Tugas Nutrisi Kelautan

KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR

KELOMPOK 2
1. Nur Sulviyana
2. Firda Ulfa Lusiana 3. Sudarman 4. Dian Sari Enimosa 5. Ershanty Rahayu 6. Yunita Silvana Lantapi 7. Sri Wuna Sari Nasir 8. Fauzyah Novrini Kasman Arifin 9. Rahmawati Nur Ariyanti 10. Ririt Yuliarti Taha 11. Karmila 12. Inda Permatasari Ridwan 13. Aulia Fahdilah Tasruddin 14. Febrizah 15. Rika Hardiyanti Pagala

F1E1 10 047
F1E1 10 004 F1E1 10 030 F1E1 10 044 F1E1 10 046 F1E1 10 048 F1E1 10 051 F1E1 10 055 F1E1 10 057 F1E1 10 058 F1E1 10 063 F1E1 10 064 F1E1 10 068 F1E1 10 077 F1E1 10 083

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2012

KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN PENANGKAP IKAN

(Nur Sulviyana F1E1 10 047)

A. Ekonomi, Sosial dan pendidikan

Pembangunan wilayah pesisir pada umumnya dikaitkan dengan upaya pengentasan kemiskinan nelayan yang kehidupannya tergantung pada usaha perikanan. Sektor perikanan pada hakekatnya dapat dikembangkan sebagai alternatif bagi perbaikan ekonomi masyarakat nelayan.

Gambar 1. Peta Desa Bandaran Bebarapa desa yang berada di ruang lingkup Nusantara berpenghasilan sebagai nelayan penangkap ikan yaitu Desa Bandaran. Desa ini berada di wilayah sekitar pesisir Pulau Madura. Desa ini semula bernama kampong cerek. Perubahan nama dari ³Cerek´ menjadi ³Bandaran´ terjadi ketika desa ini berkembang menjadi ³bandar´ ikan. Beberapa definisi tentang masyarakat nelayan yang di definisikan oleh para ahli yaitu: Masyarakat nelayan adalah masyarakat yang lingkungan pemukimannya berada pada wilayah peralihan antara daratan dengan lautan yang disebut pinggir pantai atau tepi laut. Masyarakat pesisir atas nelayan, pembudi daya ikan, dan pedagang hasil laut, serta masyarakat nelayan yang kehidupan sosial ekonominya tergantung pada sumber daya kelautan. Masyarakat nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang tergantung pada hasil laut, baik dengan cara

melakukan penangkapan atau budidaya yang pada umumnya tinggal di pinggir pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya. Mengacu pada definisi tentang masyarakat nelayan. Definisi ini menggambarkan keadaan Desa Bandaran yang merupakan sebuah potret kehidupan desa nelayan tradisional, yang dalam menggerakkan aktivitas perekonomiannya sangat mengandalkan pada mata pencaharian sebagai nelayan, dan sedikit sekali yang memiliki mata pencaharian tetap. Selain itu, para nelayan dan beberapa pelaku ekonomi setempat (juragan pemilik kapal, bakul ikan) mengelola dan mengembangkan aktivitas perekonomian mereka secara ³swasembada´, yaitu bertumpu pada pemberdayaan potensi daerah dan modal yang terdapat di lingkungan setempat (lokal), yang merupakan ciri khas dari sebuah struktur ekonomi desa. Kondisi ketika musim kemarau panjang, matapencaharian pokok masyarakat yang berada di desa Bandaran pesisir, adalah sebagai nelayan, serta hanya sebagian kecil di antaranya bermatapencaharian selain nelayan. Walaupun masyarakat desa Bandaran pesisir tersebut berada pada daerah yang tidak terlalu subur, dan banyak menggantungkan hidup pada hasil penangkapan ikan di laut, namun secara ekonomis kehidupan mereka tidak dapat dikatakan sebagai masyarakat terbelakang dan miskin, bahkan, dari hasil penangkapan ikan di laut itu, sebagian besar dari mereka memiliki rumah tembok, fasilitas rumah tangga ³modern dan canggih´, untuk ukuran ³masyarakat tradisional´ (traditional peasant societies), dan mobil. Seperti lazimnya pemukiman masyarakat nelayan lain di Pulau Madura, rumah-rumah penduduk setempat cukup padat, berjejal, tidak menganut pola penataan rumah seperti dalam masyarakat petani pedalaman, serta mengesankan sebuah ³pemukiman kumuh´. Pada umumnya rumah-rumah mereka menghadap ke laut. Ketika berjalan di perkampungan sangat sempit dan berkelok-kelok, sehingga apabila berpapasan salah satu harus mengalah, namun, apabila diperhatikan, sulit dibayangkan bahwa daerah itu adalah daerah nelayan, dengan mata-pencaharian ³satu-satunya´ adalah menangkap ikan di laut. Kondisi rumah-rumah mereka yang berderet dari Timur ke Barat sepanjang 500 meter sebelah utara dan selatan jalan raya antara Pamekasan dan Sampang, tidak begitu jauh berbeda dengan rumah-rumah pemukiman orang-orang kota. Deretan bangunan rumah pemukiman penduduk di desa Bandaran itu ibarat sebuah ³kota kecil di tepi pantai´ (a little state in the coast), lengkap dengan berbagai aksesoris peralatan rumah tangga ³modern´, berselang-

sistem penangkapan ikan melalui bagan tidak digunakan mengingat kondisi laut di desa Bandaran ini cukup dalam dan terjal sehingga tidak memungkinkan penggunaan sistem bagan. laki-laki dan atau perempuan. Sebagai daerah pemukiman cukup padat. mereka membeli di kota Kabupaten (Pamekasan atau Sampang). rakat. baik yang terbuat dari bambu maupun kayu. Sistem Penangkapan Ikan di Laut Bagi masyarakat nelayan di Desa Bandaran. Anak-anak mereka. disamping sistem pancing. kecuali sebagian kebutuhan sandang dan papan yang tidak terdapat di desanya atau terdapat kekurangan. jaring lingkar. perhatian dan tingkat partisipasi penduduk terhadap pendidikan anakanaknya sangat kurang. pada umumnya hanya bersekolah hingga jenjang SD. (2) jaring gondrong. mulai berubah sejak dasa warsa 90-an. upaya mereka untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya. (3) jaring lingkar (sleret). dan (4) rakat. sistem jaring (jaring lepas. Di antara keempat jenis sistem penangkapan ikan dengan menggunakan sisem jaring di atas. Sungguh merupakan sebuah mozaik desa yang sangat mencengangkan. telah mulai ada yang disekolahkan hingga jenjang SMTA. terutama karena alasan akan ³dikawinkan´. yaitu: (1) jaring lepas (sethet). dan jaring gondrong) merupakan sistem penangkapan utama atau umum diterapkan di dalam menangkap ikan di laut. juga berbagai perabot rumah tangga khas masyarakat nelayan. itupun tidak seluruhnya tamat. sedangkan jaring lepas (sethet) kini hanya sebagian kecil nelayan yang . yang hingga kini tetap bertahan dan masih banyak digunakan oleh nelayan tradisional penangkap ikan di desa Bandaran adalah dengan jenis jaring lingkar (sleret).seling dengan rumah-rumah desa khas penduduk kampung nelayan. Kepedulian masyarakat setempat terhadap arti penting pendidikan bagi masa depan kehidupan anak-anak mereka. B. Di sisi lain. tampaknya dapat dipenuhi sendiri dari berbagai fasilitas warung atau pertokoan yang ada di desanya. dan jaring gondrong. dan hanya satu-dua orang saja yang bisa mencapai jenjang Perguruan Tinggi. Ada tiga jenis jaring (phajang) yang biasa digunakan untuk keperluan penangkapan ikan di laut. Sedangkan.Walaupun dengan tingkat persentase yang tidak terlalu tinggi. Anak-anak mereka terutama yang perempuan.

tetapi dalam kasus-kasus tertentu bahkan seorang juragan pemilik perahu harus merekrut anggota nelayannya dengan ³cara membeli´. bukan terjadi dalam kerangka hubungan kerja antara ³atasan´ dan ³bawahan´ yang bersifat ³hubungan pengabdian´. baik antara juragan perahu. Setiap kelompok nelayan terdiri dari: (1) juragan pemilik kapal/perahu. terbuka. Hal ini menunjukkan betapa faktor-faktor sosial dan budaya bercampur baur dengan faktor-faktor ekonomi. yaitu: kapal sleret. (3) pandhiga. edher. Sebagai sebuah (organisasi) kelompok nelayan pola relasi kerja. atau antar anggota nelayan sendiri. suka-hati dan didasarkan atas ³kesertaan secara sukarela´. juragan kepala dan phandiga. tetapi berkelompok.menggunakannya (di desa Bandaran kini hanya tinggal 5 buah). sekalipun terdapat klasifikasi di antara mereka sesuai dengan spesifikasi kerja masing-masing. (2) juragan kepala perahu. Gambar 2 C. mengingat bahwa penggunaan ketiga jenis jaring tadi secara ekonomis lebih menguntungkan. Organisasi dan hubungan kerjasama di antara jraghan praho/kapal. Hubungan di antara mereka pun sangat longgar. Berbagai jenis perahu yang digunakan para nelayan desa Bandaran untuk menangkap ikan yang ada sekarang. terdiri dari jenis yang paling besar hingga yang terkecil. tidak semata-mata didasarkan pada hubungan . Hal ini. tetapi lebih bersifat ³kolegialisme´ dan ³kekeluargaan´. dan pakesan kecil (thitil). Organisasi dan Pola Relasi Kerjasama Antar-Nelayan Kehidupan para nelayan Desa Bandaran bukanlah bersifat individual. jraghan kepala dan awak perahu/kapal di atas tidaklah terlalu ketat.

siapapun orangnya. Di lain pihak. Khusus untuk seorang juragan kepala. tanpa ada paksaan. tanpa harus menunggu habisnya satu mosem petthengan. Artinya. sehingga. faktor-faktor yang bersifat ³kekeluargaan´ juga mewarnai pola relasi kerjasama di antara mereka.ekonomi-bisnis. . adalah perekrutan seseorang dalam sebuah kelompok nelayan yang terbuka bagi siapa saja. maka hanya dipersyaratkan bagi setiap nelayan yang telah memiliki banyak pengalaman di bidang penangkapan ikan di laut serta luasnya hubungan dan komunikasi dengan berbagai kelompok nelayan yang ada di daerah itu atau di luar desa Bandaran. atau dengan berbagai persyaratan sebagaimana layaknya sebuah usaha profesional. serta merupakan lahan yang sangat potensial bagi keduanya untuk terlibat dalam hutang yang bertumpuk-tumpuk. dan (2) membeli. Longgarnya ikatan keorganisasian dan hubungan kerjasama kemitraan di antara pemilik kapal. atau kurang memadai. atau apabila menurut mereka kapal/perahu yang mereka ikuti kurang memberikan hasil yang mencukupi atau memuaskan kebutuhan diri dan keluarganya. untuk mendapatkan anggota seorang juragan harus membeli orang-orang yang akan dijadikan anggota pandhiga perahunya. Demikian pula. secara sukarela. juragan dan awak perahu tersebut tampaknya disebabkan oleh pola rekrutmen anggota yang juga tidak terlalu ketat. Sistem membeli ini dilakukan manakala sebuah kapal/perahu tersebut pada setiap hari atau setiap musim melaut dapat dikatakan sedikit atau sama sekali tidak membawa hasil tangkapan ikan yang banyak (ta¶ olleyan). Cara sukarela. menyebabkan adanya hubungan ³hutang-piutang´ yang cukup rumit di antara mereka dan seringkali menyebabkan posisi ³menawar´ para phandhiga atau jraghan kepala berada pada posisi lemah dibandingkan para pemilik perahu. sistem ³membeli´ (melle) adalah perekrutan seseorang dalam sebuah kelompok nelayan dengan cara membeli atau membayar agar yang bersangkutan mau menjadi anggota kelompok perahunya. mengingat pentingnya peran dan tanggungjawab dia sebagai ³pemegang komando´ dalam suatu operasi penangkapan ikan. dia dapat masuk menjadi pengikut atau awak perahu (pandhiga) dari seorang pemilik perahu tertentu dan/atau para pemilik perahu yang lain. Sistem atau pola rekrutmen keanggotaan nelayan dilakukan secara: (1) sukarela. Adanya sistem pembelian anggota kelompok nelayan untuk keperluan pengoperasian perahu/kapal seperti ini. mereka pun dapat keluar dari keanggotaan suatu kelompok nelayan tersebut kapan mereka menghendaki. tidak terlalu prosedural. atas dasar kesukarelaan yang bersangkutan untuk menjadi anggota kelompok nelayan.

sistem pembagian hasilnya tetap tidak berubah. jraghan kepala. Kendatipun demikian. serta anggota nelayan lain yang termasuk anggota kelompok nelayan tersebut. dan mesin. Namun. karena dalam hal terjadi kecelakaan atau kerusakan pada perahu. memang sebanding dengan investasi yang telah dia keluarkan untuk pengadaan perahu. . banyak atau sedikitnya hasil ikan sama sekali tidak berpengaruh terhadap sistem pem-bagian hasil ikan di antara jraghan kapal/perahu. maka seluruh biaya perawatan. pandhiga. dalam sistem pembagian ikan hasil tangkapan di atas. Selain itu. sedangkan sekitar 2/3 (65%) bagian lainnya dibagi menjadi 20 bagian untuk seluruh awak kapal/perahu. Dalam masyarakat nelayan desa Bandaran. perbaikan atau bahkan penggantiannya yang baru sepenuhnya menjadi tanggungan dan atas modal dari juragan pemilik perahu tersebut. dewasa ini pemilik perahu hanya mendapat sekitar 1/3 bagian (atau 35%). sistem pembagian ikannya adalah 50% dari seluruh ikan hasil tangkapan adalah bagian pemilik perahu. Berapapun hasil perolehan ikan. dan/atau orang-orang lain yang terlibat dalam proses persiapan dan pelaksanaan operasi penangkapan ikan. yaitu apakah menggunakan jenis kapal/perahu besar (sleret dan pakesan besar). Sistem Pembagian Hasil Ikan Dalam kaitan bisnis penangkapan ikan di desa Bandaran. jaring. Hal ini berbeda pada kapal besar jenis sleret dan pakesan besar yang seluruh biaya perawatan. seorang pemilik perahu/kapal tidak menentukan ³target minimal´ yang harus dipenuhi atau dicapai oleh para jraghan kepala atau awak kapal/perahunya berkenaan dengan hasil tangkapan ikannya. Untuk jenis perahu besar. besarnya jumlah penerimaan dari seorang juragan pemilik perahu pakesan kecil dan sampan (edher) tersebut. jaring. sedangkan 50% sisanya untuk seluruh awak perahu. Apabila diperhatikan. tampaknya juragan pemilik perahu umumnya tetap mendapatkan pembagian hasil ikan rata-rata lebih tinggi dari para awak kapal.D. Seperti pada sistem pembagian ikan pada jenis kapal sleret di atas. dan mesin. atau jenis kapal kecil (sampan/edher dan pakesan kecil) juga apakah menggunakan alat berupa jaring atau pancing (khusus untuk jenis kapal kecil). dikenal dua sistem pembagian hasil ikan tangkapan yang didasarkan pada ³jenis perahu yang digunakan´ dan ³jaring (alat penangkapan ikan) yang digunakan´. sejalan dengan semakin ketatnya persaingan di antara para juragan pemilik perahu.

perbaikan dan/atau penggantian yang baru diambilkan dari uang perbaikan/perawatan yaitu sebesar 5% ± 10% (sistem pembagian lama). (2) awak perahu mendapatkan bagian yang bervariasi. (3) tokang nampo mendapatkan bagian yang diberikan oleh masing-masing anggota nelayan sebanyak 5%. tergantung apakah jaringnya memperoleh hasil banyak. untuk jenis perahu kecil terbagi lagi menjadi dua sistem. tetapi memperoleh bagian dari hasil pemberian sekadarnya Gambar 3 Jenis-jenis kapal (sakadharra) atau atas dasar kerelaan dari para nelayan. juga masih memperoleh tambahan bagian lagi antara 5% ± 20%. sehingga secara keseluruhan mendapatkan perolehan sebanyak 15% ± 60%. maka total bersih penerimaannya sebanyak 5% ± 20%. Namun. sedangkan awak perahu masing-masing mendapatkan 1 bagian (jumlah awak perahu antara 4-6 orang). secara umum mereka dapat memperoleh total bagian bersih sebanyak 85% dari jumlah udang hasil pancingan mereka. maka selain mendapatkan bagian yang telah ditetapkan di atas. sedikit atau tidak. . Karena seluruh anggota nelayan berjumlah 1-4 orang. tokang nampo dan tokang jagha¶an mendapatkan masing-masing ½ bagian. Namun. tokang koras (harfiah: ³tukang menguras´ air di dalam perahu di tengah laut ketika sedang melaut) tidak mendapatkan bagian tersendiri. atau sebesar 2. Sementara itu. tetapi oleh karena dia juga dapat merangkap sebagai tukang nampo. apabila menggunakan jaring gondrong pembagiannya adalah: (1) juragan pemilik perahu antara 10% ± 40%. Apabila menggunakan jaring sethet.14% (sistem pembagian baru). maka sistem pembagiannya adalah 4-5 bagian untuk juragan pemilik perahu.

Artinya. ada pula yang dibawa ke darat untuk dijual atau diserahkan kepada para bakul ikan yang ada di darat. (3) tengkulak (tokang kolak jhuko¶). ada yang sebagian langsung dijual atau diserahkan kepada para bakul ikan yang datang ke tengah laut dengan menggunakan perahu. Relasi dan praktik jual-beli yang demikian ini telah menjadi pola umum dalam hampir setiap relasi dan jaringan perdagangan ikan yang berlaku di kalangan nelayan tradisional di desa Bandaran. Uang tersebut merupakan ³uang muka´ (pesse panjher) dari bakul ikan kepada para nelayan dan juragan kepala dari hasil penjualan ikan yang diterimakan kepada bakul ikan. walaupun sebenarnya uang yang dibayarkan²saat itu juga atau kemudian²oleh para bakul kepada mereka tidak pernah sama. Menjadi ³kewajiban´ atau ³keharusan´ bagi para nelayan dan juragan kepala penerima uang tadi untuk menjual atau menyerahkan sebagian atau seluruh ikanikan yang menjadi bagiannya²sesuai dengan kesepakat-an²kepada bakul yang telah memberinya uang. Dalam banyak kasus di lapangan. dalam banyak hal telah menjadi kesepakatan di antara kedua belah pihak. Hal ini terjadi. para nelayan atau juragan kepala tersebut akan menerima uang hasil pembelian ikan dari bakul µsenantiasa kurang¶ . juragan perahu. karena para nelayan dan juragan kepala tersebut secara rutin dan berkesinambungan mendapatkan ³uang pengikat´ (pesse panyengset) dari para bakul ikan. Pola Relasi dan Jaringan Penjualan Ikan Transaksi jual-beli ikan/udang nelayan di desa Bandaran pada umumnya dilakukan di darat seperti dalam masyarakat nelayan di Pulau Madura lainnya. Pola jual-beli ikan dengan sistem ³uang pengikat´ (pesse panjher) tersebut memang tidak selalu merugikan pihak nelayan dan juragan kepala. juragan kepala. daripada atas dasar ³sukarela´. hubungan jual-beli ikan antara para nelayan dan juragan kepala di satu pihak dengan para bakul ikan di lain pihak sering bersifat ³mengikat´. tetapi kadang-kadang juga dilakukan di tengah laut. Aktivitas jual-beli tersebut terjadi antara (1) nelayan. bahkan lebih rendah dari harga jual riil ikan seandainya dijual langsung di pasar lokal. hasil ikan bagian masing-masing awak kapal dan juragan kepala. Kebiasaan memberikan uang perangsang ini. Dalam aktivitas jual-beli tersebut.E. Pemberian uang tersebut tujuannya tidak lain adalah agar para nelayan dan juragan kepala tadi menyerahkan atau menjual ikan kepada si bakul ikan. (2) bakul ikan (bakol jhuko¶).

harga jual rendah/murah dan atau apabila mereka bawa ke pasar di luar daerah mereka sendiri.dari harga jual ikan di pasaran. sehingga jumlah uang yang diterima oleh para nelayan dan juragan kepala dari para bakul siapapun dia setiap orang adalah setara. misalnya ke pasar kota Pamekasan. Bagi bakul ikan sendiri. apabila mereka menjual langsung ikan-ikan tersebut di pasar jalanan (pasar di pinggir jalan). yaitu kemudahan untuk mendapatkan hutang (otang) atau pinjaman uang (nginjham pesse) dari para bakul rekanannya. yang tentunya harga jualnya akan lebih murah dibandingkan apabila dijual dalam bentuk ³ikan basah´ (jhuko¶ odi¶). atau hal-hal praktis lainnya daripada semata-mata pertimbangan bisnis-ekonomi yang berorientasi pada mencari untung sebesarbesarnya. Kecenderungan para nelayan dan juragan kepala untuk menjual ikan kepada bakul yang telah ³mengikatnya dengan uang pengikat tadi. yaitu ada kemungkinan tidak laku. Sistem pemberian hasil penjualan ³di bawah harga´ tersebut berlaku umum atau sama untuk seluruh bakul. adalah lebih disebabkan pada pertimbangan kecepatan dan kemudahan menjual ikan serta memperoleh uang. maka ikan-ikan tersebut harus dikeringkan (jhuko¶ kerreng). selain itu bunganya pun tidaklah terlalu tinggi (maksimal 5% perbulan). yang bagi mereka mungkin tidaklah mudah diperoleh dari orang lain. apakah untuk keperluan modal usaha rumah tangga (meracang. adalah karena mereka akan mendapatkan fasilitas tambahan dari para bakul ikan. atau tidak melaut). selain masih harus mengeluarkan uang tambahan untuk transportasi juga belum dapat dipastikan dapat segera laku dengan cepat atau berharga tinggi. yang diperoleh dari selisih antara uang yang diberikan kepada para nelayan dan juragan kepala rekanannya dengan uang yang sebenarnya diperoleh dari hasil penjualan ikan tadi. tidak ada perbedaan. serta tenaga. Para nelayan itu pun secara rutin masih mendapatkan barang-barang lain seperti rokok (ketika dia istirahat. tidak ada permainan harga jual antara bakul yang satu dengan bakul yang lain. dll) atau pun untuk keperluan keluarga yang lain. dengan adanya uang pengikat ini. atau ketika menjelang lebaran mereka kembali mendapatkan . Bahkan. dari hasil penjualan ikannya itu dia juga masih mendapatkan keuntungan. apabila ikan yang dijual sendiri tadi tidak laku. Hal lain yang menjadi daya tarik dari para nelayan dan juragan kepala melakukan praktik bisnis semacam itu. di samping perlu uang ekstra untuk biaya pengeringan. Dalam hal ini. selain dia dapat menjual harga sesuai dengan keadaan pasar dan jenis ikan yang dijual. sebab bagi para nelayan dan juragan kepala ada risiko yang akan diterima.

dikarenakan jaringan pemasaran ikan dari desa Bandaran ini hanya untuk konsumsi pasar-pasar lokal yang berada di kota Pamekasan dan Sampang. kopiah. dan juragan perahu. Juga karena seringkali para pembeli yang telah memberikan ³harga tertinggi´ di TPI tersebut banyak yang tidak segera melunasi uangnya. dan dalam hal-hal demikian itu telah menimbulkan hubungan jual-beli yang bersifat ³patron-client´ (hubungan pelindung-klien) di antara mereka. karena pasar tidak selalu memberikan respon positif terhadap ³hasil harga lelang´ yang disepakti di TPI. sarung. malah tidak jarang terjadi penagihan yang tidak kunjung terselesaikan sehingga para pemilik ikan pun merasa dirugikan. Selain sebab-sebab di atas. terjadinya praktik jual-beli ikan dengan sistem ³uang pengikat´ juga disebabkan oleh kurang berfungsinya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang ada. sandal atau barangbarang kebutuhan lebaran lain untuk keluarga mereka. . padahal pembangunan TPI tersebut pada awalnya merupakan inisiatif pemerintah dalam hal ini Dinas Perikanan untuk memudahkan dan memberikan keuntungan ekonomis yang lebih besar bagi para nelayan. juragan kepala. senantiasa dipelihara dan semakin diperkuat. akan tetapi keberadaan TPI ini hanya efektif pada awal-awal pendiriannya saja. Praktik jual-beli di atas. tetapi pada umumnya di antara mereka terdapat hubungan jual-beli yang relatif bebas sehingga setiap tengkulak dapat menguhungi setiap bakul untuk mendapatkan berbagai jenis ikan yang dibutuhkan atau diminati oleh para pembeli di pasar asal mereka sementara para bakul ikan itu dapat pula secara bebas menjual ikan-ikannya kepada setiap tengkulak sesuai dengan harga pasaran atau harga yang lebih tinggi dari harga penawaran tengkulak yang lain. walaupun hal tersebut tidak dapat dikatakan bahwa pola relasi tersebut hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. walaupun bukan merupakan gejala umum seperti halnya hubungan jual-beli antara nelayan dan bakul seperti di atas. pola jual-beli ikan dengan sistem ³uang pengikat´ juga terjadi antara para tengkulak ikan yang memberikan uang perangsang dengan para bakul ikan. dan sejak beberapa tahun yang lalu semakin tidak diminati oleh para nelayan atau juragan.³sesuatu´ dari para bakul rekanan bisnisnya seperti: pakaian. Sejumlah alasan yang dikemukakan adalah.

atau ikan teri (jhuko¶ kenduy) dan nener (bibit ikan bandeng) yang pada umumnya melibatkan para pelaku ekonomi berskala besar dan lintas-lokal. pengembangan ekonomi lokal desa Bandaran. serta ³pemupukan modal´ yang sebenarnya bukan sebagai bentuk investasi dalam pengertian teori ekonomi. Dengan jumlah armada kapal perahu yang dimiliki (antara 1-5 buah). Dengan demikian. serta memiliki jaringan perdagangan di tingkat regional atau ekpor. dibangun dan didukung oleh pola-pola kepemimpinan ekonomi yang juga bersifat ³lokal´. para pelaku ekonomi utama dalam aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran tetap berada di tangan masyarakat setempat. dimaksudkan selain agar tidak terjadi spekulasi harga jual-beli ikan yang dianggap dapat merugikan nelayan. bahkan tidak sedikit dari para bakul yang berperan sebagai ³pedagang pemasok dan perantara´ dalam aktivitas penjualan ikan hasil tangkapan nelayan kepada para tengkulak ikan hanya atas dasar prinsip ³kepercayaan´ (saleng parcaja). Kepemilikan modal dalam perdagangan ikan di desa Bandaran ini tidak terlalu besar. maka ikan-ikan tersebut diborong (ebhurung) oleh Kepala Desa. Untuk mencapai maksud itu.F. seorang juragan pemilik . Keberadaan kepemilikan kapal/perahu serta modal yang dimiliki merupakan penggerak utama dalam aktivitas penangkapan ikan dan perdagangan. dalam aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran ini juga terdapat sejumlah pedagang besar dari luar Bandaran yang disebut tauke yaitu pelanggan tetap bermodal besar. juga agar keuntungan tetap berada di pihak masyarakat desa Bandaran sendiri. para bakul. yaitu juragan pemilik perahu. dan dari tangan Kepala Desa inilah para pedagang lokal (bakul) serta para tengkulak ikan yang berasal dari luar desa Bandaran membeli ikan sesuai dengan harga yang berlaku di pasar lokal. dan tengkulak. garam (buja). Kepemimpinan Ekonomi dan Pengembangan Struktur Ekonomi Lokal Berbeda dengan relasi jaringan perdagangan komoditas lokal di daerah lain di Pulau Madura seperti tembakau (bhako). sebagaimana umumnya struktur ekonomi desa. akan tetapi sekarang ini mereka sudah tidak diperkenankan lagi untuk memborong ikan-ikan hasil tangkapan nelayan setempat. Selain itu. memiliki gudang atau pabrik pengolahan ikan. Juragan pemilik perahu/kapal merupakan pelaku terpenting dalam aktivitas perekonomian desa dalam masyarakat nelayan Bandaran. Hal ini. yaitu pada kemampuan atau keahlian mereka untuk meyakinkan para pemilik ikan agar menyerahkan atau menjual ikan kepada dirinya.

Adanya hubungan ³patron-klien´ dalam relasi bisnis antara nelayan/juragan kepala dan nelayan dengan para bakul ikan ini. antara 14 ± 18 orang untuk perahu jenis pakesan besar. dan antara 4-6 orang untuk perahu kecil jenis pakesan kecil dan sampan (edher). Secara fungsional. para nelayan/juragan kepala dan nelayan dapat menjual ikannya serta memperoleh uang dengan cepat tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan lagi.perahu mampu mempekerjakan nelayan antara 23 ± 30 orang untuk satu kapal sleret. sebab dengan adanya bakul ikan sebagai ³patron´. kuatnya relasi bisnis antara nelayan/juragan kepala dan nelayan dengan para bakul ikan. dengan merekrut penduduk setempat antara 4-36 orang untuk tiga unit kapal/perahu sebagai tenaga-tenaga kerja efektif. Bahkan. menyebabkan para bakul ikan menjadi mata rantai terpenting dalam seluruh aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran. kendati dengan . Dalam konteks yang sifatnya lebih terbatas. perumahan. yang dalam banyak hal menyerupai ³patron-client relationship´. Selain itu. dia juga telah melibatkan para penduduk setempat dalam suatu aliansi ekonomis di tingkat lokal untuk mengeksploitasi kekayaan sumber daya alam di laut lokal dan regional. dan alat-alat pemuas kebutuhan ³modern´ lainnya. para juragan pemilik kapal/perahu ini telah mampu mengoptimalkan keberadaan sumber daya manusia setempat. memang memungkinkan tercapainya efektivitas dan efisiensi dalam penjualan ikan. telah menjadikan keberadaan dan peran para bakul ikan ini sebagai ³«stand guard over the crucial junctures or synapsis of relationships which connect the local system to the larger whole´ (Wolf. Bakul ikan yang menjadi ³pemulung´ bertindak sebagai pelaku ekonomi kedua dalam aktivitas jual-beli ikan di tingkat lokal. Sekalipun posisi seorang juragan perahu bermakna penting bagi kehidupan seorang nelayan di desa Bandaran ini. 1989). walaupun ada risiko terhadap kemungkinan terjadinya perolehan pendapatan yang relatif lebih rendah dari pendapatan yang mungkin bisa diperoleh apabila mereka memperdagangkannya langsung di pasar jalanan setempat atau ke pasar-pasar lokal di luar daerah. adanya kecenderungan masyarakat nelayan setempat untuk menyerahkan atau menjual sebagian terbesar ikan kepada mereka. dalam de Jong. namun dia tidak memiliki dan tidak berkehendak untuk melakukan penguasaan yang bersifat monopoli terhadap para juragan kepala atau anggota nelayan. sehingga secara ekonomis mereka mempunyai kesempatan memperoleh keuntungan-keuntungan ekonomis dari hasil pembagian ikan yang menjadi haknya bagi pemenuhan kebutuhan hidup keseharian.

terlihat bahwa pola kepemimpinan ekonomi di daerah Bandaran tersebut. Dari uraian di atas. termasuk pula para juragan kepala dan nelayan. karena sifatnya yang sangat fluktuatif. kelancaran dalam melakukan aktivitas ekonomi dalam pola-pola hubungan jual-beli di atara nelayan. Munculnya pelaku-pelaku ekonomi lokal (juragan. . Hal ini. namun secara umum lebih bersifat ³collegialisme´ atau kemitraan kerja yang sejajar. kemudahan. namun keberadaan dan perannya sebagai pembeli dan sekaligus sebagai pemasar ikan setempat ke berbagai pasar lokal di luar daerah Bandaran. telah memungkinkan ikan-ikan hasil para nelayan setempat dikenal spesifikasinya di seluruh daerah Pamekasan dan Sampang. Pola demikian tampaknya erat berkaitan dengan faktor-faktor penggerak ekonomi dan uang yang pada umumnya tidak berada di tangan ketiga pelaku ekonomi di atas. di samping disebabkan oleh kemampuan masyarakat nelayan setempat di dalam mendapatkan dan memanfaatkan sumber-sumber keuangan yang jumlahnya tidaklah terlalu besar. dan bakul ikan merupakan dasar pokok dari setiap kepemimpinan ekonomi yang dijalankan. Selain itu. sehingga sirkulasi ikan setempat menjadi lebih lancar. secara ekonomis menjadi lebih pasti dan berpengharapan. mengakibatkan pendapatan para bakul ikan.cara itu mereka akan memperoleh harga yang terkadang di bawah harga pasar. Pemberian keamanan. Tengkulak ikan adalah pelaku ekonomi ketiga dalam aktivitas ekonomi dalam masyarakat di desa Bandaran. banyaknya peminat ikan desa Bandaran telah mampu meminimalisasi adanya surplus ikan di pasaran setempat. walaupun pada sebagiannya ada yang bersifat ³patron-client relationship´. Nama ³jhuko¶ laok´ (ikan dari selatan) yang diberikan oleh para pembeli luar terhadap ikan hasil tangkapan nelayan desa Bandaran yang mereka temukan di sejumlah pasar lokal di luar Bandaran. bakul dan tengkulak ikan) dalam relasi perdagangan ikan. tidak saja memiliki arti penting bagi pemenuhan kebutuhan ekonomi para nelayan yang menjadi ³kliennya´. juragan. Sungguhpun para tengkulak ikan ini hampir dapat dikatakan tidak memiliki relasi dagang secara langsung dengan juragan kepala dan nelayan setempat. tidak terlepas dari peran dan arti penting seorang tengkulak dalam matarantai perdagangan ikan dari daerah ini. tetapi di lain pihak juga telah menciptakan hubungan ³patronklien´ yang cenderung melahirkan ³ketergantungan ekonomis´ bagi umumnya para nelayan.

dalam banyak hal hampir selalu tidak menguntungkan secara ekonomis bagi si penghutang atau peminjam (kreditur). Hal ini. Hutang atau kredit (ngredit) yang dilakukan oleh masyarakat nelayan setempat. Lembaga-lembaga ³Kuasi´ Investasi Tradisional: Arisan. juga berlaku di kalangan para juragan pemilik kapal/perahu dengan jumlah omset arisan yang lebih besar (Rp. ³Hutang´ (aotang) sebagai salah satu karakteristik perekonomian desa tradisional. Hutang. membuat rumah. G. tampaknya kurang disadari oleh masyarakat nelayan tradisional di desa Bandaran. menyelenggarakan lamaran dan pesta perkawinan. Hal ini. sehingga yang bersangkutan bisa memperoleh modal untuk membuka usaha perdagangan kecil-kecilan (pedagang kelontong). Oleh karena itu. dan tidak mau direpotkan dengan hal-hal yang jlimet yang berakar pada sikap dan pemikiran sosial-budaya masyarakat nelayan tradisional desa Bandaran. Keanggotaan para nelayan dalam kelompok arisan bisa lebih dari satu. di samping hutang atau kredit. tetapi lebih disebabkan karena para nelayan ingin segera menikmati hasil kerjanya. tetapi mereka juga mampu mengembangkan bisnis lain seperti membuka toko. arisan dan titip uang merupakan gejala umum yang dipraktikkan hampir oleh setiap penduduk nelayan di desa Bandaran. sehingga sampai kini pun masyarakat setempat masih banyak terlibat dalam praktik hutang dan kredit.Kecenderungan ini pada dasarnya bukanlah karena alasan-alasan ekonomis semata (untuk mendapatkan hutang atau kredit).10 juta ± Rp. Di desa Bandaran terdapat tidak kurang dari 20-an kelompok arisan dengan jumlah perolehan arisan bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta. selain menggabungkan diri ke dalam kelompok-kelompok arisan yang menjamur di desa Bandaran. sebagaimana telah dibicarakan di atas. dan Titip Uang Dalam seluruh aktivitas yang berkaitan dengan ³investasi´ uang. naik haji. Hasil uang yang diperoleh dari hasil arisan ini mereka sertakan lagi dalam kelompok-kelompok arisan yang lain. umumnya tidak dalam kerangka hubungan . dan atau dibelikan perahu/jaring kecil untuk melanggengkan matapencaharian mereka sebagai nelayan.50 juta). sejumlah juragan kapal/perahu tidak hanya memiliki lebih dari satu armada kapal/perahu besar yang berharga ratusan juta rupiah. tetapi kebanyakan menginvestasikannya dengan membeli mobil-mobil penumpang (colt diesel) untuk usaha tranportasi jurusan Pamekasan-Kamal.

Hutang uang tetap dibayar dengan uang. tergantung pada besarnya jumlah hutang/kredit. Dalam hal ini. Itupun.00. Dalam kasus hubungan hutang-piutang atau kredit antara nelayan dan bakul ikan. Namun demikian.000. sehingga keduanya sama-sama mendapatkan manfaat. jumlahnya hanya berkisar antara Rp. hal tersebut karena bakul telah memberikan ³uang perangsang´ dan barang-barang perangsang lain. besok cari lagi´ (ollena lako/ora¶ pabali ka lako/ora¶. habiskan sekarang juga. tampaknya banyak disebabkan oleh sikap hidup mereka yang ³kurang menjangkau masa depan´. Dengan perkataan lain. akan tetapi. pada umumnya mereka lebih sering meminjam uang kepada kepala-kepala arisan yang banyak memegang uang-uang titipan para anggotanya.00 hingga Rp. Sikap hidup ini. menabung atau melakukan investasi uang dan barang untuk pengembangan usaha lain maupun untuk kebutuhan masa depan. tanpa mempengaruhi penetapan harga ikan yang dijualkan atau diserahkan kepada bakul. ³apa yang diperoleh sekarang. Berhemat. Harga jual ikan dari bakul tetap mengikuti harga pasar. Keterlibatan masyarakat nelayan setempat dalam praktik hutang-piutang atau kredit. kalaupun nelayan tadi menerima uang penjualan ikannya di bawah harga jual yang secara riil diterima oleh bakul.10. hampir-hampir tidak dimiliki oleh sebagian terbesar masyarakat. seorang nelayan hampir tidak pernah melakukan pembayaran dalam bentuk penyerahan ikan kepada bakul dengan harga yang ditentukan secara sepihak oleh bakul. sikap hidup mereka tidak . kecuali para pemilik modal dan pedagang besar. hal tersebut lebih merupakan sebagai ³komisi´ atau ³uang jasa´ yang mereka anggap wajar atas kerjanya menjualkan ikan nelayan tersebut.000. dengan imbalan berupa bunga yang besarnya sekitar 5% perbulan. permintaan hutang atau kredit dari seorang nelayan kepada para bakul patronnya. juga berlaku bagi penduduk Desa Bandaran di kampung Montor dan Nagger yang bermatapencaharian sebagai petani. di mana harga jual ikan dari nelayan tersebut ditetapkan sebelumnya dan di bawah harga pasar. Kalaupun para nelayan tadi seakan terikat oleh akad jual-beli ikan dengan bakul. lebih dimaksudkan sebagai upaya dari kedua belah pihak untuk memelihara hubungan perdagangan. tidak terjadi praktik ijon dari para bakul terhadap nelayan yang menjadi kliennya.5. lagguna nyare pole). yang diberikan dari hasil penjualan ikan mereka.kerja antara nelayan dan juragan. Hutang atau permintaan kredit biasanya dilakukan oleh para nelayan kepada orang-orang kaya (oreng sogi) tetangga-tetangga mereka sendiri yang sama sekali tidak memiliki hubungan kerja dengan dirinya. Bagi mereka.

yang lebih berkonotasi pada sikap menghamburhamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. tetapi lebih dikarenakan mereka ingin menyepadankan antara ³kerja´ dan ³hasil kerja´ untuk memperoleh kepuasan diri baik secara fisik. atau barang-barang berharga seperti perhiasan emas (kalung. psikologis dan ³sosial´ setelah mereka berjerih-payah seharian atau sehari-semalam menangkap ikan. Di lain pihak. Dengan adanya ³lembaga-lembaga keuangan informal´ dan sistem ³kuasi investasi´ semacam itu. Hutang atau kredit yang mereka peroleh pada umumnya tidak diinvestasikan untuk menambah modal usaha tetapi untuk kebutuhan ³habis pakai´. dan semacamnya tidak banyak dimanfaatkan oleh penduduk setempat. cincin) terutama ketika akan menjelang lebaran untuk memenuhi kebutuhan sosial dan budaya mereka. ³lembaga-lembaga keuangan informal´ dan sistem ³kuasi investasi´ tersebut telah memungkinkan struktur ekonomi di desa mereka dapat dibangun dan dikembangkan atas dasar kemampuan ekonomi lokal atau secara ³berswasembada´. Sementara itu mereka pun tidak perlu investasi untuk ikan di laut. membeli peralatan rumah tangga.dapat dikatakan sebagai sikap hidup ³boros´. lamaran dan pesta perkawinan. Hal ini dikarenakan kesederhanan pemikiran ekonomi mereka dan ketidakinginan mereka berhubungan dengan hal-hal yang bersifat prosedural. . gelang. praktis keberadaan Bank. sebagaimana layaknya mereka yang hidup dari pertanian. seperti membangun rumah. Koperasi Desa.

Huub de Jonge (ed. Jakarta: Sinar Harapan. Khusyairi. Boeke. (2008). Jakarta: Grafitti Press. Jakarta: Grafitti Press. H. Huub (eds): Agama. G. Ritus peralihan di Indonesia. Jakarta: Grafitti Press. Jakarta: Grafitti Press. Sejarah sosiologis-ekonomis Indonesia. Huub de Jonge (ed. Burger. Jakarta: PN. politik. Agama. Agama. Adat-istiadat sekitar kelahiran pada masyarakat nelayan di Madura. H. Some thought on enterpreneur in a maduranese country: Madura I. kebudayaan dan ekonomi. Sekelumit cara mengenal masyarakat Madura: Madura I.H. de Jonge. dan kepemimpinan lokal di antara orang-orang Madura di Lumajang. A. Peasant marketing in Java. Industri Rokok Kudus. dan ekonomi di jawa. _______ (2009). (1997). L. Proyek Penelitian Madura. Bouvier. (2010). Jakarta: Prajnyaparamita. Musik dan seni pertunjukan di kabupaten sumenep. perkembangan ekonomi. Huub (eds). D. kebudayaan dan ekonomi. Castles. Jakarta: Sinar Harapan. kebudayaan dan ekonomi. _______ (2009). (2001). (2008). J. . A. Hubungan Ketergantungan dalam Perikanan di Madura: de Jonge.H. Proyek Penelitian Madura. Tingkah laku agama. Dewey. Malang: Depdikbud (dalam rangka kerjasama Indonesia-Belanda). Perkembangan ekonomi dan islamisasi di madura: de Jonge. Balai Pustaka. (2007). Koentjaraningrat (eds). Glencoe. (2009). dan islam (suatu studi antropologi ekonomi). _______2009). M. III..). Agama. (2009). Djojomartono. Malang: Depdikbud (dalam rangka kerjasama Indonesia-Belanda). Madura dalam empat zaman: Pedagang. orientasi politik.Referensi Abdurrachman. kebudayaan dan ekonomi. Gramedia. (2004). Jakarta: Penerbit PT. Prakapitalisme di asia.). Agama.

C. _______. (2007). Peddlers and Princes. Gramedia. (2007). Masyarakat Desa Indonesia. . (eds) (). Economic development and cultural change. _______ (2008). Some preliminary considerations. Jakarta: PT. Chicago.Geertz. Koentjaraningrat. Rintangan-rintangan mental dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Jakarta: Yayasan BPFE-UI. Religious belief and economic behavior in a central javanese town.

tercakup didalamnya beberapa pelaku kegiatan pemasaran..3 Pemasaran adalah kegiatan mengatur barang dari produsen ke konsumen. pesaing atau perantara bila merangkap menjadi pembina. perindustrian. Selain menempati wilayah yang sangat luas. pemasok.MASYARAKAT PESISIR DENGAN MATA PENCAHARIAN SEBAGAI PENJUAL IKAN (Firda Ulfa Lusiana F1E1 10 004) Secara geografis. pariwisata. seperti perusahaan pengolahan. perantara. selat dan teluk. Dalam hal ini nelayan bisa berfungsi sebagai pengusaha. pesaingan. pelanggan. pertambangan dan penangkapan ikan. H. rawa. Potensi yang demikian besar tentunya memberikan peluang yang besar pula terhadap terciptanya berbagai bentuk pemanfaatan seperti usaha pertambakan. dan bahan-bahan tambang yang bernilai tinggi. dan waduk. pertanian.8 juta ton per tahun. pemukiman. terumbu karang.5 . sedangkan 38 % lainnya adalah daratan yang didalamnya juga memuat kandungan air tawar dalam bentuk sungai. danau. masyarakat atau konsumen. Dari jumlah tersebut sekitar 78% atau lebih kurang 3. Dalam kegiatan mikro pemasaran. kawasan pesisir yang terdiri dari berbagai ekosistem pendukung seperti ekosistem hutan mangrove. 2 Demikian luasnya wiliyah laut di Indonesia sehingga mendorong masyarakat yang hidup di sekitar wilayah laut memanfaatkan sumber kelautan sebagai tumpuan hidupnya.000 km.1 Dari data statistik terlihat jumlah produksi perikanan di Indonesia saat ini sekitar 4. Indonesia memiliki kawasan pesisir yang sangat luas. Indonesia terdiri dari beribu pulau yang sebagian besar wiliyahnya (62%) merupakan perairan laut. padang lamun dan lahan basah tersebut memiliki keanekaragaman hayati dan berbagai sumberdaya alam seperti ikan.7 juta ton adalah hasil produksi dari sektor perikanan laut. pemasok. Sebagai satu negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang 81. Ketergantungan masyarakat terhadap sektor kelautan ini memberikan identitas tersendiri sebagai masyarakat pesisir dengan pola hidup yang dikenal sebagai kebudayaan pesisir (Geertz. 1981: 42).

3  Kondisi Wilayah Pemasaran . 6 Bagi Nelayan tangkap yang tidak tergolong sebagai sawi atau menjalankan sendiri penangkapan ikan di perairan kabupaten (sejauh 4 mil dari pantai) kebutuhan pokok. Yang memengaruhi system pemasaran hasil tangkapan nelayan.. tidak saling bersaing sesama mereka. Produk perikanan tangkapan umumnya dijual langsung ke pedagang perantara dan menjual produk tersebut ke beberapa pasar. pengecer dari dalam desa. Selain itu. ikan kaleng. yaitu jenis kapal dan alat penangkapnya. ikan asap. Proses penjualan ikan dijalankan menurut kebiasaan yang ada yaitu melalui lembaga atau orang-orang yang biasa manampung langsung (bandar ikan) hasil tangkapan nelayan. yaitu kelompok nelayan tangkap dan kelompok pemasaran ikan. daerah pemasaran (local/ekspor). tetapi ikan tangkapan mereka harus dijual kepada juragan ikan untuk melunasi hutang-hutangnya. pedagang perantara. jenis ikan yang diperoleh. Hanya sebagian kecil diolah menjadi "fillet" beku.4 Harga ikan dihitung oleh Dinas Perikanan di masing-masing pelabuhan perikanan.Rantai pemasaran produk perikanan tangkap melibatkan pedagang pengumpul. dalam kecamatan maupun dari kabupaten sebelum sampai ke konsumen akhir. ikan kering.5 Di dalam masyarakat pesisir pada dasarnya terdapat dua kelompok usaha perikanan.3 Sebagian besar dari produksi ikan dipasarkan sebagai ikan segar. dan organisasi atau individu yang melakukan distribusi. bentuk ikan (segar/olahan). ikan asin. ataupun tepung ikan. keuangan dan peralatan melaut serta bahan bakar mereka disediakan oleh juragan ikan dengan harga yang cukup tinggi. Sawi bekerja pada kapal-kapal juragan ikan menangkap ikan di perairan teritorial dengan keuntungan bagi hasil yang besarannya ditentukan oleh juragan ikan. Jaringan pasar terbentuk berdasarkan ikatan saling kepercayaan antara nelayan dengan pedagang. juga melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan kapal-kapal bermotor yang merekrut anggota masyarakat pesisir menjadi pekerja di kapal mereka yang sering disebut dengan istilah µsawi¶. Dengan berlalunya waktu kelompok kedua mengalami perubahan ekonomi menjadi juragan ikan yang menguasai ekonomi masyarakat pesisir. Orangorang yang menampung hasil tangkapan ini biasanya masing-masing telah mempunyai langganan nelayan tetap dengan harga yang sama. Juragan Ikan di samping sebagai pedagang ikan.

jumlah perdagang yang terlibat serta jarak dan jenis pasar target. seperti halnya menjual ikan lokasi yang dipilih mesti strategis dan membuka peluang keuntungan. Menurut hasil penelitian (Muflikhati. pada umumnya nelayan langsung memindah tangankan hasil tangkapannya (menjual ikan) kepada beberapa pihak yang ada seperti penada. . 2010) memperlihatkan bahwa sebanyak 32.  Kondisi Manajemen Pemasaran Manajemen pemasaran produk perikanan tangkap relatif sederhana. selain bersaing dengan para penjual ikan lainnya. oleh karena itu penjual ikan memperoleh barang/ikannya dari nelayan penangkap ikan. papalele kemudian sampai kepada penjual ikan. Fakta ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat di wilayah pesisir Indonesia masih termasuk masyarakat yang miskin. Belum ada upaya promosi dan klasifikasi produk perikanan. jenis alat angkut serta jarak yang dilalui.42 juta jiwa masyarakat pesisir masih hidup dibawah garis kemiskinan dengan indikator pendapatan US$ 1 per hari (Data Direktorat PMP 2006).14% dari 16. Rata-rata pedagang berpatokan pada tingkat keuntungan yang memenuhi kebutuhan primer. Para pedagang akan menjual ke pasar kecamatan dan pasar kabupaten. sehinggga para penjual ikan kebanyakan menjadi papalele (penjual ikan keliling)  Kondisi Harga Produk Kondisi harga di level produsen sangat tergantung pada musim ikan.  Sumber Barang (Ikan Yang dijual) Penjual ikan tidak lepas dari produsen penghasil ikan dalam hal ini nelayan. Pemilihan lokasi penjualan merupakan satu syarat yang penting dalam memuali usaha. Harga dipengaruhi oleh volume produksi tangkap. jumlah pedagang.Umumnya masyarakat perikanan (MPM) menjual produk pada tahap pertama kepada pedagang pengumpul dan perantara di lokasi MPM. Usaha yang dilakukan para penjual ikan dalam memperoleh tempat menjual memang tidak mudah. harga yang ditawarkan para pemilik tempat ataupun pemerintah terlalu mahal.

SLTP dan SLTA. - .000 ± Rp. Penghasilan para pedagang ikan pun menyusut.000. 3. 500. dengan harga beli/kg antara Rp.000/kg. harga ikan laut juga melejit dengan kenaikan mencapai 50%. 10.Penghasilan yang diperoleh dari penjual ikan yaitu : Dari hasil survey yang telah dilakukan terhadap bakul / penjual ikan di wilayah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan di peroleh hasil bahwa umumnya mereka bekerja sebagai bakul/pemasar >15 tahun. mereka memasarkan ikan umumnya ke plosok desa dengan menggunakan motor dan ada sebagian yang menggunakan sepeda. Ikan yang mereka jual adalah ikan lemuru.7 - Namun di Solo akibat tingginya gelombang membuat pasokan ikan turun 50% Selain pasokan terbatas. 1. Kenaikan harga ikan laut juga terpantau di Pasar Gede. 2.000/kg.500.000 ± Rp. 7.000 ± Rp. dan harga jual/kg antara Rp. Rian mengatakan akibat harga tinggi pembeli mengurangi pembelian ikan laut. Salah satu pedagang pasar. usia mereka rata-rata 28-70 tahun. Sedangkan harga kepiting naik lebih tajam.000/kg menjadi Rp 65. pendapatan mereka rata-rata per bulan berkisar antara Rp. Harga cumi-cumi melonjak dari sebelumnya Rp 30.000.000/kg menjadi Rp 45. rata-rata pendidikan mereka adalah SD. dari Rp 40.000.

2010.id/katalog/index.html 7.pdii. Email : tbtlkm@bi. Penangkapan Ikan Laut. From : http://tadjuddin. Telepon : (021) 3818043 Fax : (021) 3518951. Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK). Tadjudin. From http://www- personal. Jurnal Saintek Perikanan Vol. Agus Suherman dan Adhyaksa Dault. Pemasaran Ikan dan Ekonomi Nelayan.bi. 2. 2009 : 24 ± 32. Bogor : Wetlands International . ³Konsep Dasar Pengolaan Dana PEMP´. ³Adaptasi Ekologi Masyarakat Pesisir Selatan Jawa Barat Suatu Analisa Kebudayaan´. From http://elib. Direktorat Kredit. http://ompuaan. BPR dan UMKM BANK INDONESIA.lipi.com/2009/05/perbaikan-pemasaran-masyarakat-pesisir.Indonesia Programmed dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Endang Tjitroresmi.go.pdf 4.id/NR/rdonlyres/CD1C61DF-1893-4000-BFA0- CF81D20525D3/16052/PenangkapanIkanLaut1. Social Economic Impacts of Pengambengan Nusantara Fishing Port (NFP) Construction and Development. Halaman 61 Bab IV.edu/~thoumi/Research/Carbon/Forests/Forests.blogspot. ³Pemberdayaan Masyarakat Pesisir´. Syarif Moeis.id.blogspot.go.go. Dampak Sosial Ekonomi Pembangunan dan Pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambenan Jembrana Bali.umich. M. 1999. 3. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.DAFTAR PUSTAKA 1.html 5. Drs.%20Wetlands%20Internat ional/Buku%20Pemberdayaan%20Masy%20Pesisir-Indramayu.php/searchkatalog/downloadDatabyId/2167/2168. 4. No.com/2010/07/konsep-dasar-pengelolaan-dana-pemp. Program Doktor Manajemen Sumberdaya Pantai Universitas Diponegoro Semarang . From : http://www.pdf 2. Khazali dan Laksmi A Savitri. pdf 6. 2008.

dan berternak. Bagai mereka pendidikan hanya membuang buang waktu. Hal ini menyebabkan mereka kehilangan mata pencaharian utama mereka. Hal ini menyebabkan rekonstruksi ulang susunan ekosistem perairan di lautan. Itulah mengapa mereka lebih mengedepankan aspek aspek kultur ketimbang logika dan rasionalisme. Mereka lebih memilih untuk focus menangkap ikan di lautan. Pada saat itu masyarakat pesisir tidak akan turun melaut untuk menghormati budaya mereka. mereka mengedepankan budaya buka tutup perairan. Pada saat masa menutup aktivitas peraiaran.. Berdasarkan beberapa definisi dari bberbagai ahli masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang mendiami wilayah pinggiran pantai hingga 2 km dari bibir pantai. ketimbang harus mengenyam pendidikan di sekolah sekolah. masyarakat pesisir merupakan kelompok masyarakat yang dikatakan terbelakang. Bahkan bisa dikatan sebagai Negara kepualauan terbesar di Indonesia. Anggapan mereka adalah leluhur merekalah yang membantu mengumpulkan ikan saat mereka melaut. Walaupun pada dasarnya melaut merupakan cirri yang khas dari perkembangan masyarakat pesisir. Karena tidak terlalu memperhatikan pendidikan. bertani garam. Masyarakat pesisir tidak akan turun melaut. Mereka menjunjung tinggi penghormatan terhadap leluhur leluhur mereka. Masyarakat pesisir juga merupakan masyarakat yang memiliki nilai nilai kultur yang tinggi. Indonesia merupakan Negara kepulauan yang tersusun atas ribuan pulau. Beberapa contoh mata pencaharian alternative tersebut adalah menambang batu karang. bertani rumput laut. Itulah mengapa pemerintah menetapkan masyarakat pesisir sebagai patokan pengembangan kesejahteraan negara. Salah satu bukti bentuk kultur yang ditinggikan di masyarakat pesisir adalah. berkebun. Itulah mengapa masyarakat peisisr erat kaitannya dengan kebodohan. . Untuk tetap bertahan hidup maka mereka berusaha untuk mencari mata pencaharian alternative. Masyarakat pesisir memiliki berbagai macam interaksi perokonomian.Peternakan Di Wilayah Pesisir (Sudarman F1E1 10 030) Masyarakat pesisir merupakan masyarakat multicultural yang mendiami wilayah pinggiran pantai yang tersebar di seluruh Indonesia. Beberapa dekade yang lalu.

Mereka telah mengembangkan system perekonomian yang lenih maju. kini lebih focus beternak di wilayah pesisir.blogspot. Sebagai contoh bapak zamroni yang mulanya adalah nelayan.com. Kini masyarakat pesisir telah berkembang menjadi masyarakat dengan peradaban yang lebih baik dari sebelumnya. Daftar Pustaka Haris. Hari ini masyarakat pesisir telah berkembang maju seiring perkembangan zaman. Bagi masyarakat pesisir semua sumber daya alam yang ada dilautan merupakan harta kekayaan yang harus mereka lestarikan. Bagi beberapa peternak yang berhasil mereka menganggap bahwa beternak lebih menguntungkan ketimbang mata pencaharian lain. Tapi menurut beliau nelayan tetaplah mata pencaharian utama mereka. Masyarakat Pesisir. solihin. meskipun melaut lebih beresiko. Dengan beternak selain mereka dpata menghasilkan pendapatn yang lumayan. Mata pencaharian yang awalnya dianggap tidak menguntungkan justru kini malah berkembang pesat. system pendidikan yang mulai mereka terima.Berternak merupakan salah bentuk modifikasi mata pencaharian masyarakat pesisir. Materi kuliah nutrisi kelautan . tapi melaut adalah jiwa yang telah mengalir dalam darah mereka. Mereka juga mampu mengkonsumsi hewan ternak yang mereka pelihara. Dikutip dari haris. 2002. Sebagai bukti beliau telah panen ayam dengan pendapatan yang luar biasa ketimbang harus melaut.

PENGOLAH HASIL PERIKANAN SKALA KECIL (Dian Sari Enimosa F1E1 10 044) Penanganan produk segar dan pengolahan tradisional (pengeringan/ penggaraman. Karakteristik dari pengolahan tradisional adalah kemampuan pengetahuan pengolah rendah dengan ketrampilan yang diperoleh secara turun temurun. pemindangan. dan kelembagaan. dan pemasaran produk hanya terbatas pada pasaran local (Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. kecap ikan. tahapan kegiatan maupun wilayah dengan berbagai jenis bahan beracun berbahaya dan sumbernya dengan karakteristik berbeda. Permasalahan penggunanan bahan tambahan makanan berbahaya difokuskan pada 4 (empat) jenis produk yakni ikan segar. dan terasi dengan pembatasan wilayah di Pantura Jawa Tengah (Tegal. Pembatasan permasalahan juga dilakukan berdasarkan jenis produk dan wilayah. ekonomi. kerupuk.2001). Permasalahan yang berkaitan dengan faktor penyebab berlangsung malpraktek diantara para pengolah ikan dan produk perikanan dibatasi pada aspek teknis. ikan asin/ kering. . Secara umum. Pekalongan. dan pengasapan) umumnya dilakukan pedagang dan pengolah dalam skala kecil/ menengah atau skala rumah tangga. tingkat sanitasi dan higienis rendah. terasi. Pati dan Rembang) dan DIY (Bantul). Semarang. Pemilihan ini didasarkan beberapa alasan yaitukejadian penggunaan bahan tambahan ilegal telah menyebar di berbagai wilayah tanah air. terjadi pada beberapa produk olahan maupun segar yang jenis produk ini banyak dikonsumsi masyarakat luas dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatan. peda. dan penggunaannya oleh pengolah atau pedagang karena factor kesengajaan. peralatan yang digunakan sangat sederhana. Permasalahan mutu dan keamanan pangan produk perikanan terjadi pada berbagai jenis produk. sosial budaya. sesuai dengan keadaan lingkungan disekitarnya yang umumnya tidak memiliki sarana air bersih. Mengingat luas dan kompleksitas permasalahan maka didalam penelitian ini difokuskan pada aspek keamanan pangan penggunaan bahan tambahan makanan (food additive) ilegal atau tidak diperbolehkan. penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu perumusan dalam pengembangan ke bijakan mutu dan keamanan produk hasil perikanan di Pantura Jawa Tengah dan DIY. permodalannya sangat lemah.

Penanganan ikan segar oleh para nelayan biasanya dimulai segera setelah ikan diangkat dari air tempat hidupnya. persepsi yang terbentuk adalah semua ikan yang dijual mengandung formalin. pemindangan (15. sehingga perlu adanya langkah-langkah yang strategis untuk dapat memecahkan masalah tersebut.52 %). pengasapan (2. pembekuan (0.37 %). Analisis Ekonomi Berkaitan dengan isu penggunaan formalin baik nelayan maupun pedagang/ pengolah di lokasi penelitian sebagian besar berpengaruh sangat nyata terhadap permintaan ikan. sejumlah pekerja yang sudah dirumahkan mencapai 500 orang akibat berhentinya produksinya ikan asin. Bahkan menurut UNDP.41 %). Berdasarkan data cara perlakuan tersebut produk perikanan Propinsi Jawa Tengah didominasi oleh pemasaran dalam bentuk pengeringan/ penggaraman (46.48 %).08 %).002 %). peda (0. tepung ikan (0. terasi (0. FAO (1991) bahwa perawatan. Bahkan.88 %). Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Suwedo H (1993) bahwa salah satu cara mempertahankan kesegaran ikan dapat dilakukan dengan memelihara ikan tetap hidup atau dengan menurunkan suhu ikan mati.Berdasarkan data dari direktorat jendral perikanan tangkap (2003) Propinsi Jawa Tengah dilihat dari cara perlakuannya meliputi dipasarkan segar (31.82 %). Masyarakat tidak peduli dengan ikan yang dikonsumsi. hal ini sangat mengkhawatirkan karena berpengaruh langsung terhadap pendapatan masyarakat nelayan maupun pengolah/ pedagang. Namun. dengan perlakuan suhu rendah dan kadang kadang kurang memperhatikan factor kebersihan dan kesehatan. 1994). kebersihan dan pendinginan adalah kunci untuk memanen hasil tangkapan yang berkualitas baik. sehingga konsumen akan menjadi takut terhadap ikan atau antipati terhadap ikan. dan lainnya (2.41 %). Walaupun memang yang terkena dampak tidak senua perusahaan perikanan.41 %). Analisa social budaya Lingkungan sosial (sosiosfir) merupakan lingkungan yang paling penting dalam menentukan kesehatan lingkungan (Soemirat. Sosiosfir merupakan lingkungan yang . pengeringan/ penggaraman (46.

kesehatan dan kecerdasan manusia. penyuluhan.tercipta akibat terjadinya hubungan rasional antar manusia untuk memenuhi kebutuhan atau mencari solusi terhadap berbagai tantangan atau kesulitan secara bersama (Soemirat. 2000). Laboratorium yang terakreditasi sangat diperlukan dalam melakukan pengawasan pangan segar khususnya untuk melakukan uji residu pestisida pada buah dan sayuran segar. Kebiasaan pola makan masyarakat yang belum memperhatikan aspek keamanan dari makanan yang dikonsumsinya bagi kesehatan. sehingga dapat mendukung terjaminnya pengembangan pertumbuhan. Disamping itu belum efektifnya penanganan keamanan pangan juga dikarenakan masih belum berkembangnya sistem penanganan keamanan pangan serta terbatasnya laboratorium yang telah terakreditasi sehingga sistem penjaminan mutu belurn bisa berjalan dengan baik. Rendahnya tingkat pendidikan baik para pengolah maupun masyarakat konsumen sehingga pengetahuan mengenai keamanan pangan rendah dan kurangnya berpikir jangka panjang. dan pembinaan mengenai keamanan pangan. kimia maupun cemaran fisik. berproduksi sampai dengan pengolahan pangan untuk menjamin agar makanan yang . Ada beberapa permasalahan social budaya yang menyebabkan berlangsungnya malpraktek penggunaan bahan kimia tambahan ilegal yaitu: Kurangnya perhatian pejabat berwenang. dan sebagian besar pertimbangan adalah pada pangan dengan harga murah. Penanganan keamanan pangan adalah suatu rangkaian kegiatan dalam cara-cara budidaya. Disadari bahwa sampai saat ini masih belum banyak masyarakat yang menyadari pentingnya keamanan pangan terutama pada produk pangan segar. hal ini disebabkan karena masyarakat baik masyarakat produsen (terutama produsen skala rumah tangga) maupun konsumen masih menghadapi masalah kemampuan modal dan daya beli sehingga masalah keamanan pangan belum menjadi prioritas dalam menetapkan preferensi memilih pangan untuk dikonsumsi. Analisa kebijakan Kebijakan penanganan keamanan pangan diarahkan agar dapat menjamin masyarakat terhindar dari mengkonsumsi pangan terutama pangan segar yang terkontaminasi oleh cemaran biologis.

DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman. . Di Indonesia. 28/2004 bertujuan membantu konsumen untuk mengevaluasi dan memilih produk. Balai Penelitian Perikanan Indonesia. Perbaikan Handling Ikan di Kapal (Improvement of Fresh Fish Handling on Board). dan dijabarkan lebih lanjut dalam PP No. Inventarisasi Jenis dan Jumlah Produk Olahan Hasil Perikanan Skala Kecil Di Indonesia. dan biologi yang dapat berakibat buruk atau mengganggu kesehatan konsumen. 1990. Jakarta. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. S. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Nasran. rakyat dan peningkatan kegiatan ekonomi rakyat. Jakarta: Departemen Kelautan dan Perikanan.dihasilkan fisik. membantu produsen dalam meningkatkan mutu serta dalam melakukan perdagangan yang jujur. 2001. 7 Tahun 1996. Laporan Penenelitian Teknologi Perikanan Nomor 2 hal 2735. serta meningkatkan kesehatan.penanganan keamanan pangan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pangan No. kimia.

Pengolahan hasil penangkapan ikan (Ershanty Rahayu F1E1 10 046) 1. sementara jumlah tangkapan lestari sebesar 5.ikan sebagai bahan makanan yg mengandung protein tinggi dan asam amino esensial yang diperlukan tubuh.dan hal yg paling penting harganya jauh lebih murah dan terjangkau dibandingkan sumber protein lain.01 juta ton per tahun. Salah satu kelemahan ikan adalah tubuh ikan yangmempunyai kadar air tinggi dan pH mendekati netral merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri pembusuk maupun organisme lainnya sehingga ikanmenjadi komoditi yang cepat membusuk. Untuk menangani hasil tangkapan ikan dari laut maupun hasil perikanan budidaya secara tepat dengan mutu yang terjaga baik serta layak dipasarkan di dalam negeri maupun luar negeri diperlukan tenaga profesional yang handal dalam bidang teknologi pengolahan hasil perikanan Dalam rangka diversifikasi hasil perikanan dan terpenuhnya gizi dari protein hewani asal ikan bagi masyarakat. Ini meliputi berbagai proses penangkapan organisme perairan. dan dapat berkisar mulai ikan dari proses sederhana seperti pengumpulan organisme air dengan tangan memilih untuk . Total hasil penangkapan ikan baru mencapai 4. y Teknologi penanganan hasil perikanan Teknologi penanganan ikan pasca panen memberikan manfaat kerja dan ekonomi untuk bagian besar masyarakat.86 juta ton per tahun. Selain itu. potensi lestari ikan laut diperkirakan sebesar 6.40 juta ton per tahun dan perairan ZEE sekitar 1.38 juta ton per tahun. Potensi tersebut terdiri dari potensi perairan wilayah Indonesia sekitar 4.maka harus dilakukan perbaikan yang menyangkut hasil teknologi dan ekonomi.26 juta ton per tahun. Oleh sebab itu. Ikan merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat karena mudah didapat dan harganya murah. sering muncul bau tengik pada ikan. Namun. Penggunaan metode bervariasi.pengolahan hasil Indonesia memiliki potensi sumberdaya perikanan laut cukup besar. tergantung pada jenis penangkapan perikanan. daging ikan banyak mengandung asam lemak tak jenuh yang sifatnya sangat mudah mengalami prosesoksidasi. ikan ternyata memiliki beberapa kelemahan.

bertujuan pertengahan air trawl atau tas pemukatan dilakukan dari kapal ikan besar.panen ikan sistem yang sangat canggih. penangkapan ikan di gigi stasioner seperti perangkap ikan atau jaring set. karena mereka dipraktekkan saat ini umumnya masuk ke dalam 3 kelompok utama: a. umpan buatan atau sarana lain seperti cahaya. Menyaring air. akustik dan elektronik. Teknologi ini telah dikembangkan di seluruh dunia sesuai dengan tradisi lokal dan kemajuan teknologi di berbagai disiplin ilmu seperti hidrodinamika. y persyaratan hasil perikanan laut dikatakan memiliki nilai ekonomis ada 3 syarat persyaratan hasil perikanan laut dikatakan memiliki nilai ekonomis: ‡ Mempunyai nilai pasaran yang tinggi ‡ Volume produksi makro tinggi dan luas . jaring insang dan melibatkan jaring dan perangkap. b. alat penangkapan ikan tradisional telah ditingkatkan dan yang lebih baru sistem penangkapan ikan lebih efisien telah diperkenalkan.dan c. Keragaman besar target dalam perikanan tangkap dan distribusi yang luas mereka memerlukan berbagai alat tangkap dan metode untuk panen efisien. yaitu. Setengah dari makanan laut dunia ditangkap atau dikumpulkan oleh nelayan skala kecil yang beroperasi jutaan kerajinan memancing. memikat dan mempermainkan mangsa dan berburu. seines. Selama bertahun-tahun. teknologi Harvest. Paling penting di antara mereka adalah panen ikan sistem seperti trawl. adalah dasar bagi sebagian besar alat tangkap dan metode yang digunakan bahkan hari ini. ikan menarik untuk terjebak pada kait dengan menggunakan umpan. penangkapan ikan baik secara tunggal maupun di sekolah-sekolah dengan menggunakan jaring atau tombak.

marlin. ikan yang biasa dibuat abon adalah ikan air laut antara lain tuna. akan lebih baik apabila dipilih jenis ikan yang mempunyai serat yang kasar dan tidak mengandung banyak duri.kelebihannya selain sebagai sumber protein yang mudah di dapat.1-2. 18-34% 3. Namun demikian.2% 4.harganya juga relatif lebih mudah dijangkau untuk semua kalangan masyarakat. jenis ikan yang dibuat sebagai bahan baku abon belum selektif. tongkol. Hasil pengolahan A.0-1. cakalang. 0.0% 5. tenggiri contoh gambar abon: . air 60-84% 2. Vitamin dan mineral 2. ABON IKAN Salah satu hasil difersifikasi pengolahan ikan yaitu abon ikan. bahkan hampir semua jenis ikan dapat dijadikan abon.‡ Mempunyai daya produksi yg tinggi y komposisi kimia daging ikan: 1. 0.

008.Proyeksi produksi dan pendapatan: y Usaha pengolahan abon ikan pada umumnya berskala kecil dan bersifat pada tenaga kerja. pendapatan dari hasil penjualan abon ikan per tahun adalah sebesar Rp 1.000.000 per kg.±.200 kg/bulan) dan harga abon ikan ditingkat produsen adalah Rp 70. Tabel 5. Oleh sebab itu. jenis teknologi yang cocok digunakan adalahteknologi semimekanik. Oleh sebab itu.000. . y Jumlah produksi abon ikan selama satu tahun sebesar 14.6 menyajikan rincian penerimaan/pendapatan kotor dalam setahun.440 kg (1.

lokasi usaha sebaiknya terdapat di daerah-daerah yang dekat dengan kawasan-kawasan kerja pelabuhan perikanan sehinggaakan mempermudah proses penyediaan dan transportasi bahan baku ikan B. bakso ikan ada 2 cara pembuatan bakso ikan yaitu: y tekhnik manual pada teknik ini tentu bergantung pada bahan dan pembuatnya.Tabel produksi dan penjualan abon ikan: Nb: harga di atasa masih dalam pendapatan kotor* y Kendala yang ditemui selama produksi Kendala produksi yang bisa dijumpai adalah terjadinya kelangkaan bahanbaku ikan. Oleh sebab itu.selain itu hasilnya terkadang jauh lebih baik dibanding menggunakan teknik mesin y teknik mesin .

mesin mixing (untuk mencampur adonan).Jenis mesin yang diperlukan untuk membuat bakso antara lain mesin mincer (untuk mencincang daging). mesin pencetak bakso dan mesin sealer atau vacuum (untuk mengemas bakso).menggunakan teknik ini jauh lebih praktis tetapi membutuhkan modal yang lebih besar dibanding menggunakan teknik manual Contoh gambar pengolahan bakso ikan (menggunakan tekhnik mesin): .

com/articles/hasil-tangkapan-ikan-nelayan-di-malang-melimpah http://rizarahman.id http://pobersonaibaho.umm.staff.go.apsidoarjo. Oleh sebab itu.mercubuana.dkpsultra.ac.kkp.com/tag/proposal-bakso-ikan/ .com http://research.blogdetik.com http://www.id/proceeding/Proses-Pengolahan-dan-Nilai-TambahBakso.bisnis.y kendala Kendala yang ditemui dalam pembuatannya hampir sama dengan pembuatan makanan lain yang memerlukan bahan utama ikan. http://www.id/files/2010/01/Pengolahan-ikan.yaitu: kelangkaan bahan baku ikan. http://dedisafrizal.net/bidang-dan-uptd/ http://sudianor.bpsdmkp.wordpress.ac.wordpress. lokasi usaha sebaiknya terdapat di daerah-daerah yang dekat dengan kawasan-kawasan kerja pelabuhan perikanan TINJAUAN PUSTAKA http://www.

Namun biasanya adanya keterlambatan pasokan kayu yang dikirim dari Kendari cukup menghambat membuat kapal. Dalam perkembangannya. Demikian halnya. Oleh karena nilai artistik yang tinggi. maka tak heran jika harga satu buah kapal Phinisi bisa mencapai . Dalam setahun. hal ini berdasarkan data Kelurahan Tana Lemo. ³ Ini mi keterampilan yang diajarkan bapakku sejak kecil. Hal ini juga dialami Haji Abdullah (60 tahun) pengusaha Phinisi sudah mengenal pembuatan kapal tradisional dari orang tuanya. Musriadi (43 tahun) pembuat Phinisi. Ia mulai membuat kapal sejak umur tujuh belas tahun.KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR (Yunita Silvana Lantapi F1E1 10 048) Bebarapa masyarakat pesisir menjadikan pembuatan kapal sebagai lahan mencari nafkah. Inilah titik tumpu yang kuat hingga ia bisa menjadi pengusaha kapal yang sukses seperti saat ini. Anto (45 tahun) warga Desa Ara masih membuat Pinishi karena menjaga warisan leluhurnya. ia terpilih ke Kanada untuk membuat kapal kerjasama dengan Teknik Perkapalan Unhas. ayah yang telah menurunkan bakat ini kepada anaknya menerima orderan rata-rata sepuluh kapal besar pertahun. Keahlian membuat Phinisi biasanya diajarkan turun temurun dari para leluhur. kapal Phinisi dan kapal Sandeq hingga saat ini masih diproduksi oleh penggiatnya. Sejak tahun 1988. Musriadi warga Desa Ara. ³Orang asing lebih suka yang bagian buritan kapal yang kotak karena terjadi hubungan antara layar dan mesin dan setir. Kesulitan selama ini. Bila dahulu kapal Padewakkang terkenal sebagai kapal perang dan belakangan tak lagi ditemukan. Kecamatan Bonto Bahari masih memproduksi Phinisi. meskipun bahan baku kayu diproduksi di Bulukumba. Sejauh ini. belajar sendiri mengenai tata cara pembuatan phinisi. masih mempertahankan membuat kapal tersebut untuk mempertahankan warisan budaya leluhur.´ jelasnya. Sekira tujuh puluh persen masyarakat Tana Beru menggantungkan hidupnya pada pembuatan kapal tradisional ini. hasil dari membuat kapal untuk menafkahi keluarganya.´ ungkapnya. serta waktu pembuatanya yang sangat lama. Masyarakat pesisir di Tana Beru. Kelurahan Tana Lemo. Kehidupan masyarakat pesisir tak terpisahkan dari pemanfaatan pembuatan kapal. yaitu jenis kayu besi. Sebut saja. Haji Abdullah melayani pemesanan Phinisi dengan desain yang dibuat oleh konsumen.

sandeq hanya digunakan dalam Sandeq race. sebutan Panrita lopi bukan hal yang asing masyarakat Tana Beru. Pengusaha kapal belum tentu disebut Panrita lopi. ia salah seorang Panrita lopi yang masih tetap aktif dalam membuat kapal. ³Kalau bukan Sandeq pasti pakai bahan bakar. Sebut saja Haji Jafar (63 tahun). sering belajar dengan pembuat kapal. Polewali Mandar. DAFTAR PUSTAKA 1. Masih banyak nelayan yang mengandalkan layar dan kapal digerakkan tanpa menggunakan bahan bakar. Panrita lopi. Bukan hanya di Tana Beru.miliaran rupiah.´ ujar Fadli (41 tahun). Dari dulu nenek moyang membuat kapal. seperti kapal tradisional Sandeq di Desa Pambusuang. ³Kapal dibuat untuk menjaga nilai-nilai kebudayaan dari nenek moyang dan pemenuhan kebutuhan hidup kami.´ jelas Fadli pemilik sekaligus membuat kapal. Online Business Journal. Berbeda dengan pengusaha kapal. 2011 . dan ini saya tekuni sebagai nelayan dan sekaligus pembuat kapal. Sekarang ini. Identitasonlinedotnet.´ tutur Siden. Mulyadi Agus. sandeq untuk nelayan sangat jarang karena sudah ada kapal modern bermesin. Demikian halnya. Biasanya keuntungan diperoleh tiap satu kapal mencapai sepuluh juta untuk jenis Sandeq race. Julukan Panrita lopi sendiri diturunkan generasi ke generasi oleh pembuat kapal pertama. Haji Jafar sendiri membuat kapal meskipun tidak ada pesanan. kapal tradisional lain tetap dipertahankan dengan alasan faktor ekonomi. Bahkan pernah sebuah perusahaan pelayaran di Karibia yang membeli sebuah Kapal Phinisi seharga 3 miliar. pekerjaan ini ia tekuni membuat kapal untuk menafkahi keluarganya. pasti butuh uang lagi. ³Ini memang sudah menjadi kesenangan saya. Penerbitan Kampus 'Identitas'unhas. Ia memproduksi empat sampai lima kapal dalam satu tahun bersama orang tuanya ³Keterampilan dalam membuat kapal ini ada karena faktor kebiasaan sejak kecil. Siden (45 tahun) salah seorang pembuat Sandeq.´ ujarnya. Perahu Phinisi kebanggaan bangsa Indonesia. Hal ini menyebabkan nilai ekonominya menurun tapi nilai budayanya tetap ada. 2010 2. Masih Setia dengan Kapal Tradisional. orang yang membuat kapal sesuai pengetahuannya dan tidak menggunakan tenaga ahli.

dengan kata lain sudah ada pergeseran nilai budaya yang di miliki oleh mereka. Kebiasaan yang mendarah daging pada masyarakat suku bajo saat ini masih kita dapatkan. kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai instrument keberlanjutan hidup merekah sudah mulai tertanam dalam masyarkat suku bajo. seperti kurang kreatif dan produktif. Kondisi Sosial Masyarakat Suku Bajo Pada masyarakat suku bajo juga terjadi pergeseran yang mengarah ke yang lebih baik. Begitu seterusnya dengan kebiasan yang secara turun temurun merusak laut yang berimbas pada krisis yang dialami generasi mudah suku bajo untuk menggantungkan hidupnya pada laut semata mau tidak mau memaksa mereka juga untuk berbuat yang serupa. Artinya pada mulanya masyarakat suku bajo tidak memiliki tempat tinggal yang tidak menetap sehingga mereka lebih cenderung merusak laut dengan ulah mereka sendiri seperti membom. serta sikap menutup diri pada pihak-pihak lain. sikap konsumtif dan boros. Budaya fasalistik juga masih melekat kuat dalam kepribadian mereka. pasrah pada nasib. cepat puas dengan apa yang diperoleh. 1. namun secara kuantitas sudah mengalami penurunan. Masyarakat suku bajo memanfaatkan sumberdaya laut yang ada di sekitar perairan kawasan tempat tinggal mereka sebagai sumber pendapatan/mata pencahariannya yaitu sebagai nelayan tradisional. Suku Bajo adalah salah satu suku laut yang dimiliki oleh Indonesia. membius dan menjarah secara tidak teratur sehingga secara lambat laun laut mengalami kerusakan yang parah dan tidak ada kesadaran secara social untuk kelestarian laut untuk masa depan generasi muda. . Sikap-sikap tersebut telah menyebabkan masyarakat Bajo menjadi tidak berdaya.MASYARAKAT BAJO (Sri Wuna Sari Nasir F1E1 10 051) Masyarakat Bajo atau biasa disebut juga orang laut masih banyak yang buta huruf. hal ini yang menjadikan masyarakat bajo pada saat itu tidak menetap tempat tinggalnya dan kemudian berpindah lagi kempat yang lain dengan meninggalkan kerusakan yang parah pada tempat yang awal mereka diami. dan petani budidaya rumput laut.

masyarakat bajo sendiri seakan tidak perduli dengan perkembangan media dan teknologi yang beredar di dalam masyarakat luas. Kondisi Pendidikan Masyarakat Suku Bajo Pada umumnya masyarakat bajo rata-rata berdomisili di daerah-daerah pesisir yang sangat terpencil dan jauh dari jangkauan media sehingga secara garis besar mereka sangat awam terhadap perkembangan media yang begitu pesat yang diiringi dengan teknologi yang semakin canggih. bahkan sebagian dari masyarakat bajo yang buta aksara. Hal ini menunjukan sebuah kemajuan yang menggembirakan bagi masyarakat bajo. dan untuk mengetahi teknologi harus melalui bengku sekolah. . Kasadaran lahir tumbuh dari beberapa pengelola yang merasa bahwa pentingya mengetahui perkembangan teknologi. karena mereka beranggapan tanpa berusaha dalam hal ini turun ke laut mereka tidak bisa makan. SMP. seperti media yang saat ini sangat canggih seperti internet mereka sama sekali tidak bisa mengoperasikannya. dan lebih baik turun ke laut untuk mencari kehidupan yang dapat menghasilkan uang. Dalam tiga tahun tarakhir ini genarasi muda masyarakat bajo berlomba-lomba mendaftarkan diri untuk bersekolah baik itu SMP. Karena kebanyakan dari suku bajo sendiri banyak yang menggantungkan kehidupanya semata-mata pada hasil laut. Bagi mereka sekolah itu bikin habis waktu mendingan mereka turun di laut mencari dan kemudian hasil dari laut itu mereka jual yang kemudian dapat meenghasilkan uang. dan perguruan tinggi.2. Jangankan perkembangan media yang begitu pesat masalah pendidikan pun mereka kesampingkan. dan SMA. Semua ini berawal dari media komunitas yang intens memberikan pendidikan kepada masyarakat suku bajo. sebenarnya ini paradigma berpikir yang keliru karena mereka tidak punya kapasitas atau perantara untuk sampai pada sejauh pemikiranya tentang pentingnya dari pada pendidikan itu sendiri. Selain dari pada pendidikan sebagian besar masyarakat bajo pun gagap teknologi. Semua ini bisa terjadi karena kemampuan sumberdaya manusia generasi muda masyarakat suku bajo yang semakin meningkat. Fenomena ini terjadi secara turun temurun dan mereka mengganggap hal biasa dan tidak berpengaruh pada lingkungannya. Dan sebenarnya juga orang bajo juga mempunyai jiwa pekerja keras dan pantang menyerah pada keadaan. Maka dari itu tidak sedikit dari mereka yang tidak menamatkan pendidikanya sekolah dasar. SMA. Kemudian di bidang pendidikan masyarakat bajo menomor duakan pendidikan seperti yang dipaparkan diatas tadi bahwa sekolah itu sama saja dengan buang-buang waktu.

Rumah panggung dibangun tepat di atas permukaan laut. Akibatnya. Namun pada kenyataannya hingga saat ini sebagian besar masyarakat bajo masih merupakan bagian dari masyarakat yang tertinggal dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Karena ketidakmampuan ekonomi orang tuanya.3. Bahkan saat ini terjadi pemanfaatan sumberdaya laut pada lokasi-lokasi yang sebenarnya merupakan lokasi perlindungan sumberdaya laut. Masyarakat bajo biasanya bertempat tinggal di daerah pesisir. dan mengurangi beban tanggung jawab orang tuannya. laut bagi masyarakat Bajo merupakan tempat nenek moyang mereka yang di percaya sebagai penguasa laut. sebagian lainnya memilih menetap di lokasi tertentu dengan pola hidup yang sangat sederhana. di atas gugusan karang. kualitas sumber daya manusia tetap rendah dan kemiskinan di kalangan masyarakat Bajo akan diwarisi serta dilanggengkan dari generasi ke genarasi. Kemiskinan yang melanda rumah tangga masyarakat bajo telah mempersulit mereka dalam membentuk kehidupan generasi berikutnya yang lebih baik dari keadaan mereka saat ini. Namun saat ini meskipun masih ada yang meneruskan tradisi berpindah tempat. Anak-anak mereka harus menerima kenyataan untuk mengenyam tingkat pendidikan yang rendah. Segala bentuk kehidupan berlangsung benar-benar di atas laut. Namun sebagian besar dari masyarakat suku bajo menganggap pendidikan itu bisa didapatkan dilaut. menanggung beban kehidupan rumah tangga. Menurut Saleh (2002). Bukan . Masyarakat bajo merupakan masyarakat yang sejahtera karena potensi sumber daya alamnya yang besar. mulai dari mata pencaharian sampai membangun pemukiman yang berada di atas pesisir laut dengan memanfaatkan batu karang. Masyarakat suku bajo memiliki kehidupan yang bergantung pada laut. Pemanfaatan terumbu karang dan pasir laut yang berlebihan serta penggunaan alat tangkap yang bersifat merusak ekosistem laut banyak dilakukan oleh masyarakat Bajo. Kondisi Ekonomi Masyarakat Suku Bajo Masyarakat Bajo merupakan masyarakat yang sangat tergantung pada laut. Sungguh suatu bentuk kehidupan yang unik yang memerlukan keberanian serta ketangguhan untuk menjalaninya. Anak-anak di tuntut untuk ikut mencari nafkah. Karakteristik Masyarakat Suku bajo Dahulu kala masyarakat Bajo kerap berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya mencari sumber kehidupan seperti masyarakat gipsy atau nomaden. 4.

2011. Kondisi Sosial Masyarakat. Diah.id Bengen. http://siswa.go.net . 2010.bangka. Makalah pada Sosialisasi Pengelolaan Berbasis Masyarakat.univpancasila. 2011. 2011. Suku Bajo dalam Pusaran Modernitas.G. Kehidupan ekonominyapun bergantung pada hasil ataupun pendapatan setiap harinya. http://suarakomunitas.travel/read Tridarma.Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. Pemberani Dan Tangguh. 21-22 September 2001. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Kondisi Sosial Ekonomi Budaya Masyarakat. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Secara Terpadu.id Anonim. http://www.detik.com Nunuk. http://aci. 2001. Kusumawati. utamidk@jurnal. Pengaruh Media Komunitas Terhadap Struktur Sosial Masyarakat Bajo.didapatkan dari bangku sekolah. D.ac. Suku Bajo: Sederhana. Bogor. 2011.

Menurut beberapa versi. nenek moyang suku Bajo berasal dari Johor. di Sulawesi Tenggara. bertempat tinggal.Suku bajo juga identik dengan manusia perahu oleh karena mereka menggantungkan hidupnya dari perahu. tetapi juga sampai ke sulawesi. Sebuah daerah yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya. Suku ini tinggal menetap diatas perairan Pulau Wakatobi. Dari banyak interaksi tersebut menyebabkan suku ini banyak tersebar di berbagai daerah di Tanah air. Laut. dan belakangan mulai berekspansi ke wilayah kepulauan nusantara lainnya dan membentuk komunitasnya. Mereka adalah pelaut tangguh yang memilih untuk hidup di pulau-pulau di tengah laut. tidak hanya di seantero negeri johor. dan sejalan dengan itu orang-orang yang ditugaskan oleh sang raja pun tidak mau lagi kembali ke Johor dan tetap tinggal bersama sang putri. namun tetap tidak berjarak jauh dari laut. Suku Bajo merupakan suku yang terkenal mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. dahulu kala seorang puteri dari kerajaan Johor hilang entah kemana.Pernah disebut dalam sejarah bahwa suku bajo pernah . Sejarah Suku Bajo Konon. hingga mendapatkan julukan The Sea Nomads yang berarti hidup dilaut dan tak menetap pada satu tempat. Dari mulai hidup. Meski akhirnya kini Suku Bajo mulai menetap di darat oleh karena paksaan pemerintah.Kehidupan Masyarakat Suku Bajo (Fauzyah Novrini Kasman Arifin F1E1 10 055) Suku bajo terletak di Kepulauan Tukang Besi (dulu) yang sekarang berubah Wakatobi. bagi suku bajo menjadi andalan satu-satuya. kemudian menempatkan masyarakatnya yag berasal dari Johor itu dalam sebuah daerah yang bernama Bajo. Alkisah. yang merupakan cikal bakal dari suku bajo. sang putri lebih memilih untuk tetap tinggal di sulawesi. hingga mencari kehidupan pun dilakukan dengan banyak berinteraksi dengan laut.. Keunikan Suku Bajo Suku Bajo dikenal dengan Same(sama). malaysia. Sehingga sang Raja memerintahkan pengawalnya untuk mencari sang putri.Dan mereka menyebut warga di luar sukunya sebagai suku bagai. Sang putri yang pada akhirnya menikah dengan Raja bugis tersohor.

Kelompok sakai memiliki kebiasaan mencari ikan yang lebih dasyat lagi.mereka kembali lagi ke laut. Kelompok papongka adalah suku bajo yang biasanya mencari ikan di laut selama sepekan atau dua pekan. Ada empat kelompok masyarakat suku bajo menurut kebiasaan mereka bernelayan.Setelah hasil ikan tangkapan dijual dan merasa sudah mempunyai air bersih. Pada saat kembali ke rumah. mereka adalah manusia pengelana lautan yang telah menjadikan laut sebagai sahabat dan tempat tinggalnya. Kelompok lilibu adalah suku Bajo yang biasanya bernelayan di laut hanya satu atau dua hari.Mereka menggunakan perahu atau soppe yang di kendalikan dengan dayung dan layar.Lambat laun mereka juga sudah mulai mengenal daratan sebagai tempat tinggalnya.mereka selalu menyinggahi pulau-pulau terdekat . Namun. mereka baru akan pulang ke rumahnya setelah seminggu atau dua minggu mencari nafkah. Bila kelompok papongka hitungannya seluas provinsi. Setelah mendapat ikan. maka kelompok sakai hitungannya antarprovinsi. sang nelayan biasanya membawa uang dan berbagai kebutuhan rumahtangga lainnya.menjadi bagian dari Angkatan laut Kerajaan Sriwijaya. Mereka tidak jauh berbeda dengan kelompok papongka. yakni kelompok lilibu. Mereka bisa berada di ³tempat kerja´nya itu selama sebulan atau dua bulan.Kebiasaan mereka bila sudah memperoleh hasil ikan tangkapan atau kehabisan air bersih. tidak lagi membawa ikan tangkapan. Dulu. Sehingga. kelompok papongka. .Di mana ada tanjung atau pulau maka di situlah mereka mencari nafkah. waktu yang dibutuhkan pun lebih lama. Bedanya dengan kelompok lilibu. Mereka menggunakan perahu soppe yang dikendalikan dayung. wilayah kerjanya lebih luas. Katakanlah. Jadi.Sehingga ketangguhan dan keterampilannya dalam mengarungi samudera jelas tidak terkalahkan. untuk menjual hasil tangkapan atau menikmatinya bersama keluarga. kelompok sakai dan kelompok lame. Karena itu. mereka kembali ke darat. Biasanya terdiri dari lima atau enam orang anggota papongka.Semua aktivitas bersama keluarga dihabiskan diatas perahu atau soppe seperti biasanya kehidupan di darat. antarpulau. perahu yang digunakan pun lebih besar dan saat ini umumnya telah bermesin.

Kain-kain seperti ledja dan kasopa di tenun secara tradisional dengan motif yang khas . khususnya di Wakatobi. mereka memang bakal mengarungi laut lepas hingga menjangkau negara lain. . Karena. Mereka menggunakan perahu besar dengan awak yang besar dan mesin bertenaga besar. Selain sampan sebagai pusat kegiatan ekonomi.Kelompok terakhir. Dan. mereka bisa berada di lahan nafkahnya itu hingga berbulan-bulan. kerajinan kain tenun tradisional juga menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan suku bajo. suku bajo sangat percaya pada kearifan lokal dibandingkan dengan instrumen modernitas yang sangat masif berkembang diluar kebudayaan laut suku tersebut. kelompok lame bisa dikategorikan nelayan-nelayan yang lebih berkelas.

selain menjadi mata pencaharian bagi masyarakat pesisir. Ada sebagian dari tenaga kerja yang . Faktor yang berasal dari dalam diri masyarakat itu sendiri salah satunya adalah faktor ekonomi. Kegiatan tepat dan laut berdampak pasir yang laut tepat pengelolaan tidak wilayah dilakukan pada penambangan dengan cara apabila akan daerah yang baik berdampak lingkungan. penghasilannya tidak menentu karena semua itu tergantung hasil tangkapan dan cuaca. Secara kelautan pasir yang obyektif pasir berkembang pada laut memang bisa disebut salah satu sumber daya menjadi komoditas ekonomi. fisik. Contohnya masyarakat pesisir pantai yang dulunya bergantung pada mata pencaharian nelayan. lalu terhadap dalam sedimen di dasar lautan. Dampaknya seperti nelayan yang kehilangan mata pencarian hingga tenggelamnya sebuah pulau. yakni materi galian pasir yang berada di perairan Indonesia dan tidak mengandung mineral golongan A dan golongan B. penambangan pasir laut telah berkembang menjadi polemik nasional. Berbeda jika mereka menjadi penambang pasir yang akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar dari biasanya. Faktor-faktor penyebab adanya kegiatan penambangan pasir beraneka ragam. Faktor pendidikan masyarakat juga berpengaruh. Sedangkan menurut pemerintah yang tertuang dalam keputusan menteri. dan penambangan laut. pesisir di Namun. Namun. menurut geologi. biologi. Perairan nusantara. Yang ada dalam pemikiran mereka hanyalah bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari dengan mendapatkan uang melalui pekerjaan yang dapat diharapkan hasilnya secara nyata.Kehidupan Masyarakat Penambang Pasir (Rahmawati Nur Ariyanti F1E1 10 057) Pasir laut. juga menjadi objek pertambangan pasir dengan keuntungan bisnis yang sangat menggiurkan. yaitu semua materi seukuran pasir dan mengalami proses transportasi. Sebagian besar masyarakat pesisir adalah hanya lulusan SD. tidak lulus SD atau bahkan tidak bersekolah sehingga pemahaman mereka tentang lingkungan hidup sangat sedikit. Keberlanjutan dari usaha mereka pada jangka panjang tidak menjadi pemikiran mereka. maupun sosial.

Bila telah terayak. sore hari pasir tersebut sudah diambil pengepulnya dengan harga Rp. namun karena tekanan ekonomi membuat mereka terpaksa mengambil keputusan untuk tetap bekerja di penambangan pasir karena tidak mendapatkan pekerjaan yang lain. Faktor dari luar yang menyebabkan adanya penambangan pasir adalah faktor bisnis bagi perusahaan-perusahaan untuk mendapatkan keuntungan yang besar.000. 4. Artinya. Beberapa pekerja malah tidak mengetahui tentang lingkungan hidup. Sebagai contohnya warga Dusun 5 Desa Poto. penambang mengatakan setengah hari . Hari senin merupakan hari yang paling ditunggu oleh warga Dusun 5 yang mayoritas bekerja menambang pasir pantai karena pada hari itu pengumpul dari kota Kupang datang untuk membeli pasir hasil mereka. Kecamatan Fatuleu Barat. Dampak positif pada aspek sosial ekonomi dengan adanya kegiatan penambangan pasir dirasakan oleh sebagian masyarakat khususnya masyarakat pesisir.. Kegiatan penambangan pasir merupakan mata pencaharian yang potensial bagi masyarakat-masyarakat pesisir. Kabupaten Kupang. dengan pertimbangan alat-alat yang digunakan untuk melakukan penambangan merupakan alat-alat yang sederhana (alat manual) diantaranya sekop & pacul yang berfungsi mengumpulkan dan mengambil pasir serta kerikil.1750/sak.500. Lain lagi dengan penambang pasir Desa Bago Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. yaitu pengurangan jumlah pengangguran karena sebagian besar masyarakat bekerja sebagai penambang pasir dan peningkatan penghasilan masyarakat. dan alat sederhana lain.mengerti tentang lingkungan hidup. pasir dibiarkan saja di lokasi pengayakan dengan ditutupi ranting-ranting kering. mereka akan memperoleh penghasilan sekitar Rp. 90.untuk hasil kerja selama seminggu. Tidak sulit bagi mereka untuk mendapatkan penghasilan yang layak.dan rata-rata setiap keluarga menjual sebanyak 20 karung. Karena mereka hanya ngayak pasir lalu memasukkan kedalam sak (karung plastik). Pengumpul datang datang dengan menggunakan truk sambil membawa karung-karung beras kosong ukuran 20 kg untuk diisi dengan pasir. karena dalam mereka hanyalah bagaimana cara untuk mendapatkan uang agar hidup secara layak. Ibu dua anak ini sehari-harinya bekerja mengumpulkan pasir dari pantai untuk kemudian dijemur dan diayak.. Sekarung pasir yang telah bersih dibeli dengan harga Rp.

Singapura. Kasus serupa juga tidak tertutup kemungkinan terjadi di tempat lain di seluruh perairan Indonesia. Hal ini disebabkan seluruh isi laut disedot tanpa pandang bulu. serta biota lainnya juga ikut musnah. Terumbu karang tercemar. Perubahan itu secara langsung mengganggu kehidupan biota laut dan lingkungan di dalamnya. anak ikan. Tidak hanya pasir yang diangkat. Aktivitas penambangan pasir laut memiliki banyak dampak negatif. menimbulkan masalah serius bagi keberlangsungan ekosistem laut. Salah satu pulau kecil dari ribuan pulau yang hampir tenggelam adalah Pulau Nipah.dengan catatan hanya setengah hari. bukan saja semakin menekan keseimbangan ekosistem laut. kematian biota laut di dalamnya pun tak bisa dihindari.000. contohnya ke Singapura. Karena pulau tersebut merupakan tanda dari batas kontinen negara Indonesia dengan Singapura. Hanya beberapa jenis biota yang bisa bertahan. terumbu karang.000. Laju perkembangan perizinan tersebut. Hal tersebut bisa mengubah sistem perairan laut di Indonesia. Dalam proses penambangan tingkat kekeruhan air sangat tinggi. Diperlukan pengaturan khusus agar lokasi penambangan tidak dilakukan pada satu titik. Hasil ikan yang diperoleh menjadi berkurang. 35. Ini tidak bisa ditoleransi. Namun. Kerusakan yang muncul salah satunya adalah perubahan morfologi dasar laut menjadi tidak beraturan. Dampak langsung dari kerusakan ini paling dirasakan oleh masyarakat pesisir yang kebanyakan sebagai nelayan. penambangan yang terjadi secara terus-menerus dan tak terkendali terutama yang dilakukan oleh beberapa perusahaan besar apalagi perusahaan yang tidak memiliki izin untuk dijual.100. .jika dijumlahkan dalam satu bulan Rp.pendapatanya tidak kurang dari Rp. Dampak jangka panjang yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan pasir adalah hilangnya pulau-pulau kecil.. tetapi juga telah menyebabkan jatuhnya harga pasir lantaran melonjaknya volume produksi dengan pembeli satu-satunya. Pulau tak berpenghuni di Provinisi Kepulauan Riau itu sangat penting perannya. seperti ekosistem dan abrasi.1. tetapi telur-telur.

serta menindak tegas pelaku penambangan pasir. para penegak hukum dan pemberi perizinanan memberantas. Sebaiknya kaji dulu dampak lingkungan yang akan terjadi ke depan. Jangan mudah memberi perizinan.com Harian Umum Pelita tanggal 7 Mei 2009 khan35. Selain itu bagi yang sudah mendapat izin.multiplyjournal.com .Untuk mengatasi masalah tersebut.blogspot. pemerintah harus menetapkan kedalaman dan kemiringan/keterjalan maksimum lereng pantai yang dapat mencegah terjadinya longsoran di daerah pantai akibat penambangan pasir laut di daerah pantai (aspek geoteknologi). Daftar Pustaka www.

Kecamatan Sampang. yaitu beroperasinya sistem kapitalisme yang mengantarkan mereka pada kondisi yang terpuruk bahkan termarjinalkan. Kehidupan ekonomi para petani garam di Desa Aeng Sareh. Kabupaten Sampang. Banyak petani tidak dapat bertahan dengan pilihan usahanya. bahkan ada yang meninggalkan usahanya dan berpindah menekuni mata pencaharian lain. Petani garam sebagai anggota masyarakat mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada dimasyarakat. antara lain menyangkut harga. tetapi dewasa ini kehidupan petani garam di berbagai daerah di Indonesia. Jika dicermati dan dikaji lebih mendalam. mutu garam yang sangat rendah. seperti mengikuti perkumpulan pengajian. dan matahari sebagai sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. para petani garam juga tidak terlepas dari persaingan dan konflik. dihadapkan pada situasi sulit. Problem yang dihadapi petani garam yang tampak kepermukaan. kehidupan sosial para petani garam di Desa Aeng Sareh. Di Kabupaten Sampang Air laut dengan sinaran matahari mampu menghasilkan garam yang sejak dulu dikenal sebagai produk utama masyarakat Madura. air laut. yaitu memiliki penghasilan rata-rata antara . Mereka juga melakukan kerja sama dengan masyarakat disekitarnya. sampai membanjirnya garam impor. Petani garam bekerja dengan memanfaatkan tanah. dalam hal interaksi sosial baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat yaitu mereka tidak hanya berkomunikasi secara langsung. Kabupaten Sampang berdasarkan tingkat pendapatan. Sedangkan dalam hal pekerjaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Kecamatan Sampang. hal ini mengharuskan para petani garam melakukan berbagai strategi agar dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI PETANI GARAM Ririt Yuliarti Taha F1E1 10 058 Garam merupakan komoditi strategis sebagai bahan baku industri dan bahan pangan yang sangat dibutuhkan oleh hampir semua masyarakat. tidak terkecuali para petani garam di Desa Aeng Sareh. terdapat problem yang mendasar yang dihadapi petani garam. khususnya masyarakat yang bertempat tinggal di daerah pesisir. Akan tetapi selama musim hujan para petani garam tidak dapat memproduksi garam. tetapi mereka juga menggunakan alat komunikasi yaitu HP.

yaitu 1.965 ha pada tahun 2000 dan 1. sedangkan tingkat pendidikan putra-putri mereka sampai bangku SMA/ Sederajat. pada tahun 2000 berkurang menjadi 6 perusahaan dan tahun 2005 berkurang lagi tinggal 4 perusahaan (Rembang Dalam Angka 1990.965 ha pada tahun 2005 (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rembang. Padahal luas lahan garam relatif tidak berubah. Fenomena itu pada satu sisi menunjukkan bahwa posisi dan status sosial ekonomi petani garam semakin termarjinalkan dan pada sisi yang lain juga dapat dimaknai telah terjadi polarisasi dalam penguasaan lahan garam dan dominasi modal produksi kapitalis.184. tingkat pendidikan para petani garam hanya menempuh sekolah dasar (SD). 2005). tahun 2000 menurun menjadi 729 orang dan pada tahun 2005 menjadi 718 orang. 1991).449 ha pada tahun 1990 (Jawa TengahDalam Angka. Untuk biaya sekolah madrasah sore atau TPA hanya membayar uang SPP sebesar Rp 5000 per bulan. sedangkan untuk biaya mengaji.184. Sedangkan akses untuk mendapatkan pendidikan putra-putrinya yang masih duduk di bangku SD/ Sederajat dan SMP/ Sederajat.986 orang dan pada tahun 2005 menjadi 4.739 orang. mengikuti arisan dan menabung. para petani garam hanya membayar uang listrik sebesar Rp 2000 per bulan.000 sampai Rp 45. serta menjual barang-barang berharga untuk memenuhi kebutuhan besar. seperti biaya pendidikan ditanggung oleh pemerintah. 1995) lebih didasarkan pada pemilikan individual (private ownership) masing-masing orang terhadap alat-alat produksi dan dalam hal ini kapitalis sebagai pemilik alat produksi dan buruh proletar memiliki kepentingan yang bertentangan. Strategi yang dilakukan para petani garam dalam mempertahankan hidup yaitu seperti bekerja sambilan. Modal produksi kapitalis dalam pemikiran Marx (Morrison. 1. meminjam uang kepada famili dan pemilik warung untuk keperluan yang mendesak. Para putra-putri petani garam di Desa Aeng Sareh ini bersekolah Madrasah Sore atau TPA. memanfaatkan barang bekas untuk ditukar dengan makanan seperti kerupuk. Adapun jumlah perusahaan garam rakyat di kabupaten Rembang juga cenderung menurun. Dalam hal pendidikan. pada tahun 1990 terdapat 12 perusahaan. serta mengaji di surau.189. Di kabupaten Rembang jumlah petani garam pemilik lahan pada tahun 1990 sebanyak 784 orang. Peningkatan terjadi pada jumlah petani penggarap/buruh garap di mana pada tahun 2000 terdapat sebanyak 3.Rp 25.000 per hari dengan jumlah tanggungan rata-rata antara 4 orang sampai 6 orang. meminimalisasikan pengeluaran. 2000 dan 2005). Dari hal ini .

Dalam hal ini struktur penguasaan lahan juga berpengaruh pada modal produksi yang berkembang. aksesnya rendah bahkan tidak memiliki akses pada surplus dari produksinya dan sebaliknya petani yang menguasai lahan luas memiliki akses untuk dapat menikmati surplus dari produksi garam. Dalam proses produksi garam. Rembang secara empiris dicirikan oleh adanya hubungan produksi subsisten yang terbatas dalam lingkup keluarga (orang tua. Dari hal ini secara sosial ekonomi petani garam yang menguasai lahan terlebih lahan luas relatif lebih maju/kaya dibandingkan dengan petani lahan sempit apalagi petani penggarap/buruh pada umumnya lebih terbelakang/miskin. petani garam lahan sempit dan yang tidak menguasai lahan garam. sepupu) dengan dasar hanya untuk dapat survival. Oleh karena itu struktur penguasaan lahan garam akan menentukan accessibity petani garam pada surplus atas produksinya. Sebagai indikatornya tercermin dari beberapa hal . bahwa moda produksi kapitalis mempunyai ciri padat modal dan merupakan tipe kelas berstruktur majikan-buruh pada hubungan produksinya. Hal ini jelas sangat berbeda dengan moda produksi kapitalis yang dicirikan oleh hubungan produksi komersial yang berorientasi pada keuntungan (profit). anak. yaitu moda produksi kapitalis pada petani lahan luas dan moda produksi non kapitalis/us aha keluarga (household farm) pada petani kecil dan petani penggarap.terjadi proses pemiskinan kaum buruh oleh kaum kapitalis melalui aliran dan akumulasi surplus yang pada hakekatnya merupakan bentuk eksploitasi terhadap kaum buruh dalam proses produksi. Model produksi non kapitalis dalam proses produksi garam di kabupaten. yaitu moda produksi kapitalis mendominasi moda produksi non kapitalis dan surplus dari beroperas inya moda produksi non kapitalis diserap ke dalam moda produksi kapitalis melalui mekanisme pasar (market mechanism) dan sistem bagi hasil yang dikembangkan. Pemikiran Marx itu dikembang-kan Russel (1989). Artinya. menantu. Selain itu kedua moda produksi tersebut dalam banyak kasus memiliki keterkaitan integratif yang bersifat asimetris. lahan merupakan alat produksi yang sangat penting bagi petani garam karena diatas lahan itulah kegiatan produksi mereka lakukan. tidak terekspresi adanya perhitungan untung-rugi (cost-benefit calculation).

5 ha) maupun buruh garap. maka pada musim panen banyak kelompok sosial di luar petani garam (seperti guru. biasa memainkan komoditas garam di mana mereka itu semuanya bergerak di julur pemasaran garam. tetapi pada sisi lain menjadikan petani garam terutama petani petani kecil dan petani penggarap/buruh semakin tidak memiliki akses ke pasar. di satu sisi dapat menjadi indikator bahwa garam merupakan komoditas yang dapat memberi keuntungan signifikan. jenis dan pola konsumsi makanan. Petani (lahan sempit dan penggarap) hanya diposisikan . pendidikan. pendapatan/hasil yang diperoleh. yaitu tempat pengumpulan garam di tepi/pinggir jalan raya yang dapat dijangkau truk dan sejenisnya milik kaum kapitalis yang menguasai jalur pemasaran garam. bukan milik petani kecil dan penggarap. Demikian juga dengan kekuatan ekonomi kapitalis baik pada aras lokal maupun supra lokal. Dengan demikian petani garam sebagai produsen garam krosok dalam konteks perdagangan garam posisinya termarjinal-kan karena adanya penutupan akses ke pasar oleh pelaku ekonomi di jalur pemasaran. tengkulak maupun mak elar. Dengan demikian polarisasi penguasaan lahan garam oleh kapitalis secara signifikan ikut memberi kontribusi bagi marjinalisasi petani garam terutama petani kecil dan petani penggarap/buruh. Bermainnya kelompok -kelompok sosial lain dari berbagai aras pada jalur pemasaran garam ini. Hal ini mengingat petani garam di kabupaten Rembang sebagian besar merupakan petani penggarap baik dari pemilik lahan sempit (< 0. justru cenderung yang menikmati surplus value bukannya petani produsen. hanya sebagian kecil petani garam yang memiliki lahan luas (> 5 ha) yang pada umumnya juga bergerak di jalur pemasaran garam sebagai tengkulak/bakul dan pabrikan (pabrik garam rakyat). Selain itu dominasi kekuatan ekonomi kapitalis atas produksi garam juga ditunjukkan melalui penguasaan mereka terhadap gudang-gudang garam yang merupakan titik pengumpul (collecting point). Dalam konteks ini tampak bahwa kelompok-kelompok di luar komunitas petani garam yang bertindak sebagai pelaku ekonomi di jalur pemasaran garam. relasi sosial yang dikembangkan. kondisi perumahan.antara lain: pola kerja/usaha. Masyarakat Rembang menempatkan garam sebagai komoditas perdagangan yang cukup menarik. pegawai pemerintah maupun pegawai swasta dan pemodal) ikut bermain baik sebagai penyetok.

php/PPKN/article/view/15331 2. agar supaya mereka tetap dapat menguasai dan mendominasi pasar global. baru berikutnya petani kecil dan petani besar. Petani penggarap/buruh sangat tergantung dan ditentukan secara sepihak oleh pemilik.ac.unair.sebagai produsen. Dalam mata rantai usaha garam itu penggarap/buruh adalah pihak yang paling kecil mendapatkan keuntungan dan paling rentan dibandingkan dengan lainnya. http://journal. Sebagaimana pada tingkat global. mereka hanya memiliki hak untuk memproduksi garam dengan kewajiban menyerahkan sepenuhnya hak penjualan pada pemilik dan pemiliklah yang menentu-kan harga.pdf .ac. Pada dasarnya kondisi yang demikian sudah dapat dikategorikan sebagai eksploitasi.um. Adapun petani hanya dapat menjual pada pedagang yang telah dikenal yang bergerak di jalur pemasaran dan permodalan dan mereka ini yang cenderung mempermainkan harga.id/index. kekuatan ekonomi kapitalis memiliki kecenderungan untuk dengan sengaja menutup akses pelaku ekonomi lokal dan nasional dapat menembus pasar global. Kondisi itu diperkuat lagi dengan adanya eksploitasi yang terwujud dalam bentuk relasi usaha antara petani penggarap/buruh dengan petani pemilik dan antara petani kecil dengan pelaku usaha lain di jalur pemasaran dan permodalan serta dengan pabrikan sebagai produsen jadi. Daftar Pustaka 1. http://karya-ilmiah. karena adanya unsur kesengajaan penutupan akses oleh pihak tertentu pada pihak lain untuk tidak mendapatkan keuntungan dari sumber daya yang ada.id/filerPDF/Petani%20Garam%20dalam%20Jeratan%20Kapitalism e.

Menurut Murtidjo. ekor bercabang dan sisiknya halus. dan dari selatan Jepang sampai Australia Utara. c. yaitu telah dibuatnya bendungan sebagai tempat penampungan air yang berasal dari air laut serta memiliki sarana saluran air yang memudahkan penambahan air maupun pembuangan air pada waktu panen. tetapi dekat dengan sungai.TAMBAK IKAN BANDENG (Karmila F1E1 10 063) Perikanan darat adalah usaha perikanan yang meliputi segala penangkapan dan pemeliharaan ikan yang dilakukan di dalam batas garis pantai. Dalam membudidayakan ikan bandeng di dalam tambak. mengingat ikan bandeng hingga saat ini tetap menjadi komoditas budidaya yang paling banyak diproduksi dan dikonsumsi di Indonesia. ketentuan-ketentuan yang perlu diperhatikan : . Tambak bersalinitas rendah. Salah satu kegiatan perikanan darat yang banyak terdapat di pesisir pantai adalah budidaya ikan bandeng di dalam tambak. Warnanya putih gemerlapan seperti perak pada tubuh bagian bawah dan agak gelap pada punggungnya. yang merupakan sejenis ikan laut yang tersebar dari pantai Afrika Timur sampai kepulauan Timotu. Hal ini dikarenakan dalam mengusahakan tambak selain didukung oleh kondisi fisik juga didukung oleh kondisi non fisik yang ada pada lingkungan. Usaha budidaya tambak ikan bandeng secara teoritis lebih memberikan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan. adalah tambak yang agak jauh dari garis pantai. Menurut Afrianto. Tambak bersalinitas tinggi. dengan moncong agak runcing. adalah tambak yang terletak sangat jauh dari garis pantai. Tambak dapat dibangun apabila memenuhi syarat yang paling utama. Ikan bandeng ini mempunyai bentuk tubuh langsing mirip terpedo. b. mengingat ikan bandeng hingga saat ini tetap menjadi komoditas budidaya yang paling banyak diproduksi dan Ikan bandeng mempunyai nama latin chanos-chanos. Ikan bandeng dikenal sebagai ikan petualang yang suka merantau. ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan sehingga para petani tidak banyak menemui hambatan. berdasarkan salinitasnya tambak dapat dibagi menjadi : a. Tambak bersalinitas menengah. sebelah timur Tahiti. adalah tambak yang sangat dekat dengan garis pantai. Usaha budidaya tambak terutama ikan bandeng secara teoritis lebih memberikan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan.

5. speciesdominan. . Faktor-faktor fisik kimia yang harus diperhatikan dalam pembuatan tambak adalah: 1. 26. ada beberapa faktor lingkungan yang sangat dominan dalam budidaya ikan bandeng. 2.Kecerahan 20-40 cm (cahaya matahari sampai ke dasar pelataran). 3.5-31.PH. 2. Menurut Slamet Soeseno. Pemilihan tempat atau lokasi dan kondisi lingkungan berdasarkan pada tekstur tanah. Mampu menjamin ketrsediaan air dan pengairan yang memenuhi persyaratan mutu yang ditentukan.5 ppm. yaitu: 1. 3. topografi. Tambak yang diusahakan haruslah dapat memberikan keuntungan dan berlangsung secara terus menerus. . . rantai makanan. 6. Sifat-sifat perairan pantai dalam kaitan dengan pasang surut dan pasang arus perlu diketahui secara rinci. Keadaan tanah yang menjadi dasar tambak.Air terhindar dari polusi baik polusi bahan organik maupun an organik. serta kuantitas air. . Elevasi (ketinggian tempat) calon lokasi tambak. penyediaan air. serta penyakit endemik harus diperhatikan karena mampu mengakibatkan kegagalan proses produksi. pH.Suhu air. Perencanaan pembuatan tambak yang didasarkan pada pertimbangan biologis dan ekonomis serta cara pengelolaannya. keberadaan predator dan kompretitor. Faktor-faktor yang mendukung usaha budidaya ikan bandeng ini meliputi faktor fisik kimia dan faktor non fisik kimia (sosial ekonomi). topografi. . dan tekstur tanah).0 0C. . temperatur air.Alkalinitas 50-500 ppm. Perencanaan usaha budidaya ikan yang meliputi ukuran unit usaha.Oksigen larut. 4.Pergantian air minimal. 3. 200 % per hari. Keadaan tanah (letak.1.0-8. dan kualitas. Faktor-faktor biologis seperti kesuburan perairan. . ..5-8. 2.

liat (clay). Walaupun banjir tidak sampai merobohkan pematang pada tambak bandeng. Pada umumnya pasang surut di Indonesia adalah 1 ± 2 meter. dan debu (silt) yang proporsinya masing-masing akan menentukan teksturnya.Iklim merupakan keadaan rata-rata cuaca dalam jangka waktu tertentu dan dalam suatu wilayah/daerah tertentu juga. kecuali di Jawa Timur yang mempunyai ketinggian pasang sampai 3 meter . Oleh karena itu. Namun demikian. Tanah merupakan tempat untuk tumbuh tanaman dan tempat kehidupan hewan mikroorganisme yang mampu menghancurkan sampah-sampah yang dibuang ke tanah. Di dalam tanah ini mengandung bahanbahan organik yang diperlukan tumbuhan. Tanah datar yang letaknya berada dekat pantai sangat cocok untuk lokasi tambak. Tanah merupakan faktor yang sangat penting dalam usaha pembudidayaan ikan bandeng. salinitas tinggi tidak terlampau mempengaruhi kelangsungan hidup bandeng bila air sering diganti. Untuk itu. pada salinitas tinggi (> 60 ppt) pertumbuhan bandeng lebih lambat dan sangat peka terhadap stress yang diakibatkan oleh rendahnya oksigen terlarut serta gangguan fisik saat panen. Tanah yang digunakan untuk lokasi tambak dicari di daerah yang masih berada di daerah pasang surut. Karena ikan bandeng termasuk hewan rheotaksis positip (menentang arus) maka faktor iklim. Iklim merupakan salah satu fenomena alamiah yang sangat menentukan dalam keberhasilan budidaya. Pada dasarnya tanah tersusun dari partikel-partikel pasir (sand). sebaiknya dipilih lokasi yang beriklim sedang yang tidak mengalami kemarau panjang. Daerah ini jarang mengalami kekeringan dan mempunyai unsur hara yang cukup tinggi. Ketinggian seluruh tempat itu tidak boleh melebihi tinggi permukaan air pasang tertimggi dan juga tidak boleh kurang (lebih rendah) dari permukaan air surut terendah. Tanah yang baik untuk dijadikan tambak . perlu diperhitungkan dalam kaitannya dengan osilasi pasang. ketinggiannya harus disesuaikan dengan perbedaan pasang surut. Tanah yang paling baik adalah tanah paya-paya yang dekat laut dan muara sungai. Pada musim kering. Untuk membuat tambak. Pada tanah yang bergelombang sebaiknya dibuat datar terlebih dahulu. terutama curah hujan. Air pasang pada saat curah hujan tinggi biasanya mengakibatkan banjir di kawasan pantai. Jadi tekstur tanah ditentukan oleh perbandingan relatif dari ketiga jenis partikel tersebut. tetapi bila ada aliran air di atas pematang maka semua bandeng akan keluar dari tambak (berkaitan dengan sifat rheotaksis positip). untuk mengurangi biaya produksi maka lokasi yang dipilih sebaiknya tidak termasuk daerah kawasan banjir.

3. Ikan ini sangat digemari oleh masyarakat utamanya Sulawesi Selatan. Budidaya ikan bandeng tidak hanya berkembang di air payau saja namun saat ini juga sedang berkembang di air tawar maupun laut dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). Efisien dalam memanfaatkan pakan FCR 1.2. Tanah demikian sangat keras dan mempunyai kemampuan yang baik dalam menahan air. 6.6%/hari). utamanya di daerah Sulawesi Selatan dengan memanfaatkan perairan payau dan pasang surut. 5. secara teknis mudah diaplikasikan dan secara ekonomis menguntungkan. pengelolaan air. Pakan komersial untuk ikan ini sudah tersedia dalam jumlah cukup hingga ke pelosok desa. Teknologi budidaya ikan ini juga telah mengalami perkembangan yang begitu pesat mulai dari pemeliharaan tradisional yang hanya mengandalkan pasok benih dari alam pada saat pasang sampai ke teknologi intensif yang membutuhkan penyediaan benih. Teknologi budidayanya baik di tambak maupun dalam KJA telah dikuasai dengan baik. 2. sementara . Teknologi perbenihannya telah dikuasai dengan baik sehingga pasok benih tidak lagi tergantung pada musim dan benih dari alam. 7. Ikan bandeng sebagai komoditas budidaya mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan komoditas budidaya lainnya dalam hal : 1.adalah tanah yang liat dan berlumpur. 4.7-2. Permintaan ikan ini dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan baik untuk tujuan konsumsi. Mampu hidup dalam kondisi yang padat di keramba jaring apung (100-300 ekor/m3). Pertumbuhannya cepat (1. Jaminan pasar baik dalam maupun luar negeri masih terbuka. dan pakan secara terencana. 8. umpan bagi industri perikanan tuna cakalang maupun untuk pasar ekspor. Mampu mentolerir perubahan salinitas mulai dari 0-158 ppt sehingga areal budidayanya cukup luas mulai dari perairan tawar hingga ke perairan laut. INFORMASI TAMBAHAN Budidaya ikan bandeng telah lama dikenal oleh petani dan seat ini telah berkembang di hampir seluruh wilayah perairan Indonesia.

Demikian halnya dengan ikan bandeng yang diproduksi dalam keramba jaring apung dapat memiliki standar kualitas ekspor yaitu: 1. Ukurannya bisa mencapai 600-800 g/ekor sesuai dengan permintaan pasar . Sisik bersih dan mengkilat 2. Mudah dalam pemanenan baik selektif maupun total 3. dan pariwisata yang pada gilirannya akan berdampak pada penurunan produksi. industri. maupun lingkungannya. dan perairan semacamnya yang memenuhi persyaratan baik teknis. Kandungan asam lemak Omega-3 relatit tinggi jika dibandingkan dengan bandeng yang diproduksi pada tambak 4. Tidak berbau lumpur 3. tata lelak. Produktivitasnya tinggi (350-400 kg/keramba 6 m3/musim tanam 6 bulan) 5. Dagingnya kenyal dengan aroma yang khas sehingga sangat digemari sebagai ikan bakar di warung-warung sea food 5. Pengkajian tentang kelayakan lokasi. sosial ekonomi. laguna. legalitas. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi budidaya bandeng adalah dengan memanfaatkan perairan laut seperti muara sungai. Efisien dalam penggunaan lahan 2. Penggunaan keramba jaring apung untuk budidaya bandeng di laut memiliki beberapa kelebihan di antaranya: 1. Skala usaha dapat disesuaikan dengan kemampuan modal dengan menggunakan bahanbahan yang tersedia di lokasi budidaya. dan desain keramba telah banyak dilakukan.areal budidayanya di darat semakin hari semakin menciut akibat banyaknya lahan tambak yang dikonversi untuk kebutuhan pembangunan lain seperti untuk perumahan. teluk. Mudah dipantau dan tidak memerlukan pengelolaan air yang khusus seperti di tambak 4. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perairan seperti tersebut di atas layak untuk dijadikan lokasi budidaya dengan sistem keramba jaring apung.

diperoleh data bahwa kebutuhan ikan bandeng untuk pasar spesifik berupa rumah-rumah makan sea food. Sulawesi Selatan.tribun-timur.695 ha. dan saat ini baru terpenuhi 25%. http//: www. Selanjutnya dikatakan bahwa problem utama yang dihadapi adalah kontinyuitas produksi.9 jute ha. utamanya dalam hal bobot. dan penampilan fisik. Dari potensi tersebut yang layak untuk budidaya ikan adalah 369.500 ha dan tersebar di beberapa provinsi di Indonesia Dari luasan tersebut dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan dalam keramba jaring apung seluas 1% atau 3. Dukungan lptek Teknologi budidaya bandeng dengan sistem keramba jaring apung di laut mulai dirintis oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP) Maros sejak tahun 1993. nampak bahwa lahan yang potensial untuk kegiatan budidaya laut diperkirakan mencapai 1.Prospek Pengembangan Peluang Pasar Hasil penelitian sederhana yang dilakukan oleh Atjo & Syahrun (2000). rasa. hotel. Riau. dan daerah lainnya di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Budidaya Bandeng. Saat ini budidaya bandeng dengan sistem KJA tersebut telah berkembang di beberapa daerah seperti Maluku. Bali. Potensi Sumber Daya Hasil identifikasi yang telah dilakukan terhadap wilayah pesisir dan laut. dan sejak saat itu rutin dilakukan percontohan di berbagai daerah di Indonesia. 2008. 2005 . don pasar swalayan khususnya di Kota Madya Makassar diperkirakan mencapai 6 ton per hari. Sulawesi Tenggara.com/berita/ form98677 Warta Penelitian Perikanan Budidaya Volume II Nimor 1. konsistensi mutu. Batam. ukuran. Kriteria-kriteria yang dipersyaratkan tersebut akan dapat dipenuhi dan hasil budidaya bandeng yang berasal dari keramba jaring apung di laut.

Dalam bidang non-perikanan. supplier factor sarana produksi perikanan. ³Masyarakat pesisir itu sendiri dapat didefinisikan sebagai kelompok orang atau suatu komunitas yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir´. Sementara. Begitu juga dengan posisi nelayan sosial. Dilihat dari aspek pengetahuan. Pelayan bergelut dengan laut untuk mendapatkan penghasilan. dilihat dari aspek kepercayaan. keras.³nelayan menghadapi sumberdaya yang bersifat open acces dan beresiko tinggi. pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya. kepercayaan (teologis). masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa transportasi dan lain-lain. buruh nelayan. masyarakat pesisir mendapat pengetahuan dari warisan nenek moyangnya misalnya mereka untuk melihat kalender dan penunjuk arah maka mereka menggunakan rasi bintang.KEHIDUPAN MASYARAKAT PESISIR (Inda Permatasari Ridwan F1E1 10 064) Berdasarkan pendapat Nikijuluw dalam Dietriech (2001). Hal tersebut menyebabkan masyarakat pesisir sepeti nelayan memiliki karakter yang tegas. dan terbuka´ (Satria. Dari segi penghasilan. Mereka hanya melakukan ritual tersebut hanya untuk formalitas semata. Berbeda halnya dengan masyarakat pesisir yang mata pencahariannya didominasi dengan pelayan. aspek pengetahuan. dewasa ini sudah ada dari sebagian penduduk yang tidak percaya terhadap adatadat seperti pesta laut tersebut. maka pendapatan yang mereka inginkan tidak bisa dikontrol. dan posisi nelayan sosial. Selain itu. nelayan bergolong kasta rendah. pada umumnya. . masyarakat pesisir masih menganggap bahwa laut memilki kekuatan magic sehingga mereka masih sering melakukan adat pesta laut atau sedekah laut. Mereka terdiri dari nelayan pemilik. pengolah ikan. Karakteristik masyarakat pesisir berbeda dengan karakterisik masyarakat agraris atau petani. karakteristik masyarakat pesisir dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya. Namun. petani mempunyai pendapatan yang dapat dikontrol karena pola panen yang terkontrol sehingga hasil pangan atau ternak yang mereka miliki dapat ditentukan untuk mencapai hasil pendapatan yang mereka inginkan. pedagang ikan. 2002)2.

Program-program yang telah dilakukan pemerintah untuk pemberdayaan masyarakat pesisir telah banyak menghasilkan manfaat dan membantu meningkatkan pendapatan masyarakat. namun konflik yang mendominasi adalah persaingan antar nelayan dalam memperebutkan sumberdaya ikan yang jumlahnya terbatas. Pemberdayaan masyarakat berbasis masyarkat merupakan salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan dan ketidakberdayaan yang dialami oleh masyarakat pesisir khususnya para nelayan. Dari masalah utang piutang tersebut sering terjadi konflik. tidak sedikit pula program-program yang tidak berhasil karena tidak sesuai dengan harapan masyarakat dan tidak ada keberlanjutan dari masyarakat. adalah pola . Pengelolaan ini dilakukan dengan kegiatan nyata yang sesuai dengan warna dari kultur masyarakat setempat.yang bersifat fleksibel agar dapat berubah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka. Beberapa contoh adaptasi yang berkaitan dengan tempat tinggal Adaptasi yang dilakukan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir pantai dan menggantungkan sumber penghidupannya dari sumber daya yang ada. menunjukkan adanya keragaman. dan terbuka memerlukan berbagai strategi dan kegiatan. masyarakat pesisir memiliki ciri yang khas dalam hal struktur sosial yaitu kuatnya hubungan antara patron dan klien dalam hubungan pasar pada usaha perikanan.Secara sosiologis. keras. Contoh yang menunjukkan bagaimana masyarakat yang tinggal di tepi pantai mengadaptasikan dirinya. ³Biasanya patron memberikan bantuan berupa modal kepada klien. Selain itu LSM harus mampu memberikan masukan dan kritikan bagi strategi pengembangan dan pengelolaan kawasan pesisir. Hal tersebut merupakan taktik bagi patron untuk mengikat klien dengan utangnya sehingga bisnis tetap berjalan´ (Satria. berkaitan dengan permukiman/tempat tinggal mereka. 2002)3. Masyarakat pesisir yang memiliki karakter tegas. sangatlah penting adanya pihak yang dapat mengembangkan sumberdaya laut dan mengatur pengelolaannya. Oleh karena itu. Dalam hal ini peranan aktif LSM sangat membantu dalam mengarahkan strategi pembangunan yang diperlukan masyarakat pesisir dan menunjang pengelolaan sumberdaya lingkungan laut di sekitar tempat tinggal mereka misalnya budidaya perikanan . Namun.

Upaya seperti ini dilakukan oleh masyarakat sebagai respon atas semakin terbatasnya lahan yang mereka miliki/kuasai. pada banyak kasus.mangrove atau ³menciptakan´ lahan-lahan baru yang dapat digunakan sebagai lokasi permukiman dan. pertumbuhan penduduk yang tinggi mendorong penduduk di kawasan pantai untuk merambah/membuka kawasan hutan .ipb. masyarakat dengan sengaja membuat jebakan-jebakan sedimen lumpur di pantai untuk mendapatkan lahan baru atau memperluas lahan yang sudah ada untuk kepentingan kegiatan tambak.permukiman kelompok masyarakat Kampung Laut di kawasan Sagara Anakan atau daerahdaerah lain yang mengembangkan dan membangun rumah-rumah mereka di atas tiang-tiang pancang yang relatif tinggi yang menyesuaikan kepada pasang surut laut yang terjadi secara reguler.wordpress.id/2010/06/20/masyarakat-pesisir/ http://ngurahadisanjaya. terutama.com/2011/10/08/proses-adaptasi-manusia-di-lingkunganpesisir/ . sebagai lahan usaha.student. Sejalan dengan munculnya lahan-lahan baru (³tanah timbul´). Daftar Pustaka http://famif08.ac. mereka juga mengembangkan permukimannya. di beberapa tempat seperti di kawasan pantai Kabupaten Bekasi. Sebagai contoh. Selain contoh di atas.

Dalam pembangunan diwilayah pesisir. Guna mendukung visi dan misi tersebut maka usaha budidaya rumput laut merupakan salah satu jawaban dan pilihan yang paling tepat. yaitu´ Indonesia penghasil produk perikanan terbesar tahun 2015´. 2004). salah satu di antaranya yaitu rumput laut. . Pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia dirintis sejak tahun 1980-an dalam upaya merubah kebiasaan penduduk pesisir dari pengambilan sumberdaya alam ke arah budidaya rumput laut yang ramah lingkungan dan usaha budidaya ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya juga dapat digunakan untuk mempertahankan kelestarian lingkungan perairan pantai (Ditjenkan Budidaya. pro-job (penyerapan tenaga kerja) dan pro-growth (pertumbuhan). Di perairan Indonesia hidup berbagai biota laut.Sosial Ekonomi Pembudidaya Rumput Laut (Aulia Fahdilah Tasruddin F1E1 10 068) Indonesia adalah Negara kepulauan dengan wilayah lautan yang sangat luas yaitu 70 % dari seluruh wilayah Indonesia. Budidaya rumput laut memiliki peran penting dalam rangka meningkatkan produksi perikanan. Melalui program ini diharapkan dapat merangsang terjadinya pertumbuhan ekonomi wilayah akibat meningkatnya pendapatan masyarakat setempat. Perwujudan dari pada tiga pilar tersebut. pemerintah telah mewujudkan tiga pilar pembangunan. salah satu pengembangan kegiatan ekonomi yang sedang digalakkan pemerintah adalah pengembangan budidaya rumput laut. Untuk menunjang program pembangunan kelautan dan perikanan tersebut. Sehingga usaha budidaya rumput laut merupakan salah satu sumberdaya yang berbasis keunggulan untuk menggerakkan perekonomian masyarakat di daerah pesisir. Upaya meningkatkan produksi rumput laut dapat ditempuh melalui usaha budidaya dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relative sederhana dan biaya produksi yang murah. Sebagai jawaban dari pada visi dan misi tersebut adalah dengan ketersediaan SDM yang terampil dan kompoten dalam bidang budidaya khususnya budidaya rumput laut. yaitu pro-poor (pengentasan kemisknan). Berbagai keragaman jenis rumput laut hidup di daerah pesisir maupun yang hidup dalam tambak merupakan cerminan dari potensi rumput laut yang ada di Indonesia. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan visi dan misi.

meningkat di tahun 2010-2014 sebanyak 2.000 kg/Ha yang sebelumnya hanya 700 kg/ Ha. Wundulako. yang dimanfaatkan seluas 4. Dimana panjang garis pantai Kabupaten Kolaka 295 km. Potensi pengembangan budidaya laut di Kabupaten Kolaka lebih kurang 17. dari 250 kelompok atau 1.65 ton. Eucheuma denticulatum (spinosum) dan Gracilaria sp. karena itu produksi per minggu sekitar 177.869 rumah tangga perikanan (RTP).500 orang di tahun 2008. Latambaga. Produksi rumput laut Indonesia termasuk yang terbesar di dunia.600 orang.130 Ha. Sementara produksi nasional tahun 2010 sebesar 3. Rumput laut Indonesia sudah diakui secara internasional sebagai bahan baku utama untuk sejumlah industri pengolahan rumput laut dunia.574 juta ton. dan Watubangga. Saat ini rumput laut merupakan salah satu komoditas prioritas dan unggulan bagi Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. Khusus budidaya rumput laut di Kolaka hingga tahun 2010. Daerah pengembangan rumput laut telah meluas dan tersebar di beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Kolaka. biaya investasi dan biaya produksi relatif murah.500 . Produksi rumput laut menyumbang utama . Wolo. seperti Kappaphycus awarezii (cottoni). Hal ini disebabkan rumput laut termasuk jenis komoditi yang mudah dibudidayakan. serta pulau-pulau kecil (8 buah). Selain itu teknologi yang digunakan cukup sederhana. umur panen singkat hanya 45 hari.900 kelompok atau 17.525 ton/tahun. lahan dan bibit mudah dan murah. (2) tersedianya lahan untuk budidaya yang cukup luas serta (3) mudahnya teknologi budidaya yang diperlukan (Departemen Kelautan dan Perikanan.000 Ha yang terletak di sepanjang pesisir dan pulau-pulau kecil. Samaturu. atau kira-kira 17. Teknologi budidaya rumput laut yang diterapkan oleh masyarakat saat ini yakni long line dengan menggunakan tali PE. 2001). Tanggateda. Namun yang dimanfaatkan baru mencapai 2. dengan jumlah pembudidayaan 5. khususnya jenis rumput laut yang hanya tumbuh di lautan tropis. atau 28. dengan 43 desa pesisir.082 juta ton atau melewati target yang telah ditetapkan KKP sebesar 2.6 % dari potensi yang ada.Pengembangan budidaya rumput laut merupakan salah satu alternatif pemberdayaan masyarakat pesisir yang mempunyai keunggulan dalam hal : (1) produk yang dihasilkan mempunyai kegunaan yang beragam.1 juta Ha atau sekitar 46. produksinya baik dengan harga bersaing.2. Sementara potensi lahan untuk pengembangan budidaya rumput laut Indonesia seluas 4.5 juta Ha.600 orang. Pomalaa. Pengembangan kelompok budidaya juga ditingkatkan. Dengan teknologi tersebut produksi rumput laut kering mencapai 1.

Selain itu. dan menyiapkan dana penguatan modal dengan pola kredit lunak sebesar Rp5 miliar. Begitu juga dengan pembangunan gudang penyimpanan rumput laut 15 unit. Ditambah lagi pengembangan kebun bibit rumput laut menjadi 8 unit.1 miliar. bapak 4 orang anak ini akhirnya mencoba untuk ikut dalam kelompok tani pembudidaya ikan untuk budidaya rumput laut (Pokdakan) Bina baru di Kelurahan Mangolo Kecamatan Latambaga Kolaka pada tahun 2009. Proses pengolahan rumput laut yang telah dipanen diawali dengan proses pengeringan selama 3-4 hari di atas para-para dengan kisaran kadar air lebih kurang 32-35%. Kabupaten Kolaka berencana melakukan pengembangan produksi rumput laut dengan perluasan areal budidaya dari 4. warga kelurahan Kolakasih Kecamatan Lantambaga Kabupaten Kolaka.574 juta ton pada tahun 2009 menjadi 3. Masih ada sekitar 7 ribu Ha areal pengembangan budidaya rumput laut yang belum dimanfaatkan.130 Ha di tahun 2010. .produksi perikanan budidaya. pembangunan jalur dan batas-batas kawasan budidaya rumput laut guna menghindari konflik pemanfaatan kawasan. telah dapat meningkatkan pendapatan nelayan dan pembudidaya ikan sampai dengan Rp3 juta ± Rp 5 juta per bulan. dari sebesar 2. Dengan semakin luas dan meningkatnya pemanfaatan rumput laut bagi keperluan bahan baku industri maka prospek usaha budidaya dan perdagangan rumput laut semakin cerah. Setelah kering hasil panen tersebut dimasukkan ke dalam karung nilon kapasitas 70-80 kg untuk kemudian disimpan dalam gudang penyimpanan. menyiapkan anggaran bagi kelompok pembudidaya rumput laut pemula.082 juta ton pada tahun 2010. dengan nilai anggaran dari masing-masing Rp65 juta menjadi Rp520 juta.000 Ha di tahun 2014. Syamsuddin bekerja sebagai penambang pasir. pemerintah daerah juga memberikan peningkatan anggaran untuk pengadaan mesin katinting. kemudian pedagang tersebut menjualnya ke eksportir yang ada di Makassar dan Surabaya. Namun karena pendapatannya tidak membaik. menjadi 5. Kegiatan pemasaran rumput laut di Kabupaten Kolaka dimulai dengan sistem pemasaran lokal (pedagang pengepul). Salah satu petani rumput laut yang mengalami kenaikan tingkat kesejahteraan karena rumput laut adalah Syamsuddin (40). dengan anggaran yang tadinya masing-masing Rp75 juta menjadi Rp1. Sebelum menjadi petani rumput laut. Setiap tahun produksi rumput laut terus mengalami peningkatan. Dampak positif terhadap ekonomi masyarakat pembudidaya melalui budidaya rumput laut.

23 .16 http://kendariekspres. Syamsuddin menerima bantuan 70 bentang tali PE masing-masing sepanjang 25 meter.go.2004/budidayarumputlaut// diambil pada tanggal 28 desember 2011 jam 12. Berkat dukungan teman-teman kelompoknya.´ ujarnya. Daftar Pustaka Sumber dari situs : http://www.com. Ia bahkan mampu mempekerjakan 10 orang untuk membuat bentang bibit dengan upah Rp2.setkab.20 http://DitjenkanBudidaya. Saat ini ia bisa menikmati hasil penjualan rumput kering sebanyak 1 ton setiap kali panen dengan harga jual ke pengepul sebesar Rp9 ribu ± Rp10 ribu per kg.Saat itu ada bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka berupa tali PE untuk bentang tanaman rumput laut bagi petani. Selang dua tahun ia sudah memiliki 900 bentang dengan panjang 25 dan 50 meter. Melihat potensi produksinya tinggi dengan masa tanam 40 hari sudah bisa dipanen.com/content/view/13324/52/ diambil pada tanggal 28 Desember 2011 jam 13. Ia juga mendapat penyuluhan bagaimana budidaya rumput laut yang benar.php?pg=artikeldetail&articleid=2837 diambil pada tanggal 28 Desember 2011 jam 12.id/mobile/index.500 untuk bentang ukuran 50 meter. Syamsuddin lalu mencoba menanam dan panen dengan hasil maksimal. dan Rp3. ´Saya sangat bahagia karena kini bisa meningkatkan penghasilan saya dan merekrut tenaga kerja karena budidaya rumput laut.500 untuk bentang ukuran 25 meter.

Pertumbuhan karang pembentuk terumbu pada kedalaman 18 ± 29 m sangat lambat tetapi masih ditemukan hingga kedalaman iebih dari 90 m. Organisme pembentuk terumbu yang terpenting adalah hewan karang.KEHIDUPAN MASYARAKAT PENAMBANG BATU KARANG (Febrizah F1E1 10 077) Terumbu karang adalah struktur hidup yang terbesar dan tertua di dunia. Fungsi Terumbu Karang y Pelindung ekosistem pantai . terumbu karang membutuhkan waktu berjuta tahun. Terdapat ribuan spesies yang hidup di kawasan terumbu karang. Tergantung dari jenis. Terumbu karang dapat tumbuh dengan baik di perairan laut dengan suhu 21° ± 29° C. Amerika Serikat dan bagian selatan Jepang. Namun hanya sebagian yang menghasilkan kalsium karbonat pembentuk terumbu. terumbu karang umumnya hanya tumbuh beberapa mm saja per tahunnya. Itulah sebabnya terumbu karang banyak ditemukan di perairan tropis seperti Indonesia dan juga di daerah sub tropis yang dilewati aliran arus hangat dari daerah tropis seperti Florida. Yang ada di perairan Indonesia saat ini paling tidak mulai terbentuk sejak 450 juta tahun silam. Karang membutuhkan perairan dangkal dan bersih yang dapat ditembus cahaya matahari yang digunakan oleh zooxanthellae untuk berfotosintesis. oleh karena itu. Masih dapat tumbuh pada suhu diatas dan dibawah kisaran suhu tersebut. tetapi pertumbuhannya akan sangat lambat. dan kondisi perairannya. Karang memerlukan salinitas yang tinggi untuk tumbuh. di sekitar mulut sungai atau pantai atau sekitar pemukiman penduduk akan lambat karena karang membutuhkan perairan yang kadar garamnya sesuai untuk hidup. Untuk sampai ke kondisi yang sekarang.

dan berlindung. y Rumah bagi banyak jenis mahluk hidup di laut Terumbu karang bagaikan oase di padang pasir untuk lautan. ini artinya terumbu karng mempunyai potensial perikanan yang sangat besar. y Objek wisata Terumbu karang yang bagus akan menarik minat wisatawan sehingga meyediakan alternatif pendapatan bagi masyarakat sekitar. Diperkirakan sekitra 20 juta penyelam . Sekitar 500 juta orang di dunia menggantungkan nafkahnya pada terumbu karang. Karenanya banyak hewan dan tanaman yang berkumpul di sini untuk mencari makan. y Daerah Penelitian Penelitian akan menghasilkan informasi penting dan akurat sebagai dasar pengelolaan yang lebih baik. baik untuk sumber makanan maupun mata pencaharian mereka. Saat ini banyak penelitian mengenai bahan-bahan kimia tersebut untuk dipergunakan untuk mengobati berbagai manusia. termasuk didalamnya 30 juta yang bergantung secara total pada terumbu karang sebagai penhidupan. memijah.Terumbu karang akan menahan dan memecah energi gelombang sehingga mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan di sekitarnya. menyelam dan menikmati terumbu karang per tahun. Diperkirakan. y Mempunyai nilai spiritual . membesarkan anaknya. terumbu karang yang sehat dapat menghasilkan 25 ton ikan per tahunnya. masih banyak jenis ikan dan organisme laut serta zat-zat yang terdapat di kawasan terumbu karang yang belum pernah diketahui manusia sehingga perlu penelitian yang lebih intensif untuk mengetahui µmisteri¶ laut tersebut. Selain itu. y Sumber obat-obatan Pada terumbu karang banyak terdapat bahan-bahan kimia yang diperkirakan bisa menjadi obat bagi manusia. Bagi manusia.

23% terumbu karang di Indonesia yang berada di dalam kondisi yang sangat baik. 19% luasan terumbu karang dunia telah hilang.Bagi banyak masyarakat. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan terumbu karang saat ini dalam kondisi yang menghawatirkah mulai dari kondisi ozon kita saat ini yang merupakan efek dari rumah kaca. laut adalah daerah spiritual yang sangat penting. Lebih lanjut. Dalam periode 2004 hingga 2008. Di Indonesia sendiri 34% berada dalam kondisi sangat buruk 42% agak baik sedang hanya 21% dalam kondisi sehat dan 3 % sangat sehat. Kondisi Terumbu Karang Pada laporan Reef at Risk (2002) menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan status terumbu karang yang paling terancam. Selama 50 tahun terakhir. proporsi penurunan kondisi terumbu karang Indonesia telah meningkat dari 10% menjadi 50%. 15% terancam hilang 10-20 tahun kedepan dan 20% luasan terancam hilang 20-40 tahun mendatang. Laut yang terjaga karena terumbu karang yang baik tentunya mendukung kekayaan spiritual ini. hasil survey P2O LIPI (2006) menyebutkan bahwa hanya 5. . Laporan status terumbu karang dunia yang dikeluarkan Global Coral Reef Monitoring Network (GCRMN) menyebutkan bahwa selama 2004 hingga 2008 luasan area terumbu karang semakin menurun.

Jenis yang umum diambil adalah karang batu (stony coral. lapangan bola. sehingga alternatif termudah adalah mengambil dari terumbu karang. ribuan meter kubik karang batu dan sebagian besar merupakan karang hidup dipakai untuk membuat tanggul-tanggul tambak yang diambil dari terumbu karang pada bagian depan tambak. Karang yang diambil dipergunakan untuk membuat bangunan/rumah. perlindungan terhadap ekosistem pantai akan berkurang karena tidak mampu lagi memecah energy gelombang untuk mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan sekitarnya. Dampak Bagi Kehidupan Dari Penambangan dan Pengambilan Batu Karang 1. karang yang ditambang digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan kapur. Penambangan karang berpotensi menghancurkan ribuan meter persegi terumbu dan mengubah terumbu menjadi gurun pasir bawah air. terutama batu pada suatu daerah. walaupun banyak sekali masyarakat yang sadar bahwa kegiatan mereka dapat merusak ekosistim terumbu karang. Dengan begitu maka masyrakat yang tinggal di bagian pesisir yang akan mendapatkan imbasnya dan masyarakat yang ikut melakukan penambangan maupunn pengambilan terumbu karang akan merasakan akibatnya secara langsung pada musim-musim tertentu . Di Sulawesi Selatan. maka penambangan karang merupakan alternatif yang terbaik dan termudah yang dapat dilakukan. jalan. Pada daerah-daerah yang tidak memiliki bahan galian seperti batu yang dapat dipakai dalam pembuatan bangunan atau untuk memperoleh bahan-bahan bangunan tersebut sangat jauh. Kalimantan Timur).bencana alam dan masih banyak lagi yang diantaranya oleh karena ulah dari perusahaanperusahaan penambangan yang tidak melakukan peraturan-peraturan yang telah diberikan baik yang telah mendapatkan surat izin terlebih lagi penambangan legal Adapun lagi sekarang yang merupakan ulah dari masyarakat setempat yang melakukan penambangan maupun pengambilan yang kita ketahui bersama bahwa pengambilan karang merupakan kegiatan merusak terumbu karang yang banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir pada umumnya. (banyak kasus di Maluku. Penyebab utama penambangan karang adalah tidak tersedianya bahan bangunan. Porites spp) dan tidak jarang karang yang diambil tersebut masih hidup. Di Lombok (Mataram).

dan yang paling fatal bila terjadi bencana alam di laut maka tak ada lagi yang dapat meredam ombak. 2. .Rumah yang digunakan bagi banyak jenis makhluk hidup di laut ini akan hilang, yang artinya bagi manusia potensial perikanan yang sangat besar dengan adanya terumbu karang tersebut akan berkurang dan untuk sumber makan maupun mata pencaharian mereka akan semakin sulit karena diperkirakan, terumbu karang yang sehat dapat menghasilkan 25 ton ikan per tahunnya. Sekitar 500 juta orang di dunia menggantungkan nafkahnya pada terumbu karang, termasuk didalamnya 30 juta yang bergantung secara total pada terumbu karang sebagai penghidupannya. Dengan begitu maka pendapan dan kehidupan bagian pesisirpun akan menurun dan ini akan sangat dirasakan oleh para nelayan sekitar atau yang berpencaharian disekitar pesisir.

3. Pencarian obat-obatan dengan terumbu karang akan semakin sulit dan akan semakin meningkat harganya.

4. Objek wisata yang juga merupakan sumber pendapan bagi sebagian masyarakat sekitar akan menurun. Dalam hal ini maka pemerintah harus lebih giat dalam melakukan peninjauan pada daerahdaerah tersebut dan memberikan pengetahuan yang penting pada masyarakat sekitar agar masalah-masalah yang dapat timbul bisa berkurang. Dengan begitu maka mata pencaharian maupun sumber makanan bagi mereka akan tetap ada dan kebersihan lautpun akan tetap terjaga dengan begitu maka kualitas hidup masyarakat pesisirpun akan semakin baik. Selain itu juga peraturan maupun hukum yang telah ada untuk perlindungan terhadap terumbu karang harus lebih ditegakkan agar para perusahaan maupun masyarakat yang melakukan penambangan tidak menimbulkan akibat yang dapat merugikan. Selain berpengaruh pada masyarakat sekitar maupun perusahaan penambangan terumbu karang juga memberikan keuntungan kepada Negara seperti di Negara kita Indonesia memberikan keuntungan pendapatan sebesar US$1,6 milyar/tahun. Nilai keseluruhan pelayanan dan sumber dayanya sendiri diperkirakan mencapai setidaknya US$ 61,9 milyar/tahun.

Oleh sebab itu pemberian pengetahuan tentang pentingnya terumbu karang kepada masyarakat pesisir sangatlah penting karena bagaimana cara hidup mereka saat ini juga dapat menimbulkan akibat ataupun gambaran kehidupan mereka kedepannya sebab mereka yang dapat merasakan langsung akibat perbuatan yang mereka lakukan.

Referensi http://www.terangi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=8%3Afaktor-faktoryang-merusak-terumbu-karang&catid=17%3Aterumbukarang&Itemid=12&lang=id#ixzz1hqSixN8I

³ Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Non Perikanan´ (Rika Hardiyanti Pagala F1E1 10 083)

( PENENUN )

Pembahasan : Populasi masyarakat pesisir didefinisikan sebagai kelompok orang yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir.

Mereka terdiri dari nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya, pedagang ikan, pengolah ikan, supplier faktor sarana produksi perikanan. Dalam bidang non-perikanan, masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa pariwisata, penjual jasa transportasi, serta kelompok masyarakat lainnya yang memanfaatkan sumberdaya non-hayati laut dan pesisir untuk menyokong kehidupannya. Terutama yang akan saya bahas yaitu masyarakat pesisir yang mata pencahariannya adalah menenun. Penenun merupakan pekerjaan populer bagi kaum hawa,terutama yang hidup dan bermukim di daerah pesisir maupun daerah yang terpencil. Menenun adalah kebiasaan dan tradisi sehat yang diwariskan secara turun temurun. Bahkan hanya dengan melihat secara terus menerus kebiasaan ibu-ibu mereka, gadis-gadis remaja dengan sendirinya bisa memulai menenun tanpa harus diajari. Kebiasaan, ketekutan, konsistensi dan selanjutnya adalah penemuan atas media penyaluran kreatifitas dan ekspresi, yang membuat para gadis remaja itu terpanggil untuk melanjutkan tradisi dari nenek moyang mereka.

Sebagai alat barter/transaksi . Sebagai pemberian dalam acara kematian dan sebagai wujud penghargaan. 7. Sebagai penunjuk status social. 2. berikut adalah fungsi dari kain tenun: 1. 5. selain sebagai mata pencahrian. Sebagai busana dalam tari adat dan upacara adat. 4. 3.Gambar para gadis yang melanjutkan warisan nenek moyangnya yaitu menenun Kain tenun mempunyai banyak fungsi penggunaan di masyarakat. Sebagai alat untuk membayar hukuman jika terjadi ketidakseimbangan. Sebagai mahar dalam perkawinan dalam bahasa daerah disebut sebagai ³belis´ nikah. Sebagai busana untuk penggunaan sehari-hari dan mentupi badan. 6.

motif nya. Tenun khas Maringkik berkembang alami sesuai kemampuan dan keahlian para penenun tradisional ini. tenun Maringkik belum dapat dipasarkan. perempuanperempuannya menenun kain khas Maringkik. tampak pulau Maringkik Di pulau yang memiliki luas 16 hektar are ini. pemerintah daerah setempat dapat membantu mereka untuk memberikan pelatihan-pelatihan untuk peningkatan mutu dan kualitas tenunan. Tenun khas Maringkik terdiri dari tenun ikat kain Bugis. Sebagai bentuk penghargaan bagi tamu yang datang berkunjung. Rata-rata di tiap rumah di pulau ini memiliki alat tenun peninggalan leluhur mereka sehingga dua hingga empat perempuan di masingmasing rumah kesehariannya adalah menenun. Mereka sangat berharap. Proses pencelupan warna yang mereka jadikan motif. Contohnya Dari dermaga Desa Tanjung Luar yang berada di bagian Selatan Pulau Lombok. hasil tenun mereka dipasarkan di pulau Maringkik serta di Tanjung Luar dan sekitarnya. Sebagai betuk cerita mengenai mitos dan cerita-cerita yang tergambar di motif. Makin banyak kembang atau coraknya maka harganya makin mahal.000. Lebih jauh dari itu. Termasuk juga keluhan mereka tentang susahnya memasarkan tenunan Maringkik. corak Tanjung dan yang mulai langka adalah tenun Mandar Tenunan khas pulau Maringkik dijual dengan harga Rp 200. adalah proses yang dianggap paling sulit. Padahal. tenun corak Palembang. . hasil tenunan tersebut bisa membuat para ibu rumah tangga ini bisa membantu ekonomi keluarga. Penenun Maringkik mewarisi keahlian menenun dari nenek moyang mereka yang sejak dahulu mendiami pulau ini.000 hingga Rp 250. di mana suami-suami mereka nota bene bermata pencaharian sebagai nelayan.8. Sejauh ini. Proses menenun satu kain memakan waktu 7-14 hari. 9.

html .com Bengen. - ^ "Fungsi Kain Tenun". Makalah pada Sosialisasi Pengelolaan Sumberdaya BerbasisMasyarakat.co. http://www. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Secara Terpadu. Bogor.DAFTAR PUSTAKA - http://www. 2001. D. 21-22 September 2001. Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat.cc/2010/12/pesona-ttu.neonnub.cybertokoh.G.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful