P. 1
Antibakteri

Antibakteri

|Views: 1,932|Likes:
Published by ahyar

More info:

Published by: ahyar on Jan 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2013

pdf

text

original

Antibakteri

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Antibakteri adalah zat yang dapat mengganggu pertumbuhan atau bahkan mematikan bakteri dengan cara mengganggu metabolisme mikroba yang merugikan. [1] Mikroorganisme dapat menyebabkan bahaya karena kemampuan menginfeksi dan menimbulkan penyakit serta merusak bahan pangan. Antibakteri termasuk kedalam antimikroba yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri.[2].

Daftar isi
[sembunyikan] • • 1 Kriteria 2 Mekanisme Kerja ○ 2.1 Penghambatan sintesis dinding sel bakteri ○ 2.2 Penghambatan Keutuhan Permeabilitas Dinding Sel Bakteri ○ 2.3 Penghambatan sintesis Protein Sel Bakter ○ 2.4 Penghambatan Sintesis Protein Sel Bakteri • • 3 Faktor-faktor berpengaruh dalam aktivitas senyawa anti bakteri 4 Jenis zat antibakteri berdasarkan aktivitasnya ○ 4.1 Bakteriostatik ○ 4.2 Bakterisida • • • 5 Contoh ○ 5.1 Antibiotik 6 Lihat pula 7 Referensi

[sunting] Kriteria
Antibakteri hanya dapat digunakan jika mempunyai sifat tosik selektif, artinya dapat membunuh bakteri yang menyebabkan penyakit tetapi tidak beracun bagi penderitanya.[1]

[sunting] Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja dari senyawa antibakteri diantaranya yaitu menghambat sintesis dinding sel, menghambat keutuhan permeabilitas dinding sel bakteri, menghambat kerja enzim, dan menghambat sintesis asam nukleat dan protein.[1][3]

[sunting] Penghambatan sintesis dinding sel bakteri Langkah pertama kerja obat berupa pengikatan obat pada reseptor sel (beberapa diantaranya adalah enzim transpeptida.[3] Kemudian dilanjutkan dengan reaksi transpeptidase dan sintesis peptidoglikan terhambat.[3] Mekanisme diakhiri dengan pembuangan atau penghentian aktivitas penghambat enzim autolisis pada dinding sel.[3] Pada lingkungan yang isotonis lisis terjadi pada lingkungan yang jelas hipertonik, mikrob berubah menjadi protoplas atau sferoflas yang hanya tertutup oleh selaput sel yang rapuh.[3] Sebagai contoh antibakteri dengan mekanisme kerja diatas adalah penicilin, sefalosporin, vankomisin, basitrasin, sikloserin, dan ampisilin.[3] [sunting] Penghambatan Keutuhan Permeabilitas Dinding Sel Bakteri Sitoplasma semua sel hidup dibatasi oleh selaput sitoplasma yang bekerja sebagai penghalang dengan permeabilitas selektif, melakukan fugsi pengangkutan aktif sehingga dapat mengendalikan susunan sel.[rujukan?] Bila integritas fungsi selaput sitoplasma terganggu misalnya oleh zat bersifat surfaktan sehinga permeabilitas dinding sel berubah atau bahkan menjadi rusak, maka komponen penting, seperti protein, asam nukleat, nukleotida, dan lain-lain keluar dari sel dan sel berangsur-angsur mati.[3] Amfoterisin B, kolistin, poimiksin, imidazol, dan polien menunjukkan mekanisme karja tersebut.[3] [sunting] Penghambatan sintesis Protein Sel Bakter Umumnya senyawa penghambat ini akan menyebabkan Staphylococcus aureus salah membaca kode pada mRNA oleh tRNA (hambatan translasi dan transkripsi bahan genetik).[3] Kloramfenikol, eritromisin, linkomisin, tetrasiklin, dan aminoglikosida juga bersifat menghambat sintesis protein sel bakteri.[3] [sunting] Penghambatan Sintesis Protein Sel Bakteri Senyawa antibakteri yang bekerja dengan senyawa ini, diharapkan mempunyai selektifitas yang tinggi, sehingga hanya sintesis asam nukleat bakteri saja yang dihambat.[3] Umumya senyawa penghambat akan berikatan dengan enzim atau salah satu komponen yang berperan dalam tahapan sintesis, sehingga akhirnya reaksi akan terhenti karena tidak ada substrat yang direaksikan dan asam nukleat tidak dapat terbentuk.[3]

[sunting] Faktor-faktor berpengaruh dalam aktivitas senyawa anti bakteri
Aktivitas senyawa antibakteri dipengaruhi oleh pH, suhu stabilitas senyawa tersebut, jumlah bakteri yang ada, lamanya inkubasi, dan aktivitas metabolisme bakteri.[1]

[sunting] Jenis zat antibakteri berdasarkan aktivitasnya
Berdasarkan aktivitasnya zat antibakteri dibedakan menjadi dua jenis, yaitu bakteriostatik dan bakteriosida [1] [sunting] Bakteriostatik Adalah zat antibakteri yang memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan bakteri (menghambat perbanyakan populasi bakteri), namun tidak mematikan.[1][2]

[sunting] Bakterisida Adalah zat antibakteri yang memiliki aktifitas membunuh bakteri. [1] Namun ada beberapa zat antibakteri yang bersifat bakteriostatik pada konsentrasi rendah dan bersifat bakterisida pada konsentrasi tinggi. [4]

[sunting] Contoh

Struktur fenol sebagai antibakteri. Contoh kelompok bahan antibakteri adalah fenol, alkohol, halogen, logam berat, detergen, aldehida, dan kemosterilisator gas.[1] Dari sekian banyak contoh diatas, senyawa fenol paling banyak digunakan karena senyawa tersebut tidak hanya terdapat pada antibiotik sintetik, namun pada senyawa alam yang dikenal sebagai polifenol.[1] Apabila digunakan bekerja dengan merusak membran sitoplasma secara total dengan mengendapkan protein sel.[1] Akan tetapi bila dalam konsentrasi rendah , fenol merusak membran sel yang menyebabkan kebocoran metabolit penting dan menginaktifkan bakteri.[1] [sunting] Antibiotik Salah satu zat antibakteri yang banyak dipergunakan akhir-akhir ini adalah antibiotik. [5] Antibiotik adalah senyawa kimia khas yang dihasilkan atau diturunkan oleh organisme hidup termasuk struktur analognya yang dibuat secara sintetik, yang dalam kadar rendah mampu menghambat proses penting dalam kehidupan satu spesies atau lebih mikroorganisme. [5] Penggunaan antibiotik sebagai zat antibakteri juga mempunyai efek negatif seperti timbulnya resistensi bakteri terhadap aktivitas kerja obat.[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Antibakteri

Antiseptik
Antiseptik atau germisida adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan yang hidup seperti pada permukaan kulit dan membran mukosa.[1][2]Antiseptik berbeda dengan antibiotik dan disinfektan, yaitu antibiotik digunakan untuk membunuh mikroorganisme di dalam tubuh, dan disinfektan digunakan untuk membunuh mikroorganisme pada benda mati.[2] Hal ini disebabkan antiseptik lebih aman diaplikasikan pada jaringan hidup, daripada disinfektan.[3] Penggunaan disinfektan lebih ditujukan pada benda mati, contohnya wastafel atau meja.[3] Namun, antiseptik yang kuat dan dapat mengiritasi jaringan kemungkinan dapat dialihfungsikan menjadi disinfektan contohnya adalah fenol yang dapat digunakan baik sebagai antiseptik maupun disinfektan.[4] [3]

Penggunaan antiseptik sangat direkomendasikan ketika terjadi epidemi penyakit karena dapat memperlambat penyebaran penyakit.[5]

Daftar isi
[sembunyikan] • • 1 Efektivitas 2 Jenis-jenis ○ 2.1 Hidrogen peroksida ○ 2.2 Garam merkuri ○ 2.3 Asam Borat ○ 2.4 Triclosan • • 3 Lihat Pula 4 Referensi

[sunting] Efektivitas
Efektivitas antiseptik dalam membunuh mikroorganisme bergantung pada beberapa faktor, misalnya konsentrasi dan lama paparan.[6] Konsentrasi memengaruhi adsorpsi atau penyerapan komponen antiseptik.[7] Pada konsentrasi rendah, beberapa antiseptik menghambat fungsi biokimia membran bakteri, namun tidak akan membunuh bakteri tersebut.[7] Ketika konsentrasi antiseptik tersebut tinggi, komponen antiseptik akan berpenetrasi ke dalam sel dan mengganggu fungsi normal seluler secara luas, termasuk menghambat biosintesis(pembuatan) makromolekul dan persipitasi protein intraseluler dan asam nukleat (DNA atau RNA}.[7] Lama paparan antiseptik dengan banyaknya kerusakan pada sel mikroorganisme berbanding lurus.[7]

[sunting] Jenis-jenis
Mekanisme kerja antiseptik terhadap mikroorganisme berbeda-beda, misalnya saja dengan mendehidrasi (mengeringkan) bakteri, mengoksidasi sel bakteri, mengkoagulasi (menggumpalkan) cairan di sekitar bakteri, atau meracuni sel bakteri.[4] Beberapa contoh antiseptik diantaranya adalah hydrogen peroksida, garam merkuri, boric acid, dan triclosan.[3][4][7] [sunting] Hidrogen peroksida Hidrogen peroksida (H2O2) adalah agen oksidasi, merupakan antiseptik kuat namun tidak mengiritasi jaringan hidup.[3][4] Senyawa ini dapat diaplikasikan sebagai antiseptik pada membrane mukosa.[4] Kelemahan dari zat ini adalah harus selalu dijaga kondisinya karena zat ini mudah mengalami kerusakan ketika kehilangan oksigen.[4] [sunting] Garam merkuri Senyawa ini adalah antiseptik yang paling kuat. Merkuri klorida (HgCl) dapat digunakan untuk mencuci tangan dengan perbandingan dalam air 1:1000.[4]. Senyawa ini dapat membunuh hampir semua jenis bakteri dalam beberapa menit.[4]. Kelemahan dari senyawa ini adalah berkemungkinan besar mengiritasi jaringan karena daya kerja antimikrobanya yang sangat kuat. [4] .

[sunting] Asam Borat Asam Borat merupakan antiseptik lemah, tidak mengiritasi jaringan.[4] Zat ini dapat digunakan secara optimum saat dilarutkan dalam air dengan perbandingan 1:20.[4] [sunting] Triclosan

struktur kimia triclosan Triclosan adalah antiseptik yang efektif dan populer, bisa ditemui dalam sabun, obat kumur, deodoran, dan lain-lain.[7] Triclosan mempunyai daya antimikroba dengan spektrum luas (dapat melawan berbagai macam bakteri) dan mempunyai sifat toksisitas minim.[7] Mekanisme kerja triclosan adalah dengan menghambat biosintesis lipid sehingga membran mikroba kehilangan kekuatan dan fungsinya http://id.wikipedia.org/wiki/Antiseptik 2. Alkohol Alkohol adalah antiseptik yang kuat. Alkohol membunuh kuman dengan cara menggumpalkan protein dalam selnya. Kuman dari jenis bakteri, jamur, protozoa dan virus dapat terbunuh oleh alkohol. Alkohol (yang biasanya dicampur yodium) sangat umum digunakan oleh dokter untuk mensterilkan kulit sebelum dan sesudah pemberian suntikan dan tindakan medis lain. Alkohol kurang cocok untuk diterapkan pada luka terbuka karena menimbulkan rasa terbakar. Jenis alkohol yang digunakan sebagai antiseptik adalah etanol (60-90%), propanol (60-70%) dan isopropanol (70-80%) atau campuran dari ketiganya. Metil alkohol (metanol) tidak boleh digunakan sebagai antiseptik karena dalam kadar rendah pun dapat menyebabkan gangguan saraf dan masalah penglihatan. Metanol banyak digunakan untuk keperluan industri. http://majalahkesehatan.com/mengenal-antiseptik/

Aktivitas antimikroba ○ Cara kerja

Aktivitas antimikroba dari LF bekerja berdasarkan dari kesesuaian protein dan kondisi substrat. Terdapat 2 faktor yang mempengaruhi efek antimikroba dan ketahanan bakteri inang, yaitu kekuatan pengikatan ion besi dan kekuatan berinteraksi dengan molekul pada permukaan inang. Struktur ampipatik dan muatan potsitif yang kuat pada kationik kuat bagian N-terminal mempengaruhi kemampuan LF dalam berinteraksi dengan membran mikroba. Molekul yang mampu berinteraksi dengan LF adalah glycosaminoglycans dari epithelial milieu, kolagen, fibronectins, dan DNA dari sel mamalia.

Sifat antimikroba LF dapat menghambat pertumbuhan bakteri, virus, jamur, dan protozoa. LF bersifat bakteriostatik ataupun bakteriosidal berdasarkan dari karakteristik mikroba yang diserangnya. Pada bakteri seperti E.coli, Neisseria sp, Moraxella catarrhalis, dan Vibrio sp. memiliki mekanisme penolakan terhadap pengikatan besi sehingga mampu bertahan terhadap antimikroba LF. Sifat bakteriostatik LF dapat menurun akibat ketahanan mikroba, ketidaktepatan rasio antara sitrat dan bikarbonat, bikarbonat yang mudah berikatan dengan besi, dan sitrat yang bersaing dengan LF untuk berikatan dengan besi, oleh karena itu besi masih dapat digunakan mikroba untuk tumbuh. Aktivitas bekterisidal LF didasarkan pada pengikatan besi dan pengikatan muatan positif LF dengan muatan negatif pada membran luar mikroba yang mengakibatkan dispersi pada lipopolisakarida, meningkatnya permeabilitas membran, dan matinya sel. Tertutupnya permukaan sel oleh fimbriae dan adhesin lainnya dan pembentukan antigen oleh sel menyebabkan barubahnya mekanisme antimikriba LF. LF berikatan dengan permukaan sel patogen efektif pada pH 6 dan 7,5 untuk E.coli dan B.subtillis. Interaksi antara LF dan LFcin menyebabkan aktifitas fungicidal. Perbedaan urutan asam amino pada LFcinB menyebabkan perbedaan lama waktu penetrasi dalam sel S.aureus dan E.coli sebesar 15 menit. Pada konsentrasi LFcinB sebanyak 30-100gr/ml perubahan morfologi sel, menurunnya tingkat polaritas membran sel, destabilisasi liposome, bocor dan berubahnya susunan liposome, tetapi tidak menyebabkan sel lisis. Efek antimikroba dari antibiotik dikeluarkan membran sel terluar dari gram negatif dengan meningkatnya LFcin yang mendestabilisasi membran sel dan meningkatkan kemampuan penetrasi. Antibiotik lain seperti polymyxins yang beraksi pada membran sel akan bersaing dengan LFcin dalam efek antimikroba. LFcinB berinteraksi dengan penicilin melawan S.aureus dan dengan erythromycin melawan E.coli, bersifat berlawanan jika bersama dengan gentamicin melawan S.aureus. Mycrocyclin dan komponen lain (seperti asam, alkohol, dan asilgliserol) meningkatkan aktivitas antimikroba dari LFcinB melawan aria resisten antibiotik S.aureus. Mekanisme antivirus dari LF adalah sebagai berikut: pencegahan infeksi pathogen dengan pengikatan LF dengan partikel pathogen (anvelope protein), memotong pathogen dalam sel dengan pengikatan LF dengan sulfat proteoglikan atau dengan reseptor pathogen pada permukaan sel, menghambat perkembangbiakan virus, aktifitas LF yang bekerjasama dengan sintesis antigen virus, dan mekanisme lain yang secara tidak langsung. Faktor yang mempengaruhi aktivitas antivirus yaitu tahap infeksi, komponen lain yang berinteraksi dengan LF, dan tingkat kejenuhan LF dalam mengikat logam. ALF merupakan turunan dari LF yang bersifat antimikroba dengan mekanisme sebagai berikut: menghambat penempelan mikroba, pelepasan bakteri, dan penghambatan pertumbuhan mikroba. Interaksi ALF dengan membran luar sel mengganggu sintesa ahesin/fimbrial dan mendorong bakteri untuk melekat pada komponen lembar matrik. Pengikatan besi mengakibatkan terganggunya sintesis ATP dan pembelahan sel sehingga perkembangbiakannya terhambat. Interaksi ALF dengan asam nukleat menunjukkan adanya aktivitas antivirus. • Spesifitas LF memiliki spektrum penghambatan yang luas, termasuk gram negatif dan gram positif seperti Helicobacter pylori, E.coli O157:H7, E.coli O111, B.subtilis, S.aureus, Proteus mirabilis, Klebsiella pneumoniae, P.aeruginosa, Lmonocytogenes, Micrococcus flavus, Salmonella thyphimurium, yaest Candida sp., jamur Rhodotorula rubra, Penicillium sp., Trichophyton sp, RNA dan DNA, enveloped dan nonenveloped virus, protozoa Toxoplasma gondii, Giardia lamblia, dan Tritrichomonas foetus.

Hidrolisa LF (LFcin) dan LFcinB lebih bersifat menghambat jika dibandingkan dengan LF. LFcin manusia lebih aktif jika dibandingkan dengan LFcin sapi, murine, caprine. Minimum Inhibotory Concentration (MIC) LF sapi dan manusia sebanyak 2000g/ml dan 3000g/ml, sedangakan LFcinH sebanyak 100g/ml dan LFcinB sebanyak 6g/ml dalam menghambat pertumbuhan E.coli O111. MIC LFcinB lebih rendah jika dibandingkan dengan LF sapi dalam menghambat mikroorganisme K.pneumoniae, P.aeruginosa, S.aureus, dan L.monocytogenes. Caprine LFcin memiliki efektifitas tertinggi dengan diikuti cow dan ovine dalam melawan E.coli dan M.flavus. Dalam percobaan bentuk apo LF melawan E.coli dan S.typi dibandingkan dengan melawan probiotik (Bifidobacteria) menunjukkan turunnya koloni patogen tanpa mempengaruhi koloni probiotik. Ini memberikan efek yang menguntungkan jika LF digunakan dalam makanan. LF dan LFcin memiliki efek fungisidal pada jamur Candida albicans, C. glabrata, C.krusei, Rhodotorula rubra, spora Penicillium sp., dan Trichophyton sp. LF dan hidrolisat LF mampu menghambat pertumbuhan protozoa seperti Toxoplasma gondii, Giardia lamblia, dan Chomonas foetus. Selain itu, LF juga memiliki kemampuan antivirus yang luas spektrumnya, dari manusia, hewan DNA dan RNA, enveloped atau tidak. Akan tetapi, LFcin tidak memiliki aktivitas antivirus samasekali. http://jatimjobs.org/catagory/faktor-yang-mempengaruhi-pertumbuhan-dan-perkembanganmikroorganisme-pada-bahn

Disinfektan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa

Cairan disinfektan Disinfektan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran oleh jasad renik atau obat untuk membasmi kuman penyakit [1] Pengertian lain dari disinfektan adalah senyawa kimia yang bersifat toksik dan memiliki kemampuan membunuh mikroorganisme yang terpapar secara langsung oleh disinfektan.[2][3] Disinfektan tidak memiliki daya penetrasi sehingga tidak mampu membunuh mikroorganisme yang terdapat di dalam celah atau cemaran mineral.[2] Selain itu disinfektan tidak dapat membunuh spora bakteri sehingga dibutuhkan metode lain seperti sterilisasi dengan autoklaf[4]

Daftar isi
[sembunyikan] • • 1 Efektivitas 2 Jenis-Jenis ○ 2.1 Klorin ○ 2.2 Iodin ○ 2.3 Alkohol ○ 2.4 Amonium Kuartener ○ 2.5 Formaldehida ○ 2.6 Kalium permanganat ○ 2.7 Fenol • • 3 Lihat Pula 4 Referensi

[sunting] Efektivitas
Efektivitas disinfektan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya lama paparan, suhu, konsentrasi disinfektan, pH, dan ada tidaknya bahan pengganggu.[2] pH merupakan faktor penting dalam menentukan efektivitas disinfektan, misalnya saja senyawa klorin akan kehilangan aktivitas disinfeksinya pada pH lingkungan lebih dari 10.[2] Contoh senyawa pengganggu yang dapat menurunkan efektivitas disinfektan adalah senyawa organik.[2]

[sunting] Jenis-Jenis
[sunting] Klorin Senyawa klorin yang paling aktif adalah asam hipoklorit.[2] Mekanisme kerjanya adalah menghambat oksidasi glukosa dalam sel mikroorganisme dengan cara menghambat enzim-enzim yang terlibat dalam metabolisme karbohidrat .[2] Kelebihan dari disinfektan ini adalah mudah digunakan, dan jenis mikroorganisme yang dapat dibunuh dengan senyawa ini juga cukup luas, meliputi bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.[2]Kelemahan dari disinfektan berbahan dasar klorin adalah dapat menyebabkan korosi pada pH rendah (suasana asam), meskipun sebenarnya pH rendah diperlukan untuk mencapai efektivitas optimum disinfektan ini.[2] Klorin juga cepat terinaktivasi jika terpapar senyawa organik tertentu.[2] [sunting] Iodin Iodin merupakan disinfektan yang efektif untuk proses desinfeksi air dalam skala kecil.[5] Dua tetes iodine 2% dalam larutan etanol cukup untuk mendesinfeksi 1 liter air jernih.[5] Salah satu senyawa iodine yang sering digunakan sebagai disinfektan adalah iodofor.[2] Sifatnya stabil, memiliki waktu simpan yang cukup panjang, aktif mematikan hampir semua sel bakteri, namun tidak aktif mematikan spora, nonkorosif, dan mudah terdispersi.[2] Kelemahan iodofor diantaranya aktivitasnya tergolong lambat pada pH 7 (netral) dan lebih dan mahal. Iodofor tidak dapat digunakan pada suhu lebih tinggi dari 49 °C.[2]

[sunting] Alkohol Alkohol disinfektan yang banyak dipakai untuk peralatan medis, contohnya termometer oral.[4] Umumnya digunakan etil alkohol dan isopropil alcohol dengan konsentrasi 60-90%, tidak bersifat korosif terhadap logam, cepat menguap, dan dapat merusak bahan yang terbuat dari karet atau plastik.[4] [sunting] Amonium Kuartener Amonium kuartener merupakan garam ammonium dengan substitusi gugus alkil pada beberapa atau keseluruhan atom H dari ion NH4+nya[2]. Umumnya yang digunakan adalah en:cetyl trimetil ammonium bromide (CTAB) atau lauril dimetil benzyl klorida[2]. Amonium kuartener dapat digunakan untuk mematikan bakteri gram positif, namun kurang efektif terhadap bakteri gram negatif, kecuali bila ditambahkan dengan sekuenstran (pengikat ion logam)[2]. Senyawa ini mudah berpenetrasi, sehingga cocok diaplikasikan pada permukaan berpori, sifatnya stabil, tidak korosif, memiliki umur simpan panjang, mudah terdispersi, dan menghilangkan bau tidak sedap[2]. Kelemahan dari senyawa ini adalah aktivitas disinfeksi lambat, mahal, dan menghasilkan residu[2]. [sunting] Formaldehida Formaldehida atau dikenal juga sebagai formalin, dengan konsentasi efektif sekitar 8%[4]. Formaldehida merupakan disinfektan yang bersifat karsinogenik pada konsentrasi tinggi namun tidak korosif terhadap metal, dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, dan pernapasan[4]. Senyawa ini memiliki daya inaktivasi mikroba dengan spektrum luas. Formaldehida juga dapat terinaktivasi oleh senyawa organik[4]. [sunting] Kalium permanganat Kalium permanganat merupakan zat oksidan kuat namun tidak tepat untuk disinfeksi air[5]. Penggunaan senyawa ini dapat menimbulkan perubahan rasa, warna, dan bau pada air[5]. Meskipun begitu, senyawa ini cukup efektif terhadap bakteri Vibrio cholerae[5]. [sunting] Fenol Fenol merupakan bahan antibakteri yang cukup kuat dalam konsentrasi 1-2% dalam air, umumnya dikenal dengan lisol dan kreolin[4][6]. Fenol dapat diperoleh melalui distilasi produk minyak bumi tertentu[6]. Fenol bersifat toksik, stabil, tahan lama, berbau tidak sedap, dan dapat menyebabkan iritasi, [6] Mekanisme kerja senyawa ini adalah dengan penghancuran dinding sel dan presipitasi (pengendapan) protein sel dari mikroorganisme sehingga terjadi koagulasi dan kegagalan fungsi pada mikroorganisme tersebut.[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Disinfektan, 20011

Pertumbuhan mikroba pada umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perubahan faktor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi. Hal ini dikarenakan, mikroba selain menyediakan nutrient yang sesuai untuk kultivasinya, juga diperlukan faktor lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan mikroba secara optimum. Mikroba tidak hanya bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi menunjukkan respon yang menunjukkan respon yang berbeda-beda. Untuk berhasilnya kultivasi berbagai tipe mikroba

diperlukan suatu kombinasi nutrient serta faktor lingkungan yang sesuai (Pelczar & Chan, 1986). Kemampuan mikroorganisme untuk tumbuh dan tetap hidup merupakan hal yang penting dalam ekosistem pangan. Suatu pengetahuan dan pengertian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan tersebut sangat penting untuk mengendalikan hubungan antara mikroorganismemakanan-manusia. Beberapa faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme meliputi suplai zat gizi, waktu, suhu, air, pH dan tersedianya oksigen (Buckle, 1985). Kehidupan bakteri tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, akan tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. Bakteri dapat mengubah pH dari medium tempat ia hidup, perubahan ini disebut perubahan secara kimia. Adapun faktor-faktor lingkungan dapat dibagi atas faktor-faktor biotik dan faktor-faktor abiotik. Di mana, faktor-faktor biotik terdiri atas makhluk-makhluk hidup, yaitu mencakup adanya asosiasi atau kehidupan bersama antara mikroorganisme, dapat dalam bentuk simbiose, sinergisme, antibiose dan sintropisme. Sedangkan faktor-faktor abiotik terdiri atas faktor fisika (misal: suhu, atmosfer gas, pH, tekanan osmotik, kelembaban, sinar gelombang dan pengeringan) serta faktor kimia (misal: adanya senyawa toksik atau senyawa kimia lainnya (Hadioetomo, 1993). Karena semua proses pertumbuhan bergantung pada reaksi kimiawi dan karena laju reaksi-reaksi ini dipengaruhi oleh temperatur, maka pola pertumbuhan bakteri dapat sangat dipengaruhi oleh temperatur. Temperatur juga mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah total pertumbuhan organisme. Keragaman temperatur dapat juga mengubah proses-proses metabolik tertentu serta morfologi sel (Pelczar & Chan, 1986). Medium harus mempunyai pH yang tepat, yaitu tidak terlalu asam atau basa. Kebanyakan bakteri tidak tumbuh dalam kondisi terlalu basa, dengan pengecualian basil kolera (Vibrio cholerae). Pada dasarnya tak satupun yang dapat tumbuh baik pada pH lebih dari 8. Kebanyakan patogen, tumbuh paling baik pada pH netral (pH7) atau pH yang sedikit basa (pH 7,4). Beberapa bakteri tumbuh pada pH 6;tidak jarang dijumpai organisme yang tumbuh baik pada pH 4 atau 5. Sangat jarang suatu organisme dapat bertahan dengan baik pada pH 4; bakteri autotrof tertentu merupakan pengecualian. Karena banyak bakteri menghasilkan produk metabolisme yang bersifat asam atau basa (Volk&Wheeler,1993). Cara menentukan daya tahan panas suatu spesies perlu diperhatikan syarat-syarat sebagai berikut : Berapa tinggi temperatur. Berapa lama spesies itu berada dalam temperatur tersebut. Apakah pemanasan bakteri itu dilakukan di dalam keadaan kering ataukah di dalam keadaan basah. Beberapa pH dari medium tempat bakteri itu dipanasi. Sifat-sifat lain dari medium tempat bakteri itu dipanasi. (Fardiaz, 1992). Sebagian organisme memiliki rentan pH optimum yang cukup sempit. Penentuan pH optimum untuk setiap species harus ditentukan secara empirik. Sebagian besar organisme (neutrofil)

tumbuh baik pada pH 6,0 – 8,0, meskipun ada pula (asidopil) yang memiliki pH 10,5 (Brooks dkk, 1994). Mikroorganisme mengatur pH internalnya terhadap rentang nilai pH eksternalnya yang cukup luas. Organisme asidofil mempertahankan pH internal kira-kira 6,5, dengan pH eksternalnya berkisar antara 1,0 – 5,0. Organisme neutrofil mempertahankan pH internal kira-kira 7,5, dengan pH eksternal sekitar 5,5 – 8,5 dan organisme alkalofil mempertahankan pH internal kira-kira 9,5 dengan pH eksternal 9,0 – 11,0 (Brooks dkk,1994) Di dalam alam yang sewajarnya, bakteri jarang menemui zat-zat kimia yang menyebabkan ia sampai mati karenanya. Hanya manusia di dalam usahanya untuk membebaskan diri dari kegiatan bakteri meramu zat-zat yang dapat meracuni bakteri, akan tetapi tidak meracuni diri sendiri atau meracuni zat makanan yang diperlukannya. Zat-zat yang hanya menghambat pembiakan bakteri dengan tidak membunuhnya disebut zat antiseptik atau zat bakteriostatik (Dwidjoseputro,1994). Desinfektan adalah bahan kimia yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Faktor utama yang menentukan bagaimana desinfektan bekerja adalah kadar dan suhu desinfektan, waktu yang diberikan kepada desinfektan untuk bekerja, jumlah dan tipe mikroorganisme yang ada, dan keadaan bahan yang didesinfeksi. Jadi terlihat sejumlah faktor harus diperhatikan untuk melaksanakan tugas sebaik mungkin dalam perangkat suasana yang ada. Desinfeksi adalah proses penting dalam pengendalian penyakit, karena tujuannya adalah perusakan agen – agen patogen. Berbagai istilah digunakan sehubungan dengan agen – agen kimia sesuai dengan kerjanya atau organisme khas yang terkena. Mekanisme kerja desinfektan mungkin beraneka dari satu desinfektan ke yang lain. Akibatnya mungkin disebabkan oleh kerusakan pada membran sel atau oleh tindakan pada protein sel atau pada gen yang khas yang berakibat kematian atau mutasi (Volk dan Wheeler, 1993). Tahun 1928, Fleming membiakkan bakteri Staphylococcus dan menemukan ada pembusukan, bakteri mencair, dan disimpulkan adanya substansi yang beracun terhadap Staphylococcus yang diberi nama Penicillin. Obat ini berguna untuk penyembuhan sifilis, bronchitis, lever, gangrene, dan lain-lain. Dosis 50.000 unit Penicillin efektif melawan berbagai infeksi (Dwidjoseputro,1994). Pembahasan Pertumbuhan Mikroba pada umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Perubahan faktor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi. Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme yaitu faktor abiotik, meliputi pengaruh suhu, pH dan pengaruh daya desinfektan. Selain itu juga pengaruh biotik yaitu antibiose. Adapun pengaruh pH pada pertumbuhan mikroorganisme yaitu suatu mikroorganisme dapat tumbuh dengan baik pada pH yang tidak terlalu asam dan tidak terlalu basa. Hanya beberapa jenis bakteri tertentu yang dapat bertahan dalam suasana asam ataupun basa. Suatu mikroorganisme memerlukan kondisi lingkungan yang cocok untuk melakukan metabolisme. Berdasarkan dengan pH yang ada, jasad dibedakan menjadi asidofil, neurofil, dan alkalifil. Asidofil adalah mikroba yang dapat tumbuh pada pH antara 2,0 – 5,0. Mikroba neurofil adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kisaran pH 5,5 – 8,0, sementara mikroba alkalifil adalah

mikroba yang dapat tumbuh pada kisaran pH 8,4 – 9,5. Selain itu temperatur juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan mikroorganisme. Pengaruh temperatur pada petumbuhan mikroorganisme dapat dibedakan atas tiga golongan yaitu: Mikroorganisme Psikofilik, adalah bakteri yang dapat bertahan hidup antara temperatur 0¬oC sampai 30oC. Sedangkan temperatur optimumnya antara 10oC sampai 20oC. Mikroorganisme mesofilik adalah bakteri yang dapat bertahan hidup antara temperatur 5¬oC sampai 60oC. Sedangkan temperatur optimumnya antara 25oC sampai 40oC. Mikroorganisme Termofilik adalah bakteri yang dapat bertahan hidup antara temperatur 55¬oC sampai 65oC, meskipun bakteri ini juga dapat berkembang biak pada temperatur yang lebih rendah ataupun lebih tinggi dengan batas optimumnya antara 40oC sampai 80oC. Temperatur optimum adalah temperatur yang lebih mendekati temperatur maksimum dari pada temperatur minimum. Di mana pada saat temperatur minimum, pertumbuhan mikroba kurang berkembang dengan baik. Berbeda dengan temperatur optimum, pertumbuhan mikroba dapat tumbuh dengan baik. Sedangkan temperatur maksimum adalah pertumbuhan mikroba yang telah berkembang melewati batas optimumnya. Suhu maksimum adalah suhu tertinggi yang masih dapat menumbuhkan mikroba, tetapi pada tingkat kegiatan fisiologi yang rendah. Desinfektan merupakan bahan kimia yang menyebabkan desinfeksi, yaitu proses untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme terutama yang bersifat patogen. Desinfektan membunuh bakteri dengan tidak merusaknya sama sekali, tetapi zat-zat kimia seperti basa dan asam organik menyebabkan hancurnya bakteri. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tahan bakteri adalah umur bakteri. Bakteri yang muda daya tahannya terhadap desinfektan lebih kurang daripada bakteri tua. Pekat encernya konsentrasi, lamanya berada di bawah pengaruh desinfektan, merupakan faktor-faktor yang diperhitungkan. Kenaikan temperatur menambah daya desinfektan. Medium seperti susu, plasma darah, dan zat-zat lainnya yang serupa protein sering melindungi bakteri terhadap pengaruh desinfektan tertentu. Sedangkan antibiotik adalah bahan yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba yang tidak diinginkan atau bersifat patogen. Antibiotik merupakan zat-zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan zat-zat itu dalam jumlah yang sedikit mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. Mikroorganisme dapat dibedakan berdasarkan kebutuhan terhadap oksigen, antara lain mikroorganisme aerob, mikroorganisme anaerob, mikroorganisme anaerob fakultatif dan mikroorganisme mikro aerofilik. Mikroorganisme aerob adalah mikroorganisme yang memerlukan oksigen untuk metabolismenya. Mikroorganisme anaerob adalah mikroorganisme yang tidak memerlukan oksigen untuk metabolismenya. Mikroorganisme anaerob fakultatif adalah mikroorganisme yang dapat hidup secara aerob atau pun anaerob dan mikroorganisme mikro aerofilik adalah mikrooganisme yang dapat hidup dengan menggunakan sedikit oksigen. Faktor suhu yang diamati pada percobaan ini dapat diketahui bahwa pada saat suhu 5oC pada kedua sampel bakteri E.coli dan B.subtilis tidak terjadi perubahan dan warnanya tetap, hal ini berarti tidak ada bakteri E.coli dan B.subtilis yang hidup. Sedangkan pada suhu 30oC Escherichia coli dan B.subtilis dapat tumbuh dengan baik. Ditandai dengan adanya perubahan warna keruh pada sampel. Sedangkan pada suhu 50 oC biakan E.coli dan B.subtilis tidak ada yang tumbuh, ditandai dengan tidak adanya perubahan pada sampel. Ini berarti bahwa bakteri E.

Coli dan B.subtilis termasuk dalam golongan bakteri mesofilik yang tumbuh pada suhu 15 sampai 60 oC, dengan suhu optimum 25-37 oC. Pada umumnya mikroorganisme dapat tumbuh dengan baik pada suhu 30oC (mesofilik). Pada pH 3, tidak ada satupun bakteri E.coli dan B.subtilis yang dapat tumbuh. Ditandai dengan tidak adanya perubahan warna pada sampel. Pada pH 5 bakteri E.coli dan B.subtilis dapat tumbuh ditandai dengan adanya perubahan sampel menjadi keruh dan pada B.subtilis menjadi lebih keruh dan terbentuk endapan. Pada pH 7 bakteri E.coli juga dapat tumbuh dengan baik ditandai dengan adanya perubahan sampel menjadi keruh. Bakteri E. Coli memiliki pH optimum untuk hidup, yaitu pH 7. Hal tersebut ditandai dengan semakin keruhnya media pada saat PH tinggi oleh biakan E.coli. Pada pH 7 bakteri B.subtilis juga dapat tumbuh dengan baik ditandai dengan adanya perubahan sampel menjadi keruh dan terbentuk endapan. Akan tetapi pada percobaan dengan pH 5 pada bakteri B.subtilis sampel lebih keruh daripada pH 7. Hal ini dikarenakan pada pH 5 pertumbuhan mikrobanya lebih banyak sehingga aktivitas mikroba juga lebih banyak. Hal ini menandakan pada percobaan ini pH optimum untuk B.subtilis adalah pada pH 5. Sehingga percobaan pengaruh pH untuk B.subtilis tidak sesuai dengan teori. Hal ini bisa terjadi karena media dengan pH 5 mengalami perubahan pH sesaat sebelum diinkubasi oleh pengaruh lingkungan sekitar. Bakteri E. coli dan B.subtilis merupakan golongan bakteri neurofil yang dapat hidup antara pH 5,5 - 8,0 Hasil pengamatan untuk bakteri E. Coli dan B.subtilis sampel pertama dan sampel kedua, pada uji menggunakan akuades steril tidak ada terlihat hambatan yang berupa zona bening. Hal ini berarti akuades steril tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Sedangkan pada uji menggunakan infusa sirih, pada bakteri E. Coli sampel pertama terdapat zona bening berukuran 6,2 mm dan pada E. Coli sampel kedua terdapat zona bening dengan ukuran 6,6 mm. Sampel B.subtilis sampel pertama dan kedua yang diuji dengan infusa sirih juga memiliki zona bening dengan ukuran masing-masing 5,7 mm dan 6,7 mm. Hal ini menandakan infusa sirih adalah desinfektan yang baik untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Sedangkan pada uji yang menggunakan infusa wedusan, untuk bakteri E. Coli dan B.subtilis pada sampel pertama dan kedua tidak ada yang memiliki zona bening. Hal ini memandakan infusa wedusan tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Sedangkan pada uji pengaruh antibiotik, pada sampel bakteri E.coli sampel pertama digunakan Eritromycin dan memiliki zona bening berdiameter 20,3 mm. Pada sampel kedua menggunakan kloramfenikol dan memiliki zona bening sebesar 29,4 mm. Hal ini menandakan Eritromycin dan kloramfenikol dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Akan tetapi, pada bakteri E.coli kloramfenikol lebih baik untuk menghambat pertumbuhan bakteri ditandai dengan lebih besarnya diameter zona bening pada sampel yang menggunakan kloramfenikol. Sampel bakteri B.subtilis sampel pertama digunakan Eritromycin dan memiliki zona bening berdiameter 13,7 mm. Pada sampel kedua menggunakan kloramfenikol dan memiliki zona bening sebesar 12,4 mm. Hal ini menandakan Eritromycin dan kloramfenikol dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Akan tetapi, pada bakteri B.subtilis Eritromycin lebih baik untuk menghambat pertumbuhan bakteri ditandai dengan lebih besarnya diameter zona bening pada sampel yang menggunakan Eritromycin. http://heldaluvchemeng.blogspot.com/2011/03/faktor-lingkungan-terhadap-pertumbuhan.html

Desinfektan
08 Oct Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Sedangkan antiseptik didefinisikan sebagai bahan kimia yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan hidup. Bahan desinfektan dapat digunakan untuk proses desinfeksi tangan, lantai, ruangan, peralatan dan pakaian. Pada dasarnya ada persamaan jenis bahan kimia yang digunakan sebagai antiseptik dan desinfektan. Tetapi tidak semua bahan desinfektan adalah bahan antiseptik karena adanya batasan dalam penggunaan antiseptik. Antiseptik tersebut harus memiliki sifat tidak merusak jaringan tubuh atau tidak bersifat keras. Terkadang penambahan bahan desinfektan juga dijadikan sebagai salah satu cara dalam proses sterilisasi, yaitu proses pembebasan kuman. Tetapi pada kenyataannya tidak semua bahan desinfektan dapat berfungsi sebagai bahan dalam proses sterilisasi. Bahan kimia tertentu merupakan zat aktif dalam proses desinfeksi dan sangat menentukan efektivitas dan fungsi serta target mikroorganime yang akan dimatikan. Dalam proses desinfeksi sebenarnya dikenal dua cara, cara fisik (pemanasan) dan cara kimia (penambahan bahan kimia). Dalam tulisan ini hanya difokuskan kepada cara kimia, khususnya jenis-jenis bahan kimia yang digunakan serta aplikasinya. Banyak bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai desinfektan, tetapi umumnya dikelompokkan ke dalam golongan aldehid atau golongan pereduksi, yaitu bahan kimia yang mengandung gugus -COH; golongan alkohol, yaitu senyawa kimia yang mengandung gugus -OH; golongan halogen atau senyawa terhalogenasi, yaitu senyawa kimia golongan halogen atau yang mengandung gugus -X; golongan fenol dan fenol terhalogenasi, golongan garam amonium kuarterner, golongan pengoksidasi, dan golongan biguanida. Telah dilakukan perbandingan koefisien fenol turunan aldehid (formalin dan glutaraldehid) dan halogen (iodium dan hipoklorit) terhadap mikroorganisme Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi yang resisten terhadap ampisilin dengan tujuan untuk mengetahui keefektifan dari disinfektan turunan aldehid dan halogen yang dibandingkan dengan fenol dengan metode uji koefisien fenol . Fenol digunakan sebagai kontrol positif, aquadest sebagai kontrol negatif dan larutan aldehid dan halogen dalam pengenceran 1 : 100 sampai 1 : 500 dicampur dengan suspensi bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi resisten ampisilin yang telah diinokulum, keburaman pada tabung pengenceran menandakan bakteri masih dapat tumbuh. Nilai koefisien fenol dihitung dengan cara membandingkan aktivitas suatu larutan fenol dengan pengenceran tertentu yang sedang diuji. Hasil dari uji koefisien fenol menunjukan bahwa disinfektan turunan aldehid dan halogen lebih efektif membunuh bakteri Staphylococcus aureus dengan nilai koefisien fenol 3,57 ; 5,71 ; 2,14 ; 2,14 berturut-turut untuk formalin, glutaraldehid, iodium dan hipoklorit, begitu juga dengan bakteri Salmonella typhi, disinfektan aldehid dan halogen masih lebih efektif dengan nilai koefisien fenol 1,81 ; 2,72 ; 2,27 dan 2,27 berturut-turut untuk formalin, glutaraldehid, iodium dan hipoklorit. Disinfeksi dan antiseptik

Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen. Disinfektan yang tidak berbahaya bagi permukaan tubuh dapat digunakan dan bahan ini dinamakan antiseptik. Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau menghancurkan mikroorganisme pada jaringan hidup, sedang desinfeksi digunakan pada benda mati. Desinfektan dapat pula digunakan sebagai antiseptik atau sebaliknya tergantung dari toksisitasnya. Sebelum dilakukan desinfeksi, penting untuk membersihkan alat-alat tersebut dari debris organik dan bahan-bahan berminyak karena dapat menghambat proses disinfeksi. Macam-macam desinfektan yang digunakan: 1. Alkohol Etil alkohol atau propil alkohol pada air digunakan untuk mendesinfeksi kulit. Alkohol yang dicampur dengan aldehid digunakan dalam bidang kedokteran gigi unguk mendesinfeksi permukaan, namun ADA tidak menganjurkkan pemakaian alkohol untuk mendesinfeksi permukaan oleh karena cepat menguap tanpa meninggalkan efek sisa. 2. Aldehid Glutaraldehid merupakan salah satu desinfektan yang populer pada kedokteran gigi, baik tunggal maupun dalam bentuk kombinasi. Aldehid merupakan desinfektan yang kuat. Glutaraldehid 2% dapat dipakai untuk mendesinfeksi alat-alat yang tidak dapat disterilkan, diulas dengan kasa steril kemudian diulas kembali dengan kasa steril yang dibasahi dengan akuades, karena glutaraldehid yang tersisa pada instrumen dapat mengiritasi kulit/mukosa, operator harus memakai masker, kacamata pelindung dan sarung tangan heavy duty. Larutan glutaraldehid 2% efektif terhadap bakteri vegetatif seperti M. tuberculosis, fungi, dan virus akan mati dalam waktu 10-20 menit, sedang spora baru alan mati setelah 10 jam. 3. Biguanid Klorheksidin merupakan contoh dari biguanid yang digunakan secara luas dalam bidang kedokteran gigi sebagai antiseptik dan kontrok plak, misalnya 0,4% larutan pada detergen digunakan pada surgical scrub (Hibiscrub), 0,2% klorheksidin glukonat pada larutan air digunakan sebagai bahan antiplak (Corsodyl) dan pada konsentrasi lebih tinggi 2% digunakan sebagai desinfeksi geligi tiruan. Zat ini sangat aktif terhadap bakteri Gram(+) maupun Gram(-). Efektivitasnya pada rongga mulut terutama disebabkan oleh absorpsinya pada hidroksiapatit dan salivary mucus. 4. Senyawa halogen. Hipoklorit dan povidon-iodin adalah zat oksidasi dan melepaskan ion halide. Walaupun murah dan efektif, zat ini dapat menyebabkan karat pada logam dan cepat diinaktifkan oleh bahan organik (misalnya Chloros, Domestos, dan Betadine). 5. Fenol Larutan jernih, tidak mengiritasi kulit dan dapat digunakan untuk membersihkan alat yang terkontaminasi oleh karena tidak dapat dirusak oleh zat organik. Zat ini bersifat virusidal dan sporosidal yang lemah. Namun karena sebagian besar bakteri dapat dibunuh oleh zat ini, banyak digunakan di rumah sakit dan laboratorium. 6. Klorsilenol Klorsilenol merupakan larutan yang tidak mengiritasi dan banyak digunakan sebagai antiseptik, aktifitasnya rendah terhadap banyak bakteri dan penggunaannya terbatas sebagai desinfektan (misalnya Dettol).

Desinfeksi permukaan Disinfektan dapat membunuh mikroorganisme patogen pada benda mati. Disinfektan dibedakan menurut kemampuannya membunuh beberapa kelompok mikroorganisme, disinfektan “tingkat tinggi” dapat membunuh virus seperti virus influenza dan herpes, tetapi tidak dapat membunuh virus polio, hepatitis B atau M. tuberculosis. Untuk mendesinfeksi permukaan dapat dipakai salah satu dari tiga desinfektan seperti iodophor, derivate fenol atau sodium hipokrit : • • Iodophor dilarutkan menurut petunjuk pabrik. Zat ini harus dilarutkan baru setiap hari dengan akuades. Dalam bentuk larutan, desinfektan ini tetap efektif namun kurang efektif bagi kain atau bahan plastik. Derivat fenol (O-fenil fenol 9% dan O-bensil-P klorofenol 1%) dilarutkan dengan perbandingan 1 : 32 dan larutan tersebut tetap stabil untuk waktu 60 hari. Keuntungannya adalah “efek tinggal” dan kurang menyebabkan perubahan warna pada instrumen atau permukaan keras. Sodium hipoklorit (bahan pemutih pakaian) yang dilarutkan dengan perbandingan 1 : 10 hingga 1 : 100, harganya murah dan sangat efektif. Harus hati-hati untuk beberapa jenis logam karena bersifat korosif, terutama untuk aluminium. Kekurangannya yaitu menyebabkan pemutihan pada pakaian dan menyebabkan baru ruangan seperti kolam renang.

Untuk mendesinfeksi permukaan, umumnya dapat dipakai satu dari tiga desinfektan diatas. Tiap desinfektan tersebut memiliki efektifitas “tingkat menengah” bila permukaan tersebut dibiarkan basah untuk waktu 10 menit. http://signaterdadie.wordpress.com/2009/10/08/desinfektan/

Formaldehida
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa

Formaldehida

Nama IUPAC[sembunyikan] Metanal Nama lain[sembunyikan] formol, metil aldehida, oksida metilena Identifikasi Nomor CAS Nomor RTECS SMILES Rumus molekul Massa molar Penampilan Densitas Titik leleh Titik didih Kelarutan dalam air Bentuk molekul Momen dipol Bahaya utama [50-00-0] LP8925000
C=O

Sifat CH2O 30,03 g·mol−1 gas tak berwarna 1 kg·m−3, gas -117 °C (156 K) -19,3 °C (253,9 K) > 100 g/100 ml (20 °C) Struktur trigonal planar 2,33168(1) D Bahaya beracun, mudah terbakar

NFPA 704

2 3 2
R23/24/25, R34, R40, R43 (S1/2), S26, S36/37, S39, S45, S51 -53 °C Senyawa terkait asetaldehida benzaldehida keton asam karboksilat
Sangkalan dan referensi

Frasa-R Frasa-S Titik nyala Aldehida terkait Senyawa terkait

Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku pada temperatur dan tekanan standar (25°C, 100 kPa)

Senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanal, atau formalin), merupakan aldehida dengan rumus kimia H2CO, yang berbentuknya gas, atau cair yang dikenal sebagai formalin, atau padatan yang dikenal sebagai paraformaldehyde atau trioxane. Formaldehida awalnya disintesis

oleh kimiawan Rusia Aleksandr Butlerov tahun 1859, tapi diidentifikasi oleh Hoffman tahun 1867. Pada umumnya, formaldehida terbentuk akibat reasi oksidasi katalitik pada metanol. Oleh sebab itu, formaldehida bisa dihasilkan dari pembakaran bahan yang mengandung karbon dan terkandung dalam asap pada kebakaran hutan, knalpot mobil, dan asap tembakau. Dalam atmosfer bumi, formaldehida dihasilkan dari aksi cahaya matahari dan oksigen terhadap metana dan hidrokarbon lain yang ada di atmosfer. Formaldehida dalam kadar kecil sekali juga dihasilkan sebagai metabolit kebanyakan organisme, termasuk manusia.

Daftar isi
[sembunyikan] • • • 1 Sifat 2 Produksi 3 Kegunaan ○ 3.1 Daftar kegunaan formalin ○ 3.2 Penggunaan Formalin yang salah • • • 4 Pengaruh terhadap badan ○ 4.1 Pertolongan pertama bila terjadi keracunan akut 5 Sumber rujukan 6 Pranala luar

[sunting] Sifat
Meskipun dalam udara bebas formaldehida berada dalam wujud gas, tetapi bisa larut dalam air (biasanya dijual dalam kadar larutan 37% menggunakan merk dagang 'formalin' atau 'formol' ). Dalam air, formaldehida mengalami polimerisasi dan sedikit sekali yang ada dalam bentuk monomer H2CO. Umumnya, larutan ini mengandung beberapa persen metanol untuk membatasi polimerisasinya. Formalin adalah larutan formaldehida dalam air, dengan kadar antara 10%40%. Meskipun formaldehida menampilkan sifat kimiawi seperti pada umumnya aldehida, senyawa ini lebih reaktif daripada aldehida lainnya. Formaldehida merupakan elektrofil, bisa dipakai dalam reaksi substitusi aromatik elektrofilik dan sanyawa aromatik serta bisa mengalami reaksi adisi elektrofilik dan alkena. Dalam keberadaan katalis basa, formaldehida bisa mengalami reaksi Cannizzaro, menghasilkan asam format dan metanol. Formaldehida bisa membentuk trimer siklik, 1,3,5-trioksana atau polimer linier polioksimetilena. Formasi zat ini menjadikan sifat-sifat gas formaldehida berbeda dari sifat gas ideal, terutama pada tekanan tinggi atau udara dingin. Formaldehida bisa dioksidasi oleh oksigen atmosfer menjadi asam format, karena itu larutan formaldehida harus ditutup serta diisolasi supaya tidak kemasukan udara.

[sunting] Produksi
Secara industri, formaldehida dibuat dari oksidasi katalitik metanol. Katalis yang paling sering dipakai adalah logam perak atau campuran oksida besi dan molibdenum serta vanadium. Dalam sistem oksida besi yang lebih sering dipakai (proses Formox), reaksi metanol dan oksigen terjadi pada 250 °C dan menghasilkan formaldehida, berdasarkan persamaan kimia 2 CH3OH + O2 → 2 H2CO + 2 H2O. Katalis yang menggunakan perak biasanya dijalankan dalam temperatur yang lebih tinggi, kirakira 650 °C. dalam keadaan ini, akan ada dua reaksi kimia sekaligus yang menghasilkan formaldehida: satu seperti yang di atas, sedangkan satu lagi adalah reaksi dehidrogenasi CH3OH → H2CO + H2. Bila formaldehida ini dioksidasi kembali, akan menghasilkan asam format yang sering ada dalam larutan formaldehida dalam kadar ppm. Di dalam skala yang lebih kecil, formalin bisa juga dihasilkan dari konversi etanol, yang secara komersial tidak menguntungkan.

[sunting] Kegunaan
Formaldehida dapat digunakan untuk membasmi sebagian besar bakteri, sehingga sering digunakan sebagai disinfektan dan juga sebagai bahan pengawet. Sebagai disinfektan, Formaldehida dikenal juga dengan nama formalin dan dimanfaatkan sebagai pembersih; lantai, kapal, gudang dan pakaian. Formaldehida juga dipakai sebagai pengawet dalam vaksinasi. Dalam bidang medis, larutan formaldehida dipakai untuk mengeringkan kulit, misalnya mengangkat kutil. Larutan dari formaldehida sering dipakai dalam membalsem untuk mematikan bakteri serta untuk sementara mengawetkan bangkai. Dalam industri, formaldehida kebanyakan dipakai dalam produksi polimer dan rupa-rupa bahan kimia. Jika digabungkan dengan fenol, urea, atau melamina, formaldehida menghasilkan resin termoset yang keras. Resin ini dipakai untuk lem permanen, misalnya yang dipakai untuk kayulapis/tripleks atau karpet. Juga dalam bentuk busa-nya sebagai insulasi. Lebih dari 50% produksi formaldehida dihabiskan untuk produksi resin formaldehida. Untuk mensintesis bahan-bahan kimia, formaldehida dipakai untuk produksi alkohol polifungsional seperti pentaeritritol, yang dipakai untuk membuat cat bahan peledak. Turunan formaldehida yang lain adalah metilena difenil diisosianat, komponen penting dalam cat dan busa poliuretana, serta heksametilena tetramina, yang dipakai dalam resin fenol-formaldehida untuk membuat RDX (bahan peledak). Sebagai formalin, larutan senyawa kimia ini sering digunakan sebagai insektisida serta bahan baku pabrik-pabrik resin plastik dan bahan peledak. http://id.wikipedia.org/wiki/Formaldehida 2011-11-09 LAPORAN PRAKTIKUM UJI SENSITIFITAS Posting Oleh: Adnan Depressionz Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook

I.PENDAHULUAN A.Latar Belakang Antiseptik adalah zat yang biasa digunakan untuk menghambat pertumbuhan dan membunuh mikroorganisme berbahaya (patogenik) yang terdapat pada permukaan tubuh luar mahluk hidup. Contoh beberapa antiseptik yaitu: betadine, senyawa kimia baik organik maupun anorganik banyak yang bersifat racun terhadap mikroorganisme. Usaha manusia untuk mengatasi mikroorganisme penyebab penyakit banyak menggunakan bahan kimia. Antibiotik dapat dikatakan sebagai perusak kehidupan atau dapat disebut juga suatu zat kimiawi yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lainnya (Anonim, 2009). Desinfektan adalah zat kimia yang mematikan sel vegetatif belum tentu mematikan bentuk spora mikroorganisme penyebab suatu penyakit. Desinfektan digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada benda-benda mati seperti meja, lantai, objek glass dan lainlain. Kelompok utama desinfektan yaitu: fenol, alkohol, aldehid, halogen, logam berat, detergen, dan kemosterilisator gas. Cara kerja zat-zat kimia dalam mematikan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme berbeda-beda antara lain dengan: merusak dinding sel, mengubah permeabilitas sel, mengubah molekul protein dan asam amino yang dimiliki mikroorganisme, menghambat kerja enzim, menghambat sintesis asam nukleat dan protein, serta sebagai antimetabolit (Anonim 2009). B.Tujuan 1.Mengenal berbagai jenis desinfektan dan antiseptik. 2.Mengetahui efektivitas suatu desinfektan dan antiseptik dalam mematikan ataupun menghambat pertumbuhan mikroorganisme. 3.Mengetahui kekuatan antibiotik terhadap pertumbuhan mikroorganisme. II.MATERI DAN METODE A.Materi Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu: cawan petri, tabung reaksi, kapas bertangkai, pipet tetes steril, pembakar spiritus, pinset, dan kertas cakram. Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu: desinfektan (bayclin), antibiotik (tetracycline), dan antiseptik (betadine). B.Metode 1.Antibiotik a.Ambil antibiotik (tetracycline) dengan pipet tetes pada tabung reaksi dan diteteskan di kertas cakram. b.Ambil koloni bakteri pada tabung reaksi dengan kapas bertangkai steril lalu dilownkan ke cawan petri. c.Ambil antibiotik pada kertas cakram dengan pinset dan letakkan di tengah cawan petri. d.Diinkubasi selama 2 x 24 jam pada suhu 37oC. e.Amati daerah hambatan pertumbuhan kemudian diukur diameter zona hambatnya. f.Cara mengukurnya yaitu dengan mengukur zona hambat yang terpanjang sebagai d1, kemudian ukur daerah hambat yang terpendek sebagai d2, kemudian d1 ditambah d2 lalu dibagi dua

(dirata-rata). g.Kemudian diukur sensitivitas antibiotik tersebut dengan melihat pada table penilaian diameter zona hambat. 2.Antiseptik a.Ambil kapas bertangkai dan masukkan pada pepton water kemudian diulaskan pada punggung tangan. b.Kapas bertangkai tersebut dilownkan pada salah satu bagian cawan petri yang telah dibagi menjadi dua. c.Ulaskan antiseptik (betadine) pada punggung tangan kemudian ulaskan kapas bertangkai pada punggung tangan tersebut yang sebelumnya telah dimasukkan pada pepton water. d.Kapas bertangkai tersebut dilownkan pada setengah bagian yang tersisa kemudian diinkubasii selama 2 x 24 jam pada suhu 37oC. e.Bandingkan banyaknya koloni bakteri pada bagian yang diberi antiseptik dengan yang tidak menggunakan antiseptik. 3.Desinfektan a.Ambil kapas bertangkai dan masukkan ke pepton water lalu ulaskan kapas tersebut pada lantai. b.Kapas bertangkai tersebut dilownkan pada salah satu sisi cawan petri yang telah dibagi dua. c.Desinfektan (bayclin) diulaskan ke lantai tadi kemudian dengan kapas yang berbeda dimasukkan ke pepton water lalu diulaskan lagi ke lantai yang sudah diberi desinfektan. d.Lalu dilown pada setengah bagian sisi yang lain pada cawan petri kemudian diinkubasi selama 2 x 24 jam pada suhu 37oC. e.Bandingkan banyaknya koloni mikroorganisme pada bagian yang diberi desinfektan dengan bagian yang tidak diberi desinfektan.

III.HASIL DAN PEMBAHASAN A.Hasil 1.Antibiotik Antibiotik yang digunakan dalam praktikum pada kelompok kami yaitu tetracycline. Tetracycline memiliki spectrum yang luas sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme secara luas. Antibiotik ini dibagi menjadi tiga yaitu: metacyclin, minicyclin, oksitetracyclin. Tetracycline berasal dari jamur Streptomyces aurefaciens dan Streptomyces viridifaciens. Tetracycline termasuk sensitif dalam menghambat pertumbuhan bakteri E.coli. Diameter zona hambat pada bakteri E.coli yang pertama (d1) yaitu 28 mm dan zona hambat yang kedua (d2) yaitu 27 mm sehingga dihasilkan zona hambat rata-rata yaitu 27,5 mm. Tabel sensitivitas antibiotik

Gambar zona hambat pada bakteri E.coli oleh antibiotik tetracycline

Tabel hasil pengukuran diameter zona hambat

2.Antiseptik Pertumbuhan mikroba pada media yang diberi antiseptik (betadine) lebih sedikit dibandingkan dengan media yang tidak diberi antiseptik (betadine). Betadine efektif dalam menghambat pertumbuhan mikroba. 3.Desinfektan Pertumbuhan mikroba pada media yang diberi desinfektan (bayclin) lebih sedikit dibandingkan dengan media yang tidak diberi desinfektan (bayclin). Bayclin kurang efektif dalam menghambat pertumbuhan mikroba.

Gambar zona hambat pada mikroba oleh desinfektan bayclin B.Pembahasan Antibiotik adalah bahan yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau sintetis yang dalam jumlah kecil mampu menekan menghambat atau membunuh mikroorganisme lainnya. Antibiotik memiliki spektrum aktivitas antibiosis yang beragam. Antiseptik adalah zat yang biasa digunakan untuk menghambat pertumbuhan dan membunuh mikroorganisme berbahaya (patogenik) yang terdapat pada permukaan tubuh luar mahluk hidup. Secara umum, antiseptik berbeda dengan obat-obatan maupun disinfektan. Disinfektan yaitu suatu senyawa kimia yang dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme pada permukaan benda mati seperti meja, lantai dan pisau bedah sedangkan antiseptik digunakan untuk menekan pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan tubuh, misalnya kulit. Zat antiseptik yang umum digunakan diantaranya adalah iodium, hidrogen peroksida dan asam borak. Kekuatan masing-masing zat antiseptik tersebut berbeda-beda. Ada yang memiliki kekuatan yang sangat tinggi, ada pula yang bereaksi dengan cepat ketika membunuh mikroorganisme dan sebaliknya. Sebagai contoh merkuri klorida, zat antiseptik yang sangat kuat, akan tetapi dapat menyebabkan iritasi bila digunakan pada bagian tubuh atau jaringan lembut. Perak nitrat memiliki kekuatan membunuh yang lebih rendah, tetapi aman digunakan pada jaringan yang lembut, seperti mata atau tenggorokan. Iodium dapat memusnahkan mikroorganisme dalam waktu kurang dari 30 detik. Antiseptik lain bekerja lebih lambat, tetapi memiliki efek yang cukup lama. Kekuatan suatu zat antiseptik biasanya dinyatakan sebagai perbandingan antara kekuatan zat antiseptik tertentu terhadap kekuatan antiseptik dari fenol (pada kondisi dan mikroorganisme yang sama), atau yang lebih dikenal sebagai koefisien fenol (coefficient of phenol). Fenol sendiri, pertama kali digunakan sebagai zat antiseptik oleh Joseph Lister pada proses pembedahan (Dwidjoseputro, 1994).

Contoh beberapa antiseptik : 1.Rivanol memiliki zat aktif berupa etakridin laktat yang bersifat bakteriostatik yaitu menghambat pertumbuhan kuman. Rivanol tidak terlalu menimbulkan iritasi dan sering digunakan untuk membersihkan luka, baik dipakai untuk mengompres luka maupun bisul. Rivanol juga sebaiknya dipakai untuk membersihkan luka yang bersih (Gennaro, 1990). 2.Povidon Iodin atau betadine bekerja mengeluarkan iodine (bahan aktifnya) yang berperan dalam membunuh dan menghambat pertumbuhan kuman seperti jamur, bakteri, virus dan protozoa. Betadine yang digunakan untuk persiapan operasi (membersihkan areal operasi) berbeda dengan betadine yang dikemas untuk penggunaan sehari-hari (Gennaro, 1990). 3.Hidrogen Peroksida kadar 6% digunakan untuk membersihkan luka. Kadar 1-2% digunakan untuk membersihkan luka yang sering terjadi di rumah, atau klinik-klinik biasa. Efek sampingnya dapat menimbulkan jaringan parut setelah sembuh dan memperpanjang masa penyembuhan. Sebaiknya digunakan bersama air yang mengalir dan sabun, untuk menghindari paparan yang berlebihan pada jaringan manusia (Gennaro, 1990).

4.Antiseptik yang mengandung merkuri dahulu dikenal sebagai obat merah (Merkurokrom) yang berperan dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Efek sampingnya cukup sering menimbulkan alergi, tetapi cukup cepat mengeringkan luka (Gennaro, 1990). Mekanisme kerja antibiotik antara lain: 1.Antibiotik menghambat sintesis dinding sel mikroba. Ada antibiotik yang merusak dinding sel mikroba dengan menghambat sintesis ensim atau inaktivasi ensim, sehingga menyebabkan hilangnya viabilitas dan sering menyebabkan sel lisis. Antibiotik ini meliputi penisilin, sepalosporin, sikloserin, vankomisin, ristosetin dan basitrasin. Antibiotik ini menghambat sintesis dinding sel terutama dengan mengganggu sintesis peptidoglikan. Dinding sel bakteri menentukan bentuk karakteristik dan berfungsi melindungi bagian dalam sel terhadap perubahan tekanan osmotik dan kondisi lingkungan lainnya. Di dalam sel terdapat sitoplasma ailapisi dengan membran sitoplasma yang merupakan tempat berlangsungnya proses biokimia sel. Dinding sel bakteri terdiri dari beberapa lapisan. Bakteri gram positif struktur dinding selnya relatif sederhana dan gram negatif relatif lebih komplek. Dinding sel bakteri gram positif tersusun atas lapisan peptidoglikan relatif tebal, dikelilingi lapisan teichoic acid dan pada beberapa spesies mempunyai lapisan polisakarida. Dinding sel bakteri gram negatif mempunyai lapisan peptidoglikan relatif tipis, dikelilingi lapisan lipoprotein, lipopolisakarida, fosfolipid dan beberapa protein. Peptidoglikan pada kedua jenis bakteri merupakan komponen yang menentukan rigiditas pada gram positif dan berperanan pada integritas gram negatif. Oleh karena itu gangguan pada sintesis komponen ini dapat menyebabkan sel lisis dan dapat menyebabkan kematian sel. Antibiotik yang menyebabkan gangguan sintesis lapisan ini aktivitasnya akan lebih nyata pada bakteri gram positif. Aktivitas penghambatan atau membinasakan hanya dilakukan selama pertumbuhan sel dan aktivitasnya dapat ditiadakan dengan menaikkan tekanan osmotik media untuk mencegah pecahnya sel. Bakteri tertentu seperti mikobakteria dan halobakteria mempunyai peptidoglikan relatif sedikit, sehingga kurang terpengaruh oleh antibiotik grup ini. Sel selama mensintesis peptidoglikan memerlukan enzim hidrolase dan sintetase. Kegiatan kedua enzim ini harus seimbang satu sama lain untuk menjaga agar sintesis tetap normal. Biosintesis peptidoglikan berlangsung dalam beberapa stadium dan antibiotik pengganggu sintesis peptidoglikan aktif pada stadium yang berlainan. Sikloserin terutama menghambat enzim racemase dan sintetase yang berperan dalam pembentukan dipeptida. Vankomisin bekerja pada stadium kedua diikuti oleh basitrasin, ristosetin dan diakhiri oleh penisilin dan sefalosporin yaitu menghambat transpeptidase. Perbedaan antara sel mamalia dan bakteri yaitu dinding sel luar bakteri tebal dengan membran sel menentukan bentuk sel dan memberi ketahanan terhadap tekanan osmotik. Struktur dinding sel mamalia tidak sama dengan dinding sel bakteri, sehingga antibiotik yang mempunyai aktivitas mengganggu sintesis dinding sel mempunyai toksisitas selektif sangat tinggi. Oleh karena itu antibiotik tipe ini merupakan antibiotik yang sangat berharga (Gupte, 1990). 2.Antibiotik mengganggu membran sel mikroba. Dinding sel bakteri bagian bawah adalah lapisan membran sel lipoprotein yang dapat disamakan dengan membran sel pada manusia. Membran ini mempunyai sifat permeabilitas selektif dan berfungsi mengontrol keluar masuknya substansi dari dan ke dalam sel, serta memelihara tekanan osmotik internal dan ekskresi waste products. Selain itu membran sel juga berkaitan

dengan replikasi DNA dan sintesis dinding sel. Oleh karena itu substansi yang mengganggu fungsinya akan sangat lethal terhadap sel. Beberapa antibiotik yang dikenal mempunyai mekanisme kerja mengganggu membran sel yaitu antibiotik peptida (polimiksin, gramisidin, sirkulin, tirosidin, valinomisin) dan antibiotik polyene (amphoterisin, nistatin, filipin). Membran sel merupakan lapisan molekul lipoprotein yang dihubungkan dengan ion Mg. Sehingga agen chelating yang berkompetisi dengan Mg selama pembentukan membran, dapat meningkatkan permeabilitas sel atau menyebabkan sel lisis. Beberapa antibiotik bersatu dengan membran dan berfungsi sebagai iondphores.yaitu senyawa yang memberi jalan masuknya ion abnormal. Proses ini dapat mengganggu biokimia sel, misalnya gramicidin. Polimiksin dapat merusak membran sel setelah bereaksi dengan fosfat pada fosfolipid membran sel. Sehingga polimiksin lebih aktip terhadap bakteri gram negatif daripada gram positif yang mempunyai jumlah fosfor lebih rendah. Antibiotik polyene hanya bekerja pada fungi tetapi tidak aktif pada bakteri. Dasar selektivitas ini, karena mereka bekerja berikatan dengan sterol yang ada pada membran fungi dan organisme yang lebih tinggi lainnya. Secara in vitro polyene dapat menyebabkan hemolisis, karena diduga membran sel darah merah mengandung sterol sebagai tempat aktivitas antibiotik polyene. Amfoterisin B juga dapat digunakan untuk infeksi sistemik tetapi sering disertai efek samping anemia hemolitik. Kerusakan membran sel dapat menyebabkan kebocoran sehingga komponenkomponen penting di dalam sel seperti protein, asam nukleat, nukleotida dan lain-lain dapat mengalir keluar. Diduga struktur membran ini ada pada mamalia, oleh karena itu antibiotik ini mempunyai toksisitas selektif relatif kecil dibanding antibiotik yang bekerja pada dinding sel bakteri, sehinggadalam penggunaan sistemik antibiotik ini relatip toksik, untuk mengurangi toksisitasnya dapat digunakan secara topikal (Gupte, 1990). 3.Antibiotik menghambat sintesis protein dan asam nukleat mikroba. Sel mikroba dalam memelihara kelangsungan hidupnya perlu mensintesis protein yang berlangsung di dalam ribosom bekerja sama dengan mRNA dan tRNA, gangguan sintesis protein akan berakibat sangat fatal dan antimikroba dengan mekanisme kerja seperti ini mempunyai daya antibakteri sangat kuat. Antibiotik kelompok ini meliputi aminoglikosid, makrolid, linkomisin, tetrasiklin, kloramphenikol, novobiosin, puromisin. Penghambatan biosintesis protein pada sel prokariot ini bersifat sitostatik, karena mereka dapat menghentikan pertumbuhan dan pembelahan sel. Bila sel dipindahkan ke media bebas antibiotik, mereka dapat tumbuh kembali setelah antibiotik berkurang dari sel kecuali streptomisin yang mempunyai aktivitas bakterisida. Pengaruh zat ini terhadap sel eukariot diperkirakan sitotoksik. Beberapa penghambat ribosom 80s seperti puromisin dan sikloheksimid sangat toksik terhadap sel mamalia, oleh karena itu tidak digunakan untuk terapi, sedang tetrasiklin mempunyai toksisitas relatip kecil bila digunakan oleh orang dewasa. Tetrasiklin menghambat biosintesis protein yang terdapat pada ribosom 80s dan 70s. Erytromisin berikatan dengan ribosom 50s. Streptomisin berikatan dengan ribosom 30s dan menyebabkan kode mRNA salah dibaca oleh tRNA, sehingga terbentuk protein abnormal dan non fungsional. Asam nukleat merupakan bagian yang sangat vital bagi perkembangbiakan sel. Pertumbuhan sel kebanyakan tergantung pada sintesis DNA, sedang RNA diperlukan untuk transkripsi dan menentukan informasi sintesis protein dan enzim. Jenisjenis RNA yaitu t-RNA, r-RNA, m-RNA, masing-masing mempunyai peranan pada sintesis protein. Begitu pentingnya asam nukleat bagi sel, maka gangguan sintesis DNA atau RNA dapat

memblokir pertumbuhan sel. Namun antimikroba yang mempunyai mekanisme kegiatan seperti ini pada umumnya kurang selektif dalam membedakan sel bakteri dan sel mamalia. Antimikroba ini umumnya bersifat sitotoksik terhadap sel mamalia. Sehingga penggunaan antimikroba jenis ini harus hati-hati dan selektif yaitu yang sifat sitotoksiknya masih dapat diterima. Seperti asam nalidiksat dan rifampisin, karena aktivitasnya sangatkuatdalam menghambatpertumbuhan, maka antimikroba dengan mekanisme seperti ini sering digunakan sebagai anti-tumor. Antimikroba yang mempengaruhi sintesis asam nukleat dan protein mempunyai mekanisme kegiatan pada tempat yang berbeda, antara lain: Antimikroba mempengaruhi replikasi DNA, seperti bleomisin, phleomisin, mitomisin, edeine, porfiromisin. Antimikroba mempengaruhi transkripsi, seperti aktinomisin, kromisin, ekonomisin, rifamisin, korisepin, streptolidigin. Antimikroba mempengaruhi pembentukan aminoacyltRNA, seperti borrelidin. Antimikroba mempengaruhi translasi, antara lain kloramphenikol, streptomisin, neomisin, kanamisin, karbomisin, crytromisin, linkomisin, fluidic acid, tetrasiklin. Antimikroba yang mempengaruhi sintesis protein dan asam nukleat, mayoritas aktif pada bagian translasi dan diantara mereka banyak yang berguna dalam terapi. Karena mekanisme translasi antara sel bakteri dan sel eukariot berbeda, maka mungkin mereka memperlihatkan toksisitas selektif (Gupte, 1990). 4.Antibiotik mengganggu metabolisme sel mikroba. Antibiotik dapat dikatakan sebagai perusak kehidupan, atau dapat disebut juga suatu zat kimiawi yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang mempunyai kemampuan, dalam larutan encer, untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lainnya. Macam-macam antibiotik berdasarkan struktur kimianya: a.Golongan Aminoglikosida diantaranya adalah amikasin, gentamisin, kanamisin, neomisin, netilimisin, paromisin, sisomisin, streptomisin, dan tobramisin. b.Golongan Beta-Laktam diantaranya golongan karbapenem (ertapenem, imipenem, meropenem), golongan sefalosporin (sefaleksin, sefazolin, sefuroksim, sefadroksil, seftazidim), golongan beta-laktam monosiklik, dan golongan penisilin (penisilin, amoksisilin). Salah satu contoh dari golongan beta-laktam adalah golongan sefalosporin dan golongan sefalosporin ini ada hingga generasi ketiga dan seftriakson merupakan generasi ketiga dari golongan sefalosporin ini. Seftriakson merupakan obat yang umumnya aktif terhadap kuman gram-positif, tetapi kurang aktif dibandingkan dengan sefalosporin generasi pertama. Untuk meningitis obat ini diberikan dua kali sehari sedangkan untuk infeksi lain umumnya cukup satu kali dalam sehari. Dosis lazim obat ini ialah 1-2 g/hari IM atau IV dalam dosis tunggal atau dibagi dalam 2 dosis. Seftriakson tersedia dalam bentuk bubuk obat suntik 0,25 gr, 0,5 gr, dan 1 gr. c.Golongan Glikopeptida diantaranya vankomisin, teikoplanin, ramoplanin dan dekaplanin. d.Golongan Poliketida diantaranya makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin, roksitromisin), ketolida (telitromisin), tetrasiklin (doksisiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin). e.Golongan Polimiksin diantaranya polimiksin dan kolistin. f.Golongan Kuinolon (fluorokuinolon) diantaranya asam nalidiksat, siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin, levofloksasin, dan trovafloksasin. Golongan ini dapat digunakan untuk infeksi sistemik. Mekanisme resistensi melalui plasmid seperti yang banyak terjadi pada antibiotika lain tidak dijumpai pada golongan kuinolon, tetapi dapat terjadi dengan mekanisme mutasi pada DNA atau membrane sel kuman. Golongan flourokuinolon aktif sekali terhadap

enterobacteriaceae (E. coli, Klebsiella, Enterobacter, Proteus), Shigella, Salmonella, Vibrio, C. jejuni, B. catarrhalis, H. influenza, dan N. gonorrhoeae. Golongan ini juga aktif terhadap Ps. Aeruginosa. Berbagai kuman yang telah resisten terhadap golongan aminoglikosida dan betalaktam ternyata masih peka terhadap fluorokuinolon. Streptokokus (termasuk S. pyogenes grup A, Enterococcus faecalis, dan Streptococcus viridans) termasuk ke dalam kuman yang kurang peka terhadap fluorokuinolon. Kuman-kuman anaerob pada umumnya resisten terhadap fluorokuinolon. g.Golongan kuinolon baru umunya dapat ditoleransi dengan baik. Efek sampingnya yang terpenting adalah pada saluran cerna dan susunan saraf pusat. Manifestasi pada saluran cerna terutama berupa mual dan hilang nafsu makan merupakan efek samping yang paling sering dijumpai. Efek samping pada susunan saraf pusat umumnya bersifat ringan berupa sakit kepala, vertigo dan insomnia. Efek samping yang lebih berat pada SSP seperti reaksi psikotik, halusinasi, depresi dan kejang jarang terjadi. Penderita berusia lanjut, khususnya dengan arteriosklerosis atau epilepsi cenderung mengalami efek samping susunan saraf ini. h.Golongan Streptogramin diantaranya pristinamycin, virginiamycin, mikamycin, dan kinupristin-dalfopristin. i.Golongan Oksazolidinon diantaranya linezolid dan AZD2563. j.Golongan Sulfonamida diantaranya kotrimoksazol dan trimetoprim. k.Antibiotika lain yang penting adalah kloramfenikol, klindamisin dan asam fusidat. Antibiotik dapat pula digolongkan berdasarkan organisme yang dilawan dan jenis infeksi. Berdasarkan keefektifannya dalam melawan jenis bakteri, dapat dibedakan antibiotik yang membidik bakteri gram positif atau gram negatif saja, dan antibiotik yang berspektrum luas, yaitu yang dapat membidik bakteri gram positif dan negatif (Gupte, 1990). Zona hambat adalah daerah untuk menghambat pertumbuhan mikroorrganisme pada media agar oleh antibiotik. Contohnya: tetracycline, erytromycin, dan streptomycin. Tetracycline merupakan antibiotik yang memiliki spektrum yang luas sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri secara luas (Pelczar, 1986). IV.KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan 1.Macam-macam desinfektan meliputi bayclin, detergen, karbol, dan alkohol, serta macammacam antiseptik betadine, Cristal Violet, tissue basah, hand sanitizer. 2.Betadine efektif menghambat pertumbuhan mikroba, dan bayclin kurang efektif dalam menghambat pertumbuhan mikroba. 3.Tetracycline mempunyai spektrum luas sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri E.coli dengan diameter zona hambat 27,5 mm dan sangat sensitif terhadap pertumbuhan bakteri E.coli. B.Saran 1.Praktikum dilakukan dengan keadaan steril agar mikroorganisme yang akan ditumbuhkan pada media pertumbuhan tidak terkontaminasi dengan mikroorganisme lain. 2.Pengukuran zona hambat harus lebih akurat sehingga sesuai dengan sensitivitas masing-masing antibiotik.

DAFTAR REFERENSI Anonim. 2009. Kegiatan Belajar 1 Bakteri. http://www.edukasi.net/mo1/mofull.php? moid=86&fname=kb17. Diakses pada tanggal 14 April 2009. Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan. Gennaro,A.R. 1990. Remington’s Pharmaceutical Sciences. Pennsylvania: Mack Publishing Company. Gupte, S. 1990, Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Binarupa Aksara. Pelczar, M. J. dan E. C. S. Chan1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : UI Press. http://kesmas-unsoed.blogspot.com/2010/06/laporan-praktikum-uji-sensitifitas.html

 Pembahasan Antibakteri atau antimikroba adalah bahan yang dapat membunuh ataumenghambat aktivitas mikroorganisme dengan bermacam-macam cara. Senyawaantimikroba terdiri atas beberapa kelompok berdasarkan mekanisme daya kerjanya atautujuan penggunaannya. Bahan antimikroba dapat secara fisik atau kimia dan berdasarkanperuntukannya dapat berupa desinfektan, antiseptik, sterilizer, sanitizer dan sebagainya. Pada praktikum ini, kemampuan suatu antimikroba dalam menghambatpertumbuhan bakteri akan dibandingkan dengan kemampuan antimikroba lain melaluimodifikasi uji antimikroba metode Kirby-Bouer. Dalam metode Kirby-Bouer ujimenggunakan lempengan antibiotika kertas saring yang diletakkan pada cawan yangtelah berisi campuran medium NA dan biakan bakteri uji namun dalam metodemodifikasi pada Cawan NA dilobangi dengan Crookbor dimana pada lubang tersebutakan dimasukkan zat antimikroba. Setelah itu penginkubasian dilakukan dalam suhukamar selama 2 x 24 jam, dari hasil inkubasi tersebut akan terbentuk zona bening dimedia pertumbuhan. Zona bening ini terjadi karena antimikroba akan mengakibatkanpembentukan cincin-cincin hambatan di dalam area pertumbuhan bakteri yang padatsehingga tak ada bakteri yang tumbuh di dalam cincin tersebut. Keampuhan suatuantimikroba dapat dilihat dari seberapa besar zona bening yang terbentuk akibatberdifusinya zat antibiotika tersebut. Antimikroba yang berbeda memiliki laju difusi yangberbeda pula, karena itu keampuhan antimikroba satu tidak sama dengan antimikrobayang lain.  Anda Merasa Terbantu dengan Artikel ini???Dukung kami dengan mengirimkan Pulsa di No:ADMIN : 0852 417 82228Radio Mu’adz : 0852 9933 1996  Mekanisme daya kerja antimikroba terhadap sel dapat dibedakan atas beberapakelompok sebagai berikut: 1. Merusak dinding sel 2. Mengganggu permeabilitas sel 3.Merusak molekul

protein dan asam nukleat 4. Menghambat aktivitas enzim 5.Menghambat sintesa asam nukleat Aktivitas anti mikroba yang dapat diamati secaralangsung adalah perkembangbiakannya. Oleh karena itu mikroba disebut mati jika tidakdapat berkembang biak. Pada dasarnya antimikroba dibagi menjadi 2 macam, yaitu antibiotik dandisinfektan. Antibiotik adalah senyawa yang dihasilkan oleh mikroorganisme tertentuyang mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri atau bahkan membunuhbakteri walaupun dalam konsentrasi yang rendah. Antibiotik digunakan untukmenghentikan aktivitas mikroba pada jaringan tubuh makhluk hidup sedangkandisinfektan bekerja dalam menghambat atau menghentikan pertumbuhan mikroba padabenda tak hidup, seperti meja, alat gelas, dan lain sebagainya. Pembagian keduakelompok antimikroba ini tidak hanya didasarkan pada aplikasi penerapannya melainkanjuga terhadap konsentrasi antimikroba yang digunakan. Pada uji zat antibiotik digunakan zat antibiotik alami dan buatan. Zat anti bioticalami yang digunakan adalah kunyit, sedangkan zat antibiotic sintetik yang digunakanadalah ampicillin. Ampicilin termasuk golongan antibiotik penisilin. Ampicilinmempunyai sifat bakterisida penisilin normal, disebut antibiotika berspektrum luaskarena antibiotik ini efektif terhadap banyak bakteri, baik gram-negatif maupun gram-positif, dan lebih aktif melawan infeksi bakteri gram negatif dan enterokokal. Sedangkankunyit diberitakan memiliki aktivitas antibakteri yang cukup baik, namun dari hasil  pengamatan yang diperoleh kunyit hanya membentuk zona bening sebesar 1,4 cmsedangkan ampicilin membentuk zona bening sebesar 2,55 cm. Dari hasil pengamatantersebut dapat disimpulkan bahwa kedua zat ini memiliki aktivitas yang baik sebagaiantibiotic, akan tetapi dari hasil tersebut dapat kita lihat bahwa ampicilin merupakan zatantibiotic yang lebih baik daripada kunyit. Uji selanjutnya adalah pengujian zat disinfektan, zat disinfektan yang diujikanadalah alcohol dan fenol yang terdapat di pembersih wipol. Bahan kimia yang mematikanbakteri disebut bakterisidal, sedangkan bahan kimia yang menghambat pertumbuhandisebut bakteriostatik. Bahan antimicrobial dapat bersifat bakteriostatik pada konsentrasirendah, namun bersifat bakterisidal pada konsentrasi tinggi. Dalam menghambat aktivitas mikroba, alcohol 50-70% berperan sebagaipendenaturasi dan pengkoagulasi protein, denaturasi dan koagulasi protein akan merusakenzim sehingga mikroba tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan akhirnyaaktivitasnya terhenti. Dari hasil pengamatan yang dilakukan zona bening yang dibentukoleh alcohol ialah sebesar 1,35 cm. Senyawa fenol kerap digunakan dalam pembersihporselen karena memiliki aktivitas dalam menghambat pertumbuhan mikroba. Fenolmemiliki aktivitas dalam merusak membran sel dan mendenaturasi protein. Dari hasilpengamatan, diketahui fenol membentuk zona bening sebesar 0,9 cm. Sekilas dari hasiltersebut kita dapat menyimpulkan bahwa alcohol merupakan disinfektan yang baikkarena membentuk zona bening yang lebh besar, namun hal ini tidak sepenuhnya benarkarena perbedaan konsentrasi alcohol dan fenol yang digunakan sangatlah jauh, alcoholberkadar 50% sedangkan fenol dalam pembersih porselen hanya berkadar 0,5%.  Dalam praktikum ini dilakukan juga uji oligodinamik, uji oligodinamik berprinsip pada interaksi antara logam yang terionisasi dengan gugus sulfihidril pada protein sel yang menyebabkan denaturasi. Oligodinamik sendiri memiliki arti sebagai daya hambat atau mematikan dari logam terhadap makhluk hidup, sehingga variasi yang diberikan pada ujiini adalah logam. Logam yang digunakan adalah logam Zn dan uang logam, dari kedua logam ini yang membentuk zona bening hanya logam Zn sementara zona bening tidak terbentuk pada uang logam. Dari ketiga uji tersebut dapat diketahui bahwa aktivitas antimikroba suatu senyawa kimia ditentukan oleh konsentrasi dan sifat dari bahan yang digunakan. Umumnya hampir semua senyawa kimia pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat bersifat racun. Namun dari ketiga uji tersebut tidak dapat diketahui KHM (Kadar hambat minimal) dan KBM (Kadar bunuh minimal)

dari bahan antimikroba sehingga masih diperlukan studi tambahan terkait daya kerja antimikroba.VI. KESIMPULAN Kesimpulan dari percobaan ini adalah ampicilin dan kunyit memiliki aktivitas yang baik untuk digunakan sebagai antibiotic, begitu pula dengan alcohol dan fenol (dalam kadar sedikit) dapat digunakan sebagai disinfektan, dan uang logam tidak membunuh bakteri. (MIFTA NUR MUH) http://www.slideshare.net/mivt/laporan-mikrobiologi-daya-kerja-antimikroba-7964891

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->