HADITS SHAHIH DAN HADITS HASAN: Sebuah Telaah Epistemologis

By Ahmad Saifulloh On November 30, 2011 · Leave a Comment

A. LATAR BELAKANG Sebagai sumber hukum yang kedua setelah al-Qur’an, hadits memiliki sejarah penyampaian dan penulisan yang panjang. Dimulai sejak zaman Rasulullah,[1] sahabat, tabi’in, tabi’uttabi’in, dan seterusnya, telah menjadi sebuah historical account yang susah dibantah validitas dan otentisitasnya, sehingga pada gilirannya, ia menjadi disiplin ilmu sendiri. Lebih dari itu, periwayatan hadits yang sambung-menyambung sejak zaman nabi hingga tabi’uttabi’in, dengan seleksi kualitas perawinya yang ketat, menjadikannya sebagai bangunan epistemologis yang kuat dalam hazanah keilmuan dalam Islam. Namun demikian, dalam perjalanannya, seiring dengan perkembangan politik dan kekuasaan Islam, banyak perawi yang ditunggangi kepentingan politik penguasa atau golongan. Sehingga tidak sedikit yang meriwayatkan hadits palsu dengan motif tertentu. Hal ini tentu harus dipahami oleh umat Islam. Maka dari sini muncullah ilmu-ilmu lain untuk menyeleksi kualitas sebuah hadits sehingga bisa sampai pada kesimpulan apakah suatu hadits itu valid dan otentik atau sebaliknya. Secara garis besar, hadits dibagi menjadi dua yaitu mutawatir dan ahad. Pembagian hadits ini didasarkan pada kuantitas perawinya. Hadits mutawatir yang mensyaratkan jumlah rawi yang lebih dari tiga pada setiap generasi (thabaqah) sanadnya, merupakan hadits yang valid, otentik sehingga taken for granted tanpa perlu menganalisa terlebih dahulu. Hal ini tidaklah berlebihan karena dari sisi epistemologis, hadits mutawatir ini sangatlah kuat. Sementara itu, hadits ahad yang jumlah perawinya di setiap generasi adalah tiga atau kurang dari tiga, dibagi menjadi hadits masyhur, ‘aziz, dan gharib. Hadits ahad ini bisa dipilah-pilah lagi berdasarkan kekuatan dan kelemahan (baca: kualitas) perawinya menjadi hadits yang diterima (maqbul) dan hadits yang ditolak (mardud).[2] Lebih lanjut Atthahan menjelaskan bahwa hadits yang maqbul merupakan hadits yang “tarajjaha shidqu al-mukhbir bihi”, dengan kata lain perawinya adalah tsiqah, bisa dipertanggungjawabkan kapabilitas dan kredibilitasnya sebagai perawi. Sehingga melaksanakan dan menjadikan hadits tersebut sebagai hujjah adalah suatu kewajiban. Sedangkan hadits mardud berarti “ma lam yatarajjah shidqu al-mukhbir bihi”. Karena perawinya tidak tsiqah, maka hadits mardud tidak bisa dijadikan landasan sebuah hukum.[3] Hadits maqbul sendiri, berdasarkan tingkatan kekutannya, dibagi menjadi dua yaitu hadits shahih dan hadits hasan. Sedangkan berdasarkan keabsahannya untuk dipakai atau tidak, hadits maqbul dibagi menjadi hadits muhkam, mukhtalifu al-hadits, nasikh, dan mansukh.[4] Sedangkan hadits yang mardud, para ulama membaginya menjadi bagianbagian yang sangat banyak dan masing-masing memiliki nama tersendiri. Akan tetapi banyak juga ulama yang memberikan nama umum untuk hadits yang mardud yaitu hadits dza’if.

9. 1. Ini berarti makna sebenarnya yang biasa dipakai untuk badan. 5. 2. Memahami kedudukan hadits hasan. 8. Apa syarat hadits shahih? Apa saja macam-macam hadits shahih? Bagaimana kedudukan hadits shahih? Bagaimana tingkatan hadits shahih? Apa saja kitab-kitab hadits shahih? Apa syarat hadits hasan? Apa saja macam-macam hadits hasan? Bagaimana kedudukan hadits hasan? Bagaimana tingkatan hadits hasan? 10. 5. dzabith.Makalah ini akan mengkaji hadits shahih dan hadits hasan sebagai hadits yang diterima (maqbul) dari sudut pandang epistemologis. Namun dalam ilmu hadits merupakan makna majaz. 6. shahih berarti lawan dari sakit.[5] Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa hadits sahih harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: . 2. D. PEMBAHASAN 1. 7. 3. pemakalah mengajukan rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apa saja kitab-kitab hadits hasan? C. 3. Mengetahui apa saja syarat hadits hasan. 4. 6. Pengertian dan Syarat Hadits Shahih Secara etimologis. Mengetahui macam-macam kitab hadits shahih. TUJUAN PEMBAHASAN Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui tingkatan hadits hasan. 10. 8. Memahami kedudukan hadits shahih. para ahli hadits rata-rata sepakat mendefinisikannya sebagai hadits yang sanadnya bersambung oleh para perawi yang ‘adil. Hadits Shahih 1. Mengetahui apa saja syarat hadits shahih. 9. Mengetahui macam-macam hadits shahih. Sedangkan secara epistemologis. 7. Mengetahui tingkatan hadits shahih. Mengetahui macam-macam kitab hadits hasan. 4. dari awal sanad hingga akhir sanad tanpa adanya ‘illah dan syudzud. Mengetahui macam-macam hadits hasan. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas.

gabungan antara sifat adil dan dzabith ini disebut sebagai tsiqah atau tsabat. Yang dimaksud dengan syudud adalah adanya pertentangan dengan perawi yang lebih kuat ketsiqahannya. baligh. berakal.[8] Seluruh perawinya harus adil. paling utama dan paling mulia. Dari sini bisa dipahami bahwa perawi tidak boleh lupa/lengah dengan hafalannya. Tidak berhenti sampai di situ. Sedangkan perawi yang adil saja atau dzabith saja belum disebut sebagai perawi yang tsiqah. Namun demikian. Lebih dari itu.[9] Menurut Ibnu Shalah. hadits tersebut wajib untuk diterima dan diamalkan. dan memiliki akhlak yang terpuji. tetap saja ia memiliki tingkatan-tingkatan berdasarkan kekuatan sanadnya. mengetahui ‘illah bukanlah perkara yang mudah.[14] Menurut Ibnu Shalah.[15] Diperlukan keahlian khusus.[13] Tidak terdapat ‘illah di dalamnya. Implikasinya.[11] Kedzabithan seorang perawi hadits bisa diketahui dengan cara membandingkan hadits yang ia riwayatkan dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh perawi yang terkenal ketsiqahan dan kedzabithannya. silsilah sanad dalam tradisi periwayatan hadits menjadi bangunan ilmu yang tidak pernah dijumpai pada tradisi keilmuan peradaban manapun. Dari penjelasan di atas. Yang dimaksud dengan hadits shahih lidzatihi adalah hadits yang karena keadaan dirinya sendiri telah memenuhi sepenuhnya lima syarat hadits shahih . dan tidak boleh juga terlalu bermudah-mudah dalam proses tahammul dan ada’. tidak fasiq. dan mursal khofi). Bisa juga jika keadilan perawi tersebut telah diamini oleh para peneliti. perawi tersebut juga mampu menghadirkan hafalannya manakala diperlukan. tidak bisa disebut sebagai hadits shahih. Hal ini berarti bahwa setiap perawi telah mendapatkan hadits tersebut secara langsung[6] dari perawi pada generasi sanad di atasnya. secara epistemologis dapat disimpulkan bahwa hadits shahih yang valid dan otentik benar-benar bisa menyampaikan sebuah kebenaran yang dibawa Rasulullah. Karena jika riwayat tersebut bertentangan dengan perawi yang lebih utama darinya dari sisi kekuatan hafalan dan kuantitas hadits yang diriwayatkan. munqoti’ (mu’allaq. mu’dhol. maka secara otomatis perawi yang demikian itu adalah adil. Tidak terdapat syudzud di dalam riwayat hadits tersebut. keadilan seorang perawi bisa diterima jika telah dinilai oleh minimal dua peneliti para perawi.[12] Menurut para ahli hadits. Implikasinya.Sanadnya harus bersambung dari Rasulullah hingga mukharrijnya. Adil di sini berarti para perawi dalam setiap generasi sanad adalah seorang muslim. 1. mudallas. atau dengan kata lain mereka sering memberikan pujian/penilaian yang baik kepada perawi tersebut.[7] Dan pola seperti ini berlaku dari awal sanad hingga akhir sanad. Kalau hadits tersebut ternyata sebagian besar sesuai (meskipun dalam segi makna saja) dengan hadits para perawi yang terkenal tsiqah dan dzabit.[10] Seluruh perawinya harus dzabith. hadits yang sanadnya terpotong seperti hadits mursal. maka berarti terdapat keragu-raguan dalam hadits yang diriwayatkan. maka perawi tersebut dianggap dzabith. sehingga pengetahuan tentang illah ini menjadi salah satu cabang ilmu hadits yang paling pelik. Yang dimaksud dengan ‘illah adalah sebab tersembunyi yang mengakibatkan suatu hadits berkurang kebenarannya. padahal secara dzahir. Secara epistemologis. yaitu hadits shahih lidzatihi dan hadits shahih lighairihi. Macam-Macam Hadits Shahih Hadits shahih dibagi menjadi dua macam. hadits tersebut shahih. dzabith berarti seluruh perawi dalam sebuah silsilah sanad hafal hadits yang diterima dengan hafalan yang kuat baik itu berupa hafalan dalam kepalanya atau dalam kitabnya.

Hadits yang diriwayatkan sesuai dengan syarat Bukhari dan belum dimasukkan dalam kitabnya. Para ulama ushul fiqh dan fiqh juga sepakat bahwa hadits shahih bisa dijadikan landasan hukum Islam. dan jika melihat pola sanad dari kitab-kitab hadits. Tingkatan yang paling tinggi adalah hadits shahih yang diriwayatkan dengan sanad yang paling shahih. dan tidak diperkenankan bagi seorang muslim untuk meninggalkannya. Hadits yang disepakati/diriwayatkan oleh Bukhari saja. Tingkatan Hadits Shahih Banyak ulama telah menyebutkan dan menjelaskan silsilah sanad yang paling shahih. Tetapi. misalnya hanya berkualitas hasan lidzatihi.[18] Berdasarkan tingkatan silsilah sanad yang dikemukakan para ulama.sebagaimana dijelaskan di atas. Kedudukan Hadits Shahih Para ahli hadits sepakat bahwa hadits shahih wajib untuk diterima.[16] Jika terdapat sebuah statemen bahwa ini adalah hadits shahih maka artinya. tidak bisa dihukumi secara mutlak bahwa hadits tersebut adalah bohong/palsu karena bisa saja perawi yang tidak memenuhi persyaratan di atas meriwayatkan hadits yang shahih. Hadits yang disepakati/diriwayatkan oleh Muslim saja. “ini adalah hadits tidak shahih”. . Hadits yang diriwayatkan sesuai dengan syarat Muslim dan belum dimasukkan dalam kitabnya. Tingkatan berikutnya adalah hadits shahih yang perawinya di bawah tingkatan sebelumnya secara kualitas. atau sebuah hadits hasan lidzatihi kemudian terdapat ayat al-Qur’an yang bersesuaian dengan hadits tersebut. seperti riwayat Suhail ibnu Abi Shalih dari ayahnya dan Abi Hurairah. mengandung arti bahwa hadits tersebut belum memenuhi syarat-syarat hadits shahih di atas baik seluruhnya atau sebagian saja. Dari sini bisa ditarik kesimpulan tingkatan hadits shahih. seperti Malik dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar. jika terdapat pernyataan. dua buah hadits yang semakna dan sama-sama berkualitas hasan lidzatihi.[17] Maka cukup dikatakan bahwa hadits tersebut tidak memenuhi persyaratan shahih seperti yang dijelaskan di atas. seperti riwayat Hamad ibnu Salamah dari Tsabit dari Anas. 1. 1. lalu ada petunjuk atau dalil lain yang menguatkannya. hadits tersebut sanadnya bersambung dengan sifat-sifat perawi seperti yang telah dijelaskan di atas. Hal ini disebabkan karena para ahli hadits sangat teliti dan berhati-hati dalam menilai sebuah hadits. Sedangkan yang dimaksud dengan hadits shahih lighairihi adalah hadits yang pada dirinya sendiri belum mencapai tingkatan shahih. maka kualitas hadits tersebut meningkat menjadi shahih lighairihi. Hadits yang diriwayatkan sesuai dengan syarat[19] Bukhari dan Muslim tapi belum dimasukkan dalam kedua kitab beliau. dapat diambil kesimpulan bahwa hadits shahih dibagi menjadi tujuh tingkatan: Hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Sebaliknya. Misalnya. menurut Ibnu Shalah. Tingkatan berikutnya adalah hadits shahih yang sanadnya/perawinya secara kualitas di bawah sanad yang paling shahih.

Menurutnya. . diterima oleh sebagian besar ulama dan para ahli fiqih juga memakainya. perawinya masyhur. Hal ini dikarenakan posisinya yang berada di antara hadits shahih dan hadits dho’if. hadits hasan adalah hadits yang bersambung sanadnya oleh perawi yang adil tapi tingkat kedhabithannya rendah. Perawinya memiliki sifat dhabith namun kualitasnya lebih rendah dari perawi hadits shahih. Dalam hadits tersebut tidak terdapat illah. 1. dan lain sebagainya. hadits hasan adalah hadits yang diriwayatkan oleh para perawi yang tidak ada dalam sanadnya perawi yang dituduh suka berbohong. dapat disimpulkan bahwa kriteria hadits hasan adalah sebagai berikut: Sanad hadits tersebut harus bersambung. dan diriwayatkan pula melalui jalan yang lain. tidak mengandung illah dan syududz. kemudian Shahih Muslim.Hadits yang shahih menurut pandangan selain Bukhari dan Muslim seperti Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban yang tidak memenuhi persyaratan Bukhari dan Muslim.[20] Namun para ulama berpendapat bahwa kitab shahih bukhari lebih kuat dari shahih muslim karena hadits bukhari lebih kuat jika ditinjau dari ketersambungan sanad[21] dan kualitas perawinya. Hadits Hasan 1. Perawinya adalah adil. Pengertian dan Kriteria Hadits Hasan Secara etimologis. Sunan Baihaqi. Sedangkan menurut Ibnu Hajar. Pengertian menurut Ibnu Hajar inilah yang dianggap sebagian besar ulama sebagai pengertian yang lebih pas. hadits hasan adalah hadits yang diketahui asalnya (sanadnya). dan para ulama telah bersepakat untuk menerimanya.[23] Sunan al-Arba’ah. Hadits-hadits tersebut bisa ditemukan pada kitab-kitab lain yang mu’tamad dan masyhur seperti Shahih Ibnu Khuzaimah.[22] Mustadrak al-Hakim. Hadits tersebut tidak syadz atau tidak bertentangan dengan riwayat perawi lain yang lebih tsiqah. Buku-Buku Kumpulan Hadits Shahih Kitab pertama yang merupakan kumpulan hadits shahih adalah Shahih Bukhari. matannya tidak syadz. Dua kitab ini adalah kitab yang paling shahih setelah alQur’an. Namun artinya secara epistemologis sangat banyak sekali. Di antara pengertian hadits hasan secara epistemologis adalah seperti yang diungkapkan oleh al-Khattabi. Shahih Ibnu Hibban. Menurut Tirmidzi. hasan diambil dari kata al-husnu yang artinya keindahan. Sunan Addaruquthni. jumlah hadits shahih bukhari juga lebih banyak dari shahih muslim. 2. Perlu dicatat di sini bahwa hadits shahih yang tidak terdapat pada kitab shahih bukhari dan shahih muslim jumlahnya lebih banyak. 1.[24] Berdasarkan pengertian di atas. Lebih dari itu.

dan Hajaj ibnu Arthoah. hasan lidzatihi dan hasan lighairihi. Oleh karena itu. . para ahli fiqh memakainya sebagai landasan hukum sebagaimana para ulama hadits dan ushul. Menurut Dzahabi. Tingkatan yang paling tinggi adalah hadits yang sanadnya dari: Bahzu ibnu Hakim dari ayahnya dari kakeknya. Yang dimaksud dengan hasan lidzatihi adalah hadits yang karena keadaan dirinya sendiri telah memenuhi lima kriteria seperti yang dijelaskan di atas. 1. Kedudukan Hadits Hasan Dalam konteks dalil hukum Islam. memasukkan hadits hasan bagian dari hadits shahih. hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits lain. kecuali golongan yang sangat ketat dalam memakai hadits sebagai landasan hukum Islam. 1. kehasanannya bukan karena petunjuk atau penguat dari hadits yang lain. Menurut jumhur ulama dari kalangan ahli hadits. Macam-Macam Hadits Hasan Hadits hasan terbagi menjadi dua macam.[25] Alasan para ulama adalah perawi hadits hasan kebanyakan telah diketahui kejujurannya. dalam hadits hasan juga terdapat tingkatan-tingkatan. kerendahan tingkat kedhabithan seorang rawi menjadi meaningless di sini. dan ‘Ashim ibnu Dhomroh. kedudukan hadits hasan seperti hadits shahih meskipun kekuatannya di bawah hadits shahih. Sedangkan yang dimaksud dengan hasan lighairihi adalah hadits dha’if yang jalan periwayatannya banyak. Dari sini bisa dilihat bahwa hadits dha’if dapat meningkat derajatnya menjadi hasan lighairihi jika: Hadits tersebut diriwayatkan dari jalan sanad yang lain yang memiliki kekuatan sama atau lebih. Sebab kelemahan hadits tersebut adalah rendahnya kualitas hafalan perawinya atau sanadnya yang terputus. Hal ini juga berlaku untuk hadits hasan lighairihi. Tingkatan Hadits Hasan Sebagaimana hadits shahih. Dengan demikian. Jadi. Rendahnya tingkat kedhabitan tidak mengeluarkan mereka dari golongan perawi yang mampu menyampaikan hadits sama ketika mereka mendapatkannya. hadits hasan lighairihi juga dapat dijadikan hujjah dan dapat diamalkan. Dan jika dipadukan dengan sanad yang lain. golongan yang sangat berkompromi terhadap istinbath hukm. atau terdapat perawi yang kurang pandai. dan lain sebagainya. maka terlihat potensi bahwa perawi yang kedhabithannya rendah mampu merekam dan menyampaikan hadits dengan benar. Di antaranya adalah Hakim ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah.1. Di samping itu. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Harits ibnu Abdillah. Umar ibnu Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya. namun menjadi sempurna dan lebih kuat dengan diriwayatkannya hadits tersebut dari jalan yang lain. Tingkatan yang kedua adalah hadits yang di dalamnya terdapat perselisihan pendapat para ulama apakah ia termasuk hadits shahih atau hadits hasan. Karena. Sebaliknya. Ibnu Ishak dari Attaimi. dan sebab kelemahan hadits tersebut bukan karena perawinya fasik atau pembohong. terdapat dua tingkatan dalam hadits hasan. meskipun awalnya dha’if.

penulis dapat menyampaikan kesimpulan sebagai berikut: 1. hadits shahih al-isnad yang tentu saja berbeda dengan hadits shahih. hadits shahih terbagi menjadi beberapa tingkatan. 3. Tetapi harus diingat bahwa dalam bukunya terdapat istilah ‘hasan shahih’ yang memiliki makna seperti dijelaskan di atas. Hadits shahih adalah hadits yang sangat kuat secara sanad dan matan. dan para ulama belum menganggap hadits tersebuth shahih. dhabith. 2. hadits shahih lidzatihi dan hadits shahih lighairihi. Jami’u Attirmidzi yang lebih dikenal dengan Sunan Attirmidzi. Syarat-syarat hadits shahih ada lima. Kitab ketiga adalah Sunan Addaruquthni. PENUTUP Berdasarkan pembahasan di atas. Atau bisa juga hadits yang memiliki satu isnad yang menurut sebagian kaum hadits tersebut hasan. karena bagaimana mungkin dua hal yang berbeda (shahih dan hasan) digabung menjadi satu. 1. yang dimaksud dengan hadits hasan shahih adalah hadits yang memiliki dua isnad atau lebih yang artinya hadits tersebut hasan jika dilihat dari isnad yang pertama. yaitu. shahih berdasarkan persyaratan muslim. perawinya harus adil. Yang bisa dijadikan sandaran adalah pendapatnya Hafidz ibnu Hajar yang disepakati juga oleh Suyuthi. Hadits shahih terbagi menjadi dua macam. Tirmidzi juga memiliki istilah khusus yaitu hadits hasan shahih.[27] Dari sini bisa disimpulkan bahwa sepertinya Tirmidzi ingin menunjukkan kepada kita adanya perselisihan atau khilaf dalam hukum hadits tersebut. Seperti. shahih muslim. shahih berdasarkan persyaratan bukhari muslim. Dalam kitabnya ia mengatakan kepada orang-orang Makkah bahwa ia telah menyebutkan hadits-hadits shahih dan hadits yang mendekati shahih. Yang dimaksud dengan hadits shahih al-isnad adalah hadits yang memenuhi tiga persyaratan shahih (sanadnya bersambung. shahih berdasarkan persyaratan bukhari. tetapi hadits tersebut belum bebas dari illah atau syadz. tidak terdapat ‘illah di dalamnya. dan shahih jika dilihat dari isnad yang kedua. 4. dan hadits shahih . istilah ini tentu saja problematis. E. Kitab-Kitab Kumpulan Hadits Hasan Para ulama pada umumnya tidak ada yang mengarang buku khusus di dalamnya hadits hasan sebagaimana terjadi pada hadits shahih. dan tidak juga terdapat syudzud.[26] Sementara iut. perawinya adil dan dhabith). dan shahih bagi kaum yang lain. Secara etimologis.Di kalangan ulama hadits sendiri terdapat beberapa istilah yang harus diperhatikan. yaitu. Yang paling tinggi adalah shahih bukhari dan muslim. Menurutnya. Namun para ulama hadits telah menjelaskan maksud dari istilah ini dengan penjelasan yang sangat beragam. Yang secara epistemologis bisa dijadikan landasan hukum Islam dan wajib diamalkan. sanadnya harus bersambung. Kitab yang kedua adalah Sunan Abi Dawud. maka berarti hadits itu adalah hasan menurut Abu Dawud. Di dalamnya juga banyak dijumpai haditshadits hasan. Ditinjau dari kekuatannya. Selama dalam suatu hadits ia tidak menyebutkan kelemahan yang besar. Di antara kitab tersebut adalah. shahih bukhari. oleh karena itu ia termasuk hadits maqbul. Tetapi terdapat kitab yang di dalamnya banyak dijumpai hadits hasan.

Tingkatan yang paling tinggi adalah hadits yang sanadnya dari: Bahzu ibnu Hakim dari ayahnya dari kakeknya. 6. Mustadrak al-Hakim. 9. sperti shahih menurut ibnu khuzaimah dan ibnu Hibban. yang tidak memenuhi persyaratan keduanya. Perintah itu juga kepada sahabat yang kuat hafalannya sehingga tidak dikhawatirkan bercampur dengan al-Qur’an. Lihat: . Suatu hadits disebut hasan jika ia memenuhi persyaratan hadits shahih tetapi diriwayatkan oleh perawi yang tingkat kedhabithannya rendah.‫محمود الطحان، تيسير مصطلح الحديث، )السكندرية: مركز الهدى للدراسات، 5141(، ص‬ [3]‫نفس المرجع‬ . Saat itu aktivitas penulisan difokuskan pada al-Qur’an. Namun kemudian. 7. Tidak terdapat kitab khusus yang merupakan kumpulan hadits hasan. Serta Ibnu Ishak dari Attaimi. 8. Terdapat banyak sekali kitab-kitab yang merupakan kumpulan hadits shahih. ushul fiqh. dan ulama hadits sepakat untuk menerima hadits hasan sebagai dalil dalam istinbath hukm. Para ulama fiqh. Sunan Abi Dawud. Shahih Muslim.5.‫محمد مصطفى العظمي، دراسات فى الحديث النبوي وتاريخ تدوينه، )بيروت: المكتب السلمي، 0891(، ص‬ 83 [2]29 . Terdapat dua tingkatan hadits hasan. Di antaranya adalah Sunan Attirmidzi. 10. Terdapat dua jenis hadits hasan yaitu hasan lidzatihi dan hasan lighairihi. tapi terdapat beberapa kitab yang di dalamnya bisa ditemukan hadits hasan. dan Shahih ibnu Khuzaimah. nabi melarang menulis hadits secara umum karena takut tercampur dengan al-Qur’an. Dan Umar ibnu Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya. dan Sunan Addaruquthni. Di antaranya adalah kitab Shahih Bukhari. ‫المراجع‬ ،‫محمد مصطفى العظمي، دراسات فى الحديث النبوي وتاريخ تدوينه، )بيروت: المكتب السلمي‬ 1980) 1415 ،‫)محمود الطحان، تيسير مصطلح الحديث، )السكندرية: مركز الهدى للدراسات‬ 1986 ،‫)ابن الصلح، علوم الحديث، )دمشق: دار الفكر للطباعة التوزيع والنثر‬ ‫)عمرو عبد المنعم سليم، تيسير علوم الحديث للمبتدئين، )طنطا: دار الضياء‬ ‫)عمرو عبد المنعم سليم، قواعد حديثية، )مكتبة العمرين العلمية‬ ‫محمد بن محمد أبو شهبة، الوسيط فى علوم ومصطلح الحديث‬ ‫)خليل إبراهيم ملخاطر، مكانة الصحيحين، )القاهرة: المطبعة العربية الحديثة، 2041 ه‬ ‫)أبو بكر كافي، منهج المام البخاري، )بيروت: دار ابن حزم للطباعة والنشر والتوزيع، 1241 ه‬ ‫)محمد عبد العزيز الخولي، تاريخ فنون الحديث النبوي، )بيروت: دار ابن كثير، 7041 ه‬ [1]Pada awalnya. nabi memerintahkan menulis hadits khusus kepada sahabat yang pandai baca tulis sehingga tidak dikhawatirkan terjadi kesalahan. Shahih ibnu Hibban.

‫. 67-87‬ ‫محمود الطحان، المرجع السابق، ص. Metode itu disebut sebagai thuruq attalaqqiy‬‬ ‫‪Pemakalah sengaja tidak membahas metode ini karena akan di bahas oleh pemakalah‬‬ ‫. 23]61[‬ ‫ابن الصلح، المرجع السابق، ص. Maka. وحكى الحافظ أبو يعلى الخليلي القزوينى نحو هذا‬ ‫عن الشالفعي وجماعة من أهل الحجاز. 21]11[‬ ‫نفس المرجع، ص. انظر: نفس المرجع، ص. menurut para ulama. إنما الشاذ أن يروي الثقة حديثا يخالف ما يروي الناس«. وكل ذلك مانع من الحكم بصحة ما وجد ذلك فيه.التوزيع والنثر، 6891(، ص. Tetapi para ulama‬‬ ‫‪hadits berpendapat bahwa Bukhari dan Muslim memiliki beberapa syarat dalam‬‬ ‫‪periwayatan hadits. yang dimaksud dengan‬‬ ‫‪syarat Bukhari dan Muslim adalah suatu hadits harus diriwayatkan dengan jalan sanad‬‬ . انظر: ابن الصلح، المرجع السابق، ص. 13]7[‬ ‫ابن الصلح، المرجع السابق، ص. الحديث الصحيح هو الحديث المسند الذى يتصل اسناده بنقل‬ ‫العدل الضابط إلى منتهاه ول يكون شاذا ول معلل. ثم قال: » الذى عليه حفاظ الحديث أن الشاذ ما ليس له إل إسناد واحد يشذ‬ ‫بذلك شيخ ثقة كان أو غير ثقة، فما كان عن غير ثقة فمتروك ل يقبل، وما كان عن ثقة يتوقف فيه ول يحتج به «. 501]01[‬ ‫نفس المرجع، ص.‪yang lain‬‬ ‫محمود الطحان، المرجع السابق، ص.‪disepakati oleh para ulama hadits. 601]21[‬ ‫نفس المرجع، ص. 11-21‬ ‫‪[6]Dalam ilmu hadits. 03. ويستعان على إدراكها]51[‬ ‫بتفر الراوى وبمخالفة غيره له مع قرائن تنضم إلى ذلك تنبه العارف بهذ الشأن على إرسال فى الموصول، أو وقف‬ ‫فى المرفوع، أو دخول حديث فى حديث، أو وهم واهم بغير ذلك، بحيث يغلب على ظنه ذلك، فيحكم به أو يتردد‬ ‫فيتوقف فيه. وقال ابن الصلح: أما ما حكم الشافعي عليه بالشذوذ فل إشكال فى أنه شاذ غير مقبول، وأما ما حكيناه عن‬ ‫غيره فيشكل بما ينفرد به العدل الحافظ الضابط كحديث : » إنما العمال بالنياة « فإنه حديث فرد تفرد به عمر رضي‬ ‫ال عنه عن رسول ال صلى ال عليه وسلم، ثم تفرد به عن عمر علمقة بن وقاص، ثم عن علمقة محمد بن إبراهيم،‬ ‫. 83]81[‬ ‫‪[19]Sebenarnya Bukhari dan Muslim tidak menjelaskan persyaratan apa saja dalam‬‬ ‫‪periwayatan haditsnya sebagai tambahan syarat-syarat hadits shahih. قارن هذا ]5[‬ ‫التعريف برأي ابن الصلح فى كتابه علوم الحديث.ويعتبر بمكانهم من الحفظ ومنزلتهم فى التقان والضبط. terdapat metode khusus untuk mendapatkan hadits yang telah‬‬ ‫.ثم عن يحيى بن سعيد على ما هو الصحيح عند أهل الحديث. Hal ini didasarkan pada penela’ahan terhadap pola periwayatan‬‬ ‫‪hadits oleh Bukhari dan Muslim.‬ ‫وذكر أنه يغاير المعلل من حيث إن المعلل وقف عل علته الدالة على جهة الوهم فيه، والشاذ لم يوقف فيه على علة‬ ‫ُ‬ ‫كذلك. 21]8[‬ ‫محمود الطحان، المرجع السابق، ص. pembagian ini menjadi cabang tersendiri dari ilmu hadits‬‬ ‫محمود الطحان، تيسير مصطلح الحديث، )السكندرية: مركز الهدى للدراسات، 5141(، ص. 13]9[‬ ‫ابن الصلح، المرجع السابق، ص. 13]41[‬ ‫ويتطرق المعلل إلى السناد الذى رجاله ثقات الجامع شروط الصحة من حيث الظاهر.‪[4]Pada akhirnya. 21 وقال الشافعي رضي ال عنه: » ليس الشاذ من الحديث ان يروي الثقة ما ل يروى]31[‬ ‫غيره. 09-19‬ ‫محمود الطحان، المرجع السابق، ص. وقال الخطيب أبو بكر: السبيل إلى معرفة علة الحديث أن يجمع بين طرقه وينظر فى اختلف رواته‬ ‫. 41]71[‬ ‫نفس المرجع، ص.‬ ‫ً‬ ‫وذكر الحاكم أبو عبد ال الحافظ أن الشاذ هو الحديث الذى يتفرد به ثقة من الثقات وليس له أصل بمتابع لذلك الثقة. وكثيرا ما يعللون الموصول بالمرسل مثل أن يجئ‬ ‫الحديث بإسناد موصول، ويجئ أيضا بإسناد منقطع أقوى من إسناد الموصول، ولهذ اشتملت كتب علل الحديث على‬ ‫جمع طرقه. انظر: ابن الصلح، علوم الحديث، )دمشق: دار الفكر للطباعة‬ ‫.

‪hidup dalam satu zaman atau generasi‬‬ ‫هذا الكتاب ترتيبه مخترع، فليس مرتبا على البواب ول على المسانيد، ولهذا أسماه “التقاسيم والنواع”]22[‬ ‫والكشف على الحديث من كتابه هذا عسر جدا، وقد رتبه بعض المتأخرين على البواب، ومصنفه متساهل فى الحكم‬ ‫على الحديث بالصحة، لكنه أقل تساهل من الحاكم. 53‬ ‫محمود الطحان، المرجع السابق، ص. sedangkan menurut Muslim tidak harus bertemu langsung tetapi cukup‬‬ ‫.com/makalah/hadits-shahih-dan-hadits-hasan-sebuah-telaah‬‬‫4‪epistemologis/#ixzz1ji7zrlF‬‬ . انظر: محمود الطحان، المرجع السابق، ص. 04]52[‬ ‫]62[‬ ‫‪Source: http://fundonesia. كما ذكر الحاديث الصحيحة عنده وإن لم تكن على شرط واحد منهما، معبرا عنها بأنها‬ ‫ّ‬ ‫صحيحة السناد، وربما ذكر بعض الحاديث التى لم تصح، لكنه نبه عليها، وهو متساهل فى التصحيح، فينبغى أن‬ ‫يتتبع ويحكم على أحاديثه بما يليق بحالها، ولقد تتبعه الذهبى وحكم على أكثر أحاديثه بما يليق بحالها، ول يزال‬ ‫ُ‬ ‫ُ‬ ‫الكتاب بحاجة إلى تتبع وعناية. انظر: محمود الطحان، المرجع السابق، ص. 13]02[‬ ‫‪[21]Persyaratan bersambungnya sanad menurut Bukhari harus bertemu langsung (murid‬‬ ‫‪dan gurunya). 53‬ ‫هو كتاب ضخم من كتب الحديث، ذكر مؤلفه فيه الحاديث الصحيحة التى على شرط الشيخين أو على شرط]32[‬ ‫أحدهما، ولم يخرجاها.‫‪dalam kitab Bukhari dan Muslim atau salah satu dari kedua kitab itu dengan‬‬ ‫‪memperhatikan bagaimana metode periwayatan sebagaimana dilakukan oleh Bukhari‬‬ ‫. 93]42[‬ ‫محمود الطحان، المرجع السابق، ص. Lihat Ibid‬‬ ‫محمود الطحان، المرجع السابق، ص.‪dan Muslim.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful