P. 1
Analisa Semantik Untuk Kata Dasar Datang Di Dalam Bahasa Arab

Analisa Semantik Untuk Kata Dasar Datang Di Dalam Bahasa Arab

|Views: 826|Likes:
sebuah upaya untuk menjelajahi kata kerja dalam bahasa arab dengan menggunakan analisis makna
sebuah upaya untuk menjelajahi kata kerja dalam bahasa arab dengan menggunakan analisis makna

More info:

Published by: Muhammad Yunus Anis Atmotaruno on Jan 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/01/2013

pdf

text

original

ANALISA SEMANTIK UNTUK KATA KERJA ³DATANG´ DI DALAM BAHASA ARAB

Muhammad Yunus Anis Fakultas Ilmu Budaya

1. Pendahuluan Studi Semantik di dalam bahasa Arab memiliki peranan yang sangat penting dan dirasakan perlunya. Grand design ini didasarkan pada teori seseorang yang dididik sebagai seorang strukturalis, Wallace Chafe. Karena dia percaya bahwa fungsi bahasa adalah untuk menghubungkan arti dengan bunyi, dia berasumsi bahwa ³landasan suatu teori bahasa yang baik(adequate) adalah teori stuktur semantik yang baik pula´. Lebih jauh dia juga berasumsi bahwa ³jagat konsepsuil manusia secara keseluruhannya dibagi menjadi dua bidang utama´, yakni, bidang perilaku yang meliputi keadaan dan kejadian dan bidang kebendaan yang meliputi benda-benda di dunia ini. Chafe menganggap kata kerjalah yang paling penting, yang sentral, sedangkan kata benda periferal. Ini dengan sendirinya berarti bahwa kata kerjalah yang menentukan kata benda mana yang bisa atau boleh dipakai, dan bukan sebaliknya(Dardjowidjojo, 1983:42). Salah satu peranan penting semantik dalam bahasa Arab adalah untuk menentukan komponen-komponen makna yang secara sistematis membentuk kata kerja(fi¶il) di dalam bahasa Arab. Fi¶il sebagai sentral dan bukan periferal layak untuk dikaji dari sisi unsur-unsur pembentuk maknanya. Hal ini merupakan ranah dari kajian semantik, bukan ranah kajian struktur lahir bahasa seperti morfologi dan sintaksis. Pembahasan mengenai komponen makna merupakan hal yang penting karena untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam penempatan agent(pelaku) bagi kata kerja tersebut. Sebagai contoh kalimat: Batu itu telah membaca buku.

Kalimat tersebut secara struktur lahir benar karena tersusun dari subyek(fa¶il), predikat(fi¶il) dan objek(maf¶ul bih) dalam rangkaian kalimat verbal(jumlah fi¶liyyah). Namun secara semantis, kalimat tersebut salah karena kata kerja seperti ³membaca´ tidak diperuntukkan untuk benda mati

³batu´. Kata kerja ³membaca´ dikhususkan untuk kata benda(noun) yang memiliki

komponen makna: bisa dihitung(count), bertenaga(potent), bernyawa(animate), manusia, dan

1

unik. Oleh sebab fenomena kebahasaan tersebut, makalah ini berusaha untuk mengupas dan menganalisa salah satu kata kerja dalam bahasa Arab dari sisi semantisnya. Di dalam makalah sederhana ini hanya akan dibahas salah satu kata kerja dalam bahasa Arab secara semantis. Hal ini diasumsikan analisis sederhana ini selanjutnya dapat menjadi pemantik untuk menganalisis kata kerja(fi¶il) yang lain dalam bahasa Arab. Sehingga pembahasan linguistik Arab akan terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu linguistik secara umum. Kata kerja yang diambil untuk diolah dalam makalah ini adalah kata kerja ³datang´ dalam bahasa Arab. Di dalam kamus Al Munawwir Indonesia-Arab, kata ³datang´ diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi: /

±

/

±

/

±

/

(Warson, 2007:217). Adapun menurut Elias kata ³come´ (datang) dapat diartikan ke

dalam bahasa Arab menjadi:

/

/

/

/

(Elias, 1967:147). Terakhir Munir Ba¶albaki

di dalam ³Al Mawrid´ kata ³datang´ diterjemahkan menjadi 1973:195).

/

/

(Ba¶albaki,

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat ditentukan rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu: analisa semantik kata kerja ³datang´ di dalam bahasa Arab, yaitu dengan cara memberikan pandangan umum terhadap kata kerja ³datang´ di dalam bahasa Arab dari tinjauan berbagai pustaka dan menentukan kategori verbal dari kata kerja yang dianalisis dengan beberapa alat uji. Selain itu analisa dilanjutkan dengan menganalisa unsur-unsur komponen makna yang membentuk kata kerja tersebut. 2. Kesentralan Kata Kerja dan Komponen Makna Tulisan ini adalah suatu usaha untuk menerapkan teori Chafe. Ia mengemukakan bahwa struktur semantik terdiri dari dua unit semantik pokok, yaitu Kata Kerja (seterusnya KK) dan Kata Benda(seterusnya KB). Dalam struktur semantik ini KK merupakan pusat. Ini berarti bahwa KK menentukan hadirnya KB dalam struktur semantik dimaksud. Kepusatan KK ini juga dikemukakan oleh para penganjur semantik generatif yang tersebut terdahulu, dan secara implisit juga dikemukakan oleh para penganjur tata bahasa kasus(Tampubolon, 1979:6). Argumen yang dikemukakan oleh Langendoen juga memperkuat pendapat Chafe. Langendoen mengemukakan bahwa subyek dan obyek suatu kalimat dapat diganti dengan apa saja yang tak mengandung arti, misalnya dengan huruf, tetapi pergantian itu tidak mengubah arti

2

kalimat itu. Sebaliknya, jika kata kerja dalam kalimat itu diganti, maka artinya akan berubah. Kepusatan KK sebagai diuraikan di atas agaknya terdapat juga dalam bahasa Arab. Sebagai contoh dapat diperhatikan pada kalimat-kalimat berikut yang tersusun dari kata dasar fi¶il ± sebagai salah satu kata kerja yang berarti ³datang´ dalam bahasa Arab: Kapal itu telah datang di pelabuhan = Para penumpang telah mendatangi kapal itu = Kapal itu telah mendatangkan penumpang = Kedatangan kapal itu telah ditunggu-tunggu = .1 .2 .3 .4

Jelas kelihatan bahwa arti dan bentuk kata kerja dalam (1) ± (4) berbeda, dan perbedaan ini mengakibatkan perubahan arti dan struktur kalimat-kalimat tersebut. Dalam kalimat (2), misalnya, hadirnya kata benda ³kapal´ disebabkan oleh perubahan arti kata kerja dalam kalimat itu apabila dibandingkan dengan kalimat (1). Perubahan itu ditandai dengan struktur luar dengan menambahkan preposisi yang berupa harf jar pada kata .

Berdasarkan uraian di atas, postulat pokok dalam kerangkan teori penelitian ini ialah bahwa KK merupakan pusat dalam struktur semantik bahasa. Dapat ditambahkan bahwa nosi kepusatan KK sebagai diuraikan di atas mengimplikasikan adanya hubungan ketergantungan antara KK dengan KB secara semantik. Hays(1964) dalam uraiannya tentang dependency theory, menyebutkan bahwa KK adalah unsur penguasa (governing element) dan KB, yang jumlahnya terbatas, adalah unsur bergantung (dependent element) atau valensi(valence). Nosi hubungan ketergantungan tersebut juga dikemukakan oleh Kholodovich(1960)(Tampubolon, 1979:7). KK dalam bahasa Arab disebut dengan fi¶il. Para linguis Arab hanya mendefinisikan pengertian fi¶il dari segi kala saja. Hal ini dapat dilihat dari definisi para linguis Arab seperti Ahmad Hasyimi di dalam buku ³Al Qawaid al Asasiyyah lillughatil Arabiyyah´.

( . ± ±

) .

(

)

Fi¶il menurut para linguis Arab adalah sesuatu yang menunjukkan pada peristiwa. Adapun menurut para ahli Nahwu, fi¶il adalah sesuatu yang bertalian dengan salah satu dari tiga kala beikut yaitu lampau, sekarang, dan masa mendatang. Ada juga yang membagi waktu tersebut menjadi madhi, mudhori¶, amr(Hasyimi,1354:17).

3

3. Pembahasan Pembahasan ini merupakan sebuah bentuk analisa semantik terhadap KK ³datang´. Analisa semantik ini sengaja disusun oleh penulis untuk mempermudah menganalisa sebuah kata kerja khusus dalam bahasa Arab dari sisi semantik. Hal ini dirasa perlu, karena pembahasan ini belum begitu dominan dalam studi kebahasaan, khususnya bahasa Arab. Pembahasan dalam makalah ini diharapkan menjawab pertanyaan dari rumusan masalah, sehingga dapat ditemukan beberapa kesimpulan yang memiliki hubungan sinergis dengan rumusan dan analisis masalah. Sistematika pembahasan dalam makalah ini tersusun dalam beberapa lapis berikut. 1. Menentukan pandangan umum KK ³datang´ dari tiga kamus, yaitu: Al Munawwir, Elias, dan Al Mawrid. 2. Menentukan kategori verbal dari KK´datang´(verba aksi, verba proses, atau verba keadaan) dengan menggunakan beberapa alat uji. 3. Membuktikan KK ³datang´ sebagai KK Aksi dengan menggunakan teori Lakoff dan teori Chafe. 4. Menentukan komponen makna KK ³datang´ dalam bahasa Arab sehingga tidak terjadi kesalahan dalam penempatan agent dalam sebuah KK. 3.1 Pandangan Umum KK ³datang´(Makna Berdasar Tinjauan Pustaka) Pembahasan dalam analisis masalah dimulai dengan studi literatur dari beberapa kamus bahasa Arab mengenai KK ³datang´. Tinjauan referensi ini dimulai dengan cara mencari istilah bahasa Arab KK ³datang´ dalam kamus Al Munawwir Indonesia-Arab. Selanjutnya KK ³come´ yang berarti ³datang´ dalam kamus Inggris-Arab: Elias Modern-Dictionary English Arabic dan Al Mawrid A Modern English Arabic Dictionary. Di dalam kamus Al Munawwir Indonesia-Arab, kata ³datang´ diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi:

/

/

±

/

±

/

±

(Warson, 2007:217).

Adapun menurut Elias kata ³come´ (datang) dapat diartikan ke dalam bahasa Arab menjadi:

/

/

/

/

(Elias, 1967:147). Terakhir Munir Ba¶albaki di dalam ³Al Mawrid´ kata

4

³datang´ diterjemahkan menjadi

/

/

(Ba¶albaki, 1973:195). Untuk

mempermudah analisis, kata-kata tersebut disusun dalam sebuah tabel berikut. Makna Leksikal dalam Munjid Arab-Arab
(lajur 2)

No

Fi¶il dan Asal Kamus
(lajur 1)

Makna Leksikal dalam Al Munawwir Arab-Ind
(lajur 3)

1 2 3 4 5

±
(Munawwir, Elias, Al Mawrid)

(112: (3 : (139: ) ) )

)

Datang (hal:6)

(Munawwir, Elias, Al Mawrid)

Datang, tiba (hal:227)

±
(Munawwir, Elias)

:

Hadir, datang (hal 273)

(

)

±

(895: (606:

Hadir, datang (hal 273)

(Munawwir)

)

Datang (hal:6)

(Munawwir, Elias)

6 7 8

( ( (

)
(Al Mawrid)

(903: ±

) (614) (614)

Sampai di (ke) (hal:107)

)
(Elias)

Datang (hal:6)

)
(Elias)

±

Kembali (hal:982)

Kata-kata pada lajur pertama merupakan hasil pencarian dan tinjauan dari ketiga kamus tersebut di atas. Selanjutnya kata tersebut dicari padanannya dalam bahasa Arab dengan menggunakan kamus Munjid(tampak pada lajur kedua/tengah). Untuk mempermudah pemahaman dalam bahasa Indonesia, makna leksikal dari kamus Munjid diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menggunakan kamus Al Munawir Arab-Indonesia terbitan tahun 2002(tertera pada lajur ketiga). Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa KK ³datang´ dalam bahasa Arab dapat diungkapkan dengan tiga pola, yaitu pola fi¶il mujarrad, fi¶il mujarrad plus harf jar, dan fi¶il

5

mazid plus harf jar. Pola pertama, yaitu fi¶il mujarrad(denuded verb). Ad Dahdah mendefinisikannya sebagai fi¶il yang tersusun dari huruf asli dan tanpa huruf tambahan(Ad Dahdah,1993:441). KK ³datang´ dari pola ini, adalah:

,

,

,

. .Pola kedua, yaitu

fi¶il mujarrad(denuded verb) plus harf jar(letter of reduction). KK ³datang´ dari pola ini adalah: . Pola ketiga, yaitu fi¶il mazid(augmented verb) plus harf jar(letter of reduction). Ad Dahdah mendefinisikannya sebagai fi¶il yang mendapatkan tambahan huruf melebihi bentuk aslinya(Ad Dahdah, 1993:444). KK ³datang´ dari pola ini adalah: .

Dari tabel di atas, tampak bahwa dalam mengungkapkan KK ³datang´ dalam bahasa Arab, ketiga kamus(Munawwir, Elias, dan Mawrid) menggunakan kata tersebut merupakan dominan dalam mengungkapkan KK ³datang´. Tabel tersebut juga menyimpulkan bahwa kata dan merupakan sebuah sinonim. dan

. Kedua kata

Sinonimi adalah hubungan atau relasi persamaan makna. Jadi, bentuk kebahasaan yang satu memiliki kesamaan makna dengan bentuk kebahasaan yang lain(Wijana, 2008:28). Adapun kata kerja no (3) sampai dengan no (8) merupakan pengungkapan KK ³datang´ dari beberapa leksikolog dan leksikograf(Widodo, 2001:370). Tabel tersebut merupakan pandangan umum tentang KK ³datang´ dari beberapa kamus saja. Sehingga tidak menutup kemungkinan ditemukannya pengungkapan bahasa Arab KK ³datang´ dalam kamus lain. 3.2 Menentukan Kategori Verbal Secara semantik leksem verbal dalam bahasa Indonesia (dan bahasa-bahasa Barat) ditandai dengan mengajukan pertanyaan: (1) Apa yang dilakuakan subjek dalam klausa(verba tindakan) (2) Apa yang terjadi terhadap subjek dalam klausa(verba proses) (3) Bagaimana keadaan subjek dalam klausa(verba keadaan). Di dalam kategori verbal KK ³datang´ termasuk verba tindakan/ aksi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan pada kata tersebut, yaitu apa yang dilakukan subjek dalam klausa. Pertanyaan (2) dan (3) tidak berterima untuk KK ³datang´. Sebagai contoh dapat kita lihat pada kalimat berikut. Kapal itu telah datang di pelabuhan = Pertanyaan (1) dapat dikemukakan yaitu: apa yang dilakukakan kapal di pelabuhan? kapal datang di pelabuhan.

6

Pertanyaan(2) tidak dapat dikemukakan dalam kalimat di atas, karena tidak berterima, yaitu: apa yang terjadi terhadap kapal? Jawaban seharusnya diambil dari verba proses, seperti kapal sedang mengalami proses tenggelam, goyang, atau tertarik ombak, dll. Pertanyaan(3) tidak dapat dikemukakan dalam kalimat di atas, karena tidak berterima, yaitu: Bagaiamana keadaan kapal dalam kalimat? Jawaban seharusnya diambil dari verba keadaan, seperti: kapal sedang rusak, terlambat, kacau, atau bersih, dll. Dari analisa semantik lapis dua ini dapat disimpulkan bahwa KK´datang´ dalam bahasa Arab dapat dikategorikan sebagai verba tindakan/aksi. 3.3 Pembuktian KK ³datang´ sebagai KK Aksi(Teori Lakoff dan Chafe) Dalam hal ini penulis melakukan pembuktian KK ³datang´ sebagai KK aksi karena ada sedikit kerancuan dalam membedakan antara kategori KK Aksi dan KK Proses. Bahkan mungkin akan ditemukan beberapa kata kerja yang masuk dalam dua kategori, yaitu kategori KK Aksi dan KK proses. Namun untuk lebih memperjelas kerancuan tersebut, peninjauan ulang terhadap definisi KK aksi dan KK proses akan cukup membantu. KK proses mempunyai ciri semantik proses. Kata kerja ini mengharuskan hadirnya satu kasus Objek dalam struktur semantiknya. Objek ini menyatakan entiti yang mengalami proses perubahan keadaan atau kondisi. Contoh: Daun tembakau ini sedang layu(Tampubolon, 1979:21). KK aksi mempunyai ciri semantik aksi proses. KK ini mengharuskan kehadiran satu kasus Agen dan satu Objek dalam struktur semantiknya. Kasus agen menyatakan entiti animat yang merupakan penual(instigator) satu aksi dan kasus Objek ialah entiti yang mengalami efek atau merupakan hasil dari aksi dimaksud. Contoh: Mereka sedang minum(Tampubolon, 1979:27). Bagaimana cara membedakan KK Aksi dan KK proses? Perbedaan pokok ialah bahwa KK Aksi mengharuskan kehadiran kasus Agen, sedangkan KK Proses tidak. Untuk melihat perbedaan dimaksud lebih jelas dapat dipakai alat penguji sintaksis dari teori Lakoff(1966). KK Aksi dapat dipakai membentuk kalimat suruh(perintah), sedangkan KK Proses tidak. Pembuktian ini dapat dilihat dari kalimat-kalimat berikut. KK ³datang´ dikontraskan dengan salah satu KK Proses. Datanglah /! Layu!

/!

/!

/!

/!

/!

/!

7

Kalimat ³layu!´ tidak berterima. Dengan demikian KK ³datang´ merupakan KK Aksi dan KK ³layu´ bukan KK Aksi, melainkan KK proses. Alat penguji yang dikemukakan Chafe(1970) juga dapat dipakai yaitu dengan mempergunakan pertanyaan ³Apa yang dikerjakan oleh N?´ Pembuktian teori Chafe ini dapat dilihat pada analisis berikut. KK ³datang´ dalam bahasa Arab mencoba untuk dikontraskan dengan KK Proses dalam bahasa Arab.

:
Apa yang dikerjakan oleh Fatimah?

,

,

:
Datang

:
Tumbuh Kalimat ( ) tidak terterima. Jadi KK ³datang´ merupakan KK Aksi dan KK ³tumbuh´ bukan merupakan KK Aksi. Selain itu KK datang (

,

,

,

,

,

,

)juga

menyarankan adanya lokasi(tempat asal, tempat tujuan). Hal ini didasarkan pada asumsi dasar bahwa kata (dimana?) dapat disandingkan dengan KK´datang´. Berdasarkan pada teori

pengujian Lakoff dan teori Chafe, KK ³datang´ merupakan KK Aksi Lokatif karena KK ³datang´ menyarankan adanya lokasi(tempat asal, tempat tujuan). 3.4 Analisis Komponen Makna Setiap kata, leksem, atau butir leksikal tentu mempunyai makna. Makna yang dimiliki oleh setiap kata itu terdiri dari sejumlah komponen(yang disebut komponen makna), yang membentuk keseluruhan makna kata itu. Komponen makna ini dapat dianalisis, dibutiri, atau disebutkan satu persatu, berdasarkan "pengertian-pengertian" yang dimilikinya. Umpamanya, kata ayah memiliki komponen makna /+ manusia/, /+dewasa/, /-jantan/, /+kawin/, dan /+punya anak/(Abdul Chaer, 2003:318). Analisis makna dengan mempertentangkan ada (+) atau tidak adanya (-) komponen makna pada sebuah butir leksikal disebut analisis biner, analisis dua-dua. Analisis ini berasal dari studi fonologi yang dilakukan Roman Jakobson dan Morris Halle. Dalam laporan penelitiannya yang berjudul Preliminaries to Apeech Analysis: The Distinctive Features and Their Correlates(1951), mereka memberi tanda plus(+) untuk bunyi yang mengandung suatu ciri

8

fonologis, dan memberi tanda minus (-) untuk yang tidak mempunyai ciri itu(Abdul Chaer,2003:323). Di dalam penelitian ini KK dalam bahasa Arab dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: verba tindakan, verba proses, dan verba keadaan. Verba tindakan memiliki komponen-komponen makna sebagai berikut: /tindakan, perbuatan, aksi/, /pelakunya manusia/, / pelakunya manusia dan bukan manusia/, /pelakunya bukan manusia/, /tindakan dan pengalaman/, /tindakan dan benefaktif/, /tindakan dan lokasi/. Verba proses memiliki komponen makna sebagai berikut: /proses/, /proses pengalaman/, /proses benefaktif/, dan /proses lokatif/. Verba keadaan memiliki komponen makna sebagai berikut: /keadaan/, /keadaan pengalaman/, /keadaan benefaktif/, /keadaan lokatif/. Beberapa KK yang akan dianalisis dalam makalah ini adalah beberapa KK ´datang´ yang sudah dijaring dari beberapa kamus yaitu Munawwir, Elias, dan Al Mawrid. Kata-kata tersebut adalah (

,

,

,

,

,

,

). Dengan melakukan analisis komponen makna

diharapkan tidak ada kesalahan lagi dalam meletakkan agent(pelaku). Selain itu juga akan ditemukan titik persamaan dan perbedaan kata-kata tersebut yang notabene memiliki maksud yang sama yaitu untuk mengungkapkan KK ´datang´ dalam bahasa Arab. Untuk mempermudah analisis komponen makna, digunakan analisis biner. Analisis biner diisi oleh komponenkomponen makna pembentuk KK ´datang´. Analisis biner diwujudkan dalam bentuk tabel dengan mengisi dengan memberi tanda (+) dan (-). KK ´datang´ termasuk dalam verba tindakan. Verba tindakan memiliki komponenkomponen makna sebagai berikut: /tindakan, perbuatan, aksi/, /pelakunya manusia/, / pelakunya manusia dan bukan manusia/, /pelakunya bukan manusia/, /tindakan dan pengalaman/, /tindakan dan benefaktif/, /tindakan dan lokasi/. Komponen makna pertama yaitu /tindakan/. Verba tipe ini merupakan maujud berupa nomina berciri makna bernyawa dan bertindak sebagai penggerak tindakan yang disebutkan oleh verba tersebut. Bisa manusia bisa bukan manusia. Komponen makna kedua yaitu /tindakan dan pengalaman/. Verba tipe ini secara semantik menyatakan tindakan dan pengalaman. Pelakunya merupakan maujud berupa nomina berciri makna(+bernyawa) dan bertindak sebagai penggerak tindakan yang disebutkan oleh verba

9

dan sekaligus mengalami (baik kognitif, emosional, maupun sensasional) tindakan yang dinyatakan oleh verba tersebut. Misalnya: menaksir dan menjawab. Komponen makna ketiga yaitu /tindakan dan benefaktif/. Verba tipe ini menyatakan tindakan dan benefaktif(tindakan verba yang dilakukan untuk orang lain, baik pemilikan dan termasuk ketidakpemilikan). Pelaku verba ini merupakan maujud berupa nomina berciri makna(+bernyawa) dan bertindak sebagai penggerak tindakan yang disebutkan oleh verba tersebut. Misalnya: beli, bantu, minta, dan pinjam. Komponen makan keempat yaitu /tindakan dan lokasi/. Verba tipe ini menyatakan tindakan dan lokasi(tempat). Artinya tindakan yang dinyatakan oleh verba itu sekaligus ´menyarankan´ adanya lokasi(tempat asal dan tempat tujuan). Pelakunya merupakan maujud berupa nomina berciri makna (+bernyawa) baik yang dapat mengalami tindakan itu sendiri maupun yang tidak. Sementara itu, lokasi bisa berupa frase preposional. Misalnya: pergi, tiba, kembali, dan datang. Komponen makna kelima yaitu untuk mengetahui apakah pelakunya manusia. Komponen makna keenam untuk mengetahui apakah pelakunya manusia dan bukan manusia. Komponen makna ketujuh untuk mengetahui apakah pelakunya bukan manusia. Untuk mempermudah analisis komponen makna digunakan analisis biner sebagai berikut: Analisis Biner Verba Tindakan
Tindakan N o. Verba Tindakan dan Pengalam an
1

Tindakan dan Benefaktif

Tindakan dan Lokasi

Pelakunya Pelakunya Manusia Manusia dan Bukan Manusia

Pelakunya bukan manusia

± ± ( ) ±

+ + + + +

+ + + + + + +

+ + + + +

+ + + + + + +

+ + + +

+ + + + -

-

2

3

4

5

6

( (

) ) ±

+ +

7

10

8

(

)

±

+

+

+

-

+

-

-

Dari analisis biner di atas dapat disimpulkan bahwa KK ´datang´ dalam bahasa Arab mengandung makna tindakan, aksi, atau perbutan. Delapan verba tersusun dari komponen makna tindakan dan pengalaman. Enam verba tersusun dari komponen makna tindakan dan benefaktif. Tujuh verba tersusun dari komponen makna tindakan dan lokasi. Lima verba pelakunya mutlak manusia. Empat verba pelakunya bisa manusia maupun bukan manusia. Tidak ditemukan verba yang pelakunya bukan manusia karena tidak berterima dengan KK ´datang´ yang memiliki komponen makna agent(+ bernyawa). Dari tabel di atas tampak jika semua fi¶il

,

,

,

,

,

,

merupakan fi¶il yang memiliki komponen makna /tindakan/ dan /tindakan pengalaman/ karena kesemuanya mengandung unsur tindakan, proses pengalaman, dan pelaku verba berupa nomina berciri makna bernyawa dan bertindak sebagai penggerak tindakan yang disebutkan oleh verba tersebut. Contoh kalimat diambil dari Mu¶jam Wasith karya Ibrahim Anis(1972). Contoh kalimat dapat dilihat pada tabel Ibrahim Anis. Dari tabel di atas kata dan tidak termasuk dalam kategori benefaktif, karena kata

kerja tersebut tidak dapat memberikan pengaruh kepada orang lain. Hal ini didasarkan pada alasan: kata kerja tersebut tidak berterima dengan wazan objeknya. Dari tabel di atas, seluruh kata kerja mengandung komponen makna /tindakan dan tempat/ karena secara umum KK ³datang´ membutuhkan dan memaksa kehadiran tempat. Hal ini terlihat dari pertanyaan:´datang ke mana?´ atau ³datang dimana?´. Namun ada satu kata kerja yang tidak membutuhkan objek tempat dan lokasi yaitu KK ( yang memberi pengaruh kepada

)

. Sebagai contoh kata

safarihi dalam frase tersebut tidak menunjukkan sebuah tempat melainkan sebuah nomina. Sedangkan untuk pelaku /manusia/, /manusia dan bukan manusia/, /bukan manusia/ dapat dilihat dalam tabel Ibrahim Anis. Kata untuk orang pertama(aku) manusia, contoh kata perkara. memiliki pelaku manusia, yaitu dhamir muttasil dapat disandingkan dengan pelaku bukan hujan dan

. Sedangkan kata

dapat disandingkan dengan pelaku yang berupa

11

Kata

dapat disandingkan dengan kata selain pelaku yang bukan /manusia/ juga. Hal dapat disandingkan dengan kata shalat,

ini dapat dilihat dalam tabel bahwa kata perkara, dan Kata

sesuatu yang bersifat universal.

hanya berlaku untuk komponen makna /manusia/, dalam contoh digunakan kata berterima dengan komponen makna /manusia dan bukan manusia/. Tabel Ibrahim Anis

. Untuk kata
No Fi¶il

Makna

Contoh dalam Kalimat

1
(halaman:4)

2
(halaman :149)

: : : 3 ( ) : : : : : 4
(halaman:1024) (halaman:181)

:

5
(halaman:1037)

: 6
(halaman: 712)

:

,

,

12

4. Kesimpulan  Beberapa kesimpulan umum analisa semantik KK ³datang´ berdasarkan tinjauan pustaka: 

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa KK ³datang´ dalam bahasa Arab dapat
diungkapkan dengan tiga pola, yaitu pola fi¶il mujarrad, fi¶il mujarrad plus harf jar, dan fi¶il mazid plus harf jar.

y Pola pertama, yaitu fi¶il mujarrad(denuded verb). KK ³datang´ dari pola ini,
adalah:

,

,

,

..

y Pola kedua, yaitu fi¶il mujarrad(denuded verb) plus harf jar(letter of reduction).
KK ³datang´ dari pola ini adalah: .

y Pola ketiga, yaitu fi¶il mazid(augmented verb) plus harf jar(letter of reduction).
KK ³datang´ dari pola ini adalah: . 

Dalam mengungkapkan KK ³datang´ dalam bahasa Arab cukup dominan dengan
menggunakan kata dan . 

Kata

dan

merupakan sebuah sinonim. Sinonimi adalah hubungan atau relasi

persamaan makna.  Di dalam kategori verbal KK ³datang´ termasuk verba tindakan/ aksi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan pada kata tersebut, yaitu apa yang dilakukan subjek dalam klausa.  Berdasarkan pada teori pengujian Lakoff dan teori Chafe, KK ³datang´ merupakan KK Aksi Lokatif karena KK ³datang´ menyarankan adanya lokasi(tempat asal, tempat tujuan).  Berdasarkan analisis biner di atas dapat disimpulkan bahwa KK ´datang´ dalam bahasa Arab mengandung makna tindakan, aksi, atau perbutan. Delapan verba tersusun dari komponen makna tindakan dan pengalaman. Enam verba tersusun dari komponen makna tindakan dan benefaktif. Tujuh verba tersusun dari komponen makna tindakan dan lokasi. Lima verba pelakunya mutlak manusia. Empat verba pelakunya bisa manusia maupun bukan manusia. Tidak ditemukan verba yang pelakunya bukan manusia.

13

DAFTAR PUSTAKA Anis, Ibrahim. 1972. Mu¶jam Wasith. Cairo: Maktabah Syaruq Ad Dauliyyah. Chafe, Wallace L. 1970. Meaning and the Structure of Language. Chicago : The University of Chicago Press. Ad-Dahdah, Anton. 1993. Mu'jamu Qawa'idil Lughatil±Arabiyyah(English Edition). Bairut: Maktabah Lubnan. Dardjowidjojo, Soenjono. 1983. Beberapa Aspek Linguistik Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan. Elias, E. Elias dan ED. E. Elias. 1967. Elias Modern-Dictionary English Arabic. Cairo: Elias Modern Press U.A.R. Hasyimi, Ahmad. 1354H. Al Qawaid Al Asasiyyah Al Lughah Al Arabiyyah. Jakarta. Ma¶luf, Louis. 1986. Al Munjid fil Lughah wal A¶lam. Beirut: Al Maktabah As Syarqiyyah. Munawwir, Achmad Warson. 2002. Kamus Al Munawwir Arab-Indonesia. Surabaya : Pustaka Progressif . Munawwir, Achmad Warson. 2007. Kamus Al Munawwir Indonesia-Arab. Surabaya : Pustaka Progressif . Munir, Ba¶albaki. 1973. Al Mawrid A Modern English Arabic Dictionary. Beirut: Dar el-Ilm Lil Malayen. Tampubolon, D.P. Abubakar. M Sitorus. 1979. Tipe-Tipe Semantik Kata Kerja Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Widodo, Amd. 2001. Kamus Ilmiah Populer Dilengkapi EYD dan Pembentukan Istilah. Yogyakarta: Absolut. Wijana, I Dewa Putu. 2008. Semantik Teori dan Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka.

14

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->