P. 1
Hadis Nabi Dan Ayat Quran Berkenaan Sifat Manusia

Hadis Nabi Dan Ayat Quran Berkenaan Sifat Manusia

|Views: 1,543|Likes:
Published by Ridhuan HelangSenja

More info:

Published by: Ridhuan HelangSenja on Jan 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/25/2013

pdf

text

original

Sections

  • 2. PENGERTIAN TAKUT KEPADA ALLAH
  • 3. TAKUT KEPADA ALLAH DALAM AL-QURAN
  • 4. TAKUT KEPADA ALLAH DALAM AL-HADITS
  • 5. INTISARI TAKUT KEPADA ALLAH
  • 6. HAKIKAT PERASAAN TAKUT KEPADA ALLAH
  • 7). Pada hatinya
  • 9. ALASAN TAKUT KEPADA ALLAH
  • 10. MANFAAT TAKUT KEPADA ALLAH
  • 11. ORANG YANG BERILMU PALING TAKUT KEPADA ALLAH
  • 12. KUNCI-KUNCI UNTUK TAKUT KEPADA ALLAH
  • 13. KEMENANGAN DAN KEMULIAAN BAGI ORANG-ORANG YANG TAKUT KEPADA ALLAH

This is Google's cache of http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/page/4/. It is a snapshot of the page
as it appeared on 12 Jan 2012 17:24:37 GMT. The current page could have changed in the meantime.
Learn more

Text-only version
These search terms are highlighted: rasulullah pernah bersabda

Filsafat Berfikir

MENGAWALI MENGHIDUPKAN PESANTREN

Juni 19, 2010
Tinggalkan sebuah Komentar

MENGAWALI MENGHIDUPKAN PESANTREN
Oleh: Ading Nashrulloh A.Dz

Alhamdulillah, sejak malam pertama saya mondok di Kampung ini, saya langsung laporan
kepada Bapak RT selaku aparat pemerintah dan tokoh masyarakat. Di malam itu juga saya
bertemu dengan tokoh masyarakat dan tokoh pemudanya. Saya telah mengungkapkan maksud,
tujuan, visi dan misi kedatangan Kami dari Bandung ke tempat ini. Yaitu akan membangun
pesantren di tanah wakaf dari Bapak Ir. Loka Sangganegra. Pesantren yang didedikasikan untuk
anak-anak yatim dan dhuafa serta anak-anak yang tidak dhuafa. Besar harapan saya, tokoh-tokoh
yang terhormat memberikan persetujuan, dukungan dan pernyataan untuk memberikan bantuan
dalam wujud apapun untuk upaya kami itu. Respon mereka yang terhormat waktu itu adalah
sangat positif.

Sebab itu hilanglah rasa takut, hilang rasa sedih, muncul rasa gembira dalam dada kami.
Menambah semangat dan tekad bagi kami untuk membangun pesantren tersebut. Pondok
pesantren, sebagaimana umumnya pesantren, bertujuan untuk mencetak anak-anak menjadi
orang-orang yang taat kepada agamanya dan menjadi penggerak keagamaan di masyarakatnya di
masa depannya. Begitupun Baladil Amiin, mengikuti konsep yang telah dikenal secara umum
tentang pesantren, hendak mewujudkan cita-cita tersebut.

Saya atas nama pribadi, para pemrakarsa serta pendiri pondok pesantren Baladil Amiin
mengucapkan terimakasih atas dukungan bapak-bapak sekalian. Ini merupakan kelanjutan
langkah pertama kami ke sini dalam memulai membangun pesantren Baladil Amiin. Atas
dukungan dan keberlangsungan upaya membangun Pondok Pesantren ini semoga menjadi
cahaya keberkahan bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Menjadi salah satu sebab masyarakat
di sini dihilangkan rasa khawatir dan takutnya dari hal-hal yang tidak diinginkan, dijauhkan dari
rasa sedih karena kekurangan, dan senantiasa digembirakan oleh berbagai kemajuan di bidang
apapun. Semoga Allah Swr mengabulkan harapan kita ini.

Moga kami bisa menjadi menjadi kekuatan Bapak RT dalam membina masyarakat khususnya di
bidang spiritualnya. Kami belum punya gambaran untuk bidang-bidang lainnya seperti bidang
ekonomi untuk membantu kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat di sekitar ini.

Moga pula PP BA dapat mendampingi Yayasan Al-Ihsan dalam kerangka Syiar Islam.

Atas kebaikan Bapak RT, Bapak Khaerul Anwar dan rekan Arif, Kami sekali lagi mengucapkan
banyak-banyak terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Disampaikan di Mesjid Bakda Pengajian Shubuh,
Leuwiliang Bogor 15 Juni 2010, 2 Rajab 1431 H.

Ditulis dalam Uncategorized
Tags: motivasi

HARGA HIDUP

Juni 19, 2010
Tinggalkan sebuah Komentar

HARGA HIDUP
Oleh: Ading Nashrulloh A.Dz

Pernahkan engkau bertanya, berapakah harga untuk sehari hidup di dunia? Saat mata terbuka
melepas tidur lelap di malam yang suntuk, kita dibangunkan Allah untuk memulai hari. Banyak
sekali pilihan yang mengikuti waktu demi waktu hingga kita kembali tertidur di malam
berikutnya. Saat kita bangun, badan kembali segar, fikiran jernih, pandangan mata tajam, nafas
lancar, dan detak kehidupan begemuruh di dada. Tak sedikit pun kekuatan pada diri kita untuk
bisa kembali bangun dari tidur, Allah lah yang membangunkan kita kembali di hari ini. Dan
andaikan di hargakan hidup sehari ini, berapakah biaya yang harus dikeluarkan? Tidakkah kita
merasa sayang, bila perjalanan waktu hidup ini kita isi dengan perbuatan sia-sia atau malah
perbuatan yang mendatangkan murka Allah dan kesengsaraan hidup di dunia dan akhirat?
Marilah kita tafakuri semua hal yang pernah kita lakukan, betapa banyak ketololannya
ketimbang kecerdasannya, akibat dari menuruti nafsu dan melupakan besarnya nikmat dari sisi
Allah Swt.

Alangkah besarnya nilai nikmat yang Allah berikan kepada kita di setiap waktu yang pernah
kita jalani. Dengan mata yang indah kita bisa melihat, dengan melihat kita menatap dan
memandang keindahan dunia beserta isinya. Dengan telinga kita mendengar dan dengan
mendengar kita menjadi tahu kebenaran dan kebaikan, juga kesyahduan setiap bunyi-bunyian di
alam ini. Kaki pun melangkah mengantarkan raga ke tempat-tempat di mana kita beroleh hikmah
dan pelajaran. Tangan bekerja membuat barang-barang berharga. Tuhanlah yang mengkuasakan
engkau semacam itu, dan sungguh lucu hidupmu jika akhirnya semua titipan yang berpotensi
besar itu engkau pergunakan untuk durhaka kepadaNya. Seharusnya engkau bersyukur kepada
Allah, berterimakasih atas semua anugrahNya, kini yang engkau perbuat adalah melalaikan
semua perintah dan melalaikan dirimu sendiri mengenalNya.

Dirimu dan kehidupanmu sungguh amat mahal harganya, engkau harus tahu itu. Engkau harus
menghargai hidupmu sendiri. Dan jalan satu-satunya agar engkau lurus dalam menimbang harga
hidupmu adalah menyadari bahwa engkau diciptakan dari keadaan yang sangat lemah, lalu
dikuatkan tubuh dan dibaguskan susunannya, lalu diperintahkan kepadamu untuk mengabdi
kepadaNya. Jangan sia-siakan waktu-waktumu, karena akhirnya semua akan ada perhitungan dan
pertanggungjawabannya. Allah yang menciptakanmu adalah Zat satu-satunya yang punya hal
untuk engkau sembah. Engkau harus mau menyembahNya dengan segenap pengabdian dan
keikhlasan melalui kesetiaanmu menjalankan apa-apa yang telah diajarkan kepadamu. Allah
telah mengajarkan kepada umat manusia Dinul Islam. Tak perlu susah payah untuk memahami
dan menjalankan Islam, sebab cikal bakal ajarannya telah ada dalam dadamu sendiri yaitu fitrah
dan kekuatan untuk menjalaninya telah tersedia pada dirimu sendiri yaitu jiwa dan harta. Engkau
hanya tinggal mengubah haluan hidupmu: kembalilah ke jalan Tuhanmu yang hak dan
tinggalkan penyembahan kepada syaithan dan hawa nafsu. Itu adalah cara memberikan harga
yang pantas bagi hidupmu di dunia.

Bila aku menakar hidupku dengan nafsu, maka hidup akan dihargakan dengan nilai yang sangat
murah. Aku akan menilai hidup ini menjadi sedikit saja nilainya, aku tidak lagi memberikan
penghargaan terhadap hidupku sendiri. Aku rendahkan hidup dan aku celupkan hidup dalam
kerendahan-kerendahan. Aku merasa telah mendapatkan kenikmatan yang besar dari perbuatan
merendahkan hidupku, padahal yang benar adalah aku telah mendapatkan kesia-siaan yang luar
biasa. Saat aku mengikuti nafsu dan setiap bisikan syaithan yang terkutuk, menilai ketika aku
melakukan perbuatan-perbuatan rendah dan hina, aku telah melakukan hal-hal yang patut dan
terpuji. Nanti di hari berikutnya aku kembali melakukan kerendahan demi kerendahan. Jangan
sampai perkara yang demikian itu menimpa dirimu dan diriku.

Hidup manusia bisa seharga neraka, bisa juga seharga surga. Untuk membeli surga telah ada alat
tukarnya. Untuk membeli neraka telah pula ada alat tukarnya. Manusia hanya tinggal memilih
mana yang ia minati. Adapun seluruh umat Islam akan masuk ke surga, kecuali yang tidak mau.
Kenapa Umat Islam dijanjikan surga seluruhnya? Karena mereka adalah umat manusia yang
pandai mengadakan perniagaan dengan Tuhannya. Mereka serahkan harta dan jiwanya di jalan
Allah, yaitu dengan berjihad, berdakwah dan beramal sholeh dalam kerangka meninggikan
kalimat Allah yaitu Islam. Mereka hidup di dalam ketaatan dan mati di dalam ketaatan pula.
Adakah umat Islam yang enggan masuk surga? Ada jawabnya, yaitu orang Islam yang tidak mau
taat kepada ajaran Nabi Muhammad Saw. Mereka hanya mengaku saja sebagai beragama Islam,
tetapi sesungguhnya tidak menjalankan Islam. Ia hidup tidak taat pada Islam, dan meninggal pun
dalam keadaan tidak taat kepada Islam.

Hidup adalah sangat berharga. Alat untuk mengukur harga hidup adalah Islam. Jadi berapa harga
hidupmu? Jawabnya seharga Islam. Berapa harga Islam? Seharga surga dan neraka. Maksudnya
bila seseorang meninggalkan Islam, maka baginya neraka. Dan bila ia melaksanakan Islam,
maka baginya surga. Kepahitan neraka adalah abadi dan kemanisan surga juga abadi. Hidupmu
adalah abadi, di neraka atau surga tergantung kepada sikapmu kepada dan di dalam Islam.
Betapa berharganya hidup manusia dan Islam yang harus jadi pegangannya. Andaikan manusia
menyia-nyiakan hidup dan Islam, maka betapa ia telah merendahkan makna kehidupannya.

Leuwiliang, Bogor, 30 Rabiul Akhir 1431 H

Ditulis dalam Uncategorized
Tags: motivasi

PENGHINAAN

Juni 19, 2010
Tinggalkan sebuah Komentar

PENGHINAAN
Oleh: Ading Nashrulloh A.Dz

Marilah sekali-kali berfikir secara mendalam mengapa ada orang yang menghina orang. Israel
dicacimaki, dikutuk, di mana-mana. Mengapa orang menghina Israel? Sesungguhnya timbulnya
penghinaan itu oleh dua sebab. Pertama, yang menghina memiliki rasa kebencian kepada yang
dihina. Kedua, yang dihina memiliki sifat yang dibenci oleh yang menghina. Jadi pada intinya
penghinaan adalah ungkapan kebencian seseorang kepada orang lain lantaran ia membenci orang
lain tersebut sehubungan dengan sifat dan perbuatan orang yang dibencinya itu.

Penghinaan memiliki kaitan erat dengan konsep benci dan buruk. Engkau akan menghina
seseorang apabila engkau membenci dia karena sifatnya yang dalam takaranmu buruk.
Sebaliknya orang akan menghina engkau, saat engkau dibenci dan perbuatanmu buruk. Sebab itu
memiliki pengetahuan tentang perkara baik dan buruk, dan upaya untuk mengamalkan kebaikan
serta menjauhi keburukan, perlu ditanamkan dan dibiasakan dalam hidupmu.

Ketika engkau dihina dan dicaci maki, maka jalan terbaiknya adalah instrospeksi diri. Kita ini
adalah manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Penghinaan terkadang memiliki arti yang
penting dan mengandung pelajaran yang berharga. Bahwa hidup ini tak selamanya mulus. Kita
terkadang terjebak dalam perbuatan nista dan dusta. Saat kita dihina kita tersadar bahwa memang
selama ini, ada yang salah dengan langkah kehidupan kita. Perasaan kita melakukan segala
sesuatunya dengan baik-baik saja. Namun ternyata mengandung keburukan.

Jangan bersedih hati dengan penghinaan yang dialamatkan kepadamu, apalagi jika fakta-fakta
yang diberikan kepadamu, yang menjadi alasan mereka melancarkan penghinaan adalah fakta-
fakta kebenaran. Artinya fakta yang membeberkan kesalahan-kesalahanmu. Tidak guna membela
diri, jika memang perbuatan kita salah. Yang harus kita lakukan saat itu segera mengubah sikap
dan kebiasaan yang buruk tersebut.

Terkadang orang berlebihan kata dan ucapan dalam mengungkapkan penghinaannya kepadamu.
Sadarilah semua itu mungkin timbul dari benci yang menggantikan kedudukan cinta. Artinya
awalnya seseorang yang menghina dirimu selama ini adalah seseorang yang mencintaimu,
mengagumimu, dan menyayangimu lantaran kebaikan-kebaikanmu selama ini kepadanya.
Namun akhirnya ia tahu bahwa dirimu ternyata penuh dengan dosa dan kemunafikkan. Maka
tergantikanlah rasa cintanya menjadi kebenciannya yang luar biasa. Sehingga ia muntahkan rasa
bencinya itu menjadi kata-kata penghinaan yang tiada tara.

Jangan berharap maaf dari orang lain, agar engkau sebisa mungkin menghindari perbuatan yang
salah dan hina. Namun di sisi lain engkau harus memiliki sifat pemaaf seluas-luasnya, karena
kesalahan orang lain kepada dirimu, belum tentu disadarinya sebagai kesalahan. Bila engkau
dihina oleh seseorang, janganlah membalas penghinaan itu dengan penghinaan lagi. Karena
boleh jadi penghinaannya menjadikan dirimu tersadar dan bangun dari kekhilafan yang selama
ini engkau perbuat. Sehingga penghinaan itu boleh dikatakan suatu hadiah gratis yang engkau
dapatkan dengan manfaat yang besar.

Berbuatlah yang wajar-wajar saja, jangan engkau terlalu menonjolkan diri, juga jangan engkau
berada di belakang. Sekalipun suatu ketika engkau berada di depan, jadilah seseorang yang
berwatak memberi teladan sebaik-baiknya. Dan jika engkau berada di belakang, engkau harus
menjadi pendorong dalam kebaikan. Agar engkau tidak jadi sasaran kebencian manusia. Atau
agar orang tidak mengatakan engkau seorang yang buruk perilakunya.

Bila engkau membenci seseorang, maka sadarilah sedini mungkin, bahwa seseorang yang
engkau benci selama ini, mungkin memiliki perhatian dan kebaikan kepada dirimu. Dimana
engkau seharusnya bersikap lembut dan santun kepadanya. Sehingga engkau tidak melanjutkan
ke sikap menghina dirinya. Jika alasanmu karena ia telah melakukan keburukan dan kejahatan,
maka siapakah manusia yang tidak pernah berbuat salah dan jahat kecuali para Nabi dan orang-
orang yang sholeh. Akibatnya adalah engkau akan membenci banyak orang. Padahal dunia akan
menjadi damai, bila kita mau berlapang dada dan pandai dalam memaafkan dan memaklumi
kesalahan orang lain.

Namun bila terlanjur engkau ingin menghina orang lain, maka semua harus didasarkan pada
kriteria yang Allah Swt tetapkan. Bahwa kehinaannya adalah memang apa adanya. Sebagaimana
kini orang rame-rame menghina Israel, karena dalam kenyataannya Israel telah berbuat
keburukan yang banyak yang dibenci oleh segenap umat manusia.

Leuwiliang, Bogor, 29 Jumadil Akhir 1431 H

Ditulis dalam Uncategorized
Tags: motivasi

KEADAAN

Juni 19, 2010
Tinggalkan sebuah Komentar

KEADAAN
Oleh: Ading Nashrulloh A.Dz

Setiap keadaan dan kemanapun kita melangkahkan kaki, syaithan yang terkutuk selalu menyertai
langkah kita untuk menggoda kita. Adapun langit dan bumi beserta segenap isinya akan menjadi
saksi atas apapun yang engkau perbuat. Malaikat akan senantiasa mencatat setiap gerak dan
lintasan matamu. Dan Allah yang menciptakanmu akan tetap menjaga dan memperhatikan apa
yang engkau butuhan selama hidup, di kala engkau bermaksiat kepadaNya ataupun tatkala

engkau taat kepada syariatNya. Hati nuranimu akan selalu memberitahumu jika langkahmu akan
tersesat. Keadaan hidup ini sungguh indah dan luar biasa. Sungguh tiada hal patut disesali dan
ditangisi. Engkau bila miskin tetaplah tersemyum, lihatlah kelebihan apa yang Allah berikan
kepadamu. Engkau yang kaya tetaplah tersenyum sekalipun mungkin hari ini sedang dililit utang
dan tagihan segala macam.

Sungguh bila kita mengingat tentang makna nikmat hidup ini, tiada bandingannya. Betul hidup
ini adalah sementara. Tetapi yang sementara ini bisa kita buat memiliki makna yang amat luas
dan langgeng. Boleh saja suatu masa nanti jasad kita terbujur kaku, dimakan cacing tanah,
tulangpun hancur lebur, maka kenyataan bahwa hidup kita memberikan arti yang besar bagi
orang-orang yang masih hidup dapat kita usahakan selagi hidup ini.

Apa yang sedang engkau perbuat hari ini? Apakah suatu kebaikan ataukah kejahatan? Bila yang
kau ukir adalah kebaikan, maka beruntunglah. Berbuatlah yang besar-besar, jangan tanggung-
tanggung, sekalipun engkau harus menderita dalam menjalaninya. Karena hidup bagi manusia
adalah perjuangan. Perjuangan atau jihad, adalah alam kehidupannya manusia. Siapa yang
meninggalkan perjuangan, maka ia sedang mencari kematiannya sendiri dalam keadaan hina dan
tidak berharga.

Setiap keadaan kita, kemuliaan atau kehinaannya diukur bukan dari ukuran materinya, tetapi
diukur dari kapasitas spiritualnya. Jika engkau hari ini bekerja sebagai petani, tetapi di saat yang
sama dengan bertani itu engkau lebih dekat kepada Allah Swt, maka itu lebih mulia keadaannya
dibanding dengan ketika engkau bekerja di kantoran namun membuatmu jauh dari Allah Swt.

Betapa banyak manusia yang tertipu dengan keadaannya, dikarenakan ia jauh dari ilmu, ibadah
dan keberkahan. Sehingga ia pun jauhdari rahmat Allah Swt. Jangan menyangka bahwa hidup
mewah dengan penghasilan besar adalah lebih baik dibanding dengan hidup miskin. Namun
hidup kaya juga sesungguhnya lebih baik dari hidup miskin. Ketika orang kaya atau miskin
tersebut menjadikan setiap keadaan dirinya menjadi sarana untuk lebih dekat kepada Allah Swt.

Ketika kita sakit, banyak hal yang menjadi terbengkalai dan tidak terurus. Banyak kawan dan
rekan kerja tak bisa kita temui. Banyak saudara tak bisa kita santuni lagi. Dunia menjadi lebih
sepi dibanding ketika kita sehat dan bertubuh kuat. Memang kehidupan itu beraneka ragam. Ada
yang diberi kesempatan oleh Allah hingga ia menjadi orang yang kuat, sehat, kaya dan
berkeinginan tinggi untuk melanglang buana. Sementara ada juga yang sakit tadi. Di keadaan
mana pun engkau dikondisikan Allah, bukan soal apakah itu sakit atau lemah, tetapi cobalah
untuk berbuat selalu hal yang dapat menjadikan dirimu dekat kepada Allah dan menjauhi setiap
bisikan syaithan yang terkutuk.

Leuwiliang, Bogor, 29 Rabiul Akhir 1431 H.

Ditulis dalam Uncategorized

TUHAN KAMI ALLAH DAN KAMI BERTEGUH HATI

Juni 19, 2010
Tinggalkan sebuah Komentar

TUHAN KAMI ALLAH DAN KAMI BERTEGUH HATI
Oleh Ading Nashrulloh A.Dz

Bila kita bertanya, keinginan siapakah kita hidup di dunia? Jawaban orang-orang yang beriman
adalah keinginan dan kehendak Tuhan. Tuhanlah yang berkuasa atas hidup dan mati kita. Maka
sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang sadar akan jati dirinya dan memenuhi konsekuensi
kesadaran tersebut. Manusia yang sadar dan patuh pada konsekuensi kesadaran adalah manusia
yang paling beruntung. Ia sadar bahwa dirinya diciptakan Allah, maka Allah adalah Dzat yang
berhak di sembahnya, dan ia pun melakukan penyembahan tersebut dengan mengikuti
agamaNya. Ia mengikuti agama itu dengan melaksanakan setiap perintah agama dengan
keikhlasan. Inilah golongan manusia yang beruntung di kehidupannya nanti.

Di antara manusia ada yang sadar bahwa dirinya di ciptakan dari ketiadaan menjadi ada, sadar
bahwa keberadaannya di muka bumi memiliki tugas sebagai hamba Tuhan. Namun ia enggan
untuk memenuhi konsekuensi kesadaran itu. Ia tidak mau beribadah kepadaNya. Itulah manusia
yang rugi. Sering manusia semacam ini memiliki prasangka yang baik kepada Tuhan, namun
sesungguhnya ia tertipu dengan prasangkanya itu. Seharusnya prasangka yang baik harus disertai
dengan rasa takut kepadaNya yang mendorong ia taat kepadaNya. Orang yang rugi adalah orang
yang menyangka ia telah berbuat baik dalam kehidupannya dan berharap Tuhan akan
memberikan balasan pahala, namun akhirnya ia malah mendapat siksa dariNya. Ini akibat dari
perbuatan yang tidak memenuhi konsekuensi kesadaran bahwa dirinya diciptakan.

Dan ada lagi golongan manusia yang termasuk golongan yang celaka. Siapa mereka? Mereka
adalah manusia yang memiliki keyakinan bahwa keberadaannya di muka bumi ini ada dengan
sendirinya. Bahwa Tuhan itu tiada. Maka tak perlu beragama atau menyembah Tuhan. Mereka
adalah golongan orang-orang yang tidak memiliki kesadaran tentang jati diri mereka yang
sebenarnya, bahwa mereka adalah makhluk. Maka bagaimana mereka mempersiapkan diri untuk
kehidupannya di akhirat kelak? Jangankan mempersiapkan, percaya dan ingat pun mereka sama
sekali tidak. Mereka adalah adalah golongan manusia yang tertutup mata hatinya. Setiap seruan
kepada keimanan mereka menolak secara terang-terangan.

Tabiat manusia yang merugi dan celaka tersebut dalam kaitannya dengan usaha-usaha mereka
dilihat dari urusan dunia dan agama, dapat kita perhatikan sebagai berikut:
1. mereka sangat cinta dunia, mengukur segala-galanya dari sudut duniawi.
2. menghalangi manusia dari Islam
3. meyakinkan bahwa manhaj mereka benar sedangkan Islam buruk.
Ketiga ciri tersebut diungkapkan dalam al-Quran surat Ibrohim ayat 3.

Bagaimana halnya orang-orang yang beruntung akan tabiatnya? Pada intinya mereka
menyatakan Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka berpegang teguh pada pendiriannya
tersebut. Tidak mudah untuk menyatakan sikap ini dan tidak mudah pula untuk tetap pada sikap
ini. Banyak contoh manusia yang gagal dalam mempertahankan
prinsipnya yang demikian itu. Mudah memang diucapkan, namun sulit untuk dijadikan sikap

hidup dan dasar nilai kehidupan. Ketika kita mejadikan ucapan ini sebagai sikap dan prinsip,
maka berarti ini menyangkut urusan hari dan corak kehidupan yang akan kita bangun dengan
segala bagian dan fase-fasenya.

Dalam hidup kita dituntut untuk menentukan sikap. Sikap adalah pilihan hidup dan memiliki
konsekuensi yang mengikutinya.

Leuwiliang Bogor 3 Rajab 1431 H

Ditulis dalam Uncategorized
Tags: istiqomah

MIRING

Juni 19, 2010
Tinggalkan sebuah Komentar

MIRING
Oleh: Ading Nashrulloh A.Dz

Sukakah kamu bila aku panggil engkau orang yang berfikiran miring? Maukah engkau aku
bangunkan rumah dengan tiang-tiang yang miring? Sukakah kamu bila aku tawarkan barang
dengan harga miring? Bidang miring banyak manfaatnya, ia ada diciptakan Allah untuk
memudahkan hidup manusia. Bagian bumi ini, ada yang datar, ada yang curam, ada yang miring,
semua ada guna dan manfaatnya, agar hidupmu bahagia dan engkau mau bersyukur kepadaNya.

Adakah fikiran miring itu ada guna dan manfaatnya? Mengapa ada istilah fikiran miring?
Konsep yang serupa dengan fikiran miring adalah fikiran gila, majnun, crazy, edan. Zaman edan
adalah zaman di mana manusia memilih cara hidup miring, namun mereka sendiri merasa dan
berfikiran bahwa jalan hidupnya lurus dan penuh dengan kebajikan, keuntungan dan kelimpahan
harta. Sementara ketika pandangan mereka diarahkan kepada jalan hidup yang lurus, mereka
malah mengatakan jalan itu bengkok dan sesat.

Secara umum, fikiran miring itu artinya fikiran yang dianggap memiliki kecenderungan
mengarah kepada jalan yang sesat dan menjauh dari kebenaran yang selama ini dipegang oleh
umumnya manusia di sekitarnaya. Dahulu saya pernah mendengar penuturan dari seorang
pengusaha MLM. Ketika ia memulai usaha itu, orang-orang di sekitarnya mengatakan bahwa ia
seorang yang berfikiran miring. Sampai akhirnya, ketika ia sukses di MLM itu, orang-orang pun
berhenti mengatakan ia berfikiran miring. Ia dikatakan demikian sebab ia melakukan perkara
yang waktu itu masyarakat tidak memiliki pemahaman tentang MLM.

Kepada kita yang muslim sering diceritakan kisah para Nabi yang mengalami ejekan dan hinaan
dari kaumnya. Salah satunya adalah Nabi Muhammad Saw. Di awal dakwahnya, kaumnya
mengatakan beliau SAW adalah almajnun, ahli sihir, pendusta, dan orang yang patut
ditertawakan. Perjalanan sejarah akhirnya menunjukkan, mareka yang mentertawakan itu
mengakui akan kehebatan dan kebenaran Nabi Muhammad Saw. Nabi-nabi yang lain pun

mengalami hal yang sama. Bukan hanya ejekan dan hinaan, malah siksaan dan pengusiran. Itulah
sebabnya Rasululloh sempat menangis ketika sahabatnya diminta membacakan ayat tentang
betapa ruginya manusia yang menolak dakwahnya yang akan menyelamatkan hidupnya di dunia
dan akhirat.

Bila engkau melakukan perbuatan buruk, sedangkan dirimu suka mengajak kepada orang lain
berbuat baik, engkau pun akan dikatakan orang yang berfikiran miring. Jangan heran bila engkau
dikatakan kurang akal dan penipu. Seharusnya bilamana engkau ingin mengajak manusia berbuat
kebajikan, maka terlebih dahulu engkau pun melakukan perbuatan bajik juga, tanpa harus
menunggu ada orang yang menyertaimu atau tidak. Ibaratnya jadilah santri seorang diri sebelum
engkau menjadi kiyai bagi santri-santri yang akan datang kepadamu. Jadilah engkau sebagai
pembelajar yang aktif, sebelum engkau menjadi seorang pengajar. Tetaplah belajar dan berbuat
kebajikan selama-lamanya sampai tutup usia.

Agar dirimu tidak berfikiran miring dalam arti yang hakiki menurut ukuran keimanan dan
keislaman, pertama-tama janganlah kamu berfikiran bahwa kamu sudah berbuat kebaikan. Tetapi
katakanlah mudah-mudahan apa yang aku lakukan adalah kebaikan yang diridoi Allah Swt
mengingat apa yang aku lakukan mengikuti petunjukNya. Apa yang engkau lakukan bisa jadi
belum berupa kebaikan, tetapi hanya baru sebatas mendekati.

Menjadi sosok yang baik dan benar dalam arti yang sebenarnya bukan perkara mudah. Seringkali
manusia, yakni kita ini, merasa dan yakin bahwa kita sudah berada di jalan yang benar. Dalam
kenyataannya belum tentu seperti yang kita harapkan. Terkadang kita hanya merasa benar saja
dan menyandarkan diri kepada argumen-argumen yang dianggap benar oleh kita sendiri. Untuk
menjadi benar, semestinya kita pun tahu yang salah. Kita harus memiliki kemauan mempelajari
berbagai corak cara pandang manusia terhadap kehidupan. Setiap orang akan ditanya oleh Tuhan
di akhirat kelak mengapa ia mengikuti suatu jalan kehidupan.

Bagi orang-orang muslim, jalan kehidupan dan cara pandang kehidupan adalah sudah jelas,
yakni Islam. Bagaimana konsep Islam tentang kehidupan, realitas hakiki dan apa yang
seharusnya dilakukan manusia telah dijelaskan dengan seterang-terangnya dalam ajarannya.
Sebaik-baiknya sikap orang-orang yang beriman adalah berperilaku postif atas ajaran Islam ini.
Artinya ia harus membenarkan dan mengamalkannya tanpa reserve. Ketika kita menempatkan
diri sebagai orang yang membenarkan dan menjalankan Islam sebagai jalan kehidupan, maka
kita akan melihat jalan pikiran selain Islam adalah sesat. Dan siapa yang menyimpang sedikit
saja dari ajaran Islam, kita pun harus secara konsisten mengatakan bahwa pemikirannya adalah
miring.

Sebaliknya jangan heran bila engkau dikatakan berfikiran miring pula oleh orang-orang yang
tidak menjadikan Islam sebagai landasan cara berfikirnya, ini sudah merupakan tabiat dan sunah
kehidupan di muka bumi. Selain Islam adalah sesat, dan selamanya yang sesat tidak akan pernah
bisa seiring sejalan dengan yang benar. Jika engkau dibenci dan dikatakan berpikiran miring,
hanya karena engkau memuja Allah dan mengikuti syariatNya, itu adalah hal biasa. Kau harus
membiasakan diri diejek dan dihina oleh mereka yang tidak berilmu dan enggan mengabdi
kepadaNya.

Leuwiliang, Bogor, 30 Rabiul Akhir 1431 H

Ditulis dalam Uncategorized

KESALAHAN

Juni 19, 2010
1 Komentar

KESALAHAN
Oleh: Ading Nashrulloh A.Dz

Jangan memperlakukan kesalahan orang lain dengan kejahatan dan kelicikan karena itu berarti
kita sama saja. Terkadang orang yang kita pandang salah, tidak benar-benar salah. Yang
memiliki kemampuan menilai suatu kesalahan hanyalah orang-orang yang berilmu. Hendaklah
kita menyadari bahwa pada saat kita mengatakan bahwa seseorang salah, pada saat yang sama,
kita bukanlah malaikat, kita sama saja manusia seperti dirinya yang juga tak lepas dari kesalahan.

Bila kita menemukan orang lain berbuat salah, hendaknya ditahan dulu jangan sampai
menegurnya di waktu itu. Kita hanya boleh menegur pada saat ketika hatinya sudah mendekat
dengan diri kita. Agar kata-kata yang kita ungkapkan kepadanya disertai dengan sikap yang
lemah lembut. Kita sering ingin meluruskan kesalahan orang lain dengan hati yang penuh
dendam. Akibatnya adalah cacian dan makian yang keluar. Sehingga orang yang salah semakin
membenci kebenaran.

Jika datang kepadamu laporan bahwa ada seseorang telah berbuat salah, maka ada dua hal yang
harus diverifikasi. Pertama, apakah orang yang melaporkan itu benar dengan laporannya. Kedua,
apakah yang dilaporkannya itu benar-benar berupa kesalahan. Terkadang manusia melaporkan
suatu kedustaan, atau melaporkan suatu hal yang menurut pandangannya adalah salah, padahal
belum tentu salah.

Sesungguhna keanggunan seseorang dalam menyikapi kesalahan manusia adalah memaafkan
dan memberikan kesempatan kepadanya untuk memperbaiki diri. Tetapi yang lebih anggun lagi
adalah mengetahui sebab-sebab seseorang melakukan kesalahan, sehingga ia termaafkan dengan
sendirinya. Sebab Allah pun memaafkan kesalahan orang yang berbuat salah karena
kejahilannya. Artinya sekalipun ia tidak bertaubat, dosanya terampuni. Maka untuk itulah kita
harus menjadi orang yang berilmu, agar ketika kita berbuat suatu dosa, kita tahu bahwa itu dosa,
dan terdorong jiwa kita untuk bertaubat kepadaNya.

Kenapa taubat itu perlu? Karena ada Zat yang memiliki sifat dan hak untuk mengampuni, yakni
Allah swt. Berbuat dosa adalah wajar dalam kehidupan manusia, hanya menjadi tidak wajar
kalau terus menerus berbuat dosa, sebab hal yang demikian menunjukkan tabiat seseorang yang
jahil atau bodoh, artinya orang yang tidak mau mempergunakan akal fikirannya.

Belajarlah terus untuk berpengetahuan. Semua jalan ke neraka sudah dijelaskan oleh agama.
Begitupun jalan menuju surga tak satupun terlewat disampaikan Rasulullah Saw. Syaithan harus

dikenali dengan jeli, agar kita bisa menghindari jalan-jalannya. Para ulama dan wali harus kita
dekati, agar kita bisa mengikuti langkah-langkah amal sholehnya. Jangan kita seperti orang
dungu, yang memilih jalan kebodohan, sementara ia menyangka bahwa dirinya akan selamat
dengan kebodohannya itu.

Syaithan itu adalah makhluk Allah yang memiliki tabiat paten untuk senantiasa menyertai
manusia, ke mana pun manusia melangkah. Begitu setianya syaithan dekat dengan manusia di
kala apapun yang dilakukan manusia. Bahkan ketika manusia itu sedang beramal sholeh
sekalipun, syaithan tak pernah patang mundur mendekati manusia. Untuk urusan apa? Untuk
menjerumuskan manusia kepada perbuatan-perbuatan yang salah. Amal sholeh bisa berubah
menjadi amal salah, ketika manusia tunduk kepada syaitan.

Jadi manusia berbuat salah bisa karena ia jahil, bisa karena ia tergoda oleh syaithan dan
kesenganan mengikuti hawa nafsunya. Dan sebagai wujud solidaritas kita kepada sesama
manusia yang terperosok berbuat kesalahan adalah mengingatkan dirinya sebelum ajal atau
kiamat tiba. Kita adalah seperti juga orang lain, perlu dan membutuhkan suatu peringatan,
nasihat dan teguran dari orang lain tatkala kita salah langkah, agar diri kita selamat dari
ketertipuan hidup ini.

Leuwiliang, Bogor, 28 Rabiul Awal 1431 H

Ditulis dalam Uncategorized

TAKUT KEPADA ALLAH

Mei 7, 2010
Tinggalkan sebuah Komentar

TAKUT KEPADA ALLOH
Oleh: Ading Nashrulloh

Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya
dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya,
maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan (24:52)

Mengacu kepada definisi takwa yaitu mengadakan perlindungan dari azab Allah,
mengindikasikan bahwa takwa itu mengandung arti takut. Selanjutnya definisi takwa adalah
menjalankan segala perintah Allah, ini mengindikasikan bahwa takwa itu mengandung arti taat.
Definisi takwa berikutnya adalah menjauhi segala larangan Allah, ini mengindikasikan hal lain
lagi, yaitu bahwa takwa mengandung arti bersih hati. Sebab hati yang bersih itu pertama kali
syaratnya harus jauh dari pelanggaran atas segala larangan Allah.
Dengan demikian inti sari takwa adalah takut kepada Allah, taat kepadaNya dan keadaan bersih
hati. Takut kepada Allah artinya takut terhadap azab yang telah menjadi ketetapanNya. Allah
bukanlah Zat yang Zhalim terhadap hamba-hambaNya, tetapi hamba itulah yang zhalim terhadap
dirinya sendiri sehingga menyebabkan dirinya masuk ke dalam kategori manusia yang dimurkai
Allah dan kategori manusia yang menempuh jalan yang sesat. Sedangkan balasan bagi mereka

yang dimurkaiNya dan sesat jalannya adalah tiada lain azabNya di dunia dan di akhirat kelak.
Takwa mengandung arti taat, ini merupakan konsekuensi dari perasaan takut kepada Allah.
Seseorang jika takut kepada Allah, tentu dia akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari
laknat dan kemarahanNya dan caranya adalah dengan mendekat kepadaNya, bukan
menjauhiNya. Cara mendekati Allah adalah dengan melaksanakan apa yang diwajibkanNya
kepada hamba-hambaNya. Taat kepada Allah bukanlah untuk kepentingan Dia yang Maha
Kuasa, tetapi untuk kepentingan hamba itu sendiri. Perintah Allah yang paling besar adalah
Tauhid dan Islam. Islam didirikan di atas pondasi yang bernama tauhid. Lawan dari tauhid
adalah syirik dan lawan dari Islam adalah kafir.
Takwa mengandung arti bersih hati. Bersih hati adalah gambaran seorang yang baru lahir ke
dunia. Yang ada pada dirinya adalah fitrah. Hatinya putih bersih tanpa noda. Ketika seorang
hamba berbuat zhalim atau dosa, maka terkotorilah hati itu bagai noktah hitam di kaca yang
bersih. Dan ketika ia bertaubat dan terus berusaha menjaga diri dari perbuatan dosa, maka hati
itu bersih lagi. Takwa adalah menjauhi segala larangan Allah. Jika larangan Allah dilanggar,
maka itulah dosa di hati. Takwa adalah bersih hati. Karena takwa adalah usaha untuk terus
menerus menjauhi larangan Allah, berusaha menjaga diri agar sampai melanggar larangan Allah.
Orang yang takut kepada Allah, taat kepadaNya dan jauh dari perbuatan dosa yang menghasilkan
keadaan hati yang bersih senantiasa, maka mereka adalah hamba-hamba Allah yang dekat
denganNya dan memiliki kedudukan yang mulia di sisiNya.
Sesungguhnya Allah itu dekat bagi hamba-hambaNya yang sholeh.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya
Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon
kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka
beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (2:186)
1. PERINTAH TAKUT KEPADA ALLAH

Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin agar mereka takut kepada-Nya.
Karena takut adalah perintah maka takut itu wajib dan memiliki konsekuensi penting. Bagi yang
melaksanakan perintah tersebut maka ketakwaannya akan bertambah dan karena itu ia akan
memperoleh kemuliaan dan ditujukiNya ke arah kebaikan. Sedangkan bagi yang
mengabaikannya, maka dosanya makin bertambah dan bertambah pula kehinaannya dan ia
bergelimang dalam lautan dosa dan kemaksiatan.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam
kitab beliau Fathul Majid mengatakan: “Takut berkedudukan tinggi dan mulia di dalam agama
dan termasuk jenis ibadah yang banyak cakupannya yang wajib hanya diberikan kepada Allah
subhanahu wa ta’ala.”

Banyak sekali ayat al-Quran dan Hadits yang menunjukkan tentang wajibnya takut kepada Allah
Swt. Berikut adalah di antara ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan wajibnya takut kepada
Allah.

“Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-
benar orang yang beriman.” (Ali Imran: 175).
“Maka janganlah kalian takut kepada manusia dan takutlah kalian kepada-Ku.” (Al-Maidah: 44).
“Orang-orang yang menyampaikan risalah Allah mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak

merasa takut kepada seorang pun selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat
perhitungan.” (Al-Ahzab: 39).
“Maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kalian kepada-Ku.” (Al-Baqarah:150).
“Mereka (malaikat) takut kepada Rabb mereka dan melakukan apa yang diperintahkan kepada
mereka.” (An-Nahl: 50)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah
gemetarlah hati mereka, … (Qs. al-Anfaal [8]: 2).
“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah
suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat
kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan
gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk,
padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras” (Qs. al-Haj
[22]: 1-2).
“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” (Qs. ar-
Rahman[55]: 46).

Rasululullah bersabda: “Barangsiapa takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu
takut kepadanya. Barangsiapa tidak takut kepada Allah, maka Allah menjadikannya takut kepada
segala sesuatu. (HR. Al-Baihaqi).
Rasulullah bersabda: “Dua mata yang diharamkan dari api neraka, yaitu mata yang menangis
karena takut kepada Allah, dan mata yang menjaga serta mengawasi Islam dan umatnya dari
(gangguan) kaum kafir. (HR. Bukhari)
Rasulullah bersabda: “Puncak kebijaksanaan ialah takut kepada Allah. Sebaik-baik yang
tertanam dalam hati adalah keyakinan. Keragu-raguan (dalam beriman) termasuk kekufuran.
Kepemudaan termasuk kelompok kegilaan (radikal). Orang bahagia adalah yang dapat
mengambil pelajaran dari (peristiwa) orang lain, dan orang yang sengsara ialah yang sengsara
sejak dalam kandungan ibunya. Tiap perkara yang akan datang adalah dekat. (HR. Al-Baihaqi)
Rasulullah, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tujuh golongan orang yang akan
mendapatkan perlindungan pada hari yang tidak ada perlindungan kecuali perlindungan dari
Allah, di antaranya seorang hamba yang “diajak” oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan
dan kecantikan, dan dia mengatakan: ‘Aku takut kepada Allah’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari
no.629 dan Muslim no. 1031 dari hadits Abu Hurairah)

Syaddad bin Aus radiallahuanhu berkata: telah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Demi kemuliaan dan keagunganku, aku tidak akan
menghimpun pada diri hamba-hamba-Ku dua rasa aman dan dua rasa takut. Jika dia merasa
aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan beri rasa takut pada hari Aku menghimpun hamba-
hamba-Ku. Dan jika dia takut kepada-Ku di dunia maka Aku akan berikan rasa aman pada hari
Aku menghimpun hamba-hamba-Ku.” (HR. Abu Nu’aim dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani
di dalam Ash-Shahihah no. 742).
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Ada tujuh
golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan
kecuali naungan-Nya, yaitu Pemimpin yang adil; Pemuda yang senantiasa beribadah kepada
Allah semasa hidupnya; Orang yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid; Dua orang yang
saling mencintai kerena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah kerena Allah; Seorang lelaki
yang diajak oleh seorang perempuan yang cantik dan berkedudukan untuk berzina tetapi dia

berkata, “Aku takut kepada Allah!”; Orang yang memberi sedekah tetapi dia merahsiakannya
seolah-olah tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya; dan
seseorang yang mengingat Allah di waktu sunyi sehingga bercucuran air matanya.”

Dari ‘Adiy bin Hatim r.a., ia berkata; Rasulullah Saw bersabda: Tidak ada seorang pun di
antara kalian kecuali akan diajak bicara oleh Allah tanpa penerjemah. Kemudian ia menengok ke
kanan, maka ia tidak melihat kecuali apa yang pernah dilakukannya (di dunia). Ia pun
menengok ke kiri, maka ia tidak melihat kecuali apa yang pernah dilakukannya (di dunia). Lalu
ia melihat ke depan maka ia tidak melihat kecuali Neraka ada di depan wajahnya. Karena itu
jagalah diri kalian dari Neraka meski dengan sebutir kurma. [Mutafaq ‘alaih].

Jika seorang mukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun
yang tidak mengharapkan surga-Nya. Jika orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah,
niscaya tidak ada seorang pun yang putus asa dari rahmat-Nya. [HR. Muslim].

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw, tentang perkara yang diriwayatkan beliau dari Tuhannya.
Allah berfirman: Demi kemulian-Ku, Aku tidak akan menghimpun dua rasa takut dan dua rasa
aman pada diri seorang hamba. Jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku akan bemberikannya
rasa aman di Hari Kiamat. Jika ia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan memberikan
rasa takut kepadanya di Hari Kiamat. [HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya].

Dari Ibnu Abas, semoga Allah meridhai keduanya, ia berkata; ketika Allah menurunkan ayat ini
kepada Nabi-Nya: Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri dan keluarga kalian dari Neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan. (Qs. at-Tahrim [66]: 6); Pada suatu hari
Rasulullah saw. membacakan ayat ini kepada para sahabat, tiba-tiba ada seorang pemuda yang
terjungkal pingsan. Kemudian Nabi Saw meletakkan tangan beliau di atas hatinya, dan ternyata
masih berdetak jantungnya. Kemudian Nabi Saw bersabda, “Wahai anak muda ucapkanlah:
‘Tidak ada Tuhan selain Allah’”, maka pemuda itu pun mengucapkannya. Kemudian beliau
memberikan kabar gembira kepadanya dengan surga. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah!,
apakah pemuda itu termasuk golongan kita?” Rasulullah bersabda; apakah kalian tidak
mendengar firman Allah: Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan
menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku. [HR. Hakim, ia
menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi].

Dari Tsauban r.a., dari Nabi Saw, beliau bersabda: Aku akan memberitahukan beberapa kaum
dari umatku. Di hari kiamat mereka datang dengan membawa kebaikan seperti gunung Tihamah
yang putih. Tapi Allah menjadikannya bagaikan debu yang bertebarkan. Tsauban berkata,
“Wahai Rasulullah, sebutkanlah sifat mereka dan jelaskanlah keadaan mereka agar kami kami
tidak termasuk bagian dari mereka sementara kami tidak mengetahuinya.” Rasulullah Saw
bersabda, “Ingatlah!, mereka adalah bagian dari saudara kalian dan dari ras kalian. Mereka suka
bangun malam sebagaimana kalian, tapi mereka adalah kaum yang jika tidak dilihat oleh siapa
pun ketika menghadapi perkara yang diharamkan Allah, maka mereka melanggaranya.” [HR.
Ibnu Majah. Al-Kinani penulis buku Mishbah Al-Zujajah berkata, Isnad hadits ini shahih, para
perawinya terpercaya].

Abdullah bin Mas’ud menceritakan kepada kami dua hadits, salah satunya berasal dari Nabi Saw
dan satu lagi dari dirinya sendiri ia berkata: Sesungguhnya orang yang beriman akan melihat
dosa-dosanya seolah-olah ada di atas gunung. Ia takut (dosa itu) jatuh menimpanya. Sedangkan
orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang menghampiri hidungnya, kemudia
ia berkata mengenai dosanya, “Seperti inikah?” Abu Syihab berkata dengan tangannya –yang
diletakkan– di atas hidungnya. [HR. Bukhari].

Ditanyakan kepada Rasulullah Saw manusia manakah yang paling utama? Rasulullah Saw
bersabda, “Orang yang bening hatinya dan jujur lisannya.” Para shahabat berkata, “Wahai
Rasulullah!, Kami sudah mengetahui maksud ‘jujur lisannya’, namun apa yang dimaksud
dengan ‘bening hatinya’?” Rasulullah Saw bersabda, “Adalah hati yang takut (kepada Allah)
dan bersih. Di dalamnya tidak ada dosa, sifat jahat, kedengkian, dan iri.” [Al-Kinani berkata,
“Sanad hadits ini shahih”. Al-Baihaki meriwayatkannya dalam kitab sunannya dari arah
tersebut].

Takut merupakan bentuk ibadah hati yang memiliki kedudukan agung dan mulia di dalam agama
bahkan mencakup seluruh jenis ibadah. Takut adalah salah satu dari rukun ibadah dan
merupakan syarat iman. Rasa takut adalah pilar yang mesti ada dalam ibadah seorang muslim.
Dimana dengan adanya rasa takut, seorang hamba akan termotivasi untuk rajin mencari ilmu dan
beribadah kepada Alloh semata agar bebas dari murka dan adzab-Nya. Selain itu, rasa takut
inilah yang juga dapat mencegah keinginan seseorang untuk berbuat maksiat.

“(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya,
dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.” (Al Anbiya: 49).

Beribadah dengan penuh rasa takut (khauf), artinya ialah takut jikalau ibadah kita tidak
sempurna, takut jikalau kita tidak mendapatkan ridha Allah, takut jukalau dosa-dosa kita tidak
diampuni. Oleh karena itu orang yang beribadah dengan rasa takut ini, mereka tidak akan
terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan yang mengotori hati. Mereka takut hal-hal yang dulu
mereka lakukan dalam rangka mengabdi kepada Allah hilang begitu saja karena suatu
kemaksiatan sekecil apapun.

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut kepada Robb mereka. Dan orang-
orang yang beriman kepada ayat-ayat Rabb mereka. Dan orang-orang yang tidak menyekutukan
Rabb mereka (sesuatu pun). Dan orang-orang yang telah memberikan apa yang telah mereka
berikan, dengan hati yang takut,(karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali
kepada Rabb mereka. Mereka itulah orang-orang yang bersegera untuk berbuat kebaikan, dan
merekalah orang-orang yang pertama-tama memperolehnya.” (Qs. al-Mukmin [23]: 60)

Imam Tirmidziy meriwayatkan, Aisyah berkata,” Aku pernah bertanya kepada Rasulullah
tentang ayat ini, apakah yang dimaksud disini orang-orang yang meminum arak, berzina dan
mencuri?” Rasululloh saw menjawab, “Bukan begitu, wahai putri as-Shiddiq. Tetapi mereka
orang-orang yang berpuasa, sholat, dan bersedekah. Mereka takut jika amalannya tidak diterima.
Merekalah yang bersegera dalam kebaikan.” (Hadits shohih riwayat at-Tirmidiy Kitaabut-tafsir
IX/19, al-Hakim at-Tafsir II/393 menyatakannya shohih dan disepakati oleh adz-Dzahabiy).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->