TEKNIK PENILAIAN HASIL BELAJAR SISWA-1

Diposkan oleh elfisuir di 01:56 0 komentar Label: TEKNIK PENILAIAN HASIL BELAJAR SISWA-1 TEKNIK PENILAIAN HASIL BELAJAR SISWA-2 .

.

Diposkan oleh elfisuir di 01:42 0 komentar Label: TEKNIK PENILAIAN HASIL BELAJAR SISWA-2 TEKNIK PENILAIAN HASIL BELAJAR SISWA-3 .

.

kerapatan maupun komposisinya.com) Posting 02 Juni 2010 Petunjuk teknis TPTI merupakan acuan kegiatan pemanenan kayu di hutan alam Indonesia.Si. syarat biaya serta beresiko tinggi. Hal ini muncul tidak lain karena pohon yang ditebang hidup di tengah tegakan yang beragam jenis. (elfisuir@ymail. Besar kecilnya kerusakan tergantung . Elfis. juga di sisi lain harus bisa mengntisipasi agar kerusakan tegakan tinggal dan lingkungan minimal. Di dalamnya berisi tahapan dan kegiatan perencanaan pemanenan yang cukup rinci dan bersifat konservatif.Diposkan oleh elfisuir di 01:38 0 komentar Label: TEKNIK PENILAIAN HASIL BELAJAR SISWA-3 Selasa. Oleh karena itu. Kegiatan pembalakan selain prosesnya berlangsung tidak mudah. M. 1998). ukuran. 01 Juni 2010 PENETAPAN AMBANG BATAS HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU PENETAPAN AMBANG BATAS HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU Oleh Dr. sistem ini dipandang paling aman untuk mempertahankan pengelolaan kelestarian hutan (Dephutbun.

sumber air dan kehidupan liar adalah pengaruh nyata sebagai akibat dilakukannya kegiatan eksploitasi hutan tropika basah.. yang lebih penting dalam konservasi keragaman hayati ialah melindungi dan memelihara potensi ekosistem yang produktif. 1996). peranan dan evolusi dari ekosistem. Sedangkan kelenturan ekologi ialah pemulihan kondisi yang relatif jauh dari keadaan seimbang. 1996). kondisi awal sangat berpengaruh dalam merespon kerusakan yang terjadi. (2) besar pengaruh kerusakan terhadap permudaan alam untuk mengelompokan pembinaannya lebih lanjut dan (3) pertimbangan pemanfatan atas kerusakan . Untuk pembuatan parameter ambang batas pengaruh. maka kemungkinan terjadinya kerusakan tegakan tinggal akan semakin besar. Konsepsi kelenturan ekosistem (ecosystem recosilience) ini terbagi atas 2 bagian yaitu kelenturan mekanis (engineering recosilience) dan kelenturan ekologi (ecological recosilience) (Holing dalam Malcom dan Markham. Ewel dan Conde (1978) menyebutkan bahwa kerusakan pada tanah. angin dan cahaya. ruang dan waktu (Sassaman. 1996). siklus hara. Sheffield (1996) mengatakan bahwa penetapan standar yang baku untuk menganalisis data suatu kegiatan inventarisasi kerusakan hutan. 1996). Untuk itu proses pembalakan ramah lingkungan sangat diperlukan. 1984 dalam Gardner et al. tinggi dan kerapatan tegakan serta keterampilan penebang. maka konsep ambang batas menjadi sulit didefenisikan secara tepat (Sousa. 1981 dalam Soemarwoto. sehingga memperbesar tingkat kerusakan. Pengaruh yang dianggap penting itu.pada bentuk dan lebar tajuk. komposisi serta potensi pertumbuhannya. 1981 dalam Soemarwoto. perlu dipahami kemampuan daya pulih ekosistem atas pengaruh itu (Malcom dan Markham. 1997). Dalam hal ini. Oleh karena itu. untuk penetapan ambang batas perlu diketahui proporsi bentuk dan ukuran dari kerusakan. Pada ekosistem yang berdaya pulih. Kerusakan tersebut terjadi karena adanya pohon yang ikut tumbang. Karena gangguan biasanya cendrung bersifat ekstrim dan berdampak panjang. kelembaban. hingga saat ini belum ada. bisa mengakibatkan kerusakan pada tegakan di sekitarnya paling sedikit seluas 0. Wiradinata dan Saddan (1980) menyatakan bahwa faktor lain yang mempengaruhi kerusakan tegakan tinggal juga diakibatkan oleh kegiatan pembuatan jaringan jalan dan tempat pengumpulan kayu (TPn). negatip ataupun positip merupakan sesuatu ukuran ambang batas kepedulian (Threshold of Concern. Lawton dan Jones dalam Malcom dan Markhum (1996) mengatakan bahwa peranan pohon pada struktur lingkungan hutan terjadi melalui modifikasi proses hidrologi. Menurut Hamilton et al. suhu. Pada kejadian ini situasi awal dapat berubah ke kondisi yang lain karena pengaruh keseimbangan baru yang lebih dominan (Holing dalam Malcom dan Markham. Kelenturan mekanis ialah ketahanan pulih terhadap gangguan dan kecepatannya untuk kembali mencapai keadaan yang seimbang.02 ha.. pengguna hendaknya mengatur kembali metode yang diambil dalam penetapan ambang batas pengaruh sesuai tujuan dan spesifikasi yang diinginkan (Sassaman. 1997). dalam sekali penebangan pohon berdiameter besar di hutan tropika basah. Di pihak lain. kestabilan tanah. Misal. Untuk melihat kepulihan ekosistem. (1996) tahap dan aspek yang perlu diperhatikan dalam menilai kerusakan hutan ialah : (1) proporsi tingkat kerusakan yaitu potensi. vegetasi. TOC) yang lingkupnya mencakup bidang. Semakin tidak terencana kedua kegiatan tersebut. Menurut Dawkin (1980) dalam Wiradinata dan Saddan (1980). akibat pembalakan terhadap struktur tegakan. jenis.

Tiap kelas menggambarkan bentuk dan ukuran kerusakan.5 meter. Sedangkan untuk iklim mikro bisa dinyatakan dalam keterbukaan tegakan di mana semakin banyak hutan rusak semakin besar tingat keterbukaan.yang terjadi. 1988 dalam Sheffield. sedang Gadrner et al. (4) Sheffield dan Michael (1996) menyatakan penilaian yang berkaitan dengan perubahan iklim mikro yang ditentukan melalui tingkat kerusakan tajuk yang contoh penerapannya untuk tiang dan pohon. Ambang batas yang lain seperti gangguan tanah hutan bisa dicerminkan antara lain dalam panjang jalan utama dan jalan sarad. Resiko (manfaat) lingkungan (juga hutan sebagai suatu ekosistem) ialah suatu faktor atau proses dalam lingkungan yang mempunyai kementakan tertentu sehingga menyebabkan konsekuensi yang merugikan (menguntungkan) kepada manusia dan lingkungannya. et al. dalam hal ini pengelolaan hutan alam sangat penting artinya (Soemarwoto.Luka batang mencapai kyu berukuran lebih dari ¼ kliling batang dengan panjang lebih dari 1. yang diperkirakan masih cukup aman bagi keberlanjutan pengelolaan hutan alam rawa gambut secara lestari (Hamilton et al.Perakarannya terpotong atau 1/3 banir rusak.. Sementara Landon dalam Bernard (1950) mengatakan bahwa untuk tujuan yang sama diperlukan tingkat pancang dan tiang sebanyak 300 batang/hektar dan 890 batang/hektar. baik resiko maupun mnfaat mengandung unsur ketidakpastian bahwa kementakan bisa terjadi tinggi atau rendah. 1996). Untuk membuat klasifikasi ambang batas yang diinginkan itu ditempuh dengan cara analisis data hasil pemantauan yang dilaksanakan sendiri dan orang lain sebagai pertimbangan penetapan besarannya.. Dari kriteria di atas maka diusulkan untuk dapat diterapkan sebagai ambang batas adalah klasifikasi tingkat ringan. Dengan demikian kalaupun terjadi kerusakan karena kesulitan dalam pelaksanaannya di lapangan. Menurut Hamilton et al. Brdasarkan batasan ini. 1996. (1996) juga membagi kerusakan tegakan dalam 4 kelas. b. (1996) kriteria ambang batas dibuat sederhana dengan maksud memudahkan secara teknis penggunaannya di lapangan. 1997). . Tansey dan Hutchins. sedangkan Smith (1960) menyebutkan bahwa untuk membentuk tegakan yang cukup (full stock) setiap hektar memerlukan permudaan tingkat semai sebanyak 1000 batang. (3) Syme et al. (1996) membaginya dalam 8 kelas. Oleh karena itu kegiatan melakukan pemantauan pengaruh dengan baik dan kemudian menggunakannya sebagai umpan balik untuk memperbaiki pengelolaan lingkungan. c. jumlah batang tegakan minimal 60 % (Nodine. Misalnya. Kriteria dibuat dalam 3 kelas yaitu kelas berat. sekalipun sebenarnya sulit untuk bisa memastikan keberadaan lanjutannya untuk dapat hidup terus atau tidak.. pancang 300 batang dan tiang 75 batang. Beberapa cara penilaian kerusakan tegakan dapat disebutkan di antaranya : (1) Keputusan Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan Nomor 564/KPTS/IV-BPHH/1989 tentang TPTI menyebutkan bhwa pohon inti yang merupakan pohon harapan untuk kembali bisa dipanen pada periode 35 tahun berikutnya dikatakan rusak apabila mengalami salah satu atau lebih keadaan sebagai berikut : a. (2) Sheffield dan Michael (1996) bahwa untuk menaksir perubahan tegakan yang disebabkan oleh kerusakan dapat dikelompokan menjadi 4 kelas. Sama seperti Sheffield dn Michael (1996). tetapi tidak dapat dikatakan pasti akan terjadi atau pasti tidak akan terjadi.Tajuk pohon rusak lebih dari 30 % atau cabang pohon/dahan besar patah. 1996).. sedang dan ringan seperti berikut. peningkatan kerusakan yang terjadi masih berada pada tingkat sedang..

Menurut sistem klasifikasi tersebut. M. Tanpa memandang tingkat dekomposisinya. fibrist. yaitu folist. Untuk daerah tropika nama-nama kelompok besar antara lain : tropofolist. hemist dan saprist. Kelompok besar ini secara umum mempunyai perbedaan temperatur rata-rata musim panas dan dingin kurang dari 50 C. baik dengan ketebalan bahan organik lebih dari 45 cm ataupun terdapat secara berlapis bersama taah mineral pada ketebalan penampang 80 cm serta mempunyai tebal lapisan bahan organik lebih dari 50 cm (Suhardjo.com) Posting 02 Juni 2010 Gambut adalah bahan tanah yang tidak mudah lapuk.Menurut Sheffield dan Michael (1996) Penetapan ambang batas belumlah bersifat defenitif.Si. Gambut endapan biasanya tertimbun di dalam air yang relatif dalam. kadang-kadang tercampur dengan tipe gambut lainnya jika lebih dekat dengan permukaan. 1975) tanah gambut termasuk kedalam ordo histosol. dan (e) dapat tumbuh pada tanah yang bersifat masam. 1982). Subordo tersebut berdasarkan kandungan atau ketebalan bahan penciri dan temperaturnya dibedakan menjadi beberapa kelompok besar. Sampai tegakan campuran. (d) mempunyai perakaran yang khas. 1977). 1982) yaitu : (1) Gambut endapan. Elfis. Karena itu umumnya terdapat jelas di profil bagian bawah. dikenal dua golongan tanah yaitu tanah mineral yang mengandung bahan organik berkisar antara 15 % sampai dengan 20 % dan tanah organik yang mengandung bahan organik berkisar antara 20 % sampai dengan 25 % bahkan kadang-kadang sampai 90 % mengandung bahan organik (Buckman dan Brady. Asian Wetland Beraue dan Ditjen PHPA (1993) dalam Koesmawadi (1996) mengemukakan bahwa hutan rawa gambut merupakan statu ekosistem yang unik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (a) selalu tergenang air. Lapisan yang mengandung bahan organik tinggi tersebut tebalnya lebih dari 40 cm. 1983). Tanah gambut atau tanah organik dimaksud dikenal juga sebagai tanah organosol atau histosol (Suhardjo. Berdasarkan kandungan bahan organik. merupakan tanah yang tersusun dari bahan organik. (c) terdapat lapisan gambut pada lantai hutan. Menurut sistem kalsifikasi taksonomi tanah (USDA. tropofibrist. Tanah gambut tersebut pada umumnya mengandung lebih dari 60 % bahan organik (Driessen. tropohemist dan troposaprist. Kalau kering gambut ini menyerap air sangat lambat dan bertahan tetap dalam keadaan sangat keras dan . Tanah gambut. 1983). ordo histosol berdasarkan bahan asal dan tingkat perombakannya dibedakan menjadi empat sub-ordo. (elfisuir@ymail. yaitu tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20 % tekstur pasir atau lebih dari 30 % tekstur liat. gambut dikelaskan sesuai dengan bahan induknya menjadi tiga (Buckman dan Brady. (b) komposisi jenis pon beraneka ragam. Diposkan oleh elfisuir di 17:46 0 komentar Label: PENETAPAN AMBANG BATAS HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU TANAH HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU TANAH HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU Oleh Dr. melainkan bersifat pendekatan dengan pertimbangan dasar penilaian cukup logis dan bisa diterapkan di lapangan. terdiri dari bahan organik yang sebagian besar belum terdekomposisi atau sedikit terdekomposisi serta terakumulasi pada keadaan kelembaban yang berlebihan. Gambut ini berciri kompak dan kenyal serta bewarna hijau tua jika masih dalam keadaan aslinya. mulai dari tegakan sejenis seperti jenis Calophyllum inophyllum Mix. Meskipun demikian.

berat jenis 0. sebagian atau seluruhnya terdapat dalam profil bawah. (2) Hemic merupakan peralihan dengan tingkat dekomposisi sedang. berwarna kuning sampai pucat. berat jenis sangat rendah (kurang dari 0. Gambut pantai umumnya merupakan gambut topogenous atau mesogenous. Oleh karena itu.07 ± 0. 1975). Menurut Darmawijaya (180) berdasarkan faktor pembentukannya. 1988) yaitu : (1) Fibric yang tingkat dekomposisinya masih rendah.2 atau lebih. Gambut ini bewarna coklat atau hitam jika basah. Di daerah dataran tinggi dengan suhu yang dingin bahan organik yang terbentuk lebih halus dan mudah melapuk daripada di dataran rendah atau pantai. Bersifat sangat masam dengan pH 3. faktor lingkungan tempat terbentuknya tanah gambut dan proses pembentukan tanahnya.0 ± 4. Vegetasi rawa atau air semula berupa rumputrumputan yang membentuk bahan organik lebih dahulu di lapisan bawah. Tanah gambut di Indonesia sangat bervariasi tingkat kesuburannya. Kualitas tanah gambut sangat tergantung pada vegetasi yang menghasilkan bahan organik pembentuk tanah gambut. Gambut kayuan biasanya terdapat dipermukaan timbunan organik. kualitas dan tata air tempat pembentukannya. untuk kemudian ditimbun oleh bahan vegetasi yang lebih besar di atasnya. sesuai dengan sifat humifikasinya. Gambut berserat mungkin terdapat dipermukaan timbunan bahan organik yang belum terdekomposisi. Sedangkan gambut pedalaman pada umumnya merupakan gambut ombrogenous atau mesogenous yang termasuk kedalam oligotropik (Polak. (3) Sapric yang dekomposisinya paling lanjut. kurang mengandung serabut.18.5. karena sifat fisiknya yang tidak cocok untuk pertumbuhan tanaman. berat jenis antara 0. yaitu : (1) Gambut ombrogen. sebagian besar tergolong kedalam eutropik atau mesogenous. oleh karena itu gambut kayuan kurang sesuai digunakan untuk persemaian. Gambut ombrogen terbentuk karena pengaruh curah hujan yang tinggi. kadar air banyak. karena memperoleh tambahan unsur lain dari luar yaitu yang dibawa air pasang. gambut digolongkan menjadi tiga bagian. sehingga masih banyak mengandung serabut. di daerah katulistiwa hanya terbentuk di daerah pegunungan dan iklimnya menyerupai iklim di daerh sedang dengan vegetasi utamanya Sphagnum. tanpa perbedaan musim yang mencolok dan pada daerah tropika yang lebat dengan curah hujan lebih dari 3000 mm tiap tahun. tanah gambut mempunyai lapisan-lapisan dengan perbedaan kualitas karena vegetasi yang memberikan bahan organik berbeda (Suhardjo. masih banyak mengandung serabut. berasal dari tanaman paku-pakuan dan semak belukar dan mempunyai pH yang relatif tinggi. bahan mineral yang berada di dawahnya. Gambut ini terbentuk karena ketinggian tempat gambut. berwarna coklat muda sampai coklat tua. Gambut topogen terbentuk karena pengaruh topografi. (3) Gambut pegunungan.1). Vegetasi bahan pembentuk tanah gambut dipengaruhi oleh keadaan iklim. kadar air banyak. Kemampuan mengikat air rendah.bergumpal.. kadar air tidak terlalu banyak dengan warna hitam dan coklat kelam. Bahan organik pada tanah gambut dibedakan atas tiga macam (Rosmarkam et al. Gambut ini mempunyai kemampuan mengikat air tinggi dan dapat menunjukan berbagai derajat dekomposisi. (2) Gambut berserat. biasanya terlihat di atas endapan. 1983). (2) Gambut topogen. Selanjutnya Suhardjo (983) menyatakan bahwa sifat-sifat fisik tanah gambut ditentukan oleh tingkat dekomposisi atau kematangan bahan organik pembentuk gambut. Gambut ini tidak dikehendaki. Tingkat kematangan . dengan air yang tergenang. (3) Gambut kayuan.

P2O5. 1984). sedang sebaran ukuran pori dipengaruhi oleh sebaran fraksi/serat dan struktur. Selanjutnya Prichet (1979) menyatakan bahwa kemampuan hutan tropika basah Indonesia bukan . Menurut Rose dalam (Mile. Ketidakmampuan pohon-pohon tumbuh optimal dibagian tengah gambut karena keadaannya yang sangat ekstrim. hutan-hutan tropika basah yang tergolong ke dalam hutan tropika basah dataran rendah (lowland tropical rain forest) dan tinggi (higland tropical rain forest) sebagian besar tumbuh pada tanah yang tergolong marginal. 1961). 1986). bahwa hal ini dimungkinkan karena kondisi hutan alam yang multi strata baik tajuk maupun sistem perakaran serta kondisi iklim (terutama curah hujan dan temperatur) yang dapat mendukung terjadinya pengembalian hara yang cepat serta pemanfaatannya secara efesien. keadaan tanah mineral di bawah lapisan gambut serta kualitas air sungai atau air pasang yang mempengaruhi lahan gambut dalam proses pembentukan dan pematangannya (Adhi. Ruang pori total (RPT) ditentukan oleh bobot. Menurut Hakim (1986) berdasarkan nilai-nilai tersebut menggolongkan kesuburan tanah gambut menjadi tiga yaitu : (1) Gambut eutropik yang subur (2) Gambut mesotropik dengan kesuburan sedang (3) Gambut oligotropik dengan kesuburan rendah Lokasi HPH PT. Sedangkan tingkat kesuburan tanah gambut ditentukan oleh kandungan N. Semakin tinggi nilai-nilai tersebut semakin tinggi kesuburannya (Fleischer dalam Supraptohardjo. fosfor dan kalium rendah. Pada gambut ombrogen semakin ke arah tengah lahan gambut terjadi penurunan tingkat kandungan hara. Sebagai akibat dari keadaan di atas. 1986). kurang dari sepertiga volumenya masih berupa serat. Kecendrungan semakin menurunya kesuburan tanah dicirikan oleh menurunya tinggi tajuk vegetasi hutan. Menurut Prichet (1979). diikuti dengan pertukaran Al. payau atau air laut lebih kaya unsur hara dibandingkan dengan gambut yang hanya tergantung air hujan saja. Sifat kimia tanah gambut dicirikan dengan nilai pH dan ketersediaan unsur nitrogen. khusunya pH dan ketersediaan unsur hara bagi tanaman (Anwar et al. Susunan kimia dan kesuburan tanah gambut ditentukan oleh ketebalan lapisan gambut dan tingkat kematangan lapisan-lapisannya. CaO dan kadar abu. formasi hutan gambut ombrogen sering memiliki variasi lokal sebagai phasic communities (Anderson. hutan alam tersebut dapat tumbuh dengan baik dan lestari pada tanah yang berpelapukan lanjut karena memiliki sistem perputaran hara tertutup (closed system nutrients cycling) yang terjaga dengan baik. kejenuhan kalsium dan magnesium yang rendah. isi dan bobot jenis rata-rata (average specifik density) gambut. Sapric adalah bahan organik yang paling lapuk. 1984).. Tingkat kematangan hemic sedang dengan kandungan seratnya sepertiga sampai duapertiga volumenya. menebalnya daun serta menurunnya rata-rata diameter pohon. Kualitas air mempengaruhi kesuburan gambut yang terbentuk. Yang dimaksud serat adalah potongan atau kepingan jaringan tumbuhan yang tertahan oleh jaring dengan ukuran mesh 100.gambut ini dicirikan oleh kandungan serat bahan organik tersebut. bentuk dan ukuran serat menentukan jumlah dan sebaran ukuran pori. Yos Raya Timber didominasi oleh gambut ombrogen oligotropik. daya simpan air dan daya hantar hidrolik (Adhi. Fibric adalah tingkat gambut yang dekomposisinya rendah. yaitu gambut yang miskin dengan sumber penggenangan air hujan. Jumlah. 1997). 1974). Fe yang cukup tinggi sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman (Hakim. Gambut yang dipengaruhi air sungai. menurunya bahan kering per satuan luas. Jordan (1985) menyatakan. Jumlah dan sebaran ukuran pori menentukan sifat-sifat retensi air. tidak termasuk akar hidup dan struktur jaringannya masih dapat dikenali. K2O. duapertiga volumenya terisi serat.

Oleh karena itu dehutanisasi hutan tropika basah berakibat kemerosotan hara tanah secara drastis dibandingkan dengan proses dehutanisasi daerah temperate (nontropis). zona vegetasi dan sebagainya. secara ekologi pada hakekatnya memundurkan perjalanan suksesi dari kondisi klimaksnya.disebabkan oleh kesuburan tanahnya. betapun mulianya tujuan program ini. pada hakekatnya merupakan proses pembangunan ekosistem. suhu. Apabila tajuk menjadi relatif lebih . Pada kebanyakan tajuk. Banyaknya produksi daun menyebabkan sebagian besar unsur hara yang ada di dalam hutan tropika basah tersimpan pada biomas tanaman dan bukan pada tanah hutan sebagaimana pada hutan temperate. zona iklim. Menurut Kramer dan Kozlowski (1960) dalam Idris (1996). faktor-faktor iklim yang penting bagi hidup dari pertumbuhan individu dan masyarakat tumbuh-tumbuhan adalah cahaya. 1981 dalam Wenger. Berdasarkan batasan ruang dimana nilai-nilai yang ada masih berlaku. melainkan semata disebabkan oleh adanya siklus hara yang ketat dan tertutup yang mampu menyumbat peluang kebocoran unsur hara. Menurut Soerianegara dan Indrawan (1984) iklim makro adalah iklim yang nilai-nilainya berlaku untuk daerah yang luas. Merubah watak siklus hara yang ketat dan tertutup menjadi longgar dan terbuka akan memberikan peluang lebar terhadap proses kebocoran hara mineral. Dehutanisasi yang diikuti oleh konversi hutan menjadi berbagai macam fungsi. maka iklim dibedakan kedalam iklim makro dan iklim mikro. Pada saat suksesi mencapai klimaks. Jordan (1985) menyatakan bahwa. gas udara dan angin. sedangkan iklim mikro hanya berlaku untuk tempat atau ruang yang terbatas. sedangkan tanaman hutan temperate lebih banyak disimpan di kayu. walaupun produk bersih tanaman (net primary productivity) hutan tropis lebih besar. Lapisan ini mengintersepsi dan mengabsorbsi radiasi matahari dan gerakan angin terbanyak dari udara di atasnya. 1984). namun lebih disebabkan oleh banyaknya produksi daun. Dikemukakan lebih lanjut bahwa iklim makro dipergunakan untuk menentapkan tipe iklim. kelembaban udara.Si. Diposkan oleh elfisuir di 17:42 0 komentar Label: TANAH HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU IKLIM HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU IKLIM HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU Oleh Dr. (elfisuir@ymail. Perjalanan suksesi hutan menuju klimaks. dimana sebagian besar unsur haranya tersimpan di tanah dan lantai hutan. yaitu lapisan dengan tingkat kerapatan daun maksimum. Dengan demikian.com) Posting 02 Juni 2010 Iklim adalah sintesis hasil pengamatan cuaca untuk memperoleh deskripsi secara statistik mengenai keadaan atmosfier pada daerah yang sangat luas (Barry. curah hujan. hasil fotosintesa hutan tropis lebih banyak di simpan di daun. Lingkungan radiasi di dalam sebuah hutan berbeda dengan daerah tidak berhutan karena permukaan yang mengabsorbsi di dalam hutan umumnya berbeda di atas tanah dengan jarak yang terlihat nyata. Tanaman yang berkembang pada kondisi ini didukung oleh lingkungan tumbuh yang paling optimal. Hal ini dikarenakan adanya proses pembentukan unsur hara yang terjadi secara berkala melalui proses pengguruan daun. permukaan aktif yaitu permukaan yang terbanyak menerima radiasi matahari datang adalah lapisan vegetasi yang berada di atas. ekosistem yang dibentuknya berada dalam keadaan kondisi yang paling baik. Elfis. sedangkan iklim mikro berhubungan dengan habitat atau lingkungan mikro. M.

udara yang dingin dapat turun dan berkumpul di atas permukaan lantai hutan. Selama siang hari. Sedangkan dari segi fisika. Sedangkan limpahan pancaran yang diterima atau dipancarkan per satuan luas dinamakan kerapatan limpahan pancaran (radiant flux density) disingkat kerapatan limpahan dengan satuan kal. juga ada kaitan erat antara beberapa proses kehidupan dengan suhu. lebih lanjut dikemukakan bahwa profil suhu menentukan laju pemindahan momentum. 1987. Jumlah air atau uap air di udara berpengaruh secara langsung terhadap tumbuhan sebagai cekaman lingkungan.. profil suhu udara penting untuk diketahui karena adanya perbedaan yang tajam antara suhu permukaan dengan udara di atasnya. Oleh karena itu. Kerapatan batang dan penutupan tajuk menentukan bagian dari radiasi yang dapat mencapai lantai hutan (Grates. suhu udara dekat lantai hutan dapat menjadi lebih panas ketimbang suhu udara di dalam tajuk. dengan satuan k al. (2002) suhu maksimum di dalam hutan adalah berada di bagian atas tajuk. Noor dan Smith. Pada tajuk yang jarang. Udara kering yang menyebabkan pengeringan tanah yang sangat cepat dan . suhu biasanya tetap sampai ke lantai hutan. bahang serta bahan.. Sebuah kecambah yang baru muncul. keadaan dimana suhu udara berkurang menurut ketinggian akan mendukung pemindahan golak. yang mengakibatkan inversi sehingga dapat menjerat debu. menyebabkan sebagaian organisme hidup berada seketika pada dua rejim suhu yang sangat berlainan. sehingga profil suhu cendrung menunjukan penurunan secara adabiatik kering (dry adabiatic lapse rate). bahkan sedikit berkurang jika tajuknya rapat. 1998. permukaan itu adalah permukaan tanah dan vegetasi yang tersisa. 1987). suhu udara maksimum biasanya lebih rendah dan suhu minimum lebih tinggi daripada di daerah yang terbuka./cm2/detik ( de Rozari. 1984). Di bawah lapisan ini. 1984).terbuka maka radiasi matahari dan angin akan masuk lebih dalam ke dalam tajuk Nguyen and Sist. Jumlah energi yang diterima atau dipancarkan per satuan luas dinamakan limpahan pancaran (radiant flux) disingkat limpahan. Dalam sebuah hutan. Pada daerah terbuka permukaan aktif adalah bagian atas dari lapisan serasah/humus. satuan yang digunakan adalah kalori (kal. Sukadaryati et al. Pengaruh ini mencegah suhu pada siang hari meningkat secara cepat. Energi pancaran (radiasi) adalah energi yang berpindah dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Pada malam hari puncak tajuk menjadi lebih dingin. 1980 dalam Wenger. memperoleh cekaman bahang luar biasa dibandingkan dengan cekaman yang akan dialaminya kemudian. 2002). daun-daun dalam tajuk menghalanghalangi masuknya radiasi matahari ke lantai hutan. erg atau joule (J)./detik atau J/detik = Watt (W). Apabila tajuk hutan jarang. Dari segi biologi. dengan demikian ruangan di bawah tajuk lebih dingin daripada daerah terbuka selama siang hari. 1980 dalam Wenger. asap dan CO2 di dalam dan di bawah tajuk. suhu udara tetap lebih tinggi dibadingkan dengan di luar hutan (Gates. Suhu di dalam tajuk dipertahankan melalui transpirasi dari daun-daun.). Pada daerah bekas pembalakan. atau apabila tidak ada serasah maka permukaan aktif adalah permukaan tanah. Menurut Wenger (1984) dan Sukadaryati et al. Menurut de Rozari (1987) suhu udara di dekat permukaan mempunyai arti penting bagi kehidupan oleh karena selain kebanyakan bentuk kehidupan terdapat di permukaan. Jumlah cahaya yang mencapai lantai hutan mengendalikan suhu tanah yang akan berpengaruh terhadap reproduksi dan vegetasi bawah. Di sisi lain. 1987). Dengan dimensi energi. Sedangkan keadaan dimana suhu udara bertambah menurut ketinggian condong menekan pemindahan golak dan dengan demikian mempertajam gradien suhu ( de Rozari. Pada malam hari tajuk pohon mencegah kehilangan panas yang cepat dari lapisan batang melalui radiasi ke angkasa.

Tanaman tingkat tinggi mendapatkan sebagian besar karbon (C) dan oksigen (O) langsung dari udara karena fotosintesis. (1980 dalam Wenger. 1977 dalam Wenger. Penjelasan di atas tidak boleh diartikan bahwa jaringan tumbuhan dibangun dari unsur hara tanah. Jika suhu meningkat selama jam-jam siang hari. kelembaban pada musim kemarau lebih tinggi daripada musim hujan. penyebaran penyakit. Fenomena ini disajikan Gates. Selanjutnya Wenger (1984) menyatakan bahwa kebanyakan tajuk-tajuk hutan memang ada sedikit peningkatan kecepatan angin yang relatif di lapisan batang pohon.96 %. et al. Selama siang hari. maka semakin efesien diffusi dan ekspresi gas. hidrogen dan oksigen dan hanya 0. et al. 1996). Bilamana kelembaban nisbi meningkat sampai mencapai nilai terttingginya sesaat sebelum matahari terbut. kelembaban menurun menjadi 80 %. yaitu dapat mencapai 90 % . baik dalam hutan alami maupun hutan gundul atau lahan kosong. 1984). pengakutan aerosol dan unsur-unsur kimia penting serta pemencaran api seluruhnya dikendalikan oleh angin setempat di dalam dan di dekat tajuk serta kecepatan angin dan sifat golak galik udara di luar tajuk. yang benar adalah kebalikannya yaitu bahwa besarnya 94 sampai 99.. 1984). 1974). Tetapi pada pai hari..69 %.transpirasi tanaman yang luar biasa berpengaruh buruk terhadap tanaman itu sendiri. 1982). Umumnya kelembaban di dalam sebuah hutan adalah lebih tinggi daripada tempat terbuka dikarenakan adanya transpirasi dari daun-daun dan suhu yang rendah. Tajuk-tajuk hutan memiliki tahanan (drag) di bagian atasnya yang menghambat aliran angin sehingga kecepatan angin di dekat tajuk menjadi lambat. maka kelembaban nisbi akan berkurang sampai mencapai nilai terendah dekat tengah sore hari. maka pada saat itu suhu mencapai nilai terendah. Secara umum. kelembaban dapat mencapai 67 % . Kelembaban relatif sangat dipengaruhi oleh suhu. yakni berkisar 90 % .84 % Pada siang hari di muism kemarau.96 % (Rieley. Sedangkan hidrogen (Hukum) diperoleh secara langsung atau tidak langsung dari air dalam tanah. Akan tetapi untuk kebanyakan tujuan praktis kecepatan angin di lapisan tersebut. 1984). Unsur esensial lainnya diperoleh dari bagian tanah yang padat (Buckman dan Bardy. cairan atau material padat yang melayang diudara. tanah lantai hutan dan tajuk merupakan sumber kandungan air. pengangkutan karbon dioksida ke daun.5 sampai 5 atau 6 % berasal dari tanah (Daubenmire. Penelitian menunjukan. 1980 dalam Wenger. Pada musim kemarau.. lebih rendah pada lapisan batang dan lebih tinggi dari daerah tajuk.Di atas tajuk yang kasar dan luas. Perubahan suhu harian mengakibatkan adanya variasi harian dari kelembaban nisbi. semakin tinggi kecepatan angin dan aliran golak galik udara di luar tajuk. dan pada bulan-bulan kering berkisar 0 % . . Kelembaban relatif hutan gambut cukup tinggi pada musim hujan. Nitrogen diperoleh tumbuhan dari udara tanah secara tidak langsung oleh leguminose. Wenger (1984) menyatakan bahwa aliran panas dan uap dari daun-daun. yaitu di bawah bagian paling rapat dari tajuk dianggap konstan menurut ketinggian. Kandungan air yang terlalu banyak diudara menghalang-halangi pendinginan daun melalui evaporasi dan dapat mengakibatkan cekaman suhu (thermal stress) (Gates.5 % jaringan tumbuhan yang segar terdiri dari karbon. 1996). bahwa unsur tertentu yang terkandung di udara diperlukan untuk pertumbuhan normal bagi tumbuhan. Perubahan kecepatan angin menurut ketinggian ini disebut profil angin (wind profile). profil angin dapat diduga dengan menggunakan rumus berikut (Grace. Unsur penting ini harus berada dalam bentuk yang dapat digunakan tumbuhan dan dalam kosentrasi yang optimum untuk pertumbuhan suatu tanaman (Rieley. Oleh karena itu kelembaban nisbi selama siang hari adalah tertinggi di dekat tanah lantai hutan.

5 0C ± 29.0 0C ± 42. di dekat tanah. pengaruh kemiringan pada lapangan yang terbuka dapat menjadi sangat ekstrim. Oleh karena itu.0 0C dan jika keadaan terbuka berkisar 40. kemiringan dan vegetasi penutup yang mengubah jumlah bersih panas yang masuk. bahwa pada pegunungan-pegunungan yang tinggi di daerah lintang tengah belahan bumi utara. Suhu permukaan gambut hampir tetap. tidak akan berlangsung dengan cukup intensif jika suhu tertentu tidak dipertahankan. de Rozari (1987) menyatakan. suhu gambut berkisar 25. Oleh karena ruang gerak kehidupan tumbuh-tumbuhan dan mahkluk lainnya terdapat di lapisan terbawah atmosfir.Buckman dan Brady (1982) mengemukakan. di mana suhu minimum dari tanah pada kemiringan ke selatan lebih tinggi ketimbang suhu maksimum tanah pada kemiringan ke utara. suhu. Penelitian mengenai perubahan iklim mikro hutan akibat kegiatan penebangan dan penyaradan di Indonesia bisa dikatakan hampir belum dilakukan. iklim mikro sebagai keadaan udara dalam zona yang dibatasi di bagian atas oleh arus yang dicapai tanaman tertinggi dan di bagian bawah oleh tanah atau bagian terbawah dari tanah yang masih bisa dicapai oleh infiltrasi udara. Dubenmire (1974) menyatakan bawa warna permukaan tanah mempengaruhi jumlah radiasi yang dapat diadsorbsi dan mengatur jumlah panas yang disimpan dan diradiasikan kembali ke atmosfir. 1982).5 0C. Menurut Noor (2001) suhu gambut sendiri lebih besar daripada suhu udara antara hutan dan lahan kosong. Lebih lanjut dikemukakan bahwa lapisan terbawah dari atmosfir ini penting karena pada lapisan inilah kebanyakan parameter cuaca mengalami perubahan yang mencolok dalam satu kurun waktu. Suhu tanah yang sangat mempengaruhi aktivitas biotis awal dan pertumbuhan pohon paling sedikit tergantung kepada tiga faktor. Menurut Marsono dan Sastrosumarto (1981) dengan terbukanya tajuk dan terjadinya kerusakan mekanis pada tumbuhan dan tanah hutan akibat kegiatan penebangan dan penyaradan maka berubah pula iklim mikro hutan. Suhu yang tinggi pada keadaan terbuka akan merangsang aktivitas mikro organisme sehingga perombakan gambut lebih dipercepat dan intensif. angin dan parameter iklim mikro lainnya adalah faktor-faktor yang berubah akibat penebangan dan penyaradan. jumlah panas yang diadsorbsi oleh tanah ditentukan oleh banyaknya radiasi matahari efektif yang mencapai bumi dan faktor-faktor setempat seperti warna tanah. Di sisi lain di kemukakan. bahwa perubahan kimia dan terutama biologi di dalam tanah. Jika keadaan tertutup hutan. kelembaban. hubungan di atas belum tentu berlaku umum dan perlu dipelajari untuk setiap macam tanah yang ada. (2) energi panas yang diperlukan yang membawa perubahan pada suhu tanah dan (3) energi panas yang dibutuhkan untuk perubahan lain seperti evaporasi (Buckman dan Bardy. Intensitas cahaya. Pendinginan dan pemanasan yang berganti-ganti menimbulkan tekanan pada agregat dan bongkah tanah yang akibatnya mengubah keadaan fisik tanah. Menurut Gates (1980) dalam Wanger (1984). bahwa efek suhu juga bertanggung jawab terhadap pelapukan fisik yang terjadi di dalam tanah. yaitu (1) jumlah bersih panas yang diadsorbsi. Dengan demikian sangat sulit kiranya memperoleh gambaran keadaan iklim mikro setelah penebangan atau penyaradan secara kuantitatif. Perubahan . suhu tanah merupakan faktor yang sangat penting. Adanya naungan juga sangat mempengaruhi pemanasan tanah oleh radiasi matahari. Akan tetapi menurut de Rozari (1987). dan di bawah naungan yang lebat suhu permukaan tanah lebih dingin dari pada suhu udara di atasnya selama waktu terpanas dari siang hari. sehingga mempercepat terjadinya degradasi gambut. maka apabila perhatian difokuskan iklim sebagai salah satu unsur ekosistem sumber daya hutan. Lebih lanjut dikemukakan. yang lebih sangat berkaitan untuk dikaji dalam konteks ini adalah iklim mikro.

Peranan suhu yang penting dalam pertumbuhan pohon atau vegetasi adalah suhu udara dan suhu tanah. Sanchez dalam Bismark (1990) mengatakan bahwa bila pohon di hutan banyak ditebang. Secara tioritis suhu yang meningkat di bawah tegakan akibat penebangan dan penyaradan memberi petunjuk bahwa kelembabannya menurun. C. suhu udara dan tanah meningkat dan kelembaban udara berkurang.11 diberikan pada permukaan lebih tinggi. sehingga hampir sama dengan suhu udara. namun ternyata hanya intensitas cahaya. Akan tetapi dugaan ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut melalui penelitian di lapangan. Menurut Smith (1983) pada hutan tropis suhu permukaan C karena sinar matahari tertahan olehrtanah hampir tetap yaitu 27 vegetasi. Sedangkan meningkatnya suhu tanah dapat mematikan aktifitas metabolisme (Spurr dan Barnes. Lebih lanjut dikemukakan bahwa kendatipun begitu banyak faktor lingkungan yang berubah akibat penebangan dan penyaradan. Suhu pada tajuk pohon akan mempengaruhi pertumbuhan karena suhu mempengaruhi kecepatan respirasi dan transpirasi. Kemungkinannya adalah vegetasi sebagai salah satu sumber kandungan air sebagian telah hilang karena penebangan dan penyaradan. Karena radiasi yangrmaka suhu permukaan tanah dapat meningkat 7 .iklim mikro ini penting untuk dipantau karena akan mempengaruhi sebaran jenis lokal. 1980). Secara umum dapat dikatakan bahwa dengan adanya pembukaan hutan intensitas cahaya yang mencapai lantai hutan akan meningkat. suhu udara dan kelembaban sajalah yang sangat nyata menentukan pertumbuhan tingkat semai. Tingkat semai adalah yang pertama kali yang menderita dengan adanya perubahan iklim mikro akibat pembukaan hutan. Diposkan oleh elfisuir di 17:41 0 komentar Label: IKLIM HUTAN RAWA GAMBUT PROPINSI RIAU .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful