Tugas Nutrisi Kelautan

KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR

KELOMPOK 2
1. Nur Sulviyana
2. Firda Ulfa Lusiana 3. Sudarman 4. Dian Sari Enimosa 5. Ershanty Rahayu 6. Yunita Silvana Lantapi 7. Sri Wuna Sari Nasir 8. Fauzyah Novrini Kasman Arifin 9. Rahmawati Nur Ariyanti 10. Ririt Yuliarti Taha 11. Karmila 12. Inda Permatasari Ridwan 13. Aulia Fahdilah Tasruddin 14. Febrizah 15. Rika Hardiyanti Pagala

F1E1 10 047
F1E1 10 004 F1E1 10 030 F1E1 10 044 F1E1 10 046 F1E1 10 048 F1E1 10 051 F1E1 10 055 F1E1 10 057 F1E1 10 058 F1E1 10 063 F1E1 10 064 F1E1 10 068 F1E1 10 077 F1E1 10 083

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2012

KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN PENANGKAP IKAN

(Nur Sulviyana F1E1 10 047)

A. Ekonomi, Sosial dan pendidikan

Pembangunan wilayah pesisir pada umumnya dikaitkan dengan upaya pengentasan kemiskinan nelayan yang kehidupannya tergantung pada usaha perikanan. Sektor perikanan pada hakekatnya dapat dikembangkan sebagai alternatif bagi perbaikan ekonomi masyarakat nelayan.

Gambar 1. Peta Desa Bandaran Bebarapa desa yang berada di ruang lingkup Nusantara berpenghasilan sebagai nelayan penangkap ikan yaitu Desa Bandaran. Desa ini berada di wilayah sekitar pesisir Pulau Madura. Desa ini semula bernama kampong cerek. Perubahan nama dari ³Cerek´ menjadi ³Bandaran´ terjadi ketika desa ini berkembang menjadi ³bandar´ ikan. Beberapa definisi tentang masyarakat nelayan yang di definisikan oleh para ahli yaitu: Masyarakat nelayan adalah masyarakat yang lingkungan pemukimannya berada pada wilayah peralihan antara daratan dengan lautan yang disebut pinggir pantai atau tepi laut. Masyarakat pesisir atas nelayan, pembudi daya ikan, dan pedagang hasil laut, serta masyarakat nelayan yang kehidupan sosial ekonominya tergantung pada sumber daya kelautan. Masyarakat nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang tergantung pada hasil laut, baik dengan cara

melakukan penangkapan atau budidaya yang pada umumnya tinggal di pinggir pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya. Mengacu pada definisi tentang masyarakat nelayan. Definisi ini menggambarkan keadaan Desa Bandaran yang merupakan sebuah potret kehidupan desa nelayan tradisional, yang dalam menggerakkan aktivitas perekonomiannya sangat mengandalkan pada mata pencaharian sebagai nelayan, dan sedikit sekali yang memiliki mata pencaharian tetap. Selain itu, para nelayan dan beberapa pelaku ekonomi setempat (juragan pemilik kapal, bakul ikan) mengelola dan mengembangkan aktivitas perekonomian mereka secara ³swasembada´, yaitu bertumpu pada pemberdayaan potensi daerah dan modal yang terdapat di lingkungan setempat (lokal), yang merupakan ciri khas dari sebuah struktur ekonomi desa. Kondisi ketika musim kemarau panjang, matapencaharian pokok masyarakat yang berada di desa Bandaran pesisir, adalah sebagai nelayan, serta hanya sebagian kecil di antaranya bermatapencaharian selain nelayan. Walaupun masyarakat desa Bandaran pesisir tersebut berada pada daerah yang tidak terlalu subur, dan banyak menggantungkan hidup pada hasil penangkapan ikan di laut, namun secara ekonomis kehidupan mereka tidak dapat dikatakan sebagai masyarakat terbelakang dan miskin, bahkan, dari hasil penangkapan ikan di laut itu, sebagian besar dari mereka memiliki rumah tembok, fasilitas rumah tangga ³modern dan canggih´, untuk ukuran ³masyarakat tradisional´ (traditional peasant societies), dan mobil. Seperti lazimnya pemukiman masyarakat nelayan lain di Pulau Madura, rumah-rumah penduduk setempat cukup padat, berjejal, tidak menganut pola penataan rumah seperti dalam masyarakat petani pedalaman, serta mengesankan sebuah ³pemukiman kumuh´. Pada umumnya rumah-rumah mereka menghadap ke laut. Ketika berjalan di perkampungan sangat sempit dan berkelok-kelok, sehingga apabila berpapasan salah satu harus mengalah, namun, apabila diperhatikan, sulit dibayangkan bahwa daerah itu adalah daerah nelayan, dengan mata-pencaharian ³satu-satunya´ adalah menangkap ikan di laut. Kondisi rumah-rumah mereka yang berderet dari Timur ke Barat sepanjang 500 meter sebelah utara dan selatan jalan raya antara Pamekasan dan Sampang, tidak begitu jauh berbeda dengan rumah-rumah pemukiman orang-orang kota. Deretan bangunan rumah pemukiman penduduk di desa Bandaran itu ibarat sebuah ³kota kecil di tepi pantai´ (a little state in the coast), lengkap dengan berbagai aksesoris peralatan rumah tangga ³modern´, berselang-

Anak-anak mereka. Kepedulian masyarakat setempat terhadap arti penting pendidikan bagi masa depan kehidupan anak-anak mereka. Sedangkan. Sebagai daerah pemukiman cukup padat. Anak-anak mereka terutama yang perempuan. yang hingga kini tetap bertahan dan masih banyak digunakan oleh nelayan tradisional penangkap ikan di desa Bandaran adalah dengan jenis jaring lingkar (sleret). mulai berubah sejak dasa warsa 90-an. (2) jaring gondrong. perhatian dan tingkat partisipasi penduduk terhadap pendidikan anakanaknya sangat kurang. laki-laki dan atau perempuan. mereka membeli di kota Kabupaten (Pamekasan atau Sampang). dan hanya satu-dua orang saja yang bisa mencapai jenjang Perguruan Tinggi. dan jaring gondrong) merupakan sistem penangkapan utama atau umum diterapkan di dalam menangkap ikan di laut. rakat. baik yang terbuat dari bambu maupun kayu. telah mulai ada yang disekolahkan hingga jenjang SMTA. terutama karena alasan akan ³dikawinkan´. Sistem Penangkapan Ikan di Laut Bagi masyarakat nelayan di Desa Bandaran. upaya mereka untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya.Walaupun dengan tingkat persentase yang tidak terlalu tinggi. kecuali sebagian kebutuhan sandang dan papan yang tidak terdapat di desanya atau terdapat kekurangan. dan (4) rakat. juga berbagai perabot rumah tangga khas masyarakat nelayan. sistem penangkapan ikan melalui bagan tidak digunakan mengingat kondisi laut di desa Bandaran ini cukup dalam dan terjal sehingga tidak memungkinkan penggunaan sistem bagan. itupun tidak seluruhnya tamat. (3) jaring lingkar (sleret). Ada tiga jenis jaring (phajang) yang biasa digunakan untuk keperluan penangkapan ikan di laut. Di antara keempat jenis sistem penangkapan ikan dengan menggunakan sisem jaring di atas. disamping sistem pancing. pada umumnya hanya bersekolah hingga jenjang SD. jaring lingkar. Sungguh merupakan sebuah mozaik desa yang sangat mencengangkan. B. Di sisi lain. yaitu: (1) jaring lepas (sethet). sistem jaring (jaring lepas. dan jaring gondrong. sedangkan jaring lepas (sethet) kini hanya sebagian kecil nelayan yang . tampaknya dapat dipenuhi sendiri dari berbagai fasilitas warung atau pertokoan yang ada di desanya.seling dengan rumah-rumah desa khas penduduk kampung nelayan.

tidak semata-mata didasarkan pada hubungan . jraghan kepala dan awak perahu/kapal di atas tidaklah terlalu ketat. tetapi berkelompok. terdiri dari jenis yang paling besar hingga yang terkecil. (3) pandhiga. yaitu: kapal sleret. Sebagai sebuah (organisasi) kelompok nelayan pola relasi kerja. Organisasi dan Pola Relasi Kerjasama Antar-Nelayan Kehidupan para nelayan Desa Bandaran bukanlah bersifat individual. Hal ini menunjukkan betapa faktor-faktor sosial dan budaya bercampur baur dengan faktor-faktor ekonomi. mengingat bahwa penggunaan ketiga jenis jaring tadi secara ekonomis lebih menguntungkan. suka-hati dan didasarkan atas ³kesertaan secara sukarela´. Hubungan di antara mereka pun sangat longgar. baik antara juragan perahu. Organisasi dan hubungan kerjasama di antara jraghan praho/kapal. Setiap kelompok nelayan terdiri dari: (1) juragan pemilik kapal/perahu.menggunakannya (di desa Bandaran kini hanya tinggal 5 buah). (2) juragan kepala perahu. dan pakesan kecil (thitil). juragan kepala dan phandiga. Hal ini. terbuka. atau antar anggota nelayan sendiri. bukan terjadi dalam kerangka hubungan kerja antara ³atasan´ dan ³bawahan´ yang bersifat ³hubungan pengabdian´. Berbagai jenis perahu yang digunakan para nelayan desa Bandaran untuk menangkap ikan yang ada sekarang. tetapi dalam kasus-kasus tertentu bahkan seorang juragan pemilik perahu harus merekrut anggota nelayannya dengan ³cara membeli´. tetapi lebih bersifat ³kolegialisme´ dan ³kekeluargaan´. edher. sekalipun terdapat klasifikasi di antara mereka sesuai dengan spesifikasi kerja masing-masing. Gambar 2 C.

tanpa ada paksaan. sistem ³membeli´ (melle) adalah perekrutan seseorang dalam sebuah kelompok nelayan dengan cara membeli atau membayar agar yang bersangkutan mau menjadi anggota kelompok perahunya. secara sukarela. dan (2) membeli. mengingat pentingnya peran dan tanggungjawab dia sebagai ³pemegang komando´ dalam suatu operasi penangkapan ikan. Demikian pula. serta merupakan lahan yang sangat potensial bagi keduanya untuk terlibat dalam hutang yang bertumpuk-tumpuk. Khusus untuk seorang juragan kepala. Longgarnya ikatan keorganisasian dan hubungan kerjasama kemitraan di antara pemilik kapal. mereka pun dapat keluar dari keanggotaan suatu kelompok nelayan tersebut kapan mereka menghendaki. faktor-faktor yang bersifat ³kekeluargaan´ juga mewarnai pola relasi kerjasama di antara mereka. tanpa harus menunggu habisnya satu mosem petthengan. atau dengan berbagai persyaratan sebagaimana layaknya sebuah usaha profesional. Artinya. . tidak terlalu prosedural. Sistem atau pola rekrutmen keanggotaan nelayan dilakukan secara: (1) sukarela. atas dasar kesukarelaan yang bersangkutan untuk menjadi anggota kelompok nelayan. Adanya sistem pembelian anggota kelompok nelayan untuk keperluan pengoperasian perahu/kapal seperti ini. maka hanya dipersyaratkan bagi setiap nelayan yang telah memiliki banyak pengalaman di bidang penangkapan ikan di laut serta luasnya hubungan dan komunikasi dengan berbagai kelompok nelayan yang ada di daerah itu atau di luar desa Bandaran. untuk mendapatkan anggota seorang juragan harus membeli orang-orang yang akan dijadikan anggota pandhiga perahunya. atau kurang memadai. juragan dan awak perahu tersebut tampaknya disebabkan oleh pola rekrutmen anggota yang juga tidak terlalu ketat. siapapun orangnya. adalah perekrutan seseorang dalam sebuah kelompok nelayan yang terbuka bagi siapa saja.ekonomi-bisnis. sehingga. Cara sukarela. Di lain pihak. menyebabkan adanya hubungan ³hutang-piutang´ yang cukup rumit di antara mereka dan seringkali menyebabkan posisi ³menawar´ para phandhiga atau jraghan kepala berada pada posisi lemah dibandingkan para pemilik perahu. dia dapat masuk menjadi pengikut atau awak perahu (pandhiga) dari seorang pemilik perahu tertentu dan/atau para pemilik perahu yang lain. Sistem membeli ini dilakukan manakala sebuah kapal/perahu tersebut pada setiap hari atau setiap musim melaut dapat dikatakan sedikit atau sama sekali tidak membawa hasil tangkapan ikan yang banyak (ta¶ olleyan). atau apabila menurut mereka kapal/perahu yang mereka ikuti kurang memberikan hasil yang mencukupi atau memuaskan kebutuhan diri dan keluarganya.

Sistem Pembagian Hasil Ikan Dalam kaitan bisnis penangkapan ikan di desa Bandaran.D. maka seluruh biaya perawatan. Berapapun hasil perolehan ikan. sedangkan sekitar 2/3 (65%) bagian lainnya dibagi menjadi 20 bagian untuk seluruh awak kapal/perahu. Seperti pada sistem pembagian ikan pada jenis kapal sleret di atas. dan mesin. jaring. memang sebanding dengan investasi yang telah dia keluarkan untuk pengadaan perahu. pandhiga. dan/atau orang-orang lain yang terlibat dalam proses persiapan dan pelaksanaan operasi penangkapan ikan. sedangkan 50% sisanya untuk seluruh awak perahu. dan mesin. Dalam masyarakat nelayan desa Bandaran. dikenal dua sistem pembagian hasil ikan tangkapan yang didasarkan pada ³jenis perahu yang digunakan´ dan ³jaring (alat penangkapan ikan) yang digunakan´. sejalan dengan semakin ketatnya persaingan di antara para juragan pemilik perahu. Untuk jenis perahu besar. Kendatipun demikian. banyak atau sedikitnya hasil ikan sama sekali tidak berpengaruh terhadap sistem pem-bagian hasil ikan di antara jraghan kapal/perahu. Selain itu. jaring. Apabila diperhatikan. serta anggota nelayan lain yang termasuk anggota kelompok nelayan tersebut. atau jenis kapal kecil (sampan/edher dan pakesan kecil) juga apakah menggunakan alat berupa jaring atau pancing (khusus untuk jenis kapal kecil). tampaknya juragan pemilik perahu umumnya tetap mendapatkan pembagian hasil ikan rata-rata lebih tinggi dari para awak kapal. besarnya jumlah penerimaan dari seorang juragan pemilik perahu pakesan kecil dan sampan (edher) tersebut. dalam sistem pembagian ikan hasil tangkapan di atas. yaitu apakah menggunakan jenis kapal/perahu besar (sleret dan pakesan besar). Namun. karena dalam hal terjadi kecelakaan atau kerusakan pada perahu. perbaikan atau bahkan penggantiannya yang baru sepenuhnya menjadi tanggungan dan atas modal dari juragan pemilik perahu tersebut. Hal ini berbeda pada kapal besar jenis sleret dan pakesan besar yang seluruh biaya perawatan. seorang pemilik perahu/kapal tidak menentukan ³target minimal´ yang harus dipenuhi atau dicapai oleh para jraghan kepala atau awak kapal/perahunya berkenaan dengan hasil tangkapan ikannya. jraghan kepala. . sistem pembagian ikannya adalah 50% dari seluruh ikan hasil tangkapan adalah bagian pemilik perahu. dewasa ini pemilik perahu hanya mendapat sekitar 1/3 bagian (atau 35%). sistem pembagian hasilnya tetap tidak berubah.

atau sebesar 2. Namun. untuk jenis perahu kecil terbagi lagi menjadi dua sistem. tokang nampo dan tokang jagha¶an mendapatkan masing-masing ½ bagian. tergantung apakah jaringnya memperoleh hasil banyak. sehingga secara keseluruhan mendapatkan perolehan sebanyak 15% ± 60%. apabila menggunakan jaring gondrong pembagiannya adalah: (1) juragan pemilik perahu antara 10% ± 40%.perbaikan dan/atau penggantian yang baru diambilkan dari uang perbaikan/perawatan yaitu sebesar 5% ± 10% (sistem pembagian lama). maka selain mendapatkan bagian yang telah ditetapkan di atas. tetapi memperoleh bagian dari hasil pemberian sekadarnya Gambar 3 Jenis-jenis kapal (sakadharra) atau atas dasar kerelaan dari para nelayan.14% (sistem pembagian baru). Apabila menggunakan jaring sethet. (2) awak perahu mendapatkan bagian yang bervariasi. tokang koras (harfiah: ³tukang menguras´ air di dalam perahu di tengah laut ketika sedang melaut) tidak mendapatkan bagian tersendiri. maka total bersih penerimaannya sebanyak 5% ± 20%. sedangkan awak perahu masing-masing mendapatkan 1 bagian (jumlah awak perahu antara 4-6 orang). Karena seluruh anggota nelayan berjumlah 1-4 orang. Sementara itu. tetapi oleh karena dia juga dapat merangkap sebagai tukang nampo. secara umum mereka dapat memperoleh total bagian bersih sebanyak 85% dari jumlah udang hasil pancingan mereka. maka sistem pembagiannya adalah 4-5 bagian untuk juragan pemilik perahu. (3) tokang nampo mendapatkan bagian yang diberikan oleh masing-masing anggota nelayan sebanyak 5%. juga masih memperoleh tambahan bagian lagi antara 5% ± 20%. . Namun. sedikit atau tidak.

Artinya. Dalam banyak kasus di lapangan. tetapi kadang-kadang juga dilakukan di tengah laut. para nelayan atau juragan kepala tersebut akan menerima uang hasil pembelian ikan dari bakul µsenantiasa kurang¶ . Hal ini terjadi. daripada atas dasar ³sukarela´. Menjadi ³kewajiban´ atau ³keharusan´ bagi para nelayan dan juragan kepala penerima uang tadi untuk menjual atau menyerahkan sebagian atau seluruh ikanikan yang menjadi bagiannya²sesuai dengan kesepakat-an²kepada bakul yang telah memberinya uang. ada yang sebagian langsung dijual atau diserahkan kepada para bakul ikan yang datang ke tengah laut dengan menggunakan perahu. Pola jual-beli ikan dengan sistem ³uang pengikat´ (pesse panjher) tersebut memang tidak selalu merugikan pihak nelayan dan juragan kepala. hubungan jual-beli ikan antara para nelayan dan juragan kepala di satu pihak dengan para bakul ikan di lain pihak sering bersifat ³mengikat´.E. Relasi dan praktik jual-beli yang demikian ini telah menjadi pola umum dalam hampir setiap relasi dan jaringan perdagangan ikan yang berlaku di kalangan nelayan tradisional di desa Bandaran. juragan perahu. dalam banyak hal telah menjadi kesepakatan di antara kedua belah pihak. Kebiasaan memberikan uang perangsang ini. Dalam aktivitas jual-beli tersebut. juragan kepala. walaupun sebenarnya uang yang dibayarkan²saat itu juga atau kemudian²oleh para bakul kepada mereka tidak pernah sama. (2) bakul ikan (bakol jhuko¶). hasil ikan bagian masing-masing awak kapal dan juragan kepala. Uang tersebut merupakan ³uang muka´ (pesse panjher) dari bakul ikan kepada para nelayan dan juragan kepala dari hasil penjualan ikan yang diterimakan kepada bakul ikan. (3) tengkulak (tokang kolak jhuko¶). karena para nelayan dan juragan kepala tersebut secara rutin dan berkesinambungan mendapatkan ³uang pengikat´ (pesse panyengset) dari para bakul ikan. Aktivitas jual-beli tersebut terjadi antara (1) nelayan. ada pula yang dibawa ke darat untuk dijual atau diserahkan kepada para bakul ikan yang ada di darat. Pemberian uang tersebut tujuannya tidak lain adalah agar para nelayan dan juragan kepala tadi menyerahkan atau menjual ikan kepada si bakul ikan. bahkan lebih rendah dari harga jual riil ikan seandainya dijual langsung di pasar lokal. Pola Relasi dan Jaringan Penjualan Ikan Transaksi jual-beli ikan/udang nelayan di desa Bandaran pada umumnya dilakukan di darat seperti dalam masyarakat nelayan di Pulau Madura lainnya.

di samping perlu uang ekstra untuk biaya pengeringan. atau hal-hal praktis lainnya daripada semata-mata pertimbangan bisnis-ekonomi yang berorientasi pada mencari untung sebesarbesarnya. tidak ada permainan harga jual antara bakul yang satu dengan bakul yang lain. atau ketika menjelang lebaran mereka kembali mendapatkan . yang bagi mereka mungkin tidaklah mudah diperoleh dari orang lain. Bagi bakul ikan sendiri. atau tidak melaut). adalah lebih disebabkan pada pertimbangan kecepatan dan kemudahan menjual ikan serta memperoleh uang. misalnya ke pasar kota Pamekasan. sehingga jumlah uang yang diterima oleh para nelayan dan juragan kepala dari para bakul siapapun dia setiap orang adalah setara. apakah untuk keperluan modal usaha rumah tangga (meracang. harga jual rendah/murah dan atau apabila mereka bawa ke pasar di luar daerah mereka sendiri. yang diperoleh dari selisih antara uang yang diberikan kepada para nelayan dan juragan kepala rekanannya dengan uang yang sebenarnya diperoleh dari hasil penjualan ikan tadi. Bahkan. selain masih harus mengeluarkan uang tambahan untuk transportasi juga belum dapat dipastikan dapat segera laku dengan cepat atau berharga tinggi. Dalam hal ini.dari harga jual ikan di pasaran. apabila mereka menjual langsung ikan-ikan tersebut di pasar jalanan (pasar di pinggir jalan). dari hasil penjualan ikannya itu dia juga masih mendapatkan keuntungan. Kecenderungan para nelayan dan juragan kepala untuk menjual ikan kepada bakul yang telah ³mengikatnya dengan uang pengikat tadi. serta tenaga. Para nelayan itu pun secara rutin masih mendapatkan barang-barang lain seperti rokok (ketika dia istirahat. maka ikan-ikan tersebut harus dikeringkan (jhuko¶ kerreng). yaitu kemudahan untuk mendapatkan hutang (otang) atau pinjaman uang (nginjham pesse) dari para bakul rekanannya. dengan adanya uang pengikat ini. selain itu bunganya pun tidaklah terlalu tinggi (maksimal 5% perbulan). adalah karena mereka akan mendapatkan fasilitas tambahan dari para bakul ikan. Sistem pemberian hasil penjualan ³di bawah harga´ tersebut berlaku umum atau sama untuk seluruh bakul. yang tentunya harga jualnya akan lebih murah dibandingkan apabila dijual dalam bentuk ³ikan basah´ (jhuko¶ odi¶). apabila ikan yang dijual sendiri tadi tidak laku. selain dia dapat menjual harga sesuai dengan keadaan pasar dan jenis ikan yang dijual. dll) atau pun untuk keperluan keluarga yang lain. tidak ada perbedaan. Hal lain yang menjadi daya tarik dari para nelayan dan juragan kepala melakukan praktik bisnis semacam itu. sebab bagi para nelayan dan juragan kepala ada risiko yang akan diterima. yaitu ada kemungkinan tidak laku.

dan juragan perahu. dikarenakan jaringan pemasaran ikan dari desa Bandaran ini hanya untuk konsumsi pasar-pasar lokal yang berada di kota Pamekasan dan Sampang. sarung. kopiah. pola jual-beli ikan dengan sistem ³uang pengikat´ juga terjadi antara para tengkulak ikan yang memberikan uang perangsang dengan para bakul ikan. akan tetapi keberadaan TPI ini hanya efektif pada awal-awal pendiriannya saja. Selain sebab-sebab di atas. Praktik jual-beli di atas. juragan kepala. padahal pembangunan TPI tersebut pada awalnya merupakan inisiatif pemerintah dalam hal ini Dinas Perikanan untuk memudahkan dan memberikan keuntungan ekonomis yang lebih besar bagi para nelayan.³sesuatu´ dari para bakul rekanan bisnisnya seperti: pakaian. walaupun bukan merupakan gejala umum seperti halnya hubungan jual-beli antara nelayan dan bakul seperti di atas. dan dalam hal-hal demikian itu telah menimbulkan hubungan jual-beli yang bersifat ³patron-client´ (hubungan pelindung-klien) di antara mereka. karena pasar tidak selalu memberikan respon positif terhadap ³hasil harga lelang´ yang disepakti di TPI. dan sejak beberapa tahun yang lalu semakin tidak diminati oleh para nelayan atau juragan. senantiasa dipelihara dan semakin diperkuat. . Juga karena seringkali para pembeli yang telah memberikan ³harga tertinggi´ di TPI tersebut banyak yang tidak segera melunasi uangnya. malah tidak jarang terjadi penagihan yang tidak kunjung terselesaikan sehingga para pemilik ikan pun merasa dirugikan. Sejumlah alasan yang dikemukakan adalah. sandal atau barangbarang kebutuhan lebaran lain untuk keluarga mereka. terjadinya praktik jual-beli ikan dengan sistem ³uang pengikat´ juga disebabkan oleh kurang berfungsinya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang ada. walaupun hal tersebut tidak dapat dikatakan bahwa pola relasi tersebut hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. tetapi pada umumnya di antara mereka terdapat hubungan jual-beli yang relatif bebas sehingga setiap tengkulak dapat menguhungi setiap bakul untuk mendapatkan berbagai jenis ikan yang dibutuhkan atau diminati oleh para pembeli di pasar asal mereka sementara para bakul ikan itu dapat pula secara bebas menjual ikan-ikannya kepada setiap tengkulak sesuai dengan harga pasaran atau harga yang lebih tinggi dari harga penawaran tengkulak yang lain.

yaitu juragan pemilik perahu. yaitu pada kemampuan atau keahlian mereka untuk meyakinkan para pemilik ikan agar menyerahkan atau menjual ikan kepada dirinya. serta ³pemupukan modal´ yang sebenarnya bukan sebagai bentuk investasi dalam pengertian teori ekonomi. Dengan jumlah armada kapal perahu yang dimiliki (antara 1-5 buah). garam (buja). Kepemilikan modal dalam perdagangan ikan di desa Bandaran ini tidak terlalu besar. seorang juragan pemilik . sebagaimana umumnya struktur ekonomi desa. serta memiliki jaringan perdagangan di tingkat regional atau ekpor. dalam aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran ini juga terdapat sejumlah pedagang besar dari luar Bandaran yang disebut tauke yaitu pelanggan tetap bermodal besar. maka ikan-ikan tersebut diborong (ebhurung) oleh Kepala Desa. akan tetapi sekarang ini mereka sudah tidak diperkenankan lagi untuk memborong ikan-ikan hasil tangkapan nelayan setempat. dan tengkulak. Keberadaan kepemilikan kapal/perahu serta modal yang dimiliki merupakan penggerak utama dalam aktivitas penangkapan ikan dan perdagangan. juga agar keuntungan tetap berada di pihak masyarakat desa Bandaran sendiri. Untuk mencapai maksud itu. dibangun dan didukung oleh pola-pola kepemimpinan ekonomi yang juga bersifat ³lokal´. dan dari tangan Kepala Desa inilah para pedagang lokal (bakul) serta para tengkulak ikan yang berasal dari luar desa Bandaran membeli ikan sesuai dengan harga yang berlaku di pasar lokal. Hal ini. bahkan tidak sedikit dari para bakul yang berperan sebagai ³pedagang pemasok dan perantara´ dalam aktivitas penjualan ikan hasil tangkapan nelayan kepada para tengkulak ikan hanya atas dasar prinsip ³kepercayaan´ (saleng parcaja). Juragan pemilik perahu/kapal merupakan pelaku terpenting dalam aktivitas perekonomian desa dalam masyarakat nelayan Bandaran. para bakul. Selain itu. Kepemimpinan Ekonomi dan Pengembangan Struktur Ekonomi Lokal Berbeda dengan relasi jaringan perdagangan komoditas lokal di daerah lain di Pulau Madura seperti tembakau (bhako). atau ikan teri (jhuko¶ kenduy) dan nener (bibit ikan bandeng) yang pada umumnya melibatkan para pelaku ekonomi berskala besar dan lintas-lokal. pengembangan ekonomi lokal desa Bandaran. dimaksudkan selain agar tidak terjadi spekulasi harga jual-beli ikan yang dianggap dapat merugikan nelayan. memiliki gudang atau pabrik pengolahan ikan. para pelaku ekonomi utama dalam aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran tetap berada di tangan masyarakat setempat. Dengan demikian.F.

para nelayan/juragan kepala dan nelayan dapat menjual ikannya serta memperoleh uang dengan cepat tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan lagi. para juragan pemilik kapal/perahu ini telah mampu mengoptimalkan keberadaan sumber daya manusia setempat. kuatnya relasi bisnis antara nelayan/juragan kepala dan nelayan dengan para bakul ikan. yang dalam banyak hal menyerupai ³patron-client relationship´. walaupun ada risiko terhadap kemungkinan terjadinya perolehan pendapatan yang relatif lebih rendah dari pendapatan yang mungkin bisa diperoleh apabila mereka memperdagangkannya langsung di pasar jalanan setempat atau ke pasar-pasar lokal di luar daerah. dan alat-alat pemuas kebutuhan ³modern´ lainnya. Adanya hubungan ³patron-klien´ dalam relasi bisnis antara nelayan/juragan kepala dan nelayan dengan para bakul ikan ini. sehingga secara ekonomis mereka mempunyai kesempatan memperoleh keuntungan-keuntungan ekonomis dari hasil pembagian ikan yang menjadi haknya bagi pemenuhan kebutuhan hidup keseharian. Secara fungsional. dan antara 4-6 orang untuk perahu kecil jenis pakesan kecil dan sampan (edher). Bakul ikan yang menjadi ³pemulung´ bertindak sebagai pelaku ekonomi kedua dalam aktivitas jual-beli ikan di tingkat lokal. Selain itu. Sekalipun posisi seorang juragan perahu bermakna penting bagi kehidupan seorang nelayan di desa Bandaran ini. 1989). namun dia tidak memiliki dan tidak berkehendak untuk melakukan penguasaan yang bersifat monopoli terhadap para juragan kepala atau anggota nelayan. dalam de Jong. Bahkan. antara 14 ± 18 orang untuk perahu jenis pakesan besar. dengan merekrut penduduk setempat antara 4-36 orang untuk tiga unit kapal/perahu sebagai tenaga-tenaga kerja efektif. sebab dengan adanya bakul ikan sebagai ³patron´. menyebabkan para bakul ikan menjadi mata rantai terpenting dalam seluruh aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran. adanya kecenderungan masyarakat nelayan setempat untuk menyerahkan atau menjual sebagian terbesar ikan kepada mereka. memang memungkinkan tercapainya efektivitas dan efisiensi dalam penjualan ikan. kendati dengan . perumahan. Dalam konteks yang sifatnya lebih terbatas. telah menjadikan keberadaan dan peran para bakul ikan ini sebagai ³«stand guard over the crucial junctures or synapsis of relationships which connect the local system to the larger whole´ (Wolf.perahu mampu mempekerjakan nelayan antara 23 ± 30 orang untuk satu kapal sleret. dia juga telah melibatkan para penduduk setempat dalam suatu aliansi ekonomis di tingkat lokal untuk mengeksploitasi kekayaan sumber daya alam di laut lokal dan regional.

Pemberian keamanan. dan bakul ikan merupakan dasar pokok dari setiap kepemimpinan ekonomi yang dijalankan. Dari uraian di atas. tetapi di lain pihak juga telah menciptakan hubungan ³patronklien´ yang cenderung melahirkan ³ketergantungan ekonomis´ bagi umumnya para nelayan. kemudahan. juragan. di samping disebabkan oleh kemampuan masyarakat nelayan setempat di dalam mendapatkan dan memanfaatkan sumber-sumber keuangan yang jumlahnya tidaklah terlalu besar. Munculnya pelaku-pelaku ekonomi lokal (juragan. tidak terlepas dari peran dan arti penting seorang tengkulak dalam matarantai perdagangan ikan dari daerah ini. . Nama ³jhuko¶ laok´ (ikan dari selatan) yang diberikan oleh para pembeli luar terhadap ikan hasil tangkapan nelayan desa Bandaran yang mereka temukan di sejumlah pasar lokal di luar Bandaran. bakul dan tengkulak ikan) dalam relasi perdagangan ikan. secara ekonomis menjadi lebih pasti dan berpengharapan. Tengkulak ikan adalah pelaku ekonomi ketiga dalam aktivitas ekonomi dalam masyarakat di desa Bandaran. karena sifatnya yang sangat fluktuatif. sehingga sirkulasi ikan setempat menjadi lebih lancar. walaupun pada sebagiannya ada yang bersifat ³patron-client relationship´. kelancaran dalam melakukan aktivitas ekonomi dalam pola-pola hubungan jual-beli di atara nelayan. Sungguhpun para tengkulak ikan ini hampir dapat dikatakan tidak memiliki relasi dagang secara langsung dengan juragan kepala dan nelayan setempat. namun keberadaan dan perannya sebagai pembeli dan sekaligus sebagai pemasar ikan setempat ke berbagai pasar lokal di luar daerah Bandaran. mengakibatkan pendapatan para bakul ikan. terlihat bahwa pola kepemimpinan ekonomi di daerah Bandaran tersebut. tidak saja memiliki arti penting bagi pemenuhan kebutuhan ekonomi para nelayan yang menjadi ³kliennya´. banyaknya peminat ikan desa Bandaran telah mampu meminimalisasi adanya surplus ikan di pasaran setempat. termasuk pula para juragan kepala dan nelayan. Pola demikian tampaknya erat berkaitan dengan faktor-faktor penggerak ekonomi dan uang yang pada umumnya tidak berada di tangan ketiga pelaku ekonomi di atas. namun secara umum lebih bersifat ³collegialisme´ atau kemitraan kerja yang sejajar.cara itu mereka akan memperoleh harga yang terkadang di bawah harga pasar. Selain itu. Hal ini. telah memungkinkan ikan-ikan hasil para nelayan setempat dikenal spesifikasinya di seluruh daerah Pamekasan dan Sampang.

50 juta).Kecenderungan ini pada dasarnya bukanlah karena alasan-alasan ekonomis semata (untuk mendapatkan hutang atau kredit). tampaknya kurang disadari oleh masyarakat nelayan tradisional di desa Bandaran. menyelenggarakan lamaran dan pesta perkawinan. naik haji. sejumlah juragan kapal/perahu tidak hanya memiliki lebih dari satu armada kapal/perahu besar yang berharga ratusan juta rupiah. Hutang. Hasil uang yang diperoleh dari hasil arisan ini mereka sertakan lagi dalam kelompok-kelompok arisan yang lain. dalam banyak hal hampir selalu tidak menguntungkan secara ekonomis bagi si penghutang atau peminjam (kreditur). dan Titip Uang Dalam seluruh aktivitas yang berkaitan dengan ³investasi´ uang. Hal ini. ³Hutang´ (aotang) sebagai salah satu karakteristik perekonomian desa tradisional. sehingga yang bersangkutan bisa memperoleh modal untuk membuka usaha perdagangan kecil-kecilan (pedagang kelontong). juga berlaku di kalangan para juragan pemilik kapal/perahu dengan jumlah omset arisan yang lebih besar (Rp. tetapi lebih disebabkan karena para nelayan ingin segera menikmati hasil kerjanya. Lembaga-lembaga ³Kuasi´ Investasi Tradisional: Arisan. Di desa Bandaran terdapat tidak kurang dari 20-an kelompok arisan dengan jumlah perolehan arisan bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta. sebagaimana telah dibicarakan di atas. tetapi mereka juga mampu mengembangkan bisnis lain seperti membuka toko. dan tidak mau direpotkan dengan hal-hal yang jlimet yang berakar pada sikap dan pemikiran sosial-budaya masyarakat nelayan tradisional desa Bandaran. sehingga sampai kini pun masyarakat setempat masih banyak terlibat dalam praktik hutang dan kredit. Hal ini. dan atau dibelikan perahu/jaring kecil untuk melanggengkan matapencaharian mereka sebagai nelayan. tetapi kebanyakan menginvestasikannya dengan membeli mobil-mobil penumpang (colt diesel) untuk usaha tranportasi jurusan Pamekasan-Kamal. selain menggabungkan diri ke dalam kelompok-kelompok arisan yang menjamur di desa Bandaran. arisan dan titip uang merupakan gejala umum yang dipraktikkan hampir oleh setiap penduduk nelayan di desa Bandaran. Hutang atau kredit (ngredit) yang dilakukan oleh masyarakat nelayan setempat. di samping hutang atau kredit. G.10 juta ± Rp. Keanggotaan para nelayan dalam kelompok arisan bisa lebih dari satu. membuat rumah. Oleh karena itu. umumnya tidak dalam kerangka hubungan .

juga berlaku bagi penduduk Desa Bandaran di kampung Montor dan Nagger yang bermatapencaharian sebagai petani.00. kecuali para pemilik modal dan pedagang besar. tampaknya banyak disebabkan oleh sikap hidup mereka yang ³kurang menjangkau masa depan´. dengan imbalan berupa bunga yang besarnya sekitar 5% perbulan.000. Kalaupun para nelayan tadi seakan terikat oleh akad jual-beli ikan dengan bakul.5. Namun demikian. yang diberikan dari hasil penjualan ikan mereka. besok cari lagi´ (ollena lako/ora¶ pabali ka lako/ora¶. ³apa yang diperoleh sekarang. hampir-hampir tidak dimiliki oleh sebagian terbesar masyarakat. sehingga keduanya sama-sama mendapatkan manfaat. pada umumnya mereka lebih sering meminjam uang kepada kepala-kepala arisan yang banyak memegang uang-uang titipan para anggotanya.00 hingga Rp. sikap hidup mereka tidak . tergantung pada besarnya jumlah hutang/kredit. Dalam kasus hubungan hutang-piutang atau kredit antara nelayan dan bakul ikan. Hutang atau permintaan kredit biasanya dilakukan oleh para nelayan kepada orang-orang kaya (oreng sogi) tetangga-tetangga mereka sendiri yang sama sekali tidak memiliki hubungan kerja dengan dirinya. kalaupun nelayan tadi menerima uang penjualan ikannya di bawah harga jual yang secara riil diterima oleh bakul. lebih dimaksudkan sebagai upaya dari kedua belah pihak untuk memelihara hubungan perdagangan. Dalam hal ini. seorang nelayan hampir tidak pernah melakukan pembayaran dalam bentuk penyerahan ikan kepada bakul dengan harga yang ditentukan secara sepihak oleh bakul. Bagi mereka. tanpa mempengaruhi penetapan harga ikan yang dijualkan atau diserahkan kepada bakul. habiskan sekarang juga. Itupun.000. Sikap hidup ini. Hutang uang tetap dibayar dengan uang. akan tetapi. Berhemat.kerja antara nelayan dan juragan. Keterlibatan masyarakat nelayan setempat dalam praktik hutang-piutang atau kredit. di mana harga jual ikan dari nelayan tersebut ditetapkan sebelumnya dan di bawah harga pasar. permintaan hutang atau kredit dari seorang nelayan kepada para bakul patronnya. Harga jual ikan dari bakul tetap mengikuti harga pasar. menabung atau melakukan investasi uang dan barang untuk pengembangan usaha lain maupun untuk kebutuhan masa depan. Dengan perkataan lain. tidak terjadi praktik ijon dari para bakul terhadap nelayan yang menjadi kliennya. hal tersebut karena bakul telah memberikan ³uang perangsang´ dan barang-barang perangsang lain.10. jumlahnya hanya berkisar antara Rp. lagguna nyare pole). hal tersebut lebih merupakan sebagai ³komisi´ atau ³uang jasa´ yang mereka anggap wajar atas kerjanya menjualkan ikan nelayan tersebut.

Dengan adanya ³lembaga-lembaga keuangan informal´ dan sistem ³kuasi investasi´ semacam itu. Di lain pihak. praktis keberadaan Bank. dan semacamnya tidak banyak dimanfaatkan oleh penduduk setempat. seperti membangun rumah. Koperasi Desa.dapat dikatakan sebagai sikap hidup ³boros´. Hal ini dikarenakan kesederhanan pemikiran ekonomi mereka dan ketidakinginan mereka berhubungan dengan hal-hal yang bersifat prosedural. cincin) terutama ketika akan menjelang lebaran untuk memenuhi kebutuhan sosial dan budaya mereka. atau barang-barang berharga seperti perhiasan emas (kalung. ³lembaga-lembaga keuangan informal´ dan sistem ³kuasi investasi´ tersebut telah memungkinkan struktur ekonomi di desa mereka dapat dibangun dan dikembangkan atas dasar kemampuan ekonomi lokal atau secara ³berswasembada´. membeli peralatan rumah tangga. gelang. tetapi lebih dikarenakan mereka ingin menyepadankan antara ³kerja´ dan ³hasil kerja´ untuk memperoleh kepuasan diri baik secara fisik. yang lebih berkonotasi pada sikap menghamburhamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Hutang atau kredit yang mereka peroleh pada umumnya tidak diinvestasikan untuk menambah modal usaha tetapi untuk kebutuhan ³habis pakai´. psikologis dan ³sosial´ setelah mereka berjerih-payah seharian atau sehari-semalam menangkap ikan. Sementara itu mereka pun tidak perlu investasi untuk ikan di laut. sebagaimana layaknya mereka yang hidup dari pertanian. lamaran dan pesta perkawinan. .

G. Jakarta: Grafitti Press. Jakarta: Sinar Harapan. H. Bouvier. Malang: Depdikbud (dalam rangka kerjasama Indonesia-Belanda). (2009). dan kepemimpinan lokal di antara orang-orang Madura di Lumajang. kebudayaan dan ekonomi. (1997). _______ (2009). J. orientasi politik. dan ekonomi di jawa. politik.H. Djojomartono. Koentjaraningrat (eds). Jakarta: PN. kebudayaan dan ekonomi. (2001).). (2008). Malang: Depdikbud (dalam rangka kerjasama Indonesia-Belanda). Balai Pustaka. Perkembangan ekonomi dan islamisasi di madura: de Jonge. Hubungan Ketergantungan dalam Perikanan di Madura: de Jonge.Referensi Abdurrachman. Jakarta: Penerbit PT. (2010). Castles. (2008). Peasant marketing in Java. Agama. Agama. L. Adat-istiadat sekitar kelahiran pada masyarakat nelayan di Madura. de Jonge. Prakapitalisme di asia. Proyek Penelitian Madura. M. Glencoe. (2004).H. Huub de Jonge (ed. Huub (eds). Burger. Huub (eds): Agama. Some thought on enterpreneur in a maduranese country: Madura I. Dewey. kebudayaan dan ekonomi. Jakarta: Grafitti Press.). Madura dalam empat zaman: Pedagang. dan islam (suatu studi antropologi ekonomi). Agama. A.. A. _______2009). kebudayaan dan ekonomi. _______ (2009). Tingkah laku agama. Musik dan seni pertunjukan di kabupaten sumenep. III. Jakarta: Grafitti Press. Ritus peralihan di Indonesia. (2009). Agama. D. Huub de Jonge (ed. Proyek Penelitian Madura. . perkembangan ekonomi. Boeke. H. Gramedia. Jakarta: Sinar Harapan. Jakarta: Grafitti Press. Khusyairi. Sekelumit cara mengenal masyarakat Madura: Madura I. Sejarah sosiologis-ekonomis Indonesia. Jakarta: Prajnyaparamita. (2007). Industri Rokok Kudus.

Masyarakat Desa Indonesia. Gramedia. _______ (2008). C. (eds) (). Jakarta: Yayasan BPFE-UI. Some preliminary considerations. Peddlers and Princes. Koentjaraningrat. Religious belief and economic behavior in a central javanese town. Economic development and cultural change. Rintangan-rintangan mental dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. (2007). . _______. (2007). Chicago.Geertz. Jakarta: PT.

Indonesia terdiri dari beribu pulau yang sebagian besar wiliyahnya (62%) merupakan perairan laut. selat dan teluk.000 km. pemasok. 2 Demikian luasnya wiliyah laut di Indonesia sehingga mendorong masyarakat yang hidup di sekitar wilayah laut memanfaatkan sumber kelautan sebagai tumpuan hidupnya. pariwisata.8 juta ton per tahun. terumbu karang. Selain menempati wilayah yang sangat luas. Sebagai satu negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang 81. pertanian.1 Dari data statistik terlihat jumlah produksi perikanan di Indonesia saat ini sekitar 4. sedangkan 38 % lainnya adalah daratan yang didalamnya juga memuat kandungan air tawar dalam bentuk sungai. kawasan pesisir yang terdiri dari berbagai ekosistem pendukung seperti ekosistem hutan mangrove. 1981: 42). tercakup didalamnya beberapa pelaku kegiatan pemasaran.MASYARAKAT PESISIR DENGAN MATA PENCAHARIAN SEBAGAI PENJUAL IKAN (Firda Ulfa Lusiana F1E1 10 004) Secara geografis.7 juta ton adalah hasil produksi dari sektor perikanan laut. pesaingan. Dalam hal ini nelayan bisa berfungsi sebagai pengusaha. Indonesia memiliki kawasan pesisir yang sangat luas.3 Pemasaran adalah kegiatan mengatur barang dari produsen ke konsumen. pelanggan. dan waduk. Dari jumlah tersebut sekitar 78% atau lebih kurang 3. rawa. masyarakat atau konsumen. H. pemasok.5 . padang lamun dan lahan basah tersebut memiliki keanekaragaman hayati dan berbagai sumberdaya alam seperti ikan. pesaing atau perantara bila merangkap menjadi pembina. Ketergantungan masyarakat terhadap sektor kelautan ini memberikan identitas tersendiri sebagai masyarakat pesisir dengan pola hidup yang dikenal sebagai kebudayaan pesisir (Geertz. pemukiman. Potensi yang demikian besar tentunya memberikan peluang yang besar pula terhadap terciptanya berbagai bentuk pemanfaatan seperti usaha pertambakan. perindustrian. pertambangan dan penangkapan ikan. seperti perusahaan pengolahan. Dalam kegiatan mikro pemasaran. perantara.. dan bahan-bahan tambang yang bernilai tinggi. danau.

jenis ikan yang diperoleh. ikan asap. Selain itu. pengecer dari dalam desa. juga melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan kapal-kapal bermotor yang merekrut anggota masyarakat pesisir menjadi pekerja di kapal mereka yang sering disebut dengan istilah µsawi¶. tidak saling bersaing sesama mereka. Jaringan pasar terbentuk berdasarkan ikatan saling kepercayaan antara nelayan dengan pedagang.. ataupun tepung ikan. Proses penjualan ikan dijalankan menurut kebiasaan yang ada yaitu melalui lembaga atau orang-orang yang biasa manampung langsung (bandar ikan) hasil tangkapan nelayan. 3  Kondisi Wilayah Pemasaran . ikan kering. ikan kaleng. Sawi bekerja pada kapal-kapal juragan ikan menangkap ikan di perairan teritorial dengan keuntungan bagi hasil yang besarannya ditentukan oleh juragan ikan. Produk perikanan tangkapan umumnya dijual langsung ke pedagang perantara dan menjual produk tersebut ke beberapa pasar. ikan asin. Orangorang yang menampung hasil tangkapan ini biasanya masing-masing telah mempunyai langganan nelayan tetap dengan harga yang sama. keuangan dan peralatan melaut serta bahan bakar mereka disediakan oleh juragan ikan dengan harga yang cukup tinggi.5 Di dalam masyarakat pesisir pada dasarnya terdapat dua kelompok usaha perikanan. yaitu jenis kapal dan alat penangkapnya. Yang memengaruhi system pemasaran hasil tangkapan nelayan. daerah pemasaran (local/ekspor). tetapi ikan tangkapan mereka harus dijual kepada juragan ikan untuk melunasi hutang-hutangnya. pedagang perantara. dan organisasi atau individu yang melakukan distribusi.4 Harga ikan dihitung oleh Dinas Perikanan di masing-masing pelabuhan perikanan. bentuk ikan (segar/olahan).3 Sebagian besar dari produksi ikan dipasarkan sebagai ikan segar.Rantai pemasaran produk perikanan tangkap melibatkan pedagang pengumpul. 6 Bagi Nelayan tangkap yang tidak tergolong sebagai sawi atau menjalankan sendiri penangkapan ikan di perairan kabupaten (sejauh 4 mil dari pantai) kebutuhan pokok. yaitu kelompok nelayan tangkap dan kelompok pemasaran ikan. Hanya sebagian kecil diolah menjadi "fillet" beku. Dengan berlalunya waktu kelompok kedua mengalami perubahan ekonomi menjadi juragan ikan yang menguasai ekonomi masyarakat pesisir. dalam kecamatan maupun dari kabupaten sebelum sampai ke konsumen akhir. Juragan Ikan di samping sebagai pedagang ikan.

Usaha yang dilakukan para penjual ikan dalam memperoleh tempat menjual memang tidak mudah. Pemilihan lokasi penjualan merupakan satu syarat yang penting dalam memuali usaha.  Kondisi Manajemen Pemasaran Manajemen pemasaran produk perikanan tangkap relatif sederhana. Harga dipengaruhi oleh volume produksi tangkap. seperti halnya menjual ikan lokasi yang dipilih mesti strategis dan membuka peluang keuntungan. jumlah pedagang. Para pedagang akan menjual ke pasar kecamatan dan pasar kabupaten. sehinggga para penjual ikan kebanyakan menjadi papalele (penjual ikan keliling)  Kondisi Harga Produk Kondisi harga di level produsen sangat tergantung pada musim ikan. Rata-rata pedagang berpatokan pada tingkat keuntungan yang memenuhi kebutuhan primer. jenis alat angkut serta jarak yang dilalui.  Sumber Barang (Ikan Yang dijual) Penjual ikan tidak lepas dari produsen penghasil ikan dalam hal ini nelayan. oleh karena itu penjual ikan memperoleh barang/ikannya dari nelayan penangkap ikan. pada umumnya nelayan langsung memindah tangankan hasil tangkapannya (menjual ikan) kepada beberapa pihak yang ada seperti penada.42 juta jiwa masyarakat pesisir masih hidup dibawah garis kemiskinan dengan indikator pendapatan US$ 1 per hari (Data Direktorat PMP 2006). Fakta ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat di wilayah pesisir Indonesia masih termasuk masyarakat yang miskin. Belum ada upaya promosi dan klasifikasi produk perikanan. jumlah perdagang yang terlibat serta jarak dan jenis pasar target. selain bersaing dengan para penjual ikan lainnya. Menurut hasil penelitian (Muflikhati. harga yang ditawarkan para pemilik tempat ataupun pemerintah terlalu mahal.14% dari 16. papalele kemudian sampai kepada penjual ikan. .Umumnya masyarakat perikanan (MPM) menjual produk pada tahap pertama kepada pedagang pengumpul dan perantara di lokasi MPM. 2010) memperlihatkan bahwa sebanyak 32.

000 ± Rp. Ikan yang mereka jual adalah ikan lemuru.000 ± Rp. SLTP dan SLTA. 2. Sedangkan harga kepiting naik lebih tajam. Salah satu pedagang pasar. dan harga jual/kg antara Rp. Rian mengatakan akibat harga tinggi pembeli mengurangi pembelian ikan laut. Kenaikan harga ikan laut juga terpantau di Pasar Gede. 1. dengan harga beli/kg antara Rp.000/kg. 3. Penghasilan para pedagang ikan pun menyusut. pendapatan mereka rata-rata per bulan berkisar antara Rp.000. usia mereka rata-rata 28-70 tahun. rata-rata pendidikan mereka adalah SD.Penghasilan yang diperoleh dari penjual ikan yaitu : Dari hasil survey yang telah dilakukan terhadap bakul / penjual ikan di wilayah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan di peroleh hasil bahwa umumnya mereka bekerja sebagai bakul/pemasar >15 tahun.000/kg menjadi Rp 45. mereka memasarkan ikan umumnya ke plosok desa dengan menggunakan motor dan ada sebagian yang menggunakan sepeda. dari Rp 40. - . 7. harga ikan laut juga melejit dengan kenaikan mencapai 50%.000/kg menjadi Rp 65.000/kg.500. 500.000 ± Rp.000. 10.000. Harga cumi-cumi melonjak dari sebelumnya Rp 30.7 - Namun di Solo akibat tingginya gelombang membuat pasokan ikan turun 50% Selain pasokan terbatas.

Pemasaran Ikan dan Ekonomi Nelayan.id/katalog/index. ³Pemberdayaan Masyarakat Pesisir´. Jurnal Saintek Perikanan Vol.blogspot. Tadjudin. M. Khazali dan Laksmi A Savitri. From http://www- personal.html 7. ³Konsep Dasar Pengolaan Dana PEMP´. http://ompuaan.%20Wetlands%20Internat ional/Buku%20Pemberdayaan%20Masy%20Pesisir-Indramayu. Telepon : (021) 3818043 Fax : (021) 3518951. 2010.lipi.Indonesia Programmed dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan.id. Halaman 61 Bab IV. 2009 : 24 ± 32. From : http://www.blogspot. 2008. Dampak Sosial Ekonomi Pembangunan dan Pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambenan Jembrana Bali.go. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.bi. No.go. 3.php/searchkatalog/downloadDatabyId/2167/2168. Social Economic Impacts of Pengambengan Nusantara Fishing Port (NFP) Construction and Development.go. Syarif Moeis. Drs. BPR dan UMKM BANK INDONESIA. From : http://tadjuddin. Program Doktor Manajemen Sumberdaya Pantai Universitas Diponegoro Semarang .edu/~thoumi/Research/Carbon/Forests/Forests.umich.pdii. Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK). Agus Suherman dan Adhyaksa Dault. ³Adaptasi Ekologi Masyarakat Pesisir Selatan Jawa Barat Suatu Analisa Kebudayaan´. 4.pdf 4. pdf 6. From http://elib. Direktorat Kredit.html 5. Endang Tjitroresmi.com/2010/07/konsep-dasar-pengelolaan-dana-pemp. Penangkapan Ikan Laut. 1999. 2. Bogor : Wetlands International .id/NR/rdonlyres/CD1C61DF-1893-4000-BFA0- CF81D20525D3/16052/PenangkapanIkanLaut1.com/2009/05/perbaikan-pemasaran-masyarakat-pesisir. Email : tbtlkm@bi.pdf 2.DAFTAR PUSTAKA 1.

Masyarakat pesisir memiliki berbagai macam interaksi perokonomian. mereka mengedepankan budaya buka tutup perairan. Indonesia merupakan Negara kepulauan yang tersusun atas ribuan pulau. Hal ini menyebabkan rekonstruksi ulang susunan ekosistem perairan di lautan. Beberapa contoh mata pencaharian alternative tersebut adalah menambang batu karang. . ketimbang harus mengenyam pendidikan di sekolah sekolah. Beberapa dekade yang lalu. Salah satu bukti bentuk kultur yang ditinggikan di masyarakat pesisir adalah. Mereka menjunjung tinggi penghormatan terhadap leluhur leluhur mereka. Masyarakat pesisir tidak akan turun melaut. Masyarakat pesisir juga merupakan masyarakat yang memiliki nilai nilai kultur yang tinggi. Bagai mereka pendidikan hanya membuang buang waktu. bertani rumput laut.Peternakan Di Wilayah Pesisir (Sudarman F1E1 10 030) Masyarakat pesisir merupakan masyarakat multicultural yang mendiami wilayah pinggiran pantai yang tersebar di seluruh Indonesia. Pada saat masa menutup aktivitas peraiaran. Mereka lebih memilih untuk focus menangkap ikan di lautan. Pada saat itu masyarakat pesisir tidak akan turun melaut untuk menghormati budaya mereka. masyarakat pesisir merupakan kelompok masyarakat yang dikatakan terbelakang. Karena tidak terlalu memperhatikan pendidikan. Bahkan bisa dikatan sebagai Negara kepualauan terbesar di Indonesia. Itulah mengapa masyarakat peisisr erat kaitannya dengan kebodohan. Walaupun pada dasarnya melaut merupakan cirri yang khas dari perkembangan masyarakat pesisir. Untuk tetap bertahan hidup maka mereka berusaha untuk mencari mata pencaharian alternative. Berdasarkan beberapa definisi dari bberbagai ahli masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang mendiami wilayah pinggiran pantai hingga 2 km dari bibir pantai. Itulah mengapa mereka lebih mengedepankan aspek aspek kultur ketimbang logika dan rasionalisme. berkebun. bertani garam. Hal ini menyebabkan mereka kehilangan mata pencaharian utama mereka. dan berternak. Itulah mengapa pemerintah menetapkan masyarakat pesisir sebagai patokan pengembangan kesejahteraan negara. Anggapan mereka adalah leluhur merekalah yang membantu mengumpulkan ikan saat mereka melaut..

blogspot. Mereka telah mengembangkan system perekonomian yang lenih maju.com. Bagi masyarakat pesisir semua sumber daya alam yang ada dilautan merupakan harta kekayaan yang harus mereka lestarikan. meskipun melaut lebih beresiko. Dikutip dari haris. Mereka juga mampu mengkonsumsi hewan ternak yang mereka pelihara. Masyarakat Pesisir. solihin. Hari ini masyarakat pesisir telah berkembang maju seiring perkembangan zaman. Materi kuliah nutrisi kelautan . system pendidikan yang mulai mereka terima. Tapi menurut beliau nelayan tetaplah mata pencaharian utama mereka. Daftar Pustaka Haris. Sebagai contoh bapak zamroni yang mulanya adalah nelayan. Mata pencaharian yang awalnya dianggap tidak menguntungkan justru kini malah berkembang pesat. tapi melaut adalah jiwa yang telah mengalir dalam darah mereka. Bagi beberapa peternak yang berhasil mereka menganggap bahwa beternak lebih menguntungkan ketimbang mata pencaharian lain. Sebagai bukti beliau telah panen ayam dengan pendapatan yang luar biasa ketimbang harus melaut. Kini masyarakat pesisir telah berkembang menjadi masyarakat dengan peradaban yang lebih baik dari sebelumnya.Berternak merupakan salah bentuk modifikasi mata pencaharian masyarakat pesisir. 2002. kini lebih focus beternak di wilayah pesisir. Dengan beternak selain mereka dpata menghasilkan pendapatn yang lumayan.

peda. kerupuk. Permasalahan yang berkaitan dengan faktor penyebab berlangsung malpraktek diantara para pengolah ikan dan produk perikanan dibatasi pada aspek teknis. Pembatasan permasalahan juga dilakukan berdasarkan jenis produk dan wilayah. Pekalongan. peralatan yang digunakan sangat sederhana. dan pengasapan) umumnya dilakukan pedagang dan pengolah dalam skala kecil/ menengah atau skala rumah tangga.PENGOLAH HASIL PERIKANAN SKALA KECIL (Dian Sari Enimosa F1E1 10 044) Penanganan produk segar dan pengolahan tradisional (pengeringan/ penggaraman. tahapan kegiatan maupun wilayah dengan berbagai jenis bahan beracun berbahaya dan sumbernya dengan karakteristik berbeda. dan pemasaran produk hanya terbatas pada pasaran local (Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Mengingat luas dan kompleksitas permasalahan maka didalam penelitian ini difokuskan pada aspek keamanan pangan penggunaan bahan tambahan makanan (food additive) ilegal atau tidak diperbolehkan. Secara umum. Karakteristik dari pengolahan tradisional adalah kemampuan pengetahuan pengolah rendah dengan ketrampilan yang diperoleh secara turun temurun. Permasalahan mutu dan keamanan pangan produk perikanan terjadi pada berbagai jenis produk. sesuai dengan keadaan lingkungan disekitarnya yang umumnya tidak memiliki sarana air bersih. dan terasi dengan pembatasan wilayah di Pantura Jawa Tengah (Tegal. Pemilihan ini didasarkan beberapa alasan yaitukejadian penggunaan bahan tambahan ilegal telah menyebar di berbagai wilayah tanah air. tingkat sanitasi dan higienis rendah. dan penggunaannya oleh pengolah atau pedagang karena factor kesengajaan. Pati dan Rembang) dan DIY (Bantul). permodalannya sangat lemah. dan kelembagaan. ikan asin/ kering. kecap ikan. . pemindangan. sosial budaya. terjadi pada beberapa produk olahan maupun segar yang jenis produk ini banyak dikonsumsi masyarakat luas dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatan. penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu perumusan dalam pengembangan ke bijakan mutu dan keamanan produk hasil perikanan di Pantura Jawa Tengah dan DIY. Permasalahan penggunanan bahan tambahan makanan berbahaya difokuskan pada 4 (empat) jenis produk yakni ikan segar. ekonomi. terasi. Semarang.2001).

1994). Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Suwedo H (1993) bahwa salah satu cara mempertahankan kesegaran ikan dapat dilakukan dengan memelihara ikan tetap hidup atau dengan menurunkan suhu ikan mati.52 %). Sosiosfir merupakan lingkungan yang . pengasapan (2. terasi (0.Berdasarkan data dari direktorat jendral perikanan tangkap (2003) Propinsi Jawa Tengah dilihat dari cara perlakuannya meliputi dipasarkan segar (31. hal ini sangat mengkhawatirkan karena berpengaruh langsung terhadap pendapatan masyarakat nelayan maupun pengolah/ pedagang. kebersihan dan pendinginan adalah kunci untuk memanen hasil tangkapan yang berkualitas baik.002 %). dengan perlakuan suhu rendah dan kadang kadang kurang memperhatikan factor kebersihan dan kesehatan. pemindangan (15. sejumlah pekerja yang sudah dirumahkan mencapai 500 orang akibat berhentinya produksinya ikan asin. Bahkan.41 %). sehingga konsumen akan menjadi takut terhadap ikan atau antipati terhadap ikan.37 %). peda (0.41 %). Analisis Ekonomi Berkaitan dengan isu penggunaan formalin baik nelayan maupun pedagang/ pengolah di lokasi penelitian sebagian besar berpengaruh sangat nyata terhadap permintaan ikan. pengeringan/ penggaraman (46.82 %). pembekuan (0.41 %). tepung ikan (0. persepsi yang terbentuk adalah semua ikan yang dijual mengandung formalin. FAO (1991) bahwa perawatan. dan lainnya (2. sehingga perlu adanya langkah-langkah yang strategis untuk dapat memecahkan masalah tersebut. Analisa social budaya Lingkungan sosial (sosiosfir) merupakan lingkungan yang paling penting dalam menentukan kesehatan lingkungan (Soemirat. Bahkan menurut UNDP. Masyarakat tidak peduli dengan ikan yang dikonsumsi.08 %). Penanganan ikan segar oleh para nelayan biasanya dimulai segera setelah ikan diangkat dari air tempat hidupnya. Namun.88 %). Berdasarkan data cara perlakuan tersebut produk perikanan Propinsi Jawa Tengah didominasi oleh pemasaran dalam bentuk pengeringan/ penggaraman (46.48 %). Walaupun memang yang terkena dampak tidak senua perusahaan perikanan.

Disamping itu belum efektifnya penanganan keamanan pangan juga dikarenakan masih belum berkembangnya sistem penanganan keamanan pangan serta terbatasnya laboratorium yang telah terakreditasi sehingga sistem penjaminan mutu belurn bisa berjalan dengan baik. penyuluhan. kimia maupun cemaran fisik. Laboratorium yang terakreditasi sangat diperlukan dalam melakukan pengawasan pangan segar khususnya untuk melakukan uji residu pestisida pada buah dan sayuran segar. dan pembinaan mengenai keamanan pangan. Penanganan keamanan pangan adalah suatu rangkaian kegiatan dalam cara-cara budidaya.tercipta akibat terjadinya hubungan rasional antar manusia untuk memenuhi kebutuhan atau mencari solusi terhadap berbagai tantangan atau kesulitan secara bersama (Soemirat. Disadari bahwa sampai saat ini masih belum banyak masyarakat yang menyadari pentingnya keamanan pangan terutama pada produk pangan segar. Kebiasaan pola makan masyarakat yang belum memperhatikan aspek keamanan dari makanan yang dikonsumsinya bagi kesehatan. berproduksi sampai dengan pengolahan pangan untuk menjamin agar makanan yang . dan sebagian besar pertimbangan adalah pada pangan dengan harga murah. hal ini disebabkan karena masyarakat baik masyarakat produsen (terutama produsen skala rumah tangga) maupun konsumen masih menghadapi masalah kemampuan modal dan daya beli sehingga masalah keamanan pangan belum menjadi prioritas dalam menetapkan preferensi memilih pangan untuk dikonsumsi. sehingga dapat mendukung terjaminnya pengembangan pertumbuhan. Analisa kebijakan Kebijakan penanganan keamanan pangan diarahkan agar dapat menjamin masyarakat terhindar dari mengkonsumsi pangan terutama pangan segar yang terkontaminasi oleh cemaran biologis. Rendahnya tingkat pendidikan baik para pengolah maupun masyarakat konsumen sehingga pengetahuan mengenai keamanan pangan rendah dan kurangnya berpikir jangka panjang. 2000). kesehatan dan kecerdasan manusia. Ada beberapa permasalahan social budaya yang menyebabkan berlangsungnya malpraktek penggunaan bahan kimia tambahan ilegal yaitu: Kurangnya perhatian pejabat berwenang.

membantu produsen dalam meningkatkan mutu serta dalam melakukan perdagangan yang jujur. Balai Penelitian Perikanan Indonesia. serta meningkatkan kesehatan. dan biologi yang dapat berakibat buruk atau mengganggu kesehatan konsumen.penanganan keamanan pangan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pangan No. 1990. Inventarisasi Jenis dan Jumlah Produk Olahan Hasil Perikanan Skala Kecil Di Indonesia.dihasilkan fisik. S. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Perbaikan Handling Ikan di Kapal (Improvement of Fresh Fish Handling on Board). dan dijabarkan lebih lanjut dalam PP No. 7 Tahun 1996. 28/2004 bertujuan membantu konsumen untuk mengevaluasi dan memilih produk. DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman. Di Indonesia. 2001. Jakarta. . Jakarta: Departemen Kelautan dan Perikanan. Nasran. rakyat dan peningkatan kegiatan ekonomi rakyat. kimia. Laporan Penenelitian Teknologi Perikanan Nomor 2 hal 2735.

ikan sebagai bahan makanan yg mengandung protein tinggi dan asam amino esensial yang diperlukan tubuh. potensi lestari ikan laut diperkirakan sebesar 6. Ikan merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat karena mudah didapat dan harganya murah. Selain itu.dan hal yg paling penting harganya jauh lebih murah dan terjangkau dibandingkan sumber protein lain.26 juta ton per tahun. Untuk menangani hasil tangkapan ikan dari laut maupun hasil perikanan budidaya secara tepat dengan mutu yang terjaga baik serta layak dipasarkan di dalam negeri maupun luar negeri diperlukan tenaga profesional yang handal dalam bidang teknologi pengolahan hasil perikanan Dalam rangka diversifikasi hasil perikanan dan terpenuhnya gizi dari protein hewani asal ikan bagi masyarakat. ikan ternyata memiliki beberapa kelemahan. daging ikan banyak mengandung asam lemak tak jenuh yang sifatnya sangat mudah mengalami prosesoksidasi.38 juta ton per tahun.40 juta ton per tahun dan perairan ZEE sekitar 1. tergantung pada jenis penangkapan perikanan.86 juta ton per tahun. Namun. y Teknologi penanganan hasil perikanan Teknologi penanganan ikan pasca panen memberikan manfaat kerja dan ekonomi untuk bagian besar masyarakat.01 juta ton per tahun. Penggunaan metode bervariasi. Salah satu kelemahan ikan adalah tubuh ikan yangmempunyai kadar air tinggi dan pH mendekati netral merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri pembusuk maupun organisme lainnya sehingga ikanmenjadi komoditi yang cepat membusuk. sementara jumlah tangkapan lestari sebesar 5. Oleh sebab itu. Potensi tersebut terdiri dari potensi perairan wilayah Indonesia sekitar 4. dan dapat berkisar mulai ikan dari proses sederhana seperti pengumpulan organisme air dengan tangan memilih untuk . sering muncul bau tengik pada ikan. Total hasil penangkapan ikan baru mencapai 4.pengolahan hasil Indonesia memiliki potensi sumberdaya perikanan laut cukup besar.maka harus dilakukan perbaikan yang menyangkut hasil teknologi dan ekonomi. Ini meliputi berbagai proses penangkapan organisme perairan.Pengolahan hasil penangkapan ikan (Ershanty Rahayu F1E1 10 046) 1.

Teknologi ini telah dikembangkan di seluruh dunia sesuai dengan tradisi lokal dan kemajuan teknologi di berbagai disiplin ilmu seperti hidrodinamika. penangkapan ikan baik secara tunggal maupun di sekolah-sekolah dengan menggunakan jaring atau tombak. Paling penting di antara mereka adalah panen ikan sistem seperti trawl. seines. y persyaratan hasil perikanan laut dikatakan memiliki nilai ekonomis ada 3 syarat persyaratan hasil perikanan laut dikatakan memiliki nilai ekonomis: ‡ Mempunyai nilai pasaran yang tinggi ‡ Volume produksi makro tinggi dan luas . ikan menarik untuk terjebak pada kait dengan menggunakan umpan. akustik dan elektronik. penangkapan ikan di gigi stasioner seperti perangkap ikan atau jaring set. Selama bertahun-tahun. Menyaring air. Setengah dari makanan laut dunia ditangkap atau dikumpulkan oleh nelayan skala kecil yang beroperasi jutaan kerajinan memancing. yaitu. memikat dan mempermainkan mangsa dan berburu. teknologi Harvest. bertujuan pertengahan air trawl atau tas pemukatan dilakukan dari kapal ikan besar. b.dan c.panen ikan sistem yang sangat canggih. jaring insang dan melibatkan jaring dan perangkap. umpan buatan atau sarana lain seperti cahaya. karena mereka dipraktekkan saat ini umumnya masuk ke dalam 3 kelompok utama: a. adalah dasar bagi sebagian besar alat tangkap dan metode yang digunakan bahkan hari ini. Keragaman besar target dalam perikanan tangkap dan distribusi yang luas mereka memerlukan berbagai alat tangkap dan metode untuk panen efisien. alat penangkapan ikan tradisional telah ditingkatkan dan yang lebih baru sistem penangkapan ikan lebih efisien telah diperkenalkan.

0. 0.2% 4. marlin. air 60-84% 2. 18-34% 3. ikan yang biasa dibuat abon adalah ikan air laut antara lain tuna.0% 5. Vitamin dan mineral 2. jenis ikan yang dibuat sebagai bahan baku abon belum selektif. tenggiri contoh gambar abon: . akan lebih baik apabila dipilih jenis ikan yang mempunyai serat yang kasar dan tidak mengandung banyak duri. cakalang. Hasil pengolahan A.kelebihannya selain sebagai sumber protein yang mudah di dapat.harganya juga relatif lebih mudah dijangkau untuk semua kalangan masyarakat.1-2. ABON IKAN Salah satu hasil difersifikasi pengolahan ikan yaitu abon ikan. Namun demikian.‡ Mempunyai daya produksi yg tinggi y komposisi kimia daging ikan: 1.0-1. bahkan hampir semua jenis ikan dapat dijadikan abon. tongkol.

jenis teknologi yang cocok digunakan adalahteknologi semimekanik.000. Oleh sebab itu.±.Proyeksi produksi dan pendapatan: y Usaha pengolahan abon ikan pada umumnya berskala kecil dan bersifat pada tenaga kerja. .200 kg/bulan) dan harga abon ikan ditingkat produsen adalah Rp 70.6 menyajikan rincian penerimaan/pendapatan kotor dalam setahun.000 per kg.000.440 kg (1. Oleh sebab itu. Tabel 5. y Jumlah produksi abon ikan selama satu tahun sebesar 14. pendapatan dari hasil penjualan abon ikan per tahun adalah sebesar Rp 1.008.

selain itu hasilnya terkadang jauh lebih baik dibanding menggunakan teknik mesin y teknik mesin . bakso ikan ada 2 cara pembuatan bakso ikan yaitu: y tekhnik manual pada teknik ini tentu bergantung pada bahan dan pembuatnya. lokasi usaha sebaiknya terdapat di daerah-daerah yang dekat dengan kawasan-kawasan kerja pelabuhan perikanan sehinggaakan mempermudah proses penyediaan dan transportasi bahan baku ikan B. Oleh sebab itu.Tabel produksi dan penjualan abon ikan: Nb: harga di atasa masih dalam pendapatan kotor* y Kendala yang ditemui selama produksi Kendala produksi yang bisa dijumpai adalah terjadinya kelangkaan bahanbaku ikan.

Jenis mesin yang diperlukan untuk membuat bakso antara lain mesin mincer (untuk mencincang daging). mesin mixing (untuk mencampur adonan).menggunakan teknik ini jauh lebih praktis tetapi membutuhkan modal yang lebih besar dibanding menggunakan teknik manual Contoh gambar pengolahan bakso ikan (menggunakan tekhnik mesin): . mesin pencetak bakso dan mesin sealer atau vacuum (untuk mengemas bakso).

id/proceeding/Proses-Pengolahan-dan-Nilai-TambahBakso. lokasi usaha sebaiknya terdapat di daerah-daerah yang dekat dengan kawasan-kawasan kerja pelabuhan perikanan TINJAUAN PUSTAKA http://www.wordpress.umm.id http://pobersonaibaho. http://dedisafrizal.com/tag/proposal-bakso-ikan/ .com/articles/hasil-tangkapan-ikan-nelayan-di-malang-melimpah http://rizarahman.id/files/2010/01/Pengolahan-ikan.dkpsultra. http://www.y kendala Kendala yang ditemui dalam pembuatannya hampir sama dengan pembuatan makanan lain yang memerlukan bahan utama ikan. Oleh sebab itu.blogdetik.wordpress.bpsdmkp.ac.bisnis.go.com http://research.net/bidang-dan-uptd/ http://sudianor.kkp.ac.staff.yaitu: kelangkaan bahan baku ikan.com http://www.mercubuana.apsidoarjo.

Demikian halnya. Kelurahan Tana Lemo. Musriadi (43 tahun) pembuat Phinisi. masih mempertahankan membuat kapal tersebut untuk mempertahankan warisan budaya leluhur. Anto (45 tahun) warga Desa Ara masih membuat Pinishi karena menjaga warisan leluhurnya. Dalam setahun. ayah yang telah menurunkan bakat ini kepada anaknya menerima orderan rata-rata sepuluh kapal besar pertahun. ³ Ini mi keterampilan yang diajarkan bapakku sejak kecil. Dalam perkembangannya. Ia mulai membuat kapal sejak umur tujuh belas tahun. Sejak tahun 1988. Bila dahulu kapal Padewakkang terkenal sebagai kapal perang dan belakangan tak lagi ditemukan. Keahlian membuat Phinisi biasanya diajarkan turun temurun dari para leluhur. Masyarakat pesisir di Tana Beru. Sebut saja. Haji Abdullah melayani pemesanan Phinisi dengan desain yang dibuat oleh konsumen. Kehidupan masyarakat pesisir tak terpisahkan dari pemanfaatan pembuatan kapal. ia terpilih ke Kanada untuk membuat kapal kerjasama dengan Teknik Perkapalan Unhas. hal ini berdasarkan data Kelurahan Tana Lemo. Kesulitan selama ini. Musriadi warga Desa Ara. meskipun bahan baku kayu diproduksi di Bulukumba. Hal ini juga dialami Haji Abdullah (60 tahun) pengusaha Phinisi sudah mengenal pembuatan kapal tradisional dari orang tuanya.KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR (Yunita Silvana Lantapi F1E1 10 048) Bebarapa masyarakat pesisir menjadikan pembuatan kapal sebagai lahan mencari nafkah. yaitu jenis kayu besi. Oleh karena nilai artistik yang tinggi.´ jelasnya. Sekira tujuh puluh persen masyarakat Tana Beru menggantungkan hidupnya pada pembuatan kapal tradisional ini. Inilah titik tumpu yang kuat hingga ia bisa menjadi pengusaha kapal yang sukses seperti saat ini. ³Orang asing lebih suka yang bagian buritan kapal yang kotak karena terjadi hubungan antara layar dan mesin dan setir. Sejauh ini. Namun biasanya adanya keterlambatan pasokan kayu yang dikirim dari Kendari cukup menghambat membuat kapal. belajar sendiri mengenai tata cara pembuatan phinisi. hasil dari membuat kapal untuk menafkahi keluarganya. maka tak heran jika harga satu buah kapal Phinisi bisa mencapai . kapal Phinisi dan kapal Sandeq hingga saat ini masih diproduksi oleh penggiatnya. Kecamatan Bonto Bahari masih memproduksi Phinisi. serta waktu pembuatanya yang sangat lama.´ ungkapnya.

Sekarang ini. sandeq untuk nelayan sangat jarang karena sudah ada kapal modern bermesin. Penerbitan Kampus 'Identitas'unhas.´ ujar Fadli (41 tahun).´ ujarnya. orang yang membuat kapal sesuai pengetahuannya dan tidak menggunakan tenaga ahli. Identitasonlinedotnet.miliaran rupiah. Dari dulu nenek moyang membuat kapal. Online Business Journal. Demikian halnya. 2011 . 2010 2. Perahu Phinisi kebanggaan bangsa Indonesia. Masih Setia dengan Kapal Tradisional. Panrita lopi. Biasanya keuntungan diperoleh tiap satu kapal mencapai sepuluh juta untuk jenis Sandeq race. ³Kapal dibuat untuk menjaga nilai-nilai kebudayaan dari nenek moyang dan pemenuhan kebutuhan hidup kami. pasti butuh uang lagi. Julukan Panrita lopi sendiri diturunkan generasi ke generasi oleh pembuat kapal pertama. sering belajar dengan pembuat kapal. ia salah seorang Panrita lopi yang masih tetap aktif dalam membuat kapal. Berbeda dengan pengusaha kapal. Bahkan pernah sebuah perusahaan pelayaran di Karibia yang membeli sebuah Kapal Phinisi seharga 3 miliar. ³Ini memang sudah menjadi kesenangan saya. Haji Jafar sendiri membuat kapal meskipun tidak ada pesanan. Hal ini menyebabkan nilai ekonominya menurun tapi nilai budayanya tetap ada. Pengusaha kapal belum tentu disebut Panrita lopi. dan ini saya tekuni sebagai nelayan dan sekaligus pembuat kapal. Bukan hanya di Tana Beru.´ jelas Fadli pemilik sekaligus membuat kapal. DAFTAR PUSTAKA 1. Polewali Mandar. sebutan Panrita lopi bukan hal yang asing masyarakat Tana Beru. Sebut saja Haji Jafar (63 tahun). kapal tradisional lain tetap dipertahankan dengan alasan faktor ekonomi. pekerjaan ini ia tekuni membuat kapal untuk menafkahi keluarganya. Masih banyak nelayan yang mengandalkan layar dan kapal digerakkan tanpa menggunakan bahan bakar. Mulyadi Agus.´ tutur Siden. Ia memproduksi empat sampai lima kapal dalam satu tahun bersama orang tuanya ³Keterampilan dalam membuat kapal ini ada karena faktor kebiasaan sejak kecil. Siden (45 tahun) salah seorang pembuat Sandeq. ³Kalau bukan Sandeq pasti pakai bahan bakar. seperti kapal tradisional Sandeq di Desa Pambusuang. sandeq hanya digunakan dalam Sandeq race.

dengan kata lain sudah ada pergeseran nilai budaya yang di miliki oleh mereka. sikap konsumtif dan boros. Artinya pada mulanya masyarakat suku bajo tidak memiliki tempat tinggal yang tidak menetap sehingga mereka lebih cenderung merusak laut dengan ulah mereka sendiri seperti membom. Masyarakat suku bajo memanfaatkan sumberdaya laut yang ada di sekitar perairan kawasan tempat tinggal mereka sebagai sumber pendapatan/mata pencahariannya yaitu sebagai nelayan tradisional.MASYARAKAT BAJO (Sri Wuna Sari Nasir F1E1 10 051) Masyarakat Bajo atau biasa disebut juga orang laut masih banyak yang buta huruf. Kondisi Sosial Masyarakat Suku Bajo Pada masyarakat suku bajo juga terjadi pergeseran yang mengarah ke yang lebih baik. namun secara kuantitas sudah mengalami penurunan. 1. membius dan menjarah secara tidak teratur sehingga secara lambat laun laut mengalami kerusakan yang parah dan tidak ada kesadaran secara social untuk kelestarian laut untuk masa depan generasi muda. . serta sikap menutup diri pada pihak-pihak lain. dan petani budidaya rumput laut. Kebiasaan yang mendarah daging pada masyarakat suku bajo saat ini masih kita dapatkan. seperti kurang kreatif dan produktif. hal ini yang menjadikan masyarakat bajo pada saat itu tidak menetap tempat tinggalnya dan kemudian berpindah lagi kempat yang lain dengan meninggalkan kerusakan yang parah pada tempat yang awal mereka diami. kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai instrument keberlanjutan hidup merekah sudah mulai tertanam dalam masyarkat suku bajo. Sikap-sikap tersebut telah menyebabkan masyarakat Bajo menjadi tidak berdaya. pasrah pada nasib. Budaya fasalistik juga masih melekat kuat dalam kepribadian mereka. Suku Bajo adalah salah satu suku laut yang dimiliki oleh Indonesia. cepat puas dengan apa yang diperoleh. Begitu seterusnya dengan kebiasan yang secara turun temurun merusak laut yang berimbas pada krisis yang dialami generasi mudah suku bajo untuk menggantungkan hidupnya pada laut semata mau tidak mau memaksa mereka juga untuk berbuat yang serupa.

Dalam tiga tahun tarakhir ini genarasi muda masyarakat bajo berlomba-lomba mendaftarkan diri untuk bersekolah baik itu SMP. dan untuk mengetahi teknologi harus melalui bengku sekolah. SMA. Bagi mereka sekolah itu bikin habis waktu mendingan mereka turun di laut mencari dan kemudian hasil dari laut itu mereka jual yang kemudian dapat meenghasilkan uang. karena mereka beranggapan tanpa berusaha dalam hal ini turun ke laut mereka tidak bisa makan. dan SMA. Fenomena ini terjadi secara turun temurun dan mereka mengganggap hal biasa dan tidak berpengaruh pada lingkungannya. Jangankan perkembangan media yang begitu pesat masalah pendidikan pun mereka kesampingkan. Selain dari pada pendidikan sebagian besar masyarakat bajo pun gagap teknologi. Semua ini bisa terjadi karena kemampuan sumberdaya manusia generasi muda masyarakat suku bajo yang semakin meningkat. masyarakat bajo sendiri seakan tidak perduli dengan perkembangan media dan teknologi yang beredar di dalam masyarakat luas. Kemudian di bidang pendidikan masyarakat bajo menomor duakan pendidikan seperti yang dipaparkan diatas tadi bahwa sekolah itu sama saja dengan buang-buang waktu. Semua ini berawal dari media komunitas yang intens memberikan pendidikan kepada masyarakat suku bajo. bahkan sebagian dari masyarakat bajo yang buta aksara. Kasadaran lahir tumbuh dari beberapa pengelola yang merasa bahwa pentingya mengetahui perkembangan teknologi. Kondisi Pendidikan Masyarakat Suku Bajo Pada umumnya masyarakat bajo rata-rata berdomisili di daerah-daerah pesisir yang sangat terpencil dan jauh dari jangkauan media sehingga secara garis besar mereka sangat awam terhadap perkembangan media yang begitu pesat yang diiringi dengan teknologi yang semakin canggih. . sebenarnya ini paradigma berpikir yang keliru karena mereka tidak punya kapasitas atau perantara untuk sampai pada sejauh pemikiranya tentang pentingnya dari pada pendidikan itu sendiri. dan perguruan tinggi. dan lebih baik turun ke laut untuk mencari kehidupan yang dapat menghasilkan uang. seperti media yang saat ini sangat canggih seperti internet mereka sama sekali tidak bisa mengoperasikannya. Hal ini menunjukan sebuah kemajuan yang menggembirakan bagi masyarakat bajo. Maka dari itu tidak sedikit dari mereka yang tidak menamatkan pendidikanya sekolah dasar. SMP.2. Dan sebenarnya juga orang bajo juga mempunyai jiwa pekerja keras dan pantang menyerah pada keadaan. Karena kebanyakan dari suku bajo sendiri banyak yang menggantungkan kehidupanya semata-mata pada hasil laut.

Segala bentuk kehidupan berlangsung benar-benar di atas laut. Anak-anak mereka harus menerima kenyataan untuk mengenyam tingkat pendidikan yang rendah. Pemanfaatan terumbu karang dan pasir laut yang berlebihan serta penggunaan alat tangkap yang bersifat merusak ekosistem laut banyak dilakukan oleh masyarakat Bajo. kualitas sumber daya manusia tetap rendah dan kemiskinan di kalangan masyarakat Bajo akan diwarisi serta dilanggengkan dari generasi ke genarasi. sebagian lainnya memilih menetap di lokasi tertentu dengan pola hidup yang sangat sederhana. dan mengurangi beban tanggung jawab orang tuannya.3. Namun saat ini meskipun masih ada yang meneruskan tradisi berpindah tempat. Namun sebagian besar dari masyarakat suku bajo menganggap pendidikan itu bisa didapatkan dilaut. Karena ketidakmampuan ekonomi orang tuanya. Anak-anak di tuntut untuk ikut mencari nafkah. Masyarakat suku bajo memiliki kehidupan yang bergantung pada laut. laut bagi masyarakat Bajo merupakan tempat nenek moyang mereka yang di percaya sebagai penguasa laut. menanggung beban kehidupan rumah tangga. Karakteristik Masyarakat Suku bajo Dahulu kala masyarakat Bajo kerap berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya mencari sumber kehidupan seperti masyarakat gipsy atau nomaden. Kondisi Ekonomi Masyarakat Suku Bajo Masyarakat Bajo merupakan masyarakat yang sangat tergantung pada laut. Bukan . di atas gugusan karang. Sungguh suatu bentuk kehidupan yang unik yang memerlukan keberanian serta ketangguhan untuk menjalaninya. Bahkan saat ini terjadi pemanfaatan sumberdaya laut pada lokasi-lokasi yang sebenarnya merupakan lokasi perlindungan sumberdaya laut. Akibatnya. 4. Namun pada kenyataannya hingga saat ini sebagian besar masyarakat bajo masih merupakan bagian dari masyarakat yang tertinggal dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Masyarakat bajo biasanya bertempat tinggal di daerah pesisir. Menurut Saleh (2002). mulai dari mata pencaharian sampai membangun pemukiman yang berada di atas pesisir laut dengan memanfaatkan batu karang. Kemiskinan yang melanda rumah tangga masyarakat bajo telah mempersulit mereka dalam membentuk kehidupan generasi berikutnya yang lebih baik dari keadaan mereka saat ini. Masyarakat bajo merupakan masyarakat yang sejahtera karena potensi sumber daya alamnya yang besar. Rumah panggung dibangun tepat di atas permukaan laut.

utamidk@jurnal. 2010.id Bengen.detik. Kondisi Sosial Ekonomi Budaya Masyarakat. Diah. 2001.ac.com Nunuk. Pengaruh Media Komunitas Terhadap Struktur Sosial Masyarakat Bajo. D. Suku Bajo: Sederhana.didapatkan dari bangku sekolah.travel/read Tridarma. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Secara Terpadu. 2011. http://siswa.G.bangka. 2011. Bogor. Kehidupan ekonominyapun bergantung pada hasil ataupun pendapatan setiap harinya. http://www. http://suarakomunitas. Suku Bajo dalam Pusaran Modernitas.univpancasila. Makalah pada Sosialisasi Pengelolaan Berbasis Masyarakat.go.id Anonim. 2011. Kondisi Sosial Masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Kusumawati. Pemberani Dan Tangguh.net . http://aci. 21-22 September 2001. 2011.Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat.

bertempat tinggal. dan sejalan dengan itu orang-orang yang ditugaskan oleh sang raja pun tidak mau lagi kembali ke Johor dan tetap tinggal bersama sang putri. Suku Bajo merupakan suku yang terkenal mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Menurut beberapa versi. nenek moyang suku Bajo berasal dari Johor. Sang putri yang pada akhirnya menikah dengan Raja bugis tersohor. Sebuah daerah yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya. dan belakangan mulai berekspansi ke wilayah kepulauan nusantara lainnya dan membentuk komunitasnya. malaysia. sang putri lebih memilih untuk tetap tinggal di sulawesi. Sehingga sang Raja memerintahkan pengawalnya untuk mencari sang putri. Keunikan Suku Bajo Suku Bajo dikenal dengan Same(sama). tetapi juga sampai ke sulawesi. Sejarah Suku Bajo Konon.Dan mereka menyebut warga di luar sukunya sebagai suku bagai.Suku bajo juga identik dengan manusia perahu oleh karena mereka menggantungkan hidupnya dari perahu. bagi suku bajo menjadi andalan satu-satuya. Alkisah. Dari mulai hidup.Pernah disebut dalam sejarah bahwa suku bajo pernah . dahulu kala seorang puteri dari kerajaan Johor hilang entah kemana. kemudian menempatkan masyarakatnya yag berasal dari Johor itu dalam sebuah daerah yang bernama Bajo. namun tetap tidak berjarak jauh dari laut. hingga mendapatkan julukan The Sea Nomads yang berarti hidup dilaut dan tak menetap pada satu tempat. Meski akhirnya kini Suku Bajo mulai menetap di darat oleh karena paksaan pemerintah. hingga mencari kehidupan pun dilakukan dengan banyak berinteraksi dengan laut. tidak hanya di seantero negeri johor.. Suku ini tinggal menetap diatas perairan Pulau Wakatobi. Mereka adalah pelaut tangguh yang memilih untuk hidup di pulau-pulau di tengah laut. yang merupakan cikal bakal dari suku bajo. di Sulawesi Tenggara. Laut. Dari banyak interaksi tersebut menyebabkan suku ini banyak tersebar di berbagai daerah di Tanah air.Kehidupan Masyarakat Suku Bajo (Fauzyah Novrini Kasman Arifin F1E1 10 055) Suku bajo terletak di Kepulauan Tukang Besi (dulu) yang sekarang berubah Wakatobi.

Lambat laun mereka juga sudah mulai mengenal daratan sebagai tempat tinggalnya.Semua aktivitas bersama keluarga dihabiskan diatas perahu atau soppe seperti biasanya kehidupan di darat. Kelompok sakai memiliki kebiasaan mencari ikan yang lebih dasyat lagi. kelompok sakai dan kelompok lame. Kelompok papongka adalah suku bajo yang biasanya mencari ikan di laut selama sepekan atau dua pekan. Bila kelompok papongka hitungannya seluas provinsi.Setelah hasil ikan tangkapan dijual dan merasa sudah mempunyai air bersih. . Bedanya dengan kelompok lilibu. Karena itu. mereka adalah manusia pengelana lautan yang telah menjadikan laut sebagai sahabat dan tempat tinggalnya. maka kelompok sakai hitungannya antarprovinsi. kelompok papongka. perahu yang digunakan pun lebih besar dan saat ini umumnya telah bermesin. mereka baru akan pulang ke rumahnya setelah seminggu atau dua minggu mencari nafkah.mereka selalu menyinggahi pulau-pulau terdekat . waktu yang dibutuhkan pun lebih lama. mereka kembali ke darat. Dulu. tidak lagi membawa ikan tangkapan.menjadi bagian dari Angkatan laut Kerajaan Sriwijaya.mereka kembali lagi ke laut.Mereka menggunakan perahu atau soppe yang di kendalikan dengan dayung dan layar. Namun. untuk menjual hasil tangkapan atau menikmatinya bersama keluarga. Mereka menggunakan perahu soppe yang dikendalikan dayung.Kebiasaan mereka bila sudah memperoleh hasil ikan tangkapan atau kehabisan air bersih. antarpulau. Ada empat kelompok masyarakat suku bajo menurut kebiasaan mereka bernelayan.Di mana ada tanjung atau pulau maka di situlah mereka mencari nafkah. yakni kelompok lilibu. wilayah kerjanya lebih luas. Katakanlah. Mereka bisa berada di ³tempat kerja´nya itu selama sebulan atau dua bulan.Sehingga ketangguhan dan keterampilannya dalam mengarungi samudera jelas tidak terkalahkan. Setelah mendapat ikan. Mereka tidak jauh berbeda dengan kelompok papongka. Jadi. sang nelayan biasanya membawa uang dan berbagai kebutuhan rumahtangga lainnya. Sehingga. Pada saat kembali ke rumah. Kelompok lilibu adalah suku Bajo yang biasanya bernelayan di laut hanya satu atau dua hari. Biasanya terdiri dari lima atau enam orang anggota papongka.

khususnya di Wakatobi. kelompok lame bisa dikategorikan nelayan-nelayan yang lebih berkelas. mereka memang bakal mengarungi laut lepas hingga menjangkau negara lain. Selain sampan sebagai pusat kegiatan ekonomi. suku bajo sangat percaya pada kearifan lokal dibandingkan dengan instrumen modernitas yang sangat masif berkembang diluar kebudayaan laut suku tersebut. Karena. kerajinan kain tenun tradisional juga menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan suku bajo.Kelompok terakhir. Kain-kain seperti ledja dan kasopa di tenun secara tradisional dengan motif yang khas . . Dan. Mereka menggunakan perahu besar dengan awak yang besar dan mesin bertenaga besar. mereka bisa berada di lahan nafkahnya itu hingga berbulan-bulan.

Yang ada dalam pemikiran mereka hanyalah bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari dengan mendapatkan uang melalui pekerjaan yang dapat diharapkan hasilnya secara nyata. penambangan pasir laut telah berkembang menjadi polemik nasional. tidak lulus SD atau bahkan tidak bersekolah sehingga pemahaman mereka tentang lingkungan hidup sangat sedikit. Sebagian besar masyarakat pesisir adalah hanya lulusan SD. Perairan nusantara. dan penambangan laut. penghasilannya tidak menentu karena semua itu tergantung hasil tangkapan dan cuaca. Faktor-faktor penyebab adanya kegiatan penambangan pasir beraneka ragam. Faktor yang berasal dari dalam diri masyarakat itu sendiri salah satunya adalah faktor ekonomi. menurut geologi. Dampaknya seperti nelayan yang kehilangan mata pencarian hingga tenggelamnya sebuah pulau. Namun.Kehidupan Masyarakat Penambang Pasir (Rahmawati Nur Ariyanti F1E1 10 057) Pasir laut. juga menjadi objek pertambangan pasir dengan keuntungan bisnis yang sangat menggiurkan. maupun sosial. fisik. Faktor pendidikan masyarakat juga berpengaruh. yakni materi galian pasir yang berada di perairan Indonesia dan tidak mengandung mineral golongan A dan golongan B. lalu terhadap dalam sedimen di dasar lautan. pesisir di Namun. selain menjadi mata pencaharian bagi masyarakat pesisir. Secara kelautan pasir yang obyektif pasir berkembang pada laut memang bisa disebut salah satu sumber daya menjadi komoditas ekonomi. Berbeda jika mereka menjadi penambang pasir yang akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar dari biasanya. Contohnya masyarakat pesisir pantai yang dulunya bergantung pada mata pencaharian nelayan. Sedangkan menurut pemerintah yang tertuang dalam keputusan menteri. Ada sebagian dari tenaga kerja yang . Keberlanjutan dari usaha mereka pada jangka panjang tidak menjadi pemikiran mereka. Kegiatan tepat dan laut berdampak pasir yang laut tepat pengelolaan tidak wilayah dilakukan pada penambangan dengan cara apabila akan daerah yang baik berdampak lingkungan. yaitu semua materi seukuran pasir dan mengalami proses transportasi. biologi.

Bila telah terayak. Sekarung pasir yang telah bersih dibeli dengan harga Rp. yaitu pengurangan jumlah pengangguran karena sebagian besar masyarakat bekerja sebagai penambang pasir dan peningkatan penghasilan masyarakat. Pengumpul datang datang dengan menggunakan truk sambil membawa karung-karung beras kosong ukuran 20 kg untuk diisi dengan pasir. 4. Artinya.000. Dampak positif pada aspek sosial ekonomi dengan adanya kegiatan penambangan pasir dirasakan oleh sebagian masyarakat khususnya masyarakat pesisir.dan rata-rata setiap keluarga menjual sebanyak 20 karung. 90.. sore hari pasir tersebut sudah diambil pengepulnya dengan harga Rp. Kabupaten Kupang. Lain lagi dengan penambang pasir Desa Bago Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Faktor dari luar yang menyebabkan adanya penambangan pasir adalah faktor bisnis bagi perusahaan-perusahaan untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Sebagai contohnya warga Dusun 5 Desa Poto.untuk hasil kerja selama seminggu. karena dalam mereka hanyalah bagaimana cara untuk mendapatkan uang agar hidup secara layak. Karena mereka hanya ngayak pasir lalu memasukkan kedalam sak (karung plastik). mereka akan memperoleh penghasilan sekitar Rp. pasir dibiarkan saja di lokasi pengayakan dengan ditutupi ranting-ranting kering.1750/sak. dengan pertimbangan alat-alat yang digunakan untuk melakukan penambangan merupakan alat-alat yang sederhana (alat manual) diantaranya sekop & pacul yang berfungsi mengumpulkan dan mengambil pasir serta kerikil.. dan alat sederhana lain. penambang mengatakan setengah hari . Beberapa pekerja malah tidak mengetahui tentang lingkungan hidup. Tidak sulit bagi mereka untuk mendapatkan penghasilan yang layak. Kecamatan Fatuleu Barat.mengerti tentang lingkungan hidup. Kegiatan penambangan pasir merupakan mata pencaharian yang potensial bagi masyarakat-masyarakat pesisir. Ibu dua anak ini sehari-harinya bekerja mengumpulkan pasir dari pantai untuk kemudian dijemur dan diayak. Hari senin merupakan hari yang paling ditunggu oleh warga Dusun 5 yang mayoritas bekerja menambang pasir pantai karena pada hari itu pengumpul dari kota Kupang datang untuk membeli pasir hasil mereka. namun karena tekanan ekonomi membuat mereka terpaksa mengambil keputusan untuk tetap bekerja di penambangan pasir karena tidak mendapatkan pekerjaan yang lain.500.

Kerusakan yang muncul salah satunya adalah perubahan morfologi dasar laut menjadi tidak beraturan. Hal tersebut bisa mengubah sistem perairan laut di Indonesia. menimbulkan masalah serius bagi keberlangsungan ekosistem laut. Dampak langsung dari kerusakan ini paling dirasakan oleh masyarakat pesisir yang kebanyakan sebagai nelayan. . Pulau tak berpenghuni di Provinisi Kepulauan Riau itu sangat penting perannya. Diperlukan pengaturan khusus agar lokasi penambangan tidak dilakukan pada satu titik. Ini tidak bisa ditoleransi. contohnya ke Singapura.000.pendapatanya tidak kurang dari Rp. kematian biota laut di dalamnya pun tak bisa dihindari.100.000.dengan catatan hanya setengah hari. penambangan yang terjadi secara terus-menerus dan tak terkendali terutama yang dilakukan oleh beberapa perusahaan besar apalagi perusahaan yang tidak memiliki izin untuk dijual. Dalam proses penambangan tingkat kekeruhan air sangat tinggi. seperti ekosistem dan abrasi. tetapi juga telah menyebabkan jatuhnya harga pasir lantaran melonjaknya volume produksi dengan pembeli satu-satunya. serta biota lainnya juga ikut musnah. Salah satu pulau kecil dari ribuan pulau yang hampir tenggelam adalah Pulau Nipah. Perubahan itu secara langsung mengganggu kehidupan biota laut dan lingkungan di dalamnya. Hasil ikan yang diperoleh menjadi berkurang. Hanya beberapa jenis biota yang bisa bertahan. Aktivitas penambangan pasir laut memiliki banyak dampak negatif. tetapi telur-telur. anak ikan. Dampak jangka panjang yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan pasir adalah hilangnya pulau-pulau kecil. Karena pulau tersebut merupakan tanda dari batas kontinen negara Indonesia dengan Singapura.1. Kasus serupa juga tidak tertutup kemungkinan terjadi di tempat lain di seluruh perairan Indonesia. Singapura.jika dijumlahkan dalam satu bulan Rp. terumbu karang. Hal ini disebabkan seluruh isi laut disedot tanpa pandang bulu. 35. bukan saja semakin menekan keseimbangan ekosistem laut. Namun. Laju perkembangan perizinan tersebut. Tidak hanya pasir yang diangkat. Terumbu karang tercemar..

Daftar Pustaka www.blogspot.multiplyjournal. serta menindak tegas pelaku penambangan pasir. Jangan mudah memberi perizinan. pemerintah harus menetapkan kedalaman dan kemiringan/keterjalan maksimum lereng pantai yang dapat mencegah terjadinya longsoran di daerah pantai akibat penambangan pasir laut di daerah pantai (aspek geoteknologi).com . para penegak hukum dan pemberi perizinanan memberantas.Untuk mengatasi masalah tersebut. Selain itu bagi yang sudah mendapat izin. Sebaiknya kaji dulu dampak lingkungan yang akan terjadi ke depan.com Harian Umum Pelita tanggal 7 Mei 2009 khan35.

khususnya masyarakat yang bertempat tinggal di daerah pesisir.KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI PETANI GARAM Ririt Yuliarti Taha F1E1 10 058 Garam merupakan komoditi strategis sebagai bahan baku industri dan bahan pangan yang sangat dibutuhkan oleh hampir semua masyarakat. yaitu memiliki penghasilan rata-rata antara . terdapat problem yang mendasar yang dihadapi petani garam. dihadapkan pada situasi sulit. dalam hal interaksi sosial baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat yaitu mereka tidak hanya berkomunikasi secara langsung. Akan tetapi selama musim hujan para petani garam tidak dapat memproduksi garam. seperti mengikuti perkumpulan pengajian. Petani garam sebagai anggota masyarakat mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada dimasyarakat. mutu garam yang sangat rendah. kehidupan sosial para petani garam di Desa Aeng Sareh. Sedangkan dalam hal pekerjaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat. antara lain menyangkut harga. sampai membanjirnya garam impor. Petani garam bekerja dengan memanfaatkan tanah. hal ini mengharuskan para petani garam melakukan berbagai strategi agar dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kecamatan Sampang. Kabupaten Sampang berdasarkan tingkat pendapatan. Jika dicermati dan dikaji lebih mendalam. tetapi dewasa ini kehidupan petani garam di berbagai daerah di Indonesia. Kecamatan Sampang. bahkan ada yang meninggalkan usahanya dan berpindah menekuni mata pencaharian lain. Mereka juga melakukan kerja sama dengan masyarakat disekitarnya. para petani garam juga tidak terlepas dari persaingan dan konflik. Kabupaten Sampang. tidak terkecuali para petani garam di Desa Aeng Sareh. Problem yang dihadapi petani garam yang tampak kepermukaan. Banyak petani tidak dapat bertahan dengan pilihan usahanya. tetapi mereka juga menggunakan alat komunikasi yaitu HP. yaitu beroperasinya sistem kapitalisme yang mengantarkan mereka pada kondisi yang terpuruk bahkan termarjinalkan. Kehidupan ekonomi para petani garam di Desa Aeng Sareh. air laut. dan matahari sebagai sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Di Kabupaten Sampang Air laut dengan sinaran matahari mampu menghasilkan garam yang sejak dulu dikenal sebagai produk utama masyarakat Madura.

Dari hal ini . tingkat pendidikan para petani garam hanya menempuh sekolah dasar (SD). para petani garam hanya membayar uang listrik sebesar Rp 2000 per bulan. 1. Sedangkan akses untuk mendapatkan pendidikan putra-putrinya yang masih duduk di bangku SD/ Sederajat dan SMP/ Sederajat. Dalam hal pendidikan. Fenomena itu pada satu sisi menunjukkan bahwa posisi dan status sosial ekonomi petani garam semakin termarjinalkan dan pada sisi yang lain juga dapat dimaknai telah terjadi polarisasi dalam penguasaan lahan garam dan dominasi modal produksi kapitalis. tahun 2000 menurun menjadi 729 orang dan pada tahun 2005 menjadi 718 orang. serta menjual barang-barang berharga untuk memenuhi kebutuhan besar. Peningkatan terjadi pada jumlah petani penggarap/buruh garap di mana pada tahun 2000 terdapat sebanyak 3. seperti biaya pendidikan ditanggung oleh pemerintah.449 ha pada tahun 1990 (Jawa TengahDalam Angka. mengikuti arisan dan menabung. 1995) lebih didasarkan pada pemilikan individual (private ownership) masing-masing orang terhadap alat-alat produksi dan dalam hal ini kapitalis sebagai pemilik alat produksi dan buruh proletar memiliki kepentingan yang bertentangan. 1991). yaitu 1. pada tahun 1990 terdapat 12 perusahaan. Para putra-putri petani garam di Desa Aeng Sareh ini bersekolah Madrasah Sore atau TPA. Di kabupaten Rembang jumlah petani garam pemilik lahan pada tahun 1990 sebanyak 784 orang. sedangkan tingkat pendidikan putra-putri mereka sampai bangku SMA/ Sederajat.184. sedangkan untuk biaya mengaji.965 ha pada tahun 2005 (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rembang. 2005).000 sampai Rp 45.184. Adapun jumlah perusahaan garam rakyat di kabupaten Rembang juga cenderung menurun.189.739 orang. serta mengaji di surau.965 ha pada tahun 2000 dan 1. meminimalisasikan pengeluaran. Strategi yang dilakukan para petani garam dalam mempertahankan hidup yaitu seperti bekerja sambilan.Rp 25. pada tahun 2000 berkurang menjadi 6 perusahaan dan tahun 2005 berkurang lagi tinggal 4 perusahaan (Rembang Dalam Angka 1990. meminjam uang kepada famili dan pemilik warung untuk keperluan yang mendesak.000 per hari dengan jumlah tanggungan rata-rata antara 4 orang sampai 6 orang. Padahal luas lahan garam relatif tidak berubah. 2000 dan 2005).986 orang dan pada tahun 2005 menjadi 4. Untuk biaya sekolah madrasah sore atau TPA hanya membayar uang SPP sebesar Rp 5000 per bulan. memanfaatkan barang bekas untuk ditukar dengan makanan seperti kerupuk. Modal produksi kapitalis dalam pemikiran Marx (Morrison.

Sebagai indikatornya tercermin dari beberapa hal . Rembang secara empiris dicirikan oleh adanya hubungan produksi subsisten yang terbatas dalam lingkup keluarga (orang tua. Artinya. Pemikiran Marx itu dikembang-kan Russel (1989). sepupu) dengan dasar hanya untuk dapat survival. Dalam hal ini struktur penguasaan lahan juga berpengaruh pada modal produksi yang berkembang. yaitu moda produksi kapitalis pada petani lahan luas dan moda produksi non kapitalis/us aha keluarga (household farm) pada petani kecil dan petani penggarap. Model produksi non kapitalis dalam proses produksi garam di kabupaten. Selain itu kedua moda produksi tersebut dalam banyak kasus memiliki keterkaitan integratif yang bersifat asimetris. yaitu moda produksi kapitalis mendominasi moda produksi non kapitalis dan surplus dari beroperas inya moda produksi non kapitalis diserap ke dalam moda produksi kapitalis melalui mekanisme pasar (market mechanism) dan sistem bagi hasil yang dikembangkan. tidak terekspresi adanya perhitungan untung-rugi (cost-benefit calculation). bahwa moda produksi kapitalis mempunyai ciri padat modal dan merupakan tipe kelas berstruktur majikan-buruh pada hubungan produksinya. Dari hal ini secara sosial ekonomi petani garam yang menguasai lahan terlebih lahan luas relatif lebih maju/kaya dibandingkan dengan petani lahan sempit apalagi petani penggarap/buruh pada umumnya lebih terbelakang/miskin. Hal ini jelas sangat berbeda dengan moda produksi kapitalis yang dicirikan oleh hubungan produksi komersial yang berorientasi pada keuntungan (profit).terjadi proses pemiskinan kaum buruh oleh kaum kapitalis melalui aliran dan akumulasi surplus yang pada hakekatnya merupakan bentuk eksploitasi terhadap kaum buruh dalam proses produksi. petani garam lahan sempit dan yang tidak menguasai lahan garam. Dalam proses produksi garam. anak. aksesnya rendah bahkan tidak memiliki akses pada surplus dari produksinya dan sebaliknya petani yang menguasai lahan luas memiliki akses untuk dapat menikmati surplus dari produksi garam. menantu. lahan merupakan alat produksi yang sangat penting bagi petani garam karena diatas lahan itulah kegiatan produksi mereka lakukan. Oleh karena itu struktur penguasaan lahan garam akan menentukan accessibity petani garam pada surplus atas produksinya.

Petani (lahan sempit dan penggarap) hanya diposisikan . Hal ini mengingat petani garam di kabupaten Rembang sebagian besar merupakan petani penggarap baik dari pemilik lahan sempit (< 0. biasa memainkan komoditas garam di mana mereka itu semuanya bergerak di julur pemasaran garam. Bermainnya kelompok -kelompok sosial lain dari berbagai aras pada jalur pemasaran garam ini. Dengan demikian petani garam sebagai produsen garam krosok dalam konteks perdagangan garam posisinya termarjinal-kan karena adanya penutupan akses ke pasar oleh pelaku ekonomi di jalur pemasaran. pegawai pemerintah maupun pegawai swasta dan pemodal) ikut bermain baik sebagai penyetok. tengkulak maupun mak elar. jenis dan pola konsumsi makanan. Demikian juga dengan kekuatan ekonomi kapitalis baik pada aras lokal maupun supra lokal. kondisi perumahan. tetapi pada sisi lain menjadikan petani garam terutama petani petani kecil dan petani penggarap/buruh semakin tidak memiliki akses ke pasar.5 ha) maupun buruh garap. Dalam konteks ini tampak bahwa kelompok-kelompok di luar komunitas petani garam yang bertindak sebagai pelaku ekonomi di jalur pemasaran garam. di satu sisi dapat menjadi indikator bahwa garam merupakan komoditas yang dapat memberi keuntungan signifikan. maka pada musim panen banyak kelompok sosial di luar petani garam (seperti guru. Masyarakat Rembang menempatkan garam sebagai komoditas perdagangan yang cukup menarik. hanya sebagian kecil petani garam yang memiliki lahan luas (> 5 ha) yang pada umumnya juga bergerak di jalur pemasaran garam sebagai tengkulak/bakul dan pabrikan (pabrik garam rakyat). pendidikan. Selain itu dominasi kekuatan ekonomi kapitalis atas produksi garam juga ditunjukkan melalui penguasaan mereka terhadap gudang-gudang garam yang merupakan titik pengumpul (collecting point). pendapatan/hasil yang diperoleh. Dengan demikian polarisasi penguasaan lahan garam oleh kapitalis secara signifikan ikut memberi kontribusi bagi marjinalisasi petani garam terutama petani kecil dan petani penggarap/buruh. justru cenderung yang menikmati surplus value bukannya petani produsen. yaitu tempat pengumpulan garam di tepi/pinggir jalan raya yang dapat dijangkau truk dan sejenisnya milik kaum kapitalis yang menguasai jalur pemasaran garam. relasi sosial yang dikembangkan.antara lain: pola kerja/usaha. bukan milik petani kecil dan penggarap.

Kondisi itu diperkuat lagi dengan adanya eksploitasi yang terwujud dalam bentuk relasi usaha antara petani penggarap/buruh dengan petani pemilik dan antara petani kecil dengan pelaku usaha lain di jalur pemasaran dan permodalan serta dengan pabrikan sebagai produsen jadi. Adapun petani hanya dapat menjual pada pedagang yang telah dikenal yang bergerak di jalur pemasaran dan permodalan dan mereka ini yang cenderung mempermainkan harga.php/PPKN/article/view/15331 2. agar supaya mereka tetap dapat menguasai dan mendominasi pasar global. http://karya-ilmiah. mereka hanya memiliki hak untuk memproduksi garam dengan kewajiban menyerahkan sepenuhnya hak penjualan pada pemilik dan pemiliklah yang menentu-kan harga. kekuatan ekonomi kapitalis memiliki kecenderungan untuk dengan sengaja menutup akses pelaku ekonomi lokal dan nasional dapat menembus pasar global.ac. Petani penggarap/buruh sangat tergantung dan ditentukan secara sepihak oleh pemilik.sebagai produsen. Daftar Pustaka 1. baru berikutnya petani kecil dan petani besar.unair.ac. Pada dasarnya kondisi yang demikian sudah dapat dikategorikan sebagai eksploitasi.id/filerPDF/Petani%20Garam%20dalam%20Jeratan%20Kapitalism e. Dalam mata rantai usaha garam itu penggarap/buruh adalah pihak yang paling kecil mendapatkan keuntungan dan paling rentan dibandingkan dengan lainnya. http://journal. Sebagaimana pada tingkat global. karena adanya unsur kesengajaan penutupan akses oleh pihak tertentu pada pihak lain untuk tidak mendapatkan keuntungan dari sumber daya yang ada.um.pdf .id/index.

Warnanya putih gemerlapan seperti perak pada tubuh bagian bawah dan agak gelap pada punggungnya. tetapi dekat dengan sungai. adalah tambak yang terletak sangat jauh dari garis pantai. Salah satu kegiatan perikanan darat yang banyak terdapat di pesisir pantai adalah budidaya ikan bandeng di dalam tambak. Menurut Afrianto. adalah tambak yang sangat dekat dengan garis pantai. yang merupakan sejenis ikan laut yang tersebar dari pantai Afrika Timur sampai kepulauan Timotu. mengingat ikan bandeng hingga saat ini tetap menjadi komoditas budidaya yang paling banyak diproduksi dan dikonsumsi di Indonesia. Tambak bersalinitas menengah. c. Hal ini dikarenakan dalam mengusahakan tambak selain didukung oleh kondisi fisik juga didukung oleh kondisi non fisik yang ada pada lingkungan. Menurut Murtidjo. Usaha budidaya tambak ikan bandeng secara teoritis lebih memberikan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan. yaitu telah dibuatnya bendungan sebagai tempat penampungan air yang berasal dari air laut serta memiliki sarana saluran air yang memudahkan penambahan air maupun pembuangan air pada waktu panen. Tambak bersalinitas rendah. dengan moncong agak runcing. Usaha budidaya tambak terutama ikan bandeng secara teoritis lebih memberikan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan. Ikan bandeng dikenal sebagai ikan petualang yang suka merantau. ketentuan-ketentuan yang perlu diperhatikan : . Tambak dapat dibangun apabila memenuhi syarat yang paling utama.TAMBAK IKAN BANDENG (Karmila F1E1 10 063) Perikanan darat adalah usaha perikanan yang meliputi segala penangkapan dan pemeliharaan ikan yang dilakukan di dalam batas garis pantai. dan dari selatan Jepang sampai Australia Utara. sebelah timur Tahiti. berdasarkan salinitasnya tambak dapat dibagi menjadi : a. Ikan bandeng ini mempunyai bentuk tubuh langsing mirip terpedo. adalah tambak yang agak jauh dari garis pantai. mengingat ikan bandeng hingga saat ini tetap menjadi komoditas budidaya yang paling banyak diproduksi dan Ikan bandeng mempunyai nama latin chanos-chanos. ekor bercabang dan sisiknya halus. b. Dalam membudidayakan ikan bandeng di dalam tambak. ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan sehingga para petani tidak banyak menemui hambatan. Tambak bersalinitas tinggi.

Elevasi (ketinggian tempat) calon lokasi tambak.5-31. dan kualitas. Menurut Slamet Soeseno. 6.Kecerahan 20-40 cm (cahaya matahari sampai ke dasar pelataran).5. 3.Oksigen larut. 200 % per hari.5-8.1. 26.Alkalinitas 50-500 ppm. Tambak yang diusahakan haruslah dapat memberikan keuntungan dan berlangsung secara terus menerus. . Keadaan tanah (letak. .PH. serta kuantitas air. Faktor-faktor yang mendukung usaha budidaya ikan bandeng ini meliputi faktor fisik kimia dan faktor non fisik kimia (sosial ekonomi). Mampu menjamin ketrsediaan air dan pengairan yang memenuhi persyaratan mutu yang ditentukan.Suhu air. 2. .0 0C. dan tekstur tanah). Pemilihan tempat atau lokasi dan kondisi lingkungan berdasarkan pada tekstur tanah. speciesdominan. temperatur air. topografi. penyediaan air.5 ppm. topografi. 4.Air terhindar dari polusi baik polusi bahan organik maupun an organik.Pergantian air minimal. . . serta penyakit endemik harus diperhatikan karena mampu mengakibatkan kegagalan proses produksi. 3. Keadaan tanah yang menjadi dasar tambak. Perencanaan pembuatan tambak yang didasarkan pada pertimbangan biologis dan ekonomis serta cara pengelolaannya. Sifat-sifat perairan pantai dalam kaitan dengan pasang surut dan pasang arus perlu diketahui secara rinci. Faktor-faktor biologis seperti kesuburan perairan. 2. Faktor-faktor fisik kimia yang harus diperhatikan dalam pembuatan tambak adalah: 1. rantai makanan. 3. Perencanaan usaha budidaya ikan yang meliputi ukuran unit usaha. 2. . yaitu: 1.0-8. pH. ada beberapa faktor lingkungan yang sangat dominan dalam budidaya ikan bandeng. . keberadaan predator dan kompretitor. ..

terutama curah hujan. Namun demikian. Tanah yang digunakan untuk lokasi tambak dicari di daerah yang masih berada di daerah pasang surut. Tanah merupakan faktor yang sangat penting dalam usaha pembudidayaan ikan bandeng. Tanah datar yang letaknya berada dekat pantai sangat cocok untuk lokasi tambak. dan debu (silt) yang proporsinya masing-masing akan menentukan teksturnya. Jadi tekstur tanah ditentukan oleh perbandingan relatif dari ketiga jenis partikel tersebut. Karena ikan bandeng termasuk hewan rheotaksis positip (menentang arus) maka faktor iklim. Walaupun banjir tidak sampai merobohkan pematang pada tambak bandeng. kecuali di Jawa Timur yang mempunyai ketinggian pasang sampai 3 meter . Air pasang pada saat curah hujan tinggi biasanya mengakibatkan banjir di kawasan pantai. Untuk itu. ketinggiannya harus disesuaikan dengan perbedaan pasang surut.Iklim merupakan keadaan rata-rata cuaca dalam jangka waktu tertentu dan dalam suatu wilayah/daerah tertentu juga. tetapi bila ada aliran air di atas pematang maka semua bandeng akan keluar dari tambak (berkaitan dengan sifat rheotaksis positip). Pada tanah yang bergelombang sebaiknya dibuat datar terlebih dahulu. Pada umumnya pasang surut di Indonesia adalah 1 ± 2 meter. Daerah ini jarang mengalami kekeringan dan mempunyai unsur hara yang cukup tinggi. untuk mengurangi biaya produksi maka lokasi yang dipilih sebaiknya tidak termasuk daerah kawasan banjir. Tanah yang baik untuk dijadikan tambak . Oleh karena itu. Pada musim kering. Tanah yang paling baik adalah tanah paya-paya yang dekat laut dan muara sungai. Di dalam tanah ini mengandung bahanbahan organik yang diperlukan tumbuhan. pada salinitas tinggi (> 60 ppt) pertumbuhan bandeng lebih lambat dan sangat peka terhadap stress yang diakibatkan oleh rendahnya oksigen terlarut serta gangguan fisik saat panen. salinitas tinggi tidak terlampau mempengaruhi kelangsungan hidup bandeng bila air sering diganti. Untuk membuat tambak. Iklim merupakan salah satu fenomena alamiah yang sangat menentukan dalam keberhasilan budidaya. Ketinggian seluruh tempat itu tidak boleh melebihi tinggi permukaan air pasang tertimggi dan juga tidak boleh kurang (lebih rendah) dari permukaan air surut terendah. Tanah merupakan tempat untuk tumbuh tanaman dan tempat kehidupan hewan mikroorganisme yang mampu menghancurkan sampah-sampah yang dibuang ke tanah. perlu diperhitungkan dalam kaitannya dengan osilasi pasang. sebaiknya dipilih lokasi yang beriklim sedang yang tidak mengalami kemarau panjang. liat (clay). Pada dasarnya tanah tersusun dari partikel-partikel pasir (sand).

Mampu hidup dalam kondisi yang padat di keramba jaring apung (100-300 ekor/m3). Pakan komersial untuk ikan ini sudah tersedia dalam jumlah cukup hingga ke pelosok desa. Teknologi budidayanya baik di tambak maupun dalam KJA telah dikuasai dengan baik. umpan bagi industri perikanan tuna cakalang maupun untuk pasar ekspor. 6. 7. Jaminan pasar baik dalam maupun luar negeri masih terbuka. 8. secara teknis mudah diaplikasikan dan secara ekonomis menguntungkan.7-2. pengelolaan air. sementara . Ikan ini sangat digemari oleh masyarakat utamanya Sulawesi Selatan. utamanya di daerah Sulawesi Selatan dengan memanfaatkan perairan payau dan pasang surut. 4. Budidaya ikan bandeng tidak hanya berkembang di air payau saja namun saat ini juga sedang berkembang di air tawar maupun laut dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). dan pakan secara terencana. 3. 5. Ikan bandeng sebagai komoditas budidaya mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan komoditas budidaya lainnya dalam hal : 1. Teknologi perbenihannya telah dikuasai dengan baik sehingga pasok benih tidak lagi tergantung pada musim dan benih dari alam. Pertumbuhannya cepat (1. Tanah demikian sangat keras dan mempunyai kemampuan yang baik dalam menahan air. Teknologi budidaya ikan ini juga telah mengalami perkembangan yang begitu pesat mulai dari pemeliharaan tradisional yang hanya mengandalkan pasok benih dari alam pada saat pasang sampai ke teknologi intensif yang membutuhkan penyediaan benih.2. Efisien dalam memanfaatkan pakan FCR 1.adalah tanah yang liat dan berlumpur. INFORMASI TAMBAHAN Budidaya ikan bandeng telah lama dikenal oleh petani dan seat ini telah berkembang di hampir seluruh wilayah perairan Indonesia. Mampu mentolerir perubahan salinitas mulai dari 0-158 ppt sehingga areal budidayanya cukup luas mulai dari perairan tawar hingga ke perairan laut.6%/hari). 2. Permintaan ikan ini dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan baik untuk tujuan konsumsi.

laguna. Penggunaan keramba jaring apung untuk budidaya bandeng di laut memiliki beberapa kelebihan di antaranya: 1. Mudah dalam pemanenan baik selektif maupun total 3. Produktivitasnya tinggi (350-400 kg/keramba 6 m3/musim tanam 6 bulan) 5. Pengkajian tentang kelayakan lokasi. Tidak berbau lumpur 3. teluk. Demikian halnya dengan ikan bandeng yang diproduksi dalam keramba jaring apung dapat memiliki standar kualitas ekspor yaitu: 1. Ukurannya bisa mencapai 600-800 g/ekor sesuai dengan permintaan pasar . maupun lingkungannya. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perairan seperti tersebut di atas layak untuk dijadikan lokasi budidaya dengan sistem keramba jaring apung. dan pariwisata yang pada gilirannya akan berdampak pada penurunan produksi. Mudah dipantau dan tidak memerlukan pengelolaan air yang khusus seperti di tambak 4. Kandungan asam lemak Omega-3 relatit tinggi jika dibandingkan dengan bandeng yang diproduksi pada tambak 4. legalitas.areal budidayanya di darat semakin hari semakin menciut akibat banyaknya lahan tambak yang dikonversi untuk kebutuhan pembangunan lain seperti untuk perumahan. Skala usaha dapat disesuaikan dengan kemampuan modal dengan menggunakan bahanbahan yang tersedia di lokasi budidaya. sosial ekonomi. Efisien dalam penggunaan lahan 2. Sisik bersih dan mengkilat 2. dan perairan semacamnya yang memenuhi persyaratan baik teknis. tata lelak. industri. dan desain keramba telah banyak dilakukan. Dagingnya kenyal dengan aroma yang khas sehingga sangat digemari sebagai ikan bakar di warung-warung sea food 5. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi budidaya bandeng adalah dengan memanfaatkan perairan laut seperti muara sungai.

http//: www. Kriteria-kriteria yang dipersyaratkan tersebut akan dapat dipenuhi dan hasil budidaya bandeng yang berasal dari keramba jaring apung di laut. Potensi Sumber Daya Hasil identifikasi yang telah dilakukan terhadap wilayah pesisir dan laut. Sulawesi Tenggara. konsistensi mutu. 2008.695 ha. dan daerah lainnya di Indonesia.Prospek Pengembangan Peluang Pasar Hasil penelitian sederhana yang dilakukan oleh Atjo & Syahrun (2000). Saat ini budidaya bandeng dengan sistem KJA tersebut telah berkembang di beberapa daerah seperti Maluku.500 ha dan tersebar di beberapa provinsi di Indonesia Dari luasan tersebut dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan dalam keramba jaring apung seluas 1% atau 3. Sulawesi Selatan. hotel. Selanjutnya dikatakan bahwa problem utama yang dihadapi adalah kontinyuitas produksi. dan penampilan fisik. Riau. rasa. don pasar swalayan khususnya di Kota Madya Makassar diperkirakan mencapai 6 ton per hari. dan saat ini baru terpenuhi 25%. nampak bahwa lahan yang potensial untuk kegiatan budidaya laut diperkirakan mencapai 1. utamanya dalam hal bobot. DAFTAR PUSTAKA Budidaya Bandeng. dan sejak saat itu rutin dilakukan percontohan di berbagai daerah di Indonesia. 2005 . diperoleh data bahwa kebutuhan ikan bandeng untuk pasar spesifik berupa rumah-rumah makan sea food.9 jute ha. Bali.com/berita/ form98677 Warta Penelitian Perikanan Budidaya Volume II Nimor 1.tribun-timur. Dukungan lptek Teknologi budidaya bandeng dengan sistem keramba jaring apung di laut mulai dirintis oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP) Maros sejak tahun 1993. ukuran. Batam. Dari potensi tersebut yang layak untuk budidaya ikan adalah 369.

Berbeda halnya dengan masyarakat pesisir yang mata pencahariannya didominasi dengan pelayan. Karakteristik masyarakat pesisir berbeda dengan karakterisik masyarakat agraris atau petani. Dalam bidang non-perikanan. pedagang ikan. Hal tersebut menyebabkan masyarakat pesisir sepeti nelayan memiliki karakter yang tegas. 2002)2. masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa transportasi dan lain-lain. maka pendapatan yang mereka inginkan tidak bisa dikontrol. masyarakat pesisir masih menganggap bahwa laut memilki kekuatan magic sehingga mereka masih sering melakukan adat pesta laut atau sedekah laut. buruh nelayan. dan posisi nelayan sosial. dan terbuka´ (Satria. masyarakat pesisir mendapat pengetahuan dari warisan nenek moyangnya misalnya mereka untuk melihat kalender dan penunjuk arah maka mereka menggunakan rasi bintang. Mereka terdiri dari nelayan pemilik. Dilihat dari aspek pengetahuan. pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya. dilihat dari aspek kepercayaan. supplier factor sarana produksi perikanan. Begitu juga dengan posisi nelayan sosial. karakteristik masyarakat pesisir dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya. keras. pada umumnya. kepercayaan (teologis). ³Masyarakat pesisir itu sendiri dapat didefinisikan sebagai kelompok orang atau suatu komunitas yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir´. Namun. dewasa ini sudah ada dari sebagian penduduk yang tidak percaya terhadap adatadat seperti pesta laut tersebut. aspek pengetahuan.KEHIDUPAN MASYARAKAT PESISIR (Inda Permatasari Ridwan F1E1 10 064) Berdasarkan pendapat Nikijuluw dalam Dietriech (2001). Sementara. petani mempunyai pendapatan yang dapat dikontrol karena pola panen yang terkontrol sehingga hasil pangan atau ternak yang mereka miliki dapat ditentukan untuk mencapai hasil pendapatan yang mereka inginkan. Selain itu. nelayan bergolong kasta rendah.³nelayan menghadapi sumberdaya yang bersifat open acces dan beresiko tinggi. . Dari segi penghasilan. pengolah ikan. Pelayan bergelut dengan laut untuk mendapatkan penghasilan. Mereka hanya melakukan ritual tersebut hanya untuk formalitas semata.

Pengelolaan ini dilakukan dengan kegiatan nyata yang sesuai dengan warna dari kultur masyarakat setempat. Dari masalah utang piutang tersebut sering terjadi konflik. Contoh yang menunjukkan bagaimana masyarakat yang tinggal di tepi pantai mengadaptasikan dirinya. tidak sedikit pula program-program yang tidak berhasil karena tidak sesuai dengan harapan masyarakat dan tidak ada keberlanjutan dari masyarakat. keras. Hal tersebut merupakan taktik bagi patron untuk mengikat klien dengan utangnya sehingga bisnis tetap berjalan´ (Satria. dan terbuka memerlukan berbagai strategi dan kegiatan. ³Biasanya patron memberikan bantuan berupa modal kepada klien. Oleh karena itu. sangatlah penting adanya pihak yang dapat mengembangkan sumberdaya laut dan mengatur pengelolaannya. 2002)3. berkaitan dengan permukiman/tempat tinggal mereka. Pemberdayaan masyarakat berbasis masyarkat merupakan salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan dan ketidakberdayaan yang dialami oleh masyarakat pesisir khususnya para nelayan. Beberapa contoh adaptasi yang berkaitan dengan tempat tinggal Adaptasi yang dilakukan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir pantai dan menggantungkan sumber penghidupannya dari sumber daya yang ada. adalah pola . masyarakat pesisir memiliki ciri yang khas dalam hal struktur sosial yaitu kuatnya hubungan antara patron dan klien dalam hubungan pasar pada usaha perikanan. Selain itu LSM harus mampu memberikan masukan dan kritikan bagi strategi pengembangan dan pengelolaan kawasan pesisir. Dalam hal ini peranan aktif LSM sangat membantu dalam mengarahkan strategi pembangunan yang diperlukan masyarakat pesisir dan menunjang pengelolaan sumberdaya lingkungan laut di sekitar tempat tinggal mereka misalnya budidaya perikanan . Masyarakat pesisir yang memiliki karakter tegas. menunjukkan adanya keragaman.yang bersifat fleksibel agar dapat berubah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka. namun konflik yang mendominasi adalah persaingan antar nelayan dalam memperebutkan sumberdaya ikan yang jumlahnya terbatas. Namun. Program-program yang telah dilakukan pemerintah untuk pemberdayaan masyarakat pesisir telah banyak menghasilkan manfaat dan membantu meningkatkan pendapatan masyarakat.Secara sosiologis.

di beberapa tempat seperti di kawasan pantai Kabupaten Bekasi. Selain contoh di atas. Upaya seperti ini dilakukan oleh masyarakat sebagai respon atas semakin terbatasnya lahan yang mereka miliki/kuasai.ac.com/2011/10/08/proses-adaptasi-manusia-di-lingkunganpesisir/ . mereka juga mengembangkan permukimannya. sebagai lahan usaha. terutama.mangrove atau ³menciptakan´ lahan-lahan baru yang dapat digunakan sebagai lokasi permukiman dan.student.permukiman kelompok masyarakat Kampung Laut di kawasan Sagara Anakan atau daerahdaerah lain yang mengembangkan dan membangun rumah-rumah mereka di atas tiang-tiang pancang yang relatif tinggi yang menyesuaikan kepada pasang surut laut yang terjadi secara reguler. Daftar Pustaka http://famif08. masyarakat dengan sengaja membuat jebakan-jebakan sedimen lumpur di pantai untuk mendapatkan lahan baru atau memperluas lahan yang sudah ada untuk kepentingan kegiatan tambak. Sejalan dengan munculnya lahan-lahan baru (³tanah timbul´). Sebagai contoh. pertumbuhan penduduk yang tinggi mendorong penduduk di kawasan pantai untuk merambah/membuka kawasan hutan .id/2010/06/20/masyarakat-pesisir/ http://ngurahadisanjaya. pada banyak kasus.wordpress.ipb.

Sebagai jawaban dari pada visi dan misi tersebut adalah dengan ketersediaan SDM yang terampil dan kompoten dalam bidang budidaya khususnya budidaya rumput laut. pemerintah telah mewujudkan tiga pilar pembangunan. yaitu´ Indonesia penghasil produk perikanan terbesar tahun 2015´. Perwujudan dari pada tiga pilar tersebut. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan visi dan misi. Melalui program ini diharapkan dapat merangsang terjadinya pertumbuhan ekonomi wilayah akibat meningkatnya pendapatan masyarakat setempat.Sosial Ekonomi Pembudidaya Rumput Laut (Aulia Fahdilah Tasruddin F1E1 10 068) Indonesia adalah Negara kepulauan dengan wilayah lautan yang sangat luas yaitu 70 % dari seluruh wilayah Indonesia. 2004). Budidaya rumput laut memiliki peran penting dalam rangka meningkatkan produksi perikanan. Pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia dirintis sejak tahun 1980-an dalam upaya merubah kebiasaan penduduk pesisir dari pengambilan sumberdaya alam ke arah budidaya rumput laut yang ramah lingkungan dan usaha budidaya ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya juga dapat digunakan untuk mempertahankan kelestarian lingkungan perairan pantai (Ditjenkan Budidaya. yaitu pro-poor (pengentasan kemisknan). salah satu pengembangan kegiatan ekonomi yang sedang digalakkan pemerintah adalah pengembangan budidaya rumput laut. Guna mendukung visi dan misi tersebut maka usaha budidaya rumput laut merupakan salah satu jawaban dan pilihan yang paling tepat. . Dalam pembangunan diwilayah pesisir. Di perairan Indonesia hidup berbagai biota laut. Sehingga usaha budidaya rumput laut merupakan salah satu sumberdaya yang berbasis keunggulan untuk menggerakkan perekonomian masyarakat di daerah pesisir. Untuk menunjang program pembangunan kelautan dan perikanan tersebut. Berbagai keragaman jenis rumput laut hidup di daerah pesisir maupun yang hidup dalam tambak merupakan cerminan dari potensi rumput laut yang ada di Indonesia. pro-job (penyerapan tenaga kerja) dan pro-growth (pertumbuhan). Upaya meningkatkan produksi rumput laut dapat ditempuh melalui usaha budidaya dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relative sederhana dan biaya produksi yang murah. salah satu di antaranya yaitu rumput laut.

2001). Potensi pengembangan budidaya laut di Kabupaten Kolaka lebih kurang 17. Wundulako.2.574 juta ton. Rumput laut Indonesia sudah diakui secara internasional sebagai bahan baku utama untuk sejumlah industri pengolahan rumput laut dunia.525 ton/tahun. Wolo. Dimana panjang garis pantai Kabupaten Kolaka 295 km. Pengembangan kelompok budidaya juga ditingkatkan. Tanggateda. Dengan teknologi tersebut produksi rumput laut kering mencapai 1.130 Ha. biaya investasi dan biaya produksi relatif murah.869 rumah tangga perikanan (RTP). seperti Kappaphycus awarezii (cottoni).1 juta Ha atau sekitar 46. Produksi rumput laut menyumbang utama .082 juta ton atau melewati target yang telah ditetapkan KKP sebesar 2. karena itu produksi per minggu sekitar 177.6 % dari potensi yang ada.Pengembangan budidaya rumput laut merupakan salah satu alternatif pemberdayaan masyarakat pesisir yang mempunyai keunggulan dalam hal : (1) produk yang dihasilkan mempunyai kegunaan yang beragam. dengan 43 desa pesisir. Produksi rumput laut Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Khusus budidaya rumput laut di Kolaka hingga tahun 2010.500 .000 Ha yang terletak di sepanjang pesisir dan pulau-pulau kecil. dari 250 kelompok atau 1.65 ton. dengan jumlah pembudidayaan 5. dan Watubangga. atau 28. (2) tersedianya lahan untuk budidaya yang cukup luas serta (3) mudahnya teknologi budidaya yang diperlukan (Departemen Kelautan dan Perikanan.600 orang. Selain itu teknologi yang digunakan cukup sederhana.600 orang. Daerah pengembangan rumput laut telah meluas dan tersebar di beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Kolaka.500 orang di tahun 2008. Sementara potensi lahan untuk pengembangan budidaya rumput laut Indonesia seluas 4. Saat ini rumput laut merupakan salah satu komoditas prioritas dan unggulan bagi Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. Latambaga.5 juta Ha. umur panen singkat hanya 45 hari. yang dimanfaatkan seluas 4. Namun yang dimanfaatkan baru mencapai 2. Hal ini disebabkan rumput laut termasuk jenis komoditi yang mudah dibudidayakan. atau kira-kira 17. produksinya baik dengan harga bersaing.000 kg/Ha yang sebelumnya hanya 700 kg/ Ha. lahan dan bibit mudah dan murah. Teknologi budidaya rumput laut yang diterapkan oleh masyarakat saat ini yakni long line dengan menggunakan tali PE. serta pulau-pulau kecil (8 buah). khususnya jenis rumput laut yang hanya tumbuh di lautan tropis. Pomalaa. Samaturu. meningkat di tahun 2010-2014 sebanyak 2. Sementara produksi nasional tahun 2010 sebesar 3. Eucheuma denticulatum (spinosum) dan Gracilaria sp.900 kelompok atau 17.

Selain itu. Kabupaten Kolaka berencana melakukan pengembangan produksi rumput laut dengan perluasan areal budidaya dari 4. kemudian pedagang tersebut menjualnya ke eksportir yang ada di Makassar dan Surabaya. Setiap tahun produksi rumput laut terus mengalami peningkatan. dari sebesar 2. .produksi perikanan budidaya. Salah satu petani rumput laut yang mengalami kenaikan tingkat kesejahteraan karena rumput laut adalah Syamsuddin (40). pembangunan jalur dan batas-batas kawasan budidaya rumput laut guna menghindari konflik pemanfaatan kawasan.574 juta ton pada tahun 2009 menjadi 3. telah dapat meningkatkan pendapatan nelayan dan pembudidaya ikan sampai dengan Rp3 juta ± Rp 5 juta per bulan. Dampak positif terhadap ekonomi masyarakat pembudidaya melalui budidaya rumput laut. Setelah kering hasil panen tersebut dimasukkan ke dalam karung nilon kapasitas 70-80 kg untuk kemudian disimpan dalam gudang penyimpanan. dengan nilai anggaran dari masing-masing Rp65 juta menjadi Rp520 juta.1 miliar.000 Ha di tahun 2014. warga kelurahan Kolakasih Kecamatan Lantambaga Kabupaten Kolaka. Syamsuddin bekerja sebagai penambang pasir. bapak 4 orang anak ini akhirnya mencoba untuk ikut dalam kelompok tani pembudidaya ikan untuk budidaya rumput laut (Pokdakan) Bina baru di Kelurahan Mangolo Kecamatan Latambaga Kolaka pada tahun 2009. Begitu juga dengan pembangunan gudang penyimpanan rumput laut 15 unit. pemerintah daerah juga memberikan peningkatan anggaran untuk pengadaan mesin katinting. Kegiatan pemasaran rumput laut di Kabupaten Kolaka dimulai dengan sistem pemasaran lokal (pedagang pengepul). Proses pengolahan rumput laut yang telah dipanen diawali dengan proses pengeringan selama 3-4 hari di atas para-para dengan kisaran kadar air lebih kurang 32-35%. dan menyiapkan dana penguatan modal dengan pola kredit lunak sebesar Rp5 miliar. menjadi 5. Masih ada sekitar 7 ribu Ha areal pengembangan budidaya rumput laut yang belum dimanfaatkan. dengan anggaran yang tadinya masing-masing Rp75 juta menjadi Rp1. Ditambah lagi pengembangan kebun bibit rumput laut menjadi 8 unit. Namun karena pendapatannya tidak membaik. Sebelum menjadi petani rumput laut.082 juta ton pada tahun 2010. Dengan semakin luas dan meningkatnya pemanfaatan rumput laut bagi keperluan bahan baku industri maka prospek usaha budidaya dan perdagangan rumput laut semakin cerah. menyiapkan anggaran bagi kelompok pembudidaya rumput laut pemula.130 Ha di tahun 2010.

Melihat potensi produksinya tinggi dengan masa tanam 40 hari sudah bisa dipanen.Saat itu ada bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka berupa tali PE untuk bentang tanaman rumput laut bagi petani.23 . ´Saya sangat bahagia karena kini bisa meningkatkan penghasilan saya dan merekrut tenaga kerja karena budidaya rumput laut.id/mobile/index. Daftar Pustaka Sumber dari situs : http://www.500 untuk bentang ukuran 50 meter. Syamsuddin menerima bantuan 70 bentang tali PE masing-masing sepanjang 25 meter.com/content/view/13324/52/ diambil pada tanggal 28 Desember 2011 jam 13. Selang dua tahun ia sudah memiliki 900 bentang dengan panjang 25 dan 50 meter.´ ujarnya. dan Rp3.16 http://kendariekspres.setkab.go.20 http://DitjenkanBudidaya.php?pg=artikeldetail&articleid=2837 diambil pada tanggal 28 Desember 2011 jam 12. Saat ini ia bisa menikmati hasil penjualan rumput kering sebanyak 1 ton setiap kali panen dengan harga jual ke pengepul sebesar Rp9 ribu ± Rp10 ribu per kg. Syamsuddin lalu mencoba menanam dan panen dengan hasil maksimal.com. Ia juga mendapat penyuluhan bagaimana budidaya rumput laut yang benar.2004/budidayarumputlaut// diambil pada tanggal 28 desember 2011 jam 12.500 untuk bentang ukuran 25 meter. Berkat dukungan teman-teman kelompoknya. Ia bahkan mampu mempekerjakan 10 orang untuk membuat bentang bibit dengan upah Rp2.

Pertumbuhan karang pembentuk terumbu pada kedalaman 18 ± 29 m sangat lambat tetapi masih ditemukan hingga kedalaman iebih dari 90 m. Amerika Serikat dan bagian selatan Jepang. Itulah sebabnya terumbu karang banyak ditemukan di perairan tropis seperti Indonesia dan juga di daerah sub tropis yang dilewati aliran arus hangat dari daerah tropis seperti Florida. Masih dapat tumbuh pada suhu diatas dan dibawah kisaran suhu tersebut. terumbu karang umumnya hanya tumbuh beberapa mm saja per tahunnya. Terdapat ribuan spesies yang hidup di kawasan terumbu karang. Organisme pembentuk terumbu yang terpenting adalah hewan karang. Tergantung dari jenis. tetapi pertumbuhannya akan sangat lambat. Terumbu karang dapat tumbuh dengan baik di perairan laut dengan suhu 21° ± 29° C. Untuk sampai ke kondisi yang sekarang. Karang membutuhkan perairan dangkal dan bersih yang dapat ditembus cahaya matahari yang digunakan oleh zooxanthellae untuk berfotosintesis. dan kondisi perairannya. Karang memerlukan salinitas yang tinggi untuk tumbuh. di sekitar mulut sungai atau pantai atau sekitar pemukiman penduduk akan lambat karena karang membutuhkan perairan yang kadar garamnya sesuai untuk hidup.KEHIDUPAN MASYARAKAT PENAMBANG BATU KARANG (Febrizah F1E1 10 077) Terumbu karang adalah struktur hidup yang terbesar dan tertua di dunia. terumbu karang membutuhkan waktu berjuta tahun. Yang ada di perairan Indonesia saat ini paling tidak mulai terbentuk sejak 450 juta tahun silam. Fungsi Terumbu Karang y Pelindung ekosistem pantai . oleh karena itu. Namun hanya sebagian yang menghasilkan kalsium karbonat pembentuk terumbu.

y Objek wisata Terumbu karang yang bagus akan menarik minat wisatawan sehingga meyediakan alternatif pendapatan bagi masyarakat sekitar. dan berlindung. y Sumber obat-obatan Pada terumbu karang banyak terdapat bahan-bahan kimia yang diperkirakan bisa menjadi obat bagi manusia. masih banyak jenis ikan dan organisme laut serta zat-zat yang terdapat di kawasan terumbu karang yang belum pernah diketahui manusia sehingga perlu penelitian yang lebih intensif untuk mengetahui µmisteri¶ laut tersebut. Selain itu. terumbu karang yang sehat dapat menghasilkan 25 ton ikan per tahunnya. y Mempunyai nilai spiritual . Karenanya banyak hewan dan tanaman yang berkumpul di sini untuk mencari makan. membesarkan anaknya. Diperkirakan sekitra 20 juta penyelam . Sekitar 500 juta orang di dunia menggantungkan nafkahnya pada terumbu karang.Terumbu karang akan menahan dan memecah energi gelombang sehingga mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan di sekitarnya. Diperkirakan. ini artinya terumbu karng mempunyai potensial perikanan yang sangat besar. y Rumah bagi banyak jenis mahluk hidup di laut Terumbu karang bagaikan oase di padang pasir untuk lautan. menyelam dan menikmati terumbu karang per tahun. Bagi manusia. y Daerah Penelitian Penelitian akan menghasilkan informasi penting dan akurat sebagai dasar pengelolaan yang lebih baik. Saat ini banyak penelitian mengenai bahan-bahan kimia tersebut untuk dipergunakan untuk mengobati berbagai manusia. baik untuk sumber makanan maupun mata pencaharian mereka. termasuk didalamnya 30 juta yang bergantung secara total pada terumbu karang sebagai penhidupan. memijah.

15% terancam hilang 10-20 tahun kedepan dan 20% luasan terancam hilang 20-40 tahun mendatang.Bagi banyak masyarakat. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan terumbu karang saat ini dalam kondisi yang menghawatirkah mulai dari kondisi ozon kita saat ini yang merupakan efek dari rumah kaca. Kondisi Terumbu Karang Pada laporan Reef at Risk (2002) menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan status terumbu karang yang paling terancam. Di Indonesia sendiri 34% berada dalam kondisi sangat buruk 42% agak baik sedang hanya 21% dalam kondisi sehat dan 3 % sangat sehat. Laporan status terumbu karang dunia yang dikeluarkan Global Coral Reef Monitoring Network (GCRMN) menyebutkan bahwa selama 2004 hingga 2008 luasan area terumbu karang semakin menurun. Dalam periode 2004 hingga 2008. hasil survey P2O LIPI (2006) menyebutkan bahwa hanya 5.23% terumbu karang di Indonesia yang berada di dalam kondisi yang sangat baik. Laut yang terjaga karena terumbu karang yang baik tentunya mendukung kekayaan spiritual ini. 19% luasan terumbu karang dunia telah hilang. Lebih lanjut. proporsi penurunan kondisi terumbu karang Indonesia telah meningkat dari 10% menjadi 50%. Selama 50 tahun terakhir. . laut adalah daerah spiritual yang sangat penting.

(banyak kasus di Maluku. ribuan meter kubik karang batu dan sebagian besar merupakan karang hidup dipakai untuk membuat tanggul-tanggul tambak yang diambil dari terumbu karang pada bagian depan tambak. maka penambangan karang merupakan alternatif yang terbaik dan termudah yang dapat dilakukan. perlindungan terhadap ekosistem pantai akan berkurang karena tidak mampu lagi memecah energy gelombang untuk mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan sekitarnya. Porites spp) dan tidak jarang karang yang diambil tersebut masih hidup. Kalimantan Timur). terutama batu pada suatu daerah. Dampak Bagi Kehidupan Dari Penambangan dan Pengambilan Batu Karang 1. lapangan bola. Jenis yang umum diambil adalah karang batu (stony coral. sehingga alternatif termudah adalah mengambil dari terumbu karang. jalan.bencana alam dan masih banyak lagi yang diantaranya oleh karena ulah dari perusahaanperusahaan penambangan yang tidak melakukan peraturan-peraturan yang telah diberikan baik yang telah mendapatkan surat izin terlebih lagi penambangan legal Adapun lagi sekarang yang merupakan ulah dari masyarakat setempat yang melakukan penambangan maupun pengambilan yang kita ketahui bersama bahwa pengambilan karang merupakan kegiatan merusak terumbu karang yang banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir pada umumnya. Pada daerah-daerah yang tidak memiliki bahan galian seperti batu yang dapat dipakai dalam pembuatan bangunan atau untuk memperoleh bahan-bahan bangunan tersebut sangat jauh. Di Lombok (Mataram). Dengan begitu maka masyrakat yang tinggal di bagian pesisir yang akan mendapatkan imbasnya dan masyarakat yang ikut melakukan penambangan maupunn pengambilan terumbu karang akan merasakan akibatnya secara langsung pada musim-musim tertentu . walaupun banyak sekali masyarakat yang sadar bahwa kegiatan mereka dapat merusak ekosistim terumbu karang. Karang yang diambil dipergunakan untuk membuat bangunan/rumah. Penambangan karang berpotensi menghancurkan ribuan meter persegi terumbu dan mengubah terumbu menjadi gurun pasir bawah air. karang yang ditambang digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan kapur. Penyebab utama penambangan karang adalah tidak tersedianya bahan bangunan. Di Sulawesi Selatan.

dan yang paling fatal bila terjadi bencana alam di laut maka tak ada lagi yang dapat meredam ombak. 2. .Rumah yang digunakan bagi banyak jenis makhluk hidup di laut ini akan hilang, yang artinya bagi manusia potensial perikanan yang sangat besar dengan adanya terumbu karang tersebut akan berkurang dan untuk sumber makan maupun mata pencaharian mereka akan semakin sulit karena diperkirakan, terumbu karang yang sehat dapat menghasilkan 25 ton ikan per tahunnya. Sekitar 500 juta orang di dunia menggantungkan nafkahnya pada terumbu karang, termasuk didalamnya 30 juta yang bergantung secara total pada terumbu karang sebagai penghidupannya. Dengan begitu maka pendapan dan kehidupan bagian pesisirpun akan menurun dan ini akan sangat dirasakan oleh para nelayan sekitar atau yang berpencaharian disekitar pesisir.

3. Pencarian obat-obatan dengan terumbu karang akan semakin sulit dan akan semakin meningkat harganya.

4. Objek wisata yang juga merupakan sumber pendapan bagi sebagian masyarakat sekitar akan menurun. Dalam hal ini maka pemerintah harus lebih giat dalam melakukan peninjauan pada daerahdaerah tersebut dan memberikan pengetahuan yang penting pada masyarakat sekitar agar masalah-masalah yang dapat timbul bisa berkurang. Dengan begitu maka mata pencaharian maupun sumber makanan bagi mereka akan tetap ada dan kebersihan lautpun akan tetap terjaga dengan begitu maka kualitas hidup masyarakat pesisirpun akan semakin baik. Selain itu juga peraturan maupun hukum yang telah ada untuk perlindungan terhadap terumbu karang harus lebih ditegakkan agar para perusahaan maupun masyarakat yang melakukan penambangan tidak menimbulkan akibat yang dapat merugikan. Selain berpengaruh pada masyarakat sekitar maupun perusahaan penambangan terumbu karang juga memberikan keuntungan kepada Negara seperti di Negara kita Indonesia memberikan keuntungan pendapatan sebesar US$1,6 milyar/tahun. Nilai keseluruhan pelayanan dan sumber dayanya sendiri diperkirakan mencapai setidaknya US$ 61,9 milyar/tahun.

Oleh sebab itu pemberian pengetahuan tentang pentingnya terumbu karang kepada masyarakat pesisir sangatlah penting karena bagaimana cara hidup mereka saat ini juga dapat menimbulkan akibat ataupun gambaran kehidupan mereka kedepannya sebab mereka yang dapat merasakan langsung akibat perbuatan yang mereka lakukan.

Referensi http://www.terangi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=8%3Afaktor-faktoryang-merusak-terumbu-karang&catid=17%3Aterumbukarang&Itemid=12&lang=id#ixzz1hqSixN8I

³ Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Non Perikanan´ (Rika Hardiyanti Pagala F1E1 10 083)

( PENENUN )

Pembahasan : Populasi masyarakat pesisir didefinisikan sebagai kelompok orang yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir.

Mereka terdiri dari nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya, pedagang ikan, pengolah ikan, supplier faktor sarana produksi perikanan. Dalam bidang non-perikanan, masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa pariwisata, penjual jasa transportasi, serta kelompok masyarakat lainnya yang memanfaatkan sumberdaya non-hayati laut dan pesisir untuk menyokong kehidupannya. Terutama yang akan saya bahas yaitu masyarakat pesisir yang mata pencahariannya adalah menenun. Penenun merupakan pekerjaan populer bagi kaum hawa,terutama yang hidup dan bermukim di daerah pesisir maupun daerah yang terpencil. Menenun adalah kebiasaan dan tradisi sehat yang diwariskan secara turun temurun. Bahkan hanya dengan melihat secara terus menerus kebiasaan ibu-ibu mereka, gadis-gadis remaja dengan sendirinya bisa memulai menenun tanpa harus diajari. Kebiasaan, ketekutan, konsistensi dan selanjutnya adalah penemuan atas media penyaluran kreatifitas dan ekspresi, yang membuat para gadis remaja itu terpanggil untuk melanjutkan tradisi dari nenek moyang mereka.

3. Sebagai pemberian dalam acara kematian dan sebagai wujud penghargaan.Gambar para gadis yang melanjutkan warisan nenek moyangnya yaitu menenun Kain tenun mempunyai banyak fungsi penggunaan di masyarakat. 6. Sebagai mahar dalam perkawinan dalam bahasa daerah disebut sebagai ³belis´ nikah. berikut adalah fungsi dari kain tenun: 1. Sebagai alat untuk membayar hukuman jika terjadi ketidakseimbangan. 4. 5. 2. Sebagai alat barter/transaksi . 7. Sebagai busana dalam tari adat dan upacara adat. selain sebagai mata pencahrian. Sebagai busana untuk penggunaan sehari-hari dan mentupi badan. Sebagai penunjuk status social.

hasil tenun mereka dipasarkan di pulau Maringkik serta di Tanjung Luar dan sekitarnya. corak Tanjung dan yang mulai langka adalah tenun Mandar Tenunan khas pulau Maringkik dijual dengan harga Rp 200.motif nya. hasil tenunan tersebut bisa membuat para ibu rumah tangga ini bisa membantu ekonomi keluarga. tenun Maringkik belum dapat dipasarkan. Proses pencelupan warna yang mereka jadikan motif. .8. Tenun khas Maringkik terdiri dari tenun ikat kain Bugis. Lebih jauh dari itu.000 hingga Rp 250. pemerintah daerah setempat dapat membantu mereka untuk memberikan pelatihan-pelatihan untuk peningkatan mutu dan kualitas tenunan.000. Mereka sangat berharap. Proses menenun satu kain memakan waktu 7-14 hari. Padahal. perempuanperempuannya menenun kain khas Maringkik. tenun corak Palembang. tampak pulau Maringkik Di pulau yang memiliki luas 16 hektar are ini. Sebagai bentuk penghargaan bagi tamu yang datang berkunjung. Sejauh ini. Termasuk juga keluhan mereka tentang susahnya memasarkan tenunan Maringkik. adalah proses yang dianggap paling sulit. Contohnya Dari dermaga Desa Tanjung Luar yang berada di bagian Selatan Pulau Lombok. Penenun Maringkik mewarisi keahlian menenun dari nenek moyang mereka yang sejak dahulu mendiami pulau ini. di mana suami-suami mereka nota bene bermata pencaharian sebagai nelayan. Rata-rata di tiap rumah di pulau ini memiliki alat tenun peninggalan leluhur mereka sehingga dua hingga empat perempuan di masingmasing rumah kesehariannya adalah menenun. 9. Sebagai betuk cerita mengenai mitos dan cerita-cerita yang tergambar di motif. Makin banyak kembang atau coraknya maka harganya makin mahal. Tenun khas Maringkik berkembang alami sesuai kemampuan dan keahlian para penenun tradisional ini.

http://www. Bogor.html .com Bengen.neonnub. Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. 2001.DAFTAR PUSTAKA - http://www. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Secara Terpadu.cc/2010/12/pesona-ttu. 21-22 September 2001. D.co.cybertokoh.G. - ^ "Fungsi Kain Tenun". Makalah pada Sosialisasi Pengelolaan Sumberdaya BerbasisMasyarakat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful