P. 1
PERENCANAAN JEMBATAN

PERENCANAAN JEMBATAN

|Views: 1,509|Likes:
Published by eruma

More info:

Published by: eruma on Jan 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/23/2013

pdf

text

original

PERENCANAAN JEMBATAN PRATEGANG

PERENCANAAN JEMBATAN PRATEGANG Data Teknis Perencanaan Jembatan a. Jembatan Kelas jalan : kelas 1 Jumlah jalur : 2 jalur Panjang jembatan : 40 meter Lebar jembatan : 9 meter Lebar lantai kendaraan : 7 meter Tipe gelagar : balok I Tebal Perkerasan : 5 cm

Gambar Bentang Jembatan

b. Trotoir Jenis konstruksi : beton bertulang Pipa sandaran : Circular Hollow Sections D 60.5 mm Dimensi tiang sandaran : 20/15 cm Jarak antar tiang : 2 m Mutu beton, f¶c : 30 Mpa Mutu baja tulangan, fy : 240 Mpa (polos) Mutu baja pipa sandaran : 1600 Mpa Lebar trotoir : 100 cm Tebal trotoir : 25 cm Balok kerb : 20/25 cm Jenis plat trotoir : beton tumbuk

c. Plat lantai kendaraan Tebal plat : 20 cm Mutu beton, f¶c : 30 Mpa Mutu baja tulangan, fy : 350 Mpa (ulir) d. Gelagar Jenis konstruksi : beton prategang tipe balok I Mutu beton, f¶c : 50 Mpa Mutu baja tulangan, fy : 350 Mpa (ulir) Tipe tendon & angkur : Angker hidup VSL tipe Sc e. Abutment Tinggi Abutment : 6 meter Lebar Abutment : 11.6 meter Tipe Abutment : Type Kantilever Mutu beton, f¶c : 30 Mpa Mutu baja tulangan, fy : 240 Mpa (polos) Mutu baja tulangan, fy : 350 Mpa (ulir)

Gambar Abutment

Tegangan Yang Diijinkan (SNI 03 ± 2847 ± 2002) Tegangan Ijin Beton Prategang Mutu beton prategang (f¶c) 50 Mpa. Tegangan ijin sesuai dengan kondisi gaya pratekan dan tegangan beton pada tahap beban kerja, tidak boleh melampaui nilai berikut: 1. Keadaan awal, sesaat sesudah penyaluran gaya prategang (sebelum terjadinya kehilangan tegangan) (pasal 20.4.1) 2. Tegangan serat tekan terluar ~Untuk Plat = 0.6 x 30 = 18 Mpa Untuk Gelagar f¶ b = 0.6 f¶ c f¶ b¶ = 0.6 f¶c¶ = 0.6 x 50 = 30 Mpa ~Untuk Gelagar ~Untuk Plat 1. = = ft = ¼ f t¶ = ¼ ¼x ¼x

45 f¶c¶ = 0.2) ~Untuk Gelagar ~Untuk Plat f¶ b = 0. Tegangan Ijin Tendon Prategang Digunakan tendon VSL dengan sifat-sifat: . 1.739 Mpa 3. Beton prategang f¶c = 50 Mpa f t¶ = ½ ½x ½x ~Untuk Plat E c = 4700 = 4700 x = 33234. setelah kehilangan gaya prategang (pasal 20.= 1.5 Mpa 2. Tegangan serat tarik terluar ~Untuk Gelagar ft = ½ = = = 3.02 Mpa 2.8 x 50 = 40 Mpa Modulus elastisitas beton 1. Mutu beton pada saat penegangan f¶ci = 0. = 1.4.536 Mpa = 2. Beton konvensional f¶c¶ = 30 Mpa E c¶ = 4700 = 4700 x = 25742.768 Mpa 2.8 f¶c = 0.5 Mpa = 13.45 x 50 = 0.45 x 30 = 22.369 Mpa Tegangan serat tekan terluar Keadaan akhir.45 f¶c f¶b¶ = 0.96 Mpa Dimana: Ec = modulus elastisitas beton prategang (Mpa) E c¶ = modulus elastisitas beton konvensional (Mpa) f¶c = mutu beton prategang (Mpa) f¶c¶ = mutu beton konvensional (Mpa) 1.

82 x 1490.94 x 1490.88 = 1401.5 N y Beban leleh (20%) = 15000 kg = (15000 x 9.52 Mpa Tetapi tidak lebih dari f p = 0.43 Mpa Tetapi tidak lebih dari f p = 0.7 mm2 = 18.y Diameter nominal = 12.80 x 1863.74 fpu = 0.52 Mpa Perencanaan Trotoir dan Plat Lantai Perencanaan Trotoir .81) N = 183937.88 Mpa 2.6 = 1379.94 fpy = 0.70 x 1863.80 fpu = 0.5 mm = 98.6 = 1490. Sesaat setelah penyaluran gaya prategang f p = 0.75 ton y Luas tampang nominal y Beban putus minimum = 18750 kg = (18750 x 9.8 Tegangan leleh (f py) = = 1490. pada daerah angkur dan sambungan.70 fpu = 0.88 = 1222. segera setelah penyaluran gaya f p = 0. Tendon pasca tarik. Akibat gaya pengangkuran tendon f p = 0.88 Mpa Modulus elastisitas (E s) = 200000 Mpa Tegangan tarik pada tendon prategang tidak boleh melampaui: 1.6 Mpa = = 18750 x 0.81) N = 147150 N Tegangan putus minimum (fpu) = 1863.6 = 1304.82 fpy = 0.74 x 1863.06 Mpa 3.

2 mm = 4.5 mm y y y y t (tebal) G (berat) = 3. yaitu sebesar 0.Gambar Rencana Trotoir Pendimensian Sandaran Sandaran direncanakan menumpu pada tiang sandaran dengan bentang 2 m.52 kg/m beban ultimate qdu = 4. yang di rencanakan menahan beban merata vertikal sebesar 0.642 kNm = 6420 kgcm = y . diperoleh momen maksimum .52 kg/m = 7. data sebagai berikut: y D (diameter) = 60.75 kN/m = 75 kg/m beban ultimate qlu = 75 x 2 = 150 kg/m ~ beban ultimate (qu) = qdu + ql u = 5 + 150 Qu = 155 kg/m Gambar Pembebanan & Statika Pada sandaran Dari hasi analisa statika dengan mengunakan program STAAD PRO.84 cm3 = 1600 kg/cm2 W (momen tahanan) (tegangan ijin) Pembebanan: ~ beban mati (qd) = 4.75 kN/m.1 = 5 kg/m ~ beban hidup (ql) = 0. y Mmax = 0.642 kNm. Direncanakan Sandaran dengan penampang pipa bulat.52 x 1.

75 x 2 = 1.468 kN y beban ultimate pd1 = 46.38 x 24 = 0.4 x 1.0904 kN beban ultimate pd3u = 0.0904x 1. Gaya Yang Bekerja Pada Tiang Sandaran Pembebanan ~ beban mati (pd) y berat sendiri tiang (atas/pd1) = 0. dan tinggi 20 cm. Direncanakan dimensi tiang sandaran dengan lebar 15 cm.6084 kN berat sendiri tiang (bawah/pd2) = 0.6084 x 5 0.6 (2 x 0.65 x 24 u = 0. dipakai pipa baja diameter 60.255 kNcm = 0.274 kN beban ultimate pd2u = 27. Perencanaan Tiang Sandaran Tiang sandaran direncanakan menerima beban terpusat dari sandaran sebesar w x L.0995) x 5 .3562 kN y berat 1 pipa sandaran (pd3) = 0.3 = 0.15 x 0.5 x 90 + 1.5 x 45 = 205.3 = 0.75 kN beban ultimate plu = 0.3562 x 3.2 x 0. yang bekerja horisontal pada ketinggian 0.8 x 1.5 kN Momen yang terjadi y Mmax = x X2 ± x X1 + x X2 + x 90 x 45 = ± + + 1.2 x 0.1 ~ beban hidup (pl) = 0.= = 818.0995 kN + pd1u pd2u pd3u pl u pl u 0.5 mm sebagai sandaran. dengan asumsi tiang sandaran sebagai balok kantilever.9 m dari permukaan trotoir.15 x 0.878 kg/cm2 < = 1600 kg/cm2 Jadi.0452 x 2 = 0.

255 x 104 Nmm y Mn = = 256.75 x 0.002525 < min 0.0645 = 0.y Vu = 2 x pl u = 2 x 1. y b = = = 0.59888 Mpa y m = = 9.002525 < 0.005834 (digunakan min) .005834 min = Rasio penulangan perlu y = = = 0.048375 y = = 0.255 kNcm = 205.5 kN = 3000 N Perhitungan penulangan Data perencanaan: b = 150 mm h = 200 mm f¶c = 30 Mpa fy = 240 Mpa Direncanakan tulangan pokok Ø 10.0645 y max = 0. sengkang Ø 6 d = h ± selimut beton ± Ø sengkang ± (½ x Ø Tul.569 x 104 Nmm y Rn = = 0. Tarik) = 200 ± 20 ± 6 ± (½ x 10) = 169 mm A.75 x b = 0.412 Rasio penulangan keseimbangan ( b). Penulangan lentur y Mu = 205.

K ) y b min = 2 x selimut beton + 2 x Ø sengkang + n x D Tul.005834 x 150 x 150 = 131. Direncanakan kerb terbuat dari beton bertulang.67 N y ½ ø Vc = ½ x 0.K ) y As¶ tekan = 20 % x As perlu = 0.6 x 20402. Digunakan Ø 6 ± 150 mm yang dipasang disepanjang tiang.As perlu = min xbxd = 0. yang bekerja sebagai beban titik.08 mm2 > As perlu = 131.253 mm2 ««««. Tarik + (n ± 1) x 25 = 2 x 40 + 2 x 6 + 2 x 10 + ( 2 ± 1 ) x 25 = 137 mm < b = 150 mm ««««.08 mm2 > As¶ tekan = 26.2 x 131.8 N > Vu = 1500 N (tidak diperlukan tulangan geser) Cukup dipasang sengkang praktis.67 = 6120.265 mm2 ««««. tulangan baja .253 mm2 Dipakai tulangan 2 Ø 10 mm y As¶ ada = 2 x ( ¼ x x Ø 2 ) = 2 x ( ¼ x x 102 ) = 157.265 mm2 Digunakan tulangan tarik 2 Ø 10 y As ada = 2 x ( ¼ x x Ø 2 ) y = 2 x ( ¼ x x 102 ) = 157.( O. Penulangan geser y Vc = 1/6 x xbxd = 1/6 x x 150 x 149 = 20402. Gambar Penulangan Tiang Sandaran Perencanaan Kerb Kerb direncanakan untuk menahan beban tumbukan arah menyilang sebesar 100 kN.( O.K ) B. menggunakan beton dengan mutu f¶c 30 Mpa. dengan dimensi lebar 20 cm dan tinggi 25 cm.265 = 26.( O.

3 = 6.2 = 1 kN/m + u qd2 = 8.05 x 1 x 22 = 1.1 x 1 x 10 = 1 kN/m beban ultimate = 1 x 1.3562 Beban pada plat trotoir Beban merata ~ beban pejalan kaki = 5 kPa x 1 m = 5 kN/m .8 kN/m beban ultimate = 4. Pembebanan y Beban mati 1.3 = 7.mutu fy 240 Mpa.3 = 6.75 x 1.20 x 1 x 24 = 4.1 kN/m beban ultimate = 1.475 kN/m ~ berat air hujan = 0.6 kN/m + u qd1 = 14.75 kN/m beban ultimate = 5.25 x 1 x 23 = 5.2 kN/m y Beban hidup y + 0.5 x 1. dan sengkang Ø 6 ± 200 mm sepanjang kerb.2 = 0.1 x 2 = 2.1636 kN 1.24 kN/m ~ berat aspal = 0.315 kN/m Beban terpusat pdu = pd1u + pd2u + 2.32 kN/m ~ berat air hujan = 0.5 kN/m Beban ultimate = 0.1 x 1.20 x 1 x 24 = 4. Beban mati tambahan Beban mati tambahan berupa pelapisan ulang lapisan aspal dengan tebal 50 mm ~ berat aspal = 0.1 kN/m beban ultimate qd3u = 1.05 x 1 x 22 = 1.8 kN/m beban ultimate = 4. Beban pada plat trotoir Beban merata ~ berat plat lantai = 0.56 kN/m 1.05 x 1 x 10 = 0. yang dipasang 2 Ø 10 pada masing-masing sisinya.0995) = 1.6084 + (2 x 0.24 kN/m ~ berat plat lantai trotoir = 0.2 = 1.8 x 1. Beban pada plat lantai kendaraan ~ berat plat lantai = 0.8 x 1.pd3u = 0. Gambar Penulangan Kerb Perencanaan Plat Lantai Plat lantai direncanakan dengan tebal 20 cm yang menumpu pada 5 tumpuan yang menerima beban mati dan terpusat.

3 = 1.3 # Beban truk ³T´ Beban truk ³T´ sebesar 200 kN. maka tekanan untuk satu roda: Pu = = y = 260 kN Skema pembebanan y Gambar Skema Pembebanan Kondisi I y Kondisi II Kondisi I Gambar Skema Pembebanan Kondisi II y Gambar Skema Pembebanan Kondisi III y Kondisi III Kondisi IV Gambar Skema Pembebanan Kondisi IV y Gambar Skema Pembebanan Kondisi V Kondisi V .beban ultimate ql1u = 5 x 2 = 10 kN/m Beban terpusat pl u = 1.3 (BMS ¶92.5 kN y Beban pada plat lantai kendaraan # Faktor beban dinamis (DLA) K = 1 + DLA . hal 2-20) maka K = 1 + 0. Faktor beban dinamis untuk truk adalah 0.

7255 Rasio penulangan keseimbangan ( b).471 kNm Data perencanaan: f¶c = 30 Mpa fy = 350 Mpa Tebal plat (h) = 200 mm Direncanakan tulangan pokok D 16 dan tulangan bagi Ø 10 Selimut beton = 20 mm dx = h ± selimut beton ± (1/2 Ø) = 200 ± 20 ± (1/2 x 16) = 172 mm Untuk perhitungan penulangan.0391128 = 0. yaitu: y Mmax tumpuan = 77.004 Rasio penulangan perlu .976 kNm = 77.0391128 y max = 0.47 x 106 Nmm y Rn = = 3.75 x 0.976 kNm y Mmax lapangan = 71.75 x b = 0.y Kondisi VI Gambar Skema Pembebanan Kondisi VI Penulangan Plat Lantai Kendaraan Dari hasi analisa statika dengan mengunakan program STAAD PRO.02933459 y min = = = 0.2945 Mpa y m = = 13. diambil momen termaksimum y Mu = 77. diperoleh momen maksimum pada kondisi II. y b = = = 0.976 x 106 Nmm y Mn = = 97.

37 mm § 200 mm As ada = = 392.89 = 380.54 mm2 y S = = 206.004 (digunakan ) y As perlu = xbxd = 0.78 mm2 Digunakan tulangan pokok D 16 mm Perhitungan jarak (S) dan As ada y As =¼x x D2 = ¼ x x 162 = 201.578 mm2 Dipakai tulangan Ø 10 mm y As bagi = ¼ x x Ø2 = ¼ x x 102 = 78.6 mm2 y y As ada = Diperoleh As ada > As perlu .y = = = 0.010115 x 1000 x 172 = 1739.010115 > min 0.010115 > 0.5 mm § 100 mm = 2010. maka dipakai tulangan pokok D 16 ± 100 y As tulangan bagi = 20 % x As perlu = 0.7 mm2 y .2 x 1902.06 mm2 S = = 115.

maka h = 1.35 . maka dipakai tulangan bagi Ø 10 ± 200 Gambar Penulangan Plat Lantai Kendaraan Perencanaan Struktur Gelagar Gambar Bagian-bagian Penampang Jembatan Desain Penampang Balok Perencanaan awal dari dimensi penampang balok dengan suatu rumus pendekatan.Diperoleh As ada > As perlu . dimana L adalah panjang balok = 40 m. yaitu tinggi balok (h) = .6 ± 2.

I II III IV V ™ A (cm2) 30 x 80 = 2400 105 x 40 = 4200 30 x 80 = 2400 2(½ x 20 x 5) = 100 2(½ x 20 x 5) = 100 AP = 9200 y (cm) 150 82.67 759000 Momen Inersia µI¶ (cm4) (1/12 x 80 x 303 + 2400 x 67.33 3166.5 cm .67 IP = 26605833.5 15 133.3 31.82) x 2 = 258541.52) = 11115000 (1/36 x 20 x 53 + 50 x 50.52) = 11115000 1/12 x 40 x 1053 = 3858750 (1/12 x 80 x 303 + 2400 x 67.82) x 2 = 258541. Gambar Penampang Balok Prategang Perhitungan Section Properties Penampang Balok Tengah y Sebelum komposit Tabel Perhitungan Section Properties Balok Tengah Sebelum Komposit Bag.67 (1/36 x 20 x 53 + 50 x 50. Penampang balok seperti pada gambar di bawah ini.65 m. Direncanakan balok dengan tinggi 1.7 Axy (cm3) 360000 346500 36000 13333.33 y = = 82.m.

5 cm y = = 2891.962) = 5703431.54 (1/12 x 80 x 303 + 2400 x 88.7 175 Axy (cm3) 360000 346500 36000 13333. I II III IV V VI ™ A (cm2) 30 x 80 = 2400 105 x 40 = 4200 30 x 80 = 2400 2(½ x 20 x 5) = 100 2(½ x 20 x 5) = 100 20 x 134.77) 175 x 0.792) x 2 = 515528.462) = 18959280.05 cm y = Setelah komposit y = 35.5 15 133.46 cm = 81.75 cm Tabel Perhitungan Section Properties Balok Tengah Setelah Komposit Bag.542) = 13883794.77 = 134.75 = 2695 Ac = 11895 y (cm) 150 82.y = 165 ± 82.3 31.42 (1/36 x 20 x 53 + 50 x 71.67 471625 1230625 Momen Inersia µI¶ (cm4) 3 (1/12 x 80 x 30 + 2400 x 46.94 cm2 y = = 35. n = 0.75 x 203 + 2695 x 71.882) x 2 = 89396.19 (1/12 x 40 x 1053 + 4200 x 20.54 cm = 165 ± 103. maka lebar efektif plat komposit dengan balok prategang adalah: beff x n (n adalah rasio perbandingan antara mutu beton.43 Ic = 44530358.5 = 82.33 3166.9 (1/12 x 134.28 (1/36 x 20 x 53 + 50 x 29.05 cm Jarak efektif antar gelagar sebesar 175 cm. Karena mutu beton plat dan balok berbeda.76 y y = = 103.46 .542) = 5378927.

19 cm y = = 45.54 (1/12 x 134.2 Ic = 49186753.62 cm2 y = = 36.5 1.18 .822) = 15992466. I II ™ A (cm2) 165 x 80 = 13200 20 x 134.682) = 33194287.75 y y = = 98.75 x 203 + 2695 x 76.91 cm Penampang Balok Ujung 1.5 cm Setelah komposit Tabel Perhitungan Section Properties Balok Ujung Setelah Komposit Bag. = 82.y = = 3743. Sebelum komposit y y Ap = b x h = 80 x 165 = 13200 cm2 Ip = 1/12 x b x h3 = 1/12 x 80 x 1653 = 29947500 cm4 y y = = 165 ± 82.82 cm = 165 ± 98.18 cm = 86.5 cm = 82.5 175 Axy (cm3) 1089000 471625 1560625 Momen Inersia µI¶ (cm4) (1/12 x 80 x 1653 + 13200 x 15.75 = 2695 Ac = 22415 y (cm) 82.

0875 + 10 x 0.75 x 0.15 m Gambar Penampang Diafragma Luas penampang (A) = (135 x 105) ± (2 x (AIV + AV)) = 13975 cm2 = 1.05 m Tebal air = 10 cm = 0.92 = 23 kN/m y Akibat beban mati (plat lantai.2 m Tebal aspal = 5 cm = 0.24 kN Beban Lalu Lintas 1.3975 m2 Pd = Bj x A x t = 25 x 1.0875 m2 Luas penampang air (A 3) = 1.75 m Tebal plat = 20 cm = 0.1 m Luas penampang plat (A1) = 1.75 x 0.35 + 22 x 0.2 = 0.92 m2 qd1 = Bj x Ap = 25 x 0.1 = 0.15 = 5.075 kN/m y Akibat diafragma Bj beton = 25 kN/m3 Tebal diafragma (t) = 15 cm = 0. Beban lajur ³D´ 2. .35 m2 Luas penampang aspal (A2) = 1. lapisan aspal & air hujan) Bj beton = 24 kN/m 3 3 Bj aspal = 22 kN/m3 Bj air = 10 kN/m3 Jarak efektif antar gelagar = 175 cm = 1.175 = 12.3975 x 0.Pembebanan Beban Tetap y Akibat berat sendiri balok Bj beton = 25 kN/m Luas penampang (A p) = 9200 cm2 = 0.175 m2 qd2 = Bj beton x A3 + Bj aspal x A2 + Bj air x A3 = 24 x 0.75 x 0.05 = 0.

75 m.8 kN 1. Beban terpusat P yang ditempatkan tegak lurus arah lalu lintas pada jembatan adalah sebesarnya 44. .4 Jarak efektif antar gelagar = 175 cm = 1.75 x 44 x 1.75 x 7 = 12.4 = 107.0 kN/m. Faktor Beban Dinamik untuk ³KEL´ lajur ³D´. Besarnya beban terbagi rata (UDL) tergantung pada panjang total yang dibebani (L). Beban Rem Pengaruh percepatan dan pengereman dari lalu lintas diperhitungkan sebagai gaya dalam arah memanjang.Gambar Penyebaran Beban Lajur Beban lajur ³D´ terdiri dari beban tersebar merata (UDL/Uniformly Distributed Load) yang digabung dengan beban garis (KEL/Knife Edge Load). maka beban terpusat yang bekerja pada gelagar adalah: pl 1 = 1. nilai DLA = 0. maka beban merata yang bekerja di sepanjang gelagar adalah: ql 1 = 1.75 m.75 x P x K = 1. dan dianggap bekerja pada permukaan lantai jembatan. maka: q = = = 7 kPa Jarak efektif antar gelagar = 175 cm = 1. untuk bentang (LE) = 40 m. Gambar Beban Yang Bekerja Pada Arah Melintang Jembatan a. L = 40 m > 30 m.4 = 1.4. Maka: K = 1 + DLA K = 1 + 0.75 x q = 1.25 kNm b.

yaitu untuk L = 40 m ” 80 m.0012 x 1. gaya rem = 250 kN.2 TEW = 0. Gambar Beban Rem Yang Bekerja Pada Arah Memanjang Jembatan Aksi Lingkungan y Beban angin Kendaraan yang sedang berada di atas jembatan.2 x 302 = 1.0012CW (VW )2 kN/m Dimana: Vw = kecepatan angin rencana = 30 m/det Cw = koefisien Seret = 1.296 kN/m Analisa Statika Beban Tetap Gambar Diagram Momen dan Gaya Lintang Akibat Berat Sendiri 1. beban garis merata tambahan arah horizontal diterapkan pada permukaan lantai sebesar: TEW = 0.0 m.Besarnya gaya rem tersebut tergantung dari panjang struktur (L). Mx = x X) ± (½ x q x X2) (RA . Akibat berat sendiri Reaksi tumpuan: RA = RB = ½ x q x L = ½ x 23 x 40 = 460 kN Momen & Gaya Lintang pada setiap titik: Momen pada titik X dengan jarak setiap 2.

X = 2 m Titik 2. Titik 1. X = 18 m Titik 10.5 kN Gambar Diagram Momen dan Gaya Lintang Akibat Beban Mati VB = 241. X = 0 m VA = 460 V1 = 414 V2 = 368 V3 = 322 V4 = 276 V5 = 230 V6 = 184 V7 = 138 V8 = 92 V9 = 46 kN M1 = 874 M2 = 1656 M3 = 2346 M4 = 2944 M5 = 3450 M6 = 2864 M7 = 4186 M8 = 4416 M9 = 4554 M10 = 4600 kN Akibat beban mati kNm kNm kNm kNm kNm kNm kNm kNm kNm kNm kN kN kN kN kN kN kN kN kN V10 = 0 2.075 x 40 = 241. Vx = RA ± (q x X) Maka: Titik A. X = 14 m Titik 8.5 kN Reaksi tumpuan: RA = RB = ½ x q x L = ½ x 12. X = 6 m Titik 4. X = 4 m Titik 3. X = 16 m Titik 9. X = 10 m Titik 6. X = 20 m MA = 0 kNm VA =241.5 kN . X = 8 m Titik 5.Gaya Lintang pada titik X dengan jarak setiap 2.0 m. X = 12 m Titik 7.

24 x 11 = 28.35 kN Titik 2. X = 6 m M3 = 1231.15 kN Titik 10.2 kN Titik 3.65 kNm V3 = 169.823 kN . X = 0 m MA = 0 kNm VA = 241.05 kN Titik 4.Momen & Gaya Lintang pada setiap titik: Momen pada titik X dengan jarak setiap 2. X = 12 m M6 = 2028. X = 10 m M5 = 1811.0 m.6 kNm V6 = 96. X = 14 m M7 = 2197. X = 8 m M4 = 1545. Akibat diafragma Reaksi tumpuan: RA = RB = ½ x ™ P = ½ x 5. X = 18 m M9 = 2390.5 kN Titik 1.45 kN Titik 8.9 kN Titik 5. V x = RA ± (q x X) Maka: Titik A.6 kN Titik 7.0 m.4 kNm V2 = 193.85 kNm V1 = 217.3 kN Titik 9. X = 20 m M10 = 2415 kNm V 10 = 0 kN (RA Gambar Diagram Momen dan Gaya Lintang Akibat Diafragma 1.85 kNm V9 = 24. X = 16 m M8 = 2318.25 kNm V5 = 120.6 kNm V4 = 144.65 kNm V7 = 72. X = 4 m M2 = 869.4 kNm V8 = 48.75 kN Titik 6. X = 2 m M1 = 458. Mx = x X) ± (½ x q x X2) Gaya Lintang pada titik X dengan jarak setiap 2.

X = 10 m M5 = (28.24 x 12) ± (5.24 x 2) = 47.166 kNm V 1 = VA = 28.24 = 23.24 x 4) = 167.24 x 6) ± (5. 823 x 10) ± (5.24 x 2) = 131. X = 16 m M8 = (28. 823 x 6) ± (5. Mx = x X) ± (p x X) Gaya Lintang pada titik X dengan jarak setiap 2.Momen & Gaya Lintang pada setiap titik: Momen pada titik X dengan jarak setiap 2.0 m.823 x 2) ± (5.24 x 4) = 94.016 kNm V 3 = V2 = 23.24 x 10) ± (5.102 kN Titik 8.342 ± 5.24 x ± (5.823 kN Titik 1.24 x 2) = 235.0 m.102± 5.55 kNm V 8 = 13.24 x 6) ± (5.102 kN Titik 7. 823 x 16) ± (5.24 x 4) = 220. 823 x 4) ± (5.24 x 6) ± (5.24 = 13.823 kN Titik 2. X = 12 m M6 = (28. 823 x 14) ± (5. 823 x ± (5.24 x 2) = 193.24 x 10) ± (5.828 kNm V 7 = V6 = 13.24 x 14) ± (5. X = 8 m M4 = (28.24 x ± (5.24 x ± (5.583 ± 5.903 kNm V 5 = V4 = 18.24 x 16) ± (5. V x = VA ± p Maka: Titik A. X = 6 m M3 = (28.583 kN Titik 4.24 x 4) = 251. X = 14 m M7 = (28.331 kNm V 2 = 28.342 kN Titik 6.24 (RA .7 kNm V 4 = 23. X = 4 m M2 = (28.106 kNm V 6 = 18.583 kN Titik 3. X = 2 m M1 = (28. 823 x 12) ± (5. X = 0 m MA = 0 kNm V A = RA = 28.342 kN Titik 5.24 x 12) ± (5.823 ± 5.24 = 18.

791 kNm V 9 = V8 = 7.24 = 2.1 m m .24 x 18) ± (5.6 x 40 = 72 Titik 3.25 x 40) + 107. X = 4 m Y2 = A2 = ½ x 3.21 x 4) = 262.= 7. 823 x 20) ± (5.6 m2 = 5. X = 6 m Y3 = A 3 = ½ x 5.861 kN Titik 9.031 kNm V 10 = 7. X = 0 m YA = 0 m AA = 0 m2 Titik 1.9 x 40 = 38 m2 Titik 2.8 kN Mencari ordinat max (Y) & luas garis pengaruh (A): Titik A.861 kN Titik 10.24 x 12) ± (5.24 x 14) ± (5.24 x 20) ± (5.24 x 10) ± (5. RA = RB = (½ x q x L) + P = (½ x 12.24 x 6) ± (5.861 ± 5.8 = 352. X = 20 m M10 = (28. X = 2 m Y1 = A 1 = ½ x 1.1 x 40 = 102 m2 = 1.62 kN Beban Lalu Lintas y Akibat beban lajur Gambar Diagram Garis Pengaruh Momen dan Gaya Lintang Akibat Beban Lajur Reaksi tumpuan: Reaksi tumpuan terbesar terjadi pada saat beban p berada di atas tumpuan.24 x 16) ± (5.9 m = 3. X = 18 m M9 = (28.24 x ± (5.21 x 2) = 256. 823 x 18) ± (5.

8 kN Titik 5.52 kNm V6 = 205. X = 16 m Y8 = A8 = ½ x 9. X = 0 m MA = 0 kNm VA = 352.3 kN Titik 2. Mx = x P) + x q) Gaya Lintang pada titik X dengan jarak setiap 2.9 m Titik 10.4 m = 7.8 kN Titik 3.9 x 40 = 198 m2 = 6.6 x 40 = 192 Titik 9. X = 20 m Y10 = = 10 m A 10 = ½ x 10 x 40 = 200 m2 Momen & Gaya Lintang pada setiap titik: Momen pada titik X dengan jarak setiap 2.92 kNm V4 = 254. X = 14 m M7 = 3210.8 kN Titik 1. X = 10 m M5 = 2646 kNm V5 = 230.1 x 40 = 182 Titik 8.4 x 40 = 128 m2 Titik 5. V x = RA ± (q x X) Maka: Titik A.4 x 40 = 168 m2 Titik 7. X = 14 m Y7 = A7 = ½ x 9.5 m2 = 8.0 m. X = 18 m Y9 = A 9 = ½ x 9. X = 2 m M1 = 670.8 kN Titik 7.32 kNm V1 = 328. X = 12 m Y6 = A 6 = ½ x 8.28 kNm V3 = 279. X = 6 m M3 = 1799.1 m2 = 9.08 kNm V2 = 303. X = 4 m M2 = 1270.6 m 2 m m = 9. X = 10 m Y5 = A5 = ½ x 7.4 m m = 9. X = 12 m M6 = 2963.48 kNm (Yx (A x . X = 8 m M4 = 2257.5 x 40 = 150 Titik 6.0 m. X = 8 m Y4 = A 4 = ½ x 6.3 kN Titik 6.Titik 4.3 kN Titik 4.

3 kN Titik 10.857 kNm Aksi Lingkungan 1.8 m.8 + 0. X = 18 m M9 = 3492.8154) = 653.V 7 = 181. X = 20 m M10 = 3528 kNm V 10 = 107.8 kN Titik 9. Reaksi tumpuan: Reaksi (gaya lintang) pada semua titik adalah sama sepanjang jalur RA = RB = = = 16.72 kNm V9 = 132.3 kN Titik 8. Gambar Diagram Momen dan Gaya Lintang Akibat Beban Angin Beban Angin Reaksi tumpuan: RA = RB = ½ x q x L .88 kNm V8 = 156.5 kN Momen pada setiap titik: Momen pada semua titik adalah sama sepanjang jalur Mr = Gaya Rem x (titik tangkap + yaµ) = 250 x (1.8 kN y Beban Rem Gambar Diagram Momen Akibat Beban Rem Titik tangkap gaya rem dari permukaan lantai adalah 1. X = 16 m M8 = 3386.

5 16.583 23. 05 (kN) 28. X = 18 m M9 = 256.8 328.8 279.312 kNm V2 = 20.552 kN Titik 5.96 kN Titik 6.92 kN Momen & Gaya Lintang pada setiap titik: Momen pada titik X dengan jarak setiap 2.296 x 40 = 25.776 kN Titik 8.872 kNm V7 = 7. X = 2 m M1 = 49. 35 193.736 kN Titik 3.5 Beban Angin (kN) 25.736 18.0 m.368 kN Titik 7.144 .888 kNm V4 = 15.5 16.608 kNm V9 = 2. X = 6 m M3 = 132.248 kNm V1 = 23.328 20. X = 20 m M10 = 259. X = 14 m M7 = 235. X = 10 m M5 = 194.920 23. X = 4 m M2 = 93. 50 217.92 kN Titik 1. X = 12 m M6 = 217.5 16.144 kN Titik 4.823 23. X = 16 m M8 = 248. V x = RA ± (q x X) Maka: Titik A.0 m.3 Beban Rem (kN) 16.= ½ x 1. X = 8 m M4 = 165.583 Beban Lajur (kN) 352.192 kNm V3 = 18.823 28.832 kNm V8 = 5. 20 169.3 303.184 kN Titik 9.4 kNm V5 = 12. Mx = x X) ± (½ x q x X2) Gaya Lintang pada titik X dengan jarak setiap 2. X = 0 m MA = 0 kNm VA = 25.2 kNm V 10 = 0 kN (RA Tabel Daftar Kombinasi Gaya Lintang Beb Berat an Beban Beba Diafrag n ma Sendiri Mati (kN) VA V1 V2 V3 460 414 368 322 (kN) 241.328 kN Titik 2.728 kNm V6 = 10.592 kN Titik 10.

8 181.0 00 2346.4 10 9947.4 5 48. 519 11604.8 57 653.8 80 3492.8 32 256. 300 5455.861 2.1 92 165.5 16.850 869.0 80 1799. 000 4186.0 00 (kNm) 0 458.55 0 256.3 205.250 2028.7 20 (kNm ) 653.9 80 6293.166 94. 000 4416. 731 3708.4 40 4636.V4 V5 V6 V7 V8 V9 V10 276 230 184 138 92 46 0 144.5 16.650 1545. 75 96. 000 3450. 825 (kNm) MA M1 M2 M3 M4 M5 M6 M7 M8 M9 0 874.90 3 220.8 88 194.24 8 93. 950 7201.5 16.8 57 653.331 131. 641 MT 10 (5+6+7 +9) (kNm) 653. 153 6112.650 2318.0 00 1656.342 13.0 00 4416.960 10. 000 3864. 706 6619. 000 2944.70 0 193.0 00 3450.8 57 653.3 156.9 65 8949.5 16. 000 2346.0 00 4186.4 00 217.8 57 (kNm ) 0 49.8 57 653.342 18.85 7 2753.600 1811.8 16. 000 .8 57 653.552 12.5 16.32 0 1270.3 0 24.0 00 2963.6 08 (kNm) 0 874.592 0 Tabel Daftar Kombinasi Momen Mom en Berat Sendiri Beban Mati Beban Diafrag ma Beban Lajur Beban Rem Beban Angin Kombinasi Momen Seblm komp. komposit Mo 1 2 3 4 5 6 7 8 MG 9 (2+3+ 4) (kNm) 0 1380.9 20 2646.0 00 2944.01 6 167.0 00 3864.5 15.5 20 3210.102 7.6 0 72.8 11 10719. 016 2619.00 0 1656.1 5 0 18.8 57 653.79 1 (kNm) 0 670.10 6 235.620 254.82 8 251.9 94 7734.8 230. 90 120.4 80 3386.861 7.400 1231. 478 6985.776 5.850 (kNm) 0 47.184 2.102 13.31 2 132.2 80 2257.5 16.600 2197.3 107.8 57 653.8 57 653.8 57 653.0 00 4554.7 28 235.8 72 248.400 2390. 687 11275.8 132. 666 4657.368 7. 000 4554.

088 Perencanaan Perletakan Elastomer Dengan menggunakan tabel perkiraan berdasarkan pengalaman.03 1 3528. 031 11718.000 262. karena lebar gelagar (b) = 800 mm.K) .2 00 4600. pada geser maksimum = 3377 kN Gaya lintang maksimum yang terjadi pada satu gelagar V U = 1718. pada geser maksimum = 7353 kN Beban ternilai pada perputaran maksimum.824 kN < Vperletakan = 3377 kN «««««««(O. 000 7277.M10 4600. Karakteristik dari Elastomer adalah sebagai berikut: Gambar Bentuk Denah Perletakan Ukuran denah 810 mm y Tebal selimut atas dan bawah = 9 mm y y y y y Tebal pelat baja = 5 mm Tebal karet dalam = 18 mm Tinggi keseluruhan = 92 mm Beban ternilai pada perputaran nol.0 00 653. direncanakan perletakan elestomer dengan bentuk persegi dan ukuran denah 810 x 810 mm.0 00 2415. yang tertera pada BMS 1992 bagian 7.8 57 259.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->