Cara kerja CDI Motor

Saat anda ingin mengganti CDI yang kualitas bagus tetapi masih bisa digunakan untuk harian sebenarnya tidak masalah. Memang banyak yang salah kaprah saat menukar CDI karena salah membeli sehingga tidak bisa dipakai. Apalagi saat ini sudah jamannya CDI digital tetapi bukan berarti bisa digunakan untuk semua motor. Karena jika dipaksakan maka mesinnya akan mbrebet dan tenaganya loyo. Ambillah contoh CDI digital shogun tidak bisa dipasang pada Honda kharisma karena beda kurva pengapiannya. Jika anda ingin saling menukar CDI motor maka anda harus memenuhi 4 syarat, simak berikut ini. Point yang pertama adalah panjang pulser sama. Panjang sensor pulser (pick-up koil) harus sama karena setiap tipe motor berbeda, ada yang panjang dan pendek. Anda bisa perhatikan jika dulu pick-up koil biasanya lebih pendek seperti Suzuki Shogun 14 mm dan Honda Supra hanya 12 mm. Hal ini karena motor dulu dari pabrikanya menganut CDI analog. Kurvanya tidak bisa diprogram. Meski pakai CDI digital seperti buatan Cibinong, kurvanya kurang fleksibel. Berbeda dengan motor sekarang seperti Honda Karisma 38 mm dan Yamaha Jupiter-Z 57,5 mm. Pick-up koil panjang. Karena sudah digital dan kalau dipasangi CDI programable maka kurva pengapian bisa bermacam-macam. Jadi minimal CDI digital panjang pick-up koilnya 20 mm. Syarat yang kedua adalah harus tahu derajat pengapian karena semua tipe motor timing pengapian setiap tingkat putaran berbeda. Meski terkadang ada yang sama dan tidak bisa saling tukar jika beda waktu pengapian. Lihat Yamaha Jupiter-Z, pada rpm 1.500 sampai 2.500 busi meletik 15 derajat sebelum TMA (Titik Mati Atas). Dari 2.500-3.500 timing pengapian 32 derajat sebelum TMA. Selanjutnya sampai 8.000 rpm masih 32. Lebih dari itu jadi ngedrop 30 derajat sebelum TMA. Sebagai bahan perbandingan, coba lihat pengapian Honda Karisma. Dari rpm 1.500 sampai 2.500 timingnya 15 derajat sebelum TMA. Dari 2.500-3.000, 27 derajat sebelum TMA. Terus sampai lebih dari 8.000 timing konstan. Jadi anda bisa melihat bahwa timing pengapian Shogun dan Karisma beda tiap tingkat putaran. Kalau dipaksakan saling tukar pasti tidak bagus. Dari panjang sensor pulser saja sudah beda. Kalau dipaksakan bisa saja mesin normal saat langsam sebab derajat pengapian sama-sama 16 derajat. Tapi begitu di gas lebih dari 3.500 rpm maka mesin tidak akan bertenaga. Hal yang paling gampang dan wajib tentu tahu kelistrikan. Apalagi beberapa CDI kakikaki soketnya berbeda. Ada yang enam dan ada yang lima serta setiap kaki harus tahu arahnya kemana. Ke koil, aki dan pulser harus hafal betul. Bila anda tidak mengerti kakikaki CDI maka sebaiknya jangan anda paksakan. Kalau asal saling tukar, bisa jebol atau kebakar. Bagi anda yang senang bermain korek mesin, bila rasio kompresi mesin sudah naik maka timing pengapian perlu dirubah. Maksudnya adalah agar gas bakar dalam silinder tidak dibakar panas kompresi. Makanya waktu pengapian harus dimajukan dan biasanya sekitar 2 derajat. Buka-tutup klep yang berubah akibat kem dikorek juga akan berdampak pengapian perlu di setting. Biasanya mekanik membuat klep terbuka lebih lama dan

Antara koil CDI dan TIS tidak bisa saling tukar. Yamaha V-ixion. bisa maju atau mundur. Jadi. Makanya tidak bisa disatukan dengan ECU injeksi. Secara fungsi sama-sama mengatur timing pengapian tapi prinsip kerja dan komponen elektronik pendunkung berbeda. Ini yang membuat imbas listrik besar karena di dalam kotak CDI terdapat tegangan lumayan besar. Generasi lebih canggih hanya digunakan untuk moge dan mobil. Beda CDI dan TIS November 18. Sistem TIS yang dikembangkan di motor kecil paling sederhana dan boleh dikatakan sebagai generasi pertama.menutup lebih cepat. . Dengan begitu. Hal ini menyebabkan timing pengapian juga beda. Disusul supraX 125 PGMI-F1. 2008 — Admin Pengatur timing pengapian tidak hanya menggunakan CDI (Capasitor Discharge Injection). bisa dikatakan TIS sistem pengapian masa depan. Namun koil yang digunakan berbeda. CDI sudah banyak diterapkan pada motor dari era 80-an. Sedang TIS memanfaatkan transistor untuk mengumpan tegangan listrik ke koil. Karena di masa mendatang motor akan menggunakan injeksi dan pasti menggunakan TIS. Jadi TIS sudah pasti digunakan untuk motor injeksi. Suzuki Shogun 125 F1 dan kawasaki Ninja 250. Sistem CDI menggunakan kapasitor sebagai penampung tegangan yang di umpan menuju koil. sedangkan TIS muncul di motor kecil Indonesia sejak Suzuki Thunder 125 muncul. kini sudah ada TIS ( Transistor Ignition System). Capasitor Discharge Ignition (CDI) Sudah pasti di dalamnya ada kapasitor sebagai penampung tegangan sebesar 300 volt dari hasil pembesaran tegangan 12 volt oleh travo inverter. ECU untuk mengatur injeksi dan TIS untuk mengatur pengapian. Soalnya sistem CDI tidak bisa dicangkok pada ECU injeksi karena memberikan imbas listrik besar. Lebih jelas perbedaan antara CDI dan TIS mari bedah lebih dalam.

Berarti tidak menggunakan travo inverter. Transistor Ignition System (TIS) TIS menggunakan transistor secara langsung untuk menaikan tegangan dari 12 volt menjadi 35 kilo volt pada output koil. juga lumayan rumit dalam pembuatan dan aplikasi.Faktor itu juga jika CDI tanpa bungkus bila dipegang akan menyetrum. . tidak akan menyetrum meski bodi TIS tidak tertutup. Sehingga tidak memberikan imbas listrik besar. Tanpa inverter yang menaikkan tegangan. Aman dipadukan dengan sisten ECU. Lebih menguntungkan lagi sederhana dalam pembuatannya.

4. Kemudian digunakan untuk mengisi kapasitor dan siap untuk dipicu koil. bekerjasama dengan perusahaan ternama yang membuat TIS untuk sistem mobil mewah di Eropa. Tegangan aki 12 volt langsung diumpan masuk ke dalam koil. 2. MOTORplus CARA KERJA CDI . maka I-DTIS otomatis menonaktifkan sistem untuk menghindari kerusakan lain. Bandingkan dengan TIS di motor standar atau TIS aftermarket merek lain. Cuma transistor saja. Tegangan keluaran travo disearahkan oleh diode dan keluaran menjadi sumber tegangan DC. 2. 3. Trimentari Niaga. Mikro komputer memberikan perintah SCR untuk pembuangan muatan kapasitor (capacitance discharge) dengan tegangan 300V. proteksi overheat. Komponennya diimpor dari Inggris. Tomy Huang.000 volt. Disarikan oleh Aong C. 3. I-DTIS BRT juga dilengkapi beberapa proteksi. bila sistem TIS dihubungkan koil dengan beban yang berat dan panas hingga 150 dearakt celcius. Tegangan aki 12 volt yang masuk ke dalam regulator di dalam CDI untuk distabilkan dan diumpan ke travo step up. Tapi lebih dikembangkan lagi dan diberi nama Intelligent Digital Transistor Ignition System (I-DTIS). 5. Kedua.Cara kerja CDI 1. Kenaikkan tegangan akan terjadi bila transistor dipicu dengan transistor yang dikendalikan oleh microcomputer. Tegangan yang masukl ke travo dinaikkan menjadi 300 volt dengan sistem switching yang dilakukan oleh model PWM control (pulse Wide Modulation) dan dikendalikan mikro komputer. Prinsip Kerja TIS 1. muatan kapasitor dibuang melewati ignition koil dan diperbesar oleh koil menjadi 35. Microchip berfungsi untuk mengatur timing pengapian dan besaran arus yang akan dikeluarkan koil TIS Dikembangkan BRT Pihak BRT (Bintang Racing Team) tidak mau ketinggalan dan sudah membuat TIS. Koil berfungsi sebagai step-up atau menaikkan tegangan 12 volt menjadi 35 kilo volt. Ulinnuha. proteksi korslet (short circuit protection). Pertama. 6. Saat mikro komputer menentukan waktu pembuangan kapasitor itulah yang disebut timing pengapian. untuk melindungi apabila terjadi korslet pada koil. direktur PT. i-DTIS BRT menggunakan transistor hybrid. produsen CDI dan TIS BRT.

Model 2 Spul tegangan. cdi.31 Jul 2011 Tinggalkan sebuah Komentar by guruotomotifsmk1alas in ARTIKEL OTOMOTIF Tag:cara kerja. sepeda motor. perbaikan. smk Cara Kerja CDI AC AC singkatan dari Alternating Current. Tegangan AC pada jala-jala PLN biasanya merupakan tegangan bolak balik dengan bentuk sinusodal dengan frekuensi 50 Hz. Jadi dalam satu detik pada jala-jala PLN terjadi sebanyak 50 gelombang. Gambar 1 menunjukan bentuk gelombang sinus bolak-balik gambar 1 bentuk gelombang tegangan AC Pada magnet sepeda motor terdapat kumparan/lilitan kumparan yang berfungsi sebagai pembangkit tegnagan tinggi. Hanya terdiri dari satu spul tegangan tinggi yang sebenarnya . Model 1 Spul tegangan. Yamaha Vega AC dan yamaha Scorpio 2. terdiri dari 2 konfigurasi spul satu untuk mensuplai capacitor tegan tinggi pada CDI satu lagi untuk sistem splai tegangan pengendali/controller pada CDI. otomotif. Sistem ini dianut oleh pabrikan yamaha pada model : Yamaha Alfa. pengertian ini diambil dari istilah yang digunakan oleh Perusahaan listrik untuk menamai sistem tegangan yang digunakan. Dalam prakteknya terdapat dua jenis sistem pembangkit tegangan pada sepeda motor ketika diaplikasikan untuk CDI: 1. Yamaha F1.

Sistem CDI AC seperti ini memiliki kelebihan dalam kesederhanaan desain tapi mempunyai kelemahan sulitnya mendesain sistem untuk suplai tegangan controller. Kelebihan sistem CDI AC adalah kemudahan untuk diaplikasikan menjadi 2 sprak. Sistem tegangan untuk contoller berasal dari konversi tegangan tinggi. pada SCU terjadi transformasi sinyal dari sinyal bentuk analog menjadi sinyal bentuk pulsa kotak yang digunkan sebagai referensi untuk controller dalam menentukan titikpengapian. bila pada sepeda motor menggunkan 2 busi sperti yg diaplikasikan oleh bajaj pulsar CDI Racing. Suzuki RC100 dan pada bajaj pulsar twin spark.digunakan untuk suplay pada capacitor. Controller melakukan komputasi aritmatika untuk menentukan titik pengapian presisi untuk trigger untai SCR yang bertindak sebagai saklar solid state untuk capacitor tegangan tinggi. muatan capacitor trgangan tinggi dilepasakan ke coil melalui untai SCR. Coil mrlipatgandakan teganganuntuk menghasilkan percikan pada busi. Seperti Apa Sih? . Gambar 2 Diagram blok Sitem CDI AC 2 Spul Sensor berasal dari pick-up coil yang mengubah posisi tonjolan pada magnet menjadi sinyal pulsa yang diumpankan pada untai pengkondisi isyatar atau SCU. yamaha RXking. Sistem ini dianut lama oleh pabrikan honda pada model sepda supra series atau mesin C100. Gambar 2 adalah blok digram CDI AC pada sistem 2 spul.

Malah karena diriset di dalam negeri. Singkatnya. Tak kalah kualitasnya dengan produk luar negeri yang harganya selangit.Memang ada fenomena menarik. namun kurang lengkap sebenarnya. produk tersebut sesuai dengan mesin malah melesat lebih kencang ketimbang produk luar negeri. Namun ada pula rekan yang mengeluhkan motornya malah tambah bolot setelah diberi CDI yang baginya adalah racing. Jadi pada dasarnya dengan campuran bahan bakar 14. Pemahaman ini tidak salah. . Sedangkan yang disebut orang awam “CDI Racing” adalah CDI yang tanpa Rev limiter. Sementara itu.udara dari suatu mesin. Jadi ada faktor lain selain dari Rev limiter yang membedakan dari CDI standar dengan “CDI racing” yaitu timing pengapian dan kemampuannya. ada rekan yang menganggap CDI lawas yang tanpa limiter rpm adalah CDI racing. Hal ini didasari oleh konstruksi dari suatu mesin itu sendiri. dan lainnya. tidak ada satu timing pengapian yang bisa diaplikasikan ke semua motor atau mesin. Setiap mesin memilki karakter yang berbeda. XP. BRT. Di tempat lain.7:1 (lambda mendekati 1). misalnya adalah timing pengapian yang dapat disesuaikan (programmable) dengan setiap perubahan yang terjadi dari suatu mesin. Setiap mesin memiliki karakter yang berbeda meskipun untuk tipe motor yang sama. bangsa kita tengah berkembang pesat dalam teknologi sepeda motor terutama di trek balap di antaranya CDI. Yang dimaksud kemampuan disini adalah : fitur yang terdapat di dalam CDI yang mendukung performa suatu mesin. Sebenarnya fungsi dari CDI adalah mengatur timing pengapian dari proses pembakaran campuran bahan bakar . Menurut Nuval dari produsen CDI Rextor mengatakan timing pengapian CDI standar sudah disesuaikan dengan kondisi mesin standard dan biasanya dilengkapi dengan Rev limiter untuk membatasi putaran mesinnya tidak terlalu tinggi sehingga memperpanjang umur komponen mesin (mesin tidak dipaksa bekerja terlalu ekstrem). sehingga membutuhkan timing pengapian yang berbeda pula. hal ini timing pengapian harus di sesuaikan maka dari itu diciptakanlah CDI standard. Nah lho? Definisi CDI racing menjadi rancu karena pemahaman terhadap fungsi CDI itu sendiri. Tomy Huang selaku pemilik brand IC BRT yang dihubungi secara terpisah mengatakan CDI standar didesain bukan untuk performa optimal namun dirancang untuk uji emisi yang harus euro 2. Acap rekan bikers membanggakan motornya dilengkapi dengan CDI racing yang dijual di toko perlengkapan motor dengan berbagai brand lokal yang memang telah terbukti di kancah road race sebut saja Rextor.

Jadi motor tidak bisa serta merta dikatakan racing atau versi balap jika dilakukan pengubahan pada CDI nya saja. Sehingga performanya lebih tinggi dari kondisi standarnya. karena memang tidak sesuai peruntukannya. Capek deh… Bila ada kesesuaian antara CDI dengan engine akan didapat performa akan meningkat dan konsumsi bahan bakar menjadi lebih irit. Tomy Huang menyarankan bila memang penggunaannya harian jangan mempergunakan CDI Racing. bore up dan system pengapiannya. sudah clear kan pengertian CDI racing sebenarnya? Yuk pakai sesuai dengan kebutuhan ! SISTEM PENGAAPIAN sepeda motor a. suatu mesin dikatakan “racing” apabila terjadi perubahan : camshaft. karburator.. Bapak yang berkaca mata minus ini memiliki banyak data sepedamotor yang diuji di Dyno Test di laboratorium di Cibinong. Begitu pula click 16 kurva plus inovasi BRT. So. bahan bakar. Sedangkan CDI lainnya dualband tipe tune up-racing dan racing-kompetisi memang didedikasikan untuk balap. CDI hyperband yang memang dirancang untuk penggunaan harian begitu pula dual band versi standar-tune up. Pendahuluan . CDI I Max yang diprogram melalui remote. Apalagi edan aja pakai motor balap pakai CDI harian. knalpot.Sebagai gambaran. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat BRT menciptakan CDI sesuai kebutuhan bikers itu sendiri.

b. . Penyalaan dengan sistem pengapian bunga api listrik • Pada saat akhir langkah kompresi. campuran bahaan bakar & udara dibakar dengan loncatan bunga api lisrtik. temperatur udara mencapai 700ºC sampai 900ºC. Sifat-sifat: • Daya pengapian baik pada putaran rendah. Sistem pengapian magnet Sistem pengapian baterai adalah pengapian yang menggunakan generator sebagaai sumber arus. Sistem pengapian baterai b. • Saat pengapian dapat diatur secara mekanis menggunakan kontak pemutus atau secara elektronis. • Penyalaan pada saat yang tepat. kemudian dialirkan ke busi secara bergiliran yang diatur oleh rotor sesuai urutan pengapian (firing order) 2. Penyalaan sendiri • Akibat pemampatan dengan tekanan tinggi. 3. Sistem pengapian magnet Uraian a. • Bahan bakar yang dimasukan terbakar dengan sendirinya. Prinsip kerja dasar Tegangan baterai 12V ditransformasikan menjadi tegangan tinggi 5kV – 25kV. • Saat pengapian ditentukan oleh putaran mesin dan beban mesin. 2. Persyaratan Dasar (contoh motor bensin) Persyaratan dasar agar motor dapat menyala adalah: • Bahan bakar yang dikabutkan / diuapkan. • Penggunaan pada motor disel. Sistem pengapian pada sepeda motor Sistem pengapian pada sepeda motor ada dua macam: a. • Temperatur campuran bahan bakar & udara yang cukup tinggi. • Penggunaan pada motor otto / bensin. 1. Macam-macam sistem pengapian Cara penyalaan bahan bakar pada motor bakar digolongkan menjadi dua jenis: a. Sistem pengapian baterai Sistem pengapian baterai adalah pengapian yang menggunakan baterai sebagaai sumber arus.1. b.

b. • Arah tegangan induksi diri selalu menghambat arus primer. • Terjadi induksi. pada sistem pengapian tegangannya ≈300 – 400V. d. 5. • Induksi diri adalah penyebab timbulnya bunga api pada kontak pemutus. Transformasi dengan arus searah Transformator tidak dapat berfungsi dengan arus searah karena: • Arus tetap. maka: • Terjadi perubahan medan magnet.1. • Tidak terjadi perubahan medan magnet. maka tegangan induksi kecil. • Sering digunakan pada motor kecil seperti sepeda motor. • Putaran start harus lebih besar dari 200rpm. sehingga motor dapat hidup tanpa baterai. Prinsip kerja dasar Pengapian magnet merupakan gabungan dari generator dan sistem pengapian. c. 2. harus diberi saklar pada sambungan primer. Jika saklar dibuka/tutup (on/off). • Daya pengapian baik pada putaran tinggi. • Terjadi tegangan induksi. • Jika jumlah lilitan banyak. Sifat-sifat • Sumber tegangan dari generator. Bagian-bagian sistem pengapian . • Tidak ada induksi. Medan magnet Jika medan magnet digerak-gerakkan di dekat kumparan. • Jika jumlah lilitan sedikit. • Ada perubahan medan magnet. Perbandingan tegangan Perbandingan tegangan sebanding dengan perbandingan jumlaah lilitan. Dasar transformasi tegangan (prinsip induksi magnetis) a. • Terjadi perubahan medan magnet. 4. maka tegangan induksi besar. Sifat-sifat induksi diri • Tegangan bisa melebihi tegangan sumber arus. 6. maka: • Arus primer terputus-putus. Untuk mengatasinya. Transformator Jika pada sambungan primer transformator dihubungkan dengan arus bolak-balik maka: • Ada perubahan arus listrik. • Timbul tegangan lisrtik (tegangan induksi).

Ketika stop contact pada posisi on dan pemutus arus atau platina (breaker points) tertutup.• Baterai sebagai sumber arus listrik. Ketika stop contact pada posisi on dan pemutus arus atau platina (breaker points) tertutup. sehingga terjadi medan magnet 2. mempercepat pemutusan arus primer sehingga tegangan induksi yang timbul pada sirkuit sekunder tinggi. akan terjadi medan magnet pada koil. Mencegah loncatan bunga api di antara celah kontak pemutus pada saat kontak pemutus mulai membuka. termasuk di platina. sehingga pembakaran dapat dimulai. maka arus listrik akan mengalir dari batere menuju ke koil yang di dalamnya terdapat kumparan primer. sehingga tidak timbul spark pada platina. • Kondensator kegunaan: 1. . • Kunci kontak untuk menghubungkan dan memutuskan arus listrik dari baterai ke sirkuit. Macam-macam sistem pengapian 1. Sistem pengapian magnet Prinsip terbentuknya bunga api listrik alat penyala magnet: 1. • Busi untuk meloncatkan bunga api listrik di antara kedua elektroda busi di dalam ruang bakar.000 – 25. 2. kumparan sekunder. Ketika terjadi spark maka pada setiap gap juga akan terjadi spark. • Generator pembangkit sebagai penghasil / sumber tegangan AC. termasuk di platina. maka pada saat jangkar bersama-sama kumparan primer berputar atau magnet berputar. sehingga tidak timbul spark pada platina 2.000 – 25. dan inti besi lunak. Pengapian baterai Prinsip terbentuknya bunga api listrik (spark) alat penyala batere: 1.000 – 25.000Volt sehingga menimbulkan loncatan bunga api listrik (spark) pada busi. b. • Koil untuk mentransformasikan tegangan baterai 12V menjadi tegangan tinggi (5. untuk itu dipasang kondensor guna menyerap arus induksi. 3. 2.000V). • Kontak pemutus untuk menghubungkan dan memutuskan arus primer agar terjadi induksi tegangan tinggi pada sirkuit sekunder sistem pengapian.000V sehingga menimbulkan loncatan bunga api listrik (spark) pada busi 3. Ketika arus primer diputus karena bagian platina terbuka oleh gerakan berputar dari nok (cam) maka medan magnet akan hilang dan timbul arus induksi pada kumparan sekunder yang mampu menghasilkan tegangan hingga ±5. Ketika terjadi spark maka pada setiap gap juga akan terjadi spark. Ketika arus primer diputus karena bagian platina terbuka oleh gerakan berputar dari nok (cam) maka medan magnet akan hilang dan timbul arus induksi pada kumparan sekunder yang mampu menghasilkan tegangan hingga ± 5. untuk itu dipasang kondensor guna menyerap arus induksi.

ke massa sehingga timbul medan magnet pada inti koil. • Transistor membuka. . • Ketika pick-up melewati pulser. • Kemudian pulser membangkitkan tegangan dan masuk ke trigger yang menentukan saat pengapian dengan mengirim pulsa (arus) ke SCR.3. b. Keuntungan Efisiensi pengapian / daya pengapian lebih besar di bandingkan dengan menggunakan kontak pemutus Kerugian Hanya cocok untuk motor bervolume silinder kecil karena sifat dari kapasitor membuang muatan dengan cepat. • Arus AC dirubah menjadi arus DC oleh diode kemudian di simpan dalam kapasitor lalu ke primer koil. • Gate SCR terbuka sehingga kapasitor membuang muatannya ke massa. a. • Arus dari kapasitor juga mengalir ke primer koil kemudian ke massa sehingga timbul medan magnet pada inti koil. kemudian masuk ke SCR sehingga SCR menjadi aktif (on). • Dengan cepat pula medan magnet dibangkitkan dan tegangan tinggi dibangkitkan pada kumparan sekunder. Pengapian CDI – DC Cara kerja • Arus dari baterai masuk ke trasformer kemudian diputus-putus oleh swich circuit untuk memperbesar tegangan dari baterai. dan juga disimpan dalam kapasitor. maka dengan cepat arus mengalir dari kapasitor ke kumparan primer. pulser mengeluarkan tegangan dan masuk ke Ignition Timing Control Circuit yang menentukan saat pengapian dengan mengirim pulsa (arus) ke SCR. Pengapian CDI – AC Cara kerja • magnet berputar sehingga exciter coil (spoil) mengeluarkan arus AC 100-400 V. • Terjadi perubahan medan magnet pada koil sehingga menghasilkan induksi tegangan tinggi pada kumparan sekunder yang menghasilkan loncatan bunga api listrik pada busi. • Tegangan tinggi dari transformer di searahkan oleh diode. • Arus DC dari diode juga masuk ke SCR. Pengapian CDI (Magneto Capasitet Discharge Ignition) Prinsip kerja CDI • Tegangan yang dibangkitkan oleh kumparan pembangkit tenaga primer diserahkan oleh diode penyearah dan disimpan dalam kapasitor. sehingga SCR menjadi aktif. • Sewaktu kumparan pulser membangkitkan tegangan yang mengalir ke transistor lewat diode akan membuka transistor. • Kemudian gate SCR membuka sehingga membuang muatan ke massa.

.• Terjadi perubahan medan magnet pada koil sehingga menghasilkan induksi tegangan tinggi pada kumparan sekunder yang menghasilkan loncatan bunga api listrik pada busi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful