Tugas Nutrisi Kelautan

KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR

KELOMPOK 2
1. Nur Sulviyana
2. Firda Ulfa Lusiana 3. Sudarman 4. Dian Sari Enimosa 5. Ershanty Rahayu 6. Yunita Silvana Lantapi 7. Sri Wuna Sari Nasir 8. Fauzyah Novrini Kasman Arifin 9. Rahmawati Nur Ariyanti 10. Ririt Yuliarti Taha 11. Karmila 12. Inda Permatasari Ridwan 13. Aulia Fahdilah Tasruddin 14. Febrizah 15. Rika Hardiyanti Pagala

F1E1 10 047
F1E1 10 004 F1E1 10 030 F1E1 10 044 F1E1 10 046 F1E1 10 048 F1E1 10 051 F1E1 10 055 F1E1 10 057 F1E1 10 058 F1E1 10 063 F1E1 10 064 F1E1 10 068 F1E1 10 077 F1E1 10 083

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2012

KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN PENANGKAP IKAN

(Nur Sulviyana F1E1 10 047)

A. Ekonomi, Sosial dan pendidikan

Pembangunan wilayah pesisir pada umumnya dikaitkan dengan upaya pengentasan kemiskinan nelayan yang kehidupannya tergantung pada usaha perikanan. Sektor perikanan pada hakekatnya dapat dikembangkan sebagai alternatif bagi perbaikan ekonomi masyarakat nelayan.

Gambar 1. Peta Desa Bandaran Bebarapa desa yang berada di ruang lingkup Nusantara berpenghasilan sebagai nelayan penangkap ikan yaitu Desa Bandaran. Desa ini berada di wilayah sekitar pesisir Pulau Madura. Desa ini semula bernama kampong cerek. Perubahan nama dari ³Cerek´ menjadi ³Bandaran´ terjadi ketika desa ini berkembang menjadi ³bandar´ ikan. Beberapa definisi tentang masyarakat nelayan yang di definisikan oleh para ahli yaitu: Masyarakat nelayan adalah masyarakat yang lingkungan pemukimannya berada pada wilayah peralihan antara daratan dengan lautan yang disebut pinggir pantai atau tepi laut. Masyarakat pesisir atas nelayan, pembudi daya ikan, dan pedagang hasil laut, serta masyarakat nelayan yang kehidupan sosial ekonominya tergantung pada sumber daya kelautan. Masyarakat nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang tergantung pada hasil laut, baik dengan cara

melakukan penangkapan atau budidaya yang pada umumnya tinggal di pinggir pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya. Mengacu pada definisi tentang masyarakat nelayan. Definisi ini menggambarkan keadaan Desa Bandaran yang merupakan sebuah potret kehidupan desa nelayan tradisional, yang dalam menggerakkan aktivitas perekonomiannya sangat mengandalkan pada mata pencaharian sebagai nelayan, dan sedikit sekali yang memiliki mata pencaharian tetap. Selain itu, para nelayan dan beberapa pelaku ekonomi setempat (juragan pemilik kapal, bakul ikan) mengelola dan mengembangkan aktivitas perekonomian mereka secara ³swasembada´, yaitu bertumpu pada pemberdayaan potensi daerah dan modal yang terdapat di lingkungan setempat (lokal), yang merupakan ciri khas dari sebuah struktur ekonomi desa. Kondisi ketika musim kemarau panjang, matapencaharian pokok masyarakat yang berada di desa Bandaran pesisir, adalah sebagai nelayan, serta hanya sebagian kecil di antaranya bermatapencaharian selain nelayan. Walaupun masyarakat desa Bandaran pesisir tersebut berada pada daerah yang tidak terlalu subur, dan banyak menggantungkan hidup pada hasil penangkapan ikan di laut, namun secara ekonomis kehidupan mereka tidak dapat dikatakan sebagai masyarakat terbelakang dan miskin, bahkan, dari hasil penangkapan ikan di laut itu, sebagian besar dari mereka memiliki rumah tembok, fasilitas rumah tangga ³modern dan canggih´, untuk ukuran ³masyarakat tradisional´ (traditional peasant societies), dan mobil. Seperti lazimnya pemukiman masyarakat nelayan lain di Pulau Madura, rumah-rumah penduduk setempat cukup padat, berjejal, tidak menganut pola penataan rumah seperti dalam masyarakat petani pedalaman, serta mengesankan sebuah ³pemukiman kumuh´. Pada umumnya rumah-rumah mereka menghadap ke laut. Ketika berjalan di perkampungan sangat sempit dan berkelok-kelok, sehingga apabila berpapasan salah satu harus mengalah, namun, apabila diperhatikan, sulit dibayangkan bahwa daerah itu adalah daerah nelayan, dengan mata-pencaharian ³satu-satunya´ adalah menangkap ikan di laut. Kondisi rumah-rumah mereka yang berderet dari Timur ke Barat sepanjang 500 meter sebelah utara dan selatan jalan raya antara Pamekasan dan Sampang, tidak begitu jauh berbeda dengan rumah-rumah pemukiman orang-orang kota. Deretan bangunan rumah pemukiman penduduk di desa Bandaran itu ibarat sebuah ³kota kecil di tepi pantai´ (a little state in the coast), lengkap dengan berbagai aksesoris peralatan rumah tangga ³modern´, berselang-

Sedangkan. (2) jaring gondrong. kecuali sebagian kebutuhan sandang dan papan yang tidak terdapat di desanya atau terdapat kekurangan. Kepedulian masyarakat setempat terhadap arti penting pendidikan bagi masa depan kehidupan anak-anak mereka. mulai berubah sejak dasa warsa 90-an. Di sisi lain. yaitu: (1) jaring lepas (sethet). Anak-anak mereka. perhatian dan tingkat partisipasi penduduk terhadap pendidikan anakanaknya sangat kurang. dan jaring gondrong) merupakan sistem penangkapan utama atau umum diterapkan di dalam menangkap ikan di laut. terutama karena alasan akan ³dikawinkan´. itupun tidak seluruhnya tamat. juga berbagai perabot rumah tangga khas masyarakat nelayan. disamping sistem pancing. (3) jaring lingkar (sleret). sistem jaring (jaring lepas. dan (4) rakat. sistem penangkapan ikan melalui bagan tidak digunakan mengingat kondisi laut di desa Bandaran ini cukup dalam dan terjal sehingga tidak memungkinkan penggunaan sistem bagan. Sebagai daerah pemukiman cukup padat. B.Walaupun dengan tingkat persentase yang tidak terlalu tinggi. jaring lingkar. Sistem Penangkapan Ikan di Laut Bagi masyarakat nelayan di Desa Bandaran. mereka membeli di kota Kabupaten (Pamekasan atau Sampang). pada umumnya hanya bersekolah hingga jenjang SD. tampaknya dapat dipenuhi sendiri dari berbagai fasilitas warung atau pertokoan yang ada di desanya. baik yang terbuat dari bambu maupun kayu. dan jaring gondrong. rakat. Ada tiga jenis jaring (phajang) yang biasa digunakan untuk keperluan penangkapan ikan di laut. sedangkan jaring lepas (sethet) kini hanya sebagian kecil nelayan yang . telah mulai ada yang disekolahkan hingga jenjang SMTA. Sungguh merupakan sebuah mozaik desa yang sangat mencengangkan. Di antara keempat jenis sistem penangkapan ikan dengan menggunakan sisem jaring di atas.seling dengan rumah-rumah desa khas penduduk kampung nelayan. yang hingga kini tetap bertahan dan masih banyak digunakan oleh nelayan tradisional penangkap ikan di desa Bandaran adalah dengan jenis jaring lingkar (sleret). Anak-anak mereka terutama yang perempuan. laki-laki dan atau perempuan. dan hanya satu-dua orang saja yang bisa mencapai jenjang Perguruan Tinggi. upaya mereka untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya.

terdiri dari jenis yang paling besar hingga yang terkecil. mengingat bahwa penggunaan ketiga jenis jaring tadi secara ekonomis lebih menguntungkan. suka-hati dan didasarkan atas ³kesertaan secara sukarela´. yaitu: kapal sleret. tetapi berkelompok. (2) juragan kepala perahu. terbuka. Sebagai sebuah (organisasi) kelompok nelayan pola relasi kerja. Hal ini menunjukkan betapa faktor-faktor sosial dan budaya bercampur baur dengan faktor-faktor ekonomi. Gambar 2 C. Setiap kelompok nelayan terdiri dari: (1) juragan pemilik kapal/perahu. tidak semata-mata didasarkan pada hubungan . (3) pandhiga. Hal ini. bukan terjadi dalam kerangka hubungan kerja antara ³atasan´ dan ³bawahan´ yang bersifat ³hubungan pengabdian´. Organisasi dan Pola Relasi Kerjasama Antar-Nelayan Kehidupan para nelayan Desa Bandaran bukanlah bersifat individual.menggunakannya (di desa Bandaran kini hanya tinggal 5 buah). Hubungan di antara mereka pun sangat longgar. Organisasi dan hubungan kerjasama di antara jraghan praho/kapal. atau antar anggota nelayan sendiri. baik antara juragan perahu. juragan kepala dan phandiga. tetapi dalam kasus-kasus tertentu bahkan seorang juragan pemilik perahu harus merekrut anggota nelayannya dengan ³cara membeli´. tetapi lebih bersifat ³kolegialisme´ dan ³kekeluargaan´. Berbagai jenis perahu yang digunakan para nelayan desa Bandaran untuk menangkap ikan yang ada sekarang. edher. dan pakesan kecil (thitil). sekalipun terdapat klasifikasi di antara mereka sesuai dengan spesifikasi kerja masing-masing. jraghan kepala dan awak perahu/kapal di atas tidaklah terlalu ketat.

juragan dan awak perahu tersebut tampaknya disebabkan oleh pola rekrutmen anggota yang juga tidak terlalu ketat. atau apabila menurut mereka kapal/perahu yang mereka ikuti kurang memberikan hasil yang mencukupi atau memuaskan kebutuhan diri dan keluarganya. Sistem membeli ini dilakukan manakala sebuah kapal/perahu tersebut pada setiap hari atau setiap musim melaut dapat dikatakan sedikit atau sama sekali tidak membawa hasil tangkapan ikan yang banyak (ta¶ olleyan). dan (2) membeli. dia dapat masuk menjadi pengikut atau awak perahu (pandhiga) dari seorang pemilik perahu tertentu dan/atau para pemilik perahu yang lain. Sistem atau pola rekrutmen keanggotaan nelayan dilakukan secara: (1) sukarela. sistem ³membeli´ (melle) adalah perekrutan seseorang dalam sebuah kelompok nelayan dengan cara membeli atau membayar agar yang bersangkutan mau menjadi anggota kelompok perahunya. tanpa harus menunggu habisnya satu mosem petthengan. atau dengan berbagai persyaratan sebagaimana layaknya sebuah usaha profesional. Cara sukarela. atau kurang memadai. Demikian pula.ekonomi-bisnis. menyebabkan adanya hubungan ³hutang-piutang´ yang cukup rumit di antara mereka dan seringkali menyebabkan posisi ³menawar´ para phandhiga atau jraghan kepala berada pada posisi lemah dibandingkan para pemilik perahu. sehingga. untuk mendapatkan anggota seorang juragan harus membeli orang-orang yang akan dijadikan anggota pandhiga perahunya. maka hanya dipersyaratkan bagi setiap nelayan yang telah memiliki banyak pengalaman di bidang penangkapan ikan di laut serta luasnya hubungan dan komunikasi dengan berbagai kelompok nelayan yang ada di daerah itu atau di luar desa Bandaran. . Adanya sistem pembelian anggota kelompok nelayan untuk keperluan pengoperasian perahu/kapal seperti ini. tidak terlalu prosedural. siapapun orangnya. Khusus untuk seorang juragan kepala. Longgarnya ikatan keorganisasian dan hubungan kerjasama kemitraan di antara pemilik kapal. adalah perekrutan seseorang dalam sebuah kelompok nelayan yang terbuka bagi siapa saja. mereka pun dapat keluar dari keanggotaan suatu kelompok nelayan tersebut kapan mereka menghendaki. secara sukarela. Artinya. tanpa ada paksaan. faktor-faktor yang bersifat ³kekeluargaan´ juga mewarnai pola relasi kerjasama di antara mereka. mengingat pentingnya peran dan tanggungjawab dia sebagai ³pemegang komando´ dalam suatu operasi penangkapan ikan. Di lain pihak. serta merupakan lahan yang sangat potensial bagi keduanya untuk terlibat dalam hutang yang bertumpuk-tumpuk. atas dasar kesukarelaan yang bersangkutan untuk menjadi anggota kelompok nelayan.

Seperti pada sistem pembagian ikan pada jenis kapal sleret di atas. Kendatipun demikian. seorang pemilik perahu/kapal tidak menentukan ³target minimal´ yang harus dipenuhi atau dicapai oleh para jraghan kepala atau awak kapal/perahunya berkenaan dengan hasil tangkapan ikannya. sistem pembagian ikannya adalah 50% dari seluruh ikan hasil tangkapan adalah bagian pemilik perahu. Sistem Pembagian Hasil Ikan Dalam kaitan bisnis penangkapan ikan di desa Bandaran. besarnya jumlah penerimaan dari seorang juragan pemilik perahu pakesan kecil dan sampan (edher) tersebut. banyak atau sedikitnya hasil ikan sama sekali tidak berpengaruh terhadap sistem pem-bagian hasil ikan di antara jraghan kapal/perahu. jraghan kepala. . dewasa ini pemilik perahu hanya mendapat sekitar 1/3 bagian (atau 35%). dan mesin. sistem pembagian hasilnya tetap tidak berubah. sedangkan sekitar 2/3 (65%) bagian lainnya dibagi menjadi 20 bagian untuk seluruh awak kapal/perahu. tampaknya juragan pemilik perahu umumnya tetap mendapatkan pembagian hasil ikan rata-rata lebih tinggi dari para awak kapal. pandhiga. Hal ini berbeda pada kapal besar jenis sleret dan pakesan besar yang seluruh biaya perawatan. sejalan dengan semakin ketatnya persaingan di antara para juragan pemilik perahu.D. jaring. memang sebanding dengan investasi yang telah dia keluarkan untuk pengadaan perahu. karena dalam hal terjadi kecelakaan atau kerusakan pada perahu. Dalam masyarakat nelayan desa Bandaran. Namun. sedangkan 50% sisanya untuk seluruh awak perahu. Berapapun hasil perolehan ikan. maka seluruh biaya perawatan. Selain itu. serta anggota nelayan lain yang termasuk anggota kelompok nelayan tersebut. Apabila diperhatikan. jaring. atau jenis kapal kecil (sampan/edher dan pakesan kecil) juga apakah menggunakan alat berupa jaring atau pancing (khusus untuk jenis kapal kecil). dalam sistem pembagian ikan hasil tangkapan di atas. yaitu apakah menggunakan jenis kapal/perahu besar (sleret dan pakesan besar). dan mesin. dikenal dua sistem pembagian hasil ikan tangkapan yang didasarkan pada ³jenis perahu yang digunakan´ dan ³jaring (alat penangkapan ikan) yang digunakan´. dan/atau orang-orang lain yang terlibat dalam proses persiapan dan pelaksanaan operasi penangkapan ikan. perbaikan atau bahkan penggantiannya yang baru sepenuhnya menjadi tanggungan dan atas modal dari juragan pemilik perahu tersebut. Untuk jenis perahu besar.

(2) awak perahu mendapatkan bagian yang bervariasi. tetapi oleh karena dia juga dapat merangkap sebagai tukang nampo. sedangkan awak perahu masing-masing mendapatkan 1 bagian (jumlah awak perahu antara 4-6 orang). maka selain mendapatkan bagian yang telah ditetapkan di atas. sehingga secara keseluruhan mendapatkan perolehan sebanyak 15% ± 60%. atau sebesar 2. (3) tokang nampo mendapatkan bagian yang diberikan oleh masing-masing anggota nelayan sebanyak 5%. juga masih memperoleh tambahan bagian lagi antara 5% ± 20%. Sementara itu. Namun. maka sistem pembagiannya adalah 4-5 bagian untuk juragan pemilik perahu. tetapi memperoleh bagian dari hasil pemberian sekadarnya Gambar 3 Jenis-jenis kapal (sakadharra) atau atas dasar kerelaan dari para nelayan. Apabila menggunakan jaring sethet. tergantung apakah jaringnya memperoleh hasil banyak. tokang koras (harfiah: ³tukang menguras´ air di dalam perahu di tengah laut ketika sedang melaut) tidak mendapatkan bagian tersendiri.14% (sistem pembagian baru). .perbaikan dan/atau penggantian yang baru diambilkan dari uang perbaikan/perawatan yaitu sebesar 5% ± 10% (sistem pembagian lama). tokang nampo dan tokang jagha¶an mendapatkan masing-masing ½ bagian. sedikit atau tidak. apabila menggunakan jaring gondrong pembagiannya adalah: (1) juragan pemilik perahu antara 10% ± 40%. Namun. maka total bersih penerimaannya sebanyak 5% ± 20%. Karena seluruh anggota nelayan berjumlah 1-4 orang. secara umum mereka dapat memperoleh total bagian bersih sebanyak 85% dari jumlah udang hasil pancingan mereka. untuk jenis perahu kecil terbagi lagi menjadi dua sistem.

juragan perahu. Artinya. (3) tengkulak (tokang kolak jhuko¶). Menjadi ³kewajiban´ atau ³keharusan´ bagi para nelayan dan juragan kepala penerima uang tadi untuk menjual atau menyerahkan sebagian atau seluruh ikanikan yang menjadi bagiannya²sesuai dengan kesepakat-an²kepada bakul yang telah memberinya uang. Kebiasaan memberikan uang perangsang ini. ada yang sebagian langsung dijual atau diserahkan kepada para bakul ikan yang datang ke tengah laut dengan menggunakan perahu. para nelayan atau juragan kepala tersebut akan menerima uang hasil pembelian ikan dari bakul µsenantiasa kurang¶ . Relasi dan praktik jual-beli yang demikian ini telah menjadi pola umum dalam hampir setiap relasi dan jaringan perdagangan ikan yang berlaku di kalangan nelayan tradisional di desa Bandaran. hasil ikan bagian masing-masing awak kapal dan juragan kepala. dalam banyak hal telah menjadi kesepakatan di antara kedua belah pihak. Dalam banyak kasus di lapangan. Hal ini terjadi. tetapi kadang-kadang juga dilakukan di tengah laut. Pola Relasi dan Jaringan Penjualan Ikan Transaksi jual-beli ikan/udang nelayan di desa Bandaran pada umumnya dilakukan di darat seperti dalam masyarakat nelayan di Pulau Madura lainnya. juragan kepala. Dalam aktivitas jual-beli tersebut. ada pula yang dibawa ke darat untuk dijual atau diserahkan kepada para bakul ikan yang ada di darat. Pemberian uang tersebut tujuannya tidak lain adalah agar para nelayan dan juragan kepala tadi menyerahkan atau menjual ikan kepada si bakul ikan. hubungan jual-beli ikan antara para nelayan dan juragan kepala di satu pihak dengan para bakul ikan di lain pihak sering bersifat ³mengikat´. bahkan lebih rendah dari harga jual riil ikan seandainya dijual langsung di pasar lokal. Aktivitas jual-beli tersebut terjadi antara (1) nelayan. walaupun sebenarnya uang yang dibayarkan²saat itu juga atau kemudian²oleh para bakul kepada mereka tidak pernah sama. Uang tersebut merupakan ³uang muka´ (pesse panjher) dari bakul ikan kepada para nelayan dan juragan kepala dari hasil penjualan ikan yang diterimakan kepada bakul ikan. Pola jual-beli ikan dengan sistem ³uang pengikat´ (pesse panjher) tersebut memang tidak selalu merugikan pihak nelayan dan juragan kepala.E. karena para nelayan dan juragan kepala tersebut secara rutin dan berkesinambungan mendapatkan ³uang pengikat´ (pesse panyengset) dari para bakul ikan. daripada atas dasar ³sukarela´. (2) bakul ikan (bakol jhuko¶).

serta tenaga. maka ikan-ikan tersebut harus dikeringkan (jhuko¶ kerreng). selain masih harus mengeluarkan uang tambahan untuk transportasi juga belum dapat dipastikan dapat segera laku dengan cepat atau berharga tinggi. apabila ikan yang dijual sendiri tadi tidak laku. atau ketika menjelang lebaran mereka kembali mendapatkan . adalah karena mereka akan mendapatkan fasilitas tambahan dari para bakul ikan. sehingga jumlah uang yang diterima oleh para nelayan dan juragan kepala dari para bakul siapapun dia setiap orang adalah setara. yaitu ada kemungkinan tidak laku. atau tidak melaut). Sistem pemberian hasil penjualan ³di bawah harga´ tersebut berlaku umum atau sama untuk seluruh bakul. dll) atau pun untuk keperluan keluarga yang lain. Para nelayan itu pun secara rutin masih mendapatkan barang-barang lain seperti rokok (ketika dia istirahat. Dalam hal ini. selain dia dapat menjual harga sesuai dengan keadaan pasar dan jenis ikan yang dijual. tidak ada perbedaan.dari harga jual ikan di pasaran. yaitu kemudahan untuk mendapatkan hutang (otang) atau pinjaman uang (nginjham pesse) dari para bakul rekanannya. sebab bagi para nelayan dan juragan kepala ada risiko yang akan diterima. Hal lain yang menjadi daya tarik dari para nelayan dan juragan kepala melakukan praktik bisnis semacam itu. dengan adanya uang pengikat ini. misalnya ke pasar kota Pamekasan. Kecenderungan para nelayan dan juragan kepala untuk menjual ikan kepada bakul yang telah ³mengikatnya dengan uang pengikat tadi. yang bagi mereka mungkin tidaklah mudah diperoleh dari orang lain. selain itu bunganya pun tidaklah terlalu tinggi (maksimal 5% perbulan). yang diperoleh dari selisih antara uang yang diberikan kepada para nelayan dan juragan kepala rekanannya dengan uang yang sebenarnya diperoleh dari hasil penjualan ikan tadi. apakah untuk keperluan modal usaha rumah tangga (meracang. harga jual rendah/murah dan atau apabila mereka bawa ke pasar di luar daerah mereka sendiri. Bahkan. di samping perlu uang ekstra untuk biaya pengeringan. dari hasil penjualan ikannya itu dia juga masih mendapatkan keuntungan. atau hal-hal praktis lainnya daripada semata-mata pertimbangan bisnis-ekonomi yang berorientasi pada mencari untung sebesarbesarnya. Bagi bakul ikan sendiri. tidak ada permainan harga jual antara bakul yang satu dengan bakul yang lain. yang tentunya harga jualnya akan lebih murah dibandingkan apabila dijual dalam bentuk ³ikan basah´ (jhuko¶ odi¶). apabila mereka menjual langsung ikan-ikan tersebut di pasar jalanan (pasar di pinggir jalan). adalah lebih disebabkan pada pertimbangan kecepatan dan kemudahan menjual ikan serta memperoleh uang.

pola jual-beli ikan dengan sistem ³uang pengikat´ juga terjadi antara para tengkulak ikan yang memberikan uang perangsang dengan para bakul ikan. Sejumlah alasan yang dikemukakan adalah. dan juragan perahu. walaupun bukan merupakan gejala umum seperti halnya hubungan jual-beli antara nelayan dan bakul seperti di atas.³sesuatu´ dari para bakul rekanan bisnisnya seperti: pakaian. kopiah. sarung. . terjadinya praktik jual-beli ikan dengan sistem ³uang pengikat´ juga disebabkan oleh kurang berfungsinya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang ada. Juga karena seringkali para pembeli yang telah memberikan ³harga tertinggi´ di TPI tersebut banyak yang tidak segera melunasi uangnya. dan sejak beberapa tahun yang lalu semakin tidak diminati oleh para nelayan atau juragan. malah tidak jarang terjadi penagihan yang tidak kunjung terselesaikan sehingga para pemilik ikan pun merasa dirugikan. Praktik jual-beli di atas. walaupun hal tersebut tidak dapat dikatakan bahwa pola relasi tersebut hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. tetapi pada umumnya di antara mereka terdapat hubungan jual-beli yang relatif bebas sehingga setiap tengkulak dapat menguhungi setiap bakul untuk mendapatkan berbagai jenis ikan yang dibutuhkan atau diminati oleh para pembeli di pasar asal mereka sementara para bakul ikan itu dapat pula secara bebas menjual ikan-ikannya kepada setiap tengkulak sesuai dengan harga pasaran atau harga yang lebih tinggi dari harga penawaran tengkulak yang lain. karena pasar tidak selalu memberikan respon positif terhadap ³hasil harga lelang´ yang disepakti di TPI. juragan kepala. sandal atau barangbarang kebutuhan lebaran lain untuk keluarga mereka. Selain sebab-sebab di atas. dan dalam hal-hal demikian itu telah menimbulkan hubungan jual-beli yang bersifat ³patron-client´ (hubungan pelindung-klien) di antara mereka. padahal pembangunan TPI tersebut pada awalnya merupakan inisiatif pemerintah dalam hal ini Dinas Perikanan untuk memudahkan dan memberikan keuntungan ekonomis yang lebih besar bagi para nelayan. senantiasa dipelihara dan semakin diperkuat. dikarenakan jaringan pemasaran ikan dari desa Bandaran ini hanya untuk konsumsi pasar-pasar lokal yang berada di kota Pamekasan dan Sampang. akan tetapi keberadaan TPI ini hanya efektif pada awal-awal pendiriannya saja.

dan tengkulak. Dengan jumlah armada kapal perahu yang dimiliki (antara 1-5 buah). bahkan tidak sedikit dari para bakul yang berperan sebagai ³pedagang pemasok dan perantara´ dalam aktivitas penjualan ikan hasil tangkapan nelayan kepada para tengkulak ikan hanya atas dasar prinsip ³kepercayaan´ (saleng parcaja). dan dari tangan Kepala Desa inilah para pedagang lokal (bakul) serta para tengkulak ikan yang berasal dari luar desa Bandaran membeli ikan sesuai dengan harga yang berlaku di pasar lokal. sebagaimana umumnya struktur ekonomi desa. yaitu pada kemampuan atau keahlian mereka untuk meyakinkan para pemilik ikan agar menyerahkan atau menjual ikan kepada dirinya. Hal ini. serta ³pemupukan modal´ yang sebenarnya bukan sebagai bentuk investasi dalam pengertian teori ekonomi. memiliki gudang atau pabrik pengolahan ikan. Keberadaan kepemilikan kapal/perahu serta modal yang dimiliki merupakan penggerak utama dalam aktivitas penangkapan ikan dan perdagangan. Kepemimpinan Ekonomi dan Pengembangan Struktur Ekonomi Lokal Berbeda dengan relasi jaringan perdagangan komoditas lokal di daerah lain di Pulau Madura seperti tembakau (bhako). dalam aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran ini juga terdapat sejumlah pedagang besar dari luar Bandaran yang disebut tauke yaitu pelanggan tetap bermodal besar. seorang juragan pemilik . akan tetapi sekarang ini mereka sudah tidak diperkenankan lagi untuk memborong ikan-ikan hasil tangkapan nelayan setempat. dimaksudkan selain agar tidak terjadi spekulasi harga jual-beli ikan yang dianggap dapat merugikan nelayan. garam (buja). atau ikan teri (jhuko¶ kenduy) dan nener (bibit ikan bandeng) yang pada umumnya melibatkan para pelaku ekonomi berskala besar dan lintas-lokal. Juragan pemilik perahu/kapal merupakan pelaku terpenting dalam aktivitas perekonomian desa dalam masyarakat nelayan Bandaran. para bakul. serta memiliki jaringan perdagangan di tingkat regional atau ekpor. pengembangan ekonomi lokal desa Bandaran. yaitu juragan pemilik perahu. juga agar keuntungan tetap berada di pihak masyarakat desa Bandaran sendiri. para pelaku ekonomi utama dalam aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran tetap berada di tangan masyarakat setempat. dibangun dan didukung oleh pola-pola kepemimpinan ekonomi yang juga bersifat ³lokal´. Dengan demikian. Selain itu. maka ikan-ikan tersebut diborong (ebhurung) oleh Kepala Desa.F. Untuk mencapai maksud itu. Kepemilikan modal dalam perdagangan ikan di desa Bandaran ini tidak terlalu besar.

Bakul ikan yang menjadi ³pemulung´ bertindak sebagai pelaku ekonomi kedua dalam aktivitas jual-beli ikan di tingkat lokal. dengan merekrut penduduk setempat antara 4-36 orang untuk tiga unit kapal/perahu sebagai tenaga-tenaga kerja efektif. Selain itu. memang memungkinkan tercapainya efektivitas dan efisiensi dalam penjualan ikan. walaupun ada risiko terhadap kemungkinan terjadinya perolehan pendapatan yang relatif lebih rendah dari pendapatan yang mungkin bisa diperoleh apabila mereka memperdagangkannya langsung di pasar jalanan setempat atau ke pasar-pasar lokal di luar daerah. dan alat-alat pemuas kebutuhan ³modern´ lainnya. telah menjadikan keberadaan dan peran para bakul ikan ini sebagai ³«stand guard over the crucial junctures or synapsis of relationships which connect the local system to the larger whole´ (Wolf. Dalam konteks yang sifatnya lebih terbatas.perahu mampu mempekerjakan nelayan antara 23 ± 30 orang untuk satu kapal sleret. dan antara 4-6 orang untuk perahu kecil jenis pakesan kecil dan sampan (edher). perumahan. Bahkan. Secara fungsional. Sekalipun posisi seorang juragan perahu bermakna penting bagi kehidupan seorang nelayan di desa Bandaran ini. antara 14 ± 18 orang untuk perahu jenis pakesan besar. yang dalam banyak hal menyerupai ³patron-client relationship´. kuatnya relasi bisnis antara nelayan/juragan kepala dan nelayan dengan para bakul ikan. dia juga telah melibatkan para penduduk setempat dalam suatu aliansi ekonomis di tingkat lokal untuk mengeksploitasi kekayaan sumber daya alam di laut lokal dan regional. sebab dengan adanya bakul ikan sebagai ³patron´. adanya kecenderungan masyarakat nelayan setempat untuk menyerahkan atau menjual sebagian terbesar ikan kepada mereka. dalam de Jong. menyebabkan para bakul ikan menjadi mata rantai terpenting dalam seluruh aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran. namun dia tidak memiliki dan tidak berkehendak untuk melakukan penguasaan yang bersifat monopoli terhadap para juragan kepala atau anggota nelayan. 1989). Adanya hubungan ³patron-klien´ dalam relasi bisnis antara nelayan/juragan kepala dan nelayan dengan para bakul ikan ini. sehingga secara ekonomis mereka mempunyai kesempatan memperoleh keuntungan-keuntungan ekonomis dari hasil pembagian ikan yang menjadi haknya bagi pemenuhan kebutuhan hidup keseharian. para juragan pemilik kapal/perahu ini telah mampu mengoptimalkan keberadaan sumber daya manusia setempat. para nelayan/juragan kepala dan nelayan dapat menjual ikannya serta memperoleh uang dengan cepat tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan lagi. kendati dengan .

Dari uraian di atas. bakul dan tengkulak ikan) dalam relasi perdagangan ikan. Hal ini. sehingga sirkulasi ikan setempat menjadi lebih lancar. kelancaran dalam melakukan aktivitas ekonomi dalam pola-pola hubungan jual-beli di atara nelayan. di samping disebabkan oleh kemampuan masyarakat nelayan setempat di dalam mendapatkan dan memanfaatkan sumber-sumber keuangan yang jumlahnya tidaklah terlalu besar. Tengkulak ikan adalah pelaku ekonomi ketiga dalam aktivitas ekonomi dalam masyarakat di desa Bandaran. secara ekonomis menjadi lebih pasti dan berpengharapan.cara itu mereka akan memperoleh harga yang terkadang di bawah harga pasar. termasuk pula para juragan kepala dan nelayan. Pemberian keamanan. namun keberadaan dan perannya sebagai pembeli dan sekaligus sebagai pemasar ikan setempat ke berbagai pasar lokal di luar daerah Bandaran. namun secara umum lebih bersifat ³collegialisme´ atau kemitraan kerja yang sejajar. tidak terlepas dari peran dan arti penting seorang tengkulak dalam matarantai perdagangan ikan dari daerah ini. juragan. tetapi di lain pihak juga telah menciptakan hubungan ³patronklien´ yang cenderung melahirkan ³ketergantungan ekonomis´ bagi umumnya para nelayan. Munculnya pelaku-pelaku ekonomi lokal (juragan. walaupun pada sebagiannya ada yang bersifat ³patron-client relationship´. terlihat bahwa pola kepemimpinan ekonomi di daerah Bandaran tersebut. Selain itu. banyaknya peminat ikan desa Bandaran telah mampu meminimalisasi adanya surplus ikan di pasaran setempat. tidak saja memiliki arti penting bagi pemenuhan kebutuhan ekonomi para nelayan yang menjadi ³kliennya´. Pola demikian tampaknya erat berkaitan dengan faktor-faktor penggerak ekonomi dan uang yang pada umumnya tidak berada di tangan ketiga pelaku ekonomi di atas. Sungguhpun para tengkulak ikan ini hampir dapat dikatakan tidak memiliki relasi dagang secara langsung dengan juragan kepala dan nelayan setempat. kemudahan. dan bakul ikan merupakan dasar pokok dari setiap kepemimpinan ekonomi yang dijalankan. mengakibatkan pendapatan para bakul ikan. Nama ³jhuko¶ laok´ (ikan dari selatan) yang diberikan oleh para pembeli luar terhadap ikan hasil tangkapan nelayan desa Bandaran yang mereka temukan di sejumlah pasar lokal di luar Bandaran. . telah memungkinkan ikan-ikan hasil para nelayan setempat dikenal spesifikasinya di seluruh daerah Pamekasan dan Sampang. karena sifatnya yang sangat fluktuatif.

dan tidak mau direpotkan dengan hal-hal yang jlimet yang berakar pada sikap dan pemikiran sosial-budaya masyarakat nelayan tradisional desa Bandaran. Hal ini. Hal ini. Hutang atau kredit (ngredit) yang dilakukan oleh masyarakat nelayan setempat. tampaknya kurang disadari oleh masyarakat nelayan tradisional di desa Bandaran. menyelenggarakan lamaran dan pesta perkawinan. G. arisan dan titip uang merupakan gejala umum yang dipraktikkan hampir oleh setiap penduduk nelayan di desa Bandaran. sejumlah juragan kapal/perahu tidak hanya memiliki lebih dari satu armada kapal/perahu besar yang berharga ratusan juta rupiah. Hasil uang yang diperoleh dari hasil arisan ini mereka sertakan lagi dalam kelompok-kelompok arisan yang lain. Keanggotaan para nelayan dalam kelompok arisan bisa lebih dari satu. ³Hutang´ (aotang) sebagai salah satu karakteristik perekonomian desa tradisional. sehingga yang bersangkutan bisa memperoleh modal untuk membuka usaha perdagangan kecil-kecilan (pedagang kelontong). juga berlaku di kalangan para juragan pemilik kapal/perahu dengan jumlah omset arisan yang lebih besar (Rp. sebagaimana telah dibicarakan di atas. Lembaga-lembaga ³Kuasi´ Investasi Tradisional: Arisan. dan Titip Uang Dalam seluruh aktivitas yang berkaitan dengan ³investasi´ uang. umumnya tidak dalam kerangka hubungan .Kecenderungan ini pada dasarnya bukanlah karena alasan-alasan ekonomis semata (untuk mendapatkan hutang atau kredit).50 juta). membuat rumah. Di desa Bandaran terdapat tidak kurang dari 20-an kelompok arisan dengan jumlah perolehan arisan bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta. selain menggabungkan diri ke dalam kelompok-kelompok arisan yang menjamur di desa Bandaran. dalam banyak hal hampir selalu tidak menguntungkan secara ekonomis bagi si penghutang atau peminjam (kreditur). dan atau dibelikan perahu/jaring kecil untuk melanggengkan matapencaharian mereka sebagai nelayan. tetapi lebih disebabkan karena para nelayan ingin segera menikmati hasil kerjanya. di samping hutang atau kredit. sehingga sampai kini pun masyarakat setempat masih banyak terlibat dalam praktik hutang dan kredit. tetapi mereka juga mampu mengembangkan bisnis lain seperti membuka toko.10 juta ± Rp. Hutang. Oleh karena itu. naik haji. tetapi kebanyakan menginvestasikannya dengan membeli mobil-mobil penumpang (colt diesel) untuk usaha tranportasi jurusan Pamekasan-Kamal.

Hutang uang tetap dibayar dengan uang. kecuali para pemilik modal dan pedagang besar. Bagi mereka. besok cari lagi´ (ollena lako/ora¶ pabali ka lako/ora¶. hal tersebut karena bakul telah memberikan ³uang perangsang´ dan barang-barang perangsang lain. lebih dimaksudkan sebagai upaya dari kedua belah pihak untuk memelihara hubungan perdagangan. di mana harga jual ikan dari nelayan tersebut ditetapkan sebelumnya dan di bawah harga pasar. sehingga keduanya sama-sama mendapatkan manfaat. akan tetapi. tergantung pada besarnya jumlah hutang/kredit. tanpa mempengaruhi penetapan harga ikan yang dijualkan atau diserahkan kepada bakul. dengan imbalan berupa bunga yang besarnya sekitar 5% perbulan. Harga jual ikan dari bakul tetap mengikuti harga pasar. Dalam kasus hubungan hutang-piutang atau kredit antara nelayan dan bakul ikan. hal tersebut lebih merupakan sebagai ³komisi´ atau ³uang jasa´ yang mereka anggap wajar atas kerjanya menjualkan ikan nelayan tersebut. pada umumnya mereka lebih sering meminjam uang kepada kepala-kepala arisan yang banyak memegang uang-uang titipan para anggotanya. ³apa yang diperoleh sekarang. Itupun. menabung atau melakukan investasi uang dan barang untuk pengembangan usaha lain maupun untuk kebutuhan masa depan.00 hingga Rp.kerja antara nelayan dan juragan. Dalam hal ini.000. yang diberikan dari hasil penjualan ikan mereka. Kalaupun para nelayan tadi seakan terikat oleh akad jual-beli ikan dengan bakul. kalaupun nelayan tadi menerima uang penjualan ikannya di bawah harga jual yang secara riil diterima oleh bakul. lagguna nyare pole).00. seorang nelayan hampir tidak pernah melakukan pembayaran dalam bentuk penyerahan ikan kepada bakul dengan harga yang ditentukan secara sepihak oleh bakul. hampir-hampir tidak dimiliki oleh sebagian terbesar masyarakat. habiskan sekarang juga. permintaan hutang atau kredit dari seorang nelayan kepada para bakul patronnya. Hutang atau permintaan kredit biasanya dilakukan oleh para nelayan kepada orang-orang kaya (oreng sogi) tetangga-tetangga mereka sendiri yang sama sekali tidak memiliki hubungan kerja dengan dirinya.10. juga berlaku bagi penduduk Desa Bandaran di kampung Montor dan Nagger yang bermatapencaharian sebagai petani. tampaknya banyak disebabkan oleh sikap hidup mereka yang ³kurang menjangkau masa depan´.5. Sikap hidup ini. jumlahnya hanya berkisar antara Rp.000. Namun demikian. Berhemat. Dengan perkataan lain. sikap hidup mereka tidak . tidak terjadi praktik ijon dari para bakul terhadap nelayan yang menjadi kliennya. Keterlibatan masyarakat nelayan setempat dalam praktik hutang-piutang atau kredit.

Dengan adanya ³lembaga-lembaga keuangan informal´ dan sistem ³kuasi investasi´ semacam itu. Sementara itu mereka pun tidak perlu investasi untuk ikan di laut. seperti membangun rumah. yang lebih berkonotasi pada sikap menghamburhamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. lamaran dan pesta perkawinan. tetapi lebih dikarenakan mereka ingin menyepadankan antara ³kerja´ dan ³hasil kerja´ untuk memperoleh kepuasan diri baik secara fisik. ³lembaga-lembaga keuangan informal´ dan sistem ³kuasi investasi´ tersebut telah memungkinkan struktur ekonomi di desa mereka dapat dibangun dan dikembangkan atas dasar kemampuan ekonomi lokal atau secara ³berswasembada´. atau barang-barang berharga seperti perhiasan emas (kalung. sebagaimana layaknya mereka yang hidup dari pertanian. membeli peralatan rumah tangga. . Koperasi Desa. Di lain pihak. praktis keberadaan Bank. psikologis dan ³sosial´ setelah mereka berjerih-payah seharian atau sehari-semalam menangkap ikan. cincin) terutama ketika akan menjelang lebaran untuk memenuhi kebutuhan sosial dan budaya mereka. Hutang atau kredit yang mereka peroleh pada umumnya tidak diinvestasikan untuk menambah modal usaha tetapi untuk kebutuhan ³habis pakai´. Hal ini dikarenakan kesederhanan pemikiran ekonomi mereka dan ketidakinginan mereka berhubungan dengan hal-hal yang bersifat prosedural. dan semacamnya tidak banyak dimanfaatkan oleh penduduk setempat.dapat dikatakan sebagai sikap hidup ³boros´. gelang.

Boeke. Proyek Penelitian Madura.). Agama. (1997). G. Tingkah laku agama. Proyek Penelitian Madura. (2009). kebudayaan dan ekonomi.). . dan islam (suatu studi antropologi ekonomi). Agama. Jakarta: PN. Jakarta: Sinar Harapan. (2004). Perkembangan ekonomi dan islamisasi di madura: de Jonge. III. Jakarta: Grafitti Press. _______ (2009). (2001). (2010). L. Malang: Depdikbud (dalam rangka kerjasama Indonesia-Belanda). Huub de Jonge (ed. Khusyairi. Huub (eds). Malang: Depdikbud (dalam rangka kerjasama Indonesia-Belanda). A. (2009). _______2009). Peasant marketing in Java.H. H. Gramedia.Referensi Abdurrachman. M. kebudayaan dan ekonomi. A. Jakarta: Grafitti Press. Ritus peralihan di Indonesia. Agama. H.. Adat-istiadat sekitar kelahiran pada masyarakat nelayan di Madura. Castles. Bouvier. Prakapitalisme di asia. Sekelumit cara mengenal masyarakat Madura: Madura I. Huub de Jonge (ed. Jakarta: Sinar Harapan. Djojomartono. Glencoe. perkembangan ekonomi. Jakarta: Grafitti Press. Burger. Dewey. (2007). de Jonge. _______ (2009). Agama. Koentjaraningrat (eds). Some thought on enterpreneur in a maduranese country: Madura I. (2008). Jakarta: Penerbit PT. D. Sejarah sosiologis-ekonomis Indonesia. dan ekonomi di jawa.H. dan kepemimpinan lokal di antara orang-orang Madura di Lumajang. Musik dan seni pertunjukan di kabupaten sumenep. Madura dalam empat zaman: Pedagang. orientasi politik. kebudayaan dan ekonomi. Balai Pustaka. politik. Industri Rokok Kudus. Huub (eds): Agama. (2008). J. Jakarta: Grafitti Press. kebudayaan dan ekonomi. Jakarta: Prajnyaparamita. Hubungan Ketergantungan dalam Perikanan di Madura: de Jonge.

Peddlers and Princes. Rintangan-rintangan mental dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Economic development and cultural change. Chicago. Jakarta: Yayasan BPFE-UI. (2007). Some preliminary considerations. Religious belief and economic behavior in a central javanese town. C. Gramedia. Koentjaraningrat.Geertz. _______. Masyarakat Desa Indonesia. (eds) (). . Jakarta: PT. (2007). _______ (2008).

pertanian. pemukiman. terumbu karang. perindustrian. Dari jumlah tersebut sekitar 78% atau lebih kurang 3. rawa. Ketergantungan masyarakat terhadap sektor kelautan ini memberikan identitas tersendiri sebagai masyarakat pesisir dengan pola hidup yang dikenal sebagai kebudayaan pesisir (Geertz. perantara. Indonesia terdiri dari beribu pulau yang sebagian besar wiliyahnya (62%) merupakan perairan laut. pemasok. 1981: 42).1 Dari data statistik terlihat jumlah produksi perikanan di Indonesia saat ini sekitar 4. sedangkan 38 % lainnya adalah daratan yang didalamnya juga memuat kandungan air tawar dalam bentuk sungai. Potensi yang demikian besar tentunya memberikan peluang yang besar pula terhadap terciptanya berbagai bentuk pemanfaatan seperti usaha pertambakan.8 juta ton per tahun. Selain menempati wilayah yang sangat luas. pesaingan. tercakup didalamnya beberapa pelaku kegiatan pemasaran. pertambangan dan penangkapan ikan. H. Sebagai satu negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang 81. pemasok. masyarakat atau konsumen.. kawasan pesisir yang terdiri dari berbagai ekosistem pendukung seperti ekosistem hutan mangrove. Dalam kegiatan mikro pemasaran. seperti perusahaan pengolahan. pelanggan. Dalam hal ini nelayan bisa berfungsi sebagai pengusaha.3 Pemasaran adalah kegiatan mengatur barang dari produsen ke konsumen.000 km. 2 Demikian luasnya wiliyah laut di Indonesia sehingga mendorong masyarakat yang hidup di sekitar wilayah laut memanfaatkan sumber kelautan sebagai tumpuan hidupnya. dan waduk. dan bahan-bahan tambang yang bernilai tinggi. danau.MASYARAKAT PESISIR DENGAN MATA PENCAHARIAN SEBAGAI PENJUAL IKAN (Firda Ulfa Lusiana F1E1 10 004) Secara geografis. selat dan teluk. pesaing atau perantara bila merangkap menjadi pembina.7 juta ton adalah hasil produksi dari sektor perikanan laut. pariwisata. Indonesia memiliki kawasan pesisir yang sangat luas. padang lamun dan lahan basah tersebut memiliki keanekaragaman hayati dan berbagai sumberdaya alam seperti ikan.5 .

Hanya sebagian kecil diolah menjadi "fillet" beku. ikan asap. Sawi bekerja pada kapal-kapal juragan ikan menangkap ikan di perairan teritorial dengan keuntungan bagi hasil yang besarannya ditentukan oleh juragan ikan. jenis ikan yang diperoleh. tidak saling bersaing sesama mereka.Rantai pemasaran produk perikanan tangkap melibatkan pedagang pengumpul. dalam kecamatan maupun dari kabupaten sebelum sampai ke konsumen akhir. Dengan berlalunya waktu kelompok kedua mengalami perubahan ekonomi menjadi juragan ikan yang menguasai ekonomi masyarakat pesisir. daerah pemasaran (local/ekspor). keuangan dan peralatan melaut serta bahan bakar mereka disediakan oleh juragan ikan dengan harga yang cukup tinggi. Selain itu. tetapi ikan tangkapan mereka harus dijual kepada juragan ikan untuk melunasi hutang-hutangnya.4 Harga ikan dihitung oleh Dinas Perikanan di masing-masing pelabuhan perikanan. ataupun tepung ikan. Produk perikanan tangkapan umumnya dijual langsung ke pedagang perantara dan menjual produk tersebut ke beberapa pasar. 6 Bagi Nelayan tangkap yang tidak tergolong sebagai sawi atau menjalankan sendiri penangkapan ikan di perairan kabupaten (sejauh 4 mil dari pantai) kebutuhan pokok. Orangorang yang menampung hasil tangkapan ini biasanya masing-masing telah mempunyai langganan nelayan tetap dengan harga yang sama. ikan asin.. Yang memengaruhi system pemasaran hasil tangkapan nelayan. bentuk ikan (segar/olahan).5 Di dalam masyarakat pesisir pada dasarnya terdapat dua kelompok usaha perikanan. Jaringan pasar terbentuk berdasarkan ikatan saling kepercayaan antara nelayan dengan pedagang. dan organisasi atau individu yang melakukan distribusi. pengecer dari dalam desa.3 Sebagian besar dari produksi ikan dipasarkan sebagai ikan segar. pedagang perantara. 3  Kondisi Wilayah Pemasaran . Juragan Ikan di samping sebagai pedagang ikan. yaitu kelompok nelayan tangkap dan kelompok pemasaran ikan. juga melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan kapal-kapal bermotor yang merekrut anggota masyarakat pesisir menjadi pekerja di kapal mereka yang sering disebut dengan istilah µsawi¶. Proses penjualan ikan dijalankan menurut kebiasaan yang ada yaitu melalui lembaga atau orang-orang yang biasa manampung langsung (bandar ikan) hasil tangkapan nelayan. yaitu jenis kapal dan alat penangkapnya. ikan kering. ikan kaleng.

Usaha yang dilakukan para penjual ikan dalam memperoleh tempat menjual memang tidak mudah. sehinggga para penjual ikan kebanyakan menjadi papalele (penjual ikan keliling)  Kondisi Harga Produk Kondisi harga di level produsen sangat tergantung pada musim ikan.42 juta jiwa masyarakat pesisir masih hidup dibawah garis kemiskinan dengan indikator pendapatan US$ 1 per hari (Data Direktorat PMP 2006). jumlah pedagang.Umumnya masyarakat perikanan (MPM) menjual produk pada tahap pertama kepada pedagang pengumpul dan perantara di lokasi MPM. 2010) memperlihatkan bahwa sebanyak 32.14% dari 16.  Sumber Barang (Ikan Yang dijual) Penjual ikan tidak lepas dari produsen penghasil ikan dalam hal ini nelayan. Fakta ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat di wilayah pesisir Indonesia masih termasuk masyarakat yang miskin. harga yang ditawarkan para pemilik tempat ataupun pemerintah terlalu mahal. Harga dipengaruhi oleh volume produksi tangkap. oleh karena itu penjual ikan memperoleh barang/ikannya dari nelayan penangkap ikan.  Kondisi Manajemen Pemasaran Manajemen pemasaran produk perikanan tangkap relatif sederhana. . Pemilihan lokasi penjualan merupakan satu syarat yang penting dalam memuali usaha. Belum ada upaya promosi dan klasifikasi produk perikanan. Rata-rata pedagang berpatokan pada tingkat keuntungan yang memenuhi kebutuhan primer. jumlah perdagang yang terlibat serta jarak dan jenis pasar target. seperti halnya menjual ikan lokasi yang dipilih mesti strategis dan membuka peluang keuntungan. pada umumnya nelayan langsung memindah tangankan hasil tangkapannya (menjual ikan) kepada beberapa pihak yang ada seperti penada. jenis alat angkut serta jarak yang dilalui. Menurut hasil penelitian (Muflikhati. selain bersaing dengan para penjual ikan lainnya. papalele kemudian sampai kepada penjual ikan. Para pedagang akan menjual ke pasar kecamatan dan pasar kabupaten.

000. Harga cumi-cumi melonjak dari sebelumnya Rp 30.000/kg menjadi Rp 45. 1. 500. - . harga ikan laut juga melejit dengan kenaikan mencapai 50%.000 ± Rp. mereka memasarkan ikan umumnya ke plosok desa dengan menggunakan motor dan ada sebagian yang menggunakan sepeda.500. dan harga jual/kg antara Rp. dari Rp 40.000/kg.7 - Namun di Solo akibat tingginya gelombang membuat pasokan ikan turun 50% Selain pasokan terbatas. Rian mengatakan akibat harga tinggi pembeli mengurangi pembelian ikan laut. usia mereka rata-rata 28-70 tahun.000. 7. Kenaikan harga ikan laut juga terpantau di Pasar Gede.Penghasilan yang diperoleh dari penjual ikan yaitu : Dari hasil survey yang telah dilakukan terhadap bakul / penjual ikan di wilayah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan di peroleh hasil bahwa umumnya mereka bekerja sebagai bakul/pemasar >15 tahun. pendapatan mereka rata-rata per bulan berkisar antara Rp. dengan harga beli/kg antara Rp. SLTP dan SLTA. 10. Sedangkan harga kepiting naik lebih tajam. Salah satu pedagang pasar. 3. rata-rata pendidikan mereka adalah SD.000 ± Rp.000.000/kg menjadi Rp 65. Ikan yang mereka jual adalah ikan lemuru.000 ± Rp. Penghasilan para pedagang ikan pun menyusut. 2.000/kg.

id/katalog/index. ³Pemberdayaan Masyarakat Pesisir´. Syarif Moeis.go. Dampak Sosial Ekonomi Pembangunan dan Pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambenan Jembrana Bali. Khazali dan Laksmi A Savitri. http://ompuaan. Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK).umich. Halaman 61 Bab IV.bi. 2008.pdf 2. 1999. 2010. Tadjudin. From : http://tadjuddin.pdf 4. Jurnal Saintek Perikanan Vol. Social Economic Impacts of Pengambengan Nusantara Fishing Port (NFP) Construction and Development. Program Doktor Manajemen Sumberdaya Pantai Universitas Diponegoro Semarang . pdf 6.com/2009/05/perbaikan-pemasaran-masyarakat-pesisir. From http://www- personal. Telepon : (021) 3818043 Fax : (021) 3518951. Bogor : Wetlands International . From http://elib.%20Wetlands%20Internat ional/Buku%20Pemberdayaan%20Masy%20Pesisir-Indramayu.html 7. Penangkapan Ikan Laut. Pemasaran Ikan dan Ekonomi Nelayan.blogspot. M.php/searchkatalog/downloadDatabyId/2167/2168.id. ³Konsep Dasar Pengolaan Dana PEMP´. 4. No.go. 3.blogspot. Direktorat Kredit.lipi. 2009 : 24 ± 32.pdii.id/NR/rdonlyres/CD1C61DF-1893-4000-BFA0- CF81D20525D3/16052/PenangkapanIkanLaut1. ³Adaptasi Ekologi Masyarakat Pesisir Selatan Jawa Barat Suatu Analisa Kebudayaan´.edu/~thoumi/Research/Carbon/Forests/Forests. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia. Drs.DAFTAR PUSTAKA 1. Email : tbtlkm@bi.go.Indonesia Programmed dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. 2. Agus Suherman dan Adhyaksa Dault. From : http://www.html 5. BPR dan UMKM BANK INDONESIA. Endang Tjitroresmi.com/2010/07/konsep-dasar-pengelolaan-dana-pemp.

Itulah mengapa mereka lebih mengedepankan aspek aspek kultur ketimbang logika dan rasionalisme. Bagai mereka pendidikan hanya membuang buang waktu.. berkebun. Hal ini menyebabkan mereka kehilangan mata pencaharian utama mereka. masyarakat pesisir merupakan kelompok masyarakat yang dikatakan terbelakang. ketimbang harus mengenyam pendidikan di sekolah sekolah. Masyarakat pesisir tidak akan turun melaut. Karena tidak terlalu memperhatikan pendidikan. Salah satu bukti bentuk kultur yang ditinggikan di masyarakat pesisir adalah. Hal ini menyebabkan rekonstruksi ulang susunan ekosistem perairan di lautan. Walaupun pada dasarnya melaut merupakan cirri yang khas dari perkembangan masyarakat pesisir. Masyarakat pesisir juga merupakan masyarakat yang memiliki nilai nilai kultur yang tinggi. Masyarakat pesisir memiliki berbagai macam interaksi perokonomian. bertani garam. . Beberapa contoh mata pencaharian alternative tersebut adalah menambang batu karang. Mereka menjunjung tinggi penghormatan terhadap leluhur leluhur mereka. Itulah mengapa pemerintah menetapkan masyarakat pesisir sebagai patokan pengembangan kesejahteraan negara. dan berternak. Anggapan mereka adalah leluhur merekalah yang membantu mengumpulkan ikan saat mereka melaut. Pada saat masa menutup aktivitas peraiaran. Indonesia merupakan Negara kepulauan yang tersusun atas ribuan pulau. Bahkan bisa dikatan sebagai Negara kepualauan terbesar di Indonesia. Berdasarkan beberapa definisi dari bberbagai ahli masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang mendiami wilayah pinggiran pantai hingga 2 km dari bibir pantai. Mereka lebih memilih untuk focus menangkap ikan di lautan. Untuk tetap bertahan hidup maka mereka berusaha untuk mencari mata pencaharian alternative. Beberapa dekade yang lalu. Pada saat itu masyarakat pesisir tidak akan turun melaut untuk menghormati budaya mereka. mereka mengedepankan budaya buka tutup perairan. Itulah mengapa masyarakat peisisr erat kaitannya dengan kebodohan. bertani rumput laut.Peternakan Di Wilayah Pesisir (Sudarman F1E1 10 030) Masyarakat pesisir merupakan masyarakat multicultural yang mendiami wilayah pinggiran pantai yang tersebar di seluruh Indonesia.

system pendidikan yang mulai mereka terima. Hari ini masyarakat pesisir telah berkembang maju seiring perkembangan zaman. Mereka juga mampu mengkonsumsi hewan ternak yang mereka pelihara. 2002. Sebagai bukti beliau telah panen ayam dengan pendapatan yang luar biasa ketimbang harus melaut. Dikutip dari haris.com.Berternak merupakan salah bentuk modifikasi mata pencaharian masyarakat pesisir. Bagi masyarakat pesisir semua sumber daya alam yang ada dilautan merupakan harta kekayaan yang harus mereka lestarikan. Masyarakat Pesisir. Dengan beternak selain mereka dpata menghasilkan pendapatn yang lumayan. solihin. Mereka telah mengembangkan system perekonomian yang lenih maju. Bagi beberapa peternak yang berhasil mereka menganggap bahwa beternak lebih menguntungkan ketimbang mata pencaharian lain. meskipun melaut lebih beresiko. Materi kuliah nutrisi kelautan . Daftar Pustaka Haris. Mata pencaharian yang awalnya dianggap tidak menguntungkan justru kini malah berkembang pesat. Sebagai contoh bapak zamroni yang mulanya adalah nelayan. Tapi menurut beliau nelayan tetaplah mata pencaharian utama mereka. Kini masyarakat pesisir telah berkembang menjadi masyarakat dengan peradaban yang lebih baik dari sebelumnya. tapi melaut adalah jiwa yang telah mengalir dalam darah mereka.blogspot. kini lebih focus beternak di wilayah pesisir.

peralatan yang digunakan sangat sederhana. Pati dan Rembang) dan DIY (Bantul). dan pemasaran produk hanya terbatas pada pasaran local (Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Pekalongan. kecap ikan. ikan asin/ kering. ekonomi. sesuai dengan keadaan lingkungan disekitarnya yang umumnya tidak memiliki sarana air bersih.2001). Mengingat luas dan kompleksitas permasalahan maka didalam penelitian ini difokuskan pada aspek keamanan pangan penggunaan bahan tambahan makanan (food additive) ilegal atau tidak diperbolehkan. dan kelembagaan. Karakteristik dari pengolahan tradisional adalah kemampuan pengetahuan pengolah rendah dengan ketrampilan yang diperoleh secara turun temurun. Permasalahan penggunanan bahan tambahan makanan berbahaya difokuskan pada 4 (empat) jenis produk yakni ikan segar. Permasalahan yang berkaitan dengan faktor penyebab berlangsung malpraktek diantara para pengolah ikan dan produk perikanan dibatasi pada aspek teknis.PENGOLAH HASIL PERIKANAN SKALA KECIL (Dian Sari Enimosa F1E1 10 044) Penanganan produk segar dan pengolahan tradisional (pengeringan/ penggaraman. peda. sosial budaya. Permasalahan mutu dan keamanan pangan produk perikanan terjadi pada berbagai jenis produk. . terjadi pada beberapa produk olahan maupun segar yang jenis produk ini banyak dikonsumsi masyarakat luas dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatan. dan pengasapan) umumnya dilakukan pedagang dan pengolah dalam skala kecil/ menengah atau skala rumah tangga. dan penggunaannya oleh pengolah atau pedagang karena factor kesengajaan. permodalannya sangat lemah. tahapan kegiatan maupun wilayah dengan berbagai jenis bahan beracun berbahaya dan sumbernya dengan karakteristik berbeda. Semarang. Pembatasan permasalahan juga dilakukan berdasarkan jenis produk dan wilayah. Secara umum. tingkat sanitasi dan higienis rendah. Pemilihan ini didasarkan beberapa alasan yaitukejadian penggunaan bahan tambahan ilegal telah menyebar di berbagai wilayah tanah air. kerupuk. pemindangan. terasi. penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu perumusan dalam pengembangan ke bijakan mutu dan keamanan produk hasil perikanan di Pantura Jawa Tengah dan DIY. dan terasi dengan pembatasan wilayah di Pantura Jawa Tengah (Tegal.

peda (0. 1994). pembekuan (0. Penanganan ikan segar oleh para nelayan biasanya dimulai segera setelah ikan diangkat dari air tempat hidupnya. Walaupun memang yang terkena dampak tidak senua perusahaan perikanan. dan lainnya (2.48 %). Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Suwedo H (1993) bahwa salah satu cara mempertahankan kesegaran ikan dapat dilakukan dengan memelihara ikan tetap hidup atau dengan menurunkan suhu ikan mati.41 %). sehingga konsumen akan menjadi takut terhadap ikan atau antipati terhadap ikan.002 %). Bahkan menurut UNDP. persepsi yang terbentuk adalah semua ikan yang dijual mengandung formalin.82 %). Analisis Ekonomi Berkaitan dengan isu penggunaan formalin baik nelayan maupun pedagang/ pengolah di lokasi penelitian sebagian besar berpengaruh sangat nyata terhadap permintaan ikan.52 %).37 %). pemindangan (15. dengan perlakuan suhu rendah dan kadang kadang kurang memperhatikan factor kebersihan dan kesehatan. tepung ikan (0. Masyarakat tidak peduli dengan ikan yang dikonsumsi.08 %). terasi (0.88 %).Berdasarkan data dari direktorat jendral perikanan tangkap (2003) Propinsi Jawa Tengah dilihat dari cara perlakuannya meliputi dipasarkan segar (31. Berdasarkan data cara perlakuan tersebut produk perikanan Propinsi Jawa Tengah didominasi oleh pemasaran dalam bentuk pengeringan/ penggaraman (46. hal ini sangat mengkhawatirkan karena berpengaruh langsung terhadap pendapatan masyarakat nelayan maupun pengolah/ pedagang. FAO (1991) bahwa perawatan. pengasapan (2. Sosiosfir merupakan lingkungan yang . Bahkan. Analisa social budaya Lingkungan sosial (sosiosfir) merupakan lingkungan yang paling penting dalam menentukan kesehatan lingkungan (Soemirat. sehingga perlu adanya langkah-langkah yang strategis untuk dapat memecahkan masalah tersebut. pengeringan/ penggaraman (46. Namun. kebersihan dan pendinginan adalah kunci untuk memanen hasil tangkapan yang berkualitas baik.41 %).41 %). sejumlah pekerja yang sudah dirumahkan mencapai 500 orang akibat berhentinya produksinya ikan asin.

berproduksi sampai dengan pengolahan pangan untuk menjamin agar makanan yang .tercipta akibat terjadinya hubungan rasional antar manusia untuk memenuhi kebutuhan atau mencari solusi terhadap berbagai tantangan atau kesulitan secara bersama (Soemirat. dan pembinaan mengenai keamanan pangan. dan sebagian besar pertimbangan adalah pada pangan dengan harga murah. Disadari bahwa sampai saat ini masih belum banyak masyarakat yang menyadari pentingnya keamanan pangan terutama pada produk pangan segar. Penanganan keamanan pangan adalah suatu rangkaian kegiatan dalam cara-cara budidaya. Rendahnya tingkat pendidikan baik para pengolah maupun masyarakat konsumen sehingga pengetahuan mengenai keamanan pangan rendah dan kurangnya berpikir jangka panjang. Kebiasaan pola makan masyarakat yang belum memperhatikan aspek keamanan dari makanan yang dikonsumsinya bagi kesehatan. Ada beberapa permasalahan social budaya yang menyebabkan berlangsungnya malpraktek penggunaan bahan kimia tambahan ilegal yaitu: Kurangnya perhatian pejabat berwenang. 2000). kesehatan dan kecerdasan manusia. Disamping itu belum efektifnya penanganan keamanan pangan juga dikarenakan masih belum berkembangnya sistem penanganan keamanan pangan serta terbatasnya laboratorium yang telah terakreditasi sehingga sistem penjaminan mutu belurn bisa berjalan dengan baik. sehingga dapat mendukung terjaminnya pengembangan pertumbuhan. kimia maupun cemaran fisik. Analisa kebijakan Kebijakan penanganan keamanan pangan diarahkan agar dapat menjamin masyarakat terhindar dari mengkonsumsi pangan terutama pangan segar yang terkontaminasi oleh cemaran biologis. hal ini disebabkan karena masyarakat baik masyarakat produsen (terutama produsen skala rumah tangga) maupun konsumen masih menghadapi masalah kemampuan modal dan daya beli sehingga masalah keamanan pangan belum menjadi prioritas dalam menetapkan preferensi memilih pangan untuk dikonsumsi. penyuluhan. Laboratorium yang terakreditasi sangat diperlukan dalam melakukan pengawasan pangan segar khususnya untuk melakukan uji residu pestisida pada buah dan sayuran segar.

dihasilkan fisik. Perbaikan Handling Ikan di Kapal (Improvement of Fresh Fish Handling on Board). Balai Penelitian Perikanan Indonesia. 7 Tahun 1996. kimia. dan dijabarkan lebih lanjut dalam PP No. . 28/2004 bertujuan membantu konsumen untuk mengevaluasi dan memilih produk. Laporan Penenelitian Teknologi Perikanan Nomor 2 hal 2735. serta meningkatkan kesehatan. Nasran. Di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman. 2001. S. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. rakyat dan peningkatan kegiatan ekonomi rakyat. 1990. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Inventarisasi Jenis dan Jumlah Produk Olahan Hasil Perikanan Skala Kecil Di Indonesia. Jakarta. Jakarta: Departemen Kelautan dan Perikanan. membantu produsen dalam meningkatkan mutu serta dalam melakukan perdagangan yang jujur. dan biologi yang dapat berakibat buruk atau mengganggu kesehatan konsumen.penanganan keamanan pangan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pangan No.

sementara jumlah tangkapan lestari sebesar 5. ikan ternyata memiliki beberapa kelemahan.ikan sebagai bahan makanan yg mengandung protein tinggi dan asam amino esensial yang diperlukan tubuh. tergantung pada jenis penangkapan perikanan. y Teknologi penanganan hasil perikanan Teknologi penanganan ikan pasca panen memberikan manfaat kerja dan ekonomi untuk bagian besar masyarakat.38 juta ton per tahun.40 juta ton per tahun dan perairan ZEE sekitar 1. Selain itu.01 juta ton per tahun. sering muncul bau tengik pada ikan.pengolahan hasil Indonesia memiliki potensi sumberdaya perikanan laut cukup besar. Total hasil penangkapan ikan baru mencapai 4. Salah satu kelemahan ikan adalah tubuh ikan yangmempunyai kadar air tinggi dan pH mendekati netral merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri pembusuk maupun organisme lainnya sehingga ikanmenjadi komoditi yang cepat membusuk. Untuk menangani hasil tangkapan ikan dari laut maupun hasil perikanan budidaya secara tepat dengan mutu yang terjaga baik serta layak dipasarkan di dalam negeri maupun luar negeri diperlukan tenaga profesional yang handal dalam bidang teknologi pengolahan hasil perikanan Dalam rangka diversifikasi hasil perikanan dan terpenuhnya gizi dari protein hewani asal ikan bagi masyarakat.dan hal yg paling penting harganya jauh lebih murah dan terjangkau dibandingkan sumber protein lain. daging ikan banyak mengandung asam lemak tak jenuh yang sifatnya sangat mudah mengalami prosesoksidasi.26 juta ton per tahun. Ini meliputi berbagai proses penangkapan organisme perairan. Namun.86 juta ton per tahun. dan dapat berkisar mulai ikan dari proses sederhana seperti pengumpulan organisme air dengan tangan memilih untuk . Oleh sebab itu. potensi lestari ikan laut diperkirakan sebesar 6. Ikan merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat karena mudah didapat dan harganya murah. Potensi tersebut terdiri dari potensi perairan wilayah Indonesia sekitar 4.Pengolahan hasil penangkapan ikan (Ershanty Rahayu F1E1 10 046) 1. Penggunaan metode bervariasi.maka harus dilakukan perbaikan yang menyangkut hasil teknologi dan ekonomi.

b. ikan menarik untuk terjebak pada kait dengan menggunakan umpan. y persyaratan hasil perikanan laut dikatakan memiliki nilai ekonomis ada 3 syarat persyaratan hasil perikanan laut dikatakan memiliki nilai ekonomis: ‡ Mempunyai nilai pasaran yang tinggi ‡ Volume produksi makro tinggi dan luas . yaitu. umpan buatan atau sarana lain seperti cahaya. Selama bertahun-tahun. Teknologi ini telah dikembangkan di seluruh dunia sesuai dengan tradisi lokal dan kemajuan teknologi di berbagai disiplin ilmu seperti hidrodinamika. jaring insang dan melibatkan jaring dan perangkap.dan c. karena mereka dipraktekkan saat ini umumnya masuk ke dalam 3 kelompok utama: a. seines. bertujuan pertengahan air trawl atau tas pemukatan dilakukan dari kapal ikan besar. adalah dasar bagi sebagian besar alat tangkap dan metode yang digunakan bahkan hari ini. Menyaring air. memikat dan mempermainkan mangsa dan berburu. Setengah dari makanan laut dunia ditangkap atau dikumpulkan oleh nelayan skala kecil yang beroperasi jutaan kerajinan memancing. penangkapan ikan baik secara tunggal maupun di sekolah-sekolah dengan menggunakan jaring atau tombak. Keragaman besar target dalam perikanan tangkap dan distribusi yang luas mereka memerlukan berbagai alat tangkap dan metode untuk panen efisien. penangkapan ikan di gigi stasioner seperti perangkap ikan atau jaring set.panen ikan sistem yang sangat canggih. alat penangkapan ikan tradisional telah ditingkatkan dan yang lebih baru sistem penangkapan ikan lebih efisien telah diperkenalkan. Paling penting di antara mereka adalah panen ikan sistem seperti trawl. teknologi Harvest. akustik dan elektronik.

0. 0. cakalang.kelebihannya selain sebagai sumber protein yang mudah di dapat. akan lebih baik apabila dipilih jenis ikan yang mempunyai serat yang kasar dan tidak mengandung banyak duri.1-2. 18-34% 3.‡ Mempunyai daya produksi yg tinggi y komposisi kimia daging ikan: 1.harganya juga relatif lebih mudah dijangkau untuk semua kalangan masyarakat. air 60-84% 2. tenggiri contoh gambar abon: . Namun demikian. Hasil pengolahan A.0% 5.2% 4.0-1. bahkan hampir semua jenis ikan dapat dijadikan abon. ikan yang biasa dibuat abon adalah ikan air laut antara lain tuna. marlin. ABON IKAN Salah satu hasil difersifikasi pengolahan ikan yaitu abon ikan. Vitamin dan mineral 2. tongkol. jenis ikan yang dibuat sebagai bahan baku abon belum selektif.

6 menyajikan rincian penerimaan/pendapatan kotor dalam setahun. y Jumlah produksi abon ikan selama satu tahun sebesar 14. jenis teknologi yang cocok digunakan adalahteknologi semimekanik.±.200 kg/bulan) dan harga abon ikan ditingkat produsen adalah Rp 70.000.000 per kg. .Proyeksi produksi dan pendapatan: y Usaha pengolahan abon ikan pada umumnya berskala kecil dan bersifat pada tenaga kerja. pendapatan dari hasil penjualan abon ikan per tahun adalah sebesar Rp 1. Oleh sebab itu.008.440 kg (1.000. Oleh sebab itu. Tabel 5.

selain itu hasilnya terkadang jauh lebih baik dibanding menggunakan teknik mesin y teknik mesin . Oleh sebab itu.Tabel produksi dan penjualan abon ikan: Nb: harga di atasa masih dalam pendapatan kotor* y Kendala yang ditemui selama produksi Kendala produksi yang bisa dijumpai adalah terjadinya kelangkaan bahanbaku ikan. lokasi usaha sebaiknya terdapat di daerah-daerah yang dekat dengan kawasan-kawasan kerja pelabuhan perikanan sehinggaakan mempermudah proses penyediaan dan transportasi bahan baku ikan B. bakso ikan ada 2 cara pembuatan bakso ikan yaitu: y tekhnik manual pada teknik ini tentu bergantung pada bahan dan pembuatnya.

menggunakan teknik ini jauh lebih praktis tetapi membutuhkan modal yang lebih besar dibanding menggunakan teknik manual Contoh gambar pengolahan bakso ikan (menggunakan tekhnik mesin): . mesin mixing (untuk mencampur adonan).Jenis mesin yang diperlukan untuk membuat bakso antara lain mesin mincer (untuk mencincang daging). mesin pencetak bakso dan mesin sealer atau vacuum (untuk mengemas bakso).

id/files/2010/01/Pengolahan-ikan.com/articles/hasil-tangkapan-ikan-nelayan-di-malang-melimpah http://rizarahman.go.id/proceeding/Proses-Pengolahan-dan-Nilai-TambahBakso.net/bidang-dan-uptd/ http://sudianor.umm.mercubuana.apsidoarjo. Oleh sebab itu.com http://www. lokasi usaha sebaiknya terdapat di daerah-daerah yang dekat dengan kawasan-kawasan kerja pelabuhan perikanan TINJAUAN PUSTAKA http://www.blogdetik.staff.id http://pobersonaibaho. http://dedisafrizal.com/tag/proposal-bakso-ikan/ .y kendala Kendala yang ditemui dalam pembuatannya hampir sama dengan pembuatan makanan lain yang memerlukan bahan utama ikan.com http://research.ac.bisnis.wordpress. http://www.dkpsultra.ac.bpsdmkp.yaitu: kelangkaan bahan baku ikan.kkp.wordpress.

belajar sendiri mengenai tata cara pembuatan phinisi.´ jelasnya. Kesulitan selama ini. ³Orang asing lebih suka yang bagian buritan kapal yang kotak karena terjadi hubungan antara layar dan mesin dan setir.´ ungkapnya. Kelurahan Tana Lemo. Musriadi warga Desa Ara. Sekira tujuh puluh persen masyarakat Tana Beru menggantungkan hidupnya pada pembuatan kapal tradisional ini. ia terpilih ke Kanada untuk membuat kapal kerjasama dengan Teknik Perkapalan Unhas. ³ Ini mi keterampilan yang diajarkan bapakku sejak kecil. Sebut saja. meskipun bahan baku kayu diproduksi di Bulukumba. Hal ini juga dialami Haji Abdullah (60 tahun) pengusaha Phinisi sudah mengenal pembuatan kapal tradisional dari orang tuanya. Bila dahulu kapal Padewakkang terkenal sebagai kapal perang dan belakangan tak lagi ditemukan. Musriadi (43 tahun) pembuat Phinisi. Anto (45 tahun) warga Desa Ara masih membuat Pinishi karena menjaga warisan leluhurnya. Haji Abdullah melayani pemesanan Phinisi dengan desain yang dibuat oleh konsumen. Oleh karena nilai artistik yang tinggi. Demikian halnya. Sejak tahun 1988. Masyarakat pesisir di Tana Beru. Kehidupan masyarakat pesisir tak terpisahkan dari pemanfaatan pembuatan kapal. Keahlian membuat Phinisi biasanya diajarkan turun temurun dari para leluhur. Dalam perkembangannya.KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR (Yunita Silvana Lantapi F1E1 10 048) Bebarapa masyarakat pesisir menjadikan pembuatan kapal sebagai lahan mencari nafkah. yaitu jenis kayu besi. ayah yang telah menurunkan bakat ini kepada anaknya menerima orderan rata-rata sepuluh kapal besar pertahun. masih mempertahankan membuat kapal tersebut untuk mempertahankan warisan budaya leluhur. Kecamatan Bonto Bahari masih memproduksi Phinisi. maka tak heran jika harga satu buah kapal Phinisi bisa mencapai . Dalam setahun. hal ini berdasarkan data Kelurahan Tana Lemo. Ia mulai membuat kapal sejak umur tujuh belas tahun. hasil dari membuat kapal untuk menafkahi keluarganya. serta waktu pembuatanya yang sangat lama. Inilah titik tumpu yang kuat hingga ia bisa menjadi pengusaha kapal yang sukses seperti saat ini. kapal Phinisi dan kapal Sandeq hingga saat ini masih diproduksi oleh penggiatnya. Namun biasanya adanya keterlambatan pasokan kayu yang dikirim dari Kendari cukup menghambat membuat kapal. Sejauh ini.

Mulyadi Agus. Penerbitan Kampus 'Identitas'unhas. Dari dulu nenek moyang membuat kapal. dan ini saya tekuni sebagai nelayan dan sekaligus pembuat kapal. seperti kapal tradisional Sandeq di Desa Pambusuang. ³Ini memang sudah menjadi kesenangan saya.miliaran rupiah. sebutan Panrita lopi bukan hal yang asing masyarakat Tana Beru. Julukan Panrita lopi sendiri diturunkan generasi ke generasi oleh pembuat kapal pertama. sering belajar dengan pembuat kapal. DAFTAR PUSTAKA 1. Bukan hanya di Tana Beru. Perahu Phinisi kebanggaan bangsa Indonesia. Berbeda dengan pengusaha kapal.´ ujarnya. Panrita lopi. Demikian halnya. 2010 2. kapal tradisional lain tetap dipertahankan dengan alasan faktor ekonomi. pasti butuh uang lagi.´ jelas Fadli pemilik sekaligus membuat kapal. pekerjaan ini ia tekuni membuat kapal untuk menafkahi keluarganya. Biasanya keuntungan diperoleh tiap satu kapal mencapai sepuluh juta untuk jenis Sandeq race. Pengusaha kapal belum tentu disebut Panrita lopi. Sebut saja Haji Jafar (63 tahun). Siden (45 tahun) salah seorang pembuat Sandeq.´ ujar Fadli (41 tahun). 2011 . Ia memproduksi empat sampai lima kapal dalam satu tahun bersama orang tuanya ³Keterampilan dalam membuat kapal ini ada karena faktor kebiasaan sejak kecil. Online Business Journal. Masih Setia dengan Kapal Tradisional. orang yang membuat kapal sesuai pengetahuannya dan tidak menggunakan tenaga ahli. ³Kalau bukan Sandeq pasti pakai bahan bakar. Bahkan pernah sebuah perusahaan pelayaran di Karibia yang membeli sebuah Kapal Phinisi seharga 3 miliar.´ tutur Siden. Haji Jafar sendiri membuat kapal meskipun tidak ada pesanan. ia salah seorang Panrita lopi yang masih tetap aktif dalam membuat kapal. Hal ini menyebabkan nilai ekonominya menurun tapi nilai budayanya tetap ada. Polewali Mandar. sandeq untuk nelayan sangat jarang karena sudah ada kapal modern bermesin. Masih banyak nelayan yang mengandalkan layar dan kapal digerakkan tanpa menggunakan bahan bakar. sandeq hanya digunakan dalam Sandeq race. Sekarang ini. Identitasonlinedotnet. ³Kapal dibuat untuk menjaga nilai-nilai kebudayaan dari nenek moyang dan pemenuhan kebutuhan hidup kami.

cepat puas dengan apa yang diperoleh. 1. Kondisi Sosial Masyarakat Suku Bajo Pada masyarakat suku bajo juga terjadi pergeseran yang mengarah ke yang lebih baik. Budaya fasalistik juga masih melekat kuat dalam kepribadian mereka.MASYARAKAT BAJO (Sri Wuna Sari Nasir F1E1 10 051) Masyarakat Bajo atau biasa disebut juga orang laut masih banyak yang buta huruf. serta sikap menutup diri pada pihak-pihak lain. seperti kurang kreatif dan produktif. Suku Bajo adalah salah satu suku laut yang dimiliki oleh Indonesia. hal ini yang menjadikan masyarakat bajo pada saat itu tidak menetap tempat tinggalnya dan kemudian berpindah lagi kempat yang lain dengan meninggalkan kerusakan yang parah pada tempat yang awal mereka diami. Begitu seterusnya dengan kebiasan yang secara turun temurun merusak laut yang berimbas pada krisis yang dialami generasi mudah suku bajo untuk menggantungkan hidupnya pada laut semata mau tidak mau memaksa mereka juga untuk berbuat yang serupa. dan petani budidaya rumput laut. Masyarakat suku bajo memanfaatkan sumberdaya laut yang ada di sekitar perairan kawasan tempat tinggal mereka sebagai sumber pendapatan/mata pencahariannya yaitu sebagai nelayan tradisional. Kebiasaan yang mendarah daging pada masyarakat suku bajo saat ini masih kita dapatkan. Artinya pada mulanya masyarakat suku bajo tidak memiliki tempat tinggal yang tidak menetap sehingga mereka lebih cenderung merusak laut dengan ulah mereka sendiri seperti membom. dengan kata lain sudah ada pergeseran nilai budaya yang di miliki oleh mereka. pasrah pada nasib. . Sikap-sikap tersebut telah menyebabkan masyarakat Bajo menjadi tidak berdaya. kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai instrument keberlanjutan hidup merekah sudah mulai tertanam dalam masyarkat suku bajo. membius dan menjarah secara tidak teratur sehingga secara lambat laun laut mengalami kerusakan yang parah dan tidak ada kesadaran secara social untuk kelestarian laut untuk masa depan generasi muda. sikap konsumtif dan boros. namun secara kuantitas sudah mengalami penurunan.

Bagi mereka sekolah itu bikin habis waktu mendingan mereka turun di laut mencari dan kemudian hasil dari laut itu mereka jual yang kemudian dapat meenghasilkan uang. SMP. Kondisi Pendidikan Masyarakat Suku Bajo Pada umumnya masyarakat bajo rata-rata berdomisili di daerah-daerah pesisir yang sangat terpencil dan jauh dari jangkauan media sehingga secara garis besar mereka sangat awam terhadap perkembangan media yang begitu pesat yang diiringi dengan teknologi yang semakin canggih. dan SMA. . Karena kebanyakan dari suku bajo sendiri banyak yang menggantungkan kehidupanya semata-mata pada hasil laut. sebenarnya ini paradigma berpikir yang keliru karena mereka tidak punya kapasitas atau perantara untuk sampai pada sejauh pemikiranya tentang pentingnya dari pada pendidikan itu sendiri. Semua ini berawal dari media komunitas yang intens memberikan pendidikan kepada masyarakat suku bajo. Dan sebenarnya juga orang bajo juga mempunyai jiwa pekerja keras dan pantang menyerah pada keadaan. karena mereka beranggapan tanpa berusaha dalam hal ini turun ke laut mereka tidak bisa makan. SMA. Kemudian di bidang pendidikan masyarakat bajo menomor duakan pendidikan seperti yang dipaparkan diatas tadi bahwa sekolah itu sama saja dengan buang-buang waktu. dan perguruan tinggi. masyarakat bajo sendiri seakan tidak perduli dengan perkembangan media dan teknologi yang beredar di dalam masyarakat luas. Jangankan perkembangan media yang begitu pesat masalah pendidikan pun mereka kesampingkan. Hal ini menunjukan sebuah kemajuan yang menggembirakan bagi masyarakat bajo. Selain dari pada pendidikan sebagian besar masyarakat bajo pun gagap teknologi. dan untuk mengetahi teknologi harus melalui bengku sekolah. dan lebih baik turun ke laut untuk mencari kehidupan yang dapat menghasilkan uang. seperti media yang saat ini sangat canggih seperti internet mereka sama sekali tidak bisa mengoperasikannya.2. Kasadaran lahir tumbuh dari beberapa pengelola yang merasa bahwa pentingya mengetahui perkembangan teknologi. Fenomena ini terjadi secara turun temurun dan mereka mengganggap hal biasa dan tidak berpengaruh pada lingkungannya. Dalam tiga tahun tarakhir ini genarasi muda masyarakat bajo berlomba-lomba mendaftarkan diri untuk bersekolah baik itu SMP. bahkan sebagian dari masyarakat bajo yang buta aksara. Semua ini bisa terjadi karena kemampuan sumberdaya manusia generasi muda masyarakat suku bajo yang semakin meningkat. Maka dari itu tidak sedikit dari mereka yang tidak menamatkan pendidikanya sekolah dasar.

Akibatnya. Bahkan saat ini terjadi pemanfaatan sumberdaya laut pada lokasi-lokasi yang sebenarnya merupakan lokasi perlindungan sumberdaya laut.3. mulai dari mata pencaharian sampai membangun pemukiman yang berada di atas pesisir laut dengan memanfaatkan batu karang. Segala bentuk kehidupan berlangsung benar-benar di atas laut. menanggung beban kehidupan rumah tangga. Pemanfaatan terumbu karang dan pasir laut yang berlebihan serta penggunaan alat tangkap yang bersifat merusak ekosistem laut banyak dilakukan oleh masyarakat Bajo. Sungguh suatu bentuk kehidupan yang unik yang memerlukan keberanian serta ketangguhan untuk menjalaninya. Anak-anak mereka harus menerima kenyataan untuk mengenyam tingkat pendidikan yang rendah. kualitas sumber daya manusia tetap rendah dan kemiskinan di kalangan masyarakat Bajo akan diwarisi serta dilanggengkan dari generasi ke genarasi. Karena ketidakmampuan ekonomi orang tuanya. Kemiskinan yang melanda rumah tangga masyarakat bajo telah mempersulit mereka dalam membentuk kehidupan generasi berikutnya yang lebih baik dari keadaan mereka saat ini. Masyarakat bajo merupakan masyarakat yang sejahtera karena potensi sumber daya alamnya yang besar. 4. Masyarakat bajo biasanya bertempat tinggal di daerah pesisir. Rumah panggung dibangun tepat di atas permukaan laut. Menurut Saleh (2002). Bukan . Namun sebagian besar dari masyarakat suku bajo menganggap pendidikan itu bisa didapatkan dilaut. Kondisi Ekonomi Masyarakat Suku Bajo Masyarakat Bajo merupakan masyarakat yang sangat tergantung pada laut. Anak-anak di tuntut untuk ikut mencari nafkah. Masyarakat suku bajo memiliki kehidupan yang bergantung pada laut. Namun saat ini meskipun masih ada yang meneruskan tradisi berpindah tempat. sebagian lainnya memilih menetap di lokasi tertentu dengan pola hidup yang sangat sederhana. Karakteristik Masyarakat Suku bajo Dahulu kala masyarakat Bajo kerap berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya mencari sumber kehidupan seperti masyarakat gipsy atau nomaden. di atas gugusan karang. Namun pada kenyataannya hingga saat ini sebagian besar masyarakat bajo masih merupakan bagian dari masyarakat yang tertinggal dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. laut bagi masyarakat Bajo merupakan tempat nenek moyang mereka yang di percaya sebagai penguasa laut. dan mengurangi beban tanggung jawab orang tuannya.

Kondisi Sosial Ekonomi Budaya Masyarakat. Pemberani Dan Tangguh. 2011. DAFTAR PUSTAKA Anonim.net . http://suarakomunitas.Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. 2010.ac. Makalah pada Sosialisasi Pengelolaan Berbasis Masyarakat. Bogor.didapatkan dari bangku sekolah.com Nunuk.id Bengen.bangka. http://siswa.travel/read Tridarma. Kondisi Sosial Masyarakat. 2011. 2011. http://aci. 2001. Kusumawati.univpancasila. Pengaruh Media Komunitas Terhadap Struktur Sosial Masyarakat Bajo. Diah.go. 2011. D. Suku Bajo dalam Pusaran Modernitas.G. 21-22 September 2001. utamidk@jurnal. Suku Bajo: Sederhana. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Secara Terpadu. Kehidupan ekonominyapun bergantung pada hasil ataupun pendapatan setiap harinya.id Anonim.detik. http://www.

yang merupakan cikal bakal dari suku bajo. Sehingga sang Raja memerintahkan pengawalnya untuk mencari sang putri. Suku ini tinggal menetap diatas perairan Pulau Wakatobi. namun tetap tidak berjarak jauh dari laut. tetapi juga sampai ke sulawesi. dahulu kala seorang puteri dari kerajaan Johor hilang entah kemana. di Sulawesi Tenggara.Dan mereka menyebut warga di luar sukunya sebagai suku bagai.. dan belakangan mulai berekspansi ke wilayah kepulauan nusantara lainnya dan membentuk komunitasnya. malaysia. dan sejalan dengan itu orang-orang yang ditugaskan oleh sang raja pun tidak mau lagi kembali ke Johor dan tetap tinggal bersama sang putri. hingga mencari kehidupan pun dilakukan dengan banyak berinteraksi dengan laut. hingga mendapatkan julukan The Sea Nomads yang berarti hidup dilaut dan tak menetap pada satu tempat. Suku Bajo merupakan suku yang terkenal mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Mereka adalah pelaut tangguh yang memilih untuk hidup di pulau-pulau di tengah laut. kemudian menempatkan masyarakatnya yag berasal dari Johor itu dalam sebuah daerah yang bernama Bajo. Meski akhirnya kini Suku Bajo mulai menetap di darat oleh karena paksaan pemerintah.Pernah disebut dalam sejarah bahwa suku bajo pernah . nenek moyang suku Bajo berasal dari Johor. bertempat tinggal.Suku bajo juga identik dengan manusia perahu oleh karena mereka menggantungkan hidupnya dari perahu. Alkisah. Sang putri yang pada akhirnya menikah dengan Raja bugis tersohor. Sejarah Suku Bajo Konon. tidak hanya di seantero negeri johor. sang putri lebih memilih untuk tetap tinggal di sulawesi. Keunikan Suku Bajo Suku Bajo dikenal dengan Same(sama). bagi suku bajo menjadi andalan satu-satuya.Kehidupan Masyarakat Suku Bajo (Fauzyah Novrini Kasman Arifin F1E1 10 055) Suku bajo terletak di Kepulauan Tukang Besi (dulu) yang sekarang berubah Wakatobi. Menurut beberapa versi. Dari banyak interaksi tersebut menyebabkan suku ini banyak tersebar di berbagai daerah di Tanah air. Dari mulai hidup. Laut. Sebuah daerah yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya.

Lambat laun mereka juga sudah mulai mengenal daratan sebagai tempat tinggalnya. Mereka tidak jauh berbeda dengan kelompok papongka. kelompok sakai dan kelompok lame.Kebiasaan mereka bila sudah memperoleh hasil ikan tangkapan atau kehabisan air bersih.Setelah hasil ikan tangkapan dijual dan merasa sudah mempunyai air bersih.mereka kembali lagi ke laut. mereka kembali ke darat. kelompok papongka. Pada saat kembali ke rumah. . untuk menjual hasil tangkapan atau menikmatinya bersama keluarga. waktu yang dibutuhkan pun lebih lama. Ada empat kelompok masyarakat suku bajo menurut kebiasaan mereka bernelayan. Setelah mendapat ikan. Namun. Bila kelompok papongka hitungannya seluas provinsi.mereka selalu menyinggahi pulau-pulau terdekat . Sehingga. Kelompok lilibu adalah suku Bajo yang biasanya bernelayan di laut hanya satu atau dua hari. Bedanya dengan kelompok lilibu. Katakanlah. Jadi. antarpulau. maka kelompok sakai hitungannya antarprovinsi. mereka adalah manusia pengelana lautan yang telah menjadikan laut sebagai sahabat dan tempat tinggalnya. Biasanya terdiri dari lima atau enam orang anggota papongka. Karena itu. perahu yang digunakan pun lebih besar dan saat ini umumnya telah bermesin. wilayah kerjanya lebih luas. mereka baru akan pulang ke rumahnya setelah seminggu atau dua minggu mencari nafkah.Semua aktivitas bersama keluarga dihabiskan diatas perahu atau soppe seperti biasanya kehidupan di darat.Di mana ada tanjung atau pulau maka di situlah mereka mencari nafkah.Sehingga ketangguhan dan keterampilannya dalam mengarungi samudera jelas tidak terkalahkan. yakni kelompok lilibu. Dulu. tidak lagi membawa ikan tangkapan. Kelompok papongka adalah suku bajo yang biasanya mencari ikan di laut selama sepekan atau dua pekan. sang nelayan biasanya membawa uang dan berbagai kebutuhan rumahtangga lainnya. Kelompok sakai memiliki kebiasaan mencari ikan yang lebih dasyat lagi.Mereka menggunakan perahu atau soppe yang di kendalikan dengan dayung dan layar. Mereka bisa berada di ³tempat kerja´nya itu selama sebulan atau dua bulan.menjadi bagian dari Angkatan laut Kerajaan Sriwijaya. Mereka menggunakan perahu soppe yang dikendalikan dayung.

Dan. Mereka menggunakan perahu besar dengan awak yang besar dan mesin bertenaga besar. suku bajo sangat percaya pada kearifan lokal dibandingkan dengan instrumen modernitas yang sangat masif berkembang diluar kebudayaan laut suku tersebut. kelompok lame bisa dikategorikan nelayan-nelayan yang lebih berkelas. Karena. mereka memang bakal mengarungi laut lepas hingga menjangkau negara lain. Selain sampan sebagai pusat kegiatan ekonomi. khususnya di Wakatobi. Kain-kain seperti ledja dan kasopa di tenun secara tradisional dengan motif yang khas . . kerajinan kain tenun tradisional juga menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan suku bajo.Kelompok terakhir. mereka bisa berada di lahan nafkahnya itu hingga berbulan-bulan.

dan penambangan laut. fisik. penambangan pasir laut telah berkembang menjadi polemik nasional. Sedangkan menurut pemerintah yang tertuang dalam keputusan menteri. yakni materi galian pasir yang berada di perairan Indonesia dan tidak mengandung mineral golongan A dan golongan B. Dampaknya seperti nelayan yang kehilangan mata pencarian hingga tenggelamnya sebuah pulau. selain menjadi mata pencaharian bagi masyarakat pesisir. Kegiatan tepat dan laut berdampak pasir yang laut tepat pengelolaan tidak wilayah dilakukan pada penambangan dengan cara apabila akan daerah yang baik berdampak lingkungan. biologi. Sebagian besar masyarakat pesisir adalah hanya lulusan SD. menurut geologi.Kehidupan Masyarakat Penambang Pasir (Rahmawati Nur Ariyanti F1E1 10 057) Pasir laut. Faktor yang berasal dari dalam diri masyarakat itu sendiri salah satunya adalah faktor ekonomi. Keberlanjutan dari usaha mereka pada jangka panjang tidak menjadi pemikiran mereka. juga menjadi objek pertambangan pasir dengan keuntungan bisnis yang sangat menggiurkan. Faktor pendidikan masyarakat juga berpengaruh. Ada sebagian dari tenaga kerja yang . Berbeda jika mereka menjadi penambang pasir yang akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar dari biasanya. penghasilannya tidak menentu karena semua itu tergantung hasil tangkapan dan cuaca. lalu terhadap dalam sedimen di dasar lautan. Perairan nusantara. Contohnya masyarakat pesisir pantai yang dulunya bergantung pada mata pencaharian nelayan. pesisir di Namun. Faktor-faktor penyebab adanya kegiatan penambangan pasir beraneka ragam. maupun sosial. tidak lulus SD atau bahkan tidak bersekolah sehingga pemahaman mereka tentang lingkungan hidup sangat sedikit. Yang ada dalam pemikiran mereka hanyalah bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari dengan mendapatkan uang melalui pekerjaan yang dapat diharapkan hasilnya secara nyata. Namun. yaitu semua materi seukuran pasir dan mengalami proses transportasi. Secara kelautan pasir yang obyektif pasir berkembang pada laut memang bisa disebut salah satu sumber daya menjadi komoditas ekonomi.

000. Faktor dari luar yang menyebabkan adanya penambangan pasir adalah faktor bisnis bagi perusahaan-perusahaan untuk mendapatkan keuntungan yang besar. 90.. Sebagai contohnya warga Dusun 5 Desa Poto. Bila telah terayak. penambang mengatakan setengah hari . pasir dibiarkan saja di lokasi pengayakan dengan ditutupi ranting-ranting kering. Ibu dua anak ini sehari-harinya bekerja mengumpulkan pasir dari pantai untuk kemudian dijemur dan diayak.untuk hasil kerja selama seminggu.mengerti tentang lingkungan hidup. Pengumpul datang datang dengan menggunakan truk sambil membawa karung-karung beras kosong ukuran 20 kg untuk diisi dengan pasir. Kecamatan Fatuleu Barat. yaitu pengurangan jumlah pengangguran karena sebagian besar masyarakat bekerja sebagai penambang pasir dan peningkatan penghasilan masyarakat. karena dalam mereka hanyalah bagaimana cara untuk mendapatkan uang agar hidup secara layak. Kabupaten Kupang. Artinya.500. sore hari pasir tersebut sudah diambil pengepulnya dengan harga Rp. namun karena tekanan ekonomi membuat mereka terpaksa mengambil keputusan untuk tetap bekerja di penambangan pasir karena tidak mendapatkan pekerjaan yang lain. mereka akan memperoleh penghasilan sekitar Rp. Tidak sulit bagi mereka untuk mendapatkan penghasilan yang layak. Karena mereka hanya ngayak pasir lalu memasukkan kedalam sak (karung plastik).dan rata-rata setiap keluarga menjual sebanyak 20 karung.1750/sak. dan alat sederhana lain. 4. Hari senin merupakan hari yang paling ditunggu oleh warga Dusun 5 yang mayoritas bekerja menambang pasir pantai karena pada hari itu pengumpul dari kota Kupang datang untuk membeli pasir hasil mereka.. Beberapa pekerja malah tidak mengetahui tentang lingkungan hidup. dengan pertimbangan alat-alat yang digunakan untuk melakukan penambangan merupakan alat-alat yang sederhana (alat manual) diantaranya sekop & pacul yang berfungsi mengumpulkan dan mengambil pasir serta kerikil. Kegiatan penambangan pasir merupakan mata pencaharian yang potensial bagi masyarakat-masyarakat pesisir. Dampak positif pada aspek sosial ekonomi dengan adanya kegiatan penambangan pasir dirasakan oleh sebagian masyarakat khususnya masyarakat pesisir. Sekarung pasir yang telah bersih dibeli dengan harga Rp. Lain lagi dengan penambang pasir Desa Bago Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang.

Hal ini disebabkan seluruh isi laut disedot tanpa pandang bulu. Terumbu karang tercemar.jika dijumlahkan dalam satu bulan Rp.pendapatanya tidak kurang dari Rp. Hasil ikan yang diperoleh menjadi berkurang. Aktivitas penambangan pasir laut memiliki banyak dampak negatif. Namun. seperti ekosistem dan abrasi. Perubahan itu secara langsung mengganggu kehidupan biota laut dan lingkungan di dalamnya. Dalam proses penambangan tingkat kekeruhan air sangat tinggi.1. menimbulkan masalah serius bagi keberlangsungan ekosistem laut. tetapi juga telah menyebabkan jatuhnya harga pasir lantaran melonjaknya volume produksi dengan pembeli satu-satunya. serta biota lainnya juga ikut musnah. kematian biota laut di dalamnya pun tak bisa dihindari. Hanya beberapa jenis biota yang bisa bertahan.dengan catatan hanya setengah hari. Kasus serupa juga tidak tertutup kemungkinan terjadi di tempat lain di seluruh perairan Indonesia. anak ikan. Pulau tak berpenghuni di Provinisi Kepulauan Riau itu sangat penting perannya. tetapi telur-telur.000. Kerusakan yang muncul salah satunya adalah perubahan morfologi dasar laut menjadi tidak beraturan.. Karena pulau tersebut merupakan tanda dari batas kontinen negara Indonesia dengan Singapura. .100. Dampak langsung dari kerusakan ini paling dirasakan oleh masyarakat pesisir yang kebanyakan sebagai nelayan. contohnya ke Singapura. Diperlukan pengaturan khusus agar lokasi penambangan tidak dilakukan pada satu titik. Singapura. 35. Tidak hanya pasir yang diangkat. bukan saja semakin menekan keseimbangan ekosistem laut.000. Laju perkembangan perizinan tersebut. Ini tidak bisa ditoleransi. Dampak jangka panjang yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan pasir adalah hilangnya pulau-pulau kecil. Hal tersebut bisa mengubah sistem perairan laut di Indonesia. penambangan yang terjadi secara terus-menerus dan tak terkendali terutama yang dilakukan oleh beberapa perusahaan besar apalagi perusahaan yang tidak memiliki izin untuk dijual. Salah satu pulau kecil dari ribuan pulau yang hampir tenggelam adalah Pulau Nipah. terumbu karang.

Sebaiknya kaji dulu dampak lingkungan yang akan terjadi ke depan. Selain itu bagi yang sudah mendapat izin.multiplyjournal.com Harian Umum Pelita tanggal 7 Mei 2009 khan35. Daftar Pustaka www.com .Untuk mengatasi masalah tersebut. Jangan mudah memberi perizinan. serta menindak tegas pelaku penambangan pasir. para penegak hukum dan pemberi perizinanan memberantas.blogspot. pemerintah harus menetapkan kedalaman dan kemiringan/keterjalan maksimum lereng pantai yang dapat mencegah terjadinya longsoran di daerah pantai akibat penambangan pasir laut di daerah pantai (aspek geoteknologi).

air laut. tetapi mereka juga menggunakan alat komunikasi yaitu HP. dalam hal interaksi sosial baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat yaitu mereka tidak hanya berkomunikasi secara langsung. mutu garam yang sangat rendah. Problem yang dihadapi petani garam yang tampak kepermukaan. yaitu memiliki penghasilan rata-rata antara . tidak terkecuali para petani garam di Desa Aeng Sareh. Kecamatan Sampang. terdapat problem yang mendasar yang dihadapi petani garam. sampai membanjirnya garam impor. Sedangkan dalam hal pekerjaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka juga melakukan kerja sama dengan masyarakat disekitarnya. dihadapkan pada situasi sulit.KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI PETANI GARAM Ririt Yuliarti Taha F1E1 10 058 Garam merupakan komoditi strategis sebagai bahan baku industri dan bahan pangan yang sangat dibutuhkan oleh hampir semua masyarakat. antara lain menyangkut harga. bahkan ada yang meninggalkan usahanya dan berpindah menekuni mata pencaharian lain. Petani garam bekerja dengan memanfaatkan tanah. Jika dicermati dan dikaji lebih mendalam. yaitu beroperasinya sistem kapitalisme yang mengantarkan mereka pada kondisi yang terpuruk bahkan termarjinalkan. Kecamatan Sampang. Di Kabupaten Sampang Air laut dengan sinaran matahari mampu menghasilkan garam yang sejak dulu dikenal sebagai produk utama masyarakat Madura. tetapi dewasa ini kehidupan petani garam di berbagai daerah di Indonesia. Banyak petani tidak dapat bertahan dengan pilihan usahanya. kehidupan sosial para petani garam di Desa Aeng Sareh. seperti mengikuti perkumpulan pengajian. Kabupaten Sampang. Petani garam sebagai anggota masyarakat mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada dimasyarakat. Kehidupan ekonomi para petani garam di Desa Aeng Sareh. para petani garam juga tidak terlepas dari persaingan dan konflik. khususnya masyarakat yang bertempat tinggal di daerah pesisir. dan matahari sebagai sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. hal ini mengharuskan para petani garam melakukan berbagai strategi agar dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Akan tetapi selama musim hujan para petani garam tidak dapat memproduksi garam. Kabupaten Sampang berdasarkan tingkat pendapatan.

serta mengaji di surau. tahun 2000 menurun menjadi 729 orang dan pada tahun 2005 menjadi 718 orang. memanfaatkan barang bekas untuk ditukar dengan makanan seperti kerupuk. Di kabupaten Rembang jumlah petani garam pemilik lahan pada tahun 1990 sebanyak 784 orang.000 sampai Rp 45. Adapun jumlah perusahaan garam rakyat di kabupaten Rembang juga cenderung menurun. Peningkatan terjadi pada jumlah petani penggarap/buruh garap di mana pada tahun 2000 terdapat sebanyak 3. sedangkan tingkat pendidikan putra-putri mereka sampai bangku SMA/ Sederajat. serta menjual barang-barang berharga untuk memenuhi kebutuhan besar.184.739 orang. 1991). Para putra-putri petani garam di Desa Aeng Sareh ini bersekolah Madrasah Sore atau TPA. para petani garam hanya membayar uang listrik sebesar Rp 2000 per bulan. 2000 dan 2005). Fenomena itu pada satu sisi menunjukkan bahwa posisi dan status sosial ekonomi petani garam semakin termarjinalkan dan pada sisi yang lain juga dapat dimaknai telah terjadi polarisasi dalam penguasaan lahan garam dan dominasi modal produksi kapitalis. 1.Rp 25. Strategi yang dilakukan para petani garam dalam mempertahankan hidup yaitu seperti bekerja sambilan.986 orang dan pada tahun 2005 menjadi 4.000 per hari dengan jumlah tanggungan rata-rata antara 4 orang sampai 6 orang.189. 1995) lebih didasarkan pada pemilikan individual (private ownership) masing-masing orang terhadap alat-alat produksi dan dalam hal ini kapitalis sebagai pemilik alat produksi dan buruh proletar memiliki kepentingan yang bertentangan. Sedangkan akses untuk mendapatkan pendidikan putra-putrinya yang masih duduk di bangku SD/ Sederajat dan SMP/ Sederajat. mengikuti arisan dan menabung. pada tahun 1990 terdapat 12 perusahaan. Modal produksi kapitalis dalam pemikiran Marx (Morrison. pada tahun 2000 berkurang menjadi 6 perusahaan dan tahun 2005 berkurang lagi tinggal 4 perusahaan (Rembang Dalam Angka 1990. meminjam uang kepada famili dan pemilik warung untuk keperluan yang mendesak. sedangkan untuk biaya mengaji. meminimalisasikan pengeluaran. Padahal luas lahan garam relatif tidak berubah. 2005). seperti biaya pendidikan ditanggung oleh pemerintah. yaitu 1.184.449 ha pada tahun 1990 (Jawa TengahDalam Angka. Dari hal ini . Untuk biaya sekolah madrasah sore atau TPA hanya membayar uang SPP sebesar Rp 5000 per bulan. tingkat pendidikan para petani garam hanya menempuh sekolah dasar (SD). Dalam hal pendidikan.965 ha pada tahun 2005 (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rembang.965 ha pada tahun 2000 dan 1.

Dalam proses produksi garam. anak. Selain itu kedua moda produksi tersebut dalam banyak kasus memiliki keterkaitan integratif yang bersifat asimetris. Hal ini jelas sangat berbeda dengan moda produksi kapitalis yang dicirikan oleh hubungan produksi komersial yang berorientasi pada keuntungan (profit). Artinya. sepupu) dengan dasar hanya untuk dapat survival. yaitu moda produksi kapitalis mendominasi moda produksi non kapitalis dan surplus dari beroperas inya moda produksi non kapitalis diserap ke dalam moda produksi kapitalis melalui mekanisme pasar (market mechanism) dan sistem bagi hasil yang dikembangkan. menantu. tidak terekspresi adanya perhitungan untung-rugi (cost-benefit calculation). aksesnya rendah bahkan tidak memiliki akses pada surplus dari produksinya dan sebaliknya petani yang menguasai lahan luas memiliki akses untuk dapat menikmati surplus dari produksi garam. yaitu moda produksi kapitalis pada petani lahan luas dan moda produksi non kapitalis/us aha keluarga (household farm) pada petani kecil dan petani penggarap. Dari hal ini secara sosial ekonomi petani garam yang menguasai lahan terlebih lahan luas relatif lebih maju/kaya dibandingkan dengan petani lahan sempit apalagi petani penggarap/buruh pada umumnya lebih terbelakang/miskin. bahwa moda produksi kapitalis mempunyai ciri padat modal dan merupakan tipe kelas berstruktur majikan-buruh pada hubungan produksinya. Oleh karena itu struktur penguasaan lahan garam akan menentukan accessibity petani garam pada surplus atas produksinya. lahan merupakan alat produksi yang sangat penting bagi petani garam karena diatas lahan itulah kegiatan produksi mereka lakukan. Sebagai indikatornya tercermin dari beberapa hal . Model produksi non kapitalis dalam proses produksi garam di kabupaten.terjadi proses pemiskinan kaum buruh oleh kaum kapitalis melalui aliran dan akumulasi surplus yang pada hakekatnya merupakan bentuk eksploitasi terhadap kaum buruh dalam proses produksi. petani garam lahan sempit dan yang tidak menguasai lahan garam. Pemikiran Marx itu dikembang-kan Russel (1989). Rembang secara empiris dicirikan oleh adanya hubungan produksi subsisten yang terbatas dalam lingkup keluarga (orang tua. Dalam hal ini struktur penguasaan lahan juga berpengaruh pada modal produksi yang berkembang.

justru cenderung yang menikmati surplus value bukannya petani produsen. biasa memainkan komoditas garam di mana mereka itu semuanya bergerak di julur pemasaran garam. Bermainnya kelompok -kelompok sosial lain dari berbagai aras pada jalur pemasaran garam ini. Petani (lahan sempit dan penggarap) hanya diposisikan . Dengan demikian polarisasi penguasaan lahan garam oleh kapitalis secara signifikan ikut memberi kontribusi bagi marjinalisasi petani garam terutama petani kecil dan petani penggarap/buruh. pegawai pemerintah maupun pegawai swasta dan pemodal) ikut bermain baik sebagai penyetok.5 ha) maupun buruh garap. relasi sosial yang dikembangkan. pendapatan/hasil yang diperoleh.antara lain: pola kerja/usaha. kondisi perumahan. Dengan demikian petani garam sebagai produsen garam krosok dalam konteks perdagangan garam posisinya termarjinal-kan karena adanya penutupan akses ke pasar oleh pelaku ekonomi di jalur pemasaran. Demikian juga dengan kekuatan ekonomi kapitalis baik pada aras lokal maupun supra lokal. pendidikan. Selain itu dominasi kekuatan ekonomi kapitalis atas produksi garam juga ditunjukkan melalui penguasaan mereka terhadap gudang-gudang garam yang merupakan titik pengumpul (collecting point). jenis dan pola konsumsi makanan. tetapi pada sisi lain menjadikan petani garam terutama petani petani kecil dan petani penggarap/buruh semakin tidak memiliki akses ke pasar. Masyarakat Rembang menempatkan garam sebagai komoditas perdagangan yang cukup menarik. di satu sisi dapat menjadi indikator bahwa garam merupakan komoditas yang dapat memberi keuntungan signifikan. bukan milik petani kecil dan penggarap. yaitu tempat pengumpulan garam di tepi/pinggir jalan raya yang dapat dijangkau truk dan sejenisnya milik kaum kapitalis yang menguasai jalur pemasaran garam. tengkulak maupun mak elar. maka pada musim panen banyak kelompok sosial di luar petani garam (seperti guru. Hal ini mengingat petani garam di kabupaten Rembang sebagian besar merupakan petani penggarap baik dari pemilik lahan sempit (< 0. hanya sebagian kecil petani garam yang memiliki lahan luas (> 5 ha) yang pada umumnya juga bergerak di jalur pemasaran garam sebagai tengkulak/bakul dan pabrikan (pabrik garam rakyat). Dalam konteks ini tampak bahwa kelompok-kelompok di luar komunitas petani garam yang bertindak sebagai pelaku ekonomi di jalur pemasaran garam.

Petani penggarap/buruh sangat tergantung dan ditentukan secara sepihak oleh pemilik.php/PPKN/article/view/15331 2. Kondisi itu diperkuat lagi dengan adanya eksploitasi yang terwujud dalam bentuk relasi usaha antara petani penggarap/buruh dengan petani pemilik dan antara petani kecil dengan pelaku usaha lain di jalur pemasaran dan permodalan serta dengan pabrikan sebagai produsen jadi. Sebagaimana pada tingkat global.id/index.id/filerPDF/Petani%20Garam%20dalam%20Jeratan%20Kapitalism e. Dalam mata rantai usaha garam itu penggarap/buruh adalah pihak yang paling kecil mendapatkan keuntungan dan paling rentan dibandingkan dengan lainnya. baru berikutnya petani kecil dan petani besar.sebagai produsen. kekuatan ekonomi kapitalis memiliki kecenderungan untuk dengan sengaja menutup akses pelaku ekonomi lokal dan nasional dapat menembus pasar global.ac. http://karya-ilmiah.unair. agar supaya mereka tetap dapat menguasai dan mendominasi pasar global.pdf . mereka hanya memiliki hak untuk memproduksi garam dengan kewajiban menyerahkan sepenuhnya hak penjualan pada pemilik dan pemiliklah yang menentu-kan harga. Pada dasarnya kondisi yang demikian sudah dapat dikategorikan sebagai eksploitasi. karena adanya unsur kesengajaan penutupan akses oleh pihak tertentu pada pihak lain untuk tidak mendapatkan keuntungan dari sumber daya yang ada.ac. http://journal. Adapun petani hanya dapat menjual pada pedagang yang telah dikenal yang bergerak di jalur pemasaran dan permodalan dan mereka ini yang cenderung mempermainkan harga. Daftar Pustaka 1.um.

ekor bercabang dan sisiknya halus. Usaha budidaya tambak ikan bandeng secara teoritis lebih memberikan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan. mengingat ikan bandeng hingga saat ini tetap menjadi komoditas budidaya yang paling banyak diproduksi dan Ikan bandeng mempunyai nama latin chanos-chanos. Ikan bandeng ini mempunyai bentuk tubuh langsing mirip terpedo. sebelah timur Tahiti. tetapi dekat dengan sungai. ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan sehingga para petani tidak banyak menemui hambatan. Hal ini dikarenakan dalam mengusahakan tambak selain didukung oleh kondisi fisik juga didukung oleh kondisi non fisik yang ada pada lingkungan. Warnanya putih gemerlapan seperti perak pada tubuh bagian bawah dan agak gelap pada punggungnya. berdasarkan salinitasnya tambak dapat dibagi menjadi : a. adalah tambak yang sangat dekat dengan garis pantai. Salah satu kegiatan perikanan darat yang banyak terdapat di pesisir pantai adalah budidaya ikan bandeng di dalam tambak. Ikan bandeng dikenal sebagai ikan petualang yang suka merantau. Usaha budidaya tambak terutama ikan bandeng secara teoritis lebih memberikan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan. Tambak dapat dibangun apabila memenuhi syarat yang paling utama. Menurut Murtidjo. adalah tambak yang terletak sangat jauh dari garis pantai. dan dari selatan Jepang sampai Australia Utara. c. yaitu telah dibuatnya bendungan sebagai tempat penampungan air yang berasal dari air laut serta memiliki sarana saluran air yang memudahkan penambahan air maupun pembuangan air pada waktu panen. adalah tambak yang agak jauh dari garis pantai. Tambak bersalinitas tinggi. Tambak bersalinitas menengah.TAMBAK IKAN BANDENG (Karmila F1E1 10 063) Perikanan darat adalah usaha perikanan yang meliputi segala penangkapan dan pemeliharaan ikan yang dilakukan di dalam batas garis pantai. Tambak bersalinitas rendah. ketentuan-ketentuan yang perlu diperhatikan : . yang merupakan sejenis ikan laut yang tersebar dari pantai Afrika Timur sampai kepulauan Timotu. dengan moncong agak runcing. Menurut Afrianto. mengingat ikan bandeng hingga saat ini tetap menjadi komoditas budidaya yang paling banyak diproduksi dan dikonsumsi di Indonesia. b. Dalam membudidayakan ikan bandeng di dalam tambak.

Tambak yang diusahakan haruslah dapat memberikan keuntungan dan berlangsung secara terus menerus. . . Pemilihan tempat atau lokasi dan kondisi lingkungan berdasarkan pada tekstur tanah. yaitu: 1. Faktor-faktor biologis seperti kesuburan perairan. Faktor-faktor fisik kimia yang harus diperhatikan dalam pembuatan tambak adalah: 1.5 ppm.Pergantian air minimal.Alkalinitas 50-500 ppm. serta kuantitas air.1.Suhu air. . 2. serta penyakit endemik harus diperhatikan karena mampu mengakibatkan kegagalan proses produksi. topografi. dan tekstur tanah). 3. ..PH. Elevasi (ketinggian tempat) calon lokasi tambak. . 3. speciesdominan. . ada beberapa faktor lingkungan yang sangat dominan dalam budidaya ikan bandeng. .0 0C. 200 % per hari.0-8. 26. 2. Keadaan tanah yang menjadi dasar tambak. 4.5.5-31. Keadaan tanah (letak. penyediaan air. 2. Faktor-faktor yang mendukung usaha budidaya ikan bandeng ini meliputi faktor fisik kimia dan faktor non fisik kimia (sosial ekonomi).5-8. Sifat-sifat perairan pantai dalam kaitan dengan pasang surut dan pasang arus perlu diketahui secara rinci. topografi. Perencanaan pembuatan tambak yang didasarkan pada pertimbangan biologis dan ekonomis serta cara pengelolaannya.Kecerahan 20-40 cm (cahaya matahari sampai ke dasar pelataran). Mampu menjamin ketrsediaan air dan pengairan yang memenuhi persyaratan mutu yang ditentukan. pH. temperatur air.Air terhindar dari polusi baik polusi bahan organik maupun an organik. keberadaan predator dan kompretitor. Menurut Slamet Soeseno. 6. rantai makanan. 3. . dan kualitas.Oksigen larut. Perencanaan usaha budidaya ikan yang meliputi ukuran unit usaha.

ketinggiannya harus disesuaikan dengan perbedaan pasang surut. tetapi bila ada aliran air di atas pematang maka semua bandeng akan keluar dari tambak (berkaitan dengan sifat rheotaksis positip). Pada umumnya pasang surut di Indonesia adalah 1 ± 2 meter. Pada musim kering. pada salinitas tinggi (> 60 ppt) pertumbuhan bandeng lebih lambat dan sangat peka terhadap stress yang diakibatkan oleh rendahnya oksigen terlarut serta gangguan fisik saat panen. Tanah merupakan faktor yang sangat penting dalam usaha pembudidayaan ikan bandeng. Jadi tekstur tanah ditentukan oleh perbandingan relatif dari ketiga jenis partikel tersebut. Tanah datar yang letaknya berada dekat pantai sangat cocok untuk lokasi tambak. kecuali di Jawa Timur yang mempunyai ketinggian pasang sampai 3 meter . Tanah yang digunakan untuk lokasi tambak dicari di daerah yang masih berada di daerah pasang surut. Tanah yang paling baik adalah tanah paya-paya yang dekat laut dan muara sungai. Untuk membuat tambak. Pada dasarnya tanah tersusun dari partikel-partikel pasir (sand). untuk mengurangi biaya produksi maka lokasi yang dipilih sebaiknya tidak termasuk daerah kawasan banjir. Namun demikian. Daerah ini jarang mengalami kekeringan dan mempunyai unsur hara yang cukup tinggi. Ketinggian seluruh tempat itu tidak boleh melebihi tinggi permukaan air pasang tertimggi dan juga tidak boleh kurang (lebih rendah) dari permukaan air surut terendah. Di dalam tanah ini mengandung bahanbahan organik yang diperlukan tumbuhan. Tanah yang baik untuk dijadikan tambak . Tanah merupakan tempat untuk tumbuh tanaman dan tempat kehidupan hewan mikroorganisme yang mampu menghancurkan sampah-sampah yang dibuang ke tanah. sebaiknya dipilih lokasi yang beriklim sedang yang tidak mengalami kemarau panjang. salinitas tinggi tidak terlampau mempengaruhi kelangsungan hidup bandeng bila air sering diganti. Pada tanah yang bergelombang sebaiknya dibuat datar terlebih dahulu.Iklim merupakan keadaan rata-rata cuaca dalam jangka waktu tertentu dan dalam suatu wilayah/daerah tertentu juga. Karena ikan bandeng termasuk hewan rheotaksis positip (menentang arus) maka faktor iklim. Oleh karena itu. Air pasang pada saat curah hujan tinggi biasanya mengakibatkan banjir di kawasan pantai. perlu diperhitungkan dalam kaitannya dengan osilasi pasang. Walaupun banjir tidak sampai merobohkan pematang pada tambak bandeng. liat (clay). terutama curah hujan. Untuk itu. dan debu (silt) yang proporsinya masing-masing akan menentukan teksturnya. Iklim merupakan salah satu fenomena alamiah yang sangat menentukan dalam keberhasilan budidaya.

Teknologi perbenihannya telah dikuasai dengan baik sehingga pasok benih tidak lagi tergantung pada musim dan benih dari alam. utamanya di daerah Sulawesi Selatan dengan memanfaatkan perairan payau dan pasang surut. secara teknis mudah diaplikasikan dan secara ekonomis menguntungkan. Jaminan pasar baik dalam maupun luar negeri masih terbuka. INFORMASI TAMBAHAN Budidaya ikan bandeng telah lama dikenal oleh petani dan seat ini telah berkembang di hampir seluruh wilayah perairan Indonesia. Pertumbuhannya cepat (1. dan pakan secara terencana. Teknologi budidaya ikan ini juga telah mengalami perkembangan yang begitu pesat mulai dari pemeliharaan tradisional yang hanya mengandalkan pasok benih dari alam pada saat pasang sampai ke teknologi intensif yang membutuhkan penyediaan benih. Mampu hidup dalam kondisi yang padat di keramba jaring apung (100-300 ekor/m3). umpan bagi industri perikanan tuna cakalang maupun untuk pasar ekspor.adalah tanah yang liat dan berlumpur. Tanah demikian sangat keras dan mempunyai kemampuan yang baik dalam menahan air. 7. Pakan komersial untuk ikan ini sudah tersedia dalam jumlah cukup hingga ke pelosok desa. 2. Ikan bandeng sebagai komoditas budidaya mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan komoditas budidaya lainnya dalam hal : 1.7-2.2. pengelolaan air. Teknologi budidayanya baik di tambak maupun dalam KJA telah dikuasai dengan baik. Efisien dalam memanfaatkan pakan FCR 1. Budidaya ikan bandeng tidak hanya berkembang di air payau saja namun saat ini juga sedang berkembang di air tawar maupun laut dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). 8. sementara . 5. Mampu mentolerir perubahan salinitas mulai dari 0-158 ppt sehingga areal budidayanya cukup luas mulai dari perairan tawar hingga ke perairan laut. 4. Ikan ini sangat digemari oleh masyarakat utamanya Sulawesi Selatan. Permintaan ikan ini dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan baik untuk tujuan konsumsi. 3. 6.6%/hari).

dan perairan semacamnya yang memenuhi persyaratan baik teknis. Penggunaan keramba jaring apung untuk budidaya bandeng di laut memiliki beberapa kelebihan di antaranya: 1. dan desain keramba telah banyak dilakukan. sosial ekonomi. industri. Demikian halnya dengan ikan bandeng yang diproduksi dalam keramba jaring apung dapat memiliki standar kualitas ekspor yaitu: 1. legalitas. Dagingnya kenyal dengan aroma yang khas sehingga sangat digemari sebagai ikan bakar di warung-warung sea food 5. Pengkajian tentang kelayakan lokasi. Ukurannya bisa mencapai 600-800 g/ekor sesuai dengan permintaan pasar . Sisik bersih dan mengkilat 2. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi budidaya bandeng adalah dengan memanfaatkan perairan laut seperti muara sungai. Mudah dalam pemanenan baik selektif maupun total 3. maupun lingkungannya. teluk. dan pariwisata yang pada gilirannya akan berdampak pada penurunan produksi. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perairan seperti tersebut di atas layak untuk dijadikan lokasi budidaya dengan sistem keramba jaring apung. Mudah dipantau dan tidak memerlukan pengelolaan air yang khusus seperti di tambak 4. laguna. Skala usaha dapat disesuaikan dengan kemampuan modal dengan menggunakan bahanbahan yang tersedia di lokasi budidaya. Kandungan asam lemak Omega-3 relatit tinggi jika dibandingkan dengan bandeng yang diproduksi pada tambak 4. Efisien dalam penggunaan lahan 2.areal budidayanya di darat semakin hari semakin menciut akibat banyaknya lahan tambak yang dikonversi untuk kebutuhan pembangunan lain seperti untuk perumahan. Produktivitasnya tinggi (350-400 kg/keramba 6 m3/musim tanam 6 bulan) 5. Tidak berbau lumpur 3. tata lelak.

dan saat ini baru terpenuhi 25%.tribun-timur. diperoleh data bahwa kebutuhan ikan bandeng untuk pasar spesifik berupa rumah-rumah makan sea food. rasa. http//: www. Riau. 2008. Dukungan lptek Teknologi budidaya bandeng dengan sistem keramba jaring apung di laut mulai dirintis oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP) Maros sejak tahun 1993. utamanya dalam hal bobot.500 ha dan tersebar di beberapa provinsi di Indonesia Dari luasan tersebut dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan dalam keramba jaring apung seluas 1% atau 3. dan sejak saat itu rutin dilakukan percontohan di berbagai daerah di Indonesia.695 ha. dan daerah lainnya di Indonesia. Batam. Bali. nampak bahwa lahan yang potensial untuk kegiatan budidaya laut diperkirakan mencapai 1. Saat ini budidaya bandeng dengan sistem KJA tersebut telah berkembang di beberapa daerah seperti Maluku. Sulawesi Selatan. Sulawesi Tenggara. hotel. 2005 . don pasar swalayan khususnya di Kota Madya Makassar diperkirakan mencapai 6 ton per hari. Potensi Sumber Daya Hasil identifikasi yang telah dilakukan terhadap wilayah pesisir dan laut. dan penampilan fisik.com/berita/ form98677 Warta Penelitian Perikanan Budidaya Volume II Nimor 1. Selanjutnya dikatakan bahwa problem utama yang dihadapi adalah kontinyuitas produksi. DAFTAR PUSTAKA Budidaya Bandeng. ukuran.Prospek Pengembangan Peluang Pasar Hasil penelitian sederhana yang dilakukan oleh Atjo & Syahrun (2000). Kriteria-kriteria yang dipersyaratkan tersebut akan dapat dipenuhi dan hasil budidaya bandeng yang berasal dari keramba jaring apung di laut. konsistensi mutu.9 jute ha. Dari potensi tersebut yang layak untuk budidaya ikan adalah 369.

Dilihat dari aspek pengetahuan. kepercayaan (teologis). petani mempunyai pendapatan yang dapat dikontrol karena pola panen yang terkontrol sehingga hasil pangan atau ternak yang mereka miliki dapat ditentukan untuk mencapai hasil pendapatan yang mereka inginkan. supplier factor sarana produksi perikanan. pengolah ikan. masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa transportasi dan lain-lain.KEHIDUPAN MASYARAKAT PESISIR (Inda Permatasari Ridwan F1E1 10 064) Berdasarkan pendapat Nikijuluw dalam Dietriech (2001). masyarakat pesisir mendapat pengetahuan dari warisan nenek moyangnya misalnya mereka untuk melihat kalender dan penunjuk arah maka mereka menggunakan rasi bintang. pada umumnya. dewasa ini sudah ada dari sebagian penduduk yang tidak percaya terhadap adatadat seperti pesta laut tersebut. masyarakat pesisir masih menganggap bahwa laut memilki kekuatan magic sehingga mereka masih sering melakukan adat pesta laut atau sedekah laut. . Mereka hanya melakukan ritual tersebut hanya untuk formalitas semata. Pelayan bergelut dengan laut untuk mendapatkan penghasilan. Selain itu. dan posisi nelayan sosial. Karakteristik masyarakat pesisir berbeda dengan karakterisik masyarakat agraris atau petani. Mereka terdiri dari nelayan pemilik.³nelayan menghadapi sumberdaya yang bersifat open acces dan beresiko tinggi. Sementara. dan terbuka´ (Satria. Dari segi penghasilan. ³Masyarakat pesisir itu sendiri dapat didefinisikan sebagai kelompok orang atau suatu komunitas yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir´. maka pendapatan yang mereka inginkan tidak bisa dikontrol. karakteristik masyarakat pesisir dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya. Berbeda halnya dengan masyarakat pesisir yang mata pencahariannya didominasi dengan pelayan. aspek pengetahuan. 2002)2. Hal tersebut menyebabkan masyarakat pesisir sepeti nelayan memiliki karakter yang tegas. Dalam bidang non-perikanan. Namun. nelayan bergolong kasta rendah. keras. buruh nelayan. dilihat dari aspek kepercayaan. pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya. pedagang ikan. Begitu juga dengan posisi nelayan sosial.

³Biasanya patron memberikan bantuan berupa modal kepada klien. Pengelolaan ini dilakukan dengan kegiatan nyata yang sesuai dengan warna dari kultur masyarakat setempat. berkaitan dengan permukiman/tempat tinggal mereka. 2002)3. Masyarakat pesisir yang memiliki karakter tegas. Program-program yang telah dilakukan pemerintah untuk pemberdayaan masyarakat pesisir telah banyak menghasilkan manfaat dan membantu meningkatkan pendapatan masyarakat. adalah pola . Oleh karena itu. tidak sedikit pula program-program yang tidak berhasil karena tidak sesuai dengan harapan masyarakat dan tidak ada keberlanjutan dari masyarakat. Selain itu LSM harus mampu memberikan masukan dan kritikan bagi strategi pengembangan dan pengelolaan kawasan pesisir. Dalam hal ini peranan aktif LSM sangat membantu dalam mengarahkan strategi pembangunan yang diperlukan masyarakat pesisir dan menunjang pengelolaan sumberdaya lingkungan laut di sekitar tempat tinggal mereka misalnya budidaya perikanan . Hal tersebut merupakan taktik bagi patron untuk mengikat klien dengan utangnya sehingga bisnis tetap berjalan´ (Satria. dan terbuka memerlukan berbagai strategi dan kegiatan. Contoh yang menunjukkan bagaimana masyarakat yang tinggal di tepi pantai mengadaptasikan dirinya. Dari masalah utang piutang tersebut sering terjadi konflik. menunjukkan adanya keragaman. masyarakat pesisir memiliki ciri yang khas dalam hal struktur sosial yaitu kuatnya hubungan antara patron dan klien dalam hubungan pasar pada usaha perikanan. namun konflik yang mendominasi adalah persaingan antar nelayan dalam memperebutkan sumberdaya ikan yang jumlahnya terbatas.yang bersifat fleksibel agar dapat berubah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka. Pemberdayaan masyarakat berbasis masyarkat merupakan salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan dan ketidakberdayaan yang dialami oleh masyarakat pesisir khususnya para nelayan. Beberapa contoh adaptasi yang berkaitan dengan tempat tinggal Adaptasi yang dilakukan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir pantai dan menggantungkan sumber penghidupannya dari sumber daya yang ada.Secara sosiologis. Namun. sangatlah penting adanya pihak yang dapat mengembangkan sumberdaya laut dan mengatur pengelolaannya. keras.

ipb. Sejalan dengan munculnya lahan-lahan baru (³tanah timbul´). Selain contoh di atas. sebagai lahan usaha. terutama. masyarakat dengan sengaja membuat jebakan-jebakan sedimen lumpur di pantai untuk mendapatkan lahan baru atau memperluas lahan yang sudah ada untuk kepentingan kegiatan tambak.wordpress.permukiman kelompok masyarakat Kampung Laut di kawasan Sagara Anakan atau daerahdaerah lain yang mengembangkan dan membangun rumah-rumah mereka di atas tiang-tiang pancang yang relatif tinggi yang menyesuaikan kepada pasang surut laut yang terjadi secara reguler.ac. pada banyak kasus. di beberapa tempat seperti di kawasan pantai Kabupaten Bekasi. pertumbuhan penduduk yang tinggi mendorong penduduk di kawasan pantai untuk merambah/membuka kawasan hutan . Sebagai contoh.student. mereka juga mengembangkan permukimannya.com/2011/10/08/proses-adaptasi-manusia-di-lingkunganpesisir/ . Upaya seperti ini dilakukan oleh masyarakat sebagai respon atas semakin terbatasnya lahan yang mereka miliki/kuasai.id/2010/06/20/masyarakat-pesisir/ http://ngurahadisanjaya.mangrove atau ³menciptakan´ lahan-lahan baru yang dapat digunakan sebagai lokasi permukiman dan. Daftar Pustaka http://famif08.

pro-job (penyerapan tenaga kerja) dan pro-growth (pertumbuhan). . Budidaya rumput laut memiliki peran penting dalam rangka meningkatkan produksi perikanan. yaitu´ Indonesia penghasil produk perikanan terbesar tahun 2015´. Untuk menunjang program pembangunan kelautan dan perikanan tersebut. yaitu pro-poor (pengentasan kemisknan). Melalui program ini diharapkan dapat merangsang terjadinya pertumbuhan ekonomi wilayah akibat meningkatnya pendapatan masyarakat setempat.Sosial Ekonomi Pembudidaya Rumput Laut (Aulia Fahdilah Tasruddin F1E1 10 068) Indonesia adalah Negara kepulauan dengan wilayah lautan yang sangat luas yaitu 70 % dari seluruh wilayah Indonesia. Dalam pembangunan diwilayah pesisir. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan visi dan misi. salah satu pengembangan kegiatan ekonomi yang sedang digalakkan pemerintah adalah pengembangan budidaya rumput laut. Guna mendukung visi dan misi tersebut maka usaha budidaya rumput laut merupakan salah satu jawaban dan pilihan yang paling tepat. Perwujudan dari pada tiga pilar tersebut. Di perairan Indonesia hidup berbagai biota laut. Berbagai keragaman jenis rumput laut hidup di daerah pesisir maupun yang hidup dalam tambak merupakan cerminan dari potensi rumput laut yang ada di Indonesia. pemerintah telah mewujudkan tiga pilar pembangunan. salah satu di antaranya yaitu rumput laut. Upaya meningkatkan produksi rumput laut dapat ditempuh melalui usaha budidaya dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relative sederhana dan biaya produksi yang murah. 2004). Sebagai jawaban dari pada visi dan misi tersebut adalah dengan ketersediaan SDM yang terampil dan kompoten dalam bidang budidaya khususnya budidaya rumput laut. Pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia dirintis sejak tahun 1980-an dalam upaya merubah kebiasaan penduduk pesisir dari pengambilan sumberdaya alam ke arah budidaya rumput laut yang ramah lingkungan dan usaha budidaya ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya juga dapat digunakan untuk mempertahankan kelestarian lingkungan perairan pantai (Ditjenkan Budidaya. Sehingga usaha budidaya rumput laut merupakan salah satu sumberdaya yang berbasis keunggulan untuk menggerakkan perekonomian masyarakat di daerah pesisir.

Khusus budidaya rumput laut di Kolaka hingga tahun 2010.000 Ha yang terletak di sepanjang pesisir dan pulau-pulau kecil. karena itu produksi per minggu sekitar 177. Dengan teknologi tersebut produksi rumput laut kering mencapai 1. (2) tersedianya lahan untuk budidaya yang cukup luas serta (3) mudahnya teknologi budidaya yang diperlukan (Departemen Kelautan dan Perikanan. Hal ini disebabkan rumput laut termasuk jenis komoditi yang mudah dibudidayakan. lahan dan bibit mudah dan murah. dengan 43 desa pesisir.500 .574 juta ton. dari 250 kelompok atau 1. yang dimanfaatkan seluas 4. Tanggateda. Namun yang dimanfaatkan baru mencapai 2. Wolo. Produksi rumput laut Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Pomalaa. Pengembangan kelompok budidaya juga ditingkatkan. khususnya jenis rumput laut yang hanya tumbuh di lautan tropis. Wundulako.65 ton.130 Ha. Dimana panjang garis pantai Kabupaten Kolaka 295 km. Sementara potensi lahan untuk pengembangan budidaya rumput laut Indonesia seluas 4. umur panen singkat hanya 45 hari. seperti Kappaphycus awarezii (cottoni).600 orang.000 kg/Ha yang sebelumnya hanya 700 kg/ Ha.525 ton/tahun. biaya investasi dan biaya produksi relatif murah. meningkat di tahun 2010-2014 sebanyak 2.869 rumah tangga perikanan (RTP).082 juta ton atau melewati target yang telah ditetapkan KKP sebesar 2.500 orang di tahun 2008. Teknologi budidaya rumput laut yang diterapkan oleh masyarakat saat ini yakni long line dengan menggunakan tali PE. Daerah pengembangan rumput laut telah meluas dan tersebar di beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Kolaka. 2001).5 juta Ha. atau kira-kira 17. Rumput laut Indonesia sudah diakui secara internasional sebagai bahan baku utama untuk sejumlah industri pengolahan rumput laut dunia.6 % dari potensi yang ada. Sementara produksi nasional tahun 2010 sebesar 3. Potensi pengembangan budidaya laut di Kabupaten Kolaka lebih kurang 17. serta pulau-pulau kecil (8 buah). Eucheuma denticulatum (spinosum) dan Gracilaria sp. dengan jumlah pembudidayaan 5. atau 28.600 orang.2. Produksi rumput laut menyumbang utama .900 kelompok atau 17. Samaturu.1 juta Ha atau sekitar 46. Selain itu teknologi yang digunakan cukup sederhana. Saat ini rumput laut merupakan salah satu komoditas prioritas dan unggulan bagi Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. produksinya baik dengan harga bersaing. Latambaga. dan Watubangga.Pengembangan budidaya rumput laut merupakan salah satu alternatif pemberdayaan masyarakat pesisir yang mempunyai keunggulan dalam hal : (1) produk yang dihasilkan mempunyai kegunaan yang beragam.

bapak 4 orang anak ini akhirnya mencoba untuk ikut dalam kelompok tani pembudidaya ikan untuk budidaya rumput laut (Pokdakan) Bina baru di Kelurahan Mangolo Kecamatan Latambaga Kolaka pada tahun 2009. Selain itu. Kabupaten Kolaka berencana melakukan pengembangan produksi rumput laut dengan perluasan areal budidaya dari 4. telah dapat meningkatkan pendapatan nelayan dan pembudidaya ikan sampai dengan Rp3 juta ± Rp 5 juta per bulan. Ditambah lagi pengembangan kebun bibit rumput laut menjadi 8 unit. dari sebesar 2. Dampak positif terhadap ekonomi masyarakat pembudidaya melalui budidaya rumput laut. Masih ada sekitar 7 ribu Ha areal pengembangan budidaya rumput laut yang belum dimanfaatkan. kemudian pedagang tersebut menjualnya ke eksportir yang ada di Makassar dan Surabaya. Sebelum menjadi petani rumput laut. menjadi 5. Kegiatan pemasaran rumput laut di Kabupaten Kolaka dimulai dengan sistem pemasaran lokal (pedagang pengepul). menyiapkan anggaran bagi kelompok pembudidaya rumput laut pemula. Syamsuddin bekerja sebagai penambang pasir. pemerintah daerah juga memberikan peningkatan anggaran untuk pengadaan mesin katinting. Setiap tahun produksi rumput laut terus mengalami peningkatan.574 juta ton pada tahun 2009 menjadi 3. dengan nilai anggaran dari masing-masing Rp65 juta menjadi Rp520 juta. dengan anggaran yang tadinya masing-masing Rp75 juta menjadi Rp1. Begitu juga dengan pembangunan gudang penyimpanan rumput laut 15 unit. pembangunan jalur dan batas-batas kawasan budidaya rumput laut guna menghindari konflik pemanfaatan kawasan. Setelah kering hasil panen tersebut dimasukkan ke dalam karung nilon kapasitas 70-80 kg untuk kemudian disimpan dalam gudang penyimpanan. Salah satu petani rumput laut yang mengalami kenaikan tingkat kesejahteraan karena rumput laut adalah Syamsuddin (40). warga kelurahan Kolakasih Kecamatan Lantambaga Kabupaten Kolaka.1 miliar.produksi perikanan budidaya.000 Ha di tahun 2014. Dengan semakin luas dan meningkatnya pemanfaatan rumput laut bagi keperluan bahan baku industri maka prospek usaha budidaya dan perdagangan rumput laut semakin cerah.130 Ha di tahun 2010. dan menyiapkan dana penguatan modal dengan pola kredit lunak sebesar Rp5 miliar. Proses pengolahan rumput laut yang telah dipanen diawali dengan proses pengeringan selama 3-4 hari di atas para-para dengan kisaran kadar air lebih kurang 32-35%.082 juta ton pada tahun 2010. . Namun karena pendapatannya tidak membaik.

Ia juga mendapat penyuluhan bagaimana budidaya rumput laut yang benar. Selang dua tahun ia sudah memiliki 900 bentang dengan panjang 25 dan 50 meter. Syamsuddin lalu mencoba menanam dan panen dengan hasil maksimal. Saat ini ia bisa menikmati hasil penjualan rumput kering sebanyak 1 ton setiap kali panen dengan harga jual ke pengepul sebesar Rp9 ribu ± Rp10 ribu per kg.´ ujarnya.20 http://DitjenkanBudidaya.500 untuk bentang ukuran 25 meter. Berkat dukungan teman-teman kelompoknya. ´Saya sangat bahagia karena kini bisa meningkatkan penghasilan saya dan merekrut tenaga kerja karena budidaya rumput laut. dan Rp3. Melihat potensi produksinya tinggi dengan masa tanam 40 hari sudah bisa dipanen.2004/budidayarumputlaut// diambil pada tanggal 28 desember 2011 jam 12.Saat itu ada bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka berupa tali PE untuk bentang tanaman rumput laut bagi petani.23 .com/content/view/13324/52/ diambil pada tanggal 28 Desember 2011 jam 13. Daftar Pustaka Sumber dari situs : http://www.setkab. Ia bahkan mampu mempekerjakan 10 orang untuk membuat bentang bibit dengan upah Rp2.id/mobile/index.500 untuk bentang ukuran 50 meter.16 http://kendariekspres.com. Syamsuddin menerima bantuan 70 bentang tali PE masing-masing sepanjang 25 meter.go.php?pg=artikeldetail&articleid=2837 diambil pada tanggal 28 Desember 2011 jam 12.

tetapi pertumbuhannya akan sangat lambat. Organisme pembentuk terumbu yang terpenting adalah hewan karang. Karang membutuhkan perairan dangkal dan bersih yang dapat ditembus cahaya matahari yang digunakan oleh zooxanthellae untuk berfotosintesis. Terumbu karang dapat tumbuh dengan baik di perairan laut dengan suhu 21° ± 29° C. oleh karena itu. Tergantung dari jenis. Masih dapat tumbuh pada suhu diatas dan dibawah kisaran suhu tersebut. dan kondisi perairannya. terumbu karang umumnya hanya tumbuh beberapa mm saja per tahunnya. Terdapat ribuan spesies yang hidup di kawasan terumbu karang. Fungsi Terumbu Karang y Pelindung ekosistem pantai . di sekitar mulut sungai atau pantai atau sekitar pemukiman penduduk akan lambat karena karang membutuhkan perairan yang kadar garamnya sesuai untuk hidup.KEHIDUPAN MASYARAKAT PENAMBANG BATU KARANG (Febrizah F1E1 10 077) Terumbu karang adalah struktur hidup yang terbesar dan tertua di dunia. Untuk sampai ke kondisi yang sekarang. Karang memerlukan salinitas yang tinggi untuk tumbuh. Itulah sebabnya terumbu karang banyak ditemukan di perairan tropis seperti Indonesia dan juga di daerah sub tropis yang dilewati aliran arus hangat dari daerah tropis seperti Florida. Pertumbuhan karang pembentuk terumbu pada kedalaman 18 ± 29 m sangat lambat tetapi masih ditemukan hingga kedalaman iebih dari 90 m. Amerika Serikat dan bagian selatan Jepang. Yang ada di perairan Indonesia saat ini paling tidak mulai terbentuk sejak 450 juta tahun silam. terumbu karang membutuhkan waktu berjuta tahun. Namun hanya sebagian yang menghasilkan kalsium karbonat pembentuk terumbu.

masih banyak jenis ikan dan organisme laut serta zat-zat yang terdapat di kawasan terumbu karang yang belum pernah diketahui manusia sehingga perlu penelitian yang lebih intensif untuk mengetahui µmisteri¶ laut tersebut. menyelam dan menikmati terumbu karang per tahun. membesarkan anaknya. Karenanya banyak hewan dan tanaman yang berkumpul di sini untuk mencari makan. baik untuk sumber makanan maupun mata pencaharian mereka. y Mempunyai nilai spiritual . dan berlindung.Terumbu karang akan menahan dan memecah energi gelombang sehingga mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan di sekitarnya. y Rumah bagi banyak jenis mahluk hidup di laut Terumbu karang bagaikan oase di padang pasir untuk lautan. y Daerah Penelitian Penelitian akan menghasilkan informasi penting dan akurat sebagai dasar pengelolaan yang lebih baik. ini artinya terumbu karng mempunyai potensial perikanan yang sangat besar. y Sumber obat-obatan Pada terumbu karang banyak terdapat bahan-bahan kimia yang diperkirakan bisa menjadi obat bagi manusia. Diperkirakan sekitra 20 juta penyelam . y Objek wisata Terumbu karang yang bagus akan menarik minat wisatawan sehingga meyediakan alternatif pendapatan bagi masyarakat sekitar. Selain itu. Diperkirakan. terumbu karang yang sehat dapat menghasilkan 25 ton ikan per tahunnya. Sekitar 500 juta orang di dunia menggantungkan nafkahnya pada terumbu karang. memijah. Bagi manusia. Saat ini banyak penelitian mengenai bahan-bahan kimia tersebut untuk dipergunakan untuk mengobati berbagai manusia. termasuk didalamnya 30 juta yang bergantung secara total pada terumbu karang sebagai penhidupan.

Selama 50 tahun terakhir. hasil survey P2O LIPI (2006) menyebutkan bahwa hanya 5. 15% terancam hilang 10-20 tahun kedepan dan 20% luasan terancam hilang 20-40 tahun mendatang. Laut yang terjaga karena terumbu karang yang baik tentunya mendukung kekayaan spiritual ini. Laporan status terumbu karang dunia yang dikeluarkan Global Coral Reef Monitoring Network (GCRMN) menyebutkan bahwa selama 2004 hingga 2008 luasan area terumbu karang semakin menurun. Dalam periode 2004 hingga 2008. laut adalah daerah spiritual yang sangat penting.Bagi banyak masyarakat. proporsi penurunan kondisi terumbu karang Indonesia telah meningkat dari 10% menjadi 50%.23% terumbu karang di Indonesia yang berada di dalam kondisi yang sangat baik. Kondisi Terumbu Karang Pada laporan Reef at Risk (2002) menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan status terumbu karang yang paling terancam. . Lebih lanjut. Di Indonesia sendiri 34% berada dalam kondisi sangat buruk 42% agak baik sedang hanya 21% dalam kondisi sehat dan 3 % sangat sehat. 19% luasan terumbu karang dunia telah hilang. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan terumbu karang saat ini dalam kondisi yang menghawatirkah mulai dari kondisi ozon kita saat ini yang merupakan efek dari rumah kaca.

Porites spp) dan tidak jarang karang yang diambil tersebut masih hidup. Pada daerah-daerah yang tidak memiliki bahan galian seperti batu yang dapat dipakai dalam pembuatan bangunan atau untuk memperoleh bahan-bahan bangunan tersebut sangat jauh. maka penambangan karang merupakan alternatif yang terbaik dan termudah yang dapat dilakukan. Di Sulawesi Selatan. walaupun banyak sekali masyarakat yang sadar bahwa kegiatan mereka dapat merusak ekosistim terumbu karang. Dengan begitu maka masyrakat yang tinggal di bagian pesisir yang akan mendapatkan imbasnya dan masyarakat yang ikut melakukan penambangan maupunn pengambilan terumbu karang akan merasakan akibatnya secara langsung pada musim-musim tertentu . terutama batu pada suatu daerah. Penyebab utama penambangan karang adalah tidak tersedianya bahan bangunan. jalan. Penambangan karang berpotensi menghancurkan ribuan meter persegi terumbu dan mengubah terumbu menjadi gurun pasir bawah air. Di Lombok (Mataram).bencana alam dan masih banyak lagi yang diantaranya oleh karena ulah dari perusahaanperusahaan penambangan yang tidak melakukan peraturan-peraturan yang telah diberikan baik yang telah mendapatkan surat izin terlebih lagi penambangan legal Adapun lagi sekarang yang merupakan ulah dari masyarakat setempat yang melakukan penambangan maupun pengambilan yang kita ketahui bersama bahwa pengambilan karang merupakan kegiatan merusak terumbu karang yang banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir pada umumnya. karang yang ditambang digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan kapur. Kalimantan Timur). sehingga alternatif termudah adalah mengambil dari terumbu karang. (banyak kasus di Maluku. perlindungan terhadap ekosistem pantai akan berkurang karena tidak mampu lagi memecah energy gelombang untuk mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan sekitarnya. Jenis yang umum diambil adalah karang batu (stony coral. ribuan meter kubik karang batu dan sebagian besar merupakan karang hidup dipakai untuk membuat tanggul-tanggul tambak yang diambil dari terumbu karang pada bagian depan tambak. Dampak Bagi Kehidupan Dari Penambangan dan Pengambilan Batu Karang 1. Karang yang diambil dipergunakan untuk membuat bangunan/rumah. lapangan bola.

dan yang paling fatal bila terjadi bencana alam di laut maka tak ada lagi yang dapat meredam ombak. 2. .Rumah yang digunakan bagi banyak jenis makhluk hidup di laut ini akan hilang, yang artinya bagi manusia potensial perikanan yang sangat besar dengan adanya terumbu karang tersebut akan berkurang dan untuk sumber makan maupun mata pencaharian mereka akan semakin sulit karena diperkirakan, terumbu karang yang sehat dapat menghasilkan 25 ton ikan per tahunnya. Sekitar 500 juta orang di dunia menggantungkan nafkahnya pada terumbu karang, termasuk didalamnya 30 juta yang bergantung secara total pada terumbu karang sebagai penghidupannya. Dengan begitu maka pendapan dan kehidupan bagian pesisirpun akan menurun dan ini akan sangat dirasakan oleh para nelayan sekitar atau yang berpencaharian disekitar pesisir.

3. Pencarian obat-obatan dengan terumbu karang akan semakin sulit dan akan semakin meningkat harganya.

4. Objek wisata yang juga merupakan sumber pendapan bagi sebagian masyarakat sekitar akan menurun. Dalam hal ini maka pemerintah harus lebih giat dalam melakukan peninjauan pada daerahdaerah tersebut dan memberikan pengetahuan yang penting pada masyarakat sekitar agar masalah-masalah yang dapat timbul bisa berkurang. Dengan begitu maka mata pencaharian maupun sumber makanan bagi mereka akan tetap ada dan kebersihan lautpun akan tetap terjaga dengan begitu maka kualitas hidup masyarakat pesisirpun akan semakin baik. Selain itu juga peraturan maupun hukum yang telah ada untuk perlindungan terhadap terumbu karang harus lebih ditegakkan agar para perusahaan maupun masyarakat yang melakukan penambangan tidak menimbulkan akibat yang dapat merugikan. Selain berpengaruh pada masyarakat sekitar maupun perusahaan penambangan terumbu karang juga memberikan keuntungan kepada Negara seperti di Negara kita Indonesia memberikan keuntungan pendapatan sebesar US$1,6 milyar/tahun. Nilai keseluruhan pelayanan dan sumber dayanya sendiri diperkirakan mencapai setidaknya US$ 61,9 milyar/tahun.

Oleh sebab itu pemberian pengetahuan tentang pentingnya terumbu karang kepada masyarakat pesisir sangatlah penting karena bagaimana cara hidup mereka saat ini juga dapat menimbulkan akibat ataupun gambaran kehidupan mereka kedepannya sebab mereka yang dapat merasakan langsung akibat perbuatan yang mereka lakukan.

Referensi http://www.terangi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=8%3Afaktor-faktoryang-merusak-terumbu-karang&catid=17%3Aterumbukarang&Itemid=12&lang=id#ixzz1hqSixN8I

³ Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Non Perikanan´ (Rika Hardiyanti Pagala F1E1 10 083)

( PENENUN )

Pembahasan : Populasi masyarakat pesisir didefinisikan sebagai kelompok orang yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir.

Mereka terdiri dari nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya, pedagang ikan, pengolah ikan, supplier faktor sarana produksi perikanan. Dalam bidang non-perikanan, masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa pariwisata, penjual jasa transportasi, serta kelompok masyarakat lainnya yang memanfaatkan sumberdaya non-hayati laut dan pesisir untuk menyokong kehidupannya. Terutama yang akan saya bahas yaitu masyarakat pesisir yang mata pencahariannya adalah menenun. Penenun merupakan pekerjaan populer bagi kaum hawa,terutama yang hidup dan bermukim di daerah pesisir maupun daerah yang terpencil. Menenun adalah kebiasaan dan tradisi sehat yang diwariskan secara turun temurun. Bahkan hanya dengan melihat secara terus menerus kebiasaan ibu-ibu mereka, gadis-gadis remaja dengan sendirinya bisa memulai menenun tanpa harus diajari. Kebiasaan, ketekutan, konsistensi dan selanjutnya adalah penemuan atas media penyaluran kreatifitas dan ekspresi, yang membuat para gadis remaja itu terpanggil untuk melanjutkan tradisi dari nenek moyang mereka.

selain sebagai mata pencahrian. 2. Sebagai mahar dalam perkawinan dalam bahasa daerah disebut sebagai ³belis´ nikah. Sebagai busana untuk penggunaan sehari-hari dan mentupi badan. Sebagai busana dalam tari adat dan upacara adat. 3. Sebagai pemberian dalam acara kematian dan sebagai wujud penghargaan.Gambar para gadis yang melanjutkan warisan nenek moyangnya yaitu menenun Kain tenun mempunyai banyak fungsi penggunaan di masyarakat. 7. berikut adalah fungsi dari kain tenun: 1. Sebagai alat untuk membayar hukuman jika terjadi ketidakseimbangan. Sebagai alat barter/transaksi . 5. 4. Sebagai penunjuk status social. 6.

Sebagai betuk cerita mengenai mitos dan cerita-cerita yang tergambar di motif. tampak pulau Maringkik Di pulau yang memiliki luas 16 hektar are ini. Tenun khas Maringkik terdiri dari tenun ikat kain Bugis. Sejauh ini. pemerintah daerah setempat dapat membantu mereka untuk memberikan pelatihan-pelatihan untuk peningkatan mutu dan kualitas tenunan. Penenun Maringkik mewarisi keahlian menenun dari nenek moyang mereka yang sejak dahulu mendiami pulau ini. tenun Maringkik belum dapat dipasarkan. Sebagai bentuk penghargaan bagi tamu yang datang berkunjung. hasil tenunan tersebut bisa membuat para ibu rumah tangga ini bisa membantu ekonomi keluarga. Proses menenun satu kain memakan waktu 7-14 hari. perempuanperempuannya menenun kain khas Maringkik.000. Rata-rata di tiap rumah di pulau ini memiliki alat tenun peninggalan leluhur mereka sehingga dua hingga empat perempuan di masingmasing rumah kesehariannya adalah menenun. tenun corak Palembang. Padahal.000 hingga Rp 250. Contohnya Dari dermaga Desa Tanjung Luar yang berada di bagian Selatan Pulau Lombok. hasil tenun mereka dipasarkan di pulau Maringkik serta di Tanjung Luar dan sekitarnya. Mereka sangat berharap. Proses pencelupan warna yang mereka jadikan motif. Termasuk juga keluhan mereka tentang susahnya memasarkan tenunan Maringkik. Tenun khas Maringkik berkembang alami sesuai kemampuan dan keahlian para penenun tradisional ini.8. adalah proses yang dianggap paling sulit. Makin banyak kembang atau coraknya maka harganya makin mahal. .motif nya. corak Tanjung dan yang mulai langka adalah tenun Mandar Tenunan khas pulau Maringkik dijual dengan harga Rp 200. Lebih jauh dari itu. di mana suami-suami mereka nota bene bermata pencaharian sebagai nelayan. 9.

G. Bogor. 2001. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Secara Terpadu.cc/2010/12/pesona-ttu.DAFTAR PUSTAKA - http://www. 21-22 September 2001.cybertokoh.com Bengen. Makalah pada Sosialisasi Pengelolaan Sumberdaya BerbasisMasyarakat.co.html . http://www. - ^ "Fungsi Kain Tenun".neonnub. D. Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful