P. 1
Pendekar Pemanah Rajawali

Pendekar Pemanah Rajawali

|Views: 267|Likes:
Published by Irawan D Soedradjat

More info:

Published by: Irawan D Soedradjat on Jan 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/18/2012

pdf

text

original

Sections

  • Bab 2. Berlalunya Dua Sahabat Kekal
  • Bab 3. Tujuh Orang Luar Biasa
  • Bab 4. Mengadu Kepandaian
  • Bab 5. Pertarungan Mati Hidup
  • Bab 6. Pengejaran
  • Bab 7. Adu Panah
  • Bab 8. Pedang Mustika
  • Bab 9. Si Mayat Perunggu dan Si Mayat Besi
  • Bab 10. Malam Yang Hebat
  • Bab 11. Memanah Burung Rajawali
  • Bab 12. Imam Berkonde Tiga
  • Bab 13. Tipu Lawan Tipu
  • Bab 14. Ujian Yang Pertama
  • Bab 15. Oey Yong
  • Bab 16. Gara-Gara Sepatu Sulam Dan Jubah Salut Emas
  • Bab 17. Pangeran Wanyen Kang
  • Bab 18. Mengadu Kepandaian
  • Bab 19. Ada Kuping Di Balik Tembok
  • Bab 21. Semua Berkumpul
  • Bab 22. Pertempuran Dahsyat
  • Bab 23. Bisa Lawan Bisa
  • Bab 24. Pengemis Dengan Sembilan Jeriji
  • Bab 25. Tipusilat ―Naga Menyesal‖
  • Bab 26. Memikiri Senantiasa
  • Bab 27. Orang Tapakdaksa Dari Danau Thay Ouw
  • Bab 28. Ular-Ular Pada Menari
  • Bab 29. Orang yang Berjalan di Atas Kali Sambil Menjunjung Jambangan Air
  • Bab 30. Si baju hijau yang aneh
  • Bab 31. Pemilik dari Pulau Tho Hoa To
  • Bab 33. Kemaruk Kebesaran
  • Bab 34. Orang aneh di dalam kurungan
  • Bab 35. Main gundu
  • Bab 36. Ilmu silat dari kitab yang diperebuti
  • Bab 37. Jago lawan jago
  • Bab 38. Memilih Baba Mantu
  • Bab 41. Pergulatan di tengah laut
  • Bab 42. Di pulau terpencil
  • Bab 44. Ilmu yang sejati dan yang palsu
  • Bab 45. Pesiar dengan ikan hiu
  • Bab 46. Resoran gelap di dalam desa
  • Bab 47. Tempat rahasia
  • Bab 49. Pertempuran di dalam rumah makan
  • Bab 50. Menikah!
  • Bab 52. Barisan bintang
  • Bab 53. Ajalnya Bwee Tiauw Hong
  • Bab 54. Segitiga
  • Bab 55. Pertarungan sang kodok
  • Bab 56. Kejadian di lauwteng Gak Yang Lauw
  • Bab 57. Tiat Ciang Sin-kang Kiu Cian Jin
  • Bab 58. Nona manis menjadi raja pengemis
  • Bab 59. Pesan Gak Bu Bok
  • Bab 60. Wanita dari Rawa Lumpur Hitam
  • Bab 62. It Teng Taysu
  • Bab 63 SAPU TANGAN BERSULAM
  • Bab 64 ASMARA DI DALAM KERATON
  • Bab 65. SELAMAT
  • Bab 66. NASIB
  • Bab 67. PERGULATAN DI ATAS PERAHU
  • Bab 68. BERADU DIAM
  • Bab 69. HEBAT
  • Bab 70. KUMPUL SEMUA
  • Bab 72. Mulut Si Tolol
  • Bab 73. Bisa Bekerja
  • Bab 75. See Tok (Si Racun Barat) Auwyang Hong
  • Bab 76. Pembalasan
  • Bab 77. Si orang aneh
  • Bab 78. NASIB
  • Bab 80. PIBU DI GUNUNG HOA SAN

Pendekar Pemanah Rajawali

"Pendekar Pemanah Rajawali"
~ Sia Tiauw Eng Hiong ~ Oleh : JIN YONG Pengantar Di luar gunung ada lagi gunung hijau, di luar lauwteng ada pula lauwteng lainnya, Nyanyian-nyanyian dan tari-tarian di Telaga Barat, hingga kapankah itu akan berhenti? Penghidupan mewah di Selatan telah membuat mabuk kepada pelancong-pelancong tetamu, Hingga kota Hangciu dianggapnya sebagai kota Pianciu! Syair di atas adalah lukisan dari peristiwa pada delapan ratus tahun yang lampau. Ketika itu kerajaan Song telah menjadi sedemikian lemahnya hingga kedua kaisar Hwie Cong dan Kim Cong sudah kena ditawan bangsa Kim (Kin), karena mana itu pangeran Kong Ong lalu menyeberang ke Selatan, menerima tahta kerajaan di kota Liman, menjadi Kaisar Kho Cong. Dalam waktu sesulit itu, selagi musuh mengancam di tapal batas, setelah separuh dari negara berada di dalam tangan musuh itu, sudah selayaknya satu kaisar bangkit bangun untuk membuat perlawanan, akan tetapi tidak demikian dengan Kaisar kho cong ini. Dia justru jeri terhadap bangsa Kim itu yang dipandangnya sebagai harimau saja, berbareng dengan itu dia pun khawatir kalau kedua Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong nanti kembali dari tawanan hingga dia tak dapat terus bercokol di atas singasana naga. Maka dengan itu menurut perkataannya dorna Cin Kwee4, dia titahkan membunuh Jenderal Gak Hui, pendekar yang menentang musuh Kim itu, sesudah mana itu dengan merendahkan martabat sendiri ia mengajukan permohonan damai dengan bangsa Kim. Inilah pengharapan bangsa Kim yang disaat itu tengah gelisah sebab telah berulangkali mereka memperoleh labrakan dari Jenderal Gak Hui, hingga semangatnya terpukul hebat, sementara di wilayah Utara mereka terancam pemberontakan tentera rakyat sukarela. Begitu di dalam bulan pertama tahun kerajaan Ciauw-hin ke12 (1138 masehi) perdamaian telah ditandatangani dengan syarat tapal batas kedua negara Song dan Kim adalah aliran tengah dari sungai Hoay-sui. Perdamaian itu namanya saja perdamaian, kenyataannya adalah penaklukan dari Kaisar Kho Cong itu (yang bernama Tio Kouw adalah putra ke-9 dari Kaisar Hwie Cong). Sebab di dalam suratnya, Kho Cong menyatakan dan mengaku sudah terima budi kebaikan dari raja Kim, karena mana turun temurun ia akan menjadi ―menteri yang setia‖ serta berjanji setiap hari lahirnya, ―Kaisar‖ demikian ia menyebut raja Kim itu – begitu juga setiap tahun, ia akan kirim utusan guna memberi selamat sambil menghanturkan upeti uang perak duapuluh lima laksa tail dan cita duapuluh lima laksa balok. Demikian macam martabatnya seorang Kaisar, ia sungguh memalukan, maka ketika tentera dan rakyat negeri mengetahui hal itu, semuanya menjadi murka dan berbareng berduka. Lebih bersedih adalah rakyat di wilayah utara sungai Hoay-sui itu, karena mereka menjadi tidak mempunyai harapan lagi akan bangunnya negara. Dipihak lain, Kho Cong menganggap itu adalah jasa besar dari dorna Cin Kwee, maka juga dorna yang sudah tinggi pangkatnya, yaitu Siaupo Copoksia merangkap Kie-bit-su gelar Pangeran Louw-kokong, dinaiki pula menjadi Taysu, hingga kedudukannya telah mencapai puncaknya kebesaran suatu menteri! Semenjak itu bangsa Kim menduduki separuh dari wilayah Tiongkok. Walaupun demikian pemerintahan di Hangciu malah bertambah buruk, raja dan menteri-menterinya, setiap hari berpelesiran saja, berpesta pora, tidak memikirkan lagi kepentingan negara, sedang beberapa menteri atau perwira yang setia, umumnya kalah pengaruh dan tidak berdaya, hingga mereka pada menutup mata karena mereras. Demikan syair di atas, gambaran dari kaisar yang lemah dan buruk tapi pecandu pelisir! ------------------------------1) Telaga Barat – See Ouw (Si Hu) 2) Piancu – Kaifeng (Kayhong), ibukota propinsi Honan. Bekas kotaraja. 3) Lim-an – Hangciu (Hangchow), ibukota Chekiang, inilah yang dimaksud dengan Selatan (Kanglam) 4) Dorna Cin Kwee – Di Hangciu telah dibuat patungnya sebagai tanda peringatan dari khianatnya terhadap negara dan ada satu waktu yang patungnya itu telah diperhina dengan ludah maupun kotoran manusia. Bab 1. Pertempuran di Tanah Bersalju

Irawan D Soedradjat

Page

Beberapa tahun telah berselang, Kaisar Kho Cong itu digantikan oleh Kaisar Hauw Cong. Kaisar Hauw Cong digantikan Kaisar Kong Cong, lalu Kaisar Leng Cong. Pada tahun Keng-goan ke-5 dari Kaisar ini, selagi musim

1

Pendekar Pemanah Rajawali

dingin, telah turun hujan salju lebat selama dua hari berturut-turut, hingga Hangciu, ibukota Kerajaan Song itu seperti bermandikan air perak, bercahaya berkilau, indah dipandang. Dan diwaktu begitu, Kaisar dan menterimenterinya dengan duduk mengelilingi perapian, bersenang-senang menenggak air kata-kata...... *** Di luar kota Hangciu, di sebelah timurnya, di dusun Gu-kee-cun, dua orang gagah pun tengah minum arak putih sambil duduk berhadapan, oleh karena mereka adalah bagaikan saudara sejati. Dari mereka itu, yang satu bernama Kwee Siauw Thian, yang lainnya Yo Tiat Sim, kedua-duanya adalah turunan orang-orang kenamaan. Siauw Thian itu adalah turunan dari Say-Jin-Kui Kwee Seng, itu adalah salah satu jago dari seratus delapan orang kosen dari gunung Liang San yang kesohor dengan ilmu silat tombaknya, hanya setelah tiba pada dia ini, tombak yang panjang itu diganti dengan sepasang tombak pendek dan bergaetan (siangkek). Sementara Yo Tiat Sim itu adalah turunan dari Panglima Yo Cay Hin, salah seorang bawahan Jenderal Gak Hui dan ilmu tombaknya adalah warisan leluhurnya. Mulanya kedua orang ini bertemu dalam pengembaraan, setelah merasa cocok, maka mereka mengangkat saudara, kemudian bersama-sama mereka pindah dan tinggal di dusun ini. Kebiasaan mereka adalah duduk berkumpul, pasang omong dan menyakinkan ilmu silat. Demikian juga pada hari itu, selagi salju turun, mereka duduk minum arak dan berbicara dengan asyiknya, tempo mereka omong hal nasibnya negera, keduanya menjadi berduka dan berdongkol, tiba-tiba saja Tiat Sim mengeprak meja dengan kerasnya. Justru saat itu ada seorang keluar dari ruang dalam, apabila gorden tersingkap, terlihatlah seorang wanita yang cantik sekali, tangannya memegang nenampan di atas mana ada terdapat masakan daging sapi serta ayam. ―Hai, urusan apa lagi yang membuat kamu berdua saudara marah?‖ tanya wanita itu sambil tertawa. ―Kami tengah membicarakan urusan yang gila-gila dari negara!‖ sahut Siauw Thian. ―Enso, mari kau pun minum satu cawan!‖ Wanita itu adalah Pauw-sie, istri dari Yo Tiat Sim. Di Lam-an ini, dia adalah merupakan wanita tercantik dan halus budi pekertinya, hingga ia tepat dengan romannya. Siapa yang melihat dia, pasti kagumlah hatinya. Dengan Tiat Sim, belum lama ia menikah, tetapi dia itu orangnya luwes dan dapat dengan gampang bergaul dengan kaum pria-dalam halnya dengan Siauw Thian, iparnya itu. Begitulah, setelah ia meletakkan barang makanan-nya, ia mengambil cawan dan mengisinya, sesudah itu mengambil kursi dan meminum araknya itu. ―Kemarin selagi aku berada di dalam warung teh di Tong Lam di ujung jembatan Cong An Kio, aku mendengar orang membicarakan halnya Han To Cu si perdana menteri keparat itu!‖ Tiat Sim menyahuti pertanyaan istrinya tadi. ―Rapi pembicaraan itu, hingga aku percaya itu bukanlah omong kosong belaka. Orang itu bilang, pembesar siapa juga, jikalau dia hendak mengajukan laporan, apabila di ujung sampulnya tidak disertai keterangan dia menghadiahkan sesuatu, pasti perdana keparat itu tidak akan memeriksanya!‖ Siauw Thian menghela napas. ―Ada rajanya, ada menterinya‖ katanya masgul. ―Ada menterinya, ada pembesarpembesar bawahannya.Lihat saja Tio Tayjin, residen dari kota Lim-an kita ini. Hari itu Han To Cu pesiar di luar kota dengan diiringi banyak pembesar. Kebetulan aku lagi mencari kayu di dekat situ. Tentu saja aku tidak ambil mumat padanya itu. Lalu aku mendengar dia menghela napas dan berkata seorang diri: ‗Di sini rumahrumah berpagar bambu dan beratap, sungguh suatu desa yang indah menarik hati, hanya sayang sekali, disini tidak terdengar suara ayam berkokok dan anjing menggonggong…‘ Belum lagi dia menutup mulutnya lalu terdengar gongongan anjing dari dalam semak-semak!‖ Pauw-sie bertepuk tangan sambil tertawa. ―Sungguh anjing yang tahu diri!‖ katanya. ―Memang anjing yang sangat tahu diri!‖ sahut Siauw Thian. ―Setelah menggonggong, dia muncul dari semaksemak itu! Enso tahu, anjing apakah itu? Dialah Tio Tayjin, residen kita!‖ Pauw-sie menjadi tertawa terpingkal-pingkal. Tiat Sim dan Siauw Thian pun tertawa. Mereka minum terus hingga terlihat salju turun makin lebat. ―Nanti aku undang enso minum bersama,!‖ kata Pauw-sie kemudian. ―Tidak usah,‖ Siauw Thian mencegah. ―Selama beberapa hari ini, dia merasa kurang sehat….‖

Irawan D Soedradjat

Page

Pauw-sie terkejut, ―Ah, mengapa aku tidak tahu!‖ katanya. ―Nanti aku tengok!‖

2

Pendekar Pemanah Rajawali

Siauw Thian tidak bilang apa-apa lagi, dia malah tersenyum. Menampak hal itu, legalah hati Tiat Sim. Itu artinya nyonya Kwee tidak berat sakitnya. Tak lama, nyonya Yo kembali sambil tersenyum-senyum. Ia isikan satu cawan, lalu mengansurkan cawan itu kepada suaminya. ―Lekas minum sampai habis!‖ katanya. ―Inilah tanda hormat kepada Toako!‖ ―Eh, apakah artinya ini?‖ tanya Tiat Sim tidak mengerti. ―Minum, lekas minum!‖ desak Pauw-sie. ―Habis minum nanti baru aku beri keterangan!‖ katanya kemudian. Tiat Sim lalu meminum kering cawan itu. ―Nah, Toako, kau biacaralah sendiri!‖ kata Pauw-sie sambil tertawa kepada Siauw Thian. Orang she Kwee itu tersenyum dan berkata, ―Selama sebulan ini dia senantiasa mengeluh pinggangnya pegal dan sakit. Baru kemarin dia pergi ke Thio Ie-seng di dalam kota, kata tabib itu dia sudah mengandung selama tiga bulan….‖ Tiat Sim menjadi girang sekali. ―Kiong hie, Toako!‖ katanya sambil memberi selamat. Lalu ketiganya meneguk arak mereka, masing-masing tiga cawan. Tentu saja dengan meminum sebanyaknya itu, sedikitnya arak itu telah mempengaruhi mereka. Pada saat itu di arah timur kelihatan satu tosu atau imam sedang mendatangi. Dia memakai tudung bambu dan tubuhnya di tutupi dengan baju rumput, yang seluruhnya penuh dengan salju. Ia bertindak dengan tegap dan cepat. Segera tertampak di punggungnya ada tergantung sebatang pedang, yang roncenya kuning dan memain di antara tiupan angin yang keras. ―Adik, imam ini pasti mengerti ilmu silat,‖ Siauw Thian bilang. ―Entah dari mana dia datang. Coba kita dapat berkenalan dengannya. Sayang kita belum tahu namanya………..‖ ―Benar,‖ sahut Tiat Sim. ―Baik kita undang dia minum untuk ikat persahabatan……‖ Keduanya segera berbangkit dan pergi keluar. Ketika itu karena cepat jalannya, si imam sudah lewat beberapa puluh tombak. Siauw Thian dan Tiat Sim saling melihat dengan herannya. ―Totiang, tunggu sebentar!‖ Tiat Sim segera memanggil. Cepat sekali si imam memutar tubuh dan mengangguk. ―Salju turun dengan lebatnya dan hawa pun sangat dingin,‖ kata Tiat Sim pula, ―Sudilah Totiang mampir untuk minum beberapa cawan guna melawan hawa dingin.‖ Iman itu menyahuti dengan tertawa dingin, lalu ia bertindak menghampir – cepat sekali tindakannya. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua sangat terperanjat dan heran guna menyaksikan muka orang yang berwajah sangat dingin sekali. ―Kamu pandai bergaul, eh!‖ katanya tawar Tiat Sim masih muda dan dia tidak senang dengan sikap orang. ―Dengan baik hati aku mengundang kau minum, kenapa kau begini tidak tahu aturan?‖ pikirnya. Maka ia menjadi diam saja. Siauw Thian sebaliknya lantas memberi hormat. ―Totiang, harap anda tidak marah dengan sikap saudaraku ini. ―Kami sedang minum arak, melihat Totiang melawan salju, dia besarkan nyali untuk mengundang Totiang minum bersama….‖ Imam itu memutar matanya. ―Baik,baik!‖ katanya. ―Minum arak ya minum arak!‖ Dan dengan tindakan lebar ia menuju ke dalam.

Irawan D Soedradjat

Page

3

Pendekar Pemanah Rajawali

Tiat Sim merasa dongkol, ia ulurkan tangannya hendak mencekal tangan kiri si imam untuk ditarik ke samping. ―Aku belum belajar kenal dengan Totiang!‖ katanya. Tapi tiba-tiba ia merasa kaget. Ia merasai tangan orang sangat licin. Ketika ia berniat menarik pulang tangannya, tahu-tahu tangan itu bagaikan terjepit dengan keras, rasanya sakit dan panas. Ia kerahkan tenaganya untuk melawan. Justru dengan berbuat demikian ia merasakan tangannya hilang tenaga dan sakit sekali, rasa sakitnya sampai ke ulu hati. Siauw Thian tampak wajah saudaranya merah dan pucat, ia tahu saudaranya ini tentu telah ―ketemu batunya‖. Ia mengerti gelagat yang kurang baik itu dan sangsi turun tangan untuk membantu. ―Totiang, mari silakan duduk di sini!‖ ia mengundang. Dua kali si imam kasih dengar tertawanya yang dingin itu, baru ia lepaskan cekalannya atas tangan Tiat Sim. Hal ini membuat orang she Yo itu mendongkol dan heran, ia terus masuk ke dalam, akan diberitahukannya istrinya tentang imam itu. ―Dia sangat aneh, pergi temani dulu,‖ kata Pauw-sie. ―Jangan turun tangan, perlahan-lahan saja kita cari tahu tentang dirinya…‖ Tiat Sim menuruti perkataan istrinya itu. Pauw-sie segera menyiapkan arak dan barang hidangan dan menyuruh Tiat Sim membawa keluar. ―Tunggu sebentar!‖ memanggil sang istri. Tiat Sim pun memutar kembali. Pauw-sie menurunkan sebuah pisau belati yang tajam mengkilap, yang tergantung pada tembok, ia memasukkan belati itu ke dalam saku suaminya. Tiat Sim pun kemudian keluar membawa barang hidangan itu dan mengaturnya di meja. Ia menuangkan tiga cawan, terus ia mengundang tamunya untuk minum. Ia juga meneguk satu cawan, habis minum ia berdiam saja. Imam itu memandang keluar jendela dan mengawasi salju. Ia tidak meminum araknya dan ia pun tidak membuka mulutnya melainkan hanya tertawa dingin saja. Siauw Thian menduga si imam tentu curigai araknya, ia mengambil cawan arak di hadapan imam itu, terus ia cegluk di hadapan imam itu. Ia menyambuti, terus diminumnya. ―Arakmu telah dingin Totiang, nanti aku tukar dengan yang baru,‖ katanya. Dan ia mengisikan pula. Si imam dapat mencium bau harum dari arak itu, ia menyambuti dan terus diminumnya. ―Walaupun arak ini di campuri dengan obat pulas, tidak nanti aku kena diracuni!‖ katanya. Tiat Sim menjadi hilang sabar. ―Kita undang kau minum dengan maksud baik, mustahil kami hendak mencelakai kau!‖ tegurnya. ―Totiang, kau omong tidak karuan, silakan lekas keluar! Arak kita tidak bakalan menjadi rusak dan sayur kita tak nanti tak ada yang memakannya!‖ ―Hm!‖ bersuara si imam itu. Tak lebih. Ia jemput poci arak dan menuang arak itu sendiri, lalu ia tenggak habis tiga cawan. Habis itu dia buka baju luarnya dan letaki tudungnya. Sekarang baru Tiat Sim dan Siauw Thian dapat melihat dengan tegas wajah orang. Mereka menduga si imam baru berumur tiga puluh tahun lebih, sepasang alisnya panjang lancip, kulit mukanya merah segar, mukanya lebar dan kupingnya besar. Ia bukan sembarang imam. Ketika ia kasih turun kantung di punggungnya, ia terus lempar barang itu ke atas meja hingga terbitlah suatu suara yang keras, hingga kedua tuan rumah itu menjadi kaget sekali. Sebab yang menerbitkan suara nyaring itu yang menggelinding keluar dari dalam kantung itu adalah kepala manusia yang masih berlumuran darah, hingga tak nampak jelas raut mukanya. Tiat Sim meraba pisau belati dalam kantungnya. Si imam menukik pula kantungnya, kali ini dikeluarkannya dua potong daging yang penuh darah juga, karena itu adalah hati dan jantung manusia. ―Jahanam!‖ teriak Tiat Sim yang sudah tak tahan sabar lagi, sedang tangannya melayang ke dada si imam.

Irawan D Soedradjat

Page

4

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kebetulan, aku memang menghendaki barang ini!‖ seru si imam sambil tertawa. Ia tidak menghiraukan tikaman itu, hanya ketika si orang she Yo itu datang mendekat, ia menggempur dengan tangan kirinya, hingga seketika juga Tiat Sim merasa bahunya tergetar, lalu tiba-tiba saja pisau belatinya kena dirampas orang! Siauw Thian kaget bukan kepalang. Ia tahu lihaynya adik angkatnya itu, yang cuma kalah sedikit dengannya. Tidak disangka, demikian gampang imam ini merampas senjata orang. Itulah ilmu silat ―Khong-ciu toat pek-jin‖ atau ―Tangan kosong merampas senjata tajam‖ yang lihay, yang baru pernah ia saksikan. Meskipun ia kaget, ia toh segera bersiap dengan memegang bangku, guna membela diri umpama kata si imam terus menyerang. Akan tetapi dugaannya ini salah adanya. Imam itu tidak menyerang siapa juga, ia hanya lantas gunai pisau itu untuk memotong-motong hati dan jantung manusia itu, lalu dengan tangan kiri mencekal poci arak, dengan tangan kanan ia jumputi potongan daging satu demi satu, untuk dimasukkan ke dalam mulutnya, buat dikuyah dan ditelan, saban-saban dia selang itu dengan tenggakan arak pada pocinya. Cepat daharnya, sebentar lagi habis sudah makanan yang rupanya sangat lezat itu! Siauw Thian dan Tiat Sim berdua saling mengawasi dengan tercengang. Sungguh aneh imam ini. Akan tetapi itu masih belum semua. Habis dahar, imam itu berdongak, lalu ia bersiul nyaring sekali, umpama kata genting sampai bergetar, kemudian tangan kanannya menyerang ke meja, hingga piring dan cawan berlompat! Yang hebat adalah sasaran serangan itu, ialah kepala manusia itu, yang remuk seketika! Sedang ujung meja turut sempal sedikit…….. Selagi dua saudara angkat itu berdiam, wajah si imam yang tadinya bermuram durja dan bengis, tiba-tiba berubah menjadi penuh dengan air mata, dengan air mata bercucuran ia lalu menangis dengan meraung-raung! ―Kiranya dia seorang yang edan…!‖ bisik Siauw Thian kepada adik angkatnya, yang ujung bajunya ia tarik. ―Dia lihay sekali, jangan kita ladeni dia….‖ Tiat Sim mengangguk, ia awasi imam itu. Sekarang tidak lagi ia gusur, sebaliknya ia merasa kasihan. Sedih tangisnya si imam ini, ilmu silat siapa sebaliknya ia kagumi. Maka kemudian ia lari ke dalam untuk mengambil semangkok kuwah yang masih panas. ―Totiang, mari minum kuwah ini!‖ katanya. Ia letaki mangkok itu di atas meja. Si imam bukan menerima kuwah iru, ia sebaliknya menggebrak meja hingga mangkok itu terbang berikut mejanya. Ia pun berseru :‖Kawanan tikus, hari ini toyamu membuka pantangan membunuh!‖ Menampak itu, meluaplah amarah Tiat Sim, maka ia melompat ke ujung ruang untuk menyambar tombaknya, lalu ia terus lari keluar, ke depan pintu dimana salju terhampar luas. ―Mari, mari!‖ ia menantang. ―Mari belajar kenal dengan tombak keluarga Yo!‖ Imam itu tersenyum. ―Tikus, pantaskah kau menggunai ilmu silat tombak keluarga Yo?‖ tanyanya. Ia bersuara sambil tubuhnya melompat keluar. Melihat keadaan mengancam itu, Siauw Thian lari untuk mengambil sepasang gaetannya, dengan lekas ia berbalik kembali. Imam berdiri tanpa menghunus pedangnya, Cuma sang angin menyampok-nyampok ujung bajunya. ―Hunus pedangmu!‖ seru Tiat Sim. ―Ah, dua tikus, kamu berdua majulah berbareng!‖ sahut si imam. ―Toya kamu akan layani kamu dengan tangan kosong!‖ Takabur bukan main orang pertapaan ini, hingga Tiat Sim tidak berayal sejenak juga untuk segera menikam dengan tombaknya yang beronce merah itu. Ia gunai tipu silatnya ―Tok liong cut tong‖ atau ―Naga berbisa keluar dari gua‖ ―Bagus!‖ seru si imam kagm menampak serangan itu yang menuju ke dadanya. Ia berkelit ke samping, tangan kirinya bergerak, untuk sambar kepala tombak itu. Lihay ilmu silat tombak keluarga Yo itu – Yo-kee Chio-hoat. Ketika Yo Cay Hin bersama tigaratus serdadunya – tentara kerajaan Song menghadapi empat laksa serdadu Kim, seorang diri ia telah membinasakan dua ribu lebih serdadu musuh berikut banyak perwiranya, sebelum akhirnya ia roboh karena terkena banyak panah, waktu ia binasa dan bangsa Kim membakar tubuhnya, dari dalam tubuhnya itu kedapatan banyak ujung panah,
Irawan D Soedradjat

Page

5

Pendekar Pemanah Rajawali

sebab selagi ia terpanah, gagang panah ia patahkan. Karena ini bangsa Kim menjadi jeri dan mengaguminya. Tiat Sim tidak segagah leluhurnya itu tetapi ilmu silatnya cukup sempurna, begitulah ia mencoba mendesak si imam tidak di kenal itu yang senantiasa lolos dari tikaman, tempo habis sudah dijalankan semua tujuh puluh dua jurus ilmu tombak itu, dia tidak kurang sesuatu apa. Baru sekarang si anak muda menjadi gentar, terpaksa ia seret tombaknya untuk keluar dari kalangan. Imam itu mengejar apabila ia dapatkan lawannya itu lari. Sekonyong-konyong Tiat Sim berseru keras, tubuhnya berputar balik, berbareng dengan itu, dengan kedua tangannya memegangi gagang tombak, ia menikam dengan hebat sekali. Itulah tipu silat ―Cwie-pek po-kian‖ atau ―menggempur tembok‖. Dengan tipu itu, musuh dibikin tidak menyangka dan menjadi kaget. Dengan tipu ini juga dulu Yo Cay Hin membikin rubuh Gak Hoan, adiknya Gak Hui. ―Bagus!‖ seru si imam buat kedua kalinya. Ia tidak menjadi gugup, justru ketika ujung tombak sampai, ia menyambutnya dengan kedua telapak tangan dirangkap, ditempel menjadi satu dengan keras, hingga ujung tombak itu kena terjepit. Tiat Sim kaget bukan kepalang. Ia mendorong dengan keras, tombaknya itu tak dapat maju melewati telapak tangan lawan. Ketika ia menarik dengan sekuat tenaga, betotannya pun sia-sia belaka, tombaknya tak terlepas dari cekalan lawannya itu, kuda-kuda si imam juga nancap bagaikan terpaku. Tiga kali ia mencoba menarik tanpa hasil, mukanya menjadi merah. Tiba-tiba saja si imam tertawa, lalu jepitan tangannya terlepas. Tapi ia tidak Cuma melepas, tempo tombak tertarik pulang, ia membacok dengan tangan kanannya kepada tombak, hingga dengan bersuara nyaring, tombak besi itu patah menjadi dua potong! Imam itu segera tertawa pula, lalu ia berkata. Kali ini dengan suara manis. ―Tuan, benar lihay ilmu silat tombakmu!‖ katanya. ―Maaf untuk perbuatanku ini! Mohon ku tanya she tuan‖ ―Aku yang rendah she Yo bernama Tiat Sim,‖ sahut Tiat Sim, selagi ia belum dapat tenangkan diri. Ia kesakitan pada kedua tangannya, ia pun heran sekali. ―Pernah apakah Tuan dengan Ciangkun Yo Cay Hin?‖ tanya si imam. ―Ia adalah leluhur saya,‖ jawab Tiat Sim pula. Mandadak si imam itu menjura kepada saudara angkat itu, sikapnya hormat sekali. ―Maaf, barusan aku menyangka Tuan-tuan adalah orang jahat,‖ ia berkata dengan pengakuannya. ―Aku tidak sangka Tuan-tuan adalah turunan orang-orang setia. Boleh kutanya she Tuan?‖ ia lanjuti kepada Siauw Thian. Dengan cara hormat Siauw Thian perkenalkan dirinya. ―Tuan ini kakak angkatku, dia adalah keturunan dari Say Jin Kui Kwee Seng dari gunung Liang San,‖ Tiat Sim menambahkan. ―Bagus!‖ berkata si imam, ia pun minta maaf pada pemuda she Kwee itu. Kembali ia menjura. Tiat Sim berdua membalas hormatnya. ―Silahkan Totiang minum arak pula,‖ ia mengundang pula kemudian. ―Memang kuingin minum dengan puas bersama jiwi!‖ kata si imam denagn tertawa. Tiat Sim dan Siauw Thian undang orang masuk pula ke dalam. Pauw-sie menyaksikan pertempuran dari muka pintu, girang ia mengetahui kesudahannya orang menjadi sahabat, ia terus lari ke dalam, untuk menyiapkan pula arak dan barang hidangan. Kali ini Tiat Sim dan Siauw Thian tanya gelaran si imam.

Siauw Thian terperanjat mendengar nama itu. ―Oh, apa bukannya Tiang Cun Cinjin?‖ ia menyela.
Irawan D Soedradjat

Page

6

―Pinto she Khu bernama Cie Kee,‖ sahut imam itu.

Pendekar Pemanah Rajawali

―Itulah nama pemberian rekan-rekanku, pinto malu menerimanya,‖ kata Cie Kee sambil tertawa. Siauw Thian segera berkata kepada adik angkatnya: ―Adik, totiang ini adalah orang gagah nomor satu di ini jaman! Sungguh beruntung kita dapat berjumpa dengannya!‖ ―Oh!‖ Tiat Sim berseru kaget. Lalu berdua, mereka berlutut di depan imam itu. Khu Cie Kee tertawa, ia memimpin bangun orang. ―Hari ini pinto telah membunuh seorang jahat, karenanya para pembesar negeri sedang mencari aku,‖ ia berkata. ―Barusan pinto lewat di sini, pinto lihat kamu berdua lagi minum arak. Di sini adalah kota raja dan kamu kelihatannya bukan sembarang orang, dari itu pinto menjadi curiga sendiri….‖ ―Keliru adalah saudaraku ini, yang tabiatnya keras,‖ Siauw Thian bilang. ―Totiang lihat sendiri, dia suruh lantas turun tangan, pantas kalau Totiang jadi curiga karenanya.‖ Siauw Thian dan Tiat Sim tertawa. Begitulah mereka lalu minum dan dahar dengan gembiranya. ―Sebenarnya pinto adalah orang utara,‖ kemudian Tian Cun Cinjin berkata pula. ―Rumah tanggaku hancur lebur karena kejahatan bangsa Kim, sedang pemerintah selalu mencari muka daripadanya, dari itu pinto telah sucikan diri.‖ Ia terus tuding kepala manusia yang remuk dan yang tergeletak di lantai itu. ―Dia itu adalah Ong To Kian, si pengkhianat besar. Pada tahun yang lalu kaisar mengutus dia kepada raja Kim, buat memberi selamat ulang tahun raja itu. Ketika itu digunai ia untuk bersekongkol, supaya bangsa Kim bisa menyerbu ke Kanglam. Pinto susul dia selama sepuluh hari, baru ia dapat dicandak, lalu pinto membunuhnya. Pikiranku sedang kacau maka juga tadi pinto berlaku tidak selayaknya.‖ Siauw Thian dan Tiat Sim membilang tidak apa. Mereka memang kagumi imam ini yang kesohor lihay ilmu silatnya. Sekarang ternyata orangpun menyinta negara, mereka lebih-lebih lagi menghormatinya. Lalu mereka mohon pengajaran silat. Khu Cie Kee tidak keberatan, lalu ia memberi beberapa petunjuk. ―Totiang, sunggguh beruntung kami dapat bertemu dengan Totiang,‖ kemudian Tiat Sim utarakan isi hatinya, ―Maka itu sudilah Totiang berdiam untuk beberapa hari di gubuk kami ini.‖ Imam itu hendak menjawab tuan rumah itu, ketika mendadak air mukanya berubah. ―Ada orang datang mencari aku,‖ ia bilang, ―Ingat, tidak peduli bagaimana denganku, sebentar kamu tidak boleh munculkan diri! Mengerti?!‖ Siauw Thian dan Tiat Sim heran akan tetapi mereka lantas mengangguk. Cie Kee lantas sambar kepalanya Ong To Kian, dengan cepat ia bertindak keluar, lalu gesit bagaikan burung terbang ia loncat naik ke atas sebuah pohon besar di dalam pekarangan, di situ ia umpatkan dirinya. Siauw Thian berdua heran bukan buatan. Kecuali deruan angin, mereka tidak dengar suara lainnya, mereka pun tidak nampak apa-apa. Baharu kemudian, sesudah memasang kuping dan angin pun lewat, mereka dengar tindakan kaki kuda. ―Sungguh jeli kuping cinjin!‖ puji Tiat Sim Suara kuda itu datang semakin mendekat, dan kemudian tampaklah belasan penunggang kuda, setiap penunggangnya mengenakan pakaian hitam dan kopiah hitam. Mereka itu menghampiri pintu, setelah tiba, orang yang pertama pecahkan kesunyian: ―Sampai di sini bekas-bekas kakinya, lalu lenyap!‖ Beberapa orang lompat turun dari kudanya, mereka periksa tapak kakinya Khu Cie Kee. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua sembunyi di dalam rumah, dari mana mereka mengintai di antara sela-sela jendela. Mereka dapat kenyataan orang semuanya gesit, suatu tanda dia orang mengerti ilmu silat dengan baik. ―Masuki rumah itu dan geledah!‖ terdengar memerintah orang yang maju di muka itu. Dua orang segera lompat turun dari kuda mereka, untuk itu lantas hampiri rumahnya Tiat Sim untuk menggedornya. Justru itu dari atas pohon menyambar sebuah benda, yang jitu sekali mengenai batok kepalanya satu di antara dua orang itu, hingga dia ini rubuh dengan kepalanya pecah hancur. Hingga kawannya menjadi kaget dan berteriak, hingga yang lain-lainnya turut berteriak pula, lebih-lebih setelah diketahui, benda yang
Irawan D Soedradjat

Page

7

Pendekar Pemanah Rajawali

dipakai menimpuk itu adalah kepalanya ―Ong Tayjin‖. Dengan lantas itu mereka mengurung pohon dari mana serangan itu datang. Orang yang menjadi pemimpin menghunus goloknya yang panjang, untuk memegang pimpinan, atas perintahnya lima orang menggunai panah untuk menyerang ke arah atas pohon! Yo Tiat Sim sambar sebatang golok dari pojok rumahnya, hendak dia menerjang keluar untuk membantu si imam, akan tetapi Siauw Thian menariknya. ―Jangan!‖ katanya. ―Totiang telah pesan kita jangan keluar! Kalau ternyata dia tidak sanggup melawan, baru kita turun tangan…….‖ Selagi orang she Kwee ini berbicara, Khu Cie Kee sudah beraksi. Dia sambut empat batang anak panah itu lalu ia pakai itu untuk menimpuk ke bawah, tubuhnya sendiri turut lompat turun, hingga akibatnya dua musuh menjerit dan rubuh binasa kena tikaman pedang. ―Imam bangsat, kiranya kau!‖ berseru si pemimpin, yang bajunya hitam. Dia perdengarkan suaranya seraya tangkis anak panah yang ditimpukkan ke arahnya, kemudian ia keprak kudanya maju untuk menyerang untuk mana tiga batang panah di tangannya telah mendahului majunya itu. Belum Cie Kee menyerang ini pemimpin, dia telah rubuhkan lagi dua musuh, hingga sebentar saja ia telah minta lima korban. Tiat Sim kagum hingga ia tergugu. Dia telah belajar silat belasan tahun, tetapi sedikit juga ia tidak dapat tandingi imam itu, yang gesit dan lihay sekali. Maka ia merasa ngeri waktu ia ingat tadi ia telah berani lawan imam yang lihay itu. Sekarang Cie Kee tengah layani si pemimpin, yang bengis sekali, meski demikian selang sesaat, Siauw Thian dan Tiat Sim segera mengerti bahwa sang imam tengah mempermainkan orang, sebab di lain pihak, saban-saban imam ini gunai ketika akan rubuhkan lain orang – ialah orang-orang yang mengepungnya. Terang si imam lagi gunai siasat, guna menumpas semua penyerangnya itu. Kalau dia lekas-lekas rubuhkan si pemimpin, mungkin bawahannya nanti lari kabur semua. Selang tak lama, imam itu dikepung hanya tujuh orang, yang ilmu silatnya paling baik. Menampak ini, si pemimpin menjadi kecil hatinya, dari itu, dengan tiba-tiba ia keprak kudanya, buat dikasih berbalik untuk lari pergi. Sang imam ada sangat jeli matanya dan cepat gerakannya, selagi kuda berputar, ia menyambar dengan tangan kirinya, akan cekal ekornya kuda itu, untuk ditarik. Sembari menarik ia enjot tubuhnya, untuk melompat naik, tetapi belum lagi ia bercokol di atas kuda itu, pedangnya sudah menikam tembus punggung si pemimpin, tembus dari belakang ke depan, hingga tubuh orang itu rubuh ke depan. Demikian dengan menunggang kuda, sekarang si imam ini bisa serang lain-lain musuhnya. Ia tidak membutuhkan banyak waktu untuk membikin setiap kuda tanpa penumpangnya, sebaliknya mayat-mayat bergelimpangan di tanah bersalju itu, yang menjadi merah karena berlumuran darah mereka itu…. Seorang diri si imam tertawa. ―Puas aku dengan pertempuran ini!‖ katanya kepada Siauw Thian dan Tiat Sim, yang telah lantas muncul. Hanya hati mereka masih kebat-kebit. ―Totiang, siapakah mereka ini?‖ tanya Siauw Thian. ―Kau geledah saja tubuh mereka!‖ sahut si imam. Siauw Thian menghampiri mayatnya si pemimpin, untuk memeriksa sakunya. Ia dapatkan sepotong surat titah, dari Tio Tayjin si residen Lim-an yang bisa ―menggonggong‖ sebagai anjing itu. Itu juga adalah titah rahasia untuk membekuk pembunuhnya Ong To Kian, untuk mana si residen bekerja sama dengan pihak bangsa Kim, sebab ia telah di desak oleh utusan negara Kim. Mengetahui itu, orang she Kwee ini menjadi sangat mendingkol. Sedang begitu, Tiat Sim telah perdengarkan seruan seraya tangannya menyekal beberapa potong yauw-pay, yang dia dapatkan dari beberapa mayat. Yauwpay itu adalah tanda kedudukan atau pangkat beberapa mayat itu, karena huruf-huruf yang kedapatan adalah huruf bahasa Kim, menjadi nyata, di antara orang-orangnya residen Lim-an itu adalah orang bangsa Kim.

Irawan D Soedradjat

Page

―Celaka betul!‖ teriak Siauw Thian dalam murkanya. ―Tentara Kim main bunuh orang di wilayah kita, sekarang pembesar kita boleh disuruh-suruh dan diperintah olehnya. Negara kita ini menjadi negara apa?!‖

8

Pendekar Pemanah Rajawali

Khu Cie Kee sebaliknya tertawa. ―Sebenarnya orang suci sebagai aku mestinya berlaku murah hati dan berbelas kasihan,‖ katanya, ―Akan tetapi menyaksikan kebusukan segala pembesar dan orang-orang jahat, tak dapat aku memberi ampun pula!‖ ―Memang, memang mesti begitu!‖ seru dua saudara angkat she Kwee dan she Yo itu. ―Begini barulah puas!‖ Kemudian Tiat Sim ambil pacul dan sekop, untuk menggali laing, guna pendam belasan mayat itu. Didalam hal ini ia tidak kuatir ada orang yang melihat kejadian ini, sebab desa itu sedikit penduduknya dan itu waktu lagi turun salju dengan lebatnya, tak ada orang yang sudi berkeliaran di luaran. Habis itu nyonya rumah sapui sisa darah di atas salju. Nyonya ini rupanya tak dapat menahan bau bacin dari darah, ia rupanya bekerja keras, tiba-tiba saja ia rasai kepalanya pusing, matanya kabur, lalu ia rubuh. Tiat Sim terkejut, ia tubruk istrinya, untuk diangkat bangun. ―Kau kenapa?‖ tanya suaminya ini beberapa kali. Pauw-sie berdiam, kedua matanya tertutup rapat, mukanya pucat pias, kaki tangannya dingin seperti es. Tentu saja suaminya itu menjadi kaget dan berkhawatir. Cie Kee pegang nadi si nyonyi, lantas ia tertawa. ―Kionghie! Kionghie!‖ ia memberi selamat. ―Apa, Totiang?‖ tanya Tiat Sim heran. Justru itu Pauw-sie mennjerit, ia sadarkan diri. Mulanya ia heran di kerumuni tiga orang, habis itu ia likat, ia lari ke dalam. ―Istrimu lagi hamil!‖ kata Cie Kee kemudian. ―Benarkah itu, Totiang?‖ Tiat Sim tegaskan. ―Tidak salah!‖ si imam pastikan. ―Banyak ilmu yang pinto yakinkan, tiga yang memuaskan hatiku, ialah pertama ilmu tabib, kedua syair, dan ketiga ialah ilmu silat kucing kaki tiga ……‖ Dengan kata-kata ―kucing tiga kaki‖ atau tidak ada artinya, imam ini merendahkan diri. ―Totiang begini lihay tetapi totiang menyebutkan kepandaianmu sendiri sebagai kucing kaki tiga, kalau begitu kepandaian kami berdua pastilah kepastiannya si tikus berkaki tunggal!‖ katanya. Cie Kee tersenyum, begitu pula dengan Tiat Sim. Kemudian mereka bertiga masuk pula ke dalam untuk lanjuti minum arak. Dua saudara angkat itu sangat kagumi tetamu mereka, yang bertempur hebat tetapi tubuhnya tak berkeciprukan darah. Tiat Sim minum dengan gembira sekali. Ia ingat akan hamilnya istrinya. ―Kwee Toako,‖ katanya kemudian. ―Enso pun lagi berisi, maka aku pikir baiklah kita minta totiang yang memberi nama kepada anak-anak kita nanti!‖ Siauw Thian berikan kesetujuannya atas saran itu. Cie Kee pun tidak menampik, ia berpikir sebentar lantas ia bilang: ―Anak Kwee Toako baik diberi nama Ceng, yaitu Kwee Ceng, dan anak Yo Toako diberinama Kong, yaitu Yo Kong. Nama-nama ini dapat juga diberikan sekalianpun untuk anak perempuan.‖ ―Bagus!‖ seru Siauw Thian. ―Aku mengerti, totiang tentu tidak melupai peristiwa Ceng-kong yang memalukan, untuk memperingati ditawannya kedua raja kita.‖ ―Benar begitu!‖ sang imam mengakui. Terus ia merogoh sakunya, untuk kasih keluar dua potong pedang pendek, yang ia letaki di atas meja. Pedang itu sama panjang pendeknya dan besar kecilnya, sarungnya dari kulit hijau, gagangnya dari kayu hitam. Kemudian ia ambil pisaunya Tiat Sim, untuk dipakai mengukir gagang kedua pedang pendek itu. Ia mengukir masing-masing dua huruf ―Kwee Ceng‖ dan ―Yo Kong‖. Dua-duanya Siauw Thian dan Tiat Sim kagum menyaksikan kepandaiannya si imam mengukir huruf-huruf itu, cepat dan indah hurufnya.

Irawan D Soedradjat

Page

9

Pendekar Pemanah Rajawali

―Diwaktu berkelana seperti ini aku tidak punya barang apa-apa, pedang pendek ini saja aku berikan sebagai tanda mata untuk anak-anak kedua toako nanti!‖ kata si imam. Dua saudara angkat itu terima bingkisan itu, keduanya mengucapkan terima kasih. Tiat Sim mencoba menghunus pedangnya, ia menjadi kagum. Pedang itu berkilau dan memberikan hawa dingin. Demikian pun pedangnya Siauw Thian. Jadinya kedua pedang itu bukan sembarang pedang, meskipun badan pedang ada tipis sekali. Cie Kee pegang pedang yang satu, ia adu itu dengan pisau belatinya, dengan memberikan satu suara, ujungnya pisau belati itu putus menjadi dua potong. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua menjadi terkejut. ―Totiang, tak berani kami menerima hadiah ini!‖ kata mereka. Sebab kedua pedang itu adalah semacam pedang mustika. Tiang Cun Cinjin tertawa. ―Dua pedang ini pinto dapatkan secara kebetulan saja, walaupun benar untuk itu pinto mesti keluarkan sedikit tenaga,‖ ia berkata. ―Untukku, senjata ini tidak ada perlunya, sebaliknya adalah besar faedahnya apabila dibelakang hari anak-anak itu pakai untuk membela negeri, guna melabrak musuh!‖ Dua saudara angkat itu masih mencoba menampik hingga mereka membangkitkan amarahnya si imam itu. ―Aku anggap kamu adalah turunan orang-orang kenamaan, maka itu aku hargakan kamu, kenapa sekarang kamu begini tidak bersemangat?‖ ia menegur. Baharu sekarang Siauw Thian dan Tiat Sim tidak menolak lagi, mereka lantas menghanturkan terima kasih. Cie Kee berkata pula, dengan sungguh-sungguh: ―Kedua pedang ini adalah benda usia beberapa ratus tahun tua, setahu sudah berapa banyak orang terbunuh dan berapa banyak darah telah dihirupnya, maka mengertilah kamu, siapa saja yang mengerti ilmu silat melihat ini lantas matanya menjadi merah! Kamu pun mesti menginsafinya, seorang bocah yang ilmu silatnya tidak sempurna dengan menggunai pedang ini, dia Cuma dapat memperbahayakan dirinya sendiri, dari itu kamu mesti berhati-hati! Kamu ingatlah baik-baik!‖ Siauw Thian dan Tiat Sim berdua saling mengawasi, hati mereka tidak tentram. Khu Cie Kee tertawa panjang. ―Sepuluh tahun sejak ini, apabila pinto masih ada di dalam dunia ini, mesti pinto datang pula ke mari untuk ajarkan anak-anak itu ilmu silat,‖ ia berkata, ―Setujukah kamu?‖ Dua saudara angkat itu menjadi girang sekali. ―Terima kasih totiang, terima kasih!‖ mereka mengucap. ―Sekarang ini bangsa Kim sedang mengincar negara kita, terhadap rakyat dia sangat telengas,‖ berkata pula si imam, ―Karena mestinya tidak lama lagi bangsa itu turun tangan, dari itu pinto harap jiwi jaga diri baik-baik….‖ Dia angkat cawannya, untuk tenggat habis isinya, setelah itu dia buka pinti, untuk bertindak keluar. Siauw Thian berdua berniat meminta si imam berdiam lebih lama, siapa tahu tindakan orang cepat sekali, tahu-tahu imam itu sudah pergi jauh. ―Begitulah kelakuan orang berilmu, ia datang dan pergi tak ketentuannya,‖ kata Siauw Thian sambil menghela napas. ―Kita dapat bertemu dia tetapi sayang, kita tidak dapat meminta pengajaran daripadanya……..‖ Tiat Sim sebaliknya tertawa. ―Toako, hebat cara bertempurnya totiang hari ini!‖ ia bilang. ―Dengan menonton saja, sedikitnya terumbar juga hati pepat kit!‖ ia lantas buat main pedang yang satu, sampai ia lihat ukiran dua huruf Yo Kong. Lantas ia berkata ―Toako ada satu pikiran cepat dari aku, entah kau setuju atau tidak?‖ ―Apakah itu, Saudaraku?‖ Siauw Thian balik bertanya. ―Inilah mengenai anak-anak kita nanti,‖ Tiat Sim beri keterangan. ―Umpama anak kita laki-laki semua, biarlah mereka menjadi saudara satu dengan yang lain, apabila mereka adalah perempuan, biarlah mereka menjadi enci dan adik……….‖ ―Jikalau mereka adalah laki-laki dan perempuan, biarlah mereka menjadi suami-istri!‖ Siauw Thian menyela. Keduanya lantas menjabat tangan, mereka tertawa terbahak. Itulah janji mereka. Justru pada saat itu Pauw-sie muncul. ―Eh, kenapa kamu menjadi girang begini?‖ tanya si nyonya.
Irawan D Soedradjat

Page

10

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kami baru saja membuat janji,‖ sahut Tiat Sim, yang lantas tuturkan kecocokan mereka berdua. ―Cis!‖ si nyonya meludah. Tetapi di dalam hati, ia pun girang. ―Sekarang marilah kita saling tukar pedang dahulu,‖ Tiat Sim berkata pula. ―Ini adalah semacam tanda mata. Kalau mereka ada laki-laki atau perempuan, biarlah mereka jadi saudara satu dengan yang lain, kalau……..‖ ―Kalau begitu, kedua pedang ini akan berkumpul di rumah kakak!‖ Siauw Thian bilang. ―Mungkin akan berkumpul di rumahmu, Saudara!‖ kata Pauw-sie. Lantas mereka tukar kedua pedang itu. Sampai disitu, Siauw Thian pulang dengan membawa pedang itu, untuk memberitahukan kepada istrinya, Lie-sie. Tiat Sim ada gembira sekali, masih ia minum seorang diri, hingga ia mabuk. Pauw-sie pimpin suaminya ke kamar tidur, lalu ia benahkan piring mangkok dan cawan, habis mana melihat hari sudah mendekati sore, ia pergi ke belakang untuk kurungi ayamnya. Setibanya ia di pintu belakang, ia menjadi terkejut. Di situ, di atas salju, ia tampak tanda-tanda darah, yang melintas di luar pintu belakang itu. ―Kiranya di sini masih ada tanda darah yang belum dilenyapkan,‖ pikirnya heran. ―Kalau pembesar negeri melihat ini, inilah bahaya….‖ Maka ia cari sapu, lantas ia menyapu pula. Tanda darah itu menuju ke belakang rumah dimana ada pepohonan lebat. Di sini ia lihat tanda darah dari orang yang rupanya jalan merayap. Ia jadi bertambah heran, saking curiga, ia ikuti terus tanda darah itu, yang sampai di belakang sebuah kuburan tua. Di situ ia lihat suatu benda hitam yang tergeletak di tanah. Kapan ia sudah datang mendekat, ia kembali jadi terkejut. Itu adalah tubuhnya satu orang dengan pakaian serba hitam, ialh salah satu orang yang tadi mengepung Khu Cie Kee. Rupanya habis terluka, ia tidak terbinasa, ia lari ke belakang rumah. Selagi berpikir, Pauw-sie ingat untuk panggil suaminya, buat kubur orang itu. Ia belum bertindak tempo ia ingat, adalah berbahaya kalau ia tinggal pergi, sebab mungkin nanti diketemui lain orang yang kebetulan lewat di situ. Ia jadi beranikan diri, ia menghampiri orang itu dengan niat menyeret, guna dipindahkan ke dalam rujuk, setelah mana baru ia baru hendak panggil suaminya. Benar disaat ia cekal tubuh orang untuk ditarik, mendadakan tubuh itu bergerak, lau terdengar suara merintihnya. Ia menjadi sangat kaget, ia jadi berdiri bagaikan terpaku, sedang sebenarnya ingin ia lari pulang. Lewat sesaat, tubuh itu terdiam pula. Dengan beranikan hati, Pauw-sie pakai sesapu, untuk bentur tubuh orang. Maka sekali lagi ia dengar suara rintihan perlahan.

Bab 2. Berlalunya Dua Sahabat Kekal

Sekarang Pauw-sie dapat kenyataan orang belum mati dan pundaknya dia itu tertancapkan sebatang anak panah. Batang patah juga berbelepotan darah. Nyonya ini bernama Sek Yok, nama ini tepat sama sifatnya, yang selalu berhati murah. Nama itu pun berarti ―menyayangi yang lemah‖. Begitulah diwaktu masih kecil, kalau ia lihat burung gereja atau ayam terluka, atapun kutu seperti semut, tentu ia mengobatinya, sampai binatang itu sembuh, kalau tidak, ia buatnya berduka. Karena ini, dikamarnya ia rawat banyak kutu. Sifat ini tidak berubah sampai ia menikah, dari itu kebetulan untuknya Yo Tiat Sim, suaminya tidak menentangi padanya, maka juga di belakang rumahnya ia ada pelihara banyak burung dan binatang peliharaan lainnya. Suatu sifat lagi ialah Pauw-sie tidak tega menyembelih binatang piaraannya untuk suaminya dahar ayam, ia sengaja beli di pasar, ayamnya sendiri ia pelihara hingga matinya ayam itu. Demikian kali ini, menampak orang terluka parah timbul rasa kasihannya, walaupun ia tahu orang bukannya orang baik-baik. Cuma bersangsi sejenak, lantas ia lari pulang, niatnya untuk mengasih bangun suaminya. Tiat Sim lagi tidur nyenyak, mungkin disebabkan mabuk arak, ia tak mendusin kendati istrinya sudah gonyanggonyang tubuhnya.
Irawan D Soedradjat

Page

11

Pendekar Pemanah Rajawali

Pauw-sie menjadi sibuk. Ia tahu orang perlu lekas ditolongi. Akhirnya dengan terpaksa ia ambil obat-obatan suaminya, dengan bawa pisau kecil dan sepotong cita, juga arak yang hangat, ia kembali pada si luka. Biasa merawat binatang, ia jadi juga bisa merawat orang luka. Begitu setelah belek sedikit daging di dekat panah nancap, dengan sekeras tenaga, ia cabut anak panah itu. Si luka menjerit, lalu pingsan. Panahnya tercabut, darahnya muncrat mengenai bajunya si nyonya. Dengan hati memukul sendirinya, Pauw-sie lantas obati luka itu, ia bungkus dengan rapi. Selang sekian lama, si luka sadar pula, tapi ia sangat lemah, rintihannya pun sangat perlahan. Pauw-sie tidak kuat angkat tubuh orang, tetapi ia dapat akal, ia pulang untuk ambil sehelai papan pintu, ia letaki itu diatas salju, lalu ia tarik orang ke atas papan itu, lantas ia tarik sekuat-kuatnya. Ia tempatkan si luka di gudang kayu. Sampai ia telah salin pakaian, hati Pauw-sie masih belum tentram betul. Ia masak daging kuwah semangkok, lalu ia bawa ke belakang. Hari sudah gelap, ia bawa lilin. Sejak di depan pintu gudang, ia sudah dengar suara bernapas perlahan. Jadi orang itu tidak mati. Ia masuk ke dalam, ia berikan daging kuwah itu. Si luka makan sekira setengah mangkok, lalu ia batuk-batuk keras. Dengan bantuan api lilin, pauw-sie awasi muka orang. Ia dapatkan satu pemuda yang tampan, hidungnya mancung. Karena tangannya gemetar, tanpa ia merasa ia kena bikin tetesan lilin jatuh ke muka orang itu, yang lantas buka kedua matanya. Kaget ia akan lihat si nyonya cantik, sinar matanya jernih, kulitnya merah dadu. ―Apa yang kau rasakan baikan?‖ Pauw-sie toh menanya. ―Mari makan habis daging kuwah ini…..‖ Orang itu ulur tangannya, akan sambuti mangkok, tetapi ia lemah, hampir ia bikin mangkok itu terlepas. Maka terpaksa Pauw-sie bawa mangkok itu kemulutnya. Habis makan kuwah, nampaknya orang itu segaran. Dengan mata bersinar, ia awasi si nyonya, agaknya ia berterima kasih. Pauw-sie likat diawasi orang itu, maka lekas-lekas ia ambil rumput, akan tutupi tubuh orang itu, lalu dengan membawa lilinnya, ia balik ke kamarnya. Ia tidak dapat tidur tenang, diwaktu pulas, ia mimpi yang hebat-hebat, umpamanya suaminya tombak mati orang itu atau dua ekor harimau kejar padanya sampai ia tak tahu mesti lari ke mana. Beberapa kali ia mimpi, beberapa kali ia sadar, dengan hati tergoncang. Ketika akhirnya ia mendusin diwaktu pagi, ia dapatkan suaminya lagi gosok tombaknya. Ia ingat kejadian semalam, ia jadi kaget sendirinya. Diam-diam tapi dengan lekas, ia pergi ke belakang, ke gudang kayu. Selekasnya ia membuka pintu gudang, ia jadi terlebih kaget lagi. Di sana tak ada si luka, rumputnya teruwar kalang kabutan! Ia lantas pergi ke pintu belakang, ia lihat pintu cuma dirapatkan, di atas salju terlihat bekas orang merayap pergi, tujuannya ke arah barat. Ia mengawasi ke arah itu, pikirannya tidak karuan. Sampai sekian lama, setelah mukanya ditiup angin dingin, baru ia sadar. Itu waktu ia pun merasai pinggangnya ngilu dan lemas, ia jadi lelah sekali, maka itu, ia lantas kembali ke dalam. Tiat Sim masak bubur putih, yang diletaki di atas meja. ―Kau lihat!‖ kata suaminya dengan tertawa. ―Bubur masakanku tak ada celaannya, bukan?‖ Istri itu tertawa, ia tahu karena ia sedang hamil, suaminya itu yang sangat menyayangi ia telah masaki ia bubur. Ia lantas dahar bubur itu. Itu waktu ia telah ambil keputusan akan tutup mulut tentang si terluka yang ia tolongi itu, sebab ia tahu kebencian suaminya terhadap orang jahat, apabila suaminya diberitahukan, pasti ia bakal binasakan orang itu. Sejak itu beberapa bulan telah berlalu; dengan lewatnya sang waktu, Pauw-sie juga telah lupai itu peristiwa yang ia sudah tolongi orang yang luka. Pada suatu hari, Tiat Sim dan istrinya pergi ke rumah Siauw Thian, untuk bersantap dan minum arak, sorenya mereka pulang, akan terus masuk tidur. Tepat tengah malam, tiba-tiba Pauw-sie mendusin dan melihat suaminya telah bangun juga dan sedang duduk di atas pembaringan. Ada sesuatu yang mengejutkan suaminya itu hingga ia jadi terjaga dari tidurnya. Dan istri ini masih lungu-lungu ketika kupingnya dapat tangkap suara samar-samar dari tindakan kaki kuda di atas es, makin lama makin nyata, datangnya dari barat ke timur, kemudian itu disusul sama suara serupa yang datangnya dari arah timur. Ia menjadi kaget pula apabila ia dengar pula suara dari selatan dan utara. ―Toako!‖ katanya pada suaminya sambil bangun untuk berduduk, ―Kenapa ada suara kuda dari empat penjuru?‖
Irawan D Soedradjat

Page

12

Pendekar Pemanah Rajawali

Tiat Sim tidak menyahuti, ia hanya segera turun dari pembaringan untuk rapikan pakaiannya. Tindakan kuda dari empat penjuru datang semakin dekat, lalu disusul sama gongongan anjing kampung yang menyahutnya. ―Kita kena dikurung‖ kata Tiat Sim kemudian. Pauw-sie terkejut. ―Untuk apakah?‖ tanyanya ―Entahlah!‖ jawab suaminya itu. Ia terus serahkan pedang pengasihan dari Khu Cie Kee seraya memesan: ―Kau pegang ini untuk jaga dirimu!‖ Tiat Sim buka jendela, untuk melihat keluar, karena itu suara kuda sudah datang mendekat sekali. Ia lihat tegas kampungnya telah dikurung oleh sejumlah tentera, kurungannya berlapis. Ia dapat melihat karena tentera itu ada membawa obor yang diangkat tinggi-tinggi. Perwira yang memegang pemimpin ada tujuh atau delapan orang. ―Tangkap pengkhianat! Jangan kasih dia lolos!‖ demikian tentara itu mulai berseru-seru. ―Apakah ada pengkhianat yang lolos kemari?‖ Tiat Sim menduga-duga. Ia cekal tombaknya untuk melihat gelagat. Tiba-tiba satu perwira berseru: ―Kwee Siauw Thian! Yo Tiat Sim! Kamu berdua pemberontak, lekas muncul untk terima diringkus!‖ Tiat Sim menjadi kaget, sedang Pauw-sie menjadi pucat mukanya. ―Entah kenapa pembesar negeri menfitnah rakyat,‖ kata Tiat Sim kemudian, ―Tidak ada jalan lain, kita mesti menerobos keluar! Kau jangan takut, walaupun musuh berjumalh puluhan ribu, akan aku lindungi padamu!‖ Dasar turunan orang peperangan. Tiat Sim tidak menjadi kacau pikirannya. dengan tenang tetapi sebat, ia siapkan panahnya, terus ia pegangi tangan kanan istrinya. ―Nanti aku berbenah dulu…‖ kata Pauw-sie. ―Apa lagi yang hendak dibenahkan?‖ kata suaminya itu. ―Apa juga tak dapat. Lemah hatinya istri itu, lalu tiba-tiba ia menangis. ―Dan rumah ini?‖ katannya. ―Asal kita dapat lolos, nanti di lain tempat kita membangun pula rumah kita!‖ sahut sang suami. ―Dan itu anak-anak ayam dan anak-anak kucing?‖ istri itu menanya pula. Tiat Sim menghela napas. ―Ah, orang tolol, kamu masih memikirkan segala binatang itu! Mana dapat?‖ Baru Tiat Sim mengucap demikian, di luar kembali terdengar seruan berisik dan api terlihat berkobar. Dua ruang di depan telah dibakar, lalu dua orang serdadu Song mulai menyulut payon rumah. Bukan main mendelunya Tiat Sim. Ia buka pintu dan muncul. ―Aku Yo Tiat Sim!‖ ia perkenalkan diri. ―Kamu hendak bikin apa?‖ Dua serdadu itu kaget, mereka memutar tubuh, sembari melemparkan obornya, mereka lari balik. Di antara cahya api, satu perwira maju dengan kudanya. ―Kamu Yo Tiat Sim? Bagus!‖ ia berkata. ―Mari ikut kami menghadap pembesar kami! Tangkap!‖ Lima serdadu lantas merangsak. Tiat Sim geraki tombaknya, dalam jurus ―Ouw liong pa bwee‖, atau ― Naga hitam menggoyang ekor,‖ lalu tiga serdadu roboh terguling, kemudian dengan susulannya ―Cun lui cin nouw‖ atau ―Geledak musim semi murka,‖ ia rubuhkan satu yang lain, yang tubuhnya ia lempar balik ke dalam barisannya. ―Untuk menangkap orang, kamu mesti lebih dahulu beritahukan kedosaannya!‖ ia membentak. ―Pemberontak bernyali besar!‖ teriak si perwira. ―Kanu berani melawan?!‖
Irawan D Soedradjat

Page

13

Pendekar Pemanah Rajawali

Mesti begitu ia gentar hari, tak berani ia maju mendekati. Adalah satu perwira lain yang berada dibelakangnya, mewakilkan ia maju. Berkatalah perwira ini: ―Baik-baik saja ikut kami ke kantor, kau akan bebas dari kedosaan berat. Di sini ada surat titah!‖ ―Kasih aku lihat!‖ bentak Tiat Sim. ―Masih ada satu pemberontak lainnya, yang she Kwee?!‖ kata perwira itu. ―Kwee Siauw Thian ada di sini!‖ sahut Siauw Thian yang tiba-tiba muncul di muka jendela, panahnya telah siap sedia. Perwira itu terkejut, hatinya ciut. ―Letkai panahmu,‖ katanya. ―Nanti aku bacakan surat titah ini….‖ ―Lekas baca!‖ bentak Siauw Thian, yang justru tarik semakin melengkung gandewanya itu. Terpaksa dengan ketakutan, perwira itu membaca. Itulah surat titah untuk menawan Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim dua penduduk Gu-kee-cun, yang dituduh berontak melawan negara, sudah bersekongkol sama penjahat besar. ―Surat titah ini datang dari kantor mana?‖ Siauw Thian tanya. ―Inilah surat titah tulisannya Han Sinsiang sendiri!‖ jawab perwira itu. Dua-dua Siauw Thian dan Tiat Sim terkejut. ―Hebat urusan, sampai Han Sinsiang sendiri yang turun tangan menulis surat titah?‖ mereka berpikir. ―Mungkin ini disebabkan terbukanya rahasia Khu Cinjin telah membinasakan banyak hamba negara?‖ ―Siapakah yang mendakwa? Apa ada buktinya?‖ tanya Siauw Thian pula. ―Kita cuma mesti menawan orang!‖ kata si perwira. ―Nanti di muka pembesar kamu boleh bicara!‖ ―Han Sinsiang gemar menfitnah orang baik-baik, siapa tidak tahu itu?‖ kata Tiat Sim. ―Kami tak sudi kena jebak!‖ Dengan perlahan Tiat Sim kata pada istrinya: ―Pergi lapis bajumu, akan aku rampas kuda dia itu untukmu! Akan aku panah perwira itu, tenteranya bakal jadi kacau!‖ Dan terus ia tarik panahnya, maka setelah satu suara ―Ser!‖ si perwira berkoak keras, tubuhnya terjungkal dari kudanya. Semua serdadu lantas berteriak-teriak. ―Maju! Tangkap!‖ berseru perwira yang satunya. Sejumlah serdadu taati titah itu, akan tetapi selagi maju, mereka disambut busur-busurnya Siauw Thian dan Tiat Sim berdua, hingga enam atau tujuh diantaranya rubuh seketika. Akan tetapi jumlah mereka ini besar, dibawah anjuran pembesarnya, mereka maju terus. Tiat Sim menjdai mendongkol, ia tukar panah dengan tombaknya, setelah ia lompat keluar pintu, ia sambut penyerang-penyerangnya. Rombongan serdadu itu kena terpukul mundur. Atas itu, Tiat Sim melompat kepada satu perwira yang menunggang seekor kuda putih, ia menyerangnya. Perwira itu menangkis dengan tombaknya. Ia tapinya tak kenal ilmu tombak keluarga Yo, pahanya kena ditikam, maka dengan satu gentakan, tubuhnya terpelanting ke tanah. Dengan menekan tombaknya ke tanah, Tiat Sim lompat ke atas kuda putih, maka sesaat saja, ia sudah menerjang ke muka pintu rumahnya. Ia tikam rubuh satu serdadu Song, yang menghalangi dia, kemudian dengan satu jembretan, ia angkat tubuh istrinya naik ke kudanya. Itu waktu Pauw-sie sudah siap menanti padanya. ―Kwee Toako, mari turut aku!‖ orang she So itu teriaki saudara angkatnya. Siauw Thian tengah menyerang seru dengan sepasang tombak pendeknya yang bercagak. Ia membuka jalan untuk istrinya Lie-sie yang bernama Peng.

Irawan D Soedradjat

Page

14

Pendekar Pemanah Rajawali

Beberapa perwira tidak dapat mencegah kedua orang gagah itu, terpaksa mereka menitahkan menggunai anak panah. ―Enso, lekas naik!‖ seru Tiat Sim, yang hampiri Lie-sie. Ia pun lantas lompat turun dari kudanya. ―Tidak bisa….‖ berkata Lie-sie. Diwaktu demikian, tidak ada lagi aturan sungkan, maka tanpa bilang suatu apa, Tiat Sim cekal tubuh iparnya, untuk segera diangkat naik ke punggung kuda, kemudian ia bersama Siauw Thian mengikuti dari belakang, untuk melindungi. Lolos belum jauh, di sebelah depan mereka dicegat oleh satu pasukan lain. Riuh suara tentera itu, hebat serbuannya. Tiat Sim dan Siauw Thian mengeluh di dalam hati. Karena terpaksa, mereka jadi memikir untuk cari jalan lolos. Sekonyong-konyong terdengar suara panah sar-ser, lalu Pauw-sie menjerit keras. Kuda putih terpanah, kaki depannya tertekuk, lalu tubuhnya ngusruk. Pauw-sie rubuh bersama Lie-sie, yang pun ikut berteriak. Tiat Sim kaget tetapi ia tabah. ―Toako, lindungi mereka, akan aku rampas kuda pula!‖ serunya. Lalu dengan memutar tombaknya, ia menerjang musuh. Kwee Siauw Thian berpikir lain daripada saudara angkatnya itu. ―Terang kita berdua tidak bakal dapat menerobos kurungan musuh ini, atau istri kita sukar ditolongi. Karena kita tidak bersalah dosa, daripada antarkan jiwa disini, baiklah kita menemui pembesar negeri untuk berbicara dengannya.‖ Maka itu, ia teriaki adik angkatnya itu: ―Adik, mari kita ikuti mereka ke kantor!‖ Tiat Sim heran, akan tetapi ia hampiri saudaranya itu. Perwira pemimpin tentera itu menitahkan menunda penyerangan, tetapi mereka mengurung rapat-rapat. ―Letaki senjatamu, kami akan beri ampun jiwa kamu!‖ ia berteriak. ―Toako, jangan kena diperdayakan!‖ Tiat Sim memberi ingat. Siauw Thian menggeleng kepala, ia lemparkan sepasang tombaknya. Tiat Sim lihat istrinya ketakutan, hatinyapun menjadi lemah, maka seraya menghela napas, ia lemparkan panah dan tombaknya. Atas itu belasan tombak tajam dipakai mengurung empat orang itu, kemudian delapan serdadu maju mendekati, untuk membelenggu mereka berempat. Tiat Sim berdiri tegak, dia tertawa dingin. Sikap ini tidak menyenangi si pemimpin tentara, ia ayun cambuknya seraya mendamprat: ―Pemberontak bernyali besar, benarkah kamu tidak takut mampus?!‖ ―Bagus!‖ kata jago she Yo itu. ―Siapakah namamu?!‖ Perwira itu menjadi semakin gusur, cambuknya disabetkan berulang-ulang. ―Tuan besarmu tak pernah ubah she dan namanya!‖ katanya dengan jumawa. ―Tuan besarmu she Toan namanya Thian Tek. Thian Tek itu berarti kebijaksanaan Tuhan, kau mengerti? Ingatkah kau? Supaya kapan nanti kau bertemu Giam Kun, kau boleh ajukan dakwaanmu!‖ Tiat Sim tidak takut, ia malah mengawasi dengan bengis. ―Ingat olehmu, tuanmu ada cacat luka di jidatnya dan tanda biru di pipinya!‖ Thian Tek membentak pula. Ia angkat pula cambuknya. Pauw-sie menangis. ―Dia orang baik, ia belum pernah berbuat jahat, kenapa kau aniaya dia sampai begini?‖ tanya istri ini yang tidak tega melihat suaminya dicambuki. Tiat Sim meludah tepat mengenai mukanya perwira she Toan itu. Dia menjadi sangat murka, ia lalu cabut golok di pinggangnya.
Irawan D Soedradjat

Page

15

Pendekar Pemanah Rajawali

―Aku akan bunuh dulu padamu, pemberontak!‖ teriaknya. Tiat Sim tidak sudi mandat dibacok, ia berkelit ke samping. Tapi segera ia merasa ada tombak-tombak yang menahan tubuhnya. Thian Tek membacok pula. Tiat Sim tidak melihat lain jalan, ia berkelit mundur dengan mengkeratkan tubuhnya. Melihat bacokkannya kembali gagal, Thian Tek terus menikam. Kali ini goloknya yang tajam bagaikan gergaji dapat melukakan pundaknya orang she Yo itu. Dia tapinya belum puas, kembali ia ulangi bacokannya. Siauw Thian lihat adik angkatnya terancam bahaya, ia lompat maju seraya mendupak. Thian Tek terkejut, ia batal menyerang, terus dia menangkis. Siauw Thian lihay, ia tarik kakinya untuk ayun kakinya yang lain. Itulah tendangan saling susl dari ilmu tendangan Wan-yo-twie, maka tak ampun lagi, perwira itu terjejak pinggangnya. ―Hajar mampus dia!‖ dia berseru. Beberapa serdadu segera menyerang. Siauw Thian melawan, ia dapat menendang terguling dua serdadu, tetapi karena ia terbelenggu tangannya, akhirnya ia kena dibokong Thian Tek yang sambar ia dari belakang, hingga tangan kanannya terbacok kutung! Bukan main panasnya hati Tiat Sim menampak kakaknya itu menjadi korban keganasan si perwira, entah darimana datangnya tenaganya ketika ia berteriak keras sekali, belengguan pada tangannya terputus terlepas, maka sambil melompat maju, ia hajar rubuh satu serdadu, untuk rampas tombaknya yang panjang dengan apa ia terus mengamuk. Thian Tek menginsyafi bahaya, ia sudah mendahului mundur. Yo Tiat Sim menyerang bagaikan kalap, matanya menjdi merah. Semua serdadu mejadi kalah hati, dengan ketakutan mereka lari bubaran.. Tiat Sim tidak mengejar musuh, hanya ia menubruk kakak angkatnya yang telah mandi darah. Tanpa merasa ia kucurkan airmata. ―Adik sudah kau jangan pedulikan aku,‖ kata Siauw Thian lemah. ―Lekas, lekas kau singkirkan diri…‖ ―Akan aku merampas kuda, mari kita pergi bersama!‖ kata Tiat Sim. Siauw Thian tidak menyahut, ia hanya pingsan. Tiat Sim buka bajunya, hendak ia membalut luka kakak itu, tetapi lukanya lebar sekali, dari pundaknya merembet ke dada, sulit untuk membalutnya. Siauw Thian sadar pula. ― Adik, kau pergilah…‖ ia kata dengan suara yang sangat lemah. ―Pergi kau tolong teehu serta ensomu…aku, aku sudah habis…‖ Dan ia meramkan matanya untuk selamanya. Hampir Tiat Sim menyemburkan darah, sangking berduka dan mendongkol. Ia lantas berpaling ke arah di mana istrinya dan ensonya, istri Siauw Thian. Untuk kagetnya ia tidak dapat melihat mereka itu. ―Toako, aku akan balaskan sakit hatimu!‖ ia berteriak. Lalu dengan membawa tombaknya, ia lari kepada barisan serdadu, yang sekarang sudah berkumpul pula. Toan Thian Tek memberi perintahnya, maka barisannya itu menyambut dengan hujan anak panah. Tiat Sim maju terus seraya putar tombaknya, akan halau setiap busur. Ketika satu perwira dekati dia dan membacok, ia berkelit sambil mendak, akan nelusup ke bawahan perut kuda. Si perwira membacok sasaran kosong, hendak ia putar kudanya, tetapi tombaknya Tiat Sim tahu-tahu sudah menikam tepat kepadanya, maka
Irawan D Soedradjat

Page

16

Pendekar Pemanah Rajawali

ketika tubuhnya rubuh, orang she Yo itu gantikan ia lompat naik ke atas kudanya itu hingga dengan apa punya binatang tunggangan, Tiat Sim bisa menyerang dengan terlebih hebat. Sekali lagi barisan serdadu itu lari buyar. Tiat Sim mengejar, hingga ia lihat satu perwira lagi kabur sambil peluki seorang perempuan. Ia tidak mengejar, hanya ia lompat turun dari kudanya, akan rampas gendawanya satu serdadu Song lalu diantara terangnya api obor, ia panah perwira itu. Tepat panahnya ini, si perwira rubuh dari kudanya yang jatuh ngusruk. Dia rubuh bersama si wanita dalam pelukannya, hingga orang jadi terlepas. Lagi sekali Tiat Sim memanah. Selagi orang merayap bnagun. Kali ini perwira itu rubuh pula untuk tidak dapat bangun lagi. Tiat Sim lari kepada wanita itu untuk kegirangannya ia dapatkan pada istrinya. Sek Yok kaget dan girang, ia lompat ke dalam rangkulan suaminya itu. ―Mana enso?‖ Tiat Sim tanya. Dia lantas ingat istrinya Siauw Thian. ―Ia ada di sebelah depan, ia pun dibawa lari serdadu jahanam itu!‖ sahut Pauw-sie. Kapan Tiat Sim menoleh, ia tampak mendatanginya satu barisan lain. ―Toako telah menemui ajalnya, biar bagaimana aku mesti tolongi enso!‖ ini adik angkat ambil keputusan, ia bicara sama istrinya. ―Turunan toako mesti dilindungi. Kalau Thian mengasihi kita, kita berdua dapat bertemu pula…‖ Sek Yok rangkul keras leher suaminya itu, ia menangis menggerung-gerung. ―Tak dapat kita berpisah!‖ ia kata. ―Kau yang bilang sendiri, kalau kita mesti binasa, kita mesti binasa bersama! Bukankah benar kau pernah mengatakan demikian?‖ Tiat Sim peluki istrinya, hatinya karam. Tapi ia tiba-tiba keraskan hati, ia menolak dengan keras, ia sambar pula tombaknya, untuk lari. Ketika sudah lari beberapa puluh tindak, ia lihat istrinya menangis bergulingan di tanah, dan barisan serdadu yang mendatangi sudah mendekati istrinya itu. Ia usap mukanya, peluhnya bercampur sama darah muncratan. Ia lari pula. Telah bulat tekadnya untuk menolongi Lie-sie. Di sebelah depan, ia dapat rampas seekor kuda, maka itu ia jadi tambah semangat. Kebetulan ia dapat bekuk satu serdadu, atas pertanyaannya, serdadu itu bilang Lie-sie berada di sebelah depan. Maka ia kaburkan kudanya. Tiba-tiba dari samping jalanan mana ada perpohonan lebat, terdengar cacian seorang wanita. Ia lekas tahan kudanya, yang ia putar untuk hampirkan tempat lebat itu. Dengan tombaknya ia menyingkap cabang-cabang pohon.Maka di hadapannya terlihat dua serdadu sedang menyeret-nyeret Lie-sie. Tidak ampun lagi, Tiat Sim tikam mampus mereka satu demi satu. Lie-sie berbangkit dengan rambut kusut dan pakaian penuh tanah tidak karuan. Diwaktu begitu, tidak ada ketika untuk omong banyak, maka Tiat Sim angkat tubuh iparnya itu, dikasih naik ke atas kudanya, untuk mereka menunggang bersama. Ia lari balik untuk cari istrinya di tempat dimana tadi mereka berpisah. Untuk kedukaannya ia tak dapatkan Pauw-sie, tempat itu sunyi senyap dari segala apa. Ia turun dari kudanya untuk memeriksa tanah. Ketika itu sudah fajar. Ia lihat tapak-tapak kaki dan tanda bekas orang diseret, maka sakitlah hatinya. Ia percaya istrinya telah jatuh pula ke dalam tangan musuh…. ―Mari!‖ katanya seraya melompat naik ke atas kudanya yang ia terus kasih lari, perut kudanya pun dijepit hingga binatang itu kesakitan dan lari kabur. Sedang kuda lari keras mendadak dari samping jalanan muncul belasan orang yang hitam semua pakaiannya, orang yang terdengar segera menyerang dengan toyanya. Tiat Sim sempat menangkis, dapat ia menikam. Orang itu sebat dan gesit, ketika ia membuat perlawanan, nyata permainan toyanya pun lihay. Hal ini membuat heran kepada orang she Yo itu.

Irawan D Soedradjat

Page

17

Pendekar Pemanah Rajawali

Pernah Tiat Sim dan Siauw Thian berbicara tentang ilmu silat, bahwa dijamannya kawanan Liang San, Pek-lekhwee Cin Beng adalah yang terlihay ilmu toyanya, tetapi dijaman itu orang Kim-lah yang terkenal. Maka itu sekarang ia curigai lawannya itu ada satu perwira Kim. Ia hanya heran, kenapa perwira Kim bisa muncul di situ. Tapi ia tidak bisa berpikir lama-lama, ia lantas menyerang dengan hebat. Kali ini ia berhasil membuat lawan itu terjungkal, karena mana barisan serdadunya lantas kabur. Segera Tiat Sim menoleh, hatinya lega akan dapatkan iparnya tak kurang satu apapun. Ia masih mengawasi iparnya itu ketika ―Ser!‖ sebatang gendewa menyambar kepadanya, menyambar dari arah pepohonan yang lebat, hingga ia tidak sempat menagkis atau berkelit, busur itu tembus di punggungnya. ―Encek, kau kenapa?‖ tanya Lie-sie kaget. Tiat Sim tidak menyahuti, hanya di dalam hatinya ia kata: ―Aku tidak sangka bahwa aku bakal habis disini… Sebelum aku terbinasa, aku mesti labrak dulu musuh, supaya enso dapat lolos!‖ Ketika ia geraki tombaknya, ia menjadi kaget. Ia merasa sakit hingga ke peparunya. ―Cabut panah ini!‖ ia kata. Lie-sie tapi hatinya lemah, tenaganya tidak ada, tak dapat ia menolong. Tiat Sim lantas mendekam di atas kudanya, tangan kirinya diapakai mencekal gagang panah, dengan satu kali sentak, ia cabut busur itu terus ia pandangi. Anak panah itu nancap dalam kira tiga dim, gagangnya memakai bulu burung rajawali, batangnya terbuat dari perunggu. Itu bukanlah sembarang busur. tempo ia memeriksa lebih jauh, pada gagang itu ada terukir tiga huruf ―Wanyen Lieh‖ Ia terkejut. ―Wan-yen‖ itu adalah she, yaitu nama keluarga dari bangsa Kim, dari golongan keluarga raja. Biasanya dari raja hingga jenderalnya, bangsa itu memakai nama keluarga tersebut. ―Bagus!‖ serunya. ―Benar-benar si pembesar jahanam itu telah bersekongkol sama bangsa asing, bersama-sama mereka mencelakai rakyat negeri!‖ Ia serahkan busur itu kepada Lie-sie. ―Enso ingat baik-baik nama ini!‖ ia pesan. ―Pesanlah anakmu untuk menuntut balas….!‖ Habis berkata, ia putar tombaknya, ia menerjang ke antara musuh, tetapi darah di punggungnya membanjir keluar, tiba-tiba matanya menjadi gelap, tak dapat ia menahan diri lagi, ia rubuh dari kudanya. *** Hatinya Pauw-sie sakit bagai disayat-sayat karena tolakan suaminya, tempo ia mengawasi suaminya itu, sang suami sudah lantas lenyap, di pihak lain, rombongan serdadau telah mendatangi ke arahnya. Ia mencoba lari, tetapi sudah kasep, ia kena kecandak dan ditawan, tubuhnya segara dikasih naik ke atas seekor kuda. ―Aku tidak sangka dua orang itu demikian kosen hingga mereka dapat mencelakai tak sedikit saudara-saudara kita!‖ berkata satu perwira sambil tertawa. ―Tapi sekarang kita toh peroleh hasil!‖ kata satu perwira lain. ―Eh, sahabatku Ciong, untuk cape kita ini kita bakal dapat persen tiga atau empat puluh tail perak!‖ ―Hm!‖ menyahut si Ciong itu. ―Aku harap asal saja potongannya dikurangi sedikit…!‖ Terus ia menoleh kepada barisannya, akan beri titahnya: ―Kumpulkan barisan!‖ Serdadu tukang terompet sudah lantas kasih dengar suara alat tiupnya Pauw-sie menangis tersedu-sedu, ia lebih memikirkan suaminya yang ia tidak tahu bagaimana jadinya. Ketika itu sang fajar telah tiba, dijalanan sudah ada beberapa orang yang berlalu lintas, akan tetapi mereka nampak serdadu, mereka lalu menyingkir jauh-jauh. Mulanya Pauw-sie berkhawatir sangat kawanan serdadu itu nanti perlakukan kasar atau kurang ajar terhadapnya, kemudian ia merasa sedikit lega. Ia tidak saja tidak diganggu, ia malah diperlakukan dengan manis dan hormat.
Irawan D Soedradjat

Page

18

Pendekar Pemanah Rajawali

Barisan ini baru berjalan beberapa lie, tiba-tiba mereka dicegat oleh belasan orang yang mengenakan pakaian serba hitam, yang semua berbekal senjata. Mereka itu muncul dengan tiba-tiba dari pinggir jalanan. Seorang yang berada di paling depan sudah lantas kasih dengar suaranya yang bengis: ―Kawanan serdadu tak tahu malu dan kejam, tukang ganggu rakyat, kamu semua turun dari kuda kamu dan serahkan diri!‖ Perwira yang pimpin barisan itu menjadi gusur. ―Kawanan berandal dari mana ynag berani mengacau di wilayah kota raja?!‖ dia balas membentak. ―Lekas menggelinding pergi!‖ Pihak baju hitam itu tidak menggbris bentakan itu, sebaliknya mereka buktikan ancaman mereka, ialah tanpa bilang suatu apa lagi, mereka maju menerjang, dengan begitu pihak jadi bertempur kalut. Kawanan baju hitam itu berjumlah lebih kecil akan tetapi mereka mengerti ilmu silat denag baik, dengan begitu pertempuran menjadi berimbang. Menyaksikan pertempuran itu, diam-diam Pauw-sie bergirang. ―Bukankah mereka ini dalah kawan-kawannya suamiku, yang mendengar kabar dan telah datang menolong?‖ demikian ia menduga-duga. Selagi pertempuran berjalan terus, tiba-tiba satu busur nyasar menyambar punggung kudanya Pauw Sek Yok. Binatang itu kaget dan kesakitan, ia berlompat dan lari kabur. Sek Yok kaget dan ketakutan, ia mendekam di kudanya itu yang lehernya ia peluki keras-keras. Ia takut jatuh. Kuda itu kabur terus hingga beberapa lie, sampai di sebelah belakangnya, terdengar datangnya kuda lain, lalu tertampak satu penunggang kuda datang memburu. Cepat sekali larinya kuda pengejar ini segera ia menyandak dan lewat di samping Pauw-sie, si penunggangnya sendiri sambil melarikan kudanya itu memutar sehelai dadung panjang di atasan kepalanya, apabila ia melepaskan sebelah tangannya, dadung itu ialah lasso, lantas menyambar ke kudanya Sek Yok. Sekarang kedua kuda jadi lari berendeng, si penunggang kuda menahan dengan perlahan-lahan, dari itu sesaat kemudian kedua kuda itu larinya perlahan, akan akhirnya selang beberapa puluh lie, kuda si penunggang berhenti dengan tiba-tiba, sebab mulutnya penunggang itu perdengarkan tanda. Dengan begitu kuda Sek Yok pun berhenti seketika. Kuda itu meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya. Pauw-sie kaget dan ketakutan, ia pun ngantuk dan lelah, karena kuda itu berlompat berdiri habislah tenaganya, tak dapat ia memeluki lagi leher kuda lantas saja ia rubub ke tanah dan pingsan. Ia mendusin setahu beberapa lama kemudian, ia hanya dapatkan tubuhnya rebah di atas sebuah pembaringan yang empuk kasurnya dan tubuhnya pun dikerebongi selimut kapas yang membuat ia merasa hangat. Ia buka matanya perlahan-lahan. Yang pertama ia lihat ialah langit kelambu kembang. Maka sadarlah ia yang ia telah tidur di atas pembaringan. Ia menoleh ke samping, ia dapatkan sebuah meja dan satu pelitanya. Di tepi pembaringan berduduk satu orang laki-laki dengan pakaian serba hitam. Kapan pria itu melihat orang mendusin dan tubuhnya bergerak, lekas-lekas ia bangun berdiri, untuk singkap kelambu dan menggantungnya. ―Oh, kau sudah mendusin?‖ pria itu tanya, perlahan suaranya. Biar bagaimana, Sek Yok belum sadar sepenuhnya. Samar-samar ia seperti kenal pria itu, maka ia mengawasi. Si pria ulur tangannya, untuk meraba jidat si nyonya. ―Oh, panas sekali!‖ katanya. ―Tabib akan segera datang…‖ Sek Yok meramkan pula matanya, terus ia tidur pula. Ia baru sadar tempo dengan samar-samar ia merasa orang pegang nadinya, disusul mana orang memberi ia makan obat. Ia masih tak sadar benar, malah ia bagaikan bermimpi dan mengigau ketika ia berteriak: ― Engko Tiat! Engko Tiat!‖ Lalu ia merasa ada tangan pria yang dengan perlahan-lahan mengusap-usap pundaknya, yang menghiburi ia dengan lemah lembut. Kapan kemudian Sek Yok mendusin pula, hari sudah terang. Ia merintih sebentar, lantas ia bangkit untuk berduduk. Seorang menghampiri dia. ―Minum bubur?‖ tanya ia itu dari luar kelambu. Pauw-sie kasih dengar suara perlahan, atas mana pria itu singkap kelambunya. Sekarang dua muka saling berhadapan, mata mereka saling mengawasi. Sekarang Sek Yok dapat melihat denagn tegas, maka ia menjadi terkejut. Ia tampak satu wajah yang tampan, yang tersungging senyuman manis.
Irawan D Soedradjat

Page

19

―Benar dia. akan tetapi ia mengangguk. ia menangis sesambatan. ―Bagaimana caranya ia meninggal dunia?‖ Pauw-sie tanya. Pemuda itu mengangguk. Tetapi hatinya bukan tidak bekerja.‖ Sek Yok terperanjat. Rupanya karena jodoh kita telah dapat bertemu satu dengan lain. Rupanya roh suci atau malaikat yang telah menunjuki aku justru tolongi penolongku…‖ Ia berhenti sebentar. Sekarang baiklah kau beristirahat dulu. aku berukan keteranganku. Ketika kemudian ia sadar.maka itu jangan Nyonya sembarang munculkan diri. aku tidak puas.‖ si anak muda menghibur pula. ―Ya. ―Apa she dan nama Tuan?‖ kemudian Sek Yok menanya. Dari caranya orang berbicara. mungkin suaminya telah menampak sesuatu kecelakaan. lalu ia melanjuti: ―Sekarang ini rombongan serdadu sedang mencari Nyonya. nyonya. Sek Yok kaget. dengan lancang aku telah mengaku bahwa akulah suami Nyonya…‖ Mukanya Sek Yok menjadi merah. ia telah buka mulutnya tetapi ia batal bicara. tubuhnya tinggi dan lebar. Irawan D Soedradjat Page 20 . Maka tiba-tiba saja timbul kecurigaannya. ―Nyonya. ia lantas pingsan. kita sekarang bearad dirumahnya seorang petani. kemudian barulah ia bisa omong juga.‖ ―Aku tengah melawan tiga musuh ketika satu musuh jalan mengitar ke belakangnya suamimu itu yang dia tombak punggungnya. ―Sebenarnya aku bersama beberapa kawan kebetulan lewat di sini. ―Kenapa kau ketahui kita terancam bahaya dan kau dapat menolongi?‖ Pria itu bersangsi agaknya. Nyonya. Besar sangat cintanya kepada suaminya. ―Sudahlah. Ia berkeputusan nekad untuk binasa bersama suaminya itu. yang bersenjatakan sebatang tombak panjang?‖ si anak muda tegaskan. ia tidak memaksa.‖ orang itu menhibur. ia hanya dengan manis budi menghibur dan membujuki untuk nyonya legakan hati. Si pria kelihatan halus budi pekertinya. ―Sekarang kau letih dan lemah sekali. ―Mana suamiku?‖ ia tanya. jangan bergelisah tidak karuan. ―Menyaksikan rombongan serdadu itu berbuat sewenang-wenang. maka aku telah tolongi kau. Maka itu hari ia tidak dahar nasi atau minum. ―Dia…dia kenapa.‖ kata pula si anak muda.‖ si anak muda beritahu. Ia menjadi tak enak hati untuk bersikap tawar terus. yang kemudian menghilang tidak keruan paran dari gudang kayu.‖ ia menyahut akhirnya Merah mukanya Sek Yok akan dengar itu perkataan ―jodoh‖. melarang orang berbicara. ia telah dibinasakan oleh rombongan serdadu itu…‖ ia beri pebyahutan. ―Untukmu paling baik adalah merawat diri…‖ ―Apakah dia…dia telah meninggal dunia?‖ Sek Yok menanya. ―Aku ada orang she Yen dan namaku Lieh. ―Bukankah suami Nyonya berumur duapuluh kurang lebih. tangannya mencekal keras-keras pada ujung kasur. suamiku itu?‖ ia tanya.Pendekar Pemanah Rajawali Itulah si anak muda yang beberapa bulan yang lalu ia tolongi selagi orang terluka dan rebah tak berdaya di atas salju. ―Nanti saja setelah kesehatanmu pulih. ―Mana suamiku?‖ Pemuda itu menggoyang tangan. ia balik kepalanya ke sebelah dalam pembaringan. Lagi-lagi Sek Yok pingsan. Harap Ynonya maafkan aku.‖ ia berkata dengan perlahan. ―Tempat ini tempat apa?‖ nyonya ini kemudian tanya.

―Suamimu telah dibinasakan hamba negeri. ―Baik kau pergi sendiri saja…‖ ―Tetapi Nyonya!‖ peringatkan Yen Lieh. tiba-tiba sebatang busur nyasar telah menyambar pundakku. selagi aku lewat di kampungmu itu. Kapan ia mengawasi kaca. Ia menjadi sedih sekali. ―Aku seorang perempuan. maka ia menangis dengan mendekan di meja. Besok paginya. ia tampak romannya yang cantik bagikan bunga akan tetapi npemiliknya telah tak ada – yang satu tetap menjadi seorang manusia. ―Kejadian hari itu sungguh membuat aku penasaran!‖ bsahut Yen Lieh. pastilah aku terbinasa kecewa. agaknya ia kesengsem. ―Dia itu yang menjadi perwira yang mengepalai barisannya. Pauw-sie turun dari pembaringannya. ia berhenti menangis. bagaimana dapat aku membalas dendam?‖ tanyanya. hingga pada mulanya tak ingin aku menolongi kau. ia tunggu sampai orang sudah sedikit reda.‖ sahutnya kemudian. akan aku coba membalas dendam untukmu. Yen Lieh terkejut. lalu ia tertawa. yang lain telah menjadi setan….‖ ia menjawab. matanya tak meram…‖ Nyonya itu terkejut. untuk sendok semangkok bubur serta satu biji telur asin. lalu ia selipkan di kondenya. setelah rapikan pakaiannya ia hadapi kaca untuk sisiri rambutnya.‖ berkata si anak muda. Ia terus pergi ke dapur. ―Jikalau kita tidak pelihara kesehatanmu. sakit hatimu belum terbalas. Nyonya. siapa musuh nyonya suamimu itu?‖ Nyonya Yo Tiat Sim berpikir sejenak. bagaimana kau Cuma ingat kematian saja? Nanti suamimu. Sek Yok dapat lihat kelakuan orang itu. ia sambuti bubur itu lalu ia dahar dengan perlahan-lahan. hendak aku pergi ke Lim-an. lalu ia turut keluar dari rumah itu. Coba tidak kau tolongi aku.‖ Sampai di situ. Yen Lieh kelihatannya murka. ―Tidak ingin aku yang kita nanti kena di bekuk mereka…‖ Sek Yok menangis. romannya heran. ―Ya. ya aku tengah memikirkan cara bagaimana kita dapat meloloskan diri dari rombongna serdadu itu. Itulah tanda ia berkabung untuk suaminya. ―Aku datang dari utara. ia berkata: ―Tentera di luar sudah berlalu. yang berada di tanah baka.‖ Sek Yok susut air matanya. ―Apakah nyonya tahu. ―Dia mempunyakan tanda biru di mukanya. ia gunting itu merupakan setangkai bunga. ―Aku tadinya menyangka kau juga hendak bantu menawan Khu Totiang. mari kita berangkat. Pauw-sie anggap perkataan itu benar. kiranya kau kebenaran lewat saja dan bukannya dari satu rombongan dengan mereka itu?‖ berkata Sek Yok. Yen Lieh bertindak masuk selagi si nyonya menangis. tetapi ia lemah hatinya. ―Bukankah baru ini kau dapat luka karena kau bersama tentera negeri hendak mencoba menawan Khu Totiang?‖ Sek Yok tanya pula tanpa pedulikan pertanyaan pemuda itu. ―Suamiku telah terbinasa. karena mana imam itu telah membuatnya perlawanan dahsyat. untuk apa aku memikirkan hidup lebih lama…?‖ katanya. Ia cari sepotong kain putih. cara bagaimana kau bisa menuntut balas?‖ katanya perlahan setelah ia bawakan bubur dan telu asin itu kepada si nyonya. tak tahu sebab musababnya. ―Eh. gampang untuk mencari dia.‖ ―Dia telah diketahui she dan namanya. Pauw-sie tuturkan halnya Khu Cie Kee hendak ditawan tentera negeri. ―Biarnya aku bodoh. kau hendak dengari ceritaku atau tidak?‖ ia menegur. namanya Toan Thian Tek. Yen Lieh mengawasi orang berbicara. Sebenarnya imam siapa yang hendak mereka tawan itu?‖ ―Oh. Irawan D Soedradjat Page 21 .Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kau dan tentera negeri itu datang dari satu jurusan?‖ ia tanya ―Ke…kenapa?‖ Yen Lieh tanya. Nyonya!‖ katanya keras.

―Yen. ia memang tak dapat berpikir apa-apa. untuk setengah jam ia masih duduk bercokol. Sek Yok tidak bilang suatu apa. yang siapkan dua ekor kuda. daging asin. Kepada pengurus hotel. Tujuh Orang Luar Biasa Kapan besok paginya Pauw-sie bangun dari tidurnya. karena itu diwaktu bersantap. laki-laki sejati. baru kita pergi cari jenazah suamimu. ―Tuan pesan supaya nyonya suka salin pakaian. dan biasanya. Sekarang mendengar omongan yang beralasan dari pemuda ini. maka di lain saat. Barang hidangan itu terdiri dari masakan ayam. ―Inilah barang yang tadi pagi tuan belikan untuk Nyonya. ―Nyonya silakan tidur!‖ ia berkata. keduanya sudah jalankan kuda mereka berendeng menuju ke utara. Yen Lieh mengaku bahwa mereka berdua adalah suami-istri. malah ia bersyukur sekali. Di akhirnya ia menghela napas panjang. jongos datang menyerahkan satu bungkusan. Yen Lieh sudah tidak ada di kamarnya. untuk dikubur dengan baik. Itu waktu. hatinya menjadi sangat berduka. Diam-diam nyonya ini jadi sangat bersyukur. baru ia tidur tanpa buka pakaian luar lagi.‖ sahut Yen Liah. ia lantas kunci pintu. kemudian ia membantui nyonya itu naik ke atas kuda. ―Sekarang kita cari dahulu tempat sepi untuk tinggal sementara waktu. yang terkena panah. sedap dan lezat. karenanya ia meminta satu kamar. di situ ia rebahkan dirinya terus ia tutupi dengan gudri. pedang pendeknya tergenggam di tangannya. ―Kau hendak bawa aku kemana?‖ akhirnya Sek Yok menanya pula. Ia tidak lantas rebahkan diri. meskipun mesti menyerbu api berkobar-kobar. itu sudah selayaknya saja.‖ Sek Yok lemah hatinya. Hatinya Nyonya Yo berdebar-debar.Pendekar Pemanah Rajawali Yen Lieh serahkan sepotong perak kepada tuan rumah. pemuda itu telah pergi siapkan kuda mereka dan sudah pesan jongos menyediakan barang makanan. untuk cegah si nyonya sembarang bicara di depan orang lain. dedaharannya setiap hari adalah sayur dan ikan asin. Yen Lieh kedipi mata. ―Kita tunggu sampai suasana sudah mulai reda. diam-diam ia meraba pedang peninggalan Khu Cie Kee. akan tetapi hatinya tidak tentram. Oleh karena itu semakin kurang penjagaan dirinya. walaupun badanku hancur dan tulang-tulangku remuk.‖ Yen Lieh jawab. lemah lembut sikapnya. ialah pakaian baru. habis padamkan api lilin. didalam hatinya ia bilang: ―Asal dia berlaku kurang ajar sedikit saja. ―Jiwaku ini adalah nyonya yang tolongi. yang didatangi.‖ Irawan D Soedradjat Page 22 . ia bungkam. Yen Lieh sudah keluar dari kamar. Belasan lie telah mereka lalui. ikan dan bubur yang semuanya harum. ia tunggu sampai si jongos itu sudah keluar. rumput kering itu ia delar di lantai. Yen Siangkong. Bab 3. ―Apakah itu?‖ tanya si nyonya.‖ jawab jongos itu. satu diantaranya adalah kudanya Sek Yok. kemudian baru kita pergi cari si Toan Thian tek si jahanam itu guna menuntut balas. matanya memandang ke satu arah. Akan tetapi mendahar ini. Ia jadi ingat suaminya. baru di hari raya atau tahun baru ia dapat hidangan istimewa. Ia ada dari satu keluarga sederhana. akan aku bunuh diriku!‖ Yen Lieh menitahkan jongos ambil dua ikat rumput kering. Tak lama sehabisnya dahar. ―Maka itu tubuhku ini aku serahkan kepada nyonya untuk nyonya suruh-suruh. ia menemui orang satu kuncu. sesudah mana terus ia meramkan matanya.‖ Dua hari mereka berjalan. ia bukan saja suka menerima. sore itu mereka singgah di dusun Tiang-an-tin. bagaimana kau harus membalas budimu ini?‖ katanya. yang sekarang telah diobati lukanya. hatinya Pauw-sie kurang tenang. ―Kita menuju kemana?‖ tanya Pauw-sie.

Yen Lieh tertawa enteng. tiba-tiba mereka mendengar jeritan hebat dari sebelah depan. Satu serdadu segera hampiri dua orang ini yang mereka dapat lihat. Tapi justru itu. membentak. ia berubah seperti seorang baru. sebaliknya dari angkat kaki. Dialah ynag tadi menjerit. ―Tunggu sampai ia lari lagi tiga tindak. ―Hebat!‖ memuji Sek Yok tanpa terasa. baju pendek. maka pakaiannya jadi kotor dan pecah disana sini. ―Diam!‖ dia membentak. berikut sepatu dan kaos kaki putih juga. hingga di sebuah tikungan. Tiga serdadu lainnya tengah mengurung si nona yang mereka perlakukan dengan ceriwis. anak panah mana dikasih masuk ke dalam kantungnya. dadanya tertumblaskan sebatang busur. Yen Lieh cambuk punggung kuda si nyonya selagi ia pun kasih lari kudanya dengan begitu kedua ekor kuda segera lari keras. cara bagaimana ia dapat memikir begini sempurna?‖ katanya dalam hati. Ia tertawa girang sekali. Pauw-sie kaget sekali. Irawan D Soedradjat Page 23 . tentu mereka kalah dan lari. Perjalanan sudah lantas dilanjuti. hingga lagi tiga serdadu rubuh seperti rekannya yang pertama. ia berkata. ia berpaling kepada si nyonya. ―Dia seorang pria. Ia lantas siapkan pula busurnya. untuk cabuti anak panahnya dari tubuh mereka. Tinggal serdadu yang kelima. ia putar balik kudanya untuk lari. Justru ia hendak ajak Pauw-sie melanjuti perjalanan. malah gendewa itu dipakai memanah pula beruntunruntun. ia justru maju mendekati. malah mereka main merampas dan paksa. dengan mencekal golok panjang. Si nona menangis. sambil tertawa. Menyaksikan orang lari ngiprit. lagi pegat seorang lelaki tua yang ada bersama satu anak muda serta satu nona. Memang ketika ia keluar dari rumah. Di situ terlihat lima serdadu. ―Lagi-lagi serdadu mengganggu rakyat jelata. Tepat orang lari kira enampuluh tindak. ―Celaka!‖ Sek Yok menjerit karena kaget dan takut. ―Mari kita lekas menyingkir…‖ Yen Lieh sebaliknya tersenyum simpul.‖ kata Sek Yok ketakutan. Segera si nyonya lihat di tangan kawannya ada gendewa yang bersinar kuning emas. ia hampiri lima serdadu itu. maka gendewa ditarik. akan aku panah batang lehernya!‖ Selagi pemuda ini berkata. dengan begitu dapat ia menentramkan sedikit hati si nyonya kawan seperjalanannya itu. ―Mari kita liat!‖ Pemuda ini berlaku tenang. busur meleset mengejar dengan cepat sekali. kupingnya mendengar suara menyambar ―Serr!‖ lalu satu serdadu menjerit dan rubuh. sapu tangan dan handuk. si serdadu lari terus. mereka galak bukan kepalang. Sek Yok takut bukan main. Mereka maju terus. dituruti empat kawannya. ujung panah tembus ke tenggorokannya. ―Kamu bikin apa?‖ Yen Lieh benar-benar tidak takut. sesudah itu untuk satu malaman ia mesti larilarian. akan tetapi terhadap rakyat jelata. yang lainnya ada pakaiaan dalam. ia ketakutan. Sore itu selagi mendekati dusun Kiap-sek-tin. ―Lekas pergi!‖ Pada waktu itu tentera Song. pakaiannya tidak karuan. ia mengeluh dalam hatinya. kalau menghadapi musuh bangsa Kim. dia lalu putar tubuhnya untuk lari merat. mereka anggap inilah untung mereka. habis itu ia melompat naik pula ke atas kudanya. Dua serdadu lagi memeriksa mengaduk-aduk buntalannya si orang tua. Yen Lieh lompat turun dari kudanya. Bukankah ia baru saja lolos dari bahaya yang menakuti? ―Jangan takut!‖ kata Lien Yeh sambil tertawa. yang uangnya dan lainnya barang mereka pindahkan ke saku mereka sendiri. dari samping kiri muncul dengan tiba-tiba sepasukan serdadu dengan suara mereka yang berisik. Ia tampak seperangkat pakaian baru warna putih. Sekarang setelah tukar pakaian. Serdadu itu lantas berseru.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok buka bungkusan itu yang membuat dia melengak. Maka itu melihat Yen Lieh cuma berdua dengan satu nyonya manis. tidak ada ampun lagi serdadu itu terpanah batang lehernya. yang sangat bersyukur. ―Kamu ada bawahan siapa?‖ ia tanya. lalu ia maju mendekati.

nyampingpun tidak. ―Apakah kamu adalah pengawal pribadi dari Han Sinsiang?‖ ia tanya. Yen Lieh kena dicandak pengejarnya. terutama oleh pengejar yang motong jalan dari samping. surat itu pun segera ia ancungkan ke atas kepalanya. Yen Lieh manggut perlahan ia lantas sambuti kudanya si perwiara.‖ katanya. Yen Lieh tidak pedulikan lagi pemimpin pasukan itu. Irawan D Soedradjat Page 24 . maju tidak. Kapan perwira itu sudah membaca. ―Kami masih kekurangan seekor kuda. Dia tertawa pula. Yen Lieh tertawa pula. Lagi selintasan. ―Nanti pie-cit melakukan pemeriksaan untuk memberi hukuman. pie-cit mengerti. Sementara itu. ―Nah. ―Pie-cit mohon diberi ampun…. dosaku berlaksa kali mati. ia pondong Pauw-sie untuk dipindahkan ke kuda yang baru. tidak kenali tayjin. dengan tergesa-gesa ia lompat turun dari kudanya untuk memberi hormat. ia sambar si nyonya untuk ditarik dan dipindahkan ke kudanya. tiba-tiba Yen Lieh tahan kudanya. Ia mengedipi mata. lalu sambil terus berteriak-teriak. Pauw-sie mengawasi kejadian denga hatinya heran bukan main. selagi tentera pengejar mendatangi semakin dekat. Karena tadi ia menunda kudanya. Yen Lieh sambuti kembali surat itu. suaranya dan sikapnya sangat merendah. ―Kau siapa!‖ ia membentak. ―Bilang aku ada punya urusan penting dan mesti pulang lantas. mukanya menjadi pucat. Ia bicara terhadap Pauw-sie. Yen Lieh sebaliknya tenang. mukanya menjadi merah. lantas ia menjadi kaget sekali dan ketakutan. ia dapatkan sejumlah tentara pengejar lebih dari seribu jiwa. Yen Lieh rogoh sakunya. dan wajahnya terus menunjuki ia bergelisah. maju menghampiri. Karena lari terlalu keras. Setelah lari serintasan. Pauw-sie takut bukan main.‖ pintanya. hingga ia tercengang. lalu dengan tiba-tiba. Segera ia tidak punya jalan lagi. Yen Lieh tertawa gembira. Pauw-sie menoleh ke belakang. Akan tetapi ketika itu sudah terlambat. Sek Yok heran yang ia dipanggil ―hujin‖ atau nyonyanya si anak muda.‖ ―Baik. mukanya pucat pasi. Seorang diri.‖ Tidak saja perwira itu membasakan dirinya ―pie-cit‖ yang artinya ―bawahan yang rendah‖. mana bisa Yen Lieh melawan mereka itu walaupun pemuda ini lihay ilmu panahnya? Celaka adalah kudanya si nyonya Yo ini. lukanya yang belum sembuh telah pecah pula dan mengeluarkan darah.‖ katanya. akan keluarkan sepucuk surat. Karena itu terpaksa ia tahan kudanya. ―Perwira itu tuntun kudanya sendiri. Perwira itu menjura dalam. mereka mengejar. ―Pergi kau sampaikan kepada Han Sinsiang. tayjin.‖ kata perwira itu tetap dengan sangat hormat. ―Pie-cit. Serdadu itu lantas sambuti surat itu untuk dihanturkan kepada pemimpinnya. selaku tanda hormat. dari itu aku tak dapat pamitan lagi. ―Kau tidak hendak turun dari kudamu untuk manda dibelenggu?‖ perwira itu menegur.‖ ia berkata. ―Apakah kau tidak kenali aku?‖ dia bertanya.‖ katanya. akan tunggu kudanya Pauw-sie rendengi ia. kau lihatlah surat ini!‖ Perwira itu melirik kepada satu serdadu di sampingnya. lalu bersama-sama mereka lanjuti perjalanan mereka ke utara. setelah mana ia kaburkan kudanya itu. Satu perwira yang bersenjatakan sebatang golok besar. baik.‖Kau hendak tunggu apalagi?‖ Sebaliknya daripada serahkan diri atau ketakutan. ―Nampaknya tentera mu kurang kenal tata tertib ketenteraan!‖ katanya sambil tertawa. kopiahnya kopiah besi dan bajunya lapis besi juga. ―Silahkan hujin pakai kudaku ini. Heran perwira itu. larinya pun menjadi tambah perlahan.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tangkap!‖ berteriak tentera yang di belakang itu apabila mereka melihat mayat-mayat rekannya. tanpa mengucap sepatah kata. Kerananya ia jadi ketinggalan Yen Lieh.

‖ kata Yen Lieh melihat orang berdiam saja.‖ Yen Lieh bilang.‖ Menampak sikap orang itu. Ia tidak mengerti. orang pun bukan sahabat bukan sanak. Percaya saja ia ragu-ragu. ―Soal itu ada lain. apabila kita pergi menuntut balas sekarang juga. Sek Yok menjadi tak enak sendirinya. sebuah kota besar di Ciat-kang barat.Pendekar Pemanah Rajawali Sesudah jalan beberapa puluh tindak. dapatkah kau mempercayai aku?‖ bia tanya. Luas pengetahuannya si anak muda. Nyonya. ―Baiklah. Memangnya kota sudah ramai pada asalnya. keramaiannya menjadi bertambah sendirinya. tentang sakit hati suamimu itu serahkan kepada tanggungjawabku seorang. ―Pakaianmu sudah terpakai lama..‖ Yen Lieh mengajak. Bukankah ia sudah rudin dan tak bersanak kandung juga? Kemana ia mesti pergi untuk pernahkan diri? Bukankah lebih baik ia turut pemuda ini? Tapi dia ada satu janda. sekarang ia terletak dekat dengan kota raja. Yen Lieh berdiam sejenak. kita pun bisa mendapat celaka. Sek Yok heran dan kagum untuk si anak muda. ―Disini ada banyak toko. agaknya mereka itu masih mengasih selamat jalan……. pihak tentera tentu telah membuatnya persediaan. ―Baik. ―Maka itu. Sek Yok menoleh ke belakang.‖ katanya. ―Sekarang ini mari kita balik dahulu ke utara. Nyonya…. ―Bukankah ini baru dibeli?‖ tanyanya. Di sepanjang jalan ada kedapatan pohon-pohon yangliu dan bunga. sambil tunduk. pastilah gampang untuk kau membalaskan sakit hatiku. dia jerih tiga bagian.‖ Sek Yok melengak. Hawa udara ada nyaman karena itu waktu pun ada di musim pertama yang indah. baik. Nyonya. Nyonya legakan hati. silahkan kau beri petunjukmu. Yen Lieh menjadi girang sekali. atau setempo dengan berendang. Yen Lieh sering membuka pembicaraan. sesukamu…‖ katanya perlahan.‖ Sek Yok mengutarakan pikirannya. ―Jikalau nyonya anggap saranku kurang sempurna.‖ sahut si anak muda. Untuk herannya ia lihat si perwira dan barisannya masih belum pergi. mereka tiba di Kee-hin. baru kita berangkat pula ke selatan ini untuk maksud menuntut balas itu. Ia berpaling kepada si anak muda. kota dari sutera dan beras.‖ Lantas keduanya larikan pula kuda mereka. ―Nyonya . pandai ia memilih bahan pembicaraan. sambil tertawa mendahulukan dia. tidak melainkan kita bakal gagal. Orang pun tampan dan menyenangkan untuk dipandang. ―Kita tunggu sampai suasana reda.‖ ―Harap kau tidak sebut-sebut tentang budi…‖ kata Sek Yok. ―Apanya yang dibilang lama?‖ Irawan D Soedradjat Page 25 . nanti aku belikan yang baru. Pauw-sie mengangguk. Untuk melegakan hati si nyonya.‖ ―Jikalau begitu. cara bagaimana ia bisa terus ikuti pemuda itu? Dia jadi menjublak karena kesangsiannya itu. Pada tengah hari di hari ketiga.‖ dia bilang. kadang-kadang yang satu di depan yang lain di belakang.‖ Sek Yok bingung tidak berdaya. ini kawan seperjalanannya yang sebenarnya asing untuknya. ingin ia menanya. apapula segala perwira itu……. ―Akan aku turut segala titahmu. tapi anak muda itu. tak nanti aku lupakan. ―Budimu yang besar.‖ Yen Lieh berkata. ―Nyonya…. ―Walaupun Han To Cu sendiri yang melihat aku. sebenarnya kita masih dapat melanjutkan perjalanan. ―Mari kita cari hotel untuk singgah dan beristirahat dulu. Ia dapati orang halus sikapnya dan menarik kata-katanya. ―Hari masih siang. ―Sekarang ini kita telah ketahuan siapa adanya.‖ kata Pauw-sie.‖ ―Habis bagaimana?‖ si nyonya tanya pula.

buat anglap makanan dan hotel! Terhadap bocah begitu macam. si jorok itu ulur tangannya. orang mana menyolok perhatiannya. Ia menjadi berani. Ia heran. Orang mirip dengan satu sastrawan tetapi ia jalan sambil menyeret sepatu kulit. Sementara itu tangannya meragoh ke sakunya. akhirnya ia ajak nyonya itu ke hotel Siu sui yang paling besar untuk kota Kee-hin. tak mau ia jalan di dekatnya. Di sini mereka paling dulu bersihkan tubuh. bagaikan siulannya burung malam. ia lihat seorang mendatangi. ―Kau tunggu sebentar. Di tangannya ia mencekal satu kipas kertas minyak warna hitam yang sudah buntut. ada bocah yang tersesat. Yen Lieh ada apik. sembari jalan dia mengipasipas tak hentinya. Yen Lieh lantas pergi keluar. bukannya aku kurang ajar…‖ katanya sambil memberi hormat. ia menoleh kepada jongos hotel seraya berkata dengan keras: ―Eh. khawatir tubuhnya nanti kena terlanggar. berminyak. dia ada membekal uang empat atau lima puluh tail perak akan tetapi sekarang kantungnya kosong. tetapi karena orang demikian jorok. ―Apakah kau tengah menipu dia? Janganlah kau nanti rembet-rembet kami!‖ Irawan D Soedradjat Page 26 . tertawanya itu tajam menusuk telinga. ia gancangi tindakannya. walaupun orang mirip sastrawan. sepatu itu berbunyi ketrak-ketruk walaupun ia jalannya perlahan. pakaianmu sudah tak mentereng lagi. mana boleh kau tidak memakai pakaian dari bahan yang terbaik?‖ Diam-diam senang hatinya Sek Yok karena orang puji kecantikannya. ―Eh. tindakan kakinya terus berbunyi ketrakketruk. dengan pakaiannya yang mentereng. Ia dapatkan buntalannya tidak ada uangnya. sepatunya terus berbunyi: ―Truk! Truk! Truk…!‖ Panas hatinya Yen Lieh. akan tetapi. kau jangan pandang tak mata kepada baju tuanmu yang rubat-rabit ini! Kau tahu. untuk mengakali kaum wanita. Yen Lieh bisa duga hati orang. ―Aku tengah berkabung…‖ katanya perlahan. Sekarang ia tak sungkan-sungkan lagi. Nyonya itu lantas membungkam. ialah pakaiannya kotor. ia menjadi tercengang pula. tetapi segera ia melongo. mau tidak mau timbul kecurigaannya. Dia pun tidak karuan dandannya. ―Binatang!‖ katanya dalam hatinya. Ia menjadi tidak senang. tak tahu ia di mana lenyapnya uangnya itu. dengan kipas bututnya dia tepuk pundaknya Yen Lieh. kotor juga mukanya yang penuh debu. jongos. Tepat ketika keduanya impas-impasan. ia jalan terus. kau mesti awas mata! Paling baik kau minta dia membayar uang sewa di muka!‖ Lalu dengan tak menantikan jawaban. Anak muda ini gagah. Orang itu perdengarkan pula tertawanya yang kering itu. ―Apakah wanita ini benar istrimu?‖ dia tanya. Pauw-sie mengangguk. Dia tertawa terus beberapa kali. Ketika ia tiba di ujung hotel. tuan besarmu ada punya uang perak! Di pihak lain.‖ Yen Lieh bilang. dia ngeloyor terus. ―Terang itu aku tahu. ―Tuan. Mungkin sudah belasan hari ia tidak pernah mandi. maka itu sambil mengerutkan kening.‖ terangkan si anak muda. ―Dengan dipakai baru satu dua hari. ―Bukankah dia maksudkan aku?‖ Jongos itu melirik kepada pemuda ini. kau bikin apa`?‖ ia menegur. baru ia sampai di muka hotel. ―Kau pegang uang ini!‖ katanya menyela. atas tepukan itu tak keburu ia berkelit. Tiba-tiba orang jorok itu tertawa.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kita jalan jauh dan ditengah jalan banyak debu.‖ kata Yen Lieh. hendak aku balik ke kamarku untuk mengambil. Nyonya. ia jadi menduga terlebih keras. suaranya kering. Dengan lekas ia menghampiri. Jongos itu lihat air muka orang. ia tangal-tongol di muka pintu dengan begitu ia jadi dapat lihat orang tidak punya uang. laginya dengan wajah ini. Nyonya. harap kau tidak kecil hati. Ia mau menyangka tadi karena terburu-buru ia lupa bawa uangnya.‖ kemudian kata si pemuda. Setibanya di dalam kamar. ―Kau tunggu . ―Apa?! Kau tidak membawa uang?‖ katanya. lalu duduk bersantap. Yen Lieh terus tanya-tanya orang. hendak aku pergi berbelanja. Ia tahu. dia pentang aksi untuk bikin orang silau guna menipu. Jongos mengikuti ke kamar.

yang bersenjatakan golok dan thie-cio. Yen Lieh tetap tertawa. ―Apakah kau edan?‖ si kepala polisi tanya. urusan menjadi hebat. Menampak demikian. Jongos tadi yang telah kabur keluar segera kembali bersama belasan orang. ―Ah. Pihak hotel atau tetamu. Dengan tiba-tiba Yen Lieh mencelat ke pintu dan tangannya menyambar. ―Sudah menipu wanita. Nyonya Yo bungkam. ―Mari kita lekas pergi!‖ Sek Yok mengajak. Menyaksikan sikap orang itu. untuk mengeluarkan sepucuk surat yang mana ia lemparkan ke atas meja. Hamba negeri itu terkejut. ia berkata: ―Kau bawa suratku ini. yang romannya seperti buaya darat. akan kemudian diturut oleh kawan-kawan yang telah terima hajarab. ―Mau apa kau datang ke Kee-hin ini?‖ Yen Lieh tetap tidak bergerak. kau she apa?‖ menegur yang menjadi kepala. kau juga berani pukul orang!‖ Dengan murkanya Yen Lieh mendupak.‖ kata SekYok dengan berkhawatir. yang repot merayap bangun. Baharu kemudian. ―Kamu jaga dia. akan tetapi agaknya ia masih sangsi. Tak tahu ia maksudnya pemuda ini. Tentu ia menjadi gusur. ―Itulah yang aku kehendaki!‖ sahutnya. Kemudian mereka menjdi gusur. ialah ruyung pendek yang bercagar atau gagangnya bergaetan. sikap mereka garang. suaranya keren. aturan dari mana?‖ demikian di antarannya pentang bacot. kasihkan pada Khay Oen Cong. Irawan D Soedradjat Page 27 . tangan mereka membawa toya dan ruyung. mukanya menjadi merah. ―Pergi kau panggil Khay Oen Cong kemari!‖ ia bilang. jangan kasih dia buron…‖ pesannya pada orang-orangnya. ia datang ke mari atau tidak!‖ Orang polisi itu jumput surat itu. tiehu atau residen dari Keehin. sisa yang lainnya lantas lemparkan senjata mereka dengan memutar tubuh. lalu ia terus pergi. ―Kita tidak punya uang tetapi kita boleh suruh mereka mengadakannya!‖ Ia lantas sembat sebuah kursi yang ia letaki di ambang pintu.‖Bagaimana kau berani sembarang sebut namanya Khay Toaya kami?‖ Yen Lieh rogoh sakunya. di luar terdengar suara berisik lalu muncul belasan orang polisi. Mereka pun bekal borgol yang rantainya berkontrangan. Untuk kira setengah jam. Di situ ia lantas bercokol. hotel menjadi sunyii. ―Mana dia si penjahat!‖ Yen Lieh bercokol tidak bergeming. mereka sipat kuping. setelah membaca sampulnya ia terkejut. rombongan oppas itu tidak berani lantang maju. ―Plok!‖ demikian suara di mukanya si jongos yang pipinya menjadi bengap dan giginya rontok beberapa biji. hingga orang itu jungkir balik. ―Apakah kamu hendak berkelahi?‖ tanya Yen Lieh sambil tertawa. Ia malu dan bergelisah. Khay Oen Cong itu adalah namanya pembesar mereka. sambil pegangi pipinya dia menjerit: ―Bagus. Hendak aku lihat. lalu tahu-tahu ia telah rampas toyanya satu orang denagn apa terus ia menghantam kalang kabutan. mungkin nanti datang pembesar negeri. ya bagus betul! Kau sewa kamar tidak mau bayar. ―Jangan kita nginap disini!‖ ―Jangan takut!‖ kata Yen Lieh.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok tidak tahu apa yang sudah terjadi tetapi ia dapat menduga. Kata-kata itu disusul sama mencelatnya tubuhnya. ―Eh. kemudian sambil matanya memandang mega. Kali ini ia tertawa. masih berani galak. tidak ada yang berani banyak mulut lagi. Sekejap saja empat lima orang telah terguling rubuh.

‖Piecit tidak ketahui tayjin tiba disini. ia mengangguk. ya. hatinya pun lega. Jongos saksikan itu semua. ia menoleh ke belakang seraya geraki tangannya. nanti piecit siapkan. Kenapa dia sekarang berani terang-terangan menyebut nama kaisar? Irawan D Soedradjat Page 28 . Khay Oen Cong menyahuti dengan cepat. Khay Tiehu lantas angsurkan suratnya pemuda itu.. kami tidak datang menyambut.‖ tiehu itu memohon kemudian. ―Lekas pergi!‖ Jongos itu melengak. semua pembesar sipil dan militer hormati dan takuti dia. habis mana. terutama terhadap Kiang Bun Kay si camat. ia bersangsi. silahkan Tayin dan hujin singgah di sana. khawatir orang gusar. dia berlutut seraya memohon ampun. baiklah.‖ ia menyahut.‖ ia berkata. lenyap darahnya. yang satu bermuatkan emas berkilau kuning dan yang satunya lagi bersis perak yang berkeredep putih.‖ Yen Lieh dongak. Cuma tangannya diulapkan. Oen Cong dan Bun Kay mengundurkan diri dengan hormat dan tanpa berisik semua polisi mengikuti mereka.‖ Yen Lieh ulapkan tangannya. ―Aku telah kehilangan uang di dalam kecamatan ini. ―Di tempat kami ada penjahat yang main gila. ―Aku persen ini kepadamu!‖ katanya sambil tertawa. harap tayjin suka memaafkannya. Karena ini. ―Ya. Tak tahu ia urusan bakal jadi bagaimana hebatnya. ―Tempat di sini lebih meyenangkan. hebat ia menunggu kira setengah jam. benar-benar tidak pantas!‖ Sek Yok heran.‖ Yen Lieh tertawa. Yen Lieh mengambil sepotong perak dari atas nenapam. Dengan tidak bilang apa-apa lagi. ―Baik. aku mohon Tuan-tuan suka tolong periksa dan mencarinya. ―Piecit telah siapkan tempat beristirahat.‖ berkata Khay Oen Cong.‖ berkata mereka. Kamu jangan ganggu aku. tolong sebutkan. ―Tio Kong ialah Kaisar Leng Cong yang sekarang!‖ sahut Yen Lieh. Kapan mereka berdua sampai di depan Yen Lieh. hingga ia bisa tertawa. ia tidak menyahuti. ―Pembesar itu sendirinya tak punya guna. tetapi kapan kuasa hotel lihat wajah si tetamu tenang dan ramah.‖ Dengan tiba-tiba wajah si anak muda menjadi keren. hatinya terus goncang. sesudah mana di luar hotel terdengar pula suara berisik dari orang banyak. ia lemparkan itu ke atas tanah. keduanya lantas saja memberi hormat sambil tekuk lutut. itulah kealpaan kami. Sampai disitu Pauw Sek Yok menjadi heran. lekas-lekas ia pungut uang itu. atas mana muncul dua orang polisi yang membawa dua menampan-menampan.‖ katanya. ―Atau setidaknya dia pembesar berpangkat sangat tinggi…. ―Siapa itu Tio Kong?‖ tanyanya. lalu dengan cepat ia seret si jongos pergi.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok saksikan itu semua. ―Satu pembesar sampai ketakutan demikian rupa!‖ Yen Lieh tertawa. ―Dia mengaku sebagai sahabatnya Han Sinsiang.‖ dia berpikir. ―Aku lebih suka tempat yang tenang.‖ kata Oen Cong dan Bun Kay dengan cepat. tiehu dari Kee-hin dan Kiang Bun Kay tiekoan dari Siu-sui-koan. ―Tayjin masih membutuhkan apalagi. mukanya menjadi pucat. orang-orang sebawahannya Tio Kong semua bangsa kantong nasi. Itulah suara beberapa puluh orang polisi. ia membungkuk sedikit. Bukankah residen dan camat pun mesti berlutut terhadap tetamunya itu? Tidak ayal lagi dengan dipimpin kuasa hotel. ia berlutut dan manggut-manggut. Nyonya Yo Tiat Sim menjadi terperanjat. Dengan cara hormat. aku menyangka dialah sanaknya kaisar. ―Sebenarnya tidak ku niat pedulikan mereka.‖ berkata Yen Lieh. ―Sekarang ini sudilah kiranya Tayjin menerima dahulu ini jumlah yang tidak berarti. ―Piecit adalah Khay Oen Cong. ―Sebenarnya suratmu itu wasiat apa?‖ ia tanya. yang mengiringi dua pembesar dengan pakaian dinasnya. kalau negara mereka tidak lenyap.

―Akhir-akhirnya kamu dapat cari aku!‖ kata Yen Lieh sambil tertawa Sek Yok dengar orang dipanggil ―ong-ya‖ – ―sri paduka‖. karenanya pada tahun baru yang baru lalu telah aku mohon Ayahanda raja mengirim aku ke Lim-an sebagai utusan yang datang untuk memberi selamat tahun Baru kepada kaisar Song. Tentu saja oleh karena ini ia menjadi tidak dapat membuka mulutnya. Yen Lieh kembali tertawa. Kemudian. ― Telah lama aku kagumi keindahan wilayah selatan. aku tandaskan kepadanya. Ia baharu mau menyahuti. bahwa rakyat di utara telah diperlakukan dengan kejam oleh bangsa Kim itu. Mereka beda daripada tentera Tionggoan. Peragamannya rapi. ―Bicara terus terang nyonya. Pangeran Tio Ong adalah aku yang rendah…. orang dengan siapa siang dan malam ia berada bersama selama beberapa hari. habis kita mesti memanggil apa?‖ Lagi sek Yok terkejut. riang gembira. Begitu mereka melihat Yen Lieh. hampir berbareng mereka menyerukan: ―Ongya!‖ Dan lantas semuanya memberi hormat sambil berlutut. ―Apakah mereka bukannya tentara Song?‖ si nyonya membaliki. Wanyen Lieh lihat air muka orang berubah. ia tercengang.‖ Mau atau tidak Sek Yok terperanjat. ia tidak terlalu heran. Yen Lieh tertawa. Sekarang diluar tahunya. dia janji saban tahu mengirim upeti uang dan cita. ―Sekarang baiklah aku omong terang padamu!‖ katanya.Pendekar Pemanah Rajawali Kalau hal ini di dengar orang. setelah ia menikah dengan Yo Tiat Sim. aku sendiri bakal mengepalai angkatan perang untuk mengambilnya dan dia tak usah capekkan hati lagi mengurusnya!‖ ―Apa katanya Han Sinsiang?‖ Sek Yok tanya. ―Ke Utara?‖ dia bertanya. Yen Lieh mengangguk. kau…‖ katanya Sek Yok dengan suara yang gemetar. bagimana dua kaisar Tionggoan telah ditawan. Ia lantas saja mengerutka kening. namaku mesti ditambah satu huruf ―Wan‖ di atasnya. Ia hanya heran menyaksikan rombongan serdadu itu. ―Sebenarnya aku yang rendah ini adalah Wanyen Lieh. Pernah dahulu ia dengar ayahnya bercerita bagaimana bangsa Kim telah menggilas-gilas wilayah Tionggoan. semua menunjuki wajah sangat girang.‖ ―Upeti tahunan?‖ Sek Yok heran. jikalau kita tidak panggil dia Tio Kong. ―Setibanya kita di utara. ―Tidak ada halangannya untuk aku menyebeutkan namanya.‖ ia menyahut sambil tertawa. ―Kerajaan Song mohon negaraku tidak menyerang dia. apa ini didengar orang. terus ke muka kamarnya si anak muda. tetapi dengan alasan penghasilan negaranya tidak mencukupi. Mereka semua bertubuh besar dan kekar. ―Semua keluar!‖ kemudian Yen Lieh berkata. nampaknya ia sangat tidak puas. Ia lantas berkata. Itulah beberapa puluh serdadu denag pakaiannya yang tersulam. dari itu Ayahanda raja menitah aku menagihnya sekalian. Segera terdengar tindakan banyak kaki yang bersepatu kulit memasuki ruang hotel. lenyap senyumnya si nyonya. ―Kalau begitu kau jadinya. panjang dan puas sekali. tapi di luar hotel terdengar tindakan dari beberapa puluh kuda yang terhenti tepat di muka hotel.. ―Ya. ―Bagaimana kau lihat semua orangku dibandingkan dengan tentara Song?‖ ia tanya. Di samping itu kebetulan kaisar Song belum membayar upeti tahunannya yang berjumlah beberapa puluh laksa tail perak. maka kali ini aku tidak sungkan-sungkan lagi menghadapi Perdana Menteri Han To Cu. Irawan D Soedradjat Page 29 . Dengan berbareng menyahuti semua serdadu itu mundur teratur. yang menjadi musuh Tionggoan. adalah putranya raja Kim itu. ia juga ketahui bagimana hebat suaminya itu membenci bangsa Kim itu. tangannya diulapkan.‖ sahut putra raja Kim itu. dibawa pulang ke negeri Kim itu. apabila dalam tempo satu bulan upeti tidak dibayar penuh. apa itu bukan artinya sangat kurang ajar. sering-sering kaisar Song tidak menepati janjinya.‖ dia menyahuti. Sek Yok sebaliknya terkejut. yang terus berbangkit untuk berdiri dengan tegak. putra keenam dari Raja Kim.?‖ Maka lekaslekas ia berkata ― Bicara hati-hati! Nama raja mana boleh sembarangan disebut-sebut?‖ Senang Yen Lieh akan mengetahui nyonya ini menyayangi dia. ―Semua serdadu itu adalah tentara pilihan dari negara Kim yang besar!‖ Dan dia tertawa pula.

sekarang hendak aku pergi beli pakaian. orang-orang yang berlalu lintas kebetulan banyak. ia akan mohon ayahnya angkat ia menjadi Gouw Ong. ―Tidak usah. ―Kuda itu jempol. kapan ia mengepalai angkatan perang mendatangi wilayah ini. Alisnya kuncup. Hampir di itu waktu. tegap tubuhnya dan pesat gerakkannya. Menampak kuda itu. Itulah perlakuan istimewa. kate terokmok angkat lesnya. tetapi sekarang tanpa merasa ia berseru. di empat penjuru sini telah berjaga-jaga pasukan pribadiku. jikalau aku pakai itu untuk membeli pakaian. ―Aku tetapi datang sendiri. kakinya bergerak. kuda mana terus lompat melewati atas kepalanya dua bocah itu. ―Nah. Di sebelah keanehan si penunggang kuda. Irawan D Soedradjat Page 30 . sesudah itu. ―Menagih upeti ada urusan yang remeh. Kuda itu tidak pernah menerjang barang atau menyentil orang. diperhatikan demikian macam. seperti kelit sana dan kelit sini. pangeran wilayah selatan ini. supaya dapat ia tinggal tetap di Kanglam…. ia jadi tertawa sendirinya. Nyonya! Kau jangan takut. tubuhnya pun terangkat dari bebokong kuda. tubuh si kate turun pula.‖ kata Wanyen Lieh kemudian. aku bertemu dengan Nyonya. Putra raja Kim itu tertawa ketika ia berkata pula. karena ingin aku menyaksikan kepermaian wilayah selatan ini. Dengan membekal uang. dengan hitung besar dan bulat seperti buah prim merah ditempel di muka. di jalan itu muncul dua bocah berlari-lari main kejar-kejaran melintas di depan kuda. matanya memandangi sekitarnya hingga mendadak ia dengar larinya kuda derap. Ia lantas menyingkir ke pinggiran.‖ kata Sek Yok tunduk. apa maksudnya putra raja Kim itu yang ia seorang wanita dari rakyat jelata. ia dapat bergerak merdeka. baik aku beli denagn harga istimewa. bercokol lagi di bebokong kuda seperti tadi.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apa lagi dia bisa bilang? Belum lagi aku meninggalkan Lim-an. tidak nanti orang jahat yang berani ganggu padamu!‖ Mendengar itu Sek Yok mau menduga bahwa ia telah diancam dengan samar-samar bahwa tak dapat ia melarikan diri apabila ia memikir demikian. ―Uang pribadi Han Sinsiang sendiri yang dibekali padaku. dengan bercokol di atas kuda yang tinggi besar. kenapa ada orang yang larikan kudanya di situ. Dengan perasaan puas. Penunggang kuda itu adalah seorang yang tubuhnya kate dan terokmok dan romannya jelek. dan pinggiran jalanan pun ditempati pedagang-pedagang gelar dan pikulan. numprah dengan aman! Wanyen Lieh kagum hingga ia menjublak. ia mirip setumpuk daging belaka. yang kelihatan cuma kepalanya yang gede. lehernya pun seperti tidak ada. Wanyen Lieh merasa ia adalah satu ahli penunggang kuda. maka dengan itu Wanyen Lieh dapat lihat tegas muka orang. Sebentar saja kuda itu telah tiba. Wanyen Lieh pergi ke kota di bagaian yang ramai. aneh juga cara kudanya berlari-lari.‖ pikirnya. nampak beda juga. yangmuncul mengkeret di atasan pundaknya. uang dan cita sudah diseberangkan sungai. maka adalah diluar dugaanku. dia berpaling. Itulah seekor kuda kuning yang tinggi dan besar. ia lantas mendekam di pembaringannya dan menangis sedih sekali. ia hanya heran sekali. tak habis kau pakai itu selama seribu tahun. ―Bagus!‖ Si kate terokmok dengar orang memuji dia. karena hotel itu telah dijaga rapat.‖ Pauw Sek Yok tetap bungkam. orang bangsawan ini bertindak dengan perlahan-lahan. walaupun kuli. Sekarang ia insyaf bahwa manusai tidak dapat di lihat dari romannya saja. Kuda itu kaget. Itulah satu muka yang merah seperti ampas arak. Ia lantas memikir untuk nanti.‖ berkata pula Wanyen Lieh. Lihay luar biasa si cebol itu. di negaranya sendiri – negera Kim tidak ada penunggang kuda sepandai dia walaupun ia ada punya banyak ahli penunggang kuda. maka itu diam-diam ia mengaguminya. Ia lihat penduduk kota ada halus gerak-geriknya. Jalan besar di situ tidak lebar. Sudah ia pendek tangan dan pendek kaki. cukup dengan utus satu menteri. Hahaha!!‖ Sek Yok berdiam. Kapan ia ingat suaminya. kapan ia saksikan penunggangnya. terang itu adalah kuda asal luar tapal batas. Wanyen Lieh memuji akan tetapi. Tepat di itu saat. sungguh aku sangat beruntung. yang sangat mencintainya. atau melompati pukulan pedagang-pedagang.

yang aliasnya Thay-pek dan julukannya Cui Sian. akan tetapi di sini. dengan tidak pecah seluruhnya. Berdiri di tanah si kate nampaknya semakin tak mengasih. Memang putra raja Kim ini adalah seorang denagn cita-cita luhur. untuk jadi guru. Ia percaya ia dapat melakukan itu hanya tidak sedemikian sempurna.‖ ―Baik. Tingginya tak ada tiga kaki. sebaliknya lebar tubuhnya ada tiga kaki penuh. dan teliti sepak terjangnya. mulutnya dibuka untuk perdengarkan ringkikkan. atau sebuah restoran. Malah ia lantas lari untuk menyusul penunggang kuda itu. ―Ah. Di atas loteng ada lagi sebuah papan merek dengan tiga huruf ―Cui Sian Lauw‖. Tak biasanya kuda larat dapat berhenti secara demikian tiba-tiba. Begitu lekas guci telah terbuka. ia babat guci sebatas pundaknya guci itu hingga tempat arak itu menjadi terbuka bagaikan jambangan. ―Yang delapan meja makanan dengan daging. di samping aman ada pula empat huruf kecil bunyinya: ―Tong Po Kie-su‖. Tadinya Wanyen Lieh ingin memasuki ciulauw itu atau segera ia tampak si kate sudah keluar pula sambil tangannya membawa satu guci arak yang terus dibawa ke depan kudanya. Dewa Mabuk. Putra raja Kim itu angkat kepalanya. ia lemparkan sepotong uang ke atas meja kuasa restoran itu. ia telah memasuki sebuah restoran di pinggiran mana kudanya dihentikan secara istimewa itu. Dengan berdiri berdekatan. ―Lekas kamu sajikan sembilan meja barang hidangan kelas satu!‖ kata si kate. bukankah pasukan kudaku bakal menjagoi di kolong langit ini?‖ dia berpikir. arak simpanan tiga atau empat puluh tahun. Jadi itu ada ciulauw yang pakai nama Souw Tong Po. ―Pemerintah di selatan ini justru buruk. Si kate tidak lompat naik ke atas kudanya. Han Samya!‖ berkata si kuasa ciulauw sambil tertawa. ―Kebetulan hari ini kami dapat empat ekor ikan saylouw. si kate terokmok sudah lompat turun dari kudanya dengan cepat luar biasa. Putra raja Kim ini ingin menontoni kelakuan. Dengan mendatangi Kanglam. sedangnya ia berniat mengoaki si kate itu. ayahnya dikirimkan arak serupa oleh utusan kaisar Song dan oleh ayahnya ia dibagi beberapa guci. hingga ia tahu baik sekali tempat-tempat dimana ia dapat pernahkan tentaranya atau dimana dia dapat seberangi sungai. Karenanya ia lantas ambil ketetapan untuk undang kate terokmok itu. Selagi ia khawatir nanti tak dapat menyandak. mendadak kuda orang itu berhenti berlari. yang satu sayuran saja. yang hurufnya kekar dan bagus. Tanpa Iweekang. Malah ia ingat juga namanamanya setiap pembesar setiap tempat serta kepandaiannya setiap pembesar itu. Dia pun melamun. si kate tidak cukup tinggi untuk kepalanya menyundul sanggurdi. setelah turunkan kedua kakinya ia terus tunduki kepalanya. untuk berdongak. aku minta sudi apakah kiranya samya simpan dahulu. biasanya kuda itu mesti berlari-kari perlahan dahulu. ia kembali ke restoran. Nyata itu adalah sepotong emas yang berkilau kuning. Wanyen Lieh segera dapat mencium baunya arak yang melulahkan terbawa angin. sambil kasih dengar bentakan. itu penyair yang terkenal. yang tak ada lawannya yang lainnya untuk teman arak! Tentang emas ini. maka matanya lantas melihat sepotong papan merek dengan bunyi empat huruf ―Tay Pek Ie Hong‖. Ia kenali arak itu adalah arak Siauwhin yang kesohor. Jadi itu sebuah ciulauw. kuda kuning itu angkat naik kaki depannya.‖ dia negelamun terlebih jauh. Ia sangat menyayangi arak jempolan itu. tidak nanti guci arak dapat ditebas kutung dengan tangan. atau tenaga dalam yang sempurna. Di depan ia adalah kudanya. ia pun lantas berdiri di pinggiran.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau dia bisa diundang ke kota rajaku. Maka inginWanyen Lieh menyaksikan orang punya sepak terjang lebih jauh. untuk sedot arak itu berulang-ulang! Dalam keheranan. tak hendak ia sering-sering meminumnya. Mengenai nperhitungannya nanti perlahan-lahan kita mengurusnya…‖ Irawan D Soedradjat Page 31 . Kembali ia menjadi heran. Selagi Wanyen Lieh terheran-heran. Pernah selama di Yankhia. ia mengenal ilmu tenaga dalam yang lihay. habis mana dengan sebelah tangannya. berapa besar faedahnya apabila ia berhasil membeli kuda istimewa itu. ia saksikan seekor kuda tunggangan diberikan arak itu! Si kate tinggalkan kudanya minum. mulutnya dikasih masuk ke dalam guci. di situ ia letak guci araknya. sayang kalau orang pandai ini tak dapat digunai olehku. hanya ia berdiri di depan binatang tunggangannya itu. yang istimewa tinggidan besarnya. ibukotanya. Riasannya ciulauw pun ada istimewa.‖ pikir Wanyen Lieh. maka dilain saat sudah terdengar tindakannya yang cepat di undakan tangga loteng. ia berberang sudah perhatikan keletakan daerah.

hendak aku saksikan orang-orang macam bagaimana yang ia undang berjamu. Setelah perahu kecil itu datang semakin mendekat. ―Shako!‖ memanggil si nona tukang perahu setibanya di atas loteng. Itu pun sebabnya di dalam telaga tumbuh banyak pohon lengkak itu. Wanyen Liaeh memandangi keindahan telaga. ―Apa?!‖ serunya aneh. ―Dan di sini orang sangat menghormatinya. sedang yang mengayuh yang berbareng menjadi pengemudi. Si cebol sudah lantas duduk minum arak di sebuah meja. Hap Lu. Kali ini ia tampak sebuah perahu nelayan yang kecil. sebagaimana kawannya juga duduk dikursi lainnya. Di jaman Cun Ciu. untuk apa meja sembilan ini?‖ ia menerka-nerka. Dia pun lantas sambil sebuah meja. Kee-hin adalah sebuah kota negara Wat. akan tetapi perahu itu lahu melesat. Dia masuki pengayuh ke dalam air. Nyata pengayuh itu terbuat dari kuningan. kulitnya putih bagaikan salju. Perahu itu kecil tatapi panjang. Kembali Wanyen Lieh memandang ke telaga. ―Sietee. Tiba-tiba ia dengar suara beradunya sumpit da cawan-cawan arak. apabila ia menoleh. Di pinggiran perahu berdiri dua baris burung-burung air peranti menangkap ikan. Lega hati untuk memandang permukaan telaga itu.Pendekar Pemanah Rajawali Mendengar itu. minumnya ayal-ayalan. yang laju pesat sekali. Kouw Cian telah labrak Raja Gouw. aku tunggu dulu. Segera ternyata ia adalah seorang wanita. tengah remajanya. mengapa Cuma disediakan sembilan cawan saja? Apa mungkin ini ada adat kebiasaan di selatan ini…. Seorang wanita bertenaga demikian besar inilah aneh: maka aneh juga pengayuhnya itu yang dapat dipakai mengower air demikian kuat. Disini dahulu Raja Wat. Hanya herannya untuk setiap meja ditaruhkan Cuma sepasang sumpit dan satu cawan arak. Itulah kulitnya Irawan D Soedradjat Page 32 . Si wanita tampak perahunya dipelatok di samping tangga batu di bawah loteng restiran. nampaknya ia mengayuh denagn perlahan. tubuh perahu seperti melompat di atasan air. Mungkinkah ia ada okpa di kota Kee-hin ini? Kalau benar. matanya si kate terbelalak. tanpa layani si cebol itu. lalu tertampak suatu cahaya berkilau mengkeredep. Ia minta satu poci arak serta barang makanan sekedarnya. Sambil hirup araknya perlahan-lahan. Di situ pun kedapatan banyak pohon lengkak yang daunnya hijau-hijau. tentu sulit rasanya untuk undang ia menjadi guru…Baiklah. sampai sejenak saja perahu itu dapat melewati sebuah perahu kecil yang terpisah jauh darinya. Lagi beberapa gayuan. habis itu ia lompat ke darat. citmoay. Wanyen Lieh diam-diam perhatikan dua pendatang baru ini. buah lie keluaran sini kesohor manis. Mulanya ia tidak menaruh perhatian. Restoran Cui Sian Lauw ini letaknya di pinggir Lam Ouw. Dengan begitu ia pun menantikan tetamu-tetamunya si cebol. Si wanita berusia tujuh atau delapanbelas tahun. Wanyen Lieh menjadi heran sekali.‖ pikirnya. Di sini ada sinar matahari yang menyoroti pengayuh itu. atau lengkak yang tidak ada ―tanduknya‖ yang rasanya empuk dan manis. ―Jikalau jumlahnya banyak. lekas sajikan arak dan makanan untuk Han Samya!‖ Seruan itu sudah lantas sapat sambutan berulang-ulang. Wanyen Lieh lihat di tengah perahu ada berduduk satu orang. panjang bulu matanya. ―Si kate ini berpakaian tidak karuan tetapi ia sangat royal. Orang yang menumpang perahu itu satu pria. kamu datang siang-siang?‖ kata si cebol. sama kesohornya dengan araknya. Itu waktu tengah telaga nampak kabut tipis. lompat mendarat juga setelah ia samber sepotong kayu pikulan yang kasar. Telaga Selatan. kepalanya terangkat naik. Di jaman dahulu. kepada si kate terokmok. ―Menenggak arak tanpa uangnya ? Apakah kau sangka Han Samya kamu ini tukang anglap?‖ Kuasa ciulauw itu tertawa haha-hihi. Tenaga mengayuh itu mungkin ada tenaga dari dua ratus kati. di muka air ada beberapa buah perahu kecil lagi mundar-mandir. tak ada bandingannya untuk Kanglam. kenderaan air itu segera mendekati restoran.? Ia memikir tetapi tidak dapat jawabannya. Kee-hin dipanggil Cui Lie atau Lie Mabuk. yang duduk di belakang ada seseoarng yang memakai baju rumput. Dia beramta besar. ia dapatkan beberapa jongos mulai mengatur sembilan buah meja.‖ Karena ini ia hampiri ciulauw itu untuk naik ke loteng dimana ia pilih satu meja di pinggir jendela. ia berpaling ke dalam dan berseru: ―kawankawan. Telaga itu pun ada mengeluarkan hasil yang kesohor yaitu bu-kak-leng. Keduanya terus mendaki tangga loteng. ―Kalau yang datang cuma sembilan orang.

ngoko. kembali ada orang hendak curi kuda twie-hong-ma‘mu!‖ katanya. Si pedagang kecil lantas saja tertawa. ―Bagus. Si cebol tertawa.mulut mereka masih berkoak-koak beraduh-aduh. Segare suara mereka itu bercampuran sama satu suara baru. Sekarang ia lirik si pria yang membawa-bawa kayu pikulan. yang dari romannya dari kepala sampai di kaki. Maka teranglah ia seorang buta. ―Mereka datang ke Kee-hin untuk mencuri. suaranya parau. hingga ia awasi pikulan itu. kenapa kamu tidak dengar-dengar dulu namanya Han Samya? Bagus. baju dan celananya berbahan kain kasar. ―Heran!‖ kata Wanyen Lieh dalam hati kecilnya. liokko. Si pengkor merangkap buta ini rupanya telah dengar pembicaraan orang banyak itu. Di pinggangnya orang itupun ada terselip sebuah kampak pendek. Ketika dia sanderkan pikulannya di samping meja. di tangga loteng sudah terdengar lagi tindakan kaki berisik dua orang lagi. Dia pun mempunyai rambut yang hitam mengkilap. kedua ujungnya muncul sedikit. kata dia pada dua orang yang bercelaka itu: ―Kamu bangsat-bangsat luar kota. Kedua pencuri kuda itu mencoba merayap bangun. kulit mukanya putih. romannya jujur polos. dia toh menggairahkan dengan sifatnya sendiri. ialah tingtong-tingtong seperti besi mengadu dengan batu hinga orang pada memandang ke jurusan dari mana suara itu datang. ―Tiga orang yang pertama adalah orang-orang yang mungkin berkepandaian tinggi. dipundak kanannya ia ada menggendol semacam senjata peranti memburu. sama denagn kampak biasa. Dari dua orang ini. tubuh itu meminyak. tertampak pula dadanya berbulu gompiok. sedang sepatunya ada cauw-ee. ―Shako. yang sudah sedikit gompal. Baharu dua orang itu duduk. Karena ia menggulung tangan bajunya tinggi-tinggi. tampak dua orang tengah mengoser sambil merintih. Cuma ditangannya kurang sebatang golok lancip. sepatu rumput. Irawan D Soedradjat Page 33 . Ia mencekal pengayuh kuningannya dengan tangan kanan dan menenteng baju rumputnya dengan tangan kiri. hingga ia mirip seorang pedagang kecil. usianya kurang lebih tiga puluh tahun. ―Bagian anggotanya yang mana yang kena didupak kuda?‖ dia tanya. dibahasakan saudara?‖ Tengah si putra raja Kim berpikir demikian. serta sebuah keranjang bambu. Melihat potongannya. ―Walaupun dia tidak dapat melawan kecantikannya Pauw-sieku. Wanyen Lieh menjadi bertambah-tambah heran. ―Itu namanya berbuat sendiri. Karena beratnya itu. pinggangnya dilibat tali rumput. hingga ia mesti gunai tongkat besinya untuk mencari jalanan untuk sekalian menunjang diri. Ia mendatangi dengan tindakan dangklak-dingkluk. pasti pikulan itu bukan terbuat dari besi entah dari bahan apa. Meja itu menggeser sedikit. terdengarlah suara beberapa kali. karena bajunya tidak dikancing. rupanya peranti menjaga pikulan tidak merosot terlepas. makan sendiri hasilnya!‖ dia bilang. tangannya mencekal dacin. dua jentilan kakinya cukup untuk dua pencuri ini. selagi bercacat di bawah. yang jalan di depan berdedakan tinggi dan kekar. Wanyen Lieh segera melongok ke bawah loteng. ialah pesawat timbangan. Mereka ini ambil masing-masing sebuah meja. yang warnanya hitam mengkilap.Pendekar Pemanah Rajawali orang Kanglam sejati. Orang yang berjalan di belakangnya berpotongan sedang. kenapa kedua orang ini yang mirip orang-orang kalangan rendah. malah ia dapat membinasakan seekor harimau…‖ pikirnya.! Sedang seorang yang lain bilang. dia pun bercacat di atas. satu antaranya mengatakan: ―Kuda Han Samya lihay melebihkan manusia. mirip orang desa tulen. Di tikungan jalan besar terlihat munculnya satu orang pengkor yang pakaiannya rombeng dan tangan kirinya memegang sepotong tongkat besi dengan apa dia saban-saban memukul batu-batu yang menggelari jalan besar itu. kepalanya ditutup kopiah kecil.‖ berpikir putra raja Kim itu.. ia mirip satu pembantai atau penyembelih hewan. di bawah loteng terdengar ringkikan kuda yang disusul sama jeritan kesakitan hebat dari dua orang. yang ujungnya dibanduli seekor macan tutul. ini namanya benturkan kepala dato…! Hayo lekas naik ke loteng untuk minta ampun!‖ Di bawah loteng itu ada lagi orang-orang yang berbicara. Sungguh celaka. pun terlihat lengannya berbulu hitam seperti dadanya itu. Ia bertangan kasar dan kaki gede. kamu datang berbareng!‖ menyambut si nona nelayan. tubuhnya terlibat semacam kain. bentrok sama meja itu. Pengurus dari Cui Sian lauw tertawa. ―Belum pernah aku dengar orang picak lagi pengkor pandai berburu binatang hutan. Sendirinya Wanyen Lieh terperanjat. sungguh mereka sudah bosan hidup!‖ ―Rupanya mereka hendak mencuri kuda lalu kena kuda jentil‖ pikir Wanyen Lieh. Sudah begitu.

tapi ia pandai berpikir. maka tangannya yang telah diangkat tinggi segera dikasih turun pula. dia menjadi pentang mulutnya lebar-lebar. hingga dia ini berteriak kesakitan. Menyaksikan perbuatan si nona. Kalau tadi ini pencuri sakit kakinya sampai tak dapat digeraki. dengan tangan kirinya ia usapi dadanya pencuri itu. terus mendaki tangga loteng. Tuan orang pandai. ―Toako!‖ mereka berseru. Ketika itu semua orang yang telah datang terlebih dahulu. sungguh…. ia tepuk-tepuk kursi itu seraya berkata: ―Toako. berdiri di samping kursi. ―Apakah jietee masih belum sampai?‖ ―Jieko sudah tiba di Kee-hin. ―Hei pengemis bangsat. mengertilah Wanyen Lieh bahwa si buta benar-benar tak dapat melihat.‖ Si buta tidak menggubris pencuri itu. mulutnya pun mengecoh: ―Oh yaya yang sakti. ia mencoba menahan karena mana ia jadi tertawa cekikikan. lenyap rasa sakit di dadanya itu. sekarang denagn tiba-tiba sakitnya itu lenyap. berbareng dengan mana dengan tiba-tiba ia totok pinggangnya si pencuri. lantas ia muntah beberapa kali. si buta bertindak ke mejanya. untuk kekasaranku barusan. ―Kenapa ia dapat melihat aku? Apakah dia bukan buta benarbenar?‖ dia berakta di dalam hatinya. Maka lekas-lekas ia jatuhkan diri untuk berkutut untuk manggut-manggut hingga jidatnya berbunyi mengenai batu. ―Jongos.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tekukan dengkul kiri. dengan suara susah. lalu mendadak ia kitik ketiak orang. ―Terima kasih.‖ Segera ia berpaling kepada kawannya dan berkata: ―Saudara mari lekas. kau juga hendak main gila sama aku!‖ Dan ia memburu sambil ulur tangannya untuk meninju. maka setelah datang dekat si buta ia jadi berdiri menjublak. sekarang sudah waktunya ia sampai disini‖ sahut orang yang potongannya seperti pembantai itu. Pencuri itu kegelian. di mana ia duduk di kursi yang ditepuk-tepuk oleh si nona nelayan. di sini kursimu!‖ ―Baik!‖ menyahuti si buta itu. Tapi si buta menunjuk kepada Wanyen Lieh seraya ia berkata pada si jongos: ―Kau mesti potongi dagingnya barang dua kati. Tiba-tiba ia merasa enak perutnya. Wanyen Lieh sendiri menjadi sangat terkejut. ―Sungguh hari ini aku sangat beruntung!‖ kata Wanyen Lieh dalam hatinya. Irawan D Soedradjat Page 34 . ―Diluar dugaanku. ia hanya bertindak memasuki restoran itu. mana dia berkelit tetapi sudah kasep. Hampir berbareng denagn itu. pencuri itu bertindak denagn susah payah mendekati si buta dan pengkor itu. Sembari berbicara. Lalu si nelayan wanita bertindak ke meja nomor satu di sebelah timur. kau mohon toaya ini tolong obati padamu…‖ Dengan meringis-ringis. Rupanya ia membutuhkan suara apa-apa untuk ketahui ke mana ia mesti pergi. ―Toaya binatang itu dupak dadaku…‖ katanya. kau suguhkan itu tuan untuk dia mencicipi rasanya…‖ ―Ya…ya…‖ sahut si jongos itu. mengeluarkan ludah lender. Si buta pindahkan tongkatnya ke tangan kanan. Karena kesakitan. cepat kau urus macan ini!‖ ia perintahkan. yang tengah duduk lantas bangkit bangun. ia gotong pergi macan tutul itu.‖ katanya. si buta lemparkan macan tutulnya ke lantai. aku dapat menemui orang-orang berilmu…‖ Sampai di atas loteng. ―Aku bodoh. ―Tulang-tulangnya kau godok menjadi kuwah yang kental! Hati-hati supaya kulitnya tidak sampai kena terpotong rusak!‖ Satu jongos menyahuti. lalu lantas ia memberi hormat samil menjura.‖ sahut salah satu pencuri kuda itu. lalu bersama dua kawannya. aku mohon diberi maaf. ―Hm!‖ si buta pendengarkan suaranya.

―Tidak tahu siapa yang apes malang…. untuk daging yang dibagikan kepadanya – yang mana ada alasan bagus sekali untuk berkenalan – tiba-tiba ia dengar tindakan kaki yang bersepatu kulit di undakan tangga loteng. dan Wanyen Lieh segera kenali orang yang tadi ia ketemui di waktu lenyap uangnya. Di situ ada sembilan buah meja. lalu menggoyang-goyang pula kepalanya. ―Sungguh kepandaian yang lihay……. maka kamu dahar dan minumlah dengan puas!‖ Si mahasiswa menoleh kepada Wanyen Lieh. ―Baiklah aku lihat gelagat dulu…‖ Maka ia berdiam terus. lalu ia mengangguk-angguk. dan setiap kali ia menarik keluar tangannya. Mendengar itu semua kawannya itu tertawa terbahak-bahak. untuk dititipkan!‖ katanya pula. habis itu menyusul munculnnya satu kepala orang yang digoyang-goyang. baharu berhentilah ia merogoh sakunya. berulang-ulang. tidak peduli orang berbisik. bukankah?‖ Mahasiswa itu mengipasi uang di depannya dengan tak hentinya. guna hanturkan terima kasihnya. Walaupun demikian hatinya tetapi berkerja.‖ Si mahasiswa melarat itu pun tertawa. maka ia lantas berbalik dan memandang.‖ Si nona nelayan tertawa bergelak melihat uang sebanyak itu. Siapa lagi dua tetamu itu? Bukankah tujuh orang yang bakal jadi tuan rumah? Irawan D Soedradjat Page 35 . mukanya bertekukan menggoda. aku tahu!‖ sahut si nona. jeriji-jeriji tangannya tentu ada menjepit potongan-potongan uang perak sampai jumlahnya semua belasan potong.Pendekar Pemanah Rajawali Segera putra raja Kim itu ambil keputusannya untuk ikat perkenalan dan persahabatan dengan orang-orang kangkouw yang aneh ini. Hanya tepat ia hendak bertindak. cara bagaimana ia masih mengenali aku?‖ dia tanya dirinya sendiri. ―Citmoay. dari mulutnya keluar suara yang bersenandung: ―Uang tidak halal…. ia dapat mendengarnya. bibirnya tersungging senyum. ialah kepalanya satu mahasiswa melarat. ia heran tidak kepalang. ―Kembali mengenai negeri Kim. Ia pun segera berbangkit dari kursinya. bentrok dengan mereka tiada untungnya. ―Dia cuma tepuk pundakku dengan kipasnya. guna hampiri si buta. sekarang baharu datang tujuh orang. saudara yang kedua. Si mahasiswa sudah lantas tenggak araknya. aku ada punya semacam tabiat buruk yang kau telah ketahui!‖ katanya. Mengadu Kepandaian Sembari bernyanyi si mahasiswa melarat ini meragoh sakunya.. Yang pertama muncul di mulut tangga loteng adalah sehelai kipas kertas minyak yang gagangnya dekil. yang ia letaki di atas meja. dari itu masih lebih dua meja yang masih kosong. ―Aku menyamar sebagai orang Han. ia berpura-pura tidak mendengar pertanyaan itu. hari ini kau beruntung!‖ serunya. ―Mungkin dia inilah yang curi uangku…‖ ia menerka-nerka. Meluap hawa amarahnya Wanyen Lieh akan melihat uang perak itu yang ia kenali adalah kepunyaannya yang hilang lenyap itu. ―Oh. ia lantas berpaling ke lain jurusan. Justru begitu. Wanyen Lieh heran bukan kepalang. ―Uang orang bangsa asing ada sedikit berbau tetapi uang itu masih dapat digunai!‖ katanya. maka dengan itu lantas ia serukan kepada sudara-saudaranya. mengapa ia bisa curi uangku?‖ demikian ia berpikir tak habis herannya. sebab berbareng dengan itu. ia bertanya pula: ―Mana si wanita baik-baik yang kau perdayakan?‖ Wanyen Lieh sudah putuskan untuk tidak menimbulkan kerewelan. setelah mana ia menegur semua orang yang telah hadir di situ. Hatinya lantas menjadi panas. ―Semua mereka lihay. akan tetapi sembari tertawa. Si buta tidak awas matanya akan tetapi kupingnya jeli luar biasa. ―Dan kau bawa dulu kepada kuasamu. Ia menjadi heran pula. Lantas dia gapekan pelayan untuk bisiki padanya: ―Semua tuan-tuan ini akulah yang undang berjamu…‖ Dia pun lantas keluarkan dua potong emas. ―Jiko. Tindakan itu ada seperti separuh diseret.Thian yang maha kuasa…umbar adatnya!‖ Bab 4. Dia benar-benar yang dimaksudkan si jietee atau jieko. si mahasiswa itu mengawasi ke arahnya. akan tetapi ia mencoba sebisa-bisanya untuk mengatasi dirinya. kipas itu dikipaskan beberapa kali. mirip sekali.. ―Saudarasaudara ada orang yang mentraktir kita. dan jarak mereka jauh pula. matanya menyapu. lepaskan dia….‖ Wanyen Lieh berpikir.

Budi yang besar ini. ia kenali si imam adalah Tiang Cun Chu Khu Cie Kee atau Tiang Cun Cinjin! Wanyen Lieh ini mendapat tugas dari ayahnya menjadi utusan bangsa Kim ke Tionggoan. Wanyen Lieh segera melihat munculnya satu tojin. sedang rakyat umumnya mengandal padanya. Girang sekali ini putra raja Kim menampak ikhtiarnya telah berjalan baik sekali. mana dia pandang mata lagi kaum Rimba Persilatan di Kanglam ini? Karena kejumawaannya itu. kalau mendapat tahu siapa yang menitahkan dia melakukan pembunuhan yang hebat itu. hingga dengan begitu – rupanya – tak usah dia bertindak lagi di undakan tangga.‖ Pendeta itu ialah Ciauw Bok Taysu. perbuatan mana diikuti oleh enam kawannya: Dengan sikap menghormati mereka berdiri untuk menyambut orang yang baharu tiba itu. Wanyen Lieh tahu. barang hidangan masih belum disajikan. maka itu dia sudah lantas berhubungan sama menterinya kerajaan Song untuk dijadikan si menteri serta konco-konconya sebagai alat untuk menyambut dari dalam bila sudah waktunya ia turun tangan. taysu. untuk menjaga diri turun tangan terlebih dahulu. merendahkan diri. Wanyen Lieh melihat satu pendeta usia empat puluh lebih. siauwceng merasa bahwa siauwceng bukanlah tandingannya.‖ berkata si buta. maka tujuh orang itu Cuma tenggak air kata-kata. dia memang sangat aguli kepandaiannya. maka itu siauwceng bersyukur yang liat-wie telah sudi membantu. satu imam yang tangannya menyangga sebuah jambangan perunggu yang besar sekali. Tentang orang itu. Si hweshio menjura. guna mengompes dia. habis itu si mahasiswa melarat pun pimpin tetamunya ke sebuah meja yang kosong untuk silahkan ia duduk. Dan untuk kagetnya putra raja Kim ini. walaupun tubuhku hancur lebur. Ong To Kian. dia berkata: ― Orang itu telah datang menyatroni. Dan menteri yang bekerjasama dengan Wanyen Lieh adalah Perdana Menteri Han To Cu. Dia pun bercita-cita besar sekali. seperti ada sesuatu yang mendaki. Kalau Han To Cu anggap paling baik mengirim orang untuk membunuh menteri itu. Oleh karena ini. dia khawatir sekali rahasianya nanti bocor. dia sangat mengharap dapat membangun pula kerjaan Song hingga menjadi jaya seperti semula. mungkin itu bukan suara gajah tetapi sedikitnya kerbau…. tanpa sebab tanpa alasan. Han To Cu juga kaget dan ketakutan karenanya. Menyusul itu pun lantas terdengar suara kaget dari kuasa ciulauw serta jongosnya: ―Benda begitu berat mana dapat dibawa naik ke atas…! Eh. dari itu ia Irawan D Soedradjat Page 36 . utusannya ini telah rela akan menakluk dan menjadi hambanya kerajaan Kim. baharu arak saja yang dikeluarkan. kepada kerajaan Song. Dengan perbuatannya itu. Ciauw Bok Taysu tiba!‖ seru si buta yang terus berbangkit. ―Ambithaba Buddha!‖ kembali terdengar pujian. Ciauw Bok Taysu. Ia menyebutkan dirinya ―siauwceng‖ si pendeta yang kecil rendah. ia hanya pandai silat dan surat berbareng dan kesetiaannya terhadap negara adalah luar biasa. di tangga loteng telah terdengar suara yang sangat berat dan nyaring. Kepala dari Cip-eng-thian dan pengurus Ciong-yu-koan. ―Kami tujuh bersaudara pun berterima kasih kepadamu yang biasa melimpahkan kebaikan terhadap kami. kita bersaudara pasti tak mau sudah saja…‖ Belum lagi habis suaranya si buta ini. Bagaikan orang yang matanya kabur. Yang pertama ia ingin singkirkan adalah Sien Kee Ci. Hanya kemudian ia menjadi sangat kaget akan mendapatkan Ong To Kian mati terbunuh secara gelap. Sebenarnya menteri ini tidak berkuasa atas pemerintahan. ingin ia merubuhkan menteri atau panglima yang paling keras kepala hendak melawan negara Kim. yang ujungnya telah hitam bekas terbakar. dia mencari gara-gara terhadap taysu. tak dapat siauwceng membalasnya. akan kemudian disusul sama mengerekeknya dua helai papan undakan lainnya. adalah Wanyen Lieh menghendaki menawan terlebih dulu pembunuhnya Ong To Kian. yang baharu suaranya terdengar. ia dengar datangnya suara memuji dari bawah loteng: ―Amitabha Buddha!‖ Suara itu sangat jernih dan tedas. yang berkerebong jubah kasee merah dengan lapis dalamnya jubah kuning. disusul mana patahnya sehelai papan undakan tangga.Pendekar Pemanah Rajawali Sampai itu waktu. meskipun dia tidak musuhkan kau. Utusan Song yang datang dari Yankhia menemani dia sepanjangn jalan. tetapi yang tindakannya cepat pesat seperti ia tidak menginjak lantai. Tengah putra raja ini berpikir. Tak tahu ia apa faedahnya puntung kayu itu. Pendeta itu dan tujuh saudara tersebut saling memberi hormat dan saling menegur. sedang tangannya memegang sepotong kayu. tidak dapat ia mengandal saja kepada pihak Song. lekas cegah dia. karena keserakahannya sudah terima sogokan besar dan berjanji suka bekerja sama. yang mana dibawa naik ke loteng sambil imam itu berlompat. ―Nah. lantai loteng nanti kena bikin dobol…! Lekas. kepalanya hilang berikut hati dan jantungnya. jangan kasih dia naik!‖ Suara berat itu tapinya terdengar terus. dan sekarang itu disusul sama munculnya satu tubuh kurus kering bagaikan pohon mampus. nyata terdengar hingga ke atas loteng. ―Harap kau tidak sungkan.

Mahasiswa Tangan Lihay. meskipun sebagai putra raja. hanya apa lacur mereka menghadapi musuh yang terlalu tangguh untuk mereka. Pauw-sie tidak tahu akal muslihat orang. ia telah melihat banyak wanita elok. Lega juga hatinya Wanyen Lieh apabila selang sekian lama ia dapatkan itu imam tidak perhatikan padanya. ia lantas tak dapat melupai Pauw-sie. Itu bukan jambangan biasa hanya tempat pembakaran kertas emas dalam kuil. yang ia anggap cantik dan manis. Sementara itu. Khu Cie Kee tetap pegangi tempat araknya yang istimewa itu. Selain Kwa Tin Ok yang berjuluk Hui Thian Pian-hok. Si nona nelayan adalah Wat Lie Kiam Han Siauw Eng. ialah Lam San Ciauwcu Lam Hie Jin atau si Tukang Kayu dari Lam San (Gunung Selatan). ke jalan besar. Ia lari ke istananya Han To Cu. Katanya: ―Kami menonton‖ Habis perkenalan itu. melainkan di tangan si imam. Kwa Tin Ok mendahulukan bertujuh saudaranya untuk berbicara. ia minta Han To Cu mengirim orang untuk menawan Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. Demikian Wanyen Lieh. sekarang kita dapat bertemu. imam itu lagi menghadapi Ciauw Bok Taysu serta tujuh orang luar biasa itu. ―Barusan pinto berkunjung ke kuil taysu. Rombongan ini dapat menyandak Khu Cie Kee di Gu-kee-cun. Wanyen Lieh sendiri belum sampai turun tangan atau pundaknya telah terkena panah. Yang kelima yang tubuhnya kekar tegap mirip sebagai pembantai adalah Siauw Mie To Thio A Seng atau si Buddha Tertawa. ialah yang termuda dari Kanglam Cit Koay. dan sekarang. selama mana. yang beratnya tiga atau empat ratus kati. Selagi orang diajar kenal. tanpa merasa ia membuatnya terlepas dan jatuh sepasang sumpit yang ia lagi pegang. ―Sekarang mari siauwceng perkenalkan dahulu kau dengan Kanglam Cit Koay!‖ Khu Cie Kee menjura membungkuk tubuh. ia kerjakan otaknya akan mengingat baik-baik nama Kanglam Cit Koay itu. Dia inilah yang tiga. selama ia menyebutkan setiap nama Khu Cie Kee menjura kepada orang-orang yang diperkenalkan itu. ia menyangka pemuda itu bermaksud baik. maka di luar tahunya sendiri.‖ Lalu dengan terus-terusan ia perkenalkan enam orang lainnya. setiap kali si imam bertindak. baik ilmu silat tangan kosong maupun bersenjatakan pedang. Selama Ciauw Bok Taysu memperkenalkan. Wanyen Lieh memasang kuping dan matanya. Orang yang datang paling dulu ke restoran yaitu si kate terokmok yang menunggang kuda jempolan. ia tidak perhatikan putra raja itu. atau si Ahli Pedang Gadis Wat. Hanya dilain pihak. sesudah itu. ia terkejut bukan main apabila ia sudah kenali jambangan perunggu yang dibawa-bawa si imam itu. Sudah lama pinto dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay. hanya berpaling kepada tujuh kawannya yang ia sebutkan Kanglam Cit Koay itu – Tujuh Manusia aneh dari kanglam – dan menunjuk kepada si imam. ia memperkenalkan: ― Ini dia Totiang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee yang tuan-tuang telah lama kagumi nama besarnya!‖ Kemudian tanpa tunggu sesuatu dari Kanglam Cit Koay itu seraya menunjuki si buta melanjuti: ―Inilah tertua dari Cit Koay. Dan ini ialah…. ―Disana ada pesan untukku. hingga kami sangat mengaguminya. hingga beratnya bertambah. orang ribut ketakutan dan pada lari keluar. sebab tempo ia diserang dengan panah. bukan main kagetnya ia akan tengok Khu Cie Kee. Si orang tani yang membawa-bawa pikulan adalah orang yang keempat. Sementara itu. untuk sembunyikan diri sambil berobat. dia sudah lantas jatuh terguling. yang sekarang diisikan penuh dengan arak. hampir ia tak dapat lolos seperti orangorangnya. adalah Ma Ong Sin Han Po Kie atau si Malaikat Raja Kuda. yaitu Hui Thian Pian-hok Kwa Tin Ok. pikirnya orang itu telah tidak kenali dia. sedang beberapa orang yang melihat tak terjadi kecelakaan sesuatu. tentu lantai loteng perdengarkan suara meletek nyaring. sedang dibawah loteng. sungguh pinto merasa sangat beruntung! Nayatalah pengharapanku seumur hidup telah kesampaian.Pendekar Pemanah Rajawali tugaskan enam atau tujuh pengawal pribadinya dari Lim-an. Akan tetapi. ia perintahkan orang untuk selidiki tentang Pauw-sie itu. tidak ada tandingannya. sedang ia sendiri menyamar sebagi orang baik-baik sebagai penolong nyonya yang ia gilai itu. imam ini seperti tidak menggunai tenaga. ini Ciauw Bok Taysu juga adalah satu sahabat Irawan D Soedradjat Page 37 . dia telah jatuh ke dalam genggaman putra raja Kim itu. Dengan lantas pinto meikir-mikir. yang kedua ialah si mahasiswa melarat yang mencuri atau mencopet uangnya adalah Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong. mungkin taysu mengundang sahabat-sahabat. ia belum terlihat nyata. nampaknya enteng sekali. suatu bukti dari beratnya jambangan itu. buktinya benarlah dugaan pinto itu. Semua mereka itu khawatir loteng ambruk dan mereka nanti ketimpa. Syukur untuknya Khu Cie Kee tidak kenali padanya. ―Benar-benar toheng telah dapat mencari siauwceng hingga ke mari!‖ terdengar suaranya Ciauw Bok Taysu keras tetapi dingin.‖ ia berkata . dia-diam mendaki loteng untuk bicara. si Kelelawar Terbangkan Langit. ―Sudah lama kami mendengar Totiang lihay ilmu silatnya. katanya taysu undang pinto datang ke Cui Sian Lauw ini untuk membuat pertemuan. suka ia mengikuti. Setelah sembuh dari lukanya. syukur ia ditolong oleh Pauw Sek Yok. sama sekali ia ia tak nampak lelah. jongos-jongos dan koki-koki. Yang keenam adalah orang yang mirip pedagang. namanya Coan Kim Hoat.‖ Ciauw Bok Taysu tidak menjawab si imam. tak terkecuali si kuasa restoran. gelarannya Lauw-sie In Hiap atau Pendekar Sembunyi di Kota. sampai ia tak dapat menguasai dirinya lagi.

percaya ia sanggup menanggapi jambangan itu. maka dengan menerbitkan suara kaki kirinya melesak mendam. Untuk itu kami tak bakal menampik lagi. maka walaupun totiang berdua ada dari dua golongan yang berbedaan. tidak beruntung untuk mereka. Khu Cie Kee ulur tangan kanannya. sedang lantai loteng tak demikian kuat. ―Kau juga orang Rimba Persilatan yang kenamaan. menerangkan. lekas-lekas Thio A Seng kerahkan tenaganya. Lantas ia ayun tangan kanannya. Sudikah kau Totiang?‖ ―Sebenarnya pinto dengan Ciauw Bok Taysu tidak kenal satu dengan lain dan kita juga tidak punya dendaman dan tidak punya permusuhan. Ia tapinya tertawa sebentar. ingin sekali kami menjadi juru pendamai. jikalau kau ganggu selembar saja rambut mereka itu. untuk ayun balik jambangan itu ke arah Tiang Cun Cu. segera wajahnya menjadi bermuram pula. ―Sekarang ini pinto menghendaki Ciauw Bok taysu menyerahkan itu dua orang wanita yang bersengsara dan harus dikasihani itu!‖ Mendengar itu bukan hanya Kanglam Cit Koay yang heran melainkan juga Wanyen Lieh si putra raja Kim itu. pasti kami akan bekerja sekuat tenaga untuk menolongi mereka. ―Kanglam Cit Koay bukan bernama kosong saja!‖ ia memuji sambil tertawa. tetap kedua-duanya adalah orang-orang Rimba Persilatan. hingga mereka mesti hidup sengsara sebatang kara. tak dapat ia membuka mulut.‖ katanya sambil tangannya mengipas-ngipas dan kepalanya di geleng-geleng. asal kami ketahui perkaranya itu. dengan tenang ia menyambuti.‖ menyahut Khu Cie Kee. Mukanya Ciauw Bok taysu menjadi kuning pucat.Pendekar Pemanah Rajawali sejati. kami tidak tahu. supaya perselisihan dapat disingkirkan. pendeta jahanam. ―Pinto menyaksikan itu dengan mataku sendiri.‖ ―Jelas!‖ seru si imam. untuk mendahului jambangan itu yang terus ia sambuti dengan kedua tangannya sambil berbuat mana ia berseru: ―Bagus!‖ Akan tetapi dia mesti pasang kudakuda teguh sekali. Oleh karena itu. ―Oleh karena itu asal Taysu sudi menyerahkan dua orang kepada pinto. pasti tak dapat dipercaya!‖ Khu Cie Kee menjadi mendongkol. ―Mereka telah difitnah dan dicelakai oleh pembesar negeri yang bekerjasama dengan tentera bangsa Kim. ia lantas lompat ke depannya Ciauw Bok Taysu. ―Kau…kau…ngaco belo!‖ serunya kemudian. pastilah lain hari akan pinto pergi berkunjung ke Hoat Sian Sie untuk menghanturkan maaf. Irawan D Soedradjat Page 38 .‖ sahut si buta. dalam hal apakah Taysu telah berbuat salah terhadap Totiang? Umpama kata Totiang sudi memandang muda kami bertujuh saudara. ―Cara bagaimana dia dapat melakukan perbuatan sekeji itu? Totiang. hingga orang-orang di bawah loteng menjadi kaget dan semuanya menjerit. Kembali ia pandang si pendeta dan membentak dengan pertanyaan: ―Bagaimana denagn dua wanita yang bercelaka itu? Hai. bagaimana bisa jadi dusta?!‖ dia berkata. bagaimana kau berani melakukan kejahatan semacam ini?‖ ia menegur dengan bengis. satu Hud-kauw yang lain Tokauw. Semua orang menjadi kaget. mestinya kau telah keliru dengar omongannya segala manusia rendah! Itu ngaco belo. akan aku patah-patahkan hingga menjadi abu semua tulang-tulangmu dan akan bakar musnah hingga menjadi tanah putih kau punya kuil Hoat Hoa Sian Sien itu!‖ Cu Cong tidak lantas dapat mempercayai kata-kata imam itu. ―Ciauw Bok Taysu adalah satu pendeta beribadat.‖ sahut Tiang Cun Cu. mereka yang tadinya datang menonton dengan diam-diam pada lari mundur hingga mereka saling tabrak dan terguling jatuh ke tangga loteng. Kwa Tayhiap. Itulah gerakan ―Twie chong bong goat‖ – ―Menolak daun jendela untuk memandangi si putri malam‖. pantas atau tidak permintaan pinto ini?‖ ―Jangan kata mereka adalah jandanya sahabat-sahabat totiang. hingga tempat pembakaran kertas perunggu itu yang beratnya ratusan kati terbang menyambar ke kepalanya si pendeta. ―Walaupun mereka adalah orangorang yang tidak dikenal. Khu Cie Kee menjadi gusar. ―Dua sahabatku. Di antara Kanglam Cit Koay adalah Tio A Seng yang tenaganya paling besar. Lihat.‖ ―Siapakah orang yang harus diserahkan?‖ tanya Kwa Tin OK. mereka telah mendapatkan kebinasaannya hingga mereka mesti meninggalkan janda mereka yang tidak ada lagi sanderannya. Di dalam saat yang berbahaya itu karena kakinya bisa kejeblos terus. untuk kita minum arak bersama. ―Mustahilkah dia bukannya menyebutkan istri-istrinya Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian atau wanita yang lain?‖ berpikir putra raja asing ini.

Taysu sebaliknya menyangkal. itulah sudah pasti!‖ dia berkata. ia lolos dari cekalan si pendeta. ―Seorang laki-laki sejati kangouw. Mari kita bersama pergi ke Hoat Hoa Sian Sie. ―Sebenarnya kau hendak gunai aturan atau tidak?‖ dia tegur si imam. Mereka ynag kenal kami semua dapat mengatakan sepatah kata: ‗Walaupun Kanglam Cit Koay sedan-edanan lagak lagunya. Imam itu menjadi gusur. ―Bagus! Kamu permainkan aku!‖ dia berseru. telah pastikah itu?‖ ―Tidak salah!‖ sahut Cit Koay serempak. ―Taruh kata benar kau sengaja datang ke Kanglam ini buat untuk angkat namamu. ―Habis bagaimana. satu kali dia bilang tidak. kau memikir menggunai jumlah yang banyak untuk mendapatkan kemenangan! Tidak. ―Perkaraku dengan si pendeta. pendeta. ―Maafkan pinto. tidak dapat pinto temani kau lebih lama! Eh.‘ Kamu tidak berani menghina orang lain tetapi kami juga tak dapat mengijinkan orang lain perhina kami!‖ Khu Cie Kee tidak ingin layani tujuh orang aneh dari Kanglam itu. mana ia dapat bicara dusta?!‖ Cie Kee nampaknya habis sabarnya. Irawan D Soedradjat Page 39 .Pendekar Pemanah Rajawali Kanglam Cit Koay melengak semuanya. ―Tuan-tuan bertujuh hendak campur tangan urusan ini. dengan niatan menarik si pengikut Buddha itu. semua orang tersenyum. ―Kami percaya habis Ciauw Bok Taysu. Ciauw Bok Taysu. pasti tidak!― kata Cit Koay yang ketiga itu.‖ akhirnya Ciauw Bok Taysu dapat buka mulutnya. Cu Cong menyahuti: ―Mereka itu ada bangsa dewi. ―Pinto cari pendeta ini. sampai beberapa kali. melakukan perbuatan semacam itu?!‖ Cie Kee tertawa mengejek. Han Samya?‖ imam itu membalik bertanya. ―Kami tidak punya kepandaian sesuatu apa juga akan tetapi untuk Kanglam ini nama kami terkenal juga sedikit. hari ini tidak nanti aku beri kau lolos!‖ ―Sabar Totiang!‖ Kwa Tin Ok memotong. ―Apa? Menggeledah kuil?‖ kata Khu Cie Kee dengan tawar. mereka bukannya manusia-manusia yang takut mampus. Khu Cie Kee melengak. inilah sulit. bukankah?‖ Kwa Tin Ok jawab imam itu. siapa yang salah! Mataku menang tidak dapat melihat akan tetapi orangorang di sini tidak buta semuanya― Cu Cong berenam memberikan persetujuan mereka. tetapi walaupun pinto melihatnya dengan mataku sendiri kedua nyonya itu masuk ke situ. Ciauw Bok Taysu paham ilmu dalam Hoat Hoa Lam Cong. ―Kanglam Cit Koay pasti membantu pihak si pendeta. biarlah aku yang bereskan sendiri!‖ katanya kemudian. hingga pinto habis daya! Tidak ada jalan lain daripada si pendeta serahkan mereka itu!‖ ―Jadinya dua wanita itu bukannya manusia!‖ berkata Cu Cong. Ma Ong Sin Ho Po Kie bertabiat aseran. begitu ia kasih turun lengannya. mari pergi!‖ Ia pun ulur sebelah tangannya. ―Totiang menuduh Taysu menyembunyikan kedua nyonya itu. ―Kenapa untuk itu kau mesti menodai nama baikku? Kau…kau…kau pergilah ke seluruh kota Kee-hin untuk menyelidiki! Mana bisa aku. ―Apa‖ katanya. untuk melihat sendiri guna buktikan siapa sebenarnya yang benar. tak senang ia menampak orang mulai gunai kekerasan. ―Pinto sudah menggeledahnya di luar dan di dalam. buktinya mereka tidak kedapatan. Dengan sikapnya yang wajar. ―Bagus betul yah!‖ katanya dingin. jikalau mereka bukannya menghilang tentunya mereka sudah menyingkir dengan ilmu pinjam tanah!‖ Mendengar ini mau tidak mau. ―Kau telah undang banyak kawan.

Wanyen Lieh menyaksikam itu dengan kekaguman dan terkejut juga. Sekalipun senjata rahasia. adalah araknya yang lantas meluncur keluar seperti pancuran. maka kepandaian ini dipakai modal mengemis nasi. ia pentang kedua tangannya itu. habis minum barulah Tuan-tuan geraki tanganmu!‖ Habis berkata. ia sambut jambangan araknya itu. ―Silahkan!‖ katanya habis menengak. kedua tangannya menolak juga dengan gerakannya. Kwa Tin Ok sambut itu dengan tongkat besinya. dadanya itu penuh dengan daging yang lembek. ―Tentang seorang gagah tidak ditanya asal usulnya. pada wajahnya tak tertera rasa girang atau murka. yang ia pakai menanggapi dasarnya jambangan itu. menyusul mana tongkat itu diputar. Maka melesatlah jambangan itu ke arah Khu Cie Kee. Sesudah ini ia geraki pula tongkatnya. ia ayun tangannya kepada Siauw Mie To Thio A Seng. Dengan cepat ia lepaskan pelukannya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Baik!‖ seru si imam. hanya sekarang ia tidak lagi menunda seperti tadi. Siauwtee melarat. ia tertawa. Wanyen Lieh berkhawatir sehingga hampir ia berseru sendirinya. hingga jambangan jadi duduk di ujung tongkat.‖ Kwa Tin Ok ada tertua Kanglam Cit Koay. Ia bertubuh terokmok.‖ berkata si imam. imam ini kasih turun tangannya yang memegang jambangan arak itu. semikian juga kali nini. kedua tangannyaditaruh di depan dadanya. berbareng dengan mana kedua tangannya bergerak untuk memeluk jambangan. Tepat ketika jambangan sampai. ahli luar yang lihay sekali. berbareng dengan mana jambanganarak itu dilemparkan ke arah si buta. cara bagaimanaaku dapat meminumnya?‖ demikian katanya dalam hati kecilnya. ―Sia ciang ie san‖ atau ―Sepasang tangan memindahkan bukit‖. ia kerahkan tenata dalamnya. tapi juga keras keinginan tahunya. ―Diwaktu kecil. arak yang harum!‖ dia memuji. ia tetap duduk tetap dan tenang seperti juga ia tidak mengetahuinya. Tepat ketika jambangan menyambar ke dadanya. Satu kali tongkat itu miring. Tiang Cun Cu tunjuki jempolnya. Ia telah menyaksikan suatu gerakan tenaga dalam dari Gwa-kee. ―Sekarang aku hendak memberi selamat kepada Tuan bertujuh dengan seorang satu cawan arak. sikapnya tenang dan wajar. membuat jambangan itu berdiri tetap lagi. ―Jikalau aku sambuti jambangan seperti tadi. sesudah mana berbareng dia menolak dengan dadanya. ia dapat dengar suara sambarannya dan tahu tepat arahnya. Meski begitu ia sudah lantas mundur dua tindak. Hebat kalau jembangan jatuh dan menimpah batok kepalanya si buta ini. ―Sekarang hendak aku menyuguhkan Lam Sieko sejambangan arak!‖ Ia lantas menghirup pula satu segluk.‖ sahut Tin Ok dingin. Wanyen Lieh heran dan berkhawatir pula. apapula sebuah jambangan yang besar yang anginnya seperti menderu-deru. atas mana Kwa Tin Ok buka mulutnya akan menanggapi. Tapi jambangan tetap tinggal miring. Si Buddha tertawa sudah lantas berpikir. kapan jambangan itu tiba Irawan D Soedradjat Page 40 . jambangannya turut miring juga. sampai belasan cegluk. Diwaktu jambangan dilemparkan kepadanya. tiba-tiba ia angkat naik tongkatnya dengan kaget. ia pindahkan kedua tangannya ke bawah jambangan untuk dipakai menampa. dipakai menolak tubuh jambangan. ―Sekarang aku hormati Kwa Toako dengan satu jambangan!‖ ia berkata pula. tetapi tempo jambangan itu sampai. untuk sambut jambangan dengan kedua dadanya itu. Adalah disaat ini dengan sebat ia tunduk. berbareng dengan mana jambangan itu bertolak balik kepada Khu Cie Kee. setelah mana jambangan itu ia lemparkan ke arah Lam Hie Jin. Khu Cie Kee dengan tenang sambuti pulang jambangannya itu dan ia menghirup pula. Tenaga yang dikerahkan itu bukan kepalang besarnya. ―Cara bagaimana dia dapat menyambutnya?‖ ia berpikir. mulutnya dikasih masuk ke dalam jambangan. ia hirup arak satu ceglukan. sampai jambangan seperti mumbul. Sembari bicara. dengan mulutnya sendiri. pasti ada punya kepandaian yang istimewa. duduk sambil berputaran seperti tukang dangsu tengah mengasi pertunjukan. Selagi melayang jambangan itu masih mengasi dengar suara menguwang. sampai terdengar satu suara nyaring. Sembari berbuat begitu. dengan dipegang dan diangkat di atasan kepalaku. ―Sudah buta ia pun pincang…. menghirup arak di dalamnya! ―Oh. Maka dengangitulah ia menengak arak. ―Diwaktu mudanya pasti Kwa Toako gemar main putaran nenempan!‖ kata ia. Lam San Ciauw-cu si Tukang kayu dari Gunung Selatang ada pendiam tak doyan berbicara.

Ia insaf. siap untuk dilemparkan pulang! Belum lagi jambangan dikasih melayang pergi.Pendekar Pemanah Rajawali kepadanya. manis dipandangnya. kalau jambangan berat itu ditimpuki kepadanya – gilirannya memang bakal tiba – tidak nanti ia sanggup menganggapnya. yang dia barengi tolak pergi.Justru ia baru memikir. untuk korbankan diri. jambangan itu diangkat. pasti ada orang yang bakal tertimpa dan menjadi korban. ―Sekarang pinto hendak menyuguhkan kepada Cu Jieko!‖ Belum lagi jambangan itu dilemparkan. Tiang Cun Cu sambuti jambangannya itu. Kapan kayu pikulan dan jambangan beradu. Hie Jin sudah sambar araknya dengan tangannya untuk disendok dan dihirup. Kayu pikulan itu ternyata bukannya kayu melainkan sebangsa logam. ketika ia berada di atas jambangan. Berbareng kaget. karena untuk mencegahnya dengan menahan. Berbareng dengan puji itu tubuhnya Ciauw Bok Taysu lompat melecat menyusuli jambangan itu. yang terbuat dari campuran hancuran tungsten. dia segera menahan turunnya jambangan itu. tapi kupingnya sudah dengar seruan keras tapi halus nadanya: ―Sian-cay!‖ Itu adalah suatu pujinya seorang penganut Buddha. ―Tolong! Tolong!‖ dia berteriak-teriak selagi jambangan itu mengancam padanya. Berbareng dengan itu kakinya sudah lantas menginjak palang jendela. maka itu. guna menolong siapa yang dapat ditolong dari bencana ketimpa jambangan itu. Ahli pedang Gadis Wat lihay ilmu pedangnya. si imam sendiri tak terkecuali. ia angkat kayu pikulannya untuk menahan itu sebelum jambangan turun. membuatnya satu lobang besar ke dalam mana tubuh si mahasiswa terjeblos masuk di waktu mana terdengar jeritannya berulang-ulang: ―Tolong! Tolong!‖ Selagi jambangan mental balik. perutku tak dapat memuat segantang arak. ―Brak!‖ demikian satu suara nyaring. akan mendahului jambangan itu. Habis itu. Lincah gerakannya itu. jambangan sudah lantas terbang melayang kearahnya. keduanya menerbitkan suara yang keras dan nyaring. Untuk itu ia perlu mendahului jambangan. ke bawah loteng. Tapi ia tidak berlaku ayal. ―Bagus! Bagus!‖ ia pun turut memuji. maka jikalau aku disuguhkan. maka dilain saat jambangan itu sudah terangkat naik dan terlempar terapung kearah Khu Cie Kee. tubuhnya lantas mencelat ke arah jendela. sekarang ia gunai hasil latihannya beberapa puluh tahun. maka itu ia gunai ketika yang baik ini untuk menengak arak tanpa tunggu Khu Cie Kee menyuguhkan kepadanya. Nona ini dengan tiba-tiba menjejak dengan kaki kanannya. Irawan D Soedradjat Page 41 . Pendeta ini sangat beribadat dan murah hatinya. jambangan berhenti menyambar. dengan dibantu tangan kanan. kipasnya tapinya ia pakai untuk mencelup ke dalam jambangan. Akal cerdik semacam ini tadi pun telah digunai oleh Coan Kim Hoat. karenanya mejadi berat dan kuat luar biasa. Cu Cong sudah berjingkrak bangun. maka itu dengan sekali sendok saja. kembali ia mencegluk araknya. gerakkannya bagaikan burung walet menyambar air. dan lantai papan pecah bolong. Jambangan itu tertahan pikulan dan terduduk di dengkulnya orang aneh yang keempat ini. Begitu terbentur pikulan logam itu. Jambangan itu tidak ada yang tahan. maka ia melintasi jendela. umpama kata aku tidak mampus ketindihan. Dengan cepat ia pasang kuda-kudanya. Wan Lie Kiam Han Siauw Eng telah lompat menyusul. cacat itu ditambal dengan kelincahan dan kecerdikannya. untuk sendok araknya untuk bawa itu arak ke dalam mulutnya. si Pendekar Sembunyai di kota sudah turut mencicipi arak itu. mulutnya lantas menyedot arak. Tiang Cun Cu berniat lompat. tak sanggup ia melakukannya. mungkin aku bakal mati karena mabuk…‖ Akan tetapi sia-sia saja ia unjuk roman ketakutan seperti kalap itu. Cuma Lauw-sie In Hiap menambahkan itu dengan memulangkan jambangan kepada Khu Cie Kee. enteng tubuhnya tetapi ia kurang tenaga. ―Bagus! Bagus!‖ Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong memuji seraja ia goyang-goyang kipasnya. kemudian dengan gagang kipas. emas hitam dan baja pilihan. ―Orang bakal mampus ketindihan! Tolong!‖ Di mulut ia mengoceh tidak karuan. ia kerahkan tenaganya. Semua orang terkejut. Kalau jambangan itu jatuh ke bawah loteng. yang telah kasih turun jambangan di tangannya. hampir tiba dimulut jendela. kepalanya ditunduki ke dalam jambangan itu. ―Ayo! Tak dapat!‖ dia berseru. lalu turun ke bawah akan tetapi belum lagi tempat arak istimewa itu jatuh ke lantai. terus melayang turun ke luar. yang terus berkata: ―Aku si pedagang kecil suka sekali mendapat keuntungan oleh karenanya ingin aku tanpa menggunai banyak tenaga untuk turut minum arak!‖ Ia segera menghampiri Lam Hie Jin. guna mundurkan semua orang untuk mencegah kecelakaan yang tak dikehendaki itu. yang sudah lantas tekuk sebelah lututnya yang kiri. ―Jangan! Aku si mahasiswa cilik tak punya tenaga kekuatan untuk kata meringkus ayam. terdengarlah tertawanya Lauw-sie In Hiap Coan Kim Hoat.

Khu Cie Kee tertawa. dengan memandang Tuan-tuan bertujuh. hingga jambangan itu dapat duduk tetap di atas kuda. Semua mata segera diarahkan ke mulut loteng. sesudah itu. kau jadinya tidak percaya pada kami?!‖ tanyanya. ―Ciauw Bok Taysu ini adalah seorang yang beribadat dari beberpa puluh tahun. Cie Kee berdiam sebentar. lalu kembali untuk terus lari masuk ke dalam ciaulauw dan mendaki loteng! Selagi kuda itu beraksi. ia ulur keluar lidahnya. Umpama kata pinto tak dapat melawan. ia berkata: ―Benar-benar Kanglam Cit tersohor bukan nama belaka. ―Kita berdua sebenarnya tak saling dendam. terpaksa pinto mesti mencoba denganmu untuk menetapkan siapa yang tinggi dan siapa yang rendah. ia pondong jambangan untuk dikasih turun dari bebokong kuda. ―Habis itu apakah yang totiang kehendaki?‖ Po Kie tanya pula. guna ulur kepalanya ke mulut jambangan. Han Po Kie menjadi gusar. Mendengar siulan itu. Ma Ong Sin Han Po Kie. empatbelas cawan terisi arak itu diatur dalam dua baris di lantai itu. ia perdengarkan suara perlahan. itu pasti bakal merusak kerukunan. untuk isikan penuh semuanya. kedua tangannya dibantu kaki kanannya menahan jambangan. begitu dipanggil. dengan sekali sebat dan cerdik. ―Pinto juga telah dengar lama yang Tuan-tuan adalah orang-orang yang gagah mulia untuk wilayah Kanglam. Pinto pikir baik diatur demikian saja…‖ Lantas ia teriaki si jongos untuk siapkan empatbelas cawan arak yang besar. Itulah seorang dengan baju kuning yang sembari melompat. cukup asal dia suka menyerahkan itu dua orang perempuan yang malang. apa saja yang kamu hendak perbuat!‖ ―Jikalau sudah pasti totiang menghendaki demikian. kaki kirinya menyantel pada sanggurdi. sang kakak yang kedua dengan keduanya sambil tertawa. sedangnya binatang itu mendaki loteng. inilah bagianmu yang tidak benar!‖ Kwa Tin Ok memotong. atas mana binatang itu sudah lantas lompat lewati jendela untuk turun ke bawah. oleh karenanya jikalau kita gunai senjata. ―Dengan kata-katamu ini. hingga tenaga turunnya menjadi berkurang. Tepat sekali keduanya jatuh di bebokong kuda yang lalu lari beberapa tindak. pinto takluk! Sekarang. ―Akan tetapi Tuantuan tampaknya memaksa hendak mencampuri tahu. Sejak tadi jongos-jongos umpatkan diri di bawah loteng. silakan totiang tunjuki caramu!‖ bilang Kwa Tin Ok. Ciauw Bok Taysu juga sudah lantas menyusul naik kembali ke loteng. dan kuil Hoat Hoa Sin Sie juga adalah berhala kenamaan dalam kota Kee-hin ini.‖ sahut Cie Kee. Irawan D Soedradjat Page 42 . Sesuatunya lihay sekali. tetapi karena tidak ada jalan lain. telah perdengarkan satu suara bersiul. ―Urusan sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan Tuan-tuan bertujuh. dengan bergandengan tangan bersama Cu Cong. ialah segumpal daging yang tadi telah melayang menyambar jambangan sudah pernahkan dirinya dibawah perut kuda itu. Habis itu. maka itu bagaimana bisa jadi taysu dapat menyembunyikan wanita baik-baik dalam kuil itu?‖ ―Di kolong langit yang luas itu mesti ada manusia palsu yang menipu duni!‖ berkata si imam dengan nyaring. terserah saja kepadaTuan-tuan. Ia sendiri masih bercokol terus di bebokong kuda.‖ dia bilang kemudian. tangannya yang sebelah mengedut les kudanya. Cie Kee letaki jambangan arak di lantai. guna diletaki di lantai loteng. Maka selang sesaat. lalu keduanya jatuh miring dengan berbareng.Pendekar Pemanah Rajawali Baru pendeta itu melewati jendela. lalu satu persatu cawan dia keroboki ke dalam arak itu. Maka itu mereka dapat lihat benda bagai segumpal daging yang seperti bentrok dengan jambangan. Kemudian. Han Po Kie geraki tubuhnya untuk naik sedikit. Ia lakukan itu sembari tertawa. mereka sudah mendaki loteng untuk kembali ke atas loteng! Wanyen Lieh menyaksikan semua semua itu. lantas satu diantaranya muncul dengan belasan cangkir yang diminta itu. dengan begitu ia jadi bisa berbareng mencicipi juga arak itu. ―Aku hanya lebih mempercayai mataku sendiri!‖ sahut sang imam. lain orang telah dalui ia. Totiang. yang harus dikasihani…‖ ―Tiang Cun Cu Totiang. kuda kuning di bawah loteng lantas saja lari ke jalan besar di betulan mulut jendela loteng itu. dengan begitu teranglah Tuan-tuan terlalu andali kepandaiannya orang-orang lain! Tuan-tuan pinto tolol. pinto tidak hendak mempersulit pula kepada si pendeta.

―Baiklah!‖ demikian katanya. mereka mendahului menyatakan akur. ―Citmoay. ―Khu Totiang. ia masih segar seperti biasa. ia tidak menawar lagi. yang ia lihat sudah lelah. Tetapi tiba-tiba saja ia terperanjat. mereka tentu masih sanggup. dia tidak bakal rubuh…. ―Jieko.‖ katanya kemudian. umpama kami menang. Perjanjian kita ialah sampai habisnya isi jambangan ini. habis bagaimana?‖ Cu Cong jadi berpikir. Si imam juga tenggak habis tujuh cawannya. Lalu semua cawan diisi pula. Banyak cara untuk adu pibu. ―Dengan dibantu tenaga dalamnya. air mukanya takberubah. Irawan D Soedradjat Page 43 . pinto sendiri akan minum tujuh cawan. Coan Kim Hoat tampaknya sudah kewalahan. ―Tuan-tuan bertujuh minum satu cawan. baiklah kau sebutkan lain cara!‖ ―Cara bagaimana tuan dapat merasa demikian pasti akan memperoleh kemenangan?‖ Tiang Cun Cu tegaskan. ―Akur!‖ jawab Khu Cie Kee. Sebagai satu jantan.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto hendak adu kekuatan minum arak dengan tuan-tuanbertujuh. ia tampak lantai dimana si imam berdiri menjadi basah.‖ katanya. Ia lantas ingat sesuatu. Silakan!‖ Hampir berbareng enam manusia aneh lainnya dari Kanglam itu angkat cawannya masing-masing dan mengiringnya seperti saudara angkat mereka yang bungsu. Dengan si imam. Maka heranlah Kim Hoat yang cerdik itu. lantas semua itu di cegluk habis! Setelah cawan yang ketiga. Tuan. ia menanyakan dulu pikirannya si imam itu. ―Begini lihay tenaga dalamnya. atas perjanjiannya si imam. Taruh kata si imam kuat minum tetapi berapakah besar perutnya? Dapatkah satu perutnya melawan perut tujuh orang? Han Siauw Eng adalah yang termuda diantara Kanglam Cit Koay.adu kepandaian – belum pernah ia dengar cara seperti itu. ―Nah. . sedang si imam pun tanpa banyak omong lagi. ia pun polos dan bersikap jantan. dan inilah yang pertama kali!‖ Dan tanpa bersangsi lagi. siapa yang tidak sinting. coba lihat kakinya si imam!‖ Cu Cong memandang ke tempat yang ditunjuki. Duapuluh cawan telah ditenggak kering. Kebetulan ia melihat ke lantai. tenggak kering satu demi satu tujuh cawan bagiannya. ―Kelihatannya untuk mereka minum lagi tiga atau empat cawan. A Seng lantas wakilkan adiknya. ―Dengan jebolnya aku dan citmoay. Kapan hendak dilanjuti giliran yang lain. Nona Han Siauw Eng segera merasakan bahwa ia bakal tak sanggup minum terlebih jauh. ―Siapa juga yang meminumnya sama aja!‖ Maka itu. Khu Cie Kee sebaliknya. Tidakkah cara ini bagus?‖ Han Po Kie dan Thi A Seng adalah tukang tenggak susu macan. kita tinggalberlima. ia segera bisiki Cu Cong. ―Ia gunai tenaga dalamnya memaksa arak turun ke kakinya…‖ ―Benar. itu tidaklah cara laki-laki! Totiang. Ia memang bukan tukang minum. ―Hebat!‖ ia inipun berbisik. ia jemput satu cawan dan jegluk isinya. mari kau wakilkan kau!‖ berkata Thio A Seng kepada adik angkatnya yang ketujuh itu. Kim Hoat percaya pihaknya bakal menang. ialah yang menang. boleh tidak aku diwakilkan?‖ tanya si nona kepada si imam. Akan tetapi Kwa Tin Ok berkata: ― Kami bertujuh melawan satu. apakah ia masih bisa menghabisi lagi duapuluh cawan?‖ Oleh karena ia pikir begini. ―Nona Han adalah jantannya wanita!‖ Khu Cie Kee puji nona itu. Wanyen Lieh pun heran sekali. lagi seratus cawan dia minum.‖ ia berpikir. ―Mari kita adu minum arak dulu! Belum pernah aku mendapati orang yang begitu memandang enteng kepada kami bertujuh.‖ Kim Hoat berbisik pula.

tak dapat ia bergusur. itu rasanya tidak terlalu adil…‖ Cie Kee melengak. Dimana orang berpura-pura edan-edanan. Tentu saja. dengan sikap wajar itu. dia menghendaki aku lawan kerbau itu minum arak yang keras. akan tetapi dengan kami berlima melayani kamu. hingga akhirnya jambangan arak itu nampak dasarnya! Imam itu segera tunjuki jempolnya. ia minum araknya. Cu Cong lihat perbuatan adiknya itu. ia tidak sinting. selama itu Khu Cie Kee mesti layani orang minum.Hanya rada aneh.‖ ia berkata. bisa dibuat main?‖ ia berpikir. satu lawan satu!‖ sahutnya. ―Berapa jambangan?‖ dia tanya sekenanya. Selagi ia tetap belum mengerti. kau temani aku minum terus. orang bukannya mengerahkan tenaga dalam. meski begitu. Mari keringkan!‖ Ia goyang-goyang kipasnya di tangan kanan. hanya orang bicara secara wajar sekali. Lam Hie Jin dan kawan-kawannya dapat lihat itu. sikapnya menarik hati. isi itu masih banyak. Cu Cong si Mahasiswa Tangan Lihay tertawa. setelah kandasnya ini jambangan . di sini lebih hebat lagi! Raja Siam telah suruh keluarkan seekor gajah putih yang besar. ―Aku menyerah!‖ Irawan D Soedradjat Page 44 . ―Khu Totiang. mereka kagumi si imam untuk tenaga dalamnya yang sempurna itu. akan pinto menyerah kalah.‖ sahut Cu Cong. ujung bajunya yang kiri pun dikibaskan. cawan demi cawan. terus ia sambungi dengan nyaring: ―Mari minum! Lekas. untuk di pakai itu menyendok arak. Ia heran juga menyaksikan orang kuat minum dan sikapnya tenang. ―Baiklah aku sendiri yang layani kau. dengan itu dia dicaci sebagai kerbau. ―Kanglam Cit Koay sungguh hebat. ―Ah. Sekarang lantai di kakinya Khu Cie Kee tertampak barang cair mengembang dan mengalir. perlahan tetapi mengesankan. ia tidak angot. ―Hebat tenaga dalammu. Ia telah perhatikan. lekas!‖ Lantas setelah itu. ia lantas mengedipi mata. tidak ada arak yang merembas keluar. Kesudahannya akulah yang menang!‖ ―Cis!‖ Cie Kee kasih dengar suaranya. Begitulah ia menantang. hendak ia menyerah kalah. saban-saban ia tenggak araknya. Lima orang sudahke teter. Cie Kee turut minum juga. Mereka tahu sebabnya itu. Tidakkah ini bagus?‖ Arak di dalam jambangan perunggu itu tinggal separuh. Dikatakan mabuk. Ia tidak tunggu sampai orang membilang atau menunjukkan sesuatu apa.Pendekar Pemanah Rajawali Mereka itu sudah keringi pula cawan mereka yang lainnya. ―Sembilan jambangan!‖ katanya. ―Habis Cu Jieko memikir bagaimana?‖ dia tanya.‖ kata Cu Cong itu. kami semua sangat mengaguminya. ―Satu kali aku telah pergi ke India. bagaimana dia ini hendak melawan sendirian? Keenam Manusia aneh menjadi heran. Ia tahu orang bicara ngaco. tangannya sendiri menyambar satu cawan yang besar. begitu juga dengan pihak Kanglam Cit Koay. Cu Jieko. meskipun mereka tahu ini saudara yang kedua sangat cerdik dan licin. akan tetapi Cu Cong seperti tidak pedulikan itu. ia ngoceh pula. ―Saudara Cu. kau benar satu manusia aneh!‖ serunya. perut si Manusia aneh rada melendung. ―Pada tahun dulu aku telah pergi ke negeri Siam. dikatak gila. tetapi mereka duga saudara ini tentu ada akal muslihatnya. ―Apakah itu mahkluk yang lihay?‖ ia tanya. Ia tertawa ketika ia berkata: ―Sebenarnya aku tidak kuat minum akan tetapi tempo tahun lalu aku pesiar ke daerah Selatan. Mereka berdiam. berapa jambangan aku tenggak habis?‖ Tiang Cun Cutahu orang bergurau. ―Sekarang begini saja. di sana aku pernah menangkan beberapa makhluk yang lihay. Cie Kee heran. Han Po Kie letaki cawannya di meja. aku disuruh lawan gajah itu minum arak! Binatang dogol itu telah sedot habis tujuh jambangan! Totiang tahu.‖ kata Cie Kee kemudian. ia dengar orang berkata-kata pula. Dengan tiba-tiba saja wajah Cu Cong menjadi sungguh-sungguh. ―Mustahilkah perutnya bisa kempas dan bisa kembang. kaki dan tangannya digerak-geraki. ―Di sana putra raja India seret keluar seekor lembu.

ia membeber kertas di atas meja. bergelak-gelak lalu dengan sekonyong-konyongia lompat jumpalitan ketika ia telah berdiri pula. Mungkin pembaca pernah menyaksikan pertunjukkan sulap semacam itu. Satu kali ia jungkir balik. Khu Cie Kee segera menyambaruntuk pegangi tubuhnya orang itu.?‖ Lantas ia merogoh ke sakunya. sembari berputaran. CuCong lompat mundur. ―Ah!‖ seru si imam kemudian. Tidak tempo lagi. Wajahnya Khu Cie Kee menjadi berubah. Dan Cu Cong sekarang mengacau matanya Tiang Cun Cu dengan ilmu kepandaiannya itu. ia jadi kena dipermainkan. arakmu kumpul dilantai! Ada apakah perbedaannya?‖ ia lantas jalan mundarmandir sampai ia kena injak lantai yang basah dengan araknya Khu Cie Kee. ―Kau benar-benar lihay! Sekarang pinto ingin mohon pengajaran…!‖ Rupanya barusan selagi ia pura-pura terpeleset.rembulan gilang gemilang….‖ katanya di dalam hatinya. si Mahasiswa Tangan Lihay. untuk cari syairnya itu. kau juga pandai ilmu surat!‖ katanya memuji. selagi si imam pegangi dia. ia tertawa. Dengan‖Tangan Lihay‖ itu diartikan lihay mencopetnya. Tak ada syair itu didalam sakunya itu! Cu Cong seperti tidak ambil mumat orang terheran-heran. apakah kau juga minum arak?‖si Manusia aneh membaliki. bau arak tersiar menyampok hidung! Orang kedua dari Kanglam Cit Koay sudah perlihatkan kelihayannya. belum pernah aku perlihatkan orang syairku itu. ―Itulah syairku yang kutulis di harian Tiong Ciu tahun yang lalu. Cu Cong pandai mencuri dan mencopet. ―Sungguh aku kagum…. dua kali ia jungkir balik di atas pentes tambah semangkok air tawar. Itulah kertas bermuatkan syair yang baru ia bacakan. syair yang bagus! Sejak jaman purbakala di pertengahan musim rontok…. ―Totiang minum dengan andalkan tenaga dalam. air mana dapat ditambah menjadi banyak. suatu ilmu kepandaian turun temurun yang hingga kini telah membuat kagum orang di Eropa dan kepulauan selatan. di situ ia terpeleset. tapi ia melengak pula.. Irawan D Soedradjat Page 45 . Khu Cie Kee heran hingga ia melengak. sebab semua arak pindah ke dalam tahang air ini.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong awasi imam itu. Biauw Ciu Sie-seng gunai ketikanya untuk rogoh kantung si imam. Tentu saja ia sangat penasaran yang orang telah copet syairnya itu tanpa ia merasa.. ―Syair itu aku simpan.Di Waktu tibanya angin yang sejuk…malam yang jernih terang……. Totiang. Tentu saja si imam tidak menyangka orang bergurau secara demikian.‖ katanya. kapan tahang air itu ia balingkan. yang sekian lama disembunyikan di bawah jubahnya yang gerombongan. yang masih belum selesai. Setelah dapat berdiri pula. sebelah tangan si imam melayang. Disitu ia berhadapan dengan orang lihay akan tetapi tidak ada seorang juga yang lihat darimana ia sembatnya tahang air itu! perutnya tinggal kempes.Suatu hari…….mentereng seperti siluman air………‖ Panjang nada syairnya. tubuhnya rubuh membentur tubuhnya si imam. terus ia putar tubuhnya. niatku adalah untuk nanti meyambunginya. mulutnya perdengarkan suara: ―Syair yang bagus.!‖ ―Bagus!‖ seru Cie Kee yang mengerti bahwa benar-benar ia telah dipermainkan orang.Ikan dan naga diempat penjuru lautan…….tangannya mencekal sebuah tahang air. ―Aku? Lihatlah!‖ Ia tertawa pula. ditangannya ada sepelas ikan emas.. ―Arakku kumpul di dalam tahang. mengapa sekarang ia dapat mengetahuinya…. maka itu ia digelar sebagai Biauw Ciu Sie-seng. tidak kusangka. ―Totiang lihay ilmu silatnya. ―Kepandaianmu ini toh tak dapatdibilang orang minum arak?!‖ ―Kau sendiri.udara membuatnya. Kepandaiannya itu menyembunyikan tahang air adalah kepandaian umum di kalangan tukang sulap Tiongkok. Jalan susu bagaikan tenggelam….

―Ciauw Bok Hweshio! Kanglam Cit Koay!‖ ia berseru. Tangkisan si imam itu membuat tangannya sakit dan gemetaran. timbuk kekhawatiran mereka itu. rasanya baal. akan tetapi sekarang tak dapat ia atasi diri lagi. Mereka menanti sekian lama putra raja mereka masih belum kembali. Khu Cie Kee dapat lihat serangan itu. ―Siapakah yang kasih datang tentera Kim?!‖ ia menegur. lalu beberapa puluh orang tertampak merubul naik. mereka datangi rumah makan itu. harap kau tak katakan kami tak tahu aturan!‖ ia berkata sambil ia menggapekan kepada Lam Hie Jin dan Han Siauw Eng. sambil berlompat. ia layani mereka separuh main-main. kebetulan mereka dengar di Cui SianLauw ada orang berkelahi. sampai saudara itu sulit membela dirinya. benarkahkau berniat mencari keputusan dengan kepalan dan kaki?‖ ia menegasi. Pertarungan Mati Hidup Segera terlihat orang banyak yang naik ke loteng itu adalah serdadu-serdadu bangsa Kim.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong berkelit ke samping. Ia telah mendengar puluhan orang berlari-lari mendatangi ke restoran itu. Maka ia lompat berdiri. suara mana tercampur suara bentrokkannya senjata-senjata tajam. yang dibawa ke depan dadanya. Ia pun segera berseru dengan ejekan: ―Bagus betul. Hampir di waktu itu. mereka lantas pergi mencari. kali ini tiga kali beruntun serangannya itu. toya kamu masih tidak jerih!‖ Han Po Kie gusar mendengar ejekan itu. maka itu sampai sebegitu jauh. Bab 5. ―Walaupun kasih datang tambahan tigaribu lagi serdadu berandal Kim. Bukan main kagetnya Siauw Mie To si Buddha tertawa. ―Semua mundur!‖ ia berseru. ―Untuk apa menjanjikan bantuan lagi?!‖ Kwa Tin Ok tidak berpikir seperti saudaranya yang kelima itu. Melihat mereka itu. Dan menyerang pula. ―Kita ada tujuh bersaudara!‖ ia bilang. ―Kamu majulah berdelapan!‖ menentang Tiang Cun Cu menyaksikan orang pada turun tangan. Khu Cie Kee tidak gubris sindiran itu. Manusia Aneh yang keempat. seraya ia melompat maju untuk menyerang. ia menyerang ke dadanya si imam. Sangking murkanya. ―Lam Sieya sungguh lihay!‖ si imam memuji mendapatkan tangkisan itu. ia menyerang Lam Hie Jin dengan sebelah tangan kirinya. ―Siapakan senjata!‖ Thio A Seng semua segera lari balik ke tempat duduknya masing-masing. Lega hati mereka akan saksikan putra Irawan D Soedradjat Page 46 . Thio A Seng lihat saudaranya sangat terdesak.ia tertawa terbahak-bahak. kamu masih menjanjikan bantuan! Biar di sana ada ribuan tentera dan tidak pandang itu di matanya!― Thio A Seng merasa pihaknya diejek. Ia hargakan Kanglam Cit Koay. ia lompat untuk menghalang. Inilah lawan tangguh yang pertama kali iapernah ketemukan. ia menyangka mereka itu diperdayakan oleh Ciauw Bok Hweshio. Tentera Kim itu adalah tentera pengiringnya Wanyen Lieh. sebagaimana mereka gampang dikenali dengan seragam mereka. Hebat tangkisannya ini. untuk ambil senjata mereka masingmasing. Coan Kim Hoat bisa duga perasaan saudaranya itu. ―Jangan mengepul!‖ Kwa Tin Ok kata dengan dingin. ―Benar!‖ sahut si imam memberikan kepastian. di tangga loteng terdengar riuh tindakan kaki yang keras. Tapi justru itu sekonyong-konyong wajahnya berubah. atas mana Lam San Ciauw-cu menangkis dengan kedua tangannya.anginnya mendesir. naik darahnya Khu Cie Kee. ia lantas menangkis. ―Totiang.. Ia cacat mata akan tetapi kupingnya awas bukan main. ―Totiang. Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan dan Wan Lie Kiam si Gadis Watsudah lantas taati ajakannya saudaranya itu.

Tin Ok buta. habis perlu apa kamu undang tentera bangsa Kim untuk bantu kamu?‖ Dengan sengit si imam menjengeki orang adalahEnghiong dan hohan – orang-orang gagah. jiwanya terbang pergi. Beberapa serdadu lagi hendak maju untuk mengulangi penyerangan. ―Jangan!‖ Wanyen Lieh segera mencegah. ―Bagus! Bagus!‖ ia menambahkan. maaf. tepat mengenai batok kepalanya satu serdadu Kim. Serdadu-serdadu Kim lainnya menjadi gaduh karena kebinasaan tidak karuan dari rekannya mereka itu. mereka kaget dan gusar. tidak peduli orang baru saja berhenti bertempur dan disitu ada banyak serdadu bangsa Kim. Seperti bebokongnya ada matanya. ia lompat maju. pendeta yang pantang makan daging. ―Kami tidak undang atau janjikan mereka itu. sekarang setelah mengetahui orang bangsa apa. maka tadi ia berlaku manis budi dengan suruh jongos membagi daging macamnya. ia tak sudi melayani bicara. ―Cukup sudah. ―Inilah contohnya!‖ kata si imam kemudian.ia paling benci orang mengatakan ia picak.Pendekar Pemanah Rajawali rajamereka tidak kurang suatu apa pun. ―Terima kasih Kwa Toako!‖ ia mengucap. suara itu rubuh dengan kepalanya remuk. ―Minggir!‖ ia membentak. Kwa Tin Ok lantas sudah bangkit berdiri. hingga tanpa suara apapun. sambil membawa itu. ―Hm!‖ Khu Cie Kee perdengarkan suara di hidung selagi Hui Thian Pian-hok belum sahuti orang asing itu. hingga Wanyen Lieh lantas saja mundur beberapa tindak. walaupun orang tak dapat melihat kepadanya. ia ngeloyor ke tangga. guna menghampiriKwa Tin Ok. sebaliknya ia layangkan tangannya yang kiri. sembari berkata ia gerakan pundak kanannya. dia tidak usah dilayani! Tuan-tuan mari kita minum dulu. WanyenLieh heran. Dengan berani ia lantas memanggil ―toako‖ atau kakak. bangsa hohan. sembari minum kita bicarakan daya untuk menghadapi dia!‖ Kwa Tin Ok tidak tahu orang adalah orang bangsa Kim. mereka bawa naik barang hidangan itu untuk disajikan disembilan meja dikecualikan mejanya Ciauw Bok Taysu. maka itu sambil gerakin tongkat besinya. ―Adakah aku keliru mengerti?‖ jawab si imam sambil jalan terus. ―Toako kami menitah kau pergi!‖ Han Po Kie wakilkan kakaknya menyahuti. Ketika itu pihak rumah makan baru siap dengan hidangan mereka yang terdiri dari daging macam tutul. Irawan D Soedradjat Page 47 . Tiang Cun Cu tidak ladeni si buta itu. jangan kau keliru mengerti!‖ kata tertua darikanglam Cit Koay ini. beberapa diantaranya segera menikam bebokongnya si imam dengan tombak mereka yang panjang. tidak kenal Tuhan. untuk mengatakan: ―Imam jahat itu tidak kenal undang-undang. ―Kalau picak bagimana?!‖ tanyanya. ―Kamu adalah bangsa Enghiong. Lalu tanpa tunggu jawaban lagi. ―Khu Totiang. di depan siapa ia memberi hormat. mengenai kempolansi putra raja Kim itu. Hidangan untuk Wanyen Lieh pun disiapkan sekalian. Dengan lantas ia berpaling kepada Kwa Tin Ok beramai. ―Apa!‖ tanyanya. putra itu lagi duduk tenang di mejanya. Khu Cie Kee tangkis serang itu tanpa membalik tubuhnya.‖ Kwa Tin Ok menyangkal. ―Aku juga bukanya si picak!‖ sahutKhu Cie Kee mengejek. iabertindak ke tangga. Sambil manangkis tangannya menyambar. si hweshio. Atas itu putra raja Kim itu lantas berbangkit dari kursinya. pinto tak dapat menemani lebih lama pula!‖ Lantas ia angkat jambangan araknya. Mereka lantas menghampiri untuk memberi hormat. maka itu beberapa batang tombak kena tercekal dan terampas.

Kami orang beribadat mesti berlaku murah hati. apapula ia adalah kakak seperguruanku. ia lekas-lekas balik ke hotel.‖ Tin Ok juga menyatakan. Saking penasaran. Tempo ia lewat di muka Ceng ho-hong. tombak dan gendewanya pada patah. Untuk kagetnya ia dapatkan beberapa potong emas dalam sakunya terbang pula! Ia mendongkol. jikalau mereka dapat tahu.‖ ―Melihat dari sikapnya tadi. seragamnya tidak karuan. Sementara itu Kwa Tin Ok beramai telah ikuti Ciauw Bok Hweshio pergi ke kuil Hoat Hoa Sian Sie yang letaknya di bagian barat dari luar kota Kee-hin. ia menitahkan dua orang yang menyampaikan surat itu. Maka sebelum layani godaan orang itu. ia lantas pergi ke Hangciu. datang menyembunyikan diri di kuilku. Ciauw Bok Hweshio turut mereka. tentu saja aku mesti terima permintaannya itu. ―Benar. di dalam kuil itu mereka berkumpul di kamar bersemedhi. dalam mana ia bilang ada orang jahat hendak mengganggu mereka itu dan karenanya dia minta supaya aku beri tempat berlindung kepada merek itu. Itu hari sehabisnya membinasakan Ong Tian Kian si pengkhianat. yang ia bawa ke ujung jalan besar. Ia ingat pada pengalamannya yang pertama. Biauw Ciu Sieseng jalan paling belakang. ―Keliru mengerti ini jadi makin hebat…‖ Ciauw Bok Taysu mulai berkata smabil ia menghela napas. ―Kemarin dulu ia menulis surat padaku. paling dulu ia ragoh sakunya. untuk pesiar ke telaga See Ouw dan tempat sekitarnya yang indah. entah kemana lolosnya tetapi ada kemungkinan dia pun tak kan hidup lama. dengan tinggalkan restoran itu. Kejadian itu membuat ia sangat gembira. ia tahu tidak ada peperangan dengan bangsa Kim. Mereka tidak dapat mengerti sikapnya Khu Cie Kee. Irawan D Soedradjat Page 48 . ia menjadi mengeluh. Kapan ia sudah dengar jawabannya. ia tepuk pundaknya putra raja Kim itu dengan kipasnya seraya bilang: ―Apakah kau telah jual itu orang perempuan yang kau tipu? Bagaimana kalau kau jual dia padaku? Hahaha!‖ Dan terus ia ngeloyor turun.‖ ―Itu benar. selagi lewat di samping Wanyen Lieh. merundingkan daya penjagaan. Ia tahu. Diluar dugaanku. ―Beberapa orang ini lihay sekali. pulang ke Yankhia. ibukotanya kerajaan Kim. Ia bekuk satu serdadu yang sedang tidur pulas. lantas Tiang Cun Cu datang menyatroni sambil dia menuduh ada dua orang wanita dari Hangciu. inlah berbahaya………. lalu dengan diam-diam ia menyatroni. bukan?‖ Tin Ok memotong. dari kuil Kong Hauw Sie. siapakah mereka itu? Bagaimana sebenarnya duduk perkaranya?‖ ―Nanti aku beri keterangan. aku serta semua serdaduku bukan tandingan mereka. Wanyen Lieh terkejut. kita tak dapat tidak bersiaga. Khu CieKee pergi ke Gu-kee-cun kepada Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. Kacung hweshio lantas menyuguhkan air the. Ciauw Bok Taysu bingung. baru satu dua har I orang itu tiba. Ia heran.‖ ia berpikir.‖ tanya Han Siauw Eng. akan menghirup permainannya sang salju. terus ia ajak si nyonya untuk berangkat ke Utara. Bersama dia turut juga semua pengiringnya. Imam ini sangat menyesal.‖ sahut hweshio itu. turun di tangga loteng. ia tidak lagi berpikir untuk beli pakaian buat si nyonya. Tentu saja aku menjadi tidak mengerti. hingga kesudahannya ia labrak rombongan serdadu bangsa Kim serta orang-orang polisi yang mencari padanya. mesti dia bakal datang lagi menerbitkan onar. Nyatalah barisan itu adalah barisan yang telah pergi ke Gu-kee-cun untuk menawan Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. itulah akibatnya ia sudah mengikat persahabatan sama dua orang she Yo dan Kwee itu. Pasti tak dapat ia umbar hawa amarahnya terhadap serdadu itu. ia ikuti rombongan serdadu sampai di tangsinya tentera itu.‖ sahut Ciauw Bok.‖ menyatakan Coan Kim Hoat. Dari Gu-kee-cun. (Yankhia = Peking sekarang). untuk korek keterangan dari mulutnya. ―Maka aku pikir. ―Aku ada punya Suheng yang menjadi pendeta di kepala di kuil Kong Hauw Sie di Hangciu…‖ ―Itulah Kouw Bok Siansu. Habis kenapakah barisan serdadu itu? Ia tanyakan keterangan beberapa penduduk. ia tampak lewatnya beberapa puluh serdadu dalam keadaan rudin. ―Dia menyebutkan dua orang wanita. ―Taysu.‖ Oleh karena kekhawatirannya ini. Ia tunggu sampai malam. seperti bekas kalah perang. lebih bingung pula Kanglam Cit Koay. tidak ada huru-hara penjahat di dekat-dekat Hangciu. Ia berduka berbareng murka akan dengar Siauw Thian terbinasa dalam pertempuran itu dan Tiat Sim terluka parah. akan tetapi ia jerih pula.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin OK semua lantas berlalu. ―Pauw-sie ada padaku. habis mana ia lantas mengundurkan diri. Sampai disitu mereka berunding. untuk membuat perkenalan dengan caranya yang luar biasa itu. juga mereka itu tidak tahu suatu apa.

untuk dikubur. Thian Tek segera berkata kepada dua serdadu yang ia kedipi mata: ―Pergi kamu antar toya ini ke telaga untuk cari Toan Tayjin!‖ Irawan D Soedradjat Page 49 . untuk menegur: ―Mana dia Toan Thian Tek?! Suruh dia keluar!‖ Justru itu hari. lalu laporan itu disusul dengan laporan lainnya. si imam membela diri dengan dua serdadu korbannya itu. ialah khu Cie Kee. Dia belum kenal perwira ini. Imam itu. Atau lebih benar. Ia ingin Lie Peng sebutkan sahabat atau sahabat-sahabatnya Siauw Thian yang dirasa bernyali besar berani mencuri kepalanya Siauw Thien itu. diam-diam ia memuji dan berjanji: ―Itu hari pinto sudah berjanji akan ajarkan ilmu silat kepada anak-anakmu. Thian Tek gusur menyaksikan perkelahian semacam itu. namanya Thian Tek. tubuhnya hampir tak dapat bergerak. oh. Kemudian malamnya. Di muka tangsi. ia lepas cekalannya. ciehui itu mesti dibinasakan guna membalaskan sakit hatinya Tiat Sim dan Siauw Thian. Satu imam. dengan membawa goloknya. ―Ciehui tayjin kami. untuk mencari kesenangan. dia ambil cara singkat saja. supaya mereka dapat turunan. Ia dapat terka maksudnya si imam. ―Dengar baik-baik. Khu Cie Kee!‖ katanya seorang diri. Habis itu dia hendak mencari istrinya dua sahabat itu guna menempatkan mereka ke tenpat yang aman. rumah tangga mereka tercerai berai dan musnah! Jikalau kau tidak menuntut balas untuk mereka. ia hajar dengan tangannya tembok dimana tiang itu dipasang. tapi ia licik sekali. lagi bertarung dengan robongan serdadu. supaya kelak mereka menjadi orang-orang kosen.‖ Cie Kee kena diakali. kau sebaliknya rembet-rembet mereka hingga mereka bercelaka. masih dapatkah kau disebut satu laki-laki?!‖ Saking mendongkol. hingga batu dan pasir kapurnya hancur.dia sekarang ada di telaga See Ouw. Thian Tek ada di dalam tangsinya. ―Toya mencari Toan Tayjin?‖ dia balik menanya. kedua sahabat itu jamu padamu. Dia pergi ke muka tangsi. Sejumlah serdadu lain menyerang dengan anak panah tetapi serangan itu tak ada hasilnya. airmatanya turun mengucur. kalau tidak. Lengannya Thian tek lantas saja kena dicekal. istrinya Siauw Thian. ―Mana itu bajingan jahanam Toan Thian Tek?!‖ Cie menegur.. ia lompat keluar dari tangsi.‖ sahut serdadu itu yang menyebutkan komandonnya. Tiang Cun Cu menampak hal yang membuat darahnya mendidih. Cie Kee bebaskan serdadu itu. ―Kau hendak memberontak?!‖ ia menegur sambil ia lantas menerjang. terus ia pergi cari Thian Tek di tangsi. ia lagi periksa Lie Peng. mungkin Thian tek tidur di luar tangsi.‖ Segera Khu Cie Kee atur rencananya. tidak tahu dimana tidurnya ciehui itu malam itu. hingga ia mau menduga. Ia gunai tangannya yang kiri. Pemeriksaan dilakukan sebab lenyapnya kepala Siauw Thian itu. Dia paykui di depan kuburan. yang ia bawa ke tepinya telaga See ouw. tidak berhasil ia mencari Toan Thian Tek. ―Khu Cie Kee. telah sambut serangan sesudah ia lemparkan satu serdadu. Sebentar lohor ia baru pulang. Thian Tek kesakitan. Hampir dadanya meledak. Beruntun dua malam Cie Kee telah satroni tangsi Wielok nomor enam. ―Dia she Toan. di atas tiang bendera yang tinggi. Kemudian ia akan mohon belas kasihannya Thian. rombongan serdadu lagi dilabrak oleh imam itu yang bersenjatakan dua serdadu yang ia cekal kakinya dengan masing-masing mereka mengeluh. ada di gantung kepalanya Kwee Siauw Thian untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai. dia panjat tiang itu untuk turunkan kepalanya Siauw Thian. tidak ada muka pinto menemui kalian di dunia baka. Pertama-tama Toan Thian Tek mesti dicari. mungkin Thian Tek adalah satu komandan yang tak berdisiplin dan doyan pelesiran.Pendekar Pemanah Rajawali ―Siapakah itu perwira atasanmu?‖ ia tanya. Besok paginya. lagi pelesiran minum arak di atas perahu. Oleh karena sudah habis sabar di hari yang ketiga setelah dua malam itu. yang nampaknya gagah sekali. tetapi ia tidak peroleh hasil.‖ Cukup segitu. ―Dia…. tentung sudah terjadi pertempuran dengan orang yang mencari dia. agar supaya anak-anak mereka dapat ia didik menjadi orang-orang sempurna seperti yang ia janjikan. Segera ia melongok di jendela. Ia kaget akan dengar laporan ada orang cari padanya.

yang adalah pamannya. mereka terbirit-birit menuju ke Kong Hauw Sie. Umpama kata dia bercerita terus terang bahwa ia telah bekerja sama dengan bangsa Kim untuk menawan Kwee Siau Thian dan Yo Tiat Sim. Dan untuk mencegah kecurigaan orang luar. tapi mendadak terdengar suara ribut-ribut di luar tangsi.‖ katanya dengan suara susah dan mesgul. Dalam ilmu silat. dalam hal kecerdikan. Cie Kee ikuti kedua serdadu itu. dia ajak Lie Peng dan barisannya kabur dari belakang tangsi. Malah segera ia bekerja. Dia cari tabib tentera untuk obati tangannya itu. Tapi ia mesti menderita pada tangannya. Kali ini ia lari keluar kota. Tentu saja ia menjadi sangat ketakutan. Sejak sucikan. Dia malah menjadi ciang-bun-jin. jeri Thian Tek terhadap pamannya. siapa berani perhina padamu?‖ paman itu tanya pula. serdadu-serdadu membikin banyak berisik. Thian Tek tidak berani berayal pula. Mereka keluar secara diam-diam dari belakang tangsi. mereka bingung. yang bekas di cekal si imam. Terus Thian Tek kasih lihat roman sangat berduka. ―Peehu. Tepat tengah malam. kau memangku pankat. Kalau perlu nyonya Kwee itu dapat di pakai sebagai tanggungan untuk jiwanya. Thian Tek segera tekuk lutut di depan pamannya itu. Dia pergi ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan yang komandannya adalah sahabat eratnya. ―Mau apa kau datang kemari?‖ sang paman tegur keponakannya. Lengan itu bengkak. rupanya ia telah kompes kedua serdadu pengantarnya. dengan rajin ia berlatih terus. ia tidak abaikan ilmu silatnya itu. siang-siang dia telah karang sebuah alasan. dia takut pulang. Ia pernah memangku pangkat dalam ketenteraan. Karena ini. dengan memandang kepada muka ayah. Nyata tulang lengannya patah. Thian Tek mendusin dengan kaget. ia manggut-manggut. aku minta kau suka tolongi keponakanmu ini…. Sebabnya ialah satu serdadu jaga ketahuan lenyap tidak keruan paran. hingga ia lantas menyusul ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan itu. ―Jangan kamu bikin toya gusar!‖ Baharu sekarang dua serdadu itu mendusin. Thian Tek takut bukan main. ―Mari kita bekuk dia!‖ berkata si si komandan. Peehu. supaya selamat? Akhirnya dia ingat pendeta dari Kong Hauw Sie. Tangsi ini terpernah di tempat sepi. Kepada sahabat itu ia tuturkan halnya si imam jahat. dia ajak barisannya meninggalkan tangsi Wie-ko itu. tak suka ia bergaul dengannya.‖ dia menyahut dengan cerita karangannya. disusul sama masuknya laporan halnya satu imam datang mengacau. Thian Tek berkepandaian tidak seberapa. tanpa pamitan dari rekannya.‖ dia ambil keputusan. Dari itu. ―Keponakanmu telah orang perhina. dia paksa Lie Peng dandan sebagai serdadu. rasanya sakit sekali. Sikapnya dingin. ―Aku diperhina satu imam. Ia menjadi kepala di kuil Kong Hauw Sie itu. nama sucinya ialah Kouw Bok. Di sini ia selamat. mereka lantas ngeloyor pergi. Kouw Bok Hwehio pandai ilmu silat. si imam tidak berhasil menavri dia terlebih jauh. ke tangsi Coan-ciat nomor dua. aku mohon pertolonganmu…‖ ―Kau tinggal di tangsi tentera. yang terus hendak kumpulkan tenteranya. yang sama martabatnya. sehingga mereka terpaksa mesti mebuka rahasia. ―Baik aku pergi ke paman. Untuk memastikan keselamatannya terus ia bawa-bawa Lie-sie. hingga tulang itu mesti disambung. Terang Khu Cie Kee balik kembali setelah ia tidak berhasil mencari Thian Tek. Baharu sekarang ia bisa bernapas sedikit lega.‖ Irawan D Soedradjat Page 50 . ―Lekas! lekas pergi!‖ Thian Tek membentak. tanpa pedulikan malam buta rata. dia pasti dapat susah di tangan pamannya itu. ialah si paman sangat benci bangsa Kim dan sangat sesali pemerintah Song. Malam itu dia bermalam di tangsi itu. Dia bawa Lie Peng bersama dia. Kemana ia mesti menyingkir. Bukan saja pemerintah tidak membuat perlawanan. ahli waris dari partai Hoat Hoa Cong golongan Selatan. Pamannya Thian Tek ini sudah lama sucikan diri. Maka kaget ia akan dapatkan tengah malam itu sang keponakan muncul dengan tiba-tiba. Sebenarnya sudah lama dia tidak berhubungan dengan keponakannya itu. sebaliknya menteri dan panglima setia dibikin celaka. Di luar tangsi. Seberlalunya si imam. sebab ialah dia tidak setujui kelakukan sang keponakan. Dia tahu sebabnya kenapa pamannya itu masuk menjadi paderi. ―Imam itu kepung-kepung aku hingga tak tahu kemana aku mesti singkirkan diri. dia melebihi kebanyakan orang.Pendekar Pemanah Rajawali Dua serdadu itu belum mengerti.

dia memaksa si nona melayani padanya…‖ ―Mustahil seorang suci pergi ke tempat semacam itu!‖ Kouw Bok menyela. wa-sie itu diambil sebagai arti ringkas dari sebutan. untuk mengikat hati tentera. Lie Peng sudah diancam oleh Thian Tek. Lam-wa-cu itu diambil dari kata-kata wa-sia. Aku lari.‖ dia menjawab. ―Dia berani mengatakan demikian?!‖ ―Benar. semunculnya dia. karena habis jalan.‖ Thian Tek adalah satu perwira. peehu. ―Aku adalah seorang suci. tie-kek-cung. hari itu aku minum arak bersamanya. 51 ―Dia. Aku larang kau main gila pula!‖ Thian Tek menghanturkan terima kasih berulang-ulang. Ia menghela napas panjang.Pendekar Pemanah Rajawali Melihat roman orang. Nyata dia sangat galak. ia menemui Kouw Bok dan melaporkannya dengan gugup: ―Di luar ada satu imam. setelah pemerintahan dipindah ke selatang. keponakanmu celaka. dan dia minta Toan Tiangkhoa keluar menemui padanya…. Lebih tegas lagi bermaksud. Aku turur beberapa kawan. pemerintah mengadakan apa yang dinamakan wa-sia itu di dalam dan di luar kota Hangciu. hati Kouw Bok tergerak. gampang bubar‖. tentera itu bakal membunuh habis semua pembesar dan tentera kita…‖ Kouw Bok lantas saja menjadi gusar. dia mengejar. Ia omong terus: ―Aku ada punya satu nona kenalan.‖ Dasar orang suci dan mengingat juga kepada almarhum saudaranya. dia katakan aku bakal terpisah kepala dari badanku. ―Kemarin dulu aku pergi ke barat jembatan Ceng Leng Kio. ―Diwaktu datang. Lebih jauh. Mulanya itu mereka jadi barang permainan tentera. benar dia…‖ kata Thian Tek. Itulah tempat pelesiran serdadu. dasar tabiatku jelek. ―Tolong untuk kali ini saja.― berkata paderi itu. terpaksa aku lari ke mari. ―baik. ―Celaka. genting utuh. Maka itu aku telah singkirkan dia. galak dia. maka itu dia dipanggil tiang-khoa. aku suruh dia pergi.‖ ―Apa maksudnya dengan kata-katanya kepala terpisah dari badan?‖ tanya Kouw Bok lagi. Thian Tek pura-pura tuli untuk ejekan pamannya itu. Sayang aku bukan tandingan dia itu. ―Untuk beberapa hari kau boleh berdiam di sini. Disana kami bermain-main di Lam-wa-cu di bawah rangon Hie Cun Lauw…. Thian Tek sudah bangun berdiri. Irawan D Soedradjat Page ―Imam itu sangat galak. Tapi maksudnya nag paling jelas ialah: Di jaman Song itu. tak dapat aku urus perkara main perempuan kamu ini. Kouw Bok merasa berkasihan juga. Tiba-tiba muncul imam itu. walaupun ia tahu orang sudah mendusta. mengejar terus-terusan. Aku tak berani main gila lagi…. . ―Satu pembesar tentera begini tidak punya guna.‖ Kouw Bok menitah.‖ ―Hm…!‖ sang paman perdengarkan suara di hidung.‖ kata dia akhirnya. Aku minta peehu suka tolongi aku…. ―Tolong. Lewat lhor itu hari. lekas-lekas dia berlutut pula. ―Panggil Thian Tek. ia tutup mulut. Dia damprat aku. ―gampang berkumpul. ―Tapi kejadiannya benar demikian. aku tegur dia dan jadi berkelahi karenanya. ―Dia menjelaskan. hingga tak perlu aku main gila.‖ Thian Tek pura-pura merengek. tak lama lagi tentera bangsa Kim akan datang menyeberang ke sini. dan wa-sia berarti ―rumah genting‖.‖ Thian Tek merintih.‖ Kouw Bok mengeluh. Penghuni wan-sia adalah wanita-wanita melarat yang tidak punya sanak kandung. yaitu paderi tukang layani tetamu. dia adalah paderi dari partai mana?‖ tanya sang paman. diwajtu pergi genting pecah‖. belakangan orang berpangkat atau sembarang hartawan pun dapat permainkan mereka. lari masuk dengan tegesa-gesa. ―Kenapa itu imam kepung-kepung padamu?‖ ia tanya. ah….

―Tidak. dia Cuma bertenaga besar. Kouw Bok insyaf bahwa ia bukan tandingan ini imam. dasar aku yang tidak punya guna. Setelah mengetahui orang sudah pergi. habis itu dia angkat kaki sambil tertawa haha-hihi. selagi imam itu hendak memaksa memasuki pendopo walaupun paderi penjaga pendopo mencegah padanya. kenapa totiang berpandangan sama dengan seorang biasa saja?‖ ia tanya. habis mana ia lari keluar.‖ Kouw Bok pakai jubahnya. Irawan D Soedradjat Page 52 . akan susul Kouw Bok. Dengan tertawa dingin. ―Singa-singaan itu musnah di tanganmu!‖ katanya. ―Apakah dia mengucapkan sesuatu?‖ tanya Kouw Bok setelah berdiam sesaat. ―Inilah aneh. yang usianya tetelah beberapa ratus tahun…‖ Dan tangannya melayang ke muka Thian Tek. dengan seret Lie Peng. sebab ia dapatkan kenyataan. penduduk pria dan wanita. ―Dia tak bilang suatu apa. ―Dia membuang napas. ―coba kalau dia tidak berlaku murah. ia bukan Cuma besar tenaganya…‖ Lekas-lekas ia rangkap kedua tangannya untuk memberi hormat seraya menanya: ―Ada pengajaran apakah maka totiang datang berkunjung ke kuil kami ini?‖ ―Aku datang mencari satu bangsat busuk she Toan!‖ Cie Kee menjawab ringkas. dia sendarkan diri di dua singa-singaan batu. Di pintu pekarangan. ia berlaku sabar.‖ kata tie-kek-ceng. ―Ah. ―Sebenarnya tak seberapa ilmu silatnya. separuh patung pun gempur! Dalam kagetnya yang tak terkira. ―Apakah ada sikapnya yang aneh selagi dia hendak berlalu?‖ tanya lagi. karenanya tentu saja ia tak dapat dicari. ―Dia sudah pergi jauh. celaka. Ketika itu. Lebar tindakannya itu. terus ia pergi keluar. ia tak berani membuka mulut. agaknya ia sangat letih. ialah Khu Cie Kee. kecuali setibanya ia di mulut pintu pekarangan.‖ Thian Tek mendusta tak kepalang tanggung. nanti aku temui dia. ―Dia lihay sekali. tubuhnya tertolak mundur keras sekali. ―Mana dia hanya satu imam dusun!‖ kata Kouw Bok dengan mendongkol. celaka…. Ia nampaknya menggeraki tangan dengan perlahan tetapi ia menggunai tenaga dalam. Ia lantas bertemu sama si imam. jiwaku pasti sudah melayang!‖ Thian Tek membungkam. Nampak romannya yang sangat berduka dan menyayangi singa-singaan itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Entahlah dia imam dari desa mana. diluar kendalinya. ia kaget sekali.‖ Kouw Bok lantas mengeluh.‖ sahut tie-kek-ceng. Ia ingin mendorong imam itu keluar pendopo. ia terus tolak bahu si imam itu.‖ mengatakan Kouw Bok. ia hanya bertimdak masuk. Kouw Bok berpikir. Thian Tek keluar dari persembunyiannya. aku tak sangggup lawan dia…‖ ―Baiklah. tidak ampun lagi ia terlempar membentur patung Wie Hok di pendopo itu. di hari-hari dari musim semi itu Kong Hauw Sie kedatangan banyak penduduk yang bersujud. yang muncul di depan gurunya. singa-singaan batu. Ia kena langgar daging yang empuk bagaikan kapas. Ia maju mendekati. hingga ia mesti bekapi mukanya itu. waktu ia hendak tarik pulang tangannya. yang disebutkan tadi. Cie Kee tidak menjawab pertanyaan itu. Kouw Bok Hweshio berdiri bengong mengawasi sepasang cio-say. Keduanya turut lari keluar. Celakanya. ia telah terlambat. lebih-lebih Thian Tek yang mukanya menjadi bengap dan merah.‖ jawab muridnya itu. ―Seorang pertapa perpokok kepada belas kasihan dan murah hati. ―Celakalah singa-singaan kita itu. Thian Tek dan tie-kek-ceng menjadi heran. Sebagai seorang yang beribadat.‖ lanjut muridnya lagi. Kouw Bok lirik tie-kek-ceng untuk suruh muridnya itu antar tetamu tak diundang itu. sudah tentu benturan itu menimbulkan suara yang keras. terpaksa ia berlalu. ia tak mau mengganggu kesujudan banyak orang itu. Cie Kee juga tidak berani menggeledah. tapi begitu ia kena langgar bahu si imam. Thian Tek sudah umpatkan diri ke dalam sebuah kamar.

‖ ―Kwa Toako betul. malam itu ia ajak Lie Peng berlayar ke Kee-hin. ia cuma minta surat perantara. Kouw Bok menghela napas pula. kuping dan hidungnya cio-say itu runtuh jatuh.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kenapa peehu?‖ sang keponakan tanya. Keras adalah hatinya Khu Cie Kee. dia seperzi bukan hendak mengacau. untuk pergi menumpang pada Ciauw Bok Taysu. ―Aku memang bekum pernah tanyakan sesuatu kepada mereka. yang tidak kurang suatu apa. pergilah kamu dengan baik-baik…‖ Kemudian dia berpaling kepada Toan Thian Tek. Lie Peng sudah disembunyikan Thian Tek dalam ruang bawah tanah. lalu dengan menyewa perahu. Irawan D Soedradjat Page 53 . singa batu itu gempur dan rubuh. dia tidak bakal berlaku murah hati lagi. ia tidak mau percaya sangkalannya paderi itu. Ingat Lie Peng. Thian Tek masih tidak mengerti.‖ Paderi ini hendak suruh panggil Thian Tek tempo Tin Ok peringatkan: ―Ciauw Bok Suheng. ia tidak sangka yang kawannya Thian Tek adalah satu wanita dalam penyamaran. Kebetulan ia lihat Lie Peng di dalam tamannya kuil.‖ Kim Hoat menyarankan. Ia mau percaya. suaranya perlahan dan penuh rasa sangat menyesal. Seperti tanpa merasa.‖ ―Aku pikir baiklah minta datang dua orang yang kakakmu itu perkenalkan. ―Pergilah kau kesana. Sampai sebegitu jauh. Ciauw Bok Taysu merasa tidak ungkulan melawan imam itu. Habis menutur Ciauw Bok Taysu menambahkan: ―Telah lama aku dengar Tiang Cun Cu lihay.‖ ―Benar. mungkin imam itu menyusul kita. sampai setiba Tiang Cun Cu dengan jambangan araknya yang istimewa itu. Kau tahu. ia berkeras. ―Cio-say ini telah dirusak si imam dengan menggunai tenaga dalamnya…‖ katanya. lebih pandai sepuluh lipat daripada aku. Tentu saja ia kaget hingga mukanya pucat.ah!‖ Ia menghela napas panjang. untuk beberapa ratus tahun kamu bercape lelah menjaga pintu kuil ini. apa mungkin ia sudi layani kau yang begini hina memperebuti segala bunga berjiwa?‖ Thian Tek kaget. maka sekarang. mungkin dia sanggup melayani imam itu. ―Inilah takdir…‖ sahut si paderi dengan masgul. ―Cio-say. ketika itu Kaisar Liang Bu Tee telah memanggil tukang yang pandai untuk membuatnya.‖ Ciauw Bok Taysu menyatakan akur. Ia berkata pula: ―Dia demikian lihay. maka aku mau percaya. Karena ia telah lihat Lie-sie dengan matanya sendiri. Sekarang…. Ketika kemudian ia lompat masuk ke dalam pekarangan. ia pergi minta bantuannya tujuh Manusia Aneh dari kanglam itu. ia terima mereka itu menumpang. Tiba-tiba saja. Ia awasi cio-say itu. ―Coba kita tanyakan keterangannya. aku pandang Cio-sang itu sebagai mustikanya Kong Hauw Sie. Karena ia telah lihat Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya. bertumpuk bagaikan puing. Maka itu ia ketemukan Ciauw Bok Taysu.‖ kata Kouw Bok. Oleh karena penasaran. maka itu mesti kita cari jalan untuk mengerti satu pada lain. Demikianlah mereka berkumpul di restoran Cui Sian Lauw. kecurigaannya timbul. Ia segera tarik pulang tangannya itu. matanya mengawasi pamannya. Khu Cie Kee ingat Pauw-sie. Thian Tek tahu tidak selamat ia berdiam terus di Kong Hauw Sie ini.― Meyaksikan lihaynya Khu Cie Kee. sekarang kita dapat buktikan itu. ia dekati singa-singaan batu itu. ―Aku keliru sudah menyalahkan kau…. ia berhasil menyusul Thian Tek. cio-say. tidak berani dia membuka mulutnya. ―Luar biasa sempurnya tenaga dalam dari imam itu. ―Eh…kenapa jadi beini…? katanya. pada ini mesti terselip salah mengerti. ―Adikku seperguruan. mestinya jalannya tak sama dengan yang di rumah makan. Ia mengawasi. ia pergi tolak tubuh cio-say yang satunya lagi. Sayang ia terlambat. ―Yang dikhawatirkan justru salah mengerti ini sukar dijelaskan…‖ kata Tin Ok pula. ia minta supaya Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya.‖ kata Kouw Bok kemudian. maka kalau kita bertempur pula. begitu ia ingat pada Kanglam Cit Koay. kepada suteeku itu. begitu kena diraba. Pastilah dia menyangka kita telah bekerja sama dengan pihak Kim. Tiba-tiba saja ia menjadi kaget. Paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak menduga apa-apa. Pauw-sie pun disembunyikan di dalam kuil Hoat Hoa Sian Sie itu. ia raba kepalanya. Ciauw Bok Taysu. Tie-kek-ceng heran. Turut penglihatanku.‖ berkata si pederi. dari itu ia tidak bantah pamannya itu. sepasang cio-say ini adalah barang peninggalan jaman Lam Pak Tiauw.

―Aku pikir tak apa. Ia pun lantas tarik Kim-liong-pian. Berbareng dengan itu. ―Kita tidak berniat binasakan dia. Kali ini ia berhasil. dengan jambangan arak di tangannya. sampai jambangan perunggu itu retak.cambuk Naga Emas. Kalau Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan bungkam mulutnya. ―Nah. Segera si imam serang tukang pentang bacot itu. Pada suatu hari ia kedatangan satu gadis yang cantik. sambil ia melompat. karena ia berkecimpung di dunia kang-ouw -Sungai Telaga – sedang raja Wat pakai ilmu itu dalam peperangan. Dia menyerang beberapa kali. panglima sangat tangguh dari negeri Gouw itu. Berdelapan mereka memburu ke depan. dari pinggangnya. kakinya Cie Kee melayang. Karena ini ia membuat si nona Han menjadi repot. Tiang Cun Cu mendesak Siauw Eng. tepat Irawan D Soedradjat Page 54 . untuk membinasakan panglima dan merubuhkan kuda perang. beberapa kali Han Siauw Eng menghindari nacaman bahaya. Sikap kedua saudara ini sangat berbeda satu sama lain. negeri Gouw bermusuh dengan negeri Wat. ―Delapan orang lawan satu orang. di situ kedua negara biasa berperang.‖ kata Coan Kim Hoat. Khu Cie Kee tidak menjadi gugup. Raja Wat. hingga Khu Cie Kee tak ketahui apa yang diucapkannya. beruntun beberapa kali. Untuk dapat menelan negeri Gouw itu. Cepat sekali Khu Cie Kee ketahui ilmu silat pedang si nona. mari kita maju lebih dahulu!‖ Ho Po Kie teiaki adiknya. mengalun. ia mesti menghadapi Ngow Cu Sih.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kalau terpaksa kita maju berdelapan…‖ Cu Cong turut berbicara. Ia menjadi sangat girang. Ia kembali gagal. Sayang untuknya.‖ ―Apakah nama kita tidak bercacat seumpama tersiar diluaran Ciauw Bok Taysu bersama Kanglam Cit Koay mengepung satu orang?‖ Han Siauw Eng pun bersangsi. Lam Han Jin dan Thio A Seng maju dengan berbareng. ia membuat terbitnya suatu suara nyaring. Ilmu silat itu asalnya tigapuluh enam jurus. orang kang-ouw juluki si nona Wat Lie Kiam – Akhli pednag Gadis Wat – Begitu lekas mengenali ilmu silatnya si nona. Oleh karena disitulah tersiar luas perihal ilmu pedangnya si gadis Wat itu. Siauw Eng menjadi penasaran. Di pihak lain Han Siauw Eng sudah hunus pedangnya. si imam datang!‖ seru Kwa Tin Ok. dengan sabetan ―Naga hitam menggoyang ekor‖. Lincah sekali caranya ia berkelit. dengan itu ia lompat menikam bebokong imam itu. Penambahan ini penting untuk si nona. Diserang dari depan dan belakang. ia perbaiki. Oleh karenanya. tangan kirinya yang menyambar. hendak ia merampas pedang si nona. ia minta si gadis ajari ia ilmu silat itu. Mendapatkan adik angkatnya terancam bahaya. sedang menggempur genta di toa-thian itu. dengan satu egosan tubuh. yang bernama Kouw Cian. yang satu geraki pikulannya yang istimewa. dengan satu gerakan tangan kanannya. Seperti terlihat Khu Cie Kee. melainkan kita menghendaki dia sabar mendengarkan penjelasan Ciauw Bok Taysu. Di jaman dahulu. yang lain mainkan ―golok jagalnya‖ yang ujungnya lancip. yang tajam mengkilap. Siauw Mie To si Buddha tertawa terus-terusan mengoceh tidak karuan juntrungannya. sambil di lain pihak melayani Han Po Kie. ia tidak menyangka orang akali padanya. itulah tidak benar…‖ menyangsikan Han Po Kie. yang pandai ilmu silat pedang. A Seng berkelit seraya melengak. pendopo besar. Suara itu seperti suaranya dua genta beradu keras. ditambah hingga menjadi empatpuluh sembilan jurus. ia ulangi serangannya. dia mencoba melilit lengan si imam yang memegang jambangan. hanya kali ini disusul sama campuran suara rengatnya barang logam. Belum putus pembicaraan mereka. sampai ia terdsak mundur ke tepinya patung Buddha. Kota Kee-hin adalah tapal batas kedua negeri Gouw dan Wat itu. Ia dan adiknya itu memang yang paling aseran diantara Cit Koay. si imam juga bebaskan diri dari ujung pedangnya si nona. suara itu lalu mengaung. yang sekarang dipunyai Han Siauw Eng. yang pandai sekali mengatur tentera. Cambuk Naga Emas bukannya melilit tangan. mereka telah dikagetkan suara keras yang datangnya dari toan-thian. negeri Gouw dapat dimusnahkan. Lagi sekali mereka dengar suara nyaring seperti tadi. ―Citmoay. hanya menghajar jambangan perunggu itu. Ia menjadi sangat tidak puas dan berduka. Justru ia melengak itu. melatih keuletan diri dengan tidur sambil mencicipi nyali yang pahit. di tangan nona Han.

Di antara satu suara keras. dan ia sambuti serangannya si imam untuk keras lawan keras. yang telah menjadi korban. Atau lebih benar. ia merasa bahwa ia telah mesti menggunai tenaga banyak. Ia lihat ia dikepung berenam. ia pakai tangan kirinya yang bebas yang tidak bersenjatakan apa juga. ―Biarlah!‖ dia berseru. ia manjadi nekat. musuh bangsa Kim. karena ia biasa berlatih mengadu tenaga dengan kerbau – sudah dagingnya keras dan kulitnya pun tebal. ―Kau begini lihay tetapi kau rendahkan dirimu dengan jalan menakluk kepada musuh negara!‖ ―Hai. Beruntun tiga kali. lihat!‖ Dan lantas ia mendesak dengan serangan tangan kirinya. ia sudah lantas pernahkan diri. ia tetap mainkan jambangannya sebagai senjata. ia berlompat menotok jalan darah soan-kie-hiat dari Tiang Cu Cu. Satu serangannya yang mengancam Thio A Seng hebat sekali. imam bangsat. Maka itu. Disana masih ada dua musuh segar Kwa Tin OK dan Ciauw Bok Taysu – inilah berbahaya untuknya. Dia akhirnya tidak dapat bersabar lagi. Jikalau mereka ini meluruk juga? Dari itu. ―Bagus!‖ Tiang Cun Cu puji lawannya ini. setelah ia menganca. nyatanya mereka berada di bawah angin. Cu Cong kaget bukan kepalang. Biauw Ciu Sie-seng merasa tidak enak karena berempat mereka mengepung. Ciauw Bok Taysu menjadi bergelisah menyaksikan jalannya pertempuran itu yang makin lama jadi makin hebat. ia mengatakannya: ―Sayang! Sayang!‖ ―Eh. maka itu senjata bisa dipakai berbareng sebagai toya. tidak ada orang yang sudi dengar cegahannya itu. maka dua kali kepalannya A seng membuatanya jambangan itu bersuara nyaring. Tendangan itu mendatangkan rasa sakit dan akget. lengannya itu terhajar patah tangannya Khu Cie Kee. sebagai tameng. ia menyerang lawannya. Tapi ia salah menaksir ketangguhannya sendiri. sebagai jago ia tidak menghiraukan pedangnya yang terbang malah membarengi itu. ia lompat menerjang. yang pandai ilmu menotok. goloknya terlepas dan melayang. Ia khwatir juga. ―Tuan-tuan tahan! Dengar. menampak ancaman bahaya. Cie Kee melawan sambil berkelit. sayang! Sayang apanya?!‖ tegaskan Siauw Mie To ―Sayang ilmu silatmu yang sempurna ini!‖ sahut Cie Kee sambil ia layani terus musuh-musuhnya. ―Tahan! Tahan!‖ ia berseru-seru. yaitu alat peranti menimbangan barang. Menampak demikian Coan Kim Hoat tapinya menjadi penasaran. karena dengan itu ia lebih banyak membela dirinya. ia pasang jambangan itu sebagai sasaran. Keduanya maju dari samping. Mana ia mau mengerti dikatakan menakluk pada musuh. akan tetapi untuk dua serangan yang belakangan. dengan jari-jari tangan terbuka. Kekebalannya itu ditambah sama tenaganya yang besar. jangan turunkan tangan kejam!‖ Ciauw Bok Taysu berseru dalam kegelisahannya yang hebat. Malah Khu Cie Kee perdengarkan seruannya: ―Kawanan pengkhianat tidak tahu malu. Irawan D Soedradjat Page 55 . sedang Biauw Ciu Sie-seng si Mahasiswa Tangan Lihay. Khu Cie Kee tidak peduli ia dikepung berenam.Pendekar Pemanah Rajawali mengenai lengannya. diturut oleh kakak angkatnya itu. juga dengan kepalan. Ia berkelit untuk serangan membalas sambil berkelit. dengan memberi tanda kepada kakaknya yang kedua. Thio A Seng ada punya ilmu kedot. ia membalas menyerang dengan tangan kirinya. Ia merasa A Seng tidak akan luput dari bahaya. Tidak ampun lagi. Genggamannya Lauw-sie In Hiap adalah sebatang bacin. gaetan dan gembolan. ia menangkis dengan jambangannya. Cie Kee memang menyerang dengan hebat sekali. Totokan ini bukan untuk menolongi Thio A Seng. hanya guna mencegah si imam ulangi serangannya yang lihay itu. dalam hal ini. dengan tangan kanan! Sebab sebat sekali. Walaupun begitu. sebab Siauw Mie To tengan terdesak. kau ngaco belo!‖ mendamprat A Seng sangking murkanya. lama-lama nanti ia kalah ulet. dengan kipasnya senantiasa mencari jalan darah lawannya. ialah tubuhnya tidak mempan senjata tajam. Untuk membalas menyerang. ingin ia lekas-lekas menyudahi pertempuran itu. hendak aku bicara!‖ Dalam waktu pertempuran yang hebat itu. ―Totiang.

Coan Kim Hoat teriaki dia: ―Toako. Yang satu menuju ke alis dan yang lain ke paha kanan sebelah dalam. ia ulangi serangan-serangannya yang dikhawatirkan Biauw Ciu Sieseng. guna menhajar batok kepala lawannya itu. yang satu mengenai pundak kanannya. dan di kiri. Cie Kee terkejut. untuk hampiri si imam. Sebagai seorang yang cerdik dan gesit. semua sebab hampir berbareng. ―Dia hebat sekali!‖ pikirnya. makin perlahan. Mesti begitu. Lauw-sie In Hiap sendiri terancam lukanya. Yang mereka sayangi sebagai saudara betul. ia tidak lolos seluruhnya. Batu dacinnya Lauw-sie In Hiap telah kena disambar oleh si imam. hingga orang tidak tahu dia masih hidup atau sudah mati… ―Serang! Serang!‖ Coan Kim Hoat masih bersuara lagi. adiknya yang kelima dan yang keenam. Irawan D Soedradjat Page 56 . ia sungkan turun tangan. Sekarang ia menimpuk berbareng dengan empat buah senjata rahasianya itu. Cie Kee terlalu perhatikan tongjin. yang berada paling dekat. ia juga layani paderi itu. Selagi melejit. Karena itu dengan berbareng dua orang perdengaran jeritan kaget. ia tolak jambangannya ke arah mereka itu. Jeritan itu menandakan adanya dua korban! Jitu serangan Tin Ok kali ini. ―Hajar tongjin…!‖ Yang terakhir ini Kwa Tin Ok tidak turuti tetap sasarannya Kim Hoat itu. ―Dia ahli menotok. Tidak dapat Kim Hoat pertahankan diri. kau gunai thieleng! Hajar dulu kedudukan cin. Menyusul tarikannya itu. setelah mana. Ciauw Bok Taysu lihat keadaan hebat. lalu kedudukan siauw-ko!‖ Menyusul anjuran itu. dia toh tidak kalah. ia menangkis dengan jambangannya. Khu Cie Kee ayun terus tangan kirinya. Mau tidak mau. kuda-kudanya gempur. dua rupa senjata rahasia menyambar sar! ser! kearah si imam. Untuk cegah Lam Hie Jin dan Cu Cong. dan beda dengan dia adalah Thio A Seng. tidak terdengar suaranya sama sekali. Kim Hoat itu adalah saudara angkat mereka. Cie Kee pun berkelit dari anggota tongjin sebagaimana diteriaki Kim Hoat. Han Po Kie dan Han Siauw Eng kaget tidak terkira. atau lengkak besi – jatuh ke lantai. tubuhnya terbetot. Maka sebentar saja belasan lengkak telah membuatnya Cie Kee terpaksa main mundur saja. meskipun sebenarnya ia tidak menghendaki pertempuran. yang mereka terjang dengan berbareng. suaranya makin lemah. bagian hong dan lie. ia mandi keringat. bagus! Sekarang serang beng-ie!‖ Setiap kali ia berseru. hanya kedua bagian kiri dan kanan dari tongjin itu. Begitulah ia maju denagn sepotong kayunya yang mirip ruyung. Coan Kim Hoat lompat melejit. Ia lolos dari gempuran kepada batok kepalanya. Kwa Tin Ok tidak dapat berdiam terlebih lama lagi. Setelah turun tangannya paderi itu. ia tidak dapat tinggal peluk tanagn terlebih lama pula. kedua senjata rahasia itu – thie-leng. Dengan tidak kurang bengisnya. Imam ini lihay. tetapi semakin lama. ia melainkan tidak sempat membalas menyerang. Di saat ia hendak gerakkan tongkat besinya. hingga ia menjadi kaget dan menjerit karenanya. Thie-leng adalah senkata rahasianya Hui Thian Pian-hok. Coan Kim Hoat sudah berseru-seru pula: ―Hajar tionghu. dia lihay. yang menyerang ke lain jurusan. ia kena tertipu si buta. ia dapat menunjuki sasaran kepada toakonya. Keduanya apungi tubuh mereka. Cuma ini jalan untuk tolongi saudara angkat mereka itu. Sebenarnya ada sulit walaupun ada orang luar yang memberi petunjuk menurut garis-garus patkwa…‖ Ia lihat datangnya dua serangan itu. Ia perhatikan suara anginnya. Atas itu.Pendekar Pemanah Rajawali Khu Cie Kee memang tidak berhenti sampai disitu. Segera juga terdengar jeritannya Coan Kim Hoat. hingga ia lantas saja rubuh terguling. Ciauw Bok Taysu dan Han Siauw Eng menyerang dari kanan. Ia buta tetapi ia tahu dua saudaranya telah rubuh. ia dapat bersedia setiap kali Kom Hoat perdengarkan petunjuknya. ―Dia buta tetapi dia bisa mengincar dengan tepat. Kalut kedudukan mereka. Ia juga tidak gunai satu-satu biji lengkak sebagaimana bermula tadi. Khu Cie Kee mesti berkelit. Ia tidak lolos dari semua empat lengkak. mirip lengkak tetapi ujung tajamnya ada empat. Rupanya ia anggap belum cukup dengan korban Thio A Seng itu. biar ia tidak terluka. suara beradunya setiap senjata. tidak dapat lantas bangun. pada itu tercampur rintihan juga. kakinya si imam kena sambar pinggangnya. Bukan anggota tongjin yang ia incar. hajar lie! Bagus. Ia menotok ke bawah ketiak. maka setelah suara ting-tong. yang ujungnya hitam hangus.‖ pikir Khu Cie Kee. Di kanan ialah bagian ciat dan sun. yang berkelit. Berbareng dengan itu. setiap kali juga lengkak besi dari Kwa Tin Ok menyambar. dacin itu terus ditarik dengan keras.

ia tidak perhatikan itu. Dengan tiba-tiba ia rangsak Lam Hie Jin. ―Citmoay. selagi dia ini belum tiba di lantai. Sementara itu pucat mukanya Khu Cie Kee. ia baru sadar kapan ia dengar teriakannya Tin Ok kepada Siauw Eng. begitu jeras. ia tidak batalkan serangannya. Ia lantas lompat mencelat ke arah genta. ia menyapu kepada Han Po Kie yang maju untuk serang padanya. sekalian diputar. Cie Kee terkena senjata rahasia. untuk keluar dari kurungan. Sebab telapakan tangannya pecah dan mengeluarkan darah. menyerah!‖ Kwa Tin Ok teriaki lawan itu. ia sendiri pun rasai pundaknya semakin kebas dan kaku. ―Lekas lemparkan pedangmu. Ketika mulut jambangan tiba di lantai. kedua matanya kabur. racun bisa mengikuti jalan darah segera menyerang ke ulu hati. tetapi ia dengar kata. ia lari kepada itu kakak. di tanah!‖ kakak ini beri petunjuk. Hie Jin lantas merasa tubuhnya enteng. sebaliknya. Maka sambil membentak keras. Berayal sedikit saja. ia melangsungkannya. maka tidak ada obat lagi untuk menolong. berbareng tangan kirinya menolak tubuh genta itu yang beratnya mungkin ratusan seribu kati. ia lantas damprat dirinya sendiri. ia hunus pedangnya. tanpa sangsi lagi. Siapa terkena senjata rahasia yang beracun itu. ―Toako!‖ ia memanggil. Han Siauw Eng tahu senjata rahasia kakaknya ada racunnya. untuk membabat rantai gantungannya. Itulah gerak ―Tiat so heng kang‖ atau ― Rantai besi dilintagi di sungai‖. ia tidak mau singkirkan diri. kalau sampai itu terjadi. ―Ke mana kau hendak lari?!‖ bentak Tiang Cun Cu yang terus tolak tangan kanannya. Ia tahu. begitu rantai putus. mulutnya manis. Dengan begitu. benar sementara itu ia cuma merasai sakit sedikit. lama-lama sang racun akan bekerja mencelakai ia. lengkak yang mengarah bagian sun tepat mengenai pundaknya tanpa ia ketahui atau dapat berdaya mengelakkannya. Niscaya sekali ia menginsyafi bahaya yang mengancam dirinya. Maka pikulannya Hie Jin kena terhajar. jangan lari!‖ Tin Ok teriaki. ―Tenangi hati. lengkaknya sudah nyasar di tubuh adik bungsunya itu. Tidak begitu saja. Khu Cie Kee tahu maksudnya lawan itu. ―Lekas kau rebahkan diri di taman belakang. dikasih turun. ia dengar teriakannya kakak itu. dengan lantas ia jejalkan itu ke mulut adiknya. ia keluarkan sebutir pil kuning. ia merasakan pundaknya sedikit kebas. peluhnya lantas turun menetes. Si cebol lari berkelit. lekas kemari!‖ ia memanggil. ―Kau tidak boleh bergerak sedikit juga. Ia girang sebab ia dengar suaranya si imam. ia lintangi pikulannya di depan mukanya. ia pengkeratkan tubuhnya. Han Po Kie tidak sempat berdaya untuk membalikkan jambangan itu. jiwamu bakal tidak tertolong!‖ Si buta ini merasa pasti mengenai lawannya itu. dia tidak boleh keluarkan tenaga. Karena ini ia lantas tak berani melanjuti pertempuran itu. muka siapa ia hajar. Irawan D Soedradjat Page 57 . Untuk tolong diri. ―Jangan lari. Justru itu. yang dilarang lari. Lam San Ciauw-cu lihat bahaya datang. jambangannya jadi menungkrap dari atas. ia terus lari ke belakang. Inilah yang membikin ia kaget. sehingga ia tidak bisa berkelit.Pendekar Pemanah Rajawali Jeritan yang lain dikeluarkan oleh Han Siauw Eng. Selagi nona ini maju menyerang. hingga tubuhnya si Tukang Kayu dari Gunung Selatan menjadi tergetar dan kedua tangannya dirasakan sangat sakit. terus ia muntahkan darah hidup! Cie Kee telah dapat melukakan lawan yang menghalangi ia. genta jatuh menimpa jambangan. justru ia lagi ketakutan. Lantas ia menduga bahwa senajata rahasia itu ada racunnya. Ia jadi berkhawatir. kerena mana meski ia bertenaga besar. Dengan senjatanya itu hendak ia sambut pukulan musuh. Maka ia lantas berjalan dengan berpalahn tetapi tetap. sambil pasang kuda-kudanya. jalan perlahan-lahan saja!‖ Siauw Eng mendusin. Sekarang ia merasakan bahwa jambangan di tangannya itu menjadi berat. si cebol kena ketutup! Setelah itu Cie Kee lepaskan tangannya dari jambangan itu. Tin Ok lantas rogoh sakunya. hingga genggamannya terlepas dan jatuh ke lantai. Kau mesti tunggu sampai aku datang untuk mengobati!‖ Sebenarnya Siauw Eng keras kepala. akibat lainnya menyusul. menyambar si cebol itu. Kwa Tin Ok kaget berbareng girang.

sudah. Oleh karena ini. Sembari berlari. Cie Kee terjang musuhnya. Maka sambil menghela napas. ujung pedang Cie Kee mengenai iga kanannya hingga ia kaget dan menjerit. Kali ini Cu Cong menimpuk dengan bok-hie. lekas-lekas ia pusatkan semangatnya. maka lagi sekali. tubuhnya terus terguling! ―Bekuk dia dulu. biarkan si imam berlalu!‖ berseru Ciauw Bok Taysu. ―Imam bangsat! Racun ditubuhmu telah menyerang hatimu! Kau tikamlah pula tiga kali!‖ Bangkit kumisnya si imam. Baharu belasan jurus paha Tin Ok telah tertikam pedang. darah pun berhamburan. Sampai keadaan sunyi. ia mau membuka jalan. Tapi Tin Ok dan Cu Cong merintangi padanya. tubuhnya rubuh seketika! ―Imam anjing!‖ Cu Cong mencaci. akan saksikan segala apa kacau dan orang rebah di sana sini. Justru itu. Tin Ok dengar anginnya senjata. Dengan tangan kiri ini. ia menikam. mereka semua pada sembunyikan diri. ia melompat ke depan. itu tambur teroktok peranti mambaca doa. Sejak turun gunung. dengan ―melukai semua‖ hendak diartikan ―mati bersama‖. tanpa bilang suatu apa. takutnya bukan main. Mendadak bebokongnya mengasi dengar suara keras! Ia merasa sakit sekali.. lalu Cie Kee menjadi kaget sekali. ia sudah muntahkan darah hidup! Cie Kee telah gunai tenaganya yang terakhir untuk serang lawannya itu. Ia percaya. mendelik sepasang matanya. ―Lihay tenaga dalam si buta ini! Mungkinkah ia melebihi aku?― pikirnya. Cu Cong dan Ciauw Bok terarah semua bagian tubuhnya yang berbahaya. Ia dekati imam itu. Dengan menggunai ini ia telah menjadi nekat. Bab 6. ia hanya berlari-lari berputaran di pendopo kuil. Nyatanya luka di pundaknya itu menyebabkan tenaganya jadi berkurang hingga separuhnya. tubuhnya terpental ke belakang. ia merasakan dorongan suatu tenaga keras sekali. dengan cepat ia menangkis dengan tangan kanannya. Tempo ia diberitahu orang telah pada rubuh semua. Cie Kee insyaf bahwa tak dapat ia menyandak lawan itu. ia menangkis. ―Kwa Toako. Tiba-tiba ia rasai matanya kabur. menyerah berarti celaka. Maka ia putar pedangnya. ia lantas pindahkan pedangnya ke tangan kiri. Ia menahan sakit. inilah pertama kalinya. ia insyaf kenapa ia kalah kuat. ia masih khawatirkan tidak ada Khu Cie Kee di antara korban-korban itu. Cu Cong tidak melayani. kedua kakinya itu lemas. yang rebah diam saja. belum lagi tubuh itu tiba di tanah. ia bersilat dengan ilmu silatnya ―Kie Siang Kim-hoat‖ atau ―Melukai Semua‖. Ia penasaran. Mereka jadi ketakutan. Maka repotlah mereka membuat perlawanan. Paderi ini lihat ancaman bahaya. Ia menginsyafi bahaya. Paderi-paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak mengerti ilmu silat. baru mereka keluar dari tempat persembunyian mereka. Dia hampir membikin terlepas pedangnya. Segera juga Kwa Tin Ok. Dengan ini. hari ini Tiang Cun Cu mesti terbinasa di tangannya bangsat-bangsat licik…‖ ia mengeluh. mereka juga tidak tahu bahwa guru mereka mengerti ilmu itu. baru kita bicara!‖ berseru Cu Cong. Cie Kee merasai pikirannya kacau tetapi kembali ia memusatkannya. di sebelah musuh ia sendiri pun bisa celaka. Tiba-tiba ia lihat tangan kiri Cie Kee bergerak. Ia Irawan D Soedradjat Page 58 . Tidak urung. ia memikir untuk mengalah tetapi justru ia serukan kawannya. ―Sudah. Pengejaran Tidak ada jalan lain. Tidak peduli tenaganya kurang. Ia geraki kipasnya untuk menotok jalan darah di dada si imam. Kali ini. Orang she Toan itu terus sembunyi di dalam ruang dalam tanah. si buta itu. tetapi terlambat. batok kepalanya telah terpukul keras.Pendekar Pemanah Rajawali Cie Kee tidak mau serahkan diri. Inilah ilmu silat yang sejak ia yakinkan belum pernah ia pakai untuk melawan musuh. akan tetapi ketika kakinya menyentuh tanah. cukup keras timpukannya itu. Sekarang ia baru ingat untuk angkat kaki saja. Cu Jieko. dengan berlaku nekat ia tetap berbahaya. ia kaget. mereka lantas pergi mencari Toan Thian Tek. ia melompat kepada Manusia Aneh yang kedua itu. Ia pun mulai terhuyung. dari itu selama pertempuran mengambil tempat. ujung pedangnya menikam ke arah muka. Keras kedua senjata beradu. Cie Kee belum pernah menemui lawan setimpal. tubuhnya pun terhuyung! Cu Cong yang cerdik itu telah timpuk imam itu dengan sepatunya. ia berhenti mengejar.

tapi suaranya sangat lemah. ia lompat kepada Thian Tek. Cuma Tin Ok. ―Imam bangsat. ―Dia perlu dibunuh dulu…!‖ Ciauw Bok menjadi gusar. kemudian barulah ia keluar. Lie Peng berteriak-teriak pula: ―Hai. Ini nyonya tetap mengenakan seragam. ―Kau tidak mau dengar perkataanku?!‖ dia membentak. Imam itu masih belum putus jiwanya. yang lainnya mengigit. Dengan mendadak Lie Peng berteriak. ia lantas menyerang. kami semua telah kau aniaya! Benar saja di dalam kuilmu ini kau ada sembunyikan orang perempuan…. manusia jahat. tahan!‖ Tidak ada orang yang kenali Lie Peng. ia arahkan ke kepalanya si imam. Ia telah diberitahu si imam lagi rebah diam dengan kedua mata tertutup. Thian Tek pergi cepat-cepat ke pendopo. Orang she Toan itu tidak menangkis. kau kejar aku hingga aku bersengsara. walaupun ia buta. mukanya kena terhajar hingga rontok ziga buah giginya. ―Dia adalah satu imam yang baik…‖ sahut Ciauw Bok. dengan kejam. lalu ia ayunkan goloknya. Thian Tek gusar bukan kepalang. Ciauw Bok dan Kanglam Cit Koay adalah orang-orang yang lihay. ―Kenapa?‖ Thian Tek tanya. dengan sisa tenaganya ia timpuk Thian Tek dengan sepotong kayu di tangannya. Ia kerahkan tenaganya dengan kedua tangannya menekan lantai. Maka itu sembari menghela napas. sekarang hendak aku kirim kau pulang ke Langit Barat!‖ ia kata.‖ katanya dalam hati. Irawan D Soedradjat Page 59 . dia membikin aku mencelakai sahabat-sahabatku. hatinya mencekat. ―Binatang ini telah jual aku. ia bernapas berlahan sekali. ―Kau…kau hendak lagi membunuh orang!‖ tanyanya. Ia lantas hampirkan Cie Kee. Ia rebah dengan terluka parah tapi ia dapat lihat perbuatan si keponakan murid. Tubuh paderi itu lewat terus. Maka itu bukan main menyesalnya ia untuk kealpaannya itu. Ciauw Bok Taysu juga gusar bukan main. Ia merasakan sangat sakit. akan tetapi di saat seperti ini. Hampir ia pingsan saking kerasnya ia melawan kemendongkolannya. Dengan tarik tangan Lie Peng. dia berkata: ― Ciauw Bok Hweshio. Thian Tek cabut goloknya. hatinya lega. hatinya menjadi ciut. tubuh itu tidak berkutik lagi. walaupun suaranya nyaring. mendengar suara orang. dia tahu pasti orang adalah seorang wanita. Di situ ada beberapa kacung paderi. mereka Cuma bisa membuka mata menyaksikan kejadian hebat itu. segera ia pun sadar. dia hanya menyingkir sambil egos tubuhnya. Ia ayunkan pula goloknya. tanpa ingat budinya Ciauw Bok. Tiang Cun Cun. ―Jangan….!‖ Ciauw Bok terkejut. Satu kacung langsung tubruk Thian Tek untuk tarik lengannya. ia jadi kalap. ―Letaki golokmu…!‖ Thian Tek tertawa tergelak. dengan dua bacokan ia bikin kedua kacung itu rubuh. Toan Thian Tek kaget. dengan cepat. tubuh siapa dia dupak. orang sangka ia adalah serdadu sebawahannya Thian Tek. maka tubuhnya rubuh dengan kepala pecah. Thian Tek berkelit tetapi ia terlambat.Pendekar Pemanah Rajawali suruh dulu sat kacung paderi untuk melihatnya.jangan bunuh dia…!‖ berseru Ciauw Bok Taysu. mereka ini kaget. tepat mengenai tiang pendopo. ―Dia Cuma berhati keras… Di sini telah terbit salah mengerti…‖ ―Orang baik apa!‖ kata Thian Tek. ―Kau ingin aku meletaki golokku? Hahaha!‖ ia tertawa mengejek. dari itu dengan sambar tangannya Lie Peng. justru jiwa mereka sendiri terancam bahaya. ia lari keluar kuil. Ia bukannya seorang tolol.

setelah pingsan. hingga suaranya tidak terdengar lagi. Cuma Tin Ok yang diam saja.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tolong! Tolong!‖ Lie Peng berteriak-teriak. guna pindahkan mayat. Selagi mereka bekerja. tiba-tiba mereka dengar suara apa-apa dari arah genta. ―Pinto sangat menyesal. Ia memangnya polos. Mereka kaget. sekarang kau perlu rawat dulu saudara-saudaramu yang terluka. ―Totiang. hingga ia tak mampu keluar dari jambangan dan genta itu. Ia memang aneh tabiatnya. Thio A Seng patah lengannya. ia sadar. ―Nanti ada ketikanya untuk menghukum dia. Ia malu sekali yang ia bertujuh saudara kena dikalahi Cie Kee. ―Jangan!‖ Tin Ok mencegah. Coba ia tidak turuti hawa amarahnya dan berbicara dengan tenang sama Ciauw Bok. ia berpura-pura tidak tahu. akan tarik genta itu untuk dibikin terbalik. Cie Kee dan Siauw Eng telah dapat ditolong dari racun. Mereka menyesal sekali sudah jadi korbannya Toan Thian Tek. Ia merasakan kesembronoannya. Cu Cong dan Lam Hie Jin adalah yang terluka paling parah. Kemudian belasan paderi itu menggunai dadung. Pada suatu hari.!‖ Tapi ia ditarik terus. Tubuh bergelumbuk itu sudah lantas lompat bangun. semua paderi menangis karena kebinasaan guru mereka.‖ Po Kie dapat dibikin sadar. terutama dirinya sendiri. ia lantas obati Tin Ok semua. ―Tidak. ia pun uruti mereka. yang kena ditikam kakinya hingga tak dapat dia berjalan dengan leluasa. untuk sabarkan padanya. apa kata kaum kang-ouw bila peristiwa disini sampai tersiar? Tidakkah itu sangat memalukan? Tolong Totiang tunjuki kami bagaimana kami harus berbuat. aku tidak mau pergi…. ia lantas bangkit berbnagkit untuk menjura kepada tujuh saudara itu. Tin Ok tertawa dingin. setelah mana mereka dapatkan satu tubuh tergelumuk menggelinding keluar. Selang beberapa hari. hingga ia berkoak-koak. Po Kie lantaa rawat semua saudaranya itu. Paderi pengurus dari Hoat Hoa Sian Sie telah bekerja.‖ dia bilang. mana kau melihat mata kepada kami!‖ katanya tawar. Irawan D Soedradjat Page 60 . Ia sendiri pun bukan main masgul. semuanya telah dapat bangun dari pembaringan. hingga selang beberapa hari. Cu Cong semua membalas hormat. ia mengeluarkan napas lega. peristiwa celaka itu pasti dapat dicegah. Ia pun keluarkan obatnya untuk suruh satu paderi pergi obat Khu Cie Kee dan Han Siauw Eng. ia sendiri memberi keterangan pada Po Kie perihal jalannya pertempuran. Ia heran dan kaget saksikan pendopo itu. hingga mereka kaget. kau saja yang bicara. menyesal dan mendongkolnya. tentang Toan Thian Tek dan si wanita yang menyamar sebagai serdadu. mereka lari serabutan. kita sekarang rubuh di tangannya satu kurcaci. Mereka pun menjadi repot. Jenazahnya Ciauw Bok Taysu pun lantas diurus. ―Totiang biasa malang melintang. ia panggil Po Kie.‖ ―Kwa Toako. Kuil itu menjadi berisik. semua orang duduk berkumpul dengan dirundung kemasgulan hingga mereka pada berdiam saja. Ia bukan lain daripada Ma Ong Sin Han Po Kie yang tadi kena ditungkrap Khu Cie Kee. Cie Kee mengerti ilmu obatobatan. ―Totiang berkenamaan dan kami pun bukannya orang-orang yang masih hijau. disatu pihak ia ajukan pengaduan kepada pembesar negeri. di lain pihak ia kirim kabar pada Kouw Bok Taysu di Kong Hauw Sie. Kwa Tin Ok masih sadar walaupun ia terluka. Hangciu. aku mohon maaf. ― Tentang ini untuk apa kau menanya pula kami…‖ Cie Kee tahu orang masih mendongkol.‖ kata Cie Kee menyahuti si nona. bagaimana sekarang?‖ Siauw Eng tanya Khu Cie Kee. akan tolongi orang-orang yang terluka. hingga Ciauw Bok Taysu menjadi korban. ―Nanti aku susul dia!‖ teriak Po Kie sangkin gusarnya. ia tidak terancam bahaya.

lantas ia ngeloyor keluar. lain kali tak nanti aku datang kemari untuk membuat onar pula. letaki pedang di bebokongmu itu!‖ bentak Tin Ok. maka itu baiklah lain tahun pada hari ini. sama saja dengan tongkat Kwa Toako…‖ Tin Ok tapi tetap murka. Kalau tidak.‖ ia berkata. ―Selanjutnya kami akan berdiam di sini. pinto suka menyerah kalah saja. ―Aku masih ingin menerima pengajaran dari Totiang!‖ Kanglam Cit Koay gemar melakukan amal akan tetapi mereka berkepala besar. ―Tuan-tuan. kalau tidak. syaratnya haruslah pinto yang menetapkannya. mereka itu akan tambah kepandaiannya. selama tempo satu tahun. Ia sangat masgul.‖ sahut si imam itu. tak dapat ia layani mereka. dengan tanganku sendiri. sepak terjang mereka biasanya luar biasa. Imam itu memutar tubuhnya. suka aku menuruti titahmu. ―Habis Kwa Toako memikir bagaimana?‖ menegaskan Cie Kee. Tin Ok bilang: ―sekarang kita sama-sama terluka. tetap tenang. aku minta totiang membuat pertemuan pula di Cui Siang Lauw!‖ Cie Kee mengerutkan keningnya. nama mereka jadi menggemparkan dunia Kang-ouw. kami akan melewati sisa hidup kami…‖ Mukanya Cie Kee menjadi merah. Kwa Toako. Ia bersendirian dan mereka bertujuh. Ia tahu Cit Koay bukan orang busuk. ia jengah hingga tak dapat ia membuka mulutnya. orang malui mereka. ―Kwa Toako hendak menitah apa?‖ ia tanya. ―Kau telah lukakan parah saudara-saudaraku ini. malah dengan pernah mengalahkan seratus lebih jago Hoay Yang Pang. ―Apa saja yang tenagaku dapat kerjakan.‖ Tin Ok bilang. Ia terus berpikir. Selang sesaat baru ia dapat bicara. pasti sekarang aku telah berada di Negara Setan. jumlah mereka pun banyak – bertujuh – dari itu.‖ kata ia. Mungkin sekali. bagaimana mereka tidak menjadi penasaran? Cie Kee terkejut. suka aku melepas kau pergi!‖ Bukan main mendongkolnya Cie Kee. di dalam hati ia berkata: ―Aku telah beri muka kepada kamu. tidak ada halangannya. Sekarang mereka kalah di tangan Khu Cie Kee satu orang. Asal Totiang tidak mengganggu kami. ―Pinto telah terkena senjata rahasiamu. Ia pun bisa berlatih diri tapi barangkali sukar untuk beroleh kemajuan. kami tidak ada muka untuk mencampuri tahu lagi. ―Dengan meninggalkan pedangmu. sampai ia dapat satu pikiran. ―Aku telah menerbitkan malapetaka. walaupun benar pinto telah lukai kamu. ―Pinto tidak berani.‖ ―Tak sanggup aku menelan peristiwa ini.‖ katanya seraya berbangkit. untuk menangkap ikan atau mencari kayu.‖ kata ini ketua Kanglam Cit Koay. ―Tahan!‖ Tin Ok berseru. Mereka sendiri belum pernah nampak kegagalan. ―Tentang sakit hatinya Ciauw Bok Taysu serahkan itu padaku. sulit untuk kita bertempur lagi. maka itu pinto menyerah kalah…‖ ―Kalau begitu. ―Tanpa pertolonganmu. aku telah menghanturkan maaf dan mengaku kalah. Irawan D Soedradjat Page 61 . Mereka semua lihay. Bagaimana ia bisa loloskan diri dari mereka itu? Pula ada sulit untuk melayani mereka bertempur pada lain tahun. kamu hendak adu kepandaian yang memutuskan denganku. akan aku bunuh jahanaman itu! Sekarang aku mohon diri…‖ Ia menjura pula. dan CU Cong dan lainnya yang terluka mengangkat kepalanya dari pembaringan. Tetap ia sadar.Pendekar Pemanah Rajawali ―Segala urusan kaum kang-ouw. kenyataannya adalah pinto telah rubuh. Dalam murkanya. Di dalam urusan kita ini. tidak nanti mereka disebut ―Cit Koay‖ – tujuh Manusia Aneh. ―Hanya untuk itu. apakah itu cukup dengan hanya kata-katamu barusan?‖ tanya Tin Ok. ―Kau pandang entang kakiku pengkor?!‖ ia membentak.‖ Han Po Kie bersama Siauw Aeng dan A Seng bnagkit berdiri. kenapa kamu masih merasa belum cukup?‖ Ia lantas menjawab: ―Pedang ini adalah alat pembela diriku. Hampir berbareng mereka itu kata: ―Kalau Kanglam Cit Koay bertaruh selamanya adalah pihak sana yang memilih tempat dan waktunya!‖ Cie Kee tersenyum dapatkan orang demikian gemar menang sendiri.

semakin baik!‖ Cu Cong tapinya tertawa. ―Lekas bilang. masih tetap berlaku kata-kataku tadi. siapa menyakinkan ilmu silat tentunya semua mengerti. ―Syaratku ini ada meminta tempo yang lama. dengan sikapnya yang agung. lekas!‖ Han Siauw Eng. mustahil kami nanti kalah…‖ ―Kata-katanya satu kuncu?‖ berkata imam itu. ―Pinto juga tidak berpikir untuk adu kepandaian sama Cu Jieko dalam hal mencuri ayam atau meraba-raba anjing atau mengulur tangan menuntun kambing!‖ Ia maksudkan ilmu mencopet. hati mereka masing-masing menduga: ―Kau tidak hendak menggunai senjata. siapakah yang paling gagah – satu enghiong sajati!‖ Kata-kata ini membuat darahnya Kanglam Cit Koay mengalir deras.‖ ia menyahut dengan sabar. pinto tetap suka menyerah kalah!‖ Dengan ini.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kamu suka terima syarat apapun?‖ dia tanya. Di dalam hatinya mereka berkata: ―Tidak peduli kau pakai akal licin apa juga. Marilah kita lihat. juga mengadu kesabaran. Kwa Tin Ok masih sedang memikir ketika Khu Cie Kee berkata pula: ―Mengenai syaratku ini. maka kami bukanlah tandingan kamu bangsa imam!‖ Khu Cie Kee pun tertawa. ―Lekas bicara. Thian Tek saban-saban dapat meloloskan diri. lekas!‖ ia mendesak pula. ―Tapi apa yang kita akan adu adalah kepandaian sejati. ―Jangan kau coba pancing hawa amarah kami!‖ Tin Ok memotong. ―Kau sebutkan saja syaratmu!‖ kata mereka.‖ Dengan ―orang gagah‖ imam itu maksudkan ―ho-kiat‖ atau ―enghiong‖. karena itu ia telah ubar-ubar Toan Thian Tek. Irawan D Soedradjat Page 62 . habis apakah syaratmu itu?‖ Maka mereka menanti penjelasan. Ia berkata: ―Kalau syaratmu itu adalah untuk mengadu bertapa atau membikin obat mujarab atau membikin surat jimat guna menangkap roh-roh jahat. Ialah umpama kata tuan-tuan anggap tidak sempurna. Aku sendiri tidak menghendaki cara mengandali kekosenan saja. ―Semakin sulit adanya syarat. Selagi memasang kuping. Cie Kee berkata pula. tangan dan kaki. Cu Cong dan Coan Kim Hoat adalah yang tercerdik di antara saudara-saudaranya. ―Biangnya gara-gara hingga kita bertempur dan saling melukai adalah urusan menolongi turunannya orang-orang gagah. Aku akan menghadapi kalian bertujuh. Mendengar itu Siauw Eng pun tertawa. Kepandaian semacam itu. tetapi sangkin licinnya. Ia tahu benar Cit Koay adalah sangat besar kepala. Lalu ia menjelaskan tentang persahabatannya sama Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim – yang ia maksudkan si orang-orang gagah itu – yang mengalami nasib celaka. ―Jikalau kita mencari pokok sebabnya. Bukankah kita. ―Lekas kau bicara!‖ Cie Kee lantas berduduk. ―Biar bagaimana. Ia juga tuturkan bagaimana caranya ia kejar Thian Tek itu. kita memakai akal budi. beberapa kali Kanglam Cit Koay mengutuk bangsa Kim serta pemerintah Song yang sewenang-wenang dan kejam. ―Sama cepatnya dengan satu cambukan kuda!‖ sahut Siauw Eng lantas. imam itu memancing hawa amarah ke tujuh Manusia Aneh itu. baiklah kita kembali kepada sebab musabab itu. mereka tidak jeri. dengan menggunai alat senjata atau kepalan dan tendangan. kita mesti melakukan suatu pertempuran yang memutuskan. tuan-tuan! Kita bukan Cuma mengadu kepandaian.‖ kata Tiang Cun Cu dengan tenang. kaum Rimba Persilatan yang kenamaan tak dapat berlaku demikian cupat sebagai anak-anak muda yang terlahir belakangan?‖ Kanglam Cit Koay saling mengawasi. oleh karena itu.

yaitu Pauw-sie. baru kita suruh kedua anak itu adu kepandaian. dan Lie-sie keburu dibikin binasa oleh Toan Thian Tek?‖ ―Biarlah kita sekalian adu keberuntungan juga!‖ sahut Cie Kee. tidak dengan demikian tuan-tuan. ―Dua-duanya Pauw-sie dan Lie-sie itu sama-sama lagi mengandung. kita undang sejumlah orang gagah lainnya untuk menjadi saksi. ―Akan aku jelaskan. bukankah tuan-tuan akan merasa puas?‖ Akhirnya Tin Ok ketruki tongkat besinya ke lantai. untuk membuat pertemuan di Cui Sian Lauw. Tapi Coan Kim Hoat campur bicara.Pendekar Pemanah Rajawali Habis menutur. ―Bagaimana sebenarnya?‖ Han Po Kie tanya ―Kita menanti sampai lagi delapan belas tahun. ―Cuma menolongi saja?‖ ia ulangi. ―Han Samya benar!‖ pujinya. Berbareng dengan itu. kau hendak membikin kamu bercapek lelah selama delapan belas tahun!‖ Irawan D Soedradjat Page 63 . tuan-tuan pun mewariskan kepandaian kamu kepada satu orang juga. kau pergi tolong Pauw-sie! Siapa yang lebih dulu berhasil. ―Aku masih belum tahu dia ada dimana. Bukankah syarat itu ada sangat luar biasa? ―Jikalau tuan-tuan bertujuh yang bertempur sama aku.‖ kata Kwa Tin Ok. andaikata muridku yang menang. Inilah yang pinto hendak gunai sebagai syarat pertaruhan kita…‖ Siauw Eng segera menyela: ―Kami pergi tolongi Lie-sie. ―Bukankah tuan-tuan menang karena jumlah yang banyak lawan jumlah yang sedikit? Kemenangan itu bukan kemenangan yang mentereng! Dengan syarat kita ini aku nanti turunkan kepandaianku kepada satu orang.‖ ―Tentang istri Yo Tiat Sim. Pinto akan didik anak Yo Tiat Sim dan tuan-tuan bertujuh merawat anaknya Kwee Siauw Thian…‖ Tujuh bersaudara itu membuka mulut mereka. Kecuali Kwa Toako bersama saudara Han. ―Untuk pergi mencari dan menolongi. Heran untuk kata-kata si imam. setelah itu mereka bertanding satu lawan satu. tidak ada satu jua yang segara menjawab imam itu. anak-naka itu telah berumur delapan belas tahun. itu tidak ada artinya. ―Memang menolong anak piatu dan janda juga adalah perbuatan yang mulia. ―Cuma dengan beberapa kata-katamu ini. masih ada hal yang terlebih sukar lagi. Cie Kee tambahkan: ―Orang yang Toan Thian Tek bawa lari itu adalah Lie-sie. Kita tunggu sampai mereka telah melahirkan anak.‖ ―Apakah adanya itu?‖ Kwa Tin Ok bertanya. akan tetapi selain itu. murid pinto yang berhasil atau muridnya tuan-tuan bertujuh!‖ Tjuh bersaudara itu saling memandang.‖ Cie Kee menambahkan..‖ Cie Kee berkata pula. bukankah?‖ Khu Cie Kee tersenyum.‖ berkata Cu Cong kemudian. ―Umpama berselang lagi tiga puluh tahun. Kita membuatnya pesta. istrinya Kwee Siauw Thian. tidak nanti aku dapat melupakannya. ―Jikalau Thian menghendaki aku yang menang. lalu kita ajak mereka ke Kee-hin. Di situ nanti kita lihat. sampai itu waktu. umpama kami tak dapat lawan kamu. lalu anak-anak mereka itu kita rawat dan didik dalam ilmu silat. tenaga dan pikiran. untuk ini sekarang pinto wakilkan saudara Kwee menghanturkan terima kasih terlebih dahulu!‖ Dan ia lantas menjura dalam. kami toh telah lakukan juga satu perbuatan yang baik.‖ menerangkan Tiang Cun Cu. Ia tanya: ―Bagaimana kalau pertolongan kami terlambat.‖ Cie Kee tonjolkan jempolnya. sesudah puas makan minum. empat saudara lainnya telah pernah lihat mereka itu‖ ―Aku ingat suaranya Lie-sie itu. kita mesti pernahkan mereka itu. umpama kata kamu yang menang. yang meminta banyak waktu. itu memang benar bukannya kerjaan terlalu gampang. Pernah pinto melihat romanya Pauw-sie. Pinto ingin setelah dapat cari dan tolong mereka. secara demikian kita bertaruh! katanya. ―Baiklah. ―Tuan-tuan berkenan menolongi abak yatim piatu dari keluarga Kwee itu. dia yang menang. apa hendak dibilang?‖ ―Baik!‖ Han Po Kie juga turut bicara.‖ jawab si imam. ―Itu waktu. ―Cara pertaruhan ini adalah terlalu licin.

―Kalau satu orang gagah sejati bersahabt. ―Tidak salah apa yang totiang bilang!‖ katanya sambil goyang kipasnya. ―Dia tak dapat dibiarkan menghilang. Ia telah memikir untuk cari suatu tempat untuk bertinggal Irawan D Soedradjat Page 64 . Kanglam adalah daerah air. disana ada banyak sungai atau kali. orang Selatan naik perahu. Ia hendak bicara tetapi si imam dului dia. ―Aku mengaku keliru! Baiklah. dialah yang tidak terluka. kendaraan air adalah alat penghubung atau pengangkut yang paling umum. kita bertujuh akan terima tanggung jawab kita ini!‖ Khu Cie Kee lantas berbangkit. tentu sekali ia tak dapat cari Thian Tek. ―Lekas berangkat!‖ ia membentak tukang perahu sambil ia cabut goloknya. ―Nanti aku susul Toan Thian Tek!‖ kata Han Po Kie. ia buka tambatan perahunya. Ia cerdik. malah tanpa memilih kenderaan air lagi. tak ada sinarnya. sama saja dengan kuda atau keledai di Utara. Thian Tek tunjuki terus kelicinannya. Han Po Kie segera menghajar bangku dengan tangannya. ―Sejak zaman dahulu hingga sekarang ini.‖ kata Cie Kee. ia lantas lari keluar. ―Kau tidak kenal mereka itu!‖. tetapi ia hanya mondar-mandir di darat. supaya aku dapat kembali ke Liman. Tetapi Po Kie si tak sabaran telah pergi jauh. Dengan lekas ia keluar dari daerah kota. ia lompat naik ke sebuah perahu. untuk terus menaiki kudanya. orang she Cu ini menyebutkannya Thian Tek dan Lie Peng.Pendekar Pemanah Rajawali Wajahnya Khu Cie Kee berubah. untuk orang-orang gagah di kolong langit ini menyaksikan siapa sebenarnya laki-laki sejati!‖ Habis berkata. lega hatinya apabila ia menoleh ke belakang. Paling dulu ia mencari rumah penginapan.‖ Tukang perahu itu ketakutan lihat orang demikian galak.‖ ia berkata pula. hingga pastilah sulit kita mencari padanya!‖ Di antara Cit Koay. akan tetapi ia berdongak dan tertawa besar. maka itu segera ia menuju ke sungai. seraya kibaskan tangannya. tibalah ia di Yangciu. ia ajak Lie Peng bersama. tak dapat aku pulang untuk pangku pula jabatanku. begitu muncul kata-kata: ―Orang Utara naik kuda. Setelah berkata begitu. dari itu. ia menukar perahu beberapa kali. Dengan mereka.‖ Kudanya Po Kie lari pesat. kita akan bertemun pula di rumah makan Cui Siang Lauw. Berselang belasan hari. ia bertindak pergi. ―Sha-tee! Sha-tee! Cu Cong memanggil-manggil. ia tak tampak ada orang yang kejar atau susul padanya.. ―Hari ini adalah tanggal dua puluh empat bulan tiga. apapula ia kenali roman orang itu. mereka gagah perkasa dan mulia. ialah denagn segala urusan ia bersedia untuk mengorbankan dirinya. Thian Tek lantas asah otaknya: ―Aku telah terbitkan onar besar. ―Orang umumnya bilang mereka itu gemar sekali menolong sesamanya. Ia tanya-tanya orang akan tetapi pertanyaannya tidak jelas. Semoga itu imam bangsat dan tujuh siluman dari Kanglam itu bertempur hingga mampus semuanya. Thian Tek telah angkat kaki dengan naik perahu. ―Selama dalam dunia kang-ouw telah aku dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay. Pengorbanan itu tidak ada artinya! Bukankah kita belum pernah dengar bahwa di jaman dahulu ada Keng Ko dan Liap Ceng berhitungan?‖ Wajahnya Cu Cong menjadi pucat. ia lantas mengayuh. guna susul Thian Tek. tetapi hari ini bertemu dengan kamu – hahaha!‖ Kanglam Cit Koay menjadi panas hatinya.‖ sahut si imam yang ditanya. Ketika ia tarik Lie Peng keluar dari tempat berbahaya itu. Baiklah aku pergi ke Utara untuk menyingkir dulu dari ancaman bahaya. ―Maka itu lagi delapan belas tahun. ―Apakah yang lucu?‖ tanya Han Siauw Eng. dia bersahabat untuk menjual jiwanya.

Lie Peng tidak mengerti silat. Ia kaget tetapi ia berlaku tenang. sudah kepalang tanggung. tak sudi ia berjalan sedikit juga. napasnya memburu. ia diringkus Thian Tek. maka itu. Ia lihat tegas seorang kate dampak yang romannya jelek sekali yang berbicara dengan lidah Kee-hin. untuk Irawan D Soedradjat Page 65 . hingga mereka jadi menarik perhatian orang. sudah lantas menjerit-jerit. Setelah merasa pasti bahwa orang adalah salah satu Cit Koay. di tepi telaga Bie San Ouw di wilayah propinsi Shoatang. maka itu sebaliknya dari ketakutan. selama tinggal di penginapan. Nyonya Kwee telah tawar hatinya sejak kebinasaan suaminya. ia juga tak dapat lari seorang diri. Ini yang menyebabkan ia selamanya dapat lolos. dadanya kena tergurat. Ia melalui Lim-ceng dan Tek-ciu dan tiba di propinsi Hoopak. tiga orang itu tidak kenali dia. Dari dalam kamarnya ia mengintai. ada lagi seorang lain yang cari padanya. Belum sampai setengah bulan ia berdiam di tepi telaga itu. Kemudian ia menjadi mendongkol. dibekap mulutnya dengan selimut. Dalam sengitnya. Sebab bukanlah soal yang sempurna untuk terus-terusan berkelana dengan hati tidak tentram. ujung goloknya putus dan jatuh ke tanah dan ujung pisau belati menyambar terus ke dadanya. hingga darahnya lantas mengucur keluar. untuk keram diri di dalam kamarnya . Untuk kagetnya manusia busuk ini. ―Trang!‖ demikian satu suara nyaring. walaupun kedua pihak bertemu muka. Thian Tek tersenyum aneh. Itu hari selagi berada di dalam kamar. Inilah ia tidak sangka. ia justru diam-diam memuji kepada roh suaminya: ―Engko Siauw. adiknya. Thian Tek berniat membunuh Nyonya Kwee itu. Maka terpaksa ia gunai goloknya untuk menangkis. tidak mendengar apa-apa. Ia dapat kenyataan si nyonya si nyonya bukan gila benar-benar. Akan tetapi ia adalah satu wanita lemah. saban-saban ada orang mencari dia. ―Aku tak akan membunuh padamu!‖ Lie Peng sendiri telah lemas kaki dan tangan dan tubuhnya. yang merasa ada bintang penolongnya. Syukur untuk Thian Tek. dadanya itu pasti telah tertancap pisau belati itu. ia dengar suara Han Po Kie tengah berbicara sama pemilik penginapan. Adalah pikirannya Thian Tek. bajunya kena terobek. engko Siauw. ia tidak takut. ia sudah umbar hebat hawa amarahnya tanpa merasa ia membuat kandungannya tergerak. Dalam kagetnya ia buang diri ke belakang. tetapi telah bulat tekadnya. nyonya Kwee suka ngoceh tidak karuan. ia siapkan pisau belati atau badik yang Cie Kee hadiahkan kepadanya. selalu dapat ia menjauhkan diri dari mereka itu.Pendekar Pemanah Rajawali buat sementara waktu. Untuk bela diri terlebih jauh. Thian Tek sambar sebuah kursi. tetapi tak urung. kau lindungi kepadaku. ia terus berontak dan berteriak-teriak. ada kalanya ia robek bajunya atau bikin kusut rambutnya. ia tarik tangannya Lie Peng untuk diajak segera menyingkir dari pintu belakang. Setiap ia mendarat. hingga bayi di dalam perutnya itu meronta-ronta. mereka itu tidak kenali padanya. Tidak lama kemudian. agar dapat aku membinasakan manusia jahat ini!‖ Lalu dengan diam-diam. Kembali ia menyewa sebuah perahu. ia angkat tangannya untuk dikasih turun denagn bacokannya. aku mohon kepadamu. Selama itu rasa takutnya tak jadi berkurang. Han Po Kie dapat susul ia. ia justru mendahului sambil menubruk. ia dekati Lie-sie. tetap ia menuju ke Utara. Kali ini ia kembali naik perahu. Dengan letih ia jatuhkan diri ke kursi. ia telah keluarkan tenaga terlalu besar. Ia telah hunus pedangnya. ia sebenarnya sudah memikir untuk bunuh diri. saking khawatirnya. Coba Lie-sie bertenaga cukup. aku bertemu pula denganmu. Ia peroleh kenyataan. Setiap kali ia berlepas tangan atau mulutnya. ia hanya berpura-pura edan. baik selama di penginapan. maupun di tengah perjalanan. ―Simpan senjatamu!‖ ia membentak. Ia pun telah dipukuli. memasang mata. Kelakuan si nyonya itu gampang menimbulkan kecurigaan orang. menampak sikapnya Thian Tek itu. Malah Po Kie ada bersama denagn satu nona. kecuali si kate terokmok dan si nona. ingin aku supaya sebelum datang saatnya. menanyakan tentang dia dan Lie Peng. ia menikam! Thian Tek kaget dan heran. Ia menjadi masgul dan bingung sekali. hingga mereka sampai di perhentian Lie-kok-ek. lebih baik bia ia bisa binasa bersama musuhnya itu. Thian Tek tetap jerih untuk Han Po Kie beramai. ialah seorang pincang dan bermata buta yang membawa-bawa sebatang tongkat besi. Ia berlayar terus ke Utara. Po Kie bersama kawannya yaitu Siuaw Eng. Thian Tek dapat godaan lain. Syukur ia waspada dan cerdik. Dengan tiba-tiba otaknya Lie Peng terganggu. Syukur untuknya. Tapi ia masih ingat akan pisau belatinya yang ia pegangi keras-keras. akan tetapi Lie Peng. ia terus membawa Lie Peng.

Ia jadi semkin hati-hati. artinya ―Kota Tengah‖. Di sana Thian Tek langsung mencari istananya pangeran itu. bagaimana senangnya aku. Sekarang ini ialah kota Pakkhia (Peking). ia mengucapkan terima kasih. ―Bangsa Monglia itu tak tetap tempat tinggalnya. ia ngoceh seorang diri: ―Selama aku pangku pangku di Hangciu. Celaka untuknya. mulut hidup? Bukankah ada peribahasa kuno yang mengatakannya. Hawa panas mulai lenyap. Wanyen Lieh bangkit dari kursinya. Ketika ia hendak berbnagkit. kalau ia membocorkannya. hatinya menjadi ciut. supaya melihat keangkeran kita. Sam-ongya itu adalah Wanyen Yung Chi. putra yang ketiga dari Wanyen Ching. ―Pergilah kau beristirahat!‖ katanya sambil ia mengibaskan tangannya. Ia marah tetapi ia tidak bisa berlaku keras kepada nyonya itu kecuali ia mengancam agar si nyonya terus ikut padanya. pergilah beristirahat dulu. Setiap hari aku bisa dahar dan minum enak. Thian Tek telah menyingkir jauh ke utara.‖ katanya dengan manis. ―Yang cupat pikirannya kuncu. mendadak ia dapat ingat suatu apa. Ia lantas mengerutkan kening. tetapi satu hambanya pangeran itu muncul dengan tiba-tiba mengabarkan ‗kunjungannya Sam-ongya‘ – pangeran yang ketiga. ―Bukankah aku telah tidak jauh dari Yan-khia?‖ demikian ia ingat. pangeran Wei atau Wee. tetapi dasar pangeran Kim yang keenam itu yang kemaruk sama istri orang. supaya tentang perjalanan mereka – ke mana saja mereka menuju – ada menimbulkan bekas. Denagn begitu. tetamunya adalah Toan Thian Tek dan orang ingin numpangi diri kepadanya. mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tak nyata. semacam kommissaris tinggi.‖ ―Begitu?‖ tanya sang kakak. akan tetapi ia tetap dibayangi pengejar-pengejarnya. Tanpa ragu-ragu lagi. setelah mana ia bertindak untuk sambut tetamunya. sang angin sejuk telah mulai menghembus. Ketika itu hawa udara telah mulai berubah. Wee Ong telah datang menemui Tio Ong. ―Kau baru sampai dari satu perjalanan jauh. raja Kim. selanjutnya mereka tidak akan berani berontak. dapat ku bersenang-senang dengan wanita-wanita cantik. ialah Tio Ong atau Chao Wang (Pangeran Tio atau Chao) Kapan Wanyen Lieh dengar tentang kedatangannya satu perwira dari selatan. setelah omong-omong lagi sebentar ia pamitan. ―Mereka juga bertabiat kasar. kepergian putra ini sebenarnya guna melihat sendiri keadaan bangsa Monglia itu. Di samping itu. sang putra pergi menganugerahkan Temuchin sebagai Pak Kiang Ciauw-touw-su.‖ berkata Wanyen Lieh. dia telah celakai aku hingga begini…‖ Justru ia ngoceh ini. ia malah membantui negara Kim memusnahkan bnagsa Tartar. Didalam hatinya. Karena tugasnya ini. yang tak kejam bukannya satu laki-laki?‖ Karena ini ia lantas tersenyum. ―Habis?‖ Irawan D Soedradjat Page 66 . Thian Tek mengucap terima kasih. ia bergaul paling erat dengan Wanyen Lieh. bagaimana aku bisa menerima Thian Tek? Ia tahu rahasiaku. aku masih belum dapat mempernahkannya. ia bernagkat menuju ke Yan-khia. gemar mereka menghina yang lemah tetapi jerih terhadap yang kuat. oleh karena mana. Ia sebenarnya hendak beritahu juga bahwa ia datang bersama Lie Peng. heran. Udara begini tidak terlalu mengganggu orang-orang yang membuat perjalanan. Pada masa itu pemimpin bangsa Mongolia. ia suka dengari adiknya yang cerdik dan tangkas. ia lantas ijinkan orang menemui dia. tetapi ia takluk kepada bangsa Kim. itu pangeran Kim yang ia maksudkan. sang adik. kakak harus membawa satu pasukan tentera yang terpilih. Temuchin sudah mulai kuat kedudukannya. setelah berjalan jauh dan melewatkan banyak hari. bekalan uangnya mulai habis. Ia terkejut akan ketahui. maka itu. Ia bergelar Wei Wang atau Wee Ong. Ia ada lemah. Pada suatu. kau tentunya letih.‖ Wanyen Yung Chi terima baik nasehat itu. Kenapa aku mesti meninggalkan satu . Ibukota Yan-khia itu disebut juga Tiong-touw atau Chungtu. dalam segala hal. ibukota kerjaan Kim itu. untuk memohon pikiran. raja Kim utus Wanyen Yung Chi. ia berpikir: ―Tentang Pauw-sie. guna menghargai jasanya itu. saking uring-uringan. urusan bisa menjadi rewel. untuk pergi ke sana. adik itu berkata kepadanya: ―Hari ini ada datang padaku satu mata-mata dari kerajaan Selatan. malah menyenangkan. Di antara saudara-saudaranya. ―Kenapa aku tidak pergi kepada Liok-taycu?‖ Liok-taycu itu adalah putra keenam dari raja Kim.Pendekar Pemanah Rajawali sengaja menarik perhatian orang.

―Sebentar kau kirim dia padaku. ―Baik!‖ katanya. ―Sam-ongya. sangat meletihkan dia.‖ sahut adik itu. ―Ya‖ sahut Wanyen Lieh. maka itu kepala perang ini telah melancangi pangeran itu untuk mengatur persiapan.‖ Wanyen Lieh bilang. kapan sang malam tiba. Ouw See Houw ada satu panglima yang berpengalaman yang diandalkan negeranya. Ia khawatir Lie Peng nanti buka rahasianya. hanya sambil dibekali uang perak dua potong. dia tertawa riang. dia kuatkan hati dan tubuhnya untuk lawan penderitaan ini. Ia keprak kudanya untuk maju ke depan. Mereka itu terpencar si segala penjuru. kalau dia ini dibunuh. dia ajak Thian Tek bersama. Wanyen Yung Chi lantas kirim belasan serdadunya untuk memberi warta terlebih dahulu tentang tibanya itu sekalian menitahkan Temuchin datang menyambut utusan Kim. di padang gurun.‖ Sang adik menjadi girang. apa yang disebutkan tentara musuh itu. Irawan D Soedradjat Page 67 . Berselang beberapa hari. katanya. Wanyen Yung Chi berangkat ke Monglia.. perjalanan jauh denagn menunggang kuda. dia tak dapat berpikir. bilang saja dia hendak dijadikan pengiringku. Pada suatu hari tibalah barisan ini di satu tempat dekat dengan perkemahan Temuchin. ―Mana aku tahu?!‖ sahut si perwira yang lantas saja mengatur barisannya. Aku pikir hendak mohon kakak bawa ia pergi ke utara.‖ ―Bagus!‖ Yung Chi bertepuk tangan. suara seperti satu pertempuran.‖ ―Bawa ia ke Utara?‖ Yung Chi tanya. dia terus menderita. di mana tidak ada lain orang. ―Tindakan itu tidak sempurna. Tapi ia telah bertekad untuk membalas sakit hatinya. Yung Chi menjadi kaget. dia suruh Thian Tek pergi ke istana Wei Wang untuk bantu pangeran itu. Hampir itu waktu. ―Itulah alasannya belaka. sebaliknya Wanyen Yung Chi lemah. dengan cari satu alasan kakak boleh hukum mati padanya. barisan dari seribu serdadu pilihan dari bangsa Kim berjalan berlerot bagaikan seekor ular panjang. ―Pasukan musuh manakah itu?‖ dia bertanya. ia menurut saja. lekas kasih perintah untuk bersiap untuk berperang!‖ demikian kata perwiranya yang pimpin pasukan kecil itu setibanya dia di depan pangeran Kim itu. salju beterbangan turun bagaikan lembaran-lembaran unga. Selagi pasukan ini berjalan terus. sebenarnya ia hendak mencari tahu keadaan kita bangsa Kim. yang lainnya pasti bakal jadi waspada. hawa ada dingin luar biasa. Dialah Ouw See Houw. ia tetap ajak nyonya itu. Demikian untuk beberapa puluh hari. Sedang si nyonya ini masih mengharapkan datangnya pertolongan padanya……. memenuhi bukit dan tegalan di hadapan angaktan perang Kim itu. Tatkala itu bulan kedelapan untuk di Utara. Dia sengaja menunjuki pengaruh menurut nasihat Wanyen Lieh. ―Kakak tahu sendiri kecerdikan bangsa Selatan itu. sudah datang dekat sekali. Di lain pihak ia jaga diri baik-baik agar tentara Kim tidak tahu siapa dia. sekonyong-konyong orang mendapat dengar suara berisik yang datangnya dari arah utara. Sementara itu perutnya Lie Peng makin menjadi besar. Selagi Wanyen Yung Chi terheran-heran. Di sini aku nanti layani lain-lainnya mata-mata. Mungkin mata-mata yang datang bukan dia satu orang.‖ ―Kalau begitu. berjalan di padang pasir yang seperti tak ada ujung pangkalnya. Ia mempengaruhinya hingga si nyonya diam saja. bunuh saja padanya!‖ kata sang kakak. Thian Tek tidak tahu rencana orang. Wanyen Yung chi berangkat bersama seribu serdadu pilihan yang semua kelihatan gagah dan mentereng.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia datang untuk tumpangkan diri padaku. Sore itu Wanyen Lieh tidak panggil Toan Thian Tek menghadap lagi padanya. Diwaktu begini. ia lantas tampak lari mendatangi satu pasukan kecil serdadu. ―Di sana.

Karena hawa dingin. ia angkat bayinya itu. tak tahu ia dirinya berada di dunia baka atau masih hidup. ia dapat kenyataan. tapi ia merasa ada benda yang membanduli perutnya. Ketika itu masih malam. akan menggali pasir. mereka ke dibikin terpencar. karena sisa tentera itu main saling selamatan diri sendiri. semua tidak menunggang kuda. Tentara sisa itu segera diserang. Tiba-tiba dari arah kiri terdengar ramai suara terompet tanduk. suaranya pun nyaring. sang rembulan mengencang di atas langit. Terpaksa ia merayap keluar. dengan itu ia pun dapat bakar daging kuda. Entah sudah lewat berapa lama. mereka pun lagi ketakutan. Lalu ia coba menyalakan api. tidak ada sama sekali. muncul di antara sang awan. Tentera sisa ini berjumlah lebih besar tapi mereka tidak berdaya terhadap pasukan berkuda ynag jauh lebih kecil itu. tetapi serbuan sisa tentera ―musuh‖ itu demikian hebat. Kapan Ouw See Houw sudah mengawasi sekian lama. mau tidak mau. Entah dari mana datangnya tenaganya. lalu dihari ketiga. ia beri perintah akan tenteranya mengurung pangerang mereka. potongan wajahnya mirip dengan suaminya Kwee Siauw Thian. Dengan sendirinya mereka jadi bertempur sama tentara Kim. Kekalutan sudah lantas terjadi. Lie Peng mendekam di liangnya itu. untuk kegirangannya. Ouw See Houw berlaku tabah. ia dapatkan satu bayi laki-laki. Ia geraki tubuhnya. Ia hanya dengar tangisan itu makin lama makin keras. Syukur untuknya. Buat dua malam satu hari. yang berjumlah lebih sedikit. ia tidak mendapat gangguan. Hanya sesudah lari serintasan. ia sadar sendirinya dengan perlahan-lahan. maka bersama sejumlah serdadu ia lindungi Wanyen Yung Chi mundur ke arah selatan. sekarang timbullah harapannya. Tentera musuh yang kabur itu melihat pasukan Kim. ia telah melahirkan anak……. sakit sekali. Dengan gigitan ia bikin putus tali pusar. mereka kabur jauh-jauh. Hebat akibatnya untuk tentara Kim itu. Cepat nyonya itu berduduk. Ia belum sadar betul. semua mayat serdadu dan bangkai itu belum busuk. tentara sisa ini meluruk ke arah pasukan Kim. Tentara ‗musuh‘ itu bukan terus menerjang pasukan Kim. kalau tadinya ia telah berputus asa. Di bawah terangnya sang rembulan. Mereka bersiap tanpa bersuara. Di sekitarnya tidak ada seorang juga kecuali mayat-mayat serdadu dan kuda-kuda. untuk membuat sebuah liang yang besar dimana bersama bayinya ia bisa menyingkir dari angin dan salju. tak tahan ia akan rasa laparnya. Nyatalah dalam keadaan seperti itu. roman mereka ketakutan. setelah ia melihat dengan tegas. Bab 7. akan tetapi jumlah mereka banyak. untuk melindungi. itulah pasukan sisa yang habis kalah perang. bayi itu nampak cakap. mereka lari tanpa berani datang mendekati. hanya mereka kabur keempat penjuru. Lie-sie coba geledah tubuhnya myat-mayat itu untk cari rangsum kering. Ia mengeluarkan air mata kegirangan yang berlimmpah-limpah. Adu Panah Lie Peng ada bersama Toan Thian Tek. Ia pingsan. Ouw See Houw kewalahan. Ia dapatkan sejumlah sisa. Irawan D Soedradjat Page 68 . musuh dan kawan bercampur menjadi satu. mereka menerobos terus. Terpaksa untuk menyingkir. hingga tanpa dapat ditahan lagi. Air ada air salju tapi barang daharan. mereka masing-masing menunggang satu kuda. sejumlah diantaranya lantas rubuh. yang terus menerjang tentera sisa. bergumul. hingga banyak serdadu yang kena terinjak-injak. Ia dapatkan golok dengan gampang karena di situ bergeletakan banyak alat senjata. Lie-sie mesti kuatkan hati. Cuma pemandangannya yang sangat menggiriskan hati. Lie-sie mencoba menggunai kedua tangannya. di situ muncvul satu pasukan serdadu. terpaksa nyonya Kwee lari sendirian.Pendekar Pemanah Rajawali Segera juga terlihat suatu keanehan. Dari situ ia bisa dengar rintihan serdadu-serdadu yang terluka parah atau hendak mati dan ringkikannya banyak kuda perang. Disamping itu di belakang mereka menerjang sejumlah pasukan berkuda. Roman anak ini telah membantu menguatkan semangatnya. samar-samar ia dengar tangisan bayi. ia merasakan perutnya mulas. ia rubuh dari kudanya. tanpa merasa ia menangis menggerung-gerung. yang telah membuang panah dan tombak mereka. setelah mana ia peluki anaknya. Untuk kagetnya. Sekarang baru Lie Peng sadar betul. ―Lepaskan panah‖ Ouw See Houw memberi titah.

walaupun tampaknya mereka kosen. ketika kedua penolongnya hendak berpindah tempat. ia dengar suara seperti tambur berikut meringkiknya kuda serta suara orang banyak. lalu muncullah pasukan tentera. Lie Peng tidak buka rahasia. hati Kwee ceng menjadi tertarik. Maka mulailah Lie Peng mesti bercape lelah. ada yang ditancapkan bulu burung warna lima. ia beri nama Ceng kepada putranya. Tapi ia ingin mengetahui sesuatu. apa katanya Lie. Sekitar tujuh lie. sebaliknya daripada takut. tapi selagi ia hendak menuntun pulang. Ada serdadu yang kepalanya digabut pelangi putih. sebagai pengembala tak tentu tempat tinggalnya. hingga keras sekali ia rangkul bayinya. ia gendong bayinya untuk di bawa pergi ke araha timur. ia pun dapat hidup sebagai orang Mongolia. Untuk hidupnya. mendengar itu tentera penyerang lantas berseru-seru kegirangan: ―Kha Khan Temuchin telah datang! Kha Khan telah datang!‖ Irawan D Soedradjat Page 69 . Orang Monglia itu tidak berumah tangga. untuk dikasih tempat meneduh dan barang makanan.Pendekar Pemanah Rajawali Buat tujuh atau delapan hari. Malah yang seekor – anak kambing – kabur ke timur. Ia menjadi takut. Demikian telah terjadi dengan Lie-sie. yang ia tidak tahu berapa jumlahnya. ia menunggang kuda kecilnya. Ia mengintai terus. mereka meninggalkan tiga ekor kambing. diwaktu hendak berangkat. Akan tetapi dua orang itu tidak menolong kepalang tanggung. segera terdengar suara terompet dari sebelah belakang. lantas ia pimpin tentaranya menyerbu. Kwee ceng giring kambingnya untuk diangon. hingga ia mesti melahirkan anak seorang diri. Sekoyong-konyong terdengar suara terompet riuh. dan untuk menempuh perjalanan jauh. guna melindungi diri dari gangguan angin dan hujan. guna mencari air. yang menjadi kepala perang telah memberikan belbagai titahnya. untuk kelegaan hatinya. mereka jaka si nyonya ke tendanya. sebab bayinya masih belum mengerti suatu apa pun. untuk bersembunyi didalam rujuk. ―Siapa kau?‖ tanya salah satu diantara dua penunggang kuda itu. Hidup sendiri. Pihak penyerang ini berjumlah lebih sedikit. Ia memanggil dengan berteriak-teriak. ia bisa membantu ibunya menggembala kambing. Meski begitu. Selama tempo bertahun-tahun hidupnya Lie Peng ada lumayan. Semua binatang itu kaget. ia mulai bertenun yang hasilnya ia dengan barang makanan. untuk hidup sendiri. Pada suatu hari dari bulan tiga. belum pernah ia dengar suara semacam itu. Dua penunggang kuda itu adalah orang Monglia. dari sana muncul beberapa barisan lain yang dikepalai oelh satu perwira muda jangkkung dan kkurus. mendatangi dari arah depan. dengan mengiring binatang piarannya. terpaksa ia ditinggal pergi. bagaimana hebat penderitaannya itu. tidak lama mereka mesti mundur sendirinya. Ia mesti membangun satu gubuk dengan beratap daun. agaknya mereka ini tidak dapat bertahan lama. tiba-tiba kwee Ceng lihat seekkor burung elang yang besar sekali menyambar kepada rombongan kambingnya. Sekarang. Kwee Ceng tuntun kambingnya buat diajak mendaki suatu tanjakan. sampai setelah memasang kuping sekian lama. selagi uadra hangat. ia Cuma kata ia lagi lewat di situ tempo ia terhalang oleh pertempuran tentera. timur dan barat. untuk kemudian ibu dan bayinya itu tidur guna melepaskan lelah dan kantuknya. tubuhnya ditutupi dengan mantel merah. Jauh di sebelah depan nampak debu mengepul naik. Segera terlihat dua penunggang kuda. Kaget ia. Ia sekarang memelihara anjing sebagi pembantunya. mereka itu berbaik hati. dibantu sama suara tambur. Ia mulanya menyangka kepada guntur. dari itu di situ sudah lantas terjadi suatu pertempuran. selagi ia menjagai kambing-kambingnya. Ia tidak hendak melupakan peasn suaminya. Tapi di belakang mereka lantas tiba bala bantuan. setelah ia mulai dapat pulang kesegarannya. malah tanpa terasa enam tahun telah lewat. maka tentera itu lantas memecah diri dalam dua barisan. Tidak lama setelah barisan teraur rapi.sie. mereka biasa pergi ke timur atau ke barat untuk mencari makanan binatang. Ia mesti terus berjalan di tempat yang sepi dimana ada terdapat pepohonan dan tegalan rumput. hingga ia terperanjat. mendadak ia dengar susra keras dan nyaring. baru ia dapat tangkap anak kambing itu. Tepat tengah hari. Maka ia naiki kudanya untuk mengejar. anak itu bertubuh kuat dan cerdik. ia cuma dapatkan. walaupun mereka tidak tahu jelas. mereka menyerang pula. Sampai tiba-tiba ia mendengar anak panah mengaung di atasan kepalanya. ia keluarkan kepalanya untuk mengintai. sebagai rumah adalah tenda yang bertenung daripada bulu binatang. Tidak ayal lagi. anak kambing itu lari terus. Oleh karena kebiasaan. Bisalah dibayangi. Lie-sie dapat berdiam disitu bersama bayinya. Ia memegang sebatang golok panjang.

ia tetap mengawasi medan perang. Dia ada memakai kopiah perang dari besi. janggutnya merah. yaitu Sigi Kutuku. yaitu Ogatai yang berada di samping ayahnya. Kwee Ceng dengan matanya yang jeli. melindungiini pemimpin dari sambarannya berbagai anak panah. ia dikitari belasan pengiringnya yang dengan memasang tameng mereka itu.Pendekar Pemanah Rajawali Atas itu orang-orang yang lagi bertempur lantas menoleh ke arah timur selatan. Tiang yang tinggi itu bergerak ke arah tanjakan bukit. yang mendatangi dengan cepat. mereka menyerang pula dengan seru. Itu ada tanda bahwa di sana ada tiga kepala perang yang memegang pimpinan. lantas ia berikan titahnya: ―Kau bawa selaksa serdadu mundur ke timur!‖ demikian titahnya itu. jumlahnya bebearap ribu jiwa. demikian panglima yang dipanggil ayah itu. Dengan begitu ia dapat lihat satu perwira yang menunggang kuda. ia menyahuti: ―Musuh masih belum lelah. Setelah bertempur sekitar satu jam lebih. melakukan pembelaan si sekitar bukit itu. kau bersama pangeran kedua serta selaksa serdadu mundur ke barat. mereka tidak menghiraukan anak panah dan golok. mengawasi ke arah tiang itu. Kwee Ceng saksikan itu semua. Dengan matanya yang tajam bagai mata burung elang. mereka tidak ambil peduli lagi kepada musuh yang lari tunggang-langgang. bersama Chilaun serta selaksa serdadumu mundur ke utara! Dan kau. Tidak antara lama panglima muda yang bermantel merah larikan kudanya naik ke tanjakan. lalu dengan suara dalam. apa boleh kita kerek bendera dan membunyikan terompet?‖ dia bertanya. musuh berjumlah lebih banyak berlipat ganda. ia Cuma berdiam sebentar. akan tetapi juga serdadu musuh. orang terpaksa main mundur. dari tempat sembunyinya. sudah melihat tegas keadaan pertempuran itu. Di sana pun dikerek batang bendera besar. tentera penyerang jadi dapat semangat. dari mana datangnya suara terompet dan tambur tadi. Dilain pihak adik angkat Temuchin. kau Borchu. seribu lebih telah terbinasa. hingga mereka dapat mengacaukan lawannya. dari lima ribu serdadunya Temuchin itu. Jelmi lari naik ke atas bukit. Temuchin. Temuchin mengawasi ke bawah kepada tentara musuh. ―Ayah. habis itu semua bawa barisannya menyingkir ke arah yang telah disebutkan tadi. ia gembira berbareng negri. mari kita mundur dulu!‖ berseru ia kepada orang di bawah tiang bendera itu. bersama Jelmi panglima yang kosen. tentera Mongolia itu nampaknya lati serabutan keempat penjuru arah. ―Ayah. Lalu ia memberi perintah pula: ―Mukhali. Disamping dia ada beberapa pengiringnya. berlomba mendaki bukit. maka sebentar saja. Tentara musuh bersorak-sorai menampak lawannya lari tumpang siur. Di tengah pasukan di panjar sebuah tiang yang tinggi di mana ada tergantung beberapa lapis bulu putih. kau mesti kembali untuk melakukan penyerangan membalas!‖ Semua perwira itu menyahuti tanda mereka menerima titah. Temuchin tetap berdiam tegak di tempatnya. menjadi cemas hatinya.‖ Ketika itu penyerangan musuh di timur laut bertambah hebat. bersama Subotai serta selaksa serdadu. mereka pun segera melihat bendera putih besar dari Temuchin di atas bukit. dengan lima ribu jiwa serdadu mereka. hanya karena jumlah mereka jauh lebih besar. Irawan D Soedradjat Page 70 . mereka lantas saja berkoak-koak: ―Tangkap hidup Temuchin! Tangkap hidup Temuchin!‖ Lalu tentara itu dengan rapat sekali. Sambil berbuat begitu. banyak yang telah rubuh. tak sudi mereka mundur dari serangan musuh. Kubilai. yang larikan kudanya itu naik ke tanjakan. Putra ketiga dari Temuchin. mereka menang di atas angin. Musuh telah mendesak hingga hampir sukar untuk dicegah lagi. lekas mundur ke selatan! Kapan kau lihat bendera besar di kerak tinggi dan dengar terompet dibunyikan. Di pihak Mongolia. Dari sana pun datang seruan-seruan kegirangan. Juga Kwee Ceng turut beralih pandangannya. dari atas kudanya ia memandang ke medan pertempuran. apa pula penyerang di pojok timur utara tampak lebih garang. Ia tampak satu pasukan besar. Atas ini.

Justru itu. Semua serdadu Mongol kaget. ia memandang ke arah musuh. Dua perwira Mongolia maju hendak menerjang tetapi mereka disambut oleh anak panah dan rubuh karenanya. setibanya di atas. yang berbareng menjadi pemimpinnya. ia binasakan satu demi satu. ia rangkul ketiga bendera besar itu untuk dibawa lari mendaki bukit. Temuchin tutup lukanya dengan telapakn tangannya. Beruntun tiga kali ia memanah kepada musuh yang berada dibawahnya sebuah bendera hitam. Mendapatkan anak panah. ia kehabisan anak panah dan tobaknya pun telah patah. nacap sampai di batas bulu. ia tancap tiga batang bendera itu di tanah! Kaget nusuh menyaksikan lawannya demikian kosen. untuk rampas kuda musuh. ―Bagus ilmu panahnya!‖ Temuchin puji musuh itu. tentara Mongolia bertempik sorak. dengan bawa itu sambil serukan seruan-seruan peperangan bangsanya. Dilain pihak. hanya nancap di dadanya kuda. Maka tidak ampun lagi. kemudian dengan lemparkan goloknya. ―Apakah sekarang sudah boleh kita menaikkan bendera dan membunyikan terompet?‖ ia tanya. ia tidak menjadi gugup. dengan kedut lesnya. akan kemudian ia lari pula naik ke atas. Temuchin adalah satu orang peperangan yang ulung. Jelmi maju menyerang tiga serdadu musuh yang bertubuh besar. walaupun lehernya terluka dan sakit sekali rasanya. Kutuku segera beraksi. mereka lantas tutup pula kebocoran di timur utara itu. ―Kita tunggu sebentar lagi. ―Kutuku. Kutuku tidak gusar. tampak satu panglima dengan pakaian perang hitam. Kutuku mandi keringat. ―Siapa lari ngiprit?‖ katanya. dalam keadaan terluka. anak panah tidak lagi menyambar ke perut orang. anak-anak tak sanggup bertahan!‖ dia teriaki junjungannya. apakah kau ngiprit sebagai kelinci?‖ ia menegur dengan ejekannya. Musuh gunai ketika baik ini untuk menerjang naik dengan hebat. lehernya telah terkena anak panah itu. ―Musuh masih belum lelah. suaranya perlahan. ia membuat kudanya berjingkrak berdiri dengan dua kaki belakangnya. dipihak musuh. Biar bagaimana juga. darah molos keluar dari sela-sela jari tangannya itu. terpaksa ia balik mundur. rubuhlah binatang tunggangannya itu berikut penunggangnya. hebat ilmu panahnya.‖ Kutuku lantas berlutut di depan kakak angkatnya itu. sebentar saja ia telah rubuhkan belasan tentera Mongolia. Berselang lagi satu jam. semua lantas meluruh untuk tolongi kepala perang mereka. sedang satu anak panah lainnya menyambar ke arah perutnya. sebatang busur membuat musuh itu rubuh. ―Ser!‖ sebatang anak panah menyambar sebelum pimpinan Mongol ini dapat berdaya. lantas ia rampas sebatang golok besar dari tangannya satu serdadu. sesudah mana. ―Aku kehabisan anak panah!‖ Temuchin yang rebah di tanah telah tarik keluar anak panahnya dari kantong panahnya yang tersulam. ia lemparkan itu kepada adik angkatnya itu. ―Tak sanggup bertahan?!‖ berseru Temuchin dengan gusar. ia membuka jalan hingga di depan satu bendera hitam. Kutuku di arah barat telah pimpin tentaranya melawan musuh. ia menerjang barisan musuh. Irawan D Soedradjat Page 71 . ia memburu ke bawah bukit. ―Saudaraku yang baik. hebat kau!‖ Temuchin puji adik angkatnya itu.‖ sahutnya. ―Bagaimana dapat kau banggakan diri sebagai satu pendekar gagah perkasa?!‖ Air mukanya Jelmi menjadi berubah. Dengan begitu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kha Khan. Sejumlah serdadu mush mundur melihat orang demikian bengis. sebaliknya ia tertawa. Merah matanya Jelmi melihat kawannya itu mundur. di pojok barat selatan.

mereka menjadi bertambah kacau. ia berteriak-teriak untuk mencegah kekacauan. Kwee Ceng ditinggal di rumah untuk menjagai binatang piaraan mereka. Ketika ia tiba dirumahnya. ―Tangkap musuh itu!‖ Temuchin memberi titah. ia jadi gembira sekali. apabila ia menoleh. Tiga hari kemudian. panglima itu dapat meloloskan diri. melihat sikap orang. Sisa tentara lantas lari serabutan. kaget melihat kepala perang lawannya dapat naik kuda pula. hingga ia keluarkan teriakan tertahan. tentera Mongolia dengan bersemangat menyerang dari segala penjuru. pagi-pagi sekali. ia bunuh tiga musuh yang menerjang ke arahnya. akan tetapi sia-sia saja percobaannya itu. Serempak dengan itu. di bebokong kuda ada satu tubuh manusia yang mendekam.dua helai permadani – dengan barang-barang makanan. treus angkat kepalanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kami semua rela berkorban untuk kau. termusnahkan pasukan Mongolia yang jumlahnya lebih sedikit tetapi yang semangatnya berapi-api. Anak ini ingat akan peperangan yang ia saksikan. tentaranya tak dapat dikendalikan lagi. Musuh berjumlah besar. Dengan begitu pula pada akhirnya. tiba-tiba ia dengar tindakan kaki kuda di arah timur. dimana mereka berada. Begitu datang dekat. maka itu ia menjadi teringat kepada suaminya. Temuchin tidak usah khawatirkan lagi ancaman dari pihak musuhnya itu. barisan mereka tengah kacau. tak pernah gagal. ―Dasar turunan orang peperangan. Kwee Ceng dari tempat sembunyinya sangat mengagumi panglima berbaju hitam itu. telah peroleh kemenangan besar dan musuhnya ialah bangsa Taijiut. Kwee Ceng tunggu sampai orang sudah pergi semua. waktu sudah tengah malam. ia mirip dengan ayahnya…‖ pikir ibu ini. Musuh yang tengah merangsak naik. maka itu belasan serdadu lantas saja terjungkal dari kuda mereka. sambil bersorak-sorak. disusul sama bunyi terompet ynag riuh. ia mencoba menggiring kambingnya pulang pergi. si panglima seragam hitam sendiri terpaksa kaburkan kudanya. sendirinya mereka mundur. Maka itu tidak usah berselang dua jam. Maka sejak itu. siapa lantas menjadi kaget sekali. hingga yang lainnya menjadi terhalang. baharu ia keluar dari tempat sembunyinya. Tentara Mongolia bertempik sorak. kuda itu kendorkan larinya. ia tampak seekor kuda lari mendatangi. Lie Peng berangkat ke pasar yang terpisahnya kira-kira tigapuluh lie lebih dari rumahnya untuk menukar tenunannya. tak kecuali mereka yang mengurus korban-korban. Dengan pertempuran ini Temuchin. Panglima dengan seragam hitam itu nampak keadaan jelek. Temuchin lihat keadaan itu. ia gunai ketikanya yang baik. justru ibunya sedang berdebar-debar hatinya memikirkan anaknya yang dikhawatirkan menghadapi ancaman bahaya. akan kejar panglima berbaju hitam itu. maka itu diserang demikian mendadak. tentara Mongolia iringi kepala perangnya berangkat pulang. tubuhmu penting sekali!‖ Mendengar itu. Dengan goloknya yang panjang. Mereka itu mendekati saling susul. ―Tapi Kha Khan. Penunggang kuda itu yang mendekat. memandang kepada si bocah itu. hingga penyerangan mereka menjadi reda. ―Hadiahnya sepuluh kati emas!‖ Beberapa puluh serdadu Mongol sudah lantas kaburkan kuda mereka. anak ini tidak sedikit juga menunjukkan hati jeri. Temuchin lantas berlompat untuk naik ke atas seekor kuda. Dengan kegirangan. ialah pihak Mongolia. Senang Lie Peng akan saksikan anaknya bercerita dengan cara sangat gembira. . lalu bendera putih yang besar dikerek naik. sambil ia duduk di atas kudanya.‖ katanya. ―Semuanya membela mati bukit ini!‖ ia berseru. Irawan D Soedradjat Page 72 . telah musnah lebih daripada separuhnya. Kwee Ceng segera terangkan kepada ibunya kenapa ia pulang lambat sekali. ia anggap peperangan itu dapat dibuat permainan. maka dengan mainkan cambuknya. Maka diam-diam ia pun bergirang. Akan tetapi lihay panah si panglima. Ia mau anggap dirinya adalah satu panglima perang! Tengah anak ini main jenderal-jenderalan itu. runtuhlah pasukan perang yang besar itu. ―Naikkan bendera! Tiup terompet!‖ dia berteriak dengan titahnya.

benderanya pun berkibar-kibar. lalu ia tertawa terbahak-bahak. kami harus membantu tetamu tetapi tidak boleh menginginkan barang tetamu. ―Adik yang baik. ―Ada!‖ sahut Kwee Ceng yang terus lari ke dalam untuk ambil panahnya. ditangan kirinya ia mencekal goloknya yang telah buntung. Kwee Ceng menggeleng-gelengkan kepala. Ia pun balut luka kudanya. Paha kudanya pun terluka. hanya habis itu wajahnya berjengit. orang itu sadar dengan sendirinya. Kwee Ceng kaget dan bingung.‖ sahut Kwee Ceng. ―Lapar! Lapar!‖ kali ini ia bersuara. Mungkin ia yang tengah melarikan diri telah bertemu pula dengan musuh. Di pipi kanannya ada sebuah luka besar dan masih mengucurkan darah. Kwee Ceng lekas-lekas mengambilkan beberapa potong daging kambing. Kwee Ceng pun lantas ikut memandang juga. ―Ibu telah pesan. Irawan D Soedradjat Page 73 . Orang itu perlihatkan roman girang. Ia lantas sobek ujung bajunya. aku ingin panah yang besar…. yang Kwee Ceng saksikan dan mengaguminya. ―Mari lagi satu mangkok!‖ dia meminta pula. Rupanya banyak sekali serdadu barisan berkuda temgah mendatangi. Selang sekian lama. setelah itu ia dapat pulang tenaganya. Kwee ceng lantas lari mengambil air dingin dari jambangannya. orang itu memakannya dengan sangat bernafsu. darahnya masih mengalir. Ia pun lantas memandang ke arah timur itu. mendengar itu tetamunya Kwee Ceng ini menjadi gusar sekali. matanya bersinar merah. Tapi lekas sekali ia tertawa berkakakkan. ―Anak yang baik. Panglima itu baharu minum setengah mangkok. ―Aku hendak bertempur.‖ ia bilang. golok yang mana pun ada darah yang sudah mengental.‖ katanya panglim aitu kemudian. Sekarang di sebelah suara berisik itu terlihat debu mengepul. ia menjerit. ―Hm. Tubuh panglim aitu bergoyang-goyang. ia menjadi lesu. Dari lengannya ia tarik sebuah gelang emas yang kasar dan berat. air itu sudah bercampur dengan darah yang mengalir dari lukanya. dia tak hendak melepaskan aku!‖ serunya sengit. ―Anak yang baik! Anak yang baik!‖ ia memuji. sedang panahnya tidak kedapatan padanya.Pendekar Pemanah Rajawali Penunggang kuda itu mukanya penuh debu bercampur darah. tiba-tiba ia tertawa. Orang itu tercengang. alisnya lantas menjadi ciut. adalah si panglima perang berbaju hitam yang gagah. Tak tahu ia mesti berbuat apa. Kwee Ceng telah bawa gendewa dan anak panahnya yang kecil. ―Yang besar tidak ada…. suaranya parau. untuk dipakai membalut lukanya. banyak-banyak terima kasih kepadamu!‖ dia mengucap. apakah kau ada punya panah?‖ tanya si tetamu. Itu waktu samar-samar terdengar suara larinya banyak kuda di arah timur. Dia jatuh pingsan. ―Untukmu!‖ dia tambhakan seraya dia angsurkan barang permata itu kepada bocah itu. Ketika itu pasukan yang mendatangi telah tampak semakin tegas. yang mana si panglima lantas saja sambar untuk digelogoki. ―Air…air…lekas bagi air…‖ katanya. tubuhnya terus rubuh dari atas kudanya itu. Demikian dia bisa geraki tubuhnya untuk berduduk. tetapi ia rupanya telah puas telah dapat air. hanya tempo si bocah itu kembali.

―Baik. Mereka rupanya lihat bocah yang menunggang kuda itu. Si pangeran telah sampai di depan rumah ―Aku tidak akan bicara!‖ Kwee Ceng telah mabil keputusan dalam hatinya. Dua serdadu itu sampaikan jawabannya Kwee Ceng. ―Ya. Orang itu mengambil putusan denagn segera. Ia lantas dapat lihat itu kuda hitam yang lagi makan rumput di kejauhan. Dia adalah putra sulung dari Temuchin. Ia lihat banyak serdadu sedang mengiringi satu anak muda yang kurus dan jangkung. seperti tak pernah terjadi sesuatu. suara mereka riuh. yang lantas terus tarik les kuda orang untuk dibawa kepada sang pangeran. ia laikan kuda itu bolak balik. ―Eh. Ia insyaf. bahar ia berhenti untuk makan rumput. putra sulung itu memandang ke sekitarnya. lebih baik kau sembunyi. tak dapat ia lari lebih jauh.‖ Kwee ceng menjawab. Dengan gampang ia kena ditangkap dan dituntun. ia pun lari ke tumpukan kering itu dan menyelusup kedalamnya. Kwee Ceng menunjuk ke barat. ―Apakah katanya bocah ini?‖ tanya ia membentak. kau lihat tidak satu orang yang menunggang kuda hitam?‖ Itulah teguran dari satu diantara dua serdadu itu. aku dapat lihat. ―Aku tidak akan mengasih tahu kepada mereka. Kwee Ceng menunjuki tumpukan rumput kering di belakang rumahnya. Tidak lama tibalah barisan berkuda itu. ―Coba bawa kuda itu kemari!‖ Begitu keluar perintah itu. dengan kudanya yang terluka. aku serahkan jiwaku kepadamu!‖ katanya. Ia tidak dengar pembicaraan di antara dua orangnya dengan si bocah. sesudah lari cukup jauh. suaranya dalam.‖ ia menerangkan ―Bawa dia kemari‖ berseru perwira yang mengepalai pasukan itu. ―Hm! Bukankah itu kudanya Jebe?‖ putra itu tanya. ―Bukankah itu kudanya?‖ ia tanya. Kwee Ceng naik ke atas kudanya. Jadi ada lebih selamat untuk sembunyikan diri. ―Benar!‖ sahut banyak serdadu.‖ ia berjanji tanpa diminta. bocah. dua serdadu lantas menghampirinya. ―Mari ketemu pangeran!‖ berkata dua serdadu itu. Ia bisa berlaku tenang. walaupun ia sudah dapat pulang tenaganya. Irawan D Soedradjat Page 74 . untuk hampirkan itu kuda denagn dikurung. hingga walaupun binatang itu berniat lari. ―Pergi kau usir kudaku!‖ setelah berkata demikian. suaranya kasar.‖ kata Kwee Ceng kemudian.Pendekar Pemanah Rajawali ―Seorang diri tak dapat kau lawan mereka. yang tubuhnya ditutupi denagn mantel merah. ―Di mana?‖ tanya serdadu yang kedua. Lain jalan tidak ada. Ia lantas kenali itu adalah panglima yang pimpin tentera. ―Sembunyi di mana?‖ orang itu tanya. jalannya sudah tertutup. Dengan matanya mengandung kecurigaan. ―Dia sudah pergi lama sekali. sepuluh serdadu lanats bergerak dengan mereka memecah diri dalam lima rombongan. Kwee Ceng mencambuk kuda itu. dua kali atas mana kuda yang hitam bulunya itu segera lompat kabur.

Dia angkat kepalanya dan menanya dengan berani: ―Kenapa kau pukul aku? Mana aku ketahui dia bersembunyi di mana!‖ ―Kau membandel?!‖ bentak Juji. mau ia menangis akan tetapi ia menahan sakit. hatinya menjdai memukul keras. Lagi sekali ia mencambuk.Pendekar Pemanah Rajawali Putra sulung itu ayunkan cambuknya ke arah kepalanya Kwee Ceng. Kedua serdadu tadi pun sampai lupa untuk menusuk-nusuk terlebih jauh. mesti isap darah – hingga darahnya itu ada yang kena ketelan dan dimuntahkan. Kali ini ia hunus goloknya. Dia mengancam pula Kwee Ceng dengan cambuknya diayun tiga kali beruntun. Kapan Temuchin dengar kabar itu. Berat lukanya Temuchin bekas terpanah Jebe. tangannya mencekal keras goloknya yang panjang. ia bolang-balingkan itu ke udara. sepasukan serdadu berhasil menemukan Jebe. Inilah sebabnya kenapa ia datang belakangan. Tapinya ia lantas berteriak : ―Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!‖ Ketika itu sejumlah serdadu sudah geledah rumahnya Kwee ceng. hingga ia perlu ditolongi dengan Jelmi panglimanya serta Ogotai putranya yang ketiga. adalah sehabisnya pertempuran. ia coba sebisanya akan menahan sakit. Ia memikir: ―Pasti bocah itu tak tahan sakit dan ektakutan. kau hendak bicara atau tidak?!‖. tentera Mongolia dikirim ke empat penjuru untuk cari Jebe. hai. Juji lantas berhenti mencambuk. kemudian ia sendiri mengajak putranya yang kedua. ia putar kudanya untuk menyambut ayahnya.‖ Kwee Ceng kesakitan bukan main. ―Pasti kita akan mendapatkannya!‖ Ia balik kepada Kwee Ceng . ―Jangan kau harap dapat mendustai aku!‖ Jebe. ia cegah keluarnya air matanya. ―Ayah!‖ demikian ia menyambut. Ia lihat penganiayaan itu yang menyebabkan jidatnya Kwee ceng memebri tanda baret merah. Ia sendiri pun telah terluka. lebih dahulu ia kirim putra sulungnya. ―Dia sembunyi di mana. Musuh itu dikepung tetapi ia dapat meloloskan diri sambil membinasakan beberapa jiwa serdadu Mongol. 75 ―Aku tidak menghendaki kuda tetapi orangnya!‖ ayahnya itu menjawab. bersembunyi sambil memasang mata. Ogotai dan putra sulungnya. dia mestinya tidak lari jauh!‖ Juji berkata pula. kuda hitamnya bangsat itu telah dapat ditemukan!‖ ia memberitahukan. Oleh karena itu. Ia kenal si putra sulung – putra Temuchin itu – ialah Juji yang tabiatnya keras dan kejam. Satu malam dia gadangi semua panglimanya serta keempat putranya. cepat menyusul. setan cilik?!‖ tanya dengan bengis. . yang hendak ditawan. ―Eh. pergi menyusul dan mengejar. Tuli. untuk hukum dia dengan dibeset empat kuda dan dicincang tubuhnya guna membalaskan sakit hatinya Khan yang terbesar itu. Kha Khan – Khan yang terbesar. Dihari kedua pada wkatu sore. tiba-tiba tangannya menunjuk ke tumpukan rumput yang jauh sambil ia berteriak: ―Lihat di sana. ―Kudanya ada disini. Kwee Ceng lihat orang hendak tusuk bagian dimana panglima nelusup. ―Kha Khan datang!‖ sejumlah serdadu berteriak. Baharu keesokan harinya. putranya yang ketiga. benda apakah itu yang bergerak-gerak?‖ Semua serdadu lantas berpaling mengawasi. aku terpaksa mesti keluar untuk adu jiwaku…. mereka tidak lihat suatu apa yang bergerak. ia pingsan beberapa kali. tetapi di medan perang. Irawan D Soedradjat Page ―Ya!‖ sahut putra itu. Kali ini Kwee Ceng tak dapat tak menangkis. Temuchin. di hari kedua. setan cilik. Hampir di itu waktu dari kejauhan terdengar suara terompet. Jagati. ―Ayah. dia lolos dari ancaman bahaya maut. Ayahnya itu dirubungi banyak pengiringnya. sedang dua yang lain menusuk-nusuk ke dalam tumpukan rumput kering itu. Tidak ada jalan lain. Juji. itu panglima berseragam hitam yang sembunyi di dalam tumpukan rumput.

ia hampiri Kwee Ceng. Ogotai dan Tuli menjadi tertawa bergelak-gelak. hingga dengan lantas ia suka memberikan pertolongannya. habis itu baru semuanya dilepaskan dari rantainya. Irawan D Soedradjat Page 76 . Hati Kwee Ceng menjadi kecil.‖ Putra ketiga itu menurut sambil tertawa. tahu ia panglima itu terancam akan ketahuan tempat persembunyiannya. maka itu setiap keluarga bangsawan atau panglima perang mesti memelihara anjing-anjing peranti berburu. ia ayunkan goloknya ke lehernya si Kwee Ceng. banyak lukanya. tetapi ia pensaran dan marah. begitupun burung elang besar. ―Kau bicaralah. dia tak mau mundur. Jagatai. kapan anjing Kwee Ceng dengar panggilan majikannya. Dari kopiah perangnya ia pun cabut dua batang bulu merak yang berkilauan. Kwee Ceng telah mandi darah pada mukanya. Sayang anjing penggembala itu jauh lebih kecil dan ia pun bersendirian. ―Lepas anjing!‖ ia menitahkan. tak malukah?!‖ Lantas saja Jebe dikurung oleh serdadu Mongol. Kapan ia lihat orang melepas anjing. untuk mencegah ia lantas bersiul memanggil anjingnya sendiri. yang bersenjatakan golok dan tombak. ia ayunkan pula cambuknya berulangkali hingga Kwee Ceng merasakan sakit ke ulu hatinya. ―Aku tidak mau bicara!‖ Kwee Ceng ulangi jawabannya. Disaat batang lehernya bocah yang bernyali besar itu bakal menjadi putus. mendadak ia angkat tubuhnya untuk sambar pahanya si Juji yang terus ia gigit. tiba-tiba sebuah golok buntung menyambar. ia mendahului menghalang di depan tumpukan rumput kering itu dan melarang enam ekor anjing itu menghampirinya. Tapi ia gagah. yang ia tarik tubuhnya dengan tangan kiri untuk disingkirkan ke belakangnya. antaranya ada yang berseru kaget. akan aku berikan ini padamu…‖ ia kata seraya angsurkan bulu merak itu. Ia sambar Kwee Ceng. Nyaring bentroknya kedua senjata itu. dia tentu bawa enam ekor anjingnya itu. mengenai tepat goloknya Juji itu. gonggongan mereka sangat berisik. dia berkata: ―Menghina anak kecil. Juji terperanjat. Menyusuli goloknya itu. Jagati menjadi tidak senang. bangkit keangkuhannya dan tidak sudi ia menyerah. Mukanya Juji menjadi merah. terus dengan tertawa dingin. ia lanats digigit di sana sini. Menampak sang kakak kelabakan. ia jadi terlebih berani. Putra kedua dari Temuchin menjadi habis sabar. ia perdengarkan suaranya berulang-ulang menganjuri anjingnya melawan terus. Enam ekor anjingnya Jagati sudah mulai mencium-cium ke tumpukan rumput kering. Bangsa Mongol paling gemar berburu. hingga ia rubuh bergulingan. anjing pembantu penggembala. Hati Juji menjadi sangat dongkol.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kau hendak berbicara atau tidak!‖ ia mengancam. tahu ia akan tugasnya. kapan ia pergi berburu. Jebe lompat keluar dari tempatnya bersembunyi. Mendengar itu. untuk diberi bercium bau. sebab goloknya hampir terlepas dari cekalannya. Sekarang setelah ia dianiaya Juji. timbul kemarahannya. hanya kegagahan panglima berseragam hitam itu sangat mengesankan kepadanya. ia perintah anjingnya maju. Ia lemparkan goloknya. Semua orang terkejut. Lantas pengiringnya muncul dengan enam ekor anjing yang besar. tempo ia berguling sampai di kaki si putra sulung. Sekarang anjing itu diperintah dibawa mengitari kuda hitam. Juji berontak tetapi ia tak dapat lepaskan pelukannya anak itu yang memegang ia dengan keras sekali. maka sekejap saja terjadilah pertarungan yang sengit sekali. muka ramai dengan senyuman. Temuchin berpikir. Kwee Ceng dengan Jebe tidak saling mengenal. kenapa bocah itu mengatakan: ―Tidak mau bicara‖ dan bukannya ―Aku tidak tahu?‖ Maka ia lantas berbisik kepada Ogotai: ―Pergi kau bujuki ia hingga ia suka berbicara. Jagatai adalah putra paling gemar berburu. ―Aku tidak mau bicara! Aku tidak mau bicara!‖ ia berteriak berulang-ulang.

Ia ketemu satu anak muda yang lagi peras susu kuda. orang sampai menyebut kau Jebe. terbuka lebar matanya ini panglima. Bangsa Taijiut itu membikin pesta di tepinya sungai Onan. Borchu. Atas itu Jebe tidak membalas menyerang. ―Sekarang ini burung elang jatuh di tanah. mereka berdua pergi mencari bersama. Ia dinaiki ke atas sebuah kereta besar yang muat bulu kambing. ia lari ke dalam rimba.Pendekar Pemanah Rajawali Juji menjadi sangat gusar. sia-sia bangsa Taijiut mencari dia. yang mereka hinakan sesudah mana mereka berniat membunuhnya. dia berkata: ―Hari begini panas mengendus. aku akan mati dengan puas. Hampir Temuchin kepergok tapi ayahnya Chila‘un pintar. Dia berkata: ―Penderitaannya bangsa pria sama saja. sengsara hidupnya Temuchin. Sudah itu pada suatu hari. dia pernah ditawan bangsa Taijiut. lehernya dipakaikan kalung kayu. Tiga hari mereka menyusul. aku akan lebih dahulu binasakan padamu!‖ Tertawa Mongol tertawa riuh. Ia girang sekali. ia menambahkan: ―Sayang aku tak dapat terbinasa di tangannya satu orang gagah perkasa…!‖ ―Apakah kau bilang?‖ tanya Temuchin. Borchu maju beberapa tindak.‖ berkata Temuchin. Ia tanya kalau-kalau pemuda itu lihat pencuri kudanya. ―Kha Khan. Maka kemudian. dengan suara mendalam. Alasan itu kuat. mari kita ikat persahabatan. Temuchin berhasil menghajar penjaganya dengan kalung kayunya itu. ia cuma perdengarkan suara dingin. ―Baik. Jebe ada punya namanya sendiri tetapi nama itu kalah dengan gelarannya. Mendengar orang adalah ―sahabatnya‖ Temuchin. kalung kayunya dirusaki dan dibakar. hingga orang tidak mengetahuinya lagi. Ketika dahulu Temuchin belum menjadi kepala bangsa Mongol. digeledah juga kereta itu. ―Maka sekarang. ―Jikalau aku dibinasakan di medan perang oleh orang yang dapat menangi aku. mereka saban-saban mencaci Temuchin. semuanya lompat mundur dengan ketakutan. Jebe awasi orang itu. pergilah kau bertanding dengan sahabatku ini!‖ ―Jebe‖ itu memang berarti ―Ahli memanah‖. kiranya dia inilah orangnya…‖ Ia tidak menjawab. Satu anak muda yang bernama Chila‘un tidak takut bahaya. yang tubuhnya besar dan suaranya nyaring. mereka bubarkan rombongan pencuri kuda itu dan berhasil merampas pulang ke delapan kuda yang dicuri itu. dia tolongi Temuchin. kereta itu batal digeledah. ia meninju dada orang. Jebe berpikir: ―Memang pernah aku dengar Borchu adalah orang kosen bangsa Mongolia. sembari minum koumiss. Ia penasaran. dia mati digerumuti semut!‖ Habis mengucap begitu. ―Siapa kau?!‖ ia tanya. Setelah lolos ini. mustahil orang dapat sembunyi di dalam bulu kambing‖ Memang hawa ada sangat panas. Enam anjingnya Jagatai yang lagi gigiti anjingnya Kwee Ceng menjadi kaget. Mereka anggap orang ini tidak tahu diri. ―Aku Borchu!‖ panglima itu membentak. Temuchin Irawan D Soedradjat Page 77 . supaya kau puas!‖ katanya nyaring. setiap orang seperti bermandikan keringat. Bersama ibu dan adik-adiknya ia mesti hidup dari daging tikus hutan. dia berseru dengan keras.‖ sahut Jebe. musuhnya. Ketika musuh Taijiut datang mencari dan rumah Chila‘un digeledah.‖ Temuchin sambut itu ajakan. ―Seorang diri akan aku bunuh kau. ekornya diselipkan ke selangkangannya. baharu mareka dapat menyandak si pencuri kuda. Dengan panah mereka yang lihay. Borchu itu kosen dan belum pernah ada tandingannya. Pemuda itu ialah Borchu. Jebe berkata: ―Kau adalah sahabatnya Khan yang terbesar. Setelah pesta bubaran. ia pergi mencari pencuri kuda itu. Disampingnya Temuchin muncul satu orang. ―Nanti aku layani dia!‖ Temuchin lihat orang itu adalah panglimanya. Sebaliknya ia berseu: ―Lekas bunuh aku!‖ Kemudian. pergi kau layani dia!‖ ia menganjurkan. ―Hm!‖ ―Kau andalkan ilmumu memanah. jangan kasih bocah ini pentang mulut besar!‖ dia berseru. delapan ekor kudanya yang putih pun kena orang curi.

setelah itu ia memanah betul-betul. jatuh nancap di tanah. hingga anak panah itu terpanah dua. Jebe naik ke bebokong kuda. Tapi Borchu tidak berhenti sampai disitu. kaki kanannya nyangkel pada sanggurdi. Jebe tidak sempat menangkap pula. ―Itu sama saja dengan aku sendiri yang memanah dia!‖ ―Baik!‖ Borchu menyahuti. ia berbareng membalas memanah. Aku menghendaki hanya sebuah gendewa. menangkap anak panah itu. terus ia main berkelit. lalu dengan sebelah kakinya ia sampok anak panah yang menyambar kepadanya itu. Borchu terkejut. Irawan D Soedradjat Page 78 . sambil berkelit ia memanah pula. Binatang itu yang telah berpengalaman. Jebe berkelit dan sambil berkelit tangannya menyambar. Ia mengincar ke sebelah kanan. Borchu memanah pula. ia berdiri di atas kudanya. ia mendekam akan aksih lewat anak panah itu. ia pun larikan kudanya ke lain arah. ia memanah lagi pula. Ia terus memanah. untuk duduk pula atas kudanya! ―Bagus!‖ Borchu memuji lawannya itu.Pendekar Pemanah Rajawali hendak membalas budi dengan membagi kudanya. hingga anak panah itu jatuh ke tanah. yang suruh orang serahkan kudanya. Ia selamat. ia hanya bawa tubuhnya turun dari bebokong kuda. dia berkata pada Temuchin: ―Aku telah terkurung olehmu. kesempatan ini dipakai untuk membalas menyerang. Borchu lantas bersiap. seekor juga aku tidak menginginkannya!‖ Sejak itu keduanya bekerjasama. Ia tidak cuma menolong diri. Temuchin tahu kegagahannya Borchu. ―Kau naik atas kudaku. Borchu menjawab: ―Aku keluarkan tenaga untuk sahabatku. Ia tanya sahabatnya itu menghendaki berapa ekor. dengan enjot diri. ―Sungguh dia beruntung!‖ kata Ogotai. Kali ini Jebe kaget. tak usah anak panahnya!‖ ―Kau tak pakai anak panah?!‖ tanya Borchu gusar. Dengan tangan kiri mencekal gendewa dan tangan kanan memegang naka panah. lagi dua kali ia memanah dengan saling susul. Tapi ia panah anak panahnya Borchu. ia serahkan panahnya sendiri. sampai Temuchin berhasil mengangkat dirinya. aku pun dapat membunuh kau!‖ Tentara Mongol menjadi berisik. Jebe berkelit. hingga bersama Chila‘un ia menjadi empat di antara menteri besar dan berjasa dari Jenghiz Khan (nama Temuchin setelah ia menaklukan bangsa-bangsa yang lain). sekarang kau beri ketika untuk aku adu panah dengannya. beruntun tiga kali. Jebe lihat kuda lawan gesit. Temuchin dan semua orangnya bersorak memuji. ―Dengan sebuah gendewa saja. tubuhnya meroyot hampir mengenao tanah. dia tidak berani memandang enteng. Mulanya ia cuma mengancam. tak dapat aku layani dia cara seimbang. habis mana ia angkat tubuhnya. kau pakai panahku. ia menyambok dengan gendewanya. untuk papaki anak panah lawan. selagi kuda itu lari. Kemudian ia larikan kudanya. Borchu perlihatkan kepandaiannya. Maka kedua anak panah itu saling bentrok lalu mental. Ia jepit perut kudanya akan bikin kuda itu lari. ―Kau kasihkan kudamu pada Jebe!‖ Temuchin berkata pada Ogotai. Ketika ia diserang pula. lalu ―Ser!‖ maka sebuah anak panah menyambar ke arah Jebe. aku bukannya seorang yang tak tahu diri. ―Binatang ini sangat sombong!‖ seru mereka.‖ katanya. Tidak lagi ia mendekam. Borchu tetap menjadi sahabatnya dengan berbareng menjadi panglimanya. Jebe lihat anak panah datang. Borchu tahu Jebe memang lihay. ia cenderungkan tubuh ke bawah untuk jemput tiga anak panah yang tergeletak di tanah. ―Tidak salah!‖ sahut Jebe. mengarah perut Borchu. Inilah ia tidak sangka. Ia pun lompat turun dari kudanya. Cepat sekali ia membalas memanah. Dilain pihak. satu kali. putranya yang ketiga. dia lompat ke atas kudanya Temuchin. tahu akan tugasnya.

melihat serangan datang. Jebe pun berkelit tak hentinya. Dalam kagetnya ia putar kudanya untuk balik. Lantas ia memanah pula beruntun beberapa kali. aku harus mendapatkan hukumanku!‖ Ia cabut anak panah di pundaknya. ―Aku hendak menukarnya dengan jiwa anak ini!‖ katanya. Kehilangan senjatanya. ia lindungi diri di perut kudanya. Sementara itu serdadunya Borchu sudah hanturkan beberapa puluh batang anak panah kepala kepala perangnya itu. terus-menerus... ia lompat berkelit ke kiri. Selagi mata orang banyak seperti di bikin kabur. ―Jikalau kau benar ada punya kepandaian. ―Baiklah!‖ kata Borchu.. itu cuma menyebabkan Borchu merasa sakit pada bebokongnya. hendak ia memanah lebih jauh. Kudanya Borchu sangat lihay. satu jiwa tukar dengan satu jiwa!‖ Temuchin kaget dan berkhawatir menampak Borchu kena terpanah. Borchu menjadi girang sekali. Tapi anak panah datang demikian cepat. jiwanya ditukar dengan jiwamu!‖ ia mengatakannya pada Borchu. Anak panah itu tidak ada ujungnya yang tajam! Jebe telah singkirkan itu. ia mendahului membalas menyerang. Kali ini ia kena hajar gendewanya Jebe. Segera ia ketahui sebabnya ia tidak terluka. kau panah mati padaku!‖ Jebe menjawab: ―Biasanya Jebe tidak pernah mengasih ampun pada musuhnya! Panahku barusan berarti. anak panah itu jatuh ke tanah! Dengan keheranan. terguling ke tanah. hingga ia merasakan sangat sakit. anak panah yang diberikan oleh Temuchin kepadanya. hingga akhirnya pundaknya yang kiri kena juga terpanah. rubuhlah binatang itu! Borchu turut rubuh. dengan saling susul. walaupun sambaran anak panah itu keras sekali. Tanpa merasa. yang anak panahnya ada batasnya. ia membalas menyerang. dia tidak. Irawan D Soedradjat Page 79 . Jebe kasih kudanya lari berputaran. dengan begini mana bisa aku membalaskan sakit hatinya Khan yang terbesar?‖ Ia menjadi bergelisah. Semua penonton bersorak. sekarang kita seri. ―Bukannya untuk ditukar dengan jiwaku!‖ Jebe berseru. ia pungut anak panah itu. Jebe lihat serangan berbahaya. anak panah yang berdarah itu ia pasang di gendewanya. Ia panah bebokong musuh itu. Kapan ia dengar perkataan Jebe itu. ―Aku minta Khan yang mulia jangan ganggu itu anak. tanpa tanda dari penunggangnya. Tentang aku sendiri. ujung panah tidak menancap. kemudian mendapatkan orang tidak terbinasa atau terluka parah. tiba-tiba ia menjadi terkejut. Ia khawatir ia nanti dipanah terus. Tentara Mongol bertempik sorak. ia telah gunai habis semua anak panahnya. Tapi Jebe lihay. dan tepat mengenai. Jebe telah lihat tegas musuhnya itu. ―Siapa menghendaki kamu jual kebaikanmu!‖ teriak Borchu. Semua penonton kaget. maka tidak ampun lagi.Pendekar Pemanah Rajawali Borchu menjadi berpikir: ―Aku ada punya anak panah. ia gunai ketikanya. yang berdiri di depan pintu. untuk rampas jiwa orang. Jadi terang. kamu jangan adu panah pula! Biar. Hanya aneh. sambil bersembunyi. ia talangi Borchu menyahut: ―Baik! Sudah. Sebenarnya ia biasa berbekal banyak anak panah. Maka ia lantas merogoh ke kantung panahnya. kali ini ia pakai kantong panah Temuchin. Jebe hendak mengasih ampun padanya. Jebe menunjuk kepada Kwee Ceng. ia menjadi girang. ―Apa!‖ Temuchin menegaskan. ia pungut anak panah di tanah.‖ sepasang alisnya bangkit bangun. ―Aku telah panah kepada Khan yang mulia. Tapi ia belum puas. untuk memberi semangat kepada Borchu. hingga gendewa itu panah menjadi dua potong. incarannya luar biasa. mereka menjerit. ―Mari kita mengadu pula!‖ Ia lantas memanah pula. anak panahnya justru mengenai batok kepalanya kuda. sambil turunkan tubuhnya.

‖ ia mengeluh dalam hatinya. kalau kita membnatu tetamu kita. aku boleh kasihkan itu kepada siapa aku suka!‖ katanya. Maka ketika ia memanah. ia berkata: ―Kha Khan. aku rela. anak panah lewat menyempret di pinggiran tenggorokkannya. Borchu siapkan pula anak panahnya. ia beristirahat. Sambil rebahkan diri di atas rumput. untuk dibawa bersama. maka ia lompat turun dari kudanya untuk terus bertekuk lutut. Maka kesudahannya. Kwee Ceng pun dapat berlatih ilmu perang. Temuchin tertawa berbahak-bahak. Ia merasa sakit dan kaget. hendak aku berikan emas ini kepada itu bocah. ia menjadi kagum sekali. Irawan D Soedradjat Page 80 . kau boleh berikan kepada siapa kau suka!‖ Jebe angsurkan emas itu kepada Kwee Ceng. kesana aku pergi! Temuchin menjadi sangat girang. sekarang mendengar perkataan orang. walaupun ia incar tenggorokkan. Bocah itu menggoyangi kepala. akan tuturkan kejadian barusan. ia ajak putranya ikut Jebe kepada Temuchin. ―Habislah aku hari ini…. Beberapa serdadu angkat naik bangkai kuda putihnya ke bebokong dua kuda lainnya. apakah kau masih tetap tidak mau menyerah?!‖ ia tanya panglima musuh itu. Jebe lihat Temuchin demikian angker. Dengan hidup terus sebagai penggembala. ia lantas perdengarkan nyanyiannya: Khan yang terbesar mengampunkan selembar jiwaku. ―Eh. Jebe gagal mengelakkan diri. yang sepotong ia berikan kepada Borchu. kalau ia turut Temuchin.‖ katanya. Tapi ia terus menambahkan. sambil mendekam. ―Emas adalah kepunyaanmu. tetapi ketika ia menoleh kepada Temuchin. Ia ambil dua potong emas. Ia lolos dari kematian dan mendapati tuan yang bijaksana. tidak tahu sampai kapan Kwee Ceng dapat membalas dendamnya. mengikuti di sebelah belakang. Jebe menghanturkan terima kasih. akan aku tunjang Khan yang maha besar! Aku akan menghajar musuh. Ia menjadi si orang gagah yang menyayangi sesama orang gagah. untuk ambil hatinya! Ke mana aku diperintah pergi. Akan aku memotong Sungai hitam menggempur batu gunung. rasa sukanya menjadi bertambah-tambah. ―Sebentar kau bawalah bocah ini kepadaku!‖ katanya kepada Jebe. darahnya lantas mengucur dengan keluar. berilah ampun kepadanya!‖ Temuchin pun menyayangi Jebe. Ia percaya. ―Selanjutnya kau ikutlah aku!‖ Orang Mongol polos dan sangat gemar bernyanyi. Lantas ia ajak pasukan perangnya balik ke arah darimana tadi ia datang.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia satu laki-laki sejati!‖ Borchu sebaliknya berpikir. bolehkah?‖ Temuchin tertawa. ―Khan yang mulia. ―Kalau emas itu adalah emasku. ―Ibu bilang. Temuchin telah sukai bocah ini. tak ingin ia mengambil jiwa orang. jangan kita termahai uangnya. Lie Peng lantas berpikir. ibunya bocah itu. tak mau ia menerimanya. Di dalam pasukan perang. mungkin ketikanya akan lebih baik. Jebe menjadi girang sekali. ia menggeser sedikit. demikian Jebe. yang sepotongnya pula kepada Jebe. di belakang hari walaupun mesti menyerbu api berkobar-kobar. Ia tunggu pulangnya Lie Peng. ―Bagus! Bagus!‖ katanya.

Lewat beberapa tahun setelah itu. kecuali napasnya kuda. Jebe mencari Borchu untuk menghanturkan terima kasih. Mereka itu terlatih sempurna. sedang empat laksa serdadu lainnya mengatur diri dengan rapi untuk menanti. Pedang Mustika Girang Temuchin melihat kedatangan Jebe. dari itu hebat penyerangan mereka. karena keduanya saling menghormati dan menghargai. tinggal lihat gelagat saja untuk mewujudkan politik itu. *** Pada suatu hari selagi Kwee Ceng memain timpuk-timpukan batu bersama beberapa kawannya anak-anak Mongol di depan markas Temuchin. Beberapa tahun yang lalu Wanyen Yung Chi telag diutus menganugrahkan pangkat kepada Wang Khan dan Temuchin. kemudian lagi sepuluh eskadron. lantas saja mereka menjdia sahabat kental. Temuchin muncul dari dalam kemah. Ia telah pikir. kaki kuda mereka berbunyi tak hentinya.Pendekar Pemanah Rajawali Bab 8. Belum lagi pasukan perang itu datang dekat. ia khawatir Temuchin itu menjadi bahaya untuknya di bagian utara. komponi yang dikepalai oleh datu opsir disebut siphu-thio. terdiri dari seratus jiwa dipimpin oleh satu pekhu-thio. yang nampak adalah satu angkatan perang besar yang terdiri dari lima pasukan dari setiap sepuluh ribu jiwa. dikepalai satu cianhu-thio. Tatkala itu bangsa Kim telah menduduki Tiongkok Utara. kepala komponi yang memimpin sepuluh serdadu. hingga tampaknya jadi angker sekali. ia dapat lihat mendatanginya dari kejauhan dua penunggang kuda yang larikan binatangnya tunggangannya dengan kencang sekali. dan sepuluh resimen. ia perlakukan itu bocah dan ibunya dengan baik. Irawan D Soedradjat Page 81 . Yangkhia. Kwee ceng bersama kawan-kawannya berdiri menonton. yang ia tahu cerdik. atau satu resimen. setelah terompet yang pertama. raja Kim dengar Temuchin jadi semakin kuat. Yang pertama ialah sepuluh jiwa serdadu menjadi satu barisan kecil. tubuh setiap serdadu bergoyang-goyang. semua serdadu sudah siap dengan senjata mereka dan naik kuda. Keras disiplin tentaranya Temuchin yang mengatir barisannya dalam empat rombongan. maka sekarang dia utus putranya itu dengan dibantu Wanyen Lieh. Jebe ingat budinya Kwee Ceng. Ia menempatkan orang gagah itu dibawah Ogotai. kalau ada titah dari Temuchin. ―Begitulah negeri Kim itu sudah utus putranya yang ketiga bersama putranya yang keenam datang kemari untuk menganugrahkan pangkat kepada Kha Khan kamu!‖ Dengan angkat tinggi golok mereka. ―Kita telah kalahkan banyak musuh. sebaliknya bangsa Mongol adalah suatu suku kecil di tanah datar atau padang pasir. Kedua saudara itu membawa selaksa serdadu pilihan. dipimpin oleh satu banhu-thio. Ia menduga kepada berita penting yang mesti disampaikan kepada Khan yang terbesar itu. Kwee Ceng dan kawan-kawannya terus tinggal menonton. putranya yang ketiga yang menjadi satu siphu-thio. senjatanya tombak panjang. tentara Mongol bersorak. yaitu wanyen Yung Chi dan Wanyen Lieh. Begitu terdengar terompet yang ketiga kali. lalu sepuluh komponi. tandanya Juji telah dapat memapak dan menyambut utusan bangsa Kim itu. menyusul mana dari pelbagai tangsi terlihat munculnya orang-orang peperangan. Mereka lihat. sunyi senyap semuanya. setelah terompet yang kedua. Tidak lama sejak masuknya dua orang itu ke dalam markas. merupakan sebagai satu badan. Borchu menyambut dengan baik.‖ berkata ini pemimpin besar. lebih dulu sudah terdengar suara beradunya pakaian baja mereka. maka itu Temuchin anggap adalah suatu kehormatan yang ia dianugrahkan pangkat oleh kerajaan Kim itu. tentara musuh yang dikalahkan sudah menyerbu dan membikin bubarnya pasukan pengiringnya Wanyen Yung Chi. atau satu eskadron. yang berseragam lapis baja. sampai mereka nampak debu mengepul naik. kudanya tinggi dan besar. hingga Yung Chi mesti lari pulang ke Chungtu. setelah Kwee Ceng tambah umurnya akan ia wariskan ilmu panah dan ilmu silat kepadanya. negeri Kim pun telah tahu itu. Juji si putra pertama maju bersama selaksa serdadunya untuk sambut utusan Kim. Ia ingin Temuchin dapat dipengaruhi dengan keangkerannya atau dengan cara halus. Dengan diiringi putra-putranya. Dengan satu titah dari ayahnya. kebetulan Temuchin lagi berperang. mereka menjadi bersatu. atau satu devisi. putranya yang keenam. Setelah menemui tiga putra Temuchin. pengaruhnya tersiar luas dan jauh. lalu terdengar ramai suara terompet.

perbuatan Yung Chi ini justru perbuatan yang memandang enteng. Kwee Ceng ketolongan tetapi ia telah bermandikan keringat dingin. mereka tidak memperdulikannya. maka ia mendelik kepada bocah itu. akan tetapi memandang Kwee Ceng. dengan itu ia hendak menimpuk kepada bocah she Kwee itu. dan kedua itulah sebagai pelesiran. ramai-ramai kamu merebutnya! Hayo rebut. ―Bocah haram jadah!‖ ia mencaci dengan perlahan. ―Shako. demikian menampak perbuatan Yung Chi itu. setan-setan cilik!‖ Mendengar itu semua orang Mongol berubah air mukanya. ia tetap panas hatinya. adat kebiasaan mereka masih ―kasar‖. ia toh malu bukan main. walaupun masih kecil. dari Temuchin sampai pada semua bawahannya pada merasa puas ―Setan cilik. Temuchin bersama putra-putranya ambil tempat di samping untuk menyambut. Ia mengharap anak-anak itu nanti berebut memungutinya. ia melemparkannya kembali sekalian ia beseru: ―Hayo anak-anak. ia lari mendekati Yung Chi kepada muka siapa ia menimpuk sambil ia berseru: ―Siapa sudi mengambil emasmu yang bau!‖ Yung Chi berkelit tapi ada juga uang yang mengenai pipinya. sering ia dengar ibunya itu bercerita tentang kajahatan bangsa Kim yang di Tiongkok. Dimasa itu bangsa Mongol belum kenal mata surat. yang mana terus ia lemparkan ke arah anak-anak itu. tiba-tiba sebatang anak panah menyambar dari pasukan Mongol yang kiri. Sebaliknya pihak tetamu tidak selayaknya berlaku tidak hormat atau memandang enteng. selama berada bersama ibunya. pertama ia hendak unjuk keagungannya. Disaat Kwee Ceng menghadapi saat ajalnya. untuk meraup sejumlah uang emas. ia main bunuh orang. kenal atau tidak. mereka sangat menghormati. jangan layani dia!‖ Wanyen Lieh berkata kepada kakaknya. sedikit saja ia merasa tidak puas. Wanyen Yung Chi lihat Kwee Ceng beramai. Bangsa Mongol paling mengutamakan menghormati tetamu. Belum pernah ada yang berani menghina dia. Ia lihat gelagat jelek. Biasanya di Tiongkok. tombak itu kena terserang tepat sekali dan jatuh bersama anak panah itu. ia berkata: ―Itulah persenan untuk kalian!‖ Yung Chin tidak tinggi ilmu silatnya akan tetapi uang emas hancur itu dapat ia lempar cukup jauh. tetapi tombak sudah melayang. Sambil tertawa terus. Umpama ada tetamu mendatangi tenda mereka. Yung Chi jeri akan saksikan keangkeran tentara Mongolia itu. Ia merogoh pula sakunya untuk mengambil uang emas lainnya. Sebaliknya tentara Mongol perdengarkan gemuruh seruan memuji penyerangan panah itu. mereka polos dan pegang derajat. kau cari mampus?‖ Yung Chi membentak. perbuatan itu dipandang sebagai kejahatan paling besar. maka itu semua serdadu Mongol saling memandang satu dengan lainnya. meski ia tidak merasakan terlalu sakit. shako!‖ Wanyen Lieh mencegah. Dengan berbuat begitu. Ia mendongkol bukan main. Kwee Ceng bukan orang Mongol. bagaimana bangsa Kim itu telah bersekongkol dengan pengkhianat-pengkhianat Han untuk membinasakan Gak Hui dan lainnya. maka sekarang melihat orang Kim itu demikian kurang ajar. Temuchin bersikap tenang. tidak menghargai tuan rumah. bersama putra-putranya ia sambut kedua tetamu itu dengan menyuguhkan koumiss dan daging kambing dan kuda. Bukankah ia telah diperhina di depan orang banyak? Adalah orang Mongol sendiri. Irawan D Soedradjat Page 82 . dengan ketakutan ia mengangkat kaki. ia lantas pungut beberapa potong emas. dari mulut mereka tidak pernah keluar kata-kata kotor. tetamunya tentu disambut dan dilayani dengan baik. Yung Chi menjadi penasaran. Ia lantas rampas sebatang tombak panjang dari satu pengiringnya. Akan tetapi kesudahannya ia menjadi kecewa. ia lantas tertawa dan merogoh ke dalam sakunya.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Yung Chi datang berendeng bersama adiknya. atau tengah bergurau. dan berteriakan. tidak pernah mereka mengutuk atau mencaci. mereka dapat menghargai diri sendiri. Kalau tetamu berbuat tidak mengindahkan kehormatan diantara tuan rumah dan tetamu. ―Tahan. akan tetapi mereka biasa menaati adat istiadat. mereka suka merampas dan memperkosa wanita. menganiaya dan membunuh rakyat jelata. dan terhadap musuh. Anak-anak Mongol itu juga terdidik menghormati tetamu mereka. itu anak-anak Mongol yang dengan membuka matanya lebar-lebar mengawasi kepadanya tanpa berkedip. terutama terhadap tetapi.

ayahnya Temuchin. diawaktu angkat saudara mereka saling mengasih barang tanda mata. Wang Khan itu adalah pemimpin dari pelbagai suku di tanah datar. Itu waktu Temuchin menikah belum lama dan Juji. Maka tidak heran. Kemudian setelah keduanya dewasa. serahkan saja pangkatku kepadanya!‖ ia bilang. berdua mereka tinggal bersama-sama dengan Wang Khan.‖ berkata Temuchin. yaitu Jamukha. putranya masih belum lahir. mereka jadi berpencaran. Aku mohon sukalah sam-ongya dan liok-ongya juga menganugerahkan dia sesuatu pangkat. ia dapat rampas pulang istrinya itu adalah dengan bantuan Wang Khan dan adik angkatnya. Temuchin tidak senang dengan jawaban itu. Selagi minum.: ―Besok kami hendak pergi menganugrahkan Wang Khan. Sekarang saling mereka minum arak dari satu cawan. Irawan D Soedradjat Page 83 . Adalah kebiasaan bangsa Mongolia. musuhnya. Maka setelah angkat saudara. pangeran keenam kepada Wanyen Lieh. sang kakak tetapi tidak memperdulikannya.‖ ―Kami disini masih ada punya seorang gagah yang lain. Khan sendiri serta Wang Khan adalah orang-orang gagah perkasa. Ia adalah saudara angkat dari Yesukai. malam tidur berkerubung sehelai selimut. Adalah kemudian karena masing-masing mencari air dan rumput sendiri dan memimpin barisan sendiri-sendiri. ―Dia jujur dan berbudi tinggi. Ia berasal dari suku Kerait.‖ Erat sekali pergaulannya Temuchin dengan Jamukha. Lalu Wang Khan angkat ia jadi anak pungut.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Yung Chi membacakan firman dengan apa Temuchin diangkat menjadi Pak-kiang Ciauwtouwsu dari negeri Kim. Malam itu bangsa Mongol jamu tetamu-tetamunya yang dilayani dengan hormat dan telaten. tetapi anak-anak gunakan itu untuk main timpuk-timpukan. ―Kalau begitu tidak apa. dia pandai memimpin angkatan perang. angkatan perangnya besar dan kuat. Temuchin timbulkan usul ini. orang lain tidak ada yang dapat disamakannya. keduanya bermain timpuk-timpukan di sungai Onon. Ketika itu Jamukha memberikan Temuchin biji pie-sek yang terbuat dari tulang binatang. selalu mereka saling menyayangi. tempo mereka angkat saudara. pangkat turun temurun. Kali ini Temuchin dan Jamukha saling menghadiahkan ban emas dan kuda. liok-ongya mungkin belum pernah mendengarnya. mana kami negeri Kim yang besar dapat punyakan demikian banyak pembesar?‖ Wanyen Lieh mengedipkan mata kepada kakaknya. Girang Temuchin akan ketahui ayah angkatnya pun dianugerahkan pangkat. ―Siapakah dia?‖ ―Dialah adik angkatku. ia menyatakan suka turut. Temuchin terima pengangkatannya sambil berlutut. ia diberi minum susu dari gelas kumala dari Wang Khan.‖ jawab Wanyen Yung Chi Wanyen Lieh segera menambahkan:‖ Untuk di utara ini. Temuchin terlunta-lunta dan ia kemudian pergi ke Wang Khan untuk menumpang. Pie-sek itu adalah biji yang orang Mongol biasa pakai untuk menimpuk kelinci. Ketika dahulu hari Yesukai mati diracuni musuhnya. Temuchin baru berumur sebelas tahun. untuk dia selamanya menjadi seperti alingan di utara dari negeri Kim itu. Ia membasakan ―liok-ongya‖.‖ jawab Temuchin. tetapi hubungan mereka masih tetap kekal. setipa pagi mereka berlomba bangun pagi. dan Temuchin membalas dengan biji pie-sek yang terbuat dari tembaga. Lagi sekali mereka mengangkat suadara. Wanyen Yung Chi berkata. yang airnya telah membeku menjadi es. ia pun disebut Togrul Khan. tempo istrinya Temuchin dirampas orang. ia menyambuti firman dan pelat emas itu. Wanyen Yung Chi telah minum hingga separuh mabuk. siapa yang menang. Ditahun kedua. Jamukha hadiahkan kepada Temuchin kepala panah yang terbuat dari tulang mata kerbau dan Temuchin sebaliknya menghadiahkan kepala panah yang terbuat dari kau pek. Kemudian tempo istrinya Temuchin dirampas bangsa Merkit. kalau semuanya diberi pangkat. apakah Ciauwtouwsu suka turut pergi bersama?‖ Temuchin senang dengan ajakan itu. Inilah untuk ketiga kalinya mereka angkat saudara. ―Tidak ada lagi. tanpa pikir ia langsung menjawab: ―Bangsa Mongolia berjumlah banyak. Wang Khan dan Jamukha bekerja sama membantu merampasnya pulang. ―Apakah benar?‖ Wanyen Lieh berkata dengan cepat. Jamukha. selagi main panah-panahan dengan panah kecil yang terbuat dari kayu. Demikian ingat saudara angkatnya itu. ―Siapakah lagi yang dianugerahkan negara Kim yang besar?‖ ia tanya.

Irawan D Soedradjat Page 84 . Tadinya Temchin gentar menyaksikan roman gagah tentara Kim itu. tetapi Tuli sendiri tidak kelihatan orangnya. hatinya menjadi tergerak.Pendekar Pemanah Rajawali Yung Chi tepuk pahanya. untuk mengantari Wangyen Yung Chi dan Wanyen Lieh pergi menganugrahkan pangkat kepada Wang Khan. Akan tetapi itu waktu. kau menghadiahkan apa padanya?‖ ia tanya denagn sabar. Ia tersenyum. ―Dia biasanya tidak berani bangun sampai siang. Temuchin lihat kalung emas yang biasa dipakai oleh putra itu. berulang kali ia kasih dengar suara di hidung. Orang mesti lagi menanti setangah jam barulah Wanyen Yung Chi dan saudaranya selesai dandan dan keluar dari kemahnya. Semua orang menjadi cemas hatinya. yang khawatir pemimpin itu gusari putranya. ia tampak kudanya Tuli. pagi Temuchin berangkat dengan ajak keempat putranya serta lima ribu serdadunya.‖ Ketika itu ia menoleh. Tuli itu putra yang keempat.‖ sahut Tuli. ―Pandanganmu sering cocok dengan pandanganku. ―Selanjutnya kamu berdua mesti saling mencintai dan saling menyayangi serta saling membantu!‖ Tuli bersama Kwee Ceng menyahuti menerima pesan itu. masih kecil. Mereka ialah Tuli bersama Kwee Ceng. ―Baik. tempo masih sangat muda mereka juga telah mengangkat saudara. ―Dan dia menghadiahkan ini padaku. akan tetapi dalam hal mendidik anak atau melatih tentara. di sana kelihatan dua bocah berlari-lari mendatangi sambil berpegangan tangan. sama-sama mereka naiki kuda mereka. ―Ini!‖ Kwee Ceng mendahulukan menyahut seraya ia tunjuk lehernya. Wanyen Lieh pun lantas menyelak dengan ia berbicara sambil tertawa. untuk simpangkan soal. tentara Kim masih tidur nyenyak di kemahnya. ia menajdi tenang. Temuchin girang sekali dengan jawaban itu. ―Mana Tuli?!‖ ia tanya dengan gusar. Temuchin pakai aturan keras. ia berseru: ―Apakah kau pandang enteng pangkat yang diberikan kerajaan Kim yang besar?!‖ Temuchin tahu diri. tetapi sekarang menyaksikan doyannya tidur mereka. mentereng seragam dan alat senjatanya. Tapi baru ia hendak putar kudanya. ―Ayah!‖ panggil Tuli kapan ia tiba di depan ayahnya itu. ia tutup mulutnya. nanti aku tengok. ―Kema kau pergi?!‖ tanya Temuchin.‖ ia bilang. kita hanya lima puluh laksa. ―Anda‖ itu kata-kata Mongol. Di hari kedua. ―Barusan aku membuat anda bersama saudar Kwee di tepi sungai. ―Katanya negeri Kim ada punya dua juta serdadu. Temuchin segera ingat halnya sendiri bersama Jamukha. yang menjadi gurunya Tuli. Matahari telah memancarkan cahaya ketika Temuchin telah berada di atas kudanya dan lima ribu serdadunya telah siap dengan rapi. Tuli ulapkan tangannya yang mencekal sepotong handuk merah yang tersulam bunga-bungaan indah. besar-besar kuda tunggangannya. maka itu tak senang ia tidak melihat anaknya itu.‖ katanya. ialah handuk buatan Lie Peng untuk putranya.‖ berkata Boroul. kau juga turut kami!‖ Tuli dan Kwee Ceng girang sekali. ―Sekarang semua naik kuda!‖ Temuchin lalu memerintah. ―Kwee Ceng. ―Kau sendiri. Pada Mukhali ia tanya: ―Bagaimana pandanganmu terhadap tentara Kim itu?‖ ―Seribu serdau kita dapat lawan lima ribu serdadu mereka!‖ sahut Mukhali. Sambil mengatakan demikian.‖ Membuat ―anda‖ itu berarti mengangkat sudara.

―Lekas suruh tentara kita maju! Ini orang-orang Mongol tidak ada gunanya!‖ ―Biarlah mereka yang bertempur lebih dulu. Tentara terdepan dari pihak Mongol sebaliknya telah mundur kepada barisan mereka. apakah hari ini kita mesti lepaskan saja pada mereka?‖ Temuchin melihat sekitarnya. barulah mereka dipapak oleh wakilnya Wang Khan. atas mana tentara Mongolia menyambut dengan seruan perang mereka berulangkali. ―Adik.‖ Wanyen Lieh membisiki kakaknya. Mukhali larikan kudanya ke depan. Karena hal ini. lagi kira setengah jam barulah tentara Kim itu siap berangkat. lari balik dengan laporannya bahwa di sebelah depan ada menghalang tentaranya bangsa Naiman yang berjumlah tiga puluh ribu jiwa. Wanyen Lieh lihat Jamukha bertubuh jangkung kurus.‖ sahut di juru warta. ―Bangsa Naiman itu sering merampas binatang piaraan kita. wajahnya berubah. ―Pergilah kau tanya mereka!‖ ia perintahkan Mukhali. yang mengutus putranya. habis mana dengan perlahan-lahan juga ia naik ke atas kudanya. disusul sama dua kali cambukan ke udara dari cambuknya.‖ Wanyen Yung Chi teriaki saudaranya. Wanyen Lieh sebaliknya segera mengatur pasukan perangnya. ―Jumlahnya mereka agaknya lebih banyak dari jumlah kita…‖ kata Yung Chi tidak lancar. Jalan lagi satu hari. ia telah lantas dapat memikirkannya. dia tidak mirip dengan seorang yang dibesarkan di gurun pasir. Justru itu dua serdadunya Temuchin yang bertugas jalan dimuka sekali. ―Biarlah kedua putra raja Kim yang besar ini melihat sepak terjang kita!‖ Ia pun lantas bersiul nyaring satu kali. akan tetapi sepasang matanya sangat tajam dan berpengaruh. Kapan Temuchin dengar Jamukha ada bersama Sangum. Mendengar itu barulah Yung Chi sadar dan manggut-manggut. mereka sangat suka mengganggu. Irawan D Soedradjat Page 85 . Berselang tidak lama. Dengan membawa sepuluh pengiring. ia lantas maju ke depan. Maka itu. maka keduanya lantas berpelukan.Pendekar Pemanah Rajawali Wanyen Lieh lihat tentaranya Mongolia demikian rapi. ―Saudara. ia lantas perintahkan tentaranya lekas siap. ―Hendak apakah mereka itu?‖ dia tanya. Wanyen Yung Chi sebaliknya tunjuki tingkah polahnya satu putra raja. apabila mereka tidak diberi anugerah. dan musuh segera mulai tampak. mereka juga menghendaki anugerah itu. hatinya goncang.‖ Wanyen Yung Chi menjadi kaget. untuk bersiap sedia. Segera terlihat debu mengepul di sebelah depan. Wanyen Yung Chi terkejut. rombongan ini sudah mendekati tempat kediaman Wang Khan. Pasukan perang itu menuju ke utara. Sangum adalah berkulit putih.‖ katanya. Mukhali telah kembali dengan laporannya: ―Bangsa Naiman mendengar putra raja kerajaan Kim datang menganugrahkan Khan kami yang terbesar. tanda dari hidup senang dan dimanjakan. Temuchin tidak beri kesempatan untuk orang bicara lebih banyak. tetapi ia mencoba mengendalikan diri. mereka terperanjat. Hbais itu semua putra Temuchin menemui dan mengasih hormat kepada paman angkatnya itu. ―Kakak. kumis kuningnya jarang. Dua saudara Wanyen tidak menyangka mendengar itu dan dan menyaksikan sikap orang.‖ berkata Mukhali kepada Temuchin. akan temui saudara angkatnya itu. Dilain pihak. sesudah jalan enam hari. Sangum bersama Jamukha. denagn ayal-ayalan ia minum araknya dan dahar kue. Mereka bilang. ―Kelihatannya mereka hendak menyerang. menandakan ketangkasannya. tubuhnya gemuk. mereka hendak tangkap dan tahan kedua putra raja Kim. pasukan ini jadi tertunda keberangkatannya.

musuh lantas lari serabutan. semuanya jatuh di hadapan mereka itu. Dalam tempo yang pendek. walaupun demikian. tentara mereka mengikuti untuk turut ambil kedudukan bagus itu. Temuchin dari tempat yang tinggi menyaksikan penyerangan pihaknya itu. musuh terbinasa dan luka seribu lebih. Ia mendekam di bebokong kudanya. tertawan dua ribu lebih. Yung berkhawatir pula. ia ingin membuat jasa. penyerangan panah dilanjuti. Mau tidak mau. Kau lihat bagaimana kami nanti menghajar musuh!‖ Tuli mengangguk. Ia khawatir tentara Naiman nanti keburu mendahulukan menyerbu kepada mareka. kematian dan luka Cuma seratus lebih. Kejadian ini membingungkan pasukan yang berada di sebelah depan. Karena ini adalah penyerangan dari jauh. Sebagi kesudahan pertempuran. yang sebagian untuk Irawan D Soedradjat Page 86 . mereka tetap berteriak-teriak saja. hanya sesudah musuh tinggal kira-kira dua ribu jiwa lebih. masing-masing dipimpin Temuchin sendiri berdua dengan Jamukha. mereka kepraki kuda mereka untuk menerjang. benda tebal itu dipasang di depan mereka dengan diri mereka teraling. Wanyen Yung Chi dapat lihat wajah tentara Naiman itu sangat bengis. Selagi kepala perang Naiman bersangsi. baru ia memegat. Jarak di antara kedua pihak masih cukup jauh. sambil mengertak gigi. Tentara Kim menurut titah. lantas ia berikan titahnya: ―Jelmi. Kepala perang Naiman rupanya melihat kedudukannya tak selayaknya. ―Taruh kata kamu berterika-teriak hingga langit bergerak bumi bergoyang. guna menduduki tempat yang bagus. mereka turun dari kuda mereka dan menyerah. ia telad tentaranya ialah berkoak-koak dengan seruan peperangan. Di pihak Mongolia. jumlah mereka dua ribu lebih dipecah empat yang sebagian diserahkan kepada dua saudara Wanyen. Jamukha bersama Sangum menyerang dari kiri dan kanan. tentara musuh sudah datang dekat beberapa ratus tindak. Sesudah itu. jangan kau ketinggalan. Atas ini. mereka lantas menyerang tentara Naiman. Jebe dengan tombak panjang di tangan. Hampir semua panah mereka yang gagal. merka menggunai anak panah. suaranya nyaring. barisan belakang Naiman menjadi kalu. dengan membawa goloknya yang besar. pergi kau serbu bagian belakangnya!‖ Jelmi menerima titah itu. Itu waktu Boroul berada di samping kiri. ia berkata kepada Tuli: ―Pangeran kecil. karena orang datang semakin dekat. ia memimpin untuk mencoba merampas kedudukan itu. mereka lantas menghujani anak panah. Sekali ini serempak berhentilah seruan-seruan peperangan tentara Mongol itu. Wanyen Lieh menjadi heran. anak panahnya tentara Kim ini tidak sampai kepada musuh. Dalam tempo yang cepat sekali. Jelmi tidak merintangi musuh lari terus. ia pergi dengan seribu serdadunya. apakah dengan begitu dapat tentara musuh dibikin mundur?‖ berkata Yung Chi. tentara Mongol tetap tidak bergerak. maju di paling muka. Sebagai orang baru.Pendekar Pemanah Rajawali Tentara Mongol masih perdengarkan suara mereka yang nyaring tetapi mereka tidak bergeming. Siwaktu itu. Hanya sementara itu. yang sebaliknya lalu membagi diri dalam dua sayap. yang membuat musuh kacau. Tentara Mongol membuat tembok bentengan yang terdiri dari semacam permadani. cambuknya Temuchin mengalun pula di tengah udara. Siasatnya ini memberi hasil. keduanya ini lantas lari ke tanah tinggi di samping mereka. kau turut aku. dari tempat yang lebih tinggi. untuk kembali ke jalan darimana tadi mereka datang. Temuchin titahkan loloskan seragam tentara Naiman itu. ia biarkan mereka dihajar oleh kawan-kawannya. ―Lepas panah!‖ ia mengasih titah. Ia ambil jalan memotong. yang sebagian untuk Wang Khan. Musuh menjadi kecil nyalinya. Bersama-sama Kwee Ceng.

Baru sekarang Wanyen Yung Chi sadar atas caranya bangsa Mongol itu berperang. Untuk serdadu-serdadunya yang terbinasa. banyak suka lainnya yang takluk padanya. itu artinya negaraku tak aman lagi…‖ Oleh karena ini. yang Cuma rangkap kedua tangannya dari atas kuda. malam itu Wang Khan jamu tetamunya. maka kami bangsa Kim di Utara dapat merasai aman sentosa.‖ berkata Wang Khan sambil tertawa seraya menunjuk ke arah Temuchin dan Jamukha. ―Jikalau aku telah menutup mata nanti.‖ ―Dua anak angkatku ini adalah orang-orang gagah perkasa bangsa Mongol. di depan kuda dua saudara ini. ia menjadi berpikir keras. ―Bagus!‖ berseru Wanyen Yung Chi. ―Putramu terlebih gagah lagi. Itu waktu terlihat pula debu mengepul jauh di sebelah depan. saban-saban ia cegluk arakanya dari cawannya yang besar. Setelah selesai upacara penganugerahan. ―Dia mana dapat dibandingkan dengan kedua anak angkatku? Irawan D Soedradjat Page 87 . ia lihat ketidakpuasaan orang. Syukur ketiga anak-anakku telah dapat membinasakan mereka!‖ Lantas dengan hormat sekali. Wanyen Lieh berpikir apabila ia dapatkan di dalam segala hal Wang Khan ada lebih unggul dari Temuchin. dan tentaranya kuat.‖ berkata Wang Khan. Dengan jumlah yang lebih kecil. ia memberi keluarganya lima ekor kuda serta empat tawanan Naiman sebagai budak.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha san yang sisanya untuk dirinya sendiri. kepada Khan itu.‖ ia berpikir. Dia mengenakan jubah hitam dari kulit binatang tiauw dengan pinggang dilibat ikat pinggang emas. ―Dengan orang Mongol saling bunuh. Sangum tidak puas mendengar perkataan ayahnya itu. Wanyen Lieh awas matanya. Wanyen Lieh berkata: ―Aku ingin menyaksikan orang-orang gagah perkasa bangsa Mongolia. untuk mengendalikan diri. untuk berjalan kaki menemui dua saudara Wanyen. Ia menyuguhkan nyanyian dan tari-tarian oleh budak-budak wanitanya. ―Oleh karena khawatir kedua pangeran kaget maka hamba datang bersama tentaraku ini. Nampaknya ia keren sekali.‖ berkata Wang Khan sambil tertawa. Wanyen Lieh sebaliknya gentar hatinya. Ia menginsyafi ancaman bahaya dari pihak ini. Ramai sekali pesta itu. sudah sewajarnya dialah yang nanti menggantikan aku memimpin suku kita. guna membalas menghormat. Wang Khan undung kedua utusan Kim itu datang ke tendanya. ―Hajar pula padanya!‖ Akan tetapi juru warta Mongol datang dengan wartanya: ―Wang Khan sendiri datang dengan pasukan perangnya!‖ Mendengar itu Temuchin bersama Jamukha dan Sangum lantas pergi menyambut. ia menjalankan kehormatan. yang tubuhnya gemuk. kumis dan jenggotnya telah putih bagaikan perak.. Tidak heran kalau Khan ini menjagoi di Utara. ―Kenapa loo-enghiong tidak menyebut-nyebut dia?‖ Sengaja pangeran Kim ini memanggil loo-enghiong. Tengah berpesta. terus ia tuntun Temuchin dan Jamukha di tangan kiri dan kanannya. dengan gembira ia rundingkan itu. Itulah tanda dari datangnya lagi satu pasukan perang.‖ ia puji putra Khan itu. Tidak demikian dengan Wanyen Yung Chi. Wanyen Lieh memasang mata kepada Wang Khan. ―Kalau Temuchin dan Jamukha bisa persatukan pelbagai suku bangsa Mongol itu. Segera Wanyen Lieh turun dari kudanya. ―Hamba dengar bangsa Naiman hendak berbuat kurang ajar. Wang Khan tiba untuk lantas lompatb turun dari kudanya. pendekar tua. Temuchin dan Jamukha telah kalahkan musuhnya yang lebih besar jumlahnya.

Anakku? Ah…. air mukanya Sangum berubah. yaitu Borchu. Ia hanya menghirup araknya. ia tidak menjawab.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha pandai dan cerdik. Dan yang keempat ada seorang yang dengan seluruh lengannya bercacat bekas bacokan golok. segera setelah itu empat perwira masuk ke dalam tenda. tiba-tiba Sangum berseru: ―Kau cuma kepala komponi yang rendah pangkatnya. kasih aku yang minum!‖ Ia ambil cawan itu dari tangannya punggawanya itu. ia haturkan secawan arak pada masing-masingnya. untuk itu adalah ayah angkatku dan saudara angkatku yang membantu aku merampas pulang. terus ia bertindak keluar. ―Coba suruh dia masuk kemari untuk minum satu cangkir. ia berkata pula: ―Tadi di medan perang. ia bertindak terus seraya angkat kepalanya. mencegah orang minum arak adalah satu penghinaan besar. ia menghanturkan terima kasih.‖ ―Bagaimana dengan empat panglimamu yang kesohor gagah itu?‖ Wanyen Lieh tanya. Merekalah orang-orang peperangan yang berjasa membangun negara Mongolia yang Temuchin sendiri menyebutnya empat panglima gagah. Diberikan arak. ialah sahabatnya Temuchin. Temuchin meluluskan. Menurut kebiasaan bangsa Mongol. Maka itu Temuchin berpikir: ―Dengan memandang ayah angkat. Ia lantas berhati-hati sendirinya. Dengan mata bengis Jebe awasi Sangum. ia adalah Boroul. Dialah Mukhali yang pandai mengatur tentara.‖ ―Suruhlah mereka masuk kemari!‖ Wang Khan berkata pula pada Temuchin. biar aku kasih dia ampun. Yang pertama adalah satu orang yang romannya lemah lembut. ia lantas tenggak isinya. ia lantas mengawasi Temuchin. Orang gagah yang mana yang tidak bakal menjual jiwanya untuk Temuchin?‖ ―Apakah sebawahan loo-engjiong tak dapat melawan dia?‖ Wanyen Lieh tanya. ―Pernah bangsa Naiman rampas beberapa laksa binatang ternakku. Ketika ia hendak hirup araknya itu.‖ Temuchin menjawab. Irawan D Soedradjat Page 88 . Dialah Chi‘laun yang dulu hari pernah tolongi Temuchin dari ancaman malapetaka. Jebe sudah lantas muncul. Jebe tidak ambil peduli. Habis orang minum.‖ Wanyen Lieh puji mereka itu satu persatu. ―Istriku dirampas orang. ―Apakah kegunaanku?‖ Temuchin lekas berkata. Temuchin lirik putra raja Kim ini.‖ Wanyen Lieh minta.‖ ―Mari cawan itu! Aku berdahaga. ―Kau kembali!‖ Sangum memanggil dengan membentak. cara bagaimana kau beri minum dari cawan emasku?!‖ Jebe kaget berbareng murka. ia letaki cangkir araknya dengan separuh dibanting. den Temuchin gagah tak tertandingkan. ―Syukur Temuchin kirim empat panglimanya untuk membantu aku. Kata-kata orang ada mengandung pancingan atau unsur merenggangkan.‖ Mendengar itu. yang mukanya merah bagai darah. ia beri titah untuk memanggil Jebe. Batal ia minum. ada satu panglima dengan seragam hitam. Yang kedua ada bertubuh kekar dan sepasang matanya tajam seperti burung elang. Wang Khan urut kumisnya. apapula dilakukan di muka orang banyak. pemimpin komponiku yang baru. ―Mana mereka itu? Aku ingin melihatnya.‖ katanya kemudian. Yang ketiga ada berpotongan kecil dan kate tetapi gesit gerakkannya. Siapakah dia?‖ ―Dia adalah Jebe. Wanyen Lieh mengawasi. yang kulitnya putih sekali. dia menerjang musuh bukan main gagahnya. Dengan tangan kosong Temuchin bakal membangun negara. dengan begitu semua binatang itu dapat dirampas pulang. Denga perlahan-lahan Temuchin tepuk-tepuk tangannya.

tetapi ia kata kepada Temuchin: ―Saudara Temuchin ada punya empat pendekar tetapi asal aku keluarkan satu makhluk. mari kita melihat yang lainnya!‖ Ia pun lantas berbangkit dan bertindak keluar. ―Makhluk apakah itu?‖ Wanyen Yung Chi bertanya. Ia mengerti bawahannya itu penasaran dan gusar. Semua punggawa dan serdadu Mongol itu tahu Jebe telah menerima penghinaan.Pendekar Pemanah Rajawali Sangum kecele. dengan sendirinya. ―Biarpun cawan emas yang paling berharga di kolong langit ini. terus ia berkata dengan nyaring: ―Hari ini kita hajar bangsa Naiman hingga mereka dapatkan kekalahan besar. Ia sambuti pulang kopiahnya itu. Di terangnya api unggun. sambil tekuk sebelah kakinya. orang melengak. ―Sungguh satu manusia yang luar biasa!‖ pikir Wanyen Lieh. ―Kalau sekarang dia suruh Jebe mati. kau hendak mengacau apa lagi!‖ Wang Khan menegur putranya. Ia angkat poci itu. ―Ambil arak!‖ ia menitah. mereka tengah berminum. isinya ia tuang ke dalam kopiah besi itu. Jebe tentulah rela!‖ Irawan D Soedradjat Page 89 . Ia tahu juga bagaimana mesti perlakukan orang polos demikian. Temuchin Kha Khan dan Jamukha Khan yang memimpin kita menghajar mereka!‖ ―Hari ini aku telah lihat seseorang yang luar biasa beraninya yang sudah menyerbu ke belakang barisan musuh. kopiah itu ia sadurkan kepada Jebe. Temuchin lihat wajahnya Jebe merah. dia pantas menjadi pekhu-thio!‖ ―Ambil kopiah perangku!‖ kata Temuchin kepada Jelmi. semuanya lantas bangkit berdiri. ia berkata: ―Minum arak saja pun kurang gembira. untuk dipakai di kepalanya. habis itu. Temuchin menyambuti.‖ Temuchin berkata pula: ―Beruntun tiga kali dia menyerbu bolak-balik! Siapakah dia?!‖ ―Itulah Siphu-thio Jebe!‖ sahut banyak serdadu. tidaklah itu dapat melawan kopiah besi dari Kha Khan ini!‖ katanya perlahan. tetapi segera mereka mengerti. ―Mari kita pergi keluar untuk melihatnya. kapan mereka tampak Khan mereka muncul. bangsa Mongol telah menumpuk beberapa ratus api unggun. terus ia mencegluk beberapa kali. mereka lantas bertempik sorak.‖ Sangum mengajak. Ia lantas menghirup satu ceglukan. Temuchin telah naiki pangkatnya Jebe menjadi pemimpin eskadron. Temuchin tersenyum. ―Apa siphu-thio!‖ berkata Temuchin. ia ulurkan tangannya untuk menyambuti. dengan begitu kamu semua telah bercape lelah…!‖ Tentara itu berteriak: ―Adalah Wang Khan. Jelmi menurut dan menyerahkan kopiah itu dengan kedua tangannya. yang aku pakai untuk membasmi musuh!‖ dia berkata dengan suara nyaring. Wanyen Yung Chi hendak melihat keramaian. Dia lantas dibawakan satu poci besar. tentu empat-empatnya mereka dapat dimakan habis dengan sekali telan!‖ ia pun tertawa dingin. ―Kita lagi gembira minum arak di sini. maka dengan kegirangan mereka berseru: ―Jebe gagah berani. akan tetapi menyaksikan sikapnya pemimpin mereka itu. Pekhu-thio itu menjadi sangat bersyukur. Untuk sejenak. ―Inilah kopiahku. ―Sekarang hendak aku pakai ini sebagai gantinya cawan arak!‖ Ia buka tutp poci arak. sejenak itu juga. ―Dia-lah pekhu-thio!‖ Dengan begitu. Di luar tenda. Terpaksa orang banyak turut keluar pula. terus ia angkat kopiahnya itu tinggi-tinggi.

tak sudi ia minum arak lebih jauh. di atas itu ia duduk bercokol. ia lants pulang ke tendanya untuk tidur. ―Buat apakah mengepul menjadi orang gagah kalau dua ekor macanku saja takut dilawan?‖ Diantara empat pahlawan itu. Mereka dalam hati kecilnya berkata: ―Sudah kau hinakan Jebe. yaitu dua ekor macam tutul yang besar. tak dapat kau hilang muka! Nanti aku lawan macan tutul itu!‖ Wanyen Yung Chi menjadi sangat girang. dua pasang matanya bersinar mencorot. Adakah kami babi hutan atau serigala maka kami hendak diadu sama macan tutulmu?‖ Juga Temuchin menjadi sangat tidak senang. Dia berkata: ―Kita menggentarkan padang pasir.‖ katanya. hingga ia dapat menelan keempat pahlawan?‖ dia tanya Sangum. untuk diletaki di tangannya saudara angkat itu.Pendekar Pemanah Rajawali Beda dari saudaranya. ―Mana dia empat pahlawan yang menggetarkan padang pasir itu?‖ Mukhali berempat lantas menghampirinya dan memberi hormat sambil menjura. dari itu kalau bukannya pangeran atau bangsawan. sekarang kau hinakan kami juga. empat pahlawannya itu mengundurkan diri. Sangum berpaling. ia lempari itu ke tanah. ―Khan yang maha besar. Pengiring itu menyahuti. Maka ia berkata: ―Aku menyayangi keempat pahlawanku sebagai jiwaku sendiri. Tentaranya Wang Khan lantas saja bersorak-sorai. ―Tidak apa orang tertawakan kami. Chi‘laun tidak pandang cincin itu. Mukhali tarik kawannya itu. disusul mana munculnya binatang itu sendiri. Ia angkat jari tangannya itu. yang bulunya belang bertotolan. Adalah umum orang Mongol memelihara macam tutul. Ia suruh pengiringnya ambil kursi kulit harimau. Temuchin juga bersikap tenang dan agung. kau menang!‖ Dan ia bertindak menjemputi cincin tadi. orang tak dapat memeliharanya. Sangum masuki cincin itu ke jari tangannya. tetapi kau. setelah mana kedua macam tutul itu sudah datang sekat api unggun. cara bagaimana aku bisa biarkan mereka berkelahi sama macan tutul?‖ Sangum tertawa terbahak. Sangum tersenyum. Sebab mereka itu adalah si pemelihara binatang buas itu. Irawan D Soedradjat Page 90 . untuk bicara perlahan sekali dengan satu pengiringnya. ia tapinya diam saja. ―Asal kau menang. Wanyen Yung Chi kaget hingga ia raba goloknya. Ia lantas loloskan sebuah cincinnya yang bermata berlian. terus ia mundurkan diri.‖ kata Sangum kepada Temuchin. ia hanya bertindak lagi. ―Empat pahlawanmu adalah orang-orang gagah. Jamukha mengerutkan alis. Wanyen Yung Chi justru pikirkan saja kata-katanya Sangum tentang empat pahlawannya Temuchin. Tapi binatang ini sangat kuat makannya. ―Kakak. Lenyap kegembiraannya Yung Chi karena gagal menyaksikan pertandingan antara manusia lawan binatang liar itu. Chi‘laun yang paling keras tabiatnya. Binatang itu dikalungi dengan kalung kulit dan setiap ekornya dituntun dua orang yang tubuhnya besar. mereka itu masing-masing mencekal sebatang galah. ia tertawa besar dan lama. jikalau mereka dapat dengan tangan kosong membinasakan dua ekor macanku ini. ―Kau ada punya makhluk apa yang demikian hebat. barulah aku sangat takluk kepadamu!‖ Mendengar ini. cincin itu menjadi kepunyaanmu!‖ katanya. ia pertontonkan ke empat penjuru. yang dipakai untuk berburu. Sampai di situ. ―Begitu?‖ ia mengejek. keempat pahlawan menjadi sangat dongkol. Tidak selang lama lantas orang mendengar suara mengaumnya seekor binatang liar. Ia lantas bertindak maju ke depan. membunuh musuh. ―Apakah emapt pahlawan saudara angkatnya Temuchin?‖ ia mengulangi. Macam tutul baik tenaga maupun kegalakannya melebihi anjing pemburu. tetapi macan tutul? bisakah binatang itu memimpin tentara? Bisakah binatang itu mengatur tentara bersembunyi dan mengurung musuh?‖ Temuchin pun segera berkata: ― Saudara Sangum. kita telah membunuh cukup banyak. baru hatinya lega. jalannya ayal-ayalan tetapi sikapnya sangat bengis.

Tiba-tiba ada seekor kelinci putih lari lewat di samping mereka. ―Kakekku ialah Wang Khan! Ayahku ialah Sangum! kau tahu tidak?! Taruh kata benar kelinci kaulah kau yang panahm kalau aku hendak ambil. dengan sangat sebat. Tapi tenaganya Tuli sangat terbatas. Meski begitu. Di antara empat pahlawan. Tuli gusar sekali yang ayahnya diperhina orang. Ia tidak sangka orang berani pukul padanya. yang merupakan rimba. Tuli gusar sekali. Justru itu dari samping mereka. Irawan D Soedradjat Page 91 . putra tunggal dari Sangum atau cucunya Wang Khan. ―Ayahmu adalah hantu cilik yang nyalinya kecil. sebab Temuchin anggap hal itu memalukan dan tidak pernah memberitahukan putranya. empat pahlawan dari ayahmu lantas tak berni bergiming!‖ Tuli bertambah gusar. matanya pun melotot. lalu ia tidak punya anak lain lagi.Pendekar Pemanah Rajawali Besok paginya Tuli dan Kwee Ceng dengan bergandengan tangan pergi bermain. Girang Tuli berdua. barulah ia dapatkan putranya ini. ―Hanya guruku tidak hendak melayani!‖ Tiba-tiba Tusaga maju dan tangannya melayang ke kuping orang. ―Panah ini toh kepunyaanku!‖ jawab Tuli. ―Sudah bagus aku tidak minta ganti rugi!‖ ―Tidak tahu malu!‖ bentak Tuli. apapula putranya itu masih kecil. adalah ayahku dan kakekku yang pergi menolongi merampas pulang!‖ sahut Tusaga. dia tertawa. dia lari bersama bangkai kelinci itu! Tuli lantas berteriak: „Eh. Temuchin telah berpisah lama dengan Wang Khan dan Sangum. tanpa terasa mereka bertindak semakin jauh dari tenda mereka. ―Kau berani membantah?!‖ dia membentak. Tuli bersama Kwee Ceng lantas mengejar dengan berteriak-teriak. Karena itu. ―Terang ini adalah kelinci liar!‖ Bocah itu galak. Boroul adalah gurunya. Tusaga tertawa terbahak. ―Siapa yang bilang?!‖ ia tanya dengan bengis. Sebaliknya Tuli tidak tahu suatu apa. habis bagaimana?!‖ ―Ayahku Temuchin!‖ kata Tuli dengan sama jumbawanya. ―Ayahmu takuti ayahku. ―Guruku tak takut harimau. ―Siapa yang bilang. kelinci itu masih dapat lari terus dengan bawa anak panah yang nancap diperutnya itu. lantas ia roboh dengan sendirinya. mereka lompat maju untuk menubruk. ―Ayahku tidak takuti siapa juga!‖ ―Ibumu telah orang rampas. kau yang memanah?‖ tanyanya. kemudian setelah ia mengawasi Tuli berdua. ―Kau maki siapa?!‖ tegurnya. apapula segala macan tutul!‖ serunya sengit. dia takuti kakekku. ―Fui!‖ bocah itu menghina. selang lama. Mulainya Sangum dapat satu putri. ia menghampiri Tuli dan mendorong pundak orang. Sangum ingat baik-baik peristiwa itu dan menceritakan kepada orang lain hingga Tusaga yang masih kecil mendapat tahu juga. ―Kau tidak takuti aku?‖ Tuli melengak. Kelinci itu lari serintasan. hingga Tusaga menjadi kepala besar. ―Apakah kau sangka aku tidak ketahui hal itu? Maka apa artinya kalau aku naru ambil ini kelinci kecil?‖ Memang dahulu hari Wang Khan telah bantu anak angkatnya itu. ―Tadi malam ayahku keluarkan dua macan tutulnya. ―Akan aku beritahu ayahku!‖ katanya. anak-anak mereka tidak kenal satu sama lain. karenanya. dia juga takuti ayahku!‖ Bocah itu adalah Tusaga. Ia putar tubuhnya untuk berlalu. kelinci itu akulah yang memanahnya! Kenapa kau bawa lari?!― Bocah itu menoleh. satu yang berumur kira-kira sepuluh tahun. Tepat kelinci itu terpanah perutnya. muncul serombongan anak-anak. ―Kelinci ini adalah piaraanku!‖ dia kata. putranya ini sangat disayangi dan dimanjakan. dia cabut anak panahnya dan lalu ia buang ke tanah. Bocah itu yang telah berhenti berlari berdiri sepasang alisnya. kau mengadu juga bisa apa?‖ katanya. telah mendahului menyambar binatang itu. Tuli keluarkan panah kecilnya dan memanah.

Han Siauw Eng adalah si nona. Maka itu ia menjadi besar kepala. siapapun tidak berani lawan padanya. mereka menyusul hingga ke gurun pasir. Irawan D Soedradjat Page 92 . Mereka ingat masa kecilnya mereka. lalu ditindihkan. Tuli tertawa seraya tepuk-tepuk tangan. ia heran. ―Hayolah jalan!‖ berkata Kwa Tin Ok. Tapi kapan ia telah datang dekat dan lihat dua anak dikepung beramai. maka itu.‖ ―Kau lihat sendiri. Kanglam Cit Koay pada tersenyum. ia kata nyaring: ―Tidak malukah kamu?! Lekas lepaskan mereka!‖ ―Minggir! Jangan banyak omong disini!‖ bentak Tusaga. dia termanjakan. Kemudian dengan tarik tangannya Kwee ceng. Tubuh Kwee Ceng diduduki Tusaga. sebentar saja Kwee Ceng dan Tuli kena dipukul jatuh. Tusaga murka sekali. sembari memukul bebokong orang. ―Dua mengepung satu. tak malukah kamu?!‖ tegurnya. mereka lantas jadi berkelahi bergumul. ―Bagus!‖ dia bersorak. Dalam saat tegang dari bocah-bocah ini. aku kasih ampun!‖ Kwee Ceng berontak. yang pun bengal dan gemar berkelahi. Tuli lompat bangun begitu lekas ia merasai tubuhnya enteng. selama itu tidak pernah mereka dengar halnya si orang she Toan itu. itu tujuh Manusia Aneh dari Kanglam. apabila ia telah melihat denagn tegas. Mereka semua mengerti bahasa Mongol. dari kejauhan ada terdengar kelenengan unta. kau lihat sendiri!‖ kata orang yang dipanggil shako itu – shako – kakak nomor tiga. dua bocah itu telah babak-belur dan matang biru mukanya. Rombongan kalifah itu terdiri antaranya dari Kanglam Cit Koay. Dia maju dan seruduk perutnya Tusaga! Putranya Sangum juga tidak menyangka-nyangka. Pihaknya kebanyakan terlebih tua usianya. mereka itu kembali kena dikurung. dia ini berkata: ―Kau menyerah. Tuli pun tak dapat bergeming. ―Lepas tanganmu!‖ Ketika itu telah tiba beberapa yang lainnya. ―Hai anak. ―Kita jangan bikin pasar keburu bubar. Kawan-kawannya Tusaga tidak tinggal diam dan mengejar. jangan usilan. Salah satu diantaranya yang menunggang kuda putih. ―Kejar!‖ Ia ajak kawan-kawannya mengubar. sekarang ia tidak dapat mengatasi pula dirinya. ditindih oleh dua lawan. Mereka dengar Toan Thian Tek kabur ke utara. tidak ampun lagi dia roboh terjengkang. nanti kita tak dapat menanyai orang!‖ Itu waktu Tusaga beramai telah dapat candak Tuli berdua. Untuk enam tahun lamanya mereka mondar-mandir. ia tarik dua bocah yang mengerubuti Tuli. ―Hajar lagi padanya!‖ Tusaga memberi komando. lalu bersama kawannya ia angkat kaki! ―Kejar!‖ teriak Tusaga gusar. sia-sia saja.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee ceng panas hati semenjak tadi. tertawa apabila ia lihat bocah-bocah itu sedang berkelahi. Justru ia melengek. ―Menyerah atau tidak?‖Tusaga tanya. dan merekapun berjumlah lebih banyak orang. ia lari. lalu satu nona berkata: ―Shako. dia pun turut menyerbu. kepalan dan kaki digunakan semua. amri kita melanjutkan perjalanan. ia menyempar hingga orang berguling. Dia adalah putranya satu jago di Utara. ―Bagus! Kamu lagi berkelahi!‖ katanya. dia merayap bangun. Tusaga menyaksikan kejadian itu. ia tak dapat bergerak. kau galak sekali!‖ kata penunggang kuda itu. Anak-anak itu pun lantas maju. ia lompat turun dari kudanya. Kwee Ceng berontak dan loloskan dirinya seraya lompat bangun juga. menggelengkan kepala. lalu ditepi sungai tertampak rombongan pedagang dari gurun pasir. Tuli dengan mata bersinar hawa amarah.

―Dia tentu curi itu untuk dibuat main. Cu Cong lompat turun dari kudanya. Jadi mereka mestinya adalah anak-anak bangsawan Mongolia. dari itu. ―Benda itu pasti mustika adanya. jangan berkelahi!‖ katanya. atau sekejap saja belati di tangan Kwee Ceng telah pindah ke dalam cekalannya. ia menjadi heran. senjata peninggalan suaminya itu ia serahkan kepada sang putra. Nyata ia mencekal sebatang pisau belati. ―Mustika apakah itu? Mari kasih aku lihat. pasti dapat senjatanya dirampasnya. ―Siapa berani maju!‖ ia berseru. Si Mayat Perunggu dan Si Mayat Besi Untuk sesaat. ia manjadi heran. Kim Hoat pun merasa memegang benda yang rasanya dingin.. hingga semua Kanglam Cit Koay heran dan memuji. Tiat Sim dan Siauw Thian telah saling mengasih tanda mata belati yang terukir nama Yo Kang dan Kwee Ceng. Ia lompat pula untuk naik ke atas kudanya. ia jadi terperanjat. untuk sang putra yang simpan. Menampak orang bersenjata. dia dekati semua bocah itu sambil ia tertawa haha-hihi. lalu tangannya menyambar ke batu di dekatnya. aku dapat mustika!‖ kata ia.‖ minta Lauw-sie In Hiap Coan Kim Hoat.‖ si setan tangan ulung berpikir pula. Ia mengharap pisau belati itu. ―Mestinya bocah ini telah curi senjata ayahnya. tentu saja Kanglam Cit Koay tidak kenal nama Yo Kang itu. ―Eh. kecuali Kwee Ceng yang dilehernya pun berkalung gelang emas yang indah. batu mana terus terbabat kutung. sikapnya gagah sekali. Lie Peng menyayangi putranya. Tusaga semua tidak berani maju. sambil tertawa berkakakan. Kemudian ia lihat gagangnya pisau. Bersinar berkilau belati itu diantara sinar matahari. ―Bagus!‖ ia segera memuji.‖ ia berpikir. ―Kenapa belati ini terjatuh ke dalam tangan orang Mongol? Yo Kang? Yo Kang? Tidak pernah aku dengar orang gagah dengan nama ini…. tak dapat kau ubah tabiatmu yang suka mencopet itu!‖ kata Siauw Bie To Thio A Seng. ―Jieko. Cu Cong ayun tangannya. ―Hayolah kamu baik-baik bermain…!‖ Ia menyelip di antara bocah-bocah itu. istrinya Yo Tiat Sim. sebagai mustika dapat mengusir pengaruh-pengaruh jahat. Bukannya tak halal kalau aku ambil barangnya orang bansawan…‖ Dengan timbul keinginannya akan punyai belati itu. Yo Kang itu adalah nama yang Khu Cie Kee berikan untuk anak yang masih ada dalam kandungannya Pauw Sek Yok. Semua mereka mengenakan kulit binatang yang mahal.Pendekar Pemanah Rajawali Tiba-tiba sebuah benda berkelebat di tangannya Kwee Ceng. lihat sinar berkelebat berkilau itu. ―Toako. Banyak sudah ia mencuri barang-barang berharga kepunyaan pembesar rakus atau hartawan jahat. satu anak kecil.‖ Bab 9.Siapa tak gagah tak pantas ia mempunyai belati ini…. ―Tak jelek untungku hari ini. Jangan kata baharu Kwee Ceng. takukah kau siapa Yo Kang?‖ ―Yo Kang? Tak pernah aku dengar nama itu…‖ jawab Tin Ok. ―Perlu aku lihat. Kim Hoat berdiam. benda apakah itu…‖ Maka itu ia larikan kudanya ke arah anak-anak itu hingga ia menampak Kwee Ceng dengan belati di tangan. Ia dapatkan ukiran dua huruf ― Yo kang‖. Kemudian dia bertanya pula pada kakaknya yang tertua. Irawan D Soedradjat Page 93 . yang telah larikan kudanya. ia susul kawan-kawannya. walaupun kangzusi. bagaikan sinar bianglala. melemparkan. Biauw Ciu Si-seng Cu Cong. ―Jangan berkelahi. Kenapa sebuah mustika berada di tangan satu bocah? Ia jadi awasi Kwee Ceng begitu pun semua bocah lainnya. ini namanya orang Han!‖ katanya.com orang kosen lainnya. maka itu matanya tak pernah salah.

Maukah kau?‖ ia tanya lagi. ―Eh. Kwee Ceng menberikan penyahutan yang membenarkan. mereka menjadi putus asa. kakaknya yang nomor tiga. dan kemudian ia langsung tarik beberapa bocah dan balingkan mereka ke pinggiran. sedang Han Siauw Eng keluarkan sapu tangannya. sekarang mereka dapati ada titik terang. ―Mari kasih pulang!‖ katanya. ―Pergilah kau pulang. ―Ibuku yang berikan padaku. Tusaga lihat orang kuat. ―Mari antar aku kepada ibumu.‖ katanya dengan halus dan ramah. Tapi kau mesti omong dulu biar terang. ia tak berani berkelahi terus. ―Apakah kau she Yo?‖ Coan Kim Hoat kemudian menanya. tanpa bersangsi pula. Cit Koay belum jalan jauh. seraya tangannya mencekal belati orang. hendak ia meminta bantuan Ogatai. Dengan berani ia minta belatinya kembali. mereka tak hendak melepaskannya dengan begitu saja. ia berpikir terus. apakah kau bernama Kwee Ceng?‖ ia tanya dengan sabar. ―Siapakah nama ibumu?‖ tanya pula. Kwee ceng dengan muka berlumuran darah. ia putar kudanya akan kembali kepada si bocah. Ia sudah lantas memikir. jikalau kau berani. ―Lain kali jangan kau berkelahi pula.. Bukan kepalang girangnya Tin Ok.‖ Lantas Cit Koay berangkat. Lantas ia ingat akan sesuatu. . Entah Yo Kang ini ada hubungannya sama Yo Tiat Sim atau tidak…‖ Enam tahun sudah tujuh saudara ini merantau di gurun apsir tanpa ada hasilnya. kalau sebentar ia pulang. Ia tak punya ayah. untuk susuti orang punya darah di hidung. ―Marilah kita tanya bocah itu!‖ Siauw Eng mengusulkan. Kwee Ceng menjublak mengawasi orang pergi. Cit Koay lihat orang rada tolol. anak. Tin Ok mempunyai kupingnya paling lihay pendengarannya dibandingkan dengan saudara-saudaranya. ia dengar panggilan ―Kwee Ceng‖ dari Tuli. Ia penasaran. mengulurkan tangannya pada Cu Cong. darimana kau peroleh belati ini?‖ Dengan tangan bajunya Kwee ceng susuti darah yang masih mengalir dari hidungnya. akan susul rombongan kalifah yang mereka ikuti.Pendekar Pemanah Rajawali Coan Kim Hoat sabar dan teliti. dengan siapa ia paling erat hubungannya. Irawan D Soedradjat Page Tin Ok menggaruk-garuk kepalanya. 94 ―Ibu ialah ibu…. ―Gampang untuk pulangi padamu!‖ kata Cu Cong sambil tertawa. maka ia turun dari kudanya. mendadak ia rasai tubuhnya menggetar.‖ Kwee Ceng menjawab.‖ sahutnya. Ia berkata kemudian: ―Orang yang khu Totiang cari adalah istrinya Yo Tiat Sim. Han Po Kie mempunyai kuda yang paling gesit. ―Apakah she ayahmu?‖ Cu Cong tanya pula. Kanglam Cit Koay paling menjunjung kehormatan. Bocah itu melengak. mereka pegang satu kepercayaan sekalipun terhadap satu bocah. tetapi ia tidak dipedulikan. Ia percaya Ogagati akan suka membantu padanya. ―Kwee Ceng. cepat. maka itu Cu Cong lantas serahkan belati itu kembali kepada Kwee Ceng. besok kita bertempur pula disini!‖ ―Baik. besok kita bertempur pula disini!‖ Tuli terima tantangan itu. sedang kakaknya itupun kuat. mari pulang!‖ Tuli lantas mengajak. Kwee menggeleng-gelengkan kepalanya pula. Tapi ia tuding Tuli dan menantang: ―Dua ekor anjing cilik. tak dapat ia menjawab. mereka jadi bersemangat. Ia berteriak-teriak menyuruh mereka berhenti berkelahi. ia mendahului berlari kepada kawanan bocah itu yang telah kembali bergumul berkelahi. Kemudian ia menggeleng kepalanya.

‖ bocah itu menjawab. sedang Kwa Tin Ok memuji kepada Thian. Kedua bocah itu heran. jiwanya terancam bayaha sembarang waktu. ―Nanti kalau aku sudah besar. maka itu ia telah berikan penjelasan kepada anaknya. ―Eh.!‖ Melihat sikap orang yang luar biasa. Po Kie berlompat. yang sudah rangkul Lam Hie Jin. Ia hendak cari kakaknya yang ketiga. Tin Ok dengar suara yang tak simpatik. ―Aku akan main sulap untuk kamu!‖ katanya sembari tertawa. batu itu telah lenyap. Cit Koay girang bukan kepalang. hendak aku cari musuh itu untuk membalaskan sakit hati ayahku!‖ ―Apakah namanya ayahmu itu?‖ Siauw Eng tanya pula. si nona Han sampai berseru. untuk halangi tangan adiknya. ―Adik kecil.‖ Kwee ceng berkata kepada Han Siauw Eng. Kwee Ceng jawab: ―Dia bernama Toan Thian Tek!‖ Memang Lie Peng telah memberitahukan kepada anaknya itu she dan namanya Thian Tek. di dalam situ ada tiga butir batu itu. Kemudian dia berkata kepada adiknya paling kecil.. Cu Cong lari untuk susul kedua bocah itu. Ia pun telah memberitahukannya berulangkali. Lucunya adalah Thio A Seng. putranya itu sudah tahu segala sesuatunya. sikapnya manis. ―Shatee. mereka merasa lucu dan heran. suaranya dingin. ―Nelusup masuk!‖ seru Cu Cong. eh. Ia bernafsu. ―Menghilanglah!‖ ia berseru. ―Mari pulang!‖ mengajak Tuli. suaranya tetap ramah. mereka berdiam mengawasi. Cu Cong genggam ketiga batu itu di telapak tangan kanannya. ―Aku mau pulang. mari kita bicara perlahan-lahan…‖ nona Han berkata dengan suaranya ynag tetap ramah.‖ Po Kie memanggil. ―Siapakah namanya itu orang yang membunuh ayahmu?!‖ Tin Ok turt tanya. Irawan D Soedradjat Page 95 . ia lantas jemput tiga butir batu kecil. untuk berjalan pergi. Tuli dan Kwee Ceng mengawasi. supaya apabila ada terjadi sesautu atas dirinya. untuk ajaki saudarany itu besok membantui ia melawan Tusaga. malah roman mukanya dan potongan tubuhnya. jangan semberono!‖ Cu Cong cegah adiknya yang nomor tiga itu. kaulah ynag tanya dia. Ia pun bergerak. Kwee Ceng menggoyang kepala. yang tepuk kopiahnya. untuk sambar pundaknya Kwee Ceng. hingga Kwee Ceng ingat semua itu. dua bocah itu menjadi takut. Tuli dan Kwee Ceng berhenti berlari. Ia tarik tangannya Tuli dan ia putari tubuhnya. Nyonya Kwee tahu. ia batal membekuk bocah itu. ―Orang telah celakai ayahku hingga terbinasa.‖ Siauw Eng lompat turun dari kudanya dan ia menghampiri bocah itu. sementara si cebol Han Po Kie jumpalitan si atas kudanya. Terus ia buka kopiahnya itu. mereka lantas lari. ―Cit moay. Sambil kertak gigi. mereka mendelong. Kapan ia membuka kepalan tangannya. Po Kie heran. mari duduk. tunggu dulu.‖ sahut bocah itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ibuku tidak ada disini. ―Kau tak dapat pergi! Biarkan sahabatmu pulang lebih dulu. ―Mana ayahmu?‖ dia tanya. hingga suaranya sedikit menggetar.

―Tadi mereka bertujuh atau berdelapan mengerubuti kamu berdua.‖ kata Tuli. ―Habis. ia dapat panah burung belibis itu. lalu tertampak burungnya terbang mendatangi dalam dua rombongan. dia masih dapat dibunuh musuhnya. ―Kau tidak belajar ilmu kepandaian.‖ kata ia. ―Ayahmu pandai silat. jitu sekali. ibu tnetu tidak senang. yang dapat pikiran baru. hendak diserahkan pada Kwa Tin Ok. burung itu terpanah batang lehernya dan bersama anak panahnya. ―Akan aku suruh toako main sulap. datangnya dari utara.‖ Ton Ok kata pula. Kedua matanya Kwee Ceng bersinar. ―Bagus! Bagus!‖ Tuli dan Kwee Ceng berseru dengan gembira. musuhmu itu. kamu tidak usah takut lagi kepada mereka. Tin Ok campur bicara. Tanpa merasa. untuk balaskan dendaman ayahku!‖ sahutnya. jatuh ke tanah. ―Tanpa mata. aku akan minta bantuan kakakku. ―Mau main petak umpat?‖ tanyanya tertawa.‖ Ia terus serahkan gendewa dan anak panah kepada kakaknya. yang jadi pemimpinnya berbunyi. itulah tidak ada faedahnya. membuat burung-burung itu menjadi kaget.‖ berkata Cu Cong. tidak boleh aku berkelahi. ―Bukan. yang mana ia kasihkan kepada Tuli. suaranya tetap dingin: ―Kalau kau bertemu dengan sama Toan Thian Tek. ―Mereka itu yang serang kami duluan. Irawan D Soedradjat Page 96 .‖ Tuli menurut. ―Hm.‖ ―Hm. ―Akan aku bunuh dia. Kemudian air matanya mengalir keluar. kau ajarkanlah aku!‖ Cu Cong awasi Kwee Ceng. panahnya Tin Ok sudah meleset. ―Ya!‖ Cu Cong beri kepastian. ―Baik! Nah. ―Aku tidak percaya. ―Minta bantuan kakakmu?‖ kata Cu Cong. habis bagaimana?!‖ ia tanya. ―Coba kamu ada punya kepandaian. ia ikat matanya orang she Kwa itu. bocah bernyali kecil!‖ kata Po Kie perlahan. ―Ibuku bilang.Pendekar Pemanah Rajawali ―Bagus!‖ seru Tuli dan Kwee Ceng.‖ sahut Cu Cong. Cu Cong menimpuk dengan tiga butir batunya. kenapa tadi kamu berkelahi?‖ Cu Cong tanya lagi. sambil menunjuk kepada Kwa Tin Ok. ia kata: ―Kau tutup matanya. ―Kalau aku belajar kepandaian untuk memukul orang.‖ Kwee Ceng menjawab. yang berdiri diam saja. mereka menjadi tertarik. Mereka sangat kagum.‖ jawab Kwee Ceng lagi.‖ ―Besok kita bakal berkelahi pula. Itu waktu kedua rombongan belibis sudah terbang mendekat. Mereka pun lari untuk pungut burung itu. aku tanggung besok kamu bakal dapat kalahkan mereka. Tuli girang sekali. Itu waktu terdengar suara belibis mendatangi. bagaimana kau dapat membalas dendam?‖ Kwee Ceng tercengang.‖ ―Kami berdua dapat kalahkan mereka berdelapan?‖ tegaskan Tuli.‖ kata Tuli. Justru karena burung itu berbunyi dan hendak merubah tujuan. ―Apakah kau tidak ingin belajar?‖ ia tanya bocah itu. Ia lantas rogoh keluar sepotong sapu tangan. dia agaknya tidak tertarik. Aku akan ajari kau sedikit kepandaian.

tak hendak ia mengatakannya lebih sepatah kata!‖ Hie Jin tertawa. ―Sekarang kau pelajari dulu tiga jurus ini. Tuli rubuh seketika. ―Mengertikah kau?‖ Nyata Tuli sangat cerdas. ―Anak itu baik. kakinya mengaggaet. Cu Cong menyambar dengan kepalannya. Ia merayap bangun dengan murka.‖ katanya. Cit Koay berdamai. kau tidak boleh beritahukan kepada orang lain. ―Paling benar kita sambut ibu dan anak ini pulang ke Kanglam. ―Apa yang baik?‖ menegaskan Cu Cong. Siauw Eng sampai menghela napas dan air matanya berlinang.‖ jawab adik keempatnya itu. ―Eh. Bukan kepalang girangnya putra Temuchin itu. Ia manggut-manggut.‖Kenapa kau serang aku?‖ tegurnya. ―Coba ajarakan aku pula. Cit Koay hilang kegembiraannya melihat Tuli demikian cerdas tapi bocah she Kwee ini begitu tolol. ―Kau ajarakan aku saja!‖ Tuli bilang. ―Ini dia yang dibilang ilmu kepandaian. Selama mereka itu berbicara. ―Sudah. tapi belum sempat ia terbanting ke tanah. Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin si Tukang Kayu dari Lam San. ia memikirkan dahulu. sietee. ―Paman. Gunung Selatan yang berdiam saja. ―Apakah kau pun sudah mengerti?‖ Kwee Ceng lagi menjublak. ―Ya. orang dewasa juga nanti tidak gampang-gampang kalahkan kau. Tapi di sini ia dipapaki tangan kiri si penyerang. aku lihat dia tidak punya kekerasan hati. apa katamu?‖ Tin Ok tegur adiknya yang keempat itu. lalu ia seruduk pinggang orang. maka itu asal ia membuka mulut. ―Susah sekali untuk sieko membuka mulut emasnya. ―Sebentar tengah malam kau pergi ke sana untuk cari kami. kita jangan terlalu capekan hati sekarang. segera ia mengerti. aku tolol sekali.‖ ia minta. dia tak berbakatbelajar silat. kata-katanya tentu tepat. ―Baik.‖ sahut Lam Hie Jin. ―Kau ajari aku lagi!‖ Cu Cong mendak. ia snediri sangat kegirangan. Tuli berkelit ke kiri. kepalan kiri itu segera ditarik pulang. ia menggeleng kepala.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong menunjuk ke gunung di sebelah kiri. ―Bagus! bagus!‖ ia berseru.‖ bilang Cu Cong. Irawan D Soedradjat Page 97 . ajari aku pula!‖ seru Tuli.‖ kata Po Kie. Cukup sudah!‖ Ia lantas berpaling kepada Kwee Ceng. tak sabaran.‖ kata Kim Hoat kemudian. pergilah kamu!‖ kata Siauw Eng akhirnya. Kau berani tidak? Apakah kau takut setan?‖ Kwee Ceng masih berdiri menjublak. ―Kalau kau hendak belajar kepandaian guna menuntut balas untuk ayahmu.‖ ia bilang. ―Nach. Ia girang luar biasa. untuk mendongko. tapi Cuma hidung nempel. kita menyerah kalah saja…‖ ―Anak ini miskin bakatnya. kita serahkan mereka kepada Khu Totiang. Lam San Ciauw-cu memang pendiam. untuk mengeluarkan sepatah kata. untuk di kasih tetap berdiri . ―Ia bakal gagal…‖ Dalam dialek orang Kanglam. tepat kena hidungnya. akan tanya.‖ Cu Cong tertawa. ―Di waktu kecil. Ia ulurkan tangan kepada kedua bocah itu. Coan Kim Hoat sudah sambar tubuhnya. ―Beginilah biasanya sieko!‖ kata Siauw Eng. ―Kalau kau sudah bisa. Cuma kamu sendiri yang dapat datang.‖ kata Cu Cong sambil tertawa. Tiba-tiba Cu Cong tarik tangannya bocah itu. Dalam hal janji pibu. atas mana Tuli tarik tangan Kwee Ceng untuk diajak pergi. Tampa ampun Tuli berguling.

enam saudaranya biasa hargakan pikirannya. Ia tidak menjawab. . yang tiga pergi ke timur utara. Mereka menanti sampai tengah malam. Malam itu Cit Koay berkumpul di atas bukit. yang lima saudara lainnya lantas menghampiri saudara she Coan itu. Ia ulur tangannya. ―Tetapi kenapa tengkorak-tengkorak ini diatur begini rapi?‖ Kim Hoat tanya. kali ini mereka rubuh di tangannya satu imam…!‖ katanya masgul. Saudara ini bersangsi. maka kecuali Kwa Tin Ok. ke arah timur utara dan barat utara! Lihat ada apakah di sana!‖ Menampak sikap luar biasa dari saudara tua itu. tengkorak orang diatur begini…‖ katanya. ―Baik aku cari tahu dulu tempat tinggalnya. ―Mustahil benar ada orang membuat liang ini dengan jeriji tangannya?‖ ia kata dalam hatinya. teraur sebagai segi tiga.Pendekar Pemanah Rajawali Karena itu juga.‖ Po Kie membenarkan adiknya itu. ―Benarkah itu terbagi pula dalam tiga tingkat?‖ Tin Ok tanya. Ia pungut dua tengkorak lainnya. di situpun kedapatan masing-masing lima jari tangan yang sama. dan saban tumpukannya sembilan tengkorak. ―Bagaimana itu diatur rapinya?‖ tanya ia. ―Eh…apakah ini? Jieko. ―Apa itu?‖ katanya. Selagi tujuh saudara itu berduka.‖ Dan ia lompat turun dari kudanya. Ia tak berani utarakan kesangsiannya ini. ―Semuanya terdiri dari tiga tumpuk. sampai bintang-bintang mulai menggeser.‖ kata Cu Cong kemudian. tingkat tengah tiga dan tingkat atas satu buah?‖ ―Eh. Ia jadi heran dan bersangsi.‖ ―Kebanyakan ia tidak berani. ―Entah bocah nakal siapa sudah bermain di sini.!‖ dan tangannya pun menunjuk ke depan di mana ada gombolan pohon. Cu Cong lantas saja menghela napas. Ketika itu sang rembulan yang terang sudah sampai di tengah-tengah langit. Tiba-tina ia lompat mendekati mereka itu. enam adik angkat itu lekas bekerja. ―Kalau begitu. Irawan D Soedradjat Page 98 ―Disini pun ada tumpukan tengkorak!‖ begitu suaranya Han Siauw Eng di timur utara dan Thi A Seng di barat utara. Sekarang mendengar keterangannya itu. Jadi itu bukanlah perkerjaannya satu bocah cilik. romannya seperti bekas jari tangan. tiba-tiba Po Kie berseru tertahan: ―Eh. tak ada bayangan Kwee Ceng si bocah itu. Cu Cong dapatkan lima liang di embun-embunan tengkorak itu.‖ kata Kim Hoat. ―Kenapa toako ketahui itu?‖ Tin Ok perlihatkan roman cemas. itulah siluman. yang sodorkan sebuah tengkorak kepada Cu Cong. yang tiga lagi ke barat utara. Coan Kim Hoat lompat menghampiri benda itu. ―Hantu tukang geregas manusia…‖ ―Benar. yang bertumpuk rapi dalam tiga tumpukan. Kwa Tin Ok dengar saudara-saudaranya itu berbicara. ―Kanglam Cit Koay sudah malang melintang seumur hidupnya. sinarnya sampai kepada rumput tabal di mana ada tiga tumpuk benda putih yang nampaknya aneh. ―Tingkat ynag bawah lima. tepat lima jarinya masuk ke dalam semua laing itu. mari!‖ Suaranya sangat kedengarannya sangat terkejut. yang biasanya sangat tabah. ―Kita lihat dia berani taua tidak datang seorang diri. ―Lihat!‖ katanya lagi kemudian.‖ Coan Kim Hoat kasih keterangan pada kakaknya yang tak dapat melihat itu. Hanya segera I berkata: ―Lekas jalan seratus tindak. toako!‖ seru Kim Hoat heran. dari jauh-jauh ia mengikuti Kwee Ceng dan Tuli. ―Mungkinkah disini ada hantu gunung?‖ tanya Siauw Eng.. mereka bagaikan mendapat sinar terang. kita tunggu sampai nanti malam. Ia lihat mereka masuk ke dalam tenda. maka ia kenali itu sekumpulan tengkorak.

Semua saudaranya sangka. ia toh kalah. Cu Cong terkejut hingga ia berjingkrak. mereka toh sudah paham delapan atau sembilan bagian. itulah sebabnya perbuatan musuh. ―Bukankah Tong Sie dan Tat Sie sudah lama mati?‖ dia tanya. dari situ bisa diduga betapa lihaynya musuh itu. kembali dengan suara perlahan. ―Apakah tumpukan disini pun tiga?‖ tanya Tin Ok.‖ Tin Ok bilang. ―Apakah kau sangka kita orang-orang yang tidak berbudi?!‖ dia tanya membentak.‖ sahut Siauw Eng. ―Benar. mereka menantikan penjelasan. Tin Ok lantas lari ke arah timur utara ke Han Siauw Eng. cacadnya itu disebabkan kecelekan semenjak kecil. segera kabur ke selatan.‖ kata Tin Ok. lalu dengan lekas pula ia lari balik. mereka semuanya jadi heran. jangan bersuara keras. kita sudah bersumpah untuk hidup atau mati bersama. sekali-kali jangan kamu kembali! Sesudah kabur seribu lie. apakah katamu?‖ tanya Siauw Eng gelisah. maka itu kenapa kau anjurkan kita lari menyingkir?‖ Tin Ok goyangi tangannya berulang-ulang. kamu tidak usah menunggui lebih lama lagi…!‖ ―Toako. ―Saudara-saudara lekas naik ke kudamu masingmasing. ―Kita sudah minum arak bercampur darah. cinta mereka bagaikan cintanya saudara-saudara kandung. walaupun mereka belum dapat merampunginya.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin Ok lari ke arah barat utara itu. dari itu sekalipun kita bertujuh. meski begitu. Nona Han menghitung. ia paling benci orang menyebut-nyebut cacadnya itu. kita pasti bukan tandingan mereka. sambil membungkuk ia menghitung. Tin Ok angkat saudara sama enam orang itu. tidak ada yang berani menanyakan. mereka akan segera kembali!‖ kata Tin Ok. ―Siluman atau musuh?‖ tanya Cu Cong. Siauw Eng lari ke barat utara. ―Kenapa mereka masih ada di dalam dunia ini?‖ ―Aku juga menyangka mereka sudah mati. ―Yang satunya delapan…‖ ―Coba hitung yang sebelah sana. kiranya mereka sembuniy disini dan secara diam-diam tengah menyakinkan ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw.‖ kata ia. semua itu adalah hadiah mereka…‖ sahut kakak tertua ini. Kenapa kita mesti antaran jiwa secara sia-sia?‖ Irawan D Soedradjat Page 99 . jikalau sepuluh hari aku tidak datang menyusul kamu. sekarang barulah mereka itu ketahui. Tin Ok Demikian lihay. Enam saudara itu mengawasi dengan melengak. dengan lekas. ―Dan setiap tumpukannya terdiri dari sembilan tengkorak?‖ sekali ini Tin Ok menanya perlahan sekali. kakiku pincang. ―Yang di sana setiap tumpukannya tujuh tengkorak.‖ Tin Ok bilang. ia pun cegah mereka bertiga omong keras-keras. ―Lekas pergi.‖ ia beritahu. ―Mereka berdua lihay luar biasa. ―Mataku buta. suaranya perlahan tetapi nadanya tegas. ―Merekalah Tong Sie dan Tiat Sie. ―Lambat sedikit atau sudah tidak keburu lagi!‖ Han Po Kie menjadi gusar.‖ jawabnya kemudian. mereka dengar perkataan si kakak. tunggu aku selama sepuluh hari. lekas pergi!‖ katanya mendesak. lekas!‖ kata Tin Ok mendesak sekali. Thio A Seng bertiga terkejut. A Seng bertiga lari berkumpul sama kakak mereka itu. ―Mereka sekarang lagi menyakinkan ilmu Kiu im Pek-kut Jiauw itu. ―Kalau begitu. ―Yang satu sembilan. ―Inilah saat mati hidup kita.

Thio A Seng. ―Maka itu sekarang hendak aku sembunyi di sini. ia panggil saudara-saudaranya yeng mengawasi ke arahnya. tetapi sekarang ia jeri terhadap dua orang itu. Tong Sie si Mayat Perunggu dan Tiat Sie si mayat Besi. baik di Jalan Hitam.‖ Coan Kim Hoat. Cuma hendak aku pesan masing-masing jaga lah diri dengan hati-hati dari cengkraman mereka. ia tidak lihat peti mati yang disebutukan kakaknya itu. jaga supaya mereka tidak dapat ketahui. Lam Hie Jin dan Han Po Kie. Ia bersembunyi di samping Cu Cong. Sekarang tutuplah papan batu ini. Kamu mesti menunggu sampai aku telah tidak dapat bertahan. Kemudian. Semua saudaranya itu menyahuti dengan janji akan menaati. Di bawah sinar rembulan. lihat benar atau tidak di sana ada sebuah peti mati. Cara membokong ini bukanlah cara yang benar akan tetapi musuh terlalu tangguh dan telangas. belum pernah ia puji kepandaian lain orang. denagn siapakn masing-masing senjatanya. ada kesusahan kita derita bersama juga!‖ katanya. Liok-tee.Pendekar Pemanah Rajawali Enam saudara itu ketahui kakak mereka ini beradat tinggi. Bukan sedikit orang gagah yang roboh di tangan mereka itu. Tin Ok tidak setuju. maka itu sambil berbisik ia tanya ini kakak nomor dua: ―Jieko. mereka pencar diri ke empat penjuru untuk sembunyi sambil memasang mata. Tong Sie dan Tiat Sie itu makhluk macam apa?‖ ―Merekalah yang di dalam dunia kang-ouw kesohor sebagai Hek Hong Siang Sat.‖ Enam saudara itu menurut. ―Nusuh itu sangat cerdik dan getap. Tentu saja. tapi kata-katanya ditandaskan setiap patah. karenanya mereka menjadi ragu-ragu. Sadarlah ia bahwa saudara-saudaranya itu sudah berkeputusan bulat. setelah ia diberitahukan adanya kedua mayat itu. maupun di Jalan Putih. hatinya ciut. sebagai alatnya ialah kedua mayat ini. Perlahan-lahan mereka letaki tutup peti mayat yang istimewa itu. sekali pula Khu Cie Kee yang lihay.‖ Tin Ok berkata pula dengan pesannya. ―Ada rejeki kita mencicipi bersama. ia Cuma nampak unjungnya sebuah batu lempangan muncul dari dalam tanah. inilah pertama kalinya ia dapatkan sikap yang tegang sekali dari kakaknya itu. tanpa cara ini jiwa kita bertujuh bakalan tidak dapat ditolongi lagi!‖ Tin Ok omong dengan perlahan-lahan. Tin Ok menjadi diam dan berpikir.‖ berkata ia. dengan dingin ia berkata: ―Mereka sudah celakai aku seumur hidup. mereka berdua itu adalah suami-istri. Kwa Tin Ok. Mereka itu segera saja menghampirinya. mereka mau percaya sang kakak tidaklah tengah berdusta. ―Sedikit saja ada kelisikan. Dengan menggape. Saudara-saudara pergi kau ambil tempat berlindung di empat penjuru. ―Kalau begitu. mereka bakal dapat tahu. di bawah batu itu tertampak sebuat peti mati bercorak kotak atau peti batu dan di dalam situ rebah dua mayat. Setelah seratus tindak. Ia tarik batu itu tetapi tidak bergeming. adik yang nomor enam. siapa dengar mereka. coba jalan seratus tindak ke selatan. Di situ ada banyak pepohonan dan rumput tebal. Irawan D Soedradjat Page 100 . itu waktu jangan kamu main kasihan-kasihan lagi. kau masih kecil sekali citmoay.‖ ―Kenapakah mereka itu tak hendak dikepung beramai-ramai?‖ Siauw Eng tanya pula. saki hati ini tak dapat tidak dibalas!‖ Lam Hie Jin segera campur bicara. ilmu silat mereka lihay sekali.‖ Kim Hoat mengajak. Tong Sie itu ialah pria dan Tat Sie itu wanita. batu itu kotor dengan tanah dan ketutupan rumput hijau. setelah melihat batu itu.‖ katanya kemudian. dia berani lawan. bantui saudaranya untuk mencabut. ―Musuhku itu bakal lekas datang kemari untuk melatih ilmu silatnya itu. marilah kita pergi bersama-sama. segera lari ke arah selatan. Sekarang barulah papan batu itu dapat disingkirkan. mereka lantas bekerja. Han Siauw Eng adalah orang yang hatinya paling berkhawatir dan paling heran pula.‖ sahut sang kakak denagn perlahan. sudah lantas lompat turun ke dalam peti mati yang besar itu. Cuma tinggali sedikit liang kecil untuk aku bernapas. ―Di masanya mereka itu malang-melintang di utara. untuk bokong pada mereka. maka itu kau tidak ketahui tentang mereka. Dia akhirnya menghela napas. Sekarang ini tak ada tempo untuk menjelaskan tentang mereka itu. ―Aku cuma minta kalian semua suka berlaku hati-hati. Dua orang itu snagat kejam. Semenjak ia kenal kakaknya yang tertua itu. Ia omong singkat tetapi kata-katanya sangat tepat yang tak dapat diubah lagi. baru kamu keluar untuk mengepung mereka. ―Baiklah kalau begitu.

kita menemui mereka itu. si Mayat Perunggu. Dilihat dari kepalanya. Di bawah terangnya sinar rembulan. adalah seorang wanita.‖ sahut kakak keduanya itu. ―Yang pria. degan darah dagingnya manusia. dia beroman seperti mayat saja. guna cegah sinarnya berkilauan. di tempat belukar seperti ini. semuanya bersipa sedia. setelah orang bubaran. berdiri diam.‖ ia mengeluh di dalam hatinya. pada wajahnya itu tak pernah tampak tanda kemurkaan atau tertawa. bernama Tan Hian Hong. dari lambat menjadi cepat.‖ Si wanita sudah lantas berjalan mengitari si pria. namanya Tiauw Hong. Irawan D Soedradjat Page 101 . Kapan sebentar kemudian tindakan kaki tak menerbitkan suara pula. suara itu menyebabkan ketegangan di hati ke enam bersaudara itu. Heran enam saudara itu. ―Mestinya dia Tong Sie dan Tiat Sie. lalu beruntun tiga tahun mereka mencoba mengepung Hek Hong Siang Sat.‖ ―Apakah nama mereka itu?‖ Siauw Eng masih menanya. ilmu apakah itu?‖ tanya adiknya lagi. nyata terdengar buku tulang-tulangnya bersuara meretek. ―Kiranya jieko waspada sekali.‖ Cu Cong menerangkan pula. yang satu mirip orang Mongol. maka beberapa tahun kemudian orang anggap. hingga mereka merupakan sebagai satu bayangan yang besar. Tidak disangka-sangka sekarang. Tiba-tiba si wanita itu angkat tangan kanannya. sebab Cu Cong mendekap mulutnya yang kecil mungil itu. Setahu bagaimana. Rambutnya pun mengikuti bergerak-gerak juga. Begitu lihat banyak orang. ―Kenapa toako tak pernah sebut-sebut itu? Mustahilkah…‖ Nona ini berhenti berbicara dengan tiba-tiba. mereka muncul pula. Tiat Sie itu. Sekarang terdengar suara pasir disebabkan tindakan kaki. bertahan terhadap serangan itu?‖ tanya mereka di dalam hati. ―Tentang ilmu itu belum pernah aku mendengarnya.‖ Sebentar saja benda itu sudah datang semakin dekat. maka itu orang juluki dia Tong Sie. karena dosa kejahatannya sudah meluap. yang berjalan rapat satu dengan lain. Enam saudara itu menjadi heran. Wanita itu gerak-geraki kedua tangannya. ―Sungguh memalukan. diulur dan ditarik. mereka lantas sembunyikan diri. Enam saudara dari Kanglam itu menahan napas. Siauw Eng tancap pedangnya ke tanah. ―Dia berparas muka semu kuning hangus seperti perunggu. di atas bukit itu tertampak dua orang bagai bayangan. yang memakai kopiah kulit. Siauw Eng bernyali besar tetapi ia toh menggigil pula.‖ pikir Siauw Eng. mengikuti jalannya.‖ ―Toako menyebut ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw. ―Sekarang ingin aku saksikan bagaimana mereka melatih diri…. Ynag kedua yang rambutnya panjang dan memain atas tiupan angin. disusul sama tangan kirinya menyerang dada si pria. yang disebut Tong Sie itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Menurut katanya mendiang guru. saban-saban terdengar suara mereteknya. mestinya berkulit hitam legam?‖ ―Tidak salah! Dia she Bwee. Lalu ia menyambung lagi. Siauw Eng diam sejenak. pantas toako memuji mereka. Siauw Eng segera memasang matanya ke arah tempat ynag ditunjuk itu. ia tampak seuatu benda hitam lagi bergerak-gerak cepat di atas tanah berpasir. suaranya semakin keras. ia terus pasang matanya. ―Dapatkah si pria.‖ jawab sang kakak.‖ pikir mereka. sambil memberi keterangan padaku. Cu Cong cekal kipasnya peranti menotok jalan darah. di tara ini. ―Sstt!‖ berbisik sang kakak itu seraya tangannya menunjuk ke bawah bukit. mereka itu dapat lolos. mereka itu telah menemui ajalnya. Maka sekarang tampaklah dengan nyata: Itulah dua orang. ―Orang-orang gagah dari Selatan dan Utara Sungai Besar pernah tiga kali mengadakan perhimpunan besar di gunung Heng San. belakangan orang tidak lihat lagi bekas-bekas tapak mereka.‖ ―Kalau begitu yang wanita. ―Tenaga dalamnya begitu hebat.

ia percaya dengan sembunyi di atas pohon. kepala di bawah. dengan rangkap kedua tangannya. tetapi sekarang. Disaat berbahaya itu. usianya ditaksir kira-kira empatpuluh tahun. ia tak bakal dapat dilihat. ia tarik napasnya keluar masuk. Biar toako yang mendahului…‖ Habis memeriksa isi perut mayat. Dengan menghadapi rembulan. beruntun hingga tujuh kali. untuk melatih tenaga dalamnya. aku dapat tublas tembus bebokongnya!2 pikir si nona Han. yang rupanya ditangkap untuk dijadikan bahan atau korabn latihan Kiu Im Pek-kut Jiauw. Ia duduk dengan membelakangi Cu Cong dan Siauw Eng. ia toh berpaling dengan segera. untuk membokong kita? Toako telah memikir jauh. baiklah kita taai pesannya. tumpukan tengkorak itu terang adalah korbankorbannya wanita kejam ini. untuk membuktikan sampai di mana hasil latihannya itu. ia lantas duduk numprah di tanah. Cengkeraman Tulang Putih. Tegang hatinya. lempang jegar. kalau dikepung bertujuh. dia tidak tekuk dengkulnya. habis itu. seperti desairnya angin. Bukan kepalang gusarnya Siauw Eng. Perlahan sekali suara itu. Hanya aneh. Tak ayal lagi. Wanita itu berhenti berlompatan dan berputaran sesudah ia berpekik keras dan panjang sambil ia lompat tinggi berjumpalitan dua kali. jadi lebih gampang untuk melayani Tong Sie. Diwaktu melompat. dan ia memeriksa itu. walaupun ia tertawa. Ia bertubuh kate. lima jarinya berlumuran darah pula. tidak membungkuk tubuhnya. ia dapat menduga. lalau ia membuangnya setiap isi perut itu. Kalau dia terbunuh lebih dahulu. orang memakai baju dalam kulit. karena ragu-ragu. gampang saja si wanita ini menelanjangi pria itu. berlompatan mengitari korbannya itu. Cu Cong tarik si nona dan menggoyangi tangannya. Tiba-tiba saja ia menoleh ke arah Siauw Eng. dibawa ke peti mayat di mana Kwa Tin Ok umpatkan diri. Kalau mereka ada berdua. hanya seorang yang lain. Si wanita sebaliknya tertawa besar dan panjang. hendak mereka menerjang berbareng. ia dapat lihat seperti bayangannya satu kepala orang di atas pohon. si wanita sudah menyerang pula. Begitu tutup dibuka.Tapi. ―Kalau sekarang aku tikam dia. Sembari mengawasi tangannya itu. nampak nyata bebokongnya bergerak-gerak. tangan kirinya menyambar kopiah si pria. wanita itu lompat mencelat. ia cabut pedangnya. hendak ia menerjang wanita itu.Pendekar Pemanah Rajawali Selagi begitu. sang sistri. ia masih tertawa. Maka terang sudah. Tiauw Hong geraki kedua tangannya. Si pria tapinya mirip mayat. Ia membungkuk. wanita itu memeriksa. biar dia lihay. kita pasti dapat melawan. ―Hanya kalau aku gagal. dimana hawa udara adalah sangat dingin. ke perut. Ia lantas seret mayat korbannya.. Disamping heran dan gusar. Sekarang enam saudara itu ketahui. dengan lima jari. bertambah hebat. Tanpa merasa. setiap serangan bertambah cepat. Bwee Tiauw Hong bangkit berdiri. si Mayat Besi. sembilan puluh sembilan persen. siapa tahu Tong Sie bersembunyi di mana? siapa tahu kalau dia muncul mendadak. . Saudara yang kedua ini telah berpikir: Tiat Sie bersendirian. Di bawah sinar rembulan. Cu Cong pun sama tegangnya sampai ia menahan napasnya. Tiat Sie nampaknya puas. si pria bukan Tong Sie. Dia lompat tingginya beberapa kaki. ia lompat ke arah pohon itu. Seberhentinyatertawa. ia bergemetar sendiri. habis melatih napasnya. Irawan D Soedradjat Page Itulah Ma Ong Sin Han Po Kie yang sembunyi di pohon itu. untuk angkat tutup peti mati istimewa itu. di Utara ini. tubuh siapa lalu ia letaki di tanah. Hampir Siauw Eng menjerit karena kagetnya. paru-paru dan jantung. tangan kanannya. kapan tangan kanannya di tarik. untuk merobek membuka pakaiannya pria korbannya itu. si suami. ia turun di sisi mayat. akibatnya mesti hebat sekali……………‖ Karena ini. ia tidak 102 Tiba-tiba Bwee Tiauw Hong mendengar berkelisiknya daun pohon di sebelah belakangnya. Ia hendak berlompat turun ketika tubuhnya bergerak bangun. kaki di atas. dengan sendirinya mereka menjadi membenci kekejaman wanita itu. untuk menarik keluar isi perut orang. mencengkeram ke ubun-ubun si pria. berbareng dengan pekiknya. Nyatalah. jumpalitan. tak dapat mereka layani…. dengan sembilan kali serangannya – Kiu im – wanita ini membikin rusak isi perut pria itu. dua tangannya dipakai menjambak dada dan perut mayat itu. yang semuanya telah tak utuh lagi. ia tak bersuara. hingga si nona dapat nampak wajah orang – satu wajah hitam manis. Tapat sampai pukulan yang ke sembilan. si wanita itu berjinjit. wanita itu adalah Tiat Sie Bwee Tiauw Hong. tubuhnya tidaj bergeming. enam saudara itu merasa kagum. mukanya tidak tersenyum. Enam saudara itu bersiap.

Dengan perlihatkan kegesitannya. Bwee Tiauw Hong main sambar musuh. Tanpa sangsi ia kerahkan tenaganya. kipas Cu Cong telah mengenai tepat sasarannya. menyambar ke kepalanya! Bukan main kagetnya Manusia Aneh yang kedua ini. terus ia lompat berjumpalitan. sedang di lain pihak. dia teruskan sambarannya kepada nona Han itu. Hebat kesudahan tendangan ini. hingga kedua senjata rahasia itu jatuh ke tanah. Dia menjadi kesakitan. Lam Hie Jin dengan Touw-kut-cui. ia juga balik menarik. ia menyambok dengan tangannya yang kiri. ialah jalan darah kiok-tie-hiat. ai maju pula. Satu mahasiswa yang memegang kipas totokan dan satu nona yang bersenjatakan pedang. guna mencengkeram daging. Maka ia lantas berpikir: ―Mereka banyak. lima jari tangannya menyambar ke arah bebokong si cebol itu. ―Mungkin ia tidak mempunyai jalan darah?‖ pikirnya. ia terus melawan denagn sepasang tangannya yang berdarah daging! Dengan kuku-kukunya yang seperti gaetan besi. hingga PO Kie mersakan sakit sekali. Po Kie meninsyafi bahaya. Siauw Eng menjadi terkejut. cepat-cepat ia melompat mundur. sedang di kirinya datang serangan golok dari seseorang yang bertubuh jangkung gemuk serta seorang kurus denagn senjatanya yanga neh. denagn perdengarkan suara membeletak. baiklah aku robohkan dulu beberapa diantaranya. mengarah kakinya. malah aneh juga. Tiauw Hong ketahui itu. dengan bekersama dengan kelima saudaranya. Bor Menembuskan Tulang. ia menyerang jalan darah kiok-tie-hiat dari musuh lihay itu. tangan kanannya telah merobek baju Po Kie di bagian bebokongnya! Po Kie menekan tanah denagn kaki kiri. masih dia lompat. yang sampai ke ulu hati. di bawah pohon. segera tangannya kaku dan mati. kaget dan gusar. Siauw Eng membabat tangan musuh. Semua penyerang itu tidak dikenalnya dan mereka agaknya lihay. seperti juga sebuah kipas besi. yang sangat gesit. dia lompat mundur satu tindak. ia enjot tubuhnya. kaki itu terseleo tekukannya. Ketika itu. herannya bukan buatan. atas mana. Mengikuti tarikan orang. ia menjadi heran dan gentar pula. menyerang ia dari kanannya. sementara penyerang dengan kayu pikulan itu adalah seorang desa. Tendangan seperti mengenai papan batu. dan gesit sekali. hanya dasar jago. Dia agaknya tidak takuti senjata tajam itu. Di saat itu. Ia mengarah ke lengan. Han Po Kie sudah jemput cambuknya. ia dapat dipergoki wanita lihay itu yang segera menerjang ke arahnya. Tetapi Tiauw Hong. hatinya girang sekali. dia masih bisa menggulingkan diri. dengan satu kali meleset. hingga bahna sakitnya. tetapi ia juga bertenaga besar. Menyaksikan itu. Dengan satu gerakan ―Pek louw heng kang‖ atau ― Embun putih melintangi sungai‖. Cu Cong tahu ia telah dapat menghajar sasarannya. Disaat itu. hanya di saat itu. akan lomcat pula. Tiauw Hong tidak hendak memberi lolos. akan sambut wnaita itu dengan cambuknya Kim-liong-pian. dia segera mengerti bahwa dia telah berada dalam kepungan. untuk membebaskan diri dari sambaran itu. dia angkat kakinya. Tapi Tiat Sie si Myata Besi benar-benar lihay. menyambar ke arah musuh itu. Bwee Tiauw Hong dengan berani berbalik menyambar pedang. lagi sekali ia enjot tubuhnya. sebab sepuluh kukunya telah nancap di dagingnya. Ia lolos tetapi kegetnya tak kepalang. menendang ke arah perut. aku sendirian. dengan putar ugal-ugalan tangannya. dan Coan Kim Hoat dengan sepasang panah tangannya.‖ Demikian. ia roboh hampir pingsan. dia seperti tidak menghiraukan enam rupa senjata musuh itu. sebaliknya. ia menyambar ke mukanya Siauw Eng! Cu Cong melihat ancaman bahaya untuk adiknya itu. enam Manusia Aneh itu menjadi ingat semua tengkorak Irawan D Soedradjat Page 103 . akan menyingkirkan jauh. untuk menendang bebokong musuh gelapny aitu. sebab ia tidak pedulikan totokan itu. siapa terkena totokan itu. Biasanya. maka juga pedang dan golok semua seperti merabu Bwee Tiauw Hong. atau lebih benar mengikuti cambuk Naga Emas. sudah lompat hingga di depannya dan sambil menaya: ―Kau siapa?! Perlu apa kau datang kemari?!‖ sepasang tangannya sudah mampir di pundak orang. Batal menyerang. Po Kie merasakan angin dingin di pundaknya. untuk dicekal dan dibarengi ditarik dengan keras! Po Kie merasakan satu tenaga keras menarik ia. yang cepat bagaikan angin. Bwee Tiauw Hong tidak berkelit atau menangkis. Justru is bergirang itu. Hanya kali ini. Bwee Tiauw Hong menyambar dengan tangannya ynag kiri. dengan lihaynya matanya dan jelinya kupingnya. mengepung musuh yang lihay itu. tahu-tahu tangan musuh berkelebat. Tiauw Hong snagat lihay. Akan tetapi si Mayat Besi tak jeri. untuk meleset ke depan.Pendekar Pemanah Rajawali sangka. di antara suara keras. untuk merampas senjata. ia lepaskan cambuknya. sebuah kayu pikulan yang hitam menyambar dia dari samping. anginnya pun tiba lebih dahulu. ia papaki cambuk itu. untuk terus disambar. ai lompat melesat.

sudah ada tiga yang kena tangan lihay si Mayat Besi. yang diangkat tinggi. Ia menjadi bersangsi. Dipihaknya. Merka juga mendapatkan tubuh orang seperti besi kuatnya Dua kali bandulan timbangan Coan Kim Hoat mengenai bebokongnya Tiat Sie dan satu kali kayu pikulannya Kanglam Liok Koay menyambar paha. jidat mereka bermandikan peluh. kedua matanya mengawasi ke langit. demikian pun jalan darah lainnya. Hebat Bwee Tiauw Hong. di tenggorokan jalan darah hoan-kiat.Pendekar Pemanah Rajawali yang berliangkan bkeas jari tangan itu. tak tunggu tibanya cengkeraman. ia heran. Lima Manusia aneh lainnya kaget. Manusia Aneh ynag kedua itu menyingkir beberapa tindak. Satu kali Cu Cong kebetulan menoleh ke arah tumpukan tengkorak. Tapi si Mayat Besi sudah berhasil. dua macam ilmu kedot. Segera ia melompat. semua senjata lainnya. melihat mana. justru itu Cu Cong bebaskan diri. tak saja bajunya Kim Hoat robek. Bwee Tiauw Hong dapat menerka maksud orang. supaya kawan itu segera turun tangan. Tiba-tiba ia bergidik. ia menggapai-gapai. Lagi sesaat. dengan sendirinya hati mereka menjadi gentar. Han Po Kie dan Coan Kim Hoat sudah lantas mulai tersengal-sengal napasnya. Siauw Eng lantaran kegesitan tubuhnya. Cu Cong jadi berpikir. Dia berseru: ―Siucay rudin. ia sambar sepasang mata lawannya itu. ia mesti mempunyai suatu anggota kelemahannya. ia menjadi terkesiap hatinya. semua anggota tubuhnya telah terlatih sempurna!‖ Dan tangannya menyambar lengan si mahasiswa itu! Cu Cong terkejut. selagi begitu Cu Cong bersama Thio A Seng dan Han Po Kie. ia jadi ingat sesuatu. Ia tahu betul. Syukur ia keburu membela dirinya. menyerang sambil mencari-cari. untuk lari ke arah peti mati. ―Dari mana munculnya segala orang hutan yang hendak mencurangi nyonya besarmu!‖ kata Tiauw Hong dengan ejekannya. Itulah teriakan dan tanda untuk kawannya yang sembunyi di dalam peti mati. tidakkah mereka bertujuh saudara bakal roboh semuanya? Thio A Seng. hingga ia menjadi berpikir keras. . celakalah ia. di mana Kwa Tin Ok lagi sembunyikan diri. tidak juga ada hasilnya. ia dapat lihat cahaya putih dari tengkoraktengkorak itu. ia dapat menyambar kayu pikulan dari Lam Hie Jin. dengan tangan kirinya. tidak ampun lagi bahu kirinya kena dicengkeram Bwee Tiauw Hong. mereka lantas berkelahi sambil mundur. Cu Cong berteriak keras: ―Lekas turun menyerang!‖ Dengan tangan kanan ia menunjuk ke atas. ketahui olehmu. Karena ini ia berlompatan. sepotong dagingnya pun kena tercukil dan dia berdarah-darah. tetapi Bwee Tiauw Hong agaknya tidak terluka. tanpa merasa ia angkat kepalanya. untuk angkat papan batu tutup dari peti mati itu. Irawan D Soedradjat Page Bwee Tiauw Hong heran. ia berteriak: ―Semua lekas menyingkir!‖ Lima saudara itu mengerti teriakan itu. untuk lihat lengannya. Tiauw Hong kena cekal barang keras. tetapi tiba-tiba juga. Ia sudah menontok belasan kali. Tiauw Hong malah bertambah gagah nampaknya. Coba Tong Sie si Mayat Perunggu muncul. sedang seharusnya dia mesti patah atau remuk tulang-tulangnya. Ia melainkan hanya lihat rembulan. mereka menyerang dengan berbareng guna menolongi saudara mereka itu. Karena ini. ia tak tampak manusia seorang juga. memandang ke atas. sembari berlari. Di sana terpeta tapak lima jari tangan. maka itu dengan tangan kanannya. baiknya ia gesit dan cerdik. sudah lanats kerahkan tenaga mereka. ―Sekarang sudah terlambat untuk kamu melarikan diri…!‖ segera ia merangsak. Mereka menggesernya ke samping. pada nyonya besarmu tidak ada bagiannya yang lemah. Kecuali golok lancipnya dari Thio A Seng dan pedang tajam dari Han Siauw Eng. ia mendahului menotok telapak tangan orang. berani Tiat Sie sambut dengan tubuhnya yang tangguh itu. ia menduga-duga dimana kelemahan musuh lihay itu. yang sudah lantas lari ke peti mati. dan Tiat-pou-san – Baju Besi. Tinggal Lam Hie Jin yang masih dapat bertahan demikian juga dengan Lam Siauw Eng – Hie Jin karena tenaga dalamnya sempurna. Ia menggunai tangan kirinya. Di batok kepala ia totok jalan darah pek-hoay. sedang di perut jalan darah cee-cun dan di bebokong jalan darah bwee-liong. kalau tidak. Dipihak sana. teranglah orang telah punyakan pelajaran Kim-ciongtiauw – Kurungan Loncang Emas. Coan Kim Hoat berlaku rada ayal. Lam Hie Jin bersama Coan Kim Boat dan Han Siauw Eng mencoba merintangi musuh ini. 104 Disaat itu. siapa punya ilmu kedot.

tubuhnya lalu meleset naik ke atas pohon. dengan menukikkan tongkat besinya ke tanah. Dengan menerbitkan suara keras. bagus!‖ Tiauw Hong menghela napas. ―Jadinya kau datang untuk menuntut balas untuk Hui-thian Sin Liong?‖ ―Tidak salah!‖ jawab Tin Ok. bocah kiranya kau belum mampus?‖ tanya dia. merangkul pohon besar di belakang Tin Ok tadi. ia akan mati dengan puas!‖ Cu Cong menggoyangi tangan kepada kakak tertuanya. ―Celaka. Coba Tin Ok yang terkena rangkul. ia berdiam. ia menggempur terus dengan kedua tangannya kepada Kwa Tin Ok. suaminya…‖ kata Cu Cong dalam hatinya. dari jauh-jauh. ―Kau juga belum mampus. batang pohon besar itu tercengkeram sepuluh jarinya. dengan kerahkan tenaga di tangannya. ia turut lompat keluar dari dalam peti mati. ia serang bebokongnya si Mayat Besi. Lalu ia meneruskan dengan seruannya:‖ Lekas bereskan dia!‖ Ia pun mendahulukan. Ketika itu angin dingin meniup membuat orang mengkirik. Bwee Tiauw Hong tubruk sasaran kosong. ia bersilat ke empat penjuru. Untuk sesaat mereka tidak menyerang pula. Empat yang lain. yang mengenai dada dan paha. Tin Ok sudah merasakan sambaran angin ke arah dadanya. Maka itu. Tujuh saudara itu mengawasi. Tin Ok sudah perdengarkan suaranya yang dingin itu. Nyata kedua matanya telah menjadi korbannya tok-leng. mana dapat ia melihat tandanya itu? Benar saja. Selang sekian lama. ―Kamu siapa?!‖ ia berteriak dengan pertanyaannya. ia jadi terperanjat sendirinya. enam Manusia Aneh itu bergidik sendirinya. untuk kakak itu jangan membuka suara. Irawan D Soedradjat Page 105 . tengah dan bawah. kedua tangannya menyambar berulang-ulang. ia sudah lantas bekerja sama dengan enam saudaranya itu. mereka menyaksikan lebih jauh bagaimana Mayat Besi menyambar pepohonan dan batu yang melintang di depannya. Cu Cong tidak buka suara. batu telah kena terhajar hancur. suaranya tajam dan terdengar jauh. ―Hai. Bwee Tiauw Hong telah kehilangan penglihatan kedua matanya. Pun. ia membuatnya pohon-pohon rubuh dan batu hancur tertendang. papan batu itu terpatah menjadi dua tanpa ampun lagi! Kanglam Cit Koay menyaksikan itu. Bwee Tiauw Hong melengak dan lalu tertawa panjang. Dalam murkanya. dengan begitu enam buah senjata rahasianya sudah lantas menyerang ke tempat tujuh tindak. empat-empatnya jatuh menggeletak di tanah. Ia menepuk keras. Ia ingin si Mayat Besi mati sendirinya karena bekerjanya racun senjata rahasia itu. dari itu.Pendekar Pemanah Rajawali ― DI depan tujuh tindak!‖ Cu Cong teriak pula. mereka berdiam tetapi siap sedia. tidak memberi hasil. ―Lekas kasih tahu! Kalau nyonya besarmu mati. Tiauw Hong merasa matanya keras. Kwa Tin Ok di dalam peti mati telah siap sedia. segera kedua tangannya diayunkan. sasarannya adalah tiga bagian atas. maka itu sekarang ia berkelahi secara kalap. Baharu dua kali ia menggoyangkan tangannya. masihkah ia mempunyakan nyawanya? Gagal serangan itu. tanpa hiraukan sakitnya itu. Tiauw Hong terus menendang papan batu yang menghalangi di depannya. Kakak itu buta. Bwee Tiauw Hong sendiri sudah lantas perdengarkan jeritan hebat dan menggiriskan. ―Apakah kau masih ingat Hui-thian Sin Liong Kwa Pek Shia atau Hui-thian Pian-hok Kwa Tin Ok?‖ demikian tanyanya. dia lagi memanggil Tong Sie. menampak mana. karenanya tubuhnya maju terus. sambil berseru keras. ―Toako awas!‖ sekonyong-konyong Cu Cong dan Coan Kim Hoat berseru. senjata rahasianya Tin Ok itu. hati mereka menggetar. Belum habis peringatan kedua saudara itu. dengan tangannya ia memberi tanda kepada saudara-saudaranya menjauhkan diri dari orang kalap itu. akan tetapi Tin Ok telah segara berkelit ke samping. Ia rupanya menginsyafi yang ia telah terkena senjata rahasia yang ada racunnya. Bwee Tiauw Hong merasakan sangat sakit dan juga menjadi sangat gusar. Bwee Tiauw Hong berpekik keras.

lekas lari!‖ Kwee Ceng dengar suara itu. akan tetapi kupingnya terang. Ketika itu Bwee Tiauw Hong sudah tidak mengamuk seorang diri lagi. tetapi ia gagal. sebab ia segera menduga kepada Kwee Ceng. habis menolongi orang. Kanglam Cit Koay terkejut. mendaki bukit. sampai sebegitu jauh belum pernah ia berani mengutarakan rasa hatinya itu. bayangan itu masih berpekik-pekik. Hampir berbareng dengan itu. bayangan ini tadi tidak kelihatan.Pendekar Pemanah Rajawali Thio A Seng menyerang dengan salah satu potong papan batu yang tdai ditendang patah Bwee Tiauw Hong. ia lari turun. Malam Yang Hebat Cu Cong ambil sikapnya ini untuk bersedia membokong musuh. lalu menyusul pekik yang kedua. ia girang yang orang telah menepati janji. guna mencegah racun di matanya dapat menjalar. Setelah hasilnya yang pertama ini. terus ia memutar tubuh. Segera menyusul serangannya yang kedua. Sembari mendatangi. Dan ia kemudia berlari. tentu saja Manusia Aneh yang kedua ini tidak sudi menjadi korban. niatnya mendahului nona itu. Ia khawatirkan keselamatannya bocah itu. ia pun belum pernah menyakinkan ilmu mendengar suara seprti Kwa Tin Ok. ia mendahulukan menyambar. Tiba-tiba ia rasai tangannya enteng. Dengan sikapnya ini ia menantikan suaminya. dari itu. Ia pilih batok kepala musuh sebagai sasarannya. ia menjadi kegirangan hingga ie berseru. untuk memandang ke bawah bukit. Kwee Ceng pun menjerit kaget! Bocah itu telah dirampas Tan Hian Hong. ―Aku bukan tandingannya Tong Sie…. Ia tampak satu bayangan hitam lari mendatangi dengan cepat sekali. terpaksa ia berteriak: ―Bocah.tapi mana dapat aku tidak menolong bocah itu?‖ Maka terpaksa ia cepatkan tindakannya. maka ia susuli dengan tikaman ke arah mata. ada satu bayangan lain. mereka bersedia dengan senjata rahasia masing-masing. Cu Cong tidak berhenti sampai di situ. Siauw Eng lompat ke samping. si nona terus menyingkir. Cu Cong segera geraki tangannya ke arah Coan Kim Hoat. Tong Sie si Mayat Perunggu pun telah mendatangi semakin dekat kepada Kwee ceng. Ia dapat berlari dengan cepat luar biasa. ia malah mesti lompat menyingkir. di depan bayangan yang berpekikan tak hentinya itu. yang kecil dan kate. Ia tanmpak sekarang. berbareng dengan itu. ia sambar bocah itu. dengan melupakan bahaya. yang terlebih nyaring lagi. Tiat Sie buta sekarang. demikian bayangan yang mengejar itu. Karena tubuhnya kecil. ia segera berkelit ke samping. Segera juga Siauw Eng sampai kepada Kwee Ceng. untuk memberi tahu supaya. dari situ ia menyerang dengan pedangnya ke iga kiri si Mayat Perunggu. Lam Hie Jin semua memasang mata ke bawah bukit. Kali ini ia gagal. Rupanya Tiauw Hong telah dapat menduga. guna menyambut bocah itu. napasnya diempos. lalu berdua mereka lompat ke gombolan rumput. untuk suaminya itu tolongi dia sambil membasmi musuh…. Siauw Mie To Thio A Seng telah menaruh hati kepada Han Siauw Eng sejak beberapa tahun. maka itu. Ia lantas lari turun ke arah orang orang bertubuh kecil dan kate itu. dari kejauhan terdengar pekikan nyaring seperti pekikan Tiauw Hong barusan. tanda bahwa orang yang memperdengarkan itu telah datang lebih dekat. ia tidak tahu. Ia berkhawatir berbareng girang. Ia menjadi kaget apabila ia merasakan bebokongnya sakit sampai jauh di ulu hatinya. sambaran angin papan batu itu pun keras. ia tergempur di bagian dalam. ia lihat si nona. ―Hebat larinya orang itu!‖ kata beberapa diantaranya. untuk memapaki. ―Inilah hebat…‖ pikir Siauw Eng. ia kaget dan berkhawatir. untuk menolongi Siauw Eng dan A Seng. Han Siauw Eng lompat ke samping. Dengan beruntun ia mainkan Irawan D Soedradjat Page 106 . Bab 10. Ia dapat menghindar dari batu tetepi tidak serangannya Cu Cong. guna lari balik. sekarang ia lihat si nona Han terancam bahaya. Tidak peduli ia kebal tetapi serangan Biauw Ciu Sieseng hebat bukan main. Pekikan itu membuat hati orang terkesiap. ia terpaksa menggunai akal ini. di belakangnya dia tangan maut lagi menghampiri. ia dengar angin itu. Itu waktu Siauw Eng telah kasih dengar suara kaget. Ia percaya Tong Sie terlebih lihay daripada Tiat Sie. ia berdiri diam dengan sikapnya yang siap sedia. tanpa bilang suatu apa. Selagi dua orang ini mendatangi dekat satu dengan lain. Dengan kegesitannya. lekas lari.

lima jarinya masuk ke dalam daging betis. ia jauhkan diri. ―Satu juga tidak bakal lolos!‖ sambil mengucap begitu. setelah satu jeritan keras.Pendekar Pemanah Rajawali jurus ―Hong Hong tiam tauw‖ – Burung Hong menggoyang kepala. Cu Cong bersama Coan Kim Hoat. ia tak mau berkelahi secara rapat. ia menduga-duga siapa mereka dan kenapa mereka itu muncul di gurun pasir ini. Berbareng dengan itu. Lam Hie Jin dan Han Po Kie lantas lari menyusul tubuh saudaranya itu. makhluk-makhluk ini orang-orang macam apakah?!‖ Bwe Tiauw Hong sahuti suaminya itu: ―Mereka itu adalah saudaranya Hui-thian Sin Liong dan konconya Hui Thian Phian-hok!‖ ―Oh!‖ berseru Hian Hong. setelah pedang itu berpindah arah. hingga seketika ia roboh ke tanah. Sia-sia Siauw Eng tarik pedangnya. tanganya Hian Hong mendahulukan menepuk pundaknya. batal meneruskan serangannya kepada Siauw Eng. menampak nona Han dalam bahaya. ia menyahut dengan keras: ―Lelaki bangsat. Justru itu. Thio A Seng sudah maju tinggal beberapa tindak lagi. Siauw Eng buang diri dengan bergulingan. ia menerjang kepada musuh itu. ia memburu dan ulur tangannya yang terbuka ke ubun-ubunnya nona Han. Ia bergerak dalam jurus Kiu Im Pek-kut Jiauw yang lihay yang untuk meremukkan batok kepala orang. sambil lompat bangun. Thio A Seng rebah di tanah dengan terluka parah. perempuan bangsat.sepasang mataku dirusak oleh mereka itu! ikalau kau kasih lolos satu saja diantara tiga ekor anjing itu. Tapi sekarang ia menginsyafi lihaynya musuh. ia melihat ancaman bahaya terhadap si nona yang ia sayangi. Di waktu itu. ia berputaran. legakan hatimu!‖ sahut Tan Hian Hong. dengan begitu ia bisa menyingkir beberapa tindak. ia menyampok. perempuan bangsat. dan ―Wat Lie Kiam-hoat‖. ia menahan sakit. Ia menjerit keras tetapi pedangnya dikerjakan untuk dipakai menikam ke dadanya lawan! Hanya. untuk mengahalangi serangan. ia lalu menanya: ―Eh. untuk diteruskan dipakai membabat. Hian Hong lihay sekali. maka itu. ia lompat kepada si nona itu. ia papaki kakinya Thio A Seng itu. bangsat anjing. hingga ia bebas dari bahaya. si Mayat Perunggu lemparkan tubuh musuhnya. kapan Hian Hong mengempos semangatnya. hingga lima jarinya si Mayat Perunggu masuk ke dalam dagingnya. Tiauw Hong tengah memegangi pohon besar. Tan Hian Hong tidak berhenti sampai disitu. Siauw Eng lepas dari marabahaya. bagaimana dengan lukamu? Apakah luka itu menghendaki jiwa kecilmu yang busuk itu?!‖ Irawan D Soedradjat Page 107 . Akhirnya ia berteriak: ―Eh.ilmu pedangnya gadis Wat. sebentar akan aku adu jiwa denganmu!‖ ―Bangsat perempuan. ia jatuh pingsan. tak dapat Siauw Mie To bertahan lagi. bagaimana kau?!‖ terdengar teriakannya Hian Hong. Lam Hie Jin dan yang lainnya telah tiba. ia kerahkan semua tenaganya. Dengan gerakannya ―Lay louw ta Kun‖ atau ―Keledai malas bergulingan‖. saban kali si Mayat Perunggu hendak menjambak. tetapi justru karena ini. malah Cu Cong bersama Coan Kim Hoat mendahulukan menyerang denagn senjata rahasia mereka. perempuan bangsat. Lantas ia mendamprat: ―Bagus betul. kiranya kau belum mampus! Jadinya kamu datang kemari untuk mengantarkan nyawa kamu!‖ Tapi ia juga khawatirkan keselamatan istrinya. ―Kau masih memikir untuk menyingkir?‖ tanya Hian Hong. Tan Hian Hong kaget dan heran akan menyaksikan semua musuhnya demikian lihay. ia meneruskan menyambar si nona dengan jurusnya ―Sun swi twi couw‖ – Menolak Perahu Mengikuti Air. lalu dengan sikut kanannya. bebokongnya mewakilkan Siauw Eng kena dijambret. Tan Hian Hong mengempit Kwee Ceng di dengan lengan kirinya. pedang itu meleset di dadanya itu. ia kasih lewat ujung pedang. ―Hai. ia serang Han Siauw Eng dengan dua-dua tangannya. ia menyerang musuhnya.

Ia menyerang dengan Teetong Pian-hoat. Setelah berselang begitu lama. sebab tadi hampir-hampir ia tak dapat bernapas. Ia tidak menghiraukan lagi hal ini karena adiknya terancam dan adiknya itu perlu ditolongi. tanda tenaga diadu. Karena ini. hingga semua orang tidak dapat melihat sekalipun lima jari tangannya di depan matanya! Di dalam gelap gulita itu. yaitu Kwa Tin Ok. makin lihay musuh. Bocah itu dalam bahaya. Gerakannya itu ialah yang dinamakan ―Leng miauw pok cie‖ atau ―Kucing gesit menerkam tikus‖. ai terus lompat kepada Kwee Ceng. makin keras niatnya untuk membinasakan mereka. Istri itu sengaja pentang mulut besar. tapinya ia tidak terluka. Maka itu kurungan mereka menjadi semakin lebar. sambil berkelit. sudah selesai delapan atau sembilan bagian. terpaksa ia melenggakkan tubuhnya. Han Po Kie tunujk keberaniannya. satu kali ia kena dihajar kayu pikulan Lam Hie Jin. sedang yang satunya lagi. Hian Hong sendiri bukannya tidak menderita karenanya. si adik yang ketujuh itu. guna mencekik leher musuh itu. Cu Cong berlima telah kurung padanya. Sekonyong-konyong saja guntur berbunyi sangat nyaring. Ia lantas lepaskan Kwee Ceng. Diwaktu dipakai menyambar. lalu dengan tiba-tiba juga. ―Citmoay. mega hitam menutup sang putri malam. dia hanya terteriak menjerit-jerit. sebab tubuhnya terpental rubuh saking kerasnya serangan sikut itu. meneruskan gerakan tangan kirinya itu. Cu Cong pun merangsak ke belakang Tong Sie. Kelima Manusia Aneh dari Kanglam itu menginsyafi bahaya. Itulah Tan Hian Hong. guna membnagkol lengan musuh itu. untuk menolongi diri berbareng menolongi orang. Kiu Im Pek-kut Jiauw. tapi ia telengas. ia gunai Kim-na-hoat. Kim Hoat kaget melihat Kwee Ceng dilempar. yang ia lempar ke tanah. orang dengar suara merekek dua kali dan suara ―Duk!‖ satu kali. tidak nanti ia pegang pohon saja dan tiak datang membantu. Rasa sakit tiba-tiba membuat Cu Cong meringis dan tangannya yang dipakai mencekik leher musuh terlepas sendirinya. Dengan caranya ini. ia menyingkir setombak lebih. setelah bebas. kalau tidak. tubuh siapa ia sambar. tangan kanannya yang keras seperti besi. Belum lagi Hie Jin menarik pulang senjatanya. Lihay tangannya Hian Hong itu. Berbareng dengan itu. hingga bebokongnya berbunyi bergedebuk. yaitu ilmu bergulingan di tanah. Irawan D Soedradjat Page 108 ―Semua renggang!‖ teriak Han Po Kie dalam gelap gulita itu. dengan lompat berjumpalit. tak sudi mereka merapatkan diri. Tiba-tiba ia berpekik. atau sekarang tangan itu – atau lebih benar lima jarinya – sudah mendekati ubun-ubunnya! Dalam keadaan sangat berbahya itu. untuk diputar ke kiri. sedang sikutnya yang kiri menghajar dadanya Cu Cong. Karena tangan kanannya itu terangkat. berbareng dengan itu juga da tercium bau bacin. ia membikin perhatiannya tan Hian Hong menjadi terbagi. Hie Jin kaget sekali.Pendekar Pemanah Rajawali Bwee Tiauw Hong menyahuti suaminya dengan mendongkol: ―Lekas bunuh mereka! Nyonya besarmu tidak bakalan mampus!‖ Hian Hong tahu luka istrinya itu berat. diulur. apalagi sekarang ini latihannya ilmu yang baru. tangannya menyambar penyerangnya itu. guna menggempur kaki lawan. Hian Hong kagum hingga ia memuji di dalam hatinya. kedua tangannya bekerja. buku-buku tulangnya memperdengarkan suara berkeretekan. berdiri diam sambil menanti ketikanya. kau bagaimana…‖ ―Jangan bersuara!‖ menjawab Siauw Eng. meninju dan menyambar. si Mayat Perunggu itu. dengan sendirinya dadanya menjadi terbuka. ilmu menangkap tangan. ia serang Coan Kim Hoat. Ia berkhawatir tetapi ia dapat menghampiri istrinya itu. berbareng dengan itu. . Walaupun merasakan sakit. yang telah pertunjuki tenaganya yang menyebabkan Hie in patah bahu kirinya. lalu tangannya itu seperti terulur menjadi lebih panjang dari biasanya. Selagi ia dapat mencium bau itu. karenanya mereka berkelahi dengan waspada. Dan ia lari ke samping beberapa tindak. untuk lekas-lekas menjalankan napasnya. tangan musuh yang berwarna biru sudah mendekati alisnya. sambaran itu sudah sampai kepadanya. ia lompat ke samping. Karena itu.

Tin Ok kaget tidak kepalang.com bergerak pula. Justru itu.Pendekar Pemanah Rajawali Kwa Tin Ok dengari segala gerak-gerik. Pertempuran Hian Hong dengan Tin Ok hebat dengan cepat telah berlalu dua sampai tigapuluh jurus. Gerakannya itu terhalang. tengah menyambar ke kakaknya itu. di tempat gelap gulita itu. maka syukur untuknya. ia lanjuti serangannya. rasanya pertempuran itu berjalan sudah lama. Telak serangan itu. ia tertawa sambil berlenggak. musuhnya itu. Semua orang berhenti bertempur karenanya. tubuhnya sudah mencelat maju. awas!‖ Hian Hong sangat lihay dan gesit. untuk menganjurkan kakak itu. untuk mendesak Kwa Tin Ok. Tongkatnya yang terampas Hian Hong. Si Mayat Perunggu lihay sekali. yang digunai Hian Hong. sambil berkelit. itu artinya Kanglam Cit Koay telah kalah besar. guna mencoba mengacaukan pikiran musuh. ia berpekik secara aneh. Tin ok dengar suara angin. Kwa Tin Ok berdiam. ia menjadi tahu di mana adanya si penyerang. siapa pun tidak dapat melihat siapa.kangzusi. Ia dengar suara napas di sebelah kiri ia. Ia tidak hiraukan tongkat lawan. Dengan waspada ia pasang terus kupingnya. Irawan D Soedradjat Page 109 . Satu dengan yang lain tidak dapat melihat. Empat yang lain tepat mengenai tubuhnya. Dua kali ia terhajar tongkat. Selagi orang kegirangan. kedua tangannya dipakai untuk menyambar. Dengan begitu.‖ Coan Kim Hoat memberitahu. mendadak kilat menyambar. sang hujan pun turun menyusul. tubuh Tin Ok terhuyung. ia masih ingat untuk segera menyerang denagn cambuknya. sudah lantas kasih dengar seruan mereka berulang-ulang. Tiba-tiba Hian Hong menjerit aneh. yang ketahui kakaknya tengah bertenpur. Berbareng dengan gerakan tangan kiri ini. Hui Thian Pian-hok si Kelelawar Terbangkan Langit itu menjadi girang luar biasa. ia tidak terluka. akan terbangkan enam batang tok-leng. Hian Hong lanjuti serangannya tanpa berlengah sedetikpun. suara terhajarnya terdengar nyata. tangan kanannya menjambak ke depan. ia melihat bagaimana tongkat kakaknya itu. dengan mengepal lima jari tangannya. guna menangkap tongkat musuh itu. tiga sudah terluka parah. ia melompat mundur. Tongkat itu ia papaki denagn pundaknya yang kiri. ia menghajar dengan tongkatnya. disebabkan ketegangan dan kecemasan hati mereka. Coan Kim Hoat terkejut. diarahkan ke tiga penjuru. guna mencegah dan melibat tongkat itu. lengannya itu terulur panjang. yang kembali mampir di tubuhnya yang kebal itu. ia segera menunduk. dua orang ini bertempur. tidak ada satu pun yang berani mendahului www. tapi ia belum bebas bahaya. Po Kie semua bergirang. Syukur dalam kagetnya itu. yang tubuhnya terhuyung. ―Thian membantu aku!‖ ia memuji dalam hatinya. karena bajunya kena terjambak dan robek karenanya. Ia tidak kasih dengar suara apa-apa. kilat berkelebat pula. Karena serangan tok-leng ini. tangannya sendiri diputar ke atas. mereka dari itu Cuma andalkan kuping mereka. sang guntur menyebabkan langit menjadi gelap gulita. walaupun ada suara hujan. Sinar kilat sudah lenyap tetapi sambaran itu telah mengenai sasarannya. Han Po Kie bersama Han Siauw Eng dan Coan Kim Hoat. habis mana. itu bukan napas saudara angkatnya. kau bagaimana?‖ ia terpaksa bertanya. selagi Kim Hoat bersuara. Itulah tandanya kakak mereka mulai berhasil. Diantara tujuh Manusia Aneh. dengan lihaynya pendengarannya itu. Ia merasa pasti. ia menjadi heran sekali. Ingin mereka membantui saudara mereka itu tetapi mereka tidak dapat melihat. ―Sekarang ini langit gelap sekali. Karena ini. memperlihatkan sinar terang. mereka melainkan mendengari suara sambarannya angin. Tan Hian Hong adalah orang yang diserang. Dua batang tok-leng lewat di atas kepalanya. mereka pun menolongi tiga saudara mereka yang tealh terluka. Untuk Han Po Kie beramai. Mendengar itu. oleh Hian Hong dipakai menyerang ia dalam rupa timpukan! Bukan main girangnya si Mayat Perunggu. terpisahnya delapan atau sembilan tindak daripadanya. tetapi ia kebal seperti istrinya. Mendengar itu. Ia lompat ke arah musuh itu. ia lantas berkelit. Disamping itu dengan meraba-raba. samar-samar ia masih mendengar suara napas orang. ―Jitee. ia melainkan merasa sangat sakit. dengan lantas ia ayunkan kedua tangannya. ia berseru: ―Toako. Ia dengar sambaran angin. maka juga Han Po Kie menjadi kaget sekali.

lain-lain muridnya Irawan D Soedradjat Page 110 . suaranya terputus-putus. dari mana mereka menyingkir lebih jauh ke Lengpo di propinsi Ciatkang. Segera ia tiba di samping suaminya. Tak pernah ia lupai kebiasaannya membawa-bawa ―bangsat‖. manusia cebol terokmok!‖ berseru Hian Hong. tetapi sekarang selagi mencekuk satu bocah. Maka sejenak itu. Diwaktu bertempur ia selalu melindungi perutnya. sedikit orang yang ketahui kelihayannya. kepandaiannya itu ia ciptakan dan yakinkan di pulau Tho Hoa To itu. Kapan Oey Yok Su ketahui perbuatannya kedua murid itu. Oey Yok Su adalah pendiri dari suatu kaum persilatan sendiri. Ia menduga tak keliru. ia tidak terluka. seperti ada tangan yang menyambar merangkul. mereka bakal dihukum mati dengan disiksa. dari atas bukit ia lari untuk menghampirkan. kau kenapa?‖ ia tanya. Laut Timur. ia bersembunyi di pinggiran. tulang-tulangnya lantas meretak berulang-ulang. maka ia tak berbuat kepalang tanggung. ia curi sekalian kitab Kiu Im Cin Keng dari gurunya. Maka juga. yang lihat aksinya si orang she Han. ialah kelemahannya. Sebagai jago is terbinasa di tangannya satu bocah yang tidak mengerti ilmu silat. Tapi ia telah bersumpah tidak akan meninggalkan Thoa Hoa To. ―Hm!‖ Hian Hong ksaih dengar suaranya yang seram. yang menolongi kakanya itu. ilmu silatnya cukup untuk membela diri tetapi tak dapat digunai untuk menjagoi. disaat hendak menghembuskan napas terakhir. berurat tembaga bertulang besi. Ia lantas berlompat. Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong ini asalnya adalah saudara satu perguruan. ialah kitab Kiu Im Cin Keng bagian rahasianya. ―Lekas kau lari…!‖ Kwee Ceng dengar pembicaraan itu. untuk mana ia nyelusup masuk ke kamar gurunya itu. ―Kitab itu telah aku bakar…‖ kata Hian Hong. mereka naik sebuah perahu kecil. Satu kali ia kena injak tempat kosong.‖ sahut Hian Hong lemah. Tiauw Hong tahu. guna hampirkan si cebol. ia hajar batok kepala suaminya. hanya saking murkanya. ―Lelaki bangsat. sekalian buron. terpaksa ia membiarkan saja. tidak pernah ia pergi meninggalkan pulaunya itu. Itulah siksaan hebat. maka juga ia kalah terkenal dari kaum Coan Cin Kauw yang kenamaan di Kwantong dan Kwansee dan Toan Sie yang kesohor di Selatan (Thian Lam). ia tak dapat mengawasi suaminya itu tersiksa begitu rupa. ―Celaka. pemilik dari pulau Tho Hoa To di Tang Hay. kalau rahasia mereka ketahuan. ia murka bukan main. tubuhnya terus roboh terjengkang. ia kuatkan hatinya lalu dengan tiba-tiba. Setelah menikam dan terlepas dari cekukan. Sejak ia berhasil menyempurnakan ilmu kepandaiannya. ―Lepaskan aku!‖ menjerit Kwee Ceng. sebagaimana juga kebiasaan suaminya. Tan Hian Hong tahu. di tanah rata kereta rubuh ringsak‖. Tapi kakiknya terserimpat. untuk mengambil kitab yang dikatakan suaminya itu. ―Rahasianya…di dadaku…‖ Ia tak dapat bernapas terus. Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi dapat dengar jeritan suaminya itu. mereka adalah muridmuridnya Tocu Oey Yok Su. Tetapi tiba-tiba Tan Hian Hong perdengarkan jeritan yang hebat sekali. Tetapi ia bertubuh kuat. yang tajamnya bahkan sanggup mengutungi emas dan batu kemala. Lebih celaka lagi. orang itu ialah Kwee Ceng! Segera ia menunduk. kecuali pusarnya itu. Ini dia yang dibilang ―Orang yang pandai berenang mati kelelap. untuk di daratan Tionggoan. Istri ini lantas meraba ke dada orang. Orang itu bertubuh kecil. ―Akan aku balaskan sakit hatimu!‖ ia berseru. suaminya itu telah membuyarkan tenaga dalamnya. Maka itu pada suatu malam gelap buta. kabur ke pulau Heng To di sebelah selatan.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sekarang hendak aku mengambil nyawa anjingmu. Ia takut bukan main. habislah nyawa jago itu. Mereka insyaf. ia terkena pisaunya Khu Cie Kee. Dua saudara seperguruan itu terlibat api asmara sebelum mereka lulus. Sang istri kertak giginya. ia terjeblos dan roboh terguling-guling. Karena ini. perempuan bangsat…. untuk sambar bocah itu. Ia melatih diri dengan sempurnya. Ia terkena justru bagian tubuhnya yang terpenting. ia lupa. ia menjadi tidak mempan barang tajam.

ilmu Menyambar dan Menangkap. adalah setelah ia sendiri berhasil mempelajarinya. lalu ia usir mereka dari pulaunya. Tiauw Hong lantas raba dada suaminya. Syukur. Ia ambil kedudukan di belakang musuhnya itu. mereka kena dilukakan. Bwee Tiauw Hong lenyap. pasir dan batu pada beterbangan. hingga mereka kabur untuk sembunyikan diri. Saking hebatnya. Kwee Ceng mulai muncul dari belakang batu dimana ia tadi bersembunyi. Sebab Han Po kie bersama Siauw Eng dan Coan Kim Hoat. Malah dilain saat. lenyap juga mayatnya Tan Hian Hong. maka ia hendak memeriksa. Dibantu oleh Siauw Eng dan Po Kie. Adalah berbahaya menyakinkan bagian bawah tanpa bagian atas. mereka terus menyakinkan Kiu Im Cin Keng bagian ―Kiu Im Pek Kut Jiauw‖ atau ―Cengkeraman Tulang Putih‖ dan ―Cui Sim Ciang‖ atau ― Tangan Peremuk Hati‖. ia tidak sempat mewujudkan niatnya itu. angin tidak mengganas terlalu lama. Terdesak juga Tiauw Hong diserang hebat dari belakang. apapula makin lama mereka jadi makin telangas. Hebat pengepungan ini. untuk mencari terlebih jauh. Adalah Thio A Seng. Kim Hoat bertiga terpaksa lompat mundur. Ia membikin enam saudaranya Irawan D Soedradjat Page 111 . syukur ia tidak terluka dalam. ia berpikir keras. Aneh tabiat Hian Hong. Hujan pun turut berhenti perlahan-lahan. Tidak tahunya. walaupun pada istrinya. kau bisa celaka. Masih rebah tengkurap adalah Kwa Tin Ok. Saking tergesa-gesa. yang kedua matanya sudah buta. membarengi berkelebatnya kilat. Maka itu. Belum pernah ada orang yang sanggup robohkan mereka. Sekonyong-konyong datang angin besar.Pendekar Pemanah Rajawali menjadi korbannya. aku mesti memilih dengan teliti. Adalah keinginannya ilmu ini agar musuh berkelahi rapat. Ia sekarang hanya mengandal pada kejelian kupingnya. empat saudaranya itu. Lam Hie Jin patah lengannya. Kalau tidak. luka mereka tidak parah. Syukur Tin Ok dan Cu Cong telah lihay ilmu dalamnya. ai melawan dengan mainkan tipu-tipu Kim-na-hoat. Semua muridnya itu ia putuskan urat-uratnya. biar aku yakinkan sendiri dulu. Di dalam hatinya. baru ia turunkan kepandaian itu kepadanya istrinya. Sebaliknya. mereka sendiri saban-saban menghadapi ancaman. Bisa celaka mereka dirabu pasir dan batu itu. Ia tahu ada orang serang padanya. jiwanya terancam. aku dapat curi cuma sebagian. sudah lantas maju menyerang. yang tercengkeram Kiu Im Pek-kut Jiauw. Adalah sekarangm. atau kalau kau termaha. Ketika istrinya desak. Mereka sembunyikan diri sampai belasan tahun. Tapi bukan kitabnya sendiri yang dia telah bakar. lam Hie Jin dan Thio A Seng. Han Po Kie yang paling dulu lompat bangun. tetapi segera ia menjerit heran. Sayang untuknya. ia menjadi penasaran. Po Kie berkata: ―Celaka betul! Bertiga kita lawan satu wanita buta. disaat dia hendak menutup mata. Kekalahan ini disebabkan terlalu banyak pengepungnya. Justru di bagian atas adalah pelajaran pokok dasarnya. ia tidak ambil peduli. Cu Cong. Hian Hong suka serahkan kitabnya itu pada istrinya. membuat langit menjadi gelap-gulita pula. Tentu saja. bukan saja mereka tidak dapat mendesak. dengan terbangnya sang mega. kepada gerak-gerik angin. tidak ada kabar ceritanya. baru ketiga kalinya. biar bagaimana Tiauw Hong memohonnya. membawa mega hitam dan tebal. Hian Hong dan Tiauw Hong menyembunyikan diri untuk menyakinkan Kiu Im Cin Keng itu. Dua kali mereka mendapat kemenangan. dari itu. ia tidak dapatkan apa-apa. mereka telah minta bnayak korban. kita tidak berhasil. hanya singkatannya atau rahasia pokoknya. Semua orang basah kuyup pakaiannya. Ketiga Manusia Aneh ini menjadi cemas. untuk terus mendekam. Dengan begini mereka bikin diri mereka menjadi jago. Hian Hong menjawab: ―Sebenarnya kitab ini terdiri dari dua bagian. lukanya berbahaya. ia tidak memaksa lebih jauh. Pada waktu suami istri kejam ini dikeroyok orang-orang gagah dari pelbagai partai persilatan di utara Sungai Besar. si putri malam pun mulai mengintai pula dan muncul lagi. Setelah itu mendadak ia menyerang hebat kepada bebokong lawannya. Kau tahu. Ketika ini digunai Siauw Eng akan menikam dengan pedangnya dan Kim Hoat dengan dacinnya. walaupun mereka terhajar Tong Sie. Coan Kim Hoat lantas tolongi saudara-saudaranya yang terluka itu. Medan pertempuran ada di atas gunung Heng San.‖ Tiauw Hong percaya pada suaminya. hingga orang percaya mereka sudah mati karena luka-lukanya. Repot juga Tiauw Hong. hingga mereka bisa melihat musuh. sebagian bawah. runtuhlah nama nama Kanglam Cit Koay…‖ Maka itu. kepandaian yang kita sudah dapati dari suhu masih belum cukup untuk pelajari bagian bawah ini. hingga mereka menjadi manusia-manusia bercacad seumur hidupnya. ia tidak hendak beri lihat kitab Kiu Im Cin Keng itu. Ia heran hingga ia diam menjublak. si Mayat Perunggu.

―Ini gurumu yang kelima bakal pulang ke langit. akan aku menikah denganmu. Ia lantas peluki A Seng dengan ia menangis tersedu sedan. ―Ya!‖ ―Kalau begitu. Siauw Eng menangis. aku pun malas kecuali tenagaku yang besar…. Kwee Ceng mengangguk. Irawan D Soedradjat Page 112 . si Buddha Tertawa. jikalau kau alpa dan malas. ―Jangan menangis. tenaganya sudah habis. biasanya aku perlakukan kau tidak manis…‖ katanya. Merek aitu pada melinangkan air mata. selanjutnya kau mesti dengar perkataan kami. untuk mengubur jenazah saudaranya itu ditempat itu. ia tersenyum pula. kau pergilah dengan tenang…Kita Kanglam Cit Koay. aku tidak nanti menikah dengan lain orang…. Masih dapat ia mengatakan demikian. hingga dua kali. habis itu berhentilah ia bernapas…. mereka juga saling menyinta. yang tahu kakak angkatnya yang kelima ini ada menaruh cinta kepadanya.. ―Citmoay. kesedihan mereka bukan main. untuk menjadi istrimu! Kau setuju. Enam saudara itu memangis menggerung-gerung. Sebagai nisan. ―Ngoko. inilah aku ketahui. ―Aku telah jadi orangnya keluarga Thio. mereka tetap manusia biasa. legakan hatimu. Sebenarnya sia-sia saja kau berguru padaku.‖ Tiba-tiba kedua matanya berbalik. sayang aku tidak dapat memberi pelajaran kepadmu…. untuk bersujud sambil mengangguk berulangkali. jangan menangis. walaupun lagi menghadapi bahaya maut. ―Kau datang kemari.‖ Meski masih kecil. ia menarik napas. untuk mengusap-usap rambut adik angkatnya itu. Coba dulu aku rajin belajar. perlahan sekali. karena sangat eratnya pergaulan mereka. tidak nanti kita kalah…!‖ A Seng tertawa. ―Kau justru perlakukan aku baik. begitupun dengan yang lainnya. bukan?‖ kata nona Han itu tanpa malu-malu. ―Ngoko.. Ia ulur tangannya.kalau nanti aku mati. seumurku. Thio A Seng tersenyum meringis. di mulutnya kakak angkatnya itu.Pendekar Pemanah Rajawali sangat berduka.‖ Siauw Eng menjawab. tidak nanti aku antarkan jiwa disini…. hampir ia tak sadarkan diri. ia masih dapat tersenyum. Thio A Seng adalah Siauw Mie To. di tanah berpasir mesti ada tapak kaki tetapi ini tidak. Si nona masih dengar: ―Ajarilah ini anak dengan baik-baik. maka Coan Kim Hoat dan Han PO Kie lantas turun gunung untuk cari mayatnya si MayatPerunggu serta Bwee Tiauw Hong. ―Kami tujuh saudara adalah gurumu semua. perlu kau belajar rajin dan ulet. kau tentu hendak berguru pada kami?‖ Cu Cong tanya Kwee Ceng. mari kau hunjuk hormatmu padanya. tapi masih meneruskan kata-katanya: ―Bakatmu tidak bagus. ―Legakan hatimu. Tin Ok terharu sekali. terus ia berjengit. Dengan masih menangis. Entah kemana perginya Tiauw Hong beserta mayat suaminya itu. Mereka mencari denagn sia-sia. A Seng tertawa.‖ katanya. si Mayat Besi. Bocah itu menyahuti.‖ kata Cu Cong. ―Cukup…‖ katanya. lebih-lebih Han Siauw Eng. Habis hujan lebat. Kwee Ceng sudah mengerti banyak. maka Siauw Eng pasang kupingnya. baik sekali. mereka mendirikan satu batu besar. Walaupun semuanya bertabiat aneh. Ia menahan sakit. sedang ia pun ada menaruh hati. cuaca sudah menjadi terang. mereka menggali liang.‖ kata Cu Cong pula. aku baik-baik aja…‖ ia menghibur. maka itu. Itu waktu. jaga supaya ia jangan kalah dengan itu…imam…‖ ―Jangan khawatir. aku akan selalu bersama kamu…‖ A Seng masih dengar suara tu.‖ kata pula si nona. ia jatuhkan diri di depan tubuh A Seng.‖ Masih A Seng hendak berkata pula. ―Anak yang baik. ynag telah hampirkan mereka. tapi lukanya sangat mendatangkan rasa sakit. Aku sangat bodoh. kau lihat contohnya gurumu ini….

dengan cekal Kim-kiong-pian. coba kau pergi mencari pula. ―Tarik macan itu!‖ kata satu anak kecil yang menunggang kuda.‖ ia kata kepada Siauw Eng. maka itu kuda berlompat ke depan. Di sana tertampak serombongan orang serta dua ekor macam tutul menoker-noker pada tanah. ―Sekarang mari kita antar anak ini dan kita pun merawat diri. lioktee dan citmoay. dia hendak suruh macan itu makan kakak angkatku. shatee. Ia berpikir: ―Dia mati di atas gunung. yang berada di antara rombongan orang tadi. Ia menitahkan orangnya. Irawan D Soedradjat Page 113 Kwee ceng jeri kepada macan tutul tetapi ia ingat keselamatannya Tuli. Segera ia dapat tahu perbuatannya itu macan tutul. jerih ia menampak Kanglam Cit Koay. ―Kau lekas menyerah! Kalau tidak.‖ kata itu guru. maksudnya memberitahu. ia memasang mata ke depan. hendak aku menyuruh kakak angkatku lari. Kwee ceng terkejut. Dua ekor macan tutul itu telah dapat mengorek satu mayat. Dengan mendongkol ia berkata: ―Biarlah! Mari kita hajar Tuli dulu! Hendak aku lihat. Lari serintasan. Tusaga ayun cambuknya. Coba tidak ada Kwee Ceng. dia membentak: ―Hai. setahu bagaimana jadinya dengan mereka. ―Eh. tidak nanti wanita itu kabur jauh. Ia lantas ajak pemelihara macan tutul itu untuk berlalu. ―Suhu. menhajar kepalanya orang itu. maka mereka pun saksikan myatnya Hian Hong itu. tak mau ia maju walaupun dipaksa majikannya. Itulah sebabnya kenapa kuda si kate tidak berani maju terus. ―Tuan muda. Po Kie keprak kudanya. Kedua macan tutul itu sudah mulai gerogoti mayatnya Hian Hong. yang menjadi tukang pelihara macan tutul itu. Kalau tidak. kamu mengepung pula Tuli?‖ tanya Kwee Ceng. ―Macan tutulku telah gegares Tuli!‖ sahut Tusaga berteriak. ―Mana Tuli?!‖ ia tanya. ―Takut apa!‖ teriaknya. Satu tukang rawat macan tutul yang lainnya ketakutan. putranya Sangum. seperti ada dagingnya yang orang telah potong. kau sembunyi di sini! Kenapa kau tidak berani membantui Tuli bertarung? Makhluk tidak punya guna!‖ Bocah itu ialah Tusaga. Po Kie menjadi heran. . ―Tak takutkah kau?‖ ―Aku takut…‖ sahut murid ini. Po Kie lompat turun dari kudanya. maka habis mengucurkan airmata di depan kuburan A Seng.‖ Pikiran ini disetujui. ―Akan aku laporkan kepada Khan besar!‖ Tusaga hendak mencegah tapi sudah kasep. kau sendiri bakalan digegares macan itu.‖ kata Cu Cng sekembalinya kedua saudara itu. binatang itu berhenti dengan tibatiba. Diam-diam mereka bergedik menyaksikan itu musuh tangguh. seluruhnya berlumuran darah. kau pun bakal digegaren macanku!‖ ia mengancam tetapi ia tak berani dekati musuhnya. Mereka menjadi heran sekali. dialah putranya Khan besar Temuchin!‖ berkata itu tukang rawat macan tutul. kemudian kau. kenapa mayatnya ada di sini? Siapakah orang-orang itu? Apakah maksudnya maka itu mayat diganggu?‖ Itu waktu Coan Kim Hoat semua telah datang menyusul. yang terluka dari leher sampai di perutnya. yang terus terdengar berulang-ulang. ia berkata. tentulah Kwee Ceng telah dihajarnya. malah jago Kanglam ini kenali itu mayatnya Tan Hian Hong. ―Di mana dia?‖ Tusaga perlihatkan roman tembereng dan puas. ―Aku tuntun macan tutulku menyuruhnya geharesi dia!‖ sahutnya. ia maju ke arah mereka. yang agaknya kaget.Pendekar Pemanah Rajawali ―Di tempat begini. Tempo ia lihat Kwee Ceng. ―Kenapa tadi ia serang aku! Lekas!‖ Dengan terpaksa. Heran Po Kie. tukang rawat macan tutul itu turut perintah. apa nanti paman Temuchin bisa bikin!‖ ―Jikalau kau pergi. Tidak ayal lagi. Mereka jalan belum jauh tempo mereka dengar menderunya binatang liar. mereka pun turun dari gunung.

dimana tampak Tuli sedang dikurung oleh belasan orang. ketika besoknya pagi ia tidak dapat cari Kwee Ceng. tidak lantas dikeroyok. salah satu penunggangnya berteriak-teriak. ―Jangan lepaskan macan tutul! Jangan lepaskan macan tutul!‖ Segera terlihat ternyata mereka itu adalah Mukhali berempat. heran dia melihat Tuli sendirian. Hebat Tuli itu. tanpa minta bantuan Ogotai. Kita tak boleh terbitkan onar. kegembiraannya terbangun secara tiba-tiba. ia masgul.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jadi kau batal pergi?‖ tanya gurunya lagi. Irawan D Soedradjat Page Wang Khan semua iringi kedua saudara Wanyen itu. Jamukha. Tuli yang sedang kegirangan tidak menyangka musuhnya itu bakalan minta bantuan binatang liar. yang pun lantas berlalu dengan cepat. Sebabnya 114 Wanyen Lieh pun gembira tetapi ia tidak perlihatkan itu pada wajahnya. . ingat. di depan mereka tertampak beberapa serdadu Kim tengah berkelahi sama pengiring Khan ini yang tadi diberikan titah. saking murkanya. mereka terkejut mendengar laporan si tukang pelihara macan. ia kagumi bocah itu. jurusnya itu adalah jurus pojok dari ―Khong Khong Kun‖. seorang diri ia pergi memenuhi janji kepada Tusaga untuk bertempur. lekas!‖ Kwee Ceng berteriak-teriak sebelum ia datang mendekat. tiga dari kita terluka…‖ Po Kie manggut. Cu Cong rebah di bebokongnya unta karena lukanya. sekalian mereka ingin saksikan sepak terjangnya Tuli dan Kwee Ceng. jieko. Sementara itu Han Po Kie dapat candak Tusaga dan melombainya. hendak ia lari. ia ulur tangannya. sebentar kemudian tibalah di satu tempat. Tusaga datang dalam jumlah belasan. kita harus berhati-hati. tanpa perkenanan dari Temuchin lagi. sekarang ia dengar berita ini. yang larinya sangat pesat. ia pun sangat berani. Kwee Ceng bersangsi sebentar. Mereka jalan baharu satu lie lebih. Ia pikir: ―Jikalau anaknya Sangum membinasakan anaknya Temuchin. Ia berkata kepada saudarasaudaranya: ―Bocah ini bebal tetapi dialah orang segolongan dengan kita!‖ ―Matamutajam. dari ini putranya Temuchin Cuma dikurung. Dia orang ini turut perintahnya Tusaga. Ia tentu tidak tahu. ilmu silat tangan kosong. Kanglam Cit Koay dapat lantas mencegah Tusaga apabila mereka kehendaki itu. pertempuran sudah lantas dimulai. mereka lantas datang menyusul. ia bikin musuh-musuhnya rubuh satu demi satu. Wanyen Yung Chi kecewa gagal menyaksikan orang diadu dengan binatang. untuk terus dipanggul! Tetap tubuh Kwee Ceng di atas pundak orang. sebab dua kali ia rubuh mencium tanah dan hidungnya kena diberi bogem mentah dua kali juga. ―Mari kita lihat!― katanya. ―Tuli! Tuli! Lekas lari. kakaknya.‖ kata Siauw Eng. ia mungkin putranya satu pangeran atau raja muda. ―Tusaga bawa-bawa macan tutul!‖ Tuli kaget. setelah menyandak. ia lantas lari pulang untuk menagmbil macan tutul ayahnya. semua lantas lari keluar tenda untuk naiki kuda mereka. Tapi ia tidak peduli suatu apa. akan cekuk bocah itu. kedua mereka bakal jadi bentrok. tetapi mereka tidak mau menerbitkan onar. Wang Khan mendahului perintah satu pengiringnya: ―Lekas sampaikan titahku. ia seperti lagi menunggang kuda. negara Kim yang besar!‖ Ia terus kisiki pengiringnya. ia lantas saja lari menyusul Kwee Ceng. tapi ia lagi dikurung. Itu wkatu Temuchin bersama Wang Khan. dan Sangum tengah menemani dua saudara Wanyen di tenda mereka. Tusaga penasaran. cegah cucuku main gila!― Pengiring itu segera kabur dengan kudanya. ―Mari kita bantu dia!‖ Coan Kim Hoat lantas memesan: ―Bocah galak itu memelihara macan tutul. ia gunai jurus ajarannya Cu Cong. yang dengan laporannya si tukang pelihara macan tutul. dan inilah untungnya negaraku. ia menyahuti: ―Aku mau pergi!‖ Benar-benar ia lantas lari. Itu waktu ada beberapa kuda dilarikan keras ke arah mereka. Sebenarnya Tuli rajin melatih diri menuruti ajarannya Cu Cong.

tampak enam orang Han. Ia sangat khawatir melihat putranya terancam macan tutul itu. Dua saudara Wanyen itu lantas memerintah serdadu-serdadunya berhenti berkelahi. Ia pun tidak karu-karuan dipegat dan dikeroyok. ―Berangkat!‖ mereka menitah. Ia lantas menduga kepada mereka itu. 115 Sangum sangat murka. Kapan ia berpaling ke arah darimana suara angin itu datang menyambar. berniat mengusap-usap kepalanya seekor macan tutul. Nyonya Temuchin tengah pasang omong dengan istrinya Sangum di tenda mereka. Walaupun kejadian berlaku di depan mata mereka. Gochin sebaliknya segera hampirkan kakaknya. yang ia peluk. Di depan mereka berdiri dua bocah ialah Tuli dan Kwee Ceng. khawatir kena putrinya. Terang itu adalah kerjaan orang yang lihay.Pendekar Pemanah Rajawali adalah serdadu-serdadu Kim itu menghalang-halangi orang menjalankan tugas. Anak itu menangis karena kagetnya. yang ditangkap sedari masih kecil dan dipelihara dan dididik dengan banyak sukar hingga jadi b esar dan dapat mengerti. yang darimana darah mengucur keluar. keempat kakinya tengah menoker-noker dan mulutnya meraung-raung tidak hentinya. Ia menjadi heran. ia jadi semakin temberang. kedua binatang itu berlubang masing-masing di kedua pelipisnya. tidak ada seorang jua yang ketahui siapa si penyerang gelap itu. Boroul sendiri tutup mulut. maka ia lantas menyusul. Temuchin dan keempat pahlawannya segera siapkan panah mereka. dari itu asal putranya tidakterancam tidak mau ia memanah macan itu. kupingnya mendengar beberapa kali suara angin menyambar. melihat orang datang dekat. lagi mengawasi dengan sikapnya yang tenang sekali. Di antara empat pahlawan. segera ia berlompat menubruk. Tusaga lihat datangnya banyak orang dan kakek beserta ayahnya juga berada bersama. Macan itu lagi bersiap-siap. Ia baharu berusia empat tahun. Anak perempuan yang ia bawabawa itu adalah putrinya. tetapi justru ia maju. tiba diantara mereka. Kwee Ceng berlompat. rubuh celentang lalu tidak berkutik lagi. untuk menjatuhkan diri. Temuchin ketahui baik. diarahkan kepada dua binatang liar itu. Penunggangnya seorang wanita usia pertengahan yang memakai mantel kulit indah dan mengempo satu anak perempuan yang elok romannya. Semua orang kaget. untuk dirangkul dengan tangannya yang lain. meski demikian. lalu terdengar suara kuda berlarilari mendatangi di arah belakang mereka. ―Siapa yang membunuh macanku?!‖ ia tanya dengan bengis. ia tertawa haha-hihi. ialah yang maju di muka sekali. Ia kata dengan sengit: ―Aku toh ada di sebelah depan kamu dan kamu di belakang aku…!‖ Dua saudara Wanyen itu tidak inginkan mereka adu mulut. orang ini tidak ada matanya. disaat ia hendak mencegah. maka ia dihiburi ibunya. romannya cantik dan manis. Irawan D Soedradjat Page Semua orang berdiam. yang pun terus tarik Tuli. apapula ia dapatkan. Boroul yang bertubuh kate dan kecil adalah yang paling gesit. dia terjang kami!‖ Pengiringnya Wang Khan itu mendongkol dan tidak mau mengerti. Yulun Eke lantas saja peluki putrinya. Kemudian ia ulurkan tangannya. seekor kuda merah. yang ia ambil dari rangkulannya Kwee ceng. karena ia jadi waspada. ia menduga peristiwa itu terjadi karena bisanya dua Wanyen ini. adalah istrinya Temuchin atau ibunya Tuli. tempo ia dengar perkara putranya. Sebentar saja kuda itu. Dalam saat mengancam itu. berulang-ulang ia anjuri macannya lekas menyerang. ia tubruk Gochin. menyusul mana kedua macan itu rubuh berbareng. kuku macan telah mampir dipundaknya. ―Lepas panah!‖ Yulun Eke segera memerintah. ia khawatirkan keselamatan putranya itu. Wang Khan murka melihat kelakuan cucunya itu. Keempat pahlawannya lempar panah mereka dan menghunus golok untuk maju menyerang. Gochin Baki. sedang Temuchin tidak berani melepaskan anak panahnya. sedang si petugas tidak berani abaikan kewajibannya. ia belum tahu bahaya. Jamukha lihat itu semua. Mereka ini bilang: ―Kami tengah berdiam disini. . Ia lantas lomat turun dari kudanya. Tidak lama tibalah mereka di depan rombongannya Tusaga beramai. Dua ekor macan tutul sudah lepas dari ikatan pada lehernya. binatang adalah binatang kesayangan Sangum. pria dan wanita.

Temuchin hampiri Wang Khan dan kata: ―Ayah inilah permainan anak-anak. ia sangat bangga untuk keturunannya.‖ Sangum masih mendongkol. terpaksa ia menyambut dengan sambil tertawa. Mereka memang lagi pikirkan tenpat untuk bisa mendidik Kwee Ceng. itulah kebetulan bagi pangeran ini yang lantas ngeloyor pergi duluan. terhadap Temuchin ia berdengki dan memandang enteng. Sambil tertawa. Cucuku yang perempuan hendak aku jodohkan dengan Juji. aku tak dapat menerkanya. Berapa kamu menghendaki gaji kamu?‖ Coan Kim Hoat senang dengan tawaran itu.‖ bilan Tin Ok. Selagi ia berpaling. ―Sakit hatinya ngoko memang mesti dibalas!‖ kata Siauw Eng. guna mengadakan perjamuan perpisahan untuk mereka itu. ―Baik kamu berdiam di sini mengajari ilmu silat kepada putraku. ia penasaran. habis itu ia larikan kudanya. ―Eh. Temuchin lantas dapat tahu enam itu ialah yang tolongi putranya. akan tetapi disitu ada putusannya ayahnya. Tin Ok beramai tidak mau menarik perhatian orang. ―Memang selama ia belum disingkirkan. mereka berdiri jauh-jauh. Gochin sudah cantik.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sudahlah saudara Sangum!‖ berkata Temuchin sambil tertawa. bagaimana pikirmu?‖ Wang Khan girang. kita selalu terancam bahaya. Anak itu mencoba meronta tetapi tidak berhasil.‖ . Aku lihat anak ini berbakat baik. untuk merundingkan urusan mereka. ia kata: ―Kamu hendak bikin kita bercedera. ia tidak pedulikan walaupun kakeknya menitahkan ia berhenti menangis. Ia terperanjat dan heran sekali. Tuli tunggu sampai Wang Khan semuanya sudah berlalu. dan Cu Cong rebah di atas unta. ia lihat. ia suruh Boroul layani enam orang itu. Di dalam hatinya. ―Nanti aku gantikan kau empat macan tutul yang paling jempolan ditambah sama delapan pasang burung elang. terus ia kata pada Coan Kim Hoat. Ia menginsyafi peranan kedua saudara Wanyen itu. Panas hatinya Temuchin. Irawan D Soedradjat Page 116 ―Itulah aneh. Temuchin berpikir sebentar. ia pun bicara hal Kanglam Cit Koay ( yang sekarang menjadi Kanglam Liok Koay sebab jumlah mereka telah berkurang satu). keluarlah alemannya. ia tutur kepada ayahnya sebabnya ia berkelahi sama Tusaga. Cucu ini didamprat di depan orang banyak. ―Saudara. Temuchin kata sama Sangum. ia terus menangis sambil bergulingan di tanah. ia mendamprat Tusaga. ia suruh Boroul memberi hadiah bulu dan emas. Kanglam Liok Koay jalan perlahan-lahan. tak senang ia berbesan. untuk dikasih bangun dengan dipeluk. kenapa ini beberapa Manusia Aneh berada disini?‖ katanya dalam hatinya. ia lihat rombongannya Kwa Tin Ok. sedang Kwee Ceng. itu pun sudah bagus.‖ Temuchin girang. ―Yang paling perlu ialah mencari tahu dimana beradanya Tiat Sie. Wang Khan gusar. kita justru hendak berserikat untuk menghadapi kamu!‖ Maka ia hampiri Tusaga. entah itu perbuatan kawan atau lawan…‖ kata Han Po Kie. Mereka tidak lihat Wanyen Lieh. Kau akurkah?‖ Dengan girang. ia puji untuk keberaniannya. setelah dewasa. tak senang ia berbesan dengannya.‖ menyatakan Cu Cong. tak usah ditarik panjang. Wanyen Lieh menjadi sangat tidak puas. Gagallah tipu dayanya. mana kami berani minta gaji besar? Terserah kepada Khan sendiri berapa sudi membayarnya. Ia lantas menyahuti: ―Khan yang besar sudi terima kami. untuk diberi tempat. meskipun masih kecil. yang ia usap-usap kepalanya. aku berniat menjodohkan dia dengan anakku. sekarang kita menjadi besan!‖ Sangum itu angkuh. putramu yang sulung. Ia tertawa dan menyahuti: ―Mustahil aku tidak setuju? Marilah kita tambah erat persaudaraan kita. ―Mayatnya Tan Hian Hong dipotong dada dan perutnya. Diam-diam Jamukha kisiki Temuchin apa yang tadi terjadi di tengah jalan antara pengiringnya Wang Khan dan serdadu-serdadu Kim. ia membungkam. mesti dia jadi elok sekali. untuk susul kedua saudara Wanyen.

dia tak jadi jatuh. Kanglam Liok Koay membawa barang-barang sembahyangan ke kuburannya thio A Seng. belasan tahu kami didik anak ini. baru mereka tiba. tapi Tin Ok tetap berkhawatir. apa mau ia kena injak sebuah batu kecil. dulu ia pun ulet seprti bocah ini. malah diteruskan hingga beberapa hari. sepuluh tahun sudah lewat. Tempat kediaman bangsa Mongol tidak berketentuan. Dalam iklim demikian. ilmu tongkatnya. walaupun demikian untuk daerah di gurun pasir utara. salju yang turun secara besar-besaran baru berhenti. ia utamakan ―Hok Mo Thung-hoat‖. biarlah tahun lusa. Memanah Burung Rajawali Angin mulai reda. ia khawatir saudara-saudaranya bersusah hati. kepandaiannya Liok Koay juga turut bertambah. lekas ia kasih turun pula! 117 ―Mari!‖ katanya seraya ia lompat dengan tangan kiri melindungi diri. walaupun ia tidak secantik dulu. mereka tidak peroleh hasil. untuk lindungi padanya. Kemana perginya wanita seperti siluman itu? Dalam sepuluh tahun itu. kemajuannya sedikit. Bab 11. akan ajari ilmu silat kepada Kwee Ceng dan Tuli yang juga diajari ilmu perang. Maka Kanglam Liok Koay perhebat pengajarannya. yang mebuat ia girang. Hanya kalau malam. Umpamnya Tin Ok. Malah Siauw Eng berkata dalam hatinya: ―Ngo-ko. tapi cepat sekali. Ia bersiap sedia menyambut Tiauw Hong. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng terkejut tapi ia dapat menangkis. Sejak itu Kanglam Liok Koay menetap di gurun pasir. hawa udara masih dingin. Di situ ada tulang-tulang yang berserakan. hingga untuk sementara muridnya dilarang belajar naik kuda dan memanah. Dugaan ini masuk di akal. tapi ajarannya Han Po Kie dan Lam Hie Jin tentang pokok dasar silat. . rambu dan kumis jenggot mereka sudah mulai berwarna abu-abu. Kwee Ceng berbangkit. ia dapat imbangi tubuhnya. mayatnya juga tidak kedapat. dari itu. ia tampak kemajuan Kwee Ceng. dan siang dan malam terus ia belajar silat tangan kosong dan pedang. Ia tersenyum kepada Kim Hoat. orangnya tidak ketemu. untuk itu ilmu silat penting. hanya ketika ia geraki tangannya itu. Ia ingat. pada harian Ceng Beng. malah ia segera dapatkan maknanya itu. Kwee Ceng juga diajak bersama. masih ada sisa keelokannya. si bebal tapi rajin. Ia tahu ia mesti membalas sakit hati ayahnya.Pendekar Pemanah Rajawali Karena ini kemudian Po Kie bersama Siauw Eng dan Kim Hota lantas pergi mencari. Sebab diwaktu siang mereka diajari menunggang kuda. mestinya racunnya senjata itu bekerja. ia baharu merasa hatinya tentram kalau sudah dengan tangannya sendiri ia bisa raba mayatnya Tiat Sie si Mayat Besi itu. mereka pasang hio. Dan Jebe bersama boroul turut memberi petunujk juga. ia tetpa menarik hati. Ia menginsyafi lihaynya Bwee Tiauw ong. si Mayat Besi mestinya tak bisa bersembunyi terus-menerus. Lam Hie Jin paling menyanyangi Kwee Ceng. ia terpeleset. dia tidak dapat teriam semua pengajaran kita. dengan tangan kanan ia sampok pundak muridnya itu. Kalau tidak mati. ―Tongkat Menakluk Iblis‖. Habis pai-kui. yang pun melihatnya. Untuk itu ia dapatlah disebut. maka mungkin ia mampus di dalam selat!‖ kata Po Kie kemudian sepulangnya mereka. sayang di bebal. tapi Siauw Eng. main panah dan ilmu tombak. Mereka itu atur barang sembahyangan. ia mengerti dengan cepat. dalam pertandingan di Kee-hin. ia belajar dengan rajin sekali. maka itu untuk pergi ke kuburan. Mereka mencari bukan hanya disekitar tempat itu. Kwee Ceng bebal. Lagi dua tahun akan tiba saatnya janji pibu itu. Sang tempo berjalan dengan pesat. yang sia-sia saja dicari. adu kepandaian. Ia ingat pada Bwee Tiauw Hong. rombongan ini mesti melarikan kuda mereka setengah harian. Kali ini. lalu pai-kui. Tentang perasaannya ini ia tidak utarakan. di sebelah itu ada sifatnya yang baik. ―Wanita itu rusak matanya terkena tok-leng toako. dia tidak sampai memalukan nam akita Kanglam Cit Koay!‖ Sepuluh tahun enam saudara itu tinggal di utara. untuk sembahyangi saudara yang sudah beristirahat untuk selamanya di alam baka itu. Cu Cong bersama Coan Kim Hoat dan Han Siauw Eng mengajarakan ilmu kegesitan. Sekarang Kwee Ceng telah menjadi satu anak tanggung berumur enam belas tahun. maka itu aku mohon bantuan kau. Cu Cong jadi seperti melamun. Kwee Ceng dipanggil belajar sendirian untuk diajari ilmu pedang. senjata rahasia dan entengi tubuh. pisau tumpul kalau digosok terus bisa menjadi tajam.

kau layani sie-suhu berlatih. ―Kau kaih ngosuhu lihat padamu!‖ ―Sie-suhu‖ yaitu guru keempat dan ―ngo-suhu‖ guru ke lima. Selagi guru itu berbicara. cuma mukanya yang merah. dia dan ibunya sering diantarkan pakaian dan binatang ternak. tidak. ―Oh. untuk tukar itu dengan sambaran tangan kiri ke pinggang. Mereka pun lompat untuk cegah jalanan orang buat lari turun. guru yang keempat ini sudah menyusul dan tangan kanannya kembali menjambak pundak. ia lompat bangun pula. Ia sangat disayangi ayah ibunya. ―Coba kau kasih lihat kebiasaanmu. dengan satu tolakan. Hie Jin tersenyum. kali ini si murid melompat mundur. meskipun disana ada enam orang lainnya. anak tolo!‖ Po Kie berseru. dia dibelakangmu. Kalau Kwee Ceng likat. main bersamasama. Senang Cu Cong semua menyaksikan eratnya hubungan anak-anak ini. Sering Kwee Ceng digoda. Orang yang tertawa itu tidak lari. ―Balas menyerang. Kwee Ceng membalas. ilmu silat ―Tangan Arhat‖ dari guru she Han itu. Ia pun dapat menempur dengan seru. hingga tampak nyata ialah satu nona elok dengan muka putih potongan telur dan kedua pipinya bersemu merah. Nona itu tertawa. tidak!‖ kata Kwee Ceng lekas. Hie Jin segera kasih mengerti bagian kelemahannya. . baru ia muncul untuk menggodai anak muda itu. yaitu bagian Kay San Ciang-hoat. ia pergi dulu dengan menunggang kuda. Masih ia tersenyum. nanti aku pulang…!‖ Ia bicara dengan merdeka. ia sembunyi di antara pepohonan lebat. pergaualan kedua anak muda itu juga tidak dilarang. ia pun bukan lain daripada Gochin Baki. ―Kita pulang bersama sebentar. ―Siapa?!‖ mereka tanya. Selang beberapa jurus. yang bersama Tuli dan pemuda she Kwee ini. sedang ibunya Gochin. yang ingat budi Kwee Ceng telah menolongi putrinya. dengan mendak. untuk bergurau?‖ Irawan D Soedradjat Page 118 ―Mana orang yang ikut padamu?‖ kemudian tiba-tiba Tin Ok tanya si putri. dengan satu enjotan tubuh. mereka tersenyum. ―Apakah kau tidak senang aku datang?‖ tanya si nona dengan tertawa. kurang senang dan berbareng girang. tiba-tiba terdengar dua kali suara tertawa. ia justru muncul dari tempatnya bersembunyi. Cu Cong dan Kim Hoat terperanjat. tapi Hie Jin lebih cepat pula. perlakukan ia dengan baik. Baru sekarang Kwee Ceng mengerti. ―Engko Ceng. Demikian mereka hidup rukun seperti saudara saja. Hari itu Gochin tahu Kwee Ceng hendak pergi pai-bong (sembahyang kuburan). putrinya Temuchin.‖ Gochin tertawa. hingga ia saksikan segalanya. tapi begitu jatuh. Sengaja sampai Kwee Ceng rubuh.― ―Bukannkah kakakmu pun datang. ―Aku senang melihat kau dihajar!‖ sahutnya. ynag datangnya dari pepohonan lebat disamping mereka. tapi tak lama mereka akur pula. Ia gunai ajaran Lo Han Kun. Gochin melengak. Kwee Ceng malu. Sekarang ia meninju ke dada. Membuka Gunung. ―Aku datang sendirian. tak jadi ia pergi. ―Baiklah. ―Kenapa manda diserang selalu?‖ Anjuran ini diturut.‖ Saiuw Eng menganjurkan. sampai mereka bentrok. Kwee Ceng dibikin terpental dan jatuh. ―Siapa suruh kau datang ke mari?‖ ia menegur. apakah kau kena dihajar suhu?‖ ia tanya. Kwee Ceng luputkan dirinya.Pendekar Pemanah Rajawali Menampak itu. Mukanya Kwee Ceng menjadi merah. si nona polos dan jenaka. sedang serangannya Hie Jin pun dibatalkan ditengah jalan. Ia berlaku cepat. ―Siapa?‖ ia tanya. setelah itu. ia rada manja. usianya tak berjauhan serta biasa mereka bergaul. sedang Kwee Ceng jujur dan rada tolol. selamanya si nona mengaku yang salah dan rela minta maaf.

ibunya. Kim Hoat menjelaskan semuanya kepada Tin Ok. semuanya orang Mongolia. cucu Wang Khan. Ia kata pada Kwee Ceng: ―Anak Ceng. sembari lari.‖ ―Liok-tee. Maka saudarasaudara yang lain pun pada mengejar ke arah selatan itu. bertanya. Ia berduka. Maka tak mau ia pulang. itulah tanda penyambutan pada utusan Wang Khan. tetapi kita tetap orang Han. Mesti baru saja orang curi itu. ―Apakah aku yang salah?‖ tanya Gochin pada si anak muda. ia terus balik ke tendanya sendiri.‖ katanya. Ia sendiri mendahului lari turun gunung. Sekarang benar tidak ada orang disitu. ia apsang kupingnya.‖ Tanpa tunggu jawaban. Ia lihat itu semua. lekas susul!‖ toako ini menitah. ia larikan kudanya pergi menyusul saudara-saudaranya. Kha Khan titahkan aku menyambut. Gochin masih bersangsi sesaat. Memang telah lenyap sebuah tengkorak. tapi ia erat bergaul dengan Kwee Ceng. meski tidak ada soal asmara. Wang Khan itu mengantar panjar. coba lihat!‖ Tin Ok minta. menyusul suaranya seorang lain.‖ sahut perwira itu. ―He. kakak tertua. ia tidak perhatikan. ―Cegat di empat penjuru!‖ seru toako ini. Tak mau ia menentangi ayahnya. maka ia duudk diam saja.‖sahut Kwee Ceng. Si nona ulur lidahnya. ―Tuan putri.‖ katanya. ―Disana ada tindakan kaki kuda. untuk memberi hormat. Ia lantas berpikir. Sebaliknya. ia tetap membungkam. Dengan tongkatnya ia menunjuk ke pepohonan lebat di belakang kuburan. ―Disini tidak ada orang. tongkatnya menuju ke selatan. maka itu tepat kalau ia dijodohkan sama cucunya Wang Khan…‖ Irawan D Soedradjat Page 119 . kaget dan curiga. Kha Khan bakal hukum hambamu ini…‖ Gochin dijodohkan dengan Tusaga. ―Ini bukan urusanmu. ―Ada datang utusannya Wang Khan. pemimpin satu eskadron. ia menjadi heran. Kwee Ceng tidak mengantar terus sampai di tenda Temuchin. keningnya mengerut. ―Untuk apakah?‖ tanya si putri. akhirnya ia pulang juga. Ketika Lie Peng. semua orang hampirkan saudara she Coan itu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kakak tidak datang! Benar aku datang sendirian. yang sombong dan galak itu. Ia memberi hormat pula dan katanya: ‖Kalau tuan putri tidak pulang. ia toh berat nanti akan berpisah sama ini anak muda. Kembali orang heran. Melihat tuan putrinya. di mana ia tinggal bersama ibunya. ―Terang sekali aku dengar suaranya dua orang!‖ Tin Ok berkukuh. tengkorak hilang satu!‖ tiba-tiba Kim Hoat berseru. Ia sangka orang itu adalah kawannya si nona. masih ada bekasnya di salju. Tadi dengar tertawanya Gochin. tak senang ia menikah sama Tusaga. ―Aku tak mau pulang!‖ katanya sengit. Pekhu-thio itu menjadi serba salah. Baru sekarang Lie Peng dapat mendugai hal putranya ini. Temuchin ingin putrinya temui si utusan. ia lantas menjadi gusar. Dengan berlari-lari. yang dikepalai oleh satu pekhu-thio. perlahan bicaranya. Itu waktu terdengar suara tetabuan. Siauw Eng tidak turut saudara-saudaranya pergi. Tidak lama dari itu muncul beberapa puluh penunggnag kuda. ―Rupanya telah datang musuh yang lihay‖. Coan Kim Hoat pergi memeriksa. dia itu lompat turun dari kudanya. saudarasaudaranya menyusul. pergi kau temani tuan putri pulang. Tidak senang si nona mendengar itu. Ia lantas menghibur: ―Tuan putri benar baik sama kau.

Lapat-lapat Kwee Ceng dengar tetabuan. ia putar goloknya. Tapi ia sempat berkelit. ―Siapa kau?‖ tanya Kwee Ceng. Untuk lindungi diri. Ia dengar tanda tiga kali tepuk tangan. ia mendusin dengan terperanjat. sebab tadinya ia tidak pikirkan untuk pelajarai itu. . kakinya menendang jatuh golok orang. Dia bicara dalam bahasa Tionghoa. habis berlatih. mengatakannya dengan perlahan: ―Tak kecewa pelajarannya. Inilah jurus ―Orang-orang patah bahunya‖ salah satu dari jurus ilmu silat. si Mahasiswa Tangan Lihay. mukanya tidak kelihatan. Meski begitu. Kalau orang itu kena diserang. tangan kirinya menyerang sikut. ―Habis kau mau apa?!‖ tanya Kwee Ceng. Ia pun dengar si imam atau tosu. ia tampak satu tengkorak tepat di jalanan di muka kemahnya. Sebagai Biauw Ciu Si-seng. aku bukan pikiran itu. Itu bukan dandanan orang Mongolia. yang masih berjaga-jaga. ―Musuh datang cari musuh…‖ pikirnya. bajunya gerombongan. ia bisa asah otaknya menciptakan ilmu silat itu. untuk segera dupak tengkorak itu hingga mental jauh beberapa tembok. tangan kirinya menyambar lengan si imam dan tangan kanannya menyambar ke batang leher. bahu kanannya mesti patah. lalu ia sinngkap tenda dengan tiba-tiba. kapan tangan imam itu sudah hampir sampai pada dadanya. Ia lantas bangun. bakal cari padanya.‖ Kwee Ceng akhirnya mau juga buka mulutnya. Sebat gerakan orang itu. untuk lompat keluar. ―Mau apa kau cari aku?‖ ―Kau toh Kwee Ceng?!‖ orang itu tegasi. sampai Kwee Ceng tidak bisa lindungi goloknya. terpaksa ia lepaskan kedua tangannya dan mencelat mundur. Untuk kagetnya. yang semuanya sudah pulang. ia bertindak ke tendanya akan menyingkap dengan hati-hati. Maka kagetlah Kwee Ceng. ―Suhu tidak ada di sini. ―Habis apa daya kita sekarang?‖ katanya. muridnya pulang. ia lekas serang mukanya Kwee Ceng. Ia melatih bersama Coan Kim Hoat. Mereka itu sia-sia belaka menyusul penunggang kuda atau pencuri tengkorak itu. Ia bukannya meloloskan diri hanya menyerang. Ilmu ini pun baru ia ciptakan sendiri. Ia pun terus menyerang tanpa tunda kata-katanya itu. yang lain hendak membikin patah lengan musuh. yang usianya delapan atau sembilanbelas tahun. ―Untuk apakah kau mencari aku?‖ Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng menanti tidak bergeming. tanpa ampun lagi. Orang itu terperanjat. ―Mana pisau belatimu yang tajam mempan besi? Mari kasih aku lihat!‖ Tiba-tiba ia melompat mencelat. ia memandang ke sekitarnya. di antara sinar rembulan. Setelah itu. seorang diri mana aku sanggup melawan? Bagaimana kalau musuh menerjang ke dalam tenda untuk melukai ibuku?‖ Ia ambil keputusan dengan cepat. setelah mana ia pergi ke tenda gurunya. ―Hanya Tusaga itu kasar dan kejam. mari turut aku?!‖. Di sebelah kiri di bawah pohon ia tampak seorang berdiri diam. ia tidur terus sampai pulas. Ia pun dapat lihat tegas lima liang pada tengkorak itu. Kalau ia 120 ―Mari kita berlatih pula!‖ kata si imam. untuk membebaskan diri.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ibu. dan sekarang Kwee Ceng menggunai itu untuk melawan musuhnya. Kim Hoat lantas ajari muridnya jurus-jurus dari Tiang Kun. dia masih merasa sakit terkena sambaran anginnya serangan lawan itu. Ilmu silat ini Kwee Ceng dapatkan dari Cu Cong dan Cu Cong mengutamakan ini karena ia pikir. untuk naik pembaringan tanpa salin pakaian lagi. terlepas sambungan sikutnya. menyusul mana sebelah tangannya menekan ke dada orang. Kwee Ceng berdiam terus sampai habis bersantap malam. sampai di sisi anak si muda. tangan kanannya menyambar lengan orang itu. Dia cuma kata: ―Kalau kau berani. denagn menikah sama dia. Adalah kira-kira tengah malam. tidak sia-sia pengajarannya Kanglam Liok Koay selama sepuluh tahun…‖ ―Kau siapa?!‖ tegur Kwee Ceng. cuma dengan ilmu ini ia nanti sanggup layani Kiu Im Pek-kut Ciauw dari Bwee Tiauw Hong yang setiap waktu lambat atau cepat. Setelah itu Kwee Ceng lihat orang adalah satu imam muda yang mukanya bersih dan tampan. tuan putri bakal bersengsara…‖ Lie Peng tahu baik hati anakanya itu. yang tidak gubris perkataan orang. ia menghela napas. Ia lebih dulu ambil goloknya. dengan sipa sedia. ia mengegos ke kiri. ―Membagi urat memisah Tulang‖. tangan bajunya lebar.

Ia sampai tidak menyangka bahwa musuhnya bakal menggunai akal. ia menjura ketika ia mulai berkata: ―Suhu berlima banyak cape! Guruku sangat bersyukur. Keinsyafan ini. Di situ Cu Cong tinggal berlima. In Cie Peng turut masuk. Imam itu kenali serangan berbahaya itu. maka juga. Coan Kim Hoat menyulut lilin. Kwee Ceng kurang pengalaman. maka itu si imam bangkit snediri untuk terus merogoh ke dalam sakunya guna menarik keluar sesampul surat. Imam itu licah gerakannya. Syukur kuda-kudanya kuat dan tendangan tak hebat. mereka tidak mengulurkan tangan untuk mengasih bangun. kedua kakinya saling sambar dengan tipunya Lian-hoan Wan-yoh-twie – kaki Burung Wanyoh Berantai. hingga terpaksa ia main mundur. mengapa kau robohkan anak Ceng? Bukankah kau sengaja datang untuk pertunjuki pengaruh sebelum tiba saatnya bertanding?‖ Irawan D Soedradjat Page 121 Itu waktu Cu Cong telah membuka sampul dan membaca suratny. Ia hendak maju pula tetapi ke enam gurunya sudah mulai kurung si imam muda. ia tampak keenam suhunya itu telah hadir semua. ditambah sama kekhawatirannya akan munculnya Bwee Tiauw Hong. terus disempar. kaki kanannya kena dicekal lawan. ―Hm!‖ Tin Ok perdengarkan suara tawar. Karena ini. tiba-tiba ia dengar seruan dari belakangnya: ―Serang bagian bawahannya!‖ Dengan tiba-tiba bangkitlah semangatnya Kwee Ceng. sampai ia lihat lawannya terhuyung. Kwee Ceng merangsak maju. . Saking gesitnya. teecu datang untuk memujikan suhu semua sehat-sehat!‖ Lantas ia berlutut untuk mengangguk-angguk. Tanpa sangsi. menuruti petunjuknya Po Kie. meskipun ia telah diperingatkan. dan ini terlihat tegas oleh Kanglam Liok Koay. hingga ia menjadi terdesak. yang mana dengan kedua tangannya. dengan suara keras. Melihat itu. hingga ia menduga kepada serdadu peronda bangsa Monglia. Cu Cong berenam bersangsi. yang dapat bergerak-gerak dengan pesat sekali. Ia lantas menggeser ke kanan untuk terus menoleh. dia titahkan teecu datang kemari untuk menghanturkan banyak-banyak terima kasih‖. membuat hatinya gentar. atas titah guruku Tiang Cun Cu Khu Totiang. Jurus ini oleh Cu Cong dengan lucu dinamakan ―Sembari tertawa dan berbicara melepaskan rahang‖. ia juga tidak menunjukkan tanda hendak menerobos keluar dari kurungan. ia cuma terhuyung. maka itu Po Kie sadarkan muridnya. ia mulai menyerang di bawah. ia lantas kurung diri dengan rapat. Tenda itu berperabot buruk. sebaliknya dengan rangkap kedua tangannya.‖ kata Kwa Tin Ok. Ia memberitahu bahwa pada sembilan tahun yang lalu ia telah berhasil mencari turunan Yo Tiat Sim. Kwee Ceng segera mengerti bahwa imam ini ada terlebih pandai daripadanya. Cie Peng mengerti orang hidup bukan main sederhananya. tetapi lemah bagian bawahnya. Karena ini. ―Mari kita bicara di dalam. Tosu itu tidak bersiap untuk memberikan perlawanan. akan copotlah batang leher si imam itu. ia angsurkan kepada enam manusia aneh itu – tegasnya kepada Cu Cong. hingga ia merasakan sakit sekali. ia dapat lantas berlompat bangun dengan gerakannya ―Ikan Tambra Meletik‖. gurunya yang ketiga yaitu Han Po Kie. Setelah belasan jurus. tidak tempo lagi. tubuhnya itu jatuh celentang. ia memberi hormat kepada Kanglam Liok Koay. lantas saja si imam berbalik terdesak. Saking memusatkan perhatian pada lawan. tempo kakinya lawan melayang. ia sampai tidak ketahui munculnya keenam gurunya itu.Pendekar Pemanah Rajawali berhasil. Ia kenali suaranya sam-suhu. Segera. melihat keringan tubuh orang. kempolan kanannya kena didupak. maka itu tak ampun lagi. ia bebaskan diri pula. Ia kata: ―Teecu In Cie Peng. karena Siauw Eng tidur di kemahnya seorang wanita Mongolia. ―Awas!‖ teriak po Kie dan Siauw Eng yang terkejut. yang dengar suara tindakan kaki mendatangi. Disaat kewalahan. karena ia pikir: ―Kalau kau datang dengan maksud baik. sudah terlambat. Khu Cie Kee memperingatkan bahwa sepuluh tahun sudah berlalu sejak perpisahan mereka di Kanglam dan dia turut berduka cita atas meninggalnya Thio A Seng. Untuk kegirangannya. tidak terluka. tubuhnya melayang.

ia dipesan untuk sekalian selidiki Kwee Ceng. jadi dia tidak usah khawatir suatu apa pun. mereka sendiri tidak tahu suatu apa perihal imam itu! Inilah tanda mereka sudah berada di bawah angin. Inilah hebatnya. Kali ini ia membangkitkan amarahnya tetuanya Liok Koay. Tentang Hek Hong Siang Sat dan Kiu Im Pek-ku Jiauw. Cie Peng jadi jengah. hal kematiannya Thio A Seng. benar-benar sulit. maka jatuhlah ia dengan hebat. ―Ach ya. Tak sangka ia bakal ditanyakan tentang tengkorak itu. Irawan D Soedradjat Page 122 . Cie Kee begitu cepat menemui nyonya itu serta anaknya. ―Teecu memohon diri. tetapi buat cari satu nyonya yang lenyap. kakakku itu mendahului dua tahun. dan hal sekarang mereka berdiam di padang gurun ini…. suaranya dingin.‖ kata Cu Cong akhirnya. Kwee Ceng kalah oleh In Cie Peng. ―Sekarang kau sampaikanlah kepada gurumu itu.‖ jawab Cie Peng. hal mereka dapatkan Kwee Ceng. tetapi muridnya ini menyeleweng sedikit.‖ bilang Tin Ok. untuk membebaskan diri. bagaimana pula ia dapat melayani Yo Kang. Cie Peng tidak segera menemui Kanglam Liok Koay. ―Apakah barusan kau layani dia untuk mencoba-coba?‖ Tin Ok tanya pula. Saking kaget. disaat bunga-bunga mekar. malah ia menguntit juga orang pay-bong terhadap Thio A Seng hingga ia saksikan semuanya. ―Dia toh adik seperguruanmu?‖ Tin Ok menegaskan. Khu Cie Kee memperhatikan putra sahabatnya. Tin Ok semua terperanjat. Surat itu diakhir dengan pemberitahuan bahwa lagi dua tahun. ―Benar. Ia diperintah gurunya pergi ke utara untuk menyampaikan surat. coba dia diam saja. ―Walaupun usiaku lebih tua. Tin Ok angkat tubuh orang dan membanting. ―Apakah kau ada punya hubungan sama Hek Hong Siang Sat?‖ tanya Tin Ok sebab orang diam saja. Cie Peng geraki kedua tangannya. Bilang bahwa kami tidak usah membalas dengan surat.Pendekar Pemanah Rajawali Mengetahui ini. tentang sifatnya dan ilmu silatnya. Coan Cin Kauw banyak pengikutnya. Cie Peng memberi hormat lagi sekali. ia bermaksud baik. bebokongnya sakit.‖ Cie Peng likat. yang berkhawatir oleh sikap orang.‖ sahut Cie Peng. di tepi sungai Onon. ―Atau kau tertawakan Kanglam Cit Koay yang satu diantaranya terbinasa di bawah cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw?‖ Baharu Cie Peng menjawab: ―Teecu ambil tengkorak itu untuk dibuat main. mereka berdua pihak bakal bertemu pula di Cui Sian lauw di Kee-hin. Setibanya di Mongolia.‖ kata Po Kie. Tidak diayana. Tin Ok antar orang sampai di muka tenda. yang ia lihat aneh. diwaktu memasuki perguruan. hingga ia berdiam saja.‖ sahut pula tosu she In itu. satu sutee. tak ada maksud lainnya. walaupun ia tidak bermaksud jahat. Coba ia lari tanpa sebat tengkorak. ―Dialah kakak seperguruanku. dia Cuma akan jungkir balik. ―Imam cilik itu tak tahu adat.‖ Dingin hatinya Kanglam Cit Koay mendengar keterangan itu. Cie Peng berdiam. tepat toako ajaradat padanya. ―Walaupun Kanglam Liok Koay tidak punya guna. tidak nanti ia menerbitkan kecurigaan.. sang suheng? Pula heran. untuk dengan terpincang-pincang ngeloyor pergi…. Khu Cie Kee ketahui jelas tentang mereka. perjanjian di Cui Sian Lauw tidak bakal digagalkan. ―Memang ini tulisannya Khu Totiang. yang tersebar luas di seluruh negara. Sebaliknya. tetapi ia diperogoki oleh Tin Ok dan kabur. apa perlunya kau ambil itu tengkorak manusia!‖ Tin Ok tanya pula. ―Anak turunan she Yo itu bernama Yo Kang?‖ Tin Ok bertanya.‖ katanya kemudian. baharu ia bisa merayap bangun. Mereka sendiri menemui Kwee Ceng secara kebetulan. sampai sekian lama. Mendadak orang she Kwa ini berseru: ―Kau pun jumpalitan!‖ dan tangan kirinya menyambar ujung baju orang di betulan dada. teecu tidak tahu-menahu…‖ ―Hm!‖ bersuara Tin Ok yang terus berdiam. hanya ia mencuri lihat Kwee Ceng berlatih. ―Teecu tidak berani.

tapi sekarang hendak siturunkan kepada murid ini. sieko. percuma gurunya ajari ia mesti begini mesti begitu. ―Anak Ceng. banyak pengalaman kita. Semua saudaranya mengerti kedukaan toako ini. Mereka khawatir kalah berlomba dengan Khu Cie Kee menampak kemajuannya In Cie Peng itu. pula tak pernah diwariskan kepada lain orang. semakin rajin guru ini mengajari muridnya. kau tidak mau pergi. ―Benar. ―Hebat pertarungan itu!‖ ia kata pula mendesak. ―Aku tidak mau. kita belum pernah mengkerat atau mundur!‖ Tin Ok mengangguk. yang lambat kesadarannya. ia tampak putri itu yang duduk di atas seekor kuda. Ia menjadi masgul sekali. tak pernah dipakai kecuali disaat genting. Murid ini mencoba berlompat. ―Apakah kau tidak dapat melatih dengan baik dan kembali dimarahin gurumu?‖ dia tanya. selama tujuh atau delapan kali. Senjata itu adalah senjata rahasia istimewa penjaga diri sejak si kakak tak dapat melihat matahari. Akhirnya si putri menjadi tidak sabaran. ia menyusul. selang sesaat ia menghela napas. ia dengar teriakannya putri Gochin: ―Engko Ceng. ―Besok akan aku ajarkan kau senjata rahasia. rajawalai yang hitam yang menang atau yang putih…‖ 123 ―Pergi kau kembali dan melihatnya sendiri. hingga ia berdiri menjublak. hingga ia berlinang air mata. ―Aku todak tahu. ia mejadi sangat menyesal.Pendekar Pemanah Rajawali Tin Ok berdiam. ―Ada apa?‖ ia tanya. ia membuatnya semakin banyak kesalahan. ―Mari lekas lihat!‖ sahut putri Temuchin itu. Tin Ok menghela napas pula perlahan. ―Aku sendiri sampai tidak melihat. Itu pagi Siauw Eng ajari Kwee Ceng ilmu pedang Wat Lie Kiam dijurus keempat yang bernama ―Di cabang pohong menyerang lutung putih‖. ia memanggil-manggil.‖ sahut Kwee Ceng. karena aku datang untuk mengajak kau!‖ katanya. Hebat senjata rahasia tok-leng dari kakaknya ini. tapi gurunya berjalan terus.‖ Siauw Eng bilang. Putri itu masih tertawa. habis itu baharu ia mengundurkan diri. Kwee Ceng mengucap terima kasih sambil berlutut dan mengangguk. Ia ingat perlakuannya Siauw Eng barusan. lekas menghanturkan terima kasih kepada toa-suhu. ia berduka sekali.‖ Siauw Eng ajari muridnya itu. ia gagal senantiasa. Semenjak itu. Untuk itu perlu orang berlompat tinggi dan jumpalitan. Ia sangsi apa Kwee Ceng dapat wariskan kepandaiannya itu dengan sempurna. Siauw Eng menjadi sangat berduka. ia kasih moyong mulutnya.‖ kata Hie Jin kemudian. mari lekas. ia tinggalkan muridnya. ―Banyak burung rajawali lagi bertarung!‖ ―Aku lagi berlatih. aku juga tidak mau pergi…‖ bilangnya sambil cemberut. ―Ya. maka itu. Adalah kehendak mereka agar si murid maju cepat. Akan tetapi sulit bagi mereka untuk mewujudkan kehendak itu. ia lenyap kegembiraannya. baik pun yang berbahaya. selanjutnya kau jangan pedulikan aku lagi!‖ Irawan D Soedradjat Page Gochin lompat turun dari kudanya. mereka turut masgul pula. mengasih lihat roma cemas bernareng gembira. ―Kita bertujuh saudara sudah puas berkelana. ia menjadi gelisah menampak guru-gurunya mulai perlihat roman tidak puas.‖ katanya pada Kwee Ceng. ―Mari lekas lihat!‖. Kwee Ceng terperanjat.‖ Cu Cong semua gegutan. apa pula Kwee Ceng yang bebal itu. mari lekas!‖ Kapan ini bocah menoleh. Sekalipun seorang yang berotak cemerlang ada sulit untuk dibikin maju dalam tempo yang pendek. ―Bukankah sama kalau sebentar kau menceritakannya kepadaku?‖ . Ia tahu semua gurunya ingin ia maju.‖ Kwee Ceng bilang. Kwee Ceng jujur. ia masih berdiam tatkala dari belakang. ―Sudahlah. Putri itu tertawa. dengan lemparkan pedangnya. apa boleh buat….‖ Kwee Ceng beritahu. ―Kalau tetap kau tidak hendak pergi melihat. ―Sekarang pergilah kau pulang dan tidur. ia mengangguk. malah makin didesak.

masih kau tidak mau memanah?‖ tanya Gochin sambil menangis. Panglima-panglima Teuchin lantas turut memanah. ―Ayah. kena disambarnya. bulunya yang putih ternodai dengan darahnya yang merah. Pun burung itu dapat menyampok anak panah. Hebat si putih. terus ia menarik. justru itu. buat diajak naik bersama ke atas kudanya itu. lalu anak panahnya nancap di badannya seekor rajawali hitam itu. dai liang itu tertampak munculnya dua kepala anak rajawali putih yang mencoba membuat perlawanan. Sering Kwee Ceng. segera ia siapkan panahnya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah itu sepasang rajawali putih yang besar yang berkelahi?‖ Kwee Ceng tanya. mereka itu menggunai siasat. semua penonton bersorak-sorai. kawanan si hitam terbang ke arah sebelah liang di atas jurang. maka itu tidak heran kalau sekrang mereka mengharapi kemenangannya si putih hingga mereka berteriak-teriak menganjuri si putih itu. Sudah begitu. lalu bangkainya jatuh di depan Gochin. sudah enam atau tujuh ekor si hitam yang mampus…‖ Mendengar itu. Habis pertarungan itu. guna kabur ke kaki lembah di mana terlihat belasan ekor rajawali hitam tengah mengurung dan menyerang rajawali putih. ―Bagus!‖ berseru Temuchin. Kwee Ceng bertiga. tetapi burung-burung hitam itu sudah terbang tinggi. hebat setiap patukan dan cengkeramannya. ―Ayah. lekas panah!‖ ia teriaki ayahnya. tetapi sepasang rajawali putih juga telah mendapat luka. ke jurang. malah Temuchin yang mendengar kabar itu juga turut muncul. ada musuh. Irawan D Soedradjat Page 124 . ―Coba kau memanah!‖ kata Temuchin seraya menyerahkan panahnya kepada Ogotai. yang masih bertempur dengan seru. di udara terdengar riuh suara burung tadi. Ia datang dengan mengajak Ogotai dan Tuli. Temuchin sebaliknya berkata kepada Ogotai dan Tuli: ―Si rajawali hitam menang perang. Rajawali putih lebih besar dan patuknya terlebih kuat. Sebentar saja sudah bnayak penduduk yang datang melihat pertempuran rajawali itu. Putra itu menurut. Kata mereka itu saling ganti: ―Hayo putih. Demikian seekor musuhnya yang terlambat berkelit. tinggal lagi tiga. hati Kwee Ceng tertarik juga. orang banyak hendak bubaran. Habis itu. lalu tertampak belasan si hitam terbang kembali. tetapi akhirnya ia jatuh karena luka-lukanya. ―Siapa yang dapat memanah burung itu. satu si putih mengejar. dan ia juga berhasil merubuhkan seekor. ―Benar! Kawanan si hitam banyak tapi si putih lihay. yang rubuh terbinasa dengan segera. Temuchin tertawa. ―Mari!‖ katanya. Gochin dan Tuli main-main bersama di lembah itu. Riuh tempik sorak memuji Khan yang besar itu. menerjang si putih yang lagi berdiri sambil merapikan bulunya. ia memanah. lantas berbunyi berulang-ulang. malah Gochin lantas menangis. yang menyaksikan siasat perang si hitam. ia akan mendapat hadiah!‖ Temuchin berseru. hampir setiap hari mereka tampak sepasang burung rajawali putih itu. Tuli dan Gochin menjadi kaget dan cemas. dia melawan sebisanya. maka ingatlah kamu!‖ Dua putra itu mengangguk Habis membunuh si putih. Tuli pun mencoba. dan ia tarik tangan si tuan putri. tiga ekor si hitam lantas kabur. sulit untuk mengenai mereka. dia matikan satu musuhnya. Setelah itu. lalu kira-kira sepuluh kawannya terbang pergi. patuk padanya! Awas di kiri. terhadap burung itu mereka mendapat kesan yang baik. hingga sayap mereka pada rontok berhamburan. lekas berbalik! Bagus! Bagus! Kejar padanya! Kejar!‖ Lagi dua ekor rajawali hitam jatuh mati. Seekor rajawali hitam yang tubuhnya lebih besar daripada yang lainnya. Menampak itu. semua sisa burung rajawali hitam itu terbang kabur. ia merubuhkan seekor rajawali hitam itu. kira-kira sepuluh ekor musuhnya itu masih menyerbu terus.

Itulah yang dibilang. Semua orang mengawasi Kwee Ceng. Justru itu dua ekor burung rajawali hitam terbang beredeng. tenaganya menjadi besar sekali. sekarang ia saksikan Kwee Ceng serta sikapnya itu. Busur itu beratnya dua ratus kati tapi ia dapat menariknya. orang banyak bersorak dengan pujiannya. sekarang saudaraku ini memanah sekaligus dua ekor. Ia berkata: ―Aku sendiri tidak menghendaki apa-apa. ia tekuk sebelah kakinya. yang terus tanya Kwee Ceng. ―Benarkah barang apa pun boleh?‖ ia tegaskan ayahnya. Ingin mereka mengetahui apa yang si bocah bakal minta. untuk persembahkan burung itu. untuk di utara ini. Tidak tempo lagi. ia dekati Kwee Ceng untuk menyerahkan panahnya itu. ia dapat cekuk seekor kuda kecil atau kambing besar. malah adakalanya harimau atau macan tutul pun mesti lari dari burung ini. ia berniat pertontonkan ilmu panahnya Kwee Ceng. karena itu tidak usahlah aku diberikan apa-apa lagi. terus menyambar perutnya rajawali yang kedua. dengan kedua kakinya ia berlutut di depan kudanya khan yang besar itu. ―Kau berlutut! Kau panah lehernya burung itu!‖ ia menyuruh dengan suara perlahan. ―Kau anak yang berbakti. ―Kau sendiri. muridnya juga Jebe!‖ pujinya. dalam segala hal kau lebih dulu ingat ibumu!‖ katanya. Tepat ia terpanah batang lehernya. Sekarang bocah ini bisa memanah sekaligus dua ekor. datangnya dari arah kiri. ayah hendak menghadiahkan dia apakah?‖ ―Apa pun boleh!‖ sahut ayahnya itu. jangan takut!‖ Kwee Ceng perdengarkan suara perlahan. itulah hebat! Temuchin suruh pengiringnya ambil burung itu. Temuchin tertawa lebar. ia kata kepada ayahnya. ―Inilah guruku yang mengajari.‖ berkata Kwee Ceng dengan jawabannya. ―Ayah tadi bilang. Si anak muda menurut. Temuchin tertawa pula. ―Serahkan burung itu kepada ayahku!‖ Gochin berbisik di kupingnya Kwee Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali Jebe si Jago Panah berdiri di samping Temuchin. apakah yang kau kehendaki? Kau sebutkan saja. kedua tangannya diangkat tinggi.― sahut Kwee Ceng yang tidak hendak mensia-siakan Jebe. Dan karena ini. ―Khan yang agung telah perlakukan aku begini baik. sebab heran mereka atas sikapnya Khan mereka itu. yang jadi rubuh bersama di sampingnya si tukang panah. Harus diketahui. aku hendak mewakilkan seseorang mohon suatu hal…‖ Irawan D Soedradjat Page 125 . sia-sia ia mencoba berkelit. ―Gurunya Jebe. dengan tangan kiri memegang busur dan tangan kanan mencekal anak panah berikut talinya. ia memungut dua bangkai burung itu. kau hebat!‖ ia kata pada si bocah. ia turunkan panahnya. tidak lagi berputaran di atas jurang. ―Anak yang baik. burung rajawali ada besar luar biasa. siapa yang berhasil memanah. Menampak itu. menarik habis hingga busur itu melengkung sepenuhnya. ia lantas menarik hingga busur itu. karena setelah sepuluh tahun berguru kepada Kanglam Liok Koay. bulu sayapnya pun kuat seumpama besi. ―Apakah aku dapat mendustai anak-anak?‖ ayahnya itu tertawa. ia menjadi girang sekali. Di dalam bahasa Mongol. sisa burung yang lainnya terbang kabur. ―Jebe‖ itu berarti ―ahli panah yang lihay atau dewa panah‖ Tuli hendak bantu adik angkatnya itu. ia lari kepada Temuchin. Kwee Ceng menarik tangan kanannya. lebar panjangnya sampai setombak lebih. Tapi anak panah itu tembus. ibuku pun telah punyakan segala apa. ia mengincar. ―Kau menghendaki apa?‖ Tuli girang sekali. Seumurnya Temuchin paling menyukai panglima yang gagah perkasa dan orang kosen. sekali memanah dua ekor burung. kapan ia menyambar ke bawah. dia bakal dihadiahkan sesuatu. di depan siapa ia etkuk sebuah lututnya. Kwee Ceng sambuti panah itu. atau tangannya menjadi melengkung. ―Ser!‖ demikian anak panah menyambar. gurunya itu. semabri menarik. dan seekor rajawali rubuh. kalau sepasang sayapnya direntangkan.

Golok pendek itu adalah goloknya khan mereka sendiri. sampai satu kali ia angkat kepalanya. engko Ceng. Terus ia putar kudanya.‖ ia berkata. buat terus rebahkan diri di atas rumput. habis membuat main itu golok. maka itu aku mohon denagn sangat supaya janganlah tuan putri dijodohkan dengan dia itu‖ sambungnya kemudian. Dia rupanya bermata tajam. ia timpuki itu kepada si anak muda. yang rupanya baharu kembali. yang menyatakan entah berapa banyak korban yang telah dimakan. ia hunus golok pendek itu dan melihat sinarnya yang tajam. suaranya sedih. jangan berlatih terus. lalu akhirnya ia tertawa terbahak. Temuchin berkata. Hanya ketika ia saksikan kawan itu sangat mengeluarkan tenaga. ia berkata: ―Sudah. tetapi ia antap sapu tangan jatuh di sampingnya. hanya ia menontoni. yang sarungnya terbuat dari emas dan gagang golok berukirkan emas berkepala harimau. Kwee Ceng bersuara perlahan. ia malah makin gagal. untuk pulang ke kemahnya. ―Mana dapat. Irawan D Soedradjat Page 126 . tidak nanti ia serahkan goloknya itu. ai mencoba pula.‖ kata Kwee Ceng. Ia tidak ganggu Kwee Ceng. Semua panglima dan pangeran mengikuti dari jauh-jauh. Melengak Temuchin mendengar permintaan itu. kaulah yang mewakilkan aku membunuh mereka!‖ Belum lagi Kwee Ceng sahuti si khan itu. lalu ia mengeluarkan sapu tangannya. yang mengejar kawanan burung hitam itu. aku tidak punya waktu untuk temani kau berbicara. agaknya mereka sangat ketarik hati. Dialah burung tadi. Kemudian ia cabut pedangnya sendiri. yang lagi berlatih. bunyinya: ―Membunuh musuh dan memusnahkan musuh bagai menyembelih harimau dan kambing‖. ―Sungguh ucapan kanak-kanak!‖ katanya. Ia menanti sekian lama. ia sambuti golok itu. lalu ia tampak Gochin lari mendatangi dengan kudanya. Ia masih tidak berhasil menyempurnakan jurus ―Di cabang pohon menyerang lutung putih‖. yang kedua ujungnya ia gumpal masing-masing sesudah mana. Ia lantas terbang berputaran. kau anak kecil. ditabur sepotong batu kumala hitam. ―Kalau Putri Gochin dinikahkan dengannya. menyusul mana segera terdengar suara yang keras tetapi agak hebat dari si rajawali putih besar yang terbang datnag. ―Engko Ceng. terus ia lompat naik atas kudanya yang lantsa kasih kabur! Temuchin keras bagaikan berhati besi akan tetapi menyaksikan putrinya yang paling ia sayangi itu begitu bersusah hati. Coba tidak khan itu telah melepas kata. Gochin terus mengawasi. Tengah ia berlatih. lihat bagaimana harus dikasihani burung itu…‖ berkata Gochin. ia sudah lantas ketahui kebinasaan pasangannya. lalu ia tertawa mengawasi kawannya itu. ―Musuh-musuhku tak usahlah aku sendiri yang membunuhnya. ia mengawasi burung itu. hendak aku menghadiahkan kau serupa mustika!‖ Ia loloskan golok pendek di pinggangnya. ―Tusaga. ia sodorkan itu pada si bocah. Putri itu tiba untuk terus lompat turun dari kudanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah itu?‖ tanya Temuchin. sebelah tangannya dipakai untuk menunjang kepalanya. golok mustika yang pernah dipakai membinasakan bnayak musuh. ia masuki ke dalam sarungnya. ia dengar suara berisik dari kedua anak burung rajawali putih di atas tebing. Pada golok itu berpeta tanda darah. ―Kau sustlah peluhmu!‖ katanya. ia sendiri terus berlatih. ia dengar suara berkelengannya kuda. agaknya ia terkejut. mari beristirahat!‖ ―Kau jangan ganggu aku. hingga ia bermandikan keringat. dibelakang hari mestinya tuan putri menderita. untuk melatih Wat Lie Kiam-hoat. Semua panglima menjadi kagum dan memuji. Kalau ia tidak melompat terlalu rendah ia tentu tak keburu menggerakkan pedangnya. hatinya menjadi lemah. Gochin berdiam. dimana ada terukir pula katakata: ―Golok pribadi dari Khan Temuchin‖. maka juga ie menghela napas. cucunya Wang Khan itu busuk dan jahat. Baiklah. Kwee Ceng tunggu sampai orang sudah pergi semua. yangs seperti mendatangkan hawa dingin adem. Ia menahan sabar. Kwee Ceng menhanturkan terima kasih. Di sebelah itu masih ada ukiran dua baris kata-kata. Kwee Ceng berhenti berlatih. mendadak Gochin menangis.

burung itu sudah terbang turun pula. lagi seratus tahun juga tidak bakal berhasil!‖ Kwee Ceng berhenti bersilat. ia lompat untuk lari ke jurang. ―Liaht biar tegas!‖ bersuara si imam itu. maka di detik lain. Lagi sekali burung besar itu perdengarkan suara nyaring. kedua burung itu masih kecil. pedangnya telah pindah tangan kepada si imam itu. Mereka melihat satu tosu atau imam. memandang ke atas tebing. untuk mendaki dengan cepat. atau tahu-tahu ia telah serbu batu gunung yang besar. 127 Hati Kwee Ceng dan Gochin berdenyut keras tak hentinya. ilmu dengna tangan kosong merampas senjata musuh. Untuk sejenak itu. akan tetapi ia belum dapat menyakinkan itu dengan sempurnya. sedang jubahnya bersih sekali. gerakannya bagai lutung atau kera. . Hancur-luluhlah kalau orang jatuh dari atasnya. Cu Cong. tujuannya ke jurang. Mereka kagum. di dekat liang yang merupakan sarang burung rajawali putih itu. hingga tahu-tahu ia sudah jalankan jurus yang Kwee Ceng tak sanggup pelajari itu. hanya ia mencelat ke atas. yang aneh dandannya. Ia berlari dengan kaki. belum bisa terbang.? Bab 12. Ia menjadi tidak senang. dan segera ia berkata: ―Bagaimana dengan kedua anak burung itu? Bapak dan ibunya telah mati…‖ Sarang di liang di atas tebing itu sukar dipanjat orang. baru anak-anak burung itu dapat di tolongi…‖ katanya. ia tertawa. sebab ia telah mebuat tiga konde kecil di atas kepalanya.‖ sahut si engko Ceng itu. ―Kecuali orang bersayap dan dapat terbang naik ke atas sana. ―Sungguh harus dihormati! Sungguh harus dihormati!‖ tiba-tiba mereka dengar satu suara nyaring di belakang mereka. Gochin tidak mengerti bahasa itu. kagum ia untuk lihaynya ini imam. Mana bisa ia membela diri atau berkelit? Berbareng dengan itu. ia menoleh. Jurang itu tinggi. lalu Kwee Ceng merasai bahunya kaku. Ia pegang pula pedangnya dan mulai lagi denagn latihannya. terus ia terbang ke atas seprti memasuki mega. ia hunus golok hadiahnya Temuchin. heran dan berkhawatir untuk keselamatan si imam. Dan ia pun berbicara dalam bahasa Tionghoa. yang tidak pedulikan sikpa orang. tidak biasanya untuk orang yang berada di gurun pasir. turunannya pun tak boleh tak ditolongi!‖ ia berkata. sedang turunnya si imam adalah sangat cepat tetapi tenang. tebing dan semua batunya licin. baru ia buka suara. hingga mereka menjadi heran. ia sudah mencapai hingga di atas jurang. Si imam tersenyum. Maka segera ia melompat ke depan tuan putri itu. ―Apa katamu?‖ ia tanya. maka itu. sangat cepat. ia berkhawatir untuk Gochin. Imam Berkonde Tiga Kwee Ceng menjublak sekian lama. setelah mana.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pasti ia sangat berduka. ―Dengan belajar secara demikian. Belum berhenti suaranya Gochin. ―Burung rajawali putih itu harus dihormati. beroman sebagai huruf ―pin‖. gerakan siapa ia sepertinya tidak melihatnya. Ia pun sudah lantas menoleh pula. Mereka menjerit dan sama-sama mencelat. Bocah ini berdiri melengak. lekas-lekas keduanya berpaling. Si imam lempar pedangnya ke tanah. ia tidak menyahuti. menjambret dan merembet dengan tangan. sebentar kemudian. lalu dengan satu kelebatan. yang berkumis abu-abu tetapi mukanya merah dadu. mulutnya terbuka lebar. cara bagaimana mereka bisa mencari makan? Bukankah mereka itu bakal mati kelaparan…. ―Mau apa ia terbang ke atas?‖ tanya tuan putri itu. untuk bersiap melindungi putri ini. yang tangannya mencekal hudtim atau kebutan pertapa. Tiba-tiba terdengar suara dingin di belakangnya. Pernah Kwee Ceng diajari gurunya yang kedua. keduanya kadi terdiam. Irawan D Soedradjat Page ―Bagaimana?‖ tanya Gochin yang memeramkan matanya. Ia awasi imam berkonde tiga itu. Di atas tebing itu si imam tampak menjadi kecil tubuhnya. tidak ada abunya sedikit juga. hanya mendadak ia maju mendekati. Ia masih saja tidak berhasil melatih jurus keempat yang bau diajari gurunya itu. belum ia menginsyafi gayanya. ia sudah roboh dengan tidak bernyawa lagi! Dua-dua Kwee Ceng dan Gochin terkejut sekali.

―To…totiang. Irawan D Soedradjat Page 128 .‖ ―Aku tahu. jangan pergi dulu…!‖ Kwee Ceng berkata.Pendekar Pemanah Rajawali ―Hampir tiba!‖ sahut Kwee Ceng. yang girangnya bukan main. untuk apa kau pay-kui terhadapku?‖ si imam tanya.‖ sahut si nona. yang pun pandai mainkan jurusnya yang sulit itu. ―Hati-hati. dan dengan ulur kedua tangannya. tertawa.‖ Gochin loloskan benang ikatan rambutnya. ―Kau mesti berjanji padaku satu hal. Dia Tiba di bawah dengan tak kalah cepatnya sewaktu ia mendaki. yang merogoh keluar kedua anak burung itu. ―Aku ingin kau tidak beritahu siapa juga yang aku telah mendaki jurang itu dan mengambil anak burung ini. aku ada sangat bebal…‖ ia kata kemudian.‖ kata si imam. tubuhnya seperti terpelanting jatuh. Ia lihat si imam demikian sabar dan ramah. rupanya sulit ia berbicara. ―Bagus! Bagus. ―Bisakah kamu merawat anak-anak burung ini?‖ ―Bisa. agaknya ia baru sadar. mereka bakal menjadi sangat kuat dan galak. bisa. ―Aku nanti ambilkan daging untuk memelihara padanya!‖ ―Eh. tunggu dulu!‖ kata si imam. lalu di lain pihak ia kagumi si imam ini yang demikian lihay. bisa!‖ sahut si putri dengan cepat seraya menyambuti.!― Gochin kasih turun kedua tangannya. ―Kenapa?‖ si imam tanya. baru suka aku serahkan burung ini padamu!‖ ―Apakah itu?‖ si putri tanya. tapi biarlah aku tidak menyebutkannya. justru ia melihat si imam lompat ke liang. ―Siang dan malam aku berlatih. Ia menjadi seperti kehilangan semangatnya.‖ sahut Gochin. jangan sampai tanganmu kena dipatuk!‖ memperingati si imam. Kwee Ceng dan Gochin lari menghampirkan pertapa itu. ―Apakah kau ingin petunjukku?‖ imam itu tanya lagi. Akan tetapi si imam tiba dengan selamat. ―Eh.‖ Si imam ini tertawa. ―Hal itu sebenarnya sulit juga. lantas ia jatuhkan diri berlutut di depan si imam dan manggut-manggut. ia berkata: ―Kalau nanti sepasang anak burung ini menjadi besar. Ia tertawa pula. ―Burung ini kecil akan tetapi patokannya sakit sekali. Si imam konde tiga itu pungut pedangnya untuk dikembalikan kepada pemiliknya. untuk berlalu. karena mana. ―Totiang. hingga susah ia membuka mulutnya. tetap aku gagal…‖ Kwee Ceng kata pula. ia mulai menangkap dua anak rajawali itu. dengan itu ia ikat kakinya kedua burung itu. ―Aku belajar rajin dan ulet akan tetapi tetap aku tidak dapat belajar dengan sempurna hingga karenanya aku membuat keenam guruku menjadi tidak senang…‖ ―Habis. Gochin lantas lompat naik ke atas kudanya dan kabur pergi. Kwee Ceng bengong mengawasiu tuan putri itu. akan tetapi sekarang akulah yang bawa dulu. ia seperti menghadapi satu sanaknya yang terdekat. untuk mengangsurkan. hingga ia menjerit kaget. Mendadak Kwee Ceng mengucurkan air mata. Ia girang bukan main. ia sudah mulai turun pula. Akur?‖ Kwee Ceng mengangguk. untuk aku memeliharanya. ―Baik. Ia kata klepada Kwee Ceng: ―Engko Ceng. maka itu diwaktu mengasih makannya kau mesti hati-hati. burung ini kita punyakan seorang seekor. habis itu ia memutar tubuhnya sembari tertawa. tapi Cuma sejenak. dilain saat. entah sampai berapa puluh kali.. untuk kemudian dimasukkan ke dalam sakunya. apakah yang kau kehendaki?‖ tanya si imam. seraya ia tanya Gochin. tetap tertawa. Bocah ini menggaruk-garuk kepalanya.

dia sendiri yang bisa bercelaka. Maka ia diam mendekam. Untuk heranya. Ia baru pulang sesudah matahari turun dari gunung dan ia rasai perutnya lapar. Dan ia lari ke kaki jurang. dengan merasa sakit dan letih. Baru ia mulai. setelah pesan si murid belajar terus dengan sungguh-sungguh. Dan ia mencoba. tapi ia memandang ke atas bukit. atau mendadak ia dengar suara orang tertawa diatasnya. Melihat orang bersungguh hati. Senjata lemas itu beda darpada golok atau lainnya senjata tajam. Ia mendusin sesudah rembulan muncul. Kwee Ceng menjadi korban. hingga semangatnya terbangun pula. satu kali Kwee Ceng salah menggeraki tangannya dan cambuknya mengenai kepalanya sendiri! Po Kie menjadi mendongkol. aku nantikan kau di atas puncak. ia jalan terus. Hari itu Han Po Kie ajarkan muridnya ilmu cambuk Kim-liong-pian.‖ kata si imam. mustahil aku tidak!‖ akhirnya ia kata dengan penasaran. sambil sebelah tangan terus pegangi liang batu. ia merasa ngeri bukan main. Ia jambret setiap oyot rotan. ―Mesti dapat!‖ ia keraskan hatinya. kepalanya sudah pusing. ujungnya berdiam tepat di depannya! ―Ikat pinggangmu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Benar!‖ Dan Kwee Ceng mendekam pula. Tiba-tiba ia ingat perkataan gurunya yang keempat: ―Di kolong langit ini tidak ada urusan yang sukar. kalau tenaga latihannya kurang orang tak akan terlukai kerenanya. Kwee Ceng menjadi bingung. Kwee Ceng tidak memperdulikannya. ia simpan goloknya. ia sekarang dapat akal. ia pun tidak berani dongak. ―Dia bisa mendaki. ―Lagi tiga hari ada bulan pertengahan. Setahu berapa banyak liang lagi harus dibikin untuk dapat naik ke atas. ―Aku lihat kau jujur dan bersungguh hati.‖ pikir Kwee Ceng. Si imam sudah lantas berjalan. sangat ayal. mengikat keras. hampir ia terjatuh! Kapan ia memandang ke bawah. ia tidak memperdulikannya lagi. Kepalanya dan jidatnya benjut. guna menancap itu untuk dipakai sabagai alat pegangan. seperti tembok yang licin. ia rebahkan diri di rumput dan kepulasan. Irawan D Soedradjat Page 129 . kakinya tangannya lemas. lengan dan kakinya matang biru. dengan tangan kanannya ia libat pinggangnya. hingga ia menjadi babak-belur. yang kepalanya telah menjelut! Kwee Ceng tutup mulut. sebaliknya. ―Aku…aku…tidak dapat mendaki…!‖ katanya. mengangguk-angguk lagi. Ia kenali suaranya si imam konde tiga. Jalan naik lebih jauh batu melulu. Saban salah menarik. Po Kie mengajari lima jurus. sengaja totiang hendak menyulitkan aku. mana dapat aku mewariskan kapandaiannya itu? Percuma aku belajar dengannya…‖ Bocah ini menjadi tawar hatinya. turun pun sukar! Kwee Ceng menghela napas bahna sukarnya. Ia ingat janjinya si imam. untuk mulai mendaki. Maka ia kertak gigi. ―Kalau begini. untuk melihatnya. ia mulai pula mencongkel batu. untuk ia menindak. ia naik seperti merayap. Ia bisa naik setinggi enam atau tujuh belas tombak. asal hati orang kuat!‖. Ia cari lubang atau sela batu. baru manjat dua tombak. Setelah cukup beristirahat. lalu ia berdiam. untuk dipegang. hampir cekalannya terlepas. tiba-tiba ada sehelai dadung meroyot turun. ia belajar terus. Ia telah mesti menggunai tenaga terlalu besar. maka terus ia berlatih lagi. Sekarang. Satu kali ia terpeleset. untuk mencokel batu. ia merayap tetapi ia dapat maju setindak dengan setindak. Tapi kau tidak boleh beritahukan hal ini kepada siapa juga!‖ Ia menunjuk ke puncak yang ia sebutkan. lenyap rasa dongkolnya Po Kie. Ia merasakan sakit pada tubuhnya. nanti aku tarik kau naik!‖ begitu suara terdengar. Lalu ia ingat pula pelajarannya. ia meninggalkan pergi dengan menunggang kudanya. Demikian sudah terjadi. ia sentil kupingnya si murid itu. Ia membiarkan saja walaupun si murid lagi-lagi membuat beberapa kesalahan. nanti selagi rembulan terang menderang. ujung cambuk mengenai diri sendiri. ialah ia pakai golok pendeknya. naik tak dapat. Tiba-tiba ia menjadi girang sekali. ia bernapas denagn perlahan-lahan. Tiga hari telah lewat. Benar-benar sukar ilmu cambuk itu. Ia heran. buat dijadikan tempat injakan. begini saja. Tanpa banyak pikir. Tapi matanya masih mengawasi ke pundak. Maka itu akhirnya. ―Terang dia tidak ingin mengajari aku…‖ Cuma sesaat ia berpikir pula: ―Aku toh bukannya tidak punyakan guru yang pandai? Di depan mataku toh ada enam guru yang bersungguh-sungguh mengajari aku? Dasar aku yang tolol! Apa daya sekarang? Meski totiang lihay sekali.

kau lantas merasa pelajaranmu tak ada faedahnya. ia tidak terlalu berkhawatir. ―Itulah tidak benar seluruhnya!‖ jawab si imam dengan tertawa. ia membetot tiga kali. mereka pasti menjadi tidak senang. aku tidak bisa peroleh kemajuan. ―Ketujuh gurumu telah bertaruh sama orang. tiba-tiba ia sudah sampai di atas. ini pun satu pukulan untukmu. ―Kalau aku ajarkan kau ilmu silat dan kemudian gurumu memdapat tahu. sudah cukup! Bagus.‖ berkata si imam. untuk pay-kui. yang mengajar tak jelas caranya dan yang belajar tak menginsyafi jalannya…‖ ―Kalau begitu. ia sebenarnya telah menggunai akal. Hanya untuk herannya. aku lupa! Suaramu tidak cukup keras. yang penuh dengan salju. Kesungguhan hatimu rupanya membuatnya kita berjodoh. ―Sudah atau belum?‖ tanya lagi suara di atas. Hahaha. Kau duduklah!‖ Dengan hati bingung. Mereka adalah orang-orang terhormat. kau ternyata keliru!‖ Kwee Ceng heran. ―Duduklah di sana!‖ kata si imam. biar suhu semua bersungguh-sungguh mengajarainya. ―Kau juga bukan muridku.Pendekar Pemanah Rajawali ―Apakah kau telah selesai mengikat?‖ tanya si imam dari atas. belum tentu ia dapat menangkan kau. kau sudah bisa tonjolkan diri di muka umum. Kalau kau sudah mengikat rapi. mana mereka mau berlaku curang?‖ ―Pertaruhan apakah itu totiang?‖ tanya Kwee Ceng. sebenarnya sudah jarang orang Rimba Persilatan yang sepandai kau. Sekarang begini saja. ―Kau baru belajar silat. sudah cukup. ―Walaupun kita tidak kenal satu sama lain akan tetapi kita saling menghormati.‖ menerangkan si imam pula. ―Biar teecu nerdiri saja menemani suhu. sambil tertawa. baru ia terangkat naik. akan tetapi si imam cekal tangannya. untuk ditarik. tetapi sebab tahu ia lagi diangkat naik. kau ada punya semangat!‖ Puncak gunung itu boleh dibilang datar. guna menghanturkan terima kasihnya. Ia terkejut juga. karena itu. Akan aku ajarkan kau ilmu mengendalikan napas.‖ Kwee Ceng memohon. sudi mengajarinya. Kenapa imam ini ketahui urusan kekelahannya itu? ―Imam itu memang daripada kau. Habis itu mendadakan ikatan pada pinggangnya menjadi keras. jalan dan tidur…‖ Irawan D Soedradjat Page 130 . anak bagus. tak sampai ke atas sini. lantas kau dijatuhkan si imam muda. segera tubuhnya terangkat.‖ Kwee Ceng menjawab. ―Sudah!‖ sahut si bocah. Untuk kau. Kau bukannya tidak rajin belajar. Kwee Ceng berduduk. ―Inilah dia yang dibilang. mereka akan memberitahukannya padamu. Nanti dua tahun lagi. lalu menambahkan: ―Ah. tarik tiga kali!‖ Kwee Ceng menurut.‖ kembali si imam berkata. dalam hal pertaruhan. ―Kau bukannya orang kaumku. tak tempo lagi ia tekuk lututnya. sekarang baiklah kau tidak usah menanyakan. ―Bicaranya tentang umumnya ilmu silat. Disamping itu kepandaian keenam gurumu tak ada dibawahan aku. Tiba-tiba ia tertawa.‖ kata si imam. kau tariklah dadung ini. di situ ada sebuah batu besar yang rata.‖ kata si imam. duduk. kenaapa selama sepuluh tahun ini kemajuanmu tidak banyak? Tahukah kau sebabnya?‖ ―Itulah karena dasarku yang bebal. aku mohon su…su…eh totiang. imam itu berkata: ―Kemarin kau telah pay-kui padaku seratus kali.‖ Kwee Ceng bilang. Rupanya ia tidak dengar jawabannya si bocah. hingga terlepaslah pegangannya pada batu dan injakan kakinya juga. dari itu tidak dapat aku ajarkan kau ilmu silat!‖ Kwee Ceng heran berbareng putus asa. ―Coba kamu bertempur secara biasa. aku bukannya gurumu. ―Rupanya gurumu belum memberi keterangan padamu. berdiri tepat di depannya si imam! Bukan main ia girang dan bersyukur. asal kau dapat pelajarakn kepandaian satu saja dari enam gurumu itu. ―Keenam gurumu itu semua orang-orang Rimba Persilatan kenamaan.

Lain keanehan yang nyata. orang-orang Mongol. menerangkan: ―Sebelumnya tidur. Ia ingati terus. untuk ia belajar napas. ―Sekarang kau rebahlah. Mereka menyangka kemajuan muridnya ini berkat kerajinan dan keuletannya. Mereka hendak tangkap kuda merah itu. tidur dan jalan. tetapi ia tak tahu apa artinya yang sebenarnya. kuda itu lari pula ke utara dan lenyap. Perlu apa kau mengajarinya pula…?‖ Ia tapinya tutup mulut. Hanya.‖ Lantas si imam mengajari caranya napas disedot masuk dan keluar sambil bersemadhi. tetapi ia menurut. mereka girang sekali. Mulanya. selama ini kau belajar mainkan senjata saja. Kwee Ceng menurut. ―Aku ada punya empat perkataan. tubuh kosong. Tapi dia tidak pergi lama. ―Sekarang duduklah dan mulai!‖ katanya pula. ―Sekarang kau pulang. pikirannya goncang. yang bangun. maka seterusnya setiap malam ia datang pada si imam. Kwee Ceng menurutm ia mencoba. Ia rebah hingga ia tidur kepulasan tanpa merasa. perasaan terlupa. Lama-lama ia menjadi tenang juga. Satu tahun telah berlalu dengan cepat. si imam kerek padanya. Si imam tidak ajari ia ilmu lainnya. Lekas ia merasakan suatu keanehan.. buka matanya. Kwee Ceng rasai ia dapat mendaki jurang lebih tinggi dan lebih gampang. kembali ia mengacau rombongan kuda tadi. selang satu jam. kuda itu menyerbu ke rombongan kuda banyak itu. jangan pikir suatu apa juga. Selang setengah tahun.‖ katanya. setiap hari mereka omongkan hal pibu dan bakal pulang itu. Si imam bersila di depan orang. tetapi tak dapat karena kuda itu lari kabur. Kwee Ceng menurut pula. duduk. Sim soe cek cin hoat.‖ Kwee Ceng mengangguk. Ia lantas turut pergi ke tempat berlatih. toh kapan di waktu siang ia berlatih silat. ia rasai kaki dan tangannya kaku dan kesmutan. ia coba lupai segala apa. Kanglam Liok Koay merasa gembira. ia rasai tubuhnya jadi ringan sekali dan gesit. tempo akhirnya ia sadar. Setelah itu. Inilah dia: Sue teng cek ceng bong. semangat jangan goncang. maka lagi beberapa bulan akan tibalah saat pibu. Kawanan penggembala itu menjadi dongkol. ada saja yang ia ingat. lalu berdiri diam di tempat jauh seraya perdengarkan meringkiknya berulang-ulang. Tee hie cek kie oen. Pada suatu pagi. Mereka juga girang akan lekas kembali ke Kanglam.‖ lantjutnya kemudian. im hapus. ia lantas dapat lakukan apa-apa yang tadinya ia tidak sanggup lakukan. Maka itu. mendadak dari arah barat datang seekor kuda kecil merah marong. Imam itu berkata pula. Kwee Ceng menjadi semakin heran. kembali terlihat ia mendatangi. Mereka percaya muridnya bakal menang. Baru semua kuda dapat dibikin tenang dan berkumpul. da ia kerek turun tubuh bocah itu. ―Begitu aku terlahir. habis itu ia terus rebahkan dirinya di atasnya. baru di bagian yang licin. napas kasih jalan perlahan-lahan. orang mesti kosongkan otaknya. rupanya ia puas sudah mengacau itu…. Nah. duduk. Itulah segerombolan kuda. Yang seng cek im siauw. ―Kau singkirkan salju di atas batu itu. barulah naik pembaringan dan rebah miring. kau mesti bernapas.‖ kata si imam. ia singkirkan salju itu. aku hampir bisa semua itu sendirinya. Ia melainkan tahu itu berarti: ―Pikiran tenang. jangan ngawur. begini. sebentar malam datang pula. dan si penggembala. denagn kedua tangannya.?‖ pikirnya. ―Kau tidur di situ. semangat hidup. Hie in sedang hendak mulai berlatih sama muridnya itu tempo kelihatan debu mengepul jauh di sebelah depan dan terdengar berisik suara kuda dan orang. Kanglam Liok Koay lihat itu kemajuan. fajar sudah menyingsing. hawa berjalan. mungkin kau kurang leluasa dengan tangan kosongmu. repot mengendalikan. Irawan D Soedradjat Page 131 .‖ Kwee Ceng menurut. ―Ilmu bernapas. ―Untuk tidur caramu ini. yang lari larat. Si imam mengawasi. jalan dan tidur. tapi mereka tidak bisa suatu apa. yang kerek ia naik. buat apa akukah mengajarinya?‖ katanya. ia ingat itu dan mengulanginya sampai beberapa kali. Hie Jin kata pada muridnya: ―Anak Ceng. dari itu mari kau coba-coba.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng heran bukan main. tetapi ia lawan itu.‖ kata si imam. kau ingat baik-baik. menggigit dan menyentil. hati mati. hingga kuda ini menjadi kacau pula.

malah kemudian. kalau seorang dapat menakluki kuda binal. makin lama makin keras pelukan itu. ―Kalau digantikan.‖ kata satu penggembala. tapi ia tak kasih dirinya dilompati. dia bakal gagal!‖ Ia tahu. tetapi Kwee Ceng terus memegangi erat-erat. pesat majunya anak Ceng. tidak pernah aku lihat kuda semacam ini!‖ Ia belum tutup mulutnya. ia jatuh sambil berdiri. yang percaya kuda itu adalah turunan naga. dan kapannya ia mempelajari keng-sin-sut. hingga ia jatuh ke tanah. Hebat larinya kuda itu. sebaliknya ialah yang melompat ke bebokong kuda itu. tahu ia sifat atau kebiasaannya hewan itu. tanpa ia merasa. kudanya sendiri jempolan. kuda itu sukar bernapas. tahu-tahu si murid sudah kembali bersama kuda merah itu. ―Anak Ceng. kuda itu bakal tunduk untuk selama-lamanya kepada penakluk itu. dia tak tercandak.‖ kata Siauw Eng. Ia menjadi dongkol. anak kecil? Sudah puluhan tahun aku menggembvala kuda. karena mana. ―Mungkinkah ia dipayungi ayahnya almarhum? Mungkinkah ngo-ko…? Nona ini tidak tahu. Kasih sam-suhu gantikan kau!‖ ―Jangan!‖ teriak Po Kie. belum ia sempat mendudukinya. dia berdiri diam! . Ia penggemar kuda.‖ ―Itulah bukannya kuda. ia tengah menyakinkan ilmu ringan tubuh yang sangat lihay. ia percaya bakal berhasil. dia tidak dapat diganggu!‖ jawab penggembala itu kemudian. Kwee Ceng tidak rubuh karenanya. mereka berteriak. cuma tak sampai terguling. Orang Mongol sendiri kagum padanya. Ia kate. Mereka pun kagumi kuda merah itu. sebab orang itu tidak mau melepas cekalannya. tiba-tiba dari smaping ada satu orang yang lompat menyambar kepadanya. Si penggembala. ilmu enteng tubuh. lantas ia lari mengejar. lekas turun. Dia kaget. sudah lantas berlutut dan memuji supaya janganlah Tuhanbergusar karena kudanya itu dipermainkan… Siauw Eng pun lantas berteriak. ―Siapa bilang naga bisa menjdai kuda?‖ katanya. dia kena bawa orang yang menyambarnya itu. Ia sudah pandai. Kuda itu lari ke arahnya. siapa tahu.‖ sahut seorang penggembala. kepandaian Kwee Ceng itu adalah hasilnya ajaran si imam konde tiga. ―Setahu darimana keluarganya kuda kecil ini. Diakhirnya. Masih saja kuda itu berjingkrakan. Malah Han Po Kie segera hampirkan rombongan penggembala itu. Disamping itu mereka heran kapannya bocah ini pelajarkan sifatnya hewan. kanglam Liok Koay pun terkejut. dia menjadi penasaran terhadap kami. Ia kate tapi ia dapat melompat tinggi. Han Po Kie segera bertindak. kemudian ia meyentil dengan kedua kaki belakangnya. ―Ngaco belo!‖ ―Kau tahu apa. ―Habis apakah itu?‖ tanya Po Kie. untuk berdiri. memegang surinya. yaitu ―Kim-gan-kang‖ atau ilmu ―Burung Welilis Emas. Semua penggembala menjadi terkejut. dai seperti ingin menjungkirkan penunggangnya. ―Inalah kuda turunan naga dari langit. ―Dia berhasil‖ 132 Kuda itu masih berjingkrakan. Begitulah ia lari ke tempat dimana kuda itu bakal mundur. yang terus angkat kedua kaki depannya. tetapi masih kalah jauh dengan kuda merah itu. tenaganya dikerahkan. karena itulah Kwee Ceng yang menyambar kuda itu. Seorang penggembala lain tertawa. Setiap malam ia naik turun jurang. rupanya ingin dia membikin penunggangnya jungkir balik. kedua kakinya menjepit. kami mencoba menangkap padanya tetapi gagal. dia lompat dan lari. ia memang seorang ahli kuda. kapan kuda merah itu sudah datang menyerbu pula. bocah ini memeluk ke leher. Po Kie pun segera ajar dia bagaimana harus membikin jinak kuda. Dia ada sangat cerdik dan gesit. lalu ia berhenti meronta-ronta. akan tanya kuda itu kepunyaan siapa. Tepat dugaannya. ia memegangi dengan keras. Segera ia berada di atas punggung kuda. karena ketekunan Kwee Ceng sendiri yang bebal tapi rajin dan ulet. kuda itu sudah lewati dia. lau terusterusan ia mengacau. Irawan D Soedradjat Page ―Bagus! Bagus!‖ seru Po Kie. yang mencegah. ―Baharu beberapa hari yang lalu kami lihat dia. ia seperti berada di bawahnya perut hewan itu. ―Selama satu tahun ini.‖ Dia cuma tahu si imam konde tiga itu sangat baik hati suka memberi pengajaran kepadanya hingga ia dapat bersemadhi… Selagi Liok Koay bicarakan hal murid ini. hanya disaat ia lari lewat.Pendekar Pemanah Rajawali Liok Koay dan Kwee Ceng heran.

ia dipersen jentilan hingga ia terjungkal! Kwee Ceng lantas tuntun kuda itu ke sisi instal. ―Anak Ceng. ―Sedikit pun teecu tidak mengerti itu. Ini bukan jurus latihan. ―Ya.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng khawatir kuda itu bakal lari atau kabur. guna menyingkirkan dua tangan gurunya itu. habis bersantap. tapi segera ia berlutut di depan gurunya itu. Kwee Ceng mennagkis dan berkelit. dengan masing-masing mereka merasa heran. Di mana saja orang bisa menghadapi musuh. walaupun kau usir. mereka masuk ke kemah mereka.‖ berkata Coan Kim Hoat pada muridnya itu. dia jilati belakang telapakan tangan si bocah. semua mereka menunjuk roman bengis. ―Masih kau berdusta?!‖ Cu Cong bentak pula. Kwee Ceng pergi ke kemah gurunya. ia mesti pingsan. Tentu saja. untuk membersihkan badannya. Kuda itu benar tidak lari. dia jadi jinak sekali. Cuma tempo ia menggenai dada muridnya. Si imam konde tiga tidak ajarkan ia ilmu silat. untuk gosoki keringatnya.‖ Kata-kata itu disusul sama ancaman tangan kiri dan tinjuan kepalan kanan. Tin Ok semua berbangkit. cuma ilmu semadhi. Liok Koay tidak suruh muridnya itu berlatih lebih jauh. dia tidak nanti lari!‖ Mendengar itu barulah Kwee Ceng lompat turun. sebaliknya. tapi serangan benar-benar yang berbahaya. ―Coba tidak liok-suhu mencoba padamu. malah ia terus gunai jurusnya ―Masuk ke dalam guna harimau‖. Kwee Ceng mundur. ―Disini?‖ sang murid tegaskan. silakan lioksuhu menghukum. Menampak itu. ia tidak mau lantas turun. Ia takut sekali. bukan?!‖ ―Cuma guru Jebe mengajarakan teecu main panah dan tombak. sedang ilmu enteng tubuh. kau tentu tetap hendak menyembunyikannya. orang menjadi tertawa! Satu penggembala dekati kuda itu. ―Cukup sudah!‖ Po Kie bilang pada muridnya. ―Apakah kau hendak andalakn gurumu yang lihay itu maka kau jadi tidak pandang lagi kami berenam?! Hm!‖ ―Tenaga dalam?‖ Kwee Ceng melengak.‖ Irawan D Soedradjat Page 133 ―Fui!‖ seru Cu Cong sambil ia ulurkan tangannya ke jalan darah hian-kee-hiat di bawahan tulang iga.‖ Teecu salah. Siapa terkena itu. hendak ia membela diri. ingin aku lihat seberapa jauh kau punya ilmu Kay-san-ciang. ―Kau turun! Dia sudah tunduk kepadamu. kenapa kau tidak beritahu itu pada kita?!‖ tehur Cu Cong. Kwee Ceng menangis. Ia mengarah ke dada.‖ Kwee Ceng menjawab. lalu tangannya kena dihalau! Untuk sejenak Kwee Ceng tercengang. Akan tetapi hebat serangan si guru. mana berabi teecu berdusta?‖ sahutnya. ―Habis darimana kau dapat kepandaianmu tenaga dalam?!‖ Cu Cong masih bertanya. setelah diserang untuk keempat kalinya. malah terus sampai tiga kali. ia diajarkan diluar tahunya. Ia putar tangan kirinya. ―Suhu semua memperlakukan teecu sebagai anak. dari kaget dan heran.‖ ia menyerah. ia membalas. air matanya mengucur keluar. tak tahu ia bersalah apa maka gurunya serang ia secara demikian telengas. maka orang mesti siap akan bertempur di kamar yang kecil. Tengah hari. hingga bebokongnya nempel sama tenda. Ia kaget seklai. . ―Secara diam-diam kau turut orang lain belajar silat. ia rasai dada muridnya itu lembek seperti kapuk. Ia omong dengan sebenarnya. Kim Hoat menyerang dengan hebat.

―Nah. Tidak mereka sangka. mesti ada sebab lainnya lagi. Seekor rajawali angkat kakinya dan pentang sayapnya. Cuma ia pesan supaya teecu jangan memberitahukan hal itu pada siapa pun. ―Kami tidak persalahkan padamu. ―Adakah ini hasil latihannya totiang?‖ ia tanya pada dirinya sendiri. ―Lekas. ―Tidak apa-apa. Mulanya mereka menyangka Kwee Ceng cuma bertemu orang pandai. yang terus undurkan diri. Tenaga dalam itu adalah Iweekang (laykang). ada orang yang setiap malam mengajari teecu bagaimana harus menyedot napas. selama itu. tidak boleh teecu pikirkan apa juga. Dengan berpegangan tangan. dari itu.‖ Kwee Ceng jawab. dari itu teecu tidak memberitahukan kepada suhu semua. Kwee Ceng jujur.‖ Siauw Eng mengutarakan pikirannya.‖ Cu Cong bilang. membikin totokan itu kena dikemsampingkan. asal kau tidak beritahukan dia bahwa kami telah ketahui urusan ini. Lalu ia mengasih keterangan: ―Selama dua tahun ini. suhu.‖ kata Cu Cong.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng tidak berkelit atau menangkis. apakah ini bukannya tenaga dalam!‖ serunya. Kwee Ceng terkejut. ―Dia suruh teecu duduk. teecu juga tidak mensia-siakan pelajaranku. tapi ia terkejut dan heran.‖ kata Kwee Ceng. ―Di mana dia mengajarkannya?‖ ―Dia tidak mau beritahu she dan nama atau gelarannya pada teecu. Liok Koay berbicara. Terang murid ini tidak berdusta. duduk bersila dan tidur. dia tentu tidak bermaksud buruk. ―Benar-benar teecu tidak tahu kalau itu adalah pelajaran tenaga dalam. Si bocah Cuma merasakan sakit. ―Hanya kenapa dia tidak menghendaki kita mendapat tahu?‖ tanya Kim Hoat. dua kawan ini lari ke tegalan.‖ kata Kwee Ceng. Teecu anggap hal ini bukan perbuatan busuk.‖ Liok Koay semakin heran. untuk menarik dan mengeluarkan napas dengan perlahan-lahan. mereka menjadi curiga. keduanya melebihkan tingginya tuan putri itu. lain kali teecu tidak berani pergi bermain pula…‖ Enam guru itu saling pandang. berdiri di tanah. Setibanya di kemah. dia juga larang teecu memanggil suhu padanya. ketika totokannya Cu Cong mengenai. Sebab apakah itu? ―Nah. Irawan D Soedradjat Page 134 . kau boleh pergi memain seperti biasa.‖ ―Baik. terus ia terbang mencablok di pundaknya Kwee Ceng. Ia girang gurunya tidak marah. ―Apakah kau tidak tahu.‖ Ia lantas mengangguk-angguk dan menambahkan: ―Teecu tahu teecu bersalah. tetapi kemudian teecu merasakan hawa panas keluar masuk. untuk bermain dengan burung mereka. ―Dia ajarkan ilmu kepada anak Ceng. hatinya bersih. teecu anggap ajaran itu menarik hati. tapi kalau begini. Sama sekali ia tidak ajarakan ilmu silat pada teecu. muridnya ini telah dapatkan Iweekang sedemikian rupa. Mulanya sulit. Di dalam kemah. dan ini menarik hati…‖ Liok Koay heran berbareng girang di dalam hati. ―Malah dia suruh teecu bersumpah untuk tidak menjelaskan roman tubuh dan wajahnya. ia tak kurang suatu apa.‖ Kwee Ceng menyahuti. Cu Cong tidak menggunai tenaganya sepenuhnya. di sana Gochin sudah menantikan dia. di sampingnya ada dua ekor rajawali putih. teecu ikuti ia belajar terus. pelajaranmu itu bukan tenaga dalam?‖ tanya Siauw Eng yang menegaskan. telah setengah harian aku menunggui kau!‖ kata putri itu. ia dapat menyakinkan Iweekang lebih cepat dari siapa juga. pergilah kau!‖ kata Cu Cong kemudian. ―Selanjutnya teecu tidak berani pergi bermain-main pula dengan dia itu. ―Kenapa pada anak Ceng juga ia tidak menjelaskan hal Iweekang itu?‖ ―Mungkin dia adalah kenalan kita. Kedua burung itu telah membesar denagn cepat. ―Siapa yang ajarkan kau ilmu itu?‖ Cu Cong tanya. dagingnya bergerak sendirinya.

masih si murid lari terus. Malam itu Cu Cong dan Kim Hoat menanti di luar kemah ibunya Kwee Ceng. tentulah ia itu musuh…‖ Kim Hoat berpikir. Segera juga mereka berserua karena kagetnya. ia lihat mega hitam. Ia menjadi sangat berduka. mereka lantas tanya ada apa dan kenapa dengan kedua saudara itu. Tak tampak juga orang yang dikatan gurunya itu. maka itu. Empat saudara itu terperanjat. dengan ilmunya maju pesat. Di samping batu besar ada teratur sembilan buah tengkorak putih. malah Kwee Ceng tak tampak turun. Cu Cong terus lari pulang ke kemah untuk ambil dadung. ―Bwee Tiauw Hong!‖ sahut Cu Cong. kita coba saja. ―Mari kita sembunyi disini. Mereka menantikan. Siauw Eng berpikir keras. mereka dapat terus memasang mata.‖ sahut kakak yang kedua itu.‖ Tin Ok mengatur.‖ katanya. ―Bisakah kita naik?‖ Kim Hoat tanya. yang mana dikhawatirkan ada sisa racun. entah kemana perginya Kwee Ceng serta orang yang dikatakan gurunya itu. hati mereka tegang dan cemas. khawatir nanti ketemu musuh lihay. Mereka sendiri tidak khawatir nanti terlihat si murid. Mereka lantas ambil tempatnya masing-masing. di tengah tiga di atas satu. sang fajar telah menyingsing. Kwee Ceng dapat mendaki jurang tanpa bantuan lagi. ia gegetun. tentu saja. Semua saudara itu terkejut. Yang aneh. Cu Cong ceritakan halnya Kwee Ceng naik ke atas jurang.‖ kata Cu Cong kemudian. sang matahari sudah keluar. Ketika itu. masih tegang hatinya. baiklah sebentar malam aku dan liok-tee pergi ikuti anak Ceng untuk lihat orang itu. puncak jurang tetap sunyi senyp. ―Kalau begitu. di situ tak ada orang. Keduanya kebat-kebit hatinya. aku hendak pergi!‖ begitu terdengar suaranya sang murid. rasanya tak ada yang berkepandaian seperti dia….Pendekar Pemanah Rajawali ―Kenalan?‖ ulangi Siauw Eng. ―Siapa tahu kalau dia tidak tengah mengatur daya upaya busuk?‖ kata Tin Ok dingin. di bawah lima. ―Ibu. Tin Ok berlima mengangguk. Setelah bermandikan keringat. ―Kalau dia musuh. Irawan D Soedradjat Page 135 . Di pinggiran lubang itu ada tanda hitam. akhirnya Cu Cong mengusulkan naik ke atas guna melihat. Mereka ini berbekal senjata. Suasana malam ini mengingati ia malam itu tempo mereka mengepung Hek Hong Siang Sat dengan kesudahannya Thio A Seng menutup mata untuk selamanya. keduanya tiba juga di atas. Tanpa terasa. yang larinya benar pesat sekali. tepat dengan pengaturannya Hek Hong Siang Sat dahulu hari. Kedua guru itu segera menguntit dari kejauhan. nah untuk apakah ia mengajari anak Ceng?‖ Siauw Eng tanya pula. Sang waktu lewat detik demi detik. Cu Cong dan Kim Hoat heran bukan main. Po Kie semua heran. cepat larinya. ―Di antara kenalan kita. Siauw Eng dongak. Syukur di tanah datar itu tak ada sesuatu rintangan. dua buah kampak serta beberapa puluh potong paku besar. Maka lekas-lekas mereka turun pula. mereka gunai paku itu. ―Belum tentu. seperti terkorak pisau tajam. bekas totokan jari tangan. lalu ia lari keluar. mereka saling menarik. Semua tengkorak itu pun ada lubangnya. tunggu sampai mereka turun. Lagi satu jam mereka menanti dengan sia-sia. sampai Tin Ok berempat datang menyusul. ―Kalau dia bukan sahabat. di atas jurang tidak terdengar gerak apa juga. Tempo mereka mulai menanjak. Sampai di lembah.

Tin Ok menghajar tanah dengan tongkatnya. ―Mungkin mereka turun dari sebelah…‖ Ia lalu menjelaskan apa yang mereka lihat di atas sana. ―Tidak bisa apa?‖ tanya Po Kie. ―Apakah toako mau artikan si perempuan siluman buta itu hendak pinjam tangan anak ceng untuk celakai kita?‖ tanya Po Kie. baru kita pikir pula. tidak nanti dia dapat berpura-rupa sedemikian rupa. bagaimana kau?‖ tanya Tin Ok. ―Aku di pihak sietee.‖ jawabnya. mereka menggigil snedirinya. ―Lebih dulu kita mesti mencari kepastian. yang akur sama kakaknya. Hebat ancaman bahaya yang mereka khawatirkan itu. tetapi ilmu silatnya masih kalah jauh denagn kita.‖ bilang Siauw Eng. ia pun heran. ―Anak Ceng jujur dan polos. ― Cu Cong peringati. ―Tubuhnya anak Ceng sudah cukup enteng. ―Belasan tahun cape lelah kita. ―Tidak bisa!‖ seru Hie Jin kemudian. lalu tiba-tiba kita hajar dia hingga bercacat. Bagaimana kalau tindakan kita bocor?‖ ―Memang inilah berbahaya.‖ sahut Kim Hoat. Irawan D Soedradjat Page 136 . ia lantas tetapkan hatinya.‖ Siauw Eng tetap bersangsi. ―Dia tak dapat dibikin bercacat!‖ jawab Hie Jin. ―Aku setuju sama sie-ko. ―Habis bagaimana dengan janji pibu?‖ ―Lebih penting nyawa kita atau pibu itu?‖ tanya Tin Ok. akan tetapi kapan ia saksikan air mata adiknya. kita memelihara harimau untuk meninggalkan bahaya untuk di kemudian hari. siapa tahu. Iweekangnya sudah punya dasar.‖ kata Kim Hoat.‖ ―Tapi urusan ada sangat penting. mustahil kita berenam kalah padanya…‖ Siauw Eng kaget. Po Kie bersangsi.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng?‖ tanya Siauw Eng. ―Habis kenapa ia ikuti si siluman itu selama dua tahun dan ia menutup mulut terus?‖ tanya Tin Ok. Hie Jin mengangguk.‖ sahut Cu Cong. dia bukannya satu manusia yang tak berbudi. sangsi. ―Tidak dapat?‖ Po Kie tegaskan pula.‖ kata Siauw Eng. ―Perempuan siluman itu hendak pakai tangannya si Ceng. ―Sekarang mari kita pulang!‖ ia mengajak. ―Taruh kata anak Ceng mengandung maksud tidak baik. ―Entahlah. ―Anak Ceng hendak dibikin bercacat?!‖ serunya. ―Bukankah suaminya terbinasa di tangannya si Ceng?‖ Semua orang berdiam. ―Mungkin siluman perempuan itu anggap waktunya belum tiba dan dia belum menjelaskan sesuatu kenapa anak ceng…‖ Kim Hoat pun mengutarakan dugaannya.‖ kata Tin Ok masgul. Si nona berdiam begitupun yang lainnya. Biar pun ia lihay. ―Kita berpura-pura tidak tahu. tak dapat diduga bagaimana hebatnya bencana yang bakalan terjadi. ―Mestinya begitu. kita tunggu si Ceng datang pada kita. kenapa si perempuan siluman itu tidak ajarkan dia ilmu silat?‖ tanya Po Kie. ―Samtee. mana dia begitu baik hati hendak menurunkan kepandaiannya?‖ kata Tin Ok. ―Kalau kita salah tindak karena kita merasa kasihan terhadapnya.

―Pada belasan tahun dulu dia masih belum buta. salah satu pihak tentulah lebih satu suara. mereka masih tetap ragu-ragu. hanya si imam ini segera menunjuk seraya berkata: ―Kau lihat. dia mestinya ada punya andalannya‖. Ia tuturkan hal pertempuran gurunya semua dengan Hek Hong Siang Sat itu dengan kesudahan gurunya yang kelima terbinasa. Tentu saja ia menjadi kaget. ―Eh. dia rupanya menyangka orang tak bakal datang ke tempat ini. Si imam itu tertawa.Pendekar Pemanah Rajawali Dari enam bersaudara itu. nanti aku yang turun tangan!‖ Demikian mereka bersiap sedia. apakah itu?‖ Di bawah sinar rembulan guram. tidaklah demikian duduknya hal. maka itu aku percaya. ia datang.‖ berkata si imam. lalu ia menggeleng-geleng kepala. masih belum tentu kita menang.‖ sahut si imam. siapa tahu. ia pun kasih tahu bagaimana dengan cara kebetulan ia dapat menikam mati pada Tan Hian Hong. aku pun telah memikirkannya. ―Aku belum lama sampai disini. si imam sudah menantikan dia. kita justru biasa datang kemari hingga kita mempergokinya. hati mereka tidak tenang. ―Tempo aku sampai.‖ . ―Adakah ini diatur oleh Hek Hong Saing Sat?‖ ia tanya. ―Dan sekarang kita ada berdelapan…. dia masih tidak dapat lawan tujuh guruku.‖ kata Kwee ceng. Ia kata: ―Sakit hati ngoko mana dapat tidak dibalaskan! Toako. Maka Tin Ok bilang: ―Kalau benar. tumpukan ini sudah ada. Umpama kata aku pun membantu pihakmu. Tanghay. tiga setuju Kwee Ceng dibikin cacad dan tiga tidak. ―Orang ini hebat ilmu silatnya. jietee sama lioktee. ia periksa itu.‖ ―Dia telah buta kedua matanya kena dihajar toasuhu. Si imam jumput satu tengkorak. heran. kita pasti akan memperoleh putusan. Tin Ok bersama Cu Cong dan Coan Kim hoat bukan bangsa sembrono akan tetapi menyaksikan keanehan Kwee Ceng dan di atas jurang kedapatan itu sembilan tengkorak dari Bwee Tiauw Hong.‖ ―Sebelum kau datang. maka akhirnya. ―Mari kita pulang dulu!‖ Di dalam kemah mereka. ―Apakah bukan sengaja dia hendak membikin kita mendapat tahu dan bersiap sedia?‖ Irawan D Soedradjat Page 137 ―Aku pikir tidak demikian. Cu Cong menghela napas. ―Tetapi totiang. Tengkorak ini ada hubungannya sama Kiu Im Pek-ku iauw. Kwee Ceng mengangguk. Kwee Ceng kaget dan heran. berhneti mengucur air mata Siauw Eng. Tadinya aku menyangka ini permainan gila dari muridnya Oey Yok Su dari Tho Hoa To. Kwee Ceng lihat sembialn tengkorak. kamu halangi mereka.‖ Mendengar disebut-sebutnya A Seng.‖ katanya kemudian.‖ ia bilang. setelah toh dia datang untuk mencari. ―Aku khawatir gurumu itu bukan tandingannya. tentulah si Mayat Besi datang untuk mencari guru-gurumu itu. adakah si Mayat Besi itu datang? Apakah totiang dapat lihat padanya?‖ tanya Kwee Ceng. Kapan tadi malam Kwee Ceng tiba di atas jurang. ―Tidak dapat aku menduga sampai dimana lihaynya jeriji-jeriji tangannya itu. ―Coba ngotee ada di sini. kaut kepercayaan mereka bahwa Bwee Tiauw Hong adalah orang yang mengajari Iweekang kepada murid mereka. Nyatanya. maka sekarang kita harus mengerti.‖ Si imam bicara dengan sungguh-sungguh. ―Kiranya si Mayat Perunggu yang lihay itu terbinasa di tanganmu!‖ katanya. Kalau begitu. kami dengar titahmu!‖ ―Baiklah!‖ kata toako itu. kau pun kenal Hek Hong Siang Sat?‖ si imam tanya. ―Sebenarnya mau apa dia menyusun tengkorak-tengkorak di sini?‖ Kwee Ceng tanya. kami tidak takut.

Kwee Ceng berdiam dan turut mengintai juga. untuk dipakai menangkis. Kwee Ceng heran walaupun ia tidak mengerti latihan orang yang luar biasa itu. yang ia telah latih dengan sempurna. berlalu dari belakang jurang darimana ia datang tadi. mulanya perlahan. Ia berbangkit. karenanya ia jadi sangat bersyukur kepada si imam konde tiga ini yang tidak dikenal. yang dibawah sinar rembulan tampak nyata. Habis itu. cambuk lemas putih yang mengkilap. Bab 13. Tak dapat dia dilawan keras. buat diajak mendekam. Kwee Ceng menghela napas lega. Mungkin enam tombak. Beberapa kali ia berbuat begitu. Setahu bagaimana dia naiknya. lalu menjadi nyaring seperti meletusnya suara kacang goreng yang digoreng terlalu matang. Cuma suara yang terdengar. kaget ini bocah. Orang tidak usah menanti terlalu lama akan lantas terlihat berkelebatnya satu bayangan. ia dapat dengar. disusul sama munculnya satu tubuh. Sekarang ia keluarkan suatu apa dari sakunya. ia rasakan lengannya sakit sekali. Irawan D Soedradjat Page 138 . lalu tangannya meraba-raba. cepatnya luar biasa. lagi ia berpikir. sedang disebelah belakang jurang itu ada terlebih terjal tebingnya daripada bagian depan. buat segera diajak berlompat ke belakang batu besar. untuk dipondong. Ia terkejut pula. habis hancur kepalaku…‖ pikirnya. Tak lama. Kupingnya menjadi terang sekali. tubuhnya sendiri tidak bergerak.‖ sahut si imam. tangan kirinya menarik sesuatu dari pinggangnya. Tapi si Mayat Besi tidak lihat siapa juga. ―Jangan bersuara. sambil tertawa. untuk keduanya berjongkok. ia bikin gerakan seperti berlatih silat. ―Sekalian kau bilangi bahwa ada satu sahabatnya memesan dengan perantaraan kau bahwa lebih baik mereka menyingkir dari dia itu. tubuhnya Bwee Tiauw Hong kasih dengar suara meretek. Menampak ini insyaflah Kwee Ceng akan pentingnya ilmu yang si imam ajari padanya. Belum lagi kedua senjatanya beradu. Ia tidak takut. lengan itu orang kasih paksa turun sedang bebokongnya ditekan supaya ia mendekam pula. matanya memandang ke tempat sembunyi mereka. seperti lagi memikirkan sesuatu. lalu berhenti. ―Baiklah. Tipu Lawan Tipu Berselang sesaat. dari itu dia terus dududk bersila di atas batu di mana biasa si anak muda bersemadhi. Dalam herannya. ia cabut pisaunya yang tajam. Hebat bergeraknya cambuk lemas itu. Ia bergerak tanpa ia merasa.‖ katanya. baru ia simpan pula barangnya itu. Sekejap saja. ujung cambuk lewat di atasan kepalanya! Anak tanggung ini mengeluarkan peluh dingin. Kwee Ceng terkejut ketika Bwee Tiauw Hong memutar tubuh. cambuk ini berlipat sepuluh kali. ―Kalau totiang tidak tolong aku. sedikit saja suara berkelisik.. napasnya ia tahan.Pendekar Pemanah Rajawali Hati Kwee ceng menjadi tidak tenang. ―Kalau begitu baiklah aku nlekas pulang untuk memberitahukan guruguruku. atau mulutnya didului dibekap. Habis berlatih. Itulah Tiat-sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi denagn rambutnya yang panjang dan riap-riapan. Tiauw Hong lantas bersilat. Bwee Tiauw Hong sengaja menyakinkan cambuk lemas. Dengan ketakutan. Kim-liong-pian dari Han Po Kie panjang Cuma enam kaki. Di situ ia lantas menyakinkan ilmu dalamnya. Setelah matanya buta. sukar orang lolos dari cambuknya yang panjang itu. Ia berdiam. untuk bela diri. Ia lihat tegas. lantas ia hendak berlalu. Kwee Ceng mendekam. Tiauw Hong simpan cambuknya itu.‖ Kwee ceng terima pesan itu.‖ berbisik si imam itu yang terus mengintai. ia letaki itu ditanah. Dalam jarak enam tombak. dari keras dan nyaring. Cambuk ini terus dicekal di tengahnya kedua tangan. Sekarang ia melihat nyata itulah joan pian. Ketika ia berbangkit. ujung itu ada punya belasan gaetan yang tajam. suara mereteknya Tiauw Hong menjadi kendor. Yang hebat adalah tempo cambuk dipegang ujungnya dengan sebelah tangan kanan. ujungnya yang lain menghajar batu besar! Habis itu Kwee Ceng dibikin kaget sama ujung cambuk yang emnyambar ke arahnya. Ia kembali meraba barangnya itu . atau tiba-tiba si imam sambar pinggangnya. untuk mereka memikirkan daya perlawanannya. dia bangkit berdiri. Diakhirnya ia ankat kaki. Kwee Ceng hanya lihat berkelebatnya sinar putih perak dari suatu benda seperti ular panjang. hendak ia menanyakan sebabnya.

yang ekbetulan menoleh. tendanya berwarna kuning. mereka mesti menyingkir dari serdadu-serdadu penjaga. maka ia menggeser. Orang ada memakai jubah bulu ynag mahal. orang perempuan dan hartanya Temuchin terjatuh kepada Sangum. di waktu langit mulai terang. ia seperti mengenalinya. ia berkata: ―Kabarnya negara di Selatan itu adalah negara yang indah permai. untuk melihat ke dalam. dia kata: ―Jikalau kau menyayangi kakak angkatmu. Si imam kempit Kwee Ceng. cara bagaimana kamu hendak menghadapi Temuchin?‖ dia tanya. entah ia bakal kasih pertunjukkan apalagi. ―Sekarang kau tidak akan sangsi pula.‖ berkata si imam. kamu bakal dapat hadiah lainnya lagi!‖ Sangum girang sekali. nah. yang rubuh dengan segera dan terbinasa. ia lari menyeusul. yaitu Jamukha. lalu ia dan Kwee Ceng menyingkap tenda. Ia singkap lebih tinggi tenda. ketika ia melihat dari samping. Di situ ada satu orang lain. sudah tentu aku tidak bakal sia-siakan padamu!‖ Kwee Ceng kenali orang itu adalah saudara angkat sehidup semati dari Temuchin. ia menjadi heran sekali. karena orang itu berdiri membelakangi dia. untzk bawa ia turun dari belakang jurang itu. dandannya mewah. Kwee Ceng tidak melihat tegas muka orang itu. akan kata dalam hatinya: ―Ah. aku tentu menurut. Di tengah-tengah ada sebuah kemah terbesar.‖ Sangum tertawa dingin. setelah usahanya berhasil. belum tentu kau akan berhasil. di sana ia menghilang.Pendekar Pemanah Rajawali ―Mari kita ikuti dia. ialah pangeran keenam dari negara Kim!‖ Jamukha tertarik dengan janji itu. si putra Raja Kim yang keenam itu. dibagian belakang ini.‖ Sangum menjadi girang sekali. ia berkata: ―Asal saja ayah angkatku Wang Khan memberikan titahnya. Dia itu sudah lantas susuti goloknya pada sepatu. rubuhnya ke dekat tenda di mana dua orang itu tengah mengintai. Setibanya mereka di bawah. pergilah kau melaporkannya!‖ Orang itu menyahuti: ―Kau adalah adik angkatku. Kwee Ceng kenali. Pikirnya: ―Mustahilkah mereka bersekutu untuk mencelakai Khan yang agung? Bagaimana ini bisa terjadi?‖ Lalu terdengar seorang lain: ―Setelah kita berhasil. Tiauw Hong tiba di satu tempat di mana ada banyak kemah. Cara ini telah digunai oleh si Mayat Besi. Kwee Ceng dapat kenyataan. untuk melihat tegas si pembunuh. jika Tuan Pangeran mengajak kita bersaudara pergi ke sana. Jamukha bakal diangkat menjadi Tin Pak Ciauw-touw-su. si terbunuh itu adalah pengiringnya Temuchin. dengan goloknya membacok satu orang lain. ia menjadi heran. itu waktu kamu berdua masing-masing boleh memimpin duapuluh ribu serdadu untuk membantu. tidak nanti ia tidak memberikannya!‖ Wanyen Lieh. ―Sekarang tolong kedua tuan bilangi aku. dan dari pihak kami negara Kim yang besar. Lama mereka berlari-lari. untuk ini. bukan?‖ berkata Sangum itu. berkata: ―Negeriku yang besar bakal lantas berangkat ke Selatan untuk menumpas kerajaan Song. Dan Kwee Ceng merasakan dirinya seperti dibawa terbang. orang pun bisa naik dengan melapati di oyot rotan. Ia tak usah mengingat-ingat lama. Irawan D Soedradjat Page 139 . putranya Wang Khan. Si imam mengcoba mengikuti terus. yang pun lantas bangun.‖ Saudara angkatku Temuchin pintar dan gagah. ia bilang: ―Berapa susahnya untuk ayahku memberi titahnya? Sebentar akan aku minta titahnya itu. Di belakang ini si imam mendekam. di seluruh tanahnya penuh denagn emas dan orang-orang perempuannya ada bagaikan bunga-bunga. terlihat Tiauw Hong berada jauh di arah utara. Justru itu terlihat satu orang.‖ Pangkat itu adalah pangkat tertinggi untuk wilayah utara dengan tugas memanggil menakluk dan menghukum pemberontak. maka ia lantas kenali sebagai Sangum. Malah ia sambar pinggang bocah itu. sungguh bagus sekali!‖ Wanyen Lieh tersenyum. ayahmu juga perlakukan aku baik sekali. ia ini kata. maka semua ternak. semua sebawahannya untuk Jamukha.

Ia pun lantas berkata: ―Tidak berani memohon tanya gelaran totiang. penyerangnya itu adalah Kwa Tin Ok.‖ 140 Imam itu bertindak mau. apapula kapan ia kenali. Di sini si imam berkata: ―Sebenarnya tidak hendak aku perlihatkan diriku. sebatang tongkat melayang ke kepalanya! Bukan main kagetnya ia. sekarang kita dapat bertemu. Irawan D Soedradjat Page Cu Cong lepaskan tangan Kwee Ceng. ―Biar apa dia lakukan. hatimu lemah sekali!‖ katanya perlahan. aku minta ia besok datang sendiri untuk berembuk bersama ayahku. maka itu baiklah kita sembunyikan orang disepanjang jalan. menyusul mana Tiauw Hong berkelebat lewat. Kwee Ceng segera kenali gurunya yang ketujuh. tanpa ayal. siapa imam ini yang semestinya lihay. akan tetapi urusan ada begini penting. Ia lantas berbalik. habis mana satu orang lompat kepada anak tanggung itu. Ia menjadi sangat bingung.‖ sahut itu murid. ia masih hendak mendengari lebih jauh etika ia rasakan si imam sambar ia untuk ditekan. Ia mengangguk. Ia membalas hormat. mereka berenam menjadi ragu-ragu. bilang pada gurumu bahwaTan-yang-cu Ma Goik mohon bertemu sama Kanglam Liok Koay. mendadak ia merasakan dua tangannya sakit. Ketika itu hari telah siang. bahaya tengah mengancam. . sungguh pinto merasa sangat beruntung. si Mayat Besi sudah lewat jauh. ―Mana itu siluman perempuan‖ Cu Cong bentak muridnya. mungkin sebentar dia bakal datang kemari. orang yang menyambar tangannya adalah Cu Cong dan Coan Kim Hoat. tangannya itu kena orang sambar. ia rasai si imam menarik ujung bajunya. maka terus ia rubuh. Si imam tarik tangan si bocah. yang ia masih pegangi. Dan melanjuti kemudian: ―Aku sudah lantas kirim orang untuk memberi balasan. ia menjura. ―Teecu telah lihat dia tadi. tahan!‖.‖ Dia menunjuk orangnya Temuchin yang telah ia binasakan itu. kalau terlambat bisa gagal!‖ Kwee Ceng terpaksa menurut. Ia tidak sangka ada orang sedemikian jahat. disusul mana sakit di kakinya yang kena ditendang. maka bersama-sama mereka lari pesat.‖ Kwee Ceng berpikir. ―Dia ada di luar. Pergilah kau masuk ke dalam.‖ dia berkata. Bukan main kagetnya Tin Ok berenam! Bagaimana mungkin Bwee Tiauw Hong datang diwaktu siang hari bolong? Maka bersama-sama mereka lompat keluar tenda. baru saja ia kirim utusan untuk membicarakan hari pernikahan. kapan ia menoleh. Mari lekas. Tapi di bawah terangnya sinar matahari. tidak dapat aku berkukuh lebih lama lagi. Kanglam Liok Koay berdiam. Baharu saja ia memanggil itu. ―Sudah lama pinto mengagumi tuan-tuan. Terdengar Sangum berkata: ―Temuchin itu telah jodohkan putrinya kepada putraku. buat sesaat ini guru-guruku tidak bakal menghadapi bahaya. Sekejap saja. ia dapatkan imam itu menunjuk ke belakang. Maka ia lihat Bwee Tiauw Hong sedang membekuk satu orang. Sekarang Kwee Ceng melihat. ia lari ke dalam kemah. ―Suhu!‖ ia berseru begitu ia menyingkap tenda. akan setelah itu. ―Citmoay. Pedang guru itu telah terpental. ―Biar aku dengari persekutuannya mereka ini yang hendak mencelakai Khan yang agung. lalu ia berbisik: ―Tiauw Hong lagi cari orang untuk menanyakan tempat kediaman gurumu. siapa terus berseru: ―Toako. Aku percaya ia bakal datang dan tentunya tanpa membawa banyak pengiring. lalu mereka mengawasi Ma Giok. rupanya ditanyakan sesuatu. Segera itu menyusul terdengar suara senjata bentrok. akan pergi meninggalkan kemah beberapa puluh tindak. ia tancap tongkapnya. menuju kemahnya Kanglam Liok Koay. Tin Ok menghela napas. untuk menantikan kebinasaannya.‖ Dua tahun Kwee Ceng ikuti imam ini. Bwee Tiauw Hong sendiri tidak ada bayangannya sekalipun. baru sekarang ia ketahui nama orang. Cuma ia tetap belum tahu. tidak nanti ia lolos dari jaring perangkapku ini! Ha-ha-haha!‖ Kwee Ceng kaget dengan berang gusar.‖ Maka itu ia mendekam terus seraya memasang kupingnya. di sana mereka tampak seorang imam tua. Ia lantas meramkan mata. ialah Han Siauw Eng. dia mohon bertemu sama suhu semua. ―Mana dia gurumu yang mengajarkan kau ilmu dalam?!‖ tanya Tin Ok kemudian dengan dingin. di tangannya ada orang yang dikempitnya. Temuchin boleh mepunyai tiga kepala dan enam tangan. gurunya yang nomor satu.‖ sahut Kwee Ceng. yang hendak membinasakan saudara angkatnya sendiri.Pendekar Pemanah Rajawali Selagi Kwee Ceng memasang kuping.

ia lantas berkata: ―Inilah Tan-yang-cu Ma Goik Ma Totiang. ia tidak berani pergi menghampirkan. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng tidak sahuti putri itu. lantas ia mengapai berulang-ulang. yang bertentangan dengan agama kami. Setelah datang dekat. denagn lancang pinto ajari dia cara untuk membantu panjang umurnya. pinto lihat dia polos dan jujur. Pinto bertemu dengannya pada dua tahun yang lalu. pinto tidak ingin memcampurinya. terdengar pula congklangnya kuda. ia hanya menggapai. tidak suka pinto orang ketahui tentang diriku. Putri itu menghentikan kudanya sejarak belasan tindak. Coan Kim Hoat lantas saja lepaskan cekalannya kepada muridnya itu. ―Pinto biasa berkelana. Disaat enam saudara ini hendak tanyakan hal Bwee Tiauw Hong. ―Maafkan kami! Entah ada pengajaran apa dari ciang-kauw maka telah datang ke gurun Utara ini? Adakah kiranya berhubungan sama janji suteemu mengenai pibu di Kee-hin nanti?‖ ―Suteeku itu adalah seorang pertapa. sedang tentang ilmu silatnya. beda daripada saudara-saudaranya. ―Jangan. . hendak aku pergi sebentar. Dia biasanya berdiam di dalam kelentengnya.Pendekar Pemanah Rajawali Sekarang Kwee Ceng ingat. sudah beberapa kali pinto menegurnya. yang menjadi kauwcu atau kepala agama dari Coan Cin Kauw. sebentar aku akan kembali!‖ kata ini anak muda dalam bingung dan khawatirnya.‖ Ma Giok berkata. ―Kenapa kau tidak hendak memberitahukannya dari siang-siang. Ia masih bicara sama guru itu tapi si guru sudah lantas bicara sama Ma Giok tentang pertempuran mereka melawan Hek Hong Siang Sat. Mengenai pertaruhan itu sendiri. Tentang itu pinto belum dapat perkenanan tuan-tuan. Mereka lihat orang alim sekali. tahulah ia. kapan Kwee Ceng menoleh. ―Mengenai tabiatnya itu. ―Adakah totiang ini yang ajarkan kamu ilmu?‖ ia tanya muridnya.‖ berkata Ma Giok. kesan mereka lantas berubah. Kwee Ceng takut pada gurunya. Siauw Eng menjadi girang sekali. hingga kami menjadi keliru menyangka terhadapmu?‖ Ia mengusap-usap rambut muridnya itu. Terpaksa ia berdiam.‖ Ia lantas menjura pula. Pertama-tama pinto ingin bicara tentang anak ini. Tiang Cun Cu Khu Cie Kee adalah adik seperguruan dari Ma Giok ini. lalu tertampak beberapa penunggang kuda tengah mendatangi ke arah kemahnya Temuchin. ia hanya kata: ―Lekas kau pergi kepada Khan yang agung.‖ Liok Koay heran tetapi tidak dapat mereka tidak mempercayainya. Kanglam Liok Koay membalas hormat. dengan sendirinya dia menjadi pengganti kepala agama itu.‖ Kwee Ceng jawab gurunya ini. tetapi ia masih gemar seklai dalam urusan pertaruhan. ―Kiranya ciang-kauw dari Coan Cin Kauw!‖ berkata Tin Ok. Tentang ini pinto pun memohon maaf. Kwee Ceng menjadi sangat bingung. jarang sekali ia membuat perjalanan. ―Itulah sebabnya walaupun pinto berada dekat dengan tuan-tuan tetapi pinto tidak membuat kunjungan. itu adalah orang-orangnya Sangum. bilang Sangum bersama Jamukha lagi mengatur tipu daya untuk membinasakan kepada Khan!‖ 141 Gochin menghampiri. ―Kau berdiam bersama kami. ia jadi berkhawatir untuk ancaman bahaya dari pihaknya Bwee Tiauw Hong. kelihatan kedua matanya merah dan bendul. maka sekarang pinto mohon tuan-tuan tidak berkecil hati. ia berkata dengan suara seperti mendumal: ―Ayahku…. ia menjadi sangat menyayangi muridnya ini. karena mana. mereka terperanjat. ruapanya ia baru habis menangis. ―Toasuhu. nampaknya ia sangat menyayanginya. dari itu. Kedatanganku ini adalah untuk lain urusana. Mereka tahu Ma Giok itu adalah murid kepala dari Ong Tiong Yang. jangan pergi!‖ mencegah Tin Ok.‖ Tin Ok mencegah karena ia menyesal atas perbuatannya yang semberono tadi. belum lagi ia menolongi si imam menyampaikan berita. justru itu terdengar suara tindakannya banyak kuda. Bagaimana kalau si Mayat Besi datang dengan tiba-tiba? Kwee Ceng jadi semakin bingung. ia tampak datangnya Gochin. ―Totiang larang aku bicara. dalam hal nama ia kalah terkenal dengan Khu Cie Kee.ayahku ingin aku menikah sama Tusaga…‖ Lalu air matanya turun pula.‖ Liok Koay heran. Segera setelah itu. yang hendak memancing Temuchin. hatinya berdenyutan. Setelah wafatnya Ong Tiong Yang. tidak ada orang yang mengetahuinya. minta si tuan putri datang lebih dekat.

‖ kata Ma Giok seraya mengangguk. ―Tuan-tuan telah binasakan suaminya. mungkin sekali Bwee Tiauw Hong telah dapat pengajaran baru dari Oey Yok Su…. hanya orang lagi melindungi juga mereka sendiri. tidak nanti ia dapat peroleh itu. kami Cuma gemar berkelahi. Tanghay. untuk dengar putusan si kakak. Lalu ia ingat suatu apa. Ia memang sayangi Gochin sebagai adik kandungnya! Itu wkatu terdengar suaranya Ma Giok. ―Ah! dengan begini bukankah ia jadi tidak bakal menikah sama Tusaga?‖ Maka ia pun bergirang.‖ Cu Cong semua berdiam.‖ Cu Cong berkata kemudian. jangan harap malah mungkin bakal rugi sendiri…‖ ―Habis apa sakit hatinya ngoko dan toako mesti dibiarkan tak terbalas?‖ kata Siauw Eng yang selalu ingat Thio A Seng.tuan suka berlaku murah dan suka mengasihani dia untul membuka satu jalan baru untuknya. Ia putar kudanya.‖ Irawan D Soedradjat Page 142 .‖ Ma Giok bilang. ―Tentu saja benar!‖ sahut Kwee Ceng. entah bagaimana kemajuannya si Mayat Besi. imam ini bukan melulu memintakan ampun untuk Bwee Tiauw Hong. dia pun buta matanya. tetapi untuk singkirkan dia.‖ kata Tin Ok emudian. tanpa dapat penunjuk dari guru yang lihay. ―Silakan totiang beri petunjuk kepada kami. ―Aku dengar sendiri persekutuan mereka itu! Lekas kau pergi kepada ayahmu!‖ Gochin menjadi tegang hatinya tetapi ia tertawa. Dia sekarang telah dapat mewariskan kepandaiannya Tocu Oey Yok Su dari Tho Hoa To. mereka awasi kakak mereka. ―Itulah memang benar.‖ berkata Ma Giok. ―Ayahnya hendak dibikin celaka orang. kami pasti akan bersyukur. Turut pikiranku.‖ Liok Koay berdiam. Kwee Ceng heran. dengan belajar sendiri. Silahkan totiang bicara. tetapi jangan diperhebat. Cu Cong semua terkejut. permusuhan harus dilenyapkan. ―Hek Hong Siang Sat adalah murid-murid murtad dari Oey Yok Yu. ―Maka itu totiang. setiap tahun ia telah bunuh berapa banyak orang yang tidak bersalah dosa. kita tidak bakal kalah. kenapa dia girang?‖ ia tanya dirinya sendiri. bukankah berarti sakit hati itu telah terbalas? Dia sebatang kara. Mereka pernah mendengar perihal kepandaian Oey Yok Su itu. dengan sebenarnya Bwee Tiauw Hong itu telah jadi sangat lihay. ―Pinto bukan hendak menangi lain orang dengan merendahkan diri sendiri. ―Sejak dahulu kala ada dibilang. ―Hanya setelah mendengar Kwa tayhiap berusan perihal pertempuran pada belasan tahun yang sudah lalu itu.Pendekar Pemanah Rajawali Gochin terkejut. selama sepuluh tahun ini. untuk selanjutnya tak dapat kita tidak berjaga-jaga. ―Satu hal hendak pinto memberitahukannya. Umpama kata sekarang kita dapat singkirkan Bwee Tiauw Hong. Suara kakaknya ini membikin heran saudara-saudaranya yang lain. Selama sepuluh tahun ini. cara bagaimana dia dapat ajarakan pula ilmu?‖ ia tanya. dapatkah kau membiarkannya saja?‖ ―Laginya sekarang ini dia yang mencari kami. ―Baik!‖ katanya. kemudian Oey Yok Su mendapat tahu. sedang cambuknya ada luar biasa. ―Taruh sekarang kita menyingkir dari dia. ―Kalau totiang sudi menunjuki suatu jalan terang. Kalau kita bekerjasama berdelapan. dia harus dikasihani. Thian tentu akan memberkahi. untuk segera dikasih lari.‖ berkata Ma Giok. ―Benarkah itu?‖ tanyanya.‖ Coan Kim Hoat menyambungi. ―Dia melatih diri secara demikian hebat. ―Kalau benar dia hendak menuntut balas. bagaimana nanti…?‖ Tin Ok semua berdiam. tapi aneh kenapa Ma Giok ini nampaknya jeri kepada pemilik pulau Tho Hoa To itu? ―Totiang benar. ―Kwa tayhiap berhati mulia.‖ Tin Ok mengerti.‖ kata Po Kie kemudian. Inilah sulit!‖ ―Untuk itu pinto telah dapat pikir suatu jalan untuk menghindarkannya. ―Jalan ini ada sempurna. mereka masih kurang percaya sepenuhnya. asal tuan-. bukan kami yang emncari dia. ilmunya Kiu Im Pek-kut Jiauw sudah terlatih sempurnya.‖ CU Cong berkata pula. pinto dapat menyatakan kepandaiannya Bwee Tiauw Hong telah maju pesat seklai. ―Kami Kanglam Cit Koay biasa sembrono. Mereka mau menyangka orang bicara secara dilebih-lebihkan.

ia menjadi terlebih kaget. imam ini tidak ada di sebawahannya Khu Cie Kee. di dalam hati mereka tertawa. memang Cit Cu ini ada juga nama kosongnya di dalam dunia kangouw.‖ . Cu Cong bekap mulutnya. kawan kesayangannya. ia heran. murid mereka itu. entah mayat atau orang hidup. . mereka menantikan sang sore. pinto hendak menggunai suatu akal untuk membikin ia kabur…‖ Lantas imam itu tuturkan tipunya.aku Khu Cie Kee – pasti aku tidak akan mau sudah saja!‖ Tiauw Hong dengar seruan kaget dan suaranya Kwee Ceng itu. Cuma kedua tangannya. mereka sama-sama mandaki jurang. Ma Giok dan Kwee Ceng yang jalan di muka. ―St! Dia datang…!‖ kata Tin Ok. Setibanya Ma Giok dan Kwee Ceng di atas. Dia muncul dalam rupa seperti segumpal asap hitam. Dia terlihat nyata di bawah sinar rembulan. terhadap kami dari Coan Cin Kauw. ―Eh. suaranya terdengar. Maka itu. mulutnya bergerak. Ma Giok semua telah dapat lihat tingkah laku si Mayat Besi ini.‖ kata Ma Giok. Mereka dapat lihat cara naiknya ma Giok. Mereka percaya. ―Harap totiang tidak terlalu merendah. Itulah Gochin Baki.‖ Ma Giok minta. mungkin Bwee Tiauw Hong tidak berani lancang turun tangan. Masih mereka menantikan. Cuma Kwee Ceng yang hatinya goncang. 143 ―Bwee Tiauw Hong atur tulang-tulangnya di sini. tapi disaat itu juga. guna bnatu menggerek naik kepada Kanglam Liok Koay. Kapan Cu Cong berpaling pada Coan kim Hoat dan Han Siauw Eng. ―Kita baik tunggui saja padanya. Sebenarnya Tin Ok tidak sudi mengalah. lalu perlahan-lahan menjadi gelap. ―Bersyukur kepada guru kami.‖ kata Cu Cong. ―Pinto percaya. mengapa dia masih belum datang?‖ tanya Po Kie. si wanita siluman itu terjatuh ke dalam tanganku. Sesempai di atas. Segera juga Tiauw Hong tiba di atas. Lantas semua orang duduk bersamedhi. cuaca mulai menjadi guram. Ia seperti tidak menggunai kakinya. mereka lantas kasih turun dadung mereka. tetapi untuk membari muka kepada Ma Giok. ―Ada siapakah yang tidak menghormati Cit Cu?‖ Dengan ―Cit Cu‖ dimaksudkan tujuh persaudaraan Tiang Cun Cu. karena ia pikirkan keselamatannya Gochin. Setibanya di kaki jurang. Di bebokongnya ia menggendol satu orang.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto harap tuan-tuan tidak menertawainya. Dengan lewatnya sang waktu.‖ berkata Han Po Kie. yang adalah dari kulit burung tiauw yang putih. Dia seperti naik di tangga saja. sekarang ia dengar suara orang bicara dan menyebut-nyebut Khu Cie Kee dan namanya juga. terpaksa mereka menurut. Tak dapat dicegah lagi. mulai habis sabarnya. putrinya Temuchin. Ia percaya. Ia lantas saja bersembunyi di samping batu untuk memasang telinga. dia tampak wajah orang tegang. yang lemas. enam saudara itu segera dapat lihat tumpukan tengokraknya Bwee Tiauw Hong. ia lantas mulai mendaki. habis bersantap. Sebenarnya Tiauw Hong masih jauh tetapi kuping lihay dari Tin Ok sudah mendengarnya. wajahnya sendiri tentu begitu juga. Cuma tabiatnya itu dua saudara seperguruan saja yang berbeda. Cu Cong semua yang mengawasi. Kwee Ceng terkejut kapan ia sudah lihat pakaian orang itu. Sekarang ini baharu mereka percaya habis imam itu. sambil beristirahat. Irawan D Soedradjat Page Tiauw Hong sembunyi tanpa berani berkutik. Karena ini juga. mejadi kagum. Tin Ok berenam jalan di belakang Kwee Ceng. Sungguh gesit si Mayat Besi ini. sebentar dia bakal datang. Ia tidak tahu ada berapa orang lihay yang bersembunyi di situ. hingga tibanya tengah malam. Semua orang berdiam. seraya guru yang kedua ini berkata terus: ―Kalau Bwee Tiauw Hong. hati mereka berdenyut. Kesunyian telah memerintah di atas jurang itu.

―Dia berdosa tak terampunkan!‖ sahut Hie Jin sebagai Cie Toan. mana bisa aku hidup lebih lama?‖ Cu Cong berkata pula: ―Malam ini gelap sekali sampai lima jeriji tangan sukar terlihat. untuk mencegah si nona itu berbicara. baiklah ia diberi jalan baru…. dengan mata mereka yang lihay. Kwee Ceng menjadi sangat bingung.Pendekar Pemanah Rajawali ―Dia memang banyak kejahatannya.‖ Cu Cong tertawa. ―Coan Cin Cit Cu ada disini semua? Benarkah ada begini kebetulan? Bukankah orang lagi menghina aku karena aku buta dan sengaja mereka mengatur sandiwara?‖ ia mulai geraki tubuhnya. yang disamarkan sebagai In Cie Peng. karena ia khawatir suaranya dikenali Bwee Tiauw Hong. Si nona tapinya tidak mengerti. seperti sandiwara. kalau aku terlihat mereka. silahkan kau yang turun tangan. yang kelima Giok-yang-cu Ong Cie It.‖ berkata Cu Cong. ―Barusan teecu seperti dengar suara wanita. supaya kami yang menjadi saudara-saudaramu dapat membuka mata kami. untuk menyakinkan kekuatan kakinya itu. hingga ia berpikir: ―Coan Cin Cit Cu telah berkumpul semua. Ia lalu menjadi heran dan curiga. Ia menjadi berkhawatir. pihaknya tak usah takut. kepandaian mereka juga maju pesat. apakah kau yang barusan berbicara?‖ tanya Coan Kim kepada muridnya. untuk antarkan dia pergi ke sorga di Barat…‖ Dalam Coan Cin Cit Cu. Kalau terjadi pertempuran. Cuma Tin Ok yang bungkam. karena lihaynya tendangannya dan pernah ia bertaruh mendaki jurang yang tinggi hingga ia dapat menakluki beberapa puluh orang gagah di Utara. Ma Giok kasih lihat gerakan si Mayat Besi itu. kalau sebentar si siluman perempuan datang. Kauwcu Ong Tiong Yang ada punya tujuh murid yang mendapat nama baik. Kita mesti mencegah si siluman perempuan itu dapat meloloskan diri!‖ Girang Tiauw Hong mendengar itu. Khu Cie Kee yang namanya paling tersohor. Ia menjadi lega hatinya. Ia tanya Hie Jin.‖ ia menyahut. ia lantas menggoyangi tangan. tentang mereka itu. Dipihak Liok Koay juga mungkin bakal ada yang bercelaka. ―Selama ini telah maju pesat sekali kau punya ilmu Cie-pit-kang. kalau sebentar kita turun tangan.‖ katanya dalam hati. ―Syukur langit gelap. Segera ia totok urat gagu si tuan putri itu. ialah Tan-yang-cu Ma Giok. Pembicaraan itu membikin gentar hatinya si Mayat Besi. Tapi dia toh bicara dengan suara keras! Kagetnya Tiauw Hong tidak kalah dengan kagetnya si anak muda. Sembilan tahun ia mengeram di dalam gua. pantas suhu pernah bilang kau gampang untuk mencapai kesempurnaan!‖ katanya. Dan yang terakhir adalah Ceng Ceng San-jin Sun Put Jie. mereka tentulah telah dapat lihat aku. perlahan-lahan si nona membuka matanya. Tiba-tiba Tiauw Hong ingat apa-apa. ―Ceng Ceng San-jin sangat murah hati. baik semua berlaku hati-hati.‖ ia dengar suaranya Han Siauw Eng. ―Tam Suko. Demikian mereka ini berbicara. Cuma dikhawatirkan keselamatan Kwee Ceng dan Gochin. Kau akur?‖ Hie in sengaja menyahut: ―Lebih baik minta Ong Sutee yang gunai kaki besinya untuk dupak dia. Berterima kasih kepada Langit dan Bumi yang sang rembulan tidak muncul!‖ Kwee ceng sendiri mengawasi Gochin. si toa-suheng. ―Engko Ceng lekas tolongi aku!‖ ia berteriak. Kwee Ceng tahu peranannya. Murid kepala. yang mendapat julukan Thie Kak Sian si Dewa Kaki Besi. ―Tam Suko. Yang keenam Kong-leng-cu Cek Tay Thong. ―Kalau tidak. bagaimana pikiranmu?‖ tanya Siauw Eng. ―Tapi karena Coan Cit Kauw mengutamakan wales asih. tidak seorang juga kaum kangouw yang tidak mengetahuinya. Siauw Eng bicara sebagai juga ia adalah Ceng Ceng San-jin. ―Jangan bicara!‖ katanya. Yang kedua adalah Tiang-cin-cu Tam Cie Toan. yang disini menyamar sebagai Tam Cie Toan. mengertilah ia bahwa orang mungkin mulai curiga. Cie Kee sendiri puji padanya. yang ketiga Tiang-sen-cu Lauw Cie Hian. Yang keempat ialah Tang Cun Cu Khu Cie Kee. itu tandanya si nona tidak dalam bahaya jiwa. istrinya Ma Giok pada sebelum Ma Giok sucikan diri. ―Cie Peng. Irawan D Soedradjat Page 144 . yang kedua adalah Ong Cie It.

Tiauw Hong berkata pula: ―Aku adalah seorang wanita. ―Siapa kau?‖ tanya si buta. ia menyambar pula. tetapi telah lama aku dengar ilmu silatnya Ceng Ceng San-jin.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong mengawasi gerak-geriknya Bwee Tiauw Hong. Kata-kata itu ialah istilah dalam kalangan agama To Kauw. siap sedia dengan cambuknya yang panjang itu. Memang persahabatannya erat sekali dengan itu putri serta Tuli. mungkin tangannya itu sudah tidak dapat ditolong lagi…. tanpa pedulikan lihaynya Bwee Tiauw Hong. Imam ini bicara secara merendah akan tetapi ia telah gunai tenaga dalamnya. tidak dapat ia berdiam saja. Di satu pihak ia lemparkan tubuh Gochin kepada Siauw Eng. Maka ia lantas membentak: ―Silumanm. tak dapat aku lawan kau. Bwee Tiauw Hong mengkerat mendengar suara orang itu. Khu Sutee. rasa hati harus dikendali. Ia dapat lolos. maka ia tanya Ma Giok: ―Ma totiang. saudara-saudaraku. Itu bukanlah pertanyaan biasa. yaitu Kimkwan Giok-cauw ie-sie Koat? Pastilah kau telah peroleh kemajuan.‖ Ma Giok tahu Cu Cong ingin dia perlihatkan kepandaiannya guna menakluki Bwe Tiauw Hong. Baiklah aku menyingkir dari mereka…‖ Dengan perdengarkan suara. apabila ia lihat tangannya. kali ini ia memegang nadi orang. berkumandang di dalam lembah. kalau benar.‖ Tiauw Hong segera berpikir: ―Muridnya begini muda tetapi tenaga dalamnya sudah bagus sekali.‖ Irawan D Soedradjat Page Pertanyaan itu membuat Ma Giok terkejut. ia lihat bahaya mengancam. Tahu-tahu tangan kirinya si Mayat Besi sudah lantas menyambar dan mencekal tangan kirinya. dilain pihak ia geraki tangan kirinya itu. Ma Giok llihat kelakuan orang. Coba kau pertunjuki untuk kami lihat. apakah artinya itu?‖ Ma Giok menyahuti: ―Timah itu sifatnya berat. timah dan air perak disimpan denagn hati-hati. Itu artinya. atas mana Kwee Ceng segera memberikan penyahutan: ―Teecu adalah In Cie Peng.‖ Tiba-tiba terdengar suara dingin dari belakang batu: ―Terima kasih untuk kebaikannya Coan Cin Cit Cu! Aku. Tentu sekali. pergi kau menemui mereka itu. Bwee Tiauw Hong ada di sini!‖ Semua orang terperanjat sangking herannya. dengan berdiam. untuk mengasih bangun padanya. apakah artinya itu?‖ . ia lantas menjawab: ―Sebenarnya walaupun aku menjadi saudara yang tertua. di situ ada petahan lima jari tangan. kau bersahabat serat dengan Kanglam Liok Koay. Cu Cong memberi tanda dengan tangan kepada muridnya itu. Tapi Tiauw Hong benar-benar lihay. ―Hm!‖ ia lepaskan cekalannya. maka anak muda itu menjadi mati daya. Mereka duga Tiauw Hong jeri dan bakal menyingkirkan diri secara diam-diam. Apa yang aku dapati dari guru kita. Oleh karena ini. ia dapat meloloskan diri dari tanganku. maka itu suaranya nyaring luar biasa. dagingnya melesak ke dalam. Aku pikir. ia berkhawatir. Coba si Mayat Besi tidak jeri. baiklah kita beri ampun kepadanya.‖ sahut Cu Cong. ia harus dikasihani juga. dia malah menghampiri mereka. Tapi ia ingat suatu apa.‖ ―Itulah perkara gampang. Kwee Ceng lantas lari menjauhkan diri. Kwee Ceng lihat Gochin rebah di tanah. untuk mohon mereka jangan membuat perhitungan pula dengan dia. Maka sekarang. tidak tahunya dia benar bernyali besar. peryakinan berhasil. ia berdiri. asal dia suka mengubah perbuatannya…. diumpamakan dengan rasa hati. ia berkata pula: ―Kabarnya Bwee Tiauw Hong telah buta kedua matanya. kau hendak mendapatkan pelajaran sejati? Lekas pergi!‖ 145 Tiauw Hong tanya pula: ―Nona muda dan anak muda. umpama kata ia menyesal dan suka mengubah kesalahannya yang dulu-dulu dan tidak tidak lagi mencelakai orang-orang yang tidak bersalah dosa serta tidak akan mengganggu pula kepada Kanglam Liok Koay. untuk berkelit. Tiauw Hong pun tidak berani mengulangi tantangannya untuk mencoba menempur Sun Put Jie. kedua pihak baiklah menyudahi urusan mereka. ia lompat kepada kawannya itu. lantaran aku bebal. ingin aku memohon pengajaran daripadanya…‖ Habis berkata. ―Penyelesaiannya berada di pihak Bwee Tiauw Hong sendiri. tubuhnya diam saja. segera ia berkata dengan nyaring: ―Toa suko. dalam sepuluh tahun tidak ada dua…. tidak berani aku memohon pengajaran dari totiang beramai. Perlahan-lahan ia kembali ke tempat sembunyinya. murid dari Tiang Cun Cin-jin. terdengar tedas sampai jauh. bagaimana dengan penyakinan pelajaran yang suhu ajarakan beberapa tahun ini.

untuk berduduk di atas batu.‖ ―Jangan mengucap begitu. hingga orang semua kagum. tetapi di tengah jalan aku dibekuk perempuan buta itu. Tidak lama lagi tentulah mereka akan sudah sampai di tempatnya Wang Khan.‖ kata Siauw Eng separuh menghibur. ayahku tidak percaya keteranganku. Di lain pihak. pinto telah jawab dia. sepulangnya nanti. sudah tentu kami sukar lolos dari nasib celaka. Pinto khawatir jawaban itu nanti menjadi bahaya di belakang hari…‖ Cu Cong semua mengawasi. tentulah batok kepalamu sudah berlobang lima jari tanga…‖ ―Sudah berapa lama Khan pergi?‖ tanya Kwee Ceng yang hatinya cemas. yaitu yang disebut Gwa-mui atau ilmu luar. Karena itu aku segera berangkat untuk cari kau.‖ sahut si imam kemudian. ―Coba tidak totiang membantu kami. masih belum tentu kita dapat menangkan dia. hanya karena tidak ada orang yang tunjuki. Tadi ia menanyakan jalan itu kepada pinto.‖ ―Oleh karena kurang pikir. ―Ilmunya si Mayat Besi ini. cambuknya digeraki melilit batu. ayah sudah ajak orang pergi kepada Wang Khan…‖ Kwee Ceng kaget. ayah malah jadi semakin tidak percaya. dia rupanya telah dapat cari jalan itu. ―Itulah bukan. lantaran aku tidak sudi menikah denagn Tusaga. Inilah yang pertama kali ia menghadapi soal sulit itu. atau ilmu dalam. suatu tanda bahwa ia ada mendukakan apa-apa. ―Tempo aku beritahukan bahwa kedua paman Sangum dan Jamukha hendak membikin ayah celaka.‖ sahut imam itu. totiang!‖ katanya. apabila kau memerlukan sesuatu. aku tidak bercuriga…. ―Totiang. Terus ia angkat tubuhnya. telah berada di atasan pinto dan saudara-saudara. apabila ia menarik dan tubuhnya mencelat. Mestinya itu adalah jalan yang ia belum dapat tangkap artinya. ―Harap saja begitu.‖ sahut Gochin. Ia lihat imam itu berduka. ia hendak hukum padamu. Aku telah jelaskan bahwa hal itu kau dengar dengan kupingmu sendiri. ―Terima kasih atas petunjukmu. . ―Sepuluh tahun ia tak tertampak. aku jadi hendak memperdayainya. gerakannya sangat enteng dan pesat. karena ia lantas berkata kepada Kwee Ceng: ―Engko Ceng.‖ berkata Cu Cong. Terus ia berlompat. lalu ia sadar. Ayah bilang. dia belum berhasil menyakinkannya. Ah. ia lompat ke arah jurang. maka itu Cu Cong dan yang lainnya kata dalam hati mereka: ―Coba tidak ada kita disini. dia jadi terlebih sukar untuk ditakluki.‖ berkata imam itu setelah menghela napas panjang. Sangum dan Jamukha bakal celakai ayahku itu. Kwee Ceng menjadi bingung. tidak disangka si Mayat Besi telah jadi begini lihay. walupun kami tidak punya guna.!‖ Selagi Ma Giok mengatakan demikian. dasar aku yang semberono. Ayah pergi dengan mengajak ketiga kakakku serta belasan pengiring. Benar pinto telah baharu menjawab sekali. sejenak barusan pinto telah kena tertipu wanita yang sangat licin itu. Setahu darimana. orang berlega hati melihat perginya wanita bagaikan siluman itu. ―Kenapa Khan tidak percaya kepada kau?‖ ia tanya.Pendekar Pemanah Rajawali Tiauw Hong tertawa lebar. Ia rupanya sadar seluruhnya. Gochin perdengarkan suara. Ma Giok segera totok sadar kepada Gochin yang diletaki di atas batu untuk beristirahat. dia belum menemui jalannya yang benar. Engko Ceng.‖ berkata Ma Giok. Hanya dalam Iweekang. kami bersedia untuk menerima titah-titahmu. Cu Cong semua terkejut. ―Harap totiang jangan segan-segan menitah kami. bagaimana sekarang?‖ Lantas saja ia menangis. mereka tidak mengerti. Kalau dia tambah lihay dan tetap ia berbuat jahat. tanpa berpikir lagi.‖ Cu Cong tawarkan diri. ―Adakah totiang dilukai senjata rahasia?‖ mereka tanya. ―Hanya tadi ketika ia menanya padaku. Ayah bilang. ―Umpama kata Khu Sutee dan Ong Sutee berada di sini. Irawan D Soedradjat Page 146 ―Sudah sekian lama. ―Mereka menunggang kuda pilihan. yang keningnya berkerut. akan tetapi itu satu juga bisa membantu banyak padanya untuk ia peroleh kemajuan…‖ ―Harap saja ia insyaf dan tidak nanti melakukan pula kejahatan. Adakah dia yang membawa aku menemui kamu?‖ Putri ini tak sadar akan bahaya yang mengancam padanya tadinya. ayah tertawa terbahak-bahak.

cobalah kirim orang untuk periksa benar atau tidak ada tentara pencegat jalan!‖ Biar bagaimana. untuk tiba di samping khan itu. guna dikasih lari sekeras-kerasnya. Pernah ia mencoba menahan. kita sehidup semati. untuk menaikinya. Ia pun berpendirian. mereka ambil sikap mengurung. siapa sudah lari terus. Temuchin adalah seorang yang teliti. apapula di tanah rata. Saudaraku Jamukha ada sangat baik denganku. Setibanya di lembah. Selang dua jam. itulah pasukan Wang Khan. Segera terlihat pula. Maka itu kemudian ia sudah mulai dapat melihat bendera yang besar dari Temuchin. Jebe ada sangat awas. Temuchin memandang ke sekelilingnya. Irawan D Soedradjat Page 147 . dia harus mengirim orang untuk mencari keterangan terlebih dahulu. ia tahan kudanya. tetapi si kuda tidak mau berhenti. Ia pun berpikir: ―Memang Sangum tidak akur dengan aku. Temuchin awasi bocah tanggung ini. habis mana. untuk berjalan perlahan-lahan. sedang Ma Giok denagn mengikat tubuh Gochin. untuk mengatakan: ―Lekas kamu pergi menyelediki!‖ Dua orang itu sudah lantas lari balik. pasukan pengejar itu memecah diri dalam diri dalam jumlah ratusan jiwa. ia kabur pula. Di lain pihak ia menjadi girang sekali. ia tampak rombongan dari belasan orang yang tengah maju terus. Terang Temuchin telah lewat di situ. Ketika si opsir dapat ketahui dan berseru. yang terus tuturkan persekutuannya Wanyen Lieh. Tak lama dari selatan terlihat debu mengepul naik. putranya yang kedua itu dan Chilaun. Dipaling depan pasukan itu terlihat Ogotai dan Chilaun lari kabur mendatangi. baru kuda itu mau juga diistirahatkan sebentar. mereka lantas menggali lobang dan memindahkan batu. tanpa ayal lagi. ―Kau pakai kuda merahmu itu untuk susul Khan yang agung! Umpama kata ia tidak mempercayaimu. ―Lebih baik terpedaya satu kali tetapi jangan mati konyol!‖ Maka ia terus berpaling pada Ogotai. terus ia lari. nampaknya ia tidak takut capek. ―Naik ke bukit itu!‖ Ia kasih perintah. ―Kha Khan. untuk minta ia lekas siapkan tentara guna segera pergi menyusul dan menolongi ayahmu!‖ Kwee Ceng menginsyafi keadaan. Di dalam hati Kwee Ceng mengeluh. guna memegat Ogotai dan Chilaun. ia puas benar dengan kudanya yang larinya sangat pesat. ―Siap sedia!‖ Dalam keadaan seperti itu. buat berjagajaga diiri dari serangan anak panah.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng lekas kau pergi!‖ berkata Cu Cong. disusul sama munculnya satu pasukan tentara terdiri dari beberapa ribu jiwa. ―Ada bahaya. Kwee Ceng kabur ke kemah di mana ia ambil kudanya. ―Benar-benar pasukannya Wang Khan!‖ ia berseru. ―Jangan pergi lebih jauh!‖ Temuchin heran. Setelah ia mendatangi lebih dekat. ia tampak tentara itu tengah mengejar. tubuhnya mendekam di punggung kuda. tibalah Kwee Ceng di tempat datar dimana kedapatan tiga baris tentera yang jumlahnya mungkin tiga ribu jiwa. malah tiga jagaan telah ia lewatkan terus. Dengan roman bersangsi. untuk mencegah. apa mungkin nia hendak mencelaki aku?‖ Kwee Ceng tahu khan itu bersangsi. malah mereka ini tahu tugasnya. Ia khawatir Temuchin keburu sampai di tempat Wang Khan dan itu artinya bahaya untuk Khan yang maha agung itu. Dan kau. Sesudah lari lagi satu jam. Dari benderanya ketahuan. lekas kembali!‖ ia berteriak. ia kata pula: ―Kha Khan. Ia pun ada bersama orang-orangnya ynag gagah. ia sudah lewat jauh! Di tengah jalan Kwee Ceng tidak berani berlambat. lekas kau pergi kepada kakakmu Tuli. cambuknya dipecut berulang-ulang. tetapi ayah angkatku.‖ sahut Kwee Ceng. tengah mengandali tenagaku. Wang Khan. ia keprak kudanya untuk dikasih lari lewat di sini tentara itu. ia keprak kudanya. dan itu berarti. jalan pulang dari Khan agung itu telah terpegat. panglimanya. ia mendahului turun dari atas jurang. khan ini tidak jeri. yang siap sedia denagn panah dan golok terhunus. ―Ada apa?‖ ia menanya. Karena ini. telah turunkan tuan putri itu. Ia pun beritahukan perihal tentera pencegat di belakang mereka. ia khawatir hewan itu terlalu letih. begitu naik ke atas bukit. tuan putri.

kapan tiga anak panahnya melesat. Temuchin lanjtui perkataannya: ―Bangsa Mongolia bangsa orang-orang peperangan yang pandai. Penunggang kuda itu dandan sebagai satu panglima perang. Temuchin naik ke tempat yang lebih tinggi.Pendekar Pemanah Rajawali ―Anak Ceng. kenapa kita mesti takuti bangsa Kim itu?‖ Kata-kata ini tajam. akan memandang jauh ke empat penjuru. putra Sangum. Dengan diiringi pasukan pengawalnya. Hebat lari kudanya kwee Ceng. adakah itu selayaknya?‖ Temuchin balik tanya. dengan siapa ia Irawan D Soedradjat Page 148 . ia membuatnya tentaranya Sangum menyetujuinya. Bagaimana bahaya dapat dihindarkan? Selagi ia berpikir. ia pun nyata sekali kepuasannya. aku minta sukalah kau datang ke mari untuk bicara!‖ ia lanats teriaki itu saudara angkat. Kemudian pada sebuah pasukan ia tampak seorang yang menunggang seekor kuda yang besar. ―Asal aku menuding dengan cambukku ini. denagn begitu pihak pengejar dapat tertahan majunya. perlahan-lahan sifat itu berubah. Temuchin tidak menyahuti. Di tangannya panglima itu ada sebatang golok besar. Akan tetapi musuh berjumlah besar. Jebe lebih lihay daripada muridnya ini. kau langgar aturan leluhur kita? Kenapa kau hendak persatukan semua suku?‖ ―Bangsa Mongolia telah diperhina oleh negara Kim. ternaknya kambing dan kerbau adalah kepunyaan beramai satu suku. kemudian karena tenaga pertumbuhan mereka bertambah dan adanya pemakaian alat-alat dari besi. Ia berlaku jumawa. Ia telah menyaksikan tentaranya Wang Khan tengah mendatangi di empat jurusan itu. kambing dan kuda. sudah lantas memanah juga. kapan orang-orangnya Sangum mendengarnya. siap sedia tameng besi mereka guna menangkis panah gelap. di sebelahnya baju lapis. Sendirian saja. maka kau bawa pasukanmu untuk menyerang aku?‖ Sangum pun menjawab dengan pertanyaannya: ―Adakah sejak jaman dahulu kala bangsa Mongol tinggal pada masing-masing sukunya. ternaknya adalah kepunyaan suku bersama. mari kita sambut mereka!‖ Jebe berteriak. ialah kebanyakan bangsa penggembala itu memakai cara memiliki sendirisendiri. dengan berulang-ulang. ia lihat satu penunggang kuda di kaki bukit itu. Ia anggap ia mesti menang tempo. kenapakah kita tidak hendak pergi mengambil emas dan perak dan permatanya bangsa Kim itu? Kenapa kita mesti tiap tahun membayar upeti terhadap mereka? Kita bangsa Mongolia ada diantaranya yang rajin memelihara kerbau dan kambing. Juji dan lainnya. Temuchin sengaja singgung sifat itu. ―Adik Sangum. dengan memperlambat segala apa. jangan kau memikir untuk hidup lebih lama pula!‖ Kwee Ceng menjadi cemas sekali. Panah mereka tidak pernah gagal. yang ditawungi bendera kuning yang besar juga. Cepat luar biasa. ia hanya menanya: ―Apakah salahku terhadap ayahku Wang Khan. ia menyusuli dengan anak panahnya yang keempat. diam-diam mereka itu pada mengangguk. berlaksanaan anak panah bakal dilepaskan terhadap dirimu! Jikalau itu sampai terjadi. Tusaga adanya. Sangum mengerti orang lagi menghasut tentaranya. lekas menyerah!‖ demikian ia berteriak. diturut oleh muridnya. tiga pengejar terdepan rubuh dari kuda mereka. ―Jikalau kau tidak mau menyerah!‖ ia membentak. putranya Wang Khan. ―Temuchin. terus ia gunai panahnya. Di sini khan itu bersama Borchu. Ia lantas saja berpikir. Mereka setujui perkataan itu. mereka maju bagaikan gelombang! Ogotai dan Chilaun telah tahan kuda mereka dan berbalik. Tuli sendiri belum tentu tepat datangnya. mendahulukan gurunya. mereka sekarang turut menyerang denagn panah mereka. sukar buat ia menoblos kurungan. Dan ia keprak kudanya. Ketika ia buka mulutnya. tetapi kau kenapa. ia tiba lebih dahulu kepada Ogotai dan Chilaun. maka denagn berulang-ulang sejumlah serdadu musuh rubuh terguling. Orang itu ialah Sangum. sembari menyerang mereka mundur ke bukit dimana Temuchin menanti. ―Asal saja kuta bangsa Mongolia tidak saling menyerang. Kwee Ceng kenali panglima yang masih muda itu. ada juga yang malas dan cuma doyan gegares! Kenapa mereka yang rajin mengasih makan mereka yang malas itu? Kenapa kita tidak hendak memberikan lebih banyak kerbau dan kambing kepada yang rajin? Kenapa kita tidak mau membiarkan si malas itu mati kelaparan?‖ Dijaman dahulu bangsa Mongolia hidup dalam suatu keluarga atau suku. ia mengenakan juga mantel bulu kulit binatang tiauw yang mahal. ia turut memanah. hati mereka goncang. karena ada kemungkinan tentaranya tak mau dengar putra yang masih muda itu. negara itu menghendaki kita setiap tahun membayar upeti beberapa laksa ekor kerbau. Sangum mendekati bukit. Dengan aksi ia larikan kudanya mondarmandir. Keadaan ada sangat mendesak dan sulit. Beberapa puluh tentara lain pun melindungi dia dengan mereka.

Ia lantas ingat suatu apa. ia kasih perintah orangorangnya terus memasang mata. ia masaki daging kambing kepada mereka. Ia maju mendekati. ―Kenapa kau bercita-cita mempersatukan bangsa Mongolia?‖ ―Kau sebenarnya menghendaki apa?‖ Temuchin tanya. Segera ia bentur perut kudanya denagn dengkulnya yang kanan. ia lantas lari ke arah bukit untuk mendaki. tidak dapat ia berontak. Ia tampak Temuchin berdiri menantikan dengan romannya yang angker. ia teriaki Sangum: ―Lekas kau suruh semua orangmu mundur seratus tombak!‖ Bab 14. ―Adakah kau masih anggap aku sebagai kakak angkatmu?‖ ia menegur. Ujian Yang Pertama Sangum murka berbareng bingung. untuk ringkus Tusaga. Ia segera menuding dada Tusaga dengan ujung tombaknya sembari berbuat begitu. ―Pelbagai kepala suku pada membilangnya bahwa leluhur kita sudah turun temurun beberapa ratus tahun hidup secara begini. mereka juga masing-masing diberikan seorang sebatang anak panah. ke dekatnya khan yang agung itu. Tepat tangkisan itu. langit telah menjadi gelap. Dengan gampang mereka itu melakukannya. kenapa kau masih berambekan besar sekali?‖ ia tanya. malah kereta besar dikitarkan diseputar bukit itu. maka tempo Kwee Ceng menarik. ia pegang tubuhnya Tusaga. Mereka Cuma mundur. Menampak itu. tangan kirinya menangkis. Lalu ia berikan mereka lima batang anak panah yang digabung menjadi satu. ia lantas berteriak: ―Di sini Jamukha! Aku ingin bicara dengan saudara Temuchin!‖ ―Kau naiklah kemari!‖ Temuchin menjawab Jamukha mendaki dengan perlahan-lahan. kembali ia menitahkan mereka untuk mematahkannya.Pendekar Pemanah Rajawali pernah berkelahi waktu kecil. Ia lantas duduk bersila. dalam tujuh dan delapan lapis! Temuchin puji Kwee Ceng. supaya Temuchin menyerah. untuk dipakai menjadi tameng. ―Lima putra mereka tidak hidup rukun. Adalah adat istiadat bangsa Mongolia akan saudara muda memeluk dan merangkul saudara tuanya. mereka gagal. ia kasih lari turun gunung. Temuchin khawatir Sangum menyerbu. ia mati kutu. Kira-kira tengah malam. untuk menghampiri pemuda itu. katanya. nanti jiwanya Temuchin akan diberi ampun. begitu kena di cekal. sepasang tombak kena dibikin terpental ke udara. ingin ia memeluk. maka ia jepit kudanya. ia tidak bisa berbuat lain daripada keluarkan titahnya untuk pasukannya itu mundur seratus tombak.‖ katanya Jamukha lagi. Ingatkah apa pesan leluhur kita itu?‖ Irawan D Soedradjat Page 149 . meminta putranya dimerdekaan. sambil berpaling. Dia dapat lari tak kalah pesatnya seperti waktu turun tadi. ―Kakak kau telah menjadi Khan yang agung. seorang denagn pakaian putih muncul di kaki bukit. Celaka untuk Tusaga. yang diperintah gunai dadung. Dengan tidak kurang suatu apa pun Kwee Ceng tiba di samping Temuchin. Ia lempar tubuh Tusaga ke tanah. ―Apakah kau masih ingat cerita tentang leluhur kita Maral Goa?‖ Temuchin tanya. Ia kaget dan tidak menyangka putranya dapat ditawan musuh selagi putra itu berada dalam lindungan tentaranya yang berjumlah besar itu. ―Lepas panah!‖ orang-orangnya Sangum berteriak. ia berpaling lekas. tubuhnya kena diangkat dari kudanya. ia dengar suara anginnya senjata mengaung di arah belakangnya. mereka khawatir nanti kena memanah pemimpin mereka yang muda itu. ia suruh mereka masing-masing mematahkannya. Selagi Kwee ceng hendak geser pemuda itu. tidak ada satu serdadu pun yang berani memanah. Bukan main girangnya Temuchin. Kwee Ceng tidak takut. Temuchin hunus goloknya. tapi tiga-tiga kalinya. Temuchin usir utusan itu. Bergantian mereka berlima mencoba mematahkan anak panah itu. Tanpa terasa. maka itu kenapa khan yang agung Temuchin hendak mengubahnya? Tuhan juga tidak memperkenankan itu. Jamukha menghela napas. Kuda itu pun lantas mengerti. Tiga kali Sangum mengirim utusan. tapi pengurungan tidak dibubarkan.

yang gampang sekali orang siapapun dapat mematahkannya. Ia pun keluarkan satu kantung kulit kecil dari sakunya.‖ Temuchin menjadi mendongkol. lalu ia memutar tubuhnya untuk turun dari bukit itu.‖ kata Jamukha. kenapa kita tidak hendak mempersatukan bangsa Monglia kita? Kita harus saling kepruk. Ia tambahkan. Lalu dengan perlahan-lahan ia buka kantung kulit itu. ―Yang dibunuh itu adalah musuh. ―Mulanya akun juga menyangka raja Kim itu baik hati. Aku tanggung Sangum nanti melepaskan kau pulang dengan selamat!‖ ―Aku tidak percaya Sangum! Aku juga tidak percaya kau!‖ ―Sangum bilang. Ia ada sangat berduka. ―Kemudian bagaimana?‖ ―Kemudian mereka berlima bersatu padu bekerja sama. kau mengatakannya itu milik mereka pribadi. sekarang kau terimalah kembali! Besok kau membawa golokmu untuk berperang di sini!‖ Sembari berkata begitu. sekian lama ia diam asaj. kakak. Segera terbayang di hadapan Irawan D Soedradjat Page 150 . kita bersatu hati bekerja sama untuk memusnahkan bangsa Kim itu!‖ Jamukha terkejut. tak tepat itu dengan pengajaran leluhur kita!‖ Temuchin berseru: ―Akan tetapi semau orang peperangan yang muda-muda senang dengan caraku itu!‖ ―Baiklah saudara Temuchin. ia lemparkan ke depan Jamukha. kalau satu putranya terbinasa.!‖ kata Jamukha pula. dia bakal melahirkan dua putra lagi! Kalau satu Temuchin terbinasa. ―Benar begitu!‖ kata Temuchin. ―Kita juga adalah orang-orang gagah. akan tuang keluar isinya. Ia bilang: ―Inilah tanda mata ketika angkat saudara untuk ketiga kalinya. dan sekarang dia menghendaki orang-orang peperangan kita membantu ia berperang!‖ ―Wang Khan dan Sangum tidak ingin memberontak terhadap negara Kim itu. bagus!‖ seru Temuchin. ialah kepala panah dan biji piesek yang diwaktu muda mereka sering membuat main. semua pelbagai kepala suku mengatakannya kau berlaku buruk. mereka menjadi leluhur kita bangsa Mongolia!‖ sahut Jamukha. ―Aku lebih suka terbinasa dalam perang. untuk selamanya tidak bakal ada Temuchin lagi! Jikalau kau tidak merdekakan Tusaga. dia minta kuda. ―Siapa tahu permintaannya kepada kita makin lama jadi makin hebat! Sudah minta kerbau dan kambing. hingga membaliki belakang kepadanya. ia letaki itu di samping kakinya Temuchin. bukannya kakak angkatmu!‖ Jamukha jemput bungkusan kecil itu. cara bagaimana bangsa Mongolia bisa main gila terhadapnya?‖ ―Hm!‖ Temuchin perdengarkan ejekannya. kamu menjadi seperti anak panah ini. ―Jadinya kau suka yang kita semua diperhina dan ditindih bangsa Kim itu?‖ ―Mereka pun tidak menghina dan menindih kita. ia geraki tangannya seperti hendak membacok batang lehernya. Jamukha bangkit berdiri. Temuchin mengawasi belakang orang. kau bakal tak dapat melihat lagi matahari besok!‖ Temuchin membacok ke udara. ―Berontak? Hm! Berontak!‖ seru Temuchin menghina. yang tak dapat dipatahkan siapa juga!‖ ―Kau masih ingat itu.Pendekar Pemanah Rajawali Dengan perlahan Jamukha mengatakan: ―Jikalau kamu masing-masing bercerai-berai. kamu menjadi seperti lima batang anak panah yang digabung menjadi satu ini.‖ kata Jamukha. tanpa membilang apa-apa. bukannya milik suku beramai. jikalau kamu berpadu hati bersatu tenaga. ―Dan bagaimana dengan kau sendiri?‖ ―Aku datang untuk meminta kau jangan gusar. saudara angkat itu yang bagaikan saudara kandungnya bisa berubah demikian rupa. Aku minta supaya kau kasih pulang Tusaga kepada Sangum. Sungguh tidak ia sangka. tak nanti aku menyerah!‖ serunya. Kata ia: ―Negeri Kim itu banyak tentaranya dan banyak panglima perangnya. Mengenai itu. ―Harap kau tidak mengatakannya aku tidak berbudi!‖ Temuchin lantas keluarkan satu bungkusan kecil dari dalam sakunya. emasnya tersebar di seluruh negaranya.‖ katanya. rangsumnya bertumpuk bagaikan gunung. ―Raja Kim itu telah anugerahkan pangkat Ciauwtouwusu padamu. ―Kita membagi-bagikan kerbau dan kambing rampasan kepada tentara.

lalu menambahkan pula. Mereka itu adalah. hingga ia dapatkan Kwee Ceng berdiri diam di sampingnya. Ini waktu terlihat tentara musuh sudah mulai bergerak. Ia memandag ke depan. Pangeran Kim ini memakai kopiah dan jubah perang bersalut emas. Dia sangat gesit dan gapa. Ia nampak api yang dinyalakan tentaranya Sangum dan Jamukha. Dengan goloknya ia mencongkel sebuah liang di tanah. yang menyambuti anak panah itu dengan tangannya.‖ Temuchin memuji. sayang kami saling bunuh satu sama lain! Coba semua dapat berserikat menjadi satu…‖ Ia memandang ke ujung langit. orang gagah yang baik sekali. ―Bala bantuan tidak datang.Pendekar Pemanah Rajawali matanya saat dahulu hari ketika mereka sama-sama bermain-main di es. tangan kirinya mencekal tameng untuk pencegah panah. Di belakang pangeran ini segera muncul satu orang. Ia menunjuk kepada api di kejauhan itu. Ia mengerti. di situ ia pendam itu barang tanda mata dari adik angkatnya itu. adakah kau hendak memberontak terhadap negara Kim yang agung?!‖ tanya itu pangeran. Hari ini kita akan mati perang di gunung ini!‖ kata Temuchin. ―Kita di sini adalah orang-orang peperangan semua. ―Aku tengah memikirkan ibuku. tujukan panahnya dan memanah pangeran itu. membuat seluruh dua menjadi ladang tempat kita menggembala ternak kita!‖ Kagum Kwee Ceng akan dengar itu cita-cita dari Khan yang agung ini. Habis menguruk tanah dengan kedua tangannya. Di bawah bendera itu ada tiga orang. kemudaian berpaling. tetapi dengan tamengnya. Di dalam pasukannya Sangum dan Jamukha segera terdengar suara terompet. Dia ayun tangannya. putra keenam dari raja Kim. yang menerangi tanah datar seperti juga banyak bintang di langit. disusul sama bacokan goloknya. Tidak antara lama. empat orang berlompat maju. Ia menghela napas.‖ Kwee Ceng menyahuti. Berbareng dengan 151 Kwee Ceng jadi berkhawatir. sebuah bendera kuning muncul dari dalam pasukannya Sangum. Temuchin bersama ketiga putranya dan semua panglimanya mendekam di belakang tumpukan tanah. ―Apakah kau takut?‖ ia tanya. di kanan Jamukha. ia melanjutkan: ―Mereka itu juga orang-orang gagah! Kami bangsa Mongolia ada punya begini banyak orang gagah. untuk lari mendaki ke atas gunung. lantas sebatang panah tangan menyambar ke batang lehernya putra Temuchin itu. Mereka itu menggunai ilmu enteng tubuh. ―Bagaimana sekarang?‖ . ―…. ―Mari kita ingat pembicaraan kita malam ini! Selanjutnya akan aku pandang kau sebagai anak kandungku!‖ Dan ia rangkul si anak muda! Sementara itu. Ia berdiam sekian lama. ―Kau ada seorang gagah. Irawan D Soedradjat Page Satu di antara empat orang itu. Kwee Ceng di samping mengawasi dengan perasaan berat. Jadi mereka adalah orang-orang Rimba Persilatan. cuaca sudah mulai terang. Dia dirintangi oleh Ogotai yang bersenjatakan sebatang golok besar. Kwee Ceng terperanjat menyaksikan kegesitan empat orang itu. yang menuju ke sisi gunung. satu pemuda dengan pakaian hitam sudah lantas sampai di atas gunung. kita bukannya tandingan jago-jago Rimba Persilatan itu…‖ pikirnya. putra sulung Temuchin. kita bisa menang perang. apa yang Temuchin pendam itu adalah persahabatan yang ia paling hargakan…. Ia lantas kata: ―Khan yang agung. dan di tengahtengah adalah Chao Wang Wanyen Lieh. tidak nanti kita dapat dikalahkan Sangum yang berhati kecil dan hina dina itu!‖ Temuchin pun menjadi bersemangat. rupanya mereka hendak memulai penyerbuan mereka. Setibanya empat orang itu di tengah jalan. mereka halau setiap anak panah itu. bukannya orang peperangan yang biasa.kita pasti dapat membuat seluruh dunia. mereka dipapaki hujan panah oleh Jebe dan Borchu beramai. Temuchin bangun berdiri. Wanyen Lieh lantas saja berseru dengan titahnya: ―Tolongi Tusaga! Bekuk Temuchin!‖ Atas titah itu. Juji. anak panah mereka diarahkan ke setiap jalanan di gunung itu. ―Temuchin. di kiri Sangum. ―Benar!‖ sambutnya. jalanan yang bisa diambil musuh untuk menerjang naik.

masing-masing tidak sudi mengalah. terkejut juga musuh menyaksikan orang seperti nekat. kapan musuh berkelit. sambil kelit lengannya. tiba-tiba ancamannya itu berubah di tengah jalan. Segera ia dapat kenyataan. tidak berani sembarang merangsak. ―Beritahukanlah she dan namamu!‖ Dia bicara dalam bahasa Tionghoa. Kwee ceng gunai ketika orang bicara. Kali ini. ialah yang membuat lawannya repot. Itulah gerakan ―Kie hong teng kauw‖ atau ―Burung hong bangkit dan ular naga mencelat‖. Dipihak lain. Kwee Ceng telah gunai ilmu pedang Wat Lie Kiam pengajaran Han Siauw Eng. dia lompat menghampirkan. yang goloknya tebal. berat tangannya lawan itu. kapan satu di antaranya melihat ia terdesak. ia ulangi serangannya dengan beruntun. saudara yang kedua. sikap garang mereka membuat dua musuh lainnya yang memegang ruyung besi dan dan sepasang kampak pendek. bersedia akan celaka bersama. mari aku bantu kau!‖ dia berteriak. yang mencekal pedang. ia tekuk kaki kirinya dan menikam dari bawah ke atas. yang untuk itu telah mengeluarkan banyak uang. apakah itu ukan berarti aku kena didesak?‖ karena ini. Mukhali lantas saja tandalkan goloknya di lehernya Tusaga. Dia ini menganggap dirinya adalah tertua kaum Rimba Persilatan. Kwee Ceng sementara itu telah melihat. ―Kau lihat saja dari samping. menjadi bacokan ke kiri……… Mau tidak mau. ia lompat mundur. Boroul dan lainnya. akan menonton pertempuran sang kakak tertua. kau lihat kepandaiannya toasukomu!‖ berseru orang yang bergenggaman golok itu. Terus ia bersilat dengan Wat Lie Kiam-hoat. Orang-orangnya Sangum tidak berani naik. ia tidak mundur lagi. tiga kawannya musuh itu sudah berhasil merubuhkan empat atau lima lawannya. sebaliknya ia menyambut seraya tekuk kaki kanan dan tangan kiri bersiap sedia. ―Kau siapa?‖ dia menegur. Dilain pihak orang-orangnya Sangum hendak bergerak pula. ―Lihat kepandaiannya toasuko!‖ berseru saudaranya yang memegang tombka itu sambil tertawa. Segera juga ia ingat pengajaran gurunya yang kesatu: ―Di waktu bertempur mesti mempengaruhi orang tetapi jangan kasih diri kena dipengaruhi. sedang dari enam gurunya pernah ia dengar pelbagai macam ilmu silat. sedang hari ini adalah yang pertama kalinya ia muncul di medan pertempuran. titahkanlah mereka itu turun!‖ ia mohon kepada Wanyen Lieh. tiga kawannya orang ini sudah tiba di atas gunung dan tengah bertempur sama Chilaun. ia lantas tarik pulang goloknya. menikam dari samping kepada lengan penyerang itu. anakmu tak bakal terbinasa!‖ kata Wanyen Lieh sambil tertawa. untuk berdiri berendeng bertiga. Orang ini mengancam ke kanan. ―Toasuko. ia malu mengaku kalah terhadap adik seperguruannya itu. benar-benar musuh ini bukan sembarang orang. ―Tidak pernah aku dengar namamu! Lekas kau menyerah!‖ kata orang itu sombong. supaya anakku jangan terbinasa…!‖ ―Tetapkan hatimu. Ia pun tidak mengerti cara bersilatnya orang. Dia terkejut. ―Akan aku lantas memenggal!‖ Sangum menjadi khawatir dan bingung. ialah ia menikam pula. ―Tuan pangeran. maka mereka anggap baiklah mereka menonton kakak mereka yang kesatu. ia layani musuh yang bersenjatakan golok itu. ―Aku Kwee Ceng!‖ sahut anak muda itu. Itu waktu Temuchin telah dilindungi dengan dikurung oleh Jebe dan lainnya yang belum terluka. Memangnya di antara empat saudara seperguruan ini ada perbedaan tabiat atau sikap. waktu datang pula bacokan. Mereka ini pun telah dengar suaranya jiesuko mereka. Kwee Ceng main mundur. tidak urung tangan bajunya yang kiri telah kena tersontek robek.Pendekar Pemanah Rajawali itu. Dia heran dalam rombongannya Temuchin ada orang yang pandai ilmu pedang. Keras sekali. dengan bawa tombaknya. Mereka mau percaya musuh tidak bakal lolos lagi. sebab ia adalah orang undangannya Wanyen Lieh. membalas menikam lempang. ialah pedangnya. ―Mari kita memikir daya lainnya. Ia ini menghalang di depannya Ogotai. ―Siapa berani maju!‖ ia berteriak. Sekarang aku main menangkis aja. Maka ia lihat di depannya ada satu anak muda dengan alis gompiak dan mata besar. Kwee Ceng lihat ini ia gunai ketikanya. yang dipanggil toasuko atau kakak seperguruan yang tertua. Mereka hampirkan jiesuko itu. Tentu saja di hadapan ribuan serdadu. sedang empat orangnya Wanyen Lieh itu melanjuti pertempurannya. Irawan D Soedradjat Page 152 . berkelebatlah sebatang golok putih mengkilap. tangan kanannya. Musuh kaget dan berlompat berkelit.

sambil memutar tubuh.Pendekar Pemanah Rajawali Sebelum berkelahi terus. Di dalam hatinya ia berkata: ―Belum lagi pedangmu tiba. Tenang adanya sikap Kwee Ceng. ia mendupak ke belakang. sedang sebenarnya. ialah sambil melayangkan kaki kanannya ke bahu musuh. Puluhan ribu serdadu musuh. tigapuluh jurus telah dikasih lewat. ia mencoba mendesak terus. ia tahu musuh ingin menerbangkan goloknya. ia menikam ke dada pula. Selagi musuh lompat undur. Ia tertolong jiwanya tetapi pedangnya toh mampir juga di tangannya. habis mana. bahwa musuh itu ingin memperlekas kemenangannya. Irawan D Soedradjat Page 153 . ia lepas dan lemparkan pedangnya. maka tangan itu bercucuran darahnya! ―Sayang!‖ kata Kwee Ceng di dalam hati. ―Teecu mohon tanya suwie empunya she dan nama yang besar?‖ ia terus berbalik menanya empat orang itu. ia membokong. ―Kenapa kau datang kemari untuk antarkan jiwamu?!‖ Kwee Ceng lintangi pedangnya. dengan bengis ia membacok melintang. golokku sudah mengenai tubuhmu. jeli matanya. juga Temuchin semua. Sambil berteriak. si pemegang golok itu lompat keluar kalangan. dan ilmun pedangnya pun sudah dapat mendesak musuh ini. Ia ini cemas juga setelah banyak jurus. berdiam menyaksikan pertempuran itu. ia menjadi seperti nekat. Ia penasaran sebab ia tahu. Musuh itu menjadi girang melihat lawan tidak berkelit hanya membalas menyerang. ia mendahulukan menikam ke arah lengannya musuhnya. Kwee Ceng dengar pemberian peringatan itu. Tepat dupakannya ini. mendadak ia mengegos sedikit. sebat tangannya. Lihat golokku!‖ Ia lantas menyerang. Lalu ia berpaling pula. sedang tangan kanannya menikam terus ke dada lawannya itu! Bukan main kagetnya si toasuko. Diakhirnya. terpaksa ia menarik pulang serangannya. Ia tunggu sampai ujung golok hampir mampir di pedangnya. hingga ia melayani musuh muda ini. dengan sedikit lebih sebat saja. ia membuatnya tombaknya musuh terpental. Kwee Ceng sudah tempur orang. Tidak terkecuali adik seperguruannya si toasuko. telah banyak pengetahuannya. Hampir pada itu waktu ada angin menyambar di belakangnya. ia jumput golok musuh yang jatuh di dekatnya. Penyerang bertombak ini menggunai ketikanya yang baik. ―Awas!‖ Jebe teriaki muridnya. maka itu ia melawan dengan berani. Kwee Ceng lihat pinggangnya terancam tebasan. ―Kau muridnya siapa?!‖ ia tegur Kwee Ceng. Kembali Kwee Ceng bebaskan diri dengan kelitan ―Dalam mabuk meloloskan sepatu‖.‖ ia menjawab dengan terus terang. akan tetapi ia adalah muridnya tujuh guru. dengan tombaknya itu ia sudah punyakan pengalaman dua puluh tahun………… Kwee Ceng berkelahi sambil matanya melitah dan otaknya bekerja. Keras sampokan ini. ―Suwie‖ ialah ―keempat tuan‖. Demikian satu kali. ―Bagus!‖ seru lawan yang bersenjatakan tombak itu. ia gagal. Ia lihat Kwee Ceng lihay dengan ilmu pedangnya. ia merasa orang ada terlebih terlatih daripadanya. Setelah berkelit dari bacokan. tikamannya itu dapat dihalau dan ia ditendang. untuk membarengi membalas menyerang. Cuma karena kurang pengalaman. taruh kami mengatakannya. setelah pedang orang terlepas. ―Teecu adalah muridnya Kanglam Cit Koay. bukan ia mundur. sambil mendak sedikit. Kali ini ia gunai bacokan ajarannya Lam Hie Jin. Tapi ia penasaran. tanpa membalik tubuh lagi. ia membacok ke arah lengannya musuh. terus ia maju pula. ia akan dapat tancapkam pedangnya di dada lawannya itu.‖ ia menebas terus tanpa membuat perubahan. Orang itu menoleh kepada ketiga saudaranya. kau satu anak kecil tentulah tak dapat mengetahuinya. pedang Kwee Ceng terlepas dan jatuh ke tanah. dengan tangan kosong ia sampok pedang si anak muda. yaitu jurus ―Burung walet masuk ke sarangnya‖ dari tipu silat ―Lam Sam Too-hoat‖ – ilmu pedang Lam San. katanya: ―Tentang nama kami berempat. ia bersikap tenang. ia masih belum bisaberbuat suatu apa. Sebentar saja. Ia tidak sangka si anak muda luas pengetahuannya dan gesit. sebagai gantinya. yang membokong.

yaitu Yo Kee Chio-hoat. sekarang ini Kwee Ceng ada kesempatan akan pakai ilmu goloknya yang istimewa itu dan ia berhasil. tidak dapat ia rubuhkan atau lukai musuhnya ini. Tanpa ia ketahui. demikian ia ini. Kwee Ceng ada punya satu keuntungan. Sesudah lewat beberapa jurus. Musuh tidak menduga jelek. Siapa menggunai senjata pendek. ia lantas menantikan satu tikaman. goloknya sama aja. mereka membaut ribut dengan mencaci maki dua pengeroyok itu. mengampak ke arah kepalanya sendiri. Si toasuko ini tadinya menyangka orang hanya lihay dengan pedangnya. Kwee Ceng tidak punya senjata. Tapi ini bukan berarti ia berlaku kendor. Celaka kalau musuh itu tidak lepaskan cekalannya. Ia tetap berlaku cepta dan keras. ia mestinya menyampok tombak seraya membarengi membacok. hingga dengan begitu ia pun dapat menolongi Jebe. dua musuh lainnya turut maju juga. ke arah jari tangan musuh itu. malah ia terdumpak mental. Lagi beberapa lama. si saudara yang ketiga melompat dengan ruyung besinya. tangan kirinya terbalik. Turut kebiasaan. Bangsa Mongolia adalah bangsa yang polos dan memuju orang gagah. tiba-tiba perutnya dirasainya sakit. mereka adalah orang-orang peperangan biasa. baru ia kerahkan tenaganya. mereka tidak menghiraukan lagi Jebe berdua. guna mempengaruhi musuh. mulutnya pun perdengarkan seruan. baru ia bisa mengenai musuh. Segera ia dikepung oleh musuhnya yang ketiga. Musuh yang keempat. Kwee Ceng menggunai tipu. Dengan cara biasa. maka itu.Pendekar Pemanah Rajawali Maka ia melawannya dengan sabar dan hati-hati. Hebat kampaknya itu. sambil membentak. ia batal membacok. Tapi ia bertabiat keras. untuk menghajar punggungnya. ia telah dipertaruhkan akan bertempur sama anaknya Yo Tiat Sim. ia mencoba mendesak. ia maju menyerang. ia lompat kepada toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang. si pemiliknya sendiri jatuh numprah. mereka bukan orang kaum Rimba Persilatan. Melihat bahaya itu. ia lantas mendahului lompat mundur. Melihat orang main keroyok. maka Lam Hie Jin sengaja ajarkan muridnya ini tipu golok melawan tombak. ia mendesak. ia segera tarik pulang tangannya itu untuk terus dipakai menyikut si jiesuheng. seperti tadi melawan si toasuko. Kwee Ceng dapatkan musuh mulai ayal gerakannya. Berbareng ia mental. Disaat kemenangannya itu. mereka lantas meluruk kepada anak muda she Kwee ini. Setelah dapat merampas tombak musuh. Tiba-tiba ia merasa tenaga musuh berkurang. tentara Mongolia di kaki gunung menjadi tidak senang. Boroul dan Jebe maju untuk membantu Kwee Ceng. ia lompat menubruk. ia gusar dan penasaran. ia mesti berkelahi rapat. sehingga ia membuatnya si toasuko heran. Kebetulan sekali. karena Tiat Sim adalah keturunan kaum keluarga Yo yang terkenal untuk ilmu tombaknya keluarga Yo. Ia lantas berdiri diam mengawasi keempat musuhnya itu. Berat untuk Jebe berdua. ketika si orang Hwee menebas tangannya. Syukur untuknya. tak tahunya. Apa yang tidak disangka. Kwee Ceng angkat tombaknya untuk menangkis. Sampai disitu. membuatnya orang kewalahan. maka di antara satu suara nyaring. ia melawan dengan ilmu silat tangan kosong melawan senjata. Musuh itu terkejut. dengan tombaknya. Lekas juga senjata mereka dirampas musuh. dia mencoba merapatkan Kwee Ceng. sebelah kaki Kwee Ceng telah melayang ke perutnya. ia terus memapas ke sepanjang batang tombak. akan hajar kampak di tangan kiri itu. gagang tombak kalah dan kena terkampak patah hingga menjadi tiga potong. mulutnya berteriakan tak henti-hentinya. Diluar dugaannya. Karena majunya mereka berdua. Menghadapi lawan yang menggunai tombak ini. Kwee Ceng lihat Boroul terancam bahaya. repot mereka menghadapi musuh-musuhnya yang lihay itu. ia tertolong dari bahaya maut. dengan putar kampaknya. sepasang kampaknya turun dengan berbareng. Orang itu rupanya bersatu pikiran. ia lompat bangun untuk merangsak pula. sia-sia saja dia itu mencoba berulang-ulang. Tapi pemuda kita. Irawan D Soedradjat Page 154 . ia agaknya penasaran yang mereka kalah dari satu bocah. ilmu ini bukan digunai di Kee-hi hanya di sini. yang bersenjatakan ruyung besi itu. yang paling muda. apapula satu musuh itu bertangan kosong. Ia berhasil. musuh hendak mengulangi kampakannya. maka itu tidak puas mereka menyaksikan empat orang mengepung bergantian kepada satu musuh. Karena ini ia tampaknya jadi semakin lihay. kampak itu terlepas dan terpental. Kwee Ceng lempar goloknya ke bawah gunung. tidak tahan sabaran.

pasukan tentara kacau sendirinya. hanya sekarang ia ubah caranya mencekal. Benar saja ketiga musuh lainnya berhenti menyerang karena mereka khawatir nanti mencelakai kawan sendiri. karena tidak mempunya senjata. Empat musuh itu sudah lantas lompat mundur. maju pula untuk membantu kawannya. denagn tangan yang lainnya. gurumu datang!‖. Ia masih sempat berkelit pula seraya ia angkat kakinya yang kiri untuk menendang musuh yang memegang kampak yang berada paling dekat dengannya. sekali lagi ia roboh. terpaksa ia melawan dengan menunjuki kelincahannya. Itu waktu. Irawan D Soedradjat Page 155 . mereka kalah jauh. Mereka merasa bahwa dalam tenaga dalam. Tak lama. Kim Hoat lompat maju. yang telah berhasil memukul mundur Jebe berdua. habis mana ia terus bekerja. Dlam keadaan sangat berbahaya itu. yang telah melepaskan kampaknya itu. asal aku pun telah membunuh seorang musuh!‖ Jebe berdua yang tadi telah terpukul mundur. ia merasakan sakit pada pundaknya. ―Bandit-bandit tidak tahu malu. lalu semangatnya bangun. maka tidak ampun lagi. kapan ia dengar itu teriakan. Matanya Jebe sangat tajam. ia berseru. Kwee Ceng sudah letih betul. ―Kwee Ceng. Kwee Ceng berkelit dengan berlompat. ialah main berkelit dengan mengegos tubuh atau berlompatan. Cu Cong lompat maju. terpaksa ia menggulingkan tubuh sekitar dua tombak. akan kasih muridnya bangun. dengan dacinnya ia rabu empat batang senjata musuh. ia merasakan sangat sakit. Tuli dan Gochin. Kwee Ceng kaget. untuk berdiri. ia roboh bersama-sama musuh itu. ia lompat bangun. ia ingin membalas sakit hatinya. untuk membantu saudaranya. Kwee Ceng insyaf ia berada dalam bahaya. atau kaki kanannya dirasakan sangat sakit. Baharu ia berdiri dengan berniat melawan musuh. ia angkat tubuh orang ke atasan tubuhnya snediri. ia diserang oleh musuhnya yang menggenggam ruyung besi hingga goloknya Borchu kena disampok mental. yang tak sudi melepaskan pelukannya. denagn kerahkan semua tenaganya. sedang musuh yang memegang sepasang kampak memberangi mengampak juga. denagn begitu ia pakai musuh sebagai tameng. untuk membikin dia itu tak dapat bergerak. paha kanannya kena dihajar. tujuh gurunya. Tin Ok bersama yang lain pun telah tiba. mereka pun dibantu oleh dua saudara yang lain. Syukur untuknya. Disaat Kwee Ceng hendak sambuti golok itu. ―Ini golok!‖ teriak Borchu seraya ia melemparkan goloknya. lalu tertampak enam orang bergerak dengan lincah mengacau barisan itu. Karena ini. Kwee Ceng tetap bertahan secara demikian. terus ia melawan dengan hebat. Musuh sudah lantas tiba. telah rebah diam karena pingsan. Selagi Kwee Ceng terancam bahaya.nanti aku bunuh ini bocah haram!‖ kata si suheng yang memegang golok sebatang kepada dua saudaranya. di bawah bukit. habis mana ia lompat bangun. ―Tidak tahu malu!‖ ia membentak. Musuhnya yang ia cekik. ia lantas kena ditubruk musuh yang bersenjatakan kampak. ia melakukan perlawanan dengan terus main bergulingan dengan ilmu silatnya ―Kim Liong Pian-hoat‖ atau ―Ilmu cambuk lemas naga emas‖ Musuh yang pingsan telah lantas sadar. tangan mereka kesemutan bekas rabuhan senjata aneh dari orang yang baru datang ini. sekejab itu ia ingat ibunya. tulang pahanya itu tidak patah. Cu Cong dan Coan Kim Hoat lari di paling depan. ia menangkis. ia telah pikir: ―Biar aku mati. lekas-lekas ia lepaskan itu dari pinggangnya. matanya pun kabur. Kwee Ceng ingat ia ada punya joan-pian atau cambuk lemas pembela dirinya. tetapi gerakannya menjadi lambat. ia dibarengi musuh yang mencekal ruyung besri tadi. semangatnya terbangun. denagn begini Kwee Ceng kembali kena dikepung berempat.Pendekar Pemanah Rajawali Segera juga Kwee Ceng terancam bahaya. Hanya ketika itu. kemudian selanjutnya. maka ia jambak dada musuh. Ia tidak pedulikan orang menendangi pundak atau kakinya. kedua matanya pun sudah mulai kabur. terus mereka berenam lari naik ke atas gunung. ―Kamu pegat mereka . pergi kamu!‖ Kim Hoat mengusir. ia lantas kenali enam orang itu. ia mencekik tenggorokan. Dia ini bersakit hati bekas kena didupak tadi. lalu dengan menggulingkan tubuh. mereka segera tampak murid mereka dalam bahaya. atau sebatang golok melayang ke arahnya. hampir ia rubuh pingsan. denagn sebelah tangan ia memencat nadi musuh.

satu demi satu. tidak urung pipi kanannya kena tertancap anak panah. hendak ia memegat. ia rubuh terjungkal dari kudanya. mereka maju untuk menolongi. cepat luar biasa. maka itu. tentaranya menjadi kaget dan kalut sendirinya. ―Kwie-bun Liong Ong bernama besar. aku Song-bun-hu Cian Ceng Kian!‖ ―Kedengarannya kamu tidak berdusta. menampak demikian. yang masih merasakan sakit pada tenggorokannya.‖ sahut si toasuheng. maka tidak ampun lagi. Ia tahu pihaknya tak berdaya tetapi mereka malu untuk lari turun gunung. karenanya. ―Tidak salah!‖ sahut Cu Cong tertawa. Tibatiba ia menekan denagn tongkatnya.muridnya Kwie-bun Liong Ong. batang leher siapa ia tandalkan goloknya. Syukur mereka tidak patah tangan dan kaki atau singkal batang lehernya. tubuhnya terus mencelat. sebelah tangannya menyambar. ―Benarlah kau adalah Hong Ho Su Koay! Kamu cukup ternama. adakah kamu Kanglam Liok Koay?‖ ia tanya enam orang itu. Kwa Tin OK dan Cu Cong mulanya menyangka orang adalah orang-orang yang tak bernama. Sangum terperanjat. ―Siapakah tuan berempat?‖ ―Kami adalah empat muridnya Kwie-bun Liong Ong. Irawan D Soedradjat Page 156 .Pendekar Pemanah Rajawali Si toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang menebali muka. Sementara itu rombongannya Temuchin sudah sampai di bawah bukit. sembari turut menerjang. dengan mengincar Sangum. Temuchin menampak datangnya bala bantuan. Itu waktu terlihat debu mengulah naik. malah Jebe sudah lantas saja turun tangan. yaitu Hong Ho Su Koay. ia menjadi tergugu. punggung Ceng Kong kena dijambak. tentaranya Sangum menjadi kecil hatinya. kenapa kamu merendahkan diri begini rupa. maka terkejutlah mereka mengetahui empat orang itu adalah murid-. Toan-hun-to Sim Ceng Kong! Ini jiesuheng Tiwi-beng-chiop Gouw Ceng Liat! Ini samsuheng Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong! Dan aku sendiri. mereka juga kena dilempar-lemparkan si Kelelawar Terbangkan Langit! Tentara Mongolia di atas bukit bersorak-sorai menyaksikan keempat saudara itu. mana bisa murid-muridnya ada bangsa tak berguna seperti kamu!‖ ―Siapa berdusta!‖ berseru orang ynag dicekik Kwee Ceng tadi. ―Siapa bilang kami berempat mengepung satu orang?!‖ katanya. ia memanah. putra itu tak dapat berkutik. ―Bukankah di sini ada banyak orang Mongolia yang membantu padanya?‖ Cian Ceng Kong pun tanya Ma Ceng Hiong: ―Samsuheng. mengetahui Jamukha lihay dan Sangum hanya mengandal kepintaran ayahnya. ia berkelit ke kiri. merayap bangun dengan muka penuh debu dan seluruh badan dan pinggangnya sakit bekas jatuh terbanting dan bergeluntungan. Tentu saja. tetapi mereka tidak berdaya. terus dilemparkan ke bawah gunung! Tiga pengepung lainnya menjadi kaget. sebab mereka itu main keroyok. seorang bocah! Dialah muridku!‖ Gouw Ceng Liat membelar. hingga tak tahu ia harus mengambil tindakan apa. Mukhali kaburkan kudanya denan ia peluki Tusaga. ini buta dan pengkor sangat berlagak. emapt orang bersaudara mengepung satu musuh. ia menjadi mendongkol. darimana pun terdengar seruannya bala bantuan. atau ia lantas tampak putranya berada di bawah ancama maut. tanda dari datangnya beberapa ribu serdadu. siapakah dia?‖ Ceng Kong menanya perlahan sekali. mereka malu bertemu sama pangeran yang keenam. ―Pasti kamu berdusta!‖ bentak Tin Ok. ia menunjuk ke kiri ke pasukannya Sangum itu seraya berseru: ―Mari menerjang ke sini!‖ Jebe berempat dengan Borchu.‖ berkata Tin Ok pula. ―Inilah toasuheng kami. ia berteriak-teriak: ―Lekas buka jalan! Lekas buka jalan!‖ Sangum menyaksikan musuh menerobos turun. malah sebaliknya. ―Liok-wie. maka tak ampun lagi. Juji dan Jagatai sudah lantas mendahulukan menerjang ke bawah. tetapi Kwa Tin Ok dapat mendengarnya.

Hong Ho Su Koay.‖ menjelaskan Temuchin. ia datang dengan cuma bersama itu beberapa ribu serdadu anak-anak muda. ―Kita mesti membokong padanya! Aku merdekana Tusaga dan mengirim bingkisan. akan tetapi mereka dirintangi panahnya Jebe dan Borchu beramai.‖ ia berkata kepada putranya Sangum itu. ―Aku tidak bermusuh dengan ayah Wang Khan dan saudaraku Sangum. Semua orang menjadi bertambah heran dan mendongkol menyaksikan Khan mereka yang besar menjadi demikian lemah dan jeri terhadap Wang Khan. Ada beberapa ratus musuh yang mengejar. Putri ini girang bukan main melihat ayahnya semua tidak kurang satu apa pun. tak dapat kita melawan dia dengan terang. mereka jamu Wanyen Lieh dan Jamukha. mereka menyangka Temuchin jeri. hanya ia telah didulukan Kanglam Liok Koay. dari itu. ia perintahkan semua serdadu mengikat cabang pohon diekor masing-masing kuda mereka.‖ Tusaga girang bukan main. walaupun ia adalah satu pangeran. Aku pun akan mengantar bingkisan kepada ayah dan saudara angkatku itu. Temuchin hanturkan tiga cawan arak kepada putra Sangum itu. Tiga hari sepulangnya Tusaga itu.Pendekar Pemanah Rajawali Temuchin ajak rombongannya kabur terus. Tusaga terbinasa terinjak-injak kuda tentara. mereka tidak bercuriga. Adalah tengah mereka berpesta malam ketika mendadak datang serangannya Temuchin. ―Maka itu aku persilahkan kau pulang untuk menyampaikan maafku. Irawan D Soedradjat Page 157 . tanpa berdaya mereka pada melarikan diri. yang pun datang bersama sejumlah serdadu. itulah untuk membuatnya tidak bersiaga.‖ Baharu semua panglima itu sadar. Malam itu Temuchin membuat pesta dengan semua panglima dan tentaranya diberi hadiah. Wang Khan bersama Sangum kabur ke barat. Segera mereka bertindak maju dalam tiga pasukan. Bukankah ia telah tidak dibunuh? Maka ia berjanji akan meyampaikan permohonan maaf dari Temuchin itu. yang mereka layani dengan hormat. yang bisa menerobos kepunganm telah lindungi Wanyen Lieh kabur pulang ke Tiongtouw (Pakkhia). ialah barisannya Tuli. Dengan mendadak ia perintahkan mereka itu kumpulkan tentara mereka. dari itu debu menjadi mengulak besar dan musuh menyangkanya bala bantuan lawan ada berjumlah besar sekali. Kanglam Liok Koay turut mundur dengan Lam Hie Jin yang memondong Kwee Ceng. yang hatinya mendongkol. mereka itu lihat Tusaga diundang duduk bersama di meja pesta. yang aku minta supaya tidak menjadi berkecil hati. maka itu mereka lantas menggabungkan diri. Tuli masih muda. Sesudah melalui beberapa lie. mereka melongo. Hanya untuk herannya semua orang. maka di dalam tendanya. ―Wang Khan banyak tentaranya. Temuchin kumpulkan orang-orang peperangannya. mereka jadi sangat mengagumi Khan mereka itu. Mereka menjadi kaxau. putra keempat Temuchin. Temuchin bertemu bersama Gochin. tetapi terpaksa mereka berdiam saja. Heran semua panglima itu. rombongan ini bertemu sama bala bantuan. berbareng dengan itu ia mengirimkan dua buah kereta yang berisikan emas dan kulit tiauw. ―Sekarang juga kita menyerang Wang Khan!‖ demikian titahnya. Di sana mereka kemudian terbinasa di tangan bangsa Naiman dan Liauw Barat. Tapi ia cerdik. kepala-kepala suku dan panglima-panglima Temuchin tidak suka dengar titahnya. dan diperlakukan sebagai tamu agung.terangan. yang sembari menyingkir telah menoleh ke belekang dan sabansaban menyerang denagn panah mereka. ia tahu jumlah musuh terlebih besar. Besok harinya Temuchin kirim sepuluh serdadunya mengiringi Tusaga pulang. Wang Khan dan Sangum dilain pihak girang melihat Tusaga pulang dengan selamat dan Temuchin pun mengirim bingkisan. Di tengah jalan pulang. Empat Siluman dari sungai Hong Ho. serdadu kita sedikit.

aku minta sudilah kau memberi kematian tak mengucurkan darah padaku. pangkatnya sama dengan satu pahlawan panglima yang berjasa. Semua panglima bersorak. lalu tiba-tiba ia berlutut di depan enam manusia aneh itu. Selagi ia tercengang. Liep Peng terdiam. aku akan menghadiahkan pula kepadamu sesuatu yang aku paling hargakan!‖ Kwee Ceng sudah lantas berlutut untuk menghanturkan terima kasihnya. Setelah pesta bubar. kita bermain bersama…‖ emukha memberi hormat sambil berlutut. semuanya menyunjungnya. Hanya sekarang ada satu hal sulit untuk mana aku mohon pertimbangan dan keputusan suhu beramai. Di sini Jenghiz Khan membagi hadiah besar. di sana selagi ia dahar daging kambing. Kwee Ceng yang dianggap jasanya paling istimewa. ―Budi ini tak dapat aku balas walaupun tubuhku hancur lebur. soal asmara. Ia menyukai Gochin. ia berseru: ―Serdadu pengiring pemberontak dan berkhianat kepada majikan! Apakah gunanya akan mengasih hidup kepada orang-orang tak berbudi begini?‖ Di depan Jamukha sendiri. aku sendiri tidak mempunyai muka akan hidup lebih lama pula di dalam dunia ini.‖ berkata nyonya ini. Kanglam Liok Koay lantas datang. habis itu ia putar tubuhnya untuk bertindak keluar kemah. ―Akan aku menghadiahkan kau kematian tak mengalirkan darah. lalu mereka memberi selamat kepada Kwee Ceng. enso?‖ mereka tanya. Dalam pesta itu Jenghiz Khan minum banyak arak hadiah dari pelbagai panglimanya. tak ia pikirkan lainnya soal apa pula soal jodoh. ―Mulai besaok kau adalah Kim-to Hu-ma!‖. menggodainya. Kwee Ceng lantas cari ibunya. ia perintahkan hukum mati pada kelima pengiring itu. mereka girang. ia kata: ―Apakah tetap kita menjadi sahabt-sahabat kekal?‖ Jemukha mengucurkan air mata. ―Coba undung gurumu semua!‖ titahnya kemudian. Mereka juga berseru-seru: ―Kimto Hu-ma! Kim-to Hu-ma! Bagus! Bagus!‖ ―Kim-to Hu-ma‖ itu berarti menantu raja golok emas. ―Kenapa enso menjalankan kehormatan besar ini? Harap enso lekas bangun!‖ . dia lari ke gunung Tannu. Maka anehlah satu bocah umur belasan tahun. dalam keadaan seperti itu. tak mau ia lekas-lekas melepaskannya. tubuhnya terpaku. terus ia dibawa kepad Temuchin. Tuli sangat kegirangan sehingga ia merangkul Kwee Ceng erat-erat. Maka keget iamendengar hadiah Khan yang maha besar itu. Jelmi dan Subotai. Ia lagi mengutamakan ilmu silat. bukan sebagai kekasih. supaya rohku tidak mengikuti darahku dan meninggalkan tubuh ragaku….‖ Temuchin berdiam sekian lama. Borchu. ―Baiklah. Ketika itu namanya telah naik tinggi sekali. dia ditawan oleh tentara pengiringnya. dengan gelaran Jenghiz Khan. semacam kapten dari seribu serdadu. ia kata kepada Kwee Ceng: ―Anak yang baik. Besoknya Temuchin mengadakan rapat besar di datar sungai Onon. Temuchin terima orang tawanan itu.‖ 158 ―Ada apa. ia pun bingung. Maka di dalam rapat besar itu ia telah diangkat menjadi Kha Khan.Pendekar Pemanah Rajawali Jamukha kehilangan tentaranya. akan tuturkan hadiah dari Jenghiz Khan itu. semua orang tertawa padanya. Empat pahlawannya yakni Mukhali. tetapi sebagai adik. maka rakyat dan orang peperangan dari pelbagai suku tak ada yang tak tunduk kepadanya. atau Khan terbesar dari Mongolia. ―Meskipun saudara suka memberi ampun padaku. semasa kecil. yang ia awasi. Si anak muda sebaliknya berdiam diam.‖ berkata ia kemudian. ―Saudara.‖ ia menyahuti. sehingga mereka itu menjadi heran. artinya Khan yang besar dan gagah bagaikan pengaruhnya lautan besar. nanti aku kubur kau di tempat di mana dahulu hari. mulutnya bungkam. Bukankah murid mereka sangat dihargai oleh Khan dan peruntungannya bagus sekali? Lie Peng berdiam sebentar. tetapi ia gusar. Irawan D Soedradjat Page ―Aku ada sangat bersyukur yang suhu beramai sudah didik anakku ini sehingga ia menjadi seorang yang berharga. diangkat menjadi cian-hu-thio. Kepada Jamukha. Boroul dan Chiluan serta Jebe. ―Aku serahkan Putri Gochin kepadamu!‖ berkata Jenghiz Khan. Apabila mereka mendengar hal pertunangan itu. mereka lantas memberi selamat kepada nyonya Kwee itu. dijadikan cian-hu-thio juga.

ia pesan pula: ―Sekarang ini kuda kita belum terpelihara gemuk dan tentara kita belum terlatih sempurna. sekalian anaknya itu mencari Toan Thian Thek. Oey Yong ―Anak akan pergi bersama keenam guruku. untuk ongkos di jalan. ―Kalau aku menyangkal janji ini. tak usah anak membawa pengiring. untuk memberitahukan tentang niat perjalanannya itu.‖ menerangkan Cu Cong lebih jauh. melainkan pria. guna menuntut balas. Memang semenjak kecil ia telah diempos ibunya. Sepulangnya dari perjalanan itu. maka itu kau harus bekerja baik-baik supaya kau tidak meninggalkan bekas-bekas!‖ Kwee Ceng memberikan janjinya. baharu Kwee Ceng nanti menikah dengan Gochin. ia mengawasi mereka itu. yang tunangkan anak-anak mereka sebelum anak-anak itu lahir. untuk ambil selamat berpisah dari rohnya guru almarhum itu. untuk membinasakan Wanyen Lieh. Setelah mendapat keputusan. Kwee Ceng menghadap Jenghiz Khan. berepa banyak pengiring yang kau butuhkan?‖ Bab 15. akan tetapi ia tidak dapat berbicara. Lalu tujuan mereka adalah selatan. Ia harap. Kanglam Liok Koay tertawa. sedang membawa pengiring-pengiring. cuma kulit mukanya menjadi bersmu merah. untuk mereka menguji kepandaian silat mereka. Bagaimana nanti suamiku dan aku menemui paman Yo dan istrinya itu di dunia baka?‖ Mengdengar keterangan. mana dapat ia menjadi hu-ma?‖ kata si nyonya kemudian. ―Bagaimana suhu ketahui itu?‖ menanya Lie Peng kaget. ―Sahabat itu pun mengharap kami mengajak anak Ceng ke sana untuk menemui putranya orang she Yo itu. Di hari ketiga. ―Sekalian kau pulang nanti bawalah juga kepalanya Wanyen Lieh. Irawan D Soedradjat Page 159 . sedang Kanglam Liok Koay dipersen barang-barang emas dan berharga bekas rampasan dari Wang Khan. Lebih dahulu mereka sambangi kuburannya Thio A Seng. melainkan menambah berabe saja. Jenhiz Khan menerima baik. yang sangat membenci bangsa Kimn itu.‖ sahut Kwee Ceng. aku malu sekali. Kwee Ceng berangkat bersama guru-gurunya. lalu terlihat Tuli datang bersama Gochin dengan dua saudara itu merendengi kuda mereka. Ia setuju anaknya itu diajak pergi. Baharu mereka jalan sepuluh lie lebih. kita belum dapat menandingi negara Kim. ―Maka itu.‖ Mendengar itu.Pendekar Pemanah Rajawali Lie Peng tuturkan keputusan suaminya almarhum dengan Yo Tiat Sim. di atasan kepala mereka terlihat dua ekor burung rajawali kepala putih terbang berputaran. setelah pamitan dati ibunya dengan keduanya mengucurkan air mata. Lie Peng heran. Ia senang sekali dengan easn Khan ini. yang pun adalah barang rampasan dari Wang Khan. ia tentu bakal berhasil. Tuli memberi bingkisan sepotong baju bulu tiauw yang mahal. ―Bagus. kendati kedudukan anakku mulia sekali. ―Seoarng sahabat di Tionggoan mengabarkan kami dengan sepucuk surat. kau pergilah!‖ Khan itu setuju. Jenghis Khan lantas hadiahkan baba mantu itu uang emas tigapuluh tael. ―Orang she Yo itu benar telah memperoleh keturunan tetapi bukannya perempuan.‖ Cu Cong kasih keterangan. Lie Peng sangat girang. putra keenam raja Kim! Untuk melakukan pekerjaan besar itu. yang tidak mengerti ilmu enteng tubuh. Ia anggap dengan pergi bersama guru-gurunya. Gochin datang menemui bakal suaminya itu.

entah apa yang mereka bicarakan itu. Satu pemuda melihat Kwee Ceng mengawasi padanya. Belum pernah Kwee ceng melihat unta-unta yang begitu bagus. Kwee Ceng merasa kasihan melihat kudanya yang kecil itu lari demikian keras hingga bermandikan keringat. ―Keringat?‖ ia menanya. Ia lantas dengar mereka itu berbicara satu pada lain. tangannya itu juga menjadi merah. yang ketinggalan jauh. hatinya menjadi tawar. Segera juga mereka melintasi tanah datar gurun pasir. Hampir ia mengucurkan air mata saking menyesal sudah menyiksa kudanya itu. ―Begitu?‖ tanya guru itu heran. yang penunggangnya pun berpakaian serba putih putih . ia masih belum dapat bicara. malam singgah. Ia lari kepada gurunya itu. Ia pun menjadi tertarik dan heran akan mendapatkan keempat penunggangnya semua masih muda-muda. Selang beberapa lama. Kwee Ceng sendiri berjalan terus. maka berulangkali ia menoleh dan menoleh pula. Ia mengawasi sekian lama. Kwee Ceng tercengang. Tidakkah kuda itu bercelaka diluar keinginannya? Maka ia rangkul leher kuda itu. sebaliknya. dan semuanya pun beroman tampan. Belum pernah ia melintas dari gurun. yang sudah berjalan jauh juga. Ia malu sendirinya. keempat penunggang unta itu lompat turun dari punggung masing-masing untanya. Ia tidak melihat guru-gurunya. untuk menghibur. Tanpa merasa. Tempo ia meraba kudanya dengan tangannya. ia menjadi mengawasi. ia hajar kudanya hingga binatang itu lari berjimpratan. ia menjadi likat. wajahnya pun bersemua dadu.‖ Kwee Ceng mengangguk. siang jalan. mungkin baru berumur duapuluh dua atau duapuluh tiga tahun. Ia mengharap-harap segera tibanya gurunya yang ketiga. Tiba-tiba saja ia menjadi kaget. ia ambil sabuk dengan apa ia menyusuti. inilah keringat!‖ serunya. Pada suatu hari hampir tiba di Hek Sui Ho. ia raba punduknya kuda itu. penuh dengan darah. Kwee Ceng lantas merasakan suasana bertukar. ia gencet perut kudanya. aku tak akan mendengarinya!‖ berkata Tuli sambil tertawa. lekas-lekas ia melengos. Setibanya di depan restauran. barulah ia pesan: ―Kau mesti lekasan pulang…. terang mereka itu mengerti silmu silat. Kwee Ceng dekati itu putri. Saking masgul. bukan sebagai satu tunangan. keenam gurunya ajak dia menuju ke timur selatan. Adalah satu kawannya menjadi tidak senang. Masih enam guru itu tak nampak. setelah mana. terus ia bawa kepada Tuli. Gochin melongo. lekaslekas ia tunduk. Kwee Ceng menoleh. untuk terus beritahukan hal kudanya mengeluarkan keringat darah. ia dapatkan tibanya Han Po Kie. Ia dapatkan sikap Kwee Ceng sama seperti biasa. ―Eh. membikin kudanya itu lari pesat. ia dapatkan pemandangan mata yang lain. Gochin menggelengkan kepalanya. Maka lekas sekali tibalah ia di Hek Sui o. Mereka itu pria semua. ―Ini bukannya darah. tentu orang tengah menertawainya. ia bawa tangannya yang berlepotan darah itu ke arah matahari. disebuah rumah makan di tepi jalanan. terus ia larikan kudanya. habis mana ia larikan kudanya guna menyusul keenam gurunya.. kupingnya bocah ini mendengar mengalunnya kelenengan unta. Han Po Kie. tidak ada tanda-tandanya terluka. terus mereka bertindak ke dalam rumah makan itu. Disamping pakaian mereka yang putih. akan mengawasi ke jalan besar darimana tadi ia datang. ―Ada pesan lagi?‖ ia menanya. Apabila ia mengawasi. habis itu mereka tertawa riuh. ―Ada keringat merah?‖ Irawan D Soedradjat Page 160 . lalu tiba-tiba ia tertawa lebar. Sabuk itu menjadi merah seluruhnya. di leher mereka itu terlihat bulu rase. Ia dekati kuda Kwee Ceng. sekarang ia mulai tiba di Tionggoan. tak jauh lagi dari Kalgan. ia pondong tubuhnya. bocah kau awasi apa?‖ ia menegur. ia lihat mendatanginya empat ekor unta bulu putih. kau bicaralah dengannya. Gochin menoleh.Pendekar Pemanah Rajawali ―Adikku. Ia sempat berpikir untuk menukar tempat singgahnya. Dari gerak-geriknya mereka itu. supaya guru itu suka tolong mengobati kudanya itu. Kuda itu sebaliknya nampak segar bugar. untuk menjauhkan diri. Lalu ia pun saling rangkul dengan Tuli itu. Syukur unttuknya. Kwee Ceng terperanjat.

‖ berkata Cu Cong. ―Turut katanya guruku itu. sebesar kuda biasa. ―Tentang itu ada ditulis jelas dalam Kitab Hikayat dan Kitab Jaman Han.‖ Kwee Ceng berseru heran. terus ia kirim utusan membawa emas seribu kati serta seekor kuda-kudaan emas. Tentu itu baru cerita saja. ―Dia lantas perintah Jenderal Lie Kong mengepalai beberapa laksa serdadu pergi ke Ferghana untk mendapatkan kuda itu. Irawan D Soedradjat Page 161 . Lie Kong diangkat menjadi jenderal istimewa. ada kedapatan sebangsa kuda liar biasa. Dan mereka dua rombongan lantas duduk bersama-sama. po-ma terlahir dari perkawinan kuda rumahan dengan kuda liar!‖ sahut Po Kie. dia mesti dihukum mati! Lie Kong menjadi serba salah. lalu tertampak datangnya lagi empat penunggang unta seperti empat yang pertama itu. kenapa dia mengeluarkan keringat bagaikan darah?‖ ia menegasi. yang tertarik denagn cerita kakak angkatnya itu. terus ia pulang. ―Menurut kitab. ialah kuda istimewa dengan keringat seperti darah. Cu Cong menghirup air tehnya. Untuk itu.‘ Utusan Han itu menjadi gusar. di negara Ferghana itu ada sebuah gunung di dalam mana kedapatan sebangsa kuda liar. yang untuk seribu tahun sukar didapatkan!‖ Kwee Ceng heran dan girang. sebelum mencapai tempat tujuan. Dipihak lain. ia luas pengetahuannya. almarhum. yaitu di daerah Ferghana. hanya dengan bersemangat ia kata. Raja Ferghan pun gusar. dia perintah menawan utusan itu. ―Anak Ceng. ―Suhu. Utusan itu diberi tugas dan kekuasaan: Panglima atau serdadu mana saja yang pergi berperang benani memasuki kota Gak-bun-kwan itu. ia kirim utusan membawa pedang. ―Kau ahli pemelihara kuda. ingin ia mempunyai kuda itu. yang disebut kuda langit. yang masuk ke dalam restauran. dia mengatakannya: ‗Kuda itu adalah kuda pusaka negara Ferghana. Mereka itu muda dan tampan dan pakaiannya serba putih seprti rombongan yang pertama. selama perjalanan banyak tentara terbinasa.‖ Selagi guru dan murid ini berbicara. Ia heran akan mendengar halnya hanhiat po-ma.‖ sahut Po Kie.‖ Ketika itu terdengar pula kelenengan unta.Pada suatu malam hari musim semi. ketika kemudian kuda biang itu mendapat anak. punduk kuda itu mengeluarkan keringat merah seperti darah. belum pernah ada yang melihat buktinya. Kaisar menjadi kagum. jadi kuda itu tidak dapat dihadiahkan kepada bangsa Han. Kuda liar itu kena terpincuk. emas dan kuda emas itu dirampas. keempat pemuda serba putih itu juga memperhatikan cerita itu. Lie Kong kalah oerang. Raja gusar. apa dia mau sudah saja?‖ menanya Han Siauw Eng. Cu Cong adalah seorang sastrawan. di tanah barat. untuk menjaga. ia hajar rusak kuda emas itu. ―Bagaimana dengan Kaisar Han Bu Tee itu. Mereka lantas beritahukan tentang kuda berkeringat merah itu. Raja Ferghana menolak permintaan itu. untuk dipakai menukar dengan kuda istimewa itu. sekembalinya ke negerinya. Kaisar Han Bu Tee. ia terpaksa mundur ke Tun-hong. ―Mana mau dia sudah begitu saja. mengumbar tabiatnya. pasukan tentara itu tinggal hanya tiga bahagian. satu hari dapat menempuh jarak seribu lie. Kwee Ceng heran. kau telah dapatkan han-hiat po-ma. ke Barat itu. mungkin sekali kudamu itu adalah keturunan dari kuda Ferghana itu. Tapi Ferghana adalah negera gurun pasir. hingga orang liar tidak dapat mengejarnya. yang dapat lari seperti terbang. darisana ia meminta rajanya mengirim pula bala bantuan. ―Kemudian bagaimana?‖ tanya murid itu. Tapi orang Ferghana telah mendapat satu akal bagus. tak ada rangsum dan air disana. Ia bergirang sebab kudanya tidak terluka. terus dibunuh. ―Ketika dahulu hari itu bangsawan Pok-bong-houw Thio Kian diutus ke Tanah Barat. anak kuda itu ialah po-ma tersebut.‖ kata Cu Cong. dia kawin dengan kuda pancingan itu. Melihat mereka itu. ―Shatee. ―Dulu pernah aku dengar keterangannya guruku. rombongannya Tin Ok tiba. terpaksa ia menunda di Tun-hong itu. ia memberitahukannya kepada rajanya. Anak Ceng. ke kota Gak-bun-kwan. ―Benar!‖ berkata Cu Cong. di Ferghana dia telah melihat seekor kuda hanhiat po-ma itu. mereka lepas satu ekor kuda betina yang berwarna lima di kaki gunung.Pendekar Pemanah Rajawali Po Kie tidak sahuti muridnya itu. takukha kau darimana asalnya po-ma?‖ ―Menurut keterangan guruku. bahwa kuda itu keras larinya.‖ tanya Cu Cong sehabis ia minum pula tehnya.

―Orang lihay itu pergi ke kota raja. baba-baba mantu dan kaum pedagang. setahu berapa banyak uang sudah dikorbankan. Ia berdiam saja. ―Jikalau kawannya berani membantui. ―Dalam beberapa hari ini di tengah jalan kita menemui tak sedikit sahabat dari Jalan Hitam. yang dijadikan serdadu.‖ Mendengar cerita itu. Cu Cong berkata pula: ―Kuda langit menjadi kuda jempolan sebab perkawinannya dengan kuda liar. Lie Kong pulang dengan kemenangan besar. mereka hendak bikin apa di sana? Delapan wanita ini. agaknya mereka sangat tertarik. mengapa mereka jadi begini galak dann telengas?‖ tanya ia dalam hatinya. Hu Thian Pian-hk Kwa Tin Ok menjadi heran sekali. dengan begitu delapan pemuda itu menjdai tidak bercuriga. ―Setelah mendapatkan kuda jempolan ini. kerajaan Han itu mengutamakan tani dan sebaliknya memandang enteng bangsa saudagar. siapa dapat mengubarnya?‖ ―Tapi disini ada banyak orang lain dan ia pun ada kawan-kawannya…‖ kata seorang yang lain. seorang paderi kenamaan dari Tibet itu. Akhirnya kaum ningrat Ferghana menjadi ketakutkan. apeslah kau.‖ berkata seorang pula. maka kalau mereka dapat lihat kuda ini. dia bisa memangku pangkat! Ha ha ha!‖ ―Dan baba-baba mantu itu.‖ berkata seorang muda yang lainnya lagi. mereka kasak-kusuk tetapi kupingnya Kwa Tin Ok lihay. Dengan kalah perang. raja sangat girang.tentunya dia menjadi semakin terang mukanya! Pasti seklai Som Sian lao Koay dari Tiang Pek San dan Leng Tie Sianjin jago Bit Cong Pay dari Tibet tak dapat menangkan keagungannya…!‖ Tin Ok berpikir. ―Katanya mereka adalah bawahannya Cian-ciu jin-touw Peng Lian Houw. San-cu pergi ke kota raja. Maka ia mengerahkan pula lebih daripada duapuluh laksa serdadu. ―Kali ini Lie Kong memimpin angkatan perang yang besar itu. Ia terus memasang kupingnya. Mereka mohon menakluk. Maka ia berpikir. Dialah kepala penjahat paling berpengaruh untuk wilayah Hopak dan Shoasay. ―Pembunuh Ribuan Jiwa‖. kalau kau hidup di jaman Kaisar Han Bu Tee. ―Siapa miskin dan tak punya sanderan. hingga negera menjadi gempar. cukup dengan satu kali turun tangan. siapakah mereka?‖ . sebaliknya dengan shatee. tetapi tak tahu ia perihal Som Sian Lao Koay. rajanya dibunuh. maka selang beberapa turunan. ialah satu menjadi Kie-ma Kawm-oet. maka juga dia dapat gelarannya itu. ―Kalau kita hendak rampas kuda itu. yang dianggap melainkan naga yang pantas menjadi kawannya…. apakah salahnya mereka?‖ Siauw Eng menanya. ia perintah mengarang syair untuk memuji kuda langit itu. entah berapa banyak jiwa sudha melayang. kita menghadiahkannya kepada San-cu. mereka melanjuti memasang omong sambil dahar mie. ia merasa malu. Orang-orang peperangan yang lainnya pun turut kenaikan pangkat. ia kurung dan serang kota musuh. Kaisar mengadakan satu pesta besart. yang lainnya menjadi Cit-ma Kauw-oet.Pendekar Pemanah Rajawali Cu Cong melanjuti ceritanya: ―Kaisar Han Bu Tee tidak puas. Merek aitu tentu hendak berkumpul juga di kota raja. mana kita dapat kebagian?‖ Irawan D Soedradjat Page 162 Tentang Peng Lian Houw ini Tin Ok ketahui dengan baik. Pula dua ahli kuda diberi pangkat tinggi. ia menambah dengan semua orang hukuman. ―Dengan menungggang kuda ini. kita bunuh saja semua!‖ kata seorang lagi. Banyak panglima musuh terbinasa. Masih ia khawatir tentaranya itu belum cukup. ―Satu kali kita sudah naik atas punggung kuda itu. yang pun sangat kejam. mereka berontak. kuda dan rangsum tak terhingga banyaknya. ia dapat mendengar jelas pembicaraan mereka. ia siapkan serbau. pamong praja rendah. Ia pernah dengar namanya Leng Tie siangkin. ia sengaja berpaling ke luar rumah makan. siapa kesudian dipungut mantu?‖ Cu Cong menjawab. Mereka pun serahkan kuda yang diperebuti itu. delapan pemuda itu mengawasi kudanya Kwee Ceng. untuk seekor kuda po-ma itu. Kaisar Bu Han Tee sudah kerahkan kekuatan seluruh negeri untuk mendapatkan beberapa ekor kuda itu tapi kemudian ia tidak mendapatkan kuda liar.‖ berakta satu pemuda. tugasnya ialah nanti sesudah Ferghana dipukul pecah mereka mesti memilih kuda jempolan. Untuk lebih daripada empatpuluh hari. ia khawatir bangsa lain memendang enteng bangsa Han. dia di anugrahkan menjadi bangsawan Hay-see-houw. ―Mereka berdelapan wanita semuanya. kepala raja diserahkan. Delapan pemuda itu duduk jauh-jauh. Lioktee. semua kuda itu tak lagi menjadi po-ma dan keringatnya pun tidak merah…‖ Habis Cu Cong bercerita.

ia menajdi sebal…. baharulah heran anadikata San-cu melihat dia dan tidak menjadi kerindu-rinduan…‖ Tin Ok tahu Siauw Eng yang menjadi bulan-bulanan. San-vu bakal menghadiahkan apa kepada kita?‖ berkata satu orang. ia teringat kepada mereka yang mengeroyok Kwee Ceng.Pendekar Pemanah Rajawali Mendengar terlebih jauh. maka itu haruslah kita waspada. coba kau terka. coba dia lebih muda sepuluh tahun. Orang itu tertawa. bagaimana kau lihat kepandaiannya delapan wanita itu?‖ Irawan D Soedradjat Page 163 . ―Sungguh pesat sekali tersiarnya kabaran dalam dunia kangouw!‖ katanya. supaya orang-orang kosen di kolong langit ini ketahui kegagahan kita dari Pek To San. yang berarti Gunung Unta Putih.‖ kata satu orang. ―Supaya kau jangan sampai kena dijambak bocah itu!‖ ―Cis!‖ sang kawan berludah. ia percaya orang yang dipanggil ―San-cu‖ itu atau ―majikan gunung‖ mestilah bukan orang baik-baik.‖ berkata pula seorang yang lain. Ilmu itu mana dapat dikuasai tanpa penyakinan belasan tahun? Anak umur belasan tahun mana mempunyakan semacam ilmu silat itu?‖ Diam-diam Tin Ok puas yang murid mereka dapat mengalahkan Hong Ho Su Koay. ―Awas. jangan kau mencari muka dari San-cu dan hendak mati-matian mencarikan nona manis untuknya…!‖ memperingati satu kawan. dia tentu mengerti ilmu silat. maka tidaklah kecewa didikan mereka selama sepuluh tahun lebih ini. guna menakluki orang kosen. Ada yang kata ―San-cu paling sukai kamu!‖ Ada yang membilang. ―Kalau kita menghadiahkan kuda ini kepada San-cu. Mendengar pembicaraan itu. yang menyebabkan orang tertawa hingga giginya copot!‖ Tin Ok tidak tahu Pek To San itu. Tin Ok tunggu sampai orang sudah pergi jauh. Tin Ok mendapat kepastian mereka itu hendak merampas kudanya Kwee Ceng. ―Kali ini kita datang ke Tionggoan untuk mengangkat nama. mereka itu tertawa. ia tidak menyahuti. ―Kira-kira. hati-hatilah!‖ seorang memperingati. maka itu adalah sangat aneh yang mereka kabarnya roboh ditangannya satu bocah umur belasan tahun…‖ Satu kawannya menyahuti: ―Ada orang bilang bocah itu pandai ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw. Tin Ok mendongkol berbareng merasa lucu. namanya sangat kesohor. ―Jangan kita membocorkan rahasia sendiri…!‖ ―Wanita itu membawa pedang. ―Diwaktu begini tentulah San-cu lagi menantikanmu!‖ maka ia menjadi mengerutkan keningnya. ada dari partai mana. mereka pun bergurau. karena tubuhnya Hong Ho Su Koay itu masing-masing meninggalkan beberapa bekas cengkeraman…‖ ―Maka hati-hatilah kau!‖ tertawa satu kawannya. yang Tin Ok mengatakannya pemudi-pemudi. Yang lain-lain lantas tertawa geli. Habis mengambil keputusan. Habis dahar mie. ―Dia juga cnatik sekali. Merek ahendak pergi lebih dulu. Maka lagi sekali. ―Hanyalah tidak tepat untuk menyiarkan berita anak ceng mengerti Kiu-im Pek-kut Jiauw. yang kembali ke urusan kuda. ―Kita harus berhati-hati. Seorang berkata pula: ―Menurut katanya San-cu. ia mendongkol. ia tanya adiknya yang kedua: ―Jietee. delapan pemuda itu. akan tetapi mendengar disebutnya Hong Ho Su Koay – Empat Siluman dari sungai Hong Ho. guna memegat di tengah jalan. jangan seperti Hong Ho Su Koay yang sial dankalan itu. lalu berkasakkusuk tentang asmara. Hong Ho Su Koay adalah murid-murid paling disayangi oleh Kwie-bun Liong Ong. delapan pemuda itu berlalu dengan cepat bersama untanya. untuk di Liongsee dan Tiong-ciu. Yang seorang tertawa dan berkata: ― Pasti San-cu menghendaki kau menemani ia tidur untuk beberapa malam…! ―Kurang ajar!‖ membentak kawan yang digoda itu dan hendak mencubit.

Tak sampai satu bulan. Jangan kau khawatir. tidak dapat kau menjagoi sendiri di kolong langit.‖ Irawan D Soedradjat Page 164 . mereka menyamar demikian sempurna!‖ berkata Cu Cong. Lam Hie Jin mengangguk. ―Tidak. Kanglam Cit Koay tidak nanti lepaskan mereka!‖ berkata Han Po Kie. Besar nyali mereka berani berniat menggempur gunung Tay San…. Tidak menggembirakan untuk ia berjalan seorang diri. Habis bersantap. untuk mendahului mareka. Kudamu keras larinya. Kau mempunyai urusan penting. ―Pergi kau ambil jalan kecil.‖ Tin Ok berkata pula. Cu Cong semua tertawa. untuk mencari pengalaman. Itulah tandanya ia tidak bisa melupakan saudara angkatnya itu. Mungkin ada gerakan rahasia apa-apa. Umpama di harian pibu kita tidak dapat kumpul semua berenam. perlu kita mencari tahu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Wanita?‖ Cu Cong mengulangi dengan heran sebelum ia menjawab. sebab pengalaman tak dapat diajari. Mereka itu berdiam.‖ ―Umpama benar mereka main gila. ―Memang. ―Kalau begitu. mirip mengerti ilmu silat. ―Biar anak Ceng berjalan seorang diri. di luar gunung ada gunung lainnya lebih tinggi. ―Yang penting ialah pembilangan bahwa ada banyak orang gagah hendak berkumpul di kota raja. melayani Empat Siluman dari Hong Ho. menyingkir!‖ Pesan ini diberikan sebab ia melihat. ―Benar.‖ Mendengar itu Kwee Ceng merasa puas. mereka itu merasa sulit juga.‖ sahut Cu Cong setelah berpikir sejenak. ―Apakah sieko maksudkan biar anak Ceng pergi seorang diri ke Kee-hin? Kita menyusul dia sesudah kita menyelidiki warta perihal orang-orang gagah yang berkumpul di kota raja?‖ Siauw Eng menegaskan.‖ ―Tetapi janji pibu di Kee-hin bakal tiba harinya. hingga sekarang mereka tinggal berenam (Liok Koay). Memang perlu murid ini membuat perjalanan sendiri.‖ Dengan terpaksa Kwee Ceng memberikan persetujuannya.‖ Cu Cong menyatakan setuju. biarlah anak Ceng berangkat lebih dahulu!‖ Lam Hie Jin menyarankan. Aku pikir tak dapat kita membiarkannya saja. ―Perkara kecil niat mereka merampas kuda ana Ceng. ―Delapan wanita itu hendak merampas kudamu. tidak dapat kita main ayal-ayalan. Dia tetap menyebut diri Cit Koay meskipun sudah belasan tahun semenjak meninggalnya Thio A Seng.‖ Tin Ok pesan. rupanya seperi tidak mengerti…‖ ―Apakah pernah kau dengar tentang Pek To San?‖ Tin Ok tanya pula. ―Orang begini besar masih bersifat kebocahan!‖ Tin Ok menegur. ―Nampaknya mereka luar biasa. Maka ingatlah pesa gurumu yang keempat ini. ―Habis?‖ sang kakak membalasi. biarpun kau sangat lihay. Liok Koay berlega melepaskan muridnya ini. jagalah supaya kau jangan terganggu urusan sampingan. di sebelah orang ada lagi lain orang yang terlebih pandai. Siauw Eng lantas membujuki: ―Kau pergi lebih dahulu di sana menunggui kita. paling belakang pesan Hie Jin singkat saja: ―Jikalau tidak ungkulan. tidak nanti dapat mereka menyusul. Kwee Ceng lantas memberi hormat kepada keenam gurunya. Mereka itu pada memesan. ―Oh. muridnya ini ngotot hingga ia membahayakan diri sendiri. Tin Ok lantas tuturkan apa yang ia dengar barusan. untuk mengucapak selamat jalan. Ia utarakan perasaannya itu.‖ Coan Kim Hoat memperingati. kami akan menyusul.‖ berkata Coan Kim Hoat. itu mesti diperoleh sendiri. yang kelihatan sudah dapat diandalkan menyaksikan perlawanannya terhadap Hong Ho Su Koay. satu atau dua tentulah dapat tiba untuk mengurus kamu. ―Ilmu silat tidak ada batasnya.

Ia tidak menaruh perhatian ketika ia dengar dua ekor burung dara terbang lewat di atas kepalanya. Maka ia lantas ambil keputusan. Ia mengasih dengar nada lagi bicara sama anak kecil. Ia minta sepring daging kerbau dan dua kati mie. Untungnya untuk dia. suaranya nyaring. iamaju seraya ulur tangannya. ia sudah menghadapi jalan cabang dua. Belum ada dua lie. Dari jauh-jauh. yang ia lekas cabut. ia khawatir senjata rahasia itu ada racunnya. akan pilih tempat duduk. Satu nona lompat turun dari untanya. Kwee Ceng periksa kopiahnya. Mereka itu melintag di tengah jalan. ―Awas! Buka jalan!‖ ia berseru seraya ia hunus pedangnya. sebentar saja ia sudah datang dekat. Sampai disitu. Di depan ada tiga nona dengan pakaian serba putih. mari kasih aku lihat!‖ kata satu nona lain. pemuda ini larikan pula kudanya. Ia mengawasi jalanan yang sempit itu. Ia mau berlaku hati-hati. ia menyambuti dengan kopiahnya. untuk tahan kuda itu. matanya menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia hanya dapat lihat. Ia payku kepada enam gurunya itu. ia lihat menyambarnya dua rupa barang berkilauan. memakai tangannya. belum sore. Kebetulan tiba di depan restoran. tak dapat ia tempur mereka itu. ia lantas ambil jalan kecil. Nyata dua senjata rahasia itu adalah gin-so atau torak terbuat dari perak yang indah. banyak kolar dan pasirnya. lompat lewati tiga nona itu! Ketiga nona itu terkejut. dia pasti akan damprat aku…‖ pikirnya. ―Adik kecil. gin-so bertabur emas yang merupakan unta-unta kecil. Kalgan adalah kota hidup untuk perhubungan antara selatan dan utara. Ketiga nona itu tertawa tergelak. Tidak sampai satu jam.‖ pikir si anak muda denagn mendongkol. Tapi Kwee Ceng membentak. Kwee Ceng terkejut. Jalanan ini lebih jauh. ―Numpag jalan!‖ ia lantas berkata. mukanya dirasai panas. ―Kamu telengas hendak mengambil jiwaku. ―Bukankah kita tidak kenal satu sama lain dan tidak bermusuhan?‖ Tapi ia tidak mau membalas. Bicara dulu atau menerjang saja? ―Kudamu bagus. Ia bersangsi. sebab ia duga jarak mereka kedua pihak ada jarak seperjalanan tiga hari……. dari utara ke selatan. ia turut kebiasaan orang Mongolia. terus ia jalan pula. Selagi jalan terus. Irawan D Soedradjat Page 165 . ujungnya tajam. penduduknya padat. saking heran atas lihaynya kuda itu. mau tidak mau. I apun meraba ganggang pedangnya. ―Lewat saja! Kami pun tidak nanti gegares padamu!‖ Kwee Ceng jengah. ia merasa lapar. ketiganya bercokol di atas punggung unta. untuk pengalamannya ini yang luar biasa. yang datangnya dari tempat lain tempat. Sekira tujuh atau delapan lie. gin-so itu ia masuki dalam sakunya. perdagangannya ramai. ia sudah dengar bentakan ketiga nona itu. Di tempat begitu. terus berlompat tinggi. Seorang diri ia dahar dengan bernafsu. tak sudi iamelayani. tajam juga kedua pinggirannya. ia berlaku hati-hati.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng mengangguk. Ia tarik les kudanya. ia seperti hendak menerjang ketiga orang itu. Dengan ini cara. Belum sempat ia menoleh ke belakang. Belum pernah ia melihat kota seramai ini. tepat waktu ia menoleh. takut apa?‖ kata satu diantaranya. ia berjalan seraya menuntun binatang ini. ia percaya ketiga nona tadi tidak bakal dapat candak dia. Kwee Ceng tiba di jalanan pegunungan yang sulit dan berbahaya. ia sudah tiba di Kalgan. jalanan sempit dan banyakl batu besarnya. lantas ia menuju ke selatan. ―Kalau sam-suhu melihat sikapku nini. Tentu saja tak puas Kwee Ceng diperlakukan demikian. kudanya berbenger. Kwee Ceng sendiri tidak tak terkecuali. ia tahan kudanya. di sini sangat sedikit orang berlalu lintas. Ia singgah sebentar. hatinya pun tercekat. maksudnya hendak menyambar les kuda. sebab kecil dan berliku-liku. untuk lari dengan tiba-tiba. ia sudah melalui seratus lie lebih. Di sini Kwee Ceng turun dari kudanya. di sebuah tikungan. Ia hanya tidak pakai sumpit. Ia turuti pesan Tin Ok. ―Bagus!‖ memuji dua nona. Ia hanya khawatir nanti ada yang memegat pula. Di situ terutama terdapat banyak kulit dan bulu binatang. kedua kakinya menjepit. ia menunggang kuda dan kudanya pun dapat lari pesat. Jalanan pun sukar. ia kasih kudanya kaget. ada pepehonan kecil yang liar. Pesat lari kudanya. maka ia tambat kudanya di luar. ia masuk ke dalam.

―Aku sendirian tidak gembira. Bukankah ibunya berasal dari Lim-an. hawa udara dingin. hingga tidak terlihat tegas wajahnya. Pemuda itu mengikuti ke dalam. maukah kau yang mentraktir?‖ tanyanya. Anjing itu. lebih dulu kau sediakan empat rupa buah kering dan empat rupa buah segar. tetapi ia diam saja. kepalan lewat diatasan kepalanya. Pemuda itu mengawasi Kwee Ceng. ―Kenapa kau tidak mau lantas pergi?!‖ ―Baiklah. Tentu saja kue itu tak laku dijual. untuk duduk bersama. Jongos itu melayani dengan ogah-ogahan. meminta tambahan makanan. terus ia gegares bakpauw itu. makanan yang paling lezat di kolong langit ini adalah daging kerbau dan kambing. Ia lantas kata pada jongos: ―Eh. ―Jangan!‖ ia cegah si jongos. untuk melongok keluar. sebab ia lihat pakaian orang yang butut dan kotor itu. rata.‖ Ia jumput bakpauw itu. habis kau dahar.‖ Kwee Ceng pun heran. yang ia lihat lagak lagunya. ia sodorkan kepada si pemuda. ―Kita jangan repoti mendahar daging. Dan ia lemparkan itu kepada seekor anjing buduk di depan pintu. aku memang lagi mencari kawan. Ia lantas ingat kepada kudanya. ia dengar suara kerisik di luar rumah makan. kau tidak punya uang untuk membayarnya!‖ Dengan sengaja ia menyebut ―lojinkee‖ atau orang tua yang dihormati. untuk menyindir. Ia menoleh kepada si jongos. ―Aku khawatir. pemuda itu mendak. ia mengawasi ana muda kita Kwee Ceng lihat kelakuan orang. sekalipun di musim semi. Teranglah ia seorang melarat. Pemuda itu letaki bakpauw itu yang tapinya sekarang tertanda tapak tangan. pergi ya pergi…‖ kata pemuda itu seraya ia putar tubuhnya. Ser! kepalannya melayang. baik kita makan bebuahan dulu!‖ menyahuti si anak muda. ―Bakpauw yang lezat dikasihi ke anjing…. Kwee ceng teriaki jongos. lepas bakpauw itu!‖ menitah jongos yang satunya.‖ Irawan D Soedradjat Page 166 .‖ Ia bicara dengan lidah Selatan. Pemuda itu menghampiri. ―Sayang…sayang…‖ kata satu jongos. dan pemuda ini tidak memakai sepatu. Ia menoleh pula kepada si anak muda: ―Kita minum arak atau tidak?‖ ia tanya. ia balik ke mejanya untuk melanjuti bersantap. mukanya pun hitam mehongan. ―Apakah kau sangka aku melarat dan jadinya tak pantas aku dahar barang makananmu?‖ si pemuda tegur jongos itu. ia tahu orang tentu sudah lapar. dua yang asam manis. ―Aku yang membayar uangnya. akan memerintahkan: ―Potongi aku sekati daging kerbau serta setengah kati hati daging kambing!‖ Ia telah hidup terlalu lama di Mongolia hingga tahunya. ia menjadi malu hati. ―Apa?!‖ sahut jongos itu tawar. Kwee Ceng mengerti omongan orang. Jongos itu menjadi gusar. kepalanya ditutup dengan kopiah kulit yang sudah pecah dan hitam dekil. ―Mau apa lagi?!‖ menegur satu jongos. ―Makhluk yang harus dikasihani. ia lompat bangun. Yang membikin banyak berisik adalah dua jongos terhadap satu pemuda ynag tubuhnya kurus dan pakaiannya butut. meski kau menyuguhkan makananmu yang paing jempol. menubruk dengan kegirangan. ―Coba lojinkee menyebutkannya. hingga gigi bagus itu tak sembabat sama dandannya yang compang-camping itu. seekor anjing kecil. Pemuda itu menyambuti. hitam dan kotor. dan ia biasa dengar ibunya bicara? Ia malah girang mendengar lagu suara orang sekampung. pasti kami dapat membuatnya! Hanya aku khawatir. ―Tidak peduli aku dahar berapa banyak. ini aku bagi kau!‖ berkata ia.Pendekar Pemanah Rajawali Tengha bersantap. Kwee Ceng menjadi kasihan. Pemuda itu berumur lima atau enambelas tahun. dua yang manis bermadu. Cit-kang.‖ lanjutnya lagi. ―Mari dahar bersama!‖ ia mengundang. Di tangannya ia mencekal sepotong bakpauw. bagiku itu rasanya masih kurang cocok. Di utara. kawan. Ia dapatkan kudanya sedang makan rumput dengan tenang. ―Pasti!‖ sahut Kwee Ceng tanpa berpikir lagi. ―Baik!‖ tertawa pula pemuda itu. hingga terlihat dua baris giginya yang putih. ―Eh. Ia mengawasi kedua jongos dengan tertawa.

yang mesti disajikan atas dua meja disambung menjadi satu. ―Lainnya ialah delapan rupa tiamsim. Kwee Ceng ingat pesan gurunya. kau sajikan lagi duabelas rupa untuk teman nasi. menunggang kuda dan menggembala kambing. di sini tidak ada ikan dan udang segar. Si anak muda berkata pula. paha mencak dan kaki babi hong. Entah disini ada yang jual atau tidak? Yang manis bermadu? Ialah jeruk tiauwhoa-kim-kie.‖ katanya dalam hatinya. Ia sampai mau percaya. satu demi satu. semua buah yang diminta telah disajikan saling susul-menyusul. ―Sekarang begini saja! Empat rupa buah kering itu ialah leeci. soto manjangan keekangyauw. dan kiang-sie-bwee. hingga ia tertawa dan bertepuk tangan. ceker bebek goreng.‖ berkata pula si anak muda. anak muda itu ada lebih pintar daripada gurunya yang kedua. Ia tidak menyangka orang omong demikian takabur. ia pun Cuma dahar beberapa sumpitan. Rupanya orang luas pengetahuannya. Ia kata. Orang bicara rapi. Barang hidangan. ia tidak berani bicara terlalu banyak. tak tahunya dia terpelajar tinggi. sebegitu dulu!‖ Jongos itu berlalu dengan cepat. jongos itu menjadi melongo. ―Untuk ceker bebek dan lidah ayam saja kita membutuhkan beberapapuluh ekor ayam…. hendak minum arak apa. Jongos mengawasi pemuda kita. buah tho-tong-songtiauw dan buah lay-hauwlongkun…. ia jadi Cuma bicara tentang memburu binatang liar. datanglah barang hidangan. yang ia pilih.‖ berkata si anak muda. Kwee ceng tertarik hatinya. ia sekarang banyak bertanya kepada Kwee Ceng. enak didengarinya. Setelah pesan koki. yang mengaku datang dari padang pasir. lidah ayam cah. bakso kelinci. anggur hiangyoh. Selang kira setengah jam. Anak muda itu minum sedikit sekali. lengkeng. si anak muda bercerita banyak. ―Tuan ini yang mentraktir. Sekarang ia tak berani lagi memandang enteng kepada anak muda ini. ia khawatir orang nanti minta pula makanan lainnya.‖ Mendengar itu. maka kau sajikan saja delapan rupa barang hidangan yang biasa!‖ Jongos itu mengawasi. ―Apakah sudah cukup semua ini?‖ ―Habis itu. ―Untuk teman arak. ―Toaya menghendaki buah apa yang segar bermadu?‖ tanyanya.‖ sahutnya kemudian. tidak beres!‖ berkata si anak muda itu. pasti tidak dapat kamu menyediakan barang bagus. ―Baiklah. baharu ia keluar pula. ia duga bukan sembarang orang. Si anak muda menunjuki Kwee Ceng. Irawan D Soedradjat Page 167 . yang dandannya indah dan malah mengenakan bulu tiauw. Sembari dahar bebuahan.Pendekar Pemanah Rajawali Jongos itu heran hingga ia terperanjat. apakah kau kira dia tidak kuat membayaranya?‖ tanya ia. ―Delapan rupa masakan itu ialah puyuh asap. Buah yang segar yaitu kau cari yang baharu dipetik. ―Aku menyangka ia cuma miskin. ―Sebenarnya tuan-tuan ingin dahar masakan apa?‖ ia tanya.‖ kata kemudian. Tidak terlalu lama. Nah. ―Rumah makanmu ini rumah makan kecil dan tempatmu ini tempat melarat. dan ia merasakan kelezatan yang dulu-dulunya ia belum pernah cicipi. Sekarang ia tanya tetamunya. soto burung wanyoh. tapi si anak muda sangat tertarik hatinya. memanah burung rajawali. Sembari berdahar. tentang segala apa di Kanglam. yang asam aku ingin uah ento harum. tidak dijelaskan. ia ada punya arak Pek-hun-ciu simpanan sepuluh tahun. ―Ah. Kwee ceng cobai itu semua. co dan ginheng. suaranya tawar. ―Delapan masakan itu mahal harganya.‖ Mendengari itu mulutnya si jongos ternganga. apa boleh ia menyediakan dulu dua poci? ―Baiklah!‖ sahut si anak muda yang mengenai arak tak banyak cerewet.

ia tidak memperhatikannya. walaupun mehongan. toh masih ada perbedaannya. ia lantas saja angkat tangannya. namaku Ceng. ia tidak pikirkan harganya barang makanan itu. Seumurnya. melihat pakaian orang yang tipis dan pecah. Di luar salju memenuhi jalan besar. Si anak muda tidak mengucap terima kasih. ia cekal tangan si anak muda. ia menghampirkan dengan cepat. maka sering mereka bertengkar. untuk ditukar dengan limaratus tael perak. ijinkan aku pamitan. Yong. Anak muda itu tersenyum. ―Aku tidak niat pulang ke Selatan. maka aku minta sukalah kau pakai baju ini!‖ Tidak Cuma baju. ―Baik suruh panasi lagi…‖ ―Tidak usahlah. ia pakai baju itu. baru kalin ini mereka mendapatkan tetamu seaneh ini. ia pun suka omong lebih banyak. Ia kata: ―Saudara. Sehabis membayar. untuk dipegang keras-keras. anak muda itu dahar lagi sedikit saja. tujuh chie empat hun.‖ jawab anak muda itu. ―Nasi pun sudah dingin…‖ ―Benar. 168 ―Sekarang hiantee hendak pergi kemana?‖ Kwee ceng tanya.‖ berkata si anak muda. Kwee Ceng pun berdiam saja. Kwee ceng pun tertawa. ia pun memberikan uang. menyuruh menukar hidangan yang terlalu dingin dengan yang baru! Jongos dan kuasa brumah menjadi heran. bocah tolol! Bocah hina ini permainkan padamu!‖ Kapan kuasa restoran sudah berhitungan. ―aku pun sampai lupa! Aku she Kwee. bagaimana apabila kita berjalan bersama?‖ . Ia sebenarnya memanggil adik (hiantee). Maka itu. namaku pun satu. kult muka itu agakanya halus dan bersemu putih. aku merasa lapar pula…‖ ia menambahkan. ―Aku telah mengganggu kamu. Kwee ceng pun kasih persen sepuluh tael hingga kuasa restoran dan jongos itu menjadi girang.‖ kata si anak muda seraya tarik tangannya.‖ sahutnya. Adalah setelah jalan beberapa tindak. ia kerobongi itu di tubuh si anak muda. Kwee Ceng berhati mulia. Gochin benar baik tetapi putri itu kadang-kadang manja sekali dan ia tidak sudi mengalah. seperti juga pemuda itu kehilangan sesuatu. Irawan D Soedradjat Page Oey Yong menggeleng kepala. sadar. ―Umpama kata hiantee hendak kembali ke Kanglam. dengan kelakuan sangat menghormat. ialah Tuli sering mendampingi ayahnya.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sendiri sangat gembira berkumpul bersama ini kawan baru. tetapi tentang ini. bicara lebih jauh. saking gembira. ―Saudaraku. harganya semua buah dan makanan itu berjumlah tigaratus sembilan tail. Pernah Kwee Ceng menatap muka si anak muda.‖ sahut Kwee ceng. ―Benar. tangan itu ia rasai halus sekali. Kau sendiri hiantee?‖ ―Aku she Oey. Kwee Ceng lihat itu panggilan. si jongos katakan Kwee ceng dalam hatinya: ―Dasar kau. Hanya aneh. hingga ia tampak Kwee Ceng lagi berdiri bengong dengan tangan memegangi les kuda merahnya. terlalu panas pun tidak dapat didahar. barang hidangan keburu dingin. benar!‖ katanya. kecuali hal ia mengerti silat dan mempunyai hubungan erat dengan Temuchin. Si anak muda pun tersenyum dan menunduk. Satu kali. yang tapinya memanggil jongos. ia baru menoleh ke belakang. Untuk membayar itu. ―Sudah terlalu lama kita bicara. Kwee Ceng mengeluarkan dua potong emas. ―Aku masih belum belajar kenal she dan nama kakak yang mulia.‖ si anak muda meminta diri seraya memberi hormat. apakah kau masih kekurangan apa-apa?‖ ia menanya. mereka mengantar keluar kedua tetamunya itu. untuk menggapaikan.‖ ia menyahuti. kita baharu ketemu tetapi kita sudah seperti sahabatsahabat kekal. Tapi mereka iringi kehendak itu. lalu ia mengatakannya sudah cukup. terus ia negeloyor pergi. yang tiga ia sisipkan ke dalam saku baju tiauw itu. ia loloskan baju kulit tiauwnya. Di gurun pasir ia bergaul erat sekali dengan Tuli dan Gochin. Menyaksikan itu. Ia masih punya sisa empat potong emas. Sesudah barang makanan siap semua. ―Tapi toako.

Lantas ia berseru: ―Di siang bolong kamu berani merampas kudaku?‖ Irawan D Soedradjat Page 169 . Kwee Ceng tidak dapat menjawab. Melihat pakaian orang yang kotor. tak bisa jadi. lantas ia tidak pedulikan lagi tetamu itu. yang bangunannya juga mencontoh model restoran besar dari Pian Liang. Cuma tidak ketmu…‖ Kwee ceng mencoba menghibur. Kwee Ceng mengawasi sebentar. ia menjadi tertarik hatinya. ―Ayah damprat aku. Kapan Oey Yong dengar Kwee ceng omong perihal dua ekor burung rajawali putih. ialah dua kacung yang mengiringi satu pemuda denagn baju sulam yang indah. Hanya kali nini ia tidak meminta banyak macam makanan. Atas itu kedua kacung menghampirkan meja yang ditunjuk itu. aku justru mau pergi.‖ ia kata. Belum lama. Ia ingat akan kudanya. lantas ia menunjuk meja yang terpisah jauh. ―Ayahku tidak menginginkan aku lagi…‖ katanya. Di sini kembali mereka pasang omong. yang hendak ditangkap.Pendekar Pemanah Rajawali ―Baiklah. ―Kenapa begitu?‖ Kwee Ceng tanya. ―Di sana aku cari dan tangkap dua anak burung itu untuk aku buat main. Kali ini Oey Yong yang mengajak kawannya itu. Ia kembali mengobrol bersama sahabat barunya itu. terutama sebab ia lantas kenali. Aku tidak punya ibu sejak masih kecil…‖ ―Kalau begitu. cuma empat rupa serta sepoci the Liong-ceng. ibukota dahulu. lalu tertampak munculnya tiga orang. ―Dan ibumu?‖ ―Ibuku sudah meninggal dunia.mari aku temani lagi kau bersantap.‖ Kwee Ceng bilang. kau mesti pulang. ia mengerutkan kening. baiklah. ―Justru sekarang tidak tahu aku mesti pergi ke mana. pemuda itu tampan sekali.‖ berkata si anak muda. di tangga lauwteng terdengar suara tindakan kaki. hiantee. yang tidak merasa aneh atau mendongkol. ―Eh.‖ jawab Kwee ceng. wajahnya terang. ―Tapi kau toh dapat menemuinya.‖ kata Kwee ceng lagi. Ia dapatkan beberapa orang dengan pakaian serba putih tengah mengurung kudanya itu. ―Ah. di bawah lauwteng terdengar suara kuda meringkik. habis pesiar. yang ia bawa dari rumah.‖ ―Sekarang pasti ayahmu tengah memikirkan kau. Oey Yong tertawa.‖ Kwee ceng beritahu. habis pesiar aku pulang!‖ katanya. Karena itu malam-malam aku minggat…. ia pun menemuinya burung itu secara kebetulan. usianya barangkali baru delapan atau sembilanbelas tahun. Ia pilih rumah makan yang paling besar dan kenamaan untuk kota Kalgan. ―Jikalau begitu. ―Ayahku tidak menginginkan aku…‖ ia menyahut. ―Cuma aku mesti dapati dulu dua ekor anak rajawali putih…‖ Selagi kedua pemuda ini bicara dengan asyik. orangorang itu adalah delapan penunggang unta yang memang berniat merampas kudanya itu. Ia hanya heran kenapa orang dapat menyusul ia demikian lekas. disusul mana beberapa kali bentakan dari beberapa orang. ―Mungkin ia mencari. kenapa ayah tidak cari aku?‖ kata si anak muda lagi. ―Kalau begitu. ―Ayahku larang aku pergi pesiar. baik besok aku pergi saja ke Mongolia. Ia memandang Kwee Ceng dan Oey Yong. maka ia lari ke jendela untuk melongok ke bawah. Oey Yong menangis. Jongos juga segera repot melayani tetamu baru ini. ―Kenapa kau tidak mau pulang saja?‖ Tiba-tiba saja mata Oey Yong menjadi merah.‖ ―Hanya sukar untuk mencari anaknya. yaitu Restoran Tiang Keng Lauw.‖ sahut Oey Yong. tetapi kuda itu berjinkrakan.‖ Kwee ceng berkata pula. Ia menjadi gusar sekali. untuk mengatur mangkok dan sepasang sumpit. rumahmu di mana?‖ ia tanya. hingga ia tak dapat didekatkan. Mangkok dan sumpit yang mana disimpan dalam sebuah kotak.

Celaka kalau ia kena tersampok. untuk masuki kepalanya ke selangkangannya. Inilah Kwee ceng tidak sangka. Setibanya ia di depan rumah makan. salah satu nona menoleh ke belakang. bernama ceng. maka Kwee Ceng dapat melihat sinar matanya yang tajam. mari kita naik pula ke lauwteng!‖ berkata ini sahabat baru. ia memandang Kwee Ceng. Gara-Gara Sepatu Sulam Dan Jubah Salut Emas Tiba-tiba Kwee Ceng sadar. Kwee ceng lekas-lekas membalasi.‖ kata Kwee Ceng. sampai nanti kita bertemu pula!‖ Lalu ia menjura dalam sekali. Justru mereka memutar tubuh. ―Kongcu ada pengajaran apakah?‖ lanjutnya. aku sangat berterima kasih. dengan lantas ia lihat Oey Yong. ―Siauwtee datang dari gurun pasir utara. kemudian ia mengawasi kedua anak muda itu. di depan siapa ia berhenti. ia lantasbertindak naik di tangga lauwteng. dia terus menghampirkan Kwee Ceng. kemudian sembari tertawa manis. ―Aku mohon tanya. Kongcu itu telah mengibaskan tangannya. Barusan kongcu membnatu aku. sepasang alisnya pun terbangun. yang menyambuti seraya terus dikasih masuk ke dalam sakunya. ―Aku mohon tanya she dan nama mulia dari toako. di sana ia dapatkan delapan orang berpakaian putih itu sedang rebah tanpa berkutik. ―Toako. Maka dengan ia lantas tunduk. ―Kau…kau…. kudamu itu bagus sekali!‖ katanya memuji.‖ ia minta. guna terus lompat berjumpalitan. ―Apakah saudara Kwee datang dari pulau Tho Hoa To dari Tang-hay? pemuda itu menaya. diwaktu ia sudah taruh kakinya. nah di sini saja kita berpisahan. ―Mereka ini hendak merampas kudaku.Pendekar Pemanah Rajawali Lantas ia lari turun dari lauwteng. ―Belum pernah siauwtee pergi ke pulau Tho Hoa To itu. untuk terus segera memberi hormat sambil berjura. Meski begitu. diserahkan kepada si pemuda. ―Setahu kenapa. dengan niat menyambuti torak perak itu. Habis itu. hingga terbit satu suara nyaring dan ia merasakan sakit ngilu pada pundaknya itu. kedua kacung lantas pungut empat senjata rahasia itu. Cepat-cepat Kwee Ceng cabuti kopiahnya. ujung tangan bajunya menjurus ke matanya. Tiba-tiba saja ia ayun tangannya yang kanan. mereka lihat delapan nona serba putih itu berlalu dengan unta mereka. Bab 16. yang setahu kapan telah turun dari lauwteng. Oey Yong tarik tangannya Kwee ceng.‖ Irawan D Soedradjat Page 170 . untuk naik di tangga. Ketika ia menoleh. Ia merasakan ada tangan yang lemas yang memegang tangannya.‖ Kongcu itu berkata: ―Saudara Kwee tak hendak mengenalkan diri. ―Jangan pedulikan dengan mereka. Kwee melengak. atas mana dua potong ginso menyambar ke loteng. ke arah pemuda ini. Ia menjadi heran sekali. lalu di antara dua kali suara tintong. sinar matanya menandakan ia sangat heran. apabila mereka melongok ke bawah.‖ Meski ia mengucap demikian. malah ia sudah lantas membungkuk kana melihat delapan pemudi yang menyamar sebagai pemuda-pemuda itu. Karena ini. Akan tetapi si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu telah dului ia. mereka pada rubuh sendirinya…. tanda dari kemurkaan. ia tuangi air the di cawannya pemuda itu. Kwee ceng cepat-cepat membalas hormat. ia memutar tubuhnya. sehingga ie berdiri menjublak. ginso itu jatuh sendirinya. Sembari memberi hormat orang menyerang ia secara hebat sekali. Kwee ceng menurut.‖ ia menyahut. Kwee Ceng hendak sahuti sahabatnya ketika ini tatkala ia dengar ramai suara kelengan unta di depan rumah makan itu. ia melayangkan dua batang senjata rahasia yang bersinar emas berkilauan. di waktu mana ia merasakan sambaran angin. pundaknya kena tersambar juga. ia kaget dan gusar dengan berbareng. jatuh bareng bersama senjata penyerangnya. dengan menyentil dua kali.‖ ia menyahuti. Demikian juga si anak muda itu. ―Siauwtw she Kwee. si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu juga telah berada di depan. ada urusan apakah saudara datang ke mari?‖ Ditanya begitu. ia pergi ke jendela diikuti Oey Yong.

‖ kata Oey Yong. ia berpaling. ia tercengang. terus ia putar tubuhnya untuk bertindak ke tangga lauwteng. cuma ia dapat membedakannya. adakah kongcu ini sekaum dengan Tiat Sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi? Ia menginsyafi hebatnya cengkeraman Tulang Putih itu. Kemudian ia melanjuti: ―Setahu siapa yang membnatu aku secara diam-diam dengan merobohkan mereka itu. kau lupakan barangmu ini!‖ ia panggil si pemuda yang seperti anak bangsawan itu. empat senjata itu sudah mendahulukan menyambar ke arahnya. Kapan Kwee Ceng kembali ke kursinya. Oey Yong agaknya kaget.Pendekar Pemanah Rajawali Tapi si kongcu pegat ia. cepat luar biasa ia telah kerahkan tenaganya. ilmu silatmu tangan kosong tapi biasa saja. Kalau tidak tentulah mesti terjadi pertempuran hebat…‖ Oey Yong masih tersenyum. belum ia terjambak. entah kenapa. cepat luar biasa tangannya menyambar ke arah Kwee ceng. lantas aku jumput!‖ sahut Oey Yong masih tertawa. ia dapatkan Oey Yong mengawasi ia sambil sahabat itu tertawa geli. Kwee Ceng melihat telapak tangan anak muda ini. Rupanya tiga wanita itu melepaskan burung Irawan D Soedradjat Page 171 . kenapa rombongan wanita itu mencoba merampas kudamu?‖ kemudian Oey Yong menanya. Kwee Ceng kaget tidak terkira. Kwee ceng khawatir orang nanti bokong pula padanya. ―Itu waktu memang aku lihat terbangnya dua ekor burung di atasan kepalaku. sebab masih ada bekas cengkeramannya Bwee Tiauw Hong dulu hari pada lengannya. Kongcu itu terkejut.‖ ―Aku lihat di antara mereka ada satu yang mencekal sepasang burung dara. tangannya disodorkan. Ilmu totok kau lihay sekali. Tiba-tiba Kwee ceng menepuk meja. empat senjata di tangannya sudah lantas mencelat. Ia sambuti tusuk konde emas dan ginso itu. ―Ya. saudara Kwee. kepada Kwee Ceng ia tersenyum. Setelah menatap. ―Toako. ―Ini untuk kau…‖ kata Oey Yong dengan perlahan. Maaf…!‖ Kembali ia menjura. Oey Yong pun telah dapat menjumput sumpitnya itu. ―Kongcu. ia memutar tubuhnya untuk terus turun di tangga lauwteng. sambaran kongcu ini kalah jauhnya sebatnya dengan sambarannya si Mayat Besi. Di tangan kawan ini terlihat dua potong tusuk konde emas serta dua potong ginso. Ia tercengang sebentar lantas ia ingat. tubuhnya bergeser. Menampak barangnya itu. Maka ia menduga. Kwee Ceng jujur. Dari gerakannya saja. sembari tertawa. ―Kudaku itu lari cepat sekali.‖ jawab Kwee Ceng. ia tidak menduga orang mendusta. Ia dapatkan. sebenarnya aku telah lombai mereka seperjalanan tiga hari. yang terus tuturkan perihal kuda itu sampai ia bertemu rombongan si wanita itu. Entah kapan sahabat ini mengambilnya. aku ingat sekarang!‖ ia kata pula separuh berseru. ―Dia membikinnya jatuh selagi dia menjura kepadamu. Si kongcu rupanya jijik untuk pakaian kotor anak muda ini. belum lagi serangannya mengenai. mereka dapat menyusul padaku…‖ Kwee Ceng kemudian mengutarakan keheranannya. Itulah ginso yang tadi si kongcu simpan dalam sakunya. ia mundur setindak. Kwee Ceng angsurkan kedua barang emas dan perak itu. heran. disaat kongcu itu mengangkat tubuhnya habis menjura. tangannya menjatuhkan sebatang sumpit ke kaki kongcu. Kongcu itu menghentikan tindakannya. ia mundur satu tindak. ―Sungguh memusingkan kepala. yang menyamar sebagai pemuda-pemuda dan menunggang unta. ia kata: Aku cuma mencoba ilmu kepandaianmu.. ia sudah dapat menduga orang bergerak dengan ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw seperti keenam gurunya sering menuturkan kepadanya. Tidak berani ia menangkis atau menyambuti cengkeraman itu. kongcu terkejut sehingga air mukanya berubah. ―Sebab kudaku adalah han-hiat-po-ma. ia juga dapat lihat anak muda itu berdiri tegar ditempatnya. lima jarinya yang kuat seperti kuku garuda menyambar ke tangan Kwee Ceng itu. ―Kenapa barang itu berada di tanganmu?‖ ia menanya. ia mengerti. Dengan terpaksa ia sambuti empat potong benda itu. yang bergemerlapan kuning dan putih.

―Apakah kau kurang sehat?‖ Oey Yong angkat kepalanya. ―Baik. tiba-tiba ia dengar ketokan pada pintu. baru ia tuntun kudanya. Kwee Ceng menyerahkan les kuda itu. Kwee Ceng menurut. baru ia melihat langit. untuk mereka memegat atau mengawasi aku. ia mengawasi si pemuda. Bersama-sama mereka turun dari lauwteng. Di antara cahaya lilin. apa kau sudi mengabulkannya?‖ dia bertanya. ia membuka pintu. ia awasi tuan rumah. untuk rebahkan diri. aku hadiahkan itu padamu!‖ kata Kwee Ceng tanpa bersangsi. Mukanya penuh air mata. ia mepersilakan: ―Hiantee. Ketika disaat ia hendak memadamkan api. ―Sebenarnya aku suka sekali dengan kudamu itu. Ia mendapatkan sang malam bakal lekas tiba. ―Hendak aku meminta sesuatu yang berharga darimu. maka baik-baiklah kau mendengar katanya. sambil melirik. kau kenapakah?‖ ia menanya cpat. Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay yang sangat ternama besar! Lekas kau berlutut dan mengangguk-angguk kepalanya!‖ . lantas berkata: ―Inilah paman guru kami. Air matanya itu yang mengalir di kedua belah pipinya itu. Sebenarnya ia main-main saja. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng mengerti bahwa ia telah terkurung. mukanya lonjong. menyebabkan mehongan luntur. yang usianya kurang lebih lima puluh tahun. Bukankah mereka baru pertama bertemu? Ia malah mengharap jawaban si pemuda adalah penolakan. Setelah ia mengenali orang. terus terdengar tangisannya sesegukan. dari itu. jangan kau bawa adatmu. akan tetapi ia sekarang tidak membangkang. Sekarang adalah giliran Kwee Ceng yang menjadi heran. ia lantas pergi mencari rumah penginapan. Tapi sekarang ia tidak menangis. ia terus tepuk kempolan kudanya itu. marilah kita pergi!‖ ia mengajak.‖ Kemudian sembari menoleh kepada si anak muda. ―Siapa?‖ ia tanya heran. hingga ia melihat tegas.‖ menerangkan Oey Yong.‖ Setelah itu. ―Kenapa tidak?‖ Kwee Ceng menjawab. lalu ia tertawa. ia terkejut bukan main. mereka gampang saja mencari padaku. Dengan lantas kuda itu berlari pergi. yang julukannya pun berarti si Ular Naga Kepala Tiga. Ia lantas mendekam di meja. kau naiklah!‖ Sebenarnya kuda itu tak dapat ditunggangi orang lain. Oey Yong naik kuda itu. tubuhnya kurus. Ia keringkan secawan teh. romannya sangat tidak mengasih untuk diawasi. hingga tampak dua baris kulitnya yang putih mulus. di jidatnya ada tiga kutil besar. Kwee Ceng turun dari pembaringan. hingga dia itutak dapat melihat lepas ke depan. Lebih dulu ia membayar uang makan. dengan dingin. Empat di antaranya ada membawa golok dan ruyung. Oey Yong terperanjat. Pemuda itu menanti sampai orang tidak terlihat lagi. 172 Toan-hu-to Sim Ceng Kong si Golok Memutus Roh. Ia pesan kepada kudanya: ―Aku haurkan kau kepada sahabatku yang baik. Mereka itulah Hong Ho Su Koay. Ia kelihatannya menjadi kagum sekali. ―Satu sahabat. apapula mereka dibantu oleh paman gurunya itu. ia membuka tindakan lebar akan memasuki kamar orang. Karena ini. muka orang ada tanda bekas luka-luka senjata tajam. ―Toako. ―Hiantee. Kwee Ceng pun mengawasi. Si kurus sudah lantas tertawa tawar. ia tampak lima orang berdiri di depannya. sebaliknya ia tertawa. Oey Yong tanya tentang tenaga larinya kuda merah itu dan Kwee ceng menuturkannya dengan jelas.‖katanya. bahwa Hong Ho Su Koay saja sudah bukan tandingannya. suaranya parau. tanpa bilang suatu apa.Pendekar Pemanah Rajawali itu untuk memberi kabar kepada lima kawannya. Dua orang yang ke lima. ―Toako. hiantee.‖ sahut suara di luar. akan terus mencokol di atas pembaringan.

Akan tetapi tidak ada serangan terhadapnya. ―Aku mohon sukalah kau memerdekakan kami!‖ Irawan D Soedradjat Page 173 Sim Ceng Kong berempat mencaci maki pula. hampir ia lenyap dari pandangan mata. tidak lekas kembali. engkongmu menunggui kau disini!‖ Jadi terang dia telah dikurung keras. ―Ah! Kalau begitu hendak aku memberi ketika padamu untuk hidup lagi setengah harian!‖ kata Ular Naga Kepala Tiga itu. Di belakang jongos itu terlihat Cian Ceng Kian dengan sepasang kampaknya. jongos muncul dengan air cuci muka dan tiamsim. untuk melindungi diri. baiklah aku mati bertempur!‖ Oleh karena berpikir begini.‖ Kwee Ceng berpikir. maka ia lupa akan malunya. Di sana ada sebuah rimba besar. niatnya untuk tidur tanpa menghiraukan segala apa. ―Apakah kau tengah main ayunan di sini?‖ dia bertanya. Itulah suara ketokan beberapa kali. ―Sungguh menggembirkan. Ia bersemadhi hingga tengah hari. sampai sepuluh lie lebih. Ia masih berdiam saja. ia berbangkit. Besok tengah hari aku menantikan di rimba Hek-siong-lim di luar kota. Ia takut mati. tidak dapat aku menemani kalian lama-lama…!‖ ―Kwee Enghiong. Dia lantas rebahkan dirinya. ―Guruku tidak ada di sini. Rupanya orang telah menjaga ia di luar kamar. Kwee Ceng heran bukan kepalang. Kwee Ceng putar cambuknya. untuk dengan cepat bertindak ke sebelah dalam rimba. hatinya menjadi mantap. tidak nanti mereka dapat menolongi aku.‖ sahut Kwee Ceng. Kwee ceng loloskan joan-pian. baru ia berbangkit turun. Sambil berdiri diam. ―Sekarang hendak kau memberi pengajaran kepadamu. Mereka mencaci kalang-kabutan begitu lekas mereka tampak si pemuda musuhnya itu. Kapan ia memandang ke jendela. untuk sarapan. Lantas ia berdiri menjublak! Di atas empat pohon di dekatnya itu. rimba pun lebat. Selagi Kwee ceng bertindak. Besok pagi. jangan kau memikir untuk kabur. Ia lantas saja bercokol di atas pembaringan. ―Sudah terang aku tidak bakal dapat lolos. ialah pesan gurunya yang keempat: ―Jikalau tidak ungkulan. Satu lie sudah ia berjalan. Di sini Ceng Kian tinggalkan si pemuda. Kwee Ceng memadamkan api. tiba-tiba Toat-pek-pian. bukan?‖ Nah sampai bertemu pula! Sampai bertemu pula! Maaf. hingga terdengar suara membeletok. Selang tidak lama. kenapa aku tidak hendak sembunyikan diri?‖ Maka hendak ia segera mewujudkan pikirannya ini. Seram suasana di situ. ia maju. ia tampak bayangan orang mondar-mandir. Tiba-tiba ia dapat ingatan. ―Suhu semua berada di tempat jauh. kau datang ke sana dengan minta gurumu semua temani padamu!‖ Habis berkata. Ia berlaku tenang. setindak demi setindak.Pendekar Pemanah Rajawali ―Tuan-tuan ada punya urusan apa?‖ ia tanya sambil menjura. . berubah pikirannya. agar orang tidak nanti mengatakan Sam-tauw-kauw menghina anak kecil. kami menyerah kalah!‖ dia berteriak. ia tidak bertemu dengan musuhnya. tanpa menanti penyahutannya Kwee Ceng. ia suruh Twie-beng-chio Gouw Ceng Liat si Tombak Mengejar Jiwa menutup pintu. Mereka jalan berendeng. menuju ke arah barat. cambuk lemasnya. Ma Ceng Hiong si Cambuk Perampas Roh. memandang ke arah dari mana cacian itu datang. ―Mari kita pergi!‖ ia kata kepada Cian Ceng Kian. Di samping itu mereka heran sekali kenapa paman guru mereka itu yaitu Hauw Thong Hay. lari!‖ Maka ia berpikir: ―Sekarang tidak ada orang mengawasi aku. Sambil berlompat. ia angkat kepalanya. akan tetapi ia tertawa. ia sudah ngeloyor keluar. Sesampai di luar. ―Mana guru-guru kamu?‖ Hauw Thong hay menanya. Mereka malu untuk minta tolong. ia tampak Hong Ho Su Koay tergantung masing-masing di sebuah cabang besar. Tapi tiba-tiba. disusul sama bentakan: ―Bocah. kaki dan tangan mereka terbelenggu. melainkan mulut mereka yang dapat di pentang lebar-lebar. Tapi ia tidak dapat pulas. semakin hebat. ia mesti gulak-galik saja. terus ia duduk numprah di atas pembaringannya. yang menutupi matahari. sia-sia saja mereka mencoba meronta-ronta. tubuh mereka bergelantungan. ia dapat dengar apa-apa di atas genting. untuk bersemadhi menuruti ajarannya Ma Giok. Ia menjaga diri dari bokongan di kiri atau kanannya. ―Bocah haram! Anak campuran! Anak jadah!‖ demikian ia dengar makian hebat.

Pria itu tidak sampai hati. hanya mengubah kepalannya menjadi tangan terbuka. yang cantik sekali. tibalah ia di Tiongtouw. untuk melihat ke sebelah dalam. kota raja yang lama dari kerajaan Song. maka mereka itu lantas saja tidak dapat geraki kaki dan tangan mereka. habis berdahar. Pantas Hong Ho Su Koay tidak sanggup berontak melepaskan diri. Nona itu singkap naik rambut yang turun ke dahinya. merdunya bunyi tetabuan. ―Kalau bukannya kau. sikapnya pun berpengaruh. Syukur untuknya. ia ingat: ―Baharu saat ini kau tiba di Tionggoan. Di mana di situ tidak ada Hauw Thong Hay. Luar biasa gesitnya nona itu. umurnya mungkin baru tujuh atau delapanbelas tahun. yang paling ramai dan indah. kota raja yang baru. mesti ada orang yang sudah tolongi ianya. sedang kereta-kereta bagus dengan semua kuda pilihannya mondar-mandir di jalan-jalan besar. ia tadi berkasihan terhadap si nona. bertempur dengan seru sekali. Di pelbagai rumah minum ia pun dengar suara tertawa. Ia pun mengutanginya itu dengan golok emasnya. lalu iamundur ke bawah bendera. dengan kemalu-maluan ia menyelinap di antara orang banyak. ―Buk!‖ punggung si pria kena terhajar. ia sampai tidak berani memilih erstoran yang mentereng. ia menjadi kegirangan. dasarnya putih. alat menggantungnya itu adalah tambang kulit yang kuat. Mukanya pemuda itu menjadi merah. tetapi ia mengerti. Sebetulnya. Yang hebat mereka sampai tidak melihat padanya. kapan tangan kirinya diayunkan. di situ ada dipancar bendera suram. siapa Irawan D Soedradjat Page 174 . di sana ada berkumpul sejumlah orang. akan meninggalkan mereka itu. sampai tidak dapat dilawan oleh Pian-liang. terus ia balik ke kota. Keanehan itu tak dapat ia melupainya. ia baru berhenti ketika di sebelah depannya ia dengar sorak-sorai yang ramai. membawa tubuhnya melejit ke samping ke belakang penyerangnya itu. Heran Kwee Ceng apabila ia saksikan ilmu silat si nona itu. yang permai sero-seronya. maka sekarang si nona tidaj menghajar hebat kepadanya. Ia menyelak di antara banyak orang itu. ia batal meninju. ia berjalan-jalan. sampai terjerunuk ke depan. untuk berlompat bangun. Ia menjadi besar di gurun pasir. belum pernah ia menyaksikan suasana kota besar itu. kedua kakinya bergerak saling susul-menyusul. ia lantas menyerang dengan kedua tangannya. hanya syukur. Untuk bersantap. ―Hong Ho Su Koay lihay tetapi mereka dapat digantung. mesti ia lekas menyingkir. aku pikir kenapa ada demikian banyak wanita cantik. yang tubuhnya jangkung dan besar. yang indah lauwteng dan rangonnya. Para penonton lantas saja bertampik sorak. setelah memegang tanah. kota raja Tay Kim Kok. Semua itu ia saksikan diwaktu siang berderang. Sesudah empat Siluman itu direbahkan di tanah. Ia lari keluar rimba. Pada suatu hari. ia berkelit dengan mendak.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sudah lantas berpikir: ―Sebenarnya aku tidak bermusuh dengan mereka. dia dapat menahan diri dan mengerahkan tenaga. nona itu menggunai akal. ia khawatir paman guru mereka itu nanti keburu kembali. siapa lagi?‖ Kwee Ceng heran. ia kasih turun mereka itu satu per satu. ke mana perginya Hauw Thong Hay si Ular Naga itu? dia tidak tertampak sekalipun bayangannya?‖ Kwee Ceng terus melakukan perjalannya itu. atau berkelit. ia menolak ke arah pundak. habis mana barulah ia putuskan belengguan mereka itu. Ia berpikir: ―Dia lihay. Artinya: mencari jodoh denagn jalan pibu atau mengadu kepandaian. kenapa dia munculkan diri di tempat umum seperti ini?‖ Selang lagi beberapa jurus. ada sulaman empat huruf besar: ―Pi Bu Ciauw Cin‖. Si pria dapat melihat lowongan. teranglah lawannya itu mesti jauh terlebih lihay daripada mereka. hingga ia berpikir: ―Kenapa aku seperti kenal dia? seperti aku pernah bertemu dengannya. Nona itu tidak mengambil sikap menangkis. Kwee Ceng pandang nona itu. Ia heran orang menuduh padanya. Ia lantas saja mengangkat kaki. Ia mendekati. ia cari sebuah restoran yang kecil. atau Lim-an. pemuda itu totok mereka bergantian. adalah mereka yang memusuhi aku. Mendadak ia ingat apa-apa. roboh ke tanah. siapakah yang menggantung kamu di sini?‖ ―Kau masih berpura-pura!‖ membentak Cian Ceng Kian mendongkol. Herannya. terus ia kembali dengan berlompatan. negara Kim (Kin) yang besar. maka ia pikir. Orang banyak itu mengurung sebuah tanah lapang. ke arah dada. malah di sini ia segera membeli seekor kuda untuk dengan itu ia lantas melanjuti perjalannya ke selatan. nona-nona serba putih dan menunggang unta itu sudah elok semua. ia berkata: ―Lagi dua belas jam baru kamu dapat pulang tenaga dalam dan merdeka. ―Siapakah itu orang secara diam-diam menolongi aku?‖ ia berpikir di sepanjang jalan. kapan aku pernah bertemu orang lain? Aku tadinya menyangka. Di bawah bendera itu ada satu nona dengan baju merah tengah bertempur sama seorang pria. entah dimana…?‖ kemudian ia tersenyum sendiri. hingga mereka menyangka aku. maka itu apa perlunya aku membiarkan mereka mati bersengsara di sini?‖ Dengan cepat ia mengambil keputusan. Sambil tertawa.

perkenankanlah kami undurkan diri. para penonton juga tak henti-hentinya tertawa. ia tertawa. ―Tenang. Bok Ek tarik tangan gadisnya. sudah membuat perjalanan dari selatan hingga di utara. Mendengar itu. Anakku sudah dewasa usianya. yang agaknya tidak menghiraukan ejekan orang banyak itu. ―Taruh kata kau menang. Tuan-tuan. Tidakkah pemandangan itu sangat lucu? Irawan D Soedradjat Page ―Bagus!‖ berseru si paderi.‖ Habis mengucap. Si empe dan paderi masih adu omong terus. yang ia awasi. aku lewat di tempat tuan-tuan tidak dengan maksud mencari nama atau mencari uang. baharu ia menambahkan: ―Kota Pakhia ini adalah tempat rebahnya harimau atau tempat sembunyi naga. ia masih belum ketemu jodohnya. aku mancarikan jadohnya dengan jalan pibu ini. nah kamu pibulah terlebih dulu!‖ satu penonton yang membuka mulut. ―Oh. mereka yang gagah sudah pada menikah atau mereka yang muda sungkan hatinya?‖ Ia berhenti sebentar. maka juga. kumisnya sudah ubanan separuh lebih. sebabnya rupanya. Maka itu ia lantas memandang ke kiri dan kanannya. hatinya masih terbuka.Pendekar Pemanah Rajawali tahu nona ini melebihkan mereka itu…. Ia merasa bagaimana orang hendak mempermainkan padanya. Si nona lantas bicara perlahan sama seorang yang berdiri di dekatnya. lalu ia cabut benderanya. lagi ia menjura kepada orang banyak. Karena ini dengan beranikan diri. disini mesti banyak orang berilmu dan gagah. Siapa yang usianya di bawah tiga puluh tahun dan belum menikah. ―Tunggu dulu!‖ Itulah suara berbareng. akan aku rangkap jodoh anakku ini dengan jodohnya. apakah kau tidak kasihan terhadap si nona yang masih demikan remaja bagaikan sekuntum bunga? Apakah setelah kau menikah kau hendak membuatnya ia menjadi janda?‖ Orang tua itu menjadi gusar. maka itu. maka itu sekarang aku lagi mencarikan jodohnya itu. itu bendera Pi Bu Ciauw Cin. Yang muncul dari sebelah timur itu adalah seorang tua dengan tubuh terokmok. dan umurnya juga sudah lewat lebih dari setengah abad. ―Aki-aki. ayah dan anak. ―Bukankah dia mau adu kepandaian untuk mencari suami? Nah. Dialah satu paderi yang kepalanya licin lanang! ―Eh. Si nona menjadi mendongkol. hatinya tidaj tergiur. Orang bnayak lantas mengawasi. berniat ia menghajar kedua manusia ceriwis itu. akan tetapi kami masih belum menemui jodoh yang dicari itu. Tiba-tiba saja. wajahnya menjadi merah. akhirnya mereka semua tertawa geli. kakek-kakek!‖ katanya. mereka jadi sengit sekali. aku masih belum menikah! Mustahilkah aku tidak cocok?‖ Si paderi itu awasi si tua. sepasang alisnya terbangun. apakah kau mau dengan datang kemari?‖ ia menegur. mukanya penuh berewokan. oleh karena itu. maka tak usahlah aku menjadi heran…‖ Pemuda ini polos. ―Habis kau. aku harap tuan-tuan memaafkannya kalau ada kata-kataku yang tidak tepat. ―Setelah aku mendapatkan istri begini cantik. siapa yang menang. asal ia bisa menyerang anakku dengan satu kepalannya atau kakinya. Ia lantas loloskan mantelnya. matanya bersorot tajam. aku akan segera pulang asal menjadi orang biasa lagi!‖ sahutnya. nanti aku yang melayani mereka. Dasar aku kurang berpengalaman! Rupanya di Tionggoan ini dimanamana wanitanya cantik semuanya. pria itu mengangguk. terus ia mengangguk keempat penjuru seraya terus berkata: ―Aku yang rendah bernama Bok Ek. pasangan anakku tidak usah berharta. ―Nanti. Kami berdua. nanti besok kami datang pula ke mari untuk melayani tuan-tuan. kamu tertawakan apa?‖ tanya si tua itu kepada orang banyak. lagi sekali orang itu mengangguk. ia yang maju melawan si nonan manis!‖ . Paderi itu tersenyum. yang datangnya dari sebelah kiri dan kanan. cukup asal ia satu pria sejati yang mengerti ilmu silat. Yang datang dari barat itu lebih lucu pula. mari kita berdua main-main…!‖ 175 ―Saudara-saudara. dari mana lantas terlihat dua orang berlompat ke dalam kalangan. Disamping mereka. sudah melintas tiga belas propinsi. hanya guna anakku ini. untuk pulang ke rumah penginapan guna beristirahat.‖ ia membujuk. Adalah keinginanku. kembali riuhlah tertawa orang banyak. walaupun ia telah melihat wajah-wajah yang cantik manis.

mendadak ia tarik keluar sebatang golok kayto dari dalam jubahnya. tanpa membilang suatu apa lagi. sebelah tangannya sudah melayang. dalam sengitnya. hingga sudah tentu saja selanjutnya tak dapat digunai lagi! Si tua dan si paderi tercengang. keduanya menjadi bertempur. ―Apakah nona ynag mengadakan pibu untuk mencari jodoh?‖ ia menanya sambil ia memberi hormat. ilmu Bagian Luar. segera ia balas menyerang. takut mereka nanti kena terserempet…. numprah di tanah. Si paderi dapat berlompat danmendekam dengan cepat. Kiranya mereka sama-sama membekal senjata. kemudian selagi golok turun. ―Ya. mereka dengar suara kelenengan kuda. ―Bagus! Bagus!‖ teriak orang banyak berulangkali. Satu kali si paderi dapat meraptakan diri. lincah gerakannya. Cuma rambut dekat kedua samping kupingnyas udah berwarna kelabu dan kulit mukanya berkerenyut dan itu waktu. maka ruyung itu menjadi bengkok melengkung. ke arah pinggang lawannya. yang tubuhnya sedikit bongkok tetapi badannya lebar dan kekar. ―Tuan-tuan.‖ menyahut si nona. Si empek sebaliknya tenang tegar. tanda dari tenaganya yang besar. lekas-lekas ia sembunyikan diri di antara orang banyak itu. Hebat menyambar-nyambarnya golok kayto dan ruyung besi. Ia dapatkan si paderi bersilat dengan jurus-jurus Lo Han Kun dari ilmu silat Siauw Lim Pay. kepalannya menghajar tiga kali beruntun. segera ia jatuh duduk. Si empek kuat sekali. mereka bersorak. untuk dikasih turun ke arah kepala lawannya. Kwee Ceng menonton. sembari tersenyum. ―Besok kita pulang ke selatan…‖ berkata dia dengan masgul. tahan!‖ Bok Ek berseru seraya ia menghampirkan. yang diajak bicara. kepalannya menumbuk kepala licin mengkilap dari si paderi. Bok Ek cekal kedua ujung ruyung. ―Di sini adalah kota raja. ia terima serangan tanpa berkelit atau menangkis. tidak dapat kita sembarang menggunai senjata tajam!‖ Dua orang itu lagi bertempur seru sekali. Kwee Ceng pun tak terkecuali. Dilihat dari roman. tetapi. Suara kelenengan itu datang dari rombongan itu. tapi berbareng dengan itu. Hanya sambil berseru-seru. hingga mereka pada menoleh. jangan pandang usianya yang tua. Si tua dapat menolong diri dengan berlompat berkelit. ia masuk ke dalam kalangan. Ia berdiam tidak lama. Maka itu sekarang mereka melansungkan pertandingan itu dengan golok dan ruyungnya masingmasing. belum lagi ia peroleh jawaban. mereka menjadi kuncup hatinya. Kapan Kwee Ceng telah melihat si koncu. untuk angkat kaki! Kwee Ceng mengawasi Bok Ek. wajahnya guram. ia hajar itu dengan ruyung sehingga golok itu patah dua! Para penonton kagum. mereka pada mengundurkan diri setindak demi setindak. Si empe-empe berkelit. . tenaganya sebenarnya masih besar. mereka tidak memperdulikan seruan itu. Irawan D Soedradjat Page 176 Kongcu itu melihat bendera Pi Bu Ciauw Cin. Maka dengan itu. Dengan satu dupakan. Bukankah pibu telah berakhir? Tapi justru itu. keduanya nyelusup antara orang banyak. Melihat ia tidak dihiraukan. terus ia loncat dari kudanya. sedang si empe menggunai ilmu silat Ngo Heng Kun. penonton hendak bubaran. Sampai disitu. ia lantas awasi si nona baju merah. Tapi itu belum semua. ia lantas menekuk. Ia kenali si kongcu yang ia telah ketemukan di rumah makan di Kalgan. Dia pun menghela napas. Jadi keduanya ada dari golongan Gawkang. ia angkat tinggi tangan kanannya. untuk mengasih keluar sepotong thiephie atau ruyung besi. bagaikan martil.Pendekar Pemanah Rajawali Paderi ini menantang. Tak tahan paderi itu. ia membuat golok kayto terpental tinggi dan dengan sambaran tangan ia rampas ruyungnya si empek-empek. ia mungkin telah berusia enam puluh hampir. tangannya meraba ke pinggangnya. Ke situ datang satu kongcu atau pemuda sambil diiringi beberapa puluh pengikut. dengan itu ia membabat kakinya si tua! ―Celaka!‖ berteriak orang banyak. berbareng dengan mana. tiba-tiba Bok Ek menyerbu.

nona!‖ ia kata. hendak aku mencoba-coba. ―Si nona lihay sekali. ―Aku yang rendah she Bok.‖ berkata nona itu. tidak menunggu kedua kaki si nona keburu menginjak tanah. aku tidak percaya!‖ Ia tunjuki si nona. Irawan D Soedradjat Page 177 . sebelah kakinya menjejak ke arah hidung si kongcu.‖ kata si pemuda. sebentar kau nanti merasai…‖ Tapi ada juga yang berpikir: ―Bok Ek ayah dan anak adalah orang kangouw. belum pernah ia bertemu pemuda semacam ini. Ia lantas merangsak. ―Ah. ―Bagus!‖ berseru si kongcu. Pemuda itu tampaknya heran. ―Sebabnya mungkin. ―Silakan kongcu membuka dulu bajumu. Sambil mendak. maka barenglah mereka diwaktu mereka menurunkan tubuh. Adalah Bok Ek.‖ menyahuti si kongcu. mari. ia hanya berjumpalitan. ―Kami adalah orang kangouw. kongcu!‖ berkata si nona. ia tidak menyahuti. ―Sudah berapa lama sejak kamu mengadakan pibu ini?‖ ia tanya pula. mana berani kami beradu tangan sama kongcu?‖ menyahut Bok Ek. Terkejut si nona itu apabila ia menyaksikan gerakn orang yang luar biasa itu.‖ Pemuda itu mengawasi si nona. ―Apakah mungkin belum pernah ada orang yang dapat menangkan dia?‖ ia menegaskan. muda dan tampan. ―Ah. Diam-diam girang hatinya Bok Ek. supaya ia tidak hilang mukanya…‖ ―Silahkan. Maka itu ia loloskan mantelnya. Tiba-tiba ia memutar ke kanan.‖ ia menerangkan. Sukar untuk menyingkir dari serangan susulan itu. ―Silakan mulai. Lagi-lagi ia memberi hormat. yang menghampirkan pemuda itu.‖ menjawab Bok Ek dengan sebenarnya. mari!‖ berkata si pemuda. ―Kalau begitu. ini mengenai hari kemudian dari anakku. Sekarang ujung baju dari tangan kanan si pemuda yang menyusul menyambar. Si nona agaknya kagumi pemuda itu. ―Kenapa begitu?‖ si pemuda menegaskan. kongcu itu lompat ke kanan. maka itu ketika si kongcu datang dekat. Bok Ek tersenyum. ia mengebut pula. untuk memberi hormat. orang yang pandai silat itu sudah menikah atau ia sungkan beradu tangan dengan anakku. lalu tangan kirinya menyambar ke pundak si nona. Bok Ek memberikan keterangannya. Ia bertindak ke tengah kalangan. menantang. melengos. ―Bagaimana aturan atau syarat-syaratnya pibu perjodohan ini?‖ menanya si pemuda. kongcu bergurau!‖ berkata Bok Ek tertawa. Aku minta kongcu sudi memaafkan aku.Pendekar Pemanah Rajawali Nona itu dengan wajah bersemu merah. turut bergerak. Di luar dugaannya. Kali ini kongcu itu sudah tidak sungkan lagi. Ia dapatkan orang. ―Laginya ini bukannya cuma soal menang atau kalah. ―Tidak usah. masa mereka berani bikin malu satu kongcu? Tentu si kongcu bakal dibikin mundur teratur. maka si nona menjejak tanah untuk mencelat mundur. Ia tahu. Untuk membebaskan diri. ―Kalau begitu. orang ada sangat gesit. ia hampirkan si pemuda untuk memberi hormat. di dalam tiga belas propinsi. Nona itu bukan melainkan berlompat mundur. ―Sampai sebegitu jauh sudah satu tahun lebih dan kami telah menjelajahi tiga belas propinsi. ia tersenyum. Kongcu ada keperluan apa apakah?‖ ia menanya. ia nyelusup di bawah ujung bajunya pemuda itu. Para penonton pada berkata dalam hatinya. Pemuda itu membalas hormat. hingga bajunya yang panjang dan tangan bajunya juga.

sedang si kongcu kata di dalam hatinya. belum lagi tubuh orang mengnai tanah. untuk lihaynya si kongcu dan untuk kelincahan si nona. satu kongcu demikian lihay. Sekarang terlihat kongcu ini dengan pakaian dalamnya dari sutera hijau muda yang indah. Bercahaya wajahnya yang putih dan bibirnya yang merah. kancing-kancingnya jatuh di tanah. Dalam sengitnya. selagi si nona mengerahkan tenaganya. sampai tiba-tiba orang dengar suara ―bret!‖ robek. dan baju si nona seperti mega bermain. Mereka itu sama-sama lincah.: ―Kalau sekarang aku hendak robohkan kau. Ia menggunai tangan kirinya. Itulah permintaann ceriwis. Irawan D Soedradjat Page 178 Nona itu mendongkol. ―Kongcu ini lebih lihay daripada In Cie Peng. Pemuda-pemudi itu berimbang usianya. Si nona menjadi sangat malu. Melihat itu si nona. karena itu sukar untuk si nona membalas mendesak. Mereka tidak sangka. menjadi suami-istri. si nona menjejak. Orang banyak bertempik bersorak. kedua tangannya bergerak. hingga si nona manis lantas berada di dalam pelukannya. merangkul. ―Lekas lepaskan aku!‖ ia minta. Kwee Ceng jadi berpikir: ―Ilmu silatnya dia ini mirip betul sama ilmu silatnya In Cie Peng. ia malah terpeluk semakin keras. Cuma aku tidak tega…‖ Benar saja. malah ia lantas berseru: ―Anak Liam. Ia nampak semakin tampan. untuk kamu menentukan kemenangan terakhir!‖ Kongcu itu bermuram wajahnya. Ia lantas berontak. yang itu malam menempur aku. Si nona dengan wajah merah. Maka ada menarik akan menyaksikan baju indah si kongcu bagaikan bercahaya. Si nona lantas lompat mundur jauh-jauh. nona itu rubuh terjengkang. sebab si kongcu juga membetot. mulai membalas menyerang. nanti aku lepas kau!‖ sahutnya. suaranya perlahan. . ujung baju itu putus dengan menerbitkan suara nyaring itu. tapi ada juga yang menggerutu. malah untuk merapatkan saja sulit. Tanpa berkata apa-apa. ―Pasti jodoh mereka bakal terangkap…‖ Bok Ek pun girang melihat jalannya pertempuran ini.‖ berpikir Kwee Ceng setelah ia menyaksikan terlebih jauh. anginnya menyambar keras. Setelah menyaksikan lagi sekian lama. ―Kongcu sudah menang. Nyata si nona dapat menjambret ujung baju si kongcu dan ia menariknya. Bok Ek dan Kwee Ceng terperanjat. kongcu ini mulai menyerang. tolong kau lepaskan anakku. Sekarang si koncu yang main berkelit. mereka tampan dan elok. ―Kongcu. silakan kau loloskan bajumu. tangan kiri si nona kena dicekal. si nona bukan tandingannya. Si kongcu tertawa. Maka tidak ampun lagi. Hanya. Bok Ek lantas maju. kongcu menang jauh daripadamu…!‖ Tapi orang lagi bertempur hebat sekali. ketika tangan kirinya menyambar. sudah tak usah kau melawan lebih lama lagi. gampang sekali. Tapi sia-sia saja. Karena ini tidak lagi ia benci si kongcu untuk kelakuannya di rumah makan baru-baru ini.‖ ia minta. sekarang ia mengharap-harap akan kemenangan si kongcu. Ia tahu si nona bakal mengibas keluar. Apakah boleh jadi mereka berasal dari satu perguruan?‖ Sekarang si kongcu tidak mau mengalah lagi. ia hanya menyobeknya! Satu pengiring lari menghampirkan guna membantui meloloskan baju itu. maka robeklah bajunya.Pendekar Pemanah Rajawali Penonton semua kagum. Kwee Ceng pun kagum. ―Kau panggil engko padaku. Pemuda itu tertawa lebar. sungguh cocok apabila mereka menjadi pasangan hidup. yang pinggangnya dilibat dengan sabuk hijau. Ia bukan membuka dengan baik. tangannya mengibaskan baju rampasannya itu! ―Tunggu dulu!‖ Bok Ek segera kasih dengar suaranya. mereka pun pandai silat. tangan kanan si kongcu sudah menyambar. si imam muda. ia sekalian menolak seraya cekalannya itu dilepaskan. ia masih belum mau melepaskan pelukannya. Pertandingan itu berjalan terus dengan seru.

tetap ia memegang tubuh di nona.‖ berkata Bok Ek. tapi ia menoleh kepada si nona yang ia awasi. Pengiringnya si kongcu tertawa dingin dan menyela. dengan tangan kirinya ia cekal lengan kiri pemuda itu. ia tertawa.‖ ia menyahuti. ―Kami tinggal di Hotel Ko Seng di jalan utama kota barat. Ini ada urusan seumur hidupnya manusia. mulutnya mengeluarkan darah. ia injak sanggurdi denagn sebelah kakinya. ia sampai berdiam saja. ―Anakku pun tidak nanti nikah dengan kau. ―Kau toh telah mengalahkan anakku!‖ ia kata. yang ia bawa ke hidungnya! Melihat itu. ―Apakah yang hendak dibicarakan?‖ tanya kemudian. ―Sepatu ini toh anakmu yang dengan suka sendiri menghanturkannya kepadaku. ia berontak sekuat tenaganya. seketika ia roboh di tanah. ―Tidak usah bicara lagi!‖ katanya. ia tunduk. ―Harum! Harum!‖ ―Kau she apa kongcu?‖ Bok Ek menanya. ―Mari kita pergi sama-sama ke sana untuk berbicara. terima kasih banyak!‖ Mukanya Bok Ek menjadi pucat. ―Bukankah kita main-main dengan ilmu silat?‖ katanya. ―Jadi kau sengaja mengganggu kami?!‖ berteriak Bok Ek. air mukanya sampai berubah. Bok Ek habis sabar. untuk menaikinya. manusia hina dina! Bayar pulang sepatu anakku itu!‖ Kongcu itu mengawasi. ia suruh lain pengiringnya tolongi pengiring yang terluka itu. ia raba kaos kakinya yang putih. dengan begitu. mana bisa kita memandangnya enteng?‖ Kongcu itu melengak. ia tidak menghiraukan sikap ceriwis si pemuda. sepatu siapa ia masuki ke dalam sakunya. tangannya melayang. ―Tidakkah itu sangat menarik hati? Tentang perjodohan.‖ ―Aku tidak sempat. Bok Ek heran. beberapa giginya rontok. maka itu tubuhnya lantas mencelat ke tengah kalangan. ia sendiri menghampirkan kudanya. tangan itu dipakai menangkis dan menangkap kaki orang. Kongcu itu tetap tidak mengambil mumat. sembari tunduk. ―Kau kira kongcu kami ini bangsa apa? Kongcu kami bersanak dengan kamu orang kangouw tukang jual silat dari kelas tiga rendah empat bawah? Hm! Pergilah kau tidur dengan mimpimu di siang bolong!‖ Bukan main gusarnya Bok Ek. seraya ia putar tubuhnya untuk minta jubah sulamnya dari pengiringnya. untuk menyerang kedua pelipis orang. Sebab sepatunya telah terlepas. Irawan D Soedradjat Page 179 . ―Ada apa sangkut pautnya denganmu?‖ Ia terus geraki tangan kirinya itu dan terlepaslah cekalannya Bok Ek. Itulah jurus ―Ciong kouw cie beng‖ atau ―Gembreng dan tambur ditabuh berbareng. ia jatuh terduduk di tanah. Ia menjadi malu sekali.‖ Kongcu ini berkelit sambil menjajak sanggurdinya. ―Baik!‖ serunya.Pendekar Pemanah Rajawali Kongcu itu melepaskan tangannya yang kanan. maka itu tentu saja aku hendak jodohkan anakku ini denganmu. tangannya mencekali sepatu orang. maka pengiring itu berkoak kesakitan. ―Kau…! Kau…!‖ katanya kemudian seraya menuding. terus pingsan! Kongcu itu tidak ambil peduli kejadian itu. ―Akan aku adu jiwa!‖ berteriak ayah yang dipermainkan itu seraya ia lompat berjingkrak. kedua tangannya digeraki berbareng. ―Aku telah melepas kata. lantas saja berseru-seru. Kongcu itu pun tertawa. tempo akhirnya ia bebas.‖ berkata si anak muda. ia tertawa besar. Ia tertawa. beberapa penonton bangsa bergajul. Kongcu itu berdiri sambil tertawa haha-hihi. Nona ini penasaran.

menyusul itu. untuk mengejek. tangan kirinya membalas menyerang perut dengan jurusnya ―Tok coa sim hiat‖ yaitu ―Ular berbisa mencari lubang. ―Jikalau aku tidak sudi nikahi dia?‖ dia tanya. Kecuali bangsa bergajul. Ia tidak lantas menginsyafi orang lagi permainkan padanya. ia tangkis tublasan itu. dari berkesan baik mereka menjadi jemu dan membenci. Tapi cuma sebentar saja. ai memburu kepada ayahnya itu. menyambar kedua tangannya Bok Ek itu. lagi ia menyerang. Ia robek ujung baju si ayah. dan lagu suaranya pun beda dari lagu suara mereka. ―Kau minggir!‖ katanya sengit. semua penonton menjadi panas hatinya. sesudah mana dari samping. ia berseru. sepuluh jarinya berubah menjadi merah semuanya. ―Halo. sebab si nona tidak keburu membatalkan tikamannya. Untuk membalas serangan dengan serangan. orang tua. Bok Ek sudah lantas lompat untuk menerjang pemuda itu. guna robekannya dipakai membalut lukanya. mencelat mundur. Kwee Ceng melongo sebentar. ia tercengang. sikap dan lagu suara itu telah diajoki kongcu mereka. ―Hari ini saku mesti mengadu jiwa dengannya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau aku telag hajar roboh padamu. guna melindungi mukanya. Ketika lawan itu berkelit. agaknya dengan gampang saja ia mendak sedikit. bahwa serangannya itu sangat berbahaya. Tiba-tiba tangannya merogoh ke sakunya. Kongcu ini terang selain ceriwis pun kurang ajar dan keterlaluan. atau aku tidak hendak berhenti!‖ Wajahnya si nona guram. kali ini dengan kedua tangannya. Kongcu itu lihay. terus ia tertawa. ia bertindak ke dalam kalangan.‖ Bok Ek berkelit ke kanan. akan mengasih keluar sebuah pisau belati dengan apa ia terus tublas dadanya sendiri. tidak ada yang berani membuka mulut. ia hanya tidak menyangka semua serangan lawan sedemikian berbahayanya. Bok Ek kaget bukan main. ―Habis kau mau apa!‖ ia menantang. bukan?‖ kata ia sambil tertawa. kapan ia lihat anak muda kita. Itulah salah satu jurus ―Eng Jiauw Kun‖ atau ―Kuku Garuda‖ dari ilmu silat Utara. Cumalah mereka bisa mendelu saja. Sebab belakang telapakan tangan dari Bok Ek telah berlumuran darah! Si nona menjadi kaget berbareng gusar. maka sekarang ia terlukai anaknya itu. Mereka lihat roman orang yang ketolol-tololan. maka ia tidak mau main acuh tak acuh lagi. ―Kau harus menikah dengan baik-baik dengan nona ini!‖ ia menjawab kongcu itu. ia tertawa haha-hihi. tidak kelihatan ia menarik pulang tangan kirinya atau tangan kanannya sudah melakukan penyerangan pembalasan. ke arah kedua belah pipi. menyusul mana ia menarik tubuhnya. Irawan D Soedradjat Page 180 . Selagi si kongcu hendak menaiki pula kudanya. sahabat! Perbuatanmu ini tidak tepat!‖ Kongcu itu berpaling. ia membalas dengan sama hebatnya. Kongcu itu mengetahui orang seperti kalap. Tentu saja mereka menganggap itu lucu. Para penonton berseru kaget. dua jari tangannya mencari pundak bagian yang kosong. ia mendesak. Bok Ek tolak mundur anaknya. ia memandang tajam kepada si pemuda. lalu ia lolos dari bahaya. Para penonton menjadi mendongkol berberang berduka. ia menyerang dengan tangan kanannya. Mereka pun tidak berani mencampur tangan. lupa kepada tangannya yang sakit. dari situ ia menyerang pula. pada bagian belakang telapakan tangan. dengan tidak kalah sebatnya. Bok Ek tarik lengan kirinya. dilain pihak. Tangan kirinya itu telah diangkat ke depan mukanya. Inilah mereka tidak sangka. Adalah Kwee Ceng yang tidak dapat melihat terlebih jauh. kau tentunya tidak bakal memaksa aku nikahi anakmu. untuk menolongi. maka dengan sebat ia berkelit. mendadak saja kedua tangannya bergerak. ―Bagaimana baru tepat?‖ Semua pengiring si kongcu tertawa ramai. dalam sikap ―Touw in hoat jit‖ atau ―Nyelusup ke mega menukar matahari‖. Inilah pukulan ―Wie Hok Hong cu‖ atau ―Malaikat Wie Hok mempersembahkan toya‖. Si kongcu miringkan kepalanya. Kongcu itu tidak memandang enteng kepada musuh ini.

―Bukankah aku telah beri nasehat kepadamu untuk kau nikahi nona ini?‖ kata Kwee Ceng. kenapa kau hendak pergi pula?‖ ia menanya. ―Eh. ―Aku tidak tahu Oey Yok Su itu orang macam apa. apa perlunya kau maju dalam pertandingan?‖ Kwee Ceng tanya. ia tertawa. yang semuanya terdiri dari tujuh puluh dua jurus. Sajak tadi ia mendengari orang pasang omong. untuk berjalan pergi. Ilmu silat itu adalah untuk menangkap tangan lawan. ―Baiklah. Kongcu itu menatap. 181 Kongcu itu terkejut berbareng gusar. ia lompat kepada pemuda itu. ―Kau mau mampus?!‖ tanyanya. Bok Ek hampairkan ini anak muda.Pendekar Pemanah Rajawali ―Jikalau kau tidak sudi menikah dengannya. ―Sebenarnya kau hendak membayar pulang sepatu itu atau tidak?‖ Dengan mendadak saja anak muda ini menggeraki kedua tangannya. ―Siapa itu gurumu yang kedua?‖ tanya kongcu itu kemudian. ―Asal nyawaku masih ada. hingga orang terlempar tubuhnya.‖ ―Habis. tidak dapat aku memanggil mertua kepadamu. Kwee Ceng ulur tangannya untuk mencegah. Kongcu itu tertawa dingin. dengan sebat ia tarik tangannya kongcu itu. jangan kau ladeni dia!‖ dia berkata. sakit hati ini tidak dapat tidak dilampiaskan!‖ Terus ia kata dengan suara nyaring: ―Anak muda. kau tinggalkan she dan namamu!‖ Kongcu itu berpaling. tahu ia bahwa anak muda ini baik hatinya dan berpihak padanya. ―Nona ini cantik dan ilmu silatnya pun sempurna. di belakang hari ke mana lagi kau hendak mencarinya?‖ ―Eh. sebelah kakinya menendang ke bawahan perut si anak muda. Sampai di situ. kau bayar pulang sepatunya si nona!‖ ia membentak. ―Sebenarnya kau hendak main gila denganku atau bagaimana? dia tanya tegas kemudian. siapa yang ajarkan kau ilmu menotok istimewa dari pulau Tho Hoa To it?‖ si kongcu masih menanya. Ia telah gunai salah satu tipu dari ilmu silat Kim-na-ciu. ―Aku tidak mau memberitahu‖ jawab Kwee Ceng pula.‖ menjawab Kwee Ceng. ―Bukankah kau menaruh hati kepada nona itu?‖ ―Bukan!‖ jawab Kwee Ceng. tak dapat aku beritahu padamu!‖ ia jawab. ia bebsa dari tendangan orang itu. ―Habis kenapa?‖ kata si kongcu lagi. ia hanya mengawasi dengan tajam. ―Kau sebenarnya murid siapa? Kau memanggil apa kepada Oey Yok Su dari pulau Tho Hoa To?‖ Kwee Ceng menggoyangi kepalanya. maka kenapa kau begini melit hendak mengetahui she dan namaku?‖ ia bertanya. Ia Cuma merasa orang masih terlalu muda dan belum mengenal dunia. Ia berontak tetapi tidak berdaya. disamping ia mendongkol terhadap si kongcu. masa bodoh!‖ berkata itu pemuda yang lantas memutar tubuhnya. ―Siapa guruku. ―Kalau begitu. ―Kau gemar campur urusan bukan urusanmu!‖ ia berkata. . ―Apakah kau tidak lihat itu merek bendera yang menjelaskan pibu untuk pernikahan?‖ Kongcu itu tidak menjawab. Kwee ceng tidak menjawab. ―Ilmu menotok jalan darahku itu adalah guruku yang kedua yang mengajarkannya. kenapa kau tidak sudi menikah dengannya? Jikalau kau tidak hendak menikah sama nona macam vegini. kau tidak mengerti urusan. Kwee Ceng menjadi habis sabar. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng tidak menangkis atau berkelit. dengan begitu. mencekal kedua nadi si kongcu. yang menggeleng kepalanya. ―Aku sudah bilang. ―Saudara kecil. dia buka tindakannya yang lebar. bicara denganmu sia-sia saja!‖ kata si kongcu. hanya ia pun balik menanya.

dengan mengasih dengar suara ―Bruk!‖ ia roboh memegang tanah! Semua pengiringnya si kongcu lantas bertepuk tangan dan tertawa. karena berberang ia berkelit. Ia menjadi gusar sekali. Bab 17. ia telah kalah satu babak. ia cuma merasakan sangat sakit. Ia menjadi kaget dan mendongkol. tidak sampai ia mencium tanah. ―Apakah kau hendak pergi?‖ menegur Kwee Ceng seraya menyambar jubah orang itu. ―Buat apakah aku bertempur denganmu?‖ ia berkata. ia tertawa tawar. Karena ini keduanya menjadi terpisah. ia berklit dan berlompatan tiada hentinya. Justru itu dua kali iganya kena dihajar. Kwee Ceng mengawasi. telah mengenakan kempolannya kiri dan kanan. Kongcu ini jeri juga terhadap Kwee Ceng. baik kau pulang dulu untuk belajar lagi sama gurumu sedikitnya buat duapuluh tahun!‖ ―Lihat kepalan!‖ ia berseru sambil menyerang. Si kongcu lantas menggunai ketikanya. ―Dengan kepandaian begini kau hendak mencari balas untuk orang lain?‖ ia mengejek. ia Cuma terpelanting. itu cocok dengan keinginannya. pemuda kita merasa kegelapan mata. Kongcu itu menjadi repot. Kwee Ceng lantas aja singkirkan jubah sulam yang menungkrup kepalanya itu. Kongcu itu tepuki kempolannya yang penuh debu. Ia merasa asing untuk kelakuan curang. ia dapat menendang terus-terusan sembilan kali. Kwee Ceng belum mendapatkan kesempurnaannya. Ia berlompat bangun kapan ia lihat orang kembali hendak ngeloyor pergi. dipakai menungkrap kepala orang. lalu perlahan-lahan ia melihat perubahan. Hanya dengan begitu. ia menggeleng kepala. Mereka yang gemar menonton menjadi kecele. ia tidak terluka. ia hanya menjalankan napasnya. atau ia menjadi kaget. tidak patah tulang-tulang rusuknya. bocah?‖ ia berseru. Bagus untuknya. ―Kau tidak mau nikahi dia. sudah saja. Syukur untuknya. Inilah pelajaran yang ia wariskan dari Ma Ong Sin Han Po Kie di Malaikat Raja Kuda. Tujuh tendangan ia bisa kasih lolos. Ia berkelit. Tidak sempat ia mengempos semangatnya. .Pendekar Pemanah Rajawali Kongcu itu enteng sekali tubuhnya. mana dapat ia mengalah: Tidakkah ia berada di hadapan orang banyak? Maka itu seraya menyingkap jubahnya. maka dalam sekejap saja. Kwee Ceng menangkis. Pangeran Wanyen Kang Kena dihajar secara demikian. akhirnya cuma sebegitu saja sikapnya. Kwee Ceng gelagapan. hingga ia merasakan sakit di dadanya itu berkurang. Karena ini ketika ia didesak. Hanya sampai sebegitu jauh. bahwa orang tidak ingin berkelahi. Dalam pada itu. ia cuma terjerunuk. ia tak sampai tertendang roboh. Pertempuran itu merupakan satu pengalaman luar biasa untuknya. maka tidak membuat tempo lagi. ia menjadi gusar sekali. dengan tendangan beruntun Wanyoh Lian-hoan-twie. ia melakukan pembalasan. akan tetapi ia dipaksa menyerahkan sepatu si nona. ―Hm. kau bayar pulang sepatunya itu!‖ Orang banyak menyangka pemuda ini hendak membelai keadilan. tetapi yang kedelapan dan kesembilan. ia sadar akan dirinya. walaupun ia telah terlempar. Mulanya di Mongolia ia menghadapi orang-orang jujur. maka tempo kakinya disambar. selama dua tahun ia telah peroleh latihan tenaga dalam dari Tang Yang Cu Ma Giok. maka dia segera maju seraya tangan kirinya dipakai menyerang ke pundaknya si pemuda. jubahnya itu dilayangkan sekali. ia kewalahan. mereka tidak ayana. dengan ilmu mana Han Po Kie pernah robohkan beberapa jago dari Selatan dan Utara. Tiba-tiba saja ia merasakan sakit pada dadanya. ―Kau sudah bosan hidup. semuanya cepat dan hebat. ia memutar tubuh. Kongcu itu kena tertendang. sebab si kongcu sudah tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu. mulutnya mengasih dengar tertawa dingin. Irawan D Soedradjat Page 182 Kwee Ceng tidak menyahuti. walaupun ia terhajar hebat.

―Kalau tidak. siapa bilang dia adikku!‖ Ia gusar sebab kongcu itu ejek dia sebagai toaku. Ia berlaku sangat sebat. Bok Ek jadi merasa tidak enak hati. jangan kita layani segala manusia hina!‖ Kwee Ceng roboh dengan mata kabur dan kepala pusing. Karena dicaci begitu. dengan menggeser pinggangnya. Menampak demikian si kongcu menggunai akal. ―Jikalau kau tetap ganggu aku. mendapatkan tiga kali Kwee Ceng roboh. dalam keadaan sulit itu. dari itu. ia ingin membalas. Kwee Ceng berkelit. Kali ini pemuda ini berlaku waspada. Tiba-tiba ia rasai tenaga lawan lenyap. selagi begitu ia masih tetap menolak. Maka adalah diluar dugaannya ketika si kongcu. Ia tahu. seraya mundur. Kongcu itu dapat berkelit. Ia tahu sekarang. pemuda itu terguling jatuh. untuk menyerang. tidak lagi ia kena dipancing. kongcu itu berkelit. ―Eh. sedikitnya ia bakal diseret ke kantor pembesar setempat. Tidak dapat Kwee Ceng bertahan. Lukanya telah dibalut rapi oleh putrinya. Selama tujuhpuluh jurus. tenaga dalam Kwee Ceng terlatih besar tetapi si kongcu menang latihan ilmu silatnya. yang menang seurat. lalu ia membalas. dengan cepat ia mencelat bangun. Ia pun kata: ―Lao-tee. untuk mengasih bangun. ia kalah pandai tapi ia bersemangat. hanya ia merangsak. sudah membarengi menyerang dengan tangan kanan kanan ke arah pinggang. ia rubuh ngusruk. ―Bukankah nona itu bukan adikmu?‖ ia bertanya. tetapi sikutnya mengenai tanah. malah tinjuan itu dilakukan saling susul hingga tiga kali. tetapi ia tidak tahu. Itulah cacian di antara orang Pakhia. tubuhnya sekalian diputar. ia ditertawai sekalian pengikut si kongcu. mereka berimbang dengan ketangguhannya. Kwee Ceng tidak menyahuti. mereka saling menolak. ia lantas menyerang. keduanya bertempur terus. tangan kirinya menyambar ke muka orang. hanya setelah itu. ―Tolol. Kedua tangan lantas bentrok. maka kewalahan juga si kongcu. Ketika ini digunai si kongcu. Bok Ek menonton dari bawah benderanya. ia cuma mendongkol. tak sempat ia menahan dirinya. kakinya dibarengi dipakai menendang dada lawannya. ia membela diri dengan berlaku hati-hati. romannya ketolol-tololan. Kwee Ceng melawan. yang menangkis dengan tangan kiri. Si kongcu menangkis. Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu. buat terus ditarik dengan kaget sambil berbareng kakinya dipakai menjejak paha si pemuda. Maka itu mereka menjadi berimbang. Tiba-tiba ia ingat bahwa ia tidak bermusuhan sama si kongcu. Kwee Ceng tidak tahu lawannya lagi memancing. ia hendak mengerahkan tenaganya. kau masih belum takluk?‖ berkata si kongcu. ia menjadi gusar sekali. yang tangannya menolak keras. Kwee Ceng menyedot napas. ―Kenapa kau seperti hendak mengadu jiwa memaksa aku menjadi toakomu!‖ ―Kurang ajar!‖ mencaci Kwee Ceng. awas!‖ ia berseru seraya menyerang. ia bisa dapat susah. Ia juga berkhawatir untuk Irawan D Soedradjat Page 183 . dari belakangnya datang serangan. ―Aku tidak kenal dia. ia lantas geser incarannya ke sisi sasanan semula. Ia hendak menotok jalan darah hian-kiehiat. tubuhnya terhuyung ke depan. ia lantas maju. mereka menjadi bergumul pula. jangan salahkan aku berlaku kejam!‖ kongcu itu mengancam. ia maju pula. Si kongcu sendiri merasa lucu berbareng mendeluh. Kongcu ini pernah juga menyakinkan Hun-kin Co-ku Ciu hanya pelajarannya beda daripada pelajaran Kwee Ceng yang didapat dari Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong. ia menangkis dari belakang. Habis itu. aku tidak mau mengerti!‖ Kongcu itu tertawa melihat orang berkukuh. untuk mencari kemenangan.Pendekar Pemanah Rajawali Dengan mendak. maka itu. ia lepaskan diri dari tangan Bok Ek. Ketika ia bisa menahan dirinya. Kelihatan nyata. Ia sudah terjerunuk melewati lawannya. untuk memegang tangan orang yang kanan itu. ―Kau pulangi sepatu orang!‖ bentak Kwee Ceng. ipar. kalau datang polisi. maka setelah dikasih bangun. Maka tidak ampun lagi. pemuda itu bukan lawan si kongcu. Pertempuran seru itu ditonton semakin banyak orang. ia didesak oleh si pemuda yang bersilat dengan ―Hun-kin Co-kut Ciu‖ yaitu ilmu silat untuk memisah otot-otot dan tulang. mati kita pergi. ―Kau pergi!‖ berseru si kongcu.

siapa saja tak dapat ia undang?‖ kata pula si rambut ubanan itu. Yang satu adalah satu pendeta bangsa Tibet. Orang yang ketiga bertubuh kate dan kecil. Ia dapatkan Kwee Ceng berubah silatnya. hilanglah jiwa kami semua…‖ Itulah se pendeta Tibet yang ditegur. ―Haouw Laotee. Dia pun bermata tajam. kau ke sini!‖ Dia pun menarik keluar sebatang kongce atau cagak dari dalam sakunya. dia tentu bukan satu gurunya. kau lagi uji mataku. segera ia lihat. ―Pheng Ceecu benar. Orang yang kedua sudah lanjut usianya. itulah ilmu silatnya kaum agama Coan Cin Kauw. tukang jual silat ini terkejut hatinya. Dia tersenyum. bencana akan datang kalau sampai siauw-ongya itu terluka. yang matanya bersinar. benar juga. sungguh aneh!‖ kata si kate kecil itu.‖ berkata si kate kecil. Kau biasa menjagoi di dua propinsi Shoatang dan Shoasay. tak bisa diduga usianya yang tepat. Karena romannya yang luar biasa itu. Ia kata di dalam hatinya: ―Dia memanggil Pheng Ceecu. ―Bocah ini adalah muridnya Kanglam Cit Koay. hanya mukanya bercahaya segar. kopiahnya disalut emas. jubahnya merah dan gerombongan.Pendekar Pemanah Rajawali banyaknya orang. bukan?‖ ia berkata. ―Ilmu silat siauw-ongya itu ada dari partai mana?‖ Kali ini ia berbicara dengan perlahan. coba lihat. ―Umpama kau sendiri. Di sebelah mereka. hingga beberapa orang disampingnya menjadi terkejut.‖ sahut si kate kecil itu kemudian. kenapa kau juga berada di istana ongya?‖ Si kate kecil itu mengangguk. Suara itu nyaring. matanya mencorong tajam.‖ Bok Ek pandang ornag itu. kecewa kalau itu tidak dipertontonkan di muka orang banyak. dari partai mana asalnya ilmu silat si bocah itu?‖ ia tanya. Si ubanan sudah lantas mengawasi kedua anak muda yang lagi bertempur itu.‖ ―Sungguh begitu. dia pun berkata: ―Siauw-ongya telah belajar ilmu silat belasan tahun. Si rambut putih tertawa. Haouw Laotee. tubuhnya besar. pangeran muda dan pangeran. mungkinkah si kate kecil ini adalah kepala berandal? Nama Kanglam Cit Koay sudah lama tidak terdengar. di jidatnya ada tiga tahi lalatnya. apa benar mereka masih hidup?‖ Selagi Bok Ek berpikir. Dia berdiri tegar hingga ia melebihkan tingginya semua orang. dan tidak keriputan. ―Kalau mataku tidak salah. nampaknya sangat gesit. mengawasi mereka. coba bilang. Orang disebutnya siauw-ongya dan ongya. hingga mereka lekas-lekas melengos. si muka biru dan kurus itu sudah berlompat maju ke tengah kalangan seraya ia berseru: ―Hai bocah. mukanya pun bersinar merah. Irawan D Soedradjat Page 184 . ―Bukankah kaum Coan Cin Kauw itu bangsa aneh? Kenapa mereka justru mewariskan kepandaiannya pada siauw-ongya…?‖ ―Ongya pandai bergaul. Maka juga. kalau mereka bertempur terus dan siauw-ongya salah tangan hingga ia terluka. Si rambut putih tertawa. ―Kelihatannya kepandaiannya itu kacau. ―Siauw-ongya lebih lihay daripada lawannya itu!‖ Orang ini kate dan kecil akan tetapi suaranya mengejutkan. ada yang bertaruh untuk siapa yang bakal menang. diantara mereka itu ada tiga orang yang menarik perhatiannya. Dia tentu tidak senang ada orang yang membantu padanya…‖ ―Eh. yang mukanya kurus dan sinarnya biru. saudara Nio. ―Haouw Laotee. sia-sia saja beberapa kali siauw-ongya menyerang padanya. Tidakkah di antara pengiringpengiringnya si siauw-ongya adalah orang-orang yag gagah dan lihay?‖ ―Jangan takut!‖ berkata si orang kate dan kecil. yang bicarakan silat kedua anak muda itu. dia tidak menjawab.‖ berkata seorang di pinggiran. tubuhnya sedang saja. ―Leng Tie Siangjin. ―Baik kau maju dan hajar bocah itu. Adalah si rambut ubanan yang berkata sambil tertawa: ―Paling juga kakimu dikemplang patah! Mustahil ongya hendak mengehndaki jiwamu?‖ Bok Ek terperanjat. sebab rambutnya sudah putih semua. Kalau begitu. i antara siapa ia tampak beberapa yang matanya tajam dan air mukanya luar biasa. Dengan perlahan-lahan Bok Ek menggeser ke tempat pengiring-pengiringnya si kongcu. ialah gerakannya jadi ayal tapi tubuhnya terjaga rapat. ada juga yang membekal senjata. semua pada berpaling memandang dia.‖ berkata satu pengiring.

bahwa ialah yang selama di hutan cemara Hek-siong-lim di Kalgan sudah menggantung Hong Ho Su Koay di atas pohon dan memancing kepada Hauw Thong Hay. Thong Hay mengejar terus. ―Aku hendak pergi sebentar. Leng Tie itu adalah paderi dari Tibet. Ia berteriakan. ia diikuti empat orang lainnya yang bukan lain daripada Hong Ho Su Koay. terlihatlah datang memburunya tiga orang yang napasnya tersengal-sengal. yang ia tinggalkan lalu ia berdiri diam. ialah Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. Tapak Tangan yang lihay. Kelakuannya ini. Merekalah tiga Siluman dari Hong Ho. Tentu saja ia tidak kenal si orang ini. tidak tampak. ia heran atas itu suara bentakan. menyebut ia Lao Koay. Dewa Jinsom-Siluman Tua. Karena ini. yang dipermainkan Oey Yong. Dan orang ynag matanya tajam bagaikan kilat itu adalah orang ynag sangat terkenal di Tionggoan. ia sudah lantas kena ditendang si kongcu. ditimpali sama kalapnya Thong Hay. tambah tanda tapak lima jari tangan. setelah datang dekat. sepatu kulitnya diseret hingga berisik kedengarannya. Julukan ini harus dipecah dua: Siapa yang menghormati dia. aku Sam-tauw-kauw tidak sudi menjadi manusia!‖ Thong Hay sesumbar. untuk angkat langkah panjang. Siluman yang keempat. ―Bagus perbuatannya. untuk membantu Kwee Ceng. Irawan D Soedradjat Page 185 . namanya Pheng Lian Houw. sekalipun wanita umumnya kenal namanya itu. ―Tahan dulu!‖ ia berseru seraya lompat keluar kalangan.‖ ia pikir. Kongce itu ada cagak tiga. Mukanya Hauw Thong Hay. Ia nyelusup sana dan nyelusup sini di antara orang banyak. berulang-ulang ia tikam bebokong orang yang ia kejar itu! Oey Yong sangat lincah. Kwee Ceng tidak berniat berkelahi terus. selalu dapat ia kelit tubuhnya. dia menjerit ―Ayo!‖ seraya terus memutar tubuh. memanggilnya Som Sian. Kwee Ceng sedang bertempur. paman gurunya Hong Ho Su Koay. sinarnya berkilauan. sinar itu ditimpali tiga gelangnya yang bergerak dan berbunyi nyaring setiap kali digeraki. pikirannya lagi kusut.Pendekar Pemanah Rajawali Orang banyak terkejut. tanda arang hitam. ―Mari! Mari!‖ Oey Yong menantang. sahabat barunya. dibelakangnya. ia khawatirkan keselamatannya Oey Yong. segera aku kembali!‖ ―Lebih baik kau mengaku kalah!‖ mengejek si kongcu. Song-bun-hu Cian Ceng Kian. keistimewaannya ialah ilmu Tay-ciu-in. Hauw Thong Hay bukan menyerang Kwee Ceng. pada pipinya yang kiri dan kanan. Kelakuan Hauw Thong Hay itu. ―Jikalau aku tidak berhasil menggeset kulitmu dan mematahkan tulang-tulangmu. menyebabkan rombongannya Leng Tie Siangjin memperbincangkannya. julukannya Cian-ciu Jin Touw. menoleh dan mengejek. kalu ditakut-takuti. ai terkejut. di bawah cahaya matahari. yang pakaiannya compang-camping. semuanya tajam. tiba-tiba ia tampak sahabatnya itu lari mendatangi. Pembunuh Sribu Tangan. hingga ia dijuluki Som Sian Lao Koay. kapan ia lihat siapa yang dikejar Thong Hay. Ia tetap awet muda sebab sejak masih kecil ia doyan makan jinsom serta lainnya pohon obat. ia mengejar. Bok Ek pun tidak kurang kagetnya. setiap kali ia dapat pisahkan diri jauh-jauh dari lawannya. dan siapa bukan orang-orang partainya. Terang sudah dia telah kena ditampar oleh lawannya yang licin itu. tangannya menggapai berulang-ulang. tapi ia segera bersiap. Dia pun terus tertawa.kangzusi. ketua dari partai Tiang Pek Pay dari Gunung Tiang Pek San.com dan utara Sungai Besar. kapan anak itu dapat lihat dia. adalah Nio Cu Ong. Itu waktu barulah Kwee Ceng menginsyafi bahwa sebenarnya Oey Yong itu lihay ilmu silatnya. Segera juga orang banyak tertawa riuh. Dalam saat itu. Dewa Jinsom. dari partai Cong Gee. ―Peng Lian Houw datang!‖ tentulah berhenti tangisnya. kawannya yang ubanan tapi mukanya tampak segar bagai muka anak kecil. Oey Yong menanti sampai orang sudah datang dekat. tetapi justru ia hendak melompat lari. dia hanya maju ke antara orang banyak. Di belakangnya tampak Thong Hay tengah mengajar tengah mengejar. tapi senjata itu tidak dihiraukan Oey Yong. dan anak-anak yang lagi nangis. ada yang berteriak. kembali ia lari. Di selatan www. membuatnya orang banyak saban-saban tertawa riuh. mulutnya mencaci kalang kabutan. si Siluman Tua. Pemuda dengan pakaian tidak karuan itu adalah Oey Yong. di antara siapa ada satu anak muda yang tubuhnya kurus lemah.

maka ia bertindak.‖ terdengar suaranya pangeran muda itu. Tangannya Oey Yong sambil mengibar-ibarkan dua potong kain. Segara juga joli telah sampai di lapangan pibu. semua pengikut maju untuk memberi hormat. mereka lantas dengar bentakan-bentakan riuh yang datang dari arah barat. ―Kenapa suara ini sama suaranya orangku ini?‖ katanya di dalam hatinya. ia susuti peluhnya. yang terus berdebaran. sembari berbuat begitu. Mungkin si saiuw-ongya ditegur dan dihiburi oleh onghui ini. telah berhenti. dengan sapu tangannya. yang halus dan perlahan. Kebetulan itu waktu. ―Benarkah di kolong langit ini ada dua orang yang suaranya sangat mirip satu dengan lainnya?‖ ia menanya dalam hatinya. hingga kelihatan baju dalamnya yang putih. yang mereka usir pergi. untuk diajak pulang ke penginapannya. dan ia tahu baik Houw Thong Hay lihay. onghui ialah selir seorang pangeran atau raja. mereka sudah dengar ramainya tindakan kaki serta berisiknya gelang konce. Siauw-ongya lantas mengerutkan keningnya. aku senang bermain-main. ―Rewel!‖ ia menggerutu. Irawan D Soedradjat Page 186 . yang satu bersenjatakan tombak. lagi menyerang kalang-kabutan ke kira dan ke kanan. ―Siapakah telah pergi membawa berita kepada ong-hui!?‖ Tidak ada berani ynag menjawab. suara yang halus: ―Kenapa berkelahi? Baju luar pun tidak dipakai! Nanti masuk angin!‖ Bok Ek dapat mendengar tegas sekali suara itu. Tapi. pertempuran di antara Kwee Ceng dan si siauw-ongya. orang banyak itu lantas saja mundur ke kedua pinggir jalan. maka kenapa hari ini orang she Hauw itu jadi demikian tidak berdaya? Selagi Oey Yong permainkan Hauw Thong Hay. hatinya tercekat. Siauw-ongya telah robohkan Kwee Ceng lima-enam kali. belum kebeuru mereka berangkat. Suara itu seperti mengaung di kupingnya. Menyausul rombongan hamba-hamba galak itu. mari kita pulang bersama!‖ kata si onghui kembali. Oey Yong dan Hauw Thong Hay saudh lenyap pula. aku memikir kepada istriku. yang lainnya ruyung. Ia berpikir pula: ―Orang ini adalah onghui dari negeri Kim. untuk mendekati joli indah itu. sering mereka ―bekerja tanpa modal‖. Semua orang banyak. Justru itu. apakah aku sudah pikun? Sungguh gila untuk memikir yang tidak-tidak…‖ Tidak dapat ia lantas melenyapkan pikirannya itu. dengan cambuk di tangan. untuk beristirahat. dengan apa mukanya si siauw-ongya disusuti. dari dalam joli diulur keluar sebelah tangan yang putih dan halus. tangan dan kakinya dirasakan ngilu. dia sangat letih. pakiaannya menjadi tidak karuan macam: Baju di dadanya robek putus. ia hampirkan Kwee Ceng untuk dihiburkan. lantas terdengar suaranya seorang wanita. mereka menjadi tertarik untuk menonton terus. lalu terlihat Oey Yong berlari-lari kembali dengan tetap dikejar oleh Hauw Thong Hay. Ketika mereka ini datang dekat. hingga si penjual silat ini tak dapat mendengarnya dengan tegas. Jauh di belakang mereka terlihat Gouw Ceng Liat serta Ma Ceng Hiong. Dia bersahabat erat dengan Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian si Raja Naga Pintu Iblis. pangeran muda. ―Ibu. Dari dalam joli. bahwa ia lihay sekali. kenapa adik seperguruannya ini begini tidak punya guna. dia pun berdahaga dan lapar. telah aku dengar nama besar dari Kwie Bun Liong Ong. Dipihak lain. ia menjadi diam sambil berpikir keras. terlihatlah enam orang menggotong sebuah joli besar yang indah. dia bungkam. sampai satu bocah pun dia tidak sanggup layani?‖ Pheng Lian Houw mengkerutkan keningnya. untuk singkirkan peluh dan debunya. lari mendatangi dengan napas memburu. si wanita masih mengucapkan beberapa kata-kata. ―Tidak apa-apa…‖ ―Lekas pakai bajumu. Tiba-tiba ia tertawa sendirinya. Maka itu. heran berberang merasa lucu. yang tertutup rapat.Pendekar Pemanah Rajawali Berkatalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong: ―Selama aku di Kwan-gwa. Hauw Thong Hay sebaliknya. Kembali si Bok Ek terperanjat. lalu mereka tampak belasan orang polisi serta pengiring. yang menjadi penonton. kepada orang banyak. ―Ong-hui datang! Ong-hui datang!‖ pengikut-pengikutnya si siauw-ongya berseru berulang-ulang setelag mereka melihat joli itu. Bok Ek telah kasih turun bendera Pie-bu Ciauw-cin. yang memegang sapu tangan putih.

untuk menolongi kawannya itu. ia tendang itu anka muda. ia menyahuti: ―Tidak. Inilah tidak heran sebab ia hidup di tanah gurun. Maka tempo tenda tersingkap. yang tangannya mencekal cambuk. berlompat bangun. atas mana. parasnya pun pucat. berbareng dengan itu. Oey Yong itu sebenarnya orang macam apa. Kwee Ceng dirobohkan dua kali. Maka itu. Siauw-ongya menjadi gusar. kau telah bikin kotor jubah ini!‖ Satu pengiring lain. Kwee Ceng mendahulukan. ia tidak dapat dirobohkan pula. Kwee Ceng lantas terdesak lagi. lalu ia menyerang. Atas itu. untuk menolong apabila siauw-ongya benar-benar terancam jiwanya. sinar mata itu ayu sekali. lalu tangan kanannya diteruskan untuk memegang leher lawan. hingga mereka menduga-duga. lawannya yang lincah dan licik itu. Kwee Ceng berkelahi dengan ilmu silat Hun-kin Co-ku-hoat. Mereka adalah orang-orang tua yang kosen. Karena ini Leng Tie Siangjin dan Nio Cu Ong lantas menyiapkan senjata rahasia mereka. sungkan mereka mengepung Kwee Ceng. dengan begitu berarti. Makin lama Kwee Ceng makin gagah. Kwee Ceng berkelit. dia bukan menyerah kalah. Bok Ek berdiri menjublak bagaikan patung. tidak dapat tidak. Sebaliknya siauw-ongya biasa hidup di istana. Irawan D Soedradjat Page Semua orang kaget. Mereka jadi semakin sengit berkelahinya. keduanya jadi bertempur lagi. terus saja menghajar ke arah kepala si anak muda. yang satu hendak mematahkan tangan. terus ia membalas meninju. sebaliknya mereka merasa. Tapi Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu. satu demi satu. untuk merabu otot dan tulang musuh. Ular Naga Kepala Tiga itu. Di belakang mereka tidak tertampak dua Siluman. kedua-duanya saling terancam hilang jiwa atau terluka parah. tetapi tempo mereka mulai menyerang Kwee Ceng. Ia terus lompat. Kwee Ceng berkelit. ia kalah ulet. siauw-ongya sebaliknya dengan Kim-na-ciu. lalu ia membalas memukul paha siauw-ongya. ia dapat melayani pukulan berulang-ulang kepada tubuhnya itu. Mengawasi mata orang itu. Satu kali Kwee Ceng menyambar ke muka siauw-ongya itu. Nio Cu Ong bertiga menjadi heran. ia rampas cambuk orang itu. ibu . 187 . mereka ditangkap si anak muda. sepasang matanya terus diarahkan kepada joli indah itu. Ia bertubuh kuat. dua kali ia kena dibikin memegang tanah. Siauw-ongya berkelit. ia membentur sikut kanan si pemuda agung. Thong Hay hendak menjual kepalanya itu! Ia hanya tidak tahu bahwa ia telah dipermainkan oleh Oey Yong. ynag tadinya numprah di tanah. ia maju. Bok Ek tidak pedulikan segala apa disekitarnya. tangan kirinya membangkol tangan lawan itu. Orang senang melihat kejadian itu. Itu waktu. ini hari aku mesti labrak dia ini!‖ Setelah belasan jurus. Selama itu. bisa mereka mencegah Kwee Ceng menurunkan tangan jahat terhadap si pangeran muda. Terhadap ibunya. ia membalas membangkol dan memegang leher lawannya itu. sembari berkelahi. mengawasi kedua anak muda yang lagi bertarung itu. ia termanja. pengiring itu roboh terguling. lalu dilemparkan saling susul. ia menjadi ulet sekali. mungkin mereka telah kena dirobohkan pemuda itu. maka kali ini. Putrinya Bok Ek. maka ia lantas terdesak. ―Jangan! Jangan berkelahi!‖ onghui berseru mencegah. ia dapat melihat satu wajah dengan sepasang mata jeli dan rambut yang bagus. ilmu menangkap yang terdiri ari tujuh puluh dua jurus. habis mana. Siauw-ongya terkejut. sembari berbuat begitu. untuk menangkap lengan orang. yang lain hendak mencekik.Pendekar Pemanah Rajawali Satu pengiring menjumput jubah sulam dari siauw-ongya. lengan Kwee Ceng kena dihajar satu kali. rupanya ia hendak banggakan kegagahannya di depan ibunya. ada ditancapkan cauw-piauw atau tanda barang hendak dijual. berbareng dengan mana. guna dipakai menyabet hingga tiga kali. untuk tolongi dua serdadu yang dilemparkan paling belakang. ―Siapa suruh kau menganiaya rakyat jelata!‖ ia menegur. siauw-ongya itu berkelahi dengan hebat sekali. satu kakinya menyapu. Belasan serdadu maju. ia menjadi lebih kosen. separuh mukanya keluar dari tenda. sekarang di rambutnya Sam-tauw-kauw. ia pandang Kwee Ceng dengan bengis dan memdamprat: ―Binatang cilik! Lihat. Selagi bertempur. malah ia seperti termanjakan. Dengan begitu. Tidak ampun lagi. kapan perlu. Ia pun menang ‗kang-lat‘ atau tenaga latihan. onghui sampai berparas pucat. sebelah tangannya diangkat. Maka keduanya menjadi berkutat. siauw-ongya itu agaknya tidak takut. dengan tangan kanannya. ―Kau masih berani main gila?!‖ tegurnya. Ia berkelahi terus. Oey Yong dan Thong Hay telah berlari-lari balik.

Mendengar suaranya onghui. ia dapat mainkan itu dengan baik. maka heran kenapa di negara Kim ada yang dapat memainkannya itu? Ia terus mengawasi. untuk bagian Selatan Tionggoan saja sudah jarang. Peng Lian Houw bertindak ke dalam kalangan. Ia nyata telah menggunai ilmu silat bangsa Mongolia. Setelah merobohkan bocah itu. dia lompat. kedua tangannya sakit. Dengan menggulingkan tubuh. sekonyong-konyong datang teriakan dari antara orang banyak: ―Perlahan!‖ Lalu terlihat melesetnya satu bayangan abu-abu perak disusul serangan semacam senjata. dengan cepat ia ayun tubuhnya itu. ia sudah berdaya. ilmu mana diturunkan hanya kepada anak laki-laki. Di sini ia gunai kesempatannya. Anak muda itu terkejut. ia juga agaknya berpikir keras.Pendekar Pemanah Rajawali Disaat itu terdengar suara menggelepok. tetapi lekas juga ia sambar Kwee Ceng. tapi ia didesak. Nyata muka Kwee Ceng kena digaplok. sepotong yang lain masih melibat ditangannya Lian Houw. Itulah terang Yo Kee Ciang-hoat. terpaksa ia kembali bergulingan. tangannya mencekal sebatang hudtim atau kebutan. tidak dapat ia mencegah mengucurnya air matanya. hanya kebutan itu tinggal sepotong. atau satu pukulan telah menjurus ke mukanya. Maka sekarang mereka bertempur dengan bersenjata. ia segera menarik pulang tanagnnya. Diakhirnya terdengar teriakannya onghui: ―Berhenti! Berhenti! Jangan berkelahi lagi!‖ Karena nyonya agung itu mendapatkan putranya telah bermandikan keringat. Kedua tangannya menyambar tanah. ia lompat mundur. Tetapi Lian Houw tidak diam saja. sampai akhirnya ia merasa sedih sendirinya. dengan begitu. yaitu ilmu tombak Keluarga Yo. Hek Pian-hok Kwa Tin Ok si Kelelawar Hitam. Keras pukulan itu. adakah kau Irawan D Soedradjat Page 188 . begitu keras. sambil berseru. justru si anak muda lagi merayap bangun. jubahnya warna abu-abu. dengan tombak itu. Karena didesak tak hentinya. ynag bersilat denagn tipu Hang Mo Thunghoat. terus ia kerahkan tenaganya. segera ia menikam Kwee Ceng. kurang tepat untuk Kwee Ceng. ia angkat tubuh siauw-ongya. Tiang bendera itu terlalu panjang. lengannya kena terhajar. ia menarik keras. ia memaksa menangkis juga. ia maju ke Kwee Ceng. tidak kepada anak perempuan. yang pinggangnya ia peluk. Pheng Lian Houw berpaling kepada si pangeran muda dan berkata sambil tertawa: ―Siauw-ongya. Bok Ek tetap perhatikan ilmu silat tombak dari siauw-ongya. dia adalah satu tojin atau imam usia pertengahan. ia sambar tiang itu. terpaksa sambil bergulingan. supaya dia jangan mengganggu terlebih jauh…‖ Sembari berkata. Dia ini sebat. tetapi tidak urung. untuk menyampok tiang bendera. Yang menegrti ilmu itu. ia segera geraki tangan kirinya. Siauw-ongya tidak kenal permainan silat lawannya itu. pengajaran dari gurunya yang pertama. Ia berkelit dengan cepat. Untuk tolongi dirinya. hingga senjata yang melibatnya ia terputus. Siauw-ongya dilemparkannya. yang kemudian berkata: ―Tuan. lagi dua kali. ia terguling roboh. Orang yang baru datang itu agaknya terperanjat. Sekarang orang bisa lihat. sesudah mana ia berlompat bangun. hingga serangan itu batal. terus ia pakai menangkis. makin lama ia menjadi makin heran. untuk melakukan penyerangan membalas. mental ke udara. Ia terus mengawasi pada Lian Houw. maka Kwee Ceng kena ditarik roboh hingga saling tindih. tangannya menyambar tombak di tangan seorang serdadu yang berada dekat dengannya. ia dikam terus. Tidak ampun lagi. yang ia peroleh dari Jebe. sebab siauw-ongya merubah siasat. tiang bendera lantas terlepas dari cekalannya. setelah mana. Habis itu sama sebatnya. Disaat anak muda ini terancam bahaya maut. Seumurnya kecuali Bwee Tiauw Hong. hingga benderanya berkibar-kibar bagus. Kwee Ceng menghindarkan diri. yang terus saja melibat tangannya si orang she Pheng itu. ia menyambar kedua kaki lawannya itu. akan aku bereskan dia ini. Nona Bok pun memperhatikan jalannya pertempuran. Kwee Ceng merasakan telapak tangannya sakit. meskipun Kwee Ceng hanya bergenggaman tiang bendera. ia ulur tangan kanannya ke arah kepala orang. hingga ia tercengang. ia tidak terbanting. hanya siauw-ongya berada disebelah atas. tapi sebelum tubuhnya dilepas. Tapi ia masih sadar. akan tetapi. hingga sukar untuk ia melompat bangun. Kwee Ceng merasakan matanya berkunang-kunang dan kepalanya pusing. ia layani tombak musuhnya itu. ia sambar bajunya siuaw-ongya. Kwee Ceng kaget. Belum sempat ia memandang orang. lebih-lebih ia tahu. belum pernah ia menemui tandingan selihay ini. ia berguling hingga ke dekat tiang bendera Pibu Tiauw-cin. Atas itu. ia lantas saja kena didesak hingga ia mesti selalu membela diri. untuk dilemparkan.

―Aku mohon ketahui gelaran suci dari totiang. atau mendadak matanya si imam bersinar tajam bagaikan kilat. ia berkata: ―Totiang kenal guruku itu. ―Hm. ―Jadinya totiang adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu Ong Cinjin?‖ ia menanya. hanya karena kemuliaan hatinya dan kegagahannya berusan. ia mendapat satu pikiran.‖ ―Bukankah gurumu ada tanda tahi lalat merah pada pipinya yang kiri? Ong Cit It tanya pula. Maka itu. kalau kita tidak bertempur. oleh karena itu boanpwe mohon sukalah totiang datang ke rumahku. maka hatinya terkesiap. tetapi karena injakan atau tindakannya itu. Peng Lian Houw terperanjat. karena ia tahu ia lagi berhadapan dengan satu cianpwee. terang totiang adalah satu cianpwee. sembari tersenyum. Sebenarnya ia sudah memikir untuk berlalu. hatiku menjadi sangat tertarik. sedang orang pun dari Coan Cin Kauw. maka itu dengan besarkan nyali. ia menghadapi si siauwongya dengan wajahnya keren sekali. batal ia untuk main gila. ―Memang telah aku duga. yang kumis dan janggutnya terbelah tiga. ―Anak. kalau gurunya ketahui perbuatannya. sungguh aku merasa sangat girang!‖ ―Tidak berani aku menerima yang namaku yang rendah dijunjung sedemikian tinggi olehmu. ―Hm!‖ Ong Cie It perdengarkan suaranya.‖ ia menyahut. begitu juga Som Sian Lao Koay. Ong Cie It tersenyum. pinto mohon Pheng Ceecu memberi ampun kepada jiwanya. Ia dapat lihat suasana buruk. Mereka dapatkan orang sungguh alim dan agung. yang mereka tahu namanya tidak kalah daripada Tiang Cun Cu Khu Cie Kee. tanpa tunggu orang buka mulut lagi. ―Teecu terlalu memuji kepadaku.‖ Melihat sikap orang yang demikian hormat. Imam itu menjura. tetapi ia terlambat. baru sekarang mereka menemui sendiri orangnya. ketika ia memutar tubuh. ia memberikan persetujuannya.‖ Dengan lantas siauw-ongya ini membahasakan diri ―boanpwe‖. yang romannya toapan. Ia tidak menjawab. orang dari tingkat lebih rendah. Nama guruku tidak dapat aku beritahukan padamu.‖ sahut Lian Houw.Pendekar Pemanah Rajawali Pheng Cecu yang namanya sangat tersohor? Hari ini aku dapat bertemu denganmu. Anak ini dapat dengar panggilan itu. untuk dimajukan satu tindak. tanah kering dan keras. Melihat tapak sepatu itu. Tidak berani pinto menerima itu sebutan cinjin. Wanyen Kang benar-benar cerdik. kau adalah muridnya Khu Suhengku itu. ia sudah lantas menjura kepada Kwee Ceng. pasti kita tidak kenal satu Irawan D Soedradjat Page 189 . Sudah lama mereka ketahui hal imam ini. hanya Ia ulur kakinya. hendak ia menjawab secara jenaka. terus ia menunjuk pada Kwee Ceng dan berkata: ―Pinto tidak kenal anak ini. Sedang di tanah utara ini. untuk boanpwe anti mendengar segala pengajaranmu. maka itu sambil membalas hormat. ia berkata: ―Saudara Kwee. lekas ia ubah sikapnya. Dengan sabar. inilah hebat. Ong Cie It menjura pula seraya menghanturkan terima kasih. ―Siapakah gurumu?!‖ Siauw-ongya itu telah merasa kurang enak hati. apakah ia telah bilang padamu? Apakah pesannya?‖ Wanyen Kang perlihatkan roman cemas. bagus benar perbuatanmu ya? Pada mula kali gurumu hendak mengajarkan silat padamu. Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin mengawasi imam itu. orang yang tingkat derajatnya terlebih tua. Ia lantas mengangguk. Ia insyaf. Wanyen Kang tertawa hihi-hihi. ―Memang benar.‖ Semua orang lantas mengawasi kepada imam itu.‖ berkata Ong Cinjin. Ia berdiri diam dan menyahuti: ―Namaku Wanyen Kang. justru berbareng dengan itu. Coba tadi mereka tidak telah menyaksikan gerakan yang gesit dan melihat itu tapak kaki. pinto adalah Ong Cie It. ―Siapakah namamu?‖ ia menanya bengis. Peng Lian Houw suka berbuat baik.‖ Peng Lian Houw. lalu ia menarik pulang. lekas pulang!‖ demikain terdengar suara ibunya dari dalam joli. tidak nanti mereka mau percaya dia adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu si Dewa Kaki Besi yang pernah menakluki jago-jago di Utara. Kaos kakinya yang putih serta sepatunya yang abu-abu bersih sekali. di tanah lalu tertapak dalam.

‖ ―Aku hendak menantikan dulu sahabatku…‖ Kwee ceng menjawab. Selang lagi beberapa lie. Memang ia hendak menguji enteng tubuhnya si bocah. Ilmu silat kau saudara. Sukalah kau kalau kita mengikat persahabatan?‖ Kwee Ceng tidak menjawab. ―Siapakah gurumu?‖ Ong Cinjin menanya lagi. ―Engko kecil. ―Sekarang aku tidak usah mengkhawatirkan apa-apa lagi!‖ Kwee Ceng heran. ia cekal tangan si bocah. Di lain pihak. Tapinya ia berkata kepada Kwee ceng. ―Dasarmu tidak jelek!‖ ia berkata dalam herannya itu. Ia memang bertubuh kecil dan lincah. mari kita pulang!‖ berkata ia.‖ katanya. Irawan D Soedradjat Page 190 .‖ Habis berkata begitu. Oey Yong muncul dari antara orang banyak. terus ia lompat naik ke atas kuda itu. Ia sudah belajar lari keras. yang pun ia kasih lari ke antara orang banyak. Di sini si imam berjalan semakin cepat. tibalah mereka di belakang sebuah puncak buklit. Melihat si Ular Naga Kepala Tiga ini. ia sambar les dari seekor kuda pilihan yang satu pengiringnya bawa kepadanya. aku pun minta suka kau bersama totiang berkunjung ke rumahku. sebentar saja mereka sudah berada diluar kota. ia lari terus-terusan. Totiang tanyakan saja istananya Chao Wang. hingga mereka itu berlari-lari untuk menyingkir dari bahaya kena diterjang kuda. dan dibawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok. ialah ini imam. ―Toasuko telah ajarkan kau ilmu silat.‖ ia berkata. ―Engko Kwee kecil. untuk diajak pergi. Ia terperanjat dan mengawasi bocah itu. ―Orang dengan siapa tadi kau bertempur. Bok Ek tarik tangannya Kwee Ceng. Kwee Ceng dapat mengikuti denagn baik kepada si imam itu. maka itu. Ong Cie It cekala tangan orang.Pendekar Pemanah Rajawali sama lain. Cepat tindakannya si imam. dari itu. hingga dilain saat mereka sudah tinggalkan orang banyak itu dan tengah menuju keluar kota. ia tidak menjadi gusar. ―Hal itu kita perlahan-lahan saja kita bicarakan pula. kau turut aku. bownpwe menantikan segala kehormatan atas kedatangan totiang ke rumahku. Sampai sebegitu jauh. Ong Cie It mendongkol untuk sikap keagung-agungan itu. ia hanya menjura pula kepada Ong Cie It seraya berkata: ―Totiang. ia cuma tertawa saja. ―Totiang. aku sangat mengaguminya. bagus!‖ katanya. tubuhnya enteng. ia mengawasi imam itu. Mendengar itu. lantas saja ia berkata sambil tertawa: ―Aku tidak kenapa-kenapa! Sebentar aku pergi mencari padamu…!‖ Baru ia mengucap. Ia menyebutkan Kanglam Cit Koay dan Ma Giok. ia dapat manjat puncak. ―Kenapa kau tidak dapat mengalahkan dia itu?‖ Kwee Ceng tidak tahu bagaimana harus menjawab. yang dipanggil setahu apa siauw-ongya Wanyen Kang itu adalah muridnya suhengku Tiang Cun Cu. tiba-tiba ia melepaskannya. tidak mau ia mendusta. Mendengar itu Ong Cie It menjadi girang sekali. ia lantas menjatuhkan diri di depan Ong Cinjin. kau tahu atau tidak? bertanya si imam. ―Buat apa kau layani pula manusia hina dina ini?‖ Wanyen Kang dengar suara orang menghina itu. Kwee Ceng tertawa di dalam hati. Maka itu. ia bisa berlari-lari tanpa napasnya memburu atau hatinya berdenyutan. Tapi ia pun cerdik. Ong Cie It tidak bilang suatu apa. kemudian ia menyelinap di antara orang banyak itu. lantas terlihat Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay lari mendatangi. Kwee Cneg tahu di antara adik seperguruan dari ma Giok ada yang bernama Ong Cie It. Belum berhenti suaranya bocah ini. banyak-banyak terima kasih. ia hanya menunjuk kepada Bok Ek dan gadisnya serta bertanya: ―Bagaimana urusan jodohmu dengan nona itu?‖ Wanyen Kang menjadi likat.

―Sekarang masri kita lihat itu orang she Bok dan gadisnya. kemudian setelah berpikir.‖ berkata Kwee Ceng. tidak nanti aku bikin kau memdapat susah…. Ia lantas menunduki kepala. ―Totiang. siauw-ongya minta totiang dan Tuan Kwee sudi menerimanya. dia kata hendak ajak muridnya itu pergi ke Kee-hin untuk dicoba pibu denganmu. Ong Cie It tertawa bergelak.‖ Kwee Ceng telah terima titah gurunya untuk sebelum tanggal duapuluh empat bulan tiga sampai di Kee-hin. ia tidak bilang suatu apa. ―Teecu tidak tahu siauw-ongya itu adalah muridnya Khu Totiang. aku khawatir dia nanti menerbitkan bencana jiwa…‖ Kwee Ceng terkejut. maka itu tidak heran Tujuh Manusia Aneh dari Kanglam itu tidak mau menjelaskan sesuatu kepada Kwee Ceng.‖ berkata pula si pengiring. Kwee Ceng juga tidak berani menanya apa-apa lagi. Maka keduanya lantas berjalan dengan cepat ke kota barat. Kemudian ia meneruskan dengan sikapnya sungguh-sungguh : ―Kami kaum Coan Cin Kauw ada punya aturan yang keras. teecu mohon totiang suka memberi maaf.‖ berkata Ong Cie It kemudian. ―Dimana totiang dan Tuan Kwee tinggal? Nanti kami pergi mengantarkan ke sana. semua lantas memberi hormat kepada Ong Cinjin seraya berkata: ―Kami diperintahkan siauw-ongya mengundang totiang serta Tuan Kwee menghadiri pesat di gedung kami. maka itu kenapa dia bolehnya mengajari silat kepada satu pangeran Kim? Sungguh membikin pusing kepala…‖ Terus ia mengawasi Kwee Ceng dan berkata pula: ―Khu Toasuko telah menjanjikan aku bertemu di Yan-khia. aku akan menanya jelas segala apa. pibu apakah itu?‖ ia bertanya. bahwa dalam pibu. dia dapat dihukum berat. Ong Cie It ketahui maksudnya Kanglam Cit Koay. dari dalam hotel sudah muncul beberapa pengiring dengan pakaian seragam bersulamnya. ilmu silat Wanyen Kang sama dengan ilmu silatnya In Cie Peng itu. ―Gurumu belum membilang suatu apa kepadamu. maka setelah bertemu dengannya. ―Apa?‖ dia menanya. kalau ada murid yang bersalah. terus ke rumah penginapan Kho Seng di jalan besar utama. tetapi tidak nanti dilindungi atau dieloni. Ong Cie It menggeleng kepala. aku suka sekali! Mustahil aku nanti persalahkan kau!‖ ia berkata. ia menjadi ingat kepada pertempurannya sama In Cie Peng hingga ia ingat juga. gurunya tidak memberikan keterangan apa-apa. baiklah totiang memberi ampun padanya. maksudnya pasti untuk mencegah Kwee Ceng menjadi bersusah hati hingga pernyakinan ilmu silatnya menjadi terganggu.‖ ia menjawab. di dalam hatinya tapinya ia suka bocah ini yang jujur dan hatinya pemurah. Siauw-ongya itu sombong dan ceriwis. yang tidak mendendam. Kanglam Cit Koay pasti menghendaki kemenangan. dia lebih-lebih membenci bangsa Kim. dalam beberapa hari ini tentulah ia bakal tiba. bocah ini menjadi tidak tahu tentang ilmu silat kaum Coan Cin Kauw. ia menghela napas.hin itu. Toasuka telah menerima satu murid she Yo. Di sini ada aku. ia menjadi ingat kepada nona itu.Pendekar Pemanah Rajawali Bocah itu tercengang. sekarang setelah mendengar pertanyaannya Ong Cie It.‖ ―Sebentar kita datang.‖ Irawan D Soedradjat Page 191 . Baharu mereka sampai di depan pintu. ―Aku tidak tahu…‖ Ma Giok mengajarkan Kwee Ceng tanpa penjelasan.‖ berkata Ong Cie It. Dia telah mendengar lelakonnya kedua keluarga Yo dan Kwee itu. nanti kau jangan khawatir. ―Nonan itu bertabiat keras. ―Hatimu mulia. Ciat-kang untuk apa ia dimestikan pergi ke Kee. Kwee Ceng itu nanti berkelahi tidak dengan sungguh-sungguh dan karenanya menjadi tidak memperoleh kemenangan. Ong Cie It dapat menduga. teecu telah berlaku kurang ajar.‖ Mereka lantas menyerahkan sehelai kartu nama di atas mana ada tertera: ―Hormat dari teecu Wanyen Kang. ia berkata-kata seorang diri: ―Toasuko biasanya benci kejahatan sebagai musuh besarnya. tak baik aku mewakilkan mereka memberi keterangan.‖ ia memohon. dia cuma manggut-manggut. hatinya masih ingin merekoki jodohnya nona Bok. nanti aku suka minta toasuko menghukum padanya!‖ ―Asal ia suka menikah dengan nona Bok. ―Dan ini kue-kue dan bebuahan. maka itu ia heran atas kata-katanya imam ini. Atau mungkin disebabkan musuh adalah turunan sahabat ayahnya. Entah bagaimana kepandaiannya murdi she Yo itu.

bunyinya: ―Chao Wang Hu‖ atau istana pangeran Chao Wang.‖ berkata Kwee Ceng. Ong Cie It mengkerutkan keningnya. Melihat dandanan pangeran itu. baik aku tinggalkan untuk dia. ia lari pula ke luar. setelah mereka itu memberi hormat.‖ ia menyahut perlahan. kalau di sini aku bertemu dengannya. Ong Cie It tak berkesan baik terhadap Wanyen Kang. Ong Cinjin periksa lukanya Bok Ek. Irawan D Soedradjat Page 192 . menyusul mana ia tampak si siauw-ongya keluar menyambut. si nona berbangkit berdiri. pakaiannya jubah merah dengan gioktay atau ikat pinggang kumala. Kwee Ceng tahu. ―Luka ayahmu ini tak enteng.‖ Bab 18. Ong Cie It menanyakan keterangan kamarnya Bok Ek. tetapi mungkin dikhawatir menjadi nowa. atau singa batu. yang terus lari masuk pula ke dalam hotel. yang terdiri dari duabelas. maka darimana dia dapatkan ilmu pukulan jahat ini? Pada ini mesti ada rahasianya…?‖ Lantas ia pandang si nona dan menanya: ―Nona.‖ kata Cie It. hingga ia dapatkan orang she Bok itu sedang rebah dengan muka pucat dan di tepi pembaringan. ―Ilmu silat Wanyen Kang terang adalah ajarannya toasuko.‖ Selagi si bocah terbenam dalam keragu-raguan. ia lantas terima itu. Ia tersenyum. Di luar hotel. akan tetapi kapan ia melihat sikap Kwee Ceng. ia bersedia menerima antaran itu. untuk bersama si imam pergi mengikuti keempat pengiring itu pergi ke onghu. sedang kepalanya ditutupi kopiah emas. siapakah namamu?‖ Nona itu menunduki kepalanya. seraya menambahkan: ―Besok aku akan datang untuk menjenguk pula padamu. gadisnya duduk smabil menangis. atau lebih tepat istana. sudah tidak dibalut. Ong Cie It mengangguk. Mengadu Kepandaian Habis menerima antaran itu. Ia polos. ke dalam kamar di mana ada bingkisan kue dan buah dari Wanyen Kang. ia turut dipimpin ke dalam thia. isinya semua adalah makanan dan bebuahan yang istimewa. hendak ia menampik.‖ Kwee Ceng berpikir. lantas ia dengar ramainya suara tetabuhan. yang terus merogoh sakunya. lalu ia terus masuk ke dalam kamar orang. yang rupanya diperdengarkan untuk menyambut ia dan Ong Cie It. Maka itu tanpa merasa. ―Wanyen Lieh mengenali aku. kau tunggu sebentar. Tiba di muka gedung. Ia pilih empat rupa kue. Undakan tangga dari batu putih semua. mereka dipapaki empat pengiring. dia perlu dirawat baik-baik. dimana ia lantas dipersilakan duduk di kursi atas. ―Oey Yong suka dahar makanan semacam ini. yang satunya memberitahukan bahwa siauw-ongya mereka lagi menentikan di gedung dan imam serta bocah itu diundang ke sana.Pendekar Pemanah Rajawali Beberapa pengiring lainnya lantas maju untuk mengsih lihat barang antaran mereka. di dalam hatinya ia berkata: ―Dasar bocah! Dia tidak harus dipersalahkan. ia bungkus itu dengan sapu tangan. ―Mungkinkah si pangeran muda itu adalah putranya Wanyen Lieh?‖ ia kata di dalam hatinya. ia tarik tangan Kwee Ceng buat meninggalkan hotel itu. Chao Wang itu adalah Wanyen Lieh. Kapan mereka lihat tetamu. ―Aneh.‖ pikir Ong Cie It. inilah cade…. Bok Ek sendiri berbangkit untuk berduduk di atas pembaringan. ―Totiang. yang setiap belakang telapakan tangannya bertanda lima lobang jari tangan. ia diam saja. gedungnya Wanyen Kang.‖ Lalu menanti jawaban si nona. di kiri dan di kanan pintu ada nongkrong masing-masing seekor cio-say. Luka itu telah ditorehkan obat. untuk mengeluarkan uang perak dua potong. putra keenam dari raja Kim. Di pintu besar ada dituliskan tiga huruf besar air emas. batu mana dipasang terus sampai di thia depan. hingga nampak tulang-tulangnya dan kedua lengannya bengkak besar. sesudah masuki itu ke dalam sakunya. ―Namaku Bok Liam Cu. yang rimannya bengis. hatinya tercekat. yang mana ia letaki di atas meja. Kwee Ceng paling dulu lihat dua lembar bendera berkibar di tiang yang tinggi.

Ong Cie It tidak puas. Ong Cie It heran hingga ia berpikir: ―Kenapa Siluman Tua ada disini juga?‖ io Cu Ong sudah lantas memberi hormat dan berkata: ―Di sini lohu dapat bertemu sama Thie Kak Sian Ong Cinjin. ―Walaupun ilmu silat Coan Cin kauw tidak tinggi tetapi ilmu itu bukannya ilmu kucing kaki tiga! Gurumu bakal tiba di sini. yang tubuhnya jangkung dan kate tidak rata. ―Totiang. hingga mereka mesti jalan sekian lama.‖ Wanyen Kang memperkenalkan pula orang yang rambutnya putih tapi mukanya segar sebagai muka seorang bocah. mengitari lauwteng yang indah. apakah totiang ingin bertemu dengannya?‖ Wanyen Kang balas menanya. Setibanya di hoa-thia. satu dari timur utara. Wanyen Kang sudah lantas ajak kedua tetamunya pergi ke hoa-thia. maka tidaklah kecewa yang lohu sudah datang ke Tionggoan ini. ―Ada di mana ia sekarang?‖ ia tanya. di antara siapa yang kepalanya benjut tiga.‖ Dan lantas ia perkenalkan paderi di sampingnya. satu lagi dari barat selatan. untuk mana mereka melintasi sebuah lorong.‖ Kedua orang itu saling memberi hormat. ―Dan ini adalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong. maka pertemuan ini benar-benar satu jodoh!‖ Ong Cie It memberi hormat kepada paderi dari Tibet itu dengan menjura dan si paderi membalasnya seraya menakopi kedua tangannya. selama itu aku main-main kucing kaki tiga hingga aku membikinnya totiang dan saudara Kwee menertawai aku. Justru itu seorang yang suaranya serak terdengar berkata nyaring: ―Kiranya Kanglam Cit Koay didukung dari belakang oleh Coan Cin Pay. Pangeran itu tidak berlutut didepannya dan tidak juga memanggil susiok atau paman guru kepadanya. kau tahu tidak?‖ ―Guruku ada di sini. Kami berdua. Ong Cie It menjadi heran sekali. ―Mana boanpwe mengerti ilmu silat?‖ sahut Wanyen Kang sambil tertawa. katanya: ―Ini adalah Leng Tie Siangjin. ahli Tay-ciu-in dari partai Bit Cong dari Tibet.‖ ―Hm!‖ Ong Cie It kasih dengar suaranya. locianpwe dari Tiang Pek San. dari empat ribu lie.Pendekar Pemanah Rajawali ―Totiang bersama saudara Kwee sudi datang kemari.‖ Ong Cie It awasi orang yang pentang bacot itu. ―Sudah berapa lama kau ikuti gurumu belajar silat?‖ ia tanya. bahkan ia mendongkol. tidak ada selembar rambutnya. Pengiring itu berlalu untuk menyampaikan titah lebih jauh. ―Kiranya kau masih kenal aku!‖ Irawan D Soedradjat Page 193 ―Bukankah tuan adalah Kwie-bun Liong Ong See Locianpwee?‖ ia bertanya. . yaitu Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. Dengan melihat roman orang saja. ―Aku ikuti suhu buat dua tahun lamanya. suaranya menandakan kemarahannya. ―Benar!‖ sahut orang itu. tidak tahu ia mesti bersikap bagaimana andaikata ia bertemu dengan Wanyen Lieh. maka juga mereka menjadi begini malang melintang. Hatinya pun tidak tentram. kedua pihak sudah saling mengenal. Dia itu mengawasi anak muda kita ini dengan sorot mata bengis! Biar bagaimana. beberapa tuan ini sudah lama mengagumi kau dan semuanya merasa sangat ingin bertemu denganmu!‖ Ia lantas menunjuk Peng Lian Houw dan kata: ―Inilah Pheng Cecu. matanya merah. sampai ia merasakan matanya berkunang-kunang. Kwee Ceng dapak menyaksikan keindahannya istana. di sana sudah menantikan enam-tujuh orang. Selama itu. ia sudah lantas mengenalinya. ―Siapakan meja santapan!‖ ia memberi perintah kepada pengiringnya. sungguh aku merasa sangat beruntung!‖ berkata tuan rumah yang muda ini. Wanyen Kang menepuk tangan dua kali. biji matanya menonjol keluar. kepala siapa lanang. Wanyen Kang bergirang ketika ia kata pada Ong Cie It. Kwee Ceng terkejut juga hingga ia pernahkan dirinya dekat sekali dengan si imam.

Mereka belum pernah mendengar nama Pek To San – Bukit Unta Putih itu. hingga ia mirip dengan satu sastrawan. Segera juga Wanyen Kang menghampirkan. Mereka bukan sembarang orang. supaya Kwee Ceng dibekuk. Dia berjanggut lebat. Dia banyak lebih lihay daripada Hauw Thong Hay. umurnya ditaksir tigapuluh lima atau tipuluh enam tahun. Sesudah itu ia kirim Hauw Thong Hay untuk menuntu balas. seumumnya. tak peduli ia bahwa perbuatannya melanggar adat sopan santun. sekalipun di depan orang banyak. tangan kanannya menyambar lengan Ong Cinjin. Bocah itu mundur. Ong Cie It tidak dapat mundur. untuk menangkis. diundurkan satu dari yang lain. Maka ia lantas pandang tuan rumah. maka ia pun angkat tangannya. kapan dan di dalam hal apa aku pernah berbuat salah terhadapnya?‖ Ia menunjuki sikap sabar. adik seperguruannya.Pendekar Pemanah Rajawali Cie It heran. sayang di tengah jalan aku mendapatkan satu urusan penting dan karenanya menjadi terlambat beberapa hari. Inilah sebabnya kenapa murid-muridnya tidak dapat wariskan tiga bagian saja dari sepuluh ilmu kepandaiannya. sembari tertawa ia berkata: ―Tuan ini adalah Auwyang Kongcu. terus ia mengibas keluar. 194 Cie It merasakan hatinya lega. juga Nio Cu Ong dan Peng Lian Houw serta lainnya hadiran di situ. ―Kenapa tidak kau minta ia keluar?‖ ―Ya. seperti dandanan seorang bangsawan. masih dapat kami membela diri…‖ . romannya tampan. Demikian ia ulur sebelah tangannya. percuma kalau ia melayani mereka itu. maka dengan berbareng. Thong Thian gusar bukan main waktu ia dengar kekalahan empat muridnya itu. Dandanannya. Memangnya dia bertabiat keras. alisnya panjang hingga ujungnya mengenai rambut di pelipisnya. dari samping mereka tiba-tiba muncul satu orang. Tanpa merasa keduanya lantas mengawasi si pemisah itu. maka mereka heran ada seorang yang dapat pisahkan mereka secara demikian gampang. Melihat orang demikian galak. Dua-dua See Thong Thian dan Ong Cie It terperanjat. sedang Ong Cie It segera maju. Irawan D Soedradjat Page Tidak lama lantas terdengar tindakan sepatu. tangan kirinya menyambar lengan See Thong Thian. ia hajar mereka. dua orang itu dapat dipisahkan. tak terkira gusarnya Thong Thian. Sebab tabiatnya itu. romannya sangat keren. hingga adik seperguruan ini juga gagal. ia tengah diliputi kemarahan besar. Lantas ia berpaling kepada pengiringnya dan memrintah dengan singkat: ―Undang suhu!‖ Pengiring itu sudah lantas mengundurkan diri. Auwyang Kongcu ini sudah lantas rankap kedua tangannya. maka itu ini adalah pertama kalinya ia bertemu sama tuan-tuan!‖ Bukan melainkan Ong Cie It dan Kwee Ceng yang belum pernah melihat sancu. untuk menghalang di depannya.‖ sahut Wanyen Kang denagn sederhana. ―Mana gurumu?‖ ia tanya. tetapi mendengar nama bukit Pek To San itu. akan jambak Kwee Ceng. suatu tanda ia adalah seorang opsir. tak dapat ia mengatasi diri. terus ia berkata: ―Sebenarnya aku telah mesti siangsiang tiba di kota Yankhia ini. sancu dari Pek To San dari pegunungan Kun Lun San di Tibet. hingga kata dalam hati kecilnya: ―Kita ada bagaikan air kali dan air sungai yang tidak saling menerjang. siucay. ia lantas ingat kepada si nonannona serba putih yang di tengah jalan sudah mencoba merampas kudanya.‖ Kwee Ceng tidak kenal sancu ini. ―Bagus! benar-benar kau melindungi binatang cilik ini!‖ ia berseru. Karena ini. Ia mengerti.pemilik bukit – dari Pek To San itu. Ia menjadi menduga-duga: ―Mungkinkah enam guruku sudah bertempur dengan dia ini?‖ Ong Cie It pandai berpikir. semua hadirin di situ itu ada bangsa lihay. Celakanya Thong Hay telah kena dipermainkan oleh Oey Yong. ia tetap berangasan dan galak. dia mendamprat habis-habisan. Dan semua mereka kagum akan caranya sancu ini datang menengah. maka juga. usianya empat puluh lebih. Untuk itu aku mohon tuan-tuan suka memaafkannya. Disaat kedua tangan hampir bentrok. lalu di depan pintu thia terlihat seseorang bertubuh gemuk yang mengenakan seragam baju sulam. musuh boleh tambah lagi. Kwie-bun Liong Ong ialah Raja Naga dari Pintu Iblis. tidak heran kalau Hong Ho Su Koay gagal mengepung Kwee Ceng. Dia belum pernah datang ke Tionggoan. Dia bernama Thong Thian dan gelarannya.‖ Orang she See ini tidak ambil mumat sikap orang yang halus itu. tangannya terus menyambar si imam. ia kata: ―Nama besar dari See Locianpwee memang telah lama aku pangeni. di waktu mengajari silat. sikapnya tenang sekali. Ia telah berpikir: ―Dengan adanya Khu Suheng disini. ialah seoarng dengan jubah putih. ia tidak hunjuk kemurkaan.

‖ Cie It heran hingga ia tercengang. dia mesti dapat diundang datang kemari!‖ Pengiring itu menyahuti. imam atau paderi perempuan!‖ Dengan paksakan diri. Ia tanya jongos.‖ berkata Wanyen Kang sembari tertawa. tetapi ia bercuriga. aku paling tidak senang terhadap segala paderi. Maka terpaksa pemuda ini pulang ke onghu dengan tangan hampa. Tidak dapat ia menduga. ―Totiang ini hendak bertemu sama suhu. tuan Kwee!‖ katanya.‖ Thung Couw Tek celangap. silakan duduk!‖ Wanyen Kang mengundang. jawabannya adalah Bok Ek dan gadisnya itu ada yang undang sudah pergi entah ke mana. hatinya Ong Cie It menjadi panas sekali. ―Totiang baharu pertama ini tiba disini. ia menjadi heran. Ia lantas kata pada pengiringnya: ―Lekas kau siapkan uang itu. ia berkata: ―Sekarang ini telah hadir banyak cianpwee kaum Rimba Persilatan. ―Itulah selayaknya.‖ ―Bagus begitu. barang-barangnya pun telah dibawa pergi.‖ Ong Cie It menagngguk dan Kwee Ceng segera berbangkit. Ayah dan anak dara itu tidak ada di kamarnya. ―Oh. ―Ingin aku minta buat banyaknya seribu tail perak!‖ Heran opsir itu atas permintaan derma tersebut. Setelah tiga edaran arak. dari kaki ke kepala.. Sambil tertawa. Wanyen Kang sambut tetamunya. sebentar kau antarkan ke hotelnya totiang. imam?‖ si opsir menanya. ia mengawasi imam itu. bagaimana juga hendak diaturnya. ia berkata: ―Tidak peduli orang bermain sandiwara apa. Irawan D Soedradjat Page 195 . pernah ia ajarkan ilmu silat kepada pangeran itu. Tiba di sana. Ia lantas hirup arak itu. silakan duduk di kursi kepala. yang mendahului gurunya itu.!‖ Tapi ia mencoba untuk mengendalikan diri.‖ berkata Wanyen Kang. Jongos itu tidak dapat memberikan keterangan. malah ia sudah menanyakan beberapa kali…‖ Melihat orang itu dan mendengar perkataan si pangeran. Ong Cinjin tertawa. untuk pergi ke hotel dimana Bok Ek dan gadisnya menumpang.‖ ia berkata. dari kepala ke kaki. boanpwe selalu bersedia untuk menuruti. semua mata diarahkan kepada Wanyen Kang. Ia bernama Thung Couw Tek. akhirnya ia duduk juga di kursi pertama itu.‖ Ong Cie It merendahkan diri tetapi ia didesak terus. Tentang si orang she Bok yah dan anak itu. ―Banyak cape. ia berbangkit untuk bawa itu kepada Ong Cie It seraya terus berkata: ―Silahkan totiang keringkan dahulu cawan ini. entah kemana. Ia berkata kemudian: ―Bagus! Sekarang baik si orang she Bok itu diundang kemari. kepala barisan pengiring dari Wanyen Lieh di masa Wanyen Kang masih muda sekali. kau permainkan aku. terus ia undurkan diri.‖ sahut Kwee Ceng. ―Untuk urusan apakah kau hendak bertemu sama aku. aku menyesal…‖ berkata Wanyen Kang cepat. Yang lain-lain pun turut memanggil guru padanya. Akhirnya.‖ menyahut Wanyen Kang. imam ini orang macam apa. Pangeran itu mengisikan sebuah cangkir. yang treus tuturkan kepergiannya Bok Ek serta anaknya itu. urusan toh akan ketahuan akhirnya!‖ ―Totiang benar. ia tidak sangka pangeran ini dapat bersikap demikian. untuk memerintah: ―Kau lekas ajak orang pergi mencari tuan Bok dan putrinya itu. Kwee Ceng heran. sikapnya jumawa. bagaimana urusannya itu harus diatur?‖ Mendengar pertanyaan itu. karenanya ia dipanggil guru. ―Aku minta saudara Kwee saja yang pergi mengundang tuan Bok itu. Ong Cie It menjadi membungkam. Ia telah berpikir: ―Bocah binatang ini. ―Tayjin hendak memohon derma.Pendekar Pemanah Rajawali ―Suhu!‖ Wanyen Kang lantas memanggil. siapa itu yang mengundang. Ketika jongos ditanya. ―Mana tuan Bok itu?‖ ―Ia telah pergi. uang sewa kamar pun sudah dibayar lunas. Tentang itu. untuk kita membicarakan urusannya. Terus ia menoleh pada pengiringnya. ―Adalah sudah biasa bagi aku. maka bolehlah kita bicara dari hal keadilan. ―Tuan-tuan.

ilmu Bahagian Luar. sumpitnya itu terus ia pakai menyambar sepotong paha ayam. Menyusul itu jambakannya si orang she See itu mengenai kursi yang diduduki Kwee Ceng. yang segera dibawa masuk ke dalam mulutnya orang she Thung itu. pangkatnya bukan kecil tetapi ia tetap ditempatkan di onghu. Sudah duapuluh tahun ia bekerja.‖ ―See Locianpwe. sumpitnya dapat mempengaruhi Couw Tek tetapi tidak si orang she Nio ini. Maka mukanya menjadi merah. kau menggunai ilmumu!‖ ia membentak. semua hadirin tertawa. selagi mulutnya tersumpel.‖ ―Pihak kami tidak ada sangkutannya sama Coan Cin Pay. ciangkun. untuk disuapi dengan paksa! Couw Tel menjadi gelagapan. akan tekan pundak si jenderal. ―Baiklah ciangkun duduk dan keringkan arakmu!‖ Ia ulur tangannya. Kepalan Couw Tek kena tertahan. hebatnya tak sama dengan Kiu-im Pek-ku Jiauw dari Hek Hong Siang Sat akan tetapi toh tidak kalah.‖ ―Bagus. sudikah totiang meluluskannya?‖ ―Tidak berani aku menerima pujianmu. ―Jangan gusar. Ia anggap dirinya gagah.‖ ia berkata. tak dapat ia meneruskan meninju. ―Silakan locianpwe mengatakannya. ia penasaran sekali.‖ berkata Kwie-bun Liong Ong. tosu. ia melepaskan jepitannya. Thie Kak Sian Giok Yang Cu tahu. ia sudah bekerja matimatian untuk negara Kim. ―Sekarang kau serahkan ini bocah kepadaku!‖ ia lantas berbangkit. cepat luar biasa. Menyaksikan kejadian itu. ―Kau tidak hendak memberitahu pun tidak apa. maka itu. kau asal kuil mana? Kenapa kau datang kemari untuk main gila?!‖ Ong Cie It tidak menyahuti. terus ia lari ke dalam. Irawan D Soedradjat Page 196 . Lantas ia lompat bangun. kenapa pihakmu berdiri sepenuhnya dibelakang Kanglam Cit Koay dan dengan begitu menyusahkan pihakku? Walaupun Coan Cin Pay banyak anggotanya dan sangat berpengaruh. pada ini terang ada salah mengerti. ―Imam siluman. Ia memang tidak puas dengan kedudukannya. ia ulur tangannya meninju mukanya Ong Cinjin! Cie It tertawa. kaget dan gusar menjadi satu. Ong Cie It mengerti. tetapi dengan mereka itu. ―Maka perlu apa kau bergusar dan menggunakan kekerasan?‖ Ia angkat sumpitnya untuk menjempit kepalan orang. aku yang bodoh tidak merasa takut. hingga tubuhnya Kwee Ceng tertolak mental. Maka juga perkataannya Ong Cie It membikin ia merasa tersinggung. Maka itu sama sekali tidak ada soal pihakku membantu Kanglam Cit Koay menghadapi Hong Ho Su Koay. selagi si pangeran berlaku manis. akan ulur sebelah tangannya. Akhirnya ia menegur: ―Eh. ―Pinto tahu tentang Kanglam Cit Koay. Bukankha ia orang Han yang bekerja pada bangsa Kim? Kenapa ia mesti ditanya lagi kalau bukan orang hendak menghina padanya? Ia justru paling tidak senang orang menyebut-nyebut kebangsaannya.‖ berkata Giok Yang Cu. ―Maka itu aku mohon keterangan. maka selagi orang menekan pundak si jenderal itu. lengan kirinya berbareng dipakai membentur bocah itu. Ia malu bukan main. bocah itu tidak bakal lolos dari jambakan itu. sungguh namanya bukan kosong belaka!‖ berkata See Thong Thian. See Locianpwe. hingga kursi itu tercengkeram rusak seraya menerbitkan suara keras. ia sangat mendongkol. untuk menghalang.Pendekar Pemanah Rajawali Sementara itu Thung Couw Tek heran dan mendongkol. tidak satu pun yang pinto kenal. dia jengah sekali. Dia terus menarik pulang tangannya itu. sedikitnya ia tentu terluka enteng. Jambakan itu adalah jambakan dari Gwa-kang. ―Aku hendak memohon sesuatu kepada totiang.‖ berkata Nio Cu Ong. Tidak karu-karuan cukongnya kehilangan uang seribu tail perak. maka ketika ia berbangkit pula. tubuhnya jatuh terduduk di kursinya akibat tekanannya Nio Cu Ong. yang berada di sampingnya. ia hanya balik bertanya: ―Jenderal. tetapi dia tidak berhasil. tetapi pemerintah Kim tidak pernah mengijinkan ia memimpin pasukan tentara sendiri. ―Coan Cin Pay berpengaruh di Selatan dan Utara. ia lekas berbangkit. ciangkun.‖ berkata Giok Yang Cu. hanya salah satu suhengku ada punya sangkutan dengan mereka. kalau begitu!‖ berseru See Thong Thian. guna menjambak batang lehernya Kwee Ceng. si imam bersikap seperti tidak tahu aturan. kau ada asal negara mana? Kau mengandal apa maka kau datang kemari dan menjadi pembesar negeri?‖ Couw Tek gusar sekali. walaupun di depannya ada Nio Cu Ong dan Auwyang Kongcu.

Kecuali Cie It dan Kwee Ceng. seraya menunjuk Kwee Ceng. ia mendahului berbangkit. tidak dapatkah kau mencari ia dilain hari?‖ Auwyang Kongcu lantas campur bicara. locianpwe.‖ ia berkata. ―Bagaimana caranya bocah ini mendapat salah dari saudara See?‖ dia tanya. supaya selanjutnya dibelakang hari. Sejak turun gunung. Ia lihat. See Thong Thian telah berpikir: ―Imam ini lihay tak ada di bawahanku. Perkataan orang diatur dengan halus. Diam-diam Cie It bingung juga mendapatkan semua mata diarahkan kepada Kwee Ceng. Cuma lebih dulu daripada itu. aku minta sukalah kau mempertunjuki sesuatu agar pinto dapat pentang mataku. di atas orang pandai ada pula yang terlebih pandai lagi.‖ ia berkata. yang diundang dengan kehormatan dan bingkisan berarti. ia mundur tiga tindak. ia menginjak-injak. Ia tahu orang mengejek padanya tetapi tidak tahu ia bagaimana harus memberikan jawaban. mereka dalah orang-orang undangan Wanyen Lieh.Pendekar Pemanah Rajawali ―Hau. untuk membikin padat. mana berani pinto mengadu kepandaian dengan tuan-tuan. supaya ia insyaf bahwa di luar langit ada langit lainnya. kalau ia mengotot. sekalian untuk memberi pengajaran kepada bocah ini. See Thong Thian juga berpikir: ―Imam-imam dari Coan Cin Pay tidak dapat dibuat permainan. mendengar perkatannya Giok Yang Cu. pinto minta tuan-tuan mempertunjuki dulu ilmu kepandaian kamu.‖ Hauw Thong Hay sudah menahan sabar sekian lama.‖ Maka ia lantas awasi Thong Hay dan berkata kepadanya: ―Sutee. memang lebih baik tidak usah bertempur dengannya. supaya bocah ini dapat melihatnya. cawannya ia hirup kering.‖ Sebelum menjawab. Dengan lantas mereka itu memikir untuk menahan si bocah. kepala di bawah kaki di atas. Hauw Thong Hay sudah lantas pergi ke lataran dimana dengan kedua tangannya ia menumpuk salju sampai tingginya tiga kaki. sedang sebenarnya pinto tidak sanggup berbuat demikian…. ―Coba jelaskan duduknya hal. tiba-tiba mereka diganggu oleh bocah ini. coba kau perlihatkan Soat-lie May Jin. Ia bingung sebab musuh tangguh semuanya. mereka turut Yang Mulia Chao Wang pergi ke Mongolia untuk suatu urusan.‖ Cie It membilang keras. maka itu sudah selayaknya kalau nanti pinto membawanya keluar secara baik-baik. kalau satu bocah begini tidak dapat dibereskan. ia lantas duduk pula. ―Biarlah aku yang belajar kenal lebih dulu denganmu. supaya nanti ia jangan mengatakan pinto todak sudi melindungi padanya. dia jangan berani pula banyak tingkah!‖ Hauw Thong Hay mendongkol sekali. untuk singsatkan bajunya. itulah hal yang sangat menggembirakan pinto. habis itu. ―Nama besar dari tuan-tuan telah lama pinto buat pangenan. Kemudian ia berkata: ―Sebenarnya aku tidak bermusuh langsung dengan anak she Kwee ini. jalan yang terbuka ialah memperlambat tempo sambil mencoba mencari tahu sikap sebenarnya dari para hadirin masing-masing. menentang si imam. ia pernah menghadapi pelbagai pertempuran tetapi tidak seperti ini kali. selagi mereka berkerja dan nampaknya bakal berhasil. aku mesti dapat satu pembantu yang lihay…‖ Maka itu. . ―Ia muda dan tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. lalu mendadak ia lompat maju. ―Kebiasaanku tidak berarti. kau lindungi bocah ini?‖ menegur Thong Thian karena kegagalannya itu. Tentang bocah ini. dengan membesarkan nyali. ia mendapat salah dari Yang Mulia Chao Wang. pinto tidak dapat bilang suatu apa.‖ Ong Cie It berkata pula. ―Anak ini pinto yang bawa datang ke istana ini. Aku ada punya empat murid tolol. Yang Mulia Chao Wang menjadi sangat gusar karenanya. ―Sabar. untuk minta Ong Cinjin memberi pengajaran padamu!‖ ―Itulah aku tidak berani. sampai sebatas dada. Tuan-tuan berniat menahan dia. Ia lantas memikirkan daya untuk meloloskan diri bocah itu. guna diserahkan pada Chao Wang. Coba tuantuan pikir. bahkan ia berbareng mesti melindungi satu bocah. ini juga pinto tidak dapat menentangi. Kalau benar saudara tidak sudi melepaskan padanya. ―Maka itu saudara Hauw. cara bagaimana kami bisa lakukan usaha yang besar?‖ Kata-kata itu berpengaruh untuk para hadirin itu. supaya kita dapat menimbangnya. ―Hari ini pinto berjodoh bertemu sama tuan-tuan. Untuk melayani dia. Irawan D Soedradjat Page 197 Ketika itu hujan salju masih belum berhenti.‖ berkata Cie It tenang. kepala itu nuncap melesak ke dalam tumpukan salju itu. bocah ini pasti tidak bisa dibiarkan tinggal tetap di sini.‖ ia menambahkan.

Saking kagum. seperti burung menyisit. Segera setalah memegang. dia malah tersenyum. ―See toako. dia berdiam saja. sumpit bekas itu ia ambil dari tangannya si pelayan. dia memang lihya sekali. Selang sekian lama. ia ayun tangannya. Ia tunggu sampai pelayan membawa datang tambahan barang makanan dan semua sumpit bekas ditukar dengan yang baru. semua sumpit nancap rapi merupakan empat tangkai bunga bwee! Kwee ceng dan Wanyen Kang kurang mengerti ilmu kepandaian itu. yang sembari bicara mengulurkan tangannya ke piring kwaci. aku tidak sanggup memakan lebih jauh!‖ berseru Peng Lian Houw. ―Ah. tetapi mereka terus minum arak mereka. tetapi biji kwaci itu dapat disentilkan demikian rupa. Peng Lian Houw sudah memegat meluncurnya biji-biji kwaci itu. maka biji kwaci itu meluncur ke tembok putih di hoa-thia itu. kwaci itu ia makan isinya dan kulitnya dilepehkan! ―Bagus!‖ orang banyak berseru memuji. lalu semua biji beruntun dikasih masuk ke dalam mulutnya. ia tidak tahu ilmu silat apa itu. ia sudah keluar dari salju dan berdiri tegak. yang terus aja lompat balik ke kursinya.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng heran. maka itu dapat diduga See Thong Thian hendak menuliskan empat huruf ―yauw bu yang wie‖ yang artinya menentang pengaruh atau menjagoi. akan tetapi baru huruf selesai separuhnya. maka mereka ini diam-diam terkejut sendirinya. nancap di tembok merupakan satu huruf ―Yauw‖. ingin mempertunjuki sesuatu…‖ Ia lantas saja lompat ke tengah ruangan itu. tubuhnya ikut. Sebenarnya See Thong Thian bersama-sama Hauw Thong Hay telah menjagoi di sungai Hong Ho. Jarak ke tembok ada kira-kira tiga tembok. Menyaksikan itu Peng Lian Houw manjadi bertangan gatal. Thong Hay melirik pada bocah itu. atas mana. lalu sejenak saja. dengan bergembira mereka luluskan permintaan itu. itulah bukti dari tenaga dalam yang terlatih sempurna. Orang semua heran dan akgum. ―Kasar kepandaiannya suteeku ini. meski ia tahu namanya seperti telah disebutkan See Thong Thian. aku pun dengan meminjam pengaruhmu. mereka telah mengenal baik satu dengan lain. lantas semua sumpit – dua puluh pasang – terlempar ke salju dan nancap. See Thong Thian dan lainnya yang lihay. mulutnya itu sudah lantas kermakkermik. Kwee Ceng yang polos memuji sambil bertepuk tangan. ―Bu‖ dan ―Yang‖. Setelah itu barulah See Thong Thian rampungkan huruf ―Wie‖ itu. Malah Ong Cie It segera Irawan D Soedradjat Page 198 . lalu ia kembali ke kursinya. setelah mana jari tangannya yang tengah disentilkan tak hentinya.‖ Di tembok sekarang terlihat lagi dua huruf. yaitu ―Soat-lie May Jin‖ atau ―Mengubur orang di dalam salju‖ See Thong Thian lantas berkata pada pengiring-pengiringnya Wanyen Kang: ―Tolong tuan-tuan membikin padat dan keras salju disekitarnya Tuan Huaw!‖ Kawanan pengiring itu girang sekali. karena ini Thong Hay dapat nyelusup ke dalam salju. mulanya ia merintangi . biji kwaci enteng. Gangguannya Peng Lian Houw itu tidak membuat Thong Thian kecil hati. untuk menjumput. Ia berkata. barulah dua tangan Thong Hay bergerak. mereka pandai berenang dan tahan selulup lama. tidak demikian dengan Ong Cie It. Persahabatan mereka adalah dari persahabatan dua tigapuluh tahun. untuk mana ia mesti menahan napas. ia hanya mendatangkan tertawaan…‖ berkata See Thong Thian. Kata Ong Cie It dalam hatinya: ―Tidak heran Kwie-bun Liong Ong menjagoi sungai Hong Ho. kemudian Thong Thian menoleh kepada Auwyang Kongcu. kepandaianmu ini membuatnya aku takluk sekali! Kita biasa berkerjasama. Ketika itu See Thong Thian benar-benar telah membuat huruf ―Wie‖ yang terakhir. Apa yang luar biasa. untuk mengatakan: ―Auwyang Kongcu hendak mempertunjukan apa untuk kami dapat membuka mata kami?‖ Kongcu itu dengar suara orang ada mengandung nada menyindir. maka setelah totiang ini hendak menguji kepandaian kita.

Baru setelah habis semua jurus itu. untuk angkat cawannya yang ia hirup kering. Ong Cie It dan Auwyang Kongcu adalah yang paling dulu menampak perubahan. Orang lantas melihat kejadian ini. Kelihatannya pesta bakal ditutup sampai disitu. untuk digeser ke depannya. Sebelum batu itu turun. ini dimainkan di atas pelatok sumpit dan sumpitnya tidak ada yang patah atau miring karena ketindihan tubuh dan batu yang berat itu. tidak ada arak yang berceceran. Ong Cinjin angkat poci arak. tapi barang berat itu tidak mengurangi kegesitannya. ia pergi ke samping tambur batu di depan hoa-thia itu. Hal ini dapat dilihat semua orang. tidak ada tanda bahwa ia merasa letih. mereka ini bakal turun tangan…‖ Maka itu si imam segera melirik paderi dari Tibetb itu. Mereka insyaf juga. Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong berbangkit sambil tertawa. ia masih merendam kedua tangannya di dalam baskom. Yang lain-lain baru dapat melihat setelah uap itu nampak semakin nyata. hanya selagi yang lain-lain sudah selesai. arak meluncur keluar dari mulut poci. Paling akhir Ong Cie It isikan cawannya Kwee Ceng serta cawannya sendiri. Kemudian. Dan ketika batu yang pertama turun. ia tanggapi dengan dahi. Adalah biasa untuk tukang-tukang dangsu mempertunjukan permainan batu seperti Nio Cu Ong ini. terus ia berkata: ―Barusan aku saksikan kepandaian mengagumkan dari tuan-tuan. Cu Ong jalan perlahan-lahan ke tengah latar. ketiganya menjadi saling susul. mereka lihat pangeran itu ditotok hingga ia menjadi tak berdaya lagi.‖ Cie It berpikir. ia lompat turun dari pelatok sumpit. turun ke dalam cawan. maka itu. mirip asap. ―Hebat tenaga dalamnya paderi ini. Selagi semua orang heran dan kagum. haha-hihi. yang duduk berselang daripadanya. sikapnya wajar saja. Asal tangannya digeraki. ―Aku tidak boleh berlambat lagi. Ong Cie It cenderungkan tubuhnya.‖ Ia menjunjung tiga buah batu yang beratnya rua ratus kati lebih. begitu ia kerahkan tenaganya. Lalu menyusul batu yang kedua dan yang ketiga. lagi dua batu diangkat dan diapungi seperti yang pertama itu. terlepas dari tangan dan mencelat naik dua tombak tingginya.Pendekar Pemanah Rajawali berpikir: ―Kenapa orang-orang lihay ini dapat berkumpul di sini? Biasanya. batu itu kena terangkat. Leng Tie Siangjin mencuci tangan seperti yang lain-lain. celakalah Wanyen Kang. Habis itu ia berbicara. mereka menjadi heran. untuk kagetnya mereka. asal tangan kirinya digeraki. ―Mungkin sehabis dia. Dengan tangan kanannya. dan setelah turunkan ketiga batu itu. kemudian ia letaki poci arak. Irawan D Soedradjat Page 199 . Selang lagi sesaat. ―Cuma Leng Siangjin yang belum mengasih lihat kepandaiannya. ia memuji tak henti-hentinya. memberi hormat kepada orang banyak. Ong Cie It terperanjat. maka batu itu lantas diam di dahinya itu. untuk menemui satu saja sudah sukar! Apakah tak boleh jadi bahwa mereka ada mengandung sesuatu maksud?‖ Selagi si imam berpikir. Pelayan-pelayan telah datang dengan baskom yang terisi air hangat. Batu itu segera diapungkan. hanya yang istimewa. tubuh siapa ia terus angkat. Kwee Ceng kagum bukan main. berdiri di atas itu ia lantas bersilat. Dengan satu lompatan. Mereka justru menantikan tanda dari paderi itu untuk bergerak. tangannya menyambar kepada Wanyen Kang. memainkan ilmu silat ―Yan Ceng Kun. maka dengan ini aku hendak menghormati kamu dengan secawan arak.‖ katanya dalam hati. dan setiap tindakan kakinya tidak pernah meleset dari ujung sumpit. Leng Tie Siangjin beramai menginsyafi tenaga dalam yang terlatih baik dari imam ini. mereka heran. Dengan rangkapi kedua tangannya. ia kembali ke kursinya. akan kemudian terdengar suara perlahan dari air bergolak. mengisi hingga penuh. aku mesti mendahului turun tangan terhadap dia…‖ Tengah semua mata diarahkan kepada Leng Tie Siangjin. Kemudian lagi si imam taruh tangan kirinya di punggung pangeran itu. untuk semua tetamu membersihkan tangan mereka. Baskomnya si paderi lantas saja menghembuskan hawa napas sebagai uap. ia menangkap nadinya siauw-ongya itu. Ia mengasih lihat senyuman. Ong Cinjin berbuat begini tentulah disebabkan dia bersendirian saja. untuk ulur tangannya yang kanan ke pinggangnya batu. melewati dua orang. ia tiba diatasnya pelatok-pelatok sumpit Auwyang Kongcu tadi. See Thong Thian semua kaget berbareng gusar tetapi mereka tak segera dapat berdaya. sedang beratnya batu ada tujuh atau delapan puluh kati.‖ Ia tidak berbangkit tapi ia dapat menuangi arak ke dalam cawannya semua orang.

maka pangeran itu bebas dari totokan. tiba-tiba Leng Tie Siangjin berbicara. dengan sikutnya Ong Cie It bentur pinggangnya Wanyen Kang. setelah melintasi sebuah tikungan dan melihat di belakangnya tidak ada orang yang menyusul mereka. ―Totiang sangat lihay. lalu ia tarik tangannya Kwee Ceng untuk diajak pergi. tangan kanannya diulur. Siauw-ongya adalah seumpama cabang emas daun kumala. dari itu jikalau mereka ditukar guling. tidakkah siauw-ongya rugi? Bagaimana?‖ ―Ong Totiang. Mereka berdiam sejak Wanyen Kang dicekuk. Ia kerahkan tenaga latihannya dari beberapa puluh tahun untuk memcahkan serangan hebat itu. ia mengantarkan keluar. apabila ada tempo yang luang.‖ katanya. maka itu mesti ada harinya yang kita nanti bertemu pula!‖ Setibanya mereka di pintu hoa-thia. yang kau membuatnya orang sangat kagum!‖ demikian katanya. tetapi si imam pun tidak diam saja. Ong Cie It tersenyum. dengan sikapnya yang menghormat. aku hanya hendak menahan kau…‖ katanya. supaya aku yang lebih muda dapat banyak pengajaran. silakan sembarang waktu datang untuk pasang omong di sini. lantas saja ia muntah darah. ―Sungguh aku takluk.‖ Ia lantas berbangkit. ia bertanya: ―Nama Taysu bersemarak dalam dunia kangouw. tidak bermusuhan dengan tuan-tuan. See Thong Thian beramai tidak berani mencegah. bukan saja memang mereka seudah berjanji. Sebab bentrokan itu membuat ia terluka. contoh dalam dirinya Leng Tie Siangjin juga membikin hati mereka gentar. cuma pinto merasa suka kepadanya karena dia berhati polos dan pemurah.‖ Tanpa bersangsi sedikit juga. akan tetapi ketika ia buka kedua tangannya itu. ia tidak dapat mengendalikan diri. terus ia dikembalikan ke kursinya. Cuma hanya sekali bentrok. Habis itu ia mengangguk kepada semua orang. buat diajak berlalu dengan cepat-cepat dari istana itu. kau baik sekali!‖ berkata Nio Cu Ong tertawa. pinto minta sukalah tuan-tuan melepaskan dia hari ini. yang terus bilang: ―Urusan kita telah selesai. Ong Cie It segera tarik tangan Kwee Ceng. tetapi ia diejek si imam. ia menyambuti dengan sama kerasnya. beginilah kita mengambil keputusan. Sesudah belasan tombak keluar dari pintu istana. seraya melompat mundur. Ia merangkapkan kedua tangannya. Ia percaya semua jago itu. darahnya itu tidak nanti menyemprot keluar.Pendekar Pemanah Rajawali ―Pinto tidak berselisih. Sambil tersenyum. tidak berani mereka merintangi. Masih ia mengucapkannya: ―Ijinkanlah kami mengundurkan diri. Sampai bertemu pula!‖ Semua orang mengawasi denagn air muka guram. siuran angin hebat menyambar ke arah si imam! ―Celaka!‖ Ong Cie It berseru di dalam hatinya dengan ia lekas-lekas angkat kedua tangannya untuk membalas hormat. untuk menyambar lengannya Ong Cie It. ini anak sebaliknya adalah satu anak rakyat jelata. aku takluk!‖ berkata Leng Tie Siangjin yang air mukanya berubah. ia pun berbalik menyambar lengan lawan. mengapa kata-katanya tidak masuk hitungan?‖ Leng Tie menjadi gusar.‖ Semua orang berdiam. tapi belum dapat ia meneruskan.‖ berkata pula Ong Cie It. Leng Tie Siangjin mengubah tenaga dalamnya menjadi tenaga luar. ia kata kepada Ong Cinjin: ―Totiang. ―Maka pinto juga akan bebaskan ini siauw-ongya. ―Aku bukan hendak menahan ini bocah she Kwee. untuk memberi hormat. Coba ia berlaku tenang dan mainkan napasnya. Sebat luar biasa. ―Hm!‖ bersuara si imam. ―Baiklah. yang menanti jawaban. Bukankah ikan telah masuk ke dalam jala tetapi dapat lolos pula? Tidakkah itu sayang? Wanyen Kang telah lantas dapat menenangkan hatinya. dengan perlahan Giok Yang Cu berkata kepada bocah yang ia tuntun itu: ―Kau gendong aku sampai di rumah penginapan…‖ Irawan D Soedradjat Page 200 . ―Jikalau tuan-tuan memberi ampun kepada anak ini. Maka itu denagn memandang kepada mukaku. kedua tangan sama-sama ditarik pulang. ia bersemangat. Imam ini benar-benar tidak dapat dibuat permainan. ―Pinto juga tidak bersanak tidak bersahabat dengan anak ini. tidak peduli mereka licin atau licik. karena ia telah lantas dapat melihat sambaran itu.

Irawan D Soedradjat Page 201 . Ong Cie It merendam di dalam jambangan seraya memeramkan kedua matanya. anak yang baik!‖ berkata Ong Cie It. ―Sekarang pondong aku. ―Benar. sedang jongos ia pesan untuk melarang siapa saja masuk ke cimche itu. ―Itulah racun dari Cu-see-ciang.‖ Kwee Ceng tanya kemudian. ia letaki sepotong perak di atas meja seraya minta lekas disediakan jambangan. ―Bagus. baru air itu tak lagi berubah hitam. ―Kau isikan penuh air bersih…‖ ―Untuk apakah itu. untuk dibawa pergi denagn cepat. Ia cari orang hotel. ia memasukinya. ia masuki tubuh orang ke dalam jambangan hingga sebatas leher. ―Lekas…lekas cari sebuah jambangan besar…‖ berkata Ong Cie It. air jambangan yang bersih bening itu berubah menjadi hitam. maka sebentar kemudian. terus diisikan air dingin. sambil berlari-lari. maka lantas saja ia membungkuk di depan si imam itu. Syukur ia lantas dapat cari sebuah hotel yang kecil dan jorok. Tangn Pasir Merah sering aku menemukan tetapi tidak ada yang lihay seperti ini. dengan tenang ia mainkan napasnya. Ilmu semacam itu. air ini tukar dengan yang bersih. untuk menggendong dia. tetapi tanpa pedulikan itu. Permintaan itu diturut. Kira semakanan nasi lamanya. kau letaki aku di dalam jambangan itu. Ia tahu imam ini khawatir nanti disusul musuh. untuk menyembuhkan diri dari luka di dalam akibat pertempuran dahsyat dengan Leng Tie Siangjin. yang diletaki di cimche.‖ sahut Cie It. ia maju terus. Hari ini hampir aku kehilangan jiwa…‖ ―Totiang ingin dahar apa? Nanti aku pergi belikan. seperti ynag kehabisan napas. totiang?‖ Kwee Ceng tanya.‖ ia minta kepada Kwee Ceng. Kau larang orang lain datang dekat padaku…‖ Kwee Ceng tidak mengerti tetapi ia pondong si imam itu. Sementara itu ia merasai napasnya si imam semakin mendesak. ia pilih yang sepi saja. Kwee Ceng mengerti. Setibanya di dalam. Kwee Ceng lari ke dalam kamar untuk memberi kabar. lalu tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung. Ia mau mampir di sebuah hotel yang pertama diketemukan. Kwee Ceng melayani terus sampai ia tukar air tujuh kali. ia hanya memberi tanda dengan tangannya. mereka bisa terancam bahaya. Ia juga lantas dapat melihat roman pucat dari si imam. Ia juga memberi persen kepada si jongos. Ong Cie It mengangguk. Kwee Ceng menurut. atas mana Giok Yang Cu lantas saja tertawa dan berkata: ―Sudah tidak ada bahaya lagi!‖ Dengan pegangi pinggiran jambangan. Maka itu jongos kegirangan. Cie It tidak menyahuti. ―Apakah tangannya paderi Tibet itu ada racunnya?‖ ia tanya. ―Coba bantui aku bangun. Ia tidak tahu jalanan. Sekarang barulah Kwee Ceng ketahui orang tengah mengerahkan tenaga dalamnya. ia dapat merayap keluar. ia segera turunkan imam itu di atas pembaringan. Imam ini umpama kata cuma menang seurat. yang ia terluka dan ia sendiri tidak punya guna. ―Adakah totiang terluka?‖ ia tanya heran. tetapi Cie It bilang dengan perlahan: ―Cari…cari tempat yang sepi dan hotel kecil…‖ Kwee Ceng menurut. kulit muka si imam dari pucat pasi berubah menjadi bersemu dadu. supaya bocah itu lekas pergi. cepat-cepat ia sediakan barang yang diminta itu.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng kaget sekali. Ia dengar suara orang sangat lemah. ia girang sekali. Tapi ia menghela napas ketika ia berkata pula: ―Paderi dari Tibet itu sangat berbahaya!‖ Kwee Ceng berlega hati. Di pihak lain. Cie It sudah berendam pula di dalam air yang baru.

Pendekar Pemanah Rajawali Cie It pinjam perabot tulis pada tuan rumah. jauhnya kira-kira sepuluh lie. ―Akun mengerti sekarang. ia segera mampir dan serahkan resepnya itu. Sekarang kau tolongi aku lekas membeli obat. ia mengawasi. Ia pun beri lihat suratnya Oey Yong itu. menyerahkan sepucuk surat kepadanya. Ia ingat Oey Yong cerdik sekali. akibatnya akan menyebabkan cacad seumur hidup. ia menulis sehelai surat obat. Surat itu berbunyi singkat saja: ―Aku menunggu kau di telaga di luar kota barat. kenapa mereka tidak?‖ berkata si imam. Surat itu bagus tulisannya dan kertanya berbau harum. Bocah ini tidak berani mengganggu. untuk dibaca isinya. katanya baru saja ada orang yang borong. Lekas datang!‖ Surat itu tidak memakai tanda-tanda hanya lukisan gambar dari satu pengemis bocah. sebab mereka ketahui Ong Cinjin pasti membutuhkannya. ―Kenapa aku tidak mau pergi ke tempat yang berdekatan. ―Aku telah bebas dari bahaya jiwa. ―Siapa yang mengirim surat ini?‖ ia menanya dalam hatinya. ―Seorang gelandangan di jalan besar. Ia girang berbareng heran. Maka ia mau tanya jongos. Irawan D Soedradjat Page 202 . ―Jiwa manusia sudah ditakdirkan. Ada urusan penting yang hendak aku damaikan.‖ berkata si imam itu.‖ kata pelayan setelah ia membaca surat obat itu. empat rupa obat itu tidak ada. Maka itu ia beritahu bahwa ia ingin menemui sahabatnya itu. untuk lari ke rumah obat yang lain. ―Tidak usahlah kau pergi. Ia heran. Kwee ceng tuturkan pertemuannya sama Oey Yong. di dekat-dekat dimana ada toko obat. jikalau dalam duabelas jam itu tak disingkirkan. ia lantas taruh kepalanya di atas meja dan menangis megerunggerung. Ia menjadi bingung dan mendongkol.‖ kata bocah ini kemudian. Kwee Ceng masuk ke dalam kamar Cie It.‖ Tanpa minta penjelasan. Sungguh jahat!‖ Dengan masgul. terus ia duduk bersemadhi di atas pembaringan.‖ sahut jongos itu.‖ pikirnya kemudian. ―Di sana belum tentu obat itu telah orang beli juga…‖ Ingat begini. Untuk kegirangannya Kwee Ceng kenali romannya Oey Yong. ―Cara bagaimana kau kenal anak itu?‖ ia tanya. bek-yo dan hitam baru habis. Ia lantas kasih tahu bahwa ia mau pergi beli obat ditempat lain. ia ingin mencoba.‖ Kwee Ceng tidak menjadi putus asa. mungkin ia dapat berunding dengan temannya itu. gu-cit. ―Siapa bawa surat ini?‖ ia tanya jongos. Ia terus robek sambpul surat. ―Kebetulan saja obat hiat-kat. tujuh atau delapan rumah obat semua kehabisan empat rupa bahan obat itu. jongos datang dengan cepat. Kwee Ceng samber resepnya. ―Sayang tuan. Malah didua tiga rumah obat yang terbesar. ―Tentulah orang dari istana Chao Wang yang memborong semua obat itu. Ong Cie It tertawa. Kwee Ceng heran. Ong Cie It berpikir. obat-obatan itu masih tidak kedapatan. ia pergi sambil terus berlari. hingga mereka menjadi sahabat. kepada Ong Cie It ia tuturkan kegagalannya. hatinya lega. ―Kematian pun tidak harus disayangkan. Imam itu menghela napas. ia lihat imam itu lagi melatih kaki dan tangannya. Justru ia mau cari jongos. Untuk herannya. Di jalan perapatan ia lihat rumah obat yang pertama. ―Tetapi hawa racun di dalam tubuh belum bersih betul. diam-diam ia keluar dari kamar. Surat itu dialamatkan kepadanya.‖ Kwee Ceng mengerti. maka itu kenapa kau menangis?‖ Lalu dengan suara halus ia bernyanyi. yang tersenyum berseri-seri. Cit It tertawa pula. bocah ini lari pulang ke hotel. Kwee Ceng sangat jujur dan hatinya lemah. Makanya ia mesti pergi ke lain toko obat lagi. wajahnya menjadi guram.‖ ia berkata. ―Kita dapat pikir ini. Ia putus asa. Di sini ia diberi tahu. Laginya belum tentu aku bakal mati.

Kwee Ceng terkejut. sehidup semati. Ia lari keluar kota barat tanpa menghiraukan salju berterbangan menyampok mukanya. cuma dua ekor burung air yang terbang gelapakan di telaga. Kwee Ceng mengawasi dengan menjublak. tidak berani ia mengawasi terus-terusan.‖ berkata pula si nona. yang duduk di belakang perahu. ia masuki resep ke dalam sakunya. Belum terlalu lama atau dari tengah telaga terdengar suara tertawa halus. yang percaya betul sahabatnya itu. sedang tangan baju orang memain di antara sampokan angin. jikalau ia hendak mencelakai padamu. ! Tapi sahabatnya itu adalah satu pemuda dengan muka kotor dan pakaian compang-camping…. salju jatuh ke air. Kau harus berhati-hati. Si nona mengayuh perahunya sampai ke pinggir telaga. ―Baik. Dia menyebutnya ―Kwee Koko‖ = ―Engko Kwee‖. lantas lumer. Lantas ia tuturkan perihal kebaikannya sahabatnya itu. Ia lantas berpaling ke lain jurusan. Tidak ada bayangan orang sekalipun. Memandang ke sekitarnya. sahabat eratnya. ―Bagaimana. ―Baru berapa lama kamu bersahabat?‖ katanya. ―Kwee Koko. dia jauh terlebih lihay daripada kau. Ada Kuping Di Balik Tembok Kwee Ceng tiada bilang apa-apa lagi. yang rambutnya panjang meroyot melewati pundak. Tanpa mengalami sesuatu. kau pergilah lekas!‖ katanya. ―Mana itu dapat disebut persahataban sehidup semati? Jangan kau pandang enteng dia sebagai bocah! Kau tahu.. telaga itu tidak membeku. ―Semua anak muda berkelakuan seperti kamu. kulitnya putih halus. ada satu nona. akan perdengarkan suara nyaring: ―Oey Hiantee! Oey Hiantee!‖ Tidak ada jawaban. ―Apakah kau tidak kenal aku?‖ Kwee Ceng perhatikan suara orang. Bab 19. ia lihat sinar terang dari air telaga. Ia dipanggil selagi ia menoleh ke lain jurusan. rambutnya di bagian atas ada pitanya dari emas. Tapi ia masih dapat berpikir. hingga emas itu bercahaya di antara sinar putih dari salju. Kwee Ceng berpikir: ―Totiang membeilang begini sebab ia belum tahu sifatnya Oey Hiantee…‖ Ia menyebutnya ―Oey Hiantee‖ = ―adik she Oey‖.‖ menyatakan Kwee Ceng. Itulah sebuah perahu kecil dengan penumpangnya. kemudian ia kucak-kucak matanya dengan kedua tangannya. engko Kwee. Ia pun bertindak dari tepian. Ia dapatkan si nona bagaikan bidadari. Ia berdiri menjublak bagaikan orang yang tengah bermimpi. hanya aku tidak tahu pasti apa itu…‖ ―Kita bersahabat sangat erat. ia lihat sebuah perahu muncul dari bagian telaga yang lebat dengan pepohonan. Begitu ia menoleh. kau tentu tidak dapat layani dia…. ―Oey Hiantee! Oey Hiantee!‖ ia memanggil pula. Disekitarnya yang luas. Karena hawa udara tidak sangat dingin. kapan Kwee Ceng menoleh. disana tidak ada tapak-tapak manusia. di pepohonan. Adalah di tepian. lanats ia berlalu dari hotel. bajunya putih mulus. Aku lihat padanya seperti ada terselip sifat-sifat kesesatan. Orang berumur belum lima atau enambelas tahun. dengan hatinya masgul. eh. maka baiklah aku menunggu ia disini…‖ Maka ia lantas menantikan sambil ia pandangi keindahan telaga di musim salju itu.‖ ia pesan. ia tampak segala apa putih meletak. Kenapa sekarang tercipta menjadi satu bidadari? Irawan D Soedradjat Page 203 . tidak nanti ia celakai kau. Ong Cinjin tertawa. salju melulu yang tampak.‖ berkata Ong Cinjin. ―Dia luar biasa gerak tubuhnya. ―Di dalam ilmu kepandaian.‖ Di dalam hatinya. tidak tambah kecerdikan kamu…‖ Imam ini tetap percaya Oey Yong bukan orang dari golongan yang sadar. ―Apa mungkin dia sia-sia menanti aku dan dia lantas pergi duluan?‖ ia berpikir. Ong Cinjin menghela napas. Itulah suaranya Oey Yong. mari naik ke perahu!‖ tiba-tiba dia memanggil. bocah ini menjadi heran. mukanya dadu segar. romannya cantik sekali dan manis.Pendekar Pemanah Rajawali ―Aku telah saksikan caranya ia mempermainkan Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. tanda ia sangat percaya pada Oey Yong. sahabat sehidup semiati……. begitu ia tampak satu wajah yang manis sekali. Tapi ia buka mulutnya. ―Mungkin ia belum datang. Sesudah hampir sepuluh lie.

Pendekar Pemanah Rajawali

Dalam kesangsiannya, bocah ini mengawasi dengan mendelong. Nona itu tertawa. ―Aku adalah Oey Hianteemu!‖ ia berkata. ―Benarkah kau telah tidak kenali aku?‖ Oleh karena ia menatap, Kwee Ceng kenali roman mukanya Oey Yong yang alisnya lentik dan mulutnya mungil, cuma dandannya lain. ―Kau…kau….‖ katanya perlahan. Oey Yong tertawa pula. ―Sebenarnya aku adalah seorang wanita,‖ ia berkata pula. ―Siapa suruh kau panggil aku Oey Hiantee dan Oey Hiantee tak sudahnya? Ayolah lekas naik ke perahu ini!‖ Kwee Ceng sadar, lalu ia enjoti tubuhnya, lompat ke perahu itu. ―Oey Hiantee…!‖ katanya. Oey Yong tidak menyahuti, ia hanya kayuh perahunya ke telaga. Ia lantas sajikan bekalannya, barang makanan dan arak. ―Kita duduk disini, dahar dan minum arak sambil memandangi sang salju, bagus bukan?‖ katanya merdu. Kwee Ceng mencoba akan menenangi diri. ―Ah…aku tolol sekali!‖ katanya kemudian. ―Sampai sebegitu jauh, aku sangka kau adalah seorang pria! Selanjutnya tidak dapat aku panggil lagi kau Oey Hiantee….‖ Oey Yong tertawa. ―Kau juga jangan panggil aku Oey Hian-moay,‖ ia berkata. ―Aku dipanggil Yong-jie. Ayahpun selalu memanggil aku begitu.‖ Dengan sendirinya nona ini tidak menghendaki di panggil ―Oey Hian-moay‖ = ―adik Oey‖ dan menghendaki di sebut namanya saja. ―Yong-jie‖ berarti ―anak Yong‖. Tiba-tiba Kwee Ceng ingat sesuatu. ―Aku membekali kau tiamsim!‖ katanya seraya terus kasih keluar tiamsim yang ia bawa dari istananya Wanyen Kang. Cuma sekarang tiamsim itu sudah pusak-pesok tiada karuan. Oey Yong mengawasi macamnya tiamsim yang tidak karuan itu, ia tertawa. Merah mukanya Kwee Ceng, ia jengah. ―Tiamsim ini tak dapat dimakan…‖ katanya. Ia ambil itu, untuk dilemparkan ke air. Oey Yong sambar tiamsim itu. ―Aku bisa makan!‖ katanya. ―Aku doyan!‖ Selagi si bocah tercengang, Oey Yong sudah menggayem tiamsim itu. Kwee Ceng mengawasi, sampai ia mendadak menjadi heran sekali. Oey Yong dahar tiamsim itu, lantas perlahan-lahan matanya menjadi merah, lalu air matanya perlahan-lahan mengalir turun… ―Begitu aku dilahirkan, aku sudah tidak punya ibu,‖ berkata Oey Yong yang dapat membade pikirannya sahabatnya. ―Seumurku, belum pernah ada orang yang ingat aku seperti kau ini…‖ Air matanya mengalir deras, ia keluarkan sapu tangannya ang putih bersih. Kwee Ceng menyangka orang hendak menyusuti air matanya, tak tahunya dengan cara hati-hati nona itu bungkus sisa tiamsim yang kemudian ia masuki ke dalam sakunya. ―Aku akan dahar ini perlahan-lahan…‖ katanya, dan kali ini ia tertawa. Benar-benar aneh kelakuan bocah wanita ini, Kwee Ceng asing betul dengan tingkah lakunya ini ―Oey Hiantee‖. ―Bilangnya ada urusan penting yang kau hendak bicarakan dengan aku, urusan apakah itu?‖ kemudian ia tanya. Ia sudah lantas ingat surat si nona dan untuk apa ia datang ke telaga ini. Oey Yong tertawa ketika ia menyahuti: ―Aku panggil kau datang kemari untuk memberitahukan padamu bahwa aku bukannya Oey Hianteemu, hanya Yong-jie. Apa ini bukannya urusan penting?‖

Oey Yong melengos ke samping. ―Kau bilang aku manis dipandang?‖ ia tanya. ―Manis sekali!‖ sahut si anak muda. ―Kau mirip dengan bidadari dari puncak gunung salju!‖ Ia menghela napas.
Irawan D Soedradjat

Page

204

Kwee Ceng tersenyum. Orang benar-benar jenaka. ―Kau begitu manis untuk dipandang, kenapa mulanya kau menyamar sebagai penemis?‖ ia tanya.

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong tertawa pula. ―Pernahkah kau melihat bidadari?‖ tanyanya. ―Aku belum pernah lihat. Kalau aku dapat menemui, mana aku masih hidup lagi…?‖ Oey Yong heran. ―Eh, kenapa begitu?‖ ia menegaskan. ―Sebab pernah aku dengar pembilangannya orang-orang tua, siapa dapat melihat bidadari, dia tidak bakal kembali ke tanah datar, untuk selamanya ia akan duduk bengong saja di gunung salju, lalu lewat beberapa hari, dia akan mati beku….‖ Oey Yong tertawa pula. ―Sekarang kau melihat aku, kau bakal bengong saja atau tidak?‖ tanyanya kemudian. Mukanya Kwee Ceng menjadi merah. ―Kita toh sahabat-sahabat kekal, kita lain…‖ Oey Yong menganggguk. Lalu ia berkata dengan sungguh-sungguh: ―Aku tahu kau baik hati dengan sesungguhnya, terhadap aku, tidak peduli aku pria ataupun wanita, biarpun aku bagus atau jelek.‖ Ia berhenti sebentar. ―Dengan dandananku ini, kalau orang bersikap baik terhadap aku, apakah anehnya? Diwaktu aku menjadi pengemis, kau baik sekali dengan aku, nah itu barulah sahabat sejati.‖ Ia rupanya sangat girang, semabri tertawa ia kata pula: ―Aku ingin bernyanyi untukmu, sukakah kau mendengarnya?‖ ―Apakah tidak boleh besok saja kau bernyanyi?‖ Kwee Ceng minta. ―Sekarang ini aku mesti pergi beli obat untuk Ong Totiang.‖ Kwee Ceng lantas tuturkan tentang adu kepandaian di istana Chao Wang, sampai Ong Cie It, yang melindungi ia, mendapat luka parah, bahwa sia-sia belaka ia mencari obat. Oey Yong mengawasi, ia tertawa. ―Aku pun heran sekali menyaksikan kau lari mondar-mandir di jalan besar dan memasuki rumah obat dari yang satu kepada yang lain, entah kau bikin apa, tidak tahunya kau hendak membeli obat,‖ katanya. Kwee Ceng menduga, selagi ia lari mondar-mandir, Oey Yong tentu telah mengintai padanya tetapi ia tidak tahu, kalau tidak, niscaya nona itu tidak ketahui ia tinggal di hotel mana. ―Oey Hiantee,‖ katanya kemudian, ―Apakah boleh pinjam kuda merahmu yang kecil untuk aku pergi membeli obat?‖ Oey Yong menatap. ―Ketahuilah!‖ katanya. ―Kesatu, aku bukannya si Oey Hiantee! Kedua, kuda merah yang kecil itu adalah kepunyaanmu! Apakah kau sangka benar-benar aku menghendaki kudamu itu? Aku melainkan lagi menguji hatimu. Ketiga, di tempat sekitar ini, belum tentu kau dapat mencari obat itu…!‖ Kwee Ceng berdiam, hatinya pepat. Ia bingung sekali. Dugaan si nona nyata cocok betul dengan dugaannya Ong Cie It. Oey Yong tertawa. ―Sekarang aku nyanyai, kau dengari!‖ dia kata. Lalu kedua bibirnya yang merah tergerak terbuka, segera lidahnya bergerak, memperdengarkan nyanyiannya yang halus dan merdu. Kwee Ceng mendengari dengan hati kesengsem walaupun tidak mengerti jelas artinya nyanyian itu, hatinya menjadi goncang. Seumurnya belum pernah ia peroleh pengalaman ini. ―Inilah nyanyian Sui Ho Sian dari Sin Tayjin,‖ kata Oey Yong perlahan habis ia nyanyi. ―Bagaimana kau bilang, bagus atau tidak?‖ ―Aku kurang mengerti tetapi didengarnya menarik hati,‖ Kwee Ceng menjawab. ―Siapa itu Sin Tayjin?‖ ―Dialah Sin Kee Cie,‖ sahut Oey Yong. ―Menurut ayahku dialah satu pembesar jempolan yang menyinta negara dan rakyat. Ketika dulu hari utara Tionggoan terjatuh ke dalam tangan bangsa Kim dan Gak Bu Bok terbinasa di tangan dorna, tinggal Sin Tayjin sendiri yang masih berdaya untuk merampas pulang daerah-daerah yang terhilang itu.‖ Kwee Ceng tahu kekejaman bangsa Kim dari penuturan ibunya, karena ia hidup di Mongolia, ia kurang tahu. Ia kata: ―Belum pernah aku pergi ke Tionggoan, maka hal ini baik nanti saja perlahan-lahan kau tuturkan padaku. Sekarang kita mesti pikirkan daya menacri obat untuk Ong Totiang.‖
Irawan D Soedradjat

Page

205

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kau dengar aku,‖ berakta Oey Yong. ―Kita pesiar dulu disini, tak usah kau cemas tidak karuan.‖ ―Ong Totiang bilang, kalau dalam tempo dua belas jam ia tidak dapat obat, ia bisa celaka,‖ Kwee Ceng jelaskan. ―Aku tanggung, kau akan dapatkan obat itu,‖ si nona bilang. Mendengar si nona bicara dengan sungguh-sungguh dan juga percaya orang memang ada terlebih pandai dan cerdik daripadanya, Kwee Ceng dapat juga melegakan hatinya. ―Mungkin ia tidak akan membikin gagal,‖ pikirnya. Maka ia lantas layani si cantik itu minum arak dan dahar makanan sambil mereka pasang omong. Dengan gembira, dan secara menarik hati, Oey Yong tuturkan bagaimana caranya ia menggangtung Hong Ho Su Koay, bagaimana ia ganggu Hauw Thong Hay sampai si Ular Naga Kepala Tiga itu mendongkol bukan main. ―Bagus!‖ seru Kwee Ceng saking gembira. ―Memang bagus!‖ kata si nona. Dan keduanya bertepuk tangan. Tanpa merasa sang tempo telah berlalu, Oey Yong lihat bagaimana secara perlaha-lahan sang mega atau kabut mulai menutupi air telaga yang putih. Dengan perlahan sekali ia ulur tangannya, terus ia genggam tangannya si Kwee Ceng, sembari berbuat begitu ia kata dengan perlahan: ―Sekarang aku tidak takut apa juga…!‖ ―Kenapa?‖ menanya si anak muda dengan heran. ―Taruh kata ayah tidak menginginkan aku, kau tentunya sudi aku ikuti kau, bukankah?‖ si nona tanya tanpa ia menyahuti pertanyaan orang. ―Pasti!‖ jawab Kwee Ceng sungguh-sungguh. ―Aku sendiri, belum pernah aku bergembira seperti sekarang ini!‖ Oey Yong membawa tubuhnya mendekati dada si pemuda dan menempelkannya, maka Kwee Ceng lantas saja merasakan ia bagai terkurung bau harum, bau yang meliputi juga antero telaga, seluruh langit dan bumi…… Tanpa mengucap sepatah kata, keduanya saling berpegang tangan….. Lagi sekian lama, tiba-tiba Oey Yong menghela napas. ―Tempat ini sungguh indah, sayang kita bakal meninggalkannya…‖ katanya. ―Kenapa begitu?‖ Kwee Ceng tanya. Ia heran. ―Bukankah kita harus mencari obat untuk menolongi Ong Totiang?‖ sahut si nona. Kwee Ceng sadar, ia menjadi girang sekali. ―Ah, ke mana kita mencarinya?‖ ―Ke manakah perginya itu beberapa rupa obat yang dibutuhkan, yang tidak berada di rumah-rumah obat?‖ Oey Yong menanya. ―Tentulah semua itu dibeli oleh orangnya Chao Wang,‖ menyahut Kwee Ceng. ―Benar!‖ berkata si nona. ―Tetapi tidak dapat kita pergi ke sana!‖ Kwee Ceng bilang. ―Pergi ke sana artinya kita mengantari jiwa kita…‖ ―Habis apakah kau tega membiarkan Ong Totiang menjadi bercacad seumur hidupnya?‖ Oey Yong tanya. ―Jangan-jangan, karena lukanya itu berubah menjadi berbahaya, ia pun bisa hilang jiwanya….‖ Darahnya Kwee Ceng bergolak. ―Baik, aku akna pergi!‖ ia bilang. ―Tapi kau jangan turut…‖

Kwee Ceng berdiam. Ia tidak punyakan alasan untuk kata-katanya itu.

Irawan D Soedradjat

Page

206

―Jangan turut? Kenapakah?‖ tanya si nona.

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong mengawasi. ―Engko yang baik,‖ katanya perlahan. ―Kau kasihanilah aku. Umpama kata kau menemui bencana, apakah kau sangka aku dapat hidup seorang diri saja?‖ Kwee Ceng menjadi sangat bersyukur dan bergirang. ―Baiklah!‖ katanya kemudian. ―Mari kita pergi bersama!‖ Keduanya lantas mengayuh, membuatnya perahu mereka ke pinggir, setelah mendarat, mereka menuju langsung ke istana Chao Wang, ke arah belakang. Mereka memasuki pekarangan dengan melompati tembok. ―Engko Ceng, sempurna sekali ilmu ringan tubuhmu!‖ Oey Yong memuji selagi si anak muda mendekam di kaki tembok untuk memasang kuping dan mata. Mendengar pujian itu, Kwee Ceng gembira bukan main. Merdu sekali suara si nona. Tak lama, mereka mendapat dengar tindakan kaki dibarengi sama suara bicara sambil tertawa. Mereka menutup mulut. ―Siauw-ongya mengurung si nona di sini, kau tahu untuk apa?‖ terdengar seorang menanya. ―Siauw-ongya‖ itu ialah pangeran muda. ―Buat apa lagi!‖ tertawa orang yang kedua. ―Si nona ada demikian cantik! Sejak kau dilahirkan, pernahkah kau melihat nona secantik itu?‖ ―Kau hati-hati, sahabat!‖ kata yang pertama, ―Melihat macammu ini, hati-hatilah, nanti siauw-ongya kutungi batang lehermu…‖ Kwee Ceng lantas berpikir: ―Kiranya Wanyen Kang sudah punya pacar maka juga ia tidak sudi nikahi nona Bok. Dalam hal ini, dia tidak dapat disesalkan. Cuma mengapa ia mengurung nona itu? Mustahilkah si nona menolak dan ia hendak gunai kekerasan untuk memaksa?‖ Dua orang itu sudah lantas datang dekat sekali, yang satu membawa tengloleng, yang lainnya menenteng barang makanan. Yang membawa makanan itu berkata pula sambil tertawa: ―Siauw-ongya aneh! Dia mengurung orang, dia juga khawatir orang kelaparan! Lihat, sudah malam begini dia masih suruh mengantarkan barang makanan….‖ ―Jikalau tidak berlaku manis budi, mana dia dapat merampas hati si nona?‖ berkata yang membawa lentera. Lantas mereka lewat, suara tertawa mereka masih terdengar. ―Mari kita lihat!‖ berbisik Oey Yong, yang hatinya menjadi tertarik. ―Sebenarnya bagaimana sih cantiknya orang itu…‖ ―Lebih perlu kita mencari obat,‖ Kwee Ceng bilang. ―Aku ingin lihat dulu si cantik!‖ kata Oey Yong, yang tertawa. Kwee Ceng heran sekali. ―Apa sih bagusnya orang perempuan untuk di lihat?‖ katanya dalam hati. Ia tidak menginsyafi sifat wanita. Kalau satu nona mendengar ada nona cantik lainnya, sebelum melihatnya, hatinya tidak nanti puas, kalau dia sendiri cantik, lebih keras lagi keinginannya melihatnya itu. ―Ah, dasar anak kecil….!‖ Luas pekarangan dalam dari gedung Chao wang itu. Mereka berdua berjalan berliku-liku menguntit dua hamba tadi. Mereka tiba di depan sebuah gedung besar yang gelap, tapi ada yang jaga. Mereka lantas umpatkan diri, untuk mendenagri kedua kacung itu bicara sama penjaga rumah itu, yang ialah seoarng serdadu. Dia ini lantas membuka pintu, untuk mengijinkan orang masuk. Oey Yong cerdik. Ia menjumput sebutir batu, dengan itu ia menimpuk lentera orang, hingga apinya lentera itu padam seketika, membarengi mana ia tarik tangan si anak muda, untuk diajak berlompat masuk ke pintu. Kedua kacung dan serdadu itu tidak menduga jelek, mereka cuma menyangka batu jatuh dari atas. Sembari mengutuk, mereka nyalakan pula lenteranya. Setelah membuka sebuah pintu dalam, yang kecil, berdua mereka masuk lebih jauh.

Irawan D Soedradjat

Page

207

Pendekar Pemanah Rajawali

Oey Yong dan Kwee Ceng menempatkan diri di sebelah belakang, dengan hati-hati mereka menguntit pula, sampai mereka berada di depan sebuah ruang seperti kerangkeng binatang liar, jerujinya semua besi kasar. Di dalam situ ada dua orang, terlihat samar-samar seperti pria dan wanita. Satu bujang lantas memasang lilin, yang mana ia masuki ke dalam kerengkeng. Maka sekarang terlihat tegaslah dua orang yang terkurung itu. Mengenali mereka, Kwee Ceng terkejut. Mereka adalah Bok Ek serta gadisnya, yang tadi siang mengadakan pibu mencari jodoh. Bok Ek nampaknya tengah bergusar. Liam Cu duduk di samping ayahnya dengan kepala tunduk. ―Bagaimana dengan Wanyen Kang? Sebenarnya dia sukai nona ini atau tidak?‖ Kwee Ceng beragu-ragu. Kedua bujang itu memasuki barang makanan berikut araknya. Bok Ek sembat sebuah mangkok, terus ia lemparkan. Ia berseru: ―Aku telah terjatuh ke dalam tipumu yang busuk, kalau kau hendak membinasakan, binasakanlah! Buat apa kamu berpura-pura menaruh belas kasihan?!‖ Belum sampai si bujang membilang apa-apa, di sebelah luar terdengar suaranya serdadu penjaga pintu yang tadi: ―Siauw-ongya baik?‖ Mendengar itu, Kwee Ceng dan Oey Yong berpaling, lalu lekas-lekas mereka mencari tempat sembunyi. Segera juga terdengar suara membentak sari Wanyen kang, yang datang dengan tindakan lebar: ―Siapa yang membikin Bok Loenghiong gusar? Awas, sebentar aku hajar patah kaki anjingmu!‖ Kedua hamba itu lantas bertekuk lutut. ―Hambamu tidak berani…‖ berakat mereka. ―Lekas berlalu!‖ membentak pula si pangeran. ―Ya, ya…‖ menyahuti kedua hamba itu, yang berlalu dengan cepat. Hanya setibanya mereka di pintu luar, mereka saling mengawasi dengan mengulurkan lidahnya masing-masing….. Wanyen Kang tunggu sampai orang telah merapatkan daun pintu, ia hampiri Bok Ek dan gadisnya. ―Jiwi silahkan kemari!‖ ia berkata, suaranya sabar sekali. ―Aku hendak membilangi sesuatu kepada kamu, harap kamu jangan salah mengerti.‖ ―Kau telah kurung kami sebagai pesakitan, apakah artinya undanganmu ini?!‖ Bok Ek menegur. Ia gusar sekali. ―Maafkan aku, menyesal sekali,‖ berkata Wanyen kang. ―Untuk sementara aku minta jiwi harap bersabar. Aku pun merasa tak enak hati.‖ ―Kau boleh akali bocah umur tiga tahun!‖ Bok Ek membentak pula. ―Aku tahu baik sifatnya kamu orang besar! Hm!‖ Wanyen Kang hendak bicara pula, saban-saban ia terhalang oleh bentakan orang tua itu, tetapi ia sabar luar biasa, sebaliknya dari bergusar, ia tertawa. ―Ayah, coba dengar dulu apa ia hendak bilang,‖ akhirnya Liam Cu berkata dengan perlahan. ―Hm!‖ orang tua itu perdengarkan suara di hidungnya. ―Nona seperti putrimu, mustahil aku tidak sukai dia‖ berkata Wanyen Kang. Mendengar itu, wajahnya Liam Cu menjadi merah, ia tunduk lebih rendah. ―Hanyalah aku adalah satu pangeran dan aturan rumah tanggaku keras sekali,‖ Wanyen Kang berkata pula. ―Umpama kata orang mendapat tahu aku mempunyai mertua seorang kangouw, bukan cuma ayahku bisa memarahinya, malah ada kemungkinan sri baginda juga nanti menegur ayahku itu…‖ ―Habis kau mau apa?‖ menanya Bok Ek. Ia anggap orang bicara beralasan juga. ―Sekarang ini aku mau minta jiwi berdiam dulu beberapa hari di sini, untuk sekalian merawat lukamu,‖ sahut pangeran itu. ―Setelah itu barulah kamu pulang ke kampung halamanmu. Nanti, selang satu atau setengah tahun, setelah suasana sudah reda, akan aku nikahi putrimu ini, baik dengan jalan aku pergi menjemput ke rumahmu atau dengan minta locianpwee datang ke mari. Tidakkah itu lebih bagus?‖ kata pangeran ini lebih lanjut.
Irawan D Soedradjat

Page

208

Pendekar Pemanah Rajawali

Bok Ek berdiam. Ia tengah memikir satu hal lain. ―Peristiwa ini bisa merembet ayahku,‖ Wanyen Kang berkata pula, sambil tertawa. ―Oleh karena kenakalanku, beberapa kali ayah pernah ditegur sri baginda raja, maka kalau urusan ini sampai didengar oleh sri baginda, pastilah pernikahan ini gagal. Maka itu aku minta sukalah locianpwee menyimpan rahasia.‖ Bok Ek gusar. ―Menurut caramu ini!‖ katanya sengit, ―Kalau nanti anakku menikah sama kamu, untuk seumur hidupnya ia mesti main sembunyi-sembunyi! Dia jadinya bukan satu istri yang terang di muka umum!‖ ―Dalam hal ini pastilah aku akan mengatur lainnya,‖ Wanyen Kang memberi keterangan. ―Sekarang pun aku sudah pikir nanti minta perantaraannya beberapa menteri sebagai orang pertengahan, supaya kita nanti menikah secara terhormat….‖ Wajahnya Bok Ek berubah. ―Kalau begitu, pergi kau panggil ibumu datang ke mari,‖ katanya. ―Aku ingin kita omong depan berdepan dan secara terus terang!‖ Wanyen Kang tersenyum. ―Mana dapat ibuku menemui locianpwee?‖ katanya. ―Jikalau aku tidak dapat bicara dengan ibumu, biar bagaimana, tidak sudi aku melayani kamu!‖ kata Bok Ek kaku, tangannya menyambar sepoci arak, yang dia timpukkan di antara jeruji besi. Bok Liam Cu kaget dan berduka menyaksikan sikap ayahnya ini. Sebenarnya, semenjak memulai bertanding sama pangeran itu, ia telah menaruh hati, maka juga ia senang mendengar pembicaraannya si anak muda yang ia anggap beralasan. Ia tidak sangka, ayahnya telah ambil sikapnya yang tegas itu. Wanynn Kang geraki tangannya menyambar poci arak itu, terus ia letaki itu ditempatnya, di atas meja. ―Menyesal tidak dapat aku menemani lebih lama,‖ katanya. Ia tertawa dan memutar tubuhnya untuk berlalu. Kwee Ceng anggap omongannya Wanyen Kang beralasan. Bukankah si pangeran ada kesulitannya sendiri? Maka itu, menyaksikan kemurkaannya Bok Ek, ia lantas berpikir; ―Baiklah aku bujuki ia…‖ Ia lantas geraki tubuhnya, untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi ia tidak dapat wujudkan apa yang ia pikirkan itu. Oey Yong telah tarik tangan bajunya, untuk ajak ia keluar. ―Apakah sudah diambil?‖ mereka lantas dengar suaranya Wanyen Kang, yang bicara sama satu hambanya. ―Sudah,‖ sahut si hamba, yang terus angkat sebelah tangannya. Nyata ia mencekal seekor kelinci. Wanyen Kang menyambuti dengan kedua tangannya, tiba-tiba saja ia patahkan kedua kakinya kelinci itu, yang ia terus masuki ke dalam sakunya, setelah mana ia bertindak dengan cepat. Binatang itu berpekik satu kali, lalu kelengar. Dua-duanya Oey Yong dan Kwee Ceng heran sekali. Merak lantas kuntiti pangeran itu, yang jalan memutari sebuah pagar bambu, setelah mana terlihatlah sebuah rumah tembik putih yang kecil. Itulah rumah bermodel rumah rakyat di Kanglam. Maka heran di dalam pekarangan istana mentereng itu ada sebuah rumah yang begini sederhana. Maka mereka jadi bertambah heran. Wanyen Kang menolak pintu rumah itu dan masuk ke dalamnya. Dengan lekas Kwee Ceng berdua lari ke jendela untuk memasang kuping sambil mengintai di sela-sela jendela itu. Mereka percaya mesti ada perbuatan yang aneh dari si pangeran itu. ―Ma!‖ mereka lantas dengar suara si pangeran. ―Ya..!‖ demikian suara penyahutan perlahan, suaranya seorang wanita. Wanyen Kang lantas masuk ke dalam kamar.

―Mama, apakah hari ini kau kurang sehat?‖ tanya Wanyen Kang seraya pegangi tangan si nyonya.
Irawan D Soedradjat

Page

209

Untuk bisa melihat, Kwee Ceng berdua menghampirkan sebuah jendela lain. Maka mereka lantas tampak satu nyonya tengah berduduk di pinggiran meja, sebelah tangannya menunjang dagu, matanya mendelong. Dia belum berumur empatpuluh tahun dan mukanya cantik sekali. Di rambut dekat kupingnya dia memakai setangkai bunga putih. Pakaiannya semua terdiri dari kain kasar.

Pendekar Pemanah Rajawali

Nyonya itu menghela napas. ―Bukankah aku tak berlega hati untukmu?‖ sahutnya. Wanyen Kang sanderkan diri di tubuh nyonya itu, yang ia panggil ibu, agaknya ia manja sekali. ―Ma, bukankah anakmu berada di sini?‖ katanya, aleman. ―Toh aku tidak kekurangan walaupun sebelah kakiku…?‖ ―Kau mengacau, kalau ayahmu dengar itu, masih tidak apa,‖ berkata si ibu itu, ―Tetapi gurumu? Bagaimana kalau ia mendengar kabar? Tidakkah hebat?‖ ―Ma,‖ berkata si pangeran, tertawa, ―Tahukah kau siapa imam itu yang datang menyela untuk menolongi orang?‖ ―Siapakah imam itu?‖ ―Dialah adik seperguruan dari guruku…‖ ―Celaka!‖ berseru si nyonya kaget. ―Pernah aku melihatnya gurumu disaat ia tengah murka! Dia dapat membunuh orang! Sungguh menakutkan…!‖ Wanyen Kang agaknya heran. ―Pernah mama melihat suhu membunuh orang?‖ dia tanya. ―Di manakah itu? Kenapa suhu membunuh orang?‖ Nyonya itu angkat kepalanya, memandang lilin. Ia agaknya tengah memikir jauh. ―Itulah sudah lama, sudah lama,‖ katanya kemudian dengan perlahan. ―Ah, kejadian daulu hari itu hampir aku lupa….‖ Wanyen Kang tidak menanyakan lebih jauh, sebaliknya dengan gembira, ia kata; ―Ong Susiok itu telah mendesak aku, menanyakan bagaimana urusan pibu hendak diselsaikan. Aku telah menjanjikan untuk menerima baik. Asal si orang she Bok itu datang, apa yang diatur, aku terima baik.‖ ―Apakah kau sudah bicara dengan ayahmu?‖ tanya si nyonya itu. ―Bersediakah dia akan memberikan perkenanannya?‖ Wanyen Kang tertawa. ―Ma, kau memang baik sekali!‖ katanya. ―Dari siang-siang telah aku perdayakan orang she Bok itu dan gadisnya datang ke mari, sekarang mereka ditahan di kerangkeng di belakang sini. Mana Ong Susiok dapat mencari mereka?‖ Selagi si pangeran ini demikian gembira, Kwee Ceng sebaliknya bertambah kemendongkolannya dan kemurkaannya. Kata pemuda ini dalam hatinya; ―Aku menyangka dia bermaksud baik, siapa tahu ia sebenarnya sangat licik!‖ Si wanita pun tidak setujui putranya itu. ―Kau telah permainkan anak dara orang,‖ katanya kurang senang, ―Kau juga kurung mereka di sini. Apakah artinya itu? pergi lekas kau merdekakan mereka! Kau berikan mereka uang, kau menghanturkan maaf, lantas kau persilahkan mereka pulang ke kampung halaman mereka.‖ Kwee Ceng mengangguk-angguk. Ia setujui sikap nyonya itu. ―Begitu baru benar,‖ pikirnya. Wanyen kang tetap tertawa. ―Ma, kau belum tahu,‖ katanya. ―Orang kangouw seperti mereka tidak memandang uang! Jikalau mereka dilepaskan, setelah merdeka, tentu mereka akan buka suara lebar-lebar. Kalau itu sampai terjadi, bagaimana suhu bisa tak ketahui urusan ini?‖ ―Habis, apakah kau hendak kurung mereka seumur hidup mereka?‖ tanya si nyonya. Putra itu tetap tertawa. ―Akan aku bicara baik-baik dengan mereka, nanti aku perdayakan hingga mereka suka pulang ke kampung halaman mereka,‖ ia bilang. ―Biarlah di sana mereka menanti-nanti hingga mereka putus asa…‖. Lantas ia tertawa terbahak.

Irawan D Soedradjat

Page

―Jangan turuti adat…!‖ demikian ia dengar bisikan di kupingnya, berbareng denagn mana sebuah tangan yang halus menutup mulutnya dan tangan yang lain menarik tangannya. Merdu bisikan itu……

210

Kembali bangki hawa amarahnya Kwee Ceng, hingga ia ayun sebelah tangannya ke daun jendela dan mulutnya pun hendak dibuka.

Pendekar Pemanah Rajawali

Cuma sejenak itu, pemuda ini insyaf akan kekeliruannya, maka ia menoleh kepada si nona manis di sisinya dan bersenyum. Karena itulah Oey Yong yang mencegah padanya. Kemudian ia mengintai pula ke dalam kamar. ―Tua bangka she Bok itu sangat licin,‖ terdengar pula suaranya Wanyen Kang. ―Telah aku bujuki dia, dia tak mau makan umpan. Maka biarlah dia ditahan lagi beberapa hari, untuk lihat akhirnya dia suka menurut atau tidak.‖ ―Aku lihat nona itu bagus romannya dan gerak-gerakinya, aku suka dia,‖ berkata si nyonya. ―Aku pikir hendak bicara dengan ayahmu, supaya kau diijinkan menikah dengannya. Bukankah dengan begitu selesai sudah semuanya?‖ ―Ah, mama, ada-ada saja!‖ berkata sang putra sambil tertawa. ― Kita dari keluarga apa? Cara bagaimana aku bisa menikah dengan satu nona kangouw? Ayah sering bilang padaku bahwa dia hendak mencarikan satu jodoh dari keluarga agung. Sayangnya ialah ayah bersaudara dengan raja yang sekarang…‖ ―Apakah yang dibuat sayang?‖ nyonya itu bertanya. ―Sebab,‖ menyahut sang putra, ―Kalau tidak, pasti aku kana mendapatkan putri raja dan aku bakal menjadi menantu raja!‖ Nyonya itu menghela napas, ia tak bicara lagi. ―Ma, ada satu lagi hal yang lucu,‖ Wanyen Kang berkata pula, tak ketinggalan tertawanya. ―Tua bangka she Bok itu bilang ingin bertemu sama kau, ingin dia bicara sendiri, untuk mendapat kepastian, setelah itu barulah dia mau mempercayai aku.‖ ―Tidak nanti aku bantui kau memperdayakan orang, itulah perbuatan yang tidak baik!‖ berkata pula si ibu. Wanyen Kang tertawa geli, ia jalan mondar-mandir di dalam kamar. Oey Yong dan Kwee Ceng dapat kesempatan memperhatikan kamar itu. Semua meja dan kursi terbuat dari kayu kasar. Pembaringan serta perlengkapannya mirip dengan kepunyaan kebanyakan petani di Kanglam, semua kasar dan jelek. Di tembok ada tergantung tombak serta sebuah pacul. Di pojokan ada sebuah mesin tenun. Maka, menyaksikan semua itu, mereka menjadi heran. ―Wanita ini mulia sebagai selir, mengapa ia tinggal dalam kamar dengan perlengkapan semacam ini?‖ mereka itu berpikir. Justru itu Wanyen Kang menekan ke dadanya, ke sakunya, lalu terdengar dua kali pekikan perlahan. ―Eh, apakah itu?‖ sang ibu tanya. ―Oh, hampir aku lupa!‖ sahut putranya itu, agaknya ia terperanjat. ―Tadi di tengah perjalanan pulang aku melihat seekor kelinci yang terluka, aku bawa dia pulang. Mama, coba kau tolong obati dia…‖ Ia lantas keluarkan kelinci putih itu, diletaki di atas meja. Dengan kakinya patah, binatang itu tidak dapat jalan. ―Anak yang baik!‖ berkata si nyonya. Ia lantas mencari obat, untuk mengobati kelinci itu. Lagi-lagi darahnya Kwee Ceng bergolak. Ia sungguh membenci orang punya kelicinan dan kekejaman itu, terutama untuk memperdayakan seorang ibu yang hatinya demikian mulia. Tidakkah binatang yang harus dikasihani itu sengaja disakiti? Bukankah ibu telah didustai, untuk mengobati binatang yang sengaja disiksa? Kalau terhadap ibu sendiri saja ia mendusta demikian, maka bisalah diketahui buruknya sifat anak itu. Oey Yong yang tubuhnya menempel sama tubuh si anak muda merasakan tubuh orang bergemetar. Ia menginsyafi bahwa orang ada sangat gusar. Tentu saja ia khawatir kawan ini perluap hawa amarahnya itu hingga Wanyen kang bisa pergoki mereka. Ia lantas pegang tangannya si pemuda itu, yang ia tarik untuk diajak mengundurkan diri.

―Tahukah kamu obat itu disimpan di mana?‖ Kwee Ceng tanya. Nona itu menggeleng kepala. ―Aku tidak tahu,‖ sahutnya. ―Mari kita cari…‖
Irawan D Soedradjat

Page

211

―Jangan pedulikan dia, mari kita pergi cari obat,‖ bisiknya.

Pendekar Pemanah Rajawali

Kwee Ceng bersangsi. Dimana mesti mencari obat di istana demikan besar? Bukankah berbahaya kalau mereka kepergok See Thong Thian atau lainnya? Ia tidak sempat berpikir lama-lama. Pikirannya itu berhenti secara tiba-tiba. Sebab kupingnya segera mendengar orang mengoceh seorang diri dan di depan matanya berkelebat sinar api. ―Anak yang manis, kalau kau tidak mencintai aku, kau mencintai siapa lagi? Maka, kau kasihanilah aku…‖ Sembari perdengarkan suaranya yang berlagu, terlihatlah seorang bertindak dengan perlahan-lahan. Dia mencekal sebuah tenglong. Selagi Kwee ceng hendak menyembunyikan diri di belakang sebuah pohon, Oey Yong justru maju memapak orang itu, hingga ia menjadi tercengang, lalu lantas saja ia diam bagai patung, hatinya goncang keras. Oey Yong telah ancam dia dengan sebatang pisau belati. ―Siapa kau?‖ si nona menanya, membentak tapi perlahan. Orang itu kaget dan ketakutan, selang berepa detik baru ia dapat menyahuti, suaranya tidak lancar. Ia adalah pengurus surat-surat di istana itu. ―Kau menjadi pengurus, bagus!‖ kata si nona. ―Di mana disimpannya obat-obatan yang hari ini pangeranmu yang muda menitahkan orang membeli?!‖ ―Semua itu siauw-ongya yang simpan sendiri, aku…aku tidak tahu…‖ Oey Yong cekal tangan orang dengan tangan kirinya untuk memencet, sedang ujung pisaunya ditempel kepada kulit leher. Orang itu kesakitan akan tetapi ia tidak berani berteriak. ―Kau hendak bilang atau tidak?!‖ si nona mengancam. ―Benar-benar aku tidak tahu….‖ jawab orang itu dengan gugup. Oey Yong kerahkan tenaga di tangan kirinya itu, lalu dengan menerbitkan suara membeletak, patahlah tangan kanan si pengurus itu. Ia buka mulutnya, untuk berteriak tetapi dengan cepat si nona sambar kopiah orang, untuk dipakai menyumbat mulutnya. Maka hanya sekali saja dia itu mengasih dengar suara keras tertahan, lalu ia roboh dengan pingsan. Kwee Ceng tidak menyangka satu nona demikian cantik dan halus gerak-geriknya dapat berbuat demikian telengas, ia menjadi tercengang, tak dapat ia membilang apa-apa. Oey Yong menotok dua kali kepada iganya pengurus istana itu, lantas ia sadar. Ia tarik kopiah orang, untuk dibelesaki ke kepelanya. ―Apakah kau ingin tangan kirimu pun dipatahkan?‖ ia tanya. Pengurus itu lantas saja menangis, ia menjatuhkan diri berlutut. ―Dengan sebenarnya aku tidak tahu, percuma umpama nona membunuh aku,‖ katanya. Sekarang Oey Yong mempercayainya, tetapi ia kata: ―Sekarang pergi kau kepada pengeranmu itu, bilang bahwa kau jatuh dan patah tanganmu. Kau kasih tahu bahwa tabib membilang kau perlu obat hiat-kat, gu-cit, thim-tha dan bu-yok. Obat itu semua tak dapat dibeli di kota raja ini, maka kau mintalah kepada pangeran itu.‖ Pengurus itu sudah membuktikan si nona tidak pernah main gila, ia suka menurut. ―Siauw-ongya ada pada ibunya, lekas-lekas kau pergi padanya!‖ Oey Yong bilang. ―Aku akan ikuti padamu. Jikalau kau tidak dengar aku dan sengaja kau membuka rahasia, akan aku patahkan batang lehermu, akan aku kerek matamu!‖

Irawan D Soedradjat

Page

Wanyen Kang masih ada pada ibunya, mereka masih pasang omong. Ia heran ketika ia lihat datangnya pengurus itu, yang bermandikan peluh dan air mata, dengan separuh mewek dia mohon diberi obat. Dia mengaku seperti ajarannya Oey Yong.

212

Tubuhnya orang itu bergemetar, ia merayap bangun, lalu dengan menggertak gigi, menahan sakit, ia lari ke arah kamarnya onghui, si selir.

Pendekar Pemanah Rajawali

―Kasihlah dia obat!‖ berkata onghui, yang hatinya lemah. Ia lihat muka orang berpucat-pasi dan ia merasa kasihan. Wanyen Kang mengkerutkan alisnya. ―Semua obat itu ada apa Nio Losianseng,‖ katanya. ―Pergi kau mengambil sendiri!‖ ―Tolong ongya memberikan sehelai surat,‖ si pengurus meminta. Onghui itu sudah lantas sediakan perabot tulisnya. Wanyen Kang menulis beberapa kata-kata, untuk si Nio Losianseng, ialah io Cu Ong. Pengurus itu mengangguk-angguk mengucapkan terima kasihnya. ―Lekas kau pergi!‖ menitah onghui. ―Sebentar sesudah sembuh baru kau haturkan terima kasihmu!‖ Pengurus itu lantas saja bertindak keluar. Ia baru jalan beberapa tindak, atau pisau belati telah tertanda di pundaknya. ―Pergi kepada Nio Losianseng!‖ menitah Oey Yong separuh berbisik. Orang itu berjalan, baru beberapa puluh tindak, ia sudah terhuyung, rupanya tak sanggup ia menahan rasa sakitnya. ―Sebelum kau dapatkan obat itu, jangan harap jiwamu selamat!‖ si nona mengancam pula. Kaget hamba itu, ia mengeluarkan keringat dingin, entah dari mana, datanglah tenaga kekuatannya, maka dapat ia berjalan terus. Sekarang ia jalan dengan menemui beberapa hamba lainnya, mereka itu lihat ia diikuti si nona dan pemuda, mereka itu heran tetapi tidak ada di antara mereka yang menanya apa-apa. Tiba di kamarnya Nio Cu Ong, pintu kamar tertutup terkunci. Pengurus itu tanya satu hamba, ia dapat jawaban bahwa Nio Losianseng lagi menghadari perjamuannya pengeran di ruang Hoa Cui Kok. Kwee ceng lantas merasa kasihan menampak orang seperti tidak kuat jalan, ia lantas mencekal tubuh orang, untuk dipepayang. Bersama-sama mereka menuju ke tempat pesta itu. ―Berhenti! Siapa kamu!‖ Itulah teguran oleh dua orang, yang memapaki sekira beberapa tindak dari Hoa Cui Kok. Mereka itu masing-masing memegang golok dan cambuk. ―Aku hendak menemui Nio Losianseng,‖ sahut si pengurus, yang perlihatkan suratnya siauw-ongya. Dia lantas dikasih lewat. Ketika Kwee Ceng dan si nona ditanya, pengurus itu mendahului menerangkan: ―Mereka kawan kita.‖ Oey Yong berlaku tenang. Ia kenali dua orang itu, ialah dua dari keempat Hong Ho Su Koay, yaitu Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong. Mereka ini sebaliknya tidak mengenali orang, yang telah dandan sebagai asalnya, seorang nona. Hanya melihat Kwee Ceng, mereka tercengang, lantas mereka mau seraya angkat tangan mereka. Tapi sejenak itu, tidak dapat mereka menyerang dengan golok dan cambuk mereka. Tiba-tiba saja iga mereka kaku. Karena dengan kesebatannya yang luar biasa, Oey Yong sudah totok mereka. Kwee Ceng kagum vukan main. Ia berada di samping si nona tetapi ia tak sempat melihat gerakan tangan orang. Mendadak ia mengingat kejadian di rumah makan di Kalgan, tempo kawanan nona-nona serba putih hendak rampas kudanya, tahu-tahu mereka itu roboh tanpa berkutik. ―Pastilah mereka telah terkena tangan lihay dari si Yong ini,‖ pikirnya lebih jauh. ―Eh, kau pikirkan apa?‖ menegur si nona sambil tertawa menampak orang termenung. Ia lantas saja tarik Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong ke belakang pot-pot kembang, untuk disembunyikan, kemudian ia tarik tangan si pemuda, untuk menyusul si pengurus. Di depan Hoa Cui Kok, Oey Yong tolak tubuh si pengurus, untuk ia masuk, ia sendiri bersama Kwee Ceng lantas lompat naik ke payon, guna mengintai dari jendela, hinngga mereka dapat melihat jelas ke dalam. Terang sekali ruang dalam itu di mana ada sebuah meja penuh dengan pelbagai barang hidangan dan arak, tetapi yang membuat Kwee ceng terperanjat adalah kapan matanya bentrok sama hadirin yang duduk mengitari meja
Irawan D Soedradjat

Page

213

Pendekar Pemanah Rajawali

itu, sampai hatinya berdenyutan. Ia lihat dan mengenali Auwyang Kongcu dari pek To San, Kwie-bun Liongong See Thong Thian, Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay, Som Sian Lao-koay Nio Cu Ong dan Cian-ciu Jintouw Pheng Lian Houw. Menemani mereka itu, duduk di sebelah bawah adalah Chao Wang Wanyen Lieh, yaitu Liok-hong-cu atau pangeran keenam dari negara Kim. Duduk di samping, di atas kursi tay-su-ie yang besar dan tebal amparnya, adalah Tay-cu-in Leng Tie Siangjin, kedua mata siapa terbuka sedikit dan mukanya bagaikan kertas kuning, suatu tanda lukanya tak enteng. Diam-diam Kwee Ceng girang sekali, maka ia kata di dalam hatinya: ―Kau hendak mencelakai Ong Totiang, kau juga dapat merasakan enak….‖ Si pengurus bertindak masuk untuk terus berlutut di depan Nio Cu Ong, kedua tangannya mempersembahkan suratnya siauw-ongya. Nio Cu Ong menyambuti, ia baca surat itu, terus ia awasi si pembawa surat, kemudian ia angsurkan surat itu kepada Wanyen Lieh. ―Ongya, benarkah ini tulisannya siauw-ongya?‖ ia tanya. Chao Wang membaca surat itu, ia mengangguk. ―Benar,‖ katanya. ―Berikanlah dia obat itu.‖ Nio Cu Ong menoleh kepada kacung di sisinya. ―Tadi siauw-ongya ada mengirimkan empar macam rupa obat,‖ katanya. ―Kau ambilkan masing-masing itu satu tail, berikan kepada koankee ini.‖ Bocah itu menyahuti, lalu ia ajak si koankee atau pengurus itu mengundurkan diri. Kwee Ceng berbisik di kupingnya Oey Yong: ―Mari kita pergi, lekas! Semua mereka itu sangat lihay!‖ Oey Yong tertawa perlahan, ia menggeleng kepala. Oleh karena ia menggoyang kepalanya,rambutnya si nona mengenai mukanya si pemuda, hingga Kwee Ceng merasa gatal dari muka terus ke hatinya. Pemuda ini tidak hendak berbantahan, ia hanya lantas geraki tubuhnya untuk melompat turun. ia baru bergerak, atau si nona telah sambar tangannya, untuk ditahan. Untuk itu, nona itu mesti menyantel keras kedua kakinya pada payon, habis mana perlahan-lahan ia kasih turun tubuh si pemuda. Kwee Ceng terkejut, di dalam hatinya ia kata, ―Ah, aku semberono sekali. Tidakkah ini berbahaya? Bukankah orang-orang di dalam itu lihay semua? Jikalau aku berlompat mundur, bagaimana mereka tidak dapat memergokinya?‖ ia insyaf, dasar baru masuk dalam dunia kangouw, ia jadi kurang berpengalaman. Dengan lantas ia ikuti si pengurus dan kacung itu. Satu kali ia menoleh ke belakang, ia dapatkan Oey Yong masih belum turun, dengan masih bergelantungan nona itu mengawasi ke dalam ruangan. Oey Yong tidak segera berangkat. Untuk mencari tahu orang di dalam ketahui tentang dirinya atau tidak, ia mengintai terus. Ia lakukan itu setelah itu setelah ia lihat Kwee Ceng sudah pergi belasan tembok jauhnya. Katika ia mengawasi ke dalam, sinar matanya bentrok sama sinar mata tajam dari Pheng Lian Houw, ynag kebetulan berpaling. Ia tidak berani mengawasi terus, ia hanya memasang kuping. Seorang yang suaranya serak, berkata; ―Saudara-saudara, bagaimana pandangan kamu mengenai Ong Cie It? Adakah ia datang dengan maksud sengaja atau itu cuma kebetulan saja?‖ ―Peduli ia datang dengan sengaja atau bukan!‖ berkata seseorang, yang suaranya nyaring dan keras sekali. ―Dia telah merasai tangannya Leng Tie Siangjin, jikalau ia tidak mampus, sedikitnya ia mesti bercacad seumur hidupnya!‖ Oey Yong lantas mengawasi pula. Ia dapatkan orang itu adalaha Pheng Lian Houw yang matanya tajam, yang tubuhnya kate dan kecil. Seorang, yang suaranya tedas sekali, berkata smabil tertawa; ―Selama aku berada di wilayah Barat, aku pernah dengar namanya Coan Cin Cit Cu yang kesohor itu, sekarang terbukti mereka benar-benar lihay, coba Leng Tie Siangjin tidak menghadiahkan dia pukulan Tay-ciu-in, pastilah hari ini kita roboh di tangan mereka itu.‖ Seorang yang suaranya keras tetapi dalam berkata; ―Auwyang Kongcu, janganlah kau menempeli emas di mukamu….. Kita berdua pihak sama-sama nampak kerugian, siapa juga tidak ada yang menang…‖

Irawan D Soedradjat

Page

Sampai di situ, tuan rumah mempersilahkan tetamunya mengeringi arak mereka.

214

Orang yang dipanggil Auwyang Kongcu itu berkata pula: ―Biar bagaimana, kalau ia tidak kehilangan jiwanya, dia bakal bercacad. Siangjin cuma perlu beristirahat sekian waktu.‖

Pendekar Pemanah Rajawali

Habsi itu terdengar seorang berkata: ―Tuan-tuan telah memerlukan datang dari tempat ynag jauh, atas itu siauwong sangat berterima kasih. Sungguh inilah keberuntungan dari Negara Kim yang tuan-tuan telah dapat diundang!‖ ―Dia tentulah Chao Wang Wanyen Lieh,‖ pikir Oey Yong. Atas kata-kata itu, beberapa orang perdengarkan suara yang merendah. Setelah itu, terdengar pula suaranya Chao Wang: ―Leng Tie Siangjin adalah paderi suci mulia dari Tibet, Nio Losianseng adalah guru silat kenamaan Kwan-gwa, Auwyang Kongcu biasa hidup berbahagia di wilayah Barat dan belum pernah datang ke Tionggoan. Pheng Ceecu jago dari Tionggoan dan See Pangcu jago dari sungai Hong Hoo. Dari lima tuan-tuan, satu saja sudi datang membantu, pasti uasaha besar dari Negara Kim bakal berhasil, apapula sekarang lima-limanya telah datang semua. Hahahaha!‖ Agaknya bukan main gembiranya pangeran itu. ―Jikalau ongya ada titah apa-apa, pasti kami akan lakukan itu dengan sepenuh tenaga kami,‖ berkata Nio Cu Ong sambil tertawa. ―Apa yang dikhawatirkan adalah tenagaku tidak cukup nanti dan mensia-siakan kepercayaan ongya yang dilimpahkan kepada kami. Jikalau itu sampai terjadi, pastilah kami akan kehilangan muka kami.‖ Ia pun lantas tertawa. Kelima orang itu adalah bangsa jago dari beberapa puluh tahun, maka itu meskipun mereka bicara secara merendah, masih tetap tak hilang sifat jumawanya. Chao Wang mengangkat pula cawannya, mempersilahkan mereka itu minum. Terus ia kata: ―Siauw-ong telah mengundang tuan-tuan, pasti sekali siauw-ong akan menaruh kepercayaan kepada tuan-tuan, urusan bagaimana besar juga, tidak nanti siauw-ong sembunyikan, dilain pihak, apabila tuan-tuan telah ketahui segala apa, aku percaya tidak nanti tuan-tuan beritahukan itu kepada lain orang siapa juga, untuk mencegah pihak yang bersangkutan nanti mendapat ketahui dan dapat bersiap sedia….‖ Semua orang itu mengerti maksudnya pangeran ini, yang mempercayai mereka tetapi secara tidak langsung masih memesan untuk mereka menyimpan rahasia itu. ―Baik Ongya tetapkan hati, tidak nanti kami membikin rahasia bocor,‖ kata mereka. Dengan sendirinya mereka itu tegang hatinya. Mereka percaya, Chao Wang bakal percayakan mereka satu rahasia besar. ―Di tahun Thian-hwee ketika dari Sri Baginda Thay Cong kami dari Negara Kim,‖ berkata pula Chao Wang kemudian, ―Itulah tahun Soan-hoo ketujuh dari Kaisar Hiw Cong dari Keluarga Tio. Ketika itu dua Panglima besar kami ienmeho dan Kanlipu telah pimpin angkatan perangnya menerjang kerajaan Song, mereka berhasil menawan kedua Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong dari kerajaan musuh itu. Sejaka jaman dahulu, belum pernah negeri kami sekuat itu, walaupun demikian, sampai sekarang ini, Keluarga Tio itu yang tetap duduk sebagai raja di Hangciu. Tahukah tuan-tuan sebab dari pada itu?‖ Semua orang terdiam. Mereka heran raja muda itu membicarakan urusan negera. Cuma Nio Cu Ong yang lantas memohon penjelasan. ―Duni telah ketahui yang kerajaan kami telah berulang-ulang kalah di tangan Gak Hui, tentang ini tak usah disembunyikan lagi,‖ berkata pula Chao Wang. ―Wunchu, panglima kami, pandai mengatur tentara, akan tetapi menghadapi Gak Hui, dia selamanya kena dipecundangi. Benar kemudian Gak Hui dapat dibinasakan Cin Kwee yang dititahkan pemerintah kami, akan tetapi tenaga kami sudah lemah, kami tidak sanggup lagi berperang ke Selatan. Atas ini, aku tidak puas, tanpa mengukur tenaga sendiri, ingin aku mendirikan suatu jasa besar untuk negeraku. Untuk ini, tidak dapat tidak, aku mebutuhkan bantuan tuan-tuan.‖ Orang saling memandang, bagi mereka belum jelas maskudnya raja muda ini. Mereka bukan orang peperangan tukang merobohkan atau merampas kota. Chao Wang tampaknya sangat puas den bernafsu ketika ia berbicara pula, suaranya sedikit menggetar. Katanya: ―Baru beberapa bulan yang lalu, diluar dugaanku, aku telah dapat menemui sebuah surat peninggalan pemerintahku yang dulu. Itulah suratnya Gak Hui yang bunyinya luar biasa. Selang beberapa bulan, barulah aku dapat terka maksudnya surat itu. Gak Hui menulis itu ketika ia dipenjarakan. Rupanya ia mengerti bahwa ia tidak bakal hidup lebih lama lagi, tetapi ia sangat mencintai negaranya, maka ia tinggalkan warisannya itu. Itulah surat yang merupakan rahasia ilmu perang, bagaimana harus mendidik tentara dan berperang. Ia mengharapkan warisannya itu terjatuh di dalam tangan seorang yang nanti bisa pakai itu untuk melawan negara
Irawan D Soedradjat

Page

215

Pendekar Pemanah Rajawali

Kim. Tapi Cin Kwee menjaga keras sekali, sampai hari matinya Gak Hui, surat itu tidak dapat diberiakan kepada orang luar. Para hadiran sangat tertarik hatinya, sampai mereka melupakan arak dan barang hidangan mereka. Oey Yong pun ketarik hatinya. ―Gak Hui dapat mengetahui warisan itu tidak dapat diloloskan, ia terus simpan itu ditubuhnya,‖ Chao Wang melanjuti. ―Sebagai gantinya, ia meninggalkan sepucuk surat warisan, yang bunyinya tidak keruan junterungannya. Cin Kwee mempunyai kepandaian sebagai conggoan, ia masih tidak dapat menangkap artinya surat wasiat itu, maka surat itu ia dikirim ke negriku. Selama beberapa puluh tahun, surat itu disimpan di dalam istana. Dipihak kami juga tidak ada yang bisa mengartikan surat itu, orang hanya menduga, saking berduka dan penasaran, disaat-saat kematiannya, Gak Hui menulis ngaco belo. Tidak tahunya, itu adalah sebuah teka-teki istimewa.‖ Orang heran tetepi sekarang mereka memuji kecerdikan Chao Wang itu. ―Gak Hui begitu pandai, kalau kita bisa dapatkan surat warisan ilmu perangnya itu, bukankah gampang untuk negaraku mempersatukan benua ini?‖ berkata Chao Wang. Mendengar itu barulah semua orang dapat menerka maksudnya pangeran ini. Mereka pada berkata dalam hati masing-masing. ―Kiranya Chao Wang mengundang kita untuk minta kita menjadi pembongkar kuburan…‖ ―Turut dugaanku semula, surat wasiat itu mestinya dibawa Gak Hui ke dalam liang kubur,‖ Chao Wang berkata pula. Ia berdiam sebentar, agaknya ia berpaling. ―Tapi….Tuan-tuan adalah orang-orang yang gagah, mustahillah aku nanti meminta tuan-tuan pergi mencuri dengan membongkar kuburan? Di samping itu, ada satu keberatan lainnya. Gak Hui itu memang musuh negaraku, tetapi ia adalah satu orang gagah dan setia, satu pencinta negara, yang siapa pun menghormatinya, dari itu, cara bagaimana aku berani mengganggu tempat perkuburannya? Karena ini, aku sudah lantas memikirkannya terlebih jauh. Aku pun telah membongkar surat-suratnya kerajaan Song, yang telah dikirim semenjak dulu-dulu. Diakhirnya, aku telah berhasil memperoleh suatu sumber lain. Ketika itu hari Gak Hui menjalankan hukuman mati di paseban Hong Po Teng, dia dikubur di tepinya jembatan Ciong An Kio di dekat paseban itu, baru kemudian kaisar Song Hauw Cong memindahkan kuburannya ke tepi telaga See Ouw, dimana pun didirikan sebuah rumah abu untuknya. Dilain pihak lagi, pakaian dan kopiahnya Gak Hui disimpan di tempat lain, ialah di kota raja Lim-an. Karena itu tidak gampang untuk mencari surat wasiat itu. Pada ini ada satu rahasia yang tidak boleh didengar lain orang, atau orang nanti mendahului kita mengambilnya. Harus diketahui di wilayah Selatan ada banyak sekali orang-orang gagah. Maka itu, setelah memikir lama, tidak ada jalan bagiku kecuali mengundang tuan-tuan, yang terhitung orang-orang Rimba Persilatan kelas satu.‖ Mendengar ini, para hadiran itu pada mengangguk. ―Pernah aku menduga, mungkin surat wasiat itu telah diambil lain orang,‖ Wanyen Lieh berkata lebih jauh. ―Bukankah pakaiannya Gak Hui itu telah dipindahkan? Ada kemungkinan, selama perpindahan itu, suratnya telah diambil orang. Hanya kalau surat itu sampai ada yang ambil, orang itu mesti mengerti kepentingannya itu. Siapa yang menghormati Gak Hui, dia tentu tidak berani menggangu pakaiannya. Aku percaya, belum ada lain orang yang mengetahuinya. Kalau kita sudah sampai di sana, aku percaya, kita bakal dapatkan surat itu. Memang, kalau dikata sukar, sukarnya bukan main, akan tetapi di mata orang lihay, gampangnya bukan buatan. Sebenarnya surat wasiat itu disimpan di…..‖ Baru Chao Wang mengucapkan sampai di situ, tiba-tiba pintu ruang ada yang tabrak hingga terbuka terpentang, lalu satu orang terlihat menebros masuk, matanya bengkat dan mukanya matang biru. Dia lantas lari ke Nio Cu Ong. ―Suhu…!‖ dia berseru, lantas suaranya tertahan. Segera orang kenali, dia adalah si kacung yang tadi Nio Cu Ong titahkan pergi mengambil obat……

Bab 20. Tombak Besi Dan Pakaian Lama

Irawan D Soedradjat

Page

216

Pendekar Pemanah Rajawali

Kwee Ceng telah terus ikut si pengurus bersama si kacung pergi untuk mengambil obat. Jalanan ada berlikuliku. Selama itu ia masih terus mengancam si pengurus, yang khawatir nanti jatuh atau main gila. Akhirnya mereka tiba di tempatnya Nio Cu Ong. Kacung itu membuka pintu, ia masuk ke dalam dan menyulut lilin. Begitu ia berada di dalam kamar, Kwee Ceng lihat obat-obatan memenuhi meja, pembaringan dan lantai. Di situ pun ada banyak botol dan guci, besar dan kecil. Rupanya Nio Cu Ong gemar sekali membuat obat-obatan. Kacung itu rupanya mengerti obat-obatan, ia sudah lantas mengambil kertas, untuk menjumput empat rupa obat yang dibungkus masing-masing. Obat-obatan mana terus ia serahkan pada si koanke. Tapi Kwee Ceng yang, yang tak tahan sabar, sudah lantas mengulur tangannya, akan sambut obat-obatan itu, terus tanpa pedulikan si koanke, ia bertindak untuk pergi lebih dulu. Si koankee itu cerdik, walaupun ia telah terluka, pikirannya berekrja. ia sengaja jalan perlahan. Ia tunggu sampai Kwee Ceng dan si kacung sudah keluar dari kamar, dengan sebat ia tiup padam api lilin, segera ia sambar daun pintu, untuk digabruki dan dikunci, menyusul mana ia berteriak-teriak: ―Ada penjahat! Ada penjahat!― Kwee Ceng terkejut, ia memutar tubuh, ia mencoba membuka pintu tetapi sia-sia belaka, ia sudah ketinggalan. Ia gusar dan terburu nafsunya, selagi begitu si kacung sambar bungkusan obat di tangannya, bungkusan mana terus dilemparkan ke empang di dekat mereka. Kacung itu adalah muridnya Nio Cu Ong, dia masih kecil tetapi cerdik, mendegar teriakannya si koanke, dia menjadi kaget dan heran, kemudian dia menjadi curiga, maka ia rampas obat itu dan dibuang. Dalam gusarnya, kwee Ceng kerahkan tenaganya menghajar pula pintu kamar. Kali ini daun pintu dapat digempur terbuka. Dalam sengitnya, ia serang si koanke yang segera roboh tanpa dapat membuka suara. Tempo Kwee Kwee Ceng menoleh, si kacung sudah lari. Dalam murkanya, ia berlompat untuk mengejar, segera ia berada di balakang kacung itu, pundak siapa ia jambret. Kacung itu dapat dengar suara menyambar, ia berkelit sambil mendak, lalu seraya memutar tubuh, ia membalas menyerang denagn sapuan kakinya. Kwee Ceng jadi tambah penasaran, setelah berkelit, ia menyerang dengan hebat. Dua kali kacung itu kena dihajar mukanya, cuma sebab ia masih keburu membuang mukanya, dia tak sampai roboh. Adalah kemudian, setelah kepalanya ke disampok, dia roboh dengan pingsan. Dengan satu dupakan, Kwee Ceng bikin tubuh si kacung terlempar ke tempat tumbuh rumput didekatnya, habis itu ia lari ke dalam kamar. Ia lantas menyalakan api. Terlihat si koanke masih rebah tanpa berkutik. Ia mengawasi obat, ia menjadi bingung. tadi ketika si kacung mengambil obat, dia tidak perhatikan darimana orang mengambilnya. Pun nama obat yang tertempel di peles obat tidak dapat ia baca, sebab itu ditulis dalam hurufhuruf Nuchen. Tapi ia mesti bekerja cepat, tidak bisa ia memikir lama-lama. ―Tadi kacung ini berdiri di dekat sini, baik aku ambil semua obat ini, sebentar Ong Totiang yang pilih sendiri,‖ pikirnya kemudian. Maka ia lantas ambil kertas, ia membungkus setiap obat. Karena ia bekerja cepat, tanpa sengaja Kwee Ceng kena langgar sebuah keranjang di sampingnya. Ketika itu jatuh ke lantai, tutupnya terbuka. Untuk kagetnya, ia lihat isi keranjang adalah sebuah ular besar yang tubuhnya merah mulus. Malah ular itu segera menyambar! Kwee Ceng kaget, syukur ia masih sempat berlompat. Sekarang ia dapat melihat dengan tegas, tubuh ular ada sebesar cangkir, separuh tubuhnya masih ada di dalam keranjang, jadi belum ketahuan berapa panjangnya tubuh ular itu. Yang aneh adalah itu warna merah mulus. Lidah ular, yang diulur keluar, bercabang dua, lidah itu bergerak-gerak tak hentinya. Selagi mundur, Kwee Ceng membentur meja, lilin di atas meja roboh dan padam, maka ruangannya segera menjadi gelap-gulita. Tapi obat telah didapat, ia lantas lari ke pintu untuk mengangkat kaki. Tiba-tiba ia merasakan kakinya disambar dan dipeluk, atau itu mirip dengan libatan dadung/tali, saking kaget, ia melompat untuk meloloskan diri. Tapi ia dapat berhasil. Sebaliknya ia lantas merasakan barang adem mengenakan lengannya.Kembali ia menjadi kaget. Ia tahu sekarang bahwa ia telah dililit ular. Tapi ia tak hilang akal, dengan tangan kirinya hendak ia cabut golok emas hadiah Jenghiz Khan. Disaat itu, ia merasakan bau obat tercampur bau amis menyambar hidungnya, lalu mukanya terasa dingin. Itulah ular yang telah menjilati mukanya! Lagi sekali ia kaget tak terkira! Tak sempat ia menghunus goloknya, dengan tangan kirinya ia sambar leher ular untuk dipencet.

Irawan D Soedradjat

Page

217

Pendekar Pemanah Rajawali

Ular itu agaknya kaget, dia bertenaga besar, sebelum lehernya tercekik, ia pentang mulutnya, untuk mencoba mengigit muka Kwee Ceng. Dilain pihak, ia melibat dengan mengerahkan tenaganya, hingga Kwee Ceng lantas merasai tubuhnya terlilit keras, sampai napasnya mulai sesak bahkan tenaga tangan kirinya mulai berkurang. Baunya ular itu sangat mengganggu pernapasan si anak muda, hingga ia menjadi mual, hendak ia muntah. Adalah sejenak kemudian, ia kehabisan tenaga, ia seperti hendak pingsan, cekikan tangan kirinya terlepas sendirinya….. Adalah disaat itu dilain pihak si kacung telah sadar dari pingsannya. Dia mendapatkan kamar gelap sekali. Dia tahu, orang jahat itu tentu telah kabur. Maka tidak ayal lagi, ia lari keluar dari kamar, dia kabur kepada gurunya itu. Oey Yong terkejut akan dengar keterangan si kacung, denagn gerakan ―Burung meliwis turun di pasir datar‖, dengan enteng sekali, ia lompat turun. ia menaruh kaki tanpa menerbitkan suara. Meski begitu, tak urung ia telah keperogok. Inilah sebabnya, segera setelah keterangan si kacung, semua orang menjadi curiga. Mereka memang semuanya orang-orang lihay. Sejenak saja tubuh io Cu Ong sudah mencelat keluar, bahkan segera ia menghadang di depan si nona. Dia lantas menegur; ―Siapa kau?‖ Oey Yong menginsyafi bahaya. Ia tahu orang lihay. Disamping dia ini, masih ada yang lainnya. Maka ia hendak menggunakan akal. Untuk ini ia cerdik sekali. Tiba-tiba saja ia tertawa dengan manis. ―Bunga bwee ini indah sekali, maukah kau memetiknya setangkai untuk aku?‖ ia berkata kepada orang she Nio itu, jago dari Kwan-gwa. Nio Cu Ong tercengang. Tidak ia sangka bakal menghadapi satu nona, malah satu nona yang begitu cantik manis, yang suaranya halus dan merdu. Tanpa merasa ia mengulurkan tangannya, akan memetik setangkai bunga, yang untuk terus diangsukan kepada si nona. Oey Yong menyambuti. ―Loya-cu, terim kasih!‖ katanya, kembali tertawa dengan suaranya yang halus merdu itu. Di ambang pintu berkumpul semua orang lainnya, merek aitu berdiri mengawasi kedua orang itu. Ketika Oey Yong lantas memutar tubuhnya, untuk berlalu. ―Ongya,‖ Pheng Lian Houw menanya, ―Adakah nona ini, nona dari istana ini?‖ ―Bukan,‖ menjawab Wanyen Lieh sambil menggelengkan kepala. Hanya dengan menjejak dengan kakinya yang kiri, Lian ouw sudah mencelat ke depan si nona. ―Tunggu nona!‖ katanya, ―Aku pun akan memetik setangkai bunga untukmu…!‖ Terus ia ulur tangannya yang kanan, hendak menangkap lengan orang, tetap sebat luar biasa, ia ubah tujuan, untuk meraba buah dada si nona. Oey Yong kaget bukan main. Ia sebenarnya hendak berpura-pura tidak mengerti ilmu silat. ia gagal. Lian Houw, sebagai jago di antara berandal di Hoopak, adalah sangat tajam matanya dan cerdik. Tidak bisa lain, ia geraki tangan kanannya, jari tangannya menyambuti tangan jago itu. Lian Houw terperanjat waktu ia merasakan getaran di jalan darahnya koik-tie-hiat, lekas-lekas ia menarik pulang tangannya itu, dengan begitu dia dapat lolos dari bahaya. Dia menjadi heran, nona demikian muda tetapi demikian lihay, dia pun tak kenal ilmu silat si nona itu. Tentu saja ia tidak ketahui kepandaian yang Oey Yong dapatkan sebagai warisan, namanya Totokan Bunga Anggrek. Yang lain-lain pun terkejut dan heran. ―Nona, kau she apa?‖ Lian Houw lantas menanya, ―Siapakah gurumu?‖ ―Bukankah bunga bwee ini permai sekali?‖ tanya Oey Yong sambil tertawa. Ia terus berlagak pilon, ia tidak menunjukki kagetnya tadi. ―Bukankah kau menghendaki aku menancapnya di dalam pot?‖ Sikap ini kembali membuatnya orang heran dan menjadi menduga-duga. ―Kau dengar apa tidak, apa yang kami tanya?‖ Lian Houw menegur. Ia tidak sabaran, dia lantas menunjuki kesembronoannya dengan campur bicara.
Irawan D Soedradjat

Page

218

Pendekar Pemanah Rajawali

―Apakah itu yang kau bicarakan?‖ balik tanya Oey Yong, tertawa. Justru itu, Pheng Lian Houw dapat mengenali si nona ini adalah si nona yang diwaktu siangnya sudah mempermainkan Hauw Thong Hay, cuma waktu itu orang menyamar menjadi satu bocah dekil. ―Lao Houw, apakah kau tidak kenal nona ini?‖ ia tanya sahabatnya. Ia tertawa. Thong hay tercengang. Lantas ia awasi si nona, dari atas sampai bawah dan sebaliknya. Cepat sekali, ia mengenalinya. Mendadak saja hawa amarahnya meluap. ―Ha, anak busuk!‖ dia mendamprat. Dia pun terus pentang kedua tangannya untuk menubruk. Dengan berkelit ke samping, Oey Yong bebaskan dirinya. Tapi di sini ia dipapaki See Thong Thian, yang tubuhnya tahu-tahu berkelebat dan tangannya menyambar ke lengan. ―Kau hendak lari ke mana?‖ menegur Kwie-bun Liong Ong. Oey Yong terkejut. Ia tidak menyangka lengannya bisa disambar secara demikian. Tapi ia tidak gugup, ia pun tidak kekurangan akal. Dengan dua jari dari tangan kirinya ia menotok kepada kedua matanya si orang she See itu. Hebat See Thong Thian itu, hampir tak nampak bagaimana ia geraki tangannya, juga tangan kiri si nona sudah lantas kena dia cekal. ―Tidak tahu malu!‖ mendamprat Oey Yong, yang kaget sekali. ―Tidak tahu malu apa?!‖ balik tanya See Thong Thian. ―Tua bangka menghina anak kecil! Laki-laki menghina anak perempuan!‖ Oey Yong menyahuti. See Thong Thian terperanjat. Dia memang seorang tua dan kenamaan juga. Memang, dengan perbuatannya ini, terang dia telah menghina anak kecil, seorang anak perempuan….. ―Masuk ke dalam!‖ katanya seraya kendorkan cekalannya. Oey Yong tahu tidak dapat ia menolak, ia lantas turut masuk. ―Nanti aku bikin dia bercacad dulu baru kita bicara!‖ kata Hauw Thong Hay, yang ada sangat mendongkol. Dia terus maju, untuk menanyakan kata-katanya itu. ―Tanyakan dulu, siapa gurunya dan siapa yang menitah ia itu datang ke mari!‖ berkata Pheng Lian Houw. Hauw Thong Hay tidak pedulikan jago dari Hoopak itu, sebelah tangannya sudah lantas melayang. Oey Yong berkelit. ―Benar-benarkah kau hendak menurunkan tangan?‖ ia menanya. ―Aku hendak cegah kau melarikan diri!‖ jawab Thong Hay. Dia paling takut si nona minggat, karena terang sudah, dia bakalan tidak dapat mengejar…. ―Jikalau kau benar hendak adu kepandaian denagn aku, baiklah!‖ kata Oey Yong yang sikapnya sabar tapi rada mengejek. Ia terus mengisikan enam buah cawan arak di atas meja. Cawan yang satu ia letaki di batok kepalanya dan dua yang lain ia cekal di antara kedua tangannya. Lantas ia menantang: ―Beranikah kau mencontoh aku ini?‖ ―Setan alas!‖ berseru orang she See itu, jago tunggal dari sungai Hong Hoo. Oey Yong tidak mengambil mumat, ia memandang kepada orang banyak. Ia kata, ―Aku tidak bermusuhan dengan tuan ini, bagaimana jadinya apabila aku keliru menggeraki tangan dan kena melukakan dia?‖

Irawan D Soedradjat

Page

Kembali Oey Yong tidak mengambil mumat. Ia kata pula, ―Dengan cara begini hendak aku mengadu kepandaian dengannya! Siapa yang araknya tumpah lebih dahulu, dialah yang kalah? Akurkah kau?‖

219

Thong Hay maju setindak, kedua matanya terbuka lebar. ―Kau dapat melukakan aku? Kau?‖ katanya sengit.

Pendekar Pemanah Rajawali

Nona ini menggunai kecerdikannya. Ia tahu bahwa ia tidak bakal meloloskan diri dari orang-orang lihay ini. Sekalipun terhadap Hauw Thong Hay, ia menang cuma sebab ia andalkan kegesitan dan kelincahannya. Ia percaya, dengan bergurau secara demikian, ia bakal dapat lolos. ―Siapa kesudian main-main denganmu!‖ Thong Hay membentak. Kembali ia menyerang sambarannya bagaikan angin. ―Bagus!‖ Oey Yong tertawa, seraya ia berkelit. ―Pada tubuhku ada tiga buah cawan, kau snediri boleh bertangan kosong! Nah mari kita adu kepandaian!‖ Bukan alang kepalang gusarnya Thong Hay. Dia berusia jauh terlebih tua, meski ia tidak sangat kesohor seperti See Thong Thian, kakak seperguruannya itu, ia toh ternama juga. Sekarang dia dipermainkan secara begini! Tanpa berpikir sejenak juga, ia jumput sebuah cawan arak, untuk diletaki di batok kepalanya, habis mana ia sambar dua yang lain, masing-masing dengan sebelah tangan. Kemudian, dengan sama cepatnya, ia tekuk sedikit kaki kirinya, untuk menyusul melayangkan kaki kanannya mendupak nona itu! ―Bagus! Nah ini barulah namanya enghiong sejati!‖ Oey Yong berseru sambil tertawa, seraya ia berkelit. Belum sempat ia melanjuti perkataannya atau dia sudah ditendang pula, kali ini berulang-ulang. Karena dengan kedua tangan mencekal cangkir dan kepala ditaruhkan cangkir juga, Thong Hay tidak dapat berbuat lain dari menggunai kedua kakinya. Oey Yong akhirnya repot akan tetapi ia selalu dapat lompat berkelit atau mengegos tubuhnya, menyingkir dari tendangan. Untuk ini, ia mesti seperti memutari ruangan itu. Nio Cu Ong memasang mata kepada gerakan kakinya si nona cilik. Itulah gerakan bagaikan ―Mega berjalan atau air mengalir‖. Tubuh tetap tegak, tidak bergerak sedikit juga, dan kedua kaki seperti ketutupan kun tetapi bergeraknya cepat. Dipihak sana, tindakannya Hauw Thong Hay cepat dan lebar. Si nona berkelit bukan cuma main berkelit saja, ia saban-saban mencoba dengan sikutnya akan membentur lengan lawannya, supaya benturannya dapat membuat arak tumpah atau ngeplok. ―Bocah ini begini lihay, sebenarnya sulit untuk melatih diri hingga begini rupa…‖ berpikir jago tua ini. ―Hanya, lama-lama dia toh bakal menjadi bukan tandingannya Lao Hauw…‖ Disaat itu, tiba-tiba Cu Ong ingin obat-obatannya, maka lenyaplah keinginannya menyaksikan pertempuran, ingin ia lari ke pintu, untuk terus ke kamarnya, guna cari si pencuri obat. Tentu saja ia tidak sempat memikir bagaimana halnya dengan si pencuri obat sensiri…… Kwee Ceng belum sampai pingsan tatkala ia merasakan bau ular menjadi semakin hebat. Ia insyaf bahayanya apabila binatang berbisa itu sampai dapat memagut padanya. Maka ia lantas tempel mukanya di tubuh ular itu. Oleh karena ia tidak dapat menggeraki tubuhnya, atau kaki tangannya, sekarang tinggal mulutnya yang masih merdeka. Mendadak saja ia ingat suatu apa. Lantas ia kuatkan hatinya, agar tidak sampai roboh pingsan, terus ia gigit leher ular itu. Binatang itu kaget dan kesakitan, dia bergerak, hingga lilitan kepada anak muda itu menjadi semakin keras. Tanpa pedulikan apa juga, Kwee Ceng menggigit terus, lalu terus menghisap, menyedot darah binatang itu. Ia tidak ambil mumat lagi binatang itu berbisa. Ia juga tidak gubris pula bau darah yang sangat tidak enak. Ia melainkan ketahui, kalau darahnya berkurang, maka tenaga binatang itu juga akan berkurang pula dan dengan begitu, lilitannya akan menjadi kendor. Itu pun artinya ia bakal terlolos dari bahaya maut. Maka ia menghisap terus-terusan, hingga tanpa merasa, perutnya mulai kembung. Dugaannya bocah ini tepat. Setelah darahnya terkuras banyak, tenaganya binatang itu segera menjadi berkurang, lilitannya segera menjadi kendor, atau sesaat kemudian, ia lepaskan lilitannya itu, tubuhnya pun jatuh sendirinya. Sebab itu waktu, dia kehabisan tenaga, napasnya lantas berhenti berjalan! Kwee Ceng terjatuh duduk. Tapi dia masih sadar, lekas-lekas ia empos semangatnya, untuk menjalankan napasnya dengan beraturan. Dengan dapat bersemadhi lekas ia dapat pulang tenaganyanya. Hanya aneh sekarang ia merasakan darahnya bergerak keseluruh tubuhnya. Ia mengerti itulah darahnya si ular yang lagi bekerja. Ia terus bersemadhi sampai ia merasa sangat lega hati dan tubuh. Segera setelah merasa segar betul, ia gunai tenaganya untuk mencelat bangun. Yang pertama diingat bocah ini adalah obat-obatan di dalam sakunya. Ia lantas meraba. Ia menjadi girang sekali. Obat-obatan itu masih ada. Karena ini, ia segera teringat pula kepada Bok Ek.
Irawan D Soedradjat

Page

220

Pendekar Pemanah Rajawali

―Dia dan anak gadisnya dikurung Wanyen Kang, aku telah ketahui halnya itu, bagaimana dapat aku tidak menolongi mereka?‖ demikian ia berpikir. Ia lantas bekerja. Ia tindak ke pintu, dari situ, setelah melihat ke sekitarnya, ia jalan dengan cepat ke arah kurungannya Bok Ek dan gadisnya. Selagi ia mendekati kurungan, ia mendapati penjagaan kuat di situ. Tapi ia mesti bisa masuk ke dalam. Ia memutar ke belakang. Di situ ia tunggu lewatnya serdadu ronda, lalu cepat sekali ia lompat turun ke sebelah dalam. Ia hampirkan kurungan. Sembari memasang kuping, ia melihat ke sekeliling. Tidak ada serdadu jaga di situ. ―Bok Cianpwee, aku datang untuk menolongi,‖ ia lantas berkata dengan perlahan. ―Kau siapa, tuan?‖ ada jawabannya Bok Ek yang menanya. Kwee Ceng perkenalkan dirinya. Bok Ek pernah dengar lapat-lapat namanya Kwee Ceng itu, karena berisik dan ia pun terluka, ia tidak sempat memikirkannya, sekarang di tengah malam, ia mendengarnya dengan nyata. ―Kau…kau she Kwee?‖ tanyanya, menegaskan. Agaknya ia terperanjat. ―Benar,‖ sahut si bocha hormat, ―Aku yang muda adalah orang yang tadi siang melawan si pangeran muda.‖ ―Siapakah ayahmu?‖ Bok Ek tanya pula. ―Ayahku almarhum bernama Siauw Thian,‖ Kwee Ceng menyahut pula. Dengan tiba-tiba saja air matanya Bok Ek mengembang dan berlinang-linang, lalu ia angkat kepalanya, dongak, seraya mengeluh: ―Oh, Thian….Thian….‖ ia pun ulur keluar tangannya dari dalam jeruji, untuk mencekal tangannya si anak muda dengan erat. Kwee Ceng merasakan tangan orang itu bergemetar dan air mata orang itu pun menetes jatuh ke belakang telapakan tangannya itu. Ia kata dalam hati kecilnya: ―Rupanya dia ketahui ada orang bakal menolong dia, dia menjadi girang luar biasa.‖ Maka ia kata dengan perlahan sekali: ―Aku punya golok yang tajam, dengan itu kunci dapat dirusak untuk Cianpwee bisa keluar dari kerangkeng ini…‖ ―Ibumu she Lie, bukankah?‖ Bok Ek menanya pula, ia seperti tidak pedulikan perkataan orang. ―Apakah ibumu itu masih ada atau ia telah menutup mata?‖ Kwee Ceng heran sehingga ia balik menanya: ―Ah, kenapa Cianpwee ketahui ibuku she Lie? Ibu masih ada di Mongolia.‖ Hatinya Bok Ek goncang keras, ia cekal tangan Kwee Ceng semakin keras, ia tidak hendak melepaskannya. ―Tolong, lepaskan cekalanmu, nanti aku bacok kunci ini,‖ Kwee Ceng bilang. Bok Ek tetap memegangi erat-eart. Ia seperti mendapati sesuatu yang berharga dan tak ingin itu lenyap pula. ―Ah, kau telah menjadi begini besar…‖ katanya menghela napas. ―Ah, dengan memeramkan mata sekejapan saja, lantas aku dapat membayangkan wajah ayahmu yang telah almarhum itu…‖ Kwee Ceng menjadi semakin heran. ―Cianpwee kenal ayahku itu?‖ tanyanya. ―Ayahmu adalah kakak angkatku,‖ Bok Ek beritahu. ―Kita telah mengangkat saudara hingga perhubungan kita erat bagaikan saudara kandung….‖ Orang tua ini tidak dapat melanjuti kata-katanya, ia menangis sesegukan. Tanpa merasa, air matanya Kwee Ceng pun berlinang. Ia tidak tahu Bok Ek ini adalah Yo Tiat Sim, yang dulu hari itu, diwaktu bertempur bersama tentera negeri, sudah terluka tusukan tombak pada punggungnya, karena lukanya parah, ia roboh pingsan. Syukur untuknya, disebabkan malam dan gelap, dia tidak kena tertawan. Adalah besok paginya ia sadar sendirinya, dengan merayap dia pergi ke rumah seorang petani di dekat tempat kejadian. Satu tahun lebih ia merawat dirinya, baru dia sembuh. Setelah itu ia merantau mencari Lie Peng, istrinya Kwee Siauw Thian, serta Pauw See Yok, istrinya sendiri. Tentu saja ia tidak berhasil. Karena yang satu berada jauh sekali di gurun pasir, yang lain berada di Utara. Dia tidak pakai terus she dan namanya – Yo Tiat Sim – dia hanya rombak she Yo itu, di ambil bagiannya ynag kiri, yaitu huruf ―Bok‖ yang berarti ―Kayu‖. Tapi juga huruf ―Bok‖ ini diganti lagi dengan huruf ―Bok‖ yang berarti ―Akur‖. Dia cuma ambil suaranya saja. Dan
Irawan D Soedradjat

Page

221

Pendekar Pemanah Rajawali

nama ―Ek‖ dia ambil dari huruf pecahan sebelah kanan dari huruf ―Yo‖ shenya itu. Huruf ―Yo‖ itu terdiri dari dua huruf ―Bok = kayu dan Ek = gampang atau tukar‖. Selama delapan belas tahun ia merantau. Sekarang secara kebetulan ia bertemu sama putra sahabat atau saudara angkatnya itu, cara bagaimana ia tidak menjadi bersedih hati? Selama ayahnya itu berbicara sama si anak muda, Bok Liam Cu berniat memberi ingat serta meminta Kwee Ceng menolongi dulu mereka, tentang pasang omong, itu boleh dilanjuti lain kali, akan tetapi belum lagi ia membuka mulutnya, lalu datang pikiran lain, yang membuatnya berubah. Ia kata dalam hatinya: ―Satu kali kita keluar dari sini, aku khawatir untuk selama-lamanya aku nanti tidak dapat bertemu dengan dia…‖ Dengan ―dia‖ yang dimaksud oleh Liam Cu adalah Wanyen Kang, si pangeran muda. Dengan sendirinya, ia telah jatuh cinta kepada pangeran itu, hingga ia tak ingin pergi jauh, untuk memisahkan diri…. Kwee Ceng pun ingat bahaya yang mengancam mereka, maka ia sudah lantas tarik keluar tangannya dari dalam kerangkeng, hanya di saat ia hendak ayun goloknya, untuk menggempur kunci, mendadak ia tampak sinar terang yang disusul sama suara tindakan kaki. ia terkejut, dengan sebat ia simpan goloknya, dengan gesit ia lompat sembunyi di belakang pintu. Sekejap saja, dengan mengasih suara, daun pinttu dipenntang, lalu terlihat masuknya beberapa orang, di antara siapa yang jalan di muka adalah yang menenteng lentera. Kwee Ceng heran akan melihat orang itu yang bukan lain daripada onghui atau selirnya Chao Wang dan ibunya Wanyen Kang. Ia tidak dapat menerka orang datang dengan maksud apa. Ia memasang kuping dan matanya. ―Adakah mereka ini yang hari ini dikurung siauw-ongya?‖ demikian Kwee Ceng dengan pertanyaannya si nyonya mulia. ―Ya,‖ menyahuti si opsir atau pemimpin dari beberapa pengiring nyonya itu. ―Sekarang juga merdekakan mereka!‖ onghui memberi titah. Opsir itu terkejut, dia ragu-ragu, hingga tak dapat ia segera menjawab. ―Jikalau siauw-ongya menanyakan, bilang aku yang memerdekakan mereka,‖ onghui berkata pula menampak orang sangsi. ―Lekas buka kuncinya!‖ Sampai di situ, opsir itu tidak berani berlambat pula. Setelah ayah dan gadis itu sudah berada di luar kerangkeng, onghui merogoh sakunya untuk mengeluarkan dua potong emas, yang mana ia angsurkan kepada Bok Ek atau Yo Tiat Sim. Ia kata: ―Nah, pergilah kamu baikbaik!‖ Tiat Sim tidak menyambut emas itu, sebaliknya ia mengawasi dengan tajam. Ditatap demikian, onghui heran. ―Putraku berbuat keliru, harap kamu tidak sesalkan dia…‖ dia berkata lagi kemudian. Cuma sedetik atau Tiat Sim telah ubah pikiran. Ia sambuti itu emas, terus ia tuntun tangan putrinya, untuk diajak berlalu dengan tindakan lebar. ―Ha, orang kasar!‖ membentak si opsir. ―Kamu tidak membilang terima kasih kepada onghui yang telah menolong jiwamu!‖ Bagaikan tidak mendengar, Tiat Sim jalan terus. Sampai di situ, onghui pun berlalu bersama sekalian pengiringnya. Kwee Ceng tunggu sampai pintu sudah ditutup dan mendengar tindakan kaki onghui sudah jauh, baru ia keluar dari tempat sembunyinya, untuk keluar juga. Ia melihat ke sekeliling, ia tidak dapatkan Bok Ek dan Liam Cu. ―Pasti mereka sudah keluar dari istana,‖ pikirnya. Maka ia lantas menuju ke Hoa Cui Kok untuk mencari Oey Yong. Ingin ia membujuk nona itu buat jangan mengintai lebih lama, supaya mereka bisa lekas pergi menolongi Ong Cie It.
Irawan D Soedradjat

Page

222

cara bagaimana aku dapat menyangkal?‖ Ia berniat memegat Bok Ek dan Liam Cu. ―Mau apa kau menghalangi aku?‖ dia bertanya. Ia hanya mengkerutkan kening. semua cawan itu tidak miring. araknya tidak tumpah! ―Bagus!‖ seru orang banyak. mumbul naik ke atas menyusul mana dengan satu lompatan enteng tetapi gesit ia menerjang pada Thong Hay dengan kedua tangannya. Tak kurang hebatnya rintangan si siauw-ongya. ia bertemu dengan Kwee Ceng. sedang kepalanya menyambut cawan yang ketiga yang tadi ia letaki di batok kepalanya itu. ―Hm!‖ See Thong Thian mengasih suaranya menyaksikan adik seperguruannya itu dibikin malu secara demikian. sekarang ia menyaksikan cara mencelat orang. Oey Yong bawa jari-jari tangan ke pipinya ―Tak malukah kau?‖ dia bertanya. mereka mesti puji nona ini yang merebut kemenangan dengan kecerdikan dan kelincahannya itu. Yang hebat adalah cawan di batok kepalanya. kemudian ia segera dengar teguran dari orang yang jalan di paling depan. Berbareng dengan itu. tidak dapat ia menangkis. isinya lantas tumpah. Semua terjadi dengan cepat luar biasa. untuk menghalangi di situ. ―Sekarang aku mesti pergi dulu!‖ Setahu bagaimana gerakkannya Thong Thian. dia menyerang dengan hebat. Oey Yong sudah lantas mencelat mundur. Oey Yong telah merasakan tadi bagaimana orang she See ini tanpa ia mengetahui. kau licin sekali! Siapa sebenarnya gurumu!‖ ―Besok akan aku mengasih keterangan kepada kau!‖ menjawab si nona tertawa. mereka lantas saja bertempur seru melebihkan pertandingan mereka tadi siang. Bukan main masgul dan cemasnya Kwee Ceng. terpaksa ia menangkis! Begitu kedua tangan bentrok. Sementara itu dilain pihak. Dengan satu gerakan berbareng ia membuat tiga cawan di kepala dan kedua tangannya terlepas. berparas bermuram durja. membasahkan lantai. saban-saban ia gagal. untuk membebaskan diri. Kwee Ceng geraki tangannya. Kwee Ceng lihat sinar terang dari dua buah lentera serta mendengar suara tindakan kaki yang cepat. ―Aku ingin ketahui kau murid siapa?‖ menyahut See Thong Thian. begitu juga kedua cawan di tangan orang she Hauw itu tergerak. Di antara cahaya api. ia kaget sekali. yang baru saja turun. Tapi ia dapat menenangkan diri. Wanyen Kang hendak menawan. Thong Hay tidak dapat mengegos pula tubuhnya. ―Budak cilik. tangan kanan si nona menyambar pula. mengejek. ―Aku ingin ketahui untuk apa kau datang nyelusup ke istana ini?‖ Irawan D Soedradjat Page 223 . Mau atau tidak. ia merdekakan dua orang itu. Kali ini. ia kenali Wanyen Kang si siauw-ongya atau pangeran muda. dengan kesebatannya. yang ada dari tipu ―Menukar wujud. Wanyen Kang telah datang dengan cepat karena baru saja ia terima laporan dari opsir yang mengiringi onghui bahwa Bok Ek dan gadisnya telah dimerdekakan. kedua tangannya menyambar kedua cawannya. mengganti kedudukan‖. Pemuda she Kwee ini hendak meloloskan diri. Ia lantas lompat ke samping di mana ada gunung-gunungan dari batu. diluar dugaannya. Kalau guruku ketahui ini. hingga kedua tangannya tidak dapat digeraki lagi. ia terkejut juga. Hebat si nona. hingga tidak memperdulikan urusan besar. maka ia datang dengan cepat. Orang she Hauw ini menjadi repot.Pendekar Pemanah Rajawali Baru ia tiba disebuah tikungan. Maka itu. Thong Hay sebaliknya bermuka merah. ―Mari kita bertanding pula!‖ ia menantang. Beberapa kali ia mencoba untuk meloloskan diri. ia membikin perlawanan. Justru itu. Ia kaget dan kata dalam hatinya: ―Sungguh lemah hati ibu. tiba-tiba saja tubuhnya sudah mencelat ke ambang pintu. pecah hancur menerbitkan suara berisik dan araknya melulahkan. untuk umpatkan diri. berlagak pilon. maka terpaksa ia berkelit ke kiri. ―Siapa?!‖ Bahkan orang itu sudah lantas berlompat maju dan tangannya menyambar. saking malu dan mendongkolnya. ia perlihatkan kepandaian yang luar biasa. semacam ilmu yang luhur. cawan itu jatuh ke lantai. parasnya tidak menunjuki perubahan. Dengan kedua tangan mencekal cawan. Nio Cu Ong yang menduga Oey Yong bakal kalah baru saja memutar tubuhnya atau pertandingan telah salin rupa.

―Setelah kau berikan jawabanmu. Oey Yong gunai kesempatan ketika orang menoleh. Baru saja ia tiba di ambang pintu atau hidungnya sudah tercium bau yang membuatnya sangat terkejut. Dua kali lagi ia mencoba. Pula. Justru itu ia dapatkan Bio Cu Ong hendak pergi ke luar. warnanya lantas berubah menjadi merah mulus. ia lari keluar. ―Jikalau kau tidak mengijinkan aku pergi. tubuhnya meleset. ―Lopepe. atau kepalanya sudah menghadang di depan si nona. nanti aku pergi denagn cara paksa!‖ See Thong Thian tertawa dingin. ia lantas menegur. tertawa. See Thong berpaling ke arah yang ditunjuk itu. jago sugai Hong Ho itu senantiasa menghadang di depannya. Mulanya tubuh ular itu warnanya hitam abu-abu. ―Jikalau aku tidak sudi mengasih keterangan?‖ tanyanya. ―Maka janganlah kau mensia-siakan tenaga. ―Kau jawablah pertanyaannya See Liong Ong.‖ ia kata. Pintu ada di belakang Thong Thian. kau mengaku kalah saja!‖ Habis berkata. Benar-benar lihay See Thong Thian. dia tidak mau kasih aku pulang?‖ katanya. malah ia ketahui juga terbinasanya ular itu sebab darahnya telah orang sedot. Berbangkit pula hawa Irawan D Soedradjat Page 224 . untuk memandang sekitarnya. dia nanti mengasih ijin kau berlalu. Hampir ia menjerit menangis. Sekarang telah buntu jalannya si nona itu. ―See Liong Ong. karena habislah usahanya beberapa puluh tahun. ―Untuk memegat kau. resep untuk membikin sehat dan kuat tubuh. ia lantas hendak pergi. kau lihat itu di sana apa?‖ Semabri mengucap. adalah satu ahli tersebar. Di situ tergeletak bangkai ularnya. untuk membikin ia panjang umur. ―Pertanyaannya Kwie-bun Liong Ong tidak dapat tidak dijawab!‖ sahut orang she See itu.‖Asal kau mampu!‖ bilangnya. ynag hendak menggunai pula kecerdikannya. Hati Cu Ong tertarik.Pendekar Pemanah Rajawali Sepasang alis yang bagus dari si nona bergerak bangun. Nio Cu Ong menyaksikan itu. tetap dengan manis. See Liong Ong. itu telah menjadi kepastian! Eh. Ia sudah lantas nyalakan api. See Thong Thian mengawasi. Ia dapat melihat di dalam taman ada dua orang lagi bergumul. maka kebetulan untuknya pada suatu waktu ia dapat resep yang istimewa. Cepat setelah ia tersadar. Ia meundur dengan cepat. Ia pun mau percaya. untuk lari ke kamarnya. ―Aku justru tidak sudi menjawab dia!‖ sahutnya. guna mencari si pencuri. buat apa See Liong Ong sampai menurunkan tangan?‖ katanya. ia dapat menahan tubuhnya hingga ia tidak usah melanggar kepala orang itu. ia lompat naik ke atas pohon besar. dan obat-obatannya kacau tidak karuan. Tanpa merasa. lewat di samping jago tunggal dari sungai Hong Ho itu. musuh belum pergi jauh. ia lantas pergi berkelana. dia menunjuk ke arah kiri. kau tidak boleh serang aku!‖ berkata si nona. setelah banyak kesulitan. ai menjadi merasa suka kepada si nona. Suara orang merdu dan bernada minta dikasihani. Ia sudah memikir buat lagi beberapa hari akan menghisap darahnya ular itu. Untuk ini. ―Seorang laki-laki. ―Tapi awas. ia telah dapatkan ularnya yang besar itu yang sanat berbisa. menantang. sebab ia berangan-angan untuk menjagoi dan merobohkan segala jago lainnya.‖ katanya. Oey Yong melihat ke sekitarnya. untuk menambah kekuatan tubuhnya. setelah makan banyak macan obat itu. tidak dapat ia memaksa menerobos keluar. bocah ini bukan sembarang orang. hingga ia menjadi tercengang. Syukur si nona itu pun lihay. Oey Yong tertawa. maka tahulah ia. siapa tahu sekarang ularnya itu terbinasa. warna merah itu menjadi marong sesudah sang ular dipiara duapuluh tahun lamanya. Som Sian Lao Koay bukan melainkan pandai ilmu silat tetapi pun ia paham ilmu tabib. Lantas ular ini ia kasih makan pelbagai macan obat pilihan. io Cu Ong periksa tubuh ularnya itu. Baru orang berkelebat. terutama lukanya. satu kali ia mengucap. ia tertawa. ―Bagus!‖ seru Oey Yong. dia pegat aku. untuk mencari bahan-bahan obatnya. budak cilik. Lantas dia hadapkan Thong Thian untuk mengancam. ―Celaka!‖ serunya. Tidak bersangsi lagi.

yang entah siapa. kenapa tenaganya menjadi kuat?‖ tanya si pangeran dalam hatinya. ia merasa sakit. Tatkala Nio Cu Ong tiba. Tidak sedikit pun ia merasakan sakit lagi. Karena ini. mungkin kekuatannya obat masih ada atau mungkin kekuatan itu bertambah besar…‖ Karena ini. dan enak sekali rasa gatal itu. kalah cerdik juga. telah cukup lama Kwee Ceng terhajar. ―Kali ini habislah jiwaku…‖ pikirnya. Cu Ong menjadi menyesal berbareng penasaran dan mendongkol. setelah mana. maka dengan lantas ia lari ke arah taman. Ia menanti lain serangan. untuk ditarik. mendadak hatinya menjadi panas. lantas ia menyambuti serangan. supaya racunnya tidak bekerja lagi. tubuh orang yang bersangkutan menjadi tambah kuat. yang leuar dari baju atau tubuhnya Kwee Ceng. segera ia gunai kakinya untuk menggaet. Mendadak ia merasa perutnya sangat panas seperti ada bola api di dalam perutnya itu. ia tentu dapat berbuat sesukanya terhadap anak muda itu. lalu ia menangkap pula. Begitulah ketika kakinya kena digaet. ia menjadi girang. tangan itu segera terlepas dari cekalannya lawan.Pendekar Pemanah Rajawali amarahnya. maka si pangeran menangkis. hingga dua kali bebokongnya kena dihajar si pangeran. Nio Cu Ong merasakan pula sambaran bau obat dan amis dari ular. sebagai bocah Kwee Ceng tentunya tidak ketahui rahasia resepnya itu. Kwee Ceng pun pun terus merasakan perubahan. hawa darah itu buyar. maka itu tubuhnya menjadi kuat luar biasa. dia seperti meggaruki gatalku?‖ Adalah aturan dari resepnya io Cu Ong itu. hendak aku mengadu nyawa denganmu!‖ Ia lompat maju untuk menyerang itu jago dari Kwan-gwa. begitu juga datanglah perubahan atas dirinya. Sebentar saja ia sudah sampai si taman di mana Kwee Ceng dan Wanyen Kang tengah bertempur. Kwee Ceng memang tidak tahu suatu apa mengenai resep itu atau darah ular yang ia minum. hingga sengaja ia membuatnya lowongan. Ia menjadi sangat berbahaya. Siauw-ongya itu turut menjadi heran. sampai Wanyen Kang dapat menyerang sepuasnya. untuk sedot darah dari tubuhnya itu. ―Heran. Dalam halnya ilmu silat. ia lantas menggunai akal. ―Tentulah bisa ular lagi bekerja…‖ Ingat kepada bisa ular. Ia menjadi heran berbareng girang. Tubuhnya panas hingga ia seperti tidak sanggup menahannya. ―Aku sekarang telah terkena bisanya binatang jahat itu. yang sudah dapat memperbaiki dirinya. bukannya ia merasa sakit hanya gatal. Dengan lantas ia dapat menangkap tangannya si anak muda. bangsat anjing!‖ dia menegu. Maka itu kebetulan sekali Kwee Ceng bertempur sama Wanyen Kang. ―Hai. supaya dengan begitu. beda daripada biasanya. Menyaksikan itu. Nio Cu Ong tidak menjadi heran yang ia tidak bisa mencekal terus tangannya bocah itu. karena pelbagai pukulannya tidak menyebabkan orang kesakitan atau roboh. maka itu ketika ia mengibaskan tangannya. Di mana-mana ia merasakan gatal pada tubuhnya. Kali ini ia menunggu sampai orang berontak. Kwee Ceng roboh Irawan D Soedradjat Page 225 . Baru ia datang atau hidungnya telah mendapat cium bau obat tercampur bau amis yang datangnya dari arah si pemuda. kiranya kau yang piara ular berbisa itu!‖ ia berseru. maka juga kali ini diwaktu mulai bertempur. tubuhnya mesti dipukuli. Satu kali ia serang Wanyen Kang. Biasanya kalo ia kena diserang. hatinya pemuda ini menjadi kecil. Ia pikir: ―Dia telah minum darah ularku. lantas timbul pikirannya yang kejam. tidak heran kalau ia menjadi bingung. ai sudah lantas keteter. ia pun menjadi alpa. Tenaganya Kwee Ceng telah bertambah luar biasa. tetapi sekarang. dia terhuyung. Siauw-ongya tidak ketahui rahasia itu. akan tetapi. Jago ini lihay berlipat kali dari kwee Ceng. oleh karena itu ia gusar yang ia telah dicaci. Disaat itu tenaganya lantas bertambah sendirinya. Kwee Ceng kalah dari Wanyen Kang. baik aku bunuh dia. ―Kenapa sekalipun dengan pukulan yang membahayakan aku tidak dapat melukai dia?‖ pikirnya. Sedang Kwee Ceng berpikir: ―Heran. yang kalah pandai dan kalah pengalaman. mestinya si bocah diberi petunjuk oleh seorang berilmu. ―Bagus. pelbagai pukulannya Wanyen Kang menjadi tidak ada artinya. begitu lewat beberapa jurus. kenapa pukulannya empuk sekali. ―Siapa yang anjurkan kau mencuri ularku?!‖ Dia percaya. siapa habis minum darah ular. Tapi juga penyerangan ini mendatangkan perubahan lainnya.

sampai ketemu pula!‖ See Thong Thian berdiri diam. yang berarti pembunuh manusia seribu tangan. dia hendak pertontonkan kepandaiannya. kau tidak dapat mengganggu pula padaku. celakalah ia. bedanya masih jauh sekali!‖ Thong Thian gusar. Ia percaya ilmunya sudah dipuncak kemahiran. beberapa kali aku mencoba. dengan mencekal tangannya. apabila dibandingkan sama kepandaian ayahku. yang ia tekankan kepada tanah. kau tidak bakal mengganggu pula aku. Adalah umum kalau orang menyerang dengan kim-chie. Oey Yong lantas menghela napas. hingga sulit orang lolos dari salah satunya. ia telah kembali ke ruangan besar! Irawan D Soedradjat Page 226 .. Saking menyesalnya. asal aku berada di luar. dua renceng kim-chie dari Phen Lian Houw terdiri dari beberapa puluh biji. pasti aku akan dapat molos. ―Dari luar masuk ke dalam sama dari dalam pergi keluar. hingga ia peroleh gelarannya yang luar biasa – Cian Ciu Jin-touw. ia menjadi heran.. terus ia tertawa geli. guna menyedot darah ularnya. Oey Yong menjadi cemas. ―See Liong Ong. menyambar ai di kiri-kanan mengarah batok kepalanya. Karena ini tidak ada jalan lain. ―Itulah ilmu untuk merobohkan kau. akan aku menyerah kalah!‖ Thong Thian jawab. untuk memegang keras pundak orang. Oey Yong lantas saja meleset keluar. dari itu ia segera ayun kedua kedua tangannya.. tidak demikian dengan kepalanya.Pendekar Pemanah Rajawali dengan segera. kenapa kepandaian orang ini begini buruk? Tapi justru ia heran. bukankah aku sekarang telah berada di luar? Nah. Senjata rahasianya itu adalah seperti bumerang. tidak peduli si nona telah menggunai akal bulus. untuk mengetahui. Sebenarnya. kau telah tertipu olehku!‖ katanya nyaring. Pheng Lian Houw bersahabat erat sekali sama Kwie-bun Liong. ―Sayang. maka tidaklah heran kalau ia ada mempunyakan keistimewaannya sendiri. Akurkah kau?‖ ―Asal kau dapat molos. ia pun tidak senang orang dapat pergi dengan begitu saja.‖ katanya. untuk menggunai akal pula. lalu kedua senjata rahasia itu berbalik. kalau ia terserang jitu. ―Baiklah kau boleh coba dari luar!‖ Ia lantas menggeser tubuhnya. tetapi di depan Chao Wang. memang dari dalam aku tidak sanggup menerjang keluar. aku khawatir kau nanti kaget hingga semangatmu terbang!‖ Oey Yong menjawab.‖ Thong Thian mendongkol sekali. ―Sayang. ―Ketika dulu hari ia ajarkan aku menyerang masuk. Sementara itu Oey Yong di dalam Hoa Cui Kok masih tidak dapat menerobos penjagaannya See Thong Thian. dia sengaja permainkan nona itu. ―See Liong Ong. Akhirnya ia berhenti mencoba. tak usah menggunai tenaga untuk meniup debu. Ia ada punya mustika pelindung tubuh. Maka dilain saat. Tidak dapat kim-chie itu ditanggapi. ayahku itu menjaga di mulut pintu. untuk menggigit leher itu. dengan gampang ia bisa bekuk nona itu. Hebat untuk dia. biarnya ia sangat lincah. guna mengasih si nona pergi keluar. ―Kau telah bilang sendiri. semua percobaannya sia-sia belaka. Kim-chie lewat di atasannya kepala Oey Yong. Memang telah dibikin perjanjian itu. atau kim-chie yang belakangan sudah menyambar pula. Mengenai kepandaianmu ini. datangnya saling susul. Lantas Cu Ong menubruk. kalau Thong Thian menghendaki. kau akan menyerah kalah. apa macam ilmu menyerang masuk itu. sayang…. Kau lihat. ia berlompatan. ayahku cuma ajarkan aku menyerang masuk. ia dengar suara angin. akan tetapi kalau dari luar. ―Kau ngaco-belo. aku memasukinya dari luar. walaupun sudah tidak dapat dicela. lalu berbalik sendirinya. Ia menjadi kaget sekali. dia tidak mengajarkan aku ilmu menerjang keluar. aku gagal. serangannya itu untuk atas dan bawah. Maka menyambarlah dua renteng senjata rahasia yang berupa kim-chie atau uang emas. ia lompat ke depan. budak cilik!‖ bentaknya. tidak suka ia membiarkan kawannya itu diperdayakan secara demikian. terpaksa ia melompat maju pula.‖ sahut si nona. Orang she Pheng ini adalah satu ahli.‖ ―Apakah itu menyerang masuk dan menerjang keluar?‖ tanya See Thong Thian. hingga ia memikir. ―Kau punya ilmu Menukar Wujud Memindahkan Kedudukan ini. Oey Yong heran dan kaget. tidakkah itu sama saja?‖ dia menanya.‖ katanya dengan masgul. ia lihat serangan lewat di atasan kepalanya.. ―Siapakah ayahmu itu?!‖ ―Jikalau aku sebutkan nama ayahku. Ingin ia menyaksikan orang menyerang masuk. Karena ini. terus menyerang ke bebokong. ia ketoki kepalanya sampai tiga kali. Biar bagaimana. Ia baru menaruh kaki. ―Asal aku dapat lolos. setelah mana ia majukan mukanya ke arah leher. ia belum pernah dengar hal ilmu masuk dann keluar itu.

hingga dengan begitu ia perlihatkan sikap ―Si ayam emas berdiri dengan satu kaki‖. Lian Houw sendiri lantas berdiri di ambang pintu. Nona nakal itu tertawa. ―Heran bocah ini mempunyai ilmu silat campur aduk seperti ini! Mungkinkah ia sengaja berbuat begini untuk mencegah aku dapat mengenali asal-usulnya? Baik aku gunai pukulan yang telengas. Lian Houw lihat orang diam saja. yang menangkis dengan tangan kiri buat memunahkan serangan orang. Hendak ia menyangkal terus-menerus. kalau tidak demikian. aku orang she Pheng pasti akan ketahui asalusulmu!‖ Dia memang luas pengetahuannya dan mengenali ilmu silat pelbagai golongan. ―Aku telah pelajarkan ini sejak aku dalam kandungan ibuku.‖ Lalu pikiran ini ia wujuskan denagn cepat sekali. tinju mana dibarengi sama tendangan kaki kanan. ―Kau kembali ke dalam?‖ Oey Yong membuat main mulutnya untuk mengejek. dari itu ingin ia menempur selama sepuluh jurus untuk memeproleh kepastian. ia menyerang denagn sennjata rahasianya itu guna menggiring nona itu kembali ke dalam. ―Inilah jurus Pak-kek-sie dari ilmu silat Liok Hap dari Kangpak. ―Ilmu silat ini bertentangan dengan Jie Long Kun.‖ Lian Houw bilang. Keluarag itu memang mengutamakan kelincahan. Menampak itu. ―Aku akan merdekakan padamu! Awas!‖ Sambil menjawab demikian. ―Kau tidak hendak memberitahu. ia lolos dari bahaya. Dengan begitu.‖ ia berpikir pula. Inilah pukulan berantai tiga kali yang hebat. ―Kepandaianmu menggunai senjata rahasia bagus sekali. yang adalah dari pihak gwa-kee. Lian Houw menyampok dengan tangan kiri yang disusul sama tinju kanan. Sebat sekali ia mundur sambil memutar tubuh dengan sebelah kaki. ia mencoba berlaku norek. Irawan D Soedradjat Page 227 . karena juga yang kedua dan ketiga itu dapat dihindarkan si nona. apakah dengan begitu kau menyangka aku tidak akan mengetahuinya?‖ Lian Houw berkata seraya sebelah tangannya menyemboki pundak orang. kau biarkanlah aku berlalu dari sini. ―Aku toh tidak melukai kamu?‖ ―Kalau begitu.‖ bilangnya. disaat tangannya hampir mengenai pundak si nona. semua orang bersorak saking gembira. Coba aku desak pula dia dengan dua jurus. ―Inilah jurus yang kedua!‖ berseru si nona. denagn begitu tidak dapat ia tidak menggunai ilmu silatnya yang sejati guna menolong diri. siapa yang ajarkan kamu ilmu silat. Pheng Lian Houw menjadi heran. pasti Oey Yong tidak sanggup membebaskan diri dari bahaya maut atau entengnya terluka.‖ kata si nona. Pheng Lian Houw berkata. Ia tahu tidak dapat ia lawan jago ini. Oey Yong terkesiap juga melihat datangnya serangan saling susul dan berbareng itu. akan tetapi ia tidak menjadi kaget dan gugup. ―Bagaimana?‖ dia tertawa. Ia bersilat dengan ilmu silatnya Iwee-kee si ahli dalam. ―Lekas! Di dalam sepuluh jurus. demikian pun dengan yang keempat ini. Lantas orang she Pheng ini melanjuti serangannya.‖ jawabnya.Pendekar Pemanah Rajawali Tidak ada niatnya Pheng Lian Houw untuk melukai si nona. ynag ketiga dan keempat. ―Inilah ilmu silat Jie Long Kun dari Keluarga Luow dari Ceciu. Oey Yong menolong diri dengan ilmu silat Keluarga Swee dari Thay-goan. ―Jikalau sampai sepuluh jurus kau masih belum dapat mengetahui?‖ tanya Oey Yong. Oey Yong tidak menangkis.‖ katanya dalam hati. ―Lekas menangkis!‖ ia berseru. yaitu ilmu silat ―Cut In Ciu‖ atau ―Keluar dari Mega‖. ―Melainkan sayang kau gunai itu untuk menghina satu anak perempuan! Apakah yang aneh?‖ ―Siapa menghina kau?‖ Lian Houw tanya. ia pun tidak berkelit. Lian Houw menjadi bertambah heran. tetapi ilmu silat Oey Yong membuatnya bersangsi. Kenapa dia dapat menyakinkan dalam dan luar dengan berbareng?‖ Gwa-kee ialah ahli luar. Di dalam hatinya. tawar. ia lantas menarik pulang. ―kau bilang dulu. Shoatong.

dari penasaran. tangan kanannya meninju. ia dengar satu suara keras dari kejauhan. hingga habislah tenaganya. kedua tangannya ditekuk. suara mana bernada kaget dan gusar. ia berhenti setengah jalan sambil terus berseru: ―Kau muridnya Hek Hong Siang Sat!‖ Dan seruan ini disusul sama gerakan tangan kanan. yang mirip dengan ilmu silatnya saudara Som Sian Lao Koay. tetapi justru itu. Ia menjadi kaget. tangan kanan ke atas. hingga gagallah serangannya itu. Auwyang Kongcu. budak?!‖ Ia memang telengas. rata-rata orang jeri. Ia kata dalam hatinya: ―Mustahil aku tidak mampu hajar mampus padamu. sampai pada jurus yang kedelapan. tangan kiri di balik ke bawah. ia bergerak denagn kedua tangannya. ia melanjuti dengan jurusnya yang kesepuluh. dengan sendirinya mereka jadi berkhawatir untuk Oey Yong. untuk membalas menyikut naik dadanya penyeranganya itu. mendadak saja ia dapat tenaga pula. Ia menduga kawannya itu telah menghadapi ancaman malapetaka. tangannya dan kakinya telah dicekal keras. lantas berkata: ―Budak ini barusan menggunai jurus Menggantung kumala di gantungan emas. Ia kaget bukan main. dari itu pada jurus kesepuluh batal ia dengan maksudnya menghajar si nona. Dia menyusuli itu dengan jurus Menunggang harimau mengalah tindak dari ilmu silat Tiang Kun dari Kwan-tong. Kalau yang keempat pertama bengis. ia cuma bisa berkelit dan menangkis.Pendekar Pemanah Rajawali Oleh karena berpikir begini. maka itu ia dapat melihat perlawanan si nona. tapi tidak sekejam ini. akan tetapi ia waspada. tangan kirinya menggertak. Oey Yong terkejut melihat gerakan lawan ini. Memang juga itu waktu. ia menjadi gusar. mereka jadinya ragu-ragu. ia menjadi penasaran. Batok kepalanya bakal hancur luluh kalau ia sampai kena di serang. kalau mulanya ia menaruh ―belas kasihan‖.ah. usianya pun masih sangat muda. Dengan satu gerakan ―Ikan gabus meletik‖ ia kasih dengar jeritannya itu. Ia tidak lantas menginsyafi bahwa ia dapat tenaga besar berkat darah ular yang dicampur latihan tenaga dalam dari Tan Yang Cu Ma Giok. Oey Yong dapat mempertahankan diri. Dengan gampang ia membebaskan dirinya. mendadak ia rasakan sakit pada dadanya yang kiri. Menampak itu. ketika denagn sekonyong-konyong. tiba-tiba ia mendapat pikiran baru. Irawan D Soedradjat Page 228 . setelah berdiri tetap. kecuali Chao Wang. Tapi ia tidak menyerang habis. maka berniat ia berkelit ke kanan. dia menggunai ilmu silatnya tetanggaku!‖ Pheng Lian Houw mendelu mendengar suaranya orang she Auwyang itu. Tapi sekarang. jurus dari Cu-ngo Tay Kok Kiam dari Kanglam. Terpaksa ia lantas berkelit. san-cu atau pemilik dari Pek To San. yang mana ditambah sama kisikannya san-cu dari Pek To San itu. segera ia terjang tangan kiri si orang she Pheng itu denagn jurusnya ―Tibanya air mata es dingin. Sebab mereka semua adalah orang-orang kangouw berpengalaman dan terhadap Hek Hong Siang Sat. ia cuma mendorong saja denagn keras. wilayah Barat. Kwee Ceng telah dibikin tak berdaya oleh Nio Cu Ong. Ia menggunai tipu silat ―Binatang jatuh di tengah udara‖. Setahu dari mana datangnya. Semua orang terkejut melihat kawannya bersikap telengas begitu. malah ia segera kenali suaranya Kwee Ceng. Benar terkabar kalau Tong Sie Tan Hian Hong si Mayat Perunggu telah meninggal dunia akan tetapi tidak ada diantara mereka ini yang pernah menyaksikan sendiri. ―Ha. Auwyang Kongcu tertawa dan mengatakan.‖ salah satu jurus dari ilmu silat ―Soat San Pat To‖ dari See Hek. Terang si bocah wanita ini telah diberi kisikan berterang. Sebenarnya hendak ia bicara. Ia menggunai jurus ―Menolak jendela untuk memandang rembulan‖. tidak dapat ia mencoba membalas menyerang. terpelanting tujuhdelapan tindak! Semua orang terperanjat dengan perkataan Pheng Lian Houw itu. sampai ia mengeluh di dalam hatinya. inilah Tepukan tiga kali dan Gunting emas. Ah. sedang si nona pun segera menjadi kelabakan. itu disebabakan si nona cantik dan manis. Itulah ilmu silat Lo Cia Sie dari partai Siong Yang Pay. yang hebat sekali. Segera ia menyerang denagn jurusnya yang kesembilan. waktu ia rasakan mulutnya orang si she Nio itu mengenai batang lehernya. kepalanya di aksih mendak. ia menjadi mendongkol terhadap si nona . di malam yang tenang itu. Karena ini. tak dapat ia berkutik. setelah ia dilayani dengan ilmu silatnya delapan partai. mukanya menjadi pucat. hingga Nio Cu Ong tidak dapat menguasai ia terlebih lama. Ia telah ditekan ke tanah. Untuk menangkis sudah tidak keburu lagi. Lian Houw segera menyerang dengan jurusnya yang kelima. Pheng Lian Houw telah dapat membuktikan ilmu silatnya Oey Yong di jurus kesembilan. Banyak benar ragam ilmu silatnya. terus ia berontak sekuat-kuatnya. atas mana Oey Yong terhuyung ke belakang. dia celaka! Kenapa ia tidak berkelit ke kiri?‖ Pheng Lian Houw mendesak terus. disaat si nona hendak memunahkannya. Ah. Oey Yong tahu tangan kiri itu adalah ancaman belaka. ia dengar perkataan terakhir dari sancu dari Pek To San itu. Pheng Lian Houw menyerang dengan hebat. sesudah mana.

Ia dapatkan sebuah kamar yang diterangi lilin tetapi penghuninya tidak ada. Sebentar kemudian. di jendela terdengar satu suara keras. Kali ini. tangannya tiba di bebokongnya. Ia lihat yang datang itu onghui sendiri. tenaganya bertambah.‖ Suara itu berirama sedih. Kemudian ia disusul oleh Wanyen Kang. Tepat enam dim dekat tajamnya tombak.‖ onghui itu menghela napas. ―Ma. Onghui dapat menenangkan diri. ia hampirkan itu. Kwee Ceng berkelit dengan berlompat ke belakang. Ia meneliti gagang tombak itu.‖ Tiat Sim tidak menyahuti. ―Setelah sebentar ia meniup lilin. begitu juga onghui.‖ sapanya.‖ bilangnya kemudian.‖ ―Terima kasih untuk kebaikan onghui. ―Tidak boleh mereka dapat lihat kita…. Dengan masih mencekal terus goloknya. ―Kau baiklah lekas pergi. Kwee Ceng berayal. Segera tedengar tindakan kaki perlahan masuk ke dalam kamar. aku akan lari dari jendela. bajunya kena terpegang. tanpa ia dapat menahan. Hendak ia beristirahat. hingga itu Nio Cu Ong tidak dapat segera menyandak. sudahlah. bebokongnya kena terjambret hingga berdarah. baju itu lantas robek sebagian. Ia melihat ke seluruh kamar. air matanya menguncur turun. kedua matanya menjadi merah. ia lompat masuk ke dalam rumah itu. ―Ya. ia hanya memandang seluruh kamar. tandanya sudah lama tidak pernah digunakan lagi…. Dia memang ringan tubuhnya.‖ berkata Yo Tiat Sim. ia lari ke dalam kamar si nyonya agung. setelah meminum darah ular. Kwee Ceng menyangka orang sudah ajak gadisnya pergi menyingkir. ―Apakah tidak ada orang jahat masuk ke mari?‖ Onghui menggeleng kepala. Kebetulan ia tiba di depan rumah petani dari onghui. ―Tombak ini sudah karatan. Selama itu Kwee Ceng terus diam saja. Tidak antara lama. untuk menyembunyikan diri. matanya bengong mengawasi lilin. ia susuti air matanya itu. Akhir-akhirnya sambil menghela ia berkata. ―Dalam kejadian itu adalah anakku yang salah. Nio Cu Ong tidak dapat mencari. Kwee Ceng lari terus. ia mengawasi Bok Ek itu.‖ Hampir di itu waktu. denagn siapa ia berbicara. Maka itu. bertapak tanda lima jari. karena sakitnya dan kaget. Orang yang datang itu adalah Yo Tiat Sim yang menyebut dirinya Bok Ek. ―Istrinya Yo Tiat Sim‖. di situ ia kasih turun tombak besi yang tergantung. di situ ada terukir empat huruf ―Tiat Sim Yo-sie‖. ia mengusap-usap. juga kedua telapakan tangannya pecah dan berdarah. pukulannya Nio Cu Ong bukan seperti pukulannya Wanyen Kang. Wanyen Kang bertindak masuk. Kedatangannya ini pastilah diluar dugaannya Kwee Ceng dan onghui. malah nyonya itu mengasih dengar jeritan tertahan. pukulan ini mendatangkan rasa sangat sakit. sakitnya bukan main. dia membuatnya kamu ayah dan anak bersusah hati…. Lantas ia pegang terus tombak itu. Kwee Ceng lantas lari sekeras-kerasnya.‖ Irawan D Soedradjat Page 229 . yang artinya. darahnya mengalir keluar. disusul sama menjublaknya daun jendela itu dan mana segera lompat masuk satu orang. lalu ia masuk ke dalamnya. Ia bertindak ke tembok. cuma kupingnya mendengar pembicaraan orang itu. Dari sela-sela lemari. Ia menjadi kaget berbareng gusar. Cuma sebegitu jawabannya. ia keluar dari tempat sembunyinya. ―Aku percaya adik Yong sudah lama pulang…. onghui kebetulan berada di kamar yang lain. di antara pohon-pohon dan gunung-gunungan. Tiba-tiba ia menjadi sangat berduka. untuk bersama Io Cu Ong dan yang lainnya pergi mencari ke lain-lain bagian dari istana itu. Dengan uujung bajunya. tangannya menjambak. mungkin ia dapat menolong aku…‖ Karena ini. Putra itu lantas keluar pula. Di situ ia mendekam. Saking takut.‖ Kwee Ceng pikir. Satu kali Cu Ong berlompat. Di sebelah timur ada sebuah lemari besar. ia menghela napas lega. meskipun aku mati tidaklah aku dapat memeramkan mata. hingga mereka berlari-larian di taman. Kwee Ceng mengintai. ―Jikalau aku tidak datang sendiri untuk menghanurkan terima kasihku.Pendekar Pemanah Rajawali Nio Cu Ong bukan melainkan membikin terlepas cekalannya. onghui mengunci pintu. Segera ia maju untuk menyerang pemuda itu. tetapi Nio Cu Ong ada sangat gesit. Nyonya agung itu duduk di samping meja. Di dalam hatinya ia berpikir: ―Onghui murah hati. akan buka pintunya. Kwee Ceng terkejut.

tidak dapat aku lepaskan kau!‖ katanya. air matanya turun bercucuran. Mendengar kata-kata itu. ―Kenapakah?‖ Tiat Sim tanya. ―Ah…‖ Tiat Sim bersuara perlahan. biarlah besok besok suruh Thio Bok-jie dari dusun timur memperbaikinya dengan tambah setengah kati besi…‖ katanya peralahan. Ia jumput sepotong baju. Rumah tangganya telah runtuh. 230 ―Besok saja. baju siapa ia tarik. Ia lantas berbangkit. hingga ia dapat lihat di lengan kiri orang satu tanda bekas luka. Sebaliknya To Tiat Sim yang mesti hidup dalam pengembaraan. ―Sekarang aku letih sekali. ―Kau lihat. Sekarang ia tidak bersangsi pula. Sekarang ia mengawasi lanjam yang berada si pinggiran tombak itu. ―Kenapa…kenapa kau ketahui kata-katanya suamiku pada itu malam dari saat kematiannya…?‖ Hancur hatinya onghui ini yang sebenarnya bukan lain daripada Pauw Sek Yok atau nyonya Yo Tiat Sim. See Yok memeluk erat-erat. lantas aku pergi. ―Kau…kau kata apa?‖ tanyanya. kau pun tengah mengandung. untuk menarik lacinya meja itu. baju dan celana biru. ―Kau…kau siapa?‖ tanyanya.‖ sahut si nyonya agung. ―maka besok baiklah suruh Thio Bok-jie dari dusun timur membetulkannya. ia kerebongi itu pada tubuhnya: ―Bajuku telah cukup dipakai. Irawan D Soedradjat Page Mendapatkan ibu itu tidak hendak membuka pintu. Hanya sejenak kemudian ia bertanya: ―Mustahilkah kau belum mati? Mustahilkah kau masih hidup?‖ Tiat Sim hendak menyahuti istrinya itu tatkala mereka mendengar suara Wanyen Kang dari luar kamar: ―Mama. untuk mati bersama…Aku lebih suka menjadi setan untuk tetap berada bersama denganmu…!‖ Tiat Sim rangkul istrinya itu. apakah aku setan?‖ kata suaminya ini kemudian. selama itu wajahnya tidak berubah banyak.‖ katanya perlahan.‖ Tiat Sim menyahuti. ia tidak lagi seperti masa mudanya. famili pun tidak ada. hendak aku bicara denganmu. tak usah kau membikin pakaian lagi untukku…‖ Sek Yok terkejut. mana ia percaya suaminya telah menutup mata.Aku akan turut kau ke lain dunia. Di pintu ia berhenti dan mengetok perlahan beberapa kali. kemudian ia gulung tangan bajunya. ―Aku hendak omong sedikit saja. Yo Tiat Sim tidak menjawab. Ia berdiam aja mengawasi Tiat Sim. ia hanya bertindak ke samping meja. suaranya menggetar.‖ Wanyen Kang tidak lantas pergi hanya ia jalan mengitari rumah itu. maka itu sekalipun mereka berada di dalam sebuah kamar.‖ . ―Aku minta janganlah kau raba tombak itu. tubuh onghui bergemetar. ―Aku bilang lanjam ini sudah rusak. ―Ujung lanjam ini sudah rusak. dengan terpaksa ia turut Wanyen Lieh pergi ke Utara. akan hampirkan Tiat Sim. Sampai sekian lama baru ia dapat membuka mulutnya. kenapakah kau berduka pula? Dengan siapakah kau berbicara?‖ Se Yok kaget tetapi ia lantas menyahuti: ―Aku tidak apa-apa. Tidak dapat ia menampik bujukannya pangeran itu yang perlakukan ia dengan baik sekali. ―Tidak peduli kau manusia atau setan. dengan menambah setengah kati besi…‖ Tiba-tiba saja onghui menjadi lemas kedua kakinya. terus ia gantung tombak itu. Tubuhmu lemah. Sudah delapan belas tahun ia tinggal di istana.‖ ia berkata pula. ―Lekas kau bawa aku pergi…. siauw-ongya ini menjadi semakin bercuriga. ia roboh di kursi. Ia ingat betul.Pendekar Pemanah Rajawali Agakanya onghui heran atas lagak-lagu orang itu. Ia menjadi curiga sebab tadi terang ia dengar suara orang berbicara.‖ sahut sang ibu. maka lantas saja ia tubruk suaminya itu dan merangkulnya erat-erat seraya ia menangis sedih sekali. Pauw Sek Yok tidak dapat lantas mengenali suaminya itu. kau baik-baiklah beristirahat. aku hendak tidur….‖ katanya. Itulah pakaian yang ia pakai pada dulu hari. ―Itulah barang yang aku paling hargai. di akhirnya ia serahkan dirinya dijadikan onghui atau selir. ―Aku tidak takut!‖ katanya kemudian. Di dalam situ ada tersimpan beberapa potong pakaian pria. ―Ma. itulah kata-kata suaminya dulu hari tempo ia tengah hamil membuatkan sepotong baju baru.

Ia memang tidak rela meninggalkan istrinya itu.‖ demikian pikirnya. Pauw Sek Yok segera menunjuk ke lemari. hatinya bekerja. ―Aku mau tidur. ―Orang jahat telah nyelusup masuk kedalam istana. ―Ma. Tiat Sim suka menurut. Di dalam lemari itu tertampak Kwee Ceng. Ia lantas senderkan tombaknya. Kwee Ceng tarik Tiat Sim masuk ke dalam lemari.‖ sang ibu bilang. ia kaget bukan main. ―Siapa mengandalkan pengaruh. Ia masih menghirup beberapa kali.‖ Wanyen Kang beritahu.‖ kata ibu itu. Itulah gerakan ―burung hong terbang. ia lantas ambil tempat duduk. ular naga melayang‖. ― Di dalam lemari itu ada seorang sembunyi. ―Sekarang lekas kau pergi tidur. Urusan itu kau jangan campur tahu!‖ Wanyen Kang tertawa. untuk menjambret pintunya untuk dibuka. ia dapat melihat ujung baju di sela-sela lemari. yang pintunya ia segera tutup pula.‖ ―Ma. ―Tentara pengawal semuanya kantong nasi!‖ katanya. Wanyen Kang dapatkan ibunya bermuka pucat dan mukanya itu bermandikan air mata. Ia pun menuang the ke dalam cangkir.‖ ―Nah. tangannya diulur kepada tombak. kau pergilah.Pendekar Pemanah Rajawali Tiat Sim menduga orang bakal masuk ke dalam. ―Hatiku tidak tentram. ―Siapakah dia?‖ tanya ibunya. apakah tidak ada orang masuk ke mari?‖ putra itu tanya pula. Irawan D Soedradjat Page 231 . ia segera tabrak pintu kamar itu. ―Bagaimana tadi permainan tombakku. hingga ia mengeluarkan jeritan tertahan. batal ia menikam lemari disaat ujung tombak hampir mengenai daun pintu lemari. bertindak perlahan-lahan. Wanyen Kang berkhawatir mendengar jeritan ibunya itu. Ia pun lihat ibunya itu roboh. baru ia berbangkit.‖ sahut si ibu. Sambil berbuat begitu. hatinya berdenyut. maksudnya menganjurkan suaminya itu masuk ke dalamnya untuk bersembunyi. Ia lantas bertindak ke lemari yang ditunjuk itu. maka kembali timbul kecurigaannya. hingga ia lantas roboh pingsan. Di dalam kamar itu tapinya tidak ada lain orang. Tapi Wanyen Kang telah menahan gerakan tangannya. yang menenangkak dirinya. ―Aku minta supaya kau jangan bersusah hati. rupanya ada orang yang menahannya dari sebelah luar. ia takut ibunya diganggu orang jahat. jendela itu keras.‖ Ia telah sampai di tembok. ―Ma. Sembari minum. Ia menjadi curiga sekali. ―Tidak apa-apa. di tubuh siapa ia menyanderkan diri. baiklah. kau tidurlah!‖ Putra ini memberi ucapan selamat malam. ―Aku tempur itu anak tolol dengan andalkan kepandaianku. melihat siapa onghui menjadi tergugu. ada terjadi apakah?‖ ia menanya. entah ibu mengetahuinya atau tidak. tapi disaat ia hendak mengundurkan diri. untuk di minum dengan perlahan-lahan.‖ katanya. Ma?‖ sahut si anak. tetapi ketika ia menolak. begitu lekas ia mencekal dengan baik – yang mana ia lakukan dengan luar biasa cepat – mendadak saja ia menikam ke arah lemari. ―Begitu?‖ tanya ibunya. untuk mengasih bangun pada ibunya. tiga orang menjadi terkejut sekali. Begitu pintu lemari terpentang.‖ Putra itu menghampiri ibunya. Sebelum orang nerobos masuk. bagus atau tidak?‖ ―Lain kali aku larang kau menghina orang karena kau andalkan pengaruhmu.‖ katanya. ia lepaskan Sek Yok dan bertindak ke jendela dengan niat lompat keluar. Ia batal pergi. Dasar anakmu yang buruk…. aku tak akan main gila lagi. Dengan pundaknya. ―Ma. ―Ma. hingga daun pintunya mejeblak terbuka. Pauw Sek Yok melihat itu. ibu tahu di dalam lemari ini ada orang…‖ pikirnya. ia tetap mengawasi ke lemari. ―Ah.

―Tetapi ibu tidak hendak menjelaskan siapa Yo Tiat Sim itu. hatinya menjadi lega. ―Aku justru merasa ini jauh terlebih bagus dibandingkan istana yang indah. anakmu membawakan kau perabot rumah tangga yang baru tetapi semua itu ibu tolak. makin lama kau bicara. ―Aku ini anak kandungmu atau bukan?‖ ―Tentu saja. ―Ayahku adalah adiknya sri baginda. ―Taukah kau siapa ayahmu yang sebenarnya?‖ Sek Yok menanya. Ia pun berpikir: ―Sekarang dia telah menjadi satu onghui. ―Ma. ―Ma. tidak ada satu yang bukan dibawanya dari Lim-an. ―Kenapa kau menanya begini?‖ ―Kalau begitu. hatinya tergoncang keras.‖ sahut Wanyen Kang. ia berduduk. ―Mana bisa ayah tinggal di sini?‖ Sek Yok menghela napas. kenapa ada apa-apa yang disembunyikan kepadaku?‖ si anak bertanya pula. apakah katamu?‖ tanyanya saking heran. Wanyen kang tertawa. maka dalam dunia ini tidak bisa aku hidup pula bersama Tiat Sim. bangku. makin aneh!‖ katanya. ―Sekarang aku akan menerangkannya kepadamu. dialah pangeran Chao Wang. air matanya lantas bercucuran deras.‖ Jantungnya Tiat Sim berdenyut. ―Oleh karena itu mana bisa dia berdiam dengan tenang dan tentram di rumah ini…. pedih ia merasa.Pendekar Pemanah Rajawali Sek Yok sadar dengan perlahan-lahan. Hatinya Pauw Sek Yok goncang keras. inilah kesalahan besar yang tidak dapat diperbaiki lagi. Aku telah hilang kehormatan diriku.‖ kata ibu itu. ―Kau duduklah baik-baik. Putra itu menurut. ―Kenapa mama suka sekali tinggal di ini rumah bobrok. tetapi tombaknya masih dipegangi. biarlah mereka ayah dan anak bertemu. lemari dan pembaringan.‖ sahut ibunya itu. ―Kasihan ayahmu itu. kau tidak punyai untung bagus. Aku sengaja menitahkan orang melakukan perjalanan jauh ribuan lie untuk mengambilnya. Itu lanjam di tembok dan semua perabotan dalam ruangan ini.‖ Sang putra heran hingga ia mengawasi dengan matanya dibuka lebar-lebar. seperti meja. mungkinkah ia hendak menyuruh anaknya itu mencelakai aku?‖ Ia lantas dengar perkataannya Pauw Sek Yok: ―Tombak ini tadinya berada di dusun Gu-kee-cun di kota Lim-an. Wanyen Kang mengawasi ibunya. habis itu barulah aku mencari jalan pendekku….‖ ―Kau menyebutkan rumah ini bobrok?‖ tanya sang ibu.‖ ―Sampai sebegitu jauh aku tidak mengerti.‖ kemudian kata si ibu. kau tidak dapat tinggal di rumah bobrok ini bersama-sama dengan ayah dan ibu kandungmu snediri…. suaranya keras. Hanya karena kagetnya itu.‖ berkata dia. yang segalanya serba dilukis dan diukir dan diperaboti mentereng! Anak. kau dengari aku bicara.‖ berkata Wanyen Kang. ―Ma. ―Sedari aku masih kecil telah aku menanyakannya. ―Apakah kau sudah lihat itu ukiran empat huruf di gagang tombak?‖ Pauw Sek Yok tanya. tubuhnya menjadi lemah sekali.‖ menjawab anak itu. mana dapat ia mengikuti pula aku seorang rakyat kasar? Dia hendak membuka rahasia. Tiat Sim dalam lemari telah dengar nyata pembicaraan di antara ibu dan anak itu. ia heran dan bercuriga. ibukota dari kerajaan Song di Kanglam. Wanyen Kang telah menyaksikan kelakuan ibunya ini. Ia pikir: ―Kejadian ini mesti dijelaskan kepada anak ini. selama delapan belas tahun dia berkelana di duni kangouw.‖ katanya keras. kapan ia dapatkan lemari tidak kurang satu apa. ―Kenapa mama menanya begitu?‖ Irawan D Soedradjat Page 232 .‖ Karena memikir ini.

kiranya kau!‖ seru pangeran itu. akan tetapi sekarang ia memeluki Pauw Sek Yok dengan tangan kanannya itu. Irawan D Soedradjat Page Kwee Ceng juga tidak berani berayal-ayalan. gagang tombak itu patah sendirinya. untuk buka pintunya. ―Apakah kau sangka kau adalah orang bangsa Kim? Kau adalah orang Han! Kau bukannya bernama Wanyen Kang. pikiranmu was-was. lantas air matanya turun dengan deras. Ia menjadi kaget sekali. tanpa menanti musuh menarik pulang tombaknya. yang di arah tenggorokannya. Bab 21. tempo ia masih kecil. ia putar tubuhnya. dari itu tentulah gurumu tidak dapat mengajarakan kepadamu!‖ Memang benar. ia peluki tombak besi itu. Inilah hebatnya untuk tombak itu sendiri. ―Kau tidak dapat disesalkan. kenapa kau masih tidak berlutut untuk memberi hormat!‖ Wanyen Kang bersangsi. ―Ma. Wanyen Kang heran bukan kepalang.‖ ―Aku was-was kenapa?‖ ibu itu bilang. walaupun Khu Cie Kee lihay. maka ujung tombak lantas kena terpegang. tetapi nama kau ialah Yo Kang!‖ Mendengar di sebutnya nama Yo Kang itu. ialah tipu istimewa yang hanya diketahui keluarganya yang mewariskan ilmu silat itu. Ia hanya lupa. Lantas dia bertindak cepat le arah lemari. di mana ia pernah dengar itu. gadisnya itu. Kemudian piasu itu telah dipakai menikam mati pada Tan Hian Hong si Mayat Perunggu.‖ katanya sesegukan. di sana ada sebuah piasu belati yang gagangnya berukiran dua huruf ―Yo Kang‖ itu. cepat sekali ia mendak. yang ia terus peluk dan angkat untuk dibawa lari keluar dari rumah bobrok itu. maka ditegur begitu. Kemudian lagi piasu itu lenyap entah ke mana. yang mendadak saja menikam Bok Ek. ―Ayahmu ada disini!‖ Sek Yok bilang. ia membentak: ―Ilmu silatku ini diwariskan cuma kepada anak laki-laki. Sebenarnya habis itu. ia pegang tangannya Yo Tiat Sim. ia jadi berdiri menjublak. Dengan begitu. tapi ia tidak dapat mengerti sedalam-dalamnya ilmu silat Keluarga Yo itu. segera ia pun lari keluar. Ia telah mainkan ilmu silat Keluarga Yo bagian jurus ―Hui ma chio‖ atau ―Membaliki kuda‖. Ia lantas memutar tubuhnya. ia merasakan perih bagaikan kebaret pisau. dengan bawa istrinya . . ia serang bebokongnya Yo Tiat Sim. Maka seraya memutar tubuh. Tapi ia masih sadar. Kemudian ia ingat. Tiat Sim tubruk istrinya itu. Ia sudah lantas disambut Bok Liam Cu. Saking tergugu. untuk menangkis seraya mencekal. anak. ―Lepaskan!‖ teriak Wanyen Kang. Semua Berkumpul Tiat Sim mendengar angin menyambar belakangnya. ―Nanti aku minta ayah datang ke mari!‖ katanya. yang gagangnya sudah tua. ia telah tiba di luar. angin menyambar lewat di mukanya. akan lihat ibunya itu. ―Nanti aku pergi panggil tabib. ia membentak: ―Kau telah bertemu dengan ayahmu sendiri. ia putar tangan kirinya ke belakang. mereka mencekal masing-masing satu ujungnya tombak itu. sesudah mana. sedang Sek Yok menjerit: ―Inilah ayahmu! Apakah kau masih tidak percaya?‖ Lantas ia benturkan kepalanya ke tembok hingga tubuhnya terus roboh ke lantai. ―Oh. Wanyen Kang kaget. pangeran itu menjadi tercengang. Disaat ia hendak melompat tembok. maka bersama-sama mereka melompati tembok untuk menyeingkirkan diri. yang kepalanya mandi darah dan napasnya empasempis.‖ katanya. Kwee Ceng ingat segera ingat satu nama yang ia rasa kenal baik. maka juga sambil berlompat dengan gerakan ―Seekor belibis keluar dari rombongannya‖. ―Kau tidak tahu. inilah tidak heran. tidak dapat ia menyerang. Tempo keduanya saling membetot. Kwee Ceng lantas lompat maju.Pendekar Pemanah Rajawali Ibu itu berbangkit. tangan kanannya sudah mesti membarengi menyerang. Tiat Sim berkelit. Meski begitu. ia menjadi tidak berayal. Tombak ini…inilah senjatanya ayahmu yang sejati…‖ Ia pun lantas menunjuk pada ukiran empat huruf di gagang tombak: ―Ini barulah namanya ayahmu itu!‖ Tubuhnya sang putra bergemetar. yang kaget sekali. tidak kepada anak perempuan. Itulah menandakan lihaynya si 233 Yo Tiat Sim tidak pedulikan pangeran itu. untuk di tarik keluar. ia merasakan sambaran angin ke arah kepalanya. jadi kepandaian Wanyen Kang menggunai tombak itu belum sempurna.

hingga wajahnya bersemu merah. jadinya mereka adalah orang-orang dari Rimba Persilatan? Kenapa Pheng Cecu samakan aku dengan mereka itu?‖ Mulanya orang menyangka nona ini tidak hendak omong terus terang. ia dengar bentakan: ―Anak tolol. jikalau dalam sepuluh jurus kau tidak dapat mengenali ilmu silatku. tatkala mendengar Pheng Lian Houw mengatakan ialah muridnya Hek Homh Siang Sat.‖ dia kata. oleh karena Leng Tie Siangjin telah terluka parah. ―Apa yang aku tahu tentang mereka ialah mereka pengrusak perikeadilan dan prikemanusiaan. mereka mana tepat menjadi guruku?‖ ―Percuma kau menyangkal!‖ bilang Lian Houw. semua mata ditujukan kepada pemuda she Auwyang ini. Orang boleh berdusta hebat tetapi tidak nanti ada murid yang berani mencela dan mencaci guru sendiri di hadapan orang banyak. kelihatannya cuma Auwyang Kongcu yang bisa menghalangi nona ini. tidak ada kejahatan yang mereka tidak lakukan. ―Nona kecil. ―Belum pernah aku melihat Hek Hong Siang Sat.Pendekar Pemanah Rajawali penyerang.‖ ia menyahut. Ia menyahuti dengan membentak: ―Jurusmu yang terakhir adaöah jurus ―Tindakannya si binatang sakti‖. sambil tertawa Oey Yong kata kepada cecu itu: ―Kau kalah!‖ Ia berbicara dengan terpaksa. menegaskan. Mereka pun telah mendurhaka terhadap guru dan kakek guru mereka. ―Apakah shemu?‖ Lian Houw menanya pula. Auwyang Kongcu. ―Aku yang rendah dan bodoh. sambil tersenyum. aku tidak berniat mengganggu padamu. ―Apakah kau telah bertemu dengan mereka itu?‖ tanyanya. maka itu. Irawan D Soedradjat Page Oey Yong agaknya jengah. telah menjadi pecundangnya nona ini. ―Maafkan. ia terus putar tubuhnya dan bertindak ke pintu. apa perlunya gurumu menitah kau datang kemari?‖ Oey Yong tertawa. Cuma dengan satu kelebatan. Apakah itu bukannya pengajaran dari Hek Hong Siang Sat?!‖ Oey Yong tertawa pula.‖ katanya. dengan kepandaian semacam itu dari mereka.‖ ia berkata.‖ berkata orang she Pheng ini. ingin aku meminta pengajaran beberapa jurus dari nona. yang dikatakan Pheng Lian Houw sebagai gurunya. mengapa kau tidak membantu aku?‖ dia tanya. lantas bertindak perlahan. akan tetapi mendengar ia bicara demikian hebat terhadap Hek Hong Siang Sat. aku dipanggil Yong-jie. Dia menyenggapi: ―Kau sendiri yang bilang.‖ sahut si nona. hitunglah kau telah menang. ―Kecantikan mereka itu tidak ada separuhnya dari kecantikanmu. Pheng Lian Houw menggeser tubuhnya ke samping. aku si orang tua sudah lama menantikanmu di sini!‖ Itulah suaranya Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong! Pada itu waktu di lain kalangan. karena hatinya cemas bukan main mendengar suaranya Kwee Ceng. Oey Yong mengawasi. dari heran mereka jadi mau mempercayai. ―Laginya. kenapa sekarang kau menyangkal?‖ Pheng Lian Houw gusar sekali. Pheng Lian Hoauw sudah mengahdang di ambang pintu.‖ Oey Yong tertawa lagi. mereka menjadi saling mengawasi. Kau adalah satu laki-laki sejati. ―Aku si Lao Pheng kagum sekali untukmu! Sekarang aku memikir untuk meminta tanya namamu yang harum. Selagi ia terkejut. terutama untuk pakaian orang yang serba putih. kau akan membiarkannya aku berlalu dari sini. ―Aku tidak punya she. kecuali Leng Tie Siangjin dan Auwyang Kongcu. maka habis berkata.‖ . ―Mereka itu – ini nona-nona cantik yang menunggang unta putih – adakah mereka orang-orangmu?‖ dia menanya. ―Hanya kau bilanglah. yang tersenyum. Mau tidak mau.‖ Oey Yong bilang tanpa pedulikan perkataan orang. ―Di sini ada beberapa tua bangka yang hendak menyusahkan aku. ―Nama Hek Hong Siang Sat pernah aku dengar. ―Oleh karena kau adalah muridnya Hek Hong Siang Sat. 234 Auwyang Kongcu tertawa. hingga tidak dapat ia menggeraki tubuhnya. Semua orang di situ.

ia ajarkan mereka itu ilmu silat dan ilmu surat. ―Nah. . ―Jikalau kau benar-benar lihay. ―Aku tidak percaya!‖ ujarnya. itu pun dapat. mereka jadi kaget sekali dan tergiur hatinya. adalah mereka yang di tengah jalan bertemu dengan Kanglam Liok Koay dan Kwee Ceng. ia menjagoi seorang diri. Dengan lantas mereka berdiri berkumpul di belakangnya anak muda itu. yang keringatnya merah. Ia mengharap. ―Semua muridku wanita dan asal sekali saja aku memanggil. Dia kelihatannya tenang dan puas. memandang nona-nona manis itu. ia dapat mencari jalan untuk meloloskan diri. ―Walaupun kau pukul aku. Oey Yong telah robohkan delapan dari nona-nona itu. wilayah Barat. dengan perlahanlahan dia mengipasi dirinya. ―Memang tidak ada yang terlebih baik daripada aku mengangkat kau menjadi guru. dia mengerling kepada si nona. Di luar sangkaan mereka. Tapi ia pun gemar sekali pada paras elok.ia tidak nyana mereka itu kalah dari Oey Yong. Pheng Lian Houw semua seperti bermata kabur. ―Apakah tanpa membalas menyerang kau dapat mengalahkan aku? Benarkah?‖ Pemuda itu tertawa. untuk dia ambil mereka itu sebagai gundik-gundiknya. supaya dengan begitu kemudian aku tak usahlah menerima penghinaan orang. yang ia percaya adalah tercantik di kolong langit ini. maka juga ia terus pergi ke ambang pintu. Serombongan di antaranya. Mereka ini berkumpul di luar selagi Auwyang Kongcu berpesta. belum tentu ada tandingannya. tapi Auwyang Kongcu cerdik. Kali ini ia berlalu dari kampung halamannya atas undangan Chao Wang. maukah kau?‖ Auwyang Kongcu tertawa. dengan semua dimestikan mengenakan pakaian serba putih seraya menunggang unta-unta putih juga. dia rupanya telah dapat menerka. ―Kalau mereka itu menghalangi aku. yang berjumlah delapan orang. ia lantas mengasih dengar suaranya. ―Asal kau angkat aku menjadi gurumu dan untuk selamanya kau mengikuti aku. guna mengambil hatinya suami merangkap guru itu.‖ ―Apakah kau hendak mencobanya?‖ Auwyang Kongcu menegaskan. Dia sengaja menitahkan mereka menyamar sebagai pria. kau kemarilah! Kau tak usah takut.‖ Si nona tertawa. selagi orang berkumpul banyak.‖ Auwyang Kongcu bilang. Irawan D Soedradjat Page 235 ―Baiklah!‖ berkata kongcu itu. Ketika di Kalgan. Maka juga sejak beberapa tahun dia sudah kirim orang ke pelbagai tempat. semuanya bakal datang. mana aku tega membalas memukul?‖ katanya kemudian. ―Benar!‖ jawab si nona. untuk mencari nona-nona cantik dan manis. hendak aku pergi!‖ katanya si nona pula. mereka jadi ketarik hati dan ingin merampasnya untuk diserahkan kepada Auwyang Kongcu. ―Murid-muridku beda daripada murid-muridnya orang lain. hingga ia menjadi tergila-gila sampai umpama kata kepalanya pening. . mereka gagal. sekarang ia sengaja permainkan Auwyang Kongcu supaya orang mengumpulkan gundik-gundiknya itu. tinggi dan kate. Mereka dengar itu Biauw Ciu Sieseng bicara perihal kuda jempolan. dia datang ke kota raja – Yan-khia – dengan mengajak sekalian gundik-gundiknya yang merangkap murid-muridnya itu. ―Nah.‖ Oey Yong miringkan kepalanya. ―Bagaimana?‖ si nona menanya. di See Hek.Pendekar Pemanah Rajawali Auwyang Kongcu tidak bisa lantas menjawab. dia pecah mereka dalam beberapa rombongan. Ia merasa hatinya gatal dan tulangtulangnya lemas…… Anak muda ini lihay ilmu silatnya.‖ . ―Untuk aku membantu kau. dengan tajam ia menatap.‖ katanya. sedang di bawah sinar merah dari api lilin. Sebentar saja di muka pintu terlihat beberapa puluh wanita muda dengan pakaian serba putih yang berseragam.sekalipun di dalam keraton raja. melainkan tubuh orang ada yang kurus dan montok. ―Umpama kata aku menjadi muridmu. aku tidak akan balas menyerang. dari itu dengan sendirinya mereka itu menjadi juga murid-muridnya. tak usahlah untuk selama-lamanya aku mengikuti kau!‖ dia bilang. Auwyang Kongcu hendak membuktikan perkatannya. baru mereka muncul setelah ada panggilan. Oleh karena gundik-gundiknya itu banyak. ia ketahui kepandaian silat mereka itu biasa saja. kau bantu aku. Auwyang Kongcu pun bangga akan gundik-gundiknya itu. Adalah diwaktuwaktu yang senggang. Mengetahui akalnya gagal. Oey Yong mengasah pula otaknya. Demikian hatinya goncang kana mendengar suara orang yang merdu itu.‖ ia bilang.

suatu tanda dari kuatnya kaki kanannya itu. yang terbuat dari benang sutra tetapi kuat. hingga ia dapat berlompat bersama-sama kursinya itu. dia buktikan perkataannya itu. ia menjadi berpikir keras. Lingkaran pun seluas enam kaki. Segera ia dapat kenyataan. ia bertindak dengan tenang. Auwyang Kongcu sudah lantas mengegos tubuhnya akan tetapi sia-sia saja ia berkelit. ia menginsyafi keadaan yang tidak wajar. di atasnya mana ada bercokol satu paderi dari Tibet yang tubuhnya tinggi dan besar. dengan begitu ia membuat lingkaran. kedua tangan si nona mengenai tepat pundaknya. Ia pikir: ―Terang sekali orang ini tidak bermaksud baik. mana bisa dia mengalahkannya tanpa dia membalas menyerang? Mungkinkah dia hendak menggunai ilmu siluman?‖ ―Aku tidak percaya yang kau benar-benar tidak bakal balas menyerang!‖ bilang Oey Yong pula. yang dari dalam jubahnya mengasih keluar sepasang cecer tembaga. segera ia merasakan pukulannya itu membal balik. ia berputar dengan kaki kiri itu.‖ Karena ini. Kongcu itu lihay tenaga dalamnya. ―Bagaimana sekarang – bagaimana kalah menangnya?‖ si nona tanya. meski begitu yang terkejut adalah si nona sendiri. ia tetap senyum.‖ Maka ia sambuti ikat pinggang itu. ―Siapa yang keluar dari lingkaran ini. dia yang kalah. Anehnya. yang lain berat. dia duduk seperti terpaku di kursinya. Dia duduk di kursi tapi ia lebih tinggi dari si nona. maka sungguh hebat jikalau aku sampai kena dibekuk dia…. Sebaliknya. yang satu enteng. Mereka pun dapat anggapan. kemudian seraya ia bertindak masuk ke dalam lingkaran itu. maka begitu serangn Oey Yong mengenakan padanya. Semua orang tua di sini menjadi saksinya!‖ kongcu itu memberi kepastian. akan tetapi ia gunai kepandaiannya. ―Jikalau kau kalah. Ia bukan cuma bertindak masuk saja. begitu kedua tangannya dirapatkan. kaki kanannya terus menggurat. yang mengenakan jubah warna merah.Pendekar Pemanah Rajawali Lian Houw semua heran.‖ sahut Auwyang Kongcu. walaupun dia lebih pandai sepuluh lipat. karena begitu tangan mengenai sasaran. Ia tentu saja tidak berani menyerang untuk kedua kalinya. ―Tentu saja! Tapi kalau kau yang kalah. kau yang kalah!‖ Auwyang Kongcu tercengang karena herannya. Auwyang Kongcu lonjorkan kaki kanannya. tiba-tiba terlihat berupa benda besar yang melayang jatuh di depannya. bersedia untuk dibelenggu. toh kau tidak bakal merintangi aku lagi. ia kata: ―Aku hendak pergi sekarang! Kau tidak dapat keluar dari lingkaran untuk menyusul aku! Tadi kau sendiri yang mengatakannya. ―Jikalau dua-duanya yang keluar?‖ Oey Yong masih menanya. lalu dengan kaki kiri menahan diri. hampir ia melintasi garis lingkaran itu. ia taruh itu di lantai. keluar dari lingkaran. habis mana ia bawa kedua tangannya ke belakangnya. benda itu adalah sebuah kursi thaysu. tetapi menerjangnya berbareng. segera ia percepat tindakannya itu. ―Begitu pun boleh dianggap aku yang kalah. Hanya begitu ia berada di luar. yang satu lemah. ―Baik!‖ kata Oey Yong.‖ jawab Auwyang Kongcu.‖ berkata Auwyang Kongcu. Lekas ia mengambil putusan: ―Biarlah. Oey Yong heran. Sebab ia mengerti sembarang waktu bisa terjadi perubahan. tetapi hatinya terkesiap. tindakannya pun dihentikan. yang lantas bertindak memasuki lingkaran itu. pada wajahnya ia tidak ketarakan suatu apa. yang orang benar-benar menyerahkan diri untuk dibelenggu. Mereka pikir: ―Nona ini lihay. yang terus buka ikatan pinggangnya yang ia serahkan kepada si nona. kalau kita berdua sama-sama keluar dari lingkaran. dia membilang tidak akan membalas menyerang. begitu masuk lantas kedua tangannya bekerja. maka itu. yang lain keras. Ia sudah lantas berkelit ke samping. bukan?‖ si nona menegaskan. Oey Yong hendak menegur di pederi itu tetapi ia telah di dahului Leng Siangjin. Dia hanya bisa berdiri menjublak tanpa bisa bicara apa-apa! Si nona tidak menghiraukannya lagi. dengan itu ia terus ikat tangan orang. tangan kiri dengan jurus ―Angin menyambar yanglui‖. meminjam tenaga untuk menyerang tenaga. dengan kecerdikannya. ―Hendak aku telingkung tanganmu ke belakang!‖ ―Baik. hingga ia lantas terhuyung sendirinya. pemuda ini benar-benar ceriwis. Hal ini membuat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw kagum sekali. sebenatr saja ia sudah tiba di dekat pintu. aku bekerka setindak demi setindak…. maka kau mesti baik-baik turut aku. Maka terlihatlah gelang rambutnya yang terbuat dari emas itu berkeliauan dan bajunya yang putih berkibar-kibar. berbunyilah alat tetabuhan itu Irawan D Soedradjat Page 236 . Lingkarannya sendiri dalam kira setengah dim.

―Pernahkah kau melihat landak?‖ Pheng Lian Houw mendahului menanya ―Tentu pernah aku melihatnya!‖ sahut orang she Hauw itu. Dia menjadi terlebih kaget. ia menjadi mendekati si orang suci itu. hanya serupa benda licin. dengan ilmu pukulan ―Tay ciu ini‖ atau ―Tapak tangan besar‖. sebab telapakan tangannya pecah menjadi sepuluh liang kecil. orang menjadi heran sekali. ia justru mencelat ke depan. Untuk kagetnya. dia kena injak bukan batu atau tanah keras. ―Baju lapis itu tidak takut kepada senjata tajam seperti golok dan tombak. Di dalam hatinya ia menghibur diri. sekian lama dia tidak dapat dicandak. Cu Ong sebaliknya mengejar dia dengan hebat. Oey Yong seperti juga tidak dapat menahan tubuhnya. dia dapatkan sebuah tengkorak manusia. Kali ini Leng Tie Siangjin mengangkat tangannya. Oey Yong tidak menjadi gugup. untuk berlari-lari keluar. Ketika akhirnya kakinya tiba di dasar liang. yang tertusuk duri. Selagi orang kaget. Dalam keadaan seperti itu. ia pun tidak berlompat itu lari menyingkir.Pendekar Pemanah Rajawali hingga menulikan kuping. ia terus terpeleset dan terguling. ―Di dalam bajunya ia memakai baju lapis yang lemas. Tapi ia masih sadar. dia lantas siapkan kakinya. satu suara keras segra terdengar. mungkin ia tidak terluka. bukan saja tulang-tulangnya bakal patah. selatan atau utara. bakalan remuk semua…. hingga ia seperti hendak menyerbu ke rangkulannya lawannya itu. menanyakan itu kepada kakak seperguruannya. dengan menjejak dengan kedua kakinya. Hingga istana pangeran itu menjdai kacar dan gempar! Di pihaknya Kwee Ceng. asal ke tempat yang gelap. Biar bagaimana tidak dapat ia melupakan nona yang manis itu. maka maulah dia nanti merangkulnya…. dengan begitu. maka sekejap kemudian. Thong Hay dan Lian Houw sertia Thong Thian turut pergi mengejar. supaya setibanya di bawah. Ia masih heran tatkala di depan matanya berkelebat suatu sinar. Cuma. si nona sendiri melayang terus bagaikan layangan putus. Sembari berbicara. yang bertemu sama Nio Cu Ong. bagaikan rebung muda atau pedang yang ditancap di tanah. Malah Chao Wang juga menitahkan Thung Couw Tek mengepalai barisan pengiringnya pergi mencari. Nona yang begitu cantik manis. ia sudah lewat di antara kedua senjata rahasia itu. tak usah dia jatuh terbanting. Dalam kagetnya. dia takutnya bukan main. sampai di luar gedung! Dari kaget. Ia penasaran. ialah punggung si nona. di antara gelap petang tidak dapat lagi ia melihat bayangannya si nona. ia lari mencari. lalu sepasang cecer itu menyambar ke arahnya…. ―Dia dapat lolos. Orang menjadi kaget hingga mereka pada berseru. dia memukul ke arah tubuhnya si nona.‖ Hauw Thong Hay mengulur lidahnya. hingga mereka tercengang. untuk mencari. Dia heran yang di pekarangannya istana ada tempat yang demikian.‖ Hauw Thong Hay.‖ Lian Houw lantas memberi keterangan. ynag tidak tahu apa itu Joan-wie-kah. hingga tidak ampun lagi. Mendadak kakinya menjadi lemas. ketika dia merasakan sakit pada kakinya. ―Syukur aku tidak sampai kena menghajar budak itu…‖ katanya. hanya tempo ia sampai di luar.sebuah di atas. Irawan D Soedradjat Page 237 . pastilah bakal runtuh di tangan yang kasar dari si paderi. ia maju terus. sebuah lagi di bawah. yang dalamnya beberapa tombak. juga isi perutnya. tangannya terus dipakai merebaraba kepada benda itu. Bahaya tidak dapat dicegah lagi. Mungkin ia menerka. terus tubuhnya terjatuh hingga ia menjerit keras. Sebentar kemudian dia sampai di satu tempat. dia mesti menderita sebab tertusuk duri-duri landak itu. dia lari tanpa memilih lagi jurusan timur atau barat. Maka siapa memukul atau menendangnya. Som Sian Lao Koay ingin membekuk orang untuk dihisap darahnya! Kwee Ceng dapat lari keras. kaki kirinya ditekankan di atasan cecer yang di bawah tubuhnya dipengkeratkan. di mana ada banyak pohon berduri serta batu muncul di sana-sini. dia terjatuh ke dalam sebuah liang. kenapa dia dapat memiliki Joan-wie-kah itu?‖ Sementara itu Auwyang Kongcu sudah berlompat. tangan kanannya diangsurkan. untuk menampa dasarnya cecer. maka sambil serukan sekalian gundiknya. Mereka lihat tangan kanan dari Leng Tie Siangjin mengucurkan darah. Pheng Lian Houw berseru: ―Budak itu memakai Joan-wie-kah! Itulah mustika pemilik pulau dari pulau Tho-hoa di Tang Hay!‖ See Thong Thian pun berseru: ―Dia masih begini muda. karena ia berlompat maju. Baju itu mempunyai duri yang seperti duri landak. Serangannya Leng Tie Siangjin tepat mengenai sasarannya. Lekas-lekas ia merayap bangun. dia pun berlari-lari di tempat yang gelap. walaupun itu sudah lolos dari bahaya. sebaliknya.

ia menyerang pula. Dia takut Kwee Ceng nanti bokong padanya. ia hanya kepada Kwee Ceng: ―Eh. Nio Cu Ong pun tiba dengan segera. anak muda. Kwee Ceng menjadi cemas dan sibuk.‖ Sebagai seorang polos. hanya ia lantas meraba ke belakangnya. ia bahka bergusar. bahkan kali ini tubuhnya terus lompat turun. sembari meraba dia sembari mundur. menyahuti orang itu. ―Terowongan ini mesti ada ujungnya. Dia pun rtidak sudi memberi penyahutan. Liang itu merupakan sebuah terowongan. Ia tidak melihat siapa juga tetapi ia merasa pasti Nio Cu Ong sedang menyusul padanya.‖ ia menduga-duga. Kwee Ceng bingung. Di belakangnya. maka ia mundur terus. Justru itu. terus ia mundur. Kwee Ceng menyingkir terus dengan hatinya memukul keras. Lagi beberapa tombak. dari pojok kiri terdengar ini suara dingin seram: ―Siapa berbuat kurang ajar di sini?!‖ Kwee Ceng kaget.‖ berkata Kwee Ceng perlahan. bocah. Baru Kwee Ceng berhenti bicara. dia dengar teriakannya Nio Cu Ong: ―Bocah. mari kau sembunyi padaku di sini!‖ Ia rupanya dapat menduga dari suara orang. di atas sana. Dalam liang gelap yang gelap itu. dialah seorang yang sedang sakit. ―Biarpun kau kabur ke istana Raja Akherat. lekas naik!‖ ―Aku tidak ada begitu gila mau naik untuk mengantar jiwa….‖ ia mengeluh. Kwee Ceng kaget dan takut. baru menyusul kira dua tembok. Hanya karena berada di tempat gelap.‖ pikir bocah ini. Nio Cu Ong mendapatkan tangkapannya gagal.Pendekar Pemanah Rajawali ―Rupanya ini adalah lubang peranti membuang mayatnya orang yang dibunuh di istana…. akan aku susul padamu!‖ terdengar pula suaranya Nio Cu Ong. Ia mengucap demikian tetapi ia tidak berkisar dari tempatnya. dia tidak dapat melihat apa juga. Nio Cu Ong tengah menyerang padanya. Wanita itu tidak menyahuti. Siapa sangka di temapt demikian boleh ada penghuninya. Ini pun ada penjagaan untuk lari terus andaikata Nio Cu Ong berlompat turun. dia bertindak dengan enteng. yang bisa menghalangi mundurnya. yang kosen dan nyalinya besar. ke mana kau hendak kabur?!‖ dia berseru. mungkin untuk ditawan. Kemudian ia putar tubuhnya. Itulah sebuah kamar atau ruang bertembok tanah. dia andalkan kepandaiannya. ia melihat ke sekitarnya. tidak dapat ia berdiam saja atau mendusta. Dia bernyali besar. lantas dia tertawa lebar. ―Aku datang kemari tidak sengaja. Nio Cu Ong tidak takut. dia tidak bakal hidup pula! Apakah kamu sudah bosan hidup?!‖ Terang suara itu adalah suaranya seorang wanita. ia tidak dapat meraba apa juga. dia menyusul terus. hanya kali ini suara itu disusul sama napas yang memburu. Nio Cu Ong telah dapat mengetahuinya. ―Aku lagi dikejar-kejar orang…. tibalah Kwee Ceng di satu tempat yang terbuka. Ia menjadi semakin takut. tahulah ia. ―Siapa yang berani datang kemari menangkap orang?!‖ terdengar pula suara wanita tadi. dia mesti mati. Dia masih tidak dapat meraba sesuatu apa. di mana terdapat cahaya terang. ia berkelit ke kiri dan kanan. Ia lantas saja berkelit. untuk berjalan dengan kedua tangannya dilonjorkan ke depan. hatinya goncang keras. Irawan D Soedradjat Page 238 . ―Ha. dia bahkan tidak dapat melihat jeriji tangan di hadapannya. di sana habislah jiwaku…. supaya ia tidak mengasih dengar suara apa-apa. Kembali terdengar suara seram dingin tadi: ―Siapa ke dalam gua ini. mungkin sekali. Itulah ujungnya terowongan itu. Justru hatinya lagi berpikir. ia turut terkejut juga. atau ia telah dengar sambaran angin. ―Apakah kau hendak menyamar menjadi iblis untuk menakut-nakuti aku?!‖ dia menegur. Sekalipun Nio Cu Ong.

Dengan perlahan ia bertindak menghampirkan wanita itu. di dalam keadaan seperti ini. ia merasakan tangannya disambar dan dicekal tangan lain orang yang dingin enyam. terus ia keluar dari terowongan itu. ―Aku tidak dapat melihat dia. Irawan D Soedradjat Page 239 . aku mesti tangkap dia. ujung kukunya menyambar ke pundak. ia tidak ambil pusing siapa si nyonya itu. ia mesti lantas roboh. ia segera kirim tangan kirinya. sedang tangannya dipakai menyampok. Ia baru saja melanggar bajunya Kwee Ceng lalu mendadak ia merasakan tangannya terbentur tenaga yang besar. ―Nyonya yang terhormat. Bocah ini telah curi barangku. mungkinkah dia itu siluman?‖ Juga sampokan Cu Ong adalah sampokan istimewa. Nio Cu Ong dapat mendengar suaranya kwee ceng itu. tetapi kali ini. Di dalam hatinya ia berkata: ―Wanita ini awas sekali matanya! Dia bisa menotok jalan darah. ia ayun tubuhnya untuk berjumpalitan. apapula kau Nio Lao Koay. Tidak ayal lagi. lalu tangannya si wanita diulur panjang. Ia menjadi kaget sekali. yang ia duga sedang sakit keras atau terluka parah. tenaganya telah dikerahkan sepenuhnya kepada tangannya itu. mari maju!‖ ia berseru saking murkanya. untuk menyerang! ―Pergi!‖ membentak si wanita. biasanya siapa kena tertotok. tetapi untuk kagetnya. lantas ia merasakan tangannya wanita itu bergemetar keras. ―Apakah kau sakit?‖ ia tanya perlahan. kakinya terus menendang ke arah wanita itu! Tendangan orang she Nio ini ada sangat kesohor. Syukur tangguh ilmu dalamnya. yang sebelah tangannya segera mampir di bebokongnya Som Sian Loa Koay. Ia pun mendengar orang merintih. Belum lagi tendangannya itu mengenai sasaran atau jalan darahnya kongsun-hiat. bukan seperti daging. tiba-tiba ia mendengar suara angin. untuk wilayah Kwan-gwa. ia menangkis dengan tangan kirinya. ―Dia lihay sekali! Mungkinkah ia dapat melihat di tempat gelap?‖ Ia menjadi tidak mau berlaku semberono. Ia pun menduga orang lagi sakit. dia kata terhadap Nio Cu Ong: ―Barusan seranganmu. hingga diluarnya dapatlah ia bernapas lega. tidak dapat tidak. Dalam kagetnya. Kwee Ceng baru mendengar sampai disitu. yang tidak tahu apa-apa. ia menjadi lebih tabah. kiranya saudagar Som Sian Nio Cu Ong!‖ berkata wanita itu. yang berupa tangkapan. lancang masuk ke rumahku ini. bagaikan es.aku…. Jalan darah itu ada di batas mata kaki.Pendekar Pemanah Rajawali Kwee Ceng sedang bingung. aku mohon tanya shemu yang mulia. Sekarang Nio Cu Ong percaya pasti orang tidak dapat bergerak. Ia sangat andalkan kegagahannya. ada lihay sekali. hingga ia terkejut. hingga ia terhuyung tiga tindak. untuk bergulingan pergi. dia sudah tidak dapat diberi ampun. Wanita itu masih bernapas memburu. kenapa dia sebaliknya segera mengenali asalusulnya ilmu silatku?‖ ia berpikir. ia menjadi bergusar pula. kesudahannya membuat ia kaget tidak terkira. ia buang dirinya ke tanah. lalu sebuah cambuk panjang menyambar ke kakinya. Apakah kau ada satu jago Rimba Persilatan dari Kwan-gwa?‖ Nio Cu Ong heran bukan buatan. Ia hanya heran atas kesebatan wanita itu. tidak dapat lagi ia bersangsi sedikit juga. Tiba-tiba terdengar urat-urat meretek. ―Aku…. tiba-tiba kaku sendirinya. ia lantas menyahuti: ―Aku adalah seoarng saudagar jinsom dari Kwantong. Cu Ong terkejut. bangsat perempuan. karena ini. pastilah itu tidak bakal gagal. Aku minta sukalah nyonya tidak menghalangi aku…‖ ―Oh. Disaat ia hendak berlompat. ―Kalau lain orang. Kali ini kedua tangan bentrok. untuk menerjang. kau ketua sebuah partai! Apakah benar kau tidak kenal aturan kaum Rimba Persilatan?!‖ Som Sian Lao Koay terperanjat. Lantas ia ulur kedua tangannya. untuk membekuk si anak muda. bahkan dengan merayap. maka ia lantas berlompat ke arah darimana suara itu datang. tubuhnya tidak bergerak. kalu serangannya mengenai sasarannya. tetapi ia tidak mau kasih dirinya diserang demikian. lalu perlahan-lahan cekalannya menjadi kendor. Begitu kakinya menginjak tanah. besar tenaga orang itu. Wanita itu terdengar napasnya memburu. ―He.‖ sahut si wanita itu. sambil lompat mencelat. ia rasakan tangan lawan dingin sekali. ia tidak sampai mendapat luka di dalam.‖ ia meminta. tanda bahwa nyonya itu sangat menderita. tubuhnya segera tertarik hingga ia roboh menubruk sebuah dipan tempat duduk bersemadhi. walaupun begitu. she Nio. ia kenamaan duapuluh tahun lebih.

orang tidak sudi menerima budi. Kwee Ceng merasakan pundaknya itu sakit sekali. 240 ―Siapa yang ajari kau ilmu ringan tubuh?!‖ si wanita tanya. . ―Ong Totiang mendapat luka.‖ ―Mana aku terluka!‖ memotong si wanita. him-tha dan bu-yok. cekikan itu menjadi semakin keras. hiat-kat. hatinya jadi lega. maka itu teecu datang ke istana ini…‖ Kwee Ceng menyahut. yang seperti tidak memperdulikan perkataan orang. yang ketemu batunya.‖ kata wanita itu. Yang membikin ia terkejut adalah lehernya terasa dingin dengan mendadak. tanpa berdaya ia kena ditarik hingga ke depan wanita itu. cara bagaimana kau ketahui aku sudah tua?‖ ―Ya. Sebab tangan kanan si wanita sudah merangkulnya. tetapi ia tertawa dingin. ―Benarkah di dalam dunia ini ada iblis? Ah. Ia mengangkat kepalanya. akan merayap naik.‖ sahut Kwee Ceng. untuk meninggalkan pergi kepada wanita ini tetapi ia tidak tega hati. terus ia menarik.‖ kata si wanita. karena ia berpikir: ―Wanita ini tinggal di dalam istana. Ong totiang tentu tidak membutuhkan sebanyak itu. hatinya menjadi lemas pula apabila ia dengar suara napas empas-empis dari wanita itu.‖ ―Apakah cianpwee terluka?‖ menanya Kwee Ceng. Liang sumur itu cukup tinggi tetapi Kwee Ceng dapat memanjatnya. mungkin ongya ketahui rahasia ini…‖ Maka dengan cepat ia kembali ke Hoa Cui Kok.‖ kata Kwee Ceng dalam hatinya. belum pernah aku mengalami kejadian seperti ini. ―Kenapa Lao Koay hendak membunuh kau?‖ ia tanya selang seaat. Ia berkata: ―Teecu mengucap banyak-banyak terima kasih untuk pertolongan cianpwee. Ia tidak tahu orang menguji padanya. Ia lantas menggendong. Kalau cianpwee…. habis itu ia mencoba menggunai kedua tangannya. hingga tak tahu ia mesti membilang apa. diletaki di pundak Kwee Ceng. dia membutuhkan obat. yang tidak berani banyak omong.Pendekar Pemanah Rajawali ―Sudah beberapa puluh tahun.ya. tangan si wanita menjadi kendor sendirinya. dengan kegirangan dan bersyukur. ―Teecu ada punya empat macam obat yaitu thian-cit. ia telah berlatih cukup di bawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok. ―Gendong aku pergi!‖ berseru si wanita itu. Ia pun batuk-batuk. ialah liang yang tadi. Ia telah lantas pikir. Kwee Ceng dapat dengar sauara orang berlari pergi. Ia tanya pula: ―Kau menghendaki barang apa? Nanti aku pergi mengambilkannya…. rupanya melawan Nio Cu Ong. Maka ia membelas. ―Adalah aku yang memaksa kau menggendong aku keluar dari sini.‖ Wanita itu bernapas tersengal-sengal. Kwee Ceng merasa orang sangat berkepala besar. ya. Dalam hal kepandaian ini. ―Siapa yang menghendaki kebaikanmu itu!‖ ―Ya. Sebaliknya.‖ sahut Kwee Ceng. kau benar baik…. Irawan D Soedradjat Page Saking kagetnya. ―Bocah tolol. untuk melawan cekikan. ―Jadinya kau telah curi obatnya Lao Koay! Aku dengar kabar ia tengah menyakinkan pembuatan obat-obatan…. mari boanpwee menggendong buat pergi keluar…‖ ―Siapakah ynag tua?!‖ wanita itu membentak. ―Memang aku pun hendak menggendong kau. keren. lantas ia berlulut di depan wanita itu untuk mengangguk-angguk hingga tiga kali. apakah ia bukan orangnya Wanyen Lieh?‖ ―Oh…!‖ berseru si wanita. ―Lekas bicara!‖ Ia memegang keras leher orang sampai si anak muda sukar bernapas. agaknya ia gusar. Ia ulur tangan kirinya. ―Tidak dapat aku dijual orang…‖ Mendengar ini. Ia terus bungkam. Tiba-tiba ia berhenti. ia telah menggunakan tenaga berkelebihan. Kwee Ceng kerahkan tenaganya di leher. Ia jalan terus hingga di mulut terowongan. dengan tindakan perlahan ia menuju ke luar. akan melihat bintang-bintang di langit.‖ ―Ah. Maka ia kata pula: ―Jikalau cianpwee tidak merdeka untuk jalan.‖ pikirnya. setelah napasnya tidak terlalu memburu lagi. Tidak lama keluarlah mereka dari gua itu. Hanya sesaat kemudian.

Kenapa kau berlaku begini kasar?‖ Tapi ia toh menjawab: ―Ong Totiang itu bernama Ong Cie It.‖ sahut Kwee Ceng pula. ―Kau bilang barusan Ong totiang mendapat luka. Ia kaget tidak kepalang. ia lantas berontak pula tetapi sia-sia saja. tidak nanti aku mendusta. ―Merekalah yang disebut Kanglam Cit Koay. Matanya Kwee Ceng telah berkunang-kunang tetapi ia masih bisa melihat si wanita yang rambutnya yang panjang riap-riapan. Ia menjemput untuk dilihat teliti. tetapi ia masih bisa bawa lari mayat suaminya itu. benar tidak?!‖ masih wanita itu bertanya. agaknya susah ia berbicara. kuku orang sudah masuk ke dalam dagingnya… Ketika malam itu di atas gunung terjadi pertempuran di antara Kanglam Cit Koay dengan Hek Hong Siang Sat. Diwaktu malam seperti itu. ―Benar. siapakah gurumu itu?!‖ si wanita tanya pula. Kwee Ceng rasanya kenal. Kwee Ceng berpikir: ―Kau telah tolongi padaku. ―Jadinya kau adalah muridnya Coan Cin Pay!‖ katanya. seorang she Kwa. si wanita merampasnya. Sekarang denagn tiba-tiba Kwee Ceng mengantarkan Irawan D Soedradjat Page 241 . yang ia letaki di tanah. Apakah namanya Ong totiang itu?‖ Sebelum menjawab. mukanya pucat seperti kertas. ―Di masa kecil pernah aku pakai pisau ini membunuh seorang jahat. aku ini siapa?!‖ ia tanya dengan bentakannya.‖ Belum habis ia mengucap. ―Kau kenal pisau belati ini. Bwee Tiauw Hong sudah buta kedua matanya. ia duduk di tanah. Ia lantas mengenali Tiat Sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi. ―Adalah Tan Yan Cu Ma Giok. Wanita itu perdengarkan suara seperti merintih. dari sakunya ia tarik keluar serupa barang. sebelah tangannya menyerangi si wanita. yaitu Ma Totiang yang pernah ajarkan aku ilmu mengendalikan napas dan bersemadhi.‖ Wanita itu batuk-batuk beberapa kali. Itulah pisau yang ia pakai untuk menikam Tong Sie Tan Hian Hong si Mayat Perunggu.Pendekar Pemanah Rajawali ―Ha. sebaliknya ia kena ditikam Kwee Ceng pada anggota tubuh kematiannya. bunyinya : ―Yo Kang‖.‖ menjawab Kwee Ceng. salah satu dari Hek Hong Siang Sat. ―Benar. ―Apakah kau datang dari Mongolia?‖ tanya wanita itu lagi. Di gagangnya ia dapatkan dua hruf ukiran. Itulah sebuah hungkusan. teecu she Kwee. orang dipanggil Giok Yang Cu. Dia agaknya mendesak. ―Teecu bukan murid Coan Cin Kauw. entah dari cita atau kertas. Tan Hian Hong telah jambak mati kepada Thi A Seng. ―Kau dipanggil Yo Kang.‖ menjawab si anak muda.‖ seru wanita itu. seram suaranya. tangannya telah dicekal keras. di dalamnya tertampak barang yang berkilauan. Itulah sebuah pisau belati. segala apa kau boleh tanyakan. melihat mana. ―Bukan.‖ Kwee Ceng mengangguk. terus di cekik. bukan suhu atau susiok?‖ Suhu dan susiok ialah guru dan paman guru. yang heran sekali. ―Dialah Kwa Tin Ok!‖ katanya kemudian. ―Guru teecu semuanya ada tujuh orang.‖ Tiba-tiba wanita itu menggetar.‖ ―Habis. ―Benar. ―Kau lihat. ―Ong Cie It itu kau punya pernah apa? Kenapa kau memanggil ia totiang. kau mengerti ilmu tenaga dalam yang sejati. ia lolos justru ketika itu turun hujan lebat.‖ sahut Kwee Ceng. Tapi tangan itu sudah lantas kena ditangkap! Segera si wanita melepaskan tangannya yang kanan. napasnya pun tersengal-sengal. Selagi si anak muda mengawasi pisau itu. lalu mendadak orang jahat itu lenyap dan pisau ini…. lehernya sudah dicekal si wanita. Guru yang nomor satu ialah Hui Thian Pian-hok.‖ Kwee Ceng berkata. Ia kaget. ia berontak. bukan?!‖ dia tanya. Kapan bungkusan itu telah dibuka. ―Kenapa wanita ini ketahui aku datang dari Mongolia?‖ ia pikir.

hawanya dingin. Banyak orang kosen yang mereka robohkan. tidak dapat aku bergerak. Dia kata. Pastilah dia anaknya suboku itu. goncang hati kami. Kiranya musuhnya suhu telah datang ke pulau untuk mengadu kepandaian. burung hantu pun mengasih dengar suaranya yang seram. Apa yang aku lihat adalah meja abu. setiap hari aku memain saja. Aku dengar bocah itu berseru. tetapi dia penasaran. dia tidak kasih lihat. yang terus ia usir.s esudah kedua orang tuaku menutup mata. Demikian pada suatu malam di musim semi. ‗Eh. lelaki bangsat. bagian bawah. dimana aku diajarkan ilmu silat. kami menyingkir jauh sekali sampai di gurun pasir di Mongolia. kakak seperguruanku. Ia masih terbenam dalam lamunannya. ―Kami tahu. ‗Baiklah.Pendekar Pemanah Rajawali jiwanya. ia ingat. Setelah itu. Itu waktu Tan Hian Hong telah memberitahukan bahwa ia telah mencuri sebagian kitab ―Kiu Im Cie Keng‖. suhu telah dapat dengar suara kami. kita gagal. Di kejauhan. Dia bilang pada istrinya: ―Aku mesti pergi. Segera ia menjadi girang bercampur sedih. ‗Bukan cuma kepandaian suhu belum dapat kita pelajari sebagian saja. aku justru berbuat baik terhadapmu! Jikalau kau lihat ini. Pertandingan itu itu membuatnya kami kaget. Aku menjadi bersedih. Sama-sama kita belajar ilmu silat. Tiauw Hong lantas melamun pula. mereka sembunyikan diri di gunung. bangsat lelaki. bagaimana Tiauw Hong tidak jadi girang. Suhu muncul di ruang meja abu itu. Bocha itu menolong kami. mereka buron dari Thoa Hoa To. Air laut telah muncrat memasuki perahu kami.‖ demikian ia melamun. hingga oleh guruku. Kiranya subo telah menutup mata. mari kita lekas pergi!‖ Tapinya suamiku menampik. seorang pemuda yang matanya besar terbayang dihadapanku. yang merupakan pengalamannya. ia menyambuti anak itu. ―Baru kemudian. aku ditolongi dan dibawa ke pulau Tho Hoa To. maka kejadianlah mereka berdua berlaku nekad. ―Eh. kita mesti jadi tanpa tandingan di kolonng langit ini. untuk mengintai. hingga selanjutnya dipulaunya itu guru hidup berdua saja dengan istrinya serta beberapa budak pelayan. Sekejap kemudian. untuk diajak lari. ―Dalam murkanya suhu telah putuskan ototnya semua muridnya. Dengan begitu. suaminya itu: ―Eh. Ditepi meja abu aku lihat satu anak perempuan kecil duduk di kursi. Suamiku itu berkhawatir kitabnya nanti ada yang curi. perempuan bangsat. Oey Yok Su. Maka aku kata kapadanya. kita curi pula yang sebagian itu!‖ Ia tidak berani pergi. dia pentang kedua tangannya dengan apa ia tubruk ayahnya. Bocha ini mirip dengan subo. untuk menyakinkan ilmu seperti pengajaran kitab istimewa itu. tentang peristiwa dulu-dulu itu. mungkinkah subo meninggal sehabis melahirkan yang sulit? Karena ini aku pikir untuk tidak melahirkan anak juga! Selagi aku berpikir begitu. Aku kaget hingga lemas kaki tanganku. kau tentu ingin mempelajarinya. Aku pikir. sampai hati kita coco satu sama lain. suhu telah sangat gusar dan telah umbar kegusarannya itu. Kwee Ceng pun dengar napas orang memburu. seperti mau lompat keluar. di bawah pohon tho. sekalipun aku. sedang tangannya terus memegang keras si anak muda. Aku ingat kepada subo. Aku juga tidak tahu dimana ia menyembunyikannya. aku tak akan lihat kitabmu!‘ Dia jawab aku. Bwee Tiauw Hong masih ingat baik-baik perkataan Tan Hian Hong. Lantas si bangsat laki-laki menarik tanganku. mereka berkelana dan menjagoi dunia kangouw. Biar kepandaian merka sepuluh lipat lebh lihay. orang perhina aku. kitab Kiu Im Cie Keng itu aku cuma dapat curi sebagian saja. aku dikasihi oleh ayah dan ibuku. dia mengawasi aku sambil tertawa. mendadak ia rangkul aku…‖ Wajahnya si Mayat Besi menjadi merah dengan tiba-tiba. lantas ia ingat penghidupannya yang dulu-dulu. Bagaimana sekarang?‖ Atas itu. Sudah belasan tahun ia cari pembunuh suaminya denagn siasia. dia hendak pergi mencurinya juga. Bagian atasnya adalah mengutamakan pelajaran tenaga dalam. Dialah Tan Hian Tong. atau kau menjadi janda. Kami kabur dengan naik perahu. tetapi kau Irawan D Soedradjat Page 242 . juga kepandaian lawannya itu kita berdua tidak dapat melawannya!‘ Maka itu kami lantas meninggalkan wilayah Tionggoan. hingga setelah pandai. Dengan berbisik aku kata kepada suamiku. karena buronan kami. ‗Ayah.‖ Ketika itu angin bersiur.‖ Tiauw Hong melamun lebih jauh. perempuan busuk!‖ Ia tidak sudi menjadi janda. pelajaran kita jadi kepalang tanggung. Demikian ia berkata terus dalam hatinya: ―Menyaksikan pertempuran dahsyat dari suhu. Karena kupingnya jeli. Kami telah menyaksikan suhu telah dapat membekuk musuhnya. Aku pergi ke jendela. hatiku memukul terus. perempuan bangsat. Ketika kami tiba di pulau. empo!‘ Dia tertawa manis. ia menjawab dengan balik menanya: ―Apa daya?‖ ―Kita kembali ke Tho Hoa TO. malah Hui Thian Sin-liong Kwa Pek Sia telah mereka binasakan dan Kwa Tin Ok sudah mereka bikin buta matanya. Bwee Tiauw Hong dapat dengar itu semua. lantas mereka menikah. Suhu khawatir dia jatuh. kami menemukan berbagai peristiwa yang luar biasa. budi siapa aku tidak dapat lupakan. Habis itu. si wanita menghela napas panjang. Ia ingat sebab takut digusari guru mereka. ―Dulu aku adalah satu nona yang lincah. Hian Hong pun jeri. kaki siapa dia telah hajar patah. barulah suamiku itu padam hatinya. mereka masih tidak sanggup lawan dua jari tangan saja dari guru mereka.

kitabnya lenyap bersama. harap kau suka meluluskannya. dan mereka itu tidak dapat melihat aku.‖ Mengingat itu semua.‖ dia berkata di dalam hatinya lagi. aku pun harus mati bersama si lelaki bangsat. dia membikin aku merasa sakit sampai di tulang-tulangku. terus ke bawah. di situ aku merasakan kulit dagingnya yang rada luar biasa. Aku sendiri. Tiba-tiba aku kena raba huruf-huruf ukiran di gagang pisau belati itu. Ini artinya. Tubuhnya si lelaki bangsat mulanya masih hangat. kitabnya masih kena kita curi. bagaimana tawar! Lantas aku bawa ujung belati ke mulutku. Aku empos semangatku. ‗Lelaki bangsat.‖ ―Seumurku aku tidak pernah melakukan kebaikan!‖ Tiauw Hong membilang. menyeramkan. aku lawan serangan racun. Sebenarnya apakah yang heran? Orang dibunuh. ia tidak dapat melihat sinar bintang lagi. Maka siapa berani tanggung yang kitab kami pun tak ada yang bakal mencurinya? Maka ia kata pada waktu itu. ―Memang. ―Di tubuhku ada beberapa rupa obat. dia cacah tubuhnya sendiri. ―‘Aku tidak bakal ketolongan lagi…rahasianya Kiu Im Cie Keng ada di dadaku…. ‗Kau ajarkan aku cengkaraman Kiu Im Pek-ku Jiauw. Aku pondong tubuhnya si lelaki bangsat.‖ jawab Kwee Ceng. aku merasa gatal sekali. di luar kota barat. Aku tidak dapat melihat musuh-musuhku itu. selama orangnya masih hidup. Sia-sia aku mencari.Pendekar Pemanah Rajawali tidak mengerti ilmu dalam. aku kabur. yaitu cengkeramnan Tulang Putih serta Pukulan Meremukkan Hati. Aku penasaran! Aku lalu mencari di rambut kepalanya. Hebat suara itu. tubuhmu bisa rusak. ingin aku membawa-bawanya di tubuhku. lalu perlahan-lahan menjadi dingin. aku lantas menggali sebuah liang besar. Lalu Kanglam Cit Koay perhebat serangannya atas diriku. apakah benar-benar kau telah mati?‘ Aku bertanya. sekarang aku tidak menghendaki hidup pula! Aku hendak minta suatu apa padamu. ia tertawa dingin. sekarang dengan kepandaian itu aku menggalikan kau liang kubur. ‗Aku ingin kau selalu mendampingi aku…‘ Ketika itu aku tidak bersedih lagi sebaliknya aku tertawa terbahak-bahak. ‗Mataku! Mataku!‘ Ya. hatiku pun turut menjadi dingin karenanya.‘ Itulah kata-katanya yang terakhir. Itulah temapt kematianku. aku khawatir Kanglam Cit Koay dapat Irawan D Soedradjat Page 243 . ―Entah dia bakal gunai cara kejam bagaimana akan siksa aku hingga aku terbinasa…. Di situ aku kubur si lelaki bangsat. ‗Baiklah! Jangan kau terus mengaco-belo!‘ Tapi ia mengajarkan aku Kiu Im Pek-ku Jiauw dan Cwie-sim-ciang. mana boleh aku mati? Maka itu aku meraba ke dadanya si lelaki bangsat. Sekonyong-konyong matanya menjadi gelap. tetapi mataku buta! Suamiku pun binasa! Itulah pembalasan! Pernah kami membinasakan kakaknya dan mata adiknya dibikin buta. darah lantas muncrat keluar.‖ Karenanya. Itu dia rahasianya Kiu Im Cie Keng. Sudahlah. kitabnya pun ada. Nyata dada itu dicacah dengan jarum. ia lantas berkata: ―Eh. darahnya pasti mengalir keluar. hendak aku memberi obat kepada kulit itu.‘ Aku jawab. ‗Bagus betul pikiranmu ini. aku merasakan sangat sakit pada mataku. Dia merasa seperti telah meraba dada suaminya. setelah itu ia bakar kitabnya itu. tetapi mereka juga tidak mengejar. entah berapa banyak orang telah aku bunuh…. dibawah lidah.‖ demikian dia ngelamun pula. kau mati tidak karuan?‘ aku cabut pisau belati dari pusarnya. sebagaimana dia sendiri dipanggil ‗perempuan bangsat‘ oleh suaminya itu. Aku tidak mati. Ah. bebokongku telah kena tertinju. Itulah aneh! Hujan turun hebat sekali. kiranya pembunuh si lelaki bangsat itu bernama Yo Kang! Mana dapat aku tidak menuntut balas? Sebelum membinasakan Yo Kang itu. Hanya.‖ Bwee Tiauw Hong lantas mengasih dengar suara tertawa kering dari tenggorokannya. Lantas aku sembunyikan diri di dalam gua. langit mestinya gelap gulita. akan cari rahasianya kitab Kiu Im Cie Keng itu. dengan sendirinya cekalan Bwee Taiuw Hong menjadi semakin keras dan giginya pun bercatrukan. Ah. mendadak hujan turun seperti di tuangtuang. Tempo aku meraba pula dadanya. ―Suhu yang demikian lihay. yang ia selalu panggil dengan sebutan ‗lelaki bangsat‘.‖ ―Kau hendak minta sesuatu dari aku?‖ Bwee Tiauw Hong tanya. Aku berlalri-lari di dalam hujan. merupakan huruf-huruf dan peta. Tidak ada bagian anggotanya yang aku bikin kelompatan. tetapi pertempuran dahsyat di atas gunung itu. Hian Hong khawatir kitabnya dicuri orang. aku minta kau tolong serahkan itu pada Onng Totiang yang sekarang ini lagi mondok di penginapan Ang Ie. Seluruh tubuhku bergemetar. ―Matilah aku kali ini…‖ kata Kwee Ceng di dalam hatinya. Kemudian terjadilah pertempuran di atas gunung itu. Aku lantas meraba-raba. Penyerang itu sempurna ilmu dalamnya. ―Ya. oh. ngelamun. akan tetapi tubuh itu ia rasakan panas sekali. ia masih ingat jelas sekali.‘ Aku lantas gunai pisau belati mengiris kulit dadanya si lelaki bangsat. supaya tidak menjadi nawoh dan rusak. tanpa ada orang yang memanggil dia lelaki bangsat. setelah orangnya mati. aku tidak mendapatkannya. Dengan kedua tanganku. Kanglam Cit Koay telah mengepung aku. ‗Kau yang begini lihay. Bwee Tiauw Hong merasa ia telah berada pula di gurun pasir. Kwee Ceng sampai bergidik. hujan besar telah membasahkan seluruh tubuhnya. Itulah dua huruf ‗Yo Kang‘. dinginnya luar biasa. ―Suamiku berkata. Dia tidak ingat lagi berapa banyak kesengsaraan yang dideritanya dan berapa banyak jiwa yang telah dibunuhnya.

Beberapa tahun telah lewat tanpa ada yang mengetahui perbuatanku itu. ia sudah menyakinkannya beberapa tahun. aku dengar suara pasukan tentara lewat di depan guaku. tidak kecuali kepada ongya dan onghui. suaranya dapat terdengar sampai di tempat jauh. Kwee Ceng selalu berkelit dengan berhasil. juga seluruh tubuhnya menjadi panas. Pertempuran Dahsyat Wanita ini tertawa. Sekali saja. . pukulan Cwi-sim-ciang. selagi perutku lapar. supaya kemudian aku bunuh si bocah untuk menuntu balas untuknya!‖ Saking senang dan gembiranya. agar aku bisa bersembahyang di kuburan suamiku. Irawan D Soedradjat Page Begitu kedua tangannya beradu. sedang juga. Tangannya itu telah tergetar. Aku bekerja di taman belakang. di sana aku dapatkan tujuh saudara imam dari Coan Cin Kauw. aku berdiam di dalam terowongan dalam tanah. Mataku tidak bisa melihat. malah ia terus ajak aku ke istananya si Tiongtouw. akan aku cambuk toblos batok kepalanya!‖ ―Lewat beberapa bulan. tenaga dalamnya telah cukup kuat. untuk mencari telur burung. maka ia angkat tangannya yang kanan. pangeran cilik itu memberitahukan kepada aku. Ia lantas menggerembengi aku. di situ secara diam-diam aku menyakinkan ilmu kepandaianku. Ia menjadi heran sekali. asal rahasia bocor. sampai tiga kali. Ia telah mendapatkan pelajaran dari Ma Giok. Di saat mati atau hidup itu. dia memaksa minta aku memberi pelajaran padanya. walaupun ia tidak berbicara keras. ia pegang tangan si wanita. Sungguh aku sangat beruntung. Ia berpikir: ―Aku berlatih tanpa 244 Kwee Ceng kalah pandai. Oh. pangeran itu adalah Pangeran Chao Wang. Mereka itu bicara dengan bahasa Nuchen dari negara Kim. hingga ia secara sembarangan mengajari aku sepatah kata rahasianya ilmu dalam. Tapi dia pun nekat. Dia tertawa haha tercampur hmhm. Sepulangnya ke istana. Hm! itu waktu akan aku jambret setiap batok kepala. Semua orang menganggap akulah seorang wanita tua yang buta yang harus dikasihani. Dia lantas menjambak pula. dia suka menolong. di mana aku menyakinkan kepandaianku. bekerja menyapui rumput. Perjalananku ke Mongolia itu tidak sia-sia belaka. tangannya menyambar ke batok kepala. separuh tubuhku ini tidak dapat digeraki. tertawa dingin! Bab 22. Tidak dapat ilmu dalam itu dipeljarakan tanpa petunjuk. pastilah aku akan mati kelaparan di dalam situ. dia berseru panjang. Ah! Pangeran cilik yang nakal itu telah datang ke taman belakang. aku minta barang makanan. Maka juga. ia dapat tenaga akibat darah ular yang ia sedot. untuk dipaksa melepaskan cekikannya. Aku mengancam. Bwee Tiauw Hong terperanjat. Hm. Tiauw Hong tertawa berkakakan tak hentinya. Aku melarang si pangeran cilik datang padaku.Pendekar Pemanah Rajawali mencari aku. tidak dapat ia berkelit lagi. Ongya menerima baik permintaan itu. dia telah mempergoki aku lagi menyakinkan cambuk perak. Kwee ceng merasakan tenggorokannya tercekik keras sekali.‖ ―Kemudian pada suatu tengah malam…. Lantas aku hendak mencari Kanglam Cit Koay. Aku hendak mengajari dia segala macam kepandaian asal dia suka bersumpah tidak membuka rahasia kepada siapa juga. bahwa ongya hendak pergi lagi ke Mongolia. Terpaksa aku ajarkan dia tiga jurus. Panas hatinya Tiauw Hong. aku lantas keluar dari tempat sembunyiku. setiap hati manusia! Aku akan belajar. Pangeran yang memimpin pasukan itu mengasihani aku. tidak peduli aku bisa terluka di dalam atau tidak. Coba kalau bocah ini tidak menerobos masuk ke dalam terowongan. disana tidak dapat aku mencari tulang-tulangnya si lelaki bangsat. Ternyatalah ia berotak terang sekali! Aku jadi gembira. maka aku terus mengajari dia. supaya ia menolongi aku. Itu dia pukulannya yang berbahaya. maka tunggulah aku selesai dengan pelajaranku. cara bagaimana aku bisa melawan mereka? Di antara mereka. hingga tubuhnya menggetar. Lantas aku minta supaya aku diajak. ia telah dapat belajar dengan baik. Belakangan aku mendapat tahu. Sekarang ini aku bukannya tandingan mereka. ia berontak dengan berhasil. rupanya dari si lelaki bangsat yang memimpin bocah itu datang padaku. tangan kanannya pun masih dicekal si wanita. yang lihay tenaga dalamnya adalah Tan Yang Cu Ma Giok. sedang tangan kanannya mengerahkan tenaganya. Pengejarannya Nio Cu Ong dan pertempurannya sama Wanyen Kang membuatnya tenaga obat menguatkan tubuhnya. Dia sangat menyayangi pangeran kecil itu. Ia tidak ketahui yang pelajaranku telah tersesat. Kesudahannya. yang segala keinginannya senantiasa dipenuhi. Bwee Tiauw Hong sudah lantas menarik pulang tangannya. Aku dapat mendesak kepada Ma Giok. ―Tidak jelek kepandaiannya bocah ini!‖ pikirnya. aku mempelajarinya dengan memaksa. Peduli apa! Berselang dua hari. putra nomor enam dari raja Kim. Asal ia membuka mulutnya. untuk menangkis.

aku menerima baik permintaanmu. Ia membandel. hatinya cemas dan mendongkol. hal itu membuat Kwee Ceng merasai lengannya sakit sekali. ―Baiklah bocah.‖ bilangnya. ―Aku ada punya satu sahabat. ―Kau telah membunuh suamiku. aku nanti siksa padamu!‖ Kwee Ceng tidak menjawab. ―Sesudah si bocah she Kwee yang baru mengajari aku ilmu dalam dari Coan Cin Kauw. Kwee Ceng berpikir. Kwee Ceng menahan sakit. ―Dan dia telah dipergoki mereka itu…. aku tidak sangka Bwee Tiauw Hong satu jago yang telah malang melintang di kolong langit ini. Bocah ini sebaliknya sempurna ilmu dalamnya. Mendengar ini. ―Kau mau menolongi atau tidak. ―Cara bagaiman aku bisa mengetahui di mana adanya sahabatmu itu? Sudah. kau boleh siksa aku. ―Kau masih harus melakukan baik satu hal lagi. Dia lantas menyahuti: ―Sudah lama aku ada di sini…. ―Bocah cilik yang bau.. lekas kau munculkan dirimu untuk terima binasa!‖ Kwee Ceng kenali itu suara bentakan.‖ . ―Bagaimana Tan Yang Cu mengajarkan kau ilmu bersemadhi?!‖ Tiauw Hong tanya. jangan ngoceh terus! Lekas kau jelaskan ilmu itu!‖ Dia pun kembali memencet. aku akan tutup mulutku!‖ ―Masih ada apalagi?!‖ tanya Tiauw Hong yang murka sekali. Ah. ―Tetapi jikalau kau meu dengar perkataanku. tidak ada harapan algi untuk kau hidup lebih lama!‖ ia kata dengan bengis.‖ sahut si anak muda: ―Sahabatku itu lagi dikejar-kejar lawannya. sekarang aku mesti menyerah kepada segala kehendakmu!‖ Irawan D Soedradjat Page Baru dua kali Oey Yong dipanggil. mereka itu jalan pergi. biarlah aku tersiksa untuk selama-lamanya!‖ Wanita ini baru memberikan sumpahnya itu lalu tiba-tiba di sebelah kiri mereka. aku tersesat. Setelah itu. Tetapi ia sudah nekat.‖ Tiauw Hong lantas saja menjadi kegirangan. ―Aku berjanji akan mengantarkan obatmu kepada Ong Cie It. apabila aku si orang she Bwee tidak mengantarkan obat kepada Ong Cie It. satu nona kecil. dia tidak bakal lolos!‖ Sembari berbicara. biarlah tubuhku tidak dapat bergerak seluruhnya. untuk menolongi jiwanya. kau ingin aku mengajarkan kau ilmu tenaga dalam! Tidak nanti! Biar aku mati. ia tidak pedulikan ancamanan orang.‖ pikirnya. Kwee Ceng terkejut. Bwee Tiauw Hong mengerahkan tenaga di tangan kirinya.‖ Dia lantas berpikir pula. terserah padamu!‖ katanya keras. ada orang membentak dengan dampratannya. ―Budak hina. Kau mesti turun tangan untuk menolongi sahabatku itu!‖ ―Hm!‖ Tiauw Hong kasih dengar ejekannya.!‖ 245 Kwee Ceng tidak menyahuti. ke mari! Yong-jie! Yong-jie….‖ katanya dalam hatinya. Kenapa aku tidak mau memaksa dia untuk mengajari aku?‖ Maka kembali ia mencekik leher si bocah itu. ialah dari Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. Lekas ia bilang: ―Baik! Tapi kau mesti bersumpah dulu – sumpah yang berat. Ia berpikir. sejarak belasan tembok. terserah padaku!‖ Tiauw Hong kewalahan.‖ katanya lemah lembut. ―Inilah urusan penting. dengan sumpahnya.‖ katanya. malah ia kata: ―Kau memikir untuk mendapatkan kepandaianku? Hm! Baiklah siang-siang kau matikan keinginanmu itu!‖ Tiauw Hong kendorkan pencetannya. ―Aku suka bicara atau tidak. jika tidak. tiba-tiba dia telah muncul dari gerombolan pohon kembang mawar di samping mereka. Kwee Ceng dapat menerka isi hati orang. tidak nanti aku membikin harimau tumbuh sayap!‖ Maka ia lantas tutup rapat kedua matanya. ―Kiranya Yong-jie masih ada disini. ―Orang she Kwee…. Lantas ia dengar pula suara seorang lain. dia hanya berkoak-koak: ―Yong-jie. nanti aku ajarkan kau ilmu yang Ma Totiang ajarkan aku.Pendekar Pemanah Rajawali guru. akan kau membikin kau mati dengan puas! Jikalau kau membela. ―Budak cilik ini mesti ada di dekat-dekat sini! Jangan khawatir. ia kata kepada Bwee Tiauw Hong.

―Kau…kau…. Memang Oey Yong ini adalah putrinya Oey Yok Su. Bwee Jiak Hoa itu adalah nama benar dari Tiauw Hong. marilah kita bicara baik-baik! Mana suhu?‖ Oey Yong tidak segera menjawab. gua dan paseban itu adalah tempat. Oey Yong pernah dengar ayahnya omong tentang Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong. selagi lompat. ―Masih ingkatkah kau kepada puncak Cek Cui Hong. maka itu ia pergi buron dengan menaiki sebuah getek kayu. walaupun Oey Yok Su ada satu jago yang lihay. Tapi ia tidak menangis terus. ia merasakan seperti tubuhnya melayang-layang. Dia menjadi terharu dan tertarik hatinya kepada si pria. Tentang kata-katanya tadi. yang namanya Yok di atas dan Su di bawah?‖ ia tanya kemudian. katanya: ―Di dalam tumpukan cita menyembunyikan pedang mustika. sampai di Kalgan ia – diluar dugaannya – bertemu sama Kwee Ceng. ―Kau siapa?!‖ ia tanya. anaknya baru mendapat permulaan saja dari kepandaiannya itu. maka cara bagaimana dia bisa datang kemari? Bukankah aku tengah di perdayakan?‖ Menyaksikan keragu-raguan orang. nama itu tidak dikenal kaum kongouw. ia menjadi sangat nakal. Dalam kedukaannya. Ibunya telah meninggal dunia karena kesulitan bersalin setelah ia dilahirkan. ―Lekas lepaskan dia!‖ Oey Yong berkata pula. kedua murid ayahnya itu. Laut Timur. ia menyerang ke arah Tiauw Hong. air matanya turun meleleh di kedua belah pipinya yang halus. ia kurang bersungguh-sungguh. suaranya bergemetar. dalam suara seruling dan tambur ada si bintang tetamu…. gua Twie In Tong dan paseban Sie Kiam Teng dari pulau Tho-hoa-to di Tang Hay?‖ Tiauw Hong berdiam. ia putar tubuhnya dua kali sebelum tubuhnya turun. ―Kau nyatanya belum melupai ayahku! Tapi juga ayahku belum melupakannya kau! Dia telah datang sendiri menjenguk padamu!‖ Tiauw Hong ingin berbangkit bangun akan tetapi kakinya tidak mau menurut perintah. dimana ia biasa pesiar semasa dia masih belajar silat. ia angkat tangannya untuk menangkis seraya ia berkata: ―Sumoay. nama sebelum ia berguru. ia tidak dipaksa ayahnya itu yang ingat ia masih berusia terlalu muda. Oey Yong menjawab. Semua puncak. kau mengertikan jurus ini?‖ Tiauw Hong merasakan serangan itu dari anginnya saja. ia memberikan sedikit arak. ia menaya: ―Kau sudah mencuri kitab Kiu Im Cie Keng.!‖ tanyanya membentak. maka itu ia jadi tahu nama benar dari Tiauw Hong. ―Bagus!‖ seru si nona. ―Kau pernah apa dengan Oey Suhu. ia pergi ke mana ia suka. Maka itu. Ia bicara sama musuh itu. di waktu tubuhnya turun ke bawah. Nama itu pun sudah beberapa puluh tahun tidak pernah terdengar lagi. Karena ia sangat disayang. yaitu: ― Di dalam tumpukan cita Irawan D Soedradjat Page 246 . Ia menyamar sebagai satu pemuda melarat. lekas kau merdekakan dia!‖ Kwee Ceng heran. Heran ia akan mendengar disebutnya semua itu. dimana ayahnya telah mengurung musuhnya. Oey Yok Su menghibur diri dengan merawat dan memanjakan putrinya ini dengan dibantu sejumlah pelayan. Tanpa merasa. Pada suatu hati Oey Yong pesiar kelilingan di pulaunya itu. ia terperanjat. seumpama kata semangatnya terbang pergi. Ia menjadi bingung sekali. Sekarang Tiauw Hong dengar nama orang menyebutnya. Tiba-tiba pula Tiauw Hong ingat: ―Selama ini suhu tidak pernah meninggalkan Tho Hoa To. Belum pernah Oey Yong ditegur. ia menjadi tidak senang. ia gusar. Ia menjadi kaget. Belakangan Oey Yok Su ketahui perbuatan anaknya itu. Ia merasa kasihan. Oey Yong berlompat tinggi setombak lebih. Dia adalah anak tunggal dan tersayang. begitu pun Bwee Tiauw Hong. ―Kau bagaimana?!‖ balas tanya Oey Yong. sampai ia tiba di gua. maka itu dia pun telah denar pembicaraan di antara Tiauw Hong dan Kwee Ceng. yang begitu perhatikan dan menyayangi kepadanya. ia tegur anaknya itu.‖ Tiauw Hong menjawab terlebih kaget lagi.Aku she Oey….Pendekar Pemanah Rajawali Memang nona itu sudah sekian lama bersembunyi di situ. malah keduanya tertarik satu pada yang lain hingga mereka lantas saja menjadi bersahabat erat. Sembari menyerang. Tocu pemilik pulau dari pulau Thoa Hoa To di Tang Hay. ia lantas ulur tangannya akan sambar Kwee Ceng guna ditarik. hanya ia lantas kata pada Bwee Tiauw Hong: ―Bwee Jiak Hoa. Ia cerdas sekali tetepi dalam pelajaran ilmu silat. Itulah jurus ―Burung garuda terbang ke langit‖ dari Cwie-sim-ciang.

Irawan D Soedradjat Page 247 . ―Akan aku berpura-pura tidak sanggup melawan.‖ ―Jasa baik apakah itu?‖ Bwee Tiauw Hong tanya. Walaupun begitu. hingga Auwyang Kongcu tidak berani merapatkan diri. supaya ayah suka mengampunkannya. kapan ia lihat kau membantui aku. hatinya tentu girang. adik seperguruan. itulah nyanyiannya Oey Yok Suk yangs ering dinyanyikan. untuk memernahkan diri di belakangnya Bwee Tiauw Hong. lalu di sana muncul seorang yang tangannya menggoyang-goyang kipas. untuk menyerang Bwee Tiauw Hong. dengan menerbitkan suara memberebet. Oey Yong hendak menggunai ketikanya untuk menyingkir. lantas ia menghadapi Bwee Tiauw Hong dan berkata: ―Bwee Suci. Itulah cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw. Kata-katanya ini sumoy. Sebentar ayah datang. ―Ada orang busuk lagi menghina aku. ke arah muka. Oey Yong tertawa di dalam hatinya. hanya sekarang kau mesti mendirikan dulu beberapa jasa baik. Kwee Ceng baru memandang ke tembok tatkala di belakang mereka. Auwyang Kongcu melihat Tiauw Hong sedang duduk numprah. hingga semangatnya bangun dengan mendadak. Ia buta tetapi ia seperti membayangkan guru itu dengan bajunya warna kuning muda. ia lihat tangan si nyonya menjambak secara hebat. Itulah Hauw Thong Hay yang telah datang ke situ dan lantas menyerang. tetapi teecu mohon sukalah guru mengampunkan teecu dari hukuman mati mengingat mata teecu telah buta dan separuh tubuhku cacat…‖ Kwee Ceng heran menyaksikan orang demikian ketakutan dan pasrah sedang begitu jauh yang ia ketahui. musuh bagaimana tangguh juga tidak dapat buat ia jeri. kaulah yang mesti hajar dia. ia masih kurang sebat. membuat ia mendapat harapan. seperti habis sudah ilmu silatnya. Ia kaget bukan main.Pendekar Pemanah Rajawali menyembunyikan pedang mustika. Oey Yog tarik tangannya Kwee Ceng. apabila ia mendekati mereka. aku tidak kena kau jual!‖ orang itu berkata sambil tertawa. otak mereka telah dilobangi lima jari tangan.‖ Oey Yong terangkan. yang ia tahu ilmu silatnya lihay. sebab dia tahu si nona memakai lapis berduri. Ia tarik tangan Kwee Ceng. ayah paling dengar perkataanku. Kongcu ini menjadi murka sekali. dan orang pun hendak membekuk padanya. Ia mengerti yang ia sukar lolos. Bwee Tiauw Hong membuat perlawanan dengan Kiu Im Pek-kut Jiauw. begitu lekas Tiauw Hong dan si kongcu bertempur. ia mau ajak sahabatnya itu menyingkirkan diri. Tiauw Hong masih berpikir: ―Suhu telah datang.‖ Tiauw Hong suka memberikan bantuannya. ia ulur tangannya akan sambar Oey Yong. Ia keluarkan kepandaiannya yang istimewa. si Mayat Besi biasanya galak dan telengas. tubuhnya pun dibawa berlompat berkelit. nyata mereka sudah putus jiwanya semua. Yang membikin ia terkejut sekali adalah keempat muridnya telah roboh terguling. kedua tangannya bergerak panjang dan pendek. Belum pernah ia mendapat serangan sehebat ini. disusul sama serangan dua tangan. ia lompat maju. Oey Yong lantas kenali Auwyang Kongcu. Mendadak tubuhnya menjadi lemas. Begitu dia tiba di depan mereka bertiga. ―Anak yang baik. ujung bajunya robek sepotong sedang kipasnya patah menjadi dua potong. sambungan tulang-tulangnya mengasih dengar suara meretek. sebentar nanti aku mohonkan ampun kepadanya. tidak banyak omong lagi. Lekas-lekas ia mengetok denagn kipasnya ke lengan si nyonya. nyonya itu berserba hitam dan romannya tidak luar biasa. Ia sengaja menyebutkan itu. untuk memeriksa. Nona ini telah pikir. tubuhnya menggigil sendirinya. ia baru menarik tangan Kwee Ceng atau tiba-tiba ia dengar bentakan di belakangnya. segera ia dapat akal. lagi berdiri di hadapannya. yang kepandaiannya tidak dapat ia tandingi. dalam suara seruling dan tambur ada si bintang tetamu‖. mereka dengar satu suara seruan yang disusul tertawa panjang. buat menyingkir dari istana itu. untuk menggertak kepada Tiauw Hong. maka setiap muridnya kenal itu baik sekali. Sementara itu Auwyang Kongcu lagi mendatangi bersama keempat murid wanitanya. tetapi ia cerdik sekali. entah dengan cara apa dia bakal menghukum aku…‖ Mukanya menjadi pucat kapan ia ingat kebengisannya Oey Yok Su. ialah ―Sin To Soat San Ciong‖. Benar-benar Tiauw Hong jeri dan melepaskan Kwee Ceng. dengan pundaknya menggendol sebuah pacul kecil peranti menggali obat-obatan. Mendadak saja ia merasakan angin menyambar ke arah dadanya. atau ―Unta Sakti Gunung Salju‖. terus ia menunjuk ke luar jendela. Itu artinya ia mengajak sahabat itu lari bersama. ia terus mendekam ke tanah seraya berkata: ―Teecu ketahui dosaku yang mesti dibunuh berlaksa kali.

Dia ini mengkeratkan diri. Bwee Tiauw Hong merasakan repot melayani dua lawan yang tangguh. ia menangkis dengan melemparkan tubuhnya Hauw Thong Hay ke arah datangnya piauw itu. hingga ia mesti melompat menyingkir. ―Aduh!‖ karena tepat ia terkena piauw itu. Kwee Ceng lompat. maka Thong Hay lantas saja berkoak. ia menjadi lemas sekujur tubuhnya.Pendekar Pemanah Rajawali Segera setelah itu. ia turut perkataan orang itu. Nyonya itu sudah lantas kasih bekerja kedua tangannya. maka kagetlah ia tempo bebokongnya kena dijambak. Ia bertenaga besar. Itulah serangan kim-chie-piauw. Tiba-tiba ia tarik sebelah tangannya dan menyambar bebokongnya Kwee Ceng seraya ia berseru: ―Kau podong kedua kakiku!‖ Kwee Ceng kaget. untuk diangkat. keduanya menjadi kaget. lantas ia putar tubuhnya. guna mundur sembari menangkis atau berkelit. ia menjadi kaget. sampai bajunya robek dan terlihat baju dalamnya. ia maju akan membantui si pemuda mengepung. tatkala ia melihat Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian maju membantu suteenya untuk menggerubungi Oey Yong. hingga ketika ia menjambret Nio Cu Ong. sedang di lain pihak lima jari tangan kanan si nyonya itu menyambar ke abtok kepalanya. Oey Yong main berkelit terhadap pelbagai serangan Hauw Thong Hay. untuk menghalau lengan nyonya itu.‖ Kwee ceng menjawab. dengan tangan kanannya ia jambak Nio Cu Ong. 248 Berbareng dengan itu. kagetnya bukan main. ia tidak mengerti maksud orang. ia jadi dapat berbegrak dengan leluasa. dia dapat mengcengkram pundaknya. Karenanya kedua tangan beradu satu sama lain. tak dapat ia bergerak lagi. ia kata kepada Kwee Ceng: ―Kau pondong aku. semabri berbuat demikian. segera ia membungkuk memegang kedua pahanya Tiauw Hong. akan tetapi ia insyaf bahwa mereka bekerjasama menangkis musuh. tanpa berdaya lagi. Ia pun lantas ingat bagaimana di dalam gua ia telah dipermainkan nyonya itu. Dengan tangan kirinya Tiauw Hong tangkis serangan Auwyang Kongcu. ia menjadi gemas sekali sambil berseru. dari arah kiri terdengar suara angin menyambar. untuk maju memburu. dia hanya memanggulnya. enteng tubuhnya. di dalam dan di laur istana.‖ Girang Tiauw Hong hingga ia menjadi bersemangat. Di luar dugaannya tangan si nyonya. Maka tidak tempo lagi. ke situ pun datang See Thong Thian bersama Nio Cu Ong dan Pheng Lian Houw. ―Dudk numprah. tangan mereka sama-sama kesemutan. bersiap untuk membantui. hingga tubuhnya segera diangkat. Dia tidak dapat melupakan ilmu itu. ynag kiri ke arah bebokongnya Hauw Thong Hay. Ia bukan lagi pondong si nyonya. ―Apa itu ynag dinamakan lima hati?‖ Tiauw Hong menanya pula. mereka berlari-lari bersama barisan pengiring mereka. Tidak lama. atau senjata rahasia yang berupa uang dari Pheng Lian Houw. lima hati di hadapkan ke langit. telapakan kedua kaki dan embun-embunan. Maka setelah itu Tiauw Hong manjadi menang diatas angin. See Thong Thian dan Pheng Lian Houw menanti di pinggiran. lalu dia bergerak kesana ke mari menuruti setiap petunjuk nyonya itu. . untuk memburu. dan tubuh Tiauw Hong tidak berat. Irawan D Soedradjat Page Tiauw Hong dapat tahu datangnya serangan gelap. Hati mereka tapinya gentar menyaksikan kehilayan si nyonya. Pikirnya: ―Dia tidak dapat menggunai kedua kakinya. ―Hajar dulu ini dua orang!‖ ia kata pada Tiauw Hong. Chao Wang bersama putranya repotnya mencari orang yang menculik onghui. ia membuatnya orang she hauw itu kewalahan. dia membutuhkan bantuanku!‖ Ia terus bekerja. untuk berkelit. ―Bagaimana sih caranya menyakinkan ilmu dalam?‖ dia tanya Kwee Ceng selagi ia melayani musuh. pundaknya orang she Nio itu berlumuran darah. Nio Cu Ong lihat bagaimana Auwyang Kongcu terdesak. ―Dengan itu dimaksudkan telapakan dua tangan. kau kejar si orang she Nioitu!‖ Baru sekarang Kwee Ceng mengerti maksud orang. Ia berlompat. SeeThong Thian menyaksikan itu.

siapa tahu. yang menyambar rambutnya itu. Ia bertubuh kuat akan tetapi toh hajaran itu membikin ia merasakan sangat sakit.Pendekar Pemanah Rajawali See Thong Thian kaget. Nio Cu Ong berseru. yang turut maju pula. dari itu.‖ Girang Tiauw Hong mendapatkan keterangan ini. dan hidung tidak mencium bau tetapi rohnya ada di peparu. ―Dia bakal segera datang!‖ Oey Yong menyahuti. ―Mereka ini bukannya tandinganmu! Umpama kata kau duduk di tanah. air dan tanah. Maka ia menanya. Dengan mencelat ke samping. Tiauw Hong menyambar ke rambutnya. Cu Ong menolong dirinya. untuk menanggapi dengan menyambar pinggang si adik seperguruan itu. Pheng Lian Houw dan See Thong Thian. kuping tidak mendengar tetapi pendengarannya ada di geginjal. Ia kaget. maka itu. mengebalkan kuping. atas mana Cu Ong menangkis dengan tangan kanannya. dan tanah dari Tiong Ie. Tiauw Hong segera diserang dari tiga penjuru. rambutnya itu kutung putus. mereka tidak nanti dapat mengganggu selembar rambutmu!‖ Ia ingin membangkitkan kejumawaannya si Mayat Besi. menyusul mana. ―Apakah itu yang disebut mengakurkan su-ciang?‖ ―Itu artinya menyimpan mata. budak cilik! Kau bilang kau bukannya murid Hek Hong. ―Apakah itu yang dinamakan mengumpulkan ngo-heng?‖ Tiauw Hong menanya lagi. begitu pun Oey Yong. Segera juga Tiauw Hong terdesak dibawah angin. maka akhirnya ia teriaki Oey Yong: ―Eh. semua itu terjadi dalam sejenak. emas dari See-pek. Oey Yong pun menjadi cemas. pemuda ini mesti membantui orang. darimana kau memancing begini banyak musuh lihay? Mana suhu?‖ Ia menanya demikian. dia menegur : ―Eh. sebenarnya ia berkhawatir. semua piauw itu mental kembali. Ia mengharap Tiauw Hong bisa melibat musuh-musuhnya. celakalah sutee itu. air dari Pak Ceng. yang ia tahu telengas. belum lagi Kwee Ceng menjawab ia. Untuk membebaskan dirinya. Dengan begini ia telah memecah perhatiannya. ia mementang kedua tangannya untuk menangkis. Tiauw Hong melemparkan tubuh orang dan See Thong Thian menolongi sutee itu. maka bagaikan sitebas. Itulah nio Cu Ong. api dari Lam Sin. ia repot melayani musuh-musuhnya. Terpaksa ia melompat maju. Sudah belasan tahun ia menyakinkan Kiu Im Cie Keng. juga kepada Nio Cu Ong. Bwee Tiauw Hong memasang kupingnya. sedang tangan kirinya tidak melepaskan rambutnya si Mayat Besi. lantas jari-jari tangannya dipakai menyentil. hingga ia jatuh dengan wajar. ia berlompat menerjang. menyusuli itu. supaya Kwee Ceng dilepaskan. Ia heran atas tidak datangnya bala bantuan. Sungguh tak ingin ia bertemu sama gurunya. tidak pernah ia mengerti itu. sekalian dia hendak membangkol tangannya si nona itu. ynag terus ia lemparkan. oleh piauwnya Pheng Lian Houw. ia serang Nio Cu Ong. apapula ia dapatkan tubuh sutee itu bakal jatuh ke tanah. ―Itulah kayu dari Tong-hun. salah satu dari Hek Hong Siang sat. mata tidak melihat tetapi semangatnya ada di jantung. meluruskan napas dan menutup lidah. api. emas. Nona ini segera menyerang punggungnya orang she Nio itu. supaya ia bisa ajak Kwee Ceng kabur. nyata kau mendusta!‖ Irawan D Soedradjat Page 249 . Kalau ia terbanting. Tetapi Tiauw Hong tengah sulit sekali. Sementara itu Pheng Lian Houw lantas mengetahui wanita itu adalah Bwee Tiauw Hong.‖ ―Tidak salah! Itu yang dinamakan ngo-kie-tiauw-goan – lima hawa dipusatkan kepada asalnya?‖ ―Itulah. lidah tidak berbunyi tetapi pemikirannya ada di hati. apabila ia dapat kenyataan Oey Yong membnatui si Mayat Hidup. Tiauw Hong merasakan ada serangan di kiri dan kanannya. Maka kali ini Thong Hay bisa kerahkan tenaganya. akan menyentil balik setiap piauw. pundak kirinya dan iga kanannya telah terkena hajar oleh Auwyang Kongcu dan See Thong Thian. tetapi ia merasakan rambutnya ada yang tarik.‖ Ngo-heng ialah kayu. oleh Auwyang Kongcu dan See Thong Thian. menyerang kepada Auwyang Kongcu.

mereka berkelahi terus. ada datang orang dari pihak ketiga. Orang yang mencekal joan-pian itu. Justru itu. untuk menyerbu dengan bergulingan. Begitulah tubuhnya kena dihajar tongkatnya Kwa Tin Ok dan kakinya tertendang Cu Cong. yang menjadi kaget sekali. guna menjambret si orang she Pheng itu. lalu terlihat berkelebatnya satu sinar putih terang. Sejak di Utara mereka terpisah dari Kwee Ceng. kalau naka itu roboh. yang ia lantas rabu kakinya. siapa kena dicambuk. Diwaktu malam. yang tubuhnya tinggi kate tdak rata. Merasa tidak ungkulan. sungguh sulit!‖ Ia memikir demikian karena ia tidak tahu Tan Hian Hong sudah terbinasa. dengan apa ia menyambet ke empat penjuru. Irawan D Soedradjat Page 250 . muka mereka tidak terlihat nyata. ia lantas ulur tangan kirinya. tetapi Liok Koay telah berlatih bersungguh-sungguh di gurun pasir. Tiauw Hong mengasih dengar suara ―Hm!‖ Mendadak saja tangan kanannya terayun. kemudian mereka menguntit delapan murid wanita dari Pek To San. Oey Yong segera berpaling. dua diantaranya sudah lantas lompat turun. sambil berseru. Tiauw Hong tidak tahu orang hendak membokong dia. Auwyang Kongcu membarengi menumbuk bebokongnya. muridnya mereka itu. maka ia berteriak: ―Semua berhenti! Aku hendak bicara!‖ Pheng Lian Houw. Auwyang Kongcu membuat perlawanan. mengejak. ynag tubuhnya kate. terpaksa ia lepaskan si nona mangsanya itu dan lari kabur. merek atidak ambil peduli. dia tetapi melayani ketiga musuhnya. mereka lantas mempergoki Auwyang Kongcu beserta sekalian muridnya merampas anak gadisnya suatu keluarga baik-baik. Kenapa si nona menyangkal? Kenapa agaknya si nona tidak menghormati Tiauw Hong itu? Justru itu terdengarlah suaranya See Thong Thian: ―Memanah orang lebih dulu memanah kudanya!‖ Kata-kata itu ditujukan kepada Kwee Ceng. Adalah Kwee Ceng. dia masih belum mampu menjadi guruku!‖ Lian Houw heran. dia menjatuhkan diri. Merek ini masing-masing bersenjatakan joan-pian dan pikulan besi. ―Dia guruku?‖ dia membalik. begitupun ketiga kawannya. untuk menyambut kakinya orang she See itu. Pheng Lian Houw penasaran. ―Lagi seratus tahun ia belajar silat. telah memperoleh banyak kemajuan. ia membungkuk. kemana kau hendak lari?!‖ Kwee Ceng dengar suara orang. atau tiba-tiba ia dengar lain orang mendahulukan padanya: ―Semua berhenti. Enam orang. dengan tubuhnya si nyonya turun rendah. Oey Yong berkhawatir dan penasaran. ia melihat ancaman bahaya untuk si Mayat Besi – artinya untuk ia sendiri berdua sama Kwee Ceng. aku hendak ada bicara!‖ Suara itu datangnya dari arah tembok. Oey Yong tidak dapat membantu Tiauw Hong lagi. Pheng Lian Houw berpikir: ―Ini perempuan buta mesti lebih dulu dibinasakan. Dua muridnya terhajar binasa masing-masing oleh Lam Hie Jin dan Coan Kim Hoat. dengan senjatanya itu. Ia tahu Kwee Ceng masih lemah. Ia cuma bisa membikin mereka itu merenggangkan diri. cambuk emas. Sebenarnya cambuk Tong-liong Gin-pian dari Bwee Tiauw Hong lihay sekali. dalam takutnya. Tiauw Hong kaget. Ia lantas dapat akal. mereka membikin ia kewalahan. membarengi mendamprat: ―Bangsat tukang petik bunga. ―Suhu lekas tolongi teecu!‖ ia berteriak. mereka lantas serang Auwyang Kongcu. Dilain pihak. ia menjerit. Terang mereka berdua sama ilmu silatnya. hendak ia berteriak pula. Atas ini tahulah Tiauw Hong atas datangnya musuh-musuh. Memang keenam orang itu adalah Kanglam Liok Koay. Cambuknya itu bergerak bagaikan naga beracun. di dalam kalangan enam tombak. dia mesti terbinasa. hingga empat lawannya mesti menjauhkan diri. cuma sekarang ia menghadapi Auwyang Kongcu berempat…semua bukan sembarang orang. mereka terus mengurung.Pendekar Pemanah Rajawali Oey Yong tidak mau mengalah. Nyata ia telah kasih keluar cambuknya. Pheng Lian Houw semua tahu. karena cambuk orang merintangi majunya. Tapi malam ada gelap. tidak mengambil mumat atas teriakan itu. ia menjadi girang sekali. mereka lantas menyerang. yang bisa membebaskan diri. ia pun bisa susah. jikalau suaminya si Mayat Perunggu keburu datang. tertampak berdiri di atas tembok. Maka itu. Rupanya keenam orang di atas tembok itu tidak dapat manahan sabar. Mereka gusar.

Ia menyerang Kwee Ceng begitu lekas ia dapatkan tubuhnya dilemparkan. Ia lantas mengambil keputusan: ―Nio Lao Koay beramai tak ada permusuhannya dengan aku. istananya Chao Wang itu. Lian Houw lantas menggulingkan tubuh. belum lagi ia menaruh kaki di tanah. mereka semua mundur. kalau bertempur satu lawan satu. Ia kaget. Tanpa ayal lagi ia menyerang dengan Kim-liong-pian. Tapi mereka terus melakukan penyeledikan. ia memasang kuping. sedang Coan Kim Hoat maju untuk menolongi muridnya. maka itu Lam Hie Jin dan Han Po Kie sudah lantas melakukan penyerangan. untuk simpangi perhatian si Mayat Besi.Pendekar Pemanah Rajawali Wat Lie Kiam Han Siauw Eng lantas menolong si nona. Liok Koay bersama rombongannya Nio Cu Ong berdiam semua. si Naga Emas. Diwaktu gelap. ia sendiri segera lompat mundur. ia melemparkan tubuh si nyonya sampai jauhnya setombak lebih. mereka pun memernahkan diri di jarak tujuh tombak dari wanita kosen itu yang cambuknya sangat lihay. Cambuknya itu terlepas. Tiauw Hong pun sudah berhenti bersilat. ia heran: ―Dari Cit Koay cuma muncul yang enam. tahan dulu!‖ Dua saudara itu menurut. ―Kali ini kau telah berjasa!‖ katanya. sebab rombongannya Auwyang Kongcu gampang dikenali dari dandanan mereka yang serba putih itu. telapakan tangannya sakit. ia memberi keterangan atas pertanyaan orang tadi. Liok Koay juga tidak mengejar dengan berpisahan. terlibat dan tertarik sama cambuknya Bwee Tiauw Hong. yang dengar teriakan hebat itu. yang ia gendong pulang ke rumahnya. dia menolongi. cambuk perak yang bergemerlapan sudah lantas menyambar kepadanya. Ketika ia jatuh ke tanah.‖ jawab Kwee Ceng. cambuknya. yang menyaksikan bahaya mengancam muridnya. lebih dahulu ia menampa dengan tangannya. habis itu ia duduk dengan hati-hati. Karena ini tanpa bersangsi lagi. maka hari ini baiklah aku terbinasa bersama-sama dengan Cit Koay saja!‖ Ia cekal keras cambuknya. Biauw Ciu Sie-seng heran. Pheng Lian Houw semua heran atas datangnya enam orang itu. percaya yang orang adalah orang lihay. kau ingatlah baik-baik!‖ Berbareng dengan itu. Kemudian ia berteriak: ―Semua berhenti! Aku hendak bicara!‖ Teriakannya nyaring sekali. hingga mereka dapat lihat dengan tegas: Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi telah bersilat dengan cambuknya. agar sahabatnya itu melemparkan tubuh orang. dia sepertinya duduk bersilat di pundaknya Kwee Ceng. akan dengari gerak-geriknya Cit Koay itu. Tapi kepada Kwee Ceng ia memberi tanda dengan gerakan tangan. Begitulah mereka menguntit hingga di onghu. menulikan telinga. ―Celaka!‖ teriak Han Po Kie. kamu hendak berbuat apa?‖ Irawan D Soedradjat Page 251 . Merekanjuga lantas mengawasi. aku hampir tidak dapat bertahan. ―Anak Ceng. Maka kedua cambuk itu beradu keras. mengapa kau bantui perempuan siluman itu?‖ ―Mereka hendak membunuh aku. Sekarang ini aku lagi dikurung oleh musuh. hari ini mereka mengantarkan diri. Akhirnya ia berkata: ―Nah. Cambuk itu ada banyak gaetannya. pastilah aku bakal binasa…. kenapa mereka itu bertempur?‖ Cu Cong berbisik kepada muridnya.‖ Ia lantas mengertak gigi. Ia mendongkol berbareng khawatir. Kemudian Auwyang Kongcu dikejar. menyerang si Mayat Besi juga. pasti aku bersyukur sangat kepada Langit dan Bumi. begitupun yang lainnya. Coba hari bukannya hari ini. ―Kua sendiri. dengan mengerahkan tenaga. Nio Cu Ong bersama See Thong Thian mendahulukan mundur. Rupanya bocah itu berada dibawah pengaruh orang. ia hanya bernapas memburu. apapula mereka itu lantas menyerang Auwyang Kongcu. jikalau aku mesti tambah musuh dalam dirinya Tujuh Manusia Aneh ini. Kwa Tin Ok. Han Siauw Eng maju menyerang si Mayat Besi yang ia sangat benci itu. kau lancang masuk ke dalam istana. Oey Yong sudha lantas menghampirkan murid ayahnya itu. ―Tengah malam buta. karena mereka ketahui. entah yang satunya lagi bersembunyi di mana…?‖ Ia tidak tahu yang Siauw Bie To Thio A Seng telah terbinasa di tangan suaminya. maka ia pun teriaki saudara-saudaranya: ―Shatee dan citmoay. Inilah tidak sukar. Kwee Ceng mengerti. tetapi ia licin dan dapat meloloskan diri. ―Aku minta kau memberitahukan nama kamu?!‖ Nio Cu Ong menegur Kanglam Liok Koay. akan keluar dari gelangan. Ia pikir: ―Aku cari mereka ke mana-mana. Empat yang lainnya turut heran juga. gampang sekali untuk melihat pakaiannya rombongan Auwyang Kongcu itu. Ia ketahui datangnya Kanglam Liok Koay begitu lekas ia dengar suaranya Kwa Tin Ok. Hanya. pihaknya tidak sanggup. Ia tahu orang muncul yang berenam. Mereka kaget akan dengar teriakannya Kwee Ceng.

hingga ia membikin Kim Hoat terdesak. Cambuknya kena dirampas Bwee Tiauw Hong tetapi ia punyakan kepalannya. lantas ia menyerang dengan hebat. tanpa bersuara. untuk melihat Cit Koay yang namanya demikian besar. ia ketahui pihaknya keteter. mereka jadi bertempur dalam dua rombongan dengan masing-masing tiga lawan satu. segera ia serang si Tukang Kayu dari gunung Lam San itu. senjata apa senjata kau ini?‖ dia tanya. ―Ini toh barang yang diperantikan menimbang di pasar tetapi kau pakai untuk menyerang orang!‖ Coan Kim Hoat mendongkol dan menyahut: ―Dacin ini untuk menimbang kau. Ia bermusuh dengan Liok Koay dan Bwee Tiauw Hong. Han Po Kie berlompat maju. ia menangkis dengan ujung tongkatnya. Kanglam Cit Koay!‖ kata Pheng Lian Houw. hingga Hie Jin terkejut dan mesti berbalik akan melayani. Tapi Kim Hoat lihay. Coan Kim Hoat kurus kering. tahulah ia bahwa ia bukannya tandingan musuh she See itu. dia boleh dibereskan belakangan…‖ Segera ia lompat ke sampingnya Kwa Tin Ok. kepandaiannya sebenarnya bagaimana!‖ Thong Thian gusar karena ia ingat penghinaan yang diterima empat muridnya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Aku she Kwa. walaupun mereka dikepung. Irawan D Soedradjat Page Melayani Hie Jin pun Auwyang Kongcu pun tidak mau mengulur tempo. See Thong Thian maju sambil mengawasi keenam Manusia Aneh itu. yang romannya gagah. tetapi ia kebogehan. ia lompat maju akan rintangi Coan Kim Hoat. sedang Cu Cong lemah lembut bukan seperti orang Rimba Persilatan. sebab serangan datang dalam rupa tangan kiri lawan. Han Siauw Eng lantas maju dengan pedangnya dan Coan Kim Hoat dengan dacinnya. ia serangn musuh ini hingga si musuh kaget dan mesti berkelit dengan lompatan jungkir balik ―Ular naga membalik tubuh. dengan begitu. untuk menyerang yang lain. Kwa Tin Ok mendengar suara angin di kanan. Ia dapatkan Kwa Tin Ok bercacat mata dan kakinya. Han Po Kie kate dampak dan gemuk. SeeThong Thian dan Pheng Lian Houw benar lihay. yang lainnya membinasakan muridnya atau gundiknya tersayang. ia lantas tinggalkan musuh ini. maka ia lantas mengambil keputusan: ―Baiklah aku binasakan dulu ini beberapa manusia jahat. ―Kami bersaudara bertujuh orang. Ia lihay akan tetapi baru beberapa jurus. ―Sudah lama aku mengagumi nama kamu!‖ See Thong Thian tapinya berteriak: ―Bagus! Cit Koay telah datang sendiri! Aku orang she See hendak belajar kenal. yang satu merusak usahanya. Pertempuran di antara Oey Yong dan Hauw Thong Hay juga berjalan dengan seru. tetapi ia bukannya menyingkir untuk berlari.‖ ―Eh. Karena ini Oey Yong yang dapat mendesak. berbareng dengan mana.‖ ―Oh. Meyaksikan saudara keenamnya itu kewalahan. Kali ini pihak Liok Koay yang menang di atas angin. Ia bergerak dengan jurus ―Sekejap seribu lie‖ dari ilmu silatnya Sin To Soat-san-ciang. sesudah berkelit ke kiri dan ke kanan. Auwyang Kongcu berdiam sambil bersiap. Han Siauw Eng satu nona yang manis. . Auwyang Kongcu telah memasang mata. Ia pun lantas membentak: ―Kamu usilan. Karena ini. Karena ini. biar bagaimana tidak nanti ia dapat kabur. yang ia terus serang. dari itu tidak berani ia menghajar tubuh orang. babi!‖ Lian Houw murka dikatakan babi. hingga ia menempur Liok Koay dengan bergantian. heran. Orang Kangouw menyebut kami Kanglam Cit Koay.‖ menyahut Tin Ok. maka kau rasailah lihaynya kongcumu!‖ Lalu tangannya kanannya meninju. Ia lantas saja berkelit denagn mendak. bangsat buta. untuk membantui saudara-saudaranya itu. Si wanita siluman. Kwa Tin Ok dan Cu Cong lantas maju. gerakannya aneh. mereka masih menang diatas angin. ia menyerang pula dengan jurusnya ―Arhat menunjuk pengaruh‖. yang senjatanya yang luar biasa itu hendak dirampasnya. Lam Hie Jin menancap pikulannya. Sebenarnya Thong Hay lebih lihay terapi ia kalha gesit dan ia pun jeri untuk beju lapis si nona. sambil berseru keras. Inilah ketikanya untuk turun tangan. 252 Auwyang Kongcu menyingkir dari serangan itu. Karena itu. Ia lantas lompat ke depannya Pheng Lian Houw. Pheng Lian Houw tidak berdiam saja melihat kawannya dikerubuti. Maka teranglah. Begitu ia berkelahi. ia menangkis serangan. hingga lawannya itu main mundur. Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin. hanya ia lompat kepada Lam Hie Jin.

tentu saja baju lapis berduri dari suhu telah diberikan padanya!‖ Ia lantas menyahuti: ―Ya. Ia mengkeratkan perutnya. satu kali ia peluk wanita itu. setelah mana kembali ia menjambak. kecuali ayahnya. Nio Cu Ong dapat mencium bau obat. ia lompat ke arah cambuk! Ia tidak takuti cambuk itu. maka tempo ia menginsyafi aksinya Auwyang Kongcu itu. maka juga mendadak saja ia geraki cambuknya. beranikah kau melukai aku?!‖ Kaget Tiauw Hong mengenali suaranya Oey Yong. hingga terdengar suara robek dari bajunya. ia dapat meloloskan diri. ia waspada terhadap nyonya itu terutama terhadap cambuknya. baiklah aku habiskan dia dulu!‖ Maka dia terus menarik. untuk membikin pecah perut orang. tubuhnya tidak terluka. Dari suaranya orang. hingga Pheng Lian Houw dan See Thong Thian jadi dapat bernapas. di sekitarnya. Ia pun bukannya hendak menangkis. maka dengan meninggalkan Thong Hay. Atas itu Oey Yong lanats berseru: ―Bwee Jiak Hoak. ia dapat tahu nona itu tidak kesakitan. Kwee Ceng membela diri. hingga ia memandikan peluh dingin. ia lantas lompat kepada bocah itu sambil ulur tangannya. meskipun ia tahu. Dengan tiba-tiba ia ingat. maka katanya dalam hatinya: ―Ah. Suasana kembali terbalik. sekarang aku lukai budak ini. Sekarang ia tidak dihampirkan oleh Nio Cu Ong. Bwee Tiauw Hong sendiri memperhatikan suaranya Kwee Ceng. Dengan tangan kanannya. ia tidak bakal lolos pula. untuk diletaki di tanah. ia menjambret dengan kedua tangannya. ia berdiri jauhnya tujuh atau delapan kaki dari Tiauw Hong. sembari mengejar. karena itu. Sekarang ia melihat kawannya terancam cambuknya Tiauw Hong. ia dapat menolong. supaya ia bisa menghisap darah anak muda itu. yang jeri kepada cambuknya si wanita lihay itu. yang terus ditarik Bwee Tiauw Hong. Dengan jenaka ia berkata: ―Kau merusaki pakaianku. Kwee Ceng tertolong dari bahaya tetapi sekarang Oey Yong yang kena kelibat cambuk itu. ia hanya lari berputaran dekat. nanti aku pasti mengganti bajumu ini…‖ Oey Yong lantas menggapai pada Kwee Ceng. Ia percaya tubuh si nona itu sudah tercengkeram pelbagai gaetan cambuknya. ia masuki semua bungkusan itu ke dalam sakunya. Kwee Ceng berontak sekuat-kuatnya. Justru itu Oey Yong tertawa geli. Ia memakai lapisan joan-wie-kah. sukar dicari orag yang bisa mengalahkannya. Dia pun berpikir: ―Cambukku banyak gaetannya. Ia terkejut ketika Kwee Ceng kena dijambret Nio Cu Ong. terus ia lari ke arah Bwee Tiauw Hong sambil berteriak: ―Tolongi aku!‖ Girang Tiauw Hong mendengar suara orang. hingga ia dapat cekal tubuh si nona. Kwee Ceng bukan tandingan jago ini. untuk merabu kakai si anak muda! Oey Yong melayani Hauw Thong Hay dengan selalu memperhatikan Kwee Ceng. Irawan D Soedradjat Page 253 . Cu Ong menjambak ke arah perut. aku minta ganti!‖ Tiauw Hong melongo. Nio Cu Ong sementara itu terus memasang matanya terhadap Kwee Ceng. sudah tidak keburu lagi. hingga ia memasuki kalangan smabaran cambuknya si wanita kosen. encimu ini yang salah. dalam beberapa jurus saja ia sudah terdesak. melainkan baju luarnya dan dalamnya pada robek.Pendekar Pemanah Rajawali ia tengah mengganggu musuh-musuhnya itu. malah lekas juga dadanya kena dicengkram. hanya ia berlompat ke atas cambuk di mana ia menggulingkan tubuhnya. Anak muda itu menghampirkan. ia tidak berani menghampirkan. bagaimana suhu dapat mengampunkan aku? Tapi sudah terlanjur. Liok Koay yang mulai keteter pula. Nio Cu Ong memburu. hingga belasan bungkusan obatnya kena disambar musuh. Dalam saat berbahaya itu. untuk menolongi. ―Kau peluki aku! Jangan takuti Lao Kaoy!‖ ia menyahuti. Kwee Ceng tahu. gerak-geriknya. Ia memang ingin meminta beberapa keterangan pula kepada anak muda itu.

ayahku ada urusan penting untuk mana ia minta bantuan kamu! Lekas!‖ Orang itu mengenakan kopiah emas. belakang dengan belakang. Satu malaman ia menumpuh bahaya. kawannya pergi menculik onghui!‖ Karena ini tanpa sangsi lagi. ―Onghui telah orang bawa lari. ia takut keluar dari kalangan. Tidak nanti kami berani melupakan budi suhu semua!‖ Pangeran ini datang secara kesusu. ―Ibuku telah dibawa buron penjahat. sebab Pheng Lian Houw yang lihay sudah cecar padanya. mereka keteter juga. ia menimpuk dengan senjata rahasianya. Ia tidak jeri karena ia tahu orang kalah daripadanya. tuan!‖ katanya sembari tertawa. mereka meninggalkan musuh-musuh mereka. Cu Cong lari menghampirkan. terus dibawa ke hidungnya. Ia pun mendahului lompat ke tembok. ―Kalau begitu. untuk dicium. Nio Cu Ong berlari paling belakang. aku kembalikan pada kau. maka lima saudaranya lantas menyusul. untuk menolongi. sambil berlari-lari mendatangi. tubuhnya pun diputar.‖ Wanyen Kang beritahu dengan perlahan. harapannya tidak ada. Cu Ong pun ulur tangannya untuk menyambuti. untuk melibat kami semua. Ia berkelahi sambil menggertak gigi. apa perlunya kami berdiam di dalam istana?‖ Mereka juga menduga: ―Pasti Liok Koay ini lagi menjalankan siasat memancing harimau turun dari gunung. kau pulangi obatku!‖ Dalam sengitnya. ia gunai tangan bajunya untuk menyapu itu. Cu Cong lompat maju. Han Po Kie terluka pundaknya. ia tidak dapat melihat Bwee Tiauw Hong. ia pergi dengan perasaan sangta tidak puas. si pangeran muda. dilain pihak. Justru itu terlihat muncul dari gombolan pohon bunga. malampun gelap. terus ia putar tubuhnya untuk berlalu. Kwee Ceng teriakin dia: ―Eh. Irawan D Soedradjat Page 254 . ―Dengan begitu saja kita pulang…‖ katanya menyesal. dengan tangan kirinya ia angsurkan paku itu. Masing-masing mereka lantas berpikir: ―Ongya adalah yang mengundang kami semua. Meski begini. kesudahannya obat tak didapatkan juga. mereka tidak usah repot-repot menjagai punggung mereka.Pendekar Pemanah Rajawali Kanglam Liok Koay sekarang berkelahi dengan mengumpulkan diri. dengan kipasnya ia sampok paku itu. toako?‖ Han Siauw Eng tanya sambil ia menunjuk Tiauw Hong. ―Membuka mega untuk menolak rembulan. Untuk menggunai kekerasan. Pheng Lian Houw semua menjadi bingung. yang numprah di tanah. Cu Cong dapat lihat ujung baju orang penuh rumput dan debu. ia berkelahi terus. ―Apa?‖ dia menanya seraya ia merandak. paku beracun Cu-ngo Touw-kut-teng! Inilah paku yang asal menemui darah lantas menutup tenggorakan orang hingga orang mati seketika!‖ Nio Cu Ong tercengang mengetahui orang kenal pakunya itu. melupakan segala apa. kopiahnya miring. ia lari menghampirkan. Pheng Lian Houw. terus ia serang bebokongnya Pheng Lian Houw dengan jurusnya. ―Ayah minta semua suhu membantu mencari. sekarang dia ada punya urusan penting. Hauw Thong Hay dan Auwyang Kongcu berempat. ia lantas membantui kawannya itu. ―Oh. Ialah siauw-ongya Wanyen Kang. denagn begitu mereka dapat melayani See Thong Thian. khawatir nanti benteng perlawanannya itu menjadi dobol. cara bagaimana aku tidak pergi membantu dia?‖ Karena ini.‖ ―Hm!‖ Pheng Lian Houw mengasih dengar suara si hidung. Thong Hay ditinggalkan Oey Yong. Inilah cara berkelahi yang Liok Koay baru pahamkan dan melatih selama mereka berdiam di gurun pasir. inilah hebat!‖ pikir Lian Houw semua. ―Bagaimana dia. yaitu paku Cu-ngo Touw-kut-teng. ―Mari kita pulang!‖ mengajak Tin Ok selagi muridnya ragu-ragu. mereka lantas lompat mundur. mereka lari mengikuti Wanyen Kang. ―Siapa kesudian kau mengambil hatiku?!‖ Cu Ong membentak. lantas ia memutar tubuh untuk membalas menyerang. Kwee ceng lihat gurunya yang nomor tiga itu terancam bahaya. Ia berkelit. Kwee Ceng menjadi masgul sekali. dia berseru: ―Semua suhu. sesudah jatuh ia pungut. Ia ingat Kwee Ceng darah siapa ia belum sempat hisap. Justru itu. keluar dari gelanggang. Dengan begitu. ―Ini .

mana kau mau lepaskan dia?‖ Dengan ―dia‖ ia maksudkan Kwee Ceng. Ia tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa. ―Adik kecil. Tapi kali ini. Ketik aitu fajar sudah menyingsing. Ia ulur tangannya. Pauw Sek Yok tersadar. sampai ia berikhtiar untuk menolongi Ong Cie It. apakah aku juga sudah mati?‖ ia tanya. ―Kalau begitu. ―Ayah. ―Inlah ibumu!‖ sahut ayah itu. Gampang sekali kalau Liok Koay hendak merampas jiwa orang akan tetapi untuk menepati janji kepada Ma Giok. Ia telah keliru menyakinkannya ilmu silat dala. ―Eh. ia tidak memberi hormat kepada Liok Koay. ―Eh. Kira-kira serintasan. Liam Cu menantikan ayahnya dengan pikiran tegang. siapa ini?‖ ia lantas tanya. ―Ibuku?‖ ia menegasi. mari kita tolongi Ong Totiang!‖ Cu Cong mengajak. ia lihat orang yang memondongnya. akibatnya kedua kakinya mati. ―Mari lekas kita menyingkir!‖ Liam Cu kaget dan heran. maka itu mereka berlalu dengan terus. Oey Yong tertawa haha-hihi. Bab 23. akan meraba muka suaminya. mendadak ia roboh pula. ―Perlahan!‖ Tiat Sim mengasih ingat. Ia pun pingsan. Ketika ia pun lompat ke tembok. untuk lari menghilang. hingga napasnya memburu.‖ Ia sudah lantas lari. anak Ceng. ia lupa segalanya. ―Tentu sekali ayah berada di pulau Thoa Hoa To! Tidak pernah ayah meninggalkan rumah! Ada apa kau menanyakannya?‖ Tiauw Hong menjadi sangat gusar. mengapa aku bisa jalan?‖ tanyanya pada diri sendiri. Tiauw Hong murka bukan kepalang. Ia berhenti dengna tiba-tiba sebab kupingnya segera dengar suara berisik berupa teriakan-teriakan dan melihat cahaya terang dari banyak obor. ―Sebentar kita bicara. lekas ia lompat turun ke lain sebelah. ―Kita tidak kurang suatu apa…. ia kata pula: ―Kau toh yang membilangnya kalau suhu datang ke mari!‖ Oey Yong tertawa pula. mereka tidak mau turun tangan. Bisa Lawan Bisa Yo Tiat Sim girang bukan main dapat menemukan istrinya. dan makin ia memaksakan diri. ―Ayahku?‖ balik tanya Oey Yong masih tertawa. dari itu ia pondong erat-erat istrinya itu ketika ia lari keluar dengan melompati tembok istana. Justru ia sadar. Kwee Ceng menjawab guru ini dengan tuturkan semua pengalamannya. kenapa kau berada disini?‖ kemudian Han Siauw Eng menanya.Pendekar Pemanah Rajawali ―Kita telah memberikan janji kepada Ma Totiang. dengan kedua tangannya ia menekan tanah.‖ sahutnya halus. mana suhu?‖ Tiauw Hong tanya nona itu. Ia heran hingga ia menyangka ia sedang bermimpi.‖ sahut kakak tertua itu. kedua kakinya lemas dan kaku. Setelah berhenti sejenak. ia menubruk kepada si nona. makin pendek napasnya. Tiat Sim girang hingga ia mengucurkan air mata. Di bawah tembok. lantas saja ia bangkit berdiri. Oey Yong terkejut. Ia dengar nyata: ―Jangan kasih lolos penjahat yang menculik onghui!‖ Irawan D Soedradjat Page 255 . Ia heran ketika ia lihat ayahnya kembali dengan memondong seorang wanita. Tiba-tiba Tiauw Hong sadar. Ia tidak sabaran dan cemas juga. Satu barisan serdadu sedang lari mendatangi. ―Toako. di antara cahaya pagi remangremang. Ia percaya suaminya itu sudah meninggal dunia. ialah suami yang ia buat pikiran siang dan malam. habis ia menanya. ia naik ke ujung lainnya. lalu dengan tindakan terhuyung-huyung. biar kita mengasih ampun padanya. Mereka ajak Kwee Ceng bersama. ―Tanpa aku dustakan kau. malah ia dapat menolongi juga.

Ia menjadi kaget sekali. Setelah terang tanah. ia tidak rasai itu.‖ Irawan D Soedradjat Page 256 Tiat Sim bisa menduga orang lupa padanya.‖ Liam Cu tidak menangis. hatinya tegang sekali. Tidak ayal lagi. Ia lantas lari memapaki tentara pengejarnya. ―Kau terluka?‖ ia tanya. sikapnya gagah. tak usah dibalut…. dilain jurusan ia melihat datangnya dua imam yang satu berkumis dan rambutnya ubanan. di luar dugaan. Tiat Sim hendak menjadwab istrinya tetapi ia daptakan tentara itu sudah semakin mendekat. hingga ia mengawasi saja. Yo Tiat Sim menjadi nekat.‖ Tiat Sim berkata cepat. ia bagaikan harimau tumbuh sayap. Opsir yang memimpin pasukan itu bernama Thung Couw Tek. ia berseru menyapa salha satu imam itu: ―Khu Totiang. ia berduka dan terhina saking terpaksa. tak usah aku menyesal…!‖ Lantas ia kata pada anaknya: ―Liam Cu. ia berkata: ―Apakah totiang masih ingat peristiwa delapan belas tahun yang lampau di dusun Gu-kee-cun di Lim-an. Tan Yang Cu Ma Giok. ―Dia…dia mengapa adalah anak kita?‖ dia tanya. wajahnya tetapi seperti dahulu hari itu. akan bertemu di kota raja. Khu Cie Kee telah sempurna Iweekangnya. Di tanya begitu. Dalam kegirangan sangat. tiba-tiba saja Tiat Sim merasakan sakit pada belakang telapakan tangannya.!‖ kata Tiat Sim sambil menyeringai. baru saja ia bertemu kembali dengan suaminya. ia mengawasi nona itu. Menampak tentara pengejar datang semakin dekat. Hampir itu wkatu kembali terdengar suara sangat berisik. justru itu. daripada terhina ia rela terbinasa dalam pertempuran. Mereka hendak menempati janji dengan Giok Yang Cu Ong Cie It. wajahnya sangat berwales asih. dia kena ditusuk pahanya hingga ia terjungkal dari kudanya. ia pun menyesal yang ia tidak sempat merampas kuda musuh. Ia lantas menoleh kepada gadisnya dan kata: Anak. Lega juga hatinya Tiat Sim yang mengathui pasukan itu tidak dipimpin oleh opsir yang kosen. hingga tangannya itu mengeluarkan darah. kau peluklah ibumu…!‖ Sejenak itu terbayanglah di matanya Pauw Sek Yok pengalamannya delapan belas tahun yang lampau. Yo Tiat Sim tercengang. baru sekarang ia ingat tadi ia telah dismabar sepuluh jari tangannya Wanyen Kang. lalu terlihat debu mengepul baik dan mengulak. dibelakangnya tergendol sebatang pedang. berdua mereka datang dengan terburu-buru. Di dalam hatinya ia kata: Thian mengasihani aku hingga hari ini aku dapat bertemu sama istriku kembali. ―Biarlah kita bertiga mati bersama!‖ katanya gagah. di dalam gelap petang mereka dikejar tentara.!‖ menegaskan imam itu. yang lain kumisnya abu-abu.Pendekar Pemanah Rajawali Tiat Sim menjadi kecil hatinya. mereka ketakutan. ―Semoga totiang tidak kurang suatu apa. tidak mau ia melepaskannya. Delapanbelas tahun lamanya mereka telah berpisah. Ia menginsyafi bahaya. maka sekalipun telah bertambah delapan belas tahun umurnya. kalau sekarang akan terbinasa. atau sekarang. ―Aku yang rendah ialah Yo Tiat Sim. ia ajak istri dan anaknya lari terus. ia telah dapat merampas sebatang tobak. Sekarang ia pun merasakan kedua lengannya sakit dan sukar digeraki. pada peristiwa di dusun Gu-kee-cun di kota Lim-an. Karena itu ia tidak lantas mengenal waktu ia dipanggil dan melihat Tiat Sim. Maka ia rangkul leher suaminya. ―Jadinya tuan…. guna membicarakan urusan pibu dengan pihak Kanglam Liok Koay. tapi ia menajadi tenang. Tanpa pemimpinnya. hari ini kembali aku bertemu denganmu!‖ Imam itu memang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee serta saudara seperguruannya. lantas ia sadar. Ia melihat kesekelilingnya. kau menyingkirlah seorang diri! Ibumu dan aku akan berdiam disini…. Sek Yok heran. Itulah tandanya satu pasukan besar lagi mendatangi. Ia angkat kepalany. di kampung halamannya itu. karena repot melarikan diri. Ia dipondong oleh suaminya dan dibawa lari sekuat-kuatnya. tatkala selagi kita minum arak kita menumpas musuh?‖ . cuma rambutnya yang berubah. Dari itu ia paksa melepaskan rangkulan istrinyaitu yang ia serahkan kepada anak gadisnya. Pauw Sek Yok lantas balut tangan suaminya itu. Melihat mereka itu. ia lupa pada sakitnya. Pauw Sek Yok dapatkan suaminya berdarah di sana sini. ia tidak dapatkan tempat untuk menyembunyikan diri. anakku. Senjata ini membangunkan semangatnya. Dalam dua tiga gebark saja. peristiwa dahulu bakal terulang pula. ―Sudahlah. di sini mereka bertemu dengan Yo Tiat Sim suami-istri. atas mana tentaranya lantas kabur serabutan.

Dengan hanya mementang kedua tangannya. Khu Cie Kee heran hingga ia kata di dalam hatinya: ―Kenapa di sini ada orang begini lihay?‖ Selagi si imam ini terheran-heran. Ia tidak sahuti imam itu. hanya lantas ia kata: ―Totiang. ia membalas menyerang. di antara mereka muncul seorang yang tubuhnya besar dan kekar. Ia menjadi girang bercampur terharu dapat bertemu sama kenalan lama ini. yang terus ia serang. hari ini kembali aku mesti membuka pantangan membunuh!‖ katanya. ―Kau masih hidup…. Ia lantas mengenali ilmu tombaknya Keluarga Yo itu. mereka itu terus menerjang dengan begis. ―Aku harap kau tidak gusari aku!‖ Ma Giok mengerti. Setelah hampir duapuluh tahun. orang she Yo itu lantas menjatuhkan diri berlutut di depan orang suci itu. ia hendak menguji tangan orang. tetapi ia tetap ragu-ragu. Adalah masksudnya. menghajar pundak si imam dengan jurusnya ―Souw Cin menggendol pedang‖. Irawan D Soedradjat Page 257 . Ia tangkis seragan itu. Ia bersedia melayani musuh yang bersenjata itu. yang kepalanya licin mengkilap. tubuh siapa terus ia timpuki ke serdadu yang lainnya yang lagi mendatangi. dari belakang ia dengar ini pertanyaan yang nyaring sekali: ―Kau ada totiang mana dari Coan Cin Kauw?‖ Ia lantas berlompat. Belum lagi semua serdadu kabur. disebabkan penderitaannya. adalah Kwie-bun Liong Ong – demikian si lanang itu – merasakan tangannya sakit. Ia menoleh ke arah tentara pengajar. ―Suheng. Maka lagi dua serdadu roboh pingsan. dengan itu ia menyerang pula. ia menjawab: ―Kurangilah pembunuhan! Gertak saja meraka itu!‖ Khu Cie Kee tertawa nyaring dan lama. kepada saudara seperguruannya. Tiang Cun Cu heran juga atas kegagahan orang. Ia pun berseru: ―Khu Totiang. habis itu keduanya mundur sendirinya masing-masing tiga tindak. maka lagi-lagi ada delapan serdadu yang terguling. lantas ia maju ke arah tentara itu.Pendekar Pemanah Rajawali Habis berkata. Kali ini Khu Tiang Cun tidak berani bergerak sembarangan. Hanya. kau telah melupakan aku tetapi kau tentu tidak dapat melupakan ini ilmu tombak dari keluarga Yo!‖ Tiang Cun Cu terkejut tetapi ia mundur. untuk merampas senjata lawan. hingga ia kaget berabreng mendongkol. Dia membentak: ―Darimana datangnya si bulu campur aduk ini!‖ Lantas tubuhnya mencelat ke depan Tiang Cun Cu. Tiat Sim berubah roman dan suaranya juga. Kata-kata ―bulu campur aduk‖ itu adalah hinaan untuk suatu imam. Mendadak saja ia geraki tombaknya dan menikam imam itu dengan tipu tombaknya. Yo Laotee!‖ katanya. hingga ia melihat empat orang berdiri berendeng.!‖ Tiat Sim tarik pulang tombaknya. dengan cara itu ia robohkan lagi delapan serdadu. untuk lari balik. dengan tangan kosong ia tidak bisa berbuat apa-apa. untuk menoleh. lantas ia meraba pada pinggangnya di mana ia selipkan genggamannya yang berupa pengayuh besi yang berat. belum sampai ia membuka mulutnya. hingga ia ingin tanya she dan namanya lawan ini. tak gampang senjatanya itu dapat dirampas. maka sekarang ia ingat ebtul peristiwa delapanbelas tahun dulu ketika ia mencoba ilmu silat orang. Khu Cie Kee tetap bertangan kosong. tolongilah aku!‖ Imam itu bisa mengerti keadaan orang. dengan sabar ia melayani. maka sekali ia maju menyerang. ―Oh. Tetapi See Thong Thian telah punyakan latihan beberapa puluh tahun. Kejadian ini membikin kaget serdadu-serdadu yang lainnya. Kedua tangan beradu dengan keras dan bersuara nyaring. Di lain pihak hatinya tegang melihat tentara pengejar telah mendatangi semakin dekat. hanya melihat orang demikian lincah. Lantas ia tertawa. Luar biasa sebatnya imam ini. yang sudah lantas sampai. Tiang Cun Cu tidak menghiraukan itu. Orang she See ini insyaf. delapan-delapannya ia timpuki bergantian kepada kawan mereka. dia bergerak dengan gesit sekali. setelah berkelit. malah mendapatkan dia menghalang-halangi. mereka lantas putar kuda mereka. Orang she Yo ini bisa mengerti kesangsiannya si imam. tangannya menyampok kepala orang hingga di kepalanya See Thong Thian bertapak lima jari berwarna merah. sesudah belasan jurus. Tiang Cun Cu lekas membalas hormat. Sebaliknya. ia lantas menarik roboh dua serdadu berkuda itu.

sekarang dua anggota utama dari mereka berada disini. la lantas berseru: ―Mari maju berbareng!‖ Ia pun lantas mengeluarkan sepasang poan-koan-pitnya. Dengan tangan kiri hanya mengancam.Pendekar Pemanah Rajawali Itulah Nio Cu Ong bersama Pheng Lian Houw. sambil menarik pulang kipasnya. ―Si kate ini galak sekali! Dia pun agaknya lihay!‖ Ia lantas menghunus pedangnya. baiklah kita berlima mengepung mereka itu untuk membinasakannya. ―Maaf. Ketika ia telah menarik pulang pedangnya itu. itu artinya ganjalan dengan Coan Cin Kauw. ia cuma berpikir. di belakang hari pastilah sukar untuk menyelesaikan masalah ini. Itulah Ma Giok yang membantu saudaranya. Auwyang Kongcu melihat bagaimana si imam ini dilibat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw dan bagaimana Nio Cu Ong merangsak dari kirinya. maka terpaksa ia lompat maju untuk menghalangi. maka itu lantas ia menotok kepada kedua jalan darah kin-jie dan pek-hay-hiat. ―Kita tidak kenal satu dengan lain.‖ Nama Tiang Cun Cu kesohor sekali di Selatan dan Utara.‖ Pheng Lian Houw sendiri berpikir lebih jauh: ―Kita sudah melukakan Ong Cie It. Auwyang Kongcu pun menyerang secara membokong itu. Hampir saja Hauw Thong Hay terkena pedang. ―Apaha she totiang yang mulia?‖ Auwyang Kongcu bertanya.‖ Imam ini berbicara dengan sabar sekali. hati mereka berkata: ―Pantaslah dia bernama besar. sebaliknya.‖ menolak Ma Giok. ceng-cok dan pwee-sim di punggung si imam.‖ Ma Giok menyahut. lalu kipasnya dia ini kena ditahan. tetap sabar. ia pun lantas menggunai ketika untuk mengeroyok. Pheng Lian Houw dan See Thong Thian lantas menyerang. ia berpikir: ―Kita telah bentrok dengan pihak Coan Cin Kauw. Ia menerjang sambil berlompat. Di situ cuma tertampak Yo Tiat Sim sekeluarga bertiga jiwa. tetapi ia kena disusuli. atau mendadak satu bayangan berkelebat si samping si kongcu. dengan apa ia terus terjang imam itu. Maka ia lantas berkata: ―Nama Coan Irawan D Soedradjat Page 258 . Inilah cara berkelahi yang langka. tetapi ia berkelit dari serangan orang. Pheng Lian Houw mencoba bersikap halus. suaranya tetap keras. Perkara di belakangada soal lain. maka itu Pheng Lian Houw berempat saling mengawasi. Orang she Nio ini terperanjat untuk kesebatannya si imam. Khu Cie Kee lantas mengangguk kepada mereka itu seraya memberikan penyahutannya: ―Pinto she Khu. hingga dengan sendirinya orang-orang yang lagi bertempur itu pada lompat mundur. yang hendak dirampas. sebutan Cinjin itu tidak berani pinto terima. Ia tahu lawan lihay. syukur ia keburu berkelit. ia menikam ke pinggangnya See Thong Thian. sekarang kita bertemu sama Khu Cie Kee. Imam ini heran mendapatkan munculnya begitu banyak orang pandai. sedangkan ia tidak mengerti. kempolannya kena didupak si imam. tetapi pada itu ada nada yang mengandung pengaruh. maaf!‖ ―Pengetahuan pinto tentang agamaku masih terlalu sedikit. Ia lantas menduga kepada anggota Coan Cin Kauw yang tertua. ia menotok dengan kipasnya di tangan kanan. Auwyang Kongcu dan Hauw Thong Hay yang telah lantas dapat menyusul See Thong Thian. baiklah ia sekalian dibunuh saja! Ini adalah ketika yang paling baik untuk mengangkat nama kita!‖ Karena berpikir begini. ada salah paham apakah di antara kita? Aku minta sukalah tuan-tuan menjelaskannya. Kelihatannya Khu Cie Kee sudah sangat terdesak. ketiga jalan darahnya itu bakal menjadi sasaran kipas yang istimewa itu. Ia pun lompat ke belakang. ia memandang bayangan itu. ―Tuan-tuan siap?‖ tanya Ma Giok. ―Oh. dia memang gagah. Khu Cie Kee tidak heran yang orang sudah lantas menerjang kepadanya. akan terus mengawasi orang suci ini. apakah di sini masih ada lain-lain saudaranya…. Jadi dengan sekali bergerak. Hanya. Pinto mohon tanya nama mulia dari tuan-tuan. yang terus menggeroyok saudaranya. mengarah tiga jalan darah hongbwee. Auwyang Kongcu lihat berkelebatnya satu bayangan. ubanan rambut dan kumisnya. tetapi di dalam hatinya. imam ini telah melayani tiga lawan. tidak keras dan mengagetkan seperti suaranya Pheng lian Houw. ialah seoarng imam berusia lanjut. ia meneruskan menikam jalna darah ciang-bun-hiat di iganya Hauw Thong Hay. kiranya Tan Yang Cinjin Ma Totiang!‖ berkata Pheng Lian Houw. Nio Cu Ong menyusul untuk mengepung. ―Pinto berasal dari keluarga Ma.?‖ Ia lantas melihat ke sekitarnya. suaranya halus.

seperti tertusuk jarum. aku merasa beruntung dengan pertemuan kita ini. berbareng ia menarik keluar senjata rahasianya. yang berlompat maju. Ia sengaja memakai nama Sam Hek Miauw. untuk membuat Ma Giok memikirkan. dengan itu ia menangkis. justru kami hendak menjenguk dia. sedang Auwyang Kongcu dan Hauw Thian Hay segera membantui Pheng Lian Houw. karena ia merasakan tangan kanannya kesemutan. Orang toh lihay…. Ia tidak tahu. untuk menyerang pula.