Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi

Logam Las”

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam industri otomotif, terutama dalam industri kendaraan roda empat atau lebih sering digunakan proses pengelasan. Pada proses pengerjaan body mobil, proses pengelasan seringkali menggunakan Resistance Spot Welding (RSW). Proses yang sering digunakan yaitu Spot Welding, Seam Welding. Proses tersebut dipilih, karena sebagian besar bahan yang dipakai dalam proses perakitan body mobil adalah plat lembaran, sehingga apabila menggunakan proses las yang biasa (SAW, SMAW, dan lain sebagainya), maka material tersebut akan mengalami penurunan sifat mekanik karena ketebalan dari material yang rendah, selain itu juga karena alasan ekonomis. Bahan assembly body roda empat (car) berupa plat lembaran (sheet metal) dan alasan ekonomis baik biaya maupun waktu pengerjaan inilah merupakan faktor digunakannya resistance spot welding pada manufaktur roda empat (Car). Dalam proses spot welding, parameter yang sering diubah biasanya arus, tekanan, dan waktu pengelasan, namun perubahan tersebut tergantung dengan ketebalan dari material. Oleh karena itu harus ada pemilihan parameter las yang baik untuk ketebalan tertentu sehingga didapatkan hasil yang baik.

1.2 Permasalahan
Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember

1

Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las”

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh variasi waktu pengelasan (welding time) terhadap diameter dan tinggi nugget serta mengetahui marfologi logam las berupa lebar haz (daerah haz), weld metal, base metal.

1.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian praktikum las ini adalah : 1. Untuk mengetahui pengaruh variasi waktu pengelasan (welding time) terhadap tinggi nugget dan diameter nugget. 2. Untuk mengetahui marfologi logam las berupa lebar haz (daerah haz), weld metal, base metal. 3. Mengaplikasikan teori resistance spot welding dengan kondisi yang sebenarnya (kondisi praktek).

1.1 Batasan Masalah Untuk mencegah pembahasan yang terlalu luas dan mempermudah penelitian, maka penelitian praktikum las ini diberi batasan sebagai berikut : 1. Metode shunting (Penggunan Tang untuk penjepitan 2 material plat yang akan di las menggunakan resistance spot welder). 2. Arus yang digunakan = 4000 Ampere. 3. Komposisi kimia material benda kerja homogen. 4. Menggunakan mesin las : Miller resistance spot welder, model : MPS-20. BAB 2 DASAR TEORI
Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember

2

Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las”

2.1 Prinsip Kerja Resistance Spot Welding merupakan salah satu proses pengelasan dari kelompok pengelasan menggunakan tahanan (resistance welding) dimana proses penggabungan dari dua logam dihasilkan pada bagian permukaan sambungan dengan cara panas yang dihasilkan oleh tahanan daripada proses kerja dengan jalan arus listrik. Suatu gaya selalu diberikan pada proses tersebut sebelum, selama, dan sesudah aplikasi dari arus listrik untuk membatasi area kontak las pada permukaan sambungan dan pada beberapa aplikasi untuk menempa logam lasan selama proses postheating. Pada gambar 2.1 mekanisme pembentukan nugget dapat kita lihat bahwa pada resistance welding, tahanan kontak khususnya pada permukaan sambungan memanaskan area secara local dengan I2R atau Joule Heating, sehingga menghasilkan peleburan dan pembentukan suatu (nugget).

Gambar 2.1 Mekanisme pembentukan nugget Resistance Spot welding merupakan proses yang terdiri dari serangkaian nugget diskrit yang diproduksi oleh adanya pemanasan akibat tahanan. Nugget
Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember

3

sehingga tidak akan terjadi void. Kontinuitasnya ditentukan oleh gaya yang diberikan pada electrode. sebab apabila terjadi maka electrode akan terikat pada benda kerja dan akan menurunkan umur dari electrode. Rangkaian proses tersebut pertama kali harus bisa membuat panas yang cukup untuk menaikkan volume logam yang dibatas ke titik lebur. Tekanan pada benda kerja sangat penting. resistance spot welding merupakan proses yang melibatkan suatu aplikasi dari arus listrik yang terkoordinasi serta tekanan mekanik pada arah dan durasi waktu yang benar. Spot welding biasanya membutuhkan akses pada kedua sisi dari benda kerja. Pada saat benda kerja mengandung nugget cair. Durasi dari dari arus pengelasan harus cukup singkat untuk mencegah panas yang berlebihan pada muka electrode. Arus pengelasan harus melewati dari electrode sampai benda kerja.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” atau lasan diproduksi langsung dibawah electrode. Berikut ini adalah contoh sirkuit dari suatu mesin resistance spot welding di bawah ini : Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 4 . tekanan mencegah nugget cair agar tidak keluar dari daerah nugget. Logam ini lalu didinginkan dengan tetap dibawah tekanan sampai logam tersebut memiliki cukup kekuatan untuk memegang kedua bagian. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa.

Sirkuit listrik yang terdiri dari trasformer las dan sirkuit sekunder dengan elektrode yang menghantarkan arus ke benda kerja.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” Gambar 2. 3. typical single phase Perlengkapan mesin las titik (Resistance Spot Welding) biasanya ditentukan oleh desain dari joint. 2. pneumatik. dan mekanisme terkait untuk memegang benda kerja dan memberikan gaya penekanan. jadwal produksi. Berikut gambar Mesin las titik tipe Rocker Arm di bawah ini : Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 5 . Sistem mekanik terdiri dari rangka mesin. sekuen pengelasan. material. biasanya dengan mekanisme hidrolik. Mesin las Resistance Spot Welding (RSW) memiliki 3 elemen utama : 1. Unit kontrol untuk menyalakan arus dan mengatur durasi waktu arus.2 Skema dari sirkuit spot weding. kebutuhan kualitas. dan waktu lain yang ada dalam siklus pengelasan. dan pertimbangan ekonomis. Unit ini juga berfungsi sebagai kontrol besar arus.

1. Arus 2. Durasi waktu dari arus (welding time) • Faktor ketiga (3) tersebut dapat dirumuskan menjadi persamaan : Q = I2R t Dimana Q = Panas yang dibangkitkan (Joule) 6 Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember . Tahanan dari konduktor (termasuk tahanan interface) 3.3 Mesin las titik tipe Rocker Arm 2. Pembangkitan panas Pada suatu konduktor listrik.1. jumlah dari panas bangkitan tergantung pada 3 faktor yaitu : 1.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” Gambar 2.

tahanan listrik dari elektroda dan material.4 Distribusi temperatur dan tahanan dari proses spot welding Dari gambar 2. Bagian dari panas bangkitan digunakan untuk pengelasan dan sebagian hilang disekeliling logam. Distibusi temperatur dari benda kerja dan elektroda dapat dilihat pada gambar 2. Kombinasi dari arus yang tinggi dan waktu pendek akan menghasilkan distribusi panas yang tidak dikehendaki pada daerah las. Suatu karakteristik dari las tahanan (Resistance Spot Welding) adalah cepatnya panas pengelasan yang dapat diproduksi.4 dapat kita lihat bahwa sedikitnya ada 7 buah tahanan dalam suatu proses spot welding yaitu : • 1 dan 7.4 di bawah ini : Gambar 2. Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 7 .Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” I = Arus (ampere) R = Tahanan dari proses (ohm) t = Durasi waktu dari arus (detik) Panas yang dibangkitkan sebanding dengan kuadrat arus las dan berbanding lurus dengan tahanan dan waktu. sehingga terjadi pelelehan permukaan yang terputus dan kerusakan pada electrode.

Arus Pengelasan Pada persamaan Q = I2R t. ukuran dan kontur dari permukaan electrode. dan panas yang dibangitkan didaerah lain harus diminimalisir. Ukuran nugget dari lasan Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 8 . tahanan kontak antara elektroda dan logam induk.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” • 2 dan 6. tapi permukaan logam tidak mencapai temperatur fusi selama arus lewat karena tingginya koduktivitas thermal elektrode yang tinggi dan electrode didinginkan dengan air. serta berbanding terbalik dengan penampang area dari jalur arus. Titik ini merupakan titik dimana panas bangkitan tinggi. tahanan total dari logam induk. • 4. dimana sebanding dengan resistivitas dan tebal. Panas pengelasan hanya diperlukan pada daerah interface pada logam induk. Karena panas juga dibangkitkan pada titik 2 dan 6. Oleh karena itu arus merupakan variable penting yang harus dikontrol. antara lain : a. panas bangkitan pada titik 4 tidak hilang pada electrode. Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi pembangkitan panas.Besarnya tahanan ini tergantung pada kondisi permukaan dari logam induk dan electrode. Tahanan pada daerah interface logam induk pada lokasi dimana lasan akan dibentuk. sehingga merupakan titik terbesar dari panas yang dibangkitkan. • 3 dan 5. Titik ini merupakan titik dengan tahanan terbesar. arus memiliki efek yang paling besar pada proses pembangkitan panas daripada tahanan dan waktu.

Tekanan Pengelasan (welding pressure) Tahanan R dalam persamaan pembangkitan panas dipengaruhi oleh tekanan selama pengelasan melalui efek pada tahanan kontak pada didaerah interface antara benda kerja. Waktu Pengelasan Laju dari pembangkitan panas haruslah sedemikian rupa sehingga lasan dengan kekuatan yang cukup baik terproduksi tanpa mengakibatkan terjadinya kelebihan panas dan penurunan kekuatan pada electrode. Adanya kelebihan arus akan menyebabkan logam induk terlalu panas dan terjadi indentasi yang dalam.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” dan kekuatannya meningkat secara cepat seiring dengan meningkatnya kerapatan arus (current density). c. Efek welding pressure pada panas bangkitan merupakan Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 9 . sifat kekuatan mekanik yang lebih rendah. Panas yang hilang ini akan meningkat seiring dengan meningkatnyawaktu pengelasan dan temperatur logam. Panas yang hilang terjadi pada daerah disekeliling logam induk dan pada electrode. Tekanan pengelasan(welding pressure) dihasilkan oleh gaya yang digunakan pada joint oleh electrode. Adanya kelebihan kerapatan arus akan menyebabkan metal expulsion (akibatnya terjadi internal void). b. maka kekuatan arus(amperage) akan naik dalam nilai yang terbatas. Bila gaya electrode atau welding pressure naik. dan penurunan kekuatan dari electrode. sebagian kecil hilang karena radiasi. weld cracking. Jumlah total panas yang diproduksi sebanding dengan waktu pengelasan. serta terjadi overheating.

dan konduktivitas thermal. Elektrode harus memiliki konduktivitas listrik yang baik. Sifat- Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 10 . e. Kondisi Permukaan Kondisi permukaan dari benda kerja mempengaruhi pembangkitan panas karena tahanan kontak terpengaruh oleh oksida. kalor laten fusi. Komposisi Logam Resistivitas listrik dari suatu material secara langsung mempengaruhi pemanasan tahanan selama pengelasan.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” kebalikan dari pernyataan diatas. d. sebab deformasi tersebut dapat menyebabkan area kontak besar sehingga rapat arus dan welding pressure turun. Sifat las-lasan yang paling uniform dapat diperoleh jika permukaan benda kerja bersih. minyak dan material asing lain yang ada pada permukaan. Komposisi material menentukan kalor jenis(specific heat). Elektrode Elektrode memainkan peranan yang vital dalam proses pembangkitan panas karena electrode yang menghantarkan arus las pada benda kerja. f. kekuatan dan kekerasan yang cukup baik untuk mencegah terjadinya deformasi pada muka electrode itu sendiri. Bila tekanan naik maka tahanan kontak dan panas yang dibangkitkan pada daerah interface akan menurun. debu/kotoran.

ataupun keduanya. Disipasi Kalor Selama pengelasan. Konduktivitas listrik relatif dan konduktivitas panas dari logam yang akan digabung. Keseimbangan panas juga dapat ditingkatkan dengan menggunakan waktus las yang terpendek dan arus terendah yang akan menghasilkan las-lasan yang baik. Ketidakseimbangn ini dapat diminimalisir dengan desain benda kerja.1. Geometri relatif dari bagian-bagian pada daerah lasan 3. 2. ketebalan.1. material dan desain dari electrode. 2. Konduktivitas listrik dan panas dari electrode 4. panas yang hilang lewat konduksi dalam logam induk dan electrode dapat dilihat pada gambar 2. Keseimbangan kalor dipengaruhi oleh : 1. Keseimbangan Kalor Kesimbangan kalor muncul ketika penetrasi dalam diperkirakan sama. dua benda kerja Pemanasan akan menjadi tidak seimbang bila bagian yang akan dilas memiliki perbedaan yang signifikan pada komposisi. 2.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” sifat tersebut mempengaruhi jumlah kalor yang dibutuhkan untuk melelehkan logam dan menghasilkan lasan.5 di bawah ini : Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 11 . Geometri dari electrode.1.1.

Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” Gambar 2. Selama waktu dimana arus dijalankan 2. Jika electrode tetap kontak dengan benda kerja setelah arus pengelasan mati. Konduktifitas listrik dan temperatur dari logam induk menentukan laju daripada panas yang didisipasikan atau dihantarkan dari daerah lasan. karena semakin besar volume logam induk yang akan dipanaskan. Proses disipasi ini bisa dibagi menjadi 2 fase. maka akan mendinginkan weld nugget secara cepat. sampai lasan telah dingin pada temperatur kamar. maka akan timbul suatu Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 12 . Hal ini akan menurunkan gradien temperatur antara logam induk dengan weld nugget. Setelah arus mati Telah kita ketahui sebelumnya bahwa panas bangkitan berbanding terbalik dengan konduktifitas listrik dari benda kerja. yaitu : 1. Apabila electrode dilepaskan dari lasan terlalu cepat setelah arus dimatikan. Laju disipasi panas pada sekitar logam induk akan turun bila waktu pengelasan lebih lama.5 Disipasi panas selama pengelasan spot welding Disipasi panas ini berlangsung pada laju yang bervariasi selama proses dan setelahnya.

Off time Waktu dimana electrode dilepaskan dari benda kerja(lasan) dan benda kerja dipindahkan ke posisi pengelasan selanjutnya. Weld time atau waktu pengelasan Waktu dimana arus las diaplikasikan pada benda kerja untuk membuat lasan (pada single-impulse welding). 2.1. 3. 2. Hold time atau waktu penahanan Waktu dimana gaya(penekanan) dipertahankan pada benda kerja setelah arus berhenti. Selama tahap ini weld nugget akan membeku dan didinginkan sampai memiliki kekuatan yang cukup baik. Yaitu interval waktu antara penyalaan timer dan aplikasi pertama dari arus. Pada plat lembaran yang tipis hal tersebut akan mengakibatkan terjadinya excessive warpage. Tahap ini biasanya Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 13 . 4.1. Siklus Pengelasan Siklus pengelasan pada las titik pada dasarnya terdiri dari empat fase yaitu : 1. Interval waktu ini dibutuhkan untuk memastikan bahwa electrode sudah kontak dengan benda kerja dan menghasilkan gaya electrode penuh sebelum arus diaplikasikan. Biasanya lebih baik bila electrode tetap kontak dengan benda kerja sampai lasan dingin ke temperatur kamar. Squeeze time atau waktu penekanan.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” permasalahan.

arus yang digunakan dapat berupa arus searah (DC) atau arus bolak-balik (AC).2.1. manual atau pneumatic.1. Beberapa aplikasi menggunakan arus bolak-balik (AC) single phase yang sama dengan frekwensi saluran daya. biasanya 60 Hz. Waktu Pengelasan Waktu dimana arus dinyalakan atau weld time dikontrol dengan menggunakan system elektronik. Arus Pengelasan Pada proses las titik. mekanik. Mesin las akan mengubah saluran daya menjadi tegangan rendah. Pada percobaan kali ini mengunakan mesin dengan arus AC. Arus searah (DC) digunakan untuk proses yang memerlukan arus yang tinggi karena beban dapat diseimbangkan dengan kabel daya 3-fase.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” dilakukan pada pengelasan berulang. Beriku gambar 2. 2. Waktu secara Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 14 . dengan daya arus pengelasan yang tinggi.1.6 siklus pengelasan di bawah ini : Gambar 2.6 Siklus pengelasan las titik (single impulse welding) 2.

atau mekanik. Kompresi awal dan gaya Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 15 .Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” umum memiliki jangkauan tertentu mulai dari one half cycle (1/120 detik) untuk setiap plat lembaran sangat tipis sampai dengan beberapa detik untuk plat lembaran tebal. Gaya-gaya yang bisa dipakai selama pengelasan dapat berupa : 1. Membawa beragam interfase menjadi kontak yang yang rapat. Single Impulse Welding merupakan penggunaan satu arus secara berkesinambungan untuk membuat satu lasan. pneumatic. 2. Gaya ini dihasilkan oleh system hidrolik. Weld time ada 2 sistem.3. yaitu Single impulse welding dan Multiple impulse welding. Sedangkan Multiple Impulse Welding terdiri dari dua atau lebih arus yang dipisahkan dengan cool tim. Fungsi dari gaya atau tekanan ini adalah : 1. magnetic. Gaya konstan 2.Tekanan yang dihasilkan pada daerah interfase tergsntung dari luasan muka electrode yang kontak dengan benda kerja. Mengurangi tahanan kontak awal pada daerah interfase 3. Gaya Elektrode (Penekanan) Penyelesaian dari sirkuit listrik yang mengalir dari electrode ke benda kerja dipastikan dengan penerapan gaya electrode. Menekan pengeluaran paksa(expulsion) dari logam lasan cair dari daerah joint 4. Pada mesin yang dipakai untuk percobaan menggunakan system hidrolik. 2.1. Mengkonsolidasi weld nugget.

angka pertama menunjukkan kelas paduan. Pemilihan elektrode ini telah distandarkan oleh RWMA (Resistance Welding Manufacturer Association).1 RWMA (Resistance Welding Manufacturer Association) alloy class Group A Class 1 2 3 4 5 Coduktivity Hardness (%) Rockwell 80 65 B 75 75 B 45 90 B 20 33 C 10 s/d 15 65 S/D 85 B Tensile Compressive (psi) 60 K 65 K 100 K 140 K 65 S/D 75 K 16 Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember . Karena electrode ini bersentuhan dengan benda yang akan dilas maka electrode ini dilengkapi dengan sistem pendingin agar elektrode tidak terlalu panas. Adapun tabel jenis elektroda sebagai berikut : Tabel 2. gaya elektrode. misal E – X-X-X. Kompresi awal.1. angka terakhir menunjukkan panjang tambahan ¼ inci dari elektrode.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” 3. dan gaya forging 4. huruf pertama menerangkan bentuka dari ujung elektrode spot. Elektroda Elektrode las titik mempunyai fungsi sebagai berikut : • • • Menghantarkan arus listrik ke benda kerja Mengirimkan gaya ke benda kerja Mendisipasikan sebagian panas dari daerah lasan Bahan dari electrode spot ini digunakan material yang nilai tahanan terhadap arus lebih kecil dari pada logam yang akan dilas.1. Gaya electrode dan gaya forging 2. angka kedua menunjukkan keruncingan elektrode.

menunjukkan logam induk yang mengalami siklus pemanasan dan pendinginan. dalam daerah interfase yang telah leleh membentuk suatu struktur tipikal dari daerah fusion disebut weld nugget. Permukaan luar dari plat lembaran menunjukkan indentasi akibay tekanan dari elektroda.1. Disekeliling nugget adalah HAZ (Heat Affected Zone). Bagian tengah. Daerah Hasil dari Las Titik Fitur yang dibentuk pada las tahan titik terdiri dari tiga bagian daerah.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” B 10 11 12 13 14 35 28 27 30 30 72 B 94 B 98 B 69 B 85 B 135 K 160 K 170 K 200 K 200 K 2. Indentasi HAZ Logam induk Nugget Gambar 2.7. Daerah hasil pengelasan las titik Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 17 . Redukasi ketebalan pada titik ini tidak boleh lebih dari 10 % pada kondisi normal.1.

dan kebutuhan listrik arus tinggi membuat kebutuhan kabel listrik tertentu. dikarenakan jenis dan bentuknya sangat banyak Mengingat luasnya pengguanaa maka baja banyak diklasifikasikan menurut keperluan. Baja karbon rendah mempunyai kadar kabon sampai dengan 0. 3.1. untuk baja profil. Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 18 . Las titik juga ekonomis dalam banyak operasi job-shops. baja tulangan beton. Ongkos perlengkapan pada umumnya lebih tinggi dari las listrik 4.25%. B. Waktu yang pendek.Kelebihan dan Kekurangan Las Titik Keuntungan utama dari las tahanan titik adalah kecepatannya yang tinggi dan kemampuan adaptasi yang baik untuk otomasi dalam assembly logam lembaran dengan laju produksi yang tinggi. Baja Karbon Rendah Baja adalah paduan yang paling banyak digunakan oleh manusia. Sangat luas pemakaiannya sebagai konstruksi umu. 2.Sedangkan kerugian atau kekurangan sebagai berikut : 1.1. Sifat baja banyak ditentukan oleh kadar karbonnya disamping juga oleh unsur paduannya. dan lain sebagainya. Lap joint menambah berat dan ongkos material dati produk bila dibandingkan dengan butt joint. Lasan memiliki kekuatan tarik dan fatigue yang rendah. plat lembaran.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” A. terutama pada mesin las single phase 5. Proses pembongkaran untuk maintenance atau perbaikan sangat sulit 2. karena lebih cepat dari proses las biasa dan tidak membutuhkan keahlian dalam memakai las titik.

Cacat ini terjadi akibat gaya elektroda yang terlalu rendah dan arus las terlalu tinggi. Namun cacat ini tidak menimbulkan efek yang terlalu buruk pada kekuatan fatigue bila terletak pada tengah-tengah weld nugget. 2. porositas.2. dan pada pengelasan mempunyai kepekaan retak yang rendah dibandingkan baja karbon lainya. meliputi crack/retak.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” Beberapa sifat baja karbon rendah diantaranya adalah mudah dibentuk baik dengan pengerolan maupun pengepresan. sangat korosif. gaya tekan yang besar. Cacat ini disebabkan oleh arus yang terlalu kecil. Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 19 . Diskontinuitas internal. 2. Cacat pada Hasil Lasan Cacat yang sering terjadi pada proses las titik antara lain : 1. Penetrasi yang kurang sempurna. dan ujung elektroda yang sudah aus. baik itu kelebihan maupun kekurangan penetrasi. terlalu pendek waktu pengelasan. kavitasi akibat penyusutan.1. Pada percobaan kali ini digunakan baja karbon rendah bentuk plat lembaran dengan kadar karbon 0.06 %.

Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN 3.1 Diagram alir percobaan Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 20 .1 Diagram Alir Percobaan Berikut diagram alir percobaan dibawah ini : Gambar 3.

Persiapan yang dilakukan antara lain : • Pemotongan material awal dengan ukuran yang sesuai dengan standar .Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” 3.2 Persiapan Material Material yang digunakan baja karbon rendah bentuk plat lembaran. Ketebalan spesimen 1 mm. Sebagai benda kerja harus dipersiapkan sedemikian rupa sehingga hasil yang didapatkan baik. maka dimensi spesimen yang dipakai mengikuti kriteria ke 3 yaitu : – – – Dimana : W = 35 mm L = 135 mm T = 1 mm W = lebar L = panjang T = tebal Gambar 3.2 Dimensi spesimen las titik Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 21 .

oli.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” • Pembersihan permukaan material dari kotoran seperti karat. Single phase Model MPS-26 AFT. Serial no JB 530570 • • • • • • Voltage Amps Single-phase OCV : 230 V : 90 A : 60 Hz : 3.3 Persiapan Mesin Las Mesin spot welding yang digunakan milik lab Metalurgi Teknik Mesin ITS dengan spesifikasi sebagai berikut : • Mesin Spot Welding : Miller Resistance Spot Welder. dan lain sebagainya dengan menggunakan kertas gosok.5 20 kVA at 50 % duty cycle Tong size : 12” dengan max 13250 A/detik Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 22 . 3.

Muka elektrode dibersihkan dari kotoran agar tidak menghambat laju penghantaran arus. squeeze time. Arus 2.4 Pengelasan Material dengan Resistance Spot Welding Pengelasan material dengan menggunakan 2 variasi parameter sebagai berikut : A.Variasi Tetap Pengelasan : 1. Menggunakan = metode Shunting 4. Plat 1 menggunakan waktu (t) = 1 detik Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 23 . weld time.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” Gambar 3. pedal las apakah semua berfungsi dengan baik. Material = Plat besi galvanish (Thickness = 1 mm) B. harus dibersihkan terlebih dahulu debu – debu pada semua sistem yang bekerja agar tidak menghambat proses.01 Ohm 3. Pemasangan selang untuk cooling water pada elektrode. Hambatan = 4000 A = 0. 3. pengecekan air supply pada kompresor dan minyak hidrolik pada sistem penekanan.3 Mesin Resistance Spot Welder Sebelum mesin las dipakai.Variasi Berubah pada pengelasan : Waktu pengelasan dengan 3 variasi yaitu : 1. Serta pengecekan sistem kontrol seperti besar arus.

Langkah-langkah yang diperlukan untuk mendapatkan Etsa makro adalah sebagai berikut : 1. diproses menggunakan gerinda tangan untuk mendapatkan permukaan yang rata. Cutting atau pemotongan Tujuan dari pemotongan ini adalah untuk mempermudah proses grinding dan polishing. 1000 hingga 1500. Pemotretan Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 24 . logam induk (Base metal). Plat 2 menggunakan waktu (t) = 2 detik 3. Spesimen dicelupkan pada larutan 95% Aquades 5% HNO3 selama 3-5 detik. 4. 800. pada spesimen hasil proses pengelasan. Grinding Spesimen digosok pada mesin polisher dengan menggunakan kertas gosok dari grid 120. 2.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” 2. gergaji Pemotongan lalu dilakukan lagi dengan dengan menggunakan manual. 500. HAZ (Heat Affected Zone). Plat 3 menggunakan waktu (t) = 3 detik 3. 320. 600. 3.5 Pengamatan Etsa Makro Pengamatan Etsa makro dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan gambar atau visual daerah-daerah batas pada logam las (weld metal). . dilakukan proses etsa. 400. Etching Untuk mengamati struktur makro dari spesimen. 240.

tampak bahwa semakin besar waktu pengelasan. dengan I = 4000 A dengan penampang melintang maka dapat di ukur luasan area yang terkena pengelasan resistance spot welding.1. dimana didapat data pengukuran luasan area yang terkena pengelasan sesuai gambar di bawah ini : Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 25 .1 Hasil visual penampang melintang pada 3 bahan material pengelasan 1. dikeringkan baru kemudian di foto dengan kamera digital. Analisa hasil percobaan dengan variasi waktu pengelasan = 1 detik Hasil pengelasan pada plat 1 menggunakan variasi waktu pengelasan yaitu 1 detik.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” Spesimen yang telah dietsa.1 Data Hasil Percobaan Berikut hasil visual penampang melintang ketiga bahan material tersebut dengan variasi waktu pengelasan. BAB 4 ANALISA PEMBAHASAN 4. maka semakin besar pula luasan area yang terkena dari pengaruh pengelasan resistance spot welding : Gambar 4.1.

3 Visual hasil pengelasan pada plat 1 setelah proses etsa makro Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 26 .2 Visual hasil pengelasan pada plat 1 secara penampang melintang Dari gambar diatas didapat. Tinggi area yang terkena pengelasan = 2 mm sesuai gambar 4.2 (b). data pengukuran luasan area secara penampang melintang. Setelah dilakukan proses pemotongan bidang yang terkena pengelasan.2 (a). (b).Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” (a). maka dilakukan proses Etsa makro. Berikut hasil gambar visual dari proses etsa makro : Gambar 4. daerah yang terkena pengelasan yaitu : • • Diameter area yang terkena pengelasan = 3 mm sesuai gambar 4. Gambar 4.

(b). yaitu : • • • Diameter nugget (logam las) Tinggi nugget Lebar HAZ (Heat affected zone) : 3 mm : 1 mm : 1 mm (sisi kanan dan sisi kiri) 1.4 (a). HAZ.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” Dari gambar diatas didapat.4 Visual hasil pengelasan pada plat 2 secara penampang melintang Dari gambar diatas didapat. Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 27 . dimana didapat data pengukuran luasan area yang terkena pengelasan sesuai gambar di bawah ini : (a).1. Gambar 4. Analisa hasil percobaan dengan variasi waktu pengelasan = 2 detik Hasil pengelasan pada plat 2 menggunakan variasi waktu pengelasan yaitu 2 detik. data pengukuran luasan area secara penampang melintang. logam las.1. data pengukuran marfologi logam las berupa batas daerah dari logam induk. daerah yang terkena pengelasan yaitu : • Diameter area yang terkena pengelasan = 4 mm sesuai gambar 4. dengan I = 4000 A dengan penampang melintang maka dapat di ukur luasan area yang terkena pengelasan resistance spot welding.

1.4 (b). Setelah dilakukan proses pemotongan bidang yang terkena pengelasan. dengan I = 4000 A dengan penampang melintang maka dapat di ukur luasan area yang terkena pengelasan resistance spot welding.5 Visual hasil pengelasan pada plat 2 setelah proses etsa makro Dari gambar diatas didapat.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” • Tinggi area yang terkena pengelasan = 3 mm sesuai gambar 4. data pengukuran marfologi logam las berupa batas daerah dari logam induk.1. yaitu : • • • Diameter nugget (logam las) Tinggi nugget Lebar HAZ (Heat affected zone) : 2. Analisa hasil percobaan dengan variasi waktu pengelasan = 3 detik Hasil pengelasan pada plat 3 menggunakan variasi waktu pengelasan yaitu 3 detik.5 mm : 2 mm : 1.25 mm (sisi kanan dan sisi kiri) 1. HAZ. maka dilakukan proses Etsa makro. logam las. Berikut hasil gambar visual dari proses etsa makro : Gambar 4. dimana didapat data pengukuran luasan area yang terkena pengelasan sesuai gambar di bawah ini : Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 28 .

maka dilakukan proses Etsa makro. yaitu : Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 29 . daerah yang terkena pengelasan yaitu : • • Diameter area yang terkena pengelasan = 5 mm sesuai gambar 4. data pengukuran luasan area secara penampang melintang. (b). Tinggi area yang terkena pengelasan = 4 mm sesuai gambar 4.6 Visual hasil pengelasan pada plat 3 secara penampang melintang Dari gambar diatas didapat. logam las.6 (b).Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” (a). Setelah dilakukan proses pemotongan bidang yang terkena pengelasan. Gambar 4. data pengukuran marfologi logam las berupa batas daerah dari logam induk.6 (a). Berikut hasil gambar visual dari proses etsa makro : Gambar 4.7 Visual hasil pengelasan pada plat 3 setelah proses etsa makro Dari gambar diatas didapat. HAZ.

tinggi nuget. sehingga berbanding terbalik antara waktu pengelasan dengan diameter nugget. Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 30 . 2.5 mm : 1. Waktu pengelasan juga faktor dari tinggi nugget. daerah heat affected zone (HAZ). dengan dilakukan pengukuran diameter nugget. maka diameter nugget semakin rendah. 3) detik. dapat disimpulkan fungsi nugget terhadap waktu pengelasan sesuai gambar grafik dibawah ini : Gambar 4.8 Grafik variasi waktu pengelasan = f(nugget) Dari data grafik diatas berdasarkan pengamatan yaitu : waktu pengelasan semakin besar.5 mm (sisi kanan dan sisi kiri) 4.4 Analisa waktu pengelasan fungsi Nugget Dari ketiga (3) visual hasil pengelasan dengan perbedaan waktu pengelasan yaitu (1.1. akan tetapi kenaikan atau penurunan tinggi nugget tidak dapat diprediksi yang berbanding dengan waktu pengelasan.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” • • • Diameter nugget (logam las) Tinggi nugget Lebar HAZ (Heat affected zone) : 2 mm : 1.

5 Analisa waktu pengelasan fungsi heat affected zone (HAZ) Sedangkan dapat dilihat juga pada gambar di bawah grafik waktu pengelasan fungsi dari lebar heat affected zone (HAZ) : Gambar 4.6 Analisa perhitungan Heat Input Heat input yaitu suatu besaran energi yang digunakan untuk mencairkan bahan logam sesaat atau mencairkan bahan logam agar dapat bisa menyambung dengan bahan logam lain.1. Dimana rumus dari heat input untuk pengelasan resistance spot welding yaitu : Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 31 .9 Grafik variasi waktu pengelasan = f(lebar HAZ) Pada grafik diatas memperlihatkan bahwa waktu pengelasan merupakan faktor pada lebar HAZ.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” 4.1. dimana Waktu pengelasan semakin tinggi maka semakin besar lebar HAZ (mm). dan sebaliknya. 4. Sehingga waktu pengelasan berbanding lurus dengan lebar HAZ (mm).

Plat 1 dengan variasi waktu pengelasan (t) = 1 detik.t Keterangan : H I R t = Heat input (Joule) = Arus (Ampere) = hambatan (ohm) = waktu pada saat arus mengalir (detik) Berikut perhitungan heat input untuk ketiga (3) plat di bawah ini : 1. Plat 2 dengan variasi waktu pengelasan (t) = 2 detik.t H= 40002A .R .0001 Ω . R = 0. Plat 3 dengan variasi waktu pengelasan (t) = 3 detik. 0.0001Ω H= I2.R . 0. I = 4000 A. 2 s=3200 Joule 3.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” H= I2. 0.0001 Ω .0001Ω H= I2. I = 4000 A. 1 s=4800 Joule Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 32 . I = 4000 A.0001 Ω . R = 0.0001Ω H= I2.t H= 40002A . R = 0.t H= 40002A .R .R . 1 s=1600 Joule 2.

1 Kesimpulan Dari praktikum las resistance spot welding yang telah dilakukan dengan analisa-analisa yang telah di bahas maka dapat disimpulkan yaitu : 1.R . Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 33 .t BAB 5 PENUTUP 5. maka semakin rendah diameter nugget. semakin tinggi waktu pengelasan. dan sebaliknya.10 Grafik variasi waktu pengelasan = f(Heat Input) Pada grafik diatas terlihat bahwa waktu pengelasan merupakan faktor dari heat input. semakin tinggi waktu pengelasan maka semakin besar heat input yang terjadi.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” Gambar 4. Waktu pengelasan merupakan faktor dari diameter dan tinggi nugget. sehingga waktu pengelasan berbanding lurus dengan faktor heat input sesuai dengan rumus : H= I2.

akan tetapi kenaikan atau penurunan tinggi nugget tidak dapat diprediksi yang berbanding dengan waktu pengelasan. 5.2 Saran 1. seharusnya tinggi nugget juga semakin besar pula mengikuti diameter nugget yang semakin besar pula dikarenakan heat input yang diberikan semakin besar pula. Sebaliknya di dalam teori menjelaskan bahwa semakin besar waktu pengelasan. ini dikarenakan proses pemotongan spesimen untuk dilakukan etsa makro tidak tepat pada posisi tengah dari luasan area yang terkena pengelasan. sehingga energi yang diberikan untuk pengelasan semakin besar. Waktu pengelasan berpengaruh pada heat input. Waktu pengelasan berpengaruh pada lebar HAZ. semakin tinggi waktu pengelasan semakin besar lebar HAZ (mm). dan sebaliknya sehingga berbanding lurus antara waktu pengelasan dengan heat input. 2. dan sebaliknya. 3. arus pengelasan. seharusnya diameter nugget juga semakin besar pula. sesuai dengan gambar 4. arus pengelasan. 4.1 hasil visual penampang melintang pada 3 bahan material pengelasan. Proses pemotongan material spesimen yang telah di lakukan pengelasan menggunakan resistance spot welding sebiknya harus sangat hati-hati dan Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 34 . Waktu pengelasan juga faktor dari tinggi nugget.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” Sebaliknya di dalam teori menjelaskan bahwa semakin besar waktu pengelasan. semakin tinggi waktu pengelasan semakin besar heat input. Sehingga waktu pengelasan (detik) berbanding lurus dengan lebar HAZ (mm).

DAFTAR PUSTAKA 1. New age publisher.com resistance. 2007.pdf) (handbook for resistance spot welding.html 3. Md ibrahim. www. logam induk (base metal). Khan. Prof. And head mechanical engineering department faculty of engineering Integral University Lucknow. 2.millerwelds. Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember 35 . ini dikarenakan luasan area pada sisi tengah jangan sampai terpotong untuk melihat batas daerah luasan dari heat affected zone (HAZ).koyogiken. Welding science and technology.Laporan Praktikum Las “Pengaruh variasi waktu pengelasan Resistance Spot Welding dengan metode shunting terhadap marfologi Logam Las” posisi pemotongannya diharapkan ¼ dari luasan area yang terkena pengelasan.co. http://www. logam las (weld metal).jp/english/spot/spot_5.