P. 1
Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir

Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir

|Views: 3,231|Likes:
Published by Nur SuLviyana

More info:

Published by: Nur SuLviyana on Jan 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/03/2013

pdf

text

original

Tugas Nutrisi Kelautan

KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR

KELOMPOK 2
1. Nur Sulviyana
2. Firda Ulfa Lusiana 3. Sudarman 4. Dian Sari Enimosa 5. Ershanty Rahayu 6. Yunita Silvana Lantapi 7. Sri Wuna Sari Nasir 8. Fauzyah Novrini Kasman Arifin 9. Rahmawati Nur Ariyanti 10. Ririt Yuliarti Taha 11. Karmila 12. Inda Permatasari Ridwan 13. Aulia Fahdilah Tasruddin 14. Febrizah 15. Rika Hardiyanti Pagala

F1E1 10 047
F1E1 10 004 F1E1 10 030 F1E1 10 044 F1E1 10 046 F1E1 10 048 F1E1 10 051 F1E1 10 055 F1E1 10 057 F1E1 10 058 F1E1 10 063 F1E1 10 064 F1E1 10 068 F1E1 10 077 F1E1 10 083

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2012

KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN PENANGKAP IKAN

(Nur Sulviyana F1E1 10 047)

A. Ekonomi, Sosial dan pendidikan

Pembangunan wilayah pesisir pada umumnya dikaitkan dengan upaya pengentasan kemiskinan nelayan yang kehidupannya tergantung pada usaha perikanan. Sektor perikanan pada hakekatnya dapat dikembangkan sebagai alternatif bagi perbaikan ekonomi masyarakat nelayan.

Gambar 1. Peta Desa Bandaran Bebarapa desa yang berada di ruang lingkup Nusantara berpenghasilan sebagai nelayan penangkap ikan yaitu Desa Bandaran. Desa ini berada di wilayah sekitar pesisir Pulau Madura. Desa ini semula bernama kampong cerek. Perubahan nama dari ³Cerek´ menjadi ³Bandaran´ terjadi ketika desa ini berkembang menjadi ³bandar´ ikan. Beberapa definisi tentang masyarakat nelayan yang di definisikan oleh para ahli yaitu: Masyarakat nelayan adalah masyarakat yang lingkungan pemukimannya berada pada wilayah peralihan antara daratan dengan lautan yang disebut pinggir pantai atau tepi laut. Masyarakat pesisir atas nelayan, pembudi daya ikan, dan pedagang hasil laut, serta masyarakat nelayan yang kehidupan sosial ekonominya tergantung pada sumber daya kelautan. Masyarakat nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang tergantung pada hasil laut, baik dengan cara

melakukan penangkapan atau budidaya yang pada umumnya tinggal di pinggir pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya. Mengacu pada definisi tentang masyarakat nelayan. Definisi ini menggambarkan keadaan Desa Bandaran yang merupakan sebuah potret kehidupan desa nelayan tradisional, yang dalam menggerakkan aktivitas perekonomiannya sangat mengandalkan pada mata pencaharian sebagai nelayan, dan sedikit sekali yang memiliki mata pencaharian tetap. Selain itu, para nelayan dan beberapa pelaku ekonomi setempat (juragan pemilik kapal, bakul ikan) mengelola dan mengembangkan aktivitas perekonomian mereka secara ³swasembada´, yaitu bertumpu pada pemberdayaan potensi daerah dan modal yang terdapat di lingkungan setempat (lokal), yang merupakan ciri khas dari sebuah struktur ekonomi desa. Kondisi ketika musim kemarau panjang, matapencaharian pokok masyarakat yang berada di desa Bandaran pesisir, adalah sebagai nelayan, serta hanya sebagian kecil di antaranya bermatapencaharian selain nelayan. Walaupun masyarakat desa Bandaran pesisir tersebut berada pada daerah yang tidak terlalu subur, dan banyak menggantungkan hidup pada hasil penangkapan ikan di laut, namun secara ekonomis kehidupan mereka tidak dapat dikatakan sebagai masyarakat terbelakang dan miskin, bahkan, dari hasil penangkapan ikan di laut itu, sebagian besar dari mereka memiliki rumah tembok, fasilitas rumah tangga ³modern dan canggih´, untuk ukuran ³masyarakat tradisional´ (traditional peasant societies), dan mobil. Seperti lazimnya pemukiman masyarakat nelayan lain di Pulau Madura, rumah-rumah penduduk setempat cukup padat, berjejal, tidak menganut pola penataan rumah seperti dalam masyarakat petani pedalaman, serta mengesankan sebuah ³pemukiman kumuh´. Pada umumnya rumah-rumah mereka menghadap ke laut. Ketika berjalan di perkampungan sangat sempit dan berkelok-kelok, sehingga apabila berpapasan salah satu harus mengalah, namun, apabila diperhatikan, sulit dibayangkan bahwa daerah itu adalah daerah nelayan, dengan mata-pencaharian ³satu-satunya´ adalah menangkap ikan di laut. Kondisi rumah-rumah mereka yang berderet dari Timur ke Barat sepanjang 500 meter sebelah utara dan selatan jalan raya antara Pamekasan dan Sampang, tidak begitu jauh berbeda dengan rumah-rumah pemukiman orang-orang kota. Deretan bangunan rumah pemukiman penduduk di desa Bandaran itu ibarat sebuah ³kota kecil di tepi pantai´ (a little state in the coast), lengkap dengan berbagai aksesoris peralatan rumah tangga ³modern´, berselang-

Sungguh merupakan sebuah mozaik desa yang sangat mencengangkan. telah mulai ada yang disekolahkan hingga jenjang SMTA. dan jaring gondrong) merupakan sistem penangkapan utama atau umum diterapkan di dalam menangkap ikan di laut. (3) jaring lingkar (sleret). juga berbagai perabot rumah tangga khas masyarakat nelayan. disamping sistem pancing. perhatian dan tingkat partisipasi penduduk terhadap pendidikan anakanaknya sangat kurang.Walaupun dengan tingkat persentase yang tidak terlalu tinggi. dan jaring gondrong. (2) jaring gondrong. sistem jaring (jaring lepas. baik yang terbuat dari bambu maupun kayu.seling dengan rumah-rumah desa khas penduduk kampung nelayan. Sebagai daerah pemukiman cukup padat. jaring lingkar. itupun tidak seluruhnya tamat. Sedangkan. rakat. mulai berubah sejak dasa warsa 90-an. dan (4) rakat. terutama karena alasan akan ³dikawinkan´. dan hanya satu-dua orang saja yang bisa mencapai jenjang Perguruan Tinggi. yang hingga kini tetap bertahan dan masih banyak digunakan oleh nelayan tradisional penangkap ikan di desa Bandaran adalah dengan jenis jaring lingkar (sleret). kecuali sebagian kebutuhan sandang dan papan yang tidak terdapat di desanya atau terdapat kekurangan. sedangkan jaring lepas (sethet) kini hanya sebagian kecil nelayan yang . Ada tiga jenis jaring (phajang) yang biasa digunakan untuk keperluan penangkapan ikan di laut. B. Anak-anak mereka. tampaknya dapat dipenuhi sendiri dari berbagai fasilitas warung atau pertokoan yang ada di desanya. sistem penangkapan ikan melalui bagan tidak digunakan mengingat kondisi laut di desa Bandaran ini cukup dalam dan terjal sehingga tidak memungkinkan penggunaan sistem bagan. Sistem Penangkapan Ikan di Laut Bagi masyarakat nelayan di Desa Bandaran. mereka membeli di kota Kabupaten (Pamekasan atau Sampang). laki-laki dan atau perempuan. Di sisi lain. Anak-anak mereka terutama yang perempuan. yaitu: (1) jaring lepas (sethet). Kepedulian masyarakat setempat terhadap arti penting pendidikan bagi masa depan kehidupan anak-anak mereka. upaya mereka untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya. pada umumnya hanya bersekolah hingga jenjang SD. Di antara keempat jenis sistem penangkapan ikan dengan menggunakan sisem jaring di atas.

terdiri dari jenis yang paling besar hingga yang terkecil. tetapi berkelompok. tetapi dalam kasus-kasus tertentu bahkan seorang juragan pemilik perahu harus merekrut anggota nelayannya dengan ³cara membeli´. edher. Organisasi dan Pola Relasi Kerjasama Antar-Nelayan Kehidupan para nelayan Desa Bandaran bukanlah bersifat individual. sekalipun terdapat klasifikasi di antara mereka sesuai dengan spesifikasi kerja masing-masing. Hal ini menunjukkan betapa faktor-faktor sosial dan budaya bercampur baur dengan faktor-faktor ekonomi. (2) juragan kepala perahu. Gambar 2 C. Berbagai jenis perahu yang digunakan para nelayan desa Bandaran untuk menangkap ikan yang ada sekarang. jraghan kepala dan awak perahu/kapal di atas tidaklah terlalu ketat.menggunakannya (di desa Bandaran kini hanya tinggal 5 buah). juragan kepala dan phandiga. tetapi lebih bersifat ³kolegialisme´ dan ³kekeluargaan´. baik antara juragan perahu. Setiap kelompok nelayan terdiri dari: (1) juragan pemilik kapal/perahu. bukan terjadi dalam kerangka hubungan kerja antara ³atasan´ dan ³bawahan´ yang bersifat ³hubungan pengabdian´. Sebagai sebuah (organisasi) kelompok nelayan pola relasi kerja. tidak semata-mata didasarkan pada hubungan . suka-hati dan didasarkan atas ³kesertaan secara sukarela´. yaitu: kapal sleret. terbuka. mengingat bahwa penggunaan ketiga jenis jaring tadi secara ekonomis lebih menguntungkan. (3) pandhiga. dan pakesan kecil (thitil). Organisasi dan hubungan kerjasama di antara jraghan praho/kapal. atau antar anggota nelayan sendiri. Hal ini. Hubungan di antara mereka pun sangat longgar.

atas dasar kesukarelaan yang bersangkutan untuk menjadi anggota kelompok nelayan. faktor-faktor yang bersifat ³kekeluargaan´ juga mewarnai pola relasi kerjasama di antara mereka. adalah perekrutan seseorang dalam sebuah kelompok nelayan yang terbuka bagi siapa saja. menyebabkan adanya hubungan ³hutang-piutang´ yang cukup rumit di antara mereka dan seringkali menyebabkan posisi ³menawar´ para phandhiga atau jraghan kepala berada pada posisi lemah dibandingkan para pemilik perahu. Artinya. dia dapat masuk menjadi pengikut atau awak perahu (pandhiga) dari seorang pemilik perahu tertentu dan/atau para pemilik perahu yang lain. untuk mendapatkan anggota seorang juragan harus membeli orang-orang yang akan dijadikan anggota pandhiga perahunya.ekonomi-bisnis. Khusus untuk seorang juragan kepala. Sistem atau pola rekrutmen keanggotaan nelayan dilakukan secara: (1) sukarela. Longgarnya ikatan keorganisasian dan hubungan kerjasama kemitraan di antara pemilik kapal. dan (2) membeli. maka hanya dipersyaratkan bagi setiap nelayan yang telah memiliki banyak pengalaman di bidang penangkapan ikan di laut serta luasnya hubungan dan komunikasi dengan berbagai kelompok nelayan yang ada di daerah itu atau di luar desa Bandaran. siapapun orangnya. secara sukarela. Adanya sistem pembelian anggota kelompok nelayan untuk keperluan pengoperasian perahu/kapal seperti ini. atau apabila menurut mereka kapal/perahu yang mereka ikuti kurang memberikan hasil yang mencukupi atau memuaskan kebutuhan diri dan keluarganya. Di lain pihak. . juragan dan awak perahu tersebut tampaknya disebabkan oleh pola rekrutmen anggota yang juga tidak terlalu ketat. sistem ³membeli´ (melle) adalah perekrutan seseorang dalam sebuah kelompok nelayan dengan cara membeli atau membayar agar yang bersangkutan mau menjadi anggota kelompok perahunya. tanpa ada paksaan. Cara sukarela. serta merupakan lahan yang sangat potensial bagi keduanya untuk terlibat dalam hutang yang bertumpuk-tumpuk. atau kurang memadai. sehingga. tidak terlalu prosedural. Sistem membeli ini dilakukan manakala sebuah kapal/perahu tersebut pada setiap hari atau setiap musim melaut dapat dikatakan sedikit atau sama sekali tidak membawa hasil tangkapan ikan yang banyak (ta¶ olleyan). tanpa harus menunggu habisnya satu mosem petthengan. mengingat pentingnya peran dan tanggungjawab dia sebagai ³pemegang komando´ dalam suatu operasi penangkapan ikan. mereka pun dapat keluar dari keanggotaan suatu kelompok nelayan tersebut kapan mereka menghendaki. Demikian pula. atau dengan berbagai persyaratan sebagaimana layaknya sebuah usaha profesional.

dewasa ini pemilik perahu hanya mendapat sekitar 1/3 bagian (atau 35%). perbaikan atau bahkan penggantiannya yang baru sepenuhnya menjadi tanggungan dan atas modal dari juragan pemilik perahu tersebut. atau jenis kapal kecil (sampan/edher dan pakesan kecil) juga apakah menggunakan alat berupa jaring atau pancing (khusus untuk jenis kapal kecil). sistem pembagian hasilnya tetap tidak berubah. Seperti pada sistem pembagian ikan pada jenis kapal sleret di atas. dan mesin. Selain itu. jraghan kepala. sedangkan 50% sisanya untuk seluruh awak perahu. sistem pembagian ikannya adalah 50% dari seluruh ikan hasil tangkapan adalah bagian pemilik perahu. maka seluruh biaya perawatan. jaring. banyak atau sedikitnya hasil ikan sama sekali tidak berpengaruh terhadap sistem pem-bagian hasil ikan di antara jraghan kapal/perahu. Hal ini berbeda pada kapal besar jenis sleret dan pakesan besar yang seluruh biaya perawatan. yaitu apakah menggunakan jenis kapal/perahu besar (sleret dan pakesan besar).D. sedangkan sekitar 2/3 (65%) bagian lainnya dibagi menjadi 20 bagian untuk seluruh awak kapal/perahu. Kendatipun demikian. Namun. Dalam masyarakat nelayan desa Bandaran. sejalan dengan semakin ketatnya persaingan di antara para juragan pemilik perahu. dan mesin. dan/atau orang-orang lain yang terlibat dalam proses persiapan dan pelaksanaan operasi penangkapan ikan. memang sebanding dengan investasi yang telah dia keluarkan untuk pengadaan perahu. Berapapun hasil perolehan ikan. Sistem Pembagian Hasil Ikan Dalam kaitan bisnis penangkapan ikan di desa Bandaran. . jaring. dikenal dua sistem pembagian hasil ikan tangkapan yang didasarkan pada ³jenis perahu yang digunakan´ dan ³jaring (alat penangkapan ikan) yang digunakan´. Untuk jenis perahu besar. karena dalam hal terjadi kecelakaan atau kerusakan pada perahu. seorang pemilik perahu/kapal tidak menentukan ³target minimal´ yang harus dipenuhi atau dicapai oleh para jraghan kepala atau awak kapal/perahunya berkenaan dengan hasil tangkapan ikannya. Apabila diperhatikan. dalam sistem pembagian ikan hasil tangkapan di atas. tampaknya juragan pemilik perahu umumnya tetap mendapatkan pembagian hasil ikan rata-rata lebih tinggi dari para awak kapal. serta anggota nelayan lain yang termasuk anggota kelompok nelayan tersebut. pandhiga. besarnya jumlah penerimaan dari seorang juragan pemilik perahu pakesan kecil dan sampan (edher) tersebut.

maka total bersih penerimaannya sebanyak 5% ± 20%. Apabila menggunakan jaring sethet. maka sistem pembagiannya adalah 4-5 bagian untuk juragan pemilik perahu. juga masih memperoleh tambahan bagian lagi antara 5% ± 20%. . maka selain mendapatkan bagian yang telah ditetapkan di atas. Karena seluruh anggota nelayan berjumlah 1-4 orang. atau sebesar 2. untuk jenis perahu kecil terbagi lagi menjadi dua sistem. (3) tokang nampo mendapatkan bagian yang diberikan oleh masing-masing anggota nelayan sebanyak 5%. Namun. Sementara itu. Namun. apabila menggunakan jaring gondrong pembagiannya adalah: (1) juragan pemilik perahu antara 10% ± 40%.14% (sistem pembagian baru). (2) awak perahu mendapatkan bagian yang bervariasi. tokang koras (harfiah: ³tukang menguras´ air di dalam perahu di tengah laut ketika sedang melaut) tidak mendapatkan bagian tersendiri. sedangkan awak perahu masing-masing mendapatkan 1 bagian (jumlah awak perahu antara 4-6 orang). sehingga secara keseluruhan mendapatkan perolehan sebanyak 15% ± 60%.perbaikan dan/atau penggantian yang baru diambilkan dari uang perbaikan/perawatan yaitu sebesar 5% ± 10% (sistem pembagian lama). sedikit atau tidak. tergantung apakah jaringnya memperoleh hasil banyak. secara umum mereka dapat memperoleh total bagian bersih sebanyak 85% dari jumlah udang hasil pancingan mereka. tokang nampo dan tokang jagha¶an mendapatkan masing-masing ½ bagian. tetapi oleh karena dia juga dapat merangkap sebagai tukang nampo. tetapi memperoleh bagian dari hasil pemberian sekadarnya Gambar 3 Jenis-jenis kapal (sakadharra) atau atas dasar kerelaan dari para nelayan.

ada pula yang dibawa ke darat untuk dijual atau diserahkan kepada para bakul ikan yang ada di darat. daripada atas dasar ³sukarela´. Dalam aktivitas jual-beli tersebut. (3) tengkulak (tokang kolak jhuko¶). Kebiasaan memberikan uang perangsang ini.E. Dalam banyak kasus di lapangan. para nelayan atau juragan kepala tersebut akan menerima uang hasil pembelian ikan dari bakul µsenantiasa kurang¶ . Menjadi ³kewajiban´ atau ³keharusan´ bagi para nelayan dan juragan kepala penerima uang tadi untuk menjual atau menyerahkan sebagian atau seluruh ikanikan yang menjadi bagiannya²sesuai dengan kesepakat-an²kepada bakul yang telah memberinya uang. hasil ikan bagian masing-masing awak kapal dan juragan kepala. hubungan jual-beli ikan antara para nelayan dan juragan kepala di satu pihak dengan para bakul ikan di lain pihak sering bersifat ³mengikat´. walaupun sebenarnya uang yang dibayarkan²saat itu juga atau kemudian²oleh para bakul kepada mereka tidak pernah sama. Pola Relasi dan Jaringan Penjualan Ikan Transaksi jual-beli ikan/udang nelayan di desa Bandaran pada umumnya dilakukan di darat seperti dalam masyarakat nelayan di Pulau Madura lainnya. (2) bakul ikan (bakol jhuko¶). Pola jual-beli ikan dengan sistem ³uang pengikat´ (pesse panjher) tersebut memang tidak selalu merugikan pihak nelayan dan juragan kepala. bahkan lebih rendah dari harga jual riil ikan seandainya dijual langsung di pasar lokal. Relasi dan praktik jual-beli yang demikian ini telah menjadi pola umum dalam hampir setiap relasi dan jaringan perdagangan ikan yang berlaku di kalangan nelayan tradisional di desa Bandaran. Artinya. Aktivitas jual-beli tersebut terjadi antara (1) nelayan. Hal ini terjadi. tetapi kadang-kadang juga dilakukan di tengah laut. ada yang sebagian langsung dijual atau diserahkan kepada para bakul ikan yang datang ke tengah laut dengan menggunakan perahu. Uang tersebut merupakan ³uang muka´ (pesse panjher) dari bakul ikan kepada para nelayan dan juragan kepala dari hasil penjualan ikan yang diterimakan kepada bakul ikan. Pemberian uang tersebut tujuannya tidak lain adalah agar para nelayan dan juragan kepala tadi menyerahkan atau menjual ikan kepada si bakul ikan. karena para nelayan dan juragan kepala tersebut secara rutin dan berkesinambungan mendapatkan ³uang pengikat´ (pesse panyengset) dari para bakul ikan. juragan kepala. juragan perahu. dalam banyak hal telah menjadi kesepakatan di antara kedua belah pihak.

