P. 1
Hadits Shahih Dan Hadits Hasan

Hadits Shahih Dan Hadits Hasan

|Views: 145|Likes:
Published by Abdullah Elwaru

More info:

Published by: Abdullah Elwaru on Jan 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/22/2014

pdf

text

original

HADITS SHAHIH DAN HADITS HASAN: Sebuah Telaah Epistemologis

By Ahmad Saifulloh On November 30, 2011 · Leave a Comment

A. LATAR BELAKANG Sebagai sumber hukum yang kedua setelah al-Qur’an, hadits memiliki sejarah penyampaian dan penulisan yang panjang. Dimulai sejak zaman Rasulullah,[1] sahabat, tabi’in, tabi’uttabi’in, dan seterusnya, telah menjadi sebuah historical account yang susah dibantah validitas dan otentisitasnya, sehingga pada gilirannya, ia menjadi disiplin ilmu sendiri. Lebih dari itu, periwayatan hadits yang sambung-menyambung sejak zaman nabi hingga tabi’uttabi’in, dengan seleksi kualitas perawinya yang ketat, menjadikannya sebagai bangunan epistemologis yang kuat dalam hazanah keilmuan dalam Islam. Namun demikian, dalam perjalanannya, seiring dengan perkembangan politik dan kekuasaan Islam, banyak perawi yang ditunggangi kepentingan politik penguasa atau golongan. Sehingga tidak sedikit yang meriwayatkan hadits palsu dengan motif tertentu. Hal ini tentu harus dipahami oleh umat Islam. Maka dari sini muncullah ilmu-ilmu lain untuk menyeleksi kualitas sebuah hadits sehingga bisa sampai pada kesimpulan apakah suatu hadits itu valid dan otentik atau sebaliknya. Secara garis besar, hadits dibagi menjadi dua yaitu mutawatir dan ahad. Pembagian hadits ini didasarkan pada kuantitas perawinya. Hadits mutawatir yang mensyaratkan jumlah rawi yang lebih dari tiga pada setiap generasi (thabaqah) sanadnya, merupakan hadits yang valid, otentik sehingga taken for granted tanpa perlu menganalisa terlebih dahulu. Hal ini tidaklah berlebihan karena dari sisi epistemologis, hadits mutawatir ini sangatlah kuat. Sementara itu, hadits ahad yang jumlah perawinya di setiap generasi adalah tiga atau kurang dari tiga, dibagi menjadi hadits masyhur, ‘aziz, dan gharib. Hadits ahad ini bisa dipilah-pilah lagi berdasarkan kekuatan dan kelemahan (baca: kualitas) perawinya menjadi hadits yang diterima (maqbul) dan hadits yang ditolak (mardud).[2] Lebih lanjut Atthahan menjelaskan bahwa hadits yang maqbul merupakan hadits yang “tarajjaha shidqu al-mukhbir bihi”, dengan kata lain perawinya adalah tsiqah, bisa dipertanggungjawabkan kapabilitas dan kredibilitasnya sebagai perawi. Sehingga melaksanakan dan menjadikan hadits tersebut sebagai hujjah adalah suatu kewajiban. Sedangkan hadits mardud berarti “ma lam yatarajjah shidqu al-mukhbir bihi”. Karena perawinya tidak tsiqah, maka hadits mardud tidak bisa dijadikan landasan sebuah hukum.[3] Hadits maqbul sendiri, berdasarkan tingkatan kekutannya, dibagi menjadi dua yaitu hadits shahih dan hadits hasan. Sedangkan berdasarkan keabsahannya untuk dipakai atau tidak, hadits maqbul dibagi menjadi hadits muhkam, mukhtalifu al-hadits, nasikh, dan mansukh.[4] Sedangkan hadits yang mardud, para ulama membaginya menjadi bagianbagian yang sangat banyak dan masing-masing memiliki nama tersendiri. Akan tetapi banyak juga ulama yang memberikan nama umum untuk hadits yang mardud yaitu hadits dza’if.

Apa syarat hadits shahih? Apa saja macam-macam hadits shahih? Bagaimana kedudukan hadits shahih? Bagaimana tingkatan hadits shahih? Apa saja kitab-kitab hadits shahih? Apa syarat hadits hasan? Apa saja macam-macam hadits hasan? Bagaimana kedudukan hadits hasan? Bagaimana tingkatan hadits hasan? 10. 3. Mengetahui apa saja syarat hadits shahih. Mengetahui macam-macam hadits hasan. B. 4. 8. 5. 6. 1. Namun dalam ilmu hadits merupakan makna majaz. Memahami kedudukan hadits shahih. Sedangkan secara epistemologis. 7. 5. Hadits Shahih 1. dari awal sanad hingga akhir sanad tanpa adanya ‘illah dan syudzud.[5] Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa hadits sahih harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: . 6. para ahli hadits rata-rata sepakat mendefinisikannya sebagai hadits yang sanadnya bersambung oleh para perawi yang ‘adil. 2. Mengetahui tingkatan hadits shahih. 3.Makalah ini akan mengkaji hadits shahih dan hadits hasan sebagai hadits yang diterima (maqbul) dari sudut pandang epistemologis. Apa saja kitab-kitab hadits hasan? C. Mengetahui apa saja syarat hadits hasan. pemakalah mengajukan rumusan masalah sebagai berikut: 1. 9. 2. Mengetahui macam-macam hadits shahih. 9. D. TUJUAN PEMBAHASAN Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Memahami kedudukan hadits hasan. PEMBAHASAN 1. Pengertian dan Syarat Hadits Shahih Secara etimologis. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas. 8. 7. 4. Ini berarti makna sebenarnya yang biasa dipakai untuk badan. shahih berarti lawan dari sakit. dzabith. Mengetahui macam-macam kitab hadits shahih. Mengetahui macam-macam kitab hadits hasan. 10. Mengetahui tingkatan hadits hasan.

Namun demikian. berakal.[8] Seluruh perawinya harus adil. Implikasinya. Yang dimaksud dengan syudud adalah adanya pertentangan dengan perawi yang lebih kuat ketsiqahannya. Dari penjelasan di atas. sehingga pengetahuan tentang illah ini menjadi salah satu cabang ilmu hadits yang paling pelik. tetap saja ia memiliki tingkatan-tingkatan berdasarkan kekuatan sanadnya.Sanadnya harus bersambung dari Rasulullah hingga mukharrijnya. Tidak berhenti sampai di situ. Implikasinya.[13] Tidak terdapat ‘illah di dalamnya. dan tidak boleh juga terlalu bermudah-mudah dalam proses tahammul dan ada’. Lebih dari itu. Yang dimaksud dengan hadits shahih lidzatihi adalah hadits yang karena keadaan dirinya sendiri telah memenuhi sepenuhnya lima syarat hadits shahih . Hal ini berarti bahwa setiap perawi telah mendapatkan hadits tersebut secara langsung[6] dari perawi pada generasi sanad di atasnya.[14] Menurut Ibnu Shalah. atau dengan kata lain mereka sering memberikan pujian/penilaian yang baik kepada perawi tersebut. mu’dhol. padahal secara dzahir. maka secara otomatis perawi yang demikian itu adalah adil. Yang dimaksud dengan ‘illah adalah sebab tersembunyi yang mengakibatkan suatu hadits berkurang kebenarannya. tidak bisa disebut sebagai hadits shahih. hadits yang sanadnya terpotong seperti hadits mursal. dan memiliki akhlak yang terpuji.[15] Diperlukan keahlian khusus. paling utama dan paling mulia. dzabith berarti seluruh perawi dalam sebuah silsilah sanad hafal hadits yang diterima dengan hafalan yang kuat baik itu berupa hafalan dalam kepalanya atau dalam kitabnya. tidak fasiq.[10] Seluruh perawinya harus dzabith. mudallas. maka perawi tersebut dianggap dzabith.[7] Dan pola seperti ini berlaku dari awal sanad hingga akhir sanad. Macam-Macam Hadits Shahih Hadits shahih dibagi menjadi dua macam.[11] Kedzabithan seorang perawi hadits bisa diketahui dengan cara membandingkan hadits yang ia riwayatkan dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh perawi yang terkenal ketsiqahan dan kedzabithannya. Sedangkan perawi yang adil saja atau dzabith saja belum disebut sebagai perawi yang tsiqah. secara epistemologis dapat disimpulkan bahwa hadits shahih yang valid dan otentik benar-benar bisa menyampaikan sebuah kebenaran yang dibawa Rasulullah. Kalau hadits tersebut ternyata sebagian besar sesuai (meskipun dalam segi makna saja) dengan hadits para perawi yang terkenal tsiqah dan dzabit. Karena jika riwayat tersebut bertentangan dengan perawi yang lebih utama darinya dari sisi kekuatan hafalan dan kuantitas hadits yang diriwayatkan. dan mursal khofi). silsilah sanad dalam tradisi periwayatan hadits menjadi bangunan ilmu yang tidak pernah dijumpai pada tradisi keilmuan peradaban manapun.[12] Menurut para ahli hadits. yaitu hadits shahih lidzatihi dan hadits shahih lighairihi. perawi tersebut juga mampu menghadirkan hafalannya manakala diperlukan. hadits tersebut wajib untuk diterima dan diamalkan. hadits tersebut shahih. Adil di sini berarti para perawi dalam setiap generasi sanad adalah seorang muslim. munqoti’ (mu’allaq. Dari sini bisa dipahami bahwa perawi tidak boleh lupa/lengah dengan hafalannya. Secara epistemologis.[9] Menurut Ibnu Shalah. keadilan seorang perawi bisa diterima jika telah dinilai oleh minimal dua peneliti para perawi. gabungan antara sifat adil dan dzabith ini disebut sebagai tsiqah atau tsabat. mengetahui ‘illah bukanlah perkara yang mudah. baligh. Bisa juga jika keadilan perawi tersebut telah diamini oleh para peneliti. 1. maka berarti terdapat keragu-raguan dalam hadits yang diriwayatkan. Tidak terdapat syudzud di dalam riwayat hadits tersebut.

dapat diambil kesimpulan bahwa hadits shahih dibagi menjadi tujuh tingkatan: Hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. maka kualitas hadits tersebut meningkat menjadi shahih lighairihi. tidak bisa dihukumi secara mutlak bahwa hadits tersebut adalah bohong/palsu karena bisa saja perawi yang tidak memenuhi persyaratan di atas meriwayatkan hadits yang shahih. Tingkatan yang paling tinggi adalah hadits shahih yang diriwayatkan dengan sanad yang paling shahih. Tetapi. dan jika melihat pola sanad dari kitab-kitab hadits. Hadits yang disepakati/diriwayatkan oleh Bukhari saja.sebagaimana dijelaskan di atas. Tingkatan berikutnya adalah hadits shahih yang perawinya di bawah tingkatan sebelumnya secara kualitas.[17] Maka cukup dikatakan bahwa hadits tersebut tidak memenuhi persyaratan shahih seperti yang dijelaskan di atas. Hadits yang diriwayatkan sesuai dengan syarat Bukhari dan belum dimasukkan dalam kitabnya. Tingkatan Hadits Shahih Banyak ulama telah menyebutkan dan menjelaskan silsilah sanad yang paling shahih. jika terdapat pernyataan. dan tidak diperkenankan bagi seorang muslim untuk meninggalkannya. Tingkatan berikutnya adalah hadits shahih yang sanadnya/perawinya secara kualitas di bawah sanad yang paling shahih. Dari sini bisa ditarik kesimpulan tingkatan hadits shahih. Sedangkan yang dimaksud dengan hadits shahih lighairihi adalah hadits yang pada dirinya sendiri belum mencapai tingkatan shahih. Misalnya.[18] Berdasarkan tingkatan silsilah sanad yang dikemukakan para ulama. lalu ada petunjuk atau dalil lain yang menguatkannya. Hal ini disebabkan karena para ahli hadits sangat teliti dan berhati-hati dalam menilai sebuah hadits. menurut Ibnu Shalah. atau sebuah hadits hasan lidzatihi kemudian terdapat ayat al-Qur’an yang bersesuaian dengan hadits tersebut. . mengandung arti bahwa hadits tersebut belum memenuhi syarat-syarat hadits shahih di atas baik seluruhnya atau sebagian saja. Kedudukan Hadits Shahih Para ahli hadits sepakat bahwa hadits shahih wajib untuk diterima. misalnya hanya berkualitas hasan lidzatihi. Sebaliknya. seperti riwayat Suhail ibnu Abi Shalih dari ayahnya dan Abi Hurairah. Hadits yang diriwayatkan sesuai dengan syarat[19] Bukhari dan Muslim tapi belum dimasukkan dalam kedua kitab beliau.[16] Jika terdapat sebuah statemen bahwa ini adalah hadits shahih maka artinya. Hadits yang diriwayatkan sesuai dengan syarat Muslim dan belum dimasukkan dalam kitabnya. seperti riwayat Hamad ibnu Salamah dari Tsabit dari Anas. Hadits yang disepakati/diriwayatkan oleh Muslim saja. 1. Para ulama ushul fiqh dan fiqh juga sepakat bahwa hadits shahih bisa dijadikan landasan hukum Islam. 1. “ini adalah hadits tidak shahih”. dua buah hadits yang semakna dan sama-sama berkualitas hasan lidzatihi. seperti Malik dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar. hadits tersebut sanadnya bersambung dengan sifat-sifat perawi seperti yang telah dijelaskan di atas.

Hadits Hasan 1. Di antara pengertian hadits hasan secara epistemologis adalah seperti yang diungkapkan oleh al-Khattabi. Buku-Buku Kumpulan Hadits Shahih Kitab pertama yang merupakan kumpulan hadits shahih adalah Shahih Bukhari. Menurut Tirmidzi. Dalam hadits tersebut tidak terdapat illah. hadits hasan adalah hadits yang diriwayatkan oleh para perawi yang tidak ada dalam sanadnya perawi yang dituduh suka berbohong. Perlu dicatat di sini bahwa hadits shahih yang tidak terdapat pada kitab shahih bukhari dan shahih muslim jumlahnya lebih banyak. hadits hasan adalah hadits yang bersambung sanadnya oleh perawi yang adil tapi tingkat kedhabithannya rendah. perawinya masyhur. Menurutnya. Sedangkan menurut Ibnu Hajar. Pengertian menurut Ibnu Hajar inilah yang dianggap sebagian besar ulama sebagai pengertian yang lebih pas. Hadits-hadits tersebut bisa ditemukan pada kitab-kitab lain yang mu’tamad dan masyhur seperti Shahih Ibnu Khuzaimah.[20] Namun para ulama berpendapat bahwa kitab shahih bukhari lebih kuat dari shahih muslim karena hadits bukhari lebih kuat jika ditinjau dari ketersambungan sanad[21] dan kualitas perawinya. Shahih Ibnu Hibban. tidak mengandung illah dan syududz. jumlah hadits shahih bukhari juga lebih banyak dari shahih muslim. 1. dan para ulama telah bersepakat untuk menerimanya. kemudian Shahih Muslim. Namun artinya secara epistemologis sangat banyak sekali. dan lain sebagainya. hadits hasan adalah hadits yang diketahui asalnya (sanadnya).[22] Mustadrak al-Hakim. diterima oleh sebagian besar ulama dan para ahli fiqih juga memakainya. Perawinya adalah adil.[23] Sunan al-Arba’ah. Hadits tersebut tidak syadz atau tidak bertentangan dengan riwayat perawi lain yang lebih tsiqah.Hadits yang shahih menurut pandangan selain Bukhari dan Muslim seperti Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban yang tidak memenuhi persyaratan Bukhari dan Muslim. 2. Hal ini dikarenakan posisinya yang berada di antara hadits shahih dan hadits dho’if. hasan diambil dari kata al-husnu yang artinya keindahan. dan diriwayatkan pula melalui jalan yang lain. 1. Dua kitab ini adalah kitab yang paling shahih setelah alQur’an. Pengertian dan Kriteria Hadits Hasan Secara etimologis.[24] Berdasarkan pengertian di atas. . dapat disimpulkan bahwa kriteria hadits hasan adalah sebagai berikut: Sanad hadits tersebut harus bersambung. Lebih dari itu. Sunan Addaruquthni. Perawinya memiliki sifat dhabith namun kualitasnya lebih rendah dari perawi hadits shahih. Sunan Baihaqi. matannya tidak syadz.

dan lain sebagainya. meskipun awalnya dha’if. atau terdapat perawi yang kurang pandai.[25] Alasan para ulama adalah perawi hadits hasan kebanyakan telah diketahui kejujurannya. Oleh karena itu. Karena. para ahli fiqh memakainya sebagai landasan hukum sebagaimana para ulama hadits dan ushul. Tingkatan yang kedua adalah hadits yang di dalamnya terdapat perselisihan pendapat para ulama apakah ia termasuk hadits shahih atau hadits hasan. Sebab kelemahan hadits tersebut adalah rendahnya kualitas hafalan perawinya atau sanadnya yang terputus. 1. Dari sini bisa dilihat bahwa hadits dha’if dapat meningkat derajatnya menjadi hasan lighairihi jika: Hadits tersebut diriwayatkan dari jalan sanad yang lain yang memiliki kekuatan sama atau lebih. Macam-Macam Hadits Hasan Hadits hasan terbagi menjadi dua macam. dalam hadits hasan juga terdapat tingkatan-tingkatan. Sebaliknya. Dan jika dipadukan dengan sanad yang lain. Di samping itu. namun menjadi sempurna dan lebih kuat dengan diriwayatkannya hadits tersebut dari jalan yang lain. Kedudukan Hadits Hasan Dalam konteks dalil hukum Islam. Yang dimaksud dengan hasan lidzatihi adalah hadits yang karena keadaan dirinya sendiri telah memenuhi lima kriteria seperti yang dijelaskan di atas. Tingkatan Hadits Hasan Sebagaimana hadits shahih. dan Hajaj ibnu Arthoah. Rendahnya tingkat kedhabitan tidak mengeluarkan mereka dari golongan perawi yang mampu menyampaikan hadits sama ketika mereka mendapatkannya. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Harits ibnu Abdillah. Dengan demikian. hasan lidzatihi dan hasan lighairihi.1. Jadi. hadits hasan lighairihi juga dapat dijadikan hujjah dan dapat diamalkan. 1. Tingkatan yang paling tinggi adalah hadits yang sanadnya dari: Bahzu ibnu Hakim dari ayahnya dari kakeknya. golongan yang sangat berkompromi terhadap istinbath hukm. Umar ibnu Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya. . terdapat dua tingkatan dalam hadits hasan. Hal ini juga berlaku untuk hadits hasan lighairihi. kehasanannya bukan karena petunjuk atau penguat dari hadits yang lain. kerendahan tingkat kedhabithan seorang rawi menjadi meaningless di sini. memasukkan hadits hasan bagian dari hadits shahih. Menurut Dzahabi. maka terlihat potensi bahwa perawi yang kedhabithannya rendah mampu merekam dan menyampaikan hadits dengan benar. Di antaranya adalah Hakim ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. Ibnu Ishak dari Attaimi. dan sebab kelemahan hadits tersebut bukan karena perawinya fasik atau pembohong. dan ‘Ashim ibnu Dhomroh. kedudukan hadits hasan seperti hadits shahih meskipun kekuatannya di bawah hadits shahih. kecuali golongan yang sangat ketat dalam memakai hadits sebagai landasan hukum Islam. Sedangkan yang dimaksud dengan hasan lighairihi adalah hadits dha’if yang jalan periwayatannya banyak. hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits lain. Menurut jumhur ulama dari kalangan ahli hadits.

Di dalamnya juga banyak dijumpai haditshadits hasan. Seperti. Tirmidzi juga memiliki istilah khusus yaitu hadits hasan shahih. perawinya adil dan dhabith). dan tidak juga terdapat syudzud. Syarat-syarat hadits shahih ada lima. Namun para ulama hadits telah menjelaskan maksud dari istilah ini dengan penjelasan yang sangat beragam. dan shahih jika dilihat dari isnad yang kedua. yaitu. Menurutnya. sanadnya harus bersambung. Kitab yang kedua adalah Sunan Abi Dawud. yang dimaksud dengan hadits hasan shahih adalah hadits yang memiliki dua isnad atau lebih yang artinya hadits tersebut hasan jika dilihat dari isnad yang pertama. Selama dalam suatu hadits ia tidak menyebutkan kelemahan yang besar. E. Yang bisa dijadikan sandaran adalah pendapatnya Hafidz ibnu Hajar yang disepakati juga oleh Suyuthi. Yang dimaksud dengan hadits shahih al-isnad adalah hadits yang memenuhi tiga persyaratan shahih (sanadnya bersambung.[26] Sementara iut. hadits shahih lidzatihi dan hadits shahih lighairihi. shahih bukhari. shahih berdasarkan persyaratan muslim. oleh karena itu ia termasuk hadits maqbul. Dalam kitabnya ia mengatakan kepada orang-orang Makkah bahwa ia telah menyebutkan hadits-hadits shahih dan hadits yang mendekati shahih. hadits shahih terbagi menjadi beberapa tingkatan. Tetapi harus diingat bahwa dalam bukunya terdapat istilah ‘hasan shahih’ yang memiliki makna seperti dijelaskan di atas. perawinya harus adil. penulis dapat menyampaikan kesimpulan sebagai berikut: 1. dan para ulama belum menganggap hadits tersebuth shahih. Hadits shahih terbagi menjadi dua macam. Yang paling tinggi adalah shahih bukhari dan muslim. Kitab-Kitab Kumpulan Hadits Hasan Para ulama pada umumnya tidak ada yang mengarang buku khusus di dalamnya hadits hasan sebagaimana terjadi pada hadits shahih. yaitu. dan shahih bagi kaum yang lain. Yang secara epistemologis bisa dijadikan landasan hukum Islam dan wajib diamalkan. Jami’u Attirmidzi yang lebih dikenal dengan Sunan Attirmidzi. Tetapi terdapat kitab yang di dalamnya banyak dijumpai hadits hasan. Atau bisa juga hadits yang memiliki satu isnad yang menurut sebagian kaum hadits tersebut hasan. maka berarti hadits itu adalah hasan menurut Abu Dawud.Di kalangan ulama hadits sendiri terdapat beberapa istilah yang harus diperhatikan. Di antara kitab tersebut adalah. shahih muslim. dan hadits shahih . Ditinjau dari kekuatannya. tidak terdapat ‘illah di dalamnya. Kitab ketiga adalah Sunan Addaruquthni. 4. karena bagaimana mungkin dua hal yang berbeda (shahih dan hasan) digabung menjadi satu. PENUTUP Berdasarkan pembahasan di atas. dhabith. tetapi hadits tersebut belum bebas dari illah atau syadz. hadits shahih al-isnad yang tentu saja berbeda dengan hadits shahih. istilah ini tentu saja problematis. shahih berdasarkan persyaratan bukhari. 1. 3. Secara etimologis. shahih berdasarkan persyaratan bukhari muslim. Hadits shahih adalah hadits yang sangat kuat secara sanad dan matan. 2.[27] Dari sini bisa disimpulkan bahwa sepertinya Tirmidzi ingin menunjukkan kepada kita adanya perselisihan atau khilaf dalam hukum hadits tersebut.

‫محمود الطحان، تيسير مصطلح الحديث، )السكندرية: مركز الهدى للدراسات، 5141(، ص‬ [3]‫نفس المرجع‬ . nabi memerintahkan menulis hadits khusus kepada sahabat yang pandai baca tulis sehingga tidak dikhawatirkan terjadi kesalahan. Suatu hadits disebut hasan jika ia memenuhi persyaratan hadits shahih tetapi diriwayatkan oleh perawi yang tingkat kedhabithannya rendah. tapi terdapat beberapa kitab yang di dalamnya bisa ditemukan hadits hasan.5. yang tidak memenuhi persyaratan keduanya. Sunan Abi Dawud. Di antaranya adalah kitab Shahih Bukhari. dan Sunan Addaruquthni. dan Shahih ibnu Khuzaimah. Dan Umar ibnu Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya. dan ulama hadits sepakat untuk menerima hadits hasan sebagai dalil dalam istinbath hukm. Serta Ibnu Ishak dari Attaimi. Tidak terdapat kitab khusus yang merupakan kumpulan hadits hasan. Namun kemudian. 10. 7. Shahih ibnu Hibban. Terdapat banyak sekali kitab-kitab yang merupakan kumpulan hadits shahih. Perintah itu juga kepada sahabat yang kuat hafalannya sehingga tidak dikhawatirkan bercampur dengan al-Qur’an. 8. Para ulama fiqh. 6. Lihat: . Mustadrak al-Hakim. 9. Saat itu aktivitas penulisan difokuskan pada al-Qur’an. Shahih Muslim. Tingkatan yang paling tinggi adalah hadits yang sanadnya dari: Bahzu ibnu Hakim dari ayahnya dari kakeknya. Di antaranya adalah Sunan Attirmidzi. ushul fiqh. nabi melarang menulis hadits secara umum karena takut tercampur dengan al-Qur’an. Terdapat dua jenis hadits hasan yaitu hasan lidzatihi dan hasan lighairihi. ‫المراجع‬ ،‫محمد مصطفى العظمي، دراسات فى الحديث النبوي وتاريخ تدوينه، )بيروت: المكتب السلمي‬ 1980) 1415 ،‫)محمود الطحان، تيسير مصطلح الحديث، )السكندرية: مركز الهدى للدراسات‬ 1986 ،‫)ابن الصلح، علوم الحديث، )دمشق: دار الفكر للطباعة التوزيع والنثر‬ ‫)عمرو عبد المنعم سليم، تيسير علوم الحديث للمبتدئين، )طنطا: دار الضياء‬ ‫)عمرو عبد المنعم سليم، قواعد حديثية، )مكتبة العمرين العلمية‬ ‫محمد بن محمد أبو شهبة، الوسيط فى علوم ومصطلح الحديث‬ ‫)خليل إبراهيم ملخاطر، مكانة الصحيحين، )القاهرة: المطبعة العربية الحديثة، 2041 ه‬ ‫)أبو بكر كافي، منهج المام البخاري، )بيروت: دار ابن حزم للطباعة والنشر والتوزيع، 1241 ه‬ ‫)محمد عبد العزيز الخولي، تاريخ فنون الحديث النبوي، )بيروت: دار ابن كثير، 7041 ه‬ [1]Pada awalnya. sperti shahih menurut ibnu khuzaimah dan ibnu Hibban. Terdapat dua tingkatan hadits hasan.‫محمد مصطفى العظمي، دراسات فى الحديث النبوي وتاريخ تدوينه، )بيروت: المكتب السلمي، 0891(، ص‬ 83 [2]29 .

09-19‬ ‫محمود الطحان، المرجع السابق، ص.ثم عن يحيى بن سعيد على ما هو الصحيح عند أهل الحديث. menurut para ulama. وحكى الحافظ أبو يعلى الخليلي القزوينى نحو هذا‬ ‫عن الشالفعي وجماعة من أهل الحجاز.‬ ‫ً‬ ‫وذكر الحاكم أبو عبد ال الحافظ أن الشاذ هو الحديث الذى يتفرد به ثقة من الثقات وليس له أصل بمتابع لذلك الثقة. 11-21‬ ‫‪[6]Dalam ilmu hadits. yang dimaksud dengan‬‬ ‫‪syarat Bukhari dan Muslim adalah suatu hadits harus diriwayatkan dengan jalan sanad‬‬ .‪yang lain‬‬ ‫محمود الطحان، المرجع السابق، ص. Tetapi para ulama‬‬ ‫‪hadits berpendapat bahwa Bukhari dan Muslim memiliki beberapa syarat dalam‬‬ ‫‪periwayatan hadits. pembagian ini menjadi cabang tersendiri dari ilmu hadits‬‬ ‫محمود الطحان، تيسير مصطلح الحديث، )السكندرية: مركز الهدى للدراسات، 5141(، ص.‪disepakati oleh para ulama hadits.ويعتبر بمكانهم من الحفظ ومنزلتهم فى التقان والضبط. Hal ini didasarkan pada penela’ahan terhadap pola periwayatan‬‬ ‫‪hadits oleh Bukhari dan Muslim.‬ ‫وذكر أنه يغاير المعلل من حيث إن المعلل وقف عل علته الدالة على جهة الوهم فيه، والشاذ لم يوقف فيه على علة‬ ‫ُ‬ ‫كذلك. 21 وقال الشافعي رضي ال عنه: » ليس الشاذ من الحديث ان يروي الثقة ما ل يروى]31[‬ ‫غيره. 13]9[‬ ‫ابن الصلح، المرجع السابق، ص. انظر: نفس المرجع، ص. 03. 21]8[‬ ‫محمود الطحان، المرجع السابق، ص. وكثيرا ما يعللون الموصول بالمرسل مثل أن يجئ‬ ‫الحديث بإسناد موصول، ويجئ أيضا بإسناد منقطع أقوى من إسناد الموصول، ولهذ اشتملت كتب علل الحديث على‬ ‫جمع طرقه. Maka. 13]41[‬ ‫ويتطرق المعلل إلى السناد الذى رجاله ثقات الجامع شروط الصحة من حيث الظاهر. قارن هذا ]5[‬ ‫التعريف برأي ابن الصلح فى كتابه علوم الحديث. ثم قال: » الذى عليه حفاظ الحديث أن الشاذ ما ليس له إل إسناد واحد يشذ‬ ‫بذلك شيخ ثقة كان أو غير ثقة، فما كان عن غير ثقة فمتروك ل يقبل، وما كان عن ثقة يتوقف فيه ول يحتج به «. وقال ابن الصلح: أما ما حكم الشافعي عليه بالشذوذ فل إشكال فى أنه شاذ غير مقبول، وأما ما حكيناه عن‬ ‫غيره فيشكل بما ينفرد به العدل الحافظ الضابط كحديث : » إنما العمال بالنياة « فإنه حديث فرد تفرد به عمر رضي‬ ‫ال عنه عن رسول ال صلى ال عليه وسلم، ثم تفرد به عن عمر علمقة بن وقاص، ثم عن علمقة محمد بن إبراهيم،‬ ‫. Metode itu disebut sebagai thuruq attalaqqiy‬‬ ‫‪Pemakalah sengaja tidak membahas metode ini karena akan di bahas oleh pemakalah‬‬ ‫. 501]01[‬ ‫نفس المرجع، ص. وكل ذلك مانع من الحكم بصحة ما وجد ذلك فيه. 41]71[‬ ‫نفس المرجع، ص. انظر: ابن الصلح، المرجع السابق، ص. terdapat metode khusus untuk mendapatkan hadits yang telah‬‬ ‫. 23]61[‬ ‫ابن الصلح، المرجع السابق، ص. الحديث الصحيح هو الحديث المسند الذى يتصل اسناده بنقل‬ ‫العدل الضابط إلى منتهاه ول يكون شاذا ول معلل. انظر: ابن الصلح، علوم الحديث، )دمشق: دار الفكر للطباعة‬ ‫. 83]81[‬ ‫‪[19]Sebenarnya Bukhari dan Muslim tidak menjelaskan persyaratan apa saja dalam‬‬ ‫‪periwayatan haditsnya sebagai tambahan syarat-syarat hadits shahih.التوزيع والنثر، 6891(، ص.‫. 601]21[‬ ‫نفس المرجع، ص. ويستعان على إدراكها]51[‬ ‫بتفر الراوى وبمخالفة غيره له مع قرائن تنضم إلى ذلك تنبه العارف بهذ الشأن على إرسال فى الموصول، أو وقف‬ ‫فى المرفوع، أو دخول حديث فى حديث، أو وهم واهم بغير ذلك، بحيث يغلب على ظنه ذلك، فيحكم به أو يتردد‬ ‫فيتوقف فيه. إنما الشاذ أن يروي الثقة حديثا يخالف ما يروي الناس«. 67-87‬ ‫محمود الطحان، المرجع السابق، ص. 13]7[‬ ‫ابن الصلح، المرجع السابق، ص. وقال الخطيب أبو بكر: السبيل إلى معرفة علة الحديث أن يجمع بين طرقه وينظر فى اختلف رواته‬ ‫.‪[4]Pada akhirnya. 21]11[‬ ‫نفس المرجع، ص.

93]42[‬ ‫محمود الطحان، المرجع السابق، ص. 53‬ ‫هو كتاب ضخم من كتب الحديث، ذكر مؤلفه فيه الحاديث الصحيحة التى على شرط الشيخين أو على شرط]32[‬ ‫أحدهما، ولم يخرجاها. كما ذكر الحاديث الصحيحة عنده وإن لم تكن على شرط واحد منهما، معبرا عنها بأنها‬ ‫ّ‬ ‫صحيحة السناد، وربما ذكر بعض الحاديث التى لم تصح، لكنه نبه عليها، وهو متساهل فى التصحيح، فينبغى أن‬ ‫يتتبع ويحكم على أحاديثه بما يليق بحالها، ولقد تتبعه الذهبى وحكم على أكثر أحاديثه بما يليق بحالها، ول يزال‬ ‫ُ‬ ‫ُ‬ ‫الكتاب بحاجة إلى تتبع وعناية.‪hidup dalam satu zaman atau generasi‬‬ ‫هذا الكتاب ترتيبه مخترع، فليس مرتبا على البواب ول على المسانيد، ولهذا أسماه “التقاسيم والنواع”]22[‬ ‫والكشف على الحديث من كتابه هذا عسر جدا، وقد رتبه بعض المتأخرين على البواب، ومصنفه متساهل فى الحكم‬ ‫على الحديث بالصحة، لكنه أقل تساهل من الحاكم. 13]02[‬ ‫‪[21]Persyaratan bersambungnya sanad menurut Bukhari harus bertemu langsung (murid‬‬ ‫‪dan gurunya). انظر: محمود الطحان، المرجع السابق، ص. 04]52[‬ ‫]62[‬ ‫‪Source: http://fundonesia. Lihat Ibid‬‬ ‫محمود الطحان، المرجع السابق، ص. sedangkan menurut Muslim tidak harus bertemu langsung tetapi cukup‬‬ ‫.com/makalah/hadits-shahih-dan-hadits-hasan-sebuah-telaah‬‬‫4‪epistemologis/#ixzz1ji7zrlF‬‬ . 53‬ ‫محمود الطحان، المرجع السابق، ص. انظر: محمود الطحان، المرجع السابق، ص.‫‪dalam kitab Bukhari dan Muslim atau salah satu dari kedua kitab itu dengan‬‬ ‫‪memperhatikan bagaimana metode periwayatan sebagaimana dilakukan oleh Bukhari‬‬ ‫.‪dan Muslim.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->