Optimalisasi Usahatani pada Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) dalam Mendukung Pendapatan dan Target Produksi

Pangan Nasional Tahun 2012
1. Latar Belakang
Akibat pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita yang dirangsang oleh kenaikan pendapatan rumah tangga, maka kebutuhan pangan terus mengalami peningkatan. Untuk mengimbangi kebutuhan tersebut, produksi pangan nasional harus meningkat secara memadai dalam rangka mempertahankan kecukupan pangan. Selain itu, pemenuhan pertambahan kebutuhan jumlah pangan juga dirasa perlu sebagai perangsang untuk meningkatkan pendapatan nasional, terlebih pendapatan daerah, dimana peningkatan pendapatan dari sektor pertanian ini diharapkan akan mendorong meningkatnya pendapatan dari sektorsektor lainnya. Kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan pangan nasional kita, juga merupakan salah satu hal yang sangat penting. Hal tersebut berarti bahwa kita mampu menyediakan kebutuhan pangan dari masyarakat ini dengan tidak tergantung dari negara lain dan dapat menyediakan kebutuhan pangan nasional sendiri dengan memaksimalkan sumberdaya dan potensi yang ada dari bangsa ini. Untuk mencapai itu semua tentunya membutuhkan komitmen yang kuat dari semua elemen, baik dari pemerintah, akademisi, lembaga riset, petani dan berbagai elemen yang terkait. Pemerintah dalam hal ini dapat membuat paket-paket program maupun kebijakan yang tepat sasaran, salah satunya dengan menentukan target yang realistis dalam produksi pangan nasional serta dimbangi dengan segala penelitian dan pengembangannya untuk mencapai target tersebut. Selain itu, akademisi maupun lembaga-lembaga riset juga dapat mengadakan penelitian-penelitian untuk menghasilkan sebuah inovasi yang aplikatif di lapangan dan tentunya dapat meningkatkan produktifitas, sehingga secara langsung dapat meningkatkan pendapatan dan produksi pangan nasional. Namun pada sisi lain, usaha tani yang dikelola oleh para petani seringkali menghadapi berbagai kendala pengembangan. Keterbatasan sumberdaya yang dikuasai merupakan karakteristik yang seringkali melekat pada usahatani di negara-

1

negara berkembang, termasuk di Indonesia. Keterbatasan dalam penguasaan lahan, modal dan input produksi lainnya serta rendahnya kemampuan dalam aspek pengelolaan merupakan kondisi yang membawa implikasi pada masih kurangnya produksi pangan kita dalam memenuhi kebutuhan nasional yang ada. Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT), program yang diluncurkan oleh pemerintah dalam hal ini Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian dalam rangka memperbaiki aspek teknis pengelolaan petani dalam mengelola usahataninya. PTT ini bersifat partisipatif yang disesuaikan dengan kondisi spesifik lokasi sehingga bukan merupakan paket teknologi yang harus diterapkan petani di semua lokasi. Tujuan PTT adalah untuk membantu menerapkan teknologi yang cocok untuk kondisi setempat yang dapat meningkatkan hasil tanaman pangan serta menjaga kelestarian lingkungan sehingga target produksi tanaman pangan nasional pun diharapkan akan dapat tercapai. Dalam rangka mendukung pendapatan daerah, yang akhirnya meningkatkan pendapatan nasional itu sendiri, perencanaan yang cakupannya wilayah dalam penggunaan segala sumberdaya yang ada penting untuk dilakukan. Selama ini, pemilihan cabang usahatani seringkali didasarkan atas pertimbangan faktor kebiasaan dan apa yang dapat dilakukan oleh petani dalam suatu wilayah, serta bukan didasarkan atas pertimbangan efisiensi. Dengan kondisi demikian maka alokasi sumberdaya yang dikuasai oleh petani dalam suatu wilayah seringkali belum optimal dan pengelolaan usahatani menjadi tidak efisisen dengan tingkat produktifitas relatif rendah. Implikasi selanjutnya adalah tingkat pendapatan yang dicapai oleh daerah dari sektor pertanian belum maksimal. Artinya, sumbangan sektor pertanian terhadap pendapatan daerah tersebut masih jauh dari potensi yang seharusnya dapat dicapai. Hal ini mengindikasikan perlunya dilakukan kajian menyeluruh terhadap usahatani yang dijalankan oleh petani agar sumberdaya yang dimiliki dapat dialokasikan secara optimal. Dengan demikian permasalahan yang dapat dikaji adalah menyangkut pengembangan sistem usahatani secara optimal yang mampu memanfaatkan sumberdaya yang tersedia sehingga mendatangkan pendapatan maksimum baik bagi petani maupun bagi daerah yang bersangkutan.

2

sedangkan target pencapaian pada tahun 2012 sebesar 24 juta ton. dsb.6 juta ton sedangkan untuk tahun 2012 besok. pemerintah mentargetkan sebesar 74 juta ton. Badan Pertanahan Nasional. 4.900 4. Target Produksi Pangan Nasional CAPAIAN TAHUN 2010 66.4 juta ton. salah satunya menghasilkan keputusan yang mencakup target produksi pangan nasional yang hendak dicapai pada tahun 2011 dan pada tahun 2012.0 14.9 439 12.560 3.00 1.7 435. seperti pada tabel 1. Kementrian PU.0 24.40 908.83 SASARAN 2011 70. Kementrian Perindustrian. 6. Dalam hasil Pra-Musrenbangnas di atas.26 SASARAN 2012 74.4 471. Target Produksi Pangan Nasional Dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan nasional. KOMPONEN / INDIKATOR Produksi Padi (juta ton) Produksi Jagung (juta ton) Produksi Kedelai (ribu ton) Produksi Gula/Tebu (juta ton) Produksi Daging Sapi (ribu ton) Produksi Ikan (juta ton) sumber : Hasil Pra-Musrenbangnas.4 juta ton dan target untuk tahun ini sebesar 70. jumlah yang diproduksi oleh petani pada tahun lalu sebesar 18.2. LIPI. yang tertuang dalam “Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 Prioritas Nasional 5 : Ketahanan Pangan” yang merupakan hasil kesepakatan Pra-Musrenbangnas (Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional) tanggal 27 April 2011. pemerintah telah menetapkan kebijakan ketahanan pangan.86 NO 1. Sedangkan untuk tanaman Kedelai. 5.2 10. maka dapat dilihat bahwa tanaman padi yang sudah diproduksi oleh petani dalam negeri sendiri pada tahun 2010 sebesar 66.0 1. Tabel 1. 3. Dimana rencana kerja ini disusun oleh lintas lembaga sektoral yang terkait seperti Kementrian Pertanian.4 18. 2011. Untuk tanaman Jagung sendiri. Dalam rencana kerja yang telah disusun. Kementrian Kelautan dan Perikanan. jumlah produksi tahun lalu sebesar 0.1 2.9 juta ton dan pemerintah mentargetkan pada tahun 2012 besok petani diharapkan dapat 3 .6 22. 2.

22 (11. Daerah kedua yang menjadi sasaran produksi pangan nasional yaitu di wilayah Sumatera. Maluku. 5.4) 16.9 (100) sumber : Hasil Pra-Musrenbangnas.28 (4. peralatan maupun sistem penanaman.7) 24 (100) KEDELAI juta ton (persen) 0. Penciptaan areal lahan penanaman baru.5) 74 (100) JAGUNG juta ton (persen) 1. Papua Sulawesi Kalimantan Sumatera Jawa-Bali Nasional Keseluruhan PADI juta ton (persen) 3. WILAYAH NT. jagung. Keterbatasan Sumberdaya Usahatani a.22 (17. sebesar 22.9) 4.50 (6.7) 5.08 (10. serta penanganan pasca panen tanaman pangan dapat dijadikan sebagai langkah yang efektif demi mendukung pencapaian target produksi tanaman pangan tersebut. Target Produksi Pangan Nasional tahun 2012 per wilayah NO 1.42 (1. Sumberdaya Lahan dalam Usahatani 4 . kedelai) berada di wilayah Jawa dan Bali.6) 0.76 (22.33 (17. Target Produksi Pangan Nasional pada tahun 2012 apabila dirinci lebih lanjut dan jika dilihat dari kewilayahan nasional maka dapat dilihat dari tabel 2.7) 12. 2011.6 persen untuk kedelai. dimana daerah Sumatera menyumbang pangan nasional sebesar 22. tentunya ada beberapa langkah yang hendaknya ditempuh oleh pemerintah. Tabel 2.3) 4.9 persen untuk kedelai. maka dapat dilihat bahwa sebagian besar atau lebih dari 50 persen produksi ketiga komoditas tanaman pangan utama Indonesia (padi.7 persen untuk padi.5 persen untuk padi.09 (55. 3. 6. 2.17 (9.6) 1. Dari gambaran tabel 2 diatas. 4.9 juta ton atau tambahan produksi kedelai nasional diharapkan sebesar 1 juta ton. optimalisasi usahatani.05 (2.6) 0. Untuk memenuhi pencapaian target produksi tanaman pangan tersebut.4) 8.76 (6.7 persen untuk jagung dan sebesar 58.7) 41.9) 1.11 (58.41 (51.2) 0.7) 0.memproduksi kedelai sebesar 1.7 persen untuk jagung dan sebesar 17. penelitian dan pengembangan tanaman pangan baik dalam hal varietas. yaitu sebesar 55. sebesar 51.43 (22. 3.

• Lokasi lahan 5 . dan sebagainya. berkembang-biaknya ternak dan usahatani secara keseluruhan. Sebagai contoh. faktor lahan usahatani ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh alam sekitarnya yaitu sinar matahari. • Tingkat kesuburan lahan Lahan yang subur. seorang petani dengan luas garapan 1 hektar terdiri atas 0. Oleh karena itu. Perbedaan hubungan tersebut akan berpengaruh pada kesediaan petani dalam meningkatkan produksi. • Hubungan lahan dan manusia Hubungan lahan dan manusia dapat dibedakan dalam tiga tingkat dari yang terkuat sampai terlemah yaitu hak milik. 0. dan 0.4 ha di sebelah timur desa. memperbaiki kesuburan tanah dan intensifikasi. baik fisik maupun kimiawi.3 ha di sebelah barat desa.3 di sebelah utara desa. Lahan sendiri memiliki sifat yang istimewa antara lain bukan merupakan barang produksi.Dalam sebuah usahatani. pemupukan. Tentu saja. tidak dapat diperbanyak dan tidak dapat dipindah-pindah. dsb. • Luas lahan Dipandang dari sudut efisiensi. Kesuburan lahan secara fisik dan kimiawi dapat diperbaiki melalui pengolahan yang baik. peranan lahan sebagai faktor produksi dipengaruhi oleh beberapa hal sebagai berikut. lahan merupakan faktor produksi yang sangat penting karena lahan merupakan tempat tumbuhnya tanaman. semakin luas lahan yang diusahakan maka semakin tinggi produksi dan pendapatan per kesatuan luasnya. rotasi tanam yang tepat. lebih menguntungkan dalam usahatani. Keadaan seperti itu lazim disebut dengan fragmentasi. angin. tetapi terpencar dalam beberapa lokasi. lahan dalam usahatani memiliki nilai terbesar. Menurut Suratiyah (2006). • Letak lahan Letak lahan usahatani umumnya tidak mengelompok dalam satu tempat. hak sewa dan hak bagi hasil (sakap). curah hujan.

Dimana pada wilayah JawaBali ini hanya mampu mencetak lahan baru sebesar 200 hektar saja. Penciptaan areal lahan penanaman baru tentunya dapat diterapkan hanya pada wilayah yang masih memungkinkan untuk diterapkannya langkah tersebut. namun dampak yang ditimbulkan bersifat permanen. • Fasilitas-fasilitas Keberadaan fasilitas-fasilitas lain berupa pengairan dan drainase sangat membantu dalam pertumbuhan tanaman sehingga semakin mudah dalam meningkatkan produksi tanaman pangan. peningkatan luas panen atau penciptaan luas lahan penanaman baru juga merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai target produksi pangan nasional pada tahun 2012 tersebut. Target Cetak Lahan Baru tahun 2012 NO PROVINSI LAHAN NO PROVINSI LAHAN 6 . Bahkan. Pada kondisi dimana produksi usahatani harus ditingkatkan.Lokasi lahan usahatani memperlancar proses pemasaran. maka dapat dilihat bahwa sebagian besar cetak lahan baru hanya bisa diterapkan di luar pulau Jawa dan Bali. Tabel 3. Dampak dari adanya konversi lahan yang cukup besar di pulau Jawa dan Bali ini bukan saja dapat mengurangi produksi pangan nasional secara temporer. yaitu di Jawa Barat. Dari rencana cetak lahan baru yang dicanangkan oleh pemerintah pada hasil Pra-Musrenbangnas ini. Lokasi yang jauh dari sarana dan prasarana transportasi dapat memperburuk usahatani tersebut dari aspek ekonomi. Untuk itu dapat dilihat pada tabel 3. Di wilayah Jawa-Bali ini. Hal ini karena turunnya produksi pangan yang disebabkan oleh konversi lahan tidak dapat dipulihkan dengan cepat pada kondisi semula. seperti dampak pengurangan hasil produksi tanaman pangan yang disebabkan oleh adanya serangan hama dan terjadinya kekeringan atau banjir. akhirakhir ini luas lahan sawah di wilayah pulau Jawa-Bali justru semakin berkurang akibat dikonversi ke penggunaan lahan non-pertanian. keterbatasan sumberdaya lahan yang ada menyebabkan upaya untuk meningkatkan produksi pangan nasional dengan cara mencetak lahan penanaman baru semakin sulit untuk diwujudkan.

6.500 ha 4.750 ha 4. 27.750 ha.250 ha 5.750 ha sumber : Hasil Pra-Musrenbangnas. 10. yaitu sebesar 34.A.850 ha 3. sehingga luas lahan sawah setiap tahunnya rata-rata berkurang sebesar 141. 20. 32. sedangkan luas pencetakan lahan sawah baru hanya 46. 14. 12. Maluku dan Papua sebesar 26.140 ha 3. 11. 19.D Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung SUMATERA Jawa Barat Jawa Tengah D. 29 30 31.400 ha 22.650 ha 3.850 ha 26.I. 16. 33.050 ha 8. Hasil Sensus Pertanian pada tahun 2003 saja memperlihatkan bahwa selama tahun 2000-2002.600 ha 34. 21.3 ribu hektar per tahun. yang diikuti di wilayah NT. Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur KALIMANTAN Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat SULAWESI NT Barat NT Timur Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat NT.700 ha 1500 ha 3. 25. 3. N.4 ribu hektar per tahun. 7 . Untuk mengganti semakin besarnya konversi lahan pertanian di Pulau Jawa dan Bali maka pemerintah mentargetkan cetak lahan sawah baru sebagian besar difokuskan pada wilayah Sumatera. 9.BALI 13. PAPUA SAWAH 3.590 ha 200 ha 200 ha 28. Menurut Sutomo (2004). 2011.SAWAH 1.590 ha. 5.200 ha 3.500 ha 100 ha 2700 ha 3. pulau Sulawesi sebesar 22. 7.850 ha 1. 23. 22.Y Jawa Timur Banten Bali DKI Jakarta JAWA .600 ha 1.500 ha 3.900 ha 4. 15. 26.400 ha 5.100 ha 15. MALUKU. 2.950 ha 3.610 ha serta pulau Kalimantan yaitu sebesar 15. total luas lahan pertanian di Indonesia yang dikonversi ke penggunaan lain non-pertanian rata-rata 187. 24. 18.200 ha 1.7 ribu hektar per tahun. 8. 4.610 ha 1500 ha 7.300 ha 1. 13.610 ha 2.850 ha. 17.

khususnya di Indonesia. ternyata sektor pertanian hanya mampu memberikan kontribusi PDB nasional sebesar 13.b. dimana penyerapan tenaga kerja terbesar adalah di sub sektor tanaman pangan. Rendahnya produktivitas tersebut disebabkan masih rendahnya tingkat pendidikan dan kemampuan adopsi teknologi. Kelangkaan pada sumberdaya tenaga kerja ini dapat berakibat mundurnya penanaman sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan akhirnya produksi dari tanaman pangan tersebut juga tidak dapat mencapai titik maksimal. penduduk yang bekerja di sektor pertanian pada Februari 2010 turun 270.5 persen. Di Jawa Barat saja. Sumberdaya Tenaga Kerja dalam Usahatani Tenaga kerja juga merupakan unsur penting dan sebagai unsur penentu. Di Indonesia. Tetapi. dirasionalkan. perkebunan dan hortikultura sekitar 38. Karakteristik tenaga kerja bidang usahatani menurut Tohir (1983) adalah sebagai berikut : 1) Keperluan akan tenaga kerja dalam usahatani tidak kontinyu dan tidak merata. Kondisi ini menunjukkan bahwa produktivitas tenaga kerja pertanian masih rendah.5 persen dari jumlah tenaga kerja Indonesia seluruhnya.3 juta jiwa. Namun demikian. Tenaga kerja dalam usahatani memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan tenaga kerja dalam usaha bidang lain yang bukan pertanian. terutama pada usahatani yang sangat tergantung pada musim. dengan jumlah tenaga kerja yang besar tersebut. Karakteristik yang dikemukakan oleh Tohir (1983) akan memerlukan sistem-sistem manajerial tertentu yang harus dipahami sebagai usaha peningkatan usahatani itu sendiri. 4) Beraneka ragam coraknya dan terkadang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. tenaga kerja dalam bidang pertanian (secara luas) merupakan tenaga kerja terbesar dengan jumlahnya mencapai 42.8 persen diikuti dengan sub sektor peternakan sekitar 2. Selama ini. dalam setahun ini dibeberapa daerah. Jumlah ini merupakan 44.3 persen (BPS). Tenaga kerja pertanian tersebut tersebar ke dalam lima sub sektor. dan dispesialisasikan.000 orang 8 . sistem manajerial usahatani biasanya masih sangat sederhana. jumlah lapangan usaha sektor pertanian mengalami penurunan. Dibandingkan dengan Februari 2009. lapangan usaha sektor pertanian mengalami penurunan drastis. 2) Penyerapan tenaga kerja dalam usahatani sangat terbatas. 3) Tidak mudah distandarkan.

23 juta orang dari 4. diharapkan hal tersebut dapat mengantisipasi terhadap permasalahan kebutuhan tenaga kerja di sektor pertanian pada periode-periode mendatang.000 atau 1. Berdasarkan penghitungan maka jika terjadi kekurangan maka untuk memenuhinya dapat berasal dari tenaga luar keluarganya.3 juta menjadi 2. Hal tersebut maka akan menghambat dari apa yang sudah direncanakan dalam target produksi pangan nasional tahun 2012. beberapa indikator ketenagakerjaan Jabar pada Februari 2010 mengalami peningkatan. Hal ini tidak dapat dipungkiri.94 juta. Artinya.84 juta menjadi 0. kebutuhan tenaga kerja dalam sektor pertanian dapat diketahui dengan cara menghitung setiap kegiatan masing-masing komoditas yang diusahakan. 9 . sektor konstruksi dari 0. Satuan yang sering dipakai dalam perhitungan kebutuhan tenaga kerja adalah man days atau HKO (Hari Kerja Orang) dan JKO (Jam Kerja Orang). Sementara tingkat pengangguran terbuka di Jabar turun 226. perlu adanya pengkajian kembali terhadap faktor yang mempengaruhi jumlah ketersediaan tenaga kerja dari sektor pertanian ini dan dibandingkan dengan kebutuhan yang ada dalam sektor pertanian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar. kemudian dijumlah untuk seluruh usahatani. Adanya fenomena ini tentunya tidak dapat dibiarkan begitu saja. Hanya. sehingga terpaksa harus bergelut di sektor pertanian.79 juta. Menurut Suratiyah (2006).co.28 persen dibandingkan dengan tahun 2009. Sektor yang mengalami peningkatan tenaga kerja adalah sektor jasa kemasyarakatan dari 2. apalagi jika dalam jangka panjang. Dengan mengetahui faktor pengaruh dari ketersediaan tenaga kerja di sektor pertanian ini.menjadi 4.5 juta pada periode yang sama. Kebutuhan tenaga kerja berdasarkan jumlah tenaga kerja keluarga yang tersedia dibandingkan dengan kebutuhannya. pertanian saat ini hanya digeluti oleh orang-orang yang tak lagi memiliki pilihan atau kesempatan untuk mendapatkan usaha yang lebih baik. jika dilihat dari potret usahatani sekarang yang dipandang oleh generasi angkatan kerja saat ini menjadi sektor yang kurang menarik dan tidak memiliki prospek. Alih fungsi lahan dan menurunnya minat tenaga kerja pada sektor pertanian diduga menjadi penyebab penurunan jumlah tenaga kerja di sektor ini. Untuk itu. sektor pertanian yang dikatakan sebagai penopang sektor ketenagakerjaan Jabar justru mengalami penurunan (Bataviase.id).

Sebaliknya. Apabila dilihat dari pendistribusi tenaga kerja. pada waktu pemeliharaan hanya sedikit membutuhkan tenaga kerja.Pemakaian HKO ada kelemahannya karena masing-masing daerah berlainan (1 HKO di daerah B belum tentu sama dengan 1 HKO di daerah A) bila dihitung jam kerjanya. misalnya pada saat pengolahan tanah dan pada saat tanam. dibutuhkan tenaga yang sangat banyak sehingga seringkali tidak dapat diselesaikan sendiri oleh tenaga kerja keluarga. Seringkali dijumpai upah borongan yang sulit dihitung. distribusi tenaga kerja per tahun dalam usahatani tidak merata karena sangat tergantung pada musim. Terutama untuk tanaman padi. Kadangkala tenaga keluarga tidak dibutuhkan lagi. menurut Suratiyah (2006). pada saat-saat tertentu. artinya tenaga kerja keluarga yang tersedia tidak 10 . Sebaliknya. baik HKO maupun JKO-nya. Distribusi tenaga kerja Dari gambar 1 dapat dilihat bahwa pada saat-saat tertentu jumlah tenaga kerja keluarga yang tersedia tidak dapat menyelesaikan pekerjaan. Grafik distribusi tenaga kerja terhadap volume kerja (kegiatan) dapat dilihat pada gambar 1. kekurangan volume kegiatan I II pengangguran bulan keterangan : I dan II potensi tenaga kerja keluarga Gambar 1. dilain waktu justru terjadi pengangguran.

Modal dikatakan land saving capital jika dengan modal tersebut dapat menghemat penggunaan lahan. Tanah serta alam sekitarnya dan tenaga kerja adalah faktor produksi asli. Menurut Vink. sedangkan modal dan peralatan merupakan substitusi faktor produksi tanah dan tenaga kerja. c. demikian pula usahatani. yaitu land saving capital dan labour saving capital. bibit unggul. pemakaian power thresher untuk penggabahan dan sebagainya. Kebijakan pemerintah yang mengalokasikan anggaran di sektor pertanian hanya sebesar Rp16 triliun atau dua persen dari total APBN. Modal dikatakan labour saving capital jika dengan modal tersebut dapat menghemat penggunaan tenaga kerja. Kecilnya dukungan anggaran bidang pertanian dikhawatirkan akan membuat 11 . Sumberdaya Modal dan Anggaran Pembangunan Pertanian Modal adalah syarat mutlak untuk berlangsungnya suatu usaha. maka secara makro hal itu tidak dapat terlepas dari anggaran pemerintah dalam bidang pertanian. Penggolongan modal ini akan semakin rancu jika yang dibicarakan adalah usahatani keluarga. Hal ini dikarenakan belum adanya pemisahan yang jelas antara modal usaha dan modal pribadi. pestisida dan intensifikasi. Dengan modal dan peralatan. tidak demikian halnya dengan Koens yang menganggap bahwa hanya uang tunai saja yang dianggap sebagai modal usahatani. Namun. benda-benda (termasuk tanah) yang dapat mendatangkan pendapatan dianggap sebagai modal. Dengan modal dan peralatan maka penggunaan tanah dan tenaga kerja juga dapat dihemat. Dalam usahatani keluarga cenderung memisahkan faktor tanah dari alat-alat produksi yang lain. Kebijakan anggaran untuk pertanian tahun 2011 sendiri belum menjadi sebuah prioritas pemerintah. Apabila berbicara mengenai modal usahatani.dapat dimanfaatkan sepenuhnya karena memang tidak ada pekerjaan yang sepadan dalam usahataninya sehingga timbul pengangguran musiman. modal dapat dibagi menjadi dua. mesin penggiling padi (Rice Milling Unit/RMU) untuk memproses padi menjadi beras. Contohnya pemakaian traktor untuk membajak. hal ini dirasa sulit diharapkan bisa membawa Indonesia mencapai swasembada beras pada tahun 2011. Contohnya pemakaian pupuk. tetapi produksi dapat dilipatgandakan tanpa harus memperluas areal. faktor produksi lahan dan tenaga kerja dapat memberikan manfaat yang jauh lebih baik bagi petani. Oleh karena itu.

310/C/I/2008 tentang Peningkatan Produksi dan Produktivitas pangan melalui Pelaksanaan SLPTT. perlu adanya kemauan dari pemerintah dan DPR dalam rangka menata kembali posisi dukungan anggaran sektor pertanian dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. sebagai pengelola. Departemen Pertanian jauh-jauh waktu juga telah mengeluarkan paket program Sekolah Lapangan atau yang disebut dengan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). 2006). meskipun segala input sama maka akan diperoleh hasil yang berbeda pula. Dengan kata lain. Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Nomor 01/Kpts/HK. Seseorang dengan kreativitas tinggi akan mampu mengelola usahatani dengan lebih baik. pada saat yang sama dapat diperoleh hasil yang berbeda. Oleh karena pengelolaan adalah suatu seni (art) maka sulit untuk mengkuantifikasikan atau mengukurnya. dua orang petani dengan luas lahan dan kondisi yang sama. Pengelolaan sebagai sumberdaya sangat dipengaruhi oleh “human capital” pengelola usahatani tersebut yang pada akhirnya akan menentukan keberhasilan suatu usahatani. Pengelolaan Tanaman & Sumberdaya Terpadu (PTT) sebagai Sumberdaya yang Intangible Pengelolaan yang melekat pada tenaga kerja akan sangat menentukan bagaimana kinerjanya dalam menjalankan usahatani. pengelolaan dapat dikatakan sebagai faktor produksi yang tidak kentara atau tidak dapat diperhitungkan dengan pasti (Suratiyah. Dengan demikian. Pengelolaan sebagai sumberdaya sangat dipentingkan karena sangat menentukan suatu keberhasilan usahatani. Dalam rangka mendukung peningkatan kemampuan pengelolaan usahatani tanaman pangan ini. keberhasilan usahatani salahsatunya tergantung pada upaya dan kemampuan dari petani itu sendiri. Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu merupakan salah satu wujud kepedulian pemerintah dalam mendorong program pembangunan pertanian yang ditujukan untuk 12 . Pengelolaan yang baik dan benar akan memberikan hasil yang lebih baik pula. Dengan pengelolaan yang berbeda.pembangunan sektor pertanian berjalan lamban. Sebagai contoh. Dengan kata lain. dan target produksi pangan nasional pun akan tidak tercapai. Untuk itu. Jumlah produksi dan keberhasilan suatu usahatani tergantung pada siapa pengelolanya. d.

Dinamis 13 . 3. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan pengelolaan lahan. dan penggunaan bahan organik yang disertai dengan penerapan beberapa komponen teknologi yang saling menunjang (Anonim. Integrasi PTT mengupayakan integrasi sumber daya tanaman. 2004). tanaman dan organisme pengganggu (OPT) secara terpadu dan berkelanjutan. Kemajuan teknologi seperti perakitan varietas baru.meningkatkan produksi tanaman pangan nasional dan sebagai tempat belajar petani atau kelompok tani dalam penerapan budidaya sesuai spesifik lokalitas. Konsep PTT dikembangkan dari pengalaman pelaksanaan sistem intensifikasi padi yang pernah dilakukan dan hasil penelitian karakteristik tanah yang menemukan bahwa tanah sawah pada umumnya telah mengalami degradasi kesuburan dan adopsi filosofi dari System of Rice Intensification (SRI) yang berkembang awalnya di Madagaskar. 2. dan organisme pengganggu tanaman (OPT) dikelola agar mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya serta dapat menunjang peningkatan produktivitas lahan dan tanaman. PTT bukan merupakan paket teknologi namun adalah pendekatan atau cara untuk mempertahankan atau meningkatkan produktifitas tanaman secara berkelanjutan (sustainable) dengan memperhatikan sumberdaya. Budidaya tanaman pangan model PTT pada prinsipnya memadukan berbagai komponen teknologi yang saling menunjang (sinergis) guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi usahatani. kemampuan dan kemauan petani. dimana melalui usaha ini diharapkan (1) kebutuhan pangan nasional dapat dipenuhi. dan (3) usaha pertanian tanaman pangan dapat terlanjutkan. Interaksi PTT berlandaskan pada hubungan sinergis dari interaksi antara dua atau lebih komponen teknologi produksi. (2) pendapatan petani tanaman pangan dapat ditingkatkan. peningkatan monitoring hama atau penyakit. Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi (PHSL). air. air. lahan. Prinsip PTT menurut Syam. dkk (2004) 1.

pupuk bio-hayati)/ZPT. larikan.40/OT. bahkan memberikan saran penyempurnaan pengelolaan tanaman kepada penyuluh dan peneliti serta dapat menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya kepada petani lain. Oleh karena itu. • Pemberian pupuk organik minimal 2. pupuk mikro). Komponen Teknologi Dasar Komponen teknologi dasar (compulsory) yaitu komponen teknologi yang relatif dapat berlaku umum untuk wilayah yang luas. VUH. • Perbaikan aerasi tanah (irigasi berselang). dan • Penanganan panen dan pasca panen. 4. 14 . serta kondisi sosial ekonomi petani setempat. mempraktekkan. Komponen teknologi tersebut antara lain: • Varietas moderen (VUB. Komponen Teknologi dalam Pengelolaan Tanaman Terpadu (misalkan pada budidaya tanaman padi) : 1. • Pemupukan efisien menggunakan BWD dan PUTS/petak omisi/Permentan No. pupuk organik. yaitu selalu mengikuti perkembangan teknologi menyesuaikan dengan pilihan petani. VUTB). model pengembangan PTT selalu bercirikan spesifik lokasi.PTT dinamis. PTT bersifat partisipatif yang membuka ruang lebar bagi petani untuk bisa memilih. 2. • Pupuk cair (PPC.0 ton/ha dan • PHT sesuai OPT sasaran dan pengendalian gulma terpadu. biofisik dan iklim. dll). Komponen teknologi pilihan adalah: • Pengelolaan tanaman meliputi populasi dan cara tanam (legowo. Rakitan teknologi dalam PTT yang spesifik lokasi untuk setiap daerah telah mempertimbangkan lingkungan fisik. Komponen Teknologi Pilihan Komponen teknologi pilihan. • Bahan organik/pupuk kandang/kompos. yaitu komponen teknologi yang bersifat lebih spesifik lokasi. Partisipatif. • Bibit bermutu dan sehat (perlakuan benih). • Umur bibit (bibit muda umur 15 hari setelah sebar (HSS) atau kurang 21 HSS).140/4/2007.

dipilih teknologi yang diintroduksikan baik itu dari komponen teknologi dasar maupun pilihan. Perlu diketahui bahwa. komponen teknologi pilihan dapat menjadi compulsory apabila hasil PRA memprioritaskan komponen teknologi yang dimaksud menjadi keharusan untuk memecahkan masalah utama suatu wilayah. Untuk memecahkan masalah yang ada. 15 . agar pilihan komponen teknologi dapat sesuai dengan kebutuhan untuk memecahkan permasalan setempat. maka proses pemilihannya (perakitannya) didasarkan pada hasil analisis tentang Kajian Kebutuhan dan Peluang (KKP) atau yang lebih dikenal dengan nama PRA (Participatory Rural Appraisal). Dari hasil PRA teridentifikasi masalah yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi.Pada saat pemilihan rakitan teknologi ini sendiri.

petani tersebut menggunakan sumberdaya yang lebih sedikit dibandingkan dengan penggunaan sumberdaya oleh petani lain. Konsep Optimalisasi Usahatani Pada situasi dimana produksi pangan nasional semakin sulit ditingkatkan akibat meningkatnya kendala perluasan lahan sawah. sedikitnya sumberdaya tenaga kerja dan terbatasnya anggaran pembangunan pertanian. pendekatan alokasi sumberdaya sangat terkait dengan konsep efisiensi. Semaoen (1992) menjelaskan bahwa alokasi sumberdaya dikatakan efisien apabila tidak ada potensi perubahan yang lebih yang akan memperbesar efisisensi. maka mengoptimalkan segala keterbatasan sumberdaya yang ada tersebut merupakan langkah yang paling bijak demi tercapainya target produksi pangan nasional pada tahun 2012 mendatang. Secara grafis dapat ditunjukkan dalam gambar 2. Pada dasarnya optimalisasi dalam sebuah proses produksi di dalam bidang pertanian adalah menyangkut alokasi sumberdaya-sumberdaya pertanian. Apabila diinterpretasikan dengan bahasa yang lebih sederhana maka dapat dikatakan bahwa alokasi sumberdaya yang dilakukan oleh seorang petani lebih efisien dibandingkan dengan petani lain apabila untuk menghasilkan suatu tingkat output tanaman pangan tertentu. Isokuan petani A dan petani B 16 . Sementara itu.4. tena ga kerj a IB IA modal Gambar 2.

maka kenaikan produksi tanaman pangan tertentu. maka kawasan tersebut tidak dapat menaikkan jumlah produksi komoditas padi tanpa mengurangi jumlah produksi komoditas jagung yang ada pada penggunaan sumberdaya lahan yang optimal. (3) produk suplemen. 17 . Secara grafis hubungan bersaing jumlah komoditas padi dengan komoditas jagung yang dihasilkan dapat ditunjukkan dalam gambar 3. Setiap titik didalam bidang sumberdaya modal dan tenaga kerja. Dalam usahatani terpadu beberapa cabang usaha dijalankan secara bersamaan dengan menggunakan sumberdaya yang tersedia. yaitu : (1) produk bersama.Gambar 2 adalah unit isokuan. Misalkan pada sebuah kawasan dimana penggunaan sumberdaya lahan yang sama dapat digunakan untuk memproduksi dua komoditas produk pertanian. juga disepanjang isokuan itu menunjukkan jumlah produksi tanaman pangan tertentu. (2) produk komplemen. Dengan hal seperti ini. dengan menggunakan masukan modal dan tenaga kerja. alokasi pada isokuan IA lebih efisien daripada IB. Dalam kaitan ini. ada sebuah pertukaran (trade off) antara jumlah komoditas padi dengan jumlah komoditas jagung yang dihasilkan. Jumlah produksi tanaman pangan tertentu pada isokuan petani A (IA) sama besar dengan jumlah produksi tanaman pangan tertentu pada isokuan petani B (IB). hubungan antar cabang usahatani dan antar produksi tanaman pangan yang dihasilkan menjadi penentu dari optimalisasi dalam alokasi sumberdaya. Artinya dalam sebuah kawasan lahan yang sama. Perbedaan keempat hubungan produk tersebut didasarkan atas daya substitusi (daya desak) suatu produk terhadap produk lainnya. Langham (1979) menyebutkan bahwa hubungan produk dengan produk merupakan prinsip yang mendasari teori maksimisasi keuntungan. (4) produk bersaing. pada isokuan IA jumlah sumberdaya modal dan tenaga kerja yang digunakan lebih sedikit daripada isokuan IB. katakanlah padi dan jagung. Terdapat empat kemungkinan hubungan antar produk. akan dapat menurunkan produksi tanaman pangan yang lainnya. Oleh karena itu secara teknis. Namun demikian. Pada penggunaan sumberdaya yang sama dari dua produk atau lebih dalam sebuah kawasan misalkan kabupaten.

Dengan demikian titik A merupakan titik kombinasi optimum produksi padi dan jagung. Kurva iso-revenue merupakan titik-titik kombinasi produksi padi dan produksi jagung yang menghasilkan penerimaan yang sama bagi petani. Sebuah alat analisis yang dapat digunakan untuk menghasilkan kombinasi produk-produk untuk memperoleh penerimaan tertinggi pada kurva kemungkinan produksi adalah menggunakan metode pemrograman linear. Penentuan kombinasi optimum dari dua komoditas (padi dan jagung) padi dengan produksi jagung pada sumberdaya lahan tertentu. Agrawal dan Heady (1972) menjelaskan bahwa program linear merupakan suatu metode yang sistematis dan teliti secara matematis dalam menentuan kombinasi optimum cabangcabang usaha atau korbanan-korbanan seperti maksimisasi pendapatan atau minimisasi biaya sesuai denga batasan sumberdaya yang ada. perencanaan yang disusun untuk pengembangan pertanian di suatu wilayah akan memberikan suatu model optimasi yang penting bagi para perencana dalam hal penggunaan sumberdaya yang ada di Jagu ng O kurva iso-revenue A Kurva Kemungkinan Produksi Padi Kurva kemungkinan produksi menunjukkan hubungan antara produksi 18 . Pada tingkat optimum tersebut tercapai efisiensi pemakaian faktor produksi tertinggi dan menghasilkan pendapatan bagi petani yang maksimal.Gambar 3. Berkaitan dengan bidang pertanian.

dan (3) suatu struktur pembatas. artinya tidak ada pengaruh skala operasi atau Z=CX : A X ≤ b dan X≥0 produksi pada saat constant return to scale. yaitu : (1) suatu fungsi tujuan untuk mengukur hasil balik dari aktivitas yang dilakukan. Agrawal dan Heady (1972) menjelaskan bahwa model perencanaan linear mempunyai tiga komponen kuantitatif. Dalam operasionalnya. Dengan ketiga komponen tersebut maka model dasar program linear dapat dirumuskan sebagai berikut : Maksimumkan fungsi tujuan : Dengan syarat dimana : C = vektor harga atau koefisien fungsi tujuan A = matriks koefisien input-output C = vektor aktifitas b = vektor pembatas Asumsi-asumsi yang harus dipenuhi agar perencanaan linear dapat berlaku adalah : 1. Besarnya suatu aktifitas yang diusahakan tidak boleh negatif. 2. 3. artinya jumlah hasil yang diperoleh dari masing-masing aktivitas dan jumlah suatu input yang digunakan harus sama dengan jumlah input yang digunakan oleh tiap-tap aktifitas. Masalah optimalisasi usahatani tersebut dapat dirumuskan dalam model perencanaan linear. Model perencanaan linear merupakan suatu metode yang ampuh bagi para pembuat keputusan untuk membahas persoalan optimasi dalam melakukan perencanaan (Asmara. Fungsi tujuan bersifat linear. 19 . (2) suatu matriks teknologi.wilayah tersebut. perencanaan pertanian berhubungan dengan penentuan pola usahatani yang seharusnya dikembangkan baik pada tingkat petani maupun pada tingkat wilayah yang mampu meningkatkan produktivitas usaha sehingga dapat memaksimumkan pendapatan petani dan sumbangan sektor pertanian di daerah yang bersangkutan dengan mempertimbangkan batasan-batasan sumberdaya yang ada. Aktivitas dan input (sumberdaya) bersifat aditif. 2002).

............ persamaan (2)...... Banyaknya aktifitas dan pembatas terhingga........ 20 .....2 Dalam upaya menyederhanakan persoalan maka output yang dihasilkan dan input yang digunakan hanya terdiri dari dua jenis.. 6.......... Persamaan umum dari perencanaan usahatani adalah memaksimumkan fungsi tujuan (Z).................. (2) profit equation.... dimana : Z = keuntungan cj = harga produk ke-j Xj = produk ke-j aij = banyaknya input ke-i yang dibutuhkan untuk satu unit output ke-j bi = banyaknya input ke-i yang tersedia i = 1...... harga-harga input dan output serta besarnya faktor pembatas telah diketahui dan tertentu atau deterministik............X2 ............... (5) (3) (4) Persamaan (5) adalah persamaan production possibility di mana a12/a11 merupakan marginal rate of substitution (MRS) X2 terhadap X1 artinya banyaknya X1 yang harus dikorbankan untuk mendapatkan satu unit X2.. Koefisien input-output....………………………………..... Heady dan Candler (1969) menjelaskan bahwa pemecahan optimal dengan program linear menggunakan tiga persamaan yaitu : (1) persamaan production possibility.... Besarnya input dan aktifitas dapat dipecah-pecah dan kontinyu.. Z = c1 X1 + c2 X2 ………….... 7......... (2) a21 X1 + a22 X2 ≤ b2 ................. X2 ≥ 0 ....... banyaknya X1 yang dapat dihasilkan adalah : X1 = bl/a11 – (a12/a11)...…………………... Berdasarkan jenis input pertama............2 dan j = 1...............................................….. Xl... Berkaitan dengan pemecahan masalah...........4..... 5... (1) Kendala : a11 X1 + a12 X2 ≤ b1 …………….. Hubungan aktifitas dan input yang digunakan merupakan hubungan yang linear. dan (3) criterion equation.

.. (3) model program linier memberi informasi perubahan biaya yang diluangkan per unit......Persamaan (5) jika disubstitusikan terhadap persamaan (1) sehingga diperoleh persamaan keuntungan sebagai berikut : Z = c1 ( b1/a11 – a12/a11.......................................a12/a11 ) X2 ...... Demikian pula kombinasi aktivitas X1 dan X2 serta alokasi sumberdaya b1 dan b2 yang menghasilkan laba maksimal atau yang terbaik telah dapat diketahui........... (6) (7) Persamaan (7) menunjukan bahwa laba merupakan fungsi linear dari X2....................................... seperti: (1) model program linier dapat dibuat seluas mungkin tanpa khawatir terhadap beban perhitungan yang ditimbulkan.. Penggunaan program linier dalam penelitian tidak terlepas dari keunggulan yang ada dalam alat analisis tersebut. atau ΔZ = ( c2 – c1......X2 ) + c2 X2 ..... Berdasarkan persamaan (7) dapat diperoleh criterion equation yaitu : ΔZ / ΔX2 = c2 – c1............. 21 .a12/a11 ) ΔX2 ........ jika nilai tersebut sama dengan nol maka laba yang diperoleh telah optimal dan jika nilai tersebut negatif maka tambahan menghasilkan satu unit X2 akan mengurangi laba sebesar nilai tersebut....a12/a11 .. dan (4) model program linier memberikan informasi batas pendapatan pada tiap kegiatan...... hal ini sangat penting untuk menilai stabilitas hasil perhitungan dikaitkan dengan kemungkinan perubahan harga atau biaya..... Jika marginal profit positif maka tambahan menghasilkan satu unit X2 akan meningkatkan laba........a12/a11..... Z = c1 b1/a11 + ( c2 – c1.... (8) (9) Dari persamaan (8) dan (9) dapat diketahui bahwa besarnya tambahan laba dengan menghasilkan tambahan satu unit X2 atau marginal profit dari X2 adalah c2 – c1........ Soekartawi (1992) menyatakan bahwa penggunaan model analisa program linier mempunyai keunggulan dalam memberikan tambahan informasi ekonomi yang berguna mengenai pemecahan optimal.... Jadi pada saat marginal profit sama dengan nol maka laba maksimal telah dapat dicapai dari aktivitas yang dilakukan.. (2) model program tinier memberi informasi mengenai nilai produk marjinal dari masing-masing sumberdaya yang digunakan...........

Gambar tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak sumberdaya modal yang dicurahkan. Selain itu. 22 . maka konsep Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) akan menghasilkan jumlah produksi yang lebih besar. bila dibandingkan dengan ushatani yang dikelola secara biasa. maka penggunaan konsep PTT pada usahatani akan lebih meningkatkan produktifitas usahatani yang dihasilkan. dan produksi akan jauh lebih meningkat. Dengan modal produksi yang sama. Perbedaan produksi akibat dari adanya PTT dan optimasi Gambaran hasil perbedaan produksi antara pertanian yang dikelola secara biasa dengan pertanian yang menerapkan konsep Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) serta dengan adanya optimasi usahatani dapat dilihat pada gambar 4.Pendapatan (Rp) PTT & PTT pengelolaan Sumberdaya Modal (Rp) Gambar 4. hal ini juga akan berdampak positif dengan semakin banyaknya produksi yang dihasilkan. Penyertaan optimasi dalam perencanaan juga akan menimbulkan dampak yang nyata terhadap produksi yang dihasilkan. dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa pada saat faktor produksi lain yang sama (ceteris paribus).

Keterbatasan sumberdaya yang dikuasai menjadi salah satu faktor penyebab yang masih sering diketemukan. lembaga swadaya masyarakat. namun dapat memberikan efek yang positif terhadap pendapatan petani dan daerah. Kesimpulan Upaya untuk meningkatkan hasil produksi tanaman pangan telah banyak dilakukan baik oleh pemerintah. Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) diharapkan dapat membantu mengatasi keterbatasan sumberdaya usahatani. target produksi pangan nasional pada tahun 2012 akan semakin mudah untuk direalisir. Sehingga hal ini secara tidak langsung akan dapat meningkatkan pendapatan nasional dari sektor pertanian. Diharapkan dengan adanya PTT ini. diharapkan program PTT tidak hanya meningkatkan jumlah produksi tanaman pangan nasional. dengan adanya optimalisasi usahatani pada keterbatasan sumberdaya yang ada. Keterbatasan dalam penguasaan lahan. Usahatani yang dikelola oleh para petani seringkali menghadapi berbagai kendala pengembangan. modal dan input produksi lainnya serta rendahnya kemampuan dalam aspek pengelolaan merupakan kondisi yang membawa implikasi pada masih kurangnya produksi pangan secara nasional dalam memenuhi kebutuhan yang ada. 23 . dimana hal ini merupakan paket program yang disesuaikan dengan spesifik lokalitas petani. dan perguruan tinggi. Akan tetapi didalam pelaksanaannya diperoleh fakta bahwa hasil potensial produksi tanaman pangan berbeda dengan hasil nyata (riil) yang diperoleh petani.5. Selain itu.

dkk. Program Pascasarjana IPB. Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Bogor. 2002. M.id. I. Rajawali Pres. Bagian Dua. Sutomo. R. Bogor. Petunjuk Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah. Asmara. Linear Programming: Teori dan Aplikasinya Khususnya dalam Bidang Pertanian. Soekartawi. Tesis. 2004. Refrensi Internet Bataviase.O.R. Analisa Data Konversi dan Prediksi Kebutuhan Lahan. Heady. Langham. 1992. Petunjuk Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah.co.G. An Introduction to Economic Principles of Production. Bina Aksara.A. 1992.Daftar Pustaka Agrawal. S. Alla. 1972. Suratiyah. tertanggal 17 Mei 2010. Operations Research for Agricultural Decision. artikel berjudul “Tenaga Kerja Pertanian Menurun”. PT. 2004. Iowa. 1983. diakses pada tanggal 5 Juni 2011. Optimalisasi Pola Usahatani Tanaman Pangan pada Lahan Sawah dan Ternak Domba di Kecamatan Sukahaji. and E. 2006. Tohir. Singapore University Press. Penebar Swadaya. Ilmu Usahatani. Singapore. Anonim. Syam. Ekonomi Produksi Pertanian: Teori dan Aplikasi. Majalengka. K. Makalah disampaikan pada Pertemuan Round Table II Pengendalian Konversi dan Pengembangan Lahan Pertanian. K. Seuntai Pengetahuan tentang Usahatani Indonesia. The Iowa State University Press. 2004. Jakarta. Semaoen. Jakarta. Jakarta. 24 . 14 Desember 2004. Departemen Pertanian. Jakarta. 1979. Jakarta. Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia. Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful