TEKNIK PENILAIAN HASIL BELAJAR SISWA-1

Diposkan oleh elfisuir di 01:56 0 komentar Label: TEKNIK PENILAIAN HASIL BELAJAR SISWA-1 TEKNIK PENILAIAN HASIL BELAJAR SISWA-2 .

.

Diposkan oleh elfisuir di 01:42 0 komentar Label: TEKNIK PENILAIAN HASIL BELAJAR SISWA-2 TEKNIK PENILAIAN HASIL BELAJAR SISWA-3 .

.

Hal ini muncul tidak lain karena pohon yang ditebang hidup di tengah tegakan yang beragam jenis. syarat biaya serta beresiko tinggi. Elfis.Diposkan oleh elfisuir di 01:38 0 komentar Label: TEKNIK PENILAIAN HASIL BELAJAR SISWA-3 Selasa.com) Posting 02 Juni 2010 Petunjuk teknis TPTI merupakan acuan kegiatan pemanenan kayu di hutan alam Indonesia. Kegiatan pembalakan selain prosesnya berlangsung tidak mudah. M. 1998). sistem ini dipandang paling aman untuk mempertahankan pengelolaan kelestarian hutan (Dephutbun. Besar kecilnya kerusakan tergantung .Si. ukuran. (elfisuir@ymail. juga di sisi lain harus bisa mengntisipasi agar kerusakan tegakan tinggal dan lingkungan minimal. 01 Juni 2010 PENETAPAN AMBANG BATAS HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU PENETAPAN AMBANG BATAS HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU Oleh Dr. Oleh karena itu. Di dalamnya berisi tahapan dan kegiatan perencanaan pemanenan yang cukup rinci dan bersifat konservatif. kerapatan maupun komposisinya.

Oleh karena itu. 1984 dalam Gardner et al. maka kemungkinan terjadinya kerusakan tegakan tinggal akan semakin besar. sehingga memperbesar tingkat kerusakan. (1996) tahap dan aspek yang perlu diperhatikan dalam menilai kerusakan hutan ialah : (1) proporsi tingkat kerusakan yaitu potensi. Dalam hal ini. untuk penetapan ambang batas perlu diketahui proporsi bentuk dan ukuran dari kerusakan. angin dan cahaya. Untuk pembuatan parameter ambang batas pengaruh. hingga saat ini belum ada. maka konsep ambang batas menjadi sulit didefenisikan secara tepat (Sousa. Semakin tidak terencana kedua kegiatan tersebut. perlu dipahami kemampuan daya pulih ekosistem atas pengaruh itu (Malcom dan Markham. Kerusakan tersebut terjadi karena adanya pohon yang ikut tumbang. 1996). Menurut Dawkin (1980) dalam Wiradinata dan Saddan (1980). komposisi serta potensi pertumbuhannya. Sheffield (1996) mengatakan bahwa penetapan standar yang baku untuk menganalisis data suatu kegiatan inventarisasi kerusakan hutan. suhu. kestabilan tanah. Di pihak lain. 1997). 1996). Pada ekosistem yang berdaya pulih. kondisi awal sangat berpengaruh dalam merespon kerusakan yang terjadi.pada bentuk dan lebar tajuk. (2) besar pengaruh kerusakan terhadap permudaan alam untuk mengelompokan pembinaannya lebih lanjut dan (3) pertimbangan pemanfatan atas kerusakan . sumber air dan kehidupan liar adalah pengaruh nyata sebagai akibat dilakukannya kegiatan eksploitasi hutan tropika basah. akibat pembalakan terhadap struktur tegakan. Untuk itu proses pembalakan ramah lingkungan sangat diperlukan. bisa mengakibatkan kerusakan pada tegakan di sekitarnya paling sedikit seluas 0. 1981 dalam Soemarwoto. yang lebih penting dalam konservasi keragaman hayati ialah melindungi dan memelihara potensi ekosistem yang produktif. Lawton dan Jones dalam Malcom dan Markhum (1996) mengatakan bahwa peranan pohon pada struktur lingkungan hutan terjadi melalui modifikasi proses hidrologi. Misal.02 ha. Pada kejadian ini situasi awal dapat berubah ke kondisi yang lain karena pengaruh keseimbangan baru yang lebih dominan (Holing dalam Malcom dan Markham. Sedangkan kelenturan ekologi ialah pemulihan kondisi yang relatif jauh dari keadaan seimbang. pengguna hendaknya mengatur kembali metode yang diambil dalam penetapan ambang batas pengaruh sesuai tujuan dan spesifikasi yang diinginkan (Sassaman. 1997). 1996). dalam sekali penebangan pohon berdiameter besar di hutan tropika basah. Pengaruh yang dianggap penting itu. Ewel dan Conde (1978) menyebutkan bahwa kerusakan pada tanah. vegetasi. Untuk melihat kepulihan ekosistem. Kelenturan mekanis ialah ketahanan pulih terhadap gangguan dan kecepatannya untuk kembali mencapai keadaan yang seimbang.. tinggi dan kerapatan tegakan serta keterampilan penebang. Konsepsi kelenturan ekosistem (ecosystem recosilience) ini terbagi atas 2 bagian yaitu kelenturan mekanis (engineering recosilience) dan kelenturan ekologi (ecological recosilience) (Holing dalam Malcom dan Markham. TOC) yang lingkupnya mencakup bidang. kelembaban. ruang dan waktu (Sassaman. Karena gangguan biasanya cendrung bersifat ekstrim dan berdampak panjang. siklus hara. Menurut Hamilton et al. 1981 dalam Soemarwoto. negatip ataupun positip merupakan sesuatu ukuran ambang batas kepedulian (Threshold of Concern. jenis. Wiradinata dan Saddan (1980) menyatakan bahwa faktor lain yang mempengaruhi kerusakan tegakan tinggal juga diakibatkan oleh kegiatan pembuatan jaringan jalan dan tempat pengumpulan kayu (TPn).. 1996). peranan dan evolusi dari ekosistem.

Tajuk pohon rusak lebih dari 30 % atau cabang pohon/dahan besar patah..yang terjadi. et al. 1996). jumlah batang tegakan minimal 60 % (Nodine.. peningkatan kerusakan yang terjadi masih berada pada tingkat sedang. sedangkan Smith (1960) menyebutkan bahwa untuk membentuk tegakan yang cukup (full stock) setiap hektar memerlukan permudaan tingkat semai sebanyak 1000 batang. 1996. Dari kriteria di atas maka diusulkan untuk dapat diterapkan sebagai ambang batas adalah klasifikasi tingkat ringan. Sementara Landon dalam Bernard (1950) mengatakan bahwa untuk tujuan yang sama diperlukan tingkat pancang dan tiang sebanyak 300 batang/hektar dan 890 batang/hektar. Tansey dan Hutchins. tetapi tidak dapat dikatakan pasti akan terjadi atau pasti tidak akan terjadi.Luka batang mencapai kyu berukuran lebih dari ¼ kliling batang dengan panjang lebih dari 1. sedang dan ringan seperti berikut. Oleh karena itu kegiatan melakukan pemantauan pengaruh dengan baik dan kemudian menggunakannya sebagai umpan balik untuk memperbaiki pengelolaan lingkungan. Tiap kelas menggambarkan bentuk dan ukuran kerusakan.. yang diperkirakan masih cukup aman bagi keberlanjutan pengelolaan hutan alam rawa gambut secara lestari (Hamilton et al. (2) Sheffield dan Michael (1996) bahwa untuk menaksir perubahan tegakan yang disebabkan oleh kerusakan dapat dikelompokan menjadi 4 kelas. 1997). (1996) kriteria ambang batas dibuat sederhana dengan maksud memudahkan secara teknis penggunaannya di lapangan. Brdasarkan batasan ini. sedang Gadrner et al. b. sekalipun sebenarnya sulit untuk bisa memastikan keberadaan lanjutannya untuk dapat hidup terus atau tidak. Sedangkan untuk iklim mikro bisa dinyatakan dalam keterbukaan tegakan di mana semakin banyak hutan rusak semakin besar tingat keterbukaan. 1996).5 meter. Ambang batas yang lain seperti gangguan tanah hutan bisa dicerminkan antara lain dalam panjang jalan utama dan jalan sarad.. Dengan demikian kalaupun terjadi kerusakan karena kesulitan dalam pelaksanaannya di lapangan. Sama seperti Sheffield dn Michael (1996). (4) Sheffield dan Michael (1996) menyatakan penilaian yang berkaitan dengan perubahan iklim mikro yang ditentukan melalui tingkat kerusakan tajuk yang contoh penerapannya untuk tiang dan pohon. Kriteria dibuat dalam 3 kelas yaitu kelas berat. pancang 300 batang dan tiang 75 batang. .. dalam hal ini pengelolaan hutan alam sangat penting artinya (Soemarwoto. Resiko (manfaat) lingkungan (juga hutan sebagai suatu ekosistem) ialah suatu faktor atau proses dalam lingkungan yang mempunyai kementakan tertentu sehingga menyebabkan konsekuensi yang merugikan (menguntungkan) kepada manusia dan lingkungannya. (1996) juga membagi kerusakan tegakan dalam 4 kelas. (3) Syme et al. Beberapa cara penilaian kerusakan tegakan dapat disebutkan di antaranya : (1) Keputusan Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan Nomor 564/KPTS/IV-BPHH/1989 tentang TPTI menyebutkan bhwa pohon inti yang merupakan pohon harapan untuk kembali bisa dipanen pada periode 35 tahun berikutnya dikatakan rusak apabila mengalami salah satu atau lebih keadaan sebagai berikut : a. Misalnya. Menurut Hamilton et al. c.Perakarannya terpotong atau 1/3 banir rusak. Untuk membuat klasifikasi ambang batas yang diinginkan itu ditempuh dengan cara analisis data hasil pemantauan yang dilaksanakan sendiri dan orang lain sebagai pertimbangan penetapan besarannya. baik resiko maupun mnfaat mengandung unsur ketidakpastian bahwa kementakan bisa terjadi tinggi atau rendah. (1996) membaginya dalam 8 kelas. 1988 dalam Sheffield.

Elfis. Tanah gambut tersebut pada umumnya mengandung lebih dari 60 % bahan organik (Driessen. terdiri dari bahan organik yang sebagian besar belum terdekomposisi atau sedikit terdekomposisi serta terakumulasi pada keadaan kelembaban yang berlebihan. 1983). (d) mempunyai perakaran yang khas. Tanah gambut. tropohemist dan troposaprist. mulai dari tegakan sejenis seperti jenis Calophyllum inophyllum Mix. Tanpa memandang tingkat dekomposisinya. 1975) tanah gambut termasuk kedalam ordo histosol. 1982). kadang-kadang tercampur dengan tipe gambut lainnya jika lebih dekat dengan permukaan. Kelompok besar ini secara umum mempunyai perbedaan temperatur rata-rata musim panas dan dingin kurang dari 50 C. (b) komposisi jenis pon beraneka ragam. Diposkan oleh elfisuir di 17:46 0 komentar Label: PENETAPAN AMBANG BATAS HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU TANAH HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU TANAH HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU Oleh Dr. dikenal dua golongan tanah yaitu tanah mineral yang mengandung bahan organik berkisar antara 15 % sampai dengan 20 % dan tanah organik yang mengandung bahan organik berkisar antara 20 % sampai dengan 25 % bahkan kadang-kadang sampai 90 % mengandung bahan organik (Buckman dan Brady. Berdasarkan kandungan bahan organik. Sampai tegakan campuran.Menurut Sheffield dan Michael (1996) Penetapan ambang batas belumlah bersifat defenitif. (elfisuir@ymail. ordo histosol berdasarkan bahan asal dan tingkat perombakannya dibedakan menjadi empat sub-ordo. baik dengan ketebalan bahan organik lebih dari 45 cm ataupun terdapat secara berlapis bersama taah mineral pada ketebalan penampang 80 cm serta mempunyai tebal lapisan bahan organik lebih dari 50 cm (Suhardjo. yaitu folist. (c) terdapat lapisan gambut pada lantai hutan. yaitu tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20 % tekstur pasir atau lebih dari 30 % tekstur liat. merupakan tanah yang tersusun dari bahan organik. Kalau kering gambut ini menyerap air sangat lambat dan bertahan tetap dalam keadaan sangat keras dan . Gambut ini berciri kompak dan kenyal serta bewarna hijau tua jika masih dalam keadaan aslinya. Menurut sistem kalsifikasi taksonomi tanah (USDA. dan (e) dapat tumbuh pada tanah yang bersifat masam. Tanah gambut atau tanah organik dimaksud dikenal juga sebagai tanah organosol atau histosol (Suhardjo. Karena itu umumnya terdapat jelas di profil bagian bawah. Subordo tersebut berdasarkan kandungan atau ketebalan bahan penciri dan temperaturnya dibedakan menjadi beberapa kelompok besar. M. Meskipun demikian. melainkan bersifat pendekatan dengan pertimbangan dasar penilaian cukup logis dan bisa diterapkan di lapangan. Menurut sistem klasifikasi tersebut. 1983). 1982) yaitu : (1) Gambut endapan. Gambut endapan biasanya tertimbun di dalam air yang relatif dalam.com) Posting 02 Juni 2010 Gambut adalah bahan tanah yang tidak mudah lapuk. 1977). Asian Wetland Beraue dan Ditjen PHPA (1993) dalam Koesmawadi (1996) mengemukakan bahwa hutan rawa gambut merupakan statu ekosistem yang unik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (a) selalu tergenang air. gambut dikelaskan sesuai dengan bahan induknya menjadi tiga (Buckman dan Brady. tropofibrist. hemist dan saprist.Si. Untuk daerah tropika nama-nama kelompok besar antara lain : tropofolist. fibrist. Lapisan yang mengandung bahan organik tinggi tersebut tebalnya lebih dari 40 cm.

kurang mengandung serabut. sebagian besar tergolong kedalam eutropik atau mesogenous. Di daerah dataran tinggi dengan suhu yang dingin bahan organik yang terbentuk lebih halus dan mudah melapuk daripada di dataran rendah atau pantai. Selanjutnya Suhardjo (983) menyatakan bahwa sifat-sifat fisik tanah gambut ditentukan oleh tingkat dekomposisi atau kematangan bahan organik pembentuk gambut. Sedangkan gambut pedalaman pada umumnya merupakan gambut ombrogenous atau mesogenous yang termasuk kedalam oligotropik (Polak. Vegetasi rawa atau air semula berupa rumputrumputan yang membentuk bahan organik lebih dahulu di lapisan bawah. kadar air banyak. Kemampuan mengikat air rendah. 1988) yaitu : (1) Fibric yang tingkat dekomposisinya masih rendah. berat jenis antara 0. tanah gambut mempunyai lapisan-lapisan dengan perbedaan kualitas karena vegetasi yang memberikan bahan organik berbeda (Suhardjo.bergumpal. Bahan organik pada tanah gambut dibedakan atas tiga macam (Rosmarkam et al. masih banyak mengandung serabut. Bersifat sangat masam dengan pH 3. berasal dari tanaman paku-pakuan dan semak belukar dan mempunyai pH yang relatif tinggi. faktor lingkungan tempat terbentuknya tanah gambut dan proses pembentukan tanahnya. 1975). berwarna coklat muda sampai coklat tua.1). yaitu : (1) Gambut ombrogen. tanpa perbedaan musim yang mencolok dan pada daerah tropika yang lebat dengan curah hujan lebih dari 3000 mm tiap tahun. berat jenis sangat rendah (kurang dari 0. sebagian atau seluruhnya terdapat dalam profil bawah. kualitas dan tata air tempat pembentukannya. Vegetasi bahan pembentuk tanah gambut dipengaruhi oleh keadaan iklim. Tingkat kematangan . berwarna kuning sampai pucat. (2) Gambut berserat.18. (2) Hemic merupakan peralihan dengan tingkat dekomposisi sedang. Gambut berserat mungkin terdapat dipermukaan timbunan bahan organik yang belum terdekomposisi.5. Oleh karena itu. (2) Gambut topogen. untuk kemudian ditimbun oleh bahan vegetasi yang lebih besar di atasnya. (3) Gambut kayuan. biasanya terlihat di atas endapan. Gambut ini bewarna coklat atau hitam jika basah. Gambut ini mempunyai kemampuan mengikat air tinggi dan dapat menunjukan berbagai derajat dekomposisi. oleh karena itu gambut kayuan kurang sesuai digunakan untuk persemaian. gambut digolongkan menjadi tiga bagian. sesuai dengan sifat humifikasinya. sehingga masih banyak mengandung serabut. Gambut pantai umumnya merupakan gambut topogenous atau mesogenous. Gambut ini tidak dikehendaki.0 ± 4. Gambut ombrogen terbentuk karena pengaruh curah hujan yang tinggi. Kualitas tanah gambut sangat tergantung pada vegetasi yang menghasilkan bahan organik pembentuk tanah gambut. (3) Sapric yang dekomposisinya paling lanjut. kadar air banyak. Menurut Darmawijaya (180) berdasarkan faktor pembentukannya. karena sifat fisiknya yang tidak cocok untuk pertumbuhan tanaman. berat jenis 0. kadar air tidak terlalu banyak dengan warna hitam dan coklat kelam. Gambut ini terbentuk karena ketinggian tempat gambut. Gambut topogen terbentuk karena pengaruh topografi. bahan mineral yang berada di dawahnya. dengan air yang tergenang. karena memperoleh tambahan unsur lain dari luar yaitu yang dibawa air pasang. Gambut kayuan biasanya terdapat dipermukaan timbunan organik.07 ± 0..2 atau lebih. Tanah gambut di Indonesia sangat bervariasi tingkat kesuburannya. (3) Gambut pegunungan. 1983). di daerah katulistiwa hanya terbentuk di daerah pegunungan dan iklimnya menyerupai iklim di daerh sedang dengan vegetasi utamanya Sphagnum.

1997). Semakin tinggi nilai-nilai tersebut semakin tinggi kesuburannya (Fleischer dalam Supraptohardjo. Sedangkan tingkat kesuburan tanah gambut ditentukan oleh kandungan N. payau atau air laut lebih kaya unsur hara dibandingkan dengan gambut yang hanya tergantung air hujan saja. Kualitas air mempengaruhi kesuburan gambut yang terbentuk.gambut ini dicirikan oleh kandungan serat bahan organik tersebut. 1986). hutan alam tersebut dapat tumbuh dengan baik dan lestari pada tanah yang berpelapukan lanjut karena memiliki sistem perputaran hara tertutup (closed system nutrients cycling) yang terjaga dengan baik. menebalnya daun serta menurunnya rata-rata diameter pohon. Ruang pori total (RPT) ditentukan oleh bobot. sedang sebaran ukuran pori dipengaruhi oleh sebaran fraksi/serat dan struktur. Sebagai akibat dari keadaan di atas. Fibric adalah tingkat gambut yang dekomposisinya rendah. Menurut Prichet (1979). tidak termasuk akar hidup dan struktur jaringannya masih dapat dikenali. P2O5. Menurut Hakim (1986) berdasarkan nilai-nilai tersebut menggolongkan kesuburan tanah gambut menjadi tiga yaitu : (1) Gambut eutropik yang subur (2) Gambut mesotropik dengan kesuburan sedang (3) Gambut oligotropik dengan kesuburan rendah Lokasi HPH PT. Sapric adalah bahan organik yang paling lapuk. khusunya pH dan ketersediaan unsur hara bagi tanaman (Anwar et al. K2O. fosfor dan kalium rendah. Sifat kimia tanah gambut dicirikan dengan nilai pH dan ketersediaan unsur nitrogen. keadaan tanah mineral di bawah lapisan gambut serta kualitas air sungai atau air pasang yang mempengaruhi lahan gambut dalam proses pembentukan dan pematangannya (Adhi. diikuti dengan pertukaran Al. duapertiga volumenya terisi serat. menurunya bahan kering per satuan luas. Ketidakmampuan pohon-pohon tumbuh optimal dibagian tengah gambut karena keadaannya yang sangat ekstrim. hutan-hutan tropika basah yang tergolong ke dalam hutan tropika basah dataran rendah (lowland tropical rain forest) dan tinggi (higland tropical rain forest) sebagian besar tumbuh pada tanah yang tergolong marginal. Jumlah dan sebaran ukuran pori menentukan sifat-sifat retensi air. Fe yang cukup tinggi sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman (Hakim. Pada gambut ombrogen semakin ke arah tengah lahan gambut terjadi penurunan tingkat kandungan hara. kurang dari sepertiga volumenya masih berupa serat. Jumlah. Kecendrungan semakin menurunya kesuburan tanah dicirikan oleh menurunya tinggi tajuk vegetasi hutan. CaO dan kadar abu. bahwa hal ini dimungkinkan karena kondisi hutan alam yang multi strata baik tajuk maupun sistem perakaran serta kondisi iklim (terutama curah hujan dan temperatur) yang dapat mendukung terjadinya pengembalian hara yang cepat serta pemanfaatannya secara efesien. 1961). Susunan kimia dan kesuburan tanah gambut ditentukan oleh ketebalan lapisan gambut dan tingkat kematangan lapisan-lapisannya. yaitu gambut yang miskin dengan sumber penggenangan air hujan. bentuk dan ukuran serat menentukan jumlah dan sebaran ukuran pori. 1984). Jordan (1985) menyatakan.. 1974). Yang dimaksud serat adalah potongan atau kepingan jaringan tumbuhan yang tertahan oleh jaring dengan ukuran mesh 100. Selanjutnya Prichet (1979) menyatakan bahwa kemampuan hutan tropika basah Indonesia bukan . Tingkat kematangan hemic sedang dengan kandungan seratnya sepertiga sampai duapertiga volumenya. 1986). Menurut Rose dalam (Mile. Yos Raya Timber didominasi oleh gambut ombrogen oligotropik. daya simpan air dan daya hantar hidrolik (Adhi. Gambut yang dipengaruhi air sungai. isi dan bobot jenis rata-rata (average specifik density) gambut. formasi hutan gambut ombrogen sering memiliki variasi lokal sebagai phasic communities (Anderson. kejenuhan kalsium dan magnesium yang rendah. 1984).

Diposkan oleh elfisuir di 17:42 0 komentar Label: TANAH HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU IKLIM HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU IKLIM HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU Oleh Dr. faktor-faktor iklim yang penting bagi hidup dari pertumbuhan individu dan masyarakat tumbuh-tumbuhan adalah cahaya. pada hakekatnya merupakan proses pembangunan ekosistem. gas udara dan angin. Banyaknya produksi daun menyebabkan sebagian besar unsur hara yang ada di dalam hutan tropika basah tersimpan pada biomas tanaman dan bukan pada tanah hutan sebagaimana pada hutan temperate. Lapisan ini mengintersepsi dan mengabsorbsi radiasi matahari dan gerakan angin terbanyak dari udara di atasnya. Dikemukakan lebih lanjut bahwa iklim makro dipergunakan untuk menentapkan tipe iklim. sedangkan iklim mikro berhubungan dengan habitat atau lingkungan mikro. melainkan semata disebabkan oleh adanya siklus hara yang ketat dan tertutup yang mampu menyumbat peluang kebocoran unsur hara. M. Pada saat suksesi mencapai klimaks. Menurut Kramer dan Kozlowski (1960) dalam Idris (1996). dimana sebagian besar unsur haranya tersimpan di tanah dan lantai hutan.Si. Lingkungan radiasi di dalam sebuah hutan berbeda dengan daerah tidak berhutan karena permukaan yang mengabsorbsi di dalam hutan umumnya berbeda di atas tanah dengan jarak yang terlihat nyata. Elfis. 1984). ekosistem yang dibentuknya berada dalam keadaan kondisi yang paling baik. zona iklim. Apabila tajuk menjadi relatif lebih . Pada kebanyakan tajuk. (elfisuir@ymail. Menurut Soerianegara dan Indrawan (1984) iklim makro adalah iklim yang nilai-nilainya berlaku untuk daerah yang luas.disebabkan oleh kesuburan tanahnya. 1981 dalam Wenger. Tanaman yang berkembang pada kondisi ini didukung oleh lingkungan tumbuh yang paling optimal. Oleh karena itu dehutanisasi hutan tropika basah berakibat kemerosotan hara tanah secara drastis dibandingkan dengan proses dehutanisasi daerah temperate (nontropis). Berdasarkan batasan ruang dimana nilai-nilai yang ada masih berlaku. secara ekologi pada hakekatnya memundurkan perjalanan suksesi dari kondisi klimaksnya. walaupun produk bersih tanaman (net primary productivity) hutan tropis lebih besar. maka iklim dibedakan kedalam iklim makro dan iklim mikro. Perjalanan suksesi hutan menuju klimaks. Hal ini dikarenakan adanya proses pembentukan unsur hara yang terjadi secara berkala melalui proses pengguruan daun. namun lebih disebabkan oleh banyaknya produksi daun. Dehutanisasi yang diikuti oleh konversi hutan menjadi berbagai macam fungsi. permukaan aktif yaitu permukaan yang terbanyak menerima radiasi matahari datang adalah lapisan vegetasi yang berada di atas. Jordan (1985) menyatakan bahwa. zona vegetasi dan sebagainya. sedangkan tanaman hutan temperate lebih banyak disimpan di kayu. curah hujan.com) Posting 02 Juni 2010 Iklim adalah sintesis hasil pengamatan cuaca untuk memperoleh deskripsi secara statistik mengenai keadaan atmosfier pada daerah yang sangat luas (Barry. hasil fotosintesa hutan tropis lebih banyak di simpan di daun. Dengan demikian. suhu. betapun mulianya tujuan program ini. sedangkan iklim mikro hanya berlaku untuk tempat atau ruang yang terbatas. yaitu lapisan dengan tingkat kerapatan daun maksimum. kelembaban udara. Merubah watak siklus hara yang ketat dan tertutup menjadi longgar dan terbuka akan memberikan peluang lebar terhadap proses kebocoran hara mineral.

sehingga profil suhu cendrung menunjukan penurunan secara adabiatik kering (dry adabiatic lapse rate). daun-daun dalam tajuk menghalanghalangi masuknya radiasi matahari ke lantai hutan. udara yang dingin dapat turun dan berkumpul di atas permukaan lantai hutan. bahang serta bahan.. Dalam sebuah hutan. permukaan itu adalah permukaan tanah dan vegetasi yang tersisa. Kerapatan batang dan penutupan tajuk menentukan bagian dari radiasi yang dapat mencapai lantai hutan (Grates. Sedangkan limpahan pancaran yang diterima atau dipancarkan per satuan luas dinamakan kerapatan limpahan pancaran (radiant flux density) disingkat kerapatan limpahan dengan satuan kal. suhu biasanya tetap sampai ke lantai hutan. Sukadaryati et al. Jumlah air atau uap air di udara berpengaruh secara langsung terhadap tumbuhan sebagai cekaman lingkungan. 1998. suhu udara tetap lebih tinggi dibadingkan dengan di luar hutan (Gates. Sebuah kecambah yang baru muncul. Noor dan Smith./detik atau J/detik = Watt (W). Pada daerah bekas pembalakan. yang mengakibatkan inversi sehingga dapat menjerat debu. 1987. 1987). Jumlah energi yang diterima atau dipancarkan per satuan luas dinamakan limpahan pancaran (radiant flux) disingkat limpahan. Dengan dimensi energi./cm2/detik ( de Rozari. suhu udara dekat lantai hutan dapat menjadi lebih panas ketimbang suhu udara di dalam tajuk. 1980 dalam Wenger. Dari segi biologi. Menurut de Rozari (1987) suhu udara di dekat permukaan mempunyai arti penting bagi kehidupan oleh karena selain kebanyakan bentuk kehidupan terdapat di permukaan. Apabila tajuk hutan jarang..). lebih lanjut dikemukakan bahwa profil suhu menentukan laju pemindahan momentum. Udara kering yang menyebabkan pengeringan tanah yang sangat cepat dan . Sedangkan dari segi fisika. 1987). bahkan sedikit berkurang jika tajuknya rapat. erg atau joule (J). Di sisi lain. suhu udara maksimum biasanya lebih rendah dan suhu minimum lebih tinggi daripada di daerah yang terbuka. Energi pancaran (radiasi) adalah energi yang berpindah dalam bentuk gelombang elektromagnetik. satuan yang digunakan adalah kalori (kal. Pada daerah terbuka permukaan aktif adalah bagian atas dari lapisan serasah/humus. Selama siang hari. (2002) suhu maksimum di dalam hutan adalah berada di bagian atas tajuk. 2002). dengan satuan k al. profil suhu udara penting untuk diketahui karena adanya perbedaan yang tajam antara suhu permukaan dengan udara di atasnya. Sedangkan keadaan dimana suhu udara bertambah menurut ketinggian condong menekan pemindahan golak dan dengan demikian mempertajam gradien suhu ( de Rozari.terbuka maka radiasi matahari dan angin akan masuk lebih dalam ke dalam tajuk Nguyen and Sist. asap dan CO2 di dalam dan di bawah tajuk. juga ada kaitan erat antara beberapa proses kehidupan dengan suhu. Pengaruh ini mencegah suhu pada siang hari meningkat secara cepat. Oleh karena itu. atau apabila tidak ada serasah maka permukaan aktif adalah permukaan tanah. 1984). Pada malam hari puncak tajuk menjadi lebih dingin. menyebabkan sebagaian organisme hidup berada seketika pada dua rejim suhu yang sangat berlainan. Suhu di dalam tajuk dipertahankan melalui transpirasi dari daun-daun. Jumlah cahaya yang mencapai lantai hutan mengendalikan suhu tanah yang akan berpengaruh terhadap reproduksi dan vegetasi bawah. keadaan dimana suhu udara berkurang menurut ketinggian akan mendukung pemindahan golak. Pada tajuk yang jarang. Menurut Wenger (1984) dan Sukadaryati et al. dengan demikian ruangan di bawah tajuk lebih dingin daripada daerah terbuka selama siang hari. Pada malam hari tajuk pohon mencegah kehilangan panas yang cepat dari lapisan batang melalui radiasi ke angkasa. 1984). 1980 dalam Wenger. memperoleh cekaman bahang luar biasa dibandingkan dengan cekaman yang akan dialaminya kemudian. Di bawah lapisan ini.

maka kelembaban nisbi akan berkurang sampai mencapai nilai terendah dekat tengah sore hari. cairan atau material padat yang melayang diudara. Tajuk-tajuk hutan memiliki tahanan (drag) di bagian atasnya yang menghambat aliran angin sehingga kecepatan angin di dekat tajuk menjadi lambat. profil angin dapat diduga dengan menggunakan rumus berikut (Grace. kelembaban menurun menjadi 80 %. Akan tetapi untuk kebanyakan tujuan praktis kecepatan angin di lapisan tersebut. Umumnya kelembaban di dalam sebuah hutan adalah lebih tinggi daripada tempat terbuka dikarenakan adanya transpirasi dari daun-daun dan suhu yang rendah. yakni berkisar 90 % . yang benar adalah kebalikannya yaitu bahwa besarnya 94 sampai 99.transpirasi tanaman yang luar biasa berpengaruh buruk terhadap tanaman itu sendiri. maka pada saat itu suhu mencapai nilai terendah. Wenger (1984) menyatakan bahwa aliran panas dan uap dari daun-daun.5 sampai 5 atau 6 % berasal dari tanah (Daubenmire. kelembaban dapat mencapai 67 % . penyebaran penyakit. baik dalam hutan alami maupun hutan gundul atau lahan kosong. Selama siang hari.96 %. pengangkutan karbon dioksida ke daun. 1996). et al. 1984). Penjelasan di atas tidak boleh diartikan bahwa jaringan tumbuhan dibangun dari unsur hara tanah. 1982). Selanjutnya Wenger (1984) menyatakan bahwa kebanyakan tajuk-tajuk hutan memang ada sedikit peningkatan kecepatan angin yang relatif di lapisan batang pohon. Perubahan kecepatan angin menurut ketinggian ini disebut profil angin (wind profile). et al. maka semakin efesien diffusi dan ekspresi gas. 1977 dalam Wenger. kelembaban pada musim kemarau lebih tinggi daripada musim hujan. Nitrogen diperoleh tumbuhan dari udara tanah secara tidak langsung oleh leguminose. Kelembaban relatif hutan gambut cukup tinggi pada musim hujan.96 % (Rieley. Secara umum. Pada musim kemarau. Jika suhu meningkat selama jam-jam siang hari. pengakutan aerosol dan unsur-unsur kimia penting serta pemencaran api seluruhnya dikendalikan oleh angin setempat di dalam dan di dekat tajuk serta kecepatan angin dan sifat golak galik udara di luar tajuk. Bilamana kelembaban nisbi meningkat sampai mencapai nilai terttingginya sesaat sebelum matahari terbut. dan pada bulan-bulan kering berkisar 0 % . bahwa unsur tertentu yang terkandung di udara diperlukan untuk pertumbuhan normal bagi tumbuhan. Kelembaban relatif sangat dipengaruhi oleh suhu. 1984). yaitu dapat mencapai 90 % . Unsur esensial lainnya diperoleh dari bagian tanah yang padat (Buckman dan Bardy. hidrogen dan oksigen dan hanya 0. Tetapi pada pai hari. Oleh karena itu kelembaban nisbi selama siang hari adalah tertinggi di dekat tanah lantai hutan.. 1980 dalam Wenger. Penelitian menunjukan.69 %. yaitu di bawah bagian paling rapat dari tajuk dianggap konstan menurut ketinggian.84 % Pada siang hari di muism kemarau.Di atas tajuk yang kasar dan luas. Kandungan air yang terlalu banyak diudara menghalang-halangi pendinginan daun melalui evaporasi dan dapat mengakibatkan cekaman suhu (thermal stress) (Gates. Unsur penting ini harus berada dalam bentuk yang dapat digunakan tumbuhan dan dalam kosentrasi yang optimum untuk pertumbuhan suatu tanaman (Rieley. tanah lantai hutan dan tajuk merupakan sumber kandungan air. Sedangkan hidrogen (Hukum) diperoleh secara langsung atau tidak langsung dari air dalam tanah. . 1984). lebih rendah pada lapisan batang dan lebih tinggi dari daerah tajuk. Fenomena ini disajikan Gates. Perubahan suhu harian mengakibatkan adanya variasi harian dari kelembaban nisbi.. 1996). semakin tinggi kecepatan angin dan aliran golak galik udara di luar tajuk. (1980 dalam Wenger..5 % jaringan tumbuhan yang segar terdiri dari karbon. Tanaman tingkat tinggi mendapatkan sebagian besar karbon (C) dan oksigen (O) langsung dari udara karena fotosintesis. 1974).

angin dan parameter iklim mikro lainnya adalah faktor-faktor yang berubah akibat penebangan dan penyaradan. yaitu (1) jumlah bersih panas yang diadsorbsi. Akan tetapi menurut de Rozari (1987). iklim mikro sebagai keadaan udara dalam zona yang dibatasi di bagian atas oleh arus yang dicapai tanaman tertinggi dan di bagian bawah oleh tanah atau bagian terbawah dari tanah yang masih bisa dicapai oleh infiltrasi udara. Suhu yang tinggi pada keadaan terbuka akan merangsang aktivitas mikro organisme sehingga perombakan gambut lebih dipercepat dan intensif. Menurut Marsono dan Sastrosumarto (1981) dengan terbukanya tajuk dan terjadinya kerusakan mekanis pada tumbuhan dan tanah hutan akibat kegiatan penebangan dan penyaradan maka berubah pula iklim mikro hutan. jumlah panas yang diadsorbsi oleh tanah ditentukan oleh banyaknya radiasi matahari efektif yang mencapai bumi dan faktor-faktor setempat seperti warna tanah. sehingga mempercepat terjadinya degradasi gambut. Lebih lanjut dikemukakan. pengaruh kemiringan pada lapangan yang terbuka dapat menjadi sangat ekstrim. Dengan demikian sangat sulit kiranya memperoleh gambaran keadaan iklim mikro setelah penebangan atau penyaradan secara kuantitatif. Pendinginan dan pemanasan yang berganti-ganti menimbulkan tekanan pada agregat dan bongkah tanah yang akibatnya mengubah keadaan fisik tanah. Menurut Gates (1980) dalam Wanger (1984). yang lebih sangat berkaitan untuk dikaji dalam konteks ini adalah iklim mikro. de Rozari (1987) menyatakan. bahwa pada pegunungan-pegunungan yang tinggi di daerah lintang tengah belahan bumi utara. Lebih lanjut dikemukakan bahwa lapisan terbawah dari atmosfir ini penting karena pada lapisan inilah kebanyakan parameter cuaca mengalami perubahan yang mencolok dalam satu kurun waktu. di mana suhu minimum dari tanah pada kemiringan ke selatan lebih tinggi ketimbang suhu maksimum tanah pada kemiringan ke utara. bahwa efek suhu juga bertanggung jawab terhadap pelapukan fisik yang terjadi di dalam tanah.5 0C. Intensitas cahaya. maka apabila perhatian difokuskan iklim sebagai salah satu unsur ekosistem sumber daya hutan. Jika keadaan tertutup hutan. Oleh karena itu. Di sisi lain di kemukakan. Menurut Noor (2001) suhu gambut sendiri lebih besar daripada suhu udara antara hutan dan lahan kosong.0 0C dan jika keadaan terbuka berkisar 40. Dubenmire (1974) menyatakan bawa warna permukaan tanah mempengaruhi jumlah radiasi yang dapat diadsorbsi dan mengatur jumlah panas yang disimpan dan diradiasikan kembali ke atmosfir. Suhu permukaan gambut hampir tetap. Penelitian mengenai perubahan iklim mikro hutan akibat kegiatan penebangan dan penyaradan di Indonesia bisa dikatakan hampir belum dilakukan. kemiringan dan vegetasi penutup yang mengubah jumlah bersih panas yang masuk.0 0C ± 42. (2) energi panas yang diperlukan yang membawa perubahan pada suhu tanah dan (3) energi panas yang dibutuhkan untuk perubahan lain seperti evaporasi (Buckman dan Bardy. dan di bawah naungan yang lebat suhu permukaan tanah lebih dingin dari pada suhu udara di atasnya selama waktu terpanas dari siang hari. hubungan di atas belum tentu berlaku umum dan perlu dipelajari untuk setiap macam tanah yang ada. kelembaban. Adanya naungan juga sangat mempengaruhi pemanasan tanah oleh radiasi matahari. di dekat tanah. Suhu tanah yang sangat mempengaruhi aktivitas biotis awal dan pertumbuhan pohon paling sedikit tergantung kepada tiga faktor. suhu. suhu tanah merupakan faktor yang sangat penting. 1982). Oleh karena ruang gerak kehidupan tumbuh-tumbuhan dan mahkluk lainnya terdapat di lapisan terbawah atmosfir. Perubahan . tidak akan berlangsung dengan cukup intensif jika suhu tertentu tidak dipertahankan.5 0C ± 29.Buckman dan Brady (1982) mengemukakan. bahwa perubahan kimia dan terutama biologi di dalam tanah. suhu gambut berkisar 25.

namun ternyata hanya intensitas cahaya. Suhu pada tajuk pohon akan mempengaruhi pertumbuhan karena suhu mempengaruhi kecepatan respirasi dan transpirasi. suhu udara dan kelembaban sajalah yang sangat nyata menentukan pertumbuhan tingkat semai. C. Peranan suhu yang penting dalam pertumbuhan pohon atau vegetasi adalah suhu udara dan suhu tanah. suhu udara dan tanah meningkat dan kelembaban udara berkurang. sehingga hampir sama dengan suhu udara.11 diberikan pada permukaan lebih tinggi. 1980). Kemungkinannya adalah vegetasi sebagai salah satu sumber kandungan air sebagian telah hilang karena penebangan dan penyaradan. Sedangkan meningkatnya suhu tanah dapat mematikan aktifitas metabolisme (Spurr dan Barnes. Lebih lanjut dikemukakan bahwa kendatipun begitu banyak faktor lingkungan yang berubah akibat penebangan dan penyaradan. Menurut Smith (1983) pada hutan tropis suhu permukaan C karena sinar matahari tertahan olehrtanah hampir tetap yaitu 27 vegetasi. Diposkan oleh elfisuir di 17:41 0 komentar Label: IKLIM HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU . Tingkat semai adalah yang pertama kali yang menderita dengan adanya perubahan iklim mikro akibat pembukaan hutan. Secara umum dapat dikatakan bahwa dengan adanya pembukaan hutan intensitas cahaya yang mencapai lantai hutan akan meningkat. Secara tioritis suhu yang meningkat di bawah tegakan akibat penebangan dan penyaradan memberi petunjuk bahwa kelembabannya menurun. Karena radiasi yangrmaka suhu permukaan tanah dapat meningkat 7 . Sanchez dalam Bismark (1990) mengatakan bahwa bila pohon di hutan banyak ditebang. Akan tetapi dugaan ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut melalui penelitian di lapangan.iklim mikro ini penting untuk dipantau karena akan mempengaruhi sebaran jenis lokal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful