Sengketa internasional

1. Sengketa Pedra Branca adalah persengketaan wilayah antara Singapura dan Malaysia terhadap pulau yang terletak di pintu masuk [Selat Singapura sebelah timur. Terdapat tiga pulau yang dipersengketakan, yaitu Pedra Branca (disebut Pulau Batu Puteh oleh Malaysia), Batuan Tengah dan Karang Selatan. Persengketaan dimulai pada tahun 1979 dan sebagian besar sudah diselesaikan oleh Mahkamah Internasional tahun 2008. Pedra Branca diserahkan pada Singapura berdasarkan pertimbangan effectivity dan gugus terumbu karang batuan tengah (dalam kenyataan adalah pantai utara dari pulau Bintan dalam wilayah Republik Indonesia) diserahkan pada Malaysia. 2. Hubungan antara Indonesia dan Malaysia beberapa kali mengalami pasang surut. Pada tahun 1963, terjadi konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia. Perang ini berawal dari keinginan Malaysia untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961 (Lihat: Konfrontasi Indonesia-Malaysia). Hubungan antara Indonesia dan Malaysia juga sempat memburuk pada tahun 2002 ketika kepulauan Sipadan dan Ligitan di klaim oleh Malaysia sebagai wilayah mereka, dan berdasarkan keputusan Mahkamah Internasional (MI) di Den Haag, Belanda bahwa Sipadan dan Ligitan merupakan wilayah Malaysia. Sipadan dan Ligitan merupakan pulau kecil di perairan dekat kawasan pantai negara bagian Sabah dan Provinsi Kalimantan Timur, yang diklaim dua negara sehingga menimbulkan persengkataan yang berlangsung selama lebih dari tiga dekade. Sipadan dan Ligitan menjadi ganjalan kecil dalam hubungan sejak tahun 1969 ketika kedua negara mengajukan klaim atas kedua pulau itu. Kedua negara tahun 1997 sepakat untuk menyelesaikan sengketa wilayah itu di MI setelah gagal melakukan negosiasi bilateral. Kedua belah pihak menandatangani kesepakatan pada Mei 1997 untuk menyerahkan persengkataan itu kepada MI. MI diserahkan tanggung jawab untuk menyelesaikan sengketa dengan jiwa kemitraan. Kedua belah pihak juga sepakat untuk menerima keputusan pengadilan sebagai penyelesaian akhir sengketa tersebut. Selain itu, pada 2005 terjadi

Pengaruh kebijaksanaan politik di era reformasi tersebut telah berdampak pada kebijaksanaan pemerintah dalam menangani berbagai permasalahan yang menyangkut keselamatan negara terhadap berbagai ancaman.sengketa mengenai batas wilayah dan kepemilikan Ambalat. yang berskala nasional dan berpengaruh terhadap dunia luar seperti terjadinya pergantian tampuk pimpinan negara dan suhu politik yang memanas serta berbagai kerawanan terhadap keutuhan NKRI berupa ancaman disintegrasi bangsa dan lepasnya Timor-Timur serta Sipadan dan Ligitan.Selain itu pula. Diera reformasi ini pula telah terjadi berbagai perubahan situasi politik. Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu bersikeras lagu "Rasa Sayange" adalah milik Indonesia. gangguan dan hambatan yang dapat . tantangan. dan setelah bukti tersebut terkumpul. karena merupakan lagu rakyat yang telah membudaya di provinsi ini sejak leluhur. yang dirilis sekitar Oktober 2007. 3. Pada Oktober 2007 terjadi konflik akan lagu Rasa SayangSayange dikarenakan lagu ini digunakan oleh departemen Pariwisata Malaysia untuk mempromosikan kepariwisataan Malaysia. akan diberikan kepada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Menteri Pariwisata Malaysia Adnan Tengku Mansor menyatakan bahwa rakyat Indonesia tidak bisa membuktikan bahwa lagu Rasa Sayange merupakan lagu rakyat Indonesia. sehingga klaim Malaysia itu hanya mengada-ada. Gubernur berusaha untuk mengumpulkan bukti otentik bahwa lagu Rasa Sayange merupakan lagu rakyat Maluku. Dengan bergulirnya Reformasi yang dimulai sejak Mei 1998. Arah kebijaksanaan politik negara telah ditetapkan dalam Tap MPR No IV / MPR / 1999 tentang GBHN. Perubahan ini telah memberikan dampak pada berbagai kebijaksanaan pemerintah yang diambil dalam upaya menyelamatkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. telah terjadi berbagai perubahan dalam tata kehidupan politik Indonesia.Sengketa Pulau Miangas Apabila kita melihat permasalahan yang telah diuraikan di atas dari segi politik strategi dan pertahanan. Sementara Menteri Pariwisata Malaysia Adnan Tengku Mansor mengatakan bahwa lagu Rasa Sayange merupakan lagu Kepulauan Nusantara (Malay archipelago).

. perlu dicatat bahwa Banglades juga sedang mempersiapkan pengajuan sengketa batas maritimnya dengan India ke Mahkamah Internasional. a) Peningkatan akses menuju kota-kota pesisir yang menjadi orientasi utama pada wilayah NKRI. Babak Baru Sengketa Batas Maritim di Teluk Bengal Pada tanggal 16 Desember 2009. the International Tribunal for the Law of the Sea-ITLOS (selanjutnya disebut Tribunal) mengumumkan bahwa baru saja menerima berkas sengketa batas maritim antar negara untuk diselesaikan. baik berskala kecil hingga besar. b) Penegasan garis batas laut (rambu-rambu) untuk menjamin kepastian hukum laut. yaitu Banglades dan Myanmar. SDA. Keempat Peningkatan kerjasama ekonomi sub-regional (KESR) melalui skema BIMP-EAGA. kemudahan perizinan. dan SDB). dsb). IMT-GT maupun AIDA dengan strategi . b) Pengembangan pelayanan penunjang kegiatan perdagangan internasional. Ketiga Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan pada kawasan perbatasan secara selektif yang didukung oleh pusat pelayanan yang memadai (prasarana dan sarana) dengan strategi . IMS-GT. Adapun upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi masalah klaim wilayah pulau Miangas ini adalah : Pertama Pengembangan kawasan perbatasan sebagai µberanda depan¶ sekaligus pintu gerbang menuju dunia internasional dengan strategi. Kedua Pengembangan kawasan perbatasan dengan menganut keserasian antara prinsip keamanan (security) dan prinsip kesejahteraan masyarakat (prosperity) dengan strategi . Ada beberapa hal menarik yang bisa dicermati dari sengketa-sengketa ini. b) Pengembangan kegiatan ekonomi dengan sebesar-besarnya memanfaatkan sumber daya lokal (SDM. Sengketa tersebut melibatkan dua negara bertetangga di perairan Teluk Bengal.gerbang negara berdasarkan kesepakatan dengan negara tetangga. Di luar itu. a) Pemanfaatan ALKI untuk kepentingan pertahanan dan perdagangan internasional. Pertama. 4. a) Mengembangkan kota-kota perbatasan sebagai pintu. Sebelumnya Tribunal telah menerima dan menyelesaikan 15 kasus di bidang hukum laut internasional. a) Peningkatan prasarana dan sarana penunjang kegiatan sosial±ekonomi masyarakat (misal untuk permukiman nelayan). b) Penerapan insentif±disinsentif untuk pengembangan kawasan perbatasan (pembebasan pajak untuk investor. kasus antara Banglades dan Myanmar menjadi kasus delimitasi batas maritim pertama yang ditangani oleh Tribunal.menyebabkan instabilitas negara dalam mencapai tujuan nasional.

Banglades sendiri pada saat ini sedang mempersiapkan pengajuannya kepada PBB dengan melakukan survey dasar laut di Teluk Bengal dengan dana sampai dengan 11. Belanda dan Denmark. yang tentunya tidak diakui oleh pihak lainnya. Jerman yang posisi geografisnya terjepit di antara Belanda dan Denmark melihat bahwa prinsip tersebut sangat tidak menguntungkan baginya. Dalam kasus tersebut. Banglades berencana menyampaikan pengajuannya ke PBB pada tahun 2011 yang kemungkinan juga akan diprotes oleh India dan Myanmar bila sengketa belum terselesaikan.Sebagai latar belakang. beberapa negara ASEAN pernah bersengketa di mahkamah Internasional terkait masalah kelautan dan kedaulatan. Hal ini karena apabila prinsip tersebut diberlakukan. Sebagai contoh adalah India telah menyampaikan hak berdaulatnya terhadap wilayah dasar laut (landas kontinen) di luar 200 mil laut dari garis pangkal kepada PBB. Myanmar juga telah menyampaikan hal yang sama atas landas kontinen ke PBB yang juga telah menuai keberatan dari Banglades. Tribunal dibentuk sebagai bagian dari tindak lanjut lahirnya Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS 1982) yang mana Tribunal memiliki kompetensi untuk menyelesaikan berbagai sengketa terkait hukum laut internasional. Ketiga. Hal ini tentunya menuai keberatan dari Banglades yang langsung menyampaikan keberatannya kepada PBB. para pihak meminta mahkamah untuk memutuskan apakah prinsip penarikan garis batas melalui metode sama jarak mutlak harus dilakukan. maka wilayah perairan Jerman akan sangat sempit dan tertutup . Keempat. namun tidak pernah terkait batas maritim. sengketa antara Banglades. Lebih jauh lagi. Sebagai contoh adalah Malaysia dan Singapura yang pernah bersengketa di Tribunal tentang reklamasi pantai Singapura dan di Mahkamah terkait kedaulatan beberapa karang dan elevasi surut di Selat Singapura. Kedua. Kasus ini lebih terkenal disebut sebagai North Sea Case.77 juta dollar Amerika. India dan Myanmar pada dasarnya bermula dari usaha kedua negara untuk menguasai sebagian perairan di Teluk Bengal yang sangat kaya dengan cadangan minyak dan gas. Sebagai catatan. para pihak juga melakukannya melalui forum internasional. Kedua negara telah menetapkan beberapa zona blok konsesi migas di perairan yang mereka klaim. hal ini mengingatkan para praktisi dan pengamat masalah batas maritim terhadap sengketa batas yang terjadi pada 1969 antara Jerman. dari sisi konfigurasi geografis Teluk Bengal. Myanmar menjadi negara anggota ASEAN pertama yang sepakat dan memilih untuk menyelesaikan sengketa batas maritimnya melalui jalur mahkamah internasional. juga dalam rangka mengamankan cadangan gas dan minyak di perairan tersebut.

Hal ini pula yang memberi gambaran secara teknis rumitnya perundingan antara Banglades dengan India dan Myanmar. banyak negara-negara di Asia Pasific juga menghadapi masalah yang sama. yang dapat berkembang menjadi persengketaan terbuka. 5. Myanmar dan Banglades telah melakukan perundingan bilateral untuk menetapkan batas diantara mereka selama lebih kurang 35 tahun. seyogyanya tidak dilihat sebagai rusaknya hubungan persahabatan antara para pihak yang bersengketa. Akan sangat menarik melihat bagaimana Tribunal mengaplikasikan equitable solution pada kasus ini. Bila dicermati. Terlepas bahwa setiap wilayah maritim memiliki karakteristik yang berbeda. Keputusan ini menjadi tonggak lahirnya prinsip solusi yang adil atau equitable solution di dalam hukum delimitasi batas laut internasional. Indonesia juga menghadapi masalah ini. Sangat mungkin satusatunya kesepakatan yang dicapai adalah kesepakatan untuk mencari penyelesaian melalui pihak ketiga. mahkamah merestui pendapat Jerman dan menyatakan bahwa metode sama jarak tidak mutlak dilakukan. SENGKETA PERBATASAN ANTAR NEGARA DI KAWASAN ASIA PASIFIC TAK dapat disangkal. Kelima. .tanpa akses ke laut bebas oleh perairan Belanda dan Denmark. terutama mengenai garis perbatasan di wilayah perairan laut dengan negara-negara tetangga. salah satu persoalan yang dapat memicu persengketaan antar negara adalah masalah perbatasan. Hal ini yang menjadi tantangan berat bagi Tribunal. mungkin ada benarnya. Yang perlu digaris bawahi adalah keputusan untuk menyelesaikan sengketa batas maritim melalui jalur pihak ketiga. Hal ini haruslah dilihat sebagai salah satu cara penyelesaian sengketa dengan cara-cara damai sebagaimana yang diamanatkan oleh Piagam PBB demi menjaga perdamaian antara para pihak secara khusus dan dunia secara umum. termasuk melalui Tribunal atau mahkamah internasional lainnya. Anggapan bahwa situasi regional sekitar Indonesia dalam tiga dekade ke depan tetap aman dan damai. posisi geografis Banglades yang terjepit diantara India dan Myanmar tentunya hampir sama dengan apa yang dihadapi Jerman pada 1969. Pada keputusannya. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa perundingan batas maritim antar negara adakalanya dapat memakan waktu yang cukup lama dan belum tentu menghasilkan garis batas yang diterima para pihak. Mencari solusi yang adil tentunya jauh lebih sulit daripada menentukan garis tengah sebagai batas karena definisi dan standar adil tentunya berbeda bagi para pihak yang terlibat. namun di balik itu sebenarnya bertaburan benih konflik. seperti apa yang dilakukan Banglades dan Myanmar.

Sedangkan dalam konteks Indonesia. Dengan melihat berbagai faktor di atas. atau salah negara maju dengan salah satu negara yang ada di kawasan ini. Ini biasanya. Faktor potensial yang dapat menyulut per-sengketaan terbuka itu antara lain: a. maupun dari luar kawasan. baik sifat. bermula dan "dispute territorial" antar negara terutama mengenai garis batas perbatasan antar negara. Namun memperhatikan beberapa konflik terbatas dan berinsentitas rendah yang terjadi selama ini. karakter maupun intensitasnya. Asia Timur dan Asia Tenggara. Eskalasi aksi terorisme lintas negara. dan negara-negara maju. b. Potensi konflik antar negara di sekitar Indonesia (kawasan Asia Pasific) sesungguhnya sangat bervariasi. Pertarungan antar elite di suatu negara yang karena berbagai faktor merambat ke luar negeri. terdapat beberapa hal yang dapat memicu terjadi-nya konflik terbuka berintensitas tinggi yang dapat berkembang menjadi konflik regional bahkan internasional. Meski masih bersifat samar-samar. beberapa pengamat politik menyimpulkan bahwa.Faktor-faktor yang dapat menyulut persengketaan antar negara dimaksud antara lain: a. selain kawa-san Asia Tengah. c. Peningkatan persenjataan dan eskalasi kekuatan militer baik oleh negara-negara yang ada di kawa-san ini. dan hal itu tentu berdampak bagi Indonesia. dan gerakan separatis bersenjata yang dapat mengundang kesalahpahaman antar negara bertetangga. namun indikasinya dapat dilihat pada ketidaksukaan Jepang terhadap RRC dalam soal penggelaran militer di perairan Laut Cina Selatan yang dianggap menggangu kepentingan nasional Jepang. Implikasi dari internasionalisasi konflik internal di satu negara yang dapat menyeret negara lain ikut dalam persengketaan. . ASEAN. Meningkatnya persaingan antara negara-negara maju dalam membangun pengaruh di kawa-san ini. b. Eskalasi konflik laten atau konflik intensitas rendah (low intensity) antar negara yang berkem-bang melampaui ambang batas toleransi keamanan regional sehingga menyeret pihak ketiga terlibat didalamnya. d. Konfliknya bisa berwujud persengketaan antar sesama negara maju. gejala serupa yang dilatarbelakangi oleh konflik kepentingan (conflict of interesf) juga tercermin pada penolakan Amerika Serikat terhadap usul Indonesia dan Malaysia mengenai pembentukan "Kawasan Bebas Nuklir Asia Tenggara" (South East Asia Nuclear Free Zone) beberapa tahun lampau. c. memiliki potensi konflik yang cukup tinggi. Ketidaksepahaman mengenai garis perbatas-an antar negara yang banyak yang belum tersele-saikan melalui mekanisme perundingan (bilateral dan ).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful