P. 1
Kasus Persalinan Normal

Kasus Persalinan Normal

|Views: 1,768|Likes:
Published by Deasy Fatimah Aulia

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Deasy Fatimah Aulia on Jan 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/09/2013

pdf

text

original

Sections

terjadi pada kala pertama persalinan

Kala 1, pematangan dan pembukaan serviks sampai lengkap
Kala 2, pengeluaran bayi
Kala 3, pengeluaran plasenta
Kala 4, masa 1 jam setelah partus, terutama untuk observasi

Hal-hal penting yang terjadi pada kala 1 persalinan yang merupakan tanda-tanda
kelahiran bayi antara lain :
1.keluar lendir / darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mucus (mucous
plug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikskalis, akibat
terbukanya vaskular kapiler serviks, dan akibat pergeseran antara selaput ketuban
dengan dinding dalam uterus
2.ostium uteri internum dan eksternum terbuka sehingga serviks menipis dan

mendatar
3.selaput ketuban pecah spontan

Serviks yang terbuka dipengaruhi oleh his : kontraksi uterus yang teratur, makin lama,
makin kuat, makin sering, makin terasa nyeri, disertai pengeluaran darah-lendir yang
tidak lebih banyak daripada darah haid. Kala 1 berakhir pada waktu pembukaan serviks
telah lengkap kurang lebih dengan diameter 10 cm, yang terbagi dalam beberapa fase.

59

Penatalaksanaan Partus Kala I

Batasan

-

dimulai saat inpartu ( saat uterus mulai kontraksi dan
menyebabkan perubahan serviks ) dan diakhiri dengan lahirnya plasenta
secara lengkap
-

tanda-tanda dan gejala inpartu :

penipisan dan pembukaan serviks

kontraksi uterus mengakibatkan perubahan pada
serviks ( frekuensi kontraksi minimal 2 kali / 10 menit )

keluar lendir bercampur darah ( ”show” ) melalui

vagina

Anamnesa dan Pemeriksaan fisik

Anamnesa

Tanyakan :
-

Nama, umur, alamat

-

Gravida dan Para

-

Hari pertama haid terakhir

-

Kapan bayi akan lahir menurut perkiraan ibu

-

Alergi obat-obat tertentu

-

Riwayat kehamilan sekarang dan sebelumnya

-

Riwayat medis ( hipertensi, gangguan jantung , dll )

-

Riwayat medis saat ini ( pusing, epigastrium , dll )

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan abdomen :
1)

tinggi fundus ( diukur dari tepi atas symphisis pubis, rentangkan
hingga ke puncak fundus uteri mengikuti aksis atau linea medialis pada
abdomen dan pita pengukur harus menempel pada abdomen )
2)

memantau kontraksi uterus

3)

memantau DJJ ( denyut jantung janin ), terjadi gawat janin bila

DJJ < 100 atau > 180 per menit

60

4)

menentukan presentasi ( kepala atau bokong )

5)

menentukan station ( bagian bawah janin )

Fase-fase kala I persalinan
Mulai sejak uterus berkontraksi dan pembukaan, sampai bukaan lengkap (10 cm).
Kala I terbagi menjadi dua fase :

Fase Laten

-

kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan

serviks bertahap
-

pembukaan < 4 cm

-

berlangsung ≤ 8 jam

Fase Aktif

-

kontraksi ≥ 3 kali dalam 10 menit dan berlangsung ≥ 40

detik
-

pembukaan 4-10 cm, kecepatan ≥ 1 cm / jam hingga 10 cm

-

terjadi penurunan bagian terbawah janin

Menyiapkan kelahiran

menyiapkan ruang persalinan

menyiapkan perlengkapan, bahan-bahan, dan obat-

obat esensial

rujukan

memberikan asuhan sayang ibu selama persalinan
( dukungan emosional, pengaturan posisi, memberi cairan dan nutrisi,
memberi keleluasaan untuk ke kamar kecil secara teratur, melakukan
pencegahan infeksi )

upaya Pencegahan Infeksi ( PI ) yang

direkomendasikan

Penatalaksanaan Partus Kala II

Pada wanita nulipara terjadi sekitar 50 menit dan multipara sekitar 20 menit.

61

Batasan
Dimulai ketika sudah pembukaan lengkap ( 10 cm ) dan berakhir dengan lahirnya
bayi. Kala II disebut juga kala pengeluaran.

Tanda dan gejala

Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan

terjadinya kontraksi

Makin meningkatnya tekanan pada vagina dan atau

rektumnya

Perineum terlihat menonjol

Vulva-vagina dan sfingter ani terlihat membuka

Peningkatan pengeluaran lendir dan darah
Diagnosis kala II dapat ditegakkan dengan pemerikasaan dalam :
-pemeriksaan serviks telah lengkap , atau
-terlihatnya bagian kepala bayi pada introitus vagina

Persiapan penolong persalinan

sarung tangan

partus set dan suturing set

perlengkapan pribadi ( kacamata, masker , dll )

persiapan tempat persalinan ( pencahayaan cukup,
semua alat-alat dan bahan serta obat digunakan dengan baik )

persiapan tempat dan lingkungan untuk kelahiran
bayi ( ruang bersihdan bebas dari tiupan angin ; sebaiknya matikan kipas
angin atau penyejuk ruangan )

persiapan ibu dan keluarga

Membersihkan perineum ibu

bersihkan vulva dan perineum secara lembut dengan
air matang ( disinfeksi tingkat tinggi ) dengan gulungan kapas / kasa bersih

62

boleh menggunakan antiseptik

usap dari atas ke bawah ( dari anterior vulva ke

rektum untuk mencegah kontaminasi tinja )

saat mulai meneran siapkan kain bersih di bawah

bokong

bila ada pengeluaran tinja langsung dibersihkan
dengan kain bersih atau tangan yang memakai sarung tangan ( sesudahnya
harus ganti dengan sarung disinfeksi lainnya )

kemudian vulva dibersihkan lagi bila

terkontaminasi tinja

bila kain di bawah bokong terkena tinja harus
diganti dan bila tidak ada sempat boleh ditumpuk dengan kain bersih lain

Pengosongan kandung kemih

anjurkan paling sedikit 2 jam sekali untuk berkemih

jangan melakukan kateterisasi ( meningkatkan

nyeri, menimbulkan luka dan infeksi )

Amniotomi
Amniotomi termasuk ke dalam salah satu cara induksi persalinan yang dapat
dilakukan bila pembukaan sudah lengkap tetapi ketuban belum pecah, maka dapat
dilakukan cara ini.

Melahirkan
Melahirkan dapat berbeda-beda sesuai dengan presentasi bayi , ada yang
melahirkan kepala dahulu atau bisa juga bokong.

Mengeringkan dan merangsang bayi

Memotong tali pusat

menggunakan klem disinfeksi tingkat tinggi

klem tali pusat 3 cm dari pusat bayi

63

lakukan pengurutan pada tali pusat dari klem itu ke
arah ibu ( mencegah darah menyemprot pada saat tali pusat dipotong )

pasang klem kedua 2 cm dari klem pertama pada

sisi ibu

pegang tali pusat antara dua klem dengan satu

tangan

potong dengan gunting di antara klem tersebut

Kala tiga dan kala empat diebut juga kala uri atau kala pengeluaran plasenta.

Penatalaksanaan Partus Kala III

Batasan: kala tiga adalah dimulainya setelah bayi lahir dan berakhirnya plasenta dan
selaput ketuban.

Fisiologi: Miometrium berkontraksi mengikuti berkurangnya ukuran rongga uterus secara
tiba-tiba setelah lahirnya bayi. Penyusutan rongga utersu ini menyebabkan berkurangnya
tempat implantsi pl,asenta. Karena tempat implantsi menjadi semakin kecil, sedangkan
ukuran plasenta tidak berubah, maka plasenta akan menekik, menebal, kemudian
dilepaskan dari dinding uterus. Setelah lepas plasenta akan turun ke bagian bawah atau
bagian tas vagina

Tanda-tanda pelepasan plasenta:
1.Perubahan bentuk dan tinggi fundus. Setelah bayi lahir dan sebelum miometrium
mulai berkontraksi, uterus berbntuk bulat penuh (diskoid) dan tinggi fundus
biasanya turun hingga di bawah pusat Setelah utersu berkontraksi dan plasenta
terdorong ke bawah, utersu menjadi bulat dan fundus berada diatas pusat (sering
kali mengarahg ke sisi kanan)
2.Tali pusat memanjang. Tali puasar terlihat keluar memanjang atau menjulur
melalui vulva dan vagina (tanda Ahfeld)
3.Semburan darah tiba-tiba. Darah yang terkumpul di belakang plasenta akan
membantu mendorong plasenta keluar dan dibantu oleh gaay gravitasi. Semburan

64

darah yang tiba-tiba menandakan nahwa darah yang terkumpul di antara tempat
melekatnya plasenta dan permukaan maternal plasenta (darah retroplasenter),
keluar melalui tepi plasenta yang terlepas
Tanda tanda di atas terlihat dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir dan biasanya
berlangsung selam 5 menit. Dan setelah memastikan plasenta sudah terlepas kontraksi
miometrium harus tetap berlangsung atau bisa ditambah oleh usaha ibu untuk mengejan
yang akan mendorong plasenta keluar dan mencegah pendarahan postpartum, karena
kontraksi uterus yang berjalan di antara anyaman serabut miometrium sehingga
menghentikan darah yang mengalir melalui ujung –ujung arteri di tempat implantasi
plasenta.

Pelahiran plasenta
Pelahiran plasenta tidak boleh dipaksakan karena dapat ,menyebakan inversio uteri. Dan
apabila pengeluaran spontan tidak terjadi maka bisa dilakukan penekanan pada fundus
uteri dean tangan untuk mrndorong plasenta yang sudah terlepas ke dalam vagina
(introitus) dan tindakan ini dilakukan setelah mamastikan bahwa uterus berkontraksi
kuat dan setelah plasenta sudah mencapai introitus vagina maka penekanan dihentikan
dan plasenta dikeluarkan, pastikan tidak ada fragmen plasenta yang tertinggal.
Tapi jika terjadi pendarahan yang cepat dan plasenta tidak dapat dilahirkan dengan
tehnik-tehnik sebelumnya maka pengeluaran plasenta manual diindikasikan.
Penatalaksanaan Aktif Kala 3

Tujuan : untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga memperpendek
waktu kala tiga dan mengurangi kehilangan darah dibandingkan dengan penatalaksanaan
fisiologis.
Keuntungan pelaksaan aktif kala tiga
1.Kala tiga persalinan yang lebih singkat
2.Mengurangi jumlah kehilangan darah
3.Mengurangi kejadian retensio plasenta

65

Kala tiga aktif disini dilakukan dengan memberikan oksitosin dimana oksitosin berfungsi
untuk merangsang fundus uterus untuk berkontraksi dengan kuat dan efektif sehingga
dapat membantu pelepasan plasenta dan mengurangi kehilangan darah

Penatalaksanaan Partus Kala IV

Plasenta, selaput ketuban, dan tali pusat hendaknya diperiksa kelengkapanya dan
kelainan-kelainan yang ada. Satu jam segera setelah kelahiran plasenta adalah masa kritis
dan disebut oleh beberapa ahli obstetri sebagai persalinan kala empat. Sekalipun
diberikan oksitosin pendarahan postpartum akibat atonia uterus paling mungkin terjadi
saat ini. Uterus harus sering diperiksa selama masa ini. Demikian pula, dearah perineum
harus sering diperiksa untuk menditeksi perdarahan yang banyak. Dicatat pula denyut
nadi segera setelah melahirkan dan setiap 15 menit selam satu jam pertama setelah
melahirkan.

LASERASI JALAN LAHIR
Laserasi vagina dan perineum diklasifikasikan menjadi derajat pertama,kedua,ketiga.
Laserasi derajat pertama mengenai fouschet, kulit perineum, dan memnbran mukosa
vagina, tetapi tidak mengenai fasia dan otot. Laserasi derajat kedua mengenai kulitdan
membran mukosa, fasia, dan otot-otot perineum, tetapi tidak mengenai sfingter ani.
Bagian-bagian ini biasanya robek sampai keatas pada satu atau kedua sisi vagina,
membentuk cedera segitiga tidak teratur. Lasrasi derajat tiga mengenai mulai dari kulit,
membran mukosa dan perineum, sampai mengenai sfingter ani. Laserasi derajat empat
meluas sampai mukosa rektum sehingga memaparkan lumen rektum. Robekan di dearah
uretra yang dapat menimbulkan perdarahan hebat mungkin muncul pada tipe laserasi ini.
Karena reparasi robekan perineum sebenarnya sama seperti pada insisi episotomi,
sekalipun sering kurag memuaskan karena garis-garis robekan jaringan yang tidak
teratur.

EPISIOTOMI Dan PERBAIKANYA

66

Episiotomi dalam arti sempt adalah insisi pudenda. Perineotomi adalah insisi perineum.
Tetapi dalam bahasa biasa episiotomi sering digunakan sama dengan perineotomi, praktik
yang akan digunakan sama disini. Insisi dapat dibuat di garis tenganh (episiotomi medial)
atau dapat memulai di garis tengah tapi diarahkan ke lateral dan bawah menjauhi rektum
(episiotomi lateral)
Tujuan Episiotomi
Untuk pergantian Laserasi kasar yang dapat terjadi dengan insisi bedah yang lurus dan
rapi. Luka insisi dapat lebih mudah pulih.Tapi kepercayaan dulu yang menyatakan nyeri
setelahh operasi berkurang dan penyembuhan lebih abaik dengan episiotomi
dibandingkan dengan robekan terbukti tidak benar.Signorello dkk. (2000) melaporkan
bahwa terjadi peningakatan inkontinensia flatus dan feses sebanyak empat sampai
enamkali lipat pada wanita dengan episiotomi dibandingkan dengan suatu kelompok yang
melahirkan dengan perineum utuh. Bahkan dibangdingkan laserasi perineum spontan,
episiotomi meningkatkan resiko inkontinesia alvi sebanyak tiga kali lipat dan
inkontinesia flatus sebanyak dua kali lipat. Episiotomi yang tidak meluas tidak
menurunkan resiko ini. Bahkan dengan pengenalan dan perbaikan perluasan derajat tiga ,
30-40 persen wanita mempunyai inkontinesia anal jangka panjang. Tampaknya masuk
akal bahwa episiotomi tidak boleh dilakukan secra rutin. Prosedur harus diaplikasikan
secara selektif untuk indikasi janin seperti distosia bahu dan lahir sunsang, ekstraksi
forseps atau vakum dan apada keadaan apabila episiotomi tidak dilakukan kemungkinan
besar terjadi ruptur perineum. Aturan penilaian bedah dan akal sehat.
Bila episiotomi akan dilakukan variabel yang penting meliputi waktu insisi dilakukan,
jenis insisi, dan tehnik perbaikan.

Waktu Episiotomi
Jika episiotomi dilakukan terlalu cepat dantidak berdasar pada keperluan, pendarahan
dari luka tidak berdasarpada keperluan, pendarahan dari luka insisi mungkin banyak
selama jeda waktu antara episotomi dan pelahiran. Jika episiotomi terlambat dilakukan,
laserasi tidak kan terhindar lagi. Lazimnya episiotomi dilakukan saat kepala terlihat
selama kontraksi sampai diameter 3-4 cm. Saat digunkan pada pelahiran forceps,
sebagian besar praktisi melakuna episiotomi setelah pemasangan pisau forceps.

67

Episiotomi Mediana Vs. Mediolateral
Esiotomi media menjadi pilihan utma namun ditakutkan menjadi perluasan derajat 3 dan
4. Dengan seleksi kasus yang tepat, dimungkinkan untuk menjamin keuntungan
episiotomi mediana dan pada sat yang bersamaan mengurangi kerugian sampai minimal.
Selain episiotomi mediana, Combs dkk. (1990) melaorkan bahwa faktor-faktor berikut ini
meningkatkan resiko laserasi derajat 3 dan 4, yaitu nuliparitas, persalinan kal dua macet,
posisi oksiput posterior persitens, forceps tengah atau rendah alih-alih ekstraksi vakum,
penggunaan anestesi lokal dan ras Asia.
Penggunaan episiotomi mediolateral merupakan hal yang masuk akal apabila dibutuhkan
perlusaan derajat 3 dan 4, tapi episiotomi mediana merupkan kebalikanya.

Karakteristik

Mediana

Mediolateral

Perbaikan seacra bedah

Mudah

Lebih sulit

Penyembuhan yang tidak
sempurna

Jarang

Lebih sering

Nyeri pascaoperasi

Minimal

Lazim

Hasil anatomi

Sangat
baik

Kadang tidak
sempurna

Kehilangan darah

Kurang

Banyak

Dispareuni

Jarang

Kadang-kadang

Pelebaran

Lazim

Tidak lazim

68

Waktu Perbaikan Episiotomi
Praktik paling sering dilaksanakan adalah menangguhkan perbaikan episiotomi sampai
setelah plasenta dilahirkan. Kebijakan ini memungkinkan ahli obstetri untuk memberikan
perhatin penuh pada tanda-tanda pelepasan dan pelahiran plasenta. Pelahiran plasenta
sesegera mungkin dipercaya menurunkan perdarahan dari tempat implantasi karena
mencegah timbulnya perdarahan retroplasenta yang luas. Keuntunganlain dari praktik ini
adlah perbaikan episiotomi tidak terputus atau menjadi rusak oleh tindakan melahirkan
plasenta, khususnya kalau harus dilakukan pelepasan manual.

Tehnik
Ada banyak cara untuk menutup insisi episiotomi, tetapi hemostasis dan perbaikan
anatomis tanpa terlalu banyak menjahit sangat penting demi kesuksesan metode apapun.
Tenih yang sering dilakukan untuk perbaikan episiotomi adalah liat gambar! Benag jahit
yang biasanya digunakan adalah catgut kromik 3-0 tapi Grant(1989) merekomendasikan
benang jahit yang terbuat dari turunan asam poliglikolat. Suatu penurunan nyeri
pascabedah disebutkan sebagai keuntungan mayor material yang lebih baru ini meskipun
kadang-kadang dibutuhkan untuk mengangkat beberapa jahitan dari lokasi tempat jahitan
tersebut. Perbaikan yang diuraikan olaeh Grant yang terutama berupa episiotomi
mediolateral dan penutupan yang benar-benar berbeda harus dibedakan dari episiotomi
mediana yang lazim dikerjakan, khusunya yang telah dilakukan di AS.

Rasa Nyeri Setelah Episiotomi.
Penggunaan kantung es cenderung mengurangi pembengkakan da menghilangkan rasa
nyeri. Semprotan aerosol yang berisis analgetika lokal sering memberikan rasa
kenyamanan yang cukup besar. Karena rasa nyeri dapat menjadi tanda hematoma
vulva,paravagina,atau iskiorektal yang besar atau selulitis perineum, tempat-tempat ini
harus diperiksa dengan teliti kalu rasa nyeri berat atau menetap.

INDUKSI DAN AUGMENTASI PERSALINAN

69

Kontraindikasi

Sejumlah kondisi ibu, uterus dan janin merupakan kontraindikasi induksi
persalinan. Kontraindikasi pada uterus terutama berkaitan dengan riwayat cidera uterus
misalnya insisi seksio sesarea klasik atau bedah uterus. Plasenta previa juga tidak
memungkinkan terjadinya persalinan. Kontraindikasi pada janin antara lain makrosomia
yang cukup besar, beberapa anomali janin misalnya hidrosefalus, malpersentasi atau
status janin yang kurang meyakinkan. Kontraindikasi pada ibu berkaitan dengan ukuran
ibu, anatomi panggul dan beberapa penyakit medis misalnya herpes genitalis aktif.

Pematangan Serviks pra induksi

Salah satu metode yang dapat dikuantifikasi dan bersifat prediktif terhadap
keberhasilan induksi persalinan adalah metode yang dijelaskan oleh
Bishop(1964).Parameter skor Bishop adalah pembukaan,pendataran,station,konsistensi
dan posisi serviks.

Sebagian dokter akan menganggap bahwa induksi persalinan pada seorang wanita
yang serviksnya membuka 2 cm,mendatar 80%, lunak dan posisinya ditengah dengan
oksiput janin di station -1 besar kemungkinan berhasil. Pada keadaan-keadaan ini, inisiasi
persalinan dengan larutan oksitosin intravena encer biasanya berhasil.

Sistem Skor Bishop untuk Menilai Induksibilitas

Skor

Pembukaan
(cm)

Pendataran
(%)

Station

Konsistensi
Serviks

Posisi
Serviks

0

Tertutup

0-30

-3

Keras

Posterior

1

1-2

40-50

-2

Sedang

Tengah

2

3-4

60-70

-1,0

Linak

Anterior

3

≥5

≥80

+1,+2

-

-

Teknik Farmakologis

70

Prostaglandin E2. Aplikasi lokal gel prostaglandin E2 banyak digunakan untuk
mematangkan serviks. Perubahan-perubahan pada jaringan ikatserviks aterm ini serupa
dengan yang ditemukan pada awal persalinan.
Tahun 1992, Food and Drug Administration menyetujui pemakaian gel
prostaglandin E2 (Prepidii) untuk mematangkan serviks pada wanita aterm atau menjelang
aterm yang memiliki indikasi untuk induksi. Gel tersedia dalam sejumlah tabung suntik
2,5 ml yang berisi 0,5 mg dinoproston.
Pada tahun 1995 disetujui pemakaian preparat sisip vagina dinoproston 10 mg
(cervidil) untuk mematangkan serviks. Preparat ini menghasilkan pelepasan obat yang
lebih lambat (0.3 mg/jam) daripada gel. Salah satu keunggulan adalah bahwa obat sisipan
ini dapat dikeluarkan apabila terjadi hiperstimulasi.

Pemilihan Pasien. Skor Bishop 4 atau kurang dianggap menunjukkan serviks yang
tidak layak sehingga merupakan indikasi pemberian prostaglandin E2 untuk pematangan
serviks.

Wanita tetap berbaring selama paling sedikit 30 menit setelah aplikasi.
Diperlukan periode observasi yang berkisar antara 30 menit sampai 2 jam. Apabila tidak
ada perubahan pada aktivitas uterus atau frekuensi denyut jantung janin setelah periode
ini, pasien dapat dipulangkan.

Efek Samping. Angka hiperstimulasi uerus yang dilaporkan didefinisiskan sebagai 6
atau lebih kontraksi dalam 10 menit untuk total 20 menit adalah 1% untuk gel
intraservikal(dosis 0.5 mg) dan 5% untuk gel intravaginal (dosis 2-5 mg).Apabila terjadi
hiperstimulasi biasanya mulai dalam 1 jam setelah aplikasi gel atau obat sisip.

Prostaglandin E1. Misoprostol(Cytotec) adalah salah satu prostaglandin E1
sintetik dan saat ini tersedia dalam sediaan tablet 100μg untuk mencegah ulkus peptikum.
Obat ini stabil pada suhu kamar dan mudah diberikan peroral atau dimasukkan kedalam
vagina tapi tidak dimasukkan kedalam serviks.

71

Misoprostol Vaginal. Komite merekomendasikan pemakaian misoprostol
intravaginal dalam dosis sekitar 25 μg(seperempat dari tablet 100μ). Pemakaian ini
dianggap dapat mengurangi kebutuhan oksitosin, mencapai angka persalinan per vaginam
dalam 24 jam induksi yang lebih tinggi dan secara bermakna menurunkan interval antara
induksi sampai melahirkan.

Misoprostol Oral.

•Windrim dkk (1997) melaporkan bahwa misoprostol per oral memiliki efektivitas

untuk mematangkan serviks dan menginduksi persalinan setara dengan pemberian
secara intravaginal.

•Bennet dan rekan (1998) serta Toppozada dkk.(1997) mendapatkan adanya

pemendekan interval sampai pelahiran pada aplikasi vaginal tetapi sering terjadi
kelainan frekuensi denyut jantung janin

•Adair dkk (1998) menyimpulkan bahwa aplikasi oral dan vaginal sama efektifnya

tetapi dosis oral 200μg berkaitan dengan kenaikan kontraktilitas uterus

•Wing dkk (1999) melaporkan bahwa 50μg misoprostol per oral kurang efektif

dibandingkan dengan 25μg mokoprostol per vaginam untuk mematangkan serviks
dan menginduksi persalinan.Lalu pada tahun 2000 para peneliti tersebut
melaporkan bahwa dosis oral 100μg sama efektifnya dengan dosis 25μg
intravaginal

INDUKSI dan AUGMENTASI PERSALINAN dengan OKSITOSIN

Oksitosin sintetik adalah salah satu obat yang paling sering digunakan di Amerika
Serikat. Ositosin adalah salah satu hormon polipeptida yang pertamakali disintesis, dan
hadiah nobel bidang kimia pada tahun 1955 dianugerahkan untuk ini (DuVigneaud
dkk,1953).

Pada banyak kasus terdapat perbedaan semantis antara induksi dengan augmentasi
persalinan. Induksi persalinan mengisyaratkan stimulasi kontraksi sebelum awitan
spontan persalinan dengan atau tanpa pecahnya ketuban. Augmentasi merujuk kepada
stimulasi kontraksi spontanyang dianggap kurang memadai karena tidak terjadinya
kemajuan pembukaan serviks dan penurunan janin.

72

Pemakaian oksitosin melalui infus intravena untuk memacu persalinan yang tidak
adekuat,disfungsi uterus hanya layak diberikan seteah penilaian untuk menyingkirkan
kemungkinan disproporsi sefalopelvic . Pada induksi atau augmentasi oksitosin, frekuensi
denyut jantung janin dan pola kontraksi harus diamati dengan cermat.

Teknik pemberian oksitosin Intravena

Kontraksi harus dievaluasi secara terus menerus dan oksitosin dihentikan apabila
kontraksi tetap lebih dari limakali dalam periode 10 menit atau tuju kali dalam periode 15
menit; apabila kontraksi berlangsung lebih lama dari 60-90 detik atau bila frekuensi
denyut jantung janin menjadi lebih mengkawatirkan. Pada hiperstimulasi, penghentian
segera oksitosin hampir selalu menurunkan frekuensi kontraksi dengan cepat. Apabila
pemberiannya dihentikan, konsentrasi oksitosin dalam plasma dengan cepat turun karena
rata-rata waktu paruhnya adalah sekitar 5 menit.
Seitchik dkk(1984) mempelajari farmako kinetik oksitosin yang diinfuskan
intravena dan mendapatkan bahwa respon uterus terjadi dalam 3 sampai 5 menit setelah
infus dimulai dan bahwa kadar mantap dalam plasma tercapai dalam 40 menit. Respons
bergantung pada aktivitas uterus yang sudah ada, sensitivitas uterus dan status serviks
yang berkaitan dengan lama kehamilan dan perbedaan biologis perorangan.
Oksitosin sintetik biasanya diencerkan dalam 1000 ml larutan garam fisiologis
yang diberikan melalui pompa infus. Untuk menghindari bolus , infus harus dimasukkan
kedalam selang intravena utama dekat dengan tempat fungsi vena. Infusat oksitosin yang
lazim tediri dari 10 hingga 20 unit ekuivalen dengan 10000 sampai 20000 mU yang
dicampurkan kedalam 1000ml arutan ringer laktat, sehingga dihasilkan konsentrasi
oksitosin masing-masing 10 atau 20 mU/ml.
Wanita dengan paritas tinggi pada umumnya tidak diberi oksitosin karena mereka
mudah mengalami ruptur uteri. Oksitosin biasanya tidak diberikan pada wanita dengan
jaringan parut pada uterus dan janin hidup. Riwayat seksio sesarea sebelumnya bukan
merupakan kontra indikasi untuk induksi atau augmentasi. Kondisi janin harus
meyakinkan, berdasarkan frekuensi denyut jantung dan tidak adanya mekonium kental
dalam cairan amnion. Janin yang meninggal bukan merupakan kontra indikasi untuk
pemakaian oksitosin kecuali apabila terdapat disproporsi sefalopelvik.

73

Dosis Oksitosin

Regimen Oksitosin untuk Stimulasi persalinan.

Regimen

Dosis Awal
(mU/mnt)

Peningkatan
Bertahap
(mU/mnt)

Interval Dosis
(mnt)

Dosis
Maksimum
(mU/mnt)

Dosis rendah

0.5-1
1-2

1
2

30-40
15

20
40

Dosis Tinggi

6

6a

,3,1

15-40

42

Dalam laporan oleh Satin dkk(19992) ini, hiperstimulasi diidentifikasi pada
sekitar separuh diantara wanita dengan regimen dosis tinggi.Keadaan ini diatasi dengan
menghentikan oksitosin diikuti oleh pemberian kembali apabila diindikasikan tetapi
dengan dosis separuh dari dosis sewaktu dihentikan. Setelah itu dosis ditingkatkan
sebesar 3 mU/mnt apabila diindikasikan,sedangkan pada yang tidak mengalami
hiperstimulasi peningkatannya adalah 6 mU/mnt. Wanita yang mendapat regimen 6
mU/mnt untuk augmentasi persalinan menjalani seksio sesarea atas indikasi “gawat
janin” sebanyak 6% dibandingkan dengan 3 % pada mereka yang mendapatkan regimen
dosis rendah.

Manfaat yang dijumpai condong kearah regimen dosis tinggi. Pada tahun 1990,
regimen oksitosin 6 mU/mnt mulai digunakan secara rutin di Parkland hospital. Di
Unyversity of Alabama, digunakan regimen oksitosin 2 mU/mnt.

Meningkatkan Interval Dosis

Terdapat sejumlah regimen oksitosin dengan interval untuk meningkatkan dosis
yang bervariasi dari setiap 15 menit sampai 40 menit sekali. Pada wanita dengan induksi
persalinan, hiperstimulasi uterus secara bermakna.Namun, hal ini tidak dijumpai pada
mereka yang menjalani augmentasi persalinan . Karena kekhawatiran akan
hiperstimulasi, maka protokol yang sekarang berlaku di Parkland hospital adalah
memulai oksitosin dengan dosis 6 mU/mnt, dengan peningkatan bertahap setiap 40 mnt,
tetapi jadwal pemberian dosis bersifat fleksibel bergantung pada ada tidaknya
hiperstimulasi.

74

Hubungan Antara Ruptur Uteri yang Nyata dengan Paritas, Riwayat Seksio Sesarea dan
Stimulasi Oksitosin.

Faktor

Nulipara

Para

Riwayat Seksio Sesarea

Wanita yang Melahirkan27.829

48.718

2842

Ruptur Uteri yang Nyata0

8

19

Ruptur Uteri dengan
Oksitosin

0

1

6

Risiko Versus Manfaat

Oksitosin adalah obat yang kuat, tetapi bencana meninggal atau cidera pada ibu
dan janin akibat ruptur uteri yang dahulu dilaporkan sekarang jarang dijumpai. Oksitosin
memiliki homologi asam amino yang serupa dengan vasopresin arginin. Dengan
demikian apabila diinfuskan dalam dosis tinggi, obat ini menimbulkan antidiuretik yang
bermakna. Apabila infus diberikan dalam dosis 20 mU/mnt atau lebih, bersihan air bebas
oleh ginjal menurun secara nyata. Apabila pasien mendapatkan infus yang mengandung
air dalam jumlah besar bersamaan dengan infus oksitosin maka dapat terjadi intoksikasi
air yang menimbulkan kejang,koma dan bahkan kematian.

Tekanan Kontraksi Uterus Pada Stimulasi Oksitosin

Gaya kontraksi uterus yang dihitung pada wanita dengan persalinan spontan
berkisar dari 90 sampai 390 satuan Montevideo. Dalam penatalaksanaan macetnya
persalinan fase aktif, dan tanpa kontraindikasi oksitosin intravena, maka dibuat keputusan
dengan mengetahui rentang atas yang aman bagi aktivitas uterus pada persalinan spontan.

Lama Pemberian Oksitosin

•Tahun 1989 American College of Obstetricians and Gynecologys mendefinisikan

kemacetan pada persalinan kala satu sebagai selesainya fase laten disertai pola

75

kontaksi uterus yang lebih dari 200 satuan Montevideo yang telah berlangsung
lebih dari dua jam tanpa disertai perubahan serviks.

•Arulkumaran dkk (1987) memperpanjang batas dua jam untuk mendefinisikan

kegagalan augmentasi. Dengan menggunakan batas 4 jam, mereka hanya
melaporkan angka seksio sesarea hanya 1,3 % diantara mereka yang terus
memperlihatkan kontraksi uterus yang terus memadai. Bagi mereka yang tidak
memperlihatkan kemajuan , masih diberikan waktu 4 jam lagi dan 1/3 diantara
mereka melahirkan pervaginam.

•Rouse dkk ( 1999) meneliti 542 wanita aterm dengan kemacetan fase aktif yang

ditangani dengan suatu protokol prospektif. Protokol ini tidak mencantumkan
batas 2 jam tetapi lebih dimaksudkan untuk mencapai pola kontraksi lebih dari
200 satuan Montevideo yang berlangsung selama minimal 4 jam

AMNIOTOMI

Amniotomi atau pemecahan selaput ketuban secara artifisial yang di Inggris
disebut juga sebagai induksi bedah, sering digunakan untuk melakukan induksi atau
augmentasi persalinan. Indikasi umum lainnya untuk amniotomi adalah untuk
pemantauan internal frekuensi denyut jantung janin secara elektronik apabila diantisipasi
terdapat gangguan pada janin dan untuk melakukan penilaian kontraksi intrauterus
apabila persalinan kurang memuaskan.
Untuk memperkecil resiko prolaps tali pusat saat selaput ketuban dipecahkan
dengan sengaja, beberapa hal perlu diperhatikan. Sewaktu tindakan, hindari pengeluaran
kepala janin. Seorang asisten yang melakukan penekanan difundus dan suprapubis dapat
mengurangi risiko prolaps tali pusat. Sebagian kalangan lebih menyukai pemecahan
ketuban saat kontraksi. Frekuensi denyut jantung janin harus dinilai sebelum dan segera
sesudah prosedur.

AMNIOTOMI ELEKTIF

Pada beberapa penelitian didapatkan amniotomi pada pembukaan sekitar 5 cm
mempercepat persalinan 1-2 jam tanpa meningkatkan angka keseluruhan seksio sesarea

76

atau kebutuhan akan stimulasi oksitosin. Dalam studi oleh Garite dkk (1993), pemakaian
oksitosin berkurang apabila dilakukan amniotomi elektif dini. Yang utama, tidak terjadi
efek samping pada neonatus. Namun, para peneliti ini memang mengidentifikasi adanya
pola penekanan tali pusat ringan sampai sedang akibat amniotomi. Walaupun demikian
deselerasi berat tidak terjadi dan karena itu angka seksio sesarea atas indikasi gawat janin
tidak terpengaruh.

INDUKSI AMNIOTOMI

Pemecahan selaput ketuban secara sengaja dapat digunakan untuk menginduksi
persalinan tetapi hal ini mengisyaratkan komitmen yang pasti untuk melahirkan
pervaginam. Kerugian utama amniotomi apabila digunakan secara tunggal untuk induksi
persalinan adalah interval yang tidak dapat diperkirakan dan kadang berkepanjangan
sampai timbulnya kontraksi.

AMNIOTOMI UNTUK AUGMENTASI

Amniotomi sering dilakukan apabila persalinan spontan berlangsung terlalu
lambat. Rouse dkk (1994) melakukan sebuah studi teracak dan mendapatkan bahwa
penambahan amniotomi pada augmentasi oksitosin atas indikasi persainan macet pada
fase aktif akan mempersingkat persalinan sebesar 44 menit. Tindakan ini secara
bermakna juga turut meningkatkan insidensi korioamnionitis. Amniotomi sebagai
tambahan untuk infus oksitosin tidak mempengaruhi rute pelahiran dibandingkan dengan
oksitosin saja.

* Teman-teman, kita harus terus semangat ya!!!!.... *

77

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->