Tugas Nutrisi Kelautan

KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR

KELOMPOK 2
1. Nur Sulviyana
2. Firda Ulfa Lusiana 3. Sudarman 4. Dian Sari Enimosa 5. Ershanty Rahayu 6. Yunita Silvana Lantapi 7. Sri Wuna Sari Nasir 8. Fauzyah Novrini Kasman Arifin 9. Rahmawati Nur Ariyanti 10. Ririt Yuliarti Taha 11. Karmila 12. Inda Permatasari Ridwan 13. Aulia Fahdilah Tasruddin 14. Febrizah 15. Rika Hardiyanti Pagala

F1E1 10 047
F1E1 10 004 F1E1 10 030 F1E1 10 044 F1E1 10 046 F1E1 10 048 F1E1 10 051 F1E1 10 055 F1E1 10 057 F1E1 10 058 F1E1 10 063 F1E1 10 064 F1E1 10 068 F1E1 10 077 F1E1 10 083

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2012

KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN PENANGKAP IKAN

(Nur Sulviyana F1E1 10 047)

A. Ekonomi, Sosial dan pendidikan

Pembangunan wilayah pesisir pada umumnya dikaitkan dengan upaya pengentasan kemiskinan nelayan yang kehidupannya tergantung pada usaha perikanan. Sektor perikanan pada hakekatnya dapat dikembangkan sebagai alternatif bagi perbaikan ekonomi masyarakat nelayan.

Gambar 1. Peta Desa Bandaran Bebarapa desa yang berada di ruang lingkup Nusantara berpenghasilan sebagai nelayan penangkap ikan yaitu Desa Bandaran. Desa ini berada di wilayah sekitar pesisir Pulau Madura. Desa ini semula bernama kampong cerek. Perubahan nama dari ³Cerek´ menjadi ³Bandaran´ terjadi ketika desa ini berkembang menjadi ³bandar´ ikan. Beberapa definisi tentang masyarakat nelayan yang di definisikan oleh para ahli yaitu: Masyarakat nelayan adalah masyarakat yang lingkungan pemukimannya berada pada wilayah peralihan antara daratan dengan lautan yang disebut pinggir pantai atau tepi laut. Masyarakat pesisir atas nelayan, pembudi daya ikan, dan pedagang hasil laut, serta masyarakat nelayan yang kehidupan sosial ekonominya tergantung pada sumber daya kelautan. Masyarakat nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang tergantung pada hasil laut, baik dengan cara

melakukan penangkapan atau budidaya yang pada umumnya tinggal di pinggir pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya. Mengacu pada definisi tentang masyarakat nelayan. Definisi ini menggambarkan keadaan Desa Bandaran yang merupakan sebuah potret kehidupan desa nelayan tradisional, yang dalam menggerakkan aktivitas perekonomiannya sangat mengandalkan pada mata pencaharian sebagai nelayan, dan sedikit sekali yang memiliki mata pencaharian tetap. Selain itu, para nelayan dan beberapa pelaku ekonomi setempat (juragan pemilik kapal, bakul ikan) mengelola dan mengembangkan aktivitas perekonomian mereka secara ³swasembada´, yaitu bertumpu pada pemberdayaan potensi daerah dan modal yang terdapat di lingkungan setempat (lokal), yang merupakan ciri khas dari sebuah struktur ekonomi desa. Kondisi ketika musim kemarau panjang, matapencaharian pokok masyarakat yang berada di desa Bandaran pesisir, adalah sebagai nelayan, serta hanya sebagian kecil di antaranya bermatapencaharian selain nelayan. Walaupun masyarakat desa Bandaran pesisir tersebut berada pada daerah yang tidak terlalu subur, dan banyak menggantungkan hidup pada hasil penangkapan ikan di laut, namun secara ekonomis kehidupan mereka tidak dapat dikatakan sebagai masyarakat terbelakang dan miskin, bahkan, dari hasil penangkapan ikan di laut itu, sebagian besar dari mereka memiliki rumah tembok, fasilitas rumah tangga ³modern dan canggih´, untuk ukuran ³masyarakat tradisional´ (traditional peasant societies), dan mobil. Seperti lazimnya pemukiman masyarakat nelayan lain di Pulau Madura, rumah-rumah penduduk setempat cukup padat, berjejal, tidak menganut pola penataan rumah seperti dalam masyarakat petani pedalaman, serta mengesankan sebuah ³pemukiman kumuh´. Pada umumnya rumah-rumah mereka menghadap ke laut. Ketika berjalan di perkampungan sangat sempit dan berkelok-kelok, sehingga apabila berpapasan salah satu harus mengalah, namun, apabila diperhatikan, sulit dibayangkan bahwa daerah itu adalah daerah nelayan, dengan mata-pencaharian ³satu-satunya´ adalah menangkap ikan di laut. Kondisi rumah-rumah mereka yang berderet dari Timur ke Barat sepanjang 500 meter sebelah utara dan selatan jalan raya antara Pamekasan dan Sampang, tidak begitu jauh berbeda dengan rumah-rumah pemukiman orang-orang kota. Deretan bangunan rumah pemukiman penduduk di desa Bandaran itu ibarat sebuah ³kota kecil di tepi pantai´ (a little state in the coast), lengkap dengan berbagai aksesoris peralatan rumah tangga ³modern´, berselang-

sistem jaring (jaring lepas. dan hanya satu-dua orang saja yang bisa mencapai jenjang Perguruan Tinggi. (3) jaring lingkar (sleret). itupun tidak seluruhnya tamat. yaitu: (1) jaring lepas (sethet). baik yang terbuat dari bambu maupun kayu. sedangkan jaring lepas (sethet) kini hanya sebagian kecil nelayan yang . B. yang hingga kini tetap bertahan dan masih banyak digunakan oleh nelayan tradisional penangkap ikan di desa Bandaran adalah dengan jenis jaring lingkar (sleret). Sebagai daerah pemukiman cukup padat. laki-laki dan atau perempuan. Anak-anak mereka. sistem penangkapan ikan melalui bagan tidak digunakan mengingat kondisi laut di desa Bandaran ini cukup dalam dan terjal sehingga tidak memungkinkan penggunaan sistem bagan. dan jaring gondrong) merupakan sistem penangkapan utama atau umum diterapkan di dalam menangkap ikan di laut. Kepedulian masyarakat setempat terhadap arti penting pendidikan bagi masa depan kehidupan anak-anak mereka.Walaupun dengan tingkat persentase yang tidak terlalu tinggi. Anak-anak mereka terutama yang perempuan. dan jaring gondrong. jaring lingkar. Sistem Penangkapan Ikan di Laut Bagi masyarakat nelayan di Desa Bandaran.seling dengan rumah-rumah desa khas penduduk kampung nelayan. Sungguh merupakan sebuah mozaik desa yang sangat mencengangkan. mulai berubah sejak dasa warsa 90-an. mereka membeli di kota Kabupaten (Pamekasan atau Sampang). Sedangkan. tampaknya dapat dipenuhi sendiri dari berbagai fasilitas warung atau pertokoan yang ada di desanya. Ada tiga jenis jaring (phajang) yang biasa digunakan untuk keperluan penangkapan ikan di laut. upaya mereka untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya. perhatian dan tingkat partisipasi penduduk terhadap pendidikan anakanaknya sangat kurang. juga berbagai perabot rumah tangga khas masyarakat nelayan. telah mulai ada yang disekolahkan hingga jenjang SMTA. Di sisi lain. dan (4) rakat. Di antara keempat jenis sistem penangkapan ikan dengan menggunakan sisem jaring di atas. rakat. disamping sistem pancing. terutama karena alasan akan ³dikawinkan´. pada umumnya hanya bersekolah hingga jenjang SD. (2) jaring gondrong. kecuali sebagian kebutuhan sandang dan papan yang tidak terdapat di desanya atau terdapat kekurangan.

edher. mengingat bahwa penggunaan ketiga jenis jaring tadi secara ekonomis lebih menguntungkan. baik antara juragan perahu. sekalipun terdapat klasifikasi di antara mereka sesuai dengan spesifikasi kerja masing-masing. Setiap kelompok nelayan terdiri dari: (1) juragan pemilik kapal/perahu. Organisasi dan Pola Relasi Kerjasama Antar-Nelayan Kehidupan para nelayan Desa Bandaran bukanlah bersifat individual. Berbagai jenis perahu yang digunakan para nelayan desa Bandaran untuk menangkap ikan yang ada sekarang. tetapi lebih bersifat ³kolegialisme´ dan ³kekeluargaan´. Hal ini menunjukkan betapa faktor-faktor sosial dan budaya bercampur baur dengan faktor-faktor ekonomi. tetapi berkelompok. atau antar anggota nelayan sendiri. terbuka. dan pakesan kecil (thitil). terdiri dari jenis yang paling besar hingga yang terkecil. jraghan kepala dan awak perahu/kapal di atas tidaklah terlalu ketat. Hal ini. juragan kepala dan phandiga. tidak semata-mata didasarkan pada hubungan . bukan terjadi dalam kerangka hubungan kerja antara ³atasan´ dan ³bawahan´ yang bersifat ³hubungan pengabdian´. yaitu: kapal sleret. Sebagai sebuah (organisasi) kelompok nelayan pola relasi kerja. (2) juragan kepala perahu. (3) pandhiga.menggunakannya (di desa Bandaran kini hanya tinggal 5 buah). tetapi dalam kasus-kasus tertentu bahkan seorang juragan pemilik perahu harus merekrut anggota nelayannya dengan ³cara membeli´. suka-hati dan didasarkan atas ³kesertaan secara sukarela´. Organisasi dan hubungan kerjasama di antara jraghan praho/kapal. Gambar 2 C. Hubungan di antara mereka pun sangat longgar.

Demikian pula. mengingat pentingnya peran dan tanggungjawab dia sebagai ³pemegang komando´ dalam suatu operasi penangkapan ikan. untuk mendapatkan anggota seorang juragan harus membeli orang-orang yang akan dijadikan anggota pandhiga perahunya. tanpa ada paksaan. atau kurang memadai. adalah perekrutan seseorang dalam sebuah kelompok nelayan yang terbuka bagi siapa saja. Artinya. serta merupakan lahan yang sangat potensial bagi keduanya untuk terlibat dalam hutang yang bertumpuk-tumpuk. Di lain pihak. Cara sukarela. atau dengan berbagai persyaratan sebagaimana layaknya sebuah usaha profesional. secara sukarela. Sistem atau pola rekrutmen keanggotaan nelayan dilakukan secara: (1) sukarela. sehingga. atas dasar kesukarelaan yang bersangkutan untuk menjadi anggota kelompok nelayan. Sistem membeli ini dilakukan manakala sebuah kapal/perahu tersebut pada setiap hari atau setiap musim melaut dapat dikatakan sedikit atau sama sekali tidak membawa hasil tangkapan ikan yang banyak (ta¶ olleyan). Khusus untuk seorang juragan kepala. mereka pun dapat keluar dari keanggotaan suatu kelompok nelayan tersebut kapan mereka menghendaki. menyebabkan adanya hubungan ³hutang-piutang´ yang cukup rumit di antara mereka dan seringkali menyebabkan posisi ³menawar´ para phandhiga atau jraghan kepala berada pada posisi lemah dibandingkan para pemilik perahu. juragan dan awak perahu tersebut tampaknya disebabkan oleh pola rekrutmen anggota yang juga tidak terlalu ketat. . tanpa harus menunggu habisnya satu mosem petthengan.ekonomi-bisnis. dan (2) membeli. maka hanya dipersyaratkan bagi setiap nelayan yang telah memiliki banyak pengalaman di bidang penangkapan ikan di laut serta luasnya hubungan dan komunikasi dengan berbagai kelompok nelayan yang ada di daerah itu atau di luar desa Bandaran. faktor-faktor yang bersifat ³kekeluargaan´ juga mewarnai pola relasi kerjasama di antara mereka. tidak terlalu prosedural. sistem ³membeli´ (melle) adalah perekrutan seseorang dalam sebuah kelompok nelayan dengan cara membeli atau membayar agar yang bersangkutan mau menjadi anggota kelompok perahunya. dia dapat masuk menjadi pengikut atau awak perahu (pandhiga) dari seorang pemilik perahu tertentu dan/atau para pemilik perahu yang lain. atau apabila menurut mereka kapal/perahu yang mereka ikuti kurang memberikan hasil yang mencukupi atau memuaskan kebutuhan diri dan keluarganya. siapapun orangnya. Longgarnya ikatan keorganisasian dan hubungan kerjasama kemitraan di antara pemilik kapal. Adanya sistem pembelian anggota kelompok nelayan untuk keperluan pengoperasian perahu/kapal seperti ini.

serta anggota nelayan lain yang termasuk anggota kelompok nelayan tersebut. tampaknya juragan pemilik perahu umumnya tetap mendapatkan pembagian hasil ikan rata-rata lebih tinggi dari para awak kapal. besarnya jumlah penerimaan dari seorang juragan pemilik perahu pakesan kecil dan sampan (edher) tersebut. sedangkan sekitar 2/3 (65%) bagian lainnya dibagi menjadi 20 bagian untuk seluruh awak kapal/perahu. Berapapun hasil perolehan ikan. sejalan dengan semakin ketatnya persaingan di antara para juragan pemilik perahu. Hal ini berbeda pada kapal besar jenis sleret dan pakesan besar yang seluruh biaya perawatan. atau jenis kapal kecil (sampan/edher dan pakesan kecil) juga apakah menggunakan alat berupa jaring atau pancing (khusus untuk jenis kapal kecil). pandhiga. Kendatipun demikian. dikenal dua sistem pembagian hasil ikan tangkapan yang didasarkan pada ³jenis perahu yang digunakan´ dan ³jaring (alat penangkapan ikan) yang digunakan´. jraghan kepala. dewasa ini pemilik perahu hanya mendapat sekitar 1/3 bagian (atau 35%). Dalam masyarakat nelayan desa Bandaran. Untuk jenis perahu besar. dalam sistem pembagian ikan hasil tangkapan di atas. sistem pembagian hasilnya tetap tidak berubah. seorang pemilik perahu/kapal tidak menentukan ³target minimal´ yang harus dipenuhi atau dicapai oleh para jraghan kepala atau awak kapal/perahunya berkenaan dengan hasil tangkapan ikannya. sistem pembagian ikannya adalah 50% dari seluruh ikan hasil tangkapan adalah bagian pemilik perahu. Seperti pada sistem pembagian ikan pada jenis kapal sleret di atas. . sedangkan 50% sisanya untuk seluruh awak perahu. perbaikan atau bahkan penggantiannya yang baru sepenuhnya menjadi tanggungan dan atas modal dari juragan pemilik perahu tersebut. karena dalam hal terjadi kecelakaan atau kerusakan pada perahu. Selain itu. dan/atau orang-orang lain yang terlibat dalam proses persiapan dan pelaksanaan operasi penangkapan ikan. jaring. dan mesin. yaitu apakah menggunakan jenis kapal/perahu besar (sleret dan pakesan besar).D. jaring. Namun. Apabila diperhatikan. memang sebanding dengan investasi yang telah dia keluarkan untuk pengadaan perahu. maka seluruh biaya perawatan. banyak atau sedikitnya hasil ikan sama sekali tidak berpengaruh terhadap sistem pem-bagian hasil ikan di antara jraghan kapal/perahu. dan mesin. Sistem Pembagian Hasil Ikan Dalam kaitan bisnis penangkapan ikan di desa Bandaran.

Namun. untuk jenis perahu kecil terbagi lagi menjadi dua sistem. tokang nampo dan tokang jagha¶an mendapatkan masing-masing ½ bagian. juga masih memperoleh tambahan bagian lagi antara 5% ± 20%. maka total bersih penerimaannya sebanyak 5% ± 20%. Karena seluruh anggota nelayan berjumlah 1-4 orang.14% (sistem pembagian baru). sedangkan awak perahu masing-masing mendapatkan 1 bagian (jumlah awak perahu antara 4-6 orang). atau sebesar 2. tetapi memperoleh bagian dari hasil pemberian sekadarnya Gambar 3 Jenis-jenis kapal (sakadharra) atau atas dasar kerelaan dari para nelayan. tokang koras (harfiah: ³tukang menguras´ air di dalam perahu di tengah laut ketika sedang melaut) tidak mendapatkan bagian tersendiri. Namun. tergantung apakah jaringnya memperoleh hasil banyak. secara umum mereka dapat memperoleh total bagian bersih sebanyak 85% dari jumlah udang hasil pancingan mereka. sedikit atau tidak. apabila menggunakan jaring gondrong pembagiannya adalah: (1) juragan pemilik perahu antara 10% ± 40%. Apabila menggunakan jaring sethet. Sementara itu. sehingga secara keseluruhan mendapatkan perolehan sebanyak 15% ± 60%. maka selain mendapatkan bagian yang telah ditetapkan di atas. .perbaikan dan/atau penggantian yang baru diambilkan dari uang perbaikan/perawatan yaitu sebesar 5% ± 10% (sistem pembagian lama). (2) awak perahu mendapatkan bagian yang bervariasi. maka sistem pembagiannya adalah 4-5 bagian untuk juragan pemilik perahu. (3) tokang nampo mendapatkan bagian yang diberikan oleh masing-masing anggota nelayan sebanyak 5%. tetapi oleh karena dia juga dapat merangkap sebagai tukang nampo.

E. daripada atas dasar ³sukarela´. Kebiasaan memberikan uang perangsang ini. Relasi dan praktik jual-beli yang demikian ini telah menjadi pola umum dalam hampir setiap relasi dan jaringan perdagangan ikan yang berlaku di kalangan nelayan tradisional di desa Bandaran. dalam banyak hal telah menjadi kesepakatan di antara kedua belah pihak. bahkan lebih rendah dari harga jual riil ikan seandainya dijual langsung di pasar lokal. juragan perahu. para nelayan atau juragan kepala tersebut akan menerima uang hasil pembelian ikan dari bakul µsenantiasa kurang¶ . hasil ikan bagian masing-masing awak kapal dan juragan kepala. (2) bakul ikan (bakol jhuko¶). karena para nelayan dan juragan kepala tersebut secara rutin dan berkesinambungan mendapatkan ³uang pengikat´ (pesse panyengset) dari para bakul ikan. Dalam banyak kasus di lapangan. Menjadi ³kewajiban´ atau ³keharusan´ bagi para nelayan dan juragan kepala penerima uang tadi untuk menjual atau menyerahkan sebagian atau seluruh ikanikan yang menjadi bagiannya²sesuai dengan kesepakat-an²kepada bakul yang telah memberinya uang. Uang tersebut merupakan ³uang muka´ (pesse panjher) dari bakul ikan kepada para nelayan dan juragan kepala dari hasil penjualan ikan yang diterimakan kepada bakul ikan. ada pula yang dibawa ke darat untuk dijual atau diserahkan kepada para bakul ikan yang ada di darat. Hal ini terjadi. Artinya. Pola Relasi dan Jaringan Penjualan Ikan Transaksi jual-beli ikan/udang nelayan di desa Bandaran pada umumnya dilakukan di darat seperti dalam masyarakat nelayan di Pulau Madura lainnya. ada yang sebagian langsung dijual atau diserahkan kepada para bakul ikan yang datang ke tengah laut dengan menggunakan perahu. Aktivitas jual-beli tersebut terjadi antara (1) nelayan. Pemberian uang tersebut tujuannya tidak lain adalah agar para nelayan dan juragan kepala tadi menyerahkan atau menjual ikan kepada si bakul ikan. juragan kepala. Pola jual-beli ikan dengan sistem ³uang pengikat´ (pesse panjher) tersebut memang tidak selalu merugikan pihak nelayan dan juragan kepala. walaupun sebenarnya uang yang dibayarkan²saat itu juga atau kemudian²oleh para bakul kepada mereka tidak pernah sama. tetapi kadang-kadang juga dilakukan di tengah laut. hubungan jual-beli ikan antara para nelayan dan juragan kepala di satu pihak dengan para bakul ikan di lain pihak sering bersifat ³mengikat´. Dalam aktivitas jual-beli tersebut. (3) tengkulak (tokang kolak jhuko¶).

dari hasil penjualan ikannya itu dia juga masih mendapatkan keuntungan. adalah karena mereka akan mendapatkan fasilitas tambahan dari para bakul ikan.dari harga jual ikan di pasaran. selain masih harus mengeluarkan uang tambahan untuk transportasi juga belum dapat dipastikan dapat segera laku dengan cepat atau berharga tinggi. maka ikan-ikan tersebut harus dikeringkan (jhuko¶ kerreng). apabila mereka menjual langsung ikan-ikan tersebut di pasar jalanan (pasar di pinggir jalan). yang bagi mereka mungkin tidaklah mudah diperoleh dari orang lain. Bahkan. apabila ikan yang dijual sendiri tadi tidak laku. dengan adanya uang pengikat ini. yaitu kemudahan untuk mendapatkan hutang (otang) atau pinjaman uang (nginjham pesse) dari para bakul rekanannya. sehingga jumlah uang yang diterima oleh para nelayan dan juragan kepala dari para bakul siapapun dia setiap orang adalah setara. Sistem pemberian hasil penjualan ³di bawah harga´ tersebut berlaku umum atau sama untuk seluruh bakul. atau hal-hal praktis lainnya daripada semata-mata pertimbangan bisnis-ekonomi yang berorientasi pada mencari untung sebesarbesarnya. sebab bagi para nelayan dan juragan kepala ada risiko yang akan diterima. misalnya ke pasar kota Pamekasan. apakah untuk keperluan modal usaha rumah tangga (meracang. yang diperoleh dari selisih antara uang yang diberikan kepada para nelayan dan juragan kepala rekanannya dengan uang yang sebenarnya diperoleh dari hasil penjualan ikan tadi. Kecenderungan para nelayan dan juragan kepala untuk menjual ikan kepada bakul yang telah ³mengikatnya dengan uang pengikat tadi. atau ketika menjelang lebaran mereka kembali mendapatkan . tidak ada permainan harga jual antara bakul yang satu dengan bakul yang lain. harga jual rendah/murah dan atau apabila mereka bawa ke pasar di luar daerah mereka sendiri. selain itu bunganya pun tidaklah terlalu tinggi (maksimal 5% perbulan). selain dia dapat menjual harga sesuai dengan keadaan pasar dan jenis ikan yang dijual. yang tentunya harga jualnya akan lebih murah dibandingkan apabila dijual dalam bentuk ³ikan basah´ (jhuko¶ odi¶). atau tidak melaut). tidak ada perbedaan. adalah lebih disebabkan pada pertimbangan kecepatan dan kemudahan menjual ikan serta memperoleh uang. dll) atau pun untuk keperluan keluarga yang lain. di samping perlu uang ekstra untuk biaya pengeringan. yaitu ada kemungkinan tidak laku. Hal lain yang menjadi daya tarik dari para nelayan dan juragan kepala melakukan praktik bisnis semacam itu. serta tenaga. Para nelayan itu pun secara rutin masih mendapatkan barang-barang lain seperti rokok (ketika dia istirahat. Bagi bakul ikan sendiri. Dalam hal ini.

sandal atau barangbarang kebutuhan lebaran lain untuk keluarga mereka.³sesuatu´ dari para bakul rekanan bisnisnya seperti: pakaian. kopiah. walaupun hal tersebut tidak dapat dikatakan bahwa pola relasi tersebut hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. karena pasar tidak selalu memberikan respon positif terhadap ³hasil harga lelang´ yang disepakti di TPI. Praktik jual-beli di atas. walaupun bukan merupakan gejala umum seperti halnya hubungan jual-beli antara nelayan dan bakul seperti di atas. dan sejak beberapa tahun yang lalu semakin tidak diminati oleh para nelayan atau juragan. terjadinya praktik jual-beli ikan dengan sistem ³uang pengikat´ juga disebabkan oleh kurang berfungsinya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang ada. pola jual-beli ikan dengan sistem ³uang pengikat´ juga terjadi antara para tengkulak ikan yang memberikan uang perangsang dengan para bakul ikan. akan tetapi keberadaan TPI ini hanya efektif pada awal-awal pendiriannya saja. senantiasa dipelihara dan semakin diperkuat. tetapi pada umumnya di antara mereka terdapat hubungan jual-beli yang relatif bebas sehingga setiap tengkulak dapat menguhungi setiap bakul untuk mendapatkan berbagai jenis ikan yang dibutuhkan atau diminati oleh para pembeli di pasar asal mereka sementara para bakul ikan itu dapat pula secara bebas menjual ikan-ikannya kepada setiap tengkulak sesuai dengan harga pasaran atau harga yang lebih tinggi dari harga penawaran tengkulak yang lain. Selain sebab-sebab di atas. Sejumlah alasan yang dikemukakan adalah. padahal pembangunan TPI tersebut pada awalnya merupakan inisiatif pemerintah dalam hal ini Dinas Perikanan untuk memudahkan dan memberikan keuntungan ekonomis yang lebih besar bagi para nelayan. dikarenakan jaringan pemasaran ikan dari desa Bandaran ini hanya untuk konsumsi pasar-pasar lokal yang berada di kota Pamekasan dan Sampang. dan dalam hal-hal demikian itu telah menimbulkan hubungan jual-beli yang bersifat ³patron-client´ (hubungan pelindung-klien) di antara mereka. dan juragan perahu. juragan kepala. . sarung. malah tidak jarang terjadi penagihan yang tidak kunjung terselesaikan sehingga para pemilik ikan pun merasa dirugikan. Juga karena seringkali para pembeli yang telah memberikan ³harga tertinggi´ di TPI tersebut banyak yang tidak segera melunasi uangnya.

juga agar keuntungan tetap berada di pihak masyarakat desa Bandaran sendiri. Kepemimpinan Ekonomi dan Pengembangan Struktur Ekonomi Lokal Berbeda dengan relasi jaringan perdagangan komoditas lokal di daerah lain di Pulau Madura seperti tembakau (bhako). dan tengkulak. memiliki gudang atau pabrik pengolahan ikan. atau ikan teri (jhuko¶ kenduy) dan nener (bibit ikan bandeng) yang pada umumnya melibatkan para pelaku ekonomi berskala besar dan lintas-lokal. Keberadaan kepemilikan kapal/perahu serta modal yang dimiliki merupakan penggerak utama dalam aktivitas penangkapan ikan dan perdagangan. Selain itu. Untuk mencapai maksud itu. seorang juragan pemilik . yaitu pada kemampuan atau keahlian mereka untuk meyakinkan para pemilik ikan agar menyerahkan atau menjual ikan kepada dirinya. dalam aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran ini juga terdapat sejumlah pedagang besar dari luar Bandaran yang disebut tauke yaitu pelanggan tetap bermodal besar. dibangun dan didukung oleh pola-pola kepemimpinan ekonomi yang juga bersifat ³lokal´. garam (buja). dimaksudkan selain agar tidak terjadi spekulasi harga jual-beli ikan yang dianggap dapat merugikan nelayan. maka ikan-ikan tersebut diborong (ebhurung) oleh Kepala Desa. akan tetapi sekarang ini mereka sudah tidak diperkenankan lagi untuk memborong ikan-ikan hasil tangkapan nelayan setempat. serta ³pemupukan modal´ yang sebenarnya bukan sebagai bentuk investasi dalam pengertian teori ekonomi. yaitu juragan pemilik perahu. para pelaku ekonomi utama dalam aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran tetap berada di tangan masyarakat setempat. Hal ini. para bakul. Juragan pemilik perahu/kapal merupakan pelaku terpenting dalam aktivitas perekonomian desa dalam masyarakat nelayan Bandaran. bahkan tidak sedikit dari para bakul yang berperan sebagai ³pedagang pemasok dan perantara´ dalam aktivitas penjualan ikan hasil tangkapan nelayan kepada para tengkulak ikan hanya atas dasar prinsip ³kepercayaan´ (saleng parcaja). Dengan jumlah armada kapal perahu yang dimiliki (antara 1-5 buah). sebagaimana umumnya struktur ekonomi desa. Dengan demikian.F. dan dari tangan Kepala Desa inilah para pedagang lokal (bakul) serta para tengkulak ikan yang berasal dari luar desa Bandaran membeli ikan sesuai dengan harga yang berlaku di pasar lokal. pengembangan ekonomi lokal desa Bandaran. Kepemilikan modal dalam perdagangan ikan di desa Bandaran ini tidak terlalu besar. serta memiliki jaringan perdagangan di tingkat regional atau ekpor.

dan antara 4-6 orang untuk perahu kecil jenis pakesan kecil dan sampan (edher). sebab dengan adanya bakul ikan sebagai ³patron´. Bahkan. kuatnya relasi bisnis antara nelayan/juragan kepala dan nelayan dengan para bakul ikan. sehingga secara ekonomis mereka mempunyai kesempatan memperoleh keuntungan-keuntungan ekonomis dari hasil pembagian ikan yang menjadi haknya bagi pemenuhan kebutuhan hidup keseharian. Selain itu. dia juga telah melibatkan para penduduk setempat dalam suatu aliansi ekonomis di tingkat lokal untuk mengeksploitasi kekayaan sumber daya alam di laut lokal dan regional. para juragan pemilik kapal/perahu ini telah mampu mengoptimalkan keberadaan sumber daya manusia setempat. telah menjadikan keberadaan dan peran para bakul ikan ini sebagai ³«stand guard over the crucial junctures or synapsis of relationships which connect the local system to the larger whole´ (Wolf. memang memungkinkan tercapainya efektivitas dan efisiensi dalam penjualan ikan. 1989). Bakul ikan yang menjadi ³pemulung´ bertindak sebagai pelaku ekonomi kedua dalam aktivitas jual-beli ikan di tingkat lokal. Sekalipun posisi seorang juragan perahu bermakna penting bagi kehidupan seorang nelayan di desa Bandaran ini. Secara fungsional. Dalam konteks yang sifatnya lebih terbatas. yang dalam banyak hal menyerupai ³patron-client relationship´. para nelayan/juragan kepala dan nelayan dapat menjual ikannya serta memperoleh uang dengan cepat tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan lagi. adanya kecenderungan masyarakat nelayan setempat untuk menyerahkan atau menjual sebagian terbesar ikan kepada mereka. dan alat-alat pemuas kebutuhan ³modern´ lainnya.perahu mampu mempekerjakan nelayan antara 23 ± 30 orang untuk satu kapal sleret. namun dia tidak memiliki dan tidak berkehendak untuk melakukan penguasaan yang bersifat monopoli terhadap para juragan kepala atau anggota nelayan. kendati dengan . walaupun ada risiko terhadap kemungkinan terjadinya perolehan pendapatan yang relatif lebih rendah dari pendapatan yang mungkin bisa diperoleh apabila mereka memperdagangkannya langsung di pasar jalanan setempat atau ke pasar-pasar lokal di luar daerah. antara 14 ± 18 orang untuk perahu jenis pakesan besar. perumahan. dalam de Jong. Adanya hubungan ³patron-klien´ dalam relasi bisnis antara nelayan/juragan kepala dan nelayan dengan para bakul ikan ini. dengan merekrut penduduk setempat antara 4-36 orang untuk tiga unit kapal/perahu sebagai tenaga-tenaga kerja efektif. menyebabkan para bakul ikan menjadi mata rantai terpenting dalam seluruh aktivitas perdagangan ikan di desa Bandaran.

. kemudahan. tetapi di lain pihak juga telah menciptakan hubungan ³patronklien´ yang cenderung melahirkan ³ketergantungan ekonomis´ bagi umumnya para nelayan. terlihat bahwa pola kepemimpinan ekonomi di daerah Bandaran tersebut. dan bakul ikan merupakan dasar pokok dari setiap kepemimpinan ekonomi yang dijalankan. banyaknya peminat ikan desa Bandaran telah mampu meminimalisasi adanya surplus ikan di pasaran setempat. sehingga sirkulasi ikan setempat menjadi lebih lancar. Nama ³jhuko¶ laok´ (ikan dari selatan) yang diberikan oleh para pembeli luar terhadap ikan hasil tangkapan nelayan desa Bandaran yang mereka temukan di sejumlah pasar lokal di luar Bandaran. bakul dan tengkulak ikan) dalam relasi perdagangan ikan. Pola demikian tampaknya erat berkaitan dengan faktor-faktor penggerak ekonomi dan uang yang pada umumnya tidak berada di tangan ketiga pelaku ekonomi di atas. Pemberian keamanan. Sungguhpun para tengkulak ikan ini hampir dapat dikatakan tidak memiliki relasi dagang secara langsung dengan juragan kepala dan nelayan setempat. tidak terlepas dari peran dan arti penting seorang tengkulak dalam matarantai perdagangan ikan dari daerah ini. termasuk pula para juragan kepala dan nelayan. Hal ini. namun keberadaan dan perannya sebagai pembeli dan sekaligus sebagai pemasar ikan setempat ke berbagai pasar lokal di luar daerah Bandaran. mengakibatkan pendapatan para bakul ikan. karena sifatnya yang sangat fluktuatif.cara itu mereka akan memperoleh harga yang terkadang di bawah harga pasar. di samping disebabkan oleh kemampuan masyarakat nelayan setempat di dalam mendapatkan dan memanfaatkan sumber-sumber keuangan yang jumlahnya tidaklah terlalu besar. Munculnya pelaku-pelaku ekonomi lokal (juragan. walaupun pada sebagiannya ada yang bersifat ³patron-client relationship´. Selain itu. Tengkulak ikan adalah pelaku ekonomi ketiga dalam aktivitas ekonomi dalam masyarakat di desa Bandaran. secara ekonomis menjadi lebih pasti dan berpengharapan. namun secara umum lebih bersifat ³collegialisme´ atau kemitraan kerja yang sejajar. juragan. Dari uraian di atas. tidak saja memiliki arti penting bagi pemenuhan kebutuhan ekonomi para nelayan yang menjadi ³kliennya´. kelancaran dalam melakukan aktivitas ekonomi dalam pola-pola hubungan jual-beli di atara nelayan. telah memungkinkan ikan-ikan hasil para nelayan setempat dikenal spesifikasinya di seluruh daerah Pamekasan dan Sampang.

Oleh karena itu. Hal ini. umumnya tidak dalam kerangka hubungan .50 juta).Kecenderungan ini pada dasarnya bukanlah karena alasan-alasan ekonomis semata (untuk mendapatkan hutang atau kredit). menyelenggarakan lamaran dan pesta perkawinan. Hasil uang yang diperoleh dari hasil arisan ini mereka sertakan lagi dalam kelompok-kelompok arisan yang lain. selain menggabungkan diri ke dalam kelompok-kelompok arisan yang menjamur di desa Bandaran. arisan dan titip uang merupakan gejala umum yang dipraktikkan hampir oleh setiap penduduk nelayan di desa Bandaran. Lembaga-lembaga ³Kuasi´ Investasi Tradisional: Arisan. Di desa Bandaran terdapat tidak kurang dari 20-an kelompok arisan dengan jumlah perolehan arisan bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta. tampaknya kurang disadari oleh masyarakat nelayan tradisional di desa Bandaran. ³Hutang´ (aotang) sebagai salah satu karakteristik perekonomian desa tradisional. sehingga yang bersangkutan bisa memperoleh modal untuk membuka usaha perdagangan kecil-kecilan (pedagang kelontong). G. naik haji. dan tidak mau direpotkan dengan hal-hal yang jlimet yang berakar pada sikap dan pemikiran sosial-budaya masyarakat nelayan tradisional desa Bandaran. sehingga sampai kini pun masyarakat setempat masih banyak terlibat dalam praktik hutang dan kredit. dalam banyak hal hampir selalu tidak menguntungkan secara ekonomis bagi si penghutang atau peminjam (kreditur). tetapi mereka juga mampu mengembangkan bisnis lain seperti membuka toko. sebagaimana telah dibicarakan di atas. Hutang atau kredit (ngredit) yang dilakukan oleh masyarakat nelayan setempat.10 juta ± Rp. membuat rumah. dan atau dibelikan perahu/jaring kecil untuk melanggengkan matapencaharian mereka sebagai nelayan. Keanggotaan para nelayan dalam kelompok arisan bisa lebih dari satu. dan Titip Uang Dalam seluruh aktivitas yang berkaitan dengan ³investasi´ uang. tetapi lebih disebabkan karena para nelayan ingin segera menikmati hasil kerjanya. tetapi kebanyakan menginvestasikannya dengan membeli mobil-mobil penumpang (colt diesel) untuk usaha tranportasi jurusan Pamekasan-Kamal. di samping hutang atau kredit. Hal ini. sejumlah juragan kapal/perahu tidak hanya memiliki lebih dari satu armada kapal/perahu besar yang berharga ratusan juta rupiah. juga berlaku di kalangan para juragan pemilik kapal/perahu dengan jumlah omset arisan yang lebih besar (Rp. Hutang.

juga berlaku bagi penduduk Desa Bandaran di kampung Montor dan Nagger yang bermatapencaharian sebagai petani. yang diberikan dari hasil penjualan ikan mereka.00.000. tampaknya banyak disebabkan oleh sikap hidup mereka yang ³kurang menjangkau masa depan´. kalaupun nelayan tadi menerima uang penjualan ikannya di bawah harga jual yang secara riil diterima oleh bakul.000. Dalam kasus hubungan hutang-piutang atau kredit antara nelayan dan bakul ikan. Sikap hidup ini. ³apa yang diperoleh sekarang. Bagi mereka. pada umumnya mereka lebih sering meminjam uang kepada kepala-kepala arisan yang banyak memegang uang-uang titipan para anggotanya. Hutang atau permintaan kredit biasanya dilakukan oleh para nelayan kepada orang-orang kaya (oreng sogi) tetangga-tetangga mereka sendiri yang sama sekali tidak memiliki hubungan kerja dengan dirinya. Harga jual ikan dari bakul tetap mengikuti harga pasar. habiskan sekarang juga. besok cari lagi´ (ollena lako/ora¶ pabali ka lako/ora¶. Dalam hal ini. permintaan hutang atau kredit dari seorang nelayan kepada para bakul patronnya. Keterlibatan masyarakat nelayan setempat dalam praktik hutang-piutang atau kredit.kerja antara nelayan dan juragan. tergantung pada besarnya jumlah hutang/kredit. Namun demikian. dengan imbalan berupa bunga yang besarnya sekitar 5% perbulan. akan tetapi. sehingga keduanya sama-sama mendapatkan manfaat. Kalaupun para nelayan tadi seakan terikat oleh akad jual-beli ikan dengan bakul. seorang nelayan hampir tidak pernah melakukan pembayaran dalam bentuk penyerahan ikan kepada bakul dengan harga yang ditentukan secara sepihak oleh bakul. hal tersebut karena bakul telah memberikan ³uang perangsang´ dan barang-barang perangsang lain. Hutang uang tetap dibayar dengan uang. tidak terjadi praktik ijon dari para bakul terhadap nelayan yang menjadi kliennya. Itupun. tanpa mempengaruhi penetapan harga ikan yang dijualkan atau diserahkan kepada bakul. jumlahnya hanya berkisar antara Rp.5. Dengan perkataan lain. lebih dimaksudkan sebagai upaya dari kedua belah pihak untuk memelihara hubungan perdagangan. hal tersebut lebih merupakan sebagai ³komisi´ atau ³uang jasa´ yang mereka anggap wajar atas kerjanya menjualkan ikan nelayan tersebut.00 hingga Rp. hampir-hampir tidak dimiliki oleh sebagian terbesar masyarakat. menabung atau melakukan investasi uang dan barang untuk pengembangan usaha lain maupun untuk kebutuhan masa depan. kecuali para pemilik modal dan pedagang besar. sikap hidup mereka tidak . di mana harga jual ikan dari nelayan tersebut ditetapkan sebelumnya dan di bawah harga pasar. Berhemat. lagguna nyare pole).10.

lamaran dan pesta perkawinan. Koperasi Desa. . Hal ini dikarenakan kesederhanan pemikiran ekonomi mereka dan ketidakinginan mereka berhubungan dengan hal-hal yang bersifat prosedural. membeli peralatan rumah tangga. Sementara itu mereka pun tidak perlu investasi untuk ikan di laut. gelang. dan semacamnya tidak banyak dimanfaatkan oleh penduduk setempat. praktis keberadaan Bank. psikologis dan ³sosial´ setelah mereka berjerih-payah seharian atau sehari-semalam menangkap ikan. Di lain pihak. sebagaimana layaknya mereka yang hidup dari pertanian.dapat dikatakan sebagai sikap hidup ³boros´. Dengan adanya ³lembaga-lembaga keuangan informal´ dan sistem ³kuasi investasi´ semacam itu. cincin) terutama ketika akan menjelang lebaran untuk memenuhi kebutuhan sosial dan budaya mereka. seperti membangun rumah. atau barang-barang berharga seperti perhiasan emas (kalung. ³lembaga-lembaga keuangan informal´ dan sistem ³kuasi investasi´ tersebut telah memungkinkan struktur ekonomi di desa mereka dapat dibangun dan dikembangkan atas dasar kemampuan ekonomi lokal atau secara ³berswasembada´. yang lebih berkonotasi pada sikap menghamburhamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. tetapi lebih dikarenakan mereka ingin menyepadankan antara ³kerja´ dan ³hasil kerja´ untuk memperoleh kepuasan diri baik secara fisik. Hutang atau kredit yang mereka peroleh pada umumnya tidak diinvestasikan untuk menambah modal usaha tetapi untuk kebutuhan ³habis pakai´.

de Jonge. Proyek Penelitian Madura. Glencoe. (2007). politik. A. perkembangan ekonomi. Koentjaraningrat (eds). (2010). Madura dalam empat zaman: Pedagang. A.). J. G. _______ (2009). Musik dan seni pertunjukan di kabupaten sumenep. Hubungan Ketergantungan dalam Perikanan di Madura: de Jonge. Jakarta: Grafitti Press. Jakarta: Grafitti Press. Prakapitalisme di asia. (2001). dan ekonomi di jawa. Jakarta: PN. Proyek Penelitian Madura. . Perkembangan ekonomi dan islamisasi di madura: de Jonge. _______2009). (2004).H. orientasi politik. Burger. (2009). III. kebudayaan dan ekonomi. Huub (eds): Agama. Khusyairi. Sejarah sosiologis-ekonomis Indonesia. Malang: Depdikbud (dalam rangka kerjasama Indonesia-Belanda). (2009). Some thought on enterpreneur in a maduranese country: Madura I. H. Dewey. Adat-istiadat sekitar kelahiran pada masyarakat nelayan di Madura. Ritus peralihan di Indonesia. Balai Pustaka. L. kebudayaan dan ekonomi. Agama. dan kepemimpinan lokal di antara orang-orang Madura di Lumajang. Industri Rokok Kudus. H. Huub de Jonge (ed. Huub (eds). Djojomartono. (1997).Referensi Abdurrachman.. Sekelumit cara mengenal masyarakat Madura: Madura I. Huub de Jonge (ed. Bouvier.). Jakarta: Sinar Harapan. (2008). M. (2008). Jakarta: Sinar Harapan. Jakarta: Grafitti Press. Boeke. Tingkah laku agama. Agama. dan islam (suatu studi antropologi ekonomi). Jakarta: Penerbit PT. D. Agama. kebudayaan dan ekonomi. kebudayaan dan ekonomi. _______ (2009). Jakarta: Prajnyaparamita. Agama.H. Jakarta: Grafitti Press. Gramedia. Castles. Peasant marketing in Java. Malang: Depdikbud (dalam rangka kerjasama Indonesia-Belanda).

. (2007). Jakarta: PT. Some preliminary considerations. Peddlers and Princes. Koentjaraningrat. Masyarakat Desa Indonesia. Rintangan-rintangan mental dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Chicago. _______ (2008). Economic development and cultural change. _______. Religious belief and economic behavior in a central javanese town. (eds) ().Geertz. C. (2007). Jakarta: Yayasan BPFE-UI. Gramedia.

rawa..3 Pemasaran adalah kegiatan mengatur barang dari produsen ke konsumen. perindustrian. pemasok. selat dan teluk. seperti perusahaan pengolahan.8 juta ton per tahun. 1981: 42). pesaingan.000 km. Indonesia memiliki kawasan pesisir yang sangat luas. pemukiman. masyarakat atau konsumen. Indonesia terdiri dari beribu pulau yang sebagian besar wiliyahnya (62%) merupakan perairan laut. 2 Demikian luasnya wiliyah laut di Indonesia sehingga mendorong masyarakat yang hidup di sekitar wilayah laut memanfaatkan sumber kelautan sebagai tumpuan hidupnya. Ketergantungan masyarakat terhadap sektor kelautan ini memberikan identitas tersendiri sebagai masyarakat pesisir dengan pola hidup yang dikenal sebagai kebudayaan pesisir (Geertz. kawasan pesisir yang terdiri dari berbagai ekosistem pendukung seperti ekosistem hutan mangrove. sedangkan 38 % lainnya adalah daratan yang didalamnya juga memuat kandungan air tawar dalam bentuk sungai. Sebagai satu negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang 81. H.7 juta ton adalah hasil produksi dari sektor perikanan laut. pertambangan dan penangkapan ikan. tercakup didalamnya beberapa pelaku kegiatan pemasaran. pelanggan. dan waduk.1 Dari data statistik terlihat jumlah produksi perikanan di Indonesia saat ini sekitar 4. perantara. terumbu karang. dan bahan-bahan tambang yang bernilai tinggi. Dari jumlah tersebut sekitar 78% atau lebih kurang 3.MASYARAKAT PESISIR DENGAN MATA PENCAHARIAN SEBAGAI PENJUAL IKAN (Firda Ulfa Lusiana F1E1 10 004) Secara geografis. Dalam hal ini nelayan bisa berfungsi sebagai pengusaha. pertanian. Selain menempati wilayah yang sangat luas. padang lamun dan lahan basah tersebut memiliki keanekaragaman hayati dan berbagai sumberdaya alam seperti ikan.5 . danau. Dalam kegiatan mikro pemasaran. pariwisata. pesaing atau perantara bila merangkap menjadi pembina. Potensi yang demikian besar tentunya memberikan peluang yang besar pula terhadap terciptanya berbagai bentuk pemanfaatan seperti usaha pertambakan. pemasok.

bentuk ikan (segar/olahan). Sawi bekerja pada kapal-kapal juragan ikan menangkap ikan di perairan teritorial dengan keuntungan bagi hasil yang besarannya ditentukan oleh juragan ikan.3 Sebagian besar dari produksi ikan dipasarkan sebagai ikan segar. ikan kering. ikan kaleng. pedagang perantara. yaitu kelompok nelayan tangkap dan kelompok pemasaran ikan. tetapi ikan tangkapan mereka harus dijual kepada juragan ikan untuk melunasi hutang-hutangnya. Hanya sebagian kecil diolah menjadi "fillet" beku. ataupun tepung ikan. keuangan dan peralatan melaut serta bahan bakar mereka disediakan oleh juragan ikan dengan harga yang cukup tinggi. Dengan berlalunya waktu kelompok kedua mengalami perubahan ekonomi menjadi juragan ikan yang menguasai ekonomi masyarakat pesisir. pengecer dari dalam desa. ikan asap. juga melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan kapal-kapal bermotor yang merekrut anggota masyarakat pesisir menjadi pekerja di kapal mereka yang sering disebut dengan istilah µsawi¶.5 Di dalam masyarakat pesisir pada dasarnya terdapat dua kelompok usaha perikanan. jenis ikan yang diperoleh. Orangorang yang menampung hasil tangkapan ini biasanya masing-masing telah mempunyai langganan nelayan tetap dengan harga yang sama. Yang memengaruhi system pemasaran hasil tangkapan nelayan.Rantai pemasaran produk perikanan tangkap melibatkan pedagang pengumpul. 3  Kondisi Wilayah Pemasaran . Jaringan pasar terbentuk berdasarkan ikatan saling kepercayaan antara nelayan dengan pedagang.. daerah pemasaran (local/ekspor). ikan asin.4 Harga ikan dihitung oleh Dinas Perikanan di masing-masing pelabuhan perikanan. dan organisasi atau individu yang melakukan distribusi. Selain itu. 6 Bagi Nelayan tangkap yang tidak tergolong sebagai sawi atau menjalankan sendiri penangkapan ikan di perairan kabupaten (sejauh 4 mil dari pantai) kebutuhan pokok. Juragan Ikan di samping sebagai pedagang ikan. Produk perikanan tangkapan umumnya dijual langsung ke pedagang perantara dan menjual produk tersebut ke beberapa pasar. Proses penjualan ikan dijalankan menurut kebiasaan yang ada yaitu melalui lembaga atau orang-orang yang biasa manampung langsung (bandar ikan) hasil tangkapan nelayan. yaitu jenis kapal dan alat penangkapnya. dalam kecamatan maupun dari kabupaten sebelum sampai ke konsumen akhir. tidak saling bersaing sesama mereka.

Fakta ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat di wilayah pesisir Indonesia masih termasuk masyarakat yang miskin.Umumnya masyarakat perikanan (MPM) menjual produk pada tahap pertama kepada pedagang pengumpul dan perantara di lokasi MPM. jenis alat angkut serta jarak yang dilalui. pada umumnya nelayan langsung memindah tangankan hasil tangkapannya (menjual ikan) kepada beberapa pihak yang ada seperti penada. . oleh karena itu penjual ikan memperoleh barang/ikannya dari nelayan penangkap ikan.  Sumber Barang (Ikan Yang dijual) Penjual ikan tidak lepas dari produsen penghasil ikan dalam hal ini nelayan. seperti halnya menjual ikan lokasi yang dipilih mesti strategis dan membuka peluang keuntungan. Harga dipengaruhi oleh volume produksi tangkap. Usaha yang dilakukan para penjual ikan dalam memperoleh tempat menjual memang tidak mudah. harga yang ditawarkan para pemilik tempat ataupun pemerintah terlalu mahal. sehinggga para penjual ikan kebanyakan menjadi papalele (penjual ikan keliling)  Kondisi Harga Produk Kondisi harga di level produsen sangat tergantung pada musim ikan.42 juta jiwa masyarakat pesisir masih hidup dibawah garis kemiskinan dengan indikator pendapatan US$ 1 per hari (Data Direktorat PMP 2006).  Kondisi Manajemen Pemasaran Manajemen pemasaran produk perikanan tangkap relatif sederhana. selain bersaing dengan para penjual ikan lainnya. papalele kemudian sampai kepada penjual ikan. jumlah pedagang. Pemilihan lokasi penjualan merupakan satu syarat yang penting dalam memuali usaha. Belum ada upaya promosi dan klasifikasi produk perikanan. jumlah perdagang yang terlibat serta jarak dan jenis pasar target. Menurut hasil penelitian (Muflikhati. 2010) memperlihatkan bahwa sebanyak 32.14% dari 16. Rata-rata pedagang berpatokan pada tingkat keuntungan yang memenuhi kebutuhan primer. Para pedagang akan menjual ke pasar kecamatan dan pasar kabupaten.

Rian mengatakan akibat harga tinggi pembeli mengurangi pembelian ikan laut.500.000 ± Rp. 500.000 ± Rp.Penghasilan yang diperoleh dari penjual ikan yaitu : Dari hasil survey yang telah dilakukan terhadap bakul / penjual ikan di wilayah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan di peroleh hasil bahwa umumnya mereka bekerja sebagai bakul/pemasar >15 tahun.7 - Namun di Solo akibat tingginya gelombang membuat pasokan ikan turun 50% Selain pasokan terbatas.000. rata-rata pendidikan mereka adalah SD. 7. Ikan yang mereka jual adalah ikan lemuru.000/kg. dan harga jual/kg antara Rp. Harga cumi-cumi melonjak dari sebelumnya Rp 30. dari Rp 40. 1. usia mereka rata-rata 28-70 tahun. Penghasilan para pedagang ikan pun menyusut.000/kg menjadi Rp 65. Kenaikan harga ikan laut juga terpantau di Pasar Gede. Sedangkan harga kepiting naik lebih tajam.000.000/kg menjadi Rp 45.000 ± Rp. 2.000. 10. harga ikan laut juga melejit dengan kenaikan mencapai 50%. SLTP dan SLTA.000/kg. dengan harga beli/kg antara Rp. - . 3. mereka memasarkan ikan umumnya ke plosok desa dengan menggunakan motor dan ada sebagian yang menggunakan sepeda. pendapatan mereka rata-rata per bulan berkisar antara Rp. Salah satu pedagang pasar.

Jurnal Saintek Perikanan Vol. Penangkapan Ikan Laut.lipi.%20Wetlands%20Internat ional/Buku%20Pemberdayaan%20Masy%20Pesisir-Indramayu. Program Doktor Manajemen Sumberdaya Pantai Universitas Diponegoro Semarang . From http://www- personal. Tadjudin.html 7. Drs.bi.blogspot. Endang Tjitroresmi.go. Syarif Moeis. 3. From : http://www. No.DAFTAR PUSTAKA 1. BPR dan UMKM BANK INDONESIA.id/katalog/index. From http://elib.html 5.com/2009/05/perbaikan-pemasaran-masyarakat-pesisir. Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK). http://ompuaan. M. Telepon : (021) 3818043 Fax : (021) 3518951.id.pdf 4.id/NR/rdonlyres/CD1C61DF-1893-4000-BFA0- CF81D20525D3/16052/PenangkapanIkanLaut1. 1999. Bogor : Wetlands International . Halaman 61 Bab IV.com/2010/07/konsep-dasar-pengelolaan-dana-pemp. 4.php/searchkatalog/downloadDatabyId/2167/2168. ³Pemberdayaan Masyarakat Pesisir´. 2008. 2009 : 24 ± 32. Khazali dan Laksmi A Savitri.blogspot. Email : tbtlkm@bi. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.go. Pemasaran Ikan dan Ekonomi Nelayan.umich.Indonesia Programmed dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. 2. pdf 6.pdf 2. Agus Suherman dan Adhyaksa Dault. ³Adaptasi Ekologi Masyarakat Pesisir Selatan Jawa Barat Suatu Analisa Kebudayaan´. Direktorat Kredit. ³Konsep Dasar Pengolaan Dana PEMP´. 2010. Dampak Sosial Ekonomi Pembangunan dan Pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambenan Jembrana Bali.go. From : http://tadjuddin.pdii. Social Economic Impacts of Pengambengan Nusantara Fishing Port (NFP) Construction and Development.edu/~thoumi/Research/Carbon/Forests/Forests.

Karena tidak terlalu memperhatikan pendidikan. Itulah mengapa mereka lebih mengedepankan aspek aspek kultur ketimbang logika dan rasionalisme. Berdasarkan beberapa definisi dari bberbagai ahli masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang mendiami wilayah pinggiran pantai hingga 2 km dari bibir pantai. Salah satu bukti bentuk kultur yang ditinggikan di masyarakat pesisir adalah. Beberapa dekade yang lalu. bertani garam. Masyarakat pesisir memiliki berbagai macam interaksi perokonomian. Masyarakat pesisir juga merupakan masyarakat yang memiliki nilai nilai kultur yang tinggi. Untuk tetap bertahan hidup maka mereka berusaha untuk mencari mata pencaharian alternative. bertani rumput laut. Bagai mereka pendidikan hanya membuang buang waktu. Anggapan mereka adalah leluhur merekalah yang membantu mengumpulkan ikan saat mereka melaut. Itulah mengapa masyarakat peisisr erat kaitannya dengan kebodohan. dan berternak. Beberapa contoh mata pencaharian alternative tersebut adalah menambang batu karang. Pada saat masa menutup aktivitas peraiaran. berkebun. Indonesia merupakan Negara kepulauan yang tersusun atas ribuan pulau. Hal ini menyebabkan rekonstruksi ulang susunan ekosistem perairan di lautan..Peternakan Di Wilayah Pesisir (Sudarman F1E1 10 030) Masyarakat pesisir merupakan masyarakat multicultural yang mendiami wilayah pinggiran pantai yang tersebar di seluruh Indonesia. masyarakat pesisir merupakan kelompok masyarakat yang dikatakan terbelakang. . Masyarakat pesisir tidak akan turun melaut. Mereka menjunjung tinggi penghormatan terhadap leluhur leluhur mereka. Mereka lebih memilih untuk focus menangkap ikan di lautan. Walaupun pada dasarnya melaut merupakan cirri yang khas dari perkembangan masyarakat pesisir. Hal ini menyebabkan mereka kehilangan mata pencaharian utama mereka. Itulah mengapa pemerintah menetapkan masyarakat pesisir sebagai patokan pengembangan kesejahteraan negara. Pada saat itu masyarakat pesisir tidak akan turun melaut untuk menghormati budaya mereka. ketimbang harus mengenyam pendidikan di sekolah sekolah. Bahkan bisa dikatan sebagai Negara kepualauan terbesar di Indonesia. mereka mengedepankan budaya buka tutup perairan.

solihin.com. 2002. Mereka juga mampu mengkonsumsi hewan ternak yang mereka pelihara. Dengan beternak selain mereka dpata menghasilkan pendapatn yang lumayan. Materi kuliah nutrisi kelautan . Sebagai bukti beliau telah panen ayam dengan pendapatan yang luar biasa ketimbang harus melaut. kini lebih focus beternak di wilayah pesisir. system pendidikan yang mulai mereka terima. Bagi masyarakat pesisir semua sumber daya alam yang ada dilautan merupakan harta kekayaan yang harus mereka lestarikan. meskipun melaut lebih beresiko. Hari ini masyarakat pesisir telah berkembang maju seiring perkembangan zaman.blogspot. Tapi menurut beliau nelayan tetaplah mata pencaharian utama mereka. Daftar Pustaka Haris. tapi melaut adalah jiwa yang telah mengalir dalam darah mereka. Mereka telah mengembangkan system perekonomian yang lenih maju. Kini masyarakat pesisir telah berkembang menjadi masyarakat dengan peradaban yang lebih baik dari sebelumnya.Berternak merupakan salah bentuk modifikasi mata pencaharian masyarakat pesisir. Mata pencaharian yang awalnya dianggap tidak menguntungkan justru kini malah berkembang pesat. Bagi beberapa peternak yang berhasil mereka menganggap bahwa beternak lebih menguntungkan ketimbang mata pencaharian lain. Masyarakat Pesisir. Dikutip dari haris. Sebagai contoh bapak zamroni yang mulanya adalah nelayan.

sesuai dengan keadaan lingkungan disekitarnya yang umumnya tidak memiliki sarana air bersih. Mengingat luas dan kompleksitas permasalahan maka didalam penelitian ini difokuskan pada aspek keamanan pangan penggunaan bahan tambahan makanan (food additive) ilegal atau tidak diperbolehkan. dan pemasaran produk hanya terbatas pada pasaran local (Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. dan pengasapan) umumnya dilakukan pedagang dan pengolah dalam skala kecil/ menengah atau skala rumah tangga. tingkat sanitasi dan higienis rendah. peda.2001). permodalannya sangat lemah. terjadi pada beberapa produk olahan maupun segar yang jenis produk ini banyak dikonsumsi masyarakat luas dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatan. Pati dan Rembang) dan DIY (Bantul).PENGOLAH HASIL PERIKANAN SKALA KECIL (Dian Sari Enimosa F1E1 10 044) Penanganan produk segar dan pengolahan tradisional (pengeringan/ penggaraman. dan terasi dengan pembatasan wilayah di Pantura Jawa Tengah (Tegal. tahapan kegiatan maupun wilayah dengan berbagai jenis bahan beracun berbahaya dan sumbernya dengan karakteristik berbeda. ekonomi. Permasalahan penggunanan bahan tambahan makanan berbahaya difokuskan pada 4 (empat) jenis produk yakni ikan segar. . Pembatasan permasalahan juga dilakukan berdasarkan jenis produk dan wilayah. Secara umum. ikan asin/ kering. Pekalongan. Permasalahan mutu dan keamanan pangan produk perikanan terjadi pada berbagai jenis produk. peralatan yang digunakan sangat sederhana. Pemilihan ini didasarkan beberapa alasan yaitukejadian penggunaan bahan tambahan ilegal telah menyebar di berbagai wilayah tanah air. terasi. dan kelembagaan. kecap ikan. dan penggunaannya oleh pengolah atau pedagang karena factor kesengajaan. Permasalahan yang berkaitan dengan faktor penyebab berlangsung malpraktek diantara para pengolah ikan dan produk perikanan dibatasi pada aspek teknis. penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu perumusan dalam pengembangan ke bijakan mutu dan keamanan produk hasil perikanan di Pantura Jawa Tengah dan DIY. pemindangan. Semarang. kerupuk. sosial budaya. Karakteristik dari pengolahan tradisional adalah kemampuan pengetahuan pengolah rendah dengan ketrampilan yang diperoleh secara turun temurun.

Sosiosfir merupakan lingkungan yang . Walaupun memang yang terkena dampak tidak senua perusahaan perikanan. pemindangan (15.52 %).82 %).41 %).08 %). pembekuan (0.41 %). Analisis Ekonomi Berkaitan dengan isu penggunaan formalin baik nelayan maupun pedagang/ pengolah di lokasi penelitian sebagian besar berpengaruh sangat nyata terhadap permintaan ikan.002 %). Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Suwedo H (1993) bahwa salah satu cara mempertahankan kesegaran ikan dapat dilakukan dengan memelihara ikan tetap hidup atau dengan menurunkan suhu ikan mati. dengan perlakuan suhu rendah dan kadang kadang kurang memperhatikan factor kebersihan dan kesehatan. dan lainnya (2. Bahkan. FAO (1991) bahwa perawatan. Masyarakat tidak peduli dengan ikan yang dikonsumsi. sejumlah pekerja yang sudah dirumahkan mencapai 500 orang akibat berhentinya produksinya ikan asin. Analisa social budaya Lingkungan sosial (sosiosfir) merupakan lingkungan yang paling penting dalam menentukan kesehatan lingkungan (Soemirat. persepsi yang terbentuk adalah semua ikan yang dijual mengandung formalin. pengasapan (2. tepung ikan (0.37 %). sehingga perlu adanya langkah-langkah yang strategis untuk dapat memecahkan masalah tersebut. terasi (0. 1994).48 %). Namun.41 %). kebersihan dan pendinginan adalah kunci untuk memanen hasil tangkapan yang berkualitas baik. sehingga konsumen akan menjadi takut terhadap ikan atau antipati terhadap ikan.Berdasarkan data dari direktorat jendral perikanan tangkap (2003) Propinsi Jawa Tengah dilihat dari cara perlakuannya meliputi dipasarkan segar (31. pengeringan/ penggaraman (46. peda (0. hal ini sangat mengkhawatirkan karena berpengaruh langsung terhadap pendapatan masyarakat nelayan maupun pengolah/ pedagang.88 %). Bahkan menurut UNDP. Penanganan ikan segar oleh para nelayan biasanya dimulai segera setelah ikan diangkat dari air tempat hidupnya. Berdasarkan data cara perlakuan tersebut produk perikanan Propinsi Jawa Tengah didominasi oleh pemasaran dalam bentuk pengeringan/ penggaraman (46.

sehingga dapat mendukung terjaminnya pengembangan pertumbuhan. kimia maupun cemaran fisik. penyuluhan. Kebiasaan pola makan masyarakat yang belum memperhatikan aspek keamanan dari makanan yang dikonsumsinya bagi kesehatan. Disadari bahwa sampai saat ini masih belum banyak masyarakat yang menyadari pentingnya keamanan pangan terutama pada produk pangan segar. 2000).tercipta akibat terjadinya hubungan rasional antar manusia untuk memenuhi kebutuhan atau mencari solusi terhadap berbagai tantangan atau kesulitan secara bersama (Soemirat. Laboratorium yang terakreditasi sangat diperlukan dalam melakukan pengawasan pangan segar khususnya untuk melakukan uji residu pestisida pada buah dan sayuran segar. Disamping itu belum efektifnya penanganan keamanan pangan juga dikarenakan masih belum berkembangnya sistem penanganan keamanan pangan serta terbatasnya laboratorium yang telah terakreditasi sehingga sistem penjaminan mutu belurn bisa berjalan dengan baik. Rendahnya tingkat pendidikan baik para pengolah maupun masyarakat konsumen sehingga pengetahuan mengenai keamanan pangan rendah dan kurangnya berpikir jangka panjang. Analisa kebijakan Kebijakan penanganan keamanan pangan diarahkan agar dapat menjamin masyarakat terhindar dari mengkonsumsi pangan terutama pangan segar yang terkontaminasi oleh cemaran biologis. berproduksi sampai dengan pengolahan pangan untuk menjamin agar makanan yang . dan pembinaan mengenai keamanan pangan. kesehatan dan kecerdasan manusia. Ada beberapa permasalahan social budaya yang menyebabkan berlangsungnya malpraktek penggunaan bahan kimia tambahan ilegal yaitu: Kurangnya perhatian pejabat berwenang. dan sebagian besar pertimbangan adalah pada pangan dengan harga murah. Penanganan keamanan pangan adalah suatu rangkaian kegiatan dalam cara-cara budidaya. hal ini disebabkan karena masyarakat baik masyarakat produsen (terutama produsen skala rumah tangga) maupun konsumen masih menghadapi masalah kemampuan modal dan daya beli sehingga masalah keamanan pangan belum menjadi prioritas dalam menetapkan preferensi memilih pangan untuk dikonsumsi.

dan biologi yang dapat berakibat buruk atau mengganggu kesehatan konsumen. 2001. Jakarta: Departemen Kelautan dan Perikanan. 28/2004 bertujuan membantu konsumen untuk mengevaluasi dan memilih produk. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Inventarisasi Jenis dan Jumlah Produk Olahan Hasil Perikanan Skala Kecil Di Indonesia. Perbaikan Handling Ikan di Kapal (Improvement of Fresh Fish Handling on Board).penanganan keamanan pangan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pangan No. 7 Tahun 1996. kimia. S. Jakarta. dan dijabarkan lebih lanjut dalam PP No. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman. . Laporan Penenelitian Teknologi Perikanan Nomor 2 hal 2735. Di Indonesia. Nasran.dihasilkan fisik. membantu produsen dalam meningkatkan mutu serta dalam melakukan perdagangan yang jujur. serta meningkatkan kesehatan. Balai Penelitian Perikanan Indonesia. rakyat dan peningkatan kegiatan ekonomi rakyat. 1990.

Salah satu kelemahan ikan adalah tubuh ikan yangmempunyai kadar air tinggi dan pH mendekati netral merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri pembusuk maupun organisme lainnya sehingga ikanmenjadi komoditi yang cepat membusuk.38 juta ton per tahun. Namun. y Teknologi penanganan hasil perikanan Teknologi penanganan ikan pasca panen memberikan manfaat kerja dan ekonomi untuk bagian besar masyarakat. Total hasil penangkapan ikan baru mencapai 4.40 juta ton per tahun dan perairan ZEE sekitar 1. Oleh sebab itu. sering muncul bau tengik pada ikan.maka harus dilakukan perbaikan yang menyangkut hasil teknologi dan ekonomi. Ikan merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat karena mudah didapat dan harganya murah. ikan ternyata memiliki beberapa kelemahan.pengolahan hasil Indonesia memiliki potensi sumberdaya perikanan laut cukup besar. Potensi tersebut terdiri dari potensi perairan wilayah Indonesia sekitar 4. dan dapat berkisar mulai ikan dari proses sederhana seperti pengumpulan organisme air dengan tangan memilih untuk .26 juta ton per tahun. tergantung pada jenis penangkapan perikanan. Untuk menangani hasil tangkapan ikan dari laut maupun hasil perikanan budidaya secara tepat dengan mutu yang terjaga baik serta layak dipasarkan di dalam negeri maupun luar negeri diperlukan tenaga profesional yang handal dalam bidang teknologi pengolahan hasil perikanan Dalam rangka diversifikasi hasil perikanan dan terpenuhnya gizi dari protein hewani asal ikan bagi masyarakat.Pengolahan hasil penangkapan ikan (Ershanty Rahayu F1E1 10 046) 1.dan hal yg paling penting harganya jauh lebih murah dan terjangkau dibandingkan sumber protein lain.ikan sebagai bahan makanan yg mengandung protein tinggi dan asam amino esensial yang diperlukan tubuh.86 juta ton per tahun. potensi lestari ikan laut diperkirakan sebesar 6. daging ikan banyak mengandung asam lemak tak jenuh yang sifatnya sangat mudah mengalami prosesoksidasi. Selain itu. Penggunaan metode bervariasi. Ini meliputi berbagai proses penangkapan organisme perairan. sementara jumlah tangkapan lestari sebesar 5.01 juta ton per tahun.

umpan buatan atau sarana lain seperti cahaya. y persyaratan hasil perikanan laut dikatakan memiliki nilai ekonomis ada 3 syarat persyaratan hasil perikanan laut dikatakan memiliki nilai ekonomis: ‡ Mempunyai nilai pasaran yang tinggi ‡ Volume produksi makro tinggi dan luas . Paling penting di antara mereka adalah panen ikan sistem seperti trawl. penangkapan ikan baik secara tunggal maupun di sekolah-sekolah dengan menggunakan jaring atau tombak. teknologi Harvest. Keragaman besar target dalam perikanan tangkap dan distribusi yang luas mereka memerlukan berbagai alat tangkap dan metode untuk panen efisien. penangkapan ikan di gigi stasioner seperti perangkap ikan atau jaring set. akustik dan elektronik. alat penangkapan ikan tradisional telah ditingkatkan dan yang lebih baru sistem penangkapan ikan lebih efisien telah diperkenalkan. Setengah dari makanan laut dunia ditangkap atau dikumpulkan oleh nelayan skala kecil yang beroperasi jutaan kerajinan memancing. Menyaring air. jaring insang dan melibatkan jaring dan perangkap. bertujuan pertengahan air trawl atau tas pemukatan dilakukan dari kapal ikan besar. memikat dan mempermainkan mangsa dan berburu. adalah dasar bagi sebagian besar alat tangkap dan metode yang digunakan bahkan hari ini.panen ikan sistem yang sangat canggih. b. seines. Selama bertahun-tahun. karena mereka dipraktekkan saat ini umumnya masuk ke dalam 3 kelompok utama: a. yaitu. Teknologi ini telah dikembangkan di seluruh dunia sesuai dengan tradisi lokal dan kemajuan teknologi di berbagai disiplin ilmu seperti hidrodinamika.dan c. ikan menarik untuk terjebak pada kait dengan menggunakan umpan.

0% 5. bahkan hampir semua jenis ikan dapat dijadikan abon. 0. akan lebih baik apabila dipilih jenis ikan yang mempunyai serat yang kasar dan tidak mengandung banyak duri. 18-34% 3. Hasil pengolahan A. Namun demikian. tongkol. ABON IKAN Salah satu hasil difersifikasi pengolahan ikan yaitu abon ikan. ikan yang biasa dibuat abon adalah ikan air laut antara lain tuna.2% 4. 0. Vitamin dan mineral 2. air 60-84% 2. tenggiri contoh gambar abon: .0-1.harganya juga relatif lebih mudah dijangkau untuk semua kalangan masyarakat. jenis ikan yang dibuat sebagai bahan baku abon belum selektif.kelebihannya selain sebagai sumber protein yang mudah di dapat. marlin. cakalang.‡ Mempunyai daya produksi yg tinggi y komposisi kimia daging ikan: 1.1-2.

Oleh sebab itu. pendapatan dari hasil penjualan abon ikan per tahun adalah sebesar Rp 1.000. y Jumlah produksi abon ikan selama satu tahun sebesar 14.440 kg (1.200 kg/bulan) dan harga abon ikan ditingkat produsen adalah Rp 70.000 per kg.6 menyajikan rincian penerimaan/pendapatan kotor dalam setahun. . Oleh sebab itu.Proyeksi produksi dan pendapatan: y Usaha pengolahan abon ikan pada umumnya berskala kecil dan bersifat pada tenaga kerja.000.±. Tabel 5. jenis teknologi yang cocok digunakan adalahteknologi semimekanik.008.

lokasi usaha sebaiknya terdapat di daerah-daerah yang dekat dengan kawasan-kawasan kerja pelabuhan perikanan sehinggaakan mempermudah proses penyediaan dan transportasi bahan baku ikan B. Oleh sebab itu.Tabel produksi dan penjualan abon ikan: Nb: harga di atasa masih dalam pendapatan kotor* y Kendala yang ditemui selama produksi Kendala produksi yang bisa dijumpai adalah terjadinya kelangkaan bahanbaku ikan.selain itu hasilnya terkadang jauh lebih baik dibanding menggunakan teknik mesin y teknik mesin . bakso ikan ada 2 cara pembuatan bakso ikan yaitu: y tekhnik manual pada teknik ini tentu bergantung pada bahan dan pembuatnya.

menggunakan teknik ini jauh lebih praktis tetapi membutuhkan modal yang lebih besar dibanding menggunakan teknik manual Contoh gambar pengolahan bakso ikan (menggunakan tekhnik mesin): . mesin pencetak bakso dan mesin sealer atau vacuum (untuk mengemas bakso).Jenis mesin yang diperlukan untuk membuat bakso antara lain mesin mincer (untuk mencincang daging). mesin mixing (untuk mencampur adonan).

umm.ac. http://www.net/bidang-dan-uptd/ http://sudianor.y kendala Kendala yang ditemui dalam pembuatannya hampir sama dengan pembuatan makanan lain yang memerlukan bahan utama ikan.wordpress.apsidoarjo.kkp.com http://www.id/files/2010/01/Pengolahan-ikan.bpsdmkp.blogdetik.wordpress.ac.yaitu: kelangkaan bahan baku ikan.mercubuana.staff.bisnis. lokasi usaha sebaiknya terdapat di daerah-daerah yang dekat dengan kawasan-kawasan kerja pelabuhan perikanan TINJAUAN PUSTAKA http://www.id http://pobersonaibaho.dkpsultra.com/tag/proposal-bakso-ikan/ .com/articles/hasil-tangkapan-ikan-nelayan-di-malang-melimpah http://rizarahman. Oleh sebab itu.com http://research. http://dedisafrizal.go.id/proceeding/Proses-Pengolahan-dan-Nilai-TambahBakso.

Hal ini juga dialami Haji Abdullah (60 tahun) pengusaha Phinisi sudah mengenal pembuatan kapal tradisional dari orang tuanya. ³ Ini mi keterampilan yang diajarkan bapakku sejak kecil. Namun biasanya adanya keterlambatan pasokan kayu yang dikirim dari Kendari cukup menghambat membuat kapal. Bila dahulu kapal Padewakkang terkenal sebagai kapal perang dan belakangan tak lagi ditemukan. Oleh karena nilai artistik yang tinggi. kapal Phinisi dan kapal Sandeq hingga saat ini masih diproduksi oleh penggiatnya. belajar sendiri mengenai tata cara pembuatan phinisi. Musriadi (43 tahun) pembuat Phinisi. masih mempertahankan membuat kapal tersebut untuk mempertahankan warisan budaya leluhur. Dalam setahun. meskipun bahan baku kayu diproduksi di Bulukumba. hal ini berdasarkan data Kelurahan Tana Lemo. serta waktu pembuatanya yang sangat lama. Keahlian membuat Phinisi biasanya diajarkan turun temurun dari para leluhur. Sebut saja. Sekira tujuh puluh persen masyarakat Tana Beru menggantungkan hidupnya pada pembuatan kapal tradisional ini. Kehidupan masyarakat pesisir tak terpisahkan dari pemanfaatan pembuatan kapal. Sejauh ini. hasil dari membuat kapal untuk menafkahi keluarganya. Ia mulai membuat kapal sejak umur tujuh belas tahun. Inilah titik tumpu yang kuat hingga ia bisa menjadi pengusaha kapal yang sukses seperti saat ini. Dalam perkembangannya. yaitu jenis kayu besi. ³Orang asing lebih suka yang bagian buritan kapal yang kotak karena terjadi hubungan antara layar dan mesin dan setir. Haji Abdullah melayani pemesanan Phinisi dengan desain yang dibuat oleh konsumen. maka tak heran jika harga satu buah kapal Phinisi bisa mencapai . Kelurahan Tana Lemo.KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR (Yunita Silvana Lantapi F1E1 10 048) Bebarapa masyarakat pesisir menjadikan pembuatan kapal sebagai lahan mencari nafkah. Kesulitan selama ini. Sejak tahun 1988. Anto (45 tahun) warga Desa Ara masih membuat Pinishi karena menjaga warisan leluhurnya. Masyarakat pesisir di Tana Beru.´ ungkapnya. Musriadi warga Desa Ara.´ jelasnya. Demikian halnya. ia terpilih ke Kanada untuk membuat kapal kerjasama dengan Teknik Perkapalan Unhas. Kecamatan Bonto Bahari masih memproduksi Phinisi. ayah yang telah menurunkan bakat ini kepada anaknya menerima orderan rata-rata sepuluh kapal besar pertahun.

Siden (45 tahun) salah seorang pembuat Sandeq.´ ujarnya. DAFTAR PUSTAKA 1.miliaran rupiah. sebutan Panrita lopi bukan hal yang asing masyarakat Tana Beru. Penerbitan Kampus 'Identitas'unhas. pasti butuh uang lagi. Sebut saja Haji Jafar (63 tahun). kapal tradisional lain tetap dipertahankan dengan alasan faktor ekonomi. orang yang membuat kapal sesuai pengetahuannya dan tidak menggunakan tenaga ahli. sandeq untuk nelayan sangat jarang karena sudah ada kapal modern bermesin. 2011 . Bahkan pernah sebuah perusahaan pelayaran di Karibia yang membeli sebuah Kapal Phinisi seharga 3 miliar. pekerjaan ini ia tekuni membuat kapal untuk menafkahi keluarganya. Polewali Mandar. sering belajar dengan pembuat kapal. Sekarang ini.´ ujar Fadli (41 tahun). sandeq hanya digunakan dalam Sandeq race. Dari dulu nenek moyang membuat kapal. Identitasonlinedotnet. dan ini saya tekuni sebagai nelayan dan sekaligus pembuat kapal. Online Business Journal. ia salah seorang Panrita lopi yang masih tetap aktif dalam membuat kapal. ³Kalau bukan Sandeq pasti pakai bahan bakar. Perahu Phinisi kebanggaan bangsa Indonesia. Mulyadi Agus. Berbeda dengan pengusaha kapal. ³Kapal dibuat untuk menjaga nilai-nilai kebudayaan dari nenek moyang dan pemenuhan kebutuhan hidup kami.´ tutur Siden. Masih banyak nelayan yang mengandalkan layar dan kapal digerakkan tanpa menggunakan bahan bakar. Hal ini menyebabkan nilai ekonominya menurun tapi nilai budayanya tetap ada. Demikian halnya. Pengusaha kapal belum tentu disebut Panrita lopi. 2010 2. Panrita lopi. Julukan Panrita lopi sendiri diturunkan generasi ke generasi oleh pembuat kapal pertama. Ia memproduksi empat sampai lima kapal dalam satu tahun bersama orang tuanya ³Keterampilan dalam membuat kapal ini ada karena faktor kebiasaan sejak kecil. seperti kapal tradisional Sandeq di Desa Pambusuang. Masih Setia dengan Kapal Tradisional. Bukan hanya di Tana Beru. Biasanya keuntungan diperoleh tiap satu kapal mencapai sepuluh juta untuk jenis Sandeq race. ³Ini memang sudah menjadi kesenangan saya. Haji Jafar sendiri membuat kapal meskipun tidak ada pesanan.´ jelas Fadli pemilik sekaligus membuat kapal.

. Kebiasaan yang mendarah daging pada masyarakat suku bajo saat ini masih kita dapatkan. seperti kurang kreatif dan produktif. sikap konsumtif dan boros. Masyarakat suku bajo memanfaatkan sumberdaya laut yang ada di sekitar perairan kawasan tempat tinggal mereka sebagai sumber pendapatan/mata pencahariannya yaitu sebagai nelayan tradisional. Suku Bajo adalah salah satu suku laut yang dimiliki oleh Indonesia. Kondisi Sosial Masyarakat Suku Bajo Pada masyarakat suku bajo juga terjadi pergeseran yang mengarah ke yang lebih baik. hal ini yang menjadikan masyarakat bajo pada saat itu tidak menetap tempat tinggalnya dan kemudian berpindah lagi kempat yang lain dengan meninggalkan kerusakan yang parah pada tempat yang awal mereka diami. kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai instrument keberlanjutan hidup merekah sudah mulai tertanam dalam masyarkat suku bajo. serta sikap menutup diri pada pihak-pihak lain. Budaya fasalistik juga masih melekat kuat dalam kepribadian mereka. Sikap-sikap tersebut telah menyebabkan masyarakat Bajo menjadi tidak berdaya. dan petani budidaya rumput laut. cepat puas dengan apa yang diperoleh. 1. pasrah pada nasib. Artinya pada mulanya masyarakat suku bajo tidak memiliki tempat tinggal yang tidak menetap sehingga mereka lebih cenderung merusak laut dengan ulah mereka sendiri seperti membom. dengan kata lain sudah ada pergeseran nilai budaya yang di miliki oleh mereka.MASYARAKAT BAJO (Sri Wuna Sari Nasir F1E1 10 051) Masyarakat Bajo atau biasa disebut juga orang laut masih banyak yang buta huruf. namun secara kuantitas sudah mengalami penurunan. Begitu seterusnya dengan kebiasan yang secara turun temurun merusak laut yang berimbas pada krisis yang dialami generasi mudah suku bajo untuk menggantungkan hidupnya pada laut semata mau tidak mau memaksa mereka juga untuk berbuat yang serupa. membius dan menjarah secara tidak teratur sehingga secara lambat laun laut mengalami kerusakan yang parah dan tidak ada kesadaran secara social untuk kelestarian laut untuk masa depan generasi muda.

Kemudian di bidang pendidikan masyarakat bajo menomor duakan pendidikan seperti yang dipaparkan diatas tadi bahwa sekolah itu sama saja dengan buang-buang waktu. dan untuk mengetahi teknologi harus melalui bengku sekolah.2. Semua ini bisa terjadi karena kemampuan sumberdaya manusia generasi muda masyarakat suku bajo yang semakin meningkat. sebenarnya ini paradigma berpikir yang keliru karena mereka tidak punya kapasitas atau perantara untuk sampai pada sejauh pemikiranya tentang pentingnya dari pada pendidikan itu sendiri. Dan sebenarnya juga orang bajo juga mempunyai jiwa pekerja keras dan pantang menyerah pada keadaan. Kondisi Pendidikan Masyarakat Suku Bajo Pada umumnya masyarakat bajo rata-rata berdomisili di daerah-daerah pesisir yang sangat terpencil dan jauh dari jangkauan media sehingga secara garis besar mereka sangat awam terhadap perkembangan media yang begitu pesat yang diiringi dengan teknologi yang semakin canggih. bahkan sebagian dari masyarakat bajo yang buta aksara. seperti media yang saat ini sangat canggih seperti internet mereka sama sekali tidak bisa mengoperasikannya. Kasadaran lahir tumbuh dari beberapa pengelola yang merasa bahwa pentingya mengetahui perkembangan teknologi. dan lebih baik turun ke laut untuk mencari kehidupan yang dapat menghasilkan uang. Bagi mereka sekolah itu bikin habis waktu mendingan mereka turun di laut mencari dan kemudian hasil dari laut itu mereka jual yang kemudian dapat meenghasilkan uang. Semua ini berawal dari media komunitas yang intens memberikan pendidikan kepada masyarakat suku bajo. masyarakat bajo sendiri seakan tidak perduli dengan perkembangan media dan teknologi yang beredar di dalam masyarakat luas. karena mereka beranggapan tanpa berusaha dalam hal ini turun ke laut mereka tidak bisa makan. Karena kebanyakan dari suku bajo sendiri banyak yang menggantungkan kehidupanya semata-mata pada hasil laut. . Fenomena ini terjadi secara turun temurun dan mereka mengganggap hal biasa dan tidak berpengaruh pada lingkungannya. Dalam tiga tahun tarakhir ini genarasi muda masyarakat bajo berlomba-lomba mendaftarkan diri untuk bersekolah baik itu SMP. SMA. SMP. dan perguruan tinggi. dan SMA. Maka dari itu tidak sedikit dari mereka yang tidak menamatkan pendidikanya sekolah dasar. Selain dari pada pendidikan sebagian besar masyarakat bajo pun gagap teknologi. Jangankan perkembangan media yang begitu pesat masalah pendidikan pun mereka kesampingkan. Hal ini menunjukan sebuah kemajuan yang menggembirakan bagi masyarakat bajo.

4. Akibatnya. Kemiskinan yang melanda rumah tangga masyarakat bajo telah mempersulit mereka dalam membentuk kehidupan generasi berikutnya yang lebih baik dari keadaan mereka saat ini. Masyarakat bajo merupakan masyarakat yang sejahtera karena potensi sumber daya alamnya yang besar. Bukan . Masyarakat bajo biasanya bertempat tinggal di daerah pesisir. kualitas sumber daya manusia tetap rendah dan kemiskinan di kalangan masyarakat Bajo akan diwarisi serta dilanggengkan dari generasi ke genarasi. Karena ketidakmampuan ekonomi orang tuanya. Anak-anak mereka harus menerima kenyataan untuk mengenyam tingkat pendidikan yang rendah. menanggung beban kehidupan rumah tangga. Anak-anak di tuntut untuk ikut mencari nafkah.3. Namun sebagian besar dari masyarakat suku bajo menganggap pendidikan itu bisa didapatkan dilaut. mulai dari mata pencaharian sampai membangun pemukiman yang berada di atas pesisir laut dengan memanfaatkan batu karang. Rumah panggung dibangun tepat di atas permukaan laut. Pemanfaatan terumbu karang dan pasir laut yang berlebihan serta penggunaan alat tangkap yang bersifat merusak ekosistem laut banyak dilakukan oleh masyarakat Bajo. dan mengurangi beban tanggung jawab orang tuannya. laut bagi masyarakat Bajo merupakan tempat nenek moyang mereka yang di percaya sebagai penguasa laut. Menurut Saleh (2002). Karakteristik Masyarakat Suku bajo Dahulu kala masyarakat Bajo kerap berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya mencari sumber kehidupan seperti masyarakat gipsy atau nomaden. sebagian lainnya memilih menetap di lokasi tertentu dengan pola hidup yang sangat sederhana. Kondisi Ekonomi Masyarakat Suku Bajo Masyarakat Bajo merupakan masyarakat yang sangat tergantung pada laut. Namun pada kenyataannya hingga saat ini sebagian besar masyarakat bajo masih merupakan bagian dari masyarakat yang tertinggal dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Bahkan saat ini terjadi pemanfaatan sumberdaya laut pada lokasi-lokasi yang sebenarnya merupakan lokasi perlindungan sumberdaya laut. Masyarakat suku bajo memiliki kehidupan yang bergantung pada laut. Sungguh suatu bentuk kehidupan yang unik yang memerlukan keberanian serta ketangguhan untuk menjalaninya. Segala bentuk kehidupan berlangsung benar-benar di atas laut. di atas gugusan karang. Namun saat ini meskipun masih ada yang meneruskan tradisi berpindah tempat.

2011. Makalah pada Sosialisasi Pengelolaan Berbasis Masyarakat.G.detik. Kondisi Sosial Masyarakat. 2011.com Nunuk. 2011. Kehidupan ekonominyapun bergantung pada hasil ataupun pendapatan setiap harinya. utamidk@jurnal. Diah. 2010. Pemberani Dan Tangguh. D.bangka. Kusumawati. 2001. Suku Bajo dalam Pusaran Modernitas.net .ac. 21-22 September 2001. Suku Bajo: Sederhana.didapatkan dari bangku sekolah. http://siswa.Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat.id Anonim. Bogor.go. http://www. Pengaruh Media Komunitas Terhadap Struktur Sosial Masyarakat Bajo. DAFTAR PUSTAKA Anonim. http://aci. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Secara Terpadu.travel/read Tridarma.id Bengen. 2011. http://suarakomunitas.univpancasila. Kondisi Sosial Ekonomi Budaya Masyarakat.

hingga mencari kehidupan pun dilakukan dengan banyak berinteraksi dengan laut. bagi suku bajo menjadi andalan satu-satuya. di Sulawesi Tenggara. Keunikan Suku Bajo Suku Bajo dikenal dengan Same(sama). Meski akhirnya kini Suku Bajo mulai menetap di darat oleh karena paksaan pemerintah. malaysia. kemudian menempatkan masyarakatnya yag berasal dari Johor itu dalam sebuah daerah yang bernama Bajo. Mereka adalah pelaut tangguh yang memilih untuk hidup di pulau-pulau di tengah laut. Dari banyak interaksi tersebut menyebabkan suku ini banyak tersebar di berbagai daerah di Tanah air. Suku Bajo merupakan suku yang terkenal mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Alkisah. dan belakangan mulai berekspansi ke wilayah kepulauan nusantara lainnya dan membentuk komunitasnya. dahulu kala seorang puteri dari kerajaan Johor hilang entah kemana. Suku ini tinggal menetap diatas perairan Pulau Wakatobi. tidak hanya di seantero negeri johor.Dan mereka menyebut warga di luar sukunya sebagai suku bagai. sang putri lebih memilih untuk tetap tinggal di sulawesi. hingga mendapatkan julukan The Sea Nomads yang berarti hidup dilaut dan tak menetap pada satu tempat.Kehidupan Masyarakat Suku Bajo (Fauzyah Novrini Kasman Arifin F1E1 10 055) Suku bajo terletak di Kepulauan Tukang Besi (dulu) yang sekarang berubah Wakatobi. yang merupakan cikal bakal dari suku bajo. dan sejalan dengan itu orang-orang yang ditugaskan oleh sang raja pun tidak mau lagi kembali ke Johor dan tetap tinggal bersama sang putri. Dari mulai hidup. Sehingga sang Raja memerintahkan pengawalnya untuk mencari sang putri.Suku bajo juga identik dengan manusia perahu oleh karena mereka menggantungkan hidupnya dari perahu. Sang putri yang pada akhirnya menikah dengan Raja bugis tersohor. Sebuah daerah yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya.. tetapi juga sampai ke sulawesi.Pernah disebut dalam sejarah bahwa suku bajo pernah . namun tetap tidak berjarak jauh dari laut. bertempat tinggal. nenek moyang suku Bajo berasal dari Johor. Sejarah Suku Bajo Konon. Laut. Menurut beberapa versi.

kelompok sakai dan kelompok lame. Namun.Mereka menggunakan perahu atau soppe yang di kendalikan dengan dayung dan layar. Kelompok papongka adalah suku bajo yang biasanya mencari ikan di laut selama sepekan atau dua pekan. Mereka bisa berada di ³tempat kerja´nya itu selama sebulan atau dua bulan. Mereka tidak jauh berbeda dengan kelompok papongka. sang nelayan biasanya membawa uang dan berbagai kebutuhan rumahtangga lainnya. mereka baru akan pulang ke rumahnya setelah seminggu atau dua minggu mencari nafkah. waktu yang dibutuhkan pun lebih lama. Biasanya terdiri dari lima atau enam orang anggota papongka. untuk menjual hasil tangkapan atau menikmatinya bersama keluarga. Setelah mendapat ikan. mereka kembali ke darat. Pada saat kembali ke rumah. maka kelompok sakai hitungannya antarprovinsi. mereka adalah manusia pengelana lautan yang telah menjadikan laut sebagai sahabat dan tempat tinggalnya. tidak lagi membawa ikan tangkapan.Kebiasaan mereka bila sudah memperoleh hasil ikan tangkapan atau kehabisan air bersih. yakni kelompok lilibu.Lambat laun mereka juga sudah mulai mengenal daratan sebagai tempat tinggalnya. Dulu.Semua aktivitas bersama keluarga dihabiskan diatas perahu atau soppe seperti biasanya kehidupan di darat. Kelompok lilibu adalah suku Bajo yang biasanya bernelayan di laut hanya satu atau dua hari. .Setelah hasil ikan tangkapan dijual dan merasa sudah mempunyai air bersih.Di mana ada tanjung atau pulau maka di situlah mereka mencari nafkah. Bedanya dengan kelompok lilibu. Sehingga.mereka selalu menyinggahi pulau-pulau terdekat . wilayah kerjanya lebih luas. Karena itu. Bila kelompok papongka hitungannya seluas provinsi.mereka kembali lagi ke laut.menjadi bagian dari Angkatan laut Kerajaan Sriwijaya. Mereka menggunakan perahu soppe yang dikendalikan dayung. Katakanlah. Ada empat kelompok masyarakat suku bajo menurut kebiasaan mereka bernelayan. kelompok papongka. perahu yang digunakan pun lebih besar dan saat ini umumnya telah bermesin. antarpulau. Jadi. Kelompok sakai memiliki kebiasaan mencari ikan yang lebih dasyat lagi.Sehingga ketangguhan dan keterampilannya dalam mengarungi samudera jelas tidak terkalahkan.

mereka memang bakal mengarungi laut lepas hingga menjangkau negara lain. Karena. Dan.Kelompok terakhir. suku bajo sangat percaya pada kearifan lokal dibandingkan dengan instrumen modernitas yang sangat masif berkembang diluar kebudayaan laut suku tersebut. mereka bisa berada di lahan nafkahnya itu hingga berbulan-bulan. kerajinan kain tenun tradisional juga menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan suku bajo. Kain-kain seperti ledja dan kasopa di tenun secara tradisional dengan motif yang khas . khususnya di Wakatobi. Selain sampan sebagai pusat kegiatan ekonomi. Mereka menggunakan perahu besar dengan awak yang besar dan mesin bertenaga besar. kelompok lame bisa dikategorikan nelayan-nelayan yang lebih berkelas. .

Perairan nusantara. penghasilannya tidak menentu karena semua itu tergantung hasil tangkapan dan cuaca. Ada sebagian dari tenaga kerja yang . Faktor yang berasal dari dalam diri masyarakat itu sendiri salah satunya adalah faktor ekonomi. maupun sosial. yakni materi galian pasir yang berada di perairan Indonesia dan tidak mengandung mineral golongan A dan golongan B. Faktor-faktor penyebab adanya kegiatan penambangan pasir beraneka ragam. penambangan pasir laut telah berkembang menjadi polemik nasional. selain menjadi mata pencaharian bagi masyarakat pesisir. Dampaknya seperti nelayan yang kehilangan mata pencarian hingga tenggelamnya sebuah pulau. Faktor pendidikan masyarakat juga berpengaruh. lalu terhadap dalam sedimen di dasar lautan. menurut geologi. Yang ada dalam pemikiran mereka hanyalah bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari dengan mendapatkan uang melalui pekerjaan yang dapat diharapkan hasilnya secara nyata. juga menjadi objek pertambangan pasir dengan keuntungan bisnis yang sangat menggiurkan.Kehidupan Masyarakat Penambang Pasir (Rahmawati Nur Ariyanti F1E1 10 057) Pasir laut. Namun. Kegiatan tepat dan laut berdampak pasir yang laut tepat pengelolaan tidak wilayah dilakukan pada penambangan dengan cara apabila akan daerah yang baik berdampak lingkungan. Contohnya masyarakat pesisir pantai yang dulunya bergantung pada mata pencaharian nelayan. Berbeda jika mereka menjadi penambang pasir yang akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar dari biasanya. Keberlanjutan dari usaha mereka pada jangka panjang tidak menjadi pemikiran mereka. fisik. Sebagian besar masyarakat pesisir adalah hanya lulusan SD. Sedangkan menurut pemerintah yang tertuang dalam keputusan menteri. biologi. yaitu semua materi seukuran pasir dan mengalami proses transportasi. pesisir di Namun. dan penambangan laut. Secara kelautan pasir yang obyektif pasir berkembang pada laut memang bisa disebut salah satu sumber daya menjadi komoditas ekonomi. tidak lulus SD atau bahkan tidak bersekolah sehingga pemahaman mereka tentang lingkungan hidup sangat sedikit.

Kabupaten Kupang. Lain lagi dengan penambang pasir Desa Bago Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. karena dalam mereka hanyalah bagaimana cara untuk mendapatkan uang agar hidup secara layak. Sekarung pasir yang telah bersih dibeli dengan harga Rp. pasir dibiarkan saja di lokasi pengayakan dengan ditutupi ranting-ranting kering. Hari senin merupakan hari yang paling ditunggu oleh warga Dusun 5 yang mayoritas bekerja menambang pasir pantai karena pada hari itu pengumpul dari kota Kupang datang untuk membeli pasir hasil mereka. Dampak positif pada aspek sosial ekonomi dengan adanya kegiatan penambangan pasir dirasakan oleh sebagian masyarakat khususnya masyarakat pesisir.mengerti tentang lingkungan hidup. namun karena tekanan ekonomi membuat mereka terpaksa mengambil keputusan untuk tetap bekerja di penambangan pasir karena tidak mendapatkan pekerjaan yang lain. 90. Sebagai contohnya warga Dusun 5 Desa Poto. penambang mengatakan setengah hari . Kecamatan Fatuleu Barat.untuk hasil kerja selama seminggu. dan alat sederhana lain. dengan pertimbangan alat-alat yang digunakan untuk melakukan penambangan merupakan alat-alat yang sederhana (alat manual) diantaranya sekop & pacul yang berfungsi mengumpulkan dan mengambil pasir serta kerikil. Karena mereka hanya ngayak pasir lalu memasukkan kedalam sak (karung plastik). mereka akan memperoleh penghasilan sekitar Rp. Ibu dua anak ini sehari-harinya bekerja mengumpulkan pasir dari pantai untuk kemudian dijemur dan diayak. Artinya.500. yaitu pengurangan jumlah pengangguran karena sebagian besar masyarakat bekerja sebagai penambang pasir dan peningkatan penghasilan masyarakat. Pengumpul datang datang dengan menggunakan truk sambil membawa karung-karung beras kosong ukuran 20 kg untuk diisi dengan pasir.1750/sak.. Tidak sulit bagi mereka untuk mendapatkan penghasilan yang layak. Bila telah terayak. Faktor dari luar yang menyebabkan adanya penambangan pasir adalah faktor bisnis bagi perusahaan-perusahaan untuk mendapatkan keuntungan yang besar..dan rata-rata setiap keluarga menjual sebanyak 20 karung.000. 4. Kegiatan penambangan pasir merupakan mata pencaharian yang potensial bagi masyarakat-masyarakat pesisir. Beberapa pekerja malah tidak mengetahui tentang lingkungan hidup. sore hari pasir tersebut sudah diambil pengepulnya dengan harga Rp.

Hal tersebut bisa mengubah sistem perairan laut di Indonesia. Tidak hanya pasir yang diangkat. terumbu karang. Dalam proses penambangan tingkat kekeruhan air sangat tinggi. kematian biota laut di dalamnya pun tak bisa dihindari. . Hasil ikan yang diperoleh menjadi berkurang. tetapi telur-telur. serta biota lainnya juga ikut musnah. penambangan yang terjadi secara terus-menerus dan tak terkendali terutama yang dilakukan oleh beberapa perusahaan besar apalagi perusahaan yang tidak memiliki izin untuk dijual. Kasus serupa juga tidak tertutup kemungkinan terjadi di tempat lain di seluruh perairan Indonesia.1. menimbulkan masalah serius bagi keberlangsungan ekosistem laut. Dampak langsung dari kerusakan ini paling dirasakan oleh masyarakat pesisir yang kebanyakan sebagai nelayan. Hal ini disebabkan seluruh isi laut disedot tanpa pandang bulu. Ini tidak bisa ditoleransi. bukan saja semakin menekan keseimbangan ekosistem laut. anak ikan. Pulau tak berpenghuni di Provinisi Kepulauan Riau itu sangat penting perannya. 35. Terumbu karang tercemar. Laju perkembangan perizinan tersebut. Aktivitas penambangan pasir laut memiliki banyak dampak negatif.000. tetapi juga telah menyebabkan jatuhnya harga pasir lantaran melonjaknya volume produksi dengan pembeli satu-satunya. Diperlukan pengaturan khusus agar lokasi penambangan tidak dilakukan pada satu titik. Dampak jangka panjang yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan pasir adalah hilangnya pulau-pulau kecil. Singapura.. Namun. Salah satu pulau kecil dari ribuan pulau yang hampir tenggelam adalah Pulau Nipah. Karena pulau tersebut merupakan tanda dari batas kontinen negara Indonesia dengan Singapura.pendapatanya tidak kurang dari Rp.dengan catatan hanya setengah hari. Perubahan itu secara langsung mengganggu kehidupan biota laut dan lingkungan di dalamnya.jika dijumlahkan dalam satu bulan Rp. Hanya beberapa jenis biota yang bisa bertahan.100.000. seperti ekosistem dan abrasi. Kerusakan yang muncul salah satunya adalah perubahan morfologi dasar laut menjadi tidak beraturan. contohnya ke Singapura.

Selain itu bagi yang sudah mendapat izin.com Harian Umum Pelita tanggal 7 Mei 2009 khan35. serta menindak tegas pelaku penambangan pasir. Daftar Pustaka www. Jangan mudah memberi perizinan.Untuk mengatasi masalah tersebut. Sebaiknya kaji dulu dampak lingkungan yang akan terjadi ke depan. para penegak hukum dan pemberi perizinanan memberantas.blogspot. pemerintah harus menetapkan kedalaman dan kemiringan/keterjalan maksimum lereng pantai yang dapat mencegah terjadinya longsoran di daerah pantai akibat penambangan pasir laut di daerah pantai (aspek geoteknologi).multiplyjournal.com .

dihadapkan pada situasi sulit. yaitu memiliki penghasilan rata-rata antara . sampai membanjirnya garam impor. dalam hal interaksi sosial baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat yaitu mereka tidak hanya berkomunikasi secara langsung. tetapi mereka juga menggunakan alat komunikasi yaitu HP.KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI PETANI GARAM Ririt Yuliarti Taha F1E1 10 058 Garam merupakan komoditi strategis sebagai bahan baku industri dan bahan pangan yang sangat dibutuhkan oleh hampir semua masyarakat. Jika dicermati dan dikaji lebih mendalam. para petani garam juga tidak terlepas dari persaingan dan konflik. dan matahari sebagai sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. kehidupan sosial para petani garam di Desa Aeng Sareh. Kecamatan Sampang. Akan tetapi selama musim hujan para petani garam tidak dapat memproduksi garam. Kehidupan ekonomi para petani garam di Desa Aeng Sareh. Kabupaten Sampang. Mereka juga melakukan kerja sama dengan masyarakat disekitarnya. bahkan ada yang meninggalkan usahanya dan berpindah menekuni mata pencaharian lain. tidak terkecuali para petani garam di Desa Aeng Sareh. terdapat problem yang mendasar yang dihadapi petani garam. air laut. Kabupaten Sampang berdasarkan tingkat pendapatan. khususnya masyarakat yang bertempat tinggal di daerah pesisir. Banyak petani tidak dapat bertahan dengan pilihan usahanya. tetapi dewasa ini kehidupan petani garam di berbagai daerah di Indonesia. Petani garam sebagai anggota masyarakat mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada dimasyarakat. Sedangkan dalam hal pekerjaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat. seperti mengikuti perkumpulan pengajian. Kecamatan Sampang. antara lain menyangkut harga. hal ini mengharuskan para petani garam melakukan berbagai strategi agar dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Di Kabupaten Sampang Air laut dengan sinaran matahari mampu menghasilkan garam yang sejak dulu dikenal sebagai produk utama masyarakat Madura. Problem yang dihadapi petani garam yang tampak kepermukaan. mutu garam yang sangat rendah. yaitu beroperasinya sistem kapitalisme yang mengantarkan mereka pada kondisi yang terpuruk bahkan termarjinalkan. Petani garam bekerja dengan memanfaatkan tanah.

Fenomena itu pada satu sisi menunjukkan bahwa posisi dan status sosial ekonomi petani garam semakin termarjinalkan dan pada sisi yang lain juga dapat dimaknai telah terjadi polarisasi dalam penguasaan lahan garam dan dominasi modal produksi kapitalis.965 ha pada tahun 2000 dan 1. 2005). serta menjual barang-barang berharga untuk memenuhi kebutuhan besar. serta mengaji di surau.449 ha pada tahun 1990 (Jawa TengahDalam Angka.189. Untuk biaya sekolah madrasah sore atau TPA hanya membayar uang SPP sebesar Rp 5000 per bulan. pada tahun 2000 berkurang menjadi 6 perusahaan dan tahun 2005 berkurang lagi tinggal 4 perusahaan (Rembang Dalam Angka 1990.739 orang. Peningkatan terjadi pada jumlah petani penggarap/buruh garap di mana pada tahun 2000 terdapat sebanyak 3. Sedangkan akses untuk mendapatkan pendidikan putra-putrinya yang masih duduk di bangku SD/ Sederajat dan SMP/ Sederajat. pada tahun 1990 terdapat 12 perusahaan. Dari hal ini . sedangkan tingkat pendidikan putra-putri mereka sampai bangku SMA/ Sederajat. Para putra-putri petani garam di Desa Aeng Sareh ini bersekolah Madrasah Sore atau TPA. meminimalisasikan pengeluaran. para petani garam hanya membayar uang listrik sebesar Rp 2000 per bulan. 2000 dan 2005).000 per hari dengan jumlah tanggungan rata-rata antara 4 orang sampai 6 orang. 1991). 1. Dalam hal pendidikan.184. tahun 2000 menurun menjadi 729 orang dan pada tahun 2005 menjadi 718 orang. Di kabupaten Rembang jumlah petani garam pemilik lahan pada tahun 1990 sebanyak 784 orang.Rp 25.986 orang dan pada tahun 2005 menjadi 4. memanfaatkan barang bekas untuk ditukar dengan makanan seperti kerupuk. Strategi yang dilakukan para petani garam dalam mempertahankan hidup yaitu seperti bekerja sambilan. mengikuti arisan dan menabung. Modal produksi kapitalis dalam pemikiran Marx (Morrison. tingkat pendidikan para petani garam hanya menempuh sekolah dasar (SD).184. yaitu 1. seperti biaya pendidikan ditanggung oleh pemerintah. meminjam uang kepada famili dan pemilik warung untuk keperluan yang mendesak. Adapun jumlah perusahaan garam rakyat di kabupaten Rembang juga cenderung menurun. sedangkan untuk biaya mengaji.965 ha pada tahun 2005 (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rembang.000 sampai Rp 45. 1995) lebih didasarkan pada pemilikan individual (private ownership) masing-masing orang terhadap alat-alat produksi dan dalam hal ini kapitalis sebagai pemilik alat produksi dan buruh proletar memiliki kepentingan yang bertentangan. Padahal luas lahan garam relatif tidak berubah.

Selain itu kedua moda produksi tersebut dalam banyak kasus memiliki keterkaitan integratif yang bersifat asimetris. Dalam proses produksi garam. Hal ini jelas sangat berbeda dengan moda produksi kapitalis yang dicirikan oleh hubungan produksi komersial yang berorientasi pada keuntungan (profit). Oleh karena itu struktur penguasaan lahan garam akan menentukan accessibity petani garam pada surplus atas produksinya. tidak terekspresi adanya perhitungan untung-rugi (cost-benefit calculation). Model produksi non kapitalis dalam proses produksi garam di kabupaten. Pemikiran Marx itu dikembang-kan Russel (1989). yaitu moda produksi kapitalis mendominasi moda produksi non kapitalis dan surplus dari beroperas inya moda produksi non kapitalis diserap ke dalam moda produksi kapitalis melalui mekanisme pasar (market mechanism) dan sistem bagi hasil yang dikembangkan. aksesnya rendah bahkan tidak memiliki akses pada surplus dari produksinya dan sebaliknya petani yang menguasai lahan luas memiliki akses untuk dapat menikmati surplus dari produksi garam. lahan merupakan alat produksi yang sangat penting bagi petani garam karena diatas lahan itulah kegiatan produksi mereka lakukan.terjadi proses pemiskinan kaum buruh oleh kaum kapitalis melalui aliran dan akumulasi surplus yang pada hakekatnya merupakan bentuk eksploitasi terhadap kaum buruh dalam proses produksi. Dari hal ini secara sosial ekonomi petani garam yang menguasai lahan terlebih lahan luas relatif lebih maju/kaya dibandingkan dengan petani lahan sempit apalagi petani penggarap/buruh pada umumnya lebih terbelakang/miskin. Dalam hal ini struktur penguasaan lahan juga berpengaruh pada modal produksi yang berkembang. Sebagai indikatornya tercermin dari beberapa hal . Rembang secara empiris dicirikan oleh adanya hubungan produksi subsisten yang terbatas dalam lingkup keluarga (orang tua. petani garam lahan sempit dan yang tidak menguasai lahan garam. bahwa moda produksi kapitalis mempunyai ciri padat modal dan merupakan tipe kelas berstruktur majikan-buruh pada hubungan produksinya. sepupu) dengan dasar hanya untuk dapat survival. yaitu moda produksi kapitalis pada petani lahan luas dan moda produksi non kapitalis/us aha keluarga (household farm) pada petani kecil dan petani penggarap. Artinya. menantu. anak.

Dengan demikian polarisasi penguasaan lahan garam oleh kapitalis secara signifikan ikut memberi kontribusi bagi marjinalisasi petani garam terutama petani kecil dan petani penggarap/buruh. jenis dan pola konsumsi makanan.antara lain: pola kerja/usaha. tetapi pada sisi lain menjadikan petani garam terutama petani petani kecil dan petani penggarap/buruh semakin tidak memiliki akses ke pasar. di satu sisi dapat menjadi indikator bahwa garam merupakan komoditas yang dapat memberi keuntungan signifikan. Dengan demikian petani garam sebagai produsen garam krosok dalam konteks perdagangan garam posisinya termarjinal-kan karena adanya penutupan akses ke pasar oleh pelaku ekonomi di jalur pemasaran. pendidikan.5 ha) maupun buruh garap. Demikian juga dengan kekuatan ekonomi kapitalis baik pada aras lokal maupun supra lokal. Selain itu dominasi kekuatan ekonomi kapitalis atas produksi garam juga ditunjukkan melalui penguasaan mereka terhadap gudang-gudang garam yang merupakan titik pengumpul (collecting point). relasi sosial yang dikembangkan. kondisi perumahan. justru cenderung yang menikmati surplus value bukannya petani produsen. bukan milik petani kecil dan penggarap. pendapatan/hasil yang diperoleh. Petani (lahan sempit dan penggarap) hanya diposisikan . tengkulak maupun mak elar. yaitu tempat pengumpulan garam di tepi/pinggir jalan raya yang dapat dijangkau truk dan sejenisnya milik kaum kapitalis yang menguasai jalur pemasaran garam. Masyarakat Rembang menempatkan garam sebagai komoditas perdagangan yang cukup menarik. Hal ini mengingat petani garam di kabupaten Rembang sebagian besar merupakan petani penggarap baik dari pemilik lahan sempit (< 0. Dalam konteks ini tampak bahwa kelompok-kelompok di luar komunitas petani garam yang bertindak sebagai pelaku ekonomi di jalur pemasaran garam. biasa memainkan komoditas garam di mana mereka itu semuanya bergerak di julur pemasaran garam. pegawai pemerintah maupun pegawai swasta dan pemodal) ikut bermain baik sebagai penyetok. maka pada musim panen banyak kelompok sosial di luar petani garam (seperti guru. hanya sebagian kecil petani garam yang memiliki lahan luas (> 5 ha) yang pada umumnya juga bergerak di jalur pemasaran garam sebagai tengkulak/bakul dan pabrikan (pabrik garam rakyat). Bermainnya kelompok -kelompok sosial lain dari berbagai aras pada jalur pemasaran garam ini.

Adapun petani hanya dapat menjual pada pedagang yang telah dikenal yang bergerak di jalur pemasaran dan permodalan dan mereka ini yang cenderung mempermainkan harga. Kondisi itu diperkuat lagi dengan adanya eksploitasi yang terwujud dalam bentuk relasi usaha antara petani penggarap/buruh dengan petani pemilik dan antara petani kecil dengan pelaku usaha lain di jalur pemasaran dan permodalan serta dengan pabrikan sebagai produsen jadi. http://journal. Petani penggarap/buruh sangat tergantung dan ditentukan secara sepihak oleh pemilik.ac. Dalam mata rantai usaha garam itu penggarap/buruh adalah pihak yang paling kecil mendapatkan keuntungan dan paling rentan dibandingkan dengan lainnya. baru berikutnya petani kecil dan petani besar.id/filerPDF/Petani%20Garam%20dalam%20Jeratan%20Kapitalism e.ac.id/index.pdf . mereka hanya memiliki hak untuk memproduksi garam dengan kewajiban menyerahkan sepenuhnya hak penjualan pada pemilik dan pemiliklah yang menentu-kan harga. Daftar Pustaka 1. agar supaya mereka tetap dapat menguasai dan mendominasi pasar global. karena adanya unsur kesengajaan penutupan akses oleh pihak tertentu pada pihak lain untuk tidak mendapatkan keuntungan dari sumber daya yang ada. http://karya-ilmiah.unair. kekuatan ekonomi kapitalis memiliki kecenderungan untuk dengan sengaja menutup akses pelaku ekonomi lokal dan nasional dapat menembus pasar global. Pada dasarnya kondisi yang demikian sudah dapat dikategorikan sebagai eksploitasi.php/PPKN/article/view/15331 2.sebagai produsen. Sebagaimana pada tingkat global.um.

Salah satu kegiatan perikanan darat yang banyak terdapat di pesisir pantai adalah budidaya ikan bandeng di dalam tambak. Tambak bersalinitas menengah. Usaha budidaya tambak ikan bandeng secara teoritis lebih memberikan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan. mengingat ikan bandeng hingga saat ini tetap menjadi komoditas budidaya yang paling banyak diproduksi dan dikonsumsi di Indonesia.TAMBAK IKAN BANDENG (Karmila F1E1 10 063) Perikanan darat adalah usaha perikanan yang meliputi segala penangkapan dan pemeliharaan ikan yang dilakukan di dalam batas garis pantai. Ikan bandeng dikenal sebagai ikan petualang yang suka merantau. yaitu telah dibuatnya bendungan sebagai tempat penampungan air yang berasal dari air laut serta memiliki sarana saluran air yang memudahkan penambahan air maupun pembuangan air pada waktu panen. Warnanya putih gemerlapan seperti perak pada tubuh bagian bawah dan agak gelap pada punggungnya. Hal ini dikarenakan dalam mengusahakan tambak selain didukung oleh kondisi fisik juga didukung oleh kondisi non fisik yang ada pada lingkungan. yang merupakan sejenis ikan laut yang tersebar dari pantai Afrika Timur sampai kepulauan Timotu. tetapi dekat dengan sungai. berdasarkan salinitasnya tambak dapat dibagi menjadi : a. adalah tambak yang sangat dekat dengan garis pantai. adalah tambak yang terletak sangat jauh dari garis pantai. adalah tambak yang agak jauh dari garis pantai. b. Ikan bandeng ini mempunyai bentuk tubuh langsing mirip terpedo. Usaha budidaya tambak terutama ikan bandeng secara teoritis lebih memberikan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan. Menurut Murtidjo. Dalam membudidayakan ikan bandeng di dalam tambak. dengan moncong agak runcing. Tambak dapat dibangun apabila memenuhi syarat yang paling utama. Tambak bersalinitas rendah. ekor bercabang dan sisiknya halus. ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan sehingga para petani tidak banyak menemui hambatan. Tambak bersalinitas tinggi. sebelah timur Tahiti. c. ketentuan-ketentuan yang perlu diperhatikan : . mengingat ikan bandeng hingga saat ini tetap menjadi komoditas budidaya yang paling banyak diproduksi dan Ikan bandeng mempunyai nama latin chanos-chanos. dan dari selatan Jepang sampai Australia Utara. Menurut Afrianto.

topografi.. 200 % per hari.0-8. keberadaan predator dan kompretitor. ada beberapa faktor lingkungan yang sangat dominan dalam budidaya ikan bandeng. Perencanaan usaha budidaya ikan yang meliputi ukuran unit usaha.PH. 2.Oksigen larut.5 ppm. temperatur air.5. Mampu menjamin ketrsediaan air dan pengairan yang memenuhi persyaratan mutu yang ditentukan.0 0C. Keadaan tanah (letak. . penyediaan air. 2. .Alkalinitas 50-500 ppm. Faktor-faktor fisik kimia yang harus diperhatikan dalam pembuatan tambak adalah: 1. serta kuantitas air.Pergantian air minimal. Menurut Slamet Soeseno.1. .5-31. . Faktor-faktor yang mendukung usaha budidaya ikan bandeng ini meliputi faktor fisik kimia dan faktor non fisik kimia (sosial ekonomi). rantai makanan. 3. Faktor-faktor biologis seperti kesuburan perairan. speciesdominan. pH.Air terhindar dari polusi baik polusi bahan organik maupun an organik.Suhu air. Perencanaan pembuatan tambak yang didasarkan pada pertimbangan biologis dan ekonomis serta cara pengelolaannya. 3. Sifat-sifat perairan pantai dalam kaitan dengan pasang surut dan pasang arus perlu diketahui secara rinci. . . 4. 26. dan kualitas. Elevasi (ketinggian tempat) calon lokasi tambak. Pemilihan tempat atau lokasi dan kondisi lingkungan berdasarkan pada tekstur tanah. 2.Kecerahan 20-40 cm (cahaya matahari sampai ke dasar pelataran). yaitu: 1. dan tekstur tanah). 6. 3. .5-8. Tambak yang diusahakan haruslah dapat memberikan keuntungan dan berlangsung secara terus menerus. Keadaan tanah yang menjadi dasar tambak. . topografi. serta penyakit endemik harus diperhatikan karena mampu mengakibatkan kegagalan proses produksi.

Jadi tekstur tanah ditentukan oleh perbandingan relatif dari ketiga jenis partikel tersebut. salinitas tinggi tidak terlampau mempengaruhi kelangsungan hidup bandeng bila air sering diganti. Pada umumnya pasang surut di Indonesia adalah 1 ± 2 meter. Tanah merupakan tempat untuk tumbuh tanaman dan tempat kehidupan hewan mikroorganisme yang mampu menghancurkan sampah-sampah yang dibuang ke tanah. tetapi bila ada aliran air di atas pematang maka semua bandeng akan keluar dari tambak (berkaitan dengan sifat rheotaksis positip). Tanah yang paling baik adalah tanah paya-paya yang dekat laut dan muara sungai. terutama curah hujan. kecuali di Jawa Timur yang mempunyai ketinggian pasang sampai 3 meter . Namun demikian. perlu diperhitungkan dalam kaitannya dengan osilasi pasang. Tanah datar yang letaknya berada dekat pantai sangat cocok untuk lokasi tambak. Untuk itu. untuk mengurangi biaya produksi maka lokasi yang dipilih sebaiknya tidak termasuk daerah kawasan banjir. Tanah yang baik untuk dijadikan tambak . sebaiknya dipilih lokasi yang beriklim sedang yang tidak mengalami kemarau panjang. Iklim merupakan salah satu fenomena alamiah yang sangat menentukan dalam keberhasilan budidaya. Tanah yang digunakan untuk lokasi tambak dicari di daerah yang masih berada di daerah pasang surut. Oleh karena itu. Pada dasarnya tanah tersusun dari partikel-partikel pasir (sand). Untuk membuat tambak. ketinggiannya harus disesuaikan dengan perbedaan pasang surut. Ketinggian seluruh tempat itu tidak boleh melebihi tinggi permukaan air pasang tertimggi dan juga tidak boleh kurang (lebih rendah) dari permukaan air surut terendah. Pada tanah yang bergelombang sebaiknya dibuat datar terlebih dahulu. Karena ikan bandeng termasuk hewan rheotaksis positip (menentang arus) maka faktor iklim. Pada musim kering. Walaupun banjir tidak sampai merobohkan pematang pada tambak bandeng. Daerah ini jarang mengalami kekeringan dan mempunyai unsur hara yang cukup tinggi. dan debu (silt) yang proporsinya masing-masing akan menentukan teksturnya. pada salinitas tinggi (> 60 ppt) pertumbuhan bandeng lebih lambat dan sangat peka terhadap stress yang diakibatkan oleh rendahnya oksigen terlarut serta gangguan fisik saat panen.Iklim merupakan keadaan rata-rata cuaca dalam jangka waktu tertentu dan dalam suatu wilayah/daerah tertentu juga. Tanah merupakan faktor yang sangat penting dalam usaha pembudidayaan ikan bandeng. Air pasang pada saat curah hujan tinggi biasanya mengakibatkan banjir di kawasan pantai. Di dalam tanah ini mengandung bahanbahan organik yang diperlukan tumbuhan. liat (clay).

secara teknis mudah diaplikasikan dan secara ekonomis menguntungkan. dan pakan secara terencana. Teknologi perbenihannya telah dikuasai dengan baik sehingga pasok benih tidak lagi tergantung pada musim dan benih dari alam. Mampu mentolerir perubahan salinitas mulai dari 0-158 ppt sehingga areal budidayanya cukup luas mulai dari perairan tawar hingga ke perairan laut.2. Budidaya ikan bandeng tidak hanya berkembang di air payau saja namun saat ini juga sedang berkembang di air tawar maupun laut dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). 6. 5. umpan bagi industri perikanan tuna cakalang maupun untuk pasar ekspor. Jaminan pasar baik dalam maupun luar negeri masih terbuka.7-2. 2. Pertumbuhannya cepat (1. pengelolaan air. utamanya di daerah Sulawesi Selatan dengan memanfaatkan perairan payau dan pasang surut. Pakan komersial untuk ikan ini sudah tersedia dalam jumlah cukup hingga ke pelosok desa. sementara . 7. 8. Permintaan ikan ini dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan baik untuk tujuan konsumsi. Ikan ini sangat digemari oleh masyarakat utamanya Sulawesi Selatan. Teknologi budidayanya baik di tambak maupun dalam KJA telah dikuasai dengan baik. 3. Efisien dalam memanfaatkan pakan FCR 1. Mampu hidup dalam kondisi yang padat di keramba jaring apung (100-300 ekor/m3). Teknologi budidaya ikan ini juga telah mengalami perkembangan yang begitu pesat mulai dari pemeliharaan tradisional yang hanya mengandalkan pasok benih dari alam pada saat pasang sampai ke teknologi intensif yang membutuhkan penyediaan benih.adalah tanah yang liat dan berlumpur. Tanah demikian sangat keras dan mempunyai kemampuan yang baik dalam menahan air.6%/hari). INFORMASI TAMBAHAN Budidaya ikan bandeng telah lama dikenal oleh petani dan seat ini telah berkembang di hampir seluruh wilayah perairan Indonesia. Ikan bandeng sebagai komoditas budidaya mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan komoditas budidaya lainnya dalam hal : 1. 4.

Mudah dipantau dan tidak memerlukan pengelolaan air yang khusus seperti di tambak 4. laguna. Mudah dalam pemanenan baik selektif maupun total 3. teluk. legalitas. Dagingnya kenyal dengan aroma yang khas sehingga sangat digemari sebagai ikan bakar di warung-warung sea food 5. Produktivitasnya tinggi (350-400 kg/keramba 6 m3/musim tanam 6 bulan) 5. Sisik bersih dan mengkilat 2. industri. Kandungan asam lemak Omega-3 relatit tinggi jika dibandingkan dengan bandeng yang diproduksi pada tambak 4. Tidak berbau lumpur 3. tata lelak. Penggunaan keramba jaring apung untuk budidaya bandeng di laut memiliki beberapa kelebihan di antaranya: 1. Skala usaha dapat disesuaikan dengan kemampuan modal dengan menggunakan bahanbahan yang tersedia di lokasi budidaya. Efisien dalam penggunaan lahan 2. Pengkajian tentang kelayakan lokasi. dan desain keramba telah banyak dilakukan. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perairan seperti tersebut di atas layak untuk dijadikan lokasi budidaya dengan sistem keramba jaring apung. dan pariwisata yang pada gilirannya akan berdampak pada penurunan produksi. Ukurannya bisa mencapai 600-800 g/ekor sesuai dengan permintaan pasar . Demikian halnya dengan ikan bandeng yang diproduksi dalam keramba jaring apung dapat memiliki standar kualitas ekspor yaitu: 1. dan perairan semacamnya yang memenuhi persyaratan baik teknis. maupun lingkungannya. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi budidaya bandeng adalah dengan memanfaatkan perairan laut seperti muara sungai. sosial ekonomi.areal budidayanya di darat semakin hari semakin menciut akibat banyaknya lahan tambak yang dikonversi untuk kebutuhan pembangunan lain seperti untuk perumahan.

500 ha dan tersebar di beberapa provinsi di Indonesia Dari luasan tersebut dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan dalam keramba jaring apung seluas 1% atau 3. dan daerah lainnya di Indonesia. Potensi Sumber Daya Hasil identifikasi yang telah dilakukan terhadap wilayah pesisir dan laut. utamanya dalam hal bobot. Bali. http//: www. konsistensi mutu. don pasar swalayan khususnya di Kota Madya Makassar diperkirakan mencapai 6 ton per hari. 2005 . nampak bahwa lahan yang potensial untuk kegiatan budidaya laut diperkirakan mencapai 1. dan penampilan fisik. Dukungan lptek Teknologi budidaya bandeng dengan sistem keramba jaring apung di laut mulai dirintis oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP) Maros sejak tahun 1993. dan sejak saat itu rutin dilakukan percontohan di berbagai daerah di Indonesia. Riau. Batam. 2008. Saat ini budidaya bandeng dengan sistem KJA tersebut telah berkembang di beberapa daerah seperti Maluku.Prospek Pengembangan Peluang Pasar Hasil penelitian sederhana yang dilakukan oleh Atjo & Syahrun (2000). hotel. dan saat ini baru terpenuhi 25%. diperoleh data bahwa kebutuhan ikan bandeng untuk pasar spesifik berupa rumah-rumah makan sea food. Dari potensi tersebut yang layak untuk budidaya ikan adalah 369.9 jute ha. Kriteria-kriteria yang dipersyaratkan tersebut akan dapat dipenuhi dan hasil budidaya bandeng yang berasal dari keramba jaring apung di laut.com/berita/ form98677 Warta Penelitian Perikanan Budidaya Volume II Nimor 1. Sulawesi Selatan. Sulawesi Tenggara. ukuran. rasa. Selanjutnya dikatakan bahwa problem utama yang dihadapi adalah kontinyuitas produksi. DAFTAR PUSTAKA Budidaya Bandeng.tribun-timur.695 ha.

dewasa ini sudah ada dari sebagian penduduk yang tidak percaya terhadap adatadat seperti pesta laut tersebut. Begitu juga dengan posisi nelayan sosial. 2002)2. masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa transportasi dan lain-lain. Dilihat dari aspek pengetahuan. supplier factor sarana produksi perikanan. keras. dilihat dari aspek kepercayaan. Dalam bidang non-perikanan. maka pendapatan yang mereka inginkan tidak bisa dikontrol.³nelayan menghadapi sumberdaya yang bersifat open acces dan beresiko tinggi. aspek pengetahuan. ³Masyarakat pesisir itu sendiri dapat didefinisikan sebagai kelompok orang atau suatu komunitas yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir´. dan posisi nelayan sosial. pengolah ikan. petani mempunyai pendapatan yang dapat dikontrol karena pola panen yang terkontrol sehingga hasil pangan atau ternak yang mereka miliki dapat ditentukan untuk mencapai hasil pendapatan yang mereka inginkan. Karakteristik masyarakat pesisir berbeda dengan karakterisik masyarakat agraris atau petani.KEHIDUPAN MASYARAKAT PESISIR (Inda Permatasari Ridwan F1E1 10 064) Berdasarkan pendapat Nikijuluw dalam Dietriech (2001). pada umumnya. masyarakat pesisir mendapat pengetahuan dari warisan nenek moyangnya misalnya mereka untuk melihat kalender dan penunjuk arah maka mereka menggunakan rasi bintang. Selain itu. dan terbuka´ (Satria. Hal tersebut menyebabkan masyarakat pesisir sepeti nelayan memiliki karakter yang tegas. nelayan bergolong kasta rendah. buruh nelayan. kepercayaan (teologis). masyarakat pesisir masih menganggap bahwa laut memilki kekuatan magic sehingga mereka masih sering melakukan adat pesta laut atau sedekah laut. . Mereka terdiri dari nelayan pemilik. Namun. Dari segi penghasilan. pedagang ikan. Mereka hanya melakukan ritual tersebut hanya untuk formalitas semata. Sementara. Berbeda halnya dengan masyarakat pesisir yang mata pencahariannya didominasi dengan pelayan. karakteristik masyarakat pesisir dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya. Pelayan bergelut dengan laut untuk mendapatkan penghasilan. pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya.

Pemberdayaan masyarakat berbasis masyarkat merupakan salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan dan ketidakberdayaan yang dialami oleh masyarakat pesisir khususnya para nelayan. ³Biasanya patron memberikan bantuan berupa modal kepada klien. adalah pola . Hal tersebut merupakan taktik bagi patron untuk mengikat klien dengan utangnya sehingga bisnis tetap berjalan´ (Satria. berkaitan dengan permukiman/tempat tinggal mereka. dan terbuka memerlukan berbagai strategi dan kegiatan. Dalam hal ini peranan aktif LSM sangat membantu dalam mengarahkan strategi pembangunan yang diperlukan masyarakat pesisir dan menunjang pengelolaan sumberdaya lingkungan laut di sekitar tempat tinggal mereka misalnya budidaya perikanan . Masyarakat pesisir yang memiliki karakter tegas. namun konflik yang mendominasi adalah persaingan antar nelayan dalam memperebutkan sumberdaya ikan yang jumlahnya terbatas. Namun. masyarakat pesisir memiliki ciri yang khas dalam hal struktur sosial yaitu kuatnya hubungan antara patron dan klien dalam hubungan pasar pada usaha perikanan.yang bersifat fleksibel agar dapat berubah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka. Oleh karena itu. 2002)3. menunjukkan adanya keragaman. Selain itu LSM harus mampu memberikan masukan dan kritikan bagi strategi pengembangan dan pengelolaan kawasan pesisir. Dari masalah utang piutang tersebut sering terjadi konflik.Secara sosiologis. Pengelolaan ini dilakukan dengan kegiatan nyata yang sesuai dengan warna dari kultur masyarakat setempat. sangatlah penting adanya pihak yang dapat mengembangkan sumberdaya laut dan mengatur pengelolaannya. tidak sedikit pula program-program yang tidak berhasil karena tidak sesuai dengan harapan masyarakat dan tidak ada keberlanjutan dari masyarakat. Program-program yang telah dilakukan pemerintah untuk pemberdayaan masyarakat pesisir telah banyak menghasilkan manfaat dan membantu meningkatkan pendapatan masyarakat. keras. Contoh yang menunjukkan bagaimana masyarakat yang tinggal di tepi pantai mengadaptasikan dirinya. Beberapa contoh adaptasi yang berkaitan dengan tempat tinggal Adaptasi yang dilakukan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir pantai dan menggantungkan sumber penghidupannya dari sumber daya yang ada.

masyarakat dengan sengaja membuat jebakan-jebakan sedimen lumpur di pantai untuk mendapatkan lahan baru atau memperluas lahan yang sudah ada untuk kepentingan kegiatan tambak. Upaya seperti ini dilakukan oleh masyarakat sebagai respon atas semakin terbatasnya lahan yang mereka miliki/kuasai.mangrove atau ³menciptakan´ lahan-lahan baru yang dapat digunakan sebagai lokasi permukiman dan. terutama.permukiman kelompok masyarakat Kampung Laut di kawasan Sagara Anakan atau daerahdaerah lain yang mengembangkan dan membangun rumah-rumah mereka di atas tiang-tiang pancang yang relatif tinggi yang menyesuaikan kepada pasang surut laut yang terjadi secara reguler.ipb. Daftar Pustaka http://famif08. di beberapa tempat seperti di kawasan pantai Kabupaten Bekasi. mereka juga mengembangkan permukimannya.student.ac.wordpress.com/2011/10/08/proses-adaptasi-manusia-di-lingkunganpesisir/ . sebagai lahan usaha. Sejalan dengan munculnya lahan-lahan baru (³tanah timbul´). Sebagai contoh.id/2010/06/20/masyarakat-pesisir/ http://ngurahadisanjaya. pertumbuhan penduduk yang tinggi mendorong penduduk di kawasan pantai untuk merambah/membuka kawasan hutan . Selain contoh di atas. pada banyak kasus.

Sehingga usaha budidaya rumput laut merupakan salah satu sumberdaya yang berbasis keunggulan untuk menggerakkan perekonomian masyarakat di daerah pesisir. Budidaya rumput laut memiliki peran penting dalam rangka meningkatkan produksi perikanan. pemerintah telah mewujudkan tiga pilar pembangunan. 2004). yaitu´ Indonesia penghasil produk perikanan terbesar tahun 2015´. Guna mendukung visi dan misi tersebut maka usaha budidaya rumput laut merupakan salah satu jawaban dan pilihan yang paling tepat. Perwujudan dari pada tiga pilar tersebut. Berbagai keragaman jenis rumput laut hidup di daerah pesisir maupun yang hidup dalam tambak merupakan cerminan dari potensi rumput laut yang ada di Indonesia.Sosial Ekonomi Pembudidaya Rumput Laut (Aulia Fahdilah Tasruddin F1E1 10 068) Indonesia adalah Negara kepulauan dengan wilayah lautan yang sangat luas yaitu 70 % dari seluruh wilayah Indonesia. Di perairan Indonesia hidup berbagai biota laut. salah satu di antaranya yaitu rumput laut. . salah satu pengembangan kegiatan ekonomi yang sedang digalakkan pemerintah adalah pengembangan budidaya rumput laut. pro-job (penyerapan tenaga kerja) dan pro-growth (pertumbuhan). Pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia dirintis sejak tahun 1980-an dalam upaya merubah kebiasaan penduduk pesisir dari pengambilan sumberdaya alam ke arah budidaya rumput laut yang ramah lingkungan dan usaha budidaya ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya juga dapat digunakan untuk mempertahankan kelestarian lingkungan perairan pantai (Ditjenkan Budidaya. Dalam pembangunan diwilayah pesisir. Untuk menunjang program pembangunan kelautan dan perikanan tersebut. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan visi dan misi. Sebagai jawaban dari pada visi dan misi tersebut adalah dengan ketersediaan SDM yang terampil dan kompoten dalam bidang budidaya khususnya budidaya rumput laut. Melalui program ini diharapkan dapat merangsang terjadinya pertumbuhan ekonomi wilayah akibat meningkatnya pendapatan masyarakat setempat. yaitu pro-poor (pengentasan kemisknan). Upaya meningkatkan produksi rumput laut dapat ditempuh melalui usaha budidaya dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relative sederhana dan biaya produksi yang murah.

2001). Namun yang dimanfaatkan baru mencapai 2.65 ton. Dengan teknologi tersebut produksi rumput laut kering mencapai 1. Wolo. umur panen singkat hanya 45 hari. (2) tersedianya lahan untuk budidaya yang cukup luas serta (3) mudahnya teknologi budidaya yang diperlukan (Departemen Kelautan dan Perikanan.869 rumah tangga perikanan (RTP).500 .574 juta ton.082 juta ton atau melewati target yang telah ditetapkan KKP sebesar 2. Latambaga.Pengembangan budidaya rumput laut merupakan salah satu alternatif pemberdayaan masyarakat pesisir yang mempunyai keunggulan dalam hal : (1) produk yang dihasilkan mempunyai kegunaan yang beragam. dengan jumlah pembudidayaan 5. Produksi rumput laut Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Rumput laut Indonesia sudah diakui secara internasional sebagai bahan baku utama untuk sejumlah industri pengolahan rumput laut dunia.900 kelompok atau 17. yang dimanfaatkan seluas 4.600 orang. Wundulako. serta pulau-pulau kecil (8 buah). atau 28.5 juta Ha.1 juta Ha atau sekitar 46. lahan dan bibit mudah dan murah.2. Eucheuma denticulatum (spinosum) dan Gracilaria sp.130 Ha.600 orang. Pomalaa.000 kg/Ha yang sebelumnya hanya 700 kg/ Ha. seperti Kappaphycus awarezii (cottoni). Sementara potensi lahan untuk pengembangan budidaya rumput laut Indonesia seluas 4. Sementara produksi nasional tahun 2010 sebesar 3. Daerah pengembangan rumput laut telah meluas dan tersebar di beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Kolaka. Teknologi budidaya rumput laut yang diterapkan oleh masyarakat saat ini yakni long line dengan menggunakan tali PE. karena itu produksi per minggu sekitar 177.6 % dari potensi yang ada. produksinya baik dengan harga bersaing. khususnya jenis rumput laut yang hanya tumbuh di lautan tropis. dengan 43 desa pesisir. Pengembangan kelompok budidaya juga ditingkatkan. Khusus budidaya rumput laut di Kolaka hingga tahun 2010. meningkat di tahun 2010-2014 sebanyak 2. Produksi rumput laut menyumbang utama . Samaturu. Selain itu teknologi yang digunakan cukup sederhana. biaya investasi dan biaya produksi relatif murah. dan Watubangga.000 Ha yang terletak di sepanjang pesisir dan pulau-pulau kecil.500 orang di tahun 2008. dari 250 kelompok atau 1. Tanggateda. atau kira-kira 17. Saat ini rumput laut merupakan salah satu komoditas prioritas dan unggulan bagi Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. Hal ini disebabkan rumput laut termasuk jenis komoditi yang mudah dibudidayakan. Dimana panjang garis pantai Kabupaten Kolaka 295 km. Potensi pengembangan budidaya laut di Kabupaten Kolaka lebih kurang 17.525 ton/tahun.

Dengan semakin luas dan meningkatnya pemanfaatan rumput laut bagi keperluan bahan baku industri maka prospek usaha budidaya dan perdagangan rumput laut semakin cerah.1 miliar. menyiapkan anggaran bagi kelompok pembudidaya rumput laut pemula. Syamsuddin bekerja sebagai penambang pasir. Sebelum menjadi petani rumput laut. . Setelah kering hasil panen tersebut dimasukkan ke dalam karung nilon kapasitas 70-80 kg untuk kemudian disimpan dalam gudang penyimpanan. Kegiatan pemasaran rumput laut di Kabupaten Kolaka dimulai dengan sistem pemasaran lokal (pedagang pengepul). Ditambah lagi pengembangan kebun bibit rumput laut menjadi 8 unit. telah dapat meningkatkan pendapatan nelayan dan pembudidaya ikan sampai dengan Rp3 juta ± Rp 5 juta per bulan. Salah satu petani rumput laut yang mengalami kenaikan tingkat kesejahteraan karena rumput laut adalah Syamsuddin (40). Selain itu. pembangunan jalur dan batas-batas kawasan budidaya rumput laut guna menghindari konflik pemanfaatan kawasan. kemudian pedagang tersebut menjualnya ke eksportir yang ada di Makassar dan Surabaya. dengan anggaran yang tadinya masing-masing Rp75 juta menjadi Rp1. dengan nilai anggaran dari masing-masing Rp65 juta menjadi Rp520 juta. Dampak positif terhadap ekonomi masyarakat pembudidaya melalui budidaya rumput laut. pemerintah daerah juga memberikan peningkatan anggaran untuk pengadaan mesin katinting. Namun karena pendapatannya tidak membaik.574 juta ton pada tahun 2009 menjadi 3. dari sebesar 2. bapak 4 orang anak ini akhirnya mencoba untuk ikut dalam kelompok tani pembudidaya ikan untuk budidaya rumput laut (Pokdakan) Bina baru di Kelurahan Mangolo Kecamatan Latambaga Kolaka pada tahun 2009. Kabupaten Kolaka berencana melakukan pengembangan produksi rumput laut dengan perluasan areal budidaya dari 4. Proses pengolahan rumput laut yang telah dipanen diawali dengan proses pengeringan selama 3-4 hari di atas para-para dengan kisaran kadar air lebih kurang 32-35%.000 Ha di tahun 2014.produksi perikanan budidaya. warga kelurahan Kolakasih Kecamatan Lantambaga Kabupaten Kolaka. dan menyiapkan dana penguatan modal dengan pola kredit lunak sebesar Rp5 miliar.082 juta ton pada tahun 2010.130 Ha di tahun 2010. Setiap tahun produksi rumput laut terus mengalami peningkatan. Begitu juga dengan pembangunan gudang penyimpanan rumput laut 15 unit. Masih ada sekitar 7 ribu Ha areal pengembangan budidaya rumput laut yang belum dimanfaatkan. menjadi 5.

500 untuk bentang ukuran 50 meter. dan Rp3.go.2004/budidayarumputlaut// diambil pada tanggal 28 desember 2011 jam 12.500 untuk bentang ukuran 25 meter.20 http://DitjenkanBudidaya. Daftar Pustaka Sumber dari situs : http://www.16 http://kendariekspres. Selang dua tahun ia sudah memiliki 900 bentang dengan panjang 25 dan 50 meter. Syamsuddin lalu mencoba menanam dan panen dengan hasil maksimal.php?pg=artikeldetail&articleid=2837 diambil pada tanggal 28 Desember 2011 jam 12.setkab.com.id/mobile/index. Melihat potensi produksinya tinggi dengan masa tanam 40 hari sudah bisa dipanen. Saat ini ia bisa menikmati hasil penjualan rumput kering sebanyak 1 ton setiap kali panen dengan harga jual ke pengepul sebesar Rp9 ribu ± Rp10 ribu per kg. ´Saya sangat bahagia karena kini bisa meningkatkan penghasilan saya dan merekrut tenaga kerja karena budidaya rumput laut. Berkat dukungan teman-teman kelompoknya.Saat itu ada bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka berupa tali PE untuk bentang tanaman rumput laut bagi petani. Syamsuddin menerima bantuan 70 bentang tali PE masing-masing sepanjang 25 meter.´ ujarnya.com/content/view/13324/52/ diambil pada tanggal 28 Desember 2011 jam 13. Ia juga mendapat penyuluhan bagaimana budidaya rumput laut yang benar. Ia bahkan mampu mempekerjakan 10 orang untuk membuat bentang bibit dengan upah Rp2.23 .

tetapi pertumbuhannya akan sangat lambat. Karang memerlukan salinitas yang tinggi untuk tumbuh. Karang membutuhkan perairan dangkal dan bersih yang dapat ditembus cahaya matahari yang digunakan oleh zooxanthellae untuk berfotosintesis. Pertumbuhan karang pembentuk terumbu pada kedalaman 18 ± 29 m sangat lambat tetapi masih ditemukan hingga kedalaman iebih dari 90 m. Namun hanya sebagian yang menghasilkan kalsium karbonat pembentuk terumbu. Masih dapat tumbuh pada suhu diatas dan dibawah kisaran suhu tersebut.KEHIDUPAN MASYARAKAT PENAMBANG BATU KARANG (Febrizah F1E1 10 077) Terumbu karang adalah struktur hidup yang terbesar dan tertua di dunia. Untuk sampai ke kondisi yang sekarang. terumbu karang membutuhkan waktu berjuta tahun. Itulah sebabnya terumbu karang banyak ditemukan di perairan tropis seperti Indonesia dan juga di daerah sub tropis yang dilewati aliran arus hangat dari daerah tropis seperti Florida. dan kondisi perairannya. di sekitar mulut sungai atau pantai atau sekitar pemukiman penduduk akan lambat karena karang membutuhkan perairan yang kadar garamnya sesuai untuk hidup. Yang ada di perairan Indonesia saat ini paling tidak mulai terbentuk sejak 450 juta tahun silam. Terdapat ribuan spesies yang hidup di kawasan terumbu karang. Organisme pembentuk terumbu yang terpenting adalah hewan karang. Tergantung dari jenis. Terumbu karang dapat tumbuh dengan baik di perairan laut dengan suhu 21° ± 29° C. terumbu karang umumnya hanya tumbuh beberapa mm saja per tahunnya. Amerika Serikat dan bagian selatan Jepang. Fungsi Terumbu Karang y Pelindung ekosistem pantai . oleh karena itu.

y Mempunyai nilai spiritual . menyelam dan menikmati terumbu karang per tahun. Diperkirakan. y Daerah Penelitian Penelitian akan menghasilkan informasi penting dan akurat sebagai dasar pengelolaan yang lebih baik. masih banyak jenis ikan dan organisme laut serta zat-zat yang terdapat di kawasan terumbu karang yang belum pernah diketahui manusia sehingga perlu penelitian yang lebih intensif untuk mengetahui µmisteri¶ laut tersebut. y Objek wisata Terumbu karang yang bagus akan menarik minat wisatawan sehingga meyediakan alternatif pendapatan bagi masyarakat sekitar. termasuk didalamnya 30 juta yang bergantung secara total pada terumbu karang sebagai penhidupan. Karenanya banyak hewan dan tanaman yang berkumpul di sini untuk mencari makan. Diperkirakan sekitra 20 juta penyelam . Sekitar 500 juta orang di dunia menggantungkan nafkahnya pada terumbu karang. y Sumber obat-obatan Pada terumbu karang banyak terdapat bahan-bahan kimia yang diperkirakan bisa menjadi obat bagi manusia.Terumbu karang akan menahan dan memecah energi gelombang sehingga mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan di sekitarnya. Saat ini banyak penelitian mengenai bahan-bahan kimia tersebut untuk dipergunakan untuk mengobati berbagai manusia. ini artinya terumbu karng mempunyai potensial perikanan yang sangat besar. dan berlindung. Bagi manusia. Selain itu. memijah. baik untuk sumber makanan maupun mata pencaharian mereka. y Rumah bagi banyak jenis mahluk hidup di laut Terumbu karang bagaikan oase di padang pasir untuk lautan. membesarkan anaknya. terumbu karang yang sehat dapat menghasilkan 25 ton ikan per tahunnya.

23% terumbu karang di Indonesia yang berada di dalam kondisi yang sangat baik. Lebih lanjut. hasil survey P2O LIPI (2006) menyebutkan bahwa hanya 5.Bagi banyak masyarakat. Laporan status terumbu karang dunia yang dikeluarkan Global Coral Reef Monitoring Network (GCRMN) menyebutkan bahwa selama 2004 hingga 2008 luasan area terumbu karang semakin menurun. Di Indonesia sendiri 34% berada dalam kondisi sangat buruk 42% agak baik sedang hanya 21% dalam kondisi sehat dan 3 % sangat sehat. laut adalah daerah spiritual yang sangat penting. 15% terancam hilang 10-20 tahun kedepan dan 20% luasan terancam hilang 20-40 tahun mendatang. . Dalam periode 2004 hingga 2008. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan terumbu karang saat ini dalam kondisi yang menghawatirkah mulai dari kondisi ozon kita saat ini yang merupakan efek dari rumah kaca. proporsi penurunan kondisi terumbu karang Indonesia telah meningkat dari 10% menjadi 50%. 19% luasan terumbu karang dunia telah hilang. Laut yang terjaga karena terumbu karang yang baik tentunya mendukung kekayaan spiritual ini. Kondisi Terumbu Karang Pada laporan Reef at Risk (2002) menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan status terumbu karang yang paling terancam. Selama 50 tahun terakhir.

lapangan bola. jalan. walaupun banyak sekali masyarakat yang sadar bahwa kegiatan mereka dapat merusak ekosistim terumbu karang. Karang yang diambil dipergunakan untuk membuat bangunan/rumah. Jenis yang umum diambil adalah karang batu (stony coral. Dengan begitu maka masyrakat yang tinggal di bagian pesisir yang akan mendapatkan imbasnya dan masyarakat yang ikut melakukan penambangan maupunn pengambilan terumbu karang akan merasakan akibatnya secara langsung pada musim-musim tertentu . Penambangan karang berpotensi menghancurkan ribuan meter persegi terumbu dan mengubah terumbu menjadi gurun pasir bawah air. Dampak Bagi Kehidupan Dari Penambangan dan Pengambilan Batu Karang 1. Di Lombok (Mataram). Pada daerah-daerah yang tidak memiliki bahan galian seperti batu yang dapat dipakai dalam pembuatan bangunan atau untuk memperoleh bahan-bahan bangunan tersebut sangat jauh. sehingga alternatif termudah adalah mengambil dari terumbu karang. terutama batu pada suatu daerah. (banyak kasus di Maluku.bencana alam dan masih banyak lagi yang diantaranya oleh karena ulah dari perusahaanperusahaan penambangan yang tidak melakukan peraturan-peraturan yang telah diberikan baik yang telah mendapatkan surat izin terlebih lagi penambangan legal Adapun lagi sekarang yang merupakan ulah dari masyarakat setempat yang melakukan penambangan maupun pengambilan yang kita ketahui bersama bahwa pengambilan karang merupakan kegiatan merusak terumbu karang yang banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir pada umumnya. Porites spp) dan tidak jarang karang yang diambil tersebut masih hidup. Kalimantan Timur). Di Sulawesi Selatan. ribuan meter kubik karang batu dan sebagian besar merupakan karang hidup dipakai untuk membuat tanggul-tanggul tambak yang diambil dari terumbu karang pada bagian depan tambak. perlindungan terhadap ekosistem pantai akan berkurang karena tidak mampu lagi memecah energy gelombang untuk mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan sekitarnya. karang yang ditambang digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan kapur. Penyebab utama penambangan karang adalah tidak tersedianya bahan bangunan. maka penambangan karang merupakan alternatif yang terbaik dan termudah yang dapat dilakukan.

dan yang paling fatal bila terjadi bencana alam di laut maka tak ada lagi yang dapat meredam ombak. 2. .Rumah yang digunakan bagi banyak jenis makhluk hidup di laut ini akan hilang, yang artinya bagi manusia potensial perikanan yang sangat besar dengan adanya terumbu karang tersebut akan berkurang dan untuk sumber makan maupun mata pencaharian mereka akan semakin sulit karena diperkirakan, terumbu karang yang sehat dapat menghasilkan 25 ton ikan per tahunnya. Sekitar 500 juta orang di dunia menggantungkan nafkahnya pada terumbu karang, termasuk didalamnya 30 juta yang bergantung secara total pada terumbu karang sebagai penghidupannya. Dengan begitu maka pendapan dan kehidupan bagian pesisirpun akan menurun dan ini akan sangat dirasakan oleh para nelayan sekitar atau yang berpencaharian disekitar pesisir.

3. Pencarian obat-obatan dengan terumbu karang akan semakin sulit dan akan semakin meningkat harganya.

4. Objek wisata yang juga merupakan sumber pendapan bagi sebagian masyarakat sekitar akan menurun. Dalam hal ini maka pemerintah harus lebih giat dalam melakukan peninjauan pada daerahdaerah tersebut dan memberikan pengetahuan yang penting pada masyarakat sekitar agar masalah-masalah yang dapat timbul bisa berkurang. Dengan begitu maka mata pencaharian maupun sumber makanan bagi mereka akan tetap ada dan kebersihan lautpun akan tetap terjaga dengan begitu maka kualitas hidup masyarakat pesisirpun akan semakin baik. Selain itu juga peraturan maupun hukum yang telah ada untuk perlindungan terhadap terumbu karang harus lebih ditegakkan agar para perusahaan maupun masyarakat yang melakukan penambangan tidak menimbulkan akibat yang dapat merugikan. Selain berpengaruh pada masyarakat sekitar maupun perusahaan penambangan terumbu karang juga memberikan keuntungan kepada Negara seperti di Negara kita Indonesia memberikan keuntungan pendapatan sebesar US$1,6 milyar/tahun. Nilai keseluruhan pelayanan dan sumber dayanya sendiri diperkirakan mencapai setidaknya US$ 61,9 milyar/tahun.

Oleh sebab itu pemberian pengetahuan tentang pentingnya terumbu karang kepada masyarakat pesisir sangatlah penting karena bagaimana cara hidup mereka saat ini juga dapat menimbulkan akibat ataupun gambaran kehidupan mereka kedepannya sebab mereka yang dapat merasakan langsung akibat perbuatan yang mereka lakukan.

Referensi http://www.terangi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=8%3Afaktor-faktoryang-merusak-terumbu-karang&catid=17%3Aterumbukarang&Itemid=12&lang=id#ixzz1hqSixN8I

³ Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Non Perikanan´ (Rika Hardiyanti Pagala F1E1 10 083)

( PENENUN )

Pembahasan : Populasi masyarakat pesisir didefinisikan sebagai kelompok orang yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir.

Mereka terdiri dari nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya, pedagang ikan, pengolah ikan, supplier faktor sarana produksi perikanan. Dalam bidang non-perikanan, masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa pariwisata, penjual jasa transportasi, serta kelompok masyarakat lainnya yang memanfaatkan sumberdaya non-hayati laut dan pesisir untuk menyokong kehidupannya. Terutama yang akan saya bahas yaitu masyarakat pesisir yang mata pencahariannya adalah menenun. Penenun merupakan pekerjaan populer bagi kaum hawa,terutama yang hidup dan bermukim di daerah pesisir maupun daerah yang terpencil. Menenun adalah kebiasaan dan tradisi sehat yang diwariskan secara turun temurun. Bahkan hanya dengan melihat secara terus menerus kebiasaan ibu-ibu mereka, gadis-gadis remaja dengan sendirinya bisa memulai menenun tanpa harus diajari. Kebiasaan, ketekutan, konsistensi dan selanjutnya adalah penemuan atas media penyaluran kreatifitas dan ekspresi, yang membuat para gadis remaja itu terpanggil untuk melanjutkan tradisi dari nenek moyang mereka.

berikut adalah fungsi dari kain tenun: 1. Sebagai penunjuk status social. Sebagai mahar dalam perkawinan dalam bahasa daerah disebut sebagai ³belis´ nikah. 2.Gambar para gadis yang melanjutkan warisan nenek moyangnya yaitu menenun Kain tenun mempunyai banyak fungsi penggunaan di masyarakat. Sebagai busana dalam tari adat dan upacara adat. selain sebagai mata pencahrian. Sebagai pemberian dalam acara kematian dan sebagai wujud penghargaan. 3. Sebagai busana untuk penggunaan sehari-hari dan mentupi badan. 6. 5. Sebagai alat barter/transaksi . 7. 4. Sebagai alat untuk membayar hukuman jika terjadi ketidakseimbangan.

perempuanperempuannya menenun kain khas Maringkik. Proses menenun satu kain memakan waktu 7-14 hari. Sebagai bentuk penghargaan bagi tamu yang datang berkunjung. Termasuk juga keluhan mereka tentang susahnya memasarkan tenunan Maringkik. Lebih jauh dari itu. pemerintah daerah setempat dapat membantu mereka untuk memberikan pelatihan-pelatihan untuk peningkatan mutu dan kualitas tenunan. Tenun khas Maringkik berkembang alami sesuai kemampuan dan keahlian para penenun tradisional ini. hasil tenun mereka dipasarkan di pulau Maringkik serta di Tanjung Luar dan sekitarnya. corak Tanjung dan yang mulai langka adalah tenun Mandar Tenunan khas pulau Maringkik dijual dengan harga Rp 200. Contohnya Dari dermaga Desa Tanjung Luar yang berada di bagian Selatan Pulau Lombok. hasil tenunan tersebut bisa membuat para ibu rumah tangga ini bisa membantu ekonomi keluarga. tampak pulau Maringkik Di pulau yang memiliki luas 16 hektar are ini. di mana suami-suami mereka nota bene bermata pencaharian sebagai nelayan. Proses pencelupan warna yang mereka jadikan motif.000. Padahal. Sebagai betuk cerita mengenai mitos dan cerita-cerita yang tergambar di motif. 9. tenun Maringkik belum dapat dipasarkan. tenun corak Palembang. Makin banyak kembang atau coraknya maka harganya makin mahal. adalah proses yang dianggap paling sulit. Penenun Maringkik mewarisi keahlian menenun dari nenek moyang mereka yang sejak dahulu mendiami pulau ini. . Rata-rata di tiap rumah di pulau ini memiliki alat tenun peninggalan leluhur mereka sehingga dua hingga empat perempuan di masingmasing rumah kesehariannya adalah menenun. Mereka sangat berharap.8.000 hingga Rp 250. Tenun khas Maringkik terdiri dari tenun ikat kain Bugis.motif nya. Sejauh ini.

cc/2010/12/pesona-ttu.cybertokoh. D. Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Secara Terpadu. Makalah pada Sosialisasi Pengelolaan Sumberdaya BerbasisMasyarakat. 21-22 September 2001. - ^ "Fungsi Kain Tenun".html .neonnub.co.G.DAFTAR PUSTAKA - http://www.com Bengen. 2001. http://www. Bogor.