P. 1
Staphylococcus Aureus

Staphylococcus Aureus

|Views: 1,338|Likes:
Published by ahyar

More info:

Published by: ahyar on Jan 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/22/2014

pdf

text

original

Staphylococcus aureus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa
?

Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus (S. aureus) adalah bakteri gram positif yang menghasilkan pigmen kuning, bersifat aerob fakultatif, tidak menghasilkan spora dan tidak motil, umumnya tumbuh berpasangan maupun berkelompok, dengan diameter sekitar 0,8-1,0 µm.[1][2] S. aureus tumbuh dengan optimum pada suhu 37oC dengan waktu pembelahan 0,47 jam. [3] S. aureus merupakan mikroflora normal manusia[3]. Bakteri ini biasanya terdapat pada saluran pernafasan atas dan kulit[1][4]. Keberadaan S. aureus pada saluran pernafasan atas dan kulit pada individu jarang menyebabkan penyakit, individu sehat biasanya hanya berperan sebagai karier [1]. Infeksi serius akan terjadi ketika resistensi inang melemah karena adanya perubahan hormon; adanya penyakit, luka, atau perlakuan menggunakan steroid atau obat lain yang memengaruhi imunitas sehingga terjadi pelemahan inang[1]. Infeksi S. aureus diasosiasikan dengan beberapa kondisi patologi, diantaranya bisul, jerawat, pneumonia, meningitis, dan arthritits[1]. Sebagian besar penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini memproduksi nanah, oleh karena itu bakteri ini disebut piogenik[1]. S. aureus juga menghasilkan katalase, yaitu enzim yang mengkonversi H2O2 menjadi H2O dan O2, dan koagulase, enzim yang menyebabkan fibrin berkoagulasi dan menggumpal[1]. Koagulase diasosiasikan dengan patogenitas karena penggumpalan fibrin yang disebabkan oleh enzim ini terakumulasi di sekitar bakteri sehingga agen pelindung inang kesulitan mencapai bakteri dan fagositosis terhambat[1].

Klasifikasi ilmiah

Daftar isi
[sembunyikan] • • 1 Mikrobiologi ○ ○ 1.1 Quorum Sensing 2.1 Koagulase 2 Faktor Virulensi

○ 2.2 Protein A Nama binomial ○ 2.3 Eksotoksin sitolitik Staphylococcus aureus ○ 2.4 Enterotoksin
Rosenbach 1884

○ ○ • ○ ○ • • •

2.5 Leukocidin 2.6 Exfoliatin 3.1 Resisten penisilin 3.2 Resisten Metisilin (Methicillin-resistant S. aureus/MRSA)

3 Resistensi

4 Kontrol 5 Referensi 6 Lihat pula

[sunting] Mikrobiologi
S. aureus termasuk bakteri osmotoleran, yaitu bakteri yang dapat hidup di lingkungan dengan rentang konsentrasi zat terlarut (contohnya garam) yang luas, dan dapat hidup pada konsentrasi NaCl sekitar 3 Molar.[3] Habitat alami S aureus pada manusia adalah di daerah kulit, hidung, mulut, dan usus besar, di mana pada keadaan sistem imun normal, S. aureus tidak bersifat patogen (mikroflora normal manusia).[3]
[sunting] Quorum Sensing

S. aureus memiliki kemampuan Quorum sensing menggunakan sinyal oligopeptida untuk memproduksi toksin dan faktor virulensi .[3]

[sunting] Faktor Virulensi
[sunting] Koagulase

S. aureus produksi enzim koagulase yang berfungsi unuk menggumpalkan fibrinogen di dalam plasma darah sehingga S. aureus terlindung dari fagositosis dan respon imun lain dari inang. [3]
[sunting] Protein A

Letak protein A ada pada dinding sel S. aureus dan dapat mengganggu sistem imun inang dengan mengikat antibodi immunoglobin G (IgG).[3]
[sunting] Eksotoksin sitolitik

α-toksin, β-toksin, γ-toksin, dan δ-toksin menyerang membran sel mamalia[2]. α-toksin, βtoksin, dan δ-toksin dapat menyebabkan hemolisis[1]. δ-toksin juga menyebabkan leukolisis sel inang[1]. Sementara itu, γ-toksin menyebabkan terbunuhnya sel inang[1].
[sunting] Enterotoksin

Enterotoksin menyebabkan keracunan makanan[2]. Enterotoksin merupakan superantigen yang lebih stabil pada suhu panas jika dibandingkan dengan S. aureus[2]. enterotoksin (A, B, C, D, dan E) menginduksi diare, muntah dan shock[1].
[sunting] Leukocidin

Toksin ini memusnahkan leukosit sel inang[1].

[sunting] Exfoliatin

Exfoliatin termasuk dalam superantigen juga, menyebabkan sindrom kulit melepuh pada anak-anak[2].

[sunting] Resistensi
[sunting] Resisten penisilin

Hampir semua isolat S. aureus resisten terhadap penisilin G[2]. Hal ini disebabkan oleh keberadaan enzim β-laktamase yang dapat merusak struktur β-laktam pada penisilin[2]. Untuk mengatasi hal ini, dapat digunakan penisilin yang bersifat resisten β-laktamase, contohnya nafcillin atau oksasilin[2].
[sunting] Resisten Metisilin (Methicillin-resistant S. aureus/MRSA)

Sebagian isolat S. aureus resisten terhadap methisilin karena adanya modifikasi protein pengikat penisilin[2]. Protein ini mengkode peptidoglikan transpeptidase baru yang mempunyai afinitas rendah terhadap antibiotic β-laktam, sehingga terapi β-laktam tidak responsif[2]. Salah satu contoh antibiotik yang digunakan terhadap MRSA adalah vankomisin[5]

[sunting] Kontrol
Tidak ada vaksin yang efektif terhadap S. aureus[2]. Kontrol infeksi lebih ditujukan pada tindakan menjaga kebersihan, contohnya mencuci tangan[2].
http://id.wikipedia.org/wiki/Staphylococcus_aureus PENULIS WIKIPEDIA KARTHIK NADAR.

Bakteri Staphylococcus aureus
Klasifikasi S. aureus menurut Bergey dalam Capuccino (1998) adalah :

Kingdom : Monera Divisio : Firmicutes Class : Bacilli Order : Bacillales Family : Staphylococcaceae Genus : Staphilococcus Species : Staphilococcus aureus Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram Positif, tidak bergerak, tidak berspora dan mampu membentuk kapsul. (Boyd, 1980), berbentuk kokus dan tersusun seperti buah anggur (Todar, 2002) sebagaimana terlihat pada gambar 2.4. Ukuran Staphylococcus berbeda-beda tergantung pada media pertumbuhannya. Apabila ditumbuhkan pada media agar,

Staphylococcus memiliki diameter 0,5-1,0 mm dengan koloni berwarna kuning. Dinding selnya mengandung asam teikoat, yaitu sekitar 40% dari berat kering dinding selnya. Asam teikoat adalah beberapa kelompok antigen dari Staphylococcus. Asam teikoat mengandung aglutinogen dan N-asetilglukosamin. (Boyd, 1980). Staphylococcus aureus adalah bakteri aerob dan anaerob, fakultatif yang mampu menfermentasikan manitol dan menghasilkan enzim koagulase, hyalurodinase, fosfatase, protease dan lipase. Staphylococcus aureus mengandung lysostaphin yang dapat menyebabkan lisisnya sel darah merah. Toksin yang dibentuk oleh Staphylococcus aureus adalah haemolysin alfa, beta, gamma delta dan apsilon. Toksin lain ialah leukosidin, enterotoksin dan eksfoliatin. Enterotosin dan eksoenzim dapat menyebabkan keracunan makanan terutama yang mempengaruhi saluran pencernaan. Leukosidin menyerang leukosit sehingga daya tahan tubuh akan menurun. Eksofoliatin merupakan toksin yang menyerang kulit dengan tanda-tanda kulit terkena luka bakar. (Boyd, 1980; Schlegel, 1994). Suhu optimum untuk pertumbuhan Staphylococcus aureus adalah 35o – 37o C dengan suhu minimum 6,7o C dan suhu maksimum 45,4o C. Bakteri ini dapat tumbuh pada pH 4,0 – 9,8 dengan pH optimum 7,0 – 7,5. Pertumbuhan pada pH mendekati 9,8 hanya mungkin bila substratnya mempunyai komposisi yang baik untuk pertumbuhannya. Bakteri ini membutuhkan asam nikotinat untuk tumbuh dan akan distimulir pertumbuhannya dengan adanya thiamin. Pada keadaan anaerobik, bakteri ini juga membutuhkan urasil. Untuk pertumbuhan optimum diperlukan sebelas asam amino, yaitu valin, leusin, threonin, phenilalanin, tirosin, sistein, metionin, lisin, prolin, histidin dan arginin. Bakteri ini tidak dapat tumbuh pada media sintetik yang tidak mengandung asam amino atau protein. (Supardi dan Sukamto, 1999). Selain memproduksi koagulase, S. aureus juga dapat memproduksi berbagai toksin, diantaranya : 1. Eksotoksin-a yang sangat beracun 2. Eksotoksin-b yang terdiri dari hemosilin, yaitu suatu komponen yang dapat menyebabkan lisis pada sel darah merah. 3. Toksin F dan S, yang merupakan protein eksoseluler dan bersifat leukistik. 4. Hialuronidase, yaitu suatu enzim yang dapat memecah asam hyaluronat di dalam tenunan sehingga mempermudah penyebaran bakteri ke seluruh tubuh. 5. Grup enterotoksin yang terdiri dari protein sederhana. (Supardi dan Sukamto, 1999). Staphylococcus aureus hidup sebagai saprofit di dalam saluran-saluran pengeluaran lendir dari tubuh manusia dan hewan-hewan seperti hidung, mulut dan tenggorokan dan dapat dikeluarkan pada waktu batuk atau bersin. Bakteri ini juga sering terdapat pada pori-pori dan permukaan kulit, kelenjar keringat dan saluran usus. Selain dapat menyebabkan intoksikasi, S. aureus juga dapat menyebabkan bermacam-macam infeksi seperti jerawat, bisul, meningitis, osteomielitis, pneumonia dan mastitis pada manusia dan hewan. (Supardi dan Sukamto, 1999).
~ by ratu belqis on July 22, 2008. http://queenofsheeba.wordpress.com/2008/07/22/bakteri-staphylococcus-aureus/

3/1/2011 Oleh: Harmastini I. Sukiman Keanekaragaman mikroba endofitik asal Taman Nasional Batang Gadis, Sumatera Utara sudah berhasil dikumpulkan dan menghasilkan sejumlah besar koleksi mikroba diantaranya berkhasiat sebagai anti bakteri.

Koleksi mikroba yang dikumpulkan dari TN Batang Gadis tersebut adalah terdiri dari kapang dan bakteri endofitik . Mikroba endofitik adalah mikroba yang hidupnya didalam jaringan tanaman, khususnya xylem dan phloem, dan mempunyai hubungan khusus yang dapat bersifat saling menguntungkan dan pathogenesis dengan tanaman induknya. Biodiversitas mikroba tersebut dikumpulkan dari sejumlah tanaman hutan yang dinilai mempunyai peran dalam keseimbangan ekosistem hutan. Koleksi mikroba endofitik dengan kode MSCI ( Micro Save Conservation Indonesia) ini disimpan dengan baik di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI dan secara bertahap dilakukan skrining terhadap berbagai potensi yang dimilikinya. Salah satu yang menarik adalah kemampuannya dalam menghasilkan senyawa antibakteri. Mengantisipasi perkembangan kualitas obat di Indonesia sejalan dengan berkembangnya resistensi bakteri pathogen terhadap sejumlah obat antibiotika mendorong kita untuk menggali berbagai macam sumber penghasil senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antibakteri. Bakteri patogen Salmonella thypi dan Staphylococcus aureus merupakan bakteri penyebab penyakit yang berbahaya bagi kehidupan manusia. Salmonella thypi menyebabkan penyakit thypus yakni demam tifoid yang dapat menyerang semua organ tubuh manusia secara sistemik. Deman tifoid dapat menyebabkan perdarahan intestinal, komplikasi jantung, paru, dll. Penanganan penyakit thypus dilakukan dengan cara memberikan antibiotika yang dapat membunuh bakteri tersebut secara khusus maupun antibiotika dengan spektrum luas. Demikian pula halnya dengan Staphylococcus aures yang menyebabkan penyakit infeksi pada manusia seperti pneumonia, meningitis, osteomyelitis, endocarditis ,infeksi saluran kemih, dll. Pencarian sumber obat baru dapat dilakukan dengan menskiring secara umum mikroba endofitik asal TN Batang Gadis terhadap kemampuannya menghasilkan senyawa antibakteri yang diperuntukkan melawan serangan infeksi bakteri Salmonella thypi dan Staphylococcus aureus. Skrining dilakukan terhadap sepuluh jenis bakteri endofitik secara kualitatif maupun kuantitatif. Hasil skrining menunjukkan bahwa beberapa isolat yang diuji menunjukkan adanya produksi senyawa bioaktif yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri pathogen. Dari 10 isolat yang diuji, 5 di antaranya menunjukkan hasil positif yang dapat menghasilkan senyawa bioaktif terhadap Staphylococcus aureus. Satu diantaranya yakni MSCI 87.4 menunjukkan hasil yang superior dibandingkan dengan keempat isolate lainnya MSCI 53.1, MSCI 16.1, MSCI, 37.3, MSCI 46.5. Sementara itu tidak satupun dari kesepuluh isolate yang diuji menunjukkan kemampuan dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella thypii. MSCI 87.4 adalah bakteri yang diambil dari tanaman Beilschemeidia sp Ness , famili Lauraceae yang tumbuh di Taman Nasional Batang Gadis, Sumatera Utara. Di Indonesia tanaman ini dikenal dengan nama ‘huru” sedangkan di Filipina dikenal dengan nama “bagaoring”. Beilschemedia terdiri dari 200 species yang tersebar di Negara subtropical seperti China Taiwan Afrika dan Amerika. Tanaman ini dikenal sebagai tanaman obat yang kayunya apabila direbus dapat digunakan sebagai obat antimalaria selain obat sakit perut. Beranjak dari kegunaannya sebagai obat tradisional maka sangat memungkinkan bahwa senyawa antibakteri yang berperan menangkal bakteri pathogen itu dihasilkan oleh bakteri endofitik yang berasosiasi dengan tanaman di dalam jaringan batang. Tanaman ini dikenal dengan nama Medang karena kayunya ringan dan atau kayu keras medium.Kayunya cukup baik untuk digunakan sebagai furniture, ukiran, atau bahan kayu kontruksi ringan. MSCI 87.4 adalah bakteri Gram negatif berbentuk batang .mempunyai bentuk koloni putih bening dan apabila ditumbuhkan di media Nutrient Agar, warna media akan berubah dari

kuning menjadi ungu muda.Perubahan warna media tersebut diduga disebabkan karena adanya sekresi senyawa bioaktif. Hasil pengujian kualitatif terhadap kemampuannya menghasilkan senyawa bioaktif pada media agar menunjukkan bahwa bakteri MSCI 87.4 mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus yang ditunjukkan dengan terbentuknya zona hambat disekitar koloni bakteri MSCI 87.4 yang cukup besar ( 24 -32 mm ).Senyawa bioaktif tersebut mulai diproduksi pada jam ke 23 yakni pada awal fase pertumbuhan stasionari dimana sel bakteri tidak lagi membelah dan tetap stabil hingga masa kematian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstraksi senyawa bioaktif sebaiknya dilakukan pada saat bakteri sudah berumur 23 jam. Ekstraksi senyawa bioaktif dapat dilakukan dengan menggunakan pelarut organik chloroform karena chloroform dapat menyerap senyawa bioaktif secara optimal. Hasil pengujian Khromatografi Lapis Tipis ( KLT ) menunjukkan bahwa ekstrak senyawa bioaktif yang dihasilkan dengan pelarut chloroform dapat melakukan penghambatan pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus secara optimal. Hal ini ditunjukkan dengan terbentuknya luas zona hambat 13.66 cm2 sementara ekstrak yang dilarutkan dengan air menunjukkan luas zona hambat 4.83 cm2. Kegiatan skrining ini menghasilkan informasi adalah bahwa bakteri MSCI 87.4 mampu menghasilkan senyawa bioaktif yang berpotensi membunuh bakteri pathogen Staphylococcus aureus. Senyawa tersebut dapat diekstrak dengan cara memperbanyak biomasa bakteri MSCI 87.4 dan selanjutnya mengekstraknya dengan pelarut organik, chloroform. Data ini ditunjang dengan batasan daya hambat bakteri terhadap senyawa bioaktif yang dilarutkan dalam air adalah 6.25 % sementara senyawa bioaktif yang dilarutkan dengan chloroform adalah 1.56 %. Skrining terhadap kemampuan mikroba endofitik dapat pula dilakukan dengan tujuan yang berbeda untuk menghasilkan suatu target tertentu. Dalam hal ini keberadaan koleksi mikroba endofitik menjadi sangat penting. Koleksi mikroba endofitik asal Taman Nasional Batang Gadis hasil program Rapid Assesment Program yang dilaksanakan oleh Conservation International Indonesia beberapa waktu silam membuka tabir kekayaan alam Indonesia akan penemuan sumber obat baru yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia. Harapannya adalah bahwa kelestarian hutan TN Batang Gadis akan terus terjaga sehingga sumber obat dari mikroba alam juga akan tetap lestari. *) Harmastini I. Sukiman, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Jl. Raya Bogor KM 46 Cibinong, Bogor.
http://www.conservation.org/sites/indonesia/inisiatif/kesehatan/Pages/bakteri_1.a spx

1. TUJUAN PERCOBAAN Dapat melakukan inokulasi dan peremajaan biakan secara goresan maupun tusukan dengan baik pada media padat maupun cair secara teknis kerja aseptis, dapat mengetahui alatalat yang akan digunakan untuk percobaan inokulasi dan peremajan biakan dalam media padat dan cair. Serta dapat mengatahui proses inokulasi dengan baik dan benar. 2. LANDASN TEORI

Inokulasi adalah menanam inokula secara aseptis kedalam media steril baik media padat maupun cair.inokula merupakan bahan yang mengandung mikroba atau biakan mikroba baik dalam keadaan cair maupun padat. teori inokulasi/teori suntikan yang pada mulanya ditampilkan oleh ncguire ini mengambil analogi dari peristiwa medis.orang yang terserang penyakit cacar,polio disuntik.diberi vaksin untuk merangsang mekanisme daya tahan tubuhnya. Ada beberapa teknik dasar dalam analisa mikrobiologi yang harus diketahui,meliputi: 1. teknik transfer aseptis 2. Agar slats(agar miring) 3. turbiditas media borth(kekeruhan kaldu) 4. teknik dilusi (pengenceran) 5. teknik pour-plate(lempeng tuang) teknik transfer aseptis adalah suatu metoda atau teknik didalam memindahkan atau mentrasfer kultur bacteria dari satu tempat ketempat lain secara aseptis agar tidak terjadi kontaminasi oleh mikroba lain kedalam kultur.teknik transfer aseptis ini sangat esensial dan kunci keberhasilan prosedur microbial yang harus diketahui oleh seorang yang hendak melakukan analisis mikrobiologi.untuk menunjang pekerjaan secara aseptis perlu dipahami mengenai teknik kerja aseptis,teknik dekontaminasi,serta penyelesaian pekerjaan secara cepat dan efisien. Bakteri merupakan makhluk hidup bersel satu tanpa klorofil,kebanyakan berukuran 15 mikron. Menurut cara hidupnya,bakteri dibedakan menjadi bakteri autotrof dan bakteri heterotrof. Bakteri autotrof yaitu bakteri yang hidupnya tidak bergantung pada makhluk lain, karena dapat mensintesa makanannya sendiri.sedangkan Bakteri heterotrof adalah bakteri yang hidupnya tergantung pada makhluk lain, karena tidak dapat mensintesa makanannya sendiri. • • Dapat bersifat saprofit yaitu bila hidupnya pada sisa-sisa organisma lain (yang telah mati) Dapat bersifat parasit yaitu bila hidupnya langsung tergantung dari organisma lain yang masih hidup dan merugikan. Pada umumnya bakteri tahan suhu rendah (sekitar 4 C) dari pada suhu tinggi (60 C atau lebih). Berdasarkan bentuknya, bakteri dibagi atas tiga golongan,yaitu basil,kokus,dan spiril.
1. Basil (Bacillus) yaitu bakteri berbentuk seperti tongkat atau batang. 2. kokus (Coccus) yaitu bakteri yang berbentuk seperti bola (bulat)

3. Spiril (Spirillum) yaitu bakteri berbentuk bengkok atau berbengkok-bengkok seperti

spiral. Dalam kehidupan manusia dikenal bakteri yang merugikan dan menguntungkan manusia. Beberapa bakteri merupakan komponen penguraian dalam ekosistem. Prinsip pertumbuhan bakteri bahwa laju pertumbuhan bakteri istilah pertumbuhan bakteri lebih mengacu kepada pertambahan jumlah sel bukan mengacu kepada perkembangan individu organisme sel.bakteri memiliki kemampuan untuk menggandakan diri secara eksponensil dikarenakan system reproduksinya adalah pembelahan biner melintang,dimana tiyap sel membelah diri menjadi dua sel. 3. ALAT DAN BAHAN Alat : • • • • • • • • • Cawan Petri steril Tabung reaksi steril Rak tabung reaksi Pipet ukur 5 mI dan 10 mI steril Pinset Ose bundar dan lurus Bunsen Papan pembentk agar miring Inkubator 37 C Bahan : • • • • Media nutrient agar cair bersuhu 50 C Media nutrient Borth Larutan NaCI 0,9 % (b/v) Biakan Bakteri (stapilococcus aureus,Speudomonas aeruginosa,Basilus subtilis,Streptococcus thermophyllus) 4.DATA PENGAMATAN Tabel pengamatan pertumbuhan bakteri hari selasa,3 Desember 2008 Pukul:14.00 MEDIUM Plat agar BAKTERI K S.A +/+ WARNA Putih LETAK Ruang 1,2,4

Agar mirinh

Agar tegak

Medium cair

B.S P.A K S.A B.S P.A K S.A B.S P.A K S.A B.S P.A

+ + + + + + + + + + + -

Putih Kebiru-biruan Putih Putih Putih Biru Putih Putih Biru Putih Putih -

Ruang 3,4 Ruang 1,3,4 Diatas permukaan Diatas permukaan Didasar permukaan Diatas permukaan Diatas dan didalm Diatas permukaan Diatas permukaan Diatas dan dasar permukaan Diatas permukaan -

• • •

Keterangan: S.A (Staphylococcus aureus) B.S (Bacillus subtilis) P.A (Pseudomonas aeruginosa) 5. PEMBAHASAN Inokulasi adalah menanam inokula secara aseptis ke dalam media steril pada media padat maupun media cair.Inokula merupakan bahan yang mengandung mikroba atau biakan mikroba baik dalam keadaan cair maupun padat. Dari hasil pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa laju pertumbuhan bakteri itu lebih mengacu pada pertambahan jumlah sel bukan mengacu pada perkembangan individu organisme sel. Bakteri itu memiliki kemampuan untuk menggandakan diri secara eksponensial dikarenakan system reproduksinya adalah pembelahan biner melintang, dimana tiap sel membelah diri menjadi dua sel. Selang waktu yang dibutuhkan sel untuk membelah diri disebut dengan waktu generasi. Dalam percobaan diatas digunakan dua media untuk pertumbuhan bakteri yaitu media padat (Natrium agar) dan media cair (Natrium Borth). Media padat terbagi menjadi beberapa bentuk yaitu plat agar,agar miring dan agar tegak. Plat agar digunakan untuk menghitung jumlah koloni suatu bakteri, hasil yang kita dapat setelah diinkubasi dalam incubator selama 24 jam menunjukkan bahwa setiap media plat agar terdapat koloni bakteri, kecuali pada media plat agar yang tidak ditumbuhi bakteri hal ini manunjukkan bahwa media plat agar tidak terkontaminasi atau dapat disebabkan luasnya permukaan pada medium. Agar miring digunakan untuk memperbanyakan biakan bakteri yang sifatnya aerob. Aerob adalah sifat bakteri yang membutuhkan oksigen untuk melakukan respirasi sel aerob.

Bakteri Staphylococcus aureus dan Bacillus subtilis yang dibiakan dalam media agar miring termasuk bakteri yang sifatnya aerob, termasuk pada bakteri Pseudomonas aeruginosa karena bakteri ini bersifat fakultatif aerob yang dapat tumbuh didaerah yang mengandung oksigen ataupun yang tidak mengandung oksigen. Sedangkan pada media yang tidak ditumbuhi bakteri terdapat bakteri yang tumbuh dibagian permukaan media. Hal ini disebabkan kemungkinan terjadinya kontaminasi akibat bakteri lain yang masuk dalam media. Agar tegak digunakan untuk bakteri yang sifatnya anaerob, Anaerob adalah sifat bakteri yang dapat tumbuh didaerah yang tidak mengandung oksigen. Semua bakteri tidak dapat tumbuh didaerah yang tidak mengandung oksigen akan tetapi bakteri hanya tumbuh pada bagian permukaan media saja. Kecuali pada media yang tidak ditumbuhi bakteri. Medium cair digunakan untuk kepentingan analisis, seperti menentukan konsentrasi berapa banyak bakteri yang tumbuh pada media cair yang kita uji. Selain untuk menentukan konsentrasi, media cair digunakan pula untuk mengetahui pada daerah mana bakteri dapat tumbuh. Pada bakteri Staphylococcus aureus bakteri tumbuh menyebar, pada bakteri Bacillus subtilis bakteri tumbuh dipermukaan, sedangkan pada bakteri Pseudomonas aeruginosa tidak tumbuh bakteri kemungkinan disebabkan ose yang digunakan terlalu panas sehingga bakteri yang akan diinkubasikan mati atau bakteri tersebut mati pada saat memflambir mulut tabung. Flambir digunakan untuk meminimalisasi bakteri yang masuk. Pada media yang tidak ditumbuhi bakteri,tidak terdapat bakteri yang tumbuh. Pada bakteri Pseudomonas aeruginosa warna bakteri yang tumbuh adalah biru kehijauan, ini disebabkan bakteri tersebut mempunyai pigmen biru. 6. KESIMPULAN Inokulasi adalah menanam inokula secara aseptis ke dalam media steril pada media padat maupun cair.Inokula merupakan bahan yang mengandung mikroba atau biakan mikroba baik dalam keadaan cair maupun padat. Dari hasil pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa laju pertumbuhan itu lebih mengacu pada Pertambahan jumlah sel bukan mengacu pada perkembangan individu organisme sel. 1. Medium Plat agar Pada medium ini,banyak bakteri yang tumbuh,hal ini dikarenakan luasnya permukaan medium 2. Medium agar miring

Bakteri sebagian besar tumbuh diatas permukaan namun ada juga yang tumbuh didasar permukaan dan pada medium ini inokulum yang tidak diinokulasikan bakteri,ditumbuhi bakteri. 3. Medium agar tegak Bakteri sebagian besar tumbuh diatas permukaan. 4. Medium cair Bakteri tumbuh diatas permukaan,pada medium ini bakteri pseudomonas aeruginosa tidak tumbuh. Jadi,pada dasarnya semua bakteri yang digunakan dalm praktikum diatas merupakan bakteri aerob.dan ada beberapa bakteri yang sifatnya fakultataif aerob. 7. DAFTAR PUSTAKA Alexander, G. 1965. biology. New York: Barnes and noble,Inc, 3 th ed. http://seach. biology.com/gwt/in?inokula Sastrodinoto, S. 1980.Biologi Umum I. Jakarta: PT Gramedia. Sastrodinoto, S. 1980.Biologi Umum II. Jakarta: PT Gramedia.
http://riyanpharmacy.blogspot.com/2010/11/inokulasi-dan-peremajaan-dalammedia.html

INOKULASI DAN PEREMAJAAN BIAKAN DALAM MEDIA PADAT DAN CAIR
{ November 18, 2010 @ 5:08 am } · { My Activity } INOKULASI DAN PEREMAJAAN BIAKAN DALAM MEDIA PADAT DAN CAIR I. Tujuan Percobaan Mahasiswa dapat melakukan inokulasi dan peremajaan biakan secara goresan maupun tusukan dengan baik pada media padat maupun cair dengan teknik kerja aseptis. II. Teori Dasar Inokulasi merupakan pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Untuk melakukan penanaman bakteri (inokulasi) terlebih dahulu diusahakan agar semua alat yang ada di dalam hubungannya dengan medium agar tetap sterli, hal ini agar menghindari terjadinya kontaminasi (dwijoeseputro, 1998). Inokulasi adalah menanam inokula secara aseptis ke dalam media steril baik pada media padat maupun media cair. Inokula merupakan bahan yang mengandung mikroba atayu biakan baik dalam keadaan cair maupun padat. Tujuan dari inokulasi yaitu biakan murni untuk keperluan diagnostic, karakterisasi mikroorganisme, industry farmasi atau kegiatan lain yang berkaitan dengan mikroorganisme. Nutrisi dan lingkungan yang menunjang pertumbuhan mikroorganisme serta suatu teknik kerja aseptis yangh dapat mencegah adanya kontaminan dalam biakan

diperlukan untuk mendapatkan kultur yang murni. Identifikasi biakan mikroorganisme seringkali memerlukan pemindahan ke biakan segar tanpa terjadi pencemaran. Pemindahan mikroorganisme ini dilakukan dengan tekhnik aseptis untuk mempertahankan kemurnian biaka selama pemindahan berulangkali. Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dalam biakan cair atau padat. Kekeruhan dalam suatu media cair menunjukan terjadinya pertumbuhan miroorganisme. Bila mikroorganisme menumpuk pada dasar tabung maka akan membentuk sendimen, sedangkan pada permukaannya pertumbuhan terlihat seperti partikel. Teknik aseptis sangat diperlukan pada saat memindahkan biakan dari suatu tempat ke tempa lainnya. Penggunaanya teknik aseptis mencegah terjadinya kontaminasi dengan biakan yang mungkin bersifat patogen. Teknik aseptis, teknik dekontaminasi, serta penyelesaian pekerjaan mikroorganisme. Semua pekerjaan pada praktikum ini dilakukan dengan memperhatikan prosedur aseptis. Teknik aseptis pada inokulasi : 1. Pembuatan Area Aseptis Dilakukan dengan bekerja diantara dua nyala api bunsen dengan jarak kurang lebih 20cm. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan kontaminasi. Bunsen dibiarkan selama10 menit bertujuan agar terjadi radiasi mikroorganisme menjauh. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan inokulasi : 1. Menyiapkan ruangan Ruangan tempat penanaman bakteri harus bersih dan keadaannya harus steril agar tidak terjadi kesalahan dalam pengamatan atau percobaan dalam laboratorium pembuatan serum vaksin dsb. 2. Pemindahan dengan pipet Cara ini dilakukan dalam penyelidkikan air minum atau penyelidikian untuk diambil 1ml contoh yang akan diencerkan oleh air sebanyak 99ml murni. 3. Flambir Dilakukan dengan cara memanaskan alat ke bunsen, pada jarum ose harus sampai berwarna merah , jika pada alat2 yang lain seperlunya saja. Ini dilakukan untuk menjaga kesterlian. 4. Penggunaan alkohol 70% Dilakuakan untuk membersihkan tempat agar terhindar dari mikroorganisme. Pada media cair dan media padat kita menggunakan Nutrient broth pada media cair, dan nutrient agar pada media padat. Komposisi dari Medium Nutrient Agar (NA) : • Untuk komposisi 1000 mL - Daging : 3 gram - Pepton : 15 gram - Agar : 15 gram - Aquadest : 1000mL • Untuk komposisi 100 mL - Daging : 3/1000 x 100 = 0,3 gram - Pepton : 15/1000 x 100 = 1,5 gram - Agar : 15/1000 x 100 = 1,5 gram - Aquadest : 1000/1000 x 100 = 100 ml

Komposisi dari medium cair nutrient broth (NB) : - pepton - aquadest - ekstrak daging Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengisolasi biakan murni mikroorganisme yaitu : 1. Metode Gores Teknik ini lebih menguntungkan jika ditinjau dari sudut ekonomi dan waktu, tetapi memerlukan keterampula-keterampilan yang diperoleh dengan latihan. Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah. Inokula di gorekan di permukaan media agar nutrient. Diantara garis-garis goresan akan terdapat sel-sel yang cukup terpisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni. Cara penggarisan dilakukan pada medium pembiakan padat bentuk lempeng. Bila dilakukan dengan baik teknik inilah yang paling praktis. Dalam pengerjaannya terkadang berbeda pada masing-masing laboratorium tapi tujuannya sama yaitu untuk membuat goresan sebanyak mungkin pada medium pembiakan. Ada beberapa teknik dalam metode gores : 1. Goresan T 2. Goresan kuadran 3. Goresan Radian 2. Metode tebar Setetes inokula diletakan dalam sebuah medium agar nutrien dalam cawan petridish dan dengan menggunakan batang kaca yang bengkok dan steril. Inokulasi itu disebarkan dalam medium batang yang sama dapat digunakan dapat menginokulasikan pinggan kedua untuk dapat menjamin penyebaran bakteri yang merata dengan baik. Pada beberapa pinggan akan muncul kolono-koloni yang terpisah-pisah. 3. Metode tuang Isolasi menggunakan media cair dengan cara pengenceran. Dasar melakukan pengenceran adalah penurunan jumlah mikroorganisme sehingga pada suatu saat hanya ditemukan satu sel di dalam tabung. 4. Metode tusuk Metode tusuk yaitu dengan cara meneteskan atau menusukan ujung jarum ose yang didalamnya terdapat inokulum, kemudian ke dalam media. III. Alat dan Bahan Alat :
• • • • • • • • Cawan petri steril Tabung reaksi steril Rak tabung reaksi Pipet agar 20 ml steril Piper ukur 5 ml dan 10 ml steril Pinset Ose bundar dan lurus Bunsen

• • • • •

Papan pembentuk agar miring Inkubator 37˚C Media nutrien agar cair bersuhu 50˚C Media nutrien broth Biakan bakteri (staphylococcus aureus, pseudomunas aeruginosa, bacillus subtilis, dan escherichia coli). Data Pengamatan Setelah membuat area steril dengan menyalakn bunsen selama 10 menit,setelah tabung disiapkan

Bahan :

IV. Prosedur dan Pengamatan
Prosedur

Pembuatan plat agar, agar miring, agar tegak dan media cair dalam tabung

nyalakan bunsen dan atur nyala api hingga di Plat Agar : peroleh nyala api biru biarkan menyala selama Agar Miring : 10 menit Agar tegak : siapkan dan letakan tabung reaksi steril pada rak tabung dan cawang steril di antara dua api bunsen. a. Pembuatan plat agar Buat plat agar dengan memipet 20ml media nutrien agar cair 50°C kedalam cawan petri dan biarkan memadat b. Pembuatan agar miring Media Cair : Inokulasi plat agar sebelum diinkubasi (sesudah digoreskan bakteri)
• • • • Escherichia coli : berwarna kuning pekat bening Psedomonas aeruginosa : berwarna kuning pekat bening Bacillus subtilis : berwarna kuning pekat bening Staphilococcus aureus : berwarna kuning pekat bening.

Buat agar miring dengan memipet 5ml media Setelah diinkubasi selama 24 jam : nutrien agar cair 50°C dalam tabung reaksi EC: terdapat lendir-lendir sesuai bentuk steril. Letakan miring pada papan miring goresan warna kuning lendir putih biarkan memadat. PA: warna menjadi biru diatas terdapat lendir c. Pembuatan agar tegak bentuk goresan (zigzag) warna biru bening. Buat agar tegak dengan memipet 10ml media SA: warna menjadi biru diatas terdapat lendir nutrien agar cair 50°C kedalam tabung, lalu sesuai goresan (zigzag) warna biru bening. letakan tegak pada rak tabung dan biarkan BS: warna pudar. memedat Inokulasi agar miring sebelum diinkubasi d. Pembuatan media cair dalam tabung (setelah digoreskan bakteri) Buat media cair dengan memipet 10ml media • Escherichia coli : berwarna kuning nutrien broth yang bersuhu kamar kedalam pekat bening tabun reaksi steril Semua pekerjaan diatas dilakukan dengan memperhatikan prosedur kerja aseptis Teknik inokulasi pada plat agar, agar miring, agar tegak, dan media cair
• • Psedomonas aeruginosa : berwarna kuning pekat bening Bacillus subtilis : berwarna kuning pekat bening

a.

Inokulasi pada plat agar

Setelah diinkubasi selama 24 jam : EC : terdapat warna kuning pekat diatas terdapat lendir-lendir berwarna putih. BS: warna kuning memudar diatas terdapat lendir-lendir berwarna putih. PA: warna biru terdapat lendir diatas berwarna biru muda bening Inokulasi agar tegak sebelum diinkubasi (setelah ditusukkan bakteri)
• • Escherichia coli : berwarna kuning pekat bening (padat) Psedomonas aeruginosa : berwarna kuning pekat bening (padat) Bacillus subtilis : berwarna berwarna kuning pekat bening (padat)

Buat 4 area pada plat agar Gunakan spidol pada permukaan luar, cawan petri bagian alas Ambil inokula dengan jarum ose bundar dan inokulasikan bakteri kesetiap bagian dari plat agar dengan goresan yang rapat. b. Inokulasi pada agar miring Ambil inokula dengan jarum ose bundar

Setelah diinkubasi selama 24 jam : PA : warna diatas biru di dalam kuning pudar, di atas terdapat lendir, di tengahnya pun terdapat tusukan yang berwarna putih

Inokulasikan bakteri pada media dengan cara EC : warna kuning pekat di atas terdapat lendir goresan rapat secar zigzag dimulai dari bagian dan terlihat bekas tusukan yang berwarna putih bawah sampai bagian atas media agar miring BS : warna kuning, diatas terdapat lendir warna putih c. Inokulasi pada agar tegak Ambil inokulasi dengan jarum ose lurus Inokulasi media cair sebelum diinkubasi (sesudah digoreskan bakteri )
• • Escherichia coli : berwarna kuning pudar bening Psedomonas aeruginosa berwarna kuning pudar bening

Inokulasikan bakteri pada media dengan cara menusukan jarum ose tepat pada poros tengah • Bacillus subtilis: berwarna kuning tabung sampai mendekati dasar tabung, pudar bening kemudia tarik kembali perlahan. Setelah diinkubasi selama 24 jam : d. Inokulasi pada media cair

PA : warna bening keruh, diatas terdapat lendir Inokulasi bakteri pada media cair dengan berwarna putih pipet pasteur, jika inokulasi berasal dari EC : warna bening, warna sangat keruh biakan cair dan jiak inokula dari agar miring Terdapat lendir seperti busa maka ambil dengan jarum ose bundar BS : warna bening kuning ada sperti busa Diatasnya Suspensikan pada nutrien broth Inkubasikan semua media yang telah di

inokulasi kedalam inkubator 37°C selama 24 jam, amati dan catat pertumbuhan pada masing-masing media, gambar hasil pengamatan dengan memperlihatkan letak pertumbuhan dan warna koloni bakteri serta warna media yang digunakan. V. Pembahasan Pada pembuatan plat agar dengan media nutrient agar cair kedalam cawan Petri digunakan untuk menghitung jumlah koloni bakteri pada plat agar tersebut. Pada pembuatan plat agar miring itu dilakukan untuk menumbuhkan bakteri yang bersifat aerob. Pada pembuatan plat agar tegak dilakukan untuk menumbuhkan bakteri yang bersifat anaerob. a. b. Bakteri aerobik adalah organisme yang membutuhkan oksigen. Bakteri anaerobik adalah organisme yqng tumbuh tanpa oksigen molekular.

Bakteri anaerobik terbagi 2: · Anaerobik fakultatif adalah bakteri yang masih bisa hidup ditempat yang mengandung oksigen. · Anaerobik obligat adalah bakteri yang sama sekali tidak bisa terkena oksigen. Prosedur kerja aseptis dilakukan dengan prinsip seminimal mungkin tidak terjadi kontaminasi dan tercampurnya bahan yang tidak diinginkan. Digunakannya jarum ose lurus pada agar tegak dikarenakan pada inokulasi bakteri agar tegak lurus, menggunakan tabung, dan agar inokulan yang ada bisa masuk secara merata dalam media sampai menuju titik pusat tabung. a. Bacillus Subtilis Bacillus subtilis merupakan bakteri gram-positif yang berbentuk batang,dan secara alami sering ditemukan di tanah dan vegetasi. Bacillus subtilis tumbuh di berbagai mesophilic suhu berkisar 25-35 derajat Celsius. Bacillus subtilis juga telah berevolusi sehingga dapat hidup walaupun di bawah kondisi keras dan lebih cepat mendapatkan perlindungan terhadap stres situasi seperti kondisi pH rendah (asam), bersifat alkali, osmosa, atau oxidative kondisi, dan panas atau etanol Bakteri ini hanya memilikin satu molekul DNA yang berisi seperangkat set kromosom. DNAnya berukuran BP 4214814 (4,2 Mbp) (TIGR CMR). 4,100 kode gen protein. Beberapa keunggulan dari bakteri ini adalah mampu mensekresikan antibiotik dalam jumlah besar ke luar dari sel Klasifikasi : Bacillus subtilis. Kingdom : Bakteri Filum : Firmicutes Kelas : Bacilli Order : Bacillales Famili : Bacillaceae Genus : Bacillus Spesies : Bacillus subtilis § Bacillus subtilis pada media agar miring : bakteri tumbuh disekitar agar yang posisinya miring mengikuti bentuk goresan ( merupakan bakteri yang bersifat aerob). Pertumbuhan bakteriBacillus subtilis akan tumbuh banyak, seperti halnya pada media plat, karena media miring ini memungkinkan tersentuh oksigen untuk mendapatkan nutrisi bagi

bakteri ini. Warna agar kuning pekat dan terdapat lender-lendir putih yang merupakan bakteri ini. § Bacillus subtilis pada medium agar tegak : Pertumbuhan bakteri ditunjukan dengan adanya bakteri yang melintang ke dalam media tegak, namun pertumbuhan bakteri diatas permukaan media tegak lebih banyak, ini ditunjukkan karena bakteri yang bersifat aerob bergerak ke atas untuk mendapatkan oksigen, sehingga penampakan bakteri yang lebih banyak ada di atas permukaan media tegak, namun pada media tegak ini pertumbuhan baketri lebih sedikit di banding pada media miring atau media plat. Warna agar kuning pekat dan terdapat lender-lendir putih yang merupakan bakteri ini. § Bacillus pada agar medium cair : Pada media cair penampakan bakteri ditunjukkan dengan keruhnya warna yang terjadi pada media cair, seperti halnya pada media yang lain, pada media cair ini pun kebanyakan penampakan pertumbuhan bakteri terjadi diatas permukaan media cair, meskipun media ini berbentuk cair, tapi bakteri ini tetap saja bergerak ke atas untuk mendapatkan oksigen lebih banyak. Ini semua ditandai dengan adanya cairan seperti busa putih. § Bacillus pada cawan Petri : Pada penanaman inokula bakteri Bacillus subtilis ini, ditunjukkan dengan adanya penampakan bakteri di atas permukaan media, ini menunjukkan bahwa bakteri ini bersifat aerob, bakteri menuju keatas untuk mendapatkan oksigen lebih banyak. Pada media plat, pertumbuhan lebih banyak di banding dengan pertumbuhan pada media yang lain, ini disebabkan karena luas permukaan sentuh media plat dengan oksigen lebih banyak sehingga pada media plat, bakteri Bacillus subtilis ini lebih banyak tumbuh pada media plat. b. Pseudomonas Aeruginosa Pseudomonas aeruginosa menghasilkan satu atau lebih pigmen, yang dihasilkan dari asam amino aromatic seperti tirosin dan fenilalanin. Bakteri yang tumbuh menghasilkan pigmen tertentu yang menyebabkan warna media berubah menjadi hijau. Pada media plat, pertumbuhan bakteri lebih banyak yang ditunjukkan dengan adanya warna hijau yang lebih banyak di atas permukaan. Selain bakteri ini menghasilkan pigmen, bakteri ini bersifat aerob, ini berarti pertumbuhan bakteri yang paling banyak berada pada media yang aerob, seperti pada media plat dan media miring. Pada media tegak, pertumbuhannya relative sedikit, begitupula pada media cair, media cair yang warnanya terbentuk hijau berada pada bagian atas permukaan media cair. Kingdom Phylum Class Order Family Genus Species

: Bacteria : Proteobacteria : Gamma Proteobacteria : Pseudomonadales : Pseudomonadaceae : Pseudomonas : Pseudomonas aeruginosa

Pseudomonas aeruginosa pada agar miring : bakteri tumbuh diatas permukaan miring yang digores dan terdapat lendir berwarna kebirubiruan (merupakan bakteri yang bersifat aerob). Pseudomonas aeruginosa pada media cair : bakteri tumbuh secara keseluruhan dan menyebar mulai dari atas permukaan hingga dasar tabung dan bakteri berwarna kebiru-biruan (merupakan bakteri yang bersifat aerob).

Pseudomonas aeruginosa pada agar tegak : bakteri tumbuh disekitar plat agar yang diberi tusukan mulai dari atas permukaan hingga dasar tabung tetapi tidak menyebar secara keseluruhan pada plat agar (merupakan bakteri yang bersifat aerob). Pseudomonas aeruginosa pada cawan Petri : bakteri tumbuh membentuk warna biru tua kekuning-kuningan dan tumbuh dipermukaan plat agar (merupakan bakteri yang bersifat aerob).

c.

Escherchia coli

Escherichia coli, atau biasa disingkat E. coli, adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif. Pada umumnya, bakteri yang ditemukan oleh Theodor Escherich ini dapat ditemukan dalam usus besar manusia. Kebanyakan E. Coli tidak berbahaya, tetapi beberapa, seperti E. Coli tipe O157:H7, dapat mengakibatkan keracunan makanan yang serius pada manusia. E. Coli yang tidak berbahaya dapat menguntungkan manusia dengan memproduksi vitamin K2, atau dengan mencegah baketi lain di dalam usus. E. coli banyak digunakan dalam teknologi rekayasa genetika. Biasa digunakan sebagai vektor untuk menyisipkan gen-gen tertentu yang diinginkan untuk dikembangkan. E. coli dipilih karena pertumbuhannya sangat cepat dan mudah dalam penanganannya.
Superdoma Phylogenetica in: Filum: Kelas: Ordo: Famili: Genus: Spesies: Proteobacteria Gamma Proteobacteria Enterobacteriales Enterobacteriacea e Escherichia E. coli

§ E. Coli pada media agar miring : bakteri tumbuh disekitar agar yang posisinya miring mengikuti bentuk goresan ( merupakan bakteri yang bersifat aerob). Pertumbuhan bakteri ini akan tumbuh banyak, seperti halnya pada media plat, karena media miring ini memungkinkan tersentuh oksigen untuk mendapatkan nutrisi bagi bakteri ini. § E. Coli pada medium agar tegak : Pertumbuhan bakteri ditunjukan dengan adanya bakteri yang melintang ke dalam media tegak, namun pertumbuhan bakteri diatas permukaan media tegak lebih banyak, ini ditunjukkan karena bakteri yang bersifat aerob bergerak ke atas untuk mendapatkan oksigen, sehingga penampakan bakteri yang lebih banyak ada di atas permukaan media tegak, namun pada media tegak ini pertumbuhan baketri lebih sedikit di banding pada media miring atau media plat. § E. Coli pada agar medium medium cair : Pada media cair penampakan bakteri ditunjukkan dengan keruhnya warna yang terjadi pada media cair, seperti halnya pada media yang lain, pada media cair ini pun kebanyakan penampakan pertumbuhan bakteri terjadi diatas permukaan media cair, meskipun media ini berbentuk cair dan berbusa, tapi bakteri ini tetap saja bergerak ke atas untuk mendapatkan oksigen lebih banyak. § E. Coli pada cawan Petri : Pada penanaman inokula bakteriBacillus subtilis ini, ditunjukkan dengan adanya penampakan bakteri di atas permukaan media, ini menunjukkan

bahwa bakteri ini bersifat aerob, bakteri menuju keatas untuk mendapatkan oksigen lebih banyak. Pada media plat, pertumbuhan lebih banyak di banding dengan pertumbuhan pada media yang lain, ini disebabkan karena luas permukaan sentuh media plat dengan oksigen lebih banyak sehingga pada media plat, bakteri ini lebih banyak tumbuh pada media plat. d. Staphylococcus Aureus Staphylococcus Aureus adalah bakteri gram negatif aerob obligat, berkapsul, mempunyai flagella polar sehingga bakteri ini bersifat motil, berukuran sekitar 0,5-1,0 µm. Bakteri ini tidak menghasilkan spora dan tidak dapat menfermentasikan karbohidrat. Pada uji biokimia, bakteri ini menghasilkan hasil negatif pada uji, Merah Metil, dan VogesProskauer. Bakteri ini secara luas dapat ditemukan di alam, contohnya di tanah, air, tanaman, dan hewan. P. aeruginosa adalahpatogen oportunistik. Bakteri ini merupakan penyebab utama infeksi pneumonia nosokomial. Meskipun begitu, bakteri ini dapat berkolonisasi pada manusia normal tanpa menyebabkan penyakit. Ketika bakteri ini ditumbuhkan pada media yang sesuai, bakteri ini akan menghasilkan pigmen nonfluoresen berwarna kebiruan, piosianin. Beberapa strain Pseudomonas juga mampu menghasilkan pigmen fluoresen berwarna hijau, yaitu pioverdin. Pseudomonas aeruginosa memproduksi katalase,oksidase, dan amonia dari arginin. Bakteri ini dapat menggunakan sitrat sebagai sumber karbonnya. Kerajaan : Bacteria Filum : Proteobacteria Kelas : Gamma Proteobacteria Ordo : Pseudomonadales Famili : Pseudomonadaceae Genus : Pseudomonas Spesies : Pseudomonas aeruginosa § Staphylococcus Aureus pada cawan Petri : Pada penanaman inokula bakteri ini, ditunjukkan dengan adanya penampakan bakteri di atas permukaan media, ini menunjukkan bahwa bakteri ini bersifat aerob, bakteri menuju keatas untuk mendapatkan oksigen lebih banyak. Warna agar menjadi biru dan terdapat lender berbentuk zigzag. VI. Kesimpulan Inokulasi adalah proses menanam inokula pada media steril baik dalam keadaan padat maupun cair secara aseptic. a. Bacillus Subtilis § § § §

Bacillus subtilis pada media agar miring : ( merupakan bakteri yang bersifat aerob) Bacillus subtilis pada medium agar tegak : ( merupakan bakteri yang bersifat anaerob) Bacillus pada agar medium agar cair : bakteri yang bersifat aerob. Bacillus pada cawan Petri : ( bakteri ini merupakan bakteri aerob )
Pseudomonas aeruginosa pada agar miring : ( merupakan bakteri yang bersifat Pseudomonas aeruginosa pada agar miring : bakteri tumbuh diatas permukaan miring yang digores dan terdapat lendir berwarna kebiru-biruan (merupakan bakteri yang bersifat aerob). Pseudomonas aeruginosa pada media cair : bakteri tumbuh secara keseluruhan dan menyebar mulai dari atas permukaan hingga dasar tabung dan bakteri berwarna kebiru-biruan (merupakan bakteri yang bersifat aerob).

b. Pseudomonas aeruginosa

Pseudomonas aeruginosa pada agar tegak : bakteri tumbuh disekitar plat agar yang diberi tusukan mulai dari atas permukaan hingga dasar tabung tetapi tidak menyebar secara keseluruhan pada plat agar (merupakan bakteri yang bersifat aerob). Pseudomonas aeruginosa pada cawan Petri : bakteri tumbuh membentuk warna biru tua kekuning-kuningan dan tumbuh dipermukaan plat agar (merupakan bakteri yang bersifat aerob). E, Coli pada agar miring : bakteri tumbuh diatas permukaan miring yang digores dan berwarna kuning memudar dengan lender (merupakan bakteri yang bersifat aerob). E, Coli pada agar cair : bakteri tumbuh secara keseluruhan dan menyebar mulai dari atas permukaan hingga dasar tabung dan bakteri berwarna kuning dan terdapat busa diatas permukaan media (merupakan bakteri yang bersifat aerob). E, Coli pada agar tegak : bakteri tumbuh disekitar plat agar yang diberi tusukan mulai dari atas permukaan hingga dasar tabung tetapi tidak menyebar secara keseluruhan pada plat agar (merupakan bakteri yang bersifat aerob). E, Coli pada cawan Petri : bakteri tumbuh dipermukaan plat agar (merupakan bakteri yang bersifat aerob).

c. E. Coli

d. Staphylococcus Aureus Staphylococcus aureus pada cawan Petri : bakteri tumbuh membentuk gelembung gelembung yang bersatu mengikuti goresan-goresan yang telah dibuat pada prosedur awal . Jadi berdasarkan hasil percobaan dengan literatur sangat sesuai. VII.Daftar Pustaka Pelczar dan Chan. 2008. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : UI Press Volk Wesley A.1988. Mikro Biologi Dasar.Jakarta.Erlangga Saputro Dwijoko. 2003. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta. Jantaran http://www.scribd.com/doc/40305141/Jenis-Media-Pembuatan-Pemindahan-Mikroba (diakses 30 Oktober 2010 pukul 16.00) http://www.scribd.com/doc/15564953/8292565Morfologikolonibakteri (diakses 30 Oktober 2010 pukul 16.00)
http://framesti.wordpress.com/2010/11/18/inokulasi-dan-peremajaan-biakandalam-media-padat-dan-cair/

Nov 27, '11 8:36 PM untuk semuanya

Bakteri Staphylococcus Bakteri yang tergolong berbentuk kokus gram positif ada dua famili yaitu : Famili Micrococcaceae dan Famili Streptococcaceae. Anggota Famili Micrococcaceae ditandai dengan adanya enzim sitokrom yang memberikan tes benzidin dan katalase positif. Famili ini memiliki 2 genus yaitu : genus Staphylococcus dan genus Micrococcus. Sedangkan anggota Famili Streptococcaceae tidak ditemukan enzim sitokrom sehingga dengan tes benzidin dan test katalase hasilnya negatif. Famili ini memiliki 2 genus yaitu : genus Streptococcus dan genus Aerococcus. Bakteri genus Staphylococcus kebanyakan adalah mikroflora yang normal hidup pada manusia. Staphylococcus berbentuk bola yang berkoloni membentuk sekelompok sel tidak teratur sehingga bentuknya mirip gerombolan buah anggur. Kebanyakan tidak berbahaya dan tinggal di atas kulit dan selaput lendir manusia dan organisme lainnya. Mereka juga menjadi mikroba tanah. Staphylococcus sering diisolasi dari produk makanan, debu dan air. Genus Staphylococcus mencakup 31 spesies. Genus ini dapat ditemui di seluruh dunia. Beberapa spesies ada yang patogen pada manusia dan hewan. Morfologi Staphylococcus Bakteri Staphylococcus berbentuk bulat menyerupai bentuk buah anggur yang tersusun rapi dan tidak teratur satu sama lain. Sifat dari bakteri ini umumnya sama dengan bakteri coccus yang lain yaitu : 1) Berbentuk bulat dengan diameter kira-kira 0,5 – 1,5 µm. 2) Warna koloni putih susu atau agak krem 3) Tersusun dalam kelompok secara tidak beraturan. 4) Bersifat fakultatif anaerobic 5) Pada umumnya tidak memiliki kapsul 6) Bakteri ini juga termasuk juga bakteri nonsporogenous (tidak berspora) 7) Sel-selnya bersifat positif-Gram, dan tidak aktif melakukan pergerakan (non motile) 8) Bersifat pathogen dan menyebabkan lesi local yang oportunistik 9) Menghasilkan katalase 10) Tahan terhadap pengeringan, panas dan Sodium Khlorida (NaCl) 9 % 11) Pertumbuhannya dapat dihambat dengan cepat oleh bahan kimia tertentu seperti Hexachlorophene 3%. 12) Sebagian besar adalah saprofit yang hidup di alam bebas, namun habibat alamiahnya adalah pada permukaan epitel golongan primate/mamalia.

Bakteri yang memiliki genus Staphylococcus ini mempunyai ciri-ciri morfologi sebagai berikut: • warna koloni putih susu atau agak krem, • bentuk koloni bulat, tepian timbul, • sel bentuk bola, diameter 0,5-1,5 um, • terjadi satu demi satu, berpasangan, dan dalam kelompok tidak teratur, Menurut Holt et al, (1994), bakteri Staphylococcus sp. Gram +, tidak berspora, tidak motil, fakultatif anaerob, kemoorganotrofik, metil red positif, tumbuh optimum pada suhu 30-370C dan tumbuh baik pada NaCl 1-7%, dengan dua pernapasan dan metabolisme fermentatif. Koloni biasanya buram, bisa putih atau krem dan kadang-kadang kuning keorangeorangean. Bakteri ini katalase positif dan oksidase negatif, sering mengubah nitrat menjadi nitrit, rentan lisis oleh lisostafin tapi tidak oleh lisozim. Suhu Optimum pertumbuhan 35-37oC Suhu Minimum pertumbuhan 10oC Suhu Maksimum pertumbuhan 42oC Suhu Lethal 62oC 30-60 menit Suhu Lethal 72oC 15 menit FISIOLOGI Bakteri Staphylococcus mudah tumbuh pada berbagai macam-macam media, bermetabolisme aktif dengan meragikan karbohidrat dan menghasilkan pigmen yang bervariasi mulai dari pigmen berwarna putih sampai kuning tua. Bakteri Staphylococcus sebagian menjadi anggota flora normal kulit dan selaput lendir pada manusia, sebagian lagi menjadi bakteri patogen yang menyebabkan bermacam-macam penyakit atau gangguan dalam tubuh seperti radang bernanah, sampai sepsis yang bisa berakibat fatal. Sehingga bakteri ini dapat menyebabkan hemolisis yaitu pemecahan sel-sel darah, menggumpalkan plasma karena sifat koagulasenya, dan menghasilkan berbagai macam enzim-enzim yang dapat merusak sistem imun dan kandungan toksin pada bakteri tersebut yang bersifat destruktif.

STRUKTUR ANTIGEN Struktur antigen dari Staphylococcus terdiri atas : 1) Peptidoglikan 2) Asam teikhoik 3) Protein A 4) Kapsul 5) Enzim dan toksin-toksin yang ada pada Staphylococcus Staphylococcus menyebabkan penyakit baik melalui kemampuannya untuk berkembang biak dan menyebar dalam jaringan, maupun melalui bahan-bahan ekstraselular yang dihasilkannya. Bahan-bahan tersebut adalah : a) Katalase, enzim yang mengkatalisir perubahan H2O2 menjadi air dan oksigen. b) Koagulase, adalah protein mirip enzim yang dihasilkan oleh Staphylococcus. Enzim ini dapat membekukan plasma oksalat atau plasma sitrat bila di dalamnya terdapat faktor-faktor pembekuan. Koagulase ini menyebabkan terjadinya deposit fibrin pada permukaan sel Staphylococcus yang menghambat fagositosis. c) Enzim-enzim yang lain, seperti hialuronidase satu faktor penyebaran, staphylokinase yang menyebabkan fibrinolisis, proteinase dan beta-laktamase. d) Eksotoksin, yang bisa menyebabkan nekrosis kulit. e) Lekosidin, yang dihasilkan Staphylococcus menyebabkan infeksi rekuren, karena

leukosidin menyebabkan Staphylococcus berkembang biak intraselular. f) Toksin eksploatif, yang dihasilkan oleh Staphylococcus aureus terdiri dua protein yang menyebabkan deskuamasi kulit yang luas. g) Toksik penyebab Sindroma Renjatan Toksik, (toksik shock syndrome toxin) dihasilkan oleh sebagian besar strain Staphylococcus yang menyebabkan sindroma shock toksik. h) Enterotoksin, dihasilkan oleh Staphylococcus aureus yang berkembang biak pada makanan, toksin ini tahan panas, dan bila tertelan oleh manusia bersama makanan, akan menyebabkan gejala muntah berak (keracunan makanan). GAMBARAN KLINIK 1) Infeksi superficial a) pyoderma impetigo b) follikulitis, furunkel, terjadi akibat infeksi melalui folikel rambut c) abses dan karbukel 2) Infeksi jaringan dalam a) osteomielitis, pada madibula b) pneumonia c) andokarditis akut d) arthritis akut, bakteriemi, septikemi, dan abses organ bagian dalam. 3) Penyakit akibat toksin Staphylococcus a) scal ded skin syndrome atau impetigo bullosa dan Staphylococcus scarlet fever. b) keracunan pada makanan karena Staphylococci (Staphylococcal food poisong) c) Toxic Shock Syndrome (TSS) PATOGENITAS KUMAN Staphylococcus Umumnya dapat menimbulkan penyakit pembekakan (abces) seperti : 1) Jerawat 2) Periapikal Abces 3) Infeksi saluran kemih (primer) 4) Infeksi ginjal (sekunder) 5) Infeksi kulit TEMPAT BERKEMBANG BIAK BAKTERI Staphylococcus Adapun tempat berkembang biaknya bakteri Staphylococcus : 1) Pada rongga mulut (Staphylococcus aureus, S. Anaerob, S. Epidermis) 2) Ada pada kulit (Staphylococcus Epidermidis) 3) Ada di hidung dan mungkin ada pada permukaan (Staphylococcus aureus) 4) Ada di saluran nafas atas terutama farink (Staphylococcus Epidermidis) 5) Ada di saluran kemih (Staphylococcus) 6) Staphylococcus juga terdapat dalam darah bersama kuman lainnya. PEMERIKSAAN LABORATORIUM 1) Sampel yang digunakan untuk menentukan bakteri Staphylococcus adalah : a) Apusan mukosa atau kulit b) Nanah c) Darah d) Bilasan trachea/bronchus e) Cairan liquor 2) Identifikasi dilakukan dengan cara :

a) Preparat hapus, dibuat langsung dari bahan pemeriksaan dan diwarnai dengan cara pewarnaan Gram b) biakan dan identifikasi dengan melakukan tes-tes biokimia c) tes serologi dan tes tiping d) tes kepekaan antibiotik PENGOBATAN Pengobatan bakteri Staphylococcus dapat dilakukan dengan cara : 1) Pemberian antibiotik yang bersifat bakterisidal maupun yang bersifat bakteriostatik. 2) Pemberian obat anti inflamasi untuk menurunkan radangnya untuk mengobati penderita dengan tepat diperlukan data pemeriksaan kepekaan kuman penyebab infeksi terhadap berbagai obat antibiotik yang tersedia di pasaran. Pemeriksaan kepekaan kuman terhadap antibiotik dapat dengan cara sebagai berikut : a) Cara Cakram Dipakai cakram kertas saring yang telah mengandung antibiotik dengan kadar tertentu dan diletakkan diatas lempeng agar yang telah ditanami kuman. Diameter zona hambatan pertumbuhan kuman yang tampak menunjukkan sensitivitas kuman tersebut terhadap antibiotik bersangkutan.Penilaian terhadap zona hambatan dilakukan dengan membandingkan besarnya diameter zona hambatan dengan tabel. Hasil penilaiannya berupa sensitif, resisten dan intermediate. Kuman yang sensitif terhadap suatu jenis antibiotik akan memperlihatkan zona hambatan yang lebih besar dari jangkauan nilai yang terlihat pada tabel. Kuman yang resisten tidak menunjukkan adanya zona hambatan pertumbuhan atau menunjukkan zona hambatan yang diameternya lebih kecil dari jangkauan nilai pada tabel. Diameter zona hambatan kuman yang besarnya terletak diantara jangkauan nilai pada tabel berarti kepekaan kuman terhadap suatu antibiotik bersifat intermediate. i. Bahan cara ukuran : i) swap kapas ii) kaldu BHI dalam 2 tabung, masing-masing 2 ml iii) biakan kuman staphylococcus aureus pada agar miring iv) lempeng agar Mueller Himton (MH) dua buah setiap kelompok v) cakram antibiotika : penicillin, kloramfenikol, dan gentamisin. vi) pingset kecil ii. Cara kerjanya i) Buat ekspensi kuman dalam kaldu BHI dengan swap kapas ii) Pada lempeng agar MH usapkan suspense kuman tadi dengan swap kapas secara merata iii) Dengan pinset yang disterilkan diatas api, ambil cakram antibiotikan yang disediakan dan letakkan diatas lempengan agar yang telah ditanami kuman iv) Gramkan lempeng agar tersebut dalam Inkubator 35 o C selama 16-18 jam. jangan luap member label nama kuman. b) Cara Tabung Dalam hal ini dilakukan penipisan antibiotik dalam tabung-tabung rekasi dan dicari konsentrasi antibiotik terendah yang masih dapat menggambarkan pertumbuhan kuman. Ini disebut konsetrasi hambatan minimal (RHM) suatu antibiotika. KHM Lazon juga disebut MIC (Minimal Intibitory Consetrasion).

Klasifikasi Staphylococcus. Genus Staphylococcus mencakup 31 spesies. Kebanyakan tidak berbahaya dan tinggal di atas kulit dan selaput lendir manusia dan organisme lainnya. Mereka juga menjadi mikroba tanah. Genus ini dapat ditemui di seluruh dunia.

Klasifikasi ilmiah Kerajaan : Bacteria Filum : Firmicutes Kelas : Cocci Ordo : Bacillales Famili : Staphylococcaceae Genus : Staphylococcus Macam-macam spesies Staphylococcus antara lain : • S. auricularis • S. capitis • S. caprae • S. felis • S. haemolyticus • S. hominis • S. intermedius • S. lugdunensis • S. saprophyticus • S. schleiferi • S. vitulus • S. warneri • S. Xylosus • Dan lain-lain. Spesies yang sering dijumpai: 1. Staphylococcus aureus 2. Staphylococcus epidermis / Staphylococcus epidermidis/ Staphylococcus albus. 3. Staphylococcus safropitis / Staphylococcus saprophyticus Genus Staphylococcus terdiri lebih dari 30 jenis spesies, yang biasanya diklasifikasikan ke dalam: 1) Staphylococcus yang menghasilkan koagulase. Misalnya : Staphylococcus aureus, yang patogen utama pada manusia menjadi penyebab banyak penyakit infeksi. 2) Staphylococcus yang tidak menghasilkan koagulase. Misalnya : Staphylococcus epidermis, yang menjadi biasa penghuni kulit. Namun sering menjadi penyebab infeksi nosokomial, dan Staphylococcus saprophyticus, yang banyak menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK) pada wanita. 3) Staphylococcus yang lain : tidak dibahas mendalam karena terjadi pada hewan dan menyebabkan infeksi pada hewan. Staphylococcus masih sensitif untuk beberapa antibiotik yang baru ditemukan tapi resistensi bisa terjadi sangat cepat. Sebagian besar Staphylococcus sudah resisten terhadap golongan penicillin karena bakteri ini menghasilkan penicilinase atau beta-laktamase. Identifikasi Staphylococcus A.)Bahan Pemeriksaan 1. Klinis : Pus/nanah hijau, hapus luka, sputum, darah, feces, nasal sekresi, cairan cerebrospinal, urine, sel aspirasi dari paru-paru atau tulang. 2. Makanan : Bahan makanan suspek penyebab racun. Gejala infeksi biasanya disebabkan oleh racun, dibebaskan dari hanya beberapa staphylococci sehingga kultur yang diambil dari lesi biasanya negatif. B.)Skema Pemeriksaan: A. Hari Pertama 1. Pemupukan Sampel dari bahan ditanam pada media pemupuk NaCl broth dieramkan 24 jam. 2. Isolasi

Sampel bahan pemeriksaan diisolasi dalam media dan diinkubasi dalam inkubator dengan suhu 37o C selama 24 jam. a. Biakan pada Agar Darah (BAP= Blood Agar Plate) b. Biakan pada MSA (Manitol Salt Agar) Media BAP untuk membedakan bakteri yang menghemolisa darah dan non hemolisa. di sekitar koloni jernih disebabkan β hemolisin.Hemolisa sempurna di sekitar koloni berwarna hijau disebabkan α hemolisin.◊Hemolisa sebagian tidak terjadi perubahan disebabkan ɤ hemolisin.Non hemolisa B. Hari Kedua Pengamatan koloni pada media: a. Media Agar Darah : Koloni berwarna kuning keemasan, halus, licin & berpigmen.di sekitar koloni menjadi jernih atau transparan. b. Media MSA : Koloni berwarna kuning, bersifat manitol fermenter,berwarna merah berarti tidak memecah manitol. Yang tumbuh pada media BAP dengan koloni hemolisa positif kemudian dilakukan pembuatan preparat dan pewarnaan metode Gram ( karena Streptococcus juga hemolisa positif ). Pemeriksaan mikroskopis : dilakukan pewarnaan metode Gram. 1. Disiapkan 2 buah kaca obyek, isolate biakan (koloni lain lagi), karbol gentian violet, pereaksi lugol, alkohol 95% ,pewarna safranin, minyak imersi. 2. Sapukan sedikit biakkan isolate bakteri di atas kaca obyek, ditambahkan 1 tetes air, kemudian disuspensikan. 3. Kaca obyek diletakan di atas bak pewarna, kemudian digenangi dengan karbol gentian violet selama 1 menit. Kelebihan zat warna dibuang, dan dibilas dengan air mengalir. 4. Olesan digenangi dengan lugol selama 2 menit, pereaksi berlebih dibuang, dan dibilas dengan air mengalir.  5. Olesan digenangi oleh alkohol 95% tetes demi tetes selama 30 detik atau sampai semua zat warna hilang, kemudian dibilas dengan air mengalir. 6. Pewarnaan yang terakhir dengan safranin selama 1 menit, kelebihan zat warna dibuang dan dibilas dengan air, kemudian dikeringkan dengan kertas saring. 7. Preparat dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran 10x dilanjutkan 100x. 8. Hasil percobaan digambar dengan teliti. Sel bakteri yang bewarna ungu menunjukkan bakteri masuk kelompok gram positif, sedangkan bakteri gram negatif akan berwarna merah. Hasil Pemeriksaan : • Bentuknya Coccus/bulat, ungu gram positif • Ukurannya berdiameter 0,8-1 um • Susunannya 2-2, 4-4, bergerombol seperti buah anggur. Yang tumbuh pada MSA (Manitol Salt Agar) adalah bakteri Staphylococcus aureus sebab bakteri spesies ini tahan terhadap garam yang tinggi dan juga memecah manitol. Oleh sebab itu MSA disebut sebagai media selektif. Koloni yang positif diinokulasikan ke media diperkaya NAS (Nutrient Agar Slant) dieramkan 24 jam 370C. C. Hari Ketiga Koloni pada subkultur dilakukan uji biokimia, uji katalase dan uji serologi a. Uji Biokimia: Bakteri diisolasi kedalam media NAS b. Uji Katalase : 1 ose koloni + 1 ose H2O2 3%. Hasil positif dengan indikasi dengan terbentuknya gelembung. Tes katalase menentukan apakah organisme menghasilkan enzim katalase yang menguraikan hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen. 2 H2O2 catalase 2 H2O + O2

c. Uji Serologi: CPT (Coagulation Plasma Test), 1 ose koloni + 1 ose plasma sitrat, campurkan, amati dalam 2 menit. Hasil positif dengan indikasi cairan jernih dengan terbentuknya butiran-butiran halus. D. Hari Keempat Mengamati hasil inkubasi NAS untuk uji biokimia Uji Biokimia : pigmennya berwarna kuning keemasan bila S. aureus, berwarna kuning jeruk bila S. citreus, bila berwarna putih S. albus. ****Staphylococcus aureus Morfologi dan sifat pewarnaan • Berbentuk bulat atau kokus. • Diameter 0,4 – 1,2 µm (rata-rata 0,8 µm). • Hasil pewarnaan dari media padat memperlihatkan susunan bakteri bergerombol seperti buah anggur, dari media cair memperlihatkan susunan bakteri lepas sendiri-sendiri, berpasangan atau susunan selnya rantai pada umumnya lebih dari empat sel. • Dengan pewarnaan gram bersifat Gram positif. Namun dalam keadaan tertentu dapat pula bersifat gram negatif, misalnya: - organisme mengalami fagositosis oleh sel. - organisme yang berasal dari perbenihan yang sudah tua. • Perubahan warna koloni S. aureus pada media Agar Darah dan NAS adalah kuning emas. Pada agar darah S. aureus menghemolisa darah secara sempurna dengan terbentuknya zona transparan di sekitar koloni akibat beta hemolisin. • Tahan garam 7-10%, seringkali Staphylococcus aureus ditemukan pada ikan asin yang kurang asin, karena kemampuannya untuk hidup dalam suasana asin atau konsentrasi garam yang tinggi. Pada media MSA (Manitol Salt Agar) S. aureus dapat tumbuh dan memecah manitol sehingga mengubah pH indikator dari merah menjadi kuning. • Pada tes katalase dan koagulase menghasilkan hasil yang positif. S. aureus memiliki enzim katalase yaitu enzim yang mengkatalisis H2O2 menjadi air dan oksige dan enzim koagulase yaitu, protein mirip enzim yang dihasilkan oleh Staphylococcus. Enzim ini dapat membekukan plasma oksalat atau plasma sitrat bila di dalamnya terdapat faktor-faktor pembekuan. Koagulase ini menyebabkan terjadinya deposit fibrin pada permukaan sel Staphylococcus yang menghambat fagositosis Infeksi • Infeksi-infeksi utama Staphylococcus aureus 1. Tipe infeksi kulit: - Lebam besar dan kecil pada kulit, kadang berbentuk seperti abscesses (bentuknya seperti kulit bekas suntikan vaksin). - Besar, dalam, bisul yang disebabkan radang pada bawah kulit disebabkan bakteriemia. 2. Tipe Infeksi kulit yang menyebar: - Impetigo (sejenis bisul karena infeksi bakteri). 3. Tipe infeksi yang lebih dalam dan terlokalisasi: - Osteomyelitis (infeksi pada tulang) akut dan kronis. - Septic arthritis. 4. Tipe Infeksi lain: -Acute infective endocarditis (Radang akut endocarditis/lapisan jantung). -Septicemia. -Necrotizing pneumonia (Radang pada paru-paru). 5. Tipe Keracunan: -Toxic shock syndrome (sindrom racun yang dikeluarkan bakteri). -Gastroenteritis (Radang pada saluran pencernaan). -Scalded skin syndrome . 6. Infeksi lainnya termasuk:

-Paronychia. ****Staphylococcus albus Staphylococcus albus disebut juga dengan S. epidermidis ,sebuah spesies coagulase-negatif Staphylococcus , adalah teman dari kulit, namun dapat menyebabkan infeksi parah pada kondisi kekebalan pasien rendah dan dapat masuk ke dalam pembuluh darah halus bawah kulit. Morfologi dan sifat pewarnaan • Berbentuk bola. • Diameter kira-kira 1 µm. • Hasil pewarnaan dari media padat memperlihatkan susunan bakteri dalam kelompok yang tidak teratur. • Dengan pewarnaan gram bersifat Gram positif. Namun dalam biakan tua dapat berubah menjadi gram negatif. • Tidak bergerak dan tidak membentuk spora. • Tumbuh paling cepat pada suhu 370C tetapi paling baik membentuk pigmen pada suhu 370C. • Perubahan warna koloni S. aureus pada media Agar Darah dan NAS adalah putih. • Pada tes koagulase menghasilkan hasil yang negatif. Infeksi Merupakan flora normal dari kulit akan tetapi dapat menjadi patogen dan menyebabkan infeksi pada kulit bila sistem imune tubuh menurun dan bakteri berkembang dalam jumlah yang abnormal. ***Staphylococcus saprophyticus S. saprophyticus, merupakan spesies coagulase-negatif lain yang merupakan bagian dari flora normal di vagina, pada umumnya menyebabkan infeksi sistem genitourinary pada perempuan muda seksual-aktif.
http://farasandy.multiply.com/journal/item/113/Bakteri_Staphylococcus? &show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem ditulis oleh dita.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->