P. 1
MAKALAH OMPK - PWS

MAKALAH OMPK - PWS

|Views: 1,518|Likes:
Published by D'zu Keiri

More info:

Published by: D'zu Keiri on Jan 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/08/2013

pdf

text

original

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) telah dilaksanakan di Indonesia
sejak tahun 1985. Pada saat itu pimpinan puskesmas maupun pemegang program
di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota belum mempunyai alat pantau yang dapat
memberikan data yang cepat sehingga pimpinan dapat memberikan respon atau
tindakan yang cepat dalam wilayah kerjanya. PWS dimulai dengan program
Imunisasi yang dalam perjalanannya, berkembang menjadi PWS-PWS lain seperti
PWS-Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA) dan PWS Gizi.
Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Neonatus (AKN), Angka
Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan
beberapa indikator status kesehatan masyarakat. Dewasa ini AKI dan AKB di
Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Menurut
data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, AKI 228 per 100.000
kelahiran hidup, AKB 34 per 1.000 kelahiran hidup, AKN 19 per 1.000 kelahiran
hidup, AKABA 44 per 1.000 kelahiran hidup.
Penyebab langsung kematian Ibu sebesar 90% terjadi pada saat persalinan
dan segera setelah persalinan (SKRT 2001). Penyebab langsung kematian Ibu
adalah perdarahan (28%), eklampsia (24%) dan infeksi (11%). Penyebab tidak
langsung kematian Ibu antara lain Kurang Energi Kronis/KEK pada kehamilan
(37%) dan anemia pada kehamilan (40%). Kejadian anemia pada ibu hamil ini
akan meningkatkan risiko terjadinya kematian ibu dibandingkan dengan ibu yang
tidak anemia. Sedangkan berdasarkan laporan rutin PWS tahun 2007, penyebab
langsung kematian ibu adalah perdarahan (39%), eklampsia (20%), infeksi (7%)
dan lain-lain (33%).

2

B. TUJUAN PENULISAN
Mahasiswa dapat mengerti dan memahami mengenai penegertian, tuuan,
prinsip program, identifikasi pemantauan, identiikasi indicator pemantauan, cara
membuat grafik serta pelembagaan Pemantauan Wilayah Sekitar ± KIA

C. MANFAAT
1. Bagi Penulis
Dapat menjadi bahan rujukan bagi pengembangan selanjutnya, serta
menambah pengetahua.
2. Bagi Institusi pendidikan
Diharapkan dapat memberi manfaat bagi lembaga pendidikan untuk dapat
digunakan sebagai sumber kepustakaan bagi mahasiswa yang akan datang
sehingga dapat menjadi bahan perbandingan.

D. SISTEMATIKA PENULISAN
Untuk mempermudah dalam memahami makalah ini, maka penulis membagi
makalah ini menjadi 3 BAB, sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini terdiri dari : latar belakang, tujuan, penulisan, manfaat penulisan dan
sistematika penulisan.
BAB II : PEMBAHASAN
Bab ini terdiri dari : Pengertian, tujuan, prinsip pengelolaan program KIA,
pelayanan antenatal, pertolongan persalinan, deteksi dini ibu hamil risiko tinggi,
pelayanan kesehatan neonatal, batasan PWS, indikator PWS, cara membuat grfik,
langkah pokok pembuatan grafik, pelembagaan PWS, sistem pencatata dan
pelaporan serta proses penerapan PWS.
BAB V : PENUTUP
Bab ini terdiri dari kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA
3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pemantauan Wilayah Setempat (PWS)
Pemantauan wilayah setempat-KIA adalah suatu alat manajemen program
KIA untuk memantau cakupan pelayanan KIA di suatu wilayah
(puskesmas/kecamatan) secara terus-menerus, sehingga dapat dilakukan tindak
lanjut yang cepat dan tepat terhadap desa dengan cakupan pelayanan KIA yang
masih rendah.

B. Tujuan PWS-KIA
1. Tujuan umum
a. Meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan KIA di wilayah kerja
puskesmas, melalui pemantauan cakupan pelayanan KIA di setiap desa
secara terus menerus.
b. Meningkatkan pemantauan cakupan dan pelayanan untuk setiap wilayah
kerja secara terus-menerus dalam rangka meningkatkan jangkauan dan
mutu pelayanan.
2. Tujuan khusus
Memantau cakupan pelayanan KIA yang dipilih sebagai indikator, secara
teratur (bulanan) dan terus-menerus untuk setiap desa.
a. Menilai kesenjangan antara target yang ditetapkan dan pencapaian untuk
setiap desa.
b. Menentukan urutan desa/wilayah prioritas yang akan ditangani secara
intensif berdasarkan besarnya kesenjangan antara target dan
pencapaiannya.
c. Merencanakan tindak lanjut dengan menggunakan sumber yang tersedia
dan yang dapat digali.
4

d. Membangkitkan peran penolong setempat dalam menggerakkan sasaran
dan mobilisasi sumber daya.
e. Memperoleh gambaran tentang masalah-masalah yang menghambat
pelaporan data dari kabupaten/kota.
f. Memantau cakupan KIA yang dipilih sebagai indikator, secara terus-
menerus (bulanan) untuk setiap wilayah.
g. Menilai kesenjangan antara target yang ditetapkan dan pencapaian
sebenarnya untuk setiap kabupaten/kota.

C. Prinsip Pengelolaan Program KIA
Pengelolaan program KIA pada prinsipnya bertujuan memantapkan dan
meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan KIA secara elektif dan efisien,
pemantapan pelayanan KIA diutamakan pada kegiatan pokok sebagai berikut.
1. Peningkatan pelayanan antenatal di semua fasilitas pelyanan dengan mutu
yang baik serta jangkauan setinggi-tingginya.
2. Peningkatan pertolongan persalinan yang lebih ditujukan kepada
peningktakan pertolongan oleh petugas profesional secara bertahap.
3. Peningkatan deteksi dini risiko tinggi ibu hamil, oleh tenaga kesehatan
maupun masyarakat oleh kader dan dukun bayi, serta penanganan dan
pengamatan secara terus-menerus.
4. Peningkatan pelayanan neonatal (bayi kurang 1 bulan) dengan mutu yang baik
dan jangkauan setinggi-tingginya.

D. Pelayanan Antenatal
Pelayanan antenatal adalah pelayanan yang diberikan kepada ibu semasa
kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan antenatal seperti yang ditetapkan
dalam buku Pedoman Pelayanan Antenatal bagi Petugas Puskesmas. Dalam
penerapan secra operasional dikenal dengan standar 7T.

5

Frekuensi pelayanan antenatal selama kehamilan minimal empat kali, dengan
ketentuan sebagai berikut.
1. Minimal 1 kali pada trimester pertama.
2. Minimal 1 kali pada trimester kedua.
3. Minimal 2 kali pada trimester ketiga.
Standar frekuensi pelayanan antenatal ditentukan untuk menjamin mutu
pelayanan, khususnya dalam memberi kesempatan yang cukup dalam menangani
kasus risiko tinggi yang ditemukan pada kasus ibu hamil.

E. Pertolongan Persalinan
Dalam KIA tenaga yang memberikan pertolongan persalinan kepada masyarakat
digolongkan menjadi :
1. Tenaga profesional, meliputi dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan,
pembantu bidan, dan perawat;
2. Dukun bayi terlatih, meliputi dukun bayi yang telah mendapatkan pelatihan
dari tenaga kesehatan yang dinyatakan lulus;
3. Dukun bayi tidak terlatih, meliputi dukun bayi yang tidak pernah dilatih oleh
tenaga kesehatan atau dukun bayi yang dilatih dan belum dinyatakan lulus.
Prinsip dalam pertolongan persalinan, penolong harus memperhatikan
sterilitas, metode pertolongan persalinan yang memenuhi persyaratan teknik
medis, serta merujuk kasus yang memerlukan tingkat pelayanan yang lebih tinggi.
Dengan penempatan bidan di desa, diharapkan secara bertahap jangkauan
persalinan oleh tenaga profesional terus-menerus dapat meningkat dan
masyarakat akan semakin menyadari pentingnya persalinan yang bersih dan
aman.




6

F. Deteksi Dini Ibu Hamil Risilo Tinggi
Untuk menurunkan angka kematian ibu secara bermakna, kegiatan deteksi
dini ibu hamil berisiko perlu digalakkan kembali baik di fasilitas pelayanan KIA
maupun di masyarakat. Deteksi dini ibu hamil berisiko tinggi perlu di fokuskan
pada keadaan yang menyababkan ibu berslain di rumah dengan yang ditolong
oleh dukun bayi terutama dukun bayi yang tidak terlatih.
Tingginya angka kematian ibu di Indonesia masih disebabkan oleh
timbulnya penyulit persalinan. Masyarakat Indinesia sebagian besar adalah
keluarga (extended family), pengambilan keputusan tidak tidak dapat dilakukan
dengan segera, sehingga jika terjadi penyulit persalinan penolong tidak dapat
segera merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih memadai.
Selain faktor di atas, waktu dan transportasi merupakan faktor yang
sangat menentukan dalam merujuk kasus risiko tinggi. Penempatan bidan di desa
memungkinkan penanganan dan rujukan ibu hamil berisiko sejak dini, serta
identifikasi tempat persalinan yang tepat bagi ibu hamil sesuai dengan risiko
kehamilan.
Faktor risiko yang sering di jumpai pada ibu hamil di antaranya adalah
primigravida kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, jumlah anak lebih dari
4 orang, jarak anak terakhir dengan kehamilan kurang dari 2 tahun, tinggi badan
kurang dari 145 cm, berat badan kurang dari 38 kg atau lingkar lengan atas (LLA)
kurang dari 23,5 cm, riwayat keluarga dengan kencing manis (DM), hipertensi,
riwayat cacat kongenital, dan kelainan bentuk tubuh.

G. Pelayanan Kesehatan Neonatal
Mengingat angka kematian bayi terjadi pada masa neonatus, upaya yang
dilakukan untuk mencegah kematian neonatal diutamakan pada pemeliharaan
kehamilan sebaik mungkin, pertolongan persalinan 3 bersih (bersih tangan
penolong, bersih alat pemotong tali pusat, dan bersih alas tempat tidur ibu) dan
7

perawatan tali pusat yang memperhatikan prinsip sterilitas. Upaya lain yang
dilakukan adalah deteksi dini neonatal risiko tinggi, sehingga dapat diberikan
pelayanan sedini mungkin.
Risiko tinggi nenatal, di antaranya adalah BBLR, bayi dengan tetanus
neonatorum, asfiksia, ikterus neoatorum, sepsis, bayi lahir dengan berat kurang
dari 400gram, bayi preterm, bayi lahir dengan cacat bawaan sedang, dan bayi
lahir dengan persalinan tindakan (seperti forceps, vakum, dan SC).

H. Batasan PWS-KIA
Penjaringan deteksi dini kehamilan risiko tinggi bertujuan untuk menemukan ibu
hamil beresiko. Penjaringan ini dapat dilakukan oleh kader, dukun bayi, dan
tenaga kesehatan.
a. Kunjungan ibu hamil, yaitu kontak ibu hamil dengan tenaga profesional untuk
mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan standar yang ditetapkan.
1) Kunjungan baru ibu hamil (KI)
Kunjungan ibu hamil dengan tenaga kesehatan sejak pertama kali dan
seterusnya, untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar selama 1
periode kehamilan berlangsung.
2) Kunjungan ke-4 (K4)
Adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang ke-4 atau lebih
untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang ditetapkan,
dengan syarat minimal 1 kali untuk trimester I dan II, serta minimal 2 kali
untuk trimester III.
b. Kunjungan Neonatal (KN), yaitu kontak neonatal dengan tenaga kesehatan
minimal dua kali untuk mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan
neonatal baik di dalam maupun di luar gedung puskesmas.

Cakupan akses adalah persentase ibu hamil di suatu wilayah, dalam kurun
waktu tertentu yang pernah mendapatkan antenatal sesuai standar paling sedikit 1
8

kali selama kehamilan. Cara menghitugnya adalah jumlah kunjungan baru ibu
hamil dibagi dengan jumlah sasaran ibu hamil yang ada disuatu wilayah kerja
dalam kurun waktu 1 tahun dikalikan 100%.

cakupan akses ൌ
ܬݑ݈݄݉ܽ ݇ݑ݆݊ݑ݊݃ܽ݊ ܾ݅ݑ ݄݈ܽ݉݅
݆ݑ݈݄݉ܽ ܾ݅ݑ ݄݈ܽ݉݅ ݈݀ܽܽ݉ ͳ ݐ݄ܽݑ݊
ܺͳͲͲΨ

Cakupan ibu hamil (K4) adalah persentase ibu hamil di suatu wilayah
dalam kurun waktu tertentu, yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar
paling sedikit 4 kali. Cara menghitung adalah jumlah ibu hamil yang telah
menerima K4 dibagi jumlah sasaran ibu hamil dalam kurun waktu 1 tahun
dikalikan 100%.
cakupan KͶ ൌ
ܬݑ݈݄݉ܽ ܾ݅ݑ ݄݈ܽ݉݅ ݕܽ݊݃ ݉݁݊݁ݎ݅݉ܽ ܭͶ
݆ݑ݈݄݉ܽ ܾ݅ݑ ݄݈ܽ݉݅ ݈݀ܽܽ݉ ͳ ݐ݄ܽݑ݊
ܺͳͲͲΨ

Sasaran ibu hamil adalah jumlah semua ibu hamil di suatu wilayah dalam
kurun waktu 1 tahun. Angka ini diperoleh dengan cara sebagai berikut.
3) Angka sebenarnya, diperoleh berdasarkan cacat jiwa.
4) Angka perkiraan, yaitu memakai rumus angka kelahiran kasar (CBR)
dikalikan 1,1 lalu dikalikan jumlah penduduk setempat. Jika pengambilan
angka CBR dari provinsi, atau dari kabupaten setempat bis menggunakan
rumus : 3% x jumlah penduduk setempat.

Sasaran ibu hamil = CBR x 1,1 x jumlah penduduk setempat
Atau
Sasaran ibu hamil = 3%CBR x 1,1 x jumlah penduduk setempat

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, adalah persentase
ibu bersalin di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu yang ditolong
9

persalinannya oleh tenaga kesehatan. Jumlah seluruh persalinan di suatu wilayah
dalam kurun waktu 1 tahun dapat dihitung dengan rumus = 2,8% x jumlah
penduduk setempat.

Cakupan pertolongan persalinan = 2,8% x jumlah penduduk setempat.

Cakupan penjaringan ibu hamil berisiko di masyarakat adalah presentase
ibu hamil berisiko yang ditemukan kader dan dukun bayi, yang dirujuk
kepuskesmas/tenaga kesehatan dalam kurun waktu tertentu. Cara mengetahuinya
adalah jumlah ibu hamil berisiko yang dirujuk oleh dukun bayi dan kader dibagi
dengan jumlah sasaran ibu hamil yang ada di suatu wilayah dalam kurun waktu 1
tahun dikalikan 100%. Diperkirakan presentase ibu hamil berisiko mencapai 15-
20% dari seluruh ibu hamil.

cakupan penjaiingan
ibu hamil beiisiko

ܬݑ݈݄݉ܽ ܾ݅ݑ ݄݈ܽ݉݅ ܾ݁ݎ݅ݏ݅݇݋
݆ݑ݈݄݉ܽ ܾ݅ݑ ݄݈ܽ݉݅ ݈݀ܽܽ݉ ͳ ݐ݄ܽݑ݊
ܺͳͲͲΨ

Cakupan penjaringan ibu hamil berisiko yang ditemukan oleh tenaga
kesehatan merupakan presentasi ibu hamil berisiko yang ditemukan baik oleh
tenaga kesehatan maupun kader/dukun bayi yang telah dipastikan oleh tenaga
kesehatan, yang kemudian ditindaklanjuti (dipantau secara intensif dan ditangani
sesuai kewenangan, dan atau dirujuk ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi),
dalam kurun waktu tertentu. Cara menghitungnya adalah jumlah ibu hami berisiko
yang ditemukan oleh tenaga kesehatan dan atau dirujuk oleh dukun bayi dan kader
dibagi dengan sasaran ibu hamil yang ada disuwatu wilayah dalam kurun waktu
satu tahun dikalikan 100%.

10

ca݇ݑ݌ܽ݊ ܾ݅ݑ ݄݈ܽ݉݅ ܾ݁ݎ݅ݏ݅݇݋ ݕܽ݊݃ ݀݅ݐ݁݉ݑ݇ܽ݊ ݋݈݄݁ ݐ݁݊ܽ݃ܽ ݇݁ݏ݄݁ܽݐܽ݊

ܬݑ݈݄݉ܽ ܾ݅ݑ ݄݈ܽ݉݅ ܾ݁ݎ݅ݏ݅݇݋ ݕܽ݊݃ ݀݅ݎݑ݆ݑ݇
݆ݑ݈݄݉ܽ ܾ݅ݑ ݄݈ܽ݉݅ ݈݀ܽܽ݉ ͳ ݐ݄ܽݑ݊
ܺͳͲͲΨ

Cakupan kunjungan neonatal (KN) adalah persentase neonatal (bayi usia
kurang dari satu bulan) yang memperoleh pelayanan kesehatan minimal 2 kali dari
tenaga kesehatan (1 kali pada hari ke-1sampai ke-7, dan 1 kali pada hari ke-8
sampai hari ke-28). Cara menghitungnya adalah jumlah kunjungan neonatal yang
mendapatkan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan minimal 2 kali dibagi
dengan jumlah seluruh sasaran bayi yang ada di suatu wilayah dalam kurun waktu
satu tahun.

cakupan kunjungan neonatal

ܬݑ݉ ݈݄ܽ ݊݁݋݊ܽݐݑݏ ݕܽ݊݃ ݉݁݊݀ܽ݌ܽݐ ܭܰͳ ൅ܭܰʹ
݆ݑ݈݄݉ܽ ݊݁݋݊ܽݐݑݏ ݈݀ܽܽ݉ ͳ ݐ݄ܽݑ݊
ܺͳͲͲΨ

I. Indikator PWS ± KIA
Indicator PWS ± KIA merupakan gambaran keadaan pokok dalam program KIA,
yang ditetapkan menjadi enam indicator.
1) Akses pelayanan antenatal ( indicator cakupan K1 )
Cakupan kunjungan pertama ( K1 ) digunakan untuk mengetahui
jangkauan pelayanan antenatal serta kemampuan program dalam
menggerakan masyarakat. Cara menghitung cakupan K1 adalah jumlah
kunjungan ( K1 ) dibagi dengan jumlah sasaran ibu hamil dalam satu
tahun dikalikan 100%.
Jumlah sasaran ibu hamil didapat dari angka kelahiran kasar ( Crude
Birth Rate ± CBR ) provinsi x 1,1 x jumlah penduduk angka nasional,
dengan perhitungan 3% x jumlah penduduk setempat.

11

2) Indicator cakupan ( coverage ) ibu hamil ( K4 )
Cakupan K4 bertujuan untuk mengetahui cakupan pelayanan antenatal
secara lengkap yang mmenggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil di
suatu wilayah cakupan K4 adalah jumlah kunjungan ibu hamil K4 dibagi
jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun dikalikan 100%
3) Masalah ( manajemen program )
Drop Out ( DO ) adalah presentasi dari K1 dikurangi K4 dibagi dengan
jumlah K1
DO = ( K1 ± K4 ) X 100%
4) Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan
Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan menggambarkan kemampuan
program KIA dalam pertolongan persalinan secara professional. Cakupan
dihitung dengan cara jumlah persalinan oleh tenaga kesehatan dibagi
dengan jumlah seluruh sasaran persalinan dalam 1 tahun dikalikan 100%,
seperti yang telah dijelasksan sebelumnya.
Jumlah seluruh sassaran dalam satu tahun diperkirakan melalui
perhitungan CBR provinsi x 1,1 x jumlah penduduk setempat. Apabila
provinsi tidak mempunyai data CBR dapat menggunakan angka nasional (
2,8% ) dikalikan jumlah penduduk setempat.
5) Penjaringan ( deteksi ) ibu hamil beresiko oleh masyarakat
Deteksi dini ibu hamil beresiko dapat menggambarkan tingkat
kemampuan dan peran serta masyarakat dalam melakukan deteksi ibu
hamil beresiko dihitung berdasarkan jumlah ibu hamil beresiko yang
dirujuk oleh dukun bayi atau kader ke tenaga kesehatan, dibagi dengan
jumlah seluruh sasaran persalinan dalam satu tahun dikalikan 100%
6) Cakupan pelayanan neonatal ( KN ) oleh tenaga kesehatan
Cakupan pelayanan neonatal bertujuan untuk mengetahui jangkauan dan
kualitas pelayanan kesehatan neonatal. Cakupan neonatal dihitung
berdasarkan jumlah kunjungan neonatal yang mendapatkan pelayanan
12

kesehatan minimal dua kali oleh tenaga kesehatan ( tidak termsauk
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan ) dibagi dengan jumlah
seluruh sasaran bayi dalam stu tahun dikalikan 100%
7) Indicator Keluarga Berencana
Cakupan pelayanan keluarga berencana bertujuan untuk mengetahui
jangkauan dan kualitas pelayanan KB. Cara menghitungnya didasarkan
pada penggerakan masyarakat, keberlangsungan program, dan manajemen
program.
y Penggerakan masyarakat
Akseptor baru metode kontrasepsi efektif terpilih dihitung
berdasarkan jumlah akseptor baru untuk kontrasepsi efektif terpilih
dibagi dengan jumlah seluruh pasangan usia subur (PUS) dikalikan
100%.
Jumlah akseptor baru x 100%
Akseptor baru metode =
kontrasepsi efektif Jumlah seluruh PUS

y Keberlangsungan program
Akseptor aktif metode kontrasepsi efektif terpilih dihitung
berdasarkan jumlah akseptor aktif untuk metode kontrasepsi
efektif terpilih dibagi dengan jumlah sasaran PUS dikalikan 100%.
Jumlah akseptor aktif
Akseptor aktif metode = x 100%
kontrasepsi efektif Jumlah seluruh PUS

y Masalah ( manajemen program )
Drop out ( DO ) dihitung dari pemakai kontrasepsi awal tahun
ditambah akseptor baru sampai bulan ini, dikurangi pemakai
kontrasepsi pertama smapai bulan ini dibagi dengan pemakai
13

kontrasepsi awal tahun ditambah akseptor baru sampai bulan ini
dikalikan 100%

DO = (Pemakai kontrasepsi awal tahun + akseptor baru sampai
dengan bulan ini) ± Pemakai kontrasepsi sampai dengan bulan ini.

8) Indicator program gizi
Indikator program gizi adalah keberhasilan program gizi pada balita yang
dihitung berdasarkan jangkauan program, keberlangsungan program dan
manajamen program.
y Jangkauan program ( penggerakan masyarakat )

K/S = Jumlah balita terdaftar dan mempunyai KMS dibagi jumlah
balita di wilayah kerja dikalikan 100%

y Keberlangsungan program
D/K = D/S x 100%
K/S

y Manajemen program
Drop out adalah jumlah balita terdaftar dan memiliki KMS
dikurangi jumlah balita datang yang ditimbang jumlah balita
terdaftar yang memiliki KMS dikalikan 100%

DO = K ± D x 100%
K


14

J. Cara Membuat Grafik PWS ± KIA
Laporan PWS ± KIA dibuat setiap bulan. Cara penyajian laporan salah satunya
dengan menggunakan grafik yang dibuat setiap bulan. Garfik tersebut dibuat
berdasarkan indicator yang harus dicapai dalam PWS ± KIA yaitu sebagai
berikut.
a. Grafik cakupan K1
b. Grafik cakupan K4
c. Grafik cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan
d. Grafik penjaringan ibu hamil beresiko oleh masyarakat
e. Grafik penjaringan ibu hamil beresiko oleh tenaga masyarakat
f. Grafik cakupan neonatal oleh tenaga kesehatan

K. Langkah Pokok Pembuatan Geafik PWS-KIA
a. Pengumpulan data
Data diperoleh dari catatan ibu hamil per desa, register kegiatan harian,
register kohort ibu dan bayi, register pemantauan ibu hamil per desa, catatan
posyandu, laporan dari bidan atau dokter praktek swasta, rumah bersalin, dan
sebagainya.
b. Pengolahnan data
Setelah data dikumpulkan dan diteliti kelengkapanny, lakukan pengolahan
data. Untuk mengolah data diperlukan data cakupan kumulatifbper desa,
cakupan bidan yang akan diolah, dan cakupan bulan sebelumnya.
Perhitungan untuk cakupan k1 adalah sebagai berikut.
1) Pencapaian kumulatif per desa adalah pencapaian cakupan kumulatif
ibu hamil baru per desa (Januari-Juni 2008) dibagi sasaran ibu hamil
per desa selama satu tahun dikalikan 100 %.
15

2) Cakupan bulan yang akan diolah per desa adalah pencapaian sasaran
ibu hamil per desa (Juni 2008) dibagi sasaran ibu hamil per desa
selama satu tahun dikalikan 100 %.
3) Pencapaian bulan lalu per desa adalah pencapaian cakupan ibu hamil
baru per desa selama bulan lalu (Mei 2008)dibagi sasaran ibu hamil
per desa selama satu tahun dikalikan 100 %.

Perhitungan untuk cakupan K4 adalah sebagai berikut.
1) Pencapaian kumulatif per desa adalah pencapain kumulatif K4 per
desa (Januari-Juni 2008) dibagi sasaran ibu hamil per desa selama satu
tahun dikalikan 100 %.
2) Pencapaian bulan yang akan dihitung adalah pencapaian cakupan K4
per desa selama bulan (Juni 2008) dibagi sasaran ibu hamil per desa
selama satu tahun dikalikan 100 %.
3) Pencapaian bulan lalu adalah pencapaian cakupan K4 per desa bulan
lalu (MEI 2008) dibag dengan sasaran ibu hamil per desa selama satu
tahun dikalikan 100 %.

c. Penggambaran fisik
Setelah data diolah, berikutnya adalah menggambarkan grafk dengan langkah-
langkah sebagai beerikut.
a) Tentukan target rata-rata perbulan untuk menggambarkan skala pada garis
vertical (sumbu Y)
b) Masukan hasil perhitungan pencapaian kumulatif cakupan K1 sampai
dengan bulan ini (Juni 2008) kedalam jalr presentasi kumulatif secara
berurutan sesuai dengan paringkat. Untuk pencapaian tertinggi, letakan
16

disebelah kiri dan terendah disebelah kanan. Pencapaian puskesmas
dimasukan dalam kolom terakhir.
c) Tuliskan nama desa pada lajur desa sesuai dengan cakupan kumulatif
masing-masing desa.
d) Masukan hasil perhitungan pencpaian bulan ini (Juni 2008) dan bulan lalu
(Mei 2008) kedalam lajur masing-masing desa.
e) Gambar anak panah dipergunakan untuk mengisi lajur tren. Apabila
pencapaian cakupan bulan ini lebih besar dari pencapaian bulan lalu, maka
digambar anak panah yang menun juk keatas. Sebaliknya apabila cakupan
bulan ini lebih rendah dari cakupan bulan lalu maka digambarkan anak
panah yang menunjuk kebawah. Sedangkan untuk cakupan yang tetap
atau sama gambarkan dengan tanda mi nus (-).

d. Analisis grafik dan tindak lanjut PWS ± KIA
Langkah berikutnya setelah menggambar grafik adalah melakukan analisis
grafik merupakan langkah penting untuk melihat status desa dan menentukan
rencana tindak lanjut baik tekns maupun nonteknis bagi puskesmas.
Pencapaian target atau cakupan dikategorikan dalam empat status yaitu
sebagai berikut.
a) Status baik : apabila desa dengan cakupan diatas yang ditetapkan dengan
mempunyai kecendrungan cakupan bulanan yang meningkat atau tetap
apabila dibandingkan dengan cakupan bulan lalu. Dsa demikian
dikategorikan e desa A dan B. apabila keadaan tersebut berlanjut, maka
desa akan mencapai atau melebihi target tahunan yang ditentukan.
b) Status kurang : apabila desa dengan cakupan diatas, namun mempunyai
kecendrungan menurun pada cakupan bulanan dibandingkan dengan
cakupan bulan lalu. Desa daam kaagori ini adalah desa C, yang perlu
mendapatkan pehatian. Apabila akupan desa C terus menurun, maa esa
tersebut tidak akan mencapai target yang ditentukan.
17

c) Status cukup : apabila desa denga cakupan dibawah target dan mempunyai
kecendrungan cakupan bulanan yang meningkat jika dibandingkan engan
cakupan bulan lalu.desa demikian dikategorikan kedalam desa D, yang
perlu didorong agar cakupan bulan selanjutnya tidak boleh kecil dari pada
akupan bulanan minimal. Apabla eadaan tersebut dapat terlaksana maka
desa terseut dapat mencapai target tahunan yang ditentukan.
d) Status buruk : apabila desa dengan cakupan dibawah target bulan dan
mempunyai kecenderungan cakupan bulanan menurun dibandingkan
dengan cakupan bulan yang lalu. Desa ini di ketegorikan dalam Desa E,
yang perlu mendapatkan prioritas untuk pembinaan agar cakupan bulanan
selanjutnya dapat ditingkatkan diatas cakupan bulanan minimal dan dapat
mengejar target pencapaian target tahunan.

e. Rencana tindak lanjut
Setelah melakukan analisis data, untuk menghasilkan suatu keputusan tindak
lanjut dijabarkan dalam bentuk operasional jangka pendek, sehingga masalah
yang dihadapi dapat diselesaikan sesuai dengan spesifikasi daerah. Rencana
operasional yang harus ditindaklanjuti adalah sebagai berikut.
a) Desa yang berstatus baik atau cukup, pola penyelengagaraan KIA perlu
dilanjutkan, dengan beberapa penyesuaian tertentu sesuai kebutuhan.
b) Desa berstatus kurang atau buruk perlu dilakukan analisis lebih mendalam
serta dicari penyebab rendahnya atau menurunnya cakupan bulanan,
sehingga dapat diupayakan cara penanganan masalah secara lebh spesifik.
Intervensi dan kegiatan yang bersifat teknis harus dibicarakan dalam
lokakarya mini puskesma dan rapat Dinas Kesehatan Dati II. In tervensi dan
kegiatan yang bersifat non teknis, misalnya untuk menggerakan sasaran,
motivasi, dan memobilisasi sumber daya yang ada di masyarakat harus
dibicarakan pada rapat koordinasi kecamatan.

18

L. Pelembagaan PWS KIA
Pelembagaan PWS-KIA adalah pemanfaatan PWS-KIA secara teratur dan terus
menerus pada semua siklus pengambilan keputusan untuk memantau
penyelenggaraan program KIA, di semua tingkatan administrasi pemerintah, baik
yang bersifat teknis sektoral maupun yang bersifat koordinasi non teknis dan
lintas sektoral.
Langkah-langkah pelembagaan PWS-KIA adalah sebagai berikut:
a. Penunjukan petugas pengelolaan data disetiap tingkatan, untuk menjaga
kelancaran pengumpulan data, yaitu data dari puskesmas dikirim ke Dinas
Kesehatan Dati II. Data yang ada di puskesmas disusun PWS-KWS per desa,
sedangkan data yang ada di Dati II disusun PWS-KIA per puskesmas.
b. Pemanfaatan pemantauan lintas program.
c. Penyajian PWS-KIA pada pertemuan teknis bulanan ditingkat puskesmas dan
Dati II, untuk menginformasikan hasil yang telah dicapai, identifikasi
masalah, merencanakan perbaikan serta menyusun rencana operasional
berikutnya. Pada pertemuan tersebut wilayah yang berhasil diminta untuk
mempersentasikan upaya yang telah dilakukan.
d. Pemantauan PWS-KIA untuk meyakinkan lintas sektoral.
e. Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) disajikan serta didiskusikan pada
pertemuan lintas sektoral di tingkat kecamatan dan Dati II, untuk mendapat
dukungan dalam pemecahan masalah dan agar masalah operasional yang
didapati dapat dipahami bersama, terutama yang berkaitan dengan motivasi
dan pergerakan penduduk sasaran.
f. Pembinaan melalui supervise yang terarah dan berkelanjutan merupakan
system pembinaan yang efektif bagi pelembagaan PWS. Pelaksanaan
supervisi dilaksanakan dengan mengisi forum check list yang akan digunakan
dalam supervise ditingkat puskesmasdan kabupaten untuk dianalisis dan
ditindaklanjuti.

19

M. Sistem Pencatatan Dan Pelaporan
Dalam melakukan pencatatan dan pelaporan, PWS-KIA memerlukan data
sasaran, data pelayanan, dan sumbar data.
Data sasaran yang meliputi jumlah seluruh ibu hamil, ibu bersalin, bayi
kurang dari 1 bulan (neonates), dan jumlah seluruh bayi.
Data pelayanan meliputi jumlah K1, K4, ibu hamil beresiko yang dirujuk
masyarakat, ibu hamil yang beresiko yang dilayani oleh tenga kesehatan,
persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan, dan jumlah bayi yang berusia
kurang dari 1 bulan yang dilayani oleh tenaga kesehatan minimal 2 kali.
Sumber data, sebaiknya data berasal dari hasil pencacahan jiwa setempat.
Sumber data dapat diambil dari register kohert ibu dan bayi, laporan persalinan
yang ditolong oleh tenaga kesehatan dan dukun bayi, laporan dari dokter atau
bidan peraktik swasta, dan laporan dari fasilitas pelayanan kesehatan selain
puskesmas yang berada di wilayah puskesmas.

N. Propses Penerapan PWS-KIA
Proses penerapan PWS-KIA merupakan langkah sistematis dan berurutan.
Adapun langkah-langkah tersebut meliputi:
1) Persiapan
Persiapan dimulai dengan diadakan pertemuan ditingkat provinsi untuk
menyamakan persepsipelatihan pelatih, merencanakan pelatihan tingkat
kabupaten dan puskesmas, meenentukan siapa yang akan dilatih, menentukan
kebijaksanaan provinsi dalam pelaksanaan PWS-KIA dan menyusun
mekanisme pemantauan kegiatan. Pada langkah persiapan, harus melibatkan
pihak-pihak lain terutama dari kantor wilayah kesehatan dan dinas kesehatan
tingkat I. pihak dari kantor wilayah yang terlibat dalam persiapan adalah
kepala bidang PKPP, kepala bidang pelayanan dan kesehatan masyarakat,
kepala bidang PPTK, kepala bidang gizi/kesehatan keluarga, kepala seksi
puskesmas, kepala seksi rujukan dan kepala seksi epidemiologi. Sedangkan
20

pihak dari dinas kesehatan tingkat I adalah kepala subdinas KIA, kepala
subdinas pemulihan, kepala subdinas PKM, kepala seksi ibu dan anak, kepala
seksi puskesmas, kepala seksi rumah sakit, kepala seksi imunisasi, dan kepala
sebagian perencanaan.
Persiapan kedua adalah Pelatihan Petugas Dati II. Pelatihan bertujuan
untuk melatih petugas Dati II menjadi petugas puskesmas. Peserta terutama
diambil dari unsure-unsur KIA, pemberantasan penyakit menular (P2M), dan
pemulihan, baik dari dinas kesehatan maupun kantor departemen tingkat II.
Jumlah peserta yang disarankan untuk setiap kali pelatihan adalah tidak lebih
dari 30 orang (10-30) orang, dengan materi pelatihan meliputi: pedoman
PWS-KIA, pedoman pelayanan antenatal, kebijakan program KIA, serta
perencanaan pelaksanaan dan pemantauan kegiatan.
Persiapan ketiga adalah Pelatihan Petugas Puskesmas di Dati II.
Pelatihan ini diberikan kepada petugas di Dati I dan II yang sudah dilatih.
Pelatihan ini merupakan pelatihan khusus mengenai PWS-KIA, yang diikuti
oleh pimpinan puskesmas, koordinator unit KIA, Petugas Sistem Pencatatan
dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP).
Setelah pelatihan petugas puskesmas langkah selanjutnya dari
persiapan adalah pertemuan dengan unit kesehatan, baik dari swasta ataupun
rumah sakit umu, yang bertujuan untuk mengetahui cakupan pelayanan KIA
oleh tenaga kesehatan.
2) Pelaksanaan
Pelaksanaan dilakukan dengan mengadakan pertemuan-pertemuan ditingkat
Dati II, puskesmas, dan tingkat kecamatan.
Pertemuan di Dati II, merupakan pertemuan yang bersifat internal
tenaga kesehatan, yang dihadiri oleh para kepala seksi terkait di lingkungan
dinas kesehatan dan kantor departemen, serta puskesmas. Pertemuan lintaas
sektoral dihadiri oleh sektor terkait ditingkat kabupaten dan kecamatan.
21

Pertemuan di puskesmas, adalah pertemuan dipuskesmas yang dapat
dilakukan bersamaan dengan mini lokakarya atau pertemuan rutin bulanan.
Pada pertemuan dipuskesmas semua staf yang terlibat dalam pelayanan KIA
dilatih tentang PWS-KIA, kemudian menyusun rencana tindak lanjut.
Pertemuan ditingkat kecamatan , merupakan pertemuan bulanan rapat
koordinasi untuk menyampaikan informasi mengenai PWS-KIA nonteknis.
Dalam pertemuan ini diharapkan kepada desa, tim penggerak PKK desa,
puskesmas dan tokoh lintas sektoral.


3) Pemantauan
PWS-KIA dapat dipantau baik ditingkat kabupaten maupun ditingkat
puskesmas. Pemantauan ditingkat kabupaten, merupakan pemantauan
puskesmas, laporan rumah sakit, laporn swasta, dan supervise from check list.
Sedangkan pemantauan ditingkat puskesmas meliputi sarana pencatatan (buku
register), laporan swasta, dan kunjungan desa rawan.
4) Pelaporan
5) Puskesmas mengumpulkan, mengolah dan mengirim data PWS-KIA ke dinas
kesehatan Dati II. Laporan dikirim setiap bulan, dengan ketentuan selambat-
lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya. Kemudian Dinas Kesehatan Dati II
membuat rekapitulasi laporan kabupaten untuk dikirimkan kepusat.
Proses penerapan PWS-KIA secara garis besar dapat dijabarkan kedalam bentuk
bagian alur data pelayanan KIA PWS-KIA baik ditingkat puskeamas maupun
ditingkat Dati II.




22










BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan dasar yang
berfungsi membina peran serta masyarakat sebagai pusat pembangunan kesehatan
masyarakat. Manajemen yang baik merupakan factor yang sangat menentkan
dalam mewujudkan fungsi puskesmas. Fungsi manajemen terse but, terutama
dalam hal monitoring (pemantauan) dan evaluasi (penilaian) eberhasilan program
puskesmas. Salah satu upaya monitoring dan evaluasi dengan menggunakan
Pemantauan Wilayah Setempat (PWS)

B. SARAN
1. Untuk Mahasiswa
Dengan diberikan tugas menyusun makalah seperti ini memacu kami untuk
lebih mandiri dalam mengerti dan memahami materi yang di berikan oleh
dosen.
23

2. Untuk Dosen
Pembelajaran seperti ini sebaiknya lebih di pertahankan dan ditingkatkan lagi
karena proses belajar mengajar yang lebih efektif, misalnya penyusunan
makalah ini dapat melatih mahasiswa untuk lebih mandiri dan meningkatkan
rasa ingin tahu mahasiswa.



B. TUJUAN PENULISAN Mahasiswa dapat mengerti dan memahami mengenai penegertian, tuuan, prinsip program, identifikasi pemantauan, identiikasi indicator pemantauan, cara membuat grafik serta pelembagaan Pemantauan Wilayah Sekitar ± KIA

C. MANFAAT 1. Bagi Penulis Dapat menjadi bahan rujukan bagi pengembangan selanjutnya, serta menambah pengetahua. 2. Bagi Institusi pendidikan Diharapkan dapat memberi manfaat bagi lembaga pendidikan untuk dapat digunakan sebagai sumber kepustakaan bagi mahasiswa yang akan datang sehingga dapat menjadi bahan perbandingan.

D. SISTEMATIKA PENULISAN Untuk mempermudah dalam memahami makalah ini, maka penulis membagi makalah ini menjadi 3 BAB, sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini terdiri dari : latar belakang, tujuan, penulisan, manfaat penulisan dan sistematika penulisan. BAB II : PEMBAHASAN

Bab ini terdiri dari : Pengertian, tujuan, prinsip pengelolaan program KIA, pelayanan antenatal, pertolongan persalinan, deteksi dini ibu hamil risiko tinggi, pelayanan kesehatan neonatal, batasan PWS, indikator PWS, cara membuat grfik, langkah pokok pembuatan grafik, pelembagaan PWS, sistem pencatata dan pelaporan serta proses penerapan PWS. BAB V : PENUTUP

Bab ini terdiri dari kesimpulan dan saran. DAFTAR PUSTAKA

2

3 . Pengertian Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) Pemantauan wilayah setempat-KIA adalah suatu alat manajemen program KIA untuk memantau cakupan pelayanan KIA di suatu wilayah (puskesmas/kecamatan) secara terus-menerus. c. secara teratur (bulanan) dan terus-menerus untuk setiap desa. 2. b. b. Meningkatkan pemantauan cakupan dan pelayanan untuk setiap wilayah kerja secara terus-menerus dalam rangka meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan. Merencanakan tindak lanjut dengan menggunakan sumber yang tersedia dan yang dapat digali. Tujuan PWS-KIA 1. Meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan KIA di wilayah kerja puskesmas. Tujuan umum a. sehingga dapat dilakukan tindak lanjut yang cepat dan tepat terhadap desa dengan cakupan pelayanan KIA yang masih rendah.BAB II PEMBAHASAN A. Tujuan khusus Memantau cakupan pelayanan KIA yang dipilih sebagai indikator. melalui pemantauan cakupan pelayanan KIA di setiap desa secara terus menerus. Menentukan urutan desa/wilayah prioritas yang akan ditangani secara intensif berdasarkan besarnya kesenjangan antara target dan pencapaiannya. Menilai kesenjangan antara target yang ditetapkan dan pencapaian untuk setiap desa. B. a.

Pelayanan Antenatal Pelayanan antenatal adalah pelayanan yang diberikan kepada ibu semasa kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan antenatal seperti yang ditetapkan dalam buku Pedoman Pelayanan Antenatal bagi Petugas Puskesmas. Prinsip Pengelolaan Program KIA Pengelolaan program KIA pada prinsipnya bertujuan memantapkan dan meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan KIA secara elektif dan efisien. Membangkitkan peran penolong setempat dalam menggerakkan sasaran dan mobilisasi sumber daya. 3. Memperoleh gambaran tentang masalah-masalah yang menghambat pelaporan data dari kabupaten/kota. Peningkatan pertolongan persalinan yang lebih ditujukan kepada peningktakan pertolongan oleh petugas profesional secara bertahap. e. 1. Menilai kesenjangan antara target yang ditetapkan dan pencapaian sebenarnya untuk setiap kabupaten/kota. oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat oleh kader dan dukun bayi. f. secara terusmenerus (bulanan) untuk setiap wilayah. pemantapan pelayanan KIA diutamakan pada kegiatan pokok sebagai berikut. Memantau cakupan KIA yang dipilih sebagai indikator. C. g. Peningkatan pelayanan neonatal (bayi kurang 1 bulan) dengan mutu yang baik dan jangkauan setinggi-tingginya. 4 . 2. Dalam penerapan secra operasional dikenal dengan standar 7T. serta penanganan dan pengamatan secara terus-menerus. 4. Peningkatan deteksi dini risiko tinggi ibu hamil. D.d. Peningkatan pelayanan antenatal di semua fasilitas pelyanan dengan mutu yang baik serta jangkauan setinggi-tingginya.

Standar frekuensi pelayanan antenatal ditentukan untuk menjamin mutu pelayanan. dokter umum. Minimal 1 kali pada trimester pertama. 1. 3. E. bidan. meliputi dokter spesialis kebidanan. 2.Frekuensi pelayanan antenatal selama kehamilan minimal empat kali. Prinsip dalam pertolongan persalinan. Dukun bayi terlatih. dengan ketentuan sebagai berikut. khususnya dalam memberi kesempatan yang cukup dalam menangani kasus risiko tinggi yang ditemukan pada kasus ibu hamil. meliputi dukun bayi yang telah mendapatkan pelatihan dari tenaga kesehatan yang dinyatakan lulus. 2. penolong harus memperhatikan sterilitas. Minimal 1 kali pada trimester kedua. dan perawat. Dukun bayi tidak terlatih. 3. Pertolongan Persalinan Dalam KIA tenaga yang memberikan pertolongan persalinan kepada masyarakat digolongkan menjadi : 1. metode pertolongan persalinan yang memenuhi persyaratan teknik medis. Dengan penempatan bidan di desa. 5 . Minimal 2 kali pada trimester ketiga. pembantu bidan. serta merujuk kasus yang memerlukan tingkat pelayanan yang lebih tinggi. diharapkan secara bertahap jangkauan persalinan oleh tenaga profesional terus-menerus dapat meningkat dan masyarakat akan semakin menyadari pentingnya persalinan yang bersih dan aman. Tenaga profesional. meliputi dukun bayi yang tidak pernah dilatih oleh tenaga kesehatan atau dukun bayi yang dilatih dan belum dinyatakan lulus.

sehingga jika terjadi penyulit persalinan penolong tidak dapat segera merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih memadai. Selain faktor di atas. Pelayanan Kesehatan Neonatal Mengingat angka kematian bayi terjadi pada masa neonatus. Deteksi dini ibu hamil berisiko tinggi perlu di fokuskan pada keadaan yang menyababkan ibu berslain di rumah dengan yang ditolong oleh dukun bayi terutama dukun bayi yang tidak terlatih. serta identifikasi tempat persalinan yang tepat bagi ibu hamil sesuai dengan risiko kehamilan.F. kegiatan deteksi dini ibu hamil berisiko perlu digalakkan kembali baik di fasilitas pelayanan KIA maupun di masyarakat. G. hipertensi. riwayat cacat kongenital. pengambilan keputusan tidak tidak dapat dilakukan dengan segera. dan bersih alas tempat tidur ibu) dan 6 . Penempatan bidan di desa memungkinkan penanganan dan rujukan ibu hamil berisiko sejak dini. bersih alat pemotong tali pusat. pertolongan persalinan 3 bersih (bersih tangan penolong. riwayat keluarga dengan kencing manis (DM). dan kelainan bentuk tubuh. upaya yang dilakukan untuk mencegah kematian neonatal diutamakan pada pemeliharaan kehamilan sebaik mungkin. Deteksi Dini Ibu Hamil Risilo Tinggi Untuk menurunkan angka kematian ibu secara bermakna. tinggi badan kurang dari 145 cm. berat badan kurang dari 38 kg atau lingkar lengan atas (LLA) kurang dari 23. waktu dan transportasi merupakan faktor yang sangat menentukan dalam merujuk kasus risiko tinggi. Faktor risiko yang sering di jumpai pada ibu hamil di antaranya adalah primigravida kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun. Masyarakat Indinesia sebagian besar adalah keluarga (extended family). jumlah anak lebih dari 4 orang. jarak anak terakhir dengan kehamilan kurang dari 2 tahun.5 cm. Tingginya angka kematian ibu di Indonesia masih disebabkan oleh timbulnya penyulit persalinan.

Penjaringan ini dapat dilakukan oleh kader. Risiko tinggi nenatal. di antaranya adalah BBLR. dan bayi lahir dengan persalinan tindakan (seperti forceps. 1) Kunjungan baru ibu hamil (KI) Kunjungan ibu hamil dengan tenaga kesehatan sejak pertama kali dan seterusnya. ikterus neoatorum. H. bayi lahir dengan cacat bawaan sedang. Kunjungan ibu hamil. dukun bayi. dan tenaga kesehatan. dan SC). dengan syarat minimal 1 kali untuk trimester I dan II. Cakupan akses adalah persentase ibu hamil di suatu wilayah.perawatan tali pusat yang memperhatikan prinsip sterilitas. bayi lahir dengan berat kurang dari 400gram. dalam kurun waktu tertentu yang pernah mendapatkan antenatal sesuai standar paling sedikit 1 7 . sepsis. a. asfiksia. yaitu kontak ibu hamil dengan tenaga profesional untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan standar yang ditetapkan. Batasan PWS-KIA Penjaringan deteksi dini kehamilan risiko tinggi bertujuan untuk menemukan ibu hamil beresiko. vakum. untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar selama 1 periode kehamilan berlangsung. 2) Kunjungan ke-4 (K4) Adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang ke-4 atau lebih untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang ditetapkan. yaitu kontak neonatal dengan tenaga kesehatan minimal dua kali untuk mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan neonatal baik di dalam maupun di luar gedung puskesmas. Kunjungan Neonatal (KN). serta minimal 2 kali untuk trimester III. sehingga dapat diberikan pelayanan sedini mungkin. bayi dengan tetanus neonatorum. bayi preterm. Upaya lain yang dilakukan adalah deteksi dini neonatal risiko tinggi. b.

Cara menghitung adalah jumlah ibu hamil yang telah menerima K4 dibagi jumlah sasaran ibu hamil dalam kurun waktu 1 tahun dikalikan 100%. Sasaran ibu hamil = CBR x 1.1 x jumlah penduduk setempat Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan.kali selama kehamilan. diperoleh berdasarkan cacat jiwa. yaitu memakai rumus angka kelahiran kasar (CBR) dikalikan 1.         …ƒ—’ƒƒ•‡• Cakupan ibu hamil (K4) adalah persentase ibu hamil di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu. adalah persentase ibu bersalin di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu yang ditolong 8 . atau dari kabupaten setempat bis menggunakan rumus : 3% x jumlah penduduk setempat. Angka ini diperoleh dengan cara sebagai berikut. Jika pengambilan angka CBR dari provinsi. …ƒ—’ƒ           Sasaran ibu hamil adalah jumlah semua ibu hamil di suatu wilayah dalam kurun waktu 1 tahun. Cara menghitugnya adalah jumlah kunjungan baru ibu hamil dibagi dengan jumlah sasaran ibu hamil yang ada disuatu wilayah kerja dalam kurun waktu 1 tahun dikalikan 100%. yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit 4 kali. 3) Angka sebenarnya.1 x jumlah penduduk setempat Atau Sasaran ibu hamil = 3%CBR x 1. 4) Angka perkiraan.1 lalu dikalikan jumlah penduduk setempat.

yang dirujuk kepuskesmas/tenaga kesehatan dalam kurun waktu tertentu. Diperkirakan presentase ibu hamil berisiko mencapai 1520% dari seluruh ibu hamil. 9 . yang kemudian ditindaklanjuti (dipantau secara intensif dan ditangani sesuai kewenangan.8% x jumlah penduduk setempat. Cara menghitungnya adalah jumlah ibu hami berisiko yang ditemukan oleh tenaga kesehatan dan atau dirujuk oleh dukun bayi dan kader dibagi dengan sasaran ibu hamil yang ada disuwatu wilayah dalam kurun waktu satu tahun dikalikan 100%. dalam kurun waktu tertentu. Cara mengetahuinya adalah jumlah ibu hamil berisiko yang dirujuk oleh dukun bayi dan kader dibagi dengan jumlah sasaran ibu hamil yang ada di suatu wilayah dalam kurun waktu 1 tahun dikalikan 100%. …ƒ—’ƒ’‡Œƒ”‹‰ƒ ‹„—Šƒ‹Ž„‡”‹•‹‘         Cakupan penjaringan ibu hamil berisiko yang ditemukan oleh tenaga kesehatan merupakan presentasi ibu hamil berisiko yang ditemukan baik oleh tenaga kesehatan maupun kader/dukun bayi yang telah dipastikan oleh tenaga kesehatan. dan atau dirujuk ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi). Jumlah seluruh persalinan di suatu wilayah dalam kurun waktu 1 tahun dapat dihitung dengan rumus = 2. Cakupan pertolongan persalinan = 2. Cakupan penjaringan ibu hamil berisiko di masyarakat adalah presentase ibu hamil berisiko yang ditemukan kader dan dukun bayi.persalinannya oleh tenaga kesehatan.8% x jumlah penduduk setempat.

…ƒ                   Cakupan kunjungan neonatal (KN) adalah persentase neonatal (bayi usia kurang dari satu bulan) yang memperoleh pelayanan kesehatan minimal 2 kali dari tenaga kesehatan (1 kali pada hari ke-1sampai ke-7. Cara menghitungnya adalah jumlah kunjungan neonatal yang mendapatkan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan minimal 2 kali dibagi dengan jumlah seluruh sasaran bayi yang ada di suatu wilayah dalam kurun waktu satu tahun. 1) Akses pelayanan antenatal ( indicator cakupan K1 ) Cakupan kunjungan pertama ( K1 ) digunakan untuk mengetahui jangkauan pelayanan antenatal serta kemampuan program dalam menggerakan masyarakat.1 x jumlah penduduk angka nasional. dengan perhitungan 3% x jumlah penduduk setempat. Indikator PWS ± KIA Indicator PWS ± KIA merupakan gambaran keadaan pokok dalam program KIA. dan 1 kali pada hari ke-8 sampai hari ke-28). yang ditetapkan menjadi enam indicator. Jumlah sasaran ibu hamil didapat dari angka kelahiran kasar ( Crude Birth Rate ± CBR ) provinsi x 1. Cara menghitung cakupan K1 adalah jumlah kunjungan ( K1 ) dibagi dengan jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun dikalikan 100%. 10 . …ƒ—’ƒ—Œ—‰ƒ‡‘ƒ–ƒŽ          I.

5) Penjaringan ( deteksi ) ibu hamil beresiko oleh masyarakat Deteksi dini ibu hamil beresiko dapat menggambarkan tingkat kemampuan dan peran serta masyarakat dalam melakukan deteksi ibu hamil beresiko dihitung berdasarkan jumlah ibu hamil beresiko yang dirujuk oleh dukun bayi atau kader ke tenaga kesehatan.1 x jumlah penduduk setempat. Jumlah seluruh sassaran dalam satu tahun diperkirakan melalui perhitungan CBR provinsi x 1. seperti yang telah dijelasksan sebelumnya. dibagi dengan jumlah seluruh sasaran persalinan dalam satu tahun dikalikan 100% 6) Cakupan pelayanan neonatal ( KN ) oleh tenaga kesehatan Cakupan pelayanan neonatal bertujuan untuk mengetahui jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan neonatal. Cakupan neonatal dihitung berdasarkan jumlah kunjungan neonatal yang mendapatkan pelayanan 11 .2) Indicator cakupan ( coverage ) ibu hamil ( K4 ) Cakupan K4 bertujuan untuk mengetahui cakupan pelayanan antenatal secara lengkap yang mmenggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil di suatu wilayah cakupan K4 adalah jumlah kunjungan ibu hamil K4 dibagi jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun dikalikan 100% 3) Masalah ( manajemen program ) Drop Out ( DO ) adalah presentasi dari K1 dikurangi K4 dibagi dengan jumlah K1 DO = ( K1 ± K4 ) X 100% 4) Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan menggambarkan kemampuan program KIA dalam pertolongan persalinan secara professional.8% ) dikalikan jumlah penduduk setempat. Apabila provinsi tidak mempunyai data CBR dapat menggunakan angka nasional ( 2. Cakupan dihitung dengan cara jumlah persalinan oleh tenaga kesehatan dibagi dengan jumlah seluruh sasaran persalinan dalam 1 tahun dikalikan 100%.

kesehatan minimal dua kali oleh tenaga kesehatan ( tidak termsauk pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan ) dibagi dengan jumlah seluruh sasaran bayi dalam stu tahun dikalikan 100% 7) Indicator Keluarga Berencana Cakupan pelayanan keluarga berencana bertujuan untuk mengetahui jangkauan dan kualitas pelayanan KB. Jumlah akseptor aktif Akseptor aktif metode kontrasepsi efektif = Jumlah seluruh PUS x 100% y Masalah ( manajemen program ) Drop out ( DO ) dihitung dari pemakai kontrasepsi awal tahun ditambah akseptor baru sampai bulan ini. Cara menghitungnya didasarkan pada penggerakan masyarakat. Jumlah akseptor baru x 100% Akseptor baru metode kontrasepsi efektif = Jumlah seluruh PUS y Keberlangsungan program Akseptor aktif metode kontrasepsi efektif terpilih dihitung berdasarkan jumlah akseptor aktif untuk metode kontrasepsi efektif terpilih dibagi dengan jumlah sasaran PUS dikalikan 100%. y Penggerakan masyarakat Akseptor baru metode kontrasepsi efektif terpilih dihitung berdasarkan jumlah akseptor baru untuk kontrasepsi efektif terpilih dibagi dengan jumlah seluruh pasangan usia subur (PUS) dikalikan 100%. dikurangi pemakai kontrasepsi pertama smapai bulan ini dibagi dengan pemakai 12 . keberlangsungan program. dan manajemen program.

kontrasepsi awal tahun ditambah akseptor baru sampai bulan ini dikalikan 100% DO = (Pemakai kontrasepsi awal tahun + akseptor baru sampai dengan bulan ini) ± Pemakai kontrasepsi sampai dengan bulan ini. y Jangkauan program ( penggerakan masyarakat ) K/S = Jumlah balita terdaftar dan mempunyai KMS dibagi jumlah balita di wilayah kerja dikalikan 100% y Keberlangsungan program D/K = D/S x 100% K/S y Manajemen program Drop out adalah jumlah balita terdaftar dan memiliki KMS dikurangi jumlah balita datang yang ditimbang jumlah balita terdaftar yang memiliki KMS dikalikan 100% DO = K ± D x 100% K 13 . keberlangsungan program dan manajamen program. 8) Indicator program gizi Indikator program gizi adalah keberhasilan program gizi pada balita yang dihitung berdasarkan jangkauan program.

register pemantauan ibu hamil per desa.J. Cara penyajian laporan salah satunya dengan menggunakan grafik yang dibuat setiap bulan. Untuk mengolah data diperlukan data cakupan kumulatifbper desa. Grafik cakupan K1 b. Grafik cakupan K4 c. catatan posyandu. register kegiatan harian. lakukan pengolahan data. b. cakupan bidan yang akan diolah. Grafik penjaringan ibu hamil beresiko oleh masyarakat e. Grafik penjaringan ibu hamil beresiko oleh tenaga masyarakat f. Langkah Pokok Pembuatan Geafik PWS-KIA a. register kohort ibu dan bayi. rumah bersalin. laporan dari bidan atau dokter praktek swasta. Grafik cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan d. 14 . 1) Pencapaian kumulatif per desa adalah pencapaian cakupan kumulatif ibu hamil baru per desa (Januari-Juni 2008) dibagi sasaran ibu hamil per desa selama satu tahun dikalikan 100 %. dan cakupan bulan sebelumnya. Pengumpulan data Data diperoleh dari catatan ibu hamil per desa. Cara Membuat Grafik PWS ± KIA Laporan PWS ± KIA dibuat setiap bulan. Garfik tersebut dibuat berdasarkan indicator yang harus dicapai dalam PWS ± KIA yaitu sebagai berikut. Grafik cakupan neonatal oleh tenaga kesehatan K. Perhitungan untuk cakupan k1 adalah sebagai berikut. a. dan sebagainya. Pengolahnan data Setelah data dikumpulkan dan diteliti kelengkapanny.

Perhitungan untuk cakupan K4 adalah sebagai berikut. a) Tentukan target rata-rata perbulan untuk menggambarkan skala pada garis vertical (sumbu Y) b) Masukan hasil perhitungan pencapaian kumulatif cakupan K1 sampai dengan bulan ini (Juni 2008) kedalam jalr presentasi kumulatif secara berurutan sesuai dengan paringkat. Penggambaran fisik Setelah data diolah. berikutnya adalah menggambarkan grafk dengan langkahlangkah sebagai beerikut. 3) Pencapaian bulan lalu per desa adalah pencapaian cakupan ibu hamil baru per desa selama bulan lalu (Mei 2008)dibagi sasaran ibu hamil per desa selama satu tahun dikalikan 100 %.2) Cakupan bulan yang akan diolah per desa adalah pencapaian sasaran ibu hamil per desa (Juni 2008) dibagi sasaran ibu hamil per desa selama satu tahun dikalikan 100 %. 3) Pencapaian bulan lalu adalah pencapaian cakupan K4 per desa bulan lalu (MEI 2008) dibag dengan sasaran ibu hamil per desa selama satu tahun dikalikan 100 %. 1) Pencapaian kumulatif per desa adalah pencapain kumulatif K4 per desa (Januari-Juni 2008) dibagi sasaran ibu hamil per desa selama satu tahun dikalikan 100 %. c. 2) Pencapaian bulan yang akan dihitung adalah pencapaian cakupan K4 per desa selama bulan (Juni 2008) dibagi sasaran ibu hamil per desa selama satu tahun dikalikan 100 %. letakan 15 . Untuk pencapaian tertinggi.

Pencapaian target atau cakupan dikategorikan dalam empat status yaitu sebagai berikut. d) Masukan hasil perhitungan pencpaian bulan ini (Juni 2008) dan bulan lalu (Mei 2008) kedalam lajur masing-masing desa. apabila keadaan tersebut berlanjut. namun mempunyai kecendrungan menurun pada cakupan bulanan dibandingkan dengan cakupan bulan lalu. Desa daam kaagori ini adalah desa C. e) Gambar anak panah dipergunakan untuk mengisi lajur tren. c) Tuliskan nama desa pada lajur desa sesuai dengan cakupan kumulatif masing-masing desa. yang perlu mendapatkan pehatian. maka digambar anak panah yang menun juk keatas. b) Status kurang : apabila desa dengan cakupan diatas. Analisis grafik dan tindak lanjut PWS ± KIA Langkah berikutnya setelah menggambar grafik adalah melakukan analisis grafik merupakan langkah penting untuk melihat status desa dan menentukan rencana tindak lanjut baik tekns maupun nonteknis bagi puskesmas. Dsa demikian dikategorikan e desa A dan B. 16 . maa esa tersebut tidak akan mencapai target yang ditentukan.disebelah kiri dan terendah disebelah kanan. Pencapaian puskesmas dimasukan dalam kolom terakhir. Sedangkan untuk cakupan yang tetap atau sama gambarkan dengan tanda mi nus (-). d. Apabila pencapaian cakupan bulan ini lebih besar dari pencapaian bulan lalu. Apabila akupan desa C terus menurun. maka desa akan mencapai atau melebihi target tahunan yang ditentukan. Sebaliknya apabila cakupan bulan ini lebih rendah dari cakupan bulan lalu maka digambarkan anak panah yang menunjuk kebawah. a) Status baik : apabila desa dengan cakupan diatas yang ditetapkan dengan mempunyai kecendrungan cakupan bulanan yang meningkat atau tetap apabila dibandingkan dengan cakupan bulan lalu.

dan memobilisasi sumber daya yang ada di masyarakat harus dibicarakan pada rapat koordinasi kecamatan. Desa ini di ketegorikan dalam Desa E. yang perlu didorong agar cakupan bulan selanjutnya tidak boleh kecil dari pada akupan bulanan minimal.c) Status cukup : apabila desa denga cakupan dibawah target dan mempunyai kecendrungan cakupan bulanan yang meningkat jika dibandingkan engan cakupan bulan lalu. sehingga masalah yang dihadapi dapat diselesaikan sesuai dengan spesifikasi daerah. Rencana operasional yang harus ditindaklanjuti adalah sebagai berikut. pola penyelengagaraan KIA perlu dilanjutkan. dengan beberapa penyesuaian tertentu sesuai kebutuhan. Apabla eadaan tersebut dapat terlaksana maka desa terseut dapat mencapai target tahunan yang ditentukan. e. misalnya untuk menggerakan sasaran. In tervensi dan kegiatan yang bersifat non teknis. d) Status buruk : apabila desa dengan cakupan dibawah target bulan dan mempunyai kecenderungan cakupan bulanan menurun dibandingkan dengan cakupan bulan yang lalu. yang perlu mendapatkan prioritas untuk pembinaan agar cakupan bulanan selanjutnya dapat ditingkatkan diatas cakupan bulanan minimal dan dapat mengejar target pencapaian target tahunan. Intervensi dan kegiatan yang bersifat teknis harus dibicarakan dalam lokakarya mini puskesma dan rapat Dinas Kesehatan Dati II.desa demikian dikategorikan kedalam desa D. b) Desa berstatus kurang atau buruk perlu dilakukan analisis lebih mendalam serta dicari penyebab rendahnya atau menurunnya cakupan bulanan. motivasi. 17 . Rencana tindak lanjut Setelah melakukan analisis data. a) Desa yang berstatus baik atau cukup. sehingga dapat diupayakan cara penanganan masalah secara lebh spesifik. untuk menghasilkan suatu keputusan tindak lanjut dijabarkan dalam bentuk operasional jangka pendek.

di semua tingkatan administrasi pemerintah. Pelaksanaan supervisi dilaksanakan dengan mengisi forum check list yang akan digunakan dalam supervise ditingkat puskesmasdan kabupaten untuk dianalisis dan ditindaklanjuti. Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) disajikan serta didiskusikan pada pertemuan lintas sektoral di tingkat kecamatan dan Dati II. merencanakan perbaikan serta menyusun rencana operasional berikutnya. identifikasi masalah. untuk mendapat dukungan dalam pemecahan masalah dan agar masalah operasional yang didapati dapat dipahami bersama. e. 18 . Langkah-langkah pelembagaan PWS-KIA adalah sebagai berikut: a. Penyajian PWS-KIA pada pertemuan teknis bulanan ditingkat puskesmas dan Dati II. f. sedangkan data yang ada di Dati II disusun PWS-KIA per puskesmas. baik yang bersifat teknis sektoral maupun yang bersifat koordinasi non teknis dan lintas sektoral. yaitu data dari puskesmas dikirim ke Dinas Kesehatan Dati II. Pemanfaatan pemantauan lintas program. Pada pertemuan tersebut wilayah yang berhasil diminta untuk mempersentasikan upaya yang telah dilakukan. b. Penunjukan petugas pengelolaan data disetiap tingkatan. Pelembagaan PWS KIA Pelembagaan PWS-KIA adalah pemanfaatan PWS-KIA secara teratur dan terus menerus pada semua siklus pengambilan keputusan untuk memantau penyelenggaraan program KIA. Data yang ada di puskesmas disusun PWS-KWS per desa. untuk menjaga kelancaran pengumpulan data. Pemantauan PWS-KIA untuk meyakinkan lintas sektoral. d. terutama yang berkaitan dengan motivasi dan pergerakan penduduk sasaran. Pembinaan melalui supervise yang terarah dan berkelanjutan merupakan system pembinaan yang efektif bagi pelembagaan PWS. c.L. untuk menginformasikan hasil yang telah dicapai.

laporan dari dokter atau bidan peraktik swasta. Sumber data. harus melibatkan pihak-pihak lain terutama dari kantor wilayah kesehatan dan dinas kesehatan tingkat I. dan jumlah seluruh bayi. Pada langkah persiapan. Adapun langkah-langkah tersebut meliputi: 1) Persiapan Persiapan dimulai dengan diadakan pertemuan ditingkat provinsi untuk menyamakan persepsipelatihan pelatih. kepala bidang pelayanan dan kesehatan masyarakat. dan sumbar data. meenentukan siapa yang akan dilatih. kepala bidang gizi/kesehatan keluarga. menentukan kebijaksanaan provinsi dalam pelaksanaan PWS-KIA dan menyusun mekanisme pemantauan kegiatan. Propses Penerapan PWS-KIA Proses penerapan PWS-KIA merupakan langkah sistematis dan berurutan. ibu hamil yang beresiko yang dilayani oleh tenga kesehatan. Sedangkan 19 . bayi kurang dari 1 bulan (neonates). kepala seksi rujukan dan kepala seksi epidemiologi. persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan. dan laporan dari fasilitas pelayanan kesehatan selain puskesmas yang berada di wilayah puskesmas. K4. N. pihak dari kantor wilayah yang terlibat dalam persiapan adalah kepala bidang PKPP. laporan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan dan dukun bayi. kepala bidang PPTK. dan jumlah bayi yang berusia kurang dari 1 bulan yang dilayani oleh tenaga kesehatan minimal 2 kali. Sistem Pencatatan Dan Pelaporan Dalam melakukan pencatatan dan pelaporan. data pelayanan. PWS-KIA memerlukan data sasaran. sebaiknya data berasal dari hasil pencacahan jiwa setempat. Data sasaran yang meliputi jumlah seluruh ibu hamil. Sumber data dapat diambil dari register kohert ibu dan bayi. kepala seksi puskesmas. merencanakan pelatihan tingkat kabupaten dan puskesmas. Data pelayanan meliputi jumlah K1.M. ibu bersalin. ibu hamil beresiko yang dirujuk masyarakat.

kepala subdinas pemulihan. Pelatihan ini merupakan pelatihan khusus mengenai PWS-KIA. baik dari dinas kesehatan maupun kantor departemen tingkat II. koordinator unit KIA. Setelah pelatihan petugas puskesmas langkah selanjutnya dari persiapan adalah pertemuan dengan unit kesehatan. Petugas Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). dan pemulihan. dengan materi pelatihan meliputi: pedoman PWS-KIA. merupakan pertemuan yang bersifat internal tenaga kesehatan. yang bertujuan untuk mengetahui cakupan pelayanan KIA oleh tenaga kesehatan. kepala seksi rumah sakit. Pertemuan lintaas sektoral dihadiri oleh sektor terkait ditingkat kabupaten dan kecamatan. kepala seksi imunisasi.pihak dari dinas kesehatan tingkat I adalah kepala subdinas KIA. dan kepala sebagian perencanaan. kepala seksi puskesmas. kebijakan program KIA. Pelatihan ini diberikan kepada petugas di Dati I dan II yang sudah dilatih. 2) Pelaksanaan Pelaksanaan dilakukan dengan mengadakan pertemuan-pertemuan ditingkat Dati II. pedoman pelayanan antenatal. dan tingkat kecamatan. puskesmas. Peserta terutama diambil dari unsure-unsur KIA. Persiapan kedua adalah Pelatihan Petugas Dati II. pemberantasan penyakit menular (P2M). Pertemuan di Dati II. serta perencanaan pelaksanaan dan pemantauan kegiatan. baik dari swasta ataupun rumah sakit umu. yang diikuti oleh pimpinan puskesmas. kepala subdinas PKM. Persiapan ketiga adalah Pelatihan Petugas Puskesmas di Dati II. Jumlah peserta yang disarankan untuk setiap kali pelatihan adalah tidak lebih dari 30 orang (10-30) orang. kepala seksi ibu dan anak. serta puskesmas. 20 . Pelatihan bertujuan untuk melatih petugas Dati II menjadi petugas puskesmas. yang dihadiri oleh para kepala seksi terkait di lingkungan dinas kesehatan dan kantor departemen.

laporan rumah sakit. mengolah dan mengirim data PWS-KIA ke dinas kesehatan Dati II. laporan swasta. Proses penerapan PWS-KIA secara garis besar dapat dijabarkan kedalam bentuk bagian alur data pelayanan KIA PWS-KIA baik ditingkat puskeamas maupun ditingkat Dati II. adalah pertemuan dipuskesmas yang dapat dilakukan bersamaan dengan mini lokakarya atau pertemuan rutin bulanan. Pertemuan ditingkat kecamatan . merupakan pertemuan bulanan rapat koordinasi untuk menyampaikan informasi mengenai PWS-KIA nonteknis. Laporan dikirim setiap bulan. 21 . Dalam pertemuan ini diharapkan kepada desa. dengan ketentuan selambatlambatnya tanggal 10 bulan berikutnya.Pertemuan di puskesmas. 3) Pemantauan PWS-KIA dapat dipantau baik ditingkat kabupaten maupun ditingkat puskesmas. merupakan pemantauan puskesmas. 4) Pelaporan 5) Puskesmas mengumpulkan. dan supervise from check list. laporn swasta. Kemudian Dinas Kesehatan Dati II membuat rekapitulasi laporan kabupaten untuk dikirimkan kepusat. Pemantauan ditingkat kabupaten. Pada pertemuan dipuskesmas semua staf yang terlibat dalam pelayanan KIA dilatih tentang PWS-KIA. tim penggerak PKK desa. dan kunjungan desa rawan. puskesmas dan tokoh lintas sektoral. kemudian menyusun rencana tindak lanjut. Sedangkan pemantauan ditingkat puskesmas meliputi sarana pencatatan (buku register).

Untuk Mahasiswa Dengan diberikan tugas menyusun makalah seperti ini memacu kami untuk lebih mandiri dalam mengerti dan memahami materi yang di berikan oleh dosen. KESIMPULAN Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan dasar yang berfungsi membina peran serta masyarakat sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat. 22 . Fungsi manajemen terse but. SARAN 1. terutama dalam hal monitoring (pemantauan) dan evaluasi (penilaian) eberhasilan program puskesmas. Salah satu upaya monitoring dan evaluasi dengan menggunakan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) B. Manajemen yang baik merupakan factor yang sangat menentkan dalam mewujudkan fungsi puskesmas.BAB III PENUTUP A.

2. misalnya penyusunan makalah ini dapat melatih mahasiswa untuk lebih mandiri dan meningkatkan rasa ingin tahu mahasiswa. Untuk Dosen Pembelajaran seperti ini sebaiknya lebih di pertahankan dan ditingkatkan lagi karena proses belajar mengajar yang lebih efektif. 23 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->