yang tentunya harga jualnya akan lebih murah dibandingkan apabila dijual dalam bentuk ³ikan basah´ (jhuko¶ odi¶). yang bagi mereka mungkin tidaklah mudah diperoleh dari orang lain. maka ikan-ikan tersebut harus dikeringkan (jhuko¶ kerreng). di samping perlu uang ekstra untuk biaya pengeringan. selain itu bunganya pun tidaklah terlalu tinggi (maksimal 5% perbulan). sehingga jumlah uang yang diterima oleh para nelayan dan juragan kepala dari para bakul siapapun dia setiap orang adalah setara.dari harga jual ikan di pasaran. Kecenderungan para nelayan dan juragan kepala untuk menjual ikan kepada bakul yang telah ³mengikatnya dengan uang pengikat tadi. tidak ada perbedaan. dll) atau pun untuk keperluan keluarga yang lain. yaitu kemudahan untuk mendapatkan hutang (otang) atau pinjaman uang (nginjham pesse) dari para bakul rekanannya. sebab bagi para nelayan dan juragan kepala ada risiko yang akan diterima. yang diperoleh dari selisih antara uang yang diberikan kepada para nelayan dan juragan kepala rekanannya dengan uang yang sebenarnya diperoleh dari hasil penjualan ikan tadi. Bagi bakul ikan sendiri. harga jual rendah/murah dan atau apabila mereka bawa ke pasar di luar daerah mereka sendiri. Dalam hal ini. atau ketika menjelang lebaran mereka kembali mendapatkan . selain masih harus mengeluarkan uang tambahan untuk transportasi juga belum dapat dipastikan dapat segera laku dengan cepat atau berharga tinggi. misalnya ke pasar kota Pamekasan. Para nelayan itu pun secara rutin masih mendapatkan barang-barang lain seperti rokok (ketika dia istirahat. Hal lain yang menjadi daya tarik dari para nelayan dan juragan kepala melakukan praktik bisnis semacam itu. atau hal-hal praktis lainnya daripada semata-mata pertimbangan bisnis-ekonomi yang berorientasi pada mencari untung sebesarbesarnya. Sistem pemberian hasil penjualan ³di bawah harga´ tersebut berlaku umum atau sama untuk seluruh bakul. apabila ikan yang dijual sendiri tadi tidak laku. apabila mereka menjual langsung ikan-ikan tersebut di pasar jalanan (pasar di pinggir jalan). selain dia dapat menjual harga sesuai dengan keadaan pasar dan jenis ikan yang dijual. tidak ada permainan harga jual antara bakul yang satu dengan bakul yang lain. serta tenaga. atau tidak melaut). apakah untuk keperluan modal usaha rumah tangga (meracang. yaitu ada kemungkinan tidak laku. Bahkan. adalah lebih disebabkan pada pertimbangan kecepatan dan kemudahan menjual ikan serta memperoleh uang. dengan adanya uang pengikat ini. dari hasil penjualan ikannya itu dia juga masih mendapatkan keuntungan. adalah karena mereka akan mendapatkan fasilitas tambahan dari para bakul ikan.

walaupun hal tersebut tidak dapat dikatakan bahwa pola relasi tersebut hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. sandal atau barangbarang kebutuhan lebaran lain untuk keluarga mereka. walaupun bukan merupakan gejala umum seperti halnya hubungan jual-beli antara nelayan dan bakul seperti di atas.³sesuatu´ dari para bakul rekanan bisnisnya seperti: pakaian. senantiasa dipelihara dan semakin diperkuat. Sejumlah alasan yang dikemukakan adalah. karena pasar tidak selalu memberikan respon positif terhadap ³hasil harga lelang´ yang disepakti di TPI. terjadinya praktik jual-beli ikan dengan sistem ³uang pengikat´ juga disebabkan oleh kurang berfungsinya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang ada. dikarenakan jaringan pemasaran ikan dari desa Bandaran ini hanya untuk konsumsi pasar-pasar lokal yang berada di kota Pamekasan dan Sampang. Selain sebab-sebab di atas. tetapi pada umumnya di antara mereka terdapat hubungan jual-beli yang relatif bebas sehingga setiap tengkulak dapat menguhungi setiap bakul untuk mendapatkan berbagai jenis ikan yang dibutuhkan atau diminati oleh para pembeli di pasar asal mereka sementara para bakul ikan itu dapat pula secara bebas menjual ikan-ikannya kepada setiap tengkulak sesuai dengan harga pasaran atau harga yang lebih tinggi dari harga penawaran tengkulak yang lain. sarung. Praktik jual-beli di atas. kopiah. dan juragan perahu. dan sejak beberapa tahun yang lalu semakin tidak diminati oleh para nelayan atau juragan. malah tidak jarang terjadi penagihan yang tidak kunjung terselesaikan sehingga para pemilik ikan pun merasa dirugikan. akan tetapi keberadaan TPI ini hanya efektif pada awal-awal pendiriannya saja. Juga karena seringkali para pembeli yang telah memberikan ³harga tertinggi´ di TPI tersebut banyak yang tidak segera melunasi uangnya. juragan kepala. pola jual-beli ikan dengan sistem ³uang pengikat´ juga terjadi antara para tengkulak ikan yang memberikan uang perangsang dengan para bakul ikan. . dan dalam hal-hal demikian itu telah menimbulkan hubungan jual-beli yang bersifat ³patron-client´ (hubungan pelindung-klien) di antara mereka. padahal pembangunan TPI tersebut pada awalnya merupakan inisiatif pemerintah dalam hal ini Dinas Perikanan untuk memudahkan dan memberikan keuntungan ekonomis yang lebih besar bagi para nelayan.

F. Untuk mencapai maksud itu. dan tengkulak. memiliki gudang atau pabrik pengolahan ikan. serta memiliki jaringan perdagangan di tingkat regional atau ekpor. seorang juragan pemilik . Dengan jumlah armada kapal perahu yang dimiliki (antara 1-5 buah). Selain itu. dalam aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran ini juga terdapat sejumlah pedagang besar dari luar Bandaran yang disebut tauke yaitu pelanggan tetap bermodal besar. para bakul. Kepemimpinan Ekonomi dan Pengembangan Struktur Ekonomi Lokal Berbeda dengan relasi jaringan perdagangan komoditas lokal di daerah lain di Pulau Madura seperti tembakau (bhako). para pelaku ekonomi utama dalam aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran tetap berada di tangan masyarakat setempat. Kepemilikan modal dalam perdagangan ikan di desa Bandaran ini tidak terlalu besar. sebagaimana umumnya struktur ekonomi desa. garam (buja). Keberadaan kepemilikan kapal/perahu serta modal yang dimiliki merupakan penggerak utama dalam aktivitas penangkapan ikan dan perdagangan. juga agar keuntungan tetap berada di pihak masyarakat desa Bandaran sendiri. yaitu juragan pemilik perahu. Hal ini. Dengan demikian. dan dari tangan Kepala Desa inilah para pedagang lokal (bakul) serta para tengkulak ikan yang berasal dari luar desa Bandaran membeli ikan sesuai dengan harga yang berlaku di pasar lokal. dimaksudkan selain agar tidak terjadi spekulasi harga jual-beli ikan yang dianggap dapat merugikan nelayan. akan tetapi sekarang ini mereka sudah tidak diperkenankan lagi untuk memborong ikan-ikan hasil tangkapan nelayan setempat. dibangun dan didukung oleh pola-pola kepemimpinan ekonomi yang juga bersifat ³lokal´. maka ikan-ikan tersebut diborong (ebhurung) oleh Kepala Desa. Juragan pemilik perahu/kapal merupakan pelaku terpenting dalam aktivitas perekonomian desa dalam masyarakat nelayan Bandaran. yaitu pada kemampuan atau keahlian mereka untuk meyakinkan para pemilik ikan agar menyerahkan atau menjual ikan kepada dirinya. atau ikan teri (jhuko¶ kenduy) dan nener (bibit ikan bandeng) yang pada umumnya melibatkan para pelaku ekonomi berskala besar dan lintas-lokal. bahkan tidak sedikit dari para bakul yang berperan sebagai ³pedagang pemasok dan perantara´ dalam aktivitas penjualan ikan hasil tangkapan nelayan kepada para tengkulak ikan hanya atas dasar prinsip ³kepercayaan´ (saleng parcaja). serta ³pemupukan modal´ yang sebenarnya bukan sebagai bentuk investasi dalam pengertian teori ekonomi. pengembangan ekonomi lokal desa Bandaran.

1989). Bahkan. sebab dengan adanya bakul ikan sebagai ³patron´. dalam de Jong. perumahan. dan antara 4-6 orang untuk perahu kecil jenis pakesan kecil dan sampan (edher). para nelayan/juragan kepala dan nelayan dapat menjual ikannya serta memperoleh uang dengan cepat tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan lagi. adanya kecenderungan masyarakat nelayan setempat untuk menyerahkan atau menjual sebagian terbesar ikan kepada mereka. telah menjadikan keberadaan dan peran para bakul ikan ini sebagai ³«stand guard over the crucial junctures or synapsis of relationships which connect the local system to the larger whole´ (Wolf. Selain itu. namun dia tidak memiliki dan tidak berkehendak untuk melakukan penguasaan yang bersifat monopoli terhadap para juragan kepala atau anggota nelayan. Dalam konteks yang sifatnya lebih terbatas. Adanya hubungan ³patron-klien´ dalam relasi bisnis antara nelayan/juragan kepala dan nelayan dengan para bakul ikan ini. yang dalam banyak hal menyerupai ³patron-client relationship´. kuatnya relasi bisnis antara nelayan/juragan kepala dan nelayan dengan para bakul ikan. memang memungkinkan tercapainya efektivitas dan efisiensi dalam penjualan ikan. dia juga telah melibatkan para penduduk setempat dalam suatu aliansi ekonomis di tingkat lokal untuk mengeksploitasi kekayaan sumber daya alam di laut lokal dan regional. walaupun ada risiko terhadap kemungkinan terjadinya perolehan pendapatan yang relatif lebih rendah dari pendapatan yang mungkin bisa diperoleh apabila mereka memperdagangkannya langsung di pasar jalanan setempat atau ke pasar-pasar lokal di luar daerah. dengan merekrut penduduk setempat antara 4-36 orang untuk tiga unit kapal/perahu sebagai tenaga-tenaga kerja efektif. kendati dengan . dan alat-alat pemuas kebutuhan ³modern´ lainnya. Sekalipun posisi seorang juragan perahu bermakna penting bagi kehidupan seorang nelayan di desa Bandaran ini. menyebabkan para bakul ikan menjadi mata rantai terpenting dalam seluruh aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran. Bakul ikan yang menjadi ³pemulung´ bertindak sebagai pelaku ekonomi kedua dalam aktivitas jual-beli ikan di tingkat lokal. antara 14 ± 18 orang untuk perahu jenis pakesan besar. sehingga secara ekonomis mereka mempunyai kesempatan memperoleh keuntungan-keuntungan ekonomis dari hasil pembagian ikan yang menjadi haknya bagi pemenuhan kebutuhan hidup keseharian. Secara fungsional. para juragan pemilik kapal/perahu ini telah mampu mengoptimalkan keberadaan sumber daya manusia setempat.perahu mampu mempekerjakan nelayan antara 23 ± 30 orang untuk satu kapal sleret.

tidak terlepas dari peran dan arti penting seorang tengkulak dalam matarantai perdagangan ikan dari daerah ini. kemudahan. mengakibatkan pendapatan para bakul ikan. Selain itu. dan bakul ikan merupakan dasar pokok dari setiap kepemimpinan ekonomi yang dijalankan.cara itu mereka akan memperoleh harga yang terkadang di bawah harga pasar. Pola demikian tampaknya erat berkaitan dengan faktor-faktor penggerak ekonomi dan uang yang pada umumnya tidak berada di tangan ketiga pelaku ekonomi di atas. di samping disebabkan oleh kemampuan masyarakat nelayan setempat di dalam mendapatkan dan memanfaatkan sumber-sumber keuangan yang jumlahnya tidaklah terlalu besar. Pemberian keamanan. Munculnya pelaku-pelaku ekonomi lokal (juragan. secara ekonomis menjadi lebih pasti dan berpengharapan. karena sifatnya yang sangat fluktuatif. terlihat bahwa pola kepemimpinan ekonomi di daerah Bandaran tersebut. banyaknya peminat ikan desa Bandaran telah mampu meminimalisasi adanya surplus ikan di pasaran setempat. . Dari uraian di atas. termasuk pula para juragan kepala dan nelayan. kelancaran dalam melakukan aktivitas ekonomi dalam pola-pola hubungan jual-beli di atara nelayan. Hal ini. bakul dan tengkulak ikan) dalam relasi perdagangan ikan. Nama ³jhuko¶ laok´ (ikan dari selatan) yang diberikan oleh para pembeli luar terhadap ikan hasil tangkapan nelayan desa Bandaran yang mereka temukan di sejumlah pasar lokal di luar Bandaran. juragan. namun keberadaan dan perannya sebagai pembeli dan sekaligus sebagai pemasar ikan setempat ke berbagai pasar lokal di luar daerah Bandaran. tidak saja memiliki arti penting bagi pemenuhan kebutuhan ekonomi para nelayan yang menjadi ³kliennya´. telah memungkinkan ikan-ikan hasil para nelayan setempat dikenal spesifikasinya di seluruh daerah Pamekasan dan Sampang. Sungguhpun para tengkulak ikan ini hampir dapat dikatakan tidak memiliki relasi dagang secara langsung dengan juragan kepala dan nelayan setempat. sehingga sirkulasi ikan setempat menjadi lebih lancar. walaupun pada sebagiannya ada yang bersifat ³patron-client relationship´. tetapi di lain pihak juga telah menciptakan hubungan ³patronklien´ yang cenderung melahirkan ³ketergantungan ekonomis´ bagi umumnya para nelayan. namun secara umum lebih bersifat ³collegialisme´ atau kemitraan kerja yang sejajar. Tengkulak ikan adalah pelaku ekonomi ketiga dalam aktivitas ekonomi dalam masyarakat di desa Bandaran.

tetapi lebih disebabkan karena para nelayan ingin segera menikmati hasil kerjanya. ³Hutang´ (aotang) sebagai salah satu karakteristik perekonomian desa tradisional. sebagaimana telah dibicarakan di atas. tetapi mereka juga mampu mengembangkan bisnis lain seperti membuka toko. naik haji. dalam banyak hal hampir selalu tidak menguntungkan secara ekonomis bagi si penghutang atau peminjam (kreditur). Hutang. Hal ini. membuat rumah.50 juta). dan atau dibelikan perahu/jaring kecil untuk melanggengkan matapencaharian mereka sebagai nelayan. G. arisan dan titip uang merupakan gejala umum yang dipraktikkan hampir oleh setiap penduduk nelayan di desa Bandaran. Hasil uang yang diperoleh dari hasil arisan ini mereka sertakan lagi dalam kelompok-kelompok arisan yang lain. Keanggotaan para nelayan dalam kelompok arisan bisa lebih dari satu. dan tidak mau direpotkan dengan hal-hal yang jlimet yang berakar pada sikap dan pemikiran sosial-budaya masyarakat nelayan tradisional desa Bandaran. tetapi kebanyakan menginvestasikannya dengan membeli mobil-mobil penumpang (colt diesel) untuk usaha tranportasi jurusan Pamekasan-Kamal.10 juta ± Rp. Lembaga-lembaga ³Kuasi´ Investasi Tradisional: Arisan. sehingga yang bersangkutan bisa memperoleh modal untuk membuka usaha perdagangan kecil-kecilan (pedagang kelontong). sejumlah juragan kapal/perahu tidak hanya memiliki lebih dari satu armada kapal/perahu besar yang berharga ratusan juta rupiah. menyelenggarakan lamaran dan pesta perkawinan. Di desa Bandaran terdapat tidak kurang dari 20-an kelompok arisan dengan jumlah perolehan arisan bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta. umumnya tidak dalam kerangka hubungan . sehingga sampai kini pun masyarakat setempat masih banyak terlibat dalam praktik hutang dan kredit. Oleh karena itu. di samping hutang atau kredit.Kecenderungan ini pada dasarnya bukanlah karena alasan-alasan ekonomis semata (untuk mendapatkan hutang atau kredit). Hal ini. juga berlaku di kalangan para juragan pemilik kapal/perahu dengan jumlah omset arisan yang lebih besar (Rp. selain menggabungkan diri ke dalam kelompok-kelompok arisan yang menjamur di desa Bandaran. dan Titip Uang Dalam seluruh aktivitas yang berkaitan dengan ³investasi´ uang. Hutang atau kredit (ngredit) yang dilakukan oleh masyarakat nelayan setempat. tampaknya kurang disadari oleh masyarakat nelayan tradisional di desa Bandaran.

Keterlibatan masyarakat nelayan setempat dalam praktik hutang-piutang atau kredit. besok cari lagi´ (ollena lako/ora¶ pabali ka lako/ora¶. Sikap hidup ini. sehingga keduanya sama-sama mendapatkan manfaat.10.000. hal tersebut karena bakul telah memberikan ³uang perangsang´ dan barang-barang perangsang lain. Hutang uang tetap dibayar dengan uang. Kalaupun para nelayan tadi seakan terikat oleh akad jual-beli ikan dengan bakul. juga berlaku bagi penduduk Desa Bandaran di kampung Montor dan Nagger yang bermatapencaharian sebagai petani. hampir-hampir tidak dimiliki oleh sebagian terbesar masyarakat. yang diberikan dari hasil penjualan ikan mereka.5. seorang nelayan hampir tidak pernah melakukan pembayaran dalam bentuk penyerahan ikan kepada bakul dengan harga yang ditentukan secara sepihak oleh bakul. menabung atau melakukan investasi uang dan barang untuk pengembangan usaha lain maupun untuk kebutuhan masa depan. Berhemat. jumlahnya hanya berkisar antara Rp. akan tetapi. hal tersebut lebih merupakan sebagai ³komisi´ atau ³uang jasa´ yang mereka anggap wajar atas kerjanya menjualkan ikan nelayan tersebut. Harga jual ikan dari bakul tetap mengikuti harga pasar. tergantung pada besarnya jumlah hutang/kredit. tidak terjadi praktik ijon dari para bakul terhadap nelayan yang menjadi kliennya. tanpa mempengaruhi penetapan harga ikan yang dijualkan atau diserahkan kepada bakul. lagguna nyare pole). ³apa yang diperoleh sekarang. Namun demikian. Dalam hal ini. kalaupun nelayan tadi menerima uang penjualan ikannya di bawah harga jual yang secara riil diterima oleh bakul.000. lebih dimaksudkan sebagai upaya dari kedua belah pihak untuk memelihara hubungan perdagangan. di mana harga jual ikan dari nelayan tersebut ditetapkan sebelumnya dan di bawah harga pasar. Dengan perkataan lain. sikap hidup mereka tidak . dengan imbalan berupa bunga yang besarnya sekitar 5% perbulan. Dalam kasus hubungan hutang-piutang atau kredit antara nelayan dan bakul ikan. permintaan hutang atau kredit dari seorang nelayan kepada para bakul patronnya. Hutang atau permintaan kredit biasanya dilakukan oleh para nelayan kepada orang-orang kaya (oreng sogi) tetangga-tetangga mereka sendiri yang sama sekali tidak memiliki hubungan kerja dengan dirinya. pada umumnya mereka lebih sering meminjam uang kepada kepala-kepala arisan yang banyak memegang uang-uang titipan para anggotanya.00.kerja antara nelayan dan juragan.00 hingga Rp. Bagi mereka. tampaknya banyak disebabkan oleh sikap hidup mereka yang ³kurang menjangkau masa depan´. Itupun. kecuali para pemilik modal dan pedagang besar. habiskan sekarang juga.

Dengan adanya ³lembaga-lembaga keuangan informal´ dan sistem ³kuasi investasi´ semacam itu. Sementara itu mereka pun tidak perlu investasi untuk ikan di laut. atau barang-barang berharga seperti perhiasan emas (kalung. tetapi lebih dikarenakan mereka ingin menyepadankan antara ³kerja´ dan ³hasil kerja´ untuk memperoleh kepuasan diri baik secara fisik. membeli peralatan rumah tangga. ³lembaga-lembaga keuangan informal´ dan sistem ³kuasi investasi´ tersebut telah memungkinkan struktur ekonomi di desa mereka dapat dibangun dan dikembangkan atas dasar kemampuan ekonomi lokal atau secara ³berswasembada´. psikologis dan ³sosial´ setelah mereka berjerih-payah seharian atau sehari-semalam menangkap ikan. praktis keberadaan Bank. yang lebih berkonotasi pada sikap menghamburhamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. seperti membangun rumah. lamaran dan pesta perkawinan.dapat dikatakan sebagai sikap hidup ³boros´. cincin) terutama ketika akan menjelang lebaran untuk memenuhi kebutuhan sosial dan budaya mereka. Hal ini dikarenakan kesederhanan pemikiran ekonomi mereka dan ketidakinginan mereka berhubungan dengan hal-hal yang bersifat prosedural. Koperasi Desa. Di lain pihak. Hutang atau kredit yang mereka peroleh pada umumnya tidak diinvestasikan untuk menambah modal usaha tetapi untuk kebutuhan ³habis pakai´. dan semacamnya tidak banyak dimanfaatkan oleh penduduk setempat. . sebagaimana layaknya mereka yang hidup dari pertanian. gelang.

Khusyairi. kebudayaan dan ekonomi. A. Jakarta: Sinar Harapan. Dewey. orientasi politik. Prakapitalisme di asia. Sejarah sosiologis-ekonomis Indonesia. Djojomartono. Adat-istiadat sekitar kelahiran pada masyarakat nelayan di Madura. Jakarta: Penerbit PT. Industri Rokok Kudus. kebudayaan dan ekonomi. Malang: Depdikbud (dalam rangka kerjasama Indonesia-Belanda). (2009). Huub de Jonge (ed. Peasant marketing in Java. dan kepemimpinan lokal di antara orang-orang Madura di Lumajang. Koentjaraningrat (eds). Tingkah laku agama. Agama. dan islam (suatu studi antropologi ekonomi). Musik dan seni pertunjukan di kabupaten sumenep. Malang: Depdikbud (dalam rangka kerjasama Indonesia-Belanda). dan ekonomi di jawa. J.). Glencoe. (2008). (2008).H. H. _______ (2009). Agama. Proyek Penelitian Madura. Jakarta: Sinar Harapan. Jakarta: PN. Balai Pustaka. (2007). Jakarta: Grafitti Press. Madura dalam empat zaman: Pedagang. Gramedia. (2001). Burger. Castles. (2010). H.Referensi Abdurrachman. Jakarta: Grafitti Press. Bouvier.H. Agama. Jakarta: Prajnyaparamita. (1997). G. III. .. Huub (eds): Agama.). Some thought on enterpreneur in a maduranese country: Madura I. D. perkembangan ekonomi. Jakarta: Grafitti Press. M. Huub de Jonge (ed. Boeke. politik. (2004). Agama. kebudayaan dan ekonomi. de Jonge. L. _______2009). kebudayaan dan ekonomi. Jakarta: Grafitti Press. (2009). Huub (eds). Sekelumit cara mengenal masyarakat Madura: Madura I. _______ (2009). Hubungan Ketergantungan dalam Perikanan di Madura: de Jonge. Perkembangan ekonomi dan islamisasi di madura: de Jonge. Proyek Penelitian Madura. A. Ritus peralihan di Indonesia.

Rintangan-rintangan mental dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Peddlers and Princes.Geertz. . Masyarakat Desa Indonesia. (2007). C. Some preliminary considerations. Economic development and cultural change. (2007). Koentjaraningrat. Chicago. Jakarta: Yayasan BPFE-UI. Religious belief and economic behavior in a central javanese town. Jakarta: PT. Gramedia. (eds) (). _______ (2008). _______.

Indonesia memiliki kawasan pesisir yang sangat luas. perantara. pesaingan. masyarakat atau konsumen.7 juta ton adalah hasil produksi dari sektor perikanan laut. Dalam hal ini nelayan bisa berfungsi sebagai pengusaha. Dari jumlah tersebut sekitar 78% atau lebih kurang 3. pesaing atau perantara bila merangkap menjadi pembina. pemukiman. dan waduk. pariwisata. pelanggan. 1981: 42).MASYARAKAT PESISIR DENGAN MATA PENCAHARIAN SEBAGAI PENJUAL IKAN (Firda Ulfa Lusiana F1E1 10 004) Secara geografis. Potensi yang demikian besar tentunya memberikan peluang yang besar pula terhadap terciptanya berbagai bentuk pemanfaatan seperti usaha pertambakan. terumbu karang. rawa. kawasan pesisir yang terdiri dari berbagai ekosistem pendukung seperti ekosistem hutan mangrove. Indonesia terdiri dari beribu pulau yang sebagian besar wiliyahnya (62%) merupakan perairan laut. pemasok. H.1 Dari data statistik terlihat jumlah produksi perikanan di Indonesia saat ini sekitar 4. sedangkan 38 % lainnya adalah daratan yang didalamnya juga memuat kandungan air tawar dalam bentuk sungai. Selain menempati wilayah yang sangat luas. dan bahan-bahan tambang yang bernilai tinggi. Ketergantungan masyarakat terhadap sektor kelautan ini memberikan identitas tersendiri sebagai masyarakat pesisir dengan pola hidup yang dikenal sebagai kebudayaan pesisir (Geertz. tercakup didalamnya beberapa pelaku kegiatan pemasaran. seperti perusahaan pengolahan. danau. pemasok. pertanian.8 juta ton per tahun.. pertambangan dan penangkapan ikan. Sebagai satu negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang 81. perindustrian.3 Pemasaran adalah kegiatan mengatur barang dari produsen ke konsumen. Dalam kegiatan mikro pemasaran. 2 Demikian luasnya wiliyah laut di Indonesia sehingga mendorong masyarakat yang hidup di sekitar wilayah laut memanfaatkan sumber kelautan sebagai tumpuan hidupnya.5 . selat dan teluk. padang lamun dan lahan basah tersebut memiliki keanekaragaman hayati dan berbagai sumberdaya alam seperti ikan.000 km.

keuangan dan peralatan melaut serta bahan bakar mereka disediakan oleh juragan ikan dengan harga yang cukup tinggi. daerah pemasaran (local/ekspor). 3  Kondisi Wilayah Pemasaran . juga melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan kapal-kapal bermotor yang merekrut anggota masyarakat pesisir menjadi pekerja di kapal mereka yang sering disebut dengan istilah µsawi¶. ikan kering. Dengan berlalunya waktu kelompok kedua mengalami perubahan ekonomi menjadi juragan ikan yang menguasai ekonomi masyarakat pesisir.5 Di dalam masyarakat pesisir pada dasarnya terdapat dua kelompok usaha perikanan. Orangorang yang menampung hasil tangkapan ini biasanya masing-masing telah mempunyai langganan nelayan tetap dengan harga yang sama.3 Sebagian besar dari produksi ikan dipasarkan sebagai ikan segar. ikan asap. bentuk ikan (segar/olahan). pengecer dari dalam desa. tetapi ikan tangkapan mereka harus dijual kepada juragan ikan untuk melunasi hutang-hutangnya. jenis ikan yang diperoleh. Yang memengaruhi system pemasaran hasil tangkapan nelayan. pedagang perantara. yaitu jenis kapal dan alat penangkapnya. ikan kaleng. Sawi bekerja pada kapal-kapal juragan ikan menangkap ikan di perairan teritorial dengan keuntungan bagi hasil yang besarannya ditentukan oleh juragan ikan. 6 Bagi Nelayan tangkap yang tidak tergolong sebagai sawi atau menjalankan sendiri penangkapan ikan di perairan kabupaten (sejauh 4 mil dari pantai) kebutuhan pokok. Juragan Ikan di samping sebagai pedagang ikan. dan organisasi atau individu yang melakukan distribusi.4 Harga ikan dihitung oleh Dinas Perikanan di masing-masing pelabuhan perikanan. yaitu kelompok nelayan tangkap dan kelompok pemasaran ikan. Jaringan pasar terbentuk berdasarkan ikatan saling kepercayaan antara nelayan dengan pedagang. tidak saling bersaing sesama mereka. Selain itu. Hanya sebagian kecil diolah menjadi "fillet" beku.. Produk perikanan tangkapan umumnya dijual langsung ke pedagang perantara dan menjual produk tersebut ke beberapa pasar. dalam kecamatan maupun dari kabupaten sebelum sampai ke konsumen akhir. ataupun tepung ikan.Rantai pemasaran produk perikanan tangkap melibatkan pedagang pengumpul. Proses penjualan ikan dijalankan menurut kebiasaan yang ada yaitu melalui lembaga atau orang-orang yang biasa manampung langsung (bandar ikan) hasil tangkapan nelayan. ikan asin.

42 juta jiwa masyarakat pesisir masih hidup dibawah garis kemiskinan dengan indikator pendapatan US$ 1 per hari (Data Direktorat PMP 2006).14% dari 16. Pemilihan lokasi penjualan merupakan satu syarat yang penting dalam memuali usaha. oleh karena itu penjual ikan memperoleh barang/ikannya dari nelayan penangkap ikan. Fakta ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat di wilayah pesisir Indonesia masih termasuk masyarakat yang miskin. Rata-rata pedagang berpatokan pada tingkat keuntungan yang memenuhi kebutuhan primer. Harga dipengaruhi oleh volume produksi tangkap. Usaha yang dilakukan para penjual ikan dalam memperoleh tempat menjual memang tidak mudah. seperti halnya menjual ikan lokasi yang dipilih mesti strategis dan membuka peluang keuntungan. . jumlah perdagang yang terlibat serta jarak dan jenis pasar target. harga yang ditawarkan para pemilik tempat ataupun pemerintah terlalu mahal. Belum ada upaya promosi dan klasifikasi produk perikanan. Menurut hasil penelitian (Muflikhati.  Kondisi Manajemen Pemasaran Manajemen pemasaran produk perikanan tangkap relatif sederhana. pada umumnya nelayan langsung memindah tangankan hasil tangkapannya (menjual ikan) kepada beberapa pihak yang ada seperti penada.Umumnya masyarakat perikanan (MPM) menjual produk pada tahap pertama kepada pedagang pengumpul dan perantara di lokasi MPM. jenis alat angkut serta jarak yang dilalui. sehinggga para penjual ikan kebanyakan menjadi papalele (penjual ikan keliling)  Kondisi Harga Produk Kondisi harga di level produsen sangat tergantung pada musim ikan. Para pedagang akan menjual ke pasar kecamatan dan pasar kabupaten. jumlah pedagang. selain bersaing dengan para penjual ikan lainnya. 2010) memperlihatkan bahwa sebanyak 32. papalele kemudian sampai kepada penjual ikan.  Sumber Barang (Ikan Yang dijual) Penjual ikan tidak lepas dari produsen penghasil ikan dalam hal ini nelayan.

- . Kenaikan harga ikan laut juga terpantau di Pasar Gede.000/kg menjadi Rp 65. pendapatan mereka rata-rata per bulan berkisar antara Rp. Salah satu pedagang pasar. rata-rata pendidikan mereka adalah SD.7 - Namun di Solo akibat tingginya gelombang membuat pasokan ikan turun 50% Selain pasokan terbatas. dari Rp 40. Ikan yang mereka jual adalah ikan lemuru.000.000.000/kg. 3.000/kg menjadi Rp 45.000/kg.000 ± Rp. 1.500. Harga cumi-cumi melonjak dari sebelumnya Rp 30. harga ikan laut juga melejit dengan kenaikan mencapai 50%. Penghasilan para pedagang ikan pun menyusut. dengan harga beli/kg antara Rp. 500.000 ± Rp. Sedangkan harga kepiting naik lebih tajam. Rian mengatakan akibat harga tinggi pembeli mengurangi pembelian ikan laut.Penghasilan yang diperoleh dari penjual ikan yaitu : Dari hasil survey yang telah dilakukan terhadap bakul / penjual ikan di wilayah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan di peroleh hasil bahwa umumnya mereka bekerja sebagai bakul/pemasar >15 tahun. 7. SLTP dan SLTA. dan harga jual/kg antara Rp. mereka memasarkan ikan umumnya ke plosok desa dengan menggunakan motor dan ada sebagian yang menggunakan sepeda.000. 2.000 ± Rp. usia mereka rata-rata 28-70 tahun. 10.

id. Khazali dan Laksmi A Savitri. Telepon : (021) 3818043 Fax : (021) 3518951. 2010. 2009 : 24 ± 32.%20Wetlands%20Internat ional/Buku%20Pemberdayaan%20Masy%20Pesisir-Indramayu. BPR dan UMKM BANK INDONESIA. Halaman 61 Bab IV.com/2010/07/konsep-dasar-pengelolaan-dana-pemp. ³Konsep Dasar Pengolaan Dana PEMP´.go. Bogor : Wetlands International .id/NR/rdonlyres/CD1C61DF-1893-4000-BFA0- CF81D20525D3/16052/PenangkapanIkanLaut1. From http://elib.html 7. pdf 6.edu/~thoumi/Research/Carbon/Forests/Forests. 4.lipi.bi.pdii. Social Economic Impacts of Pengambengan Nusantara Fishing Port (NFP) Construction and Development. 3. No.html 5. Pemasaran Ikan dan Ekonomi Nelayan. Drs.php/searchkatalog/downloadDatabyId/2167/2168. Program Doktor Manajemen Sumberdaya Pantai Universitas Diponegoro Semarang .blogspot. ³Adaptasi Ekologi Masyarakat Pesisir Selatan Jawa Barat Suatu Analisa Kebudayaan´. From : http://tadjuddin. 2008. Endang Tjitroresmi.go. Jurnal Saintek Perikanan Vol. From http://www- personal.Indonesia Programmed dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan.blogspot.pdf 4. Dampak Sosial Ekonomi Pembangunan dan Pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambenan Jembrana Bali. From : http://www.umich. Agus Suherman dan Adhyaksa Dault. http://ompuaan.DAFTAR PUSTAKA 1.com/2009/05/perbaikan-pemasaran-masyarakat-pesisir. M. Penangkapan Ikan Laut.go.pdf 2. 2. ³Pemberdayaan Masyarakat Pesisir´. Tadjudin. Direktorat Kredit. Syarif Moeis.id/katalog/index. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia. 1999. Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK). Email : tbtlkm@bi.

Mereka menjunjung tinggi penghormatan terhadap leluhur leluhur mereka.Peternakan Di Wilayah Pesisir (Sudarman F1E1 10 030) Masyarakat pesisir merupakan masyarakat multicultural yang mendiami wilayah pinggiran pantai yang tersebar di seluruh Indonesia.. Untuk tetap bertahan hidup maka mereka berusaha untuk mencari mata pencaharian alternative. Mereka lebih memilih untuk focus menangkap ikan di lautan. Hal ini menyebabkan rekonstruksi ulang susunan ekosistem perairan di lautan. Masyarakat pesisir juga merupakan masyarakat yang memiliki nilai nilai kultur yang tinggi. Pada saat itu masyarakat pesisir tidak akan turun melaut untuk menghormati budaya mereka. Indonesia merupakan Negara kepulauan yang tersusun atas ribuan pulau. Walaupun pada dasarnya melaut merupakan cirri yang khas dari perkembangan masyarakat pesisir. Itulah mengapa mereka lebih mengedepankan aspek aspek kultur ketimbang logika dan rasionalisme. dan berternak. masyarakat pesisir merupakan kelompok masyarakat yang dikatakan terbelakang. bertani garam. Pada saat masa menutup aktivitas peraiaran. Karena tidak terlalu memperhatikan pendidikan. Salah satu bukti bentuk kultur yang ditinggikan di masyarakat pesisir adalah. . Hal ini menyebabkan mereka kehilangan mata pencaharian utama mereka. Beberapa contoh mata pencaharian alternative tersebut adalah menambang batu karang. Masyarakat pesisir tidak akan turun melaut. Masyarakat pesisir memiliki berbagai macam interaksi perokonomian. bertani rumput laut. Anggapan mereka adalah leluhur merekalah yang membantu mengumpulkan ikan saat mereka melaut. Beberapa dekade yang lalu. Berdasarkan beberapa definisi dari bberbagai ahli masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang mendiami wilayah pinggiran pantai hingga 2 km dari bibir pantai. Bagai mereka pendidikan hanya membuang buang waktu. Bahkan bisa dikatan sebagai Negara kepualauan terbesar di Indonesia. ketimbang harus mengenyam pendidikan di sekolah sekolah. berkebun. Itulah mengapa masyarakat peisisr erat kaitannya dengan kebodohan. mereka mengedepankan budaya buka tutup perairan. Itulah mengapa pemerintah menetapkan masyarakat pesisir sebagai patokan pengembangan kesejahteraan negara.

Dengan beternak selain mereka dpata menghasilkan pendapatn yang lumayan.com. meskipun melaut lebih beresiko. Bagi masyarakat pesisir semua sumber daya alam yang ada dilautan merupakan harta kekayaan yang harus mereka lestarikan. Masyarakat Pesisir. 2002. kini lebih focus beternak di wilayah pesisir. Mata pencaharian yang awalnya dianggap tidak menguntungkan justru kini malah berkembang pesat. Bagi beberapa peternak yang berhasil mereka menganggap bahwa beternak lebih menguntungkan ketimbang mata pencaharian lain. Mereka telah mengembangkan system perekonomian yang lenih maju. Materi kuliah nutrisi kelautan . Hari ini masyarakat pesisir telah berkembang maju seiring perkembangan zaman. Mereka juga mampu mengkonsumsi hewan ternak yang mereka pelihara. Sebagai contoh bapak zamroni yang mulanya adalah nelayan. system pendidikan yang mulai mereka terima. solihin. Sebagai bukti beliau telah panen ayam dengan pendapatan yang luar biasa ketimbang harus melaut. Daftar Pustaka Haris. tapi melaut adalah jiwa yang telah mengalir dalam darah mereka. Tapi menurut beliau nelayan tetaplah mata pencaharian utama mereka.blogspot. Dikutip dari haris.Berternak merupakan salah bentuk modifikasi mata pencaharian masyarakat pesisir. Kini masyarakat pesisir telah berkembang menjadi masyarakat dengan peradaban yang lebih baik dari sebelumnya.

Pekalongan. permodalannya sangat lemah. ekonomi. dan terasi dengan pembatasan wilayah di Pantura Jawa Tengah (Tegal. peralatan yang digunakan sangat sederhana. Karakteristik dari pengolahan tradisional adalah kemampuan pengetahuan pengolah rendah dengan ketrampilan yang diperoleh secara turun temurun. ikan asin/ kering. . Permasalahan penggunanan bahan tambahan makanan berbahaya difokuskan pada 4 (empat) jenis produk yakni ikan segar. Semarang. dan pemasaran produk hanya terbatas pada pasaran local (Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. dan kelembagaan. kerupuk. terasi.PENGOLAH HASIL PERIKANAN SKALA KECIL (Dian Sari Enimosa F1E1 10 044) Penanganan produk segar dan pengolahan tradisional (pengeringan/ penggaraman. pemindangan. dan penggunaannya oleh pengolah atau pedagang karena factor kesengajaan.2001). tingkat sanitasi dan higienis rendah. kecap ikan. terjadi pada beberapa produk olahan maupun segar yang jenis produk ini banyak dikonsumsi masyarakat luas dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatan. sosial budaya. Secara umum. dan pengasapan) umumnya dilakukan pedagang dan pengolah dalam skala kecil/ menengah atau skala rumah tangga. Pembatasan permasalahan juga dilakukan berdasarkan jenis produk dan wilayah. Permasalahan mutu dan keamanan pangan produk perikanan terjadi pada berbagai jenis produk. tahapan kegiatan maupun wilayah dengan berbagai jenis bahan beracun berbahaya dan sumbernya dengan karakteristik berbeda. Pati dan Rembang) dan DIY (Bantul). peda. Pemilihan ini didasarkan beberapa alasan yaitukejadian penggunaan bahan tambahan ilegal telah menyebar di berbagai wilayah tanah air. Mengingat luas dan kompleksitas permasalahan maka didalam penelitian ini difokuskan pada aspek keamanan pangan penggunaan bahan tambahan makanan (food additive) ilegal atau tidak diperbolehkan. sesuai dengan keadaan lingkungan disekitarnya yang umumnya tidak memiliki sarana air bersih. Permasalahan yang berkaitan dengan faktor penyebab berlangsung malpraktek diantara para pengolah ikan dan produk perikanan dibatasi pada aspek teknis. penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu perumusan dalam pengembangan ke bijakan mutu dan keamanan produk hasil perikanan di Pantura Jawa Tengah dan DIY.

Namun. Masyarakat tidak peduli dengan ikan yang dikonsumsi.88 %).37 %). sejumlah pekerja yang sudah dirumahkan mencapai 500 orang akibat berhentinya produksinya ikan asin.48 %). Penanganan ikan segar oleh para nelayan biasanya dimulai segera setelah ikan diangkat dari air tempat hidupnya. 1994). pengeringan/ penggaraman (46.Berdasarkan data dari direktorat jendral perikanan tangkap (2003) Propinsi Jawa Tengah dilihat dari cara perlakuannya meliputi dipasarkan segar (31.82 %). tepung ikan (0.08 %). peda (0.002 %). Bahkan. terasi (0. Analisis Ekonomi Berkaitan dengan isu penggunaan formalin baik nelayan maupun pedagang/ pengolah di lokasi penelitian sebagian besar berpengaruh sangat nyata terhadap permintaan ikan. Sosiosfir merupakan lingkungan yang . dan lainnya (2.41 %). Analisa social budaya Lingkungan sosial (sosiosfir) merupakan lingkungan yang paling penting dalam menentukan kesehatan lingkungan (Soemirat. sehingga konsumen akan menjadi takut terhadap ikan atau antipati terhadap ikan. pembekuan (0. Bahkan menurut UNDP. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Suwedo H (1993) bahwa salah satu cara mempertahankan kesegaran ikan dapat dilakukan dengan memelihara ikan tetap hidup atau dengan menurunkan suhu ikan mati. Berdasarkan data cara perlakuan tersebut produk perikanan Propinsi Jawa Tengah didominasi oleh pemasaran dalam bentuk pengeringan/ penggaraman (46. sehingga perlu adanya langkah-langkah yang strategis untuk dapat memecahkan masalah tersebut. hal ini sangat mengkhawatirkan karena berpengaruh langsung terhadap pendapatan masyarakat nelayan maupun pengolah/ pedagang.52 %). pemindangan (15. Walaupun memang yang terkena dampak tidak senua perusahaan perikanan. FAO (1991) bahwa perawatan.41 %). pengasapan (2. persepsi yang terbentuk adalah semua ikan yang dijual mengandung formalin. dengan perlakuan suhu rendah dan kadang kadang kurang memperhatikan factor kebersihan dan kesehatan. kebersihan dan pendinginan adalah kunci untuk memanen hasil tangkapan yang berkualitas baik.41 %).

sehingga dapat mendukung terjaminnya pengembangan pertumbuhan. Kebiasaan pola makan masyarakat yang belum memperhatikan aspek keamanan dari makanan yang dikonsumsinya bagi kesehatan. Disadari bahwa sampai saat ini masih belum banyak masyarakat yang menyadari pentingnya keamanan pangan terutama pada produk pangan segar. penyuluhan. dan pembinaan mengenai keamanan pangan. berproduksi sampai dengan pengolahan pangan untuk menjamin agar makanan yang .tercipta akibat terjadinya hubungan rasional antar manusia untuk memenuhi kebutuhan atau mencari solusi terhadap berbagai tantangan atau kesulitan secara bersama (Soemirat. Ada beberapa permasalahan social budaya yang menyebabkan berlangsungnya malpraktek penggunaan bahan kimia tambahan ilegal yaitu: Kurangnya perhatian pejabat berwenang. kesehatan dan kecerdasan manusia. kimia maupun cemaran fisik. Laboratorium yang terakreditasi sangat diperlukan dalam melakukan pengawasan pangan segar khususnya untuk melakukan uji residu pestisida pada buah dan sayuran segar. Rendahnya tingkat pendidikan baik para pengolah maupun masyarakat konsumen sehingga pengetahuan mengenai keamanan pangan rendah dan kurangnya berpikir jangka panjang. hal ini disebabkan karena masyarakat baik masyarakat produsen (terutama produsen skala rumah tangga) maupun konsumen masih menghadapi masalah kemampuan modal dan daya beli sehingga masalah keamanan pangan belum menjadi prioritas dalam menetapkan preferensi memilih pangan untuk dikonsumsi. 2000). Disamping itu belum efektifnya penanganan keamanan pangan juga dikarenakan masih belum berkembangnya sistem penanganan keamanan pangan serta terbatasnya laboratorium yang telah terakreditasi sehingga sistem penjaminan mutu belurn bisa berjalan dengan baik. Penanganan keamanan pangan adalah suatu rangkaian kegiatan dalam cara-cara budidaya. Analisa kebijakan Kebijakan penanganan keamanan pangan diarahkan agar dapat menjamin masyarakat terhindar dari mengkonsumsi pangan terutama pangan segar yang terkontaminasi oleh cemaran biologis. dan sebagian besar pertimbangan adalah pada pangan dengan harga murah.

2001. Perbaikan Handling Ikan di Kapal (Improvement of Fresh Fish Handling on Board). dan dijabarkan lebih lanjut dalam PP No. 28/2004 bertujuan membantu konsumen untuk mengevaluasi dan memilih produk. 7 Tahun 1996. S. Jakarta: Departemen Kelautan dan Perikanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Laporan Penenelitian Teknologi Perikanan Nomor 2 hal 2735. membantu produsen dalam meningkatkan mutu serta dalam melakukan perdagangan yang jujur.dihasilkan fisik. DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. serta meningkatkan kesehatan. dan biologi yang dapat berakibat buruk atau mengganggu kesehatan konsumen. Nasran.penanganan keamanan pangan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pangan No. . Di Indonesia. 1990. rakyat dan peningkatan kegiatan ekonomi rakyat. Jakarta. Balai Penelitian Perikanan Indonesia. kimia. Inventarisasi Jenis dan Jumlah Produk Olahan Hasil Perikanan Skala Kecil Di Indonesia.

ikan sebagai bahan makanan yg mengandung protein tinggi dan asam amino esensial yang diperlukan tubuh.40 juta ton per tahun dan perairan ZEE sekitar 1.38 juta ton per tahun. daging ikan banyak mengandung asam lemak tak jenuh yang sifatnya sangat mudah mengalami prosesoksidasi.maka harus dilakukan perbaikan yang menyangkut hasil teknologi dan ekonomi. Salah satu kelemahan ikan adalah tubuh ikan yangmempunyai kadar air tinggi dan pH mendekati netral merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri pembusuk maupun organisme lainnya sehingga ikanmenjadi komoditi yang cepat membusuk. Untuk menangani hasil tangkapan ikan dari laut maupun hasil perikanan budidaya secara tepat dengan mutu yang terjaga baik serta layak dipasarkan di dalam negeri maupun luar negeri diperlukan tenaga profesional yang handal dalam bidang teknologi pengolahan hasil perikanan Dalam rangka diversifikasi hasil perikanan dan terpenuhnya gizi dari protein hewani asal ikan bagi masyarakat. Potensi tersebut terdiri dari potensi perairan wilayah Indonesia sekitar 4. Penggunaan metode bervariasi. tergantung pada jenis penangkapan perikanan. Ini meliputi berbagai proses penangkapan organisme perairan. Ikan merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat karena mudah didapat dan harganya murah. Oleh sebab itu. ikan ternyata memiliki beberapa kelemahan. dan dapat berkisar mulai ikan dari proses sederhana seperti pengumpulan organisme air dengan tangan memilih untuk .26 juta ton per tahun. sering muncul bau tengik pada ikan. sementara jumlah tangkapan lestari sebesar 5. y Teknologi penanganan hasil perikanan Teknologi penanganan ikan pasca panen memberikan manfaat kerja dan ekonomi untuk bagian besar masyarakat. potensi lestari ikan laut diperkirakan sebesar 6.pengolahan hasil Indonesia memiliki potensi sumberdaya perikanan laut cukup besar.86 juta ton per tahun. Total hasil penangkapan ikan baru mencapai 4. Namun.dan hal yg paling penting harganya jauh lebih murah dan terjangkau dibandingkan sumber protein lain. Selain itu.Pengolahan hasil penangkapan ikan (Ershanty Rahayu F1E1 10 046) 1.01 juta ton per tahun.

akustik dan elektronik.dan c.panen ikan sistem yang sangat canggih. umpan buatan atau sarana lain seperti cahaya. bertujuan pertengahan air trawl atau tas pemukatan dilakukan dari kapal ikan besar. Selama bertahun-tahun. alat penangkapan ikan tradisional telah ditingkatkan dan yang lebih baru sistem penangkapan ikan lebih efisien telah diperkenalkan. adalah dasar bagi sebagian besar alat tangkap dan metode yang digunakan bahkan hari ini. b. seines. Menyaring air. Teknologi ini telah dikembangkan di seluruh dunia sesuai dengan tradisi lokal dan kemajuan teknologi di berbagai disiplin ilmu seperti hidrodinamika. teknologi Harvest. y persyaratan hasil perikanan laut dikatakan memiliki nilai ekonomis ada 3 syarat persyaratan hasil perikanan laut dikatakan memiliki nilai ekonomis: ‡ Mempunyai nilai pasaran yang tinggi ‡ Volume produksi makro tinggi dan luas . penangkapan ikan baik secara tunggal maupun di sekolah-sekolah dengan menggunakan jaring atau tombak. memikat dan mempermainkan mangsa dan berburu. karena mereka dipraktekkan saat ini umumnya masuk ke dalam 3 kelompok utama: a. Setengah dari makanan laut dunia ditangkap atau dikumpulkan oleh nelayan skala kecil yang beroperasi jutaan kerajinan memancing. yaitu. jaring insang dan melibatkan jaring dan perangkap. Paling penting di antara mereka adalah panen ikan sistem seperti trawl. ikan menarik untuk terjebak pada kait dengan menggunakan umpan. Keragaman besar target dalam perikanan tangkap dan distribusi yang luas mereka memerlukan berbagai alat tangkap dan metode untuk panen efisien. penangkapan ikan di gigi stasioner seperti perangkap ikan atau jaring set.

bahkan hampir semua jenis ikan dapat dijadikan abon. ABON IKAN Salah satu hasil difersifikasi pengolahan ikan yaitu abon ikan.2% 4. tongkol. jenis ikan yang dibuat sebagai bahan baku abon belum selektif.‡ Mempunyai daya produksi yg tinggi y komposisi kimia daging ikan: 1. 0. cakalang. 0. tenggiri contoh gambar abon: . ikan yang biasa dibuat abon adalah ikan air laut antara lain tuna.kelebihannya selain sebagai sumber protein yang mudah di dapat.1-2.harganya juga relatif lebih mudah dijangkau untuk semua kalangan masyarakat.0% 5. air 60-84% 2. 18-34% 3. Namun demikian. Vitamin dan mineral 2.0-1. akan lebih baik apabila dipilih jenis ikan yang mempunyai serat yang kasar dan tidak mengandung banyak duri. marlin. Hasil pengolahan A.

y Jumlah produksi abon ikan selama satu tahun sebesar 14.6 menyajikan rincian penerimaan/pendapatan kotor dalam setahun.000.200 kg/bulan) dan harga abon ikan ditingkat produsen adalah Rp 70. jenis teknologi yang cocok digunakan adalahteknologi semimekanik.440 kg (1.008.000.Proyeksi produksi dan pendapatan: y Usaha pengolahan abon ikan pada umumnya berskala kecil dan bersifat pada tenaga kerja. Oleh sebab itu. . pendapatan dari hasil penjualan abon ikan per tahun adalah sebesar Rp 1.±. Tabel 5.000 per kg. Oleh sebab itu.

bakso ikan ada 2 cara pembuatan bakso ikan yaitu: y tekhnik manual pada teknik ini tentu bergantung pada bahan dan pembuatnya. lokasi usaha sebaiknya terdapat di daerah-daerah yang dekat dengan kawasan-kawasan kerja pelabuhan perikanan sehinggaakan mempermudah proses penyediaan dan transportasi bahan baku ikan B.Tabel produksi dan penjualan abon ikan: Nb: harga di atasa masih dalam pendapatan kotor* y Kendala yang ditemui selama produksi Kendala produksi yang bisa dijumpai adalah terjadinya kelangkaan bahanbaku ikan.selain itu hasilnya terkadang jauh lebih baik dibanding menggunakan teknik mesin y teknik mesin . Oleh sebab itu.

Jenis mesin yang diperlukan untuk membuat bakso antara lain mesin mincer (untuk mencincang daging). mesin mixing (untuk mencampur adonan).menggunakan teknik ini jauh lebih praktis tetapi membutuhkan modal yang lebih besar dibanding menggunakan teknik manual Contoh gambar pengolahan bakso ikan (menggunakan tekhnik mesin): . mesin pencetak bakso dan mesin sealer atau vacuum (untuk mengemas bakso).

id http://pobersonaibaho.umm.com http://www. Oleh sebab itu.staff. http://dedisafrizal.com http://research.y kendala Kendala yang ditemui dalam pembuatannya hampir sama dengan pembuatan makanan lain yang memerlukan bahan utama ikan. http://www.wordpress.yaitu: kelangkaan bahan baku ikan.com/articles/hasil-tangkapan-ikan-nelayan-di-malang-melimpah http://rizarahman.blogdetik.kkp.apsidoarjo. lokasi usaha sebaiknya terdapat di daerah-daerah yang dekat dengan kawasan-kawasan kerja pelabuhan perikanan TINJAUAN PUSTAKA http://www.bpsdmkp.go.id/proceeding/Proses-Pengolahan-dan-Nilai-TambahBakso.mercubuana.bisnis.ac.net/bidang-dan-uptd/ http://sudianor.dkpsultra.ac.com/tag/proposal-bakso-ikan/ .wordpress.id/files/2010/01/Pengolahan-ikan.

Kelurahan Tana Lemo. Keahlian membuat Phinisi biasanya diajarkan turun temurun dari para leluhur. Ia mulai membuat kapal sejak umur tujuh belas tahun. Bila dahulu kapal Padewakkang terkenal sebagai kapal perang dan belakangan tak lagi ditemukan. Dalam setahun. hal ini berdasarkan data Kelurahan Tana Lemo. Musriadi warga Desa Ara. ³ Ini mi keterampilan yang diajarkan bapakku sejak kecil. Kesulitan selama ini. Haji Abdullah melayani pemesanan Phinisi dengan desain yang dibuat oleh konsumen. meskipun bahan baku kayu diproduksi di Bulukumba. Anto (45 tahun) warga Desa Ara masih membuat Pinishi karena menjaga warisan leluhurnya. maka tak heran jika harga satu buah kapal Phinisi bisa mencapai . Inilah titik tumpu yang kuat hingga ia bisa menjadi pengusaha kapal yang sukses seperti saat ini. Demikian halnya.KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR (Yunita Silvana Lantapi F1E1 10 048) Bebarapa masyarakat pesisir menjadikan pembuatan kapal sebagai lahan mencari nafkah. Sebut saja. yaitu jenis kayu besi. Dalam perkembangannya. Namun biasanya adanya keterlambatan pasokan kayu yang dikirim dari Kendari cukup menghambat membuat kapal. serta waktu pembuatanya yang sangat lama. Kecamatan Bonto Bahari masih memproduksi Phinisi. Masyarakat pesisir di Tana Beru. Sejauh ini.´ ungkapnya.´ jelasnya. Sejak tahun 1988. Hal ini juga dialami Haji Abdullah (60 tahun) pengusaha Phinisi sudah mengenal pembuatan kapal tradisional dari orang tuanya. masih mempertahankan membuat kapal tersebut untuk mempertahankan warisan budaya leluhur. ³Orang asing lebih suka yang bagian buritan kapal yang kotak karena terjadi hubungan antara layar dan mesin dan setir. Kehidupan masyarakat pesisir tak terpisahkan dari pemanfaatan pembuatan kapal. Musriadi (43 tahun) pembuat Phinisi. Sekira tujuh puluh persen masyarakat Tana Beru menggantungkan hidupnya pada pembuatan kapal tradisional ini. ayah yang telah menurunkan bakat ini kepada anaknya menerima orderan rata-rata sepuluh kapal besar pertahun. Oleh karena nilai artistik yang tinggi. ia terpilih ke Kanada untuk membuat kapal kerjasama dengan Teknik Perkapalan Unhas. hasil dari membuat kapal untuk menafkahi keluarganya. kapal Phinisi dan kapal Sandeq hingga saat ini masih diproduksi oleh penggiatnya. belajar sendiri mengenai tata cara pembuatan phinisi.

Panrita lopi. 2010 2. Dari dulu nenek moyang membuat kapal.´ tutur Siden. sering belajar dengan pembuat kapal. Demikian halnya. pekerjaan ini ia tekuni membuat kapal untuk menafkahi keluarganya.´ jelas Fadli pemilik sekaligus membuat kapal. DAFTAR PUSTAKA 1. seperti kapal tradisional Sandeq di Desa Pambusuang. Hal ini menyebabkan nilai ekonominya menurun tapi nilai budayanya tetap ada. Julukan Panrita lopi sendiri diturunkan generasi ke generasi oleh pembuat kapal pertama. pasti butuh uang lagi. Masih Setia dengan Kapal Tradisional. Identitasonlinedotnet. Berbeda dengan pengusaha kapal. sandeq untuk nelayan sangat jarang karena sudah ada kapal modern bermesin. kapal tradisional lain tetap dipertahankan dengan alasan faktor ekonomi. ³Kalau bukan Sandeq pasti pakai bahan bakar. Penerbitan Kampus 'Identitas'unhas. ³Ini memang sudah menjadi kesenangan saya. Bahkan pernah sebuah perusahaan pelayaran di Karibia yang membeli sebuah Kapal Phinisi seharga 3 miliar. dan ini saya tekuni sebagai nelayan dan sekaligus pembuat kapal. 2011 . Sebut saja Haji Jafar (63 tahun). sandeq hanya digunakan dalam Sandeq race. Sekarang ini. Polewali Mandar. Online Business Journal. Pengusaha kapal belum tentu disebut Panrita lopi.miliaran rupiah. Mulyadi Agus. Ia memproduksi empat sampai lima kapal dalam satu tahun bersama orang tuanya ³Keterampilan dalam membuat kapal ini ada karena faktor kebiasaan sejak kecil. ³Kapal dibuat untuk menjaga nilai-nilai kebudayaan dari nenek moyang dan pemenuhan kebutuhan hidup kami.´ ujarnya. Biasanya keuntungan diperoleh tiap satu kapal mencapai sepuluh juta untuk jenis Sandeq race. Masih banyak nelayan yang mengandalkan layar dan kapal digerakkan tanpa menggunakan bahan bakar. Perahu Phinisi kebanggaan bangsa Indonesia. Bukan hanya di Tana Beru. Siden (45 tahun) salah seorang pembuat Sandeq. ia salah seorang Panrita lopi yang masih tetap aktif dalam membuat kapal. Haji Jafar sendiri membuat kapal meskipun tidak ada pesanan.´ ujar Fadli (41 tahun). sebutan Panrita lopi bukan hal yang asing masyarakat Tana Beru. orang yang membuat kapal sesuai pengetahuannya dan tidak menggunakan tenaga ahli.

Kondisi Sosial Masyarakat Suku Bajo Pada masyarakat suku bajo juga terjadi pergeseran yang mengarah ke yang lebih baik. Artinya pada mulanya masyarakat suku bajo tidak memiliki tempat tinggal yang tidak menetap sehingga mereka lebih cenderung merusak laut dengan ulah mereka sendiri seperti membom. seperti kurang kreatif dan produktif. dan petani budidaya rumput laut.MASYARAKAT BAJO (Sri Wuna Sari Nasir F1E1 10 051) Masyarakat Bajo atau biasa disebut juga orang laut masih banyak yang buta huruf. membius dan menjarah secara tidak teratur sehingga secara lambat laun laut mengalami kerusakan yang parah dan tidak ada kesadaran secara social untuk kelestarian laut untuk masa depan generasi muda. Kebiasaan yang mendarah daging pada masyarakat suku bajo saat ini masih kita dapatkan. Budaya fasalistik juga masih melekat kuat dalam kepribadian mereka. 1. Suku Bajo adalah salah satu suku laut yang dimiliki oleh Indonesia. namun secara kuantitas sudah mengalami penurunan. dengan kata lain sudah ada pergeseran nilai budaya yang di miliki oleh mereka. pasrah pada nasib. cepat puas dengan apa yang diperoleh. serta sikap menutup diri pada pihak-pihak lain. kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai instrument keberlanjutan hidup merekah sudah mulai tertanam dalam masyarkat suku bajo. Begitu seterusnya dengan kebiasan yang secara turun temurun merusak laut yang berimbas pada krisis yang dialami generasi mudah suku bajo untuk menggantungkan hidupnya pada laut semata mau tidak mau memaksa mereka juga untuk berbuat yang serupa. sikap konsumtif dan boros. hal ini yang menjadikan masyarakat bajo pada saat itu tidak menetap tempat tinggalnya dan kemudian berpindah lagi kempat yang lain dengan meninggalkan kerusakan yang parah pada tempat yang awal mereka diami. Sikap-sikap tersebut telah menyebabkan masyarakat Bajo menjadi tidak berdaya. . Masyarakat suku bajo memanfaatkan sumberdaya laut yang ada di sekitar perairan kawasan tempat tinggal mereka sebagai sumber pendapatan/mata pencahariannya yaitu sebagai nelayan tradisional.

dan untuk mengetahi teknologi harus melalui bengku sekolah. dan perguruan tinggi. Kemudian di bidang pendidikan masyarakat bajo menomor duakan pendidikan seperti yang dipaparkan diatas tadi bahwa sekolah itu sama saja dengan buang-buang waktu. Maka dari itu tidak sedikit dari mereka yang tidak menamatkan pendidikanya sekolah dasar. Selain dari pada pendidikan sebagian besar masyarakat bajo pun gagap teknologi. Kondisi Pendidikan Masyarakat Suku Bajo Pada umumnya masyarakat bajo rata-rata berdomisili di daerah-daerah pesisir yang sangat terpencil dan jauh dari jangkauan media sehingga secara garis besar mereka sangat awam terhadap perkembangan media yang begitu pesat yang diiringi dengan teknologi yang semakin canggih. SMA. Jangankan perkembangan media yang begitu pesat masalah pendidikan pun mereka kesampingkan. Semua ini berawal dari media komunitas yang intens memberikan pendidikan kepada masyarakat suku bajo.2. Fenomena ini terjadi secara turun temurun dan mereka mengganggap hal biasa dan tidak berpengaruh pada lingkungannya. SMP. dan SMA. Karena kebanyakan dari suku bajo sendiri banyak yang menggantungkan kehidupanya semata-mata pada hasil laut. karena mereka beranggapan tanpa berusaha dalam hal ini turun ke laut mereka tidak bisa makan. Kasadaran lahir tumbuh dari beberapa pengelola yang merasa bahwa pentingya mengetahui perkembangan teknologi. Semua ini bisa terjadi karena kemampuan sumberdaya manusia generasi muda masyarakat suku bajo yang semakin meningkat. dan lebih baik turun ke laut untuk mencari kehidupan yang dapat menghasilkan uang. Dalam tiga tahun tarakhir ini genarasi muda masyarakat bajo berlomba-lomba mendaftarkan diri untuk bersekolah baik itu SMP. masyarakat bajo sendiri seakan tidak perduli dengan perkembangan media dan teknologi yang beredar di dalam masyarakat luas. Bagi mereka sekolah itu bikin habis waktu mendingan mereka turun di laut mencari dan kemudian hasil dari laut itu mereka jual yang kemudian dapat meenghasilkan uang. bahkan sebagian dari masyarakat bajo yang buta aksara. sebenarnya ini paradigma berpikir yang keliru karena mereka tidak punya kapasitas atau perantara untuk sampai pada sejauh pemikiranya tentang pentingnya dari pada pendidikan itu sendiri. Dan sebenarnya juga orang bajo juga mempunyai jiwa pekerja keras dan pantang menyerah pada keadaan. . Hal ini menunjukan sebuah kemajuan yang menggembirakan bagi masyarakat bajo. seperti media yang saat ini sangat canggih seperti internet mereka sama sekali tidak bisa mengoperasikannya.

Kondisi Ekonomi Masyarakat Suku Bajo Masyarakat Bajo merupakan masyarakat yang sangat tergantung pada laut. Sungguh suatu bentuk kehidupan yang unik yang memerlukan keberanian serta ketangguhan untuk menjalaninya. Namun saat ini meskipun masih ada yang meneruskan tradisi berpindah tempat. laut bagi masyarakat Bajo merupakan tempat nenek moyang mereka yang di percaya sebagai penguasa laut. Rumah panggung dibangun tepat di atas permukaan laut. Kemiskinan yang melanda rumah tangga masyarakat bajo telah mempersulit mereka dalam membentuk kehidupan generasi berikutnya yang lebih baik dari keadaan mereka saat ini. dan mengurangi beban tanggung jawab orang tuannya. Bahkan saat ini terjadi pemanfaatan sumberdaya laut pada lokasi-lokasi yang sebenarnya merupakan lokasi perlindungan sumberdaya laut. di atas gugusan karang. 4. Masyarakat bajo biasanya bertempat tinggal di daerah pesisir. Menurut Saleh (2002).3. Karena ketidakmampuan ekonomi orang tuanya. sebagian lainnya memilih menetap di lokasi tertentu dengan pola hidup yang sangat sederhana. Bukan . mulai dari mata pencaharian sampai membangun pemukiman yang berada di atas pesisir laut dengan memanfaatkan batu karang. Anak-anak di tuntut untuk ikut mencari nafkah. Anak-anak mereka harus menerima kenyataan untuk mengenyam tingkat pendidikan yang rendah. menanggung beban kehidupan rumah tangga. Masyarakat bajo merupakan masyarakat yang sejahtera karena potensi sumber daya alamnya yang besar. Karakteristik Masyarakat Suku bajo Dahulu kala masyarakat Bajo kerap berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya mencari sumber kehidupan seperti masyarakat gipsy atau nomaden. Pemanfaatan terumbu karang dan pasir laut yang berlebihan serta penggunaan alat tangkap yang bersifat merusak ekosistem laut banyak dilakukan oleh masyarakat Bajo. Segala bentuk kehidupan berlangsung benar-benar di atas laut. kualitas sumber daya manusia tetap rendah dan kemiskinan di kalangan masyarakat Bajo akan diwarisi serta dilanggengkan dari generasi ke genarasi. Namun pada kenyataannya hingga saat ini sebagian besar masyarakat bajo masih merupakan bagian dari masyarakat yang tertinggal dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Namun sebagian besar dari masyarakat suku bajo menganggap pendidikan itu bisa didapatkan dilaut. Masyarakat suku bajo memiliki kehidupan yang bergantung pada laut. Akibatnya.

http://siswa.id Bengen. 2001. utamidk@jurnal. Pemberani Dan Tangguh.didapatkan dari bangku sekolah. Kondisi Sosial Masyarakat.net . Diah. Makalah pada Sosialisasi Pengelolaan Berbasis Masyarakat. Kusumawati. Suku Bajo: Sederhana. 2011. 2011.Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Anonim.com Nunuk. http://suarakomunitas. Kehidupan ekonominyapun bergantung pada hasil ataupun pendapatan setiap harinya.go. http://www.G. Suku Bajo dalam Pusaran Modernitas.travel/read Tridarma. D. Pengaruh Media Komunitas Terhadap Struktur Sosial Masyarakat Bajo. http://aci.id Anonim. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Secara Terpadu. 2011.univpancasila.bangka. 21-22 September 2001.detik. 2010. 2011.ac. Bogor. Kondisi Sosial Ekonomi Budaya Masyarakat.

nenek moyang suku Bajo berasal dari Johor. Sang putri yang pada akhirnya menikah dengan Raja bugis tersohor. Suku ini tinggal menetap diatas perairan Pulau Wakatobi. malaysia. hingga mencari kehidupan pun dilakukan dengan banyak berinteraksi dengan laut. Keunikan Suku Bajo Suku Bajo dikenal dengan Same(sama). Dari mulai hidup. Menurut beberapa versi. kemudian menempatkan masyarakatnya yag berasal dari Johor itu dalam sebuah daerah yang bernama Bajo. yang merupakan cikal bakal dari suku bajo. Laut.Suku bajo juga identik dengan manusia perahu oleh karena mereka menggantungkan hidupnya dari perahu. Suku Bajo merupakan suku yang terkenal mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya.Kehidupan Masyarakat Suku Bajo (Fauzyah Novrini Kasman Arifin F1E1 10 055) Suku bajo terletak di Kepulauan Tukang Besi (dulu) yang sekarang berubah Wakatobi. Meski akhirnya kini Suku Bajo mulai menetap di darat oleh karena paksaan pemerintah. Sejarah Suku Bajo Konon. hingga mendapatkan julukan The Sea Nomads yang berarti hidup dilaut dan tak menetap pada satu tempat. Sehingga sang Raja memerintahkan pengawalnya untuk mencari sang putri. sang putri lebih memilih untuk tetap tinggal di sulawesi. di Sulawesi Tenggara. Dari banyak interaksi tersebut menyebabkan suku ini banyak tersebar di berbagai daerah di Tanah air.Pernah disebut dalam sejarah bahwa suku bajo pernah . tetapi juga sampai ke sulawesi. tidak hanya di seantero negeri johor.. bertempat tinggal. dan sejalan dengan itu orang-orang yang ditugaskan oleh sang raja pun tidak mau lagi kembali ke Johor dan tetap tinggal bersama sang putri. Sebuah daerah yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya. namun tetap tidak berjarak jauh dari laut. Mereka adalah pelaut tangguh yang memilih untuk hidup di pulau-pulau di tengah laut. bagi suku bajo menjadi andalan satu-satuya. dan belakangan mulai berekspansi ke wilayah kepulauan nusantara lainnya dan membentuk komunitasnya. Alkisah. dahulu kala seorang puteri dari kerajaan Johor hilang entah kemana.Dan mereka menyebut warga di luar sukunya sebagai suku bagai.

Bedanya dengan kelompok lilibu. perahu yang digunakan pun lebih besar dan saat ini umumnya telah bermesin. waktu yang dibutuhkan pun lebih lama. yakni kelompok lilibu. Ada empat kelompok masyarakat suku bajo menurut kebiasaan mereka bernelayan. antarpulau. Sehingga. Namun.Semua aktivitas bersama keluarga dihabiskan diatas perahu atau soppe seperti biasanya kehidupan di darat. mereka kembali ke darat. Pada saat kembali ke rumah. mereka adalah manusia pengelana lautan yang telah menjadikan laut sebagai sahabat dan tempat tinggalnya. maka kelompok sakai hitungannya antarprovinsi. Katakanlah. Setelah mendapat ikan. Mereka bisa berada di ³tempat kerja´nya itu selama sebulan atau dua bulan. tidak lagi membawa ikan tangkapan. kelompok sakai dan kelompok lame. Biasanya terdiri dari lima atau enam orang anggota papongka. Karena itu. Kelompok papongka adalah suku bajo yang biasanya mencari ikan di laut selama sepekan atau dua pekan. Kelompok sakai memiliki kebiasaan mencari ikan yang lebih dasyat lagi. Mereka tidak jauh berbeda dengan kelompok papongka.Kebiasaan mereka bila sudah memperoleh hasil ikan tangkapan atau kehabisan air bersih. Dulu.Lambat laun mereka juga sudah mulai mengenal daratan sebagai tempat tinggalnya.mereka kembali lagi ke laut. untuk menjual hasil tangkapan atau menikmatinya bersama keluarga. sang nelayan biasanya membawa uang dan berbagai kebutuhan rumahtangga lainnya.Mereka menggunakan perahu atau soppe yang di kendalikan dengan dayung dan layar. Kelompok lilibu adalah suku Bajo yang biasanya bernelayan di laut hanya satu atau dua hari. Jadi. kelompok papongka. Bila kelompok papongka hitungannya seluas provinsi.Di mana ada tanjung atau pulau maka di situlah mereka mencari nafkah.mereka selalu menyinggahi pulau-pulau terdekat . wilayah kerjanya lebih luas.Setelah hasil ikan tangkapan dijual dan merasa sudah mempunyai air bersih.menjadi bagian dari Angkatan laut Kerajaan Sriwijaya. .Sehingga ketangguhan dan keterampilannya dalam mengarungi samudera jelas tidak terkalahkan. mereka baru akan pulang ke rumahnya setelah seminggu atau dua minggu mencari nafkah. Mereka menggunakan perahu soppe yang dikendalikan dayung.

. mereka memang bakal mengarungi laut lepas hingga menjangkau negara lain. kelompok lame bisa dikategorikan nelayan-nelayan yang lebih berkelas.Kelompok terakhir. khususnya di Wakatobi. kerajinan kain tenun tradisional juga menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan suku bajo. Selain sampan sebagai pusat kegiatan ekonomi. suku bajo sangat percaya pada kearifan lokal dibandingkan dengan instrumen modernitas yang sangat masif berkembang diluar kebudayaan laut suku tersebut. Kain-kain seperti ledja dan kasopa di tenun secara tradisional dengan motif yang khas . Mereka menggunakan perahu besar dengan awak yang besar dan mesin bertenaga besar. mereka bisa berada di lahan nafkahnya itu hingga berbulan-bulan. Dan. Karena.

Ada sebagian dari tenaga kerja yang . pesisir di Namun. Faktor pendidikan masyarakat juga berpengaruh. Perairan nusantara.Kehidupan Masyarakat Penambang Pasir (Rahmawati Nur Ariyanti F1E1 10 057) Pasir laut. penghasilannya tidak menentu karena semua itu tergantung hasil tangkapan dan cuaca. fisik. penambangan pasir laut telah berkembang menjadi polemik nasional. yaitu semua materi seukuran pasir dan mengalami proses transportasi. yakni materi galian pasir yang berada di perairan Indonesia dan tidak mengandung mineral golongan A dan golongan B. Namun. Sedangkan menurut pemerintah yang tertuang dalam keputusan menteri. biologi. maupun sosial. Kegiatan tepat dan laut berdampak pasir yang laut tepat pengelolaan tidak wilayah dilakukan pada penambangan dengan cara apabila akan daerah yang baik berdampak lingkungan. lalu terhadap dalam sedimen di dasar lautan. Secara kelautan pasir yang obyektif pasir berkembang pada laut memang bisa disebut salah satu sumber daya menjadi komoditas ekonomi. selain menjadi mata pencaharian bagi masyarakat pesisir. Berbeda jika mereka menjadi penambang pasir yang akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar dari biasanya. dan penambangan laut. Contohnya masyarakat pesisir pantai yang dulunya bergantung pada mata pencaharian nelayan. tidak lulus SD atau bahkan tidak bersekolah sehingga pemahaman mereka tentang lingkungan hidup sangat sedikit. menurut geologi. Sebagian besar masyarakat pesisir adalah hanya lulusan SD. Yang ada dalam pemikiran mereka hanyalah bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari dengan mendapatkan uang melalui pekerjaan yang dapat diharapkan hasilnya secara nyata. Faktor-faktor penyebab adanya kegiatan penambangan pasir beraneka ragam. Dampaknya seperti nelayan yang kehilangan mata pencarian hingga tenggelamnya sebuah pulau. Keberlanjutan dari usaha mereka pada jangka panjang tidak menjadi pemikiran mereka. juga menjadi objek pertambangan pasir dengan keuntungan bisnis yang sangat menggiurkan. Faktor yang berasal dari dalam diri masyarakat itu sendiri salah satunya adalah faktor ekonomi.

Hari senin merupakan hari yang paling ditunggu oleh warga Dusun 5 yang mayoritas bekerja menambang pasir pantai karena pada hari itu pengumpul dari kota Kupang datang untuk membeli pasir hasil mereka. Beberapa pekerja malah tidak mengetahui tentang lingkungan hidup. Kabupaten Kupang. Karena mereka hanya ngayak pasir lalu memasukkan kedalam sak (karung plastik).mengerti tentang lingkungan hidup. karena dalam mereka hanyalah bagaimana cara untuk mendapatkan uang agar hidup secara layak. Kegiatan penambangan pasir merupakan mata pencaharian yang potensial bagi masyarakat-masyarakat pesisir.. Dampak positif pada aspek sosial ekonomi dengan adanya kegiatan penambangan pasir dirasakan oleh sebagian masyarakat khususnya masyarakat pesisir.dan rata-rata setiap keluarga menjual sebanyak 20 karung. pasir dibiarkan saja di lokasi pengayakan dengan ditutupi ranting-ranting kering. Sebagai contohnya warga Dusun 5 Desa Poto. dan alat sederhana lain.000. Pengumpul datang datang dengan menggunakan truk sambil membawa karung-karung beras kosong ukuran 20 kg untuk diisi dengan pasir.500. Ibu dua anak ini sehari-harinya bekerja mengumpulkan pasir dari pantai untuk kemudian dijemur dan diayak. mereka akan memperoleh penghasilan sekitar Rp. Sekarung pasir yang telah bersih dibeli dengan harga Rp. penambang mengatakan setengah hari . yaitu pengurangan jumlah pengangguran karena sebagian besar masyarakat bekerja sebagai penambang pasir dan peningkatan penghasilan masyarakat.untuk hasil kerja selama seminggu. sore hari pasir tersebut sudah diambil pengepulnya dengan harga Rp. Faktor dari luar yang menyebabkan adanya penambangan pasir adalah faktor bisnis bagi perusahaan-perusahaan untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Tidak sulit bagi mereka untuk mendapatkan penghasilan yang layak. 90. Lain lagi dengan penambang pasir Desa Bago Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Kecamatan Fatuleu Barat. namun karena tekanan ekonomi membuat mereka terpaksa mengambil keputusan untuk tetap bekerja di penambangan pasir karena tidak mendapatkan pekerjaan yang lain. Artinya. 4.. dengan pertimbangan alat-alat yang digunakan untuk melakukan penambangan merupakan alat-alat yang sederhana (alat manual) diantaranya sekop & pacul yang berfungsi mengumpulkan dan mengambil pasir serta kerikil.1750/sak. Bila telah terayak.

Kasus serupa juga tidak tertutup kemungkinan terjadi di tempat lain di seluruh perairan Indonesia. 35. Salah satu pulau kecil dari ribuan pulau yang hampir tenggelam adalah Pulau Nipah. Pulau tak berpenghuni di Provinisi Kepulauan Riau itu sangat penting perannya. seperti ekosistem dan abrasi.. bukan saja semakin menekan keseimbangan ekosistem laut.pendapatanya tidak kurang dari Rp.1.dengan catatan hanya setengah hari. serta biota lainnya juga ikut musnah. Hal tersebut bisa mengubah sistem perairan laut di Indonesia. Hal ini disebabkan seluruh isi laut disedot tanpa pandang bulu. Hanya beberapa jenis biota yang bisa bertahan. terumbu karang. tetapi telur-telur. kematian biota laut di dalamnya pun tak bisa dihindari.000. Namun. contohnya ke Singapura. Tidak hanya pasir yang diangkat. Singapura. penambangan yang terjadi secara terus-menerus dan tak terkendali terutama yang dilakukan oleh beberapa perusahaan besar apalagi perusahaan yang tidak memiliki izin untuk dijual. Hasil ikan yang diperoleh menjadi berkurang.000. tetapi juga telah menyebabkan jatuhnya harga pasir lantaran melonjaknya volume produksi dengan pembeli satu-satunya. Ini tidak bisa ditoleransi.jika dijumlahkan dalam satu bulan Rp. Perubahan itu secara langsung mengganggu kehidupan biota laut dan lingkungan di dalamnya. Dalam proses penambangan tingkat kekeruhan air sangat tinggi. Terumbu karang tercemar. Aktivitas penambangan pasir laut memiliki banyak dampak negatif. Dampak jangka panjang yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan pasir adalah hilangnya pulau-pulau kecil. .100. Laju perkembangan perizinan tersebut. Karena pulau tersebut merupakan tanda dari batas kontinen negara Indonesia dengan Singapura. anak ikan. menimbulkan masalah serius bagi keberlangsungan ekosistem laut. Diperlukan pengaturan khusus agar lokasi penambangan tidak dilakukan pada satu titik. Dampak langsung dari kerusakan ini paling dirasakan oleh masyarakat pesisir yang kebanyakan sebagai nelayan. Kerusakan yang muncul salah satunya adalah perubahan morfologi dasar laut menjadi tidak beraturan.

serta menindak tegas pelaku penambangan pasir. para penegak hukum dan pemberi perizinanan memberantas.blogspot.multiplyjournal. Sebaiknya kaji dulu dampak lingkungan yang akan terjadi ke depan. Jangan mudah memberi perizinan.com Harian Umum Pelita tanggal 7 Mei 2009 khan35.com . Selain itu bagi yang sudah mendapat izin. pemerintah harus menetapkan kedalaman dan kemiringan/keterjalan maksimum lereng pantai yang dapat mencegah terjadinya longsoran di daerah pantai akibat penambangan pasir laut di daerah pantai (aspek geoteknologi). Daftar Pustaka www.Untuk mengatasi masalah tersebut.

yaitu beroperasinya sistem kapitalisme yang mengantarkan mereka pada kondisi yang terpuruk bahkan termarjinalkan. yaitu memiliki penghasilan rata-rata antara . Mereka juga melakukan kerja sama dengan masyarakat disekitarnya. Kecamatan Sampang. sampai membanjirnya garam impor. Sedangkan dalam hal pekerjaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Kehidupan ekonomi para petani garam di Desa Aeng Sareh. air laut. Petani garam bekerja dengan memanfaatkan tanah. mutu garam yang sangat rendah. Petani garam sebagai anggota masyarakat mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada dimasyarakat.KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI PETANI GARAM Ririt Yuliarti Taha F1E1 10 058 Garam merupakan komoditi strategis sebagai bahan baku industri dan bahan pangan yang sangat dibutuhkan oleh hampir semua masyarakat. Kabupaten Sampang berdasarkan tingkat pendapatan. dihadapkan pada situasi sulit. tetapi mereka juga menggunakan alat komunikasi yaitu HP. Akan tetapi selama musim hujan para petani garam tidak dapat memproduksi garam. seperti mengikuti perkumpulan pengajian. kehidupan sosial para petani garam di Desa Aeng Sareh. Jika dicermati dan dikaji lebih mendalam. Banyak petani tidak dapat bertahan dengan pilihan usahanya. Problem yang dihadapi petani garam yang tampak kepermukaan. tidak terkecuali para petani garam di Desa Aeng Sareh. tetapi dewasa ini kehidupan petani garam di berbagai daerah di Indonesia. Di Kabupaten Sampang Air laut dengan sinaran matahari mampu menghasilkan garam yang sejak dulu dikenal sebagai produk utama masyarakat Madura. Kabupaten Sampang. hal ini mengharuskan para petani garam melakukan berbagai strategi agar dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. bahkan ada yang meninggalkan usahanya dan berpindah menekuni mata pencaharian lain. dan matahari sebagai sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kecamatan Sampang. terdapat problem yang mendasar yang dihadapi petani garam. antara lain menyangkut harga. khususnya masyarakat yang bertempat tinggal di daerah pesisir. para petani garam juga tidak terlepas dari persaingan dan konflik. dalam hal interaksi sosial baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat yaitu mereka tidak hanya berkomunikasi secara langsung.

Dari hal ini .184. pada tahun 1990 terdapat 12 perusahaan. Peningkatan terjadi pada jumlah petani penggarap/buruh garap di mana pada tahun 2000 terdapat sebanyak 3.986 orang dan pada tahun 2005 menjadi 4. serta menjual barang-barang berharga untuk memenuhi kebutuhan besar. pada tahun 2000 berkurang menjadi 6 perusahaan dan tahun 2005 berkurang lagi tinggal 4 perusahaan (Rembang Dalam Angka 1990.189. Padahal luas lahan garam relatif tidak berubah. Modal produksi kapitalis dalam pemikiran Marx (Morrison. 2000 dan 2005). sedangkan tingkat pendidikan putra-putri mereka sampai bangku SMA/ Sederajat. 1.965 ha pada tahun 2000 dan 1.Rp 25. tingkat pendidikan para petani garam hanya menempuh sekolah dasar (SD). 2005). Para putra-putri petani garam di Desa Aeng Sareh ini bersekolah Madrasah Sore atau TPA. tahun 2000 menurun menjadi 729 orang dan pada tahun 2005 menjadi 718 orang. para petani garam hanya membayar uang listrik sebesar Rp 2000 per bulan.449 ha pada tahun 1990 (Jawa TengahDalam Angka.184. serta mengaji di surau. meminimalisasikan pengeluaran. mengikuti arisan dan menabung.739 orang.965 ha pada tahun 2005 (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rembang. yaitu 1. 1995) lebih didasarkan pada pemilikan individual (private ownership) masing-masing orang terhadap alat-alat produksi dan dalam hal ini kapitalis sebagai pemilik alat produksi dan buruh proletar memiliki kepentingan yang bertentangan. Sedangkan akses untuk mendapatkan pendidikan putra-putrinya yang masih duduk di bangku SD/ Sederajat dan SMP/ Sederajat. meminjam uang kepada famili dan pemilik warung untuk keperluan yang mendesak. Fenomena itu pada satu sisi menunjukkan bahwa posisi dan status sosial ekonomi petani garam semakin termarjinalkan dan pada sisi yang lain juga dapat dimaknai telah terjadi polarisasi dalam penguasaan lahan garam dan dominasi modal produksi kapitalis. Dalam hal pendidikan.000 sampai Rp 45. Adapun jumlah perusahaan garam rakyat di kabupaten Rembang juga cenderung menurun. sedangkan untuk biaya mengaji.000 per hari dengan jumlah tanggungan rata-rata antara 4 orang sampai 6 orang. Strategi yang dilakukan para petani garam dalam mempertahankan hidup yaitu seperti bekerja sambilan. memanfaatkan barang bekas untuk ditukar dengan makanan seperti kerupuk. Untuk biaya sekolah madrasah sore atau TPA hanya membayar uang SPP sebesar Rp 5000 per bulan. 1991). Di kabupaten Rembang jumlah petani garam pemilik lahan pada tahun 1990 sebanyak 784 orang. seperti biaya pendidikan ditanggung oleh pemerintah.

petani garam lahan sempit dan yang tidak menguasai lahan garam.terjadi proses pemiskinan kaum buruh oleh kaum kapitalis melalui aliran dan akumulasi surplus yang pada hakekatnya merupakan bentuk eksploitasi terhadap kaum buruh dalam proses produksi. Artinya. sepupu) dengan dasar hanya untuk dapat survival. lahan merupakan alat produksi yang sangat penting bagi petani garam karena diatas lahan itulah kegiatan produksi mereka lakukan. bahwa moda produksi kapitalis mempunyai ciri padat modal dan merupakan tipe kelas berstruktur majikan-buruh pada hubungan produksinya. Dalam hal ini struktur penguasaan lahan juga berpengaruh pada modal produksi yang berkembang. aksesnya rendah bahkan tidak memiliki akses pada surplus dari produksinya dan sebaliknya petani yang menguasai lahan luas memiliki akses untuk dapat menikmati surplus dari produksi garam. Oleh karena itu struktur penguasaan lahan garam akan menentukan accessibity petani garam pada surplus atas produksinya. yaitu moda produksi kapitalis mendominasi moda produksi non kapitalis dan surplus dari beroperas inya moda produksi non kapitalis diserap ke dalam moda produksi kapitalis melalui mekanisme pasar (market mechanism) dan sistem bagi hasil yang dikembangkan. Dalam proses produksi garam. tidak terekspresi adanya perhitungan untung-rugi (cost-benefit calculation). yaitu moda produksi kapitalis pada petani lahan luas dan moda produksi non kapitalis/us aha keluarga (household farm) pada petani kecil dan petani penggarap. Hal ini jelas sangat berbeda dengan moda produksi kapitalis yang dicirikan oleh hubungan produksi komersial yang berorientasi pada keuntungan (profit). Pemikiran Marx itu dikembang-kan Russel (1989). Dari hal ini secara sosial ekonomi petani garam yang menguasai lahan terlebih lahan luas relatif lebih maju/kaya dibandingkan dengan petani lahan sempit apalagi petani penggarap/buruh pada umumnya lebih terbelakang/miskin. Model produksi non kapitalis dalam proses produksi garam di kabupaten. Selain itu kedua moda produksi tersebut dalam banyak kasus memiliki keterkaitan integratif yang bersifat asimetris. Rembang secara empiris dicirikan oleh adanya hubungan produksi subsisten yang terbatas dalam lingkup keluarga (orang tua. Sebagai indikatornya tercermin dari beberapa hal . menantu. anak.

kondisi perumahan. Hal ini mengingat petani garam di kabupaten Rembang sebagian besar merupakan petani penggarap baik dari pemilik lahan sempit (< 0. Selain itu dominasi kekuatan ekonomi kapitalis atas produksi garam juga ditunjukkan melalui penguasaan mereka terhadap gudang-gudang garam yang merupakan titik pengumpul (collecting point). yaitu tempat pengumpulan garam di tepi/pinggir jalan raya yang dapat dijangkau truk dan sejenisnya milik kaum kapitalis yang menguasai jalur pemasaran garam.antara lain: pola kerja/usaha. pendidikan. bukan milik petani kecil dan penggarap. Bermainnya kelompok -kelompok sosial lain dari berbagai aras pada jalur pemasaran garam ini. Demikian juga dengan kekuatan ekonomi kapitalis baik pada aras lokal maupun supra lokal.5 ha) maupun buruh garap. di satu sisi dapat menjadi indikator bahwa garam merupakan komoditas yang dapat memberi keuntungan signifikan. biasa memainkan komoditas garam di mana mereka itu semuanya bergerak di julur pemasaran garam. justru cenderung yang menikmati surplus value bukannya petani produsen. Dengan demikian polarisasi penguasaan lahan garam oleh kapitalis secara signifikan ikut memberi kontribusi bagi marjinalisasi petani garam terutama petani kecil dan petani penggarap/buruh. Masyarakat Rembang menempatkan garam sebagai komoditas perdagangan yang cukup menarik. Petani (lahan sempit dan penggarap) hanya diposisikan . Dengan demikian petani garam sebagai produsen garam krosok dalam konteks perdagangan garam posisinya termarjinal-kan karena adanya penutupan akses ke pasar oleh pelaku ekonomi di jalur pemasaran. tetapi pada sisi lain menjadikan petani garam terutama petani petani kecil dan petani penggarap/buruh semakin tidak memiliki akses ke pasar. hanya sebagian kecil petani garam yang memiliki lahan luas (> 5 ha) yang pada umumnya juga bergerak di jalur pemasaran garam sebagai tengkulak/bakul dan pabrikan (pabrik garam rakyat). pegawai pemerintah maupun pegawai swasta dan pemodal) ikut bermain baik sebagai penyetok. pendapatan/hasil yang diperoleh. maka pada musim panen banyak kelompok sosial di luar petani garam (seperti guru. jenis dan pola konsumsi makanan. Dalam konteks ini tampak bahwa kelompok-kelompok di luar komunitas petani garam yang bertindak sebagai pelaku ekonomi di jalur pemasaran garam. relasi sosial yang dikembangkan. tengkulak maupun mak elar.

http://journal. baru berikutnya petani kecil dan petani besar. Sebagaimana pada tingkat global.php/PPKN/article/view/15331 2.unair.pdf .id/filerPDF/Petani%20Garam%20dalam%20Jeratan%20Kapitalism e. kekuatan ekonomi kapitalis memiliki kecenderungan untuk dengan sengaja menutup akses pelaku ekonomi lokal dan nasional dapat menembus pasar global. Dalam mata rantai usaha garam itu penggarap/buruh adalah pihak yang paling kecil mendapatkan keuntungan dan paling rentan dibandingkan dengan lainnya. Pada dasarnya kondisi yang demikian sudah dapat dikategorikan sebagai eksploitasi. mereka hanya memiliki hak untuk memproduksi garam dengan kewajiban menyerahkan sepenuhnya hak penjualan pada pemilik dan pemiliklah yang menentu-kan harga. karena adanya unsur kesengajaan penutupan akses oleh pihak tertentu pada pihak lain untuk tidak mendapatkan keuntungan dari sumber daya yang ada. Kondisi itu diperkuat lagi dengan adanya eksploitasi yang terwujud dalam bentuk relasi usaha antara petani penggarap/buruh dengan petani pemilik dan antara petani kecil dengan pelaku usaha lain di jalur pemasaran dan permodalan serta dengan pabrikan sebagai produsen jadi. Daftar Pustaka 1.ac. Adapun petani hanya dapat menjual pada pedagang yang telah dikenal yang bergerak di jalur pemasaran dan permodalan dan mereka ini yang cenderung mempermainkan harga. Petani penggarap/buruh sangat tergantung dan ditentukan secara sepihak oleh pemilik.um.sebagai produsen. http://karya-ilmiah. agar supaya mereka tetap dapat menguasai dan mendominasi pasar global.ac.id/index.

sebelah timur Tahiti. yang merupakan sejenis ikan laut yang tersebar dari pantai Afrika Timur sampai kepulauan Timotu. Tambak dapat dibangun apabila memenuhi syarat yang paling utama. ketentuan-ketentuan yang perlu diperhatikan : . berdasarkan salinitasnya tambak dapat dibagi menjadi : a. Hal ini dikarenakan dalam mengusahakan tambak selain didukung oleh kondisi fisik juga didukung oleh kondisi non fisik yang ada pada lingkungan. Usaha budidaya tambak terutama ikan bandeng secara teoritis lebih memberikan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan. Dalam membudidayakan ikan bandeng di dalam tambak. b. Warnanya putih gemerlapan seperti perak pada tubuh bagian bawah dan agak gelap pada punggungnya. Salah satu kegiatan perikanan darat yang banyak terdapat di pesisir pantai adalah budidaya ikan bandeng di dalam tambak.TAMBAK IKAN BANDENG (Karmila F1E1 10 063) Perikanan darat adalah usaha perikanan yang meliputi segala penangkapan dan pemeliharaan ikan yang dilakukan di dalam batas garis pantai. dengan moncong agak runcing. Tambak bersalinitas rendah. adalah tambak yang agak jauh dari garis pantai. Tambak bersalinitas tinggi. Tambak bersalinitas menengah. Ikan bandeng dikenal sebagai ikan petualang yang suka merantau. Usaha budidaya tambak ikan bandeng secara teoritis lebih memberikan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan. Ikan bandeng ini mempunyai bentuk tubuh langsing mirip terpedo. c. Menurut Afrianto. yaitu telah dibuatnya bendungan sebagai tempat penampungan air yang berasal dari air laut serta memiliki sarana saluran air yang memudahkan penambahan air maupun pembuangan air pada waktu panen. mengingat ikan bandeng hingga saat ini tetap menjadi komoditas budidaya yang paling banyak diproduksi dan Ikan bandeng mempunyai nama latin chanos-chanos. ekor bercabang dan sisiknya halus. Menurut Murtidjo. ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan sehingga para petani tidak banyak menemui hambatan. mengingat ikan bandeng hingga saat ini tetap menjadi komoditas budidaya yang paling banyak diproduksi dan dikonsumsi di Indonesia. tetapi dekat dengan sungai. adalah tambak yang terletak sangat jauh dari garis pantai. dan dari selatan Jepang sampai Australia Utara. adalah tambak yang sangat dekat dengan garis pantai.

serta kuantitas air. Faktor-faktor fisik kimia yang harus diperhatikan dalam pembuatan tambak adalah: 1. Tambak yang diusahakan haruslah dapat memberikan keuntungan dan berlangsung secara terus menerus.Air terhindar dari polusi baik polusi bahan organik maupun an organik. yaitu: 1. Mampu menjamin ketrsediaan air dan pengairan yang memenuhi persyaratan mutu yang ditentukan. 6. Faktor-faktor biologis seperti kesuburan perairan. . .5-31.Pergantian air minimal. penyediaan air. Perencanaan usaha budidaya ikan yang meliputi ukuran unit usaha.Alkalinitas 50-500 ppm. speciesdominan.Suhu air. .Oksigen larut. 4. Keadaan tanah yang menjadi dasar tambak. 200 % per hari. Menurut Slamet Soeseno. rantai makanan.PH.5-8. pH.0-8. Faktor-faktor yang mendukung usaha budidaya ikan bandeng ini meliputi faktor fisik kimia dan faktor non fisik kimia (sosial ekonomi). . Pemilihan tempat atau lokasi dan kondisi lingkungan berdasarkan pada tekstur tanah. 26. Elevasi (ketinggian tempat) calon lokasi tambak. dan tekstur tanah). Sifat-sifat perairan pantai dalam kaitan dengan pasang surut dan pasang arus perlu diketahui secara rinci. 3.1. ada beberapa faktor lingkungan yang sangat dominan dalam budidaya ikan bandeng. 2. . . .0 0C. dan kualitas. Keadaan tanah (letak. serta penyakit endemik harus diperhatikan karena mampu mengakibatkan kegagalan proses produksi. topografi.5.. temperatur air. Perencanaan pembuatan tambak yang didasarkan pada pertimbangan biologis dan ekonomis serta cara pengelolaannya. keberadaan predator dan kompretitor. 2. 2.5 ppm.Kecerahan 20-40 cm (cahaya matahari sampai ke dasar pelataran). topografi. 3. 3. .

Di dalam tanah ini mengandung bahanbahan organik yang diperlukan tumbuhan. Pada tanah yang bergelombang sebaiknya dibuat datar terlebih dahulu. pada salinitas tinggi (> 60 ppt) pertumbuhan bandeng lebih lambat dan sangat peka terhadap stress yang diakibatkan oleh rendahnya oksigen terlarut serta gangguan fisik saat panen. Ketinggian seluruh tempat itu tidak boleh melebihi tinggi permukaan air pasang tertimggi dan juga tidak boleh kurang (lebih rendah) dari permukaan air surut terendah. Iklim merupakan salah satu fenomena alamiah yang sangat menentukan dalam keberhasilan budidaya. Tanah yang baik untuk dijadikan tambak . Oleh karena itu. Karena ikan bandeng termasuk hewan rheotaksis positip (menentang arus) maka faktor iklim. Walaupun banjir tidak sampai merobohkan pematang pada tambak bandeng.Iklim merupakan keadaan rata-rata cuaca dalam jangka waktu tertentu dan dalam suatu wilayah/daerah tertentu juga. Tanah yang digunakan untuk lokasi tambak dicari di daerah yang masih berada di daerah pasang surut. Pada dasarnya tanah tersusun dari partikel-partikel pasir (sand). Tanah datar yang letaknya berada dekat pantai sangat cocok untuk lokasi tambak. Jadi tekstur tanah ditentukan oleh perbandingan relatif dari ketiga jenis partikel tersebut. Pada umumnya pasang surut di Indonesia adalah 1 ± 2 meter. Untuk itu. Tanah merupakan tempat untuk tumbuh tanaman dan tempat kehidupan hewan mikroorganisme yang mampu menghancurkan sampah-sampah yang dibuang ke tanah. Namun demikian. Air pasang pada saat curah hujan tinggi biasanya mengakibatkan banjir di kawasan pantai. Tanah yang paling baik adalah tanah paya-paya yang dekat laut dan muara sungai. dan debu (silt) yang proporsinya masing-masing akan menentukan teksturnya. ketinggiannya harus disesuaikan dengan perbedaan pasang surut. salinitas tinggi tidak terlampau mempengaruhi kelangsungan hidup bandeng bila air sering diganti. perlu diperhitungkan dalam kaitannya dengan osilasi pasang. Daerah ini jarang mengalami kekeringan dan mempunyai unsur hara yang cukup tinggi. terutama curah hujan. Pada musim kering. tetapi bila ada aliran air di atas pematang maka semua bandeng akan keluar dari tambak (berkaitan dengan sifat rheotaksis positip). untuk mengurangi biaya produksi maka lokasi yang dipilih sebaiknya tidak termasuk daerah kawasan banjir. liat (clay). Untuk membuat tambak. sebaiknya dipilih lokasi yang beriklim sedang yang tidak mengalami kemarau panjang. Tanah merupakan faktor yang sangat penting dalam usaha pembudidayaan ikan bandeng. kecuali di Jawa Timur yang mempunyai ketinggian pasang sampai 3 meter .

Pakan komersial untuk ikan ini sudah tersedia dalam jumlah cukup hingga ke pelosok desa. Tanah demikian sangat keras dan mempunyai kemampuan yang baik dalam menahan air. 8. Teknologi budidayanya baik di tambak maupun dalam KJA telah dikuasai dengan baik. Permintaan ikan ini dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan baik untuk tujuan konsumsi.7-2. Budidaya ikan bandeng tidak hanya berkembang di air payau saja namun saat ini juga sedang berkembang di air tawar maupun laut dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). Ikan ini sangat digemari oleh masyarakat utamanya Sulawesi Selatan. Ikan bandeng sebagai komoditas budidaya mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan komoditas budidaya lainnya dalam hal : 1. INFORMASI TAMBAHAN Budidaya ikan bandeng telah lama dikenal oleh petani dan seat ini telah berkembang di hampir seluruh wilayah perairan Indonesia. Jaminan pasar baik dalam maupun luar negeri masih terbuka. Teknologi perbenihannya telah dikuasai dengan baik sehingga pasok benih tidak lagi tergantung pada musim dan benih dari alam. Efisien dalam memanfaatkan pakan FCR 1. umpan bagi industri perikanan tuna cakalang maupun untuk pasar ekspor. 3. 5. Teknologi budidaya ikan ini juga telah mengalami perkembangan yang begitu pesat mulai dari pemeliharaan tradisional yang hanya mengandalkan pasok benih dari alam pada saat pasang sampai ke teknologi intensif yang membutuhkan penyediaan benih. Mampu hidup dalam kondisi yang padat di keramba jaring apung (100-300 ekor/m3). sementara . 2. utamanya di daerah Sulawesi Selatan dengan memanfaatkan perairan payau dan pasang surut. pengelolaan air. Pertumbuhannya cepat (1.2. 4. 6.6%/hari). dan pakan secara terencana. Mampu mentolerir perubahan salinitas mulai dari 0-158 ppt sehingga areal budidayanya cukup luas mulai dari perairan tawar hingga ke perairan laut. 7.adalah tanah yang liat dan berlumpur. secara teknis mudah diaplikasikan dan secara ekonomis menguntungkan.

Efisien dalam penggunaan lahan 2. Mudah dalam pemanenan baik selektif maupun total 3. Kandungan asam lemak Omega-3 relatit tinggi jika dibandingkan dengan bandeng yang diproduksi pada tambak 4. Mudah dipantau dan tidak memerlukan pengelolaan air yang khusus seperti di tambak 4. legalitas. Penggunaan keramba jaring apung untuk budidaya bandeng di laut memiliki beberapa kelebihan di antaranya: 1. teluk. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi budidaya bandeng adalah dengan memanfaatkan perairan laut seperti muara sungai. dan desain keramba telah banyak dilakukan. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perairan seperti tersebut di atas layak untuk dijadikan lokasi budidaya dengan sistem keramba jaring apung. Pengkajian tentang kelayakan lokasi.areal budidayanya di darat semakin hari semakin menciut akibat banyaknya lahan tambak yang dikonversi untuk kebutuhan pembangunan lain seperti untuk perumahan. Tidak berbau lumpur 3. dan perairan semacamnya yang memenuhi persyaratan baik teknis. sosial ekonomi. Dagingnya kenyal dengan aroma yang khas sehingga sangat digemari sebagai ikan bakar di warung-warung sea food 5. industri. Skala usaha dapat disesuaikan dengan kemampuan modal dengan menggunakan bahanbahan yang tersedia di lokasi budidaya. laguna. Produktivitasnya tinggi (350-400 kg/keramba 6 m3/musim tanam 6 bulan) 5. Demikian halnya dengan ikan bandeng yang diproduksi dalam keramba jaring apung dapat memiliki standar kualitas ekspor yaitu: 1. maupun lingkungannya. Ukurannya bisa mencapai 600-800 g/ekor sesuai dengan permintaan pasar . Sisik bersih dan mengkilat 2. tata lelak. dan pariwisata yang pada gilirannya akan berdampak pada penurunan produksi.

695 ha.tribun-timur. Kriteria-kriteria yang dipersyaratkan tersebut akan dapat dipenuhi dan hasil budidaya bandeng yang berasal dari keramba jaring apung di laut. Saat ini budidaya bandeng dengan sistem KJA tersebut telah berkembang di beberapa daerah seperti Maluku. rasa. Dukungan lptek Teknologi budidaya bandeng dengan sistem keramba jaring apung di laut mulai dirintis oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP) Maros sejak tahun 1993. Dari potensi tersebut yang layak untuk budidaya ikan adalah 369. Sulawesi Tenggara. Riau. ukuran. DAFTAR PUSTAKA Budidaya Bandeng. http//: www. 2005 . Bali. nampak bahwa lahan yang potensial untuk kegiatan budidaya laut diperkirakan mencapai 1. hotel.500 ha dan tersebar di beberapa provinsi di Indonesia Dari luasan tersebut dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan dalam keramba jaring apung seluas 1% atau 3. dan penampilan fisik. Sulawesi Selatan. dan sejak saat itu rutin dilakukan percontohan di berbagai daerah di Indonesia. 2008. diperoleh data bahwa kebutuhan ikan bandeng untuk pasar spesifik berupa rumah-rumah makan sea food. utamanya dalam hal bobot. konsistensi mutu. Selanjutnya dikatakan bahwa problem utama yang dihadapi adalah kontinyuitas produksi. dan daerah lainnya di Indonesia. don pasar swalayan khususnya di Kota Madya Makassar diperkirakan mencapai 6 ton per hari. Batam.Prospek Pengembangan Peluang Pasar Hasil penelitian sederhana yang dilakukan oleh Atjo & Syahrun (2000).9 jute ha. Potensi Sumber Daya Hasil identifikasi yang telah dilakukan terhadap wilayah pesisir dan laut. dan saat ini baru terpenuhi 25%.com/berita/ form98677 Warta Penelitian Perikanan Budidaya Volume II Nimor 1.

buruh nelayan. Mereka hanya melakukan ritual tersebut hanya untuk formalitas semata. dan posisi nelayan sosial.³nelayan menghadapi sumberdaya yang bersifat open acces dan beresiko tinggi. ³Masyarakat pesisir itu sendiri dapat didefinisikan sebagai kelompok orang atau suatu komunitas yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir´.KEHIDUPAN MASYARAKAT PESISIR (Inda Permatasari Ridwan F1E1 10 064) Berdasarkan pendapat Nikijuluw dalam Dietriech (2001). Dari segi penghasilan. . Begitu juga dengan posisi nelayan sosial. Karakteristik masyarakat pesisir berbeda dengan karakterisik masyarakat agraris atau petani. Hal tersebut menyebabkan masyarakat pesisir sepeti nelayan memiliki karakter yang tegas. karakteristik masyarakat pesisir dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya. pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya. pengolah ikan. Mereka terdiri dari nelayan pemilik. maka pendapatan yang mereka inginkan tidak bisa dikontrol. Dalam bidang non-perikanan. nelayan bergolong kasta rendah. dewasa ini sudah ada dari sebagian penduduk yang tidak percaya terhadap adatadat seperti pesta laut tersebut. Selain itu. masyarakat pesisir masih menganggap bahwa laut memilki kekuatan magic sehingga mereka masih sering melakukan adat pesta laut atau sedekah laut. Dilihat dari aspek pengetahuan. pedagang ikan. keras. 2002)2. petani mempunyai pendapatan yang dapat dikontrol karena pola panen yang terkontrol sehingga hasil pangan atau ternak yang mereka miliki dapat ditentukan untuk mencapai hasil pendapatan yang mereka inginkan. Namun. masyarakat pesisir mendapat pengetahuan dari warisan nenek moyangnya misalnya mereka untuk melihat kalender dan penunjuk arah maka mereka menggunakan rasi bintang. aspek pengetahuan. Pelayan bergelut dengan laut untuk mendapatkan penghasilan. masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa transportasi dan lain-lain. kepercayaan (teologis). dilihat dari aspek kepercayaan. pada umumnya. dan terbuka´ (Satria. Sementara. supplier factor sarana produksi perikanan. Berbeda halnya dengan masyarakat pesisir yang mata pencahariannya didominasi dengan pelayan.

adalah pola . tidak sedikit pula program-program yang tidak berhasil karena tidak sesuai dengan harapan masyarakat dan tidak ada keberlanjutan dari masyarakat. Program-program yang telah dilakukan pemerintah untuk pemberdayaan masyarakat pesisir telah banyak menghasilkan manfaat dan membantu meningkatkan pendapatan masyarakat. Dalam hal ini peranan aktif LSM sangat membantu dalam mengarahkan strategi pembangunan yang diperlukan masyarakat pesisir dan menunjang pengelolaan sumberdaya lingkungan laut di sekitar tempat tinggal mereka misalnya budidaya perikanan . masyarakat pesisir memiliki ciri yang khas dalam hal struktur sosial yaitu kuatnya hubungan antara patron dan klien dalam hubungan pasar pada usaha perikanan. sangatlah penting adanya pihak yang dapat mengembangkan sumberdaya laut dan mengatur pengelolaannya. Hal tersebut merupakan taktik bagi patron untuk mengikat klien dengan utangnya sehingga bisnis tetap berjalan´ (Satria. ³Biasanya patron memberikan bantuan berupa modal kepada klien. Pengelolaan ini dilakukan dengan kegiatan nyata yang sesuai dengan warna dari kultur masyarakat setempat. Selain itu LSM harus mampu memberikan masukan dan kritikan bagi strategi pengembangan dan pengelolaan kawasan pesisir. berkaitan dengan permukiman/tempat tinggal mereka. menunjukkan adanya keragaman. Dari masalah utang piutang tersebut sering terjadi konflik. namun konflik yang mendominasi adalah persaingan antar nelayan dalam memperebutkan sumberdaya ikan yang jumlahnya terbatas. 2002)3. Masyarakat pesisir yang memiliki karakter tegas. dan terbuka memerlukan berbagai strategi dan kegiatan. Beberapa contoh adaptasi yang berkaitan dengan tempat tinggal Adaptasi yang dilakukan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir pantai dan menggantungkan sumber penghidupannya dari sumber daya yang ada. Namun. Pemberdayaan masyarakat berbasis masyarkat merupakan salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan dan ketidakberdayaan yang dialami oleh masyarakat pesisir khususnya para nelayan.Secara sosiologis.yang bersifat fleksibel agar dapat berubah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka. keras. Contoh yang menunjukkan bagaimana masyarakat yang tinggal di tepi pantai mengadaptasikan dirinya. Oleh karena itu.

permukiman kelompok masyarakat Kampung Laut di kawasan Sagara Anakan atau daerahdaerah lain yang mengembangkan dan membangun rumah-rumah mereka di atas tiang-tiang pancang yang relatif tinggi yang menyesuaikan kepada pasang surut laut yang terjadi secara reguler. Daftar Pustaka http://famif08. Sejalan dengan munculnya lahan-lahan baru (³tanah timbul´).mangrove atau ³menciptakan´ lahan-lahan baru yang dapat digunakan sebagai lokasi permukiman dan.com/2011/10/08/proses-adaptasi-manusia-di-lingkunganpesisir/ . Sebagai contoh.ipb.student. mereka juga mengembangkan permukimannya. Selain contoh di atas. Upaya seperti ini dilakukan oleh masyarakat sebagai respon atas semakin terbatasnya lahan yang mereka miliki/kuasai. di beberapa tempat seperti di kawasan pantai Kabupaten Bekasi.ac. masyarakat dengan sengaja membuat jebakan-jebakan sedimen lumpur di pantai untuk mendapatkan lahan baru atau memperluas lahan yang sudah ada untuk kepentingan kegiatan tambak. sebagai lahan usaha.wordpress. terutama. pertumbuhan penduduk yang tinggi mendorong penduduk di kawasan pantai untuk merambah/membuka kawasan hutan . pada banyak kasus.id/2010/06/20/masyarakat-pesisir/ http://ngurahadisanjaya.

Berbagai keragaman jenis rumput laut hidup di daerah pesisir maupun yang hidup dalam tambak merupakan cerminan dari potensi rumput laut yang ada di Indonesia. Guna mendukung visi dan misi tersebut maka usaha budidaya rumput laut merupakan salah satu jawaban dan pilihan yang paling tepat. Sebagai jawaban dari pada visi dan misi tersebut adalah dengan ketersediaan SDM yang terampil dan kompoten dalam bidang budidaya khususnya budidaya rumput laut. Budidaya rumput laut memiliki peran penting dalam rangka meningkatkan produksi perikanan. Untuk menunjang program pembangunan kelautan dan perikanan tersebut.Sosial Ekonomi Pembudidaya Rumput Laut (Aulia Fahdilah Tasruddin F1E1 10 068) Indonesia adalah Negara kepulauan dengan wilayah lautan yang sangat luas yaitu 70 % dari seluruh wilayah Indonesia. salah satu pengembangan kegiatan ekonomi yang sedang digalakkan pemerintah adalah pengembangan budidaya rumput laut. 2004). . Melalui program ini diharapkan dapat merangsang terjadinya pertumbuhan ekonomi wilayah akibat meningkatnya pendapatan masyarakat setempat. pemerintah telah mewujudkan tiga pilar pembangunan. Upaya meningkatkan produksi rumput laut dapat ditempuh melalui usaha budidaya dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relative sederhana dan biaya produksi yang murah. Dalam pembangunan diwilayah pesisir. Pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia dirintis sejak tahun 1980-an dalam upaya merubah kebiasaan penduduk pesisir dari pengambilan sumberdaya alam ke arah budidaya rumput laut yang ramah lingkungan dan usaha budidaya ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya juga dapat digunakan untuk mempertahankan kelestarian lingkungan perairan pantai (Ditjenkan Budidaya. pro-job (penyerapan tenaga kerja) dan pro-growth (pertumbuhan). Perwujudan dari pada tiga pilar tersebut. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan visi dan misi. yaitu pro-poor (pengentasan kemisknan). Di perairan Indonesia hidup berbagai biota laut. salah satu di antaranya yaitu rumput laut. Sehingga usaha budidaya rumput laut merupakan salah satu sumberdaya yang berbasis keunggulan untuk menggerakkan perekonomian masyarakat di daerah pesisir. yaitu´ Indonesia penghasil produk perikanan terbesar tahun 2015´.

Eucheuma denticulatum (spinosum) dan Gracilaria sp. Hal ini disebabkan rumput laut termasuk jenis komoditi yang mudah dibudidayakan.900 kelompok atau 17. Latambaga. Tanggateda.Pengembangan budidaya rumput laut merupakan salah satu alternatif pemberdayaan masyarakat pesisir yang mempunyai keunggulan dalam hal : (1) produk yang dihasilkan mempunyai kegunaan yang beragam.6 % dari potensi yang ada. Daerah pengembangan rumput laut telah meluas dan tersebar di beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Kolaka. Sementara produksi nasional tahun 2010 sebesar 3. biaya investasi dan biaya produksi relatif murah. umur panen singkat hanya 45 hari. atau kira-kira 17.600 orang. Rumput laut Indonesia sudah diakui secara internasional sebagai bahan baku utama untuk sejumlah industri pengolahan rumput laut dunia.5 juta Ha. Pomalaa.000 kg/Ha yang sebelumnya hanya 700 kg/ Ha. Dimana panjang garis pantai Kabupaten Kolaka 295 km.500 . Sementara potensi lahan untuk pengembangan budidaya rumput laut Indonesia seluas 4. seperti Kappaphycus awarezii (cottoni). Teknologi budidaya rumput laut yang diterapkan oleh masyarakat saat ini yakni long line dengan menggunakan tali PE.525 ton/tahun.2.130 Ha. Wundulako. Samaturu. dengan 43 desa pesisir. yang dimanfaatkan seluas 4. lahan dan bibit mudah dan murah.600 orang. dan Watubangga.65 ton. khususnya jenis rumput laut yang hanya tumbuh di lautan tropis. serta pulau-pulau kecil (8 buah). atau 28. Wolo.1 juta Ha atau sekitar 46.869 rumah tangga perikanan (RTP). Produksi rumput laut menyumbang utama . produksinya baik dengan harga bersaing.082 juta ton atau melewati target yang telah ditetapkan KKP sebesar 2.574 juta ton.000 Ha yang terletak di sepanjang pesisir dan pulau-pulau kecil. (2) tersedianya lahan untuk budidaya yang cukup luas serta (3) mudahnya teknologi budidaya yang diperlukan (Departemen Kelautan dan Perikanan. dari 250 kelompok atau 1. meningkat di tahun 2010-2014 sebanyak 2. Selain itu teknologi yang digunakan cukup sederhana. Dengan teknologi tersebut produksi rumput laut kering mencapai 1. Khusus budidaya rumput laut di Kolaka hingga tahun 2010. Pengembangan kelompok budidaya juga ditingkatkan. dengan jumlah pembudidayaan 5.500 orang di tahun 2008. Saat ini rumput laut merupakan salah satu komoditas prioritas dan unggulan bagi Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. karena itu produksi per minggu sekitar 177. 2001). Produksi rumput laut Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Potensi pengembangan budidaya laut di Kabupaten Kolaka lebih kurang 17. Namun yang dimanfaatkan baru mencapai 2.

082 juta ton pada tahun 2010. menjadi 5.1 miliar. Dampak positif terhadap ekonomi masyarakat pembudidaya melalui budidaya rumput laut. pembangunan jalur dan batas-batas kawasan budidaya rumput laut guna menghindari konflik pemanfaatan kawasan. Namun karena pendapatannya tidak membaik. Begitu juga dengan pembangunan gudang penyimpanan rumput laut 15 unit. dari sebesar 2.574 juta ton pada tahun 2009 menjadi 3. dan menyiapkan dana penguatan modal dengan pola kredit lunak sebesar Rp5 miliar. bapak 4 orang anak ini akhirnya mencoba untuk ikut dalam kelompok tani pembudidaya ikan untuk budidaya rumput laut (Pokdakan) Bina baru di Kelurahan Mangolo Kecamatan Latambaga Kolaka pada tahun 2009. pemerintah daerah juga memberikan peningkatan anggaran untuk pengadaan mesin katinting. Syamsuddin bekerja sebagai penambang pasir. telah dapat meningkatkan pendapatan nelayan dan pembudidaya ikan sampai dengan Rp3 juta ± Rp 5 juta per bulan. kemudian pedagang tersebut menjualnya ke eksportir yang ada di Makassar dan Surabaya. Dengan semakin luas dan meningkatnya pemanfaatan rumput laut bagi keperluan bahan baku industri maka prospek usaha budidaya dan perdagangan rumput laut semakin cerah. Sebelum menjadi petani rumput laut. Selain itu.produksi perikanan budidaya. Setiap tahun produksi rumput laut terus mengalami peningkatan. Kegiatan pemasaran rumput laut di Kabupaten Kolaka dimulai dengan sistem pemasaran lokal (pedagang pengepul). Masih ada sekitar 7 ribu Ha areal pengembangan budidaya rumput laut yang belum dimanfaatkan. menyiapkan anggaran bagi kelompok pembudidaya rumput laut pemula.130 Ha di tahun 2010. Proses pengolahan rumput laut yang telah dipanen diawali dengan proses pengeringan selama 3-4 hari di atas para-para dengan kisaran kadar air lebih kurang 32-35%. Ditambah lagi pengembangan kebun bibit rumput laut menjadi 8 unit. dengan nilai anggaran dari masing-masing Rp65 juta menjadi Rp520 juta. . Kabupaten Kolaka berencana melakukan pengembangan produksi rumput laut dengan perluasan areal budidaya dari 4. Setelah kering hasil panen tersebut dimasukkan ke dalam karung nilon kapasitas 70-80 kg untuk kemudian disimpan dalam gudang penyimpanan. dengan anggaran yang tadinya masing-masing Rp75 juta menjadi Rp1. Salah satu petani rumput laut yang mengalami kenaikan tingkat kesejahteraan karena rumput laut adalah Syamsuddin (40).000 Ha di tahun 2014. warga kelurahan Kolakasih Kecamatan Lantambaga Kabupaten Kolaka.

Melihat potensi produksinya tinggi dengan masa tanam 40 hari sudah bisa dipanen. Ia bahkan mampu mempekerjakan 10 orang untuk membuat bentang bibit dengan upah Rp2. Syamsuddin menerima bantuan 70 bentang tali PE masing-masing sepanjang 25 meter.20 http://DitjenkanBudidaya. Syamsuddin lalu mencoba menanam dan panen dengan hasil maksimal.go.23 .setkab.com. Saat ini ia bisa menikmati hasil penjualan rumput kering sebanyak 1 ton setiap kali panen dengan harga jual ke pengepul sebesar Rp9 ribu ± Rp10 ribu per kg. Ia juga mendapat penyuluhan bagaimana budidaya rumput laut yang benar.500 untuk bentang ukuran 25 meter.500 untuk bentang ukuran 50 meter. Berkat dukungan teman-teman kelompoknya. dan Rp3.php?pg=artikeldetail&articleid=2837 diambil pada tanggal 28 Desember 2011 jam 12. ´Saya sangat bahagia karena kini bisa meningkatkan penghasilan saya dan merekrut tenaga kerja karena budidaya rumput laut. Selang dua tahun ia sudah memiliki 900 bentang dengan panjang 25 dan 50 meter.id/mobile/index.com/content/view/13324/52/ diambil pada tanggal 28 Desember 2011 jam 13.2004/budidayarumputlaut// diambil pada tanggal 28 desember 2011 jam 12.Saat itu ada bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka berupa tali PE untuk bentang tanaman rumput laut bagi petani. Daftar Pustaka Sumber dari situs : http://www.´ ujarnya.16 http://kendariekspres.

Pertumbuhan karang pembentuk terumbu pada kedalaman 18 ± 29 m sangat lambat tetapi masih ditemukan hingga kedalaman iebih dari 90 m. terumbu karang umumnya hanya tumbuh beberapa mm saja per tahunnya. Untuk sampai ke kondisi yang sekarang. Karang membutuhkan perairan dangkal dan bersih yang dapat ditembus cahaya matahari yang digunakan oleh zooxanthellae untuk berfotosintesis. Tergantung dari jenis. di sekitar mulut sungai atau pantai atau sekitar pemukiman penduduk akan lambat karena karang membutuhkan perairan yang kadar garamnya sesuai untuk hidup. Yang ada di perairan Indonesia saat ini paling tidak mulai terbentuk sejak 450 juta tahun silam. Fungsi Terumbu Karang y Pelindung ekosistem pantai . Namun hanya sebagian yang menghasilkan kalsium karbonat pembentuk terumbu.KEHIDUPAN MASYARAKAT PENAMBANG BATU KARANG (Febrizah F1E1 10 077) Terumbu karang adalah struktur hidup yang terbesar dan tertua di dunia. Terdapat ribuan spesies yang hidup di kawasan terumbu karang. dan kondisi perairannya. Organisme pembentuk terumbu yang terpenting adalah hewan karang. Terumbu karang dapat tumbuh dengan baik di perairan laut dengan suhu 21° ± 29° C. terumbu karang membutuhkan waktu berjuta tahun. Masih dapat tumbuh pada suhu diatas dan dibawah kisaran suhu tersebut. Karang memerlukan salinitas yang tinggi untuk tumbuh. Amerika Serikat dan bagian selatan Jepang. Itulah sebabnya terumbu karang banyak ditemukan di perairan tropis seperti Indonesia dan juga di daerah sub tropis yang dilewati aliran arus hangat dari daerah tropis seperti Florida. oleh karena itu. tetapi pertumbuhannya akan sangat lambat.

Sekitar 500 juta orang di dunia menggantungkan nafkahnya pada terumbu karang. Saat ini banyak penelitian mengenai bahan-bahan kimia tersebut untuk dipergunakan untuk mengobati berbagai manusia. Selain itu. Bagi manusia. Karenanya banyak hewan dan tanaman yang berkumpul di sini untuk mencari makan. y Mempunyai nilai spiritual . menyelam dan menikmati terumbu karang per tahun. masih banyak jenis ikan dan organisme laut serta zat-zat yang terdapat di kawasan terumbu karang yang belum pernah diketahui manusia sehingga perlu penelitian yang lebih intensif untuk mengetahui µmisteri¶ laut tersebut. Diperkirakan. terumbu karang yang sehat dapat menghasilkan 25 ton ikan per tahunnya. y Objek wisata Terumbu karang yang bagus akan menarik minat wisatawan sehingga meyediakan alternatif pendapatan bagi masyarakat sekitar. y Rumah bagi banyak jenis mahluk hidup di laut Terumbu karang bagaikan oase di padang pasir untuk lautan. ini artinya terumbu karng mempunyai potensial perikanan yang sangat besar. baik untuk sumber makanan maupun mata pencaharian mereka. termasuk didalamnya 30 juta yang bergantung secara total pada terumbu karang sebagai penhidupan. dan berlindung. y Daerah Penelitian Penelitian akan menghasilkan informasi penting dan akurat sebagai dasar pengelolaan yang lebih baik. memijah. membesarkan anaknya. y Sumber obat-obatan Pada terumbu karang banyak terdapat bahan-bahan kimia yang diperkirakan bisa menjadi obat bagi manusia. Diperkirakan sekitra 20 juta penyelam .Terumbu karang akan menahan dan memecah energi gelombang sehingga mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan di sekitarnya.

19% luasan terumbu karang dunia telah hilang. Laporan status terumbu karang dunia yang dikeluarkan Global Coral Reef Monitoring Network (GCRMN) menyebutkan bahwa selama 2004 hingga 2008 luasan area terumbu karang semakin menurun.Bagi banyak masyarakat. Kondisi Terumbu Karang Pada laporan Reef at Risk (2002) menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan status terumbu karang yang paling terancam. Dalam periode 2004 hingga 2008. hasil survey P2O LIPI (2006) menyebutkan bahwa hanya 5. laut adalah daerah spiritual yang sangat penting. Selama 50 tahun terakhir. Di Indonesia sendiri 34% berada dalam kondisi sangat buruk 42% agak baik sedang hanya 21% dalam kondisi sehat dan 3 % sangat sehat. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan terumbu karang saat ini dalam kondisi yang menghawatirkah mulai dari kondisi ozon kita saat ini yang merupakan efek dari rumah kaca. . proporsi penurunan kondisi terumbu karang Indonesia telah meningkat dari 10% menjadi 50%.23% terumbu karang di Indonesia yang berada di dalam kondisi yang sangat baik. Lebih lanjut. Laut yang terjaga karena terumbu karang yang baik tentunya mendukung kekayaan spiritual ini. 15% terancam hilang 10-20 tahun kedepan dan 20% luasan terancam hilang 20-40 tahun mendatang.

Di Sulawesi Selatan. Dampak Bagi Kehidupan Dari Penambangan dan Pengambilan Batu Karang 1. Karang yang diambil dipergunakan untuk membuat bangunan/rumah. (banyak kasus di Maluku. Penambangan karang berpotensi menghancurkan ribuan meter persegi terumbu dan mengubah terumbu menjadi gurun pasir bawah air. perlindungan terhadap ekosistem pantai akan berkurang karena tidak mampu lagi memecah energy gelombang untuk mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan sekitarnya. terutama batu pada suatu daerah. Kalimantan Timur). Penyebab utama penambangan karang adalah tidak tersedianya bahan bangunan. Dengan begitu maka masyrakat yang tinggal di bagian pesisir yang akan mendapatkan imbasnya dan masyarakat yang ikut melakukan penambangan maupunn pengambilan terumbu karang akan merasakan akibatnya secara langsung pada musim-musim tertentu . ribuan meter kubik karang batu dan sebagian besar merupakan karang hidup dipakai untuk membuat tanggul-tanggul tambak yang diambil dari terumbu karang pada bagian depan tambak. karang yang ditambang digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan kapur. walaupun banyak sekali masyarakat yang sadar bahwa kegiatan mereka dapat merusak ekosistim terumbu karang.bencana alam dan masih banyak lagi yang diantaranya oleh karena ulah dari perusahaanperusahaan penambangan yang tidak melakukan peraturan-peraturan yang telah diberikan baik yang telah mendapatkan surat izin terlebih lagi penambangan legal Adapun lagi sekarang yang merupakan ulah dari masyarakat setempat yang melakukan penambangan maupun pengambilan yang kita ketahui bersama bahwa pengambilan karang merupakan kegiatan merusak terumbu karang yang banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir pada umumnya. Pada daerah-daerah yang tidak memiliki bahan galian seperti batu yang dapat dipakai dalam pembuatan bangunan atau untuk memperoleh bahan-bahan bangunan tersebut sangat jauh. Porites spp) dan tidak jarang karang yang diambil tersebut masih hidup. Di Lombok (Mataram). jalan. maka penambangan karang merupakan alternatif yang terbaik dan termudah yang dapat dilakukan. Jenis yang umum diambil adalah karang batu (stony coral. sehingga alternatif termudah adalah mengambil dari terumbu karang. lapangan bola.

dan yang paling fatal bila terjadi bencana alam di laut maka tak ada lagi yang dapat meredam ombak. 2. .Rumah yang digunakan bagi banyak jenis makhluk hidup di laut ini akan hilang, yang artinya bagi manusia potensial perikanan yang sangat besar dengan adanya terumbu karang tersebut akan berkurang dan untuk sumber makan maupun mata pencaharian mereka akan semakin sulit karena diperkirakan, terumbu karang yang sehat dapat menghasilkan 25 ton ikan per tahunnya. Sekitar 500 juta orang di dunia menggantungkan nafkahnya pada terumbu karang, termasuk didalamnya 30 juta yang bergantung secara total pada terumbu karang sebagai penghidupannya. Dengan begitu maka pendapan dan kehidupan bagian pesisirpun akan menurun dan ini akan sangat dirasakan oleh para nelayan sekitar atau yang berpencaharian disekitar pesisir.

3. Pencarian obat-obatan dengan terumbu karang akan semakin sulit dan akan semakin meningkat harganya.

4. Objek wisata yang juga merupakan sumber pendapan bagi sebagian masyarakat sekitar akan menurun. Dalam hal ini maka pemerintah harus lebih giat dalam melakukan peninjauan pada daerahdaerah tersebut dan memberikan pengetahuan yang penting pada masyarakat sekitar agar masalah-masalah yang dapat timbul bisa berkurang. Dengan begitu maka mata pencaharian maupun sumber makanan bagi mereka akan tetap ada dan kebersihan lautpun akan tetap terjaga dengan begitu maka kualitas hidup masyarakat pesisirpun akan semakin baik. Selain itu juga peraturan maupun hukum yang telah ada untuk perlindungan terhadap terumbu karang harus lebih ditegakkan agar para perusahaan maupun masyarakat yang melakukan penambangan tidak menimbulkan akibat yang dapat merugikan. Selain berpengaruh pada masyarakat sekitar maupun perusahaan penambangan terumbu karang juga memberikan keuntungan kepada Negara seperti di Negara kita Indonesia memberikan keuntungan pendapatan sebesar US$1,6 milyar/tahun. Nilai keseluruhan pelayanan dan sumber dayanya sendiri diperkirakan mencapai setidaknya US$ 61,9 milyar/tahun.

Oleh sebab itu pemberian pengetahuan tentang pentingnya terumbu karang kepada masyarakat pesisir sangatlah penting karena bagaimana cara hidup mereka saat ini juga dapat menimbulkan akibat ataupun gambaran kehidupan mereka kedepannya sebab mereka yang dapat merasakan langsung akibat perbuatan yang mereka lakukan.

Referensi http://www.terangi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=8%3Afaktor-faktoryang-merusak-terumbu-karang&catid=17%3Aterumbukarang&Itemid=12&lang=id#ixzz1hqSixN8I

³ Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Non Perikanan´ (Rika Hardiyanti Pagala F1E1 10 083)

( PENENUN )

Pembahasan : Populasi masyarakat pesisir didefinisikan sebagai kelompok orang yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir.

Mereka terdiri dari nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya, pedagang ikan, pengolah ikan, supplier faktor sarana produksi perikanan. Dalam bidang non-perikanan, masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa pariwisata, penjual jasa transportasi, serta kelompok masyarakat lainnya yang memanfaatkan sumberdaya non-hayati laut dan pesisir untuk menyokong kehidupannya. Terutama yang akan saya bahas yaitu masyarakat pesisir yang mata pencahariannya adalah menenun. Penenun merupakan pekerjaan populer bagi kaum hawa,terutama yang hidup dan bermukim di daerah pesisir maupun daerah yang terpencil. Menenun adalah kebiasaan dan tradisi sehat yang diwariskan secara turun temurun. Bahkan hanya dengan melihat secara terus menerus kebiasaan ibu-ibu mereka, gadis-gadis remaja dengan sendirinya bisa memulai menenun tanpa harus diajari. Kebiasaan, ketekutan, konsistensi dan selanjutnya adalah penemuan atas media penyaluran kreatifitas dan ekspresi, yang membuat para gadis remaja itu terpanggil untuk melanjutkan tradisi dari nenek moyang mereka.

Sebagai penunjuk status social. Sebagai alat untuk membayar hukuman jika terjadi ketidakseimbangan. Sebagai busana dalam tari adat dan upacara adat. 3. 5. selain sebagai mata pencahrian.Gambar para gadis yang melanjutkan warisan nenek moyangnya yaitu menenun Kain tenun mempunyai banyak fungsi penggunaan di masyarakat. 4. Sebagai busana untuk penggunaan sehari-hari dan mentupi badan. 6. Sebagai pemberian dalam acara kematian dan sebagai wujud penghargaan. 2. Sebagai alat barter/transaksi . 7. berikut adalah fungsi dari kain tenun: 1. Sebagai mahar dalam perkawinan dalam bahasa daerah disebut sebagai ³belis´ nikah.

tenun corak Palembang. Lebih jauh dari itu. tampak pulau Maringkik Di pulau yang memiliki luas 16 hektar are ini. hasil tenun mereka dipasarkan di pulau Maringkik serta di Tanjung Luar dan sekitarnya. Contohnya Dari dermaga Desa Tanjung Luar yang berada di bagian Selatan Pulau Lombok. Proses menenun satu kain memakan waktu 7-14 hari. Sebagai bentuk penghargaan bagi tamu yang datang berkunjung. Tenun khas Maringkik terdiri dari tenun ikat kain Bugis. corak Tanjung dan yang mulai langka adalah tenun Mandar Tenunan khas pulau Maringkik dijual dengan harga Rp 200. . Sebagai betuk cerita mengenai mitos dan cerita-cerita yang tergambar di motif.motif nya.8. Sejauh ini. di mana suami-suami mereka nota bene bermata pencaharian sebagai nelayan. tenun Maringkik belum dapat dipasarkan. perempuanperempuannya menenun kain khas Maringkik. Mereka sangat berharap. Termasuk juga keluhan mereka tentang susahnya memasarkan tenunan Maringkik. Makin banyak kembang atau coraknya maka harganya makin mahal. Rata-rata di tiap rumah di pulau ini memiliki alat tenun peninggalan leluhur mereka sehingga dua hingga empat perempuan di masingmasing rumah kesehariannya adalah menenun. Padahal.000. Penenun Maringkik mewarisi keahlian menenun dari nenek moyang mereka yang sejak dahulu mendiami pulau ini.000 hingga Rp 250. adalah proses yang dianggap paling sulit. pemerintah daerah setempat dapat membantu mereka untuk memberikan pelatihan-pelatihan untuk peningkatan mutu dan kualitas tenunan. Proses pencelupan warna yang mereka jadikan motif. Tenun khas Maringkik berkembang alami sesuai kemampuan dan keahlian para penenun tradisional ini. hasil tenunan tersebut bisa membuat para ibu rumah tangga ini bisa membantu ekonomi keluarga. 9.

co. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Secara Terpadu.cc/2010/12/pesona-ttu. - ^ "Fungsi Kain Tenun". Makalah pada Sosialisasi Pengelolaan Sumberdaya BerbasisMasyarakat. Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. 2001.com Bengen. D.DAFTAR PUSTAKA - http://www.html .neonnub. 21-22 September 2001. http://www.cybertokoh.G. Bogor.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->