Perihal : BENTUK, ISI, DAN TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (SPT MASA

PPN) DALAM BENTUK FORMULIR KERTAS (HARD COPY) BAGI PENGUSAHA KENA PAJAK YANG DIKUKUHKAN DI KPP PRATAMA, DALAM RANGKA PENGOLAHAN DATA DAN DOKUMEN DI PUSAT PEN Tanggal Terbit : 08 April 2008
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 14/PJ./2008 TENTANG BENTUK, ISI, DAN TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (SPT MASA PPN) DALAM BENTUK FORMULIR KERTAS (HARD COPY) BAGI PENGUSAHA KENA PAJAK YANG DIKUKUHKAN DI KPP PRATAMA, DALAM RANGKA PENGOLAHAN DATA DAN DOKUMEN DI PUSAT PENGOLAHAN DATA DAN DOKUMEN PERPAJAKAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada Pengusaha Kena Pajak; b. bahwa dalam rangka melaksanakan lebih lanjut dan menyempurnakan Pasal 1 angka 3 huruf a Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-146/PJ./2006 tentang Bentuk, Isi dan Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai ( SPT Masa PPN) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-142/PJ./2007, khususnya SPT dalam bentuk Formulir kertas (hard copy); b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b serta dalam rangka meningkatkan kualitas, akurasi, dan keamanan data dan dokumen perpajakan melalui pemanfaatan teknologi informasi di Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak, perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tentang Bentuk, Isi, dan Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN) dalam Bentuk Formulir Kertas (Hard Copy) Bagi Pengusaha Kena Pajak yang Dikukuhkan di KPP Pratama, dalam Rangka Pengolahan Data dan Dokumen di Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4740); 2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3264) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UndangUndang Nomor 18 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 3986); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan UndangUndang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali

04/2000 tentang Bentuk dan Isi Surat Pemberitahuan serta Keterangan dan/atau Dokumen yang harus dilampirkan. 5.03/2003. . Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-522/PJ/2000 tentang Dokumendokumen Tertentu yang Diperlakukan sebagai Faktur Pajak Standar sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak KEP-312/PJ. DAN TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (SPT MASA PPN) DALAM BENTUK FORMULIR KERTAS (HARD COPY) BAGI PENGUSAHA KENA PAJAK YANG DIKUKUHKAN DI KPP PRATAMA. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-168/PJ. Penelitian adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menilai kelengkapan pengisian SPT dan lampiran-lampirannya termasuk penilaian tentang kebenaran penulisan dan penghitungannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan.diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 (lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 259. 3. 4. yang menerbitkan Faktur Pajak Standar dan membuat Nota Retur serta membuat dokumen tertentu yang diperlakukan sebagai Faktur Pajak Standar atau mengkreditkan Faktur Pajak Standar dan menerima Nota Retur serta menggunakan dokumen tertentu yang diperlakukan sebagai Faktur Pajak Standar. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 536/KMK.01/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan. DALAM RANGKA PENGOLAHAN DATA DAN DOKUMEN DI PUSAT PENGOLAHAN DATA DAN DOKUMEN PERPAJAKAN. Pengusaha Kena Pajak yang selanjutnya disebut dengan PKP adalah PKP yang dikukuhkan di KPP. Surat Pemberitahuan yang selanjutnya disebut dengan SPT adalah SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dalam bentuk formulir kertas (hard copy). Formulir./2007. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4061) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2002 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 49. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. 8. Pasal 1 Dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini./2006 tentang Bentuk. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 534/KMK. 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4199). MEMUTUSKAN : Menetapkan : BENTUK. yang jumlahnya baik sebagai Pajak Keluaran maupun sebagai Pajak Masukan masing-masing tidak lebih dari 30 (tiga puluh) dalam 1 (satu) Masa Pajak. Daftar dan Buku yang digunakan dalam Administrasi Perpajakan. 5. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-146/PJ. 7./2001 tentang Tata Cara Pemberian Kode Surat./2001. Kantor Pelayanan Pajak Pratama. yang dimaksud dengan : 1. Lampiran SPT adalah Lampiran 1 SPT dan Lampiran 2 SPT. Isi dan Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-142/PJ. 9. yang selanjutnya disebut dengan KPP Pratama adalah KPP sebagaimana tersebut dalam Lampiran III Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini. Laporan. 6.04/2000 tentang Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan Surat Pemberitahuan sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 82/KMK. Kartu. 4. ISI.

terhadap SPT dilakukan oleh KPP setiap kali pada saat SPT Pasal 7 Dalam hal SPT dilaporkan NIHIL karena PKP tidak melakukan kegiatan penyerahan dan perolehan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak. tidak diperbolehkan lagi untuk menyampaikan SPT dalam bentuk formulir kertas (hard copy). yaitu : a. Disampaikan langsung ke KPP.Pasal 2 (1)SPT terdiri dari : a. b.32.32.dan c.2.05). (3)Bagi PKP yang semula menyampaikan SPT dalam bentuk formulir kertas (hard copy) kemudian menyampaikan SPT dalam bentuk data elektronik.32. (4)PKP yang dalam menyampaikan SPT tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dianggap tidak menyampaikan SPT dan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan. Disampaikan melalui Kantor Pos secara tercatat atau melalui perusahaan jasa ekspedisi atau melalui perusahaan jasa kurir. isi dan ukuran induk SPT dan Lampiran SPT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) tidak boleh diubah. selain PKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2. atau b.Formulir 1108 (F. maka PKP hanya menyampaikan Induk SPT dan SPT dianggap sudah disampaikan.Lampiran 2 Daftar Pajak Masukan dan PPnBM-Formulir 1108 B (D. sebagaimana ditetapkan pada Lampiran I Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.1. Pasal 3 Bentuk. (2)Pengusaha Kena Pajak yang dalam menyampaikan SPT tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dianggap tidak menyampaikan SPT dan dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan perpajakan.1.Induk SPT . (2)Tata Cara pengisian dan keterangan yang wajib diisi pada SPT adalah sebagaimana ditetapkan pada Lampiran II Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.2. wajib menyampaikan SPT dalam bentuk data elektronik dengan menggunakan SPT Masa PPN Formulir 1107. Pasal 4 (1)Pengusaha Kena Pajak yang terdaftar di KPP. Pasal 6 Penelitian diterima. Pasal 5 SPT disampaikan oleh PKP dengan cara manual.2. Pasal 8 .Lampiran 1 Daftar Pajak Keluaran dan PPnBM-Formulir 1108 A (D. ke KPP.1.06).03).

Formulir SPT dalam bentuk kertas (hard copy) diperoleh di KPP atau di download dari situs Direktorat Jenderal Pajak. (2)Pembetulan SPT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. b. memerintahkan pengumuman Peraturan irektur Jenderal Pajak ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. KPP Pratama Jakarta Tanah Abang Dua. maka pembetulan dilakukan dengan menggunakan SPT Masa PPN Formulir 1108 b.3. Agar setiap orang mengetahuinya. maka pembetulan dilakukan dengan menggunakan SPT Masa PPN Formulir 1107. DARMIN NASUTION NIP 130605098 ./2007. KPP Pratama Jakarta Gambir Empat. dengan alamat http://www. Pasal 9 (1)Dalam hal PKP melakukan pembetulan SPT : a. untuk Masa Pajak Tahun 2007. maka pembetulan dilakukan dengan menggunakan SPT Masa PPN Formulir 1195. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-180/PJ.id.1 untuk Masa Pajak sebelum Masa Pajak Januari 2007. mulai Masa Pajak Januari 2008.1. KPP Pratama Jakarta Tanah Abang Tiga.Bagi PKP yang terdaftar di KPP Pratama Jakarta Gambir Satu. Pasal 11 Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini berlaku mulai Masa Pajak April 2008. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 08 April 2008 DIREKTUR JENDERAL PAJAK. maka pembetulan dilakukan dengan menggunakan SPT Masa PPN Formulir 1195. a.go. KPP Pratama Jakarta Gambir Tiga dan KPP Pratama Jakarta Tanah Abang Satu : a. a. Bagi PKP yang terdaftar di KPP Pratama Jakarta Gambir Dua. tanggal 28 Desember 2007. KPP Pratama Jakarta Sawah Besar Satu dan KPP Pratama Jakarta Sawah Besar Dua : b.2 Untuk Masa Pajak sebelum Masa Pajak April 2008. Pasal 10 Pada saat Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku.2. ttd. untuk Masa Pajak sebelum Masa Pajak Januari 2007. maka pembetulan dilakukan dengan menggunakan SPT Masa PPN Formulir 1107.pajak.

Menimbang : a. Isi. 4.04/2000 tentang Bentuk dan Isi Surat Pemberitahuan Serta Keterangan dan atau Dokumen Yang Harus Dilampirkan./2006 tentang Bentuk.Perihal : PERUBAHAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER 146/PJ. dan Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN) dengan menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tentang Perubahan Lampiran Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-146/PJ. b./2006 tentang Bentuk. DAN TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (SPT MASA PPN) DIREKTUR JENDERAL PAJAK. c./2007 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER . Isi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4199). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 126. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3984).Keputusan Menteri Keuangan Nomor 534/KMK. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3264) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UndangUndang Nomor 18 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 128.bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu melakukan penyempurnaan atas lampiran Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-146/PJ./2006 TENTANG BENTUK.146/PJ.Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan UndangUndang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 259.Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 51. ISI.bahwa dalam rangka memberikan kemudahan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3986). Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4061) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2002 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 49.bahwa dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaan program e-SPT maka dipandang perlu untuk menambah contoh penggantian Faktur Pajak Standar pada Masa Pajak yang sama. dan meningkatkan pelayanan kepada Pengusaha Kena Pajak dalam melakukan pembetulan SPT Masa PPN. 2. kepastian hukum.Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49. . dan Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN)./2006 TENTANG BENTUK. 3. DAN TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (SPT MASA PPN) Tanggal Terbit : 03 Oktober 2007 PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER . ISI.142/PJ.

Khusus bagi PKP yang mengisi SPT Masa PPN secara manual.00000022." 2.000. -Contoh apabila terdapat pembatalan Faktur Pajak. DAN TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (SPT MASA PPN).000.dan PPN sebesar Rp 55.000.000.Tata cara pelaporan Faktur Pajak dalam SPT Masa PPN bagi PT Angkasa adalah sebagai berikut : Pada Masa Pajak Januari 2007.1Contoh Apabila Terdapat Penggantian Faktur Pajak pada Masa yang Sama.1.000. Formulir.000. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG PERUBAHAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-146/PJ.-.-..5.dan PPN sebesar Rp 50. Faktur Pajak dengan Kode dan Nomor 010.00007.Tata cara pelaporan Faktur Pajak pada SPT Masa PPN bagi PT Bahari sama dengan PT Angkasa sebagai Pajak Masukan pada formulir 1107 B..000.000.32.sedangkan kolom Kode dan Nomor Seri FP Yang Diganti diisi dengan 010./2001 tentang Tata Cara Pemberian Kode Surat.000.Menambah contoh penggantian Faktur Pajak dalam Masa Pajak yang sama pada sub judul Petunjuk Pengisian SPT Masa PPN Formulir 1107 A (D. -Nomor Urut 3 : Bagian ketiga.2.dan PPN Rp 50.000-07.01): -Huruf B : Petunjuk Pengisian.000. -Nomor urut 2. DPP sebesar Rp 550.1 sebagai berikut : "2.. kemudian PT Angkasa melaporkan Faktur Pajak Pengganti Pada SPT Masa PPN Masa Pajak Januari 2007 dengan mengisi Kolom Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak dengan 011. ISI./2006 tentang Petunjuk Pengisian SPT Masa PPN sebagai berikut : 1. Kartu. Laporan.-.000.000.2.32.000.. Pasal I Menyempurnakan beberapa bagian pada lampiran II PER-146/PJ./2006 TENTANG BENTUK.namun diabaikan pada saat penghitungan total jumlah Pajak Keluaran. Atas penggantian tersebut PT Angkasa menerbitkan Faktur Pajak Pengganti pada tanggal 10 Januari 2007 dengan Kode dan Nomor 011.. PT Angkasa menerbitkan Faktur Pajak dengan Kode dan Nomor 010.00000022.000.00000009. Pada tanggal 5 Januari 2007 PT Angkasa (PKP) melakukan penjualan kepada PT Bahari (PKP) dengan nilai Penjualan sebesar Rp 500.000. a..00000009 dilaporkan dengan DPP Rp 500.000.01) -Huruf B : Petunjuk Pengisian -Nomor urut 2 : Bagian Kedua -Angka Romawi II : Penghitungan PPN Kurang Bayar/Lebih Bayar .000-07.dan PPN sebesar Rp 55.000. Daftar dan Buku Yang Digunakan Dalam Administrasi Perpajakan.000.000.000.000. b. Penggantian Faktur Pajak dan BKP yang diretur.00000009 dengan DPP sebesar RP 500.000-07. Pada tanggal 10 Januari 2007 PT Angkasa melakukan penggantian Faktur Pajak karena ternyata nilai penjualan adalah sebesar Rp 550.000.1.Memperbaiki redaksi dan memberikan penegasan tambahan pada sub judul Petunjuk Pengisian SPT Masa PPN Formulir 1107 (F.00000009 dilaporkan dengan DPP Rp 500.-. -Angka Romawi II : Penyerahan Dalam Negeri Dengan Faktur Pajak.Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-168/PJ. nilai yang tercantum pada Faktur Pajak dengan Kode dan Nomor 010.000.000-07.dan PPN Rp 50.000.-.00007.. kolom DPP sebesar Rp 550.

Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Januari 2007 menunjukkan Lebih Bayar Rp 200..000.1.000.menjadi Rp 20.(kesalahan diketahui bulan April) dan telah dikompensasi ke Masa Pajak berikutnya (Februari 2007). Sehingga pada SPT Masa Pembetulan terdapat kurang bayar PPN sebesar Rp 100.Dalam hal PPN yang semula atau sebelumnya dilaporkan Lebih Bayar kemudian dibetulkan menjadi Lebih Bayar lebih besar. atau Kurang Bayar. SPT Masa PPN Masa Pajak April sudah mencantumkan nilai kompensasi sesuai SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Maret. Lebih Bayar lebih kecil.-.-Huruf F Pembetulan (II.. Setelah dilakukan pembetulan untuk SPT Masa Pajak Januari ternyata Lebih Bayar menjadi lebih kecil yaitu Rp 100.000. sehingga pada SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Januari jumlah Lebih bayar yang dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya adalah jumlah sebagaimana tercantum pada butir II.000.1.000.000.000.yang belum dikompensasikan.000. SPT Masa Februari Lebih Bayar Rp 300.2PKP tidak melakukan pembetulan SPT Masa Pajak Februari dan seterusnya maka pada SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Januari..PKP melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Februari dan Maret dengan membetulkan jumlah kompensasi yang berasal dari Masa Pajak Januari semula Rp 17.D yaitu sebesar Rp 20. Untuk mengkompensasikan PPN tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 2.F.1.2.-.-..merupakan jumlah sebagaimana tercantum pada butir II.000. .000.-.E) : PPN yang Kurang atau (Lebih) Bayar karena Angka 2 sehingga keseluruhannya menjadi sebagai berikut : "2. jumlah yang dimintakan kompensasi ke Masa Pajak saat SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Januari disampaikan yaitu April 2007 sebesar Rp 3. 2.Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Januari 2007 menunjukkan Lebih Bayar Rp 17. Sehingga pada SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Januari terdapat lebih bayar PPN sebesar Rp 3. Setelah dilakukan pembetulan menjadi Lebih Bayar lebih besar yaitu Rp 20.000.000. Nihil. seperti contoh berikut : 2.1. SPT Masa Maret Lebih Bayar Rp 250.D-II.000.000.000.dan telah diajukan permohonan kompensasi ke Masa Pajak April 2007. 2..000.000.000.-.dan telah diajukan permohonan kompensasi ke Masa Pajak berikutnya (Februari 2007)..dan telah dikompensasikan ke Masa Maret 2007.000.

Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Januari 2007 menunjukkan Lebih Bayar Rp 1. Setelah dilakukan pembetulan menjadi Nihil.PKP melakukan pembetulan SPT untuk Masa Pajak Januari dan seluruh SPT Masa Pajak berikutnya sampai dengan Masa Pajak dimana posisi SPT menjadi Kurang Bayar. atau sampai dengan Masa Pajak saat SPT Masa PPN dibetulkan.Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Januari 2007 menunjukkan lebih Bayar Rp 1.000) l l ---------------------- . Untuk contoh nomor 2.000.E l Rp ( 200.000.000. dan PKP dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan" Pengisian pada formulir SPT Masa PPN berdasarkan contohcontoh di atas menjadi sebagai berikut : Contoh (Rupiah) l Penghitungan PPN kurang atau (lebih) l PPN l dibayar l -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Contoh 2.3.F sebagai akibat pembetulan untuk Masa Pajak Januari.000.E l Rp (17.D l Rp (20.-.000) (-) l l --------------------l Butir II. 2.250. Nilai Lebih Bayar yang diajukan permohonan kompensasi ke Masa Pajak April adalah Rp 150.000.4.2 l Alternatif a l Masa l Butir II. Atas pembetulan SPT tersebut PKP akan dikenakan sanksi administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.F.dan telah diajukan permohonan kompensasi ke Masa Pajak berikutnya (Februari 2007).-.000. berlaku hal-hal sebagai berikut : PKP harus menyetor PPN yang kurang dibayar pada butir II.D l Rp ( 100. dan 2.000) (-) Januari l Butir II.2.3.000) l l Contoh 2. Setelah dilakukan pembetulan menjadi Kurang Bayar Rp 250.000) l Butir II. atau sampai dengan Masa Pajak saat pembetulan SPT dilakukan. Februari dan Maret diabaikan.PKP dapat membetulkan Masa Januari saja dan membayar/menyetor PPN yang kurang dibayar pada butir II.F l Rp ( 3.-.F..000.2 diatas PKP mempunyai dua pilihan sebagai berikut : a.000. Untuk contoh nomor 2.000. Sehingga pada SPT Masa Pembetulan terdapat kurang bayar PPN sebesar Rp 1.-. Angka Kurang Bayar pada Butir II.atau b..000.-.000.1 l Butir II.000.4. Sehingga pada SPT Masa Pembetulan terdapat kurang bayar PPN sebesar Rp 1. namun tidak perlu membetulkan SPT Masa PPN Masa Februari dan Masa-Masa seterusnya sampai dengan posisi lebih bayar menjadi kurang bayar.

000.000) (-) l ------------------l Butir II. dan Pabrikan Tembakau yang melakukan pemenuhan kewajiban PPN tidak melalui mekanisme penerbitan Faktur Pajak maka untuk pengisian Lampiran I-Daftar Pajak Keluaran dan PPnBM (Formulir 1107A) Butir II.Pengusaha Jasa Biro Perjalanan sebagai berikut : "Catatan Tambahan Untuk Industri Rekaman Suara.000 l l Alternatif b l Butir II.000) (-) l ------------------l Butir II.000) (-) Februari l l l Lampiran 2 : Daftar Pajak Masukan dan PPnBM : l Angka Romawi I Butir 3 huruf A.D l Butir II.D l Butir II.2.000) Maret ------------------l Butir II.F 100." .Daftar Pajak Keluaran dan PPnBM (D.l Butir II.000 Masa April 150.32. Kompensasi l Rp ( l kelebihan PPN dari Masa Sebelumnya l ---l l Rp l Rp ( l ---l Rp l l Rp l Rp ( l ---l Rp l l 0 3.4 250.D l l Butir II.250.000 Contoh 2.F 100.E 1.3 1.E l l Butir II. Menambahkan catatan pada sub judul Petunjuk Pengisian Formulir 1107 A Lampiran 1 .E l ------------------l Butir II.1.000) ------------------Contoh 2.000 Masa 200.000.000) (-) 200 Masa 100.F 100.F 1.01) huruf C-Contoh Pengisian SPT Masa PPN Bagi Pengusaha Kena Pajak (PKP) Tertentu pada bagian akhir angka 5.Penyerahan Dalam Negeri Dengan Faktur Pajak dengan menggunakan dokumen transaksi berupa SSP atas penebusan stiker lunas atau penebusan pita cukai.000.E l l Rp l l l Rp ( l Rp ( l ---l Rp l l Rp ( l Rp ( l ---l Rp 300.000 l Butir II.F 1.D l Butir II. Industri Rekaman Video.000 l l l Butir II.

Pasal II Peraturan Direktur ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 3 Oktober 2007 DIREKTUR JENDERAL PAJAK. ttd. DARMIN NASUTION NIP 130605098 . memerintahkan pengumuman Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal Agar setiap orang mengetahuinya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful