P. 1
Pengolahan Data Hasil Penilaian

Pengolahan Data Hasil Penilaian

|Views: 3,506|Likes:

More info:

Published by: Putri Ayu Asmaningtyas Lintangsari on Jan 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/07/2013

pdf

text

original

PENGOLAHAN DATA HASIL PENILAIAN

Oleh:
1. 2. 3. 4. 5. 6.

Farikin Ahmad A. Arif Gunawan Riskytasari Dini H. Anggi Titis Mahandra Eni Murwati Fibriani Setyaningrum

(08416241037) (09416241023) (09416241033) (09416241035) (09416241038) (09416241049)

PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat, taufik serta hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah pada mata kuliah Penilaian Hasil Belajar IPS yang diampu oleh Taat Wulandari M.Pd. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah Penilaian Hasil Belajar IPS. Makalah ini berisi tentang hal-hal yang terkait dengan munculnya pengolahan data hasil penilaian Makalah ini dibuat dengan tujuan agar mahasiswa dapat memahami cara menilai siswa secara benar dan dapat mencari berbagai manfaat dari pengetahuan tentang pengolahan nilai. Makalah kelompok ini dapat menjadikan mahasiswa lebih kritis. Selain itu dengan membuat makalah ini diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan dalam pembelajaran mata kuliah Penilaian Hasil Belajar IPS. Semoga makalah yang kami buat ini dapat bermanfaat dan berguna, khususnya bagi kami penulis. Tiada kesempurnaan dan kami rasa masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini, kami mohon maaf atas kekurangan dan kesalahan dalam penulisan makalah ini.

Yogyakarta, November 2011

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Dalam proses belajar mengajar, perlu di ketahui hasil dari proses belajar mengajar tersebut. Hasil dari proses pengajaran yang dilakukan oleh guru dapat di ketahui dari nilai siswanya. Penilaian sangat penting di lakukan oleh guru, hal ini dapat bermanfaat bagi guru dan siswa itu sendiri. Bagi guru nilai dari siswa dapat di jadikan acuan bagi proses pengajaran yang akan dilakukan. Bagi siswa nilai bermanfaat untuk mengetahui tolak ukur pemahaman siswa terhadap suatu materi pembelajaran yang sudah diajarkan. Nilai dalam proses pembelajaran tidak begitu saja dapat di gunakan sebagai acuan atau tolak ukur penilaian guru terhadap kemampuan siswanya, maupun tolak ukur siswa itu sendiri terhadap kemampuaannya sendiri. Sangat penting bagi guru untuk mengolah data hasil penilaian yang sudah dilakukan. Manfaat dari pengolahan nilai akan sangat membantu guru dan siswa dalam pemahaman kemampuan seorang siswa. Makalah ini akan membahas pengolahan data hasil penilaian yang dirasa sangat penting dan harus di ketahui oleh calon guru maupun guru, sehingga nilai-nilai siswa yang sudah ada dapat di olah secara benar dan teratur. B. RUMUSAN MASALAH a. Apa yang di maksud dengan data penilaian unjuk kerja,sikap,tertulis,dan proyek ? b. Apa yang dimaksud skala penilaian ? c. Bagaimana mengolah data dari hasil penilaian? C. TUJUAN 1. Untuk mengetahui maksud data penilaian unjuk kerja,sikap,tertulis,dan proyek. 2. Untuk memahami tentang skala penilaian. 3. Untuk mengetahui cara mengolah data hasil penilaian.

BAB II PEMBAHASAN
A. DATA PENILAIAN UNJUK KERJA Data penilaian unjuk kerja adalah skor yang diperoleh dari pengamatan yang dilakukan terhadap penampilan peserta didik dari suatu kompetensi. Skor diperoleh dengan cara mengisi format penilaian unjuk kerja yang dapat berupa daftar cek atau skala penilaian. Nilai yang dicapai oleh peserta didik dalam suatu kegiatan unjuk kerja adalah skor pencapaian dibagi skor maksimum dikali 10 (untuk skala 0 -10) atau dikali 100 (untuk skala 0 100). Misalnya, dalam suatu penilaian unjuk kerja pidato, ada 8 aspek yang dinilai, antara lain: berdiri tegak, menatap kepada hadirin, penyampaian gagasan jelas, sistematis, dan sebagainya. Apabila seseorang mendapat skor 6, skor maksimumnya 8, maka nilai yang akan diperoleh adalah = 6/8 x 10 = 0,75 x 10 = 7,5. Nilai 7,5 yang dicapai peserta didik mempunyai arti bahwa peserta didik telah mencapai 75% dari kompetensi ideal yang diharapkan untuk unjuk kerja tersebut. Apabila ditetapkan batas ketuntasan penguasaan kompetensi minimal 70%, maka untuk kompetensi tersebut dapat dikatakan bahwa peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar. Dengan demikian, peserta didik tersebut dapat melanjutkan ke kompetensi berikutnya. B. DATA PENILAIAN SIKAP Data penilaian sikap bersumber dari catatan harian peserta didik berdasarkan pengamatan/ observasi guru mata pelajaran. Data hasil pengamatan guru dapat dilengkapi dengan hasil penilaian berdasarkan pertanyaan langsung dan laporan pribadi. Seperti telah diutarakan sebelumnya, hal yang harus dicatat dalam buku Catatan Harian peserta didik adalah kejadian-kejadian yang menonjol, yang berkaitan dengan sikap, perilaku, dan unjuk kerja peserta didik, baik positif maupun negatif. Yang dimaksud dengan kejadiankejadian yang menonjol adalah kejadian-kejadian yang perlu mendapat perhatian, atau perlu diberi peringatan dan penghargaan dalam rangka pembinaan peserta didik. Pada akhir semester, guru mata pelajaran merumuskan sintesis, sebagai deskripsi dari sikap, perilaku, dan unjuk kerja peserta didik dalam semester tersebut untuk mata pelajaran yang bersangkutan. Deskripsi tersebut menjadi bahan atau pernyataan untuk diisi dalam kolom Catatan Guru pada rapor peserta didik untuk semester dan mata pelajaran yang berkaitan. Selain itu, berdasarkan catatan-catatan tentang peserta didik yang dimilikinya, guru mata pelajaran

dapat memberi masukan pula kepada Guru Bimbingan Konseling untuk merumuskan catatan, baik berupa peringatan atau rekomendasi, sebagai bahan bagi wali kelas dalam mengisi kolom deskripsi perilaku dalam rapor. Catatan Guru mata pelajaran menggambarkan sikap atau tingkat penguasaan peserta didik berkaitan dengan pelajaran yang ditempuhnya dalam bentuk kalimat naratif. Demikian juga catatan dalam kolom deskripsi perilaku, menggambarkan perilaku peserta didik yang perlu mendapat penghargaan/pujian atau peringatan. C. DATA PENILAIAN TERTULIS Data penilaian tertulis adalah skor yang diperoleh peserta didik dari hasil berbagai tes tertulis yang diikuti peserta didik. Soal tes tertulis dapat berbentuk pilihan ganda, benar salah, menjodohkan, uraian, jawaban singkat. Soal bentuk pilihan ganda diskor dengan memberi angka 1 (satu) bagi setiap butir jawaban yang benar dan angka 0 (nol) bagi setiap butir soal yang salah. Skor yang diperoleh peserta didik untuk suatu perangkat tes pilihan ganda dihitung dengan prosedur: jumlah jawaban benar ------------------------------ X 10 jumlah seluruh butir soal Prosedur ini juga dapat digunakan dalam menghitung skor perolehan peserta didik untuk soal berbentuk benar salah, menjodohkan, dan jawaban singkat. Keempat bentuk soal terakhir ini juga dapat dilakukan penskoran secara objektif dan dapat diberi skor 1 untuk setiap jawaban yang benar. Soal bentuk uraian dibedakan dalam dua kategori, uraian objektif dan uraian nonobjektif. Uraian objektif dapat diskor secara objektif berdasarkan konsep atau kata kunci yang sudah pasti sebagai jawaban yang benar. Setiap konsep atau kata kunci yang benar yang dapat dijawab peserta didik diberi skor 1. Skor maksimal butir soal adalah sama dengan jumlah konsep kunci yang dituntut untuk dijawab oleh peserta didik. Skor capaian peserta didik untuk satu butir soal kategori ini adalah jumlah konsep kunci yang dapat dijawab benar, dibagi skor maksimal, dikali dengan 10. Soal bentuk uraian non objektif tidak dapat diskor secara objektif, karena jawaban yang dinilai dapat berupa opini atau pendapat peserta didik sendiri, bukan berupa konsep kunci yang sudah pasti. Pedoman penilaiannya berupa kriteria-kriteria jawaban. Setiap kriteria jawaban diberikan rentang nilai tertentu, misalnya 0 - 5. Tidak ada jawaban untuk suatu kriteria diberi skor 0. Besar-kecilnya skor yang diperoleh peserta didik untuk suatu kriteria

ditentukan berdasarkan tingkat kesempurnaan jawaban dibandingkan dengan kriteria jawaban tersebut. Skor penilaian yang diperoleh dengan menggunakan berbagai bentuk tes tertulis perlu digabung menjadi satu kesatuan nilai penguasaan kompetensi dasar dan standar kompetensi mata pelajaran. Dalam proses penggabungan dan penyatuan nilai, data yang diperoleh dengan masingmasing bentuk soal tersebut juga perlu diberi bobot, dengan mempertimbangkan tingkat kesukaran dan kompleksitas jawaban. Nilai akhir semester ditulis dalam rentang 0 sampai 10, dengan dua angka di belakang koma. Nilai akhir semester yang diperoleh peserta didik merupakan deskripsi tentang tingkat atau persentase penguasaan Kompetensi Dasar dalam semester tersebut. Misalnya, nilai 6,50 dapat diinterpretasikan peserta didik telah menguasai 65% unjuk kerja berkaitan dengan Kompetensi Dasar mata pelajaran dalam semester tersebut. D. DATA PENILAIAN PROYEK Data penilaian proyek meliputi skor yang diperoleh dari tahap-tahap:

perencanaan/persiapan, pengumpulan data, pengolahan data, dan penyajian data/laporan. Dalam menilai setiap tahap, guru dapat menggunakan skor yang terentang dari 1 sampai 4. Skor 1 merupakan skor terendah dan skor 4 adalah skor tertinggi untuk setiap tahap. Jadi total skor terendah untuk keseluruhan tahap adalah 4 dan total skor tertinggi adalah 16. E. SKALA PENILAIAN 1. Definisi Skala Skala adalah alat untuk mengukur nilai, sikap, minat, perhatian, yang disusun dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden dan hasilnya dalam bentuk rentangan nilai sesuai dengan kriteria yang ditentukan. 2. Beberapa Skala Penilaian a) Skala Bebas Ani, seorang pelajar di suatu SMA, pada suatu hari berlari-lari kegirangan setelah menerima kembali kertas ulangan dari bapa Guru Matematika. Diamatinya sekali lagi angka yang tertera di kertas itu tertulis angka 10, yaitu angka yang diperoleh ani dengan ulangan. Pada waktu ulangan memang ani merasa ragu-ragu mengerjakannya. Rumus yang digunakan sedikit ingat sedikit lupa. Dan ketika seluruh rumus hamper teringat, waktu

yang disediakan telah habis. Seberapa selesai soal itu dikerjakan kertas ulangan harus dikumpulkan. Setelah tiba di luar kelas, Ani berdiskusi dengan kawan-kawannya. Ternyata cara mengerjakan dan pendapatannya tidak sama dengan yang lain. Tetapi mereka juga tidak vakin mana yang betul. Oleh karena itu ketika kertas ulangan dikembalikan dan ia mendapat 10, ia kegirangan. Ditunjukkannya kertas itu kepada kawan-kawannya. Baru sampai bertemu dengan 4 kawannya, wajahnya sudah menjadi malu tersipu-sipu. Apa sebab? Rupanya ia menyadari kebodohan kebodohannya karena setelah melihat angka yang diperoleh keempat orang kawannya, terntaya kepunyaan Anil ah yang yang paling yang paling sedikit. Ada kawannya yang mendapat 15,20, bahkan ada yang 25. Dan kata guru, pekerjaan Tika yang mendapat angka 25 itulah yang betul. Dari gambaran ini Nampak bahwa dalam pikiran Ani, terpancang suatu pengertian bahwa angka 10 adalah tertinggi yang mungkin dicapai. Ini memang lazim. Mungkin bukan hanya Ani yang berpikiran demikian. Padahal pada waktu ulangan matematika ini, guru nmemberikan angka paling tinggi 25 kepada mereka yang dapat mengerjakan seluruh soal dengan betul. Cara pemberian angka seperti ini tidak salah. Hanya sayangnya, guru tersebut barangkali perlu menerangkan kepada para siswanya, cara mana yang digunakan untuk memberikan angka atau skor. Ia baru pindah dari sekolah lain. Ia sudah biasa menggunakan skala bebas, yaitu skala yang tidak tetap. Ada kalanya skor tertinggi 20, lain kali lagi 50. Ini semua tergantung dari banyak dan bentuk soal. Jadi angka tertinggi dari skala yang digunakn tidak selalu sama. b) Skala 1-10 Apa sebab Ani dan kawan-kawannya berpikiran bahwa angka 10 adalah angka tertinggi untuk nilai? Hal ini disebabkan karena pada umumnya guru-guru di Indonesia mempunyai kebiasaan menggunakan skala 1-10 untuk laporan prestasi belajar siswa dalam rapor. Ada kalanya juga digunakan skala 1-10, sehingga memungkinkan bagi guru untuk penilaian yang lebih halus. Dalam skala 1-10, guru jarang memberikan angka pecahan, misalnya 5,5. Angka 5,5 tersebut kemudian dibulatkan menjadi 6. Dengan demikian maka rentangan angka 5,5 sampai dengan 6,4 (selisih hamper 1) akan keluar di rapor dalam satu wajah, yaitu angka 6.

c) Skala 1-100 Memang diseyogyakan bahwa angka itu merupakan bilangan bulat. Dengan menggunakan skala 1-10 maka bilangan bulat yang ada masih menunjukkan penilaian yang agak kasar. Ada sebenarnya hasil prestasi yang berada diantara kedua angka bulat itu. Untuk itulah maka dengan menggunakan skala 1-100, dimungkinkan melakukan penilaian yang lebih halus karena terdapat 100 bilangan bulat. Nilai 5,5 dan 6,4 dalam skala 1-10 yang biasanya dibulatkan menjadi 6, dalam akala 1-100 ini boleh dituliskan dengan 55 dan 64. d) Skala Huruf Selaian menggunakan angka, pemberian nilai dapat dilakukan dengan huruf A,B,C,D, dan E (ada juga yang menggunakan sampai dengan G tetapi pada umumnya 5 huruf lain). Sebenarnya sebutan ³skala´ diatas ini ada yang mempersoalkan. Jarak antara huruf A dan B tidak dapat digambarkan sama dengan jarak antara B dan C, atau antara C dan D. Dalam menggunakan angka dapat dibuktikan dengan gratis bilangan bahwa jarak antara 1 dan 2 sama dengan jarak antara 2 dan 3. Demikian pula jarak antara 3 dan 4, serta antara 4 dan 5.

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Akan tetapi justru alasan inilah lalu timbul pikiran untuk menggunakan huruf sebagai alat penilaian. Untuk menggambarkan kelemahan dalam menggunkan angka adalah bahwa dengan angka dapat ditafsirkan sebagai nilai perbandingan. Siswa A yang memperoleh angka 8 dalam sejarah tidak berarti memiliki kecakapan sebanyak dua kali lipat kecakapan siswa B yang memperoleh angka 4 dalam rapor. Demikian pula siswa A tersebut tidaklah mempunyai 8/9 kali kecakapan C yang mendapat nilai 9. Jadi sebenarnya menggunakan angka hanya merupakan simbul yang menunjukkan urutan tingkatan. Siswa A yang memperoleh angka 8 yang memiliki prestasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa B yang memperoleh angka 4, tetapi kecakapannya itu lebih rendah jika dibandingkan dengan kecakapan C. jadi dalam tingkatan prestasi sejarah urutan adalah C,A lalu B.

Huruf terdapat dalam urutan abjad. Penggunaan huruf dalam penilaian akan terasa lebih tepat digunakan karena tidak ditafsirkan sebagai arti perbandingan. Huruf tidak menunjukkan kuantitas, tetapi dapat digunakan sebagai symbol untuk menggambarkan kualitas. Oleh karena itu, dalam mengambil jumlah atau rata-rata, akan dijumpai kesulitan. Padahal dalam pengisisan rapor, kita tidak dapat terlepas dari pekerjaan mengambil rata-rata. Sebagai contoh, dapat dilihat pada table berikut. Nama Siswa Sartini Tono Aryani Suryo Nunung Sandra Ulangan ke1 A B C A A C Ulangan ke2 B A A A C C Ulangan ke3 A C C A C C

Bagi Suryo dan Sandra, rata-rata dari ketiga nilai ulangan ke-1, ke-2, dank e-3 dengan mudah dapat ditentukan, yaitu A untuk Suryi dan C untuk Sandra. Akan tetapi tidak mudah untuk mengambil rata-rata bagi siswa yang lain. Ada satu cara yang digunakan untuk mengambil rata-rata dari huruf, yaitu dengan mentransfer nilai huruf tersebut menjadi nilai angka dahulu. Yang sering digunakan, satu nilai huruf itu mewakili satu rentangan nilai. Sebagai contoh nilai huruf pada table konversi skor. Angka 100 80 ± 100 66 ± 79 56 ± 65 40 ± 55 30 ± 39 Angka 10 8,0 ± 10 6,6 ± 7,9 5,6 ± 6,5 4,0 ± 5,5 3,0 ± 3,9 Huruf A B C D E Keterangan Baik sekali Baik Cukup Kurang Gagal

Dengan mengembalikan dahulu nilai huruf itu ke nilai angka, maka dengan mudah dapat dicari rata-ratanya. 3. Konversi 1) Definisi Konversi Konversi adalah adalah kegiatan mengubah atau mengolah skor mentah menjadi huruf. Jika tidak ada kegiatan konversi ini, maka nilai tidak bisa dinterpretasikan.

Konversi nilai dapat dilakukan dengan menggunakan Meaan dan SD atau dikenal juga dengan batas lulus Mean (Mean = SD). Cara yang kedua adalah dengan Mean Ideal dan SD Ideal atau Remmers. Untuk cara pertama, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari nilai Mean dan SD, kemudian menentukan besarnya SUD (Skala Unit Deviasi), dan langkah terakhir adalah menentukan batas atas dan batas bawah. Untuk menentukan batas atas dan batas bawah tersebut, rumusnya adalah sebagai berikut: Batas bawah C = M ± 0,5 SUD Batas bawah D = M ± 1,5 SUD Batas atas C = M + 0,5 SUD Batas atas B = M + 1,5 SUD Skala sikap yang diberi bobot nilai 0 ± 4 atau 1 ± 5 sesuai dengan alternatif respon pada dasarnya merupakan skala yang bernilai Ordinal atau pemeringkatan ,sebab responden diminta merespon/menjawab sesuai dengan kecenderungan sikapnya untuk kemudian diberi kode/nilai peringkat oleh peneliti, namun demikian terdapat para Pakar yang menganggapnya sebagai Skala Interval sehingga memungkinkan pengolahan datanya dengan analisis Statistik Parametrik. Terlepas dari kontroversi tersebut, mereka yang berpendapat bahwa skala sikap bernilai ordinal mengajukan suatu cara untuk mengkonversi nilai skala tersebut menjadi bernilai Interval dengan menempatkan masing-masing nilai skala dalam kelompoknya pada suatu distribusi norma, sehingga jarak nilai menjadi sama. Dengan cara ini penentuan nilai skala dilakukan dengan memberi bobot dalam satuan deviasi normal bagi setiap kategori respon pada suatu kontinum psikologis. Tentu pernah melaksanakan penilaian hasil belajar. Dalam KTSP ada berbagai macam teknik penilaian antara tes, observasi, penugasan, interventori, portofolio, jurnal, penilaian diri, penilaian antar teman dan lain-lain. Jadi penilaian itu bukan melalui siswa menjawab soal saja, tapi banyak jenis bentuk lain dari penilaian hasil belajar peserta didik. Kombinasi penggunaan berbagai teknik penilaian di atas akan memberikan informasi yang lebih akurat tentang kemajuan belajar peserta didik. Salah satu teknik penilaian yang sering (bahkan selalu ini saja) adalah dalam bentuk tes. Tes adalah pemberian sejumlah pertanyaan yang jawabannya dapat benar atau

salah. Tes dapat berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja. Tes tertulis adalah tes yang menuntut peserta tes memberi jawaban secara tertulis berupa pilihan dan/atau isian. Tes yang jawabannya berupa pilihan meliputi pilihan ganda, benar-salah, dan menjodohkan. Sedangkan tes yang jawabannya berupa isian dapat berbentuk isian singkat dan/atau uraian. Tes lisan adalah tes yang dilaksanakan melalui komunikasi langsung (tatap muka) antara peserta didik dengan pendidik. Pertanyaan dan jawaban diberikan secara lisan. Tes praktik (kinerja) adalah tes yang meminta peserta didik melakukan perbuatan/mendemonstasikan/ menampilkan keterampilan. Dalam rancangan penilaian, tes dilakukan secara berkesinambungan melalui berbagai macam ulangan dan ujian. Ulangan meliputi ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Sedangkan ujian terdiri atas ujian nasional dan ujian sekolah. Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk melakukan perbaikan pembelajaran, memantau kemajuan dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Ujian adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan. Dari Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Setelah melaksakana ulangan atau ujian pernah tidak menemukan nilai peserta didik kita sangat rendah atau dibawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal. Jika dalam bentuk ulangan harian dan ulangan tengah semester kita bisa melaksakan program perbaikan yg disebut dengan remedial, tapi jika ulangan semester atau ujian sekolah kapan lagi melaksanakan program perbaikannya. Salah satu cara mengatasinya bisa dengan sistem konversi nilai. Berikut caranya : Misalkan ada 50 soal pilihan ganda, kita koreksi dulu hasil ulangan siswa hingga mendapatkan skor. Skor yang di dapat adalah jumlah soal yang dijawab benar oleh siswa dari 50 soal yang diberikan. Lalu kita mendapatkan skor tertinggi dan skor terendah, misalnya Skor tertinggi = 30 Skor terendah = 10

Lalu kita menentukan berapa nilai tertinggi dan terendah yang inginkan,misalnya Skor tertinggi = 30 dapat nilai 8 Skor terendah = 10 dapat nilai 6 Rumus yang kita pakai adalah Y = ax + b Terlebih dahulu kita menentukan nilai a, dengan cara : Niali Tertinggi 8 = 30a + b (30 adalah skor tertinggi)

Nilai Terendah 6 = 10a + b ± (10 adalah skor terendah) 2 = 20a a = 2/20 a = 1/10 atau 0,1 sekarang kita menetukan b, dengan cara : 8 = 1/10 x 30 + b ( 1/10 atau 0,1 adalah a sedang 30 adalah skor tertinggi) 8=3+b b=8±3 b=5 Sekarang kita tinggal memasukkan kedalam rumus Y= ax + b sekarang kita buktikan untuk menentukan nilai konversi Y = 0,1 x 30 + 5 Y=3+5 Y= 8 Artinya siswa dengan skor 30 mendapat nilai konversi 8, bagaimana dengan yang terendah berikut perhitungannya Y= 0,1 x 10 + 5 Y=1+5 Y= 6. Bagaimana dengan yang lain,misalkan skornya 20,denganrumus Y = ax + b Y = 0,1 x 20 + 5 Y=2+5 Y=7 2) Rangking Rangking adalah peringkat

Metode ini merupakan pendekatan penskalaan komparatif yaitu dengan menanyakan kepada responden rangking (kesatu, kedua dan seterusnya) teknik ini relative lebih cepat dan lebih mudah dipahami responden. rapor sekarang sudah tidak ada lagi , sebagai gantinya ada LHBS ( Laporan Hasil Belajar Siswa ) dan tanpa ranking . Ternyata banyak sekali istilah dalam pendidikan yang tidak mereka kenal semisal SSN, RSBI , UASBN , UN . KBK. KTSP dan yang paling heboh di bahas dipertemuan PKK ibu ibu di RW ku kapan hari adalah LHBS ( kebetulan waktu itu bersamaan penerimaan Hasil Belajar dan Kenaikan kelas ) Apakah perbedaan LHBS dan Rapor ? LHBS mulai dikenalkan di Indonesia tahun 2004 pada saat diberlakukannya kurikulum ujicoba KBK ( Kurikulum Berbasis Kompetensi ) dan pada saat ini Kurikulum jadi (maksudnya bukan uji coba lagi ) di beri nama KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ). Esensial dari kedua kurikulum ini adalah target pencapaian hasil belajar siswa bukan hanya hapal dan paham materi tetapi kompetensi siswa . Association K.U. Leuven mendefinisikan kompetensi adalah peingintegrasian dari pengetahuan,

keterampilan, dan sikap yang memungkinkan untuk melaksanakan satu cara efektif. Jadi sejak tahun 2004 target anak berhasil dalam pembelajaran di kelas tidak hanya dari aspek pengetahuan tetapi juga pada aspek sikap dan ketrampilan yang dimilikinya. Dengan demikian nilai yang ada dalam LHBS mencakup 3 aspek itu sedang pada Rapor hanya dari pencapaian aspek pengetahuan (artinya tuntutannya siswa bisa hapal dan paham materi apa yg dipelajari ) Kemudian dari target penilaian akan berbeeda pula , acuan penilaian yang ada di rapor menggunakan PAN (penilaian Acuan Norma ) artinya nilai siswa dibandingkan dengan nilai siswa yang lain dalam kelompoknya . Maka pada Rapor dilengkapi Rangking, tujuannya untuk mengtahui posisi siswa dalam kelompoknya Sedang Pada LHBS acuan penilaian adalah PAK (penilaian acuan Kriteria), artinya siswa dinilai sesuai kemampuan / kompetensi standar siswa yang ada di kelas itu . Untuk itulah setiap guru perlu menentukan KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal ) . Maka di LHBS ada kolom KKM pada setiap mata pelajaran . Sampai pada penjelasan ini ibu2 mulai ribut lagi karena mereka membandingkan KKM dengan KKN. rata-rata.

F. TEKNIK PENGOLAHAN DAN PENGUBAHAN (KONVERSI) SKOR HASIL TES HASIL BELAJAR MENJADI NILAI 1. Perbedaan Antara Skor Dan Nilai Skor adalah haasil pekerjaan menyekor (=memberikan angka ) yang di peroleh dengan jalan menjumlahkan angka-angka bagi setiap butir item yang oleh testee telah di jawab dengan betul, dengan memperhitungkan bobot jawaban betulnya Misalkan tes hasil belajar study bahasa ingris menyajikan lima butir soal tes uraian dimana setiap soal yang di jawab dengan betul di berikan bobot 10. Siswa bernama Fatimah, untuk ke lima butir soal tes uraian tersebut memberikan jawaban sebagai berikut : -soal nomor satu di jawab dengan sempurna, sehingga di berikan skor 10. -nomor dua di jawab betul separuhnya, sehingga di berikan skor 5. -nomor tiga di jawab seperempat bagian dengan betul, sehkngga diberikan skor 2,5. -nomor empat di jawab betul separuhnya, sehingga diberikan skor 5. -nomor lima dijawab sekitar tiga per empatnya, sehinga di berikan skor 7,5. Dengan demikian siswa benama Fatimah mendapatkan skor sebesar = 10 + 5 + 2,5 + 5 + 7,5 = 30. Angka 30 disini belum disebut nilai, sebab angka 30 itu masih merupakan skor mentah (raw score ), yang untuk disebut nilai memerlukan pengolaham atau pengubahan (=konversi ). Nilai adlah angka (bisa juga huruf), yang merupakan hasil ubahan dari skor yang sudah dijadikan satu dengan skor-skor lainnya, serta disesuaikan pengaturannya dengan standar tertentu. Itulah sebabnya mengapa nilai sering disebut skor standar. Nilai, pada dasarnya adalah angka atau huruf yang melambangkan : seberapa jauh atau seberapa besar kemampuan yang telah dtunjukkan oleh testee terhadap materi atau bahan yang diteskan, sesuai dengan tujuan instruksional khusus yang telah ditentukan. 2.Pengolahan dan Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Hasil Belajar Menjadi Nilai Standar (Standard Score ) Ada dua hal yang perlu dipahami dalam pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi skor standar atau nilai, yaitu : 1. Bahwa dalam pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu ada dua cara yang dapat di tempuh, yaitu : a. Bahwa pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu di lakukan dengan mengacu atau mendasarkan diri pada kriterium atau criterion (=patokan). cara

pertama ini sering dikenal dengan istilah criterion referenced evaluation, yang dalam dunia pendidikan di tanah air kita sering dikenal dengan istilah penilaian ber-Acuan Patokan (di-singkat PAP). b. Bahwa pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dilakukan dengan mengacu atau mendasarkan diri pada norma atau kelompok. Cara kedua ini sering di kenal dengan istilah norm referenced evalution, yang dalam dunia pendidikan di tanah air kita sering dikenal dengan istilah Penilaian ber-Acuan Norma (disingkat PAN), atau penilaian ber-Acuan Kelompok (disingkat PAK). 2. Bahwa pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dapat mengunakan berbagai macam skala, seperti : skala lima (stanfive), yaitu nilai satndar berskala lima atau yang sering dikenal istilah nilai huruf A, B, C, D dan F., Skala sembilan (stanine), yaitu nilai yang standar berskala Sembilan di mana rentangan nilainya mulai dari 1 sampai dengan 9 (tidak ada nilai 0 dan tidak ada nilai 10), skala sebelas (stanel = standard eleven = eleven points scale, yaitu rentangan nilai mulai dari 0 sampai dengan 10), z score (nilai standar z), dan T score (nilai standar T). Sebagai catatan, dalam dunia pendidikan nilai standar pada lembaga pendidikan tingkat dasar dan tingkat menengah adalah nilai standar berskala sebelas, sedang pada lembaga pendidikan tinggi digunakan nilai standar berskala lima atau nilai huruf. a. Pengolahan dan Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Hasil Belajar Menjadi Nilai Standar dengan Mendasarkan Diri atau Mengacu pada Kriterium (Criterion Referenced Evaluation) Harus dipahami penilaian beracuan kriterium ini mendasarkan diri pada asumsi, bahwa: 1) Hal-hal yang harus dipelajari testee (murid, siswa, mahasiswa) adalah mempunyai struktur hierarkis tertentu, dan bahwa masing-masing taraf harus dikuasai secara baik sebelum testee tadi maju atau sampai pada taraf selanjutnya. 2) Evaluator atau tester (dalam hal ini guru, dosen dan lain-lain) dapat mengidentifikasikan masing-masing taraf itu sampai tuntas, atau setidak-tidaknya mendekati tuntas, sehingga dapat disusun alat pengukurnya. Dalam penentuan nilai hasil tes hasil belajar itu digunakan acuan kriterium, maka nilai yang diberikan harus didasarkan pada standar mutlak, artinya pemberian nilai kepada testee itu dilaksanakan dengan jalan membandingkan antara skor mentah hasil tes yang

dimiliki oleh masing-masing individu testee, dengan skor maksimal ideal yang mungkin dapat dicapai oleh testee, kalau saja seluruh soal tes dapat dijawab dengan betul. Karena itu maka penentuan nilai yang mengacu kriterium, tinggi rendahnya atau besar kecilnya nilai pada tiap testee , mutlak ditentukan oleh besar kecil atau tinggi rendahnya skor yang dapat dicapai oleh masing-masing testee yang bersangkutan. Itulah sebabnya mengapa penentuan nilai dengan mengacu pada kriterium sering disebut sebagai: penentuan nilai secara mutlak atau penentuan nilai secara individual. Disamping itu, karena penentuan nilai seorang testee dilakukan dengan cara membandingkan skor mentah hasil tes dengan skor maksimum idealnya, maka penentun nilai yang beracuan pada kriterium ini juga sering dikenal dengan istilah penentuan nilai secara ideal, atau penentan nilai secara teoritik. ³Teoritik´ disini maksudnya, secara teoritik seorang siswa berhak atas nilai 100 misalnya apabila seluruh soal tes dapat dijawab dengan betul oleh siswa tersebut. Contoh : Seorang dosen merencanakan tes hasil belajar dalam bidang studi Nahwu Sharaf. Soal-soal yang dikeluarkan dalam tes tersebut terdiri atas 75 butir soal tes obyektif dan 1 butir soal tes uraian dengan rincian sebagai berikut: Nomor Butir Soal Bentuk Tes/Model Soal Jumlah Butir Soal Bobot Jawaban Betul 01-10 11-20 21-30 31-40 41-50 51-60 61-70 71-75 76 Tes obyektif bentuk true-false Tes obyektif bentuk matching Tes obyektif bentuk completion 10 10 10 1 1 1 1 11/2 11/2 2 4 10 10 10 10 10 15 15 20 20 10 Sko r

Tes obyektif bentuk MCI model melengkapi 10 lima pilihan 10

Tes obyektif bentuk MCI model melengkapi 10 berganda 10

Tes obyektif bentuk MCI model asosiasi 5 dengan lima pilihan Tes obyektif bentuk MCI model analisis hubungan antarhal 1

Tes obyektif bentuk MCI model analisis kasus Tes uraian Skor maksimum ideal 120

«««««««««««««««««««««««««««««««««««« ««««« Berdasarkan rincian butir-butir soal tersebut di atas dapatlah kita ketahui bahwa Skor maksimum Ideal (SMI) dari tes hasil belajar tersebut adalah = 120 Misalkan tes hasil belajar bidang studi Nahwu Sharaf itu diikuti oleh 80 orang siswa dan dalam tes tersebut ke ± 80 orang siswa itu berhasil meraih skor-skor hasil tes sebagai berikut: DAFTAR 7.1. Skor-skor hasil tes hasil belajar bidang studi Nahwu Sharaf yang diikuti oleh 80 orang siswa Madrasah µAliyah Negeri¶.

Nomor Skor Urut Siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 60 40 80 30 75 52 59 71 41 58 61 56 53 63 85 54 60 49 55 43

Nomor Urut Siswa 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

Skor

Nomor Skor Urut Siswa

Nomor Skor Urut Siswa

45 61 69 50 37 65 53 58 63 64 51 58 49 58 42 64 50 55 53 67

41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

65 46 55 70 51 57 62 57 68 50 59 62 45 59 47 48 55 45 55 44

61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80

40 73 35 56 39 58 66 54 47 60 48 52 34 46 72 60 51 55 54 52

Apabila skor-skor mentah hasil tes obyektif yang dicapai oleh 80 siswa Madrasal aliyah tersebut dalam penentuan nilai standarnya digunakan standar mutlak, maka rumus yang dipergunakan adalah: Nilai = skor mentah X 100

skor maksimum ideal diatas telah dikemukakan bahwa skor maksimum ideal dari tes hasil belajar bidang studi Nahwu Sharaf itu adalah 120. Dengan demikian, apabila skor-skor mentah yang tertera pada daftar 7.1 di

atas kita olah dan kita ubah menjadi nilai standar, maka nilai-nilai standar yang berhasil dicapai oleh masing-masing individu/ siswa adalah seperti dapat diperiksa pada daftar 7.2 Daftar 7.2 skor-skor mentah hasil THB bidang studi Nahwu Sharaf yang dicapai oleh 80 orang siswa madrasah aliyah setelah diubah menjadi nilai standar dengan menggunakan standar mutlak (penilaian beracuan kriterium). Nomor Skor Urut Siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 60 40 80 30 75 52 59 71 41 58 61 56 53 63 85 54 60 49 55 43 60/120 x 100 = 50 40/120 x 100 = 33 80/120 x 100 = 67 30/120 x 100 = 25 75/120 x 100 = 62 52/120 x 100 = 43 59/120 x 100 = 49 71/120 x 100 = 59 41/120 x 100 = 34 58/120 x 100 = 48 61/120 x 100 = 51 56/120 x 100 = 47 53/120 x 100 = 44 63/120 x 100 = 52 85/120 x 100 = 71 54/120 x 100 = 45 60/120 x 100 = 50 49/120 x 100 = 41 55/120 x 100 = 46 43/120 x 100 = 36 Nilai Seperti dapat diamati pada daftar 7.2 diatas, maka dengan menggunakan standar mutlak, maka nasib seorang siswa mutlak ditentukan oleh dirinya sendiri secara individual, tanpa melibatkan atau

mempertimbangkan sama sekali skor-skor yang dicapai oleh siswa lain-lainnya. Tinggi dan rendahnya nilai yang dicapai oleh masing-masing individu sisw mutlak ditentukan ole standar yang sudah ditentukan. Selanjutnya patut diperhatikan, bahwa nilai yang berwujud angka, yang penentuannya didasarkan pada standar mutlak itu sebenarnya adalah merupakan angka presentase (%) mengenai tingkat kedalaman atau tingkat penguasaan testee terhadap materi tes yang dihadapkan kepada mereka. Dalam pernyataan tersebut terkandung makna, bahwa nilai yang

penentuannya berdasarkan pada standar mutlak itu menunjukkan berapa persen dari 100 % tujuan instruksional khusus yang telah ditentukan, telah dapat dicapai atau dipahami oleh testee. Jadi, jika seorang siswa memperoleh nilai 50 maka hal itu merupakan petunjuk bahwa siswa tersebut hanya mampu memahami sebanyak 50 % (separoh) dari tujuan instruksional khusus yang telah ditentukan. Seorang siswa dengan nilai sebesar 67% dari materi

DST SAMPAI N0. URUT 80

tes seperti yang telah ditentukan dalam tujuan instruksional khusus. Demikianlah seterusnya.

b. Penggolongan dan Pengubahan skor mentah hasil tes hasil belajar menjadi nilai standar dengan mendasarkan diri atau mengacu pada norma atau kelompok (norm reference evaluation). Pengolahan dan pengubahan skor mentah hasil tes hasil belajar menjadi nilai standar dengan mendasarkan diri atau mengacu pada norma atau kelompok sering dikenal dengan istilah PAN (singkatan dari Penilaian Beracuan norma) atau PAK (singkatan dari: Penilaian beracuan kelompok). Penilaian beracuan kelompok ini mendasarkan diri pada asumsi sebagai berikut: 1) Bahwa pada setiap populasi peserta didik yang sifatnya heterogen (berbeda jenis kelamin , berbeda latar belakang pendidikan, berbeda latar belakang pendidikan, berbeda status social orang tuanya, berbeda lingkungan sosialnya, berbeda I.Q nya dan sebagainya), akan selalu didapati kelompok kelompok ³baik´ (kelompok tinggi/ kelompok atas/ kelompok anak pandai), kelompok ³sedang´ (kelompok tengah/ kelompok cukup), dan kelompok ³kurang´ ( kelompok bawah/ kelompok rendah/kelompok anak bodoh), yang distribusinya membentuk kurva normal atau kurva simetrik. 2) bahwa tujuan evaluasi belajar adalah untuk menentukan posisi relative (= relative standing) dari para peserta tes dalam hal yang sedang di evaluasi itu, yaitu apakah seseorang peserta tes relativenya berada dia atas di tengah atau di bawah Penilaian beracuan norma atau penilaian beracuan kelompok ini sering dikenal dengan istilah penetuan nilai secra relative, atau penilaian dengan berdasarkan diri pada standar nilai relative. Dengan menggunakan standar relatife maka akan dapat terjadi, bahawa testee yang sebenarnya pada kelompok 1 tergolong ³hebat´ (karena berhasil meraih skor hasil tes yang tinggi sehingga ia tergolong dalam kategori testee yang amat pandai), jika dimasukkan ke dalam kelompok II ternyata hanya termasuk kelompok ³sedang´ atau biasa saja kualitasnya, jadi kedududkan testee dimaksu dia tas sebenarnya adalah bersifat relative Istilah lain yang sering diberikan kepada penentuan nilai beracuankelompok adalah: penentuan nilai secara empiric, penentuan nilai secara actual, atau penentuan nilai secara das sein. Dikaatakan penentuan secara actual sebab, disisni penentuan nilai itu didasarkan kepada distribusi skor yang secara actual (menurut kenyataannya) dicapai oleh testee dalam suatu tes hasil belajar. Dikatakan penentuan secara kelompk, sebab disinggung dalam pembicaraan dimuka, dijadikan patokan dalam penentuan nilai adalah prestasi kelompok atau prestasi

yang dicapai oleh kelompok testee secara totalitas dan bukan prestasi individual. Dikatakan penetuan secara empiric atau das sein adalah disini penetuan nilai dilakukan dengan memprhatikan atau mempertimbangkan hasil tes secra empiric yaitu skor ±skor hasil tes sebagaimana yang dapat dilihat, diamati atau disaksikan dalam praktek dilapangan, stelah tes tersebut berakhir dan tidak berdasrkan diri pada patokan ±patokan yang bersifat teoritik atau ideal. Penerapan standar nilai dengan menggunakan standar relatife ini sangat cocok untuk diterapkan pada tes ±tes sumatif (ulangan umum, UAS, UAN atau yang setara dengan itu). Sebab dipandang lebih adil, wajar dan bersifa manusiawi. Apabila dalam penentuan nialai standar digunakan standar relative, maka presta kelompok itu dicari atau dihitung dengan menggunakan metode statistic, dimana prestasi kelompok atau nilai rata-rata kelas itu adalah identik dengan rata-rata hitung (= arithmetic mean), yang dapat diperoleh dengan menggunakan salah satu dari rumus yang disebutkan dibawah ini 1. 2. 3. = = = +i 

Di samping mendasarkan diri pada arithmetic mean sebagai salah satu ukuran statistic yang mencerminkan prestasi kelompok atau rata rata kelas, maka dalam penialaian beracuan kelompok (PAK) ini juga dipertimbangkan variasi atau variabilitas dari nilai-nialai hasil tes yang dicapai oleh testee secara keseluruhan. Dalam ilmu statstik, tingkat homogenitas dan heterogenitas data itu dapat ditunjukan oleh salah satu ukuran variabilitas data itu yang dipandang memiliki kadar ketelitian tinggi, yitu deviasi standar (standar deviation), yang dapat diperoleh dengan menggunakan salah satu dari rumus rumus yang dikemukakan berikut ini: 1. 2. 3. = = =

4.

= Setelah diperoleh atau berhasil diketahui besarnya nilai rata-rata hiutng atau mean

(diberil alambang M) dan besarnya deviasi standar diberi lambing (SD) dari skor skor hasil tes yang bersangkutan, selanjutnya skor-skor hasil tes yang bersangkutan, selanjutnya skorskor mentah hasil tes tersebut dikonversi atau di ubah menjadi nilai standar Dalam pembicaraan yang berhubungan dengan nilai standar kiranya perlu dikatahui bahwa dalam dunia evaluasi pendidikan, kusunya evauliasi hasil belajar dikenal berbagai jenis standar seperti :  Nialai standar berskala lima (= stanfive,) yang sering dikenal dengan istilah huruf, yaitu nilai A,B,C,D dan F  Nilai standar beskala Sembilan (= stanine), yaitu rentangan atau sklala nilai yang bergerak mulai dari 1 sampaidengan 9  Nilai standar berskala sebelas (standar eleven/stanel=eleven points scale), yaitu skala nialai yang bergerak mulai dari nilai 0 sampai dengan nilai 10  Nilai standar z (z score)  Niali standar T (T score) 1. Pengubahan skor mentah hasil tes menjadi nilai standar berskala lima (satnfive) Pengubahan skor mentah hasil tes menjadi nilai standar beskala lima atau nilai huruf, menggunakan patokan sebagai berikut :

Mean + 1,5 SD A Mean + 0,5 SD B Mean ± 0,5 SD C Mean ± 1,5 SD D Misalkan dalam ujian akhir semester bidan studi ushul figh yang diikuti oleh 80 mahasiswa, dimana skor maksimum ideal dari tes /ujian tersebtu adalah 120 diperoleh skor ±skor mentah sebagaimana disajikan pada daaftar :

27 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 40 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53

54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80

Langkah langkah yang perlu di tempuh yang perlu ditempuh dalam rangka mengubah skor-skor mentah hasil ujian tersebut diatas menjadi nilai standar berskala lima adalah sebagai berikut : Langkah pertama, mengatur, menyusun dan menyajikan skor-skor mentah hasil ujian tersebut di atas dalam bentuk table distribusi frekuensi. Diketahui : Skor tertinggi ( higest score = H ) = 72 Skor terendah ( lowest score = L ) = 15 Jadi = R = ( H ± L ) + 1 ( 72 ± 15 ) + 1 = 58. = 10 - 20 = 10 ± 20 = i=5

Dengan interval class sebesar 5 selanjutnya dapat disusun table distribusi frekuensinya sebagai berikut : Tabel Distribusi frekuensi skor-skor mentah hasil ujian bidang studi Ushul Fiqh, yang diikuti oleh 80 orang mahasiswa Langkah kedua : mencari ( menghitung ) nilai rata-rata hitung ( arithmetic mean ) yang melambangkan prestasi kelompok, dan deviasi standar ( standard deviation ) yang mencerminkan variasi dari skor-skor mentah hasil ujian yang dicapai oleh 80 orang mahasiswa tersebut diatas. Tabel Perhitungan-perhitungan untuk mencari mean dan deviasii standar dari skor-skor hasil ujian bidang studi Ushul Fiqh yang diikuti oleh 80 mahasiswa. =M+I Dari perhitungan-perhitungan di atas telah berhasil kita peroleh skor rata-rata hitung sebesar 43,0625 dan deviasi standar sebesar 10,2985 Langkah ketiga : Mengubah skor-skor mentah menjadi nilai standar skala lima, dengan

menggunakan patokan seperti telah dikemukakan di atas : M + 1,5 SD = 43,0625 + ( 1,5 ) ( 10,2985 ) = 58, 51025 M + 0,5 SD = 43,0625 + ( 0,5 ) ( 10,2985 ) = 48,21175 M - 0,5 SD = 43,0625 - ( 0,5 ) ( 10,2985 ) = 37,91325 M - 1,5 SD = 43,0625 - ( 1,5 ) ( 10,2985 ) = 27,61475 Langkah keempat : membuat tabel konfersi

Skor mentah 59 ke atas 49-58 38-48 28-37 27 ke bawah

Nilai huruf A B C D E

Langkah kelima : mengkonversi skor-skor mentah yang dimiliki oleh masing-masing individu mahasiswa menjadi nilai standar berskala lima ( nilai huruf A, B, C, D dan E ). Hasilnya adalah sebagaimana dapat diperiksa pada daftar 7.4 Berikut ini adalah salah satu contoh bagaimana cara yang perlu ditempuh dalam rangka mengubah skor mentah hasil tes menjadi nilai standar berskala lima atau nilai huruf A-B-C-D-E. DAFTAR 7.4 Skor-skor mentah hasil U.A.S bidang studi Ushul Fiqh yang diikuti oleh 80 orang mahasiswa, sebelum dan sesudah dikonfersi menjadi nilai huruf. Marilah terlebih dahulu kita lakukan perbandingan antara jumlah siswa yang mencapai nilai A, B, C, D dan E pada penentuan nilai yang menggunakan standar mutlak dengan penentuan nilai yang menggunakan standar relative yang baru saja kita selesaikan perhitungannya itu. Untuk keperluan tersebut periksalah kembali data yang disajikan pada Daftra 7.3. Data berupa skor-skor mentah tersebut terlebih dahulu kita ubah menjadi nilai standar dengan menggunakan standar mutlak dengan skor maksimum ideal sebesar 120. Setelah itu lalu kita gabung dengan data yang telah disajikan pada Daftar 7.4 di atas, menjadi satu buah Daftar ( Lihat Daftar 7.5 ) Daftar 7.5 Perbandingan skor-skor mentah hasil U.A.S bidang studi Ushul Fiqh yang diikuti oleh 40 orang mahasiswa, yang penentuan nilai standarnya menggunakan standar mutlak dan standar relatif 

6. mencari z score dengan rumus:  

   

   

   

   

Skor Mentah Nomor urut mahasi swa Sebelum dikonversi Setelah dikonversi dengan menggunakan Standar Mutlak dengan Rumus: Nilai =(Skor:SMI)X 100 dan diubah menjadi nilai huruf:A-B-C-D-E (1) 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. (2) 50 25 45 20 42 36 46 44 44 53 48 34 57 46 37 31 38 42 32 44 30 41 35 62 (3) 50/120 X 100 = 42 = E 25/120 X 100 = 21 = E 45/120 X 100 = 37 = E 20/120 X 100 = 17 = E 42/120 X 100 = 35 = E 36/120 X 100 = 30 = E 46/120 X 100 = 38 = E 44/120 X 100 = 37 = E 44/120 X 100 = 37 = E 53/120 X 100 = 44 = E 48/120 X 100 = 40 = E 34/120 X 100 = 28 = E 57/120 X 100 = 53 = D 46/120 X 100 = 38 = E 37/120 X 100 = 31 = E 31/120 X 100 = 26 = E 38/120 X 100 = 32 = E 42/120 X 100 = 35 = E 32/120 X 100 =27 = E 44/120 X 100 = 27 = E 30/120 X 100 = 37 = E 41/120 X 100 = 25 = E 35/120 X 100 = 34 = E 62/120 X 100 = 29 = E Setelah dikonversi dengan menggunakan standar relative,dimana digunakan skala lima/Stanfive (Nilai Huruf:(A,B,C,D,E) (4) B E C E C D C C C B C D B C D D C C D C D C D A

65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80.

43 37 42 48 47 39 54 45 26 58 30 51 47 48 49 53

43/120 X 100 = 52 = D 37/120 X 100 = 31 = E 42/120 X 100 = 35 = E 48/120 X 100 = 40 = E 47/120 X 100 = 39 = E 39/120 X 100 = 32 = E 54/120 X 100 = 45 = E 45/120 X 100 = 37 = E 26/120 X 100 = 22 = E 58/120 X 100 = 48 = D 30/120 X 100 = 25 = E 51/120 X 100 = 42 = E 47/120 X 100 = 39 = E 48/120 X 100 = 40 = E 49/120 X 100 = 41 = E 53/120 X 100 = 44 = E

C D C C C C B C E B D B C C B B

Bertitik tolak dari data yang disajikan pada Daftar 7.5 maka dapat kita buat tabel ikhtisar yang memuat gambaran tentang mahasiswa yang berhasil meraih nilai A,B,C,D,dan E kalau saja dalam konversi skor mentahnya digunakan standar mutlak dan standar relatif (periksa Tabel 7.4). TABEL 7.4.Perbandingan jumlah mahasiswa yang mendapat nilai A,B,C,D dan E pada saat digunakannya standar mutlak dan standar relative (N=40) Nilai Jumlah Mahasiswa di mana Konversi Skor Mentah Hasil UAS Angka Huruf dilakukan dengan menggunakan Standar Mutlak 80 ke atas 66-79 A B 0 (0,00%) 0 (0,00%) Jumlah Mahasiswa dimana Konversi Skor Mentah Hasil UAS dilakukan dengan Menggunakan Standar Relatif 6 (7,50%) 16 (20,00%)

56-65 46-55 45 ke bawah Total

C D E

2 (2,50%) 8 (10,00%) 70 (87,50%)

34 (42,50%) 19 (23,75%) 5 (6,25%)

40 (100,00%)

40 (100,00%)

Dari tabel di atas,maka konversi skor mentah menjadi nilai standar dengan menggunakan standar relatif terasa lebih bersifat manusiawi daripada dengan menggunakan standar mutlak.

Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Menjadi Nilai Standar Berskala Sembilan (Stannine)
Jika skor-skor mentah hasil tes itu akan diubah menjadi nilai standar berskala sembilan,maka patokan yang dipergunakan adalah sebagai berikut:
9

M + 1,75 SD
8

M + 1,25 SD M + 0,75 SD M + 0,25 SD
5 7 6

Nilai standar berskala sembilan adalah nilai standar yang meniadakan nilai 0 dan nilai 10.Nilai standar tersebut tidak lazim digunakan di Indonesia

M ± 0,25 SD
4

M ± 0,75 SD
3

M ± 1,25 SD
2

M ± 1,75 SD

1

Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Menjadi Nilai Standar Berskala Sebelas (Standard Eleven = Stanel/Eleven Points Scale)
Nilai standar berskala sebelas ini umumnya digunakan pada lembaga pendidikan tingkat dasar dan tingkat menengah.Pengubahan skor mentah menjadi stanel menggunakan patokan sebagai berikut:

10

M + 2,25 SD M + 1,75 SD M + 1,25 SD M + 0,75 SD M + 0,25 SD M ± 0,25 SD M ± 0,75 SD M ± 1,25 SD M ± 1,75 SD M ± 2,25 SD
2 1 0 9 8 7 6 5 4 3

Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Menjadi Nilai Standar z (z Score)
Nilai standar z atau z score umumnya dipergunakan untuk mengubah skor-skor mentah yang diperoleh dari berbagai jenis pengukuran yang berbeda-beda. Misalkan dalam test seleksi penerimaan calon pramugara dan pramugari udara haji yang diikuti oleh 10 testee,dalam tes mana testee dihadapkan pada lima jenis tes,yaitu: tes Bahasa Inggris(X1),tes I.Q.(X2),tes kepribadian(X3),tes sikap(X4),tes kesehatan jasmani(X5).Untuk dapat menentukan siapakah yang dipandang lebih unggul dari 10 testee,diperlukan adanya skor atau nilai yang bersifat baku (standar) dimana dengan nilai standar itu kita dapat mengetahui kedudukan relative(standing position) dari 10 orang testee untuk kelima jenis tes tersebut.Nilai standar relatif dimaksud adalah z score yang dapat diperoleh dengan menggunakan rumus : X z = SDx
Dimana : z X SDx = z score = Deviasi skor X,yaitu selisih antara skor X dengan Mx = Deviasi standar dari skor-skor.

7. z score yang dimiliki masing-masing testee dijumlahkan dari kiri ke kanan dan akan diketahui testee yang memiliki total z score yang bertanda (+) dan (-). Langkah pertama, kedua, ketiga Testee Skor Mentah (X) Deviasi (x)

A B C D E F G H I J 10=N

72 65 75 64 71 73 75 68 70 66 700 =™

114 105 115 107 101 120 125 109 103 111 1110 =™ 111

48 51 44 42 55 56 57 49 51 47 500 =™ 50

172 163 169 179 181 175 183 168 167 153 1710 

221 205 224 198 207 219 225 216 224 211 2150 

+2 -5 +6 -6 +1 +3 +5 -2 0 -4 0= ™

+3 -6 +4 +4 -10 +9 +14 -2 -8 0 0= ™

-2 +1 -6 -8 +5 +6 +7 -1 +1 -3 0= ™

+1 -8 -2 +8 +10 +4 +12 -3 -4 -18 0= ™

-4 -10 +9 -17 -8 +4 +10 +1 +9 +6 0= ™

M

70

171

215

Langkah keempat, kelima, keenam, ketujuh Testee Kuadrat Deviasi ) Z score Total score A B C D E F 4 25 36 36 1 9 9 36 16 16 4 1 36 64 1 63 4 64 16 +0,51 +0,41 -0,83 +0,55 -0,55 -1,38 +1,25 -0,42 +0,21 -0,26 -1,68 +1,05 +1,26 +0,45 -0,93 -0,23 +0,93 +1,16 +0,46 -0,45 -1,13 +1,02 -1,92 -0,90 +0,45 +0,17 -3,95 +1,60 -4,74 +0,18 +4,18 z

100 -1,27 81 +1,52

289 -1,52 +0,25 +0,76

100 25 81 36

100 64 16 16

G H I J 10 =N 

25 4 0 16

196 49 4 64 0 1 1 9

144 100 +1,27 9 16 1 81 -0,51 0 -1,01 0= ™

+1,94 -0,28 -1,11 0 0= ™

+1,47 -0,21 +0,21 -0,63 0= ™

+1,39 -0,35 -0,46 -2,09 0= ™

+1,13 +0,11 +1,02 +0,67 0= ™

+7,20 -1,24 -0,34 -3,06 0= ™z1

324 36 ™ ™ 

156 522 226 742 784 ™ ™ 
™

3,95 7,22 4,75 8,61 8,85 
= 

=

= 

=

= 

Dari tabel diperoleh total z score dari 10 orang peserta tes dari penerima calon pramugari untuk kelima jenis tes, yaitu: A=+0,17; B=-3,19; C=+1,60; D=-4,74; E=+0,18; F=+4,18; G=+7,20; H=1,24; I=-0,34; dan J=-3,06. Kalau saja dalam tes hanya akan diterima 1 orang maka yang lulus adalah G.

BAB III PENUTUP
KESIMPULAN Penilaian yeng dilakukan oleh guru didapat dari data penilaian unjuk kerja,data penilaian sikap, data penilaian tertulis,dan data penilaian proyek. Skala adalah alat untuk mengukur nilai, sikap, minat, perhatian, yang disusun dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden dan hasilnya dalam bentuk rentangan nilai sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Terdapat bermacam-macam skala seperti skala bebas, skala 110, skala 1-100, dan skala huruf. Untuk menjadi sebuah nilai, skor perlu pengolahan dan pengubahan menggunakan beberapa teknik. Perlu diketahui bahwa skor dan nilai itu berbeda. Skor dapat diubah menjadi nilai standar. Dalam pengolahan skor mentah dapat di ubah menggunakan skala nilai tertentu. Terdapat berbagai jenis nilai standar yaitu nilai standar berskala lima, nilai standar beskala Sembilan, nilai standar berskala sebelas (standar eleven/stanel=eleven points scale), nilai standar z (z score), Niali standar T (T score)

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharmini. 2007. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Sudijono, Anas. 1998. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Grafindo Persada. ______, 1984. Teknik Penilaian Pendidikan. Mojokerto. Sumber: http://desainwebsite.net/pendidikan/pengolahan-hasil-penilaian/asesmen#ixzz1ZijVXTCp

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->