Pendekar Pemanah Rajawali

"Pendekar Pemanah Rajawali"
~ Sia Tiauw Eng Hiong ~ Oleh : JIN YONG Pengantar Di luar gunung ada lagi gunung hijau, di luar lauwteng ada pula lauwteng lainnya, Nyanyian-nyanyian dan tari-tarian di Telaga Barat, hingga kapankah itu akan berhenti? Penghidupan mewah di Selatan telah membuat mabuk kepada pelancong-pelancong tetamu, Hingga kota Hangciu dianggapnya sebagai kota Pianciu! Syair di atas adalah lukisan dari peristiwa pada delapan ratus tahun yang lampau. Ketika itu kerajaan Song telah menjadi sedemikian lemahnya hingga kedua kaisar Hwie Cong dan Kim Cong sudah kena ditawan bangsa Kim (Kin), karena mana itu pangeran Kong Ong lalu menyeberang ke Selatan, menerima tahta kerajaan di kota Liman, menjadi Kaisar Kho Cong. Dalam waktu sesulit itu, selagi musuh mengancam di tapal batas, setelah separuh dari negara berada di dalam tangan musuh itu, sudah selayaknya satu kaisar bangkit bangun untuk membuat perlawanan, akan tetapi tidak demikian dengan Kaisar kho cong ini. Dia justru jeri terhadap bangsa Kim itu yang dipandangnya sebagai harimau saja, berbareng dengan itu dia pun khawatir kalau kedua Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong nanti kembali dari tawanan hingga dia tak dapat terus bercokol di atas singasana naga. Maka dengan itu menurut perkataannya dorna Cin Kwee4, dia titahkan membunuh Jenderal Gak Hui, pendekar yang menentang musuh Kim itu, sesudah mana itu dengan merendahkan martabat sendiri ia mengajukan permohonan damai dengan bangsa Kim. Inilah pengharapan bangsa Kim yang disaat itu tengah gelisah sebab telah berulangkali mereka memperoleh labrakan dari Jenderal Gak Hui, hingga semangatnya terpukul hebat, sementara di wilayah Utara mereka terancam pemberontakan tentera rakyat sukarela. Begitu di dalam bulan pertama tahun kerajaan Ciauw-hin ke12 (1138 masehi) perdamaian telah ditandatangani dengan syarat tapal batas kedua negara Song dan Kim adalah aliran tengah dari sungai Hoay-sui. Perdamaian itu namanya saja perdamaian, kenyataannya adalah penaklukan dari Kaisar Kho Cong itu (yang bernama Tio Kouw adalah putra ke-9 dari Kaisar Hwie Cong). Sebab di dalam suratnya, Kho Cong menyatakan dan mengaku sudah terima budi kebaikan dari raja Kim, karena mana turun temurun ia akan menjadi ―menteri yang setia‖ serta berjanji setiap hari lahirnya, ―Kaisar‖ demikian ia menyebut raja Kim itu – begitu juga setiap tahun, ia akan kirim utusan guna memberi selamat sambil menghanturkan upeti uang perak duapuluh lima laksa tail dan cita duapuluh lima laksa balok. Demikian macam martabatnya seorang Kaisar, ia sungguh memalukan, maka ketika tentera dan rakyat negeri mengetahui hal itu, semuanya menjadi murka dan berbareng berduka. Lebih bersedih adalah rakyat di wilayah utara sungai Hoay-sui itu, karena mereka menjadi tidak mempunyai harapan lagi akan bangunnya negara. Dipihak lain, Kho Cong menganggap itu adalah jasa besar dari dorna Cin Kwee, maka juga dorna yang sudah tinggi pangkatnya, yaitu Siaupo Copoksia merangkap Kie-bit-su gelar Pangeran Louw-kokong, dinaiki pula menjadi Taysu, hingga kedudukannya telah mencapai puncaknya kebesaran suatu menteri! Semenjak itu bangsa Kim menduduki separuh dari wilayah Tiongkok. Walaupun demikian pemerintahan di Hangciu malah bertambah buruk, raja dan menteri-menterinya, setiap hari berpelesiran saja, berpesta pora, tidak memikirkan lagi kepentingan negara, sedang beberapa menteri atau perwira yang setia, umumnya kalah pengaruh dan tidak berdaya, hingga mereka pada menutup mata karena mereras. Demikan syair di atas, gambaran dari kaisar yang lemah dan buruk tapi pecandu pelisir! ------------------------------1) Telaga Barat – See Ouw (Si Hu) 2) Piancu – Kaifeng (Kayhong), ibukota propinsi Honan. Bekas kotaraja. 3) Lim-an – Hangciu (Hangchow), ibukota Chekiang, inilah yang dimaksud dengan Selatan (Kanglam) 4) Dorna Cin Kwee – Di Hangciu telah dibuat patungnya sebagai tanda peringatan dari khianatnya terhadap negara dan ada satu waktu yang patungnya itu telah diperhina dengan ludah maupun kotoran manusia. Bab 1. Pertempuran di Tanah Bersalju

Irawan D Soedradjat

Page

Beberapa tahun telah berselang, Kaisar Kho Cong itu digantikan oleh Kaisar Hauw Cong. Kaisar Hauw Cong digantikan Kaisar Kong Cong, lalu Kaisar Leng Cong. Pada tahun Keng-goan ke-5 dari Kaisar ini, selagi musim

1

Pendekar Pemanah Rajawali

dingin, telah turun hujan salju lebat selama dua hari berturut-turut, hingga Hangciu, ibukota Kerajaan Song itu seperti bermandikan air perak, bercahaya berkilau, indah dipandang. Dan diwaktu begitu, Kaisar dan menterimenterinya dengan duduk mengelilingi perapian, bersenang-senang menenggak air kata-kata...... *** Di luar kota Hangciu, di sebelah timurnya, di dusun Gu-kee-cun, dua orang gagah pun tengah minum arak putih sambil duduk berhadapan, oleh karena mereka adalah bagaikan saudara sejati. Dari mereka itu, yang satu bernama Kwee Siauw Thian, yang lainnya Yo Tiat Sim, kedua-duanya adalah turunan orang-orang kenamaan. Siauw Thian itu adalah turunan dari Say-Jin-Kui Kwee Seng, itu adalah salah satu jago dari seratus delapan orang kosen dari gunung Liang San yang kesohor dengan ilmu silat tombaknya, hanya setelah tiba pada dia ini, tombak yang panjang itu diganti dengan sepasang tombak pendek dan bergaetan (siangkek). Sementara Yo Tiat Sim itu adalah turunan dari Panglima Yo Cay Hin, salah seorang bawahan Jenderal Gak Hui dan ilmu tombaknya adalah warisan leluhurnya. Mulanya kedua orang ini bertemu dalam pengembaraan, setelah merasa cocok, maka mereka mengangkat saudara, kemudian bersama-sama mereka pindah dan tinggal di dusun ini. Kebiasaan mereka adalah duduk berkumpul, pasang omong dan menyakinkan ilmu silat. Demikian juga pada hari itu, selagi salju turun, mereka duduk minum arak dan berbicara dengan asyiknya, tempo mereka omong hal nasibnya negera, keduanya menjadi berduka dan berdongkol, tiba-tiba saja Tiat Sim mengeprak meja dengan kerasnya. Justru saat itu ada seorang keluar dari ruang dalam, apabila gorden tersingkap, terlihatlah seorang wanita yang cantik sekali, tangannya memegang nenampan di atas mana ada terdapat masakan daging sapi serta ayam. ―Hai, urusan apa lagi yang membuat kamu berdua saudara marah?‖ tanya wanita itu sambil tertawa. ―Kami tengah membicarakan urusan yang gila-gila dari negara!‖ sahut Siauw Thian. ―Enso, mari kau pun minum satu cawan!‖ Wanita itu adalah Pauw-sie, istri dari Yo Tiat Sim. Di Lam-an ini, dia adalah merupakan wanita tercantik dan halus budi pekertinya, hingga ia tepat dengan romannya. Siapa yang melihat dia, pasti kagumlah hatinya. Dengan Tiat Sim, belum lama ia menikah, tetapi dia itu orangnya luwes dan dapat dengan gampang bergaul dengan kaum pria-dalam halnya dengan Siauw Thian, iparnya itu. Begitulah, setelah ia meletakkan barang makanan-nya, ia mengambil cawan dan mengisinya, sesudah itu mengambil kursi dan meminum araknya itu. ―Kemarin selagi aku berada di dalam warung teh di Tong Lam di ujung jembatan Cong An Kio, aku mendengar orang membicarakan halnya Han To Cu si perdana menteri keparat itu!‖ Tiat Sim menyahuti pertanyaan istrinya tadi. ―Rapi pembicaraan itu, hingga aku percaya itu bukanlah omong kosong belaka. Orang itu bilang, pembesar siapa juga, jikalau dia hendak mengajukan laporan, apabila di ujung sampulnya tidak disertai keterangan dia menghadiahkan sesuatu, pasti perdana keparat itu tidak akan memeriksanya!‖ Siauw Thian menghela napas. ―Ada rajanya, ada menterinya‖ katanya masgul. ―Ada menterinya, ada pembesarpembesar bawahannya.Lihat saja Tio Tayjin, residen dari kota Lim-an kita ini. Hari itu Han To Cu pesiar di luar kota dengan diiringi banyak pembesar. Kebetulan aku lagi mencari kayu di dekat situ. Tentu saja aku tidak ambil mumat padanya itu. Lalu aku mendengar dia menghela napas dan berkata seorang diri: ‗Di sini rumahrumah berpagar bambu dan beratap, sungguh suatu desa yang indah menarik hati, hanya sayang sekali, disini tidak terdengar suara ayam berkokok dan anjing menggonggong…‘ Belum lagi dia menutup mulutnya lalu terdengar gongongan anjing dari dalam semak-semak!‖ Pauw-sie bertepuk tangan sambil tertawa. ―Sungguh anjing yang tahu diri!‖ katanya. ―Memang anjing yang sangat tahu diri!‖ sahut Siauw Thian. ―Setelah menggonggong, dia muncul dari semaksemak itu! Enso tahu, anjing apakah itu? Dialah Tio Tayjin, residen kita!‖ Pauw-sie menjadi tertawa terpingkal-pingkal. Tiat Sim dan Siauw Thian pun tertawa. Mereka minum terus hingga terlihat salju turun makin lebat. ―Nanti aku undang enso minum bersama,!‖ kata Pauw-sie kemudian. ―Tidak usah,‖ Siauw Thian mencegah. ―Selama beberapa hari ini, dia merasa kurang sehat….‖

Irawan D Soedradjat

Page

Pauw-sie terkejut, ―Ah, mengapa aku tidak tahu!‖ katanya. ―Nanti aku tengok!‖

2

Pendekar Pemanah Rajawali

Siauw Thian tidak bilang apa-apa lagi, dia malah tersenyum. Menampak hal itu, legalah hati Tiat Sim. Itu artinya nyonya Kwee tidak berat sakitnya. Tak lama, nyonya Yo kembali sambil tersenyum-senyum. Ia isikan satu cawan, lalu mengansurkan cawan itu kepada suaminya. ―Lekas minum sampai habis!‖ katanya. ―Inilah tanda hormat kepada Toako!‖ ―Eh, apakah artinya ini?‖ tanya Tiat Sim tidak mengerti. ―Minum, lekas minum!‖ desak Pauw-sie. ―Habis minum nanti baru aku beri keterangan!‖ katanya kemudian. Tiat Sim lalu meminum kering cawan itu. ―Nah, Toako, kau biacaralah sendiri!‖ kata Pauw-sie sambil tertawa kepada Siauw Thian. Orang she Kwee itu tersenyum dan berkata, ―Selama sebulan ini dia senantiasa mengeluh pinggangnya pegal dan sakit. Baru kemarin dia pergi ke Thio Ie-seng di dalam kota, kata tabib itu dia sudah mengandung selama tiga bulan….‖ Tiat Sim menjadi girang sekali. ―Kiong hie, Toako!‖ katanya sambil memberi selamat. Lalu ketiganya meneguk arak mereka, masing-masing tiga cawan. Tentu saja dengan meminum sebanyaknya itu, sedikitnya arak itu telah mempengaruhi mereka. Pada saat itu di arah timur kelihatan satu tosu atau imam sedang mendatangi. Dia memakai tudung bambu dan tubuhnya di tutupi dengan baju rumput, yang seluruhnya penuh dengan salju. Ia bertindak dengan tegap dan cepat. Segera tertampak di punggungnya ada tergantung sebatang pedang, yang roncenya kuning dan memain di antara tiupan angin yang keras. ―Adik, imam ini pasti mengerti ilmu silat,‖ Siauw Thian bilang. ―Entah dari mana dia datang. Coba kita dapat berkenalan dengannya. Sayang kita belum tahu namanya………..‖ ―Benar,‖ sahut Tiat Sim. ―Baik kita undang dia minum untuk ikat persahabatan……‖ Keduanya segera berbangkit dan pergi keluar. Ketika itu karena cepat jalannya, si imam sudah lewat beberapa puluh tombak. Siauw Thian dan Tiat Sim saling melihat dengan herannya. ―Totiang, tunggu sebentar!‖ Tiat Sim segera memanggil. Cepat sekali si imam memutar tubuh dan mengangguk. ―Salju turun dengan lebatnya dan hawa pun sangat dingin,‖ kata Tiat Sim pula, ―Sudilah Totiang mampir untuk minum beberapa cawan guna melawan hawa dingin.‖ Iman itu menyahuti dengan tertawa dingin, lalu ia bertindak menghampir – cepat sekali tindakannya. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua sangat terperanjat dan heran guna menyaksikan muka orang yang berwajah sangat dingin sekali. ―Kamu pandai bergaul, eh!‖ katanya tawar Tiat Sim masih muda dan dia tidak senang dengan sikap orang. ―Dengan baik hati aku mengundang kau minum, kenapa kau begini tidak tahu aturan?‖ pikirnya. Maka ia menjadi diam saja. Siauw Thian sebaliknya lantas memberi hormat. ―Totiang, harap anda tidak marah dengan sikap saudaraku ini. ―Kami sedang minum arak, melihat Totiang melawan salju, dia besarkan nyali untuk mengundang Totiang minum bersama….‖ Imam itu memutar matanya. ―Baik,baik!‖ katanya. ―Minum arak ya minum arak!‖ Dan dengan tindakan lebar ia menuju ke dalam.

Irawan D Soedradjat

Page

3

Pendekar Pemanah Rajawali

Tiat Sim merasa dongkol, ia ulurkan tangannya hendak mencekal tangan kiri si imam untuk ditarik ke samping. ―Aku belum belajar kenal dengan Totiang!‖ katanya. Tapi tiba-tiba ia merasa kaget. Ia merasai tangan orang sangat licin. Ketika ia berniat menarik pulang tangannya, tahu-tahu tangan itu bagaikan terjepit dengan keras, rasanya sakit dan panas. Ia kerahkan tenaganya untuk melawan. Justru dengan berbuat demikian ia merasakan tangannya hilang tenaga dan sakit sekali, rasa sakitnya sampai ke ulu hati. Siauw Thian tampak wajah saudaranya merah dan pucat, ia tahu saudaranya ini tentu telah ―ketemu batunya‖. Ia mengerti gelagat yang kurang baik itu dan sangsi turun tangan untuk membantu. ―Totiang, mari silakan duduk di sini!‖ ia mengundang. Dua kali si imam kasih dengar tertawanya yang dingin itu, baru ia lepaskan cekalannya atas tangan Tiat Sim. Hal ini membuat orang she Yo itu mendongkol dan heran, ia terus masuk ke dalam, akan diberitahukannya istrinya tentang imam itu. ―Dia sangat aneh, pergi temani dulu,‖ kata Pauw-sie. ―Jangan turun tangan, perlahan-lahan saja kita cari tahu tentang dirinya…‖ Tiat Sim menuruti perkataan istrinya itu. Pauw-sie segera menyiapkan arak dan barang hidangan dan menyuruh Tiat Sim membawa keluar. ―Tunggu sebentar!‖ memanggil sang istri. Tiat Sim pun memutar kembali. Pauw-sie menurunkan sebuah pisau belati yang tajam mengkilap, yang tergantung pada tembok, ia memasukkan belati itu ke dalam saku suaminya. Tiat Sim pun kemudian keluar membawa barang hidangan itu dan mengaturnya di meja. Ia menuangkan tiga cawan, terus ia mengundang tamunya untuk minum. Ia juga meneguk satu cawan, habis minum ia berdiam saja. Imam itu memandang keluar jendela dan mengawasi salju. Ia tidak meminum araknya dan ia pun tidak membuka mulutnya melainkan hanya tertawa dingin saja. Siauw Thian menduga si imam tentu curigai araknya, ia mengambil cawan arak di hadapan imam itu, terus ia cegluk di hadapan imam itu. Ia menyambuti, terus diminumnya. ―Arakmu telah dingin Totiang, nanti aku tukar dengan yang baru,‖ katanya. Dan ia mengisikan pula. Si imam dapat mencium bau harum dari arak itu, ia menyambuti dan terus diminumnya. ―Walaupun arak ini di campuri dengan obat pulas, tidak nanti aku kena diracuni!‖ katanya. Tiat Sim menjadi hilang sabar. ―Kita undang kau minum dengan maksud baik, mustahil kami hendak mencelakai kau!‖ tegurnya. ―Totiang, kau omong tidak karuan, silakan lekas keluar! Arak kita tidak bakalan menjadi rusak dan sayur kita tak nanti tak ada yang memakannya!‖ ―Hm!‖ bersuara si imam itu. Tak lebih. Ia jemput poci arak dan menuang arak itu sendiri, lalu ia tenggak habis tiga cawan. Habis itu dia buka baju luarnya dan letaki tudungnya. Sekarang baru Tiat Sim dan Siauw Thian dapat melihat dengan tegas wajah orang. Mereka menduga si imam baru berumur tiga puluh tahun lebih, sepasang alisnya panjang lancip, kulit mukanya merah segar, mukanya lebar dan kupingnya besar. Ia bukan sembarang imam. Ketika ia kasih turun kantung di punggungnya, ia terus lempar barang itu ke atas meja hingga terbitlah suatu suara yang keras, hingga kedua tuan rumah itu menjadi kaget sekali. Sebab yang menerbitkan suara nyaring itu yang menggelinding keluar dari dalam kantung itu adalah kepala manusia yang masih berlumuran darah, hingga tak nampak jelas raut mukanya. Tiat Sim meraba pisau belati dalam kantungnya. Si imam menukik pula kantungnya, kali ini dikeluarkannya dua potong daging yang penuh darah juga, karena itu adalah hati dan jantung manusia. ―Jahanam!‖ teriak Tiat Sim yang sudah tak tahan sabar lagi, sedang tangannya melayang ke dada si imam.

Irawan D Soedradjat

Page

4

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kebetulan, aku memang menghendaki barang ini!‖ seru si imam sambil tertawa. Ia tidak menghiraukan tikaman itu, hanya ketika si orang she Yo itu datang mendekat, ia menggempur dengan tangan kirinya, hingga seketika juga Tiat Sim merasa bahunya tergetar, lalu tiba-tiba saja pisau belatinya kena dirampas orang! Siauw Thian kaget bukan kepalang. Ia tahu lihaynya adik angkatnya itu, yang cuma kalah sedikit dengannya. Tidak disangka, demikian gampang imam ini merampas senjata orang. Itulah ilmu silat ―Khong-ciu toat pek-jin‖ atau ―Tangan kosong merampas senjata tajam‖ yang lihay, yang baru pernah ia saksikan. Meskipun ia kaget, ia toh segera bersiap dengan memegang bangku, guna membela diri umpama kata si imam terus menyerang. Akan tetapi dugaannya ini salah adanya. Imam itu tidak menyerang siapa juga, ia hanya lantas gunai pisau itu untuk memotong-motong hati dan jantung manusia itu, lalu dengan tangan kiri mencekal poci arak, dengan tangan kanan ia jumputi potongan daging satu demi satu, untuk dimasukkan ke dalam mulutnya, buat dikuyah dan ditelan, saban-saban dia selang itu dengan tenggakan arak pada pocinya. Cepat daharnya, sebentar lagi habis sudah makanan yang rupanya sangat lezat itu! Siauw Thian dan Tiat Sim berdua saling mengawasi dengan tercengang. Sungguh aneh imam ini. Akan tetapi itu masih belum semua. Habis dahar, imam itu berdongak, lalu ia bersiul nyaring sekali, umpama kata genting sampai bergetar, kemudian tangan kanannya menyerang ke meja, hingga piring dan cawan berlompat! Yang hebat adalah sasaran serangan itu, ialah kepala manusia itu, yang remuk seketika! Sedang ujung meja turut sempal sedikit…….. Selagi dua saudara angkat itu berdiam, wajah si imam yang tadinya bermuram durja dan bengis, tiba-tiba berubah menjadi penuh dengan air mata, dengan air mata bercucuran ia lalu menangis dengan meraung-raung! ―Kiranya dia seorang yang edan…!‖ bisik Siauw Thian kepada adik angkatnya, yang ujung bajunya ia tarik. ―Dia lihay sekali, jangan kita ladeni dia….‖ Tiat Sim mengangguk, ia awasi imam itu. Sekarang tidak lagi ia gusur, sebaliknya ia merasa kasihan. Sedih tangisnya si imam ini, ilmu silat siapa sebaliknya ia kagumi. Maka kemudian ia lari ke dalam untuk mengambil semangkok kuwah yang masih panas. ―Totiang, mari minum kuwah ini!‖ katanya. Ia letaki mangkok itu di atas meja. Si imam bukan menerima kuwah iru, ia sebaliknya menggebrak meja hingga mangkok itu terbang berikut mejanya. Ia pun berseru :‖Kawanan tikus, hari ini toyamu membuka pantangan membunuh!‖ Menampak itu, meluaplah amarah Tiat Sim, maka ia melompat ke ujung ruang untuk menyambar tombaknya, lalu ia terus lari keluar, ke depan pintu dimana salju terhampar luas. ―Mari, mari!‖ ia menantang. ―Mari belajar kenal dengan tombak keluarga Yo!‖ Imam itu tersenyum. ―Tikus, pantaskah kau menggunai ilmu silat tombak keluarga Yo?‖ tanyanya. Ia bersuara sambil tubuhnya melompat keluar. Melihat keadaan mengancam itu, Siauw Thian lari untuk mengambil sepasang gaetannya, dengan lekas ia berbalik kembali. Imam berdiri tanpa menghunus pedangnya, Cuma sang angin menyampok-nyampok ujung bajunya. ―Hunus pedangmu!‖ seru Tiat Sim. ―Ah, dua tikus, kamu berdua majulah berbareng!‖ sahut si imam. ―Toya kamu akan layani kamu dengan tangan kosong!‖ Takabur bukan main orang pertapaan ini, hingga Tiat Sim tidak berayal sejenak juga untuk segera menikam dengan tombaknya yang beronce merah itu. Ia gunai tipu silatnya ―Tok liong cut tong‖ atau ―Naga berbisa keluar dari gua‖ ―Bagus!‖ seru si imam kagm menampak serangan itu yang menuju ke dadanya. Ia berkelit ke samping, tangan kirinya bergerak, untuk sambar kepala tombak itu. Lihay ilmu silat tombak keluarga Yo itu – Yo-kee Chio-hoat. Ketika Yo Cay Hin bersama tigaratus serdadunya – tentara kerajaan Song menghadapi empat laksa serdadu Kim, seorang diri ia telah membinasakan dua ribu lebih serdadu musuh berikut banyak perwiranya, sebelum akhirnya ia roboh karena terkena banyak panah, waktu ia binasa dan bangsa Kim membakar tubuhnya, dari dalam tubuhnya itu kedapatan banyak ujung panah,
Irawan D Soedradjat

Page

5

Pendekar Pemanah Rajawali

sebab selagi ia terpanah, gagang panah ia patahkan. Karena ini bangsa Kim menjadi jeri dan mengaguminya. Tiat Sim tidak segagah leluhurnya itu tetapi ilmu silatnya cukup sempurna, begitulah ia mencoba mendesak si imam tidak di kenal itu yang senantiasa lolos dari tikaman, tempo habis sudah dijalankan semua tujuh puluh dua jurus ilmu tombak itu, dia tidak kurang sesuatu apa. Baru sekarang si anak muda menjadi gentar, terpaksa ia seret tombaknya untuk keluar dari kalangan. Imam itu mengejar apabila ia dapatkan lawannya itu lari. Sekonyong-konyong Tiat Sim berseru keras, tubuhnya berputar balik, berbareng dengan itu, dengan kedua tangannya memegangi gagang tombak, ia menikam dengan hebat sekali. Itulah tipu silat ―Cwie-pek po-kian‖ atau ―menggempur tembok‖. Dengan tipu itu, musuh dibikin tidak menyangka dan menjadi kaget. Dengan tipu ini juga dulu Yo Cay Hin membikin rubuh Gak Hoan, adiknya Gak Hui. ―Bagus!‖ seru si imam buat kedua kalinya. Ia tidak menjadi gugup, justru ketika ujung tombak sampai, ia menyambutnya dengan kedua telapak tangan dirangkap, ditempel menjadi satu dengan keras, hingga ujung tombak itu kena terjepit. Tiat Sim kaget bukan kepalang. Ia mendorong dengan keras, tombaknya itu tak dapat maju melewati telapak tangan lawan. Ketika ia menarik dengan sekuat tenaga, betotannya pun sia-sia belaka, tombaknya tak terlepas dari cekalan lawannya itu, kuda-kuda si imam juga nancap bagaikan terpaku. Tiga kali ia mencoba menarik tanpa hasil, mukanya menjadi merah. Tiba-tiba saja si imam tertawa, lalu jepitan tangannya terlepas. Tapi ia tidak Cuma melepas, tempo tombak tertarik pulang, ia membacok dengan tangan kanannya kepada tombak, hingga dengan bersuara nyaring, tombak besi itu patah menjadi dua potong! Imam itu segera tertawa pula, lalu ia berkata. Kali ini dengan suara manis. ―Tuan, benar lihay ilmu silat tombakmu!‖ katanya. ―Maaf untuk perbuatanku ini! Mohon ku tanya she tuan‖ ―Aku yang rendah she Yo bernama Tiat Sim,‖ sahut Tiat Sim, selagi ia belum dapat tenangkan diri. Ia kesakitan pada kedua tangannya, ia pun heran sekali. ―Pernah apakah Tuan dengan Ciangkun Yo Cay Hin?‖ tanya si imam. ―Ia adalah leluhur saya,‖ jawab Tiat Sim pula. Mandadak si imam itu menjura kepada saudara angkat itu, sikapnya hormat sekali. ―Maaf, barusan aku menyangka Tuan-tuan adalah orang jahat,‖ ia berkata dengan pengakuannya. ―Aku tidak sangka Tuan-tuan adalah turunan orang-orang setia. Boleh kutanya she Tuan?‖ ia lanjuti kepada Siauw Thian. Dengan cara hormat Siauw Thian perkenalkan dirinya. ―Tuan ini kakak angkatku, dia adalah keturunan dari Say Jin Kui Kwee Seng dari gunung Liang San,‖ Tiat Sim menambahkan. ―Bagus!‖ berkata si imam, ia pun minta maaf pada pemuda she Kwee itu. Kembali ia menjura. Tiat Sim berdua membalas hormatnya. ―Silahkan Totiang minum arak pula,‖ ia mengundang pula kemudian. ―Memang kuingin minum dengan puas bersama jiwi!‖ kata si imam denagn tertawa. Tiat Sim dan Siauw Thian undang orang masuk pula ke dalam. Pauw-sie menyaksikan pertempuran dari muka pintu, girang ia mengetahui kesudahannya orang menjadi sahabat, ia terus lari ke dalam, untuk menyiapkan pula arak dan barang hidangan. Kali ini Tiat Sim dan Siauw Thian tanya gelaran si imam.

Siauw Thian terperanjat mendengar nama itu. ―Oh, apa bukannya Tiang Cun Cinjin?‖ ia menyela.
Irawan D Soedradjat

Page

6

―Pinto she Khu bernama Cie Kee,‖ sahut imam itu.

Pendekar Pemanah Rajawali

―Itulah nama pemberian rekan-rekanku, pinto malu menerimanya,‖ kata Cie Kee sambil tertawa. Siauw Thian segera berkata kepada adik angkatnya: ―Adik, totiang ini adalah orang gagah nomor satu di ini jaman! Sungguh beruntung kita dapat berjumpa dengannya!‖ ―Oh!‖ Tiat Sim berseru kaget. Lalu berdua, mereka berlutut di depan imam itu. Khu Cie Kee tertawa, ia memimpin bangun orang. ―Hari ini pinto telah membunuh seorang jahat, karenanya para pembesar negeri sedang mencari aku,‖ ia berkata. ―Barusan pinto lewat di sini, pinto lihat kamu berdua lagi minum arak. Di sini adalah kota raja dan kamu kelihatannya bukan sembarang orang, dari itu pinto menjadi curiga sendiri….‖ ―Keliru adalah saudaraku ini, yang tabiatnya keras,‖ Siauw Thian bilang. ―Totiang lihat sendiri, dia suruh lantas turun tangan, pantas kalau Totiang jadi curiga karenanya.‖ Siauw Thian dan Tiat Sim tertawa. Begitulah mereka lalu minum dan dahar dengan gembiranya. ―Sebenarnya pinto adalah orang utara,‖ kemudian Tian Cun Cinjin berkata pula. ―Rumah tanggaku hancur lebur karena kejahatan bangsa Kim, sedang pemerintah selalu mencari muka daripadanya, dari itu pinto telah sucikan diri.‖ Ia terus tuding kepala manusia yang remuk dan yang tergeletak di lantai itu. ―Dia itu adalah Ong To Kian, si pengkhianat besar. Pada tahun yang lalu kaisar mengutus dia kepada raja Kim, buat memberi selamat ulang tahun raja itu. Ketika itu digunai ia untuk bersekongkol, supaya bangsa Kim bisa menyerbu ke Kanglam. Pinto susul dia selama sepuluh hari, baru ia dapat dicandak, lalu pinto membunuhnya. Pikiranku sedang kacau maka juga tadi pinto berlaku tidak selayaknya.‖ Siauw Thian dan Tiat Sim membilang tidak apa. Mereka memang kagumi imam ini yang kesohor lihay ilmu silatnya. Sekarang ternyata orangpun menyinta negara, mereka lebih-lebih lagi menghormatinya. Lalu mereka mohon pengajaran silat. Khu Cie Kee tidak keberatan, lalu ia memberi beberapa petunjuk. ―Totiang, sunggguh beruntung kami dapat bertemu dengan Totiang,‖ kemudian Tiat Sim utarakan isi hatinya, ―Maka itu sudilah Totiang berdiam untuk beberapa hari di gubuk kami ini.‖ Imam itu hendak menjawab tuan rumah itu, ketika mendadak air mukanya berubah. ―Ada orang datang mencari aku,‖ ia bilang, ―Ingat, tidak peduli bagaimana denganku, sebentar kamu tidak boleh munculkan diri! Mengerti?!‖ Siauw Thian dan Tiat Sim heran akan tetapi mereka lantas mengangguk. Cie Kee lantas sambar kepalanya Ong To Kian, dengan cepat ia bertindak keluar, lalu gesit bagaikan burung terbang ia loncat naik ke atas sebuah pohon besar di dalam pekarangan, di situ ia umpatkan dirinya. Siauw Thian berdua heran bukan buatan. Kecuali deruan angin, mereka tidak dengar suara lainnya, mereka pun tidak nampak apa-apa. Baharu kemudian, sesudah memasang kuping dan angin pun lewat, mereka dengar tindakan kaki kuda. ―Sungguh jeli kuping cinjin!‖ puji Tiat Sim Suara kuda itu datang semakin mendekat, dan kemudian tampaklah belasan penunggang kuda, setiap penunggangnya mengenakan pakaian hitam dan kopiah hitam. Mereka itu menghampiri pintu, setelah tiba, orang yang pertama pecahkan kesunyian: ―Sampai di sini bekas-bekas kakinya, lalu lenyap!‖ Beberapa orang lompat turun dari kudanya, mereka periksa tapak kakinya Khu Cie Kee. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua sembunyi di dalam rumah, dari mana mereka mengintai di antara sela-sela jendela. Mereka dapat kenyataan orang semuanya gesit, suatu tanda dia orang mengerti ilmu silat dengan baik. ―Masuki rumah itu dan geledah!‖ terdengar memerintah orang yang maju di muka itu. Dua orang segera lompat turun dari kuda mereka, untuk itu lantas hampiri rumahnya Tiat Sim untuk menggedornya. Justru itu dari atas pohon menyambar sebuah benda, yang jitu sekali mengenai batok kepalanya satu di antara dua orang itu, hingga dia ini rubuh dengan kepalanya pecah hancur. Hingga kawannya menjadi kaget dan berteriak, hingga yang lain-lainnya turut berteriak pula, lebih-lebih setelah diketahui, benda yang
Irawan D Soedradjat

Page

7

Pendekar Pemanah Rajawali

dipakai menimpuk itu adalah kepalanya ―Ong Tayjin‖. Dengan lantas itu mereka mengurung pohon dari mana serangan itu datang. Orang yang menjadi pemimpin menghunus goloknya yang panjang, untuk memegang pimpinan, atas perintahnya lima orang menggunai panah untuk menyerang ke arah atas pohon! Yo Tiat Sim sambar sebatang golok dari pojok rumahnya, hendak dia menerjang keluar untuk membantu si imam, akan tetapi Siauw Thian menariknya. ―Jangan!‖ katanya. ―Totiang telah pesan kita jangan keluar! Kalau ternyata dia tidak sanggup melawan, baru kita turun tangan…….‖ Selagi orang she Kwee ini berbicara, Khu Cie Kee sudah beraksi. Dia sambut empat batang anak panah itu lalu ia pakai itu untuk menimpuk ke bawah, tubuhnya sendiri turut lompat turun, hingga akibatnya dua musuh menjerit dan rubuh binasa kena tikaman pedang. ―Imam bangsat, kiranya kau!‖ berseru si pemimpin, yang bajunya hitam. Dia perdengarkan suaranya seraya tangkis anak panah yang ditimpukkan ke arahnya, kemudian ia keprak kudanya maju untuk menyerang untuk mana tiga batang panah di tangannya telah mendahului majunya itu. Belum Cie Kee menyerang ini pemimpin, dia telah rubuhkan lagi dua musuh, hingga sebentar saja ia telah minta lima korban. Tiat Sim kagum hingga ia tergugu. Dia telah belajar silat belasan tahun, tetapi sedikit juga ia tidak dapat tandingi imam itu, yang gesit dan lihay sekali. Maka ia merasa ngeri waktu ia ingat tadi ia telah berani lawan imam yang lihay itu. Sekarang Cie Kee tengah layani si pemimpin, yang bengis sekali, meski demikian selang sesaat, Siauw Thian dan Tiat Sim segera mengerti bahwa sang imam tengah mempermainkan orang, sebab di lain pihak, saban-saban imam ini gunai ketika akan rubuhkan lain orang – ialah orang-orang yang mengepungnya. Terang si imam lagi gunai siasat, guna menumpas semua penyerangnya itu. Kalau dia lekas-lekas rubuhkan si pemimpin, mungkin bawahannya nanti lari kabur semua. Selang tak lama, imam itu dikepung hanya tujuh orang, yang ilmu silatnya paling baik. Menampak ini, si pemimpin menjadi kecil hatinya, dari itu, dengan tiba-tiba ia keprak kudanya, buat dikasih berbalik untuk lari pergi. Sang imam ada sangat jeli matanya dan cepat gerakannya, selagi kuda berputar, ia menyambar dengan tangan kirinya, akan cekal ekornya kuda itu, untuk ditarik. Sembari menarik ia enjot tubuhnya, untuk melompat naik, tetapi belum lagi ia bercokol di atas kuda itu, pedangnya sudah menikam tembus punggung si pemimpin, tembus dari belakang ke depan, hingga tubuh orang itu rubuh ke depan. Demikian dengan menunggang kuda, sekarang si imam ini bisa serang lain-lain musuhnya. Ia tidak membutuhkan banyak waktu untuk membikin setiap kuda tanpa penumpangnya, sebaliknya mayat-mayat bergelimpangan di tanah bersalju itu, yang menjadi merah karena berlumuran darah mereka itu…. Seorang diri si imam tertawa. ―Puas aku dengan pertempuran ini!‖ katanya kepada Siauw Thian dan Tiat Sim, yang telah lantas muncul. Hanya hati mereka masih kebat-kebit. ―Totiang, siapakah mereka ini?‖ tanya Siauw Thian. ―Kau geledah saja tubuh mereka!‖ sahut si imam. Siauw Thian menghampiri mayatnya si pemimpin, untuk memeriksa sakunya. Ia dapatkan sepotong surat titah, dari Tio Tayjin si residen Lim-an yang bisa ―menggonggong‖ sebagai anjing itu. Itu juga adalah titah rahasia untuk membekuk pembunuhnya Ong To Kian, untuk mana si residen bekerja sama dengan pihak bangsa Kim, sebab ia telah di desak oleh utusan negara Kim. Mengetahui itu, orang she Kwee ini menjadi sangat mendingkol. Sedang begitu, Tiat Sim telah perdengarkan seruan seraya tangannya menyekal beberapa potong yauw-pay, yang dia dapatkan dari beberapa mayat. Yauwpay itu adalah tanda kedudukan atau pangkat beberapa mayat itu, karena huruf-huruf yang kedapatan adalah huruf bahasa Kim, menjadi nyata, di antara orang-orangnya residen Lim-an itu adalah orang bangsa Kim.

Irawan D Soedradjat

Page

―Celaka betul!‖ teriak Siauw Thian dalam murkanya. ―Tentara Kim main bunuh orang di wilayah kita, sekarang pembesar kita boleh disuruh-suruh dan diperintah olehnya. Negara kita ini menjadi negara apa?!‖

8

Pendekar Pemanah Rajawali

Khu Cie Kee sebaliknya tertawa. ―Sebenarnya orang suci sebagai aku mestinya berlaku murah hati dan berbelas kasihan,‖ katanya, ―Akan tetapi menyaksikan kebusukan segala pembesar dan orang-orang jahat, tak dapat aku memberi ampun pula!‖ ―Memang, memang mesti begitu!‖ seru dua saudara angkat she Kwee dan she Yo itu. ―Begini barulah puas!‖ Kemudian Tiat Sim ambil pacul dan sekop, untuk menggali laing, guna pendam belasan mayat itu. Didalam hal ini ia tidak kuatir ada orang yang melihat kejadian ini, sebab desa itu sedikit penduduknya dan itu waktu lagi turun salju dengan lebatnya, tak ada orang yang sudi berkeliaran di luaran. Habis itu nyonya rumah sapui sisa darah di atas salju. Nyonya ini rupanya tak dapat menahan bau bacin dari darah, ia rupanya bekerja keras, tiba-tiba saja ia rasai kepalanya pusing, matanya kabur, lalu ia rubuh. Tiat Sim terkejut, ia tubruk istrinya, untuk diangkat bangun. ―Kau kenapa?‖ tanya suaminya ini beberapa kali. Pauw-sie berdiam, kedua matanya tertutup rapat, mukanya pucat pias, kaki tangannya dingin seperti es. Tentu saja suaminya itu menjadi kaget dan berkhawatir. Cie Kee pegang nadi si nyonyi, lantas ia tertawa. ―Kionghie! Kionghie!‖ ia memberi selamat. ―Apa, Totiang?‖ tanya Tiat Sim heran. Justru itu Pauw-sie mennjerit, ia sadarkan diri. Mulanya ia heran di kerumuni tiga orang, habis itu ia likat, ia lari ke dalam. ―Istrimu lagi hamil!‖ kata Cie Kee kemudian. ―Benarkah itu, Totiang?‖ Tiat Sim tegaskan. ―Tidak salah!‖ si imam pastikan. ―Banyak ilmu yang pinto yakinkan, tiga yang memuaskan hatiku, ialah pertama ilmu tabib, kedua syair, dan ketiga ialah ilmu silat kucing kaki tiga ……‖ Dengan kata-kata ―kucing tiga kaki‖ atau tidak ada artinya, imam ini merendahkan diri. ―Totiang begini lihay tetapi totiang menyebutkan kepandaianmu sendiri sebagai kucing kaki tiga, kalau begitu kepandaian kami berdua pastilah kepastiannya si tikus berkaki tunggal!‖ katanya. Cie Kee tersenyum, begitu pula dengan Tiat Sim. Kemudian mereka bertiga masuk pula ke dalam untuk lanjuti minum arak. Dua saudara angkat itu sangat kagumi tetamu mereka, yang bertempur hebat tetapi tubuhnya tak berkeciprukan darah. Tiat Sim minum dengan gembira sekali. Ia ingat akan hamilnya istrinya. ―Kwee Toako,‖ katanya kemudian. ―Enso pun lagi berisi, maka aku pikir baiklah kita minta totiang yang memberi nama kepada anak-anak kita nanti!‖ Siauw Thian berikan kesetujuannya atas saran itu. Cie Kee pun tidak menampik, ia berpikir sebentar lantas ia bilang: ―Anak Kwee Toako baik diberi nama Ceng, yaitu Kwee Ceng, dan anak Yo Toako diberinama Kong, yaitu Yo Kong. Nama-nama ini dapat juga diberikan sekalianpun untuk anak perempuan.‖ ―Bagus!‖ seru Siauw Thian. ―Aku mengerti, totiang tentu tidak melupai peristiwa Ceng-kong yang memalukan, untuk memperingati ditawannya kedua raja kita.‖ ―Benar begitu!‖ sang imam mengakui. Terus ia merogoh sakunya, untuk kasih keluar dua potong pedang pendek, yang ia letaki di atas meja. Pedang itu sama panjang pendeknya dan besar kecilnya, sarungnya dari kulit hijau, gagangnya dari kayu hitam. Kemudian ia ambil pisaunya Tiat Sim, untuk dipakai mengukir gagang kedua pedang pendek itu. Ia mengukir masing-masing dua huruf ―Kwee Ceng‖ dan ―Yo Kong‖. Dua-duanya Siauw Thian dan Tiat Sim kagum menyaksikan kepandaiannya si imam mengukir huruf-huruf itu, cepat dan indah hurufnya.

Irawan D Soedradjat

Page

9

Pendekar Pemanah Rajawali

―Diwaktu berkelana seperti ini aku tidak punya barang apa-apa, pedang pendek ini saja aku berikan sebagai tanda mata untuk anak-anak kedua toako nanti!‖ kata si imam. Dua saudara angkat itu terima bingkisan itu, keduanya mengucapkan terima kasih. Tiat Sim mencoba menghunus pedangnya, ia menjadi kagum. Pedang itu berkilau dan memberikan hawa dingin. Demikian pun pedangnya Siauw Thian. Jadinya kedua pedang itu bukan sembarang pedang, meskipun badan pedang ada tipis sekali. Cie Kee pegang pedang yang satu, ia adu itu dengan pisau belatinya, dengan memberikan satu suara, ujungnya pisau belati itu putus menjadi dua potong. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua menjadi terkejut. ―Totiang, tak berani kami menerima hadiah ini!‖ kata mereka. Sebab kedua pedang itu adalah semacam pedang mustika. Tiang Cun Cinjin tertawa. ―Dua pedang ini pinto dapatkan secara kebetulan saja, walaupun benar untuk itu pinto mesti keluarkan sedikit tenaga,‖ ia berkata. ―Untukku, senjata ini tidak ada perlunya, sebaliknya adalah besar faedahnya apabila dibelakang hari anak-anak itu pakai untuk membela negeri, guna melabrak musuh!‖ Dua saudara angkat itu masih mencoba menampik hingga mereka membangkitkan amarahnya si imam itu. ―Aku anggap kamu adalah turunan orang-orang kenamaan, maka itu aku hargakan kamu, kenapa sekarang kamu begini tidak bersemangat?‖ ia menegur. Baharu sekarang Siauw Thian dan Tiat Sim tidak menolak lagi, mereka lantas menghanturkan terima kasih. Cie Kee berkata pula, dengan sungguh-sungguh: ―Kedua pedang ini adalah benda usia beberapa ratus tahun tua, setahu sudah berapa banyak orang terbunuh dan berapa banyak darah telah dihirupnya, maka mengertilah kamu, siapa saja yang mengerti ilmu silat melihat ini lantas matanya menjadi merah! Kamu pun mesti menginsafinya, seorang bocah yang ilmu silatnya tidak sempurna dengan menggunai pedang ini, dia Cuma dapat memperbahayakan dirinya sendiri, dari itu kamu mesti berhati-hati! Kamu ingatlah baik-baik!‖ Siauw Thian dan Tiat Sim berdua saling mengawasi, hati mereka tidak tentram. Khu Cie Kee tertawa panjang. ―Sepuluh tahun sejak ini, apabila pinto masih ada di dalam dunia ini, mesti pinto datang pula ke mari untuk ajarkan anak-anak itu ilmu silat,‖ ia berkata, ―Setujukah kamu?‖ Dua saudara angkat itu menjadi girang sekali. ―Terima kasih totiang, terima kasih!‖ mereka mengucap. ―Sekarang ini bangsa Kim sedang mengincar negara kita, terhadap rakyat dia sangat telengas,‖ berkata pula si imam, ―Karena mestinya tidak lama lagi bangsa itu turun tangan, dari itu pinto harap jiwi jaga diri baik-baik….‖ Dia angkat cawannya, untuk tenggat habis isinya, setelah itu dia buka pinti, untuk bertindak keluar. Siauw Thian berdua berniat meminta si imam berdiam lebih lama, siapa tahu tindakan orang cepat sekali, tahu-tahu imam itu sudah pergi jauh. ―Begitulah kelakuan orang berilmu, ia datang dan pergi tak ketentuannya,‖ kata Siauw Thian sambil menghela napas. ―Kita dapat bertemu dia tetapi sayang, kita tidak dapat meminta pengajaran daripadanya……..‖ Tiat Sim sebaliknya tertawa. ―Toako, hebat cara bertempurnya totiang hari ini!‖ ia bilang. ―Dengan menonton saja, sedikitnya terumbar juga hati pepat kit!‖ ia lantas buat main pedang yang satu, sampai ia lihat ukiran dua huruf Yo Kong. Lantas ia berkata ―Toako ada satu pikiran cepat dari aku, entah kau setuju atau tidak?‖ ―Apakah itu, Saudaraku?‖ Siauw Thian balik bertanya. ―Inilah mengenai anak-anak kita nanti,‖ Tiat Sim beri keterangan. ―Umpama anak kita laki-laki semua, biarlah mereka menjadi saudara satu dengan yang lain, apabila mereka adalah perempuan, biarlah mereka menjadi enci dan adik……….‖ ―Jikalau mereka adalah laki-laki dan perempuan, biarlah mereka menjadi suami-istri!‖ Siauw Thian menyela. Keduanya lantas menjabat tangan, mereka tertawa terbahak. Itulah janji mereka. Justru pada saat itu Pauw-sie muncul. ―Eh, kenapa kamu menjadi girang begini?‖ tanya si nyonya.
Irawan D Soedradjat

Page

10

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kami baru saja membuat janji,‖ sahut Tiat Sim, yang lantas tuturkan kecocokan mereka berdua. ―Cis!‖ si nyonya meludah. Tetapi di dalam hati, ia pun girang. ―Sekarang marilah kita saling tukar pedang dahulu,‖ Tiat Sim berkata pula. ―Ini adalah semacam tanda mata. Kalau mereka ada laki-laki atau perempuan, biarlah mereka jadi saudara satu dengan yang lain, kalau……..‖ ―Kalau begitu, kedua pedang ini akan berkumpul di rumah kakak!‖ Siauw Thian bilang. ―Mungkin akan berkumpul di rumahmu, Saudara!‖ kata Pauw-sie. Lantas mereka tukar kedua pedang itu. Sampai disitu, Siauw Thian pulang dengan membawa pedang itu, untuk memberitahukan kepada istrinya, Lie-sie. Tiat Sim ada gembira sekali, masih ia minum seorang diri, hingga ia mabuk. Pauw-sie pimpin suaminya ke kamar tidur, lalu ia benahkan piring mangkok dan cawan, habis mana melihat hari sudah mendekati sore, ia pergi ke belakang untuk kurungi ayamnya. Setibanya ia di pintu belakang, ia menjadi terkejut. Di situ, di atas salju, ia tampak tanda-tanda darah, yang melintas di luar pintu belakang itu. ―Kiranya di sini masih ada tanda darah yang belum dilenyapkan,‖ pikirnya heran. ―Kalau pembesar negeri melihat ini, inilah bahaya….‖ Maka ia cari sapu, lantas ia menyapu pula. Tanda darah itu menuju ke belakang rumah dimana ada pepohonan lebat. Di sini ia lihat tanda darah dari orang yang rupanya jalan merayap. Ia jadi bertambah heran, saking curiga, ia ikuti terus tanda darah itu, yang sampai di belakang sebuah kuburan tua. Di situ ia lihat suatu benda hitam yang tergeletak di tanah. Kapan ia sudah datang mendekat, ia kembali jadi terkejut. Itu adalah tubuhnya satu orang dengan pakaian serba hitam, ialh salah satu orang yang tadi mengepung Khu Cie Kee. Rupanya habis terluka, ia tidak terbinasa, ia lari ke belakang rumah. Selagi berpikir, Pauw-sie ingat untuk panggil suaminya, buat kubur orang itu. Ia belum bertindak tempo ia ingat, adalah berbahaya kalau ia tinggal pergi, sebab mungkin nanti diketemui lain orang yang kebetulan lewat di situ. Ia jadi beranikan diri, ia menghampiri orang itu dengan niat menyeret, guna dipindahkan ke dalam rujuk, setelah mana baru ia baru hendak panggil suaminya. Benar disaat ia cekal tubuh orang untuk ditarik, mendadakan tubuh itu bergerak, lau terdengar suara merintihnya. Ia menjadi sangat kaget, ia jadi berdiri bagaikan terpaku, sedang sebenarnya ingin ia lari pulang. Lewat sesaat, tubuh itu terdiam pula. Dengan beranikan hati, Pauw-sie pakai sesapu, untuk bentur tubuh orang. Maka sekali lagi ia dengar suara rintihan perlahan.

Bab 2. Berlalunya Dua Sahabat Kekal

Sekarang Pauw-sie dapat kenyataan orang belum mati dan pundaknya dia itu tertancapkan sebatang anak panah. Batang patah juga berbelepotan darah. Nyonya ini bernama Sek Yok, nama ini tepat sama sifatnya, yang selalu berhati murah. Nama itu pun berarti ―menyayangi yang lemah‖. Begitulah diwaktu masih kecil, kalau ia lihat burung gereja atau ayam terluka, atapun kutu seperti semut, tentu ia mengobatinya, sampai binatang itu sembuh, kalau tidak, ia buatnya berduka. Karena ini, dikamarnya ia rawat banyak kutu. Sifat ini tidak berubah sampai ia menikah, dari itu kebetulan untuknya Yo Tiat Sim, suaminya tidak menentangi padanya, maka juga di belakang rumahnya ia ada pelihara banyak burung dan binatang peliharaan lainnya. Suatu sifat lagi ialah Pauw-sie tidak tega menyembelih binatang piaraannya untuk suaminya dahar ayam, ia sengaja beli di pasar, ayamnya sendiri ia pelihara hingga matinya ayam itu. Demikian kali ini, menampak orang terluka parah timbul rasa kasihannya, walaupun ia tahu orang bukannya orang baik-baik. Cuma bersangsi sejenak, lantas ia lari pulang, niatnya untuk mengasih bangun suaminya. Tiat Sim lagi tidur nyenyak, mungkin disebabkan mabuk arak, ia tak mendusin kendati istrinya sudah gonyanggonyang tubuhnya.
Irawan D Soedradjat

Page

11

Pendekar Pemanah Rajawali

Pauw-sie menjadi sibuk. Ia tahu orang perlu lekas ditolongi. Akhirnya dengan terpaksa ia ambil obat-obatan suaminya, dengan bawa pisau kecil dan sepotong cita, juga arak yang hangat, ia kembali pada si luka. Biasa merawat binatang, ia jadi juga bisa merawat orang luka. Begitu setelah belek sedikit daging di dekat panah nancap, dengan sekeras tenaga, ia cabut anak panah itu. Si luka menjerit, lalu pingsan. Panahnya tercabut, darahnya muncrat mengenai bajunya si nyonya. Dengan hati memukul sendirinya, Pauw-sie lantas obati luka itu, ia bungkus dengan rapi. Selang sekian lama, si luka sadar pula, tapi ia sangat lemah, rintihannya pun sangat perlahan. Pauw-sie tidak kuat angkat tubuh orang, tetapi ia dapat akal, ia pulang untuk ambil sehelai papan pintu, ia letaki itu diatas salju, lalu ia tarik orang ke atas papan itu, lantas ia tarik sekuat-kuatnya. Ia tempatkan si luka di gudang kayu. Sampai ia telah salin pakaian, hati Pauw-sie masih belum tentram betul. Ia masak daging kuwah semangkok, lalu ia bawa ke belakang. Hari sudah gelap, ia bawa lilin. Sejak di depan pintu gudang, ia sudah dengar suara bernapas perlahan. Jadi orang itu tidak mati. Ia masuk ke dalam, ia berikan daging kuwah itu. Si luka makan sekira setengah mangkok, lalu ia batuk-batuk keras. Dengan bantuan api lilin, pauw-sie awasi muka orang. Ia dapatkan satu pemuda yang tampan, hidungnya mancung. Karena tangannya gemetar, tanpa ia merasa ia kena bikin tetesan lilin jatuh ke muka orang itu, yang lantas buka kedua matanya. Kaget ia akan lihat si nyonya cantik, sinar matanya jernih, kulitnya merah dadu. ―Apa yang kau rasakan baikan?‖ Pauw-sie toh menanya. ―Mari makan habis daging kuwah ini…..‖ Orang itu ulur tangannya, akan sambuti mangkok, tetapi ia lemah, hampir ia bikin mangkok itu terlepas. Maka terpaksa Pauw-sie bawa mangkok itu kemulutnya. Habis makan kuwah, nampaknya orang itu segaran. Dengan mata bersinar, ia awasi si nyonya, agaknya ia berterima kasih. Pauw-sie likat diawasi orang itu, maka lekas-lekas ia ambil rumput, akan tutupi tubuh orang itu, lalu dengan membawa lilinnya, ia balik ke kamarnya. Ia tidak dapat tidur tenang, diwaktu pulas, ia mimpi yang hebat-hebat, umpamanya suaminya tombak mati orang itu atau dua ekor harimau kejar padanya sampai ia tak tahu mesti lari ke mana. Beberapa kali ia mimpi, beberapa kali ia sadar, dengan hati tergoncang. Ketika akhirnya ia mendusin diwaktu pagi, ia dapatkan suaminya lagi gosok tombaknya. Ia ingat kejadian semalam, ia jadi kaget sendirinya. Diam-diam tapi dengan lekas, ia pergi ke belakang, ke gudang kayu. Selekasnya ia membuka pintu gudang, ia jadi terlebih kaget lagi. Di sana tak ada si luka, rumputnya teruwar kalang kabutan! Ia lantas pergi ke pintu belakang, ia lihat pintu cuma dirapatkan, di atas salju terlihat bekas orang merayap pergi, tujuannya ke arah barat. Ia mengawasi ke arah itu, pikirannya tidak karuan. Sampai sekian lama, setelah mukanya ditiup angin dingin, baru ia sadar. Itu waktu ia pun merasai pinggangnya ngilu dan lemas, ia jadi lelah sekali, maka itu, ia lantas kembali ke dalam. Tiat Sim masak bubur putih, yang diletaki di atas meja. ―Kau lihat!‖ kata suaminya dengan tertawa. ―Bubur masakanku tak ada celaannya, bukan?‖ Istri itu tertawa, ia tahu karena ia sedang hamil, suaminya itu yang sangat menyayangi ia telah masaki ia bubur. Ia lantas dahar bubur itu. Itu waktu ia telah ambil keputusan akan tutup mulut tentang si terluka yang ia tolongi itu, sebab ia tahu kebencian suaminya terhadap orang jahat, apabila suaminya diberitahukan, pasti ia bakal binasakan orang itu. Sejak itu beberapa bulan telah berlalu; dengan lewatnya sang waktu, Pauw-sie juga telah lupai itu peristiwa yang ia sudah tolongi orang yang luka. Pada suatu hari, Tiat Sim dan istrinya pergi ke rumah Siauw Thian, untuk bersantap dan minum arak, sorenya mereka pulang, akan terus masuk tidur. Tepat tengah malam, tiba-tiba Pauw-sie mendusin dan melihat suaminya telah bangun juga dan sedang duduk di atas pembaringan. Ada sesuatu yang mengejutkan suaminya itu hingga ia jadi terjaga dari tidurnya. Dan istri ini masih lungu-lungu ketika kupingnya dapat tangkap suara samar-samar dari tindakan kaki kuda di atas es, makin lama makin nyata, datangnya dari barat ke timur, kemudian itu disusul sama suara serupa yang datangnya dari arah timur. Ia menjadi kaget pula apabila ia dengar pula suara dari selatan dan utara. ―Toako!‖ katanya pada suaminya sambil bangun untuk berduduk, ―Kenapa ada suara kuda dari empat penjuru?‖
Irawan D Soedradjat

Page

12

Pendekar Pemanah Rajawali

Tiat Sim tidak menyahuti, ia hanya segera turun dari pembaringan untuk rapikan pakaiannya. Tindakan kuda dari empat penjuru datang semakin dekat, lalu disusul sama gongongan anjing kampung yang menyahutnya. ―Kita kena dikurung‖ kata Tiat Sim kemudian. Pauw-sie terkejut. ―Untuk apakah?‖ tanyanya ―Entahlah!‖ jawab suaminya itu. Ia terus serahkan pedang pengasihan dari Khu Cie Kee seraya memesan: ―Kau pegang ini untuk jaga dirimu!‖ Tiat Sim buka jendela, untuk melihat keluar, karena itu suara kuda sudah datang mendekat sekali. Ia lihat tegas kampungnya telah dikurung oleh sejumlah tentera, kurungannya berlapis. Ia dapat melihat karena tentera itu ada membawa obor yang diangkat tinggi-tinggi. Perwira yang memegang pemimpin ada tujuh atau delapan orang. ―Tangkap pengkhianat! Jangan kasih dia lolos!‖ demikian tentara itu mulai berseru-seru. ―Apakah ada pengkhianat yang lolos kemari?‖ Tiat Sim menduga-duga. Ia cekal tombaknya untuk melihat gelagat. Tiba-tiba satu perwira berseru: ―Kwee Siauw Thian! Yo Tiat Sim! Kamu berdua pemberontak, lekas muncul untk terima diringkus!‖ Tiat Sim menjadi kaget, sedang Pauw-sie menjadi pucat mukanya. ―Entah kenapa pembesar negeri menfitnah rakyat,‖ kata Tiat Sim kemudian, ―Tidak ada jalan lain, kita mesti menerobos keluar! Kau jangan takut, walaupun musuh berjumalh puluhan ribu, akan aku lindungi padamu!‖ Dasar turunan orang peperangan. Tiat Sim tidak menjadi kacau pikirannya. dengan tenang tetapi sebat, ia siapkan panahnya, terus ia pegangi tangan kanan istrinya. ―Nanti aku berbenah dulu…‖ kata Pauw-sie. ―Apa lagi yang hendak dibenahkan?‖ kata suaminya itu. ―Apa juga tak dapat. Lemah hatinya istri itu, lalu tiba-tiba ia menangis. ―Dan rumah ini?‖ katannya. ―Asal kita dapat lolos, nanti di lain tempat kita membangun pula rumah kita!‖ sahut sang suami. ―Dan itu anak-anak ayam dan anak-anak kucing?‖ istri itu menanya pula. Tiat Sim menghela napas. ―Ah, orang tolol, kamu masih memikirkan segala binatang itu! Mana dapat?‖ Baru Tiat Sim mengucap demikian, di luar kembali terdengar seruan berisik dan api terlihat berkobar. Dua ruang di depan telah dibakar, lalu dua orang serdadu Song mulai menyulut payon rumah. Bukan main mendelunya Tiat Sim. Ia buka pintu dan muncul. ―Aku Yo Tiat Sim!‖ ia perkenalkan diri. ―Kamu hendak bikin apa?‖ Dua serdadu itu kaget, mereka memutar tubuh, sembari melemparkan obornya, mereka lari balik. Di antara cahya api, satu perwira maju dengan kudanya. ―Kamu Yo Tiat Sim? Bagus!‖ ia berkata. ―Mari ikut kami menghadap pembesar kami! Tangkap!‖ Lima serdadu lantas merangsak. Tiat Sim geraki tombaknya, dalam jurus ―Ouw liong pa bwee‖, atau ― Naga hitam menggoyang ekor,‖ lalu tiga serdadu roboh terguling, kemudian dengan susulannya ―Cun lui cin nouw‖ atau ―Geledak musim semi murka,‖ ia rubuhkan satu yang lain, yang tubuhnya ia lempar balik ke dalam barisannya. ―Untuk menangkap orang, kamu mesti lebih dahulu beritahukan kedosaannya!‖ ia membentak. ―Pemberontak bernyali besar!‖ teriak si perwira. ―Kanu berani melawan?!‖
Irawan D Soedradjat

Page

13

Pendekar Pemanah Rajawali

Mesti begitu ia gentar hari, tak berani ia maju mendekati. Adalah satu perwira lain yang berada dibelakangnya, mewakilkan ia maju. Berkatalah perwira ini: ―Baik-baik saja ikut kami ke kantor, kau akan bebas dari kedosaan berat. Di sini ada surat titah!‖ ―Kasih aku lihat!‖ bentak Tiat Sim. ―Masih ada satu pemberontak lainnya, yang she Kwee?!‖ kata perwira itu. ―Kwee Siauw Thian ada di sini!‖ sahut Siauw Thian yang tiba-tiba muncul di muka jendela, panahnya telah siap sedia. Perwira itu terkejut, hatinya ciut. ―Letkai panahmu,‖ katanya. ―Nanti aku bacakan surat titah ini….‖ ―Lekas baca!‖ bentak Siauw Thian, yang justru tarik semakin melengkung gandewanya itu. Terpaksa dengan ketakutan, perwira itu membaca. Itulah surat titah untuk menawan Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim dua penduduk Gu-kee-cun, yang dituduh berontak melawan negara, sudah bersekongkol sama penjahat besar. ―Surat titah ini datang dari kantor mana?‖ Siauw Thian tanya. ―Inilah surat titah tulisannya Han Sinsiang sendiri!‖ jawab perwira itu. Dua-dua Siauw Thian dan Tiat Sim terkejut. ―Hebat urusan, sampai Han Sinsiang sendiri yang turun tangan menulis surat titah?‖ mereka berpikir. ―Mungkin ini disebabkan terbukanya rahasia Khu Cinjin telah membinasakan banyak hamba negara?‖ ―Siapakah yang mendakwa? Apa ada buktinya?‖ tanya Siauw Thian pula. ―Kita cuma mesti menawan orang!‖ kata si perwira. ―Nanti di muka pembesar kamu boleh bicara!‖ ―Han Sinsiang gemar menfitnah orang baik-baik, siapa tidak tahu itu?‖ kata Tiat Sim. ―Kami tak sudi kena jebak!‖ Dengan perlahan Tiat Sim kata pada istrinya: ―Pergi lapis bajumu, akan aku rampas kuda dia itu untukmu! Akan aku panah perwira itu, tenteranya bakal jadi kacau!‖ Dan terus ia tarik panahnya, maka setelah satu suara ―Ser!‖ si perwira berkoak keras, tubuhnya terjungkal dari kudanya. Semua serdadu lantas berteriak-teriak. ―Maju! Tangkap!‖ berseru perwira yang satunya. Sejumlah serdadu taati titah itu, akan tetapi selagi maju, mereka disambut busur-busurnya Siauw Thian dan Tiat Sim berdua, hingga enam atau tujuh diantaranya rubuh seketika. Akan tetapi jumlah mereka ini besar, dibawah anjuran pembesarnya, mereka maju terus. Tiat Sim menjdai mendongkol, ia tukar panah dengan tombaknya, setelah ia lompat keluar pintu, ia sambut penyerang-penyerangnya. Rombongan serdadu itu kena terpukul mundur. Atas itu, Tiat Sim melompat kepada satu perwira yang menunggang seekor kuda putih, ia menyerangnya. Perwira itu menangkis dengan tombaknya. Ia tapinya tak kenal ilmu tombak keluarga Yo, pahanya kena ditikam, maka dengan satu gentakan, tubuhnya terpelanting ke tanah. Dengan menekan tombaknya ke tanah, Tiat Sim lompat ke atas kuda putih, maka sesaat saja, ia sudah menerjang ke muka pintu rumahnya. Ia tikam rubuh satu serdadu Song, yang menghalangi dia, kemudian dengan satu jembretan, ia angkat tubuh istrinya naik ke kudanya. Itu waktu Pauw-sie sudah siap menanti padanya. ―Kwee Toako, mari turut aku!‖ orang she So itu teriaki saudara angkatnya. Siauw Thian tengah menyerang seru dengan sepasang tombak pendeknya yang bercagak. Ia membuka jalan untuk istrinya Lie-sie yang bernama Peng.

Irawan D Soedradjat

Page

14

Pendekar Pemanah Rajawali

Beberapa perwira tidak dapat mencegah kedua orang gagah itu, terpaksa mereka menitahkan menggunai anak panah. ―Enso, lekas naik!‖ seru Tiat Sim, yang hampiri Lie-sie. Ia pun lantas lompat turun dari kudanya. ―Tidak bisa….‖ berkata Lie-sie. Diwaktu demikian, tidak ada lagi aturan sungkan, maka tanpa bilang suatu apa, Tiat Sim cekal tubuh iparnya, untuk segera diangkat naik ke punggung kuda, kemudian ia bersama Siauw Thian mengikuti dari belakang, untuk melindungi. Lolos belum jauh, di sebelah depan mereka dicegat oleh satu pasukan lain. Riuh suara tentera itu, hebat serbuannya. Tiat Sim dan Siauw Thian mengeluh di dalam hati. Karena terpaksa, mereka jadi memikir untuk cari jalan lolos. Sekonyong-konyong terdengar suara panah sar-ser, lalu Pauw-sie menjerit keras. Kuda putih terpanah, kaki depannya tertekuk, lalu tubuhnya ngusruk. Pauw-sie rubuh bersama Lie-sie, yang pun ikut berteriak. Tiat Sim kaget tetapi ia tabah. ―Toako, lindungi mereka, akan aku rampas kuda pula!‖ serunya. Lalu dengan memutar tombaknya, ia menerjang musuh. Kwee Siauw Thian berpikir lain daripada saudara angkatnya itu. ―Terang kita berdua tidak bakal dapat menerobos kurungan musuh ini, atau istri kita sukar ditolongi. Karena kita tidak bersalah dosa, daripada antarkan jiwa disini, baiklah kita menemui pembesar negeri untuk berbicara dengannya.‖ Maka itu, ia teriaki adik angkatnya itu: ―Adik, mari kita ikuti mereka ke kantor!‖ Tiat Sim heran, akan tetapi ia hampiri saudaranya itu. Perwira pemimpin tentera itu menitahkan menunda penyerangan, tetapi mereka mengurung rapat-rapat. ―Letaki senjatamu, kami akan beri ampun jiwa kamu!‖ ia berteriak. ―Toako, jangan kena diperdayakan!‖ Tiat Sim memberi ingat. Siauw Thian menggeleng kepala, ia lemparkan sepasang tombaknya. Tiat Sim lihat istrinya ketakutan, hatinyapun menjadi lemah, maka seraya menghela napas, ia lemparkan panah dan tombaknya. Atas itu belasan tombak tajam dipakai mengurung empat orang itu, kemudian delapan serdadu maju mendekati, untuk membelenggu mereka berempat. Tiat Sim berdiri tegak, dia tertawa dingin. Sikap ini tidak menyenangi si pemimpin tentara, ia ayun cambuknya seraya mendamprat: ―Pemberontak bernyali besar, benarkah kamu tidak takut mampus?!‖ ―Bagus!‖ kata jago she Yo itu. ―Siapakah namamu?!‖ Perwira itu menjadi semakin gusur, cambuknya disabetkan berulang-ulang. ―Tuan besarmu tak pernah ubah she dan namanya!‖ katanya dengan jumawa. ―Tuan besarmu she Toan namanya Thian Tek. Thian Tek itu berarti kebijaksanaan Tuhan, kau mengerti? Ingatkah kau? Supaya kapan nanti kau bertemu Giam Kun, kau boleh ajukan dakwaanmu!‖ Tiat Sim tidak takut, ia malah mengawasi dengan bengis. ―Ingat olehmu, tuanmu ada cacat luka di jidatnya dan tanda biru di pipinya!‖ Thian Tek membentak pula. Ia angkat pula cambuknya. Pauw-sie menangis. ―Dia orang baik, ia belum pernah berbuat jahat, kenapa kau aniaya dia sampai begini?‖ tanya istri ini yang tidak tega melihat suaminya dicambuki. Tiat Sim meludah tepat mengenai mukanya perwira she Toan itu. Dia menjadi sangat murka, ia lalu cabut golok di pinggangnya.
Irawan D Soedradjat

Page

15

Pendekar Pemanah Rajawali

―Aku akan bunuh dulu padamu, pemberontak!‖ teriaknya. Tiat Sim tidak sudi mandat dibacok, ia berkelit ke samping. Tapi segera ia merasa ada tombak-tombak yang menahan tubuhnya. Thian Tek membacok pula. Tiat Sim tidak melihat lain jalan, ia berkelit mundur dengan mengkeratkan tubuhnya. Melihat bacokkannya kembali gagal, Thian Tek terus menikam. Kali ini goloknya yang tajam bagaikan gergaji dapat melukakan pundaknya orang she Yo itu. Dia tapinya belum puas, kembali ia ulangi bacokannya. Siauw Thian lihat adik angkatnya terancam bahaya, ia lompat maju seraya mendupak. Thian Tek terkejut, ia batal menyerang, terus dia menangkis. Siauw Thian lihay, ia tarik kakinya untuk ayun kakinya yang lain. Itulah tendangan saling susl dari ilmu tendangan Wan-yo-twie, maka tak ampun lagi, perwira itu terjejak pinggangnya. ―Hajar mampus dia!‖ dia berseru. Beberapa serdadu segera menyerang. Siauw Thian melawan, ia dapat menendang terguling dua serdadu, tetapi karena ia terbelenggu tangannya, akhirnya ia kena dibokong Thian Tek yang sambar ia dari belakang, hingga tangan kanannya terbacok kutung! Bukan main panasnya hati Tiat Sim menampak kakaknya itu menjadi korban keganasan si perwira, entah darimana datangnya tenaganya ketika ia berteriak keras sekali, belengguan pada tangannya terputus terlepas, maka sambil melompat maju, ia hajar rubuh satu serdadu, untuk rampas tombaknya yang panjang dengan apa ia terus mengamuk. Thian Tek menginsyafi bahaya, ia sudah mendahului mundur. Yo Tiat Sim menyerang bagaikan kalap, matanya menjdi merah. Semua serdadu mejadi kalah hati, dengan ketakutan mereka lari bubaran.. Tiat Sim tidak mengejar musuh, hanya ia menubruk kakak angkatnya yang telah mandi darah. Tanpa merasa ia kucurkan airmata. ―Adik sudah kau jangan pedulikan aku,‖ kata Siauw Thian lemah. ―Lekas, lekas kau singkirkan diri…‖ ―Akan aku merampas kuda, mari kita pergi bersama!‖ kata Tiat Sim. Siauw Thian tidak menyahut, ia hanya pingsan. Tiat Sim buka bajunya, hendak ia membalut luka kakak itu, tetapi lukanya lebar sekali, dari pundaknya merembet ke dada, sulit untuk membalutnya. Siauw Thian sadar pula. ― Adik, kau pergilah…‖ ia kata dengan suara yang sangat lemah. ―Pergi kau tolong teehu serta ensomu…aku, aku sudah habis…‖ Dan ia meramkan matanya untuk selamanya. Hampir Tiat Sim menyemburkan darah, sangking berduka dan mendongkol. Ia lantas berpaling ke arah di mana istrinya dan ensonya, istri Siauw Thian. Untuk kagetnya ia tidak dapat melihat mereka itu. ―Toako, aku akan balaskan sakit hatimu!‖ ia berteriak. Lalu dengan membawa tombaknya, ia lari kepada barisan serdadu, yang sekarang sudah berkumpul pula. Toan Thian Tek memberi perintahnya, maka barisannya itu menyambut dengan hujan anak panah. Tiat Sim maju terus seraya putar tombaknya, akan halau setiap busur. Ketika satu perwira dekati dia dan membacok, ia berkelit sambil mendak, akan nelusup ke bawahan perut kuda. Si perwira membacok sasaran kosong, hendak ia putar kudanya, tetapi tombaknya Tiat Sim tahu-tahu sudah menikam tepat kepadanya, maka
Irawan D Soedradjat

Page

16

Pendekar Pemanah Rajawali

ketika tubuhnya rubuh, orang she Yo itu gantikan ia lompat naik ke atas kudanya itu hingga dengan apa punya binatang tunggangan, Tiat Sim bisa menyerang dengan terlebih hebat. Sekali lagi barisan serdadu itu lari buyar. Tiat Sim mengejar, hingga ia lihat satu perwira lagi kabur sambil peluki seorang perempuan. Ia tidak mengejar, hanya ia lompat turun dari kudanya, akan rampas gendawanya satu serdadu Song lalu diantara terangnya api obor, ia panah perwira itu. Tepat panahnya ini, si perwira rubuh dari kudanya yang jatuh ngusruk. Dia rubuh bersama si wanita dalam pelukannya, hingga orang jadi terlepas. Lagi sekali Tiat Sim memanah. Selagi orang merayap bnagun. Kali ini perwira itu rubuh pula untuk tidak dapat bangun lagi. Tiat Sim lari kepada wanita itu untuk kegirangannya ia dapatkan pada istrinya. Sek Yok kaget dan girang, ia lompat ke dalam rangkulan suaminya itu. ―Mana enso?‖ Tiat Sim tanya. Dia lantas ingat istrinya Siauw Thian. ―Ia ada di sebelah depan, ia pun dibawa lari serdadu jahanam itu!‖ sahut Pauw-sie. Kapan Tiat Sim menoleh, ia tampak mendatanginya satu barisan lain. ―Toako telah menemui ajalnya, biar bagaimana aku mesti tolongi enso!‖ ini adik angkat ambil keputusan, ia bicara sama istrinya. ―Turunan toako mesti dilindungi. Kalau Thian mengasihi kita, kita berdua dapat bertemu pula…‖ Sek Yok rangkul keras leher suaminya itu, ia menangis menggerung-gerung. ―Tak dapat kita berpisah!‖ ia kata. ―Kau yang bilang sendiri, kalau kita mesti binasa, kita mesti binasa bersama! Bukankah benar kau pernah mengatakan demikian?‖ Tiat Sim peluki istrinya, hatinya karam. Tapi ia tiba-tiba keraskan hati, ia menolak dengan keras, ia sambar pula tombaknya, untuk lari. Ketika sudah lari beberapa puluh tindak, ia lihat istrinya menangis bergulingan di tanah, dan barisan serdadu yang mendatangi sudah mendekati istrinya itu. Ia usap mukanya, peluhnya bercampur sama darah muncratan. Ia lari pula. Telah bulat tekadnya untuk menolongi Lie-sie. Di sebelah depan, ia dapat rampas seekor kuda, maka itu ia jadi tambah semangat. Kebetulan ia dapat bekuk satu serdadu, atas pertanyaannya, serdadu itu bilang Lie-sie berada di sebelah depan. Maka ia kaburkan kudanya. Tiba-tiba dari samping jalanan mana ada perpohonan lebat, terdengar cacian seorang wanita. Ia lekas tahan kudanya, yang ia putar untuk hampirkan tempat lebat itu. Dengan tombaknya ia menyingkap cabang-cabang pohon.Maka di hadapannya terlihat dua serdadu sedang menyeret-nyeret Lie-sie. Tidak ampun lagi, Tiat Sim tikam mampus mereka satu demi satu. Lie-sie berbangkit dengan rambut kusut dan pakaian penuh tanah tidak karuan. Diwaktu begitu, tidak ada ketika untuk omong banyak, maka Tiat Sim angkat tubuh iparnya itu, dikasih naik ke atas kudanya, untuk mereka menunggang bersama. Ia lari balik untuk cari istrinya di tempat dimana tadi mereka berpisah. Untuk kedukaannya ia tak dapatkan Pauw-sie, tempat itu sunyi senyap dari segala apa. Ia turun dari kudanya untuk memeriksa tanah. Ketika itu sudah fajar. Ia lihat tapak-tapak kaki dan tanda bekas orang diseret, maka sakitlah hatinya. Ia percaya istrinya telah jatuh pula ke dalam tangan musuh…. ―Mari!‖ katanya seraya melompat naik ke atas kudanya yang ia terus kasih lari, perut kudanya pun dijepit hingga binatang itu kesakitan dan lari kabur. Sedang kuda lari keras mendadak dari samping jalanan muncul belasan orang yang hitam semua pakaiannya, orang yang terdengar segera menyerang dengan toyanya. Tiat Sim sempat menangkis, dapat ia menikam. Orang itu sebat dan gesit, ketika ia membuat perlawanan, nyata permainan toyanya pun lihay. Hal ini membuat heran kepada orang she Yo itu.

Irawan D Soedradjat

Page

17

Pendekar Pemanah Rajawali

Pernah Tiat Sim dan Siauw Thian berbicara tentang ilmu silat, bahwa dijamannya kawanan Liang San, Pek-lekhwee Cin Beng adalah yang terlihay ilmu toyanya, tetapi dijaman itu orang Kim-lah yang terkenal. Maka itu sekarang ia curigai lawannya itu ada satu perwira Kim. Ia hanya heran, kenapa perwira Kim bisa muncul di situ. Tapi ia tidak bisa berpikir lama-lama, ia lantas menyerang dengan hebat. Kali ini ia berhasil membuat lawan itu terjungkal, karena mana barisan serdadunya lantas kabur. Segera Tiat Sim menoleh, hatinya lega akan dapatkan iparnya tak kurang satu apapun. Ia masih mengawasi iparnya itu ketika ―Ser!‖ sebatang gendewa menyambar kepadanya, menyambar dari arah pepohonan yang lebat, hingga ia tidak sempat menagkis atau berkelit, busur itu tembus di punggungnya. ―Encek, kau kenapa?‖ tanya Lie-sie kaget. Tiat Sim tidak menyahuti, hanya di dalam hatinya ia kata: ―Aku tidak sangka bahwa aku bakal habis disini… Sebelum aku terbinasa, aku mesti labrak dulu musuh, supaya enso dapat lolos!‖ Ketika ia geraki tombaknya, ia menjadi kaget. Ia merasa sakit hingga ke peparunya. ―Cabut panah ini!‖ ia kata. Lie-sie tapi hatinya lemah, tenaganya tidak ada, tak dapat ia menolong. Tiat Sim lantas mendekam di atas kudanya, tangan kirinya diapakai mencekal gagang panah, dengan satu kali sentak, ia cabut busur itu terus ia pandangi. Anak panah itu nancap dalam kira tiga dim, gagangnya memakai bulu burung rajawali, batangnya terbuat dari perunggu. Itu bukanlah sembarang busur. tempo ia memeriksa lebih jauh, pada gagang itu ada terukir tiga huruf ―Wanyen Lieh‖ Ia terkejut. ―Wan-yen‖ itu adalah she, yaitu nama keluarga dari bangsa Kim, dari golongan keluarga raja. Biasanya dari raja hingga jenderalnya, bangsa itu memakai nama keluarga tersebut. ―Bagus!‖ serunya. ―Benar-benar si pembesar jahanam itu telah bersekongkol sama bangsa asing, bersama-sama mereka mencelakai rakyat negeri!‖ Ia serahkan busur itu kepada Lie-sie. ―Enso ingat baik-baik nama ini!‖ ia pesan. ―Pesanlah anakmu untuk menuntut balas….!‖ Habis berkata, ia putar tombaknya, ia menerjang ke antara musuh, tetapi darah di punggungnya membanjir keluar, tiba-tiba matanya menjadi gelap, tak dapat ia menahan diri lagi, ia rubuh dari kudanya. *** Hatinya Pauw-sie sakit bagai disayat-sayat karena tolakan suaminya, tempo ia mengawasi suaminya itu, sang suami sudah lantas lenyap, di pihak lain, rombongan serdadau telah mendatangi ke arahnya. Ia mencoba lari, tetapi sudah kasep, ia kena kecandak dan ditawan, tubuhnya segara dikasih naik ke atas seekor kuda. ―Aku tidak sangka dua orang itu demikian kosen hingga mereka dapat mencelakai tak sedikit saudara-saudara kita!‖ berkata satu perwira sambil tertawa. ―Tapi sekarang kita toh peroleh hasil!‖ kata satu perwira lain. ―Eh, sahabatku Ciong, untuk cape kita ini kita bakal dapat persen tiga atau empat puluh tail perak!‖ ―Hm!‖ menyahut si Ciong itu. ―Aku harap asal saja potongannya dikurangi sedikit…!‖ Terus ia menoleh kepada barisannya, akan beri titahnya: ―Kumpulkan barisan!‖ Serdadu tukang terompet sudah lantas kasih dengar suara alat tiupnya Pauw-sie menangis tersedu-sedu, ia lebih memikirkan suaminya yang ia tidak tahu bagaimana jadinya. Ketika itu sang fajar telah tiba, dijalanan sudah ada beberapa orang yang berlalu lintas, akan tetapi mereka nampak serdadu, mereka lalu menyingkir jauh-jauh. Mulanya Pauw-sie berkhawatir sangat kawanan serdadu itu nanti perlakukan kasar atau kurang ajar terhadapnya, kemudian ia merasa sedikit lega. Ia tidak saja tidak diganggu, ia malah diperlakukan dengan manis dan hormat.
Irawan D Soedradjat

Page

18

Pendekar Pemanah Rajawali

Barisan ini baru berjalan beberapa lie, tiba-tiba mereka dicegat oleh belasan orang yang mengenakan pakaian serba hitam, yang semua berbekal senjata. Mereka itu muncul dengan tiba-tiba dari pinggir jalanan. Seorang yang berada di paling depan sudah lantas kasih dengar suaranya yang bengis: ―Kawanan serdadu tak tahu malu dan kejam, tukang ganggu rakyat, kamu semua turun dari kuda kamu dan serahkan diri!‖ Perwira yang pimpin barisan itu menjadi gusur. ―Kawanan berandal dari mana ynag berani mengacau di wilayah kota raja?!‖ dia balas membentak. ―Lekas menggelinding pergi!‖ Pihak baju hitam itu tidak menggbris bentakan itu, sebaliknya mereka buktikan ancaman mereka, ialah tanpa bilang suatu apa lagi, mereka maju menerjang, dengan begitu pihak jadi bertempur kalut. Kawanan baju hitam itu berjumlah lebih kecil akan tetapi mereka mengerti ilmu silat denag baik, dengan begitu pertempuran menjadi berimbang. Menyaksikan pertempuran itu, diam-diam Pauw-sie bergirang. ―Bukankah mereka ini dalah kawan-kawannya suamiku, yang mendengar kabar dan telah datang menolong?‖ demikian ia menduga-duga. Selagi pertempuran berjalan terus, tiba-tiba satu busur nyasar menyambar punggung kudanya Pauw Sek Yok. Binatang itu kaget dan kesakitan, ia berlompat dan lari kabur. Sek Yok kaget dan ketakutan, ia mendekam di kudanya itu yang lehernya ia peluki keras-keras. Ia takut jatuh. Kuda itu kabur terus hingga beberapa lie, sampai di sebelah belakangnya, terdengar datangnya kuda lain, lalu tertampak satu penunggang kuda datang memburu. Cepat sekali larinya kuda pengejar ini segera ia menyandak dan lewat di samping Pauw-sie, si penunggangnya sendiri sambil melarikan kudanya itu memutar sehelai dadung panjang di atasan kepalanya, apabila ia melepaskan sebelah tangannya, dadung itu ialah lasso, lantas menyambar ke kudanya Sek Yok. Sekarang kedua kuda jadi lari berendeng, si penunggang kuda menahan dengan perlahan-lahan, dari itu sesaat kemudian kedua kuda itu larinya perlahan, akan akhirnya selang beberapa puluh lie, kuda si penunggang berhenti dengan tiba-tiba, sebab mulutnya penunggang itu perdengarkan tanda. Dengan begitu kuda Sek Yok pun berhenti seketika. Kuda itu meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya. Pauw-sie kaget dan ketakutan, ia pun ngantuk dan lelah, karena kuda itu berlompat berdiri habislah tenaganya, tak dapat ia memeluki lagi leher kuda lantas saja ia rubub ke tanah dan pingsan. Ia mendusin setahu beberapa lama kemudian, ia hanya dapatkan tubuhnya rebah di atas sebuah pembaringan yang empuk kasurnya dan tubuhnya pun dikerebongi selimut kapas yang membuat ia merasa hangat. Ia buka matanya perlahan-lahan. Yang pertama ia lihat ialah langit kelambu kembang. Maka sadarlah ia yang ia telah tidur di atas pembaringan. Ia menoleh ke samping, ia dapatkan sebuah meja dan satu pelitanya. Di tepi pembaringan berduduk satu orang laki-laki dengan pakaian serba hitam. Kapan pria itu melihat orang mendusin dan tubuhnya bergerak, lekas-lekas ia bangun berdiri, untuk singkap kelambu dan menggantungnya. ―Oh, kau sudah mendusin?‖ pria itu tanya, perlahan suaranya. Biar bagaimana, Sek Yok belum sadar sepenuhnya. Samar-samar ia seperti kenal pria itu, maka ia mengawasi. Si pria ulur tangannya, untuk meraba jidat si nyonya. ―Oh, panas sekali!‖ katanya. ―Tabib akan segera datang…‖ Sek Yok meramkan pula matanya, terus ia tidur pula. Ia baru sadar tempo dengan samar-samar ia merasa orang pegang nadinya, disusul mana orang memberi ia makan obat. Ia masih tak sadar benar, malah ia bagaikan bermimpi dan mengigau ketika ia berteriak: ― Engko Tiat! Engko Tiat!‖ Lalu ia merasa ada tangan pria yang dengan perlahan-lahan mengusap-usap pundaknya, yang menghiburi ia dengan lemah lembut. Kapan kemudian Sek Yok mendusin pula, hari sudah terang. Ia merintih sebentar, lantas ia bangkit untuk berduduk. Seorang menghampiri dia. ―Minum bubur?‖ tanya ia itu dari luar kelambu. Pauw-sie kasih dengar suara perlahan, atas mana pria itu singkap kelambunya. Sekarang dua muka saling berhadapan, mata mereka saling mengawasi. Sekarang Sek Yok dapat melihat denagn tegas, maka ia menjadi terkejut. Ia tampak satu wajah yang tampan, yang tersungging senyuman manis.
Irawan D Soedradjat

Page

19

―Bagaimana caranya ia meninggal dunia?‖ Pauw-sie tanya. ia tidak memaksa.‖ Sek Yok terperanjat. yang kemudian menghilang tidak keruan paran dari gudang kayu. Maka tiba-tiba saja timbul kecurigaannya. jangan bergelisah tidak karuan. yang bersenjatakan sebatang tombak panjang?‖ si anak muda tegaskan. ia hanya dengan manis budi menghibur dan membujuki untuk nyonya legakan hati. Sek Yok kaget. ―Untukmu paling baik adalah merawat diri…‖ ―Apakah dia…dia telah meninggal dunia?‖ Sek Yok menanya. ―Sebenarnya aku bersama beberapa kawan kebetulan lewat di sini.‖ ia berkata dengan perlahan. ―Sudahlah. kita sekarang bearad dirumahnya seorang petani. ―Mana suamiku?‖ Pemuda itu menggoyang tangan.‖ ―Aku tengah melawan tiga musuh ketika satu musuh jalan mengitar ke belakangnya suamimu itu yang dia tombak punggungnya. ―Tempat ini tempat apa?‖ nyonya ini kemudian tanya. Ia menjadi tak enak hati untuk bersikap tawar terus. maka aku telah tolongi kau. Besar sangat cintanya kepada suaminya.‖ si anak muda beritahu. ia lantas pingsan. ia telah buka mulutnya tetapi ia batal bicara. tubuhnya tinggi dan lebar. Rupanya roh suci atau malaikat yang telah menunjuki aku justru tolongi penolongku…‖ Ia berhenti sebentar. Sekarang baiklah kau beristirahat dulu. suamiku itu?‖ ia tanya. ―Benar dia. ―Nanti saja setelah kesehatanmu pulih. aku berukan keteranganku.maka itu jangan Nyonya sembarang munculkan diri. melarang orang berbicara. Irawan D Soedradjat Page 20 .‖ si anak muda menghibur pula. ―Ya. ia telah dibinasakan oleh rombongan serdadu itu…‖ ia beri pebyahutan. ―Apa she dan nama Tuan?‖ kemudian Sek Yok menanya. Rupanya karena jodoh kita telah dapat bertemu satu dengan lain. ―Menyaksikan rombongan serdadu itu berbuat sewenang-wenang. Pemuda itu mengangguk. Lagi-lagi Sek Yok pingsan.‖ kata pula si anak muda. ―Mana suamiku?‖ ia tanya. Dari caranya orang berbicara. ―Sekarang kau letih dan lemah sekali.‖ ia menyahut akhirnya Merah mukanya Sek Yok akan dengar itu perkataan ―jodoh‖. akan tetapi ia mengangguk. mungkin suaminya telah menampak sesuatu kecelakaan. ―Nyonya. kemudian barulah ia bisa omong juga. ia balik kepalanya ke sebelah dalam pembaringan. Tetapi hatinya bukan tidak bekerja. lalu ia melanjuti: ―Sekarang ini rombongan serdadu sedang mencari Nyonya. Nyonya. ―Bukankah suami Nyonya berumur duapuluh kurang lebih. Maka itu hari ia tidak dahar nasi atau minum. dengan lancang aku telah mengaku bahwa akulah suami Nyonya…‖ Mukanya Sek Yok menjadi merah. Ia berkeputusan nekad untuk binasa bersama suaminya itu. ―Aku ada orang she Yen dan namaku Lieh. aku tidak puas. ―Kenapa kau ketahui kita terancam bahaya dan kau dapat menolongi?‖ Pria itu bersangsi agaknya.‖ orang itu menhibur. Ketika kemudian ia sadar.Pendekar Pemanah Rajawali Itulah si anak muda yang beberapa bulan yang lalu ia tolongi selagi orang terluka dan rebah tak berdaya di atas salju. Si pria kelihatan halus budi pekertinya. tangannya mencekal keras-keras pada ujung kasur. nyonya. ia menangis sesambatan. ―Dia…dia kenapa. Harap Ynonya maafkan aku.

Pauw-sie turun dari pembaringannya. agaknya ia kesengsem. kau hendak dengari ceritaku atau tidak?‖ ia menegur. ―Aku datang dari utara. maka ia menangis dengan mendekan di meja. Coba tidak kau tolongi aku. ―Suamiku telah terbinasa. ia tampak romannya yang cantik bagikan bunga akan tetapi npemiliknya telah tak ada – yang satu tetap menjadi seorang manusia.‖ sahutnya kemudian. ia gunting itu merupakan setangkai bunga. namanya Toan Thian Tek. untuk sendok semangkok bubur serta satu biji telur asin. siapa musuh nyonya suamimu itu?‖ Nyonya Yo Tiat Sim berpikir sejenak. lalu ia turut keluar dari rumah itu. Yen Lieh kelihatannya murka. Ia terus pergi ke dapur. lalu ia selipkan di kondenya. ―Jikalau kita tidak pelihara kesehatanmu. setelah rapikan pakaiannya ia hadapi kaca untuk sisiri rambutnya. tiba-tiba sebatang busur nyasar telah menyambar pundakku.‖ Sampai di situ. ia berhenti menangis. Ia menjadi sedih sekali. ―Tidak ingin aku yang kita nanti kena di bekuk mereka…‖ Sek Yok menangis. Nyonya!‖ katanya keras.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kau dan tentera negeri itu datang dari satu jurusan?‖ ia tanya ―Ke…kenapa?‖ Yen Lieh tanya. romannya heran.‖ berkata si anak muda. gampang untuk mencari dia. untuk apa aku memikirkan hidup lebih lama…?‖ katanya. ―Aku tadinya menyangka kau juga hendak bantu menawan Khu Totiang. Sek Yok dapat lihat kelakuan orang itu.‖ ia menjawab.‖ ―Dia telah diketahui she dan namanya. Yen Lieh mengawasi orang berbicara. sakit hatimu belum terbalas. ia berkata: ―Tentera di luar sudah berlalu. Kapan ia mengawasi kaca. bagaimana dapat aku membalas dendam?‖ tanyanya. tetapi ia lemah hatinya. ―Kejadian hari itu sungguh membuat aku penasaran!‖ bsahut Yen Lieh. Besok paginya. mari kita berangkat. ―Bukankah baru ini kau dapat luka karena kau bersama tentera negeri hendak mencoba menawan Khu Totiang?‖ Sek Yok tanya pula tanpa pedulikan pertanyaan pemuda itu. karena mana imam itu telah membuatnya perlawanan dahsyat. akan aku coba membalas dendam untukmu. Yen Lieh bertindak masuk selagi si nyonya menangis. ia sambuti bubur itu lalu ia dahar dengan perlahan-lahan. ―Suamimu telah dibinasakan hamba negeri. Nyonya. Pauw-sie tuturkan halnya Khu Cie Kee hendak ditawan tentera negeri. matanya tak meram…‖ Nyonya itu terkejut. tak tahu sebab musababnya. bagaimana kau Cuma ingat kematian saja? Nanti suamimu. yang lain telah menjadi setan…. ―Dia itu yang menjadi perwira yang mengepalai barisannya. ―Biarnya aku bodoh. ―Dia mempunyakan tanda biru di mukanya. cara bagaimana kau bisa menuntut balas?‖ katanya perlahan setelah ia bawakan bubur dan telu asin itu kepada si nyonya. hendak aku pergi ke Lim-an. Sebenarnya imam siapa yang hendak mereka tawan itu?‖ ―Oh. Irawan D Soedradjat Page 21 . hingga pada mulanya tak ingin aku menolongi kau. Ia cari sepotong kain putih. Yen Lieh terkejut. ia tunggu sampai orang sudah sedikit reda. ―Apakah nyonya tahu. selagi aku lewat di kampungmu itu.‖ Sek Yok susut air matanya. kiranya kau kebenaran lewat saja dan bukannya dari satu rombongan dengan mereka itu?‖ berkata Sek Yok. ―Aku seorang perempuan. ya aku tengah memikirkan cara bagaimana kita dapat meloloskan diri dari rombongna serdadu itu. ―Baik kau pergi sendiri saja…‖ ―Tetapi Nyonya!‖ peringatkan Yen Lieh. ―Eh. ―Ya. pastilah aku terbinasa kecewa. Pauw-sie anggap perkataan itu benar. lalu ia tertawa. yang berada di tanah baka. Itulah tanda ia berkabung untuk suaminya.

akan tetapi hatinya tidak tentram. Barang hidangan itu terdiri dari masakan ayam. Belasan lie telah mereka lalui. malah ia bersyukur sekali.‖ jawab jongos itu. yang didatangi. ―Nyonya silakan tidur!‖ ia berkata. untuk dikubur dengan baik. walaupun badanku hancur dan tulang-tulangku remuk. hatinya menjadi sangat berduka. yang sekarang telah diobati lukanya.‖ Sek Yok lemah hatinya. baru kita pergi cari jenazah suamimu. akan aku bunuh diriku!‖ Yen Lieh menitahkan jongos ambil dua ikat rumput kering. ―Yen. dan biasanya. bagaimana kau harus membalas budimu ini?‖ katanya. Yen Siangkong. ―Sekarang kita cari dahulu tempat sepi untuk tinggal sementara waktu. ia lantas kunci pintu. rumput kering itu ia delar di lantai. didalam hatinya ia bilang: ―Asal dia berlaku kurang ajar sedikit saja. ―Tuan pesan supaya nyonya suka salin pakaian. baru ia tidur tanpa buka pakaian luar lagi. karenanya ia meminta satu kamar. itu sudah selayaknya saja. sore itu mereka singgah di dusun Tiang-an-tin. ―Kita tunggu sampai suasana sudah mulai reda. yang siapkan dua ekor kuda. Sekarang mendengar omongan yang beralasan dari pemuda ini. Ia jadi ingat suaminya. lemah lembut sikapnya. Oleh karena itu semakin kurang penjagaan dirinya. Yen Lieh sudah keluar dari kamar. ialah pakaian baru. matanya memandang ke satu arah. Hatinya Nyonya Yo berdebar-debar. karena itu diwaktu bersantap. baru di hari raya atau tahun baru ia dapat hidangan istimewa. daging asin.‖ Dua hari mereka berjalan. ia bukan saja suka menerima. diam-diam ia meraba pedang peninggalan Khu Cie Kee.‖ Yen Lieh jawab. ―Maka itu tubuhku ini aku serahkan kepada nyonya untuk nyonya suruh-suruh. Diam-diam nyonya ini jadi sangat bersyukur. Yen Lieh sudah tidak ada di kamarnya. ia menemui orang satu kuncu. jongos datang menyerahkan satu bungkusan.Pendekar Pemanah Rajawali Yen Lieh serahkan sepotong perak kepada tuan rumah.‖ sahut Yen Liah. ia bungkam. yang terkena panah. laki-laki sejati. Ia ada dari satu keluarga sederhana. pedang pendeknya tergenggam di tangannya. ―Kau hendak bawa aku kemana?‖ akhirnya Sek Yok menanya pula. Kepada pengurus hotel. ―Inilah barang yang tadi pagi tuan belikan untuk Nyonya. Di akhirnya ia menghela napas panjang. habis padamkan api lilin. Tak lama sehabisnya dahar.‖ Irawan D Soedradjat Page 22 . meskipun mesti menyerbu api berkobar-kobar. ―Jiwaku ini adalah nyonya yang tolongi. pemuda itu telah pergi siapkan kuda mereka dan sudah pesan jongos menyediakan barang makanan. Itu waktu. keduanya sudah jalankan kuda mereka berendeng menuju ke utara. Sek Yok tidak bilang suatu apa. Tujuh Orang Luar Biasa Kapan besok paginya Pauw-sie bangun dari tidurnya. maka di lain saat. satu diantaranya adalah kudanya Sek Yok. kemudian ia membantui nyonya itu naik ke atas kuda. ikan dan bubur yang semuanya harum. untuk setengah jam ia masih duduk bercokol. dedaharannya setiap hari adalah sayur dan ikan asin. sesudah mana terus ia meramkan matanya. sedap dan lezat. hatinya Pauw-sie kurang tenang. Akan tetapi mendahar ini. Yen Lieh kedipi mata. untuk cegah si nyonya sembarang bicara di depan orang lain. Yen Lieh mengaku bahwa mereka berdua adalah suami-istri. kemudian baru kita pergi cari si Toan Thian tek si jahanam itu guna menuntut balas. ―Kita menuju kemana?‖ tanya Pauw-sie. Bab 3. ia tunggu sampai si jongos itu sudah keluar. di situ ia rebahkan dirinya terus ia tutupi dengan gudri. Ia tidak lantas rebahkan diri. ia memang tak dapat berpikir apa-apa. ―Apakah itu?‖ tanya si nyonya.

dituruti empat kawannya. ia justru maju mendekati. untuk cabuti anak panahnya dari tubuh mereka. Satu serdadu segera hampiri dua orang ini yang mereka dapat lihat. ―Celaka!‖ Sek Yok menjerit karena kaget dan takut. kupingnya mendengar suara menyambar ―Serr!‖ lalu satu serdadu menjerit dan rubuh. ―Kamu ada bawahan siapa?‖ ia tanya. sambil tertawa. lalu ia maju mendekati. tiba-tiba mereka mendengar jeritan hebat dari sebelah depan. berikut sepatu dan kaos kaki putih juga. Tepat orang lari kira enampuluh tindak. yang lainnya ada pakaiaan dalam. busur meleset mengejar dengan cepat sekali. tidak ada ampun lagi serdadu itu terpanah batang lehernya. Justru ia hendak ajak Pauw-sie melanjuti perjalanan. ―Mari kita lekas menyingkir…‖ Yen Lieh sebaliknya tersenyum simpul. pakaiannya tidak karuan. maka gendewa ditarik. Tinggal serdadu yang kelima. ia berkata. Memang ketika ia keluar dari rumah. Pauw-sie kaget sekali. dari samping kiri muncul dengan tiba-tiba sepasukan serdadu dengan suara mereka yang berisik. ―Hebat!‖ memuji Sek Yok tanpa terasa. akan aku panah batang lehernya!‖ Selagi pemuda ini berkata. ―Lagi-lagi serdadu mengganggu rakyat jelata. Yen Lieh lompat turun dari kudanya. Yen Lieh cambuk punggung kuda si nyonya selagi ia pun kasih lari kudanya dengan begitu kedua ekor kuda segera lari keras. dia lalu putar tubuhnya untuk lari merat. baju pendek. Mereka maju terus. Si nona menangis. yang sangat bersyukur. sesudah itu untuk satu malaman ia mesti larilarian. Yen Lieh tertawa enteng. habis itu ia melompat naik pula ke atas kudanya. ―Tunggu sampai ia lari lagi tiga tindak.‖ kata Sek Yok ketakutan. dengan begitu dapat ia menentramkan sedikit hati si nyonya kawan seperjalanannya itu. mereka anggap inilah untung mereka. akan tetapi terhadap rakyat jelata. cara bagaimana ia dapat memikir begini sempurna?‖ katanya dalam hati. Menyaksikan orang lari ngiprit. Irawan D Soedradjat Page 23 . ―Dia seorang pria. dadanya tertumblaskan sebatang busur. anak panah mana dikasih masuk ke dalam kantungnya. Ia tertawa girang sekali. malah gendewa itu dipakai memanah pula beruntunruntun. hingga lagi tiga serdadu rubuh seperti rekannya yang pertama. ia mengeluh dalam hatinya. ia putar balik kudanya untuk lari. Perjalanan sudah lantas dilanjuti. Segera si nyonya lihat di tangan kawannya ada gendewa yang bersinar kuning emas. membentak. mereka galak bukan kepalang. Sekarang setelah tukar pakaian. Bukankah ia baru saja lolos dari bahaya yang menakuti? ―Jangan takut!‖ kata Lien Yeh sambil tertawa. Ia tampak seperangkat pakaian baru warna putih. ia berpaling kepada si nyonya. lagi pegat seorang lelaki tua yang ada bersama satu anak muda serta satu nona. Maka itu melihat Yen Lieh cuma berdua dengan satu nyonya manis. sapu tangan dan handuk. ―Mari kita liat!‖ Pemuda ini berlaku tenang. si serdadu lari terus. yang uangnya dan lainnya barang mereka pindahkan ke saku mereka sendiri. dengan mencekal golok panjang. kalau menghadapi musuh bangsa Kim. Sore itu selagi mendekati dusun Kiap-sek-tin. maka pakaiannya jadi kotor dan pecah disana sini. Dialah ynag tadi menjerit. Sek Yok takut bukan main. ujung panah tembus ke tenggorokannya. Di situ terlihat lima serdadu. tentu mereka kalah dan lari. hingga di sebuah tikungan. ―Diam!‖ dia membentak. ―Lekas pergi!‖ Pada waktu itu tentera Song.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok buka bungkusan itu yang membuat dia melengak. Tiga serdadu lainnya tengah mengurung si nona yang mereka perlakukan dengan ceriwis. sebaliknya dari angkat kaki. ia hampiri lima serdadu itu. ia berubah seperti seorang baru. ―Kamu bikin apa?‖ Yen Lieh benar-benar tidak takut. Ia lantas siapkan pula busurnya. Serdadu itu lantas berseru. Dua serdadu lagi memeriksa mengaduk-aduk buntalannya si orang tua. Tapi justru itu. malah mereka main merampas dan paksa. ia ketakutan.

Yen Lieh manggut perlahan ia lantas sambuti kudanya si perwiara. ―Nampaknya tentera mu kurang kenal tata tertib ketenteraan!‖ katanya sambil tertawa. Sementara itu. Perwira itu menjura dalam. baik. mukanya pucat pasi. mukanya menjadi merah. ―Pie-cit. tidak kenali tayjin. Lagi selintasan. Irawan D Soedradjat Page 24 . dan wajahnya terus menunjuki ia bergelisah. larinya pun menjadi tambah perlahan. Seorang diri.‖ katanya. Yen Lieh sambuti kembali surat itu.‖Kau hendak tunggu apalagi?‖ Sebaliknya daripada serahkan diri atau ketakutan. tanpa mengucap sepatah kata. Yen Lieh kena dicandak pengejarnya. ―Apakah kamu adalah pengawal pribadi dari Han Sinsiang?‖ ia tanya. dengan tergesa-gesa ia lompat turun dari kudanya untuk memberi hormat. Sek Yok heran yang ia dipanggil ―hujin‖ atau nyonyanya si anak muda. ―Nah. akan keluarkan sepucuk surat. mukanya menjadi pucat.‖ ia berkata. ia dapatkan sejumlah tentara pengejar lebih dari seribu jiwa. tiba-tiba Yen Lieh tahan kudanya. ia pondong Pauw-sie untuk dipindahkan ke kuda yang baru. maju menghampiri. Yen Lieh rogoh sakunya. lalu dengan tiba-tiba. Karena lari terlalu keras. Satu perwira yang bersenjatakan sebatang golok besar. ―Pie-cit mohon diberi ampun…. Segera ia tidak punya jalan lagi. nyampingpun tidak. Pauw-sie menoleh ke belakang. setelah mana ia kaburkan kudanya itu. Kerananya ia jadi ketinggalan Yen Lieh. lukanya yang belum sembuh telah pecah pula dan mengeluarkan darah. ―Kau siapa!‖ ia membentak. surat itu pun segera ia ancungkan ke atas kepalanya. hingga ia tercengang. ―Nanti pie-cit melakukan pemeriksaan untuk memberi hukuman. ―Pergi kau sampaikan kepada Han Sinsiang.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tangkap!‖ berteriak tentera yang di belakang itu apabila mereka melihat mayat-mayat rekannya. Heran perwira itu. Ia mengedipi mata. akan tunggu kudanya Pauw-sie rendengi ia. ―Kami masih kekurangan seekor kuda.‖ pintanya. dosaku berlaksa kali mati. Yen Lieh tidak pedulikan lagi pemimpin pasukan itu. maju tidak. Akan tetapi ketika itu sudah terlambat. kau lihatlah surat ini!‖ Perwira itu melirik kepada satu serdadu di sampingnya. suaranya dan sikapnya sangat merendah. lalu sambil terus berteriak-teriak. ―Apakah kau tidak kenali aku?‖ dia bertanya. dari itu aku tak dapat pamitan lagi.‖ ―Baik. Dia tertawa pula. ―Bilang aku ada punya urusan penting dan mesti pulang lantas. selagi tentera pengejar mendatangi semakin dekat. Yen Lieh tertawa gembira.‖ kata perwira itu tetap dengan sangat hormat.‖ Tidak saja perwira itu membasakan dirinya ―pie-cit‖ yang artinya ―bawahan yang rendah‖. ia sambar si nyonya untuk ditarik dan dipindahkan ke kudanya. Yen Lieh sebaliknya tenang. ―Silahkan hujin pakai kudaku ini. mana bisa Yen Lieh melawan mereka itu walaupun pemuda ini lihay ilmu panahnya? Celaka adalah kudanya si nyonya Yo ini. tayjin. terutama oleh pengejar yang motong jalan dari samping. lalu bersama-sama mereka lanjuti perjalanan mereka ke utara. Pauw-sie takut bukan main. Kapan perwira itu sudah membaca. Setelah lari serintasan. lantas ia menjadi kaget sekali dan ketakutan.‖ katanya. Ia bicara terhadap Pauw-sie. Serdadu itu lantas sambuti surat itu untuk dihanturkan kepada pemimpinnya. pie-cit mengerti.‖ katanya. ―Perwira itu tuntun kudanya sendiri. Yen Lieh tertawa pula. selaku tanda hormat. kopiahnya kopiah besi dan bajunya lapis besi juga. ―Kau tidak hendak turun dari kudamu untuk manda dibelenggu?‖ perwira itu menegur. mereka mengejar. Karena tadi ia menunda kudanya. Pauw-sie mengawasi kejadian denga hatinya heran bukan main. Karena itu terpaksa ia tahan kudanya.

‖ Menampak sikap orang itu. atau setempo dengan berendang. Orang pun tampan dan menyenangkan untuk dipandang. Ia tidak mengerti. ―Baiklah. Memangnya kota sudah ramai pada asalnya. apabila kita pergi menuntut balas sekarang juga. ―Apanya yang dibilang lama?‖ Irawan D Soedradjat Page 25 . keramaiannya menjadi bertambah sendirinya. Luas pengetahuannya si anak muda.‖ Yen Lieh berkata. cara bagaimana ia bisa terus ikuti pemuda itu? Dia jadi menjublak karena kesangsiannya itu.‖ Sek Yok mengutarakan pikirannya. ―Kita tunggu sampai suasana reda. sambil tunduk. orang pun bukan sahabat bukan sanak. Pauw-sie mengangguk. ―Budimu yang besar. tapi anak muda itu.‖ Sek Yok bingung tidak berdaya. pihak tentera tentu telah membuatnya persediaan. ―Baik. ―Akan aku turut segala titahmu. Nyonya legakan hati. Hawa udara ada nyaman karena itu waktu pun ada di musim pertama yang indah.‖ Yen Lieh bilang. kota dari sutera dan beras.‖ kata Pauw-sie.‖ sahut si anak muda.Pendekar Pemanah Rajawali Sesudah jalan beberapa puluh tindak. dapatkah kau mempercayai aku?‖ bia tanya.‖ ―Jikalau begitu. sesukamu…‖ katanya perlahan. ―Disini ada banyak toko. ―Nyonya…. agaknya mereka itu masih mengasih selamat jalan……. ―Sekarang ini kita telah ketahuan siapa adanya. Yen Lieh menjadi girang sekali.‖ katanya. apapula segala perwira itu……. Yen Lieh sering membuka pembicaraan. Bukankah ia sudah rudin dan tak bersanak kandung juga? Kemana ia mesti pergi untuk pernahkan diri? Bukankah lebih baik ia turut pemuda ini? Tapi dia ada satu janda.‖ kata Yen Lieh melihat orang berdiam saja. Nyonya. ―Walaupun Han To Cu sendiri yang melihat aku. Nyonya. dia jerih tiga bagian. baik. mereka tiba di Kee-hin.‖ ―Habis bagaimana?‖ si nyonya tanya pula.‖ dia bilang. tentang sakit hati suamimu itu serahkan kepada tanggungjawabku seorang. Sek Yok menjadi tak enak sendirinya.‖ Yen Lieh mengajak. sebuah kota besar di Ciat-kang barat. Untuk melegakan hati si nyonya. sambil tertawa mendahulukan dia. ingin ia menanya..‖ Lantas keduanya larikan pula kuda mereka. tidak melainkan kita bakal gagal. ini kawan seperjalanannya yang sebenarnya asing untuknya. nanti aku belikan yang baru. silahkan kau beri petunjukmu. ―Bukankah ini baru dibeli?‖ tanyanya.‖ Sek Yok melengak. Yen Lieh berdiam sejenak. kadang-kadang yang satu di depan yang lain di belakang. baru kita berangkat pula ke selatan ini untuk maksud menuntut balas itu. ―Jikalau nyonya anggap saranku kurang sempurna.‖ ―Harap kau tidak sebut-sebut tentang budi…‖ kata Sek Yok. Sek Yok menoleh ke belakang. Di sepanjang jalan ada kedapatan pohon-pohon yangliu dan bunga. ―Nyonya . Ia dapati orang halus sikapnya dan menarik kata-katanya. Percaya saja ia ragu-ragu. ―Soal itu ada lain. ―Pakaianmu sudah terpakai lama. Untuk herannya ia lihat si perwira dan barisannya masih belum pergi. pastilah gampang untuk kau membalaskan sakit hatiku. ―Hari masih siang. Nyonya…. Pada tengah hari di hari ketiga. tak nanti aku lupakan. kita pun bisa mendapat celaka. sebenarnya kita masih dapat melanjutkan perjalanan. ―Mari kita cari hotel untuk singgah dan beristirahat dulu. Ia berpaling kepada si anak muda. Sek Yok heran dan kagum untuk si anak muda. pandai ia memilih bahan pembicaraan. ―Sekarang ini mari kita balik dahulu ke utara. sekarang ia terletak dekat dengan kota raja. ―Maka itu.

laginya dengan wajah ini. jongos. berminyak. Ia dapatkan buntalannya tidak ada uangnya. dia ngeloyor terus. orang mana menyolok perhatiannya.‖ Yen Lieh bilang. dengan kipas bututnya dia tepuk pundaknya Yen Lieh. Pauw-sie mengangguk. Dia tertawa terus beberapa kali.‖ terangkan si anak muda. ia tangal-tongol di muka pintu dengan begitu ia jadi dapat lihat orang tidak punya uang. Ia tahu. mana boleh kau tidak memakai pakaian dari bahan yang terbaik?‖ Diam-diam senang hatinya Sek Yok karena orang puji kecantikannya. ―Apakah kau tengah menipu dia? Janganlah kau nanti rembet-rembet kami!‖ Irawan D Soedradjat Page 26 .‖ kemudian kata si pemuda. ia lihat seorang mendatangi. sepatunya terus berbunyi: ―Truk! Truk! Truk…!‖ Panas hatinya Yen Lieh. ia jalan terus. Ketika ia tiba di ujung hotel. buat anglap makanan dan hotel! Terhadap bocah begitu macam. ia menjadi tercengang pula. mau tidak mau timbul kecurigaannya. ―Bukankah dia maksudkan aku?‖ Jongos itu melirik kepada pemuda ini. ialah pakaiannya kotor. kau jangan pandang tak mata kepada baju tuanmu yang rubat-rabit ini! Kau tahu. Ia menjadi tidak senang. kotor juga mukanya yang penuh debu. Yen Lieh lantas pergi keluar. Nyonya itu lantas membungkam. kau mesti awas mata! Paling baik kau minta dia membayar uang sewa di muka!‖ Lalu dengan tak menantikan jawaban. dia pentang aksi untuk bikin orang silau guna menipu. sepatu itu berbunyi ketrak-ketruk walaupun ia jalannya perlahan. Jongos itu lihat air muka orang. Tiba-tiba orang jorok itu tertawa. Dengan lekas ia menghampiri. ―Aku tengah berkabung…‖ katanya perlahan. tindakan kakinya terus berbunyi ketrakketruk. Dia pun tidak karuan dandannya. Anak muda ini gagah. suaranya kering. Yen Lieh ada apik. Di tangannya ia mencekal satu kipas kertas minyak warna hitam yang sudah buntut. tuan besarmu ada punya uang perak! Di pihak lain. Jongos mengikuti ke kamar. Nyonya. kau bikin apa`?‖ ia menegur. Yen Lieh bisa duga hati orang. walaupun orang mirip sastrawan. akhirnya ia ajak nyonya itu ke hotel Siu sui yang paling besar untuk kota Kee-hin. ―Apakah wanita ini benar istrimu?‖ dia tanya. ―Kau tunggu . akan tetapi. ada bocah yang tersesat. untuk mengakali kaum wanita. pakaianmu sudah tak mentereng lagi. lalu duduk bersantap. ―Kau pegang uang ini!‖ katanya menyela. ―Tuan. ―Apa?! Kau tidak membawa uang?‖ katanya.‖ kata Yen Lieh. bukannya aku kurang ajar…‖ katanya sambil memberi hormat. tetapi karena orang demikian jorok. ia menoleh kepada jongos hotel seraya berkata dengan keras: ―Eh. hendak aku pergi berbelanja. ia gancangi tindakannya. Yen Lieh terus tanya-tanya orang. ―Terang itu aku tahu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kita jalan jauh dan ditengah jalan banyak debu. tak tahu ia di mana lenyapnya uangnya itu. bagaikan siulannya burung malam. harap kau tidak kecil hati. ―Binatang!‖ katanya dalam hatinya. Di sini mereka paling dulu bersihkan tubuh. tetapi segera ia melongo. si jorok itu ulur tangannya. atas tepukan itu tak keburu ia berkelit. ia jadi menduga terlebih keras. dengan pakaiannya yang mentereng. khawatir tubuhnya nanti kena terlanggar. tak mau ia jalan di dekatnya. Mungkin sudah belasan hari ia tidak pernah mandi. Tepat ketika keduanya impas-impasan. hendak aku balik ke kamarku untuk mengambil. Orang mirip dengan satu sastrawan tetapi ia jalan sambil menyeret sepatu kulit. Sekarang ia tak sungkan-sungkan lagi. baru ia sampai di muka hotel. Setibanya di dalam kamar. Ia menjadi berani. ―Kau tunggu sebentar. Nyonya. Ia heran. maka itu sambil mengerutkan kening. ―Eh. dia ada membekal uang empat atau lima puluh tail perak akan tetapi sekarang kantungnya kosong. Ia mau menyangka tadi karena terburu-buru ia lupa bawa uangnya. tertawanya itu tajam menusuk telinga. sembari jalan dia mengipasipas tak hentinya. Orang itu perdengarkan pula tertawanya yang kering itu. Sementara itu tangannya meragoh ke sakunya. ―Dengan dipakai baru satu dua hari.

―Ah. tidak ada yang berani banyak mulut lagi. Irawan D Soedradjat Page 27 . ―Mari kita lekas pergi!‖ Sek Yok mengajak. rombongan oppas itu tidak berani lantang maju. masih berani galak. Hendak aku lihat. ―Eh. ―Apakah kamu hendak berkelahi?‖ tanya Yen Lieh sambil tertawa. Baharu kemudian. ―Kita tidak punya uang tetapi kita boleh suruh mereka mengadakannya!‖ Ia lantas sembat sebuah kursi yang ia letaki di ambang pintu. mereka sipat kuping.‖Bagaimana kau berani sembarang sebut namanya Khay Toaya kami?‖ Yen Lieh rogoh sakunya. urusan menjadi hebat. jangan kasih dia buron…‖ pesannya pada orang-orangnya. Jongos tadi yang telah kabur keluar segera kembali bersama belasan orang. Ia malu dan bergelisah. tangan mereka membawa toya dan ruyung. kemudian sambil matanya memandang mega. ―Apakah kau edan?‖ si kepala polisi tanya. Pihak hotel atau tetamu. ―Sudah menipu wanita. Khay Oen Cong itu adalah namanya pembesar mereka. Yen Lieh tetap tertawa. Kali ini ia tertawa. yang bersenjatakan golok dan thie-cio. lalu ia terus pergi. tiehu atau residen dari Keehin. ―Itulah yang aku kehendaki!‖ sahutnya. ―Kamu jaga dia. akan kemudian diturut oleh kawan-kawan yang telah terima hajarab. Tak tahu ia maksudnya pemuda ini. ya bagus betul! Kau sewa kamar tidak mau bayar. hingga orang itu jungkir balik. lalu tahu-tahu ia telah rampas toyanya satu orang denagn apa terus ia menghantam kalang kabutan. mukanya menjadi merah. Untuk kira setengah jam. ia berkata: ―Kau bawa suratku ini. Nyonya Yo bungkam. ia datang ke mari atau tidak!‖ Orang polisi itu jumput surat itu. sikap mereka garang. Kata-kata itu disusul sama mencelatnya tubuhnya. sisa yang lainnya lantas lemparkan senjata mereka dengan memutar tubuh. Menampak demikian. kau juga berani pukul orang!‖ Dengan murkanya Yen Lieh mendupak. setelah membaca sampulnya ia terkejut. di luar terdengar suara berisik lalu muncul belasan orang polisi. ―Plok!‖ demikian suara di mukanya si jongos yang pipinya menjadi bengap dan giginya rontok beberapa biji. Tentu ia menjadi gusur. akan tetapi agaknya ia masih sangsi. Mereka pun bekal borgol yang rantainya berkontrangan. suaranya keren. ―Mau apa kau datang ke Kee-hin ini?‖ Yen Lieh tetap tidak bergerak. hotel menjadi sunyii. untuk mengeluarkan sepucuk surat yang mana ia lemparkan ke atas meja. mungkin nanti datang pembesar negeri. ―Jangan kita nginap disini!‖ ―Jangan takut!‖ kata Yen Lieh. aturan dari mana?‖ demikian di antarannya pentang bacot. sambil pegangi pipinya dia menjerit: ―Bagus. kau she apa?‖ menegur yang menjadi kepala. Hamba negeri itu terkejut. Dengan tiba-tiba Yen Lieh mencelat ke pintu dan tangannya menyambar. Menyaksikan sikap orang itu. Kemudian mereka menjdi gusur.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok tidak tahu apa yang sudah terjadi tetapi ia dapat menduga. ―Mana dia si penjahat!‖ Yen Lieh bercokol tidak bergeming. yang romannya seperti buaya darat.‖ kata SekYok dengan berkhawatir. kasihkan pada Khay Oen Cong. ialah ruyung pendek yang bercagar atau gagangnya bergaetan. yang repot merayap bangun. ―Pergi kau panggil Khay Oen Cong kemari!‖ ia bilang. Sekejap saja empat lima orang telah terguling rubuh. Di situ ia lantas bercokol.

Jongos saksikan itu semua.‖ Yen Lieh dongak. Dengan cara hormat. ia berlutut dan manggut-manggut. tiehu dari Kee-hin dan Kiang Bun Kay tiekoan dari Siu-sui-koan. nanti piecit siapkan. Nyonya Yo Tiat Sim menjadi terperanjat. hingga ia bisa tertawa. Khay Tiehu lantas angsurkan suratnya pemuda itu. ―Siapa itu Tio Kong?‖ tanyanya.. Cuma tangannya diulapkan.‖ kata Oen Cong dan Bun Kay dengan cepat. Dengan tidak bilang apa-apa lagi. yang satu bermuatkan emas berkilau kuning dan yang satunya lagi bersis perak yang berkeredep putih. ―Sebenarnya suratmu itu wasiat apa?‖ ia tanya.‖ berkata Yen Lieh. Kamu jangan ganggu aku. ―Aku lebih suka tempat yang tenang.‖ Yen Lieh ulapkan tangannya. Sampai disitu Pauw Sek Yok menjadi heran. Kapan mereka berdua sampai di depan Yen Lieh. ―Piecit telah siapkan tempat beristirahat. ―Di tempat kami ada penjahat yang main gila. ―Piecit adalah Khay Oen Cong. ia bersangsi.‖ Yen Lieh tertawa.‖ tiehu itu memohon kemudian. ia menoleh ke belakang seraya geraki tangannya. tetapi kapan kuasa hotel lihat wajah si tetamu tenang dan ramah. keduanya lantas saja memberi hormat sambil tekuk lutut. kami tidak datang menyambut. Itulah suara beberapa puluh orang polisi.‖Piecit tidak ketahui tayjin tiba disini.‖ ia menyahut. hatinya terus goncang. habis mana. ia membungkuk sedikit. Khay Oen Cong menyahuti dengan cepat. aku mohon Tuan-tuan suka tolong periksa dan mencarinya.‖ ia berkata. yang mengiringi dua pembesar dengan pakaian dinasnya. sesudah mana di luar hotel terdengar pula suara berisik dari orang banyak. lenyap darahnya. ia mengangguk. atas mana muncul dua orang polisi yang membawa dua menampan-menampan. orang-orang sebawahannya Tio Kong semua bangsa kantong nasi. ―Tio Kong ialah Kaisar Leng Cong yang sekarang!‖ sahut Yen Lieh.‖ dia berpikir. hatinya pun lega. ―Atau setidaknya dia pembesar berpangkat sangat tinggi…. Tak tahu ia urusan bakal jadi bagaimana hebatnya. ―Baik. Yen Lieh mengambil sepotong perak dari atas nenapam. ia tidak menyahuti. benar-benar tidak pantas!‖ Sek Yok heran. ya. aku menyangka dialah sanaknya kaisar. ia lemparkan itu ke atas tanah.‖ Dengan tiba-tiba wajah si anak muda menjadi keren. terutama terhadap Kiang Bun Kay si camat. ―Ya. Oen Cong dan Bun Kay mengundurkan diri dengan hormat dan tanpa berisik semua polisi mengikuti mereka. ―Sebenarnya tidak ku niat pedulikan mereka.‖ katanya. dia berlutut seraya memohon ampun. Kenapa dia sekarang berani terang-terangan menyebut nama kaisar? Irawan D Soedradjat Page 28 . baiklah. ―Aku telah kehilangan uang di dalam kecamatan ini. itulah kealpaan kami.‖ berkata mereka. Bukankah residen dan camat pun mesti berlutut terhadap tetamunya itu? Tidak ayal lagi dengan dipimpin kuasa hotel. ―Satu pembesar sampai ketakutan demikian rupa!‖ Yen Lieh tertawa. ―Tayjin masih membutuhkan apalagi.‖ berkata Khay Oen Cong. lalu dengan cepat ia seret si jongos pergi. ―Tempat di sini lebih meyenangkan. ―Dia mengaku sebagai sahabatnya Han Sinsiang. hebat ia menunggu kira setengah jam. mukanya menjadi pucat. Karena ini. tolong sebutkan. harap tayjin suka memaafkannya. lekas-lekas ia pungut uang itu. semua pembesar sipil dan militer hormati dan takuti dia. ―Sekarang ini sudilah kiranya Tayjin menerima dahulu ini jumlah yang tidak berarti. ―Pembesar itu sendirinya tak punya guna. ―Lekas pergi!‖ Jongos itu melengak. kalau negara mereka tidak lenyap. silahkan Tayin dan hujin singgah di sana.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok saksikan itu semua. ―Aku persen ini kepadamu!‖ katanya sambil tertawa. khawatir orang gusar.

Mereka beda daripada tentera Tionggoan. ―Ke Utara?‖ dia bertanya. aku sendiri bakal mengepalai angkatan perang untuk mengambilnya dan dia tak usah capekkan hati lagi mengurusnya!‖ ―Apa katanya Han Sinsiang?‖ Sek Yok tanya. Kemudian. Sek Yok sebaliknya terkejut. ―Semua serdadu itu adalah tentara pilihan dari negara Kim yang besar!‖ Dan dia tertawa pula. namaku mesti ditambah satu huruf ―Wan‖ di atasnya.. Pangeran Tio Ong adalah aku yang rendah…. ―Semua keluar!‖ kemudian Yen Lieh berkata. maka kali ini aku tidak sungkan-sungkan lagi menghadapi Perdana Menteri Han To Cu. tetapi dengan alasan penghasilan negaranya tidak mencukupi. tangannya diulapkan. yang menjadi musuh Tionggoan.‖ Mau atau tidak Sek Yok terperanjat. setelah ia menikah dengan Yo Tiat Sim. ia juga ketahui bagimana hebat suaminya itu membenci bangsa Kim itu. sering-sering kaisar Song tidak menepati janjinya. ia tidak terlalu heran. ia tercengang. ―Bicara terus terang nyonya. Peragamannya rapi. ―Sebenarnya aku yang rendah ini adalah Wanyen Lieh. Tentu saja oleh karena ini ia menjadi tidak dapat membuka mulutnya. dibawa pulang ke negeri Kim itu. ― Telah lama aku kagumi keindahan wilayah selatan. Segera terdengar tindakan banyak kaki yang bersepatu kulit memasuki ruang hotel. bahwa rakyat di utara telah diperlakukan dengan kejam oleh bangsa Kim itu.?‖ Maka lekaslekas ia berkata ― Bicara hati-hati! Nama raja mana boleh sembarangan disebut-sebut?‖ Senang Yen Lieh akan mengetahui nyonya ini menyayangi dia. Begitu mereka melihat Yen Lieh. ―Akhir-akhirnya kamu dapat cari aku!‖ kata Yen Lieh sambil tertawa Sek Yok dengar orang dipanggil ―ong-ya‖ – ―sri paduka‖. panjang dan puas sekali. bagimana dua kaisar Tionggoan telah ditawan. ―Tidak ada halangannya untuk aku menyebeutkan namanya. habis kita mesti memanggil apa?‖ Lagi sek Yok terkejut. Yen Lieh kembali tertawa. dia janji saban tahu mengirim upeti uang dan cita. ―Apakah mereka bukannya tentara Song?‖ si nyonya membaliki. Yen Lieh mengangguk. Mereka semua bertubuh besar dan kekar. ―Kalau begitu kau jadinya.‖ ia menyahut sambil tertawa. Pernah dahulu ia dengar ayahnya bercerita bagaimana bangsa Kim telah menggilas-gilas wilayah Tionggoan. Di samping itu kebetulan kaisar Song belum membayar upeti tahunannya yang berjumlah beberapa puluh laksa tail perak. aku tandaskan kepadanya. orang dengan siapa siang dan malam ia berada bersama selama beberapa hari. apabila dalam tempo satu bulan upeti tidak dibayar penuh.‖ sahut putra raja Kim itu. Irawan D Soedradjat Page 29 . tapi di luar hotel terdengar tindakan dari beberapa puluh kuda yang terhenti tepat di muka hotel. nampaknya ia sangat tidak puas.Pendekar Pemanah Rajawali Kalau hal ini di dengar orang. jikalau kita tidak panggil dia Tio Kong. ―Setibanya kita di utara.‖ dia menyahuti. yang terus berbangkit untuk berdiri dengan tegak. kau…‖ katanya Sek Yok dengan suara yang gemetar. adalah putranya raja Kim itu. dari itu Ayahanda raja menitah aku menagihnya sekalian. Itulah beberapa puluh serdadu denag pakaiannya yang tersulam. Ia lantas berkata. lenyap senyumnya si nyonya. putra keenam dari Raja Kim. Dengan berbareng menyahuti semua serdadu itu mundur teratur. Wanyen Lieh lihat air muka orang berubah. ―Ya.‖ ―Upeti tahunan?‖ Sek Yok heran. semua menunjuki wajah sangat girang. Ia baharu mau menyahuti. terus ke muka kamarnya si anak muda. Yen Lieh tertawa. riang gembira. apa ini didengar orang. hampir berbareng mereka menyerukan: ―Ongya!‖ Dan lantas semuanya memberi hormat sambil berlutut. karenanya pada tahun baru yang baru lalu telah aku mohon Ayahanda raja mengirim aku ke Lim-an sebagai utusan yang datang untuk memberi selamat tahun Baru kepada kaisar Song. Sekarang diluar tahunya. Ia lantas saja mengerutka kening. Ia hanya heran menyaksikan rombongan serdadu itu. ―Bagaimana kau lihat semua orangku dibandingkan dengan tentara Song?‖ ia tanya. ―Kerajaan Song mohon negaraku tidak menyerang dia. apa itu bukan artinya sangat kurang ajar. ―Sekarang baiklah aku omong terang padamu!‖ katanya.

Sekarang ia insyaf bahwa manusai tidak dapat di lihat dari romannya saja. uang dan cita sudah diseberangkan sungai. ia jadi tertawa sendirinya. jikalau aku pakai itu untuk membeli pakaian. Putra raja Kim itu tertawa ketika ia berkata pula. Kuda itu tidak pernah menerjang barang atau menyentil orang. tubuh si kate turun pula. karena ingin aku menyaksikan kepermaian wilayah selatan ini. maka adalah diluar dugaanku. ―Kuda itu jempol. numprah dengan aman! Wanyen Lieh kagum hingga ia menjublak. tak habis kau pakai itu selama seribu tahun. bercokol lagi di bebokong kuda seperti tadi. atau melompati pukulan pedagang-pedagang. Hahaha!!‖ Sek Yok berdiam. kenapa ada orang yang larikan kudanya di situ. aneh juga cara kudanya berlari-lari. Sebentar saja kuda itu telah tiba. Wanyen Lieh memuji akan tetapi. kapan ia mengepalai angkatan perang mendatangi wilayah ini. Di sebelah keanehan si penunggang kuda. dengan hitung besar dan bulat seperti buah prim merah ditempel di muka. di jalan itu muncul dua bocah berlari-lari main kejar-kejaran melintas di depan kuda. orang-orang yang berlalu lintas kebetulan banyak.‖ pikirnya. ―Menagih upeti ada urusan yang remeh. karena hotel itu telah dijaga rapat. Dengan membekal uang. seperti kelit sana dan kelit sini. sesudah itu. Alisnya kuncup. ―Uang pribadi Han Sinsiang sendiri yang dibekali padaku. diperhatikan demikian macam. di negaranya sendiri – negera Kim tidak ada penunggang kuda sepandai dia walaupun ia ada punya banyak ahli penunggang kuda. kapan ia saksikan penunggangnya. Ia lantas menyingkir ke pinggiran. ―Bagus!‖ Si kate terokmok dengar orang memuji dia. pangeran wilayah selatan ini. Tepat di itu saat. yang sangat mencintainya. Ia lantas memikir untuk nanti. Lihay luar biasa si cebol itu.‖ Pauw Sek Yok tetap bungkam. supaya dapat ia tinggal tetap di Kanglam…. matanya memandangi sekitarnya hingga mendadak ia dengar larinya kuda derap. nampak beda juga. Kapan ia ingat suaminya. cukup dengan utus satu menteri. kuda mana terus lompat melewati atas kepalanya dua bocah itu. Hampir di itu waktu. ―Aku tetapi datang sendiri. tubuhnya pun terangkat dari bebokong kuda. di empat penjuru sini telah berjaga-jaga pasukan pribadiku. tegap tubuhnya dan pesat gerakkannya. sekarang hendak aku pergi beli pakaian. aku bertemu dengan Nyonya. baik aku beli denagn harga istimewa. orang bangsawan ini bertindak dengan perlahan-lahan. kakinya bergerak. dan pinggiran jalanan pun ditempati pedagang-pedagang gelar dan pikulan. Itulah seekor kuda kuning yang tinggi dan besar. Wanyen Lieh pergi ke kota di bagaian yang ramai. dia berpaling. lehernya pun seperti tidak ada. ia akan mohon ayahnya angkat ia menjadi Gouw Ong.‖ kata Sek Yok tunduk. terang itu adalah kuda asal luar tapal batas. dengan bercokol di atas kuda yang tinggi besar. yang kelihatan cuma kepalanya yang gede. yangmuncul mengkeret di atasan pundaknya. Nyonya! Kau jangan takut. ia mirip setumpuk daging belaka. maka dengan itu Wanyen Lieh dapat lihat tegas muka orang. Penunggang kuda itu adalah seorang yang tubuhnya kate dan terokmok dan romannya jelek. Jalan besar di situ tidak lebar. ia lantas mendekam di pembaringannya dan menangis sedih sekali. sungguh aku sangat beruntung. Ia lihat penduduk kota ada halus gerak-geriknya. Menampak kuda itu. apa maksudnya putra raja Kim itu yang ia seorang wanita dari rakyat jelata. Kuda itu kaget. Wanyen Lieh merasa ia adalah satu ahli penunggang kuda. Dengan perasaan puas. tetapi sekarang tanpa merasa ia berseru. Irawan D Soedradjat Page 30 . Sudah ia pendek tangan dan pendek kaki. ia dapat bergerak merdeka.‖ berkata pula Wanyen Lieh. walaupun kuli. Itulah perlakuan istimewa. ―Nah. maka itu diam-diam ia mengaguminya.‖ kata Wanyen Lieh kemudian. tidak nanti orang jahat yang berani ganggu padamu!‖ Mendengar itu Sek Yok mau menduga bahwa ia telah diancam dengan samar-samar bahwa tak dapat ia melarikan diri apabila ia memikir demikian. ―Tidak usah. kate terokmok angkat lesnya. Itulah satu muka yang merah seperti ampas arak. ia hanya heran sekali.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apa lagi dia bisa bilang? Belum lagi aku meninggalkan Lim-an.

Dewa Mabuk. Tak biasanya kuda larat dapat berhenti secara demikian tiba-tiba. ―Lekas kamu sajikan sembilan meja barang hidangan kelas satu!‖ kata si kate. untuk berdongak. Si kate tidak lompat naik ke atas kudanya. kuda kuning itu angkat naik kaki depannya. Begitu lekas guci telah terbuka. Tanpa Iweekang. arak simpanan tiga atau empat puluh tahun. ―Ah. Han Samya!‖ berkata si kuasa ciulauw sambil tertawa. mulutnya dibuka untuk perdengarkan ringkikkan. Selagi ia khawatir nanti tak dapat menyandak. Wanyen Lieh segera dapat mencium baunya arak yang melulahkan terbawa angin. ia telah memasuki sebuah restoran di pinggiran mana kudanya dihentikan secara istimewa itu. yang hurufnya kekar dan bagus. yang tak ada lawannya yang lainnya untuk teman arak! Tentang emas ini. setelah turunkan kedua kakinya ia terus tunduki kepalanya. akan tetapi di sini. Ia percaya ia dapat melakukan itu hanya tidak sedemikian sempurna. hingga ia tahu baik sekali tempat-tempat dimana ia dapat pernahkan tentaranya atau dimana dia dapat seberangi sungai. Di depan ia adalah kudanya. aku minta sudi apakah kiranya samya simpan dahulu. berapa besar faedahnya apabila ia berhasil membeli kuda istimewa itu. Memang putra raja Kim ini adalah seorang denagn cita-cita luhur. Nyata itu adalah sepotong emas yang berkilau kuning. maka matanya lantas melihat sepotong papan merek dengan bunyi empat huruf ―Tay Pek Ie Hong‖. ia mengenal ilmu tenaga dalam yang lihay. ia pun lantas berdiri di pinggiran. Di atas loteng ada lagi sebuah papan merek dengan tiga huruf ―Cui Sian Lauw‖. Ia sangat menyayangi arak jempolan itu.‖ ―Baik. Dia pun melamun. mulutnya dikasih masuk ke dalam guci. sayang kalau orang pandai ini tak dapat digunai olehku. Pernah selama di Yankhia. ia berberang sudah perhatikan keletakan daerah. Selagi Wanyen Lieh terheran-heran. dengan tidak pecah seluruhnya. yang istimewa tinggidan besarnya. si kate tidak cukup tinggi untuk kepalanya menyundul sanggurdi. ―Yang delapan meja makanan dengan daging. ia kembali ke restoran. biasanya kuda itu mesti berlari-kari perlahan dahulu. ―Pemerintah di selatan ini justru buruk. sebaliknya lebar tubuhnya ada tiga kaki penuh. untuk sedot arak itu berulang-ulang! Dalam keheranan. mendadak kuda orang itu berhenti berlari. Dengan mendatangi Kanglam. ayahnya dikirimkan arak serupa oleh utusan kaisar Song dan oleh ayahnya ia dibagi beberapa guci. ―Kebetulan hari ini kami dapat empat ekor ikan saylouw. si kate terokmok sudah lompat turun dari kudanya dengan cepat luar biasa. Tingginya tak ada tiga kaki. Malah ia ingat juga namanamanya setiap pembesar setiap tempat serta kepandaiannya setiap pembesar itu. Berdiri di tanah si kate nampaknya semakin tak mengasih. habis mana dengan sebelah tangannya. sedangnya ia berniat mengoaki si kate itu. yang aliasnya Thay-pek dan julukannya Cui Sian. Ia kenali arak itu adalah arak Siauwhin yang kesohor. Putra raja Kim itu angkat kepalanya. Dengan berdiri berdekatan. Tadinya Wanyen Lieh ingin memasuki ciulauw itu atau segera ia tampak si kate sudah keluar pula sambil tangannya membawa satu guci arak yang terus dibawa ke depan kudanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau dia bisa diundang ke kota rajaku. ia saksikan seekor kuda tunggangan diberikan arak itu! Si kate tinggalkan kudanya minum. bukankah pasukan kudaku bakal menjagoi di kolong langit ini?‖ dia berpikir. sambil kasih dengar bentakan. Putra raja Kim ini ingin menontoni kelakuan. di situ ia letak guci araknya.‖ pikir Wanyen Lieh. tidak nanti guci arak dapat ditebas kutung dengan tangan. itu penyair yang terkenal. ia babat guci sebatas pundaknya guci itu hingga tempat arak itu menjadi terbuka bagaikan jambangan. yang satu sayuran saja.‖ dia negelamun terlebih jauh. Malah ia lantas lari untuk menyusul penunggang kuda itu. dan teliti sepak terjangnya. Riasannya ciulauw pun ada istimewa. ia lemparkan sepotong uang ke atas meja kuasa restoran itu. tak hendak ia sering-sering meminumnya. Mengenai nperhitungannya nanti perlahan-lahan kita mengurusnya…‖ Irawan D Soedradjat Page 31 . Karenanya ia lantas ambil ketetapan untuk undang kate terokmok itu. Jadi itu sebuah ciulauw. atau sebuah restoran. Maka inginWanyen Lieh menyaksikan orang punya sepak terjang lebih jauh. Jadi itu ada ciulauw yang pakai nama Souw Tong Po. Kembali ia menjadi heran. hanya ia berdiri di depan binatang tunggangannya itu. untuk jadi guru. maka dilain saat sudah terdengar tindakannya yang cepat di undakan tangga loteng. di samping aman ada pula empat huruf kecil bunyinya: ―Tong Po Kie-su‖. atau tenaga dalam yang sempurna. ibukotanya.

Lagi beberapa gayuan. sebagaimana kawannya juga duduk dikursi lainnya. kepada si kate terokmok. tanpa layani si cebol itu. matanya si kate terbelalak. sampai sejenak saja perahu itu dapat melewati sebuah perahu kecil yang terpisah jauh darinya. Mungkinkah ia ada okpa di kota Kee-hin ini? Kalau benar. atau lengkak yang tidak ada ―tanduknya‖ yang rasanya empuk dan manis. Wanyen Lieh menjadi heran sekali. aku tunggu dulu. sedang yang mengayuh yang berbareng menjadi pengemudi. habis itu ia lompat ke darat. mengapa Cuma disediakan sembilan cawan saja? Apa mungkin ini ada adat kebiasaan di selatan ini…. Segera ternyata ia adalah seorang wanita. Hanya herannya untuk setiap meja ditaruhkan Cuma sepasang sumpit dan satu cawan arak. Kee-hin adalah sebuah kota negara Wat. lompat mendarat juga setelah ia samber sepotong kayu pikulan yang kasar. apabila ia menoleh. lalu tertampak suatu cahaya berkilau mengkeredep. Lega hati untuk memandang permukaan telaga itu. lekas sajikan arak dan makanan untuk Han Samya!‖ Seruan itu sudah lantas sapat sambutan berulang-ulang. tak ada bandingannya untuk Kanglam. Restoran Cui Sian Lauw ini letaknya di pinggir Lam Ouw.Pendekar Pemanah Rajawali Mendengar itu. kenderaan air itu segera mendekati restoran. kamu datang siang-siang?‖ kata si cebol. ―Sietee. tengah remajanya. Di sini ada sinar matahari yang menyoroti pengayuh itu. di muka air ada beberapa buah perahu kecil lagi mundar-mandir. ―Dan di sini orang sangat menghormatinya. yang duduk di belakang ada seseoarng yang memakai baju rumput. Telaga itu pun ada mengeluarkan hasil yang kesohor yaitu bu-kak-leng. Dengan begitu ia pun menantikan tetamu-tetamunya si cebol. Orang yang menumpang perahu itu satu pria. Disini dahulu Raja Wat. Di situ pun kedapatan banyak pohon lengkak yang daunnya hijau-hijau. ―Apa?!‖ serunya aneh. ―Menenggak arak tanpa uangnya ? Apakah kau sangka Han Samya kamu ini tukang anglap?‖ Kuasa ciulauw itu tertawa haha-hihi. minumnya ayal-ayalan. Setelah perahu kecil itu datang semakin mendekat. Wanyen Lieh diam-diam perhatikan dua pendatang baru ini. Itulah kulitnya Irawan D Soedradjat Page 32 .‖ Karena ini ia hampiri ciulauw itu untuk naik ke loteng dimana ia pilih satu meja di pinggir jendela. panjang bulu matanya. Dia masuki pengayuh ke dalam air. ia berpaling ke dalam dan berseru: ―kawankawan. buah lie keluaran sini kesohor manis. untuk apa meja sembilan ini?‖ ia menerka-nerka. ―Jikalau jumlahnya banyak. Dia beramta besar. hendak aku saksikan orang-orang macam bagaimana yang ia undang berjamu. Mulanya ia tidak menaruh perhatian. ia dapatkan beberapa jongos mulai mengatur sembilan buah meja. Wanyen Lieh lihat di tengah perahu ada berduduk satu orang. citmoay. Di jaman Cun Ciu. Keduanya terus mendaki tangga loteng. Kali ini ia tampak sebuah perahu nelayan yang kecil. ―Si kate ini berpakaian tidak karuan tetapi ia sangat royal. Hap Lu. Sambil hirup araknya perlahan-lahan. Itu pun sebabnya di dalam telaga tumbuh banyak pohon lengkak itu. tentu sulit rasanya untuk undang ia menjadi guru…Baiklah. Si wanita berusia tujuh atau delapanbelas tahun. Kee-hin dipanggil Cui Lie atau Lie Mabuk. Di pinggiran perahu berdiri dua baris burung-burung air peranti menangkap ikan. kepalanya terangkat naik.‖ pikirnya. Kembali Wanyen Lieh memandang ke telaga. Nyata pengayuh itu terbuat dari kuningan. tubuh perahu seperti melompat di atasan air. ―Shako!‖ memanggil si nona tukang perahu setibanya di atas loteng. ―Kalau yang datang cuma sembilan orang. Ia minta satu poci arak serta barang makanan sekedarnya. akan tetapi perahu itu lahu melesat. Di jaman dahulu. Tiba-tiba ia dengar suara beradunya sumpit da cawan-cawan arak. Tenaga mengayuh itu mungkin ada tenaga dari dua ratus kati. Telaga Selatan. Dia pun lantas sambil sebuah meja. yang laju pesat sekali. sama kesohornya dengan araknya. Kouw Cian telah labrak Raja Gouw. Seorang wanita bertenaga demikian besar inilah aneh: maka aneh juga pengayuhnya itu yang dapat dipakai mengower air demikian kuat. Perahu itu kecil tatapi panjang. nampaknya ia mengayuh denagn perlahan. Si cebol sudah lantas duduk minum arak di sebuah meja. Si wanita tampak perahunya dipelatok di samping tangga batu di bawah loteng restiran. Itu waktu tengah telaga nampak kabut tipis. Wanyen Liaeh memandangi keindahan telaga. kulitnya putih bagaikan salju.? Ia memikir tetapi tidak dapat jawabannya.

Ketika dia sanderkan pikulannya di samping meja. yang warnanya hitam mengkilap. yang jalan di depan berdedakan tinggi dan kekar. Karena beratnya itu. ―Bagian anggotanya yang mana yang kena didupak kuda?‖ dia tanya. Karena ia menggulung tangan bajunya tinggi-tinggi. ―Mereka datang ke Kee-hin untuk mencuri. ini namanya benturkan kepala dato…! Hayo lekas naik ke loteng untuk minta ampun!‖ Di bawah loteng itu ada lagi orang-orang yang berbicara. ―Heran!‖ kata Wanyen Lieh dalam hati kecilnya. kedua ujungnya muncul sedikit. Cuma ditangannya kurang sebatang golok lancip. Di pinggangnya orang itupun ada terselip sebuah kampak pendek. yang sudah sedikit gompal. serta sebuah keranjang bambu. sedang sepatunya ada cauw-ee. terdengarlah suara beberapa kali. Irawan D Soedradjat Page 33 . malah ia dapat membinasakan seekor harimau…‖ pikirnya. ialah pesawat timbangan. Segare suara mereka itu bercampuran sama satu suara baru. ia mirip satu pembantai atau penyembelih hewan. Meja itu menggeser sedikit. karena bajunya tidak dikancing. pinggangnya dilibat tali rumput. dibahasakan saudara?‖ Tengah si putra raja Kim berpikir demikian. sama denagn kampak biasa. sungguh mereka sudah bosan hidup!‖ ―Rupanya mereka hendak mencuri kuda lalu kena kuda jentil‖ pikir Wanyen Lieh. Sungguh celaka. kulit mukanya putih. Dia pun mempunyai rambut yang hitam mengkilap. Orang yang berjalan di belakangnya berpotongan sedang. di bawah loteng terdengar ringkikan kuda yang disusul sama jeritan kesakitan hebat dari dua orang. pun terlihat lengannya berbulu hitam seperti dadanya itu. Wanyen Lieh menjadi bertambah-tambah heran. Ia mendatangi dengan tindakan dangklak-dingkluk. tertampak pula dadanya berbulu gompiok. baju dan celananya berbahan kain kasar. romannya jujur polos. rupanya peranti menjaga pikulan tidak merosot terlepas. yang dari romannya dari kepala sampai di kaki. Sendirinya Wanyen Lieh terperanjat. usianya kurang lebih tiga puluh tahun. kenapa kedua orang ini yang mirip orang-orang kalangan rendah. satu antaranya mengatakan: ―Kuda Han Samya lihay melebihkan manusia. ―Itu namanya berbuat sendiri.. ―Walaupun dia tidak dapat melawan kecantikannya Pauw-sieku. hingga ia mirip seorang pedagang kecil. ialah tingtong-tingtong seperti besi mengadu dengan batu hinga orang pada memandang ke jurusan dari mana suara itu datang. Ia bertangan kasar dan kaki gede. mirip orang desa tulen. kamu datang berbareng!‖ menyambut si nona nelayan. di tangga loteng sudah terdengar lagi tindakan kaki berisik dua orang lagi. yang ujungnya dibanduli seekor macan tutul. Pengurus dari Cui Sian lauw tertawa. ―Tiga orang yang pertama adalah orang-orang yang mungkin berkepandaian tinggi. hingga ia awasi pikulan itu. kembali ada orang hendak curi kuda twie-hong-ma‘mu!‖ katanya. kepalanya ditutup kopiah kecil. selagi bercacat di bawah. dua jentilan kakinya cukup untuk dua pencuri ini. Di tikungan jalan besar terlihat munculnya satu orang pengkor yang pakaiannya rombeng dan tangan kirinya memegang sepotong tongkat besi dengan apa dia saban-saban memukul batu-batu yang menggelari jalan besar itu. ―Shako. Wanyen Lieh segera melongok ke bawah loteng. kenapa kamu tidak dengar-dengar dulu namanya Han Samya? Bagus. Si pedagang kecil lantas saja tertawa. liokko. tangannya mencekal dacin. dia pun bercacat di atas. Baharu dua orang itu duduk. makan sendiri hasilnya!‖ dia bilang. Dari dua orang ini. Mereka ini ambil masing-masing sebuah meja. hingga ia mesti gunai tongkat besinya untuk mencari jalanan untuk sekalian menunjang diri. kata dia pada dua orang yang bercelaka itu: ―Kamu bangsat-bangsat luar kota.mulut mereka masih berkoak-koak beraduh-aduh.! Sedang seorang yang lain bilang. Si pengkor merangkap buta ini rupanya telah dengar pembicaraan orang banyak itu. Si cebol tertawa. Maka teranglah ia seorang buta. Kedua pencuri kuda itu mencoba merayap bangun. ngoko. tubuh itu meminyak. bentrok sama meja itu. Sekarang ia lirik si pria yang membawa-bawa kayu pikulan. dia toh menggairahkan dengan sifatnya sendiri. ―Belum pernah aku dengar orang picak lagi pengkor pandai berburu binatang hutan.‖ berpikir putra raja Kim itu. pasti pikulan itu bukan terbuat dari besi entah dari bahan apa. ―Bagus.Pendekar Pemanah Rajawali orang Kanglam sejati. Ia mencekal pengayuh kuningannya dengan tangan kanan dan menenteng baju rumputnya dengan tangan kiri. Sudah begitu. Melihat potongannya. tampak dua orang tengah mengoser sambil merintih. suaranya parau. dipundak kanannya ia ada menggendol semacam senjata peranti memburu. sepatu rumput. tubuhnya terlibat semacam kain.

Rupanya ia membutuhkan suara apa-apa untuk ketahui ke mana ia mesti pergi. hingga dia ini berteriak kesakitan. si buta bertindak ke mejanya. ―Apakah jietee masih belum sampai?‖ ―Jieko sudah tiba di Kee-hin. berdiri di samping kursi. sekarang sudah waktunya ia sampai disini‖ sahut orang yang potongannya seperti pembantai itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tekukan dengkul kiri. ―Toaya binatang itu dupak dadaku…‖ katanya. berbareng dengan mana dengan tiba-tiba ia totok pinggangnya si pencuri. mengeluarkan ludah lender. ―Hm!‖ si buta pendengarkan suaranya. ia hanya bertindak memasuki restoran itu. maka setelah datang dekat si buta ia jadi berdiri menjublak.‖ Segera ia berpaling kepada kawannya dan berkata: ―Saudara mari lekas. mengertilah Wanyen Lieh bahwa si buta benar-benar tak dapat melihat. sekarang denagn tiba-tiba sakitnya itu lenyap. mulutnya pun mengecoh: ―Oh yaya yang sakti. Maka lekas-lekas ia jatuhkan diri untuk berkutut untuk manggut-manggut hingga jidatnya berbunyi mengenai batu. dengan tangan kirinya ia usapi dadanya pencuri itu. ―Sungguh hari ini aku sangat beruntung!‖ kata Wanyen Lieh dalam hatinya. aku mohon diberi maaf. Tiba-tiba ia merasa enak perutnya.‖ katanya. ―Diluar dugaanku. Pencuri itu kegelian. untuk kekasaranku barusan. ia gotong pergi macan tutul itu. di mana ia duduk di kursi yang ditepuk-tepuk oleh si nona nelayan. sungguh…. ―Jongos. maka tangannya yang telah diangkat tinggi segera dikasih turun pula. ―Hei pengemis bangsat. terus mendaki tangga loteng. ―Toako!‖ mereka berseru. cepat kau urus macan ini!‖ ia perintahkan. kau juga hendak main gila sama aku!‖ Dan ia memburu sambil ulur tangannya untuk meninju. Wanyen Lieh sendiri menjadi sangat terkejut. di sini kursimu!‖ ―Baik!‖ menyahuti si buta itu. kau suguhkan itu tuan untuk dia mencicipi rasanya…‖ ―Ya…ya…‖ sahut si jongos itu. yang tengah duduk lantas bangkit bangun. lalu lantas ia memberi hormat samil menjura. ―Aku bodoh. Lalu si nelayan wanita bertindak ke meja nomor satu di sebelah timur. Tuan orang pandai.‖ Si buta tidak menggubris pencuri itu. ia tepuk-tepuk kursi itu seraya berkata: ―Toako. si buta lemparkan macan tutulnya ke lantai. Karena kesakitan. lalu mendadak ia kitik ketiak orang. Menyaksikan perbuatan si nona. ―Kenapa ia dapat melihat aku? Apakah dia bukan buta benarbenar?‖ dia berakta di dalam hatinya. dengan suara susah. lalu bersama dua kawannya. Ketika itu semua orang yang telah datang terlebih dahulu.‖ sahut salah satu pencuri kuda itu. pencuri itu bertindak denagn susah payah mendekati si buta dan pengkor itu. ―Tulang-tulangnya kau godok menjadi kuwah yang kental! Hati-hati supaya kulitnya tidak sampai kena terpotong rusak!‖ Satu jongos menyahuti. Kalau tadi ini pencuri sakit kakinya sampai tak dapat digeraki. Hampir berbareng denagn itu. lenyap rasa sakit di dadanya itu. kau mohon toaya ini tolong obati padamu…‖ Dengan meringis-ringis. lantas ia muntah beberapa kali. ―Terima kasih. Irawan D Soedradjat Page 34 . dia menjadi pentang mulutnya lebar-lebar. Si buta pindahkan tongkatnya ke tangan kanan. ia mencoba menahan karena mana ia jadi tertawa cekikikan. mana dia berkelit tetapi sudah kasep. Sembari berbicara. Tapi si buta menunjuk kepada Wanyen Lieh seraya ia berkata pada si jongos: ―Kau mesti potongi dagingnya barang dua kati. aku dapat menemui orang-orang berilmu…‖ Sampai di atas loteng. tapi ia pandai berpikir.

Lantas dia gapekan pelayan untuk bisiki padanya: ―Semua tuan-tuan ini akulah yang undang berjamu…‖ Dia pun lantas keluarkan dua potong emas. ―Aku menyamar sebagai orang Han. bibirnya tersungging senyum. dan jarak mereka jauh pula. yang ia letaki di atas meja. Justru begitu. akan tetapi sembari tertawa. Si mahasiswa sudah lantas tenggak araknya. ―Sungguh kepandaian yang lihay……. maka dengan itu lantas ia serukan kepada sudara-saudaranya.‖ Wanyen Lieh berpikir. ―Dan kau bawa dulu kepada kuasamu. Ia menjadi heran pula. mukanya bertekukan menggoda. aku tahu!‖ sahut si nona. ―Citmoay. untuk daging yang dibagikan kepadanya – yang mana ada alasan bagus sekali untuk berkenalan – tiba-tiba ia dengar tindakan kaki yang bersepatu kulit di undakan tangga loteng. maka ia lantas berbalik dan memandang.‖ Si nona nelayan tertawa bergelak melihat uang sebanyak itu. ialah kepalanya satu mahasiswa melarat. baharu berhentilah ia merogoh sakunya. ―Baiklah aku lihat gelagat dulu…‖ Maka ia berdiam terus. ia bertanya pula: ―Mana si wanita baik-baik yang kau perdayakan?‖ Wanyen Lieh sudah putuskan untuk tidak menimbulkan kerewelan. lalu ia mengangguk-angguk.. si mahasiswa itu mengawasi ke arahnya. ―Dia cuma tepuk pundakku dengan kipasnya. ia berpura-pura tidak mendengar pertanyaan itu. Siapa lagi dua tetamu itu? Bukankah tujuh orang yang bakal jadi tuan rumah? Irawan D Soedradjat Page 35 . kipas itu dikipaskan beberapa kali. ―Semua mereka lihay. Hatinya lantas menjadi panas. habis itu menyusul munculnnya satu kepala orang yang digoyang-goyang. Mendengar itu semua kawannya itu tertawa terbahak-bahak. Di situ ada sembilan buah meja.. ―Kembali mengenai negeri Kim. Ia pun segera berbangkit dari kursinya.Pendekar Pemanah Rajawali Segera putra raja Kim itu ambil keputusannya untuk ikat perkenalan dan persahabatan dengan orang-orang kangkouw yang aneh ini. Dia benar-benar yang dimaksudkan si jietee atau jieko. setelah mana ia menegur semua orang yang telah hadir di situ. tidak peduli orang berbisik. bentrok dengan mereka tiada untungnya. Meluap hawa amarahnya Wanyen Lieh akan melihat uang perak itu yang ia kenali adalah kepunyaannya yang hilang lenyap itu. Yang pertama muncul di mulut tangga loteng adalah sehelai kipas kertas minyak yang gagangnya dekil. ―Saudarasaudara ada orang yang mentraktir kita. berulang-ulang. ―Oh.‖ Si mahasiswa melarat itu pun tertawa. untuk dititipkan!‖ katanya pula. dari mulutnya keluar suara yang bersenandung: ―Uang tidak halal…. matanya menyapu. ―Mungkin dia inilah yang curi uangku…‖ ia menerka-nerka. Wanyen Lieh heran bukan kepalang. Hanya tepat ia hendak bertindak. Walaupun demikian hatinya tetapi berkerja. ―Tidak tahu siapa yang apes malang…. lepaskan dia…. bukankah?‖ Mahasiswa itu mengipasi uang di depannya dengan tak hentinya. Tindakan itu ada seperti separuh diseret. Mengadu Kepandaian Sembari bernyanyi si mahasiswa melarat ini meragoh sakunya. saudara yang kedua. ―Jiko.Thian yang maha kuasa…umbar adatnya!‖ Bab 4. aku ada punya semacam tabiat buruk yang kau telah ketahui!‖ katanya. sekarang baharu datang tujuh orang. dari itu masih lebih dua meja yang masih kosong. dan Wanyen Lieh segera kenali orang yang tadi ia ketemui di waktu lenyap uangnya. mengapa ia bisa curi uangku?‖ demikian ia berpikir tak habis herannya. ia dapat mendengarnya. guna hampiri si buta. akan tetapi ia mencoba sebisa-bisanya untuk mengatasi dirinya. ―Uang orang bangsa asing ada sedikit berbau tetapi uang itu masih dapat digunai!‖ katanya. jeriji-jeriji tangannya tentu ada menjepit potongan-potongan uang perak sampai jumlahnya semua belasan potong. lalu menggoyang-goyang pula kepalanya. guna hanturkan terima kasihnya. Si buta tidak awas matanya akan tetapi kupingnya jeli luar biasa. maka kamu dahar dan minumlah dengan puas!‖ Si mahasiswa menoleh kepada Wanyen Lieh. mirip sekali. ia heran tidak kepalang. ia lantas berpaling ke lain jurusan. hari ini kau beruntung!‖ serunya. sebab berbareng dengan itu. cara bagaimana ia masih mengenali aku?‖ dia tanya dirinya sendiri. dan setiap kali ia menarik keluar tangannya.

mungkin itu bukan suara gajah tetapi sedikitnya kerbau…. ia dengar datangnya suara memuji dari bawah loteng: ―Amitabha Buddha!‖ Suara itu sangat jernih dan tedas. Kalau Han To Cu anggap paling baik mengirim orang untuk membunuh menteri itu. ―Nah. karena keserakahannya sudah terima sogokan besar dan berjanji suka bekerja sama. yang baharu suaranya terdengar. Ia menyebutkan dirinya ―siauwceng‖ si pendeta yang kecil rendah. dia khawatir sekali rahasianya nanti bocor. tetapi yang tindakannya cepat pesat seperti ia tidak menginjak lantai. Han To Cu juga kaget dan ketakutan karenanya. Dia pun bercita-cita besar sekali. Si hweshio menjura. utusannya ini telah rela akan menakluk dan menjadi hambanya kerajaan Kim. Hanya kemudian ia menjadi sangat kaget akan mendapatkan Ong To Kian mati terbunuh secara gelap. barang hidangan masih belum disajikan. dari itu ia Irawan D Soedradjat Page 36 . Dan menteri yang bekerjasama dengan Wanyen Lieh adalah Perdana Menteri Han To Cu. Dengan perbuatannya itu. sedang rakyat umumnya mengandal padanya. maka tujuh orang itu Cuma tenggak air kata-kata. Budi yang besar ini. guna mengompes dia. jangan kasih dia naik!‖ Suara berat itu tapinya terdengar terus. Utusan Song yang datang dari Yankhia menemani dia sepanjangn jalan.‖ Pendeta itu ialah Ciauw Bok Taysu.‖ berkata si buta. kepada kerajaan Song. seperti ada sesuatu yang mendaki. tidak dapat ia mengandal saja kepada pihak Song. ―Kami tujuh bersaudara pun berterima kasih kepadamu yang biasa melimpahkan kebaikan terhadap kami. hingga dengan begitu – rupanya – tak usah dia bertindak lagi di undakan tangga. satu imam yang tangannya menyangga sebuah jambangan perunggu yang besar sekali. Ong To Kian. Wanyen Lieh segera melihat munculnya satu tojin. kepalanya hilang berikut hati dan jantungnya. Tentang orang itu. maka itu dia sudah lantas berhubungan sama menterinya kerajaan Song untuk dijadikan si menteri serta konco-konconya sebagai alat untuk menyambut dari dalam bila sudah waktunya ia turun tangan. walaupun tubuhku hancur lebur. baharu arak saja yang dikeluarkan. Dan untuk kagetnya putra raja Kim ini. Pendeta itu dan tujuh saudara tersebut saling memberi hormat dan saling menegur. ia hanya pandai silat dan surat berbareng dan kesetiaannya terhadap negara adalah luar biasa. Sebenarnya menteri ini tidak berkuasa atas pemerintahan. sedang tangannya memegang sepotong kayu. dia memang sangat aguli kepandaiannya. maka itu siauwceng bersyukur yang liat-wie telah sudi membantu. mana dia pandang mata lagi kaum Rimba Persilatan di Kanglam ini? Karena kejumawaannya itu. dan sekarang itu disusul sama munculnya satu tubuh kurus kering bagaikan pohon mampus. habis itu si mahasiswa melarat pun pimpin tetamunya ke sebuah meja yang kosong untuk silahkan ia duduk. lantai loteng nanti kena bikin dobol…! Lekas. ia kenali si imam adalah Tiang Cun Chu Khu Cie Kee atau Tiang Cun Cinjin! Wanyen Lieh ini mendapat tugas dari ayahnya menjadi utusan bangsa Kim ke Tionggoan. yang berkerebong jubah kasee merah dengan lapis dalamnya jubah kuning. dia berkata: ― Orang itu telah datang menyatroni. kalau mendapat tahu siapa yang menitahkan dia melakukan pembunuhan yang hebat itu. kita bersaudara pasti tak mau sudah saja…‖ Belum lagi habis suaranya si buta ini. Wanyen Lieh tahu. disusul mana patahnya sehelai papan undakan tangga. Bagaikan orang yang matanya kabur. dia sangat mengharap dapat membangun pula kerjaan Song hingga menjadi jaya seperti semula. adalah Wanyen Lieh menghendaki menawan terlebih dulu pembunuhnya Ong To Kian. Yang pertama ia ingin singkirkan adalah Sien Kee Ci. ―Harap kau tidak sungkan. dia mencari gara-gara terhadap taysu. nyata terdengar hingga ke atas loteng. ingin ia merubuhkan menteri atau panglima yang paling keras kepala hendak melawan negara Kim. tanpa sebab tanpa alasan. perbuatan mana diikuti oleh enam kawannya: Dengan sikap menghormati mereka berdiri untuk menyambut orang yang baharu tiba itu. untuk menjaga diri turun tangan terlebih dahulu. di tangga loteng telah terdengar suara yang sangat berat dan nyaring. merendahkan diri. tak dapat siauwceng membalasnya. Tak tahu ia apa faedahnya puntung kayu itu. Oleh karena ini. Ciauw Bok Taysu tiba!‖ seru si buta yang terus berbangkit. taysu. lekas cegah dia. siauwceng merasa bahwa siauwceng bukanlah tandingannya.Pendekar Pemanah Rajawali Sampai itu waktu. Ciauw Bok Taysu. yang mana dibawa naik ke loteng sambil imam itu berlompat. ―Ambithaba Buddha!‖ kembali terdengar pujian. meskipun dia tidak musuhkan kau. Menyusul itu pun lantas terdengar suara kaget dari kuasa ciulauw serta jongosnya: ―Benda begitu berat mana dapat dibawa naik ke atas…! Eh. Tengah putra raja ini berpikir. Kepala dari Cip-eng-thian dan pengurus Ciong-yu-koan. Wanyen Lieh melihat satu pendeta usia empat puluh lebih. akan kemudian disusul sama mengerekeknya dua helai papan undakan lainnya. Girang sekali ini putra raja Kim menampak ikhtiarnya telah berjalan baik sekali. yang ujungnya telah hitam bekas terbakar.

ia menyangka pemuda itu bermaksud baik. Sementara itu. hampir ia tak dapat lolos seperti orangorangnya. Wanyen Lieh sendiri belum sampai turun tangan atau pundaknya telah terkena panah.‖ Lalu dengan terus-terusan ia perkenalkan enam orang lainnya. sekarang kita dapat bertemu. melainkan di tangan si imam. pikirnya orang itu telah tidak kenali dia. hanya berpaling kepada tujuh kawannya yang ia sebutkan Kanglam Cit Koay itu – Tujuh Manusia aneh dari kanglam – dan menunjuk kepada si imam. hingga kami sangat mengaguminya. selama mana. yaitu Hui Thian Pian-hok Kwa Tin Ok. ke jalan besar. suka ia mengikuti. Orang yang datang paling dulu ke restoran yaitu si kate terokmok yang menunggang kuda jempolan. tidak ada tandingannya. Lega juga hatinya Wanyen Lieh apabila selang sekian lama ia dapatkan itu imam tidak perhatikan padanya. Kwa Tin Ok mendahulukan bertujuh saudaranya untuk berbicara. Pauw-sie tidak tahu akal muslihat orang. orang ribut ketakutan dan pada lari keluar. katanya taysu undang pinto datang ke Cui Sian Lauw ini untuk membuat pertemuan. namanya Coan Kim Hoat. dia-diam mendaki loteng untuk bicara. baik ilmu silat tangan kosong maupun bersenjatakan pedang. selama ia menyebutkan setiap nama Khu Cie Kee menjura kepada orang-orang yang diperkenalkan itu. Selagi orang diajar kenal. ―Barusan pinto berkunjung ke kuil taysu. sesudah itu. imam itu lagi menghadapi Ciauw Bok Taysu serta tujuh orang luar biasa itu. ialah Lam San Ciauwcu Lam Hie Jin atau si Tukang Kayu dari Lam San (Gunung Selatan). Mahasiswa Tangan Lihay. ialah yang termuda dari Kanglam Cit Koay. si Kelelawar Terbangkan Langit. sedang dibawah loteng. ia lantas tak dapat melupai Pauw-sie. ―Sudah lama kami mendengar Totiang lihay ilmu silatnya. ia memperkenalkan: ― Ini dia Totiang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee yang tuan-tuang telah lama kagumi nama besarnya!‖ Kemudian tanpa tunggu sesuatu dari Kanglam Cit Koay itu seraya menunjuki si buta melanjuti: ―Inilah tertua dari Cit Koay. atau si Ahli Pedang Gadis Wat. Hanya dilain pihak.Pendekar Pemanah Rajawali tugaskan enam atau tujuh pengawal pribadinya dari Lim-an. buktinya benarlah dugaan pinto itu. untuk sembunyikan diri sambil berobat. yang ia anggap cantik dan manis. gelarannya Lauw-sie In Hiap atau Pendekar Sembunyi di Kota. sebab tempo ia diserang dengan panah. Sudah lama pinto dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay. nampaknya enteng sekali. ia perintahkan orang untuk selidiki tentang Pauw-sie itu. meskipun sebagai putra raja. yang kedua ialah si mahasiswa melarat yang mencuri atau mencopet uangnya adalah Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong. tak terkecuali si kuasa restoran. Selain Kwa Tin Ok yang berjuluk Hui Thian Pian-hok. imam ini seperti tidak menggunai tenaga. tentu lantai loteng perdengarkan suara meletek nyaring. yang beratnya tiga atau empat ratus kati. ini Ciauw Bok Taysu juga adalah satu sahabat Irawan D Soedradjat Page 37 . Dia inilah yang tiga. Dengan lantas pinto meikir-mikir. sama sekali ia ia tak nampak lelah.‖ ia berkata . ia kerjakan otaknya akan mengingat baik-baik nama Kanglam Cit Koay itu. dia sudah lantas jatuh terguling. sedang ia sendiri menyamar sebagi orang baik-baik sebagai penolong nyonya yang ia gilai itu. Yang keenam adalah orang yang mirip pedagang. sedang beberapa orang yang melihat tak terjadi kecelakaan sesuatu. Syukur untuknya Khu Cie Kee tidak kenali padanya. Rombongan ini dapat menyandak Khu Cie Kee di Gu-kee-cun. Akan tetapi. adalah Ma Ong Sin Han Po Kie atau si Malaikat Raja Kuda. suatu bukti dari beratnya jambangan itu. tanpa merasa ia membuatnya terlepas dan jatuh sepasang sumpit yang ia lagi pegang. ia minta Han To Cu mengirim orang untuk menawan Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. ia tidak perhatikan putra raja itu. Demikian Wanyen Lieh. Itu bukan jambangan biasa hanya tempat pembakaran kertas emas dalam kuil. maka di luar tahunya sendiri. syukur ia ditolong oleh Pauw Sek Yok. Khu Cie Kee tetap pegangi tempat araknya yang istimewa itu. Wanyen Lieh memasang kuping dan matanya. Yang kelima yang tubuhnya kekar tegap mirip sebagai pembantai adalah Siauw Mie To Thio A Seng atau si Buddha Tertawa. Katanya: ―Kami menonton‖ Habis perkenalan itu. ia terkejut bukan main apabila ia sudah kenali jambangan perunggu yang dibawa-bawa si imam itu. ia belum terlihat nyata. ―Sekarang mari siauwceng perkenalkan dahulu kau dengan Kanglam Cit Koay!‖ Khu Cie Kee menjura membungkuk tubuh. dan sekarang. Sementara itu. Ia lari ke istananya Han To Cu. Si orang tani yang membawa-bawa pikulan adalah orang yang keempat. Si nona nelayan adalah Wat Lie Kiam Han Siauw Eng. sampai ia tak dapat menguasai dirinya lagi. hingga beratnya bertambah. hanya apa lacur mereka menghadapi musuh yang terlalu tangguh untuk mereka. mungkin taysu mengundang sahabat-sahabat. jongos-jongos dan koki-koki. ―Benar-benar toheng telah dapat mencari siauwceng hingga ke mari!‖ terdengar suaranya Ciauw Bok Taysu keras tetapi dingin. ia telah melihat banyak wanita elok. setiap kali si imam bertindak. Setelah sembuh dari lukanya. yang sekarang diisikan penuh dengan arak. sungguh pinto merasa sangat beruntung! Nayatalah pengharapanku seumur hidup telah kesampaian. dia telah jatuh ke dalam genggaman putra raja Kim itu. Semua mereka itu khawatir loteng ambruk dan mereka nanti ketimpa. ―Disana ada pesan untukku. Selama Ciauw Bok Taysu memperkenalkan. Dan ini ialah….‖ Ciauw Bok Taysu tidak menjawab si imam. bukan main kagetnya ia akan tengok Khu Cie Kee.

tidak beruntung untuk mereka. Untuk itu kami tak bakal menampik lagi. akan aku patah-patahkan hingga menjadi abu semua tulang-tulangmu dan akan bakar musnah hingga menjadi tanah putih kau punya kuil Hoat Hoa Sian Sien itu!‖ Cu Cong tidak lantas dapat mempercayai kata-kata imam itu.‖ sahut si buta. Semua orang menjadi kaget. pendeta jahanam. Irawan D Soedradjat Page 38 . ―Dua sahabatku. pasti kami akan bekerja sekuat tenaga untuk menolongi mereka. bagaimana kau berani melakukan kejahatan semacam ini?‖ ia menegur dengan bengis. tetap kedua-duanya adalah orang-orang Rimba Persilatan. dalam hal apakah Taysu telah berbuat salah terhadap Totiang? Umpama kata Totiang sudi memandang muda kami bertujuh saudara. ―Mustahilkah dia bukannya menyebutkan istri-istrinya Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian atau wanita yang lain?‖ berpikir putra raja asing ini. supaya perselisihan dapat disingkirkan. mereka telah mendapatkan kebinasaannya hingga mereka mesti meninggalkan janda mereka yang tidak ada lagi sanderannya.‖ menyahut Khu Cie Kee.‖ katanya sambil tangannya mengipas-ngipas dan kepalanya di geleng-geleng. lekas-lekas Thio A Seng kerahkan tenaganya. hingga mereka mesti hidup sengsara sebatang kara. hingga tempat pembakaran kertas perunggu itu yang beratnya ratusan kati terbang menyambar ke kepalanya si pendeta. maka dengan menerbitkan suara kaki kirinya melesak mendam. untuk ayun balik jambangan itu ke arah Tiang Cun Cu.‖ ―Siapakah orang yang harus diserahkan?‖ tanya Kwa Tin OK. Kembali ia pandang si pendeta dan membentak dengan pertanyaan: ―Bagaimana denagn dua wanita yang bercelaka itu? Hai. ingin sekali kami menjadi juru pendamai. pastilah lain hari akan pinto pergi berkunjung ke Hoat Sian Sie untuk menghanturkan maaf. ―Oleh karena itu asal Taysu sudi menyerahkan dua orang kepada pinto. bagaimana bisa jadi dusta?!‖ dia berkata. Ia tapinya tertawa sebentar. segera wajahnya menjadi bermuram pula. dengan tenang ia menyambuti. ―Pinto menyaksikan itu dengan mataku sendiri. jikalau kau ganggu selembar saja rambut mereka itu. kami tidak tahu. Lantas ia ayun tangan kanannya. Lihat. ia lantas lompat ke depannya Ciauw Bok Taysu. satu Hud-kauw yang lain Tokauw. Di dalam saat yang berbahaya itu karena kakinya bisa kejeblos terus.Pendekar Pemanah Rajawali sejati. Itulah gerakan ―Twie chong bong goat‖ – ―Menolak daun jendela untuk memandangi si putri malam‖. pasti tak dapat dipercaya!‖ Khu Cie Kee menjadi mendongkol. asal kami ketahui perkaranya itu. ―Sekarang ini pinto menghendaki Ciauw Bok taysu menyerahkan itu dua orang wanita yang bersengsara dan harus dikasihani itu!‖ Mendengar itu bukan hanya Kanglam Cit Koay yang heran melainkan juga Wanyen Lieh si putra raja Kim itu. Sudikah kau Totiang?‖ ―Sebenarnya pinto dengan Ciauw Bok Taysu tidak kenal satu dengan lain dan kita juga tidak punya dendaman dan tidak punya permusuhan. Di antara Kanglam Cit Koay adalah Tio A Seng yang tenaganya paling besar. sedang lantai loteng tak demikian kuat. tak dapat ia membuka mulut. untuk kita minum arak bersama. pantas atau tidak permintaan pinto ini?‖ ―Jangan kata mereka adalah jandanya sahabat-sahabat totiang. percaya ia sanggup menanggapi jambangan itu. hingga orang-orang di bawah loteng menjadi kaget dan semuanya menjerit. ―Walaupun mereka adalah orangorang yang tidak dikenal. Khu Cie Kee menjadi gusar. ―Kau…kau…ngaco belo!‖ serunya kemudian.‖ sahut Tiang Cun Cu. Oleh karena itu. Kwa Tayhiap.‖ ―Jelas!‖ seru si imam. mereka yang tadinya datang menonton dengan diam-diam pada lari mundur hingga mereka saling tabrak dan terguling jatuh ke tangga loteng. ―Cara bagaimana dia dapat melakukan perbuatan sekeji itu? Totiang. ―Kau juga orang Rimba Persilatan yang kenamaan. ―Ciauw Bok Taysu adalah satu pendeta beribadat. Mukanya Ciauw Bok taysu menjadi kuning pucat. menerangkan. maka walaupun totiang berdua ada dari dua golongan yang berbedaan. Khu Cie Kee ulur tangan kanannya. ―Mereka telah difitnah dan dicelakai oleh pembesar negeri yang bekerjasama dengan tentera bangsa Kim. untuk mendahului jambangan itu yang terus ia sambuti dengan kedua tangannya sambil berbuat mana ia berseru: ―Bagus!‖ Akan tetapi dia mesti pasang kudakuda teguh sekali. ―Kanglam Cit Koay bukan bernama kosong saja!‖ ia memuji sambil tertawa. mestinya kau telah keliru dengar omongannya segala manusia rendah! Itu ngaco belo.

Khu Cie Kee melengak. Mereka ynag kenal kami semua dapat mengatakan sepatah kata: ‗Walaupun Kanglam Cit Koay sedan-edanan lagak lagunya. begitu ia kasih turun lengannya. sampai beberapa kali. Mari kita bersama pergi ke Hoat Hoa Sian Sie. ―Seorang laki-laki sejati kangouw. jikalau mereka bukannya menghilang tentunya mereka sudah menyingkir dengan ilmu pinjam tanah!‖ Mendengar ini mau tidak mau. mari pergi!‖ Ia pun ulur sebelah tangannya. Cu Cong menyahuti: ―Mereka itu ada bangsa dewi.‘ Kamu tidak berani menghina orang lain tetapi kami juga tak dapat mengijinkan orang lain perhina kami!‖ Khu Cie Kee tidak ingin layani tujuh orang aneh dari Kanglam itu. Ma Ong Sin Ho Po Kie bertabiat aseran. ―Taruh kata benar kau sengaja datang ke Kanglam ini buat untuk angkat namamu. Dengan sikapnya yang wajar. ―Pinto cari pendeta ini. satu kali dia bilang tidak. pasti tidak!― kata Cit Koay yang ketiga itu. ―Tuan-tuan bertujuh hendak campur tangan urusan ini. hingga pinto habis daya! Tidak ada jalan lain daripada si pendeta serahkan mereka itu!‖ ―Jadinya dua wanita itu bukannya manusia!‖ berkata Cu Cong. semua orang tersenyum. hari ini tidak nanti aku beri kau lolos!‖ ―Sabar Totiang!‖ Kwa Tin Ok memotong. Ciauw Bok Taysu paham ilmu dalam Hoat Hoa Lam Cong. ―Maafkan pinto. buktinya mereka tidak kedapatan. kau memikir menggunai jumlah yang banyak untuk mendapatkan kemenangan! Tidak. mereka bukannya manusia-manusia yang takut mampus. ―Apa? Menggeledah kuil?‖ kata Khu Cie Kee dengan tawar. telah pastikah itu?‖ ―Tidak salah!‖ sahut Cit Koay serempak. ―Kami percaya habis Ciauw Bok Taysu. mana ia dapat bicara dusta?!‖ Cie Kee nampaknya habis sabarnya. Ciauw Bok Taysu. biarlah aku yang bereskan sendiri!‖ katanya kemudian. ia lolos dari cekalan si pendeta. ―Perkaraku dengan si pendeta. Imam itu menjadi gusur.Pendekar Pemanah Rajawali Kanglam Cit Koay melengak semuanya. tidak dapat pinto temani kau lebih lama! Eh. ―Kami tidak punya kepandaian sesuatu apa juga akan tetapi untuk Kanglam ini nama kami terkenal juga sedikit. bukankah?‖ Kwa Tin Ok jawab imam itu. melakukan perbuatan semacam itu?!‖ Cie Kee tertawa mengejek. pendeta. ―Kenapa untuk itu kau mesti menodai nama baikku? Kau…kau…kau pergilah ke seluruh kota Kee-hin untuk menyelidiki! Mana bisa aku. ―Kau telah undang banyak kawan. ―Apa‖ katanya. dengan niatan menarik si pengikut Buddha itu. Han Samya?‖ imam itu membalik bertanya. ―Bagus! Kamu permainkan aku!‖ dia berseru. Taysu sebaliknya menyangkal. ―Pinto sudah menggeledahnya di luar dan di dalam. ―Kanglam Cit Koay pasti membantu pihak si pendeta. tetapi walaupun pinto melihatnya dengan mataku sendiri kedua nyonya itu masuk ke situ. ―Sebenarnya kau hendak gunai aturan atau tidak?‖ dia tegur si imam. Irawan D Soedradjat Page 39 . siapa yang salah! Mataku menang tidak dapat melihat akan tetapi orangorang di sini tidak buta semuanya― Cu Cong berenam memberikan persetujuan mereka. itulah sudah pasti!‖ dia berkata. ―Bagus betul yah!‖ katanya dingin. untuk melihat sendiri guna buktikan siapa sebenarnya yang benar. ―Habis bagaimana.‖ akhirnya Ciauw Bok Taysu dapat buka mulutnya. ―Totiang menuduh Taysu menyembunyikan kedua nyonya itu. tak senang ia menampak orang mulai gunai kekerasan. inilah sulit.

Siauwtee melarat. Si Buddha tertawa sudah lantas berpikir. ia tertawa. ―Sia ciang ie san‖ atau ―Sepasang tangan memindahkan bukit‖. ―Sekarang aku hendak memberi selamat kepada Tuan bertujuh dengan seorang satu cawan arak. setelah mana jambangan itu ia lemparkan ke arah Lam Hie Jin. Maka dengangitulah ia menengak arak. Ia telah menyaksikan suatu gerakan tenaga dalam dari Gwa-kee. arak yang harum!‖ dia memuji. cara bagaimanaaku dapat meminumnya?‖ demikian katanya dalam hati kecilnya. ia pindahkan kedua tangannya ke bawah jambangan untuk dipakai menampa. tapi juga keras keinginan tahunya. ia tetap duduk tetap dan tenang seperti juga ia tidak mengetahuinya. dadanya itu penuh dengan daging yang lembek. dipakai menolak tubuh jambangan. Tepat ketika jambangan menyambar ke dadanya. ―Sudah buta ia pun pincang…. pasti ada punya kepandaian yang istimewa. Sesudah ini ia geraki pula tongkatnya. ―Diwaktu kecil. ―Jikalau aku sambuti jambangan seperti tadi. berbareng dengan mana jambanganarak itu dilemparkan ke arah si buta. dengan mulutnya sendiri. menghirup arak di dalamnya! ―Oh. duduk sambil berputaran seperti tukang dangsu tengah mengasi pertunjukan.‖ Kwa Tin Ok ada tertua Kanglam Cit Koay. tetapi tempo jambangan itu sampai. ―Tentang seorang gagah tidak ditanya asal usulnya. Sembari berbuat begitu. habis minum barulah Tuan-tuan geraki tanganmu!‖ Habis berkata. jambangannya turut miring juga. hingga jambangan jadi duduk di ujung tongkat. Tepat ketika jambangan sampai. Meski begitu ia sudah lantas mundur dua tindak. Kwa Tin Ok sambut itu dengan tongkat besinya. berbareng dengan mana kedua tangannya bergerak untuk memeluk jambangan. Diwaktu jambangan dilemparkan kepadanya. ―Cara bagaimana dia dapat menyambutnya?‖ ia berpikir. ia pentang kedua tangannya itu. tiba-tiba ia angkat naik tongkatnya dengan kaget. maka kepandaian ini dipakai modal mengemis nasi. sampai terdengar satu suara nyaring. Selagi melayang jambangan itu masih mengasi dengar suara menguwang. kapan jambangan itu tiba Irawan D Soedradjat Page 40 . dengan dipegang dan diangkat di atasan kepalaku. adalah araknya yang lantas meluncur keluar seperti pancuran. sesudah mana berbareng dia menolak dengan dadanya. ia sambut jambangan araknya itu. ia dapat dengar suara sambarannya dan tahu tepat arahnya. semikian juga kali nini. sikapnya tenang dan wajar. berbareng dengan mana jambangan itu bertolak balik kepada Khu Cie Kee. yang ia pakai menanggapi dasarnya jambangan itu. Lam San Ciauw-cu si Tukang kayu dari Gunung Selatang ada pendiam tak doyan berbicara. atas mana Kwa Tin Ok buka mulutnya akan menanggapi.Pendekar Pemanah Rajawali ―Baik!‖ seru si imam. pada wajahnya tak tertera rasa girang atau murka. kedua tangannya menolak juga dengan gerakannya. Ia bertubuh terokmok. apapula sebuah jambangan yang besar yang anginnya seperti menderu-deru. Tenaga yang dikerahkan itu bukan kepalang besarnya. ia ayun tangannya kepada Siauw Mie To Thio A Seng.‖ berkata si imam. mulutnya dikasih masuk ke dalam jambangan. untuk sambut jambangan dengan kedua dadanya itu.‖ sahut Tin Ok dingin. Maka melesatlah jambangan itu ke arah Khu Cie Kee. ia kerahkan tenata dalamnya. imam ini kasih turun tangannya yang memegang jambangan arak itu. Adalah disaat ini dengan sebat ia tunduk. menyusul mana tongkat itu diputar. Sembari bicara. Khu Cie Kee dengan tenang sambuti pulang jambangannya itu dan ia menghirup pula. ―Sekarang hendak aku menyuguhkan Lam Sieko sejambangan arak!‖ Ia lantas menghirup pula satu segluk. Satu kali tongkat itu miring. sampai jambangan seperti mumbul. ia hirup arak satu ceglukan. sampai belasan cegluk. kedua tangannyaditaruh di depan dadanya. Wanyen Lieh heran dan berkhawatir pula. Dengan cepat ia lepaskan pelukannya. membuat jambangan itu berdiri tetap lagi. ―Diwaktu mudanya pasti Kwa Toako gemar main putaran nenempan!‖ kata ia. hanya sekarang ia tidak lagi menunda seperti tadi. Tapi jambangan tetap tinggal miring. Tiang Cun Cu tunjuki jempolnya. Wanyen Lieh menyaksikam itu dengan kekaguman dan terkejut juga. Hebat kalau jembangan jatuh dan menimpah batok kepalanya si buta ini. ahli luar yang lihay sekali. Sekalipun senjata rahasia. ―Sekarang aku hormati Kwa Toako dengan satu jambangan!‖ ia berkata pula. ―Silahkan!‖ katanya habis menengak. Wanyen Lieh berkhawatir sehingga hampir ia berseru sendirinya.

maka itu. Kayu pikulan itu ternyata bukannya kayu melainkan sebangsa logam. hampir tiba dimulut jendela. yang dia barengi tolak pergi. cacat itu ditambal dengan kelincahan dan kecerdikannya. Tiang Cun Cu berniat lompat. guna mundurkan semua orang untuk mencegah kecelakaan yang tak dikehendaki itu. Nona ini dengan tiba-tiba menjejak dengan kaki kanannya. ―Ayo! Tak dapat!‖ dia berseru. tak sanggup ia melakukannya. ―Bagus! Bagus!‖ Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong memuji seraja ia goyang-goyang kipasnya. yang terbuat dari campuran hancuran tungsten. karena untuk mencegahnya dengan menahan. yang terus berkata: ―Aku si pedagang kecil suka sekali mendapat keuntungan oleh karenanya ingin aku tanpa menggunai banyak tenaga untuk turut minum arak!‖ Ia segera menghampiri Lam Hie Jin. ―Sekarang pinto hendak menyuguhkan kepada Cu Jieko!‖ Belum lagi jambangan itu dilemparkan. Begitu terbentur pikulan logam itu. maka jikalau aku disuguhkan. Berbareng dengan itu kakinya sudah lantas menginjak palang jendela. membuatnya satu lobang besar ke dalam mana tubuh si mahasiswa terjeblos masuk di waktu mana terdengar jeritannya berulang-ulang: ―Tolong! Tolong!‖ Selagi jambangan mental balik. Tiang Cun Cu sambuti jambangannya itu. Irawan D Soedradjat Page 41 . perutku tak dapat memuat segantang arak. Jambangan itu tertahan pikulan dan terduduk di dengkulnya orang aneh yang keempat ini. Cu Cong sudah berjingkrak bangun. ―Brak!‖ demikian satu suara nyaring. maka itu dengan sekali sendok saja. kalau jambangan berat itu ditimpuki kepadanya – gilirannya memang bakal tiba – tidak nanti ia sanggup menganggapnya. ia angkat kayu pikulannya untuk menahan itu sebelum jambangan turun. kipasnya tapinya ia pakai untuk mencelup ke dalam jambangan. karenanya mejadi berat dan kuat luar biasa. dengan dibantu tangan kanan. jambangan sudah lantas terbang melayang kearahnya. akan mendahului jambangan itu. mulutnya lantas menyedot arak. keduanya menerbitkan suara yang keras dan nyaring. tubuhnya lantas mencelat ke arah jendela. Akal cerdik semacam ini tadi pun telah digunai oleh Coan Kim Hoat. maka itu ia gunai ketika yang baik ini untuk menengak arak tanpa tunggu Khu Cie Kee menyuguhkan kepadanya. umpama kata aku tidak mampus ketindihan. lalu turun ke bawah akan tetapi belum lagi tempat arak istimewa itu jatuh ke lantai. dia segera menahan turunnya jambangan itu. untuk korbankan diri. Ahli pedang Gadis Wat lihay ilmu pedangnya. jambangan itu diangkat. kembali ia mencegluk araknya. Untuk itu ia perlu mendahului jambangan. ―Orang bakal mampus ketindihan! Tolong!‖ Di mulut ia mengoceh tidak karuan. Wan Lie Kiam Han Siauw Eng telah lompat menyusul. yang sudah lantas tekuk sebelah lututnya yang kiri. ―Tolong! Tolong!‖ dia berteriak-teriak selagi jambangan itu mengancam padanya. ketika ia berada di atas jambangan. si Pendekar Sembunyai di kota sudah turut mencicipi arak itu. Habis itu. siap untuk dilemparkan pulang! Belum lagi jambangan dikasih melayang pergi. Lincah gerakannya itu. guna menolong siapa yang dapat ditolong dari bencana ketimpa jambangan itu. sekarang ia gunai hasil latihannya beberapa puluh tahun. Tapi ia tidak berlaku ayal. maka ia melintasi jendela. Cuma Lauw-sie In Hiap menambahkan itu dengan memulangkan jambangan kepada Khu Cie Kee. untuk sendok araknya untuk bawa itu arak ke dalam mulutnya. Hie Jin sudah sambar araknya dengan tangannya untuk disendok dan dihirup. mungkin aku bakal mati karena mabuk…‖ Akan tetapi sia-sia saja ia unjuk roman ketakutan seperti kalap itu. tapi kupingnya sudah dengar seruan keras tapi halus nadanya: ―Sian-cay!‖ Itu adalah suatu pujinya seorang penganut Buddha. manis dipandangnya. ia kerahkan tenaganya. Kapan kayu pikulan dan jambangan beradu. Berbareng kaget. Pendeta ini sangat beribadat dan murah hatinya. Dengan cepat ia pasang kuda-kudanya. terus melayang turun ke luar. Kalau jambangan itu jatuh ke bawah loteng. emas hitam dan baja pilihan. ―Bagus! Bagus!‖ ia pun turut memuji. Semua orang terkejut. Ia insaf. terdengarlah tertawanya Lauw-sie In Hiap Coan Kim Hoat. jambangan berhenti menyambar. ―Jangan! Aku si mahasiswa cilik tak punya tenaga kekuatan untuk kata meringkus ayam. enteng tubuhnya tetapi ia kurang tenaga. dan lantai papan pecah bolong. Jambangan itu tidak ada yang tahan. kepalanya ditunduki ke dalam jambangan itu. gerakkannya bagaikan burung walet menyambar air. si imam sendiri tak terkecuali.Pendekar Pemanah Rajawali kepadanya. yang telah kasih turun jambangan di tangannya. maka dilain saat jambangan itu sudah terangkat naik dan terlempar terapung kearah Khu Cie Kee. ke bawah loteng. Berbareng dengan puji itu tubuhnya Ciauw Bok Taysu lompat melecat menyusuli jambangan itu. pasti ada orang yang bakal tertimpa dan menjadi korban. kemudian dengan gagang kipas.Justru ia baru memikir.

dan kuil Hoat Hoa Sin Sie juga adalah berhala kenamaan dalam kota Kee-hin ini. Ia lakukan itu sembari tertawa. empatbelas cawan terisi arak itu diatur dalam dua baris di lantai itu. dengan bergandengan tangan bersama Cu Cong. telah perdengarkan satu suara bersiul.‖ dia bilang kemudian. ―Aku hanya lebih mempercayai mataku sendiri!‖ sahut sang imam. sesudah itu.‖ sahut Cie Kee. atas mana binatang itu sudah lantas lompat lewati jendela untuk turun ke bawah. Ma Ong Sin Han Po Kie. Khu Cie Kee tertawa. inilah bagianmu yang tidak benar!‖ Kwa Tin Ok memotong. Umpama kata pinto tak dapat melawan. ―Dengan kata-katamu ini. hingga tenaga turunnya menjadi berkurang. untuk isikan penuh semuanya. lalu satu persatu cawan dia keroboki ke dalam arak itu. Irawan D Soedradjat Page 42 . begitu dipanggil. Itulah seorang dengan baju kuning yang sembari melompat. Sesuatunya lihay sekali. hingga jambangan itu dapat duduk tetap di atas kuda. ―Ciauw Bok Taysu ini adalah seorang yang beribadat dari beberpa puluh tahun. Mendengar siulan itu. itu pasti bakal merusak kerukunan. lalu keduanya jatuh miring dengan berbareng. ia berkata: ―Benar-benar Kanglam Cit tersohor bukan nama belaka. Tepat sekali keduanya jatuh di bebokong kuda yang lalu lari beberapa tindak. ialah segumpal daging yang tadi telah melayang menyambar jambangan sudah pernahkan dirinya dibawah perut kuda itu. ―Kita berdua sebenarnya tak saling dendam. ia ulur keluar lidahnya. ―Habis itu apakah yang totiang kehendaki?‖ Po Kie tanya pula. dengan begitu teranglah Tuan-tuan terlalu andali kepandaiannya orang-orang lain! Tuan-tuan pinto tolol. ―Urusan sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan Tuan-tuan bertujuh. terserah saja kepadaTuan-tuan. lain orang telah dalui ia. ―Pinto juga telah dengar lama yang Tuan-tuan adalah orang-orang yang gagah mulia untuk wilayah Kanglam. Cie Kee letaki jambangan arak di lantai. Habis itu. Han Po Kie geraki tubuhnya untuk naik sedikit. Ia sendiri masih bercokol terus di bebokong kuda. guna diletaki di lantai loteng. Cie Kee berdiam sebentar. kuda kuning di bawah loteng lantas saja lari ke jalan besar di betulan mulut jendela loteng itu. sedangnya binatang itu mendaki loteng. pinto takluk! Sekarang. dengan sekali sebat dan cerdik. tetapi karena tidak ada jalan lain. pinto tidak hendak mempersulit pula kepada si pendeta. silakan totiang tunjuki caramu!‖ bilang Kwa Tin Ok. oleh karenanya jikalau kita gunai senjata. Kemudian. ia pondong jambangan untuk dikasih turun dari bebokong kuda. Sejak tadi jongos-jongos umpatkan diri di bawah loteng. Maka selang sesaat. Ciauw Bok Taysu juga sudah lantas menyusul naik kembali ke loteng. lantas satu diantaranya muncul dengan belasan cangkir yang diminta itu. dengan begitu ia jadi bisa berbareng mencicipi juga arak itu. terpaksa pinto mesti mencoba denganmu untuk menetapkan siapa yang tinggi dan siapa yang rendah. mereka sudah mendaki loteng untuk kembali ke atas loteng! Wanyen Lieh menyaksikan semua semua itu. cukup asal dia suka menyerahkan itu dua orang perempuan yang malang. Pinto pikir baik diatur demikian saja…‖ Lantas ia teriaki si jongos untuk siapkan empatbelas cawan arak yang besar. ―Akan tetapi Tuantuan tampaknya memaksa hendak mencampuri tahu. Totiang. kedua tangannya dibantu kaki kanannya menahan jambangan. kaki kirinya menyantel pada sanggurdi. maka itu bagaimana bisa jadi taysu dapat menyembunyikan wanita baik-baik dalam kuil itu?‖ ―Di kolong langit yang luas itu mesti ada manusia palsu yang menipu duni!‖ berkata si imam dengan nyaring. lalu kembali untuk terus lari masuk ke dalam ciaulauw dan mendaki loteng! Selagi kuda itu beraksi. kau jadinya tidak percaya pada kami?!‖ tanyanya. dengan memandang Tuan-tuan bertujuh. tangannya yang sebelah mengedut les kudanya.Pendekar Pemanah Rajawali Baru pendeta itu melewati jendela. apa saja yang kamu hendak perbuat!‖ ―Jikalau sudah pasti totiang menghendaki demikian. Han Po Kie menjadi gusar. guna ulur kepalanya ke mulut jambangan. ia perdengarkan suara perlahan. Maka itu mereka dapat lihat benda bagai segumpal daging yang seperti bentrok dengan jambangan. yang harus dikasihani…‖ ―Tiang Cun Cu Totiang. Semua mata segera diarahkan ke mulut loteng. sang kakak yang kedua dengan keduanya sambil tertawa.

tenggak kering satu demi satu tujuh cawan bagiannya. mereka tentu masih sanggup.‖ ia berpikir. ―Baiklah!‖ demikian katanya. Duapuluh cawan telah ditenggak kering. ―Hebat!‖ ia inipun berbisik. Kebetulan ia melihat ke lantai. ―Nona Han adalah jantannya wanita!‖ Khu Cie Kee puji nona itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto hendak adu kekuatan minum arak dengan tuan-tuanbertujuh. umpama kami menang. ―Kelihatannya untuk mereka minum lagi tiga atau empat cawan. Maka heranlah Kim Hoat yang cerdik itu. ―Dengan dibantu tenaga dalamnya. ―Dengan jebolnya aku dan citmoay. Perjanjian kita ialah sampai habisnya isi jambangan ini. mari kau wakilkan kau!‖ berkata Thio A Seng kepada adik angkatnya yang ketujuh itu.‖ Kim Hoat berbisik pula. siapa yang tidak sinting. kita tinggalberlima. Silakan!‖ Hampir berbareng enam manusia aneh lainnya dari Kanglam itu angkat cawannya masing-masing dan mengiringnya seperti saudara angkat mereka yang bungsu. Sebagai satu jantan. ―Ia gunai tenaga dalamnya memaksa arak turun ke kakinya…‖ ―Benar. atas perjanjiannya si imam. coba lihat kakinya si imam!‖ Cu Cong memandang ke tempat yang ditunjuki. ia segera bisiki Cu Cong. boleh tidak aku diwakilkan?‖ tanya si nona kepada si imam. ―Tuan-tuan bertujuh minum satu cawan. itu tidaklah cara laki-laki! Totiang. dan inilah yang pertama kali!‖ Dan tanpa bersangsi lagi. Banyak cara untuk adu pibu. ia tampak lantai dimana si imam berdiri menjadi basah. habis bagaimana?‖ Cu Cong jadi berpikir. ―Begini lihay tenaga dalamnya. Taruh kata si imam kuat minum tetapi berapakah besar perutnya? Dapatkah satu perutnya melawan perut tujuh orang? Han Siauw Eng adalah yang termuda diantara Kanglam Cit Koay. Si imam juga tenggak habis tujuh cawannya.‖ katanya kemudian. Tetapi tiba-tiba saja ia terperanjat. ―Akur!‖ jawab Khu Cie Kee. Khu Cie Kee sebaliknya. ia pun polos dan bersikap jantan. sedang si imam pun tanpa banyak omong lagi. ia tidak menawar lagi. Coan Kim Hoat tampaknya sudah kewalahan. Dengan si imam. Lalu semua cawan diisi pula. Ia lantas ingat sesuatu. Nona Han Siauw Eng segera merasakan bahwa ia bakal tak sanggup minum terlebih jauh. yang ia lihat sudah lelah. ―Khu Totiang. Kim Hoat percaya pihaknya bakal menang. ―Nah. ―Citmoay.adu kepandaian – belum pernah ia dengar cara seperti itu. Kapan hendak dilanjuti giliran yang lain. Irawan D Soedradjat Page 43 . baiklah kau sebutkan lain cara!‖ ―Cara bagaimana tuan dapat merasa demikian pasti akan memperoleh kemenangan?‖ Tiang Cun Cu tegaskan. Akan tetapi Kwa Tin Ok berkata: ― Kami bertujuh melawan satu. apakah ia masih bisa menghabisi lagi duapuluh cawan?‖ Oleh karena ia pikir begini. pinto sendiri akan minum tujuh cawan. ialah yang menang. ―Jieko. air mukanya takberubah. Ia memang bukan tukang minum. . mereka mendahului menyatakan akur. Tidakkah cara ini bagus?‖ Han Po Kie dan Thi A Seng adalah tukang tenggak susu macan. lagi seratus cawan dia minum.‖ katanya. ia jemput satu cawan dan jegluk isinya. ―Siapa juga yang meminumnya sama aja!‖ Maka itu. Wanyen Lieh pun heran sekali. A Seng lantas wakilkan adiknya. ia menanyakan dulu pikirannya si imam itu. dia tidak bakal rubuh…. ia masih segar seperti biasa. ―Mari kita adu minum arak dulu! Belum pernah aku mendapati orang yang begitu memandang enteng kepada kami bertujuh. lantas semua itu di cegluk habis! Setelah cawan yang ketiga. Tuan.

dengan sikap wajar itu. ―Ah. Lam Hie Jin dan kawan-kawannya dapat lihat itu. Tidakkah ini bagus?‖ Arak di dalam jambangan perunggu itu tinggal separuh. Ia tahu orang bicara ngaco. bisa dibuat main?‖ ia berpikir. ―Sekarang begini saja. untuk di pakai itu menyendok arak. ―Aku menyerah!‖ Irawan D Soedradjat Page 44 . Selagi ia tetap belum mengerti. ―Mustahilkah perutnya bisa kempas dan bisa kembang. Tentu saja. ―Di sana putra raja India seret keluar seekor lembu. Dimana orang berpura-pura edan-edanan. hanya orang bicara secara wajar sekali. dengan itu dia dicaci sebagai kerbau. akan tetapi dengan kami berlima melayani kamu. ―Saudara Cu. ―Berapa jambangan?‖ dia tanya sekenanya. ia tidak angot. Mari keringkan!‖ Ia goyang-goyang kipasnya di tangan kanan. ―Habis Cu Jieko memikir bagaimana?‖ dia tanya.‖ sahut Cu Cong. Sekarang lantai di kakinya Khu Cie Kee tertampak barang cair mengembang dan mengalir. Ia tertawa ketika ia berkata: ―Sebenarnya aku tidak kuat minum akan tetapi tempo tahun lalu aku pesiar ke daerah Selatan. bagaimana dia ini hendak melawan sendirian? Keenam Manusia aneh menjadi heran. isi itu masih banyak. ia ngoceh pula. ia tidak sinting. ―Satu kali aku telah pergi ke India. akan tetapi Cu Cong seperti tidak pedulikan itu.‖ kata Cu Cong itu. meski begitu. setelah kandasnya ini jambangan . Lima orang sudahke teter. ―Kanglam Cit Koay sungguh hebat. Mereka tahu sebabnya itu. lekas!‖ Lantas setelah itu. satu lawan satu!‖ sahutnya. saban-saban ia tenggak araknya. kau benar satu manusia aneh!‖ serunya. tetapi mereka duga saudara ini tentu ada akal muslihatnya. aku disuruh lawan gajah itu minum arak! Binatang dogol itu telah sedot habis tujuh jambangan! Totiang tahu. Ia heran juga menyaksikan orang kuat minum dan sikapnya tenang. kau temani aku minum terus.‖ kata Cie Kee kemudian. terus ia sambungi dengan nyaring: ―Mari minum! Lekas. itu rasanya tidak terlalu adil…‖ Cie Kee melengak. ―Baiklah aku sendiri yang layani kau. ―Khu Totiang. dia menghendaki aku lawan kerbau itu minum arak yang keras. Cu Cong si Mahasiswa Tangan Lihay tertawa. akan pinto menyerah kalah. perlahan tetapi mengesankan. ―Apakah itu mahkluk yang lihay?‖ ia tanya. berapa jambangan aku tenggak habis?‖ Tiang Cun Cutahu orang bergurau. Dikatakan mabuk. ―Sembilan jambangan!‖ katanya. selama itu Khu Cie Kee mesti layani orang minum. Mereka berdiam.Hanya rada aneh. sikapnya menarik hati. di sana aku pernah menangkan beberapa makhluk yang lihay. kaki dan tangannya digerak-geraki. hendak ia menyerah kalah. Han Po Kie letaki cawannya di meja. tak dapat ia bergusur. Cu Cong lihat perbuatan adiknya itu. orang bukannya mengerahkan tenaga dalam. Kesudahannya akulah yang menang!‖ ―Cis!‖ Cie Kee kasih dengar suaranya. Dengan tiba-tiba saja wajah Cu Cong menjadi sungguh-sungguh. ―Hebat tenaga dalammu. tangannya sendiri menyambar satu cawan yang besar. begitu juga dengan pihak Kanglam Cit Koay. Begitulah ia menantang. mereka kagumi si imam untuk tenaga dalamnya yang sempurna itu. tidak ada arak yang merembas keluar. ia minum araknya. kami semua sangat mengaguminya. Cie Kee heran. hingga akhirnya jambangan arak itu nampak dasarnya! Imam itu segera tunjuki jempolnya. perut si Manusia aneh rada melendung. ujung bajunya yang kiri pun dikibaskan.Pendekar Pemanah Rajawali Mereka itu sudah keringi pula cawan mereka yang lainnya. Cu Jieko. meskipun mereka tahu ini saudara yang kedua sangat cerdik dan licin.‖ ia berkata. dikatak gila. di sini lebih hebat lagi! Raja Siam telah suruh keluarkan seekor gajah putih yang besar. cawan demi cawan. ―Pada tahun dulu aku telah pergi ke negeri Siam. ia dengar orang berkata-kata pula. Ia telah perhatikan. Ia tidak tunggu sampai orang membilang atau menunjukkan sesuatu apa. Cie Kee turut minum juga. ia lantas mengedipi mata.

yang sekian lama disembunyikan di bawah jubahnya yang gerombongan.Di Waktu tibanya angin yang sejuk…malam yang jernih terang……. Itulah kertas bermuatkan syair yang baru ia bacakan. bau arak tersiar menyampok hidung! Orang kedua dari Kanglam Cit Koay sudah perlihatkan kelihayannya. ditangannya ada sepelas ikan emas. kau juga pandai ilmu surat!‖ katanya memuji. CuCong lompat mundur. Totiang. untuk cari syairnya itu. ―Kau benar-benar lihay! Sekarang pinto ingin mohon pengajaran…!‖ Rupanya barusan selagi ia pura-pura terpeleset. sebelah tangan si imam melayang.Suatu hari…….‖ katanya di dalam hatinya.tangannya mencekal sebuah tahang air. Tentu saja ia sangat penasaran yang orang telah copet syairnya itu tanpa ia merasa. si Mahasiswa Tangan Lihay. kapan tahang air itu ia balingkan. Setelah dapat berdiri pula. Dengan‖Tangan Lihay‖ itu diartikan lihay mencopetnya. tapi ia melengak pula. ―Kepandaianmu ini toh tak dapatdibilang orang minum arak?!‖ ―Kau sendiri. tubuhnya rubuh membentur tubuhnya si imam. yang masih belum selesai. ―Ah!‖ seru si imam kemudian. air mana dapat ditambah menjadi banyak. Biauw Ciu Sie-seng gunai ketikanya untuk rogoh kantung si imam.. dua kali ia jungkir balik di atas pentes tambah semangkok air tawar. terus ia putar tubuhnya.rembulan gilang gemilang…. Kepandaiannya itu menyembunyikan tahang air adalah kepandaian umum di kalangan tukang sulap Tiongkok. ―Syair itu aku simpan.Ikan dan naga diempat penjuru lautan……. sembari berputaran. Satu kali ia jungkir balik.mentereng seperti siluman air………‖ Panjang nada syairnya. Tentu saja si imam tidak menyangka orang bergurau secara demikian. belum pernah aku perlihatkan orang syairku itu. ia jadi kena dipermainkan. ―Itulah syairku yang kutulis di harian Tiong Ciu tahun yang lalu. ―Aku? Lihatlah!‖ Ia tertawa pula. bergelak-gelak lalu dengan sekonyong-konyongia lompat jumpalitan ketika ia telah berdiri pula. Dan Cu Cong sekarang mengacau matanya Tiang Cun Cu dengan ilmu kepandaiannya itu. Cu Cong pandai mencuri dan mencopet. di situ ia terpeleset. ia tertawa. ia membeber kertas di atas meja.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong awasi imam itu. Tidak tempo lagi. mengapa sekarang ia dapat mengetahuinya…. Khu Cie Kee segera menyambaruntuk pegangi tubuhnya orang itu. sebab semua arak pindah ke dalam tahang air ini..?‖ Lantas ia merogoh ke sakunya. selagi si imam pegangi dia. Disitu ia berhadapan dengan orang lihay akan tetapi tidak ada seorang juga yang lihat darimana ia sembatnya tahang air itu! perutnya tinggal kempes. Khu Cie Kee heran hingga ia melengak. arakmu kumpul dilantai! Ada apakah perbedaannya?‖ ia lantas jalan mundarmandir sampai ia kena injak lantai yang basah dengan araknya Khu Cie Kee. Irawan D Soedradjat Page 45 . niatku adalah untuk nanti meyambunginya. ―Totiang minum dengan andalkan tenaga dalam. apakah kau juga minum arak?‖si Manusia aneh membaliki.udara membuatnya. maka itu ia digelar sebagai Biauw Ciu Sie-seng.‖ katanya. tidak kusangka. ―Arakku kumpul di dalam tahang. suatu ilmu kepandaian turun temurun yang hingga kini telah membuat kagum orang di Eropa dan kepulauan selatan. Wajahnya Khu Cie Kee menjadi berubah. Tak ada syair itu didalam sakunya itu! Cu Cong seperti tidak ambil mumat orang terheran-heran.!‖ ―Bagus!‖ seru Cie Kee yang mengerti bahwa benar-benar ia telah dipermainkan orang.. ―Totiang lihay ilmu silatnya. mulutnya perdengarkan suara: ―Syair yang bagus. Mungkin pembaca pernah menyaksikan pertunjukkan sulap semacam itu. Jalan susu bagaikan tenggelam…. ―Sungguh aku kagum…. syair yang bagus! Sejak jaman purbakala di pertengahan musim rontok….

―Jangan mengepul!‖ Kwa Tin Ok kata dengan dingin. ia menyerang ke dadanya si imam. benarkahkau berniat mencari keputusan dengan kepalan dan kaki?‖ ia menegasi. seraya ia melompat maju untuk menyerang. Inilah lawan tangguh yang pertama kali iapernah ketemukan. Lega hati mereka akan saksikan putra Irawan D Soedradjat Page 46 . Khu Cie Kee tidak gubris sindiran itu. Manusia Aneh yang keempat. sebagaimana mereka gampang dikenali dengan seragam mereka. Melihat mereka itu. naik darahnya Khu Cie Kee. kebetulan mereka dengar di Cui SianLauw ada orang berkelahi. Bukan main kagetnya Siauw Mie To si Buddha tertawa. kali ini tiga kali beruntun serangannya itu. untuk ambil senjata mereka masingmasing. Pertarungan Mati Hidup Segera terlihat orang banyak yang naik ke loteng itu adalah serdadu-serdadu bangsa Kim. Hampir di waktu itu. ―Siapakan senjata!‖ Thio A Seng semua segera lari balik ke tempat duduknya masing-masing. Bab 5. Khu Cie Kee dapat lihat serangan itu. di tangga loteng terdengar riuh tindakan kaki yang keras. Sangking murkanya. Ia telah mendengar puluhan orang berlari-lari mendatangi ke restoran itu. ―Totiang. sampai saudara itu sulit membela dirinya. ia layani mereka separuh main-main. suara mana tercampur suara bentrokkannya senjata-senjata tajam. ―Ciauw Bok Hweshio! Kanglam Cit Koay!‖ ia berseru. ―Totiang. Tapi justru itu sekonyong-konyong wajahnya berubah. rasanya baal. Tentera Kim itu adalah tentera pengiringnya Wanyen Lieh. toya kamu masih tidak jerih!‖ Han Po Kie gusar mendengar ejekan itu. ia menyerang Lam Hie Jin dengan sebelah tangan kirinya.anginnya mendesir. ia lantas menangkis. ―Lam Sieya sungguh lihay!‖ si imam memuji mendapatkan tangkisan itu. mereka lantas pergi mencari. akan tetapi sekarang tak dapat ia atasi diri lagi. lalu beberapa puluh orang tertampak merubul naik. maka itu sampai sebegitu jauh. atas mana Lam San Ciauw-cu menangkis dengan kedua tangannya. ―Benar!‖ sahut si imam memberikan kepastian. Ia cacat mata akan tetapi kupingnya awas bukan main. harap kau tak katakan kami tak tahu aturan!‖ ia berkata sambil ia menggapekan kepada Lam Hie Jin dan Han Siauw Eng.ia tertawa terbahak-bahak. Hebat tangkisannya ini. mereka datangi rumah makan itu. ―Untuk apa menjanjikan bantuan lagi?!‖ Kwa Tin Ok tidak berpikir seperti saudaranya yang kelima itu. timbuk kekhawatiran mereka itu. Coan Kim Hoat bisa duga perasaan saudaranya itu. ia menyangka mereka itu diperdayakan oleh Ciauw Bok Hweshio. ―Kita ada tujuh bersaudara!‖ ia bilang. yang dibawa ke depan dadanya. Mereka menanti sekian lama putra raja mereka masih belum kembali. Ia pun segera berseru dengan ejekan: ―Bagus betul. Dan menyerang pula. kamu masih menjanjikan bantuan! Biar di sana ada ribuan tentera dan tidak pandang itu di matanya!― Thio A Seng merasa pihaknya diejek. sambil berlompat. Maka ia lompat berdiri. Ia hargakan Kanglam Cit Koay.. Tangkisan si imam itu membuat tangannya sakit dan gemetaran.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong berkelit ke samping. Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan dan Wan Lie Kiam si Gadis Watsudah lantas taati ajakannya saudaranya itu. ―Walaupun kasih datang tambahan tigaribu lagi serdadu berandal Kim. ia lompat untuk menghalang. Thio A Seng lihat saudaranya sangat terdesak. ―Kamu majulah berdelapan!‖ menentang Tiang Cun Cu menyaksikan orang pada turun tangan. ―Semua mundur!‖ ia berseru. ―Siapakah yang kasih datang tentera Kim?!‖ ia menegur.

―Adakah aku keliru mengerti?‖ jawab si imam sambil jalan terus. tidak kenal Tuhan. ―Apa!‖ tanyanya. ―Minggir!‖ ia membentak. tidak peduli orang baru saja berhenti bertempur dan disitu ada banyak serdadu bangsa Kim. beberapa diantaranya segera menikam bebokongnya si imam dengan tombak mereka yang panjang. putra itu lagi duduk tenang di mejanya. ―Bagus! Bagus!‖ ia menambahkan. Seperti bebokongnya ada matanya. maaf. ia lompat maju. Irawan D Soedradjat Page 47 . pendeta yang pantang makan daging. iabertindak ke tangga. walaupun orang tak dapat melihat kepadanya. maka itu sambil gerakin tongkat besinya. si hweshio. mereka bawa naik barang hidangan itu untuk disajikan disembilan meja dikecualikan mejanya Ciauw Bok Taysu. Sambil manangkis tangannya menyambar. Beberapa serdadu lagi hendak maju untuk mengulangi penyerangan. ―Kalau picak bagimana?!‖ tanyanya. ―Kamu adalah bangsa Enghiong. ―Cukup sudah. ―Kami tidak undang atau janjikan mereka itu. Atas itu putra raja Kim itu lantas berbangkit dari kursinya. sebaliknya ia layangkan tangannya yang kiri. sambil membawa itu. mereka kaget dan gusar. ―Toako kami menitah kau pergi!‖ Han Po Kie wakilkan kakaknya menyahuti. di depan siapa ia memberi hormat. maka tadi ia berlaku manis budi dengan suruh jongos membagi daging macamnya. Kwa Tin Ok lantas sudah bangkit berdiri. hingga tanpa suara apapun. ―Hm!‖ Khu Cie Kee perdengarkan suara di hidung selagi Hui Thian Pian-hok belum sahuti orang asing itu. ia ngeloyor ke tangga. sembari berkata ia gerakan pundak kanannya.ia paling benci orang mengatakan ia picak. jangan kau keliru mengerti!‖ kata tertua darikanglam Cit Koay ini. sekarang setelah mengetahui orang bangsa apa. ia tak sudi melayani bicara. bangsa hohan. Dengan berani ia lantas memanggil ―toako‖ atau kakak. tepat mengenai batok kepalanya satu serdadu Kim. Mereka lantas menghampiri untuk memberi hormat. ―Terima kasih Kwa Toako!‖ ia mengucap. WanyenLieh heran. Ketika itu pihak rumah makan baru siap dengan hidangan mereka yang terdiri dari daging macam tutul. dia tidak usah dilayani! Tuan-tuan mari kita minum dulu. Tin Ok buta. ―Khu Totiang. Lalu tanpa tunggu jawaban lagi. Serdadu-serdadu Kim lainnya menjadi gaduh karena kebinasaan tidak karuan dari rekannya mereka itu. sembari minum kita bicarakan daya untuk menghadapi dia!‖ Kwa Tin Ok tidak tahu orang adalah orang bangsa Kim. hingga Wanyen Lieh lantas saja mundur beberapa tindak. ―Jangan!‖ Wanyen Lieh segera mencegah. Hidangan untuk Wanyen Lieh pun disiapkan sekalian. ―Aku juga bukanya si picak!‖ sahutKhu Cie Kee mengejek. Khu Cie Kee tangkis serang itu tanpa membalik tubuhnya. mengenai kempolansi putra raja Kim itu. guna menghampiriKwa Tin Ok. habis perlu apa kamu undang tentera bangsa Kim untuk bantu kamu?‖ Dengan sengit si imam menjengeki orang adalahEnghiong dan hohan – orang-orang gagah. ―Inilah contohnya!‖ kata si imam kemudian. maka itu beberapa batang tombak kena tercekal dan terampas. Tiang Cun Cu tidak ladeni si buta itu. Dengan lantas ia berpaling kepada Kwa Tin Ok beramai. untuk mengatakan: ―Imam jahat itu tidak kenal undang-undang. jiwanya terbang pergi. pinto tak dapat menemani lebih lama pula!‖ Lantas ia angkat jambangan araknya. suara itu rubuh dengan kepalanya remuk.Pendekar Pemanah Rajawali rajamereka tidak kurang suatu apa pun.‖ Kwa Tin Ok menyangkal.

Kapan ia sudah dengar jawabannya. jikalau mereka dapat tahu. tidak ada huru-hara penjahat di dekat-dekat Hangciu. Ia berduka berbareng murka akan dengar Siauw Thian terbinasa dalam pertempuran itu dan Tiat Sim terluka parah. untuk pesiar ke telaga See Ouw dan tempat sekitarnya yang indah. ia tepuk pundaknya putra raja Kim itu dengan kipasnya seraya bilang: ―Apakah kau telah jual itu orang perempuan yang kau tipu? Bagaimana kalau kau jual dia padaku? Hahaha!‖ Dan terus ia ngeloyor turun. ia menitahkan dua orang yang menyampaikan surat itu. Ia bekuk satu serdadu yang sedang tidur pulas. ―Dia menyebutkan dua orang wanita. ia tahu tidak ada peperangan dengan bangsa Kim. Ciauw Bok Hweshio turut mereka.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin OK semua lantas berlalu. dengan tinggalkan restoran itu. Tempo ia lewat di muka Ceng ho-hong. Khu CieKee pergi ke Gu-kee-cun kepada Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. Kejadian itu membuat ia sangat gembira. Mereka tidak dapat mengerti sikapnya Khu Cie Kee. ―Taysu. yang ia bawa ke ujung jalan besar.‖ Oleh karena kekhawatirannya ini.‖ ―Melihat dari sikapnya tadi. ia tampak lewatnya beberapa puluh serdadu dalam keadaan rudin. Sementara itu Kwa Tin Ok beramai telah ikuti Ciauw Bok Hweshio pergi ke kuil Hoat Hoa Sian Sie yang letaknya di bagian barat dari luar kota Kee-hin.‖ Tin Ok juga menyatakan. Wanyen Lieh terkejut. Dari Gu-kee-cun. ia tidak lagi berpikir untuk beli pakaian buat si nyonya. akan menghirup permainannya sang salju. apapula ia adalah kakak seperguruanku. Kacung hweshio lantas menyuguhkan air the.‖ menyatakan Coan Kim Hoat. lebih bingung pula Kanglam Cit Koay. turun di tangga loteng. Itu hari sehabisnya membinasakan Ong Tian Kian si pengkhianat. paling dulu ia ragoh sakunya. Ia ingat pada pengalamannya yang pertama. Ia tahu. kita tak dapat tidak bersiaga. aku serta semua serdaduku bukan tandingan mereka. lalu dengan diam-diam ia menyatroni.‖ sahut hweshio itu. seperti bekas kalah perang. Sampai disitu mereka berunding. merundingkan daya penjagaan. ia lantas pergi ke Hangciu. Habis kenapakah barisan serdadu itu? Ia tanyakan keterangan beberapa penduduk. Imam ini sangat menyesal. itulah akibatnya ia sudah mengikat persahabatan sama dua orang she Yo dan Kwee itu. di dalam kuil itu mereka berkumpul di kamar bersemedhi. bukan?‖ Tin Ok memotong.‖ ―Itu benar. seragamnya tidak karuan. Saking penasaran. Tentu saja aku menjadi tidak mengerti. habis mana ia lantas mengundurkan diri. Diluar dugaanku. baru satu dua har I orang itu tiba. lantas Tiang Cun Cu datang menyatroni sambil dia menuduh ada dua orang wanita dari Hangciu. Ciauw Bok Taysu bingung. ―Maka aku pikir. Untuk kagetnya ia dapatkan beberapa potong emas dalam sakunya terbang pula! Ia mendongkol. ia menjadi mengeluh. (Yankhia = Peking sekarang). akan tetapi ia jerih pula. Ia tunggu sampai malam. untuk korek keterangan dari mulutnya. ―Keliru mengerti ini jadi makin hebat…‖ Ciauw Bok Taysu mulai berkata smabil ia menghela napas. ―Kemarin dulu ia menulis surat padaku.‖ sahut Ciauw Bok. Pasti tak dapat ia umbar hawa amarahnya terhadap serdadu itu. Ia heran. Nyatalah barisan itu adalah barisan yang telah pergi ke Gu-kee-cun untuk menawan Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. hingga kesudahannya ia labrak rombongan serdadu bangsa Kim serta orang-orang polisi yang mencari padanya. ia lekas-lekas balik ke hotel. entah kemana lolosnya tetapi ada kemungkinan dia pun tak kan hidup lama. mesti dia bakal datang lagi menerbitkan onar. Bersama dia turut juga semua pengiringnya. ―Aku ada punya Suheng yang menjadi pendeta di kepala di kuil Kong Hauw Sie di Hangciu…‖ ―Itulah Kouw Bok Siansu. tentu saja aku mesti terima permintaannya itu.‖ ia berpikir. ―Beberapa orang ini lihay sekali. Biauw Ciu Sieseng jalan paling belakang. inlah berbahaya……….‖ tanya Han Siauw Eng. Irawan D Soedradjat Page 48 . ia ikuti rombongan serdadu sampai di tangsinya tentera itu. pulang ke Yankhia. Kami orang beribadat mesti berlaku murah hati. datang menyembunyikan diri di kuilku. dalam mana ia bilang ada orang jahat hendak mengganggu mereka itu dan karenanya dia minta supaya aku beri tempat berlindung kepada merek itu. Maka sebelum layani godaan orang itu. dari kuil Kong Hauw Sie. selagi lewat di samping Wanyen Lieh. ibukotanya kerajaan Kim. untuk membuat perkenalan dengan caranya yang luar biasa itu. juga mereka itu tidak tahu suatu apa. ―Pauw-sie ada padaku. tombak dan gendewanya pada patah. terus ia ajak si nyonya untuk berangkat ke Utara. siapakah mereka itu? Bagaimana sebenarnya duduk perkaranya?‖ ―Nanti aku beri keterangan. ―Benar.

telah sambut serangan sesudah ia lemparkan satu serdadu. mungkin Thian tek tidur di luar tangsi. tetapi ia tidak peroleh hasil. kedua sahabat itu jamu padamu. Sebentar lohor ia baru pulang. Habis itu dia hendak mencari istrinya dua sahabat itu guna menempatkan mereka ke tenpat yang aman. ―Dengar baik-baik. Sejumlah serdadu lain menyerang dengan anak panah tetapi serangan itu tak ada hasilnya. Ia ingin Lie Peng sebutkan sahabat atau sahabat-sahabatnya Siauw Thian yang dirasa bernyali besar berani mencuri kepalanya Siauw Thien itu. Segera ia melongok di jendela. yang ia bawa ke tepinya telaga See ouw. tubuhnya hampir tak dapat bergerak. rumah tangga mereka tercerai berai dan musnah! Jikalau kau tidak menuntut balas untuk mereka. Beruntun dua malam Cie Kee telah satroni tangsi Wielok nomor enam. ―Dia she Toan. dengan membawa goloknya. Hampir dadanya meledak. terus ia pergi cari Thian Tek di tangsi.‖ Cukup segitu. ada di gantung kepalanya Kwee Siauw Thian untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai. mungkin Thian Tek adalah satu komandan yang tak berdisiplin dan doyan pelesiran. tidak berhasil ia mencari Toan Thian Tek. masih dapatkah kau disebut satu laki-laki?!‖ Saking mendongkol. ―Toya mencari Toan Tayjin?‖ dia balik menanya. ―Mana itu bajingan jahanam Toan Thian Tek?!‖ Cie menegur. Thian Tek ada di dalam tangsinya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Siapakah itu perwira atasanmu?‖ ia tanya. Dia pergi ke muka tangsi. ia lagi periksa Lie Peng. ―Khu Cie Kee. ―Kau hendak memberontak?!‖ ia menegur sambil ia lantas menerjang. supaya kelak mereka menjadi orang-orang kosen. dia panjat tiang itu untuk turunkan kepalanya Siauw Thian. tidak tahu dimana tidurnya ciehui itu malam itu. hingga ia mau menduga. Ia kaget akan dengar laporan ada orang cari padanya. Dia paykui di depan kuburan. untuk mencari kesenangan.dia sekarang ada di telaga See Ouw. supaya mereka dapat turunan. Dia belum kenal perwira ini. ia lepas cekalannya. Kemudian ia akan mohon belas kasihannya Thian. Ia dapat terka maksudnya si imam. ialah khu Cie Kee. namanya Thian Tek. hingga batu dan pasir kapurnya hancur. Thian Tek segera berkata kepada dua serdadu yang ia kedipi mata: ―Pergi kamu antar toya ini ke telaga untuk cari Toan Tayjin!‖ Irawan D Soedradjat Page 49 .. lalu laporan itu disusul dengan laporan lainnya. Lengannya Thian tek lantas saja kena dicekal. tidak ada muka pinto menemui kalian di dunia baka. oh. ―Dia…. ciehui itu mesti dibinasakan guna membalaskan sakit hatinya Tiat Sim dan Siauw Thian. Pertama-tama Toan Thian Tek mesti dicari. kau sebaliknya rembet-rembet mereka hingga mereka bercelaka. dia ambil cara singkat saja. Kemudian malamnya. airmatanya turun mengucur. Besok paginya. lagi pelesiran minum arak di atas perahu. lagi bertarung dengan robongan serdadu. yang nampaknya gagah sekali.‖ Segera Khu Cie Kee atur rencananya. kalau tidak. untuk menegur: ―Mana dia Toan Thian Tek?! Suruh dia keluar!‖ Justru itu hari. agar supaya anak-anak mereka dapat ia didik menjadi orang-orang sempurna seperti yang ia janjikan. diam-diam ia memuji dan berjanji: ―Itu hari pinto sudah berjanji akan ajarkan ilmu silat kepada anak-anakmu. Cie Kee bebaskan serdadu itu. Di muka tangsi. Satu imam. tapi ia licik sekali. Tiang Cun Cu menampak hal yang membuat darahnya mendidih. tentung sudah terjadi pertempuran dengan orang yang mencari dia. Atau lebih benar. Khu Cie Kee!‖ katanya seorang diri. ia lompat keluar dari tangsi. di atas tiang bendera yang tinggi. si imam membela diri dengan dua serdadu korbannya itu.‖ Cie Kee kena diakali. Oleh karena sudah habis sabar di hari yang ketiga setelah dua malam itu. Thian Tek gusur menyaksikan perkelahian semacam itu. Imam itu. Pemeriksaan dilakukan sebab lenyapnya kepala Siauw Thian itu.‖ sahut serdadu itu yang menyebutkan komandonnya. untuk dikubur. istrinya Siauw Thian. Thian Tek kesakitan. rombongan serdadu lagi dilabrak oleh imam itu yang bersenjatakan dua serdadu yang ia cekal kakinya dengan masing-masing mereka mengeluh. ―Ciehui tayjin kami. ia hajar dengan tangannya tembok dimana tiang itu dipasang. Ia gunai tangannya yang kiri.

mereka bingung. ahli waris dari partai Hoat Hoa Cong golongan Selatan. Thian Tek mendusin dengan kaget. yang terus hendak kumpulkan tenteranya. Dia tahu sebabnya kenapa pamannya itu masuk menjadi paderi. Umpama kata dia bercerita terus terang bahwa ia telah bekerja sama dengan bangsa Kim untuk menawan Kwee Siau Thian dan Yo Tiat Sim. ―Imam itu kepung-kepung aku hingga tak tahu kemana aku mesti singkirkan diri. Baharu sekarang ia bisa bernapas sedikit lega. yang bekas di cekal si imam. Ia pernah memangku pangkat dalam ketenteraan. si imam tidak berhasil menavri dia terlebih jauh. Kalau perlu nyonya Kwee itu dapat di pakai sebagai tanggungan untuk jiwanya. Dari itu. Thian Tek tidak berani berayal pula. nama sucinya ialah Kouw Bok. ―Mau apa kau datang kemari?‖ sang paman tegur keponakannya. Di sini ia selamat. ―Lekas! lekas pergi!‖ Thian Tek membentak. ke tangsi Coan-ciat nomor dua. Tepat tengah malam. dia paksa Lie Peng dandan sebagai serdadu. Kemana ia mesti menyingkir. dalam hal kecerdikan. Sebabnya ialah satu serdadu jaga ketahuan lenyap tidak keruan paran. ―Peehu. Lengan itu bengkak. supaya selamat? Akhirnya dia ingat pendeta dari Kong Hauw Sie.‖ Irawan D Soedradjat Page 50 . Malam itu dia bermalam di tangsi itu. Sebenarnya sudah lama dia tidak berhubungan dengan keponakannya itu. siang-siang dia telah karang sebuah alasan. dengan rajin ia berlatih terus. Pamannya Thian Tek ini sudah lama sucikan diri. Kouw Bok Hwehio pandai ilmu silat. ―Aku diperhina satu imam. disusul sama masuknya laporan halnya satu imam datang mengacau. Kepada sahabat itu ia tuturkan halnya si imam jahat. Malah segera ia bekerja. Cie Kee ikuti kedua serdadu itu. Dia malah menjadi ciang-bun-jin. Untuk memastikan keselamatannya terus ia bawa-bawa Lie-sie. tanpa pamitan dari rekannya. Dia bawa Lie Peng bersama dia. ―Jangan kamu bikin toya gusar!‖ Baharu sekarang dua serdadu itu mendusin. hingga ia lantas menyusul ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan itu. Bukan saja pemerintah tidak membuat perlawanan. kau memangku pankat. tanpa pedulikan malam buta rata. Terus Thian Tek kasih lihat roman sangat berduka. Sikapnya dingin. tapi mendadak terdengar suara ribut-ribut di luar tangsi. Tangsi ini terpernah di tempat sepi. ―Baik aku pergi ke paman. Tentu saja ia menjadi sangat ketakutan. mereka lantas ngeloyor pergi. dia ajak Lie Peng dan barisannya kabur dari belakang tangsi.Pendekar Pemanah Rajawali Dua serdadu itu belum mengerti. ―Mari kita bekuk dia!‖ berkata si si komandan.‖ katanya dengan suara susah dan mesgul. Ia menjadi kepala di kuil Kong Hauw Sie itu. Maka kaget ia akan dapatkan tengah malam itu sang keponakan muncul dengan tiba-tiba. Thian Tek berkepandaian tidak seberapa. sehingga mereka terpaksa mesti mebuka rahasia. ialah si paman sangat benci bangsa Kim dan sangat sesali pemerintah Song. rasanya sakit sekali. sebaliknya menteri dan panglima setia dibikin celaka. Seberlalunya si imam. ia manggut-manggut. rupanya ia telah kompes kedua serdadu pengantarnya. siapa berani perhina padamu?‖ paman itu tanya pula. Dan untuk mencegah kecurigaan orang luar. Mereka keluar secara diam-diam dari belakang tangsi. aku mohon pertolonganmu…‖ ―Kau tinggal di tangsi tentera. serdadu-serdadu membikin banyak berisik. dia ajak barisannya meninggalkan tangsi Wie-ko itu. Thian Tek takut bukan main. Thian Tek segera tekuk lutut di depan pamannya itu. Karena ini. sebab ialah dia tidak setujui kelakukan sang keponakan. Dalam ilmu silat. Di luar tangsi. ia tidak abaikan ilmu silatnya itu. Peehu. mereka terbirit-birit menuju ke Kong Hauw Sie. dia takut pulang. Kali ini ia lari keluar kota. aku minta kau suka tolongi keponakanmu ini…. Dia cari tabib tentera untuk obati tangannya itu.‖ dia ambil keputusan. jeri Thian Tek terhadap pamannya. Terang Khu Cie Kee balik kembali setelah ia tidak berhasil mencari Thian Tek. hingga tulang itu mesti disambung. Sejak sucikan. yang sama martabatnya. dia melebihi kebanyakan orang. Tapi ia mesti menderita pada tangannya. Dia pergi ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan yang komandannya adalah sahabat eratnya.‖ dia menyahut dengan cerita karangannya. dengan memandang kepada muka ayah. dia pasti dapat susah di tangan pamannya itu. ―Keponakanmu telah orang perhina. tak suka ia bergaul dengannya. Nyata tulang lengannya patah. yang adalah pamannya.

Mulanya itu mereka jadi barang permainan tentera.― berkata paderi itu. ia tutup mulut. ah…. Itulah tempat pelesiran serdadu. dia mengejar. ―Dia berani mengatakan demikian?!‖ ―Benar. benar dia…‖ kata Thian Tek. belakangan orang berpangkat atau sembarang hartawan pun dapat permainkan mereka. wa-sie itu diambil sebagai arti ringkas dari sebutan.‖ ―Apa maksudnya dengan kata-katanya kepala terpisah dari badan?‖ tanya Kouw Bok lagi. semunculnya dia. Lebih tegas lagi bermaksud. Ia omong terus: ―Aku ada punya satu nona kenalan. Tiba-tiba muncul imam itu. Maka itu aku telah singkirkan dia. Dia damprat aku. peehu.‖ dia menjawab. aku tegur dia dan jadi berkelahi karenanya. yaitu paderi tukang layani tetamu.Pendekar Pemanah Rajawali Melihat roman orang. Lie Peng sudah diancam oleh Thian Tek. genting utuh. ―Satu pembesar tentera begini tidak punya guna. terpaksa aku lari ke mari. Lam-wa-cu itu diambil dari kata-kata wa-sia. galak dia. Lebih jauh. 51 ―Dia. karena habis jalan.‖ Thian Tek adalah satu perwira. ―Tolong untuk kali ini saja. . walaupun ia tahu orang sudah mendusta.‖ Kouw Bok mengeluh. ―Untuk beberapa hari kau boleh berdiam di sini. mengejar terus-terusan. hingga tak perlu aku main gila. Aku turur beberapa kawan. ―Tolong. ―Panggil Thian Tek. lekas-lekas dia berlutut pula. aku suruh dia pergi.‖ Thian Tek pura-pura merengek. dia katakan aku bakal terpisah kepala dari badanku. Thian Tek sudah bangun berdiri. ia menemui Kouw Bok dan melaporkannya dengan gugup: ―Di luar ada satu imam. pemerintah mengadakan apa yang dinamakan wa-sia itu di dalam dan di luar kota Hangciu. setelah pemerintahan dipindah ke selatang. ―Diwaktu datang. Nyata dia sangat galak. tie-kek-cung. ―Celaka.‖ Dasar orang suci dan mengingat juga kepada almarhum saudaranya. ―gampang berkumpul. Aku minta peehu suka tolongi aku…. Thian Tek pura-pura tuli untuk ejekan pamannya itu.‖ ―Hm…!‖ sang paman perdengarkan suara di hidung. ―baik. maka itu dia dipanggil tiang-khoa.‖ kata dia akhirnya. hari itu aku minum arak bersamanya. Lewat lhor itu hari. dasar tabiatku jelek. Penghuni wan-sia adalah wanita-wanita melarat yang tidak punya sanak kandung. diwajtu pergi genting pecah‖. ―Dia menjelaskan. Aku larang kau main gila pula!‖ Thian Tek menghanturkan terima kasih berulang-ulang. dia memaksa si nona melayani padanya…‖ ―Mustahil seorang suci pergi ke tempat semacam itu!‖ Kouw Bok menyela. dia adalah paderi dari partai mana?‖ tanya sang paman. gampang bubar‖. keponakanmu celaka. ―Tapi kejadiannya benar demikian. tak lama lagi tentera bangsa Kim akan datang menyeberang ke sini. Disana kami bermain-main di Lam-wa-cu di bawah rangon Hie Cun Lauw…. Aku tak berani main gila lagi….‖ Thian Tek merintih. hati Kouw Bok tergerak. Sayang aku bukan tandingan dia itu. untuk mengikat hati tentera. lari masuk dengan tegesa-gesa. Kouw Bok merasa berkasihan juga. Tapi maksudnya nag paling jelas ialah: Di jaman Song itu. Irawan D Soedradjat Page ―Imam itu sangat galak.‖ Kouw Bok menitah. tak dapat aku urus perkara main perempuan kamu ini. ―Kenapa itu imam kepung-kepung padamu?‖ ia tanya. dan dia minta Toan Tiangkhoa keluar menemui padanya…. tentera itu bakal membunuh habis semua pembesar dan tentera kita…‖ Kouw Bok lantas saja menjadi gusar. Aku lari. ―Kemarin dulu aku pergi ke barat jembatan Ceng Leng Kio. ―Aku adalah seorang suci. Ia menghela napas panjang. dan wa-sia berarti ―rumah genting‖.

―Sebenarnya tak seberapa ilmu silatnya.‖ sahut tie-kek-ceng. Ketika itu.‖ jawab muridnya itu. di hari-hari dari musim semi itu Kong Hauw Sie kedatangan banyak penduduk yang bersujud. habis mana ia lari keluar. ―Dia sudah pergi jauh. Setelah mengetahui orang sudah pergi. Irawan D Soedradjat Page 52 . hingga ia mesti bekapi mukanya itu. Kouw Bok berpikir. ia tak mau mengganggu kesujudan banyak orang itu. Ia lantas bertemu sama si imam. ―Apakah ada sikapnya yang aneh selagi dia hendak berlalu?‖ tanya lagi. sudah tentu benturan itu menimbulkan suara yang keras. aku tak sangggup lawan dia…‖ ―Baiklah. Ia kena langgar daging yang empuk bagaikan kapas. ia bukan Cuma besar tenaganya…‖ Lekas-lekas ia rangkap kedua tangannya untuk memberi hormat seraya menanya: ―Ada pengajaran apakah maka totiang datang berkunjung ke kuil kami ini?‖ ―Aku datang mencari satu bangsat busuk she Toan!‖ Cie Kee menjawab ringkas. waktu ia hendak tarik pulang tangannya. celaka. yang muncul di depan gurunya. selagi imam itu hendak memaksa memasuki pendopo walaupun paderi penjaga pendopo mencegah padanya. yang disebutkan tadi. agaknya ia sangat letih. yang usianya tetelah beberapa ratus tahun…‖ Dan tangannya melayang ke muka Thian Tek. terpaksa ia berlalu. tidak ampun lagi ia terlempar membentur patung Wie Hok di pendopo itu. ia tak berani membuka mulut. penduduk pria dan wanita. ia telah terlambat. ialah Khu Cie Kee. Kouw Bok Hweshio berdiri bengong mengawasi sepasang cio-say. Ia maju mendekati.‖ mengatakan Kouw Bok. sebab ia dapatkan kenyataan.‖ Kouw Bok pakai jubahnya. Di pintu pekarangan. ―Dia lihay sekali. nanti aku temui dia. akan susul Kouw Bok. Keduanya turut lari keluar. ―Celakalah singa-singaan kita itu. ―Singa-singaan itu musnah di tanganmu!‖ katanya. tubuhnya tertolak mundur keras sekali. Ia ingin mendorong imam itu keluar pendopo. karenanya tentu saja ia tak dapat dicari.‖ Thian Tek mendusta tak kepalang tanggung. jiwaku pasti sudah melayang!‖ Thian Tek membungkam. separuh patung pun gempur! Dalam kagetnya yang tak terkira. ―Dia tak bilang suatu apa. tapi begitu ia kena langgar bahu si imam. ia hanya bertimdak masuk. ia kaget sekali. Dengan tertawa dingin.‖ Kouw Bok lantas mengeluh. kenapa totiang berpandangan sama dengan seorang biasa saja?‖ ia tanya. terus ia pergi keluar. ―Mana dia hanya satu imam dusun!‖ kata Kouw Bok dengan mendongkol. ―Dia membuang napas. kecuali setibanya ia di mulut pintu pekarangan. Thian Tek keluar dari persembunyiannya. habis itu dia angkat kaki sambil tertawa haha-hihi. ―Ah. dia Cuma bertenaga besar. Thian Tek dan tie-kek-ceng menjadi heran.‖ lanjut muridnya lagi. ia berlaku sabar. lebih-lebih Thian Tek yang mukanya menjadi bengap dan merah. Thian Tek sudah umpatkan diri ke dalam sebuah kamar. ia terus tolak bahu si imam itu. Celakanya. ―Apakah dia mengucapkan sesuatu?‖ tanya Kouw Bok setelah berdiam sesaat.‖ kata tie-kek-ceng. Lebar tindakannya itu. Kouw Bok insyaf bahwa ia bukan tandingan ini imam. Cie Kee juga tidak berani menggeledah. Sebagai seorang yang beribadat. ―Tidak. dasar aku yang tidak punya guna. ―coba kalau dia tidak berlaku murah. Kouw Bok lirik tie-kek-ceng untuk suruh muridnya itu antar tetamu tak diundang itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Entahlah dia imam dari desa mana. Nampak romannya yang sangat berduka dan menyayangi singa-singaan itu. ―Seorang pertapa perpokok kepada belas kasihan dan murah hati. Ia nampaknya menggeraki tangan dengan perlahan tetapi ia menggunai tenaga dalam. celaka…. dengan seret Lie Peng. singa-singaan batu. Cie Kee tidak menjawab pertanyaan itu. diluar kendalinya. ―Inilah aneh. dia sendarkan diri di dua singa-singaan batu.

‖ kata Kouw Bok kemudian.‖ Paderi ini hendak suruh panggil Thian Tek tempo Tin Ok peringatkan: ―Ciauw Bok Suheng. mungkin dia sanggup melayani imam itu. dia tidak bakal berlaku murah hati lagi. maka kalau kita bertempur pula.‖ kata Kouw Bok. kepada suteeku itu. Keras adalah hatinya Khu Cie Kee. lebih pandai sepuluh lipat daripada aku. ia berhasil menyusul Thian Tek. ia terima mereka itu menumpang.‖ ―Aku pikir baiklah minta datang dua orang yang kakakmu itu perkenalkan. ia minta supaya Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya. sampai setiba Tiang Cun Cu dengan jambangan araknya yang istimewa itu. Tie-kek-ceng heran. ―Eh…kenapa jadi beini…? katanya. malam itu ia ajak Lie Peng berlayar ke Kee-hin. begitu ia ingat pada Kanglam Cit Koay. maka itu mesti kita cari jalan untuk mengerti satu pada lain. pergilah kamu dengan baik-baik…‖ Kemudian dia berpaling kepada Toan Thian Tek. Sampai sebegitu jauh. kuping dan hidungnya cio-say itu runtuh jatuh. ―Cio-say. ―Coba kita tanyakan keterangannya. Karena ia telah lihat Lie-sie dengan matanya sendiri. ―Cio-say ini telah dirusak si imam dengan menggunai tenaga dalamnya…‖ katanya. bertumpuk bagaikan puing. Seperti tanpa merasa. Lie Peng sudah disembunyikan Thian Tek dalam ruang bawah tanah. sepasang cio-say ini adalah barang peninggalan jaman Lam Pak Tiauw. Kebetulan ia lihat Lie Peng di dalam tamannya kuil. Ciauw Bok Taysu. ―Luar biasa sempurnya tenaga dalam dari imam itu. Tiba-tiba saja. Tiba-tiba saja ia menjadi kaget. ia tidak sangka yang kawannya Thian Tek adalah satu wanita dalam penyamaran. Sekarang…. ia berkeras. singa batu itu gempur dan rubuh. ia tidak mau percaya sangkalannya paderi itu. ―Aku keliru sudah menyalahkan kau….‖ ―Kwa Toako betul.ah!‖ Ia menghela napas panjang. ―Pergilah kau kesana. suaranya perlahan dan penuh rasa sangat menyesal. kecurigaannya timbul. ia raba kepalanya. sekarang kita dapat buktikan itu. untuk beberapa ratus tahun kamu bercape lelah menjaga pintu kuil ini. yang tidak kurang suatu apa. Kau tahu. Demikianlah mereka berkumpul di restoran Cui Sian Lauw. Pastilah dia menyangka kita telah bekerja sama dengan pihak Kim. Ia mau percaya. Ia awasi cio-say itu. Ia mengawasi. Sayang ia terlambat.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kenapa peehu?‖ sang keponakan tanya. Ingat Lie Peng. Khu Cie Kee ingat Pauw-sie. cio-say. maka aku mau percaya. dia seperzi bukan hendak mengacau. pada ini mesti terselip salah mengerti. Karena ia telah lihat Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya. Habis menutur Ciauw Bok Taysu menambahkan: ―Telah lama aku dengar Tiang Cun Cu lihay. maka sekarang. Turut penglihatanku.‖ ―Benar. Kouw Bok menghela napas pula. Paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak menduga apa-apa. Irawan D Soedradjat Page 53 . ia pergi minta bantuannya tujuh Manusia Aneh dari kanglam itu. ―Yang dikhawatirkan justru salah mengerti ini sukar dijelaskan…‖ kata Tin Ok pula.‖ berkata si pederi.― Meyaksikan lihaynya Khu Cie Kee. ―Aku memang bekum pernah tanyakan sesuatu kepada mereka. matanya mengawasi pamannya. Tentu saja ia kaget hingga mukanya pucat. Ciauw Bok Taysu merasa tidak ungkulan melawan imam itu.‖ Ciauw Bok Taysu menyatakan akur. tidak berani dia membuka mulutnya. mungkin imam itu menyusul kita. lalu dengan menyewa perahu. ia pergi tolak tubuh cio-say yang satunya lagi. mestinya jalannya tak sama dengan yang di rumah makan.‖ Kim Hoat menyarankan. ketika itu Kaisar Liang Bu Tee telah memanggil tukang yang pandai untuk membuatnya. Thian Tek tahu tidak selamat ia berdiam terus di Kong Hauw Sie ini. ―Inilah takdir…‖ sahut si paderi dengan masgul. Maka itu ia ketemukan Ciauw Bok Taysu. Pauw-sie pun disembunyikan di dalam kuil Hoat Hoa Sian Sie itu. untuk pergi menumpang pada Ciauw Bok Taysu. dari itu ia tidak bantah pamannya itu. Thian Tek masih tidak mengerti. Ia berkata pula: ―Dia demikian lihay. aku pandang Cio-sang itu sebagai mustikanya Kong Hauw Sie. Ia segera tarik pulang tangannya itu. Ketika kemudian ia lompat masuk ke dalam pekarangan. Oleh karena penasaran. ia cuma minta surat perantara. ia dekati singa-singaan batu itu. ―Adikku seperguruan. apa mungkin ia sudi layani kau yang begini hina memperebuti segala bunga berjiwa?‖ Thian Tek kaget. begitu kena diraba.

Dia menyerang beberapa kali. si imam juga bebaskan diri dari ujung pedangnya si nona. yang pandai sekali mengatur tentera. dari pinggangnya. Sayang untuknya. Lam Han Jin dan Thio A Seng maju dengan berbareng. yang satu geraki pikulannya yang istimewa. tangan kirinya yang menyambar. yang tajam mengkilap. hanya kali ini disusul sama campuran suara rengatnya barang logam. sampai jambangan perunggu itu retak. Siauw Mie To si Buddha tertawa terus-terusan mengoceh tidak karuan juntrungannya. Ia pun lantas tarik Kim-liong-pian. Siauw Eng menjadi penasaran. Diserang dari depan dan belakang. Oleh karena disitulah tersiar luas perihal ilmu pedangnya si gadis Wat itu. beruntun beberapa kali. ia minta si gadis ajari ia ilmu silat itu. Di jaman dahulu. dengan sabetan ―Naga hitam menggoyang ekor‖. Kota Kee-hin adalah tapal batas kedua negeri Gouw dan Wat itu. ia membuat terbitnya suatu suara nyaring. A Seng berkelit seraya melengak. Penambahan ini penting untuk si nona. Ia dan adiknya itu memang yang paling aseran diantara Cit Koay. Di pihak lain Han Siauw Eng sudah hunus pedangnya. kakinya Cie Kee melayang. ia mesti menghadapi Ngow Cu Sih. Ia kembali gagal. mengalun. Mendapatkan adik angkatnya terancam bahaya. Ilmu silat itu asalnya tigapuluh enam jurus. yang bernama Kouw Cian. mari kita maju lebih dahulu!‖ Ho Po Kie teiaki adiknya. ―Delapan orang lawan satu orang. Ia menjadi sangat girang. ―Nah. Tiang Cun Cu mendesak Siauw Eng. sedang menggempur genta di toa-thian itu. ia tidak menyangka orang akali padanya. orang kang-ouw juluki si nona Wat Lie Kiam – Akhli pednag Gadis Wat – Begitu lekas mengenali ilmu silatnya si nona.‖ kata Coan Kim Hoat. hingga Khu Cie Kee tak ketahui apa yang diucapkannya. pendopo besar. melatih keuletan diri dengan tidur sambil mencicipi nyali yang pahit. ―Aku pikir tak apa. Suara itu seperti suaranya dua genta beradu keras. Cepat sekali Khu Cie Kee ketahui ilmu silat pedang si nona. Belum putus pembicaraan mereka. itulah tidak benar…‖ menyangsikan Han Po Kie. yang sekarang dipunyai Han Siauw Eng. sampai ia terdsak mundur ke tepinya patung Buddha. ―Kita tidak berniat binasakan dia. hanya menghajar jambangan perunggu itu. negeri Gouw bermusuh dengan negeri Wat. tepat Irawan D Soedradjat Page 54 . Karena ini ia membuat si nona Han menjadi repot. ―Citmoay. dengan jambangan arak di tangannya. panglima sangat tangguh dari negeri Gouw itu. Justru ia melengak itu. Pada suatu hari ia kedatangan satu gadis yang cantik. Berdelapan mereka memburu ke depan. yang lain mainkan ―golok jagalnya‖ yang ujungnya lancip.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kalau terpaksa kita maju berdelapan…‖ Cu Cong turut berbicara. Khu Cie Kee tidak menjadi gugup. dengan satu egosan tubuh. Kalau Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan bungkam mulutnya. yang pandai ilmu silat pedang. Berbareng dengan itu. hendak ia merampas pedang si nona.cambuk Naga Emas. ia perbaiki. Untuk dapat menelan negeri Gouw itu. Lagi sekali mereka dengar suara nyaring seperti tadi. karena ia berkecimpung di dunia kang-ouw -Sungai Telaga – sedang raja Wat pakai ilmu itu dalam peperangan. Seperti terlihat Khu Cie Kee. Raja Wat. sambil di lain pihak melayani Han Po Kie. Cambuk Naga Emas bukannya melilit tangan. negeri Gouw dapat dimusnahkan. beberapa kali Han Siauw Eng menghindari nacaman bahaya. dia mencoba melilit lengan si imam yang memegang jambangan. Lincah sekali caranya ia berkelit. Ia menjadi sangat tidak puas dan berduka. ditambah hingga menjadi empatpuluh sembilan jurus. Oleh karenanya. si imam datang!‖ seru Kwa Tin Ok. sambil ia melompat. ia ulangi serangannya. Segera si imam serang tukang pentang bacot itu. dengan satu gerakan tangan kanannya. Sikap kedua saudara ini sangat berbeda satu sama lain. mereka telah dikagetkan suara keras yang datangnya dari toan-thian.‖ ―Apakah nama kita tidak bercacat seumpama tersiar diluaran Ciauw Bok Taysu bersama Kanglam Cit Koay mengepung satu orang?‖ Han Siauw Eng pun bersangsi. di tangan nona Han. dengan itu ia lompat menikam bebokong imam itu. suara itu lalu mengaung. Kali ini ia berhasil. melainkan kita menghendaki dia sabar mendengarkan penjelasan Ciauw Bok Taysu. di situ kedua negara biasa berperang. untuk membinasakan panglima dan merubuhkan kuda perang.

lama-lama nanti ia kalah ulet. Genggamannya Lauw-sie In Hiap adalah sebatang bacin. menampak ancaman bahaya. Malah Khu Cie Kee perdengarkan seruannya: ―Kawanan pengkhianat tidak tahu malu. lihat!‖ Dan lantas ia mendesak dengan serangan tangan kirinya. karena dengan itu ia lebih banyak membela dirinya. setelah ia menganca. Ia lihat ia dikepung berenam. Tapi ia salah menaksir ketangguhannya sendiri. ia merasa bahwa ia telah mesti menggunai tenaga banyak. tidak ada orang yang sudi dengar cegahannya itu. Thio A Seng ada punya ilmu kedot. Keduanya maju dari samping. Dia akhirnya tidak dapat bersabar lagi. ialah tubuhnya tidak mempan senjata tajam. dengan tangan kanan! Sebab sebat sekali. jangan turunkan tangan kejam!‖ Ciauw Bok Taysu berseru dalam kegelisahannya yang hebat. Khu Cie Kee tidak peduli ia dikepung berenam. ―Biarlah!‖ dia berseru. Satu serangannya yang mengancam Thio A Seng hebat sekali. Tidak ampun lagi. Biauw Ciu Sie-seng merasa tidak enak karena berempat mereka mengepung. Cie Kee melawan sambil berkelit. yaitu alat peranti menimbangan barang. dengan jari-jari tangan terbuka. maka dua kali kepalannya A seng membuatanya jambangan itu bersuara nyaring. ia membalas menyerang dengan tangan kirinya. Jikalau mereka ini meluruk juga? Dari itu. Mana ia mau mengerti dikatakan menakluk pada musuh. Cie Kee memang menyerang dengan hebat sekali. dan ia sambuti serangannya si imam untuk keras lawan keras. Atau lebih benar. Menampak demikian Coan Kim Hoat tapinya menjadi penasaran. ―Tahan! Tahan!‖ ia berseru-seru. Kekebalannya itu ditambah sama tenaganya yang besar. ia berlompat menotok jalan darah soan-kie-hiat dari Tiang Cu Cu. akan tetapi untuk dua serangan yang belakangan. ingin ia lekas-lekas menyudahi pertempuran itu. Ciauw Bok Taysu menjadi bergelisah menyaksikan jalannya pertempuran itu yang makin lama jadi makin hebat. sayang! Sayang apanya?!‖ tegaskan Siauw Mie To ―Sayang ilmu silatmu yang sempurna ini!‖ sahut Cie Kee sambil ia layani terus musuh-musuhnya. ia sudah lantas pernahkan diri. Di antara satu suara keras. sedang Biauw Ciu Sie-seng si Mahasiswa Tangan Lihay. Ia khwatir juga. nyatanya mereka berada di bawah angin. Ia berkelit untuk serangan membalas sambil berkelit. yang pandai ilmu menotok. ia menangkis dengan jambangannya. yang telah menjadi korban. juga dengan kepalan. kau ngaco belo!‖ mendamprat A Seng sangking murkanya. dalam hal ini. karena ia biasa berlatih mengadu tenaga dengan kerbau – sudah dagingnya keras dan kulitnya pun tebal. dengan kipasnya senantiasa mencari jalan darah lawannya. ia menyerang lawannya. Irawan D Soedradjat Page 55 . sebagai jago ia tidak menghiraukan pedangnya yang terbang malah membarengi itu. Beruntun tiga kali. musuh bangsa Kim. imam bangsat. dengan memberi tanda kepada kakaknya yang kedua. hanya guna mencegah si imam ulangi serangannya yang lihay itu. ia lompat menerjang. ―Totiang. sebagai tameng. goloknya terlepas dan melayang. ia pakai tangan kirinya yang bebas yang tidak bersenjatakan apa juga. diturut oleh kakak angkatnya itu. ia pasang jambangan itu sebagai sasaran. hendak aku bicara!‖ Dalam waktu pertempuran yang hebat itu. ―Tuan-tuan tahan! Dengar. ―Kau begini lihay tetapi kau rendahkan dirimu dengan jalan menakluk kepada musuh negara!‖ ―Hai. maka itu senjata bisa dipakai berbareng sebagai toya. Walaupun begitu. Ia merasa A Seng tidak akan luput dari bahaya. Untuk membalas menyerang. gaetan dan gembolan. Totokan ini bukan untuk menolongi Thio A Seng. lengannya itu terhajar patah tangannya Khu Cie Kee. Cu Cong kaget bukan kepalang. ia manjadi nekat. ―Bagus!‖ Tiang Cun Cu puji lawannya ini. ia mengatakannya: ―Sayang! Sayang!‖ ―Eh. Tendangan itu mendatangkan rasa sakit dan akget. Maka itu. Disana masih ada dua musuh segar Kwa Tin OK dan Ciauw Bok Taysu – inilah berbahaya untuknya. ia tetap mainkan jambangannya sebagai senjata.Pendekar Pemanah Rajawali mengenai lengannya. sebab Siauw Mie To tengan terdesak.

Thie-leng adalah senkata rahasianya Hui Thian Pian-hok. Maka sebentar saja belasan lengkak telah membuatnya Cie Kee terpaksa main mundur saja.Pendekar Pemanah Rajawali Khu Cie Kee memang tidak berhenti sampai disitu. ia melainkan tidak sempat membalas menyerang. bagus! Sekarang serang beng-ie!‖ Setiap kali ia berseru. Atas itu. kakinya si imam kena sambar pinggangnya. Irawan D Soedradjat Page 56 . meskipun sebenarnya ia tidak menghendaki pertempuran. Dengan tidak kurang bengisnya. hingga ia lantas saja rubuh terguling. Han Po Kie dan Han Siauw Eng kaget tidak terkira. Yang mereka sayangi sebagai saudara betul. Coan Kim Hoat lompat melejit. makin perlahan. ia sungkan turun tangan. ―Hajar tongjin…!‖ Yang terakhir ini Kwa Tin Ok tidak turuti tetap sasarannya Kim Hoat itu. mirip lengkak tetapi ujung tajamnya ada empat. ia dapat bersedia setiap kali Kom Hoat perdengarkan petunjuknya. Mesti begitu. ―Dia hebat sekali!‖ pikirnya. Di saat ia hendak gerakkan tongkat besinya. setiap kali juga lengkak besi dari Kwa Tin Ok menyambar. tidak terdengar suaranya sama sekali. lalu kedudukan siauw-ko!‖ Menyusul anjuran itu. Ciauw Bok Taysu dan Han Siauw Eng menyerang dari kanan. ia tidak dapat tinggal peluk tanagn terlebih lama pula. dacin itu terus ditarik dengan keras. Batu dacinnya Lauw-sie In Hiap telah kena disambar oleh si imam. kedua senjata rahasia itu – thie-leng. Coan Kim Hoat sudah berseru-seru pula: ―Hajar tionghu. Mau tidak mau. suara beradunya setiap senjata. Khu Cie Kee ayun terus tangan kirinya. ia juga layani paderi itu. Cie Kee terlalu perhatikan tongjin. dan di kiri. Karena itu dengan berbareng dua orang perdengaran jeritan kaget. setelah mana. Sebenarnya ada sulit walaupun ada orang luar yang memberi petunjuk menurut garis-garus patkwa…‖ Ia lihat datangnya dua serangan itu. Imam ini lihay. hajar lie! Bagus. Ia menotok ke bawah ketiak. Selagi melejit. ia dapat menunjuki sasaran kepada toakonya. tidak dapat lantas bangun. ia menangkis dengan jambangannya. yang berkelit. biar ia tidak terluka. bagian hong dan lie. untuk hampiri si imam. yang berada paling dekat. Sekarang ia menimpuk berbareng dengan empat buah senjata rahasianya itu. yang mereka terjang dengan berbareng. dua rupa senjata rahasia menyambar sar! ser! kearah si imam. Khu Cie Kee mesti berkelit. Cie Kee terkejut. Ia tidak lolos dari semua empat lengkak. Segera juga terdengar jeritannya Coan Kim Hoat. suaranya makin lemah. ―Dia buta tetapi dia bisa mengincar dengan tepat. maka setelah suara ting-tong. kau gunai thieleng! Hajar dulu kedudukan cin. Ia lolos dari gempuran kepada batok kepalanya. Ia buta tetapi ia tahu dua saudaranya telah rubuh. ia tidak lolos seluruhnya. Yang satu menuju ke alis dan yang lain ke paha kanan sebelah dalam. Menyusul tarikannya itu. Cuma ini jalan untuk tolongi saudara angkat mereka itu. Keduanya apungi tubuh mereka. ia kena tertipu si buta. Lauw-sie In Hiap sendiri terancam lukanya. Ia perhatikan suara anginnya.‖ pikir Khu Cie Kee. hingga ia menjadi kaget dan menjerit karenanya. ia tolak jambangannya ke arah mereka itu. yang menyerang ke lain jurusan. Kim Hoat itu adalah saudara angkat mereka. Tidak dapat Kim Hoat pertahankan diri. Berbareng dengan itu. Kalut kedudukan mereka. Setelah turun tangannya paderi itu. yang ujungnya hitam hangus. atau lengkak besi – jatuh ke lantai. Cie Kee pun berkelit dari anggota tongjin sebagaimana diteriaki Kim Hoat. Jeritan itu menandakan adanya dua korban! Jitu serangan Tin Ok kali ini. tetapi semakin lama. adiknya yang kelima dan yang keenam. ia mandi keringat. Coan Kim Hoat teriaki dia: ―Toako. ―Dia ahli menotok. yang satu mengenai pundak kanannya. ia ulangi serangan-serangannya yang dikhawatirkan Biauw Ciu Sieseng. dia toh tidak kalah. dia lihay. tubuhnya terbetot. hanya kedua bagian kiri dan kanan dari tongjin itu. hingga orang tidak tahu dia masih hidup atau sudah mati… ―Serang! Serang!‖ Coan Kim Hoat masih bersuara lagi. Rupanya ia anggap belum cukup dengan korban Thio A Seng itu. Ia juga tidak gunai satu-satu biji lengkak sebagaimana bermula tadi. guna menhajar batok kepala lawannya itu. Ciauw Bok Taysu lihat keadaan hebat. Kwa Tin Ok tidak dapat berdiam terlebih lama lagi. Di kanan ialah bagian ciat dan sun. Sebagai seorang yang cerdik dan gesit. Untuk cegah Lam Hie Jin dan Cu Cong. kuda-kudanya gempur. Bukan anggota tongjin yang ia incar. semua sebab hampir berbareng. pada itu tercampur rintihan juga. dan beda dengan dia adalah Thio A Seng. Begitulah ia maju denagn sepotong kayunya yang mirip ruyung.

ia pengkeratkan tubuhnya. ia baru sadar kapan ia dengar teriakannya Tin Ok kepada Siauw Eng. jiwamu bakal tidak tertolong!‖ Si buta ini merasa pasti mengenai lawannya itu. ia hunus pedangnya. peluhnya lantas turun menetes. ―Toako!‖ ia memanggil. Ketika mulut jambangan tiba di lantai. Sekarang ia merasakan bahwa jambangan di tangannya itu menjadi berat. mulutnya manis. menyambar si cebol itu. Ia lantas lompat mencelat ke arah genta. Khu Cie Kee tahu maksudnya lawan itu. Siapa terkena senjata rahasia yang beracun itu. Ia tahu. begitu jeras. Ia jadi berkhawatir. Ia girang sebab ia dengar suaranya si imam. justru ia lagi ketakutan. ia lintangi pikulannya di depan mukanya. hingga genggamannya terlepas dan jatuh ke lantai. ia keluarkan sebutir pil kuning. Selagi nona ini maju menyerang. sambil pasang kuda-kudanya. Dengan tiba-tiba ia rangsak Lam Hie Jin. Lam San Ciauw-cu lihat bahaya datang. ia tidak mau singkirkan diri. Tidak begitu saja. Sementara itu pucat mukanya Khu Cie Kee. muka siapa ia hajar. Niscaya sekali ia menginsyafi bahaya yang mengancam dirinya. Maka ia lantas berjalan dengan berpalahn tetapi tetap. Karena ini ia lantas tak berani melanjuti pertempuran itu. sekalian diputar. sebaliknya. dikasih turun. jalan perlahan-lahan saja!‖ Siauw Eng mendusin. selagi dia ini belum tiba di lantai. Maka pikulannya Hie Jin kena terhajar. ia lari kepada itu kakak. Kwa Tin Ok kaget berbareng girang. Hie Jin lantas merasa tubuhnya enteng. terus ia muntahkan darah hidup! Cie Kee telah dapat melukakan lawan yang menghalangi ia. kalau sampai itu terjadi. Han Po Kie tidak sempat berdaya untuk membalikkan jambangan itu. tanpa sangsi lagi. ia melangsungkannya. genta jatuh menimpa jambangan. ia dengar teriakannya kakak itu. lengkak yang mengarah bagian sun tepat mengenai pundaknya tanpa ia ketahui atau dapat berdaya mengelakkannya. Dengan begitu. benar sementara itu ia cuma merasai sakit sedikit. Han Siauw Eng tahu senjata rahasia kakaknya ada racunnya. jambangannya jadi menungkrap dari atas. jangan lari!‖ Tin Ok teriaki. tetapi ia dengar kata. untuk keluar dari kurungan. lama-lama sang racun akan bekerja mencelakai ia.Pendekar Pemanah Rajawali Jeritan yang lain dikeluarkan oleh Han Siauw Eng. akibat lainnya menyusul. Justru itu. ia tidak perhatikan itu. sehingga ia tidak bisa berkelit. ―Jangan lari. ia terus lari ke belakang. Sebab telapakan tangannya pecah dan mengeluarkan darah. maka tidak ada obat lagi untuk menolong. lengkaknya sudah nyasar di tubuh adik bungsunya itu. ia sendiri pun rasai pundaknya semakin kebas dan kaku. yang dilarang lari. Inilah yang membikin ia kaget. Berayal sedikit saja. si cebol kena ketutup! Setelah itu Cie Kee lepaskan tangannya dari jambangan itu. Irawan D Soedradjat Page 57 . ia tidak batalkan serangannya. racun bisa mengikuti jalan darah segera menyerang ke ulu hati. ―Lekas lemparkan pedangmu. ia merasakan pundaknya sedikit kebas. Kau mesti tunggu sampai aku datang untuk mengobati!‖ Sebenarnya Siauw Eng keras kepala. ―Citmoay. untuk membabat rantai gantungannya. ―Tenangi hati. Untuk tolong diri. Itulah gerak ―Tiat so heng kang‖ atau ― Rantai besi dilintagi di sungai‖. begitu rantai putus. di tanah!‖ kakak ini beri petunjuk. Si cebol lari berkelit. berbareng tangan kirinya menolak tubuh genta itu yang beratnya mungkin ratusan seribu kati. dia tidak boleh keluarkan tenaga. Maka sambil membentak keras. ia menyapu kepada Han Po Kie yang maju untuk serang padanya. ―Kau tidak boleh bergerak sedikit juga. lekas kemari!‖ ia memanggil. Tin Ok lantas rogoh sakunya. Cie Kee terkena senjata rahasia. ―Lekas kau rebahkan diri di taman belakang. ia lantas damprat dirinya sendiri. dengan lantas ia jejalkan itu ke mulut adiknya. menyerah!‖ Kwa Tin Ok teriaki lawan itu. hingga tubuhnya si Tukang Kayu dari Gunung Selatan menjadi tergetar dan kedua tangannya dirasakan sangat sakit. kedua matanya kabur. Dengan senjatanya itu hendak ia sambut pukulan musuh. kerena mana meski ia bertenaga besar. Lantas ia menduga bahwa senajata rahasia itu ada racunnya. ―Ke mana kau hendak lari?!‖ bentak Tiang Cun Cu yang terus tolak tangan kanannya.

ujung pedang Cie Kee mengenai iga kanannya hingga ia kaget dan menjerit. belum lagi tubuh itu tiba di tanah. ia hanya berlari-lari berputaran di pendopo kuil. Kali ini Cu Cong menimpuk dengan bok-hie. dengan cepat ia menangkis dengan tangan kanannya. Mendadak bebokongnya mengasi dengar suara keras! Ia merasa sakit sekali. Ia geraki kipasnya untuk menotok jalan darah di dada si imam. lekas-lekas ia pusatkan semangatnya. ujung pedangnya menikam ke arah muka. inilah pertama kalinya. ia merasakan dorongan suatu tenaga keras sekali. ―Lihay tenaga dalam si buta ini! Mungkinkah ia melebihi aku?― pikirnya. Dengan ini. Dia hampir membikin terlepas pedangnya. baru kita bicara!‖ berseru Cu Cong. Cie Kee merasai pikirannya kacau tetapi kembali ia memusatkannya. Ia Irawan D Soedradjat Page 58 . ia mau membuka jalan. Dengan menggunai ini ia telah menjadi nekat. Tin Ok dengar anginnya senjata. ia menangkis. Inilah ilmu silat yang sejak ia yakinkan belum pernah ia pakai untuk melawan musuh. Cu Cong tidak melayani. Cu Jieko. hari ini Tiang Cun Cu mesti terbinasa di tangannya bangsat-bangsat licik…‖ ia mengeluh. tubuhnya rubuh seketika! ―Imam anjing!‖ Cu Cong mencaci. ―Kwa Toako. lalu Cie Kee menjadi kaget sekali. Tempo ia diberitahu orang telah pada rubuh semua. tetapi terlambat. Dengan tangan kiri ini. Ia percaya. di sebelah musuh ia sendiri pun bisa celaka. mereka juga tidak tahu bahwa guru mereka mengerti ilmu itu. menyerah berarti celaka. itu tambur teroktok peranti mambaca doa. Pengejaran Tidak ada jalan lain. ia kaget. Ia menginsyafi bahaya. ―Sudah. maka lagi sekali. tanpa bilang suatu apa. dengan berlaku nekat ia tetap berbahaya. Maka repotlah mereka membuat perlawanan. Cie Kee insyaf bahwa tak dapat ia menyandak lawan itu. mereka lantas pergi mencari Toan Thian Tek. ia bersilat dengan ilmu silatnya ―Kie Siang Kim-hoat‖ atau ―Melukai Semua‖. Nyatanya luka di pundaknya itu menyebabkan tenaganya jadi berkurang hingga separuhnya. biarkan si imam berlalu!‖ berseru Ciauw Bok Taysu. ia lantas pindahkan pedangnya ke tangan kiri. dari itu selama pertempuran mengambil tempat. Tidak urung.Pendekar Pemanah Rajawali Cie Kee tidak mau serahkan diri. ―Imam bangsat! Racun ditubuhmu telah menyerang hatimu! Kau tikamlah pula tiga kali!‖ Bangkit kumisnya si imam. Paderi ini lihat ancaman bahaya. Ia dekati imam itu. Paderi-paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak mengerti ilmu silat. Tidak peduli tenaganya kurang. tubuhnya pun terhuyung! Cu Cong yang cerdik itu telah timpuk imam itu dengan sepatunya. Cie Kee terjang musuhnya. Tiba-tiba ia rasai matanya kabur. tubuhnya terpental ke belakang. Ia menahan sakit. akan saksikan segala apa kacau dan orang rebah di sana sini. darah pun berhamburan. yang rebah diam saja. Keras kedua senjata beradu. Sejak turun gunung. Tiba-tiba ia lihat tangan kiri Cie Kee bergerak. ia berhenti mengejar. Oleh karena ini. Maka sambil menghela napas. baru mereka keluar dari tempat persembunyian mereka. mendelik sepasang matanya. Tapi Tin Ok dan Cu Cong merintangi padanya. Mereka jadi ketakutan. Cie Kee belum pernah menemui lawan setimpal. Sampai keadaan sunyi. ia melompat kepada Manusia Aneh yang kedua itu. dengan ―melukai semua‖ hendak diartikan ―mati bersama‖. Kali ini. Sekarang ia baru ingat untuk angkat kaki saja. kedua kakinya itu lemas. sudah. Justru itu. mereka semua pada sembunyikan diri. ia memikir untuk mengalah tetapi justru ia serukan kawannya. cukup keras timpukannya itu. ia menikam.. Ia pun mulai terhuyung. batok kepalanya telah terpukul keras. Ia penasaran. Sembari berlari. Bab 6. Cu Cong dan Ciauw Bok terarah semua bagian tubuhnya yang berbahaya. tubuhnya terus terguling! ―Bekuk dia dulu. ia melompat ke depan. Orang she Toan itu terus sembunyi di dalam ruang dalam tanah. Baharu belasan jurus paha Tin Ok telah tertikam pedang. si buta itu. akan tetapi ketika kakinya menyentuh tanah. ia sudah muntahkan darah hidup! Cie Kee telah gunai tenaganya yang terakhir untuk serang lawannya itu. Maka ia putar pedangnya. ia insyaf kenapa ia kalah kuat. Segera juga Kwa Tin Ok. takutnya bukan main. ia masih khawatirkan tidak ada Khu Cie Kee di antara korban-korban itu.

Ciauw Bok Taysu juga gusar bukan main. sekarang hendak aku kirim kau pulang ke Langit Barat!‖ ia kata. Ini nyonya tetap mengenakan seragam. ia lantas menyerang. Di situ ada beberapa kacung paderi. ―Kau tidak mau dengar perkataanku?!‖ dia membentak. Thian Tek gusar bukan kepalang. kemudian barulah ia keluar. ia lompat kepada Thian Tek. Maka itu bukan main menyesalnya ia untuk kealpaannya itu. Ia lantas hampirkan Cie Kee. Hampir ia pingsan saking kerasnya ia melawan kemendongkolannya. Toan Thian Tek kaget. ―Imam bangsat. Irawan D Soedradjat Page 59 . Dengan tarik tangan Lie Peng. dengan kejam. kami semua telah kau aniaya! Benar saja di dalam kuilmu ini kau ada sembunyikan orang perempuan…. Satu kacung langsung tubruk Thian Tek untuk tarik lengannya. tepat mengenai tiang pendopo. dia berkata: ― Ciauw Bok Hweshio. maka tubuhnya rubuh dengan kepala pecah. mereka Cuma bisa membuka mata menyaksikan kejadian hebat itu. Imam itu masih belum putus jiwanya. Cuma Tin Ok. ―Jangan…. dia membikin aku mencelakai sahabat-sahabatku. walaupun ia buta.Pendekar Pemanah Rajawali suruh dulu sat kacung paderi untuk melihatnya. ia bernapas berlahan sekali. Thian Tek cabut goloknya. tubuh siapa dia dupak. ―Binatang ini telah jual aku. hatinya lega. ia jadi kalap. mereka ini kaget. tanpa ingat budinya Ciauw Bok. Ia bukannya seorang tolol. Ciauw Bok dan Kanglam Cit Koay adalah orang-orang yang lihay. Orang she Toan itu tidak menangkis. ia arahkan ke kepalanya si imam. Ia merasakan sangat sakit. Lie Peng berteriak-teriak pula: ―Hai. Ia telah diberitahu si imam lagi rebah diam dengan kedua mata tertutup. ―Kau…kau hendak lagi membunuh orang!‖ tanyanya. hatinya mencekat. dari itu dengan sambar tangannya Lie Peng. lalu ia ayunkan goloknya. Ia kerahkan tenaganya dengan kedua tangannya menekan lantai. ―Letaki golokmu…!‖ Thian Tek tertawa tergelak. ―Kau ingin aku meletaki golokku? Hahaha!‖ ia tertawa mengejek. dengan dua bacokan ia bikin kedua kacung itu rubuh. ia lari keluar kuil. ―Dia perlu dibunuh dulu…!‖ Ciauw Bok menjadi gusar. hatinya menjadi ciut. manusia jahat. orang sangka ia adalah serdadu sebawahannya Thian Tek. Thian Tek berkelit tetapi ia terlambat. ―Dia Cuma berhati keras… Di sini telah terbit salah mengerti…‖ ―Orang baik apa!‖ kata Thian Tek. dengan sisa tenaganya ia timpuk Thian Tek dengan sepotong kayu di tangannya. segera ia pun sadar. mendengar suara orang. tahan!‖ Tidak ada orang yang kenali Lie Peng.‖ katanya dalam hati. Tiang Cun Cun. dia hanya menyingkir sambil egos tubuhnya. walaupun suaranya nyaring. ―Kenapa?‖ Thian Tek tanya. dengan cepat. tubuh itu tidak berkutik lagi. dia tahu pasti orang adalah seorang wanita. ―Dia adalah satu imam yang baik…‖ sahut Ciauw Bok.jangan bunuh dia…!‖ berseru Ciauw Bok Taysu. yang lainnya mengigit. Thian Tek pergi cepat-cepat ke pendopo. akan tetapi di saat seperti ini. tapi suaranya sangat lemah. Ia ayunkan pula goloknya. Ia rebah dengan terluka parah tapi ia dapat lihat perbuatan si keponakan murid. mukanya kena terhajar hingga rontok ziga buah giginya. justru jiwa mereka sendiri terancam bahaya.!‖ Ciauw Bok terkejut. Maka itu sembari menghela napas. kau kejar aku hingga aku bersengsara. Dengan mendadak Lie Peng berteriak. Tubuh paderi itu lewat terus.

Mereka kaget. semua orang duduk berkumpul dengan dirundung kemasgulan hingga mereka pada berdiam saja. mereka lari serabutan. ―Jangan!‖ Tin Ok mencegah. mana kau melihat mata kepada kami!‖ katanya tawar. Selagi mereka bekerja. Ia malu sekali yang ia bertujuh saudara kena dikalahi Cie Kee.!‖ Tapi ia ditarik terus. ia sendiri memberi keterangan pada Po Kie perihal jalannya pertempuran. akan tolongi orang-orang yang terluka. ― Tentang ini untuk apa kau menanya pula kami…‖ Cie Kee tahu orang masih mendongkol. ―Nanti ada ketikanya untuk menghukum dia. disatu pihak ia ajukan pengaduan kepada pembesar negeri. Mereka menyesal sekali sudah jadi korbannya Toan Thian Tek. Coba ia tidak turuti hawa amarahnya dan berbicara dengan tenang sama Ciauw Bok. Irawan D Soedradjat Page 60 .‖ Po Kie dapat dibikin sadar. yang kena ditikam kakinya hingga tak dapat dia berjalan dengan leluasa. hingga Ciauw Bok Taysu menjadi korban. Thio A Seng patah lengannya. semuanya telah dapat bangun dari pembaringan. semua paderi menangis karena kebinasaan guru mereka. Mereka pun menjadi repot.‖ dia bilang. kita sekarang rubuh di tangannya satu kurcaci. ia lantas bangkit berbnagkit untuk menjura kepada tujuh saudara itu. tiba-tiba mereka dengar suara apa-apa dari arah genta. Kuil itu menjadi berisik. Cie Kee mengerti ilmu obatobatan. Cu Cong dan Lam Hie Jin adalah yang terluka paling parah. Po Kie lantaa rawat semua saudaranya itu. untuk sabarkan padanya. Ia memangnya polos. ia lantas obati Tin Ok semua. ―Nanti aku susul dia!‖ teriak Po Kie sangkin gusarnya. Tubuh bergelumbuk itu sudah lantas lompat bangun. Cie Kee dan Siauw Eng telah dapat ditolong dari racun.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tolong! Tolong!‖ Lie Peng berteriak-teriak. di lain pihak ia kirim kabar pada Kouw Bok Taysu di Kong Hauw Sie.‖ ―Kwa Toako. bagaimana sekarang?‖ Siauw Eng tanya Khu Cie Kee. ―Totiang biasa malang melintang. apa kata kaum kang-ouw bila peristiwa disini sampai tersiar? Tidakkah itu sangat memalukan? Tolong Totiang tunjuki kami bagaimana kami harus berbuat. peristiwa celaka itu pasti dapat dicegah. Kemudian belasan paderi itu menggunai dadung. Ia memang aneh tabiatnya. hingga selang beberapa hari. kau saja yang bicara. setelah mana mereka dapatkan satu tubuh tergelumuk menggelinding keluar. hingga ia tak mampu keluar dari jambangan dan genta itu.‖ kata Cie Kee menyahuti si nona. guna pindahkan mayat. ―Pinto sangat menyesal. akan tarik genta itu untuk dibikin terbalik. ―Tidak. tentang Toan Thian Tek dan si wanita yang menyamar sebagai serdadu. Hangciu. aku tidak mau pergi…. ia berpura-pura tidak tahu. sekarang kau perlu rawat dulu saudara-saudaramu yang terluka. ―Totiang. Cuma Tin Ok yang diam saja. Cu Cong semua membalas hormat. ia mengeluarkan napas lega. ―Totiang berkenamaan dan kami pun bukannya orang-orang yang masih hijau. Tin Ok tertawa dingin. Jenazahnya Ciauw Bok Taysu pun lantas diurus. hingga mereka kaget. ia pun uruti mereka. Ia pun keluarkan obatnya untuk suruh satu paderi pergi obat Khu Cie Kee dan Han Siauw Eng. ia sadar. hingga suaranya tidak terdengar lagi. terutama dirinya sendiri. Selang beberapa hari. ia panggil Po Kie. Ia sendiri pun bukan main masgul. Ia bukan lain daripada Ma Ong Sin Han Po Kie yang tadi kena ditungkrap Khu Cie Kee. setelah pingsan. Pada suatu hari. Paderi pengurus dari Hoat Hoa Sian Sie telah bekerja. menyesal dan mendongkolnya. Ia heran dan kaget saksikan pendopo itu. Ia merasakan kesembronoannya. aku mohon maaf. hingga ia berkoak-koak. Kwa Tin Ok masih sadar walaupun ia terluka. ia tidak terancam bahaya.

Imam itu memutar tubuhnya. orang malui mereka. lantas ia ngeloyor keluar. apakah itu cukup dengan hanya kata-katamu barusan?‖ tanya Tin Ok. aku minta totiang membuat pertemuan pula di Cui Siang Lauw!‖ Cie Kee mengerutkan keningnya. Ia tahu Cit Koay bukan orang busuk. ―Tentang sakit hatinya Ciauw Bok Taysu serahkan itu padaku.‖ sahut si imam itu. Selang sesaat baru ia dapat bicara. kalau tidak. Ia terus berpikir.‖ Tin Ok bilang. maka itu pinto menyerah kalah…‖ ―Kalau begitu. ―Pinto tidak berani. selama tempo satu tahun. ia jengah hingga tak dapat ia membuka mulutnya. Dalam murkanya. dengan tanganku sendiri. suka aku melepas kau pergi!‖ Bukan main mendongkolnya Cie Kee. lain kali tak nanti aku datang kemari untuk membuat onar pula. ―Aku telah menerbitkan malapetaka. ―Tahan!‖ Tin Ok berseru. akan aku bunuh jahanaman itu! Sekarang aku mohon diri…‖ Ia menjura pula. syaratnya haruslah pinto yang menetapkannya. Di dalam urusan kita ini. kamu hendak adu kepandaian yang memutuskan denganku. maka itu baiklah lain tahun pada hari ini. sama saja dengan tongkat Kwa Toako…‖ Tin Ok tapi tetap murka. ―Tanpa pertolonganmu.‖ ia berkata. kami tidak ada muka untuk mencampuri tahu lagi. Kwa Toako. ―Hanya untuk itu. tetap tenang. Mereka semua lihay.‖ ―Tak sanggup aku menelan peristiwa ini.‖ kata ini ketua Kanglam Cit Koay. tidak ada halangannya. ―Kau pandang entang kakiku pengkor?!‖ ia membentak. pasti sekarang aku telah berada di Negara Setan. ―Tuan-tuan. letaki pedang di bebokongmu itu!‖ bentak Tin Ok. dan CU Cong dan lainnya yang terluka mengangkat kepalanya dari pembaringan. sampai ia dapat satu pikiran. Kalau tidak. ―Dengan meninggalkan pedangmu. ―Kau telah lukakan parah saudara-saudaraku ini. Tin Ok bilang: ―sekarang kita sama-sama terluka. Hampir berbareng mereka itu kata: ―Kalau Kanglam Cit Koay bertaruh selamanya adalah pihak sana yang memilih tempat dan waktunya!‖ Cie Kee tersenyum dapatkan orang demikian gemar menang sendiri. tak dapat ia layani mereka. ―Aku masih ingin menerima pengajaran dari Totiang!‖ Kanglam Cit Koay gemar melakukan amal akan tetapi mereka berkepala besar. malah dengan pernah mengalahkan seratus lebih jago Hoay Yang Pang. ―Kwa Toako hendak menitah apa?‖ ia tanya. kenapa kamu masih merasa belum cukup?‖ Ia lantas menjawab: ―Pedang ini adalah alat pembela diriku.‖ Han Po Kie bersama Siauw Aeng dan A Seng bnagkit berdiri. Ia sangat masgul. bagaimana mereka tidak menjadi penasaran? Cie Kee terkejut. walaupun benar pinto telah lukai kamu. ―Selanjutnya kami akan berdiam di sini. ―Pinto telah terkena senjata rahasiamu. suka aku menuruti titahmu. Mereka sendiri belum pernah nampak kegagalan. Bagaimana ia bisa loloskan diri dari mereka itu? Pula ada sulit untuk melayani mereka bertempur pada lain tahun. ―Habis Kwa Toako memikir bagaimana?‖ menegaskan Cie Kee. aku telah menghanturkan maaf dan mengaku kalah. Sekarang mereka kalah di tangan Khu Cie Kee satu orang. mereka itu akan tambah kepandaiannya. ―Apa saja yang tenagaku dapat kerjakan. jumlah mereka pun banyak – bertujuh – dari itu.‖ kata ia. sepak terjang mereka biasanya luar biasa. Irawan D Soedradjat Page 61 . Tetap ia sadar. di dalam hati ia berkata: ―Aku telah beri muka kepada kamu. tidak nanti mereka disebut ―Cit Koay‖ – tujuh Manusia Aneh. kenyataannya adalah pinto telah rubuh. Mungkin sekali. kami akan melewati sisa hidup kami…‖ Mukanya Cie Kee menjadi merah. untuk menangkap ikan atau mencari kayu. nama mereka jadi menggemparkan dunia Kang-ouw. Ia pun bisa berlatih diri tapi barangkali sukar untuk beroleh kemajuan. Asal Totiang tidak mengganggu kami.‖ katanya seraya berbangkit.Pendekar Pemanah Rajawali ―Segala urusan kaum kang-ouw. Ia bersendirian dan mereka bertujuh. pinto suka menyerah kalah saja. sulit untuk kita bertempur lagi.

masih tetap berlaku kata-kataku tadi. maka kami bukanlah tandingan kamu bangsa imam!‖ Khu Cie Kee pun tertawa. tangan dan kaki. Cie Kee berkata pula. kita mesti melakukan suatu pertempuran yang memutuskan. ―Tapi apa yang kita akan adu adalah kepandaian sejati. habis apakah syaratmu itu?‖ Maka mereka menanti penjelasan. pinto tetap suka menyerah kalah!‖ Dengan ini. karena itu ia telah ubar-ubar Toan Thian Tek. ―Jikalau kita mencari pokok sebabnya. Thian Tek saban-saban dapat meloloskan diri. Irawan D Soedradjat Page 62 .‖ kata Tiang Cun Cu dengan tenang. ―Biar bagaimana. Marilah kita lihat. ―Semakin sulit adanya syarat. lekas!‖ ia mendesak pula. ―Lekas bicara. juga mengadu kesabaran. siapa menyakinkan ilmu silat tentunya semua mengerti. baiklah kita kembali kepada sebab musabab itu. Ia juga tuturkan bagaimana caranya ia kejar Thian Tek itu. ―Jangan kau coba pancing hawa amarah kami!‖ Tin Ok memotong. dengan menggunai alat senjata atau kepalan dan tendangan. hati mereka masing-masing menduga: ―Kau tidak hendak menggunai senjata. Bukankah kita. Selagi memasang kuping. lekas!‖ Han Siauw Eng. Aku akan menghadapi kalian bertujuh. kita memakai akal budi. Kwa Tin Ok masih sedang memikir ketika Khu Cie Kee berkata pula: ―Mengenai syaratku ini. oleh karena itu. ―Kau sebutkan saja syaratmu!‖ kata mereka. mereka tidak jeri. ―Pinto juga tidak berpikir untuk adu kepandaian sama Cu Jieko dalam hal mencuri ayam atau meraba-raba anjing atau mengulur tangan menuntun kambing!‖ Ia maksudkan ilmu mencopet. Ia tahu benar Cit Koay adalah sangat besar kepala. ―Syaratku ini ada meminta tempo yang lama. semakin baik!‖ Cu Cong tapinya tertawa. imam itu memancing hawa amarah ke tujuh Manusia Aneh itu. kaum Rimba Persilatan yang kenamaan tak dapat berlaku demikian cupat sebagai anak-anak muda yang terlahir belakangan?‖ Kanglam Cit Koay saling mengawasi. siapakah yang paling gagah – satu enghiong sajati!‖ Kata-kata ini membuat darahnya Kanglam Cit Koay mengalir deras. Di dalam hatinya mereka berkata: ―Tidak peduli kau pakai akal licin apa juga. Ia berkata: ―Kalau syaratmu itu adalah untuk mengadu bertapa atau membikin obat mujarab atau membikin surat jimat guna menangkap roh-roh jahat. mustahil kami nanti kalah…‖ ―Kata-katanya satu kuncu?‖ berkata imam itu. Ialah umpama kata tuan-tuan anggap tidak sempurna. Mendengar itu Siauw Eng pun tertawa. ―Lekas kau bicara!‖ Cie Kee lantas berduduk. ―Lekas bilang. tetapi sangkin licinnya. Lalu ia menjelaskan tentang persahabatannya sama Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim – yang ia maksudkan si orang-orang gagah itu – yang mengalami nasib celaka.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kamu suka terima syarat apapun?‖ dia tanya. Cu Cong dan Coan Kim Hoat adalah yang tercerdik di antara saudara-saudaranya.‖ ia menyahut dengan sabar. Kepandaian semacam itu. ―Biangnya gara-gara hingga kita bertempur dan saling melukai adalah urusan menolongi turunannya orang-orang gagah. ―Sama cepatnya dengan satu cambukan kuda!‖ sahut Siauw Eng lantas. Aku sendiri tidak menghendaki cara mengandali kekosenan saja. beberapa kali Kanglam Cit Koay mengutuk bangsa Kim serta pemerintah Song yang sewenang-wenang dan kejam. tuan-tuan! Kita bukan Cuma mengadu kepandaian. dengan sikapnya yang agung.‖ Dengan ―orang gagah‖ imam itu maksudkan ―ho-kiat‖ atau ―enghiong‖.

―Aku masih belum tahu dia ada dimana. Pinto akan didik anak Yo Tiat Sim dan tuan-tuan bertujuh merawat anaknya Kwee Siauw Thian…‖ Tujuh bersaudara itu membuka mulut mereka. kau hendak membikin kamu bercapek lelah selama delapan belas tahun!‖ Irawan D Soedradjat Page 63 . umpama kata kamu yang menang. akan tetapi selain itu. bukankah tuan-tuan akan merasa puas?‖ Akhirnya Tin Ok ketruki tongkat besinya ke lantai. Di situ nanti kita lihat.‖ kata Kwa Tin Ok. ―Bukankah tuan-tuan menang karena jumlah yang banyak lawan jumlah yang sedikit? Kemenangan itu bukan kemenangan yang mentereng! Dengan syarat kita ini aku nanti turunkan kepandaianku kepada satu orang. apa hendak dibilang?‖ ―Baik!‖ Han Po Kie juga turut bicara. masih ada hal yang terlebih sukar lagi. tidak dengan demikian tuan-tuan. murid pinto yang berhasil atau muridnya tuan-tuan bertujuh!‖ Tjuh bersaudara itu saling memandang.‖ menerangkan Tiang Cun Cu. kami toh telah lakukan juga satu perbuatan yang baik.. ―Cara pertaruhan ini adalah terlalu licin. ―Untuk pergi mencari dan menolongi.‖ ―Apakah adanya itu?‖ Kwa Tin Ok bertanya.‖ Cie Kee menambahkan. Berbareng dengan itu. ―Jikalau Thian menghendaki aku yang menang. itu memang benar bukannya kerjaan terlalu gampang. Cie Kee tambahkan: ―Orang yang Toan Thian Tek bawa lari itu adalah Lie-sie. tidak ada satu jua yang segara menjawab imam itu. ―Tuan-tuan berkenan menolongi abak yatim piatu dari keluarga Kwee itu. untuk membuat pertemuan di Cui Sian Lauw. itu tidak ada artinya. kita mesti pernahkan mereka itu. tuan-tuan pun mewariskan kepandaian kamu kepada satu orang juga. ―Han Samya benar!‖ pujinya. kita undang sejumlah orang gagah lainnya untuk menjadi saksi. untuk ini sekarang pinto wakilkan saudara Kwee menghanturkan terima kasih terlebih dahulu!‖ Dan ia lantas menjura dalam. ―Akan aku jelaskan. Tapi Coan Kim Hoat campur bicara. sampai itu waktu. ―Itu waktu. ―Umpama berselang lagi tiga puluh tahun. Pinto ingin setelah dapat cari dan tolong mereka.‖ Cie Kee berkata pula. ―Cuma dengan beberapa kata-katamu ini. Bukankah syarat itu ada sangat luar biasa? ―Jikalau tuan-tuan bertujuh yang bertempur sama aku. andaikata muridku yang menang. yaitu Pauw-sie. Heran untuk kata-kata si imam. ―Cuma menolongi saja?‖ ia ulangi. kau pergi tolong Pauw-sie! Siapa yang lebih dulu berhasil. bukankah?‖ Khu Cie Kee tersenyum.‖ Cie Kee tonjolkan jempolnya. ―Bagaimana sebenarnya?‖ Han Po Kie tanya ―Kita menanti sampai lagi delapan belas tahun. ―Baiklah.‖ jawab si imam. empat saudara lainnya telah pernah lihat mereka itu‖ ―Aku ingat suaranya Lie-sie itu. secara demikian kita bertaruh! katanya. lalu kita ajak mereka ke Kee-hin. tenaga dan pikiran. anak-naka itu telah berumur delapan belas tahun. Pernah pinto melihat romanya Pauw-sie. sesudah puas makan minum. tidak nanti aku dapat melupakannya.‖ ―Tentang istri Yo Tiat Sim. ―Dua-duanya Pauw-sie dan Lie-sie itu sama-sama lagi mengandung. setelah itu mereka bertanding satu lawan satu. istrinya Kwee Siauw Thian. Inilah yang pinto hendak gunai sebagai syarat pertaruhan kita…‖ Siauw Eng segera menyela: ―Kami pergi tolongi Lie-sie.Pendekar Pemanah Rajawali Habis menutur. Ia tanya: ―Bagaimana kalau pertolongan kami terlambat. umpama kami tak dapat lawan kamu. yang meminta banyak waktu. lalu anak-anak mereka itu kita rawat dan didik dalam ilmu silat. dia yang menang. baru kita suruh kedua anak itu adu kepandaian. Kita membuatnya pesta. Kita tunggu sampai mereka telah melahirkan anak. dan Lie-sie keburu dibikin binasa oleh Toan Thian Tek?‖ ―Biarlah kita sekalian adu keberuntungan juga!‖ sahut Cie Kee. Kecuali Kwa Toako bersama saudara Han.‖ berkata Cu Cong kemudian. ―Memang menolong anak piatu dan janda juga adalah perbuatan yang mulia.

‖ Kudanya Po Kie lari pesat. guna susul Thian Tek. ―Maka itu lagi delapan belas tahun. untuk orang-orang gagah di kolong langit ini menyaksikan siapa sebenarnya laki-laki sejati!‖ Habis berkata. ―Kalau satu orang gagah sejati bersahabt. ia lompat naik ke sebuah perahu. sama saja dengan kuda atau keledai di Utara. ―Aku mengaku keliru! Baiklah. ia lantas mengayuh.‖ Tukang perahu itu ketakutan lihat orang demikian galak. kita bertujuh akan terima tanggung jawab kita ini!‖ Khu Cie Kee lantas berbangkit. dari itu. tentu sekali ia tak dapat cari Thian Tek. tibalah ia di Yangciu. ―Selama dalam dunia kang-ouw telah aku dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay. disana ada banyak sungai atau kali. Berselang belasan hari. Baiklah aku pergi ke Utara untuk menyingkir dulu dari ancaman bahaya. kendaraan air adalah alat penghubung atau pengangkut yang paling umum. untuk terus menaiki kudanya.‖ sahut si imam yang ditanya. seraya kibaskan tangannya. Ia tanya-tanya orang akan tetapi pertanyaannya tidak jelas. supaya aku dapat kembali ke Liman. ―Sha-tee! Sha-tee! Cu Cong memanggil-manggil. ―Nanti aku susul Toan Thian Tek!‖ kata Han Po Kie. ialah denagn segala urusan ia bersedia untuk mengorbankan dirinya. Paling dulu ia mencari rumah penginapan. Thian Tek telah angkat kaki dengan naik perahu. Pengorbanan itu tidak ada artinya! Bukankah kita belum pernah dengar bahwa di jaman dahulu ada Keng Ko dan Liap Ceng berhitungan?‖ Wajahnya Cu Cong menjadi pucat. ―Apakah yang lucu?‖ tanya Han Siauw Eng. orang Selatan naik perahu.. orang she Cu ini menyebutkannya Thian Tek dan Lie Peng. Ketika ia tarik Lie Peng keluar dari tempat berbahaya itu. begitu muncul kata-kata: ―Orang Utara naik kuda. hingga pastilah sulit kita mencari padanya!‖ Di antara Cit Koay. ia buka tambatan perahunya. kita akan bertemun pula di rumah makan Cui Siang Lauw. ―Dia tak dapat dibiarkan menghilang. mereka gagah perkasa dan mulia. dia bersahabat untuk menjual jiwanya. ia lantas lari keluar.‖ kata Cie Kee. Ia telah memikir untuk cari suatu tempat untuk bertinggal Irawan D Soedradjat Page 64 . akan tetapi ia berdongak dan tertawa besar. ―Lekas berangkat!‖ ia membentak tukang perahu sambil ia cabut goloknya. Han Po Kie segera menghajar bangku dengan tangannya. ―Kau tidak kenal mereka itu!‖. ia tak tampak ada orang yang kejar atau susul padanya. tetapi hari ini bertemu dengan kamu – hahaha!‖ Kanglam Cit Koay menjadi panas hatinya. tetapi ia hanya mondar-mandir di darat. ―Hari ini adalah tanggal dua puluh empat bulan tiga. tak ada sinarnya. Kanglam adalah daerah air. Semoga itu imam bangsat dan tujuh siluman dari Kanglam itu bertempur hingga mampus semuanya. Tetapi Po Kie si tak sabaran telah pergi jauh. ―Tidak salah apa yang totiang bilang!‖ katanya sambil goyang kipasnya. Dengan lekas ia keluar dari daerah kota. Setelah berkata begitu. malah tanpa memilih kenderaan air lagi. tak dapat aku pulang untuk pangku pula jabatanku. lega hatinya apabila ia menoleh ke belakang.‖ ia berkata pula. apapula ia kenali roman orang itu. Ia cerdik. ―Sejak zaman dahulu hingga sekarang ini. ―Orang umumnya bilang mereka itu gemar sekali menolong sesamanya.Pendekar Pemanah Rajawali Wajahnya Khu Cie Kee berubah. maka itu segera ia menuju ke sungai. ia menukar perahu beberapa kali. Thian Tek lantas asah otaknya: ―Aku telah terbitkan onar besar. Thian Tek tunjuki terus kelicinannya. Ia hendak bicara tetapi si imam dului dia. dialah yang tidak terluka. Dengan mereka. ia bertindak pergi. ia ajak Lie Peng bersama.

Thian Tek tetap jerih untuk Han Po Kie beramai. ―Simpan senjatamu!‖ ia membentak. Coba Lie-sie bertenaga cukup. Untuk bela diri terlebih jauh. akan tetapi Lie Peng. sudah kepalang tanggung. ada kalanya ia robek bajunya atau bikin kusut rambutnya. bajunya kena terobek. ujung goloknya putus dan jatuh ke tanah dan ujung pisau belati menyambar terus ke dadanya. tetapi tak urung. ialah seorang pincang dan bermata buta yang membawa-bawa sebatang tongkat besi. Itu hari selagi berada di dalam kamar. selalu dapat ia menjauhkan diri dari mereka itu. ia sudah umbar hebat hawa amarahnya tanpa merasa ia membuat kandungannya tergerak. Dengan tiba-tiba otaknya Lie Peng terganggu. selama tinggal di penginapan. walaupun kedua pihak bertemu muka. lebih baik bia ia bisa binasa bersama musuhnya itu. Malah Po Kie ada bersama denagn satu nona. Ia telah hunus pedangnya. Dalam sengitnya. Tidak lama kemudian.Pendekar Pemanah Rajawali buat sementara waktu. Ia melalui Lim-ceng dan Tek-ciu dan tiba di propinsi Hoopak. Setiap kali ia berlepas tangan atau mulutnya. Untuk kagetnya manusia busuk ini. Dengan letih ia jatuhkan diri ke kursi. Thian Tek sambar sebuah kursi. ia terus berontak dan berteriak-teriak. Thian Tek tersenyum aneh. Ia dapat kenyataan si nyonya si nyonya bukan gila benar-benar. dibekap mulutnya dengan selimut. Kembali ia menyewa sebuah perahu. di tepi telaga Bie San Ouw di wilayah propinsi Shoatang. memasang mata. untuk Irawan D Soedradjat Page 65 . yang merasa ada bintang penolongnya. Adalah pikirannya Thian Tek. Po Kie bersama kawannya yaitu Siuaw Eng. maupun di tengah perjalanan. Maka terpaksa ia gunai goloknya untuk menangkis. maka itu sebaliknya dari ketakutan. mereka itu tidak kenali padanya. Nyonya Kwee telah tawar hatinya sejak kebinasaan suaminya. baik selama di penginapan. ia tidak takut. aku bertemu pula denganmu. aku mohon kepadamu. Syukur untuk Thian Tek. ia telah keluarkan tenaga terlalu besar. engko Siauw. Syukur ia waspada dan cerdik. Lie Peng tidak mengerti silat. Ia lihat tegas seorang kate dampak yang romannya jelek sekali yang berbicara dengan lidah Kee-hin. tetapi telah bulat tekadnya. ia diringkus Thian Tek. Tapi ia masih ingat akan pisau belatinya yang ia pegangi keras-keras. Selama itu rasa takutnya tak jadi berkurang. adiknya. saban-saban ada orang mencari dia. ia menikam! Thian Tek kaget dan heran. Syukur untuknya. kecuali si kate terokmok dan si nona. menampak sikapnya Thian Tek itu. Ia peroleh kenyataan. tetap ia menuju ke Utara. maka itu. sudah lantas menjerit-jerit. Ia kaget tetapi ia berlaku tenang. hingga mereka sampai di perhentian Lie-kok-ek. Ia berlayar terus ke Utara. agar dapat aku membinasakan manusia jahat ini!‖ Lalu dengan diam-diam. ada lagi seorang lain yang cari padanya. ia angkat tangannya untuk dikasih turun denagn bacokannya. hingga mereka jadi menarik perhatian orang. tiga orang itu tidak kenali dia. hingga darahnya lantas mengucur keluar. dadanya itu pasti telah tertancap pisau belati itu. ia dekati Lie-sie. Sebab bukanlah soal yang sempurna untuk terus-terusan berkelana dengan hati tidak tentram. Kemudian ia menjadi mendongkol. Ia pun telah dipukuli. ia terus membawa Lie Peng. tak sudi ia berjalan sedikit juga. hingga bayi di dalam perutnya itu meronta-ronta. kau lindungi kepadaku. Thian Tek berniat membunuh Nyonya Kwee itu. Thian Tek dapat godaan lain. Inilah ia tidak sangka. ia juga tak dapat lari seorang diri. Han Po Kie dapat susul ia. ingin aku supaya sebelum datang saatnya. ia hanya berpura-pura edan. ia dengar suara Han Po Kie tengah berbicara sama pemilik penginapan. ―Trang!‖ demikian satu suara nyaring. saking khawatirnya. menanyakan tentang dia dan Lie Peng. Belum sampai setengah bulan ia berdiam di tepi telaga itu. Kelakuan si nyonya itu gampang menimbulkan kecurigaan orang. tidak mendengar apa-apa. ia justru mendahului sambil menubruk. Dari dalam kamarnya ia mengintai. Akan tetapi ia adalah satu wanita lemah. ia siapkan pisau belati atau badik yang Cie Kee hadiahkan kepadanya. Ia menjadi masgul dan bingung sekali. Kali ini ia kembali naik perahu. untuk keram diri di dalam kamarnya . ia tarik tangannya Lie Peng untuk diajak segera menyingkir dari pintu belakang. dadanya kena tergurat. Ini yang menyebabkan ia selamanya dapat lolos. Setiap ia mendarat. Dalam kagetnya ia buang diri ke belakang. ―Aku tak akan membunuh padamu!‖ Lie Peng sendiri telah lemas kaki dan tangan dan tubuhnya. ia justru diam-diam memuji kepada roh suaminya: ―Engko Siauw. Setelah merasa pasti bahwa orang adalah salah satu Cit Koay. napasnya memburu. ia sebenarnya sudah memikir untuk bunuh diri. nyonya Kwee suka ngoceh tidak karuan.

mendadak ia dapat ingat suatu apa. urusan bisa menjadi rewel. ―Kau baru sampai dari satu perjalanan jauh. tetapi dasar pangeran Kim yang keenam itu yang kemaruk sama istri orang. malah menyenangkan. dapat ku bersenang-senang dengan wanita-wanita cantik. setelah omong-omong lagi sebentar ia pamitan.‖ katanya dengan manis. putra yang ketiga dari Wanyen Ching. Denagn begitu. Karena tugasnya ini. sang adik. Setiap hari aku bisa dahar dan minum enak. ia mengucapkan terima kasih. Sekarang ini ialah kota Pakkhia (Peking). raja Kim utus Wanyen Yung Chi. Wanyen Lieh bangkit dari kursinya. guna menghargai jasanya itu. semacam kommissaris tinggi. ―Yang cupat pikirannya kuncu. Sam-ongya itu adalah Wanyen Yung Chi. kau tentunya letih. maka itu. sang angin sejuk telah mulai menghembus. Ia marah tetapi ia tidak bisa berlaku keras kepada nyonya itu kecuali ia mengancam agar si nyonya terus ikut padanya.‖ Wanyen Yung Chi terima baik nasehat itu. ialah Tio Ong atau Chao Wang (Pangeran Tio atau Chao) Kapan Wanyen Lieh dengar tentang kedatangannya satu perwira dari selatan. Temuchin sudah mulai kuat kedudukannya. supaya tentang perjalanan mereka – ke mana saja mereka menuju – ada menimbulkan bekas. Pada masa itu pemimpin bangsa Mongolia. Udara begini tidak terlalu mengganggu orang-orang yang membuat perjalanan. artinya ―Kota Tengah‖. pergilah beristirahat dulu. saking uring-uringan. Tanpa ragu-ragu lagi. akan tetapi ia tetap dibayangi pengejar-pengejarnya.‖ berkata Wanyen Lieh. itu pangeran Kim yang ia maksudkan. Ketika ia hendak berbnagkit. Thian Tek telah menyingkir jauh ke utara. oleh karena mana. yang tak kejam bukannya satu laki-laki?‖ Karena ini ia lantas tersenyum. ―Pergilah kau beristirahat!‖ katanya sambil ia mengibaskan tangannya. dia telah celakai aku hingga begini…‖ Justru ia ngoceh ini. bagaimana senangnya aku. ―Bangsa Monglia itu tak tetap tempat tinggalnya. untuk memohon pikiran. Ia bergelar Wei Wang atau Wee Ong. Kenapa aku mesti meninggalkan satu . hatinya menjadi ciut. gemar mereka menghina yang lemah tetapi jerih terhadap yang kuat. setelah berjalan jauh dan melewatkan banyak hari. Ia terkejut akan ketahui. Pada suatu. Ia ada lemah. mulut hidup? Bukankah ada peribahasa kuno yang mengatakannya. Ia jadi semkin hati-hati. mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tak nyata. selanjutnya mereka tidak akan berani berontak. kakak harus membawa satu pasukan tentera yang terpilih. Wee Ong telah datang menemui Tio Ong. ia suka dengari adiknya yang cerdik dan tangkas. Thian Tek mengucap terima kasih.‖ ―Begitu?‖ tanya sang kakak. tetapi ia takluk kepada bangsa Kim. heran. Di samping itu. kalau ia membocorkannya. tetapi satu hambanya pangeran itu muncul dengan tiba-tiba mengabarkan ‗kunjungannya Sam-ongya‘ – pangeran yang ketiga. Ia lantas mengerutkan kening. setelah mana ia bertindak untuk sambut tetamunya. Didalam hatinya. ibukota kerjaan Kim itu. ―Bukankah aku telah tidak jauh dari Yan-khia?‖ demikian ia ingat. adik itu berkata kepadanya: ―Hari ini ada datang padaku satu mata-mata dari kerajaan Selatan. ―Mereka juga bertabiat kasar. tetamunya adalah Toan Thian Tek dan orang ingin numpangi diri kepadanya. Di sana Thian Tek langsung mencari istananya pangeran itu. bekalan uangnya mulai habis. ―Habis?‖ Irawan D Soedradjat Page 66 . ―Kenapa aku tidak pergi kepada Liok-taycu?‖ Liok-taycu itu adalah putra keenam dari raja Kim. supaya melihat keangkeran kita. Celaka untuknya. ia berpikir: ―Tentang Pauw-sie. ia lantas ijinkan orang menemui dia. pangeran Wei atau Wee. ia bergaul paling erat dengan Wanyen Lieh. Ia sebenarnya hendak beritahu juga bahwa ia datang bersama Lie Peng. Hawa panas mulai lenyap. Ibukota Yan-khia itu disebut juga Tiong-touw atau Chungtu. sang putra pergi menganugerahkan Temuchin sebagai Pak Kiang Ciauw-touw-su. ia malah membantui negara Kim memusnahkan bnagsa Tartar. raja Kim. kepergian putra ini sebenarnya guna melihat sendiri keadaan bangsa Monglia itu. ia ngoceh seorang diri: ―Selama aku pangku pangku di Hangciu. ia bernagkat menuju ke Yan-khia.Pendekar Pemanah Rajawali sengaja menarik perhatian orang. bagaimana aku bisa menerima Thian Tek? Ia tahu rahasiaku. dalam segala hal. Di antara saudara-saudaranya. aku masih belum dapat mempernahkannya. Ketika itu hawa udara telah mulai berubah. untuk pergi ke sana.

katanya. suara seperti satu pertempuran. ―Baik!‖ katanya. lekas kasih perintah untuk bersiap untuk berperang!‖ demikian kata perwiranya yang pimpin pasukan kecil itu setibanya dia di depan pangeran Kim itu. Wanyen Yung Chi lantas kirim belasan serdadunya untuk memberi warta terlebih dahulu tentang tibanya itu sekalian menitahkan Temuchin datang menyambut utusan Kim. ―Mana aku tahu?!‖ sahut si perwira yang lantas saja mengatur barisannya. ―Itulah alasannya belaka. Ia mempengaruhinya hingga si nyonya diam saja. ―Kakak tahu sendiri kecerdikan bangsa Selatan itu.‖ ―Kalau begitu. Berselang beberapa hari.‖ ―Bawa ia ke Utara?‖ Yung Chi tanya. sebenarnya ia hendak mencari tahu keadaan kita bangsa Kim. sangat meletihkan dia. ―Sebentar kau kirim dia padaku. bunuh saja padanya!‖ kata sang kakak. Wanyen Yung chi berangkat bersama seribu serdadu pilihan yang semua kelihatan gagah dan mentereng. Demikian untuk beberapa puluh hari. dia suruh Thian Tek pergi ke istana Wei Wang untuk bantu pangeran itu. ―Pasukan musuh manakah itu?‖ dia bertanya. Pada suatu hari tibalah barisan ini di satu tempat dekat dengan perkemahan Temuchin. Di lain pihak ia jaga diri baik-baik agar tentara Kim tidak tahu siapa dia. dia ajak Thian Tek bersama. yang lainnya pasti bakal jadi waspada. Hampir itu waktu. berjalan di padang pasir yang seperti tak ada ujung pangkalnya. di mana tidak ada lain orang. Sementara itu perutnya Lie Peng makin menjadi besar.‖ ―Bagus!‖ Yung Chi bertepuk tangan. Diwaktu begini. Selagi Wanyen Yung Chi terheran-heran. Mungkin mata-mata yang datang bukan dia satu orang. hanya sambil dibekali uang perak dua potong. Thian Tek tidak tahu rencana orang. Ia keprak kudanya untuk maju ke depan. Dialah Ouw See Houw. ―Di sana. Tatkala itu bulan kedelapan untuk di Utara. kapan sang malam tiba. dengan cari satu alasan kakak boleh hukum mati padanya. maka itu kepala perang ini telah melancangi pangeran itu untuk mengatur persiapan. sudah datang dekat sekali. dia tak dapat berpikir. ia lantas tampak lari mendatangi satu pasukan kecil serdadu. sekonyong-konyong orang mendapat dengar suara berisik yang datangnya dari arah utara. Di sini aku nanti layani lain-lainnya mata-mata. salju beterbangan turun bagaikan lembaran-lembaran unga. Ouw See Houw ada satu panglima yang berpengalaman yang diandalkan negeranya.‖ Wanyen Lieh bilang. ―Sam-ongya. memenuhi bukit dan tegalan di hadapan angaktan perang Kim itu.‖ Sang adik menjadi girang. dia tertawa riang. Tapi ia telah bertekad untuk membalas sakit hatinya. Sore itu Wanyen Lieh tidak panggil Toan Thian Tek menghadap lagi padanya. Dia sengaja menunjuki pengaruh menurut nasihat Wanyen Lieh. ―Ya‖ sahut Wanyen Lieh. di padang gurun.. bilang saja dia hendak dijadikan pengiringku. kalau dia ini dibunuh. Ia khawatir Lie Peng nanti buka rahasianya. Yung Chi menjadi kaget. ia tetap ajak nyonya itu. dia terus menderita. barisan dari seribu serdadu pilihan dari bangsa Kim berjalan berlerot bagaikan seekor ular panjang. ―Tindakan itu tidak sempurna. Wanyen Yung Chi berangkat ke Monglia. sebaliknya Wanyen Yung Chi lemah.‖ sahut adik itu. hawa ada dingin luar biasa. Irawan D Soedradjat Page 67 . Aku pikir hendak mohon kakak bawa ia pergi ke utara. Sedang si nyonya ini masih mengharapkan datangnya pertolongan padanya…….Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia datang untuk tumpangkan diri padaku. ia menurut saja. Mereka itu terpencar si segala penjuru. dia kuatkan hati dan tubuhnya untuk lawan penderitaan ini. perjalanan jauh denagn menunggang kuda. apa yang disebutkan tentara musuh itu. Selagi pasukan ini berjalan terus.

Tentera sisa ini berjumlah lebih besar tapi mereka tidak berdaya terhadap pasukan berkuda ynag jauh lebih kecil itu. Lalu ia coba menyalakan api. musuh dan kawan bercampur menjadi satu. tanpa merasa ia menangis menggerung-gerung. yang telah membuang panah dan tombak mereka. mereka masing-masing menunggang satu kuda. maka bersama sejumlah serdadu ia lindungi Wanyen Yung Chi mundur ke arah selatan. Syukur untuknya. lalu dihari ketiga. akan menggali pasir. Ouw See Houw berlaku tabah. Lie-sie mencoba menggunai kedua tangannya. mereka ke dibikin terpencar. Ketika itu masih malam. ia tidak mendapat gangguan. Kapan Ouw See Houw sudah mengawasi sekian lama. Lie Peng mendekam di liangnya itu. bayi itu nampak cakap. Cepat nyonya itu berduduk. Ia hanya dengar tangisan itu makin lama makin keras. ia dapatkan satu bayi laki-laki. ia dapat kenyataan. hanya mereka kabur keempat penjuru. suaranya pun nyaring. tapi ia merasa ada benda yang membanduli perutnya. karena sisa tentera itu main saling selamatan diri sendiri. Mereka bersiap tanpa bersuara. mau tidak mau. mereka pun lagi ketakutan. mereka menerobos terus. Air ada air salju tapi barang daharan. Sekarang baru Lie Peng sadar betul. Tiba-tiba dari arah kiri terdengar ramai suara terompet tanduk. Irawan D Soedradjat Page 68 . tak tahu ia dirinya berada di dunia baka atau masih hidup. Ia dapatkan golok dengan gampang karena di situ bergeletakan banyak alat senjata. yang terus menerjang tentera sisa. untuk kegirangannya. Di sekitarnya tidak ada seorang juga kecuali mayat-mayat serdadu dan kuda-kuda. kalau tadinya ia telah berputus asa. Ouw See Houw kewalahan. Roman anak ini telah membantu menguatkan semangatnya. Tentara ‗musuh‘ itu bukan terus menerjang pasukan Kim. sakit sekali. Terpaksa untuk menyingkir. potongan wajahnya mirip dengan suaminya Kwee Siauw Thian. hingga tanpa dapat ditahan lagi. Dengan sendirinya mereka jadi bertempur sama tentara Kim. untuk melindungi. Tentara sisa itu segera diserang. ia rubuh dari kudanya. samar-samar ia dengar tangisan bayi. Terpaksa ia merayap keluar. sang rembulan mengencang di atas langit. setelah mana ia peluki anaknya. sejumlah diantaranya lantas rubuh. bergumul. Disamping itu di belakang mereka menerjang sejumlah pasukan berkuda. ia merasakan perutnya mulas. ia beri perintah akan tenteranya mengurung pangerang mereka.Pendekar Pemanah Rajawali Segera juga terlihat suatu keanehan. Ia belum sadar betul. semua mayat serdadu dan bangkai itu belum busuk. Cuma pemandangannya yang sangat menggiriskan hati. ―Lepaskan panah‖ Ouw See Houw memberi titah. Dari situ ia bisa dengar rintihan serdadu-serdadu yang terluka parah atau hendak mati dan ringkikannya banyak kuda perang. terpaksa nyonya Kwee lari sendirian. ia telah melahirkan anak……. hingga banyak serdadu yang kena terinjak-injak. Adu Panah Lie Peng ada bersama Toan Thian Tek. ia sadar sendirinya dengan perlahan-lahan. itulah pasukan sisa yang habis kalah perang. mereka lari tanpa berani datang mendekati. yang berjumlah lebih sedikit. Dengan gigitan ia bikin putus tali pusar. Ia mengeluarkan air mata kegirangan yang berlimmpah-limpah. mereka kabur jauh-jauh. Di bawah terangnya sang rembulan. tak tahan ia akan rasa laparnya. Entah dari mana datangnya tenaganya. Hanya sesudah lari serintasan. Ia geraki tubuhnya. Hebat akibatnya untuk tentara Kim itu. Entah sudah lewat berapa lama. di situ muncvul satu pasukan serdadu. Kekalutan sudah lantas terjadi. Tentera musuh yang kabur itu melihat pasukan Kim. sekarang timbullah harapannya. Bab 7. Untuk kagetnya. Ia pingsan. untuk membuat sebuah liang yang besar dimana bersama bayinya ia bisa menyingkir dari angin dan salju. Lie-sie coba geledah tubuhnya myat-mayat itu untk cari rangsum kering. muncul di antara sang awan. Ia dapatkan sejumlah sisa. ia angkat bayinya itu. setelah ia melihat dengan tegas. akan tetapi jumlah mereka banyak. tentara sisa ini meluruk ke arah pasukan Kim. Nyatalah dalam keadaan seperti itu. roman mereka ketakutan. Lie-sie mesti kuatkan hati. tetapi serbuan sisa tentera ―musuh‖ itu demikian hebat. Karena hawa dingin. Buat dua malam satu hari. dengan itu ia pun dapat bakar daging kuda. semua tidak menunggang kuda. tidak ada sama sekali.

untuk bersembunyi didalam rujuk. Tapi di belakang mereka lantas tiba bala bantuan. Kwee Ceng tuntun kambingnya buat diajak mendaki suatu tanjakan. Jauh di sebelah depan nampak debu mengepul naik. Sekarang. lantas ia pimpin tentaranya menyerbu. hati Kwee ceng menjadi tertarik. timur dan barat. Ia mesti membangun satu gubuk dengan beratap daun. Selama tempo bertahun-tahun hidupnya Lie Peng ada lumayan. Bisalah dibayangi. belum pernah ia dengar suara semacam itu. ―Siapa kau?‖ tanya salah satu diantara dua penunggang kuda itu. sampai setelah memasang kuping sekian lama. Ada serdadu yang kepalanya digabut pelangi putih. dibantu sama suara tambur. walaupun mereka tidak tahu jelas. sebaliknya daripada takut. Akan tetapi dua orang itu tidak menolong kepalang tanggung. Segera terlihat dua penunggang kuda. malah tanpa terasa enam tahun telah lewat. ia beri nama Ceng kepada putranya. selagi ia menjagai kambing-kambingnya. bagaimana hebat penderitaannya itu. Orang Monglia itu tidak berumah tangga. Sekoyong-konyong terdengar suara terompet riuh. mendatangi dari arah depan. untuk kemudian ibu dan bayinya itu tidur guna melepaskan lelah dan kantuknya. ia bisa membantu ibunya menggembala kambing. Tapi ia ingin mengetahui sesuatu. Dua penunggang kuda itu adalah orang Monglia. Pada suatu hari dari bulan tiga. Sampai tiba-tiba ia mendengar anak panah mengaung di atasan kepalanya. Ia memegang sebatang golok panjang. Ia mesti terus berjalan di tempat yang sepi dimana ada terdapat pepohonan dan tegalan rumput. guna melindungi diri dari gangguan angin dan hujan. diwaktu hendak berangkat. sebagai pengembala tak tentu tempat tinggalnya. Ia tidak hendak melupakan peasn suaminya. segera terdengar suara terompet dari sebelah belakang. ia keluarkan kepalanya untuk mengintai. Lie-sie dapat berdiam disitu bersama bayinya. lalu muncullah pasukan tentera. ia Cuma kata ia lagi lewat di situ tempo ia terhalang oleh pertempuran tentera. selagi uadra hangat. tiba-tiba kwee Ceng lihat seekkor burung elang yang besar sekali menyambar kepada rombongan kambingnya. tubuhnya ditutupi dengan mantel merah. baru ia dapat tangkap anak kambing itu. mereka itu berbaik hati. Kaget ia. Tidak lama setelah barisan teraur rapi. anak itu bertubuh kuat dan cerdik. Maka mulailah Lie Peng mesti bercape lelah. dengan mengiring binatang piarannya. hingga ia mesti melahirkan anak seorang diri. ia gendong bayinya untuk di bawa pergi ke araha timur. dari sana muncul beberapa barisan lain yang dikepalai oelh satu perwira muda jangkkung dan kkurus. mereka menyerang pula. untuk kelegaan hatinya. tidak lama mereka mesti mundur sendirinya. ketika kedua penolongnya hendak berpindah tempat. Ia memanggil dengan berteriak-teriak. ia menunggang kuda kecilnya. Pihak penyerang ini berjumlah lebih sedikit. maka tentera itu lantas memecah diri dalam dua barisan. Tepat tengah hari. Ia mulanya menyangka kepada guntur. ia cuma dapatkan. Maka ia naiki kudanya untuk mengejar. dan untuk menempuh perjalanan jauh. Tidak ayal lagi. Lie Peng tidak buka rahasia. Untuk hidupnya. sebagai rumah adalah tenda yang bertenung daripada bulu binatang. sebab bayinya masih belum mengerti suatu apa pun. mendadak ia dengar susra keras dan nyaring. Oleh karena kebiasaan. agaknya mereka ini tidak dapat bertahan lama. tapi selagi ia hendak menuntun pulang. mereka meninggalkan tiga ekor kambing. ia mulai bertenun yang hasilnya ia dengan barang makanan. untuk hidup sendiri. mereka jaka si nyonya ke tendanya. anak kambing itu lari terus. Sekitar tujuh lie. Ia sekarang memelihara anjing sebagi pembantunya. Demikian telah terjadi dengan Lie-sie. dari itu di situ sudah lantas terjadi suatu pertempuran. hingga ia terperanjat. setelah ia mulai dapat pulang kesegarannya. ada yang ditancapkan bulu burung warna lima. Ia menjadi takut. yang menjadi kepala perang telah memberikan belbagai titahnya. Malah yang seekor – anak kambing – kabur ke timur. yang ia tidak tahu berapa jumlahnya. walaupun tampaknya mereka kosen. untuk dikasih tempat meneduh dan barang makanan. Ia mengintai terus.sie. guna mencari air.Pendekar Pemanah Rajawali Buat tujuh atau delapan hari. mereka biasa pergi ke timur atau ke barat untuk mencari makanan binatang. apa katanya Lie. Semua binatang itu kaget. Kwee ceng giring kambingnya untuk diangon. hingga keras sekali ia rangkul bayinya. Hidup sendiri. ia dengar suara seperti tambur berikut meringkiknya kuda serta suara orang banyak. mendengar itu tentera penyerang lantas berseru-seru kegirangan: ―Kha Khan Temuchin telah datang! Kha Khan telah datang!‖ Irawan D Soedradjat Page 69 . terpaksa ia ditinggal pergi. Meski begitu. ia pun dapat hidup sebagai orang Mongolia.

mereka tidak ambil peduli lagi kepada musuh yang lari tunggang-langgang. ia gembira berbareng negri. ia dikitari belasan pengiringnya yang dengan memasang tameng mereka itu. mereka lantas saja berkoak-koak: ―Tangkap hidup Temuchin! Tangkap hidup Temuchin!‖ Lalu tentara itu dengan rapat sekali. Juga Kwee Ceng turut beralih pandangannya. banyak yang telah rubuh. orang terpaksa main mundur. Kwee Ceng saksikan itu semua. Temuchin. dengan lima ribu jiwa serdadu mereka. Di tengah pasukan di panjar sebuah tiang yang tinggi di mana ada tergantung beberapa lapis bulu putih. mengawasi ke arah tiang itu. dari atas kudanya ia memandang ke medan pertempuran. dari tempat sembunyinya. tentera Mongolia itu nampaknya lati serabutan keempat penjuru arah. apa boleh kita kerek bendera dan membunyikan terompet?‖ dia bertanya. akan tetapi juga serdadu musuh. mereka tidak menghiraukan anak panah dan golok. Putra ketiga dari Temuchin. lekas mundur ke selatan! Kapan kau lihat bendera besar di kerak tinggi dan dengar terompet dibunyikan. mari kita mundur dulu!‖ berseru ia kepada orang di bawah tiang bendera itu. dari lima ribu serdadunya Temuchin itu. yang mendatangi dengan cepat. bersama Subotai serta selaksa serdadu. Setelah bertempur sekitar satu jam lebih. menjadi cemas hatinya. melindungiini pemimpin dari sambarannya berbagai anak panah. Musuh telah mendesak hingga hampir sukar untuk dicegah lagi. habis itu semua bawa barisannya menyingkir ke arah yang telah disebutkan tadi. seribu lebih telah terbinasa. yaitu Sigi Kutuku. ―Ayah. ia tetap mengawasi medan perang. Di sana pun dikerek batang bendera besar. yaitu Ogatai yang berada di samping ayahnya. maka sebentar saja. tak sudi mereka mundur dari serangan musuh. lantas ia berikan titahnya: ―Kau bawa selaksa serdadu mundur ke timur!‖ demikian titahnya itu. ―Ayah. Sambil berbuat begitu. Tentara musuh bersorak-sorai menampak lawannya lari tumpang siur. kau bersama pangeran kedua serta selaksa serdadu mundur ke barat. apa pula penyerang di pojok timur utara tampak lebih garang. Temuchin tetap berdiam tegak di tempatnya. kau mesti kembali untuk melakukan penyerangan membalas!‖ Semua perwira itu menyahuti tanda mereka menerima titah. Disamping dia ada beberapa pengiringnya. jumlahnya bebearap ribu jiwa. Lalu ia memberi perintah pula: ―Mukhali. kau Borchu. Dengan begitu ia dapat lihat satu perwira yang menunggang kuda. Ia tampak satu pasukan besar. Tidak antara lama panglima muda yang bermantel merah larikan kudanya naik ke tanjakan. demikian panglima yang dipanggil ayah itu. ia menyahuti: ―Musuh masih belum lelah. mereka menyerang pula dengan seru. Dilain pihak adik angkat Temuchin. Tiang yang tinggi itu bergerak ke arah tanjakan bukit. berlomba mendaki bukit.‖ Ketika itu penyerangan musuh di timur laut bertambah hebat. melakukan pembelaan si sekitar bukit itu. bersama Jelmi panglima yang kosen. dari mana datangnya suara terompet dan tambur tadi. bersama Chilaun serta selaksa serdadumu mundur ke utara! Dan kau. hanya karena jumlah mereka jauh lebih besar. Atas ini. Itu ada tanda bahwa di sana ada tiga kepala perang yang memegang pimpinan. Dia ada memakai kopiah perang dari besi. Kwee Ceng dengan matanya yang jeli. sudah melihat tegas keadaan pertempuran itu. yang larikan kudanya itu naik ke tanjakan. tentera penyerang jadi dapat semangat. hingga mereka dapat mengacaukan lawannya. Di pihak Mongolia. Irawan D Soedradjat Page 70 .Pendekar Pemanah Rajawali Atas itu orang-orang yang lagi bertempur lantas menoleh ke arah timur selatan. Temuchin mengawasi ke bawah kepada tentara musuh. Kubilai. Dari sana pun datang seruan-seruan kegirangan. musuh berjumlah lebih banyak berlipat ganda. mereka menang di atas angin. janggutnya merah. lalu dengan suara dalam. mereka pun segera melihat bendera putih besar dari Temuchin di atas bukit. ia Cuma berdiam sebentar. Jelmi lari naik ke atas bukit. Dengan matanya yang tajam bagai mata burung elang.

semua lantas meluruh untuk tolongi kepala perang mereka. Musuh gunai ketika baik ini untuk menerjang naik dengan hebat. terpaksa ia balik mundur. ―Kita tunggu sebentar lagi. Dengan begitu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kha Khan. ia menerjang barisan musuh. darah molos keluar dari sela-sela jari tangannya itu. Maka tidak ampun lagi. Temuchin tutup lukanya dengan telapakn tangannya. ―Bagaimana dapat kau banggakan diri sebagai satu pendekar gagah perkasa?!‖ Air mukanya Jelmi menjadi berubah. ia membuka jalan hingga di depan satu bendera hitam. Beruntun tiga kali ia memanah kepada musuh yang berada dibawahnya sebuah bendera hitam. Berselang lagi satu jam. dalam keadaan terluka. hebat ilmu panahnya.‖ Kutuku lantas berlutut di depan kakak angkatnya itu. akan kemudian ia lari pula naik ke atas. ―Saudaraku yang baik. setibanya di atas. Merah matanya Jelmi melihat kawannya itu mundur. dengan kedut lesnya. dipihak musuh. ―Aku kehabisan anak panah!‖ Temuchin yang rebah di tanah telah tarik keluar anak panahnya dari kantong panahnya yang tersulam. Irawan D Soedradjat Page 71 .‖ sahutnya. sedang satu anak panah lainnya menyambar ke arah perutnya. hanya nancap di dadanya kuda. Jelmi maju menyerang tiga serdadu musuh yang bertubuh besar. Sejumlah serdadu mush mundur melihat orang demikian bengis. tentara Mongolia bertempik sorak. ia binasakan satu demi satu. lantas ia rampas sebatang golok besar dari tangannya satu serdadu. Kutuku mandi keringat. ―Bagus ilmu panahnya!‖ Temuchin puji musuh itu. dengan bawa itu sambil serukan seruan-seruan peperangan bangsanya. ia memandang ke arah musuh. sesudah mana. nacap sampai di batas bulu. ia tidak menjadi gugup. hebat kau!‖ Temuchin puji adik angkatnya itu. ia membuat kudanya berjingkrak berdiri dengan dua kaki belakangnya. anak-anak tak sanggup bertahan!‖ dia teriaki junjungannya. yang berbareng menjadi pemimpinnya. suaranya perlahan. untuk rampas kuda musuh. kemudian dengan lemparkan goloknya. ―Kutuku. Kutuku di arah barat telah pimpin tentaranya melawan musuh. Temuchin adalah satu orang peperangan yang ulung. Biar bagaimana juga. Dua perwira Mongolia maju hendak menerjang tetapi mereka disambut oleh anak panah dan rubuh karenanya. mereka lantas tutup pula kebocoran di timur utara itu. ia tancap tiga batang bendera itu di tanah! Kaget nusuh menyaksikan lawannya demikian kosen. rubuhlah binatang tunggangannya itu berikut penunggangnya. anak panah tidak lagi menyambar ke perut orang. Dilain pihak. ia lemparkan itu kepada adik angkatnya itu. Mendapatkan anak panah. Semua serdadu Mongol kaget. ―Apakah sekarang sudah boleh kita menaikkan bendera dan membunyikan terompet?‖ ia tanya. ―Siapa lari ngiprit?‖ katanya. walaupun lehernya terluka dan sakit sekali rasanya. sebatang busur membuat musuh itu rubuh. Justru itu. ―Tak sanggup bertahan?!‖ berseru Temuchin dengan gusar. ia kehabisan anak panah dan tobaknya pun telah patah. di pojok barat selatan. ―Ser!‖ sebatang anak panah menyambar sebelum pimpinan Mongol ini dapat berdaya. sebentar saja ia telah rubuhkan belasan tentera Mongolia. Kutuku tidak gusar. Kutuku segera beraksi. ia rangkul ketiga bendera besar itu untuk dibawa lari mendaki bukit. apakah kau ngiprit sebagai kelinci?‖ ia menegur dengan ejekannya. lehernya telah terkena anak panah itu. sebaliknya ia tertawa. ia memburu ke bawah bukit. tampak satu panglima dengan pakaian perang hitam. ―Musuh masih belum lelah.

maka itu belasan serdadu lantas saja terjungkal dari kuda mereka. ia jadi gembira sekali. ―Semuanya membela mati bukit ini!‖ ia berseru. barisan mereka tengah kacau. Panglima dengan seragam hitam itu nampak keadaan jelek. ―Naikkan bendera! Tiup terompet!‖ dia berteriak dengan titahnya. akan kejar panglima berbaju hitam itu. ―Hadiahnya sepuluh kati emas!‖ Beberapa puluh serdadu Mongol sudah lantas kaburkan kuda mereka. ―Tapi Kha Khan. ia bunuh tiga musuh yang menerjang ke arahnya. anak ini tidak sedikit juga menunjukkan hati jeri. telah peroleh kemenangan besar dan musuhnya ialah bangsa Taijiut. ia berteriak-teriak untuk mencegah kekacauan. apabila ia menoleh.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kami semua rela berkorban untuk kau. Kwee Ceng tunggu sampai orang sudah pergi semua. Penunggang kuda itu yang mendekat. Dengan kegirangan. Serempak dengan itu. tak pernah gagal. kaget melihat kepala perang lawannya dapat naik kuda pula. hingga yang lainnya menjadi terhalang. Temuchin lantas berlompat untuk naik ke atas seekor kuda. justru ibunya sedang berdebar-debar hatinya memikirkan anaknya yang dikhawatirkan menghadapi ancaman bahaya. melihat sikap orang. disusul sama bunyi terompet ynag riuh. pagi-pagi sekali. Musuh yang tengah merangsak naik. lalu bendera putih yang besar dikerek naik. ia gunai ketikanya yang baik. sendirinya mereka mundur. akan tetapi sia-sia saja percobaannya itu. hingga ia keluarkan teriakan tertahan. sambil ia duduk di atas kudanya. dimana mereka berada. Musuh berjumlah besar. Tiga hari kemudian. di bebokong kuda ada satu tubuh manusia yang mendekam. termusnahkan pasukan Mongolia yang jumlahnya lebih sedikit tetapi yang semangatnya berapi-api. tubuhmu penting sekali!‖ Mendengar itu. maka itu diserang demikian mendadak. tentaranya tak dapat dikendalikan lagi. kuda itu kendorkan larinya. Dengan begitu pula pada akhirnya. Ketika ia tiba dirumahnya. Temuchin tidak usah khawatirkan lagi ancaman dari pihak musuhnya itu. runtuhlah pasukan perang yang besar itu. waktu sudah tengah malam. maka dengan mainkan cambuknya. siapa lantas menjadi kaget sekali. ia tampak seekor kuda lari mendatangi. tentara Mongolia iringi kepala perangnya berangkat pulang.‖ katanya. ―Tangkap musuh itu!‖ Temuchin memberi titah. Dengan pertempuran ini Temuchin. ia anggap peperangan itu dapat dibuat permainan. Ia mau anggap dirinya adalah satu panglima perang! Tengah anak ini main jenderal-jenderalan itu. . panglima itu dapat meloloskan diri. mereka menjadi bertambah kacau. ia mencoba menggiring kambingnya pulang pergi. Temuchin lihat keadaan itu. Maka diam-diam ia pun bergirang. Senang Lie Peng akan saksikan anaknya bercerita dengan cara sangat gembira. Kwee Ceng segera terangkan kepada ibunya kenapa ia pulang lambat sekali. ialah pihak Mongolia. Irawan D Soedradjat Page 72 . baharu ia keluar dari tempat sembunyinya. Kwee Ceng ditinggal di rumah untuk menjagai binatang piaraan mereka. hingga penyerangan mereka menjadi reda. tentera Mongolia dengan bersemangat menyerang dari segala penjuru. tiba-tiba ia dengar tindakan kaki kuda di arah timur. Begitu datang dekat. sambil bersorak-sorak.dua helai permadani – dengan barang-barang makanan. tak kecuali mereka yang mengurus korban-korban. telah musnah lebih daripada separuhnya. ia mirip dengan ayahnya…‖ pikir ibu ini. Dengan goloknya yang panjang. ―Dasar turunan orang peperangan. Mereka itu mendekati saling susul. memandang kepada si bocah itu. treus angkat kepalanya. Lie Peng berangkat ke pasar yang terpisahnya kira-kira tigapuluh lie lebih dari rumahnya untuk menukar tenunannya. si panglima seragam hitam sendiri terpaksa kaburkan kudanya. Maka itu tidak usah berselang dua jam. maka itu ia menjadi teringat kepada suaminya. Kwee Ceng dari tempat sembunyinya sangat mengagumi panglima berbaju hitam itu. Sisa tentara lantas lari serabutan. Tentara Mongolia bertempik sorak. Akan tetapi lihay panah si panglima. Anak ini ingat akan peperangan yang ia saksikan. Maka sejak itu.

Kwee Ceng kaget dan bingung. orang itu memakannya dengan sangat bernafsu. Demikian dia bisa geraki tubuhnya untuk berduduk. banyak-banyak terima kasih kepadamu!‖ dia mengucap. dia tak hendak melepaskan aku!‖ serunya sengit. ―Adik yang baik. golok yang mana pun ada darah yang sudah mengental. ―Anak yang baik. Kwee Ceng pun lantas ikut memandang juga. Ketika itu pasukan yang mendatangi telah tampak semakin tegas. ia menjadi lesu. alisnya lantas menjadi ciut. Dia jatuh pingsan. Rupanya banyak sekali serdadu barisan berkuda temgah mendatangi. ―Lapar! Lapar!‖ kali ini ia bersuara. ―Anak yang baik! Anak yang baik!‖ ia memuji. orang itu sadar dengan sendirinya. Kwee ceng lantas lari mengambil air dingin dari jambangannya. Dari lengannya ia tarik sebuah gelang emas yang kasar dan berat. ditangan kirinya ia mencekal goloknya yang telah buntung. ―Air…air…lekas bagi air…‖ katanya. Ia pun lantas memandang ke arah timur itu. mendengar itu tetamunya Kwee Ceng ini menjadi gusar sekali. Paha kudanya pun terluka. yang Kwee Ceng saksikan dan mengaguminya. Irawan D Soedradjat Page 73 . tubuhnya terus rubuh dari atas kudanya itu. suaranya parau. darahnya masih mengalir. ―Mari lagi satu mangkok!‖ dia meminta pula. Tubuh panglim aitu bergoyang-goyang. sedang panahnya tidak kedapatan padanya. yang mana si panglima lantas saja sambar untuk digelogoki. untuk dipakai membalut lukanya. Selang sekian lama. Mungkin ia yang tengah melarikan diri telah bertemu pula dengan musuh. Tapi lekas sekali ia tertawa berkakakkan. Kwee Ceng menggeleng-gelengkan kepala. ―Ibu telah pesan. setelah itu ia dapat pulang tenaganya. ―Aku hendak bertempur. lalu ia tertawa terbahak-bahak. Di pipi kanannya ada sebuah luka besar dan masih mengucurkan darah. ―Ada!‖ sahut Kwee Ceng yang terus lari ke dalam untuk ambil panahnya.‖ sahut Kwee Ceng. Ia lantas sobek ujung bajunya. ―Yang besar tidak ada…. Kwee Ceng telah bawa gendewa dan anak panahnya yang kecil. kami harus membantu tetamu tetapi tidak boleh menginginkan barang tetamu. Panglima itu baharu minum setengah mangkok.Pendekar Pemanah Rajawali Penunggang kuda itu mukanya penuh debu bercampur darah. ―Untukmu!‖ dia tambhakan seraya dia angsurkan barang permata itu kepada bocah itu. ―Hm. adalah si panglima perang berbaju hitam yang gagah. Orang itu tercengang. Sekarang di sebelah suara berisik itu terlihat debu mengepul. Itu waktu samar-samar terdengar suara larinya banyak kuda di arah timur. aku ingin panah yang besar…. apakah kau ada punya panah?‖ tanya si tetamu. Tak tahu ia mesti berbuat apa. benderanya pun berkibar-kibar. Orang itu perlihatkan roman girang. Ia pun balut luka kudanya. Kwee Ceng lekas-lekas mengambilkan beberapa potong daging kambing.‖ katanya panglim aitu kemudian. hanya tempo si bocah itu kembali. tetapi ia rupanya telah puas telah dapat air. ia menjerit.‖ ia bilang. hanya habis itu wajahnya berjengit. matanya bersinar merah. tiba-tiba ia tertawa. air itu sudah bercampur dengan darah yang mengalir dari lukanya.

dua serdadu lantas menghampirinya. Dengan gampang ia kena ditangkap dan dituntun. kau lihat tidak satu orang yang menunggang kuda hitam?‖ Itulah teguran dari satu diantara dua serdadu itu. ―Benar!‖ sahut banyak serdadu. Ia lantas dapat lihat itu kuda hitam yang lagi makan rumput di kejauhan. ia pun lari ke tumpukan kering itu dan menyelusup kedalamnya. ―Baik. suaranya kasar. Kwee Ceng mencambuk kuda itu. ―Sembunyi di mana?‖ orang itu tanya. sesudah lari cukup jauh. seperti tak pernah terjadi sesuatu. Ia lihat banyak serdadu sedang mengiringi satu anak muda yang kurus dan jangkung. dengan kudanya yang terluka. tak dapat ia lari lebih jauh. ―Bukankah itu kudanya?‖ ia tanya. Ia insyaf. jalannya sudah tertutup. Mereka rupanya lihat bocah yang menunggang kuda itu. ―Hm! Bukankah itu kudanya Jebe?‖ putra itu tanya.‖ kata Kwee Ceng kemudian. ―Di mana?‖ tanya serdadu yang kedua. walaupun ia sudah dapat pulang tenaganya. Si pangeran telah sampai di depan rumah ―Aku tidak akan bicara!‖ Kwee Ceng telah mabil keputusan dalam hatinya. bahar ia berhenti untuk makan rumput. lebih baik kau sembunyi. putra sulung itu memandang ke sekitarnya. ―Ya. Dia adalah putra sulung dari Temuchin. ―Mari ketemu pangeran!‖ berkata dua serdadu itu. Dua serdadu itu sampaikan jawabannya Kwee Ceng. ―Eh.Pendekar Pemanah Rajawali ―Seorang diri tak dapat kau lawan mereka. Kwee Ceng menunjuki tumpukan rumput kering di belakang rumahnya. Tidak lama tibalah barisan berkuda itu. Orang itu mengambil putusan denagn segera. Jadi ada lebih selamat untuk sembunyikan diri. aku dapat lihat. Kwee Ceng naik ke atas kudanya. Dengan matanya mengandung kecurigaan. hingga walaupun binatang itu berniat lari. ―Apakah katanya bocah ini?‖ tanya ia membentak. bocah. Ia lantas kenali itu adalah panglima yang pimpin tentera. untuk hampirkan itu kuda denagn dikurung.‖ ia menerangkan ―Bawa dia kemari‖ berseru perwira yang mengepalai pasukan itu. Ia tidak dengar pembicaraan di antara dua orangnya dengan si bocah. suaranya dalam.‖ ia berjanji tanpa diminta. aku serahkan jiwaku kepadamu!‖ katanya. suara mereka riuh. ―Aku tidak akan mengasih tahu kepada mereka. yang tubuhnya ditutupi denagn mantel merah. yang lantas terus tarik les kuda orang untuk dibawa kepada sang pangeran. Kwee Ceng menunjuk ke barat. Irawan D Soedradjat Page 74 . dua kali atas mana kuda yang hitam bulunya itu segera lompat kabur. Lain jalan tidak ada. Ia bisa berlaku tenang. sepuluh serdadu lanats bergerak dengan mereka memecah diri dalam lima rombongan. ―Dia sudah pergi lama sekali.‖ Kwee ceng menjawab. ―Coba bawa kuda itu kemari!‖ Begitu keluar perintah itu. ―Pergi kau usir kudaku!‖ setelah berkata demikian. ia laikan kuda itu bolak balik.

untuk hukum dia dengan dibeset empat kuda dan dicincang tubuhnya guna membalaskan sakit hatinya Khan yang terbesar itu. Juji. ―Eh. ia pingsan beberapa kali. ―Dia sembunyi di mana. dia mestinya tidak lari jauh!‖ Juji berkata pula. Dia mengancam pula Kwee Ceng dengan cambuknya diayun tiga kali beruntun. ―Pasti kita akan mendapatkannya!‖ Ia balik kepada Kwee Ceng . mesti isap darah – hingga darahnya itu ada yang kena ketelan dan dimuntahkan. Hampir di itu waktu dari kejauhan terdengar suara terompet. Dia angkat kepalanya dan menanya dengan berani: ―Kenapa kau pukul aku? Mana aku ketahui dia bersembunyi di mana!‖ ―Kau membandel?!‖ bentak Juji. Ayahnya itu dirubungi banyak pengiringnya. ―Kha Khan datang!‖ sejumlah serdadu berteriak. Kwee Ceng lihat orang hendak tusuk bagian dimana panglima nelusup. Baharu keesokan harinya. Kedua serdadu tadi pun sampai lupa untuk menusuk-nusuk terlebih jauh. Dihari kedua pada wkatu sore. Jagati. Musuh itu dikepung tetapi ia dapat meloloskan diri sambil membinasakan beberapa jiwa serdadu Mongol. tetapi di medan perang. mereka tidak lihat suatu apa yang bergerak. tangannya mencekal keras goloknya yang panjang. Ogotai dan putra sulungnya. Oleh karena itu. 75 ―Aku tidak menghendaki kuda tetapi orangnya!‖ ayahnya itu menjawab. lebih dahulu ia kirim putra sulungnya. Juji lantas berhenti mencambuk. tentera Mongolia dikirim ke empat penjuru untuk cari Jebe. sedang dua yang lain menusuk-nusuk ke dalam tumpukan rumput kering itu.Pendekar Pemanah Rajawali Putra sulung itu ayunkan cambuknya ke arah kepalanya Kwee Ceng. hingga ia perlu ditolongi dengan Jelmi panglimanya serta Ogotai putranya yang ketiga. Tapinya ia lantas berteriak : ―Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!‖ Ketika itu sejumlah serdadu sudah geledah rumahnya Kwee ceng. ―Kudanya ada disini. Ia kenal si putra sulung – putra Temuchin itu – ialah Juji yang tabiatnya keras dan kejam. mau ia menangis akan tetapi ia menahan sakit. yang hendak ditawan. Kha Khan – Khan yang terbesar. adalah sehabisnya pertempuran. hai. cepat menyusul. Irawan D Soedradjat Page ―Ya!‖ sahut putra itu. ―Ayah!‖ demikian ia menyambut. setan cilik?!‖ tanya dengan bengis. ia cegah keluarnya air matanya. bersembunyi sambil memasang mata. ia bolang-balingkan itu ke udara. Berat lukanya Temuchin bekas terpanah Jebe. kemudian ia sendiri mengajak putranya yang kedua. Ia lihat penganiayaan itu yang menyebabkan jidatnya Kwee ceng memebri tanda baret merah. Kali ini Kwee Ceng tak dapat tak menangkis. benda apakah itu yang bergerak-gerak?‖ Semua serdadu lantas berpaling mengawasi. Tuli. kau hendak bicara atau tidak?!‖. Kapan Temuchin dengar kabar itu. . dia lolos dari ancaman bahaya maut. pergi menyusul dan mengejar. Satu malam dia gadangi semua panglimanya serta keempat putranya. Lagi sekali ia mencambuk. aku terpaksa mesti keluar untuk adu jiwaku…. setan cilik. Temuchin. Ia memikir: ―Pasti bocah itu tak tahan sakit dan ektakutan. hatinya menjdai memukul keras. ―Ayah. Inilah sebabnya kenapa ia datang belakangan. Ia sendiri pun telah terluka. Tidak ada jalan lain. di hari kedua.‖ Kwee Ceng kesakitan bukan main. sepasukan serdadu berhasil menemukan Jebe. putranya yang ketiga. ―Jangan kau harap dapat mendustai aku!‖ Jebe. tiba-tiba tangannya menunjuk ke tumpukan rumput yang jauh sambil ia berteriak: ―Lihat di sana. kuda hitamnya bangsat itu telah dapat ditemukan!‖ ia memberitahukan. ia coba sebisanya akan menahan sakit. Kali ini ia hunus goloknya. itu panglima berseragam hitam yang sembunyi di dalam tumpukan rumput. ia putar kudanya untuk menyambut ayahnya.

Enam ekor anjingnya Jagati sudah mulai mencium-cium ke tumpukan rumput kering. hingga ia rubuh bergulingan. Hati Juji menjadi sangat dongkol. Ia lemparkan goloknya. Bangsa Mongol paling gemar berburu. Jagatai. gonggongan mereka sangat berisik. habis itu baru semuanya dilepaskan dari rantainya. Jagati menjadi tidak senang.‖ Putra ketiga itu menurut sambil tertawa. Lantas pengiringnya muncul dengan enam ekor anjing yang besar. ―Aku tidak mau bicara! Aku tidak mau bicara!‖ ia berteriak berulang-ulang. Ia sambar Kwee Ceng. Kwee Ceng dengan Jebe tidak saling mengenal. maka sekejap saja terjadilah pertarungan yang sengit sekali. Mukanya Juji menjadi merah. kapan anjing Kwee Ceng dengar panggilan majikannya. anjing pembantu penggembala. banyak lukanya. ―Aku tidak mau bicara!‖ Kwee Ceng ulangi jawabannya. antaranya ada yang berseru kaget. Menyusuli goloknya itu. tak malukah?!‖ Lantas saja Jebe dikurung oleh serdadu Mongol. Mendengar itu. ia lanats digigit di sana sini. Sekarang anjing itu diperintah dibawa mengitari kuda hitam. Dari kopiah perangnya ia pun cabut dua batang bulu merak yang berkilauan. yang ia tarik tubuhnya dengan tangan kiri untuk disingkirkan ke belakangnya. ―Kau bicaralah. muka ramai dengan senyuman. Juji berontak tetapi ia tak dapat lepaskan pelukannya anak itu yang memegang ia dengan keras sekali. ia ayunkan goloknya ke lehernya si Kwee Ceng. Nyaring bentroknya kedua senjata itu. Kapan ia lihat orang melepas anjing. Disaat batang lehernya bocah yang bernyali besar itu bakal menjadi putus. bangkit keangkuhannya dan tidak sudi ia menyerah. terus dengan tertawa dingin. Tapi ia gagah. Jebe lompat keluar dari tempatnya bersembunyi. ia perdengarkan suaranya berulang-ulang menganjuri anjingnya melawan terus. Temuchin berpikir. ―Lepas anjing!‖ ia menitahkan. ia perintah anjingnya maju. Semua orang terkejut. tahu ia akan tugasnya. Sekarang setelah ia dianiaya Juji. Putra kedua dari Temuchin menjadi habis sabar. dia tak mau mundur. ia mendahului menghalang di depan tumpukan rumput kering itu dan melarang enam ekor anjing itu menghampirinya. Ogotai dan Tuli menjadi tertawa bergelak-gelak. Menampak sang kakak kelabakan. ia hampiri Kwee Ceng. begitupun burung elang besar. kapan ia pergi berburu. tetapi ia pensaran dan marah. untuk diberi bercium bau. Juji terperanjat. dia tentu bawa enam ekor anjingnya itu. Kwee Ceng telah mandi darah pada mukanya. akan aku berikan ini padamu…‖ ia kata seraya angsurkan bulu merak itu. Sayang anjing penggembala itu jauh lebih kecil dan ia pun bersendirian. Irawan D Soedradjat Page 76 .Pendekar Pemanah Rajawali ―Kau hendak berbicara atau tidak!‖ ia mengancam. ia ayunkan pula cambuknya berulangkali hingga Kwee Ceng merasakan sakit ke ulu hatinya. tempo ia berguling sampai di kaki si putra sulung. mendadak ia angkat tubuhnya untuk sambar pahanya si Juji yang terus ia gigit. untuk mencegah ia lantas bersiul memanggil anjingnya sendiri. yang bersenjatakan golok dan tombak. hingga dengan lantas ia suka memberikan pertolongannya. kenapa bocah itu mengatakan: ―Tidak mau bicara‖ dan bukannya ―Aku tidak tahu?‖ Maka ia lantas berbisik kepada Ogotai: ―Pergi kau bujuki ia hingga ia suka berbicara. hanya kegagahan panglima berseragam hitam itu sangat mengesankan kepadanya. Hati Kwee Ceng menjadi kecil. Jagatai adalah putra paling gemar berburu. tiba-tiba sebuah golok buntung menyambar. tahu ia panglima itu terancam akan ketahuan tempat persembunyiannya. dia berkata: ―Menghina anak kecil. mengenai tepat goloknya Juji itu. sebab goloknya hampir terlepas dari cekalannya. ia jadi terlebih berani. maka itu setiap keluarga bangsawan atau panglima perang mesti memelihara anjing-anjing peranti berburu. timbul kemarahannya.

ekornya diselipkan ke selangkangannya. Satu anak muda yang bernama Chila‘un tidak takut bahaya. Tiga hari mereka menyusul. ―Hm!‖ ―Kau andalkan ilmumu memanah. Ia girang sekali. mereka berdua pergi mencari bersama. ia lari ke dalam rimba. Borchu. dia berseru dengan keras. Setelah lolos ini. ―Maka sekarang. hingga orang tidak mengetahuinya lagi. Mereka anggap orang ini tidak tahu diri. Borchu itu kosen dan belum pernah ada tandingannya. yang mereka hinakan sesudah mana mereka berniat membunuhnya. ―Baik. delapan ekor kudanya yang putih pun kena orang curi. Pemuda itu ialah Borchu. jangan kasih bocah ini pentang mulut besar!‖ dia berseru. ia menambahkan: ―Sayang aku tak dapat terbinasa di tangannya satu orang gagah perkasa…!‖ ―Apakah kau bilang?‖ tanya Temuchin. ia meninju dada orang. Ketika dahulu Temuchin belum menjadi kepala bangsa Mongol. ―Seorang diri akan aku bunuh kau. Disampingnya Temuchin muncul satu orang. dia mati digerumuti semut!‖ Habis mengucap begitu. Hampir Temuchin kepergok tapi ayahnya Chila‘un pintar. dengan suara mendalam. Sudah itu pada suatu hari. aku akan lebih dahulu binasakan padamu!‖ Tertawa Mongol tertawa riuh. Temuchin berhasil menghajar penjaganya dengan kalung kayunya itu. kalung kayunya dirusaki dan dibakar. Jebe ada punya namanya sendiri tetapi nama itu kalah dengan gelarannya. digeledah juga kereta itu. aku akan mati dengan puas. Ia tanya kalau-kalau pemuda itu lihat pencuri kudanya. ―Sekarang ini burung elang jatuh di tanah. baharu mareka dapat menyandak si pencuri kuda. Jebe berpikir: ―Memang pernah aku dengar Borchu adalah orang kosen bangsa Mongolia. yang tubuhnya besar dan suaranya nyaring. supaya kau puas!‖ katanya nyaring. Jebe awasi orang itu. sengsara hidupnya Temuchin. Sebaliknya ia berseu: ―Lekas bunuh aku!‖ Kemudian. Atas itu Jebe tidak membalas menyerang. pergilah kau bertanding dengan sahabatku ini!‖ ―Jebe‖ itu memang berarti ―Ahli memanah‖. Ketika musuh Taijiut datang mencari dan rumah Chila‘un digeledah. sia-sia bangsa Taijiut mencari dia. ―Nanti aku layani dia!‖ Temuchin lihat orang itu adalah panglimanya. mereka bubarkan rombongan pencuri kuda itu dan berhasil merampas pulang ke delapan kuda yang dicuri itu. setiap orang seperti bermandikan keringat. ia cuma perdengarkan suara dingin. Alasan itu kuat. Ia dinaiki ke atas sebuah kereta besar yang muat bulu kambing. Setelah pesta bubaran. Temuchin Irawan D Soedradjat Page 77 .Pendekar Pemanah Rajawali Juji menjadi sangat gusar. mereka saban-saban mencaci Temuchin. ―Siapa kau?!‖ ia tanya. dia pernah ditawan bangsa Taijiut. Maka kemudian. orang sampai menyebut kau Jebe. musuhnya. Dia berkata: ―Penderitaannya bangsa pria sama saja. kereta itu batal digeledah. terbuka lebar matanya ini panglima.‖ berkata Temuchin. Ia ketemu satu anak muda yang lagi peras susu kuda. ia pergi mencari pencuri kuda itu.‖ Temuchin sambut itu ajakan. Dengan panah mereka yang lihay. mustahil orang dapat sembunyi di dalam bulu kambing‖ Memang hawa ada sangat panas. ―Jikalau aku dibinasakan di medan perang oleh orang yang dapat menangi aku. mari kita ikat persahabatan. pergi kau layani dia!‖ ia menganjurkan.‖ sahut Jebe. semuanya lompat mundur dengan ketakutan. Borchu maju beberapa tindak. sembari minum koumiss. Bangsa Taijiut itu membikin pesta di tepinya sungai Onan. kiranya dia inilah orangnya…‖ Ia tidak menjawab. lehernya dipakaikan kalung kayu. ―Aku Borchu!‖ panglima itu membentak. Ia penasaran. ―Kha Khan. Enam anjingnya Jagatai yang lagi gigiti anjingnya Kwee Ceng menjadi kaget. dia berkata: ―Hari begini panas mengendus. dia tolongi Temuchin. Jebe berkata: ―Kau adalah sahabatnya Khan yang terbesar. Mendengar orang adalah ―sahabatnya‖ Temuchin. Bersama ibu dan adik-adiknya ia mesti hidup dari daging tikus hutan.

Borchu lantas bersiap. lalu ―Ser!‖ maka sebuah anak panah menyambar ke arah Jebe. Binatang itu yang telah berpengalaman. Jebe berkelit dan sambil berkelit tangannya menyambar. Kali ini Jebe kaget. Ia tanya sahabatnya itu menghendaki berapa ekor. Borchu tetap menjadi sahabatnya dengan berbareng menjadi panglimanya. Jebe tidak sempat menangkap pula. Borchu perlihatkan kepandaiannya. ―Dengan sebuah gendewa saja. Ia jepit perut kudanya akan bikin kuda itu lari. Tapi ia panah anak panahnya Borchu. menangkap anak panah itu. kesempatan ini dipakai untuk membalas menyerang. dia tidak berani memandang enteng. Borchu memanah pula. Ketika ia diserang pula. Irawan D Soedradjat Page 78 . dengan enjot diri. untuk papaki anak panah lawan. sekarang kau beri ketika untuk aku adu panah dengannya. sampai Temuchin berhasil mengangkat dirinya. ―Kau kasihkan kudamu pada Jebe!‖ Temuchin berkata pada Ogotai. Cepat sekali ia membalas memanah. ia cenderungkan tubuh ke bawah untuk jemput tiga anak panah yang tergeletak di tanah. tahu akan tugasnya. Temuchin tahu kegagahannya Borchu. ia mendekam akan aksih lewat anak panah itu. lalu dengan sebelah kakinya ia sampok anak panah yang menyambar kepadanya itu. Ia terus memanah. beruntun tiga kali. dia lompat ke atas kudanya Temuchin. setelah itu ia memanah betul-betul. jatuh nancap di tanah. terus ia main berkelit. Borchu menjawab: ―Aku keluarkan tenaga untuk sahabatku. Tapi Borchu tidak berhenti sampai disitu.Pendekar Pemanah Rajawali hendak membalas budi dengan membagi kudanya. Temuchin dan semua orangnya bersorak memuji. sambil berkelit ia memanah pula. Jebe lihat kuda lawan gesit. hingga anak panah itu terpanah dua. Tidak lagi ia mendekam. ia berbareng membalas memanah. lagi dua kali ia memanah dengan saling susul. ia menyambok dengan gendewanya. yang suruh orang serahkan kudanya. seekor juga aku tidak menginginkannya!‖ Sejak itu keduanya bekerjasama. ia pun larikan kudanya ke lain arah. Jebe naik ke bebokong kuda. Kemudian ia larikan kudanya. satu kali. Inilah ia tidak sangka. mengarah perut Borchu. ia hanya bawa tubuhnya turun dari bebokong kuda. untuk duduk pula atas kudanya! ―Bagus!‖ Borchu memuji lawannya itu. aku pun dapat membunuh kau!‖ Tentara Mongol menjadi berisik. hingga anak panah itu jatuh ke tanah. ―Tidak salah!‖ sahut Jebe. ―Binatang ini sangat sombong!‖ seru mereka. hingga bersama Chila‘un ia menjadi empat di antara menteri besar dan berjasa dari Jenghiz Khan (nama Temuchin setelah ia menaklukan bangsa-bangsa yang lain). putranya yang ketiga. habis mana ia angkat tubuhnya. Dilain pihak. ―Itu sama saja dengan aku sendiri yang memanah dia!‖ ―Baik!‖ Borchu menyahuti. tak usah anak panahnya!‖ ―Kau tak pakai anak panah?!‖ tanya Borchu gusar. Jebe lihat anak panah datang. selagi kuda itu lari. Ia pun lompat turun dari kudanya. Mulanya ia cuma mengancam.‖ katanya. kau pakai panahku. Ia tidak cuma menolong diri. tubuhnya meroyot hampir mengenao tanah. ―Sungguh dia beruntung!‖ kata Ogotai. aku bukannya seorang yang tak tahu diri. dia berkata pada Temuchin: ―Aku telah terkurung olehmu. Maka kedua anak panah itu saling bentrok lalu mental. tak dapat aku layani dia cara seimbang. ia berdiri di atas kudanya. Borchu terkejut. ―Kau naik atas kudaku. Borchu tahu Jebe memang lihay. Dengan tangan kiri mencekal gendewa dan tangan kanan memegang naka panah. Jebe berkelit. Ia selamat. ia serahkan panahnya sendiri. kaki kanannya nyangkel pada sanggurdi. ia memanah lagi pula. Aku menghendaki hanya sebuah gendewa. Ia mengincar ke sebelah kanan.

aku harus mendapatkan hukumanku!‖ Ia cabut anak panah di pundaknya.Pendekar Pemanah Rajawali Borchu menjadi berpikir: ―Aku ada punya anak panah. hendak ia memanah lebih jauh. anak panah yang berdarah itu ia pasang di gendewanya.. yang anak panahnya ada batasnya. tiba-tiba ia menjadi terkejut. Ia panah bebokong musuh itu. ―Aku minta Khan yang mulia jangan ganggu itu anak. ―Bukannya untuk ditukar dengan jiwaku!‖ Jebe berseru. ―Aku hendak menukarnya dengan jiwa anak ini!‖ katanya. untuk rampas jiwa orang. dia tidak. hingga ia merasakan sangat sakit. Jebe menunjuk kepada Kwee Ceng. Lantas ia memanah pula beruntun beberapa kali. ia telah gunai habis semua anak panahnya. Jebe kasih kudanya lari berputaran. ―Jikalau kau benar ada punya kepandaian. Maka ia lantas merogoh ke kantung panahnya. Kehilangan senjatanya. ia membalas menyerang. kamu jangan adu panah pula! Biar. anak panahnya justru mengenai batok kepalanya kuda. ia talangi Borchu menyahut: ―Baik! Sudah. Ia khawatir ia nanti dipanah terus. Borchu menjadi girang sekali. Irawan D Soedradjat Page 79 . Kapan ia dengar perkataan Jebe itu. dengan begini mana bisa aku membalaskan sakit hatinya Khan yang terbesar?‖ Ia menjadi bergelisah. satu jiwa tukar dengan satu jiwa!‖ Temuchin kaget dan berkhawatir menampak Borchu kena terpanah. hingga gendewa itu panah menjadi dua potong. rubuhlah binatang itu! Borchu turut rubuh. ia pungut anak panah itu. Kali ini ia kena hajar gendewanya Jebe. hingga akhirnya pundaknya yang kiri kena juga terpanah. dengan saling susul. Tapi Jebe lihay. Jebe hendak mengasih ampun padanya.. ia mendahului membalas menyerang.. ia menjadi girang. kemudian mendapatkan orang tidak terbinasa atau terluka parah. Selagi mata orang banyak seperti di bikin kabur. ia pungut anak panah di tanah. anak panah yang diberikan oleh Temuchin kepadanya. sambil bersembunyi.‖ sepasang alisnya bangkit bangun. ia gunai ketikanya. sekarang kita seri. untuk memberi semangat kepada Borchu. Tentang aku sendiri. ―Apa!‖ Temuchin menegaskan. Tapi anak panah datang demikian cepat. Sebenarnya ia biasa berbekal banyak anak panah. Tentara Mongol bertempik sorak. Hanya aneh. Semua penonton bersorak. dan tepat mengenai. ujung panah tidak menancap. itu cuma menyebabkan Borchu merasa sakit pada bebokongnya. melihat serangan datang. Kudanya Borchu sangat lihay. Jebe lihat serangan berbahaya. terguling ke tanah. ―Siapa menghendaki kamu jual kebaikanmu!‖ teriak Borchu. Jebe pun berkelit tak hentinya. sambil turunkan tubuhnya. Semua penonton kaget. Sementara itu serdadunya Borchu sudah hanturkan beberapa puluh batang anak panah kepala kepala perangnya itu. walaupun sambaran anak panah itu keras sekali. ―Baiklah!‖ kata Borchu. incarannya luar biasa. Tanpa merasa. maka tidak ampun lagi. tanpa tanda dari penunggangnya. mereka menjerit. terus-menerus. jiwanya ditukar dengan jiwamu!‖ ia mengatakannya pada Borchu. Jebe telah lihat tegas musuhnya itu. Anak panah itu tidak ada ujungnya yang tajam! Jebe telah singkirkan itu. Dalam kagetnya ia putar kudanya untuk balik. ia lindungi diri di perut kudanya. anak panah itu jatuh ke tanah! Dengan keheranan. Segera ia ketahui sebabnya ia tidak terluka. ―Mari kita mengadu pula!‖ Ia lantas memanah pula. kau panah mati padaku!‖ Jebe menjawab: ―Biasanya Jebe tidak pernah mengasih ampun pada musuhnya! Panahku barusan berarti. Jadi terang. ia lompat berkelit ke kiri. ―Aku telah panah kepada Khan yang mulia. yang berdiri di depan pintu. kali ini ia pakai kantong panah Temuchin. Tapi ia belum puas.

mengikuti di sebelah belakang. yang sepotong ia berikan kepada Borchu. tak ingin ia mengambil jiwa orang. kau boleh berikan kepada siapa kau suka!‖ Jebe angsurkan emas itu kepada Kwee Ceng. ia menjadi kagum sekali. ―Emas adalah kepunyaanmu. Ia merasa sakit dan kaget. ia ajak putranya ikut Jebe kepada Temuchin. Borchu siapkan pula anak panahnya. tak mau ia menerimanya. hendak aku berikan emas ini kepada itu bocah. Ia lolos dari kematian dan mendapati tuan yang bijaksana. tidak tahu sampai kapan Kwee Ceng dapat membalas dendamnya. akan tuturkan kejadian barusan. ia berkata: ―Kha Khan. ―Habislah aku hari ini…. ia beristirahat. Maka ketika ia memanah. sekarang mendengar perkataan orang. Lie Peng lantas berpikir. Irawan D Soedradjat Page 80 . akan aku tunjang Khan yang maha besar! Aku akan menghajar musuh. Dengan hidup terus sebagai penggembala. Ia menjadi si orang gagah yang menyayangi sesama orang gagah. Jebe menjadi girang sekali. Di dalam pasukan perang. ―Khan yang mulia. Bocah itu menggoyangi kepala. yang sepotongnya pula kepada Jebe. Jebe lihat Temuchin demikian angker. ia lantas perdengarkan nyanyiannya: Khan yang terbesar mengampunkan selembar jiwaku. untuk ambil hatinya! Ke mana aku diperintah pergi. walaupun ia incar tenggorokkan. bolehkah?‖ Temuchin tertawa. kalau ia turut Temuchin. Jebe gagal mengelakkan diri. Tapi ia terus menambahkan. darahnya lantas mengucur dengan keluar. kalau kita membnatu tetamu kita. ―Selanjutnya kau ikutlah aku!‖ Orang Mongol polos dan sangat gemar bernyanyi. ―Kalau emas itu adalah emasku. ia menggeser sedikit. di belakang hari walaupun mesti menyerbu api berkobar-kobar. aku boleh kasihkan itu kepada siapa aku suka!‖ katanya. untuk dibawa bersama. Akan aku memotong Sungai hitam menggempur batu gunung. Ia ambil dua potong emas.‖ katanya. sambil mendekam. Ia percaya. Lantas ia ajak pasukan perangnya balik ke arah darimana tadi ia datang. ―Ibu bilang. ibunya bocah itu.‖ ia mengeluh dalam hatinya. Beberapa serdadu angkat naik bangkai kuda putihnya ke bebokong dua kuda lainnya. tetapi ketika ia menoleh kepada Temuchin. aku rela. berilah ampun kepadanya!‖ Temuchin pun menyayangi Jebe. anak panah lewat menyempret di pinggiran tenggorokkannya. Kwee Ceng pun dapat berlatih ilmu perang. kesana aku pergi! Temuchin menjadi sangat girang. Sambil rebahkan diri di atas rumput. mungkin ketikanya akan lebih baik. demikian Jebe. rasa sukanya menjadi bertambah-tambah. Maka kesudahannya. Temuchin telah sukai bocah ini. maka ia lompat turun dari kudanya untuk terus bertekuk lutut. ―Sebentar kau bawalah bocah ini kepadaku!‖ katanya kepada Jebe. ―Bagus! Bagus!‖ katanya. ―Eh. Temuchin tertawa berbahak-bahak. jangan kita termahai uangnya. Ia tunggu pulangnya Lie Peng. Jebe menghanturkan terima kasih.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia satu laki-laki sejati!‖ Borchu sebaliknya berpikir. apakah kau masih tetap tidak mau menyerah?!‖ ia tanya panglima musuh itu.

dan sepuluh resimen. ia khawatir Temuchin itu menjadi bahaya untuknya di bagian utara. Tatkala itu bangsa Kim telah menduduki Tiongkok Utara. lalu sepuluh komponi. kecuali napasnya kuda. mereka menjadi bersatu. sampai mereka nampak debu mengepul naik. tandanya Juji telah dapat memapak dan menyambut utusan bangsa Kim itu. menyusul mana dari pelbagai tangsi terlihat munculnya orang-orang peperangan. tentara Mongol bersorak. ―Kita telah kalahkan banyak musuh. raja Kim dengar Temuchin jadi semakin kuat. Yangkhia. Ia menempatkan orang gagah itu dibawah Ogotai. atau satu resimen. Belum lagi pasukan perang itu datang dekat. kepala komponi yang memimpin sepuluh serdadu. terdiri dari seratus jiwa dipimpin oleh satu pekhu-thio. Jebe mencari Borchu untuk menghanturkan terima kasih. semua serdadu sudah siap dengan senjata mereka dan naik kuda. senjatanya tombak panjang. karena keduanya saling menghormati dan menghargai. kalau ada titah dari Temuchin. Irawan D Soedradjat Page 81 . Setelah menemui tiga putra Temuchin. atau satu eskadron. Ia telah pikir. Pedang Mustika Girang Temuchin melihat kedatangan Jebe. negeri Kim pun telah tahu itu. Temuchin muncul dari dalam kemah. Lewat beberapa tahun setelah itu. lalu terdengar ramai suara terompet. ia perlakukan itu bocah dan ibunya dengan baik. kemudian lagi sepuluh eskadron. Mereka itu terlatih sempurna. hingga Yung Chi mesti lari pulang ke Chungtu.Pendekar Pemanah Rajawali Bab 8. Ia menduga kepada berita penting yang mesti disampaikan kepada Khan yang terbesar itu. dipimpin oleh satu banhu-thio. Juji si putra pertama maju bersama selaksa serdadunya untuk sambut utusan Kim. setelah Kwee Ceng tambah umurnya akan ia wariskan ilmu panah dan ilmu silat kepadanya. tentara musuh yang dikalahkan sudah menyerbu dan membikin bubarnya pasukan pengiringnya Wanyen Yung Chi. sebaliknya bangsa Mongol adalah suatu suku kecil di tanah datar atau padang pasir. ia dapat lihat mendatanginya dari kejauhan dua penunggang kuda yang larikan binatangnya tunggangannya dengan kencang sekali. lantas saja mereka menjdia sahabat kental. Tidak lama sejak masuknya dua orang itu ke dalam markas. yang berseragam lapis baja. setelah terompet yang pertama. Jebe ingat budinya Kwee Ceng.‖ berkata ini pemimpin besar. Beberapa tahun yang lalu Wanyen Yung Chi telag diutus menganugrahkan pangkat kepada Wang Khan dan Temuchin. maka sekarang dia utus putranya itu dengan dibantu Wanyen Lieh. maka itu Temuchin anggap adalah suatu kehormatan yang ia dianugrahkan pangkat oleh kerajaan Kim itu. Begitu terdengar terompet yang ketiga kali. kebetulan Temuchin lagi berperang. setelah terompet yang kedua. Borchu menyambut dengan baik. dari itu hebat penyerangan mereka. Ia ingin Temuchin dapat dipengaruhi dengan keangkerannya atau dengan cara halus. Kedua saudara itu membawa selaksa serdadu pilihan. hingga tampaknya jadi angker sekali. pengaruhnya tersiar luas dan jauh. dikepalai satu cianhu-thio. atau satu devisi. Dengan satu titah dari ayahnya. tubuh setiap serdadu bergoyang-goyang. sedang empat laksa serdadu lainnya mengatur diri dengan rapi untuk menanti. Yang pertama ialah sepuluh jiwa serdadu menjadi satu barisan kecil. kudanya tinggi dan besar. yang nampak adalah satu angkatan perang besar yang terdiri dari lima pasukan dari setiap sepuluh ribu jiwa. Mereka lihat. putranya yang ketiga yang menjadi satu siphu-thio. Kwee ceng bersama kawan-kawannya berdiri menonton. ―Begitulah negeri Kim itu sudah utus putranya yang ketiga bersama putranya yang keenam datang kemari untuk menganugrahkan pangkat kepada Kha Khan kamu!‖ Dengan angkat tinggi golok mereka. yaitu wanyen Yung Chi dan Wanyen Lieh. kaki kuda mereka berbunyi tak hentinya. Keras disiplin tentaranya Temuchin yang mengatir barisannya dalam empat rombongan. yang ia tahu cerdik. sunyi senyap semuanya. *** Pada suatu hari selagi Kwee Ceng memain timpuk-timpukan batu bersama beberapa kawannya anak-anak Mongol di depan markas Temuchin. tinggal lihat gelagat saja untuk mewujudkan politik itu. putranya yang keenam. merupakan sebagai satu badan. komponi yang dikepalai oleh datu opsir disebut siphu-thio. Dengan diiringi putra-putranya. lebih dulu sudah terdengar suara beradunya pakaian baja mereka. Kwee Ceng dan kawan-kawannya terus tinggal menonton.

pertama ia hendak unjuk keagungannya. Belum pernah ada yang berani menghina dia. setan-setan cilik!‖ Mendengar itu semua orang Mongol berubah air mukanya. itu anak-anak Mongol yang dengan membuka matanya lebar-lebar mengawasi kepadanya tanpa berkedip. yang mana terus ia lemparkan ke arah anak-anak itu. tetapi tombak sudah melayang. terutama terhadap tetapi. Temuchin bersikap tenang. tidak menghargai tuan rumah. sedikit saja ia merasa tidak puas. ia tetap panas hatinya. Yung Chi menjadi penasaran. dengan ketakutan ia mengangkat kaki. maka ia mendelik kepada bocah itu. mereka dapat menghargai diri sendiri. maka sekarang melihat orang Kim itu demikian kurang ajar. ―Shako. Akan tetapi kesudahannya ia menjadi kecewa. dengan itu ia hendak menimpuk kepada bocah she Kwee itu. mereka suka merampas dan memperkosa wanita. ia lantas tertawa dan merogoh ke dalam sakunya. ―Bocah haram jadah!‖ ia mencaci dengan perlahan. perbuatan itu dipandang sebagai kejahatan paling besar. Kwee Ceng bukan orang Mongol. untuk meraup sejumlah uang emas. Kalau tetamu berbuat tidak mengindahkan kehormatan diantara tuan rumah dan tetamu. Dengan berbuat begitu. Ia merogoh pula sakunya untuk mengambil uang emas lainnya. selama berada bersama ibunya. Dimasa itu bangsa Mongol belum kenal mata surat. tombak itu kena terserang tepat sekali dan jatuh bersama anak panah itu. Kwee Ceng ketolongan tetapi ia telah bermandikan keringat dingin. Irawan D Soedradjat Page 82 . Ia lantas rampas sebatang tombak panjang dari satu pengiringnya. menganiaya dan membunuh rakyat jelata. kau cari mampus?‖ Yung Chi membentak. akan tetapi mereka biasa menaati adat istiadat. Yung Chi jeri akan saksikan keangkeran tentara Mongolia itu. Anak-anak Mongol itu juga terdidik menghormati tetamu mereka. tetamunya tentu disambut dan dilayani dengan baik. sering ia dengar ibunya itu bercerita tentang kajahatan bangsa Kim yang di Tiongkok. tidak pernah mereka mengutuk atau mencaci. ia melemparkannya kembali sekalian ia beseru: ―Hayo anak-anak. Bukankah ia telah diperhina di depan orang banyak? Adalah orang Mongol sendiri. shako!‖ Wanyen Lieh mencegah. dari mulut mereka tidak pernah keluar kata-kata kotor. perbuatan Yung Chi ini justru perbuatan yang memandang enteng. kenal atau tidak. dan kedua itulah sebagai pelesiran. dan berteriakan. ―Tahan. mereka sangat menghormati. atau tengah bergurau. Wanyen Yung Chi lihat Kwee Ceng beramai. ia main bunuh orang. meski ia tidak merasakan terlalu sakit. Disaat Kwee Ceng menghadapi saat ajalnya. maka itu semua serdadu Mongol saling memandang satu dengan lainnya. akan tetapi memandang Kwee Ceng. Bangsa Mongol paling mengutamakan menghormati tetamu. bagaimana bangsa Kim itu telah bersekongkol dengan pengkhianat-pengkhianat Han untuk membinasakan Gak Hui dan lainnya. walaupun masih kecil. Ia mendongkol bukan main. ia lari mendekati Yung Chi kepada muka siapa ia menimpuk sambil ia berseru: ―Siapa sudi mengambil emasmu yang bau!‖ Yung Chi berkelit tapi ada juga uang yang mengenai pipinya. demikian menampak perbuatan Yung Chi itu. adat kebiasaan mereka masih ―kasar‖.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Yung Chi datang berendeng bersama adiknya. dari Temuchin sampai pada semua bawahannya pada merasa puas ―Setan cilik. Ia lihat gelagat jelek. mereka tidak memperdulikannya. ia berkata: ―Itulah persenan untuk kalian!‖ Yung Chin tidak tinggi ilmu silatnya akan tetapi uang emas hancur itu dapat ia lempar cukup jauh. ia lantas pungut beberapa potong emas. Sebaliknya tentara Mongol perdengarkan gemuruh seruan memuji penyerangan panah itu. Ia mengharap anak-anak itu nanti berebut memungutinya. Biasanya di Tiongkok. Umpama ada tetamu mendatangi tenda mereka. Sambil tertawa terus. Temuchin bersama putra-putranya ambil tempat di samping untuk menyambut. mereka polos dan pegang derajat. ramai-ramai kamu merebutnya! Hayo rebut. jangan layani dia!‖ Wanyen Lieh berkata kepada kakaknya. ia toh malu bukan main. Sebaliknya pihak tetamu tidak selayaknya berlaku tidak hormat atau memandang enteng. bersama putra-putranya ia sambut kedua tetamu itu dengan menyuguhkan koumiss dan daging kambing dan kuda. tiba-tiba sebatang anak panah menyambar dari pasukan Mongol yang kiri. dan terhadap musuh.

Aku mohon sukalah sam-ongya dan liok-ongya juga menganugerahkan dia sesuatu pangkat. yaitu Jamukha. kalau semuanya diberi pangkat. Sekarang saling mereka minum arak dari satu cawan. ia menyambuti firman dan pelat emas itu. Temuchin terima pengangkatannya sambil berlutut. setipa pagi mereka berlomba bangun pagi. Wang Khan dan Jamukha bekerja sama membantu merampasnya pulang. liok-ongya mungkin belum pernah mendengarnya.‖ ―Kami disini masih ada punya seorang gagah yang lain. Wang Khan itu adalah pemimpin dari pelbagai suku di tanah datar. Lagi sekali mereka mengangkat suadara. angkatan perangnya besar dan kuat. siapa yang menang. Ia adalah saudara angkat dari Yesukai. Khan sendiri serta Wang Khan adalah orang-orang gagah perkasa. diawaktu angkat saudara mereka saling mengasih barang tanda mata. Temuchin baru berumur sebelas tahun. berdua mereka tinggal bersama-sama dengan Wang Khan. Itu waktu Temuchin menikah belum lama dan Juji. Lalu Wang Khan angkat ia jadi anak pungut. Inilah untuk ketiga kalinya mereka angkat saudara. putranya masih belum lahir. Girang Temuchin akan ketahui ayah angkatnya pun dianugerahkan pangkat. Kemudian setelah keduanya dewasa.‖ jawab Wanyen Yung Chi Wanyen Lieh segera menambahkan:‖ Untuk di utara ini. selalu mereka saling menyayangi. mana kami negeri Kim yang besar dapat punyakan demikian banyak pembesar?‖ Wanyen Lieh mengedipkan mata kepada kakaknya. ia diberi minum susu dari gelas kumala dari Wang Khan. Jamukha hadiahkan kepada Temuchin kepala panah yang terbuat dari tulang mata kerbau dan Temuchin sebaliknya menghadiahkan kepala panah yang terbuat dari kau pek. pangkat turun temurun. ayahnya Temuchin.‖ Erat sekali pergaulannya Temuchin dengan Jamukha. Malam itu bangsa Mongol jamu tetamu-tetamunya yang dilayani dengan hormat dan telaten. ―Siapakah dia?‖ ―Dialah adik angkatku. mereka jadi berpencaran. ―Siapakah lagi yang dianugerahkan negara Kim yang besar?‖ ia tanya. ―Kalau begitu tidak apa. Wanyen Yung Chi telah minum hingga separuh mabuk. Kali ini Temuchin dan Jamukha saling menghadiahkan ban emas dan kuda. malam tidur berkerubung sehelai selimut. Temuchin terlunta-lunta dan ia kemudian pergi ke Wang Khan untuk menumpang. Jamukha. Ditahun kedua. Temuchin tidak senang dengan jawaban itu. Ia berasal dari suku Kerait. apakah Ciauwtouwsu suka turut pergi bersama?‖ Temuchin senang dengan ajakan itu. Pie-sek itu adalah biji yang orang Mongol biasa pakai untuk menimpuk kelinci. ia menyatakan suka turut. ―Tidak ada lagi. tanpa pikir ia langsung menjawab: ―Bangsa Mongolia berjumlah banyak. selagi main panah-panahan dengan panah kecil yang terbuat dari kayu. ―Dia jujur dan berbudi tinggi. tetapi anak-anak gunakan itu untuk main timpuk-timpukan. Wanyen Yung Chi berkata. serahkan saja pangkatku kepadanya!‖ ia bilang.‖ jawab Temuchin. tempo istrinya Temuchin dirampas orang. Kemudian tempo istrinya Temuchin dirampas bangsa Merkit. keduanya bermain timpuk-timpukan di sungai Onon. Irawan D Soedradjat Page 83 .Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Yung Chi membacakan firman dengan apa Temuchin diangkat menjadi Pak-kiang Ciauwtouwsu dari negeri Kim. tetapi hubungan mereka masih tetap kekal. musuhnya. Ketika dahulu hari Yesukai mati diracuni musuhnya. Selagi minum. yang airnya telah membeku menjadi es. pangeran keenam kepada Wanyen Lieh. untuk dia selamanya menjadi seperti alingan di utara dari negeri Kim itu. Demikian ingat saudara angkatnya itu. ―Apakah benar?‖ Wanyen Lieh berkata dengan cepat. sang kakak tetapi tidak memperdulikannya. dan Temuchin membalas dengan biji pie-sek yang terbuat dari tembaga. Temuchin timbulkan usul ini.‖ berkata Temuchin. Ketika itu Jamukha memberikan Temuchin biji pie-sek yang terbuat dari tulang binatang. Adalah kebiasaan bangsa Mongolia. tempo mereka angkat saudara. ia dapat rampas pulang istrinya itu adalah dengan bantuan Wang Khan dan adik angkatnya. Maka setelah angkat saudara. Ia membasakan ―liok-ongya‖. ia pun disebut Togrul Khan. dia pandai memimpin angkatan perang.: ―Besok kami hendak pergi menganugrahkan Wang Khan. Maka tidak heran. orang lain tidak ada yang dapat disamakannya. Adalah kemudian karena masing-masing mencari air dan rumput sendiri dan memimpin barisan sendiri-sendiri.

―Kwee Ceng. nanti aku tengok. Temuchin girang sekali dengan jawaban itu. Ia tersenyum. Matahari telah memancarkan cahaya ketika Temuchin telah berada di atas kudanya dan lima ribu serdadunya telah siap dengan rapi. ―Barusan aku membuat anda bersama saudar Kwee di tepi sungai. Pada Mukhali ia tanya: ―Bagaimana pandanganmu terhadap tentara Kim itu?‖ ―Seribu serdau kita dapat lawan lima ribu serdadu mereka!‖ sahut Mukhali. ―Ayah!‖ panggil Tuli kapan ia tiba di depan ayahnya itu. untuk simpangkan soal. Sambil mengatakan demikian.‖ sahut Tuli. mentereng seragam dan alat senjatanya. kau juga turut kami!‖ Tuli dan Kwee Ceng girang sekali. hatinya menjadi tergerak. Orang mesti lagi menanti setangah jam barulah Wanyen Yung Chi dan saudaranya selesai dandan dan keluar dari kemahnya. Irawan D Soedradjat Page 84 . tetapi Tuli sendiri tidak kelihatan orangnya. Mereka ialah Tuli bersama Kwee Ceng. Di hari kedua. ia menajdi tenang. ―Pandanganmu sering cocok dengan pandanganku. ―Kau sendiri. ―Sekarang semua naik kuda!‖ Temuchin lalu memerintah. berulang kali ia kasih dengar suara di hidung. ―Ini!‖ Kwee Ceng mendahulukan menyahut seraya ia tunjuk lehernya. Tapi baru ia hendak putar kudanya. ―Baik.‖ Membuat ―anda‖ itu berarti mengangkat sudara.‖ ia bilang. masih kecil.‖ katanya. ―Kema kau pergi?!‖ tanya Temuchin. kita hanya lima puluh laksa. Tuli itu putra yang keempat. tempo masih sangat muda mereka juga telah mengangkat saudara. akan tetapi dalam hal mendidik anak atau melatih tentara. Semua orang menjadi cemas hatinya. sama-sama mereka naiki kuda mereka. Tuli ulapkan tangannya yang mencekal sepotong handuk merah yang tersulam bunga-bungaan indah. pagi Temuchin berangkat dengan ajak keempat putranya serta lima ribu serdadunya. Tadinya Temchin gentar menyaksikan roman gagah tentara Kim itu. ―Dia biasanya tidak berani bangun sampai siang. ―Dan dia menghadiahkan ini padaku. ialah handuk buatan Lie Peng untuk putranya. ia tampak kudanya Tuli. ia berseru: ―Apakah kau pandang enteng pangkat yang diberikan kerajaan Kim yang besar?!‖ Temuchin tahu diri. kau menghadiahkan apa padanya?‖ ia tanya denagn sabar.‖ berkata Boroul. Wanyen Lieh pun lantas menyelak dengan ia berbicara sambil tertawa. maka itu tak senang ia tidak melihat anaknya itu. di sana kelihatan dua bocah berlari-lari mendatangi sambil berpegangan tangan. ―Mana Tuli?!‖ ia tanya dengan gusar. tentara Kim masih tidur nyenyak di kemahnya. untuk mengantari Wangyen Yung Chi dan Wanyen Lieh pergi menganugrahkan pangkat kepada Wang Khan. Temuchin lihat kalung emas yang biasa dipakai oleh putra itu. Akan tetapi itu waktu. yang khawatir pemimpin itu gusari putranya.‖ Ketika itu ia menoleh. ―Katanya negeri Kim ada punya dua juta serdadu. ia tutup mulutnya. Temuchin segera ingat halnya sendiri bersama Jamukha. Temuchin pakai aturan keras. ―Anda‖ itu kata-kata Mongol. besar-besar kuda tunggangannya.Pendekar Pemanah Rajawali Yung Chi tepuk pahanya. yang menjadi gurunya Tuli. tetapi sekarang menyaksikan doyannya tidur mereka. ―Selanjutnya kamu berdua mesti saling mencintai dan saling menyayangi serta saling membantu!‖ Tuli bersama Kwee Ceng menyahuti menerima pesan itu.

habis mana dengan perlahan-lahan juga ia naik ke atas kudanya. Sangum adalah berkulit putih. Wanyen Yung Chi terkejut. barulah mereka dipapak oleh wakilnya Wang Khan. tetapi ia mencoba mengendalikan diri. apakah hari ini kita mesti lepaskan saja pada mereka?‖ Temuchin melihat sekitarnya. ―Saudara. apabila mereka tidak diberi anugerah. Maka itu.‖ katanya. Mukhali telah kembali dengan laporannya: ―Bangsa Naiman mendengar putra raja kerajaan Kim datang menganugrahkan Khan kami yang terbesar. ―Jumlahnya mereka agaknya lebih banyak dari jumlah kita…‖ kata Yung Chi tidak lancar. menandakan ketangkasannya. ―Kakak. lari balik dengan laporannya bahwa di sebelah depan ada menghalang tentaranya bangsa Naiman yang berjumlah tiga puluh ribu jiwa. ia lantas perintahkan tentaranya lekas siap. ―Pergilah kau tanya mereka!‖ ia perintahkan Mukhali. Hbais itu semua putra Temuchin menemui dan mengasih hormat kepada paman angkatnya itu. Irawan D Soedradjat Page 85 . maka keduanya lantas berpelukan. Pasukan perang itu menuju ke utara. Temuchin tidak beri kesempatan untuk orang bicara lebih banyak.‖ berkata Mukhali kepada Temuchin. Wanyen Yung Chi sebaliknya tunjuki tingkah polahnya satu putra raja.‖ Wanyen Lieh membisiki kakaknya. Dilain pihak. Wanyen Lieh lihat Jamukha bertubuh jangkung kurus. dia tidak mirip dengan seorang yang dibesarkan di gurun pasir. mereka sangat suka mengganggu. ia lantas maju ke depan. mereka hendak tangkap dan tahan kedua putra raja Kim. disusul sama dua kali cambukan ke udara dari cambuknya. ―Hendak apakah mereka itu?‖ dia tanya. sesudah jalan enam hari. Dua saudara Wanyen tidak menyangka mendengar itu dan dan menyaksikan sikap orang. Tentara terdepan dari pihak Mongol sebaliknya telah mundur kepada barisan mereka. Karena hal ini. Mukhali larikan kudanya ke depan. hatinya goncang. atas mana tentara Mongolia menyambut dengan seruan perang mereka berulangkali. akan tetapi sepasang matanya sangat tajam dan berpengaruh. mereka terperanjat. denagn ayal-ayalan ia minum araknya dan dahar kue. kumis kuningnya jarang. ―Adik. tubuhnya gemuk. ―Kelihatannya mereka hendak menyerang. mereka juga menghendaki anugerah itu. Jalan lagi satu hari. Segera terlihat debu mengepul di sebelah depan. Wanyen Lieh sebaliknya segera mengatur pasukan perangnya. Mereka bilang. untuk bersiap sedia. akan temui saudara angkatnya itu.‖ sahut di juru warta. Justru itu dua serdadunya Temuchin yang bertugas jalan dimuka sekali. Sangum bersama Jamukha. Kapan Temuchin dengar Jamukha ada bersama Sangum. lagi kira setengah jam barulah tentara Kim itu siap berangkat. dan musuh segera mulai tampak. Mendengar itu barulah Yung Chi sadar dan manggut-manggut. wajahnya berubah. Dengan membawa sepuluh pengiring. yang mengutus putranya. pasukan ini jadi tertunda keberangkatannya.‖ Wanyen Yung Chi menjadi kaget. tanda dari hidup senang dan dimanjakan. ―Bangsa Naiman itu sering merampas binatang piaraan kita. ia telah lantas dapat memikirkannya. ―Biarlah kedua putra raja Kim yang besar ini melihat sepak terjang kita!‖ Ia pun lantas bersiul nyaring satu kali. Berselang tidak lama. ―Lekas suruh tentara kita maju! Ini orang-orang Mongol tidak ada gunanya!‖ ―Biarlah mereka yang bertempur lebih dulu.‖ Wanyen Yung Chi teriaki saudaranya.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Lieh lihat tentaranya Mongolia demikian rapi. rombongan ini sudah mendekati tempat kediaman Wang Khan.

Jamukha bersama Sangum menyerang dari kiri dan kanan. musuh terbinasa dan luka seribu lebih. Yung berkhawatir pula. karena orang datang semakin dekat. baru ia memegat. Sebagi kesudahan pertempuran. tentara musuh sudah datang dekat beberapa ratus tindak. kau turut aku. keduanya ini lantas lari ke tanah tinggi di samping mereka. Selagi kepala perang Naiman bersangsi. pergi kau serbu bagian belakangnya!‖ Jelmi menerima titah itu. benda tebal itu dipasang di depan mereka dengan diri mereka teraling. barisan belakang Naiman menjadi kalu. ia berkata kepada Tuli: ―Pangeran kecil. jumlah mereka dua ribu lebih dipecah empat yang sebagian diserahkan kepada dua saudara Wanyen. Tentara Kim menurut titah. Sebagai orang baru. ―Taruh kata kamu berterika-teriak hingga langit bergerak bumi bergoyang. Siwaktu itu. Ia mendekam di bebokong kudanya. Temuchin titahkan loloskan seragam tentara Naiman itu. Bersama-sama Kwee Ceng. mereka kepraki kuda mereka untuk menerjang. merka menggunai anak panah. ia ingin membuat jasa. Dalam tempo yang cepat sekali. tentara Mongol tetap tidak bergerak. Kau lihat bagaimana kami nanti menghajar musuh!‖ Tuli mengangguk. maju di paling muka. Jebe dengan tombak panjang di tangan. semuanya jatuh di hadapan mereka itu. mereka lantas menghujani anak panah. Dalam tempo yang pendek. dengan membawa goloknya yang besar. Tentara Mongol membuat tembok bentengan yang terdiri dari semacam permadani. Wanyen Lieh menjadi heran. sambil mengertak gigi. Ia ambil jalan memotong. Itu waktu Boroul berada di samping kiri. Siasatnya ini memberi hasil. mereka lantas menyerang tentara Naiman. Sesudah itu. Musuh menjadi kecil nyalinya. Di pihak Mongolia. anak panahnya tentara Kim ini tidak sampai kepada musuh. untuk kembali ke jalan darimana tadi mereka datang. Jelmi tidak merintangi musuh lari terus. Hampir semua panah mereka yang gagal. masing-masing dipimpin Temuchin sendiri berdua dengan Jamukha. yang sebagian untuk Wang Khan. Karena ini adalah penyerangan dari jauh. cambuknya Temuchin mengalun pula di tengah udara. guna menduduki tempat yang bagus. Kepala perang Naiman rupanya melihat kedudukannya tak selayaknya. Kejadian ini membingungkan pasukan yang berada di sebelah depan. mereka turun dari kuda mereka dan menyerah. penyerangan panah dilanjuti. yang sebaliknya lalu membagi diri dalam dua sayap. tertawan dua ribu lebih. dari tempat yang lebih tinggi. jangan kau ketinggalan. Wanyen Yung Chi dapat lihat wajah tentara Naiman itu sangat bengis. Hanya sementara itu. Temuchin dari tempat yang tinggi menyaksikan penyerangan pihaknya itu. Sekali ini serempak berhentilah seruan-seruan peperangan tentara Mongol itu. musuh lantas lari serabutan. Atas ini. apakah dengan begitu dapat tentara musuh dibikin mundur?‖ berkata Yung Chi. walaupun demikian. ia pergi dengan seribu serdadunya. yang sebagian untuk Irawan D Soedradjat Page 86 . ia telad tentaranya ialah berkoak-koak dengan seruan peperangan. hanya sesudah musuh tinggal kira-kira dua ribu jiwa lebih. tentara mereka mengikuti untuk turut ambil kedudukan bagus itu. mereka tetap berteriak-teriak saja. Jarak di antara kedua pihak masih cukup jauh. lantas ia berikan titahnya: ―Jelmi. suaranya nyaring. ia biarkan mereka dihajar oleh kawan-kawannya. kematian dan luka Cuma seratus lebih. Ia khawatir tentara Naiman nanti keburu mendahulukan menyerbu kepada mareka. yang membuat musuh kacau.Pendekar Pemanah Rajawali Tentara Mongol masih perdengarkan suara mereka yang nyaring tetapi mereka tidak bergeming. ―Lepas panah!‖ ia mengasih titah. Mau tidak mau. ia memimpin untuk mencoba merampas kedudukan itu.

Tidak demikian dengan Wanyen Yung Chi. ―Jikalau aku telah menutup mata nanti. Syukur ketiga anak-anakku telah dapat membinasakan mereka!‖ Lantas dengan hormat sekali. yang tubuhnya gemuk.‖ berkata Wang Khan. Ia menyuguhkan nyanyian dan tari-tarian oleh budak-budak wanitanya. kumis dan jenggotnya telah putih bagaikan perak.. ―Putramu terlebih gagah lagi. Wanyen Lieh awas matanya. ―Hamba dengar bangsa Naiman hendak berbuat kurang ajar. ―Hajar pula padanya!‖ Akan tetapi juru warta Mongol datang dengan wartanya: ―Wang Khan sendiri datang dengan pasukan perangnya!‖ Mendengar itu Temuchin bersama Jamukha dan Sangum lantas pergi menyambut. Wanyen Lieh berpikir apabila ia dapatkan di dalam segala hal Wang Khan ada lebih unggul dari Temuchin. ia menjadi berpikir keras. di depan kuda dua saudara ini. saban-saban ia cegluk arakanya dari cawannya yang besar. guna membalas menghormat. Untuk serdadu-serdadunya yang terbinasa. Dia mengenakan jubah hitam dari kulit binatang tiauw dengan pinggang dilibat ikat pinggang emas. Wanyen Lieh memasang mata kepada Wang Khan. banyak suka lainnya yang takluk padanya. kepada Khan itu. dan tentaranya kuat. ―Kenapa loo-enghiong tidak menyebut-nyebut dia?‖ Sengaja pangeran Kim ini memanggil loo-enghiong. Itu waktu terlihat pula debu mengepul jauh di sebelah depan. Tidak heran kalau Khan ini menjagoi di Utara. itu artinya negaraku tak aman lagi…‖ Oleh karena ini.‖ berkata Wang Khan sambil tertawa seraya menunjuk ke arah Temuchin dan Jamukha. ia menjalankan kehormatan. ―Kalau Temuchin dan Jamukha bisa persatukan pelbagai suku bangsa Mongol itu. Setelah selesai upacara penganugerahan. terus ia tuntun Temuchin dan Jamukha di tangan kiri dan kanannya. Ramai sekali pesta itu. Temuchin dan Jamukha telah kalahkan musuhnya yang lebih besar jumlahnya. pendekar tua. Tengah berpesta. sudah sewajarnya dialah yang nanti menggantikan aku memimpin suku kita. Wanyen Lieh berkata: ―Aku ingin menyaksikan orang-orang gagah perkasa bangsa Mongolia. ―Dengan orang Mongol saling bunuh. Segera Wanyen Lieh turun dari kudanya. yang Cuma rangkap kedua tangannya dari atas kuda. Sangum tidak puas mendengar perkataan ayahnya itu. untuk berjalan kaki menemui dua saudara Wanyen. malam itu Wang Khan jamu tetamunya. ―Dia mana dapat dibandingkan dengan kedua anak angkatku? Irawan D Soedradjat Page 87 .Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha san yang sisanya untuk dirinya sendiri. Wang Khan tiba untuk lantas lompatb turun dari kudanya. Baru sekarang Wanyen Yung Chi sadar atas caranya bangsa Mongol itu berperang. maka kami bangsa Kim di Utara dapat merasai aman sentosa.‖ ia puji putra Khan itu. ia lihat ketidakpuasaan orang. dengan gembira ia rundingkan itu. untuk mengendalikan diri. Ia menginsyafi ancaman bahaya dari pihak ini. Dengan jumlah yang lebih kecil.‖ berkata Wang Khan sambil tertawa. ia memberi keluarganya lima ekor kuda serta empat tawanan Naiman sebagai budak. ―Bagus!‖ berseru Wanyen Yung Chi. Wanyen Lieh sebaliknya gentar hatinya. Nampaknya ia keren sekali.‖ ia berpikir. ―Oleh karena khawatir kedua pangeran kaget maka hamba datang bersama tentaraku ini. Wang Khan undung kedua utusan Kim itu datang ke tendanya.‖ ―Dua anak angkatku ini adalah orang-orang gagah perkasa bangsa Mongol. Itulah tanda dari datangnya lagi satu pasukan perang.

ia bertindak terus seraya angkat kepalanya. Anakku? Ah…. Wanyen Lieh mengawasi. Jebe sudah lantas muncul. ―Istriku dirampas orang. Ia lantas berhati-hati sendirinya. Temuchin lirik putra raja Kim ini. Dengan mata bengis Jebe awasi Sangum. Ia hanya menghirup araknya. Siapakah dia?‖ ―Dia adalah Jebe. Denga perlahan-lahan Temuchin tepuk-tepuk tangannya. untuk itu adalah ayah angkatku dan saudara angkatku yang membantu aku merampas pulang. cara bagaimana kau beri minum dari cawan emasku?!‖ Jebe kaget berbareng murka. Diberikan arak.‖ ―Bagaimana dengan empat panglimamu yang kesohor gagah itu?‖ Wanyen Lieh tanya. segera setelah itu empat perwira masuk ke dalam tenda. Kata-kata orang ada mengandung pancingan atau unsur merenggangkan. mencegah orang minum arak adalah satu penghinaan besar. ―Coba suruh dia masuk kemari untuk minum satu cangkir. Yang pertama adalah satu orang yang romannya lemah lembut. ada satu panglima dengan seragam hitam. yaitu Borchu. Menurut kebiasaan bangsa Mongol. Dialah Chi‘laun yang dulu hari pernah tolongi Temuchin dari ancaman malapetaka.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha pandai dan cerdik. Yang ketiga ada berpotongan kecil dan kate tetapi gesit gerakkannya. Temuchin meluluskan. Dan yang keempat ada seorang yang dengan seluruh lengannya bercacat bekas bacokan golok.‖ ―Suruhlah mereka masuk kemari!‖ Wang Khan berkata pula pada Temuchin.‖ Temuchin menjawab. kasih aku yang minum!‖ Ia ambil cawan itu dari tangannya punggawanya itu.‖ Wanyen Lieh minta. Batal ia minum.‖ katanya kemudian. ia beri titah untuk memanggil Jebe. ia tidak menjawab. ―Syukur Temuchin kirim empat panglimanya untuk membantu aku. dengan begitu semua binatang itu dapat dirampas pulang. ialah sahabatnya Temuchin. Habis orang minum. tiba-tiba Sangum berseru: ―Kau cuma kepala komponi yang rendah pangkatnya. Orang gagah yang mana yang tidak bakal menjual jiwanya untuk Temuchin?‖ ―Apakah sebawahan loo-engjiong tak dapat melawan dia?‖ Wanyen Lieh tanya. terus ia bertindak keluar. Merekalah orang-orang peperangan yang berjasa membangun negara Mongolia yang Temuchin sendiri menyebutnya empat panglima gagah. yang kulitnya putih sekali. den Temuchin gagah tak tertandingkan. ia berkata pula: ―Tadi di medan perang.‖ Wanyen Lieh puji mereka itu satu persatu. dia menerjang musuh bukan main gagahnya. apapula dilakukan di muka orang banyak. ―Mana mereka itu? Aku ingin melihatnya. Wang Khan urut kumisnya. ia lantas mengawasi Temuchin. ia adalah Boroul. ia haturkan secawan arak pada masing-masingnya. ―Apakah kegunaanku?‖ Temuchin lekas berkata. yang mukanya merah bagai darah. pemimpin komponiku yang baru. ia menghanturkan terima kasih. ia lantas tenggak isinya. Ketika ia hendak hirup araknya itu. Irawan D Soedradjat Page 88 . ―Pernah bangsa Naiman rampas beberapa laksa binatang ternakku. Yang kedua ada bertubuh kekar dan sepasang matanya tajam seperti burung elang. ia letaki cangkir araknya dengan separuh dibanting.‖ ―Mari cawan itu! Aku berdahaga. air mukanya Sangum berubah. Dialah Mukhali yang pandai mengatur tentara. biar aku kasih dia ampun. Dengan tangan kosong Temuchin bakal membangun negara. ―Kau kembali!‖ Sangum memanggil dengan membentak.‖ Mendengar itu. Jebe tidak ambil peduli. Maka itu Temuchin berpikir: ―Dengan memandang ayah angkat.

tetapi segera mereka mengerti. isinya ia tuang ke dalam kopiah besi itu. bangsa Mongol telah menumpuk beberapa ratus api unggun. kopiah itu ia sadurkan kepada Jebe. terus ia angkat kopiahnya itu tinggi-tinggi. habis itu. tidaklah itu dapat melawan kopiah besi dari Kha Khan ini!‖ katanya perlahan. ―Inilah kopiahku. terus ia mencegluk beberapa kali. Pekhu-thio itu menjadi sangat bersyukur. Ia angkat poci itu. semuanya lantas bangkit berdiri.Pendekar Pemanah Rajawali Sangum kecele. ―Apa siphu-thio!‖ berkata Temuchin. ―Makhluk apakah itu?‖ Wanyen Yung Chi bertanya. ia berkata: ―Minum arak saja pun kurang gembira. Ia lantas menghirup satu ceglukan. untuk dipakai di kepalanya. ―Mari kita pergi keluar untuk melihatnya. terus ia berkata dengan nyaring: ―Hari ini kita hajar bangsa Naiman hingga mereka dapatkan kekalahan besar.‖ Sangum mengajak. kau hendak mengacau apa lagi!‖ Wang Khan menegur putranya. Jebe tentulah rela!‖ Irawan D Soedradjat Page 89 . Semua punggawa dan serdadu Mongol itu tahu Jebe telah menerima penghinaan. ―Sekarang hendak aku pakai ini sebagai gantinya cawan arak!‖ Ia buka tutp poci arak. ia ulurkan tangannya untuk menyambuti. Di luar tenda. ―Ambil arak!‖ ia menitah. ―Kalau sekarang dia suruh Jebe mati. ―Biarpun cawan emas yang paling berharga di kolong langit ini. dengan begitu kamu semua telah bercape lelah…!‖ Tentara itu berteriak: ―Adalah Wang Khan. sejenak itu juga. maka dengan kegirangan mereka berseru: ―Jebe gagah berani. tentu empat-empatnya mereka dapat dimakan habis dengan sekali telan!‖ ia pun tertawa dingin. mari kita melihat yang lainnya!‖ Ia pun lantas berbangkit dan bertindak keluar. Temuchin lihat wajahnya Jebe merah. akan tetapi menyaksikan sikapnya pemimpin mereka itu. sambil tekuk sebelah kakinya. Temuchin tersenyum. Ia mengerti bawahannya itu penasaran dan gusar. dengan sendirinya. Wanyen Yung Chi hendak melihat keramaian. Ia tahu juga bagaimana mesti perlakukan orang polos demikian. Ia sambuti pulang kopiahnya itu. yang aku pakai untuk membasmi musuh!‖ dia berkata dengan suara nyaring. Temuchin Kha Khan dan Jamukha Khan yang memimpin kita menghajar mereka!‖ ―Hari ini aku telah lihat seseorang yang luar biasa beraninya yang sudah menyerbu ke belakang barisan musuh. tetapi ia kata kepada Temuchin: ―Saudara Temuchin ada punya empat pendekar tetapi asal aku keluarkan satu makhluk. Dia lantas dibawakan satu poci besar. Jelmi menurut dan menyerahkan kopiah itu dengan kedua tangannya.‖ Temuchin berkata pula: ―Beruntun tiga kali dia menyerbu bolak-balik! Siapakah dia?!‖ ―Itulah Siphu-thio Jebe!‖ sahut banyak serdadu. dia pantas menjadi pekhu-thio!‖ ―Ambil kopiah perangku!‖ kata Temuchin kepada Jelmi. kapan mereka tampak Khan mereka muncul. Temuchin menyambuti. ―Dia-lah pekhu-thio!‖ Dengan begitu. mereka tengah berminum. ―Sungguh satu manusia yang luar biasa!‖ pikir Wanyen Lieh. mereka lantas bertempik sorak. orang melengak. Terpaksa orang banyak turut keluar pula. Di terangnya api unggun. ―Kita lagi gembira minum arak di sini. Temuchin telah naiki pangkatnya Jebe menjadi pemimpin eskadron. Untuk sejenak.

yang bulunya belang bertotolan. Jamukha mengerutkan alis. membunuh musuh. cara bagaimana aku bisa biarkan mereka berkelahi sama macan tutul?‖ Sangum tertawa terbahak. Tidak selang lama lantas orang mendengar suara mengaumnya seekor binatang liar. dua pasang matanya bersinar mencorot.‖ kata Sangum kepada Temuchin. ia lants pulang ke tendanya untuk tidur. mereka itu masing-masing mencekal sebatang galah. Sebab mereka itu adalah si pemelihara binatang buas itu. Ia lantas loloskan sebuah cincinnya yang bermata berlian. tetapi macan tutul? bisakah binatang itu memimpin tentara? Bisakah binatang itu mengatur tentara bersembunyi dan mengurung musuh?‖ Temuchin pun segera berkata: ― Saudara Sangum. cincin itu menjadi kepunyaanmu!‖ katanya. Irawan D Soedradjat Page 90 . orang tak dapat memeliharanya. hingga ia dapat menelan keempat pahlawan?‖ dia tanya Sangum. untuk bicara perlahan sekali dengan satu pengiringnya. ―Tidak apa orang tertawakan kami. jalannya ayal-ayalan tetapi sikapnya sangat bengis. ―Empat pahlawanmu adalah orang-orang gagah. ―Kakak. sekarang kau hinakan kami juga. yang dipakai untuk berburu. kita telah membunuh cukup banyak. barulah aku sangat takluk kepadamu!‖ Mendengar ini. tak sudi ia minum arak lebih jauh. Sangum tersenyum. ia pertontonkan ke empat penjuru. Binatang itu dikalungi dengan kalung kulit dan setiap ekornya dituntun dua orang yang tubuhnya besar. ia tapinya diam saja. tetapi kau. di atas itu ia duduk bercokol.‖ katanya. Ia angkat jari tangannya itu.Pendekar Pemanah Rajawali Beda dari saudaranya. ―Khan yang maha besar. ia hanya bertindak lagi. Lenyap kegembiraannya Yung Chi karena gagal menyaksikan pertandingan antara manusia lawan binatang liar itu. Pengiring itu menyahuti. untuk diletaki di tangannya saudara angkat itu. empat pahlawannya itu mengundurkan diri. tak dapat kau hilang muka! Nanti aku lawan macan tutul itu!‖ Wanyen Yung Chi menjadi sangat girang. Ia lantas bertindak maju ke depan. setelah mana kedua macam tutul itu sudah datang sekat api unggun. disusul mana munculnya binatang itu sendiri. ia tertawa besar dan lama. ―Apakah emapt pahlawan saudara angkatnya Temuchin?‖ ia mengulangi. Ia suruh pengiringnya ambil kursi kulit harimau. Sampai di situ. kau menang!‖ Dan ia bertindak menjemputi cincin tadi. Adalah umum orang Mongol memelihara macam tutul. ―Kau ada punya makhluk apa yang demikian hebat. Chi‘laun yang paling keras tabiatnya. terus ia mundurkan diri. Chi‘laun tidak pandang cincin itu. Maka ia berkata: ―Aku menyayangi keempat pahlawanku sebagai jiwaku sendiri. baru hatinya lega. Sangum masuki cincin itu ke jari tangannya. Wanyen Yung Chi justru pikirkan saja kata-katanya Sangum tentang empat pahlawannya Temuchin. Dia berkata: ―Kita menggentarkan padang pasir. yaitu dua ekor macam tutul yang besar. Wanyen Yung Chi kaget hingga ia raba goloknya. ia lempari itu ke tanah. dari itu kalau bukannya pangeran atau bangsawan. Mereka dalam hati kecilnya berkata: ―Sudah kau hinakan Jebe. Mukhali tarik kawannya itu. ―Mana dia empat pahlawan yang menggetarkan padang pasir itu?‖ Mukhali berempat lantas menghampirinya dan memberi hormat sambil menjura. Temuchin juga bersikap tenang dan agung. keempat pahlawan menjadi sangat dongkol. Sangum berpaling. ―Buat apakah mengepul menjadi orang gagah kalau dua ekor macanku saja takut dilawan?‖ Diantara empat pahlawan itu. ―Asal kau menang. Tentaranya Wang Khan lantas saja bersorak-sorai. ―Begitu?‖ ia mengejek. jikalau mereka dapat dengan tangan kosong membinasakan dua ekor macanku ini. Tapi binatang ini sangat kuat makannya. Macam tutul baik tenaga maupun kegalakannya melebihi anjing pemburu. Adakah kami babi hutan atau serigala maka kami hendak diadu sama macan tutulmu?‖ Juga Temuchin menjadi sangat tidak senang.

tanpa terasa mereka bertindak semakin jauh dari tenda mereka. Kelinci itu lari serintasan. Mulainya Sangum dapat satu putri. Boroul adalah gurunya. telah mendahului menyambar binatang itu. ―Sudah bagus aku tidak minta ganti rugi!‖ ―Tidak tahu malu!‖ bentak Tuli. lantas ia roboh dengan sendirinya. apapula putranya itu masih kecil. ―Ayahmu takuti ayahku. ―Kau tidak takuti aku?‖ Tuli melengak. Karena itu. habis bagaimana?!‖ ―Ayahku Temuchin!‖ kata Tuli dengan sama jumbawanya. ―Guruku tak takut harimau. ―Ayahmu adalah hantu cilik yang nyalinya kecil. muncul serombongan anak-anak. apapula segala macan tutul!‖ serunya sengit. dia juga takuti ayahku!‖ Bocah itu adalah Tusaga. hingga Tusaga menjadi kepala besar. kemudian setelah ia mengawasi Tuli berdua.Pendekar Pemanah Rajawali Besok paginya Tuli dan Kwee Ceng dengan bergandengan tangan pergi bermain. kelinci itu akulah yang memanahnya! Kenapa kau bawa lari?!― Bocah itu menoleh. dia tertawa. kau mengadu juga bisa apa?‖ katanya. dengan sangat sebat. ―Apakah kau sangka aku tidak ketahui hal itu? Maka apa artinya kalau aku naru ambil ini kelinci kecil?‖ Memang dahulu hari Wang Khan telah bantu anak angkatnya itu. ―Panah ini toh kepunyaanku!‖ jawab Tuli. Girang Tuli berdua. barulah ia dapatkan putranya ini. Tapi tenaganya Tuli sangat terbatas. satu yang berumur kira-kira sepuluh tahun. putranya ini sangat disayangi dan dimanjakan. Bocah itu yang telah berhenti berlari berdiri sepasang alisnya. ia menghampiri Tuli dan mendorong pundak orang. ―Fui!‖ bocah itu menghina. ―Hanya guruku tidak hendak melayani!‖ Tiba-tiba Tusaga maju dan tangannya melayang ke kuping orang. ―Ayahku tidak takuti siapa juga!‖ ―Ibumu telah orang rampas. ―Siapa yang bilang?!‖ ia tanya dengan bengis. Di antara empat pahlawan. Justru itu dari samping mereka. Tusaga tertawa terbahak. Sebaliknya Tuli tidak tahu suatu apa. Tuli keluarkan panah kecilnya dan memanah. Temuchin telah berpisah lama dengan Wang Khan dan Sangum. dia takuti kakekku. adalah ayahku dan kakekku yang pergi menolongi merampas pulang!‖ sahut Tusaga. Irawan D Soedradjat Page 91 . Sangum ingat baik-baik peristiwa itu dan menceritakan kepada orang lain hingga Tusaga yang masih kecil mendapat tahu juga. mereka lompat maju untuk menubruk. lalu ia tidak punya anak lain lagi. matanya pun melotot. Tepat kelinci itu terpanah perutnya. empat pahlawan dari ayahmu lantas tak berni bergiming!‖ Tuli bertambah gusar. ―Kakekku ialah Wang Khan! Ayahku ialah Sangum! kau tahu tidak?! Taruh kata benar kelinci kaulah kau yang panahm kalau aku hendak ambil. Tuli bersama Kwee Ceng lantas mengejar dengan berteriak-teriak. Tuli gusar sekali. dia cabut anak panahnya dan lalu ia buang ke tanah. yang merupakan rimba. ―Kau berani membantah?!‖ dia membentak. Ia putar tubuhnya untuk berlalu. Tuli gusar sekali yang ayahnya diperhina orang. anak-anak mereka tidak kenal satu sama lain. kau yang memanah?‖ tanyanya. karenanya. ―Siapa yang bilang. ―Kau maki siapa?!‖ tegurnya. ―Kelinci ini adalah piaraanku!‖ dia kata. putra tunggal dari Sangum atau cucunya Wang Khan. dia lari bersama bangkai kelinci itu! Tuli lantas berteriak: „Eh. ―Tadi malam ayahku keluarkan dua macan tutulnya. sebab Temuchin anggap hal itu memalukan dan tidak pernah memberitahukan putranya. Ia tidak sangka orang berani pukul padanya. selang lama. Tiba-tiba ada seekor kelinci putih lari lewat di samping mereka. ―Akan aku beritahu ayahku!‖ katanya. kelinci itu masih dapat lari terus dengan bawa anak panah yang nancap diperutnya itu. ―Terang ini adalah kelinci liar!‖ Bocah itu galak. Meski begitu.

―Kita jangan bikin pasar keburu bubar. Irawan D Soedradjat Page 92 . Mereka ingat masa kecilnya mereka. dari kejauhan ada terdengar kelenengan unta. Han Siauw Eng adalah si nona. mereka itu kembali kena dikurung. Kwee Ceng berontak dan loloskan dirinya seraya lompat bangun juga. lalu ditepi sungai tertampak rombongan pedagang dari gurun pasir. Anak-anak itu pun lantas maju. ―Kejar!‖ Ia ajak kawan-kawannya mengubar. amri kita melanjutkan perjalanan. sebentar saja Kwee Ceng dan Tuli kena dipukul jatuh. Tuli dengan mata bersinar hawa amarah. Mereka semua mengerti bahasa Mongol. tidak ampun lagi dia roboh terjengkang. ia kata nyaring: ―Tidak malukah kamu?! Lekas lepaskan mereka!‖ ―Minggir! Jangan banyak omong disini!‖ bentak Tusaga. siapapun tidak berani lawan padanya. kepalan dan kaki digunakan semua. dia ini berkata: ―Kau menyerah. ia tak dapat bergerak. mereka lantas jadi berkelahi bergumul. yang pun bengal dan gemar berkelahi. Dia maju dan seruduk perutnya Tusaga! Putranya Sangum juga tidak menyangka-nyangka. Kanglam Cit Koay pada tersenyum. ia lompat turun dari kudanya. ia lari. jangan usilan. tertawa apabila ia lihat bocah-bocah itu sedang berkelahi. maka itu. Mereka dengar Toan Thian Tek kabur ke utara. Tusaga menyaksikan kejadian itu. Tusaga murka sekali. ―Bagus! Kamu lagi berkelahi!‖ katanya. Pihaknya kebanyakan terlebih tua usianya. aku kasih ampun!‖ Kwee Ceng berontak. dan merekapun berjumlah lebih banyak orang. Maka itu ia menjadi besar kepala. Tuli tertawa seraya tepuk-tepuk tangan. ―Bagus!‖ dia bersorak. Dalam saat tegang dari bocah-bocah ini.‖ ―Kau lihat sendiri. selama itu tidak pernah mereka dengar halnya si orang she Toan itu. ia tarik dua bocah yang mengerubuti Tuli. Tapi kapan ia telah datang dekat dan lihat dua anak dikepung beramai. mereka menyusul hingga ke gurun pasir. Salah satu diantaranya yang menunggang kuda putih. Tuli pun tak dapat bergeming. kau lihat sendiri!‖ kata orang yang dipanggil shako itu – shako – kakak nomor tiga. Tuli lompat bangun begitu lekas ia merasai tubuhnya enteng. lalu bersama kawannya ia angkat kaki! ―Kejar!‖ teriak Tusaga gusar. Kemudian dengan tarik tangannya Kwee ceng. ia menyempar hingga orang berguling. Untuk enam tahun lamanya mereka mondar-mandir. Justru ia melengek. sekarang ia tidak dapat mengatasi pula dirinya. kau galak sekali!‖ kata penunggang kuda itu.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee ceng panas hati semenjak tadi. lalu ditindihkan. Tubuh Kwee Ceng diduduki Tusaga. ia heran. itu tujuh Manusia Aneh dari Kanglam. dia pun turut menyerbu. dua bocah itu telah babak-belur dan matang biru mukanya. sia-sia saja. ―Dua mengepung satu. ―Lepas tanganmu!‖ Ketika itu telah tiba beberapa yang lainnya. ―Hai anak. dia termanjakan. ―Hayolah jalan!‖ berkata Kwa Tin Ok. ditindih oleh dua lawan. dia merayap bangun. apabila ia telah melihat denagn tegas. tak malukah kamu?!‖ tegurnya. lalu satu nona berkata: ―Shako. ―Hajar lagi padanya!‖ Tusaga memberi komando. Dia adalah putranya satu jago di Utara. ―Menyerah atau tidak?‖Tusaga tanya. Rombongan kalifah itu terdiri antaranya dari Kanglam Cit Koay. Kawan-kawannya Tusaga tidak tinggal diam dan mengejar. menggelengkan kepala. nanti kita tak dapat menanyai orang!‖ Itu waktu Tusaga beramai telah dapat candak Tuli berdua. sembari memukul bebokong orang.

Bersinar berkilau belati itu diantara sinar matahari.‖ ia berpikir. Irawan D Soedradjat Page 93 . maka itu matanya tak pernah salah. ia jadi terperanjat. ―Dia tentu curi itu untuk dibuat main. pasti dapat senjatanya dirampasnya.Pendekar Pemanah Rajawali Tiba-tiba sebuah benda berkelebat di tangannya Kwee Ceng. ―Kenapa belati ini terjatuh ke dalam tangan orang Mongol? Yo Kang? Yo Kang? Tidak pernah aku dengar orang gagah dengan nama ini…. Bukannya tak halal kalau aku ambil barangnya orang bansawan…‖ Dengan timbul keinginannya akan punyai belati itu. Jangan kata baharu Kwee Ceng. dari itu. Menampak orang bersenjata. Tusaga semua tidak berani maju. Yo Kang itu adalah nama yang Khu Cie Kee berikan untuk anak yang masih ada dalam kandungannya Pauw Sek Yok. ―Jieko.Siapa tak gagah tak pantas ia mempunyai belati ini…. ―Bagus!‖ ia segera memuji. ―Tak jelek untungku hari ini. walaupun kangzusi. satu anak kecil. takukah kau siapa Yo Kang?‖ ―Yo Kang? Tak pernah aku dengar nama itu…‖ jawab Tin Ok. Cu Cong lompat turun dari kudanya. ―Toako. ―Hayolah kamu baik-baik bermain…!‖ Ia menyelip di antara bocah-bocah itu. Ia mengharap pisau belati itu. Ia lompat pula untuk naik ke atas kudanya. Biauw Ciu Si-seng Cu Cong. Si Mayat Perunggu dan Si Mayat Besi Untuk sesaat. istrinya Yo Tiat Sim. melemparkan. ia manjadi heran. bagaikan sinar bianglala. Kim Hoat berdiam. yang telah larikan kudanya. ―Benda itu pasti mustika adanya. sambil tertawa berkakakan. hingga semua Kanglam Cit Koay heran dan memuji. Banyak sudah ia mencuri barang-barang berharga kepunyaan pembesar rakus atau hartawan jahat. Jadi mereka mestinya adalah anak-anak bangsawan Mongolia. ini namanya orang Han!‖ katanya. kecuali Kwee Ceng yang dilehernya pun berkalung gelang emas yang indah. untuk sang putra yang simpan. ―Jangan berkelahi. tak dapat kau ubah tabiatmu yang suka mencopet itu!‖ kata Siauw Bie To Thio A Seng. ia susul kawan-kawannya.‖ minta Lauw-sie In Hiap Coan Kim Hoat. Kim Hoat pun merasa memegang benda yang rasanya dingin. Cu Cong ayun tangannya. Kemudian dia bertanya pula pada kakaknya yang tertua. dia dekati semua bocah itu sambil ia tertawa haha-hihi. ―Mustika apakah itu? Mari kasih aku lihat. Tiat Sim dan Siauw Thian telah saling mengasih tanda mata belati yang terukir nama Yo Kang dan Kwee Ceng. ―Perlu aku lihat. jangan berkelahi!‖ katanya. sikapnya gagah sekali. ―Eh. sebagai mustika dapat mengusir pengaruh-pengaruh jahat. senjata peninggalan suaminya itu ia serahkan kepada sang putra. ―Mestinya bocah ini telah curi senjata ayahnya. ia menjadi heran. Semua mereka mengenakan kulit binatang yang mahal. tentu saja Kanglam Cit Koay tidak kenal nama Yo Kang itu. lihat sinar berkelebat berkilau itu. Nyata ia mencekal sebatang pisau belati. ―Siapa berani maju!‖ ia berseru. Ia dapatkan ukiran dua huruf ― Yo kang‖. batu mana terus terbabat kutung. benda apakah itu…‖ Maka itu ia larikan kudanya ke arah anak-anak itu hingga ia menampak Kwee Ceng dengan belati di tangan. lalu tangannya menyambar ke batu di dekatnya.. Lie Peng menyayangi putranya. aku dapat mustika!‖ kata ia.‖ Bab 9. Kenapa sebuah mustika berada di tangan satu bocah? Ia jadi awasi Kwee Ceng begitu pun semua bocah lainnya. Kemudian ia lihat gagangnya pisau.com orang kosen lainnya. atau sekejap saja belati di tangan Kwee Ceng telah pindah ke dalam cekalannya.‖ si setan tangan ulung berpikir pula.

Irawan D Soedradjat Page Tin Ok menggaruk-garuk kepalanya. Ia penasaran. Ia berteriak-teriak menyuruh mereka berhenti berkelahi. Cit Koay lihat orang rada tolol. Kemudian ia menggeleng kepalanya. sedang kakaknya itupun kuat. Ia percaya Ogagati akan suka membantu padanya.‖ Lantas Cit Koay berangkat. mari pulang!‖ Tuli lantas mengajak. Maukah kau?‖ ia tanya lagi. maka ia turun dari kudanya. mereka tak hendak melepaskannya dengan begitu saja. ―Pergilah kau pulang. ―Gampang untuk pulangi padamu!‖ kata Cu Cong sambil tertawa. anak.Pendekar Pemanah Rajawali Coan Kim Hoat sabar dan teliti. ―Lain kali jangan kau berkelahi pula. Tapi kau mesti omong dulu biar terang. cepat. Bukan kepalang girangnya Tin Ok. . ―Ibuku yang berikan padaku. Kwee Ceng menberikan penyahutan yang membenarkan. tanpa bersangsi pula. mengulurkan tangannya pada Cu Cong. ―Eh. ia mendahului berlari kepada kawanan bocah itu yang telah kembali bergumul berkelahi. Ia berkata kemudian: ―Orang yang khu Totiang cari adalah istrinya Yo Tiat Sim. kalau sebentar ia pulang. Lantas ia ingat akan sesuatu. Ia tak punya ayah. Entah Yo Kang ini ada hubungannya sama Yo Tiat Sim atau tidak…‖ Enam tahun sudah tujuh saudara ini merantau di gurun apsir tanpa ada hasilnya.. Tapi ia tuding Tuli dan menantang: ―Dua ekor anjing cilik. Tusaga lihat orang kuat. tetapi ia tidak dipedulikan. sedang Han Siauw Eng keluarkan sapu tangannya. dan kemudian ia langsung tarik beberapa bocah dan balingkan mereka ke pinggiran. Ia sudah lantas memikir. ―Apakah she ayahmu?‖ Cu Cong tanya pula. Kwee menggeleng-gelengkan kepalanya pula. ia dengar panggilan ―Kwee Ceng‖ dari Tuli. Dengan berani ia minta belatinya kembali. mereka menjadi putus asa. dengan siapa ia paling erat hubungannya. apakah kau bernama Kwee Ceng?‖ ia tanya dengan sabar. mereka jadi bersemangat. Kanglam Cit Koay paling menjunjung kehormatan. untuk susuti orang punya darah di hidung. Kwee Ceng menjublak mengawasi orang pergi. 94 ―Ibu ialah ibu….‖ Kwee Ceng menjawab. Kwee ceng dengan muka berlumuran darah. ia berpikir terus. ―Apakah kau she Yo?‖ Coan Kim Hoat kemudian menanya. ia putar kudanya akan kembali kepada si bocah. mereka pegang satu kepercayaan sekalipun terhadap satu bocah. maka itu Cu Cong lantas serahkan belati itu kembali kepada Kwee Ceng. besok kita bertempur pula disini!‖ ―Baik. ―Siapakah nama ibumu?‖ tanya pula. mendadak ia rasai tubuhnya menggetar. ―Kwee Ceng. darimana kau peroleh belati ini?‖ Dengan tangan bajunya Kwee ceng susuti darah yang masih mengalir dari hidungnya. ―Mari kasih pulang!‖ katanya.‖ katanya dengan halus dan ramah. hendak ia meminta bantuan Ogatai.‖ sahutnya. Cit Koay belum jalan jauh. kakaknya yang nomor tiga. ―Marilah kita tanya bocah itu!‖ Siauw Eng mengusulkan. tak dapat ia menjawab. Tin Ok mempunyai kupingnya paling lihay pendengarannya dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Bocah itu melengak. jikalau kau berani. Han Po Kie mempunyai kuda yang paling gesit. ―Mari antar aku kepada ibumu. ia tak berani berkelahi terus. besok kita bertempur pula disini!‖ Tuli terima tantangan itu. sekarang mereka dapati ada titik terang. seraya tangannya mencekal belati orang. akan susul rombongan kalifah yang mereka ikuti.

kaulah ynag tanya dia. yang sudah rangkul Lam Hie Jin. ―Siapakah namanya itu orang yang membunuh ayahmu?!‖ Tin Ok turt tanya.‖ Po Kie memanggil. untuk sambar pundaknya Kwee Ceng.‖ bocah itu menjawab. mereka mendelong. mereka lantas lari. mari kita bicara perlahan-lahan…‖ nona Han berkata dengan suaranya ynag tetap ramah. mari duduk. hingga suaranya sedikit menggetar. Kedua bocah itu heran. di dalam situ ada tiga butir batu itu. untuk ajaki saudarany itu besok membantui ia melawan Tusaga. Po Kie berlompat. Ia hendak cari kakaknya yang ketiga. ia lantas jemput tiga butir batu kecil. Po Kie heran. mereka berdiam mengawasi. supaya apabila ada terjadi sesautu atas dirinya. Irawan D Soedradjat Page 95 . Tuli dan Kwee Ceng mengawasi. maka itu ia telah berikan penjelasan kepada anaknya. Ia tarik tangannya Tuli dan ia putari tubuhnya. Kapan ia membuka kepalan tangannya. ―Adik kecil..!‖ Melihat sikap orang yang luar biasa. ―Orang telah celakai ayahku hingga terbinasa.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ibuku tidak ada disini. Terus ia buka kopiahnya itu.‖ Siauw Eng lompat turun dari kudanya dan ia menghampiri bocah itu. ―Nanti kalau aku sudah besar. Cit Koay girang bukan kepalang. Kwee Ceng jawab: ―Dia bernama Toan Thian Tek!‖ Memang Lie Peng telah memberitahukan kepada anaknya itu she dan namanya Thian Tek. yang tepuk kopiahnya. Ia bernafsu. Cu Cong genggam ketiga batu itu di telapak tangan kanannya. untuk halangi tangan adiknya. Lucunya adalah Thio A Seng.‖ sahut bocah itu. hendak aku cari musuh itu untuk membalaskan sakit hati ayahku!‖ ―Apakah namanya ayahmu itu?‖ Siauw Eng tanya pula. untuk berjalan pergi. jangan semberono!‖ Cu Cong cegah adiknya yang nomor tiga itu. Kemudian dia berkata kepada adiknya paling kecil. hingga Kwee Ceng ingat semua itu. ―Menghilanglah!‖ ia berseru. tunggu dulu. Tuli dan Kwee Ceng berhenti berlari. ―Cit moay. batu itu telah lenyap. Cu Cong lari untuk susul kedua bocah itu. malah roman mukanya dan potongan tubuhnya. ―Shatee. mereka merasa lucu dan heran. ―Eh. ―Mari pulang!‖ mengajak Tuli. sedang Kwa Tin Ok memuji kepada Thian. Sambil kertak gigi. Ia pun telah memberitahukannya berulangkali. Ia pun bergerak.‖ Kwee ceng berkata kepada Han Siauw Eng. ―Nelusup masuk!‖ seru Cu Cong. ia batal membekuk bocah itu. si nona Han sampai berseru. suaranya tetap ramah. ―Mana ayahmu?‖ dia tanya. ―Aku mau pulang. sementara si cebol Han Po Kie jumpalitan si atas kudanya. ―Aku akan main sulap untuk kamu!‖ katanya sembari tertawa. sikapnya manis. eh. Kwee Ceng menggoyang kepala. suaranya dingin. Nyonya Kwee tahu. Tin Ok dengar suara yang tak simpatik. dua bocah itu menjadi takut. jiwanya terancam bayaha sembarang waktu. putranya itu sudah tahu segala sesuatunya. ―Kau tak dapat pergi! Biarkan sahabatmu pulang lebih dulu.

Mereka pun lari untuk pungut burung itu.‖ Kwee Ceng menjawab. dia agaknya tidak tertarik. yang berdiri diam saja. ―Coba kamu ada punya kepandaian. ibu tnetu tidak senang. kau ajarkanlah aku!‖ Cu Cong awasi Kwee Ceng. ―Bukan. bagaimana kau dapat membalas dendam?‖ Kwee Ceng tercengang. ―Habis. itulah tidak ada faedahnya. aku akan minta bantuan kakakku.‖ Tuli menurut. Kemudian air matanya mengalir keluar. ―Bagus! Bagus!‖ Tuli dan Kwee Ceng berseru dengan gembira. kamu tidak usah takut lagi kepada mereka. ia dapat panah burung belibis itu. Aku akan ajari kau sedikit kepandaian.‖ kata ia. dia masih dapat dibunuh musuhnya.‖ ―Besok kita bakal berkelahi pula. ―Ibuku bilang. Itu waktu terdengar suara belibis mendatangi. tidak boleh aku berkelahi.‖ ―Hm. hendak diserahkan pada Kwa Tin Ok. mereka menjadi tertarik. ―Minta bantuan kakakmu?‖ kata Cu Cong. Cu Cong menimpuk dengan tiga butir batunya.‖ Ton Ok kata pula. Kedua matanya Kwee Ceng bersinar. burung itu terpanah batang lehernya dan bersama anak panahnya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Bagus!‖ seru Tuli dan Kwee Ceng. ―Akan aku suruh toako main sulap. ―Hm. aku tanggung besok kamu bakal dapat kalahkan mereka. panahnya Tin Ok sudah meleset. musuhmu itu.‖ Ia terus serahkan gendewa dan anak panah kepada kakaknya.‖ jawab Kwee Ceng lagi. ―Kalau aku belajar kepandaian untuk memukul orang. Tanpa merasa. kenapa tadi kamu berkelahi?‖ Cu Cong tanya lagi. Tuli girang sekali. yang mana ia kasihkan kepada Tuli. Irawan D Soedradjat Page 96 . Ia lantas rogoh keluar sepotong sapu tangan. ―Apakah kau tidak ingin belajar?‖ ia tanya bocah itu.‖ sahut Cu Cong. ―Baik! Nah. ―Ayahmu pandai silat. jitu sekali. bocah bernyali kecil!‖ kata Po Kie perlahan. Mereka sangat kagum. ―Akan aku bunuh dia. sambil menunjuk kepada Kwa Tin Ok. ―Tadi mereka bertujuh atau berdelapan mengerubuti kamu berdua.‖ kata Tuli. ―Aku tidak percaya. membuat burung-burung itu menjadi kaget.‖ berkata Cu Cong. Itu waktu kedua rombongan belibis sudah terbang mendekat.‖ kata Tuli. untuk balaskan dendaman ayahku!‖ sahutnya. Justru karena burung itu berbunyi dan hendak merubah tujuan. habis bagaimana?!‖ ia tanya. ―Mau main petak umpat?‖ tanyanya tertawa.‖ ―Kami berdua dapat kalahkan mereka berdelapan?‖ tegaskan Tuli. ―Tanpa mata. suaranya tetap dingin: ―Kalau kau bertemu dengan sama Toan Thian Tek. ia ikat matanya orang she Kwa itu. datangnya dari utara. ―Kau tidak belajar ilmu kepandaian. Tin Ok campur bicara. yang dapat pikiran baru. ―Ya!‖ Cu Cong beri kepastian. ―Mereka itu yang serang kami duluan. ia kata: ―Kau tutup matanya. yang jadi pemimpinnya berbunyi. lalu tertampak burungnya terbang mendatangi dalam dua rombongan. jatuh ke tanah.

―Mengertikah kau?‖ Nyata Tuli sangat cerdas. Ia manggut-manggut. Bukan kepalang girangnya putra Temuchin itu. Lam San Ciauw-cu memang pendiam. Ia merayap bangun dengan murka. Cukup sudah!‖ Ia lantas berpaling kepada Kwee Ceng. Cu Cong menyambar dengan kepalannya. dia tak berbakatbelajar silat. ―Paling benar kita sambut ibu dan anak ini pulang ke Kanglam. Tuli berkelit ke kiri. kau tidak boleh beritahukan kepada orang lain. kepalan kiri itu segera ditarik pulang. ajari aku pula!‖ seru Tuli. tak sabaran. maka itu asal ia membuka mulut. ―Anak itu baik. Coan Kim Hoat sudah sambar tubuhnya.‖ ia minta. ―Apakah kau pun sudah mengerti?‖ Kwee Ceng lagi menjublak. Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin si Tukang Kayu dari Lam San.‖ kata Cu Cong sambil tertawa.‖ ia bilang. Dalam hal janji pibu. ―Ia bakal gagal…‖ Dalam dialek orang Kanglam. ―Beginilah biasanya sieko!‖ kata Siauw Eng. aku lihat dia tidak punya kekerasan hati. Selama mereka itu berbicara. apa katamu?‖ Tin Ok tegur adiknya yang keempat itu.‖ kata Kim Hoat kemudian. akan tanya. orang dewasa juga nanti tidak gampang-gampang kalahkan kau. Tampa ampun Tuli berguling. ―Apa yang baik?‖ menegaskan Cu Cong. Cit Koay berdamai. ―Kalau kau hendak belajar kepandaian guna menuntut balas untuk ayahmu. untuk mendongko. Kau berani tidak? Apakah kau takut setan?‖ Kwee Ceng masih berdiri menjublak. tak hendak ia mengatakannya lebih sepatah kata!‖ Hie Jin tertawa.‖ Cu Cong tertawa. sietee. ―Susah sekali untuk sieko membuka mulut emasnya. ―Coba ajarakan aku pula. Ia ulurkan tangan kepada kedua bocah itu. ia snediri sangat kegirangan. Cit Koay hilang kegembiraannya melihat Tuli demikian cerdas tapi bocah she Kwee ini begitu tolol. Irawan D Soedradjat Page 97 . ―Sebentar tengah malam kau pergi ke sana untuk cari kami. kakinya mengaggaet. ―Ini dia yang dibilang ilmu kepandaian. kita serahkan mereka kepada Khu Totiang. kita jangan terlalu capekan hati sekarang. Cuma kamu sendiri yang dapat datang. kata-katanya tentu tepat. ―Kau ajarakan aku saja!‖ Tuli bilang. ―Kau ajari aku lagi!‖ Cu Cong mendak. tapi belum sempat ia terbanting ke tanah.‖ sahut Lam Hie Jin. ―Sudah. pergilah kamu!‖ kata Siauw Eng akhirnya. segera ia mengerti. ―Eh. tepat kena hidungnya. tapi Cuma hidung nempel. ―Bagus! bagus!‖ ia berseru. kita menyerah kalah saja…‖ ―Anak ini miskin bakatnya. Siauw Eng sampai menghela napas dan air matanya berlinang. untuk di kasih tetap berdiri . ―Nach. ―Di waktu kecil.‖Kenapa kau serang aku?‖ tegurnya.‖ kata Po Kie. ia menggeleng kepala. Ia girang luar biasa. ―Kalau kau sudah bisa. ―Ya. atas mana Tuli tarik tangan Kwee Ceng untuk diajak pergi.‖ jawab adik keempatnya itu. lalu ia seruduk pinggang orang. Tuli rubuh seketika. ―Sekarang kau pelajari dulu tiga jurus ini. ―Paman. ia memikirkan dahulu.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong menunjuk ke gunung di sebelah kiri. Tapi di sini ia dipapaki tangan kiri si penyerang. aku tolol sekali. untuk mengeluarkan sepatah kata.‖ katanya. ―Baik. Gunung Selatan yang berdiam saja. Tiba-tiba Cu Cong tarik tangannya bocah itu.‖ bilang Cu Cong.

―Hantu tukang geregas manusia…‖ ―Benar. dari jauh-jauh ia mengikuti Kwee Ceng dan Tuli. di situpun kedapatan masing-masing lima jari tangan yang sama. tak ada bayangan Kwee Ceng si bocah itu. tengkorak orang diatur begini…‖ katanya. . yang lima saudara lainnya lantas menghampiri saudara she Coan itu. Irawan D Soedradjat Page 98 ―Disini pun ada tumpukan tengkorak!‖ begitu suaranya Han Siauw Eng di timur utara dan Thi A Seng di barat utara. mereka bagaikan mendapat sinar terang. ―Kenapa toako ketahui itu?‖ Tin Ok perlihatkan roman cemas.‖ Po Kie membenarkan adiknya itu. maka kecuali Kwa Tin Ok. Sekarang mendengar keterangannya itu. Malam itu Cit Koay berkumpul di atas bukit. Ia jadi heran dan bersangsi. ―Apa itu?‖ katanya. kita tunggu sampai nanti malam. sinarnya sampai kepada rumput tabal di mana ada tiga tumpuk benda putih yang nampaknya aneh. yang biasanya sangat tabah. ―Semuanya terdiri dari tiga tumpuk. romannya seperti bekas jari tangan. tiba-tiba Po Kie berseru tertahan: ―Eh. Ia tidak menjawab. ―Baik aku cari tahu dulu tempat tinggalnya.‖ ―Kebanyakan ia tidak berani. ―Tingkat ynag bawah lima. tepat lima jarinya masuk ke dalam semua laing itu.Pendekar Pemanah Rajawali Karena itu juga. Ia tak berani utarakan kesangsiannya ini. ―Benarkah itu terbagi pula dalam tiga tingkat?‖ Tin Ok tanya. ―Kanglam Cit Koay sudah malang melintang seumur hidupnya. teraur sebagai segi tiga. Saudara ini bersangsi. sampai bintang-bintang mulai menggeser. Ia lihat mereka masuk ke dalam tenda. ―Eh…apakah ini? Jieko. maka ia kenali itu sekumpulan tengkorak. Ketika itu sang rembulan yang terang sudah sampai di tengah-tengah langit. Selagi tujuh saudara itu berduka.!‖ dan tangannya pun menunjuk ke depan di mana ada gombolan pohon. mari!‖ Suaranya sangat kedengarannya sangat terkejut. ―Bagaimana itu diatur rapinya?‖ tanya ia. kali ini mereka rubuh di tangannya satu imam…!‖ katanya masgul. ―Mungkinkah disini ada hantu gunung?‖ tanya Siauw Eng. Tiba-tina ia lompat mendekati mereka itu.‖ Coan Kim Hoat kasih keterangan pada kakaknya yang tak dapat melihat itu. Coan Kim Hoat lompat menghampiri benda itu. ―Mustahil benar ada orang membuat liang ini dengan jeriji tangannya?‖ ia kata dalam hatinya. Mereka menanti sampai tengah malam.‖ kata Cu Cong kemudian. Ia pungut dua tengkorak lainnya. ke arah timur utara dan barat utara! Lihat ada apakah di sana!‖ Menampak sikap luar biasa dari saudara tua itu. ―Kita lihat dia berani taua tidak datang seorang diri. Cu Cong dapatkan lima liang di embun-embunan tengkorak itu. yang bertumpuk rapi dalam tiga tumpukan. enam adik angkat itu lekas bekerja. yang sodorkan sebuah tengkorak kepada Cu Cong. Jadi itu bukanlah perkerjaannya satu bocah cilik. toako!‖ seru Kim Hoat heran. ―Entah bocah nakal siapa sudah bermain di sini.. ―Lihat!‖ katanya lagi kemudian. enam saudaranya biasa hargakan pikirannya. yang tiga lagi ke barat utara.‖ Dan ia lompat turun dari kudanya. Ia ulur tangannya. tingkat tengah tiga dan tingkat atas satu buah?‖ ―Eh. dan saban tumpukannya sembilan tengkorak. Cu Cong lantas saja menghela napas. itulah siluman.‖ kata Kim Hoat. Kwa Tin Ok dengar saudara-saudaranya itu berbicara. Hanya segera I berkata: ―Lekas jalan seratus tindak. ―Kalau begitu. yang tiga pergi ke timur utara. ―Tetapi kenapa tengkorak-tengkorak ini diatur begini rapi?‖ Kim Hoat tanya.

―Lambat sedikit atau sudah tidak keburu lagi!‖ Han Po Kie menjadi gusar. mereka toh sudah paham delapan atau sembilan bagian. maka itu kenapa kau anjurkan kita lari menyingkir?‖ Tin Ok goyangi tangannya berulang-ulang. ―Saudara-saudara lekas naik ke kudamu masingmasing. meski begitu. Tin Ok Demikian lihay. lalu dengan lekas pula ia lari balik. ―Apakah kau sangka kita orang-orang yang tidak berbudi?!‖ dia tanya membentak. ―Yang satunya delapan…‖ ―Coba hitung yang sebelah sana. Semua saudaranya sangka. itulah sebabnya perbuatan musuh.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin Ok lari ke arah barat utara itu. kita pasti bukan tandingan mereka. Thio A Seng bertiga terkejut. kamu tidak usah menunggui lebih lama lagi…!‖ ―Toako. Tin Ok lantas lari ke arah timur utara ke Han Siauw Eng. ―Dan setiap tumpukannya terdiri dari sembilan tengkorak?‖ sekali ini Tin Ok menanya perlahan sekali. ―Mataku buta.‖ ia beritahu. Siauw Eng lari ke barat utara. tidak ada yang berani menanyakan. ―Yang satu sembilan. dari itu sekalipun kita bertujuh. ―Apakah tumpukan disini pun tiga?‖ tanya Tin Ok. ―Mereka sekarang lagi menyakinkan ilmu Kiu im Pek-kut Jiauw itu. ―Inilah saat mati hidup kita. kiranya mereka sembuniy disini dan secara diam-diam tengah menyakinkan ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw. cinta mereka bagaikan cintanya saudara-saudara kandung. jangan bersuara keras. mereka akan segera kembali!‖ kata Tin Ok.‖ Tin Ok bilang. ―Benar. dengan lekas.‖ Tin Ok bilang.‖ jawabnya kemudian. ia pun cegah mereka bertiga omong keras-keras. ―Kita sudah minum arak bercampur darah. Tin Ok angkat saudara sama enam orang itu. kakiku pincang. ―Kenapa mereka masih ada di dalam dunia ini?‖ ―Aku juga menyangka mereka sudah mati. Nona Han menghitung. Cu Cong terkejut hingga ia berjingkrak. sambil membungkuk ia menghitung. semua itu adalah hadiah mereka…‖ sahut kakak tertua ini.‖ kata Tin Ok. apakah katamu?‖ tanya Siauw Eng gelisah. lekas!‖ kata Tin Ok mendesak sekali. ―Lekas pergi. sekarang barulah mereka itu ketahui.‖ kata ia. mereka semuanya jadi heran. mereka menantikan penjelasan. mereka dengar perkataan si kakak. ―Yang di sana setiap tumpukannya tujuh tengkorak. ―Siluman atau musuh?‖ tanya Cu Cong. kita sudah bersumpah untuk hidup atau mati bersama. A Seng bertiga lari berkumpul sama kakak mereka itu. Kenapa kita mesti antaran jiwa secara sia-sia?‖ Irawan D Soedradjat Page 99 . ia paling benci orang menyebut-nyebut cacadnya itu. segera kabur ke selatan. ia toh kalah. walaupun mereka belum dapat merampunginya. suaranya perlahan tetapi nadanya tegas.‖ sahut Siauw Eng. sekali-kali jangan kamu kembali! Sesudah kabur seribu lie. Enam saudara itu mengawasi dengan melengak. kembali dengan suara perlahan. ―Merekalah Tong Sie dan Tiat Sie. jikalau sepuluh hari aku tidak datang menyusul kamu. tunggu aku selama sepuluh hari. ―Bukankah Tong Sie dan Tat Sie sudah lama mati?‖ dia tanya. cacadnya itu disebabkan kecelekan semenjak kecil. dari situ bisa diduga betapa lihaynya musuh itu. ―Kalau begitu. ―Mereka berdua lihay luar biasa. lekas pergi!‖ katanya mendesak.

Cuma hendak aku pesan masing-masing jaga lah diri dengan hati-hati dari cengkraman mereka.‖ Tin Ok berkata pula dengan pesannya. batu itu kotor dengan tanah dan ketutupan rumput hijau. Ia omong singkat tetapi kata-katanya sangat tepat yang tak dapat diubah lagi. Sekarang barulah papan batu itu dapat disingkirkan. ―Kalau begitu. coba jalan seratus tindak ke selatan. inilah pertama kalinya ia dapatkan sikap yang tegang sekali dari kakaknya itu. maka itu kau tidak ketahui tentang mereka. Cuma tinggali sedikit liang kecil untuk aku bernapas. ilmu silat mereka lihay sekali. Kamu mesti menunggu sampai aku telah tidak dapat bertahan. Tong Sie dan Tiat Sie itu makhluk macam apa?‖ ―Merekalah yang di dalam dunia kang-ouw kesohor sebagai Hek Hong Siang Sat.‖ Coan Kim Hoat. adik yang nomor enam. ―Di masanya mereka itu malang-melintang di utara. mereka bakal dapat tahu. Semenjak ia kenal kakaknya yang tertua itu. tetapi sekarang ia jeri terhadap dua orang itu. baru kamu keluar untuk mengepung mereka. Setelah seratus tindak. ia tidak lihat peti mati yang disebutukan kakaknya itu. kau masih kecil sekali citmoay. Di situ ada banyak pepohonan dan rumput tebal. Dua orang itu snagat kejam. siapa dengar mereka. marilah kita pergi bersama-sama. karenanya mereka menjadi ragu-ragu. Liok-tee. Dengan menggape. baik di Jalan Hitam. ada kesusahan kita derita bersama juga!‖ katanya. hatinya ciut. maka itu sambil berbisik ia tanya ini kakak nomor dua: ―Jieko. setelah ia diberitahukan adanya kedua mayat itu. lihat benar atau tidak di sana ada sebuah peti mati. Mereka itu segera saja menghampirinya. ia Cuma nampak unjungnya sebuah batu lempangan muncul dari dalam tanah. mereka pencar diri ke empat penjuru untuk sembunyi sambil memasang mata. Di bawah sinar rembulan. Tong Sie itu ialah pria dan Tat Sie itu wanita. untuk bokong pada mereka. ―Sedikit saja ada kelisikan. Lam Hie Jin dan Han Po Kie. Semua saudaranya itu menyahuti dengan janji akan menaati. saki hati ini tak dapat tidak dibalas!‖ Lam Hie Jin segera campur bicara.‖ sahut sang kakak denagn perlahan. Saudara-saudara pergi kau ambil tempat berlindung di empat penjuru. ―Baiklah kalau begitu. Tin Ok menjadi diam dan berpikir. segera lari ke arah selatan. Tentu saja. Tong Sie si Mayat Perunggu dan Tiat Sie si mayat Besi. dia berani lawan. sekali pula Khu Cie Kee yang lihay. ―Maka itu sekarang hendak aku sembunyi di sini. jaga supaya mereka tidak dapat ketahui. Tin Ok tidak setuju.‖ katanya kemudian. mereka berdua itu adalah suami-istri. tanpa cara ini jiwa kita bertujuh bakalan tidak dapat ditolongi lagi!‖ Tin Ok omong dengan perlahan-lahan.‖ berkata ia. mereka lantas bekerja.Pendekar Pemanah Rajawali Enam saudara itu ketahui kakak mereka ini beradat tinggi. belum pernah ia puji kepandaian lain orang. bantui saudaranya untuk mencabut. denagn siapakn masing-masing senjatanya.‖ Kim Hoat mengajak. di bawah batu itu tertampak sebuat peti mati bercorak kotak atau peti batu dan di dalam situ rebah dua mayat. Kwa Tin Ok. Bukan sedikit orang gagah yang roboh di tangan mereka itu. Sadarlah ia bahwa saudara-saudaranya itu sudah berkeputusan bulat.‖ ―Kenapakah mereka itu tak hendak dikepung beramai-ramai?‖ Siauw Eng tanya pula. Dia akhirnya menghela napas. Irawan D Soedradjat Page 100 . Cara membokong ini bukanlah cara yang benar akan tetapi musuh terlalu tangguh dan telangas. Ia tarik batu itu tetapi tidak bergeming. setelah melihat batu itu. ―Musuhku itu bakal lekas datang kemari untuk melatih ilmu silatnya itu. ―Ada rejeki kita mencicipi bersama. mereka mau percaya sang kakak tidaklah tengah berdusta. Thio A Seng. Sekarang tutuplah papan batu ini.‖ Enam saudara itu menurut. Han Siauw Eng adalah orang yang hatinya paling berkhawatir dan paling heran pula. dengan dingin ia berkata: ―Mereka sudah celakai aku seumur hidup. sudah lantas lompat turun ke dalam peti mati yang besar itu. maupun di Jalan Putih. itu waktu jangan kamu main kasihan-kasihan lagi. Perlahan-lahan mereka letaki tutup peti mayat yang istimewa itu. Ia bersembunyi di samping Cu Cong. Sekarang ini tak ada tempo untuk menjelaskan tentang mereka itu. ―Aku cuma minta kalian semua suka berlaku hati-hati. sebagai alatnya ialah kedua mayat ini. ia panggil saudara-saudaranya yeng mengawasi ke arahnya. ―Nusuh itu sangat cerdik dan getap. Kemudian. tapi kata-katanya ditandaskan setiap patah.

ia terus pasang matanya. kita menemui mereka itu. Tidak disangka-sangka sekarang. dia beroman seperti mayat saja. Siauw Eng tancap pedangnya ke tanah. guna cegah sinarnya berkilauan. yang berjalan rapat satu dengan lain. Ynag kedua yang rambutnya panjang dan memain atas tiupan angin.‖ ―Kalau begitu yang wanita. maka beberapa tahun kemudian orang anggap. pada wajahnya itu tak pernah tampak tanda kemurkaan atau tertawa.Pendekar Pemanah Rajawali ―Menurut katanya mendiang guru. Di bawah terangnya sinar rembulan. Enam saudara itu menjadi heran. ―Kiranya jieko waspada sekali. yang satu mirip orang Mongol. Siauw Eng bernyali besar tetapi ia toh menggigil pula. Siauw Eng diam sejenak. Kapan sebentar kemudian tindakan kaki tak menerbitkan suara pula. mereka muncul pula. ―Kenapa toako tak pernah sebut-sebut itu? Mustahilkah…‖ Nona ini berhenti berbicara dengan tiba-tiba. ia tampak seuatu benda hitam lagi bergerak-gerak cepat di atas tanah berpasir. belakangan orang tidak lihat lagi bekas-bekas tapak mereka. setelah orang bubaran. adalah seorang wanita. diulur dan ditarik. di tempat belukar seperti ini. bertahan terhadap serangan itu?‖ tanya mereka di dalam hati. ―Dia berparas muka semu kuning hangus seperti perunggu. ―Yang pria. yang disebut Tong Sie itu. sebab Cu Cong mendekap mulutnya yang kecil mungil itu.‖ sahut kakak keduanya itu. namanya Tiauw Hong. nyata terdengar buku tulang-tulangnya bersuara meretek. di atas bukit itu tertampak dua orang bagai bayangan.‖ Sebentar saja benda itu sudah datang semakin dekat. mestinya berkulit hitam legam?‖ ―Tidak salah! Dia she Bwee. Maka sekarang tampaklah dengan nyata: Itulah dua orang. bernama Tan Hian Hong. disusul sama tangan kirinya menyerang dada si pria. suara itu menyebabkan ketegangan di hati ke enam bersaudara itu. ―Sstt!‖ berbisik sang kakak itu seraya tangannya menunjuk ke bawah bukit. ―Orang-orang gagah dari Selatan dan Utara Sungai Besar pernah tiga kali mengadakan perhimpunan besar di gunung Heng San. Tiat Sie itu. mereka itu telah menemui ajalnya. Irawan D Soedradjat Page 101 .‖ Cu Cong menerangkan pula. degan darah dagingnya manusia.‖ jawab sang kakak. Tiba-tiba si wanita itu angkat tangan kanannya. semuanya bersipa sedia. lalu beruntun tiga tahun mereka mencoba mengepung Hek Hong Siang Sat.‖ ―Apakah nama mereka itu?‖ Siauw Eng masih menanya. ―Tentang ilmu itu belum pernah aku mendengarnya. Heran enam saudara itu. mengikuti jalannya. Lalu ia menyambung lagi.‖ ―Toako menyebut ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw. suaranya semakin keras. ―Sungguh memalukan. Setahu bagaimana. si Mayat Perunggu. Dilihat dari kepalanya. di tara ini. ―Mestinya dia Tong Sie dan Tiat Sie.‖ pikir mereka. mereka itu dapat lolos. Rambutnya pun mengikuti bergerak-gerak juga. karena dosa kejahatannya sudah meluap.‖ pikir Siauw Eng. mereka lantas sembunyikan diri. berdiri diam.‖ ia mengeluh di dalam hatinya. Begitu lihat banyak orang. Cu Cong cekal kipasnya peranti menotok jalan darah. maka itu orang juluki dia Tong Sie. Enam saudara dari Kanglam itu menahan napas. ―Tenaga dalamnya begitu hebat. Siauw Eng segera memasang matanya ke arah tempat ynag ditunjuk itu. ―Sekarang ingin aku saksikan bagaimana mereka melatih diri…. yang memakai kopiah kulit. saban-saban terdengar suara mereteknya. ilmu apakah itu?‖ tanya adiknya lagi. hingga mereka merupakan sebagai satu bayangan yang besar. dari lambat menjadi cepat. ―Dapatkah si pria. Wanita itu gerak-geraki kedua tangannya. pantas toako memuji mereka.‖ Si wanita sudah lantas berjalan mengitari si pria. sambil memberi keterangan padaku. Sekarang terdengar suara pasir disebabkan tindakan kaki.

tangan kirinya menyambar kopiah si pria. wanita itu memeriksa. ―Hanya kalau aku gagal. Tanpa merasa. ia tarik napasnya keluar masuk. tangan kanannya. berbareng dengan pekiknya. Hanya aneh. kepala di bawah. tumpukan tengkorak itu terang adalah korbankorbannya wanita kejam ini. tidak membungkuk tubuhnya. si wanita sudah menyerang pula. si Mayat Besi.Tapi. ia bergemetar sendiri. yang rupanya ditangkap untuk dijadikan bahan atau korabn latihan Kiu Im Pek-kut Jiauw. di Utara ini. walaupun ia tertawa. ia toh berpaling dengan segera. lalau ia membuangnya setiap isi perut itu. habis melatih napasnya. dengan sembilan kali serangannya – Kiu im – wanita ini membikin rusak isi perut pria itu.. Bwee Tiauw Hong bangkit berdiri. dengan lima jari. hendak mereka menerjang berbareng.Pendekar Pemanah Rajawali Selagi begitu. dia tidak tekuk dengkulnya. Hampir Siauw Eng menjerit karena kagetnya. Kalau mereka ada berdua. Tegang hatinya. berlompatan mengitari korbannya itu. Perlahan sekali suara itu. untuk membuktikan sampai di mana hasil latihannya itu. beruntun hingga tujuh kali. dua tangannya dipakai menjambak dada dan perut mayat itu. untuk membokong kita? Toako telah memikir jauh. akibatnya mesti hebat sekali……………‖ Karena ini. untuk angkat tutup peti mati istimewa itu. Tak ayal lagi. dimana hawa udara adalah sangat dingin. lima jarinya berlumuran darah pula. Ia hendak berlompat turun ketika tubuhnya bergerak bangun. . Cengkeraman Tulang Putih. hanya seorang yang lain. dan ia memeriksa itu. sang sistri. Tapat sampai pukulan yang ke sembilan. Maka terang sudah. setiap serangan bertambah cepat. Tiba-tiba saja ia menoleh ke arah Siauw Eng. Ia membungkuk. Bukan kepalang gusarnya Siauw Eng. kalau dikepung bertujuh. Tiat Sie nampaknya puas. Irawan D Soedradjat Page Itulah Ma Ong Sin Han Po Kie yang sembunyi di pohon itu. hingga si nona dapat nampak wajah orang – satu wajah hitam manis. Ia duduk dengan membelakangi Cu Cong dan Siauw Eng. nampak nyata bebokongnya bergerak-gerak. Kalau dia terbunuh lebih dahulu. ia lantas duduk numprah di tanah. tubuhnya tidaj bergeming. mencengkeram ke ubun-ubun si pria. Ia bertubuh kate. ke perut. ia cabut pedangnya. lempang jegar. ia dapat menduga. Biar toako yang mendahului…‖ Habis memeriksa isi perut mayat. kita pasti dapat melawan. habis itu. seperti desairnya angin. Si wanita sebaliknya tertawa besar dan panjang. Di bawah sinar rembulan. baiklah kita taai pesannya. tetapi sekarang. ia tak bersuara. karena ragu-ragu. untuk menarik keluar isi perut orang. ia percaya dengan sembunyi di atas pohon. bertambah hebat. si wanita itu berjinjit. Dia lompat tingginya beberapa kaki. Cu Cong tarik si nona dan menggoyangi tangannya. Seberhentinyatertawa. ia turun di sisi mayat. yang semuanya telah tak utuh lagi. Dengan menghadapi rembulan. siapa tahu Tong Sie bersembunyi di mana? siapa tahu kalau dia muncul mendadak. Disamping heran dan gusar. gampang saja si wanita ini menelanjangi pria itu. si suami. usianya ditaksir kira-kira empatpuluh tahun. Si pria tapinya mirip mayat. orang memakai baju dalam kulit. wanita itu lompat mencelat. ia tidak 102 Tiba-tiba Bwee Tiauw Hong mendengar berkelisiknya daun pohon di sebelah belakangnya. Diwaktu melompat. dibawa ke peti mayat di mana Kwa Tin Ok umpatkan diri. biar dia lihay. jadi lebih gampang untuk melayani Tong Sie. mukanya tidak tersenyum. ia masih tertawa. Saudara yang kedua ini telah berpikir: Tiat Sie bersendirian. dengan rangkap kedua tangannya. wanita itu adalah Tiat Sie Bwee Tiauw Hong. Begitu tutup dibuka. kaki di atas. kapan tangan kanannya di tarik. dengan sendirinya mereka menjadi membenci kekejaman wanita itu. tubuh siapa lalu ia letaki di tanah. Cu Cong pun sama tegangnya sampai ia menahan napasnya. hendak ia menerjang wanita itu. Enam saudara itu bersiap. Sekarang enam saudara itu ketahui. sembilan puluh sembilan persen. ―Kalau sekarang aku tikam dia. ia lompat ke arah pohon itu. untuk melatih tenaga dalamnya. ia dapat lihat seperti bayangannya satu kepala orang di atas pohon. paru-paru dan jantung. aku dapat tublas tembus bebokongnya!2 pikir si nona Han. Sembari mengawasi tangannya itu. untuk merobek membuka pakaiannya pria korbannya itu. enam saudara itu merasa kagum. Tiauw Hong geraki kedua tangannya. tak dapat mereka layani…. ia tak bakal dapat dilihat. si pria bukan Tong Sie. Ia lantas seret mayat korbannya. jumpalitan. Disaat berbahaya itu. Wanita itu berhenti berlompatan dan berputaran sesudah ia berpekik keras dan panjang sambil ia lompat tinggi berjumpalitan dua kali. Nyatalah.

ia papaki cambuk itu. baiklah aku robohkan dulu beberapa diantaranya. Siauw Eng membabat tangan musuh. untuk meleset ke depan. Siauw Eng menjadi terkejut. mengarah kakinya. akan menyingkirkan jauh. seperti juga sebuah kipas besi. Justru is bergirang itu. anginnya pun tiba lebih dahulu. denagn perdengarkan suara membeletak. akan lomcat pula. Tiauw Hong tidak hendak memberi lolos. yang cepat bagaikan angin. ia dapat dipergoki wanita lihay itu yang segera menerjang ke arahnya. Disaat itu.Pendekar Pemanah Rajawali sangka. atas mana. guna mencengkeram daging. ai maju pula. hanya di saat itu. untuk dicekal dan dibarengi ditarik dengan keras! Po Kie merasakan satu tenaga keras menarik ia. Po Kie merasakan angin dingin di pundaknya. dia teruskan sambarannya kepada nona Han itu. Lam Hie Jin dengan Touw-kut-cui. dan Coan Kim Hoat dengan sepasang panah tangannya. Ketika itu. ia menyambar ke mukanya Siauw Eng! Cu Cong melihat ancaman bahaya untuk adiknya itu. Tapi Tiat Sie si Myata Besi benar-benar lihay. untuk terus disambar. hatinya girang sekali. dengan putar ugal-ugalan tangannya. Hanya kali ini. ia lepaskan cambuknya. Dia menjadi kesakitan. Tendangan seperti mengenai papan batu. Maka ia lantas berpikir: ―Mereka banyak. lagi sekali ia enjot tubuhnya. ia roboh hampir pingsan. dengan lihaynya matanya dan jelinya kupingnya. mengepung musuh yang lihay itu. dia lompat mundur satu tindak. di antara suara keras. segera tangannya kaku dan mati. hingga bahna sakitnya. Ia lolos tetapi kegetnya tak kepalang. ia menyambok dengan tangannya yang kiri. Bwee Tiauw Hong main sambar musuh. kipas Cu Cong telah mengenai tepat sasarannya. Han Po Kie sudah jemput cambuknya. Semua penyerang itu tidak dikenalnya dan mereka agaknya lihay. ia terus melawan denagn sepasang tangannya yang berdarah daging! Dengan kuku-kukunya yang seperti gaetan besi. Bwee Tiauw Hong tidak berkelit atau menangkis. Po Kie meninsyafi bahaya. menyambar ke arah musuh itu. hingga kedua senjata rahasia itu jatuh ke tanah. Bor Menembuskan Tulang. untuk menendang bebokong musuh gelapny aitu. Di saat itu. ialah jalan darah kiok-tie-hiat. dia seperti tidak menghiraukan enam rupa senjata musuh itu. menyerang ia dari kanannya. menyambar ke kepalanya! Bukan main kagetnya Manusia Aneh yang kedua ini. yang sangat gesit. sebab sepuluh kukunya telah nancap di dagingnya. sedang di lain pihak. kaki itu terseleo tekukannya. ia enjot tubuhnya. herannya bukan buatan. menendang ke arah perut. untuk merampas senjata. Dengan perlihatkan kegesitannya. untuk membebaskan diri dari sambaran itu. Biasanya. ia juga balik menarik. dia segera mengerti bahwa dia telah berada dalam kepungan.‖ Demikian. tahu-tahu tangan musuh berkelebat. dia angkat kakinya. dia masih bisa menggulingkan diri. Batal menyerang. hingga PO Kie mersakan sakit sekali. enam Manusia Aneh itu menjadi ingat semua tengkorak Irawan D Soedradjat Page 103 . kaget dan gusar. masih dia lompat. hanya dasar jago. Bwee Tiauw Hong menyambar dengan tangannya ynag kiri. aku sendirian. tetapi ia juga bertenaga besar. lima jari tangannya menyambar ke arah bebokong si cebol itu. sedang di kirinya datang serangan golok dari seseorang yang bertubuh jangkung gemuk serta seorang kurus denagn senjatanya yanga neh. sebuah kayu pikulan yang hitam menyambar dia dari samping. Ia mengarah ke lengan. yang sampai ke ulu hati. Menyaksikan itu. Tetapi Tiauw Hong. sudah lompat hingga di depannya dan sambil menaya: ―Kau siapa?! Perlu apa kau datang kemari?!‖ sepasang tangannya sudah mampir di pundak orang. sebaliknya. Satu mahasiswa yang memegang kipas totokan dan satu nona yang bersenjatakan pedang. ―Mungkin ia tidak mempunyai jalan darah?‖ pikirnya. ia menjadi heran dan gentar pula. cepat-cepat ia melompat mundur. maka juga pedang dan golok semua seperti merabu Bwee Tiauw Hong. tangan kanannya telah merobek baju Po Kie di bagian bebokongnya! Po Kie menekan tanah denagn kaki kiri. Tanpa sangsi ia kerahkan tenaganya. ai lompat melesat. Hebat kesudahan tendangan ini. atau lebih benar mengikuti cambuk Naga Emas. Tiauw Hong ketahui itu. malah aneh juga. Tiauw Hong snagat lihay. sementara penyerang dengan kayu pikulan itu adalah seorang desa. Cu Cong tahu ia telah dapat menghajar sasarannya. Bwee Tiauw Hong dengan berani berbalik menyambar pedang. Dia agaknya tidak takuti senjata tajam itu. Akan tetapi si Mayat Besi tak jeri. dan gesit sekali. di bawah pohon. ia menyerang jalan darah kiok-tie-hiat dari musuh lihay itu. Mengikuti tarikan orang. sebab ia tidak pedulikan totokan itu. Dengan satu gerakan ―Pek louw heng kang‖ atau ― Embun putih melintangi sungai‖. siapa terkena totokan itu. dengan satu kali meleset. terus ia lompat berjumpalitan. akan sambut wnaita itu dengan cambuknya Kim-liong-pian. dengan bekersama dengan kelima saudaranya.

mereka menyerang dengan berbareng guna menolongi saudara mereka itu. Ia menjadi bersangsi. Coba Tong Sie si Mayat Perunggu muncul. sepotong dagingnya pun kena tercukil dan dia berdarah-darah. sedang seharusnya dia mesti patah atau remuk tulang-tulangnya. ―Dari mana munculnya segala orang hutan yang hendak mencurangi nyonya besarmu!‖ kata Tiauw Hong dengan ejekannya. yang sudah lantas lari ke peti mati. Hebat Bwee Tiauw Hong. Bwee Tiauw Hong dapat menerka maksud orang. melihat mana. semua senjata lainnya. ia heran. selagi begitu Cu Cong bersama Thio A Seng dan Han Po Kie. Karena ini ia berlompatan. berani Tiat Sie sambut dengan tubuhnya yang tangguh itu. . supaya kawan itu segera turun tangan. ia dapat menyambar kayu pikulan dari Lam Hie Jin. sudah ada tiga yang kena tangan lihay si Mayat Besi. ia mesti mempunyai suatu anggota kelemahannya.Pendekar Pemanah Rajawali yang berliangkan bkeas jari tangan itu. mereka lantas berkelahi sambil mundur. Syukur ia keburu membela dirinya. kedua matanya mengawasi ke langit. Tinggal Lam Hie Jin yang masih dapat bertahan demikian juga dengan Lam Siauw Eng – Hie Jin karena tenaga dalamnya sempurna. Ia menggunai tangan kirinya. jidat mereka bermandikan peluh. tetapi tiba-tiba juga. Ia sudah menontok belasan kali. Cu Cong jadi berpikir. Lam Hie Jin bersama Coan Kim Boat dan Han Siauw Eng mencoba merintangi musuh ini. Itulah teriakan dan tanda untuk kawannya yang sembunyi di dalam peti mati. tidak juga ada hasilnya. untuk lari ke arah peti mati. ia jadi ingat sesuatu. untuk angkat papan batu tutup dari peti mati itu. dan Tiat-pou-san – Baju Besi. celakalah ia. 104 Disaat itu. memandang ke atas. hingga ia menjadi berpikir keras. Dipihaknya. di tenggorokan jalan darah hoan-kiat. tidakkah mereka bertujuh saudara bakal roboh semuanya? Thio A Seng. semua anggota tubuhnya telah terlatih sempurna!‖ Dan tangannya menyambar lengan si mahasiswa itu! Cu Cong terkejut. Lagi sesaat. Coan Kim Hoat berlaku rada ayal. Mereka menggesernya ke samping. ia mendahului menotok telapak tangan orang. sudah lanats kerahkan tenaga mereka. siapa punya ilmu kedot. Manusia Aneh ynag kedua itu menyingkir beberapa tindak. ia sambar sepasang mata lawannya itu. di mana Kwa Tin Ok lagi sembunyikan diri. Di sana terpeta tapak lima jari tangan. Segera ia melompat. pada nyonya besarmu tidak ada bagiannya yang lemah. Han Po Kie dan Coan Kim Hoat sudah lantas mulai tersengal-sengal napasnya. Merka juga mendapatkan tubuh orang seperti besi kuatnya Dua kali bandulan timbangan Coan Kim Hoat mengenai bebokongnya Tiat Sie dan satu kali kayu pikulannya Kanglam Liok Koay menyambar paha. Ia tahu betul. dengan tangan kirinya. menyerang sambil mencari-cari. justru itu Cu Cong bebaskan diri. Lima Manusia aneh lainnya kaget. dua macam ilmu kedot. baiknya ia gesit dan cerdik. tak tunggu tibanya cengkeraman. ia berteriak: ―Semua lekas menyingkir!‖ Lima saudara itu mengerti teriakan itu. kalau tidak. teranglah orang telah punyakan pelajaran Kim-ciongtiauw – Kurungan Loncang Emas. Kecuali golok lancipnya dari Thio A Seng dan pedang tajam dari Han Siauw Eng. Cu Cong berteriak keras: ―Lekas turun menyerang!‖ Dengan tangan kanan ia menunjuk ke atas. Tapi si Mayat Besi sudah berhasil. sedang di perut jalan darah cee-cun dan di bebokong jalan darah bwee-liong. Siauw Eng lantaran kegesitan tubuhnya. untuk lihat lengannya. yang diangkat tinggi. Satu kali Cu Cong kebetulan menoleh ke arah tumpukan tengkorak. ia menggapai-gapai. tak saja bajunya Kim Hoat robek. Tiba-tiba ia bergidik. tetapi Bwee Tiauw Hong agaknya tidak terluka. sembari berlari. dengan sendirinya hati mereka menjadi gentar. tanpa merasa ia angkat kepalanya. ia tak tampak manusia seorang juga. ia menjadi terkesiap hatinya. ketahui olehmu. tidak ampun lagi bahu kirinya kena dicengkeram Bwee Tiauw Hong. demikian pun jalan darah lainnya. Ia melainkan hanya lihat rembulan. Dipihak sana. ia dapat lihat cahaya putih dari tengkoraktengkorak itu. Karena ini. ―Sekarang sudah terlambat untuk kamu melarikan diri…!‖ segera ia merangsak. Di batok kepala ia totok jalan darah pek-hoay. Tiauw Hong malah bertambah gagah nampaknya. ia menduga-duga dimana kelemahan musuh lihay itu. Irawan D Soedradjat Page Bwee Tiauw Hong heran. maka itu dengan tangan kanannya. Tiauw Hong kena cekal barang keras. Dia berseru: ―Siucay rudin.

Empat yang lain. Bwee Tiauw Hong tubruk sasaran kosong. ―Celaka. Bwee Tiauw Hong melengak dan lalu tertawa panjang. maka itu sekarang ia berkelahi secara kalap. bocah kiranya kau belum mampus?‖ tanya dia. masihkah ia mempunyakan nyawanya? Gagal serangan itu. Bwee Tiauw Hong telah kehilangan penglihatan kedua matanya. ―Lekas kasih tahu! Kalau nyonya besarmu mati. ia bersilat ke empat penjuru. ia jadi terperanjat sendirinya. suaminya…‖ kata Cu Cong dalam hatinya. akan tetapi Tin Ok telah segara berkelit ke samping. karenanya tubuhnya maju terus. Kwa Tin Ok di dalam peti mati telah siap sedia. Ia menepuk keras. ―Apakah kau masih ingat Hui-thian Sin Liong Kwa Pek Shia atau Hui-thian Pian-hok Kwa Tin Ok?‖ demikian tanyanya. dengan menukikkan tongkat besinya ke tanah. sasarannya adalah tiga bagian atas. Bwee Tiauw Hong sendiri sudah lantas perdengarkan jeritan hebat dan menggiriskan. Tujuh saudara itu mengawasi. suaranya tajam dan terdengar jauh. Belum habis peringatan kedua saudara itu. mereka berdiam tetapi siap sedia. senjata rahasianya Tin Ok itu. empat-empatnya jatuh menggeletak di tanah. Nyata kedua matanya telah menjadi korbannya tok-leng. Irawan D Soedradjat Page 105 . dari jauh-jauh. batang pohon besar itu tercengkeram sepuluh jarinya. bagus!‖ Tiauw Hong menghela napas. ia sudah lantas bekerja sama dengan enam saudaranya itu. menampak mana. Ia ingin si Mayat Besi mati sendirinya karena bekerjanya racun senjata rahasia itu. Dalam murkanya. Untuk sesaat mereka tidak menyerang pula. ―Hai. Tin Ok sudah merasakan sambaran angin ke arah dadanya. enam Manusia Aneh itu bergidik sendirinya. Ia rupanya menginsyafi yang ia telah terkena senjata rahasia yang ada racunnya. ―Kau juga belum mampus. ―Jadinya kau datang untuk menuntut balas untuk Hui-thian Sin Liong?‖ ―Tidak salah!‖ jawab Tin Ok. untuk kakak itu jangan membuka suara. hati mereka menggetar. Tiauw Hong merasa matanya keras. ia turut lompat keluar dari dalam peti mati. tanpa hiraukan sakitnya itu. ia akan mati dengan puas!‖ Cu Cong menggoyangi tangan kepada kakak tertuanya. Bwee Tiauw Hong berpekik keras. tubuhnya lalu meleset naik ke atas pohon. Lalu ia meneruskan dengan seruannya:‖ Lekas bereskan dia!‖ Ia pun mendahulukan. mana dapat ia melihat tandanya itu? Benar saja. ia berdiam. Selang sekian lama. ―Kamu siapa?!‖ ia berteriak dengan pertanyaannya. dari itu. dengan kerahkan tenaga di tangannya. ia menggempur terus dengan kedua tangannya kepada Kwa Tin Ok. Pun. ia serang bebokongnya si Mayat Besi. yang mengenai dada dan paha. Baharu dua kali ia menggoyangkan tangannya. ―Toako awas!‖ sekonyong-konyong Cu Cong dan Coan Kim Hoat berseru. Tin Ok sudah perdengarkan suaranya yang dingin itu. Ketika itu angin dingin meniup membuat orang mengkirik. Cu Cong tidak buka suara. batu telah kena terhajar hancur. Kakak itu buta. kedua tangannya menyambar berulang-ulang. dengan begitu enam buah senjata rahasianya sudah lantas menyerang ke tempat tujuh tindak. papan batu itu terpatah menjadi dua tanpa ampun lagi! Kanglam Cit Koay menyaksikan itu. dia lagi memanggil Tong Sie. segera kedua tangannya diayunkan.Pendekar Pemanah Rajawali ― DI depan tujuh tindak!‖ Cu Cong teriak pula. tidak memberi hasil. Tiauw Hong terus menendang papan batu yang menghalangi di depannya. mereka menyaksikan lebih jauh bagaimana Mayat Besi menyambar pepohonan dan batu yang melintang di depannya. ia membuatnya pohon-pohon rubuh dan batu hancur tertendang. tengah dan bawah. Bwee Tiauw Hong merasakan sangat sakit dan juga menjadi sangat gusar. Maka itu. merangkul pohon besar di belakang Tin Ok tadi. Dengan menerbitkan suara keras. Coba Tin Ok yang terkena rangkul. sambil berseru keras. dengan tangannya ia memberi tanda kepada saudara-saudaranya menjauhkan diri dari orang kalap itu.

Bab 10. lalu berdua mereka lompat ke gombolan rumput. terus ia memutar tubuh. ada satu bayangan lain. dari situ ia menyerang dengan pedangnya ke iga kiri si Mayat Perunggu. Siauw Mie To Thio A Seng telah menaruh hati kepada Han Siauw Eng sejak beberapa tahun. Han Siauw Eng lompat ke samping. yang terlebih nyaring lagi. dengan melupakan bahaya. tetapi ia gagal. guna mencegah racun di matanya dapat menjalar. Segera menyusul serangannya yang kedua. Ia khawatirkan keselamatannya bocah itu. Ia percaya Tong Sie terlebih lihay daripada Tiat Sie. Ia dapat berlari dengan cepat luar biasa. Pekikan itu membuat hati orang terkesiap. guna lari balik. Karena tubuhnya kecil. mendaki bukit. dari itu.tapi mana dapat aku tidak menolong bocah itu?‖ Maka terpaksa ia cepatkan tindakannya. Cu Cong tidak berhenti sampai di situ. Dengan beruntun ia mainkan Irawan D Soedradjat Page 106 . untuk suaminya itu tolongi dia sambil membasmi musuh…. akan tetapi kupingnya terang. bayangan itu masih berpekik-pekik. untuk memapaki. ia berdiri diam dengan sikapnya yang siap sedia. ia lihat si nona. untuk menolongi Siauw Eng dan A Seng. ia pun belum pernah menyakinkan ilmu mendengar suara seprti Kwa Tin Ok. untuk memberi tahu supaya. ―Inilah hebat…‖ pikir Siauw Eng. guna menyambut bocah itu. sekarang ia lihat si nona Han terancam bahaya. ia tergempur di bagian dalam. Ia dapat menghindar dari batu tetepi tidak serangannya Cu Cong. berbareng dengan itu. Rupanya Tiauw Hong telah dapat menduga. Ia lantas lari turun ke arah orang orang bertubuh kecil dan kate itu. ia mendahulukan menyambar. di belakangnya dia tangan maut lagi menghampiri. Tiba-tiba ia rasai tangannya enteng. habis menolongi orang. Ia tanmpak sekarang. tanda bahwa orang yang memperdengarkan itu telah datang lebih dekat. mereka bersedia dengan senjata rahasia masing-masing. niatnya mendahului nona itu. ia dengar angin itu. lalu menyusul pekik yang kedua. Ketika itu Bwee Tiauw Hong sudah tidak mengamuk seorang diri lagi. ia segera berkelit ke samping. Tidak peduli ia kebal tetapi serangan Biauw Ciu Sieseng hebat bukan main. Kali ini ia gagal. si nona terus menyingkir. Dengan kegesitannya. demikian bayangan yang mengejar itu. di depan bayangan yang berpekikan tak hentinya itu. Sembari mendatangi. Siauw Eng lompat ke samping. untuk memandang ke bawah bukit. bayangan ini tadi tidak kelihatan. ia lari turun. Kwee Ceng pun menjerit kaget! Bocah itu telah dirampas Tan Hian Hong. Setelah hasilnya yang pertama ini. Tiat Sie buta sekarang. ia kaget dan berkhawatir. Hampir berbareng dengan itu. terpaksa ia berteriak: ―Bocah. ia terpaksa menggunai akal ini. yang kecil dan kate. ―Hebat larinya orang itu!‖ kata beberapa diantaranya. ia sambar bocah itu. lekas lari!‖ Kwee Ceng dengar suara itu. Cu Cong segera geraki tangannya ke arah Coan Kim Hoat. napasnya diempos. maka ia susuli dengan tikaman ke arah mata. tanpa bilang suatu apa. Kanglam Cit Koay terkejut. ia menjadi kegirangan hingga ie berseru. Ia berkhawatir berbareng girang. Tong Sie si Mayat Perunggu pun telah mendatangi semakin dekat kepada Kwee ceng. Ia tampak satu bayangan hitam lari mendatangi dengan cepat sekali. Ia menjadi kaget apabila ia merasakan bebokongnya sakit sampai jauh di ulu hatinya. tentu saja Manusia Aneh yang kedua ini tidak sudi menjadi korban. Itu waktu Siauw Eng telah kasih dengar suara kaget. Malam Yang Hebat Cu Cong ambil sikapnya ini untuk bersedia membokong musuh. Segera juga Siauw Eng sampai kepada Kwee Ceng. sampai sebegitu jauh belum pernah ia berani mengutarakan rasa hatinya itu. lekas lari. maka itu. ia tidak tahu. ia malah mesti lompat menyingkir. Selagi dua orang ini mendatangi dekat satu dengan lain. sebab ia segera menduga kepada Kwee Ceng. ia girang yang orang telah menepati janji. sambaran angin papan batu itu pun keras.Pendekar Pemanah Rajawali Thio A Seng menyerang dengan salah satu potong papan batu yang tdai ditendang patah Bwee Tiauw Hong. ―Aku bukan tandingannya Tong Sie…. Dengan sikapnya ini ia menantikan suaminya. Lam Hie Jin semua memasang mata ke bawah bukit. Ia pilih batok kepala musuh sebagai sasarannya. Dan ia kemudia berlari. dari kejauhan terdengar pekikan nyaring seperti pekikan Tiauw Hong barusan.

dengan begitu ia bisa menyingkir beberapa tindak. Siauw Eng lepas dari marabahaya. setelah pedang itu berpindah arah. Tiauw Hong tengah memegangi pohon besar. Siauw Eng buang diri dengan bergulingan. ia memburu dan ulur tangannya yang terbuka ke ubun-ubunnya nona Han. ia jatuh pingsan. Justru itu. Di waktu itu. Cu Cong bersama Coan Kim Hoat. ia lalu menanya: ―Eh. hingga lima jarinya si Mayat Perunggu masuk ke dalam dagingnya. hingga seketika ia roboh ke tanah. Tan Hian Hong mengempit Kwee Ceng di dengan lengan kirinya. Lam Hie Jin dan yang lainnya telah tiba.sepasang mataku dirusak oleh mereka itu! ikalau kau kasih lolos satu saja diantara tiga ekor anjing itu. perempuan bangsat. ―Kau masih memikir untuk menyingkir?‖ tanya Hian Hong. bagaimana dengan lukamu? Apakah luka itu menghendaki jiwa kecilmu yang busuk itu?!‖ Irawan D Soedradjat Page 107 .Pendekar Pemanah Rajawali jurus ―Hong Hong tiam tauw‖ – Burung Hong menggoyang kepala. tak dapat Siauw Mie To bertahan lagi. makhluk-makhluk ini orang-orang macam apakah?!‖ Bwe Tiauw Hong sahuti suaminya itu: ―Mereka itu adalah saudaranya Hui-thian Sin Liong dan konconya Hui Thian Phian-hok!‖ ―Oh!‖ berseru Hian Hong. Tan Hian Hong tidak berhenti sampai disitu. Ia menjerit keras tetapi pedangnya dikerjakan untuk dipakai menikam ke dadanya lawan! Hanya. ia papaki kakinya Thio A Seng itu. ia menduga-duga siapa mereka dan kenapa mereka itu muncul di gurun pasir ini. ―Satu juga tidak bakal lolos!‖ sambil mengucap begitu. hingga ia bebas dari bahaya. ―Hai. kiranya kau belum mampus! Jadinya kamu datang kemari untuk mengantarkan nyawa kamu!‖ Tapi ia juga khawatirkan keselamatan istrinya. ia meneruskan menyambar si nona dengan jurusnya ―Sun swi twi couw‖ – Menolak Perahu Mengikuti Air. ia menerjang kepada musuh itu. Thio A Seng rebah di tanah dengan terluka parah. ia menyampok. Lam Hie Jin dan Han Po Kie lantas lari menyusul tubuh saudaranya itu. sebentar akan aku adu jiwa denganmu!‖ ―Bangsat perempuan. ia menyahut dengan keras: ―Lelaki bangsat. saban kali si Mayat Perunggu hendak menjambak. Hian Hong lihay sekali. Tapi sekarang ia menginsyafi lihaynya musuh. bebokongnya mewakilkan Siauw Eng kena dijambret. Tan Hian Hong kaget dan heran akan menyaksikan semua musuhnya demikian lihay. ia menyerang musuhnya. Thio A Seng sudah maju tinggal beberapa tindak lagi. pedang itu meleset di dadanya itu. tanganya Hian Hong mendahulukan menepuk pundaknya. ia serang Han Siauw Eng dengan dua-dua tangannya. sambil lompat bangun. Lantas ia mendamprat: ―Bagus betul. dan ―Wat Lie Kiam-hoat‖. ia kasih lewat ujung pedang. menampak nona Han dalam bahaya. lima jarinya masuk ke dalam daging betis. perempuan bangsat. batal meneruskan serangannya kepada Siauw Eng. Dengan gerakannya ―Lay louw ta Kun‖ atau ―Keledai malas bergulingan‖. legakan hatimu!‖ sahut Tan Hian Hong. Akhirnya ia berteriak: ―Eh. tetapi justru karena ini. ia menahan sakit. malah Cu Cong bersama Coan Kim Hoat mendahulukan menyerang denagn senjata rahasia mereka. lalu dengan sikut kanannya. ia lompat kepada si nona itu. si Mayat Perunggu lemparkan tubuh musuhnya. untuk mengahalangi serangan. ia melihat ancaman bahaya terhadap si nona yang ia sayangi. kapan Hian Hong mengempos semangatnya. perempuan bangsat.ilmu pedangnya gadis Wat. ia kerahkan semua tenaganya. Sia-sia Siauw Eng tarik pedangnya. bagaimana kau?!‖ terdengar teriakannya Hian Hong. bangsat anjing. ia jauhkan diri. setelah satu jeritan keras. maka itu. ia berputaran. Berbareng dengan itu. ia tak mau berkelahi secara rapat. untuk diteruskan dipakai membabat. Ia bergerak dalam jurus Kiu Im Pek-kut Jiauw yang lihay yang untuk meremukkan batok kepala orang.

Han Po Kie tunujk keberaniannya. ia lompat ke samping. si adik yang ketujuh itu. kalau tidak. Dengan caranya ini. Lihay tangannya Hian Hong itu. Berbareng dengan itu. Ia menyerang dengan Teetong Pian-hoat. terpaksa ia melenggakkan tubuhnya. yang ia lempar ke tanah. sedang sikutnya yang kiri menghajar dadanya Cu Cong. Kiu Im Pek-kut Jiauw. berbareng dengan itu. ilmu menangkap tangan. untuk menolongi diri berbareng menolongi orang. untuk lekas-lekas menjalankan napasnya. Belum lagi Hie Jin menarik pulang senjatanya. Irawan D Soedradjat Page 108 ―Semua renggang!‖ teriak Han Po Kie dalam gelap gulita itu. ia serang Coan Kim Hoat. hingga semua orang tidak dapat melihat sekalipun lima jari tangannya di depan matanya! Di dalam gelap gulita itu. Hian Hong kagum hingga ia memuji di dalam hatinya. yang telah pertunjuki tenaganya yang menyebabkan Hie in patah bahu kirinya. ―Citmoay. tanda tenaga diadu. diulur. Karena itu. tangan musuh yang berwarna biru sudah mendekati alisnya. sambaran itu sudah sampai kepadanya. berdiri diam sambil menanti ketikanya. Karena ini. Kim Hoat kaget melihat Kwee Ceng dilempar. sudah selesai delapan atau sembilan bagian. Walaupun merasakan sakit.Pendekar Pemanah Rajawali Bwee Tiauw Hong menyahuti suaminya dengan mendongkol: ―Lekas bunuh mereka! Nyonya besarmu tidak bakalan mampus!‖ Hian Hong tahu luka istrinya itu berat. Ia berkhawatir tetapi ia dapat menghampiri istrinya itu. Bocah itu dalam bahaya. tak sudi mereka merapatkan diri. Diwaktu dipakai menyambar. karenanya mereka berkelahi dengan waspada. Cu Cong berlima telah kurung padanya. hingga bebokongnya berbunyi bergedebuk. dengan lompat berjumpalit. dia hanya terteriak menjerit-jerit. tapi ia telengas. dengan sendirinya dadanya menjadi terbuka. Hian Hong sendiri bukannya tidak menderita karenanya. sambil berkelit. atau sekarang tangan itu – atau lebih benar lima jarinya – sudah mendekati ubun-ubunnya! Dalam keadaan sangat berbahya itu. kedua tangannya bekerja. si Mayat Perunggu itu. Ia lantas lepaskan Kwee Ceng. Ia tidak menghiraukan lagi hal ini karena adiknya terancam dan adiknya itu perlu ditolongi. apalagi sekarang ini latihannya ilmu yang baru. ia membikin perhatiannya tan Hian Hong menjadi terbagi. setelah bebas. yaitu ilmu bergulingan di tanah. orang dengar suara merekek dua kali dan suara ―Duk!‖ satu kali. buku-buku tulangnya memperdengarkan suara berkeretekan. . guna menggempur kaki lawan. makin keras niatnya untuk membinasakan mereka. guna mencekik leher musuh itu. tubuh siapa ia sambar. meneruskan gerakan tangan kirinya itu. tidak nanti ia pegang pohon saja dan tiak datang membantu. tapinya ia tidak terluka. lalu tangannya itu seperti terulur menjadi lebih panjang dari biasanya. Itulah Tan Hian Hong. makin lihay musuh. satu kali ia kena dihajar kayu pikulan Lam Hie Jin. Cu Cong pun merangsak ke belakang Tong Sie. Rasa sakit tiba-tiba membuat Cu Cong meringis dan tangannya yang dipakai mencekik leher musuh terlepas sendirinya. tangannya menyambar penyerangnya itu. kau bagaimana…‖ ―Jangan bersuara!‖ menjawab Siauw Eng. ai terus lompat kepada Kwee Ceng. berbareng dengan itu juga da tercium bau bacin. sebab tubuhnya terpental rubuh saking kerasnya serangan sikut itu. Gerakannya itu ialah yang dinamakan ―Leng miauw pok cie‖ atau ―Kucing gesit menerkam tikus‖. meninju dan menyambar. untuk diputar ke kiri. Kelima Manusia Aneh dari Kanglam itu menginsyafi bahaya. ia gunai Kim-na-hoat. Istri itu sengaja pentang mulut besar. mega hitam menutup sang putri malam. Karena tangan kanannya itu terangkat. tangan kanannya yang keras seperti besi. Sekonyong-konyong saja guntur berbunyi sangat nyaring. ia menyingkir setombak lebih. Selagi ia dapat mencium bau itu. Hie Jin kaget sekali. lalu dengan tiba-tiba juga. Tiba-tiba ia berpekik. yaitu Kwa Tin Ok. Setelah berselang begitu lama. Maka itu kurungan mereka menjadi semakin lebar. Dan ia lari ke samping beberapa tindak. guna membnagkol lengan musuh itu. sebab tadi hampir-hampir ia tak dapat bernapas. sedang yang satunya lagi.

yang tubuhnya terhuyung. Si Mayat Perunggu lihay sekali. ―Jitee. kilat berkelebat pula. tubuhnya sudah mencelat maju. Tin ok dengar suara angin. Ia merasa pasti. maka juga Han Po Kie menjadi kaget sekali. ia tidak terluka. akan terbangkan enam batang tok-leng. Pertempuran Hian Hong dengan Tin Ok hebat dengan cepat telah berlalu dua sampai tigapuluh jurus. Tongkatnya yang terampas Hian Hong. walaupun ada suara hujan. Dua kali ia terhajar tongkat. Selagi orang kegirangan. Tan Hian Hong adalah orang yang diserang. ia lanjuti serangannya. Ia tidak hiraukan tongkat lawan. Empat yang lain tepat mengenai tubuhnya. tangan kanannya menjambak ke depan. Tongkat itu ia papaki denagn pundaknya yang kiri. tangannya sendiri diputar ke atas. ia menjadi heran sekali. ia segera menunduk. ia lantas berkelit. dengan mengepal lima jari tangannya. Hui Thian Pian-hok si Kelelawar Terbangkan Langit itu menjadi girang luar biasa. untuk menganjurkan kakak itu. Karena serangan tok-leng ini. Coan Kim Hoat terkejut. mendadak kilat menyambar. ia masih ingat untuk segera menyerang denagn cambuknya. selagi Kim Hoat bersuara. yang kembali mampir di tubuhnya yang kebal itu. habis mana. yang ketahui kakaknya tengah bertenpur. Ia lompat ke arah musuh itu. ―Thian membantu aku!‖ ia memuji dalam hatinya. Tin Ok kaget tidak kepalang. Dua batang tok-leng lewat di atas kepalanya. Untuk Han Po Kie beramai. Hian Hong lanjuti serangannya tanpa berlengah sedetikpun. itu artinya Kanglam Cit Koay telah kalah besar. ia melompat mundur. sudah lantas kasih dengar seruan mereka berulang-ulang. ia tertawa sambil berlenggak. Han Po Kie bersama Han Siauw Eng dan Coan Kim Hoat. diarahkan ke tiga penjuru. di tempat gelap gulita itu. Diantara tujuh Manusia Aneh. karena bajunya kena terjambak dan robek karenanya. oleh Hian Hong dipakai menyerang ia dalam rupa timpukan! Bukan main girangnya si Mayat Perunggu. Mendengar itu. Ingin mereka membantui saudara mereka itu tetapi mereka tidak dapat melihat. sang guntur menyebabkan langit menjadi gelap gulita. ia berseru: ―Toako. ia melainkan merasa sangat sakit. ia menjadi tahu di mana adanya si penyerang. disebabkan ketegangan dan kecemasan hati mereka. memperlihatkan sinar terang. maka syukur untuknya. rasanya pertempuran itu berjalan sudah lama. Ia tidak kasih dengar suara apa-apa. Syukur dalam kagetnya itu. Satu dengan yang lain tidak dapat melihat. Dengan waspada ia pasang terus kupingnya.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin Ok dengari segala gerak-gerik.kangzusi. Gerakannya itu terhalang. tubuh Tin Ok terhuyung. itu bukan napas saudara angkatnya. Ia dengar sambaran angin. suara terhajarnya terdengar nyata. guna menangkap tongkat musuh itu. ia melihat bagaimana tongkat kakaknya itu. mereka dari itu Cuma andalkan kuping mereka. dua orang ini bertempur. guna mencegah dan melibat tongkat itu. kedua tangannya dipakai untuk menyambar. mereka melainkan mendengari suara sambarannya angin. Po Kie semua bergirang. Dengan begitu. Disamping itu dengan meraba-raba. Sinar kilat sudah lenyap tetapi sambaran itu telah mengenai sasarannya. Justru itu. musuhnya itu. dengan lantas ia ayunkan kedua tangannya. Semua orang berhenti bertempur karenanya. tapi ia belum bebas bahaya. tengah menyambar ke kakaknya itu. awas!‖ Hian Hong sangat lihay dan gesit. untuk mendesak Kwa Tin Ok. tiga sudah terluka parah. Mendengar itu.‖ Coan Kim Hoat memberitahu. Tiba-tiba Hian Hong menjerit aneh. samar-samar ia masih mendengar suara napas orang. yang digunai Hian Hong. kau bagaimana?‖ ia terpaksa bertanya.com bergerak pula. terpisahnya delapan atau sembilan tindak daripadanya. sambil berkelit. ia berpekik secara aneh. ia menghajar dengan tongkatnya. mereka pun menolongi tiga saudara mereka yang tealh terluka. tetapi ia kebal seperti istrinya. Kwa Tin Ok berdiam. siapa pun tidak dapat melihat siapa. sang hujan pun turun menyusul. Ia dengar suara napas di sebelah kiri ia. Karena ini. Itulah tandanya kakak mereka mulai berhasil. Berbareng dengan gerakan tangan kiri ini. ―Sekarang ini langit gelap sekali. Telak serangan itu. dengan lihaynya pendengarannya itu. Irawan D Soedradjat Page 109 . tidak ada satu pun yang berani mendahului www. guna mencoba mengacaukan pikiran musuh. lengannya itu terulur panjang.

Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi dapat dengar jeritan suaminya itu. tidak pernah ia pergi meninggalkan pulaunya itu. Orang itu bertubuh kecil. Satu kali ia kena injak tempat kosong. Maka itu pada suatu malam gelap buta. tubuhnya terus roboh terjengkang. Tapi kakiknya terserimpat. suaranya terputus-putus. Tetapi tiba-tiba Tan Hian Hong perdengarkan jeritan yang hebat sekali. ia tidak terluka. Istri ini lantas meraba ke dada orang. ia terkena pisaunya Khu Cie Kee. maka juga ia kalah terkenal dari kaum Coan Cin Kauw yang kenamaan di Kwantong dan Kwansee dan Toan Sie yang kesohor di Selatan (Thian Lam). untuk mengambil kitab yang dikatakan suaminya itu. ia terjeblos dan roboh terguling-guling. Segera ia tiba di samping suaminya. Itulah siksaan hebat. Ia takut bukan main. Dua saudara seperguruan itu terlibat api asmara sebelum mereka lulus. ia lupa. Tetapi ia bertubuh kuat. pemilik dari pulau Tho Hoa To di Tang Hay. Ia menduga tak keliru. Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong ini asalnya adalah saudara satu perguruan. Lebih celaka lagi. ia bersembunyi di pinggiran. sekalian buron. dari atas bukit ia lari untuk menghampirkan. ―Rahasianya…di dadaku…‖ Ia tak dapat bernapas terus. suaminya itu telah membuyarkan tenaga dalamnya. Sejak ia berhasil menyempurnakan ilmu kepandaiannya. guna hampirkan si cebol. habislah nyawa jago itu. Sebagai jago is terbinasa di tangannya satu bocah yang tidak mengerti ilmu silat. ia curi sekalian kitab Kiu Im Cin Keng dari gurunya. ia tak dapat mengawasi suaminya itu tersiksa begitu rupa. terpaksa ia membiarkan saja.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sekarang hendak aku mengambil nyawa anjingmu. ―Lelaki bangsat. Maka sejenak itu. Karena ini. kabur ke pulau Heng To di sebelah selatan. ―Celaka. tulang-tulangnya lantas meretak berulang-ulang. ―Akan aku balaskan sakit hatimu!‖ ia berseru. Laut Timur. Kapan Oey Yok Su ketahui perbuatannya kedua murid itu. sebagaimana juga kebiasaan suaminya. kau kenapa?‖ ia tanya. ia menjadi tidak mempan barang tajam. mereka naik sebuah perahu kecil. ia hajar batok kepala suaminya. lain-lain muridnya Irawan D Soedradjat Page 110 . Tapi ia telah bersumpah tidak akan meninggalkan Thoa Hoa To. untuk mana ia nyelusup masuk ke kamar gurunya itu. sedikit orang yang ketahui kelihayannya. ―Hm!‖ Hian Hong ksaih dengar suaranya yang seram. perempuan bangsat…. yang lihat aksinya si orang she Han. berurat tembaga bertulang besi. ―Kitab itu telah aku bakar…‖ kata Hian Hong. hanya saking murkanya. ilmu silatnya cukup untuk membela diri tetapi tak dapat digunai untuk menjagoi. orang itu ialah Kwee Ceng! Segera ia menunduk. kepandaiannya itu ia ciptakan dan yakinkan di pulau Tho Hoa To itu. ialah kelemahannya. yang tajamnya bahkan sanggup mengutungi emas dan batu kemala. untuk di daratan Tionggoan. ―Lepaskan aku!‖ menjerit Kwee Ceng. Maka juga. mereka adalah muridmuridnya Tocu Oey Yok Su. Ia melatih diri dengan sempurnya. seperti ada tangan yang menyambar merangkul. maka ia tak berbuat kepalang tanggung. manusia cebol terokmok!‖ berseru Hian Hong. ia kuatkan hatinya lalu dengan tiba-tiba. ―Lekas kau lari…!‖ Kwee Ceng dengar pembicaraan itu. kecuali pusarnya itu. Setelah menikam dan terlepas dari cekukan. untuk sambar bocah itu. Sang istri kertak giginya. Ini dia yang dibilang ―Orang yang pandai berenang mati kelelap. Diwaktu bertempur ia selalu melindungi perutnya. dari mana mereka menyingkir lebih jauh ke Lengpo di propinsi Ciatkang. Ia lantas berlompat. ia murka bukan main. ialah kitab Kiu Im Cin Keng bagian rahasianya. Ia terkena justru bagian tubuhnya yang terpenting.‖ sahut Hian Hong lemah. di tanah rata kereta rubuh ringsak‖. Oey Yok Su adalah pendiri dari suatu kaum persilatan sendiri. yang menolongi kakanya itu. Tak pernah ia lupai kebiasaannya membawa-bawa ―bangsat‖. mereka bakal dihukum mati dengan disiksa. Tan Hian Hong tahu. Mereka insyaf. disaat hendak menghembuskan napas terakhir. kalau rahasia mereka ketahuan. tetapi sekarang selagi mencekuk satu bocah. Tiauw Hong tahu.

ia tidak memaksa lebih jauh. Kim Hoat bertiga terpaksa lompat mundur. Masih rebah tengkurap adalah Kwa Tin Ok. Kau tahu. Di dalam hatinya. hingga mereka kabur untuk sembunyikan diri. hingga mereka menjadi manusia-manusia bercacad seumur hidupnya. runtuhlah nama nama Kanglam Cit Koay…‖ Maka itu. Lam Hie Jin patah lengannya. lalu ia usir mereka dari pulaunya. baru ia turunkan kepandaian itu kepadanya istrinya. Adalah keinginannya ilmu ini agar musuh berkelahi rapat. dengan terbangnya sang mega. mereka terus menyakinkan Kiu Im Cin Keng bagian ―Kiu Im Pek Kut Jiauw‖ atau ―Cengkeraman Tulang Putih‖ dan ―Cui Sim Ciang‖ atau ― Tangan Peremuk Hati‖. ia tidak hendak beri lihat kitab Kiu Im Cin Keng itu. Justru di bagian atas adalah pelajaran pokok dasarnya. kita tidak berhasil. syukur ia tidak terluka dalam. mereka kena dilukakan. membawa mega hitam dan tebal. Aneh tabiat Hian Hong. Coan Kim Hoat lantas tolongi saudara-saudaranya yang terluka itu. Bwee Tiauw Hong lenyap. membuat langit menjadi gelap-gulita pula. ilmu Menyambar dan Menangkap. Tiauw Hong lantas raba dada suaminya. atau kalau kau termaha. Bisa celaka mereka dirabu pasir dan batu itu. Semua orang basah kuyup pakaiannya. Hian Hong dan Tiauw Hong menyembunyikan diri untuk menyakinkan Kiu Im Cin Keng itu. Repot juga Tiauw Hong. biar bagaimana Tiauw Hong memohonnya. si Mayat Perunggu. Sebab Han Po kie bersama Siauw Eng dan Coan Kim Hoat. kepada gerak-gerik angin. maka ia hendak memeriksa. sebagian bawah. untuk mencari terlebih jauh. Dengan begini mereka bikin diri mereka menjadi jago. aku dapat curi cuma sebagian. Malah dilain saat. baru ketiga kalinya. ia tidak dapatkan apa-apa. Sekonyong-konyong datang angin besar. Syukur. Sayang untuknya. tidak ada kabar ceritanya. Adalah Thio A Seng. untuk terus mendekam. Hujan pun turut berhenti perlahan-lahan. lukanya berbahaya. Hian Hong menjawab: ―Sebenarnya kitab ini terdiri dari dua bagian. Dibantu oleh Siauw Eng dan Po Kie. Setelah itu mendadak ia menyerang hebat kepada bebokong lawannya. ia menjadi penasaran. si putri malam pun mulai mengintai pula dan muncul lagi. dari itu. adalah setelah ia sendiri berhasil mempelajarinya. mereka sendiri saban-saban menghadapi ancaman. angin tidak mengganas terlalu lama. mereka telah minta bnayak korban. bukan saja mereka tidak dapat mendesak. Medan pertempuran ada di atas gunung Heng San. apapula makin lama mereka jadi makin telangas. ia tidak sempat mewujudkan niatnya itu. Tidak tahunya. disaat dia hendak menutup mata. biar aku yakinkan sendiri dulu. Maka itu. empat saudaranya itu. Ia ambil kedudukan di belakang musuhnya itu. Ia sekarang hanya mengandal pada kejelian kupingnya. Hebat pengepungan ini. Ketika ini digunai Siauw Eng akan menikam dengan pedangnya dan Kim Hoat dengan dacinnya. Ketika istrinya desak. Hian Hong suka serahkan kitabnya itu pada istrinya. Mereka sembunyikan diri sampai belasan tahun. aku mesti memilih dengan teliti. tetapi segera ia menjerit heran. Sebaliknya. Kwee Ceng mulai muncul dari belakang batu dimana ia tadi bersembunyi. Tapi bukan kitabnya sendiri yang dia telah bakar. Pada waktu suami istri kejam ini dikeroyok orang-orang gagah dari pelbagai partai persilatan di utara Sungai Besar. Han Po Kie yang paling dulu lompat bangun. Ia tahu ada orang serang padanya. ai melawan dengan mainkan tipu-tipu Kim-na-hoat. Saking hebatnya. Ia membikin enam saudaranya Irawan D Soedradjat Page 111 . pasir dan batu pada beterbangan. Syukur Tin Ok dan Cu Cong telah lihay ilmu dalamnya. Cu Cong. walaupun pada istrinya. sudah lantas maju menyerang. lam Hie Jin dan Thio A Seng.‖ Tiauw Hong percaya pada suaminya. walaupun mereka terhajar Tong Sie. Semua muridnya itu ia putuskan urat-uratnya. Ketiga Manusia Aneh ini menjadi cemas. hingga orang percaya mereka sudah mati karena luka-lukanya. Tentu saja. Kekalahan ini disebabkan terlalu banyak pengepungnya. Ia heran hingga ia diam menjublak. yang tercengkeram Kiu Im Pek-kut Jiauw. hanya singkatannya atau rahasia pokoknya. ia berpikir keras. yang kedua matanya sudah buta.Pendekar Pemanah Rajawali menjadi korbannya. kau bisa celaka. Terdesak juga Tiauw Hong diserang hebat dari belakang. Adalah sekarangm. Po Kie berkata: ―Celaka betul! Bertiga kita lawan satu wanita buta. membarengi berkelebatnya kilat. lenyap juga mayatnya Tan Hian Hong. jiwanya terancam. Belum pernah ada orang yang sanggup robohkan mereka. Adalah berbahaya menyakinkan bagian bawah tanpa bagian atas. kepandaian yang kita sudah dapati dari suhu masih belum cukup untuk pelajari bagian bawah ini. luka mereka tidak parah. Dua kali mereka mendapat kemenangan. hingga mereka bisa melihat musuh. Kalau tidak. Saking tergesa-gesa. ia tidak ambil peduli.

mereka juga saling menyinta. mereka mendirikan satu batu besar. Ia lantas peluki A Seng dengan ia menangis tersedu sedan. si Mayat Besi. ia tersenyum pula. aku baik-baik aja…‖ ia menghibur. perlu kau belajar rajin dan ulet. Tin Ok terharu sekali. kau tentu hendak berguru pada kami?‖ Cu Cong tanya Kwee Ceng. yang tahu kakak angkatnya yang kelima ini ada menaruh cinta kepadanya. Entah kemana perginya Tiauw Hong beserta mayat suaminya itu. di tanah berpasir mesti ada tapak kaki tetapi ini tidak. aku pun malas kecuali tenagaku yang besar…. Merek aitu pada melinangkan air mata. lebih-lebih Han Siauw Eng. Walaupun semuanya bertabiat aneh. jikalau kau alpa dan malas. aku akan selalu bersama kamu…‖ A Seng masih dengar suara tu.‖ Tiba-tiba kedua matanya berbalik. kau lihat contohnya gurumu ini…. Siauw Eng menangis. A Seng tertawa. Dengan masih menangis. ―Kau justru perlakukan aku baik. walaupun lagi menghadapi bahaya maut.‖ Meski masih kecil. Kwee Ceng mengangguk. sayang aku tidak dapat memberi pelajaran kepadmu…. ―Anak yang baik. ynag telah hampirkan mereka. Si nona masih dengar: ―Ajarilah ini anak dengan baik-baik. selanjutnya kau mesti dengar perkataan kami. aku tidak nanti menikah dengan lain orang…. perlahan sekali. Itu waktu. mereka menggali liang.‖ Siauw Eng menjawab. begitupun dengan yang lainnya. akan aku menikah denganmu. biasanya aku perlakukan kau tidak manis…‖ katanya. Coba dulu aku rajin belajar. Masih dapat ia mengatakan demikian. Bocah itu menyahuti. kau pergilah dengan tenang…Kita Kanglam Cit Koay. untuk bersujud sambil mengangguk berulangkali. ―Legakan hatimu. Ia menahan sakit.. di mulutnya kakak angkatnya itu. Aku sangat bodoh. cuaca sudah menjadi terang.‖ Masih A Seng hendak berkata pula. si Buddha Tertawa. maka Siauw Eng pasang kupingnya. ―Ngoko. Ia ulur tangannya. maka Coan Kim Hoat dan Han PO Kie lantas turun gunung untuk cari mayatnya si MayatPerunggu serta Bwee Tiauw Hong. ia jatuhkan diri di depan tubuh A Seng.‖ kata Cu Cong pula. Mereka mencari denagn sia-sia. tapi lukanya sangat mendatangkan rasa sakit. tenaganya sudah habis. ―Kau datang kemari. ―Jangan menangis. Sebagai nisan. ―Cukup…‖ katanya. seumurku.Pendekar Pemanah Rajawali sangat berduka. tidak nanti aku antarkan jiwa disini…. untuk menjadi istrimu! Kau setuju. karena sangat eratnya pergaulan mereka.‖ kata pula si nona. untuk mengubur jenazah saudaranya itu ditempat itu. ―Kami tujuh saudara adalah gurumu semua. untuk mengusap-usap rambut adik angkatnya itu. Sebenarnya sia-sia saja kau berguru padaku.kalau nanti aku mati. baik sekali. tidak nanti kita kalah…!‖ A Seng tertawa. ―Citmoay. Irawan D Soedradjat Page 112 . kesedihan mereka bukan main. Kwee Ceng sudah mengerti banyak. inilah aku ketahui. jangan menangis.‖ katanya. mari kau hunjuk hormatmu padanya. hingga dua kali. terus ia berjengit. jaga supaya ia jangan kalah dengan itu…imam…‖ ―Jangan khawatir. maka itu. ―Ini gurumu yang kelima bakal pulang ke langit. hampir ia tak sadarkan diri. tapi masih meneruskan kata-katanya: ―Bakatmu tidak bagus. habis itu berhentilah ia bernapas…. Thio A Seng adalah Siauw Mie To. ia masih dapat tersenyum. legakan hatimu. sedang ia pun ada menaruh hati. Habis hujan lebat. ia menarik napas. bukan?‖ kata nona Han itu tanpa malu-malu. ―Ya!‖ ―Kalau begitu. Thio A Seng tersenyum meringis.. Enam saudara itu memangis menggerung-gerung. ―Aku telah jadi orangnya keluarga Thio. ―Ngoko. mereka tetap manusia biasa.‖ kata Cu Cong.

kemudian kau. Ia menitahkan orangnya. seluruhnya berlumuran darah. ―Sekarang mari kita antar anak ini dan kita pun merawat diri. dia membentak: ―Hai. ―Kenapa tadi ia serang aku! Lekas!‖ Dengan terpaksa. apa nanti paman Temuchin bisa bikin!‖ ―Jikalau kau pergi. ia berkata. malah jago Kanglam ini kenali itu mayatnya Tan Hian Hong. kau sembunyi di sini! Kenapa kau tidak berani membantui Tuli bertarung? Makhluk tidak punya guna!‖ Bocah itu ialah Tusaga. Tidak ayal lagi.‖ kata itu guru. ―Eh. ia memasang mata ke depan. ―Aku tuntun macan tutulku menyuruhnya geharesi dia!‖ sahutnya. yang terus terdengar berulang-ulang.‖ Pikiran ini disetujui. kau pun bakal digegaren macanku!‖ ia mengancam tetapi ia tak berani dekati musuhnya. Di sana tertampak serombongan orang serta dua ekor macam tutul menoker-noker pada tanah. yang agaknya kaget. Segera ia dapat tahu perbuatannya itu macan tutul. dengan cekal Kim-kiong-pian. Heran Po Kie. Po Kie menjadi heran. Kalau tidak. maka itu kuda berlompat ke depan. Mereka jalan belum jauh tempo mereka dengar menderunya binatang liar. setahu bagaimana jadinya dengan mereka. mereka pun turun dari gunung. ―Suhu. ―Macan tutulku telah gegares Tuli!‖ sahut Tusaga berteriak. ―Tuan muda. Kwee ceng terkejut. Ia berpikir: ―Dia mati di atas gunung. ―Tarik macan itu!‖ kata satu anak kecil yang menunggang kuda. menhajar kepalanya orang itu. Ia lantas ajak pemelihara macan tutul itu untuk berlalu. ―Akan aku laporkan kepada Khan besar!‖ Tusaga hendak mencegah tapi sudah kasep. dia hendak suruh macan itu makan kakak angkatku. Lari serintasan. ―Mana Tuli?!‖ ia tanya. yang menjadi tukang pelihara macan tutul itu.‖ ia kata kepada Siauw Eng.‖ kata Cu Cng sekembalinya kedua saudara itu. kenapa mayatnya ada di sini? Siapakah orang-orang itu? Apakah maksudnya maka itu mayat diganggu?‖ Itu waktu Coan Kim Hoat semua telah datang menyusul. Tempo ia lihat Kwee Ceng. Itulah sebabnya kenapa kuda si kate tidak berani maju terus. Po Kie keprak kudanya. kamu mengepung pula Tuli?‖ tanya Kwee Ceng. lioktee dan citmoay. Mereka menjadi heran sekali. tukang rawat macan tutul itu turut perintah. binatang itu berhenti dengan tibatiba. Irawan D Soedradjat Page 113 Kwee ceng jeri kepada macan tutul tetapi ia ingat keselamatannya Tuli. seperti ada dagingnya yang orang telah potong. Diam-diam mereka bergedik menyaksikan itu musuh tangguh. Po Kie lompat turun dari kudanya. tidak nanti wanita itu kabur jauh. kau sendiri bakalan digegares macan itu. shatee. ―Kau lekas menyerah! Kalau tidak. . putranya Sangum. ―Tak takutkah kau?‖ ―Aku takut…‖ sahut murid ini. ―Takut apa!‖ teriaknya. yang terluka dari leher sampai di perutnya. Tusaga ayun cambuknya. coba kau pergi mencari pula. hendak aku menyuruh kakak angkatku lari. maka habis mengucurkan airmata di depan kuburan A Seng. dialah putranya Khan besar Temuchin!‖ berkata itu tukang rawat macan tutul. tak mau ia maju walaupun dipaksa majikannya. ia maju ke arah mereka.Pendekar Pemanah Rajawali ―Di tempat begini. jerih ia menampak Kanglam Cit Koay. maka mereka pun saksikan myatnya Hian Hong itu. Dengan mendongkol ia berkata: ―Biarlah! Mari kita hajar Tuli dulu! Hendak aku lihat. Satu tukang rawat macan tutul yang lainnya ketakutan. Coba tidak ada Kwee Ceng. maksudnya memberitahu. ―Di mana dia?‖ Tusaga perlihatkan roman tembereng dan puas. yang berada di antara rombongan orang tadi. Dua ekor macan tutul itu telah dapat mengorek satu mayat. Kedua macan tutul itu sudah mulai gerogoti mayatnya Hian Hong. tentulah Kwee Ceng telah dihajarnya.

Tuli yang sedang kegirangan tidak menyangka musuhnya itu bakalan minta bantuan binatang liar. dan inilah untungnya negaraku. ia masgul. untuk terus dipanggul! Tetap tubuh Kwee Ceng di atas pundak orang. Kita tak boleh terbitkan onar. ia menyahuti: ―Aku mau pergi!‖ Benar-benar ia lantas lari. mereka lantas datang menyusul. Jamukha. Itu waktu ada beberapa kuda dilarikan keras ke arah mereka. kita harus berhati-hati. Ia pikir: ―Jikalau anaknya Sangum membinasakan anaknya Temuchin. ilmu silat tangan kosong. ―Tusaga bawa-bawa macan tutul!‖ Tuli kaget. Ia tentu tidak tahu. semua lantas lari keluar tenda untuk naiki kuda mereka. dari ini putranya Temuchin Cuma dikurung. jurusnya itu adalah jurus pojok dari ―Khong Khong Kun‖. Cu Cong rebah di bebokongnya unta karena lukanya. di depan mereka tertampak beberapa serdadu Kim tengah berkelahi sama pengiring Khan ini yang tadi diberikan titah. Irawan D Soedradjat Page Wang Khan semua iringi kedua saudara Wanyen itu. ia lantas lari pulang untuk menagmbil macan tutul ayahnya. Kwee Ceng bersangsi sebentar. yang larinya sangat pesat. ketika besoknya pagi ia tidak dapat cari Kwee Ceng. ingat. Tapi ia tidak peduli suatu apa. ia ulur tangannya. . sebentar kemudian tibalah di satu tempat. ia bikin musuh-musuhnya rubuh satu demi satu. saking murkanya. akan cekuk bocah itu. dan Sangum tengah menemani dua saudara Wanyen di tenda mereka. yang dengan laporannya si tukang pelihara macan tutul. Ia berkata kepada saudarasaudaranya: ―Bocah ini bebal tetapi dialah orang segolongan dengan kita!‖ ―Matamutajam. tanpa minta bantuan Ogotai. Itu wkatu Temuchin bersama Wang Khan. Tusaga penasaran. heran dia melihat Tuli sendirian. kegembiraannya terbangun secara tiba-tiba. yang pun lantas berlalu dengan cepat. Mereka jalan baharu satu lie lebih. pertempuran sudah lantas dimulai. Wanyen Yung Chi kecewa gagal menyaksikan orang diadu dengan binatang. ―Jangan lepaskan macan tutul! Jangan lepaskan macan tutul!‖ Segera terlihat ternyata mereka itu adalah Mukhali berempat. Sebabnya 114 Wanyen Lieh pun gembira tetapi ia tidak perlihatkan itu pada wajahnya. sekarang ia dengar berita ini. tanpa perkenanan dari Temuchin lagi. tiga dari kita terluka…‖ Po Kie manggut. Wang Khan mendahului perintah satu pengiringnya: ―Lekas sampaikan titahku. Kanglam Cit Koay dapat lantas mencegah Tusaga apabila mereka kehendaki itu. salah satu penunggangnya berteriak-teriak. tetapi mereka tidak mau menerbitkan onar. Sebenarnya Tuli rajin melatih diri menuruti ajarannya Cu Cong. cegah cucuku main gila!― Pengiring itu segera kabur dengan kudanya. hendak ia lari. kedua mereka bakal jadi bentrok. lekas!‖ Kwee Ceng berteriak-teriak sebelum ia datang mendekat. ia seperti lagi menunggang kuda. sebab dua kali ia rubuh mencium tanah dan hidungnya kena diberi bogem mentah dua kali juga. negara Kim yang besar!‖ Ia terus kisiki pengiringnya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jadi kau batal pergi?‖ tanya gurunya lagi.‖ kata Siauw Eng. ia mungkin putranya satu pangeran atau raja muda. ―Mari kita lihat!― katanya. ia gunai jurus ajarannya Cu Cong. ia lantas saja lari menyusul Kwee Ceng. Hebat Tuli itu. ia kagumi bocah itu. ―Tuli! Tuli! Lekas lari. jieko. sekalian mereka ingin saksikan sepak terjangnya Tuli dan Kwee Ceng. Dia orang ini turut perintahnya Tusaga. kakaknya. setelah menyandak. tapi ia lagi dikurung. mereka terkejut mendengar laporan si tukang pelihara macan. dimana tampak Tuli sedang dikurung oleh belasan orang. Sementara itu Han Po Kie dapat candak Tusaga dan melombainya. Tusaga datang dalam jumlah belasan. ―Mari kita bantu dia!‖ Coan Kim Hoat lantas memesan: ―Bocah galak itu memelihara macan tutul. tidak lantas dikeroyok. seorang diri ia pergi memenuhi janji kepada Tusaga untuk bertempur. ia pun sangat berani.

Ia lantas menduga kepada mereka itu. keempat kakinya tengah menoker-noker dan mulutnya meraung-raung tidak hentinya. ia khawatirkan keselamatan putranya itu. Di depan mereka berdiri dua bocah ialah Tuli dan Kwee Ceng. Terang itu adalah kerjaan orang yang lihay. karena ia jadi waspada. menyusul mana kedua macan itu rubuh berbareng. Anak perempuan yang ia bawabawa itu adalah putrinya. Gochin sebaliknya segera hampirkan kakaknya. Walaupun kejadian berlaku di depan mata mereka. Tusaga lihat datangnya banyak orang dan kakek beserta ayahnya juga berada bersama. ia jadi semakin temberang. Ia lantas lomat turun dari kudanya. tetapi justru ia maju. maka ia dihiburi ibunya. dari itu asal putranya tidakterancam tidak mau ia memanah macan itu. yang ia ambil dari rangkulannya Kwee ceng. Ia sangat khawatir melihat putranya terancam macan tutul itu. Ia pun tidak karu-karuan dipegat dan dikeroyok. segera ia berlompat menubruk. Mereka ini bilang: ―Kami tengah berdiam disini. ―Berangkat!‖ mereka menitah. khawatir kena putrinya. orang ini tidak ada matanya. Anak itu menangis karena kagetnya. diarahkan kepada dua binatang liar itu. sedang si petugas tidak berani abaikan kewajibannya. binatang adalah binatang kesayangan Sangum. melihat orang datang dekat. ―Siapa yang membunuh macanku?!‖ ia tanya dengan bengis. Semua orang kaget. meski demikian. kuku macan telah mampir dipundaknya. Boroul sendiri tutup mulut. berniat mengusap-usap kepalanya seekor macan tutul. apapula ia dapatkan. Irawan D Soedradjat Page Semua orang berdiam. seekor kuda merah. Ia kata dengan sengit: ―Aku toh ada di sebelah depan kamu dan kamu di belakang aku…!‖ Dua saudara Wanyen itu tidak inginkan mereka adu mulut. rubuh celentang lalu tidak berkutik lagi. tampak enam orang Han. Sebentar saja kuda itu. ia tubruk Gochin. untuk dirangkul dengan tangannya yang lain. Jamukha lihat itu semua. Dua ekor macan tutul sudah lepas dari ikatan pada lehernya. berulang-ulang ia anjuri macannya lekas menyerang. maka ia lantas menyusul. Kemudian ia ulurkan tangannya. disaat ia hendak mencegah. sedang Temuchin tidak berani melepaskan anak panahnya. Nyonya Temuchin tengah pasang omong dengan istrinya Sangum di tenda mereka. lalu terdengar suara kuda berlarilari mendatangi di arah belakang mereka. Macan itu lagi bersiap-siap. Ia menjadi heran. Ia baharu berusia empat tahun. Kapan ia berpaling ke arah darimana suara angin itu datang menyambar. yang ditangkap sedari masih kecil dan dipelihara dan dididik dengan banyak sukar hingga jadi b esar dan dapat mengerti. . Dua saudara Wanyen itu lantas memerintah serdadu-serdadunya berhenti berkelahi. untuk menjatuhkan diri. Temuchin dan keempat pahlawannya segera siapkan panah mereka. Keempat pahlawannya lempar panah mereka dan menghunus golok untuk maju menyerang. ialah yang maju di muka sekali. 115 Sangum sangat murka. yang darimana darah mengucur keluar. adalah istrinya Temuchin atau ibunya Tuli. tiba diantara mereka. lagi mengawasi dengan sikapnya yang tenang sekali. kedua binatang itu berlubang masing-masing di kedua pelipisnya. Dalam saat mengancam itu. Temuchin ketahui baik. kupingnya mendengar beberapa kali suara angin menyambar. yang ia peluk. pria dan wanita. dia terjang kami!‖ Pengiringnya Wang Khan itu mendongkol dan tidak mau mengerti.Pendekar Pemanah Rajawali adalah serdadu-serdadu Kim itu menghalang-halangi orang menjalankan tugas. ia belum tahu bahaya. tidak ada seorang jua yang ketahui siapa si penyerang gelap itu. ―Lepas panah!‖ Yulun Eke segera memerintah. yang pun terus tarik Tuli. Wang Khan murka melihat kelakuan cucunya itu. Tidak lama tibalah mereka di depan rombongannya Tusaga beramai. Kwee Ceng berlompat. Yulun Eke lantas saja peluki putrinya. ia menduga peristiwa itu terjadi karena bisanya dua Wanyen ini. Gochin Baki. Di antara empat pahlawan. Penunggangnya seorang wanita usia pertengahan yang memakai mantel kulit indah dan mengempo satu anak perempuan yang elok romannya. Boroul yang bertubuh kate dan kecil adalah yang paling gesit. romannya cantik dan manis. ia tertawa haha-hihi. tempo ia dengar perkara putranya.

Wanyen Lieh menjadi sangat tidak puas. ia penasaran. Cucuku yang perempuan hendak aku jodohkan dengan Juji. ia lihat. ia suruh Boroul memberi hadiah bulu dan emas. Panas hatinya Temuchin. untuk diberi tempat. Temuchin berpikir sebentar. ia mendamprat Tusaga. Sambil tertawa. ―Sakit hatinya ngoko memang mesti dibalas!‖ kata Siauw Eng.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sudahlah saudara Sangum!‖ berkata Temuchin sambil tertawa. ―Nanti aku gantikan kau empat macan tutul yang paling jempolan ditambah sama delapan pasang burung elang. ia membungkam. putramu yang sulung. Wang Khan gusar. Berapa kamu menghendaki gaji kamu?‖ Coan Kim Hoat senang dengan tawaran itu. Tin Ok beramai tidak mau menarik perhatian orang. entah itu perbuatan kawan atau lawan…‖ kata Han Po Kie. terhadap Temuchin ia berdengki dan memandang enteng. ia lihat rombongannya Kwa Tin Ok. mereka berdiri jauh-jauh. habis itu ia larikan kudanya. mesti dia jadi elok sekali. Kanglam Liok Koay jalan perlahan-lahan. terpaksa ia menyambut dengan sambil tertawa. Temuchin hampiri Wang Khan dan kata: ―Ayah inilah permainan anak-anak.‖ . bagaimana pikirmu?‖ Wang Khan girang. guna mengadakan perjamuan perpisahan untuk mereka itu. ―Memang selama ia belum disingkirkan. Kau akurkah?‖ Dengan girang. setelah dewasa. keluarlah alemannya. Aku lihat anak ini berbakat baik. Tuli tunggu sampai Wang Khan semuanya sudah berlalu. ia puji untuk keberaniannya. kita justru hendak berserikat untuk menghadapi kamu!‖ Maka ia hampiri Tusaga. itulah kebetulan bagi pangeran ini yang lantas ngeloyor pergi duluan.‖ bilan Tin Ok. Temuchin lantas dapat tahu enam itu ialah yang tolongi putranya. Temuchin kata sama Sangum. Ia menginsyafi peranan kedua saudara Wanyen itu. aku berniat menjodohkan dia dengan anakku. Selagi ia berpaling. ia tutur kepada ayahnya sebabnya ia berkelahi sama Tusaga. Ia lantas menyahuti: ―Khan yang besar sudi terima kami. Gagallah tipu dayanya.‖ Sangum masih mendongkol. Gochin sudah cantik. Mereka memang lagi pikirkan tenpat untuk bisa mendidik Kwee Ceng. tak senang ia berbesan dengannya. ―Baik kamu berdiam di sini mengajari ilmu silat kepada putraku. ia terus menangis sambil bergulingan di tanah. sedang Kwee Ceng. ―Mayatnya Tan Hian Hong dipotong dada dan perutnya. Anak itu mencoba meronta tetapi tidak berhasil. untuk susul kedua saudara Wanyen. yang ia usap-usap kepalanya. Cucu ini didamprat di depan orang banyak. itu pun sudah bagus.‖ Temuchin girang. ia suruh Boroul layani enam orang itu. untuk dikasih bangun dengan dipeluk. ia tidak pedulikan walaupun kakeknya menitahkan ia berhenti menangis. Di dalam hatinya. kita selalu terancam bahaya. ―Yang paling perlu ialah mencari tahu dimana beradanya Tiat Sie. ia kata: ―Kamu hendak bikin kita bercedera. ia sangat bangga untuk keturunannya. ―Saudara. untuk merundingkan urusan mereka. Irawan D Soedradjat Page 116 ―Itulah aneh.‖ menyatakan Cu Cong. aku tak dapat menerkanya. dan Cu Cong rebah di atas unta. meskipun masih kecil. mana kami berani minta gaji besar? Terserah kepada Khan sendiri berapa sudi membayarnya. Ia tertawa dan menyahuti: ―Mustahil aku tidak setuju? Marilah kita tambah erat persaudaraan kita. ia pun bicara hal Kanglam Cit Koay ( yang sekarang menjadi Kanglam Liok Koay sebab jumlah mereka telah berkurang satu). Diam-diam Jamukha kisiki Temuchin apa yang tadi terjadi di tengah jalan antara pengiringnya Wang Khan dan serdadu-serdadu Kim. kenapa ini beberapa Manusia Aneh berada disini?‖ katanya dalam hatinya. akan tetapi disitu ada putusannya ayahnya. tak senang ia berbesan. Ia terperanjat dan heran sekali. terus ia kata pada Coan Kim Hoat. tak usah ditarik panjang. Mereka tidak lihat Wanyen Lieh. ―Eh. sekarang kita menjadi besan!‖ Sangum itu angkuh.

mereka tidak peroleh hasil. hanya ketika ia geraki tangannya itu. dia tidak dapat teriam semua pengajaran kita. pisau tumpul kalau digosok terus bisa menjadi tajam. dalam pertandingan di Kee-hin. si bebal tapi rajin. Kali ini. Kwee Ceng dipanggil belajar sendirian untuk diajari ilmu pedang. Ia ingat. Habis pai-kui. dulu ia pun ulet seprti bocah ini. Lam Hie Jin paling menyanyangi Kwee Ceng. pada harian Ceng Beng. tapi Siauw Eng. ―Tongkat Menakluk Iblis‖. Dan Jebe bersama boroul turut memberi petunujk juga. mestinya racunnya senjata itu bekerja. Kanglam Liok Koay membawa barang-barang sembahyangan ke kuburannya thio A Seng. lekas ia kasih turun pula! 117 ―Mari!‖ katanya seraya ia lompat dengan tangan kiri melindungi diri. kemajuannya sedikit.Pendekar Pemanah Rajawali Karena ini kemudian Po Kie bersama Siauw Eng dan Kim Hota lantas pergi mencari. Maka Kanglam Liok Koay perhebat pengajarannya. Tempat kediaman bangsa Mongol tidak berketentuan. lalu pai-kui. Sang tempo berjalan dengan pesat. Kwee Ceng juga diajak bersama. ia tetpa menarik hati. main panah dan ilmu tombak. walaupun ia tidak secantik dulu. Ia bersiap sedia menyambut Tiauw Hong. hawa udara masih dingin. Bab 11. Cu Cong bersama Coan Kim Hoat dan Han Siauw Eng mengajarakan ilmu kegesitan. Ia menginsyafi lihaynya Bwee Tiauw ong. ia utamakan ―Hok Mo Thung-hoat‖. Dugaan ini masuk di akal. ia mengerti dengan cepat. si Mayat Besi mestinya tak bisa bersembunyi terus-menerus. Ia ingat pada Bwee Tiauw Hong. Kwee Ceng bebal. untuk itu ilmu silat penting. di sebelah itu ada sifatnya yang baik. ia terpeleset. tapi Tin Ok tetap berkhawatir. dengan tangan kanan ia sampok pundak muridnya itu. dia tak jadi jatuh. malah ia segera dapatkan maknanya itu. tapi ajarannya Han Po Kie dan Lam Hie Jin tentang pokok dasar silat. ia dapat imbangi tubuhnya. belasan tahu kami didik anak ini. mereka pasang hio. rambu dan kumis jenggot mereka sudah mulai berwarna abu-abu. Memanah Burung Rajawali Angin mulai reda. akan ajari ilmu silat kepada Kwee Ceng dan Tuli yang juga diajari ilmu perang. malah diteruskan hingga beberapa hari. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng terkejut tapi ia dapat menangkis. mayatnya juga tidak kedapat. untuk lindungi padanya. hingga untuk sementara muridnya dilarang belajar naik kuda dan memanah. maka itu untuk pergi ke kuburan. apa mau ia kena injak sebuah batu kecil. Mereka itu atur barang sembahyangan. adu kepandaian. Ia tersenyum kepada Kim Hoat. tapi cepat sekali. Tentang perasaannya ini ia tidak utarakan. Hanya kalau malam. orangnya tidak ketemu. Lagi dua tahun akan tiba saatnya janji pibu itu. Sejak itu Kanglam Liok Koay menetap di gurun pasir. Cu Cong jadi seperti melamun. salju yang turun secara besar-besaran baru berhenti. yang sia-sia saja dicari. Sekarang Kwee Ceng telah menjadi satu anak tanggung berumur enam belas tahun. yang pun melihatnya. ia baharu merasa hatinya tentram kalau sudah dengan tangannya sendiri ia bisa raba mayatnya Tiat Sie si Mayat Besi itu. maka mungkin ia mampus di dalam selat!‖ kata Po Kie kemudian sepulangnya mereka. dia tidak sampai memalukan nam akita Kanglam Cit Koay!‖ Sepuluh tahun enam saudara itu tinggal di utara. senjata rahasia dan entengi tubuh. ―Wanita itu rusak matanya terkena tok-leng toako. ia tampak kemajuan Kwee Ceng. Dalam iklim demikian. Untuk itu ia dapatlah disebut. yang mebuat ia girang. walaupun demikian untuk daerah di gurun pasir utara. baru mereka tiba. Umpamnya Tin Ok. biarlah tahun lusa. rombongan ini mesti melarikan kuda mereka setengah harian. Sebab diwaktu siang mereka diajari menunggang kuda. Ia tahu ia mesti membalas sakit hati ayahnya. ilmu tongkatnya. kepandaiannya Liok Koay juga turut bertambah. untuk sembahyangi saudara yang sudah beristirahat untuk selamanya di alam baka itu. sayang di bebal. sepuluh tahun sudah lewat. Di situ ada tulang-tulang yang berserakan. Mereka mencari bukan hanya disekitar tempat itu. Kalau tidak mati. masih ada sisa keelokannya. Malah Siauw Eng berkata dalam hatinya: ―Ngo-ko. ia khawatir saudara-saudaranya bersusah hati. Kemana perginya wanita seperti siluman itu? Dalam sepuluh tahun itu. ia belajar dengan rajin sekali. maka itu aku mohon bantuan kau. . dari itu. Kwee Ceng berbangkit. dan siang dan malam terus ia belajar silat tangan kosong dan pedang.

dengan mendak. Kalau Kwee Ceng likat. Gochin melengak. putrinya Temuchin. tidak. ―Oh. tidak!‖ kata Kwee Ceng lekas. tak jadi ia pergi. ―Siapa suruh kau datang ke mari?‖ ia menegur. Mukanya Kwee Ceng menjadi merah. untuk tukar itu dengan sambaran tangan kiri ke pinggang. kurang senang dan berbareng girang. Hari itu Gochin tahu Kwee Ceng hendak pergi pai-bong (sembahyang kuburan). dia dibelakangmu. ―Apakah kau tidak senang aku datang?‖ tanya si nona dengan tertawa. Selang beberapa jurus. sedang serangannya Hie Jin pun dibatalkan ditengah jalan. ―Kita pulang bersama sebentar. ―Aku datang sendirian.― ―Bukannkah kakakmu pun datang. dia dan ibunya sering diantarkan pakaian dan binatang ternak. ilmu silat ―Tangan Arhat‖ dari guru she Han itu. cuma mukanya yang merah. ―Baiklah. Kwee Ceng luputkan dirinya. perlakukan ia dengan baik. selamanya si nona mengaku yang salah dan rela minta maaf. Orang yang tertawa itu tidak lari. mereka tersenyum. Baru sekarang Kwee Ceng mengerti. Demikian mereka hidup rukun seperti saudara saja. yang bersama Tuli dan pemuda she Kwee ini. dengan satu enjotan tubuh.Pendekar Pemanah Rajawali Menampak itu. ―Coba kau kasih lihat kebiasaanmu. main bersamasama. yaitu bagian Kay San Ciang-hoat. Ia sangat disayangi ayah ibunya. Cu Cong dan Kim Hoat terperanjat. ―Engko Ceng. Kwee Ceng membalas. sedang ibunya Gochin. setelah itu. ia justru muncul dari tempatnya bersembunyi. tapi Hie Jin lebih cepat pula. Sengaja sampai Kwee Ceng rubuh. hingga tampak nyata ialah satu nona elok dengan muka putih potongan telur dan kedua pipinya bersemu merah.‖ Saiuw Eng menganjurkan. yang ingat budi Kwee Ceng telah menolongi putrinya. ia sembunyi di antara pepohonan lebat. Ia gunai ajaran Lo Han Kun. usianya tak berjauhan serta biasa mereka bergaul. anak tolo!‖ Po Kie berseru. Kwee Ceng malu. Selagi guru itu berbicara.‖ Gochin tertawa. ―Siapa?‖ ia tanya. untuk bergurau?‖ Irawan D Soedradjat Page 118 ―Mana orang yang ikut padamu?‖ kemudian tiba-tiba Tin Ok tanya si putri. Hie Jin segera kasih mengerti bagian kelemahannya. Mereka pun lompat untuk cegah jalanan orang buat lari turun. ―Kenapa manda diserang selalu?‖ Anjuran ini diturut. apakah kau kena dihajar suhu?‖ ia tanya. Sering Kwee Ceng digoda. pergaualan kedua anak muda itu juga tidak dilarang. tapi begitu jatuh. kali ini si murid melompat mundur. Masih ia tersenyum. kau layani sie-suhu berlatih. ―Balas menyerang. . tiba-tiba terdengar dua kali suara tertawa. sedang Kwee Ceng jujur dan rada tolol. nanti aku pulang…!‖ Ia bicara dengan merdeka. Ia pun dapat menempur dengan seru. ―Siapa?!‖ mereka tanya. Membuka Gunung. sampai mereka bentrok. baru ia muncul untuk menggodai anak muda itu. ia rada manja. Nona itu tertawa. guru yang keempat ini sudah menyusul dan tangan kanannya kembali menjambak pundak. si nona polos dan jenaka. ia pergi dulu dengan menunggang kuda. meskipun disana ada enam orang lainnya. dengan satu tolakan. hingga ia saksikan segalanya. ia lompat bangun pula. ―Aku senang melihat kau dihajar!‖ sahutnya. Ia berlaku cepat. Senang Cu Cong semua menyaksikan eratnya hubungan anak-anak ini. Sekarang ia meninju ke dada. Hie Jin tersenyum. Kwee Ceng dibikin terpental dan jatuh. ia pun bukan lain daripada Gochin Baki. ynag datangnya dari pepohonan lebat disamping mereka. tapi tak lama mereka akur pula. ―Kau kaih ngosuhu lihat padamu!‖ ―Sie-suhu‖ yaitu guru keempat dan ―ngo-suhu‖ guru ke lima.

cucu Wang Khan. Tidak senang si nona mendengar itu. kakak tertua. ia toh berat nanti akan berpisah sama ini anak muda. ia menjadi heran. Mesti baru saja orang curi itu. Kwee Ceng tidak mengantar terus sampai di tenda Temuchin. Wang Khan itu mengantar panjar. maka itu tepat kalau ia dijodohkan sama cucunya Wang Khan…‖ Irawan D Soedradjat Page 119 . Ia lihat itu semua. semuanya orang Mongolia. Melihat tuan putrinya. Kha Khan titahkan aku menyambut. Gochin masih bersangsi sesaat. yang dikepalai oleh satu pekhu-thio. tak senang ia menikah sama Tusaga. Itu waktu terdengar suara tetabuan. pergi kau temani tuan putri pulang.‖ katanya. Maka tak mau ia pulang. sembari lari. ―Ada datang utusannya Wang Khan. perlahan bicaranya. tengkorak hilang satu!‖ tiba-tiba Kim Hoat berseru. Ia sendiri mendahului lari turun gunung. ―He. lekas susul!‖ toako ini menitah. semua orang hampirkan saudara she Coan itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kakak tidak datang! Benar aku datang sendirian. saudarasaudaranya menyusul. Ketika Lie Peng. untuk memberi hormat. yang sombong dan galak itu. Si nona ulur lidahnya. Sekarang benar tidak ada orang disitu. ―Disini tidak ada orang.‖ Tanpa tunggu jawaban. Coan Kim Hoat pergi memeriksa. di mana ia tinggal bersama ibunya. Kim Hoat menjelaskan semuanya kepada Tin Ok. tetapi kita tetap orang Han. kaget dan curiga. ia apsang kupingnya. ia larikan kudanya pergi menyusul saudara-saudaranya.‖sahut Kwee Ceng. ―Disana ada tindakan kaki kuda. Ia berduka. Ia lantas berpikir. Siauw Eng tidak turut saudara-saudaranya pergi. ia terus balik ke tendanya sendiri. menyusul suaranya seorang lain. Dengan berlari-lari. akhirnya ia pulang juga. Baru sekarang Lie Peng dapat mendugai hal putranya ini. maka ia duudk diam saja. ―Terang sekali aku dengar suaranya dua orang!‖ Tin Ok berkukuh. Maka saudarasaudara yang lain pun pada mengejar ke arah selatan itu. Ia memberi hormat pula dan katanya: ‖Kalau tuan putri tidak pulang. Kha Khan bakal hukum hambamu ini…‖ Gochin dijodohkan dengan Tusaga. Ia lantas menghibur: ―Tuan putri benar baik sama kau. Sebaliknya. ―Cegat di empat penjuru!‖ seru toako ini. Pekhu-thio itu menjadi serba salah. masih ada bekasnya di salju. Dengan tongkatnya ia menunjuk ke pepohonan lebat di belakang kuburan. meski tidak ada soal asmara.‖ ―Liok-tee. Memang telah lenyap sebuah tengkorak. tongkatnya menuju ke selatan. ―Tuan putri. ―Aku tak mau pulang!‖ katanya sengit. ―Ini bukan urusanmu.‖ katanya. pemimpin satu eskadron. coba lihat!‖ Tin Ok minta. tapi ia erat bergaul dengan Kwee Ceng. ―Untuk apakah?‖ tanya si putri. Ia sangka orang itu adalah kawannya si nona. Temuchin ingin putrinya temui si utusan.‖ sahut perwira itu. Tak mau ia menentangi ayahnya. Kembali orang heran. ―Apakah aku yang salah?‖ tanya Gochin pada si anak muda. Tidak lama dari itu muncul beberapa puluh penunggnag kuda. Ia kata pada Kwee Ceng: ―Anak Ceng. itulah tanda penyambutan pada utusan Wang Khan. bertanya. ―Rupanya telah datang musuh yang lihay‖. dia itu lompat turun dari kudanya. ia tidak perhatikan. Tadi dengar tertawanya Gochin. ibunya. ia lantas menjadi gusar. ia tetap membungkam. keningnya mengerut.

yang lain hendak membikin patah lengan musuh. Itu bukan dandanan orang Mongolia. terpaksa ia lepaskan kedua tangannya dan mencelat mundur. yang usianya delapan atau sembilanbelas tahun. Kalau ia 120 ―Mari kita berlatih pula!‖ kata si imam. Mereka itu sia-sia belaka menyusul penunggang kuda atau pencuri tengkorak itu. Kim Hoat lantas ajari muridnya jurus-jurus dari Tiang Kun. Sebagai Biauw Ciu Si-seng. tangan kirinya menyerang sikut. habis berlatih. Setelah itu. Untuk lindungi diri. tangan bajunya lebar. Dia bicara dalam bahasa Tionghoa. mukanya tidak kelihatan. Inilah jurus ―Orang-orang patah bahunya‖ salah satu dari jurus ilmu silat. seorang diri mana aku sanggup melawan? Bagaimana kalau musuh menerjang ke dalam tenda untuk melukai ibuku?‖ Ia ambil keputusan dengan cepat. cuma dengan ilmu ini ia nanti sanggup layani Kiu Im Pek-kut Ciauw dari Bwee Tiauw Hong yang setiap waktu lambat atau cepat. yang masih berjaga-jaga. tuan putri bakal bersengsara…‖ Lie Peng tahu baik hati anakanya itu. Orang itu terperanjat. menyusul mana sebelah tangannya menekan ke dada orang. ―Siapa kau?‖ tanya Kwee Ceng. ia putar goloknya. untuk membebaskan diri. Kalau orang itu kena diserang. mengatakannya dengan perlahan: ―Tak kecewa pelajarannya. ―Membagi urat memisah Tulang‖. Sebat gerakan orang itu. di antara sinar rembulan. yang tidak gubris perkataan orang. ―Mana pisau belatimu yang tajam mempan besi? Mari kasih aku lihat!‖ Tiba-tiba ia melompat mencelat. dan sekarang Kwee Ceng menggunai itu untuk melawan musuhnya. Meski begitu. ia lekas serang mukanya Kwee Ceng. Ia pun terus menyerang tanpa tunda kata-katanya itu. untuk naik pembaringan tanpa salin pakaian lagi. yang semuanya sudah pulang. Ia lantas bangun. ia memandang ke sekitarnya. sampai di sisi anak si muda. Ia bukannya meloloskan diri hanya menyerang. Ia pun dengar si imam atau tosu. lalu ia sinngkap tenda dengan tiba-tiba. Ia dengar tanda tiga kali tepuk tangan. ia mengegos ke kiri. dia masih merasa sakit terkena sambaran anginnya serangan lawan itu. kakinya menendang jatuh golok orang. ia bertindak ke tendanya akan menyingkap dengan hati-hati. denagn menikah sama dia. Di sebelah kiri di bawah pohon ia tampak seorang berdiri diam. ―Musuh datang cari musuh…‖ pikirnya. Ia pun dapat lihat tegas lima liang pada tengkorak itu. sampai Kwee Ceng tidak bisa lindungi goloknya. bakal cari padanya. untuk lompat keluar. terlepas sambungan sikutnya. ia tidur terus sampai pulas. tidak sia-sia pengajarannya Kanglam Liok Koay selama sepuluh tahun…‖ ―Kau siapa?!‖ tegur Kwee Ceng. ―Habis kau mau apa?!‖ tanya Kwee Ceng. ia bisa asah otaknya menciptakan ilmu silat itu. si Mahasiswa Tangan Lihay. Ia melatih bersama Coan Kim Hoat. tangan kanannya menyambar lengan orang itu. tangan kirinya menyambar lengan si imam dan tangan kanannya menyambar ke batang leher. Ilmu silat ini Kwee Ceng dapatkan dari Cu Cong dan Cu Cong mengutamakan ini karena ia pikir. tanpa ampun lagi. Kwee Ceng berdiam terus sampai habis bersantap malam. Dia cuma kata: ―Kalau kau berani. . Adalah kira-kira tengah malam.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ibu. setelah mana ia pergi ke tenda gurunya. Setelah itu Kwee Ceng lihat orang adalah satu imam muda yang mukanya bersih dan tampan. ―Untuk apakah kau mencari aku?‖ Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng menanti tidak bergeming. Untuk kagetnya. untuk segera dupak tengkorak itu hingga mental jauh beberapa tembok. dengan sipa sedia. Ilmu ini pun baru ia ciptakan sendiri. Lapat-lapat Kwee Ceng dengar tetabuan. mari turut aku?!‖. bajunya gerombongan. ―Suhu tidak ada di sini. bahu kanannya mesti patah. muridnya pulang. sebab tadinya ia tidak pikirkan untuk pelajarai itu. Ia lebih dulu ambil goloknya. ia tampak satu tengkorak tepat di jalanan di muka kemahnya. kapan tangan imam itu sudah hampir sampai pada dadanya. aku bukan pikiran itu.‖ Kwee Ceng akhirnya mau juga buka mulutnya. ia mendusin dengan terperanjat. ―Hanya Tusaga itu kasar dan kejam. ―Mau apa kau cari aku?‖ ―Kau toh Kwee Ceng?!‖ orang itu tegasi. ―Habis apa daya kita sekarang?‖ katanya. ia menghela napas. Maka kagetlah Kwee Ceng. Tapi ia sempat berkelit.

Tanpa sangsi. teecu datang untuk memujikan suhu semua sehat-sehat!‖ Lantas ia berlutut untuk mengangguk-angguk. mengapa kau robohkan anak Ceng? Bukankah kau sengaja datang untuk pertunjuki pengaruh sebelum tiba saatnya bertanding?‖ Irawan D Soedradjat Page 121 Itu waktu Cu Cong telah membuka sampul dan membaca suratny. meskipun ia telah diperingatkan. ―Hm!‖ Tin Ok perdengarkan suara tawar. tiba-tiba ia dengar seruan dari belakangnya: ―Serang bagian bawahannya!‖ Dengan tiba-tiba bangkitlah semangatnya Kwee Ceng. yang dapat bergerak-gerak dengan pesat sekali. Untuk kegirangannya. Imam itu kenali serangan berbahaya itu. Segera. ia lantas kurung diri dengan rapat. tetapi lemah bagian bawahnya. Ia kenali suaranya sam-suhu. Karena ini. menuruti petunjuknya Po Kie. atas titah guruku Tiang Cun Cu Khu Totiang. dan ini terlihat tegas oleh Kanglam Liok Koay. ia juga tidak menunjukkan tanda hendak menerobos keluar dari kurungan. mereka tidak mengulurkan tangan untuk mengasih bangun. hingga terpaksa ia main mundur. ia angsurkan kepada enam manusia aneh itu – tegasnya kepada Cu Cong. ―Awas!‖ teriak po Kie dan Siauw Eng yang terkejut. sudah terlambat.Pendekar Pemanah Rajawali berhasil. Khu Cie Kee memperingatkan bahwa sepuluh tahun sudah berlalu sejak perpisahan mereka di Kanglam dan dia turut berduka cita atas meninggalnya Thio A Seng. Syukur kuda-kudanya kuat dan tendangan tak hebat. maka itu tak ampun lagi. ia sampai tidak ketahui munculnya keenam gurunya itu. tubuhnya itu jatuh celentang. dengan suara keras. kedua kakinya saling sambar dengan tipunya Lian-hoan Wan-yoh-twie – kaki Burung Wanyoh Berantai. gurunya yang ketiga yaitu Han Po Kie. terus disempar. tempo kakinya lawan melayang. Ia sampai tidak menyangka bahwa musuhnya bakal menggunai akal.‖ kata Kwa Tin Ok. Saking gesitnya. Melihat itu. Saking memusatkan perhatian pada lawan. ia memberi hormat kepada Kanglam Liok Koay. dia titahkan teecu datang kemari untuk menghanturkan banyak-banyak terima kasih‖. Keinsyafan ini. ia menjura ketika ia mulai berkata: ―Suhu berlima banyak cape! Guruku sangat bersyukur. Tosu itu tidak bersiap untuk memberikan perlawanan. tubuhnya melayang. ―Mari kita bicara di dalam. hingga ia merasakan sakit sekali. karena ia pikir: ―Kalau kau datang dengan maksud baik. Ia hendak maju pula tetapi ke enam gurunya sudah mulai kurung si imam muda. melihat keringan tubuh orang. ditambah sama kekhawatirannya akan munculnya Bwee Tiauw Hong. Cu Cong berenam bersangsi. ia dapat lantas berlompat bangun dengan gerakannya ―Ikan Tambra Meletik‖. tidak tempo lagi. hingga ia menjadi terdesak. Cie Peng mengerti orang hidup bukan main sederhananya. Imam itu licah gerakannya. Ia kata: ―Teecu In Cie Peng. Kwee Ceng kurang pengalaman. Kwee Ceng merangsak maju. Ia memberitahu bahwa pada sembilan tahun yang lalu ia telah berhasil mencari turunan Yo Tiat Sim. sebaliknya dengan rangkap kedua tangannya. tidak terluka. maka itu Po Kie sadarkan muridnya. Kwee Ceng segera mengerti bahwa imam ini ada terlebih pandai daripadanya. In Cie Peng turut masuk. Disaat kewalahan. ia mulai menyerang di bawah. akan copotlah batang leher si imam itu. maka juga. maka itu si imam bangkit snediri untuk terus merogoh ke dalam sakunya guna menarik keluar sesampul surat. yang mana dengan kedua tangannya. membuat hatinya gentar. kempolan kanannya kena didupak. kaki kanannya kena dicekal lawan. Ia lantas menggeser ke kanan untuk terus menoleh. ia bebaskan diri pula. Coan Kim Hoat menyulut lilin. Di situ Cu Cong tinggal berlima. Setelah belasan jurus. yang dengar suara tindakan kaki mendatangi. sampai ia lihat lawannya terhuyung. ia tampak keenam suhunya itu telah hadir semua. lantas saja si imam berbalik terdesak. karena Siauw Eng tidur di kemahnya seorang wanita Mongolia. Karena ini. hingga ia menduga kepada serdadu peronda bangsa Monglia. ia cuma terhuyung. Tenda itu berperabot buruk. . Jurus ini oleh Cu Cong dengan lucu dinamakan ―Sembari tertawa dan berbicara melepaskan rahang‖.

‖ sahut pula tosu she In itu. disaat bunga-bunga mekar. coba dia diam saja. hal kematiannya Thio A Seng. ―Apakah barusan kau layani dia untuk mencoba-coba?‖ Tin Ok tanya pula. kakakku itu mendahului dua tahun. untuk dengan terpincang-pincang ngeloyor pergi…. ―Ach ya. ―Atau kau tertawakan Kanglam Cit Koay yang satu diantaranya terbinasa di bawah cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw?‖ Baharu Cie Peng menjawab: ―Teecu ambil tengkorak itu untuk dibuat main.‖ Dingin hatinya Kanglam Cit Koay mendengar keterangan itu. Tidak diayana. perjanjian di Cui Sian Lauw tidak bakal digagalkan. ―Teecu memohon diri. Kwee Ceng kalah oleh In Cie Peng. Surat itu diakhir dengan pemberitahuan bahwa lagi dua tahun. tepat toako ajaradat padanya. satu sutee. tentang sifatnya dan ilmu silatnya. ―Imam cilik itu tak tahu adat. Cie Peng berdiam. Saking kaget. ―Teecu tidak berani. Mereka sendiri menemui Kwee Ceng secara kebetulan. maka jatuhlah ia dengan hebat. Tin Ok semua terperanjat. mereka berdua pihak bakal bertemu pula di Cui Sian lauw di Kee-hin. sampai sekian lama.‖ bilang Tin Ok. bebokongnya sakit.‖ kata Cu Cong akhirnya. yang berkhawatir oleh sikap orang.‖ Cie Peng likat. Ia diperintah gurunya pergi ke utara untuk menyampaikan surat. tak ada maksud lainnya. untuk membebaskan diri. ―Memang ini tulisannya Khu Totiang. walaupun ia tidak bermaksud jahat.Pendekar Pemanah Rajawali Mengetahui ini. Inilah hebatnya. ―Benar. Tin Ok antar orang sampai di muka tenda. teecu tidak tahu-menahu…‖ ―Hm!‖ bersuara Tin Ok yang terus berdiam. ia dipesan untuk sekalian selidiki Kwee Ceng. Tentang Hek Hong Siang Sat dan Kiu Im Pek-ku Jiauw. Cie Kee begitu cepat menemui nyonya itu serta anaknya. Tin Ok angkat tubuh orang dan membanting. ―Sekarang kau sampaikanlah kepada gurumu itu. Coan Cin Kauw banyak pengikutnya. Sebaliknya. tetapi muridnya ini menyeleweng sedikit. Mendadak orang she Kwa ini berseru: ―Kau pun jumpalitan!‖ dan tangan kirinya menyambar ujung baju orang di betulan dada. Setibanya di Mongolia. dan hal sekarang mereka berdiam di padang gurun ini…. Khu Cie Kee memperhatikan putra sahabatnya.‖ sahut Cie Peng. sang suheng? Pula heran. mereka sendiri tidak tahu suatu apa perihal imam itu! Inilah tanda mereka sudah berada di bawah angin. hanya ia mencuri lihat Kwee Ceng berlatih.‖ kata Po Kie. diwaktu memasuki perguruan. ia bermaksud baik. hingga ia berdiam saja. Kali ini ia membangkitkan amarahnya tetuanya Liok Koay. dia Cuma akan jungkir balik.‖ jawab Cie Peng. yang ia lihat aneh. ―Anak turunan she Yo itu bernama Yo Kang?‖ Tin Ok bertanya.‖ katanya kemudian. di tepi sungai Onon. apa perlunya kau ambil itu tengkorak manusia!‖ Tin Ok tanya pula. baharu ia bisa merayap bangun. Cie Peng tidak segera menemui Kanglam Liok Koay. malah ia menguntit juga orang pay-bong terhadap Thio A Seng hingga ia saksikan semuanya. tetapi buat cari satu nyonya yang lenyap. Irawan D Soedradjat Page 122 . tidak nanti ia menerbitkan kecurigaan. hal mereka dapatkan Kwee Ceng.. ―Walaupun Kanglam Liok Koay tidak punya guna. jadi dia tidak usah khawatir suatu apa pun. bagaimana pula ia dapat melayani Yo Kang. Tak sangka ia bakal ditanyakan tentang tengkorak itu. ―Dia toh adik seperguruanmu?‖ Tin Ok menegaskan. ―Dialah kakak seperguruanku. Cie Peng jadi jengah. Cie Peng geraki kedua tangannya. Khu Cie Kee ketahui jelas tentang mereka. ―Walaupun usiaku lebih tua. Bilang bahwa kami tidak usah membalas dengan surat. benar-benar sulit. yang tersebar luas di seluruh negara. tetapi ia diperogoki oleh Tin Ok dan kabur. Coba ia lari tanpa sebat tengkorak. suaranya dingin. ―Apakah kau ada punya hubungan sama Hek Hong Siang Sat?‖ tanya Tin Ok sebab orang diam saja. Cie Peng memberi hormat lagi sekali.

sieko. Hebat senjata rahasia tok-leng dari kakaknya ini. tapi gurunya berjalan terus. ―Kalau tetap kau tidak hendak pergi melihat. Putri itu masih tertawa. ―Bukankah sama kalau sebentar kau menceritakannya kepadaku?‖ . ―Hebat pertarungan itu!‖ ia kata pula mendesak. Ia ingat perlakuannya Siauw Eng barusan. Tin Ok menghela napas pula perlahan. aku juga tidak mau pergi…‖ bilangnya sambil cemberut. ―Aku todak tahu. Ia menjadi masgul sekali. ―Kita bertujuh saudara sudah puas berkelana.‖ Kwee Ceng beritahu. Putri itu tertawa. ia menyusul. Murid ini mencoba berlompat. mengasih lihat roma cemas bernareng gembira. ―Aku tidak mau. ―Mari lekas lihat!‖. mari lekas!‖ Kapan ini bocah menoleh. banyak pengalaman kita. Mereka khawatir kalah berlomba dengan Khu Cie Kee menampak kemajuannya In Cie Peng itu. Kwee Ceng terperanjat. hingga ia berlinang air mata. apa boleh buat….‖ Cu Cong semua gegutan.‖ Siauw Eng ajari muridnya itu. tak pernah dipakai kecuali disaat genting. ―Ada apa?‖ ia tanya. maka itu. ―Apakah kau tidak dapat melatih dengan baik dan kembali dimarahin gurumu?‖ dia tanya. Senjata itu adalah senjata rahasia istimewa penjaga diri sejak si kakak tak dapat melihat matahari. habis itu baharu ia mengundurkan diri. ia mengangguk. ia menjadi gelisah menampak guru-gurunya mulai perlihat roman tidak puas. ―Ya.Pendekar Pemanah Rajawali Tin Ok berdiam.‖ Siauw Eng bilang. malah makin didesak. kau tidak mau pergi. rajawalai yang hitam yang menang atau yang putih…‖ 123 ―Pergi kau kembali dan melihatnya sendiri. ia kasih moyong mulutnya. ―Besok akan aku ajarkan kau senjata rahasia. mereka turut masgul pula.‖ sahut Kwee Ceng. selama tujuh atau delapan kali. Ia tahu semua gurunya ingin ia maju.‖ katanya pada Kwee Ceng. Kwee Ceng jujur. ia gagal senantiasa.‖ Kwee Ceng bilang. Untuk itu perlu orang berlompat tinggi dan jumpalitan. percuma gurunya ajari ia mesti begini mesti begitu. ―Banyak burung rajawali lagi bertarung!‖ ―Aku lagi berlatih. Kwee Ceng mengucap terima kasih sambil berlutut dan mengangguk. ―Benar. ia tinggalkan muridnya. ―Sekarang pergilah kau pulang dan tidur. ia dengar teriakannya putri Gochin: ―Engko Ceng. Ia sangsi apa Kwee Ceng dapat wariskan kepandaiannya itu dengan sempurna. ia lenyap kegembiraannya. semakin rajin guru ini mengajari muridnya. Sekalipun seorang yang berotak cemerlang ada sulit untuk dibikin maju dalam tempo yang pendek. ―Sudahlah. ia berduka sekali. Adalah kehendak mereka agar si murid maju cepat. Siauw Eng menjadi sangat berduka. ia mejadi sangat menyesal. baik pun yang berbahaya. tapi sekarang hendak siturunkan kepada murid ini. Akan tetapi sulit bagi mereka untuk mewujudkan kehendak itu. pula tak pernah diwariskan kepada lain orang. yang lambat kesadarannya. ―Mari lekas lihat!‖ sahut putri Temuchin itu. ―Anak Ceng. Semua saudaranya mengerti kedukaan toako ini. dengan lemparkan pedangnya. kita belum pernah mengkerat atau mundur!‖ Tin Ok mengangguk. Semenjak itu. ia masih berdiam tatkala dari belakang. hingga ia berdiri menjublak. lekas menghanturkan terima kasih kepada toa-suhu.‖ kata Hie Jin kemudian. ―Aku sendiri sampai tidak melihat. ia tampak putri itu yang duduk di atas seekor kuda. ia memanggil-manggil. Akhirnya si putri menjadi tidak sabaran. Itu pagi Siauw Eng ajari Kwee Ceng ilmu pedang Wat Lie Kiam dijurus keempat yang bernama ―Di cabang pohong menyerang lutung putih‖. selanjutnya kau jangan pedulikan aku lagi!‖ Irawan D Soedradjat Page Gochin lompat turun dari kudanya. selang sesaat ia menghela napas. mari lekas. apa pula Kwee Ceng yang bebal itu. ia membuatnya semakin banyak kesalahan. karena aku datang untuk mengajak kau!‖ katanya.

semua sisa burung rajawali hitam itu terbang kabur. ada musuh. di udara terdengar riuh suara burung tadi. orang banyak hendak bubaran. sulit untuk mengenai mereka. lalu tertampak belasan si hitam terbang kembali. hati Kwee Ceng tertarik juga. Pun burung itu dapat menyampok anak panah. Panglima-panglima Teuchin lantas turut memanah. lalu bangkainya jatuh di depan Gochin. kira-kira sepuluh ekor musuhnya itu masih menyerbu terus. Ia datang dengan mengajak Ogotai dan Tuli. Gochin dan Tuli main-main bersama di lembah itu. Temuchin sebaliknya berkata kepada Ogotai dan Tuli: ―Si rajawali hitam menang perang. tiga ekor si hitam lantas kabur. hingga sayap mereka pada rontok berhamburan. ―Siapa yang dapat memanah burung itu. lekas berbalik! Bagus! Bagus! Kejar padanya! Kejar!‖ Lagi dua ekor rajawali hitam jatuh mati. ia akan mendapat hadiah!‖ Temuchin berseru. lantas berbunyi berulang-ulang. masih kau tidak mau memanah?‖ tanya Gochin sambil menangis. bulunya yang putih ternodai dengan darahnya yang merah. mereka itu menggunai siasat. justru itu. hebat setiap patukan dan cengkeramannya. buat diajak naik bersama ke atas kudanya itu. kawanan si hitam terbang ke arah sebelah liang di atas jurang. Sering Kwee Ceng. tinggal lagi tiga. Rajawali putih lebih besar dan patuknya terlebih kuat. Menampak itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah itu sepasang rajawali putih yang besar yang berkelahi?‖ Kwee Ceng tanya. Tuli pun mencoba. Hebat si putih. Seekor rajawali hitam yang tubuhnya lebih besar daripada yang lainnya. segera ia siapkan panahnya. tetapi sepasang rajawali putih juga telah mendapat luka. yang masih bertempur dengan seru. menerjang si putih yang lagi berdiri sambil merapikan bulunya. yang rubuh terbinasa dengan segera. Habis itu. Irawan D Soedradjat Page 124 . ―Benar! Kawanan si hitam banyak tapi si putih lihay. kena disambarnya. hampir setiap hari mereka tampak sepasang burung rajawali putih itu. terus ia menarik. yang menyaksikan siasat perang si hitam. Sudah begitu. Sebentar saja sudah bnayak penduduk yang datang melihat pertempuran rajawali itu. maka itu tidak heran kalau sekrang mereka mengharapi kemenangannya si putih hingga mereka berteriak-teriak menganjuri si putih itu. Temuchin tertawa. patuk padanya! Awas di kiri. dia melawan sebisanya. Setelah itu. Riuh tempik sorak memuji Khan yang besar itu. ―Ayah. dan ia juga berhasil merubuhkan seekor. maka ingatlah kamu!‖ Dua putra itu mengangguk Habis membunuh si putih. lalu kira-kira sepuluh kawannya terbang pergi. lekas panah!‖ ia teriaki ayahnya. lalu anak panahnya nancap di badannya seekor rajawali hitam itu. ia memanah. ke jurang. malah Gochin lantas menangis. malah Temuchin yang mendengar kabar itu juga turut muncul. ―Coba kau memanah!‖ kata Temuchin seraya menyerahkan panahnya kepada Ogotai. Tuli dan Gochin menjadi kaget dan cemas. Kata mereka itu saling ganti: ―Hayo putih. Kwee Ceng bertiga. satu si putih mengejar. ―Bagus!‖ berseru Temuchin. semua penonton bersorak-sorai. ia merubuhkan seekor rajawali hitam itu. tetapi akhirnya ia jatuh karena luka-lukanya. Putra itu menurut. ―Ayah. dan ia tarik tangan si tuan putri. sudah enam atau tujuh ekor si hitam yang mampus…‖ Mendengar itu. Habis pertarungan itu. terhadap burung itu mereka mendapat kesan yang baik. guna kabur ke kaki lembah di mana terlihat belasan ekor rajawali hitam tengah mengurung dan menyerang rajawali putih. ―Mari!‖ katanya. tetapi burung-burung hitam itu sudah terbang tinggi. Demikian seekor musuhnya yang terlambat berkelit. dia matikan satu musuhnya. dai liang itu tertampak munculnya dua kepala anak rajawali putih yang mencoba membuat perlawanan.

menarik habis hingga busur itu melengkung sepenuhnya. aku hendak mewakilkan seseorang mohon suatu hal…‖ Irawan D Soedradjat Page 125 . ―Anak yang baik. ―Khan yang agung telah perlakukan aku begini baik. Temuchin tertawa lebar. kau hebat!‖ ia kata pada si bocah. kalau sepasang sayapnya direntangkan. ia menjadi girang sekali. yang jadi rubuh bersama di sampingnya si tukang panah. ―Jebe‖ itu berarti ―ahli panah yang lihay atau dewa panah‖ Tuli hendak bantu adik angkatnya itu. ―Apakah aku dapat mendustai anak-anak?‖ ayahnya itu tertawa. ia lantas menarik hingga busur itu. muridnya juga Jebe!‖ pujinya. Tapi anak panah itu tembus. ―Serahkan burung itu kepada ayahku!‖ Gochin berbisik di kupingnya Kwee Ceng. sekarang saudaraku ini memanah sekaligus dua ekor. tenaganya menjadi besar sekali. burung rajawali ada besar luar biasa. Si anak muda menurut. untuk di utara ini. kapan ia menyambar ke bawah. ia lari kepada Temuchin. orang banyak bersorak dengan pujiannya. Harus diketahui. sisa burung yang lainnya terbang kabur. Tidak tempo lagi. ia tekuk sebelah kakinya. dengan kedua kakinya ia berlutut di depan kudanya khan yang besar itu. dalam segala hal kau lebih dulu ingat ibumu!‖ katanya. yang terus tanya Kwee Ceng. Seumurnya Temuchin paling menyukai panglima yang gagah perkasa dan orang kosen. Sekarang bocah ini bisa memanah sekaligus dua ekor. sekarang ia saksikan Kwee Ceng serta sikapnya itu. ayah hendak menghadiahkan dia apakah?‖ ―Apa pun boleh!‖ sahut ayahnya itu. di depan siapa ia etkuk sebuah lututnya. ―Kau berlutut! Kau panah lehernya burung itu!‖ ia menyuruh dengan suara perlahan. ia kata kepada ayahnya. Itulah yang dibilang. lebar panjangnya sampai setombak lebih. Kwee Ceng menarik tangan kanannya. Justru itu dua ekor burung rajawali hitam terbang beredeng. ia dekati Kwee Ceng untuk menyerahkan panahnya itu. bulu sayapnya pun kuat seumpama besi. gurunya itu. terus menyambar perutnya rajawali yang kedua. Busur itu beratnya dua ratus kati tapi ia dapat menariknya. tidak lagi berputaran di atas jurang. ia turunkan panahnya. dengan tangan kiri memegang busur dan tangan kanan mencekal anak panah berikut talinya. ―Kau anak yang berbakti. sekali memanah dua ekor burung. untuk persembahkan burung itu. ia berniat pertontonkan ilmu panahnya Kwee Ceng. Kwee Ceng sambuti panah itu. Semua orang mengawasi Kwee Ceng. ―Ayah tadi bilang. itulah hebat! Temuchin suruh pengiringnya ambil burung itu. Dan karena ini. ibuku pun telah punyakan segala apa. dan seekor rajawali rubuh. Di dalam bahasa Mongol. ―Kau menghendaki apa?‖ Tuli girang sekali. ―Gurunya Jebe. malah adakalanya harimau atau macan tutul pun mesti lari dari burung ini. kedua tangannya diangkat tinggi. Temuchin tertawa pula. datangnya dari arah kiri. semabri menarik. ia mengincar. Tepat ia terpanah batang lehernya. apakah yang kau kehendaki? Kau sebutkan saja.‖ berkata Kwee Ceng dengan jawabannya. ―Inilah guruku yang mengajari. karena itu tidak usahlah aku diberikan apa-apa lagi. ―Kau sendiri.Pendekar Pemanah Rajawali Jebe si Jago Panah berdiri di samping Temuchin. sebab heran mereka atas sikapnya Khan mereka itu. Ingin mereka mengetahui apa yang si bocah bakal minta. siapa yang berhasil memanah. Ia berkata: ―Aku sendiri tidak menghendaki apa-apa. sia-sia ia mencoba berkelit. jangan takut!‖ Kwee Ceng perdengarkan suara perlahan. karena setelah sepuluh tahun berguru kepada Kanglam Liok Koay. ia dapat cekuk seekor kuda kecil atau kambing besar. dia bakal dihadiahkan sesuatu.― sahut Kwee Ceng yang tidak hendak mensia-siakan Jebe. ia memungut dua bangkai burung itu. ―Ser!‖ demikian anak panah menyambar. Menampak itu. atau tangannya menjadi melengkung. ―Benarkah barang apa pun boleh?‖ ia tegaskan ayahnya.

hanya ia menontoni. Temuchin berkata. kau anak kecil. ia mengawasi burung itu. Pada golok itu berpeta tanda darah. Putri itu tiba untuk terus lompat turun dari kudanya. yang lagi berlatih. Golok pendek itu adalah goloknya khan mereka sendiri. ―Musuh-musuhku tak usahlah aku sendiri yang membunuhnya. Ia lantas terbang berputaran. Irawan D Soedradjat Page 126 . kaulah yang mewakilkan aku membunuh mereka!‖ Belum lagi Kwee Ceng sahuti si khan itu. tidak nanti ia serahkan goloknya itu. ―Tusaga. Ia masih tidak berhasil menyempurnakan jurus ―Di cabang pohon menyerang lutung putih‖. ia timpuki itu kepada si anak muda. Semua panglima menjadi kagum dan memuji.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah itu?‖ tanya Temuchin. agaknya ia terkejut. ia hunus golok pendek itu dan melihat sinarnya yang tajam. dibelakang hari mestinya tuan putri menderita.‖ kata Kwee Ceng. engko Ceng. mari beristirahat!‖ ―Kau jangan ganggu aku. Tengah ia berlatih. ia sendiri terus berlatih. Kalau ia tidak melompat terlalu rendah ia tentu tak keburu menggerakkan pedangnya. lalu ia mengeluarkan sapu tangannya. untuk pulang ke kemahnya. Ia menanti sekian lama. Kwee Ceng bersuara perlahan. Dialah burung tadi. hendak aku menghadiahkan kau serupa mustika!‖ Ia loloskan golok pendek di pinggangnya. lihat bagaimana harus dikasihani burung itu…‖ berkata Gochin. hingga ia bermandikan keringat. yang sarungnya terbuat dari emas dan gagang golok berukirkan emas berkepala harimau. Gochin berdiam. Semua panglima dan pangeran mengikuti dari jauh-jauh. yang kedua ujungnya ia gumpal masing-masing sesudah mana. yang rupanya baharu kembali. ―Engko Ceng. ia berkata: ―Sudah. golok mustika yang pernah dipakai membinasakan bnayak musuh. Ia tidak ganggu Kwee Ceng. Hanya ketika ia saksikan kawan itu sangat mengeluarkan tenaga. Kwee Ceng tunggu sampai orang sudah pergi semua. ―Kau sustlah peluhmu!‖ katanya.‖ ia berkata. yangs seperti mendatangkan hawa dingin adem. Baiklah. ia dengar suara berisik dari kedua anak burung rajawali putih di atas tebing. ―Sungguh ucapan kanak-kanak!‖ katanya. suaranya sedih. lalu ia tertawa mengawasi kawannya itu. jangan berlatih terus. ia dengar suara berkelengannya kuda. dimana ada terukir pula katakata: ―Golok pribadi dari Khan Temuchin‖. hatinya menjadi lemah. sebelah tangannya dipakai untuk menunjang kepalanya. buat terus rebahkan diri di atas rumput. ―Mana dapat. Gochin terus mengawasi. sampai satu kali ia angkat kepalanya. ia masuki ke dalam sarungnya. ia sodorkan itu pada si bocah. Coba tidak khan itu telah melepas kata. Ia menahan sabar. bunyinya: ―Membunuh musuh dan memusnahkan musuh bagai menyembelih harimau dan kambing‖. terus ia lompat naik atas kudanya yang lantsa kasih kabur! Temuchin keras bagaikan berhati besi akan tetapi menyaksikan putrinya yang paling ia sayangi itu begitu bersusah hati. ia malah makin gagal. ai mencoba pula. tetapi ia antap sapu tangan jatuh di sampingnya. yang mengejar kawanan burung hitam itu. habis membuat main itu golok. ditabur sepotong batu kumala hitam. lalu ia tampak Gochin lari mendatangi dengan kudanya. ―Kalau Putri Gochin dinikahkan dengannya. ia sudah lantas ketahui kebinasaan pasangannya. Di sebelah itu masih ada ukiran dua baris kata-kata. maka juga ie menghela napas. Melengak Temuchin mendengar permintaan itu. Dia rupanya bermata tajam. Kemudian ia cabut pedangnya sendiri. ia sambuti golok itu. cucunya Wang Khan itu busuk dan jahat. mendadak Gochin menangis. Kwee Ceng menhanturkan terima kasih. yang menyatakan entah berapa banyak korban yang telah dimakan. menyusul mana segera terdengar suara yang keras tetapi agak hebat dari si rajawali putih besar yang terbang datnag. Kwee Ceng berhenti berlatih. agaknya mereka sangat ketarik hati. aku tidak punya waktu untuk temani kau berbicara. lalu akhirnya ia tertawa terbahak. Terus ia putar kudanya. maka itu aku mohon denagn sangat supaya janganlah tuan putri dijodohkan dengan dia itu‖ sambungnya kemudian. untuk melatih Wat Lie Kiam-hoat.

di dekat liang yang merupakan sarang burung rajawali putih itu. tidak ada abunya sedikit juga. ia hunus golok hadiahnya Temuchin. setelah mana. terus ia terbang ke atas seprti memasuki mega. pedangnya telah pindah tangan kepada si imam itu. Jurang itu tinggi. untuk mendaki dengan cepat. lalu Kwee Ceng merasai bahunya kaku. yang tangannya mencekal hudtim atau kebutan pertapa. sangat cepat. turunannya pun tak boleh tak ditolongi!‖ ia berkata. Ia masih saja tidak berhasil melatih jurus keempat yang bau diajari gurunya itu. Ia menjadi tidak senang. ―Kecuali orang bersayap dan dapat terbang naik ke atas sana. Mana bisa ia membela diri atau berkelit? Berbareng dengan itu. ia lompat untuk lari ke jurang. Ia pegang pula pedangnya dan mulai lagi denagn latihannya. gerakannya bagai lutung atau kera. Untuk sejenak itu. sebab ia telah mebuat tiga konde kecil di atas kepalanya. ia sudah mencapai hingga di atas jurang. ia menoleh. kagum ia untuk lihaynya ini imam. untuk bersiap melindungi putri ini. mulutnya terbuka lebar. Lagi sekali burung besar itu perdengarkan suara nyaring. Di atas tebing itu si imam tampak menjadi kecil tubuhnya. ia tertawa. Imam Berkonde Tiga Kwee Ceng menjublak sekian lama. ―Dengan belajar secara demikian. Si imam lempar pedangnya ke tanah. ―Burung rajawali putih itu harus dihormati. memandang ke atas tebing. burung itu sudah terbang turun pula. sedang jubahnya bersih sekali. cara bagaimana mereka bisa mencari makan? Bukankah mereka itu bakal mati kelaparan…. lekas-lekas keduanya berpaling. tujuannya ke jurang. ―Apa katamu?‖ ia tanya. dan segera ia berkata: ―Bagaimana dengan kedua anak burung itu? Bapak dan ibunya telah mati…‖ Sarang di liang di atas tebing itu sukar dipanjat orang. Ia pun sudah lantas menoleh pula. Belum berhenti suaranya Gochin. maka di detik lain. Ia berlari dengan kaki. hanya mendadak ia maju mendekati. yang tidak pedulikan sikpa orang. tebing dan semua batunya licin. belum bisa terbang. Mereka melihat satu tosu atau imam. Irawan D Soedradjat Page ―Bagaimana?‖ tanya Gochin yang memeramkan matanya. ―Liaht biar tegas!‖ bersuara si imam itu. baru ia buka suara. beroman sebagai huruf ―pin‖. hanya ia mencelat ke atas. atau tahu-tahu ia telah serbu batu gunung yang besar. ia berkhawatir untuk Gochin. Ia awasi imam berkonde tiga itu. belum ia menginsyafi gayanya. ―Sungguh harus dihormati! Sungguh harus dihormati!‖ tiba-tiba mereka dengar satu suara nyaring di belakang mereka. akan tetapi ia belum dapat menyakinkan itu dengan sempurnya. Gochin tidak mengerti bahasa itu. Si imam tersenyum. keduanya kadi terdiam. tidak biasanya untuk orang yang berada di gurun pasir. yang berkumis abu-abu tetapi mukanya merah dadu.? Bab 12. Bocah ini berdiri melengak. maka itu. 127 Hati Kwee Ceng dan Gochin berdenyut keras tak hentinya. gerakan siapa ia sepertinya tidak melihatnya. kedua burung itu masih kecil.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pasti ia sangat berduka. lalu dengan satu kelebatan. Maka segera ia melompat ke depan tuan putri itu. sedang turunnya si imam adalah sangat cepat tetapi tenang. Mereka kagum. ilmu dengna tangan kosong merampas senjata musuh. Cu Cong. Pernah Kwee Ceng diajari gurunya yang kedua. Mereka menjerit dan sama-sama mencelat. ia tidak menyahuti. Hancur-luluhlah kalau orang jatuh dari atasnya. ―Mau apa ia terbang ke atas?‖ tanya tuan putri itu.‖ sahut si engko Ceng itu. hingga tahu-tahu ia sudah jalankan jurus yang Kwee Ceng tak sanggup pelajari itu. Tiba-tiba terdengar suara dingin di belakangnya. menjambret dan merembet dengan tangan. heran dan berkhawatir untuk keselamatan si imam. Dan ia pun berbicara dalam bahasa Tionghoa. . hingga mereka menjadi heran. baru anak-anak burung itu dapat di tolongi…‖ katanya. yang aneh dandannya. lagi seratus tahun juga tidak bakal berhasil!‖ Kwee Ceng berhenti bersilat. ia sudah roboh dengan tidak bernyawa lagi! Dua-dua Kwee Ceng dan Gochin terkejut sekali. sebentar kemudian.

‖ sahut Gochin. tubuhnya seperti terpelanting jatuh. ―Aku belajar rajin dan ulet akan tetapi tetap aku tidak dapat belajar dengan sempurna hingga karenanya aku membuat keenam guruku menjadi tidak senang…‖ ―Habis. ―Kenapa?‖ si imam tanya. akan tetapi sekarang akulah yang bawa dulu. Bocah ini menggaruk-garuk kepalanya. dan dengan ulur kedua tangannya.‖ ―Aku tahu. ―Eh. maka itu diwaktu mengasih makannya kau mesti hati-hati. tunggu dulu!‖ kata si imam. hingga susah ia membuka mulutnya. lalu di lain pihak ia kagumi si imam ini yang demikian lihay. untuk kemudian dimasukkan ke dalam sakunya. baru suka aku serahkan burung ini padamu!‖ ―Apakah itu?‖ si putri tanya. ―Totiang. tertawa. Ia kata klepada Kwee Ceng: ―Engko Ceng. justru ia melihat si imam lompat ke liang. yang merogoh keluar kedua anak burung itu. hingga ia menjerit kaget. Ia menjadi seperti kehilangan semangatnya. Ia girang bukan main. burung ini kita punyakan seorang seekor. bisa!‖ sahut si putri dengan cepat seraya menyambuti. Kwee Ceng dan Gochin lari menghampirkan pertapa itu. Dia Tiba di bawah dengan tak kalah cepatnya sewaktu ia mendaki. seraya ia tanya Gochin. ia berkata: ―Kalau nanti sepasang anak burung ini menjadi besar. ia mulai menangkap dua anak rajawali itu. aku ada sangat bebal…‖ ia kata kemudian. Irawan D Soedradjat Page 128 . ia seperti menghadapi satu sanaknya yang terdekat. Ia tertawa pula. ―Kau mesti berjanji padaku satu hal.‖ Si imam ini tertawa. ―Aku nanti ambilkan daging untuk memelihara padanya!‖ ―Eh. agaknya ia baru sadar. mereka bakal menjadi sangat kuat dan galak. karena mana. ia sudah mulai turun pula. Si imam konde tiga itu pungut pedangnya untuk dikembalikan kepada pemiliknya. yang pun pandai mainkan jurusnya yang sulit itu. Mendadak Kwee Ceng mengucurkan air mata. Gochin lantas lompat naik ke atas kudanya dan kabur pergi. untuk apa kau pay-kui terhadapku?‖ si imam tanya.!― Gochin kasih turun kedua tangannya. entah sampai berapa puluh kali. rupanya sulit ia berbicara.‖ sahut si nona. lantas ia jatuhkan diri berlutut di depan si imam dan manggut-manggut.. tetap tertawa. Akan tetapi si imam tiba dengan selamat. dengan itu ia ikat kakinya kedua burung itu. ―Hati-hati. yang girangnya bukan main. ―Burung ini kecil akan tetapi patokannya sakit sekali. habis itu ia memutar tubuhnya sembari tertawa. untuk aku memeliharanya.‖ Gochin loloskan benang ikatan rambutnya.‖ kata si imam. Ia lihat si imam demikian sabar dan ramah. ―Siang dan malam aku berlatih. apakah yang kau kehendaki?‖ tanya si imam. untuk berlalu. ―Hal itu sebenarnya sulit juga. jangan sampai tanganmu kena dipatuk!‖ memperingati si imam. ―Baik. dilain saat. untuk mengangsurkan. tapi biarlah aku tidak menyebutkannya. ―Bisakah kamu merawat anak-anak burung ini?‖ ―Bisa. jangan pergi dulu…!‖ Kwee Ceng berkata.Pendekar Pemanah Rajawali ―Hampir tiba!‖ sahut Kwee Ceng. ―Bagus! Bagus. ―To…totiang. tapi Cuma sejenak. Kwee Ceng bengong mengawasiu tuan putri itu. ―Aku ingin kau tidak beritahu siapa juga yang aku telah mendaki jurang itu dan mengambil anak burung ini. ―Apakah kau ingin petunjukku?‖ imam itu tanya lagi. Akur?‖ Kwee Ceng mengangguk. tetap aku gagal…‖ Kwee Ceng kata pula. bisa.

―Mesti dapat!‖ ia keraskan hatinya. Baru ia mulai. Demikian sudah terjadi. Tapi matanya masih mengawasi ke pundak. hingga semangatnya terbangun pula. Ia cari lubang atau sela batu. tapi ia memandang ke atas bukit. begini saja. Setelah cukup beristirahat. Hari itu Han Po Kie ajarkan muridnya ilmu cambuk Kim-liong-pian. Sekarang. ―Dia bisa mendaki. Ia kenali suaranya si imam konde tiga. ―Aku lihat kau jujur dan bersungguh hati. Dan ia mencoba. sebaliknya. Ia baru pulang sesudah matahari turun dari gunung dan ia rasai perutnya lapar. lengan dan kakinya matang biru. Ia jambret setiap oyot rotan. Kwee Ceng menjadi korban. Satu kali ia terpeleset. ialah ia pakai golok pendeknya. setelah pesan si murid belajar terus dengan sungguh-sungguh. Tiba-tiba ia ingat perkataan gurunya yang keempat: ―Di kolong langit ini tidak ada urusan yang sukar. Senjata lemas itu beda darpada golok atau lainnya senjata tajam. asal hati orang kuat!‖.‖ pikir Kwee Ceng. kalau tenaga latihannya kurang orang tak akan terlukai kerenanya. dia sendiri yang bisa bercelaka. Setahu berapa banyak liang lagi harus dibikin untuk dapat naik ke atas.‖ kata si imam. Ia heran. Kwee Ceng menjadi bingung. mengangguk-angguk lagi. ia jalan terus. kepalanya sudah pusing. mana dapat aku mewariskan kapandaiannya itu? Percuma aku belajar dengannya…‖ Bocah ini menjadi tawar hatinya. ujungnya berdiam tepat di depannya! ―Ikat pinggangmu. hingga ia menjadi babak-belur. lenyap rasa dongkolnya Po Kie. ujung cambuk mengenai diri sendiri. Si imam sudah lantas berjalan. Ia ingat janjinya si imam. dengan tangan kanannya ia libat pinggangnya. turun pun sukar! Kwee Ceng menghela napas bahna sukarnya. Maka ia kertak gigi. Jalan naik lebih jauh batu melulu. atau mendadak ia dengar suara orang tertawa diatasnya. ia bernapas denagn perlahan-lahan. Ia membiarkan saja walaupun si murid lagi-lagi membuat beberapa kesalahan. ―Aku…aku…tidak dapat mendaki…!‖ katanya. maka terus ia berlatih lagi. satu kali Kwee Ceng salah menggeraki tangannya dan cambuknya mengenai kepalanya sendiri! Po Kie menjadi mendongkol. nanti aku tarik kau naik!‖ begitu suara terdengar. Tiga hari telah lewat. Irawan D Soedradjat Page 129 . untuk dipegang. tiba-tiba ada sehelai dadung meroyot turun. baru manjat dua tombak. sangat ayal. Tiba-tiba ia menjadi girang sekali. Maka itu akhirnya. Tapi kau tidak boleh beritahukan hal ini kepada siapa juga!‖ Ia menunjuk ke puncak yang ia sebutkan. ia mulai pula mencongkel batu. ―Kalau begini. ia sentil kupingnya si murid itu. Saban salah menarik. nanti selagi rembulan terang menderang. kakinya tangannya lemas. aku nantikan kau di atas puncak. untuk ia menindak. Dan ia lari ke kaki jurang. ia meninggalkan pergi dengan menunggang kudanya. mengikat keras. buat dijadikan tempat injakan. untuk mulai mendaki. mustahil aku tidak!‖ akhirnya ia kata dengan penasaran. Maka ia diam mendekam. ia merasa ngeri bukan main. hampir cekalannya terlepas. ia pun tidak berani dongak. ―Lagi tiga hari ada bulan pertengahan. Kwee Ceng tidak memperdulikannya. ia sekarang dapat akal. sengaja totiang hendak menyulitkan aku. Ia telah mesti menggunai tenaga terlalu besar. ia naik seperti merayap. Untuk heranya. seperti tembok yang licin. untuk mencokel batu. lalu ia berdiam. sambil sebelah tangan terus pegangi liang batu. dengan merasa sakit dan letih. ―Terang dia tidak ingin mengajari aku…‖ Cuma sesaat ia berpikir pula: ―Aku toh bukannya tidak punyakan guru yang pandai? Di depan mataku toh ada enam guru yang bersungguh-sungguh mengajari aku? Dasar aku yang tolol! Apa daya sekarang? Meski totiang lihay sekali.Pendekar Pemanah Rajawali ―Benar!‖ Dan Kwee Ceng mendekam pula. naik tak dapat. Kepalanya dan jidatnya benjut. Ia merasakan sakit pada tubuhnya. guna menancap itu untuk dipakai sabagai alat pegangan. hampir ia terjatuh! Kapan ia memandang ke bawah. Benar-benar sukar ilmu cambuk itu. ia tidak memperdulikannya lagi. ia rebahkan diri di rumput dan kepulasan. Lalu ia ingat pula pelajarannya. ia simpan goloknya. Tanpa banyak pikir. untuk melihatnya. Po Kie mengajari lima jurus. ia belajar terus. Ia mendusin sesudah rembulan muncul. ia merayap tetapi ia dapat maju setindak dengan setindak. Ia bisa naik setinggi enam atau tujuh belas tombak. Melihat orang bersungguh hati. yang kepalanya telah menjelut! Kwee Ceng tutup mulut.

mana mereka mau berlaku curang?‖ ―Pertaruhan apakah itu totiang?‖ tanya Kwee Ceng. hingga terlepaslah pegangannya pada batu dan injakan kakinya juga. Nanti dua tahun lagi. dalam hal pertaruhan. aku lupa! Suaramu tidak cukup keras. ―Inilah dia yang dibilang. kau ada punya semangat!‖ Puncak gunung itu boleh dibilang datar. sebenarnya sudah jarang orang Rimba Persilatan yang sepandai kau. baru ia terangkat naik. Kalau kau sudah mengikat rapi. ―Sudah!‖ sahut si bocah. Hahaha. guna menghanturkan terima kasihnya. Hanya untuk herannya. ―Kau baru belajar silat. kau ternyata keliru!‖ Kwee Ceng heran.‖ Kwee Ceng menjawab.‖ kembali si imam berkata. Kau duduklah!‖ Dengan hati bingung. mereka akan memberitahukannya padamu. asal kau dapat pelajarakn kepandaian satu saja dari enam gurumu itu. ―Sudah atau belum?‖ tanya lagi suara di atas. aku bukannya gurumu. Mereka adalah orang-orang terhormat. yang penuh dengan salju. sudi mengajarinya. ia sebenarnya telah menggunai akal. akan tetapi si imam cekal tangannya. Kesungguhan hatimu rupanya membuatnya kita berjodoh. ini pun satu pukulan untukmu. sekarang baiklah kau tidak usah menanyakan. tiba-tiba ia sudah sampai di atas. yang mengajar tak jelas caranya dan yang belajar tak menginsyafi jalannya…‖ ―Kalau begitu. jalan dan tidur…‖ Irawan D Soedradjat Page 130 . ―Biar teecu nerdiri saja menemani suhu.‖ Kwee Ceng bilang. aku mohon su…su…eh totiang. karena itu. aku tidak bisa peroleh kemajuan. lalu menambahkan: ―Ah. duduk. Kwee Ceng berduduk.‖ kata si imam. ―Walaupun kita tidak kenal satu sama lain akan tetapi kita saling menghormati.‖ menerangkan si imam pula. tak tempo lagi ia tekuk lututnya. Rupanya ia tidak dengar jawabannya si bocah. sudah cukup! Bagus. ―Keenam gurumu itu semua orang-orang Rimba Persilatan kenamaan. ―Kau bukannya orang kaumku.‖ kata si imam. biar suhu semua bersungguh-sungguh mengajarainya. untuk pay-kui. Kenapa imam ini ketahui urusan kekelahannya itu? ―Imam itu memang daripada kau. di situ ada sebuah batu besar yang rata. Untuk kau. ―Ketujuh gurumu telah bertaruh sama orang.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kau telah selesai mengikat?‖ tanya si imam dari atas. Habis itu mendadakan ikatan pada pinggangnya menjadi keras. ia tidak terlalu berkhawatir. Kau bukannya tidak rajin belajar. tetapi sebab tahu ia lagi diangkat naik. ia membetot tiga kali. tarik tiga kali!‖ Kwee Ceng menurut. belum tentu ia dapat menangkan kau. kau sudah bisa tonjolkan diri di muka umum. ―Rupanya gurumu belum memberi keterangan padamu.‖ Kwee Ceng memohon. ―Bicaranya tentang umumnya ilmu silat. mereka pasti menjadi tidak senang. lantas kau dijatuhkan si imam muda. segera tubuhnya terangkat. Ia terkejut juga. sudah cukup. dari itu tidak dapat aku ajarkan kau ilmu silat!‖ Kwee Ceng heran berbareng putus asa.‖ berkata si imam. kenaapa selama sepuluh tahun ini kemajuanmu tidak banyak? Tahukah kau sebabnya?‖ ―Itulah karena dasarku yang bebal. imam itu berkata: ―Kemarin kau telah pay-kui padaku seratus kali. untuk ditarik. Tiba-tiba ia tertawa. Disamping itu kepandaian keenam gurumu tak ada dibawahan aku. Akan aku ajarkan kau ilmu mengendalikan napas. ―Kau juga bukan muridku. ―Duduklah di sana!‖ kata si imam. kau tariklah dadung ini. ―Kalau aku ajarkan kau ilmu silat dan kemudian gurumu memdapat tahu. ―Coba kamu bertempur secara biasa. ―Itulah tidak benar seluruhnya!‖ jawab si imam dengan tertawa. berdiri tepat di depannya si imam! Bukan main ia girang dan bersyukur. Sekarang begini saja. sambil tertawa. tak sampai ke atas sini. kau lantas merasa pelajaranmu tak ada faedahnya. anak bagus.

barulah naik pembaringan dan rebah miring. Imam itu berkata pula. napas kasih jalan perlahan-lahan. Baru semua kuda dapat dibikin tenang dan berkumpul. kuda itu lari pula ke utara dan lenyap. Si imam mengawasi. Si imam bersila di depan orang. ―Ilmu bernapas. ―Sekarang duduklah dan mulai!‖ katanya pula. Tapi dia tidak pergi lama. ia ingat itu dan mengulanginya sampai beberapa kali. maka seterusnya setiap malam ia datang pada si imam. Lekas ia merasakan suatu keanehan. dan si penggembala. Si imam tidak ajari ia ilmu lainnya. tubuh kosong. yang lari larat. buka matanya. jalan dan tidur. tidur dan jalan. Kwee Ceng rasai ia dapat mendaki jurang lebih tinggi dan lebih gampang. Selang setengah tahun. yang bangun. Pada suatu pagi. ia lantas dapat lakukan apa-apa yang tadinya ia tidak sanggup lakukan.‖ lantjutnya kemudian.‖ kata si imam. begini. hingga kuda ini menjadi kacau pula.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng heran bukan main. Nah. Lain keanehan yang nyata.?‖ pikirnya. setiap hari mereka omongkan hal pibu dan bakal pulang itu. im hapus. kuda itu menyerbu ke rombongan kuda banyak itu. tetapi ia lawan itu. Kwee Ceng menurutm ia mencoba. tetapi tak dapat karena kuda itu lari kabur. hati mati. Ia melainkan tahu itu berarti: ―Pikiran tenang. semangat hidup. jangan ngawur. Kwee Ceng menjadi semakin heran. menggigit dan menyentil.‖ Kwee Ceng menurut. ―Sekarang kau rebahlah.‖ Lantas si imam mengajari caranya napas disedot masuk dan keluar sambil bersemadhi. kau ingat baik-baik. da ia kerek turun tubuh bocah itu. Itulah segerombolan kuda. buat apa akukah mengajarinya?‖ katanya. orang mesti kosongkan otaknya. mereka girang sekali. ―Aku ada punya empat perkataan. baru di bagian yang licin. Hanya. dari itu mari kau coba-coba. tetapi ia menurut. Mereka hendak tangkap kuda merah itu. Mulanya. perasaan terlupa. Hie in sedang hendak mulai berlatih sama muridnya itu tempo kelihatan debu mengepul jauh di sebelah depan dan terdengar berisik suara kuda dan orang. tempo akhirnya ia sadar. aku hampir bisa semua itu sendirinya. ―Begitu aku terlahir. Hie Jin kata pada muridnya: ―Anak Ceng. selang satu jam. kembali ia mengacau rombongan kuda tadi. fajar sudah menyingsing. selama ini kau belajar mainkan senjata saja. menerangkan: ―Sebelumnya tidur. maka lagi beberapa bulan akan tibalah saat pibu. Sim soe cek cin hoat. si imam kerek padanya. Lama-lama ia menjadi tenang juga. Yang seng cek im siauw. orang-orang Mongol. kau mesti bernapas. rupanya ia puas sudah mengacau itu…. Kanglam Liok Koay merasa gembira.‖ Kwee Ceng mengangguk. Maka itu. sebentar malam datang pula. Satu tahun telah berlalu dengan cepat. repot mengendalikan. Mereka menyangka kemajuan muridnya ini berkat kerajinan dan keuletannya. tapi mereka tidak bisa suatu apa. Ia lantas turut pergi ke tempat berlatih. ―Untuk tidur caramu ini. Mereka percaya muridnya bakal menang. habis itu ia terus rebahkan dirinya di atasnya. yang kerek ia naik. Kwee Ceng menurut pula. duduk. Ia ingati terus. mendadak dari arah barat datang seekor kuda kecil merah marong. duduk. ―Kau singkirkan salju di atas batu itu. Ia rebah hingga ia tidur kepulasan tanpa merasa. ia coba lupai segala apa. mungkin kau kurang leluasa dengan tangan kosongmu. Mereka juga girang akan lekas kembali ke Kanglam. Inilah dia: Sue teng cek ceng bong. hawa berjalan. Tee hie cek kie oen. semangat jangan goncang. Perlu apa kau mengajarinya pula…?‖ Ia tapinya tutup mulut. Setelah itu. Irawan D Soedradjat Page 131 . Kawanan penggembala itu menjadi dongkol. denagn kedua tangannya. ia rasai kaki dan tangannya kaku dan kesmutan.‖ kata si imam. tetapi ia tak tahu apa artinya yang sebenarnya. lalu berdiri diam di tempat jauh seraya perdengarkan meringkiknya berulang-ulang. ia singkirkan salju itu. toh kapan di waktu siang ia berlatih silat. untuk ia belajar napas. ―Sekarang kau pulang. ada saja yang ia ingat.. kembali terlihat ia mendatangi. pikirannya goncang. Kanglam Liok Koay lihat itu kemajuan. ia rasai tubuhnya jadi ringan sekali dan gesit.‖ katanya. ―Kau tidur di situ. jangan pikir suatu apa juga. Kwee Ceng menurut.

cuma tak sampai terguling. Ia penggemar kuda. kepandaian Kwee Ceng itu adalah hasilnya ajaran si imam konde tiga. karena ketekunan Kwee Ceng sendiri yang bebal tapi rajin dan ulet. rupanya ingin dia membikin penunggangnya jungkir balik. Kasih sam-suhu gantikan kau!‖ ―Jangan!‖ teriak Po Kie. ia memegangi dengan keras. dia bakal gagal!‖ Ia tahu. Mereka pun kagumi kuda merah itu. Ia menjadi dongkol.‖ kata satu penggembala. Hebat larinya kuda itu. Tepat dugaannya. lalu ia berhenti meronta-ronta. ―Siapa bilang naga bisa menjdai kuda?‖ katanya. ―Setahu darimana keluarganya kuda kecil ini.‖ Dia cuma tahu si imam konde tiga itu sangat baik hati suka memberi pengajaran kepadanya hingga ia dapat bersemadhi… Selagi Liok Koay bicarakan hal murid ini. tetapi masih kalah jauh dengan kuda merah itu. Orang Mongol sendiri kagum padanya. Disamping itu mereka heran kapannya bocah ini pelajarkan sifatnya hewan. tenaganya dikerahkan. hingga ia jatuh ke tanah. Ia sudah pandai. siapa tahu. Malah Han Po Kie segera hampirkan rombongan penggembala itu. kuda itu sukar bernapas. pesat majunya anak Ceng. akan tanya kuda itu kepunyaan siapa. ―Inalah kuda turunan naga dari langit. ―Selama satu tahun ini. Diakhirnya. kami mencoba menangkap padanya tetapi gagal. Setiap malam ia naik turun jurang. Seorang penggembala lain tertawa. ―Kalau digantikan. dia berdiri diam! . Ia kate tapi ia dapat melompat tinggi. lau terusterusan ia mengacau. mereka berteriak. dai seperti ingin menjungkirkan penunggangnya. sebab orang itu tidak mau melepas cekalannya. belum ia sempat mendudukinya. hanya disaat ia lari lewat. dia menjadi penasaran terhadap kami. ia jatuh sambil berdiri. ―Mungkinkah ia dipayungi ayahnya almarhum? Mungkinkah ngo-ko…? Nona ini tidak tahu. yaitu ―Kim-gan-kang‖ atau ilmu ―Burung Welilis Emas. ―Ngaco belo!‖ ―Kau tahu apa.Pendekar Pemanah Rajawali Liok Koay dan Kwee Ceng heran. Masih saja kuda itu berjingkrakan. sudah lantas berlutut dan memuji supaya janganlah Tuhanbergusar karena kudanya itu dipermainkan… Siauw Eng pun lantas berteriak. dan kapannya ia mempelajari keng-sin-sut. Kwee Ceng tidak rubuh karenanya. Ia kate. sebaliknya ialah yang melompat ke bebokong kuda itu. tahu ia sifat atau kebiasaannya hewan itu.‖ sahut seorang penggembala. makin lama makin keras pelukan itu. kedua kakinya menjepit. dia kena bawa orang yang menyambarnya itu. yang percaya kuda itu adalah turunan naga. ia percaya bakal berhasil. Dia ada sangat cerdik dan gesit. ―Habis apakah itu?‖ tanya Po Kie. Si penggembala. ―Anak Ceng. tidak pernah aku lihat kuda semacam ini!‖ Ia belum tutup mulutnya.‖ kata Siauw Eng. karena mana. ia seperti berada di bawahnya perut hewan itu. kudanya sendiri jempolan. Kuda itu lari ke arahnya. lantas ia lari mengejar. malah kemudian. tetapi Kwee Ceng terus memegangi erat-erat. tapi ia tak kasih dirinya dilompati. memegang surinya. kalau seorang dapat menakluki kuda binal. ia tengah menyakinkan ilmu ringan tubuh yang sangat lihay. yang mencegah. ―Baharu beberapa hari yang lalu kami lihat dia. bocah ini memeluk ke leher. tahu-tahu si murid sudah kembali bersama kuda merah itu. Dia kaget. karena itulah Kwee Ceng yang menyambar kuda itu. lekas turun. kuda itu bakal tunduk untuk selama-lamanya kepada penakluk itu. ia memang seorang ahli kuda. dia lompat dan lari. Semua penggembala menjadi terkejut. Po Kie pun segera ajar dia bagaimana harus membikin jinak kuda. kanglam Liok Koay pun terkejut. ilmu enteng tubuh. Segera ia berada di atas punggung kuda. Begitulah ia lari ke tempat dimana kuda itu bakal mundur. Irawan D Soedradjat Page ―Bagus! Bagus!‖ seru Po Kie. yang terus angkat kedua kaki depannya. dia tidak dapat diganggu!‖ jawab penggembala itu kemudian. untuk berdiri. kemudian ia meyentil dengan kedua kaki belakangnya. ―Dia berhasil‖ 132 Kuda itu masih berjingkrakan. dia tak tercandak. Han Po Kie segera bertindak.‖ ―Itulah bukannya kuda. kuda itu sudah lewati dia. tiba-tiba dari smaping ada satu orang yang lompat menyambar kepadanya. kapan kuda merah itu sudah datang menyerbu pula. anak kecil? Sudah puluhan tahun aku menggembvala kuda. tanpa ia merasa.

Kwee Ceng mennagkis dan berkelit. tapi segera ia berlutut di depan gurunya itu. ―Kau turun! Dia sudah tunduk kepadamu. ia dipersen jentilan hingga ia terjungkal! Kwee Ceng lantas tuntun kuda itu ke sisi instal. . Kuda itu benar tidak lari. tak tahu ia bersalah apa maka gurunya serang ia secara demikian telengas.‖ Irawan D Soedradjat Page 133 ―Fui!‖ seru Cu Cong sambil ia ulurkan tangannya ke jalan darah hian-kee-hiat di bawahan tulang iga. Kwee Ceng menangis. air matanya mengucur keluar. mereka masuk ke kemah mereka. setelah diserang untuk keempat kalinya. dia tidak nanti lari!‖ Mendengar itu barulah Kwee Ceng lompat turun.‖ berkata Coan Kim Hoat pada muridnya itu. ia diajarkan diluar tahunya. ―Coba tidak liok-suhu mencoba padamu. dengan masing-masing mereka merasa heran. habis bersantap. Ia mengarah ke dada. dia jadi jinak sekali. orang menjadi tertawa! Satu penggembala dekati kuda itu. Tentu saja. Kwee Ceng mundur. untuk membersihkan badannya. silakan lioksuhu menghukum. Menampak itu. hingga bebokongnya nempel sama tenda. sebaliknya.‖ Kwee Ceng menjawab. ―Suhu semua memperlakukan teecu sebagai anak. Di mana saja orang bisa menghadapi musuh. malah terus sampai tiga kali. lalu tangannya kena dihalau! Untuk sejenak Kwee Ceng tercengang. Tin Ok semua berbangkit. ia tidak mau lantas turun. sedang ilmu enteng tubuh. ―Sedikit pun teecu tidak mengerti itu. tapi serangan benar-benar yang berbahaya. guna menyingkirkan dua tangan gurunya itu. kenapa kau tidak beritahu itu pada kita?!‖ tehur Cu Cong. ia membalas. Siapa terkena itu. walaupun kau usir. Akan tetapi hebat serangan si guru. Cuma tempo ia menggenai dada muridnya. malah ia terus gunai jurusnya ―Masuk ke dalam guna harimau‖. ―Ya. maka orang mesti siap akan bertempur di kamar yang kecil. ingin aku lihat seberapa jauh kau punya ilmu Kay-san-ciang. Si imam konde tiga tidak ajarkan ia ilmu silat.‖ ia menyerah. dia jilati belakang telapakan tangan si bocah. ―Anak Ceng. ―Habis darimana kau dapat kepandaianmu tenaga dalam?!‖ Cu Cong masih bertanya. ―Secara diam-diam kau turut orang lain belajar silat. mana berabi teecu berdusta?‖ sahutnya. ―Masih kau berdusta?!‖ Cu Cong bentak pula. bukan?!‖ ―Cuma guru Jebe mengajarakan teecu main panah dan tombak. semua mereka menunjuk roman bengis. untuk gosoki keringatnya.‖ Kata-kata itu disusul sama ancaman tangan kiri dan tinjuan kepalan kanan. dari kaget dan heran. Ia takut sekali.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng khawatir kuda itu bakal lari atau kabur. ―Apakah kau hendak andalakn gurumu yang lihay itu maka kau jadi tidak pandang lagi kami berenam?! Hm!‖ ―Tenaga dalam?‖ Kwee Ceng melengak. ia mesti pingsan. ia rasai dada muridnya itu lembek seperti kapuk. cuma ilmu semadhi. Ia omong dengan sebenarnya. Ini bukan jurus latihan. Kwee Ceng pergi ke kemah gurunya. Ia kaget seklai. hendak ia membela diri. Kim Hoat menyerang dengan hebat. ―Disini?‖ sang murid tegaskan. kau tentu tetap hendak menyembunyikannya. Tengah hari.‖ Teecu salah. ―Cukup sudah!‖ Po Kie bilang pada muridnya. Ia putar tangan kirinya. Liok Koay tidak suruh muridnya itu berlatih lebih jauh.

teecu juga tidak mensia-siakan pelajaranku. pelajaranmu itu bukan tenaga dalam?‖ tanya Siauw Eng yang menegaskan. Sama sekali ia tidak ajarakan ilmu silat pada teecu. ―Selanjutnya teecu tidak berani pergi bermain-main pula dengan dia itu. dan ini menarik hati…‖ Liok Koay heran berbareng girang di dalam hati. ketika totokannya Cu Cong mengenai. dia juga larang teecu memanggil suhu padanya. Kwee Ceng terkejut. Liok Koay berbicara. Di dalam kemah. mereka menjadi curiga. Kwee Ceng jujur. dagingnya bergerak sendirinya. pergilah kau!‖ kata Cu Cong kemudian. teecu anggap ajaran itu menarik hati. dua kawan ini lari ke tegalan.‖ kata Cu Cong. ―Adakah ini hasil latihannya totiang?‖ ia tanya pada dirinya sendiri. tidak boleh teecu pikirkan apa juga. suhu. ia dapat menyakinkan Iweekang lebih cepat dari siapa juga. kau boleh pergi memain seperti biasa.‖ Siauw Eng mengutarakan pikirannya. membikin totokan itu kena dikemsampingkan.‖ ―Baik. Dengan berpegangan tangan. Terang murid ini tidak berdusta. Ia girang gurunya tidak marah. ―Apakah kau tidak tahu. di sampingnya ada dua ekor rajawali putih.‖ Ia lantas mengangguk-angguk dan menambahkan: ―Teecu tahu teecu bersalah. ―Kami tidak persalahkan padamu. Teecu anggap hal ini bukan perbuatan busuk. muridnya ini telah dapatkan Iweekang sedemikian rupa. Irawan D Soedradjat Page 134 .‖ kata Kwee Ceng. ―Dia ajarkan ilmu kepada anak Ceng. ―Malah dia suruh teecu bersumpah untuk tidak menjelaskan roman tubuh dan wajahnya. Cu Cong tidak menggunai tenaganya sepenuhnya. apakah ini bukannya tenaga dalam!‖ serunya.‖ Liok Koay semakin heran. ―Siapa yang ajarkan kau ilmu itu?‖ Cu Cong tanya. Cuma ia pesan supaya teecu jangan memberitahukan hal itu pada siapa pun. duduk bersila dan tidur. tapi ia terkejut dan heran. ―Lekas. Lalu ia mengasih keterangan: ―Selama dua tahun ini. dari itu teecu tidak memberitahukan kepada suhu semua. dia tentu tidak bermaksud buruk. lain kali teecu tidak berani pergi bermain pula…‖ Enam guru itu saling pandang.‖ kata Kwee Ceng. tapi kalau begini. Si bocah Cuma merasakan sakit. ―Hanya kenapa dia tidak menghendaki kita mendapat tahu?‖ tanya Kim Hoat. tetapi kemudian teecu merasakan hawa panas keluar masuk. berdiri di tanah. ―Di mana dia mengajarkannya?‖ ―Dia tidak mau beritahu she dan nama atau gelarannya pada teecu. telah setengah harian aku menunggui kau!‖ kata putri itu. Tenaga dalam itu adalah Iweekang (laykang). Setibanya di kemah. teecu ikuti ia belajar terus. Seekor rajawali angkat kakinya dan pentang sayapnya. ―Benar-benar teecu tidak tahu kalau itu adalah pelajaran tenaga dalam. Sebab apakah itu? ―Nah. terus ia terbang mencablok di pundaknya Kwee Ceng. Tidak mereka sangka.‖ Kwee Ceng menyahuti. asal kau tidak beritahukan dia bahwa kami telah ketahui urusan ini. untuk menarik dan mengeluarkan napas dengan perlahan-lahan. ―Dia suruh teecu duduk. keduanya melebihkan tingginya tuan putri itu. ―Nah. Mulanya sulit. ada orang yang setiap malam mengajari teecu bagaimana harus menyedot napas. untuk bermain dengan burung mereka. yang terus undurkan diri.‖ Kwee Ceng jawab. ―Tidak apa-apa. Mulanya mereka menyangka Kwee Ceng cuma bertemu orang pandai. di sana Gochin sudah menantikan dia. mesti ada sebab lainnya lagi. ia tak kurang suatu apa.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng tidak berkelit atau menangkis. dari itu. ―Kenapa pada anak Ceng juga ia tidak menjelaskan hal Iweekang itu?‖ ―Mungkin dia adalah kenalan kita.‖ Cu Cong bilang. hatinya bersih. Kedua burung itu telah membesar denagn cepat. selama itu.

―Ibu. di atas jurang tidak terdengar gerak apa juga. Sang waktu lewat detik demi detik. Tempo mereka mulai menanjak. hati mereka tegang dan cemas.‖ kata Cu Cong kemudian.‖ katanya. maka itu. mereka gunai paku itu. seperti terkorak pisau tajam. Semua tengkorak itu pun ada lubangnya. Cu Cong dan Kim Hoat heran bukan main. tunggu sampai mereka turun. Suasana malam ini mengingati ia malam itu tempo mereka mengepung Hek Hong Siang Sat dengan kesudahannya Thio A Seng menutup mata untuk selamanya. keduanya tiba juga di atas. ia lihat mega hitam. Ketika itu. Syukur di tanah datar itu tak ada sesuatu rintangan. Irawan D Soedradjat Page 135 .Pendekar Pemanah Rajawali ―Kenalan?‖ ulangi Siauw Eng. Tak tampak juga orang yang dikatan gurunya itu. bekas totokan jari tangan. dengan ilmunya maju pesat. aku hendak pergi!‖ begitu terdengar suaranya sang murid. Keduanya kebat-kebit hatinya. masih si murid lari terus. Mereka sendiri tidak khawatir nanti terlihat si murid. Maka lekas-lekas mereka turun pula. di tengah tiga di atas satu. Mereka lantas ambil tempatnya masing-masing. Siauw Eng berpikir keras. Lagi satu jam mereka menanti dengan sia-sia. cepat larinya. Yang aneh. mereka saling menarik. Cu Cong terus lari pulang ke kemah untuk ambil dadung. Mereka menantikan. akhirnya Cu Cong mengusulkan naik ke atas guna melihat. Semua saudara itu terkejut. ―Kalau dia bukan sahabat. ―Mari kita sembunyi disini. Empat saudara itu terperanjat. Segera juga mereka berserua karena kagetnya. Di pinggiran lubang itu ada tanda hitam. Tanpa terasa. mereka dapat terus memasang mata. kita coba saja. ―Belum tentu. puncak jurang tetap sunyi senyp. baiklah sebentar malam aku dan liok-tee pergi ikuti anak Ceng untuk lihat orang itu. di situ tak ada orang. dua buah kampak serta beberapa puluh potong paku besar. khawatir nanti ketemu musuh lihay. Kedua guru itu segera menguntit dari kejauhan. ―Di antara kenalan kita. ―Bwee Tiauw Hong!‖ sahut Cu Cong. ―Bisakah kita naik?‖ Kim Hoat tanya.‖ sahut kakak yang kedua itu. Di samping batu besar ada teratur sembilan buah tengkorak putih. ia gegetun. tepat dengan pengaturannya Hek Hong Siang Sat dahulu hari. di bawah lima. lalu ia lari keluar. nah untuk apakah ia mengajari anak Ceng?‖ Siauw Eng tanya pula. Malam itu Cu Cong dan Kim Hoat menanti di luar kemah ibunya Kwee Ceng. mereka lantas tanya ada apa dan kenapa dengan kedua saudara itu. ―Kalau begitu. tentu saja. Po Kie semua heran. Mereka ini berbekal senjata.‖ Tin Ok mengatur. Siauw Eng dongak. entah kemana perginya Kwee Ceng serta orang yang dikatakan gurunya itu. ―Siapa tahu kalau dia tidak tengah mengatur daya upaya busuk?‖ kata Tin Ok dingin. Tin Ok berlima mengangguk. sang matahari sudah keluar. Setelah bermandikan keringat. tentulah ia itu musuh…‖ Kim Hoat berpikir. sang fajar telah menyingsing. Sampai di lembah. Kwee Ceng dapat mendaki jurang tanpa bantuan lagi. yang mana dikhawatirkan ada sisa racun. Ia menjadi sangat berduka. sampai Tin Ok berempat datang menyusul. yang larinya benar pesat sekali. ―Kalau dia musuh. Cu Cong ceritakan halnya Kwee Ceng naik ke atas jurang. rasanya tak ada yang berkepandaian seperti dia…. malah Kwee Ceng tak tampak turun. masih tegang hatinya.

―Taruh kata anak Ceng mengandung maksud tidak baik. ―Mestinya begitu. ―Samtee. kita memelihara harimau untuk meninggalkan bahaya untuk di kemudian hari. tak dapat diduga bagaimana hebatnya bencana yang bakalan terjadi. ―Bukankah suaminya terbinasa di tangannya si Ceng?‖ Semua orang berdiam. mustahil kita berenam kalah padanya…‖ Siauw Eng kaget. Irawan D Soedradjat Page 136 . ―Sekarang mari kita pulang!‖ ia mengajak. lalu tiba-tiba kita hajar dia hingga bercacat. mana dia begitu baik hati hendak menurunkan kepandaiannya?‖ kata Tin Ok. ―Tidak bisa!‖ seru Hie Jin kemudian. Bagaimana kalau tindakan kita bocor?‖ ―Memang inilah berbahaya. ―Entahlah. ―Habis kenapa ia ikuti si siluman itu selama dua tahun dan ia menutup mulut terus?‖ tanya Tin Ok. yang akur sama kakaknya. ―Aku setuju sama sie-ko. ―Apakah toako mau artikan si perempuan siluman buta itu hendak pinjam tangan anak ceng untuk celakai kita?‖ tanya Po Kie. siapa tahu.‖ jawabnya. sangsi.‖ kata Siauw Eng. ―Lebih dulu kita mesti mencari kepastian.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng?‖ tanya Siauw Eng.‖ bilang Siauw Eng. ―Dia tak dapat dibikin bercacat!‖ jawab Hie Jin. Hebat ancaman bahaya yang mereka khawatirkan itu.‖ kata Kim Hoat. kita tunggu si Ceng datang pada kita. kenapa si perempuan siluman itu tidak ajarkan dia ilmu silat?‖ tanya Po Kie. ―Tidak dapat?‖ Po Kie tegaskan pula.‖ ―Tapi urusan ada sangat penting. ―Belasan tahun cape lelah kita. Biar pun ia lihay. ―Tubuhnya anak Ceng sudah cukup enteng. Po Kie bersangsi.‖ kata Tin Ok masgul. ―Anak Ceng jujur dan polos. ―Kita berpura-pura tidak tahu. Iweekangnya sudah punya dasar. dia bukannya satu manusia yang tak berbudi. ia lantas tetapkan hatinya. akan tetapi kapan ia saksikan air mata adiknya.‖ sahut Cu Cong. ―Kalau kita salah tindak karena kita merasa kasihan terhadapnya. ―Tidak bisa apa?‖ tanya Po Kie. ―Perempuan siluman itu hendak pakai tangannya si Ceng. ia pun heran. bagaimana kau?‖ tanya Tin Ok. tidak nanti dia dapat berpura-rupa sedemikian rupa.‖ sahut Kim Hoat. ―Mungkin siluman perempuan itu anggap waktunya belum tiba dan dia belum menjelaskan sesuatu kenapa anak ceng…‖ Kim Hoat pun mengutarakan dugaannya. tetapi ilmu silatnya masih kalah jauh denagn kita. ―Habis bagaimana dengan janji pibu?‖ ―Lebih penting nyawa kita atau pibu itu?‖ tanya Tin Ok. ― Cu Cong peringati. mereka menggigil snedirinya.‖ Siauw Eng tetap bersangsi. ―Anak Ceng hendak dibikin bercacat?!‖ serunya. ―Mungkin mereka turun dari sebelah…‖ Ia lalu menjelaskan apa yang mereka lihat di atas sana. baru kita pikir pula. Si nona berdiam begitupun yang lainnya. ―Aku di pihak sietee. Hie Jin mengangguk. Tin Ok menghajar tanah dengan tongkatnya.

Pendekar Pemanah Rajawali Dari enam bersaudara itu. dia masih tidak dapat lawan tujuh guruku. si imam sudah menantikan dia. ―Eh. Kalau begitu. Kapan tadi malam Kwee Ceng tiba di atas jurang.‖ kata Kwee ceng. Umpama kata aku pun membantu pihakmu. tentulah si Mayat Besi datang untuk mencari guru-gurumu itu. siapa tahu. kita justru biasa datang kemari hingga kita mempergokinya. mereka masih tetap ragu-ragu. ia periksa itu. Cu Cong menghela napas. Tadinya aku menyangka ini permainan gila dari muridnya Oey Yok Su dari Tho Hoa To. tiga setuju Kwee Ceng dibikin cacad dan tiga tidak. ―Kiranya si Mayat Perunggu yang lihay itu terbinasa di tanganmu!‖ katanya. ―Tidak dapat aku menduga sampai dimana lihaynya jeriji-jeriji tangannya itu. Si imam itu tertawa. setelah toh dia datang untuk mencari. kami dengar titahmu!‖ ―Baiklah!‖ kata toako itu. kami tidak takut.‖ ia bilang. hanya si imam ini segera menunjuk seraya berkata: ―Kau lihat.‖ katanya kemudian.‖ Mendengar disebut-sebutnya A Seng. Tengkorak ini ada hubungannya sama Kiu Im Pek-ku iauw. maka sekarang kita harus mengerti.‖ ―Sebelum kau datang. ―Aku belum lama sampai disini. Tin Ok bersama Cu Cong dan Coan Kim hoat bukan bangsa sembrono akan tetapi menyaksikan keanehan Kwee Ceng dan di atas jurang kedapatan itu sembilan tengkorak dari Bwee Tiauw Hong. ―Pada belasan tahun dulu dia masih belum buta. ―Dan sekarang kita ada berdelapan…. adakah si Mayat Besi itu datang? Apakah totiang dapat lihat padanya?‖ tanya Kwee Ceng. Ia tuturkan hal pertempuran gurunya semua dengan Hek Hong Siang Sat itu dengan kesudahan gurunya yang kelima terbinasa. Kwee Ceng kaget dan heran. kaut kepercayaan mereka bahwa Bwee Tiauw Hong adalah orang yang mengajari Iweekang kepada murid mereka. ―Aku khawatir gurumu itu bukan tandingannya. kau pun kenal Hek Hong Siang Sat?‖ si imam tanya.‖ berkata si imam. ―Mari kita pulang dulu!‖ Di dalam kemah mereka. Kwee Ceng mengangguk. maka akhirnya. ia datang. apakah itu?‖ Di bawah sinar rembulan guram. ―Apakah bukan sengaja dia hendak membikin kita mendapat tahu dan bersiap sedia?‖ Irawan D Soedradjat Page 137 ―Aku pikir tidak demikian. Tanghay. Ia kata: ―Sakit hati ngoko mana dapat tidak dibalaskan! Toako. dia mestinya ada punya andalannya‖. hati mereka tidak tenang. tidaklah demikian duduknya hal.‖ . ―Tetapi totiang. ―Tempo aku sampai. masih belum tentu kita menang. kita pasti akan memperoleh putusan. Si imam jumput satu tengkorak. Kwee Ceng lihat sembialn tengkorak.‖ sahut si imam. dia rupanya menyangka orang tak bakal datang ke tempat ini. salah satu pihak tentulah lebih satu suara. ―Orang ini hebat ilmu silatnya. Nyatanya. ―Coba ngotee ada di sini. kamu halangi mereka.‖ ―Dia telah buta kedua matanya kena dihajar toasuhu. ―Adakah ini diatur oleh Hek Hong Saing Sat?‖ ia tanya. maka itu aku percaya. Tentu saja ia menjadi kaget.‖ Si imam bicara dengan sungguh-sungguh. tumpukan ini sudah ada. heran. nanti aku yang turun tangan!‖ Demikian mereka bersiap sedia. ―Sebenarnya mau apa dia menyusun tengkorak-tengkorak di sini?‖ Kwee Ceng tanya. lalu ia menggeleng-geleng kepala. Maka Tin Ok bilang: ―Kalau benar. ia pun kasih tahu bagaimana dengan cara kebetulan ia dapat menikam mati pada Tan Hian Hong. aku pun telah memikirkannya. jietee sama lioktee. berhneti mengucur air mata Siauw Eng.

napasnya ia tahan. matanya memandang ke tempat sembunyi mereka. lagi ia berpikir. Habis berlatih.Pendekar Pemanah Rajawali Hati Kwee ceng menjadi tidak tenang. Tipu Lawan Tipu Berselang sesaat. ujung itu ada punya belasan gaetan yang tajam. Cambuk ini terus dicekal di tengahnya kedua tangan. sedikit saja suara berkelisik. Ketika ia berbangkit. Kwee Ceng terkejut ketika Bwee Tiauw Hong memutar tubuh. sambil tertawa. Belum lagi kedua senjatanya beradu. Setelah matanya buta. Kim-liong-pian dari Han Po Kie panjang Cuma enam kaki. Hebat bergeraknya cambuk lemas itu. Sekarang ia melihat nyata itulah joan pian.‖ Kwee ceng terima pesan itu. lengan itu orang kasih paksa turun sedang bebokongnya ditekan supaya ia mendekam pula. ia rasakan lengannya sakit sekali. Dalam jarak enam tombak. Orang tidak usah menanti terlalu lama akan lantas terlihat berkelebatnya satu bayangan. Kwee Ceng hanya lihat berkelebatnya sinar putih perak dari suatu benda seperti ular panjang. Itulah Tiat-sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi denagn rambutnya yang panjang dan riap-riapan. karenanya ia jadi sangat bersyukur kepada si imam konde tiga ini yang tidak dikenal. habis hancur kepalaku…‖ pikirnya. ia letaki itu ditanah. cambuk lemas putih yang mengkilap. Ia lihat tegas. ia dapat dengar. yang ia telah latih dengan sempurna. Tak dapat dia dilawan keras. lalu tangannya meraba-raba. Ia berdiam. hendak ia menanyakan sebabnya. ―Jangan bersuara. Tapi si Mayat Besi tidak lihat siapa juga. Tiauw Hong lantas bersilat. atau mulutnya didului dibekap. ―Baiklah. Yang hebat adalah tempo cambuk dipegang ujungnya dengan sebelah tangan kanan. Tak lama. seperti lagi memikirkan sesuatu. untuk mereka memikirkan daya perlawanannya. Ia tidak takut. buat diajak mendekam. Habis itu. disusul sama munculnya satu tubuh. dari keras dan nyaring. Dalam herannya. Cuma suara yang terdengar. Tiauw Hong simpan cambuknya itu. atau tiba-tiba si imam sambar pinggangnya. ia cabut pisaunya yang tajam. suara mereteknya Tiauw Hong menjadi kendor. Kwee Ceng menghela napas lega. ujung cambuk lewat di atasan kepalanya! Anak tanggung ini mengeluarkan peluh dingin. untuk dipondong. Setahu bagaimana dia naiknya. Bab 13. buat segera diajak berlompat ke belakang batu besar. Ia berbangkit. ―Kalau totiang tidak tolong aku. Beberapa kali ia berbuat begitu. tubuhnya sendiri tidak bergerak. ia bikin gerakan seperti berlatih silat.‖ berbisik si imam itu yang terus mengintai. Kwee Ceng mendekam. Ia terkejut pula. ―Sekalian kau bilangi bahwa ada satu sahabatnya memesan dengan perantaraan kau bahwa lebih baik mereka menyingkir dari dia itu. untuk bela diri. yang dibawah sinar rembulan tampak nyata. Ia kembali meraba barangnya itu . berlalu dari belakang jurang darimana ia datang tadi. Ia bergerak tanpa ia merasa. sukar orang lolos dari cambuknya yang panjang itu. cambuk ini berlipat sepuluh kali. Kwee Ceng heran walaupun ia tidak mengerti latihan orang yang luar biasa itu. Sekarang ia keluarkan suatu apa dari sakunya. Bwee Tiauw Hong sengaja menyakinkan cambuk lemas. lalu menjadi nyaring seperti meletusnya suara kacang goreng yang digoreng terlalu matang.. Mungkin enam tombak. lantas ia hendak berlalu. Di situ ia lantas menyakinkan ilmu dalamnya. Sekejap saja. cepatnya luar biasa. Menampak ini insyaflah Kwee Ceng akan pentingnya ilmu yang si imam ajari padanya. sedang disebelah belakang jurang itu ada terlebih terjal tebingnya daripada bagian depan. dari itu dia terus dududk bersila di atas batu di mana biasa si anak muda bersemadhi. untuk keduanya berjongkok. Kwee Ceng berdiam dan turut mengintai juga.‖ katanya. lalu berhenti. Kupingnya menjadi terang sekali. ujungnya yang lain menghajar batu besar! Habis itu Kwee Ceng dibikin kaget sama ujung cambuk yang emnyambar ke arahnya. tangan kirinya menarik sesuatu dari pinggangnya. Diakhirnya ia ankat kaki. Irawan D Soedradjat Page 138 . untuk dipakai menangkis. dia bangkit berdiri. baru ia simpan pula barangnya itu. mulanya perlahan. Dengan ketakutan. ―Kalau begitu baiklah aku nlekas pulang untuk memberitahukan guruguruku.‖ sahut si imam. tubuhnya Bwee Tiauw Hong kasih dengar suara meretek. kaget ini bocah.

maka ia menggeser. ialah pangeran keenam dari negara Kim!‖ Jamukha tertarik dengan janji itu. Di belakang ini si imam mendekam. setelah usahanya berhasil. untuk melihat ke dalam. yaitu Jamukha. ia menjadi heran. yang rubuh dengan segera dan terbinasa. orang pun bisa naik dengan melapati di oyot rotan. di seluruh tanahnya penuh denagn emas dan orang-orang perempuannya ada bagaikan bunga-bunga. Kwee Ceng dapat kenyataan. Dan Kwee Ceng merasakan dirinya seperti dibawa terbang. tidak nanti ia tidak memberikannya!‖ Wanyen Lieh. ―Sekarang kau tidak akan sangsi pula.‖ Pangkat itu adalah pangkat tertinggi untuk wilayah utara dengan tugas memanggil menakluk dan menghukum pemberontak. ia lari menyeusul. ia menjadi heran sekali. sungguh bagus sekali!‖ Wanyen Lieh tersenyum. pergilah kau melaporkannya!‖ Orang itu menyahuti: ―Kau adalah adik angkatku. ―Sekarang tolong kedua tuan bilangi aku. entah ia bakal kasih pertunjukkan apalagi. nah. itu waktu kamu berdua masing-masing boleh memimpin duapuluh ribu serdadu untuk membantu. Setibanya mereka di bawah. yang ekbetulan menoleh. Orang ada memakai jubah bulu ynag mahal. putranya Wang Khan. si putra Raja Kim yang keenam itu. kamu bakal dapat hadiah lainnya lagi!‖ Sangum girang sekali. aku tentu menurut. lalu ia dan Kwee Ceng menyingkap tenda. tendanya berwarna kuning. cara bagaimana kamu hendak menghadapi Temuchin?‖ dia tanya. Ia singkap lebih tinggi tenda. untuk ini. terlihat Tiauw Hong berada jauh di arah utara. Si imam kempit Kwee Ceng. Irawan D Soedradjat Page 139 . Tiauw Hong tiba di satu tempat di mana ada banyak kemah. Kwee Ceng kenali. Di tengah-tengah ada sebuah kemah terbesar. Pikirnya: ―Mustahilkah mereka bersekutu untuk mencelakai Khan yang agung? Bagaimana ini bisa terjadi?‖ Lalu terdengar seorang lain: ―Setelah kita berhasil. berkata: ―Negeriku yang besar bakal lantas berangkat ke Selatan untuk menumpas kerajaan Song. Kwee Ceng tidak melihat tegas muka orang itu. Jamukha bakal diangkat menjadi Tin Pak Ciauw-touw-su. dengan goloknya membacok satu orang lain. rubuhnya ke dekat tenda di mana dua orang itu tengah mengintai. dia kata: ―Jikalau kau menyayangi kakak angkatmu. di sana ia menghilang. Malah ia sambar pinggang bocah itu.‖ Sangum menjadi girang sekali. sudah tentu aku tidak bakal sia-siakan padamu!‖ Kwee Ceng kenali orang itu adalah saudara angkat sehidup semati dari Temuchin.‖ Saudara angkatku Temuchin pintar dan gagah. Ia tak usah mengingat-ingat lama. Cara ini telah digunai oleh si Mayat Besi. Di situ ada satu orang lain. akan kata dalam hatinya: ―Ah. orang perempuan dan hartanya Temuchin terjatuh kepada Sangum. Dia itu sudah lantas susuti goloknya pada sepatu. dan dari pihak kami negara Kim yang besar. ia berkata: ―Kabarnya negara di Selatan itu adalah negara yang indah permai. Justru itu terlihat satu orang. Si imam mengcoba mengikuti terus. ketika ia melihat dari samping. bukan?‖ berkata Sangum itu. mereka mesti menyingkir dari serdadu-serdadu penjaga. ia seperti mengenalinya. untuk melihat tegas si pembunuh. Lama mereka berlari-lari. karena orang itu berdiri membelakangi dia. si terbunuh itu adalah pengiringnya Temuchin. maka ia lantas kenali sebagai Sangum.‖ Sangum tertawa dingin. semua sebawahannya untuk Jamukha. dandannya mewah. di waktu langit mulai terang. maka semua ternak. yang pun lantas bangun. dibagian belakang ini. ayahmu juga perlakukan aku baik sekali.‖ berkata si imam. ia berkata: ―Asal saja ayah angkatku Wang Khan memberikan titahnya. belum tentu kau akan berhasil. ia ini kata. untzk bawa ia turun dari belakang jurang itu. jika Tuan Pangeran mengajak kita bersaudara pergi ke sana. ia bilang: ―Berapa susahnya untuk ayahku memberi titahnya? Sebentar akan aku minta titahnya itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Mari kita ikuti dia.

―Biar apa dia lakukan. buat sesaat ini guru-guruku tidak bakal menghadapi bahaya. ―Citmoay. ―Mana dia gurumu yang mengajarkan kau ilmu dalam?!‖ tanya Tin Ok kemudian dengan dingin.‖ 140 Imam itu bertindak mau. mendadak ia merasakan dua tangannya sakit. bahaya tengah mengancam. yang ia masih pegangi. maka terus ia rubuh. disusul mana sakit di kakinya yang kena ditendang. Bukan main kagetnya Tin Ok berenam! Bagaimana mungkin Bwee Tiauw Hong datang diwaktu siang hari bolong? Maka bersama-sama mereka lompat keluar tenda. baru sekarang ia ketahui nama orang. Cuma ia tetap belum tahu.‖ sahut Kwee Ceng. Ia membalas hormat. Dan melanjuti kemudian: ―Aku sudah lantas kirim orang untuk memberi balasan. mereka berenam menjadi ragu-ragu. Kanglam Liok Koay berdiam. Baharu saja ia memanggil itu.‖ sahut itu murid. tangannya itu kena orang sambar. ia tancap tongkapnya. Sekarang Kwee Ceng melihat. Di sini si imam berkata: ―Sebenarnya tidak hendak aku perlihatkan diriku. sekarang kita dapat bertemu. kalau terlambat bisa gagal!‖ Kwee Ceng terpaksa menurut.‖ Kwee Ceng berpikir. maka itu baiklah kita sembunyikan orang disepanjang jalan. maka bersama-sama mereka lari pesat. ia dapatkan imam itu menunjuk ke belakang. akan pergi meninggalkan kemah beberapa puluh tindak. rupanya ditanyakan sesuatu. bilang pada gurumu bahwaTan-yang-cu Ma Goik mohon bertemu sama Kanglam Liok Koay. ―Teecu telah lihat dia tadi. Mari lekas. tidak nanti ia lolos dari jaring perangkapku ini! Ha-ha-haha!‖ Kwee Ceng kaget dengan berang gusar. Ia lantas meramkan mata. apapula kapan ia kenali. untuk menantikan kebinasaannya. ia lari ke dalam kemah. ialah Han Siauw Eng. Ia pun lantas berkata: ―Tidak berani memohon tanya gelaran totiang. mungkin sebentar dia bakal datang kemari.‖ Dia menunjuk orangnya Temuchin yang telah ia binasakan itu. ―Dia ada di luar. Ia tidak sangka ada orang sedemikian jahat. lalu ia berbisik: ―Tiauw Hong lagi cari orang untuk menanyakan tempat kediaman gurumu. sungguh pinto merasa sangat beruntung. ia rasai si imam menarik ujung bajunya. Ketika itu hari telah siang.‖ Maka itu ia mendekam terus seraya memasang kupingnya. Si imam tarik tangan si bocah. Terdengar Sangum berkata: ―Temuchin itu telah jodohkan putrinya kepada putraku. Tin Ok menghela napas. aku minta ia besok datang sendiri untuk berembuk bersama ayahku. ―Mana itu siluman perempuan‖ Cu Cong bentak muridnya. Segera itu menyusul terdengar suara senjata bentrok. . Pedang guru itu telah terpental. kapan ia menoleh. siapa imam ini yang semestinya lihay. dia mohon bertemu sama suhu semua. Aku percaya ia bakal datang dan tentunya tanpa membawa banyak pengiring. di tangannya ada orang yang dikempitnya. ia masih hendak mendengari lebih jauh etika ia rasakan si imam sambar ia untuk ditekan. ―Suhu!‖ ia berseru begitu ia menyingkap tenda. akan setelah itu.‖ Dua tahun Kwee Ceng ikuti imam ini. Bwee Tiauw Hong sendiri tidak ada bayangannya sekalipun. ―Biar aku dengari persekutuannya mereka ini yang hendak mencelakai Khan yang agung. Ia lantas berbalik.‖ dia berkata. sebatang tongkat melayang ke kepalanya! Bukan main kagetnya ia. siapa terus berseru: ―Toako. Ia menjadi sangat bingung. orang yang menyambar tangannya adalah Cu Cong dan Coan Kim Hoat.Pendekar Pemanah Rajawali Selagi Kwee Ceng memasang kuping. Kwee Ceng segera kenali gurunya yang ketujuh. habis mana satu orang lompat kepada anak tanggung itu. akan tetapi urusan ada begini penting. Maka ia lihat Bwee Tiauw Hong sedang membekuk satu orang. lalu mereka mengawasi Ma Giok. Sekejap saja. Ia mengangguk. gurunya yang nomor satu. tahan!‖. ia menjura. yang hendak membinasakan saudara angkatnya sendiri. Tapi di bawah terangnya sinar matahari. si Mayat Besi sudah lewat jauh. Irawan D Soedradjat Page Cu Cong lepaskan tangan Kwee Ceng. penyerangnya itu adalah Kwa Tin Ok. hatimu lemah sekali!‖ katanya perlahan. menyusul mana Tiauw Hong berkelebat lewat. baru saja ia kirim utusan untuk membicarakan hari pernikahan. Temuchin boleh mepunyai tiga kepala dan enam tangan. menuju kemahnya Kanglam Liok Koay. ―Sudah lama pinto mengagumi tuan-tuan. tidak dapat aku berkukuh lebih lama lagi. Pergilah kau masuk ke dalam. tanpa ayal. di sana mereka tampak seorang imam tua.

minta si tuan putri datang lebih dekat. ruapanya ia baru habis menangis. dari itu. hatinya berdenyutan. tetapi ia masih gemar seklai dalam urusan pertaruhan.ayahku ingin aku menikah sama Tusaga…‖ Lalu air matanya turun pula. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng tidak sahuti putri itu. belum lagi ia menolongi si imam menyampaikan berita. hingga kami menjadi keliru menyangka terhadapmu?‖ Ia mengusap-usap rambut muridnya itu. Mereka lihat orang alim sekali. jangan pergi!‖ mencegah Tin Ok. jarang sekali ia membuat perjalanan. ―Maafkan kami! Entah ada pengajaran apa dari ciang-kauw maka telah datang ke gurun Utara ini? Adakah kiranya berhubungan sama janji suteemu mengenai pibu di Kee-hin nanti?‖ ―Suteeku itu adalah seorang pertapa. ―Mengenai tabiatnya itu.‖ Tin Ok mencegah karena ia menyesal atas perbuatannya yang semberono tadi. tidak suka pinto orang ketahui tentang diriku. mereka terperanjat. ―Kau berdiam bersama kami. Segera setelah itu. pinto tidak ingin memcampurinya. beda daripada saudara-saudaranya. ―Jangan. maka sekarang pinto mohon tuan-tuan tidak berkecil hati. itu adalah orang-orangnya Sangum. kapan Kwee Ceng menoleh. nampaknya ia sangat menyayanginya. ia menjadi sangat menyayangi muridnya ini. dalam hal nama ia kalah terkenal dengan Khu Cie Kee.‖ Kwee Ceng jawab gurunya ini. Terpaksa ia berdiam. ―Pinto biasa berkelana. sedang tentang ilmu silatnya. Tentang itu pinto belum dapat perkenanan tuan-tuan. Pinto bertemu dengannya pada dua tahun yang lalu. Kanglam Liok Koay membalas hormat. yang hendak memancing Temuchin. Bagaimana kalau si Mayat Besi datang dengan tiba-tiba? Kwee Ceng jadi semakin bingung. ―Toasuhu. ―Totiang larang aku bicara. . terdengar pula congklangnya kuda. Kedatanganku ini adalah untuk lain urusana. tahulah ia. hendak aku pergi sebentar.‖ Liok Koay heran. Mereka tahu Ma Giok itu adalah murid kepala dari Ong Tiong Yang. Tentang ini pinto pun memohon maaf. kelihatan kedua matanya merah dan bendul. Mengenai pertaruhan itu sendiri. Kwee Ceng menjadi sangat bingung.‖ Liok Koay heran tetapi tidak dapat mereka tidak mempercayainya. justru itu terdengar suara tindakannya banyak kuda. Siauw Eng menjadi girang sekali. dengan sendirinya dia menjadi pengganti kepala agama itu. ia tidak berani pergi menghampirkan. Setelah datang dekat.‖ Ma Giok berkata. Pertama-tama pinto ingin bicara tentang anak ini. sudah beberapa kali pinto menegurnya. lantas ia mengapai berulang-ulang.‖ berkata Ma Giok. tidak ada orang yang mengetahuinya. ia lantas berkata: ―Inilah Tan-yang-cu Ma Goik Ma Totiang. ia hanya menggapai. ―Adakah totiang ini yang ajarkan kamu ilmu?‖ ia tanya muridnya. Tiang Cun Cu Khu Cie Kee adalah adik seperguruan dari Ma Giok ini. bilang Sangum bersama Jamukha lagi mengatur tipu daya untuk membinasakan kepada Khan!‖ 141 Gochin menghampiri. Setelah wafatnya Ong Tiong Yang. denagn lancang pinto ajari dia cara untuk membantu panjang umurnya. ―Itulah sebabnya walaupun pinto berada dekat dengan tuan-tuan tetapi pinto tidak membuat kunjungan. Putri itu menghentikan kudanya sejarak belasan tindak.Pendekar Pemanah Rajawali Sekarang Kwee Ceng ingat. karena mana. Dia biasanya berdiam di dalam kelentengnya. Ia masih bicara sama guru itu tapi si guru sudah lantas bicara sama Ma Giok tentang pertempuran mereka melawan Hek Hong Siang Sat.‖ Ia lantas menjura pula. Coan Kim Hoat lantas saja lepaskan cekalannya kepada muridnya itu. ia berkata dengan suara seperti mendumal: ―Ayahku…. yang bertentangan dengan agama kami. yang menjadi kauwcu atau kepala agama dari Coan Cin Kauw. lalu tertampak beberapa penunggang kuda tengah mendatangi ke arah kemahnya Temuchin. ia tampak datangnya Gochin. ia jadi berkhawatir untuk ancaman bahaya dari pihaknya Bwee Tiauw Hong. ia hanya kata: ―Lekas kau pergi kepada Khan yang agung. ―Kiranya ciang-kauw dari Coan Cin Kauw!‖ berkata Tin Ok. Kwee Ceng takut pada gurunya. Disaat enam saudara ini hendak tanyakan hal Bwee Tiauw Hong. sebentar aku akan kembali!‖ kata ini anak muda dalam bingung dan khawatirnya. ―Kenapa kau tidak hendak memberitahukannya dari siang-siang. pinto lihat dia polos dan jujur. kesan mereka lantas berubah.

Ia memang sayangi Gochin sebagai adik kandungnya! Itu wkatu terdengar suaranya Ma Giok.‖ Irawan D Soedradjat Page 142 . ―Dia melatih diri secara demikian hebat. permusuhan harus dilenyapkan.‖ kata Tin Ok emudian. ―Kalau benar dia hendak menuntut balas. Dia sekarang telah dapat mewariskan kepandaiannya Tocu Oey Yok Su dari Tho Hoa To. ilmunya Kiu Im Pek-kut Jiauw sudah terlatih sempurnya. Kwee Ceng heran. untuk dengar putusan si kakak. Tanghay. ―Hek Hong Siang Sat adalah murid-murid murtad dari Oey Yok Yu.‖ Coan Kim Hoat menyambungi. kami Cuma gemar berkelahi. ―Silakan totiang beri petunjuk kepada kami. ―Taruh sekarang kita menyingkir dari dia. sedang cambuknya ada luar biasa. mereka awasi kakak mereka. tetapi untuk singkirkan dia.‖ berkata Ma Giok. ―Kami Kanglam Cit Koay biasa sembrono. Turut pikiranku. Selama sepuluh tahun ini. ―Benarkah itu?‖ tanyanya. Silahkan totiang bicara. ―Baik!‖ katanya. cara bagaimana dia dapat ajarakan pula ilmu?‖ ia tanya. ―Aku dengar sendiri persekutuan mereka itu! Lekas kau pergi kepada ayahmu!‖ Gochin menjadi tegang hatinya tetapi ia tertawa.‖ kata Po Kie kemudian. ―Tentu saja benar!‖ sahut Kwee Ceng. Suara kakaknya ini membikin heran saudara-saudaranya yang lain. kenapa dia girang?‖ ia tanya dirinya sendiri. Thian tentu akan memberkahi.Pendekar Pemanah Rajawali Gochin terkejut. pinto dapat menyatakan kepandaiannya Bwee Tiauw Hong telah maju pesat seklai. Mereka mau menyangka orang bicara secara dilebih-lebihkan. bukan kami yang emncari dia. kami pasti akan bersyukur. tanpa dapat penunjuk dari guru yang lihay. entah bagaimana kemajuannya si Mayat Besi. ―Satu hal hendak pinto memberitahukannya.‖ Cu Cong berkata kemudian. jangan harap malah mungkin bakal rugi sendiri…‖ ―Habis apa sakit hatinya ngoko dan toako mesti dibiarkan tak terbalas?‖ kata Siauw Eng yang selalu ingat Thio A Seng.‖ CU Cong berkata pula. tidak nanti ia dapat peroleh itu. dengan sebenarnya Bwee Tiauw Hong itu telah jadi sangat lihay. ―Maka itu totiang. ―Kalau totiang sudi menunjuki suatu jalan terang.‖ Cu Cong semua berdiam. Inilah sulit!‖ ―Untuk itu pinto telah dapat pikir suatu jalan untuk menghindarkannya. Kalau kita bekerjasama berdelapan. kita tidak bakal kalah. tetapi jangan diperhebat. ―Kwa tayhiap berhati mulia. ―Ayahnya hendak dibikin celaka orang. mereka masih kurang percaya sepenuhnya. hanya orang lagi melindungi juga mereka sendiri. kemudian Oey Yok Su mendapat tahu.‖ Ma Giok bilang. imam ini bukan melulu memintakan ampun untuk Bwee Tiauw Hong.‖ Tin Ok mengerti.tuan suka berlaku murah dan suka mengasihani dia untul membuka satu jalan baru untuknya. dia harus dikasihani. asal tuan-. selama sepuluh tahun ini. Mereka pernah mendengar perihal kepandaian Oey Yok Su itu. Umpama kata sekarang kita dapat singkirkan Bwee Tiauw Hong. ―Ah! dengan begini bukankah ia jadi tidak bakal menikah sama Tusaga?‖ Maka ia pun bergirang. ―Itulah memang benar. untuk selanjutnya tak dapat kita tidak berjaga-jaga. ―Pinto bukan hendak menangi lain orang dengan merendahkan diri sendiri. ―Sejak dahulu kala ada dibilang. bagaimana nanti…?‖ Tin Ok semua berdiam. Ia putar kudanya. ―Jalan ini ada sempurna.‖ kata Ma Giok seraya mengangguk. Cu Cong semua terkejut. dapatkah kau membiarkannya saja?‖ ―Laginya sekarang ini dia yang mencari kami. mungkin sekali Bwee Tiauw Hong telah dapat pengajaran baru dari Oey Yok Su…. ―Tuan-tuan telah binasakan suaminya. untuk segera dikasih lari. ―Hanya setelah mendengar Kwa tayhiap berusan perihal pertempuran pada belasan tahun yang sudah lalu itu. Lalu ia ingat suatu apa. dengan belajar sendiri.‖ berkata Ma Giok. dia pun buta matanya. tapi aneh kenapa Ma Giok ini nampaknya jeri kepada pemilik pulau Tho Hoa To itu? ―Totiang benar. setiap tahun ia telah bunuh berapa banyak orang yang tidak bersalah dosa. bukankah berarti sakit hati itu telah terbalas? Dia sebatang kara.‖ Liok Koay berdiam.

Sungguh gesit si Mayat Besi ini. Setibanya Ma Giok dan Kwee Ceng di atas. sebentar dia bakal datang. Cu Cong semua yang mengawasi. ―Eh. habis bersantap. Sebenarnya Tin Ok tidak sudi mengalah. terpaksa mereka menurut. mereka menantikan sang sore. imam ini tidak ada di sebawahannya Khu Cie Kee.‖ kata Ma Giok. Ma Giok semua telah dapat lihat tingkah laku si Mayat Besi ini. Irawan D Soedradjat Page Tiauw Hong sembunyi tanpa berani berkutik. hati mereka berdenyut. kawan kesayangannya. tapi disaat itu juga. ia heran. sekarang ia dengar suara orang bicara dan menyebut-nyebut Khu Cie Kee dan namanya juga. Dia muncul dalam rupa seperti segumpal asap hitam. Segera juga Tiauw Hong tiba di atas. . mulai habis sabarnya. Ia percaya. mejadi kagum. murid mereka itu. Itulah Gochin Baki. Tak dapat dicegah lagi. Dengan lewatnya sang waktu. ―St! Dia datang…!‖ kata Tin Ok. Dia terlihat nyata di bawah sinar rembulan.‖ kata Cu Cong.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto harap tuan-tuan tidak menertawainya. ―Ada siapakah yang tidak menghormati Cit Cu?‖ Dengan ―Cit Cu‖ dimaksudkan tujuh persaudaraan Tiang Cun Cu. si wanita siluman itu terjatuh ke dalam tanganku. sambil beristirahat. Ma Giok dan Kwee Ceng yang jalan di muka. Cu Cong bekap mulutnya. dia tampak wajah orang tegang. Cuma kedua tangannya. ―Harap totiang tidak terlalu merendah. ―Pinto percaya. Sebenarnya Tiauw Hong masih jauh tetapi kuping lihay dari Tin Ok sudah mendengarnya. enam saudara itu segera dapat lihat tumpukan tengokraknya Bwee Tiauw Hong. ―Bersyukur kepada guru kami. yang adalah dari kulit burung tiauw yang putih. karena ia pikirkan keselamatannya Gochin. 143 ―Bwee Tiauw Hong atur tulang-tulangnya di sini. yang lemas. putrinya Temuchin. Maka itu. mungkin Bwee Tiauw Hong tidak berani lancang turun tangan.aku Khu Cie Kee – pasti aku tidak akan mau sudah saja!‖ Tiauw Hong dengar seruan kaget dan suaranya Kwee Ceng itu. wajahnya sendiri tentu begitu juga.‖ Ma Giok minta. memang Cit Cu ini ada juga nama kosongnya di dalam dunia kangouw. pinto hendak menggunai suatu akal untuk membikin ia kabur…‖ Lantas imam itu tuturkan tipunya. guna bnatu menggerek naik kepada Kanglam Liok Koay. Cuma Kwee Ceng yang hatinya goncang. di dalam hati mereka tertawa. cuaca mulai menjadi guram. ia lantas mulai mendaki. Kwee Ceng terkejut kapan ia sudah lihat pakaian orang itu. Semua orang berdiam.‖ berkata Han Po Kie. Di bebokongnya ia menggendol satu orang. terhadap kami dari Coan Cin Kauw. lalu perlahan-lahan menjadi gelap. Kapan Cu Cong berpaling pada Coan kim Hoat dan Han Siauw Eng. Cuma tabiatnya itu dua saudara seperguruan saja yang berbeda. Ia seperti tidak menggunai kakinya. Ia tidak tahu ada berapa orang lihay yang bersembunyi di situ. mereka lantas kasih turun dadung mereka. mengapa dia masih belum datang?‖ tanya Po Kie. Lantas semua orang duduk bersamedhi. ―Kita baik tunggui saja padanya. ia menjadi terlebih kaget. Sesempai di atas. Dia seperti naik di tangga saja. mereka sama-sama mandaki jurang. Kesunyian telah memerintah di atas jurang itu. seraya guru yang kedua ini berkata terus: ―Kalau Bwee Tiauw Hong. Setibanya di kaki jurang.‖ . suaranya terdengar. mulutnya bergerak. hingga tibanya tengah malam. Sekarang ini baharu mereka percaya habis imam itu. entah mayat atau orang hidup. Tin Ok berenam jalan di belakang Kwee Ceng. tetapi untuk membari muka kepada Ma Giok. Mereka percaya. Masih mereka menantikan. Mereka dapat lihat cara naiknya ma Giok. Karena ini juga. Ia lantas saja bersembunyi di samping batu untuk memasang telinga.

yang disini menyamar sebagai Tam Cie Toan. Yang kedua adalah Tiang-cin-cu Tam Cie Toan. Dipihak Liok Koay juga mungkin bakal ada yang bercelaka.‖ katanya dalam hati. Siauw Eng bicara sebagai juga ia adalah Ceng Ceng San-jin. Dan yang terakhir adalah Ceng Ceng San-jin Sun Put Jie. Tapi dia toh bicara dengan suara keras! Kagetnya Tiauw Hong tidak kalah dengan kagetnya si anak muda. Kalau terjadi pertempuran. mengertilah ia bahwa orang mungkin mulai curiga. Berterima kasih kepada Langit dan Bumi yang sang rembulan tidak muncul!‖ Kwee ceng sendiri mengawasi Gochin. karena ia khawatir suaranya dikenali Bwee Tiauw Hong. Cie Kee sendiri puji padanya. Tiba-tiba Tiauw Hong ingat apa-apa. yang disamarkan sebagai In Cie Peng. Si nona tapinya tidak mengerti.‖ ia menyahut. Ia menjadi lega hatinya. yang kedua adalah Ong Cie It. Kita mesti mencegah si siluman perempuan itu dapat meloloskan diri!‖ Girang Tiauw Hong mendengar itu. karena lihaynya tendangannya dan pernah ia bertaruh mendaki jurang yang tinggi hingga ia dapat menakluki beberapa puluh orang gagah di Utara. Kwee Ceng tahu peranannya. pantas suhu pernah bilang kau gampang untuk mencapai kesempurnaan!‖ katanya. untuk menyakinkan kekuatan kakinya itu. Yang keenam Kong-leng-cu Cek Tay Thong. ialah Tan-yang-cu Ma Giok. ia lantas menggoyangi tangan. silahkan kau yang turun tangan. istrinya Ma Giok pada sebelum Ma Giok sucikan diri.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia memang banyak kejahatannya. yang ketiga Tiang-sen-cu Lauw Cie Hian. untuk antarkan dia pergi ke sorga di Barat…‖ Dalam Coan Cin Cit Cu.‖ Cu Cong tertawa. bagaimana pikiranmu?‖ tanya Siauw Eng. ―Coan Cin Cit Cu ada disini semua? Benarkah ada begini kebetulan? Bukankah orang lagi menghina aku karena aku buta dan sengaja mereka mengatur sandiwara?‖ ia mulai geraki tubuhnya. Segera ia totok urat gagu si tuan putri itu. Cuma dikhawatirkan keselamatan Kwee Ceng dan Gochin. kalau sebentar kita turun tangan. si toa-suheng. Sembilan tahun ia mengeram di dalam gua. mana bisa aku hidup lebih lama?‖ Cu Cong berkata pula: ―Malam ini gelap sekali sampai lima jeriji tangan sukar terlihat. dengan mata mereka yang lihay. tidak seorang juga kaum kangouw yang tidak mengetahuinya.‖ berkata Cu Cong. Cuma Tin Ok yang bungkam. ―Dia berdosa tak terampunkan!‖ sahut Hie Jin sebagai Cie Toan. Ia menjadi berkhawatir. ―Ceng Ceng San-jin sangat murah hati. baik semua berlaku hati-hati. ―Barusan teecu seperti dengar suara wanita. supaya kami yang menjadi saudara-saudaramu dapat membuka mata kami. Irawan D Soedradjat Page 144 . Murid kepala. kalau sebentar si siluman perempuan datang. Ia tanya Hie Jin. yang kelima Giok-yang-cu Ong Cie It. mereka tentulah telah dapat lihat aku. ―Cie Peng. ―Tam Suko. ―Tapi karena Coan Cit Kauw mengutamakan wales asih. ―Jangan bicara!‖ katanya. kepandaian mereka juga maju pesat. ―Tam Suko. kalau aku terlihat mereka. untuk mencegah si nona itu berbicara. pihaknya tak usah takut. perlahan-lahan si nona membuka matanya. Kauwcu Ong Tiong Yang ada punya tujuh murid yang mendapat nama baik. Demikian mereka ini berbicara. Yang keempat ialah Tang Cun Cu Khu Cie Kee. yang mendapat julukan Thie Kak Sian si Dewa Kaki Besi. tentang mereka itu.‖ ia dengar suaranya Han Siauw Eng. itu tandanya si nona tidak dalam bahaya jiwa. seperti sandiwara. ―Syukur langit gelap. Kau akur?‖ Hie in sengaja menyahut: ―Lebih baik minta Ong Sutee yang gunai kaki besinya untuk dupak dia. Ia lalu menjadi heran dan curiga. Khu Cie Kee yang namanya paling tersohor. ―Kalau tidak. Pembicaraan itu membikin gentar hatinya si Mayat Besi. Kwee Ceng menjadi sangat bingung. ―Engko Ceng lekas tolongi aku!‖ ia berteriak. baiklah ia diberi jalan baru…. ―Selama ini telah maju pesat sekali kau punya ilmu Cie-pit-kang. hingga ia berpikir: ―Coan Cin Cit Cu telah berkumpul semua. apakah kau yang barusan berbicara?‖ tanya Coan Kim kepada muridnya. Ma Giok kasih lihat gerakan si Mayat Besi itu.

ia dapat meloloskan diri dari tanganku. kali ini ia memegang nadi orang. di situ ada petahan lima jari tangan. tak dapat aku lawan kau. Cu Cong memberi tanda dengan tangan kepada muridnya itu. Bwee Tiauw Hong ada di sini!‖ Semua orang terperanjat sangking herannya. ia lihat bahaya mengancam. bagaimana dengan penyakinan pelajaran yang suhu ajarakan beberapa tahun ini. diumpamakan dengan rasa hati. Khu Sutee. Tentu sekali. Ma Giok llihat kelakuan orang. tidak tahunya dia benar bernyali besar. maka itu suaranya nyaring luar biasa. Kwee Ceng lihat Gochin rebah di tanah. tidak berani aku memohon pengajaran dari totiang beramai. kau bersahabat serat dengan Kanglam Liok Koay. saudara-saudaraku. dilain pihak ia geraki tangan kirinya itu. yaitu Kimkwan Giok-cauw ie-sie Koat? Pastilah kau telah peroleh kemajuan. Apa yang aku dapati dari guru kita. Ia dapat lolos. tidak dapat ia berdiam saja. berkumandang di dalam lembah. Itu bukanlah pertanyaan biasa. dengan berdiam.‖ Tiauw Hong segera berpikir: ―Muridnya begini muda tetapi tenaga dalamnya sudah bagus sekali. Aku pikir. Tahu-tahu tangan kirinya si Mayat Besi sudah lantas menyambar dan mencekal tangan kirinya. ia harus dikasihani juga. kau hendak mendapatkan pelajaran sejati? Lekas pergi!‖ 145 Tiauw Hong tanya pula: ―Nona muda dan anak muda. murid dari Tiang Cun Cin-jin. kedua pihak baiklah menyudahi urusan mereka. dagingnya melesak ke dalam. atas mana Kwee Ceng segera memberikan penyahutan: ―Teecu adalah In Cie Peng. Tapi ia ingat suatu apa. ―Siapa kau?‖ tanya si buta. Perlahan-lahan ia kembali ke tempat sembunyinya. apakah artinya itu?‖ Ma Giok menyahuti: ―Timah itu sifatnya berat. ia lantas menjawab: ―Sebenarnya walaupun aku menjadi saudara yang tertua. Coba kau pertunjuki untuk kami lihat. Maka ia lantas membentak: ―Silumanm. tanpa pedulikan lihaynya Bwee Tiauw Hong. Itu artinya. Memang persahabatannya erat sekali dengan itu putri serta Tuli. Oleh karena ini. baiklah kita beri ampun kepadanya. lantaran aku bebal. ―Penyelesaiannya berada di pihak Bwee Tiauw Hong sendiri.‖ Ma Giok tahu Cu Cong ingin dia perlihatkan kepandaiannya guna menakluki Bwe Tiauw Hong. maka anak muda itu menjadi mati daya. Maka sekarang. Kata-kata itu ialah istilah dalam kalangan agama To Kauw. Kwee Ceng lantas lari menjauhkan diri. apabila ia lihat tangannya. ia berdiri. ia menyambar pula. Tiauw Hong pun tidak berani mengulangi tantangannya untuk mencoba menempur Sun Put Jie. Coba si Mayat Besi tidak jeri. maka ia tanya Ma Giok: ―Ma totiang. tubuhnya diam saja. umpama kata ia menyesal dan suka mengubah kesalahannya yang dulu-dulu dan tidak tidak lagi mencelakai orang-orang yang tidak bersalah dosa serta tidak akan mengganggu pula kepada Kanglam Liok Koay. terdengar tedas sampai jauh. ia lompat kepada kawannya itu. ―Hm!‖ ia lepaskan cekalannya.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong mengawasi gerak-geriknya Bwee Tiauw Hong. kalau benar. ingin aku memohon pengajaran daripadanya…‖ Habis berkata. tetapi telah lama aku dengar ilmu silatnya Ceng Ceng San-jin. siap sedia dengan cambuknya yang panjang itu. Tiauw Hong berkata pula: ―Aku adalah seorang wanita. rasa hati harus dikendali. pergi kau menemui mereka itu. peryakinan berhasil. dalam sepuluh tahun tidak ada dua…. untuk mohon mereka jangan membuat perhitungan pula dengan dia.‖ sahut Cu Cong.‖ ―Itulah perkara gampang. timah dan air perak disimpan denagn hati-hati. Mereka duga Tiauw Hong jeri dan bakal menyingkirkan diri secara diam-diam. ia berkhawatir. Imam ini bicara secara merendah akan tetapi ia telah gunai tenaga dalamnya. apakah artinya itu?‖ . dia malah menghampiri mereka. Baiklah aku menyingkir dari mereka…‖ Dengan perdengarkan suara. Di satu pihak ia lemparkan tubuh Gochin kepada Siauw Eng. Tapi Tiauw Hong benar-benar lihay. ia berkata pula: ―Kabarnya Bwee Tiauw Hong telah buta kedua matanya.‖ Irawan D Soedradjat Page Pertanyaan itu membuat Ma Giok terkejut. Bwee Tiauw Hong mengkerat mendengar suara orang itu. untuk mengasih bangun padanya. mungkin tangannya itu sudah tidak dapat ditolong lagi…. untuk berkelit. asal dia suka mengubah perbuatannya….‖ Tiba-tiba terdengar suara dingin dari belakang batu: ―Terima kasih untuk kebaikannya Coan Cin Cit Cu! Aku. segera ia berkata dengan nyaring: ―Toa suko.

tanpa berpikir lagi. ―Kenapa Khan tidak percaya kepada kau?‖ ia tanya.‖ sahut Gochin. dia rupanya telah dapat cari jalan itu. Hanya dalam Iweekang. Irawan D Soedradjat Page 146 ―Sudah sekian lama. totiang!‖ katanya. ―Ilmunya si Mayat Besi ini. ia hendak hukum padamu. tentulah batok kepalamu sudah berlobang lima jari tanga…‖ ―Sudah berapa lama Khan pergi?‖ tanya Kwee Ceng yang hatinya cemas. aku jadi hendak memperdayainya. hanya karena tidak ada orang yang tunjuki. apabila ia menarik dan tubuhnya mencelat. Ah. ia lompat ke arah jurang. ―Umpama kata Khu Sutee dan Ong Sutee berada di sini. karena ia lantas berkata kepada Kwee Ceng: ―Engko Ceng. yang keningnya berkerut. pinto telah jawab dia.Pendekar Pemanah Rajawali Tiauw Hong tertawa lebar. . orang berlega hati melihat perginya wanita bagaikan siluman itu. Adakah dia yang membawa aku menemui kamu?‖ Putri ini tak sadar akan bahaya yang mengancam padanya tadinya. Di lain pihak. ―Mereka menunggang kuda pilihan. Mestinya itu adalah jalan yang ia belum dapat tangkap artinya. ayah malah jadi semakin tidak percaya.!‖ Selagi Ma Giok mengatakan demikian. Aku telah jelaskan bahwa hal itu kau dengar dengan kupingmu sendiri. masih belum tentu kita dapat menangkan dia. Ia rupanya sadar seluruhnya.‖ ―Oleh karena kurang pikir. kami bersedia untuk menerima titah-titahmu. cambuknya digeraki melilit batu. ayah tertawa terbahak-bahak. Kwee Ceng menjadi bingung. dia jadi terlebih sukar untuk ditakluki. gerakannya sangat enteng dan pesat. tidak disangka si Mayat Besi telah jadi begini lihay. Cu Cong semua terkejut. apabila kau memerlukan sesuatu. Inilah yang pertama kali ia menghadapi soal sulit itu. ―Harap totiang jangan segan-segan menitah kami. ayah sudah ajak orang pergi kepada Wang Khan…‖ Kwee Ceng kaget. ―Itulah bukan. ―Terima kasih atas petunjukmu. lalu ia sadar.‖ sahut imam itu. ayahku tidak percaya keteranganku. ―Adakah totiang dilukai senjata rahasia?‖ mereka tanya. sejenak barusan pinto telah kena tertipu wanita yang sangat licin itu. Ayah bilang. Terus ia berlompat. mereka tidak mengerti. Setahu darimana. Pinto khawatir jawaban itu nanti menjadi bahaya di belakang hari…‖ Cu Cong semua mengawasi. suatu tanda bahwa ia ada mendukakan apa-apa. bagaimana sekarang?‖ Lantas saja ia menangis. ―Tempo aku beritahukan bahwa kedua paman Sangum dan Jamukha hendak membikin ayah celaka. ―Harap saja begitu. Terus ia angkat tubuhnya. atau ilmu dalam. lantaran aku tidak sudi menikah denagn Tusaga. maka itu Cu Cong dan yang lainnya kata dalam hati mereka: ―Coba tidak ada kita disini. dia belum berhasil menyakinkannya. yaitu yang disebut Gwa-mui atau ilmu luar. aku tidak bercuriga….‖ kata Siauw Eng separuh menghibur. walupun kami tidak punya guna. tetapi di tengah jalan aku dibekuk perempuan buta itu. ―Sepuluh tahun ia tak tertampak. untuk berduduk di atas batu. ―Coba tidak totiang membantu kami. Tidak lama lagi tentulah mereka akan sudah sampai di tempatnya Wang Khan. Karena itu aku segera berangkat untuk cari kau. sepulangnya nanti.‖ Cu Cong tawarkan diri.‖ sahut si imam kemudian. Gochin perdengarkan suara. Kalau dia tambah lihay dan tetap ia berbuat jahat.‖ berkata imam itu setelah menghela napas panjang. Ma Giok segera totok sadar kepada Gochin yang diletaki di atas batu untuk beristirahat.‖ berkata Ma Giok.‖ ―Jangan mengucap begitu.‖ berkata Cu Cong. akan tetapi itu satu juga bisa membantu banyak padanya untuk ia peroleh kemajuan…‖ ―Harap saja ia insyaf dan tidak nanti melakukan pula kejahatan. Ayah pergi dengan mengajak ketiga kakakku serta belasan pengiring. ―Hanya tadi ketika ia menanya padaku. ―Totiang. Ia lihat imam itu berduka. Benar pinto telah baharu menjawab sekali. telah berada di atasan pinto dan saudara-saudara. Sangum dan Jamukha bakal celakai ayahku itu. dia belum menemui jalannya yang benar. Engko Ceng. Tadi ia menanyakan jalan itu kepada pinto. dasar aku yang semberono. hingga orang semua kagum. Ayah bilang. sudah tentu kami sukar lolos dari nasib celaka.

Pernah ia mencoba menahan. tengah mengandali tenagaku. Temuchin adalah seorang yang teliti. Wang Khan. guna memegat Ogotai dan Chilaun. Dari benderanya ketahuan.‖ sahut Kwee Ceng. Ketika si opsir dapat ketahui dan berseru. begitu naik ke atas bukit. ―Benar-benar pasukannya Wang Khan!‖ ia berseru. mereka lantas menggali lobang dan memindahkan batu. Irawan D Soedradjat Page 147 . Di dalam hati Kwee Ceng mengeluh. ―Kha Khan. ia tahan kudanya. Dipaling depan pasukan itu terlihat Ogotai dan Chilaun lari kabur mendatangi. tetapi ayah angkatku. lekas kau pergi kepada kakakmu Tuli. ―Ada bahaya. Jebe ada sangat awas. ia kabur pula. ia sudah lewat jauh! Di tengah jalan Kwee Ceng tidak berani berlambat. Ia pun ada bersama orang-orangnya ynag gagah. buat berjagajaga diiri dari serangan anak panah. malah tiga jagaan telah ia lewatkan terus. cambuknya dipecut berulang-ulang. habis mana. ia tampak tentara itu tengah mengejar. Saudaraku Jamukha ada sangat baik denganku. ia mendahului turun dari atas jurang. dia harus mengirim orang untuk mencari keterangan terlebih dahulu. tetapi si kuda tidak mau berhenti. putranya yang kedua itu dan Chilaun. Setelah ia mendatangi lebih dekat. Selang dua jam. ia puas benar dengan kudanya yang larinya sangat pesat. Setibanya di lembah. yang terus tuturkan persekutuannya Wanyen Lieh. ―Naik ke bukit itu!‖ Ia kasih perintah. Dan kau. sedang Ma Giok denagn mengikat tubuh Gochin. Segera terlihat pula. Di lain pihak ia menjadi girang sekali. ia keprak kudanya untuk dikasih lari lewat di sini tentara itu. Ia khawatir Temuchin keburu sampai di tempat Wang Khan dan itu artinya bahaya untuk Khan yang maha agung itu. nampaknya ia tidak takut capek. tanpa ayal lagi. disusul sama munculnya satu pasukan tentara terdiri dari beberapa ribu jiwa. ―Ada apa?‖ ia menanya. malah mereka ini tahu tugasnya. ―Lebih baik terpedaya satu kali tetapi jangan mati konyol!‖ Maka ia terus berpaling pada Ogotai. apapula di tanah rata. untuk mencegah. telah turunkan tuan putri itu. siapa sudah lari terus. Maka itu kemudian ia sudah mulai dapat melihat bendera yang besar dari Temuchin. jalan pulang dari Khan agung itu telah terpegat. dan itu berarti. Kwee Ceng kabur ke kemah di mana ia ambil kudanya. ia tampak rombongan dari belasan orang yang tengah maju terus. Sesudah lari lagi satu jam. Terang Temuchin telah lewat di situ. itulah pasukan Wang Khan. baru kuda itu mau juga diistirahatkan sebentar. lekas kembali!‖ ia berteriak. yang siap sedia denagn panah dan golok terhunus. ―Kau pakai kuda merahmu itu untuk susul Khan yang agung! Umpama kata ia tidak mempercayaimu. untuk tiba di samping khan itu. Dengan roman bersangsi. tuan putri. Temuchin awasi bocah tanggung ini. tubuhnya mendekam di punggung kuda. ia khawatir hewan itu terlalu letih. untuk mengatakan: ―Lekas kamu pergi menyelediki!‖ Dua orang itu sudah lantas lari balik. cobalah kirim orang untuk periksa benar atau tidak ada tentara pencegat jalan!‖ Biar bagaimana. Karena ini.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng lekas kau pergi!‖ berkata Cu Cong. kita sehidup semati. ia keprak kudanya. Ia pun berpikir: ―Memang Sangum tidak akur dengan aku. Ia pun berpendirian. ―Siap sedia!‖ Dalam keadaan seperti itu. apa mungkin nia hendak mencelaki aku?‖ Kwee Ceng tahu khan itu bersangsi. untuk minta ia lekas siapkan tentara guna segera pergi menyusul dan menolongi ayahmu!‖ Kwee Ceng menginsyafi keadaan. guna dikasih lari sekeras-kerasnya. untuk berjalan perlahan-lahan. mereka ambil sikap mengurung. panglimanya. pasukan pengejar itu memecah diri dalam diri dalam jumlah ratusan jiwa. ia kata pula: ―Kha Khan. tibalah Kwee Ceng di tempat datar dimana kedapatan tiga baris tentera yang jumlahnya mungkin tiga ribu jiwa. ―Jangan pergi lebih jauh!‖ Temuchin heran. khan ini tidak jeri. untuk menaikinya. Ia pun beritahukan perihal tentera pencegat di belakang mereka. Temuchin memandang ke sekelilingnya. terus ia lari. Tak lama dari selatan terlihat debu mengepul naik.

denagn begitu pihak pengejar dapat tertahan majunya. Kemudian pada sebuah pasukan ia tampak seorang yang menunggang seekor kuda yang besar. Mereka setujui perkataan itu. Di tangannya panglima itu ada sebatang golok besar. tetapi kau kenapa. putra Sangum. berlaksanaan anak panah bakal dilepaskan terhadap dirimu! Jikalau itu sampai terjadi. ada juga yang malas dan cuma doyan gegares! Kenapa mereka yang rajin mengasih makan mereka yang malas itu? Kenapa kita tidak hendak memberikan lebih banyak kerbau dan kambing kepada yang rajin? Kenapa kita tidak mau membiarkan si malas itu mati kelaparan?‖ Dijaman dahulu bangsa Mongolia hidup dalam suatu keluarga atau suku. ternaknya kambing dan kerbau adalah kepunyaan beramai satu suku. ia tiba lebih dahulu kepada Ogotai dan Chilaun. sukar buat ia menoblos kurungan. ―Jikalau kau tidak mau menyerah!‖ ia membentak. Temuchin sengaja singgung sifat itu. diam-diam mereka itu pada mengangguk. ialah kebanyakan bangsa penggembala itu memakai cara memiliki sendirisendiri. ia turut memanah. ia membuatnya tentaranya Sangum menyetujuinya. Panah mereka tidak pernah gagal. Dengan aksi ia larikan kudanya mondarmandir. kenapa kita mesti takuti bangsa Kim itu?‖ Kata-kata ini tajam. kapan orang-orangnya Sangum mendengarnya. ternaknya adalah kepunyaan suku bersama. Penunggang kuda itu dandan sebagai satu panglima perang. yang ditawungi bendera kuning yang besar juga. akan memandang jauh ke empat penjuru. mereka maju bagaikan gelombang! Ogotai dan Chilaun telah tahan kuda mereka dan berbalik. kau langgar aturan leluhur kita? Kenapa kau hendak persatukan semua suku?‖ ―Bangsa Mongolia telah diperhina oleh negara Kim. Dengan diiringi pasukan pengawalnya. Juji dan lainnya. terus ia gunai panahnya. ia mengenakan juga mantel bulu kulit binatang tiauw yang mahal. dengan siapa ia Irawan D Soedradjat Page 148 . Ia telah menyaksikan tentaranya Wang Khan tengah mendatangi di empat jurusan itu. Tuli sendiri belum tentu tepat datangnya. kemudian karena tenaga pertumbuhan mereka bertambah dan adanya pemakaian alat-alat dari besi. ―Asal aku menuding dengan cambukku ini. ia hanya menanya: ―Apakah salahku terhadap ayahku Wang Khan. kenapakah kita tidak hendak pergi mengambil emas dan perak dan permatanya bangsa Kim itu? Kenapa kita mesti tiap tahun membayar upeti terhadap mereka? Kita bangsa Mongolia ada diantaranya yang rajin memelihara kerbau dan kambing.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng. ia menyusuli dengan anak panahnya yang keempat. Di sini khan itu bersama Borchu. sudah lantas memanah juga. putranya Wang Khan. aku minta sukalah kau datang ke mari untuk bicara!‖ ia lanats teriaki itu saudara angkat. ―Adik Sangum. maka denagn berulang-ulang sejumlah serdadu musuh rubuh terguling. ―Asal saja kuta bangsa Mongolia tidak saling menyerang. Dan ia keprak kudanya. hati mereka goncang. mereka sekarang turut menyerang denagn panah mereka. Akan tetapi musuh berjumlah besar. Jebe lebih lihay daripada muridnya ini. jangan kau memikir untuk hidup lebih lama pula!‖ Kwee Ceng menjadi cemas sekali. Ketika ia buka mulutnya. Tusaga adanya. karena ada kemungkinan tentaranya tak mau dengar putra yang masih muda itu. maka kau bawa pasukanmu untuk menyerang aku?‖ Sangum pun menjawab dengan pertanyaannya: ―Adakah sejak jaman dahulu kala bangsa Mongol tinggal pada masing-masing sukunya. Sangum mendekati bukit. dengan berulang-ulang. Bagaimana bahaya dapat dihindarkan? Selagi ia berpikir. tiga pengejar terdepan rubuh dari kuda mereka. Beberapa puluh tentara lain pun melindungi dia dengan mereka. Sangum mengerti orang lagi menghasut tentaranya. Orang itu ialah Sangum. Sendirian saja. kapan tiga anak panahnya melesat. Temuchin lanjtui perkataannya: ―Bangsa Mongolia bangsa orang-orang peperangan yang pandai. Ia lantas saja berpikir. Temuchin tidak menyahuti. mendahulukan gurunya. lekas menyerah!‖ demikian ia berteriak. dengan memperlambat segala apa. di sebelahnya baju lapis. negara itu menghendaki kita setiap tahun membayar upeti beberapa laksa ekor kerbau. mari kita sambut mereka!‖ Jebe berteriak. ―Temuchin. Ia berlaku jumawa. ia pun nyata sekali kepuasannya. ia lihat satu penunggang kuda di kaki bukit itu. perlahan-lahan sifat itu berubah. diturut oleh muridnya. adakah itu selayaknya?‖ Temuchin balik tanya. Keadaan ada sangat mendesak dan sulit. siap sedia tameng besi mereka guna menangkis panah gelap. Ia anggap ia mesti menang tempo. Hebat lari kudanya kwee Ceng. Temuchin naik ke tempat yang lebih tinggi. sembari menyerang mereka mundur ke bukit dimana Temuchin menanti. kambing dan kuda. Kwee Ceng kenali panglima yang masih muda itu. Cepat luar biasa.

Celaka untuk Tusaga. Bukan main girangnya Temuchin. sepasang tombak kena dibikin terpental ke udara. Tiga kali Sangum mengirim utusan. ―Apakah kau masih ingat cerita tentang leluhur kita Maral Goa?‖ Temuchin tanya.Pendekar Pemanah Rajawali pernah berkelahi waktu kecil. ingin ia memeluk. Lalu ia berikan mereka lima batang anak panah yang digabung menjadi satu.‖ katanya Jamukha lagi. Adalah adat istiadat bangsa Mongolia akan saudara muda memeluk dan merangkul saudara tuanya. Ia lantas ingat suatu apa. maka tempo Kwee Ceng menarik. Ia maju mendekati. Dengan tidak kurang suatu apa pun Kwee Ceng tiba di samping Temuchin. ―Lepas panah!‖ orang-orangnya Sangum berteriak. tubuhnya kena diangkat dari kudanya. maka ia jepit kudanya. tapi pengurungan tidak dibubarkan. ia dengar suara anginnya senjata mengaung di arah belakangnya. Menampak itu. Kira-kira tengah malam. mereka khawatir nanti kena memanah pemimpin mereka yang muda itu. untuk menghampiri pemuda itu. ia masaki daging kambing kepada mereka. ia lantas lari ke arah bukit untuk mendaki. tapi tiga-tiga kalinya. ia tidak bisa berbuat lain daripada keluarkan titahnya untuk pasukannya itu mundur seratus tombak. Ia lantas duduk bersila. tidak dapat ia berontak. Jamukha menghela napas. Kwee Ceng tidak takut. Mereka Cuma mundur. Dia dapat lari tak kalah pesatnya seperti waktu turun tadi. Temuchin usir utusan itu. Ia kaget dan tidak menyangka putranya dapat ditawan musuh selagi putra itu berada dalam lindungan tentaranya yang berjumlah besar itu. Ujian Yang Pertama Sangum murka berbareng bingung. yang diperintah gunai dadung. tidak ada satu serdadu pun yang berani memanah. kembali ia menitahkan mereka untuk mematahkannya. ia mati kutu. ia lantas berteriak: ―Di sini Jamukha! Aku ingin bicara dengan saudara Temuchin!‖ ―Kau naiklah kemari!‖ Temuchin menjawab Jamukha mendaki dengan perlahan-lahan. katanya. ia kasih perintah orangorangnya terus memasang mata. Selagi Kwee ceng hendak geser pemuda itu. Bergantian mereka berlima mencoba mematahkan anak panah itu. ―Lima putra mereka tidak hidup rukun. Ia lempar tubuh Tusaga ke tanah. langit telah menjadi gelap. Temuchin hunus goloknya. ia teriaki Sangum: ―Lekas kau suruh semua orangmu mundur seratus tombak!‖ Bab 14. ia berpaling lekas. Ingatkah apa pesan leluhur kita itu?‖ Irawan D Soedradjat Page 149 . Kuda itu pun lantas mengerti. ―Pelbagai kepala suku pada membilangnya bahwa leluhur kita sudah turun temurun beberapa ratus tahun hidup secara begini. seorang denagn pakaian putih muncul di kaki bukit. ―Kenapa kau bercita-cita mempersatukan bangsa Mongolia?‖ ―Kau sebenarnya menghendaki apa?‖ Temuchin tanya. ke dekatnya khan yang agung itu. mereka juga masing-masing diberikan seorang sebatang anak panah. untuk ringkus Tusaga. Ia segera menuding dada Tusaga dengan ujung tombaknya sembari berbuat begitu. Tanpa terasa. kenapa kau masih berambekan besar sekali?‖ ia tanya. Ia tampak Temuchin berdiri menantikan dengan romannya yang angker. Temuchin khawatir Sangum menyerbu. untuk dipakai menjadi tameng. ia pegang tubuhnya Tusaga. Tepat tangkisan itu. tangan kirinya menangkis. ia suruh mereka masing-masing mematahkannya. ia kasih lari turun gunung. ―Kakak kau telah menjadi Khan yang agung. begitu kena di cekal. maka itu kenapa khan yang agung Temuchin hendak mengubahnya? Tuhan juga tidak memperkenankan itu. Dengan gampang mereka itu melakukannya. ―Adakah kau masih anggap aku sebagai kakak angkatmu?‖ ia menegur. meminta putranya dimerdekaan. Segera ia bentur perut kudanya denagn dengkulnya yang kanan. malah kereta besar dikitarkan diseputar bukit itu. nanti jiwanya Temuchin akan diberi ampun. sambil berpaling. dalam tujuh dan delapan lapis! Temuchin puji Kwee Ceng. mereka gagal. supaya Temuchin menyerah.

―Aku lebih suka terbinasa dalam perang. Kata ia: ―Negeri Kim itu banyak tentaranya dan banyak panglima perangnya. ia letaki itu di samping kakinya Temuchin. untuk selamanya tidak bakal ada Temuchin lagi! Jikalau kau tidak merdekakan Tusaga. ―Kita membagi-bagikan kerbau dan kambing rampasan kepada tentara. bagus!‖ seru Temuchin. ―Raja Kim itu telah anugerahkan pangkat Ciauwtouwusu padamu. Ia pun keluarkan satu kantung kulit kecil dari sakunya. yang gampang sekali orang siapapun dapat mematahkannya. hingga membaliki belakang kepadanya. jikalau kamu berpadu hati bersatu tenaga. ―Berontak? Hm! Berontak!‖ seru Temuchin menghina. semua pelbagai kepala suku mengatakannya kau berlaku buruk. lalu ia memutar tubuhnya untuk turun dari bukit itu. kalau satu putranya terbinasa. kenapa kita tidak hendak mempersatukan bangsa Monglia kita? Kita harus saling kepruk. ―Yang dibunuh itu adalah musuh. rangsumnya bertumpuk bagaikan gunung.Pendekar Pemanah Rajawali Dengan perlahan Jamukha mengatakan: ―Jikalau kamu masing-masing bercerai-berai. ―Kita juga adalah orang-orang gagah. cara bagaimana bangsa Mongolia bisa main gila terhadapnya?‖ ―Hm!‖ Temuchin perdengarkan ejekannya. Lalu dengan perlahan-lahan ia buka kantung kulit itu. tak nanti aku menyerah!‖ serunya.‖ Temuchin menjadi mendongkol.‖ kata Jamukha. ―Jadinya kau suka yang kita semua diperhina dan ditindih bangsa Kim itu?‖ ―Mereka pun tidak menghina dan menindih kita. Segera terbayang di hadapan Irawan D Soedradjat Page 150 .!‖ kata Jamukha pula. kakak. Ia bilang: ―Inilah tanda mata ketika angkat saudara untuk ketiga kalinya. ―Harap kau tidak mengatakannya aku tidak berbudi!‖ Temuchin lantas keluarkan satu bungkusan kecil dari dalam sakunya. ―Dan bagaimana dengan kau sendiri?‖ ―Aku datang untuk meminta kau jangan gusar.‖ kata Jamukha. Jamukha bangkit berdiri. tanpa membilang apa-apa. kau mengatakannya itu milik mereka pribadi. tak tepat itu dengan pengajaran leluhur kita!‖ Temuchin berseru: ―Akan tetapi semau orang peperangan yang muda-muda senang dengan caraku itu!‖ ―Baiklah saudara Temuchin. bukannya kakak angkatmu!‖ Jamukha jemput bungkusan kecil itu. sekian lama ia diam asaj. bukannya milik suku beramai.‖ katanya. mereka menjadi leluhur kita bangsa Mongolia!‖ sahut Jamukha. kita bersatu hati bekerja sama untuk memusnahkan bangsa Kim itu!‖ Jamukha terkejut. Aku tanggung Sangum nanti melepaskan kau pulang dengan selamat!‖ ―Aku tidak percaya Sangum! Aku juga tidak percaya kau!‖ ―Sangum bilang. sekarang kau terimalah kembali! Besok kau membawa golokmu untuk berperang di sini!‖ Sembari berkata begitu. ―Siapa tahu permintaannya kepada kita makin lama jadi makin hebat! Sudah minta kerbau dan kambing. Aku minta supaya kau kasih pulang Tusaga kepada Sangum. ―Mulanya akun juga menyangka raja Kim itu baik hati. kamu menjadi seperti lima batang anak panah yang digabung menjadi satu ini. kamu menjadi seperti anak panah ini. emasnya tersebar di seluruh negaranya. dan sekarang dia menghendaki orang-orang peperangan kita membantu ia berperang!‖ ―Wang Khan dan Sangum tidak ingin memberontak terhadap negara Kim itu. ―Benar begitu!‖ kata Temuchin. Ia tambahkan. Mengenai itu. Ia ada sangat berduka. dia minta kuda. yang tak dapat dipatahkan siapa juga!‖ ―Kau masih ingat itu. ialah kepala panah dan biji piesek yang diwaktu muda mereka sering membuat main. Sungguh tidak ia sangka. saudara angkat itu yang bagaikan saudara kandungnya bisa berubah demikian rupa. ia geraki tangannya seperti hendak membacok batang lehernya. kau bakal tak dapat melihat lagi matahari besok!‖ Temuchin membacok ke udara. ―Kemudian bagaimana?‖ ―Kemudian mereka berlima bersatu padu bekerja sama. akan tuang keluar isinya. dia bakal melahirkan dua putra lagi! Kalau satu Temuchin terbinasa. ia lemparkan ke depan Jamukha. Temuchin mengawasi belakang orang.

membuat seluruh dua menjadi ladang tempat kita menggembala ternak kita!‖ Kagum Kwee Ceng akan dengar itu cita-cita dari Khan yang agung ini. Tidak antara lama. kita bukannya tandingan jago-jago Rimba Persilatan itu…‖ pikirnya. sebuah bendera kuning muncul dari dalam pasukannya Sangum. Dia dirintangi oleh Ogotai yang bersenjatakan sebatang golok besar. Ia berdiam sekian lama. mereka halau setiap anak panah itu. orang gagah yang baik sekali. ―Apakah kau takut?‖ ia tanya. Jadi mereka adalah orang-orang Rimba Persilatan. yang menuju ke sisi gunung. Kwee Ceng di samping mengawasi dengan perasaan berat. cuaca sudah mulai terang. dan di tengahtengah adalah Chao Wang Wanyen Lieh. tujukan panahnya dan memanah pangeran itu. kemudaian berpaling. satu pemuda dengan pakaian hitam sudah lantas sampai di atas gunung. lalu menambahkan pula. Irawan D Soedradjat Page Satu di antara empat orang itu. jalanan yang bisa diambil musuh untuk menerjang naik. Temuchin bangun berdiri. Setibanya empat orang itu di tengah jalan. yang menerangi tanah datar seperti juga banyak bintang di langit. adakah kau hendak memberontak terhadap negara Kim yang agung?!‖ tanya itu pangeran. lantas sebatang panah tangan menyambar ke batang lehernya putra Temuchin itu. Ia lantas kata: ―Khan yang agung.‖ Kwee Ceng menyahuti. ―Bala bantuan tidak datang. putra keenam dari raja Kim. empat orang berlompat maju. mereka dipapaki hujan panah oleh Jebe dan Borchu beramai. Berbareng dengan 151 Kwee Ceng jadi berkhawatir. hingga ia dapatkan Kwee Ceng berdiri diam di sampingnya. Pangeran Kim ini memakai kopiah dan jubah perang bersalut emas. Di belakang pangeran ini segera muncul satu orang. untuk lari mendaki ke atas gunung. ―Aku tengah memikirkan ibuku. apa yang Temuchin pendam itu adalah persahabatan yang ia paling hargakan…. ―Mari kita ingat pembicaraan kita malam ini! Selanjutnya akan aku pandang kau sebagai anak kandungku!‖ Dan ia rangkul si anak muda! Sementara itu. kita bisa menang perang. ―…. Ia menghela napas. Hari ini kita akan mati perang di gunung ini!‖ kata Temuchin. rupanya mereka hendak memulai penyerbuan mereka. bukannya orang peperangan yang biasa. Ia mengerti. tetapi dengan tamengnya. Dia ayun tangannya. Mereka itu menggunai ilmu enteng tubuh. di kiri Sangum. ―Benar!‖ sambutnya. Dia sangat gesit dan gapa. Ia nampak api yang dinyalakan tentaranya Sangum dan Jamukha. ―Kau ada seorang gagah. ―Kita di sini adalah orang-orang peperangan semua. Habis menguruk tanah dengan kedua tangannya. Kwee Ceng terperanjat menyaksikan kegesitan empat orang itu. ―Temuchin. Juji. tangan kirinya mencekal tameng untuk pencegah panah. Dengan goloknya ia mencongkel sebuah liang di tanah. sayang kami saling bunuh satu sama lain! Coba semua dapat berserikat menjadi satu…‖ Ia memandang ke ujung langit. anak panah mereka diarahkan ke setiap jalanan di gunung itu. Di dalam pasukannya Sangum dan Jamukha segera terdengar suara terompet.‖ Temuchin memuji. ―Bagaimana sekarang?‖ . tidak nanti kita dapat dikalahkan Sangum yang berhati kecil dan hina dina itu!‖ Temuchin pun menjadi bersemangat. disusul sama bacokan goloknya. putra sulung Temuchin. Temuchin bersama ketiga putranya dan semua panglimanya mendekam di belakang tumpukan tanah. di kanan Jamukha.kita pasti dapat membuat seluruh dunia.Pendekar Pemanah Rajawali matanya saat dahulu hari ketika mereka sama-sama bermain-main di es. di situ ia pendam itu barang tanda mata dari adik angkatnya itu. ia melanjutkan: ―Mereka itu juga orang-orang gagah! Kami bangsa Mongolia ada punya begini banyak orang gagah. Ini waktu terlihat tentara musuh sudah mulai bergerak. Wanyen Lieh lantas saja berseru dengan titahnya: ―Tolongi Tusaga! Bekuk Temuchin!‖ Atas titah itu. yang menyambuti anak panah itu dengan tangannya. Di bawah bendera itu ada tiga orang. Ia memandag ke depan. Mereka itu adalah. Ia menunjuk kepada api di kejauhan itu.

yang untuk itu telah mengeluarkan banyak uang. terkejut juga musuh menyaksikan orang seperti nekat. Mereka hampirkan jiesuko itu. ―Siapa berani maju!‖ ia berteriak. Itulah gerakan ―Kie hong teng kauw‖ atau ―Burung hong bangkit dan ular naga mencelat‖. Orang-orangnya Sangum tidak berani naik. benar-benar musuh ini bukan sembarang orang. ―Akan aku lantas memenggal!‖ Sangum menjadi khawatir dan bingung. waktu datang pula bacokan. berkelebatlah sebatang golok putih mengkilap. ―Mari kita memikir daya lainnya. ―Toasuko. Tentu saja di hadapan ribuan serdadu. menjadi bacokan ke kiri……… Mau tidak mau. dengan bawa tombaknya. bersedia akan celaka bersama. Segera ia dapat kenyataan. ia ulangi serangannya dengan beruntun. Terus ia bersilat dengan Wat Lie Kiam-hoat. ―Tuan pangeran. Dia ini menganggap dirinya adalah tertua kaum Rimba Persilatan. Boroul dan lainnya. ―Kau lihat saja dari samping. Kwee Ceng main mundur. Ia ini menghalang di depannya Ogotai. titahkanlah mereka itu turun!‖ ia mohon kepada Wanyen Lieh. Keras sekali. anakmu tak bakal terbinasa!‖ kata Wanyen Lieh sambil tertawa. ―Kau siapa?‖ dia menegur. yang dipanggil toasuko atau kakak seperguruan yang tertua. ―Beritahukanlah she dan namamu!‖ Dia bicara dalam bahasa Tionghoa. Kwee ceng gunai ketika orang bicara. Orang ini mengancam ke kanan. kapan satu di antaranya melihat ia terdesak. Mereka ini pun telah dengar suaranya jiesuko mereka. ia lompat mundur. ―Lihat kepandaiannya toasuko!‖ berseru saudaranya yang memegang tombka itu sambil tertawa. Itu waktu Temuchin telah dilindungi dengan dikurung oleh Jebe dan lainnya yang belum terluka.Pendekar Pemanah Rajawali itu. Dia heran dalam rombongannya Temuchin ada orang yang pandai ilmu pedang. ia tekuk kaki kirinya dan menikam dari bawah ke atas. tiga kawannya orang ini sudah tiba di atas gunung dan tengah bertempur sama Chilaun. tidak urung tangan bajunya yang kiri telah kena tersontek robek. Kali ini. kapan musuh berkelit. Mukhali lantas saja tandalkan goloknya di lehernya Tusaga. sedang empat orangnya Wanyen Lieh itu melanjuti pertempurannya. tidak berani sembarang merangsak. ialah ia menikam pula. menikam dari samping kepada lengan penyerang itu. ia tidak mundur lagi. Musuh kaget dan berlompat berkelit. yang mencekal pedang. ―Aku Kwee Ceng!‖ sahut anak muda itu. mari aku bantu kau!‖ dia berteriak. maka mereka anggap baiklah mereka menonton kakak mereka yang kesatu. sebab ia adalah orang undangannya Wanyen Lieh. tiba-tiba ancamannya itu berubah di tengah jalan. Ia pun tidak mengerti cara bersilatnya orang. Mereka mau percaya musuh tidak bakal lolos lagi. ia malu mengaku kalah terhadap adik seperguruannya itu. dia lompat menghampirkan. untuk berdiri berendeng bertiga. apakah itu ukan berarti aku kena didesak?‖ karena ini. masing-masing tidak sudi mengalah. ialah pedangnya. Sekarang aku main menangkis aja. kau lihat kepandaiannya toasukomu!‖ berseru orang yang bergenggaman golok itu. sedang hari ini adalah yang pertama kalinya ia muncul di medan pertempuran. sebaliknya ia menyambut seraya tekuk kaki kanan dan tangan kiri bersiap sedia. sedang dari enam gurunya pernah ia dengar pelbagai macam ilmu silat. Kwee Ceng sementara itu telah melihat. akan menonton pertempuran sang kakak tertua. ia lantas tarik pulang goloknya. berat tangannya lawan itu. tangan kanannya. sambil kelit lengannya. ialah yang membuat lawannya repot. supaya anakku jangan terbinasa…!‖ ―Tetapkan hatimu. ―Tidak pernah aku dengar namamu! Lekas kau menyerah!‖ kata orang itu sombong. membalas menikam lempang. Kwee Ceng telah gunai ilmu pedang Wat Lie Kiam pengajaran Han Siauw Eng. Dilain pihak orang-orangnya Sangum hendak bergerak pula. Dipihak lain. tiga kawannya musuh itu sudah berhasil merubuhkan empat atau lima lawannya. Memangnya di antara empat saudara seperguruan ini ada perbedaan tabiat atau sikap. Dia terkejut. yang goloknya tebal. Kwee Ceng lihat ini ia gunai ketikanya. Maka ia lihat di depannya ada satu anak muda dengan alis gompiak dan mata besar. Irawan D Soedradjat Page 152 . saudara yang kedua. ia layani musuh yang bersenjatakan golok itu. Segera juga ia ingat pengajaran gurunya yang kesatu: ―Di waktu bertempur mesti mempengaruhi orang tetapi jangan kasih diri kena dipengaruhi. sikap garang mereka membuat dua musuh lainnya yang memegang ruyung besi dan dan sepasang kampak pendek.

Tapi ia penasaran. ia lepas dan lemparkan pedangnya. tanpa membalik tubuh lagi. golokku sudah mengenai tubuhmu. Ia lihat Kwee Ceng lihay dengan ilmu pedangnya. ia mendahulukan menikam ke arah lengannya musuhnya. ia menjadi seperti nekat.‖ ia menebas terus tanpa membuat perubahan. ia masih belum bisaberbuat suatu apa. Ia tunggu sampai ujung golok hampir mampir di pedangnya. untuk membarengi membalas menyerang. sambil memutar tubuh. kau satu anak kecil tentulah tak dapat mengetahuinya. Lihat golokku!‖ Ia lantas menyerang. ia mendupak ke belakang. Setelah berkelit dari bacokan. Puluhan ribu serdadu musuh. akan tetapi ia adalah muridnya tujuh guru. dan ilmun pedangnya pun sudah dapat mendesak musuh ini. Demikian satu kali. ialah sambil melayangkan kaki kanannya ke bahu musuh. ia akan dapat tancapkam pedangnya di dada lawannya itu. sambil mendak sedikit. Tenang adanya sikap Kwee Ceng. Orang itu menoleh kepada ketiga saudaranya. mendadak ia mengegos sedikit. ―Awas!‖ Jebe teriaki muridnya. ―Kenapa kau datang kemari untuk antarkan jiwamu?!‖ Kwee Ceng lintangi pedangnya. Di dalam hatinya ia berkata: ―Belum lagi pedangmu tiba. taruh kami mengatakannya. sebagai gantinya. ia membuatnya tombaknya musuh terpental. ia mencoba mendesak terus.‖ ia menjawab dengan terus terang. Ia ini cemas juga setelah banyak jurus. ia jumput golok musuh yang jatuh di dekatnya. setelah pedang orang terlepas. telah banyak pengetahuannya. Kali ini ia gunai bacokan ajarannya Lam Hie Jin. Kwee Ceng sudah tempur orang. ―Teecu adalah muridnya Kanglam Cit Koay. Irawan D Soedradjat Page 153 . sebat tangannya. terpaksa ia menarik pulang serangannya. Ia tertolong jiwanya tetapi pedangnya toh mampir juga di tangannya. bahwa musuh itu ingin memperlekas kemenangannya. ia tahu musuh ingin menerbangkan goloknya. dengan bengis ia membacok melintang. berdiam menyaksikan pertempuran itu. tikamannya itu dapat dihalau dan ia ditendang. Lalu ia berpaling pula. jeli matanya. habis mana. juga Temuchin semua. Ia penasaran sebab ia tahu. ―Bagus!‖ seru lawan yang bersenjatakan tombak itu. yaitu jurus ―Burung walet masuk ke sarangnya‖ dari tipu silat ―Lam Sam Too-hoat‖ – ilmu pedang Lam San. ia membokong. Kembali Kwee Ceng bebaskan diri dengan kelitan ―Dalam mabuk meloloskan sepatu‖. katanya: ―Tentang nama kami berempat. ―Kau muridnya siapa?!‖ ia tegur Kwee Ceng. Penyerang bertombak ini menggunai ketikanya yang baik. yang membokong. Sebentar saja. Keras sampokan ini. dengan tombaknya itu ia sudah punyakan pengalaman dua puluh tahun………… Kwee Ceng berkelahi sambil matanya melitah dan otaknya bekerja. ia gagal. ia merasa orang ada terlebih terlatih daripadanya. Tidak terkecuali adik seperguruannya si toasuko. Musuh itu menjadi girang melihat lawan tidak berkelit hanya membalas menyerang. Sambil berteriak. ia bersikap tenang. sedang tangan kanannya menikam terus ke dada lawannya itu! Bukan main kagetnya si toasuko. bukan ia mundur. hingga ia melayani musuh muda ini. pedang Kwee Ceng terlepas dan jatuh ke tanah. sedang sebenarnya. dengan tangan kosong ia sampok pedang si anak muda. Selagi musuh lompat undur. Cuma karena kurang pengalaman. Kwee Ceng lihat pinggangnya terancam tebasan. ia menikam ke dada pula. ―Suwie‖ ialah ―keempat tuan‖. Diakhirnya. maka itu ia melawan dengan berani. si pemegang golok itu lompat keluar kalangan. Tepat dupakannya ini. Hampir pada itu waktu ada angin menyambar di belakangnya. terus ia maju pula.Pendekar Pemanah Rajawali Sebelum berkelahi terus. Ia tidak sangka si anak muda luas pengetahuannya dan gesit. ia membacok ke arah lengannya musuh. maka tangan itu bercucuran darahnya! ―Sayang!‖ kata Kwee Ceng di dalam hati. ―Teecu mohon tanya suwie empunya she dan nama yang besar?‖ ia terus berbalik menanya empat orang itu. dengan sedikit lebih sebat saja. Kwee Ceng dengar pemberian peringatan itu. tigapuluh jurus telah dikasih lewat.

Pendekar Pemanah Rajawali Maka ia melawannya dengan sabar dan hati-hati. karena Tiat Sim adalah keturunan kaum keluarga Yo yang terkenal untuk ilmu tombaknya keluarga Yo. Tapi pemuda kita. Dengan cara biasa. kampak itu terlepas dan terpental. yang bersenjatakan ruyung besi itu. Karena ini ia tampaknya jadi semakin lihay. maka Lam Hie Jin sengaja ajarkan muridnya ini tipu golok melawan tombak. Boroul dan Jebe maju untuk membantu Kwee Ceng. untuk menghajar punggungnya. tidak tahan sabaran. akan hajar kampak di tangan kiri itu. malah ia terdumpak mental. Musuh itu terkejut. mulutnya pun perdengarkan seruan. Segera ia dikepung oleh musuhnya yang ketiga. Kwee Ceng tidak punya senjata. Disaat kemenangannya itu. si pemiliknya sendiri jatuh numprah. gagang tombak kalah dan kena terkampak patah hingga menjadi tiga potong. Berat untuk Jebe berdua. baru ia bisa mengenai musuh. mereka lantas meluruk kepada anak muda she Kwee ini. Menghadapi lawan yang menggunai tombak ini. ia mendesak. Melihat bahaya itu. Ia lantas berdiri diam mengawasi keempat musuhnya itu. tangan kirinya terbalik. repot mereka menghadapi musuh-musuhnya yang lihay itu. mereka tidak menghiraukan lagi Jebe berdua. apapula satu musuh itu bertangan kosong. Kwee Ceng lempar goloknya ke bawah gunung. demikian ia ini. ia tertolong dari bahaya maut. Ia tetap berlaku cepta dan keras. Musuh yang keempat. mengampak ke arah kepalanya sendiri. sekarang ini Kwee Ceng ada kesempatan akan pakai ilmu goloknya yang istimewa itu dan ia berhasil. mereka bukan orang kaum Rimba Persilatan. membuatnya orang kewalahan. seperti tadi melawan si toasuko. ia lantas mendahului lompat mundur. Bangsa Mongolia adalah bangsa yang polos dan memuju orang gagah. sepasang kampaknya turun dengan berbareng. Si toasuko ini tadinya menyangka orang hanya lihay dengan pedangnya. Irawan D Soedradjat Page 154 . ia segera tarik pulang tangannya itu untuk terus dipakai menyikut si jiesuheng. hingga dengan begitu ia pun dapat menolongi Jebe. yang paling muda. Kwee Ceng menggunai tipu. ia lompat bangun untuk merangsak pula. tidak dapat ia rubuhkan atau lukai musuhnya ini. goloknya sama aja. Lagi beberapa lama. Tanpa ia ketahui. baru ia kerahkan tenaganya. mereka membaut ribut dengan mencaci maki dua pengeroyok itu. ke arah jari tangan musuh itu. ia mestinya menyampok tombak seraya membarengi membacok. ia batal membacok. Siapa menggunai senjata pendek. sia-sia saja dia itu mencoba berulang-ulang. Lekas juga senjata mereka dirampas musuh. Ia berhasil. ia lantas menantikan satu tikaman. Turut kebiasaan. tak tahunya. dengan putar kampaknya. Hebat kampaknya itu. dengan tombaknya. mulutnya berteriakan tak henti-hentinya. ilmu ini bukan digunai di Kee-hi hanya di sini. Orang itu rupanya bersatu pikiran. tiba-tiba perutnya dirasainya sakit. si saudara yang ketiga melompat dengan ruyung besinya. dua musuh lainnya turut maju juga. guna mempengaruhi musuh. ketika si orang Hwee menebas tangannya. Tapi ia bertabiat keras. Diluar dugaannya. Musuh tidak menduga jelek. ia agaknya penasaran yang mereka kalah dari satu bocah. Berbareng ia mental. ia mesti berkelahi rapat. Kwee Ceng ada punya satu keuntungan. ia melawan dengan ilmu silat tangan kosong melawan senjata. Kebetulan sekali. maka di antara satu suara nyaring. tentara Mongolia di kaki gunung menjadi tidak senang. Setelah dapat merampas tombak musuh. Celaka kalau musuh itu tidak lepaskan cekalannya. ia mencoba mendesak. ia lompat menubruk. maka itu. Syukur untuknya. ia gusar dan penasaran. Kwee Ceng lihat Boroul terancam bahaya. musuh hendak mengulangi kampakannya. sehingga ia membuatnya si toasuko heran. Tapi ini bukan berarti ia berlaku kendor. Karena majunya mereka berdua. ia lompat kepada toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang. mereka adalah orang-orang peperangan biasa. Sampai disitu. ia telah dipertaruhkan akan bertempur sama anaknya Yo Tiat Sim. sebelah kaki Kwee Ceng telah melayang ke perutnya. Melihat orang main keroyok. Apa yang tidak disangka. dia mencoba merapatkan Kwee Ceng. Kwee Ceng dapatkan musuh mulai ayal gerakannya. ia terus memapas ke sepanjang batang tombak. Tiba-tiba ia merasa tenaga musuh berkurang. Sesudah lewat beberapa jurus. Kwee Ceng angkat tombaknya untuk menangkis. maka itu tidak puas mereka menyaksikan empat orang mengepung bergantian kepada satu musuh. sambil membentak. yaitu Yo Kee Chio-hoat. ia maju menyerang.

maka ia jambak dada musuh. denagn tangan yang lainnya. terpaksa ia melawan dengan menunjuki kelincahannya. paha kanannya kena dihajar.Pendekar Pemanah Rajawali Segera juga Kwee Ceng terancam bahaya. Irawan D Soedradjat Page 155 . maju pula untuk membantu kawannya.nanti aku bunuh ini bocah haram!‖ kata si suheng yang memegang golok sebatang kepada dua saudaranya. ia ingin membalas sakit hatinya. pasukan tentara kacau sendirinya. Kwee Ceng insyaf ia berada dalam bahaya. tangan mereka kesemutan bekas rabuhan senjata aneh dari orang yang baru datang ini. ia merasakan sakit pada pundaknya. Kwee Ceng tetap bertahan secara demikian. Selagi Kwee Ceng terancam bahaya. tetapi gerakannya menjadi lambat. terus ia melawan dengan hebat. Kim Hoat lompat maju. hanya sekarang ia ubah caranya mencekal. ia menangkis. atau kaki kanannya dirasakan sangat sakit. lalu dengan menggulingkan tubuh. habis mana ia lompat bangun. Itu waktu. ia lantas kenali enam orang itu. Dlam keadaan sangat berbahaya itu. ia diserang oleh musuhnya yang menggenggam ruyung besi hingga goloknya Borchu kena disampok mental. Kwee Ceng berkelit dengan berlompat. ―Bandit-bandit tidak tahu malu. dengan dacinnya ia rabu empat batang senjata musuh. Baharu ia berdiri dengan berniat melawan musuh. semangatnya terbangun. sedang musuh yang memegang sepasang kampak memberangi mengampak juga. ialah main berkelit dengan mengegos tubuh atau berlompatan. ―Kwee Ceng. Musuh sudah lantas tiba. Kwee Ceng kaget. ia berseru. mereka kalah jauh. ia dibarengi musuh yang mencekal ruyung besri tadi. atau sebatang golok melayang ke arahnya. Karena ini. yang tak sudi melepaskan pelukannya. karena tidak mempunya senjata. Tin Ok bersama yang lain pun telah tiba. tulang pahanya itu tidak patah. denagn kerahkan semua tenaganya. ―Tidak tahu malu!‖ ia membentak. untuk membantu saudaranya. denagn begitu ia pakai musuh sebagai tameng. Kwee Ceng sudah letih betul. akan kasih muridnya bangun. lalu semangatnya bangun. untuk berdiri. Dia ini bersakit hati bekas kena didupak tadi. ia melakukan perlawanan dengan terus main bergulingan dengan ilmu silatnya ―Kim Liong Pian-hoat‖ atau ―Ilmu cambuk lemas naga emas‖ Musuh yang pingsan telah lantas sadar. ia lompat bangun. Syukur untuknya. telah rebah diam karena pingsan. sekejab itu ia ingat ibunya. Ia tidak pedulikan orang menendangi pundak atau kakinya. maka tidak ampun lagi. hampir ia rubuh pingsan. yang telah berhasil memukul mundur Jebe berdua. denagn begini Kwee Ceng kembali kena dikepung berempat. Ia masih sempat berkelit pula seraya ia angkat kakinya yang kiri untuk menendang musuh yang memegang kampak yang berada paling dekat dengannya. Matanya Jebe sangat tajam. di bawah bukit. ―Ini golok!‖ teriak Borchu seraya ia melemparkan goloknya. ia mencekik tenggorokan. Musuhnya yang ia cekik. ia angkat tubuh orang ke atasan tubuhnya snediri. lalu tertampak enam orang bergerak dengan lincah mengacau barisan itu. Tuli dan Gochin. habis mana ia terus bekerja. Cu Cong dan Coan Kim Hoat lari di paling depan. ia roboh bersama-sama musuh itu. Mereka merasa bahwa dalam tenaga dalam. kedua matanya pun sudah mulai kabur. Hanya ketika itu. sekali lagi ia roboh. Kwee Ceng ingat ia ada punya joan-pian atau cambuk lemas pembela dirinya. untuk membikin dia itu tak dapat bergerak. mereka pun dibantu oleh dua saudara yang lain. kemudian selanjutnya. Tak lama. Empat musuh itu sudah lantas lompat mundur. ia telah pikir: ―Biar aku mati. kapan ia dengar itu teriakan. Benar saja ketiga musuh lainnya berhenti menyerang karena mereka khawatir nanti mencelakai kawan sendiri. denagn sebelah tangan ia memencat nadi musuh. terpaksa ia menggulingkan tubuh sekitar dua tombak. matanya pun kabur. Disaat Kwee Ceng hendak sambuti golok itu. asal aku pun telah membunuh seorang musuh!‖ Jebe berdua yang tadi telah terpukul mundur. tujuh gurunya. ia merasakan sangat sakit. yang telah melepaskan kampaknya itu. gurumu datang!‖. Cu Cong lompat maju. pergi kamu!‖ Kim Hoat mengusir. lekas-lekas ia lepaskan itu dari pinggangnya. terus mereka berenam lari naik ke atas gunung. ia lantas kena ditubruk musuh yang bersenjatakan kampak. mereka segera tampak murid mereka dalam bahaya. ―Kamu pegat mereka .

kenapa kamu merendahkan diri begini rupa. maka terkejutlah mereka mengetahui empat orang itu adalah murid-. tentaranya Sangum menjadi kecil hatinya.‖ berkata Tin Ok pula. adakah kamu Kanglam Liok Koay?‖ ia tanya enam orang itu. mereka juga kena dilempar-lemparkan si Kelelawar Terbangkan Langit! Tentara Mongolia di atas bukit bersorak-sorai menyaksikan keempat saudara itu. Temuchin menampak datangnya bala bantuan. Itu waktu terlihat debu mengulah naik. Sangum terperanjat. satu demi satu. Tentu saja. cepat luar biasa. aku Song-bun-hu Cian Ceng Kian!‖ ―Kedengarannya kamu tidak berdusta. hingga tak tahu ia harus mengambil tindakan apa. ―Pasti kamu berdusta!‖ bentak Tin Ok. tetapi mereka tidak berdaya. dengan mengincar Sangum. Juji dan Jagatai sudah lantas mendahulukan menerjang ke bawah. emapt orang bersaudara mengepung satu musuh. Sementara itu rombongannya Temuchin sudah sampai di bawah bukit. seorang bocah! Dialah muridku!‖ Gouw Ceng Liat membelar. Tibatiba ia menekan denagn tongkatnya. sembari turut menerjang. sebab mereka itu main keroyok. Ia tahu pihaknya tak berdaya tetapi mereka malu untuk lari turun gunung. putra itu tak dapat berkutik. ―Siapa bilang kami berempat mengepung satu orang?!‖ katanya. ia berkelit ke kiri. tidak urung pipi kanannya kena tertancap anak panah. mengetahui Jamukha lihay dan Sangum hanya mengandal kepintaran ayahnya. Toan-hun-to Sim Ceng Kong! Ini jiesuheng Tiwi-beng-chiop Gouw Ceng Liat! Ini samsuheng Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong! Dan aku sendiri. tubuhnya terus mencelat. Syukur mereka tidak patah tangan dan kaki atau singkal batang lehernya.‖ sahut si toasuheng. mereka maju untuk menolongi. malah Jebe sudah lantas saja turun tangan.muridnya Kwie-bun Liong Ong. ―Siapakah tuan berempat?‖ ―Kami adalah empat muridnya Kwie-bun Liong Ong. malah sebaliknya. karenanya. Kwa Tin OK dan Cu Cong mulanya menyangka orang adalah orang-orang yang tak bernama. ―Benarlah kau adalah Hong Ho Su Koay! Kamu cukup ternama. darimana pun terdengar seruannya bala bantuan. maka tak ampun lagi. ia menjadi mendongkol. merayap bangun dengan muka penuh debu dan seluruh badan dan pinggangnya sakit bekas jatuh terbanting dan bergeluntungan. tanda dari datangnya beberapa ribu serdadu. menampak demikian. tetapi Kwa Tin Ok dapat mendengarnya. batang leher siapa ia tandalkan goloknya. hendak ia memegat. maka itu. ―Bukankah di sini ada banyak orang Mongolia yang membantu padanya?‖ Cian Ceng Kong pun tanya Ma Ceng Hiong: ―Samsuheng. tentaranya menjadi kaget dan kalut sendirinya. siapakah dia?‖ Ceng Kong menanya perlahan sekali. ia rubuh terjungkal dari kudanya.Pendekar Pemanah Rajawali Si toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang menebali muka. ia memanah. atau ia lantas tampak putranya berada di bawah ancama maut. ―Tidak salah!‖ sahut Cu Cong tertawa. Irawan D Soedradjat Page 156 . mereka malu bertemu sama pangeran yang keenam. maka tidak ampun lagi. mana bisa murid-muridnya ada bangsa tak berguna seperti kamu!‖ ―Siapa berdusta!‖ berseru orang ynag dicekik Kwee Ceng tadi. ia menjadi tergugu. ia berteriak-teriak: ―Lekas buka jalan! Lekas buka jalan!‖ Sangum menyaksikan musuh menerobos turun. ia menunjuk ke kiri ke pasukannya Sangum itu seraya berseru: ―Mari menerjang ke sini!‖ Jebe berempat dengan Borchu. ―Kwie-bun Liong Ong bernama besar. yang masih merasakan sakit pada tenggorokannya. ini buta dan pengkor sangat berlagak. sebelah tangannya menyambar. punggung Ceng Kong kena dijambak. ―Liok-wie. Mukhali kaburkan kudanya denan ia peluki Tusaga. terus dilemparkan ke bawah gunung! Tiga pengepung lainnya menjadi kaget. yaitu Hong Ho Su Koay. ―Inilah toasuheng kami.

Tiga hari sepulangnya Tusaga itu. ia datang dengan cuma bersama itu beberapa ribu serdadu anak-anak muda. mereka jadi sangat mengagumi Khan mereka itu. Irawan D Soedradjat Page 157 . Putri ini girang bukan main melihat ayahnya semua tidak kurang satu apa pun. yang hatinya mendongkol. dari itu. yang mereka layani dengan hormat. Mereka menjadi kaxau. Temuchin bertemu bersama Gochin. ―Aku tidak bermusuh dengan ayah Wang Khan dan saudaraku Sangum. tanpa berdaya mereka pada melarikan diri. ialah barisannya Tuli. maka di dalam tendanya.‖ Baharu semua panglima itu sadar. Temuchin hanturkan tiga cawan arak kepada putra Sangum itu.Pendekar Pemanah Rajawali Temuchin ajak rombongannya kabur terus. Tapi ia cerdik. Bukankah ia telah tidak dibunuh? Maka ia berjanji akan meyampaikan permohonan maaf dari Temuchin itu. Segera mereka bertindak maju dalam tiga pasukan. walaupun ia adalah satu pangeran. ia tahu jumlah musuh terlebih besar. Aku pun akan mengantar bingkisan kepada ayah dan saudara angkatku itu. akan tetapi mereka dirintangi panahnya Jebe dan Borchu beramai. itulah untuk membuatnya tidak bersiaga. Empat Siluman dari sungai Hong Ho. kepala-kepala suku dan panglima-panglima Temuchin tidak suka dengar titahnya. ―Maka itu aku persilahkan kau pulang untuk menyampaikan maafku. Wang Khan bersama Sangum kabur ke barat. ―Kita mesti membokong padanya! Aku merdekana Tusaga dan mengirim bingkisan. mereka menyangka Temuchin jeri. Sesudah melalui beberapa lie. maka itu mereka lantas menggabungkan diri.‖ menjelaskan Temuchin. putra keempat Temuchin. Adalah tengah mereka berpesta malam ketika mendadak datang serangannya Temuchin. serdadu kita sedikit. Semua orang menjadi bertambah heran dan mendongkol menyaksikan Khan mereka yang besar menjadi demikian lemah dan jeri terhadap Wang Khan. ―Sekarang juga kita menyerang Wang Khan!‖ demikian titahnya.‖ Tusaga girang bukan main. Wang Khan dan Sangum dilain pihak girang melihat Tusaga pulang dengan selamat dan Temuchin pun mengirim bingkisan. Di sana mereka kemudian terbinasa di tangan bangsa Naiman dan Liauw Barat. tetapi terpaksa mereka berdiam saja. hanya ia telah didulukan Kanglam Liok Koay. Temuchin kumpulkan orang-orang peperangannya. Malam itu Temuchin membuat pesta dengan semua panglima dan tentaranya diberi hadiah. yang pun datang bersama sejumlah serdadu. mereka melongo. Heran semua panglima itu. Hong Ho Su Koay. dari itu debu menjadi mengulak besar dan musuh menyangkanya bala bantuan lawan ada berjumlah besar sekali. yang sembari menyingkir telah menoleh ke belekang dan sabansaban menyerang denagn panah mereka. Tusaga terbinasa terinjak-injak kuda tentara. ―Wang Khan banyak tentaranya. tak dapat kita melawan dia dengan terang. Hanya untuk herannya semua orang.terangan. Besok harinya Temuchin kirim sepuluh serdadunya mengiringi Tusaga pulang. yang aku minta supaya tidak menjadi berkecil hati. yang bisa menerobos kepunganm telah lindungi Wanyen Lieh kabur pulang ke Tiongtouw (Pakkhia). Tuli masih muda. mereka tidak bercuriga. mereka jamu Wanyen Lieh dan Jamukha. ia perintahkan semua serdadu mengikat cabang pohon diekor masing-masing kuda mereka. Ada beberapa ratus musuh yang mengejar. dan diperlakukan sebagai tamu agung. Dengan mendadak ia perintahkan mereka itu kumpulkan tentara mereka. Kanglam Liok Koay turut mundur dengan Lam Hie Jin yang memondong Kwee Ceng. berbareng dengan itu ia mengirimkan dua buah kereta yang berisikan emas dan kulit tiauw. rombongan ini bertemu sama bala bantuan.‖ ia berkata kepada putranya Sangum itu. Di tengah jalan pulang. mereka itu lihat Tusaga diundang duduk bersama di meja pesta.

yang ia awasi. semuanya menyunjungnya. tetapi sebagai adik. ―Budi ini tak dapat aku balas walaupun tubuhku hancur lebur. supaya rohku tidak mengikuti darahku dan meninggalkan tubuh ragaku…. ―Meskipun saudara suka memberi ampun padaku. Maka keget iamendengar hadiah Khan yang maha besar itu. Kepada Jamukha. Kwee Ceng yang dianggap jasanya paling istimewa. semacam kapten dari seribu serdadu. menggodainya. tubuhnya terpaku. Empat pahlawannya yakni Mukhali. Selagi ia tercengang. mereka girang. Tuli sangat kegirangan sehingga ia merangkul Kwee Ceng erat-erat. dijadikan cian-hu-thio juga. Mereka juga berseru-seru: ―Kimto Hu-ma! Kim-to Hu-ma! Bagus! Bagus!‖ ―Kim-to Hu-ma‖ itu berarti menantu raja golok emas. dia ditawan oleh tentara pengiringnya. aku sendiri tidak mempunyai muka akan hidup lebih lama pula di dalam dunia ini. atau Khan terbesar dari Mongolia. Borchu. Semua panglima bersorak. Dalam pesta itu Jenghiz Khan minum banyak arak hadiah dari pelbagai panglimanya. terus ia dibawa kepad Temuchin. Ia menyukai Gochin. diangkat menjadi cian-hu-thio. Maka anehlah satu bocah umur belasan tahun. ia pun bingung. pangkatnya sama dengan satu pahlawan panglima yang berjasa. ―Aku serahkan Putri Gochin kepadamu!‖ berkata Jenghiz Khan. artinya Khan yang besar dan gagah bagaikan pengaruhnya lautan besar.‖ ia menyahuti. mereka lantas memberi selamat kepada nyonya Kwee itu. dia lari ke gunung Tannu. ―Mulai besaok kau adalah Kim-to Hu-ma!‖. mulutnya bungkam. aku minta sudilah kau memberi kematian tak mengucurkan darah padaku. Kwee Ceng lantas cari ibunya. ia perintahkan hukum mati pada kelima pengiring itu. Liep Peng terdiam. dalam keadaan seperti itu. habis itu ia putar tubuhnya untuk bertindak keluar kemah. di sana selagi ia dahar daging kambing.‖ berkata nyonya ini. tak ia pikirkan lainnya soal apa pula soal jodoh. soal asmara. Kanglam Liok Koay lantas datang. ―Kenapa enso menjalankan kehormatan besar ini? Harap enso lekas bangun!‖ . akan tuturkan hadiah dari Jenghiz Khan itu. lalu mereka memberi selamat kepada Kwee Ceng. tetapi ia gusar. ―Akan aku menghadiahkan kau kematian tak mengalirkan darah. maka rakyat dan orang peperangan dari pelbagai suku tak ada yang tak tunduk kepadanya. aku akan menghadiahkan pula kepadamu sesuatu yang aku paling hargakan!‖ Kwee Ceng sudah lantas berlutut untuk menghanturkan terima kasihnya. Boroul dan Chiluan serta Jebe. ia kata kepada Kwee Ceng: ―Anak yang baik. ia berseru: ―Serdadu pengiring pemberontak dan berkhianat kepada majikan! Apakah gunanya akan mengasih hidup kepada orang-orang tak berbudi begini?‖ Di depan Jamukha sendiri. semasa kecil.‖ Temuchin berdiam sekian lama. tak mau ia lekas-lekas melepaskannya. Maka di dalam rapat besar itu ia telah diangkat menjadi Kha Khan. Ia lagi mengutamakan ilmu silat. Jelmi dan Subotai. Si anak muda sebaliknya berdiam diam. sehingga mereka itu menjadi heran. Ketika itu namanya telah naik tinggi sekali. dengan gelaran Jenghiz Khan. kita bermain bersama…‖ emukha memberi hormat sambil berlutut.‖ 158 ―Ada apa. enso?‖ mereka tanya. ia kata: ―Apakah tetap kita menjadi sahabt-sahabat kekal?‖ Jemukha mengucurkan air mata. Di sini Jenghiz Khan membagi hadiah besar. Bukankah murid mereka sangat dihargai oleh Khan dan peruntungannya bagus sekali? Lie Peng berdiam sebentar. semua orang tertawa padanya. ―Baiklah. bukan sebagai kekasih. ―Saudara. Besoknya Temuchin mengadakan rapat besar di datar sungai Onon.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha kehilangan tentaranya. ―Coba undung gurumu semua!‖ titahnya kemudian. Temuchin terima orang tawanan itu. lalu tiba-tiba ia berlutut di depan enam manusia aneh itu.‖ berkata ia kemudian. Hanya sekarang ada satu hal sulit untuk mana aku mohon pertimbangan dan keputusan suhu beramai. Irawan D Soedradjat Page ―Aku ada sangat bersyukur yang suhu beramai sudah didik anakku ini sehingga ia menjadi seorang yang berharga. nanti aku kubur kau di tempat di mana dahulu hari. Apabila mereka mendengar hal pertunangan itu. Setelah pesta bubar.

Lebih dahulu mereka sambangi kuburannya Thio A Seng. Kwee Ceng menghadap Jenghiz Khan. untuk ambil selamat berpisah dari rohnya guru almarhum itu. Ia senang sekali dengan easn Khan ini. maka itu kau harus bekerja baik-baik supaya kau tidak meninggalkan bekas-bekas!‖ Kwee Ceng memberikan janjinya. untuk membinasakan Wanyen Lieh. mana dapat ia menjadi hu-ma?‖ kata si nyonya kemudian.‖ sahut Kwee Ceng. ―Orang she Yo itu benar telah memperoleh keturunan tetapi bukannya perempuan. Ia harap. berepa banyak pengiring yang kau butuhkan?‖ Bab 15. yang tidak mengerti ilmu enteng tubuh. Lie Peng heran. Gochin datang menemui bakal suaminya itu. Setelah mendapat keputusan.‖ menerangkan Cu Cong lebih jauh. kita belum dapat menandingi negara Kim. lalu terlihat Tuli datang bersama Gochin dengan dua saudara itu merendengi kuda mereka. Lie Peng sangat girang. Kanglam Liok Koay tertawa. Tuli memberi bingkisan sepotong baju bulu tiauw yang mahal. ―Bagus.‖ Mendengar itu. ―Sekalian kau pulang nanti bawalah juga kepalanya Wanyen Lieh. ia mengawasi mereka itu. Di hari ketiga.‖ Cu Cong kasih keterangan. untuk ongkos di jalan. Kwee Ceng berangkat bersama guru-gurunya. Sepulangnya dari perjalanan itu. tak usah anak membawa pengiring. ―Maka itu. untuk mereka menguji kepandaian silat mereka. yang pun adalah barang rampasan dari Wang Khan. setelah pamitan dati ibunya dengan keduanya mengucurkan air mata. Jenghis Khan lantas hadiahkan baba mantu itu uang emas tigapuluh tael. ia pesan pula: ―Sekarang ini kuda kita belum terpelihara gemuk dan tentara kita belum terlatih sempurna. aku malu sekali. guna menuntut balas. di atasan kepala mereka terlihat dua ekor burung rajawali kepala putih terbang berputaran. Jenhiz Khan menerima baik. melainkan pria. ―Kalau aku menyangkal janji ini. cuma kulit mukanya menjadi bersmu merah. ia tentu bakal berhasil. Memang semenjak kecil ia telah diempos ibunya. Bagaimana nanti suamiku dan aku menemui paman Yo dan istrinya itu di dunia baka?‖ Mengdengar keterangan. sedang Kanglam Liok Koay dipersen barang-barang emas dan berharga bekas rampasan dari Wang Khan. Lalu tujuan mereka adalah selatan. yang sangat membenci bangsa Kimn itu. ―Bagaimana suhu ketahui itu?‖ menanya Lie Peng kaget. Baharu mereka jalan sepuluh lie lebih. ―Seoarng sahabat di Tionggoan mengabarkan kami dengan sepucuk surat. ―Sahabat itu pun mengharap kami mengajak anak Ceng ke sana untuk menemui putranya orang she Yo itu. untuk memberitahukan tentang niat perjalanannya itu. melainkan menambah berabe saja. Ia anggap dengan pergi bersama guru-gurunya. Irawan D Soedradjat Page 159 . putra keenam raja Kim! Untuk melakukan pekerjaan besar itu. sedang membawa pengiring-pengiring. Ia setuju anaknya itu diajak pergi. Oey Yong ―Anak akan pergi bersama keenam guruku. baharu Kwee Ceng nanti menikah dengan Gochin. kendati kedudukan anakku mulia sekali. sekalian anaknya itu mencari Toan Thian Thek. akan tetapi ia tidak dapat berbicara. yang tunangkan anak-anak mereka sebelum anak-anak itu lahir. kau pergilah!‖ Khan itu setuju.Pendekar Pemanah Rajawali Lie Peng tuturkan keputusan suaminya almarhum dengan Yo Tiat Sim.

entah apa yang mereka bicarakan itu. ia lihat mendatanginya empat ekor unta bulu putih. Kwee Ceng dekati itu putri. habis mana ia larikan kudanya guna menyusul keenam gurunya. maka berulangkali ia menoleh dan menoleh pula. ia bawa tangannya yang berlepotan darah itu ke arah matahari. Ia dapatkan sikap Kwee Ceng sama seperti biasa. Disamping pakaian mereka yang putih. aku tak akan mendengarinya!‖ berkata Tuli sambil tertawa. keenam gurunya ajak dia menuju ke timur selatan. kupingnya bocah ini mendengar mengalunnya kelenengan unta. terus ia larikan kudanya. Dari gerak-geriknya mereka itu. keempat penunggang unta itu lompat turun dari punggung masing-masing untanya. Saking masgul. Ia lantas dengar mereka itu berbicara satu pada lain. Masih enam guru itu tak nampak. Tiba-tiba saja ia menjadi kaget. lekaslekas ia tunduk. Gochin menggelengkan kepalanya. Belum pernah ia melintas dari gurun. habis itu mereka tertawa riuh. supaya guru itu suka tolong mengobati kudanya itu. tangannya itu juga menjadi merah. Pada suatu hari hampir tiba di Hek Sui Ho. disebuah rumah makan di tepi jalanan. untuk menjauhkan diri. Ia mengharap-harap segera tibanya gurunya yang ketiga. barulah ia pesan: ―Kau mesti lekasan pulang….. ia masih belum dapat bicara. lekas-lekas ia melengos. lalu tiba-tiba ia tertawa lebar. ia raba punduknya kuda itu. ia menjadi likat. Ia pun menjadi tertarik dan heran akan mendapatkan keempat penunggangnya semua masih muda-muda. tak jauh lagi dari Kalgan. Hampir ia mengucurkan air mata saking menyesal sudah menyiksa kudanya itu. setelah mana. Han Po Kie. Ia lari kepada gurunya itu. bocah kau awasi apa?‖ ia menegur. Apabila ia mengawasi. Ia dekati kuda Kwee Ceng. Maka lekas sekali tibalah ia di Hek Sui o. Belum pernah Kwee ceng melihat unta-unta yang begitu bagus. Adalah satu kawannya menjadi tidak senang. Ia sempat berpikir untuk menukar tempat singgahnya. yang sudah berjalan jauh juga. siang jalan. Syukur unttuknya. ―Ada pesan lagi?‖ ia menanya. Ia mengawasi sekian lama. terus mereka bertindak ke dalam rumah makan itu. ia gencet perut kudanya. sekarang ia mulai tiba di Tionggoan. Kwee Ceng merasa kasihan melihat kudanya yang kecil itu lari demikian keras hingga bermandikan keringat. Kwee Ceng terperanjat. wajahnya pun bersemua dadu. ia pondong tubuhnya. ia menjadi mengawasi. tentu orang tengah menertawainya. Mereka itu pria semua. Kuda itu sebaliknya nampak segar bugar. yang penunggangnya pun berpakaian serba putih putih .Pendekar Pemanah Rajawali ―Adikku. dan semuanya pun beroman tampan. ―Eh. ia dapatkan tibanya Han Po Kie. Gochin menoleh. Lalu ia pun saling rangkul dengan Tuli itu. ia ambil sabuk dengan apa ia menyusuti. ―Ada keringat merah?‖ Irawan D Soedradjat Page 160 . sebaliknya. Kwee Ceng lantas merasakan suasana bertukar. membikin kudanya itu lari pesat. yang ketinggalan jauh. penuh dengan darah. Tidakkah kuda itu bercelaka diluar keinginannya? Maka ia rangkul leher kuda itu. ―Keringat?‖ ia menanya. Ia tidak melihat guru-gurunya. inilah keringat!‖ serunya. Tanpa merasa. terang mereka itu mengerti silmu silat. terus ia bawa kepada Tuli. Setibanya di depan restauran.‖ Kwee Ceng mengangguk. Segera juga mereka melintasi tanah datar gurun pasir. hatinya menjadi tawar. Kwee Ceng tercengang. Gochin melongo. untuk terus beritahukan hal kudanya mengeluarkan keringat darah. ia hajar kudanya hingga binatang itu lari berjimpratan. bukan sebagai satu tunangan. Sabuk itu menjadi merah seluruhnya. Selang beberapa lama. ―Ini bukannya darah. Tempo ia meraba kudanya dengan tangannya. untuk menghibur. di leher mereka itu terlihat bulu rase. malam singgah. ia dapatkan pemandangan mata yang lain. Satu pemuda melihat Kwee Ceng mengawasi padanya. Ia malu sendirinya. mungkin baru berumur duapuluh dua atau duapuluh tiga tahun. tidak ada tanda-tandanya terluka. ―Begitu?‖ tanya guru itu heran. Kwee Ceng sendiri berjalan terus. kau bicaralah dengannya. akan mengawasi ke jalan besar darimana tadi ia datang. Kwee Ceng menoleh.

‖ tanya Cu Cong sehabis ia minum pula tehnya. Tapi orang Ferghana telah mendapat satu akal bagus. sebelum mencapai tempat tujuan. Kwee Ceng heran. ―Dulu pernah aku dengar keterangannya guruku.‖ Kwee Ceng berseru heran. ―Tentang itu ada ditulis jelas dalam Kitab Hikayat dan Kitab Jaman Han. untuk dipakai menukar dengan kuda istimewa itu. lalu tertampak datangnya lagi empat penunggang unta seperti empat yang pertama itu. anak kuda itu ialah po-ma tersebut. Dan mereka dua rombongan lantas duduk bersama-sama. Raja gusar. Kaisar menjadi kagum. sekembalinya ke negerinya. Tapi Ferghana adalah negera gurun pasir. pasukan tentara itu tinggal hanya tiga bahagian. ―Kau ahli pemelihara kuda. takukha kau darimana asalnya po-ma?‖ ―Menurut keterangan guruku. ―Turut katanya guruku itu. Kaisar Han Bu Tee. Anak Ceng. di Ferghana dia telah melihat seekor kuda hanhiat po-ma itu. tak ada rangsum dan air disana. ada kedapatan sebangsa kuda liar biasa. Mereka itu muda dan tampan dan pakaiannya serba putih seprti rombongan yang pertama. ingin ia mempunyai kuda itu. Irawan D Soedradjat Page 161 . ―Bagaimana dengan Kaisar Han Bu Tee itu. ke kota Gak-bun-kwan.Pendekar Pemanah Rajawali Po Kie tidak sahuti muridnya itu. dia perintah menawan utusan itu. hingga orang liar tidak dapat mengejarnya. ―Anak Ceng. apa dia mau sudah saja?‖ menanya Han Siauw Eng. Cu Cong adalah seorang sastrawan.‖ Ketika itu terdengar pula kelenengan unta. ia kirim utusan membawa pedang. ―Menurut kitab. Tentu itu baru cerita saja. sebesar kuda biasa. dia mesti dihukum mati! Lie Kong menjadi serba salah.‖ Selagi guru dan murid ini berbicara. kenapa dia mengeluarkan keringat bagaikan darah?‖ ia menegasi. Mereka lantas beritahukan tentang kuda berkeringat merah itu. mungkin sekali kudamu itu adalah keturunan dari kuda Ferghana itu. terpaksa ia menunda di Tun-hong itu. ―Shatee. yaitu di daerah Ferghana. Utusan itu diberi tugas dan kekuasaan: Panglima atau serdadu mana saja yang pergi berperang benani memasuki kota Gak-bun-kwan itu. yang disebut kuda langit. Ia bergirang sebab kudanya tidak terluka. jadi kuda itu tidak dapat dihadiahkan kepada bangsa Han. Raja Ferghan pun gusar. Melihat mereka itu. almarhum. emas dan kuda emas itu dirampas. ―Benar!‖ berkata Cu Cong. Cu Cong menghirup air tehnya. terus ia pulang. darisana ia meminta rajanya mengirim pula bala bantuan. ia memberitahukannya kepada rajanya. Kuda liar itu kena terpincuk. punduk kuda itu mengeluarkan keringat merah seperti darah. terus ia kirim utusan membawa emas seribu kati serta seekor kuda-kudaan emas. Ia heran akan mendengar halnya hanhiat po-ma. terus dibunuh. selama perjalanan banyak tentara terbinasa. ―Suhu. bahwa kuda itu keras larinya.‘ Utusan Han itu menjadi gusar. ia hajar rusak kuda emas itu. yang dapat lari seperti terbang. yang masuk ke dalam restauran. ia luas pengetahuannya. satu hari dapat menempuh jarak seribu lie. ia terpaksa mundur ke Tun-hong. kau telah dapatkan han-hiat po-ma. hanya dengan bersemangat ia kata. po-ma terlahir dari perkawinan kuda rumahan dengan kuda liar!‖ sahut Po Kie. ―Ketika dahulu hari itu bangsawan Pok-bong-houw Thio Kian diutus ke Tanah Barat. ialah kuda istimewa dengan keringat seperti darah. ―Kemudian bagaimana?‖ tanya murid itu. ―Dia lantas perintah Jenderal Lie Kong mengepalai beberapa laksa serdadu pergi ke Ferghana untk mendapatkan kuda itu. mereka lepas satu ekor kuda betina yang berwarna lima di kaki gunung. untuk menjaga. belum pernah ada yang melihat buktinya. yang untuk seribu tahun sukar didapatkan!‖ Kwee Ceng heran dan girang. ketika kemudian kuda biang itu mendapat anak. dia kawin dengan kuda pancingan itu.‖ sahut Po Kie. yang tertarik denagn cerita kakak angkatnya itu. ―Mana mau dia sudah begitu saja. ke Barat itu. mengumbar tabiatnya. Dipihak lain. di negara Ferghana itu ada sebuah gunung di dalam mana kedapatan sebangsa kuda liar.‖ kata Cu Cong. Lie Kong diangkat menjadi jenderal istimewa. keempat pemuda serba putih itu juga memperhatikan cerita itu.‖ berkata Cu Cong. di tanah barat. Lie Kong kalah oerang.Pada suatu malam hari musim semi. rombongannya Tin Ok tiba. Raja Ferghana menolak permintaan itu. dia mengatakannya: ‗Kuda itu adalah kuda pusaka negara Ferghana. Untuk itu.

maka selang beberapa turunan. Masih ia khawatir tentaranya itu belum cukup. yang dianggap melainkan naga yang pantas menjadi kawannya…. ―Dalam beberapa hari ini di tengah jalan kita menemui tak sedikit sahabat dari Jalan Hitam. ia sengaja berpaling ke luar rumah makan. hingga negera menjadi gempar. ia khawatir bangsa lain memendang enteng bangsa Han. ialah satu menjadi Kie-ma Kawm-oet.‖ berakta satu pemuda. kita bunuh saja semua!‖ kata seorang lagi. Hu Thian Pian-hk Kwa Tin Ok menjadi heran sekali. Banyak panglima musuh terbinasa. apeslah kau. ia dapat mendengar jelas pembicaraan mereka. untuk seekor kuda po-ma itu. ―Kali ini Lie Kong memimpin angkatan perang yang besar itu. Delapan pemuda itu duduk jauh-jauh.‖ Mendengar cerita itu. Dialah kepala penjahat paling berpengaruh untuk wilayah Hopak dan Shoasay. mana kita dapat kebagian?‖ Irawan D Soedradjat Page 162 Tentang Peng Lian Houw ini Tin Ok ketahui dengan baik. pamong praja rendah. entah berapa banyak jiwa sudha melayang. semua kuda itu tak lagi menjadi po-ma dan keringatnya pun tidak merah…‖ Habis Cu Cong bercerita. delapan pemuda itu mengawasi kudanya Kwee Ceng. siapa kesudian dipungut mantu?‖ Cu Cong menjawab. Lioktee. ―Siapa miskin dan tak punya sanderan. mereka melanjuti memasang omong sambil dahar mie. maka juga dia dapat gelarannya itu. mereka kasak-kusuk tetapi kupingnya Kwa Tin Ok lihay. Akhirnya kaum ningrat Ferghana menjadi ketakutkan. seorang paderi kenamaan dari Tibet itu. siapakah mereka?‖ . ―Jikalau kawannya berani membantui. raja sangat girang. cukup dengan satu kali turun tangan. sebaliknya dengan shatee. Mereka pun serahkan kuda yang diperebuti itu. yang dijadikan serdadu. baba-baba mantu dan kaum pedagang. kerajaan Han itu mengutamakan tani dan sebaliknya memandang enteng bangsa saudagar. ―Orang lihay itu pergi ke kota raja. dia di anugrahkan menjadi bangsawan Hay-see-houw. mereka hendak bikin apa di sana? Delapan wanita ini. Merek aitu tentu hendak berkumpul juga di kota raja. maka kalau mereka dapat lihat kuda ini. San-cu pergi ke kota raja. Untuk lebih daripada empatpuluh hari. tugasnya ialah nanti sesudah Ferghana dipukul pecah mereka mesti memilih kuda jempolan. Ia berdiam saja. Mereka mohon menakluk. ia kurung dan serang kota musuh. Pula dua ahli kuda diberi pangkat tinggi. Ia terus memasang kupingnya. Kaisar mengadakan satu pesta besart. mengapa mereka jadi begini galak dann telengas?‖ tanya ia dalam hatinya. ia perintah mengarang syair untuk memuji kuda langit itu. kalau kau hidup di jaman Kaisar Han Bu Tee. siapa dapat mengubarnya?‖ ―Tapi disini ada banyak orang lain dan ia pun ada kawan-kawannya…‖ kata seorang yang lain. Dengan kalah perang. ―Mereka berdelapan wanita semuanya. Cu Cong berkata pula: ―Kuda langit menjadi kuda jempolan sebab perkawinannya dengan kuda liar. ia merasa malu. kuda dan rangsum tak terhingga banyaknya. ―Setelah mendapatkan kuda jempolan ini. ―Dengan menungggang kuda ini. setahu berapa banyak uang sudah dikorbankan. mereka berontak. dia bisa memangku pangkat! Ha ha ha!‖ ―Dan baba-baba mantu itu. ia siapkan serbau. ―Pembunuh Ribuan Jiwa‖. dengan begitu delapan pemuda itu menjdai tidak bercuriga. Orang-orang peperangan yang lainnya pun turut kenaikan pangkat. ―Kalau kita hendak rampas kuda itu.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong melanjuti ceritanya: ―Kaisar Han Bu Tee tidak puas. kepala raja diserahkan. Lie Kong pulang dengan kemenangan besar. Maka ia mengerahkan pula lebih daripada duapuluh laksa serdadu. apakah salahnya mereka?‖ Siauw Eng menanya. yang pun sangat kejam. yang lainnya menjadi Cit-ma Kauw-oet. agaknya mereka sangat tertarik. ia menambah dengan semua orang hukuman. tetapi tak tahu ia perihal Som Sian Lao Koay.‖ berkata seorang muda yang lainnya lagi. ―Katanya mereka adalah bawahannya Cian-ciu jin-touw Peng Lian Houw.tentunya dia menjadi semakin terang mukanya! Pasti seklai Som Sian lao Koay dari Tiang Pek San dan Leng Tie Sianjin jago Bit Cong Pay dari Tibet tak dapat menangkan keagungannya…!‖ Tin Ok berpikir.‖ berkata seorang pula. Kaisar Bu Han Tee sudah kerahkan kekuatan seluruh negeri untuk mendapatkan beberapa ekor kuda itu tapi kemudian ia tidak mendapatkan kuda liar. kita menghadiahkannya kepada San-cu. Ia pernah dengar namanya Leng Tie siangkin. Maka ia berpikir. ―Satu kali kita sudah naik atas punggung kuda itu. rajanya dibunuh.

Tin Ok tunggu sampai orang sudah pergi jauh. Tin Ok mendapat kepastian mereka itu hendak merampas kudanya Kwee Ceng. ia tanya adiknya yang kedua: ―Jietee. Tin Ok mendongkol berbareng merasa lucu. ―Sungguh pesat sekali tersiarnya kabaran dalam dunia kangouw!‖ katanya. lalu berkasakkusuk tentang asmara. Mendengar pembicaraan itu. namanya sangat kesohor. mereka pun bergurau. Yang lain-lain lantas tertawa geli. maka itu adalah sangat aneh yang mereka kabarnya roboh ditangannya satu bocah umur belasan tahun…‖ Satu kawannya menyahuti: ―Ada orang bilang bocah itu pandai ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw. Yang seorang tertawa dan berkata: ― Pasti San-cu menghendaki kau menemani ia tidur untuk beberapa malam…! ―Kurang ajar!‖ membentak kawan yang digoda itu dan hendak mencubit.‖ kata satu orang. untuk di Liongsee dan Tiong-ciu.‖ berkata pula seorang yang lain. Habis dahar mie. jangan seperti Hong Ho Su Koay yang sial dankalan itu. Ada yang kata ―San-cu paling sukai kamu!‖ Ada yang membilang. baharulah heran anadikata San-cu melihat dia dan tidak menjadi kerindu-rinduan…‖ Tin Ok tahu Siauw Eng yang menjadi bulan-bulanan. yang menyebabkan orang tertawa hingga giginya copot!‖ Tin Ok tidak tahu Pek To San itu. yang Tin Ok mengatakannya pemudi-pemudi. ia percaya orang yang dipanggil ―San-cu‖ itu atau ―majikan gunung‖ mestilah bukan orang baik-baik. ia teringat kepada mereka yang mengeroyok Kwee Ceng. delapan pemuda itu. akan tetapi mendengar disebutnya Hong Ho Su Koay – Empat Siluman dari sungai Hong Ho. mereka itu tertawa. guna memegat di tengah jalan. bagaimana kau lihat kepandaiannya delapan wanita itu?‖ Irawan D Soedradjat Page 163 . ―Diwaktu begini tentulah San-cu lagi menantikanmu!‖ maka ia menjadi mengerutkan keningnya. Ilmu itu mana dapat dikuasai tanpa penyakinan belasan tahun? Anak umur belasan tahun mana mempunyakan semacam ilmu silat itu?‖ Diam-diam Tin Ok puas yang murid mereka dapat mengalahkan Hong Ho Su Koay. coba dia lebih muda sepuluh tahun. hati-hatilah!‖ seorang memperingati. San-vu bakal menghadiahkan apa kepada kita?‖ berkata satu orang. maka itu haruslah kita waspada. ia menajdi sebal…. ada dari partai mana. ―Jangan kita membocorkan rahasia sendiri…!‖ ―Wanita itu membawa pedang. yang berarti Gunung Unta Putih. supaya orang-orang kosen di kolong langit ini ketahui kegagahan kita dari Pek To San. delapan pemuda itu berlalu dengan cepat bersama untanya. jangan kau mencari muka dari San-cu dan hendak mati-matian mencarikan nona manis untuknya…!‖ memperingati satu kawan. karena tubuhnya Hong Ho Su Koay itu masing-masing meninggalkan beberapa bekas cengkeraman…‖ ―Maka hati-hatilah kau!‖ tertawa satu kawannya. coba kau terka. Merek ahendak pergi lebih dulu. guna menakluki orang kosen. yang kembali ke urusan kuda. ―Kira-kira. ―Supaya kau jangan sampai kena dijambak bocah itu!‖ ―Cis!‖ sang kawan berludah. ia tidak menyahuti. ―Awas. dia tentu mengerti ilmu silat. ―Kali ini kita datang ke Tionggoan untuk mengangkat nama. ―Dia juga cnatik sekali. ia mendongkol.Pendekar Pemanah Rajawali Mendengar terlebih jauh. Seorang berkata pula: ―Menurut katanya San-cu. maka tidaklah kecewa didikan mereka selama sepuluh tahun lebih ini. ―Kita harus berhati-hati. Orang itu tertawa. ―Kalau kita menghadiahkan kuda ini kepada San-cu. Habis mengambil keputusan. ―Hanyalah tidak tepat untuk menyiarkan berita anak ceng mengerti Kiu-im Pek-kut Jiauw. Maka lagi sekali. Hong Ho Su Koay adalah murid-murid paling disayangi oleh Kwie-bun Liong Ong.

tidak nanti dapat mereka menyusul. di luar gunung ada gunung lainnya lebih tinggi. biarpun kau sangat lihay.‖ Dengan terpaksa Kwee Ceng memberikan persetujuannya. yang kelihatan sudah dapat diandalkan menyaksikan perlawanannya terhadap Hong Ho Su Koay. itu mesti diperoleh sendiri. kami akan menyusul. tidak dapat kita main ayal-ayalan. ―Kalau begitu. Aku pikir tak dapat kita membiarkannya saja. Tak sampai satu bulan. menyingkir!‖ Pesan ini diberikan sebab ia melihat.‖ sahut Cu Cong setelah berpikir sejenak. Umpama di harian pibu kita tidak dapat kumpul semua berenam. perlu kita mencari tahu. Kau mempunyai urusan penting. Mereka itu berdiam. Jangan kau khawatir. ―Perkara kecil niat mereka merampas kuda ana Ceng. jagalah supaya kau jangan terganggu urusan sampingan. satu atau dua tentulah dapat tiba untuk mengurus kamu.‖ Irawan D Soedradjat Page 164 . muridnya ini ngotot hingga ia membahayakan diri sendiri. Liok Koay berlega melepaskan muridnya ini. mirip mengerti ilmu silat. Cu Cong semua tertawa. paling belakang pesan Hie Jin singkat saja: ―Jikalau tidak ungkulan. untuk mengucapak selamat jalan. Mereka itu pada memesan. ―Memang. Siauw Eng lantas membujuki: ―Kau pergi lebih dahulu di sana menunggui kita. Itulah tandanya ia tidak bisa melupakan saudara angkatnya itu. mereka itu merasa sulit juga. Mungkin ada gerakan rahasia apa-apa. di sebelah orang ada lagi lain orang yang terlebih pandai. tidak dapat kau menjagoi sendiri di kolong langit. Kudamu keras larinya. ―Tidak. untuk mendahului mareka. ―Delapan wanita itu hendak merampas kudamu. ―Benar. Kwee Ceng lantas memberi hormat kepada keenam gurunya. ―Yang penting ialah pembilangan bahwa ada banyak orang gagah hendak berkumpul di kota raja.‖ berkata Coan Kim Hoat.‖ Cu Cong menyatakan setuju.‖ ―Tetapi janji pibu di Kee-hin bakal tiba harinya. Tidak menggembirakan untuk ia berjalan seorang diri. ―Biar anak Ceng berjalan seorang diri. untuk mencari pengalaman. ―Ilmu silat tidak ada batasnya. mereka menyamar demikian sempurna!‖ berkata Cu Cong. hingga sekarang mereka tinggal berenam (Liok Koay).‖ Tin Ok pesan. Ia utarakan perasaannya itu. Kanglam Cit Koay tidak nanti lepaskan mereka!‖ berkata Han Po Kie. biarlah anak Ceng berangkat lebih dahulu!‖ Lam Hie Jin menyarankan. Habis bersantap. Lam Hie Jin mengangguk. Besar nyali mereka berani berniat menggempur gunung Tay San…. rupanya seperi tidak mengerti…‖ ―Apakah pernah kau dengar tentang Pek To San?‖ Tin Ok tanya pula.‖ ―Umpama benar mereka main gila. ―Apakah sieko maksudkan biar anak Ceng pergi seorang diri ke Kee-hin? Kita menyusul dia sesudah kita menyelidiki warta perihal orang-orang gagah yang berkumpul di kota raja?‖ Siauw Eng menegaskan. Tin Ok lantas tuturkan apa yang ia dengar barusan.‖ Mendengar itu Kwee Ceng merasa puas. ―Pergi kau ambil jalan kecil.‖ Tin Ok berkata pula. ―Orang begini besar masih bersifat kebocahan!‖ Tin Ok menegur. ―Oh.‖ Coan Kim Hoat memperingati. Memang perlu murid ini membuat perjalanan sendiri. Dia tetap menyebut diri Cit Koay meskipun sudah belasan tahun semenjak meninggalnya Thio A Seng. sebab pengalaman tak dapat diajari. ―Nampaknya mereka luar biasa. ―Habis?‖ sang kakak membalasi.Pendekar Pemanah Rajawali ―Wanita?‖ Cu Cong mengulangi dengan heran sebelum ia menjawab. Maka ingatlah pesa gurumu yang keempat ini. melayani Empat Siluman dari Hong Ho.

kudanya berbenger. Selagi jalan terus. saking heran atas lihaynya kuda itu. ―Bagus!‖ memuji dua nona.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng mengangguk. mari kasih aku lihat!‖ kata satu nona lain. Bicara dulu atau menerjang saja? ―Kudamu bagus. Ia turuti pesan Tin Ok. ia masuk ke dalam. Sekira tujuh atau delapan lie. dari utara ke selatan. ia turut kebiasaan orang Mongolia. terus ia jalan pula. ia percaya ketiga nona tadi tidak bakal dapat candak dia. gin-so bertabur emas yang merupakan unta-unta kecil. Ia singgah sebentar. sebab kecil dan berliku-liku. maksudnya hendak menyambar les kuda. iamaju seraya ulur tangannya. Ia mau berlaku hati-hati. ia khawatir senjata rahasia itu ada racunnya. ia berlaku hati-hati. hatinya pun tercekat. ia lihat menyambarnya dua rupa barang berkilauan. Belum pernah ia melihat kota seramai ini. akan pilih tempat duduk. Nyata dua senjata rahasia itu adalah gin-so atau torak terbuat dari perak yang indah. lompat lewati tiga nona itu! Ketiga nona itu terkejut. memakai tangannya. ia sudah melalui seratus lie lebih. banyak kolar dan pasirnya. Dengan ini cara. mukanya dirasai panas. Ia payku kepada enam gurunya itu. suaranya nyaring. Di tempat begitu. I apun meraba ganggang pedangnya. untuk tahan kuda itu. Sampai disitu. ujungnya tajam. ia menyambuti dengan kopiahnya. lantas ia menuju ke selatan. Kwee Ceng terkejut. Ia tidak menaruh perhatian ketika ia dengar dua ekor burung dara terbang lewat di atas kepalanya. tajam juga kedua pinggirannya. Maka ia lantas ambil keputusan. Belum ada dua lie. yang ia lekas cabut. Kwee Ceng periksa kopiahnya. Satu nona lompat turun dari untanya. Di situ terutama terdapat banyak kulit dan bulu binatang. Ia bersangsi. maka ia tambat kudanya di luar. Ia tarik les kudanya. jalanan sempit dan banyakl batu besarnya. Ia mengawasi jalanan yang sempit itu. Ia hanya khawatir nanti ada yang memegat pula. Tidak sampai satu jam. gin-so itu ia masuki dalam sakunya. ia seperti hendak menerjang ketiga orang itu. Ia mengasih dengar nada lagi bicara sama anak kecil. matanya menoleh ke kiri dan ke kanan. ―Numpag jalan!‖ ia lantas berkata. Kwee Ceng tiba di jalanan pegunungan yang sulit dan berbahaya. di sebuah tikungan. tak dapat ia tempur mereka itu. tak sudi iamelayani. ―Lewat saja! Kami pun tidak nanti gegares padamu!‖ Kwee Ceng jengah. tepat waktu ia menoleh. Dari jauh-jauh. mau tidak mau. ketiganya bercokol di atas punggung unta. Kalgan adalah kota hidup untuk perhubungan antara selatan dan utara. sebentar saja ia sudah datang dekat. Ia minta sepring daging kerbau dan dua kati mie. takut apa?‖ kata satu diantaranya. Kebetulan tiba di depan restoran. ―Kamu telengas hendak mengambil jiwaku. ―Adik kecil. ia kasih kudanya kaget. ia sudah tiba di Kalgan. sebab ia duga jarak mereka kedua pihak ada jarak seperjalanan tiga hari……. Seorang diri ia dahar dengan bernafsu. pemuda ini larikan pula kudanya. Untungnya untuk dia. Ia hanya dapat lihat. Irawan D Soedradjat Page 165 . Jalanan pun sukar. belum sore. ―Bukankah kita tidak kenal satu sama lain dan tidak bermusuhan?‖ Tapi ia tidak mau membalas. ia tahan kudanya. Di sini Kwee Ceng turun dari kudanya. penduduknya padat. Di depan ada tiga nona dengan pakaian serba putih. ―Awas! Buka jalan!‖ ia berseru seraya ia hunus pedangnya. ia lantas ambil jalan kecil. ada pepehonan kecil yang liar.‖ pikir si anak muda denagn mendongkol. terus berlompat tinggi. ia merasa lapar. Pesat lari kudanya. untuk pengalamannya ini yang luar biasa. Tentu saja tak puas Kwee Ceng diperlakukan demikian. Ketiga nona itu tertawa tergelak. yang datangnya dari tempat lain tempat. dia pasti akan damprat aku…‖ pikirnya. Ia hanya tidak pakai sumpit. kedua kakinya menjepit. Mereka itu melintag di tengah jalan. Jalanan ini lebih jauh. ia sudah menghadapi jalan cabang dua. Tapi Kwee Ceng membentak. Kwee Ceng sendiri tidak tak terkecuali. di sini sangat sedikit orang berlalu lintas. untuk lari dengan tiba-tiba. ia sudah dengar bentakan ketiga nona itu. ia berjalan seraya menuntun binatang ini. ―Kalau sam-suhu melihat sikapku nini. perdagangannya ramai. Belum sempat ia menoleh ke belakang. ia menunggang kuda dan kudanya pun dapat lari pesat.

Di tangannya ia mencekal sepotong bakpauw. Bukankah ibunya berasal dari Lim-an. untuk melongok keluar. pasti kami dapat membuatnya! Hanya aku khawatir. dua yang manis bermadu. Ia dapatkan kudanya sedang makan rumput dengan tenang. untuk duduk bersama. ―Apa?!‖ sahut jongos itu tawar. ia dengar suara kerisik di luar rumah makan. ia sodorkan kepada si pemuda. Yang membikin banyak berisik adalah dua jongos terhadap satu pemuda ynag tubuhnya kurus dan pakaiannya butut. ―Baik!‖ tertawa pula pemuda itu. mukanya pun hitam mehongan. sebab ia lihat pakaian orang yang butut dan kotor itu. ia balik ke mejanya untuk melanjuti bersantap.‖ Kwee Ceng pun heran. hingga terlihat dua baris giginya yang putih. ia mengawasi ana muda kita Kwee Ceng lihat kelakuan orang. hingga gigi bagus itu tak sembabat sama dandannya yang compang-camping itu. Ia lantas kata pada jongos: ―Eh. Cit-kang. ―Aku yang membayar uangnya. ―Jangan!‖ ia cegah si jongos. ―Pasti!‖ sahut Kwee Ceng tanpa berpikir lagi. Jongos itu menjadi gusar. ―Makhluk yang harus dikasihani. sekalipun di musim semi. dan ia biasa dengar ibunya bicara? Ia malah girang mendengar lagu suara orang sekampung. makanan yang paling lezat di kolong langit ini adalah daging kerbau dan kambing. Tentu saja kue itu tak laku dijual. ―Kita jangan repoti mendahar daging. habis kau dahar. tetapi ia diam saja. rata. Ia menoleh kepada si jongos. Anjing itu. kepalan lewat diatasan kepalanya. ―Aku khawatir. Pemuda itu mengikuti ke dalam.‖ Irawan D Soedradjat Page 166 . Di utara. Pemuda itu mengawasi Kwee Ceng. baik kita makan bebuahan dulu!‖ menyahuti si anak muda. seekor anjing kecil.Pendekar Pemanah Rajawali Tengha bersantap. ia menjadi malu hati. hitam dan kotor. ―Aku sendirian tidak gembira. Pemuda itu menyambuti. kawan. untuk menyindir. Dan ia lemparkan itu kepada seekor anjing buduk di depan pintu. Ia lantas ingat kepada kudanya. Pemuda itu letaki bakpauw itu yang tapinya sekarang tertanda tapak tangan.‖ Ia jumput bakpauw itu. ―Coba lojinkee menyebutkannya. meski kau menyuguhkan makananmu yang paing jempol. Ser! kepalannya melayang. lebih dulu kau sediakan empat rupa buah kering dan empat rupa buah segar. ini aku bagi kau!‖ berkata ia. Kwee ceng teriaki jongos. terus ia gegares bakpauw itu. yang ia lihat lagak lagunya. Pemuda itu menghampiri. maukah kau yang mentraktir?‖ tanyanya. ―Tidak peduli aku dahar berapa banyak. aku memang lagi mencari kawan. akan memerintahkan: ―Potongi aku sekati daging kerbau serta setengah kati hati daging kambing!‖ Ia telah hidup terlalu lama di Mongolia hingga tahunya. Ia mengawasi kedua jongos dengan tertawa. Kwee Ceng menjadi kasihan. ―Bakpauw yang lezat dikasihi ke anjing…. Pemuda itu berumur lima atau enambelas tahun. Ia menoleh pula kepada si anak muda: ―Kita minum arak atau tidak?‖ ia tanya.‖ lanjutnya lagi. ―Sayang…sayang…‖ kata satu jongos. Kwee Ceng mengerti omongan orang. menubruk dengan kegirangan. lepas bakpauw itu!‖ menitah jongos yang satunya.‖ Ia bicara dengan lidah Selatan. pemuda itu mendak. dua yang asam manis. meminta tambahan makanan. kau tidak punya uang untuk membayarnya!‖ Dengan sengaja ia menyebut ―lojinkee‖ atau orang tua yang dihormati. kepalanya ditutup dengan kopiah kulit yang sudah pecah dan hitam dekil. Teranglah ia seorang melarat. hingga tidak terlihat tegas wajahnya. ―Mau apa lagi?!‖ menegur satu jongos. pergi ya pergi…‖ kata pemuda itu seraya ia putar tubuhnya. ―Eh. ―Mari dahar bersama!‖ ia mengundang. ―Kenapa kau tidak mau lantas pergi?!‖ ―Baiklah. ia lompat bangun. hawa udara dingin. ―Apakah kau sangka aku melarat dan jadinya tak pantas aku dahar barang makananmu?‖ si pemuda tegur jongos itu. dan pemuda ini tidak memakai sepatu. ia tahu orang tentu sudah lapar. Jongos itu melayani dengan ogah-ogahan. bagiku itu rasanya masih kurang cocok.

apakah kau kira dia tidak kuat membayaranya?‖ tanya ia. pasti tidak dapat kamu menyediakan barang bagus. ―Tuan ini yang mentraktir. memanah burung rajawali. Kwee ceng tertarik hatinya.‖ Mendengari itu mulutnya si jongos ternganga. ia ada punya arak Pek-hun-ciu simpanan sepuluh tahun. Si anak muda berkata pula. ―Delapan masakan itu mahal harganya. Selang kira setengah jam. yang asam aku ingin uah ento harum. Orang bicara rapi. Kwee Ceng ingat pesan gurunya. Barang hidangan. hingga ia tertawa dan bertepuk tangan. ―Apakah sudah cukup semua ini?‖ ―Habis itu. ―Aku menyangka ia cuma miskin. ia jadi Cuma bicara tentang memburu binatang liar. bakso kelinci. buah tho-tong-songtiauw dan buah lay-hauwlongkun…. ―Rumah makanmu ini rumah makan kecil dan tempatmu ini tempat melarat.Pendekar Pemanah Rajawali Jongos itu heran hingga ia terperanjat. si anak muda bercerita banyak. soto burung wanyoh. Sekarang ia tak berani lagi memandang enteng kepada anak muda ini. Irawan D Soedradjat Page 167 . suaranya tawar. yang mengaku datang dari padang pasir. ceker bebek goreng.‖ berkata pula si anak muda. semua buah yang diminta telah disajikan saling susul-menyusul. Ia kata. ―Sebenarnya tuan-tuan ingin dahar masakan apa?‖ ia tanya. anak muda itu ada lebih pintar daripada gurunya yang kedua. ―Lainnya ialah delapan rupa tiamsim. kau sajikan lagi duabelas rupa untuk teman nasi. tak tahunya dia terpelajar tinggi.‖ Mendengar itu. anggur hiangyoh. ia pun Cuma dahar beberapa sumpitan.‖ berkata si anak muda. soto manjangan keekangyauw. Ia sampai mau percaya.‖ kata kemudian. tidak beres!‖ berkata si anak muda itu. Anak muda itu minum sedikit sekali. Tidak terlalu lama. baharu ia keluar pula. Ia tidak menyangka orang omong demikian takabur. datanglah barang hidangan. yang ia pilih. maka kau sajikan saja delapan rupa barang hidangan yang biasa!‖ Jongos itu mengawasi. paha mencak dan kaki babi hong. lengkeng. Kwee ceng cobai itu semua. tidak dijelaskan. ia sekarang banyak bertanya kepada Kwee Ceng. Sekarang ia tanya tetamunya. ―Sekarang begini saja! Empat rupa buah kering itu ialah leeci. Jongos mengawasi pemuda kita. Buah yang segar yaitu kau cari yang baharu dipetik. yang mesti disajikan atas dua meja disambung menjadi satu. apa boleh ia menyediakan dulu dua poci? ―Baiklah!‖ sahut si anak muda yang mengenai arak tak banyak cerewet. ―Delapan rupa masakan itu ialah puyuh asap. Rupanya orang luas pengetahuannya. Sembari dahar bebuahan. tentang segala apa di Kanglam. Entah disini ada yang jual atau tidak? Yang manis bermadu? Ialah jeruk tiauwhoa-kim-kie. ―Baiklah. ―Untuk ceker bebek dan lidah ayam saja kita membutuhkan beberapapuluh ekor ayam…. lidah ayam cah. Setelah pesan koki. hendak minum arak apa. ia duga bukan sembarang orang. tapi si anak muda sangat tertarik hatinya. ia tidak berani bicara terlalu banyak. menunggang kuda dan menggembala kambing. dan kiang-sie-bwee. di sini tidak ada ikan dan udang segar. Nah. enak didengarinya. satu demi satu. jongos itu menjadi melongo.‖ sahutnya kemudian. dan ia merasakan kelezatan yang dulu-dulunya ia belum pernah cicipi. sebegitu dulu!‖ Jongos itu berlalu dengan cepat. ―Toaya menghendaki buah apa yang segar bermadu?‖ tanyanya. ―Ah. co dan ginheng. yang dandannya indah dan malah mengenakan bulu tiauw. ―Untuk teman arak. ia khawatir orang nanti minta pula makanan lainnya. Sembari berdahar. Si anak muda menunjuki Kwee Ceng.‖ katanya dalam hatinya.

Kwee ceng pun tertawa. apakah kau masih kekurangan apa-apa?‖ ia menanya. terus ia negeloyor pergi. ―aku pun sampai lupa! Aku she Kwee. ia kerobongi itu di tubuh si anak muda. tujuh chie empat hun. bocah tolol! Bocah hina ini permainkan padamu!‖ Kapan kuasa restoran sudah berhitungan. maka sering mereka bertengkar. Kwee Ceng lihat itu panggilan. Si anak muda pun tersenyum dan menunduk.‖ ia menyahuti. Kau sendiri hiantee?‖ ―Aku she Oey. Adalah setelah jalan beberapa tindak. namaku Ceng. untuk ditukar dengan limaratus tael perak. Kwee Ceng berhati mulia. Sehabis membayar. Irawan D Soedradjat Page Oey Yong menggeleng kepala. menyuruh menukar hidangan yang terlalu dingin dengan yang baru! Jongos dan kuasa brumah menjadi heran. kult muka itu agakanya halus dan bersemu putih. aku merasa lapar pula…‖ ia menambahkan. untuk menggapaikan. Kwee Ceng pun berdiam saja. ―Benar. hingga ia tampak Kwee Ceng lagi berdiri bengong dengan tangan memegangi les kuda merahnya. dengan kelakuan sangat menghormat. ialah Tuli sering mendampingi ayahnya. bagaimana apabila kita berjalan bersama?‖ . maka aku minta sukalah kau pakai baju ini!‖ Tidak Cuma baju. Seumurnya. Di gurun pasir ia bergaul erat sekali dengan Tuli dan Gochin. Ia kata: ―Saudara. ―Tapi toako. ―Saudaraku. bicara lebih jauh. ―Sudah terlalu lama kita bicara. Kwee ceng pun kasih persen sepuluh tael hingga kuasa restoran dan jongos itu menjadi girang. ia pun suka omong lebih banyak. ia menghampirkan dengan cepat. Untuk membayar itu. Tapi mereka iringi kehendak itu. toh masih ada perbedaannya. Kwee Ceng mengeluarkan dua potong emas. benar!‖ katanya. harganya semua buah dan makanan itu berjumlah tigaratus sembilan tail. saking gembira. Ia sebenarnya memanggil adik (hiantee). Pernah Kwee Ceng menatap muka si anak muda. baru kalin ini mereka mendapatkan tetamu seaneh ini. namaku pun satu. Satu kali. Di luar salju memenuhi jalan besar.‖ jawab anak muda itu. tetapi tentang ini. yang tiga ia sisipkan ke dalam saku baju tiauw itu. lalu ia mengatakannya sudah cukup. kecuali hal ia mengerti silat dan mempunyai hubungan erat dengan Temuchin. Maka itu. Ia masih punya sisa empat potong emas. ―Umpama kata hiantee hendak kembali ke Kanglam. ia pun memberikan uang. ―Baik suruh panasi lagi…‖ ―Tidak usahlah. ia lantas saja angkat tangannya. ia tidak pikirkan harganya barang makanan itu. Anak muda itu tersenyum. untuk dipegang keras-keras. Sesudah barang makanan siap semua. ―Aku masih belum belajar kenal she dan nama kakak yang mulia. walaupun mehongan.‖ si anak muda meminta diri seraya memberi hormat. tangan itu ia rasai halus sekali. Yong. 168 ―Sekarang hiantee hendak pergi kemana?‖ Kwee ceng tanya. ia cekal tangan si anak muda. ijinkan aku pamitan. ―Aku telah mengganggu kamu.‖ kata si anak muda seraya tarik tangannya. ia loloskan baju kulit tiauwnya. si jongos katakan Kwee ceng dalam hatinya: ―Dasar kau. mereka mengantar keluar kedua tetamunya itu. seperti juga pemuda itu kehilangan sesuatu. ―Aku tidak niat pulang ke Selatan. ia tidak memperhatikannya. sadar. terlalu panas pun tidak dapat didahar. ia baru menoleh ke belakang. Si anak muda tidak mengucap terima kasih.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sendiri sangat gembira berkumpul bersama ini kawan baru.‖ sahutnya. kita baharu ketemu tetapi kita sudah seperti sahabatsahabat kekal. anak muda itu dahar lagi sedikit saja. Menyaksikan itu.‖ berkata si anak muda. barang hidangan keburu dingin. ―Nasi pun sudah dingin…‖ ―Benar.‖ sahut Kwee ceng. melihat pakaian orang yang tipis dan pecah. yang tapinya memanggil jongos. Hanya aneh. Gochin benar baik tetapi putri itu kadang-kadang manja sekali dan ia tidak sudi mengalah. ia pakai baju itu.

cuma empat rupa serta sepoci the Liong-ceng. ―Eh. Ia pilih rumah makan yang paling besar dan kenamaan untuk kota Kalgan. Aku tidak punya ibu sejak masih kecil…‖ ―Kalau begitu. Atas itu kedua kacung menghampirkan meja yang ditunjuk itu. untuk mengatur mangkok dan sepasang sumpit.‖ Kwee Ceng bilang. Ia memandang Kwee Ceng dan Oey Yong. tak bisa jadi. Ia hanya heran kenapa orang dapat menyusul ia demikian lekas. hingga ia tak dapat didekatkan. ―Ayahku larang aku pergi pesiar. ―Tapi kau toh dapat menemuinya. tetapi kuda itu berjinkrakan. Kwee Ceng mengawasi sebentar. ―Ah. usianya barangkali baru delapan atau sembilanbelas tahun. Mangkok dan sumpit yang mana disimpan dalam sebuah kotak. ―Kenapa kau tidak mau pulang saja?‖ Tiba-tiba saja mata Oey Yong menjadi merah. Ia dapatkan beberapa orang dengan pakaian serba putih tengah mengurung kudanya itu. ia mengerutkan kening. kau mesti pulang. Belum lama.‖ ―Sekarang pasti ayahmu tengah memikirkan kau. ibukota dahulu. Oey Yong tertawa. Ia ingat akan kudanya. habis pesiar aku pulang!‖ katanya. maka ia lari ke jendela untuk melongok ke bawah. yang hendak ditangkap. Kali ini Oey Yong yang mengajak kawannya itu. Karena itu malam-malam aku minggat…. Cuma tidak ketmu…‖ Kwee ceng mencoba menghibur. Lantas ia berseru: ―Di siang bolong kamu berani merampas kudaku?‖ Irawan D Soedradjat Page 169 . yang bangunannya juga mencontoh model restoran besar dari Pian Liang. Kapan Oey Yong dengar Kwee ceng omong perihal dua ekor burung rajawali putih.Pendekar Pemanah Rajawali ―Baiklah. Jongos juga segera repot melayani tetamu baru ini. ―Ayah damprat aku.‖ ―Hanya sukar untuk mencari anaknya. ―Jikalau begitu. terutama sebab ia lantas kenali. ―Mungkin ia mencari. baiklah. ―Ayahku tidak menginginkan aku lagi…‖ katanya. Di sini kembali mereka pasang omong. rumahmu di mana?‖ ia tanya. hiantee. yang ia bawa dari rumah. Hanya kali nini ia tidak meminta banyak macam makanan. ―Ayahku tidak menginginkan aku…‖ ia menyahut. aku justru mau pergi.‖ kata Kwee ceng lagi. Kwee Ceng tidak dapat menjawab. Ia menjadi gusar sekali. ―Kalau begitu. Melihat pakaian orang yang kotor.mari aku temani lagi kau bersantap.‖ ia kata.‖ berkata si anak muda. disusul mana beberapa kali bentakan dari beberapa orang. Ia kembali mengobrol bersama sahabat barunya itu. ―Justru sekarang tidak tahu aku mesti pergi ke mana. ia pun menemuinya burung itu secara kebetulan. pemuda itu tampan sekali.‖ Kwee ceng berkata pula. habis pesiar. baik besok aku pergi saja ke Mongolia. ―Cuma aku mesti dapati dulu dua ekor anak rajawali putih…‖ Selagi kedua pemuda ini bicara dengan asyik. lantas ia tidak pedulikan lagi tetamu itu.‖ jawab Kwee ceng. yaitu Restoran Tiang Keng Lauw. ―Di sana aku cari dan tangkap dua anak burung itu untuk aku buat main. di tangga lauwteng terdengar suara tindakan kaki. Oey Yong menangis.‖ sahut Oey Yong. yang tidak merasa aneh atau mendongkol. lantas ia menunjuk meja yang terpisah jauh. kenapa ayah tidak cari aku?‖ kata si anak muda lagi.‖ Kwee ceng beritahu. wajahnya terang. di bawah lauwteng terdengar suara kuda meringkik. ―Dan ibumu?‖ ―Ibuku sudah meninggal dunia. ia menjadi tertarik hatinya. ―Kenapa begitu?‖ Kwee Ceng tanya. ialah dua kacung yang mengiringi satu pemuda denagn baju sulam yang indah. orangorang itu adalah delapan penunggang unta yang memang berniat merampas kudanya itu. lalu tertampak munculnya tiga orang.

ia memutar tubuhnya. nah di sini saja kita berpisahan.Pendekar Pemanah Rajawali Lantas ia lari turun dari lauwteng. Ia menjadi heran sekali. kemudian ia mengawasi kedua anak muda itu. dengan niat menyambuti torak perak itu. mereka lihat delapan nona serba putih itu berlalu dengan unta mereka. Kongcu itu telah mengibaskan tangannya. ―Aku mohon tanya she dan nama mulia dari toako. di depan siapa ia berhenti. pundaknya kena tersambar juga. bernama ceng. tanda dari kemurkaan. ―Kau…kau…. Kwee ceng cepat-cepat membalas hormat. kudamu itu bagus sekali!‖ katanya memuji. ―Jangan pedulikan dengan mereka. Oey Yong tarik tangannya Kwee ceng. Kwee Ceng hendak sahuti sahabatnya ketika ini tatkala ia dengar ramai suara kelengan unta di depan rumah makan itu. mari kita naik pula ke lauwteng!‖ berkata ini sahabat baru. Inilah Kwee ceng tidak sangka. ―Setahu kenapa. ―Toako. salah satu nona menoleh ke belakang. Karena ini. Celaka kalau ia kena tersampok. ginso itu jatuh sendirinya. Justru mereka memutar tubuh. Gara-Gara Sepatu Sulam Dan Jubah Salut Emas Tiba-tiba Kwee Ceng sadar. ia lantasbertindak naik di tangga lauwteng. sampai nanti kita bertemu pula!‖ Lalu ia menjura dalam sekali. kemudian sembari tertawa manis. Meski begitu. di waktu mana ia merasakan sambaran angin.‖ Kongcu itu berkata: ―Saudara Kwee tak hendak mengenalkan diri. Setibanya ia di depan rumah makan. Kwee ceng lekas-lekas membalasi. Tiba-tiba saja ia ayun tangannya yang kanan. ―Belum pernah siauwtee pergi ke pulau Tho Hoa To itu. Kwee ceng menurut. ujung tangan bajunya menjurus ke matanya. aku sangat berterima kasih. ―Mereka ini hendak merampas kudaku. Habis itu. sepasang alisnya pun terbangun. ada urusan apakah saudara datang ke mari?‖ Ditanya begitu. untuk naik di tangga. ia melayangkan dua batang senjata rahasia yang bersinar emas berkilauan. jatuh bareng bersama senjata penyerangnya. diserahkan kepada si pemuda. sehingga ie berdiri menjublak. maka Kwee Ceng dapat melihat sinar matanya yang tajam. Sembari memberi hormat orang menyerang ia secara hebat sekali. kedua kacung lantas pungut empat senjata rahasia itu. Demikian juga si anak muda itu. yang menyambuti seraya terus dikasih masuk ke dalam sakunya. ―Siauwtee datang dari gurun pasir utara.‖ ia minta. Maka dengan ia lantas tunduk. dengan menyentil dua kali. untuk terus segera memberi hormat sambil berjura. Bab 16. di sana ia dapatkan delapan orang berpakaian putih itu sedang rebah tanpa berkutik.‖ ia menyahuti. ia pergi ke jendela diikuti Oey Yong. ia tuangi air the di cawannya pemuda itu.‖ Irawan D Soedradjat Page 170 . atas mana dua potong ginso menyambar ke loteng. malah ia sudah lantas membungkuk kana melihat delapan pemudi yang menyamar sebagai pemuda-pemuda itu. diwaktu ia sudah taruh kakinya. ―Apakah saudara Kwee datang dari pulau Tho Hoa To dari Tang-hay? pemuda itu menaya. Kwee melengak.‖ kata Kwee Ceng. ―Siauwtw she Kwee. sinar matanya menandakan ia sangat heran. Cepat-cepat Kwee Ceng cabuti kopiahnya. si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu juga telah berada di depan. Akan tetapi si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu telah dului ia. hingga terbit satu suara nyaring dan ia merasakan sakit ngilu pada pundaknya itu. ia kaget dan gusar dengan berbareng. mereka pada rubuh sendirinya…. ia memandang Kwee Ceng. yang setahu kapan telah turun dari lauwteng.‖ Meski ia mengucap demikian. lalu di antara dua kali suara tintong. apabila mereka melongok ke bawah. dengan lantas ia lihat Oey Yong. Ia merasakan ada tangan yang lemas yang memegang tangannya. untuk masuki kepalanya ke selangkangannya.‖ ia menyahut. Barusan kongcu membnatu aku. ―Aku mohon tanya. ―Kongcu ada pengajaran apakah?‖ lanjutnya. guna terus lompat berjumpalitan. ke arah pemuda ini. dia terus menghampirkan Kwee Ceng. Ketika ia menoleh.

―Dia membikinnya jatuh selagi dia menjura kepadamu. ilmu silatmu tangan kosong tapi biasa saja. Setelah menatap. kau lupakan barangmu ini!‖ ia panggil si pemuda yang seperti anak bangsawan itu. lantas aku jumput!‖ sahut Oey Yong masih tertawa. cepat luar biasa tangannya menyambar ke arah Kwee ceng. ia tercengang. Kongcu itu terkejut. Maaf…!‖ Kembali ia menjura. empat senjata di tangannya sudah lantas mencelat.. Dengan terpaksa ia sambuti empat potong benda itu. yang terus tuturkan perihal kuda itu sampai ia bertemu rombongan si wanita itu. Ia tercengang sebentar lantas ia ingat. Entah kapan sahabat ini mengambilnya. sembari tertawa. cepat luar biasa ia telah kerahkan tenaganya. kepada Kwee Ceng ia tersenyum. ―Ya. Di tangan kawan ini terlihat dua potong tusuk konde emas serta dua potong ginso. Kwee Ceng melihat telapak tangan anak muda ini.‖ kata Oey Yong. tubuhnya bergeser. ―Sungguh memusingkan kepala. Ia dapatkan. Maka ia menduga. Kalau tidak tentulah mesti terjadi pertempuran hebat…‖ Oey Yong masih tersenyum. ―Itu waktu memang aku lihat terbangnya dua ekor burung di atasan kepalaku. Kongcu itu menghentikan tindakannya. Itulah ginso yang tadi si kongcu simpan dalam sakunya. tangannya menjatuhkan sebatang sumpit ke kaki kongcu. Kapan Kwee Ceng kembali ke kursinya. yang menyamar sebagai pemuda-pemuda dan menunggang unta. Ilmu totok kau lihay sekali. Si kongcu rupanya jijik untuk pakaian kotor anak muda ini. ―Toako. ―Ini untuk kau…‖ kata Oey Yong dengan perlahan. ia berpaling. tangannya disodorkan. lima jarinya yang kuat seperti kuku garuda menyambar ke tangan Kwee Ceng itu. Dari gerakannya saja. Kemudian ia melanjuti: ―Setahu siapa yang membnatu aku secara diam-diam dengan merobohkan mereka itu. Oey Yong pun telah dapat menjumput sumpitnya itu. mereka dapat menyusul padaku…‖ Kwee Ceng kemudian mengutarakan keheranannya. belum lagi serangannya mengenai. empat senjata itu sudah mendahulukan menyambar ke arahnya. Oey Yong agaknya kaget. ia mundur setindak. ―Sebab kudaku adalah han-hiat-po-ma. kenapa rombongan wanita itu mencoba merampas kudamu?‖ kemudian Oey Yong menanya. kongcu terkejut sehingga air mukanya berubah. terus ia putar tubuhnya untuk bertindak ke tangga lauwteng. sambaran kongcu ini kalah jauhnya sebatnya dengan sambarannya si Mayat Besi. cuma ia dapat membedakannya. entah kenapa. sebab masih ada bekas cengkeramannya Bwee Tiauw Hong dulu hari pada lengannya. ia kata: Aku cuma mencoba ilmu kepandaianmu. Kwee ceng khawatir orang nanti bokong pula padanya. Tidak berani ia menangkis atau menyambuti cengkeraman itu. Ia sambuti tusuk konde emas dan ginso itu. disaat kongcu itu mengangkat tubuhnya habis menjura. Tiba-tiba Kwee ceng menepuk meja. saudara Kwee. sebenarnya aku telah lombai mereka seperjalanan tiga hari. adakah kongcu ini sekaum dengan Tiat Sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi? Ia menginsyafi hebatnya cengkeraman Tulang Putih itu. ―Kenapa barang itu berada di tanganmu?‖ ia menanya. Kwee Ceng kaget tidak terkira. Kwee Ceng jujur. Rupanya tiga wanita itu melepaskan burung Irawan D Soedradjat Page 171 .Pendekar Pemanah Rajawali Tapi si kongcu pegat ia. ia mengerti. ia dapatkan Oey Yong mengawasi ia sambil sahabat itu tertawa geli. ia mundur satu tindak. Menampak barangnya itu.‖ jawab Kwee Ceng. ―Kongcu.‖ ―Aku lihat di antara mereka ada satu yang mencekal sepasang burung dara. heran. aku ingat sekarang!‖ ia kata pula separuh berseru. ―Kudaku itu lari cepat sekali. Kwee Ceng angsurkan kedua barang emas dan perak itu. belum ia terjambak. ia tidak menduga orang mendusta. yang bergemerlapan kuning dan putih. ia sudah dapat menduga orang bergerak dengan ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw seperti keenam gurunya sering menuturkan kepadanya. ia juga dapat lihat anak muda itu berdiri tegar ditempatnya. ia memutar tubuhnya untuk terus turun di tangga lauwteng.

‖ Kemudian sembari menoleh kepada si anak muda. Oey Yong terperanjat. Empat di antaranya ada membawa golok dan ruyung. mukanya lonjong. Si kurus sudah lantas tertawa tawar. ia terus tepuk kempolan kudanya itu. untuk rebahkan diri. Dengan lantas kuda itu berlari pergi. sambil melirik. Karena ini. jangan kau bawa adatmu. Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay yang sangat ternama besar! Lekas kau berlutut dan mengangguk-angguk kepalanya!‖ . Sebenarnya ia main-main saja. kau kenapakah?‖ ia menanya cpat. yang julukannya pun berarti si Ular Naga Kepala Tiga.‖ sahut suara di luar. untuk mereka memegat atau mengawasi aku. ia tampak lima orang berdiri di depannya. bahwa Hong Ho Su Koay saja sudah bukan tandingannya. terus terdengar tangisannya sesegukan. apapula mereka dibantu oleh paman gurunya itu. ―Toako. Bukankah mereka baru pertama bertemu? Ia malah mengharap jawaban si pemuda adalah penolakan.‖katanya. dengan dingin. sebaliknya ia tertawa. Mereka itulah Hong Ho Su Koay. Bersama-sama mereka turun dari lauwteng. baru ia melihat langit. muka orang ada tanda bekas luka-luka senjata tajam. tiba-tiba ia dengar ketokan pada pintu. ―Apakah kau kurang sehat?‖ Oey Yong angkat kepalanya.Pendekar Pemanah Rajawali itu untuk memberi kabar kepada lima kawannya. ―Toako. maka baik-baiklah kau mendengar katanya. hingga dia itutak dapat melihat lepas ke depan. tanpa bilang suatu apa. marilah kita pergi!‖ ia mengajak. Dua orang yang ke lima. dari itu. Ia lantas mendekam di meja. Oey Yong naik kuda itu. Ia mendapatkan sang malam bakal lekas tiba. ―Satu sahabat. mereka gampang saja mencari padaku. baru ia tuntun kudanya. Kwee Ceng turun dari pembaringan. suaranya parau. lantas berkata: ―Inilah paman guru kami. Di antara cahaya lilin. Ia keringkan secawan teh. akan terus mencokol di atas pembaringan. Setelah ia mengenali orang. ―Kenapa tidak?‖ Kwee Ceng menjawab. Air matanya itu yang mengalir di kedua belah pipinya itu. hingga ia melihat tegas. ia mengawasi si pemuda. lalu ia tertawa. Ia pesan kepada kudanya: ―Aku haurkan kau kepada sahabatku yang baik. aku hadiahkan itu padamu!‖ kata Kwee Ceng tanpa bersangsi. ―Sebenarnya aku suka sekali dengan kudamu itu. menyebabkan mehongan luntur. Ia kelihatannya menjadi kagum sekali. ―Hiantee. ―Hendak aku meminta sesuatu yang berharga darimu. ―Baik. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng mengerti bahwa ia telah terkurung. ―Siapa?‖ ia tanya heran. hiantee. apa kau sudi mengabulkannya?‖ dia bertanya. Lebih dulu ia membayar uang makan. ia terkejut bukan main. ia lantas pergi mencari rumah penginapan. ia membuka pintu. romannya sangat tidak mengasih untuk diawasi.‖ menerangkan Oey Yong. Kwee Ceng menurut. Kwee Ceng menyerahkan les kuda itu.‖ Setelah itu. ia awasi tuan rumah. tubuhnya kurus. akan tetapi ia sekarang tidak membangkang. Pemuda itu menanti sampai orang tidak terlihat lagi. kau naiklah!‖ Sebenarnya kuda itu tak dapat ditunggangi orang lain. ia mepersilakan: ―Hiantee. Kwee Ceng pun mengawasi. ia membuka tindakan lebar akan memasuki kamar orang. hingga tampak dua baris kulitnya yang putih mulus. yang usianya kurang lebih lima puluh tahun. 172 Toan-hu-to Sim Ceng Kong si Golok Memutus Roh. Ketika disaat ia hendak memadamkan api. Mukanya penuh air mata. Tapi sekarang ia tidak menangis. Oey Yong tanya tentang tenaga larinya kuda merah itu dan Kwee ceng menuturkannya dengan jelas. Sekarang adalah giliran Kwee Ceng yang menjadi heran. di jidatnya ada tiga kutil besar.

Di sana ada sebuah rimba besar. ―Sekarang hendak kau memberi pengajaran kepadamu. ―Suhu semua berada di tempat jauh. ―Mari kita pergi!‖ ia kata kepada Cian Ceng Kian. Tapi tiba-tiba. sia-sia saja mereka mencoba meronta-ronta. Kwee ceng loloskan joan-pian. ―Ah! Kalau begitu hendak aku memberi ketika padamu untuk hidup lagi setengah harian!‖ kata Ular Naga Kepala Tiga itu. rimba pun lebat. Tiba-tiba ia dapat ingatan. yang menutupi matahari. Ia masih berdiam saja. untuk dengan cepat bertindak ke sebelah dalam rimba. ―Apakah kau tengah main ayunan di sini?‖ dia bertanya. hatinya menjadi mantap. Dia lantas rebahkan dirinya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tuan-tuan ada punya urusan apa?‖ ia tanya sambil menjura. Ia menjaga diri dari bokongan di kiri atau kanannya. ia berbangkit. baru ia berbangkit turun. tidak lekas kembali. ―Aku mohon sukalah kau memerdekakan kami!‖ Irawan D Soedradjat Page 173 Sim Ceng Kong berempat mencaci maki pula. tidak dapat aku menemani kalian lama-lama…!‖ ―Kwee Enghiong. ia suruh Twie-beng-chio Gouw Ceng Liat si Tombak Mengejar Jiwa menutup pintu. Ma Ceng Hiong si Cambuk Perampas Roh. ia tidak bertemu dengan musuhnya. Sesampai di luar. Ia berlaku tenang. Akan tetapi tidak ada serangan terhadapnya. maka ia lupa akan malunya. Kwee Ceng heran bukan kepalang. Seram suasana di situ. ia tampak bayangan orang mondar-mandir. Kwee Ceng memadamkan api. Di belakang jongos itu terlihat Cian Ceng Kian dengan sepasang kampaknya.‖ sahut Kwee Ceng. . ia mesti gulak-galik saja. Mereka mencaci kalang-kabutan begitu lekas mereka tampak si pemuda musuhnya itu. berubah pikirannya. Di samping itu mereka heran sekali kenapa paman guru mereka itu yaitu Hauw Thong Hay. agar orang tidak nanti mengatakan Sam-tauw-kauw menghina anak kecil. baiklah aku mati bertempur!‖ Oleh karena berpikir begini. Itulah suara ketokan beberapa kali. Mereka malu untuk minta tolong. Selang tidak lama. ia tampak Hong Ho Su Koay tergantung masing-masing di sebuah cabang besar. Ia bersemadhi hingga tengah hari. kenapa aku tidak hendak sembunyikan diri?‖ Maka hendak ia segera mewujudkan pikirannya ini. Sambil berlompat. menuju ke arah barat. ―Bocah haram! Anak campuran! Anak jadah!‖ demikian ia dengar makian hebat. melainkan mulut mereka yang dapat di pentang lebar-lebar. Mereka jalan berendeng. Ia lantas saja bercokol di atas pembaringan. Sambil berdiri diam. Besok pagi. tanpa menanti penyahutannya Kwee Ceng. kaki dan tangan mereka terbelenggu. Selagi Kwee ceng bertindak. Rupanya orang telah menjaga ia di luar kamar. ―Mana guru-guru kamu?‖ Hauw Thong hay menanya. jangan kau memikir untuk kabur. untuk melindungi diri. terus ia duduk numprah di atas pembaringannya. untuk bersemadhi menuruti ajarannya Ma Giok. semakin hebat. akan tetapi ia tertawa. kami menyerah kalah!‖ dia berteriak. bukan?‖ Nah sampai bertemu pula! Sampai bertemu pula! Maaf. setindak demi setindak. Tapi ia tidak dapat pulas. Satu lie sudah ia berjalan. ―Sungguh menggembirkan. tubuh mereka bergelantungan. Besok tengah hari aku menantikan di rimba Hek-siong-lim di luar kota. ia dapat dengar apa-apa di atas genting.‖ Kwee Ceng berpikir. tidak nanti mereka dapat menolongi aku. sampai sepuluh lie lebih. hampir ia lenyap dari pandangan mata. memandang ke arah dari mana cacian itu datang. cambuk lemasnya. kau datang ke sana dengan minta gurumu semua temani padamu!‖ Habis berkata. Kapan ia memandang ke jendela. Lantas ia berdiri menjublak! Di atas empat pohon di dekatnya itu. Kwee Ceng putar cambuknya. ia angkat kepalanya. untuk sarapan. tiba-tiba Toat-pek-pian. niatnya untuk tidur tanpa menghiraukan segala apa. ―Sudah terang aku tidak bakal dapat lolos. Ia takut mati. ia maju. hingga terdengar suara membeletok. ―Guruku tidak ada di sini. disusul sama bentakan: ―Bocah. ia sudah ngeloyor keluar. engkongmu menunggui kau disini!‖ Jadi terang dia telah dikurung keras. lari!‖ Maka ia berpikir: ―Sekarang tidak ada orang mengawasi aku. jongos muncul dengan air cuci muka dan tiamsim. ialah pesan gurunya yang keempat: ―Jikalau tidak ungkulan. Di sini Ceng Kian tinggalkan si pemuda.

Orang banyak itu mengurung sebuah tanah lapang. terus ia balik ke kota. negara Kim (Kin) yang besar. Semua itu ia saksikan diwaktu siang berderang. di situ ada dipancar bendera suram. Untuk bersantap. Di bawah bendera itu ada satu nona dengan baju merah tengah bertempur sama seorang pria. tibalah ia di Tiongtouw. kapan tangan kirinya diayunkan. di sana ada berkumpul sejumlah orang. nona itu menggunai akal. malah di sini ia segera membeli seekor kuda untuk dengan itu ia lantas melanjuti perjalannya ke selatan. Kwee Ceng pandang nona itu. teranglah lawannya itu mesti jauh terlebih lihay daripada mereka. Artinya: mencari jodoh denagn jalan pibu atau mengadu kepandaian. kota raja yang baru. Ia heran orang menuduh padanya. Nona itu singkap naik rambut yang turun ke dahinya. ia khawatir paman guru mereka itu nanti keburu kembali. untuk berlompat bangun. Ia berpikir: ―Dia lihay. Di mana di situ tidak ada Hauw Thong Hay. ia lantas menyerang dengan kedua tangannya. alat menggantungnya itu adalah tambang kulit yang kuat. ia berjalan-jalan. ―Buk!‖ punggung si pria kena terhajar. siapakah yang menggantung kamu di sini?‖ ―Kau masih berpura-pura!‖ membentak Cian Ceng Kian mendongkol. setelah memegang tanah. sikapnya pun berpengaruh. Ia mendekati. Yang hebat mereka sampai tidak melihat padanya. ke mana perginya Hauw Thong Hay si Ular Naga itu? dia tidak tertampak sekalipun bayangannya?‖ Kwee Ceng terus melakukan perjalannya itu. Keanehan itu tak dapat ia melupainya. Para penonton lantas saja bertampik sorak. ia menolak ke arah pundak. yang permai sero-seronya. entah dimana…?‖ kemudian ia tersenyum sendiri. ia tadi berkasihan terhadap si nona. Mukanya pemuda itu menjadi merah. sedang kereta-kereta bagus dengan semua kuda pilihannya mondar-mandir di jalan-jalan besar. Ia pun mengutanginya itu dengan golok emasnya. bertempur dengan seru sekali. pemuda itu totok mereka bergantian. membawa tubuhnya melejit ke samping ke belakang penyerangnya itu. lalu iamundur ke bawah bendera. Sambil tertawa. Pantas Hong Ho Su Koay tidak sanggup berontak melepaskan diri. belum pernah ia menyaksikan suasana kota besar itu. ia cari sebuah restoran yang kecil. hingga ia berpikir: ―Kenapa aku seperti kenal dia? seperti aku pernah bertemu dengannya. Herannya. adalah mereka yang memusuhi aku. Sebetulnya. ada sulaman empat huruf besar: ―Pi Bu Ciauw Cin‖. Pada suatu hari. siapa Irawan D Soedradjat Page 174 . Di pelbagai rumah minum ia pun dengar suara tertawa. Ia lari keluar rimba. Nona itu tidak mengambil sikap menangkis. terus ia kembali dengan berlompatan. habis berdahar. atau berkelit. kedua kakinya bergerak saling susul-menyusul. aku pikir kenapa ada demikian banyak wanita cantik. hingga mereka menyangka aku. maka sekarang si nona tidaj menghajar hebat kepadanya. Syukur untuknya. ―Siapakah itu orang secara diam-diam menolongi aku?‖ ia berpikir di sepanjang jalan. ia menjadi kegirangan. ia berkelit dengan mendak. Si pria dapat melihat lowongan. kenapa dia munculkan diri di tempat umum seperti ini?‖ Selang lagi beberapa jurus. yang indah lauwteng dan rangonnya. akan meninggalkan mereka itu. yang tubuhnya jangkung dan besar. yang cantik sekali. habis mana barulah ia putuskan belengguan mereka itu. ia ingat: ―Baharu saat ini kau tiba di Tionggoan.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sudah lantas berpikir: ―Sebenarnya aku tidak bermusuh dengan mereka. kapan aku pernah bertemu orang lain? Aku tadinya menyangka. mesti ia lekas menyingkir. siapa lagi?‖ Kwee Ceng heran. yang paling ramai dan indah. ke arah dada. ia baru berhenti ketika di sebelah depannya ia dengar sorak-sorai yang ramai. ―Hong Ho Su Koay lihay tetapi mereka dapat digantung. ia berkata: ―Lagi dua belas jam baru kamu dapat pulang tenaga dalam dan merdeka. sampai tidak dapat dilawan oleh Pian-liang. Ia menyelak di antara banyak orang itu. dia dapat menahan diri dan mengerahkan tenaga. Heran Kwee Ceng apabila ia saksikan ilmu silat si nona itu. ia kasih turun mereka itu satu per satu. tetapi ia mengerti. nona-nona serba putih dan menunggang unta itu sudah elok semua. umurnya mungkin baru tujuh atau delapanbelas tahun. atau Lim-an. ―Kalau bukannya kau. mesti ada orang yang sudah tolongi ianya. maka itu apa perlunya aku membiarkan mereka mati bersengsara di sini?‖ Dengan cepat ia mengambil keputusan. dasarnya putih. Ia lantas saja mengangkat kaki. Pria itu tidak sampai hati. merdunya bunyi tetabuan. kota raja yang lama dari kerajaan Song. untuk melihat ke sebelah dalam. hanya syukur. hanya mengubah kepalannya menjadi tangan terbuka. maka mereka itu lantas saja tidak dapat geraki kaki dan tangan mereka. dengan kemalu-maluan ia menyelinap di antara orang banyak. roboh ke tanah. maka ia pikir. sampai terjerunuk ke depan. Sesudah empat Siluman itu direbahkan di tanah. Luar biasa gesitnya nona itu. ia batal meninju. Ia menjadi besar di gurun pasir. ia sampai tidak berani memilih erstoran yang mentereng. kota raja Tay Kim Kok. Mendadak ia ingat apa-apa.

Paderi itu tersenyum. hanya guna anakku ini. aku mancarikan jadohnya dengan jalan pibu ini. mari kita berdua main-main…!‖ 175 ―Saudara-saudara. ―Setelah aku mendapatkan istri begini cantik. ―Bukankah dia mau adu kepandaian untuk mencari suami? Nah. Si empe dan paderi masih adu omong terus. lagi ia menjura kepada orang banyak. nanti besok kami datang pula ke mari untuk melayani tuan-tuan. Mendengar itu. ―Taruh kata kau menang. siapa yang menang. Si nona menjadi mendongkol. kakek-kakek!‖ katanya. aku akan segera pulang asal menjadi orang biasa lagi!‖ sahutnya. maka juga. sebabnya rupanya.‖ ia membujuk. pasangan anakku tidak usah berharta. kembali riuhlah tertawa orang banyak. asal ia bisa menyerang anakku dengan satu kepalannya atau kakinya. nah kamu pibulah terlebih dulu!‖ satu penonton yang membuka mulut. akhirnya mereka semua tertawa geli.‖ Habis mengucap. walaupun ia telah melihat wajah-wajah yang cantik manis. akan aku rangkap jodoh anakku ini dengan jodohnya. cukup asal ia satu pria sejati yang mengerti ilmu silat. ―Aki-aki. dan umurnya juga sudah lewat lebih dari setengah abad. maka itu. ―Tenang. Bok Ek tarik tangan gadisnya. maka tak usahlah aku menjadi heran…‖ Pemuda ini polos. Kami berdua. berniat ia menghajar kedua manusia ceriwis itu. Tidakkah pemandangan itu sangat lucu? Irawan D Soedradjat Page ―Bagus!‖ berseru si paderi. itu bendera Pi Bu Ciauw Cin. ia tertawa. sepasang alisnya terbangun. mukanya penuh berewokan. oleh karena itu. sudah membuat perjalanan dari selatan hingga di utara. ia yang maju melawan si nonan manis!‖ . mereka yang gagah sudah pada menikah atau mereka yang muda sungkan hatinya?‖ Ia berhenti sebentar. Disamping mereka. hatinya masih terbuka. apakah kau tidak kasihan terhadap si nona yang masih demikan remaja bagaikan sekuntum bunga? Apakah setelah kau menikah kau hendak membuatnya ia menjadi janda?‖ Orang tua itu menjadi gusar. ―Nanti. mereka jadi sengit sekali. Adalah keinginanku. yang ia awasi. disini mesti banyak orang berilmu dan gagah. Si nona lantas bicara perlahan sama seorang yang berdiri di dekatnya. ―Oh.Pendekar Pemanah Rajawali tahu nona ini melebihkan mereka itu…. lagi sekali orang itu mengangguk. lalu ia cabut benderanya. para penonton juga tak henti-hentinya tertawa. Yang muncul dari sebelah timur itu adalah seorang tua dengan tubuh terokmok. yang agaknya tidak menghiraukan ejekan orang banyak itu. sudah melintas tiga belas propinsi. matanya bersorot tajam. ia masih belum ketemu jodohnya. kamu tertawakan apa?‖ tanya si tua itu kepada orang banyak. Dialah satu paderi yang kepalanya licin lanang! ―Eh. ―Habis kau. akan tetapi kami masih belum menemui jodoh yang dicari itu. untuk pulang ke rumah penginapan guna beristirahat. nanti aku yang melayani mereka. Siapa yang usianya di bawah tiga puluh tahun dan belum menikah. baharu ia menambahkan: ―Kota Pakhia ini adalah tempat rebahnya harimau atau tempat sembunyi naga. Yang datang dari barat itu lebih lucu pula. perkenankanlah kami undurkan diri. maka itu sekarang aku lagi mencarikan jodohnya itu. kumisnya sudah ubanan separuh lebih. Tuan-tuan. hatinya tidaj tergiur. pria itu mengangguk. ―Tunggu dulu!‖ Itulah suara berbareng. aku harap tuan-tuan memaafkannya kalau ada kata-kataku yang tidak tepat. Orang bnayak lantas mengawasi. aku lewat di tempat tuan-tuan tidak dengan maksud mencari nama atau mencari uang. Anakku sudah dewasa usianya. terus ia mengangguk keempat penjuru seraya terus berkata: ―Aku yang rendah bernama Bok Ek. yang datangnya dari sebelah kiri dan kanan. Tiba-tiba saja. apakah kau mau dengan datang kemari?‖ ia menegur. Maka itu ia lantas memandang ke kiri dan kanannya. Ia lantas loloskan mantelnya. Dasar aku kurang berpengalaman! Rupanya di Tionggoan ini dimanamana wanitanya cantik semuanya. ayah dan anak. wajahnya menjadi merah. Ia merasa bagaimana orang hendak mempermainkan padanya. Karena ini dengan beranikan diri. dari mana lantas terlihat dua orang berlompat ke dalam kalangan. aku masih belum menikah! Mustahilkah aku tidak cocok?‖ Si paderi itu awasi si tua.

Bok Ek cekal kedua ujung ruyung. lekas-lekas ia sembunyikan diri di antara orang banyak itu. tahan!‖ Bok Ek berseru seraya ia menghampirkan. maka ruyung itu menjadi bengkok melengkung. Maka dengan itu. untuk angkat kaki! Kwee Ceng mengawasi Bok Ek. mendadak ia tarik keluar sebatang golok kayto dari dalam jubahnya. Ia berdiam tidak lama. tanpa membilang suatu apa lagi. Suara kelenengan itu datang dari rombongan itu. mereka tidak memperdulikan seruan itu. tetapi. Hanya sambil berseru-seru. Dengan satu dupakan. Sampai disitu. tenaganya sebenarnya masih besar. tapi berbareng dengan itu. keduanya nyelusup antara orang banyak. ia hajar itu dengan ruyung sehingga golok itu patah dua! Para penonton kagum. Si paderi dapat berlompat danmendekam dengan cepat. bagaikan martil. sedang si empe menggunai ilmu silat Ngo Heng Kun. Bukankah pibu telah berakhir? Tapi justru itu. segera ia balas menyerang. ―Apakah nona ynag mengadakan pibu untuk mencari jodoh?‖ ia menanya sambil ia memberi hormat. keduanya menjadi bertempur. mereka bersorak. tanda dari tenaganya yang besar. jangan pandang usianya yang tua. Dilihat dari roman. Si tua dapat menolong diri dengan berlompat berkelit. tidak dapat kita sembarang menggunai senjata tajam!‖ Dua orang itu lagi bertempur seru sekali. Tak tahan paderi itu. hingga sudah tentu saja selanjutnya tak dapat digunai lagi! Si tua dan si paderi tercengang. hingga mereka pada menoleh. Kwee Ceng pun tak terkecuali. ia mungkin telah berusia enam puluh hampir. numprah di tanah. ia lantas menekuk. ia terima serangan tanpa berkelit atau menangkis. Si empek kuat sekali. mereka dengar suara kelenengan kuda. terus ia loncat dari kudanya. untuk dikasih turun ke arah kepala lawannya. dengan itu ia membabat kakinya si tua! ―Celaka!‖ berteriak orang banyak. Si empek sebaliknya tenang tegar.‖ menyahut si nona. takut mereka nanti kena terserempet…. lincah gerakannya. sembari tersenyum. kemudian selagi golok turun. ilmu Bagian Luar. ia masuk ke dalam kalangan. Ia kenali si kongcu yang ia telah ketemukan di rumah makan di Kalgan. dalam sengitnya. Satu kali si paderi dapat meraptakan diri. Tapi itu belum semua. Melihat ia tidak dihiraukan. ia membuat golok kayto terpental tinggi dan dengan sambaran tangan ia rampas ruyungnya si empek-empek. Si empe-empe berkelit. untuk mengasih keluar sepotong thiephie atau ruyung besi. ―Bagus! Bagus!‖ teriak orang banyak berulangkali. Ia dapatkan si paderi bersilat dengan jurus-jurus Lo Han Kun dari ilmu silat Siauw Lim Pay. kepalannya menumbuk kepala licin mengkilap dari si paderi. berbareng dengan mana. mereka menjadi kuncup hatinya. Hebat menyambar-nyambarnya golok kayto dan ruyung besi. yang diajak bicara. . yang tubuhnya sedikit bongkok tetapi badannya lebar dan kekar. ia angkat tinggi tangan kanannya. tiba-tiba Bok Ek menyerbu. ―Besok kita pulang ke selatan…‖ berkata dia dengan masgul. belum lagi ia peroleh jawaban. Kwee Ceng menonton.Pendekar Pemanah Rajawali Paderi ini menantang. ―Tuan-tuan. ke arah pinggang lawannya. kepalannya menghajar tiga kali beruntun. Ke situ datang satu kongcu atau pemuda sambil diiringi beberapa puluh pengikut. wajahnya guram. ia lantas awasi si nona baju merah. Kiranya mereka sama-sama membekal senjata. mereka pada mengundurkan diri setindak demi setindak. penonton hendak bubaran. Irawan D Soedradjat Page 176 Kongcu itu melihat bendera Pi Bu Ciauw Cin. tangannya meraba ke pinggangnya. Kapan Kwee Ceng telah melihat si koncu. Maka itu sekarang mereka melansungkan pertandingan itu dengan golok dan ruyungnya masingmasing. Jadi keduanya ada dari golongan Gawkang. sebelah tangannya sudah melayang. ―Ya. Dia pun menghela napas. Cuma rambut dekat kedua samping kupingnyas udah berwarna kelabu dan kulit mukanya berkerenyut dan itu waktu. segera ia jatuh duduk. ―Di sini adalah kota raja.

―Ah. ―Kalau begitu. lalu tangan kirinya menyambar ke pundak si nona. ―Kalau begitu. aku tidak percaya!‖ Ia tunjuki si nona. maka itu ketika si kongcu datang dekat.Pendekar Pemanah Rajawali Nona itu dengan wajah bersemu merah. untuk memberi hormat. ―Kami adalah orang kangouw. belum pernah ia bertemu pemuda semacam ini. maka si nona menjejak tanah untuk mencelat mundur. ―Kenapa begitu?‖ si pemuda menegaskan. masa mereka berani bikin malu satu kongcu? Tentu si kongcu bakal dibikin mundur teratur. sebentar kau nanti merasai…‖ Tapi ada juga yang berpikir: ―Bok Ek ayah dan anak adalah orang kangouw. Nona itu bukan melainkan berlompat mundur. ―Sudah berapa lama sejak kamu mengadakan pibu ini?‖ ia tanya pula. Tiba-tiba ia memutar ke kanan. Sukar untuk menyingkir dari serangan susulan itu.‖ berkata nona itu. muda dan tampan. ―Si nona lihay sekali. Sekarang ujung baju dari tangan kanan si pemuda yang menyusul menyambar. ―Tidak usah. Untuk membebaskan diri. mari!‖ berkata si pemuda. Ia tahu. ―Sampai sebegitu jauh sudah satu tahun lebih dan kami telah menjelajahi tiga belas propinsi. ―Laginya ini bukannya cuma soal menang atau kalah. mari. Bok Ek memberikan keterangannya. ―Apakah mungkin belum pernah ada orang yang dapat menangkan dia?‖ ia menegaskan. Sambil mendak. ini mengenai hari kemudian dari anakku. ―Aku yang rendah she Bok.‖ Pemuda itu mengawasi si nona. kongcu!‖ berkata si nona. ―Silakan mulai. Di luar dugaannya. nona!‖ ia kata. Ia lantas merangsak. Pemuda itu tampaknya heran. Kongcu ada keperluan apa apakah?‖ ia menanya. hendak aku mencoba-coba. Bok Ek tersenyum. tidak menunggu kedua kaki si nona keburu menginjak tanah.‖ menjawab Bok Ek dengan sebenarnya. Irawan D Soedradjat Page 177 . orang yang pandai silat itu sudah menikah atau ia sungkan beradu tangan dengan anakku. ―Sebabnya mungkin. ―Bagaimana aturan atau syarat-syaratnya pibu perjodohan ini?‖ menanya si pemuda. ia hanya berjumpalitan. Ia bertindak ke tengah kalangan. melengos.‖ menyahuti si kongcu. kongcu bergurau!‖ berkata Bok Ek tertawa. ia tidak menyahuti. Kali ini kongcu itu sudah tidak sungkan lagi. Diam-diam girang hatinya Bok Ek. maka barenglah mereka diwaktu mereka menurunkan tubuh.‖ ia menerangkan. supaya ia tidak hilang mukanya…‖ ―Silahkan. Ia dapatkan orang. ia hampirkan si pemuda untuk memberi hormat. menantang. kongcu itu lompat ke kanan. Aku minta kongcu sudi memaafkan aku. ―Silakan kongcu membuka dulu bajumu. Para penonton pada berkata dalam hatinya. ―Bagus!‖ berseru si kongcu. Maka itu ia loloskan mantelnya. yang menghampirkan pemuda itu. ia mengebut pula.‖ kata si pemuda. mana berani kami beradu tangan sama kongcu?‖ menyahut Bok Ek. turut bergerak. di dalam tiga belas propinsi. ―Ah. Pemuda itu membalas hormat. orang ada sangat gesit. Terkejut si nona itu apabila ia menyaksikan gerakn orang yang luar biasa itu. sebelah kakinya menjejak ke arah hidung si kongcu. ia tersenyum. ia nyelusup di bawah ujung bajunya pemuda itu. Adalah Bok Ek. Si nona agaknya kagumi pemuda itu. Lagi-lagi ia memberi hormat. hingga bajunya yang panjang dan tangan bajunya juga.

Si nona lantas lompat mundur jauh-jauh. Ia menggunai tangan kirinya. Maka tidak ampun lagi. gampang sekali.Pendekar Pemanah Rajawali Penonton semua kagum. Si kongcu tertawa. tangannya mengibaskan baju rampasannya itu! ―Tunggu dulu!‖ Bok Ek segera kasih dengar suaranya. Orang banyak bertempik bersorak. mereka pun pandai silat. Bok Ek lantas maju. Karena ini tidak lagi ia benci si kongcu untuk kelakuannya di rumah makan baru-baru ini. tangan kanan si kongcu sudah menyambar. si nona bukan tandingannya. Ia tahu si nona bakal mengibas keluar. maka robeklah bajunya. Sekarang terlihat kongcu ini dengan pakaian dalamnya dari sutera hijau muda yang indah. Kwee Ceng jadi berpikir: ―Ilmu silatnya dia ini mirip betul sama ilmu silatnya In Cie Peng. Dalam sengitnya. anginnya menyambar keras. Si nona dengan wajah merah. Bok Ek dan Kwee Ceng terperanjat. ujung baju itu putus dengan menerbitkan suara nyaring itu. Mereka tidak sangka. ketika tangan kirinya menyambar. nanti aku lepas kau!‖ sahutnya. sampai tiba-tiba orang dengar suara ―bret!‖ robek. Ia bukan membuka dengan baik. kedua tangannya bergerak. nona itu rubuh terjengkang. sudah tak usah kau melawan lebih lama lagi. karena itu sukar untuk si nona membalas mendesak. untuk kamu menentukan kemenangan terakhir!‖ Kongcu itu bermuram wajahnya. untuk lihaynya si kongcu dan untuk kelincahan si nona. Pemuda-pemudi itu berimbang usianya. ―Pasti jodoh mereka bakal terangkap…‖ Bok Ek pun girang melihat jalannya pertempuran ini. malah ia lantas berseru: ―Anak Liam. . suaranya perlahan. sedang si kongcu kata di dalam hatinya. ia hanya menyobeknya! Satu pengiring lari menghampirkan guna membantui meloloskan baju itu. Pemuda itu tertawa lebar. hingga si nona manis lantas berada di dalam pelukannya. Nyata si nona dapat menjambret ujung baju si kongcu dan ia menariknya. Bercahaya wajahnya yang putih dan bibirnya yang merah. Si nona menjadi sangat malu. Hanya. Itulah permintaann ceriwis. Sekarang si koncu yang main berkelit. si imam muda. Melihat itu si nona. Pertandingan itu berjalan terus dengan seru. kongcu menang jauh daripadamu…!‖ Tapi orang lagi bertempur hebat sekali. sebab si kongcu juga membetot. selagi si nona mengerahkan tenaganya. malah untuk merapatkan saja sulit. menjadi suami-istri. yang itu malam menempur aku. Maka ada menarik akan menyaksikan baju indah si kongcu bagaikan bercahaya. kongcu ini mulai menyerang. kancing-kancingnya jatuh di tanah.‖ berpikir Kwee Ceng setelah ia menyaksikan terlebih jauh. mereka tampan dan elok.: ―Kalau sekarang aku hendak robohkan kau. Setelah menyaksikan lagi sekian lama. Mereka itu sama-sama lincah. silakan kau loloskan bajumu. ―Kongcu. dan baju si nona seperti mega bermain. sungguh cocok apabila mereka menjadi pasangan hidup. Tapi sia-sia saja. Apakah boleh jadi mereka berasal dari satu perguruan?‖ Sekarang si kongcu tidak mau mengalah lagi. Irawan D Soedradjat Page 178 Nona itu mendongkol. ―Kongcu ini lebih lihay daripada In Cie Peng. ia malah terpeluk semakin keras. Ia lantas berontak. ia sekalian menolak seraya cekalannya itu dilepaskan. ―Kongcu sudah menang. Ia nampak semakin tampan. ia masih belum mau melepaskan pelukannya. ―Lekas lepaskan aku!‖ ia minta. Tanpa berkata apa-apa. belum lagi tubuh orang mengnai tanah. tolong kau lepaskan anakku. mulai membalas menyerang. tapi ada juga yang menggerutu. merangkul. ―Kau panggil engko padaku. si nona menjejak. Kwee Ceng pun kagum. yang pinggangnya dilibat dengan sabuk hijau. satu kongcu demikian lihay. Cuma aku tidak tega…‖ Benar saja.‖ ia minta. tangan kiri si nona kena dicekal. sekarang ia mengharap-harap akan kemenangan si kongcu.

terus pingsan! Kongcu itu tidak ambil peduli kejadian itu. tangannya melayang. ―Akan aku adu jiwa!‖ berteriak ayah yang dipermainkan itu seraya ia lompat berjingkrak. Kongcu itu berdiri sambil tertawa haha-hihi. ―Kami tinggal di Hotel Ko Seng di jalan utama kota barat. lantas saja berseru-seru. kedua tangannya digeraki berbareng. Irawan D Soedradjat Page 179 .‖ Kongcu ini berkelit sambil menjajak sanggurdinya. ―Harum! Harum!‖ ―Kau she apa kongcu?‖ Bok Ek menanya. seraya ia putar tubuhnya untuk minta jubah sulamnya dari pengiringnya. terima kasih banyak!‖ Mukanya Bok Ek menjadi pucat. Sebab sepatunya telah terlepas.‖ berkata si anak muda. Bok Ek habis sabar. ia tertawa. ia tunduk. mulutnya mengeluarkan darah. ―Bukankah kita main-main dengan ilmu silat?‖ katanya. ia tidak menghiraukan sikap ceriwis si pemuda. maka itu tubuhnya lantas mencelat ke tengah kalangan. maka itu tentu saja aku hendak jodohkan anakku ini denganmu. Bok Ek heran. ia raba kaos kakinya yang putih. ―Jadi kau sengaja mengganggu kami?!‖ berteriak Bok Ek. ia injak sanggurdi denagn sebelah kakinya. dengan tangan kirinya ia cekal lengan kiri pemuda itu. Itulah jurus ―Ciong kouw cie beng‖ atau ―Gembreng dan tambur ditabuh berbareng. ia berontak sekuat tenaganya.Pendekar Pemanah Rajawali Kongcu itu melepaskan tangannya yang kanan. ia sendiri menghampirkan kudanya. sembari tunduk. ―Kau toh telah mengalahkan anakku!‖ ia kata. Pengiringnya si kongcu tertawa dingin dan menyela. mana bisa kita memandangnya enteng?‖ Kongcu itu melengak. tetap ia memegang tubuh di nona. ―Aku telah melepas kata. tangan itu dipakai menangkis dan menangkap kaki orang. tapi ia menoleh kepada si nona yang ia awasi. tempo akhirnya ia bebas. air mukanya sampai berubah. Nona ini penasaran. ―Apakah yang hendak dibicarakan?‖ tanya kemudian. ―Kau…! Kau…!‖ katanya kemudian seraya menuding. dengan begitu. ―Sepatu ini toh anakmu yang dengan suka sendiri menghanturkannya kepadaku. ―Mari kita pergi sama-sama ke sana untuk berbicara. ―Anakku pun tidak nanti nikah dengan kau. Ini ada urusan seumur hidupnya manusia. ―Baik!‖ serunya. ―Ada apa sangkut pautnya denganmu?‖ Ia terus geraki tangan kirinya itu dan terlepaslah cekalannya Bok Ek. maka pengiring itu berkoak kesakitan. manusia hina dina! Bayar pulang sepatu anakku itu!‖ Kongcu itu mengawasi. sepatu siapa ia masuki ke dalam sakunya. untuk menaikinya. seketika ia roboh di tanah. beberapa giginya rontok. yang ia bawa ke hidungnya! Melihat itu.‖ ―Aku tidak sempat. ia suruh lain pengiringnya tolongi pengiring yang terluka itu. beberapa penonton bangsa bergajul. ia jatuh terduduk di tanah. ia tertawa besar.‖ ia menyahuti. Kongcu itu tetap tidak mengambil mumat. Ia tertawa. ―Tidak usah bicara lagi!‖ katanya.‖ berkata Bok Ek. Kongcu itu pun tertawa. ―Tidakkah itu sangat menarik hati? Tentang perjodohan. tangannya mencekali sepatu orang. ―Kau kira kongcu kami ini bangsa apa? Kongcu kami bersanak dengan kamu orang kangouw tukang jual silat dari kelas tiga rendah empat bawah? Hm! Pergilah kau tidur dengan mimpimu di siang bolong!‖ Bukan main gusarnya Bok Ek. ia sampai berdiam saja. Ia menjadi malu sekali. untuk menyerang kedua pelipis orang.

Selagi si kongcu hendak menaiki pula kudanya. sikap dan lagu suara itu telah diajoki kongcu mereka. untuk mengejek. dilain pihak. Mereka pun tidak berani mencampur tangan. dari berkesan baik mereka menjadi jemu dan membenci. Cumalah mereka bisa mendelu saja. tidak ada yang berani membuka mulut. Untuk membalas serangan dengan serangan. menyusul itu. Bok Ek tarik lengan kirinya. Kongcu ini terang selain ceriwis pun kurang ajar dan keterlaluan. pada bagian belakang telapakan tangan. akan mengasih keluar sebuah pisau belati dengan apa ia terus tublas dadanya sendiri. kali ini dengan kedua tangannya. sesudah mana dari samping. Irawan D Soedradjat Page 180 . lagi ia menyerang. Itulah salah satu jurus ―Eng Jiauw Kun‖ atau ―Kuku Garuda‖ dari ilmu silat Utara. ia berseru. ―Hari ini saku mesti mengadu jiwa dengannya. ia menyerang dengan tangan kanannya. atau aku tidak hendak berhenti!‖ Wajahnya si nona guram. tidak kelihatan ia menarik pulang tangan kirinya atau tangan kanannya sudah melakukan penyerangan pembalasan. Sebab belakang telapakan tangan dari Bok Ek telah berlumuran darah! Si nona menjadi kaget berbareng gusar.‖ Bok Ek berkelit ke kanan. ―Kau harus menikah dengan baik-baik dengan nona ini!‖ ia menjawab kongcu itu. guna robekannya dipakai membalut lukanya. orang tua. terus ia tertawa. lupa kepada tangannya yang sakit. Ia tidak lantas menginsyafi orang lagi permainkan padanya. ―Habis kau mau apa!‖ ia menantang. dengan tidak kalah sebatnya. ―Halo. Mereka lihat roman orang yang ketolol-tololan. Bok Ek kaget bukan main. agaknya dengan gampang saja ia mendak sedikit. mencelat mundur. Kwee Ceng melongo sebentar. sebab si nona tidak keburu membatalkan tikamannya. Para penonton menjadi mendongkol berberang berduka. ai memburu kepada ayahnya itu. Adalah Kwee Ceng yang tidak dapat melihat terlebih jauh. ia tangkis tublasan itu. kapan ia lihat anak muda kita. ia mendesak. menyusul mana ia menarik tubuhnya. Inilah pukulan ―Wie Hok Hong cu‖ atau ―Malaikat Wie Hok mempersembahkan toya‖. sepuluh jarinya berubah menjadi merah semuanya. Inilah mereka tidak sangka. ia bertindak ke dalam kalangan. lalu ia lolos dari bahaya. mendadak saja kedua tangannya bergerak. ia memandang tajam kepada si pemuda. Kongcu itu mengetahui orang seperti kalap. Bok Ek sudah lantas lompat untuk menerjang pemuda itu. ia membalas dengan sama hebatnya. Kongcu itu tidak memandang enteng kepada musuh ini. ―Bagaimana baru tepat?‖ Semua pengiring si kongcu tertawa ramai. untuk menolongi. sahabat! Perbuatanmu ini tidak tepat!‖ Kongcu itu berpaling. ia tertawa haha-hihi. ke arah kedua belah pipi. Bok Ek tolak mundur anaknya. Tiba-tiba tangannya merogoh ke sakunya. Ia robek ujung baju si ayah. maka sekarang ia terlukai anaknya itu. maka dengan sebat ia berkelit. ia tercengang. guna melindungi mukanya. ―Jikalau aku tidak sudi nikahi dia?‖ dia tanya. Para penonton berseru kaget.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau aku telag hajar roboh padamu. kau tentunya tidak bakal memaksa aku nikahi anakmu. Kongcu itu lihay. Si kongcu miringkan kepalanya. dan lagu suaranya pun beda dari lagu suara mereka. menyambar kedua tangannya Bok Ek itu. dua jari tangannya mencari pundak bagian yang kosong. dari situ ia menyerang pula. semua penonton menjadi panas hatinya. Tangan kirinya itu telah diangkat ke depan mukanya. tangan kirinya membalas menyerang perut dengan jurusnya ―Tok coa sim hiat‖ yaitu ―Ular berbisa mencari lubang. Tentu saja mereka menganggap itu lucu. Tapi cuma sebentar saja. ia hanya tidak menyangka semua serangan lawan sedemikian berbahayanya. bukan?‖ kata ia sambil tertawa. bahwa serangannya itu sangat berbahaya. dalam sikap ―Touw in hoat jit‖ atau ―Nyelusup ke mega menukar matahari‖. Kecuali bangsa bergajul. maka ia tidak mau main acuh tak acuh lagi. Ketika lawan itu berkelit. ―Kau minggir!‖ katanya sengit.

―Siapa guruku.‖ ―Habis. Kwee Ceng menjadi habis sabar. kau bayar pulang sepatunya si nona!‖ ia membentak. kenapa kau hendak pergi pula?‖ ia menanya. ia tertawa. Bok Ek hampairkan ini anak muda. di belakang hari ke mana lagi kau hendak mencarinya?‖ ―Eh. ia lompat kepada pemuda itu. tak dapat aku beritahu padamu!‖ ia jawab.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau kau tidak sudi menikah dengannya. mencekal kedua nadi si kongcu. tidak dapat aku memanggil mertua kepadamu. disamping ia mendongkol terhadap si kongcu. ―Bukankah aku telah beri nasehat kepadamu untuk kau nikahi nona ini?‖ kata Kwee Ceng. yang semuanya terdiri dari tujuh puluh dua jurus. bicara denganmu sia-sia saja!‖ kata si kongcu. ―Eh. Kongcu itu menatap. dengan sebat ia tarik tangannya kongcu itu. ia hanya mengawasi dengan tajam. siapa yang ajarkan kau ilmu menotok istimewa dari pulau Tho Hoa To it?‖ si kongcu masih menanya. Ia telah gunai salah satu tipu dari ilmu silat Kim-na-ciu. Ia berontak tetapi tidak berdaya. ―Apakah kau tidak lihat itu merek bendera yang menjelaskan pibu untuk pernikahan?‖ Kongcu itu tidak menjawab. Kongcu itu tertawa dingin. untuk berjalan pergi. ―Bukankah kau menaruh hati kepada nona itu?‖ ―Bukan!‖ jawab Kwee Ceng. ―Kau mau mampus?!‖ tanyanya. sebelah kakinya menendang ke bawahan perut si anak muda. ia bebsa dari tendangan orang itu. masa bodoh!‖ berkata itu pemuda yang lantas memutar tubuhnya. jangan kau ladeni dia!‖ dia berkata. Sajak tadi ia mendengari orang pasang omong. sakit hati ini tidak dapat tidak dilampiaskan!‖ Terus ia kata dengan suara nyaring: ―Anak muda. yang menggeleng kepalanya. 181 Kongcu itu terkejut berbareng gusar. dia buka tindakannya yang lebar. ―Aku tidak mau memberitahu‖ jawab Kwee Ceng pula. ―Aku sudah bilang. Ilmu silat itu adalah untuk menangkap tangan lawan. hanya ia pun balik menanya. Ia Cuma merasa orang masih terlalu muda dan belum mengenal dunia. kenapa kau tidak sudi menikah dengannya? Jikalau kau tidak hendak menikah sama nona macam vegini. ―Aku tidak tahu Oey Yok Su itu orang macam apa. Kwee Ceng ulur tangannya untuk mencegah. kau tidak mengerti urusan. ―Kalau begitu. ―Nona ini cantik dan ilmu silatnya pun sempurna. ―Asal nyawaku masih ada. ―Kau sebenarnya murid siapa? Kau memanggil apa kepada Oey Yok Su dari pulau Tho Hoa To?‖ Kwee Ceng menggoyangi kepalanya. ―Saudara kecil. apa perlunya kau maju dalam pertandingan?‖ Kwee Ceng tanya. . ―Sebenarnya kau hendak main gila denganku atau bagaimana? dia tanya tegas kemudian. kau tinggalkan she dan namamu!‖ Kongcu itu berpaling. maka kenapa kau begini melit hendak mengetahui she dan namaku?‖ ia bertanya. hingga orang terlempar tubuhnya. ―Siapa itu gurumu yang kedua?‖ tanya kongcu itu kemudian. tahu ia bahwa anak muda ini baik hatinya dan berpihak padanya. ―Baiklah. Sampai di situ.‖ menjawab Kwee Ceng. ―Habis kenapa?‖ kata si kongcu lagi. Kwee ceng tidak menjawab. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng tidak menangkis atau berkelit. ―Ilmu menotok jalan darahku itu adalah guruku yang kedua yang mengajarkannya. ―Kau gemar campur urusan bukan urusanmu!‖ ia berkata. dengan begitu. ―Sebenarnya kau hendak membayar pulang sepatu itu atau tidak?‖ Dengan mendadak saja anak muda ini menggeraki kedua tangannya.

ia tertawa tawar. . Tiba-tiba saja ia merasakan sakit pada dadanya. maka dalam sekejap saja. Hanya sampai sebegitu jauh. Pertempuran itu merupakan satu pengalaman luar biasa untuknya. Syukur untuknya. Kwee Ceng lantas aja singkirkan jubah sulam yang menungkrup kepalanya itu. ―Kau tidak mau nikahi dia. Karena ini keduanya menjadi terpisah. akan tetapi ia dipaksa menyerahkan sepatu si nona. jubahnya itu dilayangkan sekali. kau bayar pulang sepatunya itu!‖ Orang banyak menyangka pemuda ini hendak membelai keadilan. Si kongcu lantas menggunai ketikanya. Hanya dengan begitu. dengan mengasih dengar suara ―Bruk!‖ ia roboh memegang tanah! Semua pengiringnya si kongcu lantas bertepuk tangan dan tertawa. itu cocok dengan keinginannya. dengan tendangan beruntun Wanyoh Lian-hoan-twie. maka dia segera maju seraya tangan kirinya dipakai menyerang ke pundaknya si pemuda. ia menjadi gusar sekali. baik kau pulang dulu untuk belajar lagi sama gurumu sedikitnya buat duapuluh tahun!‖ ―Lihat kepalan!‖ ia berseru sambil menyerang. ia hanya menjalankan napasnya. pemuda kita merasa kegelapan mata. Ia berkelit. ia menggeleng kepala. Tujuh tendangan ia bisa kasih lolos. Bab 17. akhirnya cuma sebegitu saja sikapnya. semuanya cepat dan hebat. Ia berlompat bangun kapan ia lihat orang kembali hendak ngeloyor pergi. Kwee Ceng gelagapan. Kongcu itu kena tertendang. tetapi yang kedelapan dan kesembilan. ia kewalahan. mereka tidak ayana. mulutnya mengasih dengar tertawa dingin. Ia menjadi gusar sekali. Kwee Ceng mengawasi. ―Buat apakah aku bertempur denganmu?‖ ia berkata. Tidak sempat ia mengempos semangatnya. Kwee Ceng menangkis. ia berklit dan berlompatan tiada hentinya. maka tempo kakinya disambar. ―Dengan kepandaian begini kau hendak mencari balas untuk orang lain?‖ ia mengejek. atau ia menjadi kaget. Ia merasa asing untuk kelakuan curang. sudah saja. bahwa orang tidak ingin berkelahi. ia melakukan pembalasan. sebab si kongcu sudah tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu. Kongcu ini jeri juga terhadap Kwee Ceng. Irawan D Soedradjat Page 182 Kwee Ceng tidak menyahuti. Dalam pada itu. lalu perlahan-lahan ia melihat perubahan. ia tidak terluka. Inilah pelajaran yang ia wariskan dari Ma Ong Sin Han Po Kie di Malaikat Raja Kuda. ia cuma terjerunuk. ia sadar akan dirinya. hingga ia merasakan sakit di dadanya itu berkurang. ia Cuma terpelanting. walaupun ia telah terlempar. Justru itu dua kali iganya kena dihajar. bocah?‖ ia berseru. Bagus untuknya. Karena ini ketika ia didesak. maka tidak membuat tempo lagi. walaupun ia terhajar hebat. ―Apakah kau hendak pergi?‖ menegur Kwee Ceng seraya menyambar jubah orang itu. karena berberang ia berkelit. Kwee Ceng belum mendapatkan kesempurnaannya. Mereka yang gemar menonton menjadi kecele. tidak sampai ia mencium tanah. dipakai menungkrap kepala orang. Pangeran Wanyen Kang Kena dihajar secara demikian. Ia menjadi kaget dan mendongkol. ia tak sampai tertendang roboh. ―Kau sudah bosan hidup. ia cuma merasakan sangat sakit.Pendekar Pemanah Rajawali Kongcu itu enteng sekali tubuhnya. telah mengenakan kempolannya kiri dan kanan. tidak patah tulang-tulang rusuknya. ia telah kalah satu babak. Kongcu itu menjadi repot. ―Hm. selama dua tahun ia telah peroleh latihan tenaga dalam dari Tang Yang Cu Ma Giok. Mulanya di Mongolia ia menghadapi orang-orang jujur. ia memutar tubuh. dengan ilmu mana Han Po Kie pernah robohkan beberapa jago dari Selatan dan Utara. mana dapat ia mengalah: Tidakkah ia berada di hadapan orang banyak? Maka itu seraya menyingkap jubahnya. ia dapat menendang terus-terusan sembilan kali. Kongcu itu tepuki kempolannya yang penuh debu.

Kongcu ini pernah juga menyakinkan Hun-kin Co-ku Ciu hanya pelajarannya beda daripada pelajaran Kwee Ceng yang didapat dari Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong. Ketika ini digunai si kongcu. dari itu. Karena dicaci begitu. kalau datang polisi. pemuda itu bukan lawan si kongcu. Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu. dari belakangnya datang serangan. Bok Ek jadi merasa tidak enak hati. mendapatkan tiga kali Kwee Ceng roboh. yang menangkis dengan tangan kiri. malah tinjuan itu dilakukan saling susul hingga tiga kali. Bok Ek menonton dari bawah benderanya. Ia juga berkhawatir untuk Irawan D Soedradjat Page 183 . kakinya dibarengi dipakai menendang dada lawannya. mati kita pergi. Kedua tangan lantas bentrok. Kwee Ceng tidak menyahuti. ―Eh. Kongcu itu dapat berkelit. Pertempuran seru itu ditonton semakin banyak orang. Kwee Ceng menyedot napas. tetapi sikutnya mengenai tanah. Tiba-tiba ia rasai tenaga lawan lenyap. Kwee Ceng berkelit. Maka tidak ampun lagi. sudah membarengi menyerang dengan tangan kanan kanan ke arah pinggang. tidak lagi ia kena dipancing. ia rubuh ngusruk. buat terus ditarik dengan kaget sambil berbareng kakinya dipakai menjejak paha si pemuda. ―Kalau tidak.Pendekar Pemanah Rajawali Dengan mendak. Selama tujuhpuluh jurus. maka setelah dikasih bangun. mereka berimbang dengan ketangguhannya. untuk mengasih bangun. tubuhnya terhuyung ke depan. ia ditertawai sekalian pengikut si kongcu. Kelihatan nyata. untuk memegang tangan orang yang kanan itu. ―Aku tidak kenal dia. ―Kau pulangi sepatu orang!‖ bentak Kwee Ceng. tetapi ia tidak tahu. ia ingin membalas. kau masih belum takluk?‖ berkata si kongcu. ia maju pula. untuk mencari kemenangan. Habis itu. jangan salahkan aku berlaku kejam!‖ kongcu itu mengancam. Menampak demikian si kongcu menggunai akal. untuk menyerang. ―Kau pergi!‖ berseru si kongcu. ia bisa dapat susah. Si kongcu menangkis. lalu ia membalas. Ia tahu. selagi begitu ia masih tetap menolak. dengan cepat ia mencelat bangun. ia membela diri dengan berlaku hati-hati. Si kongcu sendiri merasa lucu berbareng mendeluh. Ia tahu sekarang. ia menangkis dari belakang. ia kalah pandai tapi ia bersemangat. maka kewalahan juga si kongcu. ia lantas menyerang. ia cuma mendongkol. Tiba-tiba ia ingat bahwa ia tidak bermusuhan sama si kongcu. hanya ia merangsak. tangan kirinya menyambar ke muka orang. mereka saling menolak. yang tangannya menolak keras. Maka adalah diluar dugaannya ketika si kongcu. Kwee Ceng tidak tahu lawannya lagi memancing. hanya setelah itu. Ia pun kata: ―Lao-tee. Ia berlaku sangat sebat. Itulah cacian di antara orang Pakhia. Ketika ia bisa menahan dirinya. ia lantas maju. Lukanya telah dibalut rapi oleh putrinya. aku tidak mau mengerti!‖ Kongcu itu tertawa melihat orang berkukuh. yang menang seurat. ia lepaskan diri dari tangan Bok Ek. dalam keadaan sulit itu. tubuhnya sekalian diputar. ia hendak mengerahkan tenaganya. ia didesak oleh si pemuda yang bersilat dengan ―Hun-kin Co-kut Ciu‖ yaitu ilmu silat untuk memisah otot-otot dan tulang. Kali ini pemuda ini berlaku waspada. ipar. ―Bukankah nona itu bukan adikmu?‖ ia bertanya. maka itu. ia menjadi gusar sekali. Ia hendak menotok jalan darah hian-kiehiat. mereka menjadi bergumul pula. kongcu itu berkelit. Kwee Ceng melawan. tak sempat ia menahan dirinya. pemuda itu terguling jatuh. siapa bilang dia adikku!‖ Ia gusar sebab kongcu itu ejek dia sebagai toaku. tenaga dalam Kwee Ceng terlatih besar tetapi si kongcu menang latihan ilmu silatnya. Tidak dapat Kwee Ceng bertahan. keduanya bertempur terus. romannya ketolol-tololan. ―Tolol. ―Kenapa kau seperti hendak mengadu jiwa memaksa aku menjadi toakomu!‖ ―Kurang ajar!‖ mencaci Kwee Ceng. Ia sudah terjerunuk melewati lawannya. ―Jikalau kau tetap ganggu aku. awas!‖ ia berseru seraya menyerang. jangan kita layani segala manusia hina!‖ Kwee Ceng roboh dengan mata kabur dan kepala pusing. ia lantas geser incarannya ke sisi sasanan semula. sedikitnya ia bakal diseret ke kantor pembesar setempat. Maka itu mereka menjadi berimbang. dengan menggeser pinggangnya. seraya mundur.

―Haouw Laotee. bukan?‖ ia berkata. kecewa kalau itu tidak dipertontonkan di muka orang banyak. Orang disebutnya siauw-ongya dan ongya. ―Umpama kau sendiri. saudara Nio. itulah ilmu silatnya kaum agama Coan Cin Kauw. segera ia lihat. Si ubanan sudah lantas mengawasi kedua anak muda yang lagi bertempur itu. Dia berdiri tegar hingga ia melebihkan tingginya semua orang. kalau mereka bertempur terus dan siauw-ongya salah tangan hingga ia terluka. Si rambut putih tertawa. matanya mencorong tajam. Haouw Laotee. kau lagi uji mataku. dari partai mana asalnya ilmu silat si bocah itu?‖ ia tanya. kopiahnya disalut emas. Di sebelah mereka.‖ berkata seorang di pinggiran. sia-sia saja beberapa kali siauw-ongya menyerang padanya.‖ Bok Ek pandang ornag itu. Irawan D Soedradjat Page 184 . mengawasi mereka. Maka juga. Dia pun bermata tajam. Orang yang kedua sudah lanjut usianya.‖ sahut si kate kecil itu kemudian. benar juga. Ia kata di dalam hatinya: ―Dia memanggil Pheng Ceecu. ―Siauw-ongya lebih lihay daripada lawannya itu!‖ Orang ini kate dan kecil akan tetapi suaranya mengejutkan.‖ berkata si kate kecil. tubuhnya sedang saja. dan tidak keriputan. dia tidak menjawab. tukang jual silat ini terkejut hatinya. Kalau begitu. Si rambut putih tertawa. yang bicarakan silat kedua anak muda itu. nampaknya sangat gesit. Adalah si rambut ubanan yang berkata sambil tertawa: ―Paling juga kakimu dikemplang patah! Mustahil ongya hendak mengehndaki jiwamu?‖ Bok Ek terperanjat. hingga mereka lekas-lekas melengos. Dengan perlahan-lahan Bok Ek menggeser ke tempat pengiring-pengiringnya si kongcu. mukanya pun bersinar merah. hingga beberapa orang disampingnya menjadi terkejut. bencana akan datang kalau sampai siauw-ongya itu terluka. Karena romannya yang luar biasa itu. sungguh aneh!‖ kata si kate kecil itu. Dia tentu tidak senang ada orang yang membantu padanya…‖ ―Eh. Yang satu adalah satu pendeta bangsa Tibet. ―Bukankah kaum Coan Cin Kauw itu bangsa aneh? Kenapa mereka justru mewariskan kepandaiannya pada siauw-ongya…?‖ ―Ongya pandai bergaul. si muka biru dan kurus itu sudah berlompat maju ke tengah kalangan seraya ia berseru: ―Hai bocah. ―Leng Tie Siangjin. sebab rambutnya sudah putih semua. Kau biasa menjagoi di dua propinsi Shoatang dan Shoasay.Pendekar Pemanah Rajawali banyaknya orang. ―Baik kau maju dan hajar bocah itu. ialah gerakannya jadi ayal tapi tubuhnya terjaga rapat. mungkinkah si kate kecil ini adalah kepala berandal? Nama Kanglam Cit Koay sudah lama tidak terdengar. siapa saja tak dapat ia undang?‖ kata pula si rambut ubanan itu. yang mukanya kurus dan sinarnya biru. Dia tersenyum. ―Kelihatannya kepandaiannya itu kacau. ada yang bertaruh untuk siapa yang bakal menang. Orang yang ketiga bertubuh kate dan kecil. coba lihat. ―Haouw Laotee.‖ ―Sungguh begitu. semua pada berpaling memandang dia. Suara itu nyaring. coba bilang. ―Kalau mataku tidak salah. apa benar mereka masih hidup?‖ Selagi Bok Ek berpikir. ―Ilmu silat siauw-ongya itu ada dari partai mana?‖ Kali ini ia berbicara dengan perlahan. dia tentu bukan satu gurunya. hilanglah jiwa kami semua…‖ Itulah se pendeta Tibet yang ditegur. ―Bocah ini adalah muridnya Kanglam Cit Koay. tak bisa diduga usianya yang tepat. jubahnya merah dan gerombongan. di jidatnya ada tiga tahi lalatnya. Tidakkah di antara pengiringpengiringnya si siauw-ongya adalah orang-orang yag gagah dan lihay?‖ ―Jangan takut!‖ berkata si orang kate dan kecil. kau ke sini!‖ Dia pun menarik keluar sebatang kongce atau cagak dari dalam sakunya. ada juga yang membekal senjata. yang matanya bersinar. ―Pheng Ceecu benar. diantara mereka itu ada tiga orang yang menarik perhatiannya. kenapa kau juga berada di istana ongya?‖ Si kate kecil itu mengangguk. i antara siapa ia tampak beberapa yang matanya tajam dan air mukanya luar biasa.‖ berkata satu pengiring. Ia dapatkan Kwee Ceng berubah silatnya. dia pun berkata: ―Siauw-ongya telah belajar ilmu silat belasan tahun. pangeran muda dan pangeran. hanya mukanya bercahaya segar. tubuhnya besar.

tapi senjata itu tidak dihiraukan Oey Yong. untuk angkat langkah panjang.‖ ia pikir. pada pipinya yang kiri dan kanan. kalu ditakut-takuti. adalah Nio Cu Ong. dia hanya maju ke antara orang banyak. membuatnya orang banyak saban-saban tertawa riuh. ialah Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. hingga ia dijuluki Som Sian Lao Koay. ketua dari partai Tiang Pek Pay dari Gunung Tiang Pek San. ia khawatirkan keselamatannya Oey Yong. Ia nyelusup sana dan nyelusup sini di antara orang banyak. tangannya menggapai berulang-ulang. berulang-ulang ia tikam bebokong orang yang ia kejar itu! Oey Yong sangat lincah. tidak tampak. tetapi justru ia hendak melompat lari. Leng Tie itu adalah paderi dari Tibet. Itu waktu barulah Kwee Ceng menginsyafi bahwa sebenarnya Oey Yong itu lihay ilmu silatnya. tambah tanda tapak lima jari tangan. Dewa Jinsom-Siluman Tua. kapan anak itu dapat lihat dia. Terang sudah dia telah kena ditampar oleh lawannya yang licin itu.kangzusi. ia mengejar.Pendekar Pemanah Rajawali Orang banyak terkejut. setiap kali ia dapat pisahkan diri jauh-jauh dari lawannya. tanda arang hitam. sepatu kulitnya diseret hingga berisik kedengarannya. ―Peng Lian Houw datang!‖ tentulah berhenti tangisnya. Mukanya Hauw Thong Hay. ―Aku hendak pergi sebentar. Ia berteriakan. ai terkejut. ada yang berteriak. ditimpali sama kalapnya Thong Hay. Thong Hay mengejar terus. selalu dapat ia kelit tubuhnya. semuanya tajam. namanya Pheng Lian Houw. menyebabkan rombongannya Leng Tie Siangjin memperbincangkannya. kapan ia lihat siapa yang dikejar Thong Hay. Kwee Ceng sedang bertempur. dia menjerit ―Ayo!‖ seraya terus memutar tubuh. Oey Yong menanti sampai orang sudah datang dekat. Julukan ini harus dipecah dua: Siapa yang menghormati dia. Segera juga orang banyak tertawa riuh. paman gurunya Hong Ho Su Koay. Di selatan www. kawannya yang ubanan tapi mukanya tampak segar bagai muka anak kecil. sahabat barunya. Merekalah tiga Siluman dari Hong Ho. ia heran atas itu suara bentakan. setelah datang dekat.com dan utara Sungai Besar. si Siluman Tua. tiba-tiba ia tampak sahabatnya itu lari mendatangi. di bawah cahaya matahari. dan anak-anak yang lagi nangis. yang ia tinggalkan lalu ia berdiri diam. Pembunuh Sribu Tangan. terlihatlah datang memburunya tiga orang yang napasnya tersengal-sengal. julukannya Cian-ciu Jin Touw. Tapak Tangan yang lihay. Siluman yang keempat. menyebut ia Lao Koay. keistimewaannya ialah ilmu Tay-ciu-in. Karena ini. ia diikuti empat orang lainnya yang bukan lain daripada Hong Ho Su Koay. dibelakangnya. Kelakuan Hauw Thong Hay itu. ―Jikalau aku tidak berhasil menggeset kulitmu dan mematahkan tulang-tulangmu. sekalipun wanita umumnya kenal namanya itu. Dalam saat itu. yang pakaiannya compang-camping. mulutnya mencaci kalang kabutan. ia sudah lantas kena ditendang si kongcu. memanggilnya Som Sian. Di belakangnya tampak Thong Hay tengah mengajar tengah mengejar. untuk membantu Kwee Ceng. kembali ia lari. pikirannya lagi kusut. Hauw Thong Hay bukan menyerang Kwee Ceng. Dia pun terus tertawa. Kwee Ceng tidak berniat berkelahi terus. Kongce itu ada cagak tiga. dari partai Cong Gee. sinarnya berkilauan. Ia tetap awet muda sebab sejak masih kecil ia doyan makan jinsom serta lainnya pohon obat. aku Sam-tauw-kauw tidak sudi menjadi manusia!‖ Thong Hay sesumbar. dan siapa bukan orang-orang partainya. Irawan D Soedradjat Page 185 . ―Bagus perbuatannya. Dan orang ynag matanya tajam bagaikan kilat itu adalah orang ynag sangat terkenal di Tionggoan. ―Mari! Mari!‖ Oey Yong menantang. sinar itu ditimpali tiga gelangnya yang bergerak dan berbunyi nyaring setiap kali digeraki. Kelakuannya ini. ―Tahan dulu!‖ ia berseru seraya lompat keluar kalangan. Pemuda dengan pakaian tidak karuan itu adalah Oey Yong. bahwa ialah yang selama di hutan cemara Hek-siong-lim di Kalgan sudah menggantung Hong Ho Su Koay di atas pohon dan memancing kepada Hauw Thong Hay. menoleh dan mengejek. Song-bun-hu Cian Ceng Kian. Bok Ek pun tidak kurang kagetnya. tapi ia segera bersiap. yang dipermainkan Oey Yong. di antara siapa ada satu anak muda yang tubuhnya kurus lemah. Dewa Jinsom. Tentu saja ia tidak kenal si orang ini. segera aku kembali!‖ ―Lebih baik kau mengaku kalah!‖ mengejek si kongcu.

dia sangat letih. onghui ialah selir seorang pangeran atau raja. dengan apa mukanya si siauw-ongya disusuti. ia hampirkan Kwee Ceng untuk dihiburkan. untuk singkirkan peluh dan debunya. lantas terdengar suaranya seorang wanita. pakiaannya menjadi tidak karuan macam: Baju di dadanya robek putus. Suara itu seperti mengaung di kupingnya. Siauw-ongya telah robohkan Kwee Ceng lima-enam kali. Oey Yong dan Hauw Thong Hay saudh lenyap pula. si wanita masih mengucapkan beberapa kata-kata. lalu terlihat Oey Yong berlari-lari kembali dengan tetap dikejar oleh Hauw Thong Hay. ―Siapakah telah pergi membawa berita kepada ong-hui!?‖ Tidak ada berani ynag menjawab. hingga si penjual silat ini tak dapat mendengarnya dengan tegas. orang banyak itu lantas saja mundur ke kedua pinggir jalan. pertempuran di antara Kwee Ceng dan si siauw-ongya. mari kita pulang bersama!‖ kata si onghui kembali. Semua orang banyak. suara yang halus: ―Kenapa berkelahi? Baju luar pun tidak dipakai! Nanti masuk angin!‖ Bok Ek dapat mendengar tegas sekali suara itu. mereka lantas dengar bentakan-bentakan riuh yang datang dari arah barat. maka kenapa hari ini orang she Hauw itu jadi demikian tidak berdaya? Selagi Oey Yong permainkan Hauw Thong Hay. Menyausul rombongan hamba-hamba galak itu. Dari dalam joli. yang halus dan perlahan. Ia berpikir pula: ―Orang ini adalah onghui dari negeri Kim. dia bungkam. ―Benarkah di kolong langit ini ada dua orang yang suaranya sangat mirip satu dengan lainnya?‖ ia menanya dalam hatinya. Dia bersahabat erat dengan Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian si Raja Naga Pintu Iblis. lari mendatangi dengan napas memburu. pangeran muda. mereka menjadi tertarik untuk menonton terus. ―Tidak apa-apa…‖ ―Lekas pakai bajumu. Ketika mereka ini datang dekat. Tangannya Oey Yong sambil mengibar-ibarkan dua potong kain. mereka sudah dengar ramainya tindakan kaki serta berisiknya gelang konce.‖ terdengar suaranya pangeran muda itu. semua pengikut maju untuk memberi hormat. sering mereka ―bekerja tanpa modal‖. telah aku dengar nama besar dari Kwie Bun Liong Ong. Tapi. Justru itu. dengan cambuk di tangan. Segara juga joli telah sampai di lapangan pibu. untuk beristirahat. yang menjadi penonton. Jauh di belakang mereka terlihat Gouw Ceng Liat serta Ma Ceng Hiong. sampai satu bocah pun dia tidak sanggup layani?‖ Pheng Lian Houw mengkerutkan keningnya. untuk mendekati joli indah itu. sembari berbuat begitu. kenapa adik seperguruannya ini begini tidak punya guna. apakah aku sudah pikun? Sungguh gila untuk memikir yang tidak-tidak…‖ Tidak dapat ia lantas melenyapkan pikirannya itu. Dipihak lain. kepada orang banyak. dan ia tahu baik Houw Thong Hay lihay. ―Rewel!‖ ia menggerutu. heran berberang merasa lucu. yang satu bersenjatakan tombak. ―Ibu. ia menjadi diam sambil berpikir keras. hingga kelihatan baju dalamnya yang putih. ―Ong-hui datang! Ong-hui datang!‖ pengikut-pengikutnya si siauw-ongya berseru berulang-ulang setelag mereka melihat joli itu. ―Kenapa suara ini sama suaranya orangku ini?‖ katanya di dalam hatinya. yang memegang sapu tangan putih. bahwa ia lihay sekali. yang mereka usir pergi. Irawan D Soedradjat Page 186 . terlihatlah enam orang menggotong sebuah joli besar yang indah. dari dalam joli diulur keluar sebelah tangan yang putih dan halus. aku memikir kepada istriku. maka ia bertindak. dengan sapu tangannya. Kembali si Bok Ek terperanjat. untuk diajak pulang ke penginapannya. Siauw-ongya lantas mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia tertawa sendirinya. Maka itu. lalu mereka tampak belasan orang polisi serta pengiring. Mungkin si saiuw-ongya ditegur dan dihiburi oleh onghui ini. ia susuti peluhnya. telah berhenti. lagi menyerang kalang-kabutan ke kira dan ke kanan. Kebetulan itu waktu. hatinya tercekat. belum kebeuru mereka berangkat. dia pun berdahaga dan lapar. Bok Ek telah kasih turun bendera Pie-bu Ciauw-cin. aku senang bermain-main. yang tertutup rapat. yang lainnya ruyung.Pendekar Pemanah Rajawali Berkatalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong: ―Selama aku di Kwan-gwa. Hauw Thong Hay sebaliknya. yang terus berdebaran. tangan dan kakinya dirasakan ngilu.

Maka itu. satu kakinya menyapu. Selama itu. ia dapat melayani pukulan berulang-ulang kepada tubuhnya itu. Kwee Ceng dirobohkan dua kali. Bok Ek berdiri menjublak bagaikan patung. lalu ia membalas memukul paha siauw-ongya. keduanya jadi bertempur lagi. lawannya yang lincah dan licik itu. maka kali ini. Orang senang melihat kejadian itu. tidak dapat tidak. sebaliknya mereka merasa. dua kali ia kena dibikin memegang tanah. mengawasi kedua anak muda yang lagi bertarung itu. satu demi satu. sembari berbuat begitu. terus saja menghajar ke arah kepala si anak muda. yang lain hendak mencekik. ia dapat melihat satu wajah dengan sepasang mata jeli dan rambut yang bagus. Tapi Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu. lalu dilemparkan saling susul. ―Siapa suruh kau menganiaya rakyat jelata!‖ ia menegur. berbareng dengan itu. Tidak ampun lagi. Thong Hay hendak menjual kepalanya itu! Ia hanya tidak tahu bahwa ia telah dipermainkan oleh Oey Yong. ini hari aku mesti labrak dia ini!‖ Setelah belasan jurus. hingga mereka menduga-duga. Maka tempo tenda tersingkap. Sebaliknya siauw-ongya biasa hidup di istana. siauw-ongya itu berkelahi dengan hebat sekali. ada ditancapkan cauw-piauw atau tanda barang hendak dijual. ia rampas cambuk orang itu. Putrinya Bok Ek. ia maju. ―Jangan! Jangan berkelahi!‖ onghui berseru mencegah. Terhadap ibunya. tangan kirinya membangkol tangan lawan itu. ia membentur sikut kanan si pemuda agung. sungkan mereka mengepung Kwee Ceng. Inilah tidak heran sebab ia hidup di tanah gurun. Belasan serdadu maju. ―Kau masih berani main gila?!‖ tegurnya. ia tendang itu anka muda. ibu . untuk menolong apabila siauw-ongya benar-benar terancam jiwanya. onghui sampai berparas pucat. Siauw-ongya terkejut. Selagi bertempur. ia kalah ulet. ilmu menangkap yang terdiri ari tujuh puluh dua jurus. lalu ia menyerang. parasnya pun pucat. mungkin mereka telah kena dirobohkan pemuda itu. Di belakang mereka tidak tertampak dua Siluman. siauw-ongya itu agaknya tidak takut. sekarang di rambutnya Sam-tauw-kauw. Irawan D Soedradjat Page Semua orang kaget. ia menjadi lebih kosen. guna dipakai menyabet hingga tiga kali. bisa mereka mencegah Kwee Ceng menurunkan tangan jahat terhadap si pangeran muda. dia bukan menyerah kalah. dengan tangan kanannya. untuk merabu otot dan tulang musuh. malah ia seperti termanjakan. yang satu hendak mematahkan tangan. untuk tolongi dua serdadu yang dilemparkan paling belakang. atas mana. sepasang matanya terus diarahkan kepada joli indah itu. kedua-duanya saling terancam hilang jiwa atau terluka parah. ia menjadi ulet sekali. Ia pun menang ‗kang-lat‘ atau tenaga latihan. Mereka adalah orang-orang tua yang kosen. ia menyahuti: ―Tidak. Ular Naga Kepala Tiga itu.Pendekar Pemanah Rajawali Satu pengiring menjumput jubah sulam dari siauw-ongya. Siauw-ongya menjadi gusar. untuk menangkap lengan orang. rupanya ia hendak banggakan kegagahannya di depan ibunya. Nio Cu Ong bertiga menjadi heran. Bok Ek tidak pedulikan segala apa disekitarnya. Dengan begitu. ia pandang Kwee Ceng dengan bengis dan memdamprat: ―Binatang cilik! Lihat. mereka ditangkap si anak muda. Karena ini Leng Tie Siangjin dan Nio Cu Ong lantas menyiapkan senjata rahasia mereka. tetapi tempo mereka mulai menyerang Kwee Ceng. habis mana. Kwee Ceng mendahulukan. Kwee Ceng lantas terdesak lagi. siauw-ongya sebaliknya dengan Kim-na-ciu. berbareng dengan mana. 187 . dengan begitu berarti. Ia bertubuh kuat. Satu kali Kwee Ceng menyambar ke muka siauw-ongya itu. terus ia membalas meninju. sembari berkelahi. lengan Kwee Ceng kena dihajar satu kali. maka ia lantas terdesak. kau telah bikin kotor jubah ini!‖ Satu pengiring lain. yang tangannya mencekal cambuk. Oey Yong dan Thong Hay telah berlari-lari balik. Maka keduanya menjadi berkutat. ia termanja. Atas itu. pengiring itu roboh terguling. untuk menolongi kawannya itu. Ia berkelahi terus. Itu waktu. Kwee Ceng berkelit. Siauw-ongya berkelit. Mengawasi mata orang itu. Mereka jadi semakin sengit berkelahinya. sinar mata itu ayu sekali. Ia terus lompat. separuh mukanya keluar dari tenda. Kwee Ceng berkelahi dengan ilmu silat Hun-kin Co-ku-hoat. ynag tadinya numprah di tanah. berlompat bangun. ia membalas membangkol dan memegang leher lawannya itu. sebelah tangannya diangkat. Kwee Ceng berkelit. ia tidak dapat dirobohkan pula. Makin lama Kwee Ceng makin gagah. lalu tangan kanannya diteruskan untuk memegang leher lawan. kapan perlu. Oey Yong itu sebenarnya orang macam apa.

ia sambar tiang itu. ia lompat mundur. ia segera geraki tangan kirinya. Sekarang orang bisa lihat. Di sini ia gunai kesempatannya. ilmu mana diturunkan hanya kepada anak laki-laki. mental ke udara. Kwee Ceng menghindarkan diri. Yang menegrti ilmu itu. yang terus saja melibat tangannya si orang she Pheng itu. tiang bendera lantas terlepas dari cekalannya. ia menarik keras. Kwee Ceng kaget. Tiang bendera itu terlalu panjang. Maka sekarang mereka bertempur dengan bersenjata. yang kemudian berkata: ―Tuan. justru si anak muda lagi merayap bangun. Orang yang baru datang itu agaknya terperanjat. terus ia pakai menangkis. maka Kwee Ceng kena ditarik roboh hingga saling tindih. Bok Ek tetap perhatikan ilmu silat tombak dari siauw-ongya. Mendengar suaranya onghui. Kwee Ceng merasakan telapak tangannya sakit. terus ia kerahkan tenaganya. ia maju ke Kwee Ceng. yang pinggangnya ia peluk. Untuk tolongi dirinya. Ia berkelit dengan cepat. ynag bersilat denagn tipu Hang Mo Thunghoat. setelah mana. hingga benderanya berkibar-kibar bagus. tapi sebelum tubuhnya dilepas. tidak kepada anak perempuan. untuk melakukan penyerangan membalas. dengan tombak itu. sekonyong-konyong datang teriakan dari antara orang banyak: ―Perlahan!‖ Lalu terlihat melesetnya satu bayangan abu-abu perak disusul serangan semacam senjata. Pheng Lian Houw berpaling kepada si pangeran muda dan berkata sambil tertawa: ―Siauw-ongya. supaya dia jangan mengganggu terlebih jauh…‖ Sembari berkata. Siauw-ongya dilemparkannya. Nona Bok pun memperhatikan jalannya pertempuran. ia segera menarik pulang tanagnnya. terpaksa ia kembali bergulingan. atau satu pukulan telah menjurus ke mukanya. ia terguling roboh. dengan begitu. Dia ini sebat. Disaat anak muda ini terancam bahaya maut. ia sambar bajunya siuaw-ongya. terpaksa sambil bergulingan. ia berguling hingga ke dekat tiang bendera Pibu Tiauw-cin. akan aku bereskan dia ini. pengajaran dari gurunya yang pertama. Peng Lian Houw bertindak ke dalam kalangan. Habis itu sama sebatnya. tetapi lekas juga ia sambar Kwee Ceng. Nyata muka Kwee Ceng kena digaplok. Karena didesak tak hentinya. lengannya kena terhajar. akan tetapi. meskipun Kwee Ceng hanya bergenggaman tiang bendera. begitu keras. untuk bagian Selatan Tionggoan saja sudah jarang. Tapi ia masih sadar. ia angkat tubuh siauw-ongya. untuk menyampok tiang bendera. Itulah terang Yo Kee Ciang-hoat. sebab siauw-ongya merubah siasat. Diakhirnya terdengar teriakannya onghui: ―Berhenti! Berhenti! Jangan berkelahi lagi!‖ Karena nyonya agung itu mendapatkan putranya telah bermandikan keringat. maka heran kenapa di negara Kim ada yang dapat memainkannya itu? Ia terus mengawasi. Dengan menggulingkan tubuh. belum pernah ia menemui tandingan selihay ini. ia layani tombak musuhnya itu. hanya kebutan itu tinggal sepotong. kedua tangannya sakit. kurang tepat untuk Kwee Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali Disaat itu terdengar suara menggelepok. Seumurnya kecuali Bwee Tiauw Hong. ia memaksa menangkis juga. ia menyambar kedua kaki lawannya itu. tangannya mencekal sebatang hudtim atau kebutan. Hek Pian-hok Kwa Tin Ok si Kelelawar Hitam. ia ulur tangan kanannya ke arah kepala orang. tidak dapat ia mencegah mengucurnya air matanya. yang ia peroleh dari Jebe. hanya siauw-ongya berada disebelah atas. Atas itu. tangannya menyambar tombak di tangan seorang serdadu yang berada dekat dengannya. makin lama ia menjadi makin heran. Kwee Ceng merasakan matanya berkunang-kunang dan kepalanya pusing. ia lantas saja kena didesak hingga ia mesti selalu membela diri. tetapi tidak urung. ia tidak terbanting. sepotong yang lain masih melibat ditangannya Lian Houw. yaitu ilmu tombak Keluarga Yo. lebih-lebih ia tahu. sesudah mana ia berlompat bangun. hingga senjata yang melibatnya ia terputus. hingga ia tercengang. ia dikam terus. Ia nyata telah menggunai ilmu silat bangsa Mongolia. Belum sempat ia memandang orang. sampai akhirnya ia merasa sedih sendirinya. hingga sukar untuk ia melompat bangun. tapi ia didesak. ia dapat mainkan itu dengan baik. untuk dilemparkan. ia sudah berdaya. Siauw-ongya tidak kenal permainan silat lawannya itu. sambil berseru. Kedua tangannya menyambar tanah. dengan cepat ia ayun tubuhnya itu. Keras pukulan itu. jubahnya warna abu-abu. ia juga agaknya berpikir keras. dia adalah satu tojin atau imam usia pertengahan. segera ia menikam Kwee Ceng. Setelah merobohkan bocah itu. lagi dua kali. Anak muda itu terkejut. dia lompat. hingga serangan itu batal. Tetapi Lian Houw tidak diam saja. Ia terus mengawasi pada Lian Houw. Tidak ampun lagi. adakah kau Irawan D Soedradjat Page 188 .

batal ia untuk main gila. orang yang tingkat derajatnya terlebih tua. ketika ia memutar tubuh. atau mendadak matanya si imam bersinar tajam bagaikan kilat. terus ia menunjuk pada Kwee Ceng dan berkata: ―Pinto tidak kenal anak ini.‖ Dengan lantas siauw-ongya ini membahasakan diri ―boanpwe‖. sembari tersenyum. lalu ia menarik pulang.Pendekar Pemanah Rajawali Pheng Cecu yang namanya sangat tersohor? Hari ini aku dapat bertemu denganmu.‖ sahut Lian Houw. Ia lantas mengangguk. tetapi ia terlambat. lekas pulang!‖ demikain terdengar suara ibunya dari dalam joli. bagus benar perbuatanmu ya? Pada mula kali gurumu hendak mengajarkan silat padamu. Melihat tapak sepatu itu. Sedang di tanah utara ini. ―Hm. ―Hm!‖ Ong Cie It perdengarkan suaranya. pasti kita tidak kenal satu Irawan D Soedradjat Page 189 . karena ia tahu ia lagi berhadapan dengan satu cianpwee. justru berbareng dengan itu. ―Siapakah gurumu?!‖ Siauw-ongya itu telah merasa kurang enak hati. baru sekarang mereka menemui sendiri orangnya. ―Teecu terlalu memuji kepadaku. sedang orang pun dari Coan Cin Kauw. apakah ia telah bilang padamu? Apakah pesannya?‖ Wanyen Kang perlihatkan roman cemas. kalau gurunya ketahui perbuatannya.‖ berkata Ong Cinjin. Ia tidak menjawab. Sudah lama mereka ketahui hal imam ini. Ong Cie It menjura pula seraya menghanturkan terima kasih.‖ Melihat sikap orang yang demikian hormat. Tidak berani pinto menerima itu sebutan cinjin. Wanyen Kang benar-benar cerdik. ―Memang telah aku duga. Mereka dapatkan orang sungguh alim dan agung. di tanah lalu tertapak dalam. pinto mohon Pheng Ceecu memberi ampun kepada jiwanya. Ia berdiri diam dan menyahuti: ―Namaku Wanyen Kang. yang mereka tahu namanya tidak kalah daripada Tiang Cun Cu Khu Cie Kee. tidak nanti mereka mau percaya dia adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu si Dewa Kaki Besi yang pernah menakluki jago-jago di Utara. Maka itu. Dengan sabar. Anak ini dapat dengar panggilan itu. Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin mengawasi imam itu. orang dari tingkat lebih rendah. maka itu dengan besarkan nyali. ―Siapakah namamu?‖ ia menanya bengis. inilah hebat. tetapi karena injakan atau tindakannya itu.‖ ―Bukankah gurumu ada tanda tahi lalat merah pada pipinya yang kiri? Ong Cit It tanya pula. ―Memang benar. Nama guruku tidak dapat aku beritahukan padamu. hendak ia menjawab secara jenaka.‖ Semua orang lantas mengawasi kepada imam itu. hanya Ia ulur kakinya. Coba tadi mereka tidak telah menyaksikan gerakan yang gesit dan melihat itu tapak kaki. Peng Lian Houw suka berbuat baik. Imam itu menjura. untuk boanpwe anti mendengar segala pengajaranmu. Kaos kakinya yang putih serta sepatunya yang abu-abu bersih sekali. Ia dapat lihat suasana buruk. Peng Lian Houw terperanjat.‖ Peng Lian Houw. yang romannya toapan. maka hatinya terkesiap. pinto adalah Ong Cie It. terang totiang adalah satu cianpwee. ia sudah lantas menjura kepada Kwee Ceng. ―Aku mohon ketahui gelaran suci dari totiang. untuk dimajukan satu tindak. tanpa tunggu orang buka mulut lagi. maka itu sambil membalas hormat. Ia insyaf. ia berkata: ―Saudara Kwee. Ong Cie It tersenyum. ia memberikan persetujuannya. kau adalah muridnya Khu Suhengku itu. Sebenarnya ia sudah memikir untuk berlalu. kalau kita tidak bertempur. hatiku menjadi sangat tertarik. ―Anak. ia menghadapi si siauwongya dengan wajahnya keren sekali. tanah kering dan keras. lekas ia ubah sikapnya. ia berkata: ―Totiang kenal guruku itu. sungguh aku merasa sangat girang!‖ ―Tidak berani aku menerima yang namaku yang rendah dijunjung sedemikian tinggi olehmu. yang kumis dan janggutnya terbelah tiga. hanya karena kemuliaan hatinya dan kegagahannya berusan. begitu juga Som Sian Lao Koay. ia mendapat satu pikiran. oleh karena itu boanpwe mohon sukalah totiang datang ke rumahku. Wanyen Kang tertawa hihi-hihi.‖ ia menyahut. ―Jadinya totiang adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu Ong Cinjin?‖ ia menanya.

ia hanya menunjuk kepada Bok Ek dan gadisnya serta bertanya: ―Bagaimana urusan jodohmu dengan nona itu?‖ Wanyen Kang menjadi likat. untuk diajak pergi. Maka itu. hingga dilain saat mereka sudah tinggalkan orang banyak itu dan tengah menuju keluar kota. lantas saja ia berkata sambil tertawa: ―Aku tidak kenapa-kenapa! Sebentar aku pergi mencari padamu…!‖ Baru ia mengucap. Selang lagi beberapa lie. aku pun minta suka kau bersama totiang berkunjung ke rumahku. Di sini si imam berjalan semakin cepat. ia dapat manjat puncak.‖ ―Aku hendak menantikan dulu sahabatku…‖ Kwee ceng menjawab. tiba-tiba ia melepaskannya. ―Engko Kwee kecil. ―Totiang. Mendengar itu Ong Cie It menjadi girang sekali. tibalah mereka di belakang sebuah puncak buklit. Kwee Cneg tahu di antara adik seperguruan dari ma Giok ada yang bernama Ong Cie It.‖ katanya. dari itu. ia bisa berlari-lari tanpa napasnya memburu atau hatinya berdenyutan. Ilmu silat kau saudara. bagus!‖ katanya. Ong Cie It cekala tangan orang. tubuhnya enteng. yang pun ia kasih lari ke antara orang banyak. kemudian ia menyelinap di antara orang banyak itu. Ong Cie It tidak bilang suatu apa. Ong Cie It mendongkol untuk sikap keagung-agungan itu. tidak mau ia mendusta. Belum berhenti suaranya bocah ini. ―Hal itu kita perlahan-lahan saja kita bicarakan pula. ―Dasarmu tidak jelek!‖ ia berkata dalam herannya itu. ialah ini imam. Ia memang bertubuh kecil dan lincah. Kwee Ceng tertawa di dalam hati. Bok Ek tarik tangannya Kwee Ceng. Sukalah kau kalau kita mengikat persahabatan?‖ Kwee Ceng tidak menjawab. Ia terperanjat dan mengawasi bocah itu. ia mengawasi imam itu. ia hanya menjura pula kepada Ong Cie It seraya berkata: ―Totiang. Ia menyebutkan Kanglam Cit Koay dan Ma Giok. ―Orang dengan siapa tadi kau bertempur. ia cuma tertawa saja. ―Sekarang aku tidak usah mengkhawatirkan apa-apa lagi!‖ Kwee Ceng heran. Irawan D Soedradjat Page 190 . sebentar saja mereka sudah berada diluar kota. ―Siapakah gurumu?‖ Ong Cinjin menanya lagi. hingga mereka itu berlari-lari untuk menyingkir dari bahaya kena diterjang kuda. Memang ia hendak menguji enteng tubuhnya si bocah. maka itu. dan dibawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok. Melihat si Ular Naga Kepala Tiga ini.‖ Habis berkata begitu. aku sangat mengaguminya. ―Engko kecil. Sampai sebegitu jauh. bownpwe menantikan segala kehormatan atas kedatangan totiang ke rumahku. ia lantas menjatuhkan diri di depan Ong Cinjin. banyak-banyak terima kasih. Cepat tindakannya si imam. kau tahu atau tidak? bertanya si imam.‖ ia berkata. ia cekal tangan si bocah. Mendengar itu.Pendekar Pemanah Rajawali sama lain. mari kita pulang!‖ berkata ia. terus ia lompat naik ke atas kuda itu. Tapi ia pun cerdik. Tapinya ia berkata kepada Kwee ceng. Di lain pihak. kau turut aku. ia lari terus-terusan. ―Kenapa kau tidak dapat mengalahkan dia itu?‖ Kwee Ceng tidak tahu bagaimana harus menjawab. lantas terlihat Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay lari mendatangi. ia sambar les dari seekor kuda pilihan yang satu pengiringnya bawa kepadanya. Totiang tanyakan saja istananya Chao Wang. ia tidak menjadi gusar. ―Buat apa kau layani pula manusia hina dina ini?‖ Wanyen Kang dengar suara orang menghina itu. Kwee Ceng dapat mengikuti denagn baik kepada si imam itu. Ia sudah belajar lari keras. Oey Yong muncul dari antara orang banyak. ―Toasuko telah ajarkan kau ilmu silat. yang dipanggil setahu apa siauw-ongya Wanyen Kang itu adalah muridnya suhengku Tiang Cun Cu.

bahwa dalam pibu. ia tidak bilang suatu apa. baiklah totiang memberi ampun padanya. tetapi tidak nanti dilindungi atau dieloni. di dalam hatinya tapinya ia suka bocah ini yang jujur dan hatinya pemurah. tidak nanti aku bikin kau memdapat susah…. ―Dimana totiang dan Tuan Kwee tinggal? Nanti kami pergi mengantarkan ke sana. Kwee Ceng itu nanti berkelahi tidak dengan sungguh-sungguh dan karenanya menjadi tidak memperoleh kemenangan. tak baik aku mewakilkan mereka memberi keterangan. Ong Cie It tertawa bergelak. ia menghela napas. maka itu kenapa dia bolehnya mengajari silat kepada satu pangeran Kim? Sungguh membikin pusing kepala…‖ Terus ia mengawasi Kwee Ceng dan berkata pula: ―Khu Toasuko telah menjanjikan aku bertemu di Yan-khia. Baharu mereka sampai di depan pintu.‖ berkata Ong Cie It. ―Sekarang masri kita lihat itu orang she Bok dan gadisnya. dalam beberapa hari ini tentulah ia bakal tiba. ―Nonan itu bertabiat keras. Kemudian ia meneruskan dengan sikapnya sungguh-sungguh : ―Kami kaum Coan Cin Kauw ada punya aturan yang keras. Toasuka telah menerima satu murid she Yo. dari dalam hotel sudah muncul beberapa pengiring dengan pakaian seragam bersulamnya.Pendekar Pemanah Rajawali Bocah itu tercengang. Siauw-ongya itu sombong dan ceriwis. hatinya masih ingin merekoki jodohnya nona Bok. Entah bagaimana kepandaiannya murdi she Yo itu. maka setelah bertemu dengannya. nanti aku suka minta toasuko menghukum padanya!‖ ―Asal ia suka menikah dengan nona Bok.‖ Irawan D Soedradjat Page 191 . nanti kau jangan khawatir.‖ ia menjawab.‖ berkata Ong Cie It kemudian. ia menjadi ingat kepada pertempurannya sama In Cie Peng hingga ia ingat juga. bocah ini menjadi tidak tahu tentang ilmu silat kaum Coan Cin Kauw. ―Aku tidak tahu…‖ Ma Giok mengajarkan Kwee Ceng tanpa penjelasan. Di sini ada aku. ―Gurumu belum membilang suatu apa kepadamu. ―Apa?‖ dia menanya. dia dapat dihukum berat.‖ berkata pula si pengiring. maksudnya pasti untuk mencegah Kwee Ceng menjadi bersusah hati hingga pernyakinan ilmu silatnya menjadi terganggu. ―Hatimu mulia. ilmu silat Wanyen Kang sama dengan ilmu silatnya In Cie Peng itu. aku akan menanya jelas segala apa. yang tidak mendendam.hin itu. ia menjadi ingat kepada nona itu. Ong Cie It menggeleng kepala. Ong Cie It ketahui maksudnya Kanglam Cit Koay. kalau ada murid yang bersalah. siauw-ongya minta totiang dan Tuan Kwee sudi menerimanya.‖ berkata Kwee Ceng. maka itu tidak heran Tujuh Manusia Aneh dari Kanglam itu tidak mau menjelaskan sesuatu kepada Kwee Ceng. terus ke rumah penginapan Kho Seng di jalan besar utama. kemudian setelah berpikir. teecu mohon totiang suka memberi maaf. ―Totiang.‖ ―Sebentar kita datang. sekarang setelah mendengar pertanyaannya Ong Cie It. dia lebih-lebih membenci bangsa Kim. pibu apakah itu?‖ ia bertanya. Maka keduanya lantas berjalan dengan cepat ke kota barat. ―Dan ini kue-kue dan bebuahan. dia kata hendak ajak muridnya itu pergi ke Kee-hin untuk dicoba pibu denganmu. aku khawatir dia nanti menerbitkan bencana jiwa…‖ Kwee Ceng terkejut. Atau mungkin disebabkan musuh adalah turunan sahabat ayahnya. Ong Cie It dapat menduga. teecu telah berlaku kurang ajar. Kanglam Cit Koay pasti menghendaki kemenangan.‖ ia memohon. dia cuma manggut-manggut. Kwee Ceng juga tidak berani menanya apa-apa lagi. aku suka sekali! Mustahil aku nanti persalahkan kau!‖ ia berkata. semua lantas memberi hormat kepada Ong Cinjin seraya berkata: ―Kami diperintahkan siauw-ongya mengundang totiang serta Tuan Kwee menghadiri pesat di gedung kami. ia berkata-kata seorang diri: ―Toasuko biasanya benci kejahatan sebagai musuh besarnya. ―Teecu tidak tahu siauw-ongya itu adalah muridnya Khu Totiang. Dia telah mendengar lelakonnya kedua keluarga Yo dan Kwee itu.‖ Mereka lantas menyerahkan sehelai kartu nama di atas mana ada tertera: ―Hormat dari teecu Wanyen Kang.‖ Kwee Ceng telah terima titah gurunya untuk sebelum tanggal duapuluh empat bulan tiga sampai di Kee-hin. gurunya tidak memberikan keterangan apa-apa. Ia lantas menunduki kepala. maka itu ia heran atas kata-katanya imam ini. Ciat-kang untuk apa ia dimestikan pergi ke Kee.

lantas ia dengar ramainya suara tetabuhan. hatinya tercekat. Tiba di muka gedung. Chao Wang itu adalah Wanyen Lieh.‖ Kwee Ceng berpikir. sudah tidak dibalut. Maka itu tanpa merasa. siapakah namamu?‖ Nona itu menunduki kepalanya. yang mana ia letaki di atas meja.‖ berkata Kwee Ceng. baik aku tinggalkan untuk dia. seraya menambahkan: ―Besok aku akan datang untuk menjenguk pula padamu. Melihat dandanan pangeran itu. di dalam hatinya ia berkata: ―Dasar bocah! Dia tidak harus dipersalahkan. Ong Cie It mengkerutkan keningnya. gedungnya Wanyen Kang. ia turut dipimpin ke dalam thia. lalu ia terus masuk ke dalam kamar orang. atau singa batu. Kwee Ceng tahu.‖ pikir Ong Cie It. Irawan D Soedradjat Page 192 . sedang kepalanya ditutupi kopiah emas. hingga ia dapatkan orang she Bok itu sedang rebah dengan muka pucat dan di tepi pembaringan. hingga nampak tulang-tulangnya dan kedua lengannya bengkak besar.‖ Lalu menanti jawaban si nona.‖ Bab 18. tetapi mungkin dikhawatir menjadi nowa.‖ kata Cie It. ―Mungkinkah si pangeran muda itu adalah putranya Wanyen Lieh?‖ ia kata di dalam hatinya. yang rupanya diperdengarkan untuk menyambut ia dan Ong Cie It. hendak ia menampik. akan tetapi kapan ia melihat sikap Kwee Ceng. Di luar hotel. di kiri dan di kanan pintu ada nongkrong masing-masing seekor cio-say. bunyinya: ―Chao Wang Hu‖ atau istana pangeran Chao Wang. yang setiap belakang telapakan tangannya bertanda lima lobang jari tangan. gadisnya duduk smabil menangis. untuk bersama si imam pergi mengikuti keempat pengiring itu pergi ke onghu. Kwee Ceng paling dulu lihat dua lembar bendera berkibar di tiang yang tinggi. ―Namaku Bok Liam Cu. Di pintu besar ada dituliskan tiga huruf besar air emas.Pendekar Pemanah Rajawali Beberapa pengiring lainnya lantas maju untuk mengsih lihat barang antaran mereka. Ia polos. sesudah masuki itu ke dalam sakunya. kalau di sini aku bertemu dengannya. Ong Cie It mengangguk. putra keenam dari raja Kim.‖ ia menyahut perlahan. dia perlu dirawat baik-baik. ―Aneh. Ia tersenyum. ―Luka ayahmu ini tak enteng.‖ Selagi si bocah terbenam dalam keragu-raguan. pakaiannya jubah merah dengan gioktay atau ikat pinggang kumala. batu mana dipasang terus sampai di thia depan. ia bungkus itu dengan sapu tangan. Undakan tangga dari batu putih semua. ―Wanyen Lieh mengenali aku. Luka itu telah ditorehkan obat. Ia pilih empat rupa kue. ia lantas terima itu. ―Oey Yong suka dahar makanan semacam ini. atau lebih tepat istana. yang satunya memberitahukan bahwa siauw-ongya mereka lagi menentikan di gedung dan imam serta bocah itu diundang ke sana. dimana ia lantas dipersilakan duduk di kursi atas. yang rimannya bengis. yang terus lari masuk pula ke dalam hotel. Ong Cie It tak berkesan baik terhadap Wanyen Kang. ke dalam kamar di mana ada bingkisan kue dan buah dari Wanyen Kang. yang terus merogoh sakunya. Kapan mereka lihat tetamu. inilah cade…. isinya semua adalah makanan dan bebuahan yang istimewa. setelah mereka itu memberi hormat. ia tarik tangan Kwee Ceng buat meninggalkan hotel itu. Bok Ek sendiri berbangkit untuk berduduk di atas pembaringan. yang terdiri dari duabelas. ia bersedia menerima antaran itu. si nona berbangkit berdiri. Ong Cinjin periksa lukanya Bok Ek. untuk mengeluarkan uang perak dua potong. mereka dipapaki empat pengiring. ia diam saja. Mengadu Kepandaian Habis menerima antaran itu. kau tunggu sebentar. ia lari pula ke luar. ―Totiang. Ong Cie It menanyakan keterangan kamarnya Bok Ek. maka darimana dia dapatkan ilmu pukulan jahat ini? Pada ini mesti ada rahasianya…?‖ Lantas ia pandang si nona dan menanya: ―Nona. menyusul mana ia tampak si siauw-ongya keluar menyambut. ―Ilmu silat Wanyen Kang terang adalah ajarannya toasuko.

matanya merah. maka juga mereka menjadi begini malang melintang. Setibanya di hoa-thia. tidak tahu ia mesti bersikap bagaimana andaikata ia bertemu dengan Wanyen Lieh. Kwee Ceng dapak menyaksikan keindahannya istana. Justru itu seorang yang suaranya serak terdengar berkata nyaring: ―Kiranya Kanglam Cit Koay didukung dari belakang oleh Coan Cin Pay. Selama itu. locianpwe dari Tiang Pek San. Wanyen Kang sudah lantas ajak kedua tetamunya pergi ke hoa-thia. Pangeran itu tidak berlutut didepannya dan tidak juga memanggil susiok atau paman guru kepadanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Totiang bersama saudara Kwee sudi datang kemari. Hatinya pun tidak tentram. mengitari lauwteng yang indah. ―Mana boanpwe mengerti ilmu silat?‖ sahut Wanyen Kang sambil tertawa. suaranya menandakan kemarahannya. ia sudah lantas mengenalinya. beberapa tuan ini sudah lama mengagumi kau dan semuanya merasa sangat ingin bertemu denganmu!‖ Ia lantas menunjuk Peng Lian Houw dan kata: ―Inilah Pheng Cecu. ―Totiang. Ong Cie It tidak puas. untuk mana mereka melintasi sebuah lorong. selama itu aku main-main kucing kaki tiga hingga aku membikinnya totiang dan saudara Kwee menertawai aku. Dengan melihat roman orang saja. satu lagi dari barat selatan. yang tubuhnya jangkung dan kate tidak rata.‖ Ong Cie It awasi orang yang pentang bacot itu. dari empat ribu lie. ―Aku ikuti suhu buat dua tahun lamanya.‖ Kedua orang itu saling memberi hormat. sungguh aku merasa sangat beruntung!‖ berkata tuan rumah yang muda ini. Wanyen Kang menepuk tangan dua kali. bahkan ia mendongkol. ―Kiranya kau masih kenal aku!‖ Irawan D Soedradjat Page 193 ―Bukankah tuan adalah Kwie-bun Liong Ong See Locianpwee?‖ ia bertanya. Wanyen Kang bergirang ketika ia kata pada Ong Cie It. kau tahu tidak?‖ ―Guruku ada di sini. kepala siapa lanang.‖ Wanyen Kang memperkenalkan pula orang yang rambutnya putih tapi mukanya segar sebagai muka seorang bocah. maka tidaklah kecewa yang lohu sudah datang ke Tionggoan ini.‖ Dan lantas ia perkenalkan paderi di sampingnya. tidak ada selembar rambutnya. ―Dan ini adalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong. ―Siapakan meja santapan!‖ ia memberi perintah kepada pengiringnya. ―Walaupun ilmu silat Coan Cin kauw tidak tinggi tetapi ilmu itu bukannya ilmu kucing kaki tiga! Gurumu bakal tiba di sini. ―Ada di mana ia sekarang?‖ ia tanya. yaitu Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. apakah totiang ingin bertemu dengannya?‖ Wanyen Kang balas menanya. katanya: ―Ini adalah Leng Tie Siangjin. . di sana sudah menantikan enam-tujuh orang. di antara siapa yang kepalanya benjut tiga. Kami berdua. ahli Tay-ciu-in dari partai Bit Cong dari Tibet. Ong Cie It heran hingga ia berpikir: ―Kenapa Siluman Tua ada disini juga?‖ io Cu Ong sudah lantas memberi hormat dan berkata: ―Di sini lohu dapat bertemu sama Thie Kak Sian Ong Cinjin. Kwee Ceng terkejut juga hingga ia pernahkan dirinya dekat sekali dengan si imam. satu dari timur utara. ―Benar!‖ sahut orang itu. Dia itu mengawasi anak muda kita ini dengan sorot mata bengis! Biar bagaimana. biji matanya menonjol keluar. kedua pihak sudah saling mengenal. ―Sudah berapa lama kau ikuti gurumu belajar silat?‖ ia tanya. maka pertemuan ini benar-benar satu jodoh!‖ Ong Cie It memberi hormat kepada paderi dari Tibet itu dengan menjura dan si paderi membalasnya seraya menakopi kedua tangannya. Pengiring itu berlalu untuk menyampaikan titah lebih jauh. Ong Cie It menjadi heran sekali.‖ ―Hm!‖ Ong Cie It kasih dengar suaranya. hingga mereka mesti jalan sekian lama. sampai ia merasakan matanya berkunang-kunang.

maka juga. Dan semua mereka kagum akan caranya sancu ini datang menengah. Dia bernama Thong Thian dan gelarannya. sembari tertawa ia berkata: ―Tuan ini adalah Auwyang Kongcu. romannya tampan. Dia belum pernah datang ke Tionggoan. supaya Kwee Ceng dibekuk. Untuk itu aku mohon tuan-tuan suka memaafkannya. ia tetap berangasan dan galak. Memangnya dia bertabiat keras. Dua-dua See Thong Thian dan Ong Cie It terperanjat. Bocah itu mundur. hingga kata dalam hati kecilnya: ―Kita ada bagaikan air kali dan air sungai yang tidak saling menerjang. tangan kirinya menyambar lengan See Thong Thian. ia hajar mereka. Auwyang Kongcu ini sudah lantas rankap kedua tangannya. dia mendamprat habis-habisan. ia lantas ingat kepada si nonannona serba putih yang di tengah jalan sudah mencoba merampas kudanya. Ia menjadi menduga-duga: ―Mungkinkah enam guruku sudah bertempur dengan dia ini?‖ Ong Cie It pandai berpikir. seperti dandanan seorang bangsawan. musuh boleh tambah lagi. suatu tanda ia adalah seorang opsir. Tanpa merasa keduanya lantas mengawasi si pemisah itu. tidak heran kalau Hong Ho Su Koay gagal mengepung Kwee Ceng. romannya sangat keren. ia tengah diliputi kemarahan besar. Dia berjanggut lebat. Ia telah berpikir: ―Dengan adanya Khu Suheng disini. Maka ia lantas pandang tuan rumah. sancu dari Pek To San dari pegunungan Kun Lun San di Tibet. Dandanannya. adik seperguruannya. Sebab tabiatnya itu. sikapnya tenang sekali.Pendekar Pemanah Rajawali Cie It heran. semua hadirin di situ itu ada bangsa lihay.‖ sahut Wanyen Kang denagn sederhana. hingga adik seperguruan ini juga gagal. Ong Cie It tidak dapat mundur. Lantas ia berpaling kepada pengiringnya dan memrintah dengan singkat: ―Undang suhu!‖ Pengiring itu sudah lantas mengundurkan diri. ia tidak hunjuk kemurkaan. Celakanya Thong Hay telah kena dipermainkan oleh Oey Yong. alisnya panjang hingga ujungnya mengenai rambut di pelipisnya. Inilah sebabnya kenapa murid-muridnya tidak dapat wariskan tiga bagian saja dari sepuluh ilmu kepandaiannya.‖ Kwee Ceng tidak kenal sancu ini. maka mereka heran ada seorang yang dapat pisahkan mereka secara demikian gampang. Karena ini. tangan kanannya menyambar lengan Ong Cinjin. Dia banyak lebih lihay daripada Hauw Thong Hay. tak dapat ia mengatasi diri. diundurkan satu dari yang lain. Ia mengerti. maka dengan berbareng. juga Nio Cu Ong dan Peng Lian Houw serta lainnya hadiran di situ. terus ia mengibas keluar. ―Mana gurumu?‖ ia tanya. terus ia berkata: ―Sebenarnya aku telah mesti siangsiang tiba di kota Yankhia ini. akan jambak Kwee Ceng. tak peduli ia bahwa perbuatannya melanggar adat sopan santun. hingga ia mirip dengan satu sastrawan. seumumnya. Demikian ia ulur sebelah tangannya. tangannya terus menyambar si imam. dari samping mereka tiba-tiba muncul satu orang. ia kata: ―Nama besar dari See Locianpwee memang telah lama aku pangeni. sayang di tengah jalan aku mendapatkan satu urusan penting dan karenanya menjadi terlambat beberapa hari. Kwie-bun Liong Ong ialah Raja Naga dari Pintu Iblis. Sesudah itu ia kirim Hauw Thong Hay untuk menuntu balas. untuk menghalang di depannya. dua orang itu dapat dipisahkan.‖ Orang she See ini tidak ambil mumat sikap orang yang halus itu. Thong Thian gusar bukan main waktu ia dengar kekalahan empat muridnya itu. 194 Cie It merasakan hatinya lega. ialah seoarng dengan jubah putih. Disaat kedua tangan hampir bentrok. lalu di depan pintu thia terlihat seseorang bertubuh gemuk yang mengenakan seragam baju sulam. Melihat orang demikian galak. percuma kalau ia melayani mereka itu. maka itu ini adalah pertama kalinya ia bertemu sama tuan-tuan!‖ Bukan melainkan Ong Cie It dan Kwee Ceng yang belum pernah melihat sancu. kapan dan di dalam hal apa aku pernah berbuat salah terhadapnya?‖ Ia menunjuki sikap sabar. umurnya ditaksir tigapuluh lima atau tipuluh enam tahun. tetapi mendengar nama bukit Pek To San itu. maka ia pun angkat tangannya. Segera juga Wanyen Kang menghampirkan. Irawan D Soedradjat Page Tidak lama lantas terdengar tindakan sepatu. tak terkira gusarnya Thong Thian. ―Bagus! benar-benar kau melindungi binatang cilik ini!‖ ia berseru. masih dapat kami membela diri…‖ . Mereka bukan sembarang orang. ―Kenapa tidak kau minta ia keluar?‖ ―Ya. di waktu mengajari silat. untuk menangkis. sedang Ong Cie It segera maju. siucay. Mereka belum pernah mendengar nama Pek To San – Bukit Unta Putih itu. usianya empat puluh lebih. sekalipun di depan orang banyak.pemilik bukit – dari Pek To San itu.

semua mata diarahkan kepada Wanyen Kang. ―Oh. ―Aku minta saudara Kwee saja yang pergi mengundang tuan Bok itu. Tentang si orang she Bok yah dan anak itu. entah kemana. jawabannya adalah Bok Ek dan gadisnya itu ada yang undang sudah pergi entah ke mana. imam?‖ si opsir menanya. ―Adalah sudah biasa bagi aku. sikapnya jumawa. silakan duduk!‖ Wanyen Kang mengundang. dari kepala ke kaki.‖ berkata Wanyen Kang. Terus ia menoleh pada pengiringnya. barang-barangnya pun telah dibawa pergi. akhirnya ia duduk juga di kursi pertama itu. ―Mana tuan Bok itu?‖ ―Ia telah pergi. karenanya ia dipanggil guru. Akhirnya. maka bolehlah kita bicara dari hal keadilan. kau permainkan aku. uang sewa kamar pun sudah dibayar lunas. ―Untuk urusan apakah kau hendak bertemu sama aku. ia berbangkit untuk bawa itu kepada Ong Cie It seraya terus berkata: ―Silahkan totiang keringkan dahulu cawan ini. imam atau paderi perempuan!‖ Dengan paksakan diri.‖ berkata Wanyen Kang sembari tertawa. Wanyen Kang sambut tetamunya. boanpwe selalu bersedia untuk menuruti. dari kaki ke kepala. Ia berkata kemudian: ―Bagus! Sekarang baik si orang she Bok itu diundang kemari. bagaimana urusannya itu harus diatur?‖ Mendengar pertanyaan itu. Ia lantas kata pada pengiringnya: ―Lekas kau siapkan uang itu. siapa itu yang mengundang. urusan toh akan ketahuan akhirnya!‖ ―Totiang benar. ―Totiang baharu pertama ini tiba disini. Ia telah berpikir: ―Bocah binatang ini. untuk kita membicarakan urusannya.!‖ Tapi ia mencoba untuk mengendalikan diri.‖ sahut Kwee Ceng. Ia tanya jongos. Irawan D Soedradjat Page 195 . dia mesti dapat diundang datang kemari!‖ Pengiring itu menyahuti. tetapi ia bercuriga. ―Tayjin hendak memohon derma. sebentar kau antarkan ke hotelnya totiang. Ketika jongos ditanya. terus ia undurkan diri.‖ ia berkata.‖ menyahut Wanyen Kang. ia tidak sangka pangeran ini dapat bersikap demikian. kepala barisan pengiring dari Wanyen Lieh di masa Wanyen Kang masih muda sekali. tuan Kwee!‖ katanya. ia mengawasi imam itu. ―Ingin aku minta buat banyaknya seribu tail perak!‖ Heran opsir itu atas permintaan derma tersebut. Tiba di sana. Kwee Ceng heran.‖ Ong Cie It merendahkan diri tetapi ia didesak terus. aku menyesal…‖ berkata Wanyen Kang cepat. imam ini orang macam apa. ―Banyak cape. Ong Cie It menjadi membungkam. Tentang itu. yang mendahului gurunya itu.‖ Cie It heran hingga ia tercengang. malah ia sudah menanyakan beberapa kali…‖ Melihat orang itu dan mendengar perkataan si pangeran. Ia lantas hirup arak itu. ―Totiang ini hendak bertemu sama suhu. ia berkata: ―Sekarang ini telah hadir banyak cianpwee kaum Rimba Persilatan. aku paling tidak senang terhadap segala paderi. Tidak dapat ia menduga. ―Itulah selayaknya. Sambil tertawa. Maka terpaksa pemuda ini pulang ke onghu dengan tangan hampa. Pangeran itu mengisikan sebuah cangkir. Ia bernama Thung Couw Tek. Ong Cinjin tertawa.Pendekar Pemanah Rajawali ―Suhu!‖ Wanyen Kang lantas memanggil. bagaimana juga hendak diaturnya. ia berkata: ―Tidak peduli orang bermain sandiwara apa. hatinya Ong Cie It menjadi panas sekali. ia menjadi heran. Yang lain-lain pun turut memanggil guru padanya. untuk pergi ke hotel dimana Bok Ek dan gadisnya menumpang.. Setelah tiga edaran arak. yang treus tuturkan kepergiannya Bok Ek serta anaknya itu. untuk memerintah: ―Kau lekas ajak orang pergi mencari tuan Bok dan putrinya itu.‖ ―Bagus begitu.‖ Ong Cie It menagngguk dan Kwee Ceng segera berbangkit. pernah ia ajarkan ilmu silat kepada pangeran itu. Jongos itu tidak dapat memberikan keterangan. Ayah dan anak dara itu tidak ada di kamarnya. silakan duduk di kursi kepala. ―Tuan-tuan.‖ Thung Couw Tek celangap.

yang segera dibawa masuk ke dalam mulutnya orang she Thung itu. Ong Cie It mengerti. ―Silakan locianpwe mengatakannya. hebatnya tak sama dengan Kiu-im Pek-ku Jiauw dari Hek Hong Siang Sat akan tetapi toh tidak kalah. pada ini terang ada salah mengerti. Kepalan Couw Tek kena tertahan. ia ulur tangannya meninju mukanya Ong Cinjin! Cie It tertawa. lengan kirinya berbareng dipakai membentur bocah itu. Jambakan itu adalah jambakan dari Gwa-kang. Lantas ia lompat bangun. tetapi pemerintah Kim tidak pernah mengijinkan ia memimpin pasukan tentara sendiri. ciangkun. si imam bersikap seperti tidak tahu aturan. kalau begitu!‖ berseru See Thong Thian. terus ia lari ke dalam. ia lekas berbangkit. dia jengah sekali.‖ ―Pihak kami tidak ada sangkutannya sama Coan Cin Pay. maka ketika ia berbangkit pula. selagi mulutnya tersumpel. tak dapat ia meneruskan meninju. ―Aku hendak memohon sesuatu kepada totiang. kaget dan gusar menjadi satu. Bukankha ia orang Han yang bekerja pada bangsa Kim? Kenapa ia mesti ditanya lagi kalau bukan orang hendak menghina padanya? Ia justru paling tidak senang orang menyebut-nyebut kebangsaannya. untuk disuapi dengan paksa! Couw Tel menjadi gelagapan. untuk menghalang. kau menggunai ilmumu!‖ ia membentak. ―Maka perlu apa kau bergusar dan menggunakan kekerasan?‖ Ia angkat sumpitnya untuk menjempit kepalan orang. Sudah duapuluh tahun ia bekerja. ia melepaskan jepitannya. ia penasaran sekali. ia sudah bekerja matimatian untuk negara Kim. ―Baiklah ciangkun duduk dan keringkan arakmu!‖ Ia ulur tangannya. guna menjambak batang lehernya Kwee Ceng. Ia malu bukan main. ilmu Bahagian Luar.‖ berkata Giok Yang Cu. akan ulur sebelah tangannya. pangkatnya bukan kecil tetapi ia tetap ditempatkan di onghu. Ia memang tidak puas dengan kedudukannya. Menyaksikan kejadian itu. kenapa pihakmu berdiri sepenuhnya dibelakang Kanglam Cit Koay dan dengan begitu menyusahkan pihakku? Walaupun Coan Cin Pay banyak anggotanya dan sangat berpengaruh. Ia anggap dirinya gagah. ―Sekarang kau serahkan ini bocah kepadaku!‖ ia lantas berbangkit. Maka mukanya menjadi merah. tetapi dengan mereka itu. ―Maka itu aku mohon keterangan. sumpitnya itu terus ia pakai menyambar sepotong paha ayam. tetapi dia tidak berhasil. ―Coan Cin Pay berpengaruh di Selatan dan Utara. sungguh namanya bukan kosong belaka!‖ berkata See Thong Thian. maka itu. Maka juga perkataannya Ong Cie It membikin ia merasa tersinggung. akan tekan pundak si jenderal. cepat luar biasa. Tidak karu-karuan cukongnya kehilangan uang seribu tail perak. sedikitnya ia tentu terluka enteng.‖ ―See Locianpwe. Menyusul itu jambakannya si orang she See itu mengenai kursi yang diduduki Kwee Ceng. hingga kursi itu tercengkeram rusak seraya menerbitkan suara keras. hanya salah satu suhengku ada punya sangkutan dengan mereka.‖ berkata Giok Yang Cu. ia sangat mendongkol. sudikah totiang meluluskannya?‖ ―Tidak berani aku menerima pujianmu. Akhirnya ia menegur: ―Eh. Irawan D Soedradjat Page 196 . semua hadirin tertawa. walaupun di depannya ada Nio Cu Ong dan Auwyang Kongcu. ―Imam siluman. sumpitnya dapat mempengaruhi Couw Tek tetapi tidak si orang she Nio ini.‖ ia berkata. ―Pinto tahu tentang Kanglam Cit Koay. yang berada di sampingnya.‖ berkata Kwie-bun Liong Ong. Maka itu sama sekali tidak ada soal pihakku membantu Kanglam Cit Koay menghadapi Hong Ho Su Koay.‖ ―Bagus. tidak satu pun yang pinto kenal. maka selagi orang menekan pundak si jenderal itu. selagi si pangeran berlaku manis. ciangkun. ―Kau tidak hendak memberitahu pun tidak apa. bocah itu tidak bakal lolos dari jambakan itu.Pendekar Pemanah Rajawali Sementara itu Thung Couw Tek heran dan mendongkol. hingga tubuhnya Kwee Ceng tertolak mental. tosu.‖ berkata Nio Cu Ong. tubuhnya jatuh terduduk di kursinya akibat tekanannya Nio Cu Ong. aku yang bodoh tidak merasa takut. kau ada asal negara mana? Kau mengandal apa maka kau datang kemari dan menjadi pembesar negeri?‖ Couw Tek gusar sekali. Thie Kak Sian Giok Yang Cu tahu. ―Jangan gusar. kau asal kuil mana? Kenapa kau datang kemari untuk main gila?!‖ Ong Cie It tidak menyahuti. Dia terus menarik pulang tangannya itu. See Locianpwe. ia hanya balik bertanya: ―Jenderal.

kalau satu bocah begini tidak dapat dibereskan. ia mundur tiga tindak. ―Anak ini pinto yang bawa datang ke istana ini. Ia lihat. Kalau benar saudara tidak sudi melepaskan padanya. Tentang bocah ini. mendengar perkatannya Giok Yang Cu. ―Bagaimana caranya bocah ini mendapat salah dari saudara See?‖ dia tanya. jalan yang terbuka ialah memperlambat tempo sambil mencoba mencari tahu sikap sebenarnya dari para hadirin masing-masing.‖ Maka ia lantas awasi Thong Hay dan berkata kepadanya: ―Sutee.Pendekar Pemanah Rajawali ―Hau.‖ ia menambahkan. Tuan-tuan berniat menahan dia. Coba tuantuan pikir. bocah ini pasti tidak bisa dibiarkan tinggal tetap di sini. kalau ia mengotot. di atas orang pandai ada pula yang terlebih pandai lagi. cawannya ia hirup kering. locianpwe. Ia lantas memikirkan daya untuk meloloskan diri bocah itu. mereka turut Yang Mulia Chao Wang pergi ke Mongolia untuk suatu urusan. memang lebih baik tidak usah bertempur dengannya. ia mendahului berbangkit. ―Biarlah aku yang belajar kenal lebih dulu denganmu. Ia tahu orang mengejek padanya tetapi tidak tahu ia bagaimana harus memberikan jawaban. ―Hari ini pinto berjodoh bertemu sama tuan-tuan.‖ Hauw Thong Hay sudah menahan sabar sekian lama. kepala di bawah kaki di atas. menentang si imam. See Thong Thian telah berpikir: ―Imam ini lihay tak ada di bawahanku. supaya nanti ia jangan mengatakan pinto todak sudi melindungi padanya. . lalu mendadak ia lompat maju. aku minta sukalah kau mempertunjuki sesuatu agar pinto dapat pentang mataku. ―Nama besar dari tuan-tuan telah lama pinto buat pangenan. tiba-tiba mereka diganggu oleh bocah ini. Kemudian ia berkata: ―Sebenarnya aku tidak bermusuh langsung dengan anak she Kwee ini. ―Coba jelaskan duduknya hal. pinto tidak dapat bilang suatu apa. ―Maka itu saudara Hauw. sedang sebenarnya pinto tidak sanggup berbuat demikian…. guna diserahkan pada Chao Wang. ―Ia muda dan tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. supaya selanjutnya dibelakang hari. Cuma lebih dulu daripada itu. bahkan ia berbareng mesti melindungi satu bocah. ia mendapat salah dari Yang Mulia Chao Wang.‖ Cie It membilang keras. yang diundang dengan kehormatan dan bingkisan berarti. Diam-diam Cie It bingung juga mendapatkan semua mata diarahkan kepada Kwee Ceng. mereka dalah orang-orang undangan Wanyen Lieh. supaya kita dapat menimbangnya. Untuk melayani dia. coba kau perlihatkan Soat-lie May Jin.‖ berkata Cie It tenang. ―Kebiasaanku tidak berarti. Kecuali Cie It dan Kwee Ceng.‖ ia berkata. See Thong Thian juga berpikir: ―Imam-imam dari Coan Cin Pay tidak dapat dibuat permainan. aku mesti dapat satu pembantu yang lihay…‖ Maka itu. kepala itu nuncap melesak ke dalam tumpukan salju itu. ia lantas duduk pula. habis itu. ini juga pinto tidak dapat menentangi. Sejak turun gunung. ia menginjak-injak. cara bagaimana kami bisa lakukan usaha yang besar?‖ Kata-kata itu berpengaruh untuk para hadirin itu.‖ Ong Cie It berkata pula. dia jangan berani pula banyak tingkah!‖ Hauw Thong Hay mendongkol sekali. Dengan lantas mereka itu memikir untuk menahan si bocah. Ia bingung sebab musuh tangguh semuanya. untuk membikin padat. selagi mereka berkerja dan nampaknya bakal berhasil. sampai sebatas dada. ia pernah menghadapi pelbagai pertempuran tetapi tidak seperti ini kali. Yang Mulia Chao Wang menjadi sangat gusar karenanya.‖ Sebelum menjawab. Irawan D Soedradjat Page 197 Ketika itu hujan salju masih belum berhenti. mana berani pinto mengadu kepandaian dengan tuan-tuan. kau lindungi bocah ini?‖ menegur Thong Thian karena kegagalannya itu.‖ ia berkata. dengan membesarkan nyali. Perkataan orang diatur dengan halus. sekalian untuk memberi pengajaran kepada bocah ini. pinto minta tuan-tuan mempertunjuki dulu ilmu kepandaian kamu. ―Sabar. itulah hal yang sangat menggembirakan pinto. maka itu sudah selayaknya kalau nanti pinto membawanya keluar secara baik-baik. supaya ia insyaf bahwa di luar langit ada langit lainnya. untuk singsatkan bajunya. supaya bocah ini dapat melihatnya. Aku ada punya empat murid tolol. tidak dapatkah kau mencari ia dilain hari?‖ Auwyang Kongcu lantas campur bicara. untuk minta Ong Cinjin memberi pengajaran padamu!‖ ―Itulah aku tidak berani. Hauw Thong Hay sudah lantas pergi ke lataran dimana dengan kedua tangannya ia menumpuk salju sampai tingginya tiga kaki. seraya menunjuk Kwee Ceng.

atas mana. Persahabatan mereka adalah dari persahabatan dua tigapuluh tahun. ia tidak tahu ilmu silat apa itu. tubuhnya ikut. ―Ah. See Thong Thian dan lainnya yang lihay. Gangguannya Peng Lian Houw itu tidak membuat Thong Thian kecil hati. Saking kagum. dengan bergembira mereka luluskan permintaan itu. Thong Hay melirik pada bocah itu. Sebenarnya See Thong Thian bersama-sama Hauw Thong Hay telah menjagoi di sungai Hong Ho. Segera setalah memegang. meski ia tahu namanya seperti telah disebutkan See Thong Thian. tetapi biji kwaci itu dapat disentilkan demikian rupa. semua sumpit nancap rapi merupakan empat tangkai bunga bwee! Kwee ceng dan Wanyen Kang kurang mengerti ilmu kepandaian itu. sumpit bekas itu ia ambil dari tangannya si pelayan. ―Bu‖ dan ―Yang‖.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng heran. kepandaianmu ini membuatnya aku takluk sekali! Kita biasa berkerjasama. Kata Ong Cie It dalam hatinya: ―Tidak heran Kwie-bun Liong Ong menjagoi sungai Hong Ho. yaitu ―Soat-lie May Jin‖ atau ―Mengubur orang di dalam salju‖ See Thong Thian lantas berkata pada pengiring-pengiringnya Wanyen Kang: ―Tolong tuan-tuan membikin padat dan keras salju disekitarnya Tuan Huaw!‖ Kawanan pengiring itu girang sekali. dia memang lihya sekali. ia hanya mendatangkan tertawaan…‖ berkata See Thong Thian. aku pun dengan meminjam pengaruhmu. Jarak ke tembok ada kira-kira tiga tembok. mulanya ia merintangi . ―Kasar kepandaiannya suteeku ini. aku tidak sanggup memakan lebih jauh!‖ berseru Peng Lian Houw. barulah dua tangan Thong Hay bergerak. Malah Ong Cie It segera Irawan D Soedradjat Page 198 . itulah bukti dari tenaga dalam yang terlatih sempurna. ingin mempertunjuki sesuatu…‖ Ia lantas saja lompat ke tengah ruangan itu. dia malah tersenyum. biji kwaci enteng. karena ini Thong Hay dapat nyelusup ke dalam salju. akan tetapi baru huruf selesai separuhnya. Apa yang luar biasa. yang sembari bicara mengulurkan tangannya ke piring kwaci. ia ayun tangannya. dia berdiam saja. lalu semua biji beruntun dikasih masuk ke dalam mulutnya. lantas semua sumpit – dua puluh pasang – terlempar ke salju dan nancap. yang terus aja lompat balik ke kursinya. ia sudah keluar dari salju dan berdiri tegak. seperti burung menyisit. mereka telah mengenal baik satu dengan lain. Setelah itu barulah See Thong Thian rampungkan huruf ―Wie‖ itu. tidak demikian dengan Ong Cie It.‖ Di tembok sekarang terlihat lagi dua huruf. maka setelah totiang ini hendak menguji kepandaian kita. mereka pandai berenang dan tahan selulup lama. maka itu dapat diduga See Thong Thian hendak menuliskan empat huruf ―yauw bu yang wie‖ yang artinya menentang pengaruh atau menjagoi. maka mereka ini diam-diam terkejut sendirinya. mulutnya itu sudah lantas kermakkermik. Kwee Ceng yang polos memuji sambil bertepuk tangan. lalu ia kembali ke kursinya. Peng Lian Houw sudah memegat meluncurnya biji-biji kwaci itu. Orang semua heran dan akgum. tetapi mereka terus minum arak mereka. Ketika itu See Thong Thian benar-benar telah membuat huruf ―Wie‖ yang terakhir. Ia tunggu sampai pelayan membawa datang tambahan barang makanan dan semua sumpit bekas ditukar dengan yang baru. Menyaksikan itu Peng Lian Houw manjadi bertangan gatal. Ia berkata. kwaci itu ia makan isinya dan kulitnya dilepehkan! ―Bagus!‖ orang banyak berseru memuji. untuk menjumput. ―See toako. setelah mana jari tangannya yang tengah disentilkan tak hentinya. maka biji kwaci itu meluncur ke tembok putih di hoa-thia itu. lalu sejenak saja. untuk mana ia mesti menahan napas. Selang sekian lama. untuk mengatakan: ―Auwyang Kongcu hendak mempertunjukan apa untuk kami dapat membuka mata kami?‖ Kongcu itu dengar suara orang ada mengandung nada menyindir. kemudian Thong Thian menoleh kepada Auwyang Kongcu. nancap di tembok merupakan satu huruf ―Yauw‖.

Cu Ong jalan perlahan-lahan ke tengah latar. turun ke dalam cawan.‖ Ia tidak berbangkit tapi ia dapat menuangi arak ke dalam cawannya semua orang. mereka menjadi heran. Kemudian. Kelihatannya pesta bakal ditutup sampai disitu. Adalah biasa untuk tukang-tukang dangsu mempertunjukan permainan batu seperti Nio Cu Ong ini. untuk angkat cawannya yang ia hirup kering. begitu ia kerahkan tenaganya. Leng Tie Siangjin beramai menginsyafi tenaga dalam yang terlatih baik dari imam ini. dan setelah turunkan ketiga batu itu. Dengan satu lompatan. melewati dua orang. Asal tangannya digeraki. ia memuji tak henti-hentinya. See Thong Thian semua kaget berbareng gusar tetapi mereka tak segera dapat berdaya. Habis itu ia berbicara. Kwee Ceng kagum bukan main. tapi barang berat itu tidak mengurangi kegesitannya. berdiri di atas itu ia lantas bersilat. untuk ulur tangannya yang kanan ke pinggangnya batu. hanya selagi yang lain-lain sudah selesai. lagi dua batu diangkat dan diapungi seperti yang pertama itu. Ong Cie It terperanjat. Dengan tangan kanannya. tidak ada tanda bahwa ia merasa letih. yang duduk berselang daripadanya. memberi hormat kepada orang banyak. mengisi hingga penuh. dan setiap tindakan kakinya tidak pernah meleset dari ujung sumpit. ―Hebat tenaga dalamnya paderi ini. ia tanggapi dengan dahi.‖ Ia menjunjung tiga buah batu yang beratnya rua ratus kati lebih. sedang beratnya batu ada tujuh atau delapan puluh kati. untuk semua tetamu membersihkan tangan mereka. ia kembali ke kursinya. Baru setelah habis semua jurus itu. Ong Cie It dan Auwyang Kongcu adalah yang paling dulu menampak perubahan. arak meluncur keluar dari mulut poci. Leng Tie Siangjin mencuci tangan seperti yang lain-lain. haha-hihi. aku mesti mendahului turun tangan terhadap dia…‖ Tengah semua mata diarahkan kepada Leng Tie Siangjin. asal tangan kirinya digeraki. Baskomnya si paderi lantas saja menghembuskan hawa napas sebagai uap. ia pergi ke samping tambur batu di depan hoa-thia itu. ―Cuma Leng Siangjin yang belum mengasih lihat kepandaiannya. mirip asap. Kemudian lagi si imam taruh tangan kirinya di punggung pangeran itu. Dan ketika batu yang pertama turun. terus ia berkata: ―Barusan aku saksikan kepandaian mengagumkan dari tuan-tuan. tangannya menyambar kepada Wanyen Kang. Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong berbangkit sambil tertawa. ini dimainkan di atas pelatok sumpit dan sumpitnya tidak ada yang patah atau miring karena ketindihan tubuh dan batu yang berat itu. Lalu menyusul batu yang kedua dan yang ketiga. maka batu itu lantas diam di dahinya itu. Selagi semua orang heran dan kagum. Hal ini dapat dilihat semua orang. ―Aku tidak boleh berlambat lagi. maka itu. Mereka justru menantikan tanda dari paderi itu untuk bergerak. Paling akhir Ong Cie It isikan cawannya Kwee Ceng serta cawannya sendiri. ia masih merendam kedua tangannya di dalam baskom. kemudian ia letaki poci arak. celakalah Wanyen Kang. Ong Cinjin angkat poci arak. mereka lihat pangeran itu ditotok hingga ia menjadi tak berdaya lagi. batu itu kena terangkat. tidak ada arak yang berceceran. ia lompat turun dari pelatok sumpit. untuk kagetnya mereka. akan kemudian terdengar suara perlahan dari air bergolak. untuk digeser ke depannya. mereka ini bakal turun tangan…‖ Maka itu si imam segera melirik paderi dari Tibetb itu. Pelayan-pelayan telah datang dengan baskom yang terisi air hangat. hanya yang istimewa. Orang lantas melihat kejadian ini. memainkan ilmu silat ―Yan Ceng Kun. Mereka insyaf juga. Ong Cie It cenderungkan tubuhnya. ia tiba diatasnya pelatok-pelatok sumpit Auwyang Kongcu tadi. terlepas dari tangan dan mencelat naik dua tombak tingginya. tubuh siapa ia terus angkat.‖ katanya dalam hati. Ia mengasih lihat senyuman. maka dengan ini aku hendak menghormati kamu dengan secawan arak. Selang lagi sesaat. ketiganya menjadi saling susul. ―Mungkin sehabis dia. Sebelum batu itu turun. sikapnya wajar saja.Pendekar Pemanah Rajawali berpikir: ―Kenapa orang-orang lihay ini dapat berkumpul di sini? Biasanya. mereka heran. untuk menemui satu saja sudah sukar! Apakah tak boleh jadi bahwa mereka ada mengandung sesuatu maksud?‖ Selagi si imam berpikir.‖ Cie It berpikir. Irawan D Soedradjat Page 199 . Yang lain-lain baru dapat melihat setelah uap itu nampak semakin nyata. ia menangkap nadinya siauw-ongya itu. Batu itu segera diapungkan. Dengan rangkapi kedua tangannya. Ong Cinjin berbuat begini tentulah disebabkan dia bersendirian saja.

tidakkah siauw-ongya rugi? Bagaimana?‖ ―Ong Totiang. Maka itu denagn memandang kepada mukaku. tiba-tiba Leng Tie Siangjin berbicara. Imam ini benar-benar tidak dapat dibuat permainan. lalu ia tarik tangannya Kwee Ceng untuk diajak pergi. Sampai bertemu pula!‖ Semua orang mengawasi denagn air muka guram. Masih ia mengucapkannya: ―Ijinkanlah kami mengundurkan diri. ia menyambuti dengan sama kerasnya. Leng Tie Siangjin mengubah tenaga dalamnya menjadi tenaga luar. silakan sembarang waktu datang untuk pasang omong di sini. tidak berani mereka merintangi. lantas saja ia muntah darah. kedua tangan sama-sama ditarik pulang. yang kau membuatnya orang sangat kagum!‖ demikian katanya. Habis itu ia mengangguk kepada semua orang. Coba ia berlaku tenang dan mainkan napasnya. Ia percaya semua jago itu. dengan sikutnya Ong Cie It bentur pinggangnya Wanyen Kang. yang menanti jawaban.‖ berkata pula Ong Cie It. ia tidak dapat mengendalikan diri. dengan perlahan Giok Yang Cu berkata kepada bocah yang ia tuntun itu: ―Kau gendong aku sampai di rumah penginapan…‖ Irawan D Soedradjat Page 200 . Siauw-ongya adalah seumpama cabang emas daun kumala. karena ia telah lantas dapat melihat sambaran itu. ―Pinto juga tidak bersanak tidak bersahabat dengan anak ini. ia pun berbalik menyambar lengan lawan. Sebat luar biasa. bukan saja memang mereka seudah berjanji. Ong Cie It tersenyum. ia bertanya: ―Nama Taysu bersemarak dalam dunia kangouw. Sesudah belasan tombak keluar dari pintu istana. maka itu mesti ada harinya yang kita nanti bertemu pula!‖ Setibanya mereka di pintu hoa-thia. Bukankah ikan telah masuk ke dalam jala tetapi dapat lolos pula? Tidakkah itu sayang? Wanyen Kang telah lantas dapat menenangkan hatinya. untuk menyambar lengannya Ong Cie It. dengan sikapnya yang menghormat.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto tidak berselisih. darahnya itu tidak nanti menyemprot keluar. aku hanya hendak menahan kau…‖ katanya. tidak peduli mereka licin atau licik. contoh dalam dirinya Leng Tie Siangjin juga membikin hati mereka gentar.‖ Ia lantas berbangkit. tidak bermusuhan dengan tuan-tuan. tetapi si imam pun tidak diam saja. ia kata kepada Ong Cinjin: ―Totiang. supaya aku yang lebih muda dapat banyak pengajaran. ―Aku bukan hendak menahan ini bocah she Kwee. Mereka berdiam sejak Wanyen Kang dicekuk. maka pangeran itu bebas dari totokan. akan tetapi ketika ia buka kedua tangannya itu. Ia merangkapkan kedua tangannya. mengapa kata-katanya tidak masuk hitungan?‖ Leng Tie menjadi gusar. seraya melompat mundur. cuma pinto merasa suka kepadanya karena dia berhati polos dan pemurah. ia mengantarkan keluar.‖ Tanpa bersangsi sedikit juga. aku takluk!‖ berkata Leng Tie Siangjin yang air mukanya berubah. ―Totiang sangat lihay. Cuma hanya sekali bentrok. setelah melintasi sebuah tikungan dan melihat di belakangnya tidak ada orang yang menyusul mereka.‖ Semua orang berdiam. beginilah kita mengambil keputusan. pinto minta sukalah tuan-tuan melepaskan dia hari ini. tetapi ia diejek si imam. dari itu jikalau mereka ditukar guling. kau baik sekali!‖ berkata Nio Cu Ong tertawa. ―Baiklah. terus ia dikembalikan ke kursinya. yang terus bilang: ―Urusan kita telah selesai. tangan kanannya diulur. Ong Cie It segera tarik tangan Kwee Ceng. ia bersemangat. untuk memberi hormat. Sambil tersenyum. buat diajak berlalu dengan cepat-cepat dari istana itu. Sebab bentrokan itu membuat ia terluka. ―Jikalau tuan-tuan memberi ampun kepada anak ini. Ia kerahkan tenaga latihannya dari beberapa puluh tahun untuk memcahkan serangan hebat itu. ―Maka pinto juga akan bebaskan ini siauw-ongya. apabila ada tempo yang luang.‖ katanya. ―Sungguh aku takluk. ―Hm!‖ bersuara si imam. tapi belum dapat ia meneruskan. ini anak sebaliknya adalah satu anak rakyat jelata. siuran angin hebat menyambar ke arah si imam! ―Celaka!‖ Ong Cie It berseru di dalam hatinya dengan ia lekas-lekas angkat kedua tangannya untuk membalas hormat. See Thong Thian beramai tidak berani mencegah.

―Coba bantui aku bangun. Ia juga lantas dapat melihat roman pucat dari si imam. Kwee Ceng melayani terus sampai ia tukar air tujuh kali. Ia tahu imam ini khawatir nanti disusul musuh. Ilmu semacam itu. ―Benar. sambil berlari-lari. dengan tenang ia mainkan napasnya. Imam ini umpama kata cuma menang seurat. Tapi ia menghela napas ketika ia berkata pula: ―Paderi dari Tibet itu sangat berbahaya!‖ Kwee Ceng berlega hati. Kwee Ceng mengerti. ―Kau isikan penuh air bersih…‖ ―Untuk apakah itu. Setibanya di dalam. tetapi tanpa pedulikan itu. kau letaki aku di dalam jambangan itu. terus diisikan air dingin. Sementara itu ia merasai napasnya si imam semakin mendesak. anak yang baik!‖ berkata Ong Cie It. yang diletaki di cimche. Hari ini hampir aku kehilangan jiwa…‖ ―Totiang ingin dahar apa? Nanti aku pergi belikan. ia girang sekali. untuk menggendong dia. kulit muka si imam dari pucat pasi berubah menjadi bersemu dadu. Kira semakanan nasi lamanya. Kau larang orang lain datang dekat padaku…‖ Kwee Ceng tidak mengerti tetapi ia pondong si imam itu. ia hanya memberi tanda dengan tangannya. Irawan D Soedradjat Page 201 . ia pilih yang sepi saja. yang ia terluka dan ia sendiri tidak punya guna. ia letaki sepotong perak di atas meja seraya minta lekas disediakan jambangan. totiang?‖ Kwee Ceng tanya. cepat-cepat ia sediakan barang yang diminta itu. Maka itu jongos kegirangan. Syukur ia lantas dapat cari sebuah hotel yang kecil dan jorok. supaya bocah itu lekas pergi. Cie It tidak menyahuti. Di pihak lain. ia dapat merayap keluar. tetapi Cie It bilang dengan perlahan: ―Cari…cari tempat yang sepi dan hotel kecil…‖ Kwee Ceng menurut.‖ ia minta kepada Kwee Ceng. maka lantas saja ia membungkuk di depan si imam itu. ―Lekas…lekas cari sebuah jambangan besar…‖ berkata Ong Cie It. ia maju terus. baru air itu tak lagi berubah hitam. Ong Cie It mengangguk. atas mana Giok Yang Cu lantas saja tertawa dan berkata: ―Sudah tidak ada bahaya lagi!‖ Dengan pegangi pinggiran jambangan. Permintaan itu diturut. ―Adakah totiang terluka?‖ ia tanya heran. Ia dengar suara orang sangat lemah. ―Apakah tangannya paderi Tibet itu ada racunnya?‖ ia tanya. seperti ynag kehabisan napas.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng kaget sekali.‖ Kwee Ceng tanya kemudian. Ia tidak tahu jalanan. ―Bagus. lalu tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung. untuk menyembuhkan diri dari luka di dalam akibat pertempuran dahsyat dengan Leng Tie Siangjin. Cie It sudah berendam pula di dalam air yang baru. ia masuki tubuh orang ke dalam jambangan hingga sebatas leher. maka sebentar kemudian. Ia juga memberi persen kepada si jongos. ―Itulah racun dari Cu-see-ciang. Ia mau mampir di sebuah hotel yang pertama diketemukan. Tangn Pasir Merah sering aku menemukan tetapi tidak ada yang lihay seperti ini.‖ sahut Cie It. untuk dibawa pergi denagn cepat. ―Sekarang pondong aku. ia memasukinya. Ong Cie It merendam di dalam jambangan seraya memeramkan kedua matanya. air ini tukar dengan yang bersih. Kwee Ceng menurut. mereka bisa terancam bahaya. Kwee Ceng lari ke dalam kamar untuk memberi kabar. ia segera turunkan imam itu di atas pembaringan. sedang jongos ia pesan untuk melarang siapa saja masuk ke cimche itu. air jambangan yang bersih bening itu berubah menjadi hitam. Ia cari orang hotel. Sekarang barulah Kwee Ceng ketahui orang tengah mengerahkan tenaga dalamnya.

Pendekar Pemanah Rajawali Cie It pinjam perabot tulis pada tuan rumah. Ia ingat Oey Yong cerdik sekali. di dekat-dekat dimana ada toko obat. katanya baru saja ada orang yang borong. Ia pun beri lihat suratnya Oey Yong itu. untuk dibaca isinya.‖ ia berkata. jikalau dalam duabelas jam itu tak disingkirkan. kenapa mereka tidak?‖ berkata si imam. Makanya ia mesti pergi ke lain toko obat lagi. Ia menjadi bingung dan mendongkol. Laginya belum tentu aku bakal mati.‖ Kwee Ceng tidak menjadi putus asa. Ong Cie It berpikir. Maka ia mau tanya jongos. Surat itu berbunyi singkat saja: ―Aku menunggu kau di telaga di luar kota barat. Surat itu bagus tulisannya dan kertanya berbau harum. ―Sayang tuan. Sekarang kau tolongi aku lekas membeli obat. Untuk kegirangannya Kwee Ceng kenali romannya Oey Yong. hatinya lega. Justru ia mau cari jongos. Irawan D Soedradjat Page 202 . Ada urusan penting yang hendak aku damaikan. ―Kita dapat pikir ini.‖ Kwee Ceng mengerti. ia ingin mencoba. ia menulis sehelai surat obat. jongos datang dengan cepat. Malah didua tiga rumah obat yang terbesar. Ia girang berbareng heran. Kwee ceng tuturkan pertemuannya sama Oey Yong. wajahnya menjadi guram.‖ pikirnya kemudian. mungkin ia dapat berunding dengan temannya itu. yang tersenyum berseri-seri. terus ia duduk bersemadhi di atas pembaringan. Lekas datang!‖ Surat itu tidak memakai tanda-tanda hanya lukisan gambar dari satu pengemis bocah. kepada Ong Cie It ia tuturkan kegagalannya. Di jalan perapatan ia lihat rumah obat yang pertama. Kwee Ceng sangat jujur dan hatinya lemah. gu-cit.‖ kata pelayan setelah ia membaca surat obat itu. jauhnya kira-kira sepuluh lie. bek-yo dan hitam baru habis. ―Siapa bawa surat ini?‖ ia tanya jongos. Untuk herannya. hingga mereka menjadi sahabat. ―Kematian pun tidak harus disayangkan. ia pergi sambil terus berlari. menyerahkan sepucuk surat kepadanya. ―Akun mengerti sekarang. Bocah ini tidak berani mengganggu. Ia heran. tujuh atau delapan rumah obat semua kehabisan empat rupa bahan obat itu. empat rupa obat itu tidak ada.‖ berkata si imam itu. ―Kenapa aku tidak mau pergi ke tempat yang berdekatan. Kwee Ceng samber resepnya. ia lantas taruh kepalanya di atas meja dan menangis megerunggerung. Sungguh jahat!‖ Dengan masgul. ―Tidak usahlah kau pergi. Ong Cie It tertawa. Di sini ia diberi tahu. untuk lari ke rumah obat yang lain. Cit It tertawa pula. Kwee Ceng heran. ia lihat imam itu lagi melatih kaki dan tangannya. obat-obatan itu masih tidak kedapatan. Imam itu menghela napas. ―Tentulah orang dari istana Chao Wang yang memborong semua obat itu. ―Cara bagaimana kau kenal anak itu?‖ ia tanya. ia segera mampir dan serahkan resepnya itu.‖ kata bocah ini kemudian. Ia putus asa. diam-diam ia keluar dari kamar. Ia terus robek sambpul surat. ia mengawasi.‖ sahut jongos itu. ―Aku telah bebas dari bahaya jiwa. akibatnya akan menyebabkan cacad seumur hidup. ―Seorang gelandangan di jalan besar. Surat itu dialamatkan kepadanya. ―Di sana belum tentu obat itu telah orang beli juga…‖ Ingat begini. ―Kebetulan saja obat hiat-kat. ―Jiwa manusia sudah ditakdirkan. Ia lantas kasih tahu bahwa ia mau pergi beli obat ditempat lain. sebab mereka ketahui Ong Cinjin pasti membutuhkannya. ―Tetapi hawa racun di dalam tubuh belum bersih betul. bocah ini lari pulang ke hotel.‖ Tanpa minta penjelasan. maka itu kenapa kau menangis?‖ Lalu dengan suara halus ia bernyanyi. Kwee Ceng masuk ke dalam kamar Cie It. ―Siapa yang mengirim surat ini?‖ ia menanya dalam hatinya. Maka itu ia beritahu bahwa ia ingin menemui sahabatnya itu.

Memandang ke sekitarnya. Dia menyebutnya ―Kwee Koko‖ = ―Engko Kwee‖. yang duduk di belakang perahu. yang rambutnya panjang meroyot melewati pundak. Kau harus berhati-hati. ―Bagaimana. bocah ini menjadi heran. ia masuki resep ke dalam sakunya. romannya cantik sekali dan manis. lantas lumer. eh. Karena hawa udara tidak sangat dingin. lanats ia berlalu dari hotel. Kenapa sekarang tercipta menjadi satu bidadari? Irawan D Soedradjat Page 203 . Ia dapatkan si nona bagaikan bidadari. ! Tapi sahabatnya itu adalah satu pemuda dengan muka kotor dan pakaian compang-camping…. akan perdengarkan suara nyaring: ―Oey Hiantee! Oey Hiantee!‖ Tidak ada jawaban. Ia lari keluar kota barat tanpa menghiraukan salju berterbangan menyampok mukanya..Pendekar Pemanah Rajawali ―Aku telah saksikan caranya ia mempermainkan Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. Orang berumur belum lima atau enambelas tahun. Adalah di tepian. kau tentu tidak dapat layani dia…. ―Semua anak muda berkelakuan seperti kamu. Ia dipanggil selagi ia menoleh ke lain jurusan. tidak tambah kecerdikan kamu…‖ Imam ini tetap percaya Oey Yong bukan orang dari golongan yang sadar. jikalau ia hendak mencelakai padamu. ia lihat sebuah perahu muncul dari bagian telaga yang lebat dengan pepohonan. salju melulu yang tampak. Kwee Ceng terkejut. Kwee Ceng mengawasi dengan menjublak. ―Apakah kau tidak kenal aku?‖ Kwee Ceng perhatikan suara orang. cuma dua ekor burung air yang terbang gelapakan di telaga. kapan Kwee Ceng menoleh. Ia lantas berpaling ke lain jurusan. ―Baik. Ia pun bertindak dari tepian. Itulah suaranya Oey Yong. ―Di dalam ilmu kepandaian. telaga itu tidak membeku. hanya aku tidak tahu pasti apa itu…‖ ―Kita bersahabat sangat erat. sedang tangan baju orang memain di antara sampokan angin. tanda ia sangat percaya pada Oey Yong. hingga emas itu bercahaya di antara sinar putih dari salju. di pepohonan. kulitnya putih halus. sehidup semati. Ia berdiri menjublak bagaikan orang yang tengah bermimpi. sahabat eratnya.‖ Di dalam hatinya. ―Kwee Koko. tidak berani ia mengawasi terus-terusan. mari naik ke perahu!‖ tiba-tiba dia memanggil.‖ ia pesan. Belum terlalu lama atau dari tengah telaga terdengar suara tertawa halus. ia tampak segala apa putih meletak. dengan hatinya masgul. Si nona mengayuh perahunya sampai ke pinggir telaga. ―Dia luar biasa gerak tubuhnya. ―Baru berapa lama kamu bersahabat?‖ katanya. kemudian ia kucak-kucak matanya dengan kedua tangannya. Ong Cinjin tertawa. ―Oey Hiantee! Oey Hiantee!‖ ia memanggil pula. begitu ia tampak satu wajah yang manis sekali. Sesudah hampir sepuluh lie. rambutnya di bagian atas ada pitanya dari emas. tidak nanti ia celakai kau. Ada Kuping Di Balik Tembok Kwee Ceng tiada bilang apa-apa lagi. Kwee Ceng berpikir: ―Totiang membeilang begini sebab ia belum tahu sifatnya Oey Hiantee…‖ Ia menyebutnya ―Oey Hiantee‖ = ―adik she Oey‖. sahabat sehidup semiati……. ―Mungkin ia belum datang. maka baiklah aku menunggu ia disini…‖ Maka ia lantas menantikan sambil ia pandangi keindahan telaga di musim salju itu.‖ berkata pula si nona. ada satu nona. Lantas ia tuturkan perihal kebaikannya sahabatnya itu. ia lihat sinar terang dari air telaga. kau pergilah lekas!‖ katanya. Tidak ada bayangan orang sekalipun. Bab 19. disana tidak ada tapak-tapak manusia. Begitu ia menoleh.‖ menyatakan Kwee Ceng. salju jatuh ke air. dia jauh terlebih lihay daripada kau. Ong Cinjin menghela napas. Disekitarnya yang luas. ―Mana itu dapat disebut persahataban sehidup semati? Jangan kau pandang enteng dia sebagai bocah! Kau tahu. mukanya dadu segar. engko Kwee. Itulah sebuah perahu kecil dengan penumpangnya. Tapi ia masih dapat berpikir. Tapi ia buka mulutnya. bajunya putih mulus. yang percaya betul sahabatnya itu.‖ berkata Ong Cinjin. ―Apa mungkin dia sia-sia menanti aku dan dia lantas pergi duluan?‖ ia berpikir. Tanpa mengalami sesuatu. Aku lihat padanya seperti ada terselip sifat-sifat kesesatan.

Pendekar Pemanah Rajawali

Dalam kesangsiannya, bocah ini mengawasi dengan mendelong. Nona itu tertawa. ―Aku adalah Oey Hianteemu!‖ ia berkata. ―Benarkah kau telah tidak kenali aku?‖ Oleh karena ia menatap, Kwee Ceng kenali roman mukanya Oey Yong yang alisnya lentik dan mulutnya mungil, cuma dandannya lain. ―Kau…kau….‖ katanya perlahan. Oey Yong tertawa pula. ―Sebenarnya aku adalah seorang wanita,‖ ia berkata pula. ―Siapa suruh kau panggil aku Oey Hiantee dan Oey Hiantee tak sudahnya? Ayolah lekas naik ke perahu ini!‖ Kwee Ceng sadar, lalu ia enjoti tubuhnya, lompat ke perahu itu. ―Oey Hiantee…!‖ katanya. Oey Yong tidak menyahuti, ia hanya kayuh perahunya ke telaga. Ia lantas sajikan bekalannya, barang makanan dan arak. ―Kita duduk disini, dahar dan minum arak sambil memandangi sang salju, bagus bukan?‖ katanya merdu. Kwee Ceng mencoba akan menenangi diri. ―Ah…aku tolol sekali!‖ katanya kemudian. ―Sampai sebegitu jauh, aku sangka kau adalah seorang pria! Selanjutnya tidak dapat aku panggil lagi kau Oey Hiantee….‖ Oey Yong tertawa. ―Kau juga jangan panggil aku Oey Hian-moay,‖ ia berkata. ―Aku dipanggil Yong-jie. Ayahpun selalu memanggil aku begitu.‖ Dengan sendirinya nona ini tidak menghendaki di panggil ―Oey Hian-moay‖ = ―adik Oey‖ dan menghendaki di sebut namanya saja. ―Yong-jie‖ berarti ―anak Yong‖. Tiba-tiba Kwee Ceng ingat sesuatu. ―Aku membekali kau tiamsim!‖ katanya seraya terus kasih keluar tiamsim yang ia bawa dari istananya Wanyen Kang. Cuma sekarang tiamsim itu sudah pusak-pesok tiada karuan. Oey Yong mengawasi macamnya tiamsim yang tidak karuan itu, ia tertawa. Merah mukanya Kwee Ceng, ia jengah. ―Tiamsim ini tak dapat dimakan…‖ katanya. Ia ambil itu, untuk dilemparkan ke air. Oey Yong sambar tiamsim itu. ―Aku bisa makan!‖ katanya. ―Aku doyan!‖ Selagi si bocah tercengang, Oey Yong sudah menggayem tiamsim itu. Kwee Ceng mengawasi, sampai ia mendadak menjadi heran sekali. Oey Yong dahar tiamsim itu, lantas perlahan-lahan matanya menjadi merah, lalu air matanya perlahan-lahan mengalir turun… ―Begitu aku dilahirkan, aku sudah tidak punya ibu,‖ berkata Oey Yong yang dapat membade pikirannya sahabatnya. ―Seumurku, belum pernah ada orang yang ingat aku seperti kau ini…‖ Air matanya mengalir deras, ia keluarkan sapu tangannya ang putih bersih. Kwee Ceng menyangka orang hendak menyusuti air matanya, tak tahunya dengan cara hati-hati nona itu bungkus sisa tiamsim yang kemudian ia masuki ke dalam sakunya. ―Aku akan dahar ini perlahan-lahan…‖ katanya, dan kali ini ia tertawa. Benar-benar aneh kelakuan bocah wanita ini, Kwee Ceng asing betul dengan tingkah lakunya ini ―Oey Hiantee‖. ―Bilangnya ada urusan penting yang kau hendak bicarakan dengan aku, urusan apakah itu?‖ kemudian ia tanya. Ia sudah lantas ingat surat si nona dan untuk apa ia datang ke telaga ini. Oey Yong tertawa ketika ia menyahuti: ―Aku panggil kau datang kemari untuk memberitahukan padamu bahwa aku bukannya Oey Hianteemu, hanya Yong-jie. Apa ini bukannya urusan penting?‖

Oey Yong melengos ke samping. ―Kau bilang aku manis dipandang?‖ ia tanya. ―Manis sekali!‖ sahut si anak muda. ―Kau mirip dengan bidadari dari puncak gunung salju!‖ Ia menghela napas.
Irawan D Soedradjat

Page

204

Kwee Ceng tersenyum. Orang benar-benar jenaka. ―Kau begitu manis untuk dipandang, kenapa mulanya kau menyamar sebagai penemis?‖ ia tanya.

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong tertawa pula. ―Pernahkah kau melihat bidadari?‖ tanyanya. ―Aku belum pernah lihat. Kalau aku dapat menemui, mana aku masih hidup lagi…?‖ Oey Yong heran. ―Eh, kenapa begitu?‖ ia menegaskan. ―Sebab pernah aku dengar pembilangannya orang-orang tua, siapa dapat melihat bidadari, dia tidak bakal kembali ke tanah datar, untuk selamanya ia akan duduk bengong saja di gunung salju, lalu lewat beberapa hari, dia akan mati beku….‖ Oey Yong tertawa pula. ―Sekarang kau melihat aku, kau bakal bengong saja atau tidak?‖ tanyanya kemudian. Mukanya Kwee Ceng menjadi merah. ―Kita toh sahabat-sahabat kekal, kita lain…‖ Oey Yong menganggguk. Lalu ia berkata dengan sungguh-sungguh: ―Aku tahu kau baik hati dengan sesungguhnya, terhadap aku, tidak peduli aku pria ataupun wanita, biarpun aku bagus atau jelek.‖ Ia berhenti sebentar. ―Dengan dandananku ini, kalau orang bersikap baik terhadap aku, apakah anehnya? Diwaktu aku menjadi pengemis, kau baik sekali dengan aku, nah itu barulah sahabat sejati.‖ Ia rupanya sangat girang, semabri tertawa ia kata pula: ―Aku ingin bernyanyi untukmu, sukakah kau mendengarnya?‖ ―Apakah tidak boleh besok saja kau bernyanyi?‖ Kwee Ceng minta. ―Sekarang ini aku mesti pergi beli obat untuk Ong Totiang.‖ Kwee Ceng lantas tuturkan tentang adu kepandaian di istana Chao Wang, sampai Ong Cie It, yang melindungi ia, mendapat luka parah, bahwa sia-sia belaka ia mencari obat. Oey Yong mengawasi, ia tertawa. ―Aku pun heran sekali menyaksikan kau lari mondar-mandir di jalan besar dan memasuki rumah obat dari yang satu kepada yang lain, entah kau bikin apa, tidak tahunya kau hendak membeli obat,‖ katanya. Kwee Ceng menduga, selagi ia lari mondar-mandir, Oey Yong tentu telah mengintai padanya tetapi ia tidak tahu, kalau tidak, niscaya nona itu tidak ketahui ia tinggal di hotel mana. ―Oey Hiantee,‖ katanya kemudian, ―Apakah boleh pinjam kuda merahmu yang kecil untuk aku pergi membeli obat?‖ Oey Yong menatap. ―Ketahuilah!‖ katanya. ―Kesatu, aku bukannya si Oey Hiantee! Kedua, kuda merah yang kecil itu adalah kepunyaanmu! Apakah kau sangka benar-benar aku menghendaki kudamu itu? Aku melainkan lagi menguji hatimu. Ketiga, di tempat sekitar ini, belum tentu kau dapat mencari obat itu…!‖ Kwee Ceng berdiam, hatinya pepat. Ia bingung sekali. Dugaan si nona nyata cocok betul dengan dugaannya Ong Cie It. Oey Yong tertawa. ―Sekarang aku nyanyai, kau dengari!‖ dia kata. Lalu kedua bibirnya yang merah tergerak terbuka, segera lidahnya bergerak, memperdengarkan nyanyiannya yang halus dan merdu. Kwee Ceng mendengari dengan hati kesengsem walaupun tidak mengerti jelas artinya nyanyian itu, hatinya menjadi goncang. Seumurnya belum pernah ia peroleh pengalaman ini. ―Inilah nyanyian Sui Ho Sian dari Sin Tayjin,‖ kata Oey Yong perlahan habis ia nyanyi. ―Bagaimana kau bilang, bagus atau tidak?‖ ―Aku kurang mengerti tetapi didengarnya menarik hati,‖ Kwee Ceng menjawab. ―Siapa itu Sin Tayjin?‖ ―Dialah Sin Kee Cie,‖ sahut Oey Yong. ―Menurut ayahku dialah satu pembesar jempolan yang menyinta negara dan rakyat. Ketika dulu hari utara Tionggoan terjatuh ke dalam tangan bangsa Kim dan Gak Bu Bok terbinasa di tangan dorna, tinggal Sin Tayjin sendiri yang masih berdaya untuk merampas pulang daerah-daerah yang terhilang itu.‖ Kwee Ceng tahu kekejaman bangsa Kim dari penuturan ibunya, karena ia hidup di Mongolia, ia kurang tahu. Ia kata: ―Belum pernah aku pergi ke Tionggoan, maka hal ini baik nanti saja perlahan-lahan kau tuturkan padaku. Sekarang kita mesti pikirkan daya menacri obat untuk Ong Totiang.‖
Irawan D Soedradjat

Page

205

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kau dengar aku,‖ berakta Oey Yong. ―Kita pesiar dulu disini, tak usah kau cemas tidak karuan.‖ ―Ong Totiang bilang, kalau dalam tempo dua belas jam ia tidak dapat obat, ia bisa celaka,‖ Kwee Ceng jelaskan. ―Aku tanggung, kau akan dapatkan obat itu,‖ si nona bilang. Mendengar si nona bicara dengan sungguh-sungguh dan juga percaya orang memang ada terlebih pandai dan cerdik daripadanya, Kwee Ceng dapat juga melegakan hatinya. ―Mungkin ia tidak akan membikin gagal,‖ pikirnya. Maka ia lantas layani si cantik itu minum arak dan dahar makanan sambil mereka pasang omong. Dengan gembira, dan secara menarik hati, Oey Yong tuturkan bagaimana caranya ia menggangtung Hong Ho Su Koay, bagaimana ia ganggu Hauw Thong Hay sampai si Ular Naga Kepala Tiga itu mendongkol bukan main. ―Bagus!‖ seru Kwee Ceng saking gembira. ―Memang bagus!‖ kata si nona. Dan keduanya bertepuk tangan. Tanpa merasa sang tempo telah berlalu, Oey Yong lihat bagaimana secara perlaha-lahan sang mega atau kabut mulai menutupi air telaga yang putih. Dengan perlahan sekali ia ulur tangannya, terus ia genggam tangannya si Kwee Ceng, sembari berbuat begitu ia kata dengan perlahan: ―Sekarang aku tidak takut apa juga…!‖ ―Kenapa?‖ menanya si anak muda dengan heran. ―Taruh kata ayah tidak menginginkan aku, kau tentunya sudi aku ikuti kau, bukankah?‖ si nona tanya tanpa ia menyahuti pertanyaan orang. ―Pasti!‖ jawab Kwee Ceng sungguh-sungguh. ―Aku sendiri, belum pernah aku bergembira seperti sekarang ini!‖ Oey Yong membawa tubuhnya mendekati dada si pemuda dan menempelkannya, maka Kwee Ceng lantas saja merasakan ia bagai terkurung bau harum, bau yang meliputi juga antero telaga, seluruh langit dan bumi…… Tanpa mengucap sepatah kata, keduanya saling berpegang tangan….. Lagi sekian lama, tiba-tiba Oey Yong menghela napas. ―Tempat ini sungguh indah, sayang kita bakal meninggalkannya…‖ katanya. ―Kenapa begitu?‖ Kwee Ceng tanya. Ia heran. ―Bukankah kita harus mencari obat untuk menolongi Ong Totiang?‖ sahut si nona. Kwee Ceng sadar, ia menjadi girang sekali. ―Ah, ke mana kita mencarinya?‖ ―Ke manakah perginya itu beberapa rupa obat yang dibutuhkan, yang tidak berada di rumah-rumah obat?‖ Oey Yong menanya. ―Tentulah semua itu dibeli oleh orangnya Chao Wang,‖ menyahut Kwee Ceng. ―Benar!‖ berkata si nona. ―Tetapi tidak dapat kita pergi ke sana!‖ Kwee Ceng bilang. ―Pergi ke sana artinya kita mengantari jiwa kita…‖ ―Habis apakah kau tega membiarkan Ong Totiang menjadi bercacad seumur hidupnya?‖ Oey Yong tanya. ―Jangan-jangan, karena lukanya itu berubah menjadi berbahaya, ia pun bisa hilang jiwanya….‖ Darahnya Kwee Ceng bergolak. ―Baik, aku akna pergi!‖ ia bilang. ―Tapi kau jangan turut…‖

Kwee Ceng berdiam. Ia tidak punyakan alasan untuk kata-katanya itu.

Irawan D Soedradjat

Page

206

―Jangan turut? Kenapakah?‖ tanya si nona.

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong mengawasi. ―Engko yang baik,‖ katanya perlahan. ―Kau kasihanilah aku. Umpama kata kau menemui bencana, apakah kau sangka aku dapat hidup seorang diri saja?‖ Kwee Ceng menjadi sangat bersyukur dan bergirang. ―Baiklah!‖ katanya kemudian. ―Mari kita pergi bersama!‖ Keduanya lantas mengayuh, membuatnya perahu mereka ke pinggir, setelah mendarat, mereka menuju langsung ke istana Chao Wang, ke arah belakang. Mereka memasuki pekarangan dengan melompati tembok. ―Engko Ceng, sempurna sekali ilmu ringan tubuhmu!‖ Oey Yong memuji selagi si anak muda mendekam di kaki tembok untuk memasang kuping dan mata. Mendengar pujian itu, Kwee Ceng gembira bukan main. Merdu sekali suara si nona. Tak lama, mereka mendapat dengar tindakan kaki dibarengi sama suara bicara sambil tertawa. Mereka menutup mulut. ―Siauw-ongya mengurung si nona di sini, kau tahu untuk apa?‖ terdengar seorang menanya. ―Siauw-ongya‖ itu ialah pangeran muda. ―Buat apa lagi!‖ tertawa orang yang kedua. ―Si nona ada demikian cantik! Sejak kau dilahirkan, pernahkah kau melihat nona secantik itu?‖ ―Kau hati-hati, sahabat!‖ kata yang pertama, ―Melihat macammu ini, hati-hatilah, nanti siauw-ongya kutungi batang lehermu…‖ Kwee Ceng lantas berpikir: ―Kiranya Wanyen Kang sudah punya pacar maka juga ia tidak sudi nikahi nona Bok. Dalam hal ini, dia tidak dapat disesalkan. Cuma mengapa ia mengurung nona itu? Mustahilkah si nona menolak dan ia hendak gunai kekerasan untuk memaksa?‖ Dua orang itu sudah lantas datang dekat sekali, yang satu membawa tengloleng, yang lainnya menenteng barang makanan. Yang membawa makanan itu berkata pula sambil tertawa: ―Siauw-ongya aneh! Dia mengurung orang, dia juga khawatir orang kelaparan! Lihat, sudah malam begini dia masih suruh mengantarkan barang makanan….‖ ―Jikalau tidak berlaku manis budi, mana dia dapat merampas hati si nona?‖ berkata yang membawa lentera. Lantas mereka lewat, suara tertawa mereka masih terdengar. ―Mari kita lihat!‖ berbisik Oey Yong, yang hatinya menjadi tertarik. ―Sebenarnya bagaimana sih cantiknya orang itu…‖ ―Lebih perlu kita mencari obat,‖ Kwee Ceng bilang. ―Aku ingin lihat dulu si cantik!‖ kata Oey Yong, yang tertawa. Kwee Ceng heran sekali. ―Apa sih bagusnya orang perempuan untuk di lihat?‖ katanya dalam hati. Ia tidak menginsyafi sifat wanita. Kalau satu nona mendengar ada nona cantik lainnya, sebelum melihatnya, hatinya tidak nanti puas, kalau dia sendiri cantik, lebih keras lagi keinginannya melihatnya itu. ―Ah, dasar anak kecil….!‖ Luas pekarangan dalam dari gedung Chao wang itu. Mereka berdua berjalan berliku-liku menguntit dua hamba tadi. Mereka tiba di depan sebuah gedung besar yang gelap, tapi ada yang jaga. Mereka lantas umpatkan diri, untuk mendenagri kedua kacung itu bicara sama penjaga rumah itu, yang ialah seoarng serdadu. Dia ini lantas membuka pintu, untuk mengijinkan orang masuk. Oey Yong cerdik. Ia menjumput sebutir batu, dengan itu ia menimpuk lentera orang, hingga apinya lentera itu padam seketika, membarengi mana ia tarik tangan si anak muda, untuk diajak berlompat masuk ke pintu. Kedua kacung dan serdadu itu tidak menduga jelek, mereka cuma menyangka batu jatuh dari atas. Sembari mengutuk, mereka nyalakan pula lenteranya. Setelah membuka sebuah pintu dalam, yang kecil, berdua mereka masuk lebih jauh.

Irawan D Soedradjat

Page

207

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong dan Kwee Ceng menempatkan diri di sebelah belakang, dengan hati-hati mereka menguntit pula, sampai mereka berada di depan sebuah ruang seperti kerangkeng binatang liar, jerujinya semua besi kasar. Di dalam situ ada dua orang, terlihat samar-samar seperti pria dan wanita. Satu bujang lantas memasang lilin, yang mana ia masuki ke dalam kerengkeng. Maka sekarang terlihat tegaslah dua orang yang terkurung itu. Mengenali mereka, Kwee Ceng terkejut. Mereka adalah Bok Ek serta gadisnya, yang tadi siang mengadakan pibu mencari jodoh. Bok Ek nampaknya tengah bergusar. Liam Cu duduk di samping ayahnya dengan kepala tunduk. ―Bagaimana dengan Wanyen Kang? Sebenarnya dia sukai nona ini atau tidak?‖ Kwee Ceng beragu-ragu. Kedua bujang itu memasuki barang makanan berikut araknya. Bok Ek sembat sebuah mangkok, terus ia lemparkan. Ia berseru: ―Aku telah terjatuh ke dalam tipumu yang busuk, kalau kau hendak membinasakan, binasakanlah! Buat apa kamu berpura-pura menaruh belas kasihan?!‖ Belum sampai si bujang membilang apa-apa, di sebelah luar terdengar suaranya serdadu penjaga pintu yang tadi: ―Siauw-ongya baik?‖ Mendengar itu, Kwee Ceng dan Oey Yong berpaling, lalu lekas-lekas mereka mencari tempat sembunyi. Segera juga terdengar suara membentak sari Wanyen kang, yang datang dengan tindakan lebar: ―Siapa yang membikin Bok Loenghiong gusar? Awas, sebentar aku hajar patah kaki anjingmu!‖ Kedua hamba itu lantas bertekuk lutut. ―Hambamu tidak berani…‖ berakat mereka. ―Lekas berlalu!‖ membentak pula si pangeran. ―Ya, ya…‖ menyahuti kedua hamba itu, yang berlalu dengan cepat. Hanya setibanya mereka di pintu luar, mereka saling mengawasi dengan mengulurkan lidahnya masing-masing….. Wanyen Kang tunggu sampai orang telah merapatkan daun pintu, ia hampiri Bok Ek dan gadisnya. ―Jiwi silahkan kemari!‖ ia berkata, suaranya sabar sekali. ―Aku hendak membilangi sesuatu kepada kamu, harap kamu jangan salah mengerti.‖ ―Kau telah kurung kami sebagai pesakitan, apakah artinya undanganmu ini?!‖ Bok Ek menegur. Ia gusar sekali. ―Maafkan aku, menyesal sekali,‖ berkata Wanyen kang. ―Untuk sementara aku minta jiwi harap bersabar. Aku pun merasa tak enak hati.‖ ―Kau boleh akali bocah umur tiga tahun!‖ Bok Ek membentak pula. ―Aku tahu baik sifatnya kamu orang besar! Hm!‖ Wanyen Kang hendak bicara pula, saban-saban ia terhalang oleh bentakan orang tua itu, tetapi ia sabar luar biasa, sebaliknya dari bergusar, ia tertawa. ―Ayah, coba dengar dulu apa ia hendak bilang,‖ akhirnya Liam Cu berkata dengan perlahan. ―Hm!‖ orang tua itu perdengarkan suara di hidungnya. ―Nona seperti putrimu, mustahil aku tidak sukai dia‖ berkata Wanyen Kang. Mendengar itu, wajahnya Liam Cu menjadi merah, ia tunduk lebih rendah. ―Hanyalah aku adalah satu pangeran dan aturan rumah tanggaku keras sekali,‖ Wanyen Kang berkata pula. ―Umpama kata orang mendapat tahu aku mempunyai mertua seorang kangouw, bukan cuma ayahku bisa memarahinya, malah ada kemungkinan sri baginda juga nanti menegur ayahku itu…‖ ―Habis kau mau apa?‖ menanya Bok Ek. Ia anggap orang bicara beralasan juga. ―Sekarang ini aku mau minta jiwi berdiam dulu beberapa hari di sini, untuk sekalian merawat lukamu,‖ sahut pangeran itu. ―Setelah itu barulah kamu pulang ke kampung halamanmu. Nanti, selang satu atau setengah tahun, setelah suasana sudah reda, akan aku nikahi putrimu ini, baik dengan jalan aku pergi menjemput ke rumahmu atau dengan minta locianpwee datang ke mari. Tidakkah itu lebih bagus?‖ kata pangeran ini lebih lanjut.
Irawan D Soedradjat

Page

208

Pendekar Pemanah Rajawali

Bok Ek berdiam. Ia tengah memikir satu hal lain. ―Peristiwa ini bisa merembet ayahku,‖ Wanyen Kang berkata pula, sambil tertawa. ―Oleh karena kenakalanku, beberapa kali ayah pernah ditegur sri baginda raja, maka kalau urusan ini sampai didengar oleh sri baginda, pastilah pernikahan ini gagal. Maka itu aku minta sukalah locianpwee menyimpan rahasia.‖ Bok Ek gusar. ―Menurut caramu ini!‖ katanya sengit, ―Kalau nanti anakku menikah sama kamu, untuk seumur hidupnya ia mesti main sembunyi-sembunyi! Dia jadinya bukan satu istri yang terang di muka umum!‖ ―Dalam hal ini pastilah aku akan mengatur lainnya,‖ Wanyen Kang memberi keterangan. ―Sekarang pun aku sudah pikir nanti minta perantaraannya beberapa menteri sebagai orang pertengahan, supaya kita nanti menikah secara terhormat….‖ Wajahnya Bok Ek berubah. ―Kalau begitu, pergi kau panggil ibumu datang ke mari,‖ katanya. ―Aku ingin kita omong depan berdepan dan secara terus terang!‖ Wanyen Kang tersenyum. ―Mana dapat ibuku menemui locianpwee?‖ katanya. ―Jikalau aku tidak dapat bicara dengan ibumu, biar bagaimana, tidak sudi aku melayani kamu!‖ kata Bok Ek kaku, tangannya menyambar sepoci arak, yang dia timpukkan di antara jeruji besi. Bok Liam Cu kaget dan berduka menyaksikan sikap ayahnya ini. Sebenarnya, semenjak memulai bertanding sama pangeran itu, ia telah menaruh hati, maka juga ia senang mendengar pembicaraannya si anak muda yang ia anggap beralasan. Ia tidak sangka, ayahnya telah ambil sikapnya yang tegas itu. Wanynn Kang geraki tangannya menyambar poci arak itu, terus ia letaki itu ditempatnya, di atas meja. ―Menyesal tidak dapat aku menemani lebih lama,‖ katanya. Ia tertawa dan memutar tubuhnya untuk berlalu. Kwee Ceng anggap omongannya Wanyen Kang beralasan. Bukankah si pangeran ada kesulitannya sendiri? Maka itu, menyaksikan kemurkaannya Bok Ek, ia lantas berpikir; ―Baiklah aku bujuki ia…‖ Ia lantas geraki tubuhnya, untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi ia tidak dapat wujudkan apa yang ia pikirkan itu. Oey Yong telah tarik tangan bajunya, untuk ajak ia keluar. ―Apakah sudah diambil?‖ mereka lantas dengar suaranya Wanyen Kang, yang bicara sama satu hambanya. ―Sudah,‖ sahut si hamba, yang terus angkat sebelah tangannya. Nyata ia mencekal seekor kelinci. Wanyen Kang menyambuti dengan kedua tangannya, tiba-tiba saja ia patahkan kedua kakinya kelinci itu, yang ia terus masuki ke dalam sakunya, setelah mana ia bertindak dengan cepat. Binatang itu berpekik satu kali, lalu kelengar. Dua-duanya Oey Yong dan Kwee Ceng heran sekali. Merak lantas kuntiti pangeran itu, yang jalan memutari sebuah pagar bambu, setelah mana terlihatlah sebuah rumah tembik putih yang kecil. Itulah rumah bermodel rumah rakyat di Kanglam. Maka heran di dalam pekarangan istana mentereng itu ada sebuah rumah yang begini sederhana. Maka mereka jadi bertambah heran. Wanyen Kang menolak pintu rumah itu dan masuk ke dalamnya. Dengan lekas Kwee Ceng berdua lari ke jendela untuk memasang kuping sambil mengintai di sela-sela jendela itu. Mereka percaya mesti ada perbuatan yang aneh dari si pangeran itu. ―Ma!‖ mereka lantas dengar suara si pangeran. ―Ya..!‖ demikian suara penyahutan perlahan, suaranya seorang wanita. Wanyen Kang lantas masuk ke dalam kamar.

―Mama, apakah hari ini kau kurang sehat?‖ tanya Wanyen Kang seraya pegangi tangan si nyonya.
Irawan D Soedradjat

Page

209

Untuk bisa melihat, Kwee Ceng berdua menghampirkan sebuah jendela lain. Maka mereka lantas tampak satu nyonya tengah berduduk di pinggiran meja, sebelah tangannya menunjang dagu, matanya mendelong. Dia belum berumur empatpuluh tahun dan mukanya cantik sekali. Di rambut dekat kupingnya dia memakai setangkai bunga putih. Pakaiannya semua terdiri dari kain kasar.

Pendekar Pemanah Rajawali

Nyonya itu menghela napas. ―Bukankah aku tak berlega hati untukmu?‖ sahutnya. Wanyen Kang sanderkan diri di tubuh nyonya itu, yang ia panggil ibu, agaknya ia manja sekali. ―Ma, bukankah anakmu berada di sini?‖ katanya, aleman. ―Toh aku tidak kekurangan walaupun sebelah kakiku…?‖ ―Kau mengacau, kalau ayahmu dengar itu, masih tidak apa,‖ berkata si ibu itu, ―Tetapi gurumu? Bagaimana kalau ia mendengar kabar? Tidakkah hebat?‖ ―Ma,‖ berkata si pangeran, tertawa, ―Tahukah kau siapa imam itu yang datang menyela untuk menolongi orang?‖ ―Siapakah imam itu?‖ ―Dialah adik seperguruan dari guruku…‖ ―Celaka!‖ berseru si nyonya kaget. ―Pernah aku melihatnya gurumu disaat ia tengah murka! Dia dapat membunuh orang! Sungguh menakutkan…!‖ Wanyen Kang agaknya heran. ―Pernah mama melihat suhu membunuh orang?‖ dia tanya. ―Di manakah itu? Kenapa suhu membunuh orang?‖ Nyonya itu angkat kepalanya, memandang lilin. Ia agaknya tengah memikir jauh. ―Itulah sudah lama, sudah lama,‖ katanya kemudian dengan perlahan. ―Ah, kejadian daulu hari itu hampir aku lupa….‖ Wanyen Kang tidak menanyakan lebih jauh, sebaliknya dengan gembira, ia kata; ―Ong Susiok itu telah mendesak aku, menanyakan bagaimana urusan pibu hendak diselsaikan. Aku telah menjanjikan untuk menerima baik. Asal si orang she Bok itu datang, apa yang diatur, aku terima baik.‖ ―Apakah kau sudah bicara dengan ayahmu?‖ tanya si nyonya itu. ―Bersediakah dia akan memberikan perkenanannya?‖ Wanyen Kang tertawa. ―Ma, kau memang baik sekali!‖ katanya. ―Dari siang-siang telah aku perdayakan orang she Bok itu dan gadisnya datang ke mari, sekarang mereka ditahan di kerangkeng di belakang sini. Mana Ong Susiok dapat mencari mereka?‖ Selagi si pangeran ini demikian gembira, Kwee Ceng sebaliknya bertambah kemendongkolannya dan kemurkaannya. Kata pemuda ini dalam hatinya; ―Aku menyangka dia bermaksud baik, siapa tahu ia sebenarnya sangat licik!‖ Si wanita pun tidak setujui putranya itu. ―Kau telah permainkan anak dara orang,‖ katanya kurang senang, ―Kau juga kurung mereka di sini. Apakah artinya itu? pergi lekas kau merdekakan mereka! Kau berikan mereka uang, kau menghanturkan maaf, lantas kau persilahkan mereka pulang ke kampung halaman mereka.‖ Kwee Ceng mengangguk-angguk. Ia setujui sikap nyonya itu. ―Begitu baru benar,‖ pikirnya. Wanyen kang tetap tertawa. ―Ma, kau belum tahu,‖ katanya. ―Orang kangouw seperti mereka tidak memandang uang! Jikalau mereka dilepaskan, setelah merdeka, tentu mereka akan buka suara lebar-lebar. Kalau itu sampai terjadi, bagaimana suhu bisa tak ketahui urusan ini?‖ ―Habis, apakah kau hendak kurung mereka seumur hidup mereka?‖ tanya si nyonya. Putra itu tetap tertawa. ―Akan aku bicara baik-baik dengan mereka, nanti aku perdayakan hingga mereka suka pulang ke kampung halaman mereka,‖ ia bilang. ―Biarlah di sana mereka menanti-nanti hingga mereka putus asa…‖. Lantas ia tertawa terbahak.

Irawan D Soedradjat

Page

―Jangan turuti adat…!‖ demikian ia dengar bisikan di kupingnya, berbareng denagn mana sebuah tangan yang halus menutup mulutnya dan tangan yang lain menarik tangannya. Merdu bisikan itu……

210

Kembali bangki hawa amarahnya Kwee Ceng, hingga ia ayun sebelah tangannya ke daun jendela dan mulutnya pun hendak dibuka.

Pendekar Pemanah Rajawali

Cuma sejenak itu, pemuda ini insyaf akan kekeliruannya, maka ia menoleh kepada si nona manis di sisinya dan bersenyum. Karena itulah Oey Yong yang mencegah padanya. Kemudian ia mengintai pula ke dalam kamar. ―Tua bangka she Bok itu sangat licin,‖ terdengar pula suaranya Wanyen Kang. ―Telah aku bujuki dia, dia tak mau makan umpan. Maka biarlah dia ditahan lagi beberapa hari, untuk lihat akhirnya dia suka menurut atau tidak.‖ ―Aku lihat nona itu bagus romannya dan gerak-gerakinya, aku suka dia,‖ berkata si nyonya. ―Aku pikir hendak bicara dengan ayahmu, supaya kau diijinkan menikah dengannya. Bukankah dengan begitu selesai sudah semuanya?‖ ―Ah, mama, ada-ada saja!‖ berkata sang putra sambil tertawa. ― Kita dari keluarga apa? Cara bagaimana aku bisa menikah dengan satu nona kangouw? Ayah sering bilang padaku bahwa dia hendak mencarikan satu jodoh dari keluarga agung. Sayangnya ialah ayah bersaudara dengan raja yang sekarang…‖ ―Apakah yang dibuat sayang?‖ nyonya itu bertanya. ―Sebab,‖ menyahut sang putra, ―Kalau tidak, pasti aku kana mendapatkan putri raja dan aku bakal menjadi menantu raja!‖ Nyonya itu menghela napas, ia tak bicara lagi. ―Ma, ada satu lagi hal yang lucu,‖ Wanyen Kang berkata pula, tak ketinggalan tertawanya. ―Tua bangka she Bok itu bilang ingin bertemu sama kau, ingin dia bicara sendiri, untuk mendapat kepastian, setelah itu barulah dia mau mempercayai aku.‖ ―Tidak nanti aku bantui kau memperdayakan orang, itulah perbuatan yang tidak baik!‖ berkata pula si ibu. Wanyen Kang tertawa geli, ia jalan mondar-mandir di dalam kamar. Oey Yong dan Kwee Ceng dapat kesempatan memperhatikan kamar itu. Semua meja dan kursi terbuat dari kayu kasar. Pembaringan serta perlengkapannya mirip dengan kepunyaan kebanyakan petani di Kanglam, semua kasar dan jelek. Di tembok ada tergantung tombak serta sebuah pacul. Di pojokan ada sebuah mesin tenun. Maka, menyaksikan semua itu, mereka menjadi heran. ―Wanita ini mulia sebagai selir, mengapa ia tinggal dalam kamar dengan perlengkapan semacam ini?‖ mereka itu berpikir. Justru itu Wanyen Kang menekan ke dadanya, ke sakunya, lalu terdengar dua kali pekikan perlahan. ―Eh, apakah itu?‖ sang ibu tanya. ―Oh, hampir aku lupa!‖ sahut putranya itu, agaknya ia terperanjat. ―Tadi di tengah perjalanan pulang aku melihat seekor kelinci yang terluka, aku bawa dia pulang. Mama, coba kau tolong obati dia…‖ Ia lantas keluarkan kelinci putih itu, diletaki di atas meja. Dengan kakinya patah, binatang itu tidak dapat jalan. ―Anak yang baik!‖ berkata si nyonya. Ia lantas mencari obat, untuk mengobati kelinci itu. Lagi-lagi darahnya Kwee Ceng bergolak. Ia sungguh membenci orang punya kelicinan dan kekejaman itu, terutama untuk memperdayakan seorang ibu yang hatinya demikian mulia. Tidakkah binatang yang harus dikasihani itu sengaja disakiti? Bukankah ibu telah didustai, untuk mengobati binatang yang sengaja disiksa? Kalau terhadap ibu sendiri saja ia mendusta demikian, maka bisalah diketahui buruknya sifat anak itu. Oey Yong yang tubuhnya menempel sama tubuh si anak muda merasakan tubuh orang bergemetar. Ia menginsyafi bahwa orang ada sangat gusar. Tentu saja ia khawatir kawan ini perluap hawa amarahnya itu hingga Wanyen kang bisa pergoki mereka. Ia lantas pegang tangannya si pemuda itu, yang ia tarik untuk diajak mengundurkan diri.

―Tahukah kamu obat itu disimpan di mana?‖ Kwee Ceng tanya. Nona itu menggeleng kepala. ―Aku tidak tahu,‖ sahutnya. ―Mari kita cari…‖
Irawan D Soedradjat

Page

211

―Jangan pedulikan dia, mari kita pergi cari obat,‖ bisiknya.

Pendekar Pemanah Rajawali

Kwee Ceng bersangsi. Dimana mesti mencari obat di istana demikan besar? Bukankah berbahaya kalau mereka kepergok See Thong Thian atau lainnya? Ia tidak sempat berpikir lama-lama. Pikirannya itu berhenti secara tiba-tiba. Sebab kupingnya segera mendengar orang mengoceh seorang diri dan di depan matanya berkelebat sinar api. ―Anak yang manis, kalau kau tidak mencintai aku, kau mencintai siapa lagi? Maka, kau kasihanilah aku…‖ Sembari perdengarkan suaranya yang berlagu, terlihatlah seorang bertindak dengan perlahan-lahan. Dia mencekal sebuah tenglong. Selagi Kwee ceng hendak menyembunyikan diri di belakang sebuah pohon, Oey Yong justru maju memapak orang itu, hingga ia menjadi tercengang, lalu lantas saja ia diam bagai patung, hatinya goncang keras. Oey Yong telah ancam dia dengan sebatang pisau belati. ―Siapa kau?‖ si nona menanya, membentak tapi perlahan. Orang itu kaget dan ketakutan, selang berepa detik baru ia dapat menyahuti, suaranya tidak lancar. Ia adalah pengurus surat-surat di istana itu. ―Kau menjadi pengurus, bagus!‖ kata si nona. ―Di mana disimpannya obat-obatan yang hari ini pangeranmu yang muda menitahkan orang membeli?!‖ ―Semua itu siauw-ongya yang simpan sendiri, aku…aku tidak tahu…‖ Oey Yong cekal tangan orang dengan tangan kirinya untuk memencet, sedang ujung pisaunya ditempel kepada kulit leher. Orang itu kesakitan akan tetapi ia tidak berani berteriak. ―Kau hendak bilang atau tidak?!‖ si nona mengancam. ―Benar-benar aku tidak tahu….‖ jawab orang itu dengan gugup. Oey Yong kerahkan tenaga di tangan kirinya itu, lalu dengan menerbitkan suara membeletak, patahlah tangan kanan si pengurus itu. Ia buka mulutnya, untuk berteriak tetapi dengan cepat si nona sambar kopiah orang, untuk dipakai menyumbat mulutnya. Maka hanya sekali saja dia itu mengasih dengar suara keras tertahan, lalu ia roboh dengan pingsan. Kwee Ceng tidak menyangka satu nona demikian cantik dan halus gerak-geriknya dapat berbuat demikian telengas, ia menjadi tercengang, tak dapat ia membilang apa-apa. Oey Yong menotok dua kali kepada iganya pengurus istana itu, lantas ia sadar. Ia tarik kopiah orang, untuk dibelesaki ke kepelanya. ―Apakah kau ingin tangan kirimu pun dipatahkan?‖ ia tanya. Pengurus itu lantas saja menangis, ia menjatuhkan diri berlutut. ―Dengan sebenarnya aku tidak tahu, percuma umpama nona membunuh aku,‖ katanya. Sekarang Oey Yong mempercayainya, tetapi ia kata: ―Sekarang pergi kau kepada pengeranmu itu, bilang bahwa kau jatuh dan patah tanganmu. Kau kasih tahu bahwa tabib membilang kau perlu obat hiat-kat, gu-cit, thim-tha dan bu-yok. Obat itu semua tak dapat dibeli di kota raja ini, maka kau mintalah kepada pangeran itu.‖ Pengurus itu sudah membuktikan si nona tidak pernah main gila, ia suka menurut. ―Siauw-ongya ada pada ibunya, lekas-lekas kau pergi padanya!‖ Oey Yong bilang. ―Aku akan ikuti padamu. Jikalau kau tidak dengar aku dan sengaja kau membuka rahasia, akan aku patahkan batang lehermu, akan aku kerek matamu!‖

Irawan D Soedradjat

Page

Wanyen Kang masih ada pada ibunya, mereka masih pasang omong. Ia heran ketika ia lihat datangnya pengurus itu, yang bermandikan peluh dan air mata, dengan separuh mewek dia mohon diberi obat. Dia mengaku seperti ajarannya Oey Yong.

212

Tubuhnya orang itu bergemetar, ia merayap bangun, lalu dengan menggertak gigi, menahan sakit, ia lari ke arah kamarnya onghui, si selir.

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kasihlah dia obat!‖ berkata onghui, yang hatinya lemah. Ia lihat muka orang berpucat-pasi dan ia merasa kasihan. Wanyen Kang mengkerutkan alisnya. ―Semua obat itu ada apa Nio Losianseng,‖ katanya. ―Pergi kau mengambil sendiri!‖ ―Tolong ongya memberikan sehelai surat,‖ si pengurus meminta. Onghui itu sudah lantas sediakan perabot tulisnya. Wanyen Kang menulis beberapa kata-kata, untuk si Nio Losianseng, ialah io Cu Ong. Pengurus itu mengangguk-angguk mengucapkan terima kasihnya. ―Lekas kau pergi!‖ menitah onghui. ―Sebentar sesudah sembuh baru kau haturkan terima kasihmu!‖ Pengurus itu lantas saja bertindak keluar. Ia baru jalan beberapa tindak, atau pisau belati telah tertanda di pundaknya. ―Pergi kepada Nio Losianseng!‖ menitah Oey Yong separuh berbisik. Orang itu berjalan, baru beberapa puluh tindak, ia sudah terhuyung, rupanya tak sanggup ia menahan rasa sakitnya. ―Sebelum kau dapatkan obat itu, jangan harap jiwamu selamat!‖ si nona mengancam pula. Kaget hamba itu, ia mengeluarkan keringat dingin, entah dari mana, datanglah tenaga kekuatannya, maka dapat ia berjalan terus. Sekarang ia jalan dengan menemui beberapa hamba lainnya, mereka itu lihat ia diikuti si nona dan pemuda, mereka itu heran tetapi tidak ada di antara mereka yang menanya apa-apa. Tiba di kamarnya Nio Cu Ong, pintu kamar tertutup terkunci. Pengurus itu tanya satu hamba, ia dapat jawaban bahwa Nio Losianseng lagi menghadari perjamuannya pengeran di ruang Hoa Cui Kok. Kwee ceng lantas merasa kasihan menampak orang seperti tidak kuat jalan, ia lantas mencekal tubuh orang, untuk dipepayang. Bersama-sama mereka menuju ke tempat pesta itu. ―Berhenti! Siapa kamu!‖ Itulah teguran oleh dua orang, yang memapaki sekira beberapa tindak dari Hoa Cui Kok. Mereka itu masing-masing memegang golok dan cambuk. ―Aku hendak menemui Nio Losianseng,‖ sahut si pengurus, yang perlihatkan suratnya siauw-ongya. Dia lantas dikasih lewat. Ketika Kwee Ceng dan si nona ditanya, pengurus itu mendahului menerangkan: ―Mereka kawan kita.‖ Oey Yong berlaku tenang. Ia kenali dua orang itu, ialah dua dari keempat Hong Ho Su Koay, yaitu Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong. Mereka ini sebaliknya tidak mengenali orang, yang telah dandan sebagai asalnya, seorang nona. Hanya melihat Kwee Ceng, mereka tercengang, lantas mereka mau seraya angkat tangan mereka. Tapi sejenak itu, tidak dapat mereka menyerang dengan golok dan cambuk mereka. Tiba-tiba saja iga mereka kaku. Karena dengan kesebatannya yang luar biasa, Oey Yong sudah totok mereka. Kwee Ceng kagum vukan main. Ia berada di samping si nona tetapi ia tak sempat melihat gerakan tangan orang. Mendadak ia mengingat kejadian di rumah makan di Kalgan, tempo kawanan nona-nona serba putih hendak rampas kudanya, tahu-tahu mereka itu roboh tanpa berkutik. ―Pastilah mereka telah terkena tangan lihay dari si Yong ini,‖ pikirnya lebih jauh. ―Eh, kau pikirkan apa?‖ menegur si nona sambil tertawa menampak orang termenung. Ia lantas saja tarik Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong ke belakang pot-pot kembang, untuk disembunyikan, kemudian ia tarik tangan si pemuda, untuk menyusul si pengurus. Di depan Hoa Cui Kok, Oey Yong tolak tubuh si pengurus, untuk ia masuk, ia sendiri bersama Kwee Ceng lantas lompat naik ke payon, guna mengintai dari jendela, hinngga mereka dapat melihat jelas ke dalam. Terang sekali ruang dalam itu di mana ada sebuah meja penuh dengan pelbagai barang hidangan dan arak, tetapi yang membuat Kwee ceng terperanjat adalah kapan matanya bentrok sama hadirin yang duduk mengitari meja
Irawan D Soedradjat

Page

213

Pendekar Pemanah Rajawali

itu, sampai hatinya berdenyutan. Ia lihat dan mengenali Auwyang Kongcu dari pek To San, Kwie-bun Liongong See Thong Thian, Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay, Som Sian Lao-koay Nio Cu Ong dan Cian-ciu Jintouw Pheng Lian Houw. Menemani mereka itu, duduk di sebelah bawah adalah Chao Wang Wanyen Lieh, yaitu Liok-hong-cu atau pangeran keenam dari negara Kim. Duduk di samping, di atas kursi tay-su-ie yang besar dan tebal amparnya, adalah Tay-cu-in Leng Tie Siangjin, kedua mata siapa terbuka sedikit dan mukanya bagaikan kertas kuning, suatu tanda lukanya tak enteng. Diam-diam Kwee Ceng girang sekali, maka ia kata di dalam hatinya: ―Kau hendak mencelakai Ong Totiang, kau juga dapat merasakan enak….‖ Si pengurus bertindak masuk untuk terus berlutut di depan Nio Cu Ong, kedua tangannya mempersembahkan suratnya siauw-ongya. Nio Cu Ong menyambuti, ia baca surat itu, terus ia awasi si pembawa surat, kemudian ia angsurkan surat itu kepada Wanyen Lieh. ―Ongya, benarkah ini tulisannya siauw-ongya?‖ ia tanya. Chao Wang membaca surat itu, ia mengangguk. ―Benar,‖ katanya. ―Berikanlah dia obat itu.‖ Nio Cu Ong menoleh kepada kacung di sisinya. ―Tadi siauw-ongya ada mengirimkan empar macam rupa obat,‖ katanya. ―Kau ambilkan masing-masing itu satu tail, berikan kepada koankee ini.‖ Bocah itu menyahuti, lalu ia ajak si koankee atau pengurus itu mengundurkan diri. Kwee Ceng berbisik di kupingnya Oey Yong: ―Mari kita pergi, lekas! Semua mereka itu sangat lihay!‖ Oey Yong tertawa perlahan, ia menggeleng kepala. Oleh karena ia menggoyang kepalanya,rambutnya si nona mengenai mukanya si pemuda, hingga Kwee Ceng merasa gatal dari muka terus ke hatinya. Pemuda ini tidak hendak berbantahan, ia hanya lantas geraki tubuhnya untuk melompat turun. ia baru bergerak, atau si nona telah sambar tangannya, untuk ditahan. Untuk itu, nona itu mesti menyantel keras kedua kakinya pada payon, habis mana perlahan-lahan ia kasih turun tubuh si pemuda. Kwee Ceng terkejut, di dalam hatinya ia kata, ―Ah, aku semberono sekali. Tidakkah ini berbahaya? Bukankah orang-orang di dalam itu lihay semua? Jikalau aku berlompat mundur, bagaimana mereka tidak dapat memergokinya?‖ ia insyaf, dasar baru masuk dalam dunia kangouw, ia jadi kurang berpengalaman. Dengan lantas ia ikuti si pengurus dan kacung itu. Satu kali ia menoleh ke belakang, ia dapatkan Oey Yong masih belum turun, dengan masih bergelantungan nona itu mengawasi ke dalam ruangan. Oey Yong tidak segera berangkat. Untuk mencari tahu orang di dalam ketahui tentang dirinya atau tidak, ia mengintai terus. Ia lakukan itu setelah itu setelah ia lihat Kwee Ceng sudah pergi belasan tembok jauhnya. Katika ia mengawasi ke dalam, sinar matanya bentrok sama sinar mata tajam dari Pheng Lian Houw, ynag kebetulan berpaling. Ia tidak berani mengawasi terus, ia hanya memasang kuping. Seorang yang suaranya serak, berkata; ―Saudara-saudara, bagaimana pandangan kamu mengenai Ong Cie It? Adakah ia datang dengan maksud sengaja atau itu cuma kebetulan saja?‖ ―Peduli ia datang dengan sengaja atau bukan!‖ berkata seseorang, yang suaranya nyaring dan keras sekali. ―Dia telah merasai tangannya Leng Tie Siangjin, jikalau ia tidak mampus, sedikitnya ia mesti bercacad seumur hidupnya!‖ Oey Yong lantas mengawasi pula. Ia dapatkan orang itu adalaha Pheng Lian Houw yang matanya tajam, yang tubuhnya kate dan kecil. Seorang, yang suaranya tedas sekali, berkata smabil tertawa; ―Selama aku berada di wilayah Barat, aku pernah dengar namanya Coan Cin Cit Cu yang kesohor itu, sekarang terbukti mereka benar-benar lihay, coba Leng Tie Siangjin tidak menghadiahkan dia pukulan Tay-ciu-in, pastilah hari ini kita roboh di tangan mereka itu.‖ Seorang yang suaranya keras tetapi dalam berkata; ―Auwyang Kongcu, janganlah kau menempeli emas di mukamu….. Kita berdua pihak sama-sama nampak kerugian, siapa juga tidak ada yang menang…‖

Irawan D Soedradjat

Page

Sampai di situ, tuan rumah mempersilahkan tetamunya mengeringi arak mereka.

214

Orang yang dipanggil Auwyang Kongcu itu berkata pula: ―Biar bagaimana, kalau ia tidak kehilangan jiwanya, dia bakal bercacad. Siangjin cuma perlu beristirahat sekian waktu.‖

Pendekar Pemanah Rajawali

Habsi itu terdengar seorang berkata: ―Tuan-tuan telah memerlukan datang dari tempat ynag jauh, atas itu siauwong sangat berterima kasih. Sungguh inilah keberuntungan dari Negara Kim yang tuan-tuan telah dapat diundang!‖ ―Dia tentulah Chao Wang Wanyen Lieh,‖ pikir Oey Yong. Atas kata-kata itu, beberapa orang perdengarkan suara yang merendah. Setelah itu, terdengar pula suaranya Chao Wang: ―Leng Tie Siangjin adalah paderi suci mulia dari Tibet, Nio Losianseng adalah guru silat kenamaan Kwan-gwa, Auwyang Kongcu biasa hidup berbahagia di wilayah Barat dan belum pernah datang ke Tionggoan. Pheng Ceecu jago dari Tionggoan dan See Pangcu jago dari sungai Hong Hoo. Dari lima tuan-tuan, satu saja sudi datang membantu, pasti uasaha besar dari Negara Kim bakal berhasil, apapula sekarang lima-limanya telah datang semua. Hahahaha!‖ Agaknya bukan main gembiranya pangeran itu. ―Jikalau ongya ada titah apa-apa, pasti kami akan lakukan itu dengan sepenuh tenaga kami,‖ berkata Nio Cu Ong sambil tertawa. ―Apa yang dikhawatirkan adalah tenagaku tidak cukup nanti dan mensia-siakan kepercayaan ongya yang dilimpahkan kepada kami. Jikalau itu sampai terjadi, pastilah kami akan kehilangan muka kami.‖ Ia pun lantas tertawa. Kelima orang itu adalah bangsa jago dari beberapa puluh tahun, maka itu meskipun mereka bicara secara merendah, masih tetap tak hilang sifat jumawanya. Chao Wang mengangkat pula cawannya, mempersilahkan mereka itu minum. Terus ia kata: ―Siauw-ong telah mengundang tuan-tuan, pasti sekali siauw-ong akan menaruh kepercayaan kepada tuan-tuan, urusan bagaimana besar juga, tidak nanti siauw-ong sembunyikan, dilain pihak, apabila tuan-tuan telah ketahui segala apa, aku percaya tidak nanti tuan-tuan beritahukan itu kepada lain orang siapa juga, untuk mencegah pihak yang bersangkutan nanti mendapat ketahui dan dapat bersiap sedia….‖ Semua orang itu mengerti maksudnya pangeran ini, yang mempercayai mereka tetapi secara tidak langsung masih memesan untuk mereka menyimpan rahasia itu. ―Baik Ongya tetapkan hati, tidak nanti kami membikin rahasia bocor,‖ kata mereka. Dengan sendirinya mereka itu tegang hatinya. Mereka percaya, Chao Wang bakal percayakan mereka satu rahasia besar. ―Di tahun Thian-hwee ketika dari Sri Baginda Thay Cong kami dari Negara Kim,‖ berkata pula Chao Wang kemudian, ―Itulah tahun Soan-hoo ketujuh dari Kaisar Hiw Cong dari Keluarga Tio. Ketika itu dua Panglima besar kami ienmeho dan Kanlipu telah pimpin angkatan perangnya menerjang kerajaan Song, mereka berhasil menawan kedua Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong dari kerajaan musuh itu. Sejaka jaman dahulu, belum pernah negeri kami sekuat itu, walaupun demikian, sampai sekarang ini, Keluarga Tio itu yang tetap duduk sebagai raja di Hangciu. Tahukah tuan-tuan sebab dari pada itu?‖ Semua orang terdiam. Mereka heran raja muda itu membicarakan urusan negera. Cuma Nio Cu Ong yang lantas memohon penjelasan. ―Duni telah ketahui yang kerajaan kami telah berulang-ulang kalah di tangan Gak Hui, tentang ini tak usah disembunyikan lagi,‖ berkata pula Chao Wang. ―Wunchu, panglima kami, pandai mengatur tentara, akan tetapi menghadapi Gak Hui, dia selamanya kena dipecundangi. Benar kemudian Gak Hui dapat dibinasakan Cin Kwee yang dititahkan pemerintah kami, akan tetapi tenaga kami sudah lemah, kami tidak sanggup lagi berperang ke Selatan. Atas ini, aku tidak puas, tanpa mengukur tenaga sendiri, ingin aku mendirikan suatu jasa besar untuk negeraku. Untuk ini, tidak dapat tidak, aku mebutuhkan bantuan tuan-tuan.‖ Orang saling memandang, bagi mereka belum jelas maskudnya raja muda ini. Mereka bukan orang peperangan tukang merobohkan atau merampas kota. Chao Wang tampaknya sangat puas den bernafsu ketika ia berbicara pula, suaranya sedikit menggetar. Katanya: ―Baru beberapa bulan yang lalu, diluar dugaanku, aku telah dapat menemui sebuah surat peninggalan pemerintahku yang dulu. Itulah suratnya Gak Hui yang bunyinya luar biasa. Selang beberapa bulan, barulah aku dapat terka maksudnya surat itu. Gak Hui menulis itu ketika ia dipenjarakan. Rupanya ia mengerti bahwa ia tidak bakal hidup lebih lama lagi, tetapi ia sangat mencintai negaranya, maka ia tinggalkan warisannya itu. Itulah surat yang merupakan rahasia ilmu perang, bagaimana harus mendidik tentara dan berperang. Ia mengharapkan warisannya itu terjatuh di dalam tangan seorang yang nanti bisa pakai itu untuk melawan negara
Irawan D Soedradjat

Page

215

Pendekar Pemanah Rajawali

Kim. Tapi Cin Kwee menjaga keras sekali, sampai hari matinya Gak Hui, surat itu tidak dapat diberiakan kepada orang luar. Para hadiran sangat tertarik hatinya, sampai mereka melupakan arak dan barang hidangan mereka. Oey Yong pun ketarik hatinya. ―Gak Hui dapat mengetahui warisan itu tidak dapat diloloskan, ia terus simpan itu ditubuhnya,‖ Chao Wang melanjuti. ―Sebagai gantinya, ia meninggalkan sepucuk surat warisan, yang bunyinya tidak keruan junterungannya. Cin Kwee mempunyai kepandaian sebagai conggoan, ia masih tidak dapat menangkap artinya surat wasiat itu, maka surat itu ia dikirim ke negriku. Selama beberapa puluh tahun, surat itu disimpan di dalam istana. Dipihak kami juga tidak ada yang bisa mengartikan surat itu, orang hanya menduga, saking berduka dan penasaran, disaat-saat kematiannya, Gak Hui menulis ngaco belo. Tidak tahunya, itu adalah sebuah teka-teki istimewa.‖ Orang heran tetepi sekarang mereka memuji kecerdikan Chao Wang itu. ―Gak Hui begitu pandai, kalau kita bisa dapatkan surat warisan ilmu perangnya itu, bukankah gampang untuk negaraku mempersatukan benua ini?‖ berkata Chao Wang. Mendengar itu barulah semua orang dapat menerka maksudnya pangeran ini. Mereka pada berkata dalam hati masing-masing. ―Kiranya Chao Wang mengundang kita untuk minta kita menjadi pembongkar kuburan…‖ ―Turut dugaanku semula, surat wasiat itu mestinya dibawa Gak Hui ke dalam liang kubur,‖ Chao Wang berkata pula. Ia berdiam sebentar, agaknya ia berpaling. ―Tapi….Tuan-tuan adalah orang-orang yang gagah, mustahillah aku nanti meminta tuan-tuan pergi mencuri dengan membongkar kuburan? Di samping itu, ada satu keberatan lainnya. Gak Hui itu memang musuh negaraku, tetapi ia adalah satu orang gagah dan setia, satu pencinta negara, yang siapa pun menghormatinya, dari itu, cara bagaimana aku berani mengganggu tempat perkuburannya? Karena ini, aku sudah lantas memikirkannya terlebih jauh. Aku pun telah membongkar surat-suratnya kerajaan Song, yang telah dikirim semenjak dulu-dulu. Diakhirnya, aku telah berhasil memperoleh suatu sumber lain. Ketika itu hari Gak Hui menjalankan hukuman mati di paseban Hong Po Teng, dia dikubur di tepinya jembatan Ciong An Kio di dekat paseban itu, baru kemudian kaisar Song Hauw Cong memindahkan kuburannya ke tepi telaga See Ouw, dimana pun didirikan sebuah rumah abu untuknya. Dilain pihak lagi, pakaian dan kopiahnya Gak Hui disimpan di tempat lain, ialah di kota raja Lim-an. Karena itu tidak gampang untuk mencari surat wasiat itu. Pada ini ada satu rahasia yang tidak boleh didengar lain orang, atau orang nanti mendahului kita mengambilnya. Harus diketahui di wilayah Selatan ada banyak sekali orang-orang gagah. Maka itu, setelah memikir lama, tidak ada jalan bagiku kecuali mengundang tuan-tuan, yang terhitung orang-orang Rimba Persilatan kelas satu.‖ Mendengar ini, para hadiran itu pada mengangguk. ―Pernah aku menduga, mungkin surat wasiat itu telah diambil lain orang,‖ Wanyen Lieh berkata lebih jauh. ―Bukankah pakaiannya Gak Hui itu telah dipindahkan? Ada kemungkinan, selama perpindahan itu, suratnya telah diambil orang. Hanya kalau surat itu sampai ada yang ambil, orang itu mesti mengerti kepentingannya itu. Siapa yang menghormati Gak Hui, dia tentu tidak berani menggangu pakaiannya. Aku percaya, belum ada lain orang yang mengetahuinya. Kalau kita sudah sampai di sana, aku percaya, kita bakal dapatkan surat itu. Memang, kalau dikata sukar, sukarnya bukan main, akan tetapi di mata orang lihay, gampangnya bukan buatan. Sebenarnya surat wasiat itu disimpan di…..‖ Baru Chao Wang mengucapkan sampai di situ, tiba-tiba pintu ruang ada yang tabrak hingga terbuka terpentang, lalu satu orang terlihat menebros masuk, matanya bengkat dan mukanya matang biru. Dia lantas lari ke Nio Cu Ong. ―Suhu…!‖ dia berseru, lantas suaranya tertahan. Segera orang kenali, dia adalah si kacung yang tadi Nio Cu Ong titahkan pergi mengambil obat……

Bab 20. Tombak Besi Dan Pakaian Lama

Irawan D Soedradjat

Page

216

Pendekar Pemanah Rajawali

Kwee Ceng telah terus ikut si pengurus bersama si kacung pergi untuk mengambil obat. Jalanan ada berlikuliku. Selama itu ia masih terus mengancam si pengurus, yang khawatir nanti jatuh atau main gila. Akhirnya mereka tiba di tempatnya Nio Cu Ong. Kacung itu membuka pintu, ia masuk ke dalam dan menyulut lilin. Begitu ia berada di dalam kamar, Kwee Ceng lihat obat-obatan memenuhi meja, pembaringan dan lantai. Di situ pun ada banyak botol dan guci, besar dan kecil. Rupanya Nio Cu Ong gemar sekali membuat obat-obatan. Kacung itu rupanya mengerti obat-obatan, ia sudah lantas mengambil kertas, untuk menjumput empat rupa obat yang dibungkus masing-masing. Obat-obatan mana terus ia serahkan pada si koanke. Tapi Kwee Ceng yang, yang tak tahan sabar, sudah lantas mengulur tangannya, akan sambut obat-obatan itu, terus tanpa pedulikan si koanke, ia bertindak untuk pergi lebih dulu. Si koankee itu cerdik, walaupun ia telah terluka, pikirannya berekrja. ia sengaja jalan perlahan. Ia tunggu sampai Kwee Ceng dan si kacung sudah keluar dari kamar, dengan sebat ia tiup padam api lilin, segera ia sambar daun pintu, untuk digabruki dan dikunci, menyusul mana ia berteriak-teriak: ―Ada penjahat! Ada penjahat!― Kwee Ceng terkejut, ia memutar tubuh, ia mencoba membuka pintu tetapi sia-sia belaka, ia sudah ketinggalan. Ia gusar dan terburu nafsunya, selagi begitu si kacung sambar bungkusan obat di tangannya, bungkusan mana terus dilemparkan ke empang di dekat mereka. Kacung itu adalah muridnya Nio Cu Ong, dia masih kecil tetapi cerdik, mendegar teriakannya si koanke, dia menjadi kaget dan heran, kemudian dia menjadi curiga, maka ia rampas obat itu dan dibuang. Dalam gusarnya, kwee Ceng kerahkan tenaganya menghajar pula pintu kamar. Kali ini daun pintu dapat digempur terbuka. Dalam sengitnya, ia serang si koanke yang segera roboh tanpa dapat membuka suara. Tempo Kwee Kwee Ceng menoleh, si kacung sudah lari. Dalam murkanya, ia berlompat untuk mengejar, segera ia berada di balakang kacung itu, pundak siapa ia jambret. Kacung itu dapat dengar suara menyambar, ia berkelit sambil mendak, lalu seraya memutar tubuh, ia membalas menyerang denagn sapuan kakinya. Kwee Ceng jadi tambah penasaran, setelah berkelit, ia menyerang dengan hebat. Dua kali kacung itu kena dihajar mukanya, cuma sebab ia masih keburu membuang mukanya, dia tak sampai roboh. Adalah kemudian, setelah kepalanya ke disampok, dia roboh dengan pingsan. Dengan satu dupakan, Kwee Ceng bikin tubuh si kacung terlempar ke tempat tumbuh rumput didekatnya, habis itu ia lari ke dalam kamar. Ia lantas menyalakan api. Terlihat si koanke masih rebah tanpa berkutik. Ia mengawasi obat, ia menjadi bingung. tadi ketika si kacung mengambil obat, dia tidak perhatikan darimana orang mengambilnya. Pun nama obat yang tertempel di peles obat tidak dapat ia baca, sebab itu ditulis dalam hurufhuruf Nuchen. Tapi ia mesti bekerja cepat, tidak bisa ia memikir lama-lama. ―Tadi kacung ini berdiri di dekat sini, baik aku ambil semua obat ini, sebentar Ong Totiang yang pilih sendiri,‖ pikirnya kemudian. Maka ia lantas ambil kertas, ia membungkus setiap obat. Karena ia bekerja cepat, tanpa sengaja Kwee Ceng kena langgar sebuah keranjang di sampingnya. Ketika itu jatuh ke lantai, tutupnya terbuka. Untuk kagetnya, ia lihat isi keranjang adalah sebuah ular besar yang tubuhnya merah mulus. Malah ular itu segera menyambar! Kwee Ceng kaget, syukur ia masih sempat berlompat. Sekarang ia dapat melihat dengan tegas, tubuh ular ada sebesar cangkir, separuh tubuhnya masih ada di dalam keranjang, jadi belum ketahuan berapa panjangnya tubuh ular itu. Yang aneh adalah itu warna merah mulus. Lidah ular, yang diulur keluar, bercabang dua, lidah itu bergerak-gerak tak hentinya. Selagi mundur, Kwee Ceng membentur meja, lilin di atas meja roboh dan padam, maka ruangannya segera menjadi gelap-gulita. Tapi obat telah didapat, ia lantas lari ke pintu untuk mengangkat kaki. Tiba-tiba ia merasakan kakinya disambar dan dipeluk, atau itu mirip dengan libatan dadung/tali, saking kaget, ia melompat untuk meloloskan diri. Tapi ia dapat berhasil. Sebaliknya ia lantas merasakan barang adem mengenakan lengannya.Kembali ia menjadi kaget. Ia tahu sekarang bahwa ia telah dililit ular. Tapi ia tak hilang akal, dengan tangan kirinya hendak ia cabut golok emas hadiah Jenghiz Khan. Disaat itu, ia merasakan bau obat tercampur bau amis menyambar hidungnya, lalu mukanya terasa dingin. Itulah ular yang telah menjilati mukanya! Lagi sekali ia kaget tak terkira! Tak sempat ia menghunus goloknya, dengan tangan kirinya ia sambar leher ular untuk dipencet.

Irawan D Soedradjat

Page

217

Pendekar Pemanah Rajawali

Ular itu agaknya kaget, dia bertenaga besar, sebelum lehernya tercekik, ia pentang mulutnya, untuk mencoba mengigit muka Kwee Ceng. Dilain pihak, ia melibat dengan mengerahkan tenaganya, hingga Kwee Ceng lantas merasai tubuhnya terlilit keras, sampai napasnya mulai sesak bahkan tenaga tangan kirinya mulai berkurang. Baunya ular itu sangat mengganggu pernapasan si anak muda, hingga ia menjadi mual, hendak ia muntah. Adalah sejenak kemudian, ia kehabisan tenaga, ia seperti hendak pingsan, cekikan tangan kirinya terlepas sendirinya….. Adalah disaat itu dilain pihak si kacung telah sadar dari pingsannya. Dia mendapatkan kamar gelap sekali. Dia tahu, orang jahat itu tentu telah kabur. Maka tidak ayal lagi, ia lari keluar dari kamar, dia kabur kepada gurunya itu. Oey Yong terkejut akan dengar keterangan si kacung, denagn gerakan ―Burung meliwis turun di pasir datar‖, dengan enteng sekali, ia lompat turun. ia menaruh kaki tanpa menerbitkan suara. Meski begitu, tak urung ia telah keperogok. Inilah sebabnya, segera setelah keterangan si kacung, semua orang menjadi curiga. Mereka memang semuanya orang-orang lihay. Sejenak saja tubuh io Cu Ong sudah mencelat keluar, bahkan segera ia menghadang di depan si nona. Dia lantas menegur; ―Siapa kau?‖ Oey Yong menginsyafi bahaya. Ia tahu orang lihay. Disamping dia ini, masih ada yang lainnya. Maka ia hendak menggunakan akal. Untuk ini ia cerdik sekali. Tiba-tiba saja ia tertawa dengan manis. ―Bunga bwee ini indah sekali, maukah kau memetiknya setangkai untuk aku?‖ ia berkata kepada orang she Nio itu, jago dari Kwan-gwa. Nio Cu Ong tercengang. Tidak ia sangka bakal menghadapi satu nona, malah satu nona yang begitu cantik manis, yang suaranya halus dan merdu. Tanpa merasa ia mengulurkan tangannya, akan memetik setangkai bunga, yang untuk terus diangsukan kepada si nona. Oey Yong menyambuti. ―Loya-cu, terim kasih!‖ katanya, kembali tertawa dengan suaranya yang halus merdu itu. Di ambang pintu berkumpul semua orang lainnya, merek aitu berdiri mengawasi kedua orang itu. Ketika Oey Yong lantas memutar tubuhnya, untuk berlalu. ―Ongya,‖ Pheng Lian Houw menanya, ―Adakah nona ini, nona dari istana ini?‖ ―Bukan,‖ menjawab Wanyen Lieh sambil menggelengkan kepala. Hanya dengan menjejak dengan kakinya yang kiri, Lian ouw sudah mencelat ke depan si nona. ―Tunggu nona!‖ katanya, ―Aku pun akan memetik setangkai bunga untukmu…!‖ Terus ia ulur tangannya yang kanan, hendak menangkap lengan orang, tetap sebat luar biasa, ia ubah tujuan, untuk meraba buah dada si nona. Oey Yong kaget bukan main. Ia sebenarnya hendak berpura-pura tidak mengerti ilmu silat. ia gagal. Lian Houw, sebagai jago di antara berandal di Hoopak, adalah sangat tajam matanya dan cerdik. Tidak bisa lain, ia geraki tangan kanannya, jari tangannya menyambuti tangan jago itu. Lian Houw terperanjat waktu ia merasakan getaran di jalan darahnya koik-tie-hiat, lekas-lekas ia menarik pulang tangannya itu, dengan begitu dia dapat lolos dari bahaya. Dia menjadi heran, nona demikian muda tetapi demikian lihay, dia pun tak kenal ilmu silat si nona itu. Tentu saja ia tidak ketahui kepandaian yang Oey Yong dapatkan sebagai warisan, namanya Totokan Bunga Anggrek. Yang lain-lain pun terkejut dan heran. ―Nona, kau she apa?‖ Lian Houw lantas menanya, ―Siapakah gurumu?‖ ―Bukankah bunga bwee ini permai sekali?‖ tanya Oey Yong sambil tertawa. Ia terus berlagak pilon, ia tidak menunjukki kagetnya tadi. ―Bukankah kau menghendaki aku menancapnya di dalam pot?‖ Sikap ini kembali membuatnya orang heran dan menjadi menduga-duga. ―Kau dengar apa tidak, apa yang kami tanya?‖ Lian Houw menegur. Ia tidak sabaran, dia lantas menunjuki kesembronoannya dengan campur bicara.
Irawan D Soedradjat

Page

218

Pendekar Pemanah Rajawali

―Apakah itu yang kau bicarakan?‖ balik tanya Oey Yong, tertawa. Justru itu, Pheng Lian Houw dapat mengenali si nona ini adalah si nona yang diwaktu siangnya sudah mempermainkan Hauw Thong Hay, cuma waktu itu orang menyamar menjadi satu bocah dekil. ―Lao Houw, apakah kau tidak kenal nona ini?‖ ia tanya sahabatnya. Ia tertawa. Thong hay tercengang. Lantas ia awasi si nona, dari atas sampai bawah dan sebaliknya. Cepat sekali, ia mengenalinya. Mendadak saja hawa amarahnya meluap. ―Ha, anak busuk!‖ dia mendamprat. Dia pun terus pentang kedua tangannya untuk menubruk. Dengan berkelit ke samping, Oey Yong bebaskan dirinya. Tapi di sini ia dipapaki See Thong Thian, yang tubuhnya tahu-tahu berkelebat dan tangannya menyambar ke lengan. ―Kau hendak lari ke mana?‖ menegur Kwie-bun Liong Ong. Oey Yong terkejut. Ia tidak menyangka lengannya bisa disambar secara demikian. Tapi ia tidak gugup, ia pun tidak kekurangan akal. Dengan dua jari dari tangan kirinya ia menotok kepada kedua matanya si orang she See itu. Hebat See Thong Thian itu, hampir tak nampak bagaimana ia geraki tangannya, juga tangan kiri si nona sudah lantas kena dia cekal. ―Tidak tahu malu!‖ mendamprat Oey Yong, yang kaget sekali. ―Tidak tahu malu apa?!‖ balik tanya See Thong Thian. ―Tua bangka menghina anak kecil! Laki-laki menghina anak perempuan!‖ Oey Yong menyahuti. See Thong Thian terperanjat. Dia memang seorang tua dan kenamaan juga. Memang, dengan perbuatannya ini, terang dia telah menghina anak kecil, seorang anak perempuan….. ―Masuk ke dalam!‖ katanya seraya kendorkan cekalannya. Oey Yong tahu tidak dapat ia menolak, ia lantas turut masuk. ―Nanti aku bikin dia bercacad dulu baru kita bicara!‖ kata Hauw Thong Hay, yang ada sangat mendongkol. Dia terus maju, untuk menanyakan kata-katanya itu. ―Tanyakan dulu, siapa gurunya dan siapa yang menitah ia itu datang ke mari!‖ berkata Pheng Lian Houw. Hauw Thong Hay tidak pedulikan jago dari Hoopak itu, sebelah tangannya sudah lantas melayang. Oey Yong berkelit. ―Benar-benarkah kau hendak menurunkan tangan?‖ ia menanya. ―Aku hendak cegah kau melarikan diri!‖ jawab Thong Hay. Dia paling takut si nona minggat, karena terang sudah, dia bakalan tidak dapat mengejar…. ―Jikalau kau benar hendak adu kepandaian denagn aku, baiklah!‖ kata Oey Yong yang sikapnya sabar tapi rada mengejek. Ia terus mengisikan enam buah cawan arak di atas meja. Cawan yang satu ia letaki di batok kepalanya dan dua yang lain ia cekal di antara kedua tangannya. Lantas ia menantang: ―Beranikah kau mencontoh aku ini?‖ ―Setan alas!‖ berseru orang she See itu, jago tunggal dari sungai Hong Hoo. Oey Yong tidak mengambil mumat, ia memandang kepada orang banyak. Ia kata, ―Aku tidak bermusuhan dengan tuan ini, bagaimana jadinya apabila aku keliru menggeraki tangan dan kena melukakan dia?‖

Irawan D Soedradjat

Page

Kembali Oey Yong tidak mengambil mumat. Ia kata pula, ―Dengan cara begini hendak aku mengadu kepandaian dengannya! Siapa yang araknya tumpah lebih dahulu, dialah yang kalah? Akurkah kau?‖

219

Thong Hay maju setindak, kedua matanya terbuka lebar. ―Kau dapat melukakan aku? Kau?‖ katanya sengit.

Pendekar Pemanah Rajawali

Nona ini menggunai kecerdikannya. Ia tahu bahwa ia tidak bakal meloloskan diri dari orang-orang lihay ini. Sekalipun terhadap Hauw Thong Hay, ia menang cuma sebab ia andalkan kegesitan dan kelincahannya. Ia percaya, dengan bergurau secara demikian, ia bakal dapat lolos. ―Siapa kesudian main-main denganmu!‖ Thong Hay membentak. Kembali ia menyerang sambarannya bagaikan angin. ―Bagus!‖ Oey Yong tertawa, seraya ia berkelit. ―Pada tubuhku ada tiga buah cawan, kau snediri boleh bertangan kosong! Nah mari kita adu kepandaian!‖ Bukan alang kepalang gusarnya Thong Hay. Dia berusia jauh terlebih tua, meski ia tidak sangat kesohor seperti See Thong Thian, kakak seperguruannya itu, ia toh ternama juga. Sekarang dia dipermainkan secara begini! Tanpa berpikir sejenak juga, ia jumput sebuah cawan arak, untuk diletaki di batok kepalanya, habis mana ia sambar dua yang lain, masing-masing dengan sebelah tangan. Kemudian, dengan sama cepatnya, ia tekuk sedikit kaki kirinya, untuk menyusul melayangkan kaki kanannya mendupak nona itu! ―Bagus! Nah ini barulah namanya enghiong sejati!‖ Oey Yong berseru sambil tertawa, seraya ia berkelit. Belum sempat ia melanjuti perkataannya atau dia sudah ditendang pula, kali ini berulang-ulang. Karena dengan kedua tangan mencekal cangkir dan kepala ditaruhkan cangkir juga, Thong Hay tidak dapat berbuat lain dari menggunai kedua kakinya. Oey Yong akhirnya repot akan tetapi ia selalu dapat lompat berkelit atau mengegos tubuhnya, menyingkir dari tendangan. Untuk ini, ia mesti seperti memutari ruangan itu. Nio Cu Ong memasang mata kepada gerakan kakinya si nona cilik. Itulah gerakan bagaikan ―Mega berjalan atau air mengalir‖. Tubuh tetap tegak, tidak bergerak sedikit juga, dan kedua kaki seperti ketutupan kun tetapi bergeraknya cepat. Dipihak sana, tindakannya Hauw Thong Hay cepat dan lebar. Si nona berkelit bukan cuma main berkelit saja, ia saban-saban mencoba dengan sikutnya akan membentur lengan lawannya, supaya benturannya dapat membuat arak tumpah atau ngeplok. ―Bocah ini begini lihay, sebenarnya sulit untuk melatih diri hingga begini rupa…‖ berpikir jago tua ini. ―Hanya, lama-lama dia toh bakal menjadi bukan tandingannya Lao Hauw…‖ Disaat itu, tiba-tiba Cu Ong ingin obat-obatannya, maka lenyaplah keinginannya menyaksikan pertempuran, ingin ia lari ke pintu, untuk terus ke kamarnya, guna cari si pencuri obat. Tentu saja ia tidak sempat memikir bagaimana halnya dengan si pencuri obat sensiri…… Kwee Ceng belum sampai pingsan tatkala ia merasakan bau ular menjadi semakin hebat. Ia insyaf bahayanya apabila binatang berbisa itu sampai dapat memagut padanya. Maka ia lantas tempel mukanya di tubuh ular itu. Oleh karena ia tidak dapat menggeraki tubuhnya, atau kaki tangannya, sekarang tinggal mulutnya yang masih merdeka. Mendadak saja ia ingat suatu apa. Lantas ia kuatkan hatinya, agar tidak sampai roboh pingsan, terus ia gigit leher ular itu. Binatang itu kaget dan kesakitan, dia bergerak, hingga lilitan kepada anak muda itu menjadi semakin keras. Tanpa pedulikan apa juga, Kwee Ceng menggigit terus, lalu terus menghisap, menyedot darah binatang itu. Ia tidak ambil mumat lagi binatang itu berbisa. Ia juga tidak gubris pula bau darah yang sangat tidak enak. Ia melainkan ketahui, kalau darahnya berkurang, maka tenaga binatang itu juga akan berkurang pula dan dengan begitu, lilitannya akan menjadi kendor. Itu pun artinya ia bakal terlolos dari bahaya maut. Maka ia menghisap terus-terusan, hingga tanpa merasa, perutnya mulai kembung. Dugaannya bocah ini tepat. Setelah darahnya terkuras banyak, tenaganya binatang itu segera menjadi berkurang, lilitannya segera menjadi kendor, atau sesaat kemudian, ia lepaskan lilitannya itu, tubuhnya pun jatuh sendirinya. Sebab itu waktu, dia kehabisan tenaga, napasnya lantas berhenti berjalan! Kwee Ceng terjatuh duduk. Tapi dia masih sadar, lekas-lekas ia empos semangatnya, untuk menjalankan napasnya dengan beraturan. Dengan dapat bersemadhi lekas ia dapat pulang tenaganyanya. Hanya aneh sekarang ia merasakan darahnya bergerak keseluruh tubuhnya. Ia mengerti itulah darahnya si ular yang lagi bekerja. Ia terus bersemadhi sampai ia merasa sangat lega hati dan tubuh. Segera setelah merasa segar betul, ia gunai tenaganya untuk mencelat bangun. Yang pertama diingat bocah ini adalah obat-obatan di dalam sakunya. Ia lantas meraba. Ia menjadi girang sekali. Obat-obatan itu masih ada. Karena ini, ia segera teringat pula kepada Bok Ek.
Irawan D Soedradjat

Page

220

Pendekar Pemanah Rajawali

―Dia dan anak gadisnya dikurung Wanyen Kang, aku telah ketahui halnya itu, bagaimana dapat aku tidak menolongi mereka?‖ demikian ia berpikir. Ia lantas bekerja. Ia tindak ke pintu, dari situ, setelah melihat ke sekitarnya, ia jalan dengan cepat ke arah kurungannya Bok Ek dan gadisnya. Selagi ia mendekati kurungan, ia mendapati penjagaan kuat di situ. Tapi ia mesti bisa masuk ke dalam. Ia memutar ke belakang. Di situ ia tunggu lewatnya serdadu ronda, lalu cepat sekali ia lompat turun ke sebelah dalam. Ia hampirkan kurungan. Sembari memasang kuping, ia melihat ke sekeliling. Tidak ada serdadu jaga di situ. ―Bok Cianpwee, aku datang untuk menolongi,‖ ia lantas berkata dengan perlahan. ―Kau siapa, tuan?‖ ada jawabannya Bok Ek yang menanya. Kwee Ceng perkenalkan dirinya. Bok Ek pernah dengar lapat-lapat namanya Kwee Ceng itu, karena berisik dan ia pun terluka, ia tidak sempat memikirkannya, sekarang di tengah malam, ia mendengarnya dengan nyata. ―Kau…kau she Kwee?‖ tanyanya, menegaskan. Agaknya ia terperanjat. ―Benar,‖ sahut si bocha hormat, ―Aku yang muda adalah orang yang tadi siang melawan si pangeran muda.‖ ―Siapakah ayahmu?‖ Bok Ek tanya pula. ―Ayahku almarhum bernama Siauw Thian,‖ Kwee Ceng menyahut pula. Dengan tiba-tiba saja air matanya Bok Ek mengembang dan berlinang-linang, lalu ia angkat kepalanya, dongak, seraya mengeluh: ―Oh, Thian….Thian….‖ ia pun ulur keluar tangannya dari dalam jeruji, untuk mencekal tangannya si anak muda dengan erat. Kwee Ceng merasakan tangan orang itu bergemetar dan air mata orang itu pun menetes jatuh ke belakang telapakan tangannya itu. Ia kata dalam hati kecilnya: ―Rupanya dia ketahui ada orang bakal menolong dia, dia menjadi girang luar biasa.‖ Maka ia kata dengan perlahan sekali: ―Aku punya golok yang tajam, dengan itu kunci dapat dirusak untuk Cianpwee bisa keluar dari kerangkeng ini…‖ ―Ibumu she Lie, bukankah?‖ Bok Ek menanya pula, ia seperti tidak pedulikan perkataan orang. ―Apakah ibumu itu masih ada atau ia telah menutup mata?‖ Kwee Ceng heran sehingga ia balik menanya: ―Ah, kenapa Cianpwee ketahui ibuku she Lie? Ibu masih ada di Mongolia.‖ Hatinya Bok Ek goncang keras, ia cekal tangan Kwee Ceng semakin keras, ia tidak hendak melepaskannya. ―Tolong, lepaskan cekalanmu, nanti aku bacok kunci ini,‖ Kwee Ceng bilang. Bok Ek tetap memegangi erat-eart. Ia seperti mendapati sesuatu yang berharga dan tak ingin itu lenyap pula. ―Ah, kau telah menjadi begini besar…‖ katanya menghela napas. ―Ah, dengan memeramkan mata sekejapan saja, lantas aku dapat membayangkan wajah ayahmu yang telah almarhum itu…‖ Kwee Ceng menjadi semakin heran. ―Cianpwee kenal ayahku itu?‖ tanyanya. ―Ayahmu adalah kakak angkatku,‖ Bok Ek beritahu. ―Kita telah mengangkat saudara hingga perhubungan kita erat bagaikan saudara kandung….‖ Orang tua ini tidak dapat melanjuti kata-katanya, ia menangis sesegukan. Tanpa merasa, air matanya Kwee Ceng pun berlinang. Ia tidak tahu Bok Ek ini adalah Yo Tiat Sim, yang dulu hari itu, diwaktu bertempur bersama tentera negeri, sudah terluka tusukan tombak pada punggungnya, karena lukanya parah, ia roboh pingsan. Syukur untuknya, disebabkan malam dan gelap, dia tidak kena tertawan. Adalah besok paginya ia sadar sendirinya, dengan merayap dia pergi ke rumah seorang petani di dekat tempat kejadian. Satu tahun lebih ia merawat dirinya, baru dia sembuh. Setelah itu ia merantau mencari Lie Peng, istrinya Kwee Siauw Thian, serta Pauw See Yok, istrinya sendiri. Tentu saja ia tidak berhasil. Karena yang satu berada jauh sekali di gurun pasir, yang lain berada di Utara. Dia tidak pakai terus she dan namanya – Yo Tiat Sim – dia hanya rombak she Yo itu, di ambil bagiannya ynag kiri, yaitu huruf ―Bok‖ yang berarti ―Kayu‖. Tapi juga huruf ―Bok‖ ini diganti lagi dengan huruf ―Bok‖ yang berarti ―Akur‖. Dia cuma ambil suaranya saja. Dan
Irawan D Soedradjat

Page

221

Pendekar Pemanah Rajawali

nama ―Ek‖ dia ambil dari huruf pecahan sebelah kanan dari huruf ―Yo‖ shenya itu. Huruf ―Yo‖ itu terdiri dari dua huruf ―Bok = kayu dan Ek = gampang atau tukar‖. Selama delapan belas tahun ia merantau. Sekarang secara kebetulan ia bertemu sama putra sahabat atau saudara angkatnya itu, cara bagaimana ia tidak menjadi bersedih hati? Selama ayahnya itu berbicara sama si anak muda, Bok Liam Cu berniat memberi ingat serta meminta Kwee Ceng menolongi dulu mereka, tentang pasang omong, itu boleh dilanjuti lain kali, akan tetapi belum lagi ia membuka mulutnya, lalu datang pikiran lain, yang membuatnya berubah. Ia kata dalam hatinya: ―Satu kali kita keluar dari sini, aku khawatir untuk selama-lamanya aku nanti tidak dapat bertemu dengan dia…‖ Dengan ―dia‖ yang dimaksud oleh Liam Cu adalah Wanyen Kang, si pangeran muda. Dengan sendirinya, ia telah jatuh cinta kepada pangeran itu, hingga ia tak ingin pergi jauh, untuk memisahkan diri…. Kwee Ceng pun ingat bahaya yang mengancam mereka, maka ia sudah lantas tarik keluar tangannya dari dalam kerangkeng, hanya di saat ia hendak ayun goloknya, untuk menggempur kunci, mendadak ia tampak sinar terang yang disusul sama suara tindakan kaki. ia terkejut, dengan sebat ia simpan goloknya, dengan gesit ia lompat sembunyi di belakang pintu. Sekejap saja, dengan mengasih suara, daun pinttu dipenntang, lalu terlihat masuknya beberapa orang, di antara siapa yang jalan di muka adalah yang menenteng lentera. Kwee Ceng heran akan melihat orang itu yang bukan lain daripada onghui atau selirnya Chao Wang dan ibunya Wanyen Kang. Ia tidak dapat menerka orang datang dengan maksud apa. Ia memasang kuping dan matanya. ―Adakah mereka ini yang hari ini dikurung siauw-ongya?‖ demikian Kwee Ceng dengan pertanyaannya si nyonya mulia. ―Ya,‖ menyahuti si opsir atau pemimpin dari beberapa pengiring nyonya itu. ―Sekarang juga merdekakan mereka!‖ onghui memberi titah. Opsir itu terkejut, dia ragu-ragu, hingga tak dapat ia segera menjawab. ―Jikalau siauw-ongya menanyakan, bilang aku yang memerdekakan mereka,‖ onghui berkata pula menampak orang sangsi. ―Lekas buka kuncinya!‖ Sampai di situ, opsir itu tidak berani berlambat pula. Setelah ayah dan gadis itu sudah berada di luar kerangkeng, onghui merogoh sakunya untuk mengeluarkan dua potong emas, yang mana ia angsurkan kepada Bok Ek atau Yo Tiat Sim. Ia kata: ―Nah, pergilah kamu baikbaik!‖ Tiat Sim tidak menyambut emas itu, sebaliknya ia mengawasi dengan tajam. Ditatap demikian, onghui heran. ―Putraku berbuat keliru, harap kamu tidak sesalkan dia…‖ dia berkata lagi kemudian. Cuma sedetik atau Tiat Sim telah ubah pikiran. Ia sambuti itu emas, terus ia tuntun tangan putrinya, untuk diajak berlalu dengan tindakan lebar. ―Ha, orang kasar!‖ membentak si opsir. ―Kamu tidak membilang terima kasih kepada onghui yang telah menolong jiwamu!‖ Bagaikan tidak mendengar, Tiat Sim jalan terus. Sampai di situ, onghui pun berlalu bersama sekalian pengiringnya. Kwee Ceng tunggu sampai pintu sudah ditutup dan mendengar tindakan kaki onghui sudah jauh, baru ia keluar dari tempat sembunyinya, untuk keluar juga. Ia melihat ke sekeliling, ia tidak dapatkan Bok Ek dan Liam Cu. ―Pasti mereka sudah keluar dari istana,‖ pikirnya. Maka ia lantas menuju ke Hoa Cui Kok untuk mencari Oey Yong. Ingin ia membujuk nona itu buat jangan mengintai lebih lama, supaya mereka bisa lekas pergi menolongi Ong Cie It.
Irawan D Soedradjat

Page

222

Justru itu. maka terpaksa ia berkelit ke kiri. Di antara cahaya api. semua cawan itu tidak miring. saban-saban ia gagal. Ia hanya mengkerutkan kening. Oey Yong bawa jari-jari tangan ke pipinya ―Tak malukah kau?‖ dia bertanya. untuk umpatkan diri. ―Sekarang aku mesti pergi dulu!‖ Setahu bagaimana gerakkannya Thong Thian. araknya tidak tumpah! ―Bagus!‖ seru orang banyak. parasnya tidak menunjuki perubahan. Thong Hay sebaliknya bermuka merah. Sementara itu dilain pihak. hingga kedua tangannya tidak dapat digeraki lagi. Pemuda she Kwee ini hendak meloloskan diri. berparas bermuram durja. ia kaget sekali. diluar dugaannya. sedang kepalanya menyambut cawan yang ketiga yang tadi ia letaki di batok kepalanya itu. mengejek. Tapi ia dapat menenangkan diri. ―Siapa?!‖ Bahkan orang itu sudah lantas berlompat maju dan tangannya menyambar. cawan itu jatuh ke lantai. Beberapa kali ia mencoba untuk meloloskan diri. Oey Yong telah merasakan tadi bagaimana orang she See ini tanpa ia mengetahui. untuk menghalangi di situ. dia menyerang dengan hebat. kedua tangannya menyambar kedua cawannya. maka ia datang dengan cepat. tangan kanan si nona menyambar pula.Pendekar Pemanah Rajawali Baru ia tiba disebuah tikungan. begitu juga kedua cawan di tangan orang she Hauw itu tergerak. Yang hebat adalah cawan di batok kepalanya. Maka itu. saking malu dan mendongkolnya. yang baru saja turun. Berbareng dengan itu. mengganti kedudukan‖. Wanyen Kang hendak menawan. Dengan kedua tangan mencekal cawan. ia terkejut juga. semacam ilmu yang luhur. Kalau guruku ketahui ini. ―Mari kita bertanding pula!‖ ia menantang. sekarang ia menyaksikan cara mencelat orang. Kwee Ceng lihat sinar terang dari dua buah lentera serta mendengar suara tindakan kaki yang cepat. ―Mau apa kau menghalangi aku?‖ dia bertanya. Orang she Hauw ini menjadi repot. hingga tidak memperdulikan urusan besar. kau licin sekali! Siapa sebenarnya gurumu!‖ ―Besok akan aku mengasih keterangan kepada kau!‖ menjawab si nona tertawa. kemudian ia segera dengar teguran dari orang yang jalan di paling depan. cara bagaimana aku dapat menyangkal?‖ Ia berniat memegat Bok Ek dan Liam Cu. Hebat si nona. ia kenali Wanyen Kang si siauw-ongya atau pangeran muda. dengan kesebatannya. ia bertemu dengan Kwee Ceng. mereka lantas saja bertempur seru melebihkan pertandingan mereka tadi siang. Kali ini. untuk membebaskan diri. tidak dapat ia menangkis. yang ada dari tipu ―Menukar wujud. Oey Yong sudah lantas mencelat mundur. Wanyen Kang telah datang dengan cepat karena baru saja ia terima laporan dari opsir yang mengiringi onghui bahwa Bok Ek dan gadisnya telah dimerdekakan. pecah hancur menerbitkan suara berisik dan araknya melulahkan. Kwee Ceng geraki tangannya. terpaksa ia menangkis! Begitu kedua tangan bentrok. Dengan satu gerakan berbareng ia membuat tiga cawan di kepala dan kedua tangannya terlepas. ia merdekakan dua orang itu. tiba-tiba saja tubuhnya sudah mencelat ke ambang pintu. Thong Hay tidak dapat mengegos pula tubuhnya. ia perlihatkan kepandaian yang luar biasa. Ia kaget dan kata dalam hatinya: ―Sungguh lemah hati ibu. isinya lantas tumpah. Mau atau tidak. ―Budak cilik. Bukan main masgul dan cemasnya Kwee Ceng. Ia lantas lompat ke samping di mana ada gunung-gunungan dari batu. ―Hm!‖ See Thong Thian mengasih suaranya menyaksikan adik seperguruannya itu dibikin malu secara demikian. ―Aku ingin ketahui untuk apa kau datang nyelusup ke istana ini?‖ Irawan D Soedradjat Page 223 . mereka mesti puji nona ini yang merebut kemenangan dengan kecerdikan dan kelincahannya itu. berlagak pilon. Semua terjadi dengan cepat luar biasa. membasahkan lantai. Nio Cu Ong yang menduga Oey Yong bakal kalah baru saja memutar tubuhnya atau pertandingan telah salin rupa. ―Aku ingin ketahui kau murid siapa?‖ menyahut See Thong Thian. ia membikin perlawanan. mumbul naik ke atas menyusul mana dengan satu lompatan enteng tetapi gesit ia menerjang pada Thong Hay dengan kedua tangannya. Tak kurang hebatnya rintangan si siauw-ongya.

See Thong berpaling ke arah yang ditunjuk itu. musuh belum pergi jauh. hingga ia menjadi tercengang. tetap dengan manis. Ia meundur dengan cepat.Pendekar Pemanah Rajawali Sepasang alis yang bagus dari si nona bergerak bangun. dia pegat aku. ―Jikalau aku tidak sudi mengasih keterangan?‖ tanyanya. untuk menambah kekuatan tubuhnya. Ia pun mau percaya. ―Aku justru tidak sudi menjawab dia!‖ sahutnya.‖Asal kau mampu!‖ bilangnya. ―Jikalau kau tidak mengijinkan aku pergi. Suara orang merdu dan bernada minta dikasihani. Oey Yong gunai kesempatan ketika orang menoleh. guna mencari si pencuri. itu telah menjadi kepastian! Eh. ―Kau jawablah pertanyaannya See Liong Ong. ia lompat naik ke atas pohon besar. bocah ini bukan sembarang orang. Oey Yong melihat ke sekitarnya. dan obat-obatannya kacau tidak karuan. karena habislah usahanya beberapa puluh tahun. resep untuk membikin sehat dan kuat tubuh. ai menjadi merasa suka kepada si nona. tertawa. Benar-benar lihay See Thong Thian. ia lantas menegur. jago sugai Hong Ho itu senantiasa menghadang di depannya. kau mengaku kalah saja!‖ Habis berkata. Di situ tergeletak bangkai ularnya. untuk mencari bahan-bahan obatnya. Lantas dia hadapkan Thong Thian untuk mengancam. dia tidak mau kasih aku pulang?‖ katanya. menantang. Tidak bersangsi lagi. terutama lukanya. ―See Liong Ong. ―Tapi awas. Dua kali lagi ia mencoba. ia lari keluar. Untuk ini. untuk lari ke kamarnya. ―Bagus!‖ seru Oey Yong. tubuhnya meleset. Nio Cu Ong menyaksikan itu. Pintu ada di belakang Thong Thian. Cepat setelah ia tersadar.‖ katanya. Berbangkit pula hawa Irawan D Soedradjat Page 224 . Oey Yong tertawa. kau lihat itu di sana apa?‖ Semabri mengucap. Lantas ular ini ia kasih makan pelbagai macan obat pilihan. warna merah itu menjadi marong sesudah sang ular dipiara duapuluh tahun lamanya. malah ia ketahui juga terbinasanya ular itu sebab darahnya telah orang sedot. ―Celaka!‖ serunya. ―Pertanyaannya Kwie-bun Liong Ong tidak dapat tidak dijawab!‖ sahut orang she See itu. ia lantas hendak pergi. adalah satu ahli tersebar. atau kepalanya sudah menghadang di depan si nona. Pula. ―Lopepe. Sekarang telah buntu jalannya si nona itu. See Liong Ong. warnanya lantas berubah menjadi merah mulus. Mulanya tubuh ular itu warnanya hitam abu-abu. buat apa See Liong Ong sampai menurunkan tangan?‖ katanya. nanti aku pergi denagn cara paksa!‖ See Thong Thian tertawa dingin. Som Sian Lao Koay bukan melainkan pandai ilmu silat tetapi pun ia paham ilmu tabib. Ia sudah lantas nyalakan api. siapa tahu sekarang ularnya itu terbinasa. ―Untuk memegat kau. See Thong Thian mengawasi. ia tertawa. Ia sudah memikir buat lagi beberapa hari akan menghisap darahnya ular itu. dia nanti mengasih ijin kau berlalu. Hati Cu Ong tertarik. Baru orang berkelebat. Hampir ia menjerit menangis. ynag hendak menggunai pula kecerdikannya. setelah banyak kesulitan. sebab ia berangan-angan untuk menjagoi dan merobohkan segala jago lainnya. satu kali ia mengucap. untuk membikin ia panjang umur. io Cu Ong periksa tubuh ularnya itu. maka kebetulan untuknya pada suatu waktu ia dapat resep yang istimewa. Justru itu ia dapatkan Bio Cu Ong hendak pergi ke luar. setelah makan banyak macan obat itu. ia telah dapatkan ularnya yang besar itu yang sanat berbisa. ia dapat menahan tubuhnya hingga ia tidak usah melanggar kepala orang itu. kau tidak boleh serang aku!‖ berkata si nona. ―Seorang laki-laki. lewat di samping jago tunggal dari sungai Hong Ho itu. untuk memandang sekitarnya. budak cilik. Ia dapat melihat di dalam taman ada dua orang lagi bergumul. Tanpa merasa. tidak dapat ia memaksa menerobos keluar. maka tahulah ia.‖ ia kata. ia lantas pergi berkelana. Baru saja ia tiba di ambang pintu atau hidungnya sudah tercium bau yang membuatnya sangat terkejut. ―Setelah kau berikan jawabanmu. Syukur si nona itu pun lihay. ―Maka janganlah kau mensia-siakan tenaga. dia menunjuk ke arah kiri.

supaya racunnya tidak bekerja lagi. baik aku bunuh dia. mungkin kekuatannya obat masih ada atau mungkin kekuatan itu bertambah besar…‖ Karena ini. sampai Wanyen Kang dapat menyerang sepuasnya. yang sudah dapat memperbaiki dirinya. Tatkala Nio Cu Ong tiba. Kwee Ceng memang tidak tahu suatu apa mengenai resep itu atau darah ular yang ia minum. maka dengan lantas ia lari ke arah taman. tubuhnya mesti dipukuli. tetapi sekarang. pelbagai pukulannya Wanyen Kang menjadi tidak ada artinya. tidak heran kalau ia menjadi bingung. lalu ia menangkap pula. kenapa tenaganya menjadi kuat?‖ tanya si pangeran dalam hatinya. segera ia gunai kakinya untuk menggaet. Siauw-ongya tidak ketahui rahasia itu. Mendadak ia merasa perutnya sangat panas seperti ada bola api di dalam perutnya itu. yang kalah pandai dan kalah pengalaman. Satu kali ia serang Wanyen Kang. yang leuar dari baju atau tubuhnya Kwee Ceng. telah cukup lama Kwee Ceng terhajar. beda daripada biasanya. Dalam halnya ilmu silat. dia terhuyung. begitu juga datanglah perubahan atas dirinya. ai sudah lantas keteter. bukannya ia merasa sakit hanya gatal. Maka itu kebetulan sekali Kwee Ceng bertempur sama Wanyen Kang. ia merasa sakit. Ia menanti lain serangan. Tenaganya Kwee Ceng telah bertambah luar biasa. ―Kali ini habislah jiwaku…‖ pikirnya. dia seperti meggaruki gatalku?‖ Adalah aturan dari resepnya io Cu Ong itu. untuk sedot darah dari tubuhnya itu. supaya dengan begitu. ―Kenapa sekalipun dengan pukulan yang membahayakan aku tidak dapat melukai dia?‖ pikirnya. Tubuhnya panas hingga ia seperti tidak sanggup menahannya. untuk ditarik. kiranya kau yang piara ular berbisa itu!‖ ia berseru. ia pun menjadi alpa. kalah cerdik juga. Dengan lantas ia dapat menangkap tangannya si anak muda. ―Heran. kenapa pukulannya empuk sekali. hawa darah itu buyar. begitu lewat beberapa jurus.Pendekar Pemanah Rajawali amarahnya. Menyaksikan itu. tubuh orang yang bersangkutan menjadi tambah kuat. Sedang Kwee Ceng berpikir: ―Heran. tangan itu segera terlepas dari cekalannya lawan. dan enak sekali rasa gatal itu. Kwee Ceng kalah dari Wanyen Kang. lantas timbul pikirannya yang kejam. ―Bagus. Disaat itu tenaganya lantas bertambah sendirinya. Biasanya kalo ia kena diserang. mendadak hatinya menjadi panas. Di mana-mana ia merasakan gatal pada tubuhnya. Ia menjadi sangat berbahaya. ―Hai. yang entah siapa. ia tentu dapat berbuat sesukanya terhadap anak muda itu. hingga dua kali bebokongnya kena dihajar si pangeran. bangsat anjing!‖ dia menegu. Tidak sedikit pun ia merasakan sakit lagi. maka si pangeran menangkis. akan tetapi. hatinya pemuda ini menjadi kecil. maka itu tubuhnya menjadi kuat luar biasa. hingga sengaja ia membuatnya lowongan. Sebentar saja ia sudah sampai si taman di mana Kwee Ceng dan Wanyen Kang tengah bertempur. Kali ini ia menunggu sampai orang berontak. karena pelbagai pukulannya tidak menyebabkan orang kesakitan atau roboh. maka itu ketika ia mengibaskan tangannya. Baru ia datang atau hidungnya telah mendapat cium bau obat tercampur bau amis yang datangnya dari arah si pemuda. maka juga kali ini diwaktu mulai bertempur. Jago ini lihay berlipat kali dari kwee Ceng. ―Siapa yang anjurkan kau mencuri ularku?!‖ Dia percaya. Nio Cu Ong tidak menjadi heran yang ia tidak bisa mencekal terus tangannya bocah itu. sebagai bocah Kwee Ceng tentunya tidak ketahui rahasia resepnya itu. Tapi juga penyerangan ini mendatangkan perubahan lainnya. Cu Ong menjadi menyesal berbareng penasaran dan mendongkol. setelah mana. mestinya si bocah diberi petunjuk oleh seorang berilmu. Ia pikir: ―Dia telah minum darah ularku. ia lantas menggunai akal. siapa habis minum darah ular. ―Aku sekarang telah terkena bisanya binatang jahat itu. Karena ini. oleh karena itu ia gusar yang ia telah dicaci. ia menjadi girang. hendak aku mengadu nyawa denganmu!‖ Ia lompat maju untuk menyerang itu jago dari Kwan-gwa. Siauw-ongya itu turut menjadi heran. Kwee Ceng pun pun terus merasakan perubahan. ―Tentulah bisa ular lagi bekerja…‖ Ingat kepada bisa ular. Ia menjadi heran berbareng girang. Kwee Ceng roboh Irawan D Soedradjat Page 225 . Begitulah ketika kakinya kena digaet. Nio Cu Ong merasakan pula sambaran bau obat dan amis dari ular. lantas ia menyambuti serangan.

ia dengar suara angin. Akhirnya ia berhenti mencoba. sayang…. asal aku berada di luar. bukankah aku sekarang telah berada di luar? Nah. Saking menyesalnya. ―Kau punya ilmu Menukar Wujud Memindahkan Kedudukan ini. atau kim-chie yang belakangan sudah menyambar pula. Akurkah kau?‖ ―Asal kau dapat molos. kau akan menyerah kalah. maka tidaklah heran kalau ia ada mempunyakan keistimewaannya sendiri. akan tetapi kalau dari luar. Karena ini.‖ ―Apakah itu menyerang masuk dan menerjang keluar?‖ tanya See Thong Thian. ―Sayang.‖ katanya dengan masgul. serangannya itu untuk atas dan bawah. terus ia tertawa geli. tidak demikian dengan kepalanya. bedanya masih jauh sekali!‖ Thong Thian gusar. ―See Liong Ong. guna mengasih si nona pergi keluar.‖ sahut si nona. Ia menjadi kaget sekali. Memang telah dibikin perjanjian itu. dengan mencekal tangannya.. Ia percaya ilmunya sudah dipuncak kemahiran. Oey Yong lantas menghela napas. dari itu ia segera ayun kedua kedua tangannya. ia ketoki kepalanya sampai tiga kali. kau tidak dapat mengganggu pula padaku. biarnya ia sangat lincah. Mengenai kepandaianmu ini. kenapa kepandaian orang ini begini buruk? Tapi justru ia heran. Orang she Pheng ini adalah satu ahli. menyambar ai di kiri-kanan mengarah batok kepalanya. untuk menggigit leher itu. Kau lihat. ia lompat ke depan. memang dari dalam aku tidak sanggup menerjang keluar. dia tidak mengajarkan aku ilmu menerjang keluar. ―Sayang. ayahku cuma ajarkan aku menyerang masuk. hingga ia peroleh gelarannya yang luar biasa – Cian Ciu Jin-touw. untuk mengetahui. ia lihat serangan lewat di atasan kepalanya. ia belum pernah dengar hal ilmu masuk dann keluar itu. walaupun sudah tidak dapat dicela. ―Kau telah bilang sendiri. ia berlompatan. untuk menggunai akal pula. budak cilik!‖ bentaknya. apa macam ilmu menyerang masuk itu. ―Siapakah ayahmu itu?!‖ ―Jikalau aku sebutkan nama ayahku. Kim-chie lewat di atasannya kepala Oey Yong. sampai ketemu pula!‖ See Thong Thian berdiri diam. pasti aku akan dapat molos. ia pun tidak senang orang dapat pergi dengan begitu saja. tidak suka ia membiarkan kawannya itu diperdayakan secara demikian. Maka dilain saat. tetapi di depan Chao Wang. dua renceng kim-chie dari Phen Lian Houw terdiri dari beberapa puluh biji. setelah mana ia majukan mukanya ke arah leher. lalu berbalik sendirinya. Oey Yong heran dan kaget. dia sengaja permainkan nona itu. terpaksa ia melompat maju pula. yang berarti pembunuh manusia seribu tangan. Ingin ia menyaksikan orang menyerang masuk.‖ katanya. yang ia tekankan kepada tanah. Lantas Cu Ong menubruk. dengan gampang ia bisa bekuk nona itu. datangnya saling susul. untuk memegang keras pundak orang. kau telah tertipu olehku!‖ katanya nyaring. Oey Yong lantas saja meleset keluar.. Karena ini tidak ada jalan lain. ―Dari luar masuk ke dalam sama dari dalam pergi keluar. kalau Thong Thian menghendaki. Ia ada punya mustika pelindung tubuh. ia telah kembali ke ruangan besar! Irawan D Soedradjat Page 226 . apabila dibandingkan sama kepandaian ayahku. ―See Liong Ong. tak usah menggunai tenaga untuk meniup debu. kalau ia terserang jitu. dia hendak pertontonkan kepandaiannya. Ia baru menaruh kaki. Maka menyambarlah dua renteng senjata rahasia yang berupa kim-chie atau uang emas. ―Asal aku dapat lolos. tidak peduli si nona telah menggunai akal bulus. Pheng Lian Houw bersahabat erat sekali sama Kwie-bun Liong.. kau tidak bakal mengganggu pula aku. Sebenarnya. hingga sulit orang lolos dari salah satunya. semua percobaannya sia-sia belaka.Pendekar Pemanah Rajawali dengan segera. ―Kau ngaco-belo. ―Ketika dulu hari ia ajarkan aku menyerang masuk. aku memasukinya dari luar. ―Itulah ilmu untuk merobohkan kau. Tidak dapat kim-chie itu ditanggapi. Oey Yong menjadi cemas. tidakkah itu sama saja?‖ dia menanya. celakalah ia. Sementara itu Oey Yong di dalam Hoa Cui Kok masih tidak dapat menerobos penjagaannya See Thong Thian. ia menjadi heran. beberapa kali aku mencoba. ―Baiklah kau boleh coba dari luar!‖ Ia lantas menggeser tubuhnya. akan aku menyerah kalah!‖ Thong Thian jawab.. aku gagal. Senjata rahasianya itu adalah seperti bumerang. ayahku itu menjaga di mulut pintu. Adalah umum kalau orang menyerang dengan kim-chie. lalu kedua senjata rahasia itu berbalik. terus menyerang ke bebokong. Hebat untuk dia. aku khawatir kau nanti kaget hingga semangatmu terbang!‖ Oey Yong menjawab.‖ Thong Thian mendongkol sekali. guna menyedot darah ularnya. Biar bagaimana. hingga ia memikir.

‖ kata si nona. Inilah pukulan berantai tiga kali yang hebat. Oey Yong tidak menangkis. pasti Oey Yong tidak sanggup membebaskan diri dari bahaya maut atau entengnya terluka. Lantas orang she Pheng ini melanjuti serangannya. siapa yang ajarkan kamu ilmu silat.‖ bilangnya. ―Bagaimana?‖ dia tertawa. denagn begitu tidak dapat ia tidak menggunai ilmu silatnya yang sejati guna menolong diri.‖ ia berpikir pula. Coba aku desak pula dia dengan dua jurus. tetapi ilmu silat Oey Yong membuatnya bersangsi. dari itu ingin ia menempur selama sepuluh jurus untuk memeproleh kepastian. disaat tangannya hampir mengenai pundak si nona. kalau tidak demikian. ―Inilah jurus yang kedua!‖ berseru si nona. ―Kepandaianmu menggunai senjata rahasia bagus sekali. ―Kau tidak hendak memberitahu. ia menyerang denagn sennjata rahasianya itu guna menggiring nona itu kembali ke dalam. Lian Houw sendiri lantas berdiri di ambang pintu. ―kau bilang dulu. yang adalah dari pihak gwa-kee. Sebat sekali ia mundur sambil memutar tubuh dengan sebelah kaki. yaitu ilmu silat ―Cut In Ciu‖ atau ―Keluar dari Mega‖. Keluarag itu memang mengutamakan kelincahan. ―Ilmu silat ini bertentangan dengan Jie Long Kun. ―Inilah jurus Pak-kek-sie dari ilmu silat Liok Hap dari Kangpak. tawar. Lian Houw lihat orang diam saja. akan tetapi ia tidak menjadi kaget dan gugup. karena juga yang kedua dan ketiga itu dapat dihindarkan si nona. ―Kau kembali ke dalam?‖ Oey Yong membuat main mulutnya untuk mengejek. ―Melainkan sayang kau gunai itu untuk menghina satu anak perempuan! Apakah yang aneh?‖ ―Siapa menghina kau?‖ Lian Houw tanya. hingga dengan begitu ia perlihatkan sikap ―Si ayam emas berdiri dengan satu kaki‖. Irawan D Soedradjat Page 227 . ―Lekas menangkis!‖ ia berseru.‖ Lalu pikiran ini ia wujuskan denagn cepat sekali. ―Inilah ilmu silat Jie Long Kun dari Keluarga Luow dari Ceciu. ―Aku toh tidak melukai kamu?‖ ―Kalau begitu. ia pun tidak berkelit. semua orang bersorak saking gembira. ―Heran bocah ini mempunyai ilmu silat campur aduk seperti ini! Mungkinkah ia sengaja berbuat begini untuk mencegah aku dapat mengenali asal-usulnya? Baik aku gunai pukulan yang telengas. ynag ketiga dan keempat. Shoatong. aku orang she Pheng pasti akan ketahui asalusulmu!‖ Dia memang luas pengetahuannya dan mengenali ilmu silat pelbagai golongan. kau biarkanlah aku berlalu dari sini. Ia bersilat dengan ilmu silatnya Iwee-kee si ahli dalam. Menampak itu.‖ katanya dalam hati.‖ Lian Houw bilang. Pheng Lian Houw menjadi heran. ―Aku akan merdekakan padamu! Awas!‖ Sambil menjawab demikian. Hendak ia menyangkal terus-menerus. Nona nakal itu tertawa. Oey Yong terkesiap juga melihat datangnya serangan saling susul dan berbareng itu. tinju mana dibarengi sama tendangan kaki kanan. yang menangkis dengan tangan kiri buat memunahkan serangan orang. Kenapa dia dapat menyakinkan dalam dan luar dengan berbareng?‖ Gwa-kee ialah ahli luar.‖ jawabnya. ia lolos dari bahaya. apakah dengan begitu kau menyangka aku tidak akan mengetahuinya?‖ Lian Houw berkata seraya sebelah tangannya menyemboki pundak orang. Ia tahu tidak dapat ia lawan jago ini. ―Lekas! Di dalam sepuluh jurus. Dengan begitu. Di dalam hatinya. demikian pun dengan yang keempat ini. ia lantas menarik pulang. Lian Houw menyampok dengan tangan kiri yang disusul sama tinju kanan. ―Jikalau sampai sepuluh jurus kau masih belum dapat mengetahui?‖ tanya Oey Yong. ia mencoba berlaku norek.Pendekar Pemanah Rajawali Tidak ada niatnya Pheng Lian Houw untuk melukai si nona. Lian Houw menjadi bertambah heran. Pheng Lian Houw berkata. ―Aku telah pelajarkan ini sejak aku dalam kandungan ibuku. Oey Yong menolong diri dengan ilmu silat Keluarga Swee dari Thay-goan.

mendadak ia rasakan sakit pada dadanya yang kiri. Ia menjadi kaget. Batok kepalanya bakal hancur luluh kalau ia sampai kena di serang. mereka jadinya ragu-ragu. Dia menyusuli itu dengan jurus Menunggang harimau mengalah tindak dari ilmu silat Tiang Kun dari Kwan-tong. Sebab mereka semua adalah orang-orang kangouw berpengalaman dan terhadap Hek Hong Siang Sat. tak dapat ia berkutik. Ia menduga kawannya itu telah menghadapi ancaman malapetaka. Ia kata dalam hatinya: ―Mustahil aku tidak mampu hajar mampus padamu. Benar terkabar kalau Tong Sie Tan Hian Hong si Mayat Perunggu telah meninggal dunia akan tetapi tidak ada diantara mereka ini yang pernah menyaksikan sendiri. Memang juga itu waktu. Tapi ia tidak menyerang habis. yang hebat sekali. maka berniat ia berkelit ke kanan.ah. sampai pada jurus yang kedelapan. Ia menggunai jurus ―Menolak jendela untuk memandang rembulan‖. Ia menggunai tipu silat ―Binatang jatuh di tengah udara‖. kedua tangannya ditekuk. setelah ia dilayani dengan ilmu silatnya delapan partai. ia menjadi penasaran. untuk membalas menyikut naik dadanya penyeranganya itu. sedang si nona pun segera menjadi kelabakan. ―Ha. Ah. Tapi sekarang. Oey Yong dapat mempertahankan diri. dia celaka! Kenapa ia tidak berkelit ke kiri?‖ Pheng Lian Houw mendesak terus. setelah berdiri tetap. yang mana ditambah sama kisikannya san-cu dari Pek To San itu. tiba-tiba ia mendapat pikiran baru. wilayah Barat. ketika denagn sekonyong-konyong. suara mana bernada kaget dan gusar. ia menjadi mendongkol terhadap si nona . sesudah mana. ia bergerak denagn kedua tangannya. Irawan D Soedradjat Page 228 . maka itu ia dapat melihat perlawanan si nona. Oey Yong terkejut melihat gerakan lawan ini. Kalau yang keempat pertama bengis. hingga Nio Cu Ong tidak dapat menguasai ia terlebih lama. waktu ia rasakan mulutnya orang si she Nio itu mengenai batang lehernya. usianya pun masih sangat muda. tangannya dan kakinya telah dicekal keras. budak?!‖ Ia memang telengas. Auwyang Kongcu.Pendekar Pemanah Rajawali Oleh karena berpikir begini. Banyak benar ragam ilmu silatnya. tapi tidak sekejam ini. tangan kiri di balik ke bawah. ia cuma bisa berkelit dan menangkis. dengan sendirinya mereka jadi berkhawatir untuk Oey Yong. Setahu dari mana datangnya. Karena ini. Untuk menangkis sudah tidak keburu lagi. Ah. Pheng Lian Houw telah dapat membuktikan ilmu silatnya Oey Yong di jurus kesembilan. Lian Houw segera menyerang dengan jurusnya yang kelima. hingga gagallah serangannya itu. Terang si bocah wanita ini telah diberi kisikan berterang. kecuali Chao Wang. ia menjadi gusar. mendadak saja ia dapat tenaga pula. hingga habislah tenaganya. di malam yang tenang itu. ia dengar perkataan terakhir dari sancu dari Pek To San itu. Oey Yong tahu tangan kiri itu adalah ancaman belaka. disaat si nona hendak memunahkannya. Itulah ilmu silat Lo Cia Sie dari partai Siong Yang Pay. kepalanya di aksih mendak. Menampak itu. jurus dari Cu-ngo Tay Kok Kiam dari Kanglam. Auwyang Kongcu tertawa dan mengatakan. Dengan satu gerakan ―Ikan gabus meletik‖ ia kasih dengar jeritannya itu. Terpaksa ia lantas berkelit. Semua orang terkejut melihat kawannya bersikap telengas begitu. san-cu atau pemilik dari Pek To San. itu disebabakan si nona cantik dan manis. ia dengar satu suara keras dari kejauhan. akan tetapi ia waspada. Ia telah ditekan ke tanah. segera ia terjang tangan kiri si orang she Pheng itu denagn jurusnya ―Tibanya air mata es dingin. kalau mulanya ia menaruh ―belas kasihan‖. Sebenarnya hendak ia bicara. tangan kanannya meninju. dari itu pada jurus kesepuluh batal ia dengan maksudnya menghajar si nona. ia cuma mendorong saja denagn keras. tidak dapat ia mencoba membalas menyerang. ia melanjuti dengan jurusnya yang kesepuluh. tangan kirinya menggertak. Kwee Ceng telah dibikin tak berdaya oleh Nio Cu Ong. terpelanting tujuhdelapan tindak! Semua orang terperanjat dengan perkataan Pheng Lian Houw itu. atas mana Oey Yong terhuyung ke belakang. Segera ia menyerang denagn jurusnya yang kesembilan. dari penasaran. terus ia berontak sekuat-kuatnya. rata-rata orang jeri. mukanya menjadi pucat. Dengan gampang ia membebaskan dirinya. ia berhenti setengah jalan sambil terus berseru: ―Kau muridnya Hek Hong Siang Sat!‖ Dan seruan ini disusul sama gerakan tangan kanan. malah ia segera kenali suaranya Kwee Ceng.‖ salah satu jurus dari ilmu silat ―Soat San Pat To‖ dari See Hek. Ia kaget bukan main. lantas berkata: ―Budak ini barusan menggunai jurus Menggantung kumala di gantungan emas. tangan kanan ke atas. Ia tidak lantas menginsyafi bahwa ia dapat tenaga besar berkat darah ular yang dicampur latihan tenaga dalam dari Tan Yang Cu Ma Giok. dia menggunai ilmu silatnya tetanggaku!‖ Pheng Lian Houw mendelu mendengar suaranya orang she Auwyang itu. inilah Tepukan tiga kali dan Gunting emas. Pheng Lian Houw menyerang dengan hebat. sampai ia mengeluh di dalam hatinya. yang mirip dengan ilmu silatnya saudara Som Sian Lao Koay. tetapi justru itu.

tandanya sudah lama tidak pernah digunakan lagi…. di jendela terdengar satu suara keras. ―Ya. aku akan lari dari jendela. di antara pohon-pohon dan gunung-gunungan. bertapak tanda lima jari. onghui mengunci pintu. Kwee Ceng menyangka orang sudah ajak gadisnya pergi menyingkir.‖ Irawan D Soedradjat Page 229 . di situ ada terukir empat huruf ―Tiat Sim Yo-sie‖. ―Jikalau aku tidak datang sendiri untuk menghanurkan terima kasihku. Kemudian ia disusul oleh Wanyen Kang. Dengan masih mencekal terus goloknya. Selama itu Kwee Ceng terus diam saja. malah nyonya itu mengasih dengar jeritan tertahan. Orang yang datang itu adalah Yo Tiat Sim yang menyebut dirinya Bok Ek. air matanya menguncur turun. Hendak ia beristirahat. Wanyen Kang bertindak masuk. untuk bersama Io Cu Ong dan yang lainnya pergi mencari ke lain-lain bagian dari istana itu. Tepat enam dim dekat tajamnya tombak. sakitnya bukan main. Kwee Ceng berkelit dengan berlompat ke belakang. cuma kupingnya mendengar pembicaraan orang itu. Lantas ia pegang terus tombak itu. Dari sela-sela lemari. ―Setelah sebentar ia meniup lilin. bebokongnya kena terjambret hingga berdarah. tangannya tiba di bebokongnya. Kwee Ceng lari terus. Ia melihat ke seluruh kamar. lalu ia masuk ke dalamnya. hingga itu Nio Cu Ong tidak dapat segera menyandak. Di situ ia mendekam. Nyonya agung itu duduk di samping meja. pukulannya Nio Cu Ong bukan seperti pukulannya Wanyen Kang. Di dalam hatinya ia berpikir: ―Onghui murah hati.Pendekar Pemanah Rajawali Nio Cu Ong bukan melainkan membikin terlepas cekalannya. ―Apakah tidak ada orang jahat masuk ke mari?‖ Onghui menggeleng kepala. ia mengusap-usap. Satu kali Cu Ong berlompat. matanya bengong mengawasi lilin. ―Dalam kejadian itu adalah anakku yang salah. ia hanya memandang seluruh kamar.‖ Hampir di itu waktu. ―Tidak boleh mereka dapat lihat kita…. Akhir-akhirnya sambil menghela ia berkata. di situ ia kasih turun tombak besi yang tergantung. ia hampirkan itu. setelah meminum darah ular. darahnya mengalir keluar. akan buka pintunya. ―Ma.‖ onghui itu menghela napas.‖ ―Terima kasih untuk kebaikan onghui. ia lari ke dalam kamar si nyonya agung. Kwee Ceng terkejut. bajunya kena terpegang. Ia meneliti gagang tombak itu. Dengan uujung bajunya. ―Istrinya Yo Tiat Sim‖. Segera ia maju untuk menyerang pemuda itu. ―Aku percaya adik Yong sudah lama pulang…. tangannya menjambak.‖ bilangnya kemudian. Ia bertindak ke tembok. dia membuatnya kamu ayah dan anak bersusah hati…. ia mengawasi Bok Ek itu.‖ berkata Yo Tiat Sim.‖ Tiat Sim tidak menyahuti. karena sakitnya dan kaget. pukulan ini mendatangkan rasa sangat sakit. ia keluar dari tempat sembunyinya. begitu juga onghui. Kwee Ceng mengintai. Tidak antara lama. meskipun aku mati tidaklah aku dapat memeramkan mata.‖ Kwee Ceng pikir. kedua matanya menjadi merah. juga kedua telapakan tangannya pecah dan berdarah. Ia menjadi kaget berbareng gusar. Maka itu.‖ sapanya. Onghui dapat menenangkan diri. ―Kau baiklah lekas pergi. untuk menyembunyikan diri. Kwee Ceng lantas lari sekeras-kerasnya. Segera tedengar tindakan kaki perlahan masuk ke dalam kamar. Nio Cu Ong tidak dapat mencari. ―Tombak ini sudah karatan. sudahlah. onghui kebetulan berada di kamar yang lain. tetapi Nio Cu Ong ada sangat gesit. tenaganya bertambah. baju itu lantas robek sebagian. Kali ini. ia menghela napas lega. tanpa ia dapat menahan. Dia memang ringan tubuhnya. Ia lihat yang datang itu onghui sendiri. Saking takut. Kwee Ceng berayal. Di sebelah timur ada sebuah lemari besar. Putra itu lantas keluar pula. mungkin ia dapat menolong aku…‖ Karena ini. disusul sama menjublaknya daun jendela itu dan mana segera lompat masuk satu orang. Ia dapatkan sebuah kamar yang diterangi lilin tetapi penghuninya tidak ada. hingga mereka berlari-larian di taman. ia susuti air matanya itu. Sebentar kemudian. Tiba-tiba ia menjadi sangat berduka. Kedatangannya ini pastilah diluar dugaannya Kwee Ceng dan onghui. Cuma sebegitu jawabannya. ia lompat masuk ke dalam rumah itu. Kebetulan ia tiba di depan rumah petani dari onghui. denagn siapa ia berbicara. yang artinya.‖ Suara itu berirama sedih.

maka itu sekalipun mereka berada di dalam sebuah kamar.‖ Tiat Sim menyahuti. Ia jumput sepotong baju. Tubuhmu lemah. untuk mati bersama…Aku lebih suka menjadi setan untuk tetap berada bersama denganmu…!‖ Tiat Sim rangkul istrinya itu. ―Kau lihat. ―Sekarang aku letih sekali. Ia menjadi curiga sebab tadi terang ia dengar suara orang berbicara.‖ ia berkata pula. Sudah delapan belas tahun ia tinggal di istana. Mendengar kata-kata itu. baju dan celana biru.‖ sahut sang ibu. dengan menambah setengah kati besi…‖ Tiba-tiba saja onghui menjadi lemas kedua kakinya. dengan terpaksa ia turut Wanyen Lieh pergi ke Utara. ―Kenapa…kenapa kau ketahui kata-katanya suamiku pada itu malam dari saat kematiannya…?‖ Hancur hatinya onghui ini yang sebenarnya bukan lain daripada Pauw Sek Yok atau nyonya Yo Tiat Sim. Tidak dapat ia menampik bujukannya pangeran itu yang perlakukan ia dengan baik sekali. ―Lekas kau bawa aku pergi…. Sebaliknya To Tiat Sim yang mesti hidup dalam pengembaraan. kau pun tengah mengandung.‖ katanya. Ia lantas berbangkit. ―Kau…kau kata apa?‖ tanyanya. terus ia gantung tombak itu. See Yok memeluk erat-erat. tak usah kau membikin pakaian lagi untukku…‖ Sek Yok terkejut. Pauw Sek Yok tidak dapat lantas mengenali suaminya itu. ―Aku minta janganlah kau raba tombak itu.‖ katanya perlahan. di akhirnya ia serahkan dirinya dijadikan onghui atau selir. Hanya sejenak kemudian ia bertanya: ―Mustahilkah kau belum mati? Mustahilkah kau masih hidup?‖ Tiat Sim hendak menyahuti istrinya itu tatkala mereka mendengar suara Wanyen Kang dari luar kamar: ―Mama. aku hendak tidur…. ―Aku tidak takut!‖ katanya kemudian. lantas aku pergi. Yo Tiat Sim tidak menjawab. hingga ia dapat lihat di lengan kiri orang satu tanda bekas luka. ―Aku bilang lanjam ini sudah rusak. ―Ma. itulah kata-kata suaminya dulu hari tempo ia tengah hamil membuatkan sepotong baju baru. Di dalam situ ada tersimpan beberapa potong pakaian pria. ―Aku hendak omong sedikit saja. ―maka besok baiklah suruh Thio Bok-jie dari dusun timur membetulkannya. Sekarang ia tidak bersangsi pula.Pendekar Pemanah Rajawali Agakanya onghui heran atas lagak-lagu orang itu. ―Kenapakah?‖ Tiat Sim tanya. ia tidak lagi seperti masa mudanya. mana ia percaya suaminya telah menutup mata. suaranya menggetar. maka lantas saja ia tubruk suaminya itu dan merangkulnya erat-erat seraya ia menangis sedih sekali. kau baik-baiklah beristirahat. tidak dapat aku lepaskan kau!‖ katanya.‖ Wanyen Kang tidak lantas pergi hanya ia jalan mengitari rumah itu. Irawan D Soedradjat Page Mendapatkan ibu itu tidak hendak membuka pintu. ia hanya bertindak ke samping meja. selama itu wajahnya tidak berubah banyak. air matanya turun bercucuran. Rumah tangganya telah runtuh. Ia berdiam aja mengawasi Tiat Sim. Sekarang ia mengawasi lanjam yang berada si pinggiran tombak itu.Aku akan turut kau ke lain dunia.‖ sahut si nyonya agung. kenapakah kau berduka pula? Dengan siapakah kau berbicara?‖ Se Yok kaget tetapi ia lantas menyahuti: ―Aku tidak apa-apa. siauw-ongya ini menjadi semakin bercuriga. ia kerebongi itu pada tubuhnya: ―Bajuku telah cukup dipakai. 230 ―Besok saja. ―Ujung lanjam ini sudah rusak. famili pun tidak ada. kemudian ia gulung tangan bajunya.‖ . ―Tidak peduli kau manusia atau setan. akan hampirkan Tiat Sim. tubuh onghui bergemetar. hendak aku bicara denganmu. Di pintu ia berhenti dan mengetok perlahan beberapa kali. Itulah pakaian yang ia pakai pada dulu hari. ―Itulah barang yang aku paling hargai. Sampai sekian lama baru ia dapat membuka mulutnya. baju siapa ia tarik. untuk menarik lacinya meja itu. apakah aku setan?‖ kata suaminya ini kemudian. ―Ah…‖ Tiat Sim bersuara perlahan. ia roboh di kursi. biarlah besok besok suruh Thio Bok-jie dari dusun timur memperbaikinya dengan tambah setengah kati besi…‖ katanya peralahan. Ia ingat betul. ―Kau…kau siapa?‖ tanyanya.

tapi disaat ia hendak mengundurkan diri. bagus atau tidak?‖ ―Lain kali aku larang kau menghina orang karena kau andalkan pengaruhmu. Tapi Wanyen Kang telah menahan gerakan tangannya.‖ Wanyen Kang beritahu. ―Ma. Ia pun lihat ibunya itu roboh. Ia lantas bertindak ke lemari yang ditunjuk itu. kau tidurlah!‖ Putra ini memberi ucapan selamat malam. Urusan itu kau jangan campur tahu!‖ Wanyen Kang tertawa. tiga orang menjadi terkejut sekali. Ia menjadi curiga sekali. Sebelum orang nerobos masuk. ―Orang jahat telah nyelusup masuk kedalam istana. hingga daun pintunya mejeblak terbuka. ―Bagaimana tadi permainan tombakku. Ia masih menghirup beberapa kali. ia tetap mengawasi ke lemari. aku tak akan main gila lagi.‖ katanya. Begitu pintu lemari terpentang. Pauw Sek Yok melihat itu. ―Hatiku tidak tentram. Dasar anakmu yang buruk…. ―Aku mau tidur. Dengan pundaknya. ―Aku minta supaya kau jangan bersusah hati. tangannya diulur kepada tombak. Di dalam lemari itu tertampak Kwee Ceng. ―Tentara pengawal semuanya kantong nasi!‖ katanya. di tubuh siapa ia menyanderkan diri. hatinya berdenyut. Pauw Sek Yok segera menunjuk ke lemari. ―Sekarang lekas kau pergi tidur. rupanya ada orang yang menahannya dari sebelah luar. ―Begitu?‖ tanya ibunya. ibu tahu di dalam lemari ini ada orang…‖ pikirnya. ―Ah.Pendekar Pemanah Rajawali Tiat Sim menduga orang bakal masuk ke dalam. Ia lantas senderkan tombaknya. Wanyen Kang dapatkan ibunya bermuka pucat dan mukanya itu bermandikan air mata. yang pintunya ia segera tutup pula. entah ibu mengetahuinya atau tidak.‖ kata ibu itu. jendela itu keras. untuk menjambret pintunya untuk dibuka. begitu lekas ia mencekal dengan baik – yang mana ia lakukan dengan luar biasa cepat – mendadak saja ia menikam ke arah lemari. ―Siapakah dia?‖ tanya ibunya. apakah tidak ada orang masuk ke mari?‖ putra itu tanya pula. kau pergilah. ―Siapa mengandalkan pengaruh. untuk di minum dengan perlahan-lahan. ia lepaskan Sek Yok dan bertindak ke jendela dengan niat lompat keluar. ia kaget bukan main. bertindak perlahan-lahan. ―Ma.‖ Ia telah sampai di tembok. Ia batal pergi. batal ia menikam lemari disaat ujung tombak hampir mengenai daun pintu lemari. Kwee Ceng tarik Tiat Sim masuk ke dalam lemari. Sambil berbuat begitu. ia takut ibunya diganggu orang jahat. hatinya bekerja. tetapi ketika ia menolak. ―Ma. ― Di dalam lemari itu ada seorang sembunyi. ia segera tabrak pintu kamar itu.‖ sahut si ibu. yang menenangkak dirinya. Irawan D Soedradjat Page 231 .‖ ―Nah. ―Tidak apa-apa. ular naga melayang‖.‖ katanya. baru ia berbangkit.‖ Putra itu menghampiri ibunya. maka kembali timbul kecurigaannya. maksudnya menganjurkan suaminya itu masuk ke dalamnya untuk bersembunyi.‖ ―Ma. hingga ia lantas roboh pingsan. Ia memang tidak rela meninggalkan istrinya itu. Itulah gerakan ―burung hong terbang. ia lantas ambil tempat duduk. melihat siapa onghui menjadi tergugu. Ma?‖ sahut si anak. hingga ia mengeluarkan jeritan tertahan. Tiat Sim suka menurut. ―Aku tempur itu anak tolol dengan andalkan kepandaianku. Wanyen Kang berkhawatir mendengar jeritan ibunya itu. Sembari minum. Di dalam kamar itu tapinya tidak ada lain orang. ia dapat melihat ujung baju di sela-sela lemari. ―Ma. untuk mengasih bangun pada ibunya. Ia pun menuang the ke dalam cangkir.‖ sang ibu bilang. baiklah. ada terjadi apakah?‖ ia menanya.‖ demikian pikirnya.

ia heran dan bercuriga. ―Kenapa mama menanya begitu?‖ Irawan D Soedradjat Page 232 . ―Ma. tubuhnya menjadi lemah sekali. Putra itu menurut. kau tidak punyai untung bagus. ―Sekarang aku akan menerangkannya kepadamu. Wanyen Kang mengawasi ibunya.‖ berkata Wanyen Kang.‖ kemudian kata si ibu. anakmu membawakan kau perabot rumah tangga yang baru tetapi semua itu ibu tolak. habis itu barulah aku mencari jalan pendekku…. Hatinya Pauw Sek Yok goncang keras. ―Mana bisa ayah tinggal di sini?‖ Sek Yok menghela napas. ―Oleh karena itu mana bisa dia berdiam dengan tenang dan tentram di rumah ini…. ―Aku justru merasa ini jauh terlebih bagus dibandingkan istana yang indah. ―Apakah kau sudah lihat itu ukiran empat huruf di gagang tombak?‖ Pauw Sek Yok tanya. Aku sengaja menitahkan orang melakukan perjalanan jauh ribuan lie untuk mengambilnya. kenapa ada apa-apa yang disembunyikan kepadaku?‖ si anak bertanya pula.‖ katanya keras. ―Taukah kau siapa ayahmu yang sebenarnya?‖ Sek Yok menanya. kau dengari aku bicara. Hanya karena kagetnya itu. Itu lanjam di tembok dan semua perabotan dalam ruangan ini.‖ kata ibu itu. maka dalam dunia ini tidak bisa aku hidup pula bersama Tiat Sim. bangku. ―Ayahku adalah adiknya sri baginda. tidak ada satu yang bukan dibawanya dari Lim-an. lemari dan pembaringan. air matanya lantas bercucuran deras. Aku telah hilang kehormatan diriku. ―Kenapa kau menanya begini?‖ ―Kalau begitu. Wanyen Kang telah menyaksikan kelakuan ibunya ini. ―Kenapa mama suka sekali tinggal di ini rumah bobrok. apakah katamu?‖ tanyanya saking heran. biarlah mereka ayah dan anak bertemu. Ia pikir: ―Kejadian ini mesti dijelaskan kepada anak ini. selama delapan belas tahun dia berkelana di duni kangouw.‖ menjawab anak itu.‖ Karena memikir ini. ibukota dari kerajaan Song di Kanglam. tetapi tombaknya masih dipegangi. seperti meja. mana dapat ia mengikuti pula aku seorang rakyat kasar? Dia hendak membuka rahasia. ―Aku ini anak kandungmu atau bukan?‖ ―Tentu saja. hatinya menjadi lega.‖ sahut Wanyen Kang. Tiat Sim dalam lemari telah dengar nyata pembicaraan di antara ibu dan anak itu. makin aneh!‖ katanya. makin lama kau bicara.‖ berkata dia.‖ ―Sampai sebegitu jauh aku tidak mengerti. dialah pangeran Chao Wang.‖ sahut ibunya itu. ―Sedari aku masih kecil telah aku menanyakannya. kapan ia dapatkan lemari tidak kurang satu apa. ―Tetapi ibu tidak hendak menjelaskan siapa Yo Tiat Sim itu. suaranya keras. ia berduduk. kau tidak dapat tinggal di rumah bobrok ini bersama-sama dengan ayah dan ibu kandungmu snediri….Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok sadar dengan perlahan-lahan. Wanyen kang tertawa. yang segalanya serba dilukis dan diukir dan diperaboti mentereng! Anak. ―Kasihan ayahmu itu. ―Ma.‖ Sang putra heran hingga ia mengawasi dengan matanya dibuka lebar-lebar. Ia pun berpikir: ―Sekarang dia telah menjadi satu onghui. ―Ma. ―Kau duduklah baik-baik. hatinya tergoncang keras. pedih ia merasa.‖ ―Kau menyebutkan rumah ini bobrok?‖ tanya sang ibu.‖ Jantungnya Tiat Sim berdenyut. mungkinkah ia hendak menyuruh anaknya itu mencelakai aku?‖ Ia lantas dengar perkataannya Pauw Sek Yok: ―Tombak ini tadinya berada di dusun Gu-kee-cun di kota Lim-an. inilah kesalahan besar yang tidak dapat diperbaiki lagi.

yang gagangnya sudah tua. mereka mencekal masing-masing satu ujungnya tombak itu. Kwee Ceng lantas lompat maju. kenapa kau masih tidak berlutut untuk memberi hormat!‖ Wanyen Kang bersangsi. yang di arah tenggorokannya. ia jadi berdiri menjublak. untuk menangkis seraya mencekal. Kemudian ia ingat. ia membentak: ―Kau telah bertemu dengan ayahmu sendiri. gagang tombak itu patah sendirinya. akan lihat ibunya itu. Disaat ia hendak melompat tembok. yang kaget sekali. di mana ia pernah dengar itu. tanpa menanti musuh menarik pulang tombaknya. Inilah hebatnya untuk tombak itu sendiri. sedang Sek Yok menjerit: ―Inilah ayahmu! Apakah kau masih tidak percaya?‖ Lantas ia benturkan kepalanya ke tembok hingga tubuhnya terus roboh ke lantai. inilah tidak heran. tempo ia masih kecil. yang mendadak saja menikam Bok Ek. anak. Ia telah mainkan ilmu silat Keluarga Yo bagian jurus ―Hui ma chio‖ atau ―Membaliki kuda‖. Maka seraya memutar tubuh. Wanyen Kang heran bukan kepalang. akan tetapi sekarang ia memeluki Pauw Sek Yok dengan tangan kanannya itu. untuk buka pintunya. angin menyambar lewat di mukanya. ia membentak: ―Ilmu silatku ini diwariskan cuma kepada anak laki-laki. ialah tipu istimewa yang hanya diketahui keluarganya yang mewariskan ilmu silat itu. cepat sekali ia mendak. ia menjadi tidak berayal. Ia hanya lupa. Kemudian lagi piasu itu lenyap entah ke mana. tidak kepada anak perempuan. Itulah menandakan lihaynya si 233 Yo Tiat Sim tidak pedulikan pangeran itu. maka bersama-sama mereka melompati tembok untuk menyeingkirkan diri. ―Kau tidak tahu. ―Oh.‖ katanya sesegukan. untuk di tarik keluar. ia merasakan sambaran angin ke arah kepalanya. tidak dapat ia menyerang. Kemudian piasu itu telah dipakai menikam mati pada Tan Hian Hong si Mayat Perunggu. . walaupun Khu Cie Kee lihay. ―Ma. Lantas dia bertindak cepat le arah lemari. yang kepalanya mandi darah dan napasnya empasempis. ia putar tubuhnya. tetapi nama kau ialah Yo Kang!‖ Mendengar di sebutnya nama Yo Kang itu. maka juga sambil berlompat dengan gerakan ―Seekor belibis keluar dari rombongannya‖. di sana ada sebuah piasu belati yang gagangnya berukiran dua huruf ―Yo Kang‖ itu. Sebenarnya habis itu. Semua Berkumpul Tiat Sim mendengar angin menyambar belakangnya. pikiranmu was-was.Pendekar Pemanah Rajawali Ibu itu berbangkit. ia peluki tombak besi itu. kiranya kau!‖ seru pangeran itu. Tombak ini…inilah senjatanya ayahmu yang sejati…‖ Ia pun lantas menunjuk pada ukiran empat huruf di gagang tombak: ―Ini barulah namanya ayahmu itu!‖ Tubuhnya sang putra bergemetar. Tiat Sim tubruk istrinya itu. pangeran itu menjadi tercengang. segera ia pun lari keluar. tapi ia tidak dapat mengerti sedalam-dalamnya ilmu silat Keluarga Yo itu. Bab 21. maka ujung tombak lantas kena terpegang. jadi kepandaian Wanyen Kang menggunai tombak itu belum sempurna. yang ia terus peluk dan angkat untuk dibawa lari keluar dari rumah bobrok itu. Tiat Sim berkelit. Ia sudah lantas disambut Bok Liam Cu. Tapi ia masih sadar. Kwee Ceng ingat segera ingat satu nama yang ia rasa kenal baik. ―Lepaskan!‖ teriak Wanyen Kang. ―Kau tidak dapat disesalkan. ia serang bebokongnya Yo Tiat Sim. ―Nanti aku pergi panggil tabib.‖ katanya. Ia menjadi kaget sekali. lantas air matanya turun dengan deras. ia putar tangan kirinya ke belakang. ―Nanti aku minta ayah datang ke mari!‖ katanya. Meski begitu. ia pegang tangannya Yo Tiat Sim. tangan kanannya sudah mesti membarengi menyerang. sesudah mana. ia telah tiba di luar. dari itu tentulah gurumu tidak dapat mengajarakan kepadamu!‖ Memang benar.‖ ―Aku was-was kenapa?‖ ibu itu bilang. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng juga tidak berani berayal-ayalan. gadisnya itu. Tempo keduanya saling membetot. maka ditegur begitu. Dengan begitu. Wanyen Kang kaget. ia merasakan perih bagaikan kebaret pisau. dengan bawa istrinya . ―Apakah kau sangka kau adalah orang bangsa Kim? Kau adalah orang Han! Kau bukannya bernama Wanyen Kang. Ia lantas memutar tubuhnya. ―Ayahmu ada disini!‖ Sek Yok bilang. Saking tergugu.

aku si orang tua sudah lama menantikanmu di sini!‖ Itulah suaranya Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong! Pada itu waktu di lain kalangan. Oey Yong mengawasi. dengan kepandaian semacam itu dari mereka. hingga tidak dapat ia menggeraki tubuhnya. Ia menyahuti dengan membentak: ―Jurusmu yang terakhir adaöah jurus ―Tindakannya si binatang sakti‖.‖ Oey Yong tertawa lagi. yang tersenyum.‖ . ―Di sini ada beberapa tua bangka yang hendak menyusahkan aku. oleh karena Leng Tie Siangjin telah terluka parah. ―Oleh karena kau adalah muridnya Hek Hong Siang Sat. sambil tertawa Oey Yong kata kepada cecu itu: ―Kau kalah!‖ Ia berbicara dengan terpaksa. ―Laginya. mereka menjadi saling mengawasi. dari heran mereka jadi mau mempercayai. Orang boleh berdusta hebat tetapi tidak nanti ada murid yang berani mencela dan mencaci guru sendiri di hadapan orang banyak. ia dengar bentakan: ―Anak tolol. ingin aku meminta pengajaran beberapa jurus dari nona. ―Belum pernah aku melihat Hek Hong Siang Sat. ―Aku tidak punya she. Pheng Lian Houw menggeser tubuhnya ke samping. ia terus putar tubuhnya dan bertindak ke pintu.‖ sahut si nona.‖ berkata orang she Pheng ini. ―Kecantikan mereka itu tidak ada separuhnya dari kecantikanmu. ―Aku si Lao Pheng kagum sekali untukmu! Sekarang aku memikir untuk meminta tanya namamu yang harum. Mereka pun telah mendurhaka terhadap guru dan kakek guru mereka. ―Aku yang rendah dan bodoh. mereka mana tepat menjadi guruku?‖ ―Percuma kau menyangkal!‖ bilang Lian Houw. karena hatinya cemas bukan main mendengar suaranya Kwee Ceng. aku tidak berniat mengganggu padamu. telah menjadi pecundangnya nona ini. terutama untuk pakaian orang yang serba putih. ―Hanya kau bilanglah. Auwyang Kongcu. tatkala mendengar Pheng Lian Houw mengatakan ialah muridnya Hek Homh Siang Sat.‖ dia kata. maka habis berkata.Pendekar Pemanah Rajawali penyerang. Pheng Lian Hoauw sudah mengahdang di ambang pintu. kenapa sekarang kau menyangkal?‖ Pheng Lian Houw gusar sekali. ―Maafkan. sambil tersenyum. ―Nama Hek Hong Siang Sat pernah aku dengar. Dia menyenggapi: ―Kau sendiri yang bilang. kelihatannya cuma Auwyang Kongcu yang bisa menghalangi nona ini. kecuali Leng Tie Siangjin dan Auwyang Kongcu. menegaskan. maka itu. Cuma dengan satu kelebatan. Selagi ia terkejut. aku dipanggil Yong-jie. Apakah itu bukannya pengajaran dari Hek Hong Siang Sat?!‖ Oey Yong tertawa pula.‖ katanya. hingga wajahnya bersemu merah. ―Apa yang aku tahu tentang mereka ialah mereka pengrusak perikeadilan dan prikemanusiaan. jikalau dalam sepuluh jurus kau tidak dapat mengenali ilmu silatku.‖ Oey Yong bilang tanpa pedulikan perkataan orang. hitunglah kau telah menang. Semua orang di situ. semua mata ditujukan kepada pemuda she Auwyang ini. mengapa kau tidak membantu aku?‖ dia tanya. Kau adalah satu laki-laki sejati. kau akan membiarkannya aku berlalu dari sini. akan tetapi mendengar ia bicara demikian hebat terhadap Hek Hong Siang Sat. jadinya mereka adalah orang-orang dari Rimba Persilatan? Kenapa Pheng Cecu samakan aku dengan mereka itu?‖ Mulanya orang menyangka nona ini tidak hendak omong terus terang. Irawan D Soedradjat Page Oey Yong agaknya jengah. 234 Auwyang Kongcu tertawa.‖ ia menyahut. Mau tidak mau. yang dikatakan Pheng Lian Houw sebagai gurunya. apa perlunya gurumu menitah kau datang kemari?‖ Oey Yong tertawa. ―Nona kecil. ―Mereka itu – ini nona-nona cantik yang menunggang unta putih – adakah mereka orang-orangmu?‖ dia menanya. ―Apakah kau telah bertemu dengan mereka itu?‖ tanyanya. ―Apakah shemu?‖ Lian Houw menanya pula. lantas bertindak perlahan. tidak ada kejahatan yang mereka tidak lakukan.‖ ia berkata.

mana aku tega membalas memukul?‖ katanya kemudian. supaya dengan begitu kemudian aku tak usahlah menerima penghinaan orang. dia rupanya telah dapat menerka. Maka juga sejak beberapa tahun dia sudah kirim orang ke pelbagai tempat. hingga ia menjadi tergila-gila sampai umpama kata kepalanya pening. Irawan D Soedradjat Page 235 ―Baiklah!‖ berkata kongcu itu.‖ ―Apakah kau hendak mencobanya?‖ Auwyang Kongcu menegaskan. wilayah Barat. ―Apakah tanpa membalas menyerang kau dapat mengalahkan aku? Benarkah?‖ Pemuda itu tertawa. ―Walaupun kau pukul aku. sekarang ia sengaja permainkan Auwyang Kongcu supaya orang mengumpulkan gundik-gundiknya itu.‖ Si nona tertawa. Dia kelihatannya tenang dan puas. Oey Yong telah robohkan delapan dari nona-nona itu. tak usahlah untuk selama-lamanya aku mengikuti kau!‖ dia bilang. Ia merasa hatinya gatal dan tulangtulangnya lemas…… Anak muda ini lihay ilmu silatnya. ―Memang tidak ada yang terlebih baik daripada aku mengangkat kau menjadi guru. dia mengerling kepada si nona. ―Untuk aku membantu kau. Tapi ia pun gemar sekali pada paras elok. itu pun dapat. yang keringatnya merah. ―Murid-muridku beda daripada murid-muridnya orang lain. Sebentar saja di muka pintu terlihat beberapa puluh wanita muda dengan pakaian serba putih yang berseragam. yang ia percaya adalah tercantik di kolong langit ini. ia lantas mengasih dengar suaranya. dengan perlahanlahan dia mengipasi dirinya. Mereka dengar itu Biauw Ciu Sieseng bicara perihal kuda jempolan. Oleh karena gundik-gundiknya itu banyak. Dia sengaja menitahkan mereka menyamar sebagai pria. Auwyang Kongcu pun bangga akan gundik-gundiknya itu. ia ajarkan mereka itu ilmu silat dan ilmu surat. Adalah diwaktuwaktu yang senggang. sedang di bawah sinar merah dari api lilin. ia ketahui kepandaian silat mereka itu biasa saja. yang berjumlah delapan orang. ―Asal kau angkat aku menjadi gurumu dan untuk selamanya kau mengikuti aku. Dengan lantas mereka berdiri berkumpul di belakangnya anak muda itu. dari itu dengan sendirinya mereka itu menjadi juga murid-muridnya. maka juga ia terus pergi ke ambang pintu. ―Nah. Kali ini ia berlalu dari kampung halamannya atas undangan Chao Wang. ―Semua muridku wanita dan asal sekali saja aku memanggil.sekalipun di dalam keraton raja. ―Umpama kata aku menjadi muridmu. ―Bagaimana?‖ si nona menanya. kau bantu aku.‖ katanya. ―Jikalau kau benar-benar lihay. baru mereka muncul setelah ada panggilan.‖ ia bilang. semuanya bakal datang. Demikian hatinya goncang kana mendengar suara orang yang merdu itu. di See Hek. Serombongan di antaranya. selagi orang berkumpul banyak. mereka jadi ketarik hati dan ingin merampasnya untuk diserahkan kepada Auwyang Kongcu. Di luar sangkaan mereka. mereka jadi kaget sekali dan tergiur hatinya.‖ Auwyang Kongcu bilang. ―Kalau mereka itu menghalangi aku. ia menjagoi seorang diri. dengan tajam ia menatap. Mengetahui akalnya gagal.‖ . dia datang ke kota raja – Yan-khia – dengan mengajak sekalian gundik-gundiknya yang merangkap murid-muridnya itu. Oey Yong mengasah pula otaknya. belum tentu ada tandingannya. Ia mengharap. Pheng Lian Houw semua seperti bermata kabur. tapi Auwyang Kongcu cerdik. Mereka ini berkumpul di luar selagi Auwyang Kongcu berpesta. mereka gagal. maukah kau?‖ Auwyang Kongcu tertawa. hendak aku pergi!‖ katanya si nona pula. dia pecah mereka dalam beberapa rombongan. ―Aku tidak percaya!‖ ujarnya. ―Nah. ia dapat mencari jalan untuk meloloskan diri.‖ Oey Yong miringkan kepalanya. guna mengambil hatinya suami merangkap guru itu. dengan semua dimestikan mengenakan pakaian serba putih seraya menunggang unta-unta putih juga. untuk dia ambil mereka itu sebagai gundik-gundiknya.Pendekar Pemanah Rajawali Auwyang Kongcu tidak bisa lantas menjawab. Ketika di Kalgan. aku tidak akan balas menyerang. ―Benar!‖ jawab si nona. untuk mencari nona-nona cantik dan manis. tinggi dan kate. Auwyang Kongcu hendak membuktikan perkatannya. memandang nona-nona manis itu. kau kemarilah! Kau tak usah takut. . melainkan tubuh orang ada yang kurus dan montok. adalah mereka yang di tengah jalan bertemu dengan Kanglam Liok Koay dan Kwee Ceng.ia tidak nyana mereka itu kalah dari Oey Yong. .

pada wajahnya ia tidak ketarakan suatu apa. Auwyang Kongcu sudah lantas mengegos tubuhnya akan tetapi sia-sia saja ia berkelit. keluar dari lingkaran. dia yang kalah. begitu kedua tangannya dirapatkan. bersedia untuk dibelenggu. akan tetapi ia gunai kepandaiannya. hampir ia melintasi garis lingkaran itu. yang lain keras.Pendekar Pemanah Rajawali Lian Houw semua heran. ia taruh itu di lantai. Lekas ia mengambil putusan: ―Biarlah. kalau kita berdua sama-sama keluar dari lingkaran. walaupun dia lebih pandai sepuluh lipat. dengan kecerdikannya. Oey Yong heran. Hal ini membuat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw kagum sekali. Kongcu itu lihay tenaga dalamnya. kedua tangan si nona mengenai tepat pundaknya. Ia tentu saja tidak berani menyerang untuk kedua kalinya. meminjam tenaga untuk menyerang tenaga. yang satu enteng. yang terus buka ikatan pinggangnya yang ia serahkan kepada si nona. tiba-tiba terlihat berupa benda besar yang melayang jatuh di depannya. habis mana ia bawa kedua tangannya ke belakangnya. tangan kiri dengan jurus ―Angin menyambar yanglui‖. berbunyilah alat tetabuhan itu Irawan D Soedradjat Page 236 . ia menginsyafi keadaan yang tidak wajar.‖ Maka ia sambuti ikat pinggang itu. Semua orang tua di sini menjadi saksinya!‖ kongcu itu memberi kepastian. ia menjadi berpikir keras. Oey Yong hendak menegur di pederi itu tetapi ia telah di dahului Leng Siangjin. aku bekerka setindak demi setindak…. dia membilang tidak akan membalas menyerang. ―Jikalau kau kalah. Maka terlihatlah gelang rambutnya yang terbuat dari emas itu berkeliauan dan bajunya yang putih berkibar-kibar. mana bisa dia mengalahkannya tanpa dia membalas menyerang? Mungkinkah dia hendak menggunai ilmu siluman?‖ ―Aku tidak percaya yang kau benar-benar tidak bakal balas menyerang!‖ bilang Oey Yong pula. suatu tanda dari kuatnya kaki kanannya itu. ia bertindak dengan tenang. dia duduk seperti terpaku di kursinya. maka kau mesti baik-baik turut aku. lalu dengan kaki kiri menahan diri. yang terbuat dari benang sutra tetapi kuat. bukan?‖ si nona menegaskan. Dia duduk di kursi tapi ia lebih tinggi dari si nona. ia kata: ―Aku hendak pergi sekarang! Kau tidak dapat keluar dari lingkaran untuk menyusul aku! Tadi kau sendiri yang mengatakannya. ―Baik!‖ kata Oey Yong. Mereka pun dapat anggapan. maka begitu serangn Oey Yong mengenakan padanya. toh kau tidak bakal merintangi aku lagi. begitu masuk lantas kedua tangannya bekerja. sebenatr saja ia sudah tiba di dekat pintu.‖ sahut Auwyang Kongcu. Mereka pikir: ―Nona ini lihay. kemudian seraya ia bertindak masuk ke dalam lingkaran itu. Sebab ia mengerti sembarang waktu bisa terjadi perubahan. ―Begitu pun boleh dianggap aku yang kalah. di atasnya mana ada bercokol satu paderi dari Tibet yang tubuhnya tinggi dan besar. yang dari dalam jubahnya mengasih keluar sepasang cecer tembaga. kau yang kalah!‖ Auwyang Kongcu tercengang karena herannya. dia buktikan perkataannya itu. Lingkarannya sendiri dalam kira setengah dim.‖ Karena ini. benda itu adalah sebuah kursi thaysu. Auwyang Kongcu lonjorkan kaki kanannya. tetapi menerjangnya berbareng. yang mengenakan jubah warna merah. segera ia merasakan pukulannya itu membal balik. Ia bukan cuma bertindak masuk saja. hingga ia lantas terhuyung sendirinya. yang satu lemah. ―Siapa yang keluar dari lingkaran ini. Sebaliknya. Dia hanya bisa berdiri menjublak tanpa bisa bicara apa-apa! Si nona tidak menghiraukannya lagi.‖ jawab Auwyang Kongcu. ia tetap senyum. ―Hendak aku telingkung tanganmu ke belakang!‖ ―Baik. Ia sudah lantas berkelit ke samping. maka sungguh hebat jikalau aku sampai kena dibekuk dia…. ―Tentu saja! Tapi kalau kau yang kalah. maka itu. yang lain berat. Hanya begitu ia berada di luar. pemuda ini benar-benar ceriwis. hingga ia dapat berlompat bersama-sama kursinya itu. Ia pikir: ―Terang sekali orang ini tidak bermaksud baik. ―Bagaimana sekarang – bagaimana kalah menangnya?‖ si nona tanya. ―Jikalau dua-duanya yang keluar?‖ Oey Yong masih menanya. dengan begitu ia membuat lingkaran. tetapi hatinya terkesiap. segera ia percepat tindakannya itu. ia berputar dengan kaki kiri itu. yang lantas bertindak memasuki lingkaran itu. Segera ia dapat kenyataan. dengan itu ia terus ikat tangan orang. kaki kanannya terus menggurat. meski begitu yang terkejut adalah si nona sendiri. tindakannya pun dihentikan. yang orang benar-benar menyerahkan diri untuk dibelenggu. Lingkaran pun seluas enam kaki. karena begitu tangan mengenai sasaran.‖ berkata Auwyang Kongcu. Anehnya.

Lekas-lekas ia merayap bangun. Oey Yong tidak menjadi gugup. Untuk kagetnya. tangannya terus dipakai merebaraba kepada benda itu. Nona yang begitu cantik manis. hingga tidak ampun lagi. dia takutnya bukan main. Pheng Lian Houw berseru: ―Budak itu memakai Joan-wie-kah! Itulah mustika pemilik pulau dari pulau Tho-hoa di Tang Hay!‖ See Thong Thian pun berseru: ―Dia masih begini muda.‖ Hauw Thong Hay mengulur lidahnya. Sebentar kemudian dia sampai di satu tempat. juga isi perutnya. Dia heran yang di pekarangannya istana ada tempat yang demikian. ia pun tidak berlompat itu lari menyingkir. Dalam keadaan seperti itu. ialah punggung si nona. ―Baju lapis itu tidak takut kepada senjata tajam seperti golok dan tombak. Malah Chao Wang juga menitahkan Thung Couw Tek mengepalai barisan pengiringnya pergi mencari. supaya setibanya di bawah. Orang menjadi kaget hingga mereka pada berseru. walaupun itu sudah lolos dari bahaya. ia terus terpeleset dan terguling. Dalam kagetnya. Di dalam hatinya ia menghibur diri. dia lari tanpa memilih lagi jurusan timur atau barat. lalu sepasang cecer itu menyambar ke arahnya…. untuk menampa dasarnya cecer. Tapi ia masih sadar. dia mesti menderita sebab tertusuk duri-duri landak itu. sebab telapakan tangannya pecah menjadi sepuluh liang kecil. Oey Yong seperti juga tidak dapat menahan tubuhnya. hanya tempo ia sampai di luar. dia kena injak bukan batu atau tanah keras. Thong Hay dan Lian Houw sertia Thong Thian turut pergi mengejar. dengan begitu. dengan menjejak dengan kedua kakinya. ―Syukur aku tidak sampai kena menghajar budak itu…‖ katanya. Ia penasaran. bakalan remuk semua…. untuk mencari. ―Di dalam bajunya ia memakai baju lapis yang lemas. tak usah dia jatuh terbanting. Dia menjadi terlebih kaget. ia lari mencari. hingga ia seperti hendak menyerbu ke rangkulannya lawannya itu.‖ Hauw Thong Hay. Ia masih heran tatkala di depan matanya berkelebat suatu sinar. orang menjadi heran sekali. Cuma. dia pun berlari-lari di tempat yang gelap. hingga mereka tercengang. di antara gelap petang tidak dapat lagi ia melihat bayangannya si nona. sekian lama dia tidak dapat dicandak. sebuah lagi di bawah. Cu Ong sebaliknya mengejar dia dengan hebat. dia terjatuh ke dalam sebuah liang. si nona sendiri melayang terus bagaikan layangan putus. Selagi orang kaget. yang bertemu sama Nio Cu Ong. ―Dia dapat lolos. ia menjadi mendekati si orang suci itu.sebuah di atas.Pendekar Pemanah Rajawali hingga menulikan kuping. dia dapatkan sebuah tengkorak manusia. ia justru mencelat ke depan. ―Pernahkah kau melihat landak?‖ Pheng Lian Houw mendahului menanya ―Tentu pernah aku melihatnya!‖ sahut orang she Hauw itu. mungkin ia tidak terluka. ia sudah lewat di antara kedua senjata rahasia itu. dia memukul ke arah tubuhnya si nona. di mana ada banyak pohon berduri serta batu muncul di sana-sini. Som Sian Lao Koay ingin membekuk orang untuk dihisap darahnya! Kwee Ceng dapat lari keras.‖ Lian Houw lantas memberi keterangan. Maka siapa memukul atau menendangnya. satu suara keras segra terdengar. asal ke tempat yang gelap. sampai di luar gedung! Dari kaget. Bahaya tidak dapat dicegah lagi. dia lantas siapkan kakinya. pastilah bakal runtuh di tangan yang kasar dari si paderi. terus tubuhnya terjatuh hingga ia menjerit keras. menanyakan itu kepada kakak seperguruannya. Sembari berbicara. Ketika akhirnya kakinya tiba di dasar liang. bukan saja tulang-tulangnya bakal patah. Mendadak kakinya menjadi lemas. Mereka lihat tangan kanan dari Leng Tie Siangjin mengucurkan darah. maka sambil serukan sekalian gundiknya. kenapa dia dapat memiliki Joan-wie-kah itu?‖ Sementara itu Auwyang Kongcu sudah berlompat. ia maju terus. Baju itu mempunyai duri yang seperti duri landak. Irawan D Soedradjat Page 237 . Biar bagaimana tidak dapat ia melupakan nona yang manis itu. hanya serupa benda licin. dengan ilmu pukulan ―Tay ciu ini‖ atau ―Tapak tangan besar‖. selatan atau utara. karena ia berlompat maju. yang dalamnya beberapa tombak. tangan kanannya diangsurkan. maka maulah dia nanti merangkulnya…. bagaikan rebung muda atau pedang yang ditancap di tanah. Kali ini Leng Tie Siangjin mengangkat tangannya. Serangannya Leng Tie Siangjin tepat mengenai sasarannya. untuk berlari-lari keluar. sebaliknya. kaki kirinya ditekankan di atasan cecer yang di bawah tubuhnya dipengkeratkan. yang tertusuk duri. Hingga istana pangeran itu menjdai kacar dan gempar! Di pihaknya Kwee Ceng. maka sekejap kemudian. ynag tidak tahu apa itu Joan-wie-kah. Mungkin ia menerka. ketika dia merasakan sakit pada kakinya.

Dalam liang gelap yang gelap itu. yang kosen dan nyalinya besar. Nio Cu Ong tidak takut. hanya ia lantas meraba ke belakangnya. dia menyusul terus. mari kau sembunyi padaku di sini!‖ Ia rupanya dapat menduga dari suara orang. Ia menjadi semakin takut. ―Apakah kau hendak menyamar menjadi iblis untuk menakut-nakuti aku?!‖ dia menegur. tahulah ia. ia berkelit ke kiri dan kanan. Justru hatinya lagi berpikir. Kwee Ceng menyingkir terus dengan hatinya memukul keras. Kembali terdengar suara seram dingin tadi: ―Siapa ke dalam gua ini. Nio Cu Ong mendapatkan tangkapannya gagal. Liang itu merupakan sebuah terowongan.‖ pikir bocah ini. di mana terdapat cahaya terang. ―Terowongan ini mesti ada ujungnya. Dia masih tidak dapat meraba sesuatu apa. hanya kali ini suara itu disusul sama napas yang memburu. Ia lantas saja berkelit. Nio Cu Ong tengah menyerang padanya. Sekalipun Nio Cu Ong. anak muda. ―Biarpun kau kabur ke istana Raja Akherat. maka ia mundur terus.‖ ia menduga-duga. di sana habislah jiwaku…. Ini pun ada penjagaan untuk lari terus andaikata Nio Cu Ong berlompat turun. hatinya goncang keras. mungkin untuk ditawan. Nio Cu Ong pun tiba dengan segera. mungkin sekali. dia tidak bakal hidup pula! Apakah kamu sudah bosan hidup?!‖ Terang suara itu adalah suaranya seorang wanita. baru menyusul kira dua tembok. akan aku susul padamu!‖ terdengar pula suaranya Nio Cu Ong. Dia bernyali besar. lantas dia tertawa lebar. Kemudian ia putar tubuhnya. Dia pun rtidak sudi memberi penyahutan. bahkan kali ini tubuhnya terus lompat turun. Irawan D Soedradjat Page 238 . ―Ha. sembari meraba dia sembari mundur. ia tidak dapat meraba apa juga. Lagi beberapa tombak. Wanita itu tidak menyahuti. tidak dapat ia berdiam saja atau mendusta. dari pojok kiri terdengar ini suara dingin seram: ―Siapa berbuat kurang ajar di sini?!‖ Kwee Ceng kaget. supaya ia tidak mengasih dengar suara apa-apa. terus ia mundur.‖ Sebagai seorang polos. Kwee Ceng kaget dan takut. Itulah ujungnya terowongan itu. untuk berjalan dengan kedua tangannya dilonjorkan ke depan. yang bisa menghalangi mundurnya.‖ berkata Kwee Ceng perlahan. di atas sana. ―Aku datang kemari tidak sengaja. Siapa sangka di temapt demikian boleh ada penghuninya. Justru itu. ia bahka bergusar. Ia mengucap demikian tetapi ia tidak berkisar dari tempatnya. ke mana kau hendak kabur?!‖ dia berseru. Kwee Ceng bingung. bocah. ia hanya kepada Kwee Ceng: ―Eh. Di belakangnya. dia dengar teriakannya Nio Cu Ong: ―Bocah.‖ ia mengeluh. Kwee Ceng menjadi cemas dan sibuk. Baru Kwee Ceng berhenti bicara. ia melihat ke sekitarnya. tibalah Kwee Ceng di satu tempat yang terbuka. Ia tidak melihat siapa juga tetapi ia merasa pasti Nio Cu Ong sedang menyusul padanya. dialah seorang yang sedang sakit. Hanya karena berada di tempat gelap. dia bertindak dengan enteng. ―Aku lagi dikejar-kejar orang…. dia andalkan kepandaiannya. Nio Cu Ong telah dapat mengetahuinya. lekas naik!‖ ―Aku tidak ada begitu gila mau naik untuk mengantar jiwa…. Itulah sebuah kamar atau ruang bertembok tanah. ―Siapa yang berani datang kemari menangkap orang?!‖ terdengar pula suara wanita tadi. ia turut terkejut juga. Dia takut Kwee Ceng nanti bokong padanya. atau ia telah dengar sambaran angin.Pendekar Pemanah Rajawali ―Rupanya ini adalah lubang peranti membuang mayatnya orang yang dibunuh di istana…. ia menyerang pula. dia tidak dapat melihat apa juga. dia bahkan tidak dapat melihat jeriji tangan di hadapannya. menyahuti orang itu. dia mesti mati.

Dengan perlahan ia bertindak menghampirkan wanita itu. tidak dapat tidak. Belum lagi tendangannya itu mengenai sasaran atau jalan darahnya kongsun-hiat. Jalan darah itu ada di batas mata kaki. Ia sangat andalkan kegagahannya. Ia baru saja melanggar bajunya Kwee Ceng lalu mendadak ia merasakan tangannya terbentur tenaga yang besar. kesudahannya membuat ia kaget tidak terkira. dia kata terhadap Nio Cu Ong: ―Barusan seranganmu. Syukur tangguh ilmu dalamnya. walaupun begitu. maka ia lantas berlompat ke arah darimana suara itu datang. tenaganya telah dikerahkan sepenuhnya kepada tangannya itu. Ia pun mendengar orang merintih. ―Aku tidak dapat melihat dia. dia sudah tidak dapat diberi ampun. ia tidak ambil pusing siapa si nyonya itu. Irawan D Soedradjat Page 239 . tiba-tiba ia mendengar suara angin. Sekarang Nio Cu Ong percaya pasti orang tidak dapat bergerak. ia tidak sampai mendapat luka di dalam. kakinya terus menendang ke arah wanita itu! Tendangan orang she Nio ini ada sangat kesohor. Tiba-tiba terdengar urat-urat meretek. Begitu kakinya menginjak tanah. ia merasakan tangannya disambar dan dicekal tangan lain orang yang dingin enyam. hingga ia terhuyung tiga tindak. biasanya siapa kena tertotok. ia ayun tubuhnya untuk berjumpalitan. tetapi untuk kagetnya. ia menjadi lebih tabah. Ia menjadi kaget sekali. kenapa dia sebaliknya segera mengenali asalusulnya ilmu silatku?‖ ia berpikir. yang berupa tangkapan. Kwee Ceng baru mendengar sampai disitu. Kali ini kedua tangan bentrok. tetapi kali ini. she Nio. Nio Cu Ong dapat mendengar suaranya kwee ceng itu. Ia pun menduga orang lagi sakit. untuk menyerang! ―Pergi!‖ membentak si wanita. pastilah itu tidak bakal gagal. terus ia keluar dari terowongan itu.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sedang bingung. Disaat ia hendak berlompat. Aku minta sukalah nyonya tidak menghalangi aku…‖ ―Oh. aku mesti tangkap dia. lantas ia merasakan tangannya wanita itu bergemetar keras. Dalam kagetnya. yang tidak tahu apa-apa. ia rasakan tangan lawan dingin sekali. yang ia duga sedang sakit keras atau terluka parah. ia buang dirinya ke tanah. tubuhnya tidak bergerak. apapula kau Nio Lao Koay. karena ini. Cu Ong terkejut. bagaikan es. Wanita itu terdengar napasnya memburu. ia segera kirim tangan kirinya. ―He. Apakah kau ada satu jago Rimba Persilatan dari Kwan-gwa?‖ Nio Cu Ong heran bukan buatan. lalu perlahan-lahan cekalannya menjadi kendor. ia kenamaan duapuluh tahun lebih. lalu tangannya si wanita diulur panjang. tanda bahwa nyonya itu sangat menderita. Bocah ini telah curi barangku. mari maju!‖ ia berseru saking murkanya. Lantas ia ulur kedua tangannya. bukan seperti daging. di dalam keadaan seperti ini. ada lihay sekali. sedang tangannya dipakai menyampok.‖ sahut si wanita itu. tubuhnya segera tertarik hingga ia roboh menubruk sebuah dipan tempat duduk bersemadhi. sambil lompat mencelat. Tidak ayal lagi. untuk wilayah Kwan-gwa. Di dalam hatinya ia berkata: ―Wanita ini awas sekali matanya! Dia bisa menotok jalan darah. Wanita itu masih bernapas memburu. yang sebelah tangannya segera mampir di bebokongnya Som Sian Loa Koay. ujung kukunya menyambar ke pundak. lalu sebuah cambuk panjang menyambar ke kakinya. tidak dapat lagi ia bersangsi sedikit juga. hingga diluarnya dapatlah ia bernapas lega. bahkan dengan merayap. untuk bergulingan pergi. Ia hanya heran atas kesebatan wanita itu. ia menjadi bergusar pula. besar tenaga orang itu. ―Apakah kau sakit?‖ ia tanya perlahan.aku…. tetapi ia tidak mau kasih dirinya diserang demikian. tiba-tiba kaku sendirinya. ―Kalau lain orang. ―Aku…. kiranya saudagar Som Sian Nio Cu Ong!‖ berkata wanita itu. ia mesti lantas roboh. untuk menerjang. ―Dia lihay sekali! Mungkinkah ia dapat melihat di tempat gelap?‖ Ia menjadi tidak mau berlaku semberono. aku mohon tanya shemu yang mulia. untuk membekuk si anak muda. hingga ia terkejut. ia lantas menyahuti: ―Aku adalah seoarng saudagar jinsom dari Kwantong. lancang masuk ke rumahku ini. kalu serangannya mengenai sasarannya. ―Nyonya yang terhormat. mungkinkah dia itu siluman?‖ Juga sampokan Cu Ong adalah sampokan istimewa.‖ ia meminta. bangsat perempuan. kau ketua sebuah partai! Apakah benar kau tidak kenal aturan kaum Rimba Persilatan?!‖ Som Sian Lao Koay terperanjat. ia menangkis dengan tangan kirinya.

Dalam hal kepandaian ini. hatinya jadi lega. apakah ia bukan orangnya Wanyen Lieh?‖ ―Oh…!‖ berseru si wanita.‖ sahut Kwee Ceng. Maka ia kata pula: ―Jikalau cianpwee tidak merdeka untuk jalan. ―Lekas bicara!‖ Ia memegang keras leher orang sampai si anak muda sukar bernapas. orang tidak sudi menerima budi. Kalau cianpwee…. Ong totiang tentu tidak membutuhkan sebanyak itu. ―Gendong aku pergi!‖ berseru si wanita itu. Ia lantas menggendong. tetapi ia tertawa dingin. ―Kenapa Lao Koay hendak membunuh kau?‖ ia tanya selang seaat. Ia tanya pula: ―Kau menghendaki barang apa? Nanti aku pergi mengambilkannya…. ―Teecu ada punya empat macam obat yaitu thian-cit. ia telah berlatih cukup di bawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok. Ia pun batuk-batuk. agaknya ia gusar. . keren. terus ia menarik. ―Memang aku pun hendak menggendong kau. Tidak lama keluarlah mereka dari gua itu. hiat-kat. Ia berkata: ―Teecu mengucap banyak-banyak terima kasih untuk pertolongan cianpwee. Ia ulur tangan kirinya. Ia jalan terus hingga di mulut terowongan. yang ketemu batunya.‖ ―Mana aku terluka!‖ memotong si wanita. Kwee Ceng dapat dengar sauara orang berlari pergi. mungkin ongya ketahui rahasia ini…‖ Maka dengan cepat ia kembali ke Hoa Cui Kok. belum pernah aku mengalami kejadian seperti ini. Ia terus bungkam. 240 ―Siapa yang ajari kau ilmu ringan tubuh?!‖ si wanita tanya. yang seperti tidak memperdulikan perkataan orang. ―Siapa yang menghendaki kebaikanmu itu!‖ ―Ya. ―Adalah aku yang memaksa kau menggendong aku keluar dari sini. ia telah menggunakan tenaga berkelebihan. untuk melawan cekikan. akan melihat bintang-bintang di langit.‖ Wanita itu bernapas tersengal-sengal.ya. kau benar baik…. ialah liang yang tadi. diletaki di pundak Kwee Ceng. akan merayap naik. rupanya melawan Nio Cu Ong. ―Tidak dapat aku dijual orang…‖ Mendengar ini. Ia mengangkat kepalanya. dengan kegirangan dan bersyukur. setelah napasnya tidak terlalu memburu lagi. cekikan itu menjadi semakin keras. habis itu ia mencoba menggunai kedua tangannya. Liang sumur itu cukup tinggi tetapi Kwee Ceng dapat memanjatnya.‖ pikirnya. Ia telah lantas pikir. ―Ong Totiang mendapat luka.‖ kata Kwee Ceng dalam hatinya. lantas ia berlulut di depan wanita itu untuk mengangguk-angguk hingga tiga kali. ya. Kwee Ceng merasakan pundaknya itu sakit sekali. Maka ia membelas.‖ ―Ah. mari boanpwee menggendong buat pergi keluar…‖ ―Siapakah ynag tua?!‖ wanita itu membentak.‖ sahut Kwee Ceng. ―Benarkah di dalam dunia ini ada iblis? Ah. Ia tidak tahu orang menguji padanya. Kwee Ceng kerahkan tenaganya di leher. ―Bocah tolol. hingga tak tahu ia mesti membilang apa. dia membutuhkan obat. Sebab tangan kanan si wanita sudah merangkulnya. Tiba-tiba ia berhenti. dengan tindakan perlahan ia menuju ke luar.‖ ―Apakah cianpwee terluka?‖ menanya Kwee Ceng. ―Jadinya kau telah curi obatnya Lao Koay! Aku dengar kabar ia tengah menyakinkan pembuatan obat-obatan…. hatinya menjadi lemas pula apabila ia dengar suara napas empas-empis dari wanita itu.‖ kata si wanita. him-tha dan bu-yok.‖ kata wanita itu. maka itu teecu datang ke istana ini…‖ Kwee Ceng menyahut. Yang membikin ia terkejut adalah lehernya terasa dingin dengan mendadak. karena ia berpikir: ―Wanita ini tinggal di dalam istana. untuk meninggalkan pergi kepada wanita ini tetapi ia tidak tega hati. Sebaliknya. Irawan D Soedradjat Page Saking kagetnya. cara bagaimana kau ketahui aku sudah tua?‖ ―Ya. Hanya sesaat kemudian. Kwee Ceng merasa orang sangat berkepala besar.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sudah beberapa puluh tahun. tangan si wanita menjadi kendor sendirinya. yang tidak berani banyak omong. tanpa berdaya ia kena ditarik hingga ke depan wanita itu.

―Benar. sebaliknya ia kena ditikam Kwee Ceng pada anggota tubuh kematiannya. Selagi si anak muda mengawasi pisau itu. ―Kau bilang barusan Ong totiang mendapat luka. ―Jadinya kau adalah muridnya Coan Cin Pay!‖ katanya. Ia menjemput untuk dilihat teliti. Guru yang nomor satu ialah Hui Thian Pian-hok. Matanya Kwee Ceng telah berkunang-kunang tetapi ia masih bisa melihat si wanita yang rambutnya yang panjang riap-riapan. Tan Hian Hong telah jambak mati kepada Thi A Seng. yaitu Ma Totiang yang pernah ajarkan aku ilmu mengendalikan napas dan bersemadhi. teecu she Kwee. tangannya telah dicekal keras. di dalamnya tertampak barang yang berkilauan. tetapi ia masih bisa bawa lari mayat suaminya itu. kuku orang sudah masuk ke dalam dagingnya… Ketika malam itu di atas gunung terjadi pertempuran di antara Kanglam Cit Koay dengan Hek Hong Siang Sat. dari sakunya ia tarik keluar serupa barang. napasnya pun tersengal-sengal.‖ menjawab Kwee Ceng. ―Kenapa wanita ini ketahui aku datang dari Mongolia?‖ ia pikir. Itulah sebuah hungkusan. bukan suhu atau susiok?‖ Suhu dan susiok ialah guru dan paman guru.‖ sahut Kwee Ceng pula. bunyinya : ―Yo Kang‖. Ia kaget tidak kepalang. ―Apakah kau datang dari Mongolia?‖ tanya wanita itu lagi. Tapi tangan itu sudah lantas kena ditangkap! Segera si wanita melepaskan tangannya yang kanan. ―Kau dipanggil Yo Kang.‖ Belum habis ia mengucap. Apakah namanya Ong totiang itu?‖ Sebelum menjawab. ia lolos justru ketika itu turun hujan lebat. Kwee Ceng rasanya kenal. mukanya pucat seperti kertas. kau mengerti ilmu tenaga dalam yang sejati. ―Guru teecu semuanya ada tujuh orang. Ia lantas mengenali Tiat Sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi. ia lantas berontak pula tetapi sia-sia saja. ―Benar. Itulah pisau yang ia pakai untuk menikam Tong Sie Tan Hian Hong si Mayat Perunggu. seram suaranya.‖ Kwee Ceng mengangguk. ―Kau kenal pisau belati ini. Wanita itu perdengarkan suara seperti merintih. Ia kaget. Di gagangnya ia dapatkan dua hruf ukiran.‖ sahut Kwee Ceng. melihat mana.‖ Kwee Ceng berkata. siapakah gurumu itu?!‖ si wanita tanya pula. ―Adalah Tan Yan Cu Ma Giok. ―Teecu bukan murid Coan Cin Kauw.‖ Tiba-tiba wanita itu menggetar. lehernya sudah dicekal si wanita. bukan?!‖ dia tanya. Dia agaknya mendesak. tidak nanti aku mendusta. orang dipanggil Giok Yang Cu.‖ seru wanita itu. salah satu dari Hek Hong Siang Sat.‖ Wanita itu batuk-batuk beberapa kali. Kapan bungkusan itu telah dibuka.‖ ―Habis. ―Kau lihat. yang heran sekali. segala apa kau boleh tanyakan. ―Dialah Kwa Tin Ok!‖ katanya kemudian. ia duduk di tanah. ―Bukan. ―Di masa kecil pernah aku pakai pisau ini membunuh seorang jahat. Bwee Tiauw Hong sudah buta kedua matanya. ―Merekalah yang disebut Kanglam Cit Koay. si wanita merampasnya. benar tidak?!‖ masih wanita itu bertanya. Diwaktu malam seperti itu. aku ini siapa?!‖ ia tanya dengan bentakannya. Itulah sebuah pisau belati. sebelah tangannya menyerangi si wanita.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ha. yang ia letaki di tanah. Sekarang denagn tiba-tiba Kwee Ceng mengantarkan Irawan D Soedradjat Page 241 . Kenapa kau berlaku begini kasar?‖ Tapi ia toh menjawab: ―Ong Totiang itu bernama Ong Cie It. ―Ong Cie It itu kau punya pernah apa? Kenapa kau memanggil ia totiang. ia berontak. seorang she Kwa. entah dari cita atau kertas.‖ menjawab si anak muda. lalu mendadak orang jahat itu lenyap dan pisau ini…. terus di cekik. ―Benar. agaknya susah ia berbicara. Kwee Ceng berpikir: ―Kau telah tolongi padaku.

Ia ingat sebab takut digusari guru mereka. yang terus ia usir. Dengan berbisik aku kata kepada suamiku. lantas mereka menikah. budi siapa aku tidak dapat lupakan. mereka sembunyikan diri di gunung.Pendekar Pemanah Rajawali jiwanya. perempuan busuk!‖ Ia tidak sudi menjadi janda. Bocha ini mirip dengan subo.‖ demikian ia melamun. ‗Bukan cuma kepandaian suhu belum dapat kita pelajari sebagian saja. Itu waktu Tan Hian Hong telah memberitahukan bahwa ia telah mencuri sebagian kitab ―Kiu Im Cie Keng‖. kami menemukan berbagai peristiwa yang luar biasa. kakak seperguruanku. dia mengawasi aku sambil tertawa. Air laut telah muncrat memasuki perahu kami. karena buronan kami. Kwee Ceng pun dengar napas orang memburu. suaminya itu: ―Eh. Sama-sama kita belajar ilmu silat. mendadak ia rangkul aku…‖ Wajahnya si Mayat Besi menjadi merah dengan tiba-tiba. Ketika kami tiba di pulau. tentang peristiwa dulu-dulu itu. orang perhina aku. Pertandingan itu itu membuatnya kami kaget. dia hendak pergi mencurinya juga. mereka buron dari Thoa Hoa To. tetapi dia penasaran. Habis itu. Di kejauhan. Bwee Tiauw Hong masih ingat baik-baik perkataan Tan Hian Hong. Aku pergi ke jendela. Sekejap kemudian. si wanita menghela napas panjang. lantas ia ingat penghidupannya yang dulu-dulu. ‗Eh. perempuan bangsat. aku ditolongi dan dibawa ke pulau Tho Hoa To. mungkinkah subo meninggal sehabis melahirkan yang sulit? Karena ini aku pikir untuk tidak melahirkan anak juga! Selagi aku berpikir begitu. kita mesti jadi tanpa tandingan di kolonng langit ini. Aku dengar bocah itu berseru. goncang hati kami. tidak dapat aku bergerak. Aku ingat kepada subo. Tiauw Hong lantas melamun pula. Bagian atasnya adalah mengutamakan pelajaran tenaga dalam. Suhu khawatir dia jatuh. Demikian pada suatu malam di musim semi. ―Kami tahu. Dialah Tan Hian Tong. kita curi pula yang sebagian itu!‖ Ia tidak berani pergi. kau tentu ingin mempelajarinya. burung hantu pun mengasih dengar suaranya yang seram. di bawah pohon tho. Kami kabur dengan naik perahu. sedang tangannya terus memegang keras si anak muda. untuk diajak lari. mari kita lekas pergi!‖ Tapinya suamiku menampik. dimana aku diajarkan ilmu silat. suhu telah sangat gusar dan telah umbar kegusarannya itu. dia pentang kedua tangannya dengan apa ia tubruk ayahnya. juga kepandaian lawannya itu kita berdua tidak dapat melawannya!‘ Maka itu kami lantas meninggalkan wilayah Tionggoan. untuk menyakinkan ilmu seperti pengajaran kitab istimewa itu. Biar kepandaian merka sepuluh lipat lebh lihay. seperti mau lompat keluar. aku dikasihi oleh ayah dan ibuku. hingga setelah pandai. untuk mengintai. Bocha itu menolong kami. Karena kupingnya jeli. ‗Ayah. bagian bawah. seorang pemuda yang matanya besar terbayang dihadapanku. mereka masih tidak sanggup lawan dua jari tangan saja dari guru mereka. Kiranya musuhnya suhu telah datang ke pulau untuk mengadu kepandaian. bangsat lelaki. Segera ia menjadi girang bercampur sedih. kaki siapa dia telah hajar patah. ia menjawab dengan balik menanya: ―Apa daya?‖ ―Kita kembali ke Tho Hoa TO. tetapi kau Irawan D Soedradjat Page 242 . hatiku memukul terus. empo!‘ Dia tertawa manis. Dia bilang pada istrinya: ―Aku mesti pergi. Kiranya subo telah menutup mata. ‗Baiklah. ―Eh. Aku pikir. Sudah belasan tahun ia cari pembunuh suaminya denagn siasia.‖ Ketika itu angin bersiur. kami menyingkir jauh sekali sampai di gurun pasir di Mongolia. Suamiku itu berkhawatir kitabnya nanti ada yang curi. atau kau menjadi janda. ―Dulu aku adalah satu nona yang lincah. Banyak orang kosen yang mereka robohkan. Setelah itu. perempuan bangsat. ―Baru kemudian. Kami telah menyaksikan suhu telah dapat membekuk musuhnya. Pastilah dia anaknya suboku itu. Hian Hong pun jeri. aku tak akan lihat kitabmu!‘ Dia jawab aku. Suhu muncul di ruang meja abu itu. malah Hui Thian Sin-liong Kwa Pek Sia telah mereka binasakan dan Kwa Tin Ok sudah mereka bikin buta matanya. mereka berkelana dan menjagoi dunia kangouw. yang merupakan pengalamannya. ia ingat. hingga oleh guruku. aku justru berbuat baik terhadapmu! Jikalau kau lihat ini. hingga selanjutnya dipulaunya itu guru hidup berdua saja dengan istrinya serta beberapa budak pelayan. kitab Kiu Im Cie Keng itu aku cuma dapat curi sebagian saja. Apa yang aku lihat adalah meja abu. hawanya dingin. ia menyambuti anak itu. maka kejadianlah mereka berdua berlaku nekad. dia tidak kasih lihat. Bagaimana sekarang?‖ Atas itu. pelajaran kita jadi kepalang tanggung. sampai hati kita coco satu sama lain. bagaimana Tiauw Hong tidak jadi girang. sekalipun aku. Lantas si bangsat laki-laki menarik tanganku. ―Dalam murkanya suhu telah putuskan ototnya semua muridnya. Aku juga tidak tahu dimana ia menyembunyikannya.s esudah kedua orang tuaku menutup mata. Aku menjadi bersedih. kita gagal. Demikian ia berkata terus dalam hatinya: ―Menyaksikan pertempuran dahsyat dari suhu. Ia masih terbenam dalam lamunannya. Maka aku kata kapadanya. lelaki bangsat. setiap hari aku memain saja.‖ Tiauw Hong melamun lebih jauh. barulah suamiku itu padam hatinya. Ditepi meja abu aku lihat satu anak perempuan kecil duduk di kursi. Dengan begitu. Oey Yok Su. Aku kaget hingga lemas kaki tanganku. suhu telah dapat dengar suara kami. Bwee Tiauw Hong dapat dengar itu semua. Dia kata.

terus ke bawah.‖ ―Kau hendak minta sesuatu dari aku?‖ Bwee Tiauw Hong tanya. Aku pondong tubuhnya si lelaki bangsat. aku lawan serangan racun. Kemudian terjadilah pertempuran di atas gunung itu. yang ia selalu panggil dengan sebutan ‗lelaki bangsat‘. ngelamun. Hian Hong khawatir kitabnya dicuri orang. Lalu Kanglam Cit Koay perhebat serangannya atas diriku. Aku penasaran! Aku lalu mencari di rambut kepalanya. Itu dia rahasianya Kiu Im Cie Keng. setelah orangnya mati. akan tetapi tubuh itu ia rasakan panas sekali. kitabnya masih kena kita curi. Ah. Itulah aneh! Hujan turun hebat sekali. Dengan kedua tanganku. oh. Nyata dada itu dicacah dengan jarum.‖ ―Seumurku aku tidak pernah melakukan kebaikan!‖ Tiauw Hong membilang. dia cacah tubuhnya sendiri. tetapi mereka juga tidak mengejar. mendadak hujan turun seperti di tuangtuang. aku pun harus mati bersama si lelaki bangsat. hendak aku memberi obat kepada kulit itu. kau mati tidak karuan?‘ aku cabut pisau belati dari pusarnya. Aku sendiri. ‗Kau yang begini lihay. Kanglam Cit Koay telah mengepung aku. mana boleh aku mati? Maka itu aku meraba ke dadanya si lelaki bangsat. apakah benar-benar kau telah mati?‘ Aku bertanya. harap kau suka meluluskannya. Dia tidak ingat lagi berapa banyak kesengsaraan yang dideritanya dan berapa banyak jiwa yang telah dibunuhnya. Lantas aku sembunyikan diri di dalam gua. ‗Lelaki bangsat.Pendekar Pemanah Rajawali tidak mengerti ilmu dalam. lalu perlahan-lahan menjadi dingin. Dia merasa seperti telah meraba dada suaminya.‖ Karenanya. ―Memang. Aku berlalri-lari di dalam hujan. bagaimana tawar! Lantas aku bawa ujung belati ke mulutku. dia membikin aku merasa sakit sampai di tulang-tulangku. sekarang dengan kepandaian itu aku menggalikan kau liang kubur. tanpa ada orang yang memanggil dia lelaki bangsat. entah berapa banyak orang telah aku bunuh…. aku lantas menggali sebuah liang besar. Tubuhnya si lelaki bangsat mulanya masih hangat. aku tidak mendapatkannya. dinginnya luar biasa. Itulah temapt kematianku. tetapi mataku buta! Suamiku pun binasa! Itulah pembalasan! Pernah kami membinasakan kakaknya dan mata adiknya dibikin buta. aku merasa gatal sekali. ‗Mataku! Mataku!‘ Ya. aku kabur. kiranya pembunuh si lelaki bangsat itu bernama Yo Kang! Mana dapat aku tidak menuntut balas? Sebelum membinasakan Yo Kang itu. aku khawatir Kanglam Cit Koay dapat Irawan D Soedradjat Page 243 . selama orangnya masih hidup. ‗Baiklah! Jangan kau terus mengaco-belo!‘ Tapi ia mengajarkan aku Kiu Im Pek-ku Jiauw dan Cwie-sim-ciang. ia lantas berkata: ―Eh. aku merasakan sangat sakit pada mataku. ―Ya. Tempo aku meraba pula dadanya. akan cari rahasianya kitab Kiu Im Cie Keng itu. Aku lantas meraba-raba.‘ Aku jawab. yaitu cengkeramnan Tulang Putih serta Pukulan Meremukkan Hati. darah lantas muncrat keluar. Ini artinya. Bwee Tiauw Hong merasa ia telah berada pula di gurun pasir.‖ jawab Kwee Ceng. ―‘Aku tidak bakal ketolongan lagi…rahasianya Kiu Im Cie Keng ada di dadaku…. ‗Kau ajarkan aku cengkaraman Kiu Im Pek-ku Jiauw.‘ Aku lantas gunai pisau belati mengiris kulit dadanya si lelaki bangsat. ―Suhu yang demikian lihay. ‗Bagus betul pikiranmu ini. bebokongku telah kena tertinju.‘ Itulah kata-katanya yang terakhir. menyeramkan. ia masih ingat jelas sekali. tubuhmu bisa rusak. supaya tidak menjadi nawoh dan rusak. ―Di tubuhku ada beberapa rupa obat.‖ Mengingat itu semua. hatiku pun turut menjadi dingin karenanya. ―Matilah aku kali ini…‖ kata Kwee Ceng di dalam hatinya. sekarang aku tidak menghendaki hidup pula! Aku hendak minta suatu apa padamu. ‗Aku ingin kau selalu mendampingi aku…‘ Ketika itu aku tidak bersedih lagi sebaliknya aku tertawa terbahak-bahak. Aku tidak dapat melihat musuh-musuhku itu. setelah itu ia bakar kitabnya itu. ingin aku membawa-bawanya di tubuhku. di situ aku merasakan kulit dagingnya yang rada luar biasa. Ah. ia tidak dapat melihat sinar bintang lagi. Aku empos semangatku. Di situ aku kubur si lelaki bangsat. dengan sendirinya cekalan Bwee Taiuw Hong menjadi semakin keras dan giginya pun bercatrukan. Penyerang itu sempurna ilmu dalamnya. Sebenarnya apakah yang heran? Orang dibunuh. ―Suamiku berkata. Aku tidak mati. kitabnya lenyap bersama.‖ Bwee Tiauw Hong lantas mengasih dengar suara tertawa kering dari tenggorokannya. di luar kota barat. Tiba-tiba aku kena raba huruf-huruf ukiran di gagang pisau belati itu. merupakan huruf-huruf dan peta. Hebat suara itu. Hanya. sebagaimana dia sendiri dipanggil ‗perempuan bangsat‘ oleh suaminya itu. dan mereka itu tidak dapat melihat aku. langit mestinya gelap gulita. Itulah dua huruf ‗Yo Kang‘. dibawah lidah. aku minta kau tolong serahkan itu pada Onng Totiang yang sekarang ini lagi mondok di penginapan Ang Ie. ia tertawa dingin. ―Entah dia bakal gunai cara kejam bagaimana akan siksa aku hingga aku terbinasa…. Seluruh tubuhku bergemetar.‖ dia berkata di dalam hatinya lagi. hujan besar telah membasahkan seluruh tubuhnya. Tidak ada bagian anggotanya yang aku bikin kelompatan.‖ demikian dia ngelamun pula. Kwee Ceng sampai bergidik. kitabnya pun ada. darahnya pasti mengalir keluar. Maka siapa berani tanggung yang kitab kami pun tak ada yang bakal mencurinya? Maka ia kata pada waktu itu. Sekonyong-konyong matanya menjadi gelap. tetapi pertempuran dahsyat di atas gunung itu. Sia-sia aku mencari. Sudahlah.

Dia sangat menyayangi pangeran kecil itu. Belakangan aku mendapat tahu. agar aku bisa bersembahyang di kuburan suamiku. Hm. Di saat mati atau hidup itu. suaranya dapat terdengar sampai di tempat jauh. tenaga dalamnya telah cukup kuat. Ia telah mendapatkan pelajaran dari Ma Giok. ia berontak dengan berhasil. tidak dapat ia berkelit lagi. rupanya dari si lelaki bangsat yang memimpin bocah itu datang padaku. Ah! Pangeran cilik yang nakal itu telah datang ke taman belakang. aku lantas keluar dari tempat sembunyiku. dia telah mempergoki aku lagi menyakinkan cambuk perak. bahwa ongya hendak pergi lagi ke Mongolia. . yang segala keinginannya senantiasa dipenuhi. walaupun ia tidak berbicara keras. Peduli apa! Berselang dua hari. ia telah dapat belajar dengan baik. di sana aku dapatkan tujuh saudara imam dari Coan Cin Kauw. dia memaksa minta aku memberi pelajaran padanya. tertawa dingin! Bab 22. Oh. maka ia angkat tangannya yang kanan. supaya kemudian aku bunuh si bocah untuk menuntu balas untuknya!‖ Saking senang dan gembiranya. malah ia terus ajak aku ke istananya si Tiongtouw. maka aku terus mengajari dia. Hm! itu waktu akan aku jambret setiap batok kepala. Mereka itu bicara dengan bahasa Nuchen dari negara Kim. sedang juga. ia dapat tenaga akibat darah ular yang ia sedot. Ia tidak ketahui yang pelajaranku telah tersesat. Ongya menerima baik permintaan itu. Kesudahannya. Tiauw Hong tertawa berkakakan tak hentinya. Aku bekerja di taman belakang. ia pegang tangan si wanita. akan aku cambuk toblos batok kepalanya!‖ ―Lewat beberapa bulan. maka tunggulah aku selesai dengan pelajaranku. selagi perutku lapar. Aku melarang si pangeran cilik datang padaku. Lantas aku hendak mencari Kanglam Cit Koay. Terpaksa aku ajarkan dia tiga jurus. Maka juga.Pendekar Pemanah Rajawali mencari aku. Irawan D Soedradjat Page Begitu kedua tangannya beradu. pangeran itu adalah Pangeran Chao Wang. di mana aku menyakinkan kepandaianku. Asal ia membuka mulutnya. dia berseru panjang. tidak kecuali kepada ongya dan onghui. aku minta barang makanan. Ternyatalah ia berotak terang sekali! Aku jadi gembira. Ia menjadi heran sekali. Panas hatinya Tiauw Hong. Tapi dia pun nekat. Dia tertawa haha tercampur hmhm. pukulan Cwi-sim-ciang. yang lihay tenaga dalamnya adalah Tan Yang Cu Ma Giok. tidak peduli aku bisa terluka di dalam atau tidak. pangeran cilik itu memberitahukan kepada aku. aku dengar suara pasukan tentara lewat di depan guaku. untuk mencari telur burung. Tangannya itu telah tergetar. Ia berpikir: ―Aku berlatih tanpa 244 Kwee Ceng kalah pandai. Pertempuran Dahsyat Wanita ini tertawa. bekerja menyapui rumput. cara bagaimana aku bisa melawan mereka? Di antara mereka. Aku mengancam. ―Tidak jelek kepandaiannya bocah ini!‖ pikirnya. Kwee ceng merasakan tenggorokannya tercekik keras sekali. dia suka menolong. putra nomor enam dari raja Kim. Kwee Ceng selalu berkelit dengan berhasil. Pengejarannya Nio Cu Ong dan pertempurannya sama Wanyen Kang membuatnya tenaga obat menguatkan tubuhnya. separuh tubuhku ini tidak dapat digeraki. Sekarang ini aku bukannya tandingan mereka. Coba kalau bocah ini tidak menerobos masuk ke dalam terowongan. Bwee Tiauw Hong sudah lantas menarik pulang tangannya. Bwee Tiauw Hong terperanjat. hingga ia secara sembarangan mengajari aku sepatah kata rahasianya ilmu dalam. juga seluruh tubuhnya menjadi panas. Semua orang menganggap akulah seorang wanita tua yang buta yang harus dikasihani. Pangeran yang memimpin pasukan itu mengasihani aku. Lantas aku minta supaya aku diajak. Beberapa tahun telah lewat tanpa ada yang mengetahui perbuatanku itu. untuk menangkis. untuk dipaksa melepaskan cekikannya. pastilah aku akan mati kelaparan di dalam situ. sampai tiga kali. Tidak dapat ilmu dalam itu dipeljarakan tanpa petunjuk. tangannya menyambar ke batok kepala. di situ secara diam-diam aku menyakinkan ilmu kepandaianku. setiap hati manusia! Aku akan belajar. supaya ia menolongi aku. Aku hendak mengajari dia segala macam kepandaian asal dia suka bersumpah tidak membuka rahasia kepada siapa juga. Aku dapat mendesak kepada Ma Giok. Sungguh aku sangat beruntung. Itu dia pukulannya yang berbahaya. aku mempelajarinya dengan memaksa. ia sudah menyakinkannya beberapa tahun.‖ ―Kemudian pada suatu tengah malam…. aku berdiam di dalam terowongan dalam tanah. Perjalananku ke Mongolia itu tidak sia-sia belaka. Sekali saja. tangan kanannya pun masih dicekal si wanita. asal rahasia bocor. Dia lantas menjambak pula. disana tidak dapat aku mencari tulang-tulangnya si lelaki bangsat. Sepulangnya ke istana. Mataku tidak bisa melihat. hingga tubuhnya menggetar. Ia lantas menggerembengi aku. sedang tangan kanannya mengerahkan tenaganya.

―Aku suka bicara atau tidak. Kwee Ceng terkejut. Ia berpikir. Lantas ia dengar pula suara seorang lain. ―Baiklah bocah. dia tidak bakal lolos!‖ Sembari berbicara. biarlah aku tersiksa untuk selama-lamanya!‖ Wanita ini baru memberikan sumpahnya itu lalu tiba-tiba di sebelah kiri mereka.!‖ 245 Kwee Ceng tidak menyahuti.‖ . Tetapi ia sudah nekat. ―Sesudah si bocah she Kwee yang baru mengajari aku ilmu dalam dari Coan Cin Kauw. dia hanya berkoak-koak: ―Yong-jie. kau ingin aku mengajarkan kau ilmu tenaga dalam! Tidak nanti! Biar aku mati.‖ pikirnya. ―Tetapi jikalau kau meu dengar perkataanku. Dia lantas menyahuti: ―Sudah lama aku ada di sini…. sejarak belasan tembok. dengan sumpahnya.Pendekar Pemanah Rajawali guru. ―Aku ada punya satu sahabat. Kenapa aku tidak mau memaksa dia untuk mengajari aku?‖ Maka kembali ia mencekik leher si bocah itu. aku nanti siksa padamu!‖ Kwee Ceng tidak menjawab. ―Bagaimana Tan Yang Cu mengajarkan kau ilmu bersemadhi?!‖ Tiauw Hong tanya. hal itu membuat Kwee Ceng merasai lengannya sakit sekali.‖ katanya. aku tersesat. lekas kau munculkan dirimu untuk terima binasa!‖ Kwee Ceng kenali itu suara bentakan. Kwee Ceng dapat menerka isi hati orang. ―Budak cilik ini mesti ada di dekat-dekat sini! Jangan khawatir. Lekas ia bilang: ―Baik! Tapi kau mesti bersumpah dulu – sumpah yang berat. biarlah tubuhku tidak dapat bergerak seluruhnya. tidak ada harapan algi untuk kau hidup lebih lama!‖ ia kata dengan bengis. ―Orang she Kwee…. Setelah itu.. ia tidak pedulikan ancamanan orang. terserah padaku!‖ Tiauw Hong kewalahan. apabila aku si orang she Bwee tidak mengantarkan obat kepada Ong Cie It. Ia membandel.‖ Dia lantas berpikir pula. Bwee Tiauw Hong mengerahkan tenaga di tangan kirinya. ―Dan dia telah dipergoki mereka itu…. terserah padamu!‖ katanya keras.‖ Tiauw Hong lantas saja menjadi kegirangan. aku akan tutup mulutku!‖ ―Masih ada apalagi?!‖ tanya Tiauw Hong yang murka sekali. Kwee Ceng berpikir. ―Cara bagaiman aku bisa mengetahui di mana adanya sahabatmu itu? Sudah. ada orang membentak dengan dampratannya. ―Bocah cilik yang bau. mereka itu jalan pergi. hatinya cemas dan mendongkol. tidak nanti aku membikin harimau tumbuh sayap!‖ Maka ia lantas tutup rapat kedua matanya. Bocah ini sebaliknya sempurna ilmu dalamnya. aku menerima baik permintaanmu. Mendengar ini. ―Kiranya Yong-jie masih ada disini. aku tidak sangka Bwee Tiauw Hong satu jago yang telah malang melintang di kolong langit ini. ke mari! Yong-jie! Yong-jie…. untuk menolongi jiwanya.‖ bilangnya. ―Aku berjanji akan mengantarkan obatmu kepada Ong Cie It. satu nona kecil. ―Kau masih harus melakukan baik satu hal lagi. ia kata kepada Bwee Tiauw Hong. ―Inilah urusan penting. Kau mesti turun tangan untuk menolongi sahabatku itu!‖ ―Hm!‖ Tiauw Hong kasih dengar ejekannya.‖ katanya lemah lembut. jika tidak.‖ sahut si anak muda: ―Sahabatku itu lagi dikejar-kejar lawannya.‖ katanya dalam hatinya. sekarang aku mesti menyerah kepada segala kehendakmu!‖ Irawan D Soedradjat Page Baru dua kali Oey Yong dipanggil. malah ia kata: ―Kau memikir untuk mendapatkan kepandaianku? Hm! Baiklah siang-siang kau matikan keinginanmu itu!‖ Tiauw Hong kendorkan pencetannya. ―Kau mau menolongi atau tidak. Ah. Kwee Ceng menahan sakit. ialah dari Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. akan kau membikin kau mati dengan puas! Jikalau kau membela. kau boleh siksa aku. tiba-tiba dia telah muncul dari gerombolan pohon kembang mawar di samping mereka. jangan ngoceh terus! Lekas kau jelaskan ilmu itu!‖ Dia pun kembali memencet. ―Budak hina. nanti aku ajarkan kau ilmu yang Ma Totiang ajarkan aku. ―Kau telah membunuh suamiku.

Dalam kedukaannya. anaknya baru mendapat permulaan saja dari kepandaiannya itu. katanya: ―Di dalam tumpukan cita menyembunyikan pedang mustika.!‖ tanyanya membentak. maka itu ia pergi buron dengan menaiki sebuah getek kayu. ―Masih ingkatkah kau kepada puncak Cek Cui Hong. ia menjadi tidak senang. malah keduanya tertarik satu pada yang lain hingga mereka lantas saja menjadi bersahabat erat. hanya ia lantas kata pada Bwee Tiauw Hong: ―Bwee Jiak Hoa. air matanya turun meleleh di kedua belah pipinya yang halus. maka itu dia pun telah denar pembicaraan di antara Tiauw Hong dan Kwee Ceng. ia menyerang ke arah Tiauw Hong. Oey Yong berlompat tinggi setombak lebih.Aku she Oey…. nama itu tidak dikenal kaum kongouw. Sembari menyerang. Nama itu pun sudah beberapa puluh tahun tidak pernah terdengar lagi. Ia menjadi kaget. ―Bagus!‖ seru si nona. sampai ia tiba di gua. ia terperanjat. Oey Yong menjawab. ia tegur anaknya itu. lekas kau merdekakan dia!‖ Kwee Ceng heran. maka itu ia jadi tahu nama benar dari Tiauw Hong. Tiba-tiba pula Tiauw Hong ingat: ―Selama ini suhu tidak pernah meninggalkan Tho Hoa To. ia putar tubuhnya dua kali sebelum tubuhnya turun. Itulah jurus ―Burung garuda terbang ke langit‖ dari Cwie-sim-ciang. ia kurang bersungguh-sungguh. ia gusar. walaupun Oey Yok Su ada satu jago yang lihay. ―Kau pernah apa dengan Oey Suhu.‖ Tiauw Hong menjawab terlebih kaget lagi. Dia adalah anak tunggal dan tersayang. ia merasakan seperti tubuhnya melayang-layang. di waktu tubuhnya turun ke bawah. maka cara bagaimana dia bisa datang kemari? Bukankah aku tengah di perdayakan?‖ Menyaksikan keragu-raguan orang. gua Twie In Tong dan paseban Sie Kiam Teng dari pulau Tho-hoa-to di Tang Hay?‖ Tiauw Hong berdiam. Tentang kata-katanya tadi. Ibunya telah meninggal dunia karena kesulitan bersalin setelah ia dilahirkan. Heran ia akan mendengar disebutnya semua itu. ia lantas ulur tangannya akan sambar Kwee Ceng guna ditarik. ia menjadi sangat nakal. marilah kita bicara baik-baik! Mana suhu?‖ Oey Yong tidak segera menjawab. ―Kau nyatanya belum melupai ayahku! Tapi juga ayahku belum melupakannya kau! Dia telah datang sendiri menjenguk padamu!‖ Tiauw Hong ingin berbangkit bangun akan tetapi kakinya tidak mau menurut perintah. gua dan paseban itu adalah tempat. Belum pernah Oey Yong ditegur. kedua murid ayahnya itu. selagi lompat. Tapi ia tidak menangis terus. Laut Timur. ―Kau bagaimana?!‖ balas tanya Oey Yong. yang begitu perhatikan dan menyayangi kepadanya. dimana ia biasa pesiar semasa dia masih belajar silat. ―Lekas lepaskan dia!‖ Oey Yong berkata pula. Ia merasa kasihan. Ia menyamar sebagai satu pemuda melarat. Tanpa merasa. yang namanya Yok di atas dan Su di bawah?‖ ia tanya kemudian. Ia menjadi bingung sekali. yaitu: ― Di dalam tumpukan cita Irawan D Soedradjat Page 246 . Semua puncak. ―Kau…kau…. dimana ayahnya telah mengurung musuhnya. Karena ia sangat disayang. Oey Yok Su menghibur diri dengan merawat dan memanjakan putrinya ini dengan dibantu sejumlah pelayan. suaranya bergemetar. ia memberikan sedikit arak. Tocu pemilik pulau dari pulau Thoa Hoa To di Tang Hay. kau mengertikan jurus ini?‖ Tiauw Hong merasakan serangan itu dari anginnya saja. Oey Yong pernah dengar ayahnya omong tentang Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong. sampai di Kalgan ia – diluar dugaannya – bertemu sama Kwee Ceng. Maka itu. Memang Oey Yong ini adalah putrinya Oey Yok Su. Sekarang Tiauw Hong dengar nama orang menyebutnya. Pada suatu hati Oey Yong pesiar kelilingan di pulaunya itu. ia tidak dipaksa ayahnya itu yang ingat ia masih berusia terlalu muda. Dia menjadi terharu dan tertarik hatinya kepada si pria. dalam suara seruling dan tambur ada si bintang tetamu….Pendekar Pemanah Rajawali Memang nona itu sudah sekian lama bersembunyi di situ. ia angkat tangannya untuk menangkis seraya ia berkata: ―Sumoay. ―Kau siapa?!‖ ia tanya. Ia cerdas sekali tetepi dalam pelajaran ilmu silat. nama sebelum ia berguru. seumpama kata semangatnya terbang pergi. Bwee Jiak Hoa itu adalah nama benar dari Tiauw Hong. Ia bicara sama musuh itu. ia pergi ke mana ia suka. begitu pun Bwee Tiauw Hong. ia menaya: ―Kau sudah mencuri kitab Kiu Im Cie Keng. Belakangan Oey Yok Su ketahui perbuatan anaknya itu.

lalu di sana muncul seorang yang tangannya menggoyang-goyang kipas. apabila ia mendekati mereka. Irawan D Soedradjat Page 247 . otak mereka telah dilobangi lima jari tangan. Ia mengerti yang ia sukar lolos. Kwee Ceng baru memandang ke tembok tatkala di belakang mereka. dengan menerbitkan suara memberebet. maka setiap muridnya kenal itu baik sekali. ia lihat tangan si nyonya menjambak secara hebat. Oey Yong lantas kenali Auwyang Kongcu.‖ Oey Yong terangkan.‖ Tiauw Hong suka memberikan bantuannya. Oey Yong tertawa di dalam hatinya. itulah nyanyiannya Oey Yok Suk yangs ering dinyanyikan. yang ia tahu ilmu silatnya lihay. ia mau ajak sahabatnya itu menyingkirkan diri. Kata-katanya ini sumoy. Kongcu ini menjadi murka sekali. Sementara itu Auwyang Kongcu lagi mendatangi bersama keempat murid wanitanya. sebentar nanti aku mohonkan ampun kepadanya. yang kepandaiannya tidak dapat ia tandingi. ia masih kurang sebat.Pendekar Pemanah Rajawali menyembunyikan pedang mustika. tubuhnya menggigil sendirinya. dalam suara seruling dan tambur ada si bintang tetamu‖. terus ia menunjuk ke luar jendela. si Mayat Besi biasanya galak dan telengas. nyata mereka sudah putus jiwanya semua. ―Akan aku berpura-pura tidak sanggup melawan. Itulah cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw. untuk menggertak kepada Tiauw Hong. untuk menyerang Bwee Tiauw Hong. buat menyingkir dari istana itu. Ia keluarkan kepandaiannya yang istimewa. ―Ada orang busuk lagi menghina aku. kaulah yang mesti hajar dia. sambungan tulang-tulangnya mengasih dengar suara meretek. Ia tarik tangan Kwee Ceng. Auwyang Kongcu melihat Tiauw Hong sedang duduk numprah. hatinya tentu girang. Itulah Hauw Thong Hay yang telah datang ke situ dan lantas menyerang. lantas ia menghadapi Bwee Tiauw Hong dan berkata: ―Bwee Suci. Nona ini telah pikir. kedua tangannya bergerak panjang dan pendek. hingga Auwyang Kongcu tidak berani merapatkan diri. ―Anak yang baik. sebab dia tahu si nona memakai lapis berduri. Ia sengaja menyebutkan itu. hanya sekarang kau mesti mendirikan dulu beberapa jasa baik. Benar-benar Tiauw Hong jeri dan melepaskan Kwee Ceng. supaya ayah suka mengampunkannya. begitu lekas Tiauw Hong dan si kongcu bertempur. Yang membikin ia terkejut sekali adalah keempat muridnya telah roboh terguling. ujung bajunya robek sepotong sedang kipasnya patah menjadi dua potong. Begitu dia tiba di depan mereka bertiga. kapan ia lihat kau membantui aku. lagi berdiri di hadapannya. Mendadak tubuhnya menjadi lemas. mereka dengar satu suara seruan yang disusul tertawa panjang. tetapi ia cerdik sekali. adik seperguruan. Itu artinya ia mengajak sahabat itu lari bersama. Oey Yong hendak menggunai ketikanya untuk menyingkir. untuk memeriksa. dengan pundaknya menggendol sebuah pacul kecil peranti menggali obat-obatan.‖ ―Jasa baik apakah itu?‖ Bwee Tiauw Hong tanya. ialah ―Sin To Soat San Ciong‖. Ia buta tetapi ia seperti membayangkan guru itu dengan bajunya warna kuning muda. Sebentar ayah datang. untuk memernahkan diri di belakangnya Bwee Tiauw Hong. nyonya itu berserba hitam dan romannya tidak luar biasa. Bwee Tiauw Hong membuat perlawanan dengan Kiu Im Pek-kut Jiauw. disusul sama serangan dua tangan. membuat ia mendapat harapan. aku tidak kena kau jual!‖ orang itu berkata sambil tertawa. segera ia dapat akal. ayah paling dengar perkataanku. Tiauw Hong masih berpikir: ―Suhu telah datang. ia ulur tangannya akan sambar Oey Yong. ia terus mendekam ke tanah seraya berkata: ―Teecu ketahui dosaku yang mesti dibunuh berlaksa kali. dan orang pun hendak membekuk padanya. Belum pernah ia mendapat serangan sehebat ini. Oey Yog tarik tangannya Kwee Ceng. tidak banyak omong lagi. Ia kaget bukan main. entah dengan cara apa dia bakal menghukum aku…‖ Mukanya menjadi pucat kapan ia ingat kebengisannya Oey Yok Su. Lekas-lekas ia mengetok denagn kipasnya ke lengan si nyonya. ke arah muka. Mendadak saja ia merasakan angin menyambar ke arah dadanya. ia lompat maju. Walaupun begitu. tubuhnya pun dibawa berlompat berkelit. tetapi teecu mohon sukalah guru mengampunkan teecu dari hukuman mati mengingat mata teecu telah buta dan separuh tubuhku cacat…‖ Kwee Ceng heran menyaksikan orang demikian ketakutan dan pasrah sedang begitu jauh yang ia ketahui. atau ―Unta Sakti Gunung Salju‖. seperti habis sudah ilmu silatnya. ia baru menarik tangan Kwee Ceng atau tiba-tiba ia dengar bentakan di belakangnya. hingga semangatnya bangun dengan mendadak. musuh bagaimana tangguh juga tidak dapat buat ia jeri.

ia maju akan membantui si pemuda mengepung. ia tidak mengerti maksud orang. telapakan kedua kaki dan embun-embunan. lima hati di hadapkan ke langit. ia menjadi lemas sekujur tubuhnya.‖ Kwee ceng menjawab. hingga ketika ia menjambret Nio Cu Ong. maka kagetlah ia tempo bebokongnya kena dijambak. ia menjadi kaget. untuk diangkat. ―Dengan itu dimaksudkan telapakan dua tangan. . ke situ pun datang See Thong Thian bersama Nio Cu Ong dan Pheng Lian Houw. untuk memburu. Karenanya kedua tangan beradu satu sama lain. guna mundur sembari menangkis atau berkelit. Ia berlompat. ia menangkis dengan melemparkan tubuhnya Hauw Thong Hay ke arah datangnya piauw itu. Oey Yong main berkelit terhadap pelbagai serangan Hauw Thong Hay. tangan mereka sama-sama kesemutan. Dia ini mengkeratkan diri. Itulah serangan kim-chie-piauw. maka Thong Hay lantas saja berkoak. Nyonya itu sudah lantas kasih bekerja kedua tangannya. Irawan D Soedradjat Page Tiauw Hong dapat tahu datangnya serangan gelap. bersiap untuk membantui. Maka tidak tempo lagi. ynag kiri ke arah bebokongnya Hauw Thong Hay. Hati mereka tapinya gentar menyaksikan kehilayan si nyonya. 248 Berbareng dengan itu. Bwee Tiauw Hong merasakan repot melayani dua lawan yang tangguh.‖ Girang Tiauw Hong hingga ia menjadi bersemangat. enteng tubuhnya. pundaknya orang she Nio itu berlumuran darah. keduanya menjadi kaget. Ia bukan lagi pondong si nyonya. Chao Wang bersama putranya repotnya mencari orang yang menculik onghui. dia dapat mengcengkram pundaknya. ―Bagaimana sih caranya menyakinkan ilmu dalam?‖ dia tanya Kwee Ceng selagi ia melayani musuh.Pendekar Pemanah Rajawali Segera setelah itu. Ia pun lantas ingat bagaimana di dalam gua ia telah dipermainkan nyonya itu. ia membuatnya orang she hauw itu kewalahan. dengan tangan kanannya ia jambak Nio Cu Ong. ia jadi dapat berbegrak dengan leluasa. ―Dudk numprah. kau kejar si orang she Nioitu!‖ Baru sekarang Kwee Ceng mengerti maksud orang. dari arah kiri terdengar suara angin menyambar. semabri berbuat demikian. untuk menghalau lengan nyonya itu. dia membutuhkan bantuanku!‖ Ia terus bekerja. tak dapat ia bergerak lagi. ―Aduh!‖ karena tepat ia terkena piauw itu. Kwee Ceng lompat. Ia bertenaga besar. Nio Cu Ong lihat bagaimana Auwyang Kongcu terdesak. ―Apa itu ynag dinamakan lima hati?‖ Tiauw Hong menanya pula. sedang di lain pihak lima jari tangan kanan si nyonya itu menyambar ke abtok kepalanya. SeeThong Thian menyaksikan itu. ia menjadi gemas sekali sambil berseru. mereka berlari-lari bersama barisan pengiring mereka. ia kata kepada Kwee Ceng: ―Kau pondong aku. Dia tidak dapat melupakan ilmu itu. sampai bajunya robek dan terlihat baju dalamnya. ―Hajar dulu ini dua orang!‖ ia kata pada Tiauw Hong. ia turut perkataan orang itu. akan tetapi ia insyaf bahwa mereka bekerjasama menangkis musuh. Dengan tangan kirinya Tiauw Hong tangkis serangan Auwyang Kongcu. dan tubuh Tiauw Hong tidak berat. segera ia membungkuk memegang kedua pahanya Tiauw Hong. lalu dia bergerak kesana ke mari menuruti setiap petunjuk nyonya itu. dia hanya memanggulnya. Di luar dugaannya tangan si nyonya. Tidak lama. tatkala ia melihat Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian maju membantu suteenya untuk menggerubungi Oey Yong. untuk maju memburu. See Thong Thian dan Pheng Lian Houw menanti di pinggiran. hingga ia mesti melompat menyingkir. atau senjata rahasia yang berupa uang dari Pheng Lian Houw. kagetnya bukan main. hingga tubuhnya segera diangkat. di dalam dan di laur istana. tanpa berdaya lagi. Pikirnya: ―Dia tidak dapat menggunai kedua kakinya. untuk berkelit. Maka setelah itu Tiauw Hong manjadi menang diatas angin. lantas ia putar tubuhnya. Tiba-tiba ia tarik sebelah tangannya dan menyambar bebokongnya Kwee Ceng seraya ia berseru: ―Kau podong kedua kakiku!‖ Kwee Ceng kaget.

nyata kau mendusta!‖ Irawan D Soedradjat Page 249 . supaya Kwee Ceng dilepaskan. Cu Ong menolong dirinya. Sementara itu Pheng Lian Houw lantas mengetahui wanita itu adalah Bwee Tiauw Hong. ia repot melayani musuh-musuhnya. salah satu dari Hek Hong Siang sat. dan tanah dari Tiong Ie. hingga ia jatuh dengan wajar. ―Dia bakal segera datang!‖ Oey Yong menyahuti. Segera juga Tiauw Hong terdesak dibawah angin. ia mementang kedua tangannya untuk menangkis. begitu pun Oey Yong. menyusul mana. oleh piauwnya Pheng Lian Houw. ia serang Nio Cu Ong. Tiauw Hong merasakan ada serangan di kiri dan kanannya. api.‖ ―Tidak salah! Itu yang dinamakan ngo-kie-tiauw-goan – lima hawa dipusatkan kepada asalnya?‖ ―Itulah. tidak pernah ia mengerti itu. oleh Auwyang Kongcu dan See Thong Thian. belum lagi Kwee Ceng menjawab ia. Itulah nio Cu Ong. tetapi ia merasakan rambutnya ada yang tarik. yang menyambar rambutnya itu. apapula ia dapatkan tubuh sutee itu bakal jatuh ke tanah. menyerang kepada Auwyang Kongcu. maka akhirnya ia teriaki Oey Yong: ―Eh. air dari Pak Ceng. Kalau ia terbanting. sebenarnya ia berkhawatir. emas. siapa tahu. ―Apakah itu yang disebut mengakurkan su-ciang?‖ ―Itu artinya menyimpan mata. akan menyentil balik setiap piauw. Ia mengharap Tiauw Hong bisa melibat musuh-musuhnya. air dan tanah. juga kepada Nio Cu Ong. Tiauw Hong melemparkan tubuh orang dan See Thong Thian menolongi sutee itu. Dengan begini ia telah memecah perhatiannya. ―Apakah itu yang dinamakan mengumpulkan ngo-heng?‖ Tiauw Hong menanya lagi. Terpaksa ia melompat maju. Sudah belasan tahun ia menyakinkan Kiu Im Cie Keng. Sungguh tak ingin ia bertemu sama gurunya. apabila ia dapat kenyataan Oey Yong membnatui si Mayat Hidup. atas mana Cu Ong menangkis dengan tangan kanannya. ynag terus ia lemparkan. meluruskan napas dan menutup lidah.Pendekar Pemanah Rajawali See Thong Thian kaget. Ia kaget. budak cilik! Kau bilang kau bukannya murid Hek Hong. rambutnya itu kutung putus. dan hidung tidak mencium bau tetapi rohnya ada di peparu. yang turut maju pula. Bwee Tiauw Hong memasang kupingnya. Pheng Lian Houw dan See Thong Thian. dia menegur : ―Eh. Ia heran atas tidak datangnya bala bantuan. api dari Lam Sin. darimana kau memancing begini banyak musuh lihay? Mana suhu?‖ Ia menanya demikian. Nona ini segera menyerang punggungnya orang she Nio itu. Dengan mencelat ke samping. Oey Yong pun menjadi cemas. Maka kali ini Thong Hay bisa kerahkan tenaganya. Tiauw Hong menyambar ke rambutnya. ia berlompat menerjang. supaya ia bisa ajak Kwee Ceng kabur. sedang tangan kirinya tidak melepaskan rambutnya si Mayat Besi.‖ Girang Tiauw Hong mendapatkan keterangan ini. semua itu terjadi dalam sejenak. sekalian dia hendak membangkol tangannya si nona itu. maka bagaikan sitebas. lantas jari-jari tangannya dipakai menyentil. ―Mereka ini bukannya tandinganmu! Umpama kata kau duduk di tanah. Tetapi Tiauw Hong tengah sulit sekali. Untuk membebaskan dirinya. Ia bertubuh kuat akan tetapi toh hajaran itu membikin ia merasakan sangat sakit. pundak kirinya dan iga kanannya telah terkena hajar oleh Auwyang Kongcu dan See Thong Thian. celakalah sutee itu. dari itu.‖ Ngo-heng ialah kayu. mereka tidak nanti dapat mengganggu selembar rambutmu!‖ Ia ingin membangkitkan kejumawaannya si Mayat Besi. yang ia tahu telengas. lidah tidak berbunyi tetapi pemikirannya ada di hati. emas dari See-pek. ―Itulah kayu dari Tong-hun. mata tidak melihat tetapi semangatnya ada di jantung. Maka ia menanya. Tiauw Hong segera diserang dari tiga penjuru. pemuda ini mesti membantui orang. untuk menanggapi dengan menyambar pinggang si adik seperguruan itu. Nio Cu Ong berseru. maka itu. mengebalkan kuping. semua piauw itu mental kembali. menyusuli itu. kuping tidak mendengar tetapi pendengarannya ada di geginjal.

Merek ini masing-masing bersenjatakan joan-pian dan pikulan besi. ia menjerit. dengan tubuhnya si nyonya turun rendah. ia menjadi girang sekali. tetapi Liok Koay telah berlatih bersungguh-sungguh di gurun pasir. Justru itu. Pheng Lian Houw semua tahu. Memang keenam orang itu adalah Kanglam Liok Koay. siapa kena dicambuk. sungguh sulit!‖ Ia memikir demikian karena ia tidak tahu Tan Hian Hong sudah terbinasa. dia menjatuhkan diri. sambil berseru. yang bisa membebaskan diri. mereka lantas mempergoki Auwyang Kongcu beserta sekalian muridnya merampas anak gadisnya suatu keluarga baik-baik. Rupanya keenam orang di atas tembok itu tidak dapat manahan sabar. Cambuknya itu bergerak bagaikan naga beracun. tidak mengambil mumat atas teriakan itu. di dalam kalangan enam tombak. merek atidak ambil peduli. dengan senjatanya itu. Ia lantas dapat akal. Ia cuma bisa membikin mereka itu merenggangkan diri. Pheng Lian Houw penasaran. aku hendak ada bicara!‖ Suara itu datangnya dari arah tembok. ―Suhu lekas tolongi teecu!‖ ia berteriak. Auwyang Kongcu membuat perlawanan. mereka membikin ia kewalahan. muka mereka tidak terlihat nyata. Kenapa si nona menyangkal? Kenapa agaknya si nona tidak menghormati Tiauw Hong itu? Justru itu terdengarlah suaranya See Thong Thian: ―Memanah orang lebih dulu memanah kudanya!‖ Kata-kata itu ditujukan kepada Kwee Ceng. Orang yang mencekal joan-pian itu. dua diantaranya sudah lantas lompat turun. Adalah Kwee Ceng. cuma sekarang ia menghadapi Auwyang Kongcu berempat…semua bukan sembarang orang.Pendekar Pemanah Rajawali Oey Yong tidak mau mengalah. Auwyang Kongcu membarengi menumbuk bebokongnya. kemudian mereka menguntit delapan murid wanita dari Pek To San. dia mesti terbinasa. Merasa tidak ungkulan. dia masih belum mampu menjadi guruku!‖ Lian Houw heran. Terang mereka berdua sama ilmu silatnya. Maka itu. Mereka gusar. guna menjambret si orang she Pheng itu. Dilain pihak. dia tetapi melayani ketiga musuhnya. muridnya mereka itu. mengejak. Oey Yong berkhawatir dan penasaran. maka ia berteriak: ―Semua berhenti! Aku hendak bicara!‖ Pheng Lian Houw. Enam orang. kalau naka itu roboh. ynag tubuhnya kate. hendak ia berteriak pula. Tapi malam ada gelap. ia melihat ancaman bahaya untuk si Mayat Besi – artinya untuk ia sendiri berdua sama Kwee Ceng. ―Lagi seratus tahun ia belajar silat. Atas ini tahulah Tiauw Hong atas datangnya musuh-musuh. mereka terus mengurung. dalam takutnya. untuk menyambut kakinya orang she See itu. jikalau suaminya si Mayat Perunggu keburu datang. karena cambuk orang merintangi majunya. lalu terlihat berkelebatnya satu sinar putih terang. Irawan D Soedradjat Page 250 . Oey Yong tidak dapat membantu Tiauw Hong lagi. hingga empat lawannya mesti menjauhkan diri. ada datang orang dari pihak ketiga. Begitulah tubuhnya kena dihajar tongkatnya Kwa Tin Ok dan kakinya tertendang Cu Cong. ―Dia guruku?‖ dia membalik. Tiauw Hong mengasih dengar suara ―Hm!‖ Mendadak saja tangan kanannya terayun. atau tiba-tiba ia dengar lain orang mendahulukan padanya: ―Semua berhenti. Dua muridnya terhajar binasa masing-masing oleh Lam Hie Jin dan Coan Kim Hoat. ia membungkuk. ia lantas ulur tangan kirinya. Pheng Lian Houw berpikir: ―Ini perempuan buta mesti lebih dulu dibinasakan. mereka lantas serang Auwyang Kongcu. Ia tahu Kwee Ceng masih lemah. Nyata ia telah kasih keluar cambuknya. tertampak berdiri di atas tembok. Sejak di Utara mereka terpisah dari Kwee Ceng. untuk menyerbu dengan bergulingan. Oey Yong segera berpaling. kemana kau hendak lari?!‖ Kwee Ceng dengar suara orang. cambuk emas. telah memperoleh banyak kemajuan. mereka berkelahi terus. yang tubuhnya tinggi kate tdak rata. Sebenarnya cambuk Tong-liong Gin-pian dari Bwee Tiauw Hong lihay sekali. begitupun ketiga kawannya. Diwaktu malam. ia pun bisa susah. yang menjadi kaget sekali. terpaksa ia lepaskan si nona mangsanya itu dan lari kabur. dengan apa ia menyambet ke empat penjuru. Tiauw Hong tidak tahu orang hendak membokong dia. mereka lantas menyerang. membarengi mendamprat: ―Bangsat tukang petik bunga. yang ia lantas rabu kakinya. Tiauw Hong kaget.

Pendekar Pemanah Rajawali Wat Lie Kiam Han Siauw Eng lantas menolong si nona. Pheng Lian Houw semua heran atas datangnya enam orang itu. dia menolongi. Ketika ia jatuh ke tanah. ―Anak Ceng. Han Siauw Eng maju menyerang si Mayat Besi yang ia sangat benci itu. kau ingatlah baik-baik!‖ Berbareng dengan itu. Liok Koay juga tidak mengejar dengan berpisahan. Liok Koay bersama rombongannya Nio Cu Ong berdiam semua. Kwee Ceng mengerti. ia melemparkan tubuh si nyonya sampai jauhnya setombak lebih. akan keluar dari gelangan. Coba hari bukannya hari ini. pasti aku bersyukur sangat kepada Langit dan Bumi. Ia kaget. sebab rombongannya Auwyang Kongcu gampang dikenali dari dandanan mereka yang serba putih itu. cambuknya. sedang Coan Kim Hoat maju untuk menolongi muridnya. ―Kua sendiri. lebih dahulu ia menampa dengan tangannya. Akhirnya ia berkata: ―Nah. Hanya. Ia mendongkol berbareng khawatir. ia memasang kuping. menulikan telinga. ―Aku minta kau memberitahukan nama kamu?!‖ Nio Cu Ong menegur Kanglam Liok Koay. Tapi kepada Kwee Ceng ia memberi tanda dengan gerakan tangan. si Naga Emas. tetapi ia licin dan dapat meloloskan diri. Mereka kaget akan dengar teriakannya Kwee Ceng. kalau bertempur satu lawan satu. Diwaktu gelap. telapakan tangannya sakit. karena mereka ketahui. jikalau aku mesti tambah musuh dalam dirinya Tujuh Manusia Aneh ini. Biauw Ciu Sie-seng heran. Ia ketahui datangnya Kanglam Liok Koay begitu lekas ia dengar suaranya Kwa Tin Ok. ia hanya bernapas memburu. Cambuk itu ada banyak gaetannya. Kwa Tin Ok. hari ini mereka mengantarkan diri. kamu hendak berbuat apa?‖ Irawan D Soedradjat Page 251 . Ia tahu orang muncul yang berenam. menyerang si Mayat Besi juga. hingga mereka dapat lihat dengan tegas: Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi telah bersilat dengan cambuknya. Nio Cu Ong bersama See Thong Thian mendahulukan mundur. Cambuknya itu terlepas. ―Kali ini kau telah berjasa!‖ katanya. dengan mengerahkan tenaga.‖ jawab Kwee Ceng. gampang sekali untuk melihat pakaiannya rombongan Auwyang Kongcu itu. pastilah aku bakal binasa…. entah yang satunya lagi bersembunyi di mana…?‖ Ia tidak tahu yang Siauw Bie To Thio A Seng telah terbinasa di tangan suaminya. Tiauw Hong pun sudah berhenti bersilat. tahan dulu!‖ Dua saudara itu menurut. Tapi mereka terus melakukan penyeledikan. ia memberi keterangan atas pertanyaan orang tadi. ia heran: ―Dari Cit Koay cuma muncul yang enam. Lian Houw lantas menggulingkan tubuh. maka hari ini baiklah aku terbinasa bersama-sama dengan Cit Koay saja!‖ Ia cekal keras cambuknya. percaya yang orang adalah orang lihay. Inilah tidak sukar. habis itu ia duduk dengan hati-hati. Empat yang lainnya turut heran juga. ia sendiri segera lompat mundur. Oey Yong sudha lantas menghampirkan murid ayahnya itu. kau lancang masuk ke dalam istana. Rupanya bocah itu berada dibawah pengaruh orang. mengapa kau bantui perempuan siluman itu?‖ ―Mereka hendak membunuh aku. agar sahabatnya itu melemparkan tubuh orang. Begitulah mereka menguntit hingga di onghu. pihaknya tidak sanggup. apapula mereka itu lantas menyerang Auwyang Kongcu. Maka kedua cambuk itu beradu keras. kenapa mereka itu bertempur?‖ Cu Cong berbisik kepada muridnya. istananya Chao Wang itu. ―Tengah malam buta. begitupun yang lainnya. aku hampir tidak dapat bertahan. belum lagi ia menaruh kaki di tanah. akan dengari gerak-geriknya Cit Koay itu. yang ia gendong pulang ke rumahnya.‖ Ia lantas mengertak gigi. dia sepertinya duduk bersilat di pundaknya Kwee Ceng. Kemudian ia berteriak: ―Semua berhenti! Aku hendak bicara!‖ Teriakannya nyaring sekali. Ia menyerang Kwee Ceng begitu lekas ia dapatkan tubuhnya dilemparkan. yang dengar teriakan hebat itu. mereka semua mundur. untuk simpangi perhatian si Mayat Besi. maka itu Lam Hie Jin dan Han Po Kie sudah lantas melakukan penyerangan. terlibat dan tertarik sama cambuknya Bwee Tiauw Hong. cambuk perak yang bergemerlapan sudah lantas menyambar kepadanya. Sekarang ini aku lagi dikurung oleh musuh. yang menyaksikan bahaya mengancam muridnya. Merekanjuga lantas mengawasi. maka ia pun teriaki saudara-saudaranya: ―Shatee dan citmoay. Karena ini tanpa bersangsi lagi. ―Celaka!‖ teriak Han Po Kie. mereka pun memernahkan diri di jarak tujuh tombak dari wanita kosen itu yang cambuknya sangat lihay. Ia pikir: ―Aku cari mereka ke mana-mana. Kemudian Auwyang Kongcu dikejar. Tanpa ayal lagi ia menyerang dengan Kim-liong-pian. Ia lantas mengambil keputusan: ―Nio Lao Koay beramai tak ada permusuhannya dengan aku.

hingga ia menempur Liok Koay dengan bergantian. ia serangn musuh ini hingga si musuh kaget dan mesti berkelit dengan lompatan jungkir balik ―Ular naga membalik tubuh.‖ menyahut Tin Ok. Kwa Tin Ok mendengar suara angin di kanan. heran. . ia lompat maju akan rintangi Coan Kim Hoat. Ia dapatkan Kwa Tin Ok bercacat mata dan kakinya. segera ia serang si Tukang Kayu dari gunung Lam San itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Aku she Kwa. Pertempuran di antara Oey Yong dan Hauw Thong Hay juga berjalan dengan seru. ia ketahui pihaknya keteter. dari itu tidak berani ia menghajar tubuh orang. Karena itu. mereka jadi bertempur dalam dua rombongan dengan masing-masing tiga lawan satu. yang ia terus serang. Kali ini pihak Liok Koay yang menang di atas angin. Han Po Kie kate dampak dan gemuk. hingga ia membikin Kim Hoat terdesak. maka ia lantas mengambil keputusan: ―Baiklah aku binasakan dulu ini beberapa manusia jahat. Si wanita siluman. lantas ia menyerang dengan hebat. Inilah ketikanya untuk turun tangan. Ia lantas saja berkelit denagn mendak. ia menyerang pula dengan jurusnya ―Arhat menunjuk pengaruh‖. berbareng dengan mana. Maka teranglah. tahulah ia bahwa ia bukannya tandingan musuh she See itu. hanya ia lompat kepada Lam Hie Jin. babi!‖ Lian Houw murka dikatakan babi. Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin. Han Po Kie berlompat maju. Ia bergerak dengan jurus ―Sekejap seribu lie‖ dari ilmu silatnya Sin To Soat-san-ciang. untuk menyerang yang lain. ―Ini toh barang yang diperantikan menimbang di pasar tetapi kau pakai untuk menyerang orang!‖ Coan Kim Hoat mendongkol dan menyahut: ―Dacin ini untuk menimbang kau. tetapi ia kebogehan. walaupun mereka dikepung.‖ ―Oh. ia menangkis serangan. sebab serangan datang dalam rupa tangan kiri lawan. Kanglam Cit Koay!‖ kata Pheng Lian Houw. sedang Cu Cong lemah lembut bukan seperti orang Rimba Persilatan. Han Siauw Eng lantas maju dengan pedangnya dan Coan Kim Hoat dengan dacinnya. ia menangkis dengan ujung tongkatnya. Cambuknya kena dirampas Bwee Tiauw Hong tetapi ia punyakan kepalannya. kepandaiannya sebenarnya bagaimana!‖ Thong Thian gusar karena ia ingat penghinaan yang diterima empat muridnya. yang satu merusak usahanya. untuk melihat Cit Koay yang namanya demikian besar. Ia bermusuh dengan Liok Koay dan Bwee Tiauw Hong. Sebenarnya Thong Hay lebih lihay terapi ia kalha gesit dan ia pun jeri untuk beju lapis si nona. untuk membantui saudara-saudaranya itu. yang lainnya membinasakan muridnya atau gundiknya tersayang.‖ ―Eh. Ia pun lantas membentak: ―Kamu usilan. Auwyang Kongcu telah memasang mata. dia boleh dibereskan belakangan…‖ Segera ia lompat ke sampingnya Kwa Tin Ok. ―Kami bersaudara bertujuh orang. dengan begitu. Han Siauw Eng satu nona yang manis. 252 Auwyang Kongcu menyingkir dari serangan itu. Coan Kim Hoat kurus kering. hingga Hie Jin terkejut dan mesti berbalik akan melayani. Ia lantas lompat ke depannya Pheng Lian Houw. ―Sudah lama aku mengagumi nama kamu!‖ See Thong Thian tapinya berteriak: ―Bagus! Cit Koay telah datang sendiri! Aku orang she See hendak belajar kenal. Karena ini Oey Yong yang dapat mendesak. Meyaksikan saudara keenamnya itu kewalahan. tanpa bersuara. biar bagaimana tidak nanti ia dapat kabur. Auwyang Kongcu berdiam sambil bersiap. maka kau rasailah lihaynya kongcumu!‖ Lalu tangannya kanannya meninju. SeeThong Thian dan Pheng Lian Houw benar lihay. yang senjatanya yang luar biasa itu hendak dirampasnya. Tapi Kim Hoat lihay. Kwa Tin Ok dan Cu Cong lantas maju. Karena ini. sesudah berkelit ke kiri dan ke kanan. ia lantas tinggalkan musuh ini. mereka masih menang diatas angin. Irawan D Soedradjat Page Melayani Hie Jin pun Auwyang Kongcu pun tidak mau mengulur tempo. senjata apa senjata kau ini?‖ dia tanya. tetapi ia bukannya menyingkir untuk berlari. hingga lawannya itu main mundur. sambil berseru keras. Orang Kangouw menyebut kami Kanglam Cit Koay. See Thong Thian maju sambil mengawasi keenam Manusia Aneh itu. gerakannya aneh. Pheng Lian Houw tidak berdiam saja melihat kawannya dikerubuti. Ia lihay akan tetapi baru beberapa jurus. yang romannya gagah. Karena ini. Lam Hie Jin menancap pikulannya. bangsat buta. Begitu ia berkelahi.

untuk diletaki di tanah. satu kali ia peluk wanita itu. ia dapat menolong. dalam beberapa jurus saja ia sudah terdesak. Liok Koay yang mulai keteter pula. melainkan baju luarnya dan dalamnya pada robek. Dengan tiba-tiba ia ingat. karena itu. Bwee Tiauw Hong sendiri memperhatikan suaranya Kwee Ceng. hanya ia berlompat ke atas cambuk di mana ia menggulingkan tubuhnya. maka juga mendadak saja ia geraki cambuknya. hingga terdengar suara robek dari bajunya. untuk menolongi. untuk membikin pecah perut orang. hingga ia dapat cekal tubuh si nona. sudah tidak keburu lagi. Anak muda itu menghampirkan. Dengan tangan kanannya. yang jeri kepada cambuknya si wanita lihay itu. Nio Cu Ong memburu. beranikah kau melukai aku?!‖ Kaget Tiauw Hong mengenali suaranya Oey Yong. tentu saja baju lapis berduri dari suhu telah diberikan padanya!‖ Ia lantas menyahuti: ―Ya. Kwee Ceng tertolong dari bahaya tetapi sekarang Oey Yong yang kena kelibat cambuk itu. Kwee Ceng bukan tandingan jago ini. baiklah aku habiskan dia dulu!‖ Maka dia terus menarik. Nio Cu Ong dapat mencium bau obat. meskipun ia tahu. di sekitarnya. Suasana kembali terbalik. Dalam saat berbahaya itu. hingga ia memandikan peluh dingin. ia tidak bakal lolos pula. hingga belasan bungkusan obatnya kena disambar musuh. Ia memakai lapisan joan-wie-kah. ia menjambret dengan kedua tangannya. maka tempo ia menginsyafi aksinya Auwyang Kongcu itu. ia berdiri jauhnya tujuh atau delapan kaki dari Tiauw Hong. encimu ini yang salah. kecuali ayahnya. ia tidak berani menghampirkan. ia lantas lompat kepada bocah itu sambil ulur tangannya. Atas itu Oey Yong lanats berseru: ―Bwee Jiak Hoak. hingga Pheng Lian Houw dan See Thong Thian jadi dapat bernapas. ia dapat tahu nona itu tidak kesakitan. terus ia lari ke arah Bwee Tiauw Hong sambil berteriak: ―Tolongi aku!‖ Girang Tiauw Hong mendengar suara orang. Sekarang ia tidak dihampirkan oleh Nio Cu Ong. malah lekas juga dadanya kena dicengkram. maka katanya dalam hatinya: ―Ah. Ia mengkeratkan perutnya.Pendekar Pemanah Rajawali ia tengah mengganggu musuh-musuhnya itu. Kwee Ceng membela diri. Kwee Ceng tahu. ―Kau peluki aku! Jangan takuti Lao Kaoy!‖ ia menyahuti. gerak-geriknya. bagaimana suhu dapat mengampunkan aku? Tapi sudah terlanjur. aku minta ganti!‖ Tiauw Hong melongo. sekarang aku lukai budak ini. ia hanya lari berputaran dekat. setelah mana kembali ia menjambak. Ia terkejut ketika Kwee Ceng kena dijambret Nio Cu Ong. untuk merabu kakai si anak muda! Oey Yong melayani Hauw Thong Hay dengan selalu memperhatikan Kwee Ceng. Justru itu Oey Yong tertawa geli. Kwee Ceng berontak sekuat-kuatnya. ia lompat ke arah cambuk! Ia tidak takuti cambuk itu. ia masuki semua bungkusan itu ke dalam sakunya. sukar dicari orag yang bisa mengalahkannya. supaya ia bisa menghisap darah anak muda itu. Ia pun bukannya hendak menangkis. sembari mengejar. Cu Ong menjambak ke arah perut. tubuhnya tidak terluka. ia waspada terhadap nyonya itu terutama terhadap cambuknya. Dari suaranya orang. Dengan jenaka ia berkata: ―Kau merusaki pakaianku. Dia pun berpikir: ―Cambukku banyak gaetannya. Nio Cu Ong sementara itu terus memasang matanya terhadap Kwee Ceng. Ia percaya tubuh si nona itu sudah tercengkeram pelbagai gaetan cambuknya. Ia memang ingin meminta beberapa keterangan pula kepada anak muda itu. maka dengan meninggalkan Thong Hay. yang terus ditarik Bwee Tiauw Hong. Irawan D Soedradjat Page 253 . nanti aku pasti mengganti bajumu ini…‖ Oey Yong lantas menggapai pada Kwee Ceng. Sekarang ia melihat kawannya terancam cambuknya Tiauw Hong. ia dapat meloloskan diri. hingga ia memasuki kalangan smabaran cambuknya si wanita kosen.

ia lari menghampirkan. tubuhnya pun diputar. toako?‖ Han Siauw Eng tanya sambil ia menunjuk Tiauw Hong. sekarang dia ada punya urusan penting. cara bagaimana aku tidak pergi membantu dia?‖ Karena ini. dilain pihak. terus ia serang bebokongnya Pheng Lian Houw dengan jurusnya. Ia berkelahi sambil menggertak gigi. terus dibawa ke hidungnya. harapannya tidak ada. sesudah jatuh ia pungut. Satu malaman ia menumpuh bahaya. Ialah siauw-ongya Wanyen Kang. ―Ibuku telah dibawa buron penjahat. maka lima saudaranya lantas menyusul.‖ ―Hm!‖ Pheng Lian Houw mengasih dengar suara si hidung.Pendekar Pemanah Rajawali Kanglam Liok Koay sekarang berkelahi dengan mengumpulkan diri. untuk melibat kami semua. ia tidak dapat melihat Bwee Tiauw Hong.‖ Wanyen Kang beritahu dengan perlahan. apa perlunya kami berdiam di dalam istana?‖ Mereka juga menduga: ―Pasti Liok Koay ini lagi menjalankan siasat memancing harimau turun dari gunung. ―Onghui telah orang bawa lari. untuk menolongi. kopiahnya miring. Kwee Ceng menjadi masgul sekali. Irawan D Soedradjat Page 254 . ―Oh. ia gunai tangan bajunya untuk menyapu itu. ―Kalau begitu. lantas ia memutar tubuh untuk membalas menyerang. Thong Hay ditinggalkan Oey Yong. ―Apa?‖ dia menanya seraya ia merandak. ia takut keluar dari kalangan. Cu Cong lompat maju. Kwee ceng lihat gurunya yang nomor tiga itu terancam bahaya. malampun gelap. dengan tangan kirinya ia angsurkan paku itu. mereka meninggalkan musuh-musuh mereka. ―Mari kita pulang!‖ mengajak Tin Ok selagi muridnya ragu-ragu. Hauw Thong Hay dan Auwyang Kongcu berempat. sebab Pheng Lian Houw yang lihay sudah cecar padanya. ―Bagaimana dia. yaitu paku Cu-ngo Touw-kut-teng. mereka lari mengikuti Wanyen Kang. dengan kipasnya ia sampok paku itu. denagn begitu mereka dapat melayani See Thong Thian. Dengan begitu. melupakan segala apa. kesudahannya obat tak didapatkan juga. mereka lantas lompat mundur. sambil berlari-lari mendatangi. terus ia putar tubuhnya untuk berlalu. ia lantas membantui kawannya itu. mereka keteter juga. Cu Cong dapat lihat ujung baju orang penuh rumput dan debu. ―Siapa kesudian kau mengambil hatiku?!‖ Cu Ong membentak. dia berseru: ―Semua suhu. kau pulangi obatku!‖ Dalam sengitnya. paku beracun Cu-ngo Touw-kut-teng! Inilah paku yang asal menemui darah lantas menutup tenggorakan orang hingga orang mati seketika!‖ Nio Cu Ong tercengang mengetahui orang kenal pakunya itu. Cu Cong lari menghampirkan. ―Ini . ―Ayah minta semua suhu membantu mencari. Pheng Lian Houw. Han Po Kie terluka pundaknya. ―Dengan begitu saja kita pulang…‖ katanya menyesal. untuk dicium. Tidak nanti kami berani melupakan budi suhu semua!‖ Pangeran ini datang secara kesusu. Ia ingat Kwee Ceng darah siapa ia belum sempat hisap. belakang dengan belakang. Masing-masing mereka lantas berpikir: ―Ongya adalah yang mengundang kami semua. Pheng Lian Houw semua menjadi bingung. yang numprah di tanah. Inilah cara berkelahi yang Liok Koay baru pahamkan dan melatih selama mereka berdiam di gurun pasir. mereka tidak usah repot-repot menjagai punggung mereka. Ia tidak jeri karena ia tahu orang kalah daripadanya. Ia pun mendahului lompat ke tembok. keluar dari gelanggang. ia pergi dengan perasaan sangta tidak puas. khawatir nanti benteng perlawanannya itu menjadi dobol. ―Membuka mega untuk menolak rembulan. si pangeran muda. ia berkelahi terus. Justru itu terlihat muncul dari gombolan pohon bunga. Ia berkelit. ayahku ada urusan penting untuk mana ia minta bantuan kamu! Lekas!‖ Orang itu mengenakan kopiah emas. Untuk menggunai kekerasan. Justru itu. ia menimpuk dengan senjata rahasianya. Meski begini. Nio Cu Ong berlari paling belakang. kawannya pergi menculik onghui!‖ Karena ini tanpa sangsi lagi. Cu Ong pun ulur tangannya untuk menyambuti. tuan!‖ katanya sembari tertawa. inilah hebat!‖ pikir Lian Houw semua. Kwee Ceng teriakin dia: ―Eh. aku kembalikan pada kau.

Ia tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia percaya suaminya itu sudah meninggal dunia. Ia berhenti dengna tiba-tiba sebab kupingnya segera dengar suara berisik berupa teriakan-teriakan dan melihat cahaya terang dari banyak obor. Ia heran hingga ia menyangka ia sedang bermimpi. habis ia menanya. apakah aku juga sudah mati?‖ ia tanya. Ketika ia pun lompat ke tembok. mendadak ia roboh pula.‖ sahutnya halus. ―Ibuku?‖ ia menegasi. Bisa Lawan Bisa Yo Tiat Sim girang bukan main dapat menemukan istrinya. ia lupa segalanya. ―Ayah. Bab 23. ―Sebentar kita bicara. akibatnya kedua kakinya mati. ―Kita tidak kurang suatu apa…. Liam Cu menantikan ayahnya dengan pikiran tegang. Tiba-tiba Tiauw Hong sadar. ―Kalau begitu. mana suhu?‖ Tiauw Hong tanya nona itu. Pauw Sek Yok tersadar. Justru ia sadar.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kita telah memberikan janji kepada Ma Totiang. dan makin ia memaksakan diri. mana kau mau lepaskan dia?‖ Dengan ―dia‖ ia maksudkan Kwee Ceng. mengapa aku bisa jalan?‖ tanyanya pada diri sendiri. Ketik aitu fajar sudah menyingsing. ―Toako. mari kita tolongi Ong Totiang!‖ Cu Cong mengajak. Oey Yong tertawa haha-hihi. Mereka ajak Kwee Ceng bersama. kedua kakinya lemas dan kaku.‖ sahut kakak tertua itu. Tapi kali ini. Tiauw Hong murka bukan kepalang. hingga napasnya memburu. ia kata pula: ―Kau toh yang membilangnya kalau suhu datang ke mari!‖ Oey Yong tertawa pula. ia menubruk kepada si nona. makin pendek napasnya. malah ia dapat menolongi juga. Ia pun pingsan. lekas ia lompat turun ke lain sebelah. kenapa kau berada disini?‖ kemudian Han Siauw Eng menanya. ―Tanpa aku dustakan kau. siapa ini?‖ ia lantas tanya. Ia heran ketika ia lihat ayahnya kembali dengan memondong seorang wanita. akan meraba muka suaminya. Setelah berhenti sejenak. ―Perlahan!‖ Tiat Sim mengasih ingat. ―Eh. dari itu ia pondong erat-erat istrinya itu ketika ia lari keluar dengan melompati tembok istana. Ia ulur tangannya. lantas saja ia bangkit berdiri. Kwee Ceng menjawab guru ini dengan tuturkan semua pengalamannya. ―Ayahku?‖ balik tanya Oey Yong masih tertawa. ia lihat orang yang memondongnya. untuk lari menghilang. ―Eh. Di bawah tembok. ―Inlah ibumu!‖ sahut ayah itu. Gampang sekali kalau Liok Koay hendak merampas jiwa orang akan tetapi untuk menepati janji kepada Ma Giok. ―Mari lekas kita menyingkir!‖ Liam Cu kaget dan heran. Ia tidak sabaran dan cemas juga. sampai ia berikhtiar untuk menolongi Ong Cie It. maka itu mereka berlalu dengan terus. lalu dengan tindakan terhuyung-huyung. Oey Yong terkejut. ia tidak memberi hormat kepada Liok Koay. di antara cahaya pagi remangremang. mereka tidak mau turun tangan. Satu barisan serdadu sedang lari mendatangi.‖ Ia sudah lantas lari. Kira-kira serintasan. Ia telah keliru menyakinkannya ilmu silat dala. Ia dengar nyata: ―Jangan kasih lolos penjahat yang menculik onghui!‖ Irawan D Soedradjat Page 255 . ialah suami yang ia buat pikiran siang dan malam. ―Adik kecil. dengan kedua tangannya ia menekan tanah. anak Ceng. Tiat Sim girang hingga ia mengucurkan air mata. ia naik ke ujung lainnya. ―Tentu sekali ayah berada di pulau Thoa Hoa To! Tidak pernah ayah meninggalkan rumah! Ada apa kau menanyakannya?‖ Tiauw Hong menjadi sangat gusar. biar kita mengasih ampun padanya.

Ia lantas lari memapaki tentara pengejarnya. hingga ia mengawasi saja. ia berseru menyapa salha satu imam itu: ―Khu Totiang. tatkala selagi kita minum arak kita menumpas musuh?‖ . atau sekarang. dilain jurusan ia melihat datangnya dua imam yang satu berkumis dan rambutnya ubanan. Sekarang ia pun merasakan kedua lengannya sakit dan sukar digeraki. kalau sekarang akan terbinasa. hari ini kembali aku bertemu denganmu!‖ Imam itu memang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee serta saudara seperguruannya. mereka ketakutan. cuma rambutnya yang berubah. tiba-tiba saja Tiat Sim merasakan sakit pada belakang telapakan tangannya. daripada terhina ia rela terbinasa dalam pertempuran. di luar dugaan. ia berkata: ―Apakah totiang masih ingat peristiwa delapan belas tahun yang lampau di dusun Gu-kee-cun di Lim-an. peristiwa dahulu bakal terulang pula. Pauw Sek Yok lantas balut tangan suaminya itu. maka sekalipun telah bertambah delapan belas tahun umurnya. ―Biarlah kita bertiga mati bersama!‖ katanya gagah. tak usah dibalut…. tidak mau ia melepaskannya. Dari itu ia paksa melepaskan rangkulan istrinyaitu yang ia serahkan kepada anak gadisnya. anakku. Ia lantas menoleh kepada gadisnya dan kata: Anak. Ia dipondong oleh suaminya dan dibawa lari sekuat-kuatnya. Ia menjadi kaget sekali. di dalam gelap petang mereka dikejar tentara. Ia angkat kepalany. Di tanya begitu. Dalam kegirangan sangat. Tiat Sim hendak menjadwab istrinya tetapi ia daptakan tentara itu sudah semakin mendekat. Yo Tiat Sim menjadi nekat. justru itu. Menampak tentara pengejar datang semakin dekat. atas mana tentaranya lantas kabur serabutan. Setelah terang tanah. Senjata ini membangunkan semangatnya. ia pun menyesal yang ia tidak sempat merampas kuda musuh. Di dalam hatinya ia kata: Thian mengasihani aku hingga hari ini aku dapat bertemu sama istriku kembali. Ia melihat kesekelilingnya. akan bertemu di kota raja. berdua mereka datang dengan terburu-buru. dibelakangnya tergendol sebatang pedang. Melihat mereka itu.‖ Tiat Sim berkata cepat. di kampung halamannya itu. Itulah tandanya satu pasukan besar lagi mendatangi. ―Sudahlah. ia berduka dan terhina saking terpaksa. Opsir yang memimpin pasukan itu bernama Thung Couw Tek. kau peluklah ibumu…!‖ Sejenak itu terbayanglah di matanya Pauw Sek Yok pengalamannya delapan belas tahun yang lampau. kau menyingkirlah seorang diri! Ibumu dan aku akan berdiam disini…. Sek Yok heran. Karena itu ia tidak lantas mengenal waktu ia dipanggil dan melihat Tiat Sim. ia bagaikan harimau tumbuh sayap. Khu Cie Kee telah sempurna Iweekangnya. ia mengawasi nona itu. pada peristiwa di dusun Gu-kee-cun di kota Lim-an.!‖ kata Tiat Sim sambil menyeringai. ia telah dapat merampas sebatang tobak. baru sekarang ia ingat tadi ia telah dismabar sepuluh jari tangannya Wanyen Kang. karena repot melarikan diri.‖ Irawan D Soedradjat Page 256 Tiat Sim bisa menduga orang lupa padanya. ―Semoga totiang tidak kurang suatu apa. ―Kau terluka?‖ ia tanya. Mereka hendak menempati janji dengan Giok Yang Cu Ong Cie It. guna membicarakan urusan pibu dengan pihak Kanglam Liok Koay. Pauw Sek Yok dapatkan suaminya berdarah di sana sini. Dalam dua tiga gebark saja.‖ Liam Cu tidak menangis. ia ajak istri dan anaknya lari terus. dia kena ditusuk pahanya hingga ia terjungkal dari kudanya. tapi ia menajadi tenang. Lega juga hatinya Tiat Sim yang mengathui pasukan itu tidak dipimpin oleh opsir yang kosen. di sini mereka bertemu dengan Yo Tiat Sim suami-istri. baru saja ia bertemu kembali dengan suaminya. wajahnya tetapi seperti dahulu hari itu. Ia menginsyafi bahaya. ―Jadinya tuan….Pendekar Pemanah Rajawali Tiat Sim menjadi kecil hatinya. lalu terlihat debu mengepul baik dan mengulak. lantas ia sadar. ia tidak dapatkan tempat untuk menyembunyikan diri. Tidak ayal lagi. tak usah aku menyesal…!‖ Lantas ia kata pada anaknya: ―Liam Cu. wajahnya sangat berwales asih. Tanpa pemimpinnya. Yo Tiat Sim tercengang. Hampir itu wkatu kembali terdengar suara sangat berisik. ―Aku yang rendah ialah Yo Tiat Sim. sikapnya gagah. hingga tangannya itu mengeluarkan darah. ―Dia…dia mengapa adalah anak kita?‖ dia tanya. Tan Yang Cu Ma Giok. Delapanbelas tahun lamanya mereka telah berpisah. yang lain kumisnya abu-abu.!‖ menegaskan imam itu. Maka ia rangkul leher suaminya. ia lupa pada sakitnya. ia tidak rasai itu. hatinya tegang sekali.

malah mendapatkan dia menghalang-halangi. maka lagi-lagi ada delapan serdadu yang terguling. Di lain pihak hatinya tegang melihat tentara pengejar telah mendatangi semakin dekat. dengan tangan kosong ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia bersedia melayani musuh yang bersenjata itu. Orang she Yo ini bisa mengerti kesangsiannya si imam. ia membalas menyerang. untuk merampas senjata lawan. Tiang Cun Cu heran juga atas kegagahan orang. Kata-kata ―bulu campur aduk‖ itu adalah hinaan untuk suatu imam. Ia menjadi girang bercampur terharu dapat bertemu sama kenalan lama ini. kau telah melupakan aku tetapi kau tentu tidak dapat melupakan ini ilmu tombak dari keluarga Yo!‖ Tiang Cun Cu terkejut tetapi ia mundur. Dengan hanya mementang kedua tangannya. Maka lagi dua serdadu roboh pingsan. hanya lantas ia kata: ―Totiang. tak gampang senjatanya itu dapat dirampas. ia menjawab: ―Kurangilah pembunuhan! Gertak saja meraka itu!‖ Khu Cie Kee tertawa nyaring dan lama. Ia pun berseru: ―Khu Totiang. maka sekali ia maju menyerang. disebabkan penderitaannya. di antara mereka muncul seorang yang tubuhnya besar dan kekar. hingga ia ingin tanya she dan namanya lawan ini. hari ini kembali aku mesti membuka pantangan membunuh!‖ katanya. delapan-delapannya ia timpuki bergantian kepada kawan mereka. Orang she See ini insyaf. Mendadak saja ia geraki tombaknya dan menikam imam itu dengan tipu tombaknya. Khu Cie Kee tetap bertangan kosong. Sebaliknya. Tiat Sim berubah roman dan suaranya juga. maka sekarang ia ingat ebtul peristiwa delapanbelas tahun dulu ketika ia mencoba ilmu silat orang. kepada saudara seperguruannya. belum sampai ia membuka mulutnya. tangannya menyampok kepala orang hingga di kepalanya See Thong Thian bertapak lima jari berwarna merah. sesudah belasan jurus. Khu Cie Kee heran hingga ia kata di dalam hatinya: ―Kenapa di sini ada orang begini lihay?‖ Selagi si imam ini terheran-heran. dengan cara itu ia robohkan lagi delapan serdadu.Pendekar Pemanah Rajawali Habis berkata. Kedua tangan beradu dengan keras dan bersuara nyaring. tetapi ia tetap ragu-ragu. Ia lantas mengenali ilmu tombaknya Keluarga Yo itu. dengan sabar ia melayani. ―Suheng. untuk lari balik. Irawan D Soedradjat Page 257 . dari belakang ia dengar ini pertanyaan yang nyaring sekali: ―Kau ada totiang mana dari Coan Cin Kauw?‖ Ia lantas berlompat. mereka lantas putar kuda mereka. hingga ia kaget berabreng mendongkol. ―Oh. dia bergerak dengan gesit sekali. Ia tangkis seragan itu. tolongilah aku!‖ Imam itu bisa mengerti keadaan orang. yang terus ia serang.!‖ Tiat Sim tarik pulang tombaknya. tubuh siapa terus ia timpuki ke serdadu yang lainnya yang lagi mendatangi. untuk menoleh. Tiang Cun Cu tidak menghiraukan itu. yang kepalanya licin mengkilap. Yo Laotee!‖ katanya. yang sudah lantas sampai. ia lantas menarik roboh dua serdadu berkuda itu. menghajar pundak si imam dengan jurusnya ―Souw Cin menggendol pedang‖. ia hendak menguji tangan orang. habis itu keduanya mundur sendirinya masing-masing tiga tindak. orang she Yo itu lantas menjatuhkan diri berlutut di depan orang suci itu. setelah berkelit. hingga ia melihat empat orang berdiri berendeng. Ia tidak sahuti imam itu. Tetapi See Thong Thian telah punyakan latihan beberapa puluh tahun. mereka itu terus menerjang dengan begis. Hanya. hanya melihat orang demikian lincah. Dia membentak: ―Darimana datangnya si bulu campur aduk ini!‖ Lantas tubuhnya mencelat ke depan Tiang Cun Cu. Setelah hampir duapuluh tahun. lantas ia maju ke arah tentara itu. Tiang Cun Cu lekas membalas hormat. Lantas ia tertawa. Kali ini Khu Tiang Cun tidak berani bergerak sembarangan. ―Kau masih hidup…. ―Aku harap kau tidak gusari aku!‖ Ma Giok mengerti. Belum lagi semua serdadu kabur. dengan itu ia menyerang pula. Kejadian ini membikin kaget serdadu-serdadu yang lainnya. adalah Kwie-bun Liong Ong – demikian si lanang itu – merasakan tangannya sakit. lantas ia meraba pada pinggangnya di mana ia selipkan genggamannya yang berupa pengayuh besi yang berat. Luar biasa sebatnya imam ini. Adalah masksudnya. Ia menoleh ke arah tentara pengajar.

ia pun lantas menggunai ketika untuk mengeroyok. ada salah paham apakah di antara kita? Aku minta sukalah tuan-tuan menjelaskannya. Auwyang Kongcu dan Hauw Thong Hay yang telah lantas dapat menyusul See Thong Thian. hati mereka berkata: ―Pantaslah dia bernama besar.‖ menolak Ma Giok. Imam ini heran mendapatkan munculnya begitu banyak orang pandai. yang hendak dirampas. Dengan tangan kiri hanya mengancam. Auwyang Kongcu lihat berkelebatnya satu bayangan. ketiga jalan darahnya itu bakal menjadi sasaran kipas yang istimewa itu. di belakang hari pastilah sukar untuk menyelesaikan masalah ini.‖ Ma Giok menyahut. kempolannya kena didupak si imam. Itulah Ma Giok yang membantu saudaranya. dengan apa ia terus terjang imam itu. ―Apaha she totiang yang mulia?‖ Auwyang Kongcu bertanya.‖ Imam ini berbicara dengan sabar sekali. atau mendadak satu bayangan berkelebat si samping si kongcu. apakah di sini masih ada lain-lain saudaranya…. Hanya. tetapi ia berkelit dari serangan orang. tidak keras dan mengagetkan seperti suaranya Pheng lian Houw. tetapi pada itu ada nada yang mengandung pengaruh. la lantas berseru: ―Mari maju berbareng!‖ Ia pun lantas mengeluarkan sepasang poan-koan-pitnya. Ia menerjang sambil berlompat. yang terus menggeroyok saudaranya. ia berpikir: ―Kita telah bentrok dengan pihak Coan Cin Kauw. sebaliknya. Perkara di belakangada soal lain. Ia pun lompat ke belakang. suaranya tetap keras. mengarah tiga jalan darah hongbwee. ―Kita tidak kenal satu dengan lain. maka itu Pheng Lian Houw berempat saling mengawasi. sebutan Cinjin itu tidak berani pinto terima. ―Pinto berasal dari keluarga Ma. Jadi dengan sekali bergerak. Ketika ia telah menarik pulang pedangnya itu. Maka ia lantas berkata: ―Nama Coan Irawan D Soedradjat Page 258 . ―Si kate ini galak sekali! Dia pun agaknya lihay!‖ Ia lantas menghunus pedangnya. ―Maaf. Kelihatannya Khu Cie Kee sudah sangat terdesak. maaf!‖ ―Pengetahuan pinto tentang agamaku masih terlalu sedikit. Nio Cu Ong menyusul untuk mengepung. ia meneruskan menikam jalna darah ciang-bun-hiat di iganya Hauw Thong Hay. sekarang dua anggota utama dari mereka berada disini. Inilah cara berkelahi yang langka. kiranya Tan Yang Cinjin Ma Totiang!‖ berkata Pheng Lian Houw. hingga dengan sendirinya orang-orang yang lagi bertempur itu pada lompat mundur. Khu Cie Kee lantas mengangguk kepada mereka itu seraya memberikan penyahutannya: ―Pinto she Khu. Di situ cuma tertampak Yo Tiat Sim sekeluarga bertiga jiwa. baiklah kita berlima mengepung mereka itu untuk membinasakannya.?‖ Ia lantas melihat ke sekitarnya. Orang she Nio ini terperanjat untuk kesebatannya si imam. Auwyang Kongcu pun menyerang secara membokong itu. Ia lantas menduga kepada anggota Coan Cin Kauw yang tertua. tetapi di dalam hatinya. Pheng Lian Houw dan See Thong Thian lantas menyerang. baiklah ia sekalian dibunuh saja! Ini adalah ketika yang paling baik untuk mengangkat nama kita!‖ Karena berpikir begini.‖ Nama Tiang Cun Cu kesohor sekali di Selatan dan Utara. Khu Cie Kee tidak heran yang orang sudah lantas menerjang kepadanya. tetap sabar. maka terpaksa ia lompat maju untuk menghalangi. ialah seoarng imam berusia lanjut. imam ini telah melayani tiga lawan. akan terus mengawasi orang suci ini. dia memang gagah. ubanan rambut dan kumisnya. ceng-cok dan pwee-sim di punggung si imam. tetapi ia kena disusuli. ia menotok dengan kipasnya di tangan kanan. Auwyang Kongcu melihat bagaimana si imam ini dilibat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw dan bagaimana Nio Cu Ong merangsak dari kirinya. sekarang kita bertemu sama Khu Cie Kee. ―Oh. ―Tuan-tuan siap?‖ tanya Ma Giok. ia memandang bayangan itu. Pinto mohon tanya nama mulia dari tuan-tuan. Pheng Lian Houw mencoba bersikap halus.Pendekar Pemanah Rajawali Itulah Nio Cu Ong bersama Pheng Lian Houw. Hampir saja Hauw Thong Hay terkena pedang. sambil menarik pulang kipasnya. maka itu lantas ia menotok kepada kedua jalan darah kin-jie dan pek-hay-hiat. sedangkan ia tidak mengerti. lalu kipasnya dia ini kena ditahan. ia cuma berpikir. Ia tahu lawan lihay. syukur ia keburu berkelit. ia menikam ke pinggangnya See Thong Thian. itu artinya ganjalan dengan Coan Cin Kauw.‖ Pheng Lian Houw sendiri berpikir lebih jauh: ―Kita sudah melukakan Ong Cie It. suaranya halus.

―Ma Totiang. ia lawan keras dengan keras. tetapi ia terus menyerang pula dengan dua-dua tangannya. selagi orang tidak bercuriga. ―Kau hendak uji tenagaku. Imam ini menyambuti poan-koan-pit. Ketika tadi Pheng Lian Houw menyelipkan senjatanya. ialah ilmu pukulan paling lihay dari kaumnya. itulah bagus sekali. Ia tidak tahu. Tiba-tiba ia merasakan lima jari tangannya sakit. seperti tertusuk jarum. Pheng Lian Houw girang sekali. sembari tenaganya dikerahkan. Pheng Lian Houw segera main mundur. sedang Auwyang Kongcu dan Hauw Thian Hay segera membantui Pheng Lian Houw. hingga hatinya menjadi gentar.‖ Itulah kata-kata pancingan. ada sukar untuk kami datang berkumpul.‖ Ma Giok dan Khu Cie Kee heran. hebat kesudahannya. Mana lagi lima saudara totiang? Silahkan minta mereka itu sudi menemui kami. ia lompat maju ke depan Pheng Lian Houw. berbareng ia menarik keluar senjata rahasianya. Pheng Lian Houw selipkan senjatanya di pinggangnya. kami sangat mengaguminya. ialah poan-koan-pitnya itu terputus menjadi dua potong! ―Bagus!‖ Khu Cie Kee memuji. yang namanya aneh.Pendekar Pemanah Rajawali Cin Kauw sangat kesohor. Orang toh lihay…. si licik sudah lompat mundur. Khu Cie Kee kenal baik kakak seperguruannya ini. yaitu ban Tok-hoan-taya. terus ia menggentak ke samping seraya berseru: ―Lepas!‖ Pheng Lian Houw pun ada seorang jago. justru kami hendak menjenguk dia. ia tidak menduga bahwa orang lagi memancing padanya. Di lain pihak. cuma untuk ditertawakan tuan-tuan. dengan itu ia menangkis. Aku she Sam dan namaku Hek Miauw. See Thong Thia dan Nio Cu Ong maju memegat Ma Giok. Irawan D Soedradjat Page 259 .‖ katanya seraya mengangsurkan tangannya. Ma Giok menyangka orang bermaksud baik. ia gunai jarum jahatnya itu. Orang cuma berdua dan mereka belum sempat menemui Ong Cie It. Pheng Lian Houw sempat mencabut poan-koan-pitnya. tangan kirinya Tiang Cun Cu lihay seperti tangan kanannya ang memegang pedang.‖ menyahut Ma Giok. buat menyambuti. untuk menerjang. sedang sekarang ia menyerang dengan ―Sam Hoa Cie Teng Ciang-hoat‖. Saking kaget. yang berlompat maju. tapi telapakan tangannya dibalik ke bawah. baiklah!‖ Ia tersenyum. untuk berjabat tangan. ia mengerti sebabnya kegusaran itu. dia telah melukai aku dengan racun!‖ menyahut Ma Giok. Khu Cie Kee heran melihat saudaranya berjabat tangan tapi sudah lantas menyerang. Maka ia pun menggeraki pedangnya. ―Jahanam licik. siapa terluka hingga di dagingnya. ia berkata: ―Totiang berdua tidak mencela kami. lima jarinya berlobang kecil masing-masing dan bergaris hitam. ia berpikir. yang sangat sabar. senjatanya tidak terlepas. yang ia sambar ujungnya. ―Kenapa?‖ tanyanya. jarum yang telah dipakaikan racun yang keras seklai. Kali ini kami datang ke Tiong-touw untuk mencari Ong Sutee. ia lantas menarik pulang tangannya itu. mereka pikirkan siapa Sam Hek Miauw ini. Tapi ia masih tertawa. aku merasa beruntung dengan pertemuan kita ini. Ia merasa orang memegang keras sekali. beruntun dua tikaman. ―Kami bertujuh sudara tinggal di beberapa propinsi. baru saja kami mendapat tahu alamatnya. di sini kebetulan kita bertemu sama tuan-tuan. dalam tempo enam jam dia bakal terbinasa. untuk membuat Ma Giok memikirkan. Ketika Ma Giok insyaf ia telah dicurangi dan hendak ia menyerang. terus ia membalas satu kali. Maka boleh ia mengeroyok. karena ia merasakan tangan kanannya kesemutan. ―Nama kami kosong belaka. Ilmu silat di kolong langit ini banyak perbedaannya tetapi asal mulanya adalah satu. ia menghampirkan Ma Giok. Nama itu berarti Tiga Kucing Hitam. yang untuk beberapa puluh tahun tidak pernah berkelahi. untuk menyerang pula. Ma Giok melihat telapakan tangannya. Sama sekali mereka belum pernah mendengarnya. waktu ia mengerahkan tenaga dan menarik. maka itu bagaimana pula jikalau kita mengikat persahabatan?‖ Imam ini jujur. ia pun mengulurkan tangannya. yang tipis seperti benang tetapi disitu ada lima batang jarumnya. Ia sengaja memakai nama Sam Hek Miauw. Pheng Lian Houw tertawa tetapi ia mencelat mundur setombak lebih.

Karena hatinya berkhawatir. Nio Cu Ong menyerang terus dengan senjatanya yang merupakan gunting panjang dan See Thong Thian dengan pengagayuh besinya. Wanyen Kang heran menampak gurunya dikepung. Khu Cie Kee tidak jatuh di bawah angin. Yo Tiat Sim tahu ilmu silatnya tidak berarti. akan perdengarkan suaranya yang keren: ―Keluarkan obat pemunahnya!‖ Pheng Lian Houw bersangsi. Ma Giok sendiri mengempos terus semangatnya. Ia terkejut akan melihat tangan kanan kakaknya itu menjadi hitam terus sampai di lengan. dari kejauhan terdengar lari mendatanginya beberapa ekor kuda akan kemudian ternyata. Benar Hauw Thong Hay rada lemah tetapi Auwyang Kongcu lebih gagah daripada Pheng Lian Houw. Ma Giok terancam bahaya. ia berkata: ―Ma. untuk memberi hormat. tidak dapat!‖ Irawan D Soedradjat Page Pauw Sek Yok menunjuk kepada Yo Tiat Sim. ia bersilat dengan sungguh-sungguh. ―Saudara Yo. penyerangnya itu satu nona dengan baju merah. Hendak ia menolongi tetapi ia tidak sanggup. ―Ha. yang pun sudah tidak berkelahi lagi. Ia segera mendapatkan. Ia ingat.‖ Belum habis ucapan imam ini. Karena ini. akhirnya kita dapat cari kau!‖ Tapi pauw Sek Yok berkata dengan keras: ―Untuk menghendaki aku kembali ke istana. Adalah di itu waktu. mari teecu mengajar kenal. ia kena terdesak. Wanyen Kang lari kepada ibunya. selang beberapa puluh jurus.‖ katanya kemudian. racun begini lihay!‖ serunya. Nona itu segera dikepung pengikut-pengikutnya. segera ia menghampirkan. ketiga musuhnya mendesak keras padanya. ia melihat orang segera sampai pada ajalnya.Pendekar Pemanah Rajawali Khu Cie Kee heran kenapa mendadak berkumpul orang-orang tangguh ini. jalan darahnya makin cepat. barulah Pheng Lian Houw semua berlompat mundur. ia lantas berteriak: ―Semua berhenti! Tuan-tuan berhenti!‖ Pangeran ini mesti berteriak beberapa kali. akan aku ikuti dia!‖ 260 Wanyen Kang dan Wanyen Lieh menjadi heran. Dikepung bertiga. yang datang itu adalah Wanyen Lieh bersama Wanyen Kang. Wanyen Lieh melihat istrinya duduk di tengah. ia kata nyaring: ―Suamiku masih belum mati. yang segera menghampirkan kakaknya. Lantas ia berpaling kepada Pheng Lian Houw. ia maju menyerang Auwyang Kongcu. Karena menginsyafi bahaya. Syukur ia keburu berkelit. Itulah tanda bekerjanya racun dahsyat. ―Percuma kau mengantarkan jiwa…. Tangan Ma Giok menjadi bengkak dan hitam. Justru itu sebatang golok menyambar kepadanya. tidak demikian dengan kakak seperguruannya. yang seperti dari embun-embuannya terlihat mengepul hawa seperti uap. Makin ia bergerak. Inilah tidak disangka imam itu. ―Apa?!‖ kata mereka. meski ia pergi ke ujung langit dan pangkal laut. rasannya kaku dan gatal. Maka itu. segera ia menjatuhkan diri untuk duduk bersemadhi. sudah delapan tahun belum pernah ia menemui tandingan. . jangan maju!‖ mencegah Khu Cie Kee. ia girang. yang menduga kepada racun biasa. yang perlahanlahan mulai turun. guna mencegah ransakan racun. Khu Cie Kee heran melihat kelakuan kakaknya itu. semenjak menempur Kanglam Cit Koay. ia berhasil mencegah menjalarnya racun itu.‖ ―Hm!‖ bersuara imam itu. Auwyang Kongcu sudah menendang patah tombak orang dengan kaki kirinya dan kaki kanannya mendupak roboh orang she Yo itu. yang goloknya lihat. ―Inilah beberapa cianpwee Rimba Persilatan yang diundang ayahku. ―Suhu. sedang dengan tangan kirinya melindungi diri. akan tetapi melihat kedua ima