P. 1
B A B I

B A B I

|Views: 454|Likes:
Published by Irayana_Marpau_2692

More info:

Published by: Irayana_Marpau_2692 on Jan 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/04/2013

pdf

text

original

BABI PENDAHULUAN Definisi Krim: Menurut Farmakope Indonesia III definisi Cream adalah sediaan setengah padat berupa

emulsi mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Dan menurut Farmakope Indonesia IV, Cream adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Sedangkan menurut Formularium Nasional Cream adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi kental mengandung air tidak kurang dari 60 % dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. BAB II PENGGOLONGAN KRIM Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau disperse mikrokristal asam ± asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk pemakain kosmetika dan estetika. Krim dapat juga digunakan untuk pemberian obat melalui vaginal. Ada 2 tipe krim yaitu krim tipe minyak dalam air (m/a) dan krim tipe air dalam minyak (a/m). Pemilihan zat pengemulsi harus disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang dikehendaki. Untuk krim tipe a/m digunakan sabun polivalen, span, adeps lanae, kolsterol dan cera. Sedangkan untuk krim tipe m/a digunakan sabun monovalen, seperti trietanolamin, natrium stearat, kalium stearat dan ammonium stearat. Selain itu juga dipakai tween, natrium lauryl sulfat, kuning telur, gelatinum, caseinum, cmc dan emulygidum. Kestabilan krim akan terganggu/rusak jika sistem campurannya terganggu, terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi yang disebabkan perubahan salah satu fase secara berlebihan atau zat pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama lain. Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika diketahui pengencernya yang cocok dan dilakukan dengan teknik aseptic. Krim yang sudah diencerkan harus digunakan dalam jangka waktu 1 bulan. Sebagai pengawet pada krim umumnya digunakan metil paraben (nipagin) dengan kadar 0,12% hingga 0,18% atau propil paraben (nipasol) dengan kadar 0,02% hingga 0,05%. Penyimpanan krim dilakukan dalam wadah tertutup baik atau tube ditempat sejuk, penandaan pada etiket harus juga tertera ¶¶obat luar¶¶. Cream M/A Biasanya digunakan pada kulit, mudah dicuci, sebagai pembawa dipakai pengemulsi campuran surfaktan. Sistem surfaktan ini juga bisa mengatur konsistensi. Campuran Pengemulsi Yang Sering Dipakai : Emulsifying wax BP. Lannette wax (campuran etil & stearil alkohol yang disulfonasi). Cetrimide emulsifying wax. Cetomakrogol emulsifying wax. Asam ± asam lemak, seperti palmitat, stearat. Sifat Emulsi M/A Untuk Basis Cream : Dapat diencerkan dengan air.

Cream ini mengandung zat pengemulsi A/M yang spesisifik. harus dipilih suatu emulsi minyak dalam air. Karena emulsi yang dipakai pada kulit sebagai obat luar bisa dibuat sebagai emulsi m/a ( minyak dalam air ) atau emulsi a/m ( air dalam minyak ). Untuk mencegah terjadinya pengendapan zat maka ditambahkan zat yang mudah bercampur dengan air tetapi tidak menguap (propilen glikol). Garam ± garam dari asam lemak dengan logam bevalensi 2. II. Adeps lanae.mudah menyebar rata 2. B A B III ALASAN PEMBUATAN SEDIAAN KRIM (CREAM) I. Seperti untuk absorpsi. seperti : Ester asam lemak dengan sorbitol. Pada kulit yang tidak luka. sangat tergantung pada komposisi fasa minyak & fasa cair. Sebaliknya jika diinginkan preparat yang mudah dihilangkan dari kulit dengan air. Cream A/M Konsistensi dapat bervariasi. Formulasi yang baik adalah cream yang dapat mendeposit lemak dan senyawa pelembab lain sehingga membantu hidrasi kulit. Suatu emulsi air dalam minyak juga lebih lembut ke kulit.praktis . Alasan Pembuatan Alasan pembuatan preparat ini untuk mendapatkan efek emolien atau pelembut jaringan dari preparat tersebut dan keadaan permukaan kulit. abnsorpsi melalui kulit ( absorpsi perkutan ) bisa ditambah dengan mengurangi ukuran partikel dari fase dalam. Tentu saja dapat bercampurnya dan kelarutan dalam air dan dalam minyak dari zat obat yang digunakan dalam preparat yang di emulsikan menentukan banyaknya pelarut yang harus ada dan sifatnya yang meramalkan fase emulsi yang dihasilkan . Kelebihan Adapun kelebihan menggunakan sediaan cream adalah : 1. tergantung pada berbagai faktor seperti sifat zat terapeutik yang akan dimasukan ke dalam emulsi. harus dipilih suatu emulsi minyak dalam air. Zat obat yang akan mengiritasi kulit umumnya kurang mengiritasi jika ada dalam fase luar yang mengalami kontak langsung dengan kulit.Mudah dicuci dan tidak berbekas. karena ia mencegah mengeringnya kulit dan tidak mudah hilang bila kena air. suatu emulsi air dalam minyak biasanya dapat dipakai lebih rata karena kulit diselaputi oleh suatu lapisan tipis dari sabun dan permukaan ini lebih mudah dibasahi oleh minyak daripada oleh air.

bahan untuk pemakaian topical jumlah yang diabsorpsi tidak cukup beracun. disebabkan dalam pembuatan formulanya tidak pas. Minyak Salah satu fase cair yang bersifat nonpolar 3.mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m ( air dalam minyak ) karena terganggu system campuran terutama disebabkan karena perubahan suhu dan perubahan komposisi disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan atau pencampuran 2 tipe crem jika zat pengemulsinya tidak tersatukan.mudah lengket.cara kerja langsung pada jaringan setempat 5. Salah satu fase cair yang bersifat polar. 2. terutama pada tipe a/m ( air dalam minyak ) 9. berupa emulsi minyak dalam air atau air dalam minyak. 2. Air. terutama tipe a/m ( air dalam minyak ) 4. III.Bisa digunakan untuk mencegah lecet pada lipatan kulit terutama pada bayi. 4. Berikut ini adalah bahan ± bahan penyusun sediaan krim : 1. Untuk pembuatan digunakan air yang telah dididihkan dan segera digunakan setelah dingin.susah dalam pembuatannya. sabun.pembuatannya harus secara aseptic BAB IV FORMULASI DAN METODE PEMBUATAN Formula pembentuk krim : Krim merupakan sediaan semi solid. tetapi tidak menyebabkan kulit berminyak.3. 10. 8. Kekurangan Di samping kelebihan tersebut. pada fase a/m ( air dalam minyak ) karena kadar lemaknya cukup tinggi. Zat berkhasiat Sifat fisika dan kimia dari bahan atau zat berkhasiat dapat menentukan cara pembuatan dan tipe krim yang dapat dibuat. dan deodorant. Untuk krim tipe minyak ± air digunakan zat pengemulsi seperti trietanolaminil stearat dan golongan sorbitan. Pengemulsi : Umumnya berupa surfaktan anion. misalnya mascara. setil . 3. krim kuku.Bisa digunakan untuk kosmetik. polisorbat. poliglikol.tidak lengket. 7. karena pembuatan cream mesti dalam keadaan panas.aman digunakan dewasa maupun anak ± anak.pemilihan surfaktan didasarkan atas jenis dan sifat krim yang dikehendaki.Bisa meningkatkan rasa lembut dan lentur pada kulit. 11. apakah krim tipe minyak dalam air atau tipe air dalam minyak. 5. ada kekurangan di antaranya yaitu : 1. krim mata. kation atau nonion. sehingga pengaruh aborpsi biasanya tidak diketahui pasien.lebih mudah dibersihkan atau dicuci dengan air terutama tipe m/a ( minyak dalam air ) 4. terutama pada tipe m/a ( minyak dalam air ) 6. Untuk membuat krim tipe air-minyak digunakan zat pengemulsi seperti lemak bulu domba.gampang pecah.Memberikan rasa dingin.

Zat untuk memperbaiki konsistensi Konsistensi sediaan topical diatur untuk mendapatkan bioavabilitas yang maksimal. Contoh. 5. timbul pada proses pembuatan atau pada penyimpanan karena wadah yang kurang baik. alkil gallat. Oleh karena itu perlu penambahan zat yang dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme tersebut. Perbaikan konsistensi dapat dilakukan dengan mengatur komponen sediaan emulsi diperhatikan ratio perbandingan fasa. Hal yang penting lain adalah mudah dikeluarkan dari tube. selain itu juga dimaksudkan untuk mendapatkan formula yang ³estetis´ dan ³acceptable´.0. Untuk krim adalah jumlah konsentrat campuran zat pengemulsi.18 % atau propil paraben 0. tidak meninggalkan bekas. Anti oksidan sebagai agen produksi. EDTA.02% . b. Pengawet yang dimaksudkan adalah zat yang ditambahkan dan dimaksudkan untuk meningkatkan stabilitas sediaan dengan mencegah terjadinya kontaminasi mikroorganisme. Untuk sediaan semi solid agar peningkatan penetrasi pada kulit: 1. 4. Perubahan pH sediaan dapat terjadi karena: perubahan kimia zat aktif atau zat tambahan dalam sediaan pada penyimpanan karena mungkin pengaruh pembawa atau lingkungan. Antioksidan dimaksudkan untuk mencegah tejadinya ketengikan akibat oksidasi oleh cahaya pada minyak tidak jenuh yang sifatnya autooksidasi. Zat-zat ini mempunyai potensial reduksi lebih tinggi sehingga lebih mudah teroksidasi dibandingkan zat yang lain kadang ± kadang bekerja dengan cara bereaksi dengan radikal bebas. Hidrasi pada kulit menyebabkan jaringan menjadi lunak. Karena pada sediaan krim mengandung fase air dan lemak maka pada sediaan ini mudah ditumbuhi bakteri dan jamur. antioksidan terbagi atas : a. Contoh zat tambahan ini adalah: gliserol. Zat pengawet. setaseum dan emulgida. stearil alkohol. Kontaminasi logam pada proses produksi atau wadah (tube) seringkali merupakan katalisator bagi pertumbuhan kimia dari bahan sediaan. Pelembab Pelembab atau humectan ditambahkan dalam sediaan topical dimaksudkan untuk meningkatkan hidrasi kulit. Bahan tambahan. Pendapar Pendapar dimaksudkan untuk mempertahankan pH sediaan untuk menjaga stabilitas sediaan. 3. Contoh : Sitrat. 2. mengembang dan tidak berkeriput sehingga penetrasi zat akan lebih efektif. . Pemilihan pendapar harus diperhitungkan ketercampurannya dengan bahan lainnya yang terdapat dalam sediaan. tidak terlalu melekat dan berlemak.05 %. 6. Konsistensi yang disukai umumnya adalah sediaan yang dioleskan. Anti oksidan sejati (anti oksigen) Kerjanya: mencegah oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas dan mencegah reaksi cincin. terutama pH efektif untuk pengawet. BHA. BHT.12 % sampai 0. Pengompleks (sequestering) Pengompleks adalah zat yang ditambahkan dengan tujuan zat ini dapat membentuk kompleks dengan logam yang mungkin terdapat dalam sediaan. pH dipilih berdasarkan stabilitas bahan aktif. dsb. Zat pengawet yang digunakan umumnya metil paraben 0. sorbitol. PEG. Contoh: tokoferol. Anti Oksidan.alkohol. garam Na dan K dari asam sulfit.

kecuali apabila didalam sediaan tersebut ada bahan-bahan . Kemungkinan hilangnya komponen yang mudah menguap. pelarut organik pada umumnya. . . Untuk menjaga stabilitas zat berkhasiat pada penyimpanan perlu diperhatikan. Pemanasan dan pendinginan Proses pemanasan diperlukan pada saat melarutkan bahan berkhasiat.Tidak menyebabkan iritasi alergi atau toksik. .Dapat dibuat sebagai bentuk sediaan. Pembuatan sediaan semi solid dibutuhkan pemanasan. skrining partikel dan penyaringan.Tidak berwarna. elektrolit dan zat endogen lainnya. . aprotik dan dapat bercampur dengan air. sisa basis ditambahkan terakhir. Di sini dapat juga digunakan bantuan zat organik untuk melarutkan zat khasiatnya. . Reduksi ukuran partikel. EDTA. .Dapat dihilangkan dari kulit secara normal. Yaitu senyawa yang bersifat membentuk kompleks dengan logam. Pada skala industri dibuat dalam skala batch yang cukup besar dan keberhasilan produksi sangat tergantung dari tahap-tahap pembuatan dan proses pemindahan dari satu tahap pembuatan ke tahap yang lain. dimetil sulfida (DMSO). 7. Pada umumnya senyawa peningkat penetrasi akan meningkatkan permeabilitas kulit dengan mengurangi tahanan difusi stratum corneum dengan cara merusaknya secara reversible. 2. . Contoh. Kondisi temperatur /suhu . sehingga pada proses homogenisasi bahan. dan tidak berasa. . Yang harus diperhatikan: kestabilan zat khasiat. Anti oksidan sinergis. antara lain: .Dapat menyebar pada kulit. Zat tambahan ini dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah zat yang terpenetrasi agar dapat digunakan untuk tujuan pengobatan sistemik lewat dermal (kulit).Bekerja secara cepat dengan efek terduga (dapat diramalkan). Contoh: sitrat. karena adanya sedikit logam dapat merupakan katalisator reaksi oksidasi. Dasar ± dasar proses pembuatan sediaan semi solid (termasuk krim) dapat dibagi: 1. Metode Pembuatan 1.bahan yang digunakan tidak membutuhkan penanganan yang sulit. setelah meleleh diaduk sampai dingin.Dapat berfungsi sebagai pelarut obat dengan baik. zat ini bersifat dipolar. Bahan padat dalam suatu sediaan diusahakan mempunyai ukuran yang homogen.c. Peningkat Penetrasi. Metode Pelelehan ( fusion) Zat khasiat maupun pembawa dilelehkan bersama-sama. Metode Triturasi Zat yng tidak larut dicampur dengan sedikit basis. Syarat-syarat: . tartrat. tidak berbau. pencampuran bahanbahan semisolid pada proses pembuatan emulsi. . Skrining partikel dimaksudkan untuk menghilangkan partikel asing yang dapat terjadi akibatadanya partikel yang terflokulasi dan aglomerisasi selama proses.Dapat bercampur secara fisika dan kimia dengan banyak zat. Kontaminasi dengan kotoran . 2.Tidak mempunyai efek farmakologi.Tidak mempengaruhi cairan tubuh.

Penghalusan dan Homogenisasi. Cetomacrogolum-1000.bola kecil ke seluruh fase kontinyu. b. Pencampuran bahan padat. Tujuan pencampuran larutan didasarkan pada dua tujuan yaitu: adanya transfer panas dan homogenitas komponen sediaan. Pencampuran semi solida. cetostearylalcoholum. Pencampuran untuk larutan. Untuk pencampuran sediaan semi solid dapat digunakan alat pencampuran dengan bentuk mixer planetary dan bentuk sigma blade. paraffinum liquidum. Proses terakhir dari seluruh rangkaian pembuatan adalah penghalusan dan homogenisasi produk semi solid yang telah tercampur dengan baik. . Pencampuran Pencampuran terdiri tiga macam: a. Alat dengan sigma blade dapat membersihkan salep/ krim yang menempel pada dinding wadah dan menjamin homogenitas produk serta proses transfer panas lebih baik. Contoh formulasi krim : BETAMETHASONI CREMOR ( krim betametason) Tiap 10 g mengandung : Betamethasonum 20 mg Cetomacrogolum-1000 300 mg Cetostearylalcoholum 1. campurannya merupakan fase minyak. dan vaselinum album. Pada prinsipnya pencampuran bahan padat adalah menghancurkan aglomerat yang terjadi menjadi partikel dengan ukuran yang serba sama. 3. c.2 g Paraffinum liquidum 1 g Vaselinum album 2. Aqua destillata merupakan fase air. Dalam formula ini merupakan krim tipe air ± minyak.yang termolabil. karena fase minyak bertindak sebagai fase kontinyu dan fase air didispersikan sebagai bola.5 g Aqua destillata hingga 10 g Catatan: Betamethasonum sebagai zat berhasiat dari krim ini. 4.

keadaan kulit. disebut sebagai absorpsi perkutan. Sediaan ini digunakan pada kulit antara lain untuk efek fisik. secara makroskopis : alirkan di atas kaca. luka terbuka dan penyakit kulit yang parah juga harus steril. Homogenitas diantara dua lapis film. Konsistensi. pelembut. keringat dan lapisan tanduk yang dapat terkelupas. tapi juga pada sifat apabila dimasukkan kedalam pembawa farmasetika dan pada kondisi dari kulit. Pada permukaan kulit ada lapisan dari bahan yang diemulsikan terdiri dari campuran kompleks dari cairan berlemak. Kontaminasi mikroba. Walaupun pada umumnya diinginkan dalam pengobatan penyakit. zat pengering dan lain-lain. Cream adalah sediaan obat untuk pemakaian pada kulit. Salep mata harus steril untuk salep luka bakar. Evaluasi Biologi. yang terakhir dari . pelincir. absorpsi perkutan dari bahan obat ada pada prepat dermatologi yang tidak hanya tergantung dari sifat kimia dan fisika dari bahan obat saja. Konsistensi / rheologi dipengaruhi suhu. sedian non newton dipengaruhi oleh waktu istirahat oleh karena itu harus dilakukan pada keadaan yang identik. 3. efektifitas pengawet. Kadar dan stabilitas zat aktif dan lain-lain. Cream pada umumnya merupakan. Evaluasi Fisik. 2. tujuan : mudah dikeluarkan dari tube dan mudah dioleskan. Evaluasi Kimia. Pengukuran konsistensi dengan pnetrometer. Potensi zat aktif. Absorpsi bahan dari luar ke posisi di bawah kulit tercakup masuk kedalam aliran darah. biasanya tidak dimasudkan (kecuali untuk system pengobatan melalui kulit) bahwa pengobatan masuk kedalam sirkulasi umum. atau efek khusus dari bahan obat yang ada. Bagaimanapun juga sekali obat ini melewati epidermis.BAB V EVALUASI SEDIAAN AKHIR Dibagi dalam tiga kelompok : 1. pH. akan sampai pada pembuluh darah kapiler dan mengisi jaringan subkutan dan absorpsi masuk kedalam sirkulasi umum bukan tidak mungkin. Pemakaian pada kulit yang memerlukan resep. untuk obat yang dalam pemakaiannya mengandung bahan obat supaya meresap melalui permukaan dan masuk kedalam kulit. yaitu kemampuan bekerja sebagai pelindung kulit. pH berhubungan dengan stabilitas zat aktif. b. a. umumnya mengandung obat tunggal yang dimaksudkan untuk melawan diagnosis khusus. Pengukuran potensi beberapa zat antibiotik yang dipakai secara topikal. Bau dan warna untuk melihat terjadinya perubahan fasa.

dan molekul obat mempenetrasi dengan cara difusi pasif. Absorpsi perkutan suatu obat pada umumnya disebabkan oleh penetrasi langsung obat melaui stratum corneum 10-15µm. Kadang ± kadang hasil uraiannya bersifat toxic. 3. sehingga dapat membahayakan pasien. Stratum corneum sebagai jaringan keratin akan berlaku sebagai membran buatan yang semi permiabel. menyebrangi lapisan kulit tergantung pada konsentrasi obat. epidermis yang yang hidup.Tingkat reaksi atau orde reaksi cara penentuannya . Staratum corneum terdiri dari kurang lebih 40% protein (pada umumnya keratin) dan 40% air dengan lemak berupa perimbangannya terutama sebagai trigliserida. dan dermis secara bersama-sama dapat dianggap merupakan lapisan penghalang. minyak dan air merupakan difusi melalui stratum corneum seperti juga melalui epidermis dan lapisan kulit. STABILITAS Stabilitas obat merupakan faktor penting dalam formulasi sediaan farmasi. Kandungan lemak dipekatkan dalam fase eksraselular starum corneum dan begitu jauh membentuk membran yang mengelilingi sel. Penentuan kestabilan suatu zat dapat dilakukan dengan cara kinetik kimia. tebal lapisan datar mengeringkan sebagaian demi sebagian jaringan mati yang membentuk permukaan kulit paling luar. kelenjar lemak dan perlengkapan pilo sebaceous). Jadi. dibawah lapisan tanduk secara teratur ada ³lapisan penghalang´ lapisan yang hidup stratum germinativum. Penetrasi lapisan ini dapat terjadi dengan cara difusi. Obat yang disimpan dalam jangka waktu lama dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan dosis yang diberikan oleh pasien berkurang.Kecepatan reaksi 2.Penetrasi intraselular (antarsel). dan dermis atau kulit sesungguhnya. jumlah obat yang pindah. Sekali molekul obat melalui stratum corneum kemudian dapat terus melalui jaringan epidermis yang lebih dalam dan masuk kedalam dermis apabila obat mencapai lapisan pembuluh kulit maka obat tersebut siap untuk diabsorpsi kedalan sirkulasi umum. 2.Penetrasi transelular (menyebrangi sel). asam lemak bebas. keringat. Bahan ±bahan yang mempunyai sifat larut dalam keduanya. Walaupun kulit dibagi secara histology kedalam stratum corneum.Factor ± factor yang mempengaruhi kecepatan reaksi : Suhu Kekuatan ion Pengaruh pH 3. kolestrol dan fosfat lemak. Mengingat suatu sediaan biasanya diproduksi dalam jumlah besar dan memerlukan waktu lama untuk sampai pada pasien maka stabilitas obat sangat penting. kelarutannya dalam air dan koefisien partisi minyak atau airnya. Pembuluh darah kapiler dan serabut-serabut saraf timbul dari jaringan lemak subkutan masuk kedalam dermis dan sampai pada epidermis. Komponen lemak dipandang sebagai faktor utama yang secara langsung bertanggung jawab terhadap rendahnya penetrasi obat melalui stratum corneum.lapisan sel epidermis yang telah mati yang disebut ³lapisan tanduk´ dan stratum corneum dan letaknya langsung dibawah lapisan yang diemulsikan. 1.Penetrasi transappendageal (melaluifolikel rambut. yaitu : 1.

4.Cahaya 5.Obat yang beredar tersebut stabil dalam jangka waktu yang lama yang disimpan dalam suhu kamar.Menentukan umur simpan dari suatu sediaan obat. 2. Faktor factor yang mempengaruhi stabilitas obat 1.Oksigen : karena bersifat oksidan 3.18% atau propil paraben 0.12 % hingga 0. Sebagai zat pengemulsi dapat digunakan emulgid. 2.Reaksi fotolisis : Pengurian obat oleh cahaya. stearilalkohol.Suhu 7.Reaksi isomerisasi : Penguraian obat yang terbentuknya isomer yang mungkin tidak berkhasiat/ toksis.Reaksi polimerisasi : Proses bergabungnya dua atau lebih molekul obat menjadi struktur yang lebih rumit.Larutan penyangga 6. polietilenglicol.02% hingga 0.Orde reaksi adalah banyaknya factor konsentrasi yang ikut berperan dalam kecepatan raeksi. Orde reakasi O adalah terjadi bila kecepatan reaksi tidak bergantung pada konsentrasi pereaksinya. Pengenceran cream hanya dapat dilakukan jika diketahui pengenceran yang cocok yang harus dilakukan dengan teknik aseptic.Reaksi Oksidasi : Penguraian karena interaksi obat dengan oksigen atau terbentuknya radikal radikal bebeas. Zat pengawet Umumnya dugunakan metil paraben 0. Tujuan Uji Stabilitas Obat 1.pH larutan : ditentukan oleh konstanta H+ dan OH4.Pelarut : mengubah konstanta dielektrik pelarut aslinya 2.Reaksi hidrolisis : Reaksi penguraian struktur kimia obat dengan adanya air/ pelarut . lemak bulu domba. polisorbat. . Orde reaksi 1 adalah terjadi bila kecepatan reaksi bergantung pada konsentrasi satu pereaksi. Tipe pereaksi penguraian obat 1. Jadi akan terjadi perubahan konsentrasi yang konstan pada setiap waktu.Kekuatan ion Stabilitas cream Cream rusak jika terganggu system campurannya terutama disebabkan perubahan suhu dan perubahan komposisi disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan atau pencampuran dua tipe cream jika zat pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama lain. setaseum. 3. sabun.05%. Agar lebih stabil zat pengawet ditambahkan zat anti oksidan. 5. Cream yang sudah diencerkan harus digunakan dalam waktu satu bulan. Zat pengemulsi Pemilihan zat pengemulsi harus disesuaikan dengan jenis dan sifat cream yang dikehendaki. setil alkohol. trietanolaminil stearat dan golongan sorbitan. Orde reaksi 2 adalah terjadi bila pada konsentrasi dua pereaksi .

BENZOKAIN 1 % dan 5 % CREAM Produksi : Various cream Indikasi : untuk mengurangi sakit dan gatal karena sengatan gigitan serangga dan lain ± lain.5 % CREAM Produknya : Eldecort cream ( Elder ) Indikasi : untuk mengurangi inflamasi sebagai manifestasi dari respons kulit terhadap kortikosteroid 3. seborek dermatitis. impetigo.BETAMETASON VALERAT 0.Untuk pembuatan cream dugunakan air yang telah dididihkan dan segera digunakan setelah dingin. . 2.17 % CREAM Produknya : Garamicyn cream ( Schering ) Indikasi : untuk pada pengobatan dari infeksi yang disebabkan oleh microorganism yang rentan bertanggung jawab pada pengobatan local 4. Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik atau tube. ditempat sejuk Penandaan Pada etiket harus juga tertera : ³Obat Luar´ B A B VI SEDIAAN CREAM 1.01 % CREAM Produknya : Valisone cream ( Schering ) Indikasi : untuk mengurangi inflamasi sebagai manifestasi dari respons kulit terhadap kortikosteroid.IODOKLORHIDROKSIKUINON 3 % CREAM Produknya : Vioform cream ( Ciba ) Indikasi : untuk exim.GENTAMISIN 0.1 % dan 0. dan kondisi lain 5. 1 %. dermatosis.5 %. dan 1.HIDROKORTISON 0.

6. Farmasetika II.S.Far. Farmasi Fisik jilid I 5.Teori Ilmu Resep jilid I. Dep. .2007. Kes RI. 1997. Kes RI. Dep. Anief Apt. Moh. Prof. 4. Kes RI. UGM Press.Apt. Farmakope Indonesia edisi III. Formularium Nasional edisi II. 2004.Diktat Kuliah Kosmetika. SMF Jakarta.2007. 2.UNFARI. 8. S.Si.Apt. 1979. Ardian Baitariza. 3. Drs.BAB VII DAFTAR PUSTAKA 1. UNFARI. 1978. Farmakope Indonesia edisi IV. Prof. Dytha Andri Deswati. Martin. Dep. Ilmu Meracik Obat. 7.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->