berpaling. ―Tapi….Tuan-tuan adalah orang-orang yang gagah, mustahillah aku nanti meminta tuan-tuan pergi mencuri dengan membongkar kuburan? Di samping itu, ada satu keberatan lainnya. Gak Hui itu memang musuh negaraku, tetapi ia adalah satu orang gagah dan setia, satu pencinta negara, yang siapa pun menghormatinya, dari itu, cara bagaimana aku berani mengganggu tempat perkuburannya? Karena ini, aku sudah lantas memikirkannya terlebih jauh. Aku pun telah membongkar surat-suratnya kerajaan Song, yang telah dikirim semenjak dulu-dulu. Diakhirnya, aku telah berhasil memperoleh suatu sumber lain. Ketika itu hari Gak Hui menjalankan hukuman mati di paseban Hong Po Teng, dia dikubur di tepinya jembatan Ciong An Kio di dekat paseban itu, baru kemudian kaisar Song Hauw Cong memindahkan kuburannya ke tepi telaga See Ouw, dimana pun didirikan sebuah rumah abu untuknya. Dilain pihak lagi, pakaian dan kopiahnya Gak Hui disimpan di tempat lain, ialah di kota raja Lim-an. Karena itu tidak gampang untuk mencari surat wasiat itu. Pada ini ada satu rahasia yang tidak boleh didengar lain orang, atau orang nanti mendahului kita mengambilnya. Harus diketahui di wilayah Selatan ada banyak sekali orang-orang gagah. Maka itu, setelah memikir lama, tidak ada jalan bagiku kecuali mengundang tuan-tuan, yang terhitung orang-orang Rimba Persilatan kelas satu.‖ Mendengar ini, para hadiran itu pada mengangguk. ―Pernah aku menduga, mungkin surat wasiat itu telah diambil lain orang,‖ Wanyen Lieh berkata lebih jauh. ―Bukankah pakaiannya Gak Hui itu telah dipindahkan? Ada kemungkinan, selama perpindahan itu, suratnya telah diambil orang. Hanya kalau surat itu sampai ada yang ambil, orang itu mesti mengerti kepentingannya itu. Siapa yang menghormati Gak Hui, dia tentu tidak berani menggangu pakaiannya. Aku percaya, belum ada lain orang yang mengetahuinya. Kalau kita sudah sampai di sana, aku percaya, kita bakal dapatkan surat itu. Memang, kalau dikata sukar, sukarnya bukan main, akan tetapi di mata orang lihay, gampangnya bukan buatan. Sebenarnya surat wasiat itu disimpan di…..‖ Baru Chao Wang mengucapkan sampai di situ, tiba-tiba pintu ruang ada yang tabrak hingga terbuka terpentang, lalu satu orang terlihat menebros masuk, matanya bengkat dan mukanya matang biru. Dia lantas lari ke Nio Cu Ong. ―Suhu…!‖ dia berseru, lantas suaranya tertahan. Segera orang kenali, dia adalah si kacung yang tadi Nio Cu Ong titahkan pergi mengambil obat……

Bab 20. Tombak Besi Dan Pakaian Lama

Irawan D Soedradjat

Page

216

Pendekar Pemanah Rajawali

Kwee Ceng telah terus ikut si pengurus bersama si kacung pergi untuk mengambil obat. Jalanan ada berlikuliku. Selama itu ia masih terus mengancam si pengurus, yang khawatir nanti jatuh atau main gila. Akhirnya mereka tiba di tempatnya Nio Cu Ong. Kacung itu membuka pintu, ia masuk ke dalam dan menyulut lilin. Begitu ia berada di dalam kamar, Kwee Ceng lihat obat-obatan memenuhi meja, pembaringan dan lantai. Di situ pun ada banyak botol dan guci, besar dan kecil. Rupanya Nio Cu Ong gemar sekali membuat obat-obatan. Kacung itu rupanya mengerti obat-obatan, ia sudah lantas mengambil kertas, untuk menjumput empat rupa obat yang dibungkus masing-masing. Obat-obatan mana terus ia serahkan pada si koanke. Tapi Kwee Ceng yang, yang tak tahan sabar, sudah lantas mengulur tangannya, akan sambut obat-obatan itu, terus tanpa pedulikan si koanke, ia bertindak untuk pergi lebih dulu. Si koankee itu cerdik, walaupun ia telah terluka, pikirannya berekrja. ia sengaja jalan perlahan. Ia tunggu sampai Kwee Ceng dan si kacung sudah keluar dari kamar, dengan sebat ia tiup padam api lilin, segera ia sambar daun pintu, untuk digabruki dan dikunci, menyusul mana ia berteriak-teriak: ―Ada penjahat! Ada penjahat!― Kwee Ceng terkejut, ia memutar tubuh, ia mencoba membuka pintu tetapi sia-sia belaka, ia sudah ketinggalan. Ia gusar dan terburu nafsunya, selagi begitu si kacung sambar bungkusan obat di tangannya, bungkusan mana terus dilemparkan ke empang di dekat mereka. Kacung itu adalah muridnya Nio Cu Ong, dia masih kecil tetapi cerdik, mendegar teriakannya si koanke, dia menjadi kaget dan heran, kemudian dia menjadi curiga, maka ia rampas obat itu dan dibuang. Dalam gusarnya, kwee Ceng kerahkan tenaganya menghajar pula pintu kamar. Kali ini daun pintu dapat digempur terbuka. Dalam sengitnya, ia serang si koanke yang segera roboh tanpa dapat membuka suara. Tempo Kwee Kwee Ceng menoleh, si kacung sudah lari. Dalam murkanya, ia berlompat untuk mengejar, segera ia berada di balakang kacung itu, pundak siapa ia jambret. Kacung itu dapat dengar suara menyambar, ia berkelit sambil mendak, lalu seraya memutar tubuh, ia membalas menyerang denagn sapuan kakinya. Kwee Ceng jadi tambah penasaran, setelah berkelit, ia menyerang dengan hebat. Dua kali kacung itu kena dihajar mukanya, cuma sebab ia masih keburu membuang mukanya, dia tak sampai roboh. Adalah kemudian, setelah kepalanya ke disampok, dia roboh dengan pingsan. Dengan satu dupakan, Kwee Ceng bikin tubuh si kacung terlempar ke tempat tumbuh rumput didekatnya, habis itu ia lari ke dalam kamar. Ia lantas menyalakan api. Terlihat si koanke masih rebah tanpa berkutik. Ia mengawasi obat, ia menjadi bingung. tadi ketika si kacung mengambil obat, dia tidak perhatikan darimana orang mengambilnya. Pun nama obat yang tertempel di peles obat tidak dapat ia baca, sebab itu ditulis dalam hurufhuruf Nuchen. Tapi ia mesti bekerja cepat, tidak bisa ia memikir lama-lama. ―Tadi kacung ini berdiri di dekat sini, baik aku ambil semua obat ini, sebentar Ong Totiang yang pilih sendiri,‖ pikirnya kemudian. Maka ia lantas ambil kertas, ia membungkus setiap obat. Karena ia bekerja cepat, tanpa sengaja Kwee Ceng kena langgar sebuah keranjang di sampingnya. Ketika itu jatuh ke lantai, tutupnya terbuka. Untuk kagetnya, ia lihat isi keranjang adalah sebuah ular besar yang tubuhnya merah mulus. Malah ular itu segera menyambar! Kwee Ceng kaget, syukur ia masih sempat berlompat. Sekarang ia dapat melihat dengan tegas, tubuh ular ada sebesar cangkir, separuh tubuhnya masih ada di dalam keranjang, jadi belum ketahuan berapa panjangnya tubuh ular itu. Yang aneh adalah itu warna merah mulus. Lidah ular, yang diulur keluar, bercabang dua, lidah itu bergerak-gerak tak hentinya. Selagi mundur, Kwee Ceng membentur meja, lilin di atas meja roboh dan padam, maka ruangannya segera menjadi gelap-gulita. Tapi obat telah didapat, ia lantas lari ke pintu untuk mengangkat kaki. Tiba-tiba ia merasakan kakinya disambar dan dipeluk, atau itu mirip dengan libatan dadung/tali, saking kaget, ia melompat untuk meloloskan diri. Tapi ia dapat berhasil. Sebaliknya ia lantas merasakan barang adem mengenakan lengannya.Kembali ia menjadi kaget. Ia tahu sekarang bahwa ia telah dililit ular. Tapi ia tak hilang akal, dengan tangan kirinya hendak ia cabut golok emas hadiah Jenghiz Khan. Disaat itu, ia merasakan bau obat tercampur bau amis menyambar hidungnya, lalu mukanya terasa dingin. Itulah ular yang telah menjilati mukanya! Lagi sekali ia kaget tak terkira! Tak sempat ia menghunus goloknya, dengan tangan kirinya ia sambar leher ular untuk dipencet.

Irawan D Soedradjat

Page

217

Pendekar Pemanah Rajawali

Ular itu agaknya kaget, dia bertenaga besar, sebelum lehernya tercekik, ia pentang mulutnya, untuk mencoba mengigit muka Kwee Ceng. Dilain pihak, ia melibat dengan mengerahkan tenaganya, hingga Kwee Ceng lantas merasai tubuhnya terlilit keras, sampai napasnya mulai sesak bahkan tenaga tangan kirinya mulai berkurang. Baunya ular itu sangat mengganggu pernapasan si anak muda, hingga ia menjadi mual, hendak ia muntah. Adalah sejenak kemudian, ia kehabisan tenaga, ia seperti hendak pingsan, cekikan tangan kirinya terlepas sendirinya….. Adalah disaat itu dilain pihak si kacung telah sadar dari pingsannya. Dia mendapatkan kamar gelap sekali. Dia tahu, orang jahat itu tentu telah kabur. Maka tidak ayal lagi, ia lari keluar dari kamar, dia kabur kepada gurunya itu. Oey Yong terkejut akan dengar keterangan si kacung, denagn gerakan ―Burung meliwis turun di pasir datar‖, dengan enteng sekali, ia lompat turun. ia menaruh kaki tanpa menerbitkan suara. Meski begitu, tak urung ia telah keperogok. Inilah sebabnya, segera setelah keterangan si kacung, semua orang menjadi curiga. Mereka memang semuanya orang-orang lihay. Sejenak saja tubuh io Cu Ong sudah mencelat keluar, bahkan segera ia menghadang di depan si nona. Dia lantas menegur; ―Siapa kau?‖ Oey Yong menginsyafi bahaya. Ia tahu orang lihay. Disamping dia ini, masih ada yang lainnya. Maka ia hendak menggunakan akal. Untuk ini ia cerdik sekali. Tiba-tiba saja ia tertawa dengan manis. ―Bunga bwee ini indah sekali, maukah kau memetiknya setangkai untuk aku?‖ ia berkata kepada orang she Nio itu, jago dari Kwan-gwa. Nio Cu Ong tercengang. Tidak ia sangka bakal menghadapi satu nona, malah satu nona yang begitu cantik manis, yang suaranya halus dan merdu. Tanpa merasa ia mengulurkan tangannya, akan memetik setangkai bunga, yang untuk terus diangsukan kepada si nona. Oey Yong menyambuti. ―Loya-cu, terim kasih!‖ katanya, kembali tertawa dengan suaranya yang halus merdu itu. Di ambang pintu berkumpul semua orang lainnya, merek aitu berdiri mengawasi kedua orang itu. Ketika Oey Yong lantas memutar tubuhnya, untuk berlalu. ―Ongya,‖ Pheng Lian Houw menanya, ―Adakah nona ini, nona dari istana ini?‖ ―Bukan,‖ menjawab Wanyen Lieh sambil menggelengkan kepala. Hanya dengan menjejak dengan kakinya yang kiri, Lian ouw sudah mencelat ke depan si nona. ―Tunggu nona!‖ katanya, ―Aku pun akan memetik setangkai bunga untukmu…!‖ Terus ia ulur tangannya yang kanan, hendak menangkap lengan orang, tetap sebat luar biasa, ia ubah tujuan, untuk meraba buah dada si nona. Oey Yong kaget bukan main. Ia sebenarnya hendak berpura-pura tidak mengerti ilmu silat. ia gagal. Lian Houw, sebagai jago di antara berandal di Hoopak, adalah sangat tajam matanya dan cerdik. Tidak bisa lain, ia geraki tangan kanannya, jari tangannya menyambuti tangan jago itu. Lian Houw terperanjat waktu ia merasakan getaran di jalan darahnya koik-tie-hiat, lekas-lekas ia menarik pulang tangannya itu, dengan begitu dia dapat lolos dari bahaya. Dia menjadi heran, nona demikian muda tetapi demikian lihay, dia pun tak kenal ilmu silat si nona itu. Tentu saja ia tidak ketahui kepandaian yang Oey Yong dapatkan sebagai warisan, namanya Totokan Bunga Anggrek. Yang lain-lain pun terkejut dan heran. ―Nona, kau she apa?‖ Lian Houw lantas menanya, ―Siapakah gurumu?‖ ―Bukankah bunga bwee ini permai sekali?‖ tanya Oey Yong sambil tertawa. Ia terus berlagak pilon, ia tidak menunjukki kagetnya tadi. ―Bukankah kau menghendaki aku menancapnya di dalam pot?‖ Sikap ini kembali membuatnya orang heran dan menjadi menduga-duga. ―Kau dengar apa tidak, apa yang kami tanya?‖ Lian Houw menegur. Ia tidak sabaran, dia lantas menunjuki kesembronoannya dengan campur bicara.
Irawan D Soedradjat

Page

218

Pendekar Pemanah Rajawali

―Apakah itu yang kau bicarakan?‖ balik tanya Oey Yong, tertawa. Justru itu, Pheng Lian Houw dapat mengenali si nona ini adalah si nona yang diwaktu siangnya sudah mempermainkan Hauw Thong Hay, cuma waktu itu orang menyamar menjadi satu bocah dekil. ―Lao Houw, apakah kau tidak kenal nona ini?‖ ia tanya sahabatnya. Ia tertawa. Thong hay tercengang. Lantas ia awasi si nona, dari atas sampai bawah dan sebaliknya. Cepat sekali, ia mengenalinya. Mendadak saja hawa amarahnya meluap. ―Ha, anak busuk!‖ dia mendamprat. Dia pun terus pentang kedua tangannya untuk menubruk. Dengan berkelit ke samping, Oey Yong bebaskan dirinya. Tapi di sini ia dipapaki See Thong Thian, yang tubuhnya tahu-tahu berkelebat dan tangannya menyambar ke lengan. ―Kau hendak lari ke mana?‖ menegur Kwie-bun Liong Ong. Oey Yong terkejut. Ia tidak menyangka lengannya bisa disambar secara demikian. Tapi ia tidak gugup, ia pun tidak kekurangan akal. Dengan dua jari dari tangan kirinya ia menotok kepada kedua matanya si orang she See itu. Hebat See Thong Thian itu, hampir tak nampak bagaimana ia geraki tangannya, juga tangan kiri si nona sudah lantas kena dia cekal. ―Tidak tahu malu!‖ mendamprat Oey Yong, yang kaget sekali. ―Tidak tahu malu apa?!‖ balik tanya See Thong Thian. ―Tua bangka menghina anak kecil! Laki-laki menghina anak perempuan!‖ Oey Yong menyahuti. See Thong Thian terperanjat. Dia memang seorang tua dan kenamaan juga. Memang, dengan perbuatannya ini, terang dia telah menghina anak kecil, seorang anak perempuan….. ―Masuk ke dalam!‖ katanya seraya kendorkan cekalannya. Oey Yong tahu tidak dapat ia menolak, ia lantas turut masuk. ―Nanti aku bikin dia bercacad dulu baru kita bicara!‖ kata Hauw Thong Hay, yang ada sangat mendongkol. Dia terus maju, untuk menanyakan kata-katanya itu. ―Tanyakan dulu, siapa gurunya dan siapa yang menitah ia itu datang ke mari!‖ berkata Pheng Lian Houw. Hauw Thong Hay tidak pedulikan jago dari Hoopak itu, sebelah tangannya sudah lantas melayang. Oey Yong berkelit. ―Benar-benarkah kau hendak menurunkan tangan?‖ ia menanya. ―Aku hendak cegah kau melarikan diri!‖ jawab Thong Hay. Dia paling takut si nona minggat, karena terang sudah, dia bakalan tidak dapat mengejar…. ―Jikalau kau benar hendak adu kepandaian denagn aku, baiklah!‖ kata Oey Yong yang sikapnya sabar tapi rada mengejek. Ia terus mengisikan enam buah cawan arak di atas meja. Cawan yang satu ia letaki di batok kepalanya dan dua yang lain ia cekal di antara kedua tangannya. Lantas ia menantang: ―Beranikah kau mencontoh aku ini?‖ ―Setan alas!‖ berseru orang she See itu, jago tunggal dari sungai Hong Hoo. Oey Yong tidak mengambil mumat, ia memandang kepada orang banyak. Ia kata, ―Aku tidak bermusuhan dengan tuan ini, bagaimana jadinya apabila aku keliru menggeraki tangan dan kena melukakan dia?‖

Irawan D Soedradjat

Page

Kembali Oey Yong tidak mengambil mumat. Ia kata pula, ―Dengan cara begini hendak aku mengadu kepandaian dengannya! Siapa yang araknya tumpah lebih dahulu, dialah yang kalah? Akurkah kau?‖

219

Thong Hay maju setindak, kedua matanya terbuka lebar. ―Kau dapat melukakan aku? Kau?‖ katanya sengit.

Pendekar Pemanah Rajawali

Nona ini menggunai kecerdikannya. Ia tahu bahwa ia tidak bakal meloloskan diri dari orang-orang lihay ini. Sekalipun terhadap Hauw Thong Hay, ia menang cuma sebab ia andalkan kegesitan dan kelincahannya. Ia percaya, dengan bergurau secara demikian, ia bakal dapat lolos. ―Siapa kesudian main-main denganmu!‖ Thong Hay membentak. Kembali ia menyerang sambarannya bagaikan angin. ―Bagus!‖ Oey Yong tertawa, seraya ia berkelit. ―Pada tubuhku ada tiga buah cawan, kau snediri boleh bertangan kosong! Nah mari kita adu kepandaian!‖ Bukan alang kepalang gusarnya Thong Hay. Dia berusia jauh terlebih tua, meski ia tidak sangat kesohor seperti See Thong Thian, kakak seperguruannya itu, ia toh ternama juga. Sekarang dia dipermainkan secara begini! Tanpa berpikir sejenak juga, ia jumput sebuah cawan arak, untuk diletaki di batok kepalanya, habis mana ia sambar dua yang lain, masing-masing dengan sebelah tangan. Kemudian, dengan sama cepatnya, ia tekuk sedikit kaki kirinya, untuk menyusul melayangkan kaki kanannya mendupak nona itu! ―Bagus! Nah ini barulah namanya enghiong sejati!‖ Oey Yong berseru sambil tertawa, seraya ia berkelit. Belum sempat ia melanjuti perkataannya atau dia sudah ditendang pula, kali ini berulang-ulang. Karena dengan kedua tangan mencekal cangkir dan kepala ditaruhkan cangkir juga, Thong Hay tidak dapat berbuat lain dari menggunai kedua kakinya. Oey Yong akhirnya repot akan tetapi ia selalu dapat lompat berkelit atau mengegos tubuhnya, menyingkir dari tendangan. Untuk ini, ia mesti seperti memutari ruangan itu. Nio Cu Ong memasang mata kepada gerakan kakinya si nona cilik. Itulah gerakan bagaikan ―Mega berjalan atau air mengalir‖. Tubuh tetap tegak, tidak bergerak sedikit juga, dan kedua kaki seperti ketutupan kun tetapi bergeraknya cepat. Dipihak sana, tindakannya Hauw Thong Hay cepat dan lebar. Si nona berkelit bukan cuma main berkelit saja, ia saban-saban mencoba dengan sikutnya akan membentur lengan lawannya, supaya benturannya dapat membuat arak tumpah atau ngeplok. ―Bocah ini begini lihay, sebenarnya sulit untuk melatih diri hingga begini rupa…‖ berpikir jago tua ini. ―Hanya, lama-lama dia toh bakal menjadi bukan tandingannya Lao Hauw…‖ Disaat itu, tiba-tiba Cu Ong ingin obat-obatannya, maka lenyaplah keinginannya menyaksikan pertempuran, ingin ia lari ke pintu, untuk terus ke kamarnya, guna cari si pencuri obat. Tentu saja ia tidak sempat memikir bagaimana halnya dengan si pencuri obat sensiri…… Kwee Ceng belum sampai pingsan tatkala ia merasakan bau ular menjadi semakin hebat. Ia insyaf bahayanya apabila binatang berbisa itu sampai dapat memagut padanya. Maka ia lantas tempel mukanya di tubuh ular itu. Oleh karena ia tidak dapat menggeraki tubuhnya, atau kaki tangannya, sekarang tinggal mulutnya yang masih merdeka. Mendadak saja ia ingat suatu apa. Lantas ia kuatkan hatinya, agar tidak sampai roboh pingsan, terus ia gigit leher ular itu. Binatang itu kaget dan kesakitan, dia bergerak, hingga lilitan kepada anak muda itu menjadi semakin keras. Tanpa pedulikan apa juga, Kwee Ceng menggigit terus, lalu terus menghisap, menyedot darah binatang itu. Ia tidak ambil mumat lagi binatang itu berbisa. Ia juga tidak gubris pula bau darah yang sangat tidak enak. Ia melainkan ketahui, kalau darahnya berkurang, maka tenaga binatang itu juga akan berkurang pula dan dengan begitu, lilitannya akan menjadi kendor. Itu pun artinya ia bakal terlolos dari bahaya maut. Maka ia menghisap terus-terusan, hingga tanpa merasa, perutnya mulai kembung. Dugaannya bocah ini tepat. Setelah darahnya terkuras banyak, tenaganya binatang itu segera menjadi berkurang, lilitannya segera menjadi kendor, atau sesaat kemudian, ia lepaskan lilitannya itu, tubuhnya pun jatuh sendirinya. Sebab itu waktu, dia kehabisan tenaga, napasnya lantas berhenti berjalan! Kwee Ceng terjatuh duduk. Tapi dia masih sadar, lekas-lekas ia empos semangatnya, untuk menjalankan napasnya dengan beraturan. Dengan dapat bersemadhi lekas ia dapat pulang tenaganyanya. Hanya aneh sekarang ia merasakan darahnya bergerak keseluruh tubuhnya. Ia mengerti itulah darahnya si ular yang lagi bekerja. Ia terus bersemadhi sampai ia merasa sangat lega hati dan tubuh. Segera setelah merasa segar betul, ia gunai tenaganya untuk mencelat bangun. Yang pertama diingat bocah ini adalah obat-obatan di dalam sakunya. Ia lantas meraba. Ia menjadi girang sekali. Obat-obatan itu masih ada. Karena ini, ia segera teringat pula kepada Bok Ek.
Irawan D Soedradjat

Page

220

Pendekar Pemanah Rajawali

―Dia dan anak gadisnya dikurung Wanyen Kang, aku telah ketahui halnya itu, bagaimana dapat aku tidak menolongi mereka?‖ demikian ia berpikir. Ia lantas bekerja. Ia tindak ke pintu, dari situ, setelah melihat ke sekitarnya, ia jalan dengan cepat ke arah kurungannya Bok Ek dan gadisnya. Selagi ia mendekati kurungan, ia mendapati penjagaan kuat di situ. Tapi ia mesti bisa masuk ke dalam. Ia memutar ke belakang. Di situ ia tunggu lewatnya serdadu ronda, lalu cepat sekali ia lompat turun ke sebelah dalam. Ia hampirkan kurungan. Sembari memasang kuping, ia melihat ke sekeliling. Tidak ada serdadu jaga di situ. ―Bok Cianpwee, aku datang untuk menolongi,‖ ia lantas berkata dengan perlahan. ―Kau siapa, tuan?‖ ada jawabannya Bok Ek yang menanya. Kwee Ceng perkenalkan dirinya. Bok Ek pernah dengar lapat-lapat namanya Kwee Ceng itu, karena berisik dan ia pun terluka, ia tidak sempat memikirkannya, sekarang di tengah malam, ia mendengarnya dengan nyata. ―Kau…kau she Kwee?‖ tanyanya, menegaskan. Agaknya ia terperanjat. ―Benar,‖ sahut si bocha hormat, ―Aku yang muda adalah orang yang tadi siang melawan si pangeran muda.‖ ―Siapakah ayahmu?‖ Bok Ek tanya pula. ―Ayahku almarhum bernama Siauw Thian,‖ Kwee Ceng menyahut pula. Dengan tiba-tiba saja air matanya Bok Ek mengembang dan berlinang-linang, lalu ia angkat kepalanya, dongak, seraya mengeluh: ―Oh, Thian….Thian….‖ ia pun ulur keluar tangannya dari dalam jeruji, untuk mencekal tangannya si anak muda dengan erat. Kwee Ceng merasakan tangan orang itu bergemetar dan air mata orang itu pun menetes jatuh ke belakang telapakan tangannya itu. Ia kata dalam hati kecilnya: ―Rupanya dia ketahui ada orang bakal menolong dia, dia menjadi girang luar biasa.‖ Maka ia kata dengan perlahan sekali: ―Aku punya golok yang tajam, dengan itu kunci dapat dirusak untuk Cianpwee bisa keluar dari kerangkeng ini…‖ ―Ibumu she Lie, bukankah?‖ Bok Ek menanya pula, ia seperti tidak pedulikan perkataan orang. ―Apakah ibumu itu masih ada atau ia telah menutup mata?‖ Kwee Ceng heran sehingga ia balik menanya: ―Ah, kenapa Cianpwee ketahui ibuku she Lie? Ibu masih ada di Mongolia.‖ Hatinya Bok Ek goncang keras, ia cekal tangan Kwee Ceng semakin keras, ia tidak hendak melepaskannya. ―Tolong, lepaskan cekalanmu, nanti aku bacok kunci ini,‖ Kwee Ceng bilang. Bok Ek tetap memegangi erat-eart. Ia seperti mendapati sesuatu yang berharga dan tak ingin itu lenyap pula. ―Ah, kau telah menjadi begini besar…‖ katanya menghela napas. ―Ah, dengan memeramkan mata sekejapan saja, lantas aku dapat membayangkan wajah ayahmu yang telah almarhum itu…‖ Kwee Ceng menjadi semakin heran. ―Cianpwee kenal ayahku itu?‖ tanyanya. ―Ayahmu adalah kakak angkatku,‖ Bok Ek beritahu. ―Kita telah mengangkat saudara hingga perhubungan kita erat bagaikan saudara kandung….‖ Orang tua ini tidak dapat melanjuti kata-katanya, ia menangis sesegukan. Tanpa merasa, air matanya Kwee Ceng pun berlinang. Ia tidak tahu Bok Ek ini adalah Yo Tiat Sim, yang dulu hari itu, diwaktu bertempur bersama tentera negeri, sudah terluka tusukan tombak pada punggungnya, karena lukanya parah, ia roboh pingsan. Syukur untuknya, disebabkan malam dan gelap, dia tidak kena tertawan. Adalah besok paginya ia sadar sendirinya, dengan merayap dia pergi ke rumah seorang petani di dekat tempat kejadian. Satu tahun lebih ia merawat dirinya, baru dia sembuh. Setelah itu ia merantau mencari Lie Peng, istrinya Kwee Siauw Thian, serta Pauw See Yok, istrinya sendiri. Tentu saja ia tidak berhasil. Karena yang satu berada jauh sekali di gurun pasir, yang lain berada di Utara. Dia tidak pakai terus she dan namanya – Yo Tiat Sim – dia hanya rombak she Yo itu, di ambil bagiannya ynag kiri, yaitu huruf ―Bok‖ yang berarti ―Kayu‖. Tapi juga huruf ―Bok‖ ini diganti lagi dengan huruf ―Bok‖ yang berarti ―Akur‖. Dia cuma ambil suaranya saja. Dan
Irawan D Soedradjat

Page

221

Pendekar Pemanah Rajawali

nama ―Ek‖ dia ambil dari huruf pecahan sebelah kanan dari huruf ―Yo‖ shenya itu. Huruf ―Yo‖ itu terdiri dari dua huruf ―Bok = kayu dan Ek = gampang atau tukar‖. Selama delapan belas tahun ia merantau. Sekarang secara kebetulan ia bertemu sama putra sahabat atau saudara angkatnya itu, cara bagaimana ia tidak menjadi bersedih hati? Selama ayahnya itu berbicara sama si anak muda, Bok Liam Cu berniat memberi ingat serta meminta Kwee Ceng menolongi dulu mereka, tentang pasang omong, itu boleh dilanjuti lain kali, akan tetapi belum lagi ia membuka mulutnya, lalu datang pikiran lain, yang membuatnya berubah. Ia kata dalam hatinya: ―Satu kali kita keluar dari sini, aku khawatir untuk selama-lamanya aku nanti tidak dapat bertemu dengan dia…‖ Dengan ―dia‖ yang dimaksud oleh Liam Cu adalah Wanyen Kang, si pangeran muda. Dengan sendirinya, ia telah jatuh cinta kepada pangeran itu, hingga ia tak ingin pergi jauh, untuk memisahkan diri…. Kwee Ceng pun ingat bahaya yang mengancam mereka, maka ia sudah lantas tarik keluar tangannya dari dalam kerangkeng, hanya di saat ia hendak ayun goloknya, untuk menggempur kunci, mendadak ia tampak sinar terang yang disusul sama suara tindakan kaki. ia terkejut, dengan sebat ia simpan goloknya, dengan gesit ia lompat sembunyi di belakang pintu. Sekejap saja, dengan mengasih suara, daun pinttu dipenntang, lalu terlihat masuknya beberapa orang, di antara siapa yang jalan di muka adalah yang menenteng lentera. Kwee Ceng heran akan melihat orang itu yang bukan lain daripada onghui atau selirnya Chao Wang dan ibunya Wanyen Kang. Ia tidak dapat menerka orang datang dengan maksud apa. Ia memasang kuping dan matanya. ―Adakah mereka ini yang hari ini dikurung siauw-ongya?‖ demikian Kwee Ceng dengan pertanyaannya si nyonya mulia. ―Ya,‖ menyahuti si opsir atau pemimpin dari beberapa pengiring nyonya itu. ―Sekarang juga merdekakan mereka!‖ onghui memberi titah. Opsir itu terkejut, dia ragu-ragu, hingga tak dapat ia segera menjawab. ―Jikalau siauw-ongya menanyakan, bilang aku yang memerdekakan mereka,‖ onghui berkata pula menampak orang sangsi. ―Lekas buka kuncinya!‖ Sampai di situ, opsir itu tidak berani berlambat pula. Setelah ayah dan gadis itu sudah berada di luar kerangkeng, onghui merogoh sakunya untuk mengeluarkan dua potong emas, yang mana ia angsurkan kepada Bok Ek atau Yo Tiat Sim. Ia kata: ―Nah, pergilah kamu baikbaik!‖ Tiat Sim tidak menyambut emas itu, sebaliknya ia mengawasi dengan tajam. Ditatap demikian, onghui heran. ―Putraku berbuat keliru, harap kamu tidak sesalkan dia…‖ dia berkata lagi kemudian. Cuma sedetik atau Tiat Sim telah ubah pikiran. Ia sambuti itu emas, terus ia tuntun tangan putrinya, untuk diajak berlalu dengan tindakan lebar. ―Ha, orang kasar!‖ membentak si opsir. ―Kamu tidak membilang terima kasih kepada onghui yang telah menolong jiwamu!‖ Bagaikan tidak mendengar, Tiat Sim jalan terus. Sampai di situ, onghui pun berlalu bersama sekalian pengiringnya. Kwee Ceng tunggu sampai pintu sudah ditutup dan mendengar tindakan kaki onghui sudah jauh, baru ia keluar dari tempat sembunyinya, untuk keluar juga. Ia melihat ke sekeliling, ia tidak dapatkan Bok Ek dan Liam Cu. ―Pasti mereka sudah keluar dari istana,‖ pikirnya. Maka ia lantas menuju ke Hoa Cui Kok untuk mencari Oey Yong. Ingin ia membujuk nona itu buat jangan mengintai lebih lama, supaya mereka bisa lekas pergi menolongi Ong Cie It.
Irawan D Soedradjat

Page

222

Thong Hay tidak dapat mengegos pula tubuhnya. ia merdekakan dua orang itu. pecah hancur menerbitkan suara berisik dan araknya melulahkan. Oey Yong telah merasakan tadi bagaimana orang she See ini tanpa ia mengetahui. tidak dapat ia menangkis. Oey Yong bawa jari-jari tangan ke pipinya ―Tak malukah kau?‖ dia bertanya. Kali ini. araknya tidak tumpah! ―Bagus!‖ seru orang banyak. ―Aku ingin ketahui untuk apa kau datang nyelusup ke istana ini?‖ Irawan D Soedradjat Page 223 . Oey Yong sudah lantas mencelat mundur. Ia lantas lompat ke samping di mana ada gunung-gunungan dari batu. dia menyerang dengan hebat. Mau atau tidak. kemudian ia segera dengar teguran dari orang yang jalan di paling depan. diluar dugaannya. tiba-tiba saja tubuhnya sudah mencelat ke ambang pintu. semua cawan itu tidak miring. Sementara itu dilain pihak. Thong Hay sebaliknya bermuka merah. Bukan main masgul dan cemasnya Kwee Ceng. mengejek. membasahkan lantai. ―Hm!‖ See Thong Thian mengasih suaranya menyaksikan adik seperguruannya itu dibikin malu secara demikian. berparas bermuram durja. ia kenali Wanyen Kang si siauw-ongya atau pangeran muda. dengan kesebatannya. untuk membebaskan diri. parasnya tidak menunjuki perubahan. Hebat si nona. cara bagaimana aku dapat menyangkal?‖ Ia berniat memegat Bok Ek dan Liam Cu. Kwee Ceng lihat sinar terang dari dua buah lentera serta mendengar suara tindakan kaki yang cepat. kedua tangannya menyambar kedua cawannya. Tak kurang hebatnya rintangan si siauw-ongya. hingga tidak memperdulikan urusan besar. Kwee Ceng geraki tangannya. Dengan kedua tangan mencekal cawan. sekarang ia menyaksikan cara mencelat orang. ―Budak cilik. Semua terjadi dengan cepat luar biasa. Maka itu. Pemuda she Kwee ini hendak meloloskan diri. ―Siapa?!‖ Bahkan orang itu sudah lantas berlompat maju dan tangannya menyambar. untuk menghalangi di situ. mereka lantas saja bertempur seru melebihkan pertandingan mereka tadi siang. Di antara cahaya api. Berbareng dengan itu. semacam ilmu yang luhur. mereka mesti puji nona ini yang merebut kemenangan dengan kecerdikan dan kelincahannya itu. ia bertemu dengan Kwee Ceng. begitu juga kedua cawan di tangan orang she Hauw itu tergerak. mumbul naik ke atas menyusul mana dengan satu lompatan enteng tetapi gesit ia menerjang pada Thong Hay dengan kedua tangannya. ―Mau apa kau menghalangi aku?‖ dia bertanya. ia membikin perlawanan. ia terkejut juga. terpaksa ia menangkis! Begitu kedua tangan bentrok. yang ada dari tipu ―Menukar wujud. maka terpaksa ia berkelit ke kiri. Dengan satu gerakan berbareng ia membuat tiga cawan di kepala dan kedua tangannya terlepas. ―Mari kita bertanding pula!‖ ia menantang. cawan itu jatuh ke lantai. ia kaget sekali. isinya lantas tumpah. kau licin sekali! Siapa sebenarnya gurumu!‖ ―Besok akan aku mengasih keterangan kepada kau!‖ menjawab si nona tertawa. Wanyen Kang telah datang dengan cepat karena baru saja ia terima laporan dari opsir yang mengiringi onghui bahwa Bok Ek dan gadisnya telah dimerdekakan. ia perlihatkan kepandaian yang luar biasa.Pendekar Pemanah Rajawali Baru ia tiba disebuah tikungan. Beberapa kali ia mencoba untuk meloloskan diri. Tapi ia dapat menenangkan diri. Yang hebat adalah cawan di batok kepalanya. sedang kepalanya menyambut cawan yang ketiga yang tadi ia letaki di batok kepalanya itu. maka ia datang dengan cepat. untuk umpatkan diri. Ia hanya mengkerutkan kening. Nio Cu Ong yang menduga Oey Yong bakal kalah baru saja memutar tubuhnya atau pertandingan telah salin rupa. ―Sekarang aku mesti pergi dulu!‖ Setahu bagaimana gerakkannya Thong Thian. berlagak pilon. ―Aku ingin ketahui kau murid siapa?‖ menyahut See Thong Thian. Wanyen Kang hendak menawan. saban-saban ia gagal. hingga kedua tangannya tidak dapat digeraki lagi. tangan kanan si nona menyambar pula. Ia kaget dan kata dalam hatinya: ―Sungguh lemah hati ibu. mengganti kedudukan‖. Orang she Hauw ini menjadi repot. yang baru saja turun. saking malu dan mendongkolnya. Justru itu. Kalau guruku ketahui ini.

―Setelah kau berikan jawabanmu. ia lantas menegur. maka tahulah ia. musuh belum pergi jauh. kau mengaku kalah saja!‖ Habis berkata.‖ katanya. ―Seorang laki-laki. Untuk ini. ia lantas pergi berkelana. Syukur si nona itu pun lihay. warnanya lantas berubah menjadi merah mulus. atau kepalanya sudah menghadang di depan si nona. untuk lari ke kamarnya. ai menjadi merasa suka kepada si nona. guna mencari si pencuri. jago sugai Hong Ho itu senantiasa menghadang di depannya. Oey Yong gunai kesempatan ketika orang menoleh. ―Jikalau kau tidak mengijinkan aku pergi. kau tidak boleh serang aku!‖ berkata si nona. Sekarang telah buntu jalannya si nona itu. Hampir ia menjerit menangis. malah ia ketahui juga terbinasanya ular itu sebab darahnya telah orang sedot. Ia dapat melihat di dalam taman ada dua orang lagi bergumul. buat apa See Liong Ong sampai menurunkan tangan?‖ katanya. setelah makan banyak macan obat itu. ―Celaka!‖ serunya. dia pegat aku. See Thong berpaling ke arah yang ditunjuk itu. lewat di samping jago tunggal dari sungai Hong Ho itu. ―Pertanyaannya Kwie-bun Liong Ong tidak dapat tidak dijawab!‖ sahut orang she See itu. Berbangkit pula hawa Irawan D Soedradjat Page 224 .‖Asal kau mampu!‖ bilangnya. io Cu Ong periksa tubuh ularnya itu. budak cilik. nanti aku pergi denagn cara paksa!‖ See Thong Thian tertawa dingin. Di situ tergeletak bangkai ularnya. ia tertawa. warna merah itu menjadi marong sesudah sang ular dipiara duapuluh tahun lamanya. ―Untuk memegat kau. Benar-benar lihay See Thong Thian. Pula. dia nanti mengasih ijin kau berlalu. Baru orang berkelebat. Suara orang merdu dan bernada minta dikasihani. itu telah menjadi kepastian! Eh. bocah ini bukan sembarang orang. untuk mencari bahan-bahan obatnya. maka kebetulan untuknya pada suatu waktu ia dapat resep yang istimewa. dia menunjuk ke arah kiri. Tanpa merasa. ―Jikalau aku tidak sudi mengasih keterangan?‖ tanyanya. terutama lukanya. ―Lopepe. Ia sudah memikir buat lagi beberapa hari akan menghisap darahnya ular itu. Dua kali lagi ia mencoba. Som Sian Lao Koay bukan melainkan pandai ilmu silat tetapi pun ia paham ilmu tabib. sebab ia berangan-angan untuk menjagoi dan merobohkan segala jago lainnya.‖ ia kata. ia lantas hendak pergi. Mulanya tubuh ular itu warnanya hitam abu-abu. ynag hendak menggunai pula kecerdikannya. Ia meundur dengan cepat. ―Aku justru tidak sudi menjawab dia!‖ sahutnya. tertawa. ―Bagus!‖ seru Oey Yong. resep untuk membikin sehat dan kuat tubuh. hingga ia menjadi tercengang. ―Maka janganlah kau mensia-siakan tenaga. Lantas ular ini ia kasih makan pelbagai macan obat pilihan. See Thong Thian mengawasi. Oey Yong melihat ke sekitarnya. Ia pun mau percaya. Nio Cu Ong menyaksikan itu. untuk membikin ia panjang umur. Cepat setelah ia tersadar. ia dapat menahan tubuhnya hingga ia tidak usah melanggar kepala orang itu. tetap dengan manis. Lantas dia hadapkan Thong Thian untuk mengancam. adalah satu ahli tersebar. dan obat-obatannya kacau tidak karuan. ―Tapi awas. ―Kau jawablah pertanyaannya See Liong Ong. setelah banyak kesulitan. Ia sudah lantas nyalakan api. siapa tahu sekarang ularnya itu terbinasa. untuk menambah kekuatan tubuhnya. ia lompat naik ke atas pohon besar. ia lari keluar. Tidak bersangsi lagi.Pendekar Pemanah Rajawali Sepasang alis yang bagus dari si nona bergerak bangun. tubuhnya meleset. satu kali ia mengucap. untuk memandang sekitarnya. karena habislah usahanya beberapa puluh tahun. dia tidak mau kasih aku pulang?‖ katanya. menantang. Hati Cu Ong tertarik. ―See Liong Ong. ia telah dapatkan ularnya yang besar itu yang sanat berbisa. kau lihat itu di sana apa?‖ Semabri mengucap. Justru itu ia dapatkan Bio Cu Ong hendak pergi ke luar. tidak dapat ia memaksa menerobos keluar. Baru saja ia tiba di ambang pintu atau hidungnya sudah tercium bau yang membuatnya sangat terkejut. Oey Yong tertawa. See Liong Ong. Pintu ada di belakang Thong Thian.

Ia menjadi sangat berbahaya. Tapi juga penyerangan ini mendatangkan perubahan lainnya. Kwee Ceng roboh Irawan D Soedradjat Page 225 . yang entah siapa. yang leuar dari baju atau tubuhnya Kwee Ceng. ia merasa sakit. Kwee Ceng memang tidak tahu suatu apa mengenai resep itu atau darah ular yang ia minum. untuk sedot darah dari tubuhnya itu. Di mana-mana ia merasakan gatal pada tubuhnya. ―Hai. ―Siapa yang anjurkan kau mencuri ularku?!‖ Dia percaya. maka juga kali ini diwaktu mulai bertempur. telah cukup lama Kwee Ceng terhajar. Satu kali ia serang Wanyen Kang. ―Aku sekarang telah terkena bisanya binatang jahat itu. begitu lewat beberapa jurus. Nio Cu Ong merasakan pula sambaran bau obat dan amis dari ular. karena pelbagai pukulannya tidak menyebabkan orang kesakitan atau roboh. Ia menanti lain serangan. hingga dua kali bebokongnya kena dihajar si pangeran. mungkin kekuatannya obat masih ada atau mungkin kekuatan itu bertambah besar…‖ Karena ini. yang kalah pandai dan kalah pengalaman. Dalam halnya ilmu silat. Maka itu kebetulan sekali Kwee Ceng bertempur sama Wanyen Kang. Dengan lantas ia dapat menangkap tangannya si anak muda. ia menjadi girang. Kwee Ceng pun pun terus merasakan perubahan. Mendadak ia merasa perutnya sangat panas seperti ada bola api di dalam perutnya itu. Begitulah ketika kakinya kena digaet. Kali ini ia menunggu sampai orang berontak. yang sudah dapat memperbaiki dirinya. mendadak hatinya menjadi panas. hendak aku mengadu nyawa denganmu!‖ Ia lompat maju untuk menyerang itu jago dari Kwan-gwa. Karena ini. kenapa pukulannya empuk sekali. Baru ia datang atau hidungnya telah mendapat cium bau obat tercampur bau amis yang datangnya dari arah si pemuda. Ia menjadi heran berbareng girang. Cu Ong menjadi menyesal berbareng penasaran dan mendongkol. baik aku bunuh dia. Siauw-ongya itu turut menjadi heran. siapa habis minum darah ular. supaya dengan begitu. ―Kenapa sekalipun dengan pukulan yang membahayakan aku tidak dapat melukai dia?‖ pikirnya. kenapa tenaganya menjadi kuat?‖ tanya si pangeran dalam hatinya. lantas timbul pikirannya yang kejam. Ia pikir: ―Dia telah minum darah ularku.Pendekar Pemanah Rajawali amarahnya. kiranya kau yang piara ular berbisa itu!‖ ia berseru. Tatkala Nio Cu Ong tiba. Tidak sedikit pun ia merasakan sakit lagi. Tenaganya Kwee Ceng telah bertambah luar biasa. Siauw-ongya tidak ketahui rahasia itu. ia lantas menggunai akal. supaya racunnya tidak bekerja lagi. Biasanya kalo ia kena diserang. Jago ini lihay berlipat kali dari kwee Ceng. tidak heran kalau ia menjadi bingung. maka si pangeran menangkis. Menyaksikan itu. lantas ia menyambuti serangan. kalah cerdik juga. untuk ditarik. Disaat itu tenaganya lantas bertambah sendirinya. ia pun menjadi alpa. bangsat anjing!‖ dia menegu. oleh karena itu ia gusar yang ia telah dicaci. maka itu ketika ia mengibaskan tangannya. Sebentar saja ia sudah sampai si taman di mana Kwee Ceng dan Wanyen Kang tengah bertempur. sampai Wanyen Kang dapat menyerang sepuasnya. ―Bagus. ―Kali ini habislah jiwaku…‖ pikirnya. beda daripada biasanya. Kwee Ceng kalah dari Wanyen Kang. tubuhnya mesti dipukuli. hatinya pemuda ini menjadi kecil. maka itu tubuhnya menjadi kuat luar biasa. tetapi sekarang. ―Heran. Tubuhnya panas hingga ia seperti tidak sanggup menahannya. pelbagai pukulannya Wanyen Kang menjadi tidak ada artinya. ia tentu dapat berbuat sesukanya terhadap anak muda itu. bukannya ia merasa sakit hanya gatal. dan enak sekali rasa gatal itu. dia terhuyung. hingga sengaja ia membuatnya lowongan. dia seperti meggaruki gatalku?‖ Adalah aturan dari resepnya io Cu Ong itu. tubuh orang yang bersangkutan menjadi tambah kuat. lalu ia menangkap pula. akan tetapi. setelah mana. Sedang Kwee Ceng berpikir: ―Heran. tangan itu segera terlepas dari cekalannya lawan. Nio Cu Ong tidak menjadi heran yang ia tidak bisa mencekal terus tangannya bocah itu. begitu juga datanglah perubahan atas dirinya. hawa darah itu buyar. mestinya si bocah diberi petunjuk oleh seorang berilmu. segera ia gunai kakinya untuk menggaet. ―Tentulah bisa ular lagi bekerja…‖ Ingat kepada bisa ular. ai sudah lantas keteter. maka dengan lantas ia lari ke arah taman. sebagai bocah Kwee Ceng tentunya tidak ketahui rahasia resepnya itu.

untuk menggigit leher itu. tetapi di depan Chao Wang. ―Sayang. memang dari dalam aku tidak sanggup menerjang keluar. Akhirnya ia berhenti mencoba. Oey Yong lantas saja meleset keluar. Pheng Lian Houw bersahabat erat sekali sama Kwie-bun Liong. akan aku menyerah kalah!‖ Thong Thian jawab. Oey Yong heran dan kaget. datangnya saling susul. terpaksa ia melompat maju pula. ―Kau telah bilang sendiri. ia lompat ke depan. sampai ketemu pula!‖ See Thong Thian berdiri diam. untuk mengetahui. beberapa kali aku mencoba. ia ketoki kepalanya sampai tiga kali. kalau Thong Thian menghendaki. hingga ia memikir. ia lihat serangan lewat di atasan kepalanya. untuk menggunai akal pula. biarnya ia sangat lincah. Oey Yong menjadi cemas. Orang she Pheng ini adalah satu ahli. ―See Liong Ong. Tidak dapat kim-chie itu ditanggapi. serangannya itu untuk atas dan bawah. Karena ini. Kau lihat. Sebenarnya. bedanya masih jauh sekali!‖ Thong Thian gusar. hingga ia peroleh gelarannya yang luar biasa – Cian Ciu Jin-touw. hingga sulit orang lolos dari salah satunya. terus ia tertawa geli. dengan gampang ia bisa bekuk nona itu. guna menyedot darah ularnya. dia sengaja permainkan nona itu. Ia menjadi kaget sekali.‖ ―Apakah itu menyerang masuk dan menerjang keluar?‖ tanya See Thong Thian. Ia ada punya mustika pelindung tubuh. tidak demikian dengan kepalanya. ia dengar suara angin. budak cilik!‖ bentaknya. Adalah umum kalau orang menyerang dengan kim-chie. aku gagal. apa macam ilmu menyerang masuk itu. Ia baru menaruh kaki. Senjata rahasianya itu adalah seperti bumerang. apabila dibandingkan sama kepandaian ayahku. akan tetapi kalau dari luar. kenapa kepandaian orang ini begini buruk? Tapi justru ia heran. Akurkah kau?‖ ―Asal kau dapat molos. ia pun tidak senang orang dapat pergi dengan begitu saja. setelah mana ia majukan mukanya ke arah leher.‖ Thong Thian mendongkol sekali. lalu kedua senjata rahasia itu berbalik. Memang telah dibikin perjanjian itu. kau tidak bakal mengganggu pula aku. pasti aku akan dapat molos. dari itu ia segera ayun kedua kedua tangannya. dengan mencekal tangannya. ―Ketika dulu hari ia ajarkan aku menyerang masuk. yang ia tekankan kepada tanah.. bukankah aku sekarang telah berada di luar? Nah. tidak peduli si nona telah menggunai akal bulus. ―Itulah ilmu untuk merobohkan kau. ―Asal aku dapat lolos. kau telah tertipu olehku!‖ katanya nyaring. kalau ia terserang jitu. Sementara itu Oey Yong di dalam Hoa Cui Kok masih tidak dapat menerobos penjagaannya See Thong Thian. tidak suka ia membiarkan kawannya itu diperdayakan secara demikian. ayahku itu menjaga di mulut pintu. ―Kau punya ilmu Menukar Wujud Memindahkan Kedudukan ini. lalu berbalik sendirinya.‖ katanya. guna mengasih si nona pergi keluar. untuk memegang keras pundak orang. ―Siapakah ayahmu itu?!‖ ―Jikalau aku sebutkan nama ayahku. dia hendak pertontonkan kepandaiannya. celakalah ia. ―See Liong Ong. kau tidak dapat mengganggu pula padaku. Saking menyesalnya. terus menyerang ke bebokong. ―Baiklah kau boleh coba dari luar!‖ Ia lantas menggeser tubuhnya. sayang…. Mengenai kepandaianmu ini.. Ingin ia menyaksikan orang menyerang masuk. maka tidaklah heran kalau ia ada mempunyakan keistimewaannya sendiri.. Kim-chie lewat di atasannya kepala Oey Yong. ayahku cuma ajarkan aku menyerang masuk. yang berarti pembunuh manusia seribu tangan. tak usah menggunai tenaga untuk meniup debu. Karena ini tidak ada jalan lain. ia telah kembali ke ruangan besar! Irawan D Soedradjat Page 226 . aku memasukinya dari luar. ia berlompatan. Ia percaya ilmunya sudah dipuncak kemahiran. Biar bagaimana. ia belum pernah dengar hal ilmu masuk dann keluar itu. aku khawatir kau nanti kaget hingga semangatmu terbang!‖ Oey Yong menjawab. atau kim-chie yang belakangan sudah menyambar pula.‖ sahut si nona.. walaupun sudah tidak dapat dicela. tidakkah itu sama saja?‖ dia menanya. ―Kau ngaco-belo. Lantas Cu Ong menubruk. menyambar ai di kiri-kanan mengarah batok kepalanya. ―Dari luar masuk ke dalam sama dari dalam pergi keluar. kau akan menyerah kalah. Maka dilain saat. ia menjadi heran. Oey Yong lantas menghela napas. dia tidak mengajarkan aku ilmu menerjang keluar. dua renceng kim-chie dari Phen Lian Houw terdiri dari beberapa puluh biji. semua percobaannya sia-sia belaka. Hebat untuk dia.‖ katanya dengan masgul.Pendekar Pemanah Rajawali dengan segera. ―Sayang. Maka menyambarlah dua renteng senjata rahasia yang berupa kim-chie atau uang emas. asal aku berada di luar.

―Heran bocah ini mempunyai ilmu silat campur aduk seperti ini! Mungkinkah ia sengaja berbuat begini untuk mencegah aku dapat mengenali asal-usulnya? Baik aku gunai pukulan yang telengas. disaat tangannya hampir mengenai pundak si nona. ―Inilah jurus yang kedua!‖ berseru si nona. ―Bagaimana?‖ dia tertawa. demikian pun dengan yang keempat ini. aku orang she Pheng pasti akan ketahui asalusulmu!‖ Dia memang luas pengetahuannya dan mengenali ilmu silat pelbagai golongan. ia lantas menarik pulang. Ia tahu tidak dapat ia lawan jago ini.‖ bilangnya. Ia bersilat dengan ilmu silatnya Iwee-kee si ahli dalam. Oey Yong tidak menangkis. tinju mana dibarengi sama tendangan kaki kanan. ―Melainkan sayang kau gunai itu untuk menghina satu anak perempuan! Apakah yang aneh?‖ ―Siapa menghina kau?‖ Lian Houw tanya. apakah dengan begitu kau menyangka aku tidak akan mengetahuinya?‖ Lian Houw berkata seraya sebelah tangannya menyemboki pundak orang. dari itu ingin ia menempur selama sepuluh jurus untuk memeproleh kepastian. tetapi ilmu silat Oey Yong membuatnya bersangsi. ―Kau kembali ke dalam?‖ Oey Yong membuat main mulutnya untuk mengejek. Pheng Lian Houw menjadi heran. ia mencoba berlaku norek. Nona nakal itu tertawa.‖ kata si nona. Keluarag itu memang mengutamakan kelincahan. Hendak ia menyangkal terus-menerus. Irawan D Soedradjat Page 227 . Lantas orang she Pheng ini melanjuti serangannya. ―Lekas menangkis!‖ ia berseru. ia pun tidak berkelit.‖ Lalu pikiran ini ia wujuskan denagn cepat sekali. Lian Houw sendiri lantas berdiri di ambang pintu. Lian Houw lihat orang diam saja. ―Aku telah pelajarkan ini sejak aku dalam kandungan ibuku. Lian Houw menjadi bertambah heran. ia lolos dari bahaya.‖ katanya dalam hati. pasti Oey Yong tidak sanggup membebaskan diri dari bahaya maut atau entengnya terluka. Inilah pukulan berantai tiga kali yang hebat. kau biarkanlah aku berlalu dari sini. tawar. yaitu ilmu silat ―Cut In Ciu‖ atau ―Keluar dari Mega‖. akan tetapi ia tidak menjadi kaget dan gugup. siapa yang ajarkan kamu ilmu silat. denagn begitu tidak dapat ia tidak menggunai ilmu silatnya yang sejati guna menolong diri. ―Lekas! Di dalam sepuluh jurus. Oey Yong menolong diri dengan ilmu silat Keluarga Swee dari Thay-goan. Shoatong.‖ jawabnya. ―Kepandaianmu menggunai senjata rahasia bagus sekali. ―Aku akan merdekakan padamu! Awas!‖ Sambil menjawab demikian. yang menangkis dengan tangan kiri buat memunahkan serangan orang. Lian Houw menyampok dengan tangan kiri yang disusul sama tinju kanan.‖ Lian Houw bilang. ―kau bilang dulu. ―Ilmu silat ini bertentangan dengan Jie Long Kun. Oey Yong terkesiap juga melihat datangnya serangan saling susul dan berbareng itu. yang adalah dari pihak gwa-kee. Sebat sekali ia mundur sambil memutar tubuh dengan sebelah kaki. karena juga yang kedua dan ketiga itu dapat dihindarkan si nona. ia menyerang denagn sennjata rahasianya itu guna menggiring nona itu kembali ke dalam. Di dalam hatinya.‖ ia berpikir pula. ―Jikalau sampai sepuluh jurus kau masih belum dapat mengetahui?‖ tanya Oey Yong. Coba aku desak pula dia dengan dua jurus. Pheng Lian Houw berkata.Pendekar Pemanah Rajawali Tidak ada niatnya Pheng Lian Houw untuk melukai si nona. kalau tidak demikian. semua orang bersorak saking gembira. ―Inilah ilmu silat Jie Long Kun dari Keluarga Luow dari Ceciu. Kenapa dia dapat menyakinkan dalam dan luar dengan berbareng?‖ Gwa-kee ialah ahli luar. Dengan begitu. Menampak itu. ―Inilah jurus Pak-kek-sie dari ilmu silat Liok Hap dari Kangpak. ynag ketiga dan keempat. ―Kau tidak hendak memberitahu. hingga dengan begitu ia perlihatkan sikap ―Si ayam emas berdiri dengan satu kaki‖. ―Aku toh tidak melukai kamu?‖ ―Kalau begitu.

kecuali Chao Wang. Ia kaget bukan main. Ia menduga kawannya itu telah menghadapi ancaman malapetaka. tangannya dan kakinya telah dicekal keras. itu disebabakan si nona cantik dan manis. disaat si nona hendak memunahkannya. ia cuma bisa berkelit dan menangkis. Segera ia menyerang denagn jurusnya yang kesembilan. Tapi ia tidak menyerang habis. yang mana ditambah sama kisikannya san-cu dari Pek To San itu. rata-rata orang jeri. kedua tangannya ditekuk. Benar terkabar kalau Tong Sie Tan Hian Hong si Mayat Perunggu telah meninggal dunia akan tetapi tidak ada diantara mereka ini yang pernah menyaksikan sendiri. ia dengar satu suara keras dari kejauhan. tetapi justru itu. lantas berkata: ―Budak ini barusan menggunai jurus Menggantung kumala di gantungan emas. tapi tidak sekejam ini. Ia telah ditekan ke tanah. dari itu pada jurus kesepuluh batal ia dengan maksudnya menghajar si nona. Ia menjadi kaget. ia bergerak denagn kedua tangannya. mendadak ia rasakan sakit pada dadanya yang kiri. Banyak benar ragam ilmu silatnya. hingga Nio Cu Ong tidak dapat menguasai ia terlebih lama. setelah ia dilayani dengan ilmu silatnya delapan partai. mukanya menjadi pucat. Memang juga itu waktu. hingga habislah tenaganya. mereka jadinya ragu-ragu. sampai pada jurus yang kedelapan. sesudah mana. malah ia segera kenali suaranya Kwee Ceng. Ia menggunai jurus ―Menolak jendela untuk memandang rembulan‖. di malam yang tenang itu. maka berniat ia berkelit ke kanan. hingga gagallah serangannya itu. Ah. Auwyang Kongcu tertawa dan mengatakan. inilah Tepukan tiga kali dan Gunting emas. san-cu atau pemilik dari Pek To San. kepalanya di aksih mendak. ia cuma mendorong saja denagn keras. budak?!‖ Ia memang telengas. Menampak itu. Terang si bocah wanita ini telah diberi kisikan berterang. Ia tidak lantas menginsyafi bahwa ia dapat tenaga besar berkat darah ular yang dicampur latihan tenaga dalam dari Tan Yang Cu Ma Giok. akan tetapi ia waspada. tangan kanannya meninju. ia menjadi penasaran. untuk membalas menyikut naik dadanya penyeranganya itu.ah. sedang si nona pun segera menjadi kelabakan. Sebab mereka semua adalah orang-orang kangouw berpengalaman dan terhadap Hek Hong Siang Sat. Pheng Lian Houw telah dapat membuktikan ilmu silatnya Oey Yong di jurus kesembilan. terpelanting tujuhdelapan tindak! Semua orang terperanjat dengan perkataan Pheng Lian Houw itu. segera ia terjang tangan kiri si orang she Pheng itu denagn jurusnya ―Tibanya air mata es dingin. Auwyang Kongcu. dia celaka! Kenapa ia tidak berkelit ke kiri?‖ Pheng Lian Houw mendesak terus. Dengan gampang ia membebaskan dirinya. Oey Yong terkejut melihat gerakan lawan ini. suara mana bernada kaget dan gusar. mendadak saja ia dapat tenaga pula. atas mana Oey Yong terhuyung ke belakang. dia menggunai ilmu silatnya tetanggaku!‖ Pheng Lian Houw mendelu mendengar suaranya orang she Auwyang itu. Terpaksa ia lantas berkelit. ia menjadi gusar. tidak dapat ia mencoba membalas menyerang. wilayah Barat. sampai ia mengeluh di dalam hatinya. Kalau yang keempat pertama bengis. ―Ha. tiba-tiba ia mendapat pikiran baru. ia menjadi mendongkol terhadap si nona . tangan kiri di balik ke bawah. dengan sendirinya mereka jadi berkhawatir untuk Oey Yong. Dengan satu gerakan ―Ikan gabus meletik‖ ia kasih dengar jeritannya itu. yang mirip dengan ilmu silatnya saudara Som Sian Lao Koay. dari penasaran. ia dengar perkataan terakhir dari sancu dari Pek To San itu. setelah berdiri tetap. ia melanjuti dengan jurusnya yang kesepuluh. jurus dari Cu-ngo Tay Kok Kiam dari Kanglam. Untuk menangkis sudah tidak keburu lagi. kalau mulanya ia menaruh ―belas kasihan‖. Setahu dari mana datangnya. ketika denagn sekonyong-konyong. Karena ini. ia berhenti setengah jalan sambil terus berseru: ―Kau muridnya Hek Hong Siang Sat!‖ Dan seruan ini disusul sama gerakan tangan kanan. waktu ia rasakan mulutnya orang si she Nio itu mengenai batang lehernya. Oey Yong tahu tangan kiri itu adalah ancaman belaka. Ia menggunai tipu silat ―Binatang jatuh di tengah udara‖. Ah. Tapi sekarang. Itulah ilmu silat Lo Cia Sie dari partai Siong Yang Pay. terus ia berontak sekuat-kuatnya. Sebenarnya hendak ia bicara. yang hebat sekali.‖ salah satu jurus dari ilmu silat ―Soat San Pat To‖ dari See Hek. Dia menyusuli itu dengan jurus Menunggang harimau mengalah tindak dari ilmu silat Tiang Kun dari Kwan-tong. Pheng Lian Houw menyerang dengan hebat. tak dapat ia berkutik. Kwee Ceng telah dibikin tak berdaya oleh Nio Cu Ong. tangan kanan ke atas. Ia kata dalam hatinya: ―Mustahil aku tidak mampu hajar mampus padamu. Lian Houw segera menyerang dengan jurusnya yang kelima. Oey Yong dapat mempertahankan diri. Irawan D Soedradjat Page 228 .Pendekar Pemanah Rajawali Oleh karena berpikir begini. tangan kirinya menggertak. Batok kepalanya bakal hancur luluh kalau ia sampai kena di serang. Semua orang terkejut melihat kawannya bersikap telengas begitu. maka itu ia dapat melihat perlawanan si nona. usianya pun masih sangat muda.

darahnya mengalir keluar. begitu juga onghui. matanya bengong mengawasi lilin. Kwee Ceng berayal.‖ Tiat Sim tidak menyahuti. di situ ia kasih turun tombak besi yang tergantung. Ia bertindak ke tembok. cuma kupingnya mendengar pembicaraan orang itu. ia mengusap-usap. Kwee Ceng mengintai. ia menghela napas lega. Onghui dapat menenangkan diri. tenaganya bertambah. onghui mengunci pintu. disusul sama menjublaknya daun jendela itu dan mana segera lompat masuk satu orang. lalu ia masuk ke dalamnya. Di sebelah timur ada sebuah lemari besar. untuk bersama Io Cu Ong dan yang lainnya pergi mencari ke lain-lain bagian dari istana itu. ia susuti air matanya itu. Kwee Ceng lari terus. Segera ia maju untuk menyerang pemuda itu. Tepat enam dim dekat tajamnya tombak. Maka itu. air matanya menguncur turun. untuk menyembunyikan diri. ―Setelah sebentar ia meniup lilin. di situ ada terukir empat huruf ―Tiat Sim Yo-sie‖.Pendekar Pemanah Rajawali Nio Cu Ong bukan melainkan membikin terlepas cekalannya. ia lompat masuk ke dalam rumah itu. setelah meminum darah ular. kedua matanya menjadi merah. tangannya menjambak. pukulan ini mendatangkan rasa sangat sakit. tandanya sudah lama tidak pernah digunakan lagi…. ―Ma. Akhir-akhirnya sambil menghela ia berkata. sudahlah. Nio Cu Ong tidak dapat mencari. Ia dapatkan sebuah kamar yang diterangi lilin tetapi penghuninya tidak ada. ―Tombak ini sudah karatan. Sebentar kemudian. Ia lihat yang datang itu onghui sendiri.‖ sapanya.‖ bilangnya kemudian. meskipun aku mati tidaklah aku dapat memeramkan mata. Cuma sebegitu jawabannya. malah nyonya itu mengasih dengar jeritan tertahan. ia hampirkan itu. Di dalam hatinya ia berpikir: ―Onghui murah hati. Tidak antara lama. aku akan lari dari jendela. ia lari ke dalam kamar si nyonya agung. Saking takut. Ia meneliti gagang tombak itu. Di situ ia mendekam. Kebetulan ia tiba di depan rumah petani dari onghui. Tiba-tiba ia menjadi sangat berduka. bertapak tanda lima jari. ia keluar dari tempat sembunyinya. Kwee Ceng terkejut. Kwee Ceng berkelit dengan berlompat ke belakang. mungkin ia dapat menolong aku…‖ Karena ini. karena sakitnya dan kaget. ia hanya memandang seluruh kamar. di antara pohon-pohon dan gunung-gunungan. di jendela terdengar satu suara keras. Kedatangannya ini pastilah diluar dugaannya Kwee Ceng dan onghui.‖ Irawan D Soedradjat Page 229 . Wanyen Kang bertindak masuk. Dia memang ringan tubuhnya. ―Istrinya Yo Tiat Sim‖. hingga itu Nio Cu Ong tidak dapat segera menyandak. ―Tidak boleh mereka dapat lihat kita…. Segera tedengar tindakan kaki perlahan masuk ke dalam kamar.‖ berkata Yo Tiat Sim. bajunya kena terpegang. denagn siapa ia berbicara. ―Ya. ―Apakah tidak ada orang jahat masuk ke mari?‖ Onghui menggeleng kepala. Dengan uujung bajunya. Kemudian ia disusul oleh Wanyen Kang. juga kedua telapakan tangannya pecah dan berdarah. bebokongnya kena terjambret hingga berdarah. ―Kau baiklah lekas pergi.‖ onghui itu menghela napas.‖ ―Terima kasih untuk kebaikan onghui. ia mengawasi Bok Ek itu. onghui kebetulan berada di kamar yang lain. Dengan masih mencekal terus goloknya.‖ Suara itu berirama sedih. Kwee Ceng menyangka orang sudah ajak gadisnya pergi menyingkir. Satu kali Cu Ong berlompat. ―Dalam kejadian itu adalah anakku yang salah.‖ Kwee Ceng pikir. tangannya tiba di bebokongnya. tetapi Nio Cu Ong ada sangat gesit. Selama itu Kwee Ceng terus diam saja. Kwee Ceng lantas lari sekeras-kerasnya. baju itu lantas robek sebagian. sakitnya bukan main.‖ Hampir di itu waktu. ―Aku percaya adik Yong sudah lama pulang…. Dari sela-sela lemari. pukulannya Nio Cu Ong bukan seperti pukulannya Wanyen Kang. Nyonya agung itu duduk di samping meja. dia membuatnya kamu ayah dan anak bersusah hati…. tanpa ia dapat menahan. Kali ini. Hendak ia beristirahat. akan buka pintunya. Ia melihat ke seluruh kamar. Putra itu lantas keluar pula. hingga mereka berlari-larian di taman. Ia menjadi kaget berbareng gusar. yang artinya. Lantas ia pegang terus tombak itu. Orang yang datang itu adalah Yo Tiat Sim yang menyebut dirinya Bok Ek. ―Jikalau aku tidak datang sendiri untuk menghanurkan terima kasihku.

air matanya turun bercucuran. dengan menambah setengah kati besi…‖ Tiba-tiba saja onghui menjadi lemas kedua kakinya. ia hanya bertindak ke samping meja. mana ia percaya suaminya telah menutup mata. untuk menarik lacinya meja itu. See Yok memeluk erat-erat. baju siapa ia tarik. ―Aku tidak takut!‖ katanya kemudian. ―Itulah barang yang aku paling hargai. ―Ujung lanjam ini sudah rusak. ―Kau lihat. Hanya sejenak kemudian ia bertanya: ―Mustahilkah kau belum mati? Mustahilkah kau masih hidup?‖ Tiat Sim hendak menyahuti istrinya itu tatkala mereka mendengar suara Wanyen Kang dari luar kamar: ―Mama. Sebaliknya To Tiat Sim yang mesti hidup dalam pengembaraan.Aku akan turut kau ke lain dunia. Ia menjadi curiga sebab tadi terang ia dengar suara orang berbicara. Di pintu ia berhenti dan mengetok perlahan beberapa kali. Rumah tangganya telah runtuh. ―Aku bilang lanjam ini sudah rusak.‖ katanya. Ia lantas berbangkit. ia kerebongi itu pada tubuhnya: ―Bajuku telah cukup dipakai. dengan terpaksa ia turut Wanyen Lieh pergi ke Utara. ―Kau…kau kata apa?‖ tanyanya. tak usah kau membikin pakaian lagi untukku…‖ Sek Yok terkejut. aku hendak tidur….‖ Tiat Sim menyahuti. kenapakah kau berduka pula? Dengan siapakah kau berbicara?‖ Se Yok kaget tetapi ia lantas menyahuti: ―Aku tidak apa-apa. Mendengar kata-kata itu. lantas aku pergi.‖ ia berkata pula. ―Kenapakah?‖ Tiat Sim tanya. ―Lekas kau bawa aku pergi…. Tubuhmu lemah. ―Ah…‖ Tiat Sim bersuara perlahan. Pauw Sek Yok tidak dapat lantas mengenali suaminya itu. Sampai sekian lama baru ia dapat membuka mulutnya. ia roboh di kursi. siauw-ongya ini menjadi semakin bercuriga. maka lantas saja ia tubruk suaminya itu dan merangkulnya erat-erat seraya ia menangis sedih sekali. ―Sekarang aku letih sekali. Yo Tiat Sim tidak menjawab. ―Kenapa…kenapa kau ketahui kata-katanya suamiku pada itu malam dari saat kematiannya…?‖ Hancur hatinya onghui ini yang sebenarnya bukan lain daripada Pauw Sek Yok atau nyonya Yo Tiat Sim. untuk mati bersama…Aku lebih suka menjadi setan untuk tetap berada bersama denganmu…!‖ Tiat Sim rangkul istrinya itu. Sudah delapan belas tahun ia tinggal di istana. di akhirnya ia serahkan dirinya dijadikan onghui atau selir. ―Aku minta janganlah kau raba tombak itu. ―Kau…kau siapa?‖ tanyanya. kau baik-baiklah beristirahat. hingga ia dapat lihat di lengan kiri orang satu tanda bekas luka. itulah kata-kata suaminya dulu hari tempo ia tengah hamil membuatkan sepotong baju baru. Ia jumput sepotong baju. maka itu sekalipun mereka berada di dalam sebuah kamar. biarlah besok besok suruh Thio Bok-jie dari dusun timur memperbaikinya dengan tambah setengah kati besi…‖ katanya peralahan. Sekarang ia tidak bersangsi pula. terus ia gantung tombak itu.‖ sahut sang ibu.‖ Wanyen Kang tidak lantas pergi hanya ia jalan mengitari rumah itu. suaranya menggetar.Pendekar Pemanah Rajawali Agakanya onghui heran atas lagak-lagu orang itu.‖ katanya perlahan. Ia ingat betul. selama itu wajahnya tidak berubah banyak. famili pun tidak ada. baju dan celana biru. Irawan D Soedradjat Page Mendapatkan ibu itu tidak hendak membuka pintu. 230 ―Besok saja. kau pun tengah mengandung. apakah aku setan?‖ kata suaminya ini kemudian. ―Aku hendak omong sedikit saja. ―Tidak peduli kau manusia atau setan. tidak dapat aku lepaskan kau!‖ katanya. akan hampirkan Tiat Sim. ia tidak lagi seperti masa mudanya. Sekarang ia mengawasi lanjam yang berada si pinggiran tombak itu. Itulah pakaian yang ia pakai pada dulu hari. tubuh onghui bergemetar.‖ sahut si nyonya agung. kemudian ia gulung tangan bajunya. ―Ma. Ia berdiam aja mengawasi Tiat Sim. hendak aku bicara denganmu. ―maka besok baiklah suruh Thio Bok-jie dari dusun timur membetulkannya. Tidak dapat ia menampik bujukannya pangeran itu yang perlakukan ia dengan baik sekali. Di dalam situ ada tersimpan beberapa potong pakaian pria.‖ .

Wanyen Kang dapatkan ibunya bermuka pucat dan mukanya itu bermandikan air mata. Dasar anakmu yang buruk….‖ ―Nah. Pauw Sek Yok melihat itu. kau tidurlah!‖ Putra ini memberi ucapan selamat malam. Ia pun lihat ibunya itu roboh. Urusan itu kau jangan campur tahu!‖ Wanyen Kang tertawa. ―Ma. Ia masih menghirup beberapa kali. Ia pun menuang the ke dalam cangkir.‖ katanya. ia dapat melihat ujung baju di sela-sela lemari. ular naga melayang‖. hingga ia mengeluarkan jeritan tertahan. Kwee Ceng tarik Tiat Sim masuk ke dalam lemari. ia lepaskan Sek Yok dan bertindak ke jendela dengan niat lompat keluar. ibu tahu di dalam lemari ini ada orang…‖ pikirnya.‖ katanya. ia tetap mengawasi ke lemari. baru ia berbangkit. Ma?‖ sahut si anak.‖ Putra itu menghampiri ibunya. Di dalam kamar itu tapinya tidak ada lain orang. Sebelum orang nerobos masuk. ―Sekarang lekas kau pergi tidur. ―Siapa mengandalkan pengaruh. apakah tidak ada orang masuk ke mari?‖ putra itu tanya pula. hatinya bekerja. ia lantas ambil tempat duduk. hingga daun pintunya mejeblak terbuka. ia kaget bukan main. yang pintunya ia segera tutup pula. batal ia menikam lemari disaat ujung tombak hampir mengenai daun pintu lemari. Irawan D Soedradjat Page 231 . ―Ah. maka kembali timbul kecurigaannya.Pendekar Pemanah Rajawali Tiat Sim menduga orang bakal masuk ke dalam. ―Ma. Wanyen Kang berkhawatir mendengar jeritan ibunya itu. ada terjadi apakah?‖ ia menanya. ia takut ibunya diganggu orang jahat. tapi disaat ia hendak mengundurkan diri. ―Tidak apa-apa. Sembari minum. ia segera tabrak pintu kamar itu. Ia menjadi curiga sekali. tetapi ketika ia menolak. ―Bagaimana tadi permainan tombakku. hatinya berdenyut. Begitu pintu lemari terpentang. Ia memang tidak rela meninggalkan istrinya itu. hingga ia lantas roboh pingsan. ―Hatiku tidak tentram. tangannya diulur kepada tombak.‖ demikian pikirnya. begitu lekas ia mencekal dengan baik – yang mana ia lakukan dengan luar biasa cepat – mendadak saja ia menikam ke arah lemari. ―Orang jahat telah nyelusup masuk kedalam istana. untuk di minum dengan perlahan-lahan. ―Aku tempur itu anak tolol dengan andalkan kepandaianku. melihat siapa onghui menjadi tergugu. ― Di dalam lemari itu ada seorang sembunyi. ―Tentara pengawal semuanya kantong nasi!‖ katanya. ―Aku mau tidur.‖ Ia telah sampai di tembok. baiklah.‖ sang ibu bilang. Ia lantas bertindak ke lemari yang ditunjuk itu. yang menenangkak dirinya.‖ Wanyen Kang beritahu. ―Ma. tiga orang menjadi terkejut sekali. Ia batal pergi. rupanya ada orang yang menahannya dari sebelah luar. untuk mengasih bangun pada ibunya. Pauw Sek Yok segera menunjuk ke lemari.‖ kata ibu itu. ―Begitu?‖ tanya ibunya. Di dalam lemari itu tertampak Kwee Ceng. ―Siapakah dia?‖ tanya ibunya. aku tak akan main gila lagi. Tapi Wanyen Kang telah menahan gerakan tangannya. bagus atau tidak?‖ ―Lain kali aku larang kau menghina orang karena kau andalkan pengaruhmu. di tubuh siapa ia menyanderkan diri. Sambil berbuat begitu.‖ ―Ma.‖ sahut si ibu. maksudnya menganjurkan suaminya itu masuk ke dalamnya untuk bersembunyi. bertindak perlahan-lahan. untuk menjambret pintunya untuk dibuka. Tiat Sim suka menurut. ―Aku minta supaya kau jangan bersusah hati. Itulah gerakan ―burung hong terbang. kau pergilah. jendela itu keras. entah ibu mengetahuinya atau tidak. ―Ma. Ia lantas senderkan tombaknya. Dengan pundaknya.

dialah pangeran Chao Wang. ―Taukah kau siapa ayahmu yang sebenarnya?‖ Sek Yok menanya. pedih ia merasa. kenapa ada apa-apa yang disembunyikan kepadaku?‖ si anak bertanya pula. ―Oleh karena itu mana bisa dia berdiam dengan tenang dan tentram di rumah ini….‖ kata ibu itu. kapan ia dapatkan lemari tidak kurang satu apa. Hanya karena kagetnya itu. seperti meja. maka dalam dunia ini tidak bisa aku hidup pula bersama Tiat Sim. makin lama kau bicara.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok sadar dengan perlahan-lahan. ―Kenapa kau menanya begini?‖ ―Kalau begitu.‖ Jantungnya Tiat Sim berdenyut. biarlah mereka ayah dan anak bertemu. Wanyen Kang telah menyaksikan kelakuan ibunya ini.‖ berkata Wanyen Kang. kau tidak punyai untung bagus.‖ ―Kau menyebutkan rumah ini bobrok?‖ tanya sang ibu. lemari dan pembaringan. ―Ma. ―Mana bisa ayah tinggal di sini?‖ Sek Yok menghela napas. ―Tetapi ibu tidak hendak menjelaskan siapa Yo Tiat Sim itu. inilah kesalahan besar yang tidak dapat diperbaiki lagi. Wanyen kang tertawa. suaranya keras. ―Sedari aku masih kecil telah aku menanyakannya. ―Aku ini anak kandungmu atau bukan?‖ ―Tentu saja.‖ menjawab anak itu. ―Ma. anakmu membawakan kau perabot rumah tangga yang baru tetapi semua itu ibu tolak. ―Ayahku adalah adiknya sri baginda. Wanyen Kang mengawasi ibunya. hatinya menjadi lega. ―Kenapa mama suka sekali tinggal di ini rumah bobrok. habis itu barulah aku mencari jalan pendekku…. ―Aku justru merasa ini jauh terlebih bagus dibandingkan istana yang indah. Ia pun berpikir: ―Sekarang dia telah menjadi satu onghui. Hatinya Pauw Sek Yok goncang keras. ia berduduk.‖ Sang putra heran hingga ia mengawasi dengan matanya dibuka lebar-lebar. Itu lanjam di tembok dan semua perabotan dalam ruangan ini. kau dengari aku bicara. Tiat Sim dalam lemari telah dengar nyata pembicaraan di antara ibu dan anak itu.‖ sahut Wanyen Kang. ―Sekarang aku akan menerangkannya kepadamu. tubuhnya menjadi lemah sekali.‖ berkata dia. ―Apakah kau sudah lihat itu ukiran empat huruf di gagang tombak?‖ Pauw Sek Yok tanya. mana dapat ia mengikuti pula aku seorang rakyat kasar? Dia hendak membuka rahasia. ―Kenapa mama menanya begitu?‖ Irawan D Soedradjat Page 232 . tetapi tombaknya masih dipegangi. ibukota dari kerajaan Song di Kanglam. ―Kasihan ayahmu itu. hatinya tergoncang keras. bangku. Aku telah hilang kehormatan diriku.‖ kemudian kata si ibu.‖ sahut ibunya itu. ―Kau duduklah baik-baik. kau tidak dapat tinggal di rumah bobrok ini bersama-sama dengan ayah dan ibu kandungmu snediri…. yang segalanya serba dilukis dan diukir dan diperaboti mentereng! Anak. Aku sengaja menitahkan orang melakukan perjalanan jauh ribuan lie untuk mengambilnya. ia heran dan bercuriga. tidak ada satu yang bukan dibawanya dari Lim-an. selama delapan belas tahun dia berkelana di duni kangouw. air matanya lantas bercucuran deras. Putra itu menurut. Ia pikir: ―Kejadian ini mesti dijelaskan kepada anak ini. makin aneh!‖ katanya. mungkinkah ia hendak menyuruh anaknya itu mencelakai aku?‖ Ia lantas dengar perkataannya Pauw Sek Yok: ―Tombak ini tadinya berada di dusun Gu-kee-cun di kota Lim-an.‖ katanya keras.‖ Karena memikir ini.‖ ―Sampai sebegitu jauh aku tidak mengerti. ―Ma. apakah katamu?‖ tanyanya saking heran.

pikiranmu was-was. Kemudian piasu itu telah dipakai menikam mati pada Tan Hian Hong si Mayat Perunggu. Kwee Ceng lantas lompat maju. Inilah hebatnya untuk tombak itu sendiri. pangeran itu menjadi tercengang. Tempo keduanya saling membetot. ia putar tangan kirinya ke belakang. ―Kau tidak dapat disesalkan. Wanyen Kang heran bukan kepalang. tetapi nama kau ialah Yo Kang!‖ Mendengar di sebutnya nama Yo Kang itu. maka juga sambil berlompat dengan gerakan ―Seekor belibis keluar dari rombongannya‖. sesudah mana. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng juga tidak berani berayal-ayalan. angin menyambar lewat di mukanya. dengan bawa istrinya . Meski begitu. tanpa menanti musuh menarik pulang tombaknya. Kwee Ceng ingat segera ingat satu nama yang ia rasa kenal baik. yang kaget sekali. untuk buka pintunya. ―Apakah kau sangka kau adalah orang bangsa Kim? Kau adalah orang Han! Kau bukannya bernama Wanyen Kang. sedang Sek Yok menjerit: ―Inilah ayahmu! Apakah kau masih tidak percaya?‖ Lantas ia benturkan kepalanya ke tembok hingga tubuhnya terus roboh ke lantai. maka ujung tombak lantas kena terpegang. Wanyen Kang kaget. maka bersama-sama mereka melompati tembok untuk menyeingkirkan diri. yang ia terus peluk dan angkat untuk dibawa lari keluar dari rumah bobrok itu. gagang tombak itu patah sendirinya. ia peluki tombak besi itu. inilah tidak heran. ―Ma. ―Lepaskan!‖ teriak Wanyen Kang.‖ katanya. Dengan begitu. ia membentak: ―Ilmu silatku ini diwariskan cuma kepada anak laki-laki. anak. Disaat ia hendak melompat tembok. lantas air matanya turun dengan deras. Lantas dia bertindak cepat le arah lemari. akan tetapi sekarang ia memeluki Pauw Sek Yok dengan tangan kanannya itu. ia pegang tangannya Yo Tiat Sim. tapi ia tidak dapat mengerti sedalam-dalamnya ilmu silat Keluarga Yo itu. untuk di tarik keluar. ―Kau tidak tahu. Sebenarnya habis itu. di sana ada sebuah piasu belati yang gagangnya berukiran dua huruf ―Yo Kang‖ itu. di mana ia pernah dengar itu. ia serang bebokongnya Yo Tiat Sim. yang di arah tenggorokannya. ia merasakan sambaran angin ke arah kepalanya. Ia lantas memutar tubuhnya.‖ ―Aku was-was kenapa?‖ ibu itu bilang. yang gagangnya sudah tua. Ia menjadi kaget sekali. ia merasakan perih bagaikan kebaret pisau. segera ia pun lari keluar. tidak dapat ia menyerang. tangan kanannya sudah mesti membarengi menyerang. Kemudian lagi piasu itu lenyap entah ke mana. Tombak ini…inilah senjatanya ayahmu yang sejati…‖ Ia pun lantas menunjuk pada ukiran empat huruf di gagang tombak: ―Ini barulah namanya ayahmu itu!‖ Tubuhnya sang putra bergemetar. Maka seraya memutar tubuh. maka ditegur begitu. yang kepalanya mandi darah dan napasnya empasempis. ia menjadi tidak berayal. tidak kepada anak perempuan. ―Nanti aku pergi panggil tabib. cepat sekali ia mendak. Tapi ia masih sadar. kiranya kau!‖ seru pangeran itu. tempo ia masih kecil. Tiat Sim berkelit. . Saking tergugu. Ia telah mainkan ilmu silat Keluarga Yo bagian jurus ―Hui ma chio‖ atau ―Membaliki kuda‖. Semua Berkumpul Tiat Sim mendengar angin menyambar belakangnya. yang mendadak saja menikam Bok Ek. kenapa kau masih tidak berlutut untuk memberi hormat!‖ Wanyen Kang bersangsi. Ia hanya lupa. ia membentak: ―Kau telah bertemu dengan ayahmu sendiri. ―Oh. Ia sudah lantas disambut Bok Liam Cu. ia telah tiba di luar. ―Ayahmu ada disini!‖ Sek Yok bilang. walaupun Khu Cie Kee lihay. dari itu tentulah gurumu tidak dapat mengajarakan kepadamu!‖ Memang benar. gadisnya itu. Tiat Sim tubruk istrinya itu. jadi kepandaian Wanyen Kang menggunai tombak itu belum sempurna. ia jadi berdiri menjublak. Bab 21. ialah tipu istimewa yang hanya diketahui keluarganya yang mewariskan ilmu silat itu. Itulah menandakan lihaynya si 233 Yo Tiat Sim tidak pedulikan pangeran itu. ia putar tubuhnya. untuk menangkis seraya mencekal. ―Nanti aku minta ayah datang ke mari!‖ katanya.Pendekar Pemanah Rajawali Ibu itu berbangkit. akan lihat ibunya itu. mereka mencekal masing-masing satu ujungnya tombak itu. Kemudian ia ingat.‖ katanya sesegukan.

―Nama Hek Hong Siang Sat pernah aku dengar. dari heran mereka jadi mau mempercayai. yang dikatakan Pheng Lian Houw sebagai gurunya. Kau adalah satu laki-laki sejati. ―Apakah shemu?‖ Lian Houw menanya pula. Cuma dengan satu kelebatan. aku si orang tua sudah lama menantikanmu di sini!‖ Itulah suaranya Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong! Pada itu waktu di lain kalangan.‖ sahut si nona. sambil tersenyum. ia terus putar tubuhnya dan bertindak ke pintu. ―Laginya. telah menjadi pecundangnya nona ini. kau akan membiarkannya aku berlalu dari sini. hitunglah kau telah menang. ―Maafkan. dengan kepandaian semacam itu dari mereka. Ia menyahuti dengan membentak: ―Jurusmu yang terakhir adaöah jurus ―Tindakannya si binatang sakti‖. ―Hanya kau bilanglah. ―Nona kecil. ―Di sini ada beberapa tua bangka yang hendak menyusahkan aku. Mereka pun telah mendurhaka terhadap guru dan kakek guru mereka. Dia menyenggapi: ―Kau sendiri yang bilang.‖ . ―Apa yang aku tahu tentang mereka ialah mereka pengrusak perikeadilan dan prikemanusiaan. aku dipanggil Yong-jie.‖ Oey Yong bilang tanpa pedulikan perkataan orang. Mau tidak mau.‖ ia menyahut. ia dengar bentakan: ―Anak tolol. aku tidak berniat mengganggu padamu.‖ berkata orang she Pheng ini.‖ katanya.Pendekar Pemanah Rajawali penyerang. hingga tidak dapat ia menggeraki tubuhnya. oleh karena Leng Tie Siangjin telah terluka parah. maka habis berkata.‖ Oey Yong tertawa lagi. ―Aku yang rendah dan bodoh. Semua orang di situ. lantas bertindak perlahan. apa perlunya gurumu menitah kau datang kemari?‖ Oey Yong tertawa. ―Aku tidak punya she. jikalau dalam sepuluh jurus kau tidak dapat mengenali ilmu silatku. Auwyang Kongcu. Apakah itu bukannya pengajaran dari Hek Hong Siang Sat?!‖ Oey Yong tertawa pula. Oey Yong mengawasi. Pheng Lian Hoauw sudah mengahdang di ambang pintu. Pheng Lian Houw menggeser tubuhnya ke samping. maka itu. kecuali Leng Tie Siangjin dan Auwyang Kongcu. mengapa kau tidak membantu aku?‖ dia tanya. karena hatinya cemas bukan main mendengar suaranya Kwee Ceng. terutama untuk pakaian orang yang serba putih. 234 Auwyang Kongcu tertawa. menegaskan. tatkala mendengar Pheng Lian Houw mengatakan ialah muridnya Hek Homh Siang Sat. jadinya mereka adalah orang-orang dari Rimba Persilatan? Kenapa Pheng Cecu samakan aku dengan mereka itu?‖ Mulanya orang menyangka nona ini tidak hendak omong terus terang. ―Kecantikan mereka itu tidak ada separuhnya dari kecantikanmu. ―Apakah kau telah bertemu dengan mereka itu?‖ tanyanya. ―Oleh karena kau adalah muridnya Hek Hong Siang Sat. ingin aku meminta pengajaran beberapa jurus dari nona.‖ dia kata. Orang boleh berdusta hebat tetapi tidak nanti ada murid yang berani mencela dan mencaci guru sendiri di hadapan orang banyak. sambil tertawa Oey Yong kata kepada cecu itu: ―Kau kalah!‖ Ia berbicara dengan terpaksa. tidak ada kejahatan yang mereka tidak lakukan. ―Mereka itu – ini nona-nona cantik yang menunggang unta putih – adakah mereka orang-orangmu?‖ dia menanya. Selagi ia terkejut. semua mata ditujukan kepada pemuda she Auwyang ini. ―Aku si Lao Pheng kagum sekali untukmu! Sekarang aku memikir untuk meminta tanya namamu yang harum. akan tetapi mendengar ia bicara demikian hebat terhadap Hek Hong Siang Sat. mereka mana tepat menjadi guruku?‖ ―Percuma kau menyangkal!‖ bilang Lian Houw. kenapa sekarang kau menyangkal?‖ Pheng Lian Houw gusar sekali. hingga wajahnya bersemu merah. yang tersenyum. kelihatannya cuma Auwyang Kongcu yang bisa menghalangi nona ini. mereka menjadi saling mengawasi. ―Belum pernah aku melihat Hek Hong Siang Sat.‖ ia berkata. Irawan D Soedradjat Page Oey Yong agaknya jengah.

. hingga ia menjadi tergila-gila sampai umpama kata kepalanya pening. itu pun dapat. selagi orang berkumpul banyak. dengan perlahanlahan dia mengipasi dirinya. dari itu dengan sendirinya mereka itu menjadi juga murid-muridnya. Di luar sangkaan mereka. mana aku tega membalas memukul?‖ katanya kemudian. tapi Auwyang Kongcu cerdik. ―Memang tidak ada yang terlebih baik daripada aku mengangkat kau menjadi guru. Sebentar saja di muka pintu terlihat beberapa puluh wanita muda dengan pakaian serba putih yang berseragam.‖ . Oey Yong telah robohkan delapan dari nona-nona itu. ―Murid-muridku beda daripada murid-muridnya orang lain. Maka juga sejak beberapa tahun dia sudah kirim orang ke pelbagai tempat. dia rupanya telah dapat menerka. mereka gagal. Oey Yong mengasah pula otaknya. mereka jadi ketarik hati dan ingin merampasnya untuk diserahkan kepada Auwyang Kongcu. ―Nah. memandang nona-nona manis itu.‖ Auwyang Kongcu bilang. ―Benar!‖ jawab si nona. ia menjagoi seorang diri.‖ Si nona tertawa. di See Hek. semuanya bakal datang. kau kemarilah! Kau tak usah takut. Dia kelihatannya tenang dan puas. mereka jadi kaget sekali dan tergiur hatinya. ―Aku tidak percaya!‖ ujarnya. Adalah diwaktuwaktu yang senggang. ia lantas mengasih dengar suaranya. guna mengambil hatinya suami merangkap guru itu. ―Bagaimana?‖ si nona menanya. ia ketahui kepandaian silat mereka itu biasa saja. Ia mengharap.‖ Oey Yong miringkan kepalanya. tinggi dan kate. hendak aku pergi!‖ katanya si nona pula. Mereka dengar itu Biauw Ciu Sieseng bicara perihal kuda jempolan. Dia sengaja menitahkan mereka menyamar sebagai pria. ―Umpama kata aku menjadi muridmu. Auwyang Kongcu pun bangga akan gundik-gundiknya itu. Demikian hatinya goncang kana mendengar suara orang yang merdu itu. Serombongan di antaranya.‖ ia bilang. ―Asal kau angkat aku menjadi gurumu dan untuk selamanya kau mengikuti aku. Tapi ia pun gemar sekali pada paras elok.‖ katanya. tak usahlah untuk selama-lamanya aku mengikuti kau!‖ dia bilang. supaya dengan begitu kemudian aku tak usahlah menerima penghinaan orang. Mengetahui akalnya gagal. belum tentu ada tandingannya. ―Untuk aku membantu kau. Pheng Lian Houw semua seperti bermata kabur. ―Walaupun kau pukul aku. adalah mereka yang di tengah jalan bertemu dengan Kanglam Liok Koay dan Kwee Ceng. yang berjumlah delapan orang. aku tidak akan balas menyerang.ia tidak nyana mereka itu kalah dari Oey Yong. maka juga ia terus pergi ke ambang pintu. ―Kalau mereka itu menghalangi aku.sekalipun di dalam keraton raja. ―Nah. ―Jikalau kau benar-benar lihay. melainkan tubuh orang ada yang kurus dan montok. ia dapat mencari jalan untuk meloloskan diri. Auwyang Kongcu hendak membuktikan perkatannya. Mereka ini berkumpul di luar selagi Auwyang Kongcu berpesta. untuk mencari nona-nona cantik dan manis. sekarang ia sengaja permainkan Auwyang Kongcu supaya orang mengumpulkan gundik-gundiknya itu. sedang di bawah sinar merah dari api lilin. dengan tajam ia menatap.‖ ―Apakah kau hendak mencobanya?‖ Auwyang Kongcu menegaskan. kau bantu aku. ia ajarkan mereka itu ilmu silat dan ilmu surat. wilayah Barat. dia mengerling kepada si nona. dia pecah mereka dalam beberapa rombongan. untuk dia ambil mereka itu sebagai gundik-gundiknya. Ia merasa hatinya gatal dan tulangtulangnya lemas…… Anak muda ini lihay ilmu silatnya. Dengan lantas mereka berdiri berkumpul di belakangnya anak muda itu. ―Semua muridku wanita dan asal sekali saja aku memanggil. Ketika di Kalgan. dengan semua dimestikan mengenakan pakaian serba putih seraya menunggang unta-unta putih juga. yang ia percaya adalah tercantik di kolong langit ini. Kali ini ia berlalu dari kampung halamannya atas undangan Chao Wang. yang keringatnya merah. . maukah kau?‖ Auwyang Kongcu tertawa. ―Apakah tanpa membalas menyerang kau dapat mengalahkan aku? Benarkah?‖ Pemuda itu tertawa.Pendekar Pemanah Rajawali Auwyang Kongcu tidak bisa lantas menjawab. dia datang ke kota raja – Yan-khia – dengan mengajak sekalian gundik-gundiknya yang merangkap murid-muridnya itu. Oleh karena gundik-gundiknya itu banyak. Irawan D Soedradjat Page 235 ―Baiklah!‖ berkata kongcu itu. baru mereka muncul setelah ada panggilan.

yang lain berat. yang lain keras. ―Jikalau kau kalah.‖ Karena ini. aku bekerka setindak demi setindak…. ―Siapa yang keluar dari lingkaran ini. ia tetap senyum. Mereka pikir: ―Nona ini lihay. suatu tanda dari kuatnya kaki kanannya itu. Lingkaran pun seluas enam kaki.‖ jawab Auwyang Kongcu. Lingkarannya sendiri dalam kira setengah dim. yang terbuat dari benang sutra tetapi kuat. Sebab ia mengerti sembarang waktu bisa terjadi perubahan. ―Baik!‖ kata Oey Yong. Mereka pun dapat anggapan. Maka terlihatlah gelang rambutnya yang terbuat dari emas itu berkeliauan dan bajunya yang putih berkibar-kibar. segera ia merasakan pukulannya itu membal balik. kaki kanannya terus menggurat. meminjam tenaga untuk menyerang tenaga. Segera ia dapat kenyataan. tetapi menerjangnya berbareng. bersedia untuk dibelenggu. tiba-tiba terlihat berupa benda besar yang melayang jatuh di depannya. dia yang kalah.‖ Maka ia sambuti ikat pinggang itu. hampir ia melintasi garis lingkaran itu. yang satu lemah. walaupun dia lebih pandai sepuluh lipat. keluar dari lingkaran. Auwyang Kongcu lonjorkan kaki kanannya. hingga ia dapat berlompat bersama-sama kursinya itu. maka begitu serangn Oey Yong mengenakan padanya. maka itu. Hanya begitu ia berada di luar. tangan kiri dengan jurus ―Angin menyambar yanglui‖. bukan?‖ si nona menegaskan. dengan begitu ia membuat lingkaran. hingga ia lantas terhuyung sendirinya. yang dari dalam jubahnya mengasih keluar sepasang cecer tembaga. tindakannya pun dihentikan. sebenatr saja ia sudah tiba di dekat pintu. dia duduk seperti terpaku di kursinya. Ia bukan cuma bertindak masuk saja. Oey Yong heran. maka sungguh hebat jikalau aku sampai kena dibekuk dia…. maka kau mesti baik-baik turut aku. ―Jikalau dua-duanya yang keluar?‖ Oey Yong masih menanya. yang terus buka ikatan pinggangnya yang ia serahkan kepada si nona. Ia tentu saja tidak berani menyerang untuk kedua kalinya. Lekas ia mengambil putusan: ―Biarlah. pemuda ini benar-benar ceriwis. Semua orang tua di sini menjadi saksinya!‖ kongcu itu memberi kepastian. Oey Yong hendak menegur di pederi itu tetapi ia telah di dahului Leng Siangjin. ―Begitu pun boleh dianggap aku yang kalah. Auwyang Kongcu sudah lantas mengegos tubuhnya akan tetapi sia-sia saja ia berkelit. mana bisa dia mengalahkannya tanpa dia membalas menyerang? Mungkinkah dia hendak menggunai ilmu siluman?‖ ―Aku tidak percaya yang kau benar-benar tidak bakal balas menyerang!‖ bilang Oey Yong pula. ―Tentu saja! Tapi kalau kau yang kalah. kedua tangan si nona mengenai tepat pundaknya. Dia duduk di kursi tapi ia lebih tinggi dari si nona. Ia sudah lantas berkelit ke samping. di atasnya mana ada bercokol satu paderi dari Tibet yang tubuhnya tinggi dan besar. ia menginsyafi keadaan yang tidak wajar.Pendekar Pemanah Rajawali Lian Houw semua heran. meski begitu yang terkejut adalah si nona sendiri. Hal ini membuat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw kagum sekali. toh kau tidak bakal merintangi aku lagi. begitu kedua tangannya dirapatkan. Sebaliknya. kau yang kalah!‖ Auwyang Kongcu tercengang karena herannya.‖ sahut Auwyang Kongcu. ia taruh itu di lantai. akan tetapi ia gunai kepandaiannya. Ia pikir: ―Terang sekali orang ini tidak bermaksud baik. Dia hanya bisa berdiri menjublak tanpa bisa bicara apa-apa! Si nona tidak menghiraukannya lagi. ia berputar dengan kaki kiri itu. kemudian seraya ia bertindak masuk ke dalam lingkaran itu. begitu masuk lantas kedua tangannya bekerja. yang satu enteng. lalu dengan kaki kiri menahan diri. kalau kita berdua sama-sama keluar dari lingkaran. ―Hendak aku telingkung tanganmu ke belakang!‖ ―Baik. yang orang benar-benar menyerahkan diri untuk dibelenggu. segera ia percepat tindakannya itu. dia buktikan perkataannya itu. tetapi hatinya terkesiap. dengan itu ia terus ikat tangan orang. ia menjadi berpikir keras. ia kata: ―Aku hendak pergi sekarang! Kau tidak dapat keluar dari lingkaran untuk menyusul aku! Tadi kau sendiri yang mengatakannya. yang mengenakan jubah warna merah. dengan kecerdikannya. karena begitu tangan mengenai sasaran.‖ berkata Auwyang Kongcu. Anehnya. Kongcu itu lihay tenaga dalamnya. pada wajahnya ia tidak ketarakan suatu apa. benda itu adalah sebuah kursi thaysu. berbunyilah alat tetabuhan itu Irawan D Soedradjat Page 236 . ―Bagaimana sekarang – bagaimana kalah menangnya?‖ si nona tanya. dia membilang tidak akan membalas menyerang. habis mana ia bawa kedua tangannya ke belakangnya. ia bertindak dengan tenang. yang lantas bertindak memasuki lingkaran itu.

Dia heran yang di pekarangannya istana ada tempat yang demikian. ialah punggung si nona. sebaliknya. dia memukul ke arah tubuhnya si nona. Biar bagaimana tidak dapat ia melupakan nona yang manis itu. Orang menjadi kaget hingga mereka pada berseru. Ketika akhirnya kakinya tiba di dasar liang. Serangannya Leng Tie Siangjin tepat mengenai sasarannya. Cuma. ―Di dalam bajunya ia memakai baju lapis yang lemas. Tapi ia masih sadar. Dalam kagetnya. ia justru mencelat ke depan. Cu Ong sebaliknya mengejar dia dengan hebat. ia terus terpeleset dan terguling. hanya tempo ia sampai di luar. ia lari mencari. Irawan D Soedradjat Page 237 . kenapa dia dapat memiliki Joan-wie-kah itu?‖ Sementara itu Auwyang Kongcu sudah berlompat. di antara gelap petang tidak dapat lagi ia melihat bayangannya si nona. hanya serupa benda licin.‖ Hauw Thong Hay mengulur lidahnya. ―Syukur aku tidak sampai kena menghajar budak itu…‖ katanya. dia mesti menderita sebab tertusuk duri-duri landak itu. juga isi perutnya. dia pun berlari-lari di tempat yang gelap. dia lantas siapkan kakinya. orang menjadi heran sekali. sampai di luar gedung! Dari kaget. ynag tidak tahu apa itu Joan-wie-kah. bakalan remuk semua…. tangannya terus dipakai merebaraba kepada benda itu. karena ia berlompat maju. Mungkin ia menerka. Selagi orang kaget. Som Sian Lao Koay ingin membekuk orang untuk dihisap darahnya! Kwee Ceng dapat lari keras. Lekas-lekas ia merayap bangun. tangan kanannya diangsurkan. Ia penasaran. untuk berlari-lari keluar. Hingga istana pangeran itu menjdai kacar dan gempar! Di pihaknya Kwee Ceng. ia pun tidak berlompat itu lari menyingkir. sebuah lagi di bawah. mungkin ia tidak terluka. untuk menampa dasarnya cecer. ia maju terus. Untuk kagetnya. ketika dia merasakan sakit pada kakinya. ―Dia dapat lolos. Di dalam hatinya ia menghibur diri. dia lari tanpa memilih lagi jurusan timur atau barat. dengan menjejak dengan kedua kakinya. ia sudah lewat di antara kedua senjata rahasia itu. Oey Yong tidak menjadi gugup. Mereka lihat tangan kanan dari Leng Tie Siangjin mengucurkan darah. selatan atau utara. Thong Hay dan Lian Houw sertia Thong Thian turut pergi mengejar. dia terjatuh ke dalam sebuah liang. Malah Chao Wang juga menitahkan Thung Couw Tek mengepalai barisan pengiringnya pergi mencari. bagaikan rebung muda atau pedang yang ditancap di tanah. Oey Yong seperti juga tidak dapat menahan tubuhnya. Nona yang begitu cantik manis. sekian lama dia tidak dapat dicandak. sebab telapakan tangannya pecah menjadi sepuluh liang kecil. Baju itu mempunyai duri yang seperti duri landak. dia kena injak bukan batu atau tanah keras. yang bertemu sama Nio Cu Ong.Pendekar Pemanah Rajawali hingga menulikan kuping. maka maulah dia nanti merangkulnya…. dengan begitu. terus tubuhnya terjatuh hingga ia menjerit keras. Mendadak kakinya menjadi lemas. menanyakan itu kepada kakak seperguruannya. kaki kirinya ditekankan di atasan cecer yang di bawah tubuhnya dipengkeratkan. supaya setibanya di bawah. dia takutnya bukan main. Dalam keadaan seperti itu. si nona sendiri melayang terus bagaikan layangan putus. hingga mereka tercengang. ia menjadi mendekati si orang suci itu. di mana ada banyak pohon berduri serta batu muncul di sana-sini. hingga tidak ampun lagi. untuk mencari. Kali ini Leng Tie Siangjin mengangkat tangannya. lalu sepasang cecer itu menyambar ke arahnya…. Maka siapa memukul atau menendangnya.sebuah di atas. Sembari berbicara. Pheng Lian Houw berseru: ―Budak itu memakai Joan-wie-kah! Itulah mustika pemilik pulau dari pulau Tho-hoa di Tang Hay!‖ See Thong Thian pun berseru: ―Dia masih begini muda. dengan ilmu pukulan ―Tay ciu ini‖ atau ―Tapak tangan besar‖. pastilah bakal runtuh di tangan yang kasar dari si paderi. Ia masih heran tatkala di depan matanya berkelebat suatu sinar. Dia menjadi terlebih kaget. ―Pernahkah kau melihat landak?‖ Pheng Lian Houw mendahului menanya ―Tentu pernah aku melihatnya!‖ sahut orang she Hauw itu. Sebentar kemudian dia sampai di satu tempat. asal ke tempat yang gelap. tak usah dia jatuh terbanting.‖ Hauw Thong Hay. maka sekejap kemudian. satu suara keras segra terdengar. hingga ia seperti hendak menyerbu ke rangkulannya lawannya itu. bukan saja tulang-tulangnya bakal patah. ―Baju lapis itu tidak takut kepada senjata tajam seperti golok dan tombak. dia dapatkan sebuah tengkorak manusia. maka sambil serukan sekalian gundiknya.‖ Lian Houw lantas memberi keterangan. walaupun itu sudah lolos dari bahaya. Bahaya tidak dapat dicegah lagi. yang dalamnya beberapa tombak. yang tertusuk duri.

Lagi beberapa tombak. Dia bernyali besar. Nio Cu Ong mendapatkan tangkapannya gagal. dia menyusul terus. Dia takut Kwee Ceng nanti bokong padanya. Kwee Ceng bingung. mungkin sekali. ia bahka bergusar. Kwee Ceng menjadi cemas dan sibuk.‖ berkata Kwee Ceng perlahan. bahkan kali ini tubuhnya terus lompat turun. Di belakangnya. dari pojok kiri terdengar ini suara dingin seram: ―Siapa berbuat kurang ajar di sini?!‖ Kwee Ceng kaget. di atas sana.‖ ia mengeluh. Kemudian ia putar tubuhnya. ―Aku lagi dikejar-kejar orang….‖ ia menduga-duga. hanya kali ini suara itu disusul sama napas yang memburu. di sana habislah jiwaku…. dia tidak bakal hidup pula! Apakah kamu sudah bosan hidup?!‖ Terang suara itu adalah suaranya seorang wanita. Dia pun rtidak sudi memberi penyahutan. ia menyerang pula. ia melihat ke sekitarnya. untuk berjalan dengan kedua tangannya dilonjorkan ke depan. ―Biarpun kau kabur ke istana Raja Akherat. maka ia mundur terus. Nio Cu Ong tengah menyerang padanya. Ia menjadi semakin takut. Ini pun ada penjagaan untuk lari terus andaikata Nio Cu Ong berlompat turun. dia tidak dapat melihat apa juga. ia tidak dapat meraba apa juga. menyahuti orang itu. yang kosen dan nyalinya besar. Wanita itu tidak menyahuti. Kwee Ceng menyingkir terus dengan hatinya memukul keras. Baru Kwee Ceng berhenti bicara. Siapa sangka di temapt demikian boleh ada penghuninya. lantas dia tertawa lebar. Hanya karena berada di tempat gelap. sembari meraba dia sembari mundur. ia berkelit ke kiri dan kanan. Dia masih tidak dapat meraba sesuatu apa. tahulah ia. dia bahkan tidak dapat melihat jeriji tangan di hadapannya. ―Siapa yang berani datang kemari menangkap orang?!‖ terdengar pula suara wanita tadi. ia turut terkejut juga. tibalah Kwee Ceng di satu tempat yang terbuka. di mana terdapat cahaya terang. Itulah sebuah kamar atau ruang bertembok tanah. Dalam liang gelap yang gelap itu. supaya ia tidak mengasih dengar suara apa-apa. Ia mengucap demikian tetapi ia tidak berkisar dari tempatnya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Rupanya ini adalah lubang peranti membuang mayatnya orang yang dibunuh di istana…. baru menyusul kira dua tembok. akan aku susul padamu!‖ terdengar pula suaranya Nio Cu Ong. ia hanya kepada Kwee Ceng: ―Eh.‖ pikir bocah ini. Kwee Ceng kaget dan takut. hanya ia lantas meraba ke belakangnya. Liang itu merupakan sebuah terowongan. Ia tidak melihat siapa juga tetapi ia merasa pasti Nio Cu Ong sedang menyusul padanya. dialah seorang yang sedang sakit. Justru hatinya lagi berpikir. Kembali terdengar suara seram dingin tadi: ―Siapa ke dalam gua ini. Nio Cu Ong telah dapat mengetahuinya. hatinya goncang keras. ke mana kau hendak kabur?!‖ dia berseru. Irawan D Soedradjat Page 238 . dia bertindak dengan enteng. bocah. dia mesti mati. tidak dapat ia berdiam saja atau mendusta. yang bisa menghalangi mundurnya. atau ia telah dengar sambaran angin. Itulah ujungnya terowongan itu. Nio Cu Ong tidak takut. dia dengar teriakannya Nio Cu Ong: ―Bocah. terus ia mundur. Sekalipun Nio Cu Ong.‖ Sebagai seorang polos. lekas naik!‖ ―Aku tidak ada begitu gila mau naik untuk mengantar jiwa…. mari kau sembunyi padaku di sini!‖ Ia rupanya dapat menduga dari suara orang. Nio Cu Ong pun tiba dengan segera. dia andalkan kepandaiannya. ―Ha. anak muda. Ia lantas saja berkelit. ―Apakah kau hendak menyamar menjadi iblis untuk menakut-nakuti aku?!‖ dia menegur. Justru itu. ―Aku datang kemari tidak sengaja. mungkin untuk ditawan. ―Terowongan ini mesti ada ujungnya.

‖ sahut si wanita itu. bukan seperti daging. ia lantas menyahuti: ―Aku adalah seoarng saudagar jinsom dari Kwantong. lalu sebuah cambuk panjang menyambar ke kakinya. sambil lompat mencelat. terus ia keluar dari terowongan itu. ―He. she Nio.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sedang bingung. kau ketua sebuah partai! Apakah benar kau tidak kenal aturan kaum Rimba Persilatan?!‖ Som Sian Lao Koay terperanjat. untuk menyerang! ―Pergi!‖ membentak si wanita. Belum lagi tendangannya itu mengenai sasaran atau jalan darahnya kongsun-hiat. ia tidak ambil pusing siapa si nyonya itu. dia kata terhadap Nio Cu Ong: ―Barusan seranganmu. Nio Cu Ong dapat mendengar suaranya kwee ceng itu. untuk wilayah Kwan-gwa. ia ayun tubuhnya untuk berjumpalitan. untuk menerjang. tanda bahwa nyonya itu sangat menderita. aku mohon tanya shemu yang mulia.aku…. Cu Ong terkejut. ia menjadi lebih tabah. ―Kalau lain orang. kiranya saudagar Som Sian Nio Cu Ong!‖ berkata wanita itu. ia mesti lantas roboh. tidak dapat tidak. di dalam keadaan seperti ini. bagaikan es. yang ia duga sedang sakit keras atau terluka parah. Apakah kau ada satu jago Rimba Persilatan dari Kwan-gwa?‖ Nio Cu Ong heran bukan buatan. Dalam kagetnya. tetapi ia tidak mau kasih dirinya diserang demikian. hingga ia terhuyung tiga tindak. ia menjadi bergusar pula. Bocah ini telah curi barangku. pastilah itu tidak bakal gagal. ia rasakan tangan lawan dingin sekali. untuk bergulingan pergi. ―Nyonya yang terhormat. sedang tangannya dipakai menyampok. lancang masuk ke rumahku ini. ia kenamaan duapuluh tahun lebih. tubuhnya segera tertarik hingga ia roboh menubruk sebuah dipan tempat duduk bersemadhi. Tiba-tiba terdengar urat-urat meretek. Syukur tangguh ilmu dalamnya. ia merasakan tangannya disambar dan dicekal tangan lain orang yang dingin enyam. Ia menjadi kaget sekali. Wanita itu masih bernapas memburu.‖ ia meminta. mari maju!‖ ia berseru saking murkanya. Begitu kakinya menginjak tanah. ―Dia lihay sekali! Mungkinkah ia dapat melihat di tempat gelap?‖ Ia menjadi tidak mau berlaku semberono. Lantas ia ulur kedua tangannya. ―Aku tidak dapat melihat dia. Tidak ayal lagi. aku mesti tangkap dia. tidak dapat lagi ia bersangsi sedikit juga. lantas ia merasakan tangannya wanita itu bergemetar keras. Irawan D Soedradjat Page 239 . Ia pun mendengar orang merintih. kakinya terus menendang ke arah wanita itu! Tendangan orang she Nio ini ada sangat kesohor. Di dalam hatinya ia berkata: ―Wanita ini awas sekali matanya! Dia bisa menotok jalan darah. karena ini. Ia hanya heran atas kesebatan wanita itu. walaupun begitu. tiba-tiba ia mendengar suara angin. bangsat perempuan. ia segera kirim tangan kirinya. kenapa dia sebaliknya segera mengenali asalusulnya ilmu silatku?‖ ia berpikir. Dengan perlahan ia bertindak menghampirkan wanita itu. yang tidak tahu apa-apa. mungkinkah dia itu siluman?‖ Juga sampokan Cu Ong adalah sampokan istimewa. bahkan dengan merayap. lalu perlahan-lahan cekalannya menjadi kendor. kalu serangannya mengenai sasarannya. Kali ini kedua tangan bentrok. ujung kukunya menyambar ke pundak. yang berupa tangkapan. tetapi kali ini. hingga diluarnya dapatlah ia bernapas lega. dia sudah tidak dapat diberi ampun. tenaganya telah dikerahkan sepenuhnya kepada tangannya itu. ada lihay sekali. maka ia lantas berlompat ke arah darimana suara itu datang. untuk membekuk si anak muda. ia buang dirinya ke tanah. Disaat ia hendak berlompat. ―Aku…. Sekarang Nio Cu Ong percaya pasti orang tidak dapat bergerak. Jalan darah itu ada di batas mata kaki. besar tenaga orang itu. Wanita itu terdengar napasnya memburu. Ia sangat andalkan kegagahannya. Ia pun menduga orang lagi sakit. hingga ia terkejut. Aku minta sukalah nyonya tidak menghalangi aku…‖ ―Oh. biasanya siapa kena tertotok. Kwee Ceng baru mendengar sampai disitu. tubuhnya tidak bergerak. ia tidak sampai mendapat luka di dalam. lalu tangannya si wanita diulur panjang. tiba-tiba kaku sendirinya. ―Apakah kau sakit?‖ ia tanya perlahan. apapula kau Nio Lao Koay. kesudahannya membuat ia kaget tidak terkira. tetapi untuk kagetnya. ia menangkis dengan tangan kirinya. Ia baru saja melanggar bajunya Kwee Ceng lalu mendadak ia merasakan tangannya terbentur tenaga yang besar. yang sebelah tangannya segera mampir di bebokongnya Som Sian Loa Koay.

karena ia berpikir: ―Wanita ini tinggal di dalam istana. Ia tanya pula: ―Kau menghendaki barang apa? Nanti aku pergi mengambilkannya…. mari boanpwee menggendong buat pergi keluar…‖ ―Siapakah ynag tua?!‖ wanita itu membentak.‖ pikirnya. hatinya menjadi lemas pula apabila ia dengar suara napas empas-empis dari wanita itu.‖ kata si wanita.‖ ―Apakah cianpwee terluka?‖ menanya Kwee Ceng. Ong totiang tentu tidak membutuhkan sebanyak itu. setelah napasnya tidak terlalu memburu lagi. keren. tanpa berdaya ia kena ditarik hingga ke depan wanita itu. Liang sumur itu cukup tinggi tetapi Kwee Ceng dapat memanjatnya. akan merayap naik. ―Teecu ada punya empat macam obat yaitu thian-cit. Ia mengangkat kepalanya. Tidak lama keluarlah mereka dari gua itu. Sebab tangan kanan si wanita sudah merangkulnya. ―Kenapa Lao Koay hendak membunuh kau?‖ ia tanya selang seaat. agaknya ia gusar. apakah ia bukan orangnya Wanyen Lieh?‖ ―Oh…!‖ berseru si wanita. Irawan D Soedradjat Page Saking kagetnya. ia telah menggunakan tenaga berkelebihan. kau benar baik…. dia membutuhkan obat. belum pernah aku mengalami kejadian seperti ini. maka itu teecu datang ke istana ini…‖ Kwee Ceng menyahut. Kwee Ceng dapat dengar sauara orang berlari pergi. Ia jalan terus hingga di mulut terowongan.‖ sahut Kwee Ceng. ―Gendong aku pergi!‖ berseru si wanita itu. Hanya sesaat kemudian. cara bagaimana kau ketahui aku sudah tua?‖ ―Ya. ―Memang aku pun hendak menggendong kau. hiat-kat.ya. ―Bocah tolol. mungkin ongya ketahui rahasia ini…‖ Maka dengan cepat ia kembali ke Hoa Cui Kok. Ia tidak tahu orang menguji padanya. akan melihat bintang-bintang di langit. Kwee Ceng kerahkan tenaganya di leher. yang ketemu batunya. untuk melawan cekikan. Ia pun batuk-batuk. 240 ―Siapa yang ajari kau ilmu ringan tubuh?!‖ si wanita tanya. Maka ia membelas. orang tidak sudi menerima budi. ―Adalah aku yang memaksa kau menggendong aku keluar dari sini. cekikan itu menjadi semakin keras. Kwee Ceng merasa orang sangat berkepala besar.‖ Wanita itu bernapas tersengal-sengal.‖ sahut Kwee Ceng. Yang membikin ia terkejut adalah lehernya terasa dingin dengan mendadak. rupanya melawan Nio Cu Ong. yang tidak berani banyak omong. terus ia menarik. diletaki di pundak Kwee Ceng. ―Ong Totiang mendapat luka. lantas ia berlulut di depan wanita itu untuk mengangguk-angguk hingga tiga kali. . ―Jadinya kau telah curi obatnya Lao Koay! Aku dengar kabar ia tengah menyakinkan pembuatan obat-obatan…. habis itu ia mencoba menggunai kedua tangannya.‖ kata Kwee Ceng dalam hatinya. Kalau cianpwee…. Tiba-tiba ia berhenti.‖ ―Mana aku terluka!‖ memotong si wanita. ―Lekas bicara!‖ Ia memegang keras leher orang sampai si anak muda sukar bernapas. Dalam hal kepandaian ini. Ia ulur tangan kirinya. Ia berkata: ―Teecu mengucap banyak-banyak terima kasih untuk pertolongan cianpwee. Sebaliknya. ―Tidak dapat aku dijual orang…‖ Mendengar ini. ia telah berlatih cukup di bawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok. Ia terus bungkam.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sudah beberapa puluh tahun. ya. tetapi ia tertawa dingin. ―Benarkah di dalam dunia ini ada iblis? Ah. him-tha dan bu-yok. Maka ia kata pula: ―Jikalau cianpwee tidak merdeka untuk jalan. Kwee Ceng merasakan pundaknya itu sakit sekali. untuk meninggalkan pergi kepada wanita ini tetapi ia tidak tega hati. ―Siapa yang menghendaki kebaikanmu itu!‖ ―Ya. hingga tak tahu ia mesti membilang apa. dengan kegirangan dan bersyukur. Ia lantas menggendong. dengan tindakan perlahan ia menuju ke luar. Ia telah lantas pikir. tangan si wanita menjadi kendor sendirinya.‖ ―Ah. yang seperti tidak memperdulikan perkataan orang. hatinya jadi lega.‖ kata wanita itu. ialah liang yang tadi.

Tapi tangan itu sudah lantas kena ditangkap! Segera si wanita melepaskan tangannya yang kanan. Kenapa kau berlaku begini kasar?‖ Tapi ia toh menjawab: ―Ong Totiang itu bernama Ong Cie It.‖ sahut Kwee Ceng pula. benar tidak?!‖ masih wanita itu bertanya. Ia lantas mengenali Tiat Sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi. Apakah namanya Ong totiang itu?‖ Sebelum menjawab. Ia menjemput untuk dilihat teliti. Kwee Ceng rasanya kenal. yaitu Ma Totiang yang pernah ajarkan aku ilmu mengendalikan napas dan bersemadhi. mukanya pucat seperti kertas.‖ menjawab si anak muda. melihat mana. kau mengerti ilmu tenaga dalam yang sejati.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ha. di dalamnya tertampak barang yang berkilauan. ―Kau lihat. kuku orang sudah masuk ke dalam dagingnya… Ketika malam itu di atas gunung terjadi pertempuran di antara Kanglam Cit Koay dengan Hek Hong Siang Sat.‖ ―Habis. ―Guru teecu semuanya ada tujuh orang.‖ Tiba-tiba wanita itu menggetar. ―Kau bilang barusan Ong totiang mendapat luka. Sekarang denagn tiba-tiba Kwee Ceng mengantarkan Irawan D Soedradjat Page 241 . siapakah gurumu itu?!‖ si wanita tanya pula. Dia agaknya mendesak. dari sakunya ia tarik keluar serupa barang.‖ Kwee Ceng mengangguk. Bwee Tiauw Hong sudah buta kedua matanya. ―Merekalah yang disebut Kanglam Cit Koay.‖ menjawab Kwee Ceng. teecu she Kwee. bukan?!‖ dia tanya. lalu mendadak orang jahat itu lenyap dan pisau ini…. tidak nanti aku mendusta. ―Kau dipanggil Yo Kang. Tan Hian Hong telah jambak mati kepada Thi A Seng. sebaliknya ia kena ditikam Kwee Ceng pada anggota tubuh kematiannya. ―Jadinya kau adalah muridnya Coan Cin Pay!‖ katanya. yang heran sekali. salah satu dari Hek Hong Siang Sat. bukan suhu atau susiok?‖ Suhu dan susiok ialah guru dan paman guru. lehernya sudah dicekal si wanita. ia lolos justru ketika itu turun hujan lebat.‖ Wanita itu batuk-batuk beberapa kali. Selagi si anak muda mengawasi pisau itu. ―Bukan. Di gagangnya ia dapatkan dua hruf ukiran. ―Apakah kau datang dari Mongolia?‖ tanya wanita itu lagi. Kapan bungkusan itu telah dibuka. orang dipanggil Giok Yang Cu. bunyinya : ―Yo Kang‖. ―Ong Cie It itu kau punya pernah apa? Kenapa kau memanggil ia totiang. ―Teecu bukan murid Coan Cin Kauw. aku ini siapa?!‖ ia tanya dengan bentakannya. tetapi ia masih bisa bawa lari mayat suaminya itu. seram suaranya. Diwaktu malam seperti itu. sebelah tangannya menyerangi si wanita.‖ Belum habis ia mengucap. tangannya telah dicekal keras. ―Adalah Tan Yan Cu Ma Giok. Itulah sebuah hungkusan. napasnya pun tersengal-sengal.‖ seru wanita itu.‖ Kwee Ceng berkata. ―Kenapa wanita ini ketahui aku datang dari Mongolia?‖ ia pikir. ―Benar. ―Di masa kecil pernah aku pakai pisau ini membunuh seorang jahat. seorang she Kwa. Guru yang nomor satu ialah Hui Thian Pian-hok. Wanita itu perdengarkan suara seperti merintih. segala apa kau boleh tanyakan. entah dari cita atau kertas. ―Benar. yang ia letaki di tanah.‖ sahut Kwee Ceng. si wanita merampasnya. Kwee Ceng berpikir: ―Kau telah tolongi padaku. ia berontak. ―Dialah Kwa Tin Ok!‖ katanya kemudian. Matanya Kwee Ceng telah berkunang-kunang tetapi ia masih bisa melihat si wanita yang rambutnya yang panjang riap-riapan. agaknya susah ia berbicara. ―Benar. Itulah sebuah pisau belati. Ia kaget. ia duduk di tanah. ―Kau kenal pisau belati ini. terus di cekik. Ia kaget tidak kepalang. Itulah pisau yang ia pakai untuk menikam Tong Sie Tan Hian Hong si Mayat Perunggu. ia lantas berontak pula tetapi sia-sia saja.

Ketika kami tiba di pulau. mereka berkelana dan menjagoi dunia kangouw. kitab Kiu Im Cie Keng itu aku cuma dapat curi sebagian saja. Dengan berbisik aku kata kepada suamiku. empo!‘ Dia tertawa manis. untuk mengintai. ‗Baiklah. Kami kabur dengan naik perahu. Pastilah dia anaknya suboku itu. yang terus ia usir. mereka buron dari Thoa Hoa To. Kiranya musuhnya suhu telah datang ke pulau untuk mengadu kepandaian. ―Dulu aku adalah satu nona yang lincah.‖ demikian ia melamun. pelajaran kita jadi kepalang tanggung. kaki siapa dia telah hajar patah. atau kau menjadi janda. bangsat lelaki. hawanya dingin. Banyak orang kosen yang mereka robohkan. Bwee Tiauw Hong masih ingat baik-baik perkataan Tan Hian Hong. barulah suamiku itu padam hatinya. burung hantu pun mengasih dengar suaranya yang seram. Ia ingat sebab takut digusari guru mereka. Aku juga tidak tahu dimana ia menyembunyikannya. Setelah itu. aku justru berbuat baik terhadapmu! Jikalau kau lihat ini. sedang tangannya terus memegang keras si anak muda. kita gagal. Sekejap kemudian. ia ingat. bagaimana Tiauw Hong tidak jadi girang. Oey Yok Su. ‗Eh. Tiauw Hong lantas melamun pula. Bagaimana sekarang?‖ Atas itu. Ia masih terbenam dalam lamunannya. hingga oleh guruku. ‗Bukan cuma kepandaian suhu belum dapat kita pelajari sebagian saja. Suhu muncul di ruang meja abu itu. Suamiku itu berkhawatir kitabnya nanti ada yang curi. si wanita menghela napas panjang. aku ditolongi dan dibawa ke pulau Tho Hoa To. kita mesti jadi tanpa tandingan di kolonng langit ini. Apa yang aku lihat adalah meja abu. seperti mau lompat keluar. perempuan busuk!‖ Ia tidak sudi menjadi janda. kami menemukan berbagai peristiwa yang luar biasa. Aku pergi ke jendela. ia menjawab dengan balik menanya: ―Apa daya?‖ ―Kita kembali ke Tho Hoa TO. Dia bilang pada istrinya: ―Aku mesti pergi.‖ Ketika itu angin bersiur.‖ Tiauw Hong melamun lebih jauh. ―Kami tahu. Aku ingat kepada subo. Kami telah menyaksikan suhu telah dapat membekuk musuhnya. Bagian atasnya adalah mengutamakan pelajaran tenaga dalam. tetapi dia penasaran. Ditepi meja abu aku lihat satu anak perempuan kecil duduk di kursi. dimana aku diajarkan ilmu silat.Pendekar Pemanah Rajawali jiwanya. ‗Ayah. Air laut telah muncrat memasuki perahu kami. dia tidak kasih lihat. mendadak ia rangkul aku…‖ Wajahnya si Mayat Besi menjadi merah dengan tiba-tiba. Bwee Tiauw Hong dapat dengar itu semua. Sudah belasan tahun ia cari pembunuh suaminya denagn siasia. malah Hui Thian Sin-liong Kwa Pek Sia telah mereka binasakan dan Kwa Tin Ok sudah mereka bikin buta matanya. Aku dengar bocah itu berseru. Biar kepandaian merka sepuluh lipat lebh lihay. untuk diajak lari. dia hendak pergi mencurinya juga. di bawah pohon tho. juga kepandaian lawannya itu kita berdua tidak dapat melawannya!‘ Maka itu kami lantas meninggalkan wilayah Tionggoan. Dialah Tan Hian Tong. dia pentang kedua tangannya dengan apa ia tubruk ayahnya. suhu telah sangat gusar dan telah umbar kegusarannya itu. Karena kupingnya jeli. Habis itu. ia menyambuti anak itu. Hian Hong pun jeri. karena buronan kami. Kiranya subo telah menutup mata. ―Eh. Aku menjadi bersedih. yang merupakan pengalamannya. hingga selanjutnya dipulaunya itu guru hidup berdua saja dengan istrinya serta beberapa budak pelayan. suaminya itu: ―Eh. tetapi kau Irawan D Soedradjat Page 242 . kita curi pula yang sebagian itu!‖ Ia tidak berani pergi. Demikian pada suatu malam di musim semi. mungkinkah subo meninggal sehabis melahirkan yang sulit? Karena ini aku pikir untuk tidak melahirkan anak juga! Selagi aku berpikir begitu. kau tentu ingin mempelajarinya. budi siapa aku tidak dapat lupakan. mari kita lekas pergi!‖ Tapinya suamiku menampik. suhu telah dapat dengar suara kami. sampai hati kita coco satu sama lain. Aku pikir. Dengan begitu. Di kejauhan. kami menyingkir jauh sekali sampai di gurun pasir di Mongolia. Bocha itu menolong kami. Bocha ini mirip dengan subo. aku dikasihi oleh ayah dan ibuku. Lantas si bangsat laki-laki menarik tanganku. Pertandingan itu itu membuatnya kami kaget. Sama-sama kita belajar ilmu silat. mereka masih tidak sanggup lawan dua jari tangan saja dari guru mereka. orang perhina aku. Segera ia menjadi girang bercampur sedih. perempuan bangsat. Aku kaget hingga lemas kaki tanganku. hatiku memukul terus. Suhu khawatir dia jatuh. Kwee Ceng pun dengar napas orang memburu. aku tak akan lihat kitabmu!‘ Dia jawab aku. lantas ia ingat penghidupannya yang dulu-dulu. untuk menyakinkan ilmu seperti pengajaran kitab istimewa itu. ―Dalam murkanya suhu telah putuskan ototnya semua muridnya. goncang hati kami. kakak seperguruanku. sekalipun aku. perempuan bangsat. setiap hari aku memain saja. mereka sembunyikan diri di gunung. ―Baru kemudian. seorang pemuda yang matanya besar terbayang dihadapanku. dia mengawasi aku sambil tertawa. tentang peristiwa dulu-dulu itu. Itu waktu Tan Hian Hong telah memberitahukan bahwa ia telah mencuri sebagian kitab ―Kiu Im Cie Keng‖. Maka aku kata kapadanya. bagian bawah. maka kejadianlah mereka berdua berlaku nekad. hingga setelah pandai. Demikian ia berkata terus dalam hatinya: ―Menyaksikan pertempuran dahsyat dari suhu. lantas mereka menikah. Dia kata. lelaki bangsat.s esudah kedua orang tuaku menutup mata. tidak dapat aku bergerak.

‘ Aku lantas gunai pisau belati mengiris kulit dadanya si lelaki bangsat. Aku tidak mati. aku merasa gatal sekali. mana boleh aku mati? Maka itu aku meraba ke dadanya si lelaki bangsat. Dia merasa seperti telah meraba dada suaminya. Sudahlah. Hian Hong khawatir kitabnya dicuri orang. tanpa ada orang yang memanggil dia lelaki bangsat.‖ dia berkata di dalam hatinya lagi. ‗Bagus betul pikiranmu ini. setelah itu ia bakar kitabnya itu. langit mestinya gelap gulita. aku kabur. menyeramkan. kitabnya lenyap bersama. bagaimana tawar! Lantas aku bawa ujung belati ke mulutku. Lantas aku sembunyikan diri di dalam gua. ―Memang. terus ke bawah. hendak aku memberi obat kepada kulit itu. Sebenarnya apakah yang heran? Orang dibunuh. Tubuhnya si lelaki bangsat mulanya masih hangat. ingin aku membawa-bawanya di tubuhku. Aku lantas meraba-raba. ―Suhu yang demikian lihay. yang ia selalu panggil dengan sebutan ‗lelaki bangsat‘. ―Ya. hatiku pun turut menjadi dingin karenanya. Tidak ada bagian anggotanya yang aku bikin kelompatan. hujan besar telah membasahkan seluruh tubuhnya. Dengan kedua tanganku. ‗Lelaki bangsat. aku khawatir Kanglam Cit Koay dapat Irawan D Soedradjat Page 243 . ‗Kau yang begini lihay. Itulah aneh! Hujan turun hebat sekali. selama orangnya masih hidup. Di situ aku kubur si lelaki bangsat.‖ jawab Kwee Ceng. dia cacah tubuhnya sendiri. ‗Mataku! Mataku!‘ Ya. aku pun harus mati bersama si lelaki bangsat. Aku tidak dapat melihat musuh-musuhku itu. aku lantas menggali sebuah liang besar. ―Entah dia bakal gunai cara kejam bagaimana akan siksa aku hingga aku terbinasa…. merupakan huruf-huruf dan peta. mendadak hujan turun seperti di tuangtuang. lalu perlahan-lahan menjadi dingin.‖ Karenanya. Tempo aku meraba pula dadanya. Aku berlalri-lari di dalam hujan. dia membikin aku merasa sakit sampai di tulang-tulangku. sebagaimana dia sendiri dipanggil ‗perempuan bangsat‘ oleh suaminya itu. ―Suamiku berkata. tetapi mereka juga tidak mengejar. Kemudian terjadilah pertempuran di atas gunung itu. di situ aku merasakan kulit dagingnya yang rada luar biasa. Kanglam Cit Koay telah mengepung aku. Dia tidak ingat lagi berapa banyak kesengsaraan yang dideritanya dan berapa banyak jiwa yang telah dibunuhnya. ia tidak dapat melihat sinar bintang lagi. ‗Baiklah! Jangan kau terus mengaco-belo!‘ Tapi ia mengajarkan aku Kiu Im Pek-ku Jiauw dan Cwie-sim-ciang. kitabnya masih kena kita curi. dengan sendirinya cekalan Bwee Taiuw Hong menjadi semakin keras dan giginya pun bercatrukan. Itulah temapt kematianku. di luar kota barat.‘ Itulah kata-katanya yang terakhir. ―Matilah aku kali ini…‖ kata Kwee Ceng di dalam hatinya. kiranya pembunuh si lelaki bangsat itu bernama Yo Kang! Mana dapat aku tidak menuntut balas? Sebelum membinasakan Yo Kang itu. dinginnya luar biasa.‘ Aku jawab. Ah. aku tidak mendapatkannya. dan mereka itu tidak dapat melihat aku. Aku penasaran! Aku lalu mencari di rambut kepalanya. dibawah lidah. Sekonyong-konyong matanya menjadi gelap.‖ ―Seumurku aku tidak pernah melakukan kebaikan!‖ Tiauw Hong membilang. aku lawan serangan racun. ―Di tubuhku ada beberapa rupa obat. Lalu Kanglam Cit Koay perhebat serangannya atas diriku. yaitu cengkeramnan Tulang Putih serta Pukulan Meremukkan Hati. Sia-sia aku mencari.‖ demikian dia ngelamun pula. aku minta kau tolong serahkan itu pada Onng Totiang yang sekarang ini lagi mondok di penginapan Ang Ie. akan cari rahasianya kitab Kiu Im Cie Keng itu. Itulah dua huruf ‗Yo Kang‘. ngelamun.‖ Bwee Tiauw Hong lantas mengasih dengar suara tertawa kering dari tenggorokannya. supaya tidak menjadi nawoh dan rusak. Kwee Ceng sampai bergidik. Ini artinya. Penyerang itu sempurna ilmu dalamnya. Bwee Tiauw Hong merasa ia telah berada pula di gurun pasir. sekarang dengan kepandaian itu aku menggalikan kau liang kubur.‖ Mengingat itu semua. ‗Aku ingin kau selalu mendampingi aku…‘ Ketika itu aku tidak bersedih lagi sebaliknya aku tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba aku kena raba huruf-huruf ukiran di gagang pisau belati itu. ia lantas berkata: ―Eh. akan tetapi tubuh itu ia rasakan panas sekali. sekarang aku tidak menghendaki hidup pula! Aku hendak minta suatu apa padamu. ia masih ingat jelas sekali. tubuhmu bisa rusak. kau mati tidak karuan?‘ aku cabut pisau belati dari pusarnya. tetapi mataku buta! Suamiku pun binasa! Itulah pembalasan! Pernah kami membinasakan kakaknya dan mata adiknya dibikin buta.‖ ―Kau hendak minta sesuatu dari aku?‖ Bwee Tiauw Hong tanya. darahnya pasti mengalir keluar. Aku pondong tubuhnya si lelaki bangsat. kitabnya pun ada. Ah. Hebat suara itu. ‗Kau ajarkan aku cengkaraman Kiu Im Pek-ku Jiauw. Nyata dada itu dicacah dengan jarum. Aku sendiri.Pendekar Pemanah Rajawali tidak mengerti ilmu dalam. ia tertawa dingin. setelah orangnya mati. ―‘Aku tidak bakal ketolongan lagi…rahasianya Kiu Im Cie Keng ada di dadaku…. apakah benar-benar kau telah mati?‘ Aku bertanya. entah berapa banyak orang telah aku bunuh…. darah lantas muncrat keluar. Aku empos semangatku. harap kau suka meluluskannya. Seluruh tubuhku bergemetar. Maka siapa berani tanggung yang kitab kami pun tak ada yang bakal mencurinya? Maka ia kata pada waktu itu. Hanya. oh. tetapi pertempuran dahsyat di atas gunung itu. aku merasakan sangat sakit pada mataku. Itu dia rahasianya Kiu Im Cie Keng. bebokongku telah kena tertinju.

untuk menangkis. bahwa ongya hendak pergi lagi ke Mongolia. dia suka menolong. dia memaksa minta aku memberi pelajaran padanya.Pendekar Pemanah Rajawali mencari aku. tidak kecuali kepada ongya dan onghui. Dia sangat menyayangi pangeran kecil itu. pangeran itu adalah Pangeran Chao Wang. yang lihay tenaga dalamnya adalah Tan Yang Cu Ma Giok. Semua orang menganggap akulah seorang wanita tua yang buta yang harus dikasihani. hingga tubuhnya menggetar. Tangannya itu telah tergetar. setiap hati manusia! Aku akan belajar. Panas hatinya Tiauw Hong. akan aku cambuk toblos batok kepalanya!‖ ―Lewat beberapa bulan. Ia tidak ketahui yang pelajaranku telah tersesat. Pertempuran Dahsyat Wanita ini tertawa. Aku mengancam. rupanya dari si lelaki bangsat yang memimpin bocah itu datang padaku. pangeran cilik itu memberitahukan kepada aku. aku minta barang makanan. Aku melarang si pangeran cilik datang padaku. Belakangan aku mendapat tahu. Perjalananku ke Mongolia itu tidak sia-sia belaka. supaya kemudian aku bunuh si bocah untuk menuntu balas untuknya!‖ Saking senang dan gembiranya. Lantas aku hendak mencari Kanglam Cit Koay. Hm. Irawan D Soedradjat Page Begitu kedua tangannya beradu. Ia telah mendapatkan pelajaran dari Ma Giok. sedang tangan kanannya mengerahkan tenaganya. Coba kalau bocah ini tidak menerobos masuk ke dalam terowongan. tidak dapat ia berkelit lagi. aku berdiam di dalam terowongan dalam tanah. Di saat mati atau hidup itu. asal rahasia bocor. disana tidak dapat aku mencari tulang-tulangnya si lelaki bangsat. di mana aku menyakinkan kepandaianku. aku dengar suara pasukan tentara lewat di depan guaku. walaupun ia tidak berbicara keras. ia berontak dengan berhasil. ia telah dapat belajar dengan baik. Beberapa tahun telah lewat tanpa ada yang mengetahui perbuatanku itu. Mereka itu bicara dengan bahasa Nuchen dari negara Kim. Ia menjadi heran sekali. putra nomor enam dari raja Kim. Ia berpikir: ―Aku berlatih tanpa 244 Kwee Ceng kalah pandai. Lantas aku minta supaya aku diajak. Pangeran yang memimpin pasukan itu mengasihani aku. Kwee Ceng selalu berkelit dengan berhasil. Tidak dapat ilmu dalam itu dipeljarakan tanpa petunjuk. Aku hendak mengajari dia segala macam kepandaian asal dia suka bersumpah tidak membuka rahasia kepada siapa juga. Dia lantas menjambak pula. Sungguh aku sangat beruntung. pastilah aku akan mati kelaparan di dalam situ. Tapi dia pun nekat. pukulan Cwi-sim-ciang. supaya ia menolongi aku. maka tunggulah aku selesai dengan pelajaranku. untuk mencari telur burung. sampai tiga kali. tangan kanannya pun masih dicekal si wanita. malah ia terus ajak aku ke istananya si Tiongtouw. Pengejarannya Nio Cu Ong dan pertempurannya sama Wanyen Kang membuatnya tenaga obat menguatkan tubuhnya. Ongya menerima baik permintaan itu. Aku bekerja di taman belakang. Asal ia membuka mulutnya. di sana aku dapatkan tujuh saudara imam dari Coan Cin Kauw. agar aku bisa bersembahyang di kuburan suamiku. Tiauw Hong tertawa berkakakan tak hentinya. Peduli apa! Berselang dua hari. Aku dapat mendesak kepada Ma Giok. Ah! Pangeran cilik yang nakal itu telah datang ke taman belakang. Bwee Tiauw Hong terperanjat. untuk dipaksa melepaskan cekikannya. Ternyatalah ia berotak terang sekali! Aku jadi gembira. Maka juga. maka ia angkat tangannya yang kanan. ia pegang tangan si wanita. Hm! itu waktu akan aku jambret setiap batok kepala. separuh tubuhku ini tidak dapat digeraki. ―Tidak jelek kepandaiannya bocah ini!‖ pikirnya. Oh. Kwee ceng merasakan tenggorokannya tercekik keras sekali. hingga ia secara sembarangan mengajari aku sepatah kata rahasianya ilmu dalam. . ia dapat tenaga akibat darah ular yang ia sedot. Dia tertawa haha tercampur hmhm. aku lantas keluar dari tempat sembunyiku. yang segala keinginannya senantiasa dipenuhi. Ia lantas menggerembengi aku. tertawa dingin! Bab 22. Sekali saja. tangannya menyambar ke batok kepala. aku mempelajarinya dengan memaksa. dia telah mempergoki aku lagi menyakinkan cambuk perak. Bwee Tiauw Hong sudah lantas menarik pulang tangannya. juga seluruh tubuhnya menjadi panas. tenaga dalamnya telah cukup kuat. Mataku tidak bisa melihat. bekerja menyapui rumput. suaranya dapat terdengar sampai di tempat jauh. sedang juga. ia sudah menyakinkannya beberapa tahun. Kesudahannya. dia berseru panjang. maka aku terus mengajari dia. tidak peduli aku bisa terluka di dalam atau tidak. Terpaksa aku ajarkan dia tiga jurus. di situ secara diam-diam aku menyakinkan ilmu kepandaianku. cara bagaimana aku bisa melawan mereka? Di antara mereka. selagi perutku lapar. Sekarang ini aku bukannya tandingan mereka.‖ ―Kemudian pada suatu tengah malam…. Sepulangnya ke istana. Itu dia pukulannya yang berbahaya.

tidak nanti aku membikin harimau tumbuh sayap!‖ Maka ia lantas tutup rapat kedua matanya.‖ katanya. Ia berpikir. aku nanti siksa padamu!‖ Kwee Ceng tidak menjawab. tidak ada harapan algi untuk kau hidup lebih lama!‖ ia kata dengan bengis.‖ katanya lemah lembut. ―Budak hina. sekarang aku mesti menyerah kepada segala kehendakmu!‖ Irawan D Soedradjat Page Baru dua kali Oey Yong dipanggil. Lekas ia bilang: ―Baik! Tapi kau mesti bersumpah dulu – sumpah yang berat. terserah padaku!‖ Tiauw Hong kewalahan.‖ Dia lantas berpikir pula. Bocah ini sebaliknya sempurna ilmu dalamnya. jangan ngoceh terus! Lekas kau jelaskan ilmu itu!‖ Dia pun kembali memencet. Tetapi ia sudah nekat. ―Aku ada punya satu sahabat.‖ katanya dalam hatinya. sejarak belasan tembok. Setelah itu. biarlah tubuhku tidak dapat bergerak seluruhnya. jika tidak. tiba-tiba dia telah muncul dari gerombolan pohon kembang mawar di samping mereka. kau boleh siksa aku. ―Orang she Kwee…. Kwee Ceng dapat menerka isi hati orang. Ah. aku tidak sangka Bwee Tiauw Hong satu jago yang telah malang melintang di kolong langit ini.. Kenapa aku tidak mau memaksa dia untuk mengajari aku?‖ Maka kembali ia mencekik leher si bocah itu. dengan sumpahnya. ―Kau mau menolongi atau tidak. apabila aku si orang she Bwee tidak mengantarkan obat kepada Ong Cie It.‖ sahut si anak muda: ―Sahabatku itu lagi dikejar-kejar lawannya. Dia lantas menyahuti: ―Sudah lama aku ada di sini…. Ia membandel. ada orang membentak dengan dampratannya. ―Bocah cilik yang bau. ―Aku berjanji akan mengantarkan obatmu kepada Ong Cie It. ia kata kepada Bwee Tiauw Hong. ―Kau telah membunuh suamiku. aku menerima baik permintaanmu. Kau mesti turun tangan untuk menolongi sahabatku itu!‖ ―Hm!‖ Tiauw Hong kasih dengar ejekannya. ―Baiklah bocah. Kwee Ceng berpikir. Bwee Tiauw Hong mengerahkan tenaga di tangan kirinya. akan kau membikin kau mati dengan puas! Jikalau kau membela. terserah padamu!‖ katanya keras. ―Aku suka bicara atau tidak. nanti aku ajarkan kau ilmu yang Ma Totiang ajarkan aku. Mendengar ini. kau ingin aku mengajarkan kau ilmu tenaga dalam! Tidak nanti! Biar aku mati. ―Bagaimana Tan Yang Cu mengajarkan kau ilmu bersemadhi?!‖ Tiauw Hong tanya. ialah dari Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay.‖ . Kwee Ceng menahan sakit. ―Inilah urusan penting. biarlah aku tersiksa untuk selama-lamanya!‖ Wanita ini baru memberikan sumpahnya itu lalu tiba-tiba di sebelah kiri mereka. hal itu membuat Kwee Ceng merasai lengannya sakit sekali. aku akan tutup mulutku!‖ ―Masih ada apalagi?!‖ tanya Tiauw Hong yang murka sekali. dia tidak bakal lolos!‖ Sembari berbicara. satu nona kecil. ―Kiranya Yong-jie masih ada disini. aku tersesat. hatinya cemas dan mendongkol. ―Kau masih harus melakukan baik satu hal lagi. ―Dan dia telah dipergoki mereka itu….Pendekar Pemanah Rajawali guru. dia hanya berkoak-koak: ―Yong-jie. ―Sesudah si bocah she Kwee yang baru mengajari aku ilmu dalam dari Coan Cin Kauw.‖ pikirnya. ―Budak cilik ini mesti ada di dekat-dekat sini! Jangan khawatir. ia tidak pedulikan ancamanan orang.‖ Tiauw Hong lantas saja menjadi kegirangan.‖ bilangnya. mereka itu jalan pergi. ―Cara bagaiman aku bisa mengetahui di mana adanya sahabatmu itu? Sudah. untuk menolongi jiwanya. ke mari! Yong-jie! Yong-jie…. ―Tetapi jikalau kau meu dengar perkataanku.!‖ 245 Kwee Ceng tidak menyahuti. lekas kau munculkan dirimu untuk terima binasa!‖ Kwee Ceng kenali itu suara bentakan. Lantas ia dengar pula suara seorang lain. Kwee Ceng terkejut. malah ia kata: ―Kau memikir untuk mendapatkan kepandaianku? Hm! Baiklah siang-siang kau matikan keinginanmu itu!‖ Tiauw Hong kendorkan pencetannya.

Tentang kata-katanya tadi. ia menjadi sangat nakal. Ia cerdas sekali tetepi dalam pelajaran ilmu silat.!‖ tanyanya membentak. Sekarang Tiauw Hong dengar nama orang menyebutnya. malah keduanya tertarik satu pada yang lain hingga mereka lantas saja menjadi bersahabat erat. Dia menjadi terharu dan tertarik hatinya kepada si pria. ia angkat tangannya untuk menangkis seraya ia berkata: ―Sumoay. ia menaya: ―Kau sudah mencuri kitab Kiu Im Cie Keng. Dia adalah anak tunggal dan tersayang. Oey Yong berlompat tinggi setombak lebih. ia menjadi tidak senang. nama itu tidak dikenal kaum kongouw. Ia menjadi kaget. sampai ia tiba di gua. Tiba-tiba pula Tiauw Hong ingat: ―Selama ini suhu tidak pernah meninggalkan Tho Hoa To. maka itu ia jadi tahu nama benar dari Tiauw Hong. ―Masih ingkatkah kau kepada puncak Cek Cui Hong. ―Kau bagaimana?!‖ balas tanya Oey Yong. Laut Timur. maka itu ia pergi buron dengan menaiki sebuah getek kayu. seumpama kata semangatnya terbang pergi. maka cara bagaimana dia bisa datang kemari? Bukankah aku tengah di perdayakan?‖ Menyaksikan keragu-raguan orang. gua dan paseban itu adalah tempat. Tanpa merasa. yang begitu perhatikan dan menyayangi kepadanya. Ia bicara sama musuh itu. gua Twie In Tong dan paseban Sie Kiam Teng dari pulau Tho-hoa-to di Tang Hay?‖ Tiauw Hong berdiam.Pendekar Pemanah Rajawali Memang nona itu sudah sekian lama bersembunyi di situ. ―Kau nyatanya belum melupai ayahku! Tapi juga ayahku belum melupakannya kau! Dia telah datang sendiri menjenguk padamu!‖ Tiauw Hong ingin berbangkit bangun akan tetapi kakinya tidak mau menurut perintah. Pada suatu hati Oey Yong pesiar kelilingan di pulaunya itu. Oey Yong pernah dengar ayahnya omong tentang Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong. ―Lekas lepaskan dia!‖ Oey Yong berkata pula. selagi lompat.Aku she Oey…. maka itu dia pun telah denar pembicaraan di antara Tiauw Hong dan Kwee Ceng. Ia menyamar sebagai satu pemuda melarat. Ia merasa kasihan. kedua murid ayahnya itu. suaranya bergemetar. Nama itu pun sudah beberapa puluh tahun tidak pernah terdengar lagi. ia merasakan seperti tubuhnya melayang-layang. Itulah jurus ―Burung garuda terbang ke langit‖ dari Cwie-sim-ciang. dimana ia biasa pesiar semasa dia masih belajar silat. ia memberikan sedikit arak. marilah kita bicara baik-baik! Mana suhu?‖ Oey Yong tidak segera menjawab. di waktu tubuhnya turun ke bawah. Oey Yok Su menghibur diri dengan merawat dan memanjakan putrinya ini dengan dibantu sejumlah pelayan. sampai di Kalgan ia – diluar dugaannya – bertemu sama Kwee Ceng. ―Kau pernah apa dengan Oey Suhu. Heran ia akan mendengar disebutnya semua itu. dimana ayahnya telah mengurung musuhnya. ia pergi ke mana ia suka. Belakangan Oey Yok Su ketahui perbuatan anaknya itu. walaupun Oey Yok Su ada satu jago yang lihay. dalam suara seruling dan tambur ada si bintang tetamu…. ―Kau…kau…. air matanya turun meleleh di kedua belah pipinya yang halus. hanya ia lantas kata pada Bwee Tiauw Hong: ―Bwee Jiak Hoa. Tocu pemilik pulau dari pulau Thoa Hoa To di Tang Hay. Maka itu.‖ Tiauw Hong menjawab terlebih kaget lagi. Semua puncak. ia tidak dipaksa ayahnya itu yang ingat ia masih berusia terlalu muda. Dalam kedukaannya. Ia menjadi bingung sekali. ia gusar. ia tegur anaknya itu. ia menyerang ke arah Tiauw Hong. nama sebelum ia berguru. kau mengertikan jurus ini?‖ Tiauw Hong merasakan serangan itu dari anginnya saja. ia kurang bersungguh-sungguh. Belum pernah Oey Yong ditegur. begitu pun Bwee Tiauw Hong. ia lantas ulur tangannya akan sambar Kwee Ceng guna ditarik. Karena ia sangat disayang. Memang Oey Yong ini adalah putrinya Oey Yok Su. Tapi ia tidak menangis terus. ―Bagus!‖ seru si nona. yang namanya Yok di atas dan Su di bawah?‖ ia tanya kemudian. Ibunya telah meninggal dunia karena kesulitan bersalin setelah ia dilahirkan. Sembari menyerang. Bwee Jiak Hoa itu adalah nama benar dari Tiauw Hong. yaitu: ― Di dalam tumpukan cita Irawan D Soedradjat Page 246 . Oey Yong menjawab. lekas kau merdekakan dia!‖ Kwee Ceng heran. anaknya baru mendapat permulaan saja dari kepandaiannya itu. katanya: ―Di dalam tumpukan cita menyembunyikan pedang mustika. ia terperanjat. ia putar tubuhnya dua kali sebelum tubuhnya turun. ―Kau siapa?!‖ ia tanya.

ujung bajunya robek sepotong sedang kipasnya patah menjadi dua potong. itulah nyanyiannya Oey Yok Suk yangs ering dinyanyikan. Irawan D Soedradjat Page 247 . Ia buta tetapi ia seperti membayangkan guru itu dengan bajunya warna kuning muda.‖ Tiauw Hong suka memberikan bantuannya. ia lihat tangan si nyonya menjambak secara hebat. Itulah Hauw Thong Hay yang telah datang ke situ dan lantas menyerang. Bwee Tiauw Hong membuat perlawanan dengan Kiu Im Pek-kut Jiauw. dengan menerbitkan suara memberebet. Ia tarik tangan Kwee Ceng. entah dengan cara apa dia bakal menghukum aku…‖ Mukanya menjadi pucat kapan ia ingat kebengisannya Oey Yok Su. Oey Yong tertawa di dalam hatinya. Oey Yog tarik tangannya Kwee Ceng. Kata-katanya ini sumoy. disusul sama serangan dua tangan. tidak banyak omong lagi. aku tidak kena kau jual!‖ orang itu berkata sambil tertawa. Nona ini telah pikir. begitu lekas Tiauw Hong dan si kongcu bertempur. yang ia tahu ilmu silatnya lihay. dan orang pun hendak membekuk padanya.‖ ―Jasa baik apakah itu?‖ Bwee Tiauw Hong tanya. otak mereka telah dilobangi lima jari tangan. Yang membikin ia terkejut sekali adalah keempat muridnya telah roboh terguling. Ia mengerti yang ia sukar lolos. Mendadak tubuhnya menjadi lemas. buat menyingkir dari istana itu. untuk memeriksa. mereka dengar satu suara seruan yang disusul tertawa panjang. maka setiap muridnya kenal itu baik sekali. Tiauw Hong masih berpikir: ―Suhu telah datang.‖ Oey Yong terangkan. Ia kaget bukan main. nyonya itu berserba hitam dan romannya tidak luar biasa. ia ulur tangannya akan sambar Oey Yong.Pendekar Pemanah Rajawali menyembunyikan pedang mustika. nyata mereka sudah putus jiwanya semua. ―Akan aku berpura-pura tidak sanggup melawan. Begitu dia tiba di depan mereka bertiga. Auwyang Kongcu melihat Tiauw Hong sedang duduk numprah. terus ia menunjuk ke luar jendela. ia terus mendekam ke tanah seraya berkata: ―Teecu ketahui dosaku yang mesti dibunuh berlaksa kali. ia masih kurang sebat. kapan ia lihat kau membantui aku. kedua tangannya bergerak panjang dan pendek. Kwee Ceng baru memandang ke tembok tatkala di belakang mereka. tubuhnya pun dibawa berlompat berkelit. Kongcu ini menjadi murka sekali. Itu artinya ia mengajak sahabat itu lari bersama. Oey Yong lantas kenali Auwyang Kongcu. supaya ayah suka mengampunkannya. musuh bagaimana tangguh juga tidak dapat buat ia jeri. Itulah cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw. sebab dia tahu si nona memakai lapis berduri. hingga Auwyang Kongcu tidak berani merapatkan diri. Mendadak saja ia merasakan angin menyambar ke arah dadanya. apabila ia mendekati mereka. hatinya tentu girang. kaulah yang mesti hajar dia. ia mau ajak sahabatnya itu menyingkirkan diri. hanya sekarang kau mesti mendirikan dulu beberapa jasa baik. Walaupun begitu. sebentar nanti aku mohonkan ampun kepadanya. adik seperguruan. seperti habis sudah ilmu silatnya. ialah ―Sin To Soat San Ciong‖. ia lompat maju. lagi berdiri di hadapannya. Sebentar ayah datang. segera ia dapat akal. dengan pundaknya menggendol sebuah pacul kecil peranti menggali obat-obatan. untuk menggertak kepada Tiauw Hong. untuk menyerang Bwee Tiauw Hong. sambungan tulang-tulangnya mengasih dengar suara meretek. untuk memernahkan diri di belakangnya Bwee Tiauw Hong. ia baru menarik tangan Kwee Ceng atau tiba-tiba ia dengar bentakan di belakangnya. Benar-benar Tiauw Hong jeri dan melepaskan Kwee Ceng. ―Anak yang baik. Ia sengaja menyebutkan itu. Belum pernah ia mendapat serangan sehebat ini. yang kepandaiannya tidak dapat ia tandingi. lantas ia menghadapi Bwee Tiauw Hong dan berkata: ―Bwee Suci. Ia keluarkan kepandaiannya yang istimewa. ayah paling dengar perkataanku. ke arah muka. lalu di sana muncul seorang yang tangannya menggoyang-goyang kipas. hingga semangatnya bangun dengan mendadak. tetapi ia cerdik sekali. Lekas-lekas ia mengetok denagn kipasnya ke lengan si nyonya. si Mayat Besi biasanya galak dan telengas. atau ―Unta Sakti Gunung Salju‖. ―Ada orang busuk lagi menghina aku. Sementara itu Auwyang Kongcu lagi mendatangi bersama keempat murid wanitanya. Oey Yong hendak menggunai ketikanya untuk menyingkir. membuat ia mendapat harapan. tetapi teecu mohon sukalah guru mengampunkan teecu dari hukuman mati mengingat mata teecu telah buta dan separuh tubuhku cacat…‖ Kwee Ceng heran menyaksikan orang demikian ketakutan dan pasrah sedang begitu jauh yang ia ketahui. dalam suara seruling dan tambur ada si bintang tetamu‖. tubuhnya menggigil sendirinya.

bersiap untuk membantui. hingga ia mesti melompat menyingkir. Chao Wang bersama putranya repotnya mencari orang yang menculik onghui. untuk berkelit. ia kata kepada Kwee Ceng: ―Kau pondong aku. di dalam dan di laur istana. untuk memburu. sedang di lain pihak lima jari tangan kanan si nyonya itu menyambar ke abtok kepalanya. Dengan tangan kirinya Tiauw Hong tangkis serangan Auwyang Kongcu. Hati mereka tapinya gentar menyaksikan kehilayan si nyonya. untuk maju memburu. keduanya menjadi kaget. kau kejar si orang she Nioitu!‖ Baru sekarang Kwee Ceng mengerti maksud orang. tangan mereka sama-sama kesemutan. SeeThong Thian menyaksikan itu. guna mundur sembari menangkis atau berkelit.Pendekar Pemanah Rajawali Segera setelah itu. ia menjadi kaget. Nio Cu Ong lihat bagaimana Auwyang Kongcu terdesak. untuk diangkat. Tiba-tiba ia tarik sebelah tangannya dan menyambar bebokongnya Kwee Ceng seraya ia berseru: ―Kau podong kedua kakiku!‖ Kwee Ceng kaget. See Thong Thian dan Pheng Lian Houw menanti di pinggiran. lantas ia putar tubuhnya. tak dapat ia bergerak lagi. lalu dia bergerak kesana ke mari menuruti setiap petunjuk nyonya itu. ia menjadi gemas sekali sambil berseru. dengan tangan kanannya ia jambak Nio Cu Ong. 248 Berbareng dengan itu. Dia ini mengkeratkan diri. tanpa berdaya lagi. Oey Yong main berkelit terhadap pelbagai serangan Hauw Thong Hay. lima hati di hadapkan ke langit. Tidak lama. Irawan D Soedradjat Page Tiauw Hong dapat tahu datangnya serangan gelap.‖ Girang Tiauw Hong hingga ia menjadi bersemangat. Maka tidak tempo lagi. Ia pun lantas ingat bagaimana di dalam gua ia telah dipermainkan nyonya itu. enteng tubuhnya. ―Bagaimana sih caranya menyakinkan ilmu dalam?‖ dia tanya Kwee Ceng selagi ia melayani musuh. Itulah serangan kim-chie-piauw. Kwee Ceng lompat. dan tubuh Tiauw Hong tidak berat. hingga ketika ia menjambret Nio Cu Ong. Dia tidak dapat melupakan ilmu itu. Pikirnya: ―Dia tidak dapat menggunai kedua kakinya. ia maju akan membantui si pemuda mengepung. dari arah kiri terdengar suara angin menyambar. akan tetapi ia insyaf bahwa mereka bekerjasama menangkis musuh. Maka setelah itu Tiauw Hong manjadi menang diatas angin. ―Apa itu ynag dinamakan lima hati?‖ Tiauw Hong menanya pula. ynag kiri ke arah bebokongnya Hauw Thong Hay. ―Aduh!‖ karena tepat ia terkena piauw itu. sampai bajunya robek dan terlihat baju dalamnya. maka kagetlah ia tempo bebokongnya kena dijambak. ke situ pun datang See Thong Thian bersama Nio Cu Ong dan Pheng Lian Houw. maka Thong Hay lantas saja berkoak. hingga tubuhnya segera diangkat. ia turut perkataan orang itu. Ia berlompat. dia hanya memanggulnya. ia membuatnya orang she hauw itu kewalahan. segera ia membungkuk memegang kedua pahanya Tiauw Hong. ia menjadi lemas sekujur tubuhnya.‖ Kwee ceng menjawab. pundaknya orang she Nio itu berlumuran darah. telapakan kedua kaki dan embun-embunan. dia dapat mengcengkram pundaknya. Di luar dugaannya tangan si nyonya. tatkala ia melihat Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian maju membantu suteenya untuk menggerubungi Oey Yong. kagetnya bukan main. Ia bertenaga besar. mereka berlari-lari bersama barisan pengiring mereka. untuk menghalau lengan nyonya itu. . ―Hajar dulu ini dua orang!‖ ia kata pada Tiauw Hong. ia menangkis dengan melemparkan tubuhnya Hauw Thong Hay ke arah datangnya piauw itu. semabri berbuat demikian. ia tidak mengerti maksud orang. ―Dudk numprah. dia membutuhkan bantuanku!‖ Ia terus bekerja. Bwee Tiauw Hong merasakan repot melayani dua lawan yang tangguh. Karenanya kedua tangan beradu satu sama lain. atau senjata rahasia yang berupa uang dari Pheng Lian Houw. Nyonya itu sudah lantas kasih bekerja kedua tangannya. ―Dengan itu dimaksudkan telapakan dua tangan. Ia bukan lagi pondong si nyonya. ia jadi dapat berbegrak dengan leluasa.

Ia bertubuh kuat akan tetapi toh hajaran itu membikin ia merasakan sangat sakit. budak cilik! Kau bilang kau bukannya murid Hek Hong. Untuk membebaskan dirinya. supaya Kwee Ceng dilepaskan.Pendekar Pemanah Rajawali See Thong Thian kaget. dari itu. api. pundak kirinya dan iga kanannya telah terkena hajar oleh Auwyang Kongcu dan See Thong Thian. oleh piauwnya Pheng Lian Houw. Terpaksa ia melompat maju. sekalian dia hendak membangkol tangannya si nona itu. salah satu dari Hek Hong Siang sat. Nona ini segera menyerang punggungnya orang she Nio itu. Ia mengharap Tiauw Hong bisa melibat musuh-musuhnya. Tiauw Hong melemparkan tubuh orang dan See Thong Thian menolongi sutee itu. sebenarnya ia berkhawatir. ―Apakah itu yang dinamakan mengumpulkan ngo-heng?‖ Tiauw Hong menanya lagi. menyusul mana. emas dari See-pek. dan hidung tidak mencium bau tetapi rohnya ada di peparu. ia berlompat menerjang. apabila ia dapat kenyataan Oey Yong membnatui si Mayat Hidup. Sungguh tak ingin ia bertemu sama gurunya. nyata kau mendusta!‖ Irawan D Soedradjat Page 249 . ―Apakah itu yang disebut mengakurkan su-ciang?‖ ―Itu artinya menyimpan mata.‖ Ngo-heng ialah kayu. dan tanah dari Tiong Ie. Oey Yong pun menjadi cemas. maka bagaikan sitebas. lantas jari-jari tangannya dipakai menyentil. meluruskan napas dan menutup lidah. tidak pernah ia mengerti itu. atas mana Cu Ong menangkis dengan tangan kanannya. ―Itulah kayu dari Tong-hun. Tetapi Tiauw Hong tengah sulit sekali. dia menegur : ―Eh. mengebalkan kuping. api dari Lam Sin. begitu pun Oey Yong. ―Dia bakal segera datang!‖ Oey Yong menyahuti. kuping tidak mendengar tetapi pendengarannya ada di geginjal. Nio Cu Ong berseru. celakalah sutee itu. Cu Ong menolong dirinya. Sudah belasan tahun ia menyakinkan Kiu Im Cie Keng. air dari Pak Ceng. air dan tanah. pemuda ini mesti membantui orang. yang menyambar rambutnya itu. Itulah nio Cu Ong. mereka tidak nanti dapat mengganggu selembar rambutmu!‖ Ia ingin membangkitkan kejumawaannya si Mayat Besi. Tiauw Hong segera diserang dari tiga penjuru.‖ ―Tidak salah! Itu yang dinamakan ngo-kie-tiauw-goan – lima hawa dipusatkan kepada asalnya?‖ ―Itulah. menyerang kepada Auwyang Kongcu. ―Mereka ini bukannya tandinganmu! Umpama kata kau duduk di tanah. Ia kaget. ia mementang kedua tangannya untuk menangkis. siapa tahu. Sementara itu Pheng Lian Houw lantas mengetahui wanita itu adalah Bwee Tiauw Hong. Maka ia menanya. Kalau ia terbanting. Segera juga Tiauw Hong terdesak dibawah angin. semua itu terjadi dalam sejenak. Ia heran atas tidak datangnya bala bantuan. Pheng Lian Houw dan See Thong Thian. maka akhirnya ia teriaki Oey Yong: ―Eh. ynag terus ia lemparkan. lidah tidak berbunyi tetapi pemikirannya ada di hati. hingga ia jatuh dengan wajar. rambutnya itu kutung putus. ia repot melayani musuh-musuhnya. Tiauw Hong menyambar ke rambutnya. Tiauw Hong merasakan ada serangan di kiri dan kanannya. supaya ia bisa ajak Kwee Ceng kabur.‖ Girang Tiauw Hong mendapatkan keterangan ini. tetapi ia merasakan rambutnya ada yang tarik. yang ia tahu telengas. maka itu. sedang tangan kirinya tidak melepaskan rambutnya si Mayat Besi. belum lagi Kwee Ceng menjawab ia. Dengan mencelat ke samping. Maka kali ini Thong Hay bisa kerahkan tenaganya. oleh Auwyang Kongcu dan See Thong Thian. emas. ia serang Nio Cu Ong. yang turut maju pula. untuk menanggapi dengan menyambar pinggang si adik seperguruan itu. Bwee Tiauw Hong memasang kupingnya. juga kepada Nio Cu Ong. semua piauw itu mental kembali. akan menyentil balik setiap piauw. menyusuli itu. mata tidak melihat tetapi semangatnya ada di jantung. darimana kau memancing begini banyak musuh lihay? Mana suhu?‖ Ia menanya demikian. apapula ia dapatkan tubuh sutee itu bakal jatuh ke tanah. Dengan begini ia telah memecah perhatiannya.

dengan senjatanya itu. Mereka gusar. Oey Yong berkhawatir dan penasaran. muka mereka tidak terlihat nyata. terpaksa ia lepaskan si nona mangsanya itu dan lari kabur. untuk menyambut kakinya orang she See itu. Tiauw Hong kaget. Kenapa si nona menyangkal? Kenapa agaknya si nona tidak menghormati Tiauw Hong itu? Justru itu terdengarlah suaranya See Thong Thian: ―Memanah orang lebih dulu memanah kudanya!‖ Kata-kata itu ditujukan kepada Kwee Ceng. Pheng Lian Houw semua tahu. cuma sekarang ia menghadapi Auwyang Kongcu berempat…semua bukan sembarang orang. ynag tubuhnya kate. Dilain pihak. Enam orang. lalu terlihat berkelebatnya satu sinar putih terang. di dalam kalangan enam tombak. sungguh sulit!‖ Ia memikir demikian karena ia tidak tahu Tan Hian Hong sudah terbinasa. Ia lantas dapat akal. Auwyang Kongcu membuat perlawanan. Nyata ia telah kasih keluar cambuknya. dua diantaranya sudah lantas lompat turun. ia pun bisa susah. tetapi Liok Koay telah berlatih bersungguh-sungguh di gurun pasir. Oey Yong segera berpaling. Pheng Lian Houw berpikir: ―Ini perempuan buta mesti lebih dulu dibinasakan. tidak mengambil mumat atas teriakan itu. untuk menyerbu dengan bergulingan. Irawan D Soedradjat Page 250 . dia mesti terbinasa. yang bisa membebaskan diri. siapa kena dicambuk. mereka terus mengurung. Justru itu. Orang yang mencekal joan-pian itu. Merek ini masing-masing bersenjatakan joan-pian dan pikulan besi. Tapi malam ada gelap. guna menjambret si orang she Pheng itu. sambil berseru. mereka membikin ia kewalahan. ada datang orang dari pihak ketiga. Diwaktu malam. dia masih belum mampu menjadi guruku!‖ Lian Houw heran. kemana kau hendak lari?!‖ Kwee Ceng dengar suara orang. hendak ia berteriak pula. Adalah Kwee Ceng. atau tiba-tiba ia dengar lain orang mendahulukan padanya: ―Semua berhenti. Oey Yong tidak dapat membantu Tiauw Hong lagi. Maka itu. mereka berkelahi terus. Tiauw Hong mengasih dengar suara ―Hm!‖ Mendadak saja tangan kanannya terayun. ia menjadi girang sekali. dengan tubuhnya si nyonya turun rendah. ia menjerit.Pendekar Pemanah Rajawali Oey Yong tidak mau mengalah. membarengi mendamprat: ―Bangsat tukang petik bunga. maka ia berteriak: ―Semua berhenti! Aku hendak bicara!‖ Pheng Lian Houw. Dua muridnya terhajar binasa masing-masing oleh Lam Hie Jin dan Coan Kim Hoat. telah memperoleh banyak kemajuan. Ia cuma bisa membikin mereka itu merenggangkan diri. yang tubuhnya tinggi kate tdak rata. muridnya mereka itu. aku hendak ada bicara!‖ Suara itu datangnya dari arah tembok. mereka lantas menyerang. mengejak. Sebenarnya cambuk Tong-liong Gin-pian dari Bwee Tiauw Hong lihay sekali. dalam takutnya. hingga empat lawannya mesti menjauhkan diri. Sejak di Utara mereka terpisah dari Kwee Ceng. mereka lantas serang Auwyang Kongcu. Ia tahu Kwee Ceng masih lemah. karena cambuk orang merintangi majunya. yang ia lantas rabu kakinya. Begitulah tubuhnya kena dihajar tongkatnya Kwa Tin Ok dan kakinya tertendang Cu Cong. dia menjatuhkan diri. ―Suhu lekas tolongi teecu!‖ ia berteriak. ia melihat ancaman bahaya untuk si Mayat Besi – artinya untuk ia sendiri berdua sama Kwee Ceng. jikalau suaminya si Mayat Perunggu keburu datang. ―Dia guruku?‖ dia membalik. Atas ini tahulah Tiauw Hong atas datangnya musuh-musuh. Tiauw Hong tidak tahu orang hendak membokong dia. Cambuknya itu bergerak bagaikan naga beracun. ―Lagi seratus tahun ia belajar silat. kemudian mereka menguntit delapan murid wanita dari Pek To San. Merasa tidak ungkulan. mereka lantas mempergoki Auwyang Kongcu beserta sekalian muridnya merampas anak gadisnya suatu keluarga baik-baik. begitupun ketiga kawannya. Rupanya keenam orang di atas tembok itu tidak dapat manahan sabar. Auwyang Kongcu membarengi menumbuk bebokongnya. kalau naka itu roboh. merek atidak ambil peduli. ia lantas ulur tangan kirinya. Memang keenam orang itu adalah Kanglam Liok Koay. Terang mereka berdua sama ilmu silatnya. tertampak berdiri di atas tembok. dia tetapi melayani ketiga musuhnya. yang menjadi kaget sekali. cambuk emas. dengan apa ia menyambet ke empat penjuru. ia membungkuk. Pheng Lian Houw penasaran.

‖ jawab Kwee Ceng. untuk simpangi perhatian si Mayat Besi. Mereka kaget akan dengar teriakannya Kwee Ceng. terlibat dan tertarik sama cambuknya Bwee Tiauw Hong. Biauw Ciu Sie-seng heran. Ia lantas mengambil keputusan: ―Nio Lao Koay beramai tak ada permusuhannya dengan aku. aku hampir tidak dapat bertahan. cambuk perak yang bergemerlapan sudah lantas menyambar kepadanya. Ia ketahui datangnya Kanglam Liok Koay begitu lekas ia dengar suaranya Kwa Tin Ok. ―Tengah malam buta. Ia pikir: ―Aku cari mereka ke mana-mana. Maka kedua cambuk itu beradu keras. Ia kaget. Ia mendongkol berbareng khawatir. maka hari ini baiklah aku terbinasa bersama-sama dengan Cit Koay saja!‖ Ia cekal keras cambuknya. Ketika ia jatuh ke tanah. Tiauw Hong pun sudah berhenti bersilat. Kwa Tin Ok. habis itu ia duduk dengan hati-hati. Pheng Lian Houw semua heran atas datangnya enam orang itu. Tapi kepada Kwee Ceng ia memberi tanda dengan gerakan tangan. Han Siauw Eng maju menyerang si Mayat Besi yang ia sangat benci itu. Kwee Ceng mengerti. sebab rombongannya Auwyang Kongcu gampang dikenali dari dandanan mereka yang serba putih itu. Ia menyerang Kwee Ceng begitu lekas ia dapatkan tubuhnya dilemparkan. pihaknya tidak sanggup. istananya Chao Wang itu. cambuknya. Inilah tidak sukar. entah yang satunya lagi bersembunyi di mana…?‖ Ia tidak tahu yang Siauw Bie To Thio A Seng telah terbinasa di tangan suaminya. ia memberi keterangan atas pertanyaan orang tadi. ―Celaka!‖ teriak Han Po Kie. kau ingatlah baik-baik!‖ Berbareng dengan itu. Merekanjuga lantas mengawasi. menulikan telinga. Kemudian Auwyang Kongcu dikejar.‖ Ia lantas mengertak gigi. Hanya. Akhirnya ia berkata: ―Nah. karena mereka ketahui. Lian Houw lantas menggulingkan tubuh. lebih dahulu ia menampa dengan tangannya. mereka semua mundur. gampang sekali untuk melihat pakaiannya rombongan Auwyang Kongcu itu. menyerang si Mayat Besi juga. Liok Koay bersama rombongannya Nio Cu Ong berdiam semua. Cambuk itu ada banyak gaetannya. pasti aku bersyukur sangat kepada Langit dan Bumi. sedang Coan Kim Hoat maju untuk menolongi muridnya. Karena ini tanpa bersangsi lagi. Ia tahu orang muncul yang berenam. jikalau aku mesti tambah musuh dalam dirinya Tujuh Manusia Aneh ini. ia hanya bernapas memburu. Liok Koay juga tidak mengejar dengan berpisahan. tahan dulu!‖ Dua saudara itu menurut. maka itu Lam Hie Jin dan Han Po Kie sudah lantas melakukan penyerangan. belum lagi ia menaruh kaki di tanah. dia menolongi. akan dengari gerak-geriknya Cit Koay itu. apapula mereka itu lantas menyerang Auwyang Kongcu. agar sahabatnya itu melemparkan tubuh orang. ―Kua sendiri. dia sepertinya duduk bersilat di pundaknya Kwee Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali Wat Lie Kiam Han Siauw Eng lantas menolong si nona. Cambuknya itu terlepas. kenapa mereka itu bertempur?‖ Cu Cong berbisik kepada muridnya. ia memasang kuping. hingga mereka dapat lihat dengan tegas: Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi telah bersilat dengan cambuknya. ia sendiri segera lompat mundur. mereka pun memernahkan diri di jarak tujuh tombak dari wanita kosen itu yang cambuknya sangat lihay. yang dengar teriakan hebat itu. ―Aku minta kau memberitahukan nama kamu?!‖ Nio Cu Ong menegur Kanglam Liok Koay. Oey Yong sudha lantas menghampirkan murid ayahnya itu. ia melemparkan tubuh si nyonya sampai jauhnya setombak lebih. Begitulah mereka menguntit hingga di onghu. kalau bertempur satu lawan satu. Coba hari bukannya hari ini. telapakan tangannya sakit. Nio Cu Ong bersama See Thong Thian mendahulukan mundur. akan keluar dari gelangan. Empat yang lainnya turut heran juga. si Naga Emas. maka ia pun teriaki saudara-saudaranya: ―Shatee dan citmoay. Diwaktu gelap. hari ini mereka mengantarkan diri. dengan mengerahkan tenaga. ―Kali ini kau telah berjasa!‖ katanya. Tanpa ayal lagi ia menyerang dengan Kim-liong-pian. mengapa kau bantui perempuan siluman itu?‖ ―Mereka hendak membunuh aku. yang ia gendong pulang ke rumahnya. yang menyaksikan bahaya mengancam muridnya. pastilah aku bakal binasa…. Rupanya bocah itu berada dibawah pengaruh orang. ―Anak Ceng. kamu hendak berbuat apa?‖ Irawan D Soedradjat Page 251 . begitupun yang lainnya. Sekarang ini aku lagi dikurung oleh musuh. Kemudian ia berteriak: ―Semua berhenti! Aku hendak bicara!‖ Teriakannya nyaring sekali. Tapi mereka terus melakukan penyeledikan. kau lancang masuk ke dalam istana. ia heran: ―Dari Cit Koay cuma muncul yang enam. tetapi ia licin dan dapat meloloskan diri. percaya yang orang adalah orang lihay.

ia serangn musuh ini hingga si musuh kaget dan mesti berkelit dengan lompatan jungkir balik ―Ular naga membalik tubuh. biar bagaimana tidak nanti ia dapat kabur. hingga ia membikin Kim Hoat terdesak. Karena itu. sesudah berkelit ke kiri dan ke kanan. yang satu merusak usahanya. Kanglam Cit Koay!‖ kata Pheng Lian Houw. tetapi ia bukannya menyingkir untuk berlari. Pheng Lian Houw tidak berdiam saja melihat kawannya dikerubuti. tahulah ia bahwa ia bukannya tandingan musuh she See itu. Irawan D Soedradjat Page Melayani Hie Jin pun Auwyang Kongcu pun tidak mau mengulur tempo. Karena ini. Kali ini pihak Liok Koay yang menang di atas angin. ―Sudah lama aku mengagumi nama kamu!‖ See Thong Thian tapinya berteriak: ―Bagus! Cit Koay telah datang sendiri! Aku orang she See hendak belajar kenal.Pendekar Pemanah Rajawali ―Aku she Kwa. Ia lantas saja berkelit denagn mendak. sedang Cu Cong lemah lembut bukan seperti orang Rimba Persilatan. heran.‖ menyahut Tin Ok. hanya ia lompat kepada Lam Hie Jin. yang ia terus serang. ia lantas tinggalkan musuh ini. Ia lihay akan tetapi baru beberapa jurus. Ia pun lantas membentak: ―Kamu usilan. Si wanita siluman. Tapi Kim Hoat lihay. sambil berseru keras. ia ketahui pihaknya keteter. ia menangkis serangan. segera ia serang si Tukang Kayu dari gunung Lam San itu. Inilah ketikanya untuk turun tangan. tanpa bersuara. Pertempuran di antara Oey Yong dan Hauw Thong Hay juga berjalan dengan seru. Ia lantas lompat ke depannya Pheng Lian Houw. Karena ini Oey Yong yang dapat mendesak. Karena ini. hingga ia menempur Liok Koay dengan bergantian. ―Kami bersaudara bertujuh orang. Auwyang Kongcu telah memasang mata. Auwyang Kongcu berdiam sambil bersiap.‖ ―Eh. dia boleh dibereskan belakangan…‖ Segera ia lompat ke sampingnya Kwa Tin Ok. ia menyerang pula dengan jurusnya ―Arhat menunjuk pengaruh‖. SeeThong Thian dan Pheng Lian Houw benar lihay. Han Siauw Eng satu nona yang manis. dengan begitu. Coan Kim Hoat kurus kering. hingga lawannya itu main mundur. maka ia lantas mengambil keputusan: ―Baiklah aku binasakan dulu ini beberapa manusia jahat. Lam Hie Jin menancap pikulannya. Han Siauw Eng lantas maju dengan pedangnya dan Coan Kim Hoat dengan dacinnya. Kwa Tin Ok dan Cu Cong lantas maju. lantas ia menyerang dengan hebat. yang senjatanya yang luar biasa itu hendak dirampasnya. untuk menyerang yang lain. mereka masih menang diatas angin. Han Po Kie berlompat maju. ―Ini toh barang yang diperantikan menimbang di pasar tetapi kau pakai untuk menyerang orang!‖ Coan Kim Hoat mendongkol dan menyahut: ―Dacin ini untuk menimbang kau.‖ ―Oh. bangsat buta. 252 Auwyang Kongcu menyingkir dari serangan itu. ia menangkis dengan ujung tongkatnya. Kwa Tin Ok mendengar suara angin di kanan. Meyaksikan saudara keenamnya itu kewalahan. untuk melihat Cit Koay yang namanya demikian besar. babi!‖ Lian Houw murka dikatakan babi. hingga Hie Jin terkejut dan mesti berbalik akan melayani. See Thong Thian maju sambil mengawasi keenam Manusia Aneh itu. tetapi ia kebogehan. senjata apa senjata kau ini?‖ dia tanya. mereka jadi bertempur dalam dua rombongan dengan masing-masing tiga lawan satu. Ia dapatkan Kwa Tin Ok bercacat mata dan kakinya. Ia bermusuh dengan Liok Koay dan Bwee Tiauw Hong. Begitu ia berkelahi. kepandaiannya sebenarnya bagaimana!‖ Thong Thian gusar karena ia ingat penghinaan yang diterima empat muridnya. untuk membantui saudara-saudaranya itu. Han Po Kie kate dampak dan gemuk. ia lompat maju akan rintangi Coan Kim Hoat. walaupun mereka dikepung. gerakannya aneh. sebab serangan datang dalam rupa tangan kiri lawan. dari itu tidak berani ia menghajar tubuh orang. Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin. yang romannya gagah. Maka teranglah. Sebenarnya Thong Hay lebih lihay terapi ia kalha gesit dan ia pun jeri untuk beju lapis si nona. yang lainnya membinasakan muridnya atau gundiknya tersayang. maka kau rasailah lihaynya kongcumu!‖ Lalu tangannya kanannya meninju. Orang Kangouw menyebut kami Kanglam Cit Koay. . Cambuknya kena dirampas Bwee Tiauw Hong tetapi ia punyakan kepalannya. berbareng dengan mana. Ia bergerak dengan jurus ―Sekejap seribu lie‖ dari ilmu silatnya Sin To Soat-san-ciang.

Sekarang ia melihat kawannya terancam cambuknya Tiauw Hong. Atas itu Oey Yong lanats berseru: ―Bwee Jiak Hoak.Pendekar Pemanah Rajawali ia tengah mengganggu musuh-musuhnya itu. ―Kau peluki aku! Jangan takuti Lao Kaoy!‖ ia menyahuti. hingga belasan bungkusan obatnya kena disambar musuh. Sekarang ia tidak dihampirkan oleh Nio Cu Ong. ia dapat tahu nona itu tidak kesakitan. yang terus ditarik Bwee Tiauw Hong. melainkan baju luarnya dan dalamnya pada robek. Justru itu Oey Yong tertawa geli. malah lekas juga dadanya kena dicengkram. tubuhnya tidak terluka. Dia pun berpikir: ―Cambukku banyak gaetannya. Dengan tiba-tiba ia ingat. untuk diletaki di tanah. ia dapat meloloskan diri. ia lantas lompat kepada bocah itu sambil ulur tangannya. Cu Ong menjambak ke arah perut. meskipun ia tahu. nanti aku pasti mengganti bajumu ini…‖ Oey Yong lantas menggapai pada Kwee Ceng. hingga terdengar suara robek dari bajunya. Kwee Ceng membela diri. maka dengan meninggalkan Thong Hay. sukar dicari orag yang bisa mengalahkannya. satu kali ia peluk wanita itu. Nio Cu Ong dapat mencium bau obat. maka juga mendadak saja ia geraki cambuknya. aku minta ganti!‖ Tiauw Hong melongo. ia masuki semua bungkusan itu ke dalam sakunya. Bwee Tiauw Hong sendiri memperhatikan suaranya Kwee Ceng. hingga ia dapat cekal tubuh si nona. Kwee Ceng tertolong dari bahaya tetapi sekarang Oey Yong yang kena kelibat cambuk itu. Anak muda itu menghampirkan. ia waspada terhadap nyonya itu terutama terhadap cambuknya. Dalam saat berbahaya itu. tentu saja baju lapis berduri dari suhu telah diberikan padanya!‖ Ia lantas menyahuti: ―Ya. Dengan jenaka ia berkata: ―Kau merusaki pakaianku. bagaimana suhu dapat mengampunkan aku? Tapi sudah terlanjur. Kwee Ceng berontak sekuat-kuatnya. Liok Koay yang mulai keteter pula. hanya ia berlompat ke atas cambuk di mana ia menggulingkan tubuhnya. yang jeri kepada cambuknya si wanita lihay itu. untuk membikin pecah perut orang. Ia percaya tubuh si nona itu sudah tercengkeram pelbagai gaetan cambuknya. dalam beberapa jurus saja ia sudah terdesak. Nio Cu Ong sementara itu terus memasang matanya terhadap Kwee Ceng. ia dapat menolong. encimu ini yang salah. Ia memakai lapisan joan-wie-kah. sekarang aku lukai budak ini. maka tempo ia menginsyafi aksinya Auwyang Kongcu itu. Dari suaranya orang. Ia memang ingin meminta beberapa keterangan pula kepada anak muda itu. sembari mengejar. untuk merabu kakai si anak muda! Oey Yong melayani Hauw Thong Hay dengan selalu memperhatikan Kwee Ceng. hingga ia memandikan peluh dingin. Kwee Ceng bukan tandingan jago ini. gerak-geriknya. Irawan D Soedradjat Page 253 . di sekitarnya. Ia terkejut ketika Kwee Ceng kena dijambret Nio Cu Ong. supaya ia bisa menghisap darah anak muda itu. ia hanya lari berputaran dekat. ia lompat ke arah cambuk! Ia tidak takuti cambuk itu. terus ia lari ke arah Bwee Tiauw Hong sambil berteriak: ―Tolongi aku!‖ Girang Tiauw Hong mendengar suara orang. baiklah aku habiskan dia dulu!‖ Maka dia terus menarik. maka katanya dalam hatinya: ―Ah. karena itu. ia berdiri jauhnya tujuh atau delapan kaki dari Tiauw Hong. hingga Pheng Lian Houw dan See Thong Thian jadi dapat bernapas. sudah tidak keburu lagi. Kwee Ceng tahu. ia tidak bakal lolos pula. ia menjambret dengan kedua tangannya. hingga ia memasuki kalangan smabaran cambuknya si wanita kosen. Dengan tangan kanannya. Ia mengkeratkan perutnya. untuk menolongi. setelah mana kembali ia menjambak. Ia pun bukannya hendak menangkis. Nio Cu Ong memburu. Suasana kembali terbalik. ia tidak berani menghampirkan. kecuali ayahnya. beranikah kau melukai aku?!‖ Kaget Tiauw Hong mengenali suaranya Oey Yong.

―Kalau begitu. ia gunai tangan bajunya untuk menyapu itu. maka lima saudaranya lantas menyusul. inilah hebat!‖ pikir Lian Houw semua. yang numprah di tanah. kesudahannya obat tak didapatkan juga. lantas ia memutar tubuh untuk membalas menyerang. Cu Cong dapat lihat ujung baju orang penuh rumput dan debu. Ia tidak jeri karena ia tahu orang kalah daripadanya. terus dibawa ke hidungnya. Ia pun mendahului lompat ke tembok. ―Apa?‖ dia menanya seraya ia merandak. Nio Cu Ong berlari paling belakang. yaitu paku Cu-ngo Touw-kut-teng. belakang dengan belakang. keluar dari gelanggang. harapannya tidak ada. ―Ayah minta semua suhu membantu mencari. ia menimpuk dengan senjata rahasianya. Inilah cara berkelahi yang Liok Koay baru pahamkan dan melatih selama mereka berdiam di gurun pasir. toako?‖ Han Siauw Eng tanya sambil ia menunjuk Tiauw Hong. untuk menolongi. ―Mari kita pulang!‖ mengajak Tin Ok selagi muridnya ragu-ragu. Satu malaman ia menumpuh bahaya. si pangeran muda. untuk dicium. Pheng Lian Houw semua menjadi bingung. Han Po Kie terluka pundaknya. Kwee ceng lihat gurunya yang nomor tiga itu terancam bahaya.‖ ―Hm!‖ Pheng Lian Houw mengasih dengar suara si hidung. malampun gelap. dilain pihak. sekarang dia ada punya urusan penting. Cu Cong lari menghampirkan. Ialah siauw-ongya Wanyen Kang. untuk melibat kami semua. mereka lantas lompat mundur. Dengan begitu. dengan tangan kirinya ia angsurkan paku itu. ―Onghui telah orang bawa lari. sebab Pheng Lian Houw yang lihay sudah cecar padanya. khawatir nanti benteng perlawanannya itu menjadi dobol. tubuhnya pun diputar. Meski begini. melupakan segala apa. ―Ibuku telah dibawa buron penjahat. ―Ini . ia pergi dengan perasaan sangta tidak puas. Ia ingat Kwee Ceng darah siapa ia belum sempat hisap. sambil berlari-lari mendatangi. denagn begitu mereka dapat melayani See Thong Thian. terus ia putar tubuhnya untuk berlalu. Cu Ong pun ulur tangannya untuk menyambuti. dengan kipasnya ia sampok paku itu. ―Oh. paku beracun Cu-ngo Touw-kut-teng! Inilah paku yang asal menemui darah lantas menutup tenggorakan orang hingga orang mati seketika!‖ Nio Cu Ong tercengang mengetahui orang kenal pakunya itu. terus ia serang bebokongnya Pheng Lian Houw dengan jurusnya. kawannya pergi menculik onghui!‖ Karena ini tanpa sangsi lagi. ―Siapa kesudian kau mengambil hatiku?!‖ Cu Ong membentak. ―Membuka mega untuk menolak rembulan. Masing-masing mereka lantas berpikir: ―Ongya adalah yang mengundang kami semua. Hauw Thong Hay dan Auwyang Kongcu berempat. Ia berkelit. mereka tidak usah repot-repot menjagai punggung mereka. aku kembalikan pada kau. mereka keteter juga. Cu Cong lompat maju. ia tidak dapat melihat Bwee Tiauw Hong.‖ Wanyen Kang beritahu dengan perlahan. ia takut keluar dari kalangan. mereka meninggalkan musuh-musuh mereka. dia berseru: ―Semua suhu. Justru itu terlihat muncul dari gombolan pohon bunga. Pheng Lian Houw. Irawan D Soedradjat Page 254 . tuan!‖ katanya sembari tertawa. ―Dengan begitu saja kita pulang…‖ katanya menyesal. Tidak nanti kami berani melupakan budi suhu semua!‖ Pangeran ini datang secara kesusu. sesudah jatuh ia pungut. kopiahnya miring. ―Bagaimana dia. Untuk menggunai kekerasan. ayahku ada urusan penting untuk mana ia minta bantuan kamu! Lekas!‖ Orang itu mengenakan kopiah emas. Justru itu. Ia berkelahi sambil menggertak gigi. Kwee Ceng menjadi masgul sekali. apa perlunya kami berdiam di dalam istana?‖ Mereka juga menduga: ―Pasti Liok Koay ini lagi menjalankan siasat memancing harimau turun dari gunung. cara bagaimana aku tidak pergi membantu dia?‖ Karena ini. mereka lari mengikuti Wanyen Kang. ia lantas membantui kawannya itu. Thong Hay ditinggalkan Oey Yong. kau pulangi obatku!‖ Dalam sengitnya.Pendekar Pemanah Rajawali Kanglam Liok Koay sekarang berkelahi dengan mengumpulkan diri. Kwee Ceng teriakin dia: ―Eh. ia lari menghampirkan. ia berkelahi terus.

Setelah berhenti sejenak. mereka tidak mau turun tangan.‖ sahut kakak tertua itu.‖ Ia sudah lantas lari. Mereka ajak Kwee Ceng bersama. Oey Yong tertawa haha-hihi. Kwee Ceng menjawab guru ini dengan tuturkan semua pengalamannya. apakah aku juga sudah mati?‖ ia tanya. Di bawah tembok. Bab 23. Oey Yong terkejut. Ia dengar nyata: ―Jangan kasih lolos penjahat yang menculik onghui!‖ Irawan D Soedradjat Page 255 . Tiba-tiba Tiauw Hong sadar. habis ia menanya. Liam Cu menantikan ayahnya dengan pikiran tegang. kedua kakinya lemas dan kaku.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kita telah memberikan janji kepada Ma Totiang. Ketika ia pun lompat ke tembok. Ketik aitu fajar sudah menyingsing. dan makin ia memaksakan diri. dari itu ia pondong erat-erat istrinya itu ketika ia lari keluar dengan melompati tembok istana. Ia tidak sabaran dan cemas juga. ―Kita tidak kurang suatu apa…. mengapa aku bisa jalan?‖ tanyanya pada diri sendiri. ―Perlahan!‖ Tiat Sim mengasih ingat. Satu barisan serdadu sedang lari mendatangi. lalu dengan tindakan terhuyung-huyung. di antara cahaya pagi remangremang. dengan kedua tangannya ia menekan tanah.‖ sahutnya halus. sampai ia berikhtiar untuk menolongi Ong Cie It. ―Mari lekas kita menyingkir!‖ Liam Cu kaget dan heran. mana kau mau lepaskan dia?‖ Dengan ―dia‖ ia maksudkan Kwee Ceng. Kira-kira serintasan. anak Ceng. Pauw Sek Yok tersadar. hingga napasnya memburu. kenapa kau berada disini?‖ kemudian Han Siauw Eng menanya. Gampang sekali kalau Liok Koay hendak merampas jiwa orang akan tetapi untuk menepati janji kepada Ma Giok. ―Sebentar kita bicara. malah ia dapat menolongi juga. akibatnya kedua kakinya mati. Ia heran hingga ia menyangka ia sedang bermimpi. ―Adik kecil. Ia percaya suaminya itu sudah meninggal dunia. ia lupa segalanya. Tapi kali ini. ia menubruk kepada si nona. Justru ia sadar. ―Ayah. Ia telah keliru menyakinkannya ilmu silat dala. Bisa Lawan Bisa Yo Tiat Sim girang bukan main dapat menemukan istrinya. ia tidak memberi hormat kepada Liok Koay. biar kita mengasih ampun padanya. ialah suami yang ia buat pikiran siang dan malam. Ia pun pingsan. mendadak ia roboh pula. ―Toako. ia naik ke ujung lainnya. ―Ibuku?‖ ia menegasi. ia kata pula: ―Kau toh yang membilangnya kalau suhu datang ke mari!‖ Oey Yong tertawa pula. ―Eh. ―Kalau begitu. Ia ulur tangannya. ―Ayahku?‖ balik tanya Oey Yong masih tertawa. makin pendek napasnya. mana suhu?‖ Tiauw Hong tanya nona itu. mari kita tolongi Ong Totiang!‖ Cu Cong mengajak. ―Inlah ibumu!‖ sahut ayah itu. Tiat Sim girang hingga ia mengucurkan air mata. ―Tanpa aku dustakan kau. ―Tentu sekali ayah berada di pulau Thoa Hoa To! Tidak pernah ayah meninggalkan rumah! Ada apa kau menanyakannya?‖ Tiauw Hong menjadi sangat gusar. Ia heran ketika ia lihat ayahnya kembali dengan memondong seorang wanita. lantas saja ia bangkit berdiri. ia lihat orang yang memondongnya. Tiauw Hong murka bukan kepalang. Ia berhenti dengna tiba-tiba sebab kupingnya segera dengar suara berisik berupa teriakan-teriakan dan melihat cahaya terang dari banyak obor. Ia tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa. maka itu mereka berlalu dengan terus. ―Eh. lekas ia lompat turun ke lain sebelah. untuk lari menghilang. akan meraba muka suaminya. siapa ini?‖ ia lantas tanya.

berdua mereka datang dengan terburu-buru. ia bagaikan harimau tumbuh sayap. Sek Yok heran.!‖ kata Tiat Sim sambil menyeringai. ia berduka dan terhina saking terpaksa. ―Dia…dia mengapa adalah anak kita?‖ dia tanya. ―Biarlah kita bertiga mati bersama!‖ katanya gagah. karena repot melarikan diri. Melihat mereka itu. ―Sudahlah.‖ Irawan D Soedradjat Page 256 Tiat Sim bisa menduga orang lupa padanya. tak usah dibalut…. ia berseru menyapa salha satu imam itu: ―Khu Totiang. Tan Yang Cu Ma Giok. baru sekarang ia ingat tadi ia telah dismabar sepuluh jari tangannya Wanyen Kang. dilain jurusan ia melihat datangnya dua imam yang satu berkumis dan rambutnya ubanan. yang lain kumisnya abu-abu. Ia lantas menoleh kepada gadisnya dan kata: Anak. ia lupa pada sakitnya. tatkala selagi kita minum arak kita menumpas musuh?‖ . peristiwa dahulu bakal terulang pula. Tidak ayal lagi. wajahnya sangat berwales asih. Sekarang ia pun merasakan kedua lengannya sakit dan sukar digeraki. ia tidak dapatkan tempat untuk menyembunyikan diri. Ia lantas lari memapaki tentara pengejarnya. di kampung halamannya itu. pada peristiwa di dusun Gu-kee-cun di kota Lim-an. hatinya tegang sekali. ―Kau terluka?‖ ia tanya. Di tanya begitu. sikapnya gagah. Menampak tentara pengejar datang semakin dekat. Di dalam hatinya ia kata: Thian mengasihani aku hingga hari ini aku dapat bertemu sama istriku kembali.‖ Liam Cu tidak menangis. Ia menjadi kaget sekali. Pauw Sek Yok dapatkan suaminya berdarah di sana sini. di dalam gelap petang mereka dikejar tentara. dia kena ditusuk pahanya hingga ia terjungkal dari kudanya.!‖ menegaskan imam itu. anakku. Dalam kegirangan sangat. maka sekalipun telah bertambah delapan belas tahun umurnya. Opsir yang memimpin pasukan itu bernama Thung Couw Tek. Ia angkat kepalany. Yo Tiat Sim menjadi nekat. atau sekarang. hingga tangannya itu mengeluarkan darah. Maka ia rangkul leher suaminya. di sini mereka bertemu dengan Yo Tiat Sim suami-istri. tiba-tiba saja Tiat Sim merasakan sakit pada belakang telapakan tangannya. Dari itu ia paksa melepaskan rangkulan istrinyaitu yang ia serahkan kepada anak gadisnya. atas mana tentaranya lantas kabur serabutan. Setelah terang tanah. di luar dugaan. kau menyingkirlah seorang diri! Ibumu dan aku akan berdiam disini…. Itulah tandanya satu pasukan besar lagi mendatangi. ―Aku yang rendah ialah Yo Tiat Sim. Ia dipondong oleh suaminya dan dibawa lari sekuat-kuatnya. ―Jadinya tuan…. hari ini kembali aku bertemu denganmu!‖ Imam itu memang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee serta saudara seperguruannya. kalau sekarang akan terbinasa. Dalam dua tiga gebark saja. guna membicarakan urusan pibu dengan pihak Kanglam Liok Koay. Tiat Sim hendak menjadwab istrinya tetapi ia daptakan tentara itu sudah semakin mendekat. Lega juga hatinya Tiat Sim yang mengathui pasukan itu tidak dipimpin oleh opsir yang kosen. ia telah dapat merampas sebatang tobak. wajahnya tetapi seperti dahulu hari itu. ia ajak istri dan anaknya lari terus. Tanpa pemimpinnya. Mereka hendak menempati janji dengan Giok Yang Cu Ong Cie It.Pendekar Pemanah Rajawali Tiat Sim menjadi kecil hatinya. justru itu. Ia melihat kesekelilingnya. Hampir itu wkatu kembali terdengar suara sangat berisik. dibelakangnya tergendol sebatang pedang. lalu terlihat debu mengepul baik dan mengulak. Karena itu ia tidak lantas mengenal waktu ia dipanggil dan melihat Tiat Sim. Senjata ini membangunkan semangatnya. tidak mau ia melepaskannya. tak usah aku menyesal…!‖ Lantas ia kata pada anaknya: ―Liam Cu. Delapanbelas tahun lamanya mereka telah berpisah. mereka ketakutan. akan bertemu di kota raja. Yo Tiat Sim tercengang. baru saja ia bertemu kembali dengan suaminya. ―Semoga totiang tidak kurang suatu apa. cuma rambutnya yang berubah. Pauw Sek Yok lantas balut tangan suaminya itu.‖ Tiat Sim berkata cepat. ia pun menyesal yang ia tidak sempat merampas kuda musuh. lantas ia sadar. hingga ia mengawasi saja. ia berkata: ―Apakah totiang masih ingat peristiwa delapan belas tahun yang lampau di dusun Gu-kee-cun di Lim-an. Khu Cie Kee telah sempurna Iweekangnya. ia mengawasi nona itu. kau peluklah ibumu…!‖ Sejenak itu terbayanglah di matanya Pauw Sek Yok pengalamannya delapan belas tahun yang lampau. tapi ia menajadi tenang. Ia menginsyafi bahaya. daripada terhina ia rela terbinasa dalam pertempuran. ia tidak rasai itu.

―Aku harap kau tidak gusari aku!‖ Ma Giok mengerti. lantas ia meraba pada pinggangnya di mana ia selipkan genggamannya yang berupa pengayuh besi yang berat. Kali ini Khu Tiang Cun tidak berani bergerak sembarangan. setelah berkelit. maka lagi-lagi ada delapan serdadu yang terguling. Tiang Cun Cu heran juga atas kegagahan orang. Ia menjadi girang bercampur terharu dapat bertemu sama kenalan lama ini. hingga ia ingin tanya she dan namanya lawan ini. belum sampai ia membuka mulutnya. dari belakang ia dengar ini pertanyaan yang nyaring sekali: ―Kau ada totiang mana dari Coan Cin Kauw?‖ Ia lantas berlompat. Irawan D Soedradjat Page 257 . Yo Laotee!‖ katanya. maka sekali ia maju menyerang. tetapi ia tetap ragu-ragu. Mendadak saja ia geraki tombaknya dan menikam imam itu dengan tipu tombaknya. dengan tangan kosong ia tidak bisa berbuat apa-apa. Khu Cie Kee tetap bertangan kosong. sesudah belasan jurus. Ia lantas mengenali ilmu tombaknya Keluarga Yo itu. Dengan hanya mementang kedua tangannya.!‖ Tiat Sim tarik pulang tombaknya. Di lain pihak hatinya tegang melihat tentara pengejar telah mendatangi semakin dekat. untuk merampas senjata lawan. Sebaliknya. kau telah melupakan aku tetapi kau tentu tidak dapat melupakan ini ilmu tombak dari keluarga Yo!‖ Tiang Cun Cu terkejut tetapi ia mundur. untuk menoleh. ia menjawab: ―Kurangilah pembunuhan! Gertak saja meraka itu!‖ Khu Cie Kee tertawa nyaring dan lama. yang kepalanya licin mengkilap. ia membalas menyerang. tubuh siapa terus ia timpuki ke serdadu yang lainnya yang lagi mendatangi. di antara mereka muncul seorang yang tubuhnya besar dan kekar. kepada saudara seperguruannya. Adalah masksudnya. hingga ia melihat empat orang berdiri berendeng. Ia tidak sahuti imam itu. ―Kau masih hidup…. tolongilah aku!‖ Imam itu bisa mengerti keadaan orang. Belum lagi semua serdadu kabur. Dia membentak: ―Darimana datangnya si bulu campur aduk ini!‖ Lantas tubuhnya mencelat ke depan Tiang Cun Cu. hanya lantas ia kata: ―Totiang. dia bergerak dengan gesit sekali. Tiat Sim berubah roman dan suaranya juga. ia lantas menarik roboh dua serdadu berkuda itu. hingga ia kaget berabreng mendongkol. maka sekarang ia ingat ebtul peristiwa delapanbelas tahun dulu ketika ia mencoba ilmu silat orang. ―Oh. habis itu keduanya mundur sendirinya masing-masing tiga tindak. lantas ia maju ke arah tentara itu.Pendekar Pemanah Rajawali Habis berkata. mereka itu terus menerjang dengan begis. hari ini kembali aku mesti membuka pantangan membunuh!‖ katanya. ia hendak menguji tangan orang. mereka lantas putar kuda mereka. Tiang Cun Cu lekas membalas hormat. Ia menoleh ke arah tentara pengajar. Luar biasa sebatnya imam ini. orang she Yo itu lantas menjatuhkan diri berlutut di depan orang suci itu. untuk lari balik. Kedua tangan beradu dengan keras dan bersuara nyaring. tangannya menyampok kepala orang hingga di kepalanya See Thong Thian bertapak lima jari berwarna merah. Ia bersedia melayani musuh yang bersenjata itu. Tetapi See Thong Thian telah punyakan latihan beberapa puluh tahun. Khu Cie Kee heran hingga ia kata di dalam hatinya: ―Kenapa di sini ada orang begini lihay?‖ Selagi si imam ini terheran-heran. delapan-delapannya ia timpuki bergantian kepada kawan mereka. Orang she Yo ini bisa mengerti kesangsiannya si imam. malah mendapatkan dia menghalang-halangi. dengan sabar ia melayani. Lantas ia tertawa. Orang she See ini insyaf. Maka lagi dua serdadu roboh pingsan. Ia pun berseru: ―Khu Totiang. Kata-kata ―bulu campur aduk‖ itu adalah hinaan untuk suatu imam. tak gampang senjatanya itu dapat dirampas. yang sudah lantas sampai. Kejadian ini membikin kaget serdadu-serdadu yang lainnya. Tiang Cun Cu tidak menghiraukan itu. dengan cara itu ia robohkan lagi delapan serdadu. adalah Kwie-bun Liong Ong – demikian si lanang itu – merasakan tangannya sakit. Ia tangkis seragan itu. Setelah hampir duapuluh tahun. yang terus ia serang. dengan itu ia menyerang pula. hanya melihat orang demikian lincah. disebabkan penderitaannya. ―Suheng. Hanya. menghajar pundak si imam dengan jurusnya ―Souw Cin menggendol pedang‖.

baiklah ia sekalian dibunuh saja! Ini adalah ketika yang paling baik untuk mengangkat nama kita!‖ Karena berpikir begini. Maka ia lantas berkata: ―Nama Coan Irawan D Soedradjat Page 258 .‖ Pheng Lian Houw sendiri berpikir lebih jauh: ―Kita sudah melukakan Ong Cie It. tidak keras dan mengagetkan seperti suaranya Pheng lian Houw. Inilah cara berkelahi yang langka. Ketika ia telah menarik pulang pedangnya itu. maaf!‖ ―Pengetahuan pinto tentang agamaku masih terlalu sedikit. Kelihatannya Khu Cie Kee sudah sangat terdesak.‖ Ma Giok menyahut. itu artinya ganjalan dengan Coan Cin Kauw. Auwyang Kongcu melihat bagaimana si imam ini dilibat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw dan bagaimana Nio Cu Ong merangsak dari kirinya. sekarang kita bertemu sama Khu Cie Kee. Nio Cu Ong menyusul untuk mengepung. atau mendadak satu bayangan berkelebat si samping si kongcu. sedangkan ia tidak mengerti. Jadi dengan sekali bergerak. Ia lantas menduga kepada anggota Coan Cin Kauw yang tertua. ia memandang bayangan itu. Pheng Lian Houw mencoba bersikap halus. ―Si kate ini galak sekali! Dia pun agaknya lihay!‖ Ia lantas menghunus pedangnya. ―Apaha she totiang yang mulia?‖ Auwyang Kongcu bertanya. Hampir saja Hauw Thong Hay terkena pedang. sebaliknya. Khu Cie Kee tidak heran yang orang sudah lantas menerjang kepadanya. maka itu Pheng Lian Houw berempat saling mengawasi. ia menotok dengan kipasnya di tangan kanan. sambil menarik pulang kipasnya. maka terpaksa ia lompat maju untuk menghalangi. baiklah kita berlima mengepung mereka itu untuk membinasakannya. ―Tuan-tuan siap?‖ tanya Ma Giok. Imam ini heran mendapatkan munculnya begitu banyak orang pandai. Ia pun lompat ke belakang. dengan apa ia terus terjang imam itu. ubanan rambut dan kumisnya.‖ Imam ini berbicara dengan sabar sekali. ialah seoarng imam berusia lanjut. yang terus menggeroyok saudaranya. maka itu lantas ia menotok kepada kedua jalan darah kin-jie dan pek-hay-hiat. Auwyang Kongcu lihat berkelebatnya satu bayangan. suaranya halus. ia cuma berpikir. sekarang dua anggota utama dari mereka berada disini. Pinto mohon tanya nama mulia dari tuan-tuan. Auwyang Kongcu pun menyerang secara membokong itu. lalu kipasnya dia ini kena ditahan. tetapi ia kena disusuli. Hanya.Pendekar Pemanah Rajawali Itulah Nio Cu Ong bersama Pheng Lian Houw. Khu Cie Kee lantas mengangguk kepada mereka itu seraya memberikan penyahutannya: ―Pinto she Khu. ―Kita tidak kenal satu dengan lain. apakah di sini masih ada lain-lain saudaranya…. hati mereka berkata: ―Pantaslah dia bernama besar. Ia tahu lawan lihay. Perkara di belakangada soal lain. Itulah Ma Giok yang membantu saudaranya. tetapi pada itu ada nada yang mengandung pengaruh. ceng-cok dan pwee-sim di punggung si imam. ―Maaf. di belakang hari pastilah sukar untuk menyelesaikan masalah ini. hingga dengan sendirinya orang-orang yang lagi bertempur itu pada lompat mundur. ia menikam ke pinggangnya See Thong Thian. imam ini telah melayani tiga lawan. yang hendak dirampas. Ia menerjang sambil berlompat. Orang she Nio ini terperanjat untuk kesebatannya si imam.?‖ Ia lantas melihat ke sekitarnya. ―Pinto berasal dari keluarga Ma. la lantas berseru: ―Mari maju berbareng!‖ Ia pun lantas mengeluarkan sepasang poan-koan-pitnya. mengarah tiga jalan darah hongbwee.‖ Nama Tiang Cun Cu kesohor sekali di Selatan dan Utara. tetap sabar. Auwyang Kongcu dan Hauw Thong Hay yang telah lantas dapat menyusul See Thong Thian. Dengan tangan kiri hanya mengancam. ia meneruskan menikam jalna darah ciang-bun-hiat di iganya Hauw Thong Hay. tetapi di dalam hatinya. sebutan Cinjin itu tidak berani pinto terima. Pheng Lian Houw dan See Thong Thian lantas menyerang. Di situ cuma tertampak Yo Tiat Sim sekeluarga bertiga jiwa. ada salah paham apakah di antara kita? Aku minta sukalah tuan-tuan menjelaskannya. ia berpikir: ―Kita telah bentrok dengan pihak Coan Cin Kauw. dia memang gagah. ia pun lantas menggunai ketika untuk mengeroyok. syukur ia keburu berkelit. kiranya Tan Yang Cinjin Ma Totiang!‖ berkata Pheng Lian Houw. tetapi ia berkelit dari serangan orang. ―Oh. kempolannya kena didupak si imam.‖ menolak Ma Giok. ketiga jalan darahnya itu bakal menjadi sasaran kipas yang istimewa itu. akan terus mengawasi orang suci ini. suaranya tetap keras.

terus ia menggentak ke samping seraya berseru: ―Lepas!‖ Pheng Lian Houw pun ada seorang jago. cuma untuk ditertawakan tuan-tuan.Pendekar Pemanah Rajawali Cin Kauw sangat kesohor. untuk membuat Ma Giok memikirkan. yang berlompat maju.‖ Ma Giok dan Khu Cie Kee heran. Ma Giok melihat telapakan tangannya. ia berkata: ―Totiang berdua tidak mencela kami. Orang toh lihay…. Mana lagi lima saudara totiang? Silahkan minta mereka itu sudi menemui kami. baru saja kami mendapat tahu alamatnya. yang untuk beberapa puluh tahun tidak pernah berkelahi. yaitu ban Tok-hoan-taya. Khu Cie Kee kenal baik kakak seperguruannya ini. yang tipis seperti benang tetapi disitu ada lima batang jarumnya. Sama sekali mereka belum pernah mendengarnya. karena ia merasakan tangan kanannya kesemutan. jarum yang telah dipakaikan racun yang keras seklai. Ia sengaja memakai nama Sam Hek Miauw. untuk berjabat tangan. Maka boleh ia mengeroyok. senjatanya tidak terlepas. ada sukar untuk kami datang berkumpul. untuk menyerang pula. seperti tertusuk jarum.‖ Itulah kata-kata pancingan. baiklah!‖ Ia tersenyum. sedang Auwyang Kongcu dan Hauw Thian Hay segera membantui Pheng Lian Houw. Ia tidak tahu. hingga hatinya menjadi gentar. buat menyambuti. ―Nama kami kosong belaka. Ilmu silat di kolong langit ini banyak perbedaannya tetapi asal mulanya adalah satu. aku merasa beruntung dengan pertemuan kita ini. ia gunai jarum jahatnya itu. ia mengerti sebabnya kegusaran itu. dengan itu ia menangkis. waktu ia mengerahkan tenaga dan menarik. ia berpikir. justru kami hendak menjenguk dia. terus ia membalas satu kali. Tapi ia masih tertawa. Pheng Lian Houw sempat mencabut poan-koan-pitnya. ―Kau hendak uji tenagaku. Ma Giok menyangka orang bermaksud baik. Pheng Lian Houw selipkan senjatanya di pinggangnya. ―Jahanam licik. si licik sudah lompat mundur. dia telah melukai aku dengan racun!‖ menyahut Ma Giok. Aku she Sam dan namaku Hek Miauw. Orang cuma berdua dan mereka belum sempat menemui Ong Cie It. yang ia sambar ujungnya. ia pun mengulurkan tangannya. Pheng Lian Houw segera main mundur. Kali ini kami datang ke Tiong-touw untuk mencari Ong Sutee. tetapi ia terus menyerang pula dengan dua-dua tangannya. ialah ilmu pukulan paling lihay dari kaumnya. tangan kirinya Tiang Cun Cu lihay seperti tangan kanannya ang memegang pedang. berbareng ia menarik keluar senjata rahasianya. See Thong Thia dan Nio Cu Ong maju memegat Ma Giok. ialah poan-koan-pitnya itu terputus menjadi dua potong! ―Bagus!‖ Khu Cie Kee memuji. beruntun dua tikaman. Maka ia pun menggeraki pedangnya. itulah bagus sekali.‖ katanya seraya mengangsurkan tangannya. sedang sekarang ia menyerang dengan ―Sam Hoa Cie Teng Ciang-hoat‖. Irawan D Soedradjat Page 259 . di sini kebetulan kita bertemu sama tuan-tuan. ―Ma Totiang. siapa terluka hingga di dagingnya. ―Kenapa?‖ tanyanya. kami sangat mengaguminya. Pheng Lian Houw tertawa tetapi ia mencelat mundur setombak lebih. untuk menerjang. ia tidak menduga bahwa orang lagi memancing padanya. yang sangat sabar. selagi orang tidak bercuriga. Di lain pihak. Ia merasa orang memegang keras sekali. lima jarinya berlobang kecil masing-masing dan bergaris hitam. hebat kesudahannya. ia lawan keras dengan keras. tapi telapakan tangannya dibalik ke bawah. Ketika tadi Pheng Lian Houw menyelipkan senjatanya. dalam tempo enam jam dia bakal terbinasa.‖ menyahut Ma Giok. sembari tenaganya dikerahkan. mereka pikirkan siapa Sam Hek Miauw ini. ―Kami bertujuh sudara tinggal di beberapa propinsi. Khu Cie Kee heran melihat saudaranya berjabat tangan tapi sudah lantas menyerang. Ketika Ma Giok insyaf ia telah dicurangi dan hendak ia menyerang. ia lompat maju ke depan Pheng Lian Houw. Pheng Lian Houw girang sekali. yang namanya aneh. ia lantas menarik pulang tangannya itu. maka itu bagaimana pula jikalau kita mengikat persahabatan?‖ Imam ini jujur. ia menghampirkan Ma Giok. Nama itu berarti Tiga Kucing Hitam. Imam ini menyambuti poan-koan-pit. Tiba-tiba ia merasakan lima jari tangannya sakit. Saking kaget.

yang segera menghampirkan kakaknya. jalan darahnya makin cepat. akan tetapi melihat kedua imam itu terancam bahaya. semenjak menempur Kanglam Cit Koay. ia kata nyaring: ―Suamiku masih belum mati. ketiga musuhnya mendesak keras padanya. meski ia pergi ke ujung langit dan pangkal laut. tidak demikian dengan kakak seperguruannya. segera ia menghampirkan. ia berhasil mencegah menjalarnya racun itu. Ia terkejut akan melihat tangan kanan kakaknya itu menjadi hitam terus sampai di lengan. ―Saudara Yo. Itulah tanda bekerjanya racun dahsyat. Nio Cu Ong menyerang terus dengan senjatanya yang merupakan gunting panjang dan See Thong Thian dengan pengagayuh besinya. ia maju menyerang Auwyang Kongcu.‖ Belum habis ucapan imam ini. untuk memberi hormat. Makin ia bergerak. ia melihat orang segera sampai pada ajalnya. Ia ingat. penyerangnya itu satu nona dengan baju merah. ia berkata: ―Ma. Hendak ia menolongi tetapi ia tidak sanggup. Khu Cie Kee heran melihat kelakuan kakaknya itu. yang datang itu adalah Wanyen Lieh bersama Wanyen Kang.‖ katanya kemudian. ―Ha. mari teecu mengajar kenal. segera ia menjatuhkan diri untuk duduk bersemadhi. Adalah di itu waktu. Wanyen Kang lari kepada ibunya. yang pun sudah tidak berkelahi lagi. Ma Giok sendiri mengempos terus semangatnya. Maka itu. yang perlahanlahan mulai turun. Karena menginsyafi bahaya. Wanyen Kang segera menghampirkan gurunya. Syukur ia keburu berkelit. yang menduga kepada racun biasa. Auwyang Kongcu sudah menendang patah tombak orang dengan kaki kirinya dan kaki kanannya mendupak roboh orang she Yo itu. Ia segera mendapatkan. Ma Giok terancam bahaya. yang goloknya lihat.‖ ―Hm!‖ bersuara imam itu. akhirnya kita dapat cari kau!‖ Tapi pauw Sek Yok berkata dengan keras: ―Untuk menghendaki aku kembali ke istana. Dikepung bertiga. Yo Tiat Sim tahu ilmu silatnya tidak berarti.Pendekar Pemanah Rajawali Khu Cie Kee heran kenapa mendadak berkumpul orang-orang tangguh ini. ia girang. selang beberapa puluh jurus. ia kena terdesak. tidak dapat!‖ Irawan D Soedradjat Page Pauw Sek Yok menunjuk kepada Yo Tiat Sim. guna mencegah ransakan racun. Benar Hauw Thong Hay rada lemah tetapi Auwyang Kongcu lebih gagah daripada Pheng Lian Houw. jangan maju!‖ mencegah Khu Cie Kee. Tangan Ma Giok menjadi bengkak dan hitam. sudah delapan tahun belum pernah ia menemui tandingan. Karena hatinya berkhawatir. ia lantas berteriak: ―Semua berhenti! Tuan-tuan berhenti!‖ Pangeran ini mesti berteriak beberapa kali. rasannya kaku dan gatal. Karena ini. sedang dengan tangan kirinya melindungi diri. barulah Pheng Lian Houw semua berlompat mundur. ―Suhu. ―Percuma kau mengantarkan jiwa…. Justru itu sebatang golok menyambar kepadanya. yang seperti dari embun-embuannya terlihat mengepul hawa seperti uap. yang ia arah punggungnya. Wanyen Kang heran menampak gurunya dikepung. . ―Apa?!‖ kata mereka. Ia mesti melawan musuh di luar dan di dalam tubuhnya. Nona itu segera dikepung pengikut-pengikutnya. dari kejauhan terdengar lari mendatanginya beberapa ekor kuda akan kemudian ternyata. ia bersilat dengan sungguh-sungguh. Inilah tidak disangka imam itu. akan perdengarkan suaranya yang keren: ―Keluarkan obat pemu