P. 1
Makalah Sumber Daya Mineral

Makalah Sumber Daya Mineral

|Views: 5,576|Likes:

More info:

Published by: Putri Ayu Asmaningtyas Lintangsari on Jan 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/08/2015

pdf

text

original

SUMBER DAYA MINERAL

Oleh:
1. 2. 3. 4. 5. 6.

Tika Annisa Fitriani Riyan Waskito Eni Murwati Valentina IkaPristiyani Dwi Oktaviani Nurhasanah Fibriani Setyaningrum

(09416241004) (09416241036) (09416241038) (09416241047) (09416241048) (09416241049)

PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat, taufik serta hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah pada mata kuliah Pengembangan Sumber Daya yang diampu oleh Drs. Udia Haris Hadori. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah Pengembangan Sumber Daya. Makalah ini berisi tentang hal-hal yang terkait dengan sumber daya mineral dan pengembangan berbagai jenis sumber daya mineral. Makalah ini dibuat dengan tujuan agar mahasiswa dapat memahami pengembangan sumber daya secara mendalam. Makalah kelompok ini dapat menjadikan mahasiswa lebih kritis. Selain itu dengan membuat makalah ini diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan dalam pembelajaran mata kuliah Pengembangan Sumber Daya. Semoga makalah yang kami buat ini dapat bermanfaat dan berguna, khususnya bagi kami penulis. Tiada kesempurnaan dan kami rasa masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini, kami mohon maaf atas kekurangan dan kesalahan dalam penulisan makalah ini.

Yogyakarta, September 2011

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Indonesia sebagai Negara yang memiliki daratan luas dan laut yang luas, menjadikan Negara ini dengan asset sumber daya alam yang melimpah. Sumber daya itu salah satunya yaitu sumber daya mineral. Sumber daya mineral melimpah di Indonesia dengan berbagai jenisnya. Mulai dari dari emas, intan, timah, belerang, dan bahan tambang lainnya merupakan sumber daya mineral yang melimpah di Indonesia. Berbagai sumberdaya mineral yang ada di Indonesia perlu kita ketahui macammacamnya. Sumber daya tersebut juga harus dikelola dan dikembangkan dengan baik agar memberi manfaat bagi manusia. Eksploitasi terhadap berbagai sumber daya mineral tidaklah boleh sembarangan, harus menjaga lingkungan dan keberlanjutan, sehingga dapat diwariskan kepada anak cucu kita. Untuk itu dalam makalah ini akan dijelaskan tentang sumber daya mineral dan macam-macam sumber daya mineral. Makalah ini juga akan menjelaskan pengembangan sumber daya mineral yang baik. Penting bagi kita menyadari akan hasil bumi kita dan cara mengelolanya. B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud sumber daya mineral? 2. Apa saja yang termasuk sumber daya mineral dan bagaimana pengembangannya?

C. TUJUAN 1. Untuk mengetahui pengertian sumber daya mineral.
2. Untuk mengetahui macam-macam sumber daya mineral dan cara mengembangkan

sumber daya mineral.

BAB II PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN SUMBER DAYA MINERAL

sumber daya mineral (mineral resource) adalah endapan mineral yang diharapkan dapat dimanfaatkan secara nyata. sumber daya mineral dengan keyakinan geologi tertentu dapat berubah menjadi cadangan setelah dilakukan pengkajian kelayakan tambang dan memenuhi kriteria layak tambang.
B. MACAM-MACAM SUMBER DAYA MINERAL DAN PENGEMBANGANNYA

Sumber daya mineral memiliki bermacam-macam jenis, dibawah ini akan di uraikan beberapa macam sumber daya mineral yang ada di Indonesia. 1) EMAS Dalam abad 17 dan 18 VOC mengusahakan pertambangan emas di Salido, Sumatra Barat. Pertambangan emas tersebut tertua di Indonesia. Sebelum perang dunia II, tambang emas Lebong Tandai di Rejang Lebong, Bengkulu merupakan penghasil emas terbanyak di Indonesia. Tambang lainnya terdapat di Cikotok dan Cirotan, Jawa Barat. Dewasa ini tambang emas Cikotok merupakan milik pemerintah, dan diusahakan oleh PT Aneka Tambang. Pengolahan dan pemurnian bijih emas dilaksanakan oleh Unit Logam Mulia yang menghasilkan: emas, platina, dan perak. Produksi tahun 1975 berkadar 7,29 gram emas setiap ton dan 191,49 gram perak setiap ton. Tabel Produksi Tambang Emas Cikotok, Oleh Unit Logam Mulia, Tahun 1971-1975 Tahun 1971 1972 1973 1974 1975 Bijih (ton) 52 442 64 724 68 634 47 013 54 090 Emas (kg) 330 339 352 265 331 Perak (kg) 8 876 8 684 9 372 6 465 4 755

Tambang tembaga di Pegunungan Tembaga (Irian Jaya) juga menghasilkan emas dan perak disamping tembaga. Produksi tahun 1975 sebesar 200 279 ton bijih tembaga kering berkadar emas 40 gram dan perak 540 gram. 2) INTAN Pertambangan Intan, berlokasi di Riam Kanan Kiwa (Kiri) dan sungai Kusan di Kalimantan Selatan. Pengusahaan intan secara sederhana telah dilakukan oleh masyarakat

setempat sejak tahun 1938. Eksploitasi tambang intan oleh PT Aneka Tambang dipusatkan di Simpangempat, 30 km arah Timur Laut Martapura. Daerah penggalian lainnya terdapat di Cempaka, 6 km arah selatan Banjarbaru, yang diusahakan sejak tahun 1970. Penggosokan Intan kasar menjadi intan hiasan dikerjakan di Martapura. a. Pengembangannya : Southern Arc Minerals Inc. (PT. SAMI) adalah sebuah perusahaan eksplorasi mineral tambang yang asal dari Kanada yang berdasar di Indonesia dengan strategi akuisisi, eksplorasi dan pertumbuhan aset tambang secara yang agresif. Aneka aset tambang dimiliki perushaan ini terletak di tempat sangat baik dan adalah aset-aset tambang luar biasa, yang meliputi empat proyek sedang dimajukan secara yang aktif melibatkan retakan karang/urat bijih epitermal berisi emas juga dengan perak, dan cadangan porferi emas-tembaga berpotensi tinggi di pulau Lombok dan Sumbawa. Southern Arc memperoleh, menilai dan memajukan aset proyek-proyek tambang di Indonesia, yaitu salah satu daerah logam-mulia dalam dunia yang paling prospektif dan yang mana punya dua tambang emas-tembaga paling besar di dunia dan banyak cadangan mineral penting lain. Strategi Southern Arc adalah fokus pada fase memajukan, eksplorasi dan definisi sumber daya cadangan mineral dalam siklus proyek pertambangan. Nilai akan dibuka dengan cara yang memaksimalkan keuntungan bagi pemegang saham, termasuk menyerahkan ekuitas proyek-proyek pertambangan pada perusahaan pertambangan besar setelah sumber daya tambang didefinisikan, dan perusahaan pertambangan besar akan memodali, mengembangkan dan membangun tambang. Kemudian PT. SAMI akan memegang posisi ekuitas minoritas tapi signifikan dalam proyek-proyek begitu dalam rangka untuk memberikan pendapatan terus menerus untuk memodali eksplorasi lebih lanjut dalam proyek baru atau mungkin menyediakan dividen. Sebagai seperti sebuah ujung tonggak eksekusi strategi yang penting dan significan, PT. SAMI mengadakan usaha patungan pada tiga proyeknya dengan dua perusahaan pertambangan besar. Perjanjian dengan SA Vale melibatkan kemajuan proyek Sabalong dan Elang Timur hingga penyelesaian studi kelayakan untuk membangun proyek pertambangan yang bisa dapat dimodali bank (bankable feasibility study) pada dua proyek itu.

Newcrest Mining Ltd., yaitu perusahaan pertambangan penghasil emas terbesar ketiga di dunia, mengadakan perjanjian dengan PT. SAMI untuk memajukan properti emas-perak-tembaga Taliwang. Perjanjian Taliwang yang tersebut melibatkan pendanaan pada eksplorasi dan pengeluarkan modal kemajuan hingga USD50 juta sebagai maksimum atau penyelesaian studi kelayakan untuk membangun proyek pertambangan yang bisa dapat dimodali bank, yang manapun jadi lebih dahulu. PT. SAMI adalah operator pada ketiga proyek tersebut yang dibawah usaha patungan. 1) TIMAH DI INDONESIA a. Sejarah PT Timah (Persero) Tbk mewarisi sejarah panjang usaha pertambangan timah di Indonesia yang sudah berlangsung lebih dari 200 tahun. Sumber daya mineral timah di Indonesia ditemukan tersebar di daratan dan perairan sekitar pulau-pulau Bangka, Belitung, Singkep, Karimun dan Kundur. Di masa kolonial, pertambangan timah di Bangka dikelola oleh badan usaha pemerintah kolonial "Banka Tin Winning Bedrijf" (BTW). Di Belitung dan Singkep dilakukan oleh perusahaan swasta Belanda, masing-masing Gemeeenschappelijke Mijnbouw Maatschappij Biliton (GMB) dan NV Singkep Tin Exploitatie Maatschappij (NV SITEM). Setelah kemerdekaan R.I., ketiga perusahaan Belanda tersebut dinasionalisasikan antara tahun 1953-1958 menjadi tiga Perusahaan Negara yang terpisah. Pada tahun 1961 dibentuk Badan Pimpinan Umum Perusahaan Tambang-tambang Timah Negara (BPU PN Tambang Timah) untuk mengkoordinasikan ketiga perusahaan negara tersebut, pada tahun 1968, ketiga perusahaan negara dan BPU tersebut digabung menjadi satu perusahaan yaitu Perusahaan Negara (PN) Tambang Timah. Dengan diberlakukannya Undang-undang No. 9 Tahun 1969 dan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1969, pada tahun 1976 status PN Tambang Timah dan Proyek Peleburan Timah Mentok diubah menjadi bentuk Perusahaan Perseroan (Persero) yang seluruh sahamnya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia dan namanya diubah menjadi PT Tambang Timah (Persero). Krisis industri timah dunia akibat hancurnya the International Tin Council (ITC) sejak tahun 1985 memicu perusahaan untuk melakukan perubahan mendasar untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Restrukturisasi perusahaan yang dilakukan dalam kurun 1991-1995, yang meliputi program-program reorganisasi, relokasi Kantor Pusat ke

Pangkalpinang, rekonstruksi peralatan pokok dan penunjang produksi, serta penglepasan aset dan fungsi yang tidak berkaitan dengan usaha pokok perusahaan. Restrukturisasi perusahaan berhasil memulihkan kesehatan dan daya saing perusahaan, menjadikan PT Timah (Persero) Tbk layak untuk diprivatisasikan sebagian. PT Timah (Persero) Tbk melakukan penawaran umum perdana di pasar modal Indonesia dan internasional, dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta, Bursa Efek Surabaya, dan the London Stock Exchange pada tanggal 19 Oktober 1995. Sejak itu, 35% saham perusahaan dimiliki oleh masyarakat dalam dan luar negeri, dan 65% sahamnya masih dimiliki oleh Negara Republik Indonesia. Untuk memfasilitasi strategi pertumbuhan melalui diversifikasi usaha, pada tahun 1998 PT Timah (Persero) Tbk melakukan reorganisasi kelompok usaha dengan memisahkan operasi perusahaan ke dalam 3 (tiga) anak perusahaan, yang secara praktis menempatkan PT Timah (Persero) Tbk menjadi induk perusahaan (holding company) dan memperluas cakupan usahanya ke bidang pertambangan, industri, keteknikan, dan perdagangan. Saat ini PT Timah (Persero) Tbk dikenal sebagai perusahaan penghasil logam timah terbesar di dunia dan sedang dalam proses mengembangkan usahanya di luar penambangan timah dengan tetap berpijak pada kompetensi yang dimiliki dan dikembangkan. b. Logam timah Timah merupakan logam dasar terkecil yang diproduksi yaitu kurang dari 300.000 ton per tahun, dibandingkan dengan produksi aluminium sebesar 20 juta ton per tahun. Timah digunakan dengan berbagai cara di pabrik timah, solder dan pabrik kimia; mulai dari baju anti api, sampai dengan pembuatan stabiliser pvc, pestisida dan pengawet kayu. Di pabrik timah digunakan untuk kemasan bersaing dengan aluminium, namun pasar kemasan cukup besar bagi keduanya dengan masing-masing keunggulannya. Kaleng lapis timah lebih kuat dari kaleng aluminium, sehingga menjadi keunggulan bagi produk makanan kaleng. Peningkatan terbesar dalam permintaan timah baru-baru ini adalah karena tekanan lingkungan yang meminta pabrik solder memangkas kandungan lead pada solder, sehingga membuat kandungan timah dalam solder meingkat dari 30% menjadi hampir 97% hal ini merupakan peningkatan konsumsi yang besar. c. Eksplorasi

Mulai tahun 1996, perusahaan menggunakan peralatan berteknologi modern yaitu Global Positioning System (GPS) untuk melengkapi fasilitas kegiatan dan aktivitas eksplorasi. Hal ini sangat membantu meningkatkan efisiensi dan keakuratan dari pemetaan dan pengukuran. Data dari tes laboratorium dan GPS disimpan di dalam komputer untuk memproduksi dan menghasilkan peta geologis yang sangat tinggi keakuratannya bagi pertambangan yang sistematis dan efisien. d. Penambangan Lepas Pantai Perusahaan mengoperasikan armada kapal keruk untuk operasi produksi di daerah lepas pantai (off shore). Armada kapal keruk mempunyai kapasitas mangkok (bucket) mulai dari ukuran 7 cuft sampai dengan 24 cuft. Kapal keruk dapat beroperasi mulai dari kedalaman 15 meter sampai 50 meter di bawah permukaan laut dan mampu menggali lebih dari 3,5 juta meter kubik material setiap bulan. Setiap kapal keruk dioperasikan oleh karyawan yang berjumlah lebih dari 100 karyawan yang waktu bekerjanya terbagi atas 3 kelompok dalam 24 jam sepanjang tahun. Hasil produksi bijih timah dari kapal keruk diproses di instalasi pencucian untuk mendapatkan kadar minimal 30% Sn dan diangkut dengan kapal tongkang untuk dibawa ke Pusat Pengolahan Bijih Timah (PPBT) untuk dipisahkan dari mineral ikutan lainnya selain bijih timah dan ditingkatkan kadarnya hingga mencapai persyaratan peleburan yaitu minimal 70-72% Sn. e. Penambangan Darat Produksi penambangan darat yang berada di wilayah Kuasa Pertambangan (KP) perusahaan dilaksanakan oleh kontraktor swasta yang merupakan mitra usaha dibawah kendali perusahaan. Hampir 80% dari total produksi perusahaan berasal dari penambangan di darat mulai dari Tambang Skala Kecil berkapasitas 20 m3/jam sampai dengan Tambang Besar berkapasitas 100 m3/jam. Proses penambangan timah alluvial menggunakan pompa semprot (gravel pump).Setiap kontraktor atau mitra usaha melakukan kegiatan penambangan berdasarkan perencanaan yang diberikan oleh perusahaan dengan memberikan peta cadangan yang telah dilakukan pemboran untuk mengetahui kekayaan dari cadangan tersebut dan mengarahkan agar sesuai dengan pedoman atau prosedur pengelolaan lingkungan hidup dan keselamatan kerja di lapangan. Hasil produksi dari mitra usaha dibeli oleh perusahaan sesuai harga yang telah disepakati dalam Surat Perjanjian Kerja Sama.

f. Pengolahan Untuk meningkatkan kadar bijih timah atau konsentrat yang berkadar rendah, bijih timah tersebut diproses di Pusat Pencucian Bijih Timah (Washing Plant). Melalui proses tersebut bijih timah dapat ditingkatkan kadar (grade) Sn-nya dari 20 - 30% Sn menjadi 72% Sn untuk memenuhi persyaratan peleburan. Proses peningkatan kadar bijih timah yang berasal dari penambangan di laut maupun di darat diperlukan untuk mendapatkan produk akhir berupa logam timah berkualitas dengan kadar Sn yang tinggi dengan kandungan pengotor (impurities) yang rendah. g. Peleburan Perusahaan mengoperasikan 8 tanur dan 2 single stage furnace (SSF), 7 tanur berada di daerah Mentok, Bangka dan 1 tanur berada di daerah Kundur. Proses peleburan merupakan proses melebur bijih timah menjadi logam Timah. Untuk mendapatkan logam timah dengan kualitas yang lebih tinggi, maka harus dilakukan proses pemurnian terlebih dahulu dengan menggunakan suatu alat pemurnian yang disebut crystallizer. Produk yang dihasilkan berupa logam timah dalam bentuk balok atau batangan dengan skala berat antara 16 kg sampai dengan 26 kg per batang. Produk yang dihasilkan juga dapat dibentuk sesuai permintaan pelanggan (customize) dan mempunyai merek dagang yang terdaftar di London Metal Exchange (LME). h. Distribusi dan Pemasaran Kegiatan pemasaran mencakup kegiatan penjualan dan pendistribusian logam timah. Pendistribusian logam timah hampir 95% dilaksanakan untuk memenuhi pasar di luar negeri atau ekspor dan sebesar 5% untuk memenuhi pasar domestik. Negara tujuan ekspor logam Timah antara lain adalah wilayah Asia Pasifik yang meliputi Jepang, Korea, Taiwan, Cina dan Singapura, wilayah Eropa meliputi Inggris, Belanda, Perancis, Spanyol dan Italia serta Amerika dan Kanada. 1) MANGAAN Mangan termasuk unsur terbesar yang terkandung dalam kerak bumi. Bijih mangan utama adalah pirolusit dan psilomelan, yang mempunyai komposisi oksida dan terbentuk dalam cebakan sedimenter dan residu. Mangan mempunyai warna abu-abu besi dengan kilap metalik sampai submetalik, kekerasan 2 – 6, berat jenis 4,8, massif, reniform, botriodal, stalaktit, serta kadang-kadang berstruktur fibrous dan radial. Mangan berkomposisi oksida lainnya namun berperan bukan sebagai mineral utama dalam cebakan bijih adalah bauxit,

manganit, hausmanit, dan lithiofori, sedangkan yang berkomposisi karbonat adalah rhodokrosit, serta rhodonit yang berkomposisi silika. Cebakan mangan dapat terjadi dalam beberapa tipe, seperti cebakan hidrotermal, cebakan sedimenter, cebakan yang berasosiasi dengan aliran lava bawah laut, cebakan metamorfosa, cebakan laterit dan akumulasi residu. Sekitar 90% mangan dunia digunakan untuk tujuan metalurgi, yaitu untuk proses produksi besi-baja, sedangkan penggunaan mangan untuk tujuan non-metalurgi antara lain untuk produksi baterai kering, keramik dan gelas, kimia, dan lain-lain. a. POTENSI MANGAAN DI INDONESIA Potensi cadangan bijih mangan di Indonesia cukup besar, namun terdapat di berbagai lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Potensi tersebut terdapat di Pulau Sumatera, Kepulauan Riau, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Kualitas batu Mangan dari NTT termasuk yang terbaik di dunia, dan jumlah yang terukur saat ini cukup untuk penuhi kebutuhan Indonesia serta Korea Selatan selama lima puluh tahun mendatang. Dampak Negatif: 1. Aktivitas penambangan mengakibatkan kerusakan lingkungan. Di banyak tempat di pulau Timor, bebatuan berfungsi sebagai tangkapan air hujan yang kemudian bermanfaat menyediakan sumber air bersih bagi penduduk. Penambangan mangan dikhawatirkan mengganggu daya tampung alam terhadap air hujan, sehingga mengganggu juga pasokan kebutuhan akan air. 2. Kondisi kesejahteraan rakyat tidak mengalami perubahan setelah penambangan dilakukan secara masif selama beberapa tahun terakhir. Ada manfaat jangka pendek berupa tambahan penghasilan, namun jumlahnya tidak cukup buat penuhi kebutuhan hidup, dan berdampak buruk dalam jangka panjang. Angka kemiskinan di NTT tetap tinggi, dan masih tergolong provinsi yang paling miskin atau terbelakang. 3. Hal-hal terkait ketenagakerjaan, seperti kesehatan dan keselamatan kerja, keberadaan pekerja anak, pendidikan dan pengetahuan dasar yang dibutuhkan rakyat mengenai obyek kerjanya, pengupahan, dan lain-lain.

4. Dampak-dampak sosial budaya di tengah masyarakat, seperti meningkatnya persaingan disertai pudarnya semangat gotong royong, bergesernya sumber penghidupan masyarakat dari bertani menjadi “penambang tradisional”, dan lainlain. a. Mangan dalam perekonomian Batu mangan berguna sebagai bahan baku industri, seperti untuk pembuatan baterai, keramik, bahan kimia, dan baja. Namun saat ini mangan paling banyak digunakan untuk kebutuhan industri baja yang penggunaannya mencapai 90% (Majalah Tambang, 3 November 2008). Kandungan mangan dapat menghasilkan baja dengan kualitas bagus, yaitu lebih kuat dan ringan dibandingkan baja dari bahan mentah lain. Kualitas demikian membuat batu mangan menjadi bahan baku paling banyak dicari oleh kalangan industriwan baja akhirakhir ini. Sebagaimana diketahui, industri baja merupakan salah satu industri dasar (hulu) yang sangat dibutuhkan, baik untuk kebutuhan konstruksi, elektronik, otomotif, dll. Negara yang pembeli mangan terbesar di dunia saat ini adalah Tiongkok dan India. Sementara produsen terbesar adalah Ukraina dan Afrika Selatan. Kedua negara tersebut menguasai sekitar 80% cadangan mangan dunia. 1) NIKEL Nikel ditemukan oleh A. F. Cronstedt pada tahun 1751. Nikel berwarna putih keperak-perakan dengan pemolesan tingkat tinggi. Bersifat keras dan mulur (dapatditarik), mudah ditempa, sedikit ferromagnetis, dan merupakan konduktor yang agak baik terhadap panas dan listrik. Nikel tergolong dalam grup logam besi-kobal, yang dapat menghasilkan alloy yang sangat berharga. Ia tergolong dalam logam peralihan. Nikel adalah unsur kimia metalik dalam tabel periodik yang memiliki simbol Ni dan nomor atom 28. Nikel ini berupa logam yang keras namun dapat dibentuk. Karena sifatnya yang fleksibel dan mempunyai karakteristik-karakteristik yang unik seperti tidak berubah sifatnya bila terkena udara, ketahanannya terhadap oksidasi dan kemampuannya untuk mempertahankan sifat-sifat aslinya di bawah suhu yang ekstrim, nikel lazim digunakan dalam berbagai aplikasi komersial dan industri. Dalam keadan tidak bercampur, wujud nikel adalah sebagai zat yang lembek, tapi nikel bisa menjadi baja tahan karat (stainless steel) apabila dipadukan dengan krom, besi, dan zat logam lainnya. Nikel sangat penting dalam pembentukan logam campuran (alloy dan superalloy), terutama baja tidak berkarat (stainless steel).

Nikel mulai ditambang di daerah Pomalaa-Kolaka dalam tahun 1936. Saat Jepang menduduki Indonesia, pertambangan diteruskan dan diperluas. Sekarang pengolahannya diusahakan oleh PT Aneka Tambang. Di Pomalaa dibangun pabrik pengolah nikel. Kadar nikel menjadi lebih tinggi setelah diolah di pabrik agar dapat memenuhi mutu ekspor. Semua hasil pertambangan nikel di kirim ke Jepang. Cadangan nikel Indonesia sekitar 2,9% dari cadangan nikel dunia, dan merupakan peringkat ke-8 sedangkan darisisi produksi adalah 8,6% dan merupakan peringkat ke-4 dunia. Daerah-daerah penghasil nikel Indonesia diantaranya: • • • • •

Bengkalis : Sumatra Bolaang Mangondow : Sulawesi Utara. Cikotok : Jawa Barat. Logas : Riau Meuleboh : DI Aceh Rejang Lebong : Bengkulu Operasi penambangan nikel sebagai tambang terbuka dengan tahapan sebagai

a. Proses Penambangan berikut: • • Pengeboran pada jarak spasi 25 - 50 meter untuk mengambil sample batuan dan tanah untuk mendapatkan gambaran kandungan nikel yang terdapat di wilayah tersebut. Pembersihan dan pengupasan lapisan tanah penutup setebal 10– 20 meter yang kemudian dibuang di tempat tertentu ataupun dipakai langsung untuk menutupi suatu wilayah purna tambang. • • Penggalian lapisan bijih nikel yang berkadar tinggi setebal 5-10 meter dan dibawa ke stasiun penyaringan. Pemisahan bijih di stasiun penyaringan berdasarkan ukurannya. Produk akhir hasil penyaringan bijih tipe Timur adalah -6 inci, sedangkan produk akhir bijih tipe Barat adalah – 4/-2 inci. • Penyimpanan bijih yang telah disaring di suatu tempat tertentu untuk pengurangan kadar air secara alami, sebelum dikonsumsi untuk proses pengeringan dan penyaringan ulang di pabrik.

Penghijauan lahan-lahan purna tambang. Dengan metode open cast mining yang dilakukan sekarang, dimana material dari daerah bukaan baru, dibawa dan dibuang ke daerah purna tambang, untuk selanjutnya dilakukan landscaping, pelapisan dengan lapisan tanah pucuk, pekerjaan terasering dan pengelolaan drainase sebelum proses penghijauan/penanaman ulang dilakukan.

a. Pengolahan Nikel Proses pengolahan dilakukan untuk menghasilkan nikel matte yaitu produk dengan kadar nikel di atas 75 persen. Tahap-tahap utama dalam proses pengolahan adalah sebagai berikut: • Pengeringan di Tanur Pengering bertujuan untuk menurunkan kadar air bijih laterit yang dipasok dari bagian Tambang dan memisahkan bijih yang berukuran +25 mm dan – 25 mm. • • • • Kalsinasi dan Reduksi di Tanur Pereduksi untuk menghilangkan kandungan air di dalam bijih, mereduksi sebagian nikel oksida menjadi nikel logam, dan sulfidasi. Peleburan di Tanur Listrik untuk melebur kalsin hasil kalsinasi/reduksi sehingga terbentuk fasa lelehan matte dan terak. Pengkayaan di Tanur Pemurni untuk menaikkan kadar Ni di dalam matte dari sekitar 27 persen menjadi di atas 75 persen. Granulasi dan Pengemasan untuk mengubah bentuk matte dari logam cair menjadi butiran-butiran yang siap diekspor setelah dikeringkan dan dikemas. a. Penggunaan Nikel Karena sifatnya yang fleksibel dan mempunyai karakteristik-karakteristik yang unik seperti tidak berubah sifatnya bila terkena udara, ketahanannya terhadap oksidasi dan kemampuannya untuk mempertahankan sifat-sifat aslinya di bawah suhu yang ekstrim, nikel lazim digunakan dalam berbagai aplikasi komersial dan industri. Nikel terutama sangat berharga untuk fungsinya dalam pembentukan logam campuran (alloy dan superalloy), terutama baja tidak berkarat (stainless steel). Sekitar 70% dari produksi nikel digunakan untuk produksi stainless steel, sementara sisanya digunakan untuk berbagai penggunaan industri seperti baterai, baja campuran rendah, campuran berbasis logam nikel, campuran berbasis tembaga, electroplating.elektronika, aplikasi industri pesawat terbang, dan berbagai macam produk lain seperti katalis dan turbin pembangkit listrik bertenaga gas.

Beberapa pengunaan nikel antara lain: • •

Nikrom : 60% Ni, 25% Fe, dan 15% Cr : pembuatan alat-alat laboratorium (tahan asam), kawat pada alat pemanas. Alnico (Al, Ni, Fe dan Co) : sebagai bahan pembuat magnet yang kuat. elektroplating (pelapisan besi, tembaga : [Ni(NH3)6]Cl2, [Ni(NH3)6]SO4) serbuk nikel sebagai katalis seperti pada adisi H2 dalam proses pembuatan mentega, juga pada cracking menyak bumi. bata alloy :3-5 % Ni + logam lain (keras, elastis) platinit : baja dengan kandungan 46% Ni yang mempunyai muai yang sama dengan gelas dan invar : baja dengan kadar nikel 35% dengan sedikit Mn dan C. Digunakan sebagai kawat listrik yang ditanam dalam kaca seperti pada bohlam lampu pijar.

• • •

Monel : 60% Ni dan 40% Cu : bahan pembuatan uang logam, instrumen tranmisi listrik, dan baling-baling kapal laut. Contoh peralatan yang memakai campuran nikel diantaranya adalah benda yang

terbuat dari stainless steel seperti peralatan masak, peralatan gedung dan rumah yang memakai logam tahan karat lainnya. 1) BIJIH BESI Salah satu bahan tambang yang banyak terdapat di bumi dan sampai saat ini telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai keperluan adalah besi. Besi paling banyak dimanfaatkan sebagai campuran utama baja (alloy). Penghasil utama besi adalah bijih besi karena besi sangat jarang ditemukan dalam keadaan bebas. Besi merupakan unsur yang ditemukan berlimpah di alam. Selain itu, besi juga ditemukan di matahari dan bintang lainnya dalam jumlah yang seadanya. Inti atomnya sangat stabil. Besi merupakan bahan galian yang paling banyak dan beragam kegunaannya karena disebabkan oleh kelimpahan besi di kerak bumi sangat besar dan juga pengolahannnya relatif murah dan memerlukan biaya yang cukup murah. Selain itu juga besi mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan (mempunyai banyak manfaat) dan dapat dengan mudah dimodifikasi. Penambangan besi terdapat di daerah Lampung (Gunung Tegak), Kalimantan Selatan (Pulau Sebuku), Sulawesi Selatan (Pegunungan Verbeek), dan Jawa Tengah (Cilacap). Inti bumi dengan radius 2.150 mil, terdiri dari besi dengan 10 persen hidrogen teroklusi. Besi merupakan unsur keempat yang berlimpah ditemukan di kerak bumi. Bijih besi yang umum adalah hematit, yang sering terlihat sebagai pasir hitam sepanjang pantai

dan muara aliran sungai. Besi merupakan logam kedua yang paling banyak di bumi ini. Karakter dari endapan besi ini bisa berupa endapan logam yang berdiri sendiri namun seringkali ditemukan berasosiasi dengan mineral logam lainnya. Kadang besi terdapat sebagai kandungan logam tanah (residual), namun jarang yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Endapan besi yang ekonomis umumnya berupa Magnetite, Hematite, Limonite dan Siderite. Kadang kala dapat berupa mineral: Pyrite, Pyrhotite, Marcasite, dan Chamosite. Beberapa jenis genesa dan endapan yang memungkinkan endapan besi bernilai ekonomis antara lain :
• • • • • •

Magmatik: Magnetite dan Titaniferous Magnetite Metasomatik kontak: Magnetite dan Specularite Pergantian/replacement: Magnetite dan Hematite Sedimentasi/placer: Hematite, Limonite, dan Siderite Konsentrasi mekanik dan residual: Hematite, Magnetite dan Limonite Oksidasi: Limonite dan Hematite Letusan Gunung Api Dari mineral-mineral bijih besi, magnetit adalah mineral dengan kandungan Fe paling

tinggi, tetapi terdapat dalam jumlah kecil. Sementara hematit merupakan mineral bijih utama yang dibutuhkan dalam industri besi. Mineral-mineral pembawa besi dengan nilai ekonomis dengan susunan kimia, kandungan Fe dan klasifikasi komersil dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Mineral Magnetit Hematit Limonit Siderit Susunal Kimia Kandungan Fe (%) Klasifikasi komersil FeO, Fe2O3 72,4 Magnetik atau bijih hitam Fe2O3 70 Bijih merah Fe2O3.nH2O 59-63 Bijih coklat Spathic, black band, clay FeCO3 48,2 ironstone

a. Eksplorasi bijih besi Penyelidikan umum dan eksplorasi bijih besi di Indonesia sudah banyak dilakukan oleh berbagai pihak, sehingga diperlukan penyusunan pedoman teknis eksplorasi bijih besi. Pedoman dimaksudkan sebagai bahan acuan berbagai pihak dalam melakukan kegiatan penyelidikan umum dan eksplorasi bijih besi primer, agar ada kesamaan dalam melakukan kegiatan tersebut diatas sampai pelaporan.

Tata cara eksplorasi bijih besi primer meliputi urutan kegiatan eksplorasi sebelum pekerjaan lapangan, saat pekerjaan lapangan dan setelah pekerjaan lapangan. Kegiatan sebelum pekerjaan lapangan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai prospek cebakan bijih besi primer, meliputi studi literatur dan penginderaan jarak jauh. Penyediaan peralatan antara lain peta topografi, peta geologi, alat pemboran inti, alat ukur topografi, palu dan kompas geologi, loupe, magnetic pen, GPS, pita ukur, alat gali, magnetometer, kappameter dan peralatan geofisika. Kegiatan pekerjaan lapangan yang dilakukan adalah penyelidikan geologi meliputi pemetaan; pembuatan paritan dan sumur uji, pengukuran topografi, survei geofisika dan pemboran inti. Kegiatan setelah pekerjaan lapangan yang dilakukan antara lain adalah analisis laboratorium dan pengolahan data. Analisis laboratorium meliputi analisis kimia dan fisika. Unsur yang dianalisis kimia antara lain : Fetotal, Fe2O3, Fe3O4, TiO2, S, P, SiO2, MgO, CaO, K2O, Al2O3, LOI. Analisis fisika yang dilakukan antara lain : mineragrafi, petrografi, berat jenis (BD). Sedangkan pengolahan data adalah interpretasi hasil dari penyelidikan lapangan dan analisis laboratorium. Tahapan eksplorasi adalah urutan penyelidikan geologi yang umumnya dilakukan melalui empat tahap sbb : Survei tinjau, prospeksi, eksplorasi umum, eksplorasi rinci. Survei tinjau, tahap eksplorasi untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang berpotensi bagi keterdapatan mineral pada skala regional. Prospeksi, tahap eksplorasi dengan jalan mempersempit daerah yg mengandung endapan mineral yg potensial. Eksplorasi umum, tahap eksplorasi yang rnerupakan deliniasi awal dari suatu endapan yang teridentifikasi . Eksplorasi rinci, tahap eksplorasi untuk mendeliniasi secara rinci dalarn 3-dimensi terhadap endapan mineral yang telah diketahui dari pencontohan singkapan, paritan, lubang bor, shafts dan terowongan. Penyelidikan geologi adalah penyelidikan yang berkaitan dengan aspek-aspek geologi diantaranya : pemetaan geologi, parit uji, sumur uji. Pemetaan adalah pengamatan dan pengambilan conto yang berkaitan dengan aspek geologi dilapangan. Pengamatan yang dilakukan meliputi : jenis litologi, mineralisasi, ubahan dan struktur pada singkapan, sedangkan pengambilan conto berupa batuan terpilih. Penyelidikan Geofisika adalah penyelidikan yang berdasarkan sifat fisik batuan, untuk dapat mengetahui struktur bawah permukaan, geometri cebakan mineral, serta

sebarannya secara horizontal maupun secara vertical yang mendukung penafsiran geologi dan geokimia secara langsung maupun tidak langsung. Pemboran inti dilakukan setelah penyelidikan geologi dan penyelidikan geofisika. Penentuan jumlah cadangan (sumberdaya) mineral yang mempunyai nilai ekonomis adalah suatu hal pertama kali yang perlu dikaji, dihitung sesuai standar perhitungan cadangan yang berlaku, karena akan berpengaruh terhadap optimasi rencana usaha tambang, umur tambang dan hasil yang akan diperoleh. Dalam hal penentuan cadangan, langkah yang perlu diperhatikan antara lain : • •

Memadai atau tidaknya kegiatan dan hasil eksplorasi. Kebenaran penyebaran dan kualitas cadangan berdasarkan korelasi seluruh data eksplorasi seperti pemboran, analisis conto, dll. Kelayakan penentuan batasan cadangan, seperti Cut of Grade, Stripping Ratio, kedalaman maksimum penambangan, ketebalan minimum dan sebagainya bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi dan sebaran bijih besi bawah permukaan.

a. Pengolahan Besi Bijih besi dari tambang biasanya masih bercampur dengan pasir, tanah liat, dan batubatuan dalam bongkah-bongkahan yang tidak sama besar. Untuk kelancaran proses pengolahan bijih besi, bongkah-bongkah tersebut dipecahkan dengan mesin pemecah, kemudian disortir antara bijih besih dan batu-batuan ikutan dengan tromol magnet. Pekerjaan selanjutnya adalah mencuci bijih besi tersebut dan mengelompokkan menurut besarnya, bijih besi halus dan butir-butir yang kecil diaglomir di dalam dapur sinter atau rol hingga berupa bola-bola yang dapat dipakai kembali sebagai isi dapur. Setelah bijih besi itu dipanggang di dalam dapur panggang agar kering dan unsur-unsur yang mudah menjadi gas keluar dari bijih kemudian dibawa ke dapur tinggi diolah menjadi besi kasar. b. Aplikasi dan Pemanfaatan Besi Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa aplikasi terbesar dari besi adalah dalam bentuk alloy yaitu baja. Selanjutnya baja dimanfaatkan dalam berbagai keperluan baik itu bagunan atau alat-alat rumah tangga. Selain dalam bentuk baja, besi banyak digunakan untuk bahan manufaktur diberbagai bidang seperti badan mobil, peralatan listrik, berbagai jenis kapal, keperluan rumah tangga juga menggunakan komponen besi. Perusahaan air juga banyak yang menggunakan besi, besi tersebut digunakan untuk melapisi pipa saluran air.

Tekhnologi seperti komputer juga dalam perangkat lunaknya menggunakan besi untuk melindungi komponen- komponen lunak didalamnya. c. Efek Negatif Pertambangan Besi Efek negatif utama yang ditimbulkan oleh pabrik pertambangan besi adalah pencemaran. Dua versi definisi pencemaran, pertama adalah mengubah sesuatu menjadi lebih kotor, sedangkan definisi kedua adalah secara fisik membuat jadi tidak murni, busuk dan kotor. Namun berdasarkan hasil survei dari beberapa definisi pencemaran, Hellawell (1986) menyimpulkan bahwa pencemaran adalah sebagai sesuatu (zat atau benda) yang berada dalam tempat yang salah, pada waktu yang salah, dan jumlah yang salah. Pencemaran lingkungan memiliki hubungan yang erat dengan kegiatan manusia, karena itu selama dua abad terakhir ini telah terjadi momentum peningkatan kerusakan lingkungan secara keseluruhan di permukaan bumi ini sebagai hasil dari kegiatan manusia. Hal ini diperparah lagi oleh kondisi jumlah populasi manusia dari masa ke masa selalu bertambah dengan pesat, sedangkan hasil teknologi pengolahan limbah tidak menentu sehingga terjadi korelasi positif antara kecepatan peningkatan populasi manusia dengan kenaikan kuantitas limbah di bumi ini (Hellawell,1986). Karat adalah lapisan yang terbentuk setelah senyawa besi bereaksi dengan air danoksigen. Ini merupakan campuran antara oksida besi dan oksida air. Reaksi yang terjadi dalam proses penghilangan karat besi tersebut adalah sebagai berikut: Fe2O3+ 6 HCl→2 FeCl3+ 3 H2O (karat besi). Proses yang telah dikemukakan di atas dinamakan proses pickling yaitu upaya untuk menghilangkan karat yang melapisi material (besi/baja) menggunakan asam kuat. Kadar besi (Fe) dalam limbah akan meningkat dalam proses ini karena banyaknya FeCl2 dan FeCl3 yang terbentuk dari hasil reaksi. 1) BAUKSIT Bauksit merupakan bahan yang heterogen, yang mempunyai mineral dengan susunan terutama dari oksida aluminium, yaitu berupa mineral buhmit (Al2O3H2O) dan mineral gibsit (Al2O3 .3H2O). Secara umum bauksit mengandung Al2O3 sebanyak 45 – 65%, SiO2 1 – 12%, Fe2O3 2 – 25%, TiO2 >3%,dan H2O 14 – 36%. Bijih bauksit terjadi di daerah tropika dan subtropika dengan memungkinkan pelapukan sangat kuat. Bauksit terbentuk dari batuan sedimen yang mempunyai kadar Al nisbi tinggi, kadar Fe rendah dan kadar kuarsa (SiO2) bebasnya sedikit atau bahkan tidak mengandung sama sekali. Batuan tersebut (misalnya sienit dan nefelin yang berasal dari batuan beku, batu lempung, lempung dan serpih. Batuan-batuan tersebut akan mengalami

proses lateritisasi,yang kemudian oleh proses dehidrasi akan mengeras menjadi bauksit. Bauksit dapat ditemukan dalam lapisan mendatar tetapi kedudukannya di kedalaman tertentu. Bauksit sudah diolah sejak tahun 1935 di daerah Kijang (pulau Bintan) dan sekitarnya. Di Indonesia bauksit ditemukan di Pulau Bintan dan sekitarnya, Pulau Bangka dan Kalimantan Barat. Negara pembeli bauksit Indonesia adalah Kanada dan Vietnam. Sampai saat ini penambangan bauksit di Pulau Bintan satu-satunya yang terbesar di Indonesia. Beberapa tempat antara lain: • • Sumatera utara : Kota Pinang (kandungan Al2O3 = 15,05 – 58,10%). Riau : P.Bulan, P.Bintan (kandungan SiO2 = 4,9%, Fe2O3 = 10,2%, TiO2 = 0,8%, Al2O3 = 54,4%), P.Lobang (kepulauan Riau), P.Kijang (kandungan SiO2 = 2,5%, Fe2O3 = 2,5%, TiO2 = 0,25%, Al2O3 = 61,5%, H2O = 33%),merupakan akhir pelapukan lateritic setempat, selain ditempat tersebut terdapat juga diwilayah lain yaitu, Galang, Wacokek, Tanah Merah,dan daerah searang. • • Kalimantan Barat : Tayan Menukung, Sandai, Pantus, Balai Berkuah, Kendawangan dan Munggu Besar. Bangka Belitung : Sigembir. a. Pengolahan Penambangan bauksit dilakukan dengan penambangan terbuka diawali dengan land clearing. Setelah pohon dan semak dipindahkan dengan bulldozer, dengan alat yang sama diadakan pengupasan tanah penutup. Lapisan bijih bauksit kemudian digali dengan shovel loader yang sekaligus memuat bijih bauksit tersebut kedalam dump truck untuk diangkut ke instalansi pencucian. Bijih bauksit dari tambang dilakukan pencucian dimaksudkan untuk meningkatkan kualitasnya dengan cara mencuci dan memisahkan bijih bauksit tersebut dari unsur lain yang tidak diinginkan, missal kuarsa, lempung dan pengotor lainnya. Partikel yang halus ini dapat dibebaskan dari yang besar melalui pancaran air (water jet) yang kemudian dibebaskan melalui penyaringan (screening). Disamping itu sekaligus melakukan proses pemecahan (size reduction) dengan menggunakan jaw crusher. 1) TEMBAGA Pada tahun 1936 ditemukan di ketinggian 3460 meter di pegunungan Jayawijaya bijih tembaga dengan kadar tinggi dan cadangan besar. Untuk mengolah bijih tembaga tersebut telah diadakan kontrak karya dengan sebuah perusahaan asing. Tambang tembaga tersebut telah

berproduksi. Sehubungan dengan penambangan tembaga itu diresmikan pula kota pertambangan tembaga yang diberi nama Tembagapura. Bijih tembaga diolah dijadikan tembaga untuk di ekspor. Tabel Produksi dan Nilai Ekspor Tembaga Indonesia, 1973-1975 (dalam ton) Keterangan Bijih tembaga Tembaga Ekspor tembaga 1973 1.249.684 125.870 114.218 1974 2.486.028 202.620 207.245 1975 2.630.669 201.273 193.439

2) MINYAK BUMI Eksplorasi minyak bumi dimulai pada akhir abad 19, di sekitar Cirebon, Jawa Barat. Penemuan lapangan minyak yangmenguntungkan berturut-turut di Sumatera Utara, Jawa Timur, Sumatra Selatan, Kalimmantan Timur, kemuadian lagi di Sumatera Utara dan di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pengolahannya dimulai tahun 1912 oleh Bataafsche Petroleum Maaschappy (BPM). Sejak saat itu hingga sekarang banyak perusahaan asing yang mendapat izin mengusahakan pertambangan minyak bumi di Indonesia. Salah satu perusahaan asing yang sejak sebelum Indonesia memperoleh kemerdekaan sudah mengusahan minyak bumi disini dan banyak menghasilkan PT Caltex Pacifik Indonesia. Semua perusahaan asing harus kerjasama dengan pemerintah Indonesia yang di wakili oleh Pertamina (Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara). Masing-masing perusahaan mempunyai daerah usaha tertentu. PT Caltex di daerah Riau, PT Stanvac di Sumatera Selatan, sedang PT Pertamina di Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, Jambi dan Kalimantan Timur. Selain itu Pertamina dengan kontraktor-kontraktor asing mengusahakan di daerah lepas pantai Jawa Barat, Madura, Kalimantan Timur dan Seram. Tabel Produksi Minyak Mentah menurut Daerah Penghasil 1971-1975 (dalam ribuan barrel) Daerah Sumatera Utara Riau Sumatera Selatan 1971 15 672,0 183 928,5 24 058,5 1972 19 198,5 177 016,9 30 208,7 1973 18 646,2 177 542,5 19 682,6 1974 19 183,8 194 902,7 24 359,2 1975 15 785,4 169 747,2 17 386,1

Kalimantan Timur Irian Jaya Lepas pantai Lain-lain Jumlah

3 219,9 466,8 4 524,3 93 803,0

6 433,5 493,4 25 540,0 130 640,3

9 053,1 11 490,6 80 804,5 174 618,3

3 931,9 3 958,0 64 056,9 178 143,7

12 147,4 23 200,3 87 541,1 151 047,0

325 672,5

395 552,2

488 536,2

501 837,8

476 851,9

Sebagian besar minyak mentah Indonesia di hasilkan oleh daerah Riau. Daerah irian Jaya dan lepas pantai makin meningkat hasilnya setiap tahun. Daerah lepas pantai yang paling besar menghasilkan adalah di pantai utara Jawa Barat. Produksi minyak bumi Indonesia merupakan 4,9 %dari produksi minyak bumi di seluruh dunia. Usaha untuk meningkatkan produksi terus dijalankan. Dalam tahun 1975 terdapat 373 sumur minyak dan 15 sumur gas bumi. Tabel Produksi Minyak Bumi menurut Daerah Tahun 1974-1975 dalam % Daerah Sumatera Kalimantan Jawa Irian Jaya Lepas Pantai 1974 75,4 % 1,8 % 2,4 % 2,3% 18,1 % 100,0 % 1975 72,1 % 2,5 % 1,6 % 4,9 % 18,9 % 100,0 %

Minyak bumi mentah harus diolah untuk dapat dipakai. Hasilnya antara lain avigas, avtur, mogas, minyak tanah, solar, mnyak diesel, dan minyak bakar. Avigas (aviation gas) dan avtur (aviation turbo) digunakan sebagai bahan bakar penerbangan. Mogas (mobil gas) digunakan sebagai bahan bakar bermotor. Bensin, premium, dan super merupakan jenis-jenis bahan bakar kendaraan bermotor, yang dikenal dalam masyarakat. Minyak tanah atau kerosin digunakan dalam rumah tangga untuk bermacam-macam keperluan. Solar dan diesel digunakan sebagai bahan bakar dalam industri yang menggunakan mesin diesel, misalnya pembangkit

tenaga listrik dan industri lainnya. Solar digunakan juga untuk menjalankan kendaraan bermesin diesel eperti truk dan bus. Minyak bakar digunakan pada pabrik semen. Penyulingan atau rafinase hanya diusahakan oleh Pertamina. Pabrik penyulingan terdapat di Pangkalanbrandan, Dumai, Sungai Pakning, Plaju-Sungai Gerong, Wonokromo, dan Balikpapan. Sebagaian besar minyak bumi diekspor. Dari hasil tahun 1975 76% nya diekspor, dan hanya 22 % dikilang sendiri dalam negeri. Negara pembeli adalah Jepang, Amerika Serikat, Trinidad, bahama, Filipina, Taiwan, Inggris, Singapura, dan Birma. Jepang (49%) dan Amerika Serikat (35%) merupakan pembeli minyak bumi mentah Indonesia terbesar. Beberapa hasil lain yang diperoleh dalam penyulingan minyak bumi mentah adalah lilin, minyak pelumnas dan aspal. Selain aspal yang bersumber pada penyulingan terdapat juga aspal yang ditambang. Tambang aspal terdapat di Buton yaitu aspal yang digunakan dalam pembangunan jalan. 3) GAS BUMI Biasanya gas bumi ditemukan bersama minyak bumi. Pada tahun 1970-an ditemukan lapangan gas bumi yang berpotensi besar di Arun, sebelah Tenggara Lho Suumawe, Aceh, dan di Badak, Kalimantan Barat. Dalam pengolahannya, gas bumi diolah menjadi gas bumi cair (LNG= Liquified Natural Gas). Keberadaan sumber daya mineral khususnya minyak bumi dan gas bumi di Indonesia sangat membantu perkembangan perekonomian nasional. Berikut adalah perbandingan sumber daya mineral di Indonesia dengan di dunia. Komoditi yang dihasilkan dari sektor ini masih memegang peranan penting dalam perekonomian nasional, menyumbang hampir mencapai 30% dari total pendapatan negara. Nama Mineral 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Timah Nikel Tembaga Batubara Alumunium Minyak bumi Gas bumi Taksiran cadangan Indonesia 865 ton 15 juta ton 6 juta ton 32 milyar ton 934 juta ton 9,1 milyar barrel 0,138 juta BSCF Dunia 11.100.000 ton 100 juta ton 126 juta ton 663 milyar ton 139.000 juta ton 916,6 milyar barrel 6,9 juta BSCF Perbandingan 8% 14% 5% 2% 0,7% 1% 2%

Potensi minyak dan gas bumi terkandung dalam 60 cekungan dan baru 25% yang dieksploitasi. Menurut perkiraan, sumberdaya minyak bumi mencapai lebih kurang 70 – 72 milyar barrel, sedangkan yang sudah diteliti dan sudah dapat digolongkan sebagai cadangan baru kurang lebih 9 – 10 milyar barrel. Sumberdaya dan cadangan minyak bumi Indonesia akan bertambah terus bila eksplorasi terus dilakukan. Belum lagi potensi yang mungkin ada di dalam batuan yang lebih tua (batuan Pra-Tersier), karena sejauh ini minyak dan gas bumi baru diproduksi dari batuan berumur Tersier karena lebih dangkal letaknya. Demikian pula potensi sumberdaya mineral lainnya yang masih bisa untuk dikembangkan. Pertambangan minyak dan gas bumi pernah menjadi soko guru perekonomian pemerintah. Namun karena kurangnya eksplorasi di bidang migas ini telah menyebabkan kita harus mengimpor minyak mentah untuk menutup defisit konsumsi BBM yang setiap tahun meningkat 6-7%. a. Cara pengembangan Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengembangkan sumber daya mineral (gas bumi):
1. Memperbaiki iklim investasi guna terus mendukung fungsi sektor energi dan sumber

daya mineral sebagai tulang punggung penggerak roda ekonomi nasional dalam tahuntahun mendatang.
2. Penyempurnaan “aturan main” mengenai pengelolaan produksi pemanfaatan minyak dan

gas bumi (migas) perlu terus disempurnakan guna mendukung peningkatan devisa sebagai penerimaan negara.
3. Menemukan cadangan baru migas, panas bumi, dan batubara melalui peningkatan

kegiatan

seismik

survei,

termasuk

pemanfatan

geo-science,

pemboran

eksplorasi/pengembangan, serta pembangunan sarana dan prasarana pendukung.
4. Mengembangkan sumber-sumber migas di daerah laut dalam dan wilayah timur

Indonesia melalui pemberian perangsang tambahan atau insentif.
5. Mengoptimalkan serta meningkatkan produksi kilang migas guna memenuhi kebutuhan

BBM dalam negeri, serta meningkatkan pelayanan dan penyaluran BBM di dalam negeri.
6. Menyelesaikan konflik lahan peruntukan antara pertambangan dan hutan lindung,

menurunkan jumlah pertambangan mineral dan batubara tanpa izin (PETI), serta mengoptimalisasi kegiatan pengembangan masyarakat paska tambang.

7. Menyempurnakan sistem data dan informasi geologi guna mendukung pencarian sumber

daya dan cadangan energi dan mineral, dan promosi wilayah kerja pertambangan. Dalam tahun-tahun mendatang, sektor industri akan terus menjadi konsumen energi final yang paling besar. Berbeda dengan sektor transportasi yang hanya mengkonsumsi bahan bakar minyak (BBM), sektor industri mengkonsumsi berbagai jenis energi final, seperti BBM (35– 40%), gas bumi (30–35%), batu bara (15–18%), Liquified Petroleum Gas (LPG) (0–1%), dan listrik (10–12%). Di samping itu pemanfaatan bahan bakar gas (BBG) terutama untuk sektor transportasi menjadi salah satu opsi yang perlu mendapatkan perhatian. Dengan meningkatnya harga BBM akhir-akhir ini – berkurangnya subsidi BBM – ada potensi untuk menggeser kedudukan BBM di sektor industri oleh berbagai jenis energi final lainnya. Gas bumi, batu bara, dan LPG menjadi lebih kompetitif untuk digunakan sebagai energi input di sektor industri. Belum lagi energi final lainnya yang bersumber dari nabati (biofuel) atapun hayati (biomass), yang jika dikelola dengan baik akan merupakan sumber energi alternatif (yang juga kompetitif) pengganti BBM. 1) BATU BARA Secara umum, ada empat variasi dasar batubara, yang merupakan hasil dari kekuatan mengenai lapisan material tanah yang diubah dalam jalan berbeda. Variasi ini turun dari langkah yang pertama di (dalam) pembentukan batubara, ciptaan tanah gemuk bahan bakar atau material. Antrasit/ Batubara keras gilap: Kadang-Kadang juga disebut “ antrasit,” antrasit/batubara keras gilap terbentuk dari batubara bituminus ketika tekanan dikembangkan di (dalam) batu karang strata dilipat sepanjang ciptaan rangkaian pegunungan. Ini terjadi hanya di (dalam) membatasi area mengenai ilmu bumi yang terutama semata daerah Pennsylvania Appalachian. Antrasit/Batubara keras gilap mempunyai isi energi yang paling tinggi dari semua batubara dan digunakan untuk memanaskan ruang dan membangitkan listrik. Di Indonesia pertambangan batu bara dimulai sekitar abad 19. Mula-mula diusahakan dengan pertambangan Pengaron, Kalimantan timur dan tambang Sungai Durian di Sumatera Barat, tetapi gagal karena kesulitan pengangkutan. Akhir abad 19 dibuka tambang batubara Umbilin, dan pada permulaan abad 20 dibuka tambang Bukit Asam di Sumatera Selatan. Tambang batubara yang hingga sekarang masih beroperasi adalah Ombilin (Sumbar), Bukit Asam (SumSel), dan Mahakam (KaLTim). Produksi batubara menurun ketika berkurangnya pemakaian batubara bagi kereta api, namun meningkat tajam setelah maraknya penggunaaan

batu bara sebagai pembangkit listrik, industri semen, industri timah dan lain sebagainya. Di Indonesia terdapat jenis batubara yang merupakan kualitas terbaik yaitu batubara “Antrasit” yaitu batubara yang kadar arangnya sangat tinggi yang dihasilkan oleh tambang batubara Bukit Asam. Indonesia saat ini hanya memiliki cadangan yang relatif terbatas, yaitu sebesar 4.968 juta ton atau 0,55% dari total cadangan batubara dunia. Dengan tingkat produksi mencapai 120 juta ton per tahun, diperkirakan batubara di Indonesia dapat diproduksi selama 41,43 tahun. Table jenis dan cadangan batubara yang ada di Indonesia:

a. Cara pengembangan Pemerintah mengeluarkan serangkaian kebijakan di bidang pengembangan sumber energi alternatif pada awal tahun 2006. Kebijakan tersebut tertuang dalam 3 ketentuan, yaitu Perpres Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, Perpres No 1/2006 tentang Bahan Bakar Nabati, dan Inpres No 2/2006 tentang batu bara yang dicairkan sebagai bahan bakar lain. Dengan kebijakan tersebut, Pemerintah ingin mendorong peran dunia usaha dalam pengembangan bahan bakar alternatif sebagai substitusi terhadap bahan bakar minyak. Salah satu yang diinginkan oleh Pemerintah adalah pengembangan batu bara cair. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengembangkan potensi sumber daya mineral di Indonesia, khususnya batubara:
1. Menyelesaikan konflik lahan peruntukan antara pertambangan dan hutan lindung,

menurunkan jumlah pertambangan mineral dan batubara tanpa izin (PETI), serta mengoptimalisasi kegiatan pengembangan masyarakat paska tambang.

2. Menyempurnakan sistem data dan informasi geologi guna mendukung pencarian

sumber daya dan cadangan energi dan mineral, dan promosi wilayah kerja pertambangan.
3. Mengoptimalkan pengembangan batu bara cair karena memiliki kelebihan antara

lain: Harga produksi lebih murah, yaitu setiap barel batu bara cair membutuhkan biaya produksi yang tidak lebih dari US$15 per barel. Bandingkan dengan biaya produksi rata-rata minyak bumi yang berlaku di dunia saat ini yang mencapai US$23 per barel. Serta jenis batu bara yang dapat dipergunakan adalah batu bara yang berkalori rendah (low rank coal), yakni kurang dari 5.100 kalori, yang selama ini kurang diminati pasaran, serta masih banyak lagi kelebihan dari batubara cair ini. 1) BELERANG Belerang diusahakan di Telaga Cibodas, Jawa Barat, Gunung IJen dan Gunung Welirang, Jawa Timur, Gunung Mahawu, Sulawesi Utara. Produksi Belerang meningkat karena kebutuhan akan belerang di industri bertambah tiap tahun.

2) FOSFAT Fosfat di Indonesia terdapat di gua-gua gamping dalam bentuk butiran dan bungkalan besar. Kadar Fosfat Indonesia berkisar antara 30% sampai 40%. Beberapa perusahaan swasta menggali fosfat di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Fosfat dipakai sebagai pupuk bagi tanah yang bersifat asam. Hasil penggalian fosfat dipasarkan ke berbagai perkebunan di Jawa dan Sumatera. Sejak tahun 1971 produksi Fosfat Indonesia meningkat Terus. Dalam tahun itu produksi fosfat 485 ton. 3) GIPSUM Gypsum dibutuhkan dalam pembuatan semen. Untuk pembuatan satu ton semen dibutuhkan 2,3 ton batu gamping, 0,04 ton gypsum, dan 0,3 ton lempung. Kadang-kadang dibutuhkan juga pasir besi (pabrik semen Padang). Selain untuk pembuatan semen, gipsum juga dipakai dalam kedokteran sebagai pembalut bagian tubuh yang patah, dan juga untuk pembuatan patung dan lain-lain. 4) YODIUM

Yodium diketemukan diberbagai tempat di Jawa. Di Jawa Timur ada tiga tempat yang mengandung air garam beryodium, yaitu di Guyangan-Kedungwaru, di Watudakon-Sekarputih, di Pujon (Kabupaten Malang). Yodium dipakai untuk pembuatan obat cair merah (yodium tintura) untuk mencegah infeksi. Pengolahan yodium di usahakan oleh PT Kimia Farma di pabrik Watudakon (Mojokerto), Jawa Timur. Produksi yodium Watudakon meningkat terus sejak tahun 1971. Dalam tahun itu dihasilkan 8.811.452 kg, sedang dalam tahun 1974 dan 1975 berturutturut dihasilkan 25.933.157 dan 33.077.349 kg. 5) KAOLIN Kaolin merupakan pelapukan dari mineral, antara lain pada batuan granit. Daerah penghasil ialah pulau Bangka, Belitung dan Sulawesi Utara. Produksi Kaolin dalam Tahun 1973, 1974, dan 1975 tampak menurun. Berturut-turut dalam tahun-tahun tersebut dihasilkan 23.268 ton, 18.972 ton, dan 21.632 ton. Sekitar 70% kaolin itu dihasilkan di Belitung.

KESIMPULAN
Sumber daya mineral (mineral resource) adalah endapan mineral yang diharapkan dapat dimanfaatkan secara nyata. Ada bermacam-macam sumber daya mineral yang ada di Indonesia, seperti : emas, intan, timah, mangaan, nikel, bijih besi, bauksit, tembaga, minyak bumi, batu bara,gas bumi, belerang, fosfat, gypsum, yodium, dan kaolin. Sumber daya mineral ini perlu dikembangkan dan dikelola secara benar. Pengelolaan yang benar dapat memberikan manfaat bagi manusia secara berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA
Aris. 2007. Bijih Besi. http://www.scribd.com/doc/57589675/Bijih-Besi-makalah Diakses pada 2 Oktober 2011. Gana, Riki. 2009. Bauksit Indonesia. http://regest.wordpress.com/2009/10/17/bauksit-indonesia/ Diakses pada 2 Oktober 2011. http://www.scribd.com/doc/44814870/Makalah-nikel Diakses pada 2 Oktober 2011.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->