P. 1
PPNS

PPNS

|Views: 1,074|Likes:
Published by Juli Pluvm

More info:

Published by: Juli Pluvm on Jan 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/22/2013

pdf

text

original

PELAKSANAAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA YANG MENJADI OTORITAS PPNS DIKAITKAN DENGAN KUHAP

I. PENDAHULUAN Pada tanggal Indonesia Undang 31 Desember 1981 Pemerintah Republik

mensahkan Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1981 Hukum Acara Pidana atau KUHAP. Pada awal

tentang Hukum Acara Pidana yang juga disebut dengan Kitab Undangdimunculkannya KUHAP, bangsa Indonesia sangat bangga atas terciptanya karya kodifikasi dan unifikasi hukum acara pidana nasional tersebut. Terlebih dengan kelebihan-kelebihan yang bersifat mendasar dibandingkan dengan HIR (Het Herziene Inlandsch Reglement) yang berlaku sebelumnya, kehadiran KUHAP telah memberikan harapan besar bagi terwujudnya penegakan hukum pidana yang lebih efektif, adil dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, sehingga tidak heran jika pada awal-awal diberlakukannya, KUHAP disebutsebut dikalangan pemerhati hukum sebagai “Karya Agung” bangsa Indonesia. Apapun sebutannya, setelah KUHAP diberlakukan selama kurun waktu 30 tahun, ternyata semakin menampakkan adanya keterbatasan. Harapan-harapan terhadap KUHAP telah berubah menjadi pertanyaan-pertanyaan setelah pada kenyataannya masih saja terjadi pelanggaran hak asasi manusia pada proses peradilan pidana. Di sisi lain ternyata KUHAP masih saja menampakkan peluang-peluang hukumnya. Undang-undang Nomor 8 tahun 1981 (KUHAP) memberikan peran utama kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk untuk ditafsirkan sekehendak pihak yang berkepentingan sehingga justru semakin kehilangan aspek kepastian

1

melaksanakan tugas penyelidikan dan penyidikan tindak pidana (secara umum) tanpa batasan lingkungan kuasa soal-soal sepanjang masih termasuk dalam lingkup hukum publik, sehingga pada dasarnya Polri oleh KUHAP diberi kewenangan untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana. Namun demikian, KUHAP masih memberikan kewenangan kepada ”pejabat pegawai negeri sipil tertentu” untuk melakukan penyidikan sesuai dengan wewenang khusus yang diberikan oleh undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing. Dalam ketentuan peralihan KUHAP Pasal 284 ayat (2) dijelaskan bahwa ”dalam waktu dua tahun setelah diundangkan, maka terhadap semua perkara diberlakukan ketentuan undang-undang ini, dengan pengecualian untuk sementara mengenai ketentuan khusus acara pidana sebagaimana tersebut pada undang-undang tertentu, sampai ada perubahan dan atau dinyatakan tidak berlaku lagi”. Dalam kenyataannya berdasarkan fakta sejarah terlihat bahwa bangsa ini tidak konsisten dengan pernyataan yang terdapat dalam aturan peralihan KUHAP tersebut. Hal ini terbukti dengan terbitnya beberapa undang-undang baru yang secara eksplisit sepertinya dapat dikatakan ”mengebiri” kewenangan Polri dalam melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sebagaimana diamanatkan oleh KUHAP. Beberapa undang-undang seperti undang-undang kepabeanan, undang-undang perikanan, dan lain sebagainya yang memberikan kewenangan kepada penyidik pegawai negeri sipil sekaligus ”membatasi” Polri dalam melakukan penyidikan suatu tindak pidana tertentu. Perkembangan lebih lanjut apabila mencermati draft RUU tentang KUHAP yang disusun oleh Kelompok Kerja (Pokja) Nasional RUU tentang KUHAP yang diketuai oleh Prof. Dr. ANDI HAMZAH,

2

S. peran Penyidik Polri sebagai Korwas PPNS malah cenderung ditiadakan. dengan fasilitas. Peran Penyidik Polri sebagai Korwas PPNS hendaknya tetap diefektifkan. Sudah terdapat wacana yang menyebutkan agar PPNS bisa langsung menyerahkan ke penuntut umum tanpa melalui Polisi dengan alasan mempersingkat waktu. seperti. dan kejahatan Hak atas Kekayaan Intelektual. Permasalahan yang kerapkali muncul seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kehadiran berbagai jenis kejahatan yang berbasis teknologi informasi. Upaya mengantisipasi yang dan dilakukan pembuat undang-undang yang dalam menanggulangi kejahatan cenderung meningkat baik secara kuantitas maupun kualitas adalah menyusun peraturan perundang-undangan yang memberikan kewenangan pada institusi lain. Era globalisasi yang ditandai dengan meningkatnya komunikasi dan interaksi antar individu menyebabkan potensi terjadinya beragam permasalahan antar individu atau kelompok masyarakat. untuk terlibat dalam proses penyidikan. dan mobilitas yang lebih lengkap) dengan PPNS yang memiliki kemampuan teknis di bidang khusus. Draft RUU tentang KUHAP yang disusun oleh Pokja Nasional jika diterapkan. di luar Polri. sarana penyedilikan.H. melainkan demi sinergi antara Polri yang memiliki kemampuan penyidik umum ( kesiapan personel di seluruh Indonesia. pencucian uang (money laundering). 3 . cyber crime. akan menghadapi banyak kendala dalam penerapannya sehingga justru akan menghambat pelaksanaan Hukum Acara Pidana yang sejauh ini sudah semakin mapan dan cukup representatif dalam upaya perlindungan HAM. mengingat bahwa hakikat Korwas PPNS bukan berarti Polri selalu super di atas PPNS.

tepat dan bermuara pada terungkapnya suatu peristiwa tindak pidana. proses penyidikan dapat diperiksa dan diselesaikan secara cepat. pejabat polisi Negara Republik Indonesia b. Munculnya PPNS sebagai institusi di luar Polri untuk membantu tugas-tugas kepolisian dalam melakukan penyidikan dengan tegas diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia yang menjelaskan bahwa: “Penyidik pegawai negeri sipil adalah pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang berdasarkan peraturan perundang-undangan ditunjuk selaku penyidik dan mempunyai wewenang untuk melakukan 4 .Harapannya. Pasal 7 angka 2 KUHAP diatur: “Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada dibawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a”. (2) Syarat kepangkatan pejabat sebaimana dimaksud dalam ayat (1) akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah”. Pasal 6 KUHAP diatur : “ (1) Penyidik adalah : a. Adapun institusi sipil yang diberi wewenang untuk melakukan penyidikan suatu kasus pidana adalah Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). Undang-undang No.

sehingga melalui uraian singkat ini saya bermaksud untuk menyampaikan sedikit pemikiran terkait kedudukan PPNS dalam proses penegakan hukum di Indonesia. Tujuan yang hendak dicapai melalui tulisan ini tidak lebih dari upaya menempatkan masing-masing lembaga penyidik sesuai dengan kedudukannya masing-masing sebagaimana arahan undangundang. Upaya melepaskan kedudukan PPNS di bawah koordinasi aparat kepolisian tentunya memiliki dampak yang sangat luas terhadap sistem penegakan hukum di Indonesia. tidak jarang muncul tumpang tindih kewenangan antara PPNS dan aparat Polri. Hingga kini DKI Jaya adalah satu-satunya Pemda yang memiliki PPNS pada lembaga kedinasannya. sehingga tidak dapat disangkal lagi kendali atas proses penyidikan tetap ada pada aparat kepolisian. Dari kedua undang-undang tersebut tampak jelas bahwa eksistensi PPNS dalam proses penyidikan ada pada tataran membantu. Saat ini peran PPNS ingin diperluas lagi agar daerahpun dapat memiliki PPNS untuk menegakkan Perda. akibatnya dalam praktik penegakan hukum. sehingga menjadi hal yang kontra produktif apabila muncul pandangan bahwa PPNS dapat berjalan sendiri dalam melakukan penyidikan tanpa perlu koordinasi dengan penyidik utama yaitu Polri. Upaya mendudukan PPNS sebagai lembaga mandiri dalam melakukan penyidikan suatu tindak pidana tampaknya bukan lagi sekedar wacana namun sudah mengarah pada upaya pelembagaan. sehingga dikemudian hari tidak lagi muncul tarik menarik 5 .penyidikan tindak pidana dalam lingkup undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing”. mengingat kedudukan institusi Polri sebagai kordinator pengawas (Korwas).

DASAR HUKUM KEWENANGAN PPNS DALAM MELAKUKAN PENYIDIKAN Dalam kerangka sistem peradilan pidana (criminal justice system). sangat strategis. antar institusi penyidik muncul kesan kurang terjalin koordinasi dan sinergitas yang dapat berdampak pada berkurangnya kredibilitas institusi penegak hukum dimata masyarakat. Akibatnya.dalam menjalankan penyidikan dan yang terpenting sistem penegakan hukum yang selama ini telah dibangun dapat berdiri kokoh. dan yang lebih mengkhawatirkan adalah terancamnya rasa keadilan masyarakat. tidak saja terkait banyaknya institusi yang diberi kewenangan untuk melakukan penyidikan atas suatu tindak pidana. II. Penyidik merupakan pintu gerbang utama dimulainya tugas pencarian kebenaran materiil karena melalui proses penyidikan sejatinya upaya penegakan hukum mulai dilaksanakan. tetapi juga masih terdapatnya tumpang tindih kewenangan penyidikan antara beberapa institusi. khususnya penyidik. ada beberapa perundang-undangan yang dapat dijadikan sebagai 6 . rasa keadilan masyarakat yang seharusnya dijunjung tinggi harus dikorbankan. Selama ini luas lingkup tugas dan tanggung jawab penyidik dalam sistem penegakan hukum di Indonesia menyisakan banyak permasalahan. Apabila memperhatikan pada perundang-undangan nasional. Hanya karena muncul sikap ego sektoral di antara masing-masing intitusi penegak hukum. Permasalahan sebagaimana digambarkan di atas tentunya akan terus berlanjut apabila tidak segera ditemukan jalan keluarnya. peran aparatur penegak hukum.

wordpress. 2. 4.com/kedudukan-ppns-dalam-penegakan-hukum/. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2003 tentang Pedoman Pembinaan Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Daerah. Dikunjungi 20 Oktober 2011. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. 1 7 .dasar hukum diberikannya wewenang kepada PPNS untuk melakukan penyidikan di antaranya1: 1.03 Tahun 1993 tentang Petunjuk Mutasi dan Pelaksanaan Pengusulan Penyidik Pengangkatan. Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. Pejabat Bea dan Cukai sebagai penyidik berdasarkan Pasal 112 ayat (1) Undang-undang No. 6. 3. Pasal 6 ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2003 tentang Pedoman Operasional Penyidik Pegawai Negeri Sipil Daerah dalam Penegakan Peraturan Daerah. diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Peraturan Menteri Kehakiman Nomor M. 7. Pasal 1 angka 10 dari Undang-undang No. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Daerah. 5.18-PW. http://elisatris. 8.07. untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Merek. Pasal 89 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek yang menegaskan bahwa Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual.

8 . serta anggaran. Pengadilan dan Lembaga Koreksi (Lembaga Pemasyarakatan) yang secara keseluruhan berusaha mentransformasikan masukan (input) menjadi keluaran (output) yang menjadi tujuan Sistem Peradilan Pidana yang berwujud resosialisasi pelaku tindak pidana (jangka pendek). terlebih apabila ego masing-masing yang dapat institusi penyidik pada mengedepankan Oleh sektoral. sarana-prasarana pendukung. khususnya antara penyidik Polri dan PPNS. seperti kualitas dan kuantitas sumber daya manusia.Diberikannya wewenang untuk melaksanakan tugas penyidikan kepada PPNS. karena dalam mengantisipasi munculnya ketidaksinkronan dalam melaksanakan tugas penyidikan. pencegahan kejahatan (jangka menengah) dan kesejahteraan sosial (jangka panjang). Namun. III. itu. Kejaksaan. di sisi lain banyaknya institusi penyidik berpotensi menimbulkan tarik menarik kewenangan antar institusi. PERAN PPNS DALAM PENEGAKAN HUKUM PIDANA Di dalam Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice system) terkandung gerak sistemik dari subsistem-subsistem pendukungnya yaitu. di satu sisi tentunya akan memudahkan dalam pengungkapan suatu tindak pidana mengingat banyaknya kendala yang dihadapi oleh aparat kepolisian dalam melakukan penyidikan. berujung terhambatnya proses penegakan hukum. Kepolisian. Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) telah memberikan solusi terkait kedudukan kedua intsitusi tersebut sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (2) KUHAP yang menegaskan bahwa Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b (PPNS) mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada dibawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a (Polri).

dan 4) Pemidanaan (punishment) – pemenjaraan guna memperbaiki tingkah laku individu terpidana (correcting the behaviour of individual offender) b. Dalam konteks kehadiran polisi berseragam upaya ditengah-tengah prevensi. yaitu: 1. Efek “preventif” (preventive effect) Fungsi penegakan hukum diharapkan mencegah orang (anggota masyarakat melakukan tindak pidana). Yang diharapkan. “tidak kaku” (not rigid).Sistem peradilan pidana yang digariskan KUHAP merupakan “sistem terpadu” (integrated criminal justiuce system). masyarakat dan dimaksudkan sebagai Kehadiran 9 . Pada pokoknya.penahanan (detention). hukum yang diatur dalam undang-undang. Sistem terpadu tersebut diletakkan di atas landasan prinsip “diferensiasi fungsional” di antara aparat penegak hukum sesuai dengan “tahap proses kewenangan” yang diberikan undang-undang kepada masing-masing. Sedapat mungkin “fleksibel” (flexible) yang bersifat cukup akomodatif terhadap kondisi-kondisi perubahan social. 3) Persidangan pengadilan (trial). sistem peradilan pidana didukung dan dilaksanakan oleh empat fungsi utama. 2. Fungsi penegakan hukum (law enforcement function) Tujuan obyektif fungsi ini ditinjau dari pendekatan “tata tertib sosial” (social order): a. Penegakan hukum “secara aktual” (the actual enforcement law) meliputi tindakan: 1) Penyelidikan-penyidikan (investigation) 2) Penangkapan (arrest). Fungsi pembuatan undang-undang (law making function) Fungsi ini dilaksanakan oleh DPR dan Pemerintah atau badan lain berdasar delegated legislation.

Melalui fungsi inilah ditentukan: a. pengadilan dan Lembaga Pemasyarakatan. Penyidik Polri bila dilihat dari Sistem Peradilan Pidana merupakan salah satu mata rantai dalam sistem tersebut. kejaksaan. 10 . 3. Fungsi pemeriksaan persidangan pengadilan (function of adjudication) Fungsi pemeriksaan ini merupakan sub fungsi dari kerangka penegakan hukum yang dilaksanakan oleh Jaksa Penuntut Umum serta pejabat pengadilan yang terkait. Tujuan umum semua lembaga-lembaga yang berhubungan dengan penghukuman dan pemenjaraan terpidana: merehabilitasi pelaku pidana (to rehabilitate the offender) agar dapat kembali menjalani kehidupan normal dan produktif (return to a normal and productive life).keberadaan Polisi dianggap mengandung preventive effect yang memiliki daya cegah (detterent effort) anggota masyarakat melakukan tindak criminal. Keempat Sub sistem tersebut mempunyai peranan masing-masing yang satu sama lain saling berkaitan. Polri merupakan salah satu sub sistem peradilan pidana yang terdiri dari: sub Sistem Kepolisian (dalam hal ini penyidik Polri). Penjatuhan hukuman (the imposition of punishment) 4. dan Lembaga Kesehatan Mental. Pelayanan Sosial Terkait. Fungsi memperbaiki terpidana (The function of correction) Fungsi ini meliputi aktivitas Lembaga Pemasyarakatan. Kesalahan terdakwa (the determination of guilty) b.

Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungan dengan pemeriksaan perkara.Dalam kerangka pemahaman sistem tersebut maka kepolisian. 2. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksan sebagai tersangka atau saksi. Menyuruh berhenti seseorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal dari tersangka. 3. tetapi semuanya tetap merupakan satu kesatuan. penahanan. Penahanan. advokat. 7. 9. ruang lingkup wewenang dan kewajiban penyidik adalah sangat luas. pengadilan dan lembaga pemasyarakatan merupakan unsur-unsur yang membangun sistem tersebut. 5. Mengadakan penghentian penyidikan. 11 . Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat. penggeledahan dan penyitaan. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab. Melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian. Ruang lingkup wewenang yang masuk dalam proses penyidikan antara lain: 1. 10. 8. kejaksaan. dan Pemeriksaan Surat) serta Bab XIV (Penyidikan). 4. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang. Melakukan penangkapan. seperti Bab V (Penangkapan. Penggeledahan. Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya suatu tindak pidana. 6. Masingmasing memang berdiri sendiri dan menjalankan pekerjaan yang berbeda-beda. Jika diperhatikan ketentuan Pasal 7 ayat (1) KUHAP terlebih jika dihubungkan dengan beberapa bab dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Penyitaan.

Misalnya. institusi Polri belum memiliki sarana prasarana penyidikan yang relatif memadai dibandingkan dengan PPNS. dalam tataran taktis dan teknis penyidikan kendali tetap ada pada aparat Polri sebagai penyidik utama. sedangkan secara kuantitas. Misalnya untuk penindakan kasus kepabeanan 12 .Dengan memperhatikan ruang lingkup wewenang di atas tidak dapat disangkal lagi bahwa proses penyidikan sejatinya bukan proses yang sederhana. karena itu tidak setiap institusi dapat melaksanakannya. di antaranya: a. pemahaman tentang keimigrasian. dalam proses penyidikan tindak pidana lebih banyak dilatarbelakangi kondisi faktual di lingkungan internal Polri yang mana Polri masih memiliki berbagai kekurangan sumber daya. Sumber Daya Manusia Harus diakui bahwa sampai sekarang kondisi sumber daya manusia Polri masih menghadapi kendala. yang sejatinya merupakan bagian dari institusi eksekutif. dan sebagainya. Namun demikian. Oleh karena itu. Apalagi hanya dilakukan oleh institusi yang tugas pokoknya sejatinya bukan sebagai penyidik karena dikhawatirkan dapat menimbulkan kesalahan procedural yang berpotensi menyebabkan terlanggarnya hak asasi seseorang. masih banyak anggota Polri yang belum memahami materi (substansi) kasus pidana tertentu. keterlibatan PPNS dalam penyidikan suatu tindak pidana tertentu sejatinya merupakan upaya mengatasi kendala tersebut. b. ketenagakerjaan. Sarana Prasarana Dalam kasus-kasus tertentu. kepabeanan. Dilibatkannya PPNS. Belum seimbangnya ratio antara jumlah anggota Polri dan masyarakat berdampak pada minimnya personil Polri yang memiliki kualifikasi sebagai penyidik. baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

apalagi jika lokasi penyidikan saling berjauhan dan melintasi batas wilayah. Hal yang sama terjadi pula pada penyidikan tindak pidana illegal fishing. keterlibatan PPNS dalam melakukan penyidikan diharapkan dapat meminimalisir kendala anggaran. Karena itu. KUHAP telah mengatur hubungan di antara masing-masing institusi sebagai berikut: 1. c. hingga sekarang sarana prasarana pendukung penyidikan yang dimiliki Polri masih belum memadai sehingga membutuhkan keterlibatan PPNS. Anggaran Sebagaimana diketahui bersama anggaran yang dialokasikan khusus untuk melakukan penyidikan suatu tindak pidana relatif kecil dibandingkan kebutuhan riil. sementara aparat Polri belum memiliki kapal dengan kwalifikasi tersebut sehingga memerlukan bantuan dari Bea dan Cukai. dapat dijelaskan bahwa pelibatan PPNS dalan tugas-tugas penyidikan tidak pada tataran taktis dan teknis penyidikan karena sudah sejak semula instansi tersebut dibentuk hanya untuk membantu aparat Polri dalam melakukan penyidikan. Oleh karena itu. Penyidik pegawai negeri sipil berkedudukan di bawah: a) Koordinasi penyidik Polri b) Di bawah pengawasan penyidik Polri 13 . Dengan memperhatikan pada beberapa kendala di atas. sehingga upaya melembagakan PPNS sebagai lembaga mandiri dalam melakukan tugas penyidikan dikhawatirkan akan berdampak pada tercederainya proses penegakan hukum. agar pada saat melaksanakan kewenangan melakukan penyidikan antara PPNS dan penyidik Polri tidak terjadi tumpang tindih kewenangan.tentunya diperlukan sarana prasarana kapal motor dengan kualifikasi khusus.

harus melaporkan kepada penyidik Polri tentang adanya suatu tindak pidana yang sedang disidik. penghentian penyidikan itu harus diberitahukan kepada penyidik Polri dan penuntut umum (Pasal 109 ayat (3) KUHAP). Apabila penyidik pegawai negeri sipil telah selesai melakukan penyidikan. namun dalam hal penghentian penyidikan. Penyidik pegawai negeri sipil tertentu. hasil penyidikan tersebut harus diserahkan kepada penuntut umum. jika dari penyidikan itu oleh penyidik pegawai negeri sipil ditemukan bukti yang kuat untuk mengajukan tindak pidananya kepada penuntut umum (Pasal 107 ayat (2) KUHAP) 4. juga harus memberitahukan penghentian penyidikan tersebut kepada penuntut umum.2. Hal lain yang menurut penulis dapat dijadikan sebagai alasan sehingga kewenangan PPNS dalam melakukan penyidikan tidak dapat dipisahkan dari kedudukan Polri sebagai Korwas PPNS dapat ditinjau dari kerangka Criminal Justice System (CJS). Cara penyerahan hasil penyidikan tersebut kepada penuntut umum dilakukan penyidik pegawai negeri sipil melalui penyidik Polri (Pasal 107 ayat (3) KUHAP) 5. disamping harus memberitahukan penghentian tersebut kepada penyidik Polri. tidak perlu diberitahukan kepada pununtut umum. Untuk kepentingan penyidikan. penyidik Polri memberikan petunjuk kepada penyidik pegawai negeri sipil tertentu dan memberikan bantuan penyidikan yang diperlukan (Pasal 107 ayat (1) KUHAP) 3. Apabila penyidik pegawai negeri sipil menghentikan penyidikan yang telah dilaporkan kepada penyidik Polri. penyidik pegawai negeri sipil cukup memberitahukan atau melaporkan penyidikan itu kepada penyidik Polri. Yang perlu mendapat perhatian dalam hal penghentian penyidikan oleh penyidik pegawai negeri sipil adalah meskipun pada saat pelaporan tindak pidana yang sedang disidiknya. 14 .

Untuk kepentingan penyidikan. yang sejatinya merupakan subordinasi dari lembaga eksekutif diperkenankan untuk langsung melakukan tugas-tugas penyidikan menggantikan kedudukan Polri sebagai penyidik.id/kabbondowoso/index. 2 15 . Agar pada saat melaksanakan kewenangan melakukan penyidikan antara PPNS dan penyidik Polri tidak terjadi tumpang tindih kewenangan. harus melaporkan kepada penyidik Polri tentang adanya suatu tindak pidana yang sedang disidik.php? option=com_content&view=article&id=109:ppns-dalam-penegakanhukum&catid=1:makalah-hukum&Itemid=37. maka KUHAP dengan tegas menyatakan bahwa PPNS tidak diperkenankan untuk secara langsung menyerahkan hasil pemeriksaan kepada jaksa penuntut umum tetapi kepada penyidik Polri. maka dikhawatirkan proses penegakan hukum nasional yang selama ini dibangun atas landasan CJS akan tercederai mengingat eksekutif tidak masuk dalam kerangka CJS. Penyidik pegawai negeri sipil berkedudukan di bawah: a) Koordinasi penyidik Polri. b) Di bawah pengawasan penyidik Polri 2. Oleh karena itu. Apabila PPNS.jatimprov. penyidik Polri memberikan petunjuk kepada penyidik pegawai negeri sipil tertentu dan memberikan bantuan penyidikan yang diperlukan (Pasal 107 ayat (1) KUHAP) 3. KUHAP telah mengatur hubungan di antara masingmasing institusi sebagai berikut2: 1. agar CJS tidak tercederai dengan masuknya PPNS sebagai institusi penyidik. Penyidik pegawai negeri sipil tertentu. Dikunjungi 20 Oktober 2011.go. jika dari penyidikan itu oleh penyidik pegawai negeri sipil ditemukan bukti yang kuat untuk http://jdih. dalam kerangka CJS institusi utama yang menjadi pilar penopang berjalannya sistem tersebut adalah kepolisian. dan kehakiman.Sebagaimana diketahui. kejaksaan.

PPNS. Apabila penyidik pegawai negeri sipil telah selesai melakukan penyidikan. namun dalam hal penghentian penyidikan. HUBUNGAN ANTARA POLRI DENGAN PPNS DALAM KUHAP Koordinasi. pengawasan. disamping harus memberitahukan penghentian tersebut kepada penyidik Polri. penghentian penyidikan itu harus diberitahukan kepada penyidik Polri dan penuntut umum (Pasal 109 ayat (3) KUHAP). Cara penyerahan hasil penyidikan tersebut kepada penuntut umum dilakukan penyidik pegawai negeri sipil melalui penyidik Polri (Pasal 107 ayat (3) KUHAP) 5. Apabila penyidik pegawai negeri sipil menghentikan penyidikan yang telah dilaporkan kepada penyidik Polri. oleh penyidik pegawai negeri sipil sipil adalah cukup meskipun pada saat pelaporan tindak pidana yang sedang penyidik pegawai negeri memberitahukan atau melaporkan penyidikan itu kepada penyidik Polri. tidak perlu diberitahukan kepada pununtut umum. dan Pam Swakarsa merupakan salah satu tugas Polri yang secara tersurat dicantumkan dalam Undang-undang Kepolisian Negara Republik Indonesia No 2 Tahun 2002 Pasal 14 ayat (1) huruf f. Yang perlu mendapat perhatian dalam hal penghentian penyidikan disidiknya.mengajukan tindak pidananya kepada penuntut umum (Pasal 107 ayat (2) KUHAP) 4. Untuk mengetahui lebih mendalam mengenai tugas Polri tersebut penulis mencoba menjabarkan arti kata secara harfiah seperti yang terdapat dalam Kamus Bahasa Indonesia. juga harus memberitahukan penghentian penyidikan tersebut kepada penuntut umum. dan pembinaan teknis terhadap Polsus. hasil penyidikan tersebut harus diserahkan kepada penuntut umum. Koordinasi diartikan dengan 16 . IV.

mendirikan. PPNS melaporkan tindak pidana yang sedang disidik kepada penyidik POLRI ( Pasal 107 ayat 2 ). PPNS. 17 . penyidik memberikan petunjuk kepada PPNS dan memberikan bantuan penyidikan yang diperlukan ( Pasal 107 ayat 1 ).” perihal mengatur suatu organisasi dan cabang-cabangnya sehingga peraturan-peraturan dan tindakan-tindakan yang akan dilaksanakan tidak saling bertentangan”. PPNS menyerahkan hasil penyidikan yang telah selesai kepada penuntut umum melalui penyidik POLRI ( Pasal 107 ayat 3 ). 1. 4. dan Pam Swakarsa menjadi lebih baik dan lebih maju atau sempurna”. Pengawasan dalam kamus Bahasa Indonesia berarti ”penilikan dan penjagaan serta pengarahan jalannya kebijakan”. Untuk kepentingan penyidikan. Dari beberapa pengertian tersebut judul makalah ini dapat disederhanakan dengan ”tugas Polri dalam melaksanakan penilikan. pengaturan dan cara mengusahakan Polsus. PPNS dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinator dan pengawasan Penyidik POLRI ( Pasal 7 ayat 2 ). 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana telah dilakukan pengaturan secara tegas dan jelas mengenai hubungan antara Penyidik POLRI dengna Penyidik Pegawai Negeri Sipil: • Hubungan Penyidik POLRI Dengan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). 2. 3. Dalam hukum acara pidana (hukum pidana formil) sebagaimana tercantum dalam UU No. mengusahakan agar lebih baik dan lebih maju atau sempurna”. penjagaan. cara membangun. Sedangkan pembinaan artinya ”proses.

Saat ini fungsi kepolisian hanya merupakan salah satu bagian dari fungsi pemerintahan negara.blogspot. keberadaan PPNS itu erat kaitannya dengan perkembangan organ dan fungsi kepolisian dalam masyarakat.com/p/ppns. Dr. Sementara pengawasan itu sendiri diartikan sebagai pengamatan atau pembinaan agar pelaksanaan penyidikan dalam proses hukum itu tidak menyalahi ketentuan undang undang. Khususnya dalam bekerjasama tugastugas penyidikan antara Penyidik Polri dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil. Lebih lanjut ditambahkan Momo Kelana.html. segera memberitahukan penyidik POLRI dan Penuntut Umum ( Pasal 109 ayat 3 ). Pembinaan atau bantuan yang diberikan Polri kepada PPNS itu diminta atau tidak diminta Polri wajib untuk melakukan itu.5. Karena menurut KUHAP sendiri bahwa penyidik itu adalah Polri. Jadi semula sebelum terbentuk negara. namun kepada kegiatan penyidikannya. saat ini koordinasi dan 3 http://polisijaya. Kepolisian didalam KUHAP disebutkan sebagai koordinasi dan pengawas. Dalam hal PPNS menghentikan penyidikan. Dalam hal bidang tertentu dan dalam rangka meningkatkan kemampuan itu sendiri. Dikunjungi 20 Oktober 2011. PPNS itu sebagai bentuk partisipasi masyarakat yang bisa memberdayakan masyarakat dalam membangun kemitraan dengan Polri. Oleh karena itu keberadaan PPNS ini juga harus dilihat dalam keseluruhan fungsi kepolisian secara seutuhnya. Tapi bukan kepada instansinya. Menurut Kadiv Binkum Polri. Teguh Soedarsono3. 18 . Lebih lanjut menurut Momo. fungsi kepolisian diemban oleh setiap warga negara. Irjen Pol. Keberadaan PPNS ini sebetulnya merupakan satu fenomena dari perkembangan fungsi kepolisian secara keseluruhan. Korwas itu adalah koordinasi dan pengawasan. Koordinasi itu diartikan suatu hubungan kerjasama.

dan lingkungan kuasa waktu). fungsi kepolisian terdiri atas Fungsi Kepolisian Umum dan Fungsi Kepolisian Khusus. Jadi masalah-masalah kalangan Polri. Tidak saja di kalangan PPNS-nya. Pengemban fungsi kepolisian umum sesuai UU No 2 tahun 2002 adalah Polri. Fungsi Kepolisian Umum. Fungsi Kepolisian Khusus. Kepolisian khusus sesuai didalam pengembangan koordinasi dan pengawasan ini timbul. sehingga tugas dan wewenangnya dengan sendirinya akan mencakup keempat lingkungan kuasa soal tersebut di atas. dan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa. Badan-badan pemerintahan yang oleh atau atas kuasa undang-undang diberi wewenang untuk melaksanakan fungsi kepolisian khusus dibidangnya masing-masing dinamakan alat-alat kepolisian khusus. berkaitan dengan kewenangan kepolisian yang berdasarkan undang-undang dan atau peraturan perundang-undangan meliputi semua lingkungan kuasa hukum (lingkungan kuasa soal-soal. berkaitan dengan kewenangan kepolisian yang oleh atau atas kuasa undang-undang secara khusus ditentukan untuk satu lingkungan kuasa. tapi juga di 19 .pengawasan Polri dengan PPNS sudah berjalan dengan baik. lingkungan kuasa tempat. Pasal 3 Undang-undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia menyebutkan bahwa pengemban fungsi kepolisian adalah Polri yang dibantu oleh kepolisian khusus. penyidik pegawai negeri sipil. Polsus. PPNS dan Pam Swakarsa dalam melaksanakan fungsi kepolisian sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukumnya masing-masing. Pengemban fungsi kepolisian ditemukan melalui penguraian dimensi fungsi kepolisian yang terdiri dari dimensi yuridik dan dimensi sosiologik. lingkungan kuasa orang. namun apa yang sudah berjalan ini masih bisa ditingkatkan efisiensinya. Dalam dimensi yuridik.

Hubungan kerja ini dilaksanakan secara horisontal fungsional dengan tidak menutup kemungkinan hubungan yang bersifat diagonal antara Polri (satuan reserse mulai dari Mabes Polri sampai dengan Polres) dan unsur PPNS. Pada dasarnya pelaksanaan tugas koordinasi. Korwas PPNS tersebut perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas PPNS agar pelaksanaan penyidikan yang dilakukan oleh PPNS terhadap tindak pidana tertentu yang menjadi dasar hukumnya dapat berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. Kehutanan. ada yang diberi kewenangan represif yustisial selaku penyidik dan disebut ”penyidik pegawai negeri sipil” (PPNS). pengawasan dan bantuan teknis kepada PPNS dapat dilaksanakan dalam tiga bentuk kegiatan yaitu : 1. Imigrasi. Hubungan tata cara pelaksanaan kooordinasi dan pengawasan terhadap PPNS dilakukan dalam dua bidang yaitu bidang pembinaan dan bidang operasional. pada hakekatnya koordinasi dilaksanakan secara timbal balik antara PPNS 20 . Penyidik Polri sebagai koordinasi dan pengawasan (Korwas) PPNS mempunyai kewajiban dan tanggung jawab memberikan batuan penyidikan yang didasarkan pada sendi-sendi hubungan fungsional. Pembinaan ini dapat dilakukan melalui kegiatan pendidikan terhadap unsur PPNS. dan 3. berada dalam lingkungan instansi tertentu seperti antara lain : Bea Cukai. Hubungan tata cara kerja agar terjalin kerjasama yang serasi 2. Bantuan operasional penyidikan. Di bidang pembinaan. Di bidang operasional. Diantara pejabat pengemban Fungsi Kepolisian Khusus. hubungan kerja secara fungsional dalam rangka pelaksanaan koordinasi. Patent dan Hak Cipta.dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya. Pengawasan Obat dan Makanan. pengawasan dan pembinaan dilaksanakan langsung oleh satuan reserse. Pembinaan teknis.

2. maka PPNS wajib melapor hal itu kepada Penyidik Polri tentang perkembangan penyidikannya. Dalam hal PPNS melaksanakan penyidikan tindak pidana tertentu yang termasuk lingkup bidang tugasnya. 4. Dalam hal PPNS memerlukan bantuan untuk melakukan upaya paksa/penindakan yang wewenangnya tidak dimiliki oleh PPNS yang bersangkutan. Penyidik Polri memberikan petunjuk-petunjuk baik diminta atau tidak diminta berdasarkan tanggung jawabnya dan wajib memberikan bantuan penyidikan yang diperlukan 3. maka tanggung jawab yuridis yang mungkin timbul 21 . Permintaan bantuan upaya paksa harus disertai laporan serta perkembangan penyidikan dan alasan/ pertimbangan keadaan untuk menentukan perlunya dilakukan upaya paksa. Dalam hal penyidikan yang dilakukan oleh PPNS ditemukan bukti yang kuat untuk diajukan ke Penuntut Umum.dengan penyidik Polri. 5. maka PPNS menerima laporan/ pengaduan wajib memberitahukan hal itu kepada Penyidik Polri (Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan) untuk kemudian diteruskan kepada Penuntut Umum. bantuan taktis dalam upaya paksa/ penindakan apabila wewenangnya tidak dimiliki PPNS. Secara kronologis mekanisme koordinasi tersebut adalah sebagai berikut : 1. Petunjuk yang diberikan meliputi Petunjuk Teknis. maka untuk tindakan tersebut dimintakan bantuan kepada Penyidik Polri. 6. Atas permintaan tersebut. Sedangkan bantuan penyidikan meliputi bantuan tehnis. 8. 7. Penyidik Polri dapat mengabulkan atau menolaknya dan kemudian memberitahukan keputusan tersebut kepada PPNS disertai pertimbangan serta alasan-alasannya. Dalam hal permintaan dikabulkan dan penindakan telah dilaksanakan. Taktis dan Yuridis.

latihan-latihan penyegaran bagi PPNS yang telah mengikuti pendidikan. serta Penyidik membuat Polri analisa melaksanakan dan evaluasi sistem untuk pengumpulan. dan pembinaan sistem laporan. penataran. mempersiapkan piranti lunak perundang-undangan yang dibutuhkan PPNS. 22 . Untuk mewujudkan rencana tersebut. pengolahan. PPNS wajib melaporkan data perkara pidana yang ditanganinya kepada Penyidik Polri secara berkala. Masalah pembinaan kemampuan PPNS merupakan tanggung jawab Penyidik Polri. dan penyajian data perkara-perkara yang ditangani PPNS kepentingan kebijaksanaan pembinaan PPNS. Pembinaan tehnis terhadap PPNS dapat dilakukan melalui beberapa cara seperti : pembentukan PPNS. Kegiatan pembinaan tehnis ini dapat dilakukan melalui pendidikan di bidang penyidikan. Dalam pembinaan sistem laporan. pembinaan kemampuan PPNS. melaksanakan coaching clinic. Hal ini disebabkan karena komponen penyidikan dalam sistem peradilan pidana sepenuhnya dipertanggungjawabkan kepada Polri. melayani permintaan tenaga pengajar / ceramah.sebagai akibat penindakan tersebut menjadi tanggung jawab bersama. Penyidik Polri memberikan saran-saran tentang urgensi kebutuhan dan keberadaan PPNS dari sesuatu departemen/ instansi serta mengajukan saran tentang rencana formasi organik PPNS. rapat koordinasi secara berkala antara Penyidik Polri dan PPNS. Sebagai pembina tehnis PPNS. Atas usulan pengangkatan PPNS tersebut Polri memberikan pertimbangan. dan lain-lain. maka departemen / instansi yang bersangkutan mengusulkan pengangkatan PPNS kepada Menteri Kehakiman dengan tembusan kepada Kapolri dan Jaksa Agung.

dan memberikan bantuan upaya paksa apabila diperlukan oleh PPNS yang bersangkutan. menentukan cara bertindak yang tepat dalam rangka proses penyidikan. Apabila ada gelar perkara Penyidik Polri mengikutiny untuk mencari upaya pemecahan masalah terhadap kendala-kendala yang dihadapi PPNS selama proses penyidikan.Bantuan operasional penyidikan terhadap PPNS wajib diberikan oleh Penyidik Polri terhadap PPNS baik diminta atau tidak diminta dalam rangka korrdinasi dan pengawasan PPNS dari sejak awal penyidikan sampai dengan akhir penyidikan. 3. Bantuan tersebut dapat diberikan dalam tiga tahap proses penyidikan yaitu sebagai berikut : 1. Pada tahap akhir penyidikan Pada tahap ini Penyidik Polri dapat mengadakan penelitian dan memberikan petunjuk serta arahan yuridis terhadap berkas perkara yang dibuat oleh PPNS dan membantu menyerahkan berkas perkara tersebut ke Penuntut Umum. 23 . 2. melakukan koordinasi dan penelitian terhadap kelengkapan administrasi penyidikan. Pada tahap pelaksanaan penyidikan Pada tahap ini Penyidik Polri mengikuti dan mengarahkan perkembangan hasil penyidikan yang dilakukan oleh PPNS yang bersangkutan. Penyidik Polri juga dapat membantu pelaksanaan upaya paksa di mana PPNS yang bersangkutan tidak mempunyai wewenang untuk itu. Pada tahap awal penyidikan Pada tahap ini Penyidik Polri melakukan penelitian dan memberikan petunjuk yuridis kepada PPNS untuk menentukan apakah kasus yang akan ditangani merupakan suatu tindak pidana atau bukan.

Korwas PPNS ini memang telah ditetapkan menjadi sebuah bagian/urusan dalam struktur organisasi Polri mulai dari tingkat pusat (Mabes Polri) sampai tingkat daerah (Polres). bahkan di level Polres urusan korwas ini diserahkan kepada salah satu Kepala Unit di Satuan Reskrim dengan jabatan rangkap. Hendaknya fenomena ini dapat dijadikan Polri sebagai bahan intropeksi diri khususnya dalam pelaksanaan tugas koordinasi dan pengawasan. Hal ini terkait dengan pemahaman dan penalaran yang sempit dari kalangan Polri sendiri tentang tugas korwas PPNS ”yang kurang menjanjikan”. 24 . tetapi bagaimanakah pelaksanaannya? Secara struktural melalui struktur organisasi formal. tugas korwas PPNS ini terkesan dianaktirikan dan bahkan dikesampingkan. Sehingga sudah barang tentu fokus dan keseriusan penanganan tugas ini kurang optimal. Belum lagi kalau ditinjau dari sisi data yang dimiliki. Perkembangan terakhir dalam draft RUU KUHAP sudah mulai terlihat upaya untuk menghapuskan tugas korwas PPNS ini.Penjelasan tersebut di atas adalah hal yang seharusnya atau semestinya ada. akan terlihat bahwa betapa tidak seriusnya Polri dalam melaksanakan tugasnya sebagai Korwas dan pembina teknis PPNS. serta pemberian bimbingan tehnis terhadap PPNS. Petugas yang diserahi tanggung jawab korwas sekalipun jarang atau bahkan tidak mengetahui dan kurang memonitor pelaksanaan penyidikan yang dilakukan oleh PPNS dari berbagai instansi. Di level Polda berdasarkan pengamatan penulis tugas korwas ini hanya diemban oleh sebuah Seksi (Seksi Korwas PPNS). Namun dalam pelaksanaannya berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis. Ada kesan yang timbul bahwa tugas ini merupakan tugas yang tidak begitu populer di kalangan Polri sendiri. Kondisi ini apabila dilihat dalam jangka panjang akan sangat riskan terhadap posisi Polri sebagai korwas PPNS.

Penyidik Polri sebagai koordinasi dan pengawasan (Korwas) PPNS mempunyai kewajiban dan tanggung jawab memberikan batuan penyidikan dalam rangka meningkatkan kualitas PPNS agar pelaksanaan penyidikan dapat berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. PENUTUP Munculnya tarik menarik kewenangan dalam melakukan penyidikan kasus tindak pidana tertentu dapat berdampak negatif tidak saja bagi proses penegakan hukum itu sendiri tetapi juga bagi kredibilitas kedua aparat penegak hukum di mata masyarakat.V. serta sosialisasi peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan kewenangan melakukan penyidikan agar diperoleh pemahaman yang tepat terkait tugas dan kewenangan masing-masing institusi. Dengan kalimat yang lebih ilmiah seharusnya dalam penegakan hukum terwujud sebuah integrated criminal justice system. idealnya dalam sistem peradilan pidana antara institusi penegak hukum yang satu dengan institusi penegak hukum lainnya harus berjalan seiring dan seirama. untuk menghindarkan terjadinya tumpang tindih kewenangan dalam melakukan penyidikan yang diperlukan peningkatan koordinasi dan pengawasan antar institusi yang terkait dalam penegakan hukum. dan bantuan operasional penyidikan. Melalui sosialisasi ini diharapkan dapat mempersempit jurang pemisah di antara masing-masing institusi sekaligus dapat mewujudkan institusi penyidik yang saling melengkapi. Sesuai amanat KUHAP. pengawasan dan bantuan teknis kepada PPNS dapat dilaksanakan dalam tiga bentuk kegiatan yaitu hubungan tata cara kerja. Padahal. Oleh karena itu. Pembinaan 25 . Hubungan tata cara pelaksanaan kooordinasi dan pengawasan terhadap PPNS dilakukan dalam dua bidang yaitu bidang pembinaan dan bidang operasional. pembinaan teknis. Pelaksanaan tugas koordinasi.

apabila dibiarkan terus berlanjut akan menimbulkan pertanyaan tentang penting atau tidaknya eksistensi Polri dalam koordinasi dan pengawasan terhadap PPNS di masa mendatang. dan pembinaan sistem laporan. hal ini dikarenakan kekurangseriusan Polri di mana ada anggapan bahwa bidang tugas korwas PPNS tidak begitu populer di kalangan Polri. Pelaksanaan korwas PPNS ini dirasakan masih belum optimal. 26 .tehnis terhadap PPNS dapat dilakukan melalui beberapa cara seperti : pembentukan PPNS. pembinaan kemampuan PPNS. Kondisi seperti ini. Bantuan operasional penyidikan terhadap PPNS wajib diberikan oleh Penyidik Polri terhadap PPNS baik diminta atau tidak diminta dalam rangka koordinasi dan pengawasan PPNS dari sejak awal penyidikan sampai dengan akhir penyidikan. Sistem informasi antar instansi dan pelaporan pelaksanaan penyidikan oleh PPNS kepada penyidik Polri juga dirasakan masih belum maksimal.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